Penerapan pendekatan tim kuis untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Agustina Rokhmawati

 

Kata Kunci: Peningkatan Aktivitas, Hasil Belajar, Tim Kuis, IPS SD. Bedasarkan hasil observasi pada tanggal 15 Desember 2011 di SDN Kedung Banteng I, selama pembelajaran IPS berlangsung seluruh siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan membaca buku pelajaran dan hasilnya nilai ulangan siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang tahun 2011 khususnya pada pembelajaran IPS terdapat kesenjangan nilai, diketahui dari 19 orang siswa sebesar 15,8% (3 orang) yang mendapatkan nilai baik, sedangkan yang mendapatkan nilai cukup yaitu 26,3% (5 orang), dan 57,9% (11 orang ) mendapatkan nilai kurang, hal itu mengacu pada standar ketuntasan minimal yang ditetapkan di SDN Kedung Banteng I adalah 70. Tujuan Penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan penerapan pembelajaran melalui pendekatan tim kuis pada pembelajaran IPS kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang.Pasuruan, (2) mengetahui sejauh mana peningkatan aktifitas siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang Pasuruan setelah diterapkannya pendekatan tim kuis, (3) mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang.Pasuruan setelah diterapkannya pendekatan tim kuis. Pendekatan tim kuis adalah pendekatan pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk berfikir mandiri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Deskriptif Kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) langkah-langkahnya diadopsi dari model Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang Pasuruan sebanyak 19 siswa. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci, lembar observasi, soal test tulis dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan tim kuis dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I. Hal ini terjadi karena guru telah menerapkan pendekatan tim kuis sesuai dengan tahap-tahap dalam pendekatan tersebut. Untuk aktifitas siswa pada siklus I mendapat nilai rata-rata (79,8), sedangkan pada siklus II meningkat menjadi (82,0). Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai dari sebelum dilakukannya tindakan (59,47), kemudian dilakunnya tindakan pada siklus I mendapat nilai rata-rata (75,7), selanjutnya tindakan pada siklus II (78,4). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan pendekatan tim kuis terlaksana dengan baik dan hasilnya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru harus mengetahui dengan jelas seperti apa langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar pembelajaran terlaksana dengan efektif dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Inventarisasi bacillariophyceae di sumber air panas daerah Cangar-Kabupaten Malang / oleh Langgeng Prasetyo

 

Uji kualitas genteng keramik berglasir produksi home industry Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Anggi Satria Permadi

 

Kata Kunci : Uji Kualitas.Genteng Keramik.Home Industry. Genteng keramik berglasir adalah genteng keramik yang dalam proses pembuatanya dilakukan proses finishing dengan cara lapisan permukaanya dilapisi glasir. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kualitas genteng keramik berglasir produksi Home Industry Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Pengujian yang dilaksanakan berdasar pada SNI 03-2134-1996. Pengujian genteng keramik berglasir ini dilakukan pada tanggal 13 Februari 2012 sampai dengan 13 April 2012. Pengujian ini dilaksanakan di Laboratorium Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek. Pengujian ini meliputi: pengujian pandangan luar, pengujian beban lentur, pengujian peresapan air, dan pengujian ketahanan terhadap kejut suhu. Dari hasil pengujian pandangan luar genteng keramik berglasir sudah memenuhi standar, karena permukaan glasir sudah seragam,bebas dari retak, dan warna glasir sudah merata. Untuk pengujian peresapan air genteng keramik berglasir sudah memenehi standar karena dalam pengujian di dapat nilai 17%, sedangkan dalam SNI 03-2134-1996 genteng keramik berglasir mempunyai persapan air maksimum 18% sehingga tidak terjadi peresapan. Dan untuk pengujian ketahanan terhadap kejut suhu genteng keramik berglasir sudah memenuhi standar yang ditentukan oleh SNI 03-2134-1996 karena tidak ada keretaan pada permukaan genteng. Untuk pengujian beban lentur genteng keramik berglasir belum memenuhi standar. Karena dalam pengujian di dapatkan nilai 713 N. Sedangkan dalam SNI 03-2134-1996 genteng keramik harus mempunyai beban lentur minimum 1180 N sehingga jauh dari standar.

Deskripsi tema-tema pembelajaran bahasa Indonesia di SD dan penjabarannya dalam buku teks bahasa Indonesia Sekolah Dasar kelas IV / oleh Sumarno

 

Kesalahan - kesalahan pemanfaatan media video dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Madyopuro 2 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Gia Rachmat Sulung

 

Kata Kunci: Pemanfaatan video, Kesalahan-Kesalahan, Faktor-faktor Media canggih dapat dideskripsikan sebagai suatu alat yang memang mempunyai kemampuan khusus. Tidak bisa dibuat langsung oleh guru. Dan membutuhkan konsumsi listrik yang cukup besar dan dilengkapi dengan komponen-komponen yang rumit, dan pemahaman guru sangat penting disini sabagai upaya pengoptimalan pembelajaran di kelas. Sehingga pemahaman dalam pemanfaatan media tersebut rentan sekali terjadi kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu. Dalam pemanfaatan media video, dibutuhkan beberapa peralatan seperti komputer/laptop, LCD proyektor, dan sound speaker/pengeras suara. Peran guru juga sangat penting dalam pemanfaatan media ini, guru haruslah memahami bagaimana mengoperasikan alat-alat penunjang video yang tersebut tadi. Pada pelaksanaannya juga guru harus mampu mengoptimalkan pembelajaran dengan cara mampu mengkondisikan situasi dalam kelas, dan menciptakan kondisi siswa agar siap menerima pembelajaran dengan memanfaatkan media ini. Siswa juga harus dapat mengkondisikan dirinya sendiri agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa masih terjadi kesalahan-kesalahan dalam pemanfaatan media video dalam pembelajaran IPS di kelas IV. Dilihat dari pedoman guru dalam merancang RPP dan aktivitas pembelajarannya di kelas, sebenarnya secara umum dalam pembelajaran ini guru sudah dapat melaksanakannya dengan baik, namun dalam praktik di lapangan masih saja terjadi keasalahan-kesalahan baik dari faktor teknis yaitu disebabkan dari faktor alat yang digunakan seperti video tidak tampak pada layar proyektor, atau suara buruk. Dan faktor non-teknis dari segi kemampuan guru dalam memanfaatkan video dalam pembelajarannya, seperti guru yang masih belum maksimal mengkondisikan siswa saat penayangan video berlangsung, sehingga kondisi kelas terkesan ramai. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebaiknya ada pelatihan yang diadakan lembaga pendidikan setempat untuk mensosialisaikan pemahaman dalam memanfaatkan media video. Selain itu kesiapan guru sebelum pembelajaran juga menjadi hal yang tidak bisa dilupakan. Pengecekan alat-alat, data video yang akan ditayangkan dan juga yang terpenting pengkondisisn siswa saat pembelajaran berlangsung, karena tidak dapat dipungkiri pembelajaran ini sangat merangsang siswa untuk aktif berpendapat dan media ini sangat memacu rasa ingin tahu siswa.

Aktivitas siswa kelas II SMTP Negeri yang bersekolah sore dalam mengikuti siaran televisi pendidikan Indonesia di kotamadya Denpasar Bali
oleh I Wayan Arsana

 

Kata kunci: strategi pembelajaran, kecerdasan emosional, gaya belajar, hasil belajar. Paradigma pembelajaran yang dianut oleh pembelajar tercermin pada strategi pembelajaran yang digunakan. Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang memuat langkah-langkah atau prosedur yang digunakan pada kondisi tertentu untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa para pembelajar di sekolah dasar kurang memperhatikan strategi pembelajaran yang digunakannya, sehingga pembelajaran menjadi monoton bahkan cenderung membosankan. Pembelajar secara dominan masih menggunakan strategi yang berpusat pada pembelajar. Hal ini tidak sesuai dengan inovasi pembelajaran serta prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran. Pemilihan serta penggunaan strategi pembelajaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan karakteristik pebelajar akan berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai. Hal ini berimplikasi terhadap kualitas proses pembelajaran itu sendiri yang cendrung tidak menarik dan membosankan dan tidak memotivasi karena tidak melibatkan pebelajar dalam proses pembelajarannya. Salah satu strategi pembelajaran yang perlu diuji keefektifannya adalah strategi pembelajaran Kooperatif STAD, strategi yang tidak dirancang untuk menyampaikan materi sebanyak-banyaknya, namun ide dasarnya adalah bagaimana memotivasi pebelajar dalam kelompok agar dapat saling membantu satu sama lain dalam menguasai materi pembelajaran. Esensinya adalah pebelajar bekerja di dalam kelompok lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok yang heterogen baik dilihat dari sisi kemampuan, jenis kelamin, ras dan sebagainya, serta penilaiannya dapat dilakukan dengan penilaian individu maupun kelompok. Untuk mengetahui keefektifan dari strategi pembelajaran Kooperatif STAD dalam pembelajaran PKn di kelas V sekolah dasar, sebagai pembanding digunakan strategi pembelajaran ekspositori, suatu strategi pembelajaran yang sifatnya hanya mentransfer informasi dan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar dan strategi ini sangat lazim digunakan oleh pembelajar. Selain strategi pembelajaran, hal penting yang perlu menjadi perhatian pembelajar adalah karakteristik pebelajar, di antaranya adalah kecerdasan emosional dan gaya belajar. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa. Sedangkan gaya belajar adalah bagian karakteristik pebelajar yang menggambarkan kebiasaan diri seseorang dalam menerima, memikirkan, memecahkan masalah maupun dalam menyimpan informasi. Sejauh mana pengaruh utama dan pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan kecerdasan emosional dan gaya belajar terhadap hasil belajar PKn merupakan fokus kajian dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh strategi pembelajaran (Koopeatif STAD dan Espositori), kecerdasan emosional dan gaya belajar terhadap hasil belajar PKn. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan dan variabel moderator terhadap hasil belajar PKn. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen menggunakan desain faktorial nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah pebelajar kelas V sekolah dasar di SD Negeri 1 Rendang, SD Negeri 2 Rendang, SD Negeri 2 Besakih dan SD Negeri 2 Pempatan yang berjumlah 161 orang terdiri dari dari 6 kelas. Penentuan kelas sebagai kelompok eksperimen maupun kelas kontrol ditentukan secara rambang melalui cara undian. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan test hasil belajar, angket kecerdasan emosional dan angket gaya belajar. Data diolah dengan menggunakan statistik inferensial dengan teknik analisis varian (anava) faktorial 2 x 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan 1) ada perbedaan hasil belajar PKn antara kelompok pebelajar yang menggunakan strategi pembelajaran Kooperatif STAD dengan kelompok pebelajar yang menggunakan strategi pembelajaran ekspositori, 2) tidak ada perbedaan hasil belajar PKn antara kelompok pebelajar yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dan kelompok pebelajar yang memiliki kecerdasan emosional rendah. 3) tidak ada perbedaan hasil belajar PKn antara kelompok pebelajar yang memiliki gaya belajar visual dan kelompok pebelajar yang memiliki gaya belajar auditif. 4) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dengan kecerdasan emosional terhadap hasil belajar PKn. 5) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya belajar terhadap hasil belajar PKn. 6) ada interaksi antara kecerdasan emosional dan gaya belajar terhadap hasil belajar PKn, 7) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran, kecerdasan emosional dan gaya belajar terhadap hasil belajar PKn. Hasil perhitungan statistik desriptif menunjukkan penerapan strategi pembelajaran kooperatif STAD (rerata 65,32) memberikan pengaruh lebih baik terhadap hasil belajar dengan penerapan strategi pembelajaran ekspositori (rerata 56,79). Berdasarkan temuan ini disarankan agar pembelajar PKn dapat menerapkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif, seperti strategi pembelajaran kooperatif karena strategi ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar. Pembelajar disarankan mengenali karakteristik pebelajarnya dan dapat mengakomodasikan ke dalam proses pembelajarannya. Selama ini dalam proses pembelajaran para pembelajar belum banyak yang memberikan perhatian terhadap perbedaan karakteristik pebelajarnya. Pembelajar dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengenal perbedaan karakteristik pebelajarnya.

Masalah pengucapan bahasa Inggeris oleh mahasiswa penutur bahasa Bugis
oleh Hanisah Hanafi

 

Penerapan model pembelajaran creative problem solving untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa (Studi pada siswa kelas X kompetensi keahlian pemasaran pada standar kempetensi membuka usaha eceran / ritel SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Venny Ridawati

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Creative Problem Solving, Proses Belajar, Hasil Belajar Hasil observasi awal yang telah dilakukan di kelas X Kompetensi Keahlian Pemasaran pada Standar Kompetensi Membuka Usaha Eceran/Ritel SMK Muhammadiyah 2 Malang, menunjukan bahwa proses pembelajaran masih didominasi oleh ceramah dan kadang-kadang diselingi dengan metode tanya jawab dan diskusi. Pembelajaran tersebut dirasa kurang efektif melatih siswa terlibat aktif dalam proses belajar sehingga hasil belajar yang diperoleh kurang maksimal. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan proses belajar siswa agar mencapai hasil belajar yang lebih baik melalui model pembelajaran Creative Problem Solving pada Standar Kompetensi Membuka Usaha Eceran/Ritel SMK Muhammadiyah 2 Malang kelas X Kompetensi Keahlian Pemasaran. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas X Kompetensi Keahlian Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang semester genap tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 41 orang. Tahap dalam penelitian ini (1) perencanaan; (2) tindakan; (3) observasi; (4) refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal pre test dan post test; (2) pedoman observasi guru dan siswa; (3) pedoman observasi proses belajar siswa; (4) pedoman observasi hasil belajar aspek afektif; (5) catatan lapangan; dan (6) angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving pada Standar Kompetensi Membuka Usaha Eceran/Ritel terdapat peningkatan pada proses dan hasil belajar. Pada siklus I rata-rata proses belajar siswa sebesar 63,64% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 83,34%. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa aspek afektif pada siklus I sebesar 73,98% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 85%. Rata-rata hasil belajar siswa aspek kognitif pada siklus I sebesar 64,05 dengan ketuntasan klasikal sebesar 43,90 % dari 18 siswa yang tuntas belajar dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar74,12 dengan ketuntasan klasikal sebesar 85,37% dari 35 siswa yang tuntas belajar. Dari hasil penelitian ini, diharapkan guru dapat menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving karena melatih siswa dalam berpikir kreatif dalam memecahkan suatu permasalahan dalam materi yang disampaikan dan terampil dalam mengungkapkan pendapatnya sehingga dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa.

Kemampuan menulis siswa I SD Negeri Tejosari Lampung Tengah tahun ajaran 1994/1995 / oleh Sulistiyasih

 

Analisis soal try-out ujian akhir nasional SMA buatan MGMP geografi Kabupaten Mojokerto tahun ajaran 2010/2011 / Diyas Age Larasati

 

Kata kunci: validitas soal, tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, analisis opsi. Pengukuran yang dilakukan guru untuk menentukan nilai hasil belajar siswa yaitu dengan cara evaluasi. Salah satu instrumen evaluasi di sekolah yaitu berupa tes yang berisikan soal-soal. Soal dibuat guru untuk mengetahui potensi siswa sebagai dasar untuk pengambilan keputusan kelulusan serta mengetahui prestasi siswa. Soal memegang peranan penting dalam pembelajaran. Soal tergolong baik apabila berfungsi sebagai alat ukur, yakni sesuai dengan tujuan pembelajaran. Soal try-out UAN SMA belum diujicobakan sehingga belum diketahui kualitas soalnya. Berdasarkan obsevarsi awal, ditemukan beberapa kesalahan, masalahnya dari segi bahasa terdapat kesalahan pengulangan kata, penulisan tanda baca, dan penulisan kata Bahasa Inggris. Soal try-out ini ditemukan juga yang tidak memiliki opsi kunci jawaban. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji validitas kurikuler, validias bahasa, validitas item, tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, dan kualitas opsi pada soal try-out UAN SMA, agar diketahui kualitas soal, layak diujikan, atau masih harus direvisi. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan desaian ”analisis isi” bertujuan untuk mendiskripsikan secara objektif, sistematis, dan komunikatif isi komunikasi yang tampak”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan dokumen sebagai objeknya digunakan untuk menganalisis validitas kurikuler, validitas bahasa, dan validitas item, tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas dan analisis opsi pilihan ganda. Obyek dalam penelitian ini adalah dokumen yang berupa: (1) kisi-kisi soal, (2) soal try-out UAN SMA buatan MGMP Geografi Kabupaten Mojokerto tahun ajaran 2010/2011, (3) lembar jawaban siswa, (4) skor jawaban siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soal try-out UAN SMA memiliki validitas kurikuler valid sebesar 89%, validitas bahasa valid sebesar 68%, validitas item jelek sebesar 54%, tingkat kesukaran baik sebesar 66% , daya beda baik sebesar 56%, reliabel, dan kualitas opsi jelek. Penelitian ini disarankan dalam menyusun soal harus disesuaikan dengan standar, sebelum diujikan ke siswa lebih baik di ujicobakan dan dianalisis terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas soal tersebut. Soal yang jelek harus direvisi atau bahkan diganti.

Kemampuan menulis siswa kelas V SD Negeri Penanggungan I Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Baharuddin

 

Perbedaan kemampuan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) antara guru yang sudah bersertifikasi di SD Negeri Kecamatan Sawahan Kabupaten Madiun / Rika Kusuma Widyaningrum

 

Kata Kunci: Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sertifikasi, SD. Guru memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar. Sehubungan dengan itu, pemerintah terus berupaya mencari alternatif untuk meningkatkan kualitas dan kinerja profesi guru, UU RI No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen merupakan salah satu terobosan yang sedang diberlakukan pemerintah melalui standar kompetensi dan sertifikasi guru. Berkembangnya asumsi bahwa guru yang sudah sertifikasi memiliki kapabilitas dan profesionalisme yang tidak perlu dipertanyakan lagi, mendorong dilaksanakannya penelitian untuk membuktikan apakah guru yang sudah sertifikasi benar-benar menjadi guru yang berkualitas dan profesional terutama dalam hal perencanaan pembelajaran melalui penyusunan RPP dibanding guru yang belum bersertifikasi. Penelitian kali ini akan mengkaji mengenai perbedaan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) antara guru yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1.Kemampuan guru yang sudah bersertifikasi dalam penyusunan RPP, 2.Kemampuan guru yang belum bersertifikasi dalam penyusunan RPP, dan 3.Perbedaan kemampuan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran antara guru yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi di SD Negeri Kecamatan Sawahan Kabupaten Madiun. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SD Negeri Kecamatan Sawahan Kabupaten Madiun yang berjumlah 210 guru. Penelitian ini menggunakan penelitian sampel yang diambil dari populasi dengan menggunakan teknik random sampling yaitu sebanyak 53 guru yang terdiri dari 26 guru yang bersertifikasi dan 27 guru yang belum bersertifikasi. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dokumentasi yang dianalisis melalui uji-t untuk dua sampel independen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Kemampuan penyusunan RPP oleh guru bersertifikasi sangat baik dengan mean 35,00 atau 87,5%, (2) Kemampuan penyusunan RPP oleh guru yang belum bersertifikasi baik dengan mean 31,24 atau 78,1%, (3) Terdapat perbedaan yang signifikan thitung> ttabel yaitu 4,962 > 2,014 pada taraf signifikansi 5%.

Perbedaan prestasi belajar sub pokok bahasa pecahan antara siswa yang di ajar dengan dan tanpa menggunakan alat pegara di kelas IV SD Negeri II Rejoagung Tulungagung / oleh Sulastri

 

The Reability level of reading materials textbook used by the first year students of SMA / oleh Nurul Ibadijah

 

Interferensi bahasa Bima terhadap bahasa Indonesia dalam wacana tulis siswa kelas VI SD Negeri no. 4 Bima kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat tahun ajaran 1994/1995
oleh Nuryati

 

Interferensi leksikal dan morfologis bahasa Jawa terhadap bahasa Indonesia tulis siswa kelas 1 SDN Siyotobagus kecamatan Besuki kabupaten Tulungagung tahun ajaran 1994/1995 / oleh Suryani Suryono

 

Kemampuan menyelesaikan soal-soal suhu dan pemuaian ditinjau dari kemampuan dasar matematika dan pemahaman konsep dasar siswa kelas I cawu III MTs. Negeri Ngunut Ponorogo / oleh Ahmad Nur Edi

 

Studi tentang hubungan antara kemampuan berpikir formal dengan prestasi belajar siswa kelas II SMA Negeri Bangil untuk materi sifat koligatif larutan dan identifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam memahami konsep tersebut / oleh Nurul Khamidah

 

Peningkatan kemampuan memahami teks bacaan melalui membaca sekilas (skimming) di kelas V SDN Tanjungsari 1 Kota Blitar / Pramita Dyah Mustika Sari

 

Kata kunci: membaca sekilas, teks bacaan, hasil belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa masalah tentang pemahaman teks bacaan yang terjadi di kelas V SDN Tanjungsari 1 Kota Blitar masih sangat rendah yaitu sebanyak 23 siswa kemampuannya dalam memahami isi teks bacaan belum maksimal. Dalam mengajar guru menggunakan metode dan teknik membaca yang kurang variatif, menyenangkan dan menarik perhatian siswa. Berdasarkan uraian tersebut tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan membaca sekilas (skimming) dalam meningkatkan pemahaman teks bacaan siswa di kelas V dan mendeskripsikan dengan menerapkan teknik membaca sekilas (skimming) dapat meningkatkan pemahaman teks bacaan siswa kelas V serta mengorganisasikannya dengan kelompok. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Tanjungsari 1 Kota Blitar yang terdiri dari 31 siswa. Langkah-langkah model ini ialah kerja kelompok, membaca dua teks bacaan dengan membaca sekilas, membandingkan kedua teks bacaan tersebut dengan cara dicari persamaan dan perbedaannya, dan persentasi kelompok. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar sebesar 11,55% dari sebelum dilakukan tindakan dengan melihat rata-rata ulangan harian sebelumnya dan setelah dilaksanakan tes akhir siklus 1. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus 1 telah meningkat sebesar 7% ke siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran membaca sekilas (skimming) dilakukan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V di SDN Tanjungsari 1 dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dapat disarankan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran memahami teks bacaan, maka teknik membaca sekilas (skimming) hendaknya dapat dijadikan pertimbangan guru dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun penerapan pembelajaran tersebut harus disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Penerapan pembelajaran membaca sekilas (skimming) hendaknya dapat digunakan juga oleh peneliti lain untuk melaksanakan atau mengembangkan penelitian serupa pada subjek penelitian yang berbeda.

Pengembangan instrumen penilaian pembelajaran membaca kelas VII SMP / Nila Maulana

 

Kata kunci: instrumen penilaian, pembelajaran membaca. Untuk mengetahui kemampuan membaca siswa dengan baik, satu-satunya langkah yang diambil oleh guru ialah dengan mengadakan penilaian. Agar tujuan penilaian tercapai guru harus menggunakan berbagai metode dan teknik penilaian yang beragam sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan sebuah instrumen penilaian yang dapat mengukur kompetensi membaca siswa. Instrumen harus mampu mengukur kemampuan yang berhasil dicapai siswa sebagaimana dinyatakan dalam setiap indikator. Mengingat pentingnya instrumen penilaian pembelajaran membaca, instrumen penilaian perlu dikembangkan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari pentingnya pengembangan instrumen penilaian pembelajaran membaca, yakni pertimbangan masih adanya kekurangan terhadap instrumen penilaian yang sudah ada dan tuntutan agar guru dapat menilai pembelajaran membaca siswa secara tepat. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran membaca memindai kamus yang valid, reliabel, dan praktis, (2) mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran membaca cepat 200 kata permenit yang valid, reliabel, dan praktis, (3) mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran membaca teks perangkat upacara yang valid, reliabel, dan praktis, (4) mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran menceritakan kembali cerita anak yang valid, reliabel, dan praktis, (5) mengembangkan isntrumen penilaian pembelajaran mengomentari buku cerita anak yang valid, reliabel, dan praktis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari model desain pengembangan Borg and Gall. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini terdapat empat tahap prosedur penelitian, yakni (1) tahap pra pengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan yang dilakukan pada tahap pra pengembangan. Selanjutnya produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yaitu melalui (1) ahli evaluasi pembelajaran, (2) guru bahasa Indonesia, dan (3) siswa kelas VII. Data dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yakni data pra pengembangan dan data uji coba produk. Data pra pengembangan berupa data verbal. Data verbal dibedakan menjadi data tulis dan data lisan. Data verbal tulis berupa hasil analisis terhadap instrumen penilaian pembelajaran membaca, telaah kurikulum yang berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, telaah teori, dan telaah penelitian terdahulu. Data verbal lisan berupa hasil wawancara dengan guru. Data hasil uji coba produk ialah data verbal tulis dan data numerik yang berupa skor nilai. Data verbal tulis berupa catatan, komentar, saran, dan kritik dari ahli dan guru yang ditulis langsung pada rubrik penilaian. Data skor nilai berasal dari rubrik penilaian tentang penilaian produk untuk menjelaskan kelayakan produk. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen panduan wawancara dan rubrik penilaian. Analisis data hasil uji coba dianalisis dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari rubrik penilaian; (2) mentranskrip data verbal lisan; (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasi data verbal tulis dan verbal lisan berdasarkan kelompok uji; dan (4) menganalisis data serta merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan, apakah harus direvisi atau diimplementasikan. Perbaikan dilakukan berdasarkan saran dan masukan dari ahli, guru, dan siswa yang disampaikan secara lisan dan tulisan. Hasil uji instrumen penilaian pembelajaran membaca kamus adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba kepada ahli diperoleh hasil uji validitas sebesar 100% (I), reliabilitas sebesar 100% (I), dan kepraktisan sebesar 100% (I). (b) Hasil uji coba kepada praktisi diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 83,3% (I). (c) Hasil uji coba siswa diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 80% yang berarti produk layak diimplementasikan. Hasil uji instrumen penilaian pembelajaran membaca cepat adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba ahli diperoleh hasil uji validitas sebesar 100% (I), reliabilitas sebesar 100% (I),dan kepraktisan sebesar 100% (I). (b) Hasil uji coba praktisi diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 100% (I). (c) Hasil uji coba siswa diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 80,7% (I). Hasil uji instrumen penilaian pembelajaran membaca teks upacara adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba ahli diperoleh hasil uji validitas sebesar 75% (I), reliabilitas sebesar 100% (I), dan kepraktisan sebesar 75% (I). (b) Hasil uji coba praktisi diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 91,6% (I). (c) Hasil uji coba siswa diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 83,6% (I). Hasil uji instrumen penilaian pembelajaran menceritakan kembali buku cerita anak adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba ahli diperoleh hasil uji validitas sebesar 100% (R), reliabilitas sebesar 75% (I), dan kepraktisan sebesar 75% (I). (b) Hasil uji coba kepada praktisi diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 91,6% (I). Hasil uji coba kepada siswa diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 83,3% (I). Hasil uji instrumen penilaian pembelajaran mengomentari buku cerita anak adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba ahli diperoleh hasil uji validitas sebesar 75% (I), reliabilitas sebesar 100% (I), dan kepraktisan sebesar 91,6% (I). (b) Hasil uji coba praktisi diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 85,1% (I). (c) Hasil uji coba siswa diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 85,1% (I). Simpulan penelitian pengembangan ini adalah hasil uji instrumen penilaian pembelajaran membaca menunjukkan bahwa produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan menggunakan instrumen penilaian ini dengan dilakukan penyesuaian sebagai alat untuk mengukur kemampuan siswa dalam membaca. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan produk ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP.

Minat mahasiswa penyetaraan D-II PGSD kecamatan Cilongok UPBJJ-UT Purwokerto terhadap pengajaran sastra / oleh Margaretha Sri Sukarti

 

Hubungan pola asuh dan status sosial ekonomi dengan gaya hidup hedonisme pada remaja SMA Negeri 3 Malang / Koriys Destueg Etyng

 

Kata kunci: pola asuh, status sosial ekonomi, gaya hidup hedonisme. Pola asuh adalah perlakuan atau sikap orang tua yang diterapkan pada anak dalam kehidupan sehari-hari seperti mendidik, membimbing, mendisiplinkan, serta melindungi anak. Pola asuh ada 3 bentuk: otoriter, demokratis, dan permisif. Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat dilihat dari tingkat pendidikan, pekerjaan, dan tingkat penghasilannya. Terbagi menjadi 3 kelas, yaitu status sosial ekonomi atas, menengah, dan bawah. Gaya hidup hedonisme adalah perilaku seseorang untuk menghabiskan waktu dan uang untuk memenuhi kesenangan fisik dan psikis. Kesenangan fisik dapat dilihat dari pakaian, makanan, gadget, dan kendaraan yang mereka gunakan, serta kesenangan psikis yang dapat dilihat dari interaksi sosial mereka dan hiburan yang mereka pilih untuk menghabiskan waktu luang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh dan status sosial ekonomi dengan gaya hidup hedonisme remaja di SMA Negeri 3 Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisa dan mengetahui hubungan antara 2 variabel atau lebih. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja atau siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Malang sebanyak 512 siswa. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah 10% dari jumlah populasi yaitu 50 siswa dari 3 kelompok. Berdasarkan hasil analisis korelasi ada hubungan antara pola asuh dengan gaya hidup hedonisme pada remaja SMA Negeri 3 Malang sebesar 0.196 (p=0.017<0.05), dan terdapat hubungan antara status sosial ekonomi dengan gaya hidup hedonisme pada remaja SMA Negeri 3 Malang sebesar 0.313 (p=0.027<0.05), serta berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diketahui bahwa koefisien korelasi pola asuh dan status sosial ekonomi dengan gaya hidup hedonisme sebesar 0.232 (p=0.016<0.05) sehingga Ha diterima. Jadi, ada hubungan antara pola asuh dan status sosial ekonomi dengan gaya hidup hedonisme. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan bagi para orang tua untuk menciptakan keadaan rumah yang supotif bagi anak khususnya usia remaja,sehingga remaja akan lebih sering berdiskusi dengan orang tua dalam pengambilan keputusan dan menjadi lebih terbuka, serta menciptakan kondisi saling pengertian. Bagi SMA Negeri 3 Malang diharapkan sekolah mampu mampu memberikan pelatihan bagi para remaja untuk mengontrol pola konsumtif mereka sehingga tidak menjadi gaya hidup hedonis dimana kesenangan menjadi hal yang utama. Bagi peneliti selanjutnya agar mengadakan penelitian tidak tebatas pada remaja SMA Negeri 3 Malang saja melainkan juga remaja di kota Malang, dan menambah variabel tidak hanya meneliti adanya hubungan antara pola asuh dan status sosial ekonomi dengan gaya hidup hedonisme pada remaja.

Perbedaan prestasi belajar fisika siswa kelas II antara yang diberi tugas sebelum materi diajarkan dengan setelah materi diajarkan di SMP Negeri Bungkal kabupaten Ponorogo / oleh Kristanto

 

Hubungan antara resiliensi dan stres kerja pada guru di SMA Negeri 2 Lumajang / Femmi Nurmalitasari

 

Kata kunci: resiliensi, stres kerja. Reseliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dalam mengatasi segala tekanan-tekanan. Pada dasarnya setiap guru memiliki kemampuan bertahan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. Tetapi kualitas relisiensi setiap individu tidaklah sama untuk itu di perlukan faktor-faktor penting yang menjadi sumber pembentukan resiliensi. Stress kerja adalah suatu kondisi yang menekan atau rasa tertekan yang di alami guru dalam menghadapai pekerjaanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara resiliensi dan stres kerja pada guru di SMA Negeri 2 Lumajang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Subyek penelitian ini adalah guru yang mengajar di SMA Negeri 2 Lumajang sebanyak 55 guru. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala resiliensi dan skala stres kerja. Skala resiliensi terdiri dari 39 aitem dengan reliabilitas 0,957 dan skala stres kerja terdiri dari 57 aitem dengan reliabilitas 0,977. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi pada guru di SMA Negeri 2 Lumajang sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 41,82% dan stres kerja pada guru di SMA Negeri 2 Lumajang sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 43,64%. Uji hipotesis menyimpulkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara resiliensi dan stres kerja pada guru di SMA Negeri 2 Lumajang (rxy = -0,654; p = 0,000 < 0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa seseorang memiliki resiliensi yang tinggi, maka stress kerjanya rendah dan sebaliknya resiliensi yang rendah, maka stress kerjanya tinggi. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) Bagi Sekolah diharapkan ikut berperan serta untuk mengadakan kegiatan seperti memberikan pelatihan kepada guru dengan baik dan tepat sehingga guru mampu mengatasi masalah dalam melaksanakan tugas dengan baik dan berakibat pada stres kerja yang rendah, (2) Bagi Guru diharapkan dapat mempertahankan resiliensi bahkan kalau bisa meningkatkan yang dimiliki sehingga mampu menyeimbangkan masalah yang dihadapi seseorang untuk mengurangi stres dalam bekerja. Misalnya dengan mengikuti kegiatan seminar, pelatihan-pelatihan serta outbond, (3) Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan dapat menambah-kan hal-hal yang masih kurang dari penelitian ini. Selain itu, diharapkan agar lebih mengembangkan variabel yang akan diteliti dan dalam pengambilan data agar lebih ditingkatkan sehingga hasil yang diperoleh akan lebih baik.

Studi tentang hubungan antara kemampuan berpikir formal dengan prestasi belajar siswa SMAN Gondanglegi kelas II untuk materi pH larutan buffer dan identifikasi kesulitan dalam memahami materi tersebut / oleh Endah Karyaning Ayu

 

Model penalaran pada karangan eksposisi siswa kelas III SMP Negeri 3 Singosari semester 6, tahun ajaran 1994/1995 studi kasus / oleh Muksinin

 

Pengaruh pendidikan kewirausahaan dalam keluarga dan di sekolah terhadap minat berwirausaha dengan mediasi self - effeicacy siswa SMK (SMEA) di Kota Malang / Finisica Dwijayanti Patrika

 

Kata kunci: Pendidikan kewirausahaan, self-efficacy, minat berwirausaha Pendidikan kewirausahaan yang diberikan di SMK (SMEA), memiliki tujuan untuk merubah basis kekuatan ekonomi Indonesia. Basis perekonomian yang masih banyak mengandalkan upah tenaga kerja yang murah dan ekspor bahan mentah dari eksploitasi sumber daya alam yang tak terbarukan, menjadi perekonomian yang produk-produknya mengandalkan keterampilan manusia dan mengandalkan produk-produk yang bernilai tambah tinggi, serta berdaya saing global. Pendidikan kewirausahaan mengikuti asas pendidikan seumur hidup yang berlangsung kapan dan dimana saja, oleh karena itu pendidikan kewirausahaan harus dimulai sejak anak masih hidup dan berkembang di dalam keluarga. Tujuan penelitian ini adalah 1) menjelaskan masing-masing variabel penelitian minat berwirausaha, pendidikan kewirausahaan dalam keluarga dan di sekolah, serta self-efficacy siswa SMK (SMEA) di Kota Malang; 2) menjelaskan besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung pendidikan kewirausahaan dalam keluarga dan di sekolah terhadap terhadap self-efficacy siswa SMK (SMEA) di Kota Malang; 3) menjelaskan besarnya pengaruh langsung serta tidak langsung pendidikan kewirausahaan dalam keluarga dan di sekolah terhadap minat berwirausaha siswa dengan mediasi self-efficacy siswa SMK (SMEA) di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan eksplanasi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, yang diberikan kepada 261 responden yang diperoleh dengan menggunakan teknik cluster proportional random sampling. Dalam menganalisis data digunakan analisis jalur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan dalam keluarga dan disekolah berpengaruh siginifikan terhadap self-effiaccy siswa. Besar pengaruh langsung dan tidak langsung pendidikan kewirausahaan dalam keluarga dan disekolah terhadap self-effiaccy siswa sebesar 16,10%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan dalam keluarga, pendidikan kewirausahaan di sekolah dan self efficacy berpengaruh siginifikan terhadap minat berwirausaha siswa. Besar pengaruh langsung dan tidak langsung pendidikan kewirausahaan dalam keluarga, pendidikan kewirausahaan di sekolah dan self efficacy terhadap minat berwirausaha siswa adalah sebesar 40,5%. Bagi sekolah perlu untuk bersikap aktif dalam pembelajaran kewirausahaan, dengan mengaktifkan komunikasi dengan orang tua/ wali siswa melalui kegiatan Komite sekolah. Untuk mengintegrasikan tujuan pendidikan serta bekerjasama dengan orang tua dalam mendukung dan meningkatkan keyakinan siswa untuk menjadi wirausaha bukan hanya pencari kerja. Perlunya pendataan kembali terhadap minat siswa, untuk memperbaiki pendidikan kewirausahaan di sekolah, agar minat berwirausaha yang dimiliki oleh siswa dapat tersalurkan melalui kegiatan yang sesuai. Bagi peneliti yang hendak melakukan penelitian yang berkaitan dengan minat berwirausaha siswa dapat memasukkan variabel teman sebaya, jenis kelamin dan faktor-faktor internal siswa serta meneliti seluruh siswa SMK secara umum di Kota Malang untuk memperkaya kajian-kajian yang terkait dengan meningkatkan minat berwirausaha siswa.

Hubungan lama pendidikan dan kondisi geografis dengan motivasi pemuda untuk bekerja ke luar desa Argosari kecamatan Jabung kabupaten Malang / oleh Yanu Eko Priyono

 

Studi kasus tentang pembinaan atlet kelatnas Indonesia perisai diri dalam kaitannya dengan silat laga IPSI / oleh Suharta

 

Peranan satuan polisi pamong praja dalam menertibkan pedagang kaki lima di wilayah kecamatan Klojen Kota Malang / Budi Siswandi

 

Kata Kunci : Praja, Lima, Peranan.adalah perangkat Pemerintah Daerah yang bertugas membantu Kepala delam pelaksanaan jalannya pemerintahan serta sebagai garda atau barisan terdepan dalam bidang ketentraman ketertiban umum. Hal ini diatur pasal 148 ayat 1) Undang- Undang No. 32 Tahun 2004 berbunyi “untuk menegakkan Peraturan penyelenggaraan umumdan masyarakat dibentuk Praja”. Salah satu tugas Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima banyak berjualan jalan Pasar Besar Alon-alon Sebab sesuai Malang 1 2000 tentang PKL, pedadang dilarang di Alun-alun, trotoar, jalur hijau, maupun fasilitas umum lainnya. usaha kecil dilakukan berpenghasilan rendah gaji kecil) mempunyai modal terbatas. Penelitian berjudul Wailayah Malang, bertujuan untuk, mengetahui peranan waialayah malang, 2) kendala-kendala dihadapi wailayah 3) upaya mengatasi wilayah Pendekatan digunakan penelitian pendekatan kualitatif bersifat deskriptif, yakni dengan melakukan pengamatan, wawancara dokumentasi. Informan anggota ada Hasil dapat disimpulkan memiliki PKL yaitu memberi peringatan secara lisan surat kepada ditempat melanggar Perda Apabila tidak mematuhi dari maka akan dilaksanakan operasi selanjutnya para terjaring operaasi penyidikan apabila terbukti bersalah dikenai penindakan tipiring tindak pidana ringan). sangat penting mengenai bagaimana PKl ilegal tersebut lagi tempat-tempat peraturan ada., Kendala-oleh yaitu, kondisi lapangan, maksudnya berada dijalur keramaian sehingga menyebabkan kemacetan, Keselamatan artinya Kalau sampai menangkap dipertimbangkan keselamatan i

Hubungan antara intensitas saluran distribusi dengan omzet penjualan di PT. Sarua Subur Malang / oleh Subhan Nurullah

 

Kata Kunci: model pembelajaran REACT, hasil belajar geografi siswa Hasil wawancara dan observasi awal menunjukkan bahwa 78% siswa kelas XI IPS 5 SMA Laboratorium UM mendapatkan hasil belajar geografi di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yakni 78. Keadaan ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang memberikan pemahaman materi terhadap siswa. Permasalahan tersebut perlu diatasi dengan menerapkan model pembelajaran REACT, agar hasil belajar geografi siswa menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa dengan penerapan model pembelajaran REACT. Penelitian ini menggunakan rancangan tindakan kelas dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian, siswa kelas XI IPS 5 sebanyak 37 orang. Instrumen yang digunakan adalah tes uraian, lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas siswa, dan format catatan lapangan. Data hasil penelitian dianalisis dengan membandingkan rata-rata skor hasil belajar geografi siswa antara pra tindakan dengan siklus I dan siklus I dengan siklus II untuk mengetahui peningkatannya dan persentase yang diartikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran REACT dapat meningkatkan hasil belajar geografi siswa dari pra tindakan ke siklus I dan siklus I ke siklus II. Peningkatan hasil belajar geografi siswa dari pra tindakan ke siklus I sebesar 55,45% dan siklus I ke siklus II sebesar 16,81%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa model pembelajaran REACT berhasil meningkatkan hasil belajar geografi siswa dari pra tindakan ke siklus I dan siklus I ke siklus II. Disarankan bagi guru geografi SMA agar menerapkan model pembelajaran REACT dalam proses pembelajaran geografi di kelas. Penerapan model tersebut disesuaikan dengan materi pembelajaran yang mempunyai kaitan dengan kehidupan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melaksanakan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki ataupun memberikan inovasi baru pada penelitian yang pernah dilaksanakan dengan subyek yang berbeda.

Pengembangan modul pembelajaran matematika konsep pecahan di kelas V / Diyah Puspita Sari

 

Kata Kunci: matematika SD, pecahan, model 4-D, modul pembelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar. Siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti pada pembelajaran matematika di kelas V SDN Kauman 3 Malang pada materi pokok pecahan, diperoleh fakta bahwa pembelajaran matematika pada materi pokok pecahan belum menggunakan media berupa objek konkret. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan media berupa modul pembelajaran sebagai alternatif pemecahan masalah pembelajaran matematika di kelas V. Modul dipilih karena memiliki keuntungan diantaranya siswa dapat belajar dengan mandiri dan disiplin, serta lebih praktis karena materi telah disusun secara sistematis. Tujuan penelitian pengembangan ini untuk menghasilkan modul pembelajaran matematika konsep pecahan di kelas V yang efektif, efisien, dan menarik. Model pengembangan yang digunakan oleh peneliti yaitu model pengembangan 4-D dari Thiagarajan, et all. Peneliti memodifikasi model 4-D menjadi model 3-D tanpa melalui tahap disseminate. Jadi, dalam penelitian pengembangan ini peneliti hanya melaksanakan tiga tahapan diantaranya define, design, dan develop. Modul hasil pengembangan berupa Draf I ini divalidasi oleh ahli isi dan materi dari dua orang dosen matematika SD dan dua guru kelas V. Setelah divalidasi, modul diujicoba dalam dua tahap. Tahap pertama, uji perorangan dengan subjek uji 3 siswa untuk menilai keterbacaan modul dan kesalahan pengetikan. Tahap kedua, uji coba kelompok kecil dengan subjek uji sebanyak 10 siswa kelas untuk menilai kemenarikan dan keterpakaian modul bagi siswa kelas V SD. Berdasarkan uji coba perorangan didapatkan hasil bahwa ada beberapa kesalahan pengetikan sehingga modul harus direvisi. Setelah direvisi modul diujicobakan kepada kelompok kecil. Hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan bahwa 100% subjek uji coba sudah mencapai ketuntasan minimal penggunaan modul. Untuk menilai kemenarikan dan keterpakaian modul menggunakan penilaian angket siswa yang diberikan kepada seluruh subjek uji coba. Hasil dari penilaian angket siswa diperoleh bahwa 100% subjek uji coba menilai modul pembelajaran konsep pecahan sudah cukup menarik. Modul pembelajaran yang dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kajian modul pembelajaran hasil revisi terdiri dari 5 bagian yaitu (1) Bagian I: Petunjuk Pembelajar; (2) Bagian II: Petunjuk Kegiatan Pebelajar; (3) Bagian III: Lembar Kerja Pebelajar; (4) Bagian IV: Lembar Penilaian; (5) Bagian V: Kunci Jawaban. Saran pemanfaatan modul yang dikembangkan sebaiknya menggunakan sumber lain yang relevan untuk mendukung tercapainya indikator dalam modul. Karena dalam pengembangan ini tidak sampai pada tahap disseminate maka sangat disarankan bagi pengembang berikutnya untuk melakukan uji coba sekala besar. Sebaiknya modul ini dikembangkan dengan materi yang lebih lengkap lagi untuk matematika kelas V.

Perencanaan motor diesel empat langkah empat silinder sebagai penggerak mobil / oleh M.S. Zaini Wijaya

 

Perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan model pembelajaran make a match, model pembelajaran berkirim salam dan soal serta metode ceramah pada mata pelajaran IPS Geografi kelas VII SMP Negeri 3 Batu / Wahyu Dwi Irawan

 

Kata Kunci: Make A Match, Berkirim Salam dan Soal, Ceramah, Hasil Belajar Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat diharapkan siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti saat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMPN 3 Batu, guru-guru khususnya yang mengajar mata pelajaran IPS Geografi masih melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Peneliti memilih model pembelajaran Make A Match dan Berkirim Salam dan Soal karena model pembelajaran ini pernah peneliti terapkan di kelas VIII SMP Negeri 3 Batu saat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL), selain itu kedua model pembelajaran ini memiliki berbagai macam keunggulan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Make A Match, Berkirim Salam dan Soal serta metode ceramah pada mata pelajaran IPS Geografi kelas VII SMP Negeri 3 Batu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) menggunakan model pretest-postest control group design. Subjek penelitian ini yakni kelas VII F sebagai kelas eksperimen I, kelas VII H sebagai kelas eksperimen II dan kelas VII G sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif. Data pada penelitian ini terdiri dari tiga jenis, yaitu data kemampuan awal siswa, data kemampuan akhir siswa, dan data hasil belajar IPS Geografi siswa. Data hasil belajar siswa diperoleh dari selisih antara skor pretest dan skor postest (gain score). Gain score tersebut dianalisis menggunakan uji Anava Satu Arah (One Way Anova) yang diselesaikan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen I lebih tinggi daripada kelas eksperimen II dan kelas kontrol, yakni 26,06 untuk kelas eksperimen I, 23,89 untuk kelas eksperimen II dan 20,72 untuk kelas kontrol. Hasil analisis uji F menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,017 < (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara menerapkan model pembelajaran Make A Match, Berkirim Salam dan Soal serta metode ceramah pada mata pelajaran IPS Geografi kelas VII SMP Negeri 3 Batu

Kemampuan menulis siswa kelas V SD Negeri Blimbing 3 kotamadya Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Ngadiran

 

Pengaruh pemanfaatan VCD pembelajaran tata cara shalat fardhu terhadap hasil belajar siswa kelas II MI Negeri Druju Kabupaten Malang / Wenda Radfiani

 

Kata Kunci: Media VCD, shalat Fardhu, Hasil Belajar. Media VCD pembelajaran mampu menyajikan pesan pembelajaran yang kreatif dan inovatif bagi siswa Sekolah Dasar. VCD merupakan media audio visual yang dapat memvisualisasikan sesuatu yang nyata. Penggunaan media VCD dalam pembelajaran merupakan sesuatu yang baru bagi siswa sehingga dapat menarik minat siswa dan siswa menjadi termotivasi dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini terkait juga dengan observasi peneliti di MIN Druju di Kabupaten Malang yaitu belum optimalnya pemanfaatan fasilitas yang ada seperti LCD Proyektor untuk mendukung proses pembelajaran. Peneliti juga melihat kebutuhan siswa akan sesuatu yang baru dalam proses pembelajaran mereka. Sudah selayaknya untuk memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai sumber belajar, selain buku paket, LKS serta guru. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut agar dapat diketahui pengaruh penggunaan media VCD Tata Cara Shalat Fardhu terhadap hasil belajar siswa. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas II MI Negeri Druju Kabupaten Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment (eksperimen semu) yang melibatkan dua kelompok kelas, yaitu kontrol dan eksperimen. Penelitian ini merupakan penelitian populasi karena subjeknya tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu menentukan sampel dari subjek penelitian. Penentuan kelas kontrol dan eksperimen berdasarkan hasil tes harian, sehingga diketahui sebaran prestasi dari kedua kelas seimbang. Kelas II A sebagai kelas eksperimen yang dalam proses pembelajarannya menggunakan media VCD Tata Cara Shalat Fardhu, sedangkan kelas II B sebagai kelas kontrol yang dalam proses pembelajarannya tanpa menggunakan media VCD. Sebelum perlakuan dimulai kedua kelompok kelas di beri pre test yang sama, untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelas. Kemudian setelah perlakuan, kedua kelompok kelas kembali diberi post test dengan soal yang sama. Hasil pre test dan post test kemudian dibandingkan agar diketahui kelas mana yang mengalami peningkatan hasil belajar yang lebih baik. Analisis yang digunakan adalah Paired Sample Test . Dari hasil analsis nilai thitung hasil belajar (gain score) adalah -4.304 dengan df= 25 dan probability 0,000. Karena nilai probability menunjukkan 0,000< 0,005 maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Telah diketahui nilai thitung adalah -4,304 sedangkan nilai ttabel adalah 1,706. Berdasarkan data ini, uji t dilakukan dua sisi dengan daerah penerimaan H0 antara (- 1,706) sampai (1,706). Nilai thitung sebesar -4,304 berada pada daerah penolakan ttabel atau daerah penolakan H0, maka dapat diketahui H0 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah berbeda. Hasil dari pengujian hipotesis adalah Hipotesis nol (H0) yang menyatakan “Tidak ada perbedaan hasil belajar siswa MI Negeri Druju untuk materi Tata Cara Shalat Fardhu antara yang diberi pembelajaran menggunakan media VCD pembelajaran dengan pembelajaran secara konvensional” adalah ditolak. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa “ Ada perbedaan hasil belajar siswa MI Negeri Druju untuk materi Tata Cara Shalat Fardhu antara yang diberi pembelajaran menggunakan media VCD pembelajaran dengan pembelajaran secara konvensional”. ii Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk mempertimbangkan penggunaan media semacam VCD pembelajaran dijadikan sebagai sarana untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran.

Mikrobiologi air kolam renang di kotamadya Malang ditinjau dari jumlah total koloni bakteri dan nilai MPN bakteri Coliform / oleh Agik Tusanawati

 

Penggunaan peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar / Septriana Nurhadiyanti

 

Kata kunci: peta konsep, model pembelajaran kooperatif, motivasi belajar, hasil belajar siswa. Peta konsep merupakan media yang memudahkan siswa untuk memahami suatu materi, sementara bagi guru pembelajaran melalui media peta konsep bisa memudahkan guru untuk menerangkan atau menjelaskan materi kepada siswa. Media peta konsep mudah digunakan untuk siswa karena media peta konsep berisi konsep-konsep atau pokok-pokok materi sehingga memudahkan siswa untuk mengingat, menghafal, dan memudahkan membuat catatan. Sedangkan media peta konsep mudah digunakan untuk guru karena dengan media peta konsep guru mudah untuk menjelaskan materi kepada siswa secara jelas dan singkat. Penggunaan media peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran di kelas sehingga siswa tidak merasa bosan saat proses pembelajaran berlangsung. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang memusatkan pada kerjasama kelompok yang menciptakan hubungan atau komunikasi diantaranya sehingga menciptakan motivasi belajar dan kerjasama dalam menyelesaikan masalah. Dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif, siswa dapat berinteraksi dan aktif ketika kegiatan pembelajaran di kelas dilakukan. Model pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah model pembelajaran STAD, dengan model pembelajaran ini manfaat dari penggunaan media peta konsep lebih telihat. Manfaat media peta konsep untuk mengingat, menghafal, membuat catatan yang memudahkan siswa untuk belajar terlihat pada saat guru menerapkan langkah model pembelajaran STAD yang berupa kuis. Selain itu STAD digunakan karena model pembelajaran ini memiliki kelebihan diantaranya: seluruh siswa menjadi lebih siap, siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama, dan salah satu siswa aktif berperan sebagai falisitator sebaya untuk meningkatkan keberhasilan kelompok. Motivasi belajar siswa dapat diamati dari tingkah laku siswa selama belajar. Tingkah laku siswa tersebut diantaranya aspek minat siswa, perhatian siswa, konsentrasi siswa, dan ketekunan siswa pada waktu pembelajaran. Hasil belajar siswa mencakup semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda. Dengan adanya hasil belajar siswa, guru dapat mengetahui ketuntasan belajar siswa. Masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah penggunaan peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar? (2) Bagaimanakah penggunaan peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar? Adapun tujuan penelitian adalah: (1) Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar melalui penggunaan peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif, (2) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar melalui penggunaan peta konsep dalam pembelajaran kooperatif. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan menggunakan model pembelajaran STAD. Subjek penelitian siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obeservasi partisipan (sebagai guru), pembagian angket untuk siswa, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, yaitu presentase keberhasilan aspek minat memperoleh 88,04%, presentase keberhasilan aspek perhatian memperoleh 89,49%, presentase keberhasilan aspek konsentrasi memperoleh 92,24%, presentase keberhasilan aspek ketekunan memperoleh 94,62% pada siklus 1, presentase keberhasilan aspek minat mengalami kenaikan 6,17 % dari 88,04% menjadi 94,21%, presentase keberhasilan aspek perhatian mengalami kenaikan 3,08% dari 89,49% menjadi 92,57%, presentase keberhasilan aspek konsentrasi mengalami kenaikan 3,39% dari 94,24% menjadi 97,63%. Presentase keberhasilan aspek ketekunan kenaikan 3,34% dari 94,62% menjadi 97,96%. pada siklus II. (2) Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu pada siklus I jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan berjumlah 23 siswa dengan besar presentasi 71,9 %, sedangan jumlah siswa yang belum belum tuntas berjumlah 9 siswa dengan besar presentasi 28,1 %, pada siklus II jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan meningkat dari berjumlah dari 23 siswa menjadi 28 siswa. Hasil tersebut dianalisis sebagai berikut; jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan meningkat 15,6% dari 71,9% menjadi 87,5% atau dari siswa yang berjumlah 23 siswa meningkat menjadi 28 siswa. Sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas berkurang 15,6% dari 28,1 menjadi 12,5% atau dari siswa yang berjumlah 9 siswa menurun menjadi 4 siswa.. Dari hasil penelitian ini, penulis mengajukan saran yaitu: (1) bagi guru: guru bisa membuat media dalam setiap kegiatan pembelajaran sehingga dapat menarik motivasi siswa, guru menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya menggunakan ceramah terus menerus untuk menjelaskan kepada siswa. (2) bagi siswa XI IPS 1 SMA Negeri 2 Blitar, peta konsep dapat digunakan sebagai media belajar dirumah agar siswa dapat membuat catatan dan memudahkan untuk belajar dan mempersiakan ujian. (3) bagi peneliti yang akan datang, perlu dilakukan pengembangan media peta konsep pada lembar kerja siswa maupun buku pelajaran.

Kemampuan menyusun kalimat dalam karangan siswa kelas V SD Negeri Sumbersari IV Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Rusmin Husain

 

Kesalahan dalam terjemahan abstrak karya ilmiah oleh mahasiswa jurusan sastra Jerman angkatan 2008 Universitas Negeri Malang / Erlina Yuni Novitasari

 

Kata kunci: kesalahan, terjemahan abstrak Menerjemahkan merupakan kegiatan yang mencerminkan pemerolehan keseluruhan kemampuan bahasa. Oleh karena itu, pembelajaran penerjemahan diberikan pada mahasiswa yang sudah memiliki pengalaman belajar bahasa. Namun demikian, mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang masih banyak melakukan kesalahan dalam menerjemahkan, khususnya menerjemahkan abstrak karya ilmiah. Berdasarkan alasan tersebut, peneliti ingin mengetahui kesalahan dalam terjemahan abstrak karya ilmiah oleh mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan dalam terjemahan abstrak karya ilmiah oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yaitu mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 yang berjumlah 46 orang. Data yang dikumpulkan adalah data kesalahan dalam terjemahan abstrak karya ilmiah serta data hasil wawancara tentang penyebab kesalahan tersebut. Data tersebut dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa kesalahan dalam terjemahan teks abstrak karya ilmiah oleh mahasiswa terletak pada kesalahan kosakata (Wortschatz), gramatika (Grammatik), ungkapan (Ausdruck), dan bentuk komunikatif (kommunikative Gestaltung). Kesalahan yang paling dominan adalah pemilihan kosakata dan penggunaan gramatika. Penyebab munculnya kesalahan tersebut adalah kurangnya penguasaan bahasa sasaran mahasiswa yang menyebabkan terjadinya interferensi, kesukaran-kesukaran yang dialami mahasiswa karena bahasa sasaran itu sendiri, dan faktor lupa pada mahasiswa. Oleh karena itu, disarankan kepada mahasiswa untuk lebih banyak berlatih menerjemahkan agar terlatih dalam penggunaan gramatika serta banyak membaca teks bahasa Jerman dalam berbagai bidang ilmu untuk memperkaya kosakata.

Studi tentang penguasaan konsep kecepatan reaksi siswa kelas II di SMA Negeri Dampit dan kaitannya dengan kemampuan berpikir formal siswa / oleh Siti Maftuha

 

Pengembangan permainan tembak pantul dalam pendidikan jasmani untuk siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang / Agung Dwi Darmawan

 

Kata kunci : pengembangan, permainan, tembak pantul, pembelajaran, pendidikan jasmani Permainan atau games adalah “suatu aktivitas yang bertujuan untuk memuaskan atau menyenangkan diri atau melakukan suatu kegiatan dengan alat yang bersifat menyenangkan diri” dan karateristik siswa kelas VII dan VIII adalah keinginan yang kuat untuk belajar keterampilan dan ketertarikan pada mata pelajaran teknik dan alat. Aktivitas permainan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan semangat pada siswa saat pembelajaran. Permainan tembak pantul adalah pengembangan permainan bolabasket dengan menyederhanaan peraturan yang telah ditetapkan oleh FIBA. Penyederhanaan yang dimaksud yaitu: penyederhanaan lapangan permainan, sasaran tembak, waktu permainan dan peraturan permainan. Tujuan penelitian dan pengembangan permainan tembak pantul pada siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang diharapkan dapat memberikan variasi dalam pemberian materi kompetensi teknik dasar, yaitu dalam bentuk permainan bolabasket dengan peraturan yang disederhanakan, mudah, menyenangkan dan aman untuk dimainkan. Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall. Adapun prosedur pengembangan permainan tembak pantul ini adalahi: 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) mengembangkan bentuk produk awal, 4) melakukan uji coba kelompok kecil dengan 12 subjek, 5) Melakukan revisi terhadap produk awal, 6) melakukan uji lapangan (kelompok besar) dengan 38 subjek, 7) melakukan revisi produk. Intrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase. Hasil pengembangan ini adalah berupa permainan tembak pantul untuk siswa kelas VII SMPN 18 Malang, dan dilengkapi dengan buku petunjuk permainannya. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat diuji cobakan kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada SMP dan lembaga pendidikan terkait sehingga dapat digunakan sebagai mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya, untuk menguji tingkat keefektifitasan dari produk yang dikembangkan

Mutu dendeng sapi yang tidak dikemas di beberapa pasar di kotamadya Malang ditinjau dari jumlah total koloni bakteri / oleh Umi Solikah

 

Penerapan Pembelajaran Model Inkuiri terbimbing untuk meningkatkan kecakapan akademik (academic skills) dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-10 SMAN 7 Malang / Mukhammad Dana Zulfikar Fauzi

 

Kata Kunci: Model Inkuiri Terbimbing, Kecakapan Akademik, Prestasi Belajar. Berdasarkan observasi awal pada kelas X-10 SMAN 7 Malang nampak bahwa pembelajaran masih terpusat pada guru, siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini terlihat dari analisis hasil ulangan harian pertama menunjukkan bahwa persentase yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Fisika selalu di bawah 70 % dan rerata nilai ulangan hariannya yaitu 48,5. Siswa pada umumnya hanya aktif dalam mengerjakan tugas yang biasanya dikerjakan secara individu. Prestasi belajar siswapun masih banyak yang dibawah KKM, hal ini disebabkan metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru adalah metode ceramah, pemberian latihan soal dan tugas. Salah satu model pembelajaran yang dapat memperbaiki proses pembelajaran di kelas X-10 tersebut adalah model inkuiri terbimbing. Model inkuiri terbimbing (guided inquiry) merupakan kegiatan inkuiri dimana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut dibawah bimbingan dari guru. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-10 SMAN 7 Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 40 siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Teknik analisis data yang digunakan kecakapan akademik siswa menggunakan angka 1-4 dan keterlaksanaan model inkuiri terbimbing menggunakan persentase. Untuk hasil belajar aspek kognitif digunakan rentang 0- 100 dari hasil tes siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing telah terlaksana dengan baik, pada siklus I persentasenya 93,65% dan dapat dikategorikan baik, pada siklus II persentasenya 98,33% dan dapat dikategorikan sangat baik. Pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kecakapan akademik siswa, kecakapan akademik siswa meningkat dari siklus I sebesar 61,1% menjadi 79,6% pada siklus II. Sedangkan kognitif siswa atau prestasi belajar siswa sebelum tindakan rata-ratanya adalah 48,5 meningkat menjadi 68,8 pada siklus I dan 76,9 pada siklus II dan sebagian siswa sudah mampu menyerap materi kalor yang diajarkan. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kecakapan akademik dan prestasi belajar siswa kelas X-10 SMAN 7 Malang.

Studi tentang media pengajaran seni rupa di SMPN I Pare kabupaten Kediri / oleh Rina Andrijani

 

Pengaruh locus of control dan need for achievement terhadap intensi berwirausaha melalui hasil belajar ( Studi kasus pada mahasiswa jurusan manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negri Malang ) / Musdalifah

 

Kata Kunci: Locus of Control, Need for Achievement, Hasil Belajar dan Intensi Berwirausaha. Pengembangan kewirausahaan beberapa tahun terakhir memang telah menjadi isu lembaga-lembaga ekonomi mulai dari tingkat daerah, nasional bahkan internasional. Salah satu dosen mata kuliah kewirausahaan mengatakan bahwa tingkat intensi berwirausaha yang dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi masih relatife rendah. Hal ini didukung oleh hasil observasi yang dilakukan dengan melihat berbagai faktor, seperti rendahnya tingkat keseriusan mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah kewirausahaan, kurangnya tanggapan balik yang diberikan mahasiswa ketika berbicara tentang pemilihan karir berwirausaha kedepannya serta ketidaksungguhan dalam mengaplikasikan praktek berwirausaha. Fakta di atas menjadi salah satu alasan untuk mengetahui lebih lanjut tentang intensi berwirausaha di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini adalah 1)menguji pengaruh locus of control terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 2) menguji pengaruh locus of control terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 3) menguji pengaruh need for achievement terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang , 4) menguji pengaruh need for achievement terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 5) menguji pengaruh hasil belajar terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 6) mengetahui pengaruh locus of control terhadap intensi berwirausaha melalui hasil belajar mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 7) mengetahui pengaruh need for achievement terhadap intensi berwirausaha melalui hasil belajar mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif kausalitas yang bersifat ex-post facto dengan menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Penelitian ini dilakukan di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dengan jumlah populasi terbatas berjumlah 278 mahasiswa. Selanjutnya teknik pengambilan sampel dilaksanakan dengan cara proportional random sampling, sehingga diperoleh sampel 164 responden. Dalam penelitian ini data locus of control, need for achievement dan intensi kewirausahaan diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner yang digunakan merujuk pada skala likert. Sedangkan data hasil belajar mahasiswa diperoleh melalui nilai mata kuliah kewirausahaan yang terdapat dalam ledger nilai yang sudah didokumentasikan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, observasi, wawancara (interview) dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) locus of control berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM, 2) locus of control berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM, 3) need for achievement tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM, 4) need for achievement tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM, 5) hasil belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM, 6) locus of control berpengaruh tidak langsung terhadap intensi berwirausaha melalui hasil belajar, 7) need for achievement tidak berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap intensi berwirausaha melalui hasil belajar. Dalam penelitian ini, variasi locus of control, need for achievement, dan hasil belajar mampu menjelaskan variasi intensi berwirausaha sebesar 63,4% dan selebihnya 36,6% dijelaskan oleh variabel diluar model penelitian. Sejalan dengan temuan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka dalam upaya peningkatan intensi berwirausaha, disarankan untuk memahami pentingnya menumbuhkan dan mengoptimalkan karakteristik mahasiswa yang berorientasi locus of control sebagai salah satu faktor internal dalam proses belajar mata kuliah kewirausahaan sehingga dapat mengubah mindset mahasiswa dari job seeker menjadi job creator. Selain itu, perancangan kurikulum dengan metode experimental learning disertai pengaplikasian program yang dapat membentuk kesadaran dalam diri mahasiswa agar memacu mereka untuk berwirausaha seperti membuat testimoni dengan mendatangkan wirausahawan sukses, mengunjungi perusahaan - perusahaan agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana sepak terjang suatu perusahaan dalam mencapai kesuksesan.

Peningkatan motivasi dan hasil belajar fisika kelas X-6 SMAN 2 Malang melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah berbantuan peta konsep / Risfandi

 

Kata Kunci : Model Problem Based Learning, Motivasi, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas X-6 SMAN Batu diperoleh informasi bahwa metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah. Metode praktikum dan diskusi belum pernah diterapkan, sehingga motivasi belajar siswa meliputi perhatian, lama belajar, usaha, irama perasaan, ekstensi, dan penampilan siswa rendah. Selain itu, hasil belajar berupa aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah model Problem Based Learning (PBL). Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas X-6 SMAN Batu melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) serta bertujuan untuk memperbaiki suatu keadaan pembelajaran di dalam kelas. Penelitian ini dilakukan dengan dua siklus dan setiap siklus PTK terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.Tindakan pada penelitian ini adalah model Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep. Penelitian ini dilakukan di kelas X- 6 SMAN Batu semester genap 2011/2012. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran PBL berbantuan peta konsep, data hasil belajar, dan motivasi siswa yang diambil dari hasil observasi baik sebelum maupun selama penelitian dilakukan. Hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa. Pada siklus I nilai hasil belajar aspek kognitif dengan nilai rata-rata 74,40 dengan ketuntasan belajar 64,29%, nilai aspek psikomotor dengan rata-rata 2,09 dalam rentang nilai 1-4, dan aspek afektif dengan rata-rata 2,39 dalam rentang nilai 1-4. Kemudian pada siklus II nilai hasil belajar aspek kognitif dengan nilai rata-rata 92,26 dengan ketuntasan belajar 89,28%, nilai aspek psikomotor dengan rata-rata 3,33 dalam rentang nilai 1-4, dan aspek afektif dengan rata-rata 3,25 dalam rentang nilai 1-4. Persentase motivasi belajar pada siklus I adalah 54,92% dan pada siklus II menjadi 81,99% (naik 27,07%). Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas X-6 SMAN 2 Batu.

A Study on unity and coherence in students expository compositions / oleh Sumarniningsih

 

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) terhadap kualitas pembelajaran konsep reaksi reduksi oksidasi pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Turen / Hani Unnisak

 

Hubungan penguasaan ketrampilan menggunakan alat tangan kerja kayu dengan hasil pekerjaan kayu siswa kelas I jurusan bangunan STM Negeri Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Reni Indarwati

 

Pengaruh kesehatan dan keselamatan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan (pada karyawan bagian produksi di P.G Krebet Baru Malang) / Dovirul Ardi Nugroho

 

Kata Kunci : Kesehatan, keselamatan dan produktivitas karyawan Kesehatan dan keselamatan kerja karyawan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perusahaan, baik yang bergerak dalam bidang produksi barang maupun jasa. Karyawan merupakan aset penting perusahaan. Sehingga seberapa besar perhatian perusahaan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja karyawan menarik untuk diteliti. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kesehatan dan keselamatan kerja karyawan terhadap produktivitas kerja karyawan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui deskripsi kondisi kesehatan dan keselamatan kerja dan produktivitas kerja P.G Krebet Baru Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Explanatory (penjelasan), dimana seluruh variabel diukur dengan skala likert. Metode pengambilan sampel menggunakan metode sampel jenuh dimana jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi yaitu sebanyak 63 orang, Variabel bebasnya terdiri dari kesehatan kerja (X1) dan keselamatan kerja (X2) sedangkan variabel terikatnya adalah produktivitas kerja karyawan (Y). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik angket atau kuesioner. Pengujian instrumen menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dan rumus alpha cronbach . Sedangkan metode analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan uji simultan (uji F) dan uji parsial (uji t) pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kesehatan kerja (X1) dan keselamatan kerja (X2) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan PG. Krebet Baru Bululawang Malang. Dari perhitungan uji F diperoleh F hitung 35,045 > F Tabel 3,15, dengan nilai p sebesar 0,000 ≤ 0,05. Selain itu nilai Adjusted R Square yang sebesar 0,523 yang berarti besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah 52,3%, Dan uji t diketahui bahwa secara parsial variabel kesehatan kerja (X1) dan keselamatan kerja (X2) mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat dengan perhitungan t hitung variabel kesehatan kerja (X1) sebesar 3,535 > t table 2,000 dan keselamatan kerja (X2) sebesar 4,515 > t table 2,000. variabel yang dominan pengaruhnya adalah variabel Keselamatan kerja (X2) yaitu memiliki kontribusi sebesar 46,9 %. kemudian variabel kesehatan kerja (X1) sebesar 36,7%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kesehatan kerja dan keselamatan kerja karyawan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan dan keselamatan kerja memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kesehatan kerja karyawan.

Pelaksanaan apresiasi seni rupa SMUN se kodya Malang / oleh Hery Yudiyanto

 

Pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik jarimatika pada siswa kelas II di SDN II Keboireng Kabupaten Tulungagung / Resti Praktikhana Maharani

 

Kata kunci: Jarimatika, Pembelajaran, Matematika. Pada studi pendahuluan yang peneliti lakukan diketahui bahwa guru Matematika di kelas II SDN II Keboireng Kabupaten Tulungagung menggunakan teknik Jarimatika sebagai alternatif untuk melatih siswa semakin mahir menguasai perkalian. Ditemukan pula fakta bahwa siswa kelas II sudah hafal perkalian bilangan 1, 2, 3, 4, dan 5. Hal ini sebagai penunjang dikuasainya teknik Jarimatika untuk perkalian bilangan 6, 7, 8, 9, dan 10. Teknik ini dirasa lebih efektif dalam berhitung perkalian dibandingkan mencongak. Berdasarkan hal tersebut, peneliti merasa perlu untuk mengadakan penelitian berkaitan dengan pembelajaran Matematika materi perkalian bilangan 6, 7, 8, 9, dan 10 dengan menggunakan teknik Jarimatika pada siswa kelas II di SDN II Keboireng Kabupaten Tulungagung. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh deskripsi objektif tentang pembelajaran Matematika materi perkalian bilangan 6, 7, 8, 9, dan 10 dengan menggunakan teknik Jarimatika melalui tahap persiapan, pelaksanaan, penilaian, faktor pendukung dan penghambat pembelajaran, dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala pembelajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian survei. Data penelitian ini berupa tindakan, kata-kata, dan dokumen yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penyimpulan. Ada dua jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu instrumen utama dan instrumen penunjang. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen penunjangnya adalah lembar observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan dan foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebelum melaksanakan pembelajaran Matematika materi perkalian bilangan 6, 7, 8, 9, dan 10 dengan menggunakan teknik Jarimatika guru melaukan persiapan yang meliputi penyusunan RPP berdasarkan kurikulum dan Silabus dari Diknas, persiapan buku paket (buku teknik Jarimatika), pembuatan LKS, soal evaluasi dan lembar penilaian, (2) pembelajaran Matematika materi perkalian bilangan 6, 7, 8, 9, dan 10 dengan menggunakan teknik Jarimatika dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti dan penutup, (3) penilaian yang dilaksanakan guru mencakup tiga kategori, yaitu aspek penilaian, cara penilaian, dan pelaporan hasil penilaian, (4) faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran ini datang dari guru dan siswa, dan (5) upaya untuk mengatasi kendala dilakukan oleh guru dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan pada guru Matematika kelas II untuk menggunakan cara mencongak daripada teknik Jarimatika, bagi kepala sekolah sebaiknya sesekali memantau pembelajaran yang dilakukan guru.

Tingkat kepedulian para pekerja terhadap keselamatan kerja di industri meubelair kecamatan Gadingrejo kodya Pasuruan / oleh Sulistyowati

 

Perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran role playing dan picture and picture pada mata pelajaran bahasa indonesia di kelas VI SDN Sumberdem I Kecamatan Wonosari / Dhita Elisa

 

Kata kunci: Hasil belajar, Role Playing, Picture and Picture, Bahasa Indonesia Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Role Playing pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Kelas VI A SDN Sumberdem I Kec.Wonosari (2)mendeskripsikan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Picture and Picture pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Kelas VI B SDN Sumberdem I Kec.Wonosari (3) Menjelaskan perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Role Playing dan Picture and Picture pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SDN Sumberdem I Kec.Wonosari.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Rancangan eksperimen digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa. Sampel penelitian adalah siswa kelas VI SDN Sumberdem I. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (terdiri dari RPP, LKS, dan model pembelajaran Role Playing dan Picture and Picture). Instrumen pengukuran penelitian yaitu intrumen hasil belajar pre-tes dan post-tes. Masing- masing intrumen terdiri dari 20 soal. Analisis data dilakukan dengan uji t pada signifikansi α = 0,05.Hasil belajar kelas eksperimen I memiliki rata-rata sebesar 88,80 dengan selisih nilai pre-test dan post-test gain skore sebesar 27,20 prosentase ketuntasan sebesar 96%. Hasil belajar kelas eksperimen II memiliki rata-rata sebesar 78,33 dengan selisih nilai pre-test dan post-test/gain skore sebesar 18,33 prosentase ketuntasan sebesar 91%.Uji t gain skore juga menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen 1 lebih baik daripada kelas eksperimen 2 (thitung (2,145) > ttabel(2,011)). Dari paparan data di atas disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Role Playing dan Picture and Picture di kelas VI SDN Sumberdem I Kec.Wonosari.Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini yaitu guru harus pembelajaran Role Playing lebih baik digunakan dalam pembelajaran materi identifikasi unsur teks drama anak pada pelajaran bahasa Indonesia.

A Study on the effect of teaching grammer using PKG" method and elected method on the students / oleh Musoddaqul Umam"

 

Kesadaran hukum masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dalam pendaftaran peralihan hak milik atas tanah secara jual - beli / Victory Luhur Nugroho

 

Kata kunci: kesadaran hukum, masyarakat, pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah, jual-beli. Masyarakat mempunyai peranan penting dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Untuk mewujudkan ketertiban dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli masyarakat tersebut harus mempunyai kesadaran hukum. Kesadaraan hukum bisa terwujud apabila masyarakat tersebut mengetahui, memahami, bersikap dan berperilaku sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Kesadaran hukum yang dimaksud adalah kesadaran hukum tanpa paksaan. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup pemahaman masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli, sikap masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli, perilaku masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli, upaya yang dilakukan Kantor Pertanahan Kota Malang untuk menanamkan kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli, dan hambatan serta upaya pemecahan yang dilakukan Kantor Pertanahan Kota Malang untuk menanamkan kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan alasan peneliti tidak melakukan hipotesis. Subyek penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang pernah membeli tanah. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik keikutsertaan di lapangan, ketekunan pengamatan, triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masyarakat Kelurahan Sumbersari sudah memahami pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Pemahaman itu meliputi paham terhadap (a) peralihan Hak Milik, (b) pendaftaran peralihan Hak Milik, (c) tujuan pendaftaran, (d) prosedur pendaftaran, (e) syarat pendaftaran, (f) peran Kantor Pertanahan, dan (g) peran PPAT dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Namun kurang tepat dalam menjelaskan tujuan, prosedur dan syarat pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Masyarakat Kelurahan Sumbersari juga tidak mengetahui dasar hukum pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Kedua, masyarakat Kelurahan Sumbersari sudah bersikap sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Sikap itu meliputi (a) mendaftarkan peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli, (b) melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan saat pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli, (c) tidak mendaftarkan tanah hasil pembelian yang keadaan tanahnya tidak sesuai dengan surat-surat di akta jual-beli tanah atau sertipikat tanah dan (d) tidak mendaftarakan tanah hasil pembelian yang merupakan objek sengketa di Pengadilan. Namun saat menjelaskan prosedur pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli hanya dijelaskan sampai pembuatan akta jual-beli di depan PPAT. Seharusnya dijelaskan sampai pembuatan sertipikat dan baliknama di Kantor Pertanahan. Ketiga, masyarakat Kelurahan Sumbersari sudah berperilaku sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Perilaku itu adalah (a) membuat akta jual-beli tanah di hadapan PPAT, (b) kepemilikan sertipikat tanah dan (c) membaliknamakan sertipikat tanah di Kantor Pertanahan. Namun masih ada masyarakat Kelurahan Sumbersari yang belum memiliki sertipakat tanah dan membaliknamakan sertipikat tanahnya. Hal ini dikarenakan persepsi masyarakat bahwa untuk mengurus sertipikat tanah membutuhkan waktu yang lama dan sudah merasa cukup dengan memiliki akat jual-beli saja. Keempat, Kantor Pertanahan Kota Malang melakukan upaya preventif dan represif untuk menanamkan kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Upaya preventif meliputi (a) program pembinaan dan penyuluhan, (b) penyedian informasi pelayanan dan brosur informasi pelayanan. Upaya represif melalui Prona, yaitu pembuatan sertipikat yang dibiayai oleh APBN. Kelima, Kantor Pertanahan Kota Malang mengalami hambatan saat menanamkan kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan Hak Milik atas tanah secara jual-beli. Hambatan itu adalah (a) lemahnya penegakan hukum, (b) minimnya sarana dan prasarana, (c) kurangnya penyebaran sistem informasi, (d) kurangnya keprofesionalitasan Sumber Daya Manusia dan (e) kurangnya kerjasama dengan pihak masyarakat. Untuk mengatasai hambatan itu upaya pemecahannya adalah (a) pemberian sanksi yang tegas dan reward, (b) pengajuan sarana dan prasarana, (c) pengembangan sistem informasi pelayanan (d) pengembangan Sumber Daya Manusia dan (e) pembentukan kelompok kerja. Saran yang diberikan adalah (a) bagi Kantor Pertanahan Kota Malang untuk menanamkan kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan hak Milik atas tanah secara jual-beli hendaknya lebih giat memberikan pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat agar masyarakat benar-benar mengetahui, memahami, bersikap dan berperilaku sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga dengan suka rela masyarakat menaati dan mematuhi hukum tersebut dan mendaftarkan tanah yang mereka beli, (b) bagi PPAT di wilayah Kota Malang hendaknya ikut serta dalam menanamakan kesadaran hukum masyarakat dalam pendaftaran peralihan hak Milik atas tanah secara jual-beli. PPAT hendaknya lebih aktif turun ke masyarakat untuk memberikan informasi mengenai semua hal yang berhubungan dengan masalah jual-beli tanah. Karena PPAT adalah bagian dari Kantor Pertanahan dan penegak hukum di masyarakat.

Relasi dan fungsi / oleh Siti Latifatun

 

Penerapan model regresi lognormal pada data ketahanan hidup pasien kanker ginjal / Gangga Nada Dwi Satria

 

Kata kunci: data ketahanan hidup, regresi lognormal Analisis regresi adalah teknik statistika yang berguna untuk memeriksa dan memodelkan hubungan antara suatu peubah dengan peubah yang lain. Model regresi dan analisisnya juga dapat diterapkan pada data ketahanan hidup suatu objek tertentu, yaitu data tentang jangka waktu dari awal pengamatan sampai terjadinya suatu peristiwa atau end point. Pada data ketahanan hidup sering kali terdapat pengamatan tersensor, yaitu apabila end point yang telah ditentukan dari suatu pengamatan, ada beberapa individu yang tidak teramati. Oleh karena itu dalam menganalisa data ketahanan hidup diperlukan metode statistika yang tepat, yang disebut dengan analisis survival. Salah satu contoh data ketahanan hidup yang membutuhkan analisis survival dalam menganalisa yaitu: seorang peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dari faktor usia, jenis kelamin, operasi pengangkatan ginjal (nephrectomy), pengobatan dengan kemoterapi dan imunoterapi, sel kanker menyebar ke paru-paru, dan sel kanker menyebar ke tulang terhadap waktu ketahanan hidup pasien kanker ginjal (hypernephroma). Masalah yang seringkali dihadapi dalam penelitian seperti contoh kasus pasien kanker ginjal diatas adalah terdapat beberapa pasien yang tidak mengalami kegagalan sampai penelitian berakhir, atau beberapa pasien keluar dari penelitian sebelum terjadi kegagalan. Salah satu model regresi yang dapat diterapkan terhadap data ketahanan hidup pasien kanker ginjal tersebut adalah model regresi lognormal. Adapun model regresi lognormalnya sebagai berikut: lnTi = 4,4184 – 0,0341X1 – 0,1424X2 + 1,0806X3 + 0,1182X4 – 0,0452X5 + 0,2159X6 + 0,889􀟝􀯜 Untuk memprediksi waktu ketahanan hidup pasien kanker ginjal dapat dilakukan dengan mengantilog lnTi menjadi: Ti = exp (4,4184 – 0,0341X1 – 0,1424X2 + 1,0806X3 + 0,1182X4 – 0,0452X5 + 0,2159X6 + 0,889􀟝􀯜) Faktor yang paling berpengaruh terhadap waktu ketahanan hidup pasien kanker ginjal adalah usia dan operasi pengangkatan ginjal. Makin tinggi usia pasien maka makin kecil peluang ketahanan hidupnya, dan peluang ketahanan hidup pasien yang melakukan operasi pengangkatan ginjal lebih besar dari pada pasien yang tidak melakukan operasi pengangkatan ginjal.

Hubungan antara akumulasi modal dengan tingkat SHU yang dicapai KPN Guyub Rukun Kepanjen / oleh Estiyaning Nurharini

 

Penerapan model cooperative script untuk meningkatkan kemampuan menjelaskan isi bacaan pada siswa kelas III di SDN Bareng 4 Kota Malang / Dyah Retno Hartati

 

Kata Kunci: Model Cooperative Script, Kemampuan Menjelaskan Isi bacaan, SD Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas III di SDN Bareng 4 Kota Malang, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada aspek menjelaskan kembali isi bacaan di kelas III. Permasalahan tersebut antara kain: (1) rendahnya rata-rata klasikal yang belum mencapai Standar Kelulusan Minimal; (2) pada saat pembelajaran guru tidak menggunakan model tertentu, kegiatan siswa adalah membaca teks bacaan setelah itu menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Cooperative Script untuk meningkatkan kemampuan menjelaskan isi bacaan pada siswa kelas III SDN Bareng 4 Kota Malang; (2) mendeskripsikan tingkat keberhasilan model cooperative script untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menjelaskan isi bacaan pada siswa kelas III SDN Bareng 4 Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus berikutnya. Subyek penelitian ini dengan jumlah 23 siswa. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan deskriptif kuantitatif. Langkah model Cooperative Script yaitu: (1) siswa berkelompok berpasangan; (2) guru membagikan wacana kepada setiap kelompok; (3) guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar; (4) pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya; (5) sementara penyimak/pengoreksi menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya; (6) bertukar peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Cooperative Script pada pembelajaran bahasa Indonesia telah berhasil meningkatkan kemampuan menjelaskan isi bacaan yang terus meningkat. Kemampuan siswa mengalami peningkatan pada siklus II, yang paling tampak yaitu sebagian besar siswa hasil belajarnya pada tes lisan meningkat. Hasil belajar pada siklus I memperoleh ketuntasan klasikal yang cukup baik. Pada siklus II memperoleh ketuntasan klasikal yang meningkat jauh lebih baik. Berdasarkan temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model Cooperative Script dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menjelaskan isi bacaan. Meskipun dapat meningkatkan hasil belajar siswa, diperlukan penelitian lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan menjelaskan isi bacaan. Selain itu diperlukan adanya variasi dalam pembelajaran dan cara menyajikan pelajran yang kreatif dan inovatif dengan perencanaan yang lebih matang.

Perbedaan hasil belajar biologi dengan menggunakan metode tugas, metode diskusi kelompok dan metode demonstrasi pada siswa kelas I SMP Negeri Kasembon Malang / oleh Aryuni

 

Analisis kesalahan membaca pemahaman (Leseverstehen) mahasiswa dalam ujian Zids semester genap tahun 2010/2011 Jrusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Agus Faizi

 

Kata kunci: Kesalahan membaca pemahaman, Detailverstehen, ujian ZIDS Penelitian ini mengkaji masalah kesalahan berbahasa mahasiswa di dalam membaca pemahaman (Leseverstehen) pada ujian ZIDS di Program Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Malang. Latar belakang yang mendasari kajian mengenai kesalahan berbahasa dalam membaca pemahaman ini adalah kenyataan bahwa masih banyaknya mahasiswa yang tidak lulus dalam ujian ZIDS. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kesulitan mahasiswa di dalam mengerjakan soalsoal ZIDS, terutama dalam aspek ujian tertulis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan dalam membaca pemahaman (Leseverstehen). Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hasil jawaban mahasiswa dalam ujian ZIDS Tahun 2010/2011 di Program Pendidikan Bahasa Jerman. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai kesalahan paling dominan yang dibuat mahasiswa dalam membaca pemahaman. Dengan demikian, dosen pengajar mata kuliah ZIDS Vorbereitung dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap jenis membaca pemahaman yang masih sulit bagi mahasiswa. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang sebanyak 65 orang mahasiswa yang menjadi peserta ujian ZIDS. Adapun data dalam penelitian ini adalah hasil jawaban 65 mahasiswa tersebut pada ujian ZIDS. Instrumen yang digunakan terbagi atas dua bagian, yaitu peneliti sebagai instrumen utama dan tabel berfungsi sebagai instrumen pembantu. Dari analisis yang dilakukan ditemukan bahwa jenis-jenis kesalahan yang paling dominan terletak pada jenis membaca detail (Detailverstehen), yakni sebesar 34,46%. Kesalahan pada membaca selektif (Selektivverstehen) ditemukan sebesar 24%. Dan kesalahan yang paling sedikit adalah kesalahan pada membaca global (Globalverstehen), yakni sebesar 12,31%. Oleh sebab itu, penulis menyarankan kepada dosen pengajar mata kuliah ZIDS Vorbereitung untuk memberikan latihan yang lebih banyak pada aspek keterampilan membaca pemahaman (Leseverstehen), terutama pada jenis membaca detail (Detailverstehen). Selain itu mahasiswa hendaknya aktif bertanya apabila ada penjelasan yang belum dipahami. Mahasiswa sebaiknya lebih sering melakukan latihan pada membaca pemahaman, terutama dalam jenis membaca detail (Detailverstehen), untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menjawab soal-soal dalam ujian ZIDS. iii

Analisis kontrastif bentuk jamak antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta implikasinya dalam pengajaran bahasa Arab / oleh Triyo Supriyatno

 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Make a Mattch pada mata diklat ilmu statika dan tegangan untyuk meningikatkan hasil belajar siswa kelas X gambar b angunan SMKN 6 Malang / Ahmad Hafidh Ridlo

 

Kata kunci: penerapan, pembelajaraan kooperatif, make a match, hasil belajar Berdasarkan data hasil belajar siswa mata diklat Ilmu Statika dan Tegangan dan hasil wawancara dengan guru pengampu, bahwa masih rendahnya hasil belajar siswa dalam mata diklat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: (a) sulitnya daya serap siswa dalam memahami pengetahuan dasar statika, (b) kurangnya antusias/bosan dan semangat siswa ketika mengikuti KBM, (c) masih banyak siswa yang mengobrol di luar konteks materi pelajaran, (d) siswa kurang aktif dalam bertanya kepada guru mengenai materi pelajaran yang belum dipahami. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimanakah kegiatan pembelajaran Make a Match dan peningkatan hasil belajar siswa pada mata diklat Ilmu Statika dan Tegangan di SMKN 6 Malang. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan mengetahui metode yang sesuai dengan mata diklat Ilmu Statika dan Tegangan. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan observasi dan tes/ulangan. Prosedur penelitian ini dilakukan dengan tiga kali pertemuan disetiap siklusnya, yaitu: (1) penerapan latihan soal, (2) ulangan/post test, dan (3) penerapan Make a Match. Penerapan latihan soal dilakukan kepada siswa dengan memberikan latihan soal untuk mengasah dan membiasakan siswa untuk mengetahui kemampuannya. Ulangan sebagai tindak lanjut dari hasil penerapan latihan soal yang telah diterapkan pada pertemuan pertama. Penerapan Make a Match digunakan untuk mengaktifkan siswa di kelas/luar kelas dengan sitem permainan kartu dan berfungsi meningkatkan kebiasaan siswa dalam berkomunikasi. Hasil dan pembahasan penelitian tersebut disimpulkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran Make a Match pada mata diklat Ilmu Statika dan Tegangan di kelas X GB 2 di SMKN 6 Malang meningkatkan efektifitas siswa dalam berinteraksi pada kegiatan belajar mengajar, (2) penerapan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada mata diklat Ilmu Statika dan Tegangan di kelas X GB 2 di SMKN 6 Malang mengalami peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 26.46%. Peningkatan angket observasi yang dihasilkan pada pertemuan 1 di siklus 1 dan 2 menerapkan latihan soal sebesar 38.36%, pertemuan 2 menerapkan ulangan sebesar 26.10%, dan pertemuan 3 menerapkan Make a Match sebesar 8.46%.

Penggunaan peranti kohesi antarkalimat dalam karangan siswa kelas V SD Negeri Blimbing 3 kotamadya Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Yakobus Paluru

 

Pengajaran apresiasi puisi kelas V Sekolah Dasar se Kecamatan Wera kabupaten Bima NTB / oleh Nurdin Haji Murtada

 

Pengembangan aplikasi ICT-tutor berbasis android sebagai media pembelajaran memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan TIK siswa SMA kels X / Johan Wahyu Prasetyo

 

Kata Kunci: mobile learning, handphone, ICT-Tutor Saat ini handphone merupakan alat elektronik yang semakin merakyat diberbagai kalangan masyarakat. Akan tetapi yang perlu disayangkan adalah kelengkapan fitur-fitur pada handphone tidak digunakan pada porsi yang tepat, sehingga sebagian besar dari mereka belum mampu memanfaatkan keberadaan handphone dalam rangka mendukung proses pembelajaran. Mobile learning ter-masuk suatu inovasi baru dibidang pendidikan. Pembelajaran ini memberikan manfaat dalam memaksimalkan kecanggihan perangkat bergerak untuk memben-tuk suatu paradigma pembelajaran dengan mengusung konsep kapanpun dan di-manapun. Siswa tidak perlu kehadiran guru untuk melakukan pembelajaran me-lalui handphone, mengingat ketersediaan materi ajar yang dapat diakses setiap saat. Tujuan yang diambil dalam penelitian ini adalah mengembangkan ICT-Tutor serta menguji kelayakannya sebagai media pembelajaran untuk mata pelajaran TIK SMA kelas X pada standar kompetensi memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan TIK. Pada penelitian ini, perancangan dan pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah model pengembangan waterfall yang tahapannya terdiri dari: (1) Penentuan & Analisis Spesifikasi, (2) Desain Sistem & Perangkat Lunak, (3) Implementasi & Uji Coba Unit, (4) Integrasi & Uji Coba Sistem, dan (5) Operasi & Pemeliharaan. Sedangkan pengembangan media pembelajaran yang digunakan mengadopsi model Sugiyono dengan tahapan sebagai berikut: (1) Potensi dan masalah; (2) Pengumpulan data; (3) Desain produk; (4) Validasi Desain; (5) Revi-si Desain; (6) Uji Coba Produk; (7) Revisi Produk; (8) Uji Coba Pemakaian; (9) Revisi Produk; (10) Produksi Massal. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa aplikasi perangkat lunak media pembelajaran yang memiliki 4 menu utama, yaitu: materi perangkat keras komputer, materi perangkat jaringan telekomunikasi, kuis, dan about dengan spesifikasi perangkat lunak yaitu handphone dengan sistem operasi An-droid 1.6 Donut, 2.1 Eclair, 2.2 Froyo, dan 2.3 Gingerbread serta mempunyai perangkat keras dengan resolusi layar QVGA, HVGA, dan WVGA. Pengukuran kelayakan atau kualitas media pembelajaran ICT-Tutor yang dikembangkan ini dilakukan oleh ahli media, ahli materi, dan siswa kelas X SMAN 3 Malang, SMAN 8 Malang, dan SMAN 9 Malang sebagai subjek uji lapangan. Dalam hal ini, media dikatakan layak apabila penilaian dari kriteria-kriteria yang diberikan mencapai angka di atas 75,01%. Berdasarkan hasil validasi ahli media, ahli materi, dan uji lapangan diperoleh data akhir sebesar 96% untuk ahli media, 91% untuk ahli materi, dan 85% untuk uji lapangan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media ICT-Tutor ini layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Penguasaaan ejaan siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Bareng III Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Hanafi Thahir

 

Pemahaman ideologi liberal, komunis dan Pancasila sebagai upaya memantapkan ideologi nasional dalam pembentukan watak bangsa Indonesia / oleh Laksmi Nusantari

 

Pengaruh pelayanan prima terhadap kepuasan pelanggan pada UD. Barokah Kota Batu / Rudi Kurniawan

 

Kata Kunci : Pelayanan Prima, Kepuasan Pelanggan. Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Selain melakukan pemasaran yang baik, perusahaan harus mampu membuat pelanggan puas akan pelayanan perusahaan. Kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaian. Untuk tercapainya kepuasan pelanggan tersebut diperlukan pelayanan yang maksimal pada pelanggan, agar memberikan evaluasi yang baik pada kinerja actual yang dirasakan. Untuk itu diterapkan sistim pelayanan prima (service excellence) yang artinya adalah kepedulian kepada pelanggan dengan memberikan layanan terbaik untuk memfasilitasi kemudahan pemenuhan kebutuhan guna mewujudkan kepuasan pelanggan agar mereka selalu loyal kepada perusahaan. Adapun variabel pelayanan prima mencakup: Kemampuan (Ability), Sikap (Attitude), Penampilan (Apearance), Perhatian (Attention), Tindakan (Action), dan Tanggung Jawab (Accountability). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan UD. Barokah Batu dengan sampel berjumlah 86 orang. Uji validitas dengan syarat minimum kalau r >0,3 dan reliabilitas instrument  ≥0,6. Uji asumsi klasik yang terdiri dari uji multikulioneritas, uji normalitas, dan uji heterokedasitas juga dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik simple random sampling. Instrument penelitian menggunakan angket kuesioner tentang pelayanan prima dengan model skala Likert. dan analisa data yang digunakan yaitu teknik analisis regresi berganda yang dibantu dengan program computer SPSS 16.00 for Windows. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial terdapat satu variabel yaitu penampilan berpengaruh secara negatif terhadap kepuasan pelanggan UD. Barokah Batu. Untuk kemampuan, sikap, perhatian, tindakan, tanggung jawab berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Sedangkan secara simultan, seluruh variabel pelayanan prima berpengaruh positif dan signifikan yaitu sebesar 95%, sedangkan sisanya sebesar 5% dipengaruhi oleh variabel diluar penelitian. Agar tercapai keberhasilan dalan proses pemasaran hendaknya UD. Barokah lebih memperhatikan lagi strategi pelayanan prima dalam operasional usahanya. Khususnya penampilan. Karena memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan.

Studi komparatif antara keefektifan penggunaan media promosi langsung dan media promosi tidak langsung di citra media computer Malang / oleh Herman Widiarka

 

Efektivitas konseling ringkas berpusat solusi untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Athik Hidayatul Ummah

 

Program Studi Bimbingan dan Konseling Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd (II) Dr. M. Ramli, M.A. Kata Kunci : efikasi diri akademik, konseling ringkas berpusat solusi, efektivitas. Efikasi diri akademik sangat mempengaruhi siswa dalam menghadapi tugas/tantangan yang sulit. Siswa yang mempunyai efikasi diri akademik tinggi mempunyai keyakinan tinggi bahwa dia mampu melaksanakan tugas-tugas akademik dengan baik. Namun, jika efikasi diri akademik rendah, siswa cenderung menghindari pelajaran yang tidak disukai, mudah menyerah, tidak bisa bangkit ketika mengalami kegagalan, dan rendahnya prestasi. Konseling ringkas berpusat solusi bermanfaat untuk meningkatkan efikasi diri akademik karena mengajarkan individu menangani secara efektif situasi sulit melalui wicara diri positif ke dalam kognisi sehingga berefek positif pada perilaku yang muncul. Tujuan penelitian yaitu mengetahui efektivitas konseling ringkas berpusat solusi untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP. Desain penelitian yaitu pre-test, middle-test and post-test control group desain. Metode analisis yang digunakan yaitu uji Two-Independent-Sample Test- Mann-Withney U untuk membandingkan dua buah sampel yang bebas berasal dari populasi yang sama untuk melihat signifikansi perbedaan efikasi diri akademik konseli sebelum, pertengahan, dan sesudah diberikan intervensi. Selain itu juga menggunakan analisis percakapan untuk menganalisis perubahan wicara diri selama proses intervensi. Berdasarkan hasil analisis statistik, nilai statistik uji Z yang kecil yaitu - 2.611 dan nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,009 < 0,05, artinya konseling ringkas berpusat solusi mempunyai efek perubahan untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMP. Hasil analisis percakapan menunjukkan bahwa pernyataan/ungkapan konseli yang awalnya menunjukkan efikasi diri akademik rendah berubah menjadi ungkapan efikasi diri akademik tinggi. Teknik pertanyaan keajaiban, pertanyaan skala, pertanyaan pengecualian memberikan kontribusi untuk mempermudah konseli membuat solusi. Konseli semakin menyadari akan kemampuan dirinya untuk menemukan solusi-solusi baru. Saran penelitian yaitu: (1) untuk konselor: konseling ringkas berpusat solusi dapat digunakan oleh konselor sekolah karena sifatnya praktis dan efektif; konselor sekolah perlu mengembangkan diri dengan pengetahuan teoritik dan praktek konseling melalui workshop, dan (2) untuk peneliti selanjutnya: perlu ditindaklanjuti dengan penelitian serupa yang lebih mendalam baik dari tahaptahapannya maupun jumlah sesi/pertemuan; perlu dilakukan analisis lebih rinci apakah perubahan yang terjadi memang karena teknik-teknik konseling yang dilakukan atau karena ada faktor lain; dan proses konseling perlu direkam melalui video untuk menyelami sikap dan perilaku non-verbal konseli.

Fungsi perpustakaan desa dalam pembinaan minat baca warga desa Pelem kecamatan Karangrejo kabupaten Magetan / oleh Siti Nuryani

 

Keberhasilan pemasyarakatan P-4 di dalam memantapkan sosial budaya masyarakat di desa Wandanpuro kec. Bululawang kabupaten Malang tahun 1993/1994 / oleh Rr. Foura Retno Astuti

 

Tradisi peminangan di desa Balun kecamatan Turi kabupaten Lamongan / oleh Dono Nurkusen

 

Pengaruh temperatur tempering terhadap sifat mekanik baja NS-1045 / oleh Agus Riyanto

 

Perbandingan buku teks SMU bidang studi bahasa dan sastra Indonesia yang disusun berdasarkan kurikulum 1994 terbitan YA3 dan terbitan karya Pembina Swajaya / oleh Alise Nur Saadah

 

Studi tentang tanggapan guru biologi sekolah lanjutan tingkat pertama negeri dan swasta se-kodya Malang terhadap pelaksanaan kurikulum 1994 mata pelajaran biologi / oleh Nurul Heni R.K.

 

Pembelajaran apresiasi puisi di kelas 4 SD Unit Dharma Wanita IKIP MALANG berdasarkan kurikulum SD 1994 / oleh Syarifuddin Salama

 

Pemahaman anak usia 7-12 tahun terhadap ekspresi wajah gambar kartun di pedesaan kecamatan Sutojayan kabupaten Blitar / oleh Rudi Irawanto

 

Pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Malang tahun 2005 / Yudhistira Bagus Herda Zhaputra

 

Kata Kunci: Pemilihan, Kepala Daerah, Langsung, Kabupaten Malang. Pasca reformasi pada tahun 1998 memberikan secercah harapan baru dalam tatanan politik dan sistem politik di Indonesia yaitu pelaksanaan pemilukada yang dipilih secara langsung oleh rakyat dan hal itu diperkuat dengan berlakunya UUD 1945 pasal 18 ayat 4 yaitu Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Malang tahun 2005, (2) bagaimanakah upaya memenangkan pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Malang tahun 2005, (3) bagaimanakah pendidikan politik dan partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Malang tahun 2005. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Tahapan yang digunakan peneliti antara lain: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber (heuristik), (3) kritik berupa kritik eksternal dan kritik internal. (4) interpretasi, dan (5) historiografi. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen, peta, koran, dan wawancara. Berdasarkan temuan/hasil penelitian dalam penelitian ini diperoleh tiga kesimpulan antara lain: (1) pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Malang tahun 2005 diantaranya: (a) kondisi geografis dan kondisi demografis Kabupaten Malang, (b) deskripsi tentang pemilukada sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat, (c) pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 sebagai sarana mengembalikan kedaulatan politik ke tangan rakyat, (d) peraturan tentang pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 yaitu UU nomor 32 tahun 2004, Perpu nomor 3 tahun 2005, Peraturan Pemerintah nomor 6 tahun 2005, dan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2005, (e) partai politik peserta pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 yaitu Partai Golkar, Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PDIP, (f) tahapan pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 meliputi tahap persiapan yang terdiri dari tata cara dan jadwal pelaksanaan pemilukada, pembentukan panitia seperti PPK, PPS, dan KPPS serta pendaftaran panitia pemantau, (g) lembaga yang terkait penyelenggaraan pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 yaitu KPUD, Panwaslu, dan tim pemantau pemilihan, (h) tahap pelaksanaan yang meliputi penetapan pemilih, pendaftaran dan penetapan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, kampanye, pemungutan suara dan penghitungan suara, dan penetapan pasangan calon terpilih, dan pelantikan, (i) hasil pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 yaitu pasangan Noeryanto dan Zainal Fahris memperoleh suara sah 121.209 suara, pasangan Sujud Pribadi dan Rendra Kresna memperoleh suara sah 788.033 suara, dan pasangan Dade Angga dan Kamilun Muhtadin memperoleh suara 268.834 suara. (2) upaya memenangkan pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 yaitu dukungan partai politik, tim sukses, dan pasangan calon diantaranya: (a) deklarasi pemenangan, (b) pemaparan program pembangunan untuk lima tahun ke depan, (c) melaksanakan kampanye simpatik dengan mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, pedagang, petani, peternak, tukang becak, tukang ojek, sopir, dan guru, (d) menggandeng organisasi massa, organisasi sayap, gerakan pemuda, dan paguyuban, (e) berkoalisi dengan partai politik lain, (f) melaksanakan kampanye terbuka dengan berkeliling wilayah, (g) melaksanakan kampanye monologis, (h) membentuk tim pemenangan di tingkat desa dan di tingkat kecamatan, (i) pembentukan galmas (penggalian massa), (j) mendatangkan jurkam (juru kampanye). (k) sambang desa, (l) kampanye dari rumah ke rumah, (m) kampanye di warung kopi, (e) menyusun visi, misi, dan program kerja yang pro rakyat. (3) pendidikan politik dan partisipasi politik masyarakat dalam pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 diantaranya: (a) pendidikan politik sebagai sarana proses penyadaran politik seseorang untuk memilih seorang pemimpin dalam pemilihan umum, (b) pengaruh pelaksanaan pemilukada di Kabupaten Malang tahun 2005 dan pengetahuan politik masyarakat yaitu sebagai sarana untuk memilih pemimpin yang bagus, sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat, dan alat ukur yang nyata dari kepedulian seorang pemimpin terhadap rakyatnya, (c) partisipasi politik masyarakat, dibedakan atas tujuh hal yaitu sifat partisipasi politik, bentuk partisipasi politik, fungsi partisipasi politik, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat, landasan partisipasi politik, mode partisipasi politik, dan dimensi subjektif individu. Saran-saran yang diajukan peneliti diantaranya: (a) bagi masyarakat di Kabupaten Malang untuk lebih menghargai dan menghormati pilihan orang lain serta lapang dada terhadap kekalahan pasangan calon yang dijagokan. (b) bagi KPUD Kabupaten Malang agar lebih meningkatkan sosialisasi tentang pasangan calon bupati dan calon wakil bupati yang menjadi peserta dalam pemilukada di Kabupaten Malang serta harus tegas dalam menindak segala pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan semua pasangan calon bupati dan calon wakil bupati. (c) bagi pasangan bupati dan wakil bupati terpilih harus mampu mewujudkan visi dan misi yang telah diagendakan pada saat kampanye. (d) bagi peneliti selanjutnya untuk membahas perilaku pemilih dalam pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Malang tahun 2005.

Perbedaan prestasi belajar fisika pokok bahasan hukum-hukum newton dan gaya gesekan bagi siswa SMA kelas II A2 yang diajar dengan metode resitasi dan metode ceramah di SMA Negeri 7 Malang / oleh Edi Supriyanto

 

Peranan kepala sekolah dalam pengembangan guru, kurikulum dan pembelajaran multikultural (studi multi situs pada SDN Jember Lor I dan SDN Patrang I Kecamatan Patrang Kabupaten Jember) / Sumarno

 

Kata kunci: peranan kepala sekolah, pengembangan pendidikan multikultural, sekolah dasar. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai etnis, agama, budaya dan sosial ekonomi yang berbeda-beda sehingga disebut masyarakat yang multikultural. Masyarakat yang multikultural sangat rawan terjadi konflik, baik konflik antar etnis, konflik antar desa, konflik antar siswa maupun antar mahasiswa dan lainnya. Agar kita dapat mencegah konflik dan dapat menjadi masyarakat Indonesia yang kuat, maka sebaiknya kita melaksanakan pendidikan multikultural. Hal ini dimaksudkan agar para siswa dengan latar belakang etnis, agama, budaya dan sosial ekonomi yang berbeda-beda mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh prestasi di sekolah, sehingga dengan perbedaan tersebut mereka saling menghargai, saling menghormati dan saling percaya. Penelitian ini dilakukan di dua situs, yaitu SDN Jember Lor I dan SDN Patrang I Kecamatan Patrang Kabupaten Jember, yang bertujuan untuk mendeskripsikan segala fenomena dan peristiwa yang terkait dengan peranan kepala sekolah dalam pengembangan pembelajaran multikultural, yang meliputi: (1) Peranan kepala sekolah dalam pengembangan guru; (2) Peranan kepala sekolah dalam pengembangan kurikulum; (3) Peranan kepala sekolah dalam pengembangan silabus dan Rancangan Pelaksananaan Pembelajaran (RPP) maupun pengembangan proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi multi situs. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi, wawancara dan observasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama; peranan kepala sekolah dalam pengembangan guru yaitu: (1) menugaskan guru senior membina guru yunior untuk meningkatkan kompetensi guru terutama kompetensi profesional; (2) membina guru dengan melaksanakan supervisi pembelajaran dengan sasaran Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan proses pembelajaran di kelas; (3) mengaktifkan guru dalam kelompok kerja guru (KKG) dengan cara menyusun jadwal kegiatan KKG dan memantaunya setiap minggu sekali dan paling sedikit sebulan sekali dengan membahas tentang permasalahan pembelajaran; (4) kepala sekolah menugaskan guru mengikuti kegiatan seminar atau penataran berdasarkan materi dan minat guru dan memotivasi guru supaya melakukan studi lanjut untuk meningkatkan kualifikasi guru dari D2 PGSD ke S1 PGSD atau dari S1 PGSD ke S2 PGSD; (5) mengusulkan guru untuk mengikuti sertifikasi guru dan membina guru yang sudah lulus sertifikasi guru; (6) membimbing guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) mulai dari cara menyusun proposal penelitian, cara melaksanakan penelitian dan cara menyusun laporan hasil penelitian tindakan kelas; Kedua; peranan kepala sekolah dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yaitu: (1) kepala sekolah membentuk tim penyusun KTSP yang bertugas menyusun KTSP mulai dari analisis SWOT, menyusun draf KTSP dan finalisasi KTSP; (2) kepala sekolah dalam melaksanakan KTSP diawali dengan menyusun jadwal pelajaran, pembagian tugas guru mengajar dan sosialisasi KTSP. Dalam pelaksanaan KTSP kepala sekolah menggerakkan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP; (3) dalam pengembangan KTSP kepala sekolah bersama tenaga kependidikan mengumpulkan hasil evaluasi pelaksanaan kurikulum kemudian dibawa dalam rapat tim penyusun kurikulum untuk mengadakan revisi atau pengembangan kurikulum yang sudah ada; Ketiga; peranan kepala sekolah dalam pengembangan silabus, RPP dan proses pembelajaran yaitu: (1) dalam pengembangan silabus kepala sekolah membimbing guru dalam menganalisis standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan materi pembelajaran dan mengarahkan guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan multikultural kedalam silabus; (2) membimbing guru dalam menyusun dan mengembangkan RPP; (3) membimbing guru dalam mengembangkan proses pembelajaran dikelas dan diajak bersama-sama mengembangkan proses pembelajaran di sekolah dan luar sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan sebagai berikut: (1) Bagi guru diharapkan sungguh-sungguh melaksanakan tugasnya sebagai guru dan semangat dalam mengembangkan kompetensi guru termasuk dalam melaksanakan pembelajaran multikultural yang dikembangkan menjadi pendidikan budaya dan karakter bangsa yang merupakan kebutuhan mendesak untuk membangun karakter bangsa; (2) Bagi kepala sekolah diharapkan pertama, melaksanakan pembinaan dan pengarahan kepada guru secara berkelanjutan dalam melaksanakan KTSP termasuk pendidikan multikultural yang dikembangkan menjadi pendidikan budaya dan karakter bangsa; kedua, membangun kerjasama yang baik dengan sesama kepala sekolah melalui K3S agar dapat meningkatkan upaya mengembangkan sekolah di tempat kerja masing-masing; (3) Bagi pengawas sekolah agar membina sekolah-sekolah binaannya secara berkelanjutan; (4) Bagi dinas pendidikan Kabupaten agar meningkatkan upaya pembinaan kepada para guru secara berkelanjutan terutama menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru; (5) Bagi peneliti lain bahwa penelitian ini baru membahas tentang peranan kepala sekolah dalam pengembangan guru, kurikulum dan pembelajaran multikultural, sedangkan dalam hal peranan kepala sekolah dalam pengembangan sarana dan prasarana serta sumber belajar untuk pembelajaran multikultural belum diteliti, oleh karena itu hal ini dapat dilakukan penelitian berikutnya.

Studi tentang perbandingan kadar piperin hasil isolasi dari lada putih dengan pelarut ekstraksi metanol, etanol, kloroform, dan diklorometana / oleh Ida Nur Handayani

 

Efektivitas model siklus belajar berbantuan teknik Mind Mapping terhadap penguasaan konsep fifika ditimjau dari keterampilan proses sains siswa SMKN 9 Malang / Setio Rilly

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhardjito, M.S (2) Dr. Sentot Kusairi, M.Si Kata Kunci: model siklus belajar, mind mapping, keterampilan proses sains, penguasaan konsep fisika. Keterampilan proses sains siswa sangat mempengaruhi proses pembelajaran dengan menggunakan model siklus belajar. Salah satu teknik yang dapat membantu siswa untuk lebih memahami konsep adalah menggunakan mind mapping. Pembelajaran dengan menggunakan model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping diyakini mampu membuat penguasaan konsep menjadi lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menguji efektivitas pembelajaran dengan model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep siswa, (2) menguji adanya interaksi antara model pembelajaran dengan keterampilan proses sains terhadap penguasaan konsep siswa, (3) menguji efektivitas pembelajaran dengan model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep siswa dengan keterampilan proses sains tinggi, (4) menguji efektivitas pembelajaran dengan model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep siswa dengan keterampilan proses sains rendah. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experiment dengan desain faktorial 2 x 2. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMKN 9 Malang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan diperoleh 3 kelas sebagai kelas eksperimen yang belajar menggunakan model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping, dan 3 kelas sebagai kelas kontrol yang belajar menggunakan model siklus belajar dengan teknik mencatat tradisional. Instrumen penelitian terdiri atas RPP, silabus, soal keterampilan proses dan soal penguasaan konsep suhu-kalor. Teknik analisis data menggunakan uji Anava dua jalur yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep siswa ditunjukkan oleh hasil uji Tukey Q1hitung = 21,17 > Qtabel = 3,75 pada taraf signifikansi 0,05, (2) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keterampilan proses sains terhadap penguasaan konsep siswa ditunjukkan oleh nilai Fhitung= 4,51 > Ftabel= 3,93, (3) pembelajaran model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep untuk siswa yang memiliki keterampilan proses sains tinggi ditunjukkan oleh nilai Q3hitung = 17,10 > dari Qt = 3,85, (4) pembelajaran model siklus belajar berbantuan teknik mind mapping lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep untuk siswa yang memiliki keterampilan proses sains rendah ditunjukkan oleh nilai Q4hitung = 12,83 >Qt = 3,85.

Studi kesulitan dan dukungan guru geografi dalam pembelajaran geografi di SMA Negeri Kabupaten Sampang / Agung Surya Putra

 

Kata kunci: Pembelajaran geografi, guru, kesulitan, dan dukungan guru. Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia belum menggembirakan, banyak faktor yang mempengaruhinya, tetapi yang paling besar mempengaruhinya adalah kondisi guru. Guru memiliki peran yang penting dalam dunia pendidikan. Guru dalam meningkatkan mutu pendidikan tentu mengalami berbagai kesulitan dan bahkan memiliki hambatan serta dukungan dalam melaksanakan pembelajaran.. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) faktor yang mendukung guru geografi dalam pembelajaran geografi di SMA Negeri Kabupaten Sampang dan (2) berbagai kesulitan yang dialami guru geografi dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA Negeri Kabupaten Sampang. Rancangan penelitian ini adalah sensus. Variabel dalam penelitian ini adalah kesulitan dan dukungan guru geografi dalam menyusun perencanaan pembelajaran, menyiapkan bahan ajar, menggunakan metode belajar, menggunakan media pembelajaran, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Populasi penelitian seluruh guru bidang studi geografi yang tersebar di 8 SMA Negeri di Kabupaten Sampang dengan jumlah 15 orang guru. Penelitian ini menggunakan instrumen angket. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dengan tabel persentase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kesulitan yang dihadapi guru geografi SMA Negeri di Kabupaten Sampang yaitu kesulitan dalam menentukan alokasi waktu, kesulitan dalam menentukan metode pembelajaran, tidak memiliki cukup waktu dalam menyusun LKS, kesulitan dalam menentukan buku sumber yang memenuhi seluruh SK, KD, dan indikator, kesulitan dalam menentukan media yang dapat membangkitkan minat dan motivasi siswa, kurang waktu yang disediakan, kesulitan menentukan pedoman penskoran, dan pemilihan aspek yang dinilai.Dukungan yang dialami guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran antara lain : sarana dan prasarana yang mendukung, memiliki pengalaman mengajar yang cukup, dan beban mengajar guru.

Sejarah pertumbuhan lembaga perwakilan rakyat di Indonesia (1918-1949) / oleh Nikmatunasikhah

 

Perbedaan hasil belajar fisika antara siswa yang diajar dengan metode ceramah variatif dan yang diajar dengan metode pemberian tugas variatif di SMA Negeri I Lamongan / oleh Supartono

 

Struktur kalimat bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas V SD Negeri Bareng 8 Kodya Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Jemmy Jeane Mukuan

 

Pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum 1994 di kelas I SMU Negeri 7 Kediri tahun ajaran 1994/1995/ oleh Khoirul Anam

 

Penyusunan modul pengajaran matematika untuk SMU kelas I catur wulan I / oleh Nur Shoimah

 

Pengaruh diversifikasi produk terhadap volume penjualan pada perusahaan tegel, beton, dan sanitair P.T. Malang Indah / oleh Sugeng Prayitno

 

Penerapan pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri kecamatan klojen kotamadia Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Sjafruddin A. Rahman

 

Inventarisasi euglenofita di telaga Boereng desa Sukosari kecamatan Gondanglegi kabupaten Malang / oleh Rusmini

 

Pengaruh pendekatan whole-task vs part-task pengetahuan awal dan gaya belajar terhadap kualitas disain pembelajaran sejarah yang diciptakan oleh mahasiswa / Nurul Umamah

 

Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd.; (2) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (III) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed. Kata Kunci: whole-task, part-task, pengetahuan awal, gaya belajar, kualitas disain pembelajaran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebagai LPTK diharapkan menyediakan kapabilitas belajar yang dibutuhkan oleh calon guru profesional. Salah satu kapabilitas yang penting dimiliki oleh mahasiswa calon guru adalah kompetensi menciptakan disain pembelajaran. Tetapi beberapa temuan penelitian menunjukkan bahwa pebelajar memiliki kendala dalam penyusunan disain pembelajaran. Bukti empirik selama 16 tahun mengajar mata kuliah ini, didukung dengan observasi teman sejawat yang mengajar mata kuliah tersebut pada program studi lain pada FKIP Universitas Jember, memperlihatkan banyak masalah yang dihadapi mahasiswa, terutama terjadi karena rendahnya kompetensi mahasiswa dalam menciptakan disain pembelajaran. Disain pembelajaran adalah proses kompleks yang kreatif, aktif dan iteratif. Proses kompleksnya meliputi ukuran, lingkup dan teknik. Untuk mengatasi kompleksitas, pembelajar harus fokus pada upaya untuk otomatisasi proses kompleks dalam interaksi antar elemen. Dalam rangka memfasilitasi peningkatan performansi melalui integrasi dan koordinasi antar elemen, pemilihan pendekatan yang holistik, disertai variasi pengetahuan awal dan gaya belajar perlu mendapatkan perhatian. Berdasarkan alasan ini maka penting untuk menginvestigasi pengaruh pendekatan whole-task vs part-task terhadapkualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa dengan memperhatikan pengetahuan awal dan gaya belajar yang berbeda. Tujuan penelitian iniadalah menginvestigasi pengaruh dan interaksi dua pendekatan (whole-task vs part-task), dua pengetahuan awal (rendah dan tinggi), dua gaya belajar (sekuensial dan global) terhadapkualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa. Penelitiankuasi eksperimen ini menggunakan rancangan the factorialized (2 x 2 x 2) version of nonequivalent control group design. Rancangan ini digunakan karena subjek penelitian dalam kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Subyek penelitiannya mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Sejarah-FKIP Universitas Jember yang sedang menempuh mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Sejarah sejumlah 85 mahasiswa yang diklasifikasi menjadi kelas A dan B. Pembagian kelas ini berdasarkan herregistrasi online yang dilakukan oleh mahasiswa. Prosedur penelitian ini diawali dengan pengembangan paket pembelajaran, validasi ahli dan uji coba (perorangan, kelompok kecil dan uji coba lapangan utama). Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan Anova (analysis of variance) tiga jalur faktorial 2x2x2. Pengujian hipotesis nihil (Ho) dilakukan pada taraf signifikansi 5% atau p=0,05 dengan bantuan program SPSS 18.0 for windows. Hasil Penelitian ini memperlihatkan (1) Pendekatan whole-task lebih unggul daripada pendekatan part-task(p=0,031) terhadap kualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa;(2) Kelompok mahasiswa yang memiliki pengetahuan awal tinggi memiliki kemampuan lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki pengetahuan awal rendah (p=0,000) dalam kualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa;(3) kualitas disain pembelajaran yang diciptakan kelompok mahasiswa yang memiliki gaya belajar sekuensial dibandingkan dengan kelompok mahasiswa yang memiliki gaya belajar global tidak menunjukkan perbedaan (p=0,893); (4) Interaksi antara penerapan pendekatan whole-task vs part-task dan pengetahuan awal tentang komponen disain pembelajaran berpengaruh secara signifikan (p=0,031) terhadap kualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa;(5) Tidak ada interaksi antara penerapan pendekatan whole-task vs part-task dan gaya belajar (p=0,317) terhadap kualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa; (6) Tidak ada interaksi antara pengetahuan awal dan gaya belajar (p=0,289) terhadap kualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa; (7) tidak ada interaksi antara penerapan pendekatan whole-task vs part-task, pengetahuan awal dan gaya belajar (p=0,216) terhadap terhadap kualitas disain pembelajaran yang diciptakan mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar: (1) pembelajar memilih pendekatan whole-task untuk mengatasi kompleksitastugas; (2)untuk mengoptimalkan peran mata kuliah prasyarat sebaiknya lebih banyak memberikan tugas otentik (3) untuk peneliti perlu mempertimbangkan kembali keinginan menginvestigasi pengaruh gaya belajar terhadap hasil belajar. Gaya belajar dipertimbangkan untuk menentukan strategi pembelajaran, namun prioritas utama interaksi tetap pada konten; (4)menilai pengetahuan awal dan mengidentifikasi gaya belajar diperlukan agar memahami dukungan dan kesulitan belajar mahasiswa.Rekomendasi untuk penelitian lanjutan: (1)bagaimana bila penelitian dilakukan oleh dosen lain pada pembelajaran sejarah dengan konten sejarah?; (2) bagaimana bila penelitian dilakukan dengan subyek guru yang sudah berdinas?; (3) bagaimana bila penelitian dilakukan pada mata pelajaran lain, misalnya matematika dan fisika pada calon guru dan guru yang telah berdinas?; (4) perlu dilakukan penelitian untuk menginvestigasi peranan masing-masing mata kuliah prasyarat dalam mendukung performansi mahasiswa ketika mereka menempuh mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Sejarah.(5) berkaitan dengan penelitian tentang gaya belajar, setuju dengan saran Pashler, et al. (2009) agar penelitian selanjutnya lebih hati-hati dalam melihat pengaruh dan interaksi gaya belajar terhadap pendekatan, strategi atau metode, karena metodologi yang kurang tepat akan menghasilkan temuan yang salah.

Kegiatan kepala sekolah dalam perbaikan pengajaran hubungannya dengan efektifitas mengajar guru SMA Negeri daerah tingkat II kabupaten Jombang / oleh Siyono

 

Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap prestasi belajar ditinjau dari kemampuan penalaran ilmiah siswa SMAN 5 Malang / Rayendra Wahyu B.

 

Kata kunci : Empirical inductive, hypothetical deductive, PBL, penalaran ilmiah, prestasi belajar. Rancangan strategi belajar perlu memperhatikan cara siswa mendapatkan ke-bermaknaan dalam belajar. Kebermaknaan belajar ditandai dengan siswa mampu menyelesaikan berbagai variasi masalah dengan baik. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning, PBL) dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah secara ilmiah. Kemampuan penalaran ilmiah siswa ber-peran penting dalam proses pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas model pembelajaran berbasis masalah terhadap prestasi belajar fisika siswa ditinjau dari tingkatan kemampuan penalaran ilmiah siswa. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain faktorial 2x2. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang yang terdiri atas 36 siswa setiap kelas. Selanjutnya dilakukan pemilihan kelas secara acak sehingga di-dapatkan tiga kelas eksperimen untuk diterapkan pembelajaran dengan model PBL dan tiga kelas kontrol untuk diterapkan pembelajaran dengan model konvensional. Instrumen yang digunakan terdiri atas instrumen pengumpulan data yaitu instrumen tes penalaran ilmiah dan instrumen prestasi belajar fisika, serta instrumen perlakuan berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi fluida statik. Uji prasyarat normalitas data dan homogenitas varian dilakukan sebelum pengujian hipotesis. Uji normalitas menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas varian menggunakan uji Bartlett. Pengujian hipotesis menggunakan ANAVA dua arah dan dilanjutkan uji Scheffe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) prestasi belajar fisika siswa yang belajar dengan model PBL lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar dengan model konvensional, (2) terdapat interaksi antara model pembelajaran PBL dengan kemampuan penalaran ilmiah siswa terhadap prestasi belajar fisika, (3) prestasi belajar fisika siswa hypothetical deductive, yang belajar dengan model PBL lebih tinggi daripada model konvensional, (4) prestasi belajar fisika siswa empirical inductive, yang belajar dengan model pembelajaran PBL lebih tinggi daripada model konvensional.

Pengaruh budaya organisasi, implementasi penjaminan mutu dan promosi eksternal terhadap efektivitas organisasi perguruan tinggi (studi pada PTS di Jawa Timur) / Syaiful Arifin

 

Kata kunci: Budaya organisasi, implementasi penjaminan mutu, promosi eksternal, efektivitas organisasi Efektivitas organisasi merupakan indikator tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi Perguruan Tinggi. Pada organisasi bisnis aspek finansial menjadi tujuan utama, sedangkan pada organisasi nirlaba, seperti perguruan tinggi, aspek efektivitas organisasi yang menjadi tujuannya. Indikator efektivitas organisasi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terdiri dari empat unsur, yaitu: produksi, kepuasan, keadaptasian, dan kelangsungan hidup. Untuk mencapai efektivitas organisasi PTS tersebut dibutuhkan budaya organisasi yang baik, implementasi penjaminan mutu yang akurat dan promosi eksternal yang efektif. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah budaya organisasi berpengaruh terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi yang dimediasi implementasi penjaminan mutu pada PTS di Jawa Timur? Apakah budaya organisasi berpengaruh terhadap implementasi penjaminan mutu Perguruan Tinggi? Apakah implementasi penjaminan mutu berpengaruh terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi? Apakah budaya organisasi berpengaruh terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi? Apakah budaya organisasi berpengaruh terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi yang dimediasi promosi eksternal pada PTS di Jawa Timur? Apakah budaya organisasi berpengaruh terhadap promosi eksternal Perguruan Tinggi?Apakah promosi eksternal berpengaruh terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi? Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian penjelasan (eksplanatori), sedangkan teknik analisis yang digunakan yaitu analisis structrual modeling equation dengan program AMOS. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh langsung terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi Swasta. Hal ini disebabkan karena budaya organisasi akan menciptakan kedisiplinan dan produktivitas para karyawan sehingga visi, misi dan tujuan organisasi Perguruan Tinggi Swasta dapat tercapai, yang akhirnya organisasi Perguruan Tinggi Swasta mencapai efektifitasnya. Budaya organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap implementasi penjaminan mutu pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang baik pada PTS akan berpengaruh terhadap implementasi penjaminan mutu pendidikan. Implementasi penjaminan mutu tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi. Budaya organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar PTS masih belum maksimal dalam melaksanakan implementasi penjaminan mutu pendidikan dan sebagian besar masih berorientasi pada profit atau finansial, sehingga implementasi penjaminan mutu bukan sebagai mediator maupun moderator (penguat). Budaya organisasi berpengaruh terhadap efektivitas organisasi yang dimediasi oleh promosi eksternal pada PTS di Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap promosi eksternal kepada masyarakat sehingga budaya organisasi yang baik di Perguruan Tinggi Swasta akan meningkatkan image yang baik di masyarakat yang hal ini merupakan promosi secara tidak langsung ke masyarakant bahwa perguruan tinggi tersebut sangat baik dalam proses pendidikannya, kedisplinan, academic atmospherenya dan lain-lain. Budaya organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap promosi eksternal Perguruan Tinggi Swasta. Promosi eksternal berpengaruh positif signifikan terhadap efektivitas organisasi Perguruan Tinggi Swasta. Hal ini menunjukkan bukti bahwa promosi eksternal yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Swasta akan meningkatkan minat atau animo masyarakat kepada Perguruan Tinggi Swasta tersebut, sehingga variabel promosi eksternal sebagai variabel moderator (penguat).

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |