Pengembangan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) pada pokok bahasan optika geometri untuk SMA kelas X semester II / Eki Luthfintri

 

Kata kunci: bahan ajar fisika, SAVI, optika geometri Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan bahan ajar untuk membantu jalannya proses pembelajaran tersebut. Bahan ajar yang digunakan haruslah memenuhi kriteria bahan ajar yang baik sehingga siswa mudah memahami materi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada guru dan siswa ditemukan bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan belum adanya inisiatif siswa untuk membaca maupun mengerjakan soal latihan yang ada pada bahan ajar fisika. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan mengembangkan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk aktif bergerak, berbicara, mengamati, menemukan konsep, dan memecahkan masalah dalam pembelajaran fisika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan, mengetahui karakteristik, serta mengetahui kelayakan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) pada pokok bahasan optika geometri untuk SMA Kelas X semester 2. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan lima langkah awal metode Borg dan Gall, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draf produk, uji coba, dan revisi hasil uji coba. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji validitas oleh tim ahli materi (dua dosen fisika dan satu guru fisika SMA Negeri 4 Malang), serta pengguna bahan ajar (sepuluh siswa SMA Negeri 4 Malang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar fisika berbasis SAVI pada pokok bahasan optika geometri memperoleh nilai rata-rata 3,44 dari penilaian tim ahli yang berarti layak. Dari siswa, diperoleh nilai rata-rata 3.40 yang berarti layak. Hal ini berarti bahan ajar yang disusun sudah layak untuk digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan penelitian pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar fisika tersebut dengan melakukan uji coba lebih luas, sehingga diperoleh bahan ajar fisika berbasis SAVI pada pokok bahasan optika geometri yang teruji validitasnya secara empiris.

Pengaruh service quality terhadap loyalitas pelanggan (studi pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang) / Rani Fahmi

 

Kata kunci: Service quality, Loyalitas pelanggan Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan industri perbankan yang ada dalam negara tersebut. Perkembangan bank-bank syariah di Indonesia mengalami kendala karena Bank Syariah hadir di tengah-tengah perkembangan dan praktik-praktik perbankan konvensional yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, bank Syariah harus memberikan pelayanan prima (service excellent) dengan cara meningkatkan service quality. Hal ini dilakukan agar pelanggan menjadi loyal dengan produk yang ditawarkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keadaan service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) dan loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (2) apakah service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) berpengaruh secara parsial terhadap loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (3) apakah service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) berpengaruh secara simultan terhadap loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (4) variabel service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) manakah yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?. Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan nasabah Tabungan Muamalat yang tercatat sebanyak 159.729 sampai bulan Desember 2010, penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Tekhnik sampling dalam penelitian ini menggunakan (accidental sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup yang menggunakan skala Likert dengan 5 pilihan jawaban. Penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis data yang menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini adalah: (1) bahwa keadaan service quality terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang cukup tinggi, (2) dengan nilai thitung sebesar 2,911 dan sig t 0,005, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel reliability secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 2,395 dan sig t 0,019, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel responsiveness secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 3,830 dan sig t 0,000, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel assurance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 2,242 dan sig t 0,027, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel empathy secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 3,244 dan sig t 0,002, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel tangibles secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 4,766 dan sig t 0,000, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel compliance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Malang diterima, (3) dengan nilai Fhitung = 34,574 > Ftabel = 2,19 dengan taraf signifikansi 0,000, dengan melihat taraf signifikansi yang lebih kecil dari 0,05, maka ada pengaruh positif yang signifikan antara reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara simultan terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima, (4) variabel yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang adalah compliance yang menunjukkan nilai SE sebesar 23,7%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) keadaan service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance) Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang cukup tinggi, (2) ada pengaruh positif yang signifikan antara service quality yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang, (3) ada pengaruh positif yang signifikan antara service quality yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara simultan terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang, (4) variabel service quality yang dominan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang adalah variabel compliance (kesesuaian dengan prinsip Syariah). Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pihak Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang lebih meningkatkan responsiveness kepada pelanggan, dari segi assurance karyawan harus bersikap profesional dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, segi tangibles Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang bisa lebih meningkatkan kenyamanan bagi pelanggan, diharapkan kepercayaan pelanggan terhadap compliance selalu dipertahankan dan menjadi perhatian khusus dengan meningkatkan kualitas dari compliance; (2) Peneliti selanjutnya, perlu pengujian lebih mendalam mengenai service quality pada perbankan syariah, terutama untuk menemukan peranan dimensi syariah dalam menciptakan loyalitas pelanggan.

Pengaruh cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang / Andi Setiawan

 

Kata kunci: Cara Belajar, Tingkat Stres, Hasil Belajar Ekonomi. Cara belajar merupakan strategi yang dilakukan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Cara belajar dibagi menjadi cara belajar di rumah dan cara belajar di sekolah. Tingkat stres merupakan tekanan pada aspek emosi, fisik, intelektual dan interpersonal siswa sebagai akibat dari adanya stressor yang diperoleh individu. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pengaruh antara cara belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang? (2) Bagaimana pengaruh antara tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang? (3) Bagaimana pengaruh antara cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang?. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 1 Malang. Teknik pengambilan sampel dengan “Proportional Random Sampling” Instrumen yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Analisis deskriptif korelasionalnya menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh variabel cara belajar (X1) dan tingkat stres (X2) terhadap hasil belajar (Y). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif antara cara belajar terhadap hasil belajar dengan tingkat signifikansi t (0,000) lebih kecil dari α (0,05) dan sumbangan efektif 6,62%, terdapat pengaruh negatif antara tingkat stres terhadap hasil belajar dengan tigkat signifikansi t (0,000) lebih kecil dari α (0,05) dan sumbangan efektif 57,22%. Secara simultan terdapat pengaruh cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar dengan Fhitung = 145.934 dan taraf signifikansi sebesar 0,000, angka Adjusted R Square = 0,634. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran (1) bagi siswa dapat mengatur waktu dan cara belajarnya lebih efektif dan aktif dalam mengikuti pelajaran dan berusaha mengatasi stres yang dialami dalam belajar seperti memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya, belajar atau mempersiapkan pelajaran sebelum dimulai dan rajin berolah raga, (2) bagi sekolah perlu memberikan bimbingan kepada siswa dalam hal cara belajar dan mengolah stres agar siswa lebih baik dalam mengatasi masalah yang dapat menimbulkan stres dalam belajar, (3) bagi peneliti lain diharapkan untuk lebih dalam dan spesifik dalam meneliti masalah tingkat stres siswa dengan metode yang lebih baik.

Analisis tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem wancik untuk ukuran XXXXL / Nurma Evy Maulidya

 

Kata kunci: Analisis, pola, Wancik, Kenyamanan. Masalah-masalah yang sering muncul dalam pembuatan pola badan, misalnya kurang tepatnya ukuran yang dipakai sehingga hasil jadi yang diperoleh kurang maksimal, pemindahan kupnad yang tidak sesuai, terdapat kerut atau menggelembung. Begitu pula dalam pembuatan pola celana untuk seseorang yang memiliki tubuh langsing (ideal) cenderung tidak bermasalah dengan struktur pola celana. Sebaliknya pada orang berbadan gemuk permasalahan sering terjadi pada bagian pesak, karena struktur badan orang gemuk tidak ada keseimbangan antara struktur bagian perut, lingkar panggul, dan lingkar paha, sehingga terlihat bentuk yang tidak rapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem Wancik pada pembuatan celana panjang wanita yang memiliki ukuran tubuh gemuk dengan indikator penilaian hasil pengepasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini yaitu pola celana panjang wanita sistem Wancik. Beberapa ukuran dalam pembuatan pola celana panjang wanita sistem Wancik yaitu lingkar pinggang, panjang celana, tinggi duduk, lingkar panggul, lingkar pesak, lingkar paha, lingkar lutut, lingkar kaki. Pola celana panjang wanita dengan sistem Wancik mempunyai bentuk yang lebih lebar, dalam menentukan besar paha sistem Wancik menggunakan rumus lingkar paha + 13 cm dikurangi 1 cm : 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kenyamanan pemakai untuk wanita yang memiliki ukuran XXXXL dengan menggunakan pola celana panjang wanita sistem Wancik. Hasil penelitian berdasarkan penilaian hasil pengepasan dapat diketahui frekwensi rata-rata tingkat kenyamanan celana panjang wanita ukuran (XXXXL), persentase dari masing-masing kedua ukuran tersebut memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda pula. Ukuran pada model pertama (I) nilai tingkat kenyamanan dengan kategori nyaman sebanyak 47,6%, sedangkan untuk ukuran model kedua (II) memiliki nilai dengan kategori nyaman sebanyak 38,01%. Untuk tingkat kenyamanan dengan kategori kurang nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 28,7%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai dengan kategori kurang nyaman sebanyak 33,3%. Persentase nilai dengan kategori tidak nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 23,8%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai tingkat kenyamanan dengan kategori tidak nyaman sebanyak 28,7%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembuatan celana panjang wanita dengan sistem Wancik pada hasil jadi ban pinggang celana bagian belakang longgar dan bergelombang (tidak rata), sehingga terlihat kurang nyaman ketika di pakai, pada bagian lingkar pesak sempit di bagian bawah pantat dan berkerut pada bagian sisi dan pantat, serta pada bagian lingkar paha sedikit longgar. Sistem pola celana yang di ujikan pada dua orang model yang masih memiliki ukuran tubuh yang di tetapkan (XXXXL). Pengujian pada dua ukuran tersebut menghasilkan nilai yang berbeda dan hasil tingkat kenyamanannya berbeda. Untuk ukuran yang pertama memiliki tingkat kenyamanannya lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran yang kedua. Ukuran tubuh seseorang dalam membuat busana sangat penting oleh karena itu pengukuran dilakukan dengan lebih teliti supaya busana yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebaiknya, dalam pemilihan desain tidak terlalu banyak merubah pola dasar, sehingga nantinya bisa diketahui letak kekurangan dan kelebihan dari pola yang di pakai.

Penerapan model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok dengan media alat peraga untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang / Bagus Purwanto

 

Kata Kunci: Kooperatif investigasi kelompok, Media Alat Peraga, Prestasi Belajar Fisika Penggunaan metode pembelajaran yang masih didominasi oleh ceramah dalam pembelajaran fisika merupakan faktor penyebab kurang berkembangnya prestasi belajar fisika siswa di sekolah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan menggunakan model pembelajaran tradisional yang didominasi oleh metode ceramah dan jarang menggunakan media alat peraga. Selain itu penerapan model pembelajaran yang selalu sama dalam semua materi membuat siswa merasa jenuh, pada akhirnya menyebabkan prestasi belajar fisika siswa menjadi rendah.Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa dan menyiapkan siswa agar memiliki hubungan sosial yang sehat akhir-akhir ini banyak dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif. Salah satunya adalah kooperatif investigasi kelompok dengan media alat peraga. Sejumlah studi tentang kooperatif investigasi kelompok ini telah konsisten menemukan bahwa siswa yang belajar dengan cara ini dapat belajar dan mengendapkan materi lebih banyak daripada siswa yang sekedar mendengarkan materi pelajaran. Tujuan dari penelitian ini tidak lain untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahaptahap penelitian tindakan berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) pemberian tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi, yang membentuk siklus demi siklus sampai penelitian tuntas, sehingga diperoleh data yang dapat dikumpulkan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok dengan peningkatan pada prestasi belajar fisika dengan nilai gain score 0,33 pada siklus I menjadi 0,44 pada siklus II dan ini sudah berada di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75. Diharapkan pada penelitian selanjutnya pembelajaran dapat menggunakan model kooperatif nvestigasi kelompok dengan alat peraga terhadap prestasi belajar fisika karena model kooperatif investigasi kelompok dengan alat peraga ini dapat meningkatkan interaksi siswa melalui proses kerjasamanya.

Upaya meningkatkan kualitas produk media pembelajaran fisika melalui kelompok kolaboratif model think pair share mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM / Dwi Windi Ari Suyitno

 

Kata Kunci: kolaboratif, Think-Pair-Share, kualitas produk media Rerata nilai produk media pembelajaran fisika berupa Galvanometer yang dibuat mahasiswa kelas AA offering CC di Jurusan Fisika masih mencapai 65,71. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar mahasiswa pada ranah psikomotor masih rendah. Penyebab dari permasalahan rendahnya kemam¬puan mahasiswa membuat produk media adalah kurangnya memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk berkreasi mengembangkan suatu desain media karena kerja kelompok yang selama ini dilakukan belum memperhatikan tanggung jawab individu. Berdasar¬kan masalah rendahnya hasil belajar ranah psikomotor maka perlu dilakukan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas produk media melalui kelompok kolaboratif dengan model Think Pair Share. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk media pembelajaran fisika dengan menerapkan kelompok kolaboratif model Think Pair Share mahasiswa Jurusan Fisika kelas AA offering CC. Penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan dosen pengampu mata-kuliah Pengembangan Media Pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Mc Taggart dengan tahapan penelitian berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Penelitian dilakukan selama dua siklus. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Fisika kelas AA offering CC dengan jumlah 36 mahasiswa yang terdiri dari 15 mahasiswa laki-laki dan 21 mahasiswa perempuan. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan lembar penilaian kualitas produk media pembelajaran fisika Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menerapkan kelompok kolaboratif model Think Pair Share, kualitas produk media pembelajaran fisika yang dibuat mahasiswa meningkat. Skor peningkatan pada siklus I sebesar 70,20 menjadi 85,20 pada siklus II.Rerata skor akhir produk media pembelajaran fisika mahasiswa adalah sebesar 85,20.

Hubungan antara motivasi berprestasi dan adversity quotient dengan prestasi akademik siswa SMAN 1 Malang / Heridha Yuninda

 

Kata Kunci: motivasi berprestasi, adversity quotient, prestasi akademik, siswa Adversity Quotient adalah suatu cara yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh seseorang mampu menghadapi kesulitan dan bagaimana kemampuan seseorang dalam mengatasinya. Motivasi berprestasi adalah usaha seseorang dalam menguasai tugasnya, mencapai kesuksesan, mengatasi rintangan, menjadi lebih baik dari orang lain, dan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atas pekerjaannya. Prestasi akademik adalah hasil dari proses belajar secara formal di sekolah, berupa penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru dalam rapor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik, mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik siswa, mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan motivasi berprestasi, dan mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan Adversity Quotient dengan prestasi akademik pada siswa SMAN 1 Malang. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik stratified proportional random sampling. Ada tiga alat pengumpul data dalam penelitian ini yaitu skala motivasi berprestasi, skala Adversity Quotient, dan dokumentasi laporan hasil rapor siswa. Subyek penelitian adalah siswa SMAN 1 Malang berjumlah 321 anak. Sampel penelitian adalah siswa SMAN 1 Malang kelas XI berjumlah 79 anak. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebesar 49,3% memiliki motivasi berprestasi yang rendah, sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebesar 36,7% memiliki Adversity Quotient rendah, dan sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebanyak 46,8% siswa memiliki prestasi akademik yang sedang. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik sebesar rx1y = 0, 352 dengan nilai p<0.05. Ini berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik sebesar rx2y= 0.424 dengan nilai p< 0.05. Ini berarti ada hubungan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dengan Adversity Quotient sebesar rx1x2= 0,780 dengan p< 0,05, artinya ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan Adversity Quotient. Hasil analisis korelasi ganda menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dan Adversity Quotient dengan prestasi akademik yaitu Rsquare= 0.181 dengan sig= 0,001 artinya R2 = 0,181, signifikan pada 0,001 sehingga Ha

Dampak program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri perdesaan (PNPM-MP) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang / Dewi Ningnurati

 

Kata Kunci: Dampak, PNPM-MP, kesejahteraan masyarakat Kemiskinan adalah permasalahan utama dalam agenda pembangunan di Indonesia sampai dengan tahun 2010. Masalah kemiskinan menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah karena merupakan amanat konstitusi dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu cara dalam pengentasan kemiskinan adalah dengan menggunakan pendekatan pemberdayaan, sehingga pemerintah mengeluarkan beberapa program pemberdayaan masyarakat antara lain: PPK, P2K, P4K, PEMP dan KUBE. Program-program pemberdayaan masyarakat dalam pengentasan kemiskinan pelaksanaannya kurang efektif sehingga pemerintah mengeluarkan program baru yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang yang melaksanakan PNPMMP. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji dampak PNPM-MP dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sebagaimana yang ada pada tujuan program, sehingga peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimana dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) dalam pengembangan prasarana sosial dasar dan ekonomi bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang; (2) Bagaimana dampak PNPM-MP dalam perluasan lapangan pekerjaan bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang; (3) Bagaimana dampak PNPM-MP dalam pengembangan partisipasi keswadayaan dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif-studi kasus. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian ini adalah Pengelola PNPM-MP di Kecamatan Wonosari dan di desa serta masyarakat penerima manfaat dari PNPM-MP di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif (reduksi, penyajian dan verifikasi data). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) dampak PNPM-MP dalam pengembangan prasarana sosial dasar pendidikan pada pembangunan gedung TK bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari yaitu adanya ketersediaan prasarana sosial dasar pada pendidikan, meningkatkan kualitas prasarana gedung i

Pengaruh model pembelajaran inquiry training (pelatihan inkuiri) terhadap hasil belajar dan perhatian siswa pada mata pelajaran fisika di kelas X SMA Negeri 4 Malang / Ika Suryani

 

Kata kunci: model inquiry training, hasil belajar, perhatian Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 4 Malang, ditemukan bahwa hasil belajar dan perhatian siswa pada pelajaran fisika masih rendah. Hasil belajar yang rendah ditunjukkan dengan nilai rata-rata siswa yang masih berada di bawah KKM yang sebesar 76. Nilai-nilai tersebut adalah sebesar 57.35 untuk kelas X1, 56.66 untuk kelas X2, 62.45 untuk kelas X3, 65,21 untuk kelas X4, 64.89 untuk kelas X5, dan 54.97 untuk kelas X6. Nilai tersebut diperoleh dari hasil ujian akhir semester gasal. Sedangkan perhatian siswa yang rendah ditandai dengan banyaknya kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa selama pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan terhadap pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran baru dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar dan perhatian siswa. Salah satunya adalah model pembelajaran inquiry training (pelatihan inkuiri). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Rancangan penelitiannya adalah eksperimen semu dan desain penelitian yang digunakan adalah posttest only control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang yang terdiri dari enam kelas sebagai populasi penelitian, sedangkan sampelnya adalah kelas X3 sebagai kelas eksperimen dan X5 sebagai kelas pembanding. Setiap kelas yang menjadi subjek penelitian tersebut terdiri dari 38 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan berupa RPP dan instrumen pengukuran berupa lembar observasi dan instrumen tes. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar dengan uji U Mann- Whitney, diperoleh nilai z sebesar −2.834 yang lebih kecil dari nilai kritis z yaitu 1.645 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak. Diterimanya H0 ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas pembanding. Artinya, hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran inquiry training tidak lebih tinggi dari hasil belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil analisis terhadap perhatian siswa yang dilakukan dengan uji perbedaan dua proporsi, diperoleh nilai z sebesar 6.087 yang lebih besar dari negatif nilai z tabel yaitu sebesar −1.64 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak, artinya proporsi kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa kelas eksperimen tidak lebih kecil dari kelas pembanding. Proporsi kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa ini menunjukkan perhatian siswa. Jadi perhatian siswa kelas eksperimen atau kelas yang belajar dengan model pembelajaran inquiry training tidak lebih besar dari siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. ABSTRAK Suryani, Ika. 2011. The Influence of Inquiry Training Model to Students’ Learning Results and Attention in Physics of Grade X at Public Senior High School 4 Malang. Thesis, Physics Department, Faculty of Mathematics and Science, State University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Subani, (II) Dra. Chusnana Insjaf Yogihati, M.Si. Keywords: inquiry training model, learning results, attention Based on observations in Public Senior High School 4 Malang, it was found that the students’ learning results and attention are low. The low learning results indicated by the average student is still below that of KKM 76. Values amounted to 57.35 for class X1, 56.66 for X2, 62.45 for X3, 65.21 for X4, 64.89 for X5, and 54.97 for X6. This value is obtained from the odd semester of the final exam. While students attention which are low shown by the number of irrelevant activities done by students during the lesson. Therefore, the necessary improvements to learning by applying new learning models in the hope of increasing students’ learning results and attention. One model of learning is inquiry training model. The approach used in this study is a quantitative approach to the type of experimental research. The design study is a quasi-experimental and design study is a posttest only control group design. The subject of this study is the grade X at Public Senior High School 4 Malang which consist of six classes as the population, while the sample is X3 as experiment class and X5 as the comparison class. Each class that is the subject consist of 38 students. Research instrument used is the treatment instrument in the form of lesson plans and measuring instruments in the form of the observation sheets and test instruments. Based on the analysis results of learning results by the Mann-Whitney U test, z values obtained for −2.834 is less than the critical value of z is 1.645 so the H0 is received or H1 is refused. H0 receipt shows that there is no difference in learning results between experimental class and comparison class. It means the learning results of students who learn by inquiry training model is not higher than the learning results of students who studied with conventional learning. The analysis of students' attention to the difference of two proportions test, z values obtained for 6.087 is greater than negative value of z table that is equal to −1.64 so that H0 accepted or H1 refused, meaning that the proportion of irrelevant activities conducted experimental class students is not lower than the comparison class. The proportion of irrelevant activities of the student shows students' attention. So attention experimental class or classes of students who learn by inquiry learning model of training is not greater than students who studied with conventional learning.

Evaluasi potensi mata air Song Bajul untuk suplai air bersih penduduk di Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung tahun 2010-2050 / Mar'atus Sholekhah

 

Kata Kunci: kebutuhan air, kuantitas air, proyeksi penduduk Kekeringan merupakan keadaan dimana sebagian besar penduduk merasakan kurangnya air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah ini dialami oleh penduduk Kabupaten Tulungagung bagian selatan, yaitu Kecamatan Pucanglaban. Penduduk Desa Pucanglaban memanfaatkan mata air Umbul Bendo dan Desa Sumberdadap memanfaatkan mata air Sumber Kucur, yang masing-masing memiliki debit 0,5 liter/detik, sehingga terdapat batasan waktu untuk mendapatkan pasokan air bersih. Di Desa Panggungkalak terdapat sumber mata air yang memiliki debit yang besar, yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan kekurangan air bersih. Mata air tersebut dinamakan mata air Song Bajul yang merupakan mata air karst. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi (kuantitas) mata air Song Bajul, menganalisis kebutuhan air, dan mengevaluasi potensi mata air Song Bajul untuk memenuhi kebutuhan air bersih tahun 2010-2050 di Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Obyek dalam penelitian ini meliputi mata air Song Bajul dan penduduk Desa Pucanglaban dan Sumberdadap. Sampel responden ditentukan dengan Stratified Proportional Random Sampling dan jumlah responden ditentukan dengan Stratified Sampling. Jumlah responden di Desa Pucanglaban 156 KK dan Desa Sumberdadap 133 KK. Hasil penelitian ini yaitu: (1) kuantitas mata air Song Bajul adalah 201,67 liter/detik atau 17.424.616,32 liter/hari, (2) saat ini total kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap yaitu 1.030.381,24 liter/hari, (3) Perkiraan total kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap tahun 2050 yaitu 2.536.746,61 liter/hari. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) Debit mata air Song Bajul memiliki debit yang relatif stabil sepanjang tahun karena merupakan mata air karst, (2) terjadi perbedaan pola konsumsi antara jenis pekerjaan, (3) besar kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Sumberdadap tahun 2050 dapat tercukupi dengan debit mata air Song Bajul baik pada musim kemarau dan dan musim penghujan. Saran yang dapat diberikan: (1) untuk penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan juga evaluasi kualitas mata air, (2) faktor kebocoran harus diperhatikan dalam proses distribusi air sehingga kuantitas air yang diperoleh lebih akurat, (3) hendaknya dilakukan prediksi penggunaan lahan untuk beberapa tahun yang akan datang.

Pengaruh permainan dalam outbond terhadap sikap disiplin dalam bekerja / Ken Anis Nur Laily

 

Kata Kunci: permainan, sikap disiplin dalam bekerja Permainan merupakan suatu aktivitas manusia yang menyenangkan, bersemangat dan kompetitif dengan menaati aturan-aturan yang sudah ditentukan sesuai dengan materi dan jenis permainannya. Sikap yaitu suatu penilaian subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Disiplin dalam bekerja adalah serangkaian tingkah laku karyawan untuk mentaati dan mematuhi segala peraturan-peraturan yang berlaku dalam perusahaan yang meliputi ketepatan masuk kerja, kepatuhan dan loyalitas, ketaatan pada peraturan dan prosedur, dan penggunaan alat kerja serta kerjasama dengan rekan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan terhadap sikap dalam disiplin bekerja. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 orang (N=30). Untuk menghitung perbedaan pretest dan posttest menggunakan t-score tesretes. pre test and post test design. Hasildari 30 peserta terdapat 23 orang yang mengalami peningkatan skor sikap disiplin dalam bekerja dan 7 orang mengalami penurunan. Hasil t-score tesretes memperoleh t = 3,498, signifikansi pada. 0.002 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan sikap disiplin sebelum dan sesudah diberikan permainan. Permainan efektif mengubah sikap disiplin dalam bekerja seseorang, dapat dilihat dari skor mean posttest = 96,97 lebih besar dibanding pretest = 88,66 Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran pada beberapa pihak diantaranya : (1) Bagi perusahaan diharapkan dapat menjadikan permainan sebagai kegiatan berkala sehingga kinerja karyawan dalam hal ini disiplin dalam bekerja dapat terus meningkat. (2) Bagi para karyawan peserta permainan diharapkan dapat mengaplikasikan pengalaman dan pemahaman yang didapat dalam dunia kerja. (3) Bagi perusahaan jasa permainan diharapkan penelitian ini dapat menjadikan referensi mengenai efektivitas permainan. (4) Bagi praktisi psikologi yang ingin meneliti lebih lanjut disarankan melakukan randomisasi untuk menentukan sampel penelitian dan perlu menggunakan varabel dan atau kelompok kontrol agar eksperimen yang dilakukan lebih bersih.

Penerapan metode mind mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang / Bayu Dwi Septiawan

 

Kata kunci: Metode Mind Mapp, Keterampilan Menulis Narasi. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Purwantoro 02 Malang didapatkan fakta bahwa, pembelajaran yang dilakukan guru terhadap kemampuan siswa dalam menulis karangan menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam penggunaan diksi, ejaan dan tanda baca, serta membangun kepaduan kata dengan kalimat sesuai dengan isi cerita. Nilai yang diperoleh pun secara klasikal rata-ratanya hanya mencapai 45,05. Sedangkan SKM yang ditentukan adalah 75 untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode Mind Mapp. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan metode Mind Mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa. (2) mendiskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa dengan penggunaan metode Mind Mapping. Penelitian ini menggunakan jenis PTK yang dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus 2 pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Jenis data yang hendak dikumpulkan adalah data proses pembelajaran dan hasil keterampilan menulis narasi siswa. Sumber datanya adalah siswa kelas V dan juga guru Bahasa Indonesia di kelas tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan tes dengan instrument berupa lembar observasi, kamera dan soal test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Mind Mapp untuk pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang dengan standar kompetensi “Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis” dapat dilaksanakan dengan efektif. Keterampilan menulis narasi siswa meningkat dari 45,05 pada kegiatan pratindakan menjadi 55,16 pada siklus I dan menjadi 75,37 pada siklus II. Pada penilaian menulis narasi terdapat beberapa indikator yang dirasa perlu diperhatikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan indikator yang rendah dibandingkan dengan indikator yang lain. Indikator tersebut adalah pemilihan kata, serta penggunaan Ejaan dan tanda baca. Untuk indikator pemilihan kata dapat diselesaikan dengan menambahkan sumber bacaan kepada siswa pada waktu mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa. Sedangkan indikator penggunaan ejaan dan tanda baca dapat diselesaikan dengan cara pembiasaan dan latihan yang berkelanjutan. Dari hasil penelitian ini, guru seharusnya melakukan persiapan yang matang sebelum kegiatan belajar mengajar seperti lebih menyiapkan media ataupun bahan pembelajaran yang diperlukan untuk menunjang ketercapaian indikator, sedangkan untuk pihak sekolah diharapkan kerjasamanya dalam menumbuhkan minat siswa untuk menulis dengan menyediakan fasilitas berupa buku bacaan anak dan tempat yang nyaman untuk membaca sehingga kosa kata siswa bertambah dengan harapan dapat menumbuhkan minat menulis siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbasis auto play untuk mata kuliah teknik penerjemahan di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Syayidah Ginanjar Rahayu

 

Kata Kunci: Hak Asasi Manusia, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Hak Asasi Manusia merupakan hak dasar yang dimiliki manusia yang tidak dapt di kurangi dengan suatu apapun. Dalam proses pembelajaran Hak Asasi Manusia merupakan salah satu komponen yang dapat mendukung terwujudnya pembelajaran yang lebih menghargai hak-hak manusia dan mewujudkan pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran efektif (effective learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning). Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di SMP Negeri 1 Wajak diaktualisasikan dalam bentuk proses pemebelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan, hal ini dapat terlihat dalam keterlibatan siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas VII SMP Negeri 1 Wajak Kabupaten Malang, (2) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), (3) upaya-upaya yang dilakukan oleh guru guna mengatasi kendala-kendala implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Berdasarkan tujuan tersebut, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu sumber data manusia dan sumber data non manusia (dokumen). Penentuan informan penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan menggunakan empat teknik, yaitu perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan, triangulasi (sumber, metode, teknik), dan pemeriksaan sejawat. Temuan penelitian menujukkan bahwa (1) implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 1 Wajak meliputi (a) Implementasi HAM dalam perencanaan pembelajaran yang meliputi: Perumusan kompetensi pembelajaran, dimana guru mengembangkan kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi kedalam beberapa indikator pembelajaran, dalam mengembangkan indikator guru tetap memperhatikan potensi dan kemampuan dari peserta didiknya; Perencanaan materi, dalam proses pembelajaran guru selalu menumbuhkan sikap demokratis melalui keterbukaan untuk bertanya atau berpendapat jika dalam pembelajaran ditemukan perbedaan antara materi dengan buku; Perencanaan metode, guru melakukan pemilihan metode yang akan digunakan sehingga pembelajaran lebih efektif, aktif dan sesuai dengan tujuan Perencanaan media, penggunaan media disesuaikan dengan materi yang diajarkan, serta penggunaan media terbatas pada media OHP dan Perencanaan evaluasi pembelajaran, meliputi kegiatan perencanaan waktu, materi yang diujikan serta intrumen dan bentuk tes yang akan digunakan (b) implementasi HAM dalam pelaksanaan pembelajaran, diwujudkan dengan pemberian hak pada siswa dalam bentuk hak untuk bertanya, menyampaikan pendapat, serta mengemukakan gagasan. (c) implementasi HAM dalam evaluasi pembelajaran, dalam merencanakan waktu evaluasi guru berpedoman pada kalender akademik agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah, serta dalam menentukan soal evaluasi guru tetap memperhatikan batasan-batasan kompetensi dasar yang ditentukan. (2) faktor pendorong implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Wajak adalah sebagai berikut: Ingin mengubah paradigma pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran yang modern, pembelajaran aktif, dan pembelajaran yang menyenangkan. Mewujudkan pembelajaran yang mengedepankan persamaan hak dan kebebasan dalam mengembangkan pengetahuan dan kreativitas. Sedangkan faktor penghambat adalah: Masih kurangnya pengetahuan guru dan siswa tentang penggunaan haknya dalam proses pembelajaran; Siswa masih belum bisa sepenuhnya mengharagai hak-hak masing-masing individu; Adanya sebagian siswa yang memaksakan kehendak dalam berpendapat; Kurangnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa. (3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn adalah: Guru selalu mengadakan komunikasi, sharing dan interaksi dengan siswa; Guru selalu memotivasi diri untuk meningkatkan profesionalismenya unutk meningkatkan kualitas dalam mengajar; Guru selalu menghadirkan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Beberapa saran sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran yaitu: (1) Guru perlu lebih meningkatkan kualitas dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional, (2) Bagi pihak sekolah, perlu adanya bimbingan dan pelatuhan tentang hak asasi manusia bagi guru yang betujuan untuk meningkatkan kesadaran guru dalam peningkatan dan penghargaan hak asasi manusia dalam pembelajaran, (3) Bagi Diknas, perlu adanya pertimbangan tentang penerapan hak asasi manusia dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah serta perlu pelatihan atau sosialisasi tentang hak asasi manusia dalam mengembangkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai hak asasi manusia.

Implementasi strategi pembelajaran mastery learning dalam kompetensi kejuruan sistem pemindah tenaga (kopling) Teknik Mekanik Otomotif di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung / Muh. Amri Mukhtarifin

 

Peningkatan kemampuan menjawab dan mengajukan pertanyaan melalui metode bisajawab pada siswa kelas IIIB SD Negeri Kandangan I Kediri / Dwi Nur Rohmah

 

Kata Kunci : metode BISAJAWAB, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, kemampuan membaca Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri. Salah satunya adalah membaca intensif suatu artikel pendek. Membaca intensif perlu dibiasakan kepada siswa sejak duduk di bangku kelas rendah. Melalui membaca intensif, siswa dapat mengetahui ide, pesan maupun isi artikel secara menyeluruh sehingga dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan seperti mengajukan dan menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil pengamatan di kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri, sebagian besar siswa belum mampu membaca intensif dengan tepat sehingga banyak kendala yang dihadapi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kendala-kendala tersebut: (1) siswa belum mampu menjawab dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan isi artikel yang dibaca secara intensif, (2) pertanyaan yang diajukan oleh siswa cenderung pada hal-hal yang bukan berkenaan dengan isi artikel yang dibaca, (3) siswa sering kesulitan jika guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan seputar isi artikel yang dibaca, (4) para siswa juga kesulitan untuk menemukan kalimat utama yang menjadi tolak ukur pemahaman siswa terhadap isi artikel yang dibaca secara intensif, (5) jawaban dari pertanyaan guru tidak sesuai dengan kunci jawaban sehingga hasil belajar siswa di bawah KKM. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri yang terdiri atas 45 siswa. Analisis data kualitatif menunjukkan bahwa melalui metode BISAJAWAB siswa antara lain (1) dapat membaca intensif dengan tanpa bersuara dan tidak menggeleng-gelengkan kepala, (2) dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan literal secara cepat, (3) dapat berkompetisi secara sehat dengan siswa lain dalam mengikuti kuis bertanya cepat dapat, (4) dapat konsentrasi, teliti, dan tepat dalam menjawab pertanyaan, (5) dapat menggali pembendaharaan kosakata siswa dalam menentukan variasi pertanyaan yang akan diajukan, dan (6) dapat berpikir aktif dalam mengajukan pertanyaan kritis. Analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa skor penilaian rata- siswa pada siklus I sebesar 51,59 dengan presentase klasikal 18,17% sehingga siklus I belum dikatakan berhasil karena ketuntasan belajar klasikal siswa belum bisa mencapai standar ketuntasan klasikal pada pembelajaran bahasa Indonesia sebesar 75% seperti yang ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan. Presentase ketuntasan pada siklus II sebesar 89,29%. Pada siklus II, skor penilaian rata-rata siswa sebesar 62,86 dengan ketutasan klasikal 38,63%. Meskipun siklus II mengalami peningkatan tetapi siswa belum mencapai KKM. Perubahan drastis terjadi pada siklus III. Pada siklus III, skor penilaian rata-rata sebesar 89,76 dengan presentase klasikal sebesar 100%. Dengan demikian, presentase hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sampai siklus III mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar ini terjadi karena siswa sudah mampu membaca intensif untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan dengan tepat, cepat, logis, dan bervariasi.

Penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Malang / Wildan Akhsana

 

Kata kunci: Media Macromedia Flash Professional 8, IPA, Pembelajaran, Media pembelajaran adalah segala sesuatu alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata atau konkrit dari pengirim pesan kepada penerima sehingga terjadi proses belajar, dengan media proses pemahaman konsep siswa menjadi lebih mudah dan belajar menjadi lebih bermakna. Berdasarkan hasil observasi di SDN Tunjungsekar 1 didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang belum pernah menggunakan media, sehingga siswa kurang aktif. Dari nilai tes menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 60,9 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 36,4 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 67 untuk hasil belajar dan 70% untuk ketuntasan kelas. Penelitian ini merumuskan masalahnya (1) bagaimanakah langkah-langkah guru dalam memanfaatkan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) bagaimankah aktivitas siswa selama pembelajaran dengan media macromedia flash professional 8, (3) bagaimanakah hasil belajar siswa setelah diterapkan media macromedia flash professional 8. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media macromedia flash professional 8, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 dengan kompetensi dasar “mendeskripsikan sistem tata surya dan posisi penyusunan tata surya” dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam penerapan media macromedia flash professional 8. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 82,5 menjadi 86,5 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 78 dengan ketuntasan 84% pada siklus I menjadi rata-rata 82 dengan ketuntasan kelas mencapai 92% pada siklus II. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran macromedia flash professional 8 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan sekolah supaya lebih termotivasi dan lebih semangat dalam memberikan pengajaran yang bermutu, bervariasi dan berinovasi untuk mengadakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.

Studi setting rele proteksi terhadap gangguan arus hubungan singkat 3 fasa pada generator PT. YTL Jawa Timur / Moch. Efendi

 

Kata kunci: generator, arus gangguan, rele proteksi, EDSA 2005. PLTU Paiton unit 5 dan 6 merupakan pembangkit yang mensuplai energi listrik di Jawa-Bali sebesar 1220 MW. Guna menjaga kontinyuitas suplai energi, maka keandalan generator harus dijaga dari berbagai jenis gangguan. Di PLTU Paiton unit 5 dan 6 sering terjadi gangguan hubung singkat pada lilitan stator. Hal ini bisa disebabkan oleh tegangan lebih ataupun beban yang menghilang mendadak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui setting rele arus lebih terhadap arus hubung singkat yang terjadi pada lilitan stator. Untuk menentukan waktu kerja rele diperlukan perhitungan besar arus hubung singkat yang terjadi pada belitan stator dengan perhitungan manual serta perhitungan arus hubung singkat dengan menggunakan EDSA 2005. Setelah menentukan arus hubung singkat pada lilitan stator baru dapat menetukan waktu setting trip rele. Jadi hubungan gangguan hubung singkat 3 fasa adalah dalam menentukan waktu kerja rele untuk mencegah terjadinya gangguan. Hasil yang didapat berdasarkan analisa dan pembahasan yaitu dalam penyetelan kerja rele arus lebih tidak terdapat perbedaan dengan yang terpasang 1 Ampere, hal ini disebabkan karena pada tap penyetelan rele menggunakan data yang valid untuk perhitungan setting rele. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada pembahasan ini besar arus hubung singkat dengan perhitungan manual sebesar 72237,69 Ampere sedangkan perhitungan menggunakan EDSA 2005 sebesar 78171 Ampere dan setting rele arus lebih terdapat 0,94 Ampere dibulatkan menjadi 1 Ampere dengan setting waktu 2,86 detik dan dibulatkan menjadi 3 detik, sehingga apabila terjadi gangguan arus hubung singkat tiga fasa pada generator akan bekerja dengan waktu tunda 3 detik. Sistem pengaman generator tetap terkoordinasi dengan baik dan keandalan generator dalam menyupplai energi listrik tetap terjaga. Saran yang dapat digunakan untuk permasalahan ini adalah dengan melakukan pemeliharan dan pemeriksaan secara berkala terhadap rele arus lebih karena kalau seandainya rele tidak bekerja maka kita segera mengetahui dan segera memperbaikinya.

Pembuatan cocktail dress variasi ruffles pleats / Amelia Rahma Devi

 

Kata Kunci: Cocktail dress, variasi ruffles pleats. Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan oleh seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk pelengkap busana, tatarias wajah dan tatarias rambutnya. Dunia busana berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat dalam berbusana. Tren busana pesta terus mengalami perkembangan, salah satunya adalah cocktail dress. Cocktail dress merupakan gaun pendek (sampai batas lutut atau lebih), biasanya dibuat dari bahan wol ringan, satin, sutera, beludru, atau bahan mewah lain, juga dapat dihias dengan bordir atau hiasan dekoratif lain, dengan potongan yang memamerkan pundak serta lengan atas. Ruffles pleats dipilih sebagai variasi karena keduanya memiliki keunikan tersendiri. Jika keduanya digunakan dalam pembuatan cocktail dan dress akan memberikan kesan glamor dan feminim. Jenis pleats yang digunakan penulis yaitu sunray pleats dan knife pleats. Dalam pembuatan cocktail dress kali ini, penulis membuat karya cocktail dress dari bahan kain “dobby kombinasi”, kain organdi dan kain tile.  Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 348.700,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa cocktail dress berbahan “doby kombinasi” dengan variasi ruffles pleats. Saran yang dapat diberikan adalah pada saat pembuatan cocktail dress ini adalah pada saat pembuatan ruffles pleats sebaiknya bahan dipleats telebih dalulu sebelum dipotong agar tekstur pleats pada pola ruffles pleats bisa lebih terlihat serta pola ruffles pleats dihasilkan lebih bergelombang.

Peningkatan hasil belajar operasi penjumlahan pecahan melalui pemanfaatan benda manipulatif siswa kelas V SDN Bandulan 5 Kecamatan Sukun Kota Malang / Wahyu Nurdianta

 

Kata kunci: PTK, Benda Manipulatif, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya penguasaan materi dikarenakan kurangnya penggunaan media pembelajaran di SDN Bandulan 5 Kota Malang. Penelitian ini berangkat dari akar permasalahan siswa yang cenderung terlihat sulit menerima materi saat pembelajaran berlangsung. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan memanfaatkan benda manipulatif seperti kertas lipat dan mika transparan. Pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan memamfaatkan benda manipulatif yang dapat meningkatkan keaktifan siswa sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep matematika. Tujuan penelitian ini yaitu : 1) mendeskripsikan pemanfaatan benda manipulatif dalam pembelajaran matematika kelas 5 pada pokok bahasan operasi penjumlahan pecahan; 2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa Kelas 5 SDN Bandulan 5 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara dan tes. Data yang dianalisis pada penelitian ini berupa penguasaan materi yang diperoleh melalui hasil penilaian pembelajaran dan hasil penilaian terakhir pembelajaran yang didapat dari nilai test akhir. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 5 SDN Bandulan 5 Kota Malang, dengan jumlah siswa sebanyak 17 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010-2011, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai Matematika, soal test akhir sebanyak 10 soal, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan benda manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar Matematika dengan materi operasi penjumlahan pecahan di kelas V SDN Bandulan 5 Malang. Perolehan hasil belajar siswa meningkat, dari nilai pretes terlihat 11,76%, pada siklus I mencapai 52,94%, jadi dari hasil pre tes ke siklus I meningkat sebesar 41,18%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 41,18%, hal ini terlihat dari siklus I yang tuntas 52,94% dan siklus II yang tuntas mencapai 94,12%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan benda manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V SDN Bandulan 5 Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menggunakan media pembelajaran saat pembelajaran yang memang membutuhkan media.

Frekuensi kunjungan harian arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Anggun Wulandari

 

Kata kunci: frekuensi, kunjungan harian, distribusi temporal, Arthropoda, tumbuhan liar, faktor abiotik Frekuensi adalah keseringan suatu jenis yang ditemukan dalam setiap petak pengamatan. Frekuensi kunjungan harian Arthropoda dapat dilihat dari seberapa sering famili Arthropoda tersebut dalam mengunjungi tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. yang ditentukan berdasarkan rerata Arthropoda disetiap jam yang di amati secara visual control dari jarak 2 meter selama 10 hari. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. (2) mengetahui distribusi temporal Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. (3) mengetahui faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang memaparkan tentang frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Pengamatan jumlah Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dilakukan pada pukul 07.00-07.15, 08.00-08.15, 09.00-09.15, 10.00-10.15, 11.00-11.15, 12.00-12.15, 13.00-13.15, 14.00-14.15, 15.00-15.15, 16.00-16.15 dan 17.00-17.15, sedangkan pengamatan pada tumbuhan liar Setaria sp. dilakukan pada pukul 07.20-07.35, 08.20-08.35, 09.20-09.35, 10.20-10.35, 11.20-11.35, 12.20-12.35, 13.20-13.35, 14.20-14.35, 15.20-15.35, 16.20-16.35 dan 17.20-17.35. Penelitian ini dilakukan pada petak klon assamica dan faktor abiotik yang diukur meliputi suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya dan kecepatan angin. Frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. dianalisis dengan uji t berpasangan (pair-sample t test), sedangkan distribusi temporal dianalisis secara deskriptif dan untuk mengetahui faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. dianalisis dengan analisis regresi ganda bertahap dengan menggunakan program SPSS. Berdasarkan hasil analisis uji t berpasangan yang dilakukan ada perbedaan frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tinggi pada Borreria repens DC. adalah Acrididae, Coccinellidae, Dolichopodidae, Gryllidae, Syrpidae, Vespidae, Tachinidae dan Ichneumonidae. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tinggi pada Setaria sp. adalah Lycosidae, Oxyopidae, Pholcidae dan Salticidae. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tidak berbeda pada Borreria repens DC. dan Setaria sp. adalah Cicadellidae, Drosophilidae, Formicidae, Muscidae, Papilionidae, Geometridae, Carabidae, Tettigonidae, Pyrgomorphidae, Aeshnidae, Mantidae, Pentatomidae dan Culicidae. Distribusi temporal menunjukkan bahwa Arthropoda tertentu lebih sering ditemukan pada jam-jam tertentu, dari hasil penelitian diketahui bahwa famili Arthropoda yang aktif pada pagi dan sore hari yaitu Cicadellidae, famili Arthropoda yang aktif pada siang hari yaitu Dolichopodidae dan Syrpidae. Arthropoda yang aktif sepanjang hari yaitu famili Coccinellidae, Formicidae, Lycosidae, Oxyopidae, Geometridae dan Mantidae. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. adalah suhu udara dengan sumbangan terbesar pada famili Coccinellidae dengan nilai r2 parsial 21,05%, Lycosidae dengan nilai r2 parsial 28,97%, Oxyopidae dengan nilai r2 parsial 35,04% dan Syrpidae dengan nilai r2 parsial 43,44%. Intensitas cahaya mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Dolichopodidae dengan nilai r2 parsial 29,84% dan Mantidae dengan nilai r2 parsial 21,11%. Kecepatan angin mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Cicadellidae dengan nilai r2 parsial 33,32%, Formicidae dengan nilai r2 parsial 13,25% dan Geometridae dengan nilai r2 parsial 17,08%. Hasil analisis regresi ganda pada tumbuhan liar Setaria sp., suhu udara mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Coccinellidae dengan nilai r2 parsial 22,45% dan Lycosidae dengan nilai r2 parsial 31,22%. Kelembaban udara mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Cicadellidae dengan nilai r2 parsial 33,22%, Dolichopodidae dengan nilai r2 parsial 36,72% dan Geometridae dengan nilai r2 parsial 38,64%. Intensitas cahaya mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Oxyopidae dengan nilai r2 parsial 28,91% dan Syrpidae dengan nilai r2 parsial 38,44%. Kecepatan angin mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Formicidae dengan nilai r2 parsial 20,38%.

Peningkatan kemampuan menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan media video klip musik pop untuk siswa kelas VIII-G SMP Negeri 2 Malang / Yossy Firmansyah

 

Kata kunci: Kemampuan menulis, pembelajaran menulis, media video klip Dalam kegiatan belajar mengajar, menulis mempunyai peranan penting karena menulis merupakan dasar untuk menguasai kemampuan berbahasa lainnya. Oleh karena itu, penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran kemampuan menulis dapat tercapai. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran menulis masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Malang, kemampuan menulis siswa masih rendah dan belum mencapai nilai standar yang ditetapkan sekolah tersebut terutama pada kemampuan menulis naskah drama. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis naskah drama pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 2 Malang menggunakan media video klip. Penggunaan media video klip diharapkan dapat menambah minat dan semangat siswa dalam belajar siswa tentang menulis naskah drama sehingga pembelajaran menulis dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Manfaat penelitian ini adalah membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pembelajaran khususnya menulis naskah drama, memotivasi siswa untuk belajar, dan melatih siswa melakukan kegiatan menulis secara efektif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data yang digunakan berupa tes, observasi, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian kemampuan menulis naskah drama siswa pada kemampuan awal, siklus I, dan siklus II menunjukkan peningkatan pada tahap pramenulis, tahap menulis dan tahap pascamenulis. Penggunaan media video klip pada tahap pramenulis dikategorikan sangat baik sebesar 82,7% siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kerangkan naskah drama. Penggunaan media video klip pada tahap menulis dikategorikan sangat baik sebesar 95,6% siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat naskah drama dengan mengembangkan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh dan padu. Penggunaan media video klip pada tahap pascamenulis dikategorikan sangat baik sebesar 100% siswa dapat memberikan komentar terhadap naskah drama milik temannya. Peningkatan kemampuan menulis naskah drama pada tiap siklus diikuti dengan perubahan perilaku positif siswa.. Dari hasil penelitian ini, saran yang disampaikan peneliti adalah penggunaan media video klip dapat menumbuhkan minat dan ketertaikan siswa dalam pembelajaran menulis naskah drama sehingga perlu dipertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran.

Kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang / Nurmeida Rokh Sasminingrum

 

Kata kunci: Kepuasan pelayanan, Subag Pendidikan dan Evaluasi, Universitas Negeri Malang. Kepuasan pelayanan merupakan harapan dari sebuah pelayanan. Pelayanan yang berkualitas akan mampu memberikan pelayanan kepada publik secara memuaskan. Pada era globalisasi sebuah instansi pelayanan dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik sehingga dapat meningkatkan derajat kepuasan masyarakat. Mencermati pelayanan subag pendidikan dan evaluasi masih mengandung beberapa permasalahan. Oleh sebab itu, agar memberikan pelayanan yang baik, maka diperlukan adanya peningkatan kepuasan pelayanan. Berdasarkan latar belakang di atas dilakukan penelitian dengan fokus penelitian (1) bagaimana kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan subag pendidikan dan evaluasi (PE) Universitas Negeri Malang, (2) bagaimana partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM, (3) bagaimana tanggapan subag PE terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan yang diberikan subag PE UM, (2) mendeskripsikan partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM, (3) mendeskripsikan tanggapan subag PE UM terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Lokasi penelitian berada di subag pendidikan dan evaluasi Universitas Negeri Malang, diantaranya bagian administrasi nilai, penerbitan kartu hasil studi (KHS), penerbitan transkrip dan ijasah, dan legalisir transkrip dan ijasah. Sumber data berasal dari: orang yaitu kasubag PE UM, para staf PE UM, mahasiswa, dan alumni. Peristiwa berupa seluruh aktivitas pelayanan subag PE UM dan dokumentasi tentang gambaran umum pelayanan subag PE UM. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Analiasis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Keabsahan data dilakukan dengan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) kepuasaan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan yang diberikan subag PE UM yaitu perasaan mahasiswa dan alumni terhadap kepuasan pelayanan subag PE, yaitu perasaan senang dan tidak senang, perasaan senang antara lain tentang kejelasan dan kepastian prosedur, kedisiplinan petugas, kecepatan pelayanan, ketepatan jadwal, perhatian dan tanggapan, dan kenyamanan lingkungan kantor. Perasaan tidak senang antara lain tentang kesopanan, keramahan, dan prosedur pelayanan, (2) partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM yaitu saran mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE dan cara berpartisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE berbentuk dua cara yaitu menulis komentar di website UM dan menyampaikan saran langsung ke petugas. (3) tanggapan subag PE terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni mengenai masalah jadwal, keramahan, kenyamanan, dan koordinasi. Pertama, masalah jadwal subag pendidikan dan evaluasi negeri malang sudah mencantumkan jadwal penerbitan/pengambilan KHS di internet. Kedua, masalah keramahan pelayanan subag pendidikan dan evaluasi sudah ramah tetapi akan berusaha meningkatkan lagi. Ketiga, masalah kenyamanan tempat duduk/ruang tunggu subag pendidikan evaluasi sudah memperbanyak tempat duduk. Keempat, masalah koordinasi antara subag pendidikan dan evaluasi dengan fakultas tiap jurusan sudah saling berkoordinasi dengan baik mangenai masalah nilai mahasiswa yang terlambat keluar. Berdasarkan temuan penelitian ini, agar disarankan bagi subag pendidikan dan evaluasi (PE) universitas negeri malang sebaiknya lebih meningkatkan pelayanan dengan cara pelatihan pegawai untuk meningkatkan responsivitas dan keramahan pelayanan kepada mahasiswa dan alumni. Subag PE universitas negeri malang menyediakan kotak saran untuk mencapai tingkat kepuasan pelayanan. Peningkatan keramahan perlu dilakukan dengan menerapkan pelayanan seperti di bank agar mahasiswa dan alumni lebih merasa puas terhadap pelayanan subag PE. Selain itu Peran dan kerja sama berbagai pihak terkait, yaitu Rektor UM sebagai pengawas, pihak Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang sebagai pelaksana, serta mahasiswa dan alumni sebagai pengawas dan pengendali nonformal sekaligus pengguna, perlu ditingkatkan dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan subag PE kepada mahasiswa dan alumni. Mahasiswa dan alumni juga harus lebih aktif dan kritis terhadap fenomena pelayanan publik, khususnya di Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang.

Pengaruh kepemilikan saham dan profitabilitas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan properti dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2008 / Diah Mei Listriyaningsih

 

Kata kunci: Profitability basic concern dari para pemegang saham. Profitability suatu perusahaan dapat digunakan untuk meramalkan kemampuan perusahaan memperoleh laba di masa mendatang. Perusahaan lebih suka menggunakan modal dari laba ditahan (retained earning) daripada utang ataupun dari menerbitkan saham, yang dikenal dengan Pecking Order Theory Rancangan penelitian ini adalah penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel struktur kepemilikan saham manajerial, struktur kepemilikan saham institusional, struktur kepemilikan saham menyebar dan profitabilitas terhadap kebijakan hutang. Populasi dalam penelitian ini adalah 48 perusahaan properti dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2008. Dengan teknik purposive sampling diperoleh sampel sejumlah 9 perusahaan. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan yang dipublikasikan pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2008 dan www.bei.co.id. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial selama periode 2006-2008 mengalami punurunan. Kepemilikan institusional periode 2006-2008 mengalami peningkatan dibandingkan kepemilikan manajerial sedangkan kepemilikan menyebar mengalami penurunan dari tahun 2006-2008 dengan ditunjukkan dari turunnya persentase. Besarnya profitabilitas perusahaan properti dan real estate mengalami penurunan selama periode tahun 2006-2008 dan hutang cenderung naik selama periode tahun 2006-2008. Secara parsial variabel struktur kepemilikan saham (kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional, dan kepemilikan saham menyebar) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang sedangkan pada variabel profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Hal ini dikarenakan ada factor lain yang mempengaruhinya yaitu masyarakat bisa menanamkan dananya di bursa efek sehingga tidak hanya mengandalkan hutang sebagai sumber dana. Secara simultan variabel struktur kepemilikan saham (kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional, kepemilikan saham menyebar) dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Berdasarkan hasil penelitian, jika perusahaan mempunyai profitabilitas yang tinggi maka perusahaan tersebut dapat meminimalisir tingkat hutang dan juga perusahaan harus memperhatikan besarnya komposisi kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional, kepemilikan saham menyebar dimana kepemilikan saham tersebut dapat menaikkan dan menurunkan kebijakan hutang. Bagi investor, profitabilitas suatu perusahaan menjadi pertimbangan investor untuk melakukan investasi. Selain itu, investor juga harus memperhatikan proporsi kepemilikan saham manajerial dan konflik kepentingan yang terjadi. Sedangkan untuk peneliti lebih lanjut yaitu disarankan untuk menambah variable dengan kepemilikan keluarga, deviden payout ratio, firm size, asset structure, tax rate dan menambah sampel dengan karakteristik perusahaan, jumlah sampel yang lebih banyak, serta periode pengamatan yang lebih lama untuk mendapatkan hasil yang representatif. mencerminkan ukuran kemampuan memperoleh laba (earning power dari suatu perusahaan untuk mendanai investasi. Earning power dari suatu perusahaan merupakan truktur kepemilikan saham manajerial, struktur kepemilikan saham institusional, struktur kepemilikan saham menyebar, profitabilitas dan kebijakan hutang

Pengembangan model tata panggung untuk pementasan naskah realis Orang Kasar karya Anthon Pavlovich Chekhov terjemahan W.S. Rendra / Muhammad Sholihin

 

Kata Kunci: Pengembangan Model, Tata Panggung, Naskah “Orang Kasar”. Salah satu unsur artistik dalam teater adalah tata panggung atau biasa disebut set dekor. Fungsi tata panggung selain memperindah penampakan pentas juga memberikan ruang bagi pemeran. Tetapi fungsi yang paling penting dari tata panggung adalah memperkuat permainan para aktor. Artinya, kehadiran tata panggung tidak hanya sekedar mempercantik tetapi menegaskan laku aksi yang disajikan oleh para aktor di atas pentas. Tidak ada gunanya menata dan menghias panggung dengan baik tetapi justru menenggelamkan para pemain. Tata panggung dalam teater dapat menegaskan makna sehingga pesan yang hendak disampaikan menjadi semakin jelas ditangkap oleh para penonton. Maksud dan tujuan pementasan harus menjadi satu kesatuan dengan tampilan tata panggung. Panggung memiliki bagian yang disebut pentas/playingspace/ruang permainan, yaitu daerah panggung yang terlihat oleh penonton yang merupakan tempat untuk berakting (Maryaeni, 1994:45). Tujuan penelitian pengembangan ini secara khusus adalah (1) Menggambarkan pembagian Daerah permainan dalam pementasan naskah Orang Kasar karya Anton Pavlovich Chekhov terjemahan W.S Rendra, (2) Membuat rancangan tata lampu dalam pementasan naskah Orang Kasar karya Anton Pavlovich Chekhov terjemahan W.S Rendra, dan (3) Membuat rancangan tata panggung dalam pementasan naskah Orang kasar karya Anton Pavlovich Chekhov terjemahan W.S Rendra. Subjek uji coba dalam pengembangan model tata panggung ini adalah mahasiswa Minor Drama angkatan 2006 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model tata panggung yang dirancang secara variatif dapat membantu memudahkan penggarapan naskah drama. Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk pengembangan model tata panggung ini digunakan sebagai rancangan awal sebelum menggarap naskah, sehingga dapat memberikan motivasi dan meningkatkan hasil penggarapan naskah drama untuk pembelajaran drama karena selama ini penggarapan panggung kurang begitu diperhatikan.

Efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model Student Team Achievement Division (STAD) dengan peta konsep dalam meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar fisika siswa / Manda Dian Pravita

 

Penerapan metode bercerita dengan story reading untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B2 TK Negeri Pembina Kecamatan kepanjenkidul Kota Blitar / Siti Nawasiyah

 

Keyword: method tell a story, bahasa,tk reading,kemampuan story Berdasarkan pengamatan dalam pembelajaran sehari-hari kegiatan bercerita tentang pengalaman, mendengarkan cerita dan menceritakan kembali cerita yang baru didengar yang telah dilakukan anak-anak kelompok B2 di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar tanpa menggunakan media ada 47,31 persen anak yang masih belum berani bercerita di depan teman-temannya yaitu sebanyak 8 anak dari jumlah total keseluruhan 14 anak. Penelitian bertujuan mendiskripsikan penerapan metode bercerita dengan Story Reading yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan mendiskripsikan penerapan metode bercerita dengan Story Reading dapat mengembangkan kemampuan bahasa kelompok B2 di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kemampuan awal bahasa anak 47,31% skor nilai kelompok B2 TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar kemudian meningkat dengan diterapkannya metode bercerita dengan story reding. Peningkatan pada siklus I penelitian tindakan kelas ini meningkat dengan rata-rata 62,33% dengan tidak adanya anak yang berkemampuan bahasa rendah. Dalam pembuktian peningkatan bahasa anak , peneliti melaksanakan siklus II untuk melakukan upaya peningkatan yang lebih dari penerapan metode bercerita yang mana kemudian hasil nilai rata-rata anak menjadi 80,57%. Dari penelitian ini, mendengar cerita dan menceritakan kembali isi cerita secara urut dan membaca buku cerita bergambar yang memiliki kalimat sederhana dan menceritakan isi buku dengan menunjuk beberapa kata yang dikenalinya dengan menggunakan story reading dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B2 TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar pada semester II Tahun akademik 2010/2011.

Peningkatan aktifitas dan hasil belajar siswa melalui model problem posing pada pembelajaran matematika kelas V SD Negeri Wonorejo 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Sugeng Alianto

 

Kata Kunci : Problem Posing, Keaktifan Siswa, Hasil Belajar. Berdasarkan observasi pada tanggal 21 Pebruari 2011 di SDN Wonorejo 01 Kecamatan Talun kabupaten Blitar, dalam pembelajaran guru terlalu banyak ceramah, tidak melibatkan anak, sehingga anak pasif dan hanya mendengarkan penjelasan guru. Hasil belajar siswa pada ulangan harian tentang pecahan masih belum tuntas secara keseluruhan. Diperoleh data dari 35 siswa kelas V SDN Wonorejo 01 pada semester 2 tahun ajaran 2010 / 2011 terdapat 17 siswa (48,6%) yang mendapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yitu 65. Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan model Problem Posing pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN Wonorejo 01 Kecamatan talun Kabupaten Blitar; 2) untuk mendeskripsikan penerapan model Problem Posing dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN Wonorejo 01 Kecamatan talun Kabupaten Blitar; Penelitian ini rancangan penelitian tindakan kelas sebanyak dua siklus tindakan, setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu persiapan / rencana tindakan, observasi, analisis / refleksi. Pada penelitian ini, peneliti mencoba suatu pembelajaran dengan menggunakan model problem posing. Problem posing adalah penyusunan pembuatan soal / pertanyaan oleh siswa dari situasi / informasi yang diberikan guru. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 5 SDN Wonorejo 01 Kecamatan Talun dengan jumlah siswa 35anak Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat disimpulkan bahwa 1) Penerapan model problem posing dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Wonorejo 01 Kec Talun Kab Blitar. 2) Penerapan model problem posing dapat meningkatan hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Wonorejo 01 Kec Talun Kab Blitar. Siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi pelajaran dan hasil belajar siswa menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mencapai ketuntasan belajar yaitu 85,7% Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan sebaiknya dilakukan penelitian sejenis pada konsep-konsep matematika yang lain untuk mengetahui apakah penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika siswa.

Kepribadian tokoh utama dalam novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara: kajian psikologi kepribadian Sigmund Freud / Nafilia Rachmah

 

Kata Kunci: Kepribadian, Tokoh Utama, Novel, Psikologi Kepribadian, Sigmund Freud Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa. Peristiwa dalam novel merupakan khayalan atau rekaan yang diceritakan oleh pengarang. Novel memiliki unsur-unsur cerita berupa unsur instrinsik dan ekstrinsik. Pada dasarnya novel dibangun oleh dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Tokoh sebagai salah satu unsur intrinsik dalam karya sastra memiliki kedudukan yang sangat penting. Karena tokoh menggambarkan kondisi psikologis dan kepribadian seseorang.Salah satu novel yang memiliki kekuatan penokohan adalah novel Pintu Terlarang karaya Sekar Ayu Asmara yang menjadi objek dalam penelitian ini. Novel “ Pintu Terlarang” dipilih karena merupakan novel yang berani mengungkapkan akibat buruk yang ditimbulkan dari penyikasaan terhadap seorang anak. Novel ini penuh dengan lika-liku kepribadian para tokohnya sangat beragam dan unik, terutama kepribadian tokoh utama. Kepribadian tokoh utama dinilai sangat menarik untuk diteliti karena terdapat beberapa muatan emosi yang membentuk kepribadiannya yang dianggap aneh dan unik. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang kepribadian tokoh utama pada novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Kepribadian tersebut dikaji berdasarkan teori psikologi kepribadian Sigmund Freud yang menjelaskan bahwa kepribadian seseorang terbagi menjadi (1) id, (2) ego, dan (3) superego. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model kajian pustaka berdasarkan pendekatan psikologi kepribadian Sigmund Freud. Data dalam penelitian ini berupa satuan kutipan yang meliputi tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, dialog tokoh dan deskripsi pengarang yang memuat kepribadian tokoh utama berdasarkan tinjauan psikologi kepribadian Sigmund Freud yang terdapat dalam teks monolog, dialog, dan narasi. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data oleh peneliti sendiri sebagai instumen ( human instrument). Analisis data dilakukan melalui tahap kodifikasi, reduksi, analisis, dan inferensi. ii Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat bentuk struktur kepribadian tokoh utamadalam novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Struktur kepribadian itu terbagi menjadi dua, yakni kepribadian tokoh utama dan kepribadian tokoh khayalan. Struktur kepribadian itu terdiri dari: (1) id, (2) ego, dan (3) superego. Ketiga struktur kepribadian ini tidak berhubungan secara baik. Hal ini dikarenakan id sangat dominan pada tokoh utama yang disebabkan adanya ketidakenakan yang dirasakan akibat dari siksaan orang tua Gambir. Sebaliknya, ego yang bertindak sebagai penengah kepribadian tidak mempunyai banyak sumbangan terhadap pemikiran Gambir. Hal ini dikarenakan Gambir tidak dapat berpikir dengan baik karena terhalang oleh id atau keinginan dirinya untuk segera terlepas dari penderitaan. Superego Gambir tampak hanya beberapa bagian dari keseluruhan kepribadian Gambir. Superego ini tampak dominan karena adanya penyesalan pada diri Gambir karena telah membunuh orang tuanya. Kepribadian tokoh khayalan yang diceritakan cukup dominan mengisi cerita dalam novel merupakan refleksi dari kepribadian tokoh utama. Meskipun bukan wujud dari kepribadian sebenarnya, tetapi secara tdak langsung merupakan cermin dari kepribadian yang sebenarnya. Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan hasil kesimpulan, yakni: (1) Saran bagi Pembaca, penelitian ini dapat digunakan pembaca sebagai salah satu referensi dalam memahami sekaligus menambah pengetahuan tentang kepribadian seseorang, terutama kepribadian anak korban penyiksaan orang tuanya; (2) Saran bagi Peneliti Selanjutnya, peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi tambahan disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda; (3) Saran bagi Lembaga atau Intitusi Pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan cerminan dalam menemukan fenomena-fenomena psikologis di masyarakat sebagai tambahan dalam pengajaran menulis sastra dan apresiasi sastra; (4) Saran bagi Penulis Sastra, kepribadian tokoh utama merupakan salah satu aspek menarik dalam novel Pintu Terlarang ini. Sehingga penulis sastra selanjutnya dapat menjadikan hal ini sebagai referensi tambahan untuk menulis karya sastra selanjutnya.

Eksistensi, surut dan hilangnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok pada kesenian reog Ponorogo / Widyorini Pramodha Wardani

 

Kata Kunci: Kesenian Reog Ponorogo, Tradisi Gemblak, Warok Reog merupakan salah satu bentuk seni budaya yang masih kental dengan hal-hal yang berbau mistis dan ilmu kebatinan yang kuat. Reog juga sering diidentikan dengan dunia hitam serta kekuatan supranatural. Eksistensi kesenian daerah ini memang tidak diragukan lagi, melalui keindahan dan keunikan “dhadhak merak” dan gamelannya, kesenian ini dapat mengumpulkan massa yang cukup banyak. Kelincahan para penari juga menjadi daya tarik sendiri. Pembarong harus mengetahui teori untuk mengangkat dan menarikan dhadhak yang mempunyai berat sekitar 50kg dan tinggi 2 meter ini. Apabila tidak mengetahui secara pasti gerakan seorang pembarong bisa terhambat dan mengakibatkan cedera, misal gerakan mengibaskan dhadhak merak ada aturan bagaimana posisi kaki, gerakan leher serta tangannya. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis sejarah lahirnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok Ponorogo, (2) menganalisis wujud kehidupan gemblak dan warok pada kesenian Reog Ponorogo, (3) menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan warok dan gemblak pada kesenian Reog Ponorogo, (4) menganalisis faktor-faktor penyebab surut dan hilangnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni: observasi, wawancara, dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari para informan, hasil observasi wujud kehidupan gemblak berupa dokumentasi. Hasil penelitian membawa perolehan kesimpulan bahwa gemblak adalah anak laki-laki berusia 10-17 tahun yang dipelihara warok untuk mempertahankan kesaktian yang dimilikinya. Seorang warok harus menjauhi perempuan. Konon menurut cerita apabila seorang warok berdekatan atau bahkan berhubungan dengan perempuan maka ilmu yang dimiliki akan berkurang dan hilang. Karena syarat dan pantangan inilah, kemudian muncul sosok gemblak. Mereka yang menjadi gemblak umumnya berasal dari keluarga yang kurang mampu dan memiliki wajah yang tampan. Untuk mendapatkan gemblak, seorang warok harus melakukan peminangan terhadap orang tua calon gemblak. Biasanya gemblak dikontrak selama 2 tahun dengan imbalan seekor sapi atau sesuai permintaan orangtua calon gemblak. Setelah selesai kontrak warok akan memberi modal untuk masa depan si gemblak misalnya seekor sapi. Bagi kalangan warok memelihara gemblak merupakan suatu kewajiban, karena dipercaya dapat mempertahankan kesaktian yang dimiliki. Selain itu ada ii kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Pada umumnya gemblak berasal dari keluarga miskin, karena keadaan ekonomi yang sulit membuat para orang tua calon gemblak merelakan anaknya menjadi gemblak piaraan warok. Warok harus memenuhi semua kebutuhan hidup gemblak yang dipeliharanya, apabila gemblak masih bersekolah warok harus membiayai sekolahnya dan kebutuhan hidupnya. Sedangkan apabila gemblak tidak bersekolah, warok tetap wajib membiayai kebutuhan hidupnya serta memberikan seekor sapi per tahun kepada keluarga gemblak. Memelihara gemblak pada masa itu merupakan salah satu seni dan bentuk kegagahan yang dimiliki oleh warok Ponorogo. Karena semakin banyak mempunyai gemblak akan semakin tinggi status sosial yang dimiliki. Dalam kehidupan warok dan gemblak mengandung nilai-nilai yang dapat diambil sebagi acuan dalam kehidupan sehari-hari, nilainilai itu antara lain: saling menyayangi dan saling membantu. Dalam kehidupan warok jika dicermati secara lebih dalam terdapat nilainilai yang mampu dijadikan sebagai acuan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: 1) sebagai teladan dan panutan bagi masyarakat; 2) sebagai pemimpin; 3) guru serta pembimbing; 4) sebagai pengajar/pelatih, baik dalam membuat perlengkapan reog maupun melatih tari Reog; dan 5)sebagai penggerak massa untuk aktif dalam kegiatan kemasyarakatan sekaligus sebagai pengarah, penunjuk, dan pembimbing. Hilangnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok disebabkan oleh: 1) tidak diterimanya kehadiran gemblak oleh masyarakat modern; 2) Keberhasilan siar agama; 3) masyarakat telah memahami pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya; 4) keinginan untuk tidak di cap sebagai pasangan sesama jenis atau homoseksual; 5) serta anggapan bahwa perempuan lebih dapat menarik banyak massa.

Keterampilan mengajar lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang / Eswina Rosalia Meylani

 

Kata Kunci: keterampilan mengajar, lulusan S1 Pendidikan Tata Busana. Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu fakor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Demikianpun dalam upaya membelajarkan siswa, guru dituntut memiliki multi peran sehingga mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif. Untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif, guru hendaknya menguasai ketrampilan mengajar. Demikian pula dengan lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang yang dicetak untuk menjadi tenaga pendidik, mereka harus siap terjun ke lapangan dengan kemampuan penguasaan keterampilan dasar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan mengenai keterampilan mengajar lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang. Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini bersifat diskriptif. Penelitian dilakukan pada lulusan dengan menyebarkan angket yang diisi oleh pihak berwenang dari lulusan tersebut, dalam penelitian ini sumber datanya adalah kepala sekolah yang menjadi pimpinan dari sekolah tempat lulusan mengajar. Jumlah lulusan yang diteliti ada sebanyak 7 orang. Pengolahan data angket dilakukan dengan teknik distribusi frekuensi dan analisis pesentase. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kemampuan lulusan dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar adalah terampil. Untuk keterampilan bertanya, persentasenya adalah 54,3% pada jawaban sering dengan kualifikasi terampil. Sedangkan keterampilan memberi penguatan, lulusan dinyatakan terampil dengan persentase 66,7% pada jawaban sering. Untuk ketrampilan mengadakan variasi, lulusan dinilai terampil dengan persentase 76,2% pada jawaban sering. Sedangkan untuk keterampilan menjelaskan, dinilai terampil dengan persentase 71,5% pada jawaban sering. Dalam keterampilan membuka dan menutup pelajaran, persentase yang diperoleh sebesar 66,7% pada jawaban sering yang mengindikasikan bahwa lulusan terampil. Untuk keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, terdapat jumlah 69,1% yang berarti terampil. Selanjutnya, untuk keterampilan mengelola kelas dinilai terampil dengan persentase 71,4%. Yang terakhir, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan, persentase terbesar adalah 60,7% pada jawaban sering yang berarti lulusan terampil dalam menerapkan keterampilan tersebut. Lulusan yang dianggap paling terampil diantara lulusan yang lain adalah lulusan 7, dan lulusan yang kurang terampil adalah lulusan 6. Secara global dapat dilihat bahwa semua lulusan dianggap terampil dalam mengimplementasikan keterampilan dasar mengajar di sekolah tempat lulusan mengajar saat ini.Dari sini dapat dilihat bahwa secara garis besar, keterampilan mengajar lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang sudah dianggap baik oleh para pengguna lulusan, dan bagi mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana dapat meningkatkan kualitasnya masing-masing.

Penggunaan media batang pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV di SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang / Wheny Churnia Ningsih A.

 

Kata kunci: Batang Pecahan, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran Matematika kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pembelajaran Matematika. Siswa tidak menguasai materi pecahan disebabkan pemahaman konseptual tentang KPK dan FPB masih kurang serta kurang optimalnya penggunaan media pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 22.097, jauh dari ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 60. Oleh karena itu peneliti menggunakan media pembelajaran Tongkat Pecahan untuk mengatasi permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Mendeskripsikan penggunaan media batang pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi pecahan kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan media batang pecahan pada siswa kelas IV di SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif dengan pendekatan kualitatif, untuk memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa meningkat. Prosedur tindakan kelas (PTK) terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus menggunakan langkah-langkah: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) observasi dan; (4) refleksi. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes tulis, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan dengan menggunakan media pembelajaran Batang Pecahan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika materi pokok ”Pecahan” siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Malang. Meningkatnya hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dari adanya peningkatan nilai pratindakan yang semula nilai rata-rata 22,097 meningkat menjadi 59,43 di siklus I dan siklus II nilai rata-rata meningkat sebesar 66,17. Saran untuk kepala sekolah adalah agar dapat memotivasi guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi guru agar menggunakan media pembelajaran Batang Pecahan khususnya pada pembelajaran Matematika. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kekurangan yang ada pada penelitian sebelumnya sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu / Heny Lutfia Eka Bakti

 

Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, keterampilan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis Berdasarkan observasi dan wawancara informal dengan guru ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu mengenai kegiatan pembelajaran di kelas XI IPS 1 diketahui bahwa siswa kurang dapat mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis terhadap suatu masalah. Selain itu, siswa kurang berperan aktif dan jarang untuk bertanya, serta berpendapat mengenai materi pelajaran ekonomi yang telah disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran di kelas, guru ekonomi masih menerapkan model pembelajaran yang konvensional tanpa adanya variasi sehingga pembelajaran menjadi monoton dan siswa merasa jenuh. Oleh sebab itu, maka perlu diterapkan model-model pembelajaran inovatif yang mengedepankan siswa aktif dan dapat mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Salah satunya dengan model pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan: (1) Menganalisis keterampilan memecahkan masalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan sumber-sumber penerimaan dan jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah, (2) Menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan sumber-sumber penerimaan dan jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 yang berjumlah 38 siswa. Prosedur pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan untuk menilai keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu dengan menggunakan persentase siklus I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase skor rata-rata siswa dalam tes keterampilan memecahkan masalah pada siklus I sebesar 65,69% dengan klasifikasi cukup baik menjadi 82,14% pada siklus II dengan klasifikasi baik. Sehingga dalam siklus II terjadi peningkatan sebesar 16,45%. Sedangkan hasil persentase skor rata-rata siswa dalam tes kemampuan berpikir kritis siklus I sebesar 68,42% dengan klasifikasi cukup baik menjadi 78,70% pada siklus II dengan klasifikasi baik. Sehingga dalam siklus II terjadi peningkatan 10,28%. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu. Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti, antara lain: (1) Bagi sekolah (SMA Negeri 2 Batu) diharapkan model pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan terutama pada mata pelajaran ekonomi agar hasil belajar siswa semakin meningkat, (2) Bagi guru mata pelajaran ekonomi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa, (3) Bagi siswa diharapkan untuk aktif dalam proses pembelajaran berbasis masalah dan dapat lebih peka dalam menanggapi permasalahan ekonomi secara nyata yang ada di lingkungan sekitar mereka, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dapat meneruskan penelitian ini untuk diterapkan pada kelas dan sekolah lain dengan materi yang berbeda, serta melakukan tindakan lebih dari dua siklus sehingga hasilnya dapat maksimal.

Penerapan model experiential learning sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan coping self-talk bago calon konselor / Irene Maya Simon

 

Tesis, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Psi., (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata kunci: model experiential learning, coping self-talk. Konseling merupakan psychological process yang dinamis dan mengandung pergerakan di antara dan di dalam pikiran-pikiran, baik konselor maupun konseli. Dengan kata lain, dalam setiap hubungan konseling, paling sedikit terdapat tiga percakapan yang terjadi, yaitu: percakapan umum, wicara-dalam-diri (self-talk) konselor dan wicara-dalam-diri (self-talk) konseli. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa self-talk memberikan pengaruh yang besar terhadap emosi dan perilaku seseorang. Oleh karena itu penting bagi seorang konselor untuk mampu mengendalikan self-talk (coping self-talk) sehingga dia mampu menyelenggarakan konseling terapeutik dengan baik. Melihat tuntutan kompetensi tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran tertentu bagi para calon konselor (dalam hal ini adalah mahasiswa S1 jurusan bimbingan dan konseling) sehingga kemampuan coping self-talk calon konselor tersebut meningkat. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) yang diterapkan pada 43 mahasiswa semester 4 (empat) program studi bimbingan dan konseling. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dimana pada siklus pertama dilaksanakan dalam 8 (delapan) pertemuan dan pada siklus kedua dilaksanakan dalam 5 (lima) pertemuan. Kegiatan refleksi dilakukan dengan cara diskusi antara peneliti, dosen pembimbing, mitra peneliti, dan dosen pembina mata kuliah. Pada akhir kegiatan dilakukan focus group discussion (FGD) antara peneliti dan beberapa mahasiswa yang mewakili beberapa kelompok self-talk. Semua kegiatan dicatat dalam Jurnal Pengalaman Belajar (JPB) yang merekam aktivitas, pikiran, self-talk, dan konsekuensi yang diperoleh dan dirasakan para mahasiswa selama proses tersebut. Berdasarkan data yang tercatat di dalam jurnal pengalaman belajar, self-talk tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian, positif dan negatif, kemudian dihitung persentase individu maupun kelompoknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-talk mahasiswa meningkat di akhir perkuliahan. Pada akhir siklus pertama, self-talk positif mahasiswa sebesar 72% dan self-talk negatif sebesar 28%. Pada akhir siklus kedua, self-talk positif mahasiswa meningkat menjadi 90% dan self-talk negatif mahasiswa menurun menjadi 10%. Hal ini berarti bahwa model experiential learning dapat digunakan sebagai suatu strategi dalam meningkatkan kemampuan coping self-talk para mahasiswa calon konselor. Berikut skenario experiential learning-nya: (1) concrete experience: dosen mengarahkan mahasiswa untuk mengalami proses pembelajaran dengan memperhatikan self-talk mereka; (2) reflective observation: dosen meminta mahasiswa untuk menuliskan pengalaman mereka dalam Jurnal Pengalaman Belajar (JPB) dan lalu mengumpulkannya; (3) abstract conceptualization: dosen memberikan balikan terhadap JPB para mahasiswa dengan memberikan tanda positif dan atau negatif terhadap pandangan mereka, self-talk, dan kemudian konsekuensi mereka sehingga mahasiswa dapat memiliki gambaran tentang pengalaman self-talk mereka. Dosen kemudian meminta mahasiswa untuk menuliskan dalam JPB tentang rencana-rencana mereka untuk dapat menggunakan self-talk positif (melakukan coping self-talk) pada pertemuan selanjutnya; (4) active experimentation: dosen mengarahkan mahasiswa untuk mencobakan rencana-rencana yang telah mereka tuliskan dalam JPB untuk menggunakan coping self-talk. Hasil penelitian ini merekomendasikan agar model ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran para calon konselor, terutama pada matakuliah dasar konseling dan matakuliah yang merupakan praktikum. Untuk dapat membantu meningkatkan coping self-talk mahasiswa, perlu diberikan pemahaman mengenai makna dan pentingnya coping self-talk bagi mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode classroom meeting, yaitu suatu metode dimana para mahasiswa berkesempatan untuk sharing experience mengenai coping self-talk yang telah mereka alami.

Alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia / Irda Yesy Armita

 

Kata Kunci: alih kode, komunikasi guru dan siswa, pembelajaran bahasa Indonesia, bentuk alih kode. Alih kode merupakan alternatif guru dalam penyampaian pesan saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI 4 Malang. Alih kode dalam wacana kelas terjadi karena pengaruh bahasa pertama siswa, yaitu bahasa Jawa. Bahasa pertama cenderung sering digunakan, oleh karena itu berpengaruh pada penguasaan bahasa kedua. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai alih kode komunikasi guru dan siswa.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan bentuk alih kode, jenis alih kode, dan penyebab alih kode komunikasi guru dan siswa di SMP PGRI 4 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sebelum penelitian ini dilakukan observasi dan wawancara. Data penelitian berupa ujaran verbal dalam bentuk audio. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik Simak Bebas Libat Cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa manusia yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini dilakukan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari transkip data, identifikasi data, serta kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mengenai bentuk alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Bentuk alih kode yang dipilih penutur yaitu bentuk alih kode antarbahasa dan alih kode antarragam bahasa. Kedua, mengenai jenis alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI 4 Malang. Jenis alih kode yang ditemukan tujuh jenis dari empat klasifikasi. Klasifikasi pertama alih kode berdasarkan bahasa yang digunakan yakni alih kode intern, klasifikasi kedua alih kode berdasarkan alasan penutur yaitu alih kode situasi dan alih kode topik, klasifikasi ketiga alih kode berdasarkan tata kalimat yaitu alih kode antarkalimat, alih kode intrakalimat, dan alih kode penanda, dan klasifikasi keempat alih kode berdasarkan kepermanenan yaitu alih kode sementara. Ketiga, mengenai penyebab alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI 4 Malang. Penelitian inimenemukan lima penyebab yaitu (1) guru ingin bergurau dengan siswa, (2) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, (3) perasaan jengkel guru, (4) penjelasan instruksi dari guru, dan (5) ekspresi keterkejutan guru.

Pembelajaran seni tari pada program pengembangan diri bagi siswa sekolah dasar luar biasa tunagrahita di SLB Pembina Malang / Desi Jatimuning Ratih

 

Kata Kunci: Pembelajaran Seni Tari, Pengembangan Diri, Tunagrahita, SLB Pembina. Pengembangan diri merupakan upaya mengaktualisasikan bakat istimewa yang dimiliki anak didik yang diri dilakukan melalui pembelajaran termasuk dalam kurikulum sekolah. Permasalahannya adalah bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran seni tari dalam program pengembangan diri pada siswa Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita di SLB Pembina Malang dan faktor- faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung pelaksanaan pembelajarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Pelaksanaan pembelajaran seni tari dalam program pengembangan diri pada siswa sekolah dasar luar biasa Tunagrahita, dan (2) Faktor-Faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan pembelajaran seni tari dalam pengembangan diri pada siswa Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita di SLB Pembina Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi, penyajian data, penarikan simpulan dan verifikasi. Peneliti mengambil lokasi penelitian di SLB Pembina Malang dengan sumber data guru pembimbing pengembangan diri seni tari dan guru kelas/walikelas. Prosedur pengumpulan data dilakukan berdasarkan observasi, dokumentasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pembelajaran seni tari terdiri dari (a) Perencanaan, meliputi: tujuan, perangkat, materi, dan media. (b) Pelaksanaan pembelajaran meliputi: strategi individualisasi dengan pendekatan individual, menggunakan metode demonstrasi, drill/latihan (pengulangan), dan mencontoh, serta menggunakan model aprentisip (c) Aspek penilaian yang diamati meliputi: dapat melakukan gerakan, ketepatan ketukan dengan gerakan, dapat mengingat gerakan dengan rentang 1-5. (2) Faktor penghambat meliputi kondisi kelas yang kurang kondusif hal tersebut disebabkan guru kurang menguasai kelas dan siswa yang tidak mengikuti pembelajaran seni tari gaduh, serta tenaga pembimbing yang kurang memadai. Faktor-faktor pendukung dalam pembelajaran adalah adanya sarana dan prasarana yang memadai serta antusias siswa mengikuti pembelajaran seni tari. Berdasarkan penelitian ini penulis menyarankan agar pembelajaran seni tari dapat ditingkatkan serta pengorganisasian perangkat pembelajaran tetap terlaksana sebagaimana mestinya.

Implementing the learning together strategy to improve the reading comprehension ability of the tenth graders of M.A. Raudlatut Thalabah Kediri / Sholihun

 

Unpublished Thesis, English Language Teaching, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Johannes A. Prayogo, M. Ed, M.Pd (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Key words: implementing, reading comprehension, Learning Together strategy. Reading is an important part of language skills which must be taught in classes of Senior High Schools. In reading activities, the students are expected to be able to comprehend reading passages. In teaching reading at the tenth graders of MA Raudlatut Thalabah, the English teachers faced problems related to this skill. First, the interaction between students was low. Second, the reading activities were dominated by small minority of high achievers. Third, students' motivation was low. Meanwhile, based on the finding of the preliminary study, it was indicated that the teaching of reading at MA Raudlatut Thalabah is not satisfactory. Therefore, this research was designed to improve the students’ reading comprehension through the use of Learning Together Strategy. The objective of the study was to describe how Learning Together Strategy improved the reading comprehension ability of the tenth graders of MA Raudlatut Thalabah Kediri. Meanwhile, this study was focused on descriptive text as the text type which must be taught to the tenth graders of Madrasah Aliyah. The design of the study was Collaborative Classroom Action Research. In this design, the researcher and the collaborative teacher worked together in preparing a suitable procedure of Learning Together Strategy, designing the lesson plan, determining of the criteria of success, implementing the action, observing and doing reflections. The subjects of this research were 46 tenth graders of MA Raudlatut Thalabah, Kediri, East Java in the academic year 2008/2009. This research was conducted in 2 cycles, each of which consisted of two meetings. The data of the research were obtained from (1) observation sheet, which was used to obtain information about teacher’s and the students’ activities and performance during the implementation of Learning Together Strategy, (2) field notes, which were used to note the data, and (3) test, which was used to identify whether the students made progress or improved the reading comprehension ability or not. The result of the research showed that the implementation of Learning Together Strategy in the teaching and learning of reading comprehension can successfully improve the students’ comprehension skill. There were 4 steps in implementing the Learning Together Strategy, namely (1) Assigning the students to group by dividing students into group. Each group has a mixed of high, medium, and low achievers and both male and female students in each group. Then, giving the roles for the group members such as leader, reader, writer, checker, encourager, and helper, (2) Activating the students’ background knowledge. The teacher showed the pictures and asking the students to mention words that might be used in the text, (3) Encouraging the students to comprehend the text. The teacher asked the students to read the text silently, gave the model on how to read the text, asked the students to discus the content of the text, and encouraged the students to help each other. (4) Reviewing the reading activity. The teacher checked the students’ answers and making conclusion of the topic and gave reward for the best group. Based on the result of the research, it was indicated that this strategy has strength; particularly it can improve the reading comprehension of the students and in increasing the students’ involvement in teaching and learning of reading activities. The research findings indicated that the students were active during the reading activities and the students’ reading comprehension ability improves after the implementation of the action. The improvement was shown by the increase of the percentage of the students’ achievement in reading comprehension ability. Cycle 1 showed that the number of students who got the score of greater or equal to 65. There were 25 students out of 46 students or 54.35% gained the score of greater or equal to 65. Meanwhile, Cycle 2, the students who gained the score of greater or equal to 65 were 37 out of 46 students or 80.43%. It fulfilled the criterion of success in term of the score improvement. Whereas, the finding indicated that Learning Together Strategy was successful to empower students’ participation and motivation to be actively involved in the instructional process. The students were active in the class in terms of sharing ideas, reading, answering the questions, making groups, using Learning Together Strategy. Based on the findings of the study, it is suggested that the English teachers, the school and for the future researchers apply or implement Learning Together Strategy in teaching reading classes since the strategy can improve the students’ reading comprehension ability. For English teachers are recommended also to employ Learning Together Strategy in order to be able to teach reading comprehension effectively. English teachers should organize the groups by considering the students’ achievement levels. Meanwhile, they should implement the strategy as alternatives strategies in English instruction to make the students are interested and motivated in attending the teaching learning activities. For the school, this strategy is suggested to provide special lesson time for students to practice the reading comprehension, which can be done for their intra curricular activities or extra curricular activities. For the future researchers, this strategy was as like small group setting, so that they should well known the principal of Learning Together Strategy.

Pengembangan strategi baju bersih (baca, maju, bermain, kasih) dalam pembelajaran bermain drama siswa kelas VIII SMP / Tedy Niko Jatmiko Saputro

 

Kata kunci: strategi Baju Bersih, pembelajaran bermain drama. Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan bahwa pembelajaran bermain drama mengalami beberapa kendala. Pembelajaran drama di sekolah tersebut masih bersifat teoretis. Guru hanya memberikan teori-teori tentang bermain peran atau bermain drama. Guru menyikapi drama sebagai naskah baca. Naskah drama tidak divisualisasikan ke dalam pementasan dengan alasan waktu yang tidak mencukupi. Selain hambatan pembelajaran terjadi pada guru, hambatan juga terjadi pada siswa. Siswa cenderung malu ketika guru menyuruh siswa ke depan kelas untuk memerankan suatu karakter tokoh dalam naskah drama. Selain itu, sebagian besar siswa kurang tertarik pada karya sastra drama. Hal itu lah yang menyebabkan kemampuan siswa dalam berakting dan berdialog terhambat. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan mental siswa ketika unjuk kerja di kelas. Guru memerlukan strategi pembelajaran yang dapat mengatasi hambatan dan mendukung kelancaran pembelajaran bermain drama. Strategi pembelajaran memegang peranan penting terhadap pembelajaran, karena strategi pembelajaran dapat mempermudah proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai secara optimal. Tujuan pembelajaran bermain drama antara lain (1) melatih siswa dalam menghadapai situasi yang sebenarnya dalam hidup dan kehidupan, (2) melatih praktik lisan secara intensif, dan (3) memberikan kesempatan pengembangan kemampuan berkomunikasi. Beberapa hal tersebut memberi pertimbangan, strategi pembelajaran untuk pembelajaran bermain drama perlu dikembangkan agar pembelajaran tujuan pembelajaran bermain drama dapat dicapai. Penelitian ini menghasilkan produk strategi pembelajaran untuk bermain drama. Strategi pembelajaran tersebut diberi nama strategi Baju Bersih. Strategi Baju Bersih dikembangkan berdasar pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Strategi Baju Bersih memberikan kesempatan bagi siswa dalam mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri untuk menghasilkan produk nyata, yakni pementasan drama kelas. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan deskripsi isi produk, (2) mengembangkan sistematika penyajian produk, (3) mengembangkan penggunaan bahasa produk, dan (4) mengembangkan tampilan produk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan prosedur tersebut, terdapat tujuh tahap prosedur penelitian, yakni (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji ahli dan uji praktisi, (5) revisi hasil uji ahli dan uji praktisi, (6) uji lapangan, (7) penyempurnaan produk akhir. Uji produk dilakukan dengan melibatkan (1) ahli drama (teater), (2) ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, (3) ahli strategi pembelajaran, (4) praktisi, yakni guru Bahasa dan Sastra Indonesia, dan (5) lapangan, yakni siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tumpang. Jenis data penelitian ini adalah data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek uji pada angket penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi yang disampaikan secara lisan ketika wawancara dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsi agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Angket penilaian dan pedoman wawancara bebas digunakan sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan. Uji produk melibatkan ahli drama (teater) menghasilkan rata-rata kelayakan produk sebesar 77,77%, ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 81%, ahli strategi pembelajaran 93,05%, praktisi 89,58%, dan siswa 84,94%. Berdasarkan hasil uji melibatkan ahli drama dan ahli pembelajaran, produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikan. Berdasarkan hasil uji melibatkan ahli strategi pembelajaran dan praktisi, produk tergolong sangat layak dan siap untuk diimplementasikan. Namun, ada beberapa aspek yang perlu direvisi dan ditambahkan berdasarkan komentar dan saran perbaikan dari ahli drama (teater), ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ahli strategi pembelajaran, dan praktisi. Uji lapangan dengan melibatkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tumpang dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa terhadap strategi Baju Bersih yang diterapkan dalam pembelajaran bermain drama. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah strategi Baju Bersih yang dikembangkan berdasar pendekatan pembelajaran berbasis proyek menunjukkan bahwa produk tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran bermain drama. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan untuk menerapakan strategi Baju Bersih dalam pembelajaran bermain drama, sehingga kendala-kendala dalam pembelajaran bermain drama dapat teratasi. Siswa disarankan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermain drama dengan strategi Baju Bersih, karena strategi Baju Bersih dapat membantu menumbuhkembangkan kemampuan mereka dalam hal akting dan dialog. Prosedur penelitian pengembangan strategi pembelajaran ini dapat menjadi pedoman bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa. Pengembang lain disarankan untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini. Langkah tersebut dapat diterapkan pada pengembangan strategi pembelajaran untuk kompetensi lain. Selanjutnya, penyebarluasan produk harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi. Oleh karena itu, agar penyebarluasan produk memenuhi kriteria efektif dan efisien, maka produk dapat diunggah dengan memanfaatkan media internet.

Pengembangan buku permainan lape di Kabupaten Dompu Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat / M. Syamsurizal

 

Kata kunci: Pengembangan, Permainan, Buku Permainan Lape. Hingga saat ini, buku dianggap sebagai salah satu media tulisan yang dapat digunakan untuk mempromosikan dan mengenalkan semua jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Pertimbangannya pemilihan buku sebagai media untuk mempromosikan budaya tersebut dikarenakan buku memiliki banyak keuntungan: sederhana, mudah diakses dan mudah untuk diletetakkan dimana saja. Salah satu kebudayaan yang dapat direpresentatifkan dalam bentuk sebuah buku adalah permainan “Lape”. Permainan “Lape” itu sendiri berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama di kabupaten Dompu dan Bima. Permainan “Lape” hampir mirip dengan bulutangkis. Perbedaan diantara kedua permainan/olahraga ini hanya terdapat pada jenis alat pemukul dan bola (kok) yang digunakan. Alat pemukul yang digunakan dalam permainan “Lape” terbuat dari kayu yang bentuknya menyerupai dayung sampan dan bola (kok) terbuat dari karet dan bulu unggas yang berwarna putih. Tujuan yang ingin dicapai adalah mempopulerkan permainan lape yang belum diketahui oleh masyarakat luas dalam bentuk buku. Dalam penelitian ini model pengembangan dari sepuluh langkah penelitian pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku permainan lape di kabupaten Dompu adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assesment) dengan angket yang ditujukan kepada 15 masyarakat Dompu, serta wawancara kepada tokoh-tokoh masyarakat, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli permainan, 1 ahli media pembelajaran, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa buku permainan lape di Kabupaten Dompu Pulau Sumbawa Nusa tenggara barat. Lokasi penelitian adalah di Kelurahan Simpasai, Kelurahan Kandai II, Kelurahan Monta Baru dan Desa Wawonduru di Kecamatan Woja Kabupaten Dompu. Subjek uji coba dalam pengembangan buku permainan lape di kabupaten Dompu ini terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari seorang ahli permainan dan seorang ahli media, (2) mayarakat Kecamatan Woja dari empat Kelurahan/desa di Kabupaten Dompu sebagai kelompok uji coba dengan jumlah 12 masyarakat untuk uji coba kelompok kecil dan 30 masyarakat untuk uji kelompok lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan instrument untuk para ahli serta pedoman pertanyaan untuk masyarakat. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan persentase. Hasil pengembangan buku permainan lape di Kabupaten Dompu ini memenuhi kriteria sangat baik untuk ahli media (83,52%), memenuhi kriteria sangat baik untuk masyarakat pada uji coba kelompok kecil adalah (80,78%) dan uji coba lapangan adalah (82,55%). Ini berarti pengembangan buku permainan lape di kabupaten Dompu dapat digunakan di masyarakat Dompu khususnya di Kecamatan Woja. Berdasarkan penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subjek yang lebih besar.

Pengembangan media pembelajaran animasi untuk mata diklat produktif teknik komputer jaringan siswa kelas XI SMK / Nirwana Haidar Hari

 

Kata kunci: pengembangan, media pembelajaran animasi, Produktif TKJ. Media pembelajaran yang digunakan di SMKN 2 Pamekasan, masih sangat sederhana, khususnya media pembelajaran yang berbasis komputer. Akibatnya, kegiatan pembelajaran di SMKN 2 Pamekasan tidak berjalan dengan maksimal. Sebagian besar siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terlihat dari seringnya siswa tidak megumpulkan tugas yang diberikan oleh pengajar atau guru mata diklat tertentu. Permasalahan tersebut membuat guru perlu memikirkan suatu cara yang dapat membuat siswa lebih berminat dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Pengembangan media pembelajaran ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran animasi pada mata diklat Produktif TKJ siswa kelas XI SMKN 2 Pamekasan. Pengembangan media pembelajaran animasi ini menggunakan model pengembangan Dick and Carrey yang telah dimodifikasi. Subjek uji coba adalah siswa yang mengikuti mata diklat produktif TKJ kelas XI TKJ-B SMKN 2 Pamekasan. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Instrumen pengumpulan data berupa lembar evaluasi untuk ahli media dan ahli materi, sedangkan untuk siswa berupa lembar angket. Data yang dikumpulkan dalam pengembangan ini adalah data evaluasi dari ahli materi, data evaluasi dari ahli media, dan penilaian siswa terhadap media pembelajaran animasi. Setelah mengalami tahap validasi, media pembelajaran animasi ini mendapatkan skor diantaranya: (1) 91,70 % penilaian dari ahli materi; (2) 95,83 % penilaian dari ahli media; (3) 98,08 % penilaian siswa secara perorangan; (4) 96,15 % penilaian siswa secara kelompok kecil, dan; (5) 93,31 % penilaian siswa secara kelompok besar. Dari penilaian responden tersebut, maka dapat disimpulkan media pembelajaran animasi yang telah dikembangkan dikatakan valid dan tanpa revisi dengan beberapa pertimbangan dan saran dari responden.

Manajemen pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman, dan Jepang) di SMA Negeri 1 Turen Malang / Afri Ferdiyanto Basuki

 

Kata kunci: manajemen pembelajaran, bahasa asing Pendidikan adalah pembelajaran terhadap hidup dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi hidup. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan adanya pendekatan sistem pembelajaran di lembaga pendidikan menjamin terselenggaranya proses pembelajaran yang obyektif, adil dan akuntabel yang dicerminkan dari adanya evaluasi siswa terhadap proses pembelajaran secara berkala dan hasilnya ditindaklanjuti. SMA Negeri 1 Turen Malang merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sistem pembelajaran bahasa asing dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar yang berkelanjutan. Fokus penelitian secara umum adalah manajemen pembelajaran bahasa asing (Arab,Jerman dan Jepang) di SMA, sedangkan fokus khusus mengungkap: (1) perencanaan pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (2) pengorganisasian pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (3) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (4) pengawasan pembalajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (5) faktor pendukung dan penghambat pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; dan (6) strategi dalam menambah motivasi pembelajaran dan mengurangi faktor penghambat pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Turen Malang yang beralamat jalan Panjaitan I no. 65 Turen Malang, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dengan menggunakan teknik-teknik tersebut selanjutnya dianalisis untuk menyusun temuan penelitian yang diperoleh dari beberapa informan yaitu koordinator kurikulum, kepala SMA Negeri 1 Turen Malang, dan guru pengajar. Keabsahan data diuji dan diperiksa dengan teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik/metode. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) perencanaan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu perencanaan awal yang dilakukan dengan cara pengembangan guru ahli bahasa asing; (2) pengorganisasian pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu dengan cara melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan pembinaan terhadap (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) MGMP guru bahasa asing; (3) pelaksanaan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di sekolah ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem pembelajaran secara berkelanjutan; (4) pengawasan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pengawasan intern yang dilakukan oleh kepala sekolah langsung serta pengawasan ekstern yang dilakukan oleh Dispendik; (5) faktor pendukung pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu adanya dukungan dari pihak luar (masyarakat) yang terkait, adanya sarana dan prasarana yang menunjang, sedangkan faktor penghambat yaitu minimnya jam pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) serta rendahnya motivasi siswa; dan (6) strategi yang dilakukan dalam menambah motivasi pembelajaran dan mengurangi faktor penghambat pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pemadatan materi oleh guru, serta pemberian kebebasan terhadap guru untuk mengelola pembelajaran siswa didalam kelas. Berdasarkan kesimpulan hasil temuan penelitian, dikemukakan saran-saran berikut, yaitu: (1) kepala sekolah SMA, agar terus mengembangkan kemampuannya untuk lebih baik dan mengembangkan sekolah terutama dalam pembelajaran bahasa asing, dalam rangka meningkatkan mutu di ssekolah; (2) Waka kurikulum SMA agar terus mengembangkan kemampuan dan kompetensi diri guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang aktif dan menyenangkan untuk menghasilkan output yang bermutu dengan kualitas baik; (3) bagi sekolah lain yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa asing yang sama, untuk lebih mendukung dan menerima program pembelajaran bahasa asing dengan baik; (4) peneliti lainnya, untuk dapat mengembangkan pendekatan lain dan memperdalam fokus penelitian dalam variasi sudut pandang yang berbeda; (5) siswa-siswi, agar dapat menjalankan proses pembelajaran tersebut untuk lebih baik dari sebelumnya dan dapat meningkatkan kemampuan dalam berbahasa asing yang lebih baik.

An evaluation of real time 2: an interactive English course for junior high school students year VIII / Selviati Syukri

 

Key words: Evaluation, Textbook, Criteria of good EFL Textbook This study is carried out in order to analyze the English textbook used in SMP Negeri 3 Jekan Raya Palangkaraya. This study specifically aims at analyzing the textbook based on criteria for a good EFL textbook; aims and approaches, organization of the textbook, language content of the textbook, language skills in the textbook, topics of the textbook, methodology, and practical consideration of the textbook. This study is a descriptive evaluative which focuses on content analysis design that attempts to analyze the English textbook namely Real Time 2: An Interactive English Course for Junior High School Students Year VIII used by the eighth graders of SMP Negeri 3 Jekan Raya Palangkaraya. The intruments of data collection are the English textbook evaluation checklist, interview guide, and students’ questionnaire. The textbook is qualified as good with the score 4 in terms of aims and approaches. Next, the textbook is qualified as fair with the score 3 in terms of organization. Then, in terms of language content, the textbook is qualified as fair with the score 3. Fourthly, the textbook is qualified as fair with the score 3 in terms of language skills. Next, the textbook is classified as good with the score 4 in terms of the topics. In terms of methodology, the textbook is classified as fair with the score 3. Lastly, the textbook is classified as good with the score 4 in terms of practical considerations. In general, the fulfillment of the textbook towards the criteria of good EFL textbook is 3. As a conclusion, the textbook which is used by the eighth graders on SMP Negeri 3 Jekan Raya Palangkaraya is categorized "fair" in terms of the criteria of a good EFL textbook. It means that the textbook can be used as a source and reference for the teacher in teaching and learning process. Based on the findings, the researcher suggests that the author of the textbook improve the quality of the textbook by considering several aspects in the textbook. English teachers should also use the textbook creatively by making best use of the strength of the textbook and finding other alternative materials and resources to complement the weaknesses of textbook. For other researchers who may conduct studies on the similar topic about textbook used in junior high school, it is suggested that they evaluate the textbook based on other criteria, such as the current syllabus/curriculum.

Pembuatan roti tawar dengan penambahan tepung daun kelor sebagai pewarna dan meningkatkan nilai gizi / Ria Aprilia Sari

 

Kata Kunci: daun kelor, roti tawar daun kelor, kandungan gizi tepung daun kelor, warna roti tawar daun kelor, formulasi resep dan kesukaan konsumen. Daun kelor (Moringa Oliefera) merupakan tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai sayuran dan dikenal berkhasiat sebagai penawar kekuatan magis. Masing-masing bagian pohon kelor mulai dari daun, akar, hingga getahnya memiliki manfaat yang luar biasa atau sumber gizi yang diperlukan oleh tubuh. Roti tawar daun kelor merupakan olahan jenis bakery yang berwarna hijau muda, rasa gurih, aroma khas roti tawar dan bertekstur empuk. Penulisan ini merupakan laporan dari percobaan pendahuluan yang dilakukan sebanyak 3 kali dengan formulasi resep yang berbeda yaitu penambahan tepung daun kelor sebanyak 20%, 15%, dan 10%. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pembuatan tepung daun kelor, kandungan gizi daun kelor, warna roti tawar daun kelor, formulasi resep yang tepat untuk roti tawar daun kelor dan kesukaan konsumen terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur roti tawar daun kelor. Konsumen yang dijadikan objek pengambilan data uji kesukaan adalah masyarakat umum yang terdiri dari anak-anak, remaja dan orang dewasa sebanyak 90 konsumen. Analisis data yang digunakan adalah uji kesukaan yang dianalisis menggunakan persentase. Hasil yang dapat disampaikan pada penulisan ini adalah pembuatan tepung daun kelor menggunakan uji coba kedua yaitu daun kelor direbus menggunakan soda kue. Komponen gizi daun kelor setelah mengalami proses pengeringan selain vitamin C, semua komponen gizi yaitu vitamin A, kalsium, kalium, protein dan zat besi mengalami peningkatan konsentrasi lebih dari dua kali lipat (Jonni, 2008). Formulasi resep yang tepat untuk pembuatan roti tawar daun kelor adalah formulasi resep yang ketiga yaitu menggunakan penambahan tepung daun kelor sebanyak 25 gram atau 10% dari berat bahan utama yaitu terigu protein tinggi. Warna hijau muda dari roti tawar daun kelor diperoleh dari tepung daun kelor itu sendiri. Sebagian besar konsumen (82,17%) menyukai warna roti tawar daun kelor. Sebagian konsumen 76,67% menyukai aroma roti tawar daun kelor. Sebagian besar konsumen 92% menyukai rasa roti tawar daun kelor. Sebagian besar konsumen 92,33% menyukai tekstur roti tawar daun kelor.

Studi fenomenografi: konsepsi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang tentang fenomena kimia dalam kehidupan sehari-hari / Erna Wulan Sari

 

Kata Kunci : Konsepsi, Fenomena Kimia, Pendekatan Fenomenografi Konsep-konsep kimia mempunyai tingkat generalisasi dan keabstrakan yang tinggi. Proses belajar yang dilakukan siswa diharapkan menghubungkan konsep-konsep yang ada melalui proses belajarnya. Dengan demikian ketika mempelajari ilmu kimia, siswa membangun model mental dan mencoba menggunakannya untuk memahami fenomena. Berdasarkan pengalaman peneliti, guru kurang mengkaitkan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan konsep kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsepsi siswa tentang fenomena (a) kelarutan gula di tempat yang berbeda, (b) pematangan kentang berdasarkan ukuran, (c) pematangan bubur yang berasal dari beras dan dari tepung beras, (d) pencucian noda pada kain dengan jumlah detergen yang berbeda, (e) pemberian daun pepaya untuk pelunakan daging. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptitf kualitatif dengan pendekatan fenomenografi. Peranan peneliti di lapangan adalah sebagai instrumen dibantu pedoman wawancara untuk melakukan wawancara mendalam. Sampel penelitian 30 siswa kelas X SMAN 1 Tumpang yang telah dipilih secara sampel purposif. Analisis data yang dilakukan adalah menstranskip hasil wawancara, menganalisis konten dan mengkategorikannya. Pengujian keabsahan hasil penemuan dilakukan teknik pemeriksaan teman sejawat, proses co-judging diperoleh reliabilitas tinggi (90%) dan chek re-chek juga diperoleh reliabilitas tinggi (97%). Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh konsepsi siswa sebagai berikut. Konsepsi siswa mengenai fenomena kelarutan gula pada air dingin dan air panas. (1) Kategori yang sudah bisa menjawab tiga aspek, yaitu gerak partikel, suhu dan pemutusan interaksi molekul (26,67%). (2) Kategori yang bisa menjawab dua aspek, yaitu (a) karena pengaruh suhu dan pemutusan interaksi molekul (10%), b) karena pengaruh suhu dan gerakan partikel (26,67%). (3) Kategori yang hanya bisa menjawab satu aspek yaitu karena pengaruh suhu (36,67%). Konsepsi siswa mengenai fenomena pematangan kentang berdasarkan ukuran dan pematangan bubur berbahan dasar beras dan tepung beras. (a) Kategori pengaruh suhu dan ukuran (80%), (b) Kategori lain- lain karena pengaruh ukuran dan kemungkinan bersentuhan (20%). Konsepsi siswa mengenai fenomena pencucian noda kain dengan jumlah detergen yang berbeda- beda (a) kategori pengaruh jumlah zat aktif (36,67%) (b) kategori pengaruh banyaknya detergen (53,33%). (c) kategori lain karena pengaruh jumlah busa (6,67%). Konsepsi siswa mengenai fenomena kecepatan melunaknya daging dengan pemberian daun pepaya. (a) Kategori papain menyebabkan ikatan pada daging merenggang (30%). (b) Kategori papain menyebabkan daging menjadi lunak (70%). Implikasi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan agar guru dapat mempersiapkan pembelajaran secara maksimal dan mengetahui miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya.

Pengembangan inventori agresi untuk SMA Negeri di Blitar / Hikma Rahayu

 

Kata Kunci: Agresi, inventori, siswa SMA. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang sangat rentan dengan bergejolaknya emosi. Bergejolaknya emosi dapat menjadi salah satu pemicu timbulnya agresi. Agresi dapat diukur menggunakan suatu alat. Alat yang dibutuhkan konselor dapat berbentuk inventori, namun kenyataan di lapangan inventori mengenai agresi belum dikembangkan, oleh sebab itu inventori agresi ini dikembangkan. Dalam pengembangan inventori agresi ini khusus pada bagaimana tingkat validitas, reliabilitas dan norma yang digunakan. Pengembangan inventori agresi ini mempunyai tujuan untuk menghasilkan inventori yang: (1) memiliki validitas tinggi; (2) memiliki reliabilitas tinggi; (3) menetapkan norma; (4) menghasilkan produk; (5) mengetahui gambaran tingkat agresi siswa SMA. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan adaptasi prosedur pengembangan Borg and Gall. Adaptasi pengembangan model Borg and Gall meliputi tahapan: 1) menentukan tujuan inventori, 2) menentukan populasi, sasaran dan sub bidang yang dikembangkan, 3) menentukan variabel, sub variabel, indikator dan deskriptor, 4) mengembangkan item pernyataan sesuai dengan deskriptor, 5) menyusun dan menyiapkan prototipe inventori agresi, 6) uji lapangan awal (try out) item-item inventori agresi (draf I), 7) uji lapangan utama item-item pertanyaan inventori agresi (draf II), 8) revisi produk inventori agresi yang menghasilkan produk akhir inventori agresi untuk siswa SMA Negeri di Blitar. Inventori agresi diuji tingkat validitasnya menggunakan rumus Product Moment Pearson dengan signifikansi P < 0,05 dan uji reliabilitasnya menggunakan rumus Alpha Cronbach. Populasi pengembangan adalah siswa kelas X SMAN di Blitar tahun pelajaran 2011/2011, sampel pengembangan sebanyak 125 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik proportional cluster area random sampling. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa: (1) inventori agresi memiliki tingkat validitas yang tinggi, memenuhi syarat konsistensi internal pada P < 0,05; (2) inventori agresi memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi α = 0,921; (3) inventori agresi memiliki ketetapan norma yang diwujudkan dalam bentuk norma persentil dengan kategorisasi tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan hasil penilaian ahli bahasa, ahli materi, dan uji kelompok kecil dapat disimpulkan bahwa produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini yaitu inventori agresi telah memenuhi kevalidan dan layak digunakan oleh siswa. Berdasarkan hasil pengembangan, disarankan: 1) hasil produk pengembangan ii dapat digunakan konselor sebagai salah satu alat pengumpul data pribadi untuk mengetahui tingkat agresi siswa; 2) diharapkan konselor melakukan bantuan usaha seperti langkah preventif dan kuratif ; 3) bagi pengembang selanjutnya, hendaknya menindak lanjuti hasil pengembangan dengan terus melakukan pengembangan, baik dalam konstruk teoritis berdasarkan teori Averill maupun teori agresi yang lain. Selain itu, subjek pengembangannya diharapkan lebih diperluas pada jenjang Sekolah Dasar, Menengah maupun Perguruan Tinggi, menggunakan variasi teknik analisis yang lain. Disamping itu, mengingat perkembangan teknologi yang semakin canggih disarankan produk dapat dikembangkan melaui program dalam bentuk software.

Pengaruh penerapan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dan NHT (Numbered Head Together) terhadap hasil belajar dan motivasi siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung pada materi koloid / Tuti Winarnik

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, STAD, NHT, Hasil Belajar, Motivasi Mata pelajaran kimia mencakup konsep-konsep yang bersifat abstrak sehingga dapat membuat siswa sulit memahaminya dalam pembelajaran. Diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil dan motivasi belajar siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung yang dibelajarkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan STAD-NHT pada materi pokok Koloid. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung tahun ajaran 2010/2011. Hasil uji-t menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa kelas XI IPA1 dan kelas XI IPA5 sama sehingga memenuhi syarat untuk dijadikan sampel maka dari itu dalam penelitian diambil kelas XI-IPA1 (40 siswa) sebagai kelas eksperimen II dengan pembelajaran tipe STAD-NHT dan kelas XI-IPA5 (40 siswa) sebagai kelas eksperimen I dengan pembelajaran tipe STAD. Instrumen yang digunakan terdiri dari instrumen pembelajaran (berupa silabus, RPP, handout, dan LKS) dan instrumen pengukuran (berupa lembar observasi, tes, postest, dan angket motivasi siswa). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t dengan taraf signifikan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT. Hal tersebut dapat dilihat dari uji-t yang menunjukkan perbedaan hasil belajar yang signifikan pada kedua kelas. Nilai rata-rata siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 80,125 untuk pembelajaran dengan STAD-NHT dan 74,25 untuk pembelajaran dengan STAD. (2) Ada perbedaan motivasi antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT. Siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT memiliki motivasi yang lebih baik yaitu siswa yang sangat termotivasi dan termotivasi sebanyak 100%, sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD persentase siswa yang sangat termotivasi dan termotivasi sebanyak 90%.

Pengaruh informasi laba, total arus kas, dan opini audit going concern terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009 / Nani Hakim Mariana

 

Kata Kunci : Informasi Laba, Total Arus Kas, Opini Audit Going concern dan Harga Saham Perusahaan selalu menginginkan agar harga saham selalu meningkat. Hal ini dapat terjadi jika perusahaan menyampaikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada investor luar. Informasi yang disampaikan oleh perusahaan bisa berupa laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor yang didalamnya terdapat informasi tentang laba perusahaan, arus kas perusahaan serta laporan auditor independen yang memuat opini auditor. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh informasi laba, total arus kas, opini audit going concern secara parsial dan simultan terhadap harga saham. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2007-2009, menerbitkan laporan keuangan auditan selama periode pengamatan, dan memiliki catatan harga saham yang lengkap. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara parsial variabel informasi laba, total arus kas dan opini audit going concern berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Untuk pengujian secara simultan variabel informasi laba, total arus kas, opini audit going concern berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga variabel ini dianggap sebagai sinyal yang dapat digunakan dan merupakan faktor-faktor yang dapat dijadikan pertimbangan bagi investor dalam menetapkan keputusan investasi sehingga dapat meningkatkan harga saham. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya, menggunakan faktor lain yang bisa mempengaruhi harga saham, menggunakan sampel yang berbeda menggunakan metode lain, serta memperpanjang tahun penelitian.

Manajemen pembelajaran di lembaga pendidikan taman kanak-kanak (studi kasus di TK Negeri Pembina Tulungagung) / Rosita Oktafiani

 

Perbedaan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dan model jigsaw terhadap peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Arjasa / Suharno Wahyudi

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif, model GI (Model Group Investigation), prestasi belajar. Proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru dikelas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Rendahnya prestasi belajar siswa merupakan indikasi pembelajaran yang belum optimal. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat. Oleh karena itu perlu adanya metode yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu salah satunya dengan menggunakan metode kooperatif model GI (Group Investigation) dan model Jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pembelajaran kooperatif model GI (Group Investigation) dan model pembelajaran Jigsaw terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Arjasa, Situbondo yang terdiri dari kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-B sebagai kelas pembanding. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa tes prestasi fisika siswa yang diberikan saat pra-tes dan pasca-tes. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t untuk data prestasi belajar dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata Post-tes prestasi belajar fisika kelas eksperimen tidak lebih tinggi dibandingkan kelas pembanding. Hasil rata-rata nilai akhir kelas eksperimen sebesar 72.17. Sedangkan rata-rata nilai akhir kelas pembanding sebesar 69.95. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis uji-t menggunakan Independent Sample T-Test, thitung = 0.549 dengan df sebesar 44 dan taraf signifikansi 5% lebih kecil dari ttabel (t44;.05 = 1.680). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model GI (Group Investigation) tidak berpengaruh lebih besar daripada model pembelajaran model Jigsaw khusus pada pokok bahasan pesawat sederhana terhadap prestasi belajar fisika siswa.

Hubungan antara career self efficacy dan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo / Qori Rizka Rizkiana

 

Kata kunci : career self efficacy, pengambilan keputusan karier Siswa SMA sebagai remaja hanya perlu diberi bimbingan karier agar dapat menguasai keterampilan keputusan karier secara tepat. Remaja belajar dan berlatih membuat rencana, memilih alternatif keputusan, bertindak sesuai dengan hasil keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Siswa yang memiliki keterampilan pengambilan keputusan, tidak akan bingung menghadapi karier masa depannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tingkat career self efficacy siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo? (2) Bagaimana pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo? (3) Apakah ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo?. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo tahun pelajaran 2010/2011. Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Tahap pertama dari 17 SMA Negeri yang ada di Kabupaten Probolinggo ditentukan 4 sekolah dan diambil secara random dengan teknik undian. Tahap berikutnya dari setiap sekolah yang terpilih sebagai kelompok sampel, selanjutnya ditentukan jumlah subyek yang dijadikan anggota sampel, dan juga diambil secara random dengan teknik undian. Peneliti mengambil 13% dari jumlah populasi yang ada, sehingga sampel ditentukan sebanyak 225 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa inventori career self efficacy dan inventori pengambilan keputusan karier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) sangat banyak siswa (90,2%) yang memiliki tingkat career self efficacy dalam kategori sedang, sangat sedikit siswa (9,8%) yang memiliki career self efficacy dalam kategori tinggi, dan tidak ada siswa yang memiliki career self efficacy rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo memiliki tingkat career self efficacy dalam kategori sedang; (2) cukup sedikit siswa (46,2%) yang memiliki tingkat pengambilan keputusan dalam kategori tinggi, cukup sedikit pula siswa (53,8%) yang memiliki tingkat pengambilan keputusan karier dalam kategori sedang dan tidak ada siswa yang memiliki tingkat pengambilan keputusan karier yang rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo memiliki tingkat pengambilan keputusan karier dalam kategori sedang; (3) ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier sebesar rxy=0,346 dan probability error diperoleh sebesar 0,000 sehingga penambahan tingkat career self efficacy diikuti dengan penambahan tingkat pengambilan keputusan kareir atau penurunan tingkat career self efficacy akan diikuti dengan penurunan tingkat pengambilan keputusan karier. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier diterima. Berdasarkan hasil penelitian bahwa career self efficacy dapat memberikan kontribusi positif dalam pengambilan keputusan karier, diharapkan siswa dapat meningkatkan career self efficacy-nya. Peningkatan career self efficacy dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan karier secara intensif kepada siswa. Konselor perlu melakukan penajaman program di bidang karier agar siswa semakin memahami diri terutama yang berhubungan dengan masalah-masalah karier siswa di masa depan. Dalam menyusun materi bimbingan karier, konselor diharapkn melakukan analisis kebutuhan agar konselor lebih memahami siswa yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan kariernya. Selain itu, konselor perlu mengadakan konseling khusus untuk penjurusan siswa, sehingga penjurusan tidak hanya berdasarkan kriteria nilai.

Pengembangan buku panduan latihan bolabasket: ball handling, dribbling, shooting, passing, dan screening untuk tim bolabasket putri SMA Negeri 4 Malang / Try Hady Mardyanto

 

Kata Kunci:, penelitian pengembangan, buku panduan latihan, bolabasket Tujuan pengembangan buku panduan latihan bolabasket ini adalah mengembangkan buku panduan latihan bolabasket yang nantinya dapat membantu peserta ekstrakurikuler untuk mempercepat proses pemahaman tentang latihan bolabasket. 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi buku panduan latihan bolabasket ini adalah: 1) Riset dan pengumpulan informasi dengan melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan, 2) Pembuatan rancangan produk, 3) Evaluasi para ahli, 4) Pembuatan produk awal, 5) Uji coba kelompok kecil dan melakukan revisi produk pertama., 6) Uji coba kelompok besar dan melakukan revisi produk yang kedua, 7) Produk hasil akhir pengembangan. 7 langkah ini diambil dari Borg dan Gall (1983:77) yang telah dimodifikasi. Data yang didapat dari penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen pengumpulan data diperoleh dengan menyebarkan angket pada penelitian awal, uji ahli yang terdiri dari 2 ahli bolabasket dan 1 ahli media untuk evaluasi terhadap rancangan produk yang akan dibuat, serta uji kelompok kecil dan besar untuk mengetahui apakah produk yang dipakai sudah valid atau belum.. Dari penelitian awal melalui pengisian angket yang disebar pada 14 orang anggota tim bolabasket putri SMA Negeri 4 Malang, diketahui anggota tim yang mengerti dengan instruksi yang diberikan pelatih sebanyak 5 orang (35,7%) dan 9 (64,3%) orang merasa kadang mengerti kadang tidak. Sebanyak 11 orang (78,6%) menerima latihan yang bervariasi dari pelatih dan 3 orang yang merasakan pelatih kadang-kadang memberikan latihan yang bervariasi. Sebanyak 14 orang (100%) manyatakan bahwa di ekstrakurikuler bolabasket belum memiliki buku panduan latihan bolabasket untuk menunjang kegiatan tersebut. Selain itu sebanyak 14 orang (100%) menyatakan setuju jika di ekstrakurikuler bolabasket memiliki buku panduan latihan untuk latihan bolabasket. Hasil yang didapat dari uji ahli bolabasket I adalah gambar lapangan yang dibuat menggunakan gambar lapangan bolabasket yang terbaru (peraturan FIBA 2010). Hasil evaluasi dari ahli bolabasket II adalah materi yang diberikan dari yang mudah ke yang rumit/variasi. Ahli bolabasket II juga menyarankan agar setiap materi yang diberikan hendaknya diperhatikan keefektifannya dengan memperhatikan kualitas gerakan dan durasi waktu materi yang diberikan. Dari hasil uji ahli media adalah tulisan dan gambar judul serta logo Universitas Malang diperjelas. Dari hasil uji coba kelompok kecil didapat rata-rata persentase 94%, yang berarti produk dapat digunakan. Selanjutnya dari hasil uji coba kelompok besar didapat rata-rata persentase 95%, yang berarti produk dapat digunakan.

Peningkatan pembelajaran membaca cepat dengan latihan persepsi kata dan frasa siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pakisaji Malang tahun ajaran 2010/2011 / Lailatul Fitriyah

 

Kata Kunci: pembelajaran membaca, membaca cepat, latihan persepsi. Membaca cepat merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas VIII SMP. Penerapan dalam pembelajaran terdapat dalam KD menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata/menit. Dalam pembelajaran ini siswa tidak hanya harus bisa mempraktikkan membaca cepat namun siswa harus memahami isi teks tersebut. Proses pembelajaran membaca cepat yang belum maksimal meliputi (1) kesiapan siswa membaca cepat, (2) kefokusan terhadap teks bacaan, dan (3) kesungguhan dalam pembelajaran membaca. Oleh karena itu guru perlu menerapkan suatu strategi untuk memaksimalkan proses pembelajaran membaca cepat. Dalam penelitian ini diterapkan strategi latihan persepsi kata dan frasa untuk meningkatkan pembelajaran membaca cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) peningkatan proses pembelajaran membaca cepat dengan latihan persepsi kata dan frasa siswa kelas VIII SMP N 2 Pakisaji, dan (2) peningkatan hasil pembelajaran membaca cepat dengan latihan persepsi kata dan frasa siswa kelas VIII SMP N 2 Pakisaji Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), dan (4) refleksi (reflektion). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) observasi, dan (2) wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. (1) Peningkatan kesiapan siswa dengan kualifikasi siap meliputi; a) siswa membaca tidak menggerakkan kepala, b) siswa membaca tidak menggerakkan bibir, dan c) siswa membaca tidak menggunakan alat bantu penunjuk teks. (2) Peningkatan kefokusan terhadap teks bacaan dengan kualifikasi sangat fokus meliputi: a) siswa memperhatikan isi (ide utama) teks, b) siswa mengabaikan contoh-contoh dalam teks, dan c) siswa mengabaikan kalimat-kalimat penjelas. (3) Kesungguhan dalam pembelajaran membaca cepat dengan kualifikasi sangat sungguh-sungguh meliputi: a) siswa tidak bergurau dengan teman sebangku, b) siswa tidak meninggalkan tempat selama pembelajaran, dan c) siswa tepat waktu dalam membaca cepat. (4) Peningkatan hasil nilai yang berasal dari tes menyimpulkan isi teks. Nilai rata-rata pada siklus I adalah 67. Terdapat 9 siswa (31%) yang nilainya mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Terjadi peningkatan nilai rata-rata pada siklus II. Nilai rata-rata pada siklus II adalah 78. Sebanyak 25 siswa (87%) telah mencapai SKM Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah kepala sekolah diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menambah sarana dan prasarana pembelajaran berupa penyediaan materi bacaan dan juga bahan sebagai latihan persepsi kata dan frasa. Kepada guru agar lebih meningkatkan profesionalisme dalam pengajarannya dengan menggunakan strategi yang lebih bervariasi dan juga lebih memperkaya materi yang disampaikan kepada siswa. Sementara peneliti yang mengadakan penelitian sejenis hendaknya lebih mengembangkan lagi cakupan penelitian sehingga bisa memberikan masukan kepada guru dan juga kualitas pembelajaran bisa menjadi lebih baik.

Aplikasi pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis WEB di Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar / Slamet Rahmanu W.

 

Kata kunci : Kartu Tanda Penduduk (KTP) , Web, Database. Identitas kependudukan adalah kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap warga Negara dimanapun kita berada , salah satu identitas pribadi yang dapat dipercaya keakuratannya adalah KTP (Kartu Tanda Penduduk). Pembuatan KTP (kartu tanda penduduk) bukanlah suatu proses pekerjaan yang sederhana terdapat banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi. Maka dari itu penulis merasa ingin membuat sebuah aplikasi yang dapat mempermudah akses pembuatan KTP (kartu tanda penduduk) yang bisa diakses dimana saja dan kapanpun juga sehingga masyarakat akan mudah dalam membuat sebuah KTP (kartu tanda penduduk). Dalam proyek akhir ini, Permasalahan yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah bagaimana penerapan sistem informasi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis Web yang didukung program Dreamweaver MX 8, PHP (personal home page) dan MySQL. Bagaimana penerapan Aplikasi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis web penerapanya meliputi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) dan pengurusan perpanjangan. Pembuatan Aplikasi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis Web menggunakan bahasa pemrograman PHP (personal home page) dan MySQL sebagai database yang diaplikasikan dengan Macromedia Dreamweaver MX. Perancangan basis data dari suatu Data Base yang kemudian dapat diakses oleh user. Data yang dapat diakses oleh user berupa informasi data KTP (kartu tanda penduduk) maupun perpanjangan data KTP (kartu tanda penduduk).

Optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pembelajaran (studi kasus SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang) / Irmawati

 

Kata kunci: optimalisasi, pemanfaatan, teknologi informasi, pembelajaran Kehadiran teknologi multimedia/informasi, bukan lagi menjadi barang mewah karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, kognitif, afektif, psikomotorik, emosional, dan spritualnya. SMA Laboratorium UM merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan teknologi informasi ini dalam pembelajaran serta semua aktivitas/kegiatan yang ada di sekolah. Fokus penelitian ini mengungkapkan: (1) alasan digunakannya teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; (2) penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; (3) dampak penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; (4) faktor pendukung dan faktor penghambat penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; dan (5) strategi yang dilakukan untuk menanggulangi faktor penghambat penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) analisis dokumen. Data yang diperoleh dengan menggunakan teknik-teknik tersebut selanjutnya dianalisis untuk menyusun temuan penelitian yang diperoleh dari informan kunci yaitu koordinator teknologi informasi, kepala SMA Laboratorium UM, guru, dan pengurus teknologi informasi. Keabsahan data uji dan diperiksa dengan teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik/metode. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) alasan digunakannya teknologi informasi dalam sekolah untuk memajukan sekolah dalam bidang lainnya sehingga dapat menghasilkan prestasi-prestasi lainnya selain dalam bidang akademik; (2) penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran diimplementasikan dengan adanya program SIAP sekolah dalam perencanaan koordinator teknologi sebagai usaha menyukseskan teknologi informasi dalam pembelajaran secara optimal. Proses perencanaan melalui tahapan fungsi manajemen yaitu penyusunan program, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi; (3) dampak yang ditimbulkan dari penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran meliputi dampak positif dan negatif, baik secara materi maupun mental atau psikologis semua personil sekolah; (4) dalam penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat baik yang berasal dari intern maupun ekstern sekolah dengan memanfaatkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang terintegrasi di tubuh SMA Laboratorium UM; dan (5) strategi untuk menanggulangi dampak negatif yang juga menjadi faktor penghambat meliputi inisiatif pengurus teknologi informasi mengadakan pelatihan teknologi informasi bagi bapak/ibu guru, serta mengikuti pelatihan teknologi informasi yang diselenggarakan pihak luar sekolah. Sehingga bapak/ibu guru bisa berpartisipasi dengan melaksanakan teknologi informasi dalam menyelesaikan semua tugasnya. Berdasarkan kesimpulan hasil temuan penelitian, dikemukakan saran-saran berikut, yaitu: (1) kepala sekolah SMA Laboratorium UM, agar membuat standar program kegiatan teknologi informasi dalam pembelajaran untuk pencapaian yang optimal; (2) bagi guru SMA Laboratorium UM, untuk lebik memaksimalkan lagi dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran misalnya selalu menggunakan alat atau media teknologi informasi dalam setiap pembelajaran: (3) koordinator teknologi informasi SMA Laboratorium UM, supaya teknologi informasi dalam sekolah khususnya dalam pembelajaran perlu ditingkatkan sehingga dengan begitu tujuan teknologi informasi tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) siswa SMA Laboratorium UM, meningkatkan kualitas kegiatan belajar dari awal menempuh jenjang pendidikan guna mempersiapkan fisik/materi dan mental/psikologis lebih dini; (5) orangtua siswa dan masyarakat, meningkatkan peran orangtua dan masyarakat dalam mendukung dan memotivasi dalam menghadapi teknologi informasi dalam pembelajaran; (6) pegawai tata usaha SMA Laboratorium UM, untuk lebih meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dalam menyelesaikan semua tugasnya; (7) peneliti lainnya, untuk dapat mengembangkan pendekatan lain dan memperdalam fokus penelitian dalam variasi sudut pandang yang berbeda.

Inovasi produk sereal dengan substitusi tepung labu kuning / Sya'idatuz Zaqiyah

 

Kata Kunci: Inovasi, sereal, labu kuning Labu kuning merupakan salah satu buah yang mempunyai kandungan gizi yang baik untuk tubuh. Terdapat beberapa jenis labu kuning yang banyak diperoleh dipasaran, salah satunya adalah labu kuning jenis bokor. Penganekaragaman olahan labu kuning masih terbatas, oleh karena itu pada penelitian ini labu kuning diolah menjadi sereal, karena pada sereal labu kuning juga terdapat kandungan yang hampir sama dengan sereal gandum, yaitu protein tepung labu kuning mengandung protein jenis gluten yang cukup tinggi. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui formulasi resep yang tepat untuk sereal labu kuning dan kesukaan konsumen terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur. Proses pembuatan sereal labu kuning diawali dengan pembuatan tepung labu kuning, kemudian ditambah bahan tepung terigu, susu skim, air, telur dan margarin. Lalu dibuat adonan kemudian dicetak dengan opak gapit dan kemudian dihancurkan menjadi serpihan-serpihan (flake). Penulisan ini merupakan laporan dari uji coba resep yang dilakukan sebanyak 3 kali dengan formulasi resep yang berbeda dengan uji kesukaan atau uji hedonik terhadap konsumen yang meliputi aroma, rasa, tekstur dan warna. Konsumen berupa responden yang dijadikan objek pengambilan data uji kesukaan adalah masyarakat umum yang terdiri dari anak-anak, remaja dan orang dewasa sebanyak 80 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji kesukaan yang dianalisis menggunakan persentase yaitu (f/n x100%). Hasil dari uji kesukaan sereal labu kuning 92,5% konsumen menyukai rasa, 95% konsumen meyukai warna, 86,25% konsumen menyukai tekstur sedangkan 80% konsumen menyukai aroma. Kesimpulan yang dihasilkan dari penulisan ini adalah memperoleh prosedur pembuatan sereal labu kuning yaitu buah labu kuning dijadikan tepung, kemudian dicampur dengan bahan-bahan sereal lain yaitu air, telur, margarin, tepung terigu dan susu skim, setelah itu dicetak dengan cetakan opak gapit, kemudian dihancurkan menjadi serpihan-serpihan kecil (flake).  

Perbedaan kualitas produk media pembelajaran antara mahasiswa fisika yang belajar dengan pembelajaran individu dan kolaboratif melalui model think-pair-share (TPS) / Bayu Amijaya

 

Kata kunci: Kualitas Produk Media Pembelajaran, Pembelajaran Individu, Pembelajaran Kolaboratif, Think-Pair-Share (TPS) Media pembelajaran merupakan sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, merangsang pikiran dan perasaan, serta kemauan siswa, sehingga dapat menen-tukan kesuksesan proses belajar mengajar di kelas. Sebagai calon guru, mahasiswa dituntut untuk mampu membuat media pembelajaran dengan kualitas yang baik dengan rentang skor 85-100. Sebelum pemberian perlakuan dilaksanakan, hasil observasi dan wawancara dengan dosen pengampu menunjukkan bahwa nilai kualitas media yang dibuat oleh mahasiswa sebesar 65.71. Nilai ini lebih kecil dari rentangan disebabkan oleh kecerdasan mahasiswa yang beragam serta pembelajaran yang selama ini dilakukan belum tepat. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas media pembelajaran yang dibuat oleh mahasiswa ini adalah dengan menggunakan metode pembelajaran kolaboratif melalui model pembelajaran TPS. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experimetal) dengan desain yang digunakan adalah The Matching Only Posttest Control Group Design. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik pengukuran dan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis parametrik dengan metode analisis kovarian. Analisis data menghasilkan informasi mengenai kualitas media pembelajaran yang dibuat oleh mahasiswa. Hasil uji hipotesis I menunjukkan terdapat perbedaan kualitas produk media pembelajaran yang signifikan antara mahasiswa yang belajar dengan metode pembelajaran kolaboratif melalui model TPS dan yang belajar dengan pembelajaran secara individual. Hasil uji hipotesis II menunjukkan tidak terdapat perbedaan kualitas produk media pembelajaran yang signifikan antara mahasiswa laki-laki yang belajar dengan metode pembelajaran kolaboratif melalui model TPS dan yang belajar dengan pembelajaran secara individual. Hasil uji hipotesis III menunjukkan terdapat perbedaan kualitas produk media pembelajaran yang signifikan antara mahasiswa perempuan yang belajar dengan metode pembelajaran kolaboratif melalui model TPS dan yang belajar dengan pembelajaran secara individual. Hasil uji hipotesis IV dan V dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kualitas media pembelajaran yang dibuat oleh mahasiwa laki-laki dan perempuan di masing-masing kelas.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok bahasan listrik dinamis untuk SMA/MA kelas X semester genap / Ino Angga Putra

 

Kata kunci: Bahan ajar fisika, PBL (Problem Based Learning), nilai-nilai kewirausahaan, listrik dinamis. Peraturan Mendiknas No 17 Tahun 2006 menyatakan bahwa pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif. Di lain pihak, hasil survei terhadap siswa dan guru me-nunjukkan bahwa sangat diperlukan bahan ajar fisika yang dapat melatih dan mengembangkan berpikir kritis dan kreatif serta penanaman nilai-nilai kewira-usahaan. Hasil pengamatan di beberapa toko buku di Malang menunjukkan bahwa belum banyak ditemukan bahan ajar fisika yang dapat mengembangkan berpikir kritis dan kreatif siswa serta penanaman nilai-nilai kewirausahaan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan menyusun bahan ajar fisika berbasis PBL (Pro-blem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok baha-san Listrik Dinamis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan kelayakan bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok bahasan Listrik Dinamis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan lima langkah awal metode Borg dan Gall, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draf produk, uji coba, dan revisi hasil uji coba. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji validitas oleh tim ahli materi (dosen Fisika) dan pengguna bahan ajar (guru Fisika MA Negeri 3 Malang). Selain itu, terkait dengan keterbacaan bahan ajar maka dilakukan uji keterbacaan oleh sepuluh siswa MA Negeri 3 Malang yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah dengan mengisi angket dan membaca bahan ajar, kemudian menandai kata-kata sulit dan kalimat yang belum dipahami. Hasil validasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausa-haan pada pokok bahasan listrik dinamis memperoleh nilai rata-rata 3,57 yang berarti layak. Bahan ajar ini perlu dilakukan perbaikan berdasarkan saran dan kritik dari tim validator. Bahan ajar fisika ini belum dapat digunakan untuk pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk mela-kukan penelitian pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar fisika tersebut dengan melakukan kajian eksperimen dan uji coba yang lebih luas, sehingga di-peroleh bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok bahasan listrik dinamis yang teruji validitasnya secara empiris dan siap digunakan.

Karakterisasi dan identifikasi bakteri-bakteri termofilik yang terdapat dalam sumber air panas di Detusoko, Kabupaten Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur / Ferdinandus Nawa

 

Kata kunci: karakterisasi, identifikasi bakteri termofilik, sumber air panas, Detusoko, Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur Masyarakat Kabupaten Ende memanfaatkan sumber air panas yang terdapat di Detusoko, Kabupaten Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur sebagai tempat pemandian dan juga pengobatan penyakit. Pada sumber air panas ini terdapat bakteri yang memiliki kemampuan untuk bertahan hidup yang tergolong dalam bakteri termofilik. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakter dan identifikasi spesies-spesies bakteri termofilik yang terdapat dalam sumber air panas di Detusoko, Kabupaten Ende Flores -Nusa Tenggara Timur, 2) mengetahui spesies bakteri termofilik yang paling dominan terdapat dalam sumber air panas di Detusoko, Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, pada bulan Januari sampai dengan April 2011. Penelitian ini menggu-nakan metode deskriptif observasional. Sumber air panas yang digunakan dalam penelitian ini di peroleh dari 3 sumber air panas yang terdapat di Detusoko, Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Sumber air panas diambil 100 ml untuk masing-masing sumber dan 25 ml untuk diaklimatisasi menggunakan shaker selama 1x 24 jam. Setelah aklimasi di ambil 10 ml dilarutkan ke dalam 90 ml air pepton 0,1%, sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5 dan 10-6. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium Nutrien Agar (NA) sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 37C0 selama 1 x 24 jam. Kemudian dilakukan isolasi, deskripsi ciri-ciri morfologi dan sel secara mikroskopis sampai dengan tingkat genus, serta dilanjutkan dengan identifikasi spesies-spesies bakteri yang diujikan di Labortorium Mikrobiologi Kedokteran Universitas Brawijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies bakteri termofilik yang terdapat dalam sumber air panas yang terdapat di Detusoko, Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur telah ditemukan 8 isolat bakteri termofilik dengan kode A ialah Vibrio alginoliticus, isolat dengan kode B ialah Seratia marcescens, isolat dengan kode C ialah Pseudomonas putida, isolat dengan kode D ialah Bacillus mycoides, isolat dengan kode E ialah Pseudomonas cepacia, isolat dengan kode F ialah Pseudomonas stutzeri , isolat dengan kode G ialah Actinobacillus haemoliticus, dan isolat dengan kode H ialah Acinetobacter baumannii. Hasil pengamatan morfologi koloni bakteri pada umumnya koloni berwarna putih dengan beberapa variasi, kecuali koloni dengan kode H yang berwarna merah muda. Tepi koloni pada umumnya licin, kecuali koloni dengan kode C yang bersifat berlekuk, dan koloni dengan kode D yang bersifat tidak beraturan. Adapun berdasarkan hasil pengamatan sel secara mikroskopis bahwa bentuk sel bakteri terdiri dari streptococcus, yaitu koloni dengan kode A dan E; streptobacillus, yaitu koloni B, D, F, G, dan H; sedangkan hasil pengamatan sifat Gram, pada umumnya bersifat Gram negatif, kecuali koloni D bersifat Gram positf. Berdasarkan jumlah perhitungan spesies bakteri yang paling dominan adalah isolat dengan kode B ialah Seratia marcescens dengan jumlah koloni 2,9 x 106 cfu/ml sampel air

Analisis dimensi kualitas pelayanan yang dirasakan nasabah produk Tabunganku pada bank syariah Mandiri KCP Mojokerto / Fahmi Yusitasari

 

Kata kunci: Analisis, Kualitas Layanan (Bukti fisik, empati, keandalan, daya tanggap, jaminan) Perusahaan yang bergerak di bidang jasa harus dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan karena itu merupakan suatu tujuan utama. Dalam menilai atau melihat suatu kualitas layanan jasa, hal ini dapat dilihat melalui beberapa aspek yang biasa dikenal dengan dimensi kualitas jasa. Dimensi kualitas jasa ini terdiri dari bukti fisik, empati, keandalan, daya tanggap, jaminan. Diperlukan kualitas layanan yang baik dari karyawan untuk meningkatkan minat nasabah dalam memakai jasa perbankan terutama nasabah TabunganKu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas layanan nasabah TabunganKu pada Bank Syariah Mandiri KCP Mojokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis kualitas layanan bukti fisik (tangibles), empati (emphaty), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance) nasabah TabunganKu pada Bank Syariah Mandiri KCP Mojokerto. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah mono variabel yaitu kualitas pelayanan dengan sub variabel bukti fisik, empati, keandalan, daya tanggap, dan jaminan. Hasil analisis deskriptif data menunjukkan bahwa kualitas layanan pelayanan dengan dimensi bukti fisik, empati, keandalan, daya tanggap, dan jaminan rata-rata dinyatakan cukup baik oleh nasabah, Faktor bukti fisik dengan variabel Bank Syariah Mandiri memiliki fasilitas fisik yang memadai (peralatan banking, komputer dan program yang canggih) dan Bank Syariah Mandiri memiliki tempat parkir luas dan aman. Faktor empati dengan variabel yang termasuk dalam faktor empati adalah Waktu transaksi Bank Syariah Mandiri sesuai dengan kebutuhan Anda, Bank Syariah Mandiri menjaga keakuratan dalam penanganan transaksi dan Bank Syariah Mandiri merupakan bank yang memiliki reputasi yang baik. Faktor keandalan dengan variabel yang termasuk dalam faktor keandalan adalah Penampilan karyawan rapi dan sopan, Karyawan Bank Syariah Mandiri terampil dalam melayani nasabah, Karyawan Bank Syariah Mandiri mampu memberikan solusi atas permasalahan nasabah, Karyawan selalu berusaha untuk membantu keluhan nasabah secara maksimal.Faktor daya tanggap dengan variabel yang termasuk dalam faktor daya tanggap ini adalah Bank Syariah Mandiri memberi kemudahan dalam memperoleh brosur dan slip, Bank Syariah Mandiri memberikan jaminan keamanan bagi uang tabungan anda, Fasilitas antri (kursi, Ac, TV,dll) memberikan kenyamanan bagi anda saat bertransaksi.Faktor jaminan dengan variabel Anda merasa aman selama melakukan transaksi maupun menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri

Meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-A SMP Negeri 4 Malang melalui Problem Based Learning (PBL) pada materi persamaan linear dua variabel / Reni Savitri

 

ABSTRAK Savitri, Reni. 2015. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 4 Malang melalui Problem Based Learning (PBL) pada Materi Persamaan Linear Dua Variabel. Skripsi. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sukoriyanto, M.Si. Kata Kunci : Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV), Problem Based Learning (PBL), Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Hasil Belajar, SMP. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan dengan salah satu guru matematika kelas VIII-A SMP Negeri 4 Malang diketahui bahwa guru jarang menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru adalah metode ceramah. Hal ini berdampak pada siswa yang kurang aktif, serta guru sering meminta siswa untuk kerja kelompok tanpa dilakukan pendampingan sehingga siswa sering kebingungan. Dan pemilihan kelompok tidak didasarkan pada kelompok heterogen. Kelompok asal ditentukan dengan teman sebangku atau teman yang duduk dibelakangnya. Oleh karena itu diperlukan suatu metode problem based learning (PBL) yang dapat melibatkan siswa dalam memecahkan masalah melalui tahap-tahap ilmiah, sehingga siswa dapat berperan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-A SMP Negeri 4 Malang. Proses pembelajaran dalam Problem Based Learning (PBL) yang terdiri dari 5 tahap yaitu, (1) fase 1: orientasi siswa pada masalah yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan metode pembelajaran dengan PBL, memotivasi siswa dengan memberikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang bisa dicontohkan dengan persamaan linear dua variabel, serta memberikan apersepsi untuk mengingatkan tentang materi prasyarat, 2) fase 2: mengorganisasi siswa untuk belajar yaitu mengorganisasi siswa untuk duduk bersama kelompok yang telah ditentukan, membagikan LKS, dan meminta siswa untuk mendiskusikan LKS, 3) fase 3: membimbing pengalaman individual/ kelompok yaitu membimbing siswa dalam mengerjakan LKS dengan memberikan pertanyaan pancingan yang mengarahkan mereka pada konsep materi, (4) fase 4 : mengembangkan dan menyajikan hasil karya yaitu perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok, 5) fase 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah yaitu guru bersama siswa merangkum materi yang telah dipelajari. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Data penelitian berupa hasil observasi selama proses pembelajaran yang berpedoman pada lembar observasi guru dan siswa, catatan lapangan, dan hasil tes akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I, siswa yang tuntas belajar sebanyak 60% dan rata-rata hasil observasi aktivitas guru pada kategori “Baik”, sedangkan rata-rata hasil observasi aktivitas siswa berada pada kategori “Sedang”. Pada tindakan siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 76% dan rata-rata hasil observasi aktivitas guru pada kategori “Sangat Baik”, serta hasil aktivitas siswa pada kategori “Baik”. Maka dapat disimpulkan bahwa metode Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMP Negeri 4 Malang pada materi persamaan linear dua variabel.

Pengolahan buah nangka sebagai bahan dasar pembuatan nata / Helpi Sanak Izati

 

Karakterisasi Antareja sebagai visualisasi komik superhero Indonesia / Oscar Ery Permana

 

Wayang adalah salah satu budaya Indonesia yang harus dipertahankan. Pada saat ini wayang telah diresmikan sebagai warisan dunia oleh PBB. Hal ini merupakan salah satu usaha masyarakat Indonesia dalam mempertahankan budaya bangsa. Pada era 60-an komik dengan karakter pewayangan sempat mengalahkan produk komik luar negeri di Indonesia. Maka dari itu penulis mengembalikan kembali kejayaan komik Indonesia dengan mengangkat karakter-karakter pewayangan dengan komik. Tingkat kepedulian konsumen Indonesia akan komik saat ini masih kecil karena perhatian mereka masih terpusat pada karya-karya luar negeri. Komik pewayangan juga membutuhkan penyampaian baru yang sesuai dengan kemajuan jaman. Rumusan masalah skripsi perancangan ini yaitu anak remaja Indonesia sekitar umur 13-17 tahun yang lebih banyak mengenal komik asing daripada komik dalam negerinya. Manfaat praktis dari perancangan ini adalah mengenalkan dan mempromosikan komik superhero Indonesia pada generasi muda dan remaja zaman sekarang yang pada kenyataanya mengenal lebih banyak komik asing daripada karya dan produk dalam negerinya. Sedangkan manfaat teoritis dari perancangan ini adalah menggunakan komik selain sebagai media desain komunikasi visual juga sebagai promosi untuk mengenalkan kembali komik wayang Indonesia. Metode skripsi perancangan ini menggunakan metode konseptual. Alasan penggunaan metode ini adalah menyampaikan pesan yang dari perancang tentang sebuah gambaran nyata kepada masyarakat melalui bahasa visual yang dalam perancangan ini berupa komik. Dengan begitu dibutuhkan analisa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan tiap-tiap komponen produk yang akan dirancang. Dalam perancangan ini juga dibutuhkan ketelitian dalam membangun persepsi yang baik bagi target audience sehingga selain pesan dari perancang dapat tersampaikan, produk tersebut dapat dikenal dan dicari oleh target audience dan disukai oleh konsumen. Perancangan ini menghasilkan komik fullcolor berukuran kertas A4 tentang tokoh wayang dalam wujud superhero. Kesimpulanya dengan adanya perancangan ini remaja memiliki sebuah alternatif yaitu komik dalam negeri yang dikemas mirip dengan komik asing. Komik ini menggunakan karkter wayang dalam cerita modern.

Peningkatan kemampuan membawakan acara menggunakan metode pembelajaran think pair contest (TPC) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sambeng Kabupaten Lamongan / Deni Nir Lita Furi

 

Kata kunci: Kemampuan Membawakan Acara, Kemampuan Berbicara, Metode Pembelajaran Think Pair Contest (TPC). Membawakan acara adalah tugas memandu dan mengatur jalannya sebuah acara agar berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Salah satu keterampilan berbicara yang diajarkan pada pembelajaran bahasa Indonesia yaitu membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar,serta santun. Pada pelaksanaan pembelajaran membawakan acara di kelas VIII B SMP Negeri 1 Sambeng, ratarata kemampuan siswa dalam membawakan acara masih kurang. Rasa percaya diri siswa yang kurang, penggunaan bahasa yang baik dan benar yang kurang, dan metode yang guru gunakan saat menagajar berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam membawakan acara, karena metode yang digunakan masih membosankan serta kurang bervariasi. Rendahnya kemampuan dalam membawakan acara ini dialami oleh siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Sambeng yang rata-rata siswanya pasif. Berdasarkan hal itulah maka perlu diberikan metode pembelajaran yang tepat agar kemampuan siswa dalam membawakan acara dapat meningkat. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan membawakan acara siswa di sini adalah metode Think Pair Contest (TPC). Penelitian ini adalah jenis penelitan tindakan kelas. Prosedur penelitian tindakan meliputi (1) studi pendahuluan untuk mengidentifikaski masalah pembelajaran berbicara di sekolah, (2) rencana tindakan, (3) pelaksanan tindakan, (4) pengamatan, (5) refleksi, dan (6) hasil tindakan. Data peneltian ini bersumber dari hasil penelitian siklus I dan II. Analisis data dilakukan dengan (1) seleksi data yang terkumpul, (2) pensekoran data, dan (3) penyimpulan data. Peneliti dapat mengetahui keberhasilan tindakan berdasarkan aspek yang dinilai. Kemampuan siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Sambeng dalam membawakan acara setelah diterapkannya metode Think Pair Contest (TPC) mengalami peningkatan pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa pada siklus I, kemampuan siswa dalam memahami isi teks nilai total ratarata siswa mencapai 41,2%. Pada siklus II presentase rata-rata siswa meningkat menjadi 88,2%. Rincian presentase rata-rata tiap aspeknya yakni: pada aspek kesesuaian isi susunan acara dengan sistematika acara siklus I mencapai 76%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 94,1%. Pada aspek sikap dan penampilan yang baik dan santun dalam membawakan acara pada siklus I, presentase rata-rata siswa hanya mencapai 50%. Pada siklus II presentase rata-rata siswa meningkat menjadi 85,3%. Pada aspek penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam membawakan acara nilai siswa siklus I rata-rata mencapai 35,5%. Pada siklus II presentase rata-rata siswa meningkat menjadi 79,4%. Pada aspek penggunaan bahasa yang santun, presentase rata-rata siswa pada siklus I mencapai

Pengembangan modul biologi invertebrata model siklus belajar (learning cycle) 4E untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X RSMABI Negeri 1 Batu / Icuk Sugik Laili Abidah

 

Kata kunci: Pengembangan Modul, Siklus Belajar 4E, Invertebrata Pembelajaran biologi di RSMABI (Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional) Negeri 1 Batu sudah cukup baik karena beberapa proses pembelajaran di dalam kelas telah berpusat pada siswa, serta sarana dan prasarana yang sudah cukup memadai, untuk memudahkan melakukan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran sering dilakukan dengan mengerjakan LKS dengan alasan untuk mempersingkat waktu pembelajaran karena materi terlalu padat dan juga sebagai penunjang kegiatan pembelajaran pada saat guru tidak bisa hadir di kelas. LKS yang dimiliki siswa bentuk produknya kurang menarik, berisi kumpulan soal-soal yang tidak bersifat konstruktif, sehingga minat belajar siswa berkurang dan hal ini berdampak pada hasil belajar yang kurang memuaskan. Hasil belajar Biologi kelas X-2 yang berupa nilai rapor di semester 1 tahun 2011, 31,25% siswa memiliki nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal 75 dan ketuntasan klasikalnya hanya 68,75%. Berdasarkan hasil observasi tersebut perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan mengembangkan modul pada materi Invertebrata untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-2 RSMABI Negeri 1 Batu. Metode Pengembangan modul mengadaptasi model Thiagarajan atau dikenal dengan 4D (define, design, develop, dan disseminate). Tahap define, melakukan analisis situasi awal. Tahap design, merancang perangkat pembelajaran, seperti silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Tahap develop, melakukan pengembangan dan penulisan modul, validasi modul, revisi I, uji coba modul, revisi II, dan diperoleh produk akhir hasil pengembangan. Tahap disseminate: penggunaan modul pada skala yang luas, belum dilakukan karena keterbatasan biaya dan waktu pembelajaran pada Kompetensi Dasar yang dikembangkan sudah berakhir. Berdasarkan data dan analisis data, yang telah dilakukan, diperoleh produk pengembangan berupa Modul Pembelajaran Biologi Invertebrata dengan model siklus belajar 4E dengan kriteria sangat valid baik modul guru (87,76%) maupun modul siswa (87,41%). Berdasarkan data uji coba yang dilakukan, ketuntasan klasikal dari tes hasil belajar kognitif mencapai 93,75% (meningkat sebesar 25% dari sebelum penggunaan modul), dari tes hasil belajar afektif 84,38% siswa memperoleh nilai A, menunjukkan sikap dan respon siswa terhadap materi Invertebrata sangat tinggi, dari hasil belajar psikomotor 71,87% siswa memperoleh kriteria penilaian sangat tinggi/sangat baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa modul layak digunakan dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan modul biologi sistem reproduksi manusia model siklus belajar (learning cycle) 5E untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang / Dewi Kumalasari

 

Kata kunci: Pengembangan Modul, Siklus Belajar 5E, Sistem Reproduksi Manusia Prinsip pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. Salah satu standar kompetensi lulus SMA adalah siswa dapat menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Modul merupakan bahan ajar yang sesuai dengan prinsip pelaksanaan KTSP. Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 1 Malang, proses pembelajaran Biologi masih memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS). Bentuk soal dalam LKS masih bersifat literal, sehingga siswa kurang konstruktif dan aplikatif terhadap materi yang dipelajari. Kelas yang dijadikan subjek penelitian adalah kelas XI IPA3. Ketuntasan klasikal sebelum penerapan modul yang dilihat dari dari nilai ulangan harian materi Sistem Ekskresi adalah sebesar 66,7%, padahal ketuntasan klasikal yang diharapkan adalah ≥ 85%. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan Modul Biologi Sistem Reproduksi Manusia model siklus belajar 5E untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Prosedur pengembangan modul menggunakan modifikasi model Thiagarajan atau dikenal dengan 4D (define, design, develop, dan disseminate). Tahap define: dilakukan untuk menganalisis situasi awal. Tahap design: merancang perangkat pembelajaran, seperti silabus dan RPP. Tahap develop: melakukan pengembangan dan penulisan modul, validasi modul, revisi I, uji coba modul, revisi II, dan dihasilkan produk akhir hasil pengembangan modul. Tahap disseminate: merupakan tahap penggunaan modul pada skala yang luas. Tahap ini tidak dilaksanakan karena keterbatasan waktu dan biaya penelitian. Produk hasil pengembangan berupa Modul Sistem Reproduksi Manusia dengan model siklus belajar 5E. Hasil validasi menunjukkan rata-rata persentase modul guru sebesar 88,04% dan modul siswa sebesar 87,64%, keduanya memiliki kriteria sangat valid. Hal ini berarti bahwa modul layak digunakan. Berdasarkan hasil ujicoba, ketuntasan klasikal aspek kognitif kelas XI IPA3 sebesar 86,5% dengan rata-rata kelas 79,1, yang berarti penerapan modul dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Modul dengan model siklus belajar 5E mampu mengarahkan cara berpikir siswa dari hal yang sederhana ke arah yang lebih kompleks sehingga memudahkan siswa untuk meningkatkan pemahamannya tentang materi yang dipelajari. Sementara itu, hasil belajar afektif siswa setelah pembelajaran modul mencapai 100%, yang berarti sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan modul sangat tinggi. Modul ini telah diujicobakan pada lingkup terbatas dan perlu diujicobakan pada lingkup yang lebih luas lagi.

Pengembangan media pembelajaran qiro'ah berbasis software adobe flash CS3 bagi siswa madrasah ibtidaiyah kelas V / Qonita Maizuna

 

Kata kunci: Media pembelajaran, Qiro’ah, Madrasah Ibtidaiyah, Kelas V Dalam mempelajari keterampilan berbahasa, diperlukan variasi media untuk meningkatkan minat belajar siswa dan mengurangi rasa bosan mereka dalam belajar. Dengan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, siswa akan lebih bersemangat dan termotivasi dalam belajar. Software Adobe Flash CS3 pada saat ini telah banyak digunakan. Dari uraian di atas, maka perlu diadakan penelitian tentang media pembelajaran yang bercirikan pembelajaran interaktif dengan program aplikasi Adobe Flash CS3 sebagai salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan menyenangkan pada kemahiran Qiro’ah bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah Kelas V. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan (1) media pembelajaran Qiro’ah berbasis Software Adobe Flash CS3 bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah kelas V, dan (2) panduan penggunaan media pembelajaran Qiro’ah berbasis Software Adobe Flash CS3 bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah kelas V, Rancangan penelitian ini adalah pengembangan. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Research and Development (R&D) yang telah dimodifikasi oleh Borg and Gall, (1) riset dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) persiapan area dengan uji coba kelompok kecil, (5) revisi produk pertama (6) tes lapangan, (7) revisi produksi, (8) tes lapangan, (9) revisi produk akhir, (10) penyebaran dan pelaksanaan produk. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media pembelajaran Qiro’ah dengan program aplikasi Software Adobe Flash CS3 yang telah divalidasi. Media pembelajaran tersebut merupakan media pembelajaran yang dirancang khusus untuk matapelajaran bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah kelas V dengan menggunakan software Adobe Flash CS3. Akan tetapi ada pula software pendukung lainnya seperti Adobe Photoshop CS4 Portable, Audio Recorder Free , Jet Audio 5.0, dan Microsoft Power Point. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas media pembelajaran yaitu 77,5%. Berdasarkan hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 82%. Berarti media pembelajaran tersebut cukup layak digunakan dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan tingkat validitasnya, diadakan revisi terhadap media, yaitu (1) dari aspek kesesuaian warna perlu diperhatikan lagi dengan background, (2) dari aspek animasi yaitu animasi kurang bervariasi dan diharapkan agar lebih kreatif lagi. Adapun revisi

Dampak perpindahan terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar terminal Gadang / Novi Setyowati

 

Kata Kunci: Dampak, Perpindahan Terminal, Kehidupan Sosial Ekonomi, Masyarakat Keberadaan terminal di suatu daerah merupakan pemicu munculnya aktivitas ekonomi di sekitar terminal yang semakin beragam dan bertambah jumlahnya. Terminal sebagai pusat pertumbuhan pemegang peranan penting dalam usaha mencapai tujuan-tujuan pembangunan ekonomi. Terminal sebagai salah satu prasarana dalam sistem transportasi sangat dibutuhkan sekali daerah fisik yang harus disediakan. Pentingnya terminal bagi masyarakat adalah untuk kenyamanan menunggu, kenyamanan perpindahan dari satu moda atau kendaraan ke moda atau kendaraan lain, dan sebagai tempat tersedianya fasilitas-fasilitas dan informasi. Maka dari itu diperlukan sarana prasarana yang baik dari suatu terminal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan beberapa hal, yang mencakup latar belakang dipindahnya terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi, kondisi sosial ekonomi masyarakat sebelum pindahnya terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi, kondisi sosial ekonomi masyarakat sesudah pindahnya terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi, dampak perpindahan terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, display data, verivikasi kesimpulan. Hasil penelitian adalah: (1) Latar belakang pemindahan terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi di karenakan adanya permasalahan fisik berupa kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh padatnya arus kendaraan di sekitar terminal, (2) Masyarakat Gadang sebelum perpindahan terminal pada umumnya bermata pencaharian sebagai pedagang, selain pedagang ada beragam mata pencaharian yang lain seperti sopir, tukang becak, makelar penumpang, jasa travel dan jasa wartel serta pedagang asongan. Pendapatan masyarakat sangat beragam dari sekitar Rp 1.000.000-Rp500.000 perhari untuk masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang dan Rp 30.000-Rp 90.000 perhari untuk masyarakat yang berprofesi sebagai sopir, tukang becak, dan makelar. Akses menuju ke tempat sekolah masyarakat Gadang sangat terbantu dengan keberadaan terminal dekat tempat tinggal mereka, tetapi untuk masalah ongkos tidak berpengaruh dengan keberadaan terminal.Suasana tempat tinggal masyarakat Gadang sebelum perpindahan terminal dirasakan tidak tenang dan tidak nyaman karena suara bising, gaduh dan ramai dari terminal, tetapi masalah keamanan mereka merasakan tidak berpengaruh dengan keberadaan terminal. Interaksi sosial masyarakat Gadang berupa kerjasama seperti tahlilan rutin, acara PKK dll, selain kerjasama juga ada persaingan, persaingan di antara sesama profesi seperti terlibat cekcok mengenai masalah penumpang atau masalah pembeli, tetapi di antara mereka tidak pernah terjadi suatu konflik, (3) Setelah perpindahan terminal sebagian masyarakat terutama yang berprofesi sebagai pedagang telah kehilangan mata pencahariannya. Dan menurunnya tingkat pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai sopir, tukang becak dan makelar, mereka kini berpendapatan sekitar Rp 25.000-Rp 45.000 perharinya, dan pedagang kini hanya berpendapatan sekitar Rp 200.000 perharinya.Interaksi sosial masyarakat setelah perpindahan terminal ada yang bersifat negatif dan ada yang positif, negatifnya adalah masyarakat menjadi lebih sering terjadi persaingan berupa cekcok antar sesama profesi yang di akibatkan karena berebut penumpang dan pembeli, sedangkan positifnya adalah masyarakat sesama profesi menjadi lebih kompak dan saling bertukar pikiran tentang pekerjaan mereka. Suasana tempat tinggal masyarakat menjadi sedikit lebih tenang dan tidak segaduh dulu. Setelah perpindahan terminal tidak berpengaruh terhadap masalah akses menuju ke tempat sekolah, hanya saja setelah perpindahan terminal agak sedikit lebih sulit mendapatkan angkutan, dan untuk masalah ongkos masyarakat beranggapan tidak berpengaruh terhadap perpindahan terminal, (4) Perpindahan terminal Gadang ke terminal Hamid Rusdi membawa dampak terhadap hampir seluruh masyarakat pengguna jasa terminal, masyarakat terutama yang berprofesi sebagai pedagang sebagian telah kehilangan mata pencahariannya, pendapatan yang diperoleh mayarakat setelah perpindahan terminal menjadi berkurang, pendapatan pedagang dari Rp1.000.000-Rp 500.000 perharinya, kini hanya berkisar antara Rp 200.000 perharinya, dan masyarakat yang berprofesi sebagai sopir, tukang becak, dan makelar penumpang juga mengalami penurunan pendapatan, sekarang pendapatan mereka hanya berkisar antara Rp 25.000-Rp 45.000 perharinya, Perpindahan terminal juga berdampak pada Interaksi sosial masyarakat yang mana setelah perpindahan terminal masyarakat sesama profesi menjadi lebih mudah terjadi cekcok karena perpindahan terminal menjadi lebih sepi penumpang dan pembeli. Akses menuju ke tempat sekolah masyarakat menjadi agak lebih sulit mendapatkan angkutan umum, dan suasana tempat tinggal masyarakat menjadi lebih tenang dan nyaman dengan perpindahan terminal. Saran bagi pemerintah agar pemerintah kota Malang hendaknya dapat memahami dampak dari kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat Gadang dengan adanya pemindahan terminal. Diharapkan pihak Pemkot Malang mampu memberikan rekomendasi mengenai kondisi, situasi dan dampak yang sebenarnya terjadi akibat pemindahan terminal khususnya terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat sekitar Gadang.

Pandangan dunia pengarang terhadap masyarakat Kota Pasuruan dalam novel membeli Cahaya Bulan karya Kaji Karno / Tristan Rokhmawan

 

Kata Kunci: pandangan dunia pengarang, masyarakat kota Pasuruan, novel Membeli Cahaya Bulan, Kaji Karno, Strukturalisme Genetik Novel Membeli Cahaya Bulan karya Kaji Karno adalah novel pertama yang memakai Kota Pasuruan sebagai latar belakang penceritaannya. Novel tersebut banyak menggambarkan berbagai segi kehidupan khas masyarakat Kota Pasuruan beserta permasalahan sosialnya. Novel ini mengangkat tema kesadaran kolektof tokoh utamanya terhadap pembagian varian masyarakat di Kota Pasuruan. Kaji Karno mengemukakan perbagai pandangannya terhadap pembagian varian masyarakat di Kota Pasuruan kemudian “menitipkan” pandangan dunianya tersebut pada penokohan yang ada di dalam novel Membeli Cahaya Bulan. Dalam teori Strukturalisme Genetis, hal ini dipandang sebagai bentuk pandangan dunia dari pengarang yang sersirat maupun tersurat dalam teks. Jenis penelitian ini hasil kajian pustaka dengan fokus utama analisis yang ditujukan untuk mendeskripsikan sebuah teks. Dalam hal ini, teks berupa novel Membeli Cahaya Bulan karya Kaji Karno dianalisis menggunakan pendekatan dan metode tertentu untuk selanjutnya dapat mendeskripsikan isi dan makna dari teks tersebut, baik dalam aspek intrinsik maupu ekstrinsik. Untuk tujuan inilah dipilih pendekatan sosiologi sastra untuk menunjukkan anggapan dasar mengenai totalitas bentuk teks terhadap aspek sosial disekitarnya. Dikarenakan karya sastra merupakan bentuk yang memiliki ciri khas dalam strukturnya, maka peneliti dalam hal ini tidak serta merta melupakan prinsip otonom dari sebuah teks. Prinsip otonom dalam karya sastra dapat dideskripsikan bentuknya melalui analisis struktural terhadap teks. Dengan anggapan dasar pada aspek sosial dalam sastra yang disertai sebuah tujuan untuk mendeskripsikan pula struktur daripada karya itu sendiri, kemudian dipilihlah metode strukturalisme genetis dalam penelitian ini. Pemilihan metode strukturalisme genetik didasarkan pada pemilihan sebuah metode yang dapat mencakup dualitas paradigma struktural dan soiologis dalam satu metode kerja. Stukturalisme genetis sekaligus mampu mencakup pada analisis intrinsik dan ekstrinsik terhadap teks karya sastra. Hal ini dikarenakan metode ini menggunakan paradigma dialektik yang pada dasarnya bertujuan untuk menjawab segala macam dualitas dan kontradiksi. Dengan adanya latar belakang permasalahan kontradiksi antara unsur intrinsik dan ekstrinsik yang mengharuskan digunakannya teosi strukturalisme genetois tersebut, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam tiga poin diantaranya : 1) Bagaimana struktur teks novel Membeli Cahaya Bulan karya Kaji Karno? ; 2) Bagaimana pandangan dunia Kaji Karno dalam novel Membeli ii Cahaya Bulan? ; Dan 3) Bagaimana pandangan subjek kolektif dalam novel Membeli Cahaya Bulan? Ketiga poin rumusan masalah tersebut kemudian diusahakan pendeskripsiannya untuk menemukan dua pokok penting dalam penelitian ini yang diantaranya badalah untuk menunjukkan bentuk otonom teks dan selanjutnya menemukan bentuk totalitasnya terhadap struktur sosial. Deskripsi dilakukan dengan melakukan analisis teks dan kemudian melakukan analisis kausalitas terhadap aspek-aspek kepengarangan dan struktur sosial masyarakat pada zaman dan dimana novel tersebut lahir. Anggapan dasar tentang adanya hubungan genetis antara karya dan masyarakat yang menjadikannya sebuah totalitas sastra dalam penelitian ini, muncul dalam bentuk penelitian terhadap sebuah hubungan kompleks antara masyarakat sosial, pengarang, dan karya sastra. Hubungan kausalitas ini telah menjadi perhatian sejumlah besar analis karya sastra dunia. Karya sastra sebagai bentuk peresentatif dari pemikiran pengarang adalah hal yang wajar sebagaimana pandangan bahwa sebuah karya sastra tersebut “terlahir” dari “rahim” pemikiran seorang pengarang yang “lahir” pula atas nama keanggotaan kolektifnya. Dalam analisis strukturalisme genetisnya, Goldmann menghindari analisis penghakiman terhadap suatu nilai. Maka oleh karenanya Goldmann menyeimbangkan berbagai unsur pembentuk dunia dan karya sastra dalam pemahaman yang utuh. Pemahaman baik terhadap struktur otonom karya sastra, pandangan dunia pengarang, fakta kemanusiaan, dan subjek kolektif. Bahkan dinyatakannya secara tegas mengenai pemahamannya yang terlalu jauh terhadap fakta dan koletif bukanlah usaha untuk menjauhi individualitas pengarang. Melainkan untuk memperkuat pemahaman terhadap aspek transindividual sehingga dapat diketahuilah seberapa obyektif pandangan pengarang terhdap dunianya. Dengan pesatnya perkembangan sosial dan sastra sosial dalam masyarakat saat ini, secara implisit memanggil para akademisi sebagai analis dibidang sastra untuk dapat memahami dan mengembangkan metode analisisnya seuai dengan tuntutan perkambangan sosial dalam masyarakat yang melatar belakangi “lahirnya” karya sastra.

Studi eksplorasi pelaksanaan authentic assessment dalam pembelajaran kimia kelas X pada Rintisan SMA Bertaraf Internasional se-kota Malang / Oktavianti Sakina Aulia Rokhim

 

Kata Kunci: Studi eksplorasi, Authentic assessment, Rintisan SMA Bertaraf Internasional Di dalam KTSP jenis penilaian yang digunakan adalah penilaian kelas. Salah satu ciri-ciri dari penilaian kelas adalah dilaksanakannya penilaian otentik (authentic assessment). Sekolah yang berstatus Rintisan SMA Bertaraf Internasional (R-SMA-BI) merupakan sekolah yang sudah memenuhi kriteria Sekolah Standar Nasional (SSN). Dalam penyelenggaraannya, R-SMA-BI menggunakan Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan kurikulum asing. Oleh karena itu dalam melakukan authentic assessment untuk penilaian dalam kelas seharusnya lebih baik dari sekolah yang berstatus SSN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pelaksanaan authentic assessment dalam Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Hal ini dapat dilihat dari pengetahuan awal guru tentang authentic assessment, penyusunan perangkat authentic assessment, pelaksanaan authentic assessment, pola penyajian authentic assessment dalam penilaian pembelajaran kimia. Penelitian ini merupakan penelitian survey. Subyek dari penelitian ini adalah guru kimia kelas X pada Rintisan SMA Bertaraf Internasional Se-Kota Malang. Data penelitian dikumpulkan dengan cara pemberian angket, wawancara dan observasi dokumen (silabus dan soal). Pemberian angket kepada siswa sebagai triangulasi data terhadap pelaksanaan authentic assessment. Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan perhitungan persentase jawaban responden. Hasil analisis data dideskripsikan dan disimpulkan sehingga diperoleh informasi tentang pelaksanaan authentic assessment dalam pembelajaran kimia oleh guru kimia kelas X pada Rintisan SMA Bertaraf Internasional di kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan awal guru kimia kelas X tentang authentic assessment di Rintisan SMA Bertaraf Internasional Se-Kota Malang dikatakan baik yang dilihat dari tingkat pengetahuan awal guru kimia kelas X di Rintisan SMA Bertaraf Internasional mengenai authentic assessment sebesar 85%, penyusunan perangkat authentic assessment oleh guru kimia kelas X pada Rintisan SMA Bertaraf Internasional Se-Kota Malang dikatakan sangat baik yang dapat dilihat dari 17 langkah yang seharusnya dilakukan untuk tahap perencanaan, persiapan, penyusunan dan persiapan sebelum implementasi authentic assessment, guru kimia kelas X di Rintisan SMA Bertaraf Internasional telah melaksanakan 90% dari langkah-langkah yang seharusnya dilakukan tersebut, pelaksanaan authentic assessment oleh guru kimia kelas X pada Rintisan SMA Bertaraf Internasional Se-Kota Malang dikatakan baik yang dilihat dari tingkat pelaksanaan authentic assessment oleh guru kimia kelas X di Rintisan SMA Bertaraf Internasional sebesar 85%.

Profesionalisme guru sejarah pasca sertifikasi (kasus dua orang guru SMAN di Batu yang lulus portofolio tahun 2008-2009) / Aris Setyo Erwanto

 

Kata kunci: Kompetensi, Sertifikasi, Profesionalisme Salah satu program yang dilaksanakan pemerintah adalah dengan mengadakan sertifikasi guru untuk meningkatkan profesionalisme guru. Dasar utama pelaksanaan sertifikasi guru ini adalah Undangundang no14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Kondisi dilapangan menunjukkan bahwa tidak semua guru yang sudah bersertifikat pendidik mempunyai standar kompetensi yang diharapkan. Dari hasil observasi peneliti, di kota Batu masih ada guru yang kinerjanya masih belum memenuhi standar kompetensi. Hal tersebut diungkapkan oleh Bapak Suhartono yang mengajar di SNAKMA tanggal 20 Mei 2010. Alasannya adalah karena tuntutan jumlah mengajar yang besar sehingga guruguru dikota Batu banyak yang mengajar lebih dari satu macam satu pelajaran, sehingga standar kompetensi guru menjadi berkurang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah kompetensi pedagogik guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu, (2) Bagaimanakah kompetensi profesional guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu (3) Bagaimanakah kompetensi kepribadian guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu (4) Bagaimanakah kompetensi sosial guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu(2) Untuk mendeskripsikan kompetensi profesional guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu (3) Untuk mendeskripsikan kompetensi kepribadian guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu (4) Untuk mendeskripsikan kompetensi sosial guru sejarah pasca sertifikasi guru jalur portofolio di SMAN I dan II Kota Batu Penelitian ini diteliti dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran sejarah di SMAN I Batu dan SMAN II Batu yang telah mempunyai sertifikat pendidik. Peneliti merupakan instrumen dalam dalam penelitian yakni sebagai pengamat dan pewawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kompetensi pedagogik adalah: 1. Pada sub kompetensi pemahaman peserta didik, Ibu Fajar sudah menggunakan teori prinsip perkembangan kognitif Piaget sedangkan Bapak Sugeng masih belum menerapkan teori untuk membantu memahami peserta didik, 2. Dalam perancangan pembelajaran Ibu Fajar dan Bapak Sugeng secara umum komponennya yang ada dalam RPP sama dengan komponenkomponen yang seharusnya ada dalam panduan pengembangan RPP Persamaan lain adalah tidak adanya indikator pembedaan peserta Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com ii didik 3. evaluasi hasil belajar secara umum sama yakni menggunakan nilai dari ulangan tengah semester, ulangan harian, tugas, nilai proses pembelajaran dan ulangan akhir semester, 4.Pada sub pengembangan siswa masih sulit dilakukan oleh Ibu Fajar dan Bapak Sugeng dikarenakan kebijakan sekolah di SMAN I dan SMAN II Kota Batu yang lebih mempercayakan pengembangan potensi siswa non akademis terhadap pelatihpelatih yang lebih berkompeten dibidangnya. Sedangkan hasil penelitian dalam kompetensi profesional adalah: 1. Pada sub memahami jenisjenis materi pembelajaran baik Ibu Fajar maupun Bapak Sugeng telah menggunakan beberapa jenis materi pembelajaran, 2. Pada sub mengurutkan materi pembelajaran baik Ibu Fajar dan Bapak Sugeng menggunakan pendekatan hierarkis.3. Pada sub mendayagunakan sumber belajar baik Ibu Fajar dan Bapak Sugeng menggunkan sumber belajar yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Hasil penelitian tentang stándar kompetensi kepribadian adalah guru mempunyai kepribadian yang dapat dicontoh oleh peserta didiknya. Sedangkan hasil penelitian tentang standar kompetensi sosial adalah guru menjalin komunikasi yang baik dengan siswa, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik serta masyarakat sekitar. Saran yang dianjurkan yaitu: 1. Bapak Sugeng sebaiknya dalam memahami siswanya menggunakan teoriteori pembelajaran, 2. Ibu Fajar dan Bapak Sugeng dianjurkan mengembangkan kemampuannya baik pengetahuan tentang materi belajar, teori belajar, penggunaan media maupun tentang metode yang digunakan mengikuti pelatihan pelatihan yang dapat pengembangkan standar kompetensi, 3. Perkembangan teknologi pada saat ini, seharusnya diikuti oleh Ibu Fajar dan Bapak Sugeng, 4. Permasalahan pengembangan profesionalisme guru berkaitan dengan seminar, workshop maupun diklatdiklat, sebaiknya pihak sekolah tanggap dengan bekerjasama dengan instansi lain untuk rutin mengadakan pelatihanpelatihan berkaitan dengan profesi guru, 5. Ibu Fajar sebaiknya tidak membedakan siswanya berdasarkan jenis kelamin, 6. Ibu Fajar dan Bapak Sugeng sebaiknya dapat menemukan sumber pembelajaran yang bervariasi, 7. Ibu Fajar dan Bapak Sugeng memberikan pendampingan atau saransaran yang membangun terhadap siswanya di bidang nonakademis. Penelitian ini masih kurang menjelaskan tentang kondisi sosial dan etos kerja guru. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut tentang kondisi sosial dan etos kerja guru dalam menjalankan tugasnya pasca sertifikasi.

Peningkatan keterampilan berbicara (speaking) melalui kegiatan membaca cerpen pada siswa kelas VI SDN Purwantoro 8 Kota Malang tahun ajaran 2010/2011 / Yusika Adi Putra

 

Kata Kunci: keterampilan berbicara, membaca cerpen, bahasa Inggris, SD. Selama ini masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah. Berdasarkan observasi awal di kelas VI SDN Purwantoro 8 Kota Malang, pembelajaran bahasa Inggris dengan metode ceramah membuat siswa kurang antusias dan pembelajaran terkesan membosankan, sehingga berakibat pada rendahnya tingkat keterampilan berbicara. Rendahnya keterampilan berbicara siswa dapat dibuktikan dengan melihat hasil perolehan penilaian dalam kegiatan pra tindakan. Mengingat rendahnya keterampilan berbicara siswa, maka dirancanglah suatu penelitian tindakan guna meningkatkan keterampilan berbicara tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan realitas pembelajaran bahasa Inggris, data yang dihasilkan berupa data deskriptif yakni keterampilan berbicara melalui kegiatan membaca cerpen. Peneliti sebagai instrumen pokok, dengan sasaran penelitian adalah siswa kelas VI SDN Purwantoro 8Kota Malang. Berdasarkan model PTK, Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus yang diawali dengan kegiatan pra tindakan kemudian diikuti dengan tahapan-tahapan pada setiap siklus yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan kelas, pengamatan, dan refleksi. Dalam tahap pelaksanaan tindakan, guru menggunakan kegiatan membaca cerpen yang terdiri dari beberapa tahap antara lain class presentation, pembentukan kelompok, pemberian tugas membaca cerpen, kuis, pemberian evaluasi, poin peningkatan individual, penutup. Perolehan hasil dan pembahasan pada penelitian siklus I dan II menunjukan bahwa kegiatan membaca cerpen pada siswa kelas VI SDN Purwantoro 8 Kota Malang terbukti mampu meningkatkan keterampilan berbicara. Dalam akhir kegiatan penelitian tindakan ini dapat diketahui bahwa rata-rata keterampilan berbicara siswa meningkat, dengan rincian rata-rata perolehan siswa siklus 1 dengan kategori baik, sedangkan siklus 2 dengan kategori sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan membaca cerpen, siswa sangat antusias baik itu individu maupun secara kelompok dan aktif bertanya ketika guru menyampaikan penjelasan pelajaran. Di samping itu kegiatan membaca cerpen juga mampu meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa. Siswa mengaku bahwa adanya interaksi antarkelompok dan penghargaan, mampu memotivasi secara individu untuk tekun belajar guna memperoleh nilai yang baik, selain itu melalui kegiatan membaca cerpen menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan daya imajinasi siswa yang tinggi, sehingga siswa akan menjadi lebih senang dan penuh percaya diri.

Peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sprint 50 meter dengan penerapan bentuk-bentuk permainan sebagai latihan pemanasan pada siswa kelas VIIC di SMPN 10 Malang / Ita Nurul Lailin

 

Pengaruh variasi waktu gelling nata de coco dan konsentrasi adsorbat terhadap adsorpsi ion NO3- dari larutan Cd(NO3)2 dan adsorpsi molekul klorofil / Sari Kurniawati

 

Kata kunci: adsorpsi, ion NO3-, molekul klorofil, nata de coco Adsorpsi adalah proses terserapnya suatu zat (molekul atau ion) pada permukaan adsorben. Berbagai jenis adsorben telah banyak digunakan di antaranya yaitu sekam padi, serbuk gergaji, dan arang sekam padi. Widomulyo (2007) menggunakan adsorben sekam padi dan Nurwati (2005) menggunakan serbuk gergaji untuk mengadsorpsi ion NO3- . Akhir-akhir ini telah berkembang penelitian mengenai adsorpsi dengan menggunakan nata de coco sebagai adsorben. Afrizal (2008) dan Aprilia (2009) menyimpulkan bahwa nata de coco dapat digunakan untuk menjerap ion logam Cr(III) dan Co(II). Sedangkan Wonorahardjo (2010) mempelajari penggunaan nata de coco dalam menyerap molekul organik pada ekstrak mengkudu. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi larutan Cd(NO3)2, larutan klorofil dan waktu gelling terhadap adsorpsi ion NO3- dan klorofil oleh gel nata de coco dengan metode batch. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia dan Jurusan Biologi Fakultas MIPA UM. Metode yang digunakan adalah metode batch dengan nata de coco sebagai adsorben dan Cd(NO3)2 serta molekul klorofil sebagai adsorbat. Nata de coco yang digunakan merupakan hasil fermentasi (gelling) 6 dan 11 hari. Proses adsorpsi menggunakan 3 gram nata de coco gelling 6 dan 11 hari. Kemudian 50 mL adsorbat NO3- ditambahkan dengan variasi konsentrasi masing-masing 10, 25, dan 50 ppm, dikocok dengan shaker 100 rpm, dan waktu kontak 20 menit. Konsentrasi larutan sebelum dan sesudah proses adsorpsi diukur menggunakan Spektrofotometer Sinar Tampak (spektronik 20D+) pada panjang gelombang 410 nm. Percobaan yang sama dilakukan pula pada molekul klorofil sebagai pengganti Cd(NO3)2. Filtrat yang diperoleh diukur dengan spektronik 20D+ pada panjang gelombang 398 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kapasitas adsorpsi ion NO3- oleh nata de coco gelling 6 hari pada konsentrasi adsorbat 10, 25, dan 50 ppm sebesar 0,0016; 0,0145; dan 0,0332, (2) kapasitas adsorpsi ion NO3- oleh nata de coco gelling 11 hari pada konsentrasi adsorbat 10, 25, dan 50 ppm sebesar 0,0179; 0,0634; dan 0,5006, (3) kapasitas adsorpsi molekul klorofil oleh nata de coco gelling 6 hari pada pengenceran klorofil 5 dan 10 kali adalah 0,0150 dan 0,0199, dan (4) kapasitas adsorpsi molekul klorofil oleh nata de coco gelling 11 hari pada pengenceran klorofil 5 dan 10 kali adalah 0,0108 dan 0,0185.

Penerapan model pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Madyopuro 2 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Dewi K. Bothmir

 

Kata kunci: Model Snowball Throwing, hasil belajar, IPS SD Pembelajaran IPS model pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu strategi pembelajaran yang diterapkan pada review pembelajaran sehingga dapat membantu siswa mengingat kembali materi yang telah dipelajari model snowball throwing juga merupakan salah satu model dalam pembelajaran kooperatif dimana cara pembelajaran dengan cara diskusi atau kelompok dengan permainan yang tediri dari 5 sampai 6 siswa Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tentang matapelajaran IPS kelas IV SDN dapat diketahui bahwa siswa memiliki minat belajar yang rendah, diantaranya siswa cenderung pasif dan merasa bosan dalam pembelajaran IPS nilai rata-rata dalam hasil belajar adalah 49,78 %, masih kurang dari kriteria yang ditentukan, yaitu 65 %. Adapun rumusan masalahnya adalah 1) bagaimana penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dalam pembelajaran IPS bagi siswa kelas IV di SDN madyopuro 2 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang ? 2) apakah penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk siswa kelas IV SDN madyopuro 2 Kecamatan Kedungkandang Kota malang ? Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari. 1) Perencanaan. 2) Pelaksanaan. 3) observasi. 4) Refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang yang terdiri dari 45 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah soal tes,lembar Observasi dan Dokumentasi (Guru dan Siswa) Analisis data ini menggunakan deskritif kualitatif. Hasil penelitian diketahui bahwa hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I mengalami peningkatan siswa yang dikatakan tuntas sebanyak 25 siswa (55,56%). Pada siklus II meningkat lagi yaitu siswa yang tuntas sebanyak 42 (93.34) siswa setelah penerapan model Snowball Throwing. Penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dengan pembelajaran IPS bagi siswa kelas IV SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang yaitu pada materi perkembangan teknologi transportasi karena dalam pelaksanaan pembelajaran guru sudah menyiapkan rencana pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan Peningkatan hasil belajar diperoleh dari kegiatan selama proses pembelajaran yaitu kegiatan pembahasan materi bersama guru, kegiatan belajar kelompok. Dalam kegiatan pembahasan materi secara klasikal siswa diajak bersama guru untuk mempelajari materi pokok “Perkembamgan teknologi transportasi” dengan cara guru menunjukan beberapa media gambar dan menyuruh siswa mengamati dengan cara bertanya jawab dengan guru, dalam kegiatan belajar kelompok. Model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dengan baik. Untuk itu disarankan bagi guru sebagai seorang ahli yang mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran. dengan interaksi yang edukatif, komunikatif dan menyenangkan bagi siswa dan guru sendiri.

Pengaruh intelligence quotient (IQ), kondisi kecerdasan emosional, dan motivasi terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS SMA Negeri 2 Selong Kabupaten Lombok Timur / Laeli Fatma Syari

 

Kata kunci: Intellegence Quotient (IQ), Kondisi Kecerdasan Emosional, Motivasi, dan Prestasi Belajar. Memiliki prestasi yang membanggakan merupakan harapan setiap siswa. Dan untuk mencapai kesuksesan dalam belajar, siswa tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional yang baik, tetapi juga harus memiliki motivasi belajar yang tinggi pula. Penelitian ini membahas tentang pengaruh kecerdasan intelektual (IQ), kondisi kecerdasan emosional dan motivasi yang dimiliki oleh siswa terhadap prestasi belajar yang telah dicapai oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan intelektual (IQ), kondisi kecerdasan emosional dan motivasi secara parsial terhadap prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan di SMAN 2 Selong Kabupaten Lombok Timur. Populasi penelitian ini berjumlah 214 siswa dengan jumlah sampel sebanyak 105 siswa. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sample. Sedangkan metode analisisnya menggunakan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil analisis data menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara IQ terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi. Dari hasil analisis menunjukkan hasil dan = 2,00 dengan probabilitas (Sig) 0,065 yang mana nilai signifikannya berada dibawah 0,05. Nilai koefisien regresi parsial variable IQ bernilai positif sebasar 0,196 berarti kenaikan satu satuan variable IQ akan meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran akuntansi sebesar 0,196. Untuk variabel Kondisi kecerdasan emosional berdasarkan hasil analisis data menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara Kondisi Kecerdasan Emosional terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran akuntansi. Dari hasil analisis menunjukkan hasil dan dengan probabilitas (sig) 0,000 yang mana nilai signifikansinya berada dibawah 0,05. Nilai koefisien regresi parsial variabel Kondisi Kecerdasan Emosional bernilai positif sebesar 0,236 berarti kenaikan satu satuan variabel Kondisi Kecerdasan Emosional akan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran akuntansi sebesar 0,236. Dan untuk variabel motivasi dari hasil analisis menunjukkan hasil dan dengan probabilitas (sig) 0,000 yang mana nilai signifikansinya berada dibawah 0,05. Nilai koefisien regresi parsial variabel Motivasi bernilai positif sebesar 0,186 berarti kenaikan satu satuan variabel Motivasi akan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran akuntansi sebesar 0,186. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pada pihak keluarga untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional sejak dini karena kecerdasan emosional dapat berkembang melalui proses pembelajaran secara terus-menerus. Orang tua juga harus memberikan motivasi kepada anaknya agar prestasi yang dicapai terus meningkat.

Perancangan corporate identity disease skateboards company pada media promosi / Ozias Widijanto Irawan

 

Kata Kunci : Perancangan, corporate identity, media, promosi. Disease Skateboards Company adalah perusahaan skateboards pertama di Malang. Disease Skateboards Company menginginkan identitas visual yang baru dan memberikan citra baru. Oleh sebab itu, Disease Skateboards Company perlu adanya visualisasi identitas yang baru. Tujuan dari perancangan corporate identity Disease Skateboards Company ini adalah untuk mengetahui cara menghasilkan corporate identity yang dapat menyampaikan identitas Disease Skateboards Company dengan memberi pengaruh, fleksibel, serta berkomunikatif untuk masyarakat luas menggunakan metode deskriptif. Tehnik dalam mengumpulkan data menggunakan observasi, dokumentasi. Dalam konsep perancangannya diciptakan model gaya desain yang dekoratif yang mendukung tanpa menghilangkan dan mengubah icon yang sudah ada sebelumnya. Bentuk logotype Disease Skateboards Company, serta aplikasi warnanya yang melambangkan baru, kecerdasan, kepolosan dan kenyamanan diharapkan dapat meningkatkan citra positif perusahaan, termasuk di dalamnya berupa stasionery set dan promotional item. Sehingga mampu mempresentasikan suatu image perusahaan yang baik. Proses perancangan corporate identity Disease Skateboards Company menggunakan software CorelDraw X4 dan Photoshop CS3. Perancangan ini menghasilkan suatu produk berupa identitas visual baru perusahaan, mempresentasikan citra positif perusahaan, dan diaplikasikan pada atribut perusahaan guna meningkatkan citra positif perusahaan. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan atau tolak ukur dalam mengadakan redesain suatu corporate identity, baik bagi mahasiswa, desainer pemula, pengajar, dan lain sebagainya.

Hubungan membacakan cepat dengan kecepatan membaca dan pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gondang Tulungagung / Ratna Dupitasari

 

Kata Kunci: Membacakan Cepat, Kecepatan Membaca, Pemahaman Membacakan cepat adalah membaca yang dilakukan dengan menyuarakan kata per kata disertai dengan pemahaman serta dihitung kecepatannya. Membaca cepat adalah membaca yang dilakukan dengan cepat untuk mendapatkan pemahaman yang efektif. Pemahaman diperlukan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan terhadap bacaan yang telah dibaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan membacakan cepat dengan kecepatan membaca dan pemahaman. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan membacakan cepat (X) dan variabel terikat adalah kecepatan membaca (Y1), pemahaman isi bacaan (Y2). Jenis penelitian yang digunakan adalah regresi sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa regular kelas VIII SMP Negeri 1 Gondang Tulungagung yang berjumlah 322 siswa. Pengambilan sampel digunakan teknik purposive sample. Kelas yang dipilih sebagai sampel adalah kelas VIIIA sebanyak 40 siswa. Hipotesis penelitian berbunyi terdapat hubungan membacakan cepat dengan kecepatan membaca dan terdapat hubungan membacakan cepat dengan pemahaman teks. Langkah-langkah penelitian sebagai berikut. Pertama, peneliti menentukan kelas yang akan digunakan sebagai sampel populasi. Kedua, pemberian tes kemampuan membacakan cepat dan menghitung kecepatan membaca. Ketiga, pemberian tes pemahaman teks bacaan yang telah dibaca. Data dalam penelitian ini terdiri atas tiga data, yaitu (1) skor membacakan cepat, (2) skor kecepatan membaca, dan (3) skor pemahaman isi bacaan. Melalui penelitian ini dihasilkan kesimpulan. Pertama, nilai sig sebesar 0,000 lebih kecil 0,05 dan nilai Adjusted R Squere sebsesar 0,380, sehingga hipotesis hubungan membacakan cepat dengan kecepatan membaca diterima. Kedua, nilai sig sebesar 0,045 lebih kecil 0,05 dan Adjusted R Squere sebesar 0,78, sehingga hipotesis hubungan membacakan cepat dengan pemahaman isi bacaan diterima. Hal-hal yang disarankan untuk peneliti selanjutnya sebaiknya memperbanyak variabel yang digunakan untuk penelitian selanjutnya agar data yang dihasilkan lebih beragam dan tentunya akan lebih valid. Bagi guru bahasa Indonesia hendaknya melaksanakan tes kemampuan membacakan cepat kepada siswa agar kecepatan membaca siswa meningkat dan disertai dengan pemahaman yang maksimal.

Pengembangan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran sains kelas V pokok bahasan perubahan sifat benda di Sekolah Dasar Negeri 2 Doko Blitar / Arisa Kurniawan

 

Kata kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran Interaktif, Sains Media pembelajaran interaktif merupakan salah satu bentuk media yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dalam penyampaian materi masih menggunakan media sederhana, belum menggunakan media interaktif dalam proses pembelajaran meskipun di sana tersedia sarana belajar yang memadai, banyaknya materi sains dan terbatasnya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi membuat peserta didik merasa jenuh dalam proses pembelajaran jika hanya menggunakan media sederhana dalam penyampaianya. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan sumber belajar yang berupa multimedia yang didesain dalam bentuk pembelajaran interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pembelajaran interaktif dalam pembelajaran sains di SDN Doko 2 Blitar kelas V pokok bahasan perubahan sifat benda yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah peserta didik SD Negeri Doko 2 Blitar kelas V. jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari validasi ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Media pembelajaran interaktif ini divalidasikan oleh ahli materi sebanyak 2 orang, ahli media sebanyak 1 orang, dan peserta didik sebanyak 16 orang. Setelah dianalisis media pembelajaran interaktif ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 90%, ahli materi 92,5% dan siswa individual 90% serta siswa kelompok besar 85,6%. Keefektifitasan media dapat dilihat dari perbandingan hasil belajar peserta didik secara keseluruhan data peserta didik diperoleh peningkatan sebesar 16 poin, hal ini menunjukkan media pembelajaran interaktif cukup dapat memberikan efek positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik secara menyeluruh, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran interaktif sangat efektif digunakan dalam pembelajaran peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak sekolah, hendaknya dapat lebih meningkatkan lagi pengadaan sarana pembelajaran interaktif menggunakan media ini, karena telah terbukti efektif meningkatkan hasil belajar peserta didik, serta membentuk sikap dan perilaku belajar peserta didik, dalam rangka situasi belajar yang kondusif.

Identifikasi keragaman genetik kerbau (Bubalus bubalis) lokal Madiun berbasis mikrosatelit sebagai bahan penyusunan bahan ajar biologi di Sekolah Menengah Atas (SMA) / Jena Andres

 

Tesis, Program studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si. dan Pembimbing (2) Dr. Abdul Gofur, M.Si. Kata kunci: keragaman genetik, mikrosatelit, kerbau lokal (Bubalus bubalis). Populasi kerbau di Indonesia cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Di Jawa Timur tahun 2003 jumlah kerbau 110.685 ekor sedangkan tahun 2007 jumlahnya 53.364 ekor. Di Kabupaten Madiun populasi kerbau, pada tahun 2003 berjumlah 8.840 ekor sedangkan tahun 2007 berjumlah 2.534 ekor. Apabila kondisi ini berlangsung terus menerus dikhawatirkan akan mengancam kelangsungan sumber daya hayati berupa kerbau. Aktivitas pengelolaan sumber daya hayati dapat dilakukan dengan mengetahui keragaman genetik. Salah satu cara untuk deteksi keragaman genetik dapat dilakukan melalui pendekatan dengan pengamatan morfologi dan molekuler. Salah satu penanda molekuler yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan identifikasi genetik adalah mikrosatelit. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan keragaman genetik kerbau lokal (Bubalus bubalis) di Jawa Timur dari wilayah Madiun (2) sebagai bahan penyusunan bahan ajar biologi pada Sekolah Menengah Atas. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan tujuan mengidentifikasi keragaman genetik kerbau lokal Madiun, dengan mengkaji ekspresi fenotip dan ekspresi genotip melalui DNA dengan teknik mikrosatelit. Pengamatan pola keragaman genetik dilakukan mulai tahapan isolasi DNA yang dilanjutkan dengan elektroforesis dengan menggunakan gel agarose setelah itu dilakukan amplifikasi hasil isolasi DNA dengan PCR, tahap selanjutnya untuk mengetahui hasil amplifikasi dilakukan dengan elektroforesis gel poliacrilamid. Amplifikasi DNA mengunakan tiga lokus mikrosatelit yaitu HEL 9, INRA 023 dan ILSTS 005. Teknik elektroforesis dengan menggunakan gel poliacrilamid akan memberikan informasi tentang frekuensi alel, tingkat heterozigositas, nilai informasi polimorfik (PIC) serta mengetahui keseimbangan hukum Hardy-Weinberg yang dianalisis menggunakan GENEPOP ver. 4.0.1d. Hasil analisis menunjukan bahwa keragaman genetik kerbau Wungu lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kerbau Kare. Hasil ini dapat dilihat dari nilai PIC, frekuensi alel dan heterozigositas. Nilai PIC dari ketiga lokus pada kerbau Wungu yaitu HEL 09 sebesar 0, 61%, INRA 023 sebesar 0,48% dan ILSTS 005 sebesar 0,59%, sedangkan nilai PIC pada kerbau Kare yaitu HEL 09 sebesar 0,39% dan ILSTS 005 sebesar 0,37%. Nilai frekuensi alel ketiga lokus mikrosatelit pada kerbau Wungu berkisar antara 0,28 sampai 0,72, sedangkan nilai frekuensi alel ketiga lokus mikrosatelit kerbau Kare berkisar antara 0,31 sampai 0,69. Nilai rata-rata heterosigositas pada subpopulasi Wungu dari ke tiga lokus sebesar 0,74 sedangkan nilai rata-rata heterosigositas pada subpopulasi Kare dari ke tiga lokus sebesar 0,75. Sehingga dapat diartikan bahwa keragaman genetik kerbau lokal Madiun subpopulasi Wungu dan Kare masih cukup tinggi. Berdasarkan nilai frekuensi alel, heterozigositas dan polimorfisme lokus menunjukkan bahwa dari tiga lokus yang terdeteksi, semuanya bersifat polimorfik dan hal ini mengindikasikan bahwa terdapat keragaman genetik pada populasi kerbau Madiun. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam pembelajaran terutama untuk penyusunan bahan ajar biologi khususnya materi Keanekaragaman Hayati. Bahan ajar yang telah disusun, dapat digunakan oleh guru dan siswa pada Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk lebih mengenali keanekaragaman hayati tingkat genetik Madiun.

Peningkatan keterampilan tolak peluru gaya O'Brien menggunakan media bola plastik pada siswa kelas XF SMA Negeri 1 Ngunut Kecamatan Ngunt Kabupaten Tulungagung / Eko Yudha Kustian

 

Kata kunci: Peningkatan, Keterampilan, Tolak Peluru Gaya O’Brien, Media, Bola Plastik Tolak peluru merupakan salah satu cabang olahraga atletik. Tolak peluru merupakan salah satu materi atletik yang terdapat dalam standar kompetensi Sekolah Menengah Atas kelas X. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu siswa menguasai keterampilan tolak peluru. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan tolak peluru gaya O’Brien siswa kelas X F SMA Negeri 1 Ngunut ternyata masih banyak siswa yang melakukan kesalahan saat melakukannya. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang melakukan kesalahan pada saat melakukan gerakan tolak peluru gaya O’Brien yaitu, 20 siswa mengalami kesulitan pada saat awalan, 21 siswa mengalami kesulitan pada saat gerakan sebelum tolakan, 24 siswa mengalami kesulitan pada saat melakukan gerakan tolakan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan tolak peluru gaya O’Brien pada siswa kelas XF SMA Negeri 1 Ngunut. Dalam pembelajaran tolak peluru masing-masing indikator ini harus diperhatikan untuk memberikan penilaian pada siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XF SMA Negeri 1 Ngunut. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dokumentasi, tes dan catatan lapangan.. Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan keterampilan siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I siswa yang pada awalnya 22 orang yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal yaitu 75 berkurang menjadi 8 siswa yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal. Dari hasil tersebut menunjukan peningkatan terhadap penguasaan keterampilan tolak peluru gaya O’Brien yang terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat pra tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada akhir penerapan. Untuk hasil post-test siklus II juga menunjukkan peningkatan penguasaan keterampilan teknik tolak peluru gaya O’Brien. Dari 8 siswa yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal yaitu 75 pada siklus 2 ini hanya tinggal 1 siswa saja yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal. Selain hal tersebut diperoleh hasil persentasi keberhasilan sebagai berikut dari aspek cara memegang peluru sebanyak 100%, dari aspek awalan sebanyak 100% dari aspek gerakan sebelum tolakan sebanyak 91,67% , dari aspek tolakan sebanyak 91,67% dan dari aspek sikap akhir sebanyak 100%. Selain hasil persentase mengenai teknik tolak peluru gaya O’Brien, diperoleh pula hasil dari pengamatan sikap siswa pada saat proses pembelajaran, pada siklus 1 siswa ada yang terlambat, siswa tidak berpakaian dengan lengkap, dan siswa tidak memperhatikan penjelasan guru saat guru menjelaskan materi. Namun pada siklus 2 sudah terlihat peningkatan yang cukup baik dibandingkan dengan siklus I, pada siklus 2 ini sudah tidak ada siswa yang terlambat, siswa yang menyimpang menjadi lebih disiplin, siswa melakukan proses belajar dengan baik, dan siswa sudah menguasai keterampilan tolak peluru gaya O’Brien dengan baik dan benar. Walaupun pada post-test siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua. Peneliti menyarankan, bagi guru dapat memperkaya pengetahuan dan model pembelajaran tolak peluru gaya O’Brien yang sudah diperbaiki, bagi siswa dapat digunakan sebagai pedoman belajar, bagi sekolah dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk keberhasilan pembelajan Pendidikan Jasmani dan bagi peneliti dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian yang berkaitan dengan materi pada skripsi ini.

Problematika pelayanan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan / Fairus Aditya AR Canggih

 

Kata kunci: Pelayanan Publik, Kualitas Pelayanan, KTP, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Salah satu pelayanan pemerintah yang dibutuhkan masyarakat adalah pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). KTP merupakan dokumen bukti kependudukan di satu daerah yang disyaratkan dimiliki oleh anggota masyarakat. Adanya keluhan sebagian masyarakat terhadap pelayanan pembuatan KTP mendorongnya penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat atas problematika terhadap pelayanan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana pelayanan publik yang dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan dalam pembuatan KTP, (2) apakah faktor pendukung yang diperlukan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan dalam pelayanan publik pada pembuatan KTP,(3) apakah hambatan-hambatan dalam pelayanan pembuatan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan, (4) bagaimana upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam pelayanan pembuatan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan. Dengan tujuan penelitian ingin memperoleh informasi tentang problematika pelayanan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan. Penelitian mengenai Pelayanan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan ini menggunakan pendekatan gabungan kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan gabungan pendekatan penelitian dilakukan dengan memadukan prosedur pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan. Pendekatan ini menggunakan gabungan pada prosedur penelitian, tetapi salah satu metode lebih dominan terhadap metode yang lain. Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa metode yang kurang dominan hanya diposisikan sebagai metode pelengkap untuk mendukung ”kekayaan data”. Pada penelitian tentang pelayanan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan, metode dominannya adalah metode kualitatif. Subyek penelitian ini adalah pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan dan masyarakat pemohon KTP. Prosedur yang dipakai dalam pengumpulan data, yaitu:, (1) observasi partisipatif, (2) wawancara mendalam, (3) angket, dan (4) dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik ii keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang, ketekunan pengamatan, triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Penerapan pelayanan publik terhadap pembuatan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan sudah dapat dikatakan baik, hal itu dapat diketahui dengan pelayanan yang diberikan dalam pembuatan KTP sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Namun disini terdapat problematika yaitu pernyataan dari masyarakat bahwa dalam memperoleh KTP masyarakat diminta untuk membayar. Biaya pengurusan KTP berdasarkan Peraturan Daerah adalah gratis. Kenyataannya masih ditemukan pungutan yang dilakukan oleh aparat di tingkat Kelurahan maupun Kecamatan. Pembuatan KTP harus menunggu dalam jangka waktu yang cukup lama untuk memiliki yang namanya KTP. Kedua, faktor-faktor yang mendukung diselenggarakannya pelayanan publik pada pembuatan KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan terdapat tiga faktor, yaitu faktor petugas yang berkualitas, faktor sarana dan prasarana, dan faktor sumber dana/keuangan. Ketiga, dalam peningkatan pelayanan administrasi kependudukan dan catatan sipil khususnya pada pelayanan KTP, KK dan Akta-akta Catatan Sipil, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan mengalami beberapa hambatan antara lain yang peneliti temui adalah (1) Sarana dan Prasarana masih belum memadai dalam penerapan standart pelayanan publik, (2) Belum terlaksananya Program Pelaksanaan SIAK ( Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ), dan (3) Kurangnya petugas khususnya tenaga pelaksana. Keempat, upaya yang dilakukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan dalam mengatasi masalah tersebut adalah untuk mengatasi permasalahan kekurangan blanko KK tahun 2010 maka untuk tahun anggaran 2011 berusaha untuk menambah persediaan blanko KTP dan KK, sedangkan untuk pengadaan baru sarana dan prasarana komputer SIAK masih belum dianggarkan pada tahun 2011. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan juga perlu meningkatkan SDM ( Sumber Daya Manusia) untuk penambahan personil kependudukan dan perluasan pengembangan gedung kantor pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan. Untuk penambahan pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pasuruan bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Dearah Kabupaten Pasuruan, Saran yang diberikan adalah dalam pelaksanaan pelayanan, jangan membuat urusan, mekanisme atau prosedur yang berbelit-belit. Berikan kemudahan, prosedur yang jelas, dapat dipahami oleh masyarakat sehingga masyarakat tidak merasakan kesulitan berhubungan dengan pelaku birokrasi yang memberikan pelayanan, perlu adanya KTP keliling, dan masyarakat hendaknya paham tentang peran penting KTP sebagai dokumen kependudukan.

Pengembangan buku panduan tahap-tahap pembelajaran keterampilan teknik senam lantai guling depan dan guling belakang untuk siswa kelas VII di UPT SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep / Andi Fepriyanto

 

Kata kunci : pengembangan, pendidikan jasmani, buku panduan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap pembelajaran guru pendidikan jasmani di UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep pada tanggal 31 Januari 2011 tentang pembelajaran senam lantai guling depan dan guling belakang. Siswa terlihat letih dan kurang bersemangat belajar keterampilan gerakan teknik guling depan dan guling belakang sehingga kebanyakan siswa tidak bisa melakukan keterampilan teknik guling depan dan guling belakang dengan baik. Guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan belum mempunyai buku panduan sehingga buku panduan tersebut dibutuhkan. oleh karena itu peneliti ingin membuat pengembangan buku panduan tahap-tahap pembelajaran keterampilan teknik senam lantai guling depan dan guling belakang untuk siswa kelas VII di UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep. Dalam pengembangan buku panduan tahap-tahap pembelajaran keterampilan teknik senam lantai guling depan dan guling belakang untuk siswa kelas VII di UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep ini menggunakan model pengembangan Research & Development (R & D) dari Borg and Gall yang dimodifikasi (1983:775), yaitu peneliti hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada. Menurut Ardana (2002:9) bahwa Setiap pengembangan tentu saja dapat memilih dan menentukan langkah-langkah yang paling tepat bagi dirinya berdasarkan kondisi khusus yang dihadapinya dalam proses pengembangan. Penelitian ini dilakukan di UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri dari, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli senam dan 1 ahli media, (2) uji coba kelompok kecil dengan melibatkan 8 siswa kelas VII UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep, (3) uji coba kelompok besar dengan melibatkan 32 siswa VII UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep. Dari hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan buku panduan tahap-tahap pembelajaran keterampilan teknik senam lantai guling depan dan guling belakang untuk siswa kelas VII di UPT. SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep dengan persentase 87,63% dengan makna digunakan. Sedangkan hasil uji lapangan (kelompok besar) diperoleh dengan persentase 84,95% dengan makna digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan sebaiknya subjek penelitian ini dilakukan pada yang lebih luas maupun kepada siswa kelas VII di sekolah lain.

The teaching and learning activities of English vocabulary at SDN Sumbersari III Malang / Yosuaten Aprillo Effata

 

Key words: English vocabulary, techniques of teaching vocabulary The teaching of English vocabulary to young learners is considered very important. It requires appropriate techniques which are suitable with the learning style of the children. To teach vocabulary to children need effective strategies from the teacher in order to attract the children’s attention and to help them learn. Thus, this study is expected to find out the techniques of English teaching vocabulary which are used by the teacher and also to see how the teaching and learning activities are performed. This is a descriptive research that used an English teacher of SDN Sumbersari III Malang as the subject of the study. The instruments used for the research are observation checklist, field notes, and interview guide for the teacher. The result of the study shows that the techniques of teaching English vocabulary for the 4th graders used by the teacher are content techniques. The techniques included (1) the teaching English vocabulary through mother tongue (differential procedure), (2) the teaching English vocabulary based on ostensive procedure, and (3) the teaching English vocabulary based on contextual procedure. There are also some other techniques used i.e. (a) give definition, (b) give synonym and antonym, (c) use pictures/flashcard and realia, (d) do some demonstration/gestures, (e) introduce words through context, (f) listen and repeat technique, and (g) use class aids. In selecting the materials for the teaching, the teacher had some considerations; they are the objective of the teaching English, the students’ need, interest, and preference, and the availability of the materials. The teacher also prepared some visual media such as flash cards and pictures. The flash cards or pictures which were chosen based on the topic of the teaching. There are some suggestions offered, i.e. for the English teacher of SDN Sumbersari III Malang; the teacher should have some strict rules in order to create a good condition for learning since the students are very active in terms of curiosity. The teacher is also suggested to combine all the techniques of teaching vocabulary which are considerably appropriate. This is meant to cope with the boredom of the students. For the other English teacher in Indonesia, in case the students are very active, the teacher should be well-prepared with knowledge about anything related to the topic of the teaching. At last, for the future researchers, since this study only covers the techniques of teaching vocabulary for the 4th graders, they can analyze the techniques of teaching vocabulary for other grades or schools. Thus, they can find out the difference between the techniques used for the teaching vocabulary for the 4th graders and the teaching of vocabulary for other grades or schools.

Makna ragam gerak tari baris tunggal: penerapannya pada kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 4 Mendoyo Jembrana - Bali / Diah Rusdhiana

 

Kata Kunci: Ragam Gerak Tari Baris, Ekstrakurikuler Tari Baris merupakan tarian dasar putra yang harus dikuasai sebelum mempelajari tari Bali putra yang lain. Pada tari Baris, terdapat makna simbolik yang terkandung dalam setiap ragam geraknya. Tari Baris merupakan salah satu tarian wajib yang diberikan dalam pembelajaran ekstrakurikuler di SMPN 4 Mendoyo Jembrana-Bali. Dalam penerapanya dikegiatan ekstrakurikuler tersebut, makna simbolik ragam gerak tari Baris berfungsi sebagai materi yang diajarkan untuk menunjang keterampilan siswa dalam menarikan tarian ini. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah ragam gerak tari Baris tunggal?, (2) Bagaimanakah makna simbolik ragam gerak tari Baris tunggal?, dan (3) Bagaimanakah penerapan makna ragam gerak tari Baris tunggal pada pembelajaran ekstrakurikuler di SMPN 4 Mendoyo Jembrana-Bali? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di wilayah Jembrana Bali. Subjek dalam penelitian ini adalah dua seniman tari Bali dan satu guru seni tari. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrumen atau alat pengumpul data utama. Dalam teknik pengumpulan datanya, peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dirancang sebelumnya. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Dan untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ragam gerak pada tari Baris tunggal terdiri dari empat unsur utama meliputi agem, tandang, tangkep, dan tangkis. (2) Makna simbolik pada ragam gerak tari Baris tunggal antara lain: agem bermakna kegagahan seorang prajurit, malpal bermakna perjalanan seorang prajurit kesuatu tempat, ngeraja singa bermakna jiwa seorang prajurit yang garang dan bijaksana seperti singa, ambil pajeng bermakna seorang prajurit yang mengambil senjata, tayong bermakna kewibawaan seorang prajutit, napdap gelung bermakna membenahi gelungan, mungkah lawang bermakna kesiapan hati seorang prajurit sebelum berperang, dan ngombak lantang bermakna ketegasan dan kelincahan seorang prajurit saat berperang. (3) Pada kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 4 Mendoyo Jembrana-Bali, makna ragam gerak tari Baris tunggal menjadi bahan apresiasi siswa yang bertujuan untuk membantu siswa dalam menarikan tarian ini. Dari hasil penelitian maka kepada mahasiswa Progam Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang dan juga siapapun yang sedang belajar menari Baris disarankan agar mempelajari Tari Baris bukan hanya sebagai usaha perbendaharaan tari tradisi saja melainkan dapat memanfaatkan makna simbolik yang terdapat pada tiap ragamnya agar benar-benar mengerti tentang tari Baris tunggal.

Pengaruh kolaborasi model pembelajaran quantum teaching dan cooperative learning tipe TGT (Teams Games Tournament) terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran TIK di SMP Negeri 1 Pogalan Kabupaten Trenggalek / Novi Dyah Puspitasari

 

Kata Kunci: Quantum Teaching, TGT, Motivasi dan Hasil Belajar Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bangsa yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Dari obeservasi awal disekolah, diketahui bahwa motivasi dan hasil belajar yang kurang pada mata pelajaran TIK di SMP Negeri 1 Pogalan, khususnya siswa kelas VIIG dan VIIH. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar TIK yaitu Quantum Teaching dan Cooperative Learning Tipe TGT (Teams Games Tournament). Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang mengalami perlakuan yang berbeda, mengetahui perbedaan motivasi belajar siswa yang mengalami perlakuan yang berbeda, mengetahui pengaruh kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan Cooperative Learning tipe TGT (Teams Games Tournament) terhadap motivasi belajar siswa dan mengetahui pengaruh kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan Cooperative Learning tipe TGT (Teams Games Tournament) hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design). Kemampuan awal siswa diperoleh dari hasil pretes. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMPN 1 Pogalan yang terdiri dari 9 kelas. Sampel dari penelitian ini hanya menggunakan 2 kelas, yaitu kelas VIIG sebagai kelas eksperimen dengan penerapan kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan Cooperative Learning Tipe TGT dan kelas VIIH sebagai kelas kontrol dengan penerapan model pembelajaran CTL. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis yang menggunakan uji-t dan uji regresi linier untuk mengetahui pengaruh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen sesuai dengan hasil uji t yaitu thitung (2,486) lebih besar dari ttabel (1,671). (2) terdapat perbedaan motivasi belajar antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen sesuai dengan hasil uji t yaitu thitung (1,815) lebih besar dari ttabel (1,671). (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara keterlaksanaan model pembelajaran dengan hasil belajar sesuai dengan hasil analisis regresi sederhana yaitu Psig.( 0,001) lebih kecil dari 0,01. (4) terdapat pengaruh yang signifikan antara keterlaksanaan model pembelajaran denga hasil belajar sesuai dengan hasil analisis regresi sederhana yaitu Psig.( 0,005) lebih kecil dari 0,01. ii Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran TIK dengan penerapan kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan Cooperative Learning Tipe TGT dapat diterapkan dalam proses pembelajaran TIK dan dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa.

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) berbantuan peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi atom, ion, dan molekul di SMP Negeri 4 Malang / Sari Kurniawati

 

Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif tipe STAD, peta konsep, atom, ion, molekul Kimia merupakan salah satu materi pelajaran yang baru dimasukkan ke dalam kurikulum SMP. Kimia termasuk materi pelajaran IPA dan telah diajarkan di semua SMP salah satunya yaitu SMP Negeri 4 Malang. Proses pembelajaran di SMP Negeri 4 Malang telah menerapkan kurikulum KTSP. Penerapan kurikulum KTSP menuntut diterapkannya pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach). Pada pembelajaran student centered siswa dituntut lebih aktif untuk mengkonstruk pemahamannya sendiri. Pada kenyataannya siswa masih kesulitan dalam mengkonstruk pemahamannya sendiri terutama untuk materi yang bersifat abstrak. Salah satu materi yang bersifat abstrak dalam kimia adalah materi atom, ion, dan molekul. Oleh sebab itu, guru harus mencari metode pembelajaran yang sesuai dengan materi ini sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Salah satu metode yang dapat diterapkan yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan peta konsep. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi kimia pokok bahasan atom, ion, dan molekul. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasi eksperiment). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 4 Malang dengan sampel dua kelas, masing-masing kelas kontrol dan kelas eksperimen. Variabel bebasnya yaitu model STAD berbantuan Peta Konsep dan variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa (aspek kognitif). Instrumen pengukuran yang digunakan ada dua yaitu tes dan lembar observasi. Analisis data meliputi uji normalitas, homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan peta konsep dengan siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran ekspositori. Hal ini terlihat dari tingkat ketuntasan dan skor rata-rata kelas eksperimen yang lebih baik daripada kelas kontrol. Skor rata-rata kelas eksperimen 81,6 dengan ketuntasan 90,2% sedangkan skor rata-rata kelas kontrol 75,3 dengan ketuntasan75%; (2) pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan peta konsep pada materi atom, ion, dan molekul telah terlaksana dengan baik yaitu tingkat keterlaksanaannya diatas 75%.

Pembelajaran menggunakan kartu melalui permainan bebas untuk memahamkan operasi aljabar pada bilangan bulat dan pecahan terhadap sisw kelas X APK-1 SMKN 1 Pasuruan / Setyo Wahyu Wicaksono

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model Students Teams Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VII D semester II SMP Laboratorium UM / Aniswatin Auliyah

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model STAD, hasil belajar geografi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mulai tanggal 8 Februari 2011 sampai 1 Maret 2011 di kelas VII D SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang diketahui bahwa sebagian besar kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru mata pelajaran, siswa hanya duduk untuk mencatat dan mendengarkan ceramah guru sedangkan untuk kegiatan tindak lanjut, siswa harus mengerjakan modul yang telah dibuat oleh guru mata pelajaran. Sedangkan pada hasil wawancara diketahui bahwa hanya 9 dari 33 siswa yang mampu tuntas dan memenuhi KKM di sekolah yaitu 65. Tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VII D SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Siswa yang mempunyai nilai rendah diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya melalui model pembelajaran yang diterapkan pada penelitian ini. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom action research). Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif Students Teams Achievement Division (STAD) dan diberlakukan pada kelas VII D semester II di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang dan pada pokok bahasan mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola permukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi kelas VII D SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang setelah pelaksanaan proses pembelajaran STAD siklus I dan siklus II. Tes hasil belajar diperoleh peningkatan ketuntasan dari siklus satu yaitu 60,61% naik menjadi 90,90% pada siklus dua dari jumlah keseluruhan siswa. Dengan ratarata nilai hasil belajar pada siklus satu yaitu 64,61 menjadi 80,06 pada siklus dua. Persentase peningkatan pada penelitian ini sebanyak 23,91%. Secara umum dalam penerapan model pembelajaran kooperatif Students Teams Achievement Division (STAD) sudah baik, namun memerlukan banyak pembenahan pada beberapa tahapan pembelajaran model STAD tersebut.

Perancangan CD interaktif pengenalan alat dan bahan memasak untuk remaja menggunakan flash / Novarika Widyastuti

 

Kata Kunci : CD Interaktif, memasak, remaja Selama ini masyarakat hanya mendapatkan ilmu masak-memasak informal dari orang tua, buku resep masakan, dan tayangan memasak di televisi. Itupun memiliki kekurangan masing-masing yang terkadang menghambat kegiatan memasak itu sendiri. Selain itu kegiatan memasak masih dianggap sebagai suatu kegiatan yang hanya dilakukan oleh wanita. Dengan permasalahan tersebut maka dibutuhkan suatu CD interaktif yang dapat membantu remaja pria maupun wanita untuk mempelajari dasar memasak dimulai dengan hal-hal dasar yang sangat penting yaitu pengenalan alat dan bahan untuk memasak dimana keduanya merupakan unsur pokok dalam proses memasak yang jarang dipaparkan dalam media-media lain yang sudah ada. Kegiatan perancangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk desain komunikasi visual berupa suatu media interaktif yang memberikan pengetahuan alat dan bahan memasak untuk remaja dengan menggunakan Flash. Produk CD Interaktif Pengenalan Alat dan Bahan Memasak untuk Remaja Menggunakan Flash ini memiliki banyak halaman content yang memuat tentang alat dan bahan untuk memasak yang memuat gambar, foto dan video di dalamnya. Terdapat pula animasi sederhana dan penjelasan singkat yang mudah dipahami oleh remaja. Media ini tidak terbatas waktu karena dapat diputar kapanpun remaja mau dan berulang-ulang tanpa takut tertinggal materi yang ada di dalamnya. Selain itu media ini menggabungkan media audio dan visual sehingga lebih menarik dan menyenangkan sehingga meningkatkan semangat remaja untuk mengenal alat dan bahan memasak. Selain itu ini merupakan wujud pembelajaran kemitra sejajaran sejak dini kepada remaja Indonesia dalam contoh yang paling sederhana. Media CD interaktif merupakan suatu media baru untuk menyampaikan suatu pengenalan alat dan bahan untuk memasak sehingga dibutuhkan media pendamping yang tepat agar menarik perhatian konsumen untuk membelinya. Media utama tersebut akan ditunjang dengan media pendukung seperti poster, banner, KARMIN (KAmus Rahasia MINi), CD case, kaos untuk SPG dan merchandise berupa celemek lucu dengan tema ilustrasi yang sama dengan media utama. Dari paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa CD Interaktif Pengenalan Alat dan Bahan Memasak untuk Remaja Menggunakan Flash ini merupakan media yang memberikan pengetahuan baru tentang alat dan bahan untuk memasak untuk remaja, namun di dalamnya juga terdapat nilai pelajaran tentang pentingnya pendidikan kemitra sejajaran pria dan wanita sejak dini.

Pengaruh model pembelajaran make a match terhadap hasil belajar geografi materi hidrosfer kelas VII SMP BSS (Brawijaya Smart School) Kota Malang / Abidah

 

Kata Kunci: Make A Match, hasil belajar geografi Belajar merupakan proses internal dan melibatkan kompetensi meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Perilaku siswa merupakan hasil belajar. Tinggi rendahnya hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: karakteristik siswa, kompetensi guru, dan bahan ajar. Khusus kompetensi guru, penggunaan model pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa sangat diperlukan agar di samping aktif, juga dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal. Salah satu model yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah Make A Match. Keunggulan model ini adalah menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois, menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, membuat siswa menjadi lebih percaya diri, membantu guru untuk menyelesaikan masalah dalam pembelajaran dan membantu guru dalam mengatasi keterbatasan sarana di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VII SMP BSS (Brawijaya Smart School) materi Hidrosfer Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) yang dikembangkan dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian ini yakni kelas VII C sebagai kelas eksperimen dan kelas VII A sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes subjektif. Data pada penelitian ini terdiri dari tiga jenis, yaitu data kemampuan awal siswa, data kemampuan akhir siswa dan data hasil belajar IPS Geografi siswa. Data hasil belajar siswa diperoleh dari selisih antara skor pasca tes dan skor pra tes (gain score). Gain score tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan uji-t dua sampel tidak berpasangan (Independent-Samples t-test) yang diselesaikan dengan bantuan SPSS 14.00 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, yakni 21,51 untuk kelas eksperimen dan 19,27 untuk kelas kontrol. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VII SMP BSS (Brawijaya Smart School) Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru IPS Geografi untuk menggunakan model pembelajaran Make A Match sebagai variasi model pembelajaran karena dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain, penelitian ini hanya terbatas pada materi Hidrosfer, untuk itu disarankan untuk dilakukan pada materi yang lain.

Manajemen pembelajaran dwi bahasa pada bilingual playgroup Dunia Anak Kota Probolinggo / Evi Susanti

 

Kata Kunci : manajemen pembelajaran, dwi bahasa, playgroup Manajemen program pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien (Aqib, 2009:68). Tujuan manajemen pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini adalah untuk menciptakan proses belajar mengajar yang dengan mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dikendalikan dengan baik, sehingga dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Perbedaan antara manajemen pembelajaran pada Bilingual Playgroup dan Playgroup konvensional yaitu pada bahasa pengantar yang digunakan. Bilingual Playgroup menggunakan dua bahasa pengantar yaitu Inggris - Indonesia. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan tentang (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan; (4) penilaian; (5) hambatan-hambatan dalam manajemen pembelajaran dwi bahasa; dan (6) alternatif pemecahan yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, dengan memaparkan dan mengolah data. Jenis penelitian ini adalah studi kasus yang dipilih satu kasus pada satu objek penelitian, yaitu Bilingual Playgroup Dunia Anak Kota Probolinggo. Peneliti sendiri yang berperan sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, dengan subjek penelitian yaitu Kepala Bilingual Playgroup Dunia Anak, guru dan orang tua. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen lembaga yang berkaitan dengan pembelajaran dwi bahasa di Bilingual Playgroup Dunia Anak. Setelah diperoleh data dari hasil penelitian kemudian dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan metode trianggulasi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran dwi bahasa pada Bilingual Playgroup Dunia Anak Kota Probolinggo, meliputi tahapan-tahapan yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, penilaian, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan, dan alternatif dalam mengatasi hambatan. (1) Perencanaan pembelajaran dwi bahasa meliputi penyusunan rencana pembelajaran tahunan, rencana pembelajaran bulanan, rencana pembelajaran mingguan, dan rencana pembelajaran harian. (2) Pengorganisasian meliputi pembagian tugas mengajar guru dan pengelompokan siswa; pengelompokan siswa dibagi menjadi kelas beginner dan kelas intermediate berdasarkan usia, karakter, dan kemampuan; dua orang guru mengajar di kelas beginner dan satu orang guru yaitu kepala sekolah mempunyai tugas mengajar di kelas intermediate. (3) Pelaksanaan pembelajaran dwi bahasa meliputi outdoor playing and center preparation (bermain di luar dan persiapan sentra), body movement (senam), greeting and sharing time (salam dan anak berbagi kue), pre teaching and whilst teaching (pra kegiatan materi dan kegiatan materi), playing centers (bermain di sentra), washing hand and meal time (mencuci tangan dan makan siang), post teaching (sesudah kegiatan materi), closing and praying (penutup dan berdoa); metode yang digunakan adalah metode BCCT (sentra dan lingkaran). (4) Penilaian pembelajaran dwi bahasa yang dilakukan yaitu penilaian berdasarkan proses dan hasil yang meliputi penilaian harian, bulanan, dan semester; selain upaya untuk memacu semangat belajar anak juga diberlakukan pemberian reward meliputi reward bintang lima, reward star of the week, serta reward yang diberikan tiap akhir semester pada semua anak berupa poster yang digulung dengan indah. (5) Hambatan dalam manajemen pembelajaran dwi bahasa meliputi: ketersediaan materi dengan karakter rombongan belajar, media pembelajaran; usia dan karakter anak yang beragam, serta kualitas guru yang juga beragam; karakter dan atensi anak yang berbeda dalam kegiatan pembelajaran, serta keikutsertaan orang tua. (6) Alternatif pemecahan yang dilakukan meliputi menekankan dan memotivasi guru untuk bisa berkreativitas dalam memenuhi semua kebutuhan pembelajaran; guru harus bisa mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak semua tingkat usia, melakukan evaluasi dalam pengelompokan anak berdasarkan karakter dan kemampuan anak; memberikan pelatihan-pelatihan bagi guru baik pelatihan yang dikirim oleh sekolah sendiri dan juga pelatihan yang direkomendasikan oleh Departemen Pendidikan Nasional; mengadakan buku penghubung dan memberikan copy learning material kepada orang tua untuk mengikutsertakan orang tua dalam kegiatan pembelajaran dwi bahasa anak, khususnya di rumah sehingga ada kelanjutan dari proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi (1) Kepala Bilingual Playgroup Dunia Anak, sebaiknya dapat memenuhi kebutuhan jumlah guru sesuai pagu yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif; (2) Guru, seyogyanya terus belajar mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya anak yang berkebutuhan khusus agar dapat memberikan perhatian dan pengajaran yang maksimal pada anak, serta meningkatkan profesionalisme guru; (3) Orang tua, hendaknya lebih berperan serta dalam pembelajaran dwi bahasa anak di rumah sehingga ada kelanjutan dari proses pembelajaran di sekolah karena bahasa merupakan proses pembiasaan; (4) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan ilmu manajemen pendidikan khususnya dalam lingkup pendidikan nonformal seperti playgroup sebagai sekolah yang menggunakan pembelajaran dwi bahasa; (5) Peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu acuan untuk mengembangkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain yang berbeda.

Kemampuan menyimak cerkak siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso tahun ajaran 2010/2011 / Sesillya Devi Libdianti

 

Kata Kunci: menyimak, Cerkak Menyimak merupakan salah satu sarana ampuh dalam menjaring informasi. Pembelajaran bahasa Jawa di SMP terutama Cerkak (cerita cekak) sebagai salah satu materi kesastraan masih kurang mendapat perhatian. Hal ini terbukti dari sedikitnya alokasi jam pelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran. Di SMP Negeri 1 Karangploso, pembelajaran menyimak Cerkak membutuhkan alokasi tenaga dan waktu yang lebih banyak. Satu kali pertemuan saja belum tentu cukup untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso, dan secara khusus tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menemukan tema/gagasan pokok Cerkak yang diperdengarkan, mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menemukan amanat Cerkak yang diperdengarkan, mendeskripsikan kemampuan menyimak Cerkak dalam menemukan tokoh dan penokohan dari Cerkak yang diperdengarkan, mendeskripsikan kemampuan menyimak Cerkak dalam menemukan setting dari Cerkak yang diperdengarkan, dan mendeskripsikan kemampuan menyimak Cerkak dalam menemukan alur dari Cerkak yang diperdengarkan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 32 orang. Teknik analisis yang digunakan yaitu statistik deskriptif dalam rangka mendeskripsikan tentang karakteristik masing-masing variabel, kemudian dilanjutkan analisis dengan menggunakan statistik inferensial dalam rangka uji perbedaan dengan uji beda atau uji t dengan menggunakan program SPSS versi 15. Berdasarkan hasil analisis bahwa kemampuan siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan tema/gagasan pokok Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan amanat Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan penokohan dari Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan setting dari Cerkak yang diperdengarkan sudah baik. Kemampuan menyimak Cerkak siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Karangploso dalam menemukan alur dari Cerkak yang diperdengarkan cukup baik. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian kemampuan menyimak Tes pilihan ganda dengan Tes isian yang dibuktikan dengan sebagian besar responden (65,6%) termasuk dalam kategori sangat baik, sedangkan untuk Tes isian sebagian besar responden (53,1%) termasuk dalam kategori baik.

Karakteristik bahasa gaul dalam akun facebook mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang / Fajar Rahmadi

 

Kata Kunci: bahasa gaul, facebook, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang Bahasa gaul remaja bukanlah bentuk bahasa baru. Bahasa gaul berasal dari bahasa Indonesia yang mengalami perubahan bentuk kata, interferensi baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing, penggunaan istilah, perubahan struktur kalimat dan bentuk penulisannya (ejaan). Bahasa gaul adalah salah satu bentuk ragam bahasa nonbaku bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh deskripsi karakteristik bahasa gaul yang digunakan dalam akun facebook Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang, khususnya tentang (1) pilihan kata (diksi), (2) bentukan dan perubahan bentuk kata, dan (3) penggunaan ejaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk mendiskripsikan suatu kondisi apa adanya. Sumber data penelitian ini adalah “status” yang ditulis dalam sepuluh akun facebook Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang pada 01 Januari—28 Februari 2011. Data penelitian diklasifikasikan berdasarkan penggunaan (1) pilihan kata (diksi), (2) bentukan dan perubahan bentuk kata, dan (3) penggunaan ejaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) mengumpulkan data dari sepuluh subjek penelitian, (2) pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat, dan (3) pendistribusian data. Ada pun tahapan analisis data yang digunakan adalah (1) mengidentifikasi data yang akan digunakan dalam penelitian, (2) kodifikasi data dan (3) data di klasifikasikan dan dideskripsikan sesuai dengan klasifikasi masing-masing data. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, karakteristik bahasa gaul pada akun facebook Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang menggunakan pilihan kata (diksi) bahasa gaul. Pilihan kata atau diksi tersebut yaitu, (1) penggunaan istilah asing. (2) adanya penggunaan jargon dan slang, serta diksi yang ke (3) penggunaan kosakata prokem. Kedua, karakteristik bahasa gaul dalam akun facebook menggunakan pola bentukan dan perubahan bentuk kata yang berbeda dengan bahasa Indonesia baku. Bentukan kata dan perubahan bentuk kata pada kosakata bahasa gaul pada akun facebook Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah ii Universitas Negeri Malang terjadi melalui enam proses, yaitu (1) afiksasi, (2) abreviasi, (3) adisi, (4) asimilasi, (5) monoftongisasi, dan (6) metatesis. Bentukan kata melalui afiksasi yang terdapat pada bahasa gaul remaja berbeda dengan afiksasi pada bahasa Indonesia baku. Proses afiksasi yang terdapat dalam bahasa gaul yaitu, (a) afiks yang dimanifestasikan dengan nasalisasi bentuk dasar (simulfiks), (b) kombinasi simulfiks dengan akhiran –in, dan (c) awalan di- + –in. Ketiga, karakteristik ejaan (tata penulisan) bahasa gaul pada akun facebook Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang berbeda dengan ejaan bahasa Indonesia baku dalam EYD. Perbedaan tersebut terlihat pada (1) penggunaan huruf yang berlebihan, (2) penggunaan huruf kapital yang bersifat suka-suka, (3) penulisan kata ulang yang tidak ditulis seutuhnya, dan (4) penggunaan spasi yang bersifat suka-suka. Bentuk-bentuk penulisan pada bahasa gaul remaja terkesan tidak ingin terpaku pada tata ejaan yang menurut mereka kaku dan membatasi kreatifitas dalam menulis. Berdasarkan penelitian ini, saran ditujukan bagi pengajar bahasa Indonesia untuk menggunakan hasil pembahasan penelitian ini sebagai bahan pembelajaran tentang wujud ragam bahasa nonbaku. Ragam nonbaku digunakan untuk memperkuat dan memperjelas pemahaman dan pengetahuan siswa tentang penggunaan ragam bahasa Indonesia baku. Saran bagi peneliti selanjutnya, peneliti yang berminat untuk melakukan penelitian tentang bahasa gaul, dapat menindaklanjuti dengan mengambil masalah dan sumber data yang lain. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengambil masalah yang menjadi cakupan karakteristik bahasa gaul, misalnya tentang struktur kalimat, penggunaan partikel atau penggunaan tanda baca pada bahasa gaul. Bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia disarankan untuk lebih memerhatikan penggunaan bahasa gaul dan jangan sampai terbawa ketika diharuskan menggunakan bahasa baku. Penggunaan bahasa gaul bukan merupakan kesalahan jika digunakan pada waktu, tempat dan tujuan yang tepat.

Pengaruh pemanfaatan media internet, perpustakaan, dan media pembelajaran terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi antara siswa kelas 7 RMBI dan siswa kelas 7 reguler MTs Negeri Malang 3 / Ryan Hanggara Kusuma

 

Kata kunci: Media Internet, Perpustakaan, Media Pembelajaran, Kelas RMBI, Kelas Reguler, Prestasi Belajar Media internet, perpustakaan, dan media pembelajaran (audio, visual, audio-visual) merupakan jenis-jenis fasilitas belajar yang diberikan sekolah untuk menunjang pembelajaran agar siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui (1) Pengaruh pemanfaatan media internet, perpustakaan, dan media pembelajaran terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas 7 RMBI dan siswa kelas 7 Reguler MTs Negeri Malang 3, (2) Perbedaan pengaruh pemanfaatan media internet, perpustakaan, dan media pembelajaran terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi antara siswa kelas 7 RMBI dan siswa kelas 7 Reguler MTs Negeri Malang 3. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel dalam penelitian yaitu siswa kelas 7 RMBI dan kelas 7 Reguler yang diambil secara proporsional. Instrumen yang digunakan adalah angket. Analisis regresi berganda dengan variabel dummy digunakan untuk melihat pengaruh dan perbedaan pengaruh media internet (X1), perpustakaan (X2), media pembelajaran (X3), dan variabel dummy kelas (dK) terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi (Y) antara kelas 7 RMBI dan kelas 7 Reguler. Dari hasil analisis diketahui bahwa media internet, perpustakaan, dan media pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas kelas 7 RMBI dan siswa kelas 7 Reguler MTs Negeri Malang 3. Namun tidak ada perbedaan pengaruh media internet, perpustakan, dan media pembelajaran terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi antara kelas 7 RMBI dan kelas 7 Reguler. Bertolak dari hasil penelitian ini, diajukan saran (1) Bagi sekolah diharap memberi pemahaman kepada siswa agar memanfaatkan media internet, perpustakaan, dan media pembelajaran sebagai sumber belajar, (2) Bagi guru diharapkan lebih sering mengajak siswa untuk menggunakan internet, perpustakaan, dan media internet dalam proses belajar mengajar, (3) Bagi peneliti lain untuk meneliti faktor- faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar.

Pembuatan busana wanita dengan variasi opnaisel / Kurnia Suyanti

 

Kata Kunci: Busana, Busana Wanita, Opnaisel Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang dikenakan dengan tujuan untuk melindungi diri baik secara fisik, etik, maupun estetik, arti busana adalah segala sesuatu yang dikenakan dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk pelengkap busana, tata rias wajah dan tata rias rambutnya. Busana wanita adalah segala sesuatu yang dikenakan oleh seorang wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk pelengkap busana, tata rias wajah dan tata rias rambutnya yang mendukung penampilan serta cenderung menimbulkan kesan feminin untuk menunjukkan identitas sebagai seorang wanita. Contoh busana wanita misalnya rok dan gaun. Busana kurang lengkap apabila tidak disertai dengan hiasan-hiasan atau variasi yang selaras dan seimbang. Beberapa macam hiasan yang biasanya dipakai dalam busana yaitu bordir, manic-manik, sulam pita, opnaisel, serta masih banyak lagi hiasan yang lainnya, dari berbagai macam hiasan tersebut, penulis memilih opnaisel sebagai hiasan yang akan dibahas pada penulisan tugas akhir kali ini. Pengertian dari opnaisel adalah “lipatan kain lurus vertical yang dijahit tindas sebagai variasi pada baju, lebarnya bervariasai, ada yang 0.5cm, 1cm atau menurut keinginan”. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk menjelaskan proses pembuatan busana wanita dengan variasi opnaisel. Manfaat yang ingin diperoleh antara lain menambah pengetahuan mengenai pembuatan busana wanita. Proses pembuatan busana wanita dengan variasi opnaisel antara lain: pembuatan desain, pengukuran, pembuatan pola, fitting, cutting, sewing, final fitting, finishing. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 96, 250. 00. Hasilnya yang diperoleh adri pembuatan busana ini adalah sebuah busana wanita dengan variasi opnaisel. Akseroris yang digunakan yaitu anting dan cincin. Berdasarkan hasil tersebut dapat disarankan bahwa perhitungan ukuran yang tepat pada pembuatan pola sangat dibutuhkan sehingga tepat saat memotong bahan, dan hasil jadi busana yang kita buat sesuai dengan desain.

Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam seni tari gelipang sebagai budaya daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang / Resi Lestari

 

Kata Kunci: Pelestarian Nilai-Nilai Kearifan Lokal, Seni Tari Gelipang, Budaya Daerah Gelipang adalah suatu bentuk tarian tradisional yang menggambarkan sosok seorang kesatria dengan membawa senjata lengkap berjalan dengan tegapnya serta melakukan gerakan seolah-olah seperti prajurit. Tari Gelipang biasanya dipentaskan apabila ada orang yang mempunyai hajat, misalkan perkawinan, khitanan dan lain-lainnya. Tari gelipang merupakan kesenian budaya Daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang yang hampir punah dan harus di dilestarikan karena mempunyai nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap gerakannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) Asal-usul seni tari gelipang sebagai budaya daerah di desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang; (2) wujud gerak seni tari gelipang sebagai budaya Daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang; (3) Nilai-nilai kearifan lokal apa yang terkandung dalam gerak seni tari gelipang sebagai budaya daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang; (4) Persepsi masyarakat terhadapa seni tari gelipang sebagai budaya daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang; (5) Kendala dan bagaimana upaya mengatasi kendala pelestarian seni tari gelipang sebagai budaya daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari hasil observasi dari penari tari gelipang di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang, hasil observasi, wawancara dari para informan, dan temuan peneliti di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Asal-usul seni tari gelipang sebagai budaya daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang yaitu sudah ada sekitar tahun 1912. Kandar ini adalah seorang pencetus pertama kali berdirinya Seni Kalipang atau Gelipang, tahun 1937. Kandar membentuk suatu perkumpulan dengan tujuan awal menyusun kekuatan melawan penjajah. (2) Wujud atau bentuk seni tari gelipang sebagai budaya daerah di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang; Tahap-tahap dalam tari Gelipang yaitu; (a) Bagian Awal, (b) Bagian Inti, (c) Bagian Akhir. (3) Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam gerak seni tari gelipang bagi masyarakat desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang yaitu nilai pendidikan, nilai moral, nilai hiburan, nilai religius, nilai seni, nilai i       ii   perjuangan, nilai pandangan hidup.(4) Persepsi masyarakat terhadapa seni tari gelipang sebagai budaya daerah di desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang yaitu Tari Gelipang berfungsi untuk menghibur masyarakat setempat. Kesenian tersebut harus dipertahankan dan harus dijaga kelestariannya.(5) Kendala yang ada yaitu Arus, globalisasi yaitu menimbulkan dampak yang tidak baik bagi masyarakat atau penarinya. Upaya mengatasi kendala pelestarian seni tari gelipang yaitu mengenalkan kembali seni tari gelipang kepada masyarakat dengan melakukan pelatihan di saanggar-sanggar dan sekolah dasar yang ada di Desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada masayarakat desa Karangsari hendakanya tetap dilestarikan. Kepada pemerintah daerah khususnya Dinas kebudayaan dan pariwisata lebih memperhatikan dan ikut serta dalam pelestarian adat yang sudah turun temurun.

Perancangan media promosi untuk relaunching Singosari Lounge Bandara Udara Juanda Surabaya / Gading Ramadhani

 

Kata Kunci: Perancangan, Promosi, Relaunching, Lounge. Singosari Lounge adalah perusahaan swasta yang menyediakan tempat untuk bersantai serta ruang tunggu bagi pengunjung maupun orang yang bepergian dengan menggunakan pesawat terbang. Corporate identity dan interior design sebagai bentuk visual dan ekspresi grafis dari identitas suatu perusahaan seringkali digunakan sebagai cermin dari citra perusahaan yang hendak disampaikan kepada konsumen. Namun sayangnya hal ini kurang terorganisir dengan baik di Singosari Lounge yang berlokasi di ruang tunggu Terminal Domestik Bandara Internasional – Juanda Surabaya. Meskipun sudah berdiri cukup lama, identitas dari Singosari Lounge sendiri belum terbentuk dan melekat baik dalam benak masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya pembaharuan dalam segala sektor yang mendukung adanya peningkatan penjualan dari Singosari Lounge termasuk diantaranya sektor desain (media komunikasi, interior design dan web design). Maka dibutuhkan perancangan visualisasi Media promosi untuk relaunching Singosari Lounge dengan menggunakan konsep ekletik (konsep yang memaduan desain tradisional dan modern) dan menghasilkan rancangan media promosi sebagai media pendukung relaunching yang mampu membangun brand awareness dan lebih mengangkat citra Singosari Lounge daripada sebelum dilakukan relaunching di ulang tahun perusahaan yang ke 11. Metode perancangan yang dipakai adalah perancangan prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk, diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data, perancangan konsep hingga pembuatan karya final. Data yang menjadi acuan adalah data-data yang bersumber dari hasil survei, wawancara, dan buku-buku literatur. Kesimpulan perancangan ini adalah merancang media promosi untuk relaunching Singosari Lounge meliputi aplikasi corporate identity, interior design dan web design sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna, ilustrasi, fotografi, tipografi serta media yang digunakan. Saran penulis adalah dalam me-relaunching Singosari Lounge, bukan hanya memperhatikan segi visualisasi namun juga memperhatikan konsep yang akan dirancang, sehingga tujuan dari relaunching Singosari Lounge itu sendiri dapat terwujud.

Perancangan media promosi Rumah Sakit Umum Daerah "Kanjuruhan" Kepanjen / Gendhy Dwi Harlyan

 

Kata kunci :Perancangan, Media Promosi, RSUD “Kanjuruhan”Kepanjen. RSUD “Kanjuruhan”KepanjenadalahRumahSakitUmumDaerah Kabupaten Malangdibangununtukmemenuhikebutuhanmasyarakatdalampelayanankesehatan. AdanyaRSUD“Kanjuruhan” Kepanjeninidiharapkanmasyarakatsekitarakanterbantudalammemperolehkemudahanpelayanankesehatan.Agar masyakaratpercayadantertarikuntukdatangke RSUD “Kanjuruhan”Kepanjen, makadiperlukanpromosidengan media promosi yang tepat agar RSUD “Kanjuruhan”Kepanjendapatmenjadipilihanutamabagimasyarakat. Tujuanperancanganmediapromosiiniadalahuntukmenghasilkansebuahsaranayang memberikaninformasikepadaaudiencetentangkeunggulan-keunggulandanfasilitas RSUD “Kanjuruhan”Kepanjen.Dalamprosedurperancangandipaparkanlangkah-langkahprocedural yang ditempuhdenganmenetapkanlangkah-langkah yang harusdiikutiuntukmenghasilkanproduk yang beruparancangan media, langkah-langkahdalammetodeperancanganmeliputi (1) perumusanmasalah, (2) pengumpulandananalisis data, (3) penetapankonsepperancangandan (4) program perancangan. HasildariperancanganiniberupaIklanTelevisi, Iklan Koran, DesainBaliho, Poster, Brosur, Flyer, dan X-banner diharapkanmampumemberikanmasukanuntukdapatmengoptimalkanpenggunaan media komunikasi visual sebagai media promosi yang efektifdanefisienuntukpencitraandanmenanamkanbrand imagedalambenak target audien.

Pemanfaatan komoditas apel (Malus Sylvestris Mill Famili Rosaceae) untuk bahan dasar pembuatan sale apel dengan proses pengasapan / Devi Indriani

 

Kata Kunci: Sale, Buah Apel, Pengasapan, dan Pengeringan, Uji Hedonik. Sale merupakan produk makanan yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale yang dikenal masyarakat umum adalah sale yang terbuat dari pisang. Pada kesempatan kali ini akan di buat sale yang berbahan dasar apel, apel dijadikan sale dengan tujuan menambah variasi pemanfaatan buah apel yang jumlahnya berlimpah. Apel yang digunakan untuk membuat sale apel adalah apel manalagi, untuk membuat sale apel teknik yang digunakan adalah pengasapan. Pengasapan yang digunakan adalah pengasapan panas dengan lama pengasapana 1-3 jam. Bahan bakar yang digunakan adalah tempurung dan sabut kelapa. Untuk penyelesaiannya dilakukan pengeringan dengan menggunakan oven, lama pengeringannya 3-4 hari, suhu yang digunakan ± 100ºC. Jenis laporan ini adalah penelitian uji kesukaan terhadap sale apel. Adapun kriteria yang diuji dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa responden menyukai sale apel, dilihat dari segi warna 34,4%, responden yang menyukai aroma dari sale apel 71,1%, responden yang menyukai rasa dari sale apel 42,2%, dan responden yang menyukai tekstur dari sale apel 41,1%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan olahan sale apel sehingga dapat menjadi peluang usaha.

Studi tentang kerajinan kuningan di Central of Bronzes milik H. Istono / Basuki Rahmat

 

Kata Kunci : Studi kasus, Kerajinan Kuningan, Central of Bronzes Kerajinan kuningan merupakan salah satu warisan peninggalan nenek moyang yang sudah turun temurun. Sejak jaman kerajaan Majapahit dulu, kuningan banyak dipakai untuk bahan membuat alat-alat perlengkapan makan dalam kerajaan atau kaum bangsawan. Kerajinan kuningan di Central of Bronzes terbuat dari limbah kuningan yang diolah kembali menjadi barang baru yang lebih berguna dan bernilai seni tinggi. Dalam penciptaannya memperhatikan nilai fungsi serta kegunaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang sifatnya kebutuhan individu dan kebutuhan social. Sampai saat ini, kerajinan cor logam masih dipertahankan bahkan dikembangkan hingga menjadi wira usaha dan mata pencaharian penduduk setempat. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui beberapa hal, tentang desain, perkembangan desain dan pembuatan kerajinan kuningan di Central of Bronzes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Tahap analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/ verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, desain yang digunakan memiliki fungsi sebagai pelengkap estetik interior maupun benda pakai yang memiliki unsur hias di dalamnya. Bentuk desainnya mengambil dari bentuk-bentuk tiruan alam seperti hewan, tumbuhan dan replika benda peninggalan zaman kerajaan maupun zaman purba. Kedua, perkembangan desain kerajinan kuningan di Central of Bronzes, dipengaruhi oleh minat dan permintaan dari konsumen serta perkembangan zaman. Pada awalnya yang hanya sebatas membuat pakaian kuda, alat-alat dapur dan klintingan kini menjadi benda hias interior yang juga lebih fungsional dan estetik. Selain itu pengrajin sekarang menerima pesanan desain yang dibuat konsumen sendiri. Ketiga, proses pembuatan masih menggunakan teknik manual yang mengandalkan tenaga manusia. Mulai dari tahap pembuatan cetakan hingga finishing semuanya dikerjakan secara manual. Disarankan dari hasil penelitian ini agar pengrajin terus menggali ide-ide baru untuk menciptakan desain baru. penelitian ini perlu diadakan tindak lanjut lagi dalam penelitian yang serupa, tetapi pada sasaran yang berbeda.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |