The effectiveness of a dialogue journal in improving students' writing skill in narrative text of eleventh graders / Gundah Basiswi

 

Key words: effectiveness, dialogue journal, students’ writing skill in narrative This study was conducted to investigate the effectiveness of a dialogue journal in improving students’ writing skill in narrative text of the eleventh graders of SMAN 4 Malang. The design of this study was quasi experimental. The subjects of this study taken from the population of the eleventh graders of IPA at SMAN 4 Malang in the period 2011/2012; they were XI-IPA1 as the control group and XI-IPA4 as the experimental group. Both of the classes were taught by the same teacher. In collecting data, writing prompts were used as the primary instrument for pretest and posttest. The writing prompts provided the students to write narrative paragraphs. Then, their writings were scored using a scoring rubric. Based on the findings, it could be seen that the means of the writing aspects of the experimental group were better than the control group. The control class improved 4.78 points, from 68.79 in pretest to 73.57 in posttest, while the experimental class improved 12.02 points, from 68.16 in pretest to 80.18 in posttest. Therefore, the dialogue journals employed in the experimental group helped to improve the students’ skill in writing narrative text. Furthermore, by using Independence Sample t-test, it can be found that the result of t value for Equal Variance Assumed showed that t value is 3.345 with the degree of freedom of 57 and the level of significance coefficient of 0.001. It could be concluded that there was enough evidence to reject H0 because the level of significance coefficient was lower than 0.05 (Sig < 0.05). Thus, the control group was different significantly to the experimental group. Based on the result above, it can be concluded that the dialogue journals given to experimental group is proven to be effective in improving the students’ writing skill in narrative text of the eleventh graders of SMAN 4 Malang. Thus, it is suggested that the English teachers to use this method as additional activity in teaching writing. Besides, the teachers should give more attention, in addition to content, organization, vocabulary, language use, and mechanics. Suggestions are also addressed to next researchers to explore more about the dialogue journal in the teaching of other text types.

Pengaruh media advertising, brand image dan customer reference terhadap keputusan pembelian motor (Studi pada Dealer Suzuki Indomadiun Kota madiun) / Miftah Ali Nurdiyani

 

Kata Kunci: Media Advertising, Brand Image, Customer Reference, Keputusan Pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi media advertising, brand image, customer reference dan keputusan pembelian. Serta untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara media advertising, brand image, dan customer reference terhadap keputusan pembelian motor pada dealer Suzuki Indomadiun. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh konsumen yang melakukan pembelian motor pada dealer Suzuki Indomadiun. Sampel diambil sebanyak 100 responden dengan teknik penyebaran purposive sampling. Kuesioner berbentuk tertutup dengan skala likert 5 pilihan jawaban dengan try out sebanyak 30 responden. Dari data penelitian tersebut kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian memperlihatkan pengaruh masing-masing variabel terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor adalah: (1) media advertising memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor. (2) brand image memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor. (3) customer reference memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah. (1) Upaya periklanan, dengan meningkatkan intensitas periklanan, tampilan yang menarik, persuasif, serta penggunaan media yang mampu menjangkau konsumen secara menyeluruh.(2) Upaya pembentukan brand image dengan meningkatkan pelayanan serta melakukan inovasi dalam produk untuk menjawab kebutuhan konsumen. (3) Upaya memperluas pemasaran melalui customer refence, dengan lebih mendekatkan produk kepada konsumen melalui sales, keluarga, teman atau para ahli motor.

Perancangan iklan layanan masyarakat ASI perah bagi kaum ibu pekerja berpenghasilan rendah di Kota Malang / Diska Rahmita Gasti

 

Pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI jurusan ilmu sosial mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 1 Pasuruan / Mandala Eka Cahya Lisdiansya

 

Kata kunci: citra sekolah, motivasi, dan hasil belajar. Secara alami, motivasi belajar siswa sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi, pada umumnya mampu meraih keberhasilan dalam proses maupun hasil belajar. Salah satu pendorong motivasi yang terkait dengan sekolah adalah citra sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi belajar siswa, pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar, dan pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap hasil belajar yang diintervensi oleh motivasi belajar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pasuruan. Adapun subjek yang diteliti adalah populasi siswa kelas XI IS yang berjumlah 79 siswa. Pengumpulan data menggunakan instrumen angket dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis regresi linier pada pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi belajar coefficient sig. menunjukan nilai 0,000 < nilai probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan persepsi siswa tentang citra sekolah berpengaruh langsung dan signifikan terhadap motivasi belajar. Dan pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar coefficient sig. menunjukan nilai 0,014 < nilai probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan motivasi belajar berpengaruh langsung dan signifikan terhadap hasil belajar. Pada pengujian path analysis menunjukan pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap hasil belajar yang diintervensi oleh motivasi belajar dengan konstribusi 0,185. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) Terdapat pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi belajar siswa, (2) Terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa, serta (3) Terdapat pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap hasil belajar yang diintervensi oleh motivasi belajar. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Dengan meningkatkan citra sekolah maka secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Senantiasa membangkitkan motivasi belajar siswa yang tinggi agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan (3) Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada masalah atau topik yang berkaitan dengan motivasi dan hasil belajar siswa hendaknya menambah variabel dan sampel sehingga penelitian dapat lebih bervariasi.

Pengembangan media pembelajaran huruf braille berbasis mobile phone dengan J2ME / Judaz Fitronesillah

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Huruf Braille, Mobile Phone Masalah terbesar yang dialami dalam proses belajar huruf Braille penyandang tuna netra adalah lupa. Papan petak (Brailtex) tidak dapat digunakan secara mobile dan paku tumpul yang digunakan rawan hilang. Bagi penyandang tunanetra, HP merupakan alat yang sudah tidak asing lagi. Secara struktur, keypad HP menyerupai karakteristik huruf Braille. Oleh karena itu, dikembangkan media pembelajaran huruf Braille bagi penyandang tunanetra untuk membantu mengingat struktur huruf Braille. Media ini diciptakan pada perangkat mobile agar dapat digunakan kapanpun dan dimanapun tanpa membutuhkan peralatan tambahan. Pengembangan media menggunakan model pengembangan Waterfall (Air Terjun). Tahap-tahap pengembangan terdiri dari: analisis dan definisi persyaratan, perancangan sistem dan perangkat lunak, implementasi dan pengujian unit, integrasi dan pengujian sistem dan operasi dan pemeliharaan. Pada tahap uji coba menggunakan Black Box Testing. Media pembelajaran huruf Braille memiliki keluaran berupa audio dan visual. Media pembelajaran ini memiliki fitur: belajar, latihan, dan bantuan. Materi yang diajarkan adalah materi huruf (a-z, ng, ny, ai, au), angka, dan tanda baca. Hasil uji validasi oleh ahli materi sebesar 100%; ahli media sebesar 96,15%; pengguna perorangan sebesar 91,36%; dan pengguna kelas kecil sebesar 97,27%. Berdasarkan hasil uji validasi tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran huruf Braille dinyatakan sangat valid dan layak untuk digunakan.

Penerapan metode pemberian tugas untuk peningkatan hasil belajar IPS siswa jelas III SD Negeri Tamanan II Tulungagung / Andika Wahyu Baskara

 

Kata kunci: Metode Pemberian Tugas, Hasil Belajar Kognitif, IPS Penerapan metode pemberian tugas dalam pembelajaran sangat dibutuhkan untuk dapat membantu siswa lebih aktif dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di SD Negeri Tamanan II Tulungagung pada tanggal 02 Februari 2012, beberapa siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tematik dan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang terdapat di buku teks mereka. Salah satu mata pelajaran yang merupakan bagian dari tematik adalah mata pelajaran IPS. Mata pelajaran IPS yang digunakan yaitu yang sesuai dengan tema dari tematik untuk diteliti dan menggunakan metode pemberian tugas yang benar yaitu dengan cara membuat tugas-tugas dan materinya yang jawaban dari tugas-tugas terdapat dalam materi tersebut. Tugas akan diberikan secara berulang-ulang. Guru mengupayakan adanya peningkatan hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siswa kelas III di SD Negeri Tamanan II Tulungagung melalui pembelajaran dengan metode pemberian tugas. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian adalah penelitian deskriptif yang masuk dalam kategori Pre-Experimental rancangan One Shot Case Study. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Tamanan II Tulungagung semester I Tahun ajaran 2011/2012 pada mata pelajaran IPS dengan jumlah siswa 39 siswa. Penelitian dilaksanakan selama bulan 02 Februari hingga 09 Maret 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian siswa menerima tugas dari guru dengan baik, sebagian besar siswa membaca panduan mengerjakan soal dalam ketelitian dan keaktifan mengerjakan soal, sedangkan dari segi keaktifan dalam kelompok, sebagian besar siswa sangat aktif dalam berkelompok. Penerapan metode pemberian tugas efektif untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan dari sebelum penerapan dan setelah penerapan metode pemberian tugas yaitu 64% menjadi 97%. Sehingga rerata kelas mengalami kenaikan dari 73 menjadi 93. Berdasarkan uji-t, tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara penerapan metode pemberian tugas sebelum tindakan dan setelah tindakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pemberian tugas efektif untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas III SD Negeri Tamanan II Tulungagung pada mata pelajaran IPS.

Pengembangan media board game untuk mata pelajaran IPS kelas IV di SDN 2 Gandusari Trenggalek / Muhammad Imam Habibi

 

Kata Kunci:Pengembangan, Board Game, IlmuPengetahuanSosial Board gamemerupakan segala jenis permainan yang menggunakan papan atau alas untuk bermain, dan biasanya dimainkan oleh lebih dari 1 orang di 1 meja yang sama. Board game ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Board game sebagai sebuah media memiliki begitu banyak potensi, salah satunya sebagai sarana penyampaian informasi yang efektif. Dengan format yang mendorongpemainnyauntukberinteraksi, penyampaianinformasimelalui board game menjadilebihdinamisdantidakmembosankan. Berdasarkan observasi awal di lapangan,peneliti menemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial belum sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah tertulis dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.Selain itu guru juga belum menggunakan media maupun metode permainan untuk menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan. Siswa terlihat bosan dengan metode pengajaran tradisonal serta kurang aktif dan antusias terhadap materi yang disampaikan. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan media pembelajaran berupa permainan yang didesain dalam bentuk board game. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan menghasilkan board game yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran IPS kelas IV SDN 2 Gandusari Trenggalek pokok bahasan permasalahan sosial. Pengembangan media board game ini menggunakan model pengembangan Borg & Gall. Model pengembangan Borg & Gall terdiri dari 12 langkah, yaitu (1) Identifikasi kebutuhan, (2) Perumusan tujuan, (3) Pengembangan Produk awal, (4) Validasi ahli, (5) Revisi 1, (6) Uji coba perseorangan, (7) Revisi 2, (8) Uji coba kelompok kecil, (9) Revisi 3, (10) Uji coba lapangan, (11) Revisi akhir, (12) Produk akhir. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa board game Mata Pelajaran IPS pokok bahasan permasalahan sosial. Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media pada kriteria kelayakan board game dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 91,5%, 2) data ahli materi pada kriteria kelayakan board gamedikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 91,6%, 3) data siswa perseorangan, kelompok kecil, dan lapangan hasil yang diperoleh adalah 90%, 91%, 87,3% sehingga pada kriteria kelayakan board gamedikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) Dari pengolahan data tes hasil belajarterlihat peningkatan persentase siswa yang memenuhi SKM (≥ 65)dari 60,7 %, menjadi 71,4 % setelah siswa menggunakan board game.Dengan demikian menurut kriteria kelayakan,board game yang dikembangkan layak dan cukup efektif digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah board gameyang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: 1) Saran Pemanfaatan a) Bagi Sekolah, pengembangan media ini diharapkan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat memotivasi dan menarik perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran IPS. b) Bagi Guru, sebelum menggunakan media ini sebaiknya guru telah menyampaikan materi secara keseluruhan, membaca petunjuk pemanfaatan media dan memperhatikan waktu pemanfaatan dan jumlah siswa yang menggunakan media. c) Bagi siswa, beberapa hal yang harus diperhatikan siswa dalam pemanfaatan media ini adalah siswa harus bermain sesuai dengan aturan permainan dan dengan hati-hati. Setelah bermain, siswa lebih baik segera merapikan dan menyimpan board game agar komponen-komponennya tetap utuh (tidak hilang). 2) Saran untuk Pengembangan Produk Lebih Lanjut, dalam membuat sebuah karya/produk diharapkan lebih memiliki pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman mengenai media, untuk menghasilkan produk yang lebih layak, maka lakukan validasi dan revisi secara berkelanjutan, tentukan ukuran dan bahan yang akan dipakai untuk membuat board game terlebih dahulu, carilah bantuan dari teman/rekan dalam memproduksi media, buatlah permainan yang kompetitif dan sesuai dengan karakteristik siswa, serta ujilah peraturan permainan untuk mencari di mana kelemahan-kelemahan peraturan tersebut. 3) Saran Diseminasi, sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini dikaji kembali dan disesuaikan dengan keadaan sasaran yang ingin dituju, dan sebaiknya disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait untuk memperoleh pengakuan dan perijinan untuk penerapan board game yang dikembangkan.

Pengaruh pengetahuan awal akuntansi dan self-efficacy terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi mahasiswa Universitas Islam Riau / Akhmad Suyono

 

Kata Kunci: Pengetahuan Akuntansi sebelumnya, Self-Efficacy dan Hasil Belajar Mahasiswa Pengetahuan itu sendiri menekankan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah mahasiswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Belajar diperguruan tinggi dituntut tidak hanya untuk mempunyai pengetahuan teknis tetapi juga mempunyai self-efficacy yang baik dan kuat untuk mampu mencapai hasil belajar yang diinginkan. Self-efficacy itu sendiri merupakan keyakinan dan harapan mengenai kemampuan untuk menghadapi tugas-tugasya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) pengaruh pengetahuan awal akuntansi terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa, (2) pengaruh self-efficacy terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa, (3) pengaruh interaksi pengetahuan awal akuntansi self-efficacy terhadap hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian (Explanatory Research) dengan desain faktorial. Analisis yang digunakan adalah analisis two way anova. Variabel dalam penelitian ini meliputi pengetahuan awal akuntansi (X1), self-efficacy (X2), dan hasil belajar mahasiswa akuntansi (y). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi akuntansi FKIP UIR. Sedangkan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah incidental sampling. Sehingga berjumlah 92 mahasiswa angkatan 2008. Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan awal akuntansi berpengaruh terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa dengan fhitung sebesar 23,88 > ftabel 3,0988. Self-efficacy berpengaruh terhadap hasil belajar akuntansi dengan fhitung sebesar 39,48 > ftabel 3,0988. Terdapat pengaruh interaksi antara pengetahuan awal akuntansi dan self-efficacy terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa dengan fhitung sebesar 4,206 > ftabel 3,0988.

Sistem informasi pengaturan jadwal mata pelajaran guru berbasis pemrogaman delphi / Agung Dwi Prastiyo

 

Kata Kunci: Sistem Informasi, Pengaturan jadwal mata pelajaran guru, Delphi Saat ini masih banyak sekolah-sekolah yang menggunakan sistem pengaturan jadwal mata pelajaran guru dengan cara manual, sehingga sering terjadi kesalahan dalam pengaturan jadwal pelajaran. Hal ini dapat merugikan siswa dikarenakan proses belajar mengajar terganggu. Mengacu pada masalah diatas, diharapkan program ini dapat membantu meringankan tugas urusan kurikulum dan memperkecil kesalahan dalam pengaturan jadwal mata pelajaran. Dalam perancangan sistem digunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7 sebagai interfacing antara manusia dengan computer, program database yang digunakan adalah Microsoft Access. Sistem ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan yang tejadi. Sistem pengaturan jadwal mata pelajaran berbasis pemrograman delphi ini diharapkan dapat memperlancar proses belajar mengajar, masing-masing guru mempunyai jadwal mata pelajaran yang juga berfungsi sebagai jadwal untuk mengatur proses belajar mengajar, sehingga kesalahan pada pengaturan jadwal mata pelajaran dapat diminimalisir, karena hanya administrator yang mempunyai hak akses dapat mengoperasikan sistem ini. Dari hasil dan analisis dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7, dapat digunakan untuk membuat program Sistem Informasi Pengaturan Jadwal Mata Pelajaran Guru Berbasis Pemrograman Delphi. Perancangan system yang dibuat memiliki keunggulan , yaitu : keamanan system lebih terjamin karena hanya petugas yang mengetahui username dan password yang dapat mengakses sistem ini, tingkat kesalahan dalam melakukan pengaturan jadwal mata pelajaran dapat diminimalisir sehingga tidak terjadi kres guru yang satu dengan yang lainnya.

Pengembangan bahan ajar operasionalisasi mesin bubut berbasis multimedia pada jurusan teknik permesinan di Sekolah Menengah Kejuruan / Andik Tri Kurniawan

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, operasionalisasi mesin bubut, Sekolah Menengah Kejuruan Pengembangan bahan ajar ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar CD Pembelajaran dengan judul “Menggunakan Mesin Untuk Operasi Dasar” yang materinya disesuaikan dengan sajian materi dalam RPP. CD Pembelajaran yang dikembangkan nantinya akan dijadikan salah satu sumber belajar di seluruh SMK khususnya yang memiliki jurusan Teknik Pemesinan guna menciptakan kreativitas belajar mandiri siswa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi model pengembangan Dick & Carey (1987). Pengembangan model Dick & Carey adalah pengembangan yang bersifat prosedural yang meliputi ; 1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, 2) analisis pembelajaran, 3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik peserta didik, 4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, 8) merancang dan melakukan penilaian formatif, 9) merevisi materi pembelajaran, 10) merancang dan melakukan penilaian sumatif. Untuk mengetahui tingkat kevalidan, kelayakan keterpakaian produk yang dihasilkan dilakukan uji kelayakan produk dalam 2 tahap, yaitu tahap uji ahli dan uji kelompok kecil. Data diambil dengan menggunakan angket, kemudian dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif dalam bentuk persentase. Hasil penilaian/tanggapan digunakan untuk merevisi produk sebagai bagian dari proses penyempurnaan produk bahan ajar. Hasil uji coba pada tahap ahli bidang studi memperoleh skor total 100% dengan kreteria valid, sedangkan dari ahli pembelajaran memperoleh skor 82,81% dengan kreteria sangat valid. Selanjutnya tahap uji coba kelompok kecil memperoleh skor total 85,28%, sehingga dari uji coba yang dilakukan CD pembelajaran layak digunakan sebagai sumber belajar di seluruh Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki jurusan Teknik Pemesinan. Dari serangkaian uji coba dapat diketahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar yang telah dikembangkan. Kelebihannya yaitu 1) bahan ajar dirancang sesuai karakteristik dan kebutuhan siswa, 2) bahan ajar disesuaikan dengan menggunakan prinsip pengetahuan yang bersifat fakta, konsep dan prosedural, 3) model pengembangan yang disesuaikan adalah model pengembangan (Saukah, 2000:37 dalam Darmawan 2008) yang sistematis dan sesuai untuk merancang pembelajaran lebih terarah, 4) siswa lebih termotivasi dikarenakan bahan ajar yang dihasilkan berbentuk CD pembelajaran yang berisikan animasi, video, audio, teks, dan gambar. Sedangkan kelemahan bahan ajar ini adalah bahan ajar yang sejenis CD pembelajaran bisa digunakan jika pengoperasiannya menggunakan perangkat lunak yang mendukung dan sesuai.

Penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar untuk mengembangkan kecerdasan naturalis anak kelompok A di Tarbiyatul Athfal Ar-Ridlo Malang / Rizky Nadiayu

 

Kata kunci: karyawisata, lingkungan alam sekitar, kecerdasan naturalis. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelompok A TA Ar-Ridlo Malang menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi dan masih menggunakan metode yang berpusat pada guru atau exspositorik. Pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas, hampir tidak ada unsur discovery (penemuan), sehingga pembelajaran terasa mononton dan anak menjadi jenuh. Kehidupan alam dikota dapat dikatakan sangat sedikit sehingga anak-anak kurang mengenal lingku-ngan yang alami. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan ikut menyumbang terkuburnya potensi alami anak. Pembelajaran diluar kelas dan bersentuhan dengan alam sangat penting bagi perkembangan kecerdasan naturalis anak. Upaya untuk mengembangkan kecerdasan naturalis dengan menerapkan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar sekolah. Rumusan masalah penelitian ini mendeskripsikan penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar untuk mengembangkan kecerdasan naturalis anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, serta mendeskripsikan tingkat perkembangan kecerdasan naturalis anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang melalui penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, dengan prosedur disetiap siklusnya, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A2 di TA Ar-Ridlo Malang yang berjumlah 20 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara, dan (3) dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif, yaitu data keaktifan dan peningkatan kecerdasan naturalis anak dalam kegiatan pembelajaran karyawisata yang dinyatakan dengan skor. Data dari catatan pengamatan, dokumen foto dan rekaman wawancara, dianalisis dengan deskriptif kualitatif dengan tahap pemaparan data, reduksi data, kategorisasi data, penafsiran/ pemaknaan, dan penyimpulan hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar dilaksanakan dengan baik, (2) kecerdasan naturalis anak mengalami perkembangan dengan peningkatan persentase rata-rata siklus I sebesar 57,167% dengan kategori cukup baik dan pada siklus II sebesar 72,33% dengan kategori baik. Artinya dari setiap siklus kecerdasan naturalis mengalami perkembangan sebesar 15,163%. Kesimpulan penelitian ini adalah metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar dapat mengembangkan kecerdasan naturalis anak. Pendidik PAUD disarankan untuk menggunakan metode ini sebagai salah satu pembelajaran alternatif untuk mengembangkan kecerdasan naturalis anak dan mencoba dengan materi yang lainnya dengan manajemen waktu yang baik.

Profil pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto / Ika Dyah Kartika

 

Kata Kunci: Supervisi Pembelajaran, Kepala Sekolah, SD Negeri. Supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada guru maupun semua staf yang ada di sekolah untuk memperbaiki kinerja profesionalnya agar berdampak positif pada pembelajaran siswa di sekolah. Dari berbagai macam jenis supervisi yang diberlakukan di sekolah, supervisi pembelajaran yang paling dianggap paling efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Supervisi pembelajaran yaitu kegiatan pembinaan yang ditujukan untuk membantu memperbaiki kondisi-kondisi baik dari segi personel ataupun dari segi material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD Negeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, kinerja kepala sekolah sebagai seorang supervisor masih dijumpai beberapa penyimpangan. Oleh karena itu, untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah, maka dilakukan penelitian ini. Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu untuk mendeskripsikan pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah di SD Neegeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan penelitian deskriptif, dengan jumlah populasi sebesar 162, dan penelitian ini menggunakan population sampling. sampel yang digunakan berjumlah 162. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner, yang kemudian diolah dengan menggunakan rumus persentase dan mean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kepala sekolah sebagai seorang supervisor dalam membuat perencanaan program supervisi pembelajaran yaitu didapatkan mean sebesar 42,53 yang berada pada interval 34,6 – 42,7 dan tergolong kriteria baik. Sedangkan kemampuan kepala sekolah dalam melaksankan teknik supervisi pembelajaran yaitu didapatkan mean sebesar 173,09 yang berada pada interval 163,8 – 202,3 dan mtergolong kriteria baik. Dan kemampuan kepala sekolah dalam melakukan evaluasi program supervisi pembelajaran mendapatkan mean sebesar 47 yang masuk pada interval 41,4 – 51,1 dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan secara umum profil pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto tergolong baik. Berdasarkan hasil dan kekurangan penelitian disarankan kepada kepala SD Negeri di Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto disarankan agar lebih meningkatkan kemampuannya sebagai supervisor dan juga pemerataan penggunaan semua teknik supervisi agar dapat membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru. Kepada guru diharapkan lebih meningkatkan kinerja profesionalnya dengan berinisiasi meminta disupervisi. Kepada Dinas Pendidikan diharapkan memberikan masukan dan menambah frekuensi pelatihan tentang pelaksanaan supervisi pembelajaran kepada kepala sekolah agar menjadi supervisor yang professional. Kepada prodi pgsd hendaknya memberikan persiapan kepada para calon guru dan kepala sekolah dengan menyampaikan materi supervisi pendidikan yang cakupannya lebih luas. Dan kepada peneliti lainnya diharapkan melakukan penelitian yang lebih mendalam, dengan menambah variabel atau mengkorelasikannya dengan variabel lain, sehingga hasil penelitian dapat berkembangkan dan dapat lebih bermanfaat.

Profil kerja ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan fisika dasar di Universitas Negeri Malang / Riyya Hanifah

 

Kata Kunci: Kerja Ilmiah, Prestasi Belajar, Perkuliahan Fisika Dasar Fisika Dasar memiliki peranan penting bagi mahasiswa untuk mempelajari fisika lebih lanjut. Pemahaman yang diperoleh mahasiswa dalam Fisika Dasar merupakan landasan untuk belajar fisika selanjutnya. Melihat begitu pentingnya matakuliah Fisika Dasar dalam kuliah, maka diperlukan penanganan yang tepat dalam pembelajaran Fisika Dasar. Pembelajaran fisika seutuhnya melibatkan penemuan konsep melalui kerja ilmiah. Fakta di berbagai negara menunjukkan bahwa banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam perkuliahan Fisika Dasar yang disebabkan oleh metode pembelajaran, kesulitan tugas, dan cara belajar yang tidak tepat. Penelitian ini bermaksud mencari tahu apakah kondisi pembelajaran Fisika di berbagai negara juga terjadi di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan 4 hal, yaitu pelaksanaan perkuliahan Fisika Dasar di UM, bantuan dosen untuk mahasiswa agar prestasi belajar tinggi, profil prestasi belajar dan profil kerja ilmiah mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa peserta perkuliahan Fisika Dasar tahun 2011 di Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan sebanyak 27 mahasiswa yang dipilih secara acak. Instrumen penelitian meliputi instrumen tes, lembar observasi, dan lembar pedoman wawancara. Instrumen tes prestasi belajar berupa soal pilihan ganda sebanyak 17 butir dengan reliabilitas = 0,738, essay untuk soal tes kerja ilmiah sebanyak 17 butir dengan reliabilitas = 0,832. Data disajikan dalam bentuk persentase, rerata, simpangan baku, median, modus dan diagram. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil prestasi belajar mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang masih rendah. Hal ini terlihat dari rendahnya rerata total dan tingkat pencapaian mahasiswa terhadap materi Fisika Dasar. Tingkat pencapaian mahasiswa pada subtopik persamaan gelombang, optika fisik, optika geometrik, listrik statis, dan induksi magnet kurang dari 55%. Hal ini disebabkan karena pemahaman awal yang mereka dapat dari SMA untuk subtopik tersebut belum membantu menjangkau materi di perkuliahan. Tingkat pencapaian pada subtopik listrik dinamis dan medan magnet lebih dari 70%. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman awal yang baik untuk subtopik tersebut sehingga memudahkan mereka untuk menerima materi perkuliahan. Profil kerja ilmiah mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang juga masih rendah. Hal ini terlihat dari rendahnya rerata total dan tingkat pencapaian mahasiswa terhadap indikator kerja ilmiah. Tingkat pencapaian tertinggi mahasiswa sebesar 76.26% yaitu indikator membuat grafik. Hal ini disebabkan mahasiswa dituntut untuk bisa membuat grafik terutama pada saat praktikum ii sehingga indikator membuat grafik dirasa mudah bagi mahasiswa. Tingkat pencapaian mahasiswa pada indikator menetapkan variabel, menyusun rancangan percobaan, merumuskan hipotesis, menyimpulkan percobaan kurang dari 70%. Rendahnya tingkat pencapaian kerja ilmiah mahasiswa secara umum disebabkan karena kurangnya pemberian pengalaman terhadap mahasiswa. Rendahnya prestasi belajar dan kerja ilmiah mahasiswa mengindikasikan mahasiswa mengalami kesulitan memahami materi, padahal pelaksanaan perkuliahan oleh dosen sudah tepat. Bantuan yang diberikan dosen juga belum mampu membantu mahasiswa mengatasi kesulitan belajar selama ini. Kesulitan mahasiswa terutama disebabkan oleh lebarnya celah (gap) antara kemampuan awal yang dimiliki mahasiswa dengan materi Fisika Dasar yang diajarkan oleh dosen. Oleh karena itu diperlukan penghubung yang tepat untuk membantu mahasiswa melalui celah tersebut yaitu scaffolding. Untuk itu, perlu sesegera mungkin scaffolding ini diwujudkan dan diteliti lebih lanjut apakah memang dapat membantu mahasiswa mengatasi kesulitan serta meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.

Perbedaan stres dan harga diri guru ditinjau dari status sekolah RSBI dan non RSBI / Yudi Tri Harsono

 

Kata kunci: stres, harga diri, guru, RSBI. RSBI merupakan langkah awal bagi terbentuknya suatu sekolah nasional menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI) . Standar kompetensi yang harus dimiliki para guru yang mengajar di RSBI antara lain semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK dan mampu mengampu pembelajaran dengan menggunakan bahasa inggris, namun pada realitanya tidak demikian, sehingga mengakibatkan para guru merasa tertekan dan stres. Mampu memenuhi standar kompetensi menunjukkan bahwa kompetensi berprestasi RSBI lebih tinggi dibandingkan Non RSBI, sehingga guru yang mengajar pada sekolah RSBI akan cenderung memiliki harga diri yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan stres dan harga diri guru ditinjau dari status sekolah RSBI dan Non RSBI. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif komparatif. Subjek penelitian sebanyak 60 guru, dengan rincian 30 guru RSBI dan 30 guru Non RSBI. Teknik pengambilan sampel meggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala stres dan skala harga diri. Skala stres terdiri dari 58 aitem dan skala harga diri terdiri dari 48 aitem dengan yang telah teruji reliabilitasnya. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis Independent sample t test dan MANOVA. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan stres guru ditinjau dari status sekolah RSBI dan Non RSBI (p = 0,973 > 0,05), tidak ada perbedaan harga diri guru ditinjau dari status sekolah RSBI dan Non RSBI (p = 0,182 > 0,05), serta tidak ada perbedaan stres dan harga diri guru ditinjau dari status sekolah RSBI dan Non RSBI (p = 0,396 > 0,05). Stres guru RSBI tidak lebih tinggi karena telah mengikuti berbagai seminar, pelatihan, workshop, diklat, dan kursus. Harga diri guru Non RSBI tidak lebih rendah karena prestasi anak didik sekolah Non RSBI tidak kalah dari sekolah RSBI. Disarankan kepada guru Non RSBI, meskipun tidak ada tuntutan kompetensi seperti yang disyaratkan untuk guru RSBI akan ada manfaatnya jika guru Non RSBI juga lebih meningkatkan kompetensinya seperti mengikuti seminar, workshop, pelatihan, diklat, dan kursus yang berkaitan dengan pendidikan. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk meneliti faktor-faktor lain yang menjadi permasalahan dalam bidang pendidikan.

Pengembangan e-module mata pelajaran kewarganegaraan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X di MAN 3 Malang / Dian Arief Pradana

 

Kata Kunci: Pengembangan, e-module, Kewarganegaraan E-module merupakan pengembangan dari modul cetak. Modul ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan modul dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan manfaat atau nilai tertentu dari segi penggunaanya, karena dalam penggunaanya siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan belajar mereka. Berdasarkan observasi awal dilapangan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang belum menggunakan e-module dan hanya menggunakan bahan ajar cetak dalam proses pembelajarannya, meskipun di sana tersedia sarana belajar yang memadai, terbatasnya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi membuat siswa merasa jenuh dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan sumber belajar yang berupa modul interaktif yang didesain dalam bentuk CD Interaktif. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk berupa e-module untuk pembelajaran Kewarganegaraan di MAN 3 Malang kelas X yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari vaidasi ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa e-module mata pelajaran Kewarganegaraan standar kompetensi “ Menganalisis Sistem Politik di Indonesia”. Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media pada kriteria kelayakan e-module dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 90,8%, 2) data ahli materi pada kriteria kelayakan e-module dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 91,6%, 3) data siswa perseorangan, kelompok kecil, dan lapangan hasil yang diperoleh adalah 84,4%, 83,6%, 82,4% sehingga pada kriteria kelayakan e-module dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) pada data hasil pre-test dan post-test 1 terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 34 dengan peningkatan nilai terendah 5 dan tertinggi 70, (5) pada data hasil pre-test dan post-test 2 terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 35,6 dengan peningkatan nilai terendah 5 dan tertinggi 70. Dengan demikian menurut pencapaian hasil belajar siswa, modul interaktif yang dikembangkan efektif digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah e-module yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran-saran dalam pengembangan ini adalah: 1) Guru mata pelajaran hendaknya mulai mengembangkan dan menggunakan e-module dan lebih terampil dalam menggunakan media pembelajaran. 2) Siswa dalam menggunakan media pembelajaran ini harus mempunyai keterampilan dasar dalam pengoperasian komputer, dan beberapa kemampuan dan keterampilan lainnya untuk mendukung penggunaan media ini. 3) Bagi Pengembang selanjutnya, e-module ini hendaknya dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Keefektifan paket bimbingan keterampilan sosial untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa SMK / Riza Roiyantri

 

Kata Kunci: media bimbingan, paket bimbingan, keterampilan sosial Keterampilan sosial merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki seseorang dalam proses interaksi sosial agar tercipta komunikasi yang efektif. Namun pada kenyataannya banyak remaja yang kurang memiliki kemampuan keterampilan sosial sehingga tidak terkomunikasinya keinginan remaja kepada orang lain. Hal ini dapat mengakibatkan konflik pada remaja sehingga tugas-tugas perkembangannya tidak dapat dilakukan dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan sosial adalah melalui bimbingan dengan menggunakan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial bagi Siswa SMK. Paket ini berisi tentang topik-topik perilaku keterampilan sosial, yaitu membuka diri, mengungkapkan perasaan secara verbal dan non verbal, mendengarkan dan menanggapi, mengungkapkan pendapat, dan mempresentasikan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial bagi Siswa SMK untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa SMK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan desain eksperimen pretest posttest control group. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 52 siswa dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data tingkat keterampilan sosial siswa diperoleh dari subjek penelitian melalui angket keterampilan sosial yang telah diuji validitas dan diuji reliabilitas. Setelah melaksanakan pre test, kelas eksperimen diberikan treatment melalui layanan bimbingan dengan menggunakan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial bagi Siswa SMK, sedangkan kelas kontrol tidak diberikan treatment. Setelah treatment berakhir, kelas eksperimen dan kelas kontrol diberikan post test. Hasil penelitian pada kelas eksperimen menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pre test ke post test yaitu dari 58,5769 menjadi 59,2308. Sedangkan skor rata-rata kelas kontrol mengalami penurunan, yaitu skor pre test kelas kontrol 58,0769 dan skor post test 56,2692 . T test dari rata-rata post test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol menunjukkan hasil nilai thitung 2,200 dengan nilai signifikansi 0,033. Angka signifikansi 0,033 berarti lebih kecil dari 0,05. Hal ini dapat dikatakan bahwa adanya perbedaan tingkat keterampilan sosial antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Namun perbedaan tingkat keterampilan sosial tersebut bersifat semu karena adanya penurunan skor rata-rata post test kelas kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Paket Bimbingan Ketertampilan Sosial bagi Siswa SMK masih diragukan keefektifannya untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas X Jasa Boga B SMK Negeri 2 Trenggalek. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan saran kepada konselor bahwa jika menggunakan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial bagi SMK sebagai media saat melaksanakan layanan bimbingan sosial hendaknya menambah dengan latihan-latihan perilaku keterampilan sosial. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya ada baiknya jika dilaksanakan penelitian dengan treatment yang lebih terkontrol dalam pelaksanaan dan pengendalian variabel-variabel lain yang tidak diteliti. Jika menggunakan produk pengembangan dari orang lain yang dijadikan sebagai instrumen, perlu diuji konten dan validitas reliabilitasnya. Dari hasil penelitian siswa kelas kontrol mengalami penurunan tingkat keterampilan sosial, untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang penyebab penurunan tingkat keterampilan sosial dan perlu dilakukan penelitian ulang dengan kelompok kontrol yang lebih tepat.

Proses dan dampak migran kembali (return migrant) dari luar negeri di Kabupaten Ponorogo / Rulli Sollikah

 

Kata kunci: Proses, Dampak, Migran Kembali Sulitnya mencari pekerjaan dan rendahnya pendapatan mendorong para wanita di Kabupaten Ponorogo melakukan mobilitas ke luar negeri untuk menjadi TKW. Setiap pelaku migrasi mempunyai ciri-ciri, situasi dan kondisi tertentu yang secara keseluruhan dapat memberi gambaran tentang TKW di Kabupaten Ponorogo berdasarkan negara tempat mereka bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis faktor-faktor yang mendorong migran kembali melakukan migrasi ke luar negeri. 2) Menjelaskan gambaran umum negara tujuan sebagai faktor penarik migrasi. 3) Menganalis dampak migrant kembali terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga mantan TKW Kabupaten Ponorogo berdasarkan negara tempat bekerja. Penelitian ini berbentuk penelitian descriptive dengan menggunakan metode survey. Populasi dalam penelitian ini adalah TKW di Kabupaten Ponorogo yang pernah bekerja di luar negeri dan berjumlah 660 responden. Sampel yang diambil sebanyak 207 responden dengan cara proporsional random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis tabulasi tunggal dan prosentase untuk memperoleh gambaran umum dari setiap variabel, serta crosstab tabulation untuk menganalisis dampak remiten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Secara umum faktor pendorong Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk melakukan migrasi adalah usia mereka yang masih dalam usia produktif, status perkawinan, tingkat pendidikan rendah (lulusan SMP/ setingkat SMP), tidak mempunyai pekerjaan, dan beban tanggungan keluarga yang sangat banyak.(2) Gambaran umum selama bekerja di luar negeri, TKW rata-rata akan bekerja sebagai karyawan operasional pabrik, perawat dan PRT. Selain itu mereka akan mendapatkan gaji berkisar antara 2 – 3 juta, dengan masa potong gaji antara 8 – 14 bulan. Permasalahan yang sering di alami oleh para TKW mayoritas disebabkan karena masalah SARA dan pelanggaran jam kerja.(3) Rata-rata pengiriman uang setiap 1-2 bulan sekali dan pengalokasian utama remiten adalah untuk pemenuhan kebutuhan pokok (3) Pekerjaan TKW pasca bekerja di luar negeri adalah berprofesi sebagai pedagang dengan tingkat pendapatan lebih tinggi dibandingkan sebelum bekerja ke luar negeri dan sebagian memiliki usaha tersendiri.

Pemanfaatan sumber belajar berbasis internet bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitan Negeri Malang / Musthofa Achmad

 

Kata Kunci: Sumber Belajar, Internet, Mahasiswa Pelaksanaan pendidikan agar berjalan dengan lancar dibutuhkan unsurunsur yang saling mendukung. Unsur tersebut tidak hanya mencakup guru, peserta didik, kurikulum, namun dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya adalah ketersediaan sumber belajar. Universitas Negeri Malang (UM) merupakan salah satu perguruan tinggi yang melahirkan pendidik atau guru di Jawa Timur. Untuk mendukung kegiatan perkuliahan, UM berusaha memberikan pelayanan yang optimal kepada mahasiswa, dosen maupun karyawan. Salah satu wujud realnya adalah keberadaan perpustakaan, laboratorium di tiap fakultas hingga hotspot. Seiring berkembangnya waktu, semua orang membutuhkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Begitu pula dengan pencarian sumber belajar dalam mendukung perkuliahan. Namun dalam kenyataannya, sumber belajar yang tersedia di perpustakaan maupun laboratorium masih sangat terbatas. Selain itu, dalam mencari buku di rak membutuhkan waktu lama, jumlah peminjaman yang dibatasi, bahkan buku yang dicari tidak ada. Hal ini membuat pengguna terganggu dalam proses belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan sumber belajar berbasis internet bagi mahasiswa FIP, yang mencakup sarana yang dimiliki mahasiswa FIP, search engine yang digunakan mahasiswa dalam mencari sumber belajar, tingkat manfaat internet dalam kegiatan belajar mahasiswa FIP, intensitas waktu yang digunakan dalam pemanfaatkan internet, dan biaya yang dikeluarkan mahasiswa dalam pemanfaatan internet. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Teknik sampling menggunakan Proportional Stratified Random Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Objek penelitian ini adalah mahasiswa FIP UM angkatan 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 4398 orang. Dengan menggunakan Formula Slovin diperoleh sampel sebanyak 364 responden. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh (a) Sebesar 92,58% mahasiswa FIP memiliki sarana penunjang internet, (b) 87,64% mahasiswa menggunakan google untuk searching sumber belajar, (c) Tingkat manfaat internet diperoleh 32,6% meningkatkan motivasi, 40,3% meningkatkan prestasi, dan 46,15% menambah wawasan, (d) Kendala dalam mencari sumber belajar berbasis internet adalah bahasa asing, content tidak sesuai, dan web rusak/sedang diperbaiki, (e) Sebanyak 66,2% mahasiswa membutuhkan waktu 2-3 jam untuk sekali online dan 43,4% menjawab 2-3 kali dalam seminggu mengunjungi internet, dan (f) Sebanyak 43,13% mahasiswa mengeluarkan biaya Rp 5000-10.000/minggu untuk online di luar kampus dan 36,81% mengeluarkan biaya biaya Rp 10.000-15.000/minggu untuk membeli pulsa modem. Implikasi hasil penelitian ini adalah (1) Perlu menyediakan fasilitas hotspot dengan bandwith yang tinggi, agar fasilitas pendukung internet dapat digunakan dengan optimal untuk memacu motivasi dan prestasi belajar mahasiswa serta memperluas cakrawala berpikir mahasiswa,(2) Perlu dibuka program pelatihan bahasa asing pada masing-masing jurusan dalam rangka membantu mahasiswa memahami content-content berbahasa asing, dan (3) Perlu adanya sistem perkulaiahan online pada masing-masing jurusan, agar proses belajar-mengajar tidak hanya terbatas oleh ruang dan waktu. Saran penelitian ini tertuju bagi (1) Ketua Jurusan di FIP UM, hendaknya menyediakan sarana wifi pada masing-masing jurusan sebagai media belajarmengajar dan memaksimalkan sarana laboratorium bahasa membimbing mahasiswa dalam memahami bahasa asing, (2) Dosen FIP UM, hendaknya dalam proses perkuliahan, dosen mampu mengkombinasikan teori dari buku dengan informasi dari internet, dalam proses perkuliahan dosen mampu berkomunikasi secara bilingual, (3) Personalia FIP UM, hendaknnya personalia menyediakan layanan hospot dengan bandwith yang lebih tinggi, (4) Bagi Mahasiswa FIP UM, hendaknya mampu memaksimalkan sarana yang belajar yang ada dan dala menggunakan internet mampu memanaj waktu antara belajar dengan refresing, dan (5) Bagi Peneliti Lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk melakukan penelitian selanjutnya.

Partisipasi orang tua dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler drum band di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Muslimat Nahdlatul Ulama Khadijah 2 Nganjuk / Sylvi Fitria Dewi

 

Kata kunci: partisipasi orang tua, kegiatan ekstrakurikuler drum band. Keberhasilan seorang anak dalam mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak akan diraih begitu saja, tetapi memerlukan dukungan yang memadai dari pihak orang tua masing-masing anak. Partisipasi orang tua dalam PAUD dapat dilakukan dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Kegiatan ekstrakulikuler drum band penting untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki anak di bidang seni dan olah raga, untuk itu perlu partisipasi orang tua dalam kaitannya membantu dalam keberhasilan pendidikan Pengembangan dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang baik dan teratur, akan membawa hasil yang baik pula. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai partisipasi orang tua dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Tujuan umum penelitian ini untuk mendeskripsikan partisipasi orang tua dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di PAUD Muslimat NU Khadijah 2 Nganjuk khususnya penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) cara orang tua memotivasi anak, (2) partisipasi orang tua dalam bentuk pikiran, (3) partisipasi orang tua dalam bentuk tenaga, (4 )partisipasi orang tua dalam bentuk dana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif yang akan di paparkan dalam bentuk deskripsi dan persentase. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu keseluruhan populasi yang berjumlah 35 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan wawancara. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa angket dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan teknik persentase. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Memotivasi anak dalam kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dengan kurang baik, yang terlihat dari persentase selalu (35,2%) menunjukkan angka tertinggi yang berada pada rentangan kategori kurang baik, (2) partisipasi orang tua dalam bentuk pikiran dilakukan dengan cukup baik, yang terlihat dari persentase kadang-kadang (41,8%) menunjukkan angka tertinggi yang berada pada rentangan kategori cukup baik, (3) partisipasi orang tua dalam bentuk tenaga dilakukan dengan kurang baik, yang terlihat dari persentase kadang-kadang (36,7%) menunjukkan angka tertinggi yang berada pada rentangan kategori kurang baik, dan (4) partisipasi orang tua dalam bentuk dana dilakukan dengan cukup baik, yang terlihat dari persentase selalu (55,8%) menunjukkan angka tertinggi yang berada pada rentangan kategori cukup baik. Berdasarkan temuan data tersebut, maka disarankan: (1) bagi orang tua, menjadikan penelitian ini sebagai dasar untuk lebih meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler baik itu dalam bentuk pikiran, tenaga, dana dan memotivasi anaknya untuk aktif dalam latihan mengingat kegiatan ekstrakurikuler penting untuk mengembangkan bakat dan minat anak. (2) bagi PAUD Muslimat NU Khadijah 2 Nganjuk, menjadikan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan kepada penyelenggara kegiatan ekstrakurikuler dan Pembina ekstrakurikuler dalam melakukan pembinaan kepada orang tua anak usia dini mengenai pentingnya partisipasi orang tua dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dan pemotivasian anak aktif latihan dalam kaitannya dengan bakat minat anak, (3) bagi jurusan, dijadikan sebagai bahan masukan dan informasi mengenai partisipasi orang tua dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler sehingga jurusan dapat menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga lain untuk mengadakan pelatihan-pelatihan kepada orang tua anak yang terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler dan hendaknya menambah referensi buku atau jurnal yang berkaitan dengan partisipasi orang tua dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, dan (4) bagi peneliti lanjutan, hendaknya melakukan penelitian yang belum terjangkau pada penelitian ini mengenai alasan dan hambatan orang tua berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model mind mapping pada siswa kelas IV SDN Mlancu III Kabupaten Kediri / Nova Primala

 

Kata Kunci: menulis narasi, model mind mapping, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SDN Mlancu III, diperoleh nilai yang sangat rendah, dari 18 siswa hanya ada 6 siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM, sedangkan 12 siswa berada di bawah KKM yang telah ditentukan oleh sekolah. Hal ini dikarenakan; 1) pada saat pembelajaran guru belum menggunakan model pembelajaran yang efektif, sehingga siswa cenderung pasif dan kurang bersemangat untuk belajar, 2) dalam kegiatan pembelajaran menulis narasi sebagian besar siswa tidak tahu apa yang hendak ditulis, siswa hanya menulis judulnya dan hasilnya siswa tidak dapat menyusun kalimat dengan baik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Mind Mapping di kelas IV SDN Mlancu III Kabupaten Kediri dan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi di kelas IV. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes dan dokumentasi yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel, dianalisis dan ditarik kesimpulan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dan tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Berdasarkan analisis data hasil penelitian setelah diterapkan model pembelajaran Mind Mapping dalam menulis narasi diketahui bahwa: Rata-rata nilai hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 61 dan siklus II meningkat menjadi 69. Secara klasikal pada pratindakan ketuntasan belajar hanya mencapai 33%. Sedangkan di siklus I mengalami kenaikan menjadi 44%. Begitu juga di siklus II ketuntasan belajar kelas mengalami kenaikan lagi sebesar 81% dengan jumlah 18 siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi. Dari data-data yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil keterampilan menulis naras siswa. Dengan demikian hendaknya hendaknya guru dapat menerapkan model pembelajaran mind mapping dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk memperbaiki hasil belajar siswa dalam menguasai materi.

Penerapan metode tanya jawab dengan menggunakan kartu huruf bergambar untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A TK Al-Hidayah Plosokerep Kota Blitar / Wiji Wulandari

 

Key Words: Question and Answers Method, Alphabet Flashcards, Language Capability, Kindergarten. This research has a background of some problems that happen on Children which a few children express their idea in the learning and teaching process especially in question-answer and telling story activities. The cause of that problem is uninterested teacher’s way for conveying some materials so it makes children do not notice and easy feel bored so have an effect that children difficult to express their idea. This research have purposes to (1) describe the application of questionanswers method using alphabet flashcards to develop the children’s group A language capability in Al-Hidayah Kindergarten of Plosokerep. (2) To describe the result of question-answers methods using alphabet flashcard to develop the children’s A group language capability in Al-Hidayah Kindergarten of Plosokerep in Blitar City. The approach which used is qualitative approach with PTK model. In each cycle consist of some stages, those are planning, conducting, observation and reflection. The subjects of this research are the teacher and the students’ of A group in Al-Hidayah Kindergarten of Plosokerep, with the total students are 25 children. This research has conducted from 25 October, 2011 until 3 November, 2011. The instruments which are used in this research are (1) the teacher activities for conducting question-answers (2) the children activities for following questionanswer activities (3) and the improvement of children’s language capability. The results of this research show that the application method using alphabet flashcards is proven can be used to develop children’s language capability especially in speaking. In pre-activities the average of children language capability is 49, 95%. In the first cycle reaches 62, 26% and in the second cycle rises 76,36%. Based on those results, it can be concluded that the application of question-answers method using alphabet flashcards can improve children’s language capability. Through this research is suggested that teacher can apply interesting and exciting methods in daily learning to reach good and maximum results.

Peningkatan kemampuan seni mozaik melalui metode demonstrasi anak kelompok B di TK Al Hidayah Ngadirejo Kecamatan Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar / Sopiyah

 

Kata Kunci: kemampuan seni mozaik ,metode demonstrasi,TK Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan anak dalam pembelajaran mozaik diduga guru kurang pandai dalam pengkondisian kelas, penjelasan guru sulit dipahami anak, jumlah anak yang mungkin juga melebihi standart, kurang tepatnya guru dalam pemilihan cara atau metode dalam pembelajaran untuk anak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kemampuan seni melalui metode demonstrasi serta Mendeskripsikan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan seni mozaik anak kelompok B di TK Al Hidayah Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di Tk Al Hidayah Ngadirejo Kec.Kepanjenkidul Kota Blitar dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model siklus . Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan seni mozaik anak melalui metode demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran di TK.Pada siklus I Kemampuan rata rata anak mencapai 68,053 % meningkat menjadi 93,05% pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan seni mozaik anak melalui metode demonstrasi Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan seni mozaik dapat ditingkatkan melalui metode demonstrasi. Disarankan agar guru dapat menerapkan langkah metode pembelajaran yang inovatif,menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Tradisi upacara melasti pada masyarakat Hindu (Studi kasus di Dusun Putuk, Desa Banaran, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri) / Prasetiyo Hadi Sarono

 

Kata Kunci : Upacara Melasti, Masyarakat Dusun Putuk Upacara melasti merupakan upacara untuk menyucikan buwana agung dan buwana alit, serta pratima-pratima Pura yang akan dipakai dalam perayaan hari raya Nyepi. Upacara melasti dilaksanakan di laut, waduk atau sumber mata air. Upacara melasti dilaksanakan pada panglong ke 13, sasih kesanga (candra). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pelaksanaan upacara melasti yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Dusun Putuk, (2) mengetahui sebab upacara melasti dilaksanakan dua kali oleh masyarakat Hindu di Dusun Putuk, (3) mengetahui makna upacara melasti terhadap kehidupan harmonisasi di Dusun Putuk. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yakni dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi dengan teknik observasi partisipatif dan teknik dokumentasi. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari wawancara dengan para informan di Dusun Putuk, hasil observasi di lapangan, serta data tertulis yang berasal dari dokumentasi Desa Banaran. Dari hasil penelitian yang telah telah dilaksanakan diperoleh kesimpulan, yakni upacara melasti sangat penting bagi masyarakat Hindu di Dusun Putuk, hal ini karena masyarakat Hindu Dusun Putuk percaya bahwa dengan melaksanakan upacara melasti maka mereka akan terhindar dari bencana. Upacara melasti oleh masyarakat Hindu di Dusun Putuk dilaksanakan di Sumber Lo dan di Waduk Siman. Penentuan pelaksanaan upacara melasti berdasarkan penghitungan panca wara dan sapta wara penghitungannya diserahkan kepada jero mangku kemudian dimusyawarahkan dengan umat untuk disepakati bersama. Unsur-unsur yang terkandung dalam pelaksanaan upacara melasti antara lain (1) bersaji, (2) berkorban, (3) berdo’a, (4) makan bersama makanan yang telah disucikan, (5) menari tarian suci, (6) menyanyi nyanyian suci, (7) berprosesi atau berpawai. Kegiatan pelaksanaan upacara melasti dibagi dalam tiga tahap, yakni tahap pra upacara, tahap pelaksanaan upacara dan tahap pasca upacara. Pelaksanaan upacara melasti yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Dusun Putuk mengandung nilai-nilai harmonisasi. Harmonisasi itu sesuai dengan ajaran dalam agama Hindu yakni tri hita karana (parahyangan, pawongan dan palemahan) yakni harmonisasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Makna upacara melasti adalah meminta keseimbangan buwana agung dan buwana alit dan didalamnya terdapat suatu pelestarian alam, oleh karena itu upacara melasti harus didukung oleh semua orang, karena manfaat upacara melasti bisa dirasakan oleh semua orang. Masyarakat Dusun Putuk sangat mendukung pelaksanaan upacara melasti, hal ini merupakan suatu bentuk toleransi antar umat beragama yang harus diteladani oleh semua orang. Karena itu perlu diadakan publikasi secara luas tentang toleransi antar umat beragama di Dusun Putuk agar dapat dijadikan panutan oleh semua orang. Selain itu juga perlu diadakan kegiatan lintas agama di Dusun Putuk untuk menjaga toleransi antar umat beragama di Dusun Putuk.

Pengembangan bahan ajar berbasis media interaktif pada mata pelajaran fisika materi relativitas khusus di SMA Negeri 2 Malang / Nur Kholis Majid

 

Kata Kunci: bahan ajar, media interaktif, fisika, relativitas khusus Teknologi Informasi di Indonesia telah mencapai perkembangan yang sangat mengagumkan sehingga guru dituntut untuk menciptakan bahan ajar yang semakin menarik, interaktif, dan komprehensif. Sebagian besar guru yang menguasai materi pelajaran tidak mampu menghadirkan bentuk pembelajaran dalam komputer. Sedangkan ahli komputer yang mampu merealisasikan segala hal dalam komputer biasanya tidak menguasai materi pelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, tentu membutuhkan suatu kerja sama yang baik, yaitu ahli komputer membuat suatu perangkat lunak yang memudahkan pengajar merealisasikan ide-idenya sesuai dengan materi pembelajaran. Fisika tergolong pelajaran yang sulit di SMAN 2 Malang karena sifatnya yang abstraksi, empiris, dan matematis. Banyak materi pelajaran fisika yang diajarkan di SMAN 2 Malang dan masih banyak juga bahan ajar fisika yang belum memanfaatkan komputer dalam penyampaian materinya. Salah satunya yaitu pada materi relativitas khusus. Melihat hal tersebut, komputer banyak berperan dalam fisika khususnya untuk materi relativitas khusus. Komputer dapat membuat konsep-konsep yang abstrak menjadi konkret dengan visualisasi statis maupun dengan visualisasi dinamis (animasi). Selain itu, komputer dapat membuat suatu konsep lebih menarik sehingga menambah motivasi untuk mempelajari dan memahaminya. Melihat kenyataan di atas, peneliti mengembangkan sebuah bahan ajar berbasis media interaktif. Bahan ajar berbasis media interaktif dikembangkan menggunakan Metode Penelitian dan Pengembangan menurut Sugiyono. Uji coba dilakukan dengan menggunakan evaluasi formatif berdasarkan Sadiman, dkk, dimana terdapat 3 tahap, yaitu uji perorangan (validasi ahli materi, ahli media, 5 orang siswa), uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan perangkat lunak bahan ajar berbasis media interaktif. Terdapat 3 fitur utama dalam perangkat lunak bahan ajar interaktif yaitu materi, latihan soal, dan evaluasi. Fitur materi berisi materi pembelajaran dan simulasi gejala fisis. Sedangkan fitur latihan soal berisi latihan soal fisika. Evaluasi berisi 10 soal yang digunakan untuk mengevaluasi siswa. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, didapat persentase hasil validasi oleh ahli media sebesar 97%, hasil validasi oleh ahli materi sebesar 98%, hasil uji coba perorangan ke siswa sebesar 95%, hasil uji coba kelompok kecil sebesar 87% dan hasil uji coba lapangan sebesar 88%. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar interaktif secara keseluruhan dinyatakan layak/valid dengan pencapaian rata-rata sebesar 93%. Bahan ajar berbasis media interaktif dapat digunakan sebagai suplemen pembelajaran dan media belajar mandiri siswa.

Hubungan antara pengalaman praktik kerja industri, sikap mandiri, dan prestasi belajar bidang produktif dengan sikap kesiapan kerja pada siswa kelas XII progran keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 6 Malang / Avo Satriyatma

 

Kata kunci: pengalaman prakerin, sikap mandiri, prestasi belajar bidang produktif, kesiapan kerja. Praktik kerja industri (prakerin) merupakan bagian kurikulum SMK yang dikelola bersama antara SMK dengan industri sebagai institusi pasangan. Dengan pelaksanaan prakerin memungkinkan siswa akan dapat lebih mengembangkan potensi diri serta dapat menambah pengalaman di dunia industri yang dapat dijadikan bekal untuk menghadapi tantangan dunia pekerjaan. Siswa yang memiliki kinerja tinggi ketika melakukan praktik di dunia usaha ataupun dunia industri, menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki kesiapan yang tinggi dalam menghadapi tuntutan dunia kerja dan begitu juga sebaliknya. Tujuan diadakannya penelitian adalah: (1) mengetahui gambaran hubungan antara pengalaman prakerin dengan kesiapan kerja, (2) mengetahui gambaran hubungan antara sikap mandiri dengan kesiapan kerja, (3) mengetahui gambaran hubungan antara prestasi belajar bidang produktif dengan kesiapan kerja, dan (4) mengetahui gambaran hubungan secara simultan antara pengalaman prakerin, sikap mandiri, dan prestasi belajar bidang produktif dengan kesiapan kerja pada siswa kelas XII program keahlian TKJ SMK Negeri 6 Malang. Penelitian ini dirancang menggunakan deskriptif korelasional yang dilakukan pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 6 Malang dengan jumlah populasi 99 siswa dan jumlah angket sebanyak 80 butir. Penelitian ini menggunakan angket dan dokumentasi sebagai alat pengumpul data. Kesimpulan penelitian diperoleh: (1) ada hubungan yang signifikan antara pengalaman prakerin dengan kesiapan kerja pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 6 Malang, (2) ada hubungan yang signifikan antara sikap mandiri dengan kesiapan kerja pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 6 Malang, (3) ada hubungan yang signifikan antara prestasi belajar bidang produktif dengan kesiapan kerja pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 6 Malang, (4) ada hubungan yang signifikan antara pengalaman prakerin, sikap mandiri, dan prestasi belajar bidang produktif dengan kesiapan kerja pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 6 Malang.

Penerapan permainan kartu bilangan untuk meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak kelompok A di TKK Santa Maria III MNalang / MM Sri Sutarti

 

Kata kunci: Anak Kelompok A, Mengenal Konsep Bilangan, Kartu Bilangan Anak kelompok A kemampuan mengenal konsep bilangan belum berkembang optimal. Hasil observasi pada kelompok A di TKK Santa Maria III Malang ditemukan kemampuan mengenal konsep bilangan belum berkembang optimal. Hal ini diketahui dari 29 anak terdapat 21 anak yang belum mampu mengenal konsep bilangan. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan permainan kartu bilangan dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan anak kelompok A di TKK Santa Maria II Malang, (2) apakah penerapan permainan kartu bilangan dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan anak kelompok A di TKK Santa Maria III Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan di rancang dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah kelompok A TKK Santa Maria III Malang sebanyak 29 anak. Instrumen penelitian menggunakan pedoman observasi dan lembar kemampuan mengenal konsep bilangan. Analisa data menggunakan deskreptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) permainan kartu bilangan mampu meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan, anak memperoleh pengetahuan baru dalam permainan kartu bilangan, (2) pada siklus I kemampuan mengenal konsep bilangan mencapai 71,4%, pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 94,7%. Peningkatan rata-rata kemampuan mengenal konsep bilangan mencapai 23,3% sehingga disimpulkan bahwa permainan kartu bilangan dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan anak kelompok A di TKK Santa Maria III Malang. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dikemukakan; (1) bagi sekolah, penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan dalam mengembangkan konsep bilangan dengan media dan metode pembelajaran sehingga mampu meningkatkan mutu pembelajaran, (2) bagu pendidik, pemerhati pendidikan, penelitian ini dapat menjadi inspirasi untuk lebih terampil menggunakan teknik permainan ini untuk membantu mengembangkan konsep bilangan (3) untuk peneliti selanjutnya agar mengembangkan kemampuan mengenal konsep bilangan dengan lebih kreatif dan inovatif.

Meningkatkan pembelajaran lari cepat menggunakan metode bermain untuk siswa kelas IV SD Negeri Kalirejo Bojonegoro / Aprilia Intan Timur

 

Pengembangan pembelajaran peraturan permainan dan perwasitan bolavoli menggunakan electronic book untuk mahasiswa PJK FIK Universitas Negeri Malang / Hudan Ulin Nuha

 

Kata kunci : Pembelajaran, peraturan permainan, perwasitan, Electronic Book. Pendidikan merupakan usaha penyiapan peserta didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. Pendidikan juga merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni bagi pembentukan manusia seutuhnya (Pedoman Pendidikan UM, 2009:22). Oleh sebab itu maka perlu adanya pemanfaatan teknologi melalui pemilihan media pembelajaran yang tepat, karena media pembelajaran yang menarik, akan merangsang minat, perhatian, pemikiran dan pemahaman seseorang terhadap informasi yang disajikan. Pembelajaran peraturan permainan dan perwasitan yang ada pada matakuliah Teori dan Praktek Bolavoli 2 di Jurusan PJK FIK UM ini juga memerlukan adanya pemilihan media yang tepat agar materi pembelajaran dan sistem penyampaiannya dapat berkembang, sehingga dapat tersampaikan seutuhnya kepada mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian awal pada tanggal 21 September 2011 melalui pengisian angket yang tersebar kepada 30 mahasiswa angkatan 2008 Jurusan PJK FIK UM yang diambil secara acak, diperoleh data 19 mahasiswa (63%) menyatakan bahwa media yang digunakan dalam perkuliahan Teori & Praktek Bolavoli 2 yang meliputi whiteboard, buku ajar cetak, orang, dan OHP (overhead projector) belum memberi kemudahan dalam memahami konsep tentang peraturan permainan dan perwasitan, 11 mahasiswa (37%) menyatakan bahwa media yang digunakan belum memberi kemudahan dalam menerapkan peraturan permainan dan mempraktekkan perwasitan dan semua mahasiswa (100%) menyatakan setuju bila dikembangkan pembelajaran peraturan permainan dan perwasitan bolavoli menggunakan Electronic Book. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran peraturan permainan dan perwasitan bolavoli menggunakan Electronic Book untuk mahasiswa PJK Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Penelitian & pengembangan ini mengacu pada model penelitian pengembangan Borg dan Gall yang terdiri dari 10 langkah dan menurut Ardhana (2002:9) “prosedur pelaksanaan penelitian pengembangan bukan merupakan langkah-langkah yang baku yang harus diikuti secara kaku, setiap pengembang tentu saja dapat memilih dan menentukan langkah-langkah yang paling tepat bagi dirinya berdasarkan kondisi khusus yang dihadapinya dalam proses pengembangan. Ia juga dapat melakukan modifikasi dari langkah-langkah tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang terbaik”. Penelitian ini hanya menggunakan 7 langkah, karena penelitian ini hanya dilakukan dalam satu tempat saja yaitu di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FIK UM dengan subjek yang digunakan berjumlah 66 mahasiswa dari 240 mahasiswa. Ketujuh langkah tersebut terdiri dari: (1) penelitian awal (analisis kebutuhan), (2) pembuatan rancangan produk, (3) mengembangkan produk awal, (4) uji coba kelompok kecil, (5) revisi produk, (6) uji coba kelompok besar, (7) poduk akhir. Data penelitian yang berupa saran atau masukan hasil evaluasi para ahli terhadap rancangan produk pembelajaran peraturan permainan dan perwasitan bolavoli menggunakan Electronic Book yang terdiri dari 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli bolavoli dan ahli media dijadikan sebagai dasar dalam melakukan revisi produk yang akan dikembangkan sebelum menjadi produk awal. Data dari uji coba kelompok kecil yang diperoleh melalui pengisian angket menunjukkan hasil rata-rata persentase sebesar 100% dengan kategori “baik”, dan data dari uji coba kelompok besar yang diperoleh melalui pengisian angket juga menunjukkan hasil rata-rata persentase sebesar 100% dengan kategori “baik”. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mahasiswa lebih tertarik untuk menggunakan Electronic Book karena materi tentang Peraturan Permainan dan Perwasitan Bolavoli berisikan teks, gambar, animasi dan video yang diiringi oleh musik, sehingga dapat menarik minat dan perhatian mahasiswa untuk belajar. Produk ini juga dapat digandakan dan dioperasikan dengan mudah, sehingga mahasiswa dapat menggunakannya ketika proses perkuliahan maupun di luar jam perkuliahan. Kedua, produk pembelajaran Peraturan Permainan dan Perwasitan Bolavoli menggunakan Electronic Book ini dapat menjadi media pembelajaran alternatif yang layak digunakan pada matakuliah Teori & Praktek Bolavoli 2 di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FIK UM untuk dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun dosen pembina matakuliah. Ketiga, penerapan dan pelaksanaan pada produk Pembelajaran Peraturan Permainan dan Perwasitan Bolavoli menggunakan Electronic Book ini perlu memperhatikan sarana yang digunakan seperti komputer/laptop, sound/audio, LCD serta peralatan elektronik lain yang mendukung jalannya pengoperasian produk sehingga dapat ditayangkan dengan baik dan jelas.

Character building in junior high school english language teksbooks a content analysis / Ida Puji Lestari

 

Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dra. Hj. Kasihani K.E.S., M.A., Ph.D., (II) Dr. Enny Irawati, M.Pd. Key words: content analysis, English textbook, character building. This study was conducted to see whether the topics in the two textbooks reflect the aspects of the character building stated in the national character and cultural education (PBKB) 2010. More specifically, the study aimed to analyze whether the reading and texts and activities in the textbooks reflect the eighteen character building values. The study is limited to analyze the reading texts and activities in the English textbooks that represent character building values as source of data. The textbooks used were entitled Bahasa Inggris for Junior High School Year Seven: International Standard School and Bahasa Inggris for Junior High School Year Eight: International Standard School. Therefore, this study focuses on topics, the reading texts and activities found in the textbook because the texts are provided in each unit. The research design of this study is descriptive-qualitative content analysis. The main instrument is the researcher because she collected data, analyzed data and drew conclusion by using a table as instrument with some indicators to identify the reading texts and activities reflected character building values. There were four steps of collecting data, i.e. 1) writing down the topics, reading texts and activities of the units in the textbooks for grade seven and eight used by SMPN 1 Malang; (2) selecting the topics, reading texts and activities in the textbooks used in SMPN 1 Malang; (3) analyzing the topics, reading texts and activities in the textbooks by using the instruments that consist of some indicators; (4) drawing conclusion based on the result of the findings and discussion. This study yielded three findings. First, each unit in the textbooks, actually, has already reflects character building values implicitly. Second, it is found that not all units in the two textbooks provide reading texts so that the writer must modify, rearrange the existed texts to reflect character building values. Besides, the researchers also modified and inserted the character building values in the existed reading text found in some of units in the two English textbooks for international standardized junior high school, SMPN 1 Malang. Third, the two English textbooks do not cover all of the eighteen values of character building values that reflected from the topics of unit and reading texts, the reading texts and activities in each unit of the two textbooks. The first textbook for the seventh grade of junior high school students cover twelve values from the eighteen values of character building. Meanwhile, the second textbook for the eighth grade of junior high school students covers eight values from the eighteen values of character building. Consequently, the two textbooks published by National Education Department need to be revised.

Pembelajaran tematik di kelas II SDN percobaan 2 Malang / Dwi Erna Fitrianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran tematik. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa pembelajaran pada kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Menurut Depdiknas (2006:5) “pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran yang termasuk salah satu tipe/jenis model pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa”.Namun dalam pelaksanaan pembelajaran tematik tidak dapat dilaksanakan secara murni. Pada observasi awal pada pelaksanaan pembelajaran tematik menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik masih menunjukkan batasn per mata peljaran.Guru mengalami kesulitan ketika melaksanakan pembelajaran yang menggabungkan beberapa matapelajaran. Kesulitan ini meliputi penggunaaan media, materi yang yang sesuai tema, alokasi waktu dan sistem penilaiannya. Siswa juga terlihat bingung ketika pelaksanaan pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang berkarakter studi kasus. Data penelitian ini berupa paparan tentang pembelajaran tematik yang dilaksaanakan di SDN Percobaan 2 malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, angket dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pembahasan dengan teman sejawat. Kagiatan analisis meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 2 kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pelaksanaan pembelajaran tematik belum dilaksanakan secara maksimal, karena a) pengalaman pembelajaran yang diterpkan guru berorientasi ke mata pelajaran sehingga susah untuk mengubah ke pola pikir tematik, b) setting/latar aturan lembaga yang nampak masih memisah-misah mata pelajaran baik dari jadwal, media, buku maupun gurunya, c) pemahaman guru tentang pembelajaran tematik belum maksimal, d) pemahaman guru tentang sistem penilaian pembelajaran tematik belum maksimal, e) bentuk semua penilaian baik UTS, UAS dan raport yang masih per mata pelajaran. Kedua, dampak pembelajaran tematik terhadap belajar dan hasil belajar siswa kelas II di SDN Percobaan 2 Malang. 1) Pembelajaran di kelas ada siswa yang lebih senang dan aktif dengan pembelajaran tematik tetapi ada juga yang lebih senang dengan pembelajaran biasa per mata pelajaran, karena kalau pembelajaran tematik ada yang bingung. 2) Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pembelajaran tematik tidak memberikan pengaruh yang besar dalam hasil belajar siswa, karena pelaksanaan pembelajaran tematik ini tidak murni dilaksanakan secara penuh. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disarankan hendaknya sekolah mengadakan workshop tentangpembelajaran tematik di awal semester sebelum melaksanakan pembelajaran, agar pembelajaran tematik yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik. Kemudian diadakan perbaikan sistem pembelajaran baik dari jadwal, media dan sumber buku dibuat secara tematik bukan per mata pelajaran. Untuk media dan sumber seharusnya ada dukungan yang penuh dari sekolah dengan menyediakan media dan sumber yang bervariasi untuk pengembangan pembelajaran tematik ini. Dalam pelaksanaan guru seharusnya mempersiapkan dengan baik dari segi RPP, media, sumber, materi dan penilaian agar pembelajaran tematik dapat berjalan dengan baik.

Identifikasi pengelolaan perpustakaan sekolah tingkat SD di gugus III Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Hariati

 

Kata Kunci : sumber belajar, keberhasilan belajar, tenaga pengelola,perencanaan, pengelolaan, perpustakaan Keberhasilan belajar siswa tidak hanya ditentukan dengan beragamnya penerapan model dan metode pembelajaran yang diajarkan. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya keberhasilan belajar siswa di sekolah adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta pemanfaatan dan pengelolaan yang optimal. Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah wajib memiliki perpustakaan. Dalam pengelolaannya, perpustakaan harus dikelola dengan tenaga pengelola yang sesuai dan berkompeten di bidangnya. Namun dalam kenyataannya, perpustakaan di sekolah terutama sekolah dasar, dikelola oleh tenaga pengajar. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi perencanaan perpustakaan sekolah di SD gugus III kecamatan Lowokwaru kota Malang khususnya di SDN Tlogomas 1 Malang, SDN Tlogomas 2 Malang, dan SDN Dinoyo 3 Malang melalui obervasi, dokumentasi, dan angket yang ditujukan kepada kepala sekolah dan petugas perpustakaan. Mengidentifikasi pengelolaan perpustakaan sekolah yang dilakukan di SD gugus III kecamatan Lowokwaru kota Malang khususnya di SDN Tlogomas 1 Malang, SDN Tlogomas 2 Malang, dan SDN Dinoyo 3 Malang melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara kepada petugas pengelola perpustakaan. Mengidentifikasi masalah-masalah yang dialami oleh perpustakaan serta solusi yang digunakan oleh petugas pengelola perpustakaan dalam menyelesaikan permasalahan yang terdapat di SD Gugus III kecamatan Lowokwaru kota Malang khususnya di SDN Tlogomas 1 Malang, SDN Tlogomas 2 Malang, dan SDN Dinoyo 3 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis dan rancangan penelitian kualiatif deskriptif dimana peneliti hanya menjabarkan dan menjelaskan pengelolaan perpustakaan yang terdapat di SD gugus III kecamatan Lowokwaru kota Malang. Untuk lokasi penelitian, peneliti memilih 3 sekolah dasar yang berada di gugus III kecamatan Lowokwaru kota Malang yaitu SDN Tlogomas 1 Malang, SDN Tlogomas 2 Malang, dan SDN Dinoyo 3 Malang. Sumber data primer berasal dari kepala sekolah dan petugas perpustakaan yang berada di SDN Tlogomas 1 Malang, SDN Tlogomas 2 Malang, dan SDN Dinoyo 3 Malang. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari dokumen-dokumen yang berkaitan yang berasal dari pihak sekolah maupun yang lainnya. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan latar belakang pendidikan yang mengelola di perpustakaan SDN Tlogomas 1 Malang, SDN Tlgomas 2 Malang, dan SDN Dinoyo 3 Malang. Perbedaan juga ditemukan kembali pada saat proses labelling. Kemudian dalam pelayanan peminjaman di perpustakaan SDN Tlogomas 1 Malang, kartu anggota perpustakaan milik siswa yang menjadi prasyarat untuk meminjam buku, disimpan dan ditata oleh petugas pengelola perpustakaan untuk menghindari kerusakan pada kartu anggota. Sementara di perpustakaan SDN Tlogomas 2 Malang, peminjaman dilakukan dengan cara menunjukkan kartu anggota tanpa perlu ditulis di kartu peminjaman. Berbeda lagi dengan perpustakaan SDN Dinoyo 3, terdapat dua jenis peminjaman yaitu peminjaman terbuka dan tertutup. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan berbedanya latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh pengelola perpustakaan, terdapat perbedaan dan persamaan pula dalam merencanakan dan mengelola perpustakaan di masing-masing sekolah di SD Gugus III kecamatan Lowokwaru kota Malang. Masalah paling dominan yang dialami pengelola perpustakaan yaitu masih minimnya tenaga pengelola perpustakaan yang ditempatkan di perpustakaan sehingga pengelolaan yang dilakukan masih mengalami hambatan dan belum maksimal. Oleh karena itu solusi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan ini dalam mengelola perpustakaan, pengelola perpustakaan dibantu oleh guru pengajar yang memiliki waktu luang.

Penerapan model pembelajaran STAD dengan peta konsep dan penilaian autentik untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Tumpang / Cindy Ira Amalia

 

Kata Kunci : STAD, peta konsep, penilaian autentik, motivasi, prestasi belajar. Penerapan strategi pembelajaran baru akan menciptakan suasana yang mampu menumbuhkan kebermaknaan siswa untuk mempelajari fisika, sehingga siswa akan banyak terlibat dalam penyusunan konstruksi-konstruksi pemikiran, yang akan mempengaruhi motivasi dan prestasi belajar siswa menjadi lebih meningkat. Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang cocok untuk penyusunan kontruksi pemikiran. Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran STAD dengan peta konsep dan penilaian autentik dengan baik sehingga meningkatkan prestasi dan motivasi belajar siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Tumpang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu dengan menggunakan tindakan berupa penerapan model pembelajaran STAD dengan peta konsep dan penilaian autentik. Model PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari 4 tahap yaitu planning (perencanaan), acting and obseving (tindakan dan pengamatan), reflecting (refleksi) dan revise plan (rencana perbaikan). Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif datanya diperoleh dari hasil observasi (dengan instrumen lembar observasi motivasi). Sedangkan analisis deskriptif kuantitatif datanya diperoleh dari hasil observasi motivasi peserta didik yang diangkakan, portofolio dan hasil tes kognitif tiap akhir siklus. Materi dalam penerapan model pembelajaran STAD ini yaitu teori kinetik gas. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2. Penelitian ini berakhir pada siklus kedua dan setiap siklus terdiri dari 4 pertemuan. Berdasarkan hasil analisis data, untuk keterlaksanaan model pada siklus 1 mendapatkan skor sebesar 80,6 sedangkan siklus 2 mendapatkan skor sebesar 88,6. Walaupun persentase skor rata-rata observasi motivasi siklus 1 hanya menunjukkan 28,95 %, namun untuk siklus 2, persentase skor rata-rata observasi motivasi yang diperoleh adalah 85,53 % siswa telah memperoleh nilai di atas KKM. Kemudian untuk hasil analisis data prestasi belajar menunjukkan bahwa sebelum diberi tindakan hanya 71,05 % dari siswa yang memenuhi KKM, namun setelah diberi tindakan pada siklus I menunjukkan bahwa persentasi nilai prestasi belajar yang di atas KKM sebesar 84,2%. Kemudian hasil ujian siklus 2 menunjukkan bahwa persentasi nilai prestasi belajar yang di atas KKM sebesar 90%. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran STAD dengan peta konsep dan penilaian autentik dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa XI IPA 2 SMA Negeri 1 Tumpang.

Implementasi strategi pembelajaran JIGSAW untuk meningkatan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V SD di SDN 02 Bulu Lor Jambon Jombang / Hendri Eka Fitriana

 

Kata kunci : Jigsaw, Hasil Belajar. Berdasarkan observasi diketahui bahwa pembelajaran IPS kelas V SDN 02 Bulu Lor Jambon Ponorogo masih berpusat pada guru yaitu dengan menggunakan metode ceramah. Hal ini juga dapat dilihat dari siswa yang kurang menguasai pengertian konsep dalam pembelajaran. Selain itu, guru belum pernah menggunakan strategi pembelajaran lain dalam proses belajar mengajar untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi strategi pembelajaran Jigsaw, dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya strategi pembelajaran Jigsaw. Strategi pembelajaran Jigsaw adalah pembelajaran yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Langkah-langkah Jigsaw yang digunakan adalah : (1) Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang), (2) Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab, (3) Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab mempelajarinya, (4) Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya, (5) Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya, (6) Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam dua siklus. Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 02 Bulu lor Jambon Ponorogo. Pada siklus I diperoleh rata-rata 43,60 dan pada siklus II diperoleh rata-rata 74,22. Siswa yang mendapat nilai mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) meningkat, pada siklus I yang mencapai ketuntasan sebesar 12,5% sedangkan pada siklus II yang mencapai ketuntasan sebesar 78,12%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan demikian disarankan agar guru menerapkan strategi pembelajaran Jigsaw pada pembelajaran IPS khususnya atau pada mata pelajaran lain yang sesuai dengan strategi pembelajaran Jigsaw. Karena strategi pembelajaran Jigsaw sangat tepat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengetahuan lokal masyarakat suku Dayak Ngaju dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan kajian untuk pengintegrasian etnobotani pada kurikulum sekolah dasar di wilayah pedalaman Kalimantan / Siti Sunariyati

 

Kata kunci: pengetahuan lokal, etnobotani, suku Dayak Ngaju, wilayah pedalaman. Pengetahuan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman yang telah diuji penggunaannya selama berabad-abad, telah diadaptasikan dengan budaya dan lingkungan setempat (lokal) serta bersifat dinamis. Pengetahuan lokal masyarakat suku Dayak Ngaju di wilayah Kapuas Tengah Kalimantan Tengah ada yang meyakini jenis tumbuhan tertentu sebagai penanda tempat terdapatnya emas. Pengalaman penambang emas merupakan salah satu contoh pengetahuan lokal yang perlu dikaji secara ilmiah melalui etnobotani. Tujuan penelitian ini adalah (1) mempelajari pengetahuan etnobotani masyarakat suku Dayak Ngaju di wilayah penambangan emas Kapuas Tengah, (2) menginventarisasi dan mengidentifikasi beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai indikator terdapatnya emas, dan (3) mengimplementasikan hasil penelitian untuk pembelajaran etnobotani. Kegiatan penelitian ini terdiri dari tiga tahap: Tahap I adalah penelitian etnobotani dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Untuk menggali pengetahuan lokal digunakan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam (indepth interview). Tahap II adalah identifikasi jenis-jenis tumbuhan di wilayah penambangan emas yang diyakini penduduk setempat sebagai indikator keberadaan emas. Tahap III merupakan tahap implementasi hasil penelitian, setelah dilakukan analisis kebutuhan (SD di wilayah pedalaman), selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk pembelajaran etnobotani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat suku Dayak Ngaju di wilayah Kapuas Tengah memiliki pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tumbuhan untuk keperluan pangan, industri, obat-obatan dan di bidang pertambangan. Hal ini perlu didokumentasikan dan diajarkan pada generasi penerus agar tidak hilang. Salah satu cara penyampaian pengetahuan lokal masyarakat dapat ditempuh melalui jalur pendidikan formal dengan cara mengintegrasikan materi etnobotani ke dalam kurikulum dan buku ajar. Mengingat pentingnya materi etnobotani untuk dibelajarkan pada siswa, maka disarankan untuk sekolah dasar yang ada di wilayah pedalaman yang karakteristik wilayahnya berada di lingkungan hutan dapat diberikan pembelajaran etnobotani yang disesuaikan dengan wilayah setempat.

Penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair Share sebagai upaya peningkatan aktivitas belajar siswa kelas IVA pada mata pelajaran IPS di SDN tanjungrejo 5 Malang / Arista Trisnawati

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share, Keaktifan siswa, hasil belajar. Pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS), dimana model pembelajaran ini merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berfikir, merespon, serta saling membantu satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Think pair Share (TPS). Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari tes hasil belajar siswa, hasil observasi/pengamatan dan dilengkapi catatan lapangan, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV A SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang dengan jumlah siswa 34 orang. Pada materi kenampakan alam, sosial, dan budaya setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 53,2% dan ketuntasan klasikal 44,1% menjadi sebesar 70,8% dan pada siklus II ketuntasan klasikal 85,2% sedangkan rata-rata keaktifan siswa pada siklus I pertemuan 1 dan 2 sebesar 56,7% dan 65,8%, pada siklus II pertemuan 1 dan 2 sebesar 74,6% dan 83,4%. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa menerapkan model pembelajaran kooperatif TPS dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. Saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: (1) bagi guru disarankan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif TPS sebagai salah satu model pembelajaran alternatif agar dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan belajar siswa, yaitu dengan mengubah langkah-langkah pembelajaran dalam RPP sesuai sintaks TPS, (2) bagi sekolah disarankan untuk menerapkan model kooperatif TPS dalam meningkatkan kualitas/mutu pembelajaran di sekolah, pengetahuan TPS dapat diperoleh melalui seminar dan pelatihan-pelatihan tentang pembelajaran TPS, (3) bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengkaji model kooperatif TPS dengan variabel yang berbeda, seperti motivasi belajar, (4) bagi siswa, siswa dapat menggunakan model TPS pada mata pelajaran yang lain, misalnya IPA. Sehingga diharapkan hasil belajar serta aktivitas siswa dapat meningkat pada semua mata pelajaran yang ada di sekolah.

Penerapan metode Part-Whole untuk meningkatkan keterampilan Footwork bulutangkis kelompok anak-anak di Persatuan Bulutangkis BAT Kota Malang / Ricky Wahyu Sejati

 

Kata kunci: Teknik Footwork, Latihan Footwork, Metode Part Whole. Footwork merupakan dasar untuk bisa menghasilkan pukulan yang berkualitas, yaitu apabila dilakukan dalam posisi baik. Teknik dasar dan pemahaman tentang footwork sangat penting dalam jalannya permainan bulutangkis. Berdasarkan hasil awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan teknik dasar footwork kelompok umur anak-anak PB BAT Kota Malang, ternyata kurang begitu menguasai teknik dasar ini. Tujuan peneliti ingin meningkatkan kemampuan Footwork dengan pola-pola latihan ditambah dengan penerapan metode part whole dengan harapan atlet dapat mempunyai teknik Footwork yang bagus. Sehingga dapat memperbesar peluang untuk menghasilkan kemenangan dalam setiap pertandingan. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Olahraga (PTO) yang dilandasi penelitian tindakan kelas yaitu dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan olahraga ini dilakukan melalui dua siklus dimana setiap siklusnya terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan tindakan, (2) Melakukan tindakan, (3) Pengamatan atau observasi, (4) Refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah atlet PB BAT Kota Malang yang berjumlah 21 atlet. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pengamatan atau observasi, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian ini terbukti mampu meningkatkan teknik Footwork para atlet dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan atlet dalam teknik footwork setelah diberikan tindakan dari siklus 1 dan siklus 2 hasilnya, dari 21 atlet ada 20 atlet atau 95,23 % dapat melakukan posisi siap lutut ditekuk dan raket mengadah kedepan atas dengan benar, 19 atlet atau 90.47 % dapat melakukan gerakan kaki menyilang dalam melangkah keberbagai posisi dengan benar, 18 atlet atau 85,71 % bisa melakukan perputaran badan pada saat setelah melangkah keberbagai tempat dengan baik, 20 atlet atau 95,23 % bisa melakukan tumpuan kaki depan dengan kaki kanan, 20 atlet atau 95,23 % bisa kaki melangkah rapat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa dengan pemberian metode part whole dapat meningkatkan ketrampilan footwork kelompok anak-anak di Persatuan Bulutangkis Kota malang. Saran dalam penelitian ini adalah agar pelatih dalam membuat program latihan lebih teliti lagi, pelatih harus cermat mengetahui kemampuan dasar tiap atletnya dan dibutuhkan sebuah metode untuk dapat menghasilkan keterampilan yang memuaskan, mengingat Persatuan Bulutangkis BAT termasuk klub hebat dan berprestasi se-Malang Raya .

Kualitas mikrobiologi serbuk kunyit (curcuma longa linn.) sebagai bumbu masak di tiga pasar di Kota Malang berdasarkan angka lempeng total koloni kapang serta identifikasi spesies-spesies kapang kontaminan / Lisdyawati Harun A.T.

 

Kata kunci : Kualitas mikrobiologi, Angka Lempeng Total, serbuk kunyit, kapang kontaminan Serbuk kunyit merupakan bumbu masak dalam bentuk serbuk yang terbuat dari rimpang kunyit. Unsur gizi yang terkandung di dalam serbuk kunyit berupa amilum, protein, lemak, kalsium, fosfor, ferum dan vitamin C. Serbuk kunyit dapat terkontaminasi oleh berbagai spesies kapang kontaminan, sehingga dapat me-nurunkan kualitasnya dan membahayakan kesehatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui Angka Lempeng Total koloni kapang kotaminan pada serbuk kunyit, 2) mengetahui kualitas mikrobiologi serbuk kunyit berdasar-kan Angka Lempeng Total koloni kapang, 3) mengetahui jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan yang terdapat dalam serbuk kunyit, 4) mengetahui spesies kapang kontaminan yang paling dominan yang terdapat pada serbuk kunyit. Serbuk kunyit yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari tiga pasar di Kota Malang, yaitu Pasar Dinoyo, Pasar Blimbing dan Pasar Besar. Jenis penelitian ialah penelitian deskriptif observasional. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret sampai dengan Mei 2011. Objek dalam penelitian ini ialah serbuk kunyit dari tiga pasar di Kota Malang yaitu Pasar Dinoyo, Pasar Blimbing dan Pasar Besar, dengan jumlah sampel 10 gram. Sampel serbuk kunyit sebanyak 10 gram dilarut-kan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1. Suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1% secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6. Perlakuan sampel serbuk kunyit dilakukan sebanyak 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 25oC selama 5 24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan ALT koloni kapang, penentuan kualitas mikrobiologi, penghitungan jumlah koloni tiap spesies kapang, isolasi, deskripsi ciri-ciri makroskopis dan mikroskopis koloni kapang, identifikasi terhadap tiap-tiap spesies kapang kontaminan serta penentuan spesies kapang kontaminan dominan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Angka Lempeng Total koloni kapang kontaminan pada serbuk kunyit ialah 5,8 x 106 cfu/g, 2) Kualitas mikro-biologi sampel serbuk kunyit pada penelitian ini tidak layak dan tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi, 3) Jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan pada serbuk kunyit berkisar antara 2,2 x 102-5,8 x 106cfu/g, 4) Spesies kapang konta- minan yang paling dominan pada serbuk kunyit ialah Aspergillus niger Van. Tieghem dengan jumlah koloni dari spesies kapang tersebut ialah 5,8 x 106 cfu/g.

Peranan lembaga Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) dalam menanamkan pendidikan moral bagi anak jalanan di Kota Malang / Cahyaning Rosita Setiowati

 

Kata Kunci: Pendidikan Moral, Anak Jalanan, Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur kota Malang Perilaku moral anak jalanan memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan kenakalan anak atau remaja yang lain. Penanganan terhadap perilaku mereka perlu pembinaan oleh pihak-pihak yang dilakukan secara mendasar. Pendidikan moral menjadi hal yang penting untuk diajarkan guna membentuk kebiasaan dan tingkah laku yang sesuai dengan norma, tata aturan yang berlaku di dalam masyarakat. Pendidikan moral dilaksanakan di Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) kota Malang untuk dapat membentuk kepribadian anak jalanan yang baik dan terhindar dari sikap kurang terpuji serta lebih menekankan pada pembentukan sikap dan perilaku untuk dapat membaur dengan aturan yang telah ada. Dengan begitu diharapkan saat anak jalanan berada di luar JKJT, mereka dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitar serta mudah untuk mengikuti kaidah-kaidah yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur dalam menanamkan Pendidikan Moral bagi anak jalanan di kota Malang, yang mencakup kondisi perilaku moral anak jalanan di kota Malang, rancangan program Pendidikan Moral di Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur kota Malang, pelaksanaan Pendidikan Moral yang dilakukan oleh JKJT kota Malang, kendala dalam pelaksanaan Pendidikan Moral dan cara mengatasi kendala dalam pelaksanaan Pendidikan Moral di JKJT kota Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh dari hasil dokumentasi dan wawancara dengan pengurus JKJT, sukarelawan di JKJT dan anak jalanan yang berada di JKJT. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian di lapangan dapat dilaporkan sebagai berikut. Pertama, kondisi perilaku moral anak jalanan cenderung bebas. Anak jalanan banyak terlibat dengan minuman beralkhohol, rokok, obat-obatan berbahaya, tawuran, dipukuli, dipalak dan seringkali mengalami kekerasan fisik maupun kekerasan seksual dari oknum tertentu. Kedua, rancangan program Pendidikan Moral di JKJT disusun oleh ketua umum dibantu dengan ketua harian, ketua pembinaan, ketua pengembangan bakat dan ketua pendidikan. Program pendidikan moral dirancang dengan bentuk pembiasaan dalam sistem home schooling serta mencakup beberapa substansi yaitu pemahaman mengenai bahayanya minuman beralkhol, obat terlarang, rokok, peningkatan keimanan dan ketaqwaan, memberikan pemahaman mengenai bahayanya seks bebas dalam pergaulan, pembiasaan perilaku kejujuran, penerapan sikap tolong-menolong, pembiasaan sikap tidak egois dan keterbukaan, peningkatan rasa saling menghargai dan pentingnya kebersamaan serta peningkatan kedisiplinan. Ketiga, mengenai pelaksanaan Pendidikan Moral di JKJT dilaksanakan melalui bentuk pembiasaan dengan ragam seperti diajarkan dan dibiasakan untuk sholat dan mengaji, diajarkan saling menghargai, saling melindungi, tolong menolong, tidak bersikap egois, jangan suka berbohong, dijelaskan akan bahayanya memakai obat-obatan terlarang, meminum minuman keras, serta selalu memberikan motivasi kepada setiap anak jalanan. Keempat, kendala dalam pelaksanaan Pendidikan Moral antara lain: (1) Adanya keterbatasan dan ketidaktahuan mereka tentang latar belakang anak jalanan, (2) adanya perlawanan anak jalanan terhadap pembiasaan yang diberikan pengurus JKJT, (3) pendidik atau pengajar yang bersifat tidak tetap, (4) ketidaksesuaian jadwal kegiatan dengan proses pembelajaran. Kelima, cara yang dilakukan dalam mengatasi kendala pelaksanaan Pendidikan Moral diantaranya adalah mencari informasi dari lingkungan yang selama ini ditempati oleh anak jalanan yang bersangkutan, melakukan pendekatan yang lebih mendalam pada sifat anak jalanan yang kurang dapat beradaptasi dengan aturan yang diberikan oleh JKJT, memberikan motivasi kepada anak jalanan agar mau belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, mengupayakan adanya tenaga pengajar yang bersifat tetap, lebih disesuaikannya jadwal kegiatan harian yang telah ada dengan prakteknya, diperjelas kembali mengenai aturan atau tata tertib yang ada di JKJT dengan membuat aturan secara tertulis. Saran dalam penelitian ini antara lain menyediakan tenaga pengajar tetap di JKJT, pihak JKJT memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai anak jalanan yang diberikan pembinaan, JKJT juga meningkatkan kegiatan pembinaan pada anak jalanan secara menyeluruh bukan hanya terpusat pada anak jalanan yang tinggal di sekretariat JKJT, JKJT memberikan pemahaman dan pembiasaan dengan berbagai inovasi pada praktek kegiatannya, serta JKJT membuat aturan atau tata tertib secara tertulis.

Perbedaan hasil belajar PKn dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dan non kontekstual pada kelas V SDN gugus 05 Kecamatan Klojen Kota Malang / Rosita Dian Mayasari

 

Kata Kunci: hasil belajar PKn, pembelajaran kontekstual, pembelajaran non kontekstual Salah satu strategi yang dapat membantu guru yaitu pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada pengalaman belajar siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar (konteks) sehingga siswa akan diajak membuat keterkaitan antara gagasan dan tindakan yang memiliki makna. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diketahui bahwa guru masih menggunakan strategi pembelajaran yang monoton. Hal ini pun diakui oleh sebagian besar siswa, bahwa cara mengajar guru yang membosankan. Siswa pun menganggap materi PKn sulit untuk difahami, dan hasil belajar PKn siswa masih dibawah KKM. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menawarkan kembali pembelajaran kontekstual. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan perbedaan hasil belajar PKn dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dan non kontekstual pada kelas V di SDN Gugus 05 Kecamatan Klojen Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan yakni eksperimen semu (Quasi Experimental Design), dengan bentuk pretes-postes grup kontrol. Populasi dalam penelitian ini yaitu kelas V SDN Gugus 05 Kecamatan Klojen, Malang. Sampel penelitian ini yakni kelas V SDN Bareng 02 dan SDN Bareng 03. Instrumen penelitian menggunakan tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda, yang sebelumnya telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran soal dan daya beda soal. Kemudian data dianalisis melalui uji normalitas dan homogenitas sebagai uji prasyarat sebelum dilakukannya uji t. Berdasarkan analisis data, didapatkan hasil t_hitung sebesar 2,016 dengan harga t_tabel lebih kecil yakni 1,960 pada df 143. Taraf signifikansi yang digunakan yaitu 5% (0,05) dan harga t_hitung lebih besar dari t_tabel (t_hitung>t_tabel ) maka H_0 ditolak dan H_1 diterima. Rata-rata kemampuan akhir dari kelas eksperimen yaitu sebesar 74,67, lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kemampuan akhir kelas kontrol yaitu 70,81 Disimpulkan, ada perbedaan hasil belajar PKn yang menerapkan pembelajaran kontekstual dan non kontekstual. Perbedaan yang ada yakni hasil belajar PKn siswa yang menerapkan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang tidak menerapkan pembelajaran kontekstual (non kontekstual). Saran bagi guru kelas V yakni untuk mencoba menerapkan pembelajaran kontekstual, bagi kepala sekolah yakni untuk memberikan pembinaan bagi guru, dan peneliti lain sebagai bahan kajian dalam melakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan penerapan pembelajaran kontekstual.

Peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan strategi sinektik (model Gordon plus) pada siswa kelas XI IS 2 SMA Negeri 8 Malang / Selvi Miawati

 

Kata Kunci: Menulis, Naskah Drama, Perilaku Manusia, Strategi Sinektik (Model Gordon Plus) Pembelajaran menulis naskah drama dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 kelas XI SMA semester 2 mencakup dua Kompetensi Dasar pada aspek menulis. Salah satu Kompetensi Dasar tersebut adalah mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama. Hal yang perlu diperhatikan dalam kompetensi dasar menulis naskah drama ini bertujuan untuk menunjang pembentukan pribadi peserta didik di samping untuk meningkatkan kreativitas peserta didik dalam keterampilan berbahasa. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan proses maupun hasil pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama adalah strategi sinektik (Model Gordon Plus) Strategi sinektik dipilih karena dalam strategi ini terdapat kesesuaian langkah untuk merangsang peserta didik memaksimalkan kreativitas dalam berproses kreatif. Kesesuaian langkah yang dimaksud yaitu membuat sesuatu yang baru berdasarkan contoh yang sudah ada. Sesuatu yang sudah ada tersebut dapat berupa naskah drama, naskah yang dipentaskan, bahkan cerita kehidupan sehari-hari yang ingin dijadikan naskah drama sesuai sudut pandang peserta didik. Peserta didik dapat mengaplikasikan teori yang telah disampaikan guru. Selain untuk menguji kreativitas mereka, peserta didik dihadapkan pada beberapa permasalahan keadaan lingkungan disertai dengan alternatif pemecahannya. Dari alternatif tersebut peserta didik dapat memberikan alternatif lain mempermudah dalam memecahkan masalah karena merupakan replika kehidupan nyata. Secara umum, penelitian yang dirancang dengan berbasis PTK ini berupaya menjawab masalah tentang proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan strategi sinektik pada siswa kelas XI IS 2 SMA Negeri 8 Malang. Berdasarkan analisis data ditemukan bahwa strategi sinektik dapat meningkatkan proses dan hasil menulis naskah drama pada siswa kelas XI IS 2 SMA Negeri 8 Malang. Proses peningkatan kemamapuan menulis naskah drama dengan strategi sinektik dilakukan melalui tiga aspek. Pertama, aspek mengidentifikasi struktur naskah drama berdasarkan tayangan video dengan kegiatan (1) membangkitkan motivasi dan perhatian, (2) menyampaikan tujuan dan materi, (3) mengarahkan perhatian pada materi yang relevan, (4) mengamati tayangan video, (5) melakukan analogi langsung. Kedua, aspek menyusun struktur naskah drama dengan membuat analogi berdasarkan struktur naskah drama yang terdapat dalam video dengan kegiatan (1) membangkitkan motivasi, (2) memberikan materi, (3) mengembangkan struktur naskah drama sesuai sudut pandang siswa. Ketiga, menulis naskah drama berdasarkan struktur naskah drama dengan kegiatan (1) membangkitkan motivasi, (2) memberikan materi, (3) menulis naskah drama, (4) memberikan kritik mambangun. Peningkatan hasil kemampuan menulis naskah drama dengan strategi sinektik pada studi pendahuluan (kondisi awal) sebesar 16,22% meningkat pada siklus I yaitu 40,45% dan pada siklus II meningkat menjadi 91,89%. Peningkatan kemampuan siswa pada siklus I meningkat setelah diberikan tindakan melalui tiga aspek, yaitu aspek mengidentifikasi struktur naskah drama, menyusun garis besar berdasarkan struktur naskah drama, dan menulis naskah drama berdasarkan garis besar cerita dengan memperhatikan struktur naskah drama pada siklus I dan siklus II. Penggunaan ketiga aspek tersebut efektif sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama dengan strategi sinektik pada siswa kelas XI IS 2 SMA Negeri 8 Malang. Peningkatan dari kondisi awal ke siklus I sebesar 24,32% dan peningkatan siklus I ke siklus II sebesar 51,35%. Berdasarkan hasil belajar siswa, dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi sinektik terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis naskah drama pada siswa kelas XI IS 2 SMA Negeri 8 Malang. Untuk lebih meningkatkan kemampuan tersebut, diharapkan agar guru Bahasa Indonesia menciptakan sebuah skenario pembelajaran yang menyenangkan akan tetapi tetap menuntut keaktifan, kekreatifan, dan kekritisan siswa untuk menuangkan ide-ide kreatif. Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis diharapkan agar memperhatikan penggunaan waktu selama pembelajaran berlangsung

Minat belajar siswa kelas VII unggulan pada mata pelajaran IPS terpadu bidang sejarah di MTsN Tambakberas Jombang tahun ajaran 2011/2012 / Ana Zulfatur Rosyidah

 

Kata Kunci: minat belajar, kelas unggulan, mata pelajaran IPS Terpadu bidang sejarah. Berdasarkan observasi awal yang telah peneliti lakukan di MTsN Tambakberas Jombang diketahui di kelas Unggulan memiliki fasilitas belajar yang lebih lengkap daripada kelas regular serta input siswa yang berkompeten, selain itu terdapat program education trip yang dilakukan setiap semester, tetapi dari hasil belajar sejarahnya terdapat siswa yang nilainya dibawah SKM (70) yakni 60 meskipun sudah dilakukan remidi. Pada saat proses pembelajaran di kelas juga terlihat beberapa siswa yang mengantuk dan tidak memperhatikan. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa minat belajar siswa di kelas Unggulan pada mata pelajaran sejarah masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui minat belajar sejarah siswa kelas VII Unggulan MTsN Tambakberas Jombang, (2) mengetahui faktor internal dan eksternal apa saja yang berpengaruh pada minat belajar sejarah siswa kelas VII Unggulan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII Unggulan MTsN Tambakberas Jombang Tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 154 siswa dan terbagi dalam 5 kelas (VII-A, VII-H, VII-I, VII-J, VII-K), sedangkan dalam menentukan sampel peneliti menggunakan teknik cluster random sampling, dengan ketentuan 60% dari jumlah populasi, maka terpilihlah kelas VII-H, VII-I dan VII-K sebagai sampel dengan jumlah 91 siswa. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner/angket yang disebarkan pada siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) minat belajar sejarah siswa pada (a) unsur perhatian dalam proses pembelajaran sejarah terkategori cukup tinggi (76,4%), (b) unsur kemauan terkategori cukup tinggi (75,72%), (c) unsur kebutuhan terkategori cukup tinggi (80,27%), dan (d) perasaan senang terkategori cukup tinggi (74,31%). Sedangkan (2) faktor internalnya berpengaruh baik pada minat belajar sejarah (67,5 %), faktor eksternal dari lingkungan keluarga berpengaruh kurang baik (60,5%), lingkungan masyarakat berpengaruh baik (80,4%), dan lingkungan sekolah juga berpengaruh baik terhadap minat belajar sejarah (75,86%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa minat belajar sejarah siswa kelas VII Unggulan MTsN Tambakberas Jombang terkategori baik begitu juga faktor internal dan eksternalnya secara umum berpengaruh baik hanya saja lingkungan keluarga yang berpengaruh kurang baik. Karena itu penting bagi orang tua/pengasuh pondok untuk lebih berperan dalam meningkatkan minat belajar sejarah siswa. Bagi penelitian yang akan datang disarankan mengadakan penelitian korelasi yang menghubungkan antara minat belajar dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Strategi pembelajaran tari beskalan pada siswa kelas X-5, semester genap tahun pelajaran 2011/2012 di SMA Negeri 1 Malang / Abd. Rahem

 

Kata Kunci : Strategi, Pembelajaran Tari Beskalan, SMA. Tari Beskalan merupakan salah satu tari tradisional daerah setempat yang menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa kelas X, pada semester genap di SMA Negeri 1 Malang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1). Bagaimana Strategi pengorganisasian Pembelajaran tari Beskalan di SMA Negeri 1 Malang, 2). Bagaimana Strategi penyampaian pembelajaran tari Beskalan di SMA Negri 1 Malang. Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif. Subyek penelitiannya adalah guru seni tari SMA Negeri 1 Malang. Prosedur pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data serta pengambilan data keputusan dan verifikasi. Untuk pengecekan keabsahan temuan di gunakan dengan teknik trianggulasi metode. trianggulasi metode di lakukan dengan mengkonfirmasikan antara data yang di peroleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Tahap-tahap penelitian yang di gunakan yaitu: tahap persiapan, tahap penyusunan rancangan penelitian, tahap pelaksanaan peneliti dan tahap penyusunan laporan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1). Strategi Pengorganisasian pembelajaran tari Beskalan di SMA Negeri 1 Malang dibuat secara tertulis meliputi silabus, RPP, prota, dan promes. a) tujuan pembelajaran yaitu untuk melestarikan dan membudayakan tarian khas Malang yaitu tari Beskalan, b) materi yang di berikan adalah ragam-ragam gerak tari Beskalan secara bertahap dengan Standar Kompetensi ( Mengekpresikan diri melalui karya seni tari) dan Kompetensi Dasar (menampilkan tari tunggal daerah setempat), c) metode yang di gunakan adalah metode mencontoh atau imitasi dan demonstrasi, d) media di gunakan adalah kaset, VCD, property yang di gunakan yaitu sampur dan gongseng. Untuk tempat praktek menggunakan ruang serba guna, e) penilaian di lakukan secara individu meskipun siswa mempraktekkannya secara berkelompok, jenis penilaian yang di gunakan yaitu psikomotor dan afektif, penilaiannya berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa, untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mempraktekkan tari Beskalan, juga keaktifan siawa dalam mengikuti kegiatan praktek serta keaktifan dalam mengerjakan tugas kelompok maupun tugas individu, aspek yang di amati terdiri dari hafalan, ekspresi dan harmonisasi. Skor nilai menggunakan skala huruf A, B, C, D, E dan angka 1, 2, 3, 4, 5. (2). Strategi Penyampaian pembelajaran tari Beskalan di SMA Negeri 1 Malang menggunakan strategi deduktif, sistem pengajarannya dari umum ke khusus, dengan menggunakan model apretensip yaitu adanya kegiatan mencontoh secara berulang-ulang oleh siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar lebih berpusat pada guru. Metode yang di gunakan adalah metode mencontoh atau imitasi dan demonstrasi. Dapat di sarankan dari Strategi pengorganisasian pembelajaran dan Strategi penyampaian pembelajaran ini bahwa bisa menjadi acuan pada sekolah lain dalam menyiasati pemilihan materi yang berdasar daerah setempat.

Studi tentang proses pembuatan jenis kendang jimbe di UD. Sportif Desa Tanggung, Kec. Kepanjen Kidul, Kota Blitar / Rusmiati

 

Kata Kunci: Kerajinan, Kendang Jimbe. Kendang jimbe bukanlah kendang asli Blitar, namun kendang jimbe dijadikan salah satu ikon pariwisata Blitar karena sentra industri pembuatan kendang jimbe yang besar ada di daerah Blitar, yaitu di Desa Tanggung. Sejak awal tahun 1880 Desa Tanggung sudah menjadi sentra usaha bubut dan baru setelah tahun 2000-an banyak warga Desa Tanggung yang mengembangkan kendang jimbe, termasuk salah satunya adalah UD. Sportif milik Bapak Sidik. Penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan mengenai proses pembuatan jenis kendang jimbe yang diproduksi oleh UD. Sportif milik Bapak Sidik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai kerajinan kendang jimbe yang sentra usahanya di Blitar. Mengingat masih banyak yang menganggap kerajinan jimbe ini merupakan kerajinan dari Bali, yang disebabkan karena sentra penjualan kendang jimbe yang besar ada di daerah Bali. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei dengan pendekatan deskriptif, yaitu untuk menggambarkan proses pembuatan jenis dari kendang jimbe yang diproduksi oleh UD. Sportif, yang beralamatkan di Desa Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kabupaten Blitar. Proses penelitian berlangsung selama 2 bulan, yaitu mulai dari tanggal 25 Februari sampai Maret 2012. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel adalah proses pembuatan jenis dari kendang jimbe. Instrumen yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan subyek penelitian kendang jimbe itu sendiri serta proses pembuatannya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan reduksi data, mendisplaynya berdasarkan rumusan masalah, mengambil kesimpulan kemudian mengecek keabsahan datanya dengan menggunakan trianggulasi data. Dari hasil analisis ditemukan jawaban bahwa proses pembuatan kendang jimbe terbagi menjadi beberapa tahapan, mulai dari pencarian sumber inspirasi sampai pada tahap pembubutan sampai finishing. Sedang teknik pembuatan hiasannya terbagi menjadi ukir, carving, dan painting, dengan motif hiasan berupa motif kura-kura, dolphin, cicak, palem, gajah, dan scorpion. Jenis kendang jimbe yang diproduksi di UD. Sportif ini bisa berfungsi sebagai hiasan saja dan ada pula sebagai alat musik sungguhan, selain itu tipenya bisa dibedakan berdasarkan tinggi kendang, teknik hiasan, maupun dari motif hiasannya. Barang kerajinan yang diproduksi oleh UD. Sportif ini terbatas pada pembuatan kendang jimbe saja, alangkah baiknya apabila mengembangkan produk lain seperti kerajinan asli Indonesia lainnya. Sebagai sarana pengenalan kebudayaan Indonesia ke negara lain.

Pelakasanaan pembelajaran Life Skills bagi korban penyalagunaan napza (Studi kasus di UPT Rehabilitasi Sosial Anak Nakal dan Korban NAPZA Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur) / Cindy Wulansari

 

Kata Kunci : Pembelajaran, Life skills, Rehabilitasi Sosial bagi korban penyalahgunaan NAPZA UPT Rehabilitasi Sosial Anak Nakal dan Korban NAPZA merupakan lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan berupa rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan NAPZA. Dalam pelaksanaan pembinaan dan rehabilitasi, UPT tersebut memberikan layanan pendidikan berupa pembelajaran life skills yang mencakup personal skills, social skills dan vocational skills. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran life skills bagi korban penyalahgunaan NAPZA yeng terdiri dari program personal skills, social skills dan vocational skills serta hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran life skills bagi korban penyalahgunaan NAPZA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan dengan ketekunan dalam pengamatan dan triangulasi. Untuk kepentingan analisis data digunakan model interaktif Miles dan Huberman yang diawali dengan penumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan pembelajaran life skill bagi korban penyalahgunaan NAPZA terdiri dari tahap pendekatan, tahap penerimaan, tahap vocational assessment, tahap bimbingan, tahap resosialisasi, tahap terminasi, tahap pembinaan lanjut dan home visit. Pada tahap bimbingan terdapat pembelajaran life skills meliputi personal skills, social skills dan vocational skills. Untuk menunjang keberhasilan dalam pembelajaran life skills bagi korban penyalahgunaan NAPZA di UPT Rehabilitasi Sosial Anak Nakal dan Korban NAPZA, maka ditetapkan komponen-komponen dalam pembelajaran meliputi pendidik, peserta didik, tujuan, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran. Hambatan dalam pelaksanaan pembelajarn life skills tersebut disebabkan karena adanya penurunan alokasi dana pada tahun 2012. Dengan penurunan anggaran tersebut menyebabkan terjadinya penurunan jumlah peserta dari 100 orang menjadi 56 orang dan kurangnya sarana prasarana dalam pembelajaran. Berdasarkan dari hasil penelitian, maka saran dari peneliti; (1) Bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah hendaknya menjalin mitra dengan pihak UPT Rehabilitasi Sosial Anak Nakal dan Korban NAPZA sebagai tempat pembelajaran (magang), (2) Dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia, pihak UPT sebaiknya menggunakan strategi lain dalam pelaksanaan pembelajaran untuk menyikapi keterbatasan tersebut, sehingga klien tetap merasa nyaman saat mengikuti pembelajaran, (3) Dapat dijadikan sebagai wawasan tentang penerapan Pendidikan Luar Sekolah di UPT Rehabilitasi Sosial Anak Nakal dan Korban NAPZA. Apabila peneliti lain bermaksud mengadakan penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian ini, hendaknya peneliti lain bisa memaparkan tentang model pelatihan yang diselenggarakan di lembaga tersebut.Dengan demikian kualitas penelitian selanjutnya akan lebih baik.

Penerapan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata diklat memahami prinsip-prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran (studi pada siswa Administrasi Perkantoran kelas X SMK Wisnuwardhana Malang) / Junita

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Cooperative Script, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh aktivitas belajar mereka. Permasalahan yang melatar belakangi penelitian ini adalah bahwa metode pengajaran yang digunakan oleh guru mata diklat Memahami Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran masih menggunakan metode pembelajaran konvensional, di mana selama proses belajar mengajar siswa hanya melihat, mendengarkan, dan mencatat. Selain itu siswa kurang diajarkan untuk bisa bekerjasama, mengutarakan pendapat, serta menghargai pendapat siswa lainnya dalam memecahkan suatu permasalahan di dalam kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Script, serta untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Cooperative Script terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X APK di SMK Wisnuwardhana Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK Wisnuwardhana Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 36 orang siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, tes, catatan lapangan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini berdasarkan pada: siklus I hasil belajar rata-rata siswa adalah 64,6 dan mengalami peningkatan sebesar 27 menjadi 91,6 pada siklus II. Aktivitas belajar siswa pada siklus I memiliki persentase ketuntasan 77% dengan kategori baik. Kemudian pada siklus II persentase ketuntasan aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 5%, menjadi 82%, dengan kategori baik sekali. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang bisa diberikan adalah model pembelajaran Cooperative Script perlu diterapkan dalam proses pembelajaran Memahami Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hendaknya siswa perlu dibiasakan untuk berdiskusi serta saling memberikan tanggapan agar siswa dapat terlatih dalam berpikir kritis dan tidak pasif saat di kelas. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya model ini dikembangkan lagi dan tidak hanya dalam pelajaran Memahami Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran tetapi juga pada diklat yang lain.

Pengembangan permainan menembak bola ke lingkaran berjaring pada kompetensi dasar permainan bola kecil untuk siswa kelas IV dan V SDN Klojen / Rizky Wahyu Ulfayanti

 

Kata kunci : pengembangan, permainan, bola kecil, menembak bola ke lingkaran berjaring. Siswa kelas IV dan V sekolah dasar menyukai permainan aktif dan bersifat kompetitif. Pada pembelajaran permainan kasti di kelas IV SDN Klojen hanya tujuh siswa yang aktif bergerak, siswa lain berdiri di tempat untuk menunggu giliran memukul ataupun menunggu datangnya bola. Guru belum pernah memberikan permainan bola kecil yang dimodifikasi, untuk itu perlu adanya pengembangan permainan bola kecil yang dimodifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan permainan menembak bola ke lingkaran berjaring yang diharapkan mudah dilakukan, menyenangkan dan dapat membuat siswa lebih aktif bergerak, serta dapat digunakan sebagai alternatif permainan pada kompetensi dasar permainan bola kecil yang nantinya dapat bermanfaat bagi siswa kelas IV dan V serta guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan SDN Klojen. Pengembangan permainan “menembak bola ke lingkaran berjaring” ini mengacu pada model pengembangan dari Borg dan Gall. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain; 1) penelitian awal (need assessment), 2) perencanaan berupa penyusunan rencana pengembangan permainan, 3) pengembangan draft produk yang selanjutnya akan dievaluasi oleh para ahli, 4) melakukan uji coba kelompok kecil, 5) merevisi hasil uji coba, 6) melakukan uji lapangan kelompok besar, dan 7) penyempurnaan produk hasil uji lapangan. Instrumen yang digunakan adalah berupa kajian terhadap silabus, wawancara, observasi dan kuesioner untuk para ahli, subyek uji coba kelompok kecil dan uji lapangan (kelompok besar). Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif persentase. Pengembangan permainan ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli, yaitu dua orang ahli permainan dan satu orang ahli pembelajaran. Hasil dari uji coba kelompok kecil adalah baik sehingga dapat dilanjutkan untuk uji lapangan (kelompok besar). Pada uji lapangan (kelompok besar) secara keseluruhan mendapatkan hasil baik, namun untuk aspek waktu permainan mendapatkan hasil cukup. Sehingga revisi dilakukan dengan menambah lama permainan sesuai dengan hasil uji lapangan (kelompok besar). Setelah melakukan penyempurnaan produk maka permainan ini dapat dijadikan salah satu alternatif permainan bola kecil untuk siswa kelas IV dan V SDN Klojen. Untuk penelitian lebih lanjut disarankan perlu adanya kajian untuk mengetahui keefektifan permainan menembak bola ke lingkaran berjaring.

The use of web-blog to improve the grade X students' motivation in writing recount texts at SMAN 3 Malang / Daristya Lyan Riang Dalu

 

Key Words: writing, web-blog, motivation in writing, recount texts, senior high school. Based on the result of preliminary study, it was known that the students of class X.2 at SMAN 3 Malang had problems in writing. Their problems were mostly caused by their lack of motivation in writing. To overcome the problem, the use of web-blog was proposed as media for students to write recount texts. The objective of the study is to improve the students’ motivation in writing recount texts. In this study, the research design used is classroom action research (CAR). The class action research consisted of four steps: planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects are 32 students of class X.2 at SMAN 3 Malang in the first semester of 2011/2012 academic year. During the research, the researcher together with the assistance of the classroom English teacher designed the lesson plan, prepared materials and instruments, decided the criteria of success, and also assessed the students’ writing. The research findings demonstrated that the use of web-blog as media to write succeeded in improving the students’ motivation in writing recount texts. It could be evidenced from the students’ responses to the questionnaire given that had matched the criteria of success. From the questionnaire, it was known about 77% of the students thought that using web-blog as media to write could make them write easier. It was evidenced when the students used web-blog to do the drafting, developing, and posting the writing. In addition, there were 92% of the students who thought that web-blog can improve their motivation to write. Web-blog allowed them to share ideas to the people who access the blog and the web-blog media could make them to write easier. Meanwhile, from the teaching and learning process during the implementation of the action, the students did the activities well and they enjoyed writing using web-blog as the media. Based on the result of the study, the classroom English teacher of class X.2 and the other English teachers in Senior High School are suggested to implement the use of web-blog as media to write not only for recount texts but also for the other text types. In addition, the further researchers are suggested to conduct similar studies by using the web-blog as media to write for different text types and involving different subjects.

Perencanaan instalasi penerangan lantai II dan instalasi penangkal petir Masjid Roudlotul Muttaqiin Desa Senggreng Kab. Malang / Burhan Pratama Yudha

 

Kata kunci :Perencanaan, instalasipenerangan, instalasipenangkalpetir, PUIL 2000, SNI. Masjid RoudlotulMuttaqiinsebagaitempatuntukberibadahdanmelakukankegiatan lain sepertipengajian, rapatkeagamaandan lain-lain, menjadisangatpentinguntukdilakukanperencanaaninstalasipenerangandaninstalasipenangkalpetir. Instalasipenerangan yang baikadalahinstalasi yang memperhitungkansegalasesuatu yang berhubungandenganefektifitaskerja agar mendapatkanhasil yang optimal.makadariituPersyaratanUmumInstalasiListrik (PUIL 2000) membuattingkatiluminasi yang berbedasesuaidenganfungsidaripadaruangannyamasing-masing. Sesuaidenganfungsinyasebagaitempatibadah, masjid merupakantempatberkumpulnya orang banyak, olehkarenaitu masjid harusmampumemberiperlindunganterutamaterhadapbahayapetir.Dengandisainbangunanmenara masjid yang tingginyamencapai 29 meterdantingkatproteksi III sesuai SNI 03-7015-2004, makadiperlukanproteksipenangkalpetir agar masjid tersebuttetapamanbagipengunjung masjid daribahayapetir. Perencanaaninsatalasipeneranganpada Masjid RoudlotulMuttaqiindilakukan agarkualitasdariinstalasitersebuttetapterjagadanmemberikenyamananbagi orang yang berada di dalambangunantersebutyang disesuaikandengan PUIL 2000,meliputiperencanaanjumlahtitikcahaya, sirkitakhirinstalasipenerangandanperkiraanbiaya. Untukperencanaaninstalasipeneranganiniadabeberapahal yang mempengaruhiketikaakanmenentukantitiklampudanjugaintansitascahaya, yaituluasruangan, warnadinding, warnalantai, dan lain-lain.Sedangkanpadaperencanaaninstalasipenangkalpetirinipadapenggunaansistem franklin danmetodesudutproteksiakandihitungtingkatproteksiuntukmenentukansudutproteksidanjarak radius proteksi. Hasilperencanaaninstalasipeneranganlantai II diperoleh 38 titikpenerangan, denganmenggunakanpenghantarjenis NYA 1,5 dan 2,5 mm^2dengan 25 A pengamanpadasirkitakhir. Padahasilperencanaaninstalasipenangkalpetirdiperolehsudutproteksisebesar 35° dan jarak radius proteksi berdasarkan sudut proteksi sebesar 21,7 meter. Jumlahbatang finial yang digunakansebanyaksatubuah yang ditempatkanpadamenara masjidsertamenggunakanduahantaranturundanduaelektrodapantanahankarenaketinggianmenaradiatas 10 meter.

Hasil pelaksanaan matakuliah seni lukis invensi (PSA419) semester genap 2009-2010 oleh mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang angkatan 2007 / Lutfi Hudan Mufti'ali

 

Kata Kunci: Hasil Pelaksanaan, Seni Lukis Invensi, Teknik Dalam Melukis. Seni Lukis Invensi adalah salah satu matakuliah yang termasuk dalam matakuliah Keilmuan Dan Keterampilan Pilihan dimana mahasiswa bebas menentukan pilihannya sendiri sesuai dengan minatnya. Matakuliah ini masuk dalam matakuliah Paket Seni Lukis. Matakuliah ini bertujuan membentuk dan mengembangkan keterampilan lanjut berkarya seni lukis melalui eksplorasi dan eksperimentasi dengan berbagai media dan teknik, berkarakter pribadi, baru dan orisinal, dalam perwujudan seni lukis representatif dan non-representatif; serta meningkatkan kemampuan menganalisis kualitas hasil karya seni lukis, ditinjau dari segi estetika, psikologi, sosiologi dan antropologi. Dalam pelaksanaannya mahasiswa telah membuat karya lukis melalui eksplorasi dan eksperimentasi dengan berbagai media dan teknik, berkarakter pribadi, baru dan orisinal. Namun diprediksi pada beberapa mahasiswa tampak kekurangoptimalan penguasaan teknik dalam melukis. Kekurangoptimalan ini terkait dengan penggunaan dan pengolahan medium lukis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pelaksanaan perkuliahan Seni Lukis Invensi khususnya dalam penggunaan dan pengolahan medium lukis pada perkuliahan semester genap tahun akademik 2009-2010 Universitas Negeri Malang oleh mahasiswa berupa lukisan-lukisan yang berkarakter pribadi, baru dan orisinal. Penelitian ini merupakan penelitian ekspofacto yaitu penelitian terhadap kejadian yang telah berlalu. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan diperoleh dari 9 mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan 2007 kelas reguler yang ikut pada perkuliahan tersebut dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan ada ketidak tepatan mahasiswa dalam memilih beberapa bahan lukis yang diterapkan pada beberapa lukisannya. Terdapat pula kekurangtepatan penggunaan bahan lukis terhadap teknik pengolahannya dalam penerapannya pada karya lukis mahasiswa. Kekurangtepatan ini hanya terjadi pada beberapa mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada mahasiswa yang akan mengambil matakuliah spesialisasi lukis untuk mempelajari teori-teori penggunaan bahan lukis serta menerapkan sesuai teori tersebut pada praktik melukis agar karya yang ditampilkan dapat tampil dengan visualisasi yang lebih optimal dan berkualitas.

Karakteristik kompetensi dasar aspek berbicara kurikulum tingkat satuan pendidikan pada tingkat SMP / Nisaa Rohma

 

Kata Kunci: kompetensi dasar berbicara, KTSP, SMP Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pada dunia pendidikan sekarang dikenal adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kompetensi dasar bahasa Indonesia KTSP dikenal adanya empat keterampilan berbahasa yang diajarkan. Empat keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kompetensi dasar berbicara dipilih karena aspek berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang paling banyak digunakan untuk menyampaikan maksud atau ide kepada lawan bicaranya. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif untuk mengkaji secara mendalam dan terperinci terhadap latar, subyek, dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Standar Isi pada KTSP di tingkat SMP. Datanya berupa kompetensi dasar berbicara yang ada pada jenjang SMP tersebut, mulai dari kelas VII, VIII dan IX. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pada kompetensi dasar berbicara di SMP tidak menggunakan kategori menghafal (C1) dalam Taksonomi Bloom dan menggunakan pola pengurutan dengan pendekatan umum ke khusus dan pendekatan prosedural untuk mengurutkan kompetensi dasar aspek berbicara. Tingkatan berpikir yang digunakan dalam kompetensi dasar aspek berbicara adalah kategori memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasikan (C6). (2) Kandungan materi di kelas VII berorientasi pada pemilihan kata dan kalimat serta pelafalan, di kelas VIII orientasi materi lebih banyak berupa penerapan dari materi sebelumnya, dan materi di kelas IX merupakan pengayaan dari dua kelas sebelumnya. (3) Penyajian kalimat pada kompetensi dasar aspek berbicara tidak konsisten dalam penulisan kalimatnya. Saran dari peneliti adalah (1) guru sebaiknya lebih cermat dalam memahami dan menerapkan isi kompetensi dasar agar fokus pembelajaran benar, (2) pemerintah sebaiknya memperbaiki kompetensi dasar dan memberikan pelatihan kepada tenaga pendidik, (3) kepala sekolah perlu memperhatikan anggota sekolah (guru, siswa, waka kurikulum, dll) dalam melakukan kinerjanya.

Penerapan problem solving menurut polya untuk meningkatkan hasil belajar luas persegi panjang pada siswa kelas III SDN Pojok 01 Kabupaten Blitar / Yekti Tri Seto Palupi

 

Kata kunci: hasil belajar, luas persegi panjang, problem solving Proses pembelajaran matematika di SDN Pojok 01 guru hanya menerangkan materi berdasarkan yang terdapat pada buku, dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas, sulitnya memberikan bimbingan siswa untuk menemukan prosedur atau cara dalam pemecahan masalah yang mudah dipahami dan diterapkan siswa. Hal ini mengakibatkan siswa mengalami kesulitan belajar dalam memahami materi luas persegi panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan problem solving menurut polya untuk meningkatkan hasil belajar luas persegi panjang di kelas III SDN Pojok 01 kabupaten blitar serta mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran luas persegi panjang melalui model problem solving di kelas III SDN Pojok 01 kabupaten blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian siswa kelas III SDN Pojok 01 Kabupaten Blitar dengan jumlah 15 siswa. Teknik yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi: (1) observasi, (2) tes, (3) dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penerapan model Problem Solving pada materi luas persegi panjang yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan pemeriksaan kembali. Hasil penelitian ini melalui model Problem Solving dapat mengatasi masalah pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 33,33%, pada siklus I 80%, pada siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan problem solving dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Pojok 01, oleh karena itu disarankan model problem solving dapat dijadikan alternatife untuk diterapkan dalam pembelajaran Matematika selanjutnya. Sebaiknya dalam penilaian hasil belajar siswa, guru tidak hanya berpedoman pada tes tulis tetapi juga menerapkan penilaian proses.

Pengembangan paket pembelajaran manajemen agribisnis untuk siswa kelas X Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri Samarinda / Masrudah

 

Kata Kunci: Pengembangan, Paket Pembelajaran, Manajemen Agribisnis. Pengembangan paket pembelajaran dimaksudkan untuk memotivasi dan memudahkan siswa belajar. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran dengan mengacu pada rancangan pembelajaran Dick & Carey (2001). Prosedur pengembangan hanya dilakukan sembilan langkah. Paket pembelajaran yang dikembangkan berupa mata pelajaran Manajemen Agribisnis untuk siswa SPPN Samarinda kelas X semester 2 terdiri dari 3 bagian, yaitu: bahan ajar, panduan pembelajar (guru), dan panduan pebelajar (siswa). Upaya pengembangan paket pembelajaran dilakukan melalui lima tahapan, yaitu: (1) menentukan mata pelajaran yang akan dikembangkan; (2) mengidentifikasi kurikulum mata pelajaran yang akan dikembangkan; (3) merumuskan langkah-langkah pengembangan; (4) uji coba; dan (5) revisi produk pengembangan. Hasil uji coba ahli isi mata pelajaran berada dalam kategori sangat baik, hasil uji coba ahli media pembelajaran berada dalam kategori sangat baik, dan hasil uji coba ahli desain pembelajaran berada dalam kategori baik. Hasil uji coba perorangan terdapat kesalahan pengetikan bahan ajar, kesalahan menggunakan tanda baca, kesalahan penggunaan huruf kecil dan besar, kata-kata/istilah yang sukar dipahami, kesalahan keterangan gambar, dan kesalahan pengetikan panduan siswa. Hasil uji coba kelompok kecil terhadap bahan ajar dan panduan siswa dalam kategori sangat baik. Hasil uji coba lapangan penilaian siswa terhadap bahan ajar dan panduan siswa dalam kategori sangat baik, dan hasil uji coba lapangan penilaian guru terhadap bahan ajar dan panduan guru dalam kategori sangat baik. Hasil pretes dan postes dari uji coba lapangan sebanyak tiga kali menunjukkan bahwa t-hitung (hasil observasi) lebih besar dari t-tabel, sehingga dapat dikatakan bahwa bahan ajar yang digunakan efektif. Kelebihan paket pembelajaran ini adalah: (1) disusun secara sistematis, (2) dapat menimbulkan minat belajar siswa, dan (3) dapat memudahkan proses pembelajaran siswa. Sedangkan kelemahan paket ini adalah disusun berdasarkan karakteristik siswa SPPN Samarinda. Saran yang diajukan yaitu: (1) bahan ajar digunakan sebagai media pembelajaran, (2) bahan ajar Manajemen Agribisnis hanya dipakai di SPPN Samarinda, dan (3) apabila digunakan di tempat lain, perlu dilakukan penyesuaian seperlunya.

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X JB 2 di SMKN 7 Malang / Ishariatias Utami

 

Kata Kunci: Problem Based Learning (PBL), Aktivitas, Hasil Belajar. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran Problem Based Learning dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas X JB 2 SMKN 7 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini bersifat kualitatif dimana jenisnya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMKN 7 Malang kelas X JB 2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi,wawancara, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas dapat dilihat dari antusiasme dan kerjasama siswa dalam kelompok. Di samping itu, siswa tampak aktif, kreatif, dan produktif dalam belajar. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar dari sebelum pelaksanaan tindakan sampai pelaksanaan tindakan selesai. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah pada mata pelajaran kewirausahaan mengalami peningkatan. Dari 34 orang siswa yang menjadi subyek penelitian, sebanyak 100% (34 orang) sudah tuntas belajar. Sebelumnya, siswa yang tuntas di siklus I yaitu 27 siswa (79,41%). Hal ini berarti bahwa terjadi kenaikan persentase siswa yang tuntas dari siklus I ke siklus II sebanyak 20,59%. Berdasarkan analisis data dan pembahasan, kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan PBL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Sedangkan kendala-kendala yang muncul antara lain siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran PBL dan masih ada siswa yang lebih mendominasi dalam diskusi kelompok.

Peningkatan hasil belajar menghitung luas persegi dan persegi panjang melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Game Tournaments) pada siswa kelas III SDN Kalibatur 03 Kabupaten Tulungagung / Andri Kurnia Septa

 

Kata Kunci: hasil belajar, luas persegi dan persegi panjang, model TGT Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SDN Kalibatur 03 Kabupaten Tulungagung, pada pelaksanaan pembelajaran Matematika di kelas III diperoleh hasil yang kurang memuaskan, yaitu dari 16 siswa hanya 5 siswa saja yang nilainya dapat mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) yang telah ditetapkan yaitu 65, sedangkan 11 siswa masih belum dapat mencapai KKM. Hal ini disebabkan karena guru tidak menggunakan media konkret dan RPP. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas, serta keaktifan dan kerjasama siswa kurang. Berkaitan dengan hal ini, peneliti ingin memperbaiki pembelajaran khususnya mata pelajaran Matematika tentang menghitung luas persegi dan persegi panjang melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Kalibatur 03. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif dan jenis penelitian tindakan (action research), yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Kalibatur 03 Kabupaten Tulungagung. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, yang meliputi 3 kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan data siklus I persentase ketuntasan aktivitas siswa adalah 52,6% dari 16 siswa atau 9 siswa telah tuntas dan 62,5% dari 16 atau 10 siswa telah tuntas belajar. Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh adalah 69. Pada siklus 2 persentase ketuntasan aktivitas siswa adalah 87,5% dari 16 atau 14 siswa telah tuntas dan 81,25% dari 16 siswa atau 13 siswa telah tuntas belajar. Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh adalah 73. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang menghitung luas persegi dan persegi panjang. Karena melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat menumbuhkan kerja sama dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Untuk itu, guru hendaknya dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT serta menggunakan media benda kongkrit agar lebih bermakna dan menyenangkan.

Meningkatkan kemampuan siswa menjelaskan dalam pembelajaran IPA kelas V melalui model siklus belajar 5E di SDN Karangtengah 3 Kota Blitar / Windra Jemi Rokhmad

 

Kata Kunci: kemampuan siswa menjelaskan, model siklus belajar 5E, pembelajaran IPA. Hasil observasi pendahuluan pada pembelajaran IPA kelas V di SDN Karangtengah 3 Kota Blitar menunjukkan kemampuan siswa menjelaskan masih rendah. Penyebab hal tersebut adalah guru belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik IPA, siswa menyimak ceramah guru, membaca materi di buku teks IPA, dan menjawab pertanyaan yang ada di dalam buku kumpulan soal, sehingga siswa belum diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan proses salah satunya kemampuan menjelaskan. Berkaitan dengan kondisi tersebut, perlu diadakan penelitian untuk memperbaiki kemampuan siswa menjelaskan dalam pembelajaran IPA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mendeskripsikan: (1) kemampuan siswa menjelaskan dalam pembelajaran IPA pada tahap pra tindakan; (2) pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan model siklus belajar 5E pada tiap siklus; (3) kemampuan siswa menjelaskan dalam pembelajaran IPA melalui model siklus belajar 5E pada tiap siklus; dan (4) peningkatan kemampuan siswa menjelaskan dalam pembelajaran IPA melalui model siklus belajar 5E. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas V yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPA pada tahap pratindakan dilaksanakan dengan cukup baik (53%). Kemampuan siswa menjelaskan pada tahap pratindakan masih sangat kurang (8%). Peningkatan pelaksanaan pembelajaran model siklus belajar 5E meningkat dari siklus I sampai dengan siklus II, sebesar 26% (dari 74% di siklus I menjadi 100% di siklus II). Peningkatan kemampuan siswa menjelaskan meningkat dari siklus I sampai dengan siklus II, sebesar 34% (dari 40% di siklus I menjadi 74% di siklus II). Jadi pelaksanaan pembelajaran IPA dengan model siklus belajar 5E yang sangat baik dapat meningkatkan kemampuan siswa menjelaskan dengan kriteria baik. Guru disarankan untuk: (1) mengembangkan keterampilan proses IPA salah satunya kemampuan siswa menjelaskan menggunakan model siklus belajar 5E; (2) menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kerja yang baik dengan matang; dan (3) sabar membimbing siswa dalam pembelajaran yang menggunakan model siklus belajar 5E.

Pengembangan permainan tembak jaring dalam pembelajaran pendidikan jasmani untuk siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang / Amjad Elfarabi

 

Kata kunci : pengembangan, permainan, tembak jaring, pembelajaran, pendidikan jasmani Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, suka rela tanpa paksaan dan tak sungguhan dalam batas waktu, tempat dan ikatan peraturan. Sedangkan permainan adalah bagian dari bermain, tetapi permainan yang sudah dibatasi oleh peraturan yang sengaja dikembangkan untuk ditaati agar permainan itu dapat berlangsung secara lancar, aman dan adil. Permainan tembak jaring adalah penyederhanaan dari permainan bolabasket. Penyederhanaan yang dimaksud yaitu: penyederhanaan lapangan permainan, sasaran tembak, waktu permainan dan peraturan permainan. Tujuan yang ingin dicapai dari pengembangan permainan ini adalah untuk mengembangkan permainan (game) bolabasket dengan peraturan sederhana untuk siswa kelas XSMA Negeri 7 Malang. Permainan ini diberi nama permainan tembak jaring. Dengan adanya pengembangan permainan tembak jaring ini diharapkan dapat memberikan kegembiraan dan meningkatkan aktivitas gerak siswa melalui permainan ini, sehingga tujuan pendidikan jasmani dapat tercapai. Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall. Adapun prosedur pengembangan permainan tembak jaring ini adalahi: 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) mengembangkan bentuk produk awal, 4) melakukan uji coba kelompok kecil dengan 10 subjek, 5) Melakukan revisi terhadap produk awal, 6) melakukan uji lapangan (kelompok besar) dengan 40 subjek, 7) melakukan revisi produk. Intrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase. Hasil pengembangan ini adalah permainan tembak jaring yang merupakan penyederhanaan dari permainan bolabasket. Hasil penyederhanaannya yaitu: (1) lapangan permainan yang digunakan adalah setengah lapangan permainan bolabasket, (2) sasaran tembak yang digunakan adalah jaring yang diberi bingkai kotak berukuran 48 x 60 cm dengan ketinggian sasaran 305 cm, (3) waktu permainan yang digunakan adalah 2 x 10 menit, (4) Peraturan permainan menggunakan peraturan yang sederhana agar siswa mudah memainkan permainan ini.

Pengembangan modul pembelajaran teknologi finishing kayu mata kulia Workshop kayu Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang / Rizki Rosphiani Wulandari

 

Kata Kunci: modul pembelajaran, teknologi finishing kayu Teknologi finishing kayu merupakan bagian yang menjadi salah satu materi dalam mata kuliah workshop kayu. Dari hasil observasi yang dilakukan di Jurusan Teknik Sipil Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan (PTB) Universitas Negeri Malang (UM), ditemui suatu permasalahan yaitu kesulitan menyediakan cukup waktu untuk penyampaian materi teknologi finishing kayu serta hasil belajar yang kurang baik disebabkan karena keterbatasan bahan ajar. Berangkat dari permasalahan di atas, dicoba atasi dengan menyajikan materi teknologi finishing kayu melalui pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar berupa modul. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan dan mengetahui tingkat kelayakan modul pembelajaran teknologi finishing kayu yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa yang lebih baik. Pada penelitian ini menggunakan model pengembangan Sugiyono yang telah dimodifikasi. Adapun langkah pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi masalah dan kebutuhan, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) penyusunan produk, (6) validasi produk, (7) revisi produk, (8) uji coba terbatas, dan (9) revisi produk. Materi dalam modul pembelajaran yang dikembangkan disesuaikan dengan SK/KD yang sudah ditentukan dalam silabus mata kuliah workshop kayu Program Studi PTB UM, yakni Standar Kompetensi (SK) melakukan pekerjaan finishing kayu yang meliputi empat Kompetensi Dasar (KD) yaitu, (1) bahan finishing, (2) teknologi finishing kayu dengan politur, (3) teknologi finishing kayu dengan cat enamel, dan (4) teknologi finishing kayu dengan melamin. Validator produk terdiri dari 3 dosen teknik sipil berpengalaman mengajar teknologi finishing kayu dan dengan pendidikan minimal S2, yakni 2 orang dosen sebagai ahli materi dan 1 orang dosen sebagai ahli media. Subjek sasaran produk adalah 20 orang mahasiswa PTB UM yang bertindak sebagai responden terhadap modul pembelajaran yang dikembangkan. Modul pembelajaran teknologi finishing kayu mencapai tingkat kelayakan oleh ahli materi dengan persentase masing-masing adalah 88,89% dan 87,22%, sedangkan hasil validasi oleh ahli media mencapai tingkat kelayakan dengan prosentase 98,44%. Hasil uji coba terbatas mencapai tingkat kelayakan dengan rata-rata prosentase 92,72%. Hasil prosentase validasi di atas tergolong kualifikasi sangat valid. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran teknologi finishing kayu layak untuk digunakan dalam pembelajaran matakuliah workshop kayu Program Studi PTB UM.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif pada mata pelajaran IPA materi posisi bulan di kelas IV SDN Madyopuro 2 Kota Malang / Yuliana

 

Kata Kunci: media pembelajaran, CD Interaktif, IPA, posisi bulan, SD Pemakaian media dalam pembelajaran akan memudahkan tingkat pemahaman siswa pada materi yang disampaikan. Pengembangan media ini diperlukan untuk mempermudah siswa memahami materi posisi bulan karena bulan tidak bisa diamati secara langsung ketika pembelajaran berlangsung. Materi tersebut memerlukan penjelasan detail mengenai akibat dari gravitasi bulan, gerak bulan, dan fase-fase bulan. Sehingga dengan dikembangkan CD interaktif dengan program macromedia flash materi-materi tersebut dapat disampaikan di ruang kelas dengan menggunakan media yang sesuai dan menyerupai benda aslinya. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan produk media pembelajaran berupa CD interaktif yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, video, dan animasi. Menghasilkan media pembelajaran CD interaktif yang memenuhi kelayakan bedasarkan ahli, dan menghasilkan media pembelajaran CD interaktif yang efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran IPA di kelas IV pada materi posisi bulan. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, yang terdiri dari kegiatan identifikasi masalah, perancangan produk awal, validasi ahli, revisi berdasarkan validasi ahli, uji coba perseorangan, revisi produk berdasarkan hasil uji coba perseorangan, revisi dan produk akhir. Data penelitian bersifat kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media, ahli materi, uji coba perseorangan serta data hasil uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa media ini telah valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini dibuktikan bahwa hasil perhitungan: (1) dari ahli materi menunjukkan presentase 95%, (2) dari ahli media menunjukkan presentase 91,25 %, (3) dari uji coba perseorangan yaitu guru kelas IV menunjukkan presentase 93,8% dan uji coba lapangan terbatas menunjukkan persentase 96,8 %. Hasil rata-rata kelompok A yang menggunakan media pembelajaran CD interaktif sebanyak 84,74. Sedangkan kelompok B yang diajar tanpa menggunakan CD interaktif memiliki nilai rata-rata sebanyak 76,11. Terdapat selisih rata-rata sebanyak 8, 63. Disarankan kepada pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk materi lainnya dan membuat modul materi tentang posisi bulan sehingga dapat mendukung media pembelajaran CD interaktif ini.

Perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD-problem posing dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran non kooperatif pada mata pelajaran akuntansi kelas X SMK PGRI 2 Malang / Ahmad Rif'an Muttaqi

 

Kata Kunci : metode pembelajaran STAD-Problem Posing, peningkatan hasil belajar akuntansi Permasalahan yang sering terlihat dan dialami siswa pada mata pelajaran Akuntansi yaitu banyaknya siswa yang mengalami kesulitan siswa memahami konsep dasar akuntansi dan saat materi dijelaskan oleh guru, banyak siswa yang tidak terlibat aktif di dalamnya. Pembelajaran yang mungkin untuk mengatasi masalah di atas adalah metode kooperatif yang membuat seorang untuk meningkatkan aktivitas. Metode STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa. Sinergi antara STAD dan Problem Posing, selain siswa berdiskusi mengenai materi dan membuat soal dari informasi atau suatu permasalahan dalam kelompok, mereka juga diharapkan mampu menyelesaikan soal yang dibuat teman.Tujuan penelitian adalah mengukur efektivitas pembelajaran kooperatif metode STAD-Problem Posing dan pembelajaran non kooperatif terhadap peningkatan hasil belajar akuntansi siswa kelas X angkatan 2011/2012 SMK PGRI 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental-semu (quasi-experimental research). Pola pengelompokan sebagai variabel bebas dan data peningkatan hasil belajar sebagai variabel terikat. Sampel penelitian yaitu siswa kelas X angkatan 2011/2012 SMK PGRI 2 Malang. Data berupa hasil belajar akuntansi yang didapatkan dari tes. Hasil penelitian didapatkan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar kelas eksperimen yaitu 9,96 dan kelas kontrol yaitu 4,00. Dari Mann Whitney U Test terlihat bahwa asymp. Sig. (2-tailed) / asymptotic significance untuk uji dua sisi adalah 0.035, atau probabilitas di bawah 0.05 (0.035 < 0.05), maka Ho ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara peningkatan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar akuntansi dilihat dari rata-rata (mean) peningkatan masing-masing kelas, karena dari Mann Whitney U Tes didapatkan bahwa terdapat perbedaan maka untuk menentukan pola yang paling efektif yaitu dengan membandingkan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar. Peneliti/mahasiswa lain yang ingin mengadakan penelitian yang sama diharapkan melakukan penelitian pada mata pelajaran yang lain atau materi yang lain, hendaknya memperhatikan dengan jeli kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan pengarahan pada siswa saat proses problem posing dan memperhatikan penggunaan waktu.

Perancangan media promosi video iklan televisi sebagai upaya peningkatan nilai penjualan tempat wisata Waterpark Sumber Udel Kota Blitar / Stefanie Sebastian Sucipto

 

Kata Kunci: perancangan, video iklan televisi, sumber udel, waterpark. Waterpark Sumber Udel membutuhkan sebuah media promosi sebagai upaya peningkatan nilai penjualan agar lebih dikenal oleh masyarakat di luar Kota Blitar atau di daerah lain dengan harapan meningkatnya jumlah kunjungan wisata dan penjualan tempat wisata waterpark Sumber Udel melalui media promosi iklan televisi. Perancangan media promosi iklan televisi Sumber Udel ini menggunakan metode Alan Wurtzel dalam buku Darwanto yang dimodifikasi. Teknik dalam mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket. Dalam konsep perancangan, diciptakan model gaya desain kontemporer yang mendukung nilai jual waterpark Sumber Udel tanpa menghilangkan dan mengubah citra yang telah dibentuk sebelumnya. Perancangan iklan televisi yang menarik, serta aplikasi desain yang melambangkan keceriaan, kebersamaan dan kreatifitas diharapkan dapat meningkatkan citra positif perusahaan. Sehingga mampu mempresentasikan suatu image perusahaan yang baik. Proses perancangan iklan televisi waterpark Sumber Udel menggunakan software Adobe After Effect CS5 dan Adobe Premiere CS5. Perancangan ini menghasilkan suatu produk berupa iklan televisi berdurasi 60 detik yang lebih mempresentasikan citra positif perusahaan supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas guna meningkatkan nilai penjualan perusahaan. Hasil dari perancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan atau tolak ukur dalam mengadakan perancangan iklan televisi, baik bagi mahasiswa, desainer pemula, pengajar, dan lain sebagainya.

Pengaruh penggunaan pembelajaran quantum teaching dengan teknik mind mapping terhadap motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMPN 18 Malang pada materi sistem dalam kehidupan tumbuhan / Risa Nursanti

 

Kata kunci: Quantum Teaching, Mind Mapping, Motivasi, Hasil Belajar. Proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui seberapa jauh perubahan itu terjadi, perlu adanya penilaian dari hasil belajarnya. Dalam dunia pendidikan, kualitas pembelajaran mengambil peran penting dalam menentukan hasil belajar siswa. Oleh karena itu dibutuhkan berbagai model pembelajaran yang inovatif, bervariasi, fleksibel, menyenangkan, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif. Salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah penggunaan model pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping. Model ini merupakan salah satu model yang inovatif untuk mengajarkan materi “Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan” pada Siswa Kelas VIII. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi dan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping dan yang dibelajarkan dengan pembelajaran Konvensional yang menggunakan berbagai metode dalam pembelajarannya. Hasil belajar siswa yang diukur dalam penelitian meliputi hasil belajar kognitif dan hasil belajar psikomotor. Penelitian ini dilakukan di SMPN 18 Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B dan C. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen semu (quasi experimental). Data motivasi dan hasil belajar kognitif yang diperoleh dari hasil pre test dan post test dianalisis statistik dengan menggunakan teknik Anakova, sedangkan data hasil belajar psikomotor dianalisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan motivasi belajar biologi siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping dan yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran Konvensional. Motivasi belajar siswa di kelas eksperimen lebih tinggi 5,56% dibanding dengan siswa kelas kontrol; (2) ada perbedaan hasil belajar biologi siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping dan yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran Konvensional. Hasil belajar kognitif siswa di kelas eksperimen lebih tinggi 13,57% dibanding dengan siswa kelas kontrol. Sedangkan hasil belajar psikomotor siswa kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata klasikal lebih tinggi yakni sebesar 82 dibandingkan dengan kelas kontrol yang sebesar 76. Peneliti menyarankan pembelajaran model Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping dapat diterapkan di sekolah-sekolah sebagai alternatif dalam pembelajaran biologi karena dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pengembangan paket pembelajaran penerapan teknologi dalam pengolahan pakan di Sekolah Pertanian Pembangunan Pelaihari / Hariyatun

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Pd, M.Ed., (II) Dr. Sulton, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, paket pembelajaran, penerapan, teknologi,pengolahan, pakan SPP Pelaihari belum memiliki bahan ajar yang didesain sesuai dengan model pengembangan bahan ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan menghasilkan paket pembelajaran penerapan teknologi dalam pengolahan pakan dengan menerapkan model pengembangan bahan ajar Dick and Carey. Pengembangan paket pembelajaran melalui tahapan (1) penyusunan bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa, (2) review ahli isi mata pelajaran, ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran, (3) uji coba perorangan, (4) uji coba kelompok kecil, (5) uji coba lapangan dan (6) revisi produk. Hasil pengembangan ini berupa bahan ajar penerapan teknologi dalam pengolahan pakan, panduan guru dan panduan siswa.Perbaikan produk pengembangan dilakukan setelah mendapat tinjauan dari ahli isi mata pelajaran, ahli desain pembelajaran dan ahli media. Perbaikan selanjutnya dilakukan setelah uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil. Hasil uji coba lapangan menunjukkan bahwa paket pembelajaran masuk kategori sangat baik. Efektifitas diukur dengan perbedaan pre test dan post test. Uji t dilakukan untuk mengukur signifikan tidaknya perbedaan. Hasil perhitungan menunjukkan perbedaan signifikan antara nilai pre test dan post test. Paket pembelajaran penerapan teknologi dalam pengolahan pakan yang dikembangkan oleh Hariyatun dapat digunakan oleh siswa dan guru untuk pembelajaran penerapan teknologi dalam pengolahan pakan SPP Pelaihari dengan memperhatikan saran pemanfaatan produk, saran diseminasi dan saran pengembangan lebih lanjut.

Pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap pemahaman akuntansi dengan kepercayaan diri sebagai variabel pemoderasi pada siswa Jurusan Akuntansi SMK Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan / Dina Fahma Sari

 

Kata Kunci: Kecerdasan Interpersonal, Kepercayaan Diri, Pemahaman Akuntansi Pemahaman merupakan hal yang mendasar dan menjadi tujuan akhir dari setiap pengajaran. Faktor- faktor yang mempengaruhi pemahaman diantaranya adalah kecerdasan Interpersonal dan kepercayaan diri. Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami, membina, menciptakan, dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Kepercayaan diri adalah yakin, percaya, berani, memiliki penilaian yang positif akan kemampuan diri sendiri tanpa merasa terpengaruh oleh orang lain untuk mencapai apa yang diinginkan dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh kecerdasan Interpersonal terhadap pemahaman akuntansi dengan kepercayaan diri sebagai variabel pemoderasi. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi. Variabel penelitian yang digunakan adalah kecerdasan interpersonal (X), kepercayaan diri (Z) dan pemahaman akuntansi (Y). Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X, XI, XII jurusan Akuntansi yang berjumlah 63 siswa sedangkan sampel yang diambil berjumlah 39 siswa. Teknik pemilihan sampel menggunakan Propotional Random Sampling. Teknik pengumpulan datanya adalah menggunakan kuisioner untuk seluruh variabel yaitu kecerdasan interpersonal, kepercayaan diri dan pemahaman akuntansi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan interpersonal berpengaruh terhadap pemahaman akuntansi dengan kepercayaan diri sebagai variabel pemoderasi dengan kontribusi sebesar 0,357. Semakin meningkatnya kecerdasan interpersonal dan kepercayaan diri maka akan meningkatnya pemahaman akuntansi siswa. Siswa yang sudah memiliki kecerdasan interpersonal dan kepercayaan diri yang tinggi akan mampu menjelaskan apa yang ada dipikirnya dengan yakin bahwa penjelasannya adalah benar dan tidak memiliki rasa canggung dalam mengungkapkan pendapat karena ia mampu bertindak mandiri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penelitian ini memiliki keterbatasan berupa (a) penelitian terbatas menggunakan faktor internal yaitu kecerdasan interpersonal dan kepercayaan diri, beberapa faktor lain masih belum dipertimbangkan, (b) Indikator pernyataan pemahaman akuntansi terbatas pada akuntansi secara umum (c) teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian ini menggunakan kuisioner yang dibuat oleh peneliti yang tidak mengakomodasi penjelasan di luar perihal yang ditanyakan. Berdasarkan keterbatasan penelitian, disarankan bagi peneliti selanjutnya, (a) menambah variabel lain selain kecerdasan interpersonal dan kepercayaan diri apabila akan mengambil masalah serupa karena berdasarkan hasil penelitian kedua faktor tersebut hanya mewakili faktor internal, (b) indikator pernyataan pemahaman akuntansi dapat diukur sesuai dengan materi akuntansi yang diajarkan di kelas, (c) Teknik pengumpulan data dapat ditambah seperti dengan menggunakan teknik wawancara sehingga data yang terkumpul dapat lebih lengkap dan mendalam.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar mata diklat akuntansi (studi pada siswa kelas XI Program Keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Probolinggo) / Iftitahur Riddiniyah

 

Kata Kunci: Persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru, motivasi belajar, prestasi belajar. Persepsi adalah suatu proses individu dalam penginderaan yang mengarah kepada pemberian makna terhadap lingkungannya. Kompetensi profesionalisme guru adalah kemampuan (baik pengetahuan, sikap dan keterampilan) yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk melaksanakan dan mempertanggungjawabkan tugas-tugasnya sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa dari mempelajari ilmu pengetahuan dalam usaha merubah diri menjadi semakin baik dan mampu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap motivasi belajar, pengaruh secara langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar, dan pengaruh secara tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar. Penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian eksplanasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Probolinggo yang berjumlah 103 siswa. Variabel dalam penelitian ini adalah persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru, motivasi belajar dan prestasi belajar. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Dan Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah terdapat pengaruh secara langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap motivasi belajar. Hal ini terbukti dari hasil analisis yang diperoleh nilai standardized coeficient beta sebesar 0.480. Terdapat pengaruh secara langsung motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis nilai standardized coeficient beta sebesar 0.224. Terdapat pengaruh secara tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar. Hal ini terbukti dengan nilai pengaruh total sebesar 0.108. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan beberapa hal diantaranya adalah: (1) Semua guru akuntansi terus meningkatkan kompetensi profesionalismenya, (2) Peneliti selanjutnya disarankan untuk lebih memperluas populasi serta permasalah terkait dengan penelitian ini.

Rancang bangun mesin press sandal dengan pneumatik / Aminudin Ajiz, Sidqi Faris

 

Kata kunci: Pneumatik, Produktivitas Tujuan membuat Mesin Press sandal dengan pneumatik ini yaitu untuk membantu para pengusaha pengerajin sandal untuk meningkatkan kapasitas produksi kepada pengusaha pengerajin sandal. Pembuatan Mesin pres sandal dengan pneumatik ini dimulai dari proses desain gambar, dilanjutkan dengan perhitungan dan perencanaan mesin. Ini dimaksudkan agar diketahui bahan dan ukuran komponen mesin, mesin press sandal ini menggunakan silinder dengan diameter 20 cm. Setelah diketahui komponen mesin maka dilanjutkan dengan pemasangan komponen mesin yaitu meliputi landasan pemotong, pengarah landasan, pisau potong, silinder pneumatik, dan dudukan pisau. Perawatan dan pemeliharan Mesin Pres sandal dengan pneumatik, Perawatan setiap komponen berbeda-beda waktunya hal ini dikarenakan jenis pekerjaannya di mesin yang berbeda pula. Pisau Pemotong dapat dirawat dengan melakukan pembersihan dengan cara diberi pelumas minyak goreng pada waktu selesai digunakan.Perawatan untuk rangka yaitu dengan memeriksa bagian-bagian yang mungin terjadi korosi serta melapisi cat yang terkupas untuk menghindari terjadimya korosi.

Kajian kemampuan berpikir kritis melalui penerapan pembelajaran geometri berdasarkan tahap berpikir Van Hiele pada pokok bahasan garis dan sudut untuk siswa kelas VII-D SMP Negeri 11 Malang / Diana Ardhika Putri

 

Kata kunci : Van Hiele, Garis dan Sudut, Kemampuan Berpikir Kritis Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 11 Malang dimana guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional, masih banyak ditemui siswa yang belum menunjukkan kemampuan mereka dalam berpikir kritis. Misalkan saja, dalam hal memberikan contoh terkait materi, mereka kurang dapat memberikan contoh dengan baik bahkan ada pula yang menjawab asal-asalan karena mereka tidak memahami materi dengan baik. Mereka belum dapat menerapkan konsep dengan baik jika masalah yang diberikan sedikit lebih rumit. Selain itu masih banyak ditemui siswa yang enggan untuk bertanya jika mereka tidak paham atas materi yang diberikan. Saat guru mengajukan pertanyaanpun, terlihat hanya beberapa siswa tertentu saja yang antusias untuk menjawabnya. Lebih lanjut, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru matematika di kelas VII diketahui bahwa penyampaian materi geometri khususnya materi garis dan sudut lebih banyak disampaikan melalui ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Hal itu dapat menimbulkan kebosanan dalam diri siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang dapat diterapkan dalam mengajarkan materi geometri adalah pembelajaran geometri berdasarkan tahap berpikir Van Hiele. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran geometri berdasarkan tahap berpikir Van Hiele serta mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi garis dan sudut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2012 dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIID SMP Negeri 11 Malang. Pembelajaran geometri berdasarkan tahap berpikir Van Hiele terdiri dari 5 tahap, namun karena subjek penelitian adalah siswa SMP, maka penelitian dilaksanakan sampai tahap 3. Pembelajaran geometri berdasarkan tahap berpikir Van Hiele yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi tahap visualisasi, tahap analisis, dan tahap abstraksi. Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir yang lebih tinggi, maka siswa diharapkan melalui 5 fase pembelajaran pada tiap tahap berpikir, yaitu fase informasi, fase orientasi langsung, fase penjelasan, fase orientasi bebas, dan fase integrasi. Seluruh tahap pembelajaran Van Hiele dilakukan pada kegiatan inti pembelajaran. Tahap visualisasi dilakukan melalui tanya jawab, tahap analisis dilakukan melalui pengamatan, tahap abstraksi dimulai dengan bekerja secara kelompok, menyajikan hasil kerja kelompok, mengerjakan lembar individu serta membuat kesimpulan pembelajaran secara mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa dalam melakukan diskusi sebesar 56,5%, kemampuan melakukan analisis sebesar 73,25%, tingkat keterampilan berpikir siswa sebesar 62,25%, kemampuan membuat kesimpulan sebesar 82,5%, keterampilan siswa bertanya sebesar 40,75%, serta keterampilan siswa menjawab pertanyaan sebesar 49,5%. Berdasarkan hasil tes yang dilakukan diperoleh rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 65% dengan banyak siswa yang lulus KKM sebesar 75 dicapai oleh 22 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, pembelajaran geometri berdasarkan tahap berpikir Van Hiele dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengajarkan materi geometri sekaligus dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

Pengaruh similar name terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk Tolak Angin dan Antangin (studi pada warga Desa Kejapaan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan) / Ardhiansyah Probo Nugroho

 

Kata Kunci: Similar Name, Keputusan Pembelian. Dalam memenangkan persaingan usaha harus mempunyai strategi usaha. Salah satu strategi yang bisa dilakukan yaitu strategi similar name. Disini yang dimaksud strategi similar name adalah strategi yang dilakukan perusahaan yang sedang berkembang untuk bersaing dengan perusahaan yang lebih memiliki pasar yang lebih luas. Strategi ini menggunakan kesamaan dalam kemasan yang berupa warna kemasan, bentuk, informasi penunjang dan ukuran. Kemasan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemasaran. Selain harus berfungsi sebagai wadah dan pelindung isi produk, kemasan harus mampu pula menarik perhatian konsumen. Kemasan yang mampu menarik perhatian konsumen merupakan kemasan yang dapat memberikan gambaran awal mengenai kualitas dan nilai produk yang ditawarkan kepada konsumen. Perusahaan-perusahaan yang masih tergolong baru biasanya selalu meniru atau mengikuti merek yang menjadi perusahaan pemimpin (market leader) dalam pasar, karena cara tersebut lebih efektif dan efisien. Kemiripan kemasan diharapkan membuat konsumen menarik asosiasi bahwa merek perusahaan pengikut (follower) memiliki citra yang sama dengan merek pemimpin pasar (market leader). Meniru, menyamarkan ataupun menyamakan produk terutama dalam hal merek oleh perusahaan pengikut (follower) merupakan bentuk dari konsep similar name. Produk yang memiliki maupun yang menggunakan merek yang serupa (similar name) akan mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk maupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Strategi ini pernah diterapkan oleh Antangin saat pertama kali masuk pasaran untuk mengambil pasar konsumen yang di kuasai oleh Tolak Angin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kondisi similar name dan keputusan konsumen, mengetahui pengaruh similar name (warna kemasan, bentuk kemasan, informasi penunjang, ukuran kemasan) secara parsial terhadap keputusan konsumen, mengetahui pengaruh similar name secara simultan terhadap keputusan konsumen, dan mengetahui faktor yang dominan mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli Tolak Angin dan Antangin pada Desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif korerasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas (similar name) terhadap variabel terikat (keputusan konsumen). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh warga desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan yang pernah membeli dan mengkonsumsi dimana jumlah populasinya tidak diketahui (infinite population). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, teknik yang digunakan dalam penentuan sampel adalah purposive sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti yang dapat digunakan sebagai sampel dan cocok sebagai sumber data. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial, yaitu analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial sub variabel warna kemasan, bentuk kemasan, informasi penunjang, ukuran kemasan berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen. Sedangkan secara simultan menunjukkan bahwa sub variabel warna kemasan, bentuk kemasan, informasi penunjang, ukuran kemasan berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli Tolak Angin dan Antangin pada Desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Hasil ini dapat dilihat pada analisis Regresi Berganda dengan koefisien determinasi (R^2) sebesar 21,9 %, berarti bahwa ada pengaruh Tolak Angin dan Antangin pada Desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan sebesar 21,9 %, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Saran dari penelitian ini adalah: (1) Saran Saran ditujukkan kepada PT Deltomed yang memproduksi Antangin, hendaknya berani menciptakan produk baru yang berbeda dan mempunyai karakteristik khusus agar konsumen mudah mengenali produk tersebut. Tidak hanya membuat kemiripan kemasan maupun meniru dari produk Tolak Angin yang menjadi pemimpin pasar (market leader). (2) Untuk PT Sidomuncul yang memproduksi Tolak Angin hendaknya bisa menyempurnakan produk agar mempunyai ciri khas yang sulit ditiru oleh perusahaan pengikut (follower). Selain itu perlu adanya inovasi pada produk jamu kesehatan baik dari segi kemasan maupun dari produk yang dihasilkan agar tidak mudah ditiru dan agar dapat mempertahankan pasarnya. (3) Saran bagi konsumen sebaiknya teliti terlebih dahulu produk yang akan dibeli, berhati-hati sebelum melakukan pembelian, dan sangat disarankan untuk tidak tergesa-gesa dalam melakukan keputusan pembelian terlebih dengan adanya praktik similar name tersebut.

Kegiatan menutup pelajaran pada mata pelajaran akuntansi di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi / Martina Sani

 

Kata Kunci : kegiatan menutup pelajaran. Kegiatan menutup pelajaran merupakan kegiatan yang dilaksanakan di akhir pembelajaran, dimana guru memberikan kesimpulan di akhir pelajaran, mengevaluasi dan melaksanakan tindak lanjut dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana tujuan telah tercapai. Keterampilan mengajar guru akuntansi di sekolah pada umumnya dalam menutup pelajaran belum sepenuhnya membuat siswa memahami inti dari materi yang telah diajarkan dan kurang menimbulkan adanya kesan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan, karena guru hanya memberikan tugas kepada siswa dan mengucapkan salam di akhir pelajaran. Pelaksanaan penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan kegiatan menutup pelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran akuntansi. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif-kualitatif. Subjek penelitian yang sekaligus sebagai sumber data adalah guru akuntansi dan siswa jurusan akuntansi. Peneliti sebagai instrumen penelitian menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, rekaman pembelajaran di dalam kelas, observasi dan penelaahan dokumen. Data dianalisis secara kualitatif dengan cara mendiskripsikan secara naratif. Ketekunan pengamatan dan triangulasi digunakan sebagai sarana untuk menjaga keabsahan data dalam penelitian ini. Berdasarkan data penelitian dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan menutup pelajaran di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi telah melaksanakan kegiatan menutup pelajaran, namun tidak semua guru melaksanakan kegiatan tersebut dengan baik. Guru akuntansi di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi secara teori memahami dengan baik kegiatan menutup pelajaran, namun tidak selalu diterapkan dalam pembelajaran akuntansi di dalam kelas. Dengan kegiatan menutup pelajaran yang dilakukan oleh guru, siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diajarkan oleh guru. Dengan penelitian ini, disarankan kepada guru bidang keahlian akuntansi di sekolah agar selalu melaksanakan kegiatan menutup pelajaran sesuai dengan pemahaman yang telah dimilikinya. Selain itu juga harus memiliki perencanaan sebelum mengajar agar keterampilan mengajarnya menjadi lebih baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Sani, Martina. Of 2012. Closing Activities Accounting Lessons on Subjects in 7 Gondanglegi SMK Muhammadiyah. Thesis, Department of Accounting, Faculty of Economics, State University of Malang. Supervisor: (1) Prof. Dr. Bambang Sugeng, SE, MA, MM, Ak, (II) Diana Tien Irafahmi S.Pd., M.Ed Key words: activities cover lessons Activities cover the lesson activities carried out at the end of learning, where teachers give a conclusion at the end of the lesson, evaluate and implement follow-up of learning that have been implemented. These activities can be used by teachers to determine the extent to which objectives have been achieved. Teaching skills of teachers in schools in general accounting in closing the lesson has not been fully make students understand the core of the material that has been taught and not cause the appearance of learning that have been implemented, because teachers could assign tasks to students and say hello at the end of the lesson. Implementation research aims to know the description of the implementation of the lessons cover activities undertaken by teachers in the learning of accounting. The research was conducted at SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi by using qualitative descriptive research design. Research subjects as well as the data source is the teacher of students majoring in accounting and accounting. Researcher as research instrument used in the form of interview data collection techniques, recording of learning in the classroom, observation and review of documents. Data were analyzed qualitatively with a narrative describing the way. Persistence observations and triangulation is used as a means to maintain the validity of the data in this study. Based on research data and discussion, it can be concluded that the activity in SMK Muhammadiyah cover lessons 7 Gondanglegi been closed conducting lessons, but not all teachers carry out these activities properly. Accounting teacher at SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi well understood theoretically close the lesson activities, but not always applied in the accounting learning in the classroom. With the lessons cover activities undertaken by teachers, students more easily understand the material that has been taught by the teacher. With this research, it is recommended to teachers at the school of accounting expertise to always carry the lessons cover activities in accordance with the understanding he had. It also must have a plan before teaching the skills to teach him better, so that learning objectives can be achieved optimally.

Evaluasi mutu sukade terung (Solanum melongena) menggunakan larutan kapur dengan perlakuan lama perendaman dan suhu pengeringan yang berbeda / Erna Rahmawati

 

Kata- Kata Kunci: terung, sukade, lama perendaman, suhu pengeringan. Terung merupakan jenis buah yang dijadikan sayur yang sudah dikenal masyarakat luas karena rasanya yang enak. Selama ini terung hanya diolah dan dimanfaatkan sebagai sayur dan lalap. Pengolahan terung menjadi sukade merupakan usaha untuk memperpanjang masa simpan terung dan usaha untuk menganekaragamkan pangan. Terung merupakan bahan pangan yang banyak mengandung kalsium, karena itu pembuatan sukade diharapkan dapat menambah asupan kalsium ketika ditambahkan pada cake, kue, dan roti. Karakteristik terung yang mudah hancur dan pecah merupakan masalah pada saat pengolahan, karena itu dilakukan perendaman dalam air kapur dan pengeringan dengan suhu yang berbeda agar diperoleh sukade yang baik. Perendaman dalam air kapur akan mengakibatkan ion kalsium berikatan dengan pektin membentuk Ca- pektinat atau Ca- pektat yang tidak larut air dan menghasilkan tekstur yang keras. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lama perendaman terung dalam air kapur dan suhu pengeringan yang tepat sehingga dapat menghasilkan sukade terung dengan sifat fisiko- kimia dan organoleptik yang baik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah lama perendaman dalam air kapur Ca(OH)2 dengan tiga level: satu jam, tiga jam, lima jam. Faktor II adalah suhu pengeringan, dengan dua level yaitu suhu 50ºC, dan 60ºC. Uji fisik sukade terung dilakukan di Laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang. Uji Hedonik terhadap tekstur, warna, rasa, dan aroma dilakukan di Laboratorium Pastry & Bakery Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan apabila ada perbedaan, maka dilanjutkan dengan DMRT (Duncans Multiple Range Test). Penilaian perlakuan terbaik parameter fisik kimia dan organoleptik terdapat pada perlakuan perendaman dalam larutan kapur selama tiga jam dengan suhu pengeringan 60ºC memiliki karakteristik warna yang paling cerah (L) 38,27, warna kemerahan (a+) 3,40, warna kekuningan (b+) 17,97, kadar air 23,88, tekstur 30,63, kadar kalsium 43,437. Nilai kesukaan panelis terhadap warna 13,3% menyatakan sangat suka, tekstur 16,7% sangat suka, rasa 21,7% sangat suka, dan aroma 16,7% sangat suka.

Hubungan antara pola asuh permisif orangtua dengan perilaku cybersex remaja akhir / Veronika

 

Kata kunci: pola asuh permisif orangtua, perilaku cybersex, remaja akhir. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran (1) pola asuh permisif orangtua remaja akhir, (2) perilaku cybersex remaja akhir, (3) hubungan antara pola asuh permisif orangtua dengan perilaku cybersex remaja akhir. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2009-2011 dengan jumlah sampel 250 orang, dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik sampel yang digunakan adalah proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala pola asuh permisif orangtua dengan reliabilitas alpha cronbach 0,965 dan skala perilaku cybersex dengan reliabilitas alpha cronbach 0,968. Validitas instrumen menggunakan uji validitas isi dengan product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat pola asuh permisif remaja akhir berada pada kategori sedang (91,6%), rendah (5,8%), tinggi (3,6%); (2) tingkat perilaku cybersex berada pada kategori sedang (80,45%), rendah (15,2%), dan tinggi (4,4%); (3) terdapat hubungan positif yang signifikan antara pola asuh permisif orangtua dengan perilaku cybersex remaja akhir dengan korelasi product moment pearson (rxy = 0,165, p = 0,009 < 0,05), namun hasil korelasi tergolong kecil. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) remaja akhir untuk mengendalikan perilaku cybersex dengan melakukan kegiatan yang positif (2) orangtua untuk meminimalkan pola asuh permisif dengan menerapkan bimbingan dan kontrol yang cukup kepada remaja (3) peneliti selanjutnya untuk dapat menggunakan desain penelitian lain dengan menyempurnakan atau menambah variabel independent dari penelitian ini (4) penyedia jasa warnet untuk mengontrol aktivitas pengguna jasa warnet dengan cara tidak memberi sekat diantara pengguna warnet yang satu dengan yang lain.

Analisa perputaran modal kerja untuk meningkatkan keberhasilan usaha pada KPRI Danaraja Malang
oleh Arif Pujiwidodo

 

Penerapan pendekatan pembelajaran kolaboratif antara Numbered Head Together (NHT) dan Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran prakarya & kewirausahaan (studi pada kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 3 Singosari) / Agus Wahyudi

 

ABSTRAK Wahyudi, Agus, 2015. PenerapanPendekatanPembelajaran Kolaboratif AntaraNumbered Head Together (NHT)dan Problem Based Learning (PBL) UntukMeningkatkanHasilBelajarSiswa Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (Studi padaSiswa Kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 3 Singosari).Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Ery Tri Djatmika, M.A., M.Si, (2) Dr. Wening Patmi Rahayu,S.Pd.,M.M. Kata Kunci : NHT (Numbered Head Together), PBL (Problem Based Learning), danHasil Belajar. Dalam proses pembelajaran, guru masih menggunakan ceramah dan diskusi dalam menyampaikan materi pembelajaran. Diskusi yang dilakukan guru sering menggunakan studi kasus sebagai bahan diskusi saja, namun kebanyakan siswa merasa bosan, kurang termotivasi, dan hasil belajar menurun. Hal ini disebabkan oleh diskusi yang dilakukan masih monoton dan kurang adanya kolaborasi model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk penerapan pendekatan kolaboratif model pembelajaran Numbered Head Together(NHT) dengan model Pembelajaran Problem Based Learning(PBL)dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dalam sebuah tim. Dalam penelitian ini metode pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif model NHT (Numbered Head Together) dan pembelajaran Model PBL (Problem Based Learning). Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together), siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang heterogen. Setiap anggota dalam kelompok diharapkan dapat bekerjasama dan saling belajar dalam hal penugasan materi dan diskusi kelompok. Sedangkan model pembelajaran Problem Based Learning menjadikan siswa untuk berfikir kritis ini dilaksanakan dalam dua siklus. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif.SubjekPenelitianadalahsiswakelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 3 Singosari yang terdiriatas 5 siswalaki-lakidan 35 siswaperempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui penerapan pendekatan kolaboratif model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dan PBL (Problem Based Learning), (2) untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa pada penerapan pendekatan kolaboratif model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) denganPBL (Problem Based Learning). Hasil penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan Problem Based Learning ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I hasil belajar kognitif sebesar 72,5%, sedangkan pada siklus II sebesar 95% peningkatkan terjadi sebesar 22,5% sedangkan hasil belajar siswa ditinjau dari aspek afektif siklus I sebesar 74,27% sedangkan pada siklus II sebesar 80,83% peningkatkan terjadi sebesar 6,56% selain itu siswa juga memberikan respon positif terhadap penerapan kolaborasi model pembelajaran NHT dan PBL, yaitu sebesar 84,66%. Saran yang diberikan kepala sekolah SMK Muhammadiyah 3 Singosari dan seluruh guru, khususnya guru mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, untuk mencoba menerapkan kolaboratif pembelajaran model Numbered Head Together (NHT)dengan Problem Based Learning (PBL) pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini disarankan untuk menerapkan kolaboratif model pembelajaran Numbered Head Together (NHT)dengan Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran yang berbeda.

Pengaruh return on assets (ROA), price earning ratio (PER) dan kualitas auditor (KA) terhadap harga saham pada perusahaan automotive and alied product yang listing di BEI tahun 2007-2009 / Akhmad Nur Yasin

 

Kata Kunci :Return on Assets (ROA), Price Earning Ratio(PER), dan KualitasAuditor (KA), Harga Saham. Tujuan penelitian ini untukmemperolehbuktisecaraempirispengaruhkinerjakeuanganperusahaanjikadiukurdengan ROA, PER, danKualitasAuditorterhadaphargasaham, dan untuk mengetahui diantarakinerjakeuangantersebutROA, PER, danKualitasAuditormanakah yang paling berpengaruhterhadaphargasaham. Jenispenelitianiniadalahpenelitian eksplanasi, yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dan variabel yang lain. Populasi penelitian ini meliputi perusahaanAutomotive and Alied Product yang listing di BEI selamaperiode2007-2009 sebanyak 17 perusahaan. Periode pengamatan selama 3 tahun yaitu 2007-2009. Data yang digunakan terdiri dari laporan keuangan dalam Indonesian capital market directory, dan closing price tahun 2007-2009. Hasil penelitian membuktikan bahwa secaraparsialterhadap ROA, penelitianiniberhasilmembuktikanadanyapengaruhsignifikanterhadaphargasaham.PER berpengaruhsecara signifikanterhadaphargasaham.KualitasAuditor KAP, berpengaruhsecara signifikanterhadaphargasaham. Saran bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan data amatantidakhanyapada perusahaanotomotif, tetapimenggunakan data informasikeuangandariperusahaanselainotomotifdankualitas auditor kantorakuntanpublik tidakmenggunakanvariabel dummy,penelitianberikutnyadapatmempertimbangkanproksi lain yang didugaberpengaruhpadahargasahamdenganlebihtepatdandidasariolehlandasanteori yang relevan, sepertimenggunakanjumlahklien yang diauditsebagaiproksidarikualitas auditor danrasiokeuangan yang digunakantidakhanyaPER, dan ROA tetapijugarasio-rasiolainnya.

Hubungan aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, dan motivasi orang tua terhadap anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar di Desa Sumberduren Kecamatan Tarokan / Asri Wulandari

 

Kata kunci: anak putus sekolah, aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, motivasi orang Tua. Kondisi pendidikan di Kabupaten Kediri masih tergolong rendah, hal ini menggambarkan adanya permasalahan yang cukup kompleks dalam bidang pendidikan, masih banyak hambatan yang dilalui untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan. Kondisi ketidakmerataan pendidikan bagi masyarakat yang terjadi di Kabupaten Kediri dengan Kecamatan Tarokan sebagai kecamatan dengan nilai APK dan APM rendah bila dibandingkan dengan kecamatan yang lain. Dari 10 desa di Kecamatan Tarokan, Desa Sumberduren merupakan desa dengan persentase jumlah anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar tertinggi bila dibandingkan dengan 9 desa yang lain. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hubungan aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, dan motivasi orang tua terhadap anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar di Desa Sumberduren Kecamatan Tarokan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yakni termasuk penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan metode survey. Pengambilan sampel responden yaitu dengan mengambil seluruh populasi yang ada di daerah penelitian. Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kepala keluarga (KK). Analisis data yang digunakan yaitu analisis crosstab atau tabulasi silang untuk memperoleh gambaran karakteristik masing- masing variabel, dan juga menggunakan analisis chi square untuk menguji hubungan antara variabel bebas (Aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, dan motivasi orang tua) dengan variabel terikat (Anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar). Hasil penelitian diperoleh bahwa aksesibilitas (jarak rumah ke sekolah, cara tempuh ke sekolah, dan waktu tempuh ke sekolah), kondisi sosial ekonomi (pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua, jumlah beban tanggungan orang tua, kegiatan prodyktif anak), dan yang paling dominan adalah motivasi orang tua berhubungan erat dan signifikan terhadap anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar.

Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada kelas X Program Keahlian Tata Kecantikan SMK Kartika IV-1 Malang) / Indah Maya Sari

 

Kata Kunci : Model Numbered Heads Together (NHT), dan Hasil Belajar Model pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu berceramah dan diskusi. Model pembelajaran yang demikian menyebabkan nilai rata-rata kelas siswa rendah, hal ini terjadi karena siswa tidak ada yang menanggapi dan mengajukan pertanyaan kepada guru tentang materi yang telah dijelaskan, karena interaksi antara guru dan siswa terlihat kurang. Seharusnya guru lebih aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, yaitu guru yang menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi, dinamis, tidak monoton, sesuai dengan materi, situasi dan kondisi siswa. Strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dapat dilakukan dengan berbagai model pembelajaran. Salah satu alternatifnya yaitu menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), model pembelajaran ini yaitu berupa diskusi dalam kelompok kecil yang efektif untuk memudahkan siswa dalam memahami materi dan mampu bekerjasama dengan menggunakan nomor untuk menarik siswa dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan. Penelitian ini dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan (2 Siklus). Setiap siklus terdapat empat tahapan yang dilalui yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di kelas X Tata Kecantikan SMK KartikaIV-1 Malang, pada bulan Maret 2012, dan data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil belajar dalam penelitian ini meliputi dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Hasil belajar siswa aspek kognitif pada siklus I siswa yang tuntas belajar dari aspek kognitif sebanyak 11 siswa (33,33%) dan dari aspek afektif sebanyak 21 siswa (67,74%). Pada siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan meskipun belum 100% yaitu dari aspek kognitif sebanyak 29 siswa (87,89%) dan aspek afektifnya sebanyak 25 siswa (92,59%). Adapun saran yang dapat diajukan yaitu: 1) Bagi guru kewirausahaan, diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, karena akan membuat siswa menjadi lebih aktif, kreatif dan mandiri; 2) Bagi siswa, diharapkan mempersiapkan diri dengan belajar telebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran, sehingga pada saat diskusi kelas siswa mudah mengikuti pembelajaran dan bisa bersosialisasi dengan teman dalam satu kelas; 3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan dan mencapai ketuntasan hasil belajar yang maksimal.

Dampak kebijakan penataan pedagang kaki lima terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar Alun-alun Kota Batu / Ema Fitri Purwanti

 

Kata kunci: Kebijakan Penataan PKL, Pedagang Kaki Lima, Kesejahteraan Pedagang kaki lima Kota Batu yang terus bertambah dari tahun ketahun, selalu menjadi sorotan dan seiring dijadikan penyebab kesemerawutan lalu lintas maupun tidak bersihnya lingkungan. Transaksi jual beli pedagang kaki lima di sekitar tempat keramaian membuat kondisi kumuh dan tidak teratur. Pedagang kaki lima dalam menjajakan dagangannya banyak meninggalkan sampah berserakan dan menumpuk di beberapa tempat, kondisi itu sangat tidak bagus untuk pemandangan dan kondisi tata kota yang ramai seperti dipandang oleh pemerintah. Pemerintah daerah mempunyai peranan tertentu dalam mengatasi masalah pedagang kaki lima melalui kebijakan penataan pedagang kaki lima yang berada di kawasan alun-alun. Kebijakan tersebut memuat penataan kota untuk memberi fasilitas penempatan dagang terhadap pedagang kaki lima, sehingga memberi kesadaran yang memungkinkan berpartisipasi dalam pembangunan kota yang dinamis. Oleh karena itu Kota Batu melakukan upaya kebijakan penataan pedagang kaki lima dengan cara mengeluarkan Perda No. 5 tahun 2005 tentang Pengaturan dan Penertiban Pedagang Kaki Lima serta Keputusan Walikota Batu No. 18 tahun 2011 tentang Kawasan Bebas Pedagang Kaki Lima. Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana kebijakan pemerintah Kota Batu terhadap penataan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Batu?, Apakah dampak kebijakan dari pemerintah Kota Batu dalam penataan pedagang kaki lima (PKL) terhadap kesejahteraan PKL di sekitar alun-alun Kota Batu?,Apakah kendala dan upaya yang ditimbulkan dari adanya kebijakan pemerintah Kota Batu tentang penataan PKL? Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kebijakan penataan pedagang kaki lima, untuk mendeskripsikan dampak yang akan ditimbulkan dari adanya kebijakan penataan PKL terhadap kesejahteraan PKL, untuk mendeskripsikan kendala dan upaya pemerintah dalam menibgkatkan kesejahteraan para PKL. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini ada 3 sumber data (1) Dinas Perdagangan dan Perindustrian (2) Satpol PP (3) Para pedagang kaki lima di sekitar alun-alun Kota Batu. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan penggunaan dokumen. Analisis data yang digunakan melalui tiga tahap yaitu: reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan data. Dari hasil temuan penelitian dikemukakan bahwa: kebijakan penataan PKL Kota Batu dituangkan dalam Perda No. 5 tahun 2005 tentang pengaturan dan penertiban pedagang kaki lima. Sedangkan dasar dari kebijakan penataan pedagang kaki lima berpedoman keputusan Walikota Batu No. 18 tahun 2011 tentang kawasan bebas pedagang kaki lima. Dalam kebijakan penataan pedagang kaki lima Kota Batu sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pedagang kaki lima dalam hal penyelenggara kebijakan pedagang kaki lima oleh Disperindag Kota Batu dan mengenai penertiban pedagang kaki lima dilakukan Satpol PP Kota Batu. kebijakan penataan PKL terbagi menjadi 3 tempat (1) di BTC berada dijalan Kartini (2) rumah tua berada dijalan Sudiro (3) dan kuburan sisir. Kebijakan penataan pedagang kaki lima berdampak kurang mensejahterakan bagi pedagang kaki lima, tingkat kesejahteran mereka terus menurun dibandingkan dengan sebelum adanya kebijakan penataan. Hal ini di sebabkan oleh hambatan dari kebijakan penataan pedagang kaki lima yaitu kurangnya dukungan dari para pedagang kaki lima, adanya masalah dari luar(adanya pihak yang tidak bertanggung jawab membawa lari uang subsidi pedagang kaki lima) dan dalam pedagang kaki lima( masalah pribadi para pedagang), tempat yang disediakan jauh dari alun-alun, sedangkan upaya untuk mengatasi kendala pemerintah membuat program yang melibatkan para pedagang. Berdasarkan temuan penelitian diatas disarankan: Pemerintah Kota Batu hendaknya lebih mempertegas peraturan pemerintah tentang wilayah yang seharusnya tidak boleh ditempati para pedagang kaki lima, memberikan solusi terhadap dampak yang ditimbulkan dengan adanya kebijakan, kebijakan tidak hanya menguntungkan investor melainkan menguntungkan para pedagang kaki lima, mencatat kembali pedagang kaki lima sehingga keindahan Kota tertib.

Pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap kemampuan menyimak isi dongeng mata pelajaran bahasa Jawa pada siswa kelas III SDN Talun 02 Kabupaten Blitar / Resky Arfianto

 

Kata kunci: menyimak isi dongeng, media boneka tangan, SD Kegiatan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang paling mendasar, baik dalam pengajaran bahasa maupun kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk keterampilan menyimak tersebut adalah keterampilan menyimak dongeng. Dongeng senantiasa mengaktifkan tidak hanya aspek-aspek intelektual, tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, fantasi, dan imajinasi, Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada pembelajaran Bahasa Jawa dan wawancara pada guru kelas III SDN Talun 02 Blitar, dari 24 siswa di kelas III, 8 siswa dapat memahami dan mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan isi dongeng dengan baik, tetapi kurang teliti dan 16 siswa belum mampu memahami isi dan pesan yang disampaikan dalam dongeng dengan baik. Dalam hal ini peranan guru dalam pembelajaran sangatlah diperlukan, sehingga dalam proses pembelajarannya guru dituntut untuk kreatif dalam memanfaatkan media boneka tangan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kemampuan menyimak isi dongeng tanpa menggunakan media boneka tangan, (2) Mengetahui kemampuan menyimak isi dongeng dengan menggunakan media boneka tangan, (3) mengetahui pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap kemampuan menyimak isi dongeng siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian eksperimen. Peneltian ini dilaksanakan di SDN Talun 02 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar kelas III semester dua. Desain Penelitian eksperimen berupa pretest-posttest control group design. Subjek penelitian/ responden terdiri dari 24 orang kelompok kontrol dan 24 orang kelompok eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal test obyektif berjumlah 20 soal untuk mengetahui hasil belajar kemampuan menyimak. Sebelum penelitian instrument harus diuji cobakan dulu, yaitu validitas, realibilias, tingkat kesukaran, dan daya beda soal. Perbedaan hasil belajar Bahasa Jawa antara kelompok kontrol dan eksperimen diuji dengan uji-t untuk mengetahui pengaruh penggunaan media Boneka tangan terhadap kempuan menyimak siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang sangat signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hal itu ditunjukkan oleh hasil uji-t yang memperoleh nilai Sig 0,012 < 0,05 sehingga Ho ditolak yang artinya ada pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap kemampuan menyimak isi dongeng mata pelajaran bahasa Jawa pada siswa kelas III SDN Talun 02 Kabupaten Blitar.

Penerapan pembiasaan, metode bercerita dan keteladanan guru sebagai upaya untuk membangun karakter siswa kelas 2 SDN Lowokwaru 3 Malang / Armellia Ulfa

 

Kata Kunci: penerapan, pembiasaan, metode bercerita, keteladanan guru, karakter siswa SDN Lowokwaru 3 merupakan salah satu SD negeri di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang telah melaksanakan pendidikan karakter sejak awal tahun ajaran 2011/2012. Tetapi peneliti mengamati data dari papan poin pelanggaran yang ada di kelas 2 pada pertengahan semester ganjil, cukup banyak terjadi pelanggaran yakni 31 kasus. Kasus pelanggarannya meliputi datang terlambat, bertengkar dengan teman, berbicara kotor, tidak mengerjakan tugas atau PR dan ramai di kelas. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti mencoba menerapkan pembiasaan, metode bercerita dan keteladanan guru sebagai upaya untuk membangun karakter baik siswa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendiskripsikan penerapan pembiasaan, metode bercerita, keteladanan guru, karakter yang tampak pada siswa, dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembiasaan, metode bercerita, dan keteladanan guru sebagai upaya untuk membangun karakter siswa kelas 2 SDN Lowokwaru 3 Kota Malang. Penelitian ini dirancangan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, angket, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan model alir (flow model) dan untuk mengecek keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Penelitian ini membahas pembangunan karakter siswa melalui penataan psikologi siswa yaitu dengan pembiasaan, metode bercerita dan keteladanan guru di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan pembiasaan dilakukan dengan tiga cara yaitu pembiasaan rutin, spontan, dan terprogram. Metode bercerita diberikan guru setiap minggu yaitu pada hari Sabtu atau ketika sela pelajaran PKn yaitu dengan mengkondisikan siswa terlebih dulu, membuka cerita, menutup cerita dan evaluasi. Serta bentuk keteladanan guru yang diterapkan yaitu datang dan pulang tepat waktu, menyambut kedatangan siswa dengan senyum sapa, memakai seragam dan atribut rapi, ikut serta kegiatan kerja bakti dan pembiasaan siswa, memberi kesempatan siswa untuk berpendapat, menghargai segala kreativitas dan hasil usaha siswa, peduli terhadap lingkungan sekitar, membimbing dan mengajar dengan ulet dan sabar, ikut berpartisipasi dalam kegiatan unjuk kreativitas siswa, berperilaku sopan, berkata jujur dan pekerja keras. Karakter yang tampak yaitu karakter religius siswa mencapai rata-rata 88% dengan kriteria nilai jika dikualitatifkan yaitu A, karakter toleransi siswa mencapai rata-rata 84,4% dengan kriteria nilai jika dikualitatifkan yaitu A, karakter disiplin siswa mencapai rata-rata 78,2% dengan kriteria nilai jika dikualitatifkan yaitu A, karakter kerja keras siswa mencapai rata-rata 81% dengan kriteria nilai jika dikualitatifkan yaitu A, karakter mandiri mencapai rata-rata 90,6% dengan kriteria nilai jika dikualitatifkan yaitu A dan karakter peduli lingkungan siswa mencapai rata-rata 84,5% dengan kriteria nilai jika dikualitatifkan yaitu A. Karakter yang sudah terbangun di sekolah, diharapkan di rumah orang tua juga selalu berupaya untuk mempertahankan karakter tersebut sehingga perlu adanya kerjasama antara orang tua dengan guru untuk mendukung kegiatan ini.

Pembedaan hasil belajar IPS siswa kelas IV dengan pembelajaran model pemerolehan konsep dan pembelajaran konvensional di SDN Bareng 3 Kota Malang / Heni Nurrohmah

 

Kata Kunci : Hasil Belajar IPS SD, Model Pemerolehan Konsep, Pembelajaran Konvensional Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji apakah ada perbedaan hasil belajar siswa kelas yang diajar menggunakan model pemerolehan konsep dan kelas yang diajar dengan pembelajaran konvensional di kelas IV pada mata pelajaran IPS kompetensi dasar mengenal permasalahan sosial yang ada di daerahnya di SDN Bareng 3 Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran model pemerolehan konsep dengan pembelajaran konvensional. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah “ada perbedaan hasil belajar siswa kelas IV dengan menggunakan model pemerolehan konsep dan pembelajaran konvensional di SDN Bareng Kota Malang” kompetensi dasar mengenal permasalahan sosial yang ada di daerahnya. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi eksperimen (pretes postes control group design). Subjek penelitian melibatkan siswa kelas IVB dan IVC semester dua SDN Bareng 3 kota Malang sebanyak 64 siswa yang terbagi atas dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pemerolehan konsep dan yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional dengan harga probabilitas (sig) 0,007 dan thitung=2,773. Penelitian ini menunjukkan nilai p (sig) < 0,05 dan thitung (2,773) > ttabel (1,670) yang berarti peneliti dapat membuktikan hipotesis. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah hasil belajar kelas yang diajar dengan model pemerolehan konsep di kelas eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dengan taraf signifikansi 0,007. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini yaitu, (1) sekolah disarankan untuk menerapkan pembelajaran model pemerolehan konsep untuk meningkatkan hasil belajar, (2) guru disarankan untuk menggunakan model pemerolehan konsep sebagai salah satu alternaltif pilihan dalam praktik pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang maksimal (3) bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan eksperimen lanjutan menggunakan model pemerolehan konsep dalam pembelajaran IPA, PKn, Bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya.

Analisis buku sekolah elektronik (BSE) matematika kelas V semester 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Pasuruan / Khikmatul Jannah

 

Kata kunci: Analisis Buku, BSE, Matematika. Banyaknya buku yang beredar termasuk buku Matematika, memberikan banyak pilihan bagi para pengguna buku dalam menentukan buku yang digunakan. Hal tersebut menyebabkan timbulnya permasalahan dimana guru dan siswa seringkali bingung untuk menentukan buku teks mana yang sesuai untuk digunakan. Dari hasil wawacara dan angket peneliti dengan guru kelas V di 5 madrasah ibtidaiyah di Kabupaten Pasuruan diketahui bahwa buku teks yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran Matematika yaitu BSE karangan RJ. Soenarjo. Perlu diadakannya analisis yang lebih mendalam terhadap buku ajar tersebut, dalam hal ini BSE karangan RJ. Soenarjo apakah BSE tersebut benar-benar memenuhi kriteria buku ajar yang baik Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mendiskripsikan tingkat relevansi isi materi dengan kurikulum; (2) mendiskripsikan kebenaran konsep pada buku teks; (3) mendiskripsikan kebenaran bahasa dan penulisan dalam buku teks serta; (4) mendiskripsikan kesesuaian ilustrasi yang disajkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitataif dengan jenis penelitian analisis isi, karena yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini yaitu dokumen yang berupa buku teks. Dari hasil survey di 5 MI di Kabupaten Pasuruan didapatkan buku yang banyak digunakan yaitu BSE Matematika Kelas V terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan RJ. Soenarjo. Teknik analisis data yang dilakukan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan persentase (%). Dari hasil pembahasan dapat diketahui bahwa relevansi isi materi dengan kurikulum masih terdapat ketidaksesuaian dengan indikator yang dicapai. Untuk kebenaran konsep pada materi masih terdapat konsep yang tidak benar. Ketepatan bahasa dan penulisan masih ada yang tidak sesuai dengan kaidah dan tata bahasa Indonesia. Kesesuaian ilustrasi masih terdapat kekurangan karena terdapat gambar yang tidak sesuai dengan keterangan pada buku. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa relevansi isi materi dengan kurikulum sudah sesuai, sedangkan muatan materi berdasarkan konsep tergolong cukup sesuai. Untuk ketepatan bahasa dan penulisan sudah sesuai dengan kaidah dan tata bahasa Indonesia, dan kesesuaian ilustrasi sudah sesuai untuk pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan meskipun masih ada beberapa ilustrasi yang kurang sesuai. Dari hasil kesimpulan disarankan apabila menggunakan buku teks yang sudah ada hendaknya ditelaah terlebih dahulu agar kesalahan yang ada dalam buku ajar tersebut tidak disajikan dalam pembelajaran. Hal tersebut supaya tidak terjadi kesalahpahaman siswa dalam mempelajari materi pelajaran.

Peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam pemberdayaan pengrajin batik baronggung di Desa Mojosari Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung / Sesaria Vivi Susanti

 

Kata kunci : Dinas Perindustrian dan Perdagangan, pemberdayaan, pengrajin Kabupaten Tulungagung memiliki 7 perusahaan batik yang masih eksis sampai saat ini, perusahaan batik tersebut adalah Batik Gajah Mada, Baronggung, Satrio Manah, Sido Mukti, Kalang Kusuma, Sigit Batik dan Batik Majan. Batik Baronggung didirikan sebagai usaha untuk melestarikan budaya dan melanjutkan warisan nenek moyang. Melalui potensi Tulungagung yang tertuang dalam kain batik Baronggung, diharapkan juga kedepan mampu menggelorakan roda perekonomian dan mengangkat kualitas kehidupan masyarakat.Pengrajin batik Baronggung yang mayoritas berusia lanjut dan minimnya minat generasi muda menekuni kerajinan membatik menjadi kendala dalam pelestarian kelangsungan kerajinan batik Baronggung.Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan telah melakukan beberapa usaha untuk mempertahankan batik, yaitu dengan menetapkan seragam batik untuk pelajar, juga bagiPNS sebagai seragam dinasnya, memberikan bantuan peralatan membatik.

Perancangan alat etching PCB otomatis berbasis mikrokontroler ATMEGA16 / Ulfa Mufidah

 

Kata Kunci : Etching PCB, ATMega16 Penulis mencoba merancang alat etching PCB otomatis. Pada perancangan Tugas Akhir ini, penggeraknya menggunakan motor DC dimana diatur melalui mikrokontroler ATMega16 sebagai otak yang mengendalikan pergerakannya. Alat ini dilengkapi dengan penampil LCD, keypad dan sensor suhu LM35 untuk mengukur suhu larutan etching sebelum proses etching PCB dilakukan. Etching adalah proses pengikisan logam dengan menggunakan zat kimia, dan dalam hal ini logam yang akan dikikis adalah tembaga. Tembaga merupakan jenis logam yang relatif mudah dikikis sehingga banyak zat kimia yang dapat dipakai untuk melakukan proses ini. Secara umum perancangan alat etching PCB otomatis ini terdiri dari tujuh blok rangkaian utama yaitu : mikrokontroler ATMega 16, keypad, sensor suhu, LCD, driver motor DC 1 dan 2. Hasil pengujian dan pembahasan terdiri dari pengujian rangkaian mikrokontroler ATMega16, driver motor, catu daya, penampil LCD, keypad, sensor suhu LM35, serta pengujian rangkaian keseluruhan. Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian alat etching PCB otomatis dapat diambil kesimpulan sebagai beriku: (1) Perancangan alat etching PCB otomatis ini dilakukan dengan merancang sistem, hardware, dan software, (2) perancangan sistem terdiri dari perancangan rangkaian display LCD, keypad, sensor suhu, driver motor, serta mekanik alat, (3) pada perancangan alat etching PCB otomatis ini telah dilakukan pengujian per blok dan pengujian keseluruhan, (4) alat etching PCB otomatis ini telah berhasil dibuat dengan kendali ATMega 16, LCD sebagai display, keypad sebagai input data, motor sebagai penggerak mekanik, serta LM35 sebagai sensor suhu.

Perilaku perempuan dalam pemilihan moda angkutan menuju Universitas Negeri Malang / Neni Trisnawati

 

Kata Kunci: perilaku perempuan, pemilihan moda, angkutan. Setiap perempuan tentunya memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam hal memilih moda angkutan yang akan digunakan. Faktor yang mempengaruhi meliputi tingkat keamanan, kenyamanan, ketepatan waktu, biaya perjalanan, jarak perjalanan ketersediaan kendaraan dan lain-lain. Banyak akses pintu masuk-keluar di Universitas Negeri Malang seperti jalan Semarang, jalan Surabaya, jalan Veteran dan jalan Ambarawa, sehingga perempuan memiliki kebebasan dalam pemilihan moda angkutan menuju Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini mengetahui (1) karakteristik perilaku perempuan dalam pemilihan moda angkutan menuju Universitas Negeri Malang, (2) model pemilihan moda angkutan bagi perempuan yang menuju Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan metode sampling aksidental kepada perempuan yang menuju Universitas Negeri Malang ditetapkan dengan pengambilan 5% dari jumlah populasi, maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 336 orang. Analisis regresi yang digunakan regresi binary logistic. Hasil penelitian menunjukkan perempuan sebagai pelaku perjalanan memilih moda angkutan pribadi lebih dominan daripada moda angkutan umum. Dalam penggunaan moda lebih memilih sepeda motor sebesar 199 orang dan mikrolet sebesar 91 orang. Maksud perjalanan adalah untuk kuliah. Alasan perempuan memilih angkutan pribadi adalah waktu perjalan singkat, ketersediaan kendaraan pribadi dan flexible waktu berangkat dan tiba. Sedangkan alasan perempuan memilih angkutan umum adalah ketersediaan angkutan umum dan ongkos/biaya lebih murah. Biaya perjalanan yang dikeluarkan dalam sekali perjalanan pengguna moda moda angkutan pribadi atau angkutan umum sebesar kurang dari Rp.5.000,- dan menghabiskan lama perjalanan kurang dari 5 menit. Angkutan umum hendaknya memperhatikan waktu tunggu penumpang dan meningkatkan keamanan agar perempuan yang menggunakan moda angkutan umum lebih meningkat. Model pemilihan moda untuk angkutan pribadi dan angkutan umum adalah sebagai berikut: UAP= 1.161 - 2.134 (jarak) - 2.380 (SIM) UAU= -1.897 + 0.746 (biaya) +2.081 (lama)

Studi tentang sarana dan prasarana olahraga prestasi cabang olahraga atletik, taekwondo, panahan Kabupaten Ponorogo / Romelah

 

Kata kunci: sarana, prasarana, pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi. Untuk menunjang pola pembinaan dan pengembangan olahraga yang terdiri dari unsur pemassalan, pembibitan dan pembinaan atau peningkatan prestasi, maka dituntut adanya sarana dan prasarana olahraga yang memadai. Berkaitan dengan hal tersebut, maka masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah berapa jumlah sarana dan prasarana olahraga atletik, olahraga taekwondo, dan olahraga panahan yang ada di Kabupaten Ponorogo, untuk pembinaan dan pengembangan prestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sarana dan prasarana olahraga dan bagaimana tingkat prestasi dengan keadaan sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Ponorogo, untuk pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional (pengamatan), sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ponorogo, dengan teknik pengambilan sampel adalah Purposive Sample. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah mengisi lembar angket oleh pengurus cabang/pelatih cabang atletik, taekwondo, panahan (pengamatan dan catatan lapangan), dan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa lembar angket,wawancara dan pengamatan langsung lapangan. Analisis data menggunakan uji statistik deskriptif kuantitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang jumlah sarana dan prasarana olahraga prestasi yang memadai untuk menunjang pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Ponorogo. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa: (1) sarana olahraga atletik yang ada di Kabupaten Ponorogo yang tersedia sebanyak 67 sarana, sedang untuk prasarana olahraga atletik yang ada di kabupaten Ponorogo yang tersedia sebanyak 11 prasarana. (2) sarana olahraga taekwondo yang ada di Kabupaten Ponorogo yang tersedia sebanyak 82 sarana, sedangkan untuk prasarana olahraga taekwondo yang ada di Kabupaten ponorogo yang tersedia sebanyak 1 prasarana/lapangan. (3) sarana olahraga panahan yang ada di Kabupaten Ponorogo yang tersedia di Kabupaten Ponorogo yang tersedia sebanyak 82 sarana, sedangkan untuk prasarana olahraga panahan di Kabupaten Ponorogo sementara belum tersedia prasarana/lapangan panahan. Disarankan agar dilakukan penyempurnaan terhadap sarana dan prasarana olahraga yang sesuai dengan kebutuhan dan standar olahraga prestasi. Pengadaan sarana dan pembangunan prasarana olahraga oleh Pemerintah Kabupaten setempat yang berkoordinasi dengan pihak swasta merupakan salah satu jalan keluar atau solusi, guna meningkatkan program pembinaan dan pengembangan olahraga.

Perancangan film animasi 3 dimensi berjudul bermain angka bersama punokawan tentang belajar berhitung untuk anak-anak / Arif Wicaksono

 

Kata Kunci: Film animasi 3 dimensi, Belajar Berhitung, Punokawan Maraknya film animasi luar negeri yang mampu mengalihkan perhatian anak-anak merupakan ancaman penurunan wawasan anak-anak pada budaya dalam negeri. Kini banyak generasi muda utamanya anak-anak lebih banyak menikmati tayangan produk budaya luar negeri dari pada dalam negeri. Selain itu minimnya tayangan animasi menarik dan mendidik juga turut mewarnai permasalahan yang terjadi. Tujuan dari perancangan Animasi iklan 3 dimensi ini adalah mengemas Film Animasi 3 Dimensi Berjudul “ Bermain Angka Bersama Punokawan” tentang belajar berhitung untuk anak-anak. Dengan tujuan menanamkan kebiasaan gemar berhitung yang menyenangkan pada anak-anak serta mengenalkan dan mengakrabkan unsur-unsur budaya bangsa Indonesia melalui tokoh karakter Punokawan. Perancangan ini menggunakan model perancangan yang diadaptasi dari beberapa model sistem produksi animasi, serta beberapa literatur terkait model perancangan lainnya yang sesuai dengan tema film animasi yang selanjutnya dimodifikasi sesuai proses Perancangan Film Animasi 3 Dimensi Berjudul “Bermain Angka Bersama Punokawan”Tentang Belajar Berhitung Untuk Anak-Anak. Memaparkan secara garis besar proses perancangan muali dari proses pra produksi, produksi, hingga pasca produksi. Dipaparkan pula hasil analisis serta keperluan perancangan dalam data perancangan, teknis perancangan serta anggaran biaya perancangan. Hasil perancangan adalah serangkaian proses perancangan film animasi berdasarkan model perancangan mulai dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi. Pada proses pra produksi, dihasilkan konsep, ide, serta gagasan film animasi mulai sket desain karakter hingga naskah produksi. Pada proses produksi kegiatan terfokus pada proses animasi dan rendering. Sedangkan pada proses pasca produksi dihasilkan film animasi 3 dimensi (versi demo) dengan durasi 14-15 menit yang dikemas menjadi 2 produk, yakni untuk produk komersial dan keperluan tv broadcast. Alur cerita yang dihadirkan dalam perancangan ini adalah kisah petualangan para Punokawan dalam memecahkan setiap masalah melalui pengenalan angka serta kebiasaan berhitung dalam hal positif yang sangat mengasyikan bagi anak-anak. Untuk mendukung hasil perancangan, juga dihasilkan pula media-media promosi pendukung seperti buku biografi serta mewarnai Punokawan versi animasi dalam setuap paket penjualan film animasi dalam bentuk produk komersial serta beberapa merchandise, bantal edukasi ala Punokawan, serta promotional set seperti brosur, poster, kartu nama perancang, serta vertical banner.

Upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS-Geografi dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match pada siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang / Ratna Farida

 

Kata kunci: Make a Match, aktivitas, hasil belajar Hasil observasi awal dilakukan di SMP Negeri 20 Malang pada tanggal 26 Oktober 2011, diketahui bahwa kelas VII-D merupakan kelas yang memiliki nilai di bawah standar ketuntasan belajar. Guru belum menggunakan model pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran, hal ini menyebabkan aktivitas dan hasil belajar kurang. Hasil observasi berikutnya menunjukkan bahwa kegiatan di kelas siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru dan mengerjakan tugas, siswa cenderung pasif. Melihat hasil observasi awal yang telah dilakukan, perlu dilakukan upaya-upaya yang mampu memperbaiki kondisi kelas. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah penggunaan model Make a Match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII D SMP Negeri 20 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Clasrom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan, setiap siklus terdiri dua kali pertemuan selama 2 jam pelajaran. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini siswa kelas VII-D semester genap tahun ajaran 2011-2012 SMP Negeri 20 Malang dengan jumlah 38 siswa, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas siswa diamati selama pembelajaran, sedangkan hasil belajar diukur di setiap tes akhir siklus. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, soal tes dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa ratarata 18,79 pada siklus pertama dan 23,74 pada siklus kedua dengan peningkatan sebesar 26,34% dari kategori cukup aktif pada siklus pertama dan aktif pada siklus kedua. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui berdasarkan nilai rata-rata siswa dari tes yang dilakukan di setiap akhir siklus sebesar 66,43 pada siklus pertama dan meningkat menjadi 72 pada siklus kedua. Peningkatan hasil belajar siswa selama dilakukannya tindakan sebesar 8,38%. Peningkatan ini karena penggunaan model Make a Match dan tindakan guru selama pembelajaran untuk mengatasi masalah dalam kelas. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan model Make A Match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII-D SMP Negeri 20 Malang pada materi Atmosfer dan Hidrosfer. Guru geografi disarankan menerapkan model pembelajaran Make a Match sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan memperhatikan alokasi waktu dan pengelolaan kelas dengan matang.

Hubungan kemampuan mengajar mahasiswa PPL dengan prestasi belajar siswa Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan tahun pelajaran 2011/2012 di SMK Kota Malang / Deny Wijanarko

 

Visualisasi dua dimensi dan tiga dimensi kontur permukaan tanah Kampus I Universitas Negeri Malang dengan menggunakan Wolfram Mathematica 7.0 / Iwan Setya Budi

 

Kata kunci: Wolfram Mathematica 7.0, Google Earth, Kontur. Kampus I Universitas Negeri Malang (UM) terletak di daerah dataran tinggi bagian barat kota Malang. Kampus I UM memiliki kontur permukaan yang bervariatif, kontur yang bervariatif ini dapat dijadikan acuan dasar pembangunan UM ke depannya. Sementara itu UM belum memiliki arsip peta kontur permukaan tanah Kampus I.Oleh karena itu perlu segera direalisasikan pemvisualisasian kontur permukaan tanah Kampus I UM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui visualisasi 2-dimensi dan 3-dimensi kontur permukaan Kampus I Universitas Negeri Malang (UM) dengan menggunakan software Wolfram Mathematica 7.0 sebagai program pengolah datanya dan software Google Earth sebagai program pengumpul datanya. Data yang didapatkan merupakan data koordinat (lintang dan bujur) dan data ketinggian titik data.Data koordinat ini merupakan data dalam bentuk DMS (degree minute second) yang kemudian dikonversi menjadi DD (decimal degree). Data yang telah diolah oleh software Wolfram Mathematica 7.0 dengan bahasa pemrogramannya menghasilkan sebuah peta digital.Peta digitalini dapat diakses oleh semua pengguna dengan mudah karenaditampilkan sangat sederhana dengan beberapa menu yang dapat membantu pengguna untuk memahami kontur permukaan tanah UM. Pada tampilan awal program visualisasi kontur permukaan tanah UM ini terdapat pilihan menubutton untuk mengganti dimensi dari 2D menjadi 3D, menu checkboxuntuk menampilkan legenda dan menu checkboxuntuk menampilkan peta UM lengkap dengan gedung-gedungnya yang ditindihkan di atas peta kontur, sehingga pengguna dapat menganalisis sendiri ketinggian tanah gedung atau area tersebut.

Penerapan model learning tournament untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Binangun 2 Blitar / Nayla Nurul Husna

 

Model Learning Tournament digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam berkompetisi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada pelajaran IPA di kelas IV SDN Binangun 2 diketahui bahwa; 1) Pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru (teacher center); 2) Sumber belajar yang digunakan belum bervariasi dan kurang membangkitkan antusias siswa; 3) Metode yang digunakan kurang mengaktifkan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) penerapan model Learning Tournament pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Binangun 2 Blitar; 2) aktivitas siswa dalam belajar IPA di kelas IV SDN Binangun 2 Blitar selama diterapkan model Learning Tournament; 3) peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Binangun 2 Blitar setelah diterapkan model Learning Tournament. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan secara bersiklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Binangun 2, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 15 siswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik tes, observasi, dan dokumen berdasarkan rambu-rambu pedoman observasi. Penerapan model Learning Tournament mengalami peningkatan dari 82,5% menjadi 95%. Aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 11,5%. Sedangkan persentase ketuntasan siswa pada pra tindakan sebesar 13,33% meningkat pada siklus I sebesar 40% dan pada siklus II meningkat menjadi 93,33%. Penerapan model Learning Tournament dapat membuat semua siswa lebih banyak terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Penerapan model ini juga berhasil merubah aktivitas siswa yang semula kurang aktif menjadi aktif dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Peneraparan model Learning Tournament pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Binangun 2 Blitar memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep dari berbagai sumber belajar. Aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA meningkat selama menerapkan model Learning Tournament. Saat guru menerapkan model Learning Tournament, manajemen waktunya masih belum baik. Waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan pembelajaran dirasa masih kurang. Jadi disarankan, apabila menerapkan model ini, pembagian kelompok dilakukan sebelum jam pelajaran dimulai.

Penggunaan metode demonstrasi melalui finger painting untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anaka kelompok A di RA Perwanida Raci Kecamatan Bangil / Khilyatun Nisa

 

Key words: Method Demonstrations, Finger Painting, Fine Motor Ability Learning through finger painting demonstration using fine motor skills can enhance the learning of children and children in great demand because kids can imagine and bereksplorasi.Berdasarkan observation in RA. RACI PerwanidaBangil, it is known that there are problems that arise in learning fine motor development of children with indicators of imitating the form of straight lines, flat, angled, curved and circular include: (1) the child to write using a pencil so that the results are not satisfactory, (2) the activity mimic the shape of the letter is still a mess, (3) children are less interested in doing, (3) noisy children. The problems are overcome by the use of the method through finger painting demonstrations so children can see concretely what is exhibited. Researchers used a class action research (PTK) with qualitative and quantitative approaches. The study consisted of two cycles. Each cycle consists of four stages: (1) planning (2) execution (3) observation and (4) reflection. The subjects of this study was the son of group A in RA. RACI PerwanidaBangilPasuruan by the number of 20 children. In the research techniques of data collection was performed with the form of field notes observation assessment guidelines. Data analysis techniques are used to test the hypothesis that the action by using the average value of cycle I and cycle II. The research and demonstration through the use of finger painting methods to improve the child's motor skills are physically significant improvement. In the pre-action data obtained an average score of 50.66% and then do the action. In the first cycle of the average results obtained from the observation of children's learning 68.88%. Whereas in the second cycle reaches 89.28%, so the learning is expressed as a percentage of success has been successful over 89.28%. Based on the results of the study, concluded that the use of the method of demonstration through finger painting to enhance the ability of children in group A in RA. Perwanida RACI can improve physical motor skills of children. It is recommended that teachers can choose to use the appropriate method of learning a fun and varied.

Perbedaan antara hasil belajar IPS yang diajar menggunakan metode mind mapping dengan metode konvensional di kelas V SDN Lowokwaru 3 Kota Malang / Agung Wibowo Putro

 

Kata kunci: mind mapping,hasil belajar. Seorang guru memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan program pendidikan.Guru tidak hanya mentransfer, mencurahkan dan menyuplai berbagai ilmu pengetahuan kepada siswa tetapi juga diharapkan mampu menjadi motivator, mediator, fasilitator, pembimbing, konsultan dan mitra belajar siswa.Guru harus mampu mengejawantahkan potensi, bakat, dan minat siswa sehingga mampu mencari dan menemukan makna dari apa yang dipelajari. Salah satu metode pembelajaran yang Menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna dan diingat adalah metode mind mapping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara hasil belajar IPS siswa yang menggunakan metode mind mapping dengan metode konvensional di Kelas V SDN Lowokwaru 3 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasi eksperimen). Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa. Populasi pada penelitian ini adalah siswa SDN Lowokwaru 3 Kota Malang.tahun ajaran 2011/2012 dengan sampel penelitian adalah siswa kelas V SDN Lowokwaru 3Kota Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (terdiri dari silabus, RPP, LKS, dan metode mind mapping Instrumen pengukuran penelitian yaitu intrumen hasil belajar pre-tes dan post-tes. Masing- masing intrumen terdiri dari 25 soal. Analisis data dilakukan dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas eksperimen yang menggunakan metode mind mapping lebih baik daripada kelas control yang menggunakan metode konvensional.Rata-rata hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen adalah sebesar 81,79 dengan persen ketuntasan 90, 90%, sedangkan kelas kontrol sebesar 74,33 dengan persen ketuntasan 83,33% . Uji t juga menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Dari paparan data di atas disimpulkan bahwa Ada pengaruh yang signifikan hasil belajar IPS, siswa kelas V SDN Lowokwaru 3 yang diajar menggunakan metode Mind Mapping dengan yang tanpa menggunakan metode Mind Mapping pada materi pokok Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kesimpulan yang dapat berikan dalam penelitian ini yaitu, metode Mind Mapping berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas v di SDN lowokwaru 3 dengan materi pokok proklamasi kemerdekaan indonesia.

Meningkatkan kemenarikan pembelajaran gerak dasar melempar, menangkap dan menendang menggunakan metode Play ang Games pada siswa kelas III SDN Gondangrejo Kecamatan Gondangetan Kabupaten Pasuruan / Dian Resmi Wukirsari

 

Kata kunci: Meningkatkan, Kemenarikan Pembelajaran, Gerak Dasar Melempar, Menangkap dan Menendang, Metode Play and Games. Gerak dasar melempar, menangkap dan menendang merupakan salah satu materi pembelajaran yang terdapat Kurikulum Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Dikjasorkes) Sekolah Dasar kelas III. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu Mempraktikkan kombinasi gerak dasar melempar, menangkap dan menendang dengan koordinasi yang baik dalam permainan sederhana, serta aturan dan kerjasama. Data hasil pengamatan melalui data hasil observasi awal kemenarikan pada pembelajaran gerak dasar melempar, menangkap, dan menendang terjadi beberapa masalah diantaranya: (1) 42,2% atau 16 siswa kurang serius/bersungguh-sungguh selama proses pembelajaran teknik melempar, menangkap, dan menendang bahkan ada siswa yang duduk-duduk di pinggir lapangan pada saat pembelajaran; (2) 42,8 % atau 16 siswa terlihat kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran teknik melempar, menangkap, dan menendang (3) ada 44,5% atau 17 siswa yang kurang antusias dalam melakukan teknik melempar, menangkap, dan menendang, antara lain menyatakan bosan dan capek. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemenarikan pembelajaran gerak dasar melempar, menangkap dan menendang menggunakan metode play and games pada siswa kelas III SDN. Gondangrejo Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan. Pengambilan data dilaksanakan 1 Desember- 15 Desember 2011. Data diperolaeh dari catatan lapangan, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan 2 siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan lain dan siswa. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Dengan pemakaian metode play and games, kemenarikan pembelajaran gerak dasar melempar, menangkap dan menendang meningkat dari variabel menarik naik menjadi 84,2%. Dari variabel semangat naik menjadi 86,1%, sedangkan dari variabel antusias naik menjadi 88,1%. Selain hasil persentasi mengenai kemenarikan pembelajaran, diperoleh pula hasil dari pengamatan sikap siswa pada saat proses pembelajaran, pada siklus 1 ada siswa yang tidak berpakaian lengkap, ada siswa yang tidak serius waktu melakukan pemanasan, ada siswa yang tidak memperhatikan saat guru menjelaskan materi pembelajaran, ada siswa yang masih bingung dengan permainan. Namun pada siklus 2 sudah terlihat peningkatan yang cukup baik dibandingkan dengan siklus 1, pada siklus 2 ini semua siswa sudah berpakaian lengkap, semua siswa sudah semangat melakukan pemanasan, siswa melakukan proses belajar dengan baik, dan semua siswa senang melakukan variasi permainan. Selain itu diperoleh pula dari sikap guru yaitu guru kurang memperhatikan siswa saat pembelajaran berlangsung, guru masih kurang dalam pengaturan waktu, dan koreksi gerakan yang salah tidak segera dilakukan. Namun pada siklus 2, guru sudah memperhatikan siswa saat pembelajaran, guru sudah mengatur waktu dengan cukup baik, dan koreksi gerakan yang salah dilakukan saat itu juga. Peneliti menyarankan, bagi guru dapat memperkaya pengetahuan tentang metode-metode pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Bagi siswa dapat digunakan sebagai pedoman belajar, bagi sekolah dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dan bagi peneliti dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian yang berkaitan dengan materi pada skripsi ini.

Perancangan video sebagai sarana promosi daya tarik wisata Kabupaten Pasuruan / Dian Endah Setyowati

 

Kata Kunci : perancangan, video, promosi, daya tarik wisata, Kabupaten Pasuruan Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang mengandung unsur keunikan, keindahan dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Pariwisata telah menjadi industri yang mendunia, suatu bisnis yang semakin berkembang. Kabupaten Pasuruan memiliki wisata yang potensial, tetapi banyak masyarakat yang tidak mengetahui. Oleh karena itu, video tentang daya tarik wisata Kabupaten Pasuruan diharapkan menjadi sarana promosi yang efektif. Model perancangan video ini mengembangkan dari model perancangan prosedural dengan pendekatan penelitian kualitatif melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Langkah-langkah perancangan harus membentuk aliran yang harus diikuti, mulai dari latar belakang masalah sampai desain final. Desain final harus dapat menjawab latar belakang masalah dan rumusan masalah, sehingga aliran itu seolah-olah kembali ke latar belakang masalah perancangan yang dinyatakan dengan garis putus-putus. Hasil perancangan ini berupa video yang memberikan informasi serta digunakan sebagai promosi daya tarik wisata Kabupaten Pasuruan.

Perbedaan model pembelajaran kooperatif dan konvensional terhadap prestasi belajar mata diklat Chhasis bagi siswa kelas XI Jurusan Teknik Otomotif SMK Nasional Mojosari / Akhmad Syaifudin

 

Kata Kunci: model starter eksperimen, hasil belajar IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia yang diperoleh dari pengalaman melalui metode ilmiah. Dalam pembelajaran IPA, siswa diajak belajar mengungkapkan gejala-gejala alam dengan mengikuti kaidah ilmiah. Pada pembelajaran IPA di SDN Penanggungan Malang, guru belum pernah melaksanakan eksperimen, sehingga siswa belum pernah diajak belajar dengan mempraktekkan prinsip-prinsip metode ilmiah. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi pada mata pelajaran IPA. Model pembelajaran starter eksperimen merupakan salah satu model penerapan pembelajaran kontekstual yang melatih dan mengajarkan siswa untuk belajar konsep IPA sama halnya dengan seorang ilmuwan IPA. Model starter eksperimen mempunyai ciri khusus yaitu mengetengahkan lingkungan alam sebagai penyulut (starter) yang ditunjukkan pada tahap percobaan awal melalui demonstrasi guru, selanjutnya pembelajaran dilakukan dengan mempraktekkan prinsip-prinsip metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, desain percobaan, percobaan pengujian dan laporan hasil penelitian. Siswa belajar aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajaran, dengan demikian siswa akan menemukan sendiri sesuai hasil yang diperoleh selama pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memaparkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi (2) memaparkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter ekaperimen dan (3) memaparkan ada atau tidak adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penanggungan Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model penelitian eksperimen semu (quasi experimental). Desain eksperimen yang digunakan adalah desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SDN Penanggungan Kota Malang yang berjumlah 65 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengunpulkan data berupa soal tes hasil belajar. Pada analisis data digunakan rumus Uji-T Independen dengan menggunakan data rata-rata hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen sebesar 85,53 lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi yang hanya mencapai 78,84. Sesuai tabel analisis uji t, diperoleh thitung

Pengaruh model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions) terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran akuntansi kelas XI Program Akuntansi SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen / Yulaika

 

Kata Kunci: Model pembelajaran STAD, aktivitas, hasil belajar. Dalam proses belajar mengajar, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa adalah model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Divisions). Model pembelajaran STAD merupakan salah satu metode pembelajaran aktif yang menjadikan hasil belajar yang diperoleh maksimal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan mengambil tema model pembelajaran STAD mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran STAD apakah berpengaruh lebih baik daripada pembelajaran konvensional untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen yang dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen karena model pembelajaran yang digunakan masih konvensional dengan metode ceramah, serta sebagian besar siswa khususnya pada mata pelajaran akuntansi cenderung pasif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI AK 1 sebagai kelas kontrol yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional dan siswa kelas XI AK 2 sebagai kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran STAD. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar (pretest-posttest) dan lembar observasi aktivitas siswa. Berdasarkan hasil uji T independent sample two tailed dapat disimpulkan bahwa (1) Ada pengaruh model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions) terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran akuntansi di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen dengan hasil nilai signifikansi 0,000. (2) Ada pengaruh model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions) terhadap hasil belajar siswa selama proses pembelajaran akuntansi di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen dengan hasil nilai signifikansi 0,000. Dari kesimpulan tersebut dapat disarankan agar model pembelajaran STAD dijadikan alternatif bagi guru akuntansi atau guru bidang studi lainnya dalam memilih model pembelajaran yang akan digunakan di kelas untuk membangkitkan aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa di kelas, bagi peneliti berikutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis diharapkan dapat membuat skenario model pembelajaran STAD yang lebih menarik, bagi sekolah hasil penelitian diharapkan menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki sistem pembelajaran, dan bagi siswa model pembelajaran STAD diharapkan mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.

Faktor-faktor penyebab mahasiswa jurusan sastra Arab jarang menggunakan bahasa Arab di self access center (SAC) Jurusan Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Abdul Hakim

 

Kata Kunci: Bi’ah Arabiyah, Self Acces Center (SAC), Kemahiran Berbicara. Untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan memudahkan pencapaian keberhasilan program Pendidikan Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastara Universitas Negeri Malang, kehadiran SAC merupakan salah satu alternatif yang baik. Akan tetapi, SAC tidak akan ada artinya kalau kurang dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa Jurusan Sastra Arab terutama dalam menjadikan SAC sebagai Bi’ah Arabiyah. Kenyataan yang terjadi adalah kurang berjalannya Bi’ah Arabiyah sebagaimana yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor yang menyebabkan mahasiswa tidak menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi di SAC Jurusan Sastra Arab Univrersitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Sastara Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Sastra Arab, Petugas SAC JSA, dan dosen JSA. Pengumpulan data dilakukan teknik observasi, angket, dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa jarang menggunakan bahasa Arab di SAC JSA FS UM yaitu: (1) Mahasiswa kesulitan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, (2) mahasiswa takut salah dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, (3) tidak ada peraturan yang ketat untuk berbicara menggunakan bahasa Arab, (4) dipengaruh oleh lingkungan, (5) kurangnya kesadaran mahasiswa untuk berbicara bahasa Arab, dan (6) kurangnya motivasi mahasiswa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Mengingat pentingnya Bi’ah Arabiyah sebagai salah satu sarana untuk mempelajari bahasa Arab terutama kemahiran berbicara disarankan kepada: (1) Jurusan Sastra Arab untuk terus memantau dan mengevaluasi jalannya Bi’ah Arabiyah di SAC JSA, (2) dosen JSA hendaknya terus membantu mahasiswa dalam menjalankan lingkungan berbahasa Arab baik dengan ikut berperan serta maupun dengan memberikan dukungan dan motivasi, (3) petugas SAC JSA hendaknya memberiakan contoh kepada mahasiswa untuk selalu berbicara menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi di SAC JSA, dan (4) mahasiswa JSA hendaknya menyadari bahwa keberadaan Bi’ah Arabiyah sangat

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari zink ionida dengan ligan etilenatiourea / Viona Rosa Ariesmawati

 

Kata kunci: kompleks Zink(II), etilenatiourea, atom donor Sintesis senyawa kompleks melibatkan pembentukan ikatan kovalen koordinasi antara atom pusat dan ligan. Salah satu atom pusat yang digunakan dalam sintesis senyawa kompleks adalah ion zink(II). Zink(II) merupakan ion logam sel tertutup (closed shell) karena memiliki orbital d yang penuh terisi elektron. [Zn(SC(NH2)2)3]SO4 merupakan senyawa kompleks dari zink(II) dengan ligan tiourea yang telah disintesis dan dilaporkan hasilnya. Senyawa kompleks dengan atom pusat zink(II) dari garam zink iodida dan ligan etilenatiourea (etu) belum pernah disintesis. Tujuan penelitian adalah mensintesis dan mengetahui struktur senyawa kompleks yang dihasilkan melalui reaksi antara zink iodida dengan ligan etilenatiourea pada perbandingan stoikiometri 1 : 2 dan 1 : 4. Penelitian merupakan eksperimental laboratorium yang terdiri dari dua tahap yaitu sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks. Tahap sintesis diawali dengan sintesis zink iodida sebagai atom pusat kemudian dilanjutkan dengan sintesis senyawa kompleks. Tahap sintesis dilakukan melalui metode reaksi langsung dalam pelarut asetonitril dan digetarkan dengan bak ultrasonik. Senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi melalui: (1) uji titik lebur; (2) uji daya hantar listrik (DHL); (3) uji kualitatif ion iodida dan (4) analisis SEM-EDX. Struktur senyawa kompleks diprediksi berdasarkan hasil analisis EDX dan energi bebasnya dihitung menggunakan software Hyperchem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis senyawa kompleks dari zink iodida dengan ligan etilenatiourea pada perbandingan stoikiometri 1 : 2 dan 1 : 4 dapat dilakukan melalui metode reaksi langsung dalam pelarut asetonitril. Kedua senyawa kompleks hasil sintesis memiliki struktur yang sama, dengan rumus molekul [ZnI2(etu)2].

Perancangan baku panduan belajar dasar-dasar fotografi dengan kamera lubang jarum / Maret Yohanes

 

Kata Kunci: perancangan, buku, fotografi, kamera, pinhole Sejarah fotografi tidak dapat dipisahkan dari fotografi lubang jarum. Teknik fotografi sederhana itu sekarang menjadi „cara unik‟ melukis dengan cahaya ditengah kemajuan teknologi fotografi digital. Bagi peminat seni fotografi, kamera lubang jarum seperti „barang antik‟ ditengah barang-barang canggih di masa kemudahan seperti sekarang ini. fotografi lubang jarum merupakan salah satu alternatif teknik fotografi sederhana yang jarang dipelajari. Tak sedikit peminat fotografi mencari referensi tentang fotografi lubang jarum. Bertolak dari itu muncul ide untuk membuat sebuah buku sebagai media referensi yang dirancang sebagai media belajar untuk mengenalkan teknik-teknik dasar lubang jarum. Untuk mendasari perancangan ini, maka digunakan model perancangan 3D (Define, Data, Design) yang diawali dengan pengumpulan data untuk kemudian dianalisis dan diwujudkan dalam hasil akhir berupa produk. Produk akhir dari perancangan ini adalah buku panduan belajar dasar-dasar fotografi dengan kamera lubang jarum. Fotografi lubang jarum adalah sebuah alternatif teknik fotografi sederhana yang mampu memberikan pengalaman dan pembelajaran tentang konsep dasar eksposur. Buku ini dikemas dengan layout yang menarik, lebih deskriptif secara visual dan terstruktur, sehingga menimbulkan keingintahuan target audiens. Produk hasil akhir dari perancangan ini belum sempat diujicobakan, sehingga belum dapat diketahui tingkat keefektifannya. Namun, mengingat karya ini telah dirancang dengan metode dan prosedur yang nalar dan ilmiah, maka diprediksikan secara teoritik media ini efektif.

Pengaruh citra toko terhadap kepuasan belanja konsumen (studi pada konsumen Bentar Dipayana Swalayan Blitar) / Saiful Anwar

 

Kata Kunci: Citra Toko, Kepuasan Konsumen Persaingan bisnis ritel yang semakin ketat menuntut peritel untuk menerapkan strategi yang tepat. Salah satu strategi yang dapat digunakan yaitu melalui citra toko. Setiap peritel harus memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri agar mampu bersaing. Citra toko merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam bisnis ritel, karena citra toko bisa menjadi perwujudan atau pribadi sebuah usaha ritel. Persepsi konsumen akan citra toko yang baik dapat menimbulkan ritel tersebut digemari konsumen. Konsumen yang senang dengan ritel tersebut dapat menarik konsumen berbelanja pada suatu bisnis ritel. Bahkan bila konsumen tersebut merasa puas dengan bisnis ritel maka nantinya memberikan keuntungan tersendiri bagi peritel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara citra toko terhadap kepuasan belanja konsumen baik secara parsial maupun simultan yang terdiri dari merchandise (X1), pramuniaga (X2), pelayanan (X3), store ambience (X4), dan promosi (X5) dan untuk mengetahui variabel yang paling dominan mempengaruhi kepuasan konsumen. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 110 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Dari hasil penelitian dapat diketahui ada pengaruh positif dan signifikan antara merchandise, pramuniaga, pelayanan, store ambience terhadap kepuasan konsumen baik secara parsial maupun simultan. Dalam penelitian ini promosi tidak memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen secara parsial, akan tetapi berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen secara simultan. Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat disarankan bahwa perusahaan harus dapat mempertahankan dan meningkatkan persepsi konsumen atas citra toko yang sudah baik. Cara untuk meningkatkan citra toko meliputi: 1) memberikan variasi produk baru, 2) pramuniaga lebih ramah dan sopan, 3) memberikan fasilitas-fasilitas yang membuat konsumen senang dengan suasana toko, 4) melakukan perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan baik dalam hal display maupun lay out, 5) perusahaan harus lebih sering berpromosi agar mampu memberikan kontribusi terhadap kepuasan konsumen. Sedangkan bagi penelitian berikutnya disarankan menggunakan variabel harga, lokasi, store atmosphere dan relationship marketing.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 |