Meningkatkan hasil belajar geografi dengan menerapkan model teams games tournament (TGT) pada kompetensi mendeskripsikan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan siswa kelas XI IPS-3 SMA Negeri 1 Paiton Kabupaten Probolinggo / Susria

 

Kata kunci: Cooperative learning, model Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar. Pembelajaran adalah suatu kegiatan dengan maksud agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat berlangsung. Untuk proses belajar geografi diperlukan strategi, bermacam pendekatan, metode, media, agar siswa lebih aktif belajar dan berbuat untuk memahami konsep, prinsip-prinsip geografi sehingga diharapkan hasil belajar siswa lebih baik. Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa pembelajaran Geografi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Paiton memiliki Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) lebih besar atau sama dengan 70. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Geografi dan observasi diketahui bahwa daya serap klasikal mata pelajaran Geografi di kelas XI IPS-3 belum mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM). Dari kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang telah ditetapkan, 13 siswa mampu mencapai nilai ketuntasan siswa ≥ 75 dan 23 siswa belum mampu mencapai nilai ketuntasan siswa ≥ 75 pada ulangan harian pertama. Dengan demikian tidak ada siswa XI IPS-3 yang tuntas. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa kelas XI IPS-3 adalah 68,72. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan April–Mei 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS-3 yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, teknik pengumpulan data melalui tes. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model teams games tournament (TGT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 1 ke siklus 2. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 68,72 pada siklus 1 meningkat menjadi 74,88 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 81,80. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan sebesar 36%, siklus 1 sebesar 68,57%, dan pada siklus 2 menjadi 91,43%. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model teams games tournament untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model temas games tournament dengan subjek penelitian yang berbeda.

Penerapan siklus belajar (learning cycle) pada pembelajaran fisika pokok bahasan listrik statis untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas II C SMPN 17 Malang tahun pelajaran 2004/2005 / oleh Rini Purwatiningsih

 

Pemanfaatan Koperasi Sekolah SMA Negeri di Kota Malang sebagai tempat belajar berkoperasai / Husnul; Khotimah

 

Pengaruh pendidikan karakter dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil pada mata pelajaran ekonomi / Wahyu Anjasmoro

 

ABSTRAK Anjasmoro, Wahyu. 2016. Pengaruh Pendidikan Karakter dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil Pada Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prih Hardinto, M.si, (II) Drs. H. Sapir, S.Sos, M.si. Kata Kunci: pendidikan karakter, motivasi belajar, prestasi belajar Pendidikan saat ini hanya menekankan pada aspek kognitifnya saja, sehingga pada faktanya di lapangan masih banyak ditemui krisis moral yang nyata dan mengkhawatirkan dikalangan pelajar dan motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil masih relatif rendah. Hal itu ditunjukkan dari antusias siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran mata pelajaran ekonomi masih rendah.. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pendidikan karakter terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil pada mata pelajaran ekonomi?, apakah ada pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil pada mata pelajaran ekonomi?, apakah ada pengaruh pendidikan karakter dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil pada mata pelajaran ekonomi? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data penelitian ini untuk menjelaskan pengaruh pendidikan karakter dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Populasidalam penelitian ini berjumlah 113 siswa dan sampel sebanyak 88 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik proportional random sampling. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pada variabel pendidikan karaker terdapat 42 siswa (47,7%) termasuk dalam sangat baik, 44 siswa (50%) termasuk dalam kategori baik, dan 2 siswa (2,3%) termasuk kategori kurang. Kedua, pada variabel motivasi belajar terdapat 34 siswa (38,6%) termasuk kategori sangat baik, 50 siswa (56,8%) termasuk kategori baik, 4 siswa (4,5%) termasuk kategori kurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan motivasi belajar dalam mata pelajaran ekonomi secara simultan mempunyai pengaruh sebesar (32%) terhadap prestasi belajar ekonomi. Pendidikan karakter berpengaruh sebesar (5,7%) terhadap prestasi belajar ekonomi. Motivasi belajar berpengaruh sebesar (17,9%) terhadap prestasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bangil. Dimana semakin meningkat pendidikan karakter dan motivasi belajar prestasi belajar juga mengalami peningkatan.

Meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II semester II Madrasah Aliyah Negeri Pasuruan menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw / oleh Asri Kanti Wilujeng

 

Pengembangan bahan ajar geografi pada kompetensi dasar memahami atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi kelas X SMA/MA semester II dengan menggunakan pendekatan keruangan / Yulian Widya Saputra

 

Kata kunci: pengembangan, bahan ajar geografi, model Dick dan Carey, pendekatan keruangan Bahan ajar geografi kelas X SMA/MA semester II pada kompetensi dasar memahami atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi di lapangan masih banyak ditemui permasalahan ditinjau dari aspek data/fakta, konsep, kebenaran penyajian gambar, generalisasi, tanda baca, keterbacaan materi, keterhubungan objek formal dan material, dan penggunaan pendekatan keruangan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan bahan ajar sesuai keilmuan geografi dengan desain pengembangan Model Dick and Carey. Mengacu pada temuan dari analisis materi maka diperlukan pengembangan bahan ajar sesuai kaidah keilmuan geografi. Selain itu produk yang disusun nanti menggunakan pendekatan keruangan agar tercipta bahan ajar yang baik dan berkualitas serta ideal. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan model pengembangan Dick and Carey. Model ini dimodifikasi dari sepuluh langkah menjadi lima langkah. Beberapa penyerdehanaan model Dick and Carey dilakukan sebab ada tahapan yang tidak sesuai untuk pengembangan bahan ajar, yakni langkahnya sebagai berikut: (1) identifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, (2) analisis materi, (3) penulisan bahan ajar, (4) validasi ahli dan uji coba, dan (5) revisi bahan ajar. Penyerdehanaan metode atau langkah pengembangan model ini disebabkan adanya penyesuaian dengan Model Dick and Carey yang sebelumnya untuk rancangan pendidikan digunakan sebagai pengembangan bahan ajar Bahan ajar ini sebelum uji coba divalidasi oleh dosen yang ahli dibidangya. Validator materi menilai dari segi kesesuaian materi atmosfer dengan pendekatan keruangan. Selain ahli materi penilaian ahli desain pembelajaran geografi juga dilakukan untuk menilai desain produk teks ajar geografi agar lebih bermutu. Pelaksanaan validasi ahli materi atmosfer berlangsung tiga kali tahapan validasi sedangkan ahli desain pembelajaran geografi berlangsung lima kali tahapan validasi. Uji coba teks bahan ajar ini dilakukan di MAN Malang I yang beralamatkan di Jalan Baiduri Bulan No. 40 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Kelas yang digunakan uji coba adalah X.G yang memiliki siswa sejumlah 36. Namun pada semester satu ada siswa yang meninggal jadi tinggal 35 siswa di kelas X. G. Dasar pemilihan kelas ini adalah kelas yang dipilih bukan kelas unggulan atau kelas yang dikhususkan. Jenis data yang dikumpulkan selama uji coba adalah deskripsi mengenai hasil pengerjaan siswa pada soal tes pemahaman bahan ajar teks atmosfer. Soal tes pemahaman model IRI (Informal Reading Inventory) selanjutnya dipersentase dan dicocokkan dengan kunci jawaban. Tes pemahaman siswa model IRI ini dilakukan tiga kali pertemuan pembelajaran. Berdasarkan hasil pengerjaan tes pemahaman model IRI dapat dideskripsikan bahwa hasil tes pemahaman model IRI pertama hasil keseluruhan sebesar 84,5%, hasil tes pemahaman model IRI kedua hasil keseluruhan sebesar 85,3%, dan hasil tes pemahaman model IRI ketiga hasil keseluruhan sebesar 91,6%. Hasil tes pemahaman model IRI yang diperoleh ini disebabkan siswa mampu memahami isi bacaan atau teks bahan ajar atmosfer. Oleh karena teks bahan ajar yang dikembangkan dapat dikatakan membantu proses pembelajaran di kelas. Teks bahan ajar atmosfer ini boleh dikatakan ’’sangat layak” digunakan dalam pembelajaran geografi khususnya pada kompetensi dasar memahami atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan. Pelaksanaan diseminasi dalam bentuk seminar, penyebarluasan dalam wadah lokal seperti MGMP Geografi, dan pemuatan bahan ajar dalam bentuk e-book merupakan suatu upaya pengembangan secara luas ke berbagai pihak. Penyebarluasan bertujuan untuk memperoleh tanggapan meluas dari masyarakat luas khususnya pengguna bahan ajar dan pemerintah sebagai penentu kebijakan khusus tentang kurikulum. Saran dalam pengembangan lebih lanjut perlu dilakukan usaha sebagai berikut: (1) untuk menghasilkan buku teks yang utuh sebaiknya dikembangkan pada semua kompetensi dasar selama dua semester, (2) uji coba produk hendaknya dilakukan pada beberapa sekolah untuk mendapatkan data dan masukan untuk memperkaya produk agar berkualitas, (3) untuk memperoleh hasil yang lebih berkualitas pada pengembangan buku ini sebaiknya dilakukan penelitian eksperimen untuk menguji pengaruh produk pada prestasi belajar siswa, dan (4) untuk menghasilkan pengembangan secara lebih berkualitas dan komprehensif dibutuhkan waktu penelitian dan pengembangan yang relatif lama (multiply years).

Pendugaan sigma pada sistem pengendali individual untuk data pencilan melalui AMR dan MMR : studi kasus pada data BRIX (BX) FST di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Jawa Timur / oleh Umma Ilma Muadhom

 

Pengaruh strategi pembelajaran kooperatif STAD, TGT, dan integrasi STAD+TGT terhadap keterampilan metakognisi, berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif IPA-Biologi SD kelas V di Kota Ternate / Said Hasan

 

Kata kunci: STAD, TGT, STAD+TGT, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, hasil belajar kognitif Keterampilan berpikir, khususnya berpikir tingkat tinggi (termasuk keterampilan metakognisi dan berpikir kritis), memegang peranan penting terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Peserta didik yang memiliki keterampilan metakognisi dan berpikir kritis diyakini dapat menjadi pebelajar mandiri (self-regulated learner), yaitu pebelajar yang bertanggung jawab terhadap kemajuan belajarnya sendiri dan mengadaptasi strategi belajarnya untuk mencapai tuntutan tugas. Keterampilan berpikir tinggi yang dimiliki peserta didik dapat dibentuk melalui proses pemberdayaan yang dilakukan secara sengaja, salah satunya yaitu dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif. Berdasarkan hasil survai yang dilakukan pada beberapa kepala sekolah dan guru SD di Kota Ternate, diketahui bahwa: 1) proses pembelajaran masih didominasi dengan penerapan strategi pembelajaran konvensional, 2) sebagian besar guru belum pernah mendengar dan bahkan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif; 3) rata-rata capaian hasil belajar kognitif siswa masih rendah. Berdasarkan hasil survai, diyakini bahwa proses pembelajaran di SD Kota Ternate belum secara sengaja ditujukan untuk memberdayakan keterampilan berpikir tinggi siswa. Terkait pentingnya keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam proses pembelajaran, dan bertolak dari fakta-fakta proses pembelajaran di SD Kota Ternate; maka penerapan strategi pembelajaran kooperatif perlu segera dilakukan. Tujuan penelitian secara rinci adalah untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran STAD, TGT, dan STAD + TGT terhadap (1) keterampilan metakognisi, (2) berpikir kritis, dan (3) hasil belajar kognitif siswa SD kelas V di Kota Ternate, (4) korelasi antara keterampilan metakognisi dan berpikir kritis, (5) korelasi antara keterampilan metakognisi dan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif. Penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 (1 semester) pada tingkat SD di Kota Ternate, yaitu di SDN Sulamadaha, SDN Tabam, MIS Kulaba, dan SD Inpres Tarau. Penelitian ini tergolong quasi experiment. Variabel bebas pada penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang terdiri dari tiga level, yaitu STAD, TGT, dan STAD + TGT; jadi penelitian eksperimen ini tergolong non-faktorial yang terdiri dari tiga level. Penerapan ketiga strategi pembelajaran tersebut pada empat sekolah yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: SDN Sulamadaha: konvensional, SDN Tabam: STAD+TGT, MIS Kulaba: TGT, dan SD Inpres Tarau: STAD. Variabel tergantung meliputi keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif. Keterampilan metakognisi diukur dengan menggunakan rubrik metakognisi yang mengacu kepada Corebima (2009); sementara keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif diukur dengan menggunakan rubrik terkait yang mengacu kepada Hart (1994). Penelitian eksperimen dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu survai, pengembangan perangkat pembelajaran, dan pelaksanaan penelitian eksperimen. Analisis data terkait pengaruh strategi pembelajaran kooperatif terhadap keterampilan metakognisi, berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif dilakukan melalui anacova; korelasi antara keterampilan metakognisi dan berpikir kritis dianalisis melalui analisis regresi sederhana; sementara analisis untuk mengetahui sumbangan efektif keterampilan metakognisi dan keterampilan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif dianalisis melalui analisis regresi ganda. Keseluruhan analisis data dilakukan melalui program SPSS 16.0. Atas dasar hasil analisis data, diperoleh hasil-hasil sebagai berikut: ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap (1) keterampilan metakognisi, (2) berpikir kritis, dan (3) hasil belajar kognitif. Strategi pembelajaran STAD + TGT menunjukkan potensi tertinggi dalam memberdayakan ketiga parameter yang diukur. Strategi STAD dan TGT menunjukkan potensi yang tidak berbeda nyata dalam memberdayakan ketiga parameter yang diukur; sementara itu strategi pembelajaran konvensional menunjukkan potensi terendah dalam memberda-yakan ketiga parameter yang diukur, (4) keterampilan metakognisi dan berpikir kritis memiliki korelasi positif, (5) keterampilan metakognisi dan berpikir kritis berpengaruh terhadap capaian hasil belajar kognitif. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran kooperatif STAD, TGT, dan STAD + TGT terhadap (1) keterampilan metakognisi, (2) berpikir kritis, dan (3) hasil belajar kognitif; (4) terdapat korelasi positif antara keterampilan metakognisi dan berpikir kritis; dan (5) terdapat korelasi positif antara keterampilan metakognisi dan keterampilan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif. Beberapa saran yang direkomendasikan yaitu (1) guru hendaknya meninggalkan pembelajaran konvensional, dan mulai menerapkan strategi pembelajaran kooperatif; (2) guru hendaknya lebih banyak menerapkan strategi STAD dan TGT dalam proses pembelajaran, sekalipun tidak tertutup peluang bagi para guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kooperatif lainnya; (3) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan strategi yang dapat memberdayakan keterampilan metakognisi siswa pada tingkat SD secara optimal; (4) perlu dilakukan penelitian untuk mengungkap faktor-faktor non-akademik yang dapat mempengaruhi capaian hasil belajar siswa. Hal tersebut penting untuk dilakukan, karena dengan mengetahui faktor akademik maupun non-akademik yang mempengaruhi capaian hasil belajar, maka diharapkan upaya pencapaian keberhasilan pendidikan akan lebih mudah dilakukan; (5) peneliti hendaknya melakukan pelatihan yang optimal guna mempersiapkan guru mitra pelaksana penelitian, khususnya guru yang masih awam tentang perlakuan yang akan diterapkan. Kesiapan guru mitra sangat perlu diperhatikan karena diyakini bahwa hal tersebut berpengaruh terhadap parameter-parameter yang diukur dalam penelitian.

Perbandingan indeks kemampuan proses pada distribusi non formal antara pendekatan dengan distribusi Weilbull dan transformasi Box-Cox : studi kasus pada data Brix (BX) produk Fanta Strawberry (FST) di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia, Jawa Timur / oleh Pu

 

Pelakasanaan model sistem guru kunjung di daerah terpencil kawasan daratan (Studi multisitus di Kecamatan Tanah Siang, Kecamatan Sumber Barito, dan Kecamatan Permata Intan Kabupate3n Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah) / Reddy Siram

 

Kata kunci: guru kunjung, sekolah terpencil, wajib belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) proses perencanaan model sistem guru kunjung, (2) proses sosialisaisi model sistem guru kunjung , (3) proses pelaksanaan model sistem guru kunjung, dan (4) peran stakeholders dalam pelaksanaan model sistem guru kunjung.Temuan penelitian pada tiga SD Kunjung menunjukkan bahwa: (1) kegiatan dalam perencanaan pendirian SD Kunjung sesuai dengan persyaratan terpencil, terisolir, terpencar dan hambatan geografis sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat dalam perencanaan melibatkan berbagai pihak. (2) sosialisasi dilakukan oleh masyarakat, perusahaan, perangkat desa, kepala SD Induk-Basis, guru dan komite di acara adat dayak, memotivasi masyarakat dalam pendidikan untuk penguatan kualitas hidup dan kebutuhan masyarakat. (3) pelaksanaan SD kunjung dikepalai oleh seorang Kepala SD Induk berasal dari SD terdekat, pelaksanaan tugas dibantu oleh guru, tutor dan tenaga terampil, penggunaan kios belajar atau bangsal, guru kunjung sebagai motivator dalam pendidikan, perlibatan guru kunjung dan karyawan perusahaan untuk meningkatkan pemahaman terhadap tugas dan penghargaan diri, pelaksanaan SD Kunjung dengan pemerintah desa, perusahaan, tokoh adat dan masyarakat melaksanakan pembangunan kios belajar atau bangsal melibatkan berbagai pihak, dan (4) peranan stakeholders dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan terpencil sesuai dengan kewenangan dan kemampuan masing-masing.

Pengaruh penggunaan lembar kerja siswa terhadap prestasi belajar kelas II SMU 2 Blitar pada konsep susunan tata surya dan bola langit tahun pelajaran 1996/1997 / oleh Sri Wahyuni

 

Implementasi grafik pengendali I-IMR pada data non normal menggunakan transformasi Box-Cox: studi kasus pada data Brix (BX) produk Fanta Strawberry (FST) di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia, Jawa Timur / oleh Leny Isnalita Agustin

 

Pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis laboratorium terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari kinerja laboratorium siswa kelas X SMAN 1 Malang / Zakariah

 

Kata Kunci: inkuiri terbimbing, kinerja laboratorium, prestasi belajar Telah diketahui bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis laboratorium pada pembelajaran fisika mampu memberikan dampak yang sangat baik terhadap prestasi belajar fisika. Oleh karena itu, melalui pembelajaran inkuiri terbimbing yang berpusat pada kegiatan laboratorium, siswa lebih mudah memahami dan mengingat konsep-konsep fisika yang telah dipelajari, serta siswa ikut terlibat aktif dalam penemuan konsep tentang permasalahan yang dihadapi. Pembelajaran konvensional belum mampu memberikan pemahaman fisika siswa yang cukup. Hal ini disebabkan konsep-konsep yang diperoleh tidak melalui observasi dan praktikum yang dilakukan secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang belajar secara inkuiri terbimbing berbasis laboratorium dan siswa yang belajar secara konvensional, (2) mengetahui interaksi antara kinerja laboratorium dan strategi pembelajaran terhadap prestasi belajar fisika siswa, (3) mengetahui perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang memiliki kinerja laboratorium kategori tinggi yang belajar dengan inkuiri terbimbing berbasis laboratorium dan siswa yang belajar secara konvensional, dan (4) mengetahui perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang memiliki kinerja laboratorium kategori rendah yang belajar dengan inkuiri terbimbing berbasis laboratorium dan siswa yang belajar secara konvensional. Rancangan penelitian yang digunakan adalah faktorial 2x2 dengan sampel purposive sampling. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Malang semester 2 tahun pelajaran 2011/2012. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah perlakuan: rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kerja siswa, dan pengukuran: rubrik penilaian kinerja laboratorium dan naskah soal. Teknik pengumpulan data adalah pengamatan dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan dan uji Tukey. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) prestasi belajar fisika siswa yang belajar dengan inkuiri terbimbing berbasis laboratorium lebih tinggi daripada siswa yang belajar secara konvensional, (2) ada interaksi antara kinerja laboratorium dan strategi pembelajaran terhadap prestasi belajar fisika siswa, (3) prestasi belajar fisika siswa yang memiliki kinerja laboratorium kategori tinggi yang belajar dengan inkuiri terbimbing berbasis laboratorium lebih tinggi daripada siswa yang belajar secara konvensional, dan (4) prestasi belajar fisika siswa yang memiliki kinerja laboratorium kategori rendah yang belajar dengan inkuiri terbimbing berbasis laboratorium lebih tinggi daripada siswa yang belajar secara konvensional.

Implementasi pembelajaran kooperatif metode problem solving untuk meningkatkan hasil belajar (Studi pada siswa penjualan kelas X SMK Muhammadiyah pada mata diklat kewirausahaan tahun ajaran 2009/2010) / Retno Wahyuning Tyastutik

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif metode problem solving, hasil belajar Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah. Berangkat dari fakta yang diperoleh peneliti selama observasi di SMK Muhammadiyah 2 Malang khususnya pada mata diklat kewirausahaan siswa kelas X masih disampaikan dengan metode ceramah. Dari sini peneliti mencoba menggunakan metode problem solving untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa akan meningkat dengan dikembangkannya metode ini dalam proses pembelajaran khususnya pada mata diklat kewirausahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa akan meningkat setelah diterapkan metode problem solving. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) perencanaan; (2) tindakan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang pada semester genap tahun ajaran 2009/ 2010, yang berjumlah 28 orang siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes, pedoman wawancara, catatan lapangan lembar penilaian ranah psikomotorik, lembar penilaian ranah afektif dan dokumentasi. Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh adanya hasil belajar siswa dimana rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 79,82 dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa adalah 77,5. Ketuntasan klasikal ranah Psikomotorik mengalami peningkatan. Pada siklus I sebesar 42,85% dan siklus II 89,28%. Pada aspek afektif dapat dilaksanakan dengan baik. Pada siklus I dan siklus II dengan ketuntasan 100% Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengembangan metode problem solving dalam proses kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang. Keberhasilan penelitian meningkat seiring dengan diterapkannya probelm solving sebagai alternatif pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Tetapi masih ada beberapa yang perlu dibenahi lagi yaitu alokasi waktu yang harus diperhatikan dalam setiap tahapan dalam problem solving dan adanya tindak lanjut dari peneliti berikutnya diharapkan usahanya untuk mengembangkan metode problem solving dalam mata diklat yang berbeda.

Iktisaba tholibati al madrasah ats tsanawiyyah ad diniyyah al hukumiyyah Malang lil 'anashir an nahwiyyah wash shorofiyyah fi al muhadatsah / biqolam Mohammad Alfan

 

Penerapan strategi pembelajaran kontekstual REACT untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VII-B di SMP Mualimin Kabupaten Blitar / Siti Masfiah

 

Kata Kunci: strategi pembelajaran kontekstual REACT, hasil belajar geografi Proses perbaikan mutu pendidikan yang dilakukan di sekolah masih banyak mengalami hambatan, salah satunya indikasinya pada hasil belajar siswa yang masih rendah. Hasil observasi yang telah dilakukan di kelas VII-B SMP Mualimin didapatkan nilai rata-rata hasil belajar siswa 37,63. Hanya satu siswa (5,26%) yang dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru dan selebihnya (94,74%) mendapat nilai dibawah KKM. Rendahnya hasil belajar ini dipengaruhi oleh strategi belajar pembelajaran yang dipakai guru kurang tepat dengan materi yang diajarkannya, guru banyak mengalami kesulitan memahami materi geografi karena guru bukan lulusan pendidikan geografi, sehingga tidak tahu mana materi yang benar dalam ilmu geografi karena penjelasan dalam buku teks berbeda-beda. Selain itu, cara mengajar guru yang sama persis dengan buku yang dimiliki siswa membuat siswa beranggapan pelajaran geografi adalah pelajaran hafalan, guru menggunakan metode ceramah, mencatat, tanyajawab dan penugasan dikarenakan terbatasnya sumber belajar dan media yang ada disekolah. Metode-metode yang digunakan tersebut kurang mengajak siswa berfikir kritis, sehingga pemahaman materi yang dimiliki siswa kurang dan berdampak pada hasil belajar yang rendah. Berkaitan dengan hal tersebut, alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah hasil belajar yang rendah adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran kontekstual REACT. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk memecahkan masalah di kelas dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII-B dengan jumlah siswa 19 orang, pada semester genap tahun ajaran 20011/2012 di SMP Mualimin Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan, pertemuan pertama untuk tindakan pembelajaran dan pertemuan kedua dilakukan untuk tes hasil belajar siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar catatan lapangan dan observasi saat pelaksanaan tindakan, serta tes tulis di setiap akhir siklus. Analisis data diperoleh dari pengurangan skor nilai rata-rata hasil belajar siklus I dan siklus II, kemudian di buat persentase peningkatan hasil belajar dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran kontekstual REACT dapat meningkatkan hasil belajar geografi siswa pada materi gejala-gejala yang ada di atmosfer dan hidrosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di kelas VII-B SMP Mualimin. Strategi REACT terdiri dari kegiatan Relating (mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman yang tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari siswa), Experiencing (mengalami: menggali, menemukan dan menciptakan konsep secara mandiri melalui pengalaman pembelajaran secara langsung), Applying (menerapkan materi ke konteks yang bermanfaat bagi kehidupan), Cooperating (bekerja sama untuk berfikir dan bertukar pendapat dalam pemecahan masalah) dan Transfering (memindahkan dan meratakan pengetahuan dari siswa satu ke siswa lain). Perolehan pengetahuan yang dimiliki siswa dalam menerapkan strategi REACT membutikan bahwa adanya peningkatan skor hasil belajar dari tindakan ke siklus I meningkat 64,34%, dan dari siklus I ke siklus II sebesar 27,23%.

Penggunaan media al-khwarizmi untuk meningkatkan pemahaman siswa pada materi persamaan kuadrat melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Keads Together (NHT) kelas VIII SMP Negeri 1 Singosari / Elita Mega Selvia Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Elita Mega Selvia. 2015. Penggunaan Media Al-Khwarizmi untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Materi Persamaan Kuadrat Melalui Model Pembelajaran Kooperaif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Kelas VIII SMP Negeri 1 Singosari. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc, dan (II) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : Media Al-Khwarizmi, pemahaman, model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah menggunakan media Al-Khwarizmi di kelas VIII SMP Negeri 1 Singosari dengan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) yang dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi persamaan kuadrat. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari empat tindakan. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII-F SMP Negeri 1 Singosari yang mengikuti kegiatan pembelajaran. Subjek dipilih berdasarkan wawancara dengan guru kelas VIII pada tanggal 5 april 2014 di SMP Negeri 1 Singosari, hasil belajar materi persamaan kuadrat masih di bawah standar ketuntasan minimal sekolah yaitu 80. Hal ini ditunjukkan dari hasil obervasi yaitu dari 32 siswa hanya 12 siswa yang dapat menjawab soal dengan benar. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa siswa tidak memahami konsep, karena tidak dapat membedakan persamaan kuadat dan bukan persamaan kuadrat serta tidak dapat menentukan a, b, dan c jika diketahui bentuk umum ax2 + bx + c = 0. Data yang dikumpulkan antara lain berasal dari: a) hasil pekerjaan siswa secara tertulis, b) hasil wawancara, c) hasil observasi, dan d) hasil catatan lapangan. Peningkatan pemahaman siswa ditunjukkan dari kesalahan yang dilakukan siswa. Pada siklus I siswa masih melakukan kesalahan konsep dan prosedural yang berdampak pada hasil belajar siswa yaitu terdapat 24 siswa dari 32 siswa (75%) yang memenuhi SKM dan pada siklus II mayoritas siswa sudah tidak melakukan kesalahan konsep dan prosedural yang berdampak pada hasil belajar siswa yaitu terdapat 27 siswa dari 32 siswa (84,4%) yang memenuhi SKM. Dengan demikian, pemahaman siswa mengalami peningkatan yaitu dari kategori cukup ke kategori baik. Selain itu, hasil observasi aktivitas guru pada siklus I dan siklus II adalah 3,51 dan 3,79 yang termasuk kategori baik dan hasil observasi aktivitas siswa adalah 3,49 dan 3,75 berada pada kategori baik. Saran yang dapat dikemukakan untuk pembelajaran berikutnya antara lain: a) media Al-Khwarizmi bentuk umum persamaan kuadrat ax2 + bx + c = 0 dibatasi hanya untuk a, b, c dan x bilangan rasional, sehingga sebagai masukan untuk pembelajaran berikutnya sebaiknya media Al-Khwarizmi yang digunakan untuk a, b, c dan x bilangan real, dan sebaiknya menggunakan bahan yang lebih tebal, tahan lama, serta mempunyai ukuran yang sesuai sehingga tidak kesulitan dan tepat dalam menyusunnya, b) pembelajaran persamaan kuadrat dengan menggunakan media Al-Khwarizmi berupa potongan kertas bufalo membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga sebagai masukan untuk pembelajaran berikutnya sebaiknya guru dapat mengatur waktu dengan baik, dan c) pada saat siswa melakukan diskusi kelompok, guru dapat menyusun tempat duduk di kelas dengan bentuk yang bervariasi, misalnya bangku disusun membentuk lingkaran kecil. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses diskusi siswa dan memudahkan guru untuk melakukan bimbingan.

A Study of Charles Dickens's journalism and fiction with a special reference to sketches by boz and aliver twist / by Gaston Soehadi

 

Efektivitas iklan televisi terhadap ekuitas merek ice cream Wall's Magnum (Stdu kasus pada mahasiswi angkatan 2011/2012 Jurusan Manajeman FE UM) / Tantri Wulanputih

 

Kata Kunci: Iklan Televisi, Isi Pesan, Struktur Pesan, Format Pesan, Sumber Pesan, Ekuitas Merek. Komunikasi pemasaran menggunakan iklan dengan media televisi masih dianggap sebagai cara paling efektif untuk mempresentasikan unsur-unsur bauran pemasaran karena pola masyarakatnya dapat dikatakan brand minded, dimana merek yang pernah muncul di iklan televisi lebih direspon positif daripada yang tidak diiklankan di televisi. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki cara kreatif dalam beriklan agar dapat menarik perhatian konsumen dan menciptakan preferensi nilai terhadap merek. Nilai terhadap merek dapat timbul dari citra merek maupun kesadaran merek. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi persepsi iklan televisi (isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan) terhadap ekuitas merek ice cream Wall`s Magnum pada mahasiswi angkatan 2011/2012 Jurusan Manajemen FE UM, (2) efektivitas iklan televisi (isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan) terhadap pembentukan ekuitas merek ice cream Wall`s Magnum pada mahasiswi angkatan 2011/2012 Jurusan Manajemen FE UM. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswi angkatan 2011/2012 Jurusan Manajemen FE UM yang pernah menonton tayangan iklan ini, yaitu sebanyak 195 mahasiswi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Penentuan sampel menggunakan teknik multy stage sampling yang terdiri atas cluster sampling, proportional sampling, dan random sampling untuk menyebarkan kuisioner yang dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2012. Kuisioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuisioner tertutup menggunakan skala Likert (Sangat Setuju, Setuju, Cukup Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju). Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa: (1) responden yang menyatakan cukup setuju terhadap pengaruh isi pesan menduduki peringkat tertinggi yaitu sebanyak 43% responden, (2) responden yang menyatakan setuju terhadap pengaruh struktur pesan menduduki peringkat tertinggi yaitu sebanyak 36% responden, (3) responden yang menyatakan cukup setuju terhadap pengaruh format pesan menduduki peringkat tertinggi yaitu sebanyak 47% responden, (3) responden yang menyatakan cukup setuju terhadap pengaruh sumber pesan menduduki peringkat tertinggi yaitu sebanyak 43% responden. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara isi pesan, struktur pesan, dan format pesan secara parsial terhadap ekuitas merek pada ice cream Wall`s Magnum, sedangkan sumber pesan tidak berpengaruh, (2) terdapat pengaruh positif yang signifikan iklan televisi secara simultan terhadap ekuitas merek pada ice cream Wall`s Magnum,, (3) Sub variabel format pesan memiliki nilai Sumbangan Efektif (SE) paling besar yaitu 28,5%. Iklan televisi mempengaruhi ekuitas merek sebesar 52,2% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan pada iklan televisi ice cream Wall`s Magnum telah berhasil menciptakan ekuitas merek yang baik, (2) iklan televisi yang terdiri dari isi pesan, struktur pesan, format pesan, dan sumber pesan secara simultan efektif pengaruhnya dalam pembentukan ekuitas merek ice cream Wall`s Magnum dan konsumen mempunyai persepsi yang baik mengenai ekuitas merek Wall`s Magnum tersebut, (3) isi pesan, struktur pesan, maupun format pesan yang dirancang sedemikian rupa oleh produsen dalam iklan televisi Wall`s Magnum efektif pengaruhnya dalam pembentukan ekuitas merek Wall`s Magnum. Sedangkan sumber pesan yang membawakan iklan tersebut justru tidak efektif pengaruhnya dalam pembentukan ekuitas merek produk tersebut, (4) jika dibandingkan dengan isi pesan, struktur pesan, dan sumber pesan, variabel format pesan memiliki pengaruh paling dominan terhadap ekuitas merek Wall`s Magnum pada mahasiswa jurusan Manajemen FE UM. Saran yang dapat ditujukan pada produsen ice cream Wall`s Magnum berdasarkan dari hasil dari penelitian ini, yaitu: (1) Iklan televisi dalam penyajiannya perlu dipertimbangkan untuk merancang iklan versi Indonesia dengan membawa brand ambassador-nya yaitu Marissa Nasution. Dengan begitu calon konsumen akan lebih tertarik dengan penayangan iklan televisi sehingga komunikasi pemasaran dapat tersampaikan dengan baik. (2) Perlu diperhatikan dalam keefektivan iklan yang dirancang karena selain menarik, konsumen akan lebih memperhatikan suatu iklan yang singkat, padat, serta jelas isi dan maksudnya dibandingkan dengan iklan yang terlalu panjang. Sehingga konsep iklan baik dari isi pesan, struktur pesan, maupun format pesan harus dirancang seefektif mungkin agar komunikasi pemasaran dapat tersampaikan dengan baik pula. (3) Untuk pembentukan ekuitas merek yang lebih baik, produsen perlu memperhatikan faktor lain selain iklan televisi word of mouth. Karena issu tentang kandungan lemak babi yang menjadi perbincangan sempat menurunkan brand image Wall`s Magnum. (4) Selain melalui periklanan, mempublikasikan merek kepada khalayak melalui acara-acara sponsorship juga perlu diperhatikan agar memberikan dedikasi terhadap pembentukan ekuitas merek dan lebih mendekatkan diri pada calon konsumen.

Kelas sosial, pandangan hidup, dan sikap hidup masyarakat Jawa dalam kumpulan cerpen Bulan Bugil Bulat karya Yanusa Nugroho / oleh Musthofa Kamal

 

Pengaruh penggunaan paket terpadu berbasis konstruktivitas dengan tema deterjen terhadap kompetensi IPA siswa kelas VII semester II SMP Negeri 1 Pakis Kabupaten Malang tahun ajaran 2009/2010 / Bayu Sasono Agung Nugroho

 

Kata kunci: Pengaruh, Paket IPA Terpadu, Kompetensi IPA. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah secara tegas menyatakan, bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan oleh proyek Managing Basic Education (MBE) 2006 menunjukkan bahwa sebagian besar guru mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan Standar Isi untuk kurikulum IPA. Selain itu, hasil pengamatan di beberapa toko buku di wilayah Malang menunjukkan bahwa belum ditemukan buku IPA SMP yang dirancang secara Terpadu. Pada tahun 2009 telah dikembangkan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan berbagai tema, salah satunya adalah tema deterjen oleh Koes,dkk. yang telah diuji kelayakannya meliputi penilaian Paket IPA Terpadu oleh dosen dan guru serta uji keterbacaan buku panduan siswa oleh siswa SMP, tetapi belum diuji secara empirik untuk mengetahui keefektifannya di sekolah. Oleh karena itu perlu dilakukan pembelajaran IPA Terpadu menggunakan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme yang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi IPA siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi IPA (prestasi belajar, kerja ilmiah dan sikap ilmiah) pada tema deterjen antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan paket IPA terpadu berbasis kontruktivisme dan siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan paket IPA yang tidak Terpadu. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design). Jenis eksperimen semu yang digunakan adalah control group pre test and post test design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah random sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji anakova dan uji lanjut LSD (Least Square Difference). Berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan anakova, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar dan kerja ilmiah antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan paket IPA Terpadu dan siswa yang mendapat pembelajaran dengan paket IPA yang tidak Terpadu, sedangkan untuk sikap ilmiah antara siswa yang menggunakan Paket IPA Terpadu dan siswa yang menggunakan paket IPA yang tidak Terpadu tidak ada perbedaan

Tindak bahasa guru dalam interaksi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Waru Sidoarjo / oleh Napiah

 

Pengaruh penggunaan media gambar diam seri dalam pembelajaran keterampilan menulis terhadap kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas II SMA Laboratorium UM di Malang tahun pelajaran 2004/2005 / oleh Wahyu Rohmawati

 

Perancangan desain web panduan wisata Malang Raya / Aldilah Rahma Prasetya N.

 

Keyword : Designing, Web Design, Tour Designing Web Design Tour Guide Malang Raya is a media travel guide aims to provide convenience for tourists to know about a potential tourist attraction in Malang Raya, as tour guides which indirectly represents a medium for the promotion of tourism Malang. Web is a media that has a large range or global compared with print media such as books that have only a limited range. Web is a medium that can be accessed anytime and anywhere as long reach of the Internet technology. The aim of this scheme is to facilitate tourists to know about a tourist attraction in Malang Raya and the existing accommodation and facilities in Malang Raya, convey messages about the beauty of a tourist attraction in Malang Raya, and indirectly to tourism promotion of Malang Raya. The design uses a descriptive procedural methods. To produce the desired product in this context is Designing Web Design Tour Guide Malang Raya, carried out through several stages of the design process is structured and organized. Methods of data collection is done through observation and interviews. Data analysis technique used is the SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) by comparing the data obtained through interviews and observations so as to produce a specific strategy which was subsequently used in the design process. The result of this designing is the design of the media in Malang Raya tour guide in the form of dynamic and static web design more creative, innovative, comprehensive guidance on the location, and accommodations, as well as dual language is Indonesian, which is the native language and also English, which is the international language. The result of this design should be a medium that can attract foreign and domestic tourists to visit attractions in Malang Raya. Further advice can be given is based on the weaknesses and advantages in the design of the media in Malang Raya tour/travel guide expected to boost tourism in Malang Raya positive image in the eyes of society at large, and increasing interest of the community or tourists to visit.

Pembelajaran gerak harmonik berbantuan mixed experiment untuk meningkatkan penguasaan konsep dan melatih keterampilan ilmiah siswa / Subqan Rizal Rokhmana

 

ABSTRAK Rokhmana, Subqan Rizal. 2015. Pembelajaran Gerak Harmonik Berbantuan Mixed experiment Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Melatih Keterampilan Ilmiah Siswa. Tesis. Jurusan Pendidikan Fisika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Wartono, M.Pd., (II) Dr.Sutopo, M.Si. Kata kunci: mixed experiment, penguasaan konsep, keterampilan ilmiah Penelitian ini dilatarbelakangi kurikulum 2013 yang menekankan pada keterampilan ilmiah dan penguasaan konsep setiap proses pembelajaran. Waktu yang terbatas mengakibatkan keterampilan ilmiah menjadi masalah untuk selalu dimunculkan setiap pertemuan pembelajaran selain penguasaan konsep siswa belum optimal. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlunya dilakukan penelitian tentang pembelajaran berbantuan mixed experiment. Mixed experiment adalah kombinasi antara eksperimen riil yang menjadikan siswa melakukan eksperimen sesungguhnya dan virtual interaktif yang membantu eksperimen dilakukan lebih cepat. Penelitian pembelajaran gerak harmonik berbantuan mixed experiment di SMAN 1 Tuban ini menggunakan desain penelitian one group pre test-post test design. Data yang diperoleh berupa data kualitatif yang digunakan untuk mendeskripsikan keterampilan ilmiah siswa dan data kuantitatif digunakan untuk menganalisis penguasaan konsepnya. Temuan implementasi pembelajaran adalah kemampuan keterampilan ilmiah mengalami peningkatan dengan kategori sangat baik dalam hal mengamati, mencoba, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Kemampuan siswa menanya cenderung konstan dengan kategori sedang. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa bertanya dalam proses pembelajaran. Penguasaan konsep siswa diperoleh N-gain 0,716 sehingga bisa diartikan penguasaan konsep siswa sangat baik tetapi kemampuan siswa masih kurang dalam menyelesaikan soal yang berhubungan dengan gambar/grafik. Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran beserta perangkatnya secara umum siswa tertarik. Kendala yang ditemukan dalam pembelajaran tersebut diantaranya terlalu banyak jumlah siswa dalam satu kelas sehingga menyebabkan pembelajaran kurang efektif serta sulitnya mempertahankan minat belajar siswa dalam waktu yang lama. Melalui pembelajaran tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi semua guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai lebih lanjut. Kesimpulan penelitian ini adalah pembelajaran gerak harmonik berbantuan mixed experiment dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan konsep dan melatih keterampilan ilmiah siswa.

Penggunaan gaya bahasa dan teknik persuasi pada editorial media Indonesia / oleh Anita Dwicahyani

 

Eksplorasi dan perencanaan karier remaja dari keluarga single parent (studi kasus pada SMP Negeri 1 Kamal-Bangkalan) / Maskur

 

Tesis. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd, (II) Dr. M. Ramli, M.A\ Kata kunci: Eksplorasi Karier, Perencanaan Karier, Remaja, Keluarga Single Parent Salah satu faktor terpenting dalam kehidupan seorang remaja adalah merencanakan karier. Karier merupakan suatu pilihan pekerjaan yang menjadi tujuan bagi seorang individu, atau dapat diartikan sebagai perkembangan dari suatu perjalanan kehidupan kerja seseorang, atau pencapaian kerja professional dari hasil kerja seseorang. Karier lebih menunjuk kepada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya. Perencanaan karier yang matang atau tidak, akan banyak dipengaruhi dari hasil eksplorasi karier yang dilakukan remaja. Karena dalam eksplorasi karier, remaja melakukan kegiatan penelusuran karier secara terencana dan sistematis terhadap apa yang diminati dan apa yang sesuai dengan bakat mereka. Bagi remaja dari keluarga single parent, kegiatan eksplorasi dan perencanaan karier banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berkembang di sekitar kehidupannya, seperti nilai-nilai agama/moral, nilai sosial-ekonomi keluarga, nilai pengalaman hidup, dan pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup pola ekplorasi karier, pola perencanaan karier, nilai-nilai yang dijadikan dasar dan tujuan dalam merencanakan karier, hambatan-hambatan dalam bereksplorasi dan merencanakan karier, dan upaya-upaya yang dilakukan dalam merencanakan karier. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Teknik yang digunakan dalam menentukan subjek penelitian dan informan adalah teknik snowball sampling. Data penelitian berupa kata-kata dan tindakan-tindakan orang-orang yang diwawancarai dan diamati. Pengumpulan data dilakukan dengan cara interview dan observasi. Instrumen yang di gunakan untuk mengumpulkan data berupa instrument manusia yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pola eksplorasi karier remaja dari keluarga single parent dilakukan dengan (a) mengamati acara-acara televisi yang berkaitan dengan karier seseorang, atau media elektronik lainnya seperti komputer, internet dan media cetak berupa buku, majalah, dan surat kabar, (b) memperhatikan karier orang lain yang temui di lingkungan keluarga dan masyarakat, (c) menanyakan karier tertentu kepada keluarga, guru, sahabat, dan orang lain yang memiliki karier sesuai dengan karier yang menjadi minat remaja (d) mempraktekkan / melakukan pekerjaan tertentu yang sesuai dengan karier yang diminati, dan (e) berfantasi / berimajinasi melakukan karier tertentu yang menjadi minatnya, Kedua, pola perencanaan karier remaja dari keluarga single parent sebagai berikut: (a) pola perencanaan karier remaja yang memiliki kebebasan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan, dan (b) pola perencanaan karier remaja yang tidak memiliki kebebasan sesuai dengan minat awalnya. Ketiga, nilai-nilai yang menjadi dasar dan tujuan remaja dari keluarga single parent dalam merencanakan karier, yaitu: (1) nilai-nilai agama/sosial, (2) nilai-nilai budaya, (3) nilai-nilai pengalaman hidup dan (4) nilai-nilai sosial- ekonomi. Keempat, hambatan-hambatan yang dialami remaja dari keluarga single parent dalam merencanakan karier yaitu sosial-ekonomi keluarga yang pas-pasan, yang menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan akan mengganggu perencanaan karier remaja. Kelima, upaya-upaya yang dilakukan oleh remaja dari keluarga single parent dalam merencanakan karier dengan memanfaatkan a) acara-acara televisi dalam menambah wawasan dan pengetahuannya mengenai karier yang diminati, b) internet sekolah dan media cetak seperti surat kabar, majalah, dan buku-buku untuk mengetahui informasi mengenai karier yang diminati, dan c) berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan atau program-program pengembangan diri yang diadakan sekolah atau di luar sekolah. Sikap dan upaya sekolah dalam membantu upaya remaja dari keluarga single parent dalam merencanakan karier dinilai belum maksimal, karena keterbatasan sarana dan prasarana, serta program bimbingan karier yang hanya diperuntukkan untuk kelas VIII dan kelas IX saja, sementara kelas VII tidak diberikan bimbingan karier. Ditinjau dari sikap dan upaya orang tua dalam membantu upaya-upaya remaja dalam merencanakan kariernya juga dinilai kurang. Mereka beralasan sibuk mencari kebutuhan hidup sehari-hari dan tidak/kurang memahami perencanaan karier yang menjadi minat remaja. Namun hal ini tidak terjadi pada orang tua dengan pekerjaan PNS dan berpendidikan sarjana. Mereka justru membimbing dan membantu remaja dalam merencanakan kariernya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi (a) remaja dari keluarga single parent agar semaksimal mungkin memanfaatkan media elektronik atau media cetak sebagai sarana yang dapat membantu kesiapan dan kematangan remaja dalam merencanakan kariernya berdasarkan minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki, bukan atas kehendak atau ikut-ikutan orang lain, (b) orang tua single parent untuk lebih memperhatikan perkembangan remaja dengan mengetahui bakat, minat, dan kemampuan remaja agar bisa turut andil membantu remaja dalam merencanakan kariernya. Nilai-nilai positif yang berkembang di masyarakat dan dianut oleh orang tua single parent seyogyanya dapat ditanamkan sedini mungkin agar remaja tidak menyimpang dalam bereksplorasi dan merencanakan kariernya, (c) SMP Negeri 1 Kamal-Bangkalan, untuk membuat program-program yang dapat membantu remaja khususnya remaja dari keluarga single parent dalam berekplorasi dan merencanakan karier mereka. Selain itu, perlunya memberikan bimbingan karier sejak remaja duduk di kelas VII hingga kelas IX oleh guru bimbingan dan konseling, (d) para peneliti atau bagi siapa pun yang berkeinginan meneliti kehidupan remaja dari keluarga single parent dapat menjadikan hasil penelitian mengenai eksplorasi dan perencanaan karier remaja dari keluarga single parent ini sebagai tambahan informasi, wawasan dan pengetahuan untuk melengkapi penelitian terkait lainnya.

Profil industri patung kayu di desa Kenteng Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri / oleh Edy Purwanto

 

Upaya pamong belajar Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dalam mencapai standar kompetensi di Propinsi Sulawesi Selatan / Islamahadani

 

Kata kunci : pamong belajar, sanggar kegiatan belajar, standar kompetensi Pamong belajar SKB merupakan tenaga pendidik UPT Dinas Pendidikan sebagai tenaga fungsional yang berada di SKB, Pamong Belajar selain wajib memiliki kemampuan sebagai tenaga pendidik juga memiliki tugas membimbing, mengajar dan/atau melatih peserta didik. Keadaan ini diharapkan dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif, berlangsung secara optimal dan hasilnya berdampak langsung terhadap peningkatan harkat dan martabat kehidupan para peserta didik. Mencermati kondisi objektif terhadap beragamnya program pendidikan nonformal memerlukan penanganan lebih serius, hendaknya tidak diselenggarakan setengah hati dan bukan hanya berorientasi pada proyek sesaat, tetapi menjadi basis berkembangnya kegiatan pembelajaran yang menuntut pamong belajar memiliki kompetensi dalam mengemban tugasnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif dan teknik survey. Pertanyaan pokok penelitian yaitu bagaimana upaya yang dilakukan pamong belajar dalam mencapai standar kompetensi sangsgar kegiatan belajar (SKB) di Propinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini dilakukan kepada pamong belajar dari SKB di Propinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah responden sebanyak 297 responden. Variabel penelitian ini adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi social dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket dengan skala likert yang dianalisis dengan menggunakan tabel frekuensi dan formulasi/rumus persentase. Hasil penelitian diperoleh data dari 297 angket yang disebarkan, 160 angket yang kembali, ini dianggap sudah mewakili dari total populasi dan dijadikan sebagai data hasil penelitian, kompetensi pedagogic berada dalam kategori Cukup Baik dengan persentase sebesar 72.26%, kompetensi kepribadian berada dalam kategori Baik dengan persentase sebesar 75.11%, kompetensi profesional berada dalam kategori Cukup Baik dengan persentase sebesar 71%, dan kompetensi social berada dalam kategori Baik dengan persentase sebesar 80.08%. Upaya pamong belajar sanggar kegiatan belajar (SKB) dalam mencapai standar kompetensi di Propinsi Sulawesi Selatan tergolong dalam kategori cukup baik dengan persentase sebesar 74.79%. Dengan latar belakang pendidikan sebanyak 29 responden yang berpendidikan S2 atau 18.12 %, 117 responden berpendidikan S1 atau mencapai 73.12%, 8 responden berpendidikan DIII atau 5.00% dan 6 responden berpendidikan SLTA atau 3.75%. Masa kerja berada pada 20-30 tahun sebanyak 110 responden atau 68.75% kemudian 37 responden dengan masa kerja lebih dari 30 tahun atau 23.12% dan 13 responden dengan masa kerja kurang dari 30 tahun atau 10.5% dari seluruh jumlah responden dan kegiatan ilmiah yang pernah diikuti selama 3 tahun terakhir oleh responden untuk seminar pendidikan sebanyak 82 responden, pelatihan 160 responden, penyuluhan 56 responden dan penelitian (KTI) sebanyak 134 responden. Bertolak dari temuan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Pamong belajar hendaknya meningkatkan kepekaan dan kepedulian kepada sasaran yang seharusnya dilayani sehingga pamong belajar termotivasi mengikuti kegiatan ilmiah yang mendukung pelaksanaan tugasnya melalui seminar pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan penelitian (KTI) yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan dalam jabatan pegawai negeri sipil yang bertujuan untuk pengabdian, mutu, keahlian, kemampuan dan keterampilan sehingga diperlukan pegawai negeri sipil yang berkompeten. (2) Pengangkatan calon pamong belajar sebaiknya melalui seleksi yang ketat, kalau perlu harus ada syarat-syarat khusus, antara lain memiliki latar belakang pendidikan S1 Jurusan PLS, telah mengikuti pelatihan tenaga pamong belajar minimal 1 tahun yang diselenggarakan oleh lembaga yang benar-benar diakui kredibilitasnya sebagai agensi PNFI. Sedangkan yang sudah menjadi pamong belajar perlu ditingkatkan pengetahuannya, antara lain mendorong mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. (3) Jabatan pamong belajar sebagai tenaga pendidik PNFI perlu diciptakan sedemikian rupa sehingga cukup memberikan kepuasan kepada para pamong belajar untuk tetap berada pada jabatannya sebagai pamong belajar karena daya tarik jabatan pamong belajar sama dengan menjadi pejabat struktural atau berkarir di lingkungan birokrasi. (4) Konsekuensi peningkatan kompetensi pamong belajar berdampak pada bagaimana pamong belajar bersikap dinamis dan proaktif dalam melakukan penerapan inovasi maka dari itu pamong belajar diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam segala aspek kehidupannya, sesuai karakteristik masyarakat sasaran PNFI.

Efektivitas pembelajaran kooperatif model stad dengan model jigsawi terhadap hasil belajar siswa kelas II SMA Negeri Malang pada konsep reproduksi manusia tahun pelajaran 2004/2005 / oleh Afrid

 

Identifikasi kesulitan siswa dalam memahami konsep pada materi entalpi dan perubahannya untuk siswa kelas XI SMA Negeri 1 Grati / Isnani Faradiba

 

Kata Kunci: identifikasi kesulitan, entalpi dan perubahannya, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Grati Ilmu Kimia merupakan ilmu yang kompleks, tidak hanya memecahkan soal, tetapi juga mendeskripsikan fakta, memahami aturan-aturan dan peristilahan khusus di dalam kimia. Mata pelajaran kimia SMA dianggap sebagai pelajaran yang sulit oleh masyarakat. Kesulitan yang dialami dalam memahami ilmu kimia ini disebabkan oleh sebagian besar konsep-konsep ilmu kimia bersifat abstrak. Karakter konsep entalpi dan perubahannya berupa konsep abstrak dalam ilmu kimia dianggap sulit oleh siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep pada materi entalpi dan perubahannya merupakan konsep dasar, yang meliputi: hukum kekekalan energi, perubahan energi, sistem dan lingkungan, reaksi eksoterm dan reaksi endoterm, macam-macam perubahan energi, persamaan termokimia, dan penentuan entalpi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif, dengan populasi penelitiannya adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Grati tahun ajaran 2011/2012 yang terdiri dari 3 kelas. Sampel diambil 2 kelas yaitu kelas XI IPA 1 dan XI IPA 3 yang berjumlah 83 siswa dengan teknik samplingcluster random sampling dari polulasi yang ada, sampel. Instrumen yang digunakan adalah tes obyektif dengan lima pilihan jawaban yang terdiri dari 20 soal yang valid dan reliabel dengan harga r 11= 0,727. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pemberian skor, (2) pengelompokan butir soal ke dalam indikator, (3) menghitung persentase jumlah siswa yang menjawab salah untuk penentuan kesulitan pemahaman siswa, (4) menghitung persentase tiap butir soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan hukum/azas kekekalan energi sebesar 35,7% yang berarti bahwa tingkat kesulitan dalam hukum/azas kekekalan energi rendah, (2) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami perubahan energi pada peristiwa sehari-hari sebesar 61,3% yang berarti bahwa tingkat kesulitan dalam memahami perubahan energi pada peristiwa sehari-hari cukup tinggi, (3) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam membedakan sistem dan lingkungan sebesar 62,3% yang berarti bahwa tingkat kesulitan dalam membedakan sistem dan lingkungan cukup tinggi, (4) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam membedakan reaksi yang melepaskan kalor (eksoterm) dan reaksi yang membutuhkan kalor (endoterm)sebesar 55,9% yang berarti tingkat kesulitan dalam membedakan reaksi yang melepaskan kalor (eksoterm) dan reaksi yang membutuhkan kalor (endoterm) cukup tinggi, (5) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan macam-macam perubahan entalpi sebesar 57,1 % yang berarti tingkat kesulitan dalam ii menjelaskan prinsip kesetimbangan dalam kehidupan sehari-hari cukup tinggi, (6) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan persamaan termokimia suatu reaksi sebesar 86,1 % yang berarti tingkat kesulitan dalam menetukan persamaan termokimia suatu reaksi sangat tinggi, (7) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan entalpi reaksi sebesar 63,1 % yang berarti tingkat kesulitan dalam menentukan entalpi reaksi cukup tinggi, (8) siswa mengalami tingkat kesulitan tinggi pada bagian (a) menentukan menentukan persaman termokimia, (b) menentukan entalpi reaksi, (c) membedakan sistem dan lingkungan, (d) memahami perubahan energi pada peristiwa sehari-hari.

Pembelajaran statistika melalui pendidikan matematika realistik pada siswa kelas II MTs Sunan Kalijogo Malang / oleh Rohana

 

Penerapan Realistic Mathematics Education (RME) untuk meningkatrkan pemahaman konsep pecahan pada siswa kelas IV sekmolah dasar / Sri Yuliyanti

 

Program Studi Pendidikan Matematika Sekolah Dasar, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D, (2) Dr. Abdul Qohar, M.T Kata kunci: Pemahaman, Konsep Pecahan, Realistic Mathematics Education (RME). Pembelajaran yang diterapkan di sekolah selama ini masih cenderung berpusat pada guru atau masih bersifat konvensional, siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang telah dimilikinya, siswa lebih banyak menerima penjelasan dari guru dan mengerjakan latihan soal yang diberikan, guru hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki tanpa ada timbal balik dari siswa karena pembelajaran didominasi oleh guru. Guru juga dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa sehingga siswa banyak menghafal konsep matematika yang diberikan guru dan menyelesaikan masalah secara prosedural. Akibatnya, pemahaman siswa terhadap suatu konsep dan penerapan masih rendah. Pembelajaran menggunakan pendekatan RME merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara matematika dengan realitas yang ada, dapat dibayangkan dan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari siswa. Langkah-langkah pembelajaran menggunakan pendekatan realistik ini ada empat yaitu memahami masalah kontekstual, menyelesaikan masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan, dan menyimpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) yang dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi pecahan kelas IV, dan (2) mendeskripsikan pemahaman siswa kelas IV SDN 6 pringgabaya tentang konsep pecahan melalui penerapan Realistic Mathematics Education (RME). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Data tentang kegiatan penelitian dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara dan tes. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan RME dilaksanakan dengan baik sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep pecahan. Langkah-langkah tersebut antara lain: (1) memahami masalah kontekstual yang diberikan yang berkaitan dengan materi pecahan, (2) Menyelesaikan masalah kontekstual tentang pecahan secara berkelompok dengan menggunakan dan memodelkan sendiri alat peraga yang disediakan, (3) membandingkan dan mendiskusikan hasil pekerjaan siswa dengan meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya, dan (4) menyimpulkan tentang apa yang telah dipelajari dan materi yang didiskusikan. Data dari hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan termasuk pada kategori baik dan sangat baik. Data dari hasil wawancara menunjukkan respon siswa terhadap pembelajaran sangat positif. Dari hasil tes, persentase skor rata-rata dari keseluruhan siswa yang memperoleh skor ≥ 65 pada tindakan II sebanyak 26 dari 32 siswa. Dengan peningkatan skor awal sebelum tindakan dan sesudah tindakan menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang materi pecahan meningkat.

Bentuk ekspresif pujian Bahasa Indonesia dalam masyarakat tutur Ambon / oleh Petrus Jacob Pattiasina

 

Penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa mata pelajaran K3LH (studi pada kelas X APK di SMK Cendika Bangsa Kepanjen Malang) / Ahmad Syarifudin Helmi

 

Kata Kunci : model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI), aktivitas belajar dan hasil belajar. TAI merupakan model pembelajaran yang mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti dijumpai dalam kegiatan belajar mengajar, siswa cenderung pasif dalam mengemukakan pendapatnya, sehingga siswa kesulitan dalam meningkatkan kemandirian dalam belajarnya. Siswa asik bermain sendiri dan ada yang pula yang bercanda dengan temannya ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Rata-rata hasil ulangan mata pelajaran K3LH masih di bawah SKM. SKM pada mata pelajaran ini adalah 70. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil kuis mata pelajaran K3LH yang diperoleh dari 30 siswa, 14 (46,7%) siswa mendapat nilai di atas SKM dan 16 (53,3%) siswa mendapat nilai di bawah SKM. Model TAI ini merupakan salah satu model pembelajran untuk mengatasi permasalahan di atas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran TAI untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X APK SMK Cendika Bangsa Kepanjen Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) perencanaa, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Menggunakan lima teknik dalam pengumpulan data, yaitu (1) observasi, (2) catatan lapangan, (3) dokumentasi, (4) wawancara, dan (5) tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan yaitu sebesar 2,43%. Aspek afektif siswa mengalami peningkatan. Siklus 1 terjadi peningkatan sebesar 1,94%, siklus 2 terjadi peningkatan sebesar 0,99%. Setelah penerapan model TAI hasil belajar siswa meningkat. Post test siklus 1 16 (61,53%) siswa tuntas belajar dan 10 (38,46%) siswa tidak tuntas. Post test siklus 2 terjadi peningkatan 28 (93,33%) siswa tuntas belajar dan 2 (6,66%) siswa tidak tuntas. Kesimpulan dari penelitian ini, penerapan model TAI dapat meningkatkan aktivitasm dam hasil belajar siswa. Adapun saran dari hasil penelitian ini yaitu Guru hendaknya memberi penguatan kepada siswa selama pembelajaran seperti reward. Hal ini dilakukan untuk memotivasi siswa, Perlu adanya penelitian selanjutnya tentang penerapan model pembelajaran TAI untuk mata pelajaran selain K3LH atau materi lain yang sesuai.

Hubungan antara persepsi mahasiswa terhadap profesi keperawatan, perilaku kepemimpinan, kemampuan mengajar dosen, iklim kelas, dan motivasi belajar dengan mutu lulusan politeknik kesehatan Jurusan Keperawatan di Jawa Timur / oleh Saefullah Masrur

 

Strategi React untuk membangun pemahaman trogonometri pada siswa kelas X di MAN Gondanglegi / Dini Hidayati

 

Program Studi Pendidikan Matematika. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing. (1) Prof. Dr. Ipung Yuwono, M. Si., M.Sc. (2) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata Kunci : Strategi REACT Trigonometri Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang dihadapi siswa MAN Gondanglegi, yaitu masih ada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami perbandingan trigonometri. Dari hasil diskusi siswa, peneliti menemukan bahwa pembelajaran kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri konsep perbandingan trigonomerti. Masih saja dijumpai siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang memuat model perbandingan trigonometri. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam membangun pemahaman siswa terhadap konsep perbandingan trigonometri. Usaha yang dapat dilakukan peneliti untuk menyelesaikan persoalan ini adalah dengan menerapkan pembelajaran kontekstual melalui strategi REACT. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan penerapan strategi REACT yang dapat membangun pemahaman siswa terhadap konsep perbandingan trigonometri. Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X MAN Gondanglegi. Subyek wawancara adalah 4 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Pemilihan subyek wawancara didasarkan skor tes dan saran guru matematika yang mengetahui latar belakang siswa yang bersangkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan strategi REACT dapat membangun pemahaman siswa kelas X MAN Gondanglegi terhadap materi perbandingan trigonometri. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya presentase kelulusan belajar siswa secara klasikal dari sebelumnya, tindakan yaitu 64,1% dengan kategori “cukup” menjadi 78,94% dengan kategori “cukup” pada siklus I dan 86,84% dengan kategori “baik” pada siklus II. Selain itu, tingkat keberhasilan kelulusan pembelajaran melalui stategi REACT oleh guru dan siswa dalam kategori “sangat baik” nilai tes akhir siswa yang dapat ≥ 75 adalah 92,3%. Sehingga pembelajaran melalui strategi REACT dapat membangun, pemahaman perbandingan trigonometri sudut khusus. Dari penelitian ini diharapkan guru matematika MAN Gondanglegi yang menerapkan pembelajaran perbandingan trigonometri dengan strategi REACT disarankan untuk merancang perangkat pembelajaran yang memuat semua komponen yang terdapat dalam strategi REACT, menggunakan media pembelajaran atau alat peraga serta LKS yang memungkinkan siswa menggunakan kelima komponen REACT dalam proses belajar mereka sehingga membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi yang akan dipelajarinya. Guru juga harus bisa memotivasi siswa yang pasif atau kurang berani mengemukakan pendapatanya saat ditanya dan juga harus melakukan tindakan apabila terjadi hal-hal yang dapat menganggu proses pembelajaran.

Penerapan pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) model siklus belajar dalam upaya meningkatkan aspek psikomotorik dan prestasi belajar fisika siswa kelas II SMPN 4 Malang tahun pelajaran 2003/2004 / oleh Solihah

 

Pengembangan panduan pelatihan keterampilan dasar komunikasi calon konselor dengan structured learning approach / Eny Tri Wahyuni

 

Kata-kata kunci :Panduan Pelatihan, Keterampilan Dasar Komunikasi, Structured Learning Approach, Calon Konselor. Kenyataan yang ada di sekolah dewasa ini menunjukkan bahwa keterampilan dasar komunikasi yang dimiliki kebanyakan konselor masih rendah. Untuk menguasai keterampilan tersebut diperlukan pelatihan, tetapi saat ini media yang dapat digunakan untuk pelatihan masih sangat kurang.Oleh karena itu perlu “Pengembangan panduan pelatihan keterampilan dasar komunikasi calon konselor” dengan structured learning approachyang memenuhi kriteria kegunaan, kelayakan, dan ketepatan. Penelitian ini dilakukan dengan mengadaptasi model pengembangan Borg & Gall (2003). Borg & Gall (2003), dengan prosedur meliputi 3 tahap yaitu: a) studi pendahuluan, b) pengembangan panduan, dan c) uji panduan/produk. Ahli dan konselor menilai bahwa panduan yang dikembangkan telah memenuhi syarat akseptabilitas, yang meliputi aspek kegunaan, kelayakan, dan ketepatan. Uji coba pada kelompok terbatas menunjukkan bahwa panduan telah memenuhi efektivitas strategi pembelajaran terstruktur dalam meningkatkan keterampilan dasar komunikasi calon konselor. Ini berarti penerapan strategi pembelajaran terstruktur cenderung berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan dasar komunikasi calon konselor.

Implementasi pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) pada pembelajaran topik perbandingan bagi siswa MTs Surya Buana Malang / oleh Vivin Nur Afidah

 

Penerapan active learning model snowball throwing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sisw pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan / Anggun Puspita Rini

 

Kata Kunci: Pembelajaran Aktif, Snowball Throwing, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, Penelitian Tindakan kelas Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada kelas X APK 3 SMK Tekstil Pandaan, menunjukkan bahwa kegiatan belajar masih didominasi oleh guru. Metode ceramah dan mencatat selalu dilakukan pada saat pemberian materi pembelajaran. Siswa kurang mendapat kesempatan untuk lebih aktif ketika proses pembelajaran dan dapat belajar secara mandiri. Peneliti memberikan inovasi pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model Snowball Throwing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menjelaskan penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada kelas X APK 3 SMK Tekstil Pandaan, (2) menjelaskan penerapan model Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, (3) menjelaskan kendala dan solusi selama proses pembelajaran menggunakan model Snowball Throwing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena penelitian ini bersifat alami dan data yang diperoleh dijabarkan dengan kalimat sesuai dengan subyek dan obyek penelitian. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tahap-tahapan yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) wawancara, (2) observasi, (3) catatan lapangan, (4) dokumentasi, dan (5) Angket. Hasil penelitian pada penerapan model Snowball Throwing terlaksana dengan baik dan dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa. Aktivitas yang terjadi pada kelas X APK 3 SMK Tekstil Pandaan menunjukkan peningkatan sebesar 0,64% dari siklus I ke siklus II. Sedangkan pada hasil belajar siswa, menunjukkan peningkatan 29,34% dari siklus I ke siklus II. Kelemahan dari pembelajaran menggunakan Snowball Throwing ini yaitu keadaan siswa yang belum pernah mengenal model pembelajaran ini, kurangnya modul dan motivasi siswa yang rendah terhadap model pembelajaran ini. Solusinya yaitu guru selalu membuka diri jika ada siswa yang bertanya karena mengalami kesulitan, selalu memberikan Hand Out serta memberikan penghargaan bagi siswa untuk menumbuhkan motivasi pada diri mereka. Saran bagi peniliti selanjutnya yaitu memberikan Hand Out dengan materi yang tidak terlalu panjang dan dianjurkan untuk menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing pada mata pelajaran yang lain tetapi dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran tersebut. Karena model pembelajaran ini hanya sesuai untuk mata pelajaran yang terdapat banyak teori bukan praktek.

Analisis kebangkrutan model Zavgren dan pengaruhnya terhadap risiko sistematis saham pada perusahaan basic industry and chemicals yang listing di BEI periode 2009 / Hesti Ardianti

 

Kata kunci : Kinerja Keuangan, Risiko Sistematis Saham, Kebangkrutan. Kebangkrutan adalah situasi dimana perusahaan mengalami kekurangan atau ketidakcukupan dana untuk melanjutkan usahanya. Analisis kebangkrutan pada perusahaan Basic Industry and Chemicals perlu dilakukan karena melihat produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut bukan merupakan kebutuhan sehari-hari sehingga harus diperhatikan kualitasnya agar dapat bertahan dalam persaingan. Sedangkan, untuk model kebangkrutan yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesehatan perusahaan adalah model kebangkrutan Zavgren. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimanakah prediksi kebangkrutan perusahaan Basic Industry and Chemicals yang terdaftar di BEI periode 2009 dengan menggunakan model zavgren dan kedua, untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel-variabel model zavgren terhadap risiko sistematis saham. Populasi yang diambil sebanyak 59 perusahaan Basic Industry and Chemicals. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling diperoleh 40 perusahaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan regresi linier berganda. Dari hasil penelitian secara deskriptif diketahui sebanyak 22 perusahaan Basic Industry and Chemicals mengalami kebangkrutan dan sisanya sebanyak 18 perusahaan dalam kondisi sehat. Dari hasil analisis regresi dapat diketahui terdapat pengaruh parsial antara ITO terhadap risiko sistematis saham. Sedangkan, variabel untuk variabel RTO, CP, STL, ROI, FL, CTO tidak memiliki pengauh secara signifikan terhadap risiko sistematis saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) untuk penelian selanjutnya menggunakan data dengan jangka waktu yang lebih panjang, (2) untuk investor yang akan menanmkan sahamnya hendaknya memperhatikan kondisi kesehatan perusahaan, dan investor juga harus memperhatikan faktor-faktor makro seperti, kondisi sosial, politik, dan keamanan yang bisa mempengaruhi naik turunnya harga saham. (3) untuk perusahaan agar selalu memperhatikan dan menindaklanjuti sinyal-sinyal kebangkrutan sekecil apapun agar tidak berakibat fatal bagi perusahaan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan keaktifan belajar geografi siswa kelas VII-I SMP Negeri 5 Kediri pada materi atmosfer / Nur Rahma Nofita

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model TGT, keaktifan belajar siswa Berdasarkan hasil observasi awal pada tanggal 11 dan 18 Januari 2011 menunjukkan siswa kelas VII-I SMP Negeri 5 Kediri kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran. Jumlah siswa di kelas VII-I ada 33 siswa. Diketahui dari 33 siswa tersebut hanya enam siswa (18,18%) yang menjawab pertanyaan dari guru. Satu siswa (3,03%) yang mengajukan pertanyaan, dan dua siswa (6,06%) tidak memperhatikan penjelasan guru atau saat siswa lain menjawab pertanyaan. Siswa lain yang berjumlah dua puluh empat (72,72%) cenderung hanya diam memperhatikan guru yang menjelaskan di depan kelas. Penelitian yang digunakan merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan minimal 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah atmosfer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VII-I SMP Negeri 5 Kediri pada materi atmosfer melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TGT. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan angket. Penelitian dilaksanakan di kelas VII-I SMP Negeri 5 Kediri dengan jumlah siswa 33 siswa. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan keaktifan belajar individu dan keaktifan belajar kelompok. Keaktifan individu ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase keaktifan belajar individu sebesar 51,52% pada siklus I meningkat menjadi 75,52% pada siklus II. Sedangkan keaktifan belajar kelompok pada siklus I sebesar 51,49% meningkat menjadi 75,63% pada siklus II. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TGT dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VII-I SMP Negeri 5 Kediri pada materi atmosfer. Berdasarkan dari penelitian ini peneliti memberikan beberapa saran yaitu: (1) guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif TGT sebagai salah satu metode alternatif dalam kegiatan pembelajaran, (2) Sekolah disarankan agar menganjurkan kepada guru-guru untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif TGT sebagai salah satu alternatif pemecahan permasalahan yang ada di sekolah, (3) bagi peneliti lanjut dapat melakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran kooperatif model TGT dalam pembelajaran geografi pada materi geografi fisik lain untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Pengembangan sumber belajar berbasis WEB pada standar kompetensi melakukan instalasi perangkat WAN menggunakan software packet tracer pada SMK PGRI Wlingi Blitar / Joko Purwono

 

Kata kunci: sumber belajar, web, melakukan instalasi perangkat WAN, packet tracer. Standar Kompetensi Melakukan Instalasi Perangkat WAN merupakan Standard Kompetensi yang harus diberikan di tingkat XI SMK khususnya peserta didik jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan di SMK PGRI Wlingi Blitar, kendala yang terjadi dalam pembelajaran pada standar kompetensi tersebut adalah perangkat praktek terbatas jumlahnya. Sehingga penggunaan perangkat praktek harus bergantian, sehingga proses pembelajaran kurang maksimal. Solusi yang dapat dilakukan adalah proses praktek dapat disiasati dengan menggunakan software simulasi jaringan yang akan dikembangkan ke dalam sumber belajar beserta langkah-langkah penggunaannya. Tujuan dari pengembangan ini adalah mengembangkan sumber belajar berbasis web menggunakan Moodle yang pemanfaatannya dapat diakses saat pembelajaran di kelas maupun di luar jam pelajaran melalui koneksi internet. Model pengembangan yang digunakan diadaptasi dari pengembangan Sadiman. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi dan audiens. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Sampel uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan diambil dari peserta didik SMK PGRI Wlingi khususnya peserta didik kelas XI TKJ. Hasil uji kelayakan sumber belajar dari ahli media mendapat persentase 86.25%, dari ahli materi mendapat persentase 84.3%, dan dari responden kelompok kecil 83,3% serta responden lapangan 88.7%. Berdasarkan hasil tersebut, sumber belajar berbasis web pada materi Melakukan Instalasi Perangkat WAN dapat disimpulkan layak digunakan.

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari ZnCl2 dan ZnBr, dengan ligan etilenatiourea / Andinna Ayu Murti

 

Kata kunci: Etu, Anion pengimbang, Senyawa Kompleks Garam ZnCl2 dan ZnBr2 dapat membentuk senyawa kompleks dengan ligan tiourea monodentat pada perbandingan stokiometri 1 : 2. Ligan etilenatiourea (etu) merupakan turunan dari ligan tiourea. Etu, (CH2NH)2CS), sebagai ligan mempunyai dua atom donor yaitu nitrogen dan belerang, sehingga pembentukan suatu senyawa kompleks dengan ligan tersebut dapat terjadi melalui atom donor N ataupun S. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode sintesis senyawa kompleks dari garam ZnX2 (X = Cl, Br) dengan etu, mengetahui prediksi struktur senyawa kompleks hasil sintesis serta mengetahui pengaruh perbedaan anion garam Zn(II) terhadap struktur senyawa kompleks. Penelitian terdiri dari dua tahap yaitu 1). Sintesis senyawa kompleks; 2). Karakterisasi dan identifikasi senyawa kompleks meliputi penetuan titik lebur, analisis difraksi sinar-X, uji daya hantar, uji kandungan unsur dengan EDAX (Energy Dispersive X-Ray) serta analisis kuantitatif ion klorida. Pada penelitian ini disintesis senyawa kompleks dari garam ZnX2 (X = Cl, Br) dengan ligan etu melalui perbandingan mol 1 : 2; 1 : 3 dan 1 : 4 dalam pelarut asetonitril. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (a) senyawa kompleks ZnCl2 dengan ligan etu dapat disintesis dengan perbandingan 1 : 2 dan 1 : 3, (b) senyawa kompleks ZnBr2 dengan ligan etu dapat disintesis dengan perbandingan 1 : 2, (c) senyawa kompleks ZnX2 (X = Cl, Br) dan etu dengan perbandingan mol 1 : 2 isostruktur dan isomorf dengan senyawa kompleks [CdCl2(CS(NHCH3)2)2] dan [CdBr2(C5H12N2S)2] dengan prediksi rumus strukur [Zn(etu)2Cl2] dan [Zn(etu)2Br2] sedangkan prediksi struktur untuk garam ZnCl2 dengan perbandingan mol 1 : 3 yaitu [Zn(etu)3Cl]Cl, (d) anion tidak berpengaruh pada struktur senyawa kompleks tetapi ukuran anion yang bertambah besar menyebabkan antaraksi ligan dan dengan anion berkurang, sehingga jumlah ligan yang terikat pada ion pusat semakin sedikit, untuk dapat menentukan dengan struktur dengan tepat maka digunakan difraksi sinar-X kristal tunggal.

Perbandingan variasi genetik kerbau lokal Riau dan kerbau lokal Sumatra Barat berbasis mikrostelit sebagai bahan ajar mata kuliah genetika / Nurkhairo Hidayati

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si. dan Pembimbing (II) Dr. Umie Lestari, M.Si. Kata kunci: variasi genetik, kerbau lokal Riau dan Sumatra Barat, mikrosatelit Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan salah satu jenis ternak di Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam penyediaan daging, penghasil susu, dan sumber tenaga kerja yang potensial untuk mengolah lahan usaha tani. Namun, saat ini perkembangan populasi dan produktivitas kerbau di Indonesia masih kurang baik. Sebagai contoh untuk Provinsi Riau pada tahun 2006 populasi ternak kerbau 47.799 ekor, sedangkan pada tahun 2008 hanya 45.422 ekor, dimana terjadi penurunan populasi sebanyak 2.377 ekor. Sedangkan untuk provinsi Sumatra Barat, populasi kerbau pada tahun 2008 adalah 196.854 ekor. Provinsi Riau berbatasan langsung dengan Sumatra Barat sehingga kerbau dari Sumatra barat juga didistribusikan ke Riau. Jika hal ini terjadi maka kemungkinan dapat terjadi breeding pada populasi Riau yang menyebabkan terjadinya variasi genetik. Untuk mengetahui perbedaan variasi genetik tersebut perlu dilakukan identifikasi. Identifikasi dapat dilakukan melalui pengamatan morfologi dan molekuler. Salah satu penanda molekuler yang bisa digunakan adalah mikrosatelit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi fenotip dan genotip kerbau lokal Riau dan Sumatra Barat serta menyusun bahan ajar mata kuliah genetika berdasarkan temuan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan 10 ekor kerbau lokal Riau dan 10 ekor kerbau lokal Sumatra Barat sebagai sampel dan 3 jenis primer mikrosatelit yaitu HEL 9, INRA 023, dan ILSTS 005. Untuk mengetahui variasi genotip dimulai dari tahap isolasi DNA kerbau, elektoforesis hasil isolasi DNA, PCR, elektroforesis produk PCR, dan deteksi produk PCR dengan menggunakan teknik silver staining. Analisis data dilakukan menggunakan software Genpop Vers 4.0.10 untuk mengetahui frekuensi alel, heterozigositas, PIC (Polymorphism Information Content), dan keseimbangan Hardy-Weinberg Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerbau lokal Riau dan Sumatra Barat memiliki fenotip yang hampir sama. Sebagian besar kerbau lokal Riau dan Sumatra Barat memiliki bentuk tubuh gempal, warna tubuh hitam, bentuk tanduk semi melingkar mengarah ke dorsal. Hasil analisis data menunjukkan bahwa frekuensi alel populasi kerbau lokal Riau adalah 0.40 sampai 0.60 sedangkan frekuensi alel populasi kerbau lokal Sumatra Barat adalah 0.30 hingga 0.70. Rata-rata nilai heterozigositas populasi kerbau lokal Riau (0.83) dan kerbau lokal Sumatra Barat (0.77). Lokus yang memiliki tingkat keinformatifan paling tinggi adalah lokus HEL 9 dan ILSTS 005 dengan nilai PIC adalah 0.37, sedangkan lokus INRA 023 memiliki nilai PIC 0.36. Populasi kerbau lokal Riau tidak berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg berdasarkan lokus HEL 9, INRA 023, dan ILSTS 005. Artinya frekuensi alel pada populasi Riau tidak tetap dari generasi ke generasi. Populasi kerbau lokal Sumatra Barat berdasarkan lokus HEL 9 dan ILSTS 005 tidak berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg. Nilai keseimbangan HW berdasarkan lokus HEL 9 adalah 4.44 dan lokus ILSTS 005 adalah 6.53. Sedangkan berdasarkan lokus HEL 9, populasi kerbau lokal Sumatra Barat berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg dengan nilai 0.95 Implikasi hasil penelitian dalam pembelajaran berupa bahan ajar mata kuliah genetika yang dilengkapi dengan petunjuk praktikumnya. Berdasarkan hasil validasi diketahui bahwa bahan ajar dan petunjuk praktikum yang disusun sudah dapat digunakan dalam pembelajaran dengan persentase tingkat pencapaian 90,91% untuk bahan ajar dan 97,14% untuk petunjuk praktikum. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat variasi fenotip dan genotip pada populasi kerbau lokal Riau dan Sumatra Barat. Bahan ajar mata kuliah genetika yang telah disusun berdasarkan hasil penelitian dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran.

Pengaruh strategi think pair share, reciprocal teaching, dan integrasinya terhadap hasil belajar kognitif biologi dan kemampuan berpikir kritis peserta didik berkemampuan akademik berbeda di R-SMA-BI Negeri Batu / Lilik Ismiati

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D.(II) Prof.Dr. A. Duran Corebima, M.Pd. Kata Kunci: think pair share, Reciprocal Teaching, dan integrasinya, hasil belajar kognitif, kemampuan berpikir kritis. Peningkatan hasil belajar dan pemberdayaan kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menggunakan strategi pembelajaran yang memiliki karakteristik student centered. Penelitian ini menggunakan strategi pembelajaran Think Pair Share, Reciprocal Teaching serta Integrasinya. Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen semu (quasi experiment) yang bertujuan mengungkap pengaruh strategi pembelajaran (TPS, RT, dan Integrasi TPS+RT) terhadap hasil belajar kognitif biologi dan kemampuan berpikir kritis peserta didik berkemampuan akademik tinggi dan berkemampuan akademik rendah kelas X di R-SMA-BI Batu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan “Pretes-postes Non-equivalent Control Droup Design” versi factorial 4x2. Data dianalisis dengan ANACOVA pada taraf signifikansi 0,05. Jika menunjukkan nilai F hitung signifikan maka perlu dilanjutkan dengan uji beda. Sebelum dilakukan uji kovarian dilakukan uji normalitas, dan uji homogenitas. Populasi penelitian adalah semua peserta didik kelas X R-SMA-BI Batu dengan 9 kelas. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik Cluster Random Sampling dengan 4 kelas yang terdiri dari 1 kelas TPS, 1 kelas Reciprocal Teaching, 1 kelas integrasi TPS+RT, dan 1 kelas konvensional. Setiap kelas perlakuan telah dilakukan uji kesetaraan untuk memastikan bahwa sampel berada dalam kesetaraan. Hasil analisis menunjukkan bahwa 1) terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar kognitif biologi peserta didik. Rata-rata terkoreksi hasil belajar kognitif biologi peserta didik dari tertinggi ke terendah berturut-turut adalah integrasi TPS+RT, RT, TPS, dan konvensional. Strategi TPS+RT memiliki rata-rata terkoreksi 3,7% lebih tinggi dari RT, 23,83% lebih tinggi dari TPS, dan 42,42% lebih tinggi dari Konvensional. Sedangkan peningkatan hasil belajar kognitif tertinggi adalah menggunakan strategi RT sebesar 249%. 2) ada pengaruh strategi belajar terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik, berturut-turut dari tertinggi ke terendah adalah strategi TPS+RT, RT, TPS, dan konvensional. Strategi TPS+RT memiliki rata-rata kemampuan berpikir kritis 2,6% lebih tinggi dari RT, 19,57% lebih tinggi dari TPS, dan 41,09% lebih tinggi dari konvensional. Sedangkan strategi belajar yang memiliki peningkatan paling tinggi adalah RT yang meningkat sebesar 227,7%. 3) ada perbedaan antara hasil belajar kognitif dan kemampuan berpikir kritis peserta didik kemampuan akademik tinggi dengan kemampuan akademik rendah, di mana peserta didik dengan kemampuan akademik rendah memperoleh peningkatan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis lebih tinggi dibanding peserta didik dengan kemampuan akademik tinggi. 4) ada pengaruh antara integrasi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik peserta didik terhadap hasil belajar kognitif biologi. Berturut-turut dari yang tertinggi ke yang terendah adalah strategi interaksi TPS+RT-KB lebih tinggi 7,84% dari integrasi RT-KA, 11,32% lebih tinggi dari integrasi RT-KB, 11,98% lebih tinggi dari TPS+RT, 30,72% lebih tinggi dari interaksi TPS-KA, 30,93% lebih tinggi dari interaksi TPS-KB, 36,34% lebih tinggi dari interaksi konvensional-KA, dan 68,01% lebih tinggi dari interaksi konvensional-KB. Interaksi RT-KA paling besar meningkatkan hasil belajar peserta didik. 5) ada pengaruh antara interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik peserta didik terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik. Berturut-turut dari yang tertinggi peningkatannya sampai yang terendah adalah, interaksi TPS+RT-KA meningkat 10,55% lebih tinggi dari RT-KB, 14,30% lebih tinggi dari RT-KA, 21,10% lebih tinggi dari TPS+RT-KA, 30,13% lebih tinggi dari TPS-KA, 24,17% lebih tinggi dari TPS-KB, 40,17% lebih tinggi dari konvensional-KA, 72,25% lebih tinggi dari Konvensional-KB. Peningkatan kemampuan berpikir kritis yang paling tinggi adalah yang menggunakan interaksi strategi RT-KB, yaitu sebesar 303,4%. Strategi TPS, RT, dan integrasi TPS+RT meningkatkan hasil belajar kognitif, dan kemampuan berpikir kritis. Strategi ini dapat melatih peserta didik untuk bekerja sama dan meningkatkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran. Oleh karena itu peneliti menyarankan memakai strategi TPS, RT, dan integrasinya serta memperhatikan perbedaan kemampuan akademik peserta didiknya melalui kerja kelompok belajar, sehingga dapat mengurangi kesenjangan antara peserta didik berkemampuan akademik rendah dan tinggi agar hasil belajar kognitif dan kemampuan akademik yang lain dapat menyamai temannya yang berkemampuan akademik tinggi.

Pengembangan media kotak misteri pada pembelajaran tematik subtema manusia dan lingkungan kelas 5 SD Kota Malang / Rara Yuliantika Arrochmah

 

ABSTRAK Arrochmah,RaraYuliantika. 2016. Pengembangan Media KotakMisteriPembelajaranTematikpadaTemaLingkunganSahabat Kita SubtemaManusiadanLinkunganKelas V SD/MI. Skripsi, Jurusan KependidikanSekolahDasardanPrasekolah, Fakultas IlmuPendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharjo, M.S, M.A (II) Prof. Dr. Ruminiari, M.Si. Kata Kunci: media, media kotakmisteri, pembelajarantematik. Padasaatini, siswamembutuhkanalatuntukmenarikperhatianmerekadalammengikutikegiatanpembelajarantematik.Hal inidapatdilihatdariantusiasmerekaketikamegikutikegiatanpembelajaran. Proses belajarmengajar yang dilaksanakanpadabeberapasekolahmulaimonotondanmembuatsiswatidaktertarikdalammengikutikegiatanbelajar. Hal tersebutdapatmenyebabkankurangnyakeefektifansuarukegiatanpembelajaran di kelas.Menindakifakta yang ada, sebagaipengajarharusdapatlebihsensitifuntukmencarisuatualatuntukmembantupenyampaianisipembelajarsehinggamencapaitujuan yang dhiharapkan. Penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu cara efektif untuk membantu penyampaian isi pembelajaran dengan baik. Terlebih lagi dengan cara yang menyenangkan, misalnya permainan. Hal tersebut dapat menarik minat siswa dalam belajar.Salah satualternatifyaitudenganmenggunakan media kotakmisteri yang berbasispermainandanketerampilan proses.Penelitianinibertujuanuntukmengembangkanprodukberupa media kotakmisteri yang layakdanefektifuntukdiimplementasikanpadapembelajarantematiktema 9, subtemaManusiadanLingkungan. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah(1) melakukan analisiskebutuhanmelaluiobservasidan wawancara kepada gurukelas, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) melakukanujicobakelompokkecil, (5) revisi, (6) melakukanujicobakelompokbesar, dan (7) revisi. Uji produk dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu uji kelayakandan uji keefektifan. Uji kelayakan dilakukan olehahli media, ahlimateri, danahlipenggunayaitu guru kelas V di SDN Polowijen 1 Kota Malang. Uji kelompok kecil siswa dilakukan oleh 6 orang siswakelas VSDN Polowijen 1 Kota Malanguntukujikeefektifanaspekkemenarikan, danselanjutnyaujikelompokbesardilakukanoleh 28 siswakelas V SDN Polowijen 1 Kota Malang untukujikeefektifan. Berdasarkan uji produk diperoleh hasil berikut. Hasil uji kelayakanmateri (isi) media kepada ahli materi sebesar 81,9%. Ahli juga memberikan saran dan komentar untuk penyempurnaan materi. Uji kelayakanmedia kepadaahli media didapatlkanpersentasesebesar 72,9%dengam saran melengkapikomponen media. Ujipenggunaan media kepada guru kelas sebesar 91,25% dengan catatan untuk kesempurnaan petunjukpengguna. Rata-rata hasil ujikeefektifanaspekkemenarikan kepada siswa sebesar 89,6%. Siswa juga memberikan saran dan komentar untuk perbaikan bahan ajar.Padaujikeefektifandidapatkandariselisihpretestdanposttestsiswadenganhasilrata-rata hasilbelajarsiswameningkat. Hasil penelitian yang diperoleh berupa produk bahan ajar yakni media kotakmisteripembelajarantematik. Media kotakmisteriiniberisigulungankertas, misteri, danclue/petunjuk, selainitujugadilengkapipetunjukpenggunaberupa CD danbuku. Saran dari penelitian pengembangan ini adalahmedia dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk memudahkanmenyampaikanisipembelajarantematik. Media ini berisi bacaandanlatihansoaltentangbeberapakompetensidasarkurikulum 2013 sehingga memungkinkan siswa untuk meningkatkan pemahamanisipembelajaran.

Strategi pembelajaran tari gandrung di SMP Negeri 1 Tanjung Kabupaten Lombok Utara tahun pelajaran 2010/2011 / Sulastri

 

Kata Kunci : Strategi, Pembelajaran Tari Gandrung, SMP Melalui pendidikan seni di sekolah siswa diarahkan untuk dapat mengembangkan kreatifitas kepekaan indrawi serta kemampuan berkreasi seni dalam lingkungan dan kondisi yang terarah. SMP Negeri 1 Tanjung merupakan satu-satunya SMP yang menyelenggarakan pembelajara tari Gandrung. Alasan peneliti memilih tari Gandrung adalah tari Gandrung digunakan sebagai pijakan tari-tarian yang lain dan dalam tari Gadrung terdapat atau memiliki nilai-nilai simbolik bagi masyarakat sasak (Lombok) yaitu berkaitan dengan upacara kesuburan. Dalam menerapkan strategi pembelajaran tari Gandrung disesuaikan dengan prinsip pembelajaran dalam KTSP. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana perencanaan pembelajaran tari Gandrung di SMP Negeri 1 Tanjung, (2) Bagaimana Penerapan strategi pembelajaran tari Gandrung di SMP Negeri 1 Tanjung. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan pembelajaran tari Gandrung dan untuk mendeskripsikan penerapan strategi pembelajaran tari Gandrung di SMP Negri 1 Tanjung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah Ibu Ni Ketut suparmi selaku guru seni tari SMP Negeri 1 Tanjung. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumen berupa arsip-arsip dan foto-foto. Analisis data dilakukan dengan cara Reduksi data, penyajian data serta pengambilan keputusan/verifikasi. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan Trianggulasi yang terdiri dari Trianggulasi metode dan Trianggulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pembelajaran tari Gandrung di SMP Negeri 1 Tanjung dibuat secara tertulis meliputi Silabus, RPP, Prota, dan Promes. (a) Tujuan pembelajaran yaitu untuk melestarikan tari Gandrung tersebut, memberikan keterampilan pada siswa dan mengembangkan sikap kreatifitas siswa. (b) Materi yang diberikan adalah ragam-ragam gerak tari Gandrung dari ragam 1 sampai seterusnya yang diberikan secara bertahap-tahap. (c) Sedangkan Metode yang di gunakan yaitu metode Demonstrasi dan metode Mencontoh atau imitasi. (d) Media yang digunakan yaitu Tape, TV, VCD, Kaset Tape, Ruang tari dan property yang digunakan adalah Kipas dan Selendang. (e) Penilaian dilakukan secara individu jenis penilaiannya adalah penilaian melalui unjuk kerta yaitu penilaian berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa, dan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menarikan tari Gandrung, meskipun siswa mempraktekkanya secara kelompok, aspek yang diamati terdiri dari Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Skor nilai menggunakan skala huruf yaitu A, B, C, D, dan E. (2) Strategi pembelajaran tari Gandrung di SMP Negeri 1 Tanjung menggunakan strategi Deduktif yaitu strategi pembelajaran yang menerapkan sistem pengajaran dari umum kekhusus, dan menggunakan model pembelajaran Apretensip yaitu adanya kegiatan mencontoh secara berulang oleh siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Fungsional dimana guru menjadi penular informasi dan sebagai fasilitator. Sedangkan metode yang di gunakan adalah metode Demonstrasi dan metode mencontoh atau imitasi dan dikte.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) dengan tempilan adobe flash pada materi gelombang transversal berjalan / Wahyu Apria Dharma

 

ABSTRAK Dharma, Wahyu Apria. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Fisika Berbasis REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) dengan Tampilan Adobe Flash pada Materi Gelombang Transversal Berjalan. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Purbo Suwasono, M.Si., (II) Dra. Endang Purwaningsih, M.Si. Kata Kunci: REACT,adobe flash,gelombang transversal berjalan Kurikulum 2013 mengharuskan proses pembelajaran menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, dan inovatif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi melalui pendekatan ilmiah (scientific approach). Tuntutan kurikulum 2013 berhasil dicapai dengan implementasi bahan ajar dan strategi belajar yang baik di dalam kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar berupa buku, masih menjadi sumber utama pembelajaran peserta didik di sekolah. Strategi REACT (relating, experiencing, applying, cooperating, transferring) adalah salah satu strategi pembelajaran kontekstual yang memberikan ruang gerak kepada peserta didik untuk membangun pengetahuannya sendiri. Materi gelombang transversal berjalan adalah materi yang abstrak (sulit di bayangkan) oleh peserta didik. Penggunaan flash di dalam bahan ajar membantu peserta didik memvisualisasikan gelombang transversal berjalan. Jenis penelitian pengembangan yang dilakukan adalah penelitian pengembangan bahan ajar oleh Sadiman yang bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar fisika berbasis REACT (relating, experiencing, applying, cooperating, transferring) dengan tampilan adobe flash pada materi gelombang transversal berjalan.Validasi dilakukan oleh ahli terhadap bahan ajar dan RPP. Uji coba terbatas dilakukan untuk mengetahui tingkat keterbacaan peserta didik terhadap bahan ajar. Terdapat dua jenis data dalam penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif ditunjukkan dengan Skala Likert dan dianalisis menggunakan kriteria validitas analisis nilai rata-rata. Sedangkan data kualitatif digunakan untuk dasar revisi produk. Berdasarkan hasil validasi produk oleh ahli, didapatkan nilai rata-rata bahan ajarsebesar 3,35 dan nilai rata-rata RPP sebesar 3, 56. Berdasarkan hasil uji coba terbatas oleh peserta didik, didapatkan nilai rata-rata keterbacaan bahan ajar sebesar 3,54. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar fisika berbasis REACT (relating, experiencing, applying, cooperating, transferring) dengan tampilan adobe flash pada materi gelombang transversal valid dan siap untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran.Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian pengembangan ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu: (1) dikembangkan dengan software kvisoft flip book maker prosehingga berbentuk digital atau flash, (2) dapat dioperasikan pada sebarang komputer tanpa menginstal softwaretertentu atau memakai cd room. Selain memiliki kelebihan, bahan ajar ini juga memiliki kekurangan, yaitu: (1) materi hanya terbatas pada besaran-besaran fisis dan karakteristik gelombang transversal berjalan, (2) efektivtas bahan ajar untuk peserta didik belum dapat diketahui, karena bahan ajar belum diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Perancangan media komunikasi visual Grebeg Suro di Ponorogo / oleh Dhany Marsika Gandhi

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) un tuk menin gkatkan hasil belajar (Studi pada siswa kelas X jurusan Administrasi Perkantoran mata pelajaran kewirausahaan SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen) / Novi Wulandari

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Hasil belajar, Kewirausahaan Berdasarkan hasil observasi, metode pembelajaran yang diterapkan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen selama ini adalah metode konvensional melalui ceramah dan tanya jawab. Dengan metode itu menyebabkan siswa menjadi pasif dan kurang mandiri dalam belajar. Oleh karena itu perlu adanya sebuah pembaharuan pembelajaran untuk mengubah paradigma tersebut yaitu dengan penerapan pembelajaran kooperatif sehingga suasana belajar lebih kondusif dan tidak monoton. Pembelajaran kooperatif mengarahkan siswa untuk belajar hidup bermasyarakat. Karena dalam pembelajaran kooperatif secara tidak langsung siswa dihadapkan pada kondisi-kondisi yang menggambarkan kehidupan di masyarakat, diantaranya melalui diskusi kelompok, diskusi kelas atau pun kondisi dimana siswa belajar berinteraksi dengan orang lain, mengemukakan pendapat, menerima perbedaan pendapat, peduli terhadap sesama, bekerja sama, menganalisis dan menyelesaikan masalah serta berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, catatan lapangan, dan angket belajar afektifitas siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus ke siklus. Hasil penelitian menggambarkan bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) sudah sesuai dengan rambu-rambu yang ada, (2) Pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada pra tindakan (22,22%) termasuk dalam katagori sangat rendah, pada siklus I meningkat (65,12%) termasuk dalam katagori sedang, dan siklus II meningkat (86,36%) termasuk dalam katagori tinggi, (3) Pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan keaktifan siswa. Pada siklus I iii (57,82%) termasuk dalam kategori kurang aktif dan pada siklus II meningkat (83,85%) termasuk dalam kategori aktif. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Bagi SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen perlu menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) yaitu berupa pengadaan literatur guna mempermudah siswa dalam memperoleh informasi dan memperlancar proses belajar (2) Bagi guru Kewirausahaan di SMK, pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas karena tidak semua materi pelajaran cocok dengan model pembelajaran ini (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) pada pengajaran mata diklat yang sama atau mata diklat lainnya di tempat yang berbeda untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran, hendaknya memakai media atau kartu nomor yang dipakai siswa pada lengan kanan atau dada agar memudahkan penelili atau observer dalam mengamati aktivitas belajar siswa, dan dalam penelitian hendaknya satu kelompok diamati oleh satu observer agar data yang dianggap penting tidak terlewati.

Kesesuaian antara bahan belajar dengan kebutuhan belajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an dan Bahasa Inggris Miftahul Khoirot Kotamadya Malang / oleh Anang Choirul Munir

 

Penerapan pembelajaran Think-Talk-Wite (TTW) berbantuan multimedia untuk memahamkan siswa kelas VIII Mts Roudhotus Syifa pada materi SPLDV / Gallant Alim Purbowo

 

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia SMP berbasis inkuiri dan kontekstual dengan strategi REACT pada pokok bahasan bahan kimia dalam makanan / oleh Latiful Atfiyah

 

Representasi nilai moral masyarakat using dalam cerita rakyat Banyuwangi / Dina Merdeka Citraningrum

 

Kata kunci: representasi nilai, nilai moral, cerita rakyat Banyuwangi Cerita rakyat Banyuwangi merupakan produk budaya yang memuat nilainilai moral yang mencerminkan masyarakat penuturnya. Penelitian ini difokuskan pada nilai moral yang meliputi nilai (a) moral ketuhanan, (b) nilai moral pribadi, (c) nilai moral sosial, dan (d) nilai moral lingkungan alam. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan ancangan hermeneutika Gadamer. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen kunci. Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah membaca teks, mengidentifikasi, mengkodifikasi, mengklasifikasi, dan memaknai atau menginterpretasi data. Penelitian ini bersumber pada teks cerita rakyat Banyuwangi, yang ditranskripsi oleh peneliti melalui penuturan langsung dari penutur asli. Dengan demikian, dalam proses pertimbangan dan penentuan cerita rakyat yang dijadikan data penelitian, peneliti memilih beberapa daerah untuk dijadikan sebagai lokasi penelitian. Pembatasan lokasi penelitian tersebut dimaksudkan agar pelaksanaan penelitian lebih terarah pada fokus masalah yang diteliti. Peneliti memilih lima kecamatan diantaranya (1) Giri, (2) Kabat, (3) Singojuruh, (4) Songgon, dan (5) Sempu. Pemilihan kelima lokasi tersebut didasari oleh pertimbangan bahwa di kelima lokasi tersebut (1) mayoritas penduduk beretnik Using, (2) struktur sosial masyarakat heterogen, (3) kesenian daerah Banyuwangi berkembang dan tumbuh subur, dan (4) tradisi budaya Using masih dapat diamati dari kehidupan seharihari. Data dalam penelitian ini bersifat realistis. Data berupa cerita rakyat Banyuwangi diperoleh dari tuturan langsung dari penutur asli. Data tersebut, kemudian ditranskripsi dalam bentuk teks oleh peneliti, kemudian dicek keberadaannya melalui studi wawancara. Analisis data dilakukan sejak awal pengumpulan data. Ketika mengumpulkan data, peneliti melakukan reduksi data, penyajian data, penafsiran data, dan penarikan simpulan. Jika penafsiran dianggap kurang, dilakukan kembali pengumpulan data, reduksi data, penafsiran data sampai pada tahap penarikan simpulan. Demikian seterusnya, dilakukan secara berulang-ulang sampai diperoleh simpulan yang benar-benar memadai. Pemeriksaan data dalam penelitian ini hanya dilakukan dengan dua teknik, yaitu (1) ketekunan pengamatan, dan (2) pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi Berdasarkan penelitian ditemukan tentang nilai moral ketuhanan yang mencakup antara lain (a) percaya kepada Tuhan, (b) bertakwa, (c) tawakal, dan (d) percaya kepada takdir. Nilai moral pribadi meliputi (a) kejujuran, (b) keteguhan, (c) kerja keras, (d) bertanggung-jawab, (e) kesabaran, (f) kebijaksanaan, (g) kecerdikan atau kepandaian, (h) kepatuhan, (i) tidak sombong, (j) keberanian, (k) kewaspadaan, dan (l) berjiwa besar.Nilai moral sosial antara lain (a) kasih sayang, (b) solidaritas, (c) musyawarah, (d) kesetiaan, (e) kebersamaan, dan (f) kepedulian sosial. Sedangkan nilai moral lingkungan alam meliputi (a) menjaga kelestarian binatang, (b) menjaga kelestarian sungai, dan (c) mencintai tanaman. Berdasarkan hasil penelitian dalam cerita rakyat Banyuwangi dapat, ditemukan nilai-nilai moral yang cukup positif. Nilai-nilai moral yang positif tersebut merupakan bagian dari representasi nilai moral masyarakat Using yang merupakan pemilik cerita rakyat di Banyuwangi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka cerita Rakyat Banyuwangi perlu untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi bangsa Indonesia, terutama bagi masyarakat Using. Hal ini diperlukan agar masyarakat tersebut tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Mengingat cerita rakyat yang berkembang dimasyarakat terutama masyarakat Using terus mendekati kepunahan, maka upaya dokumentasi cerita rakyat ini sangat diperlukan, sebab cerita rakyat tersebut sarat dengan pesan dan makna yang amat berkaitan erat dengan sejarah dan pandangan hidup masyarakat pemiliknya. Berdasarkan hal tersebut, dapat disampaikan saran kepada pihak pemerintah untuk memperhatikan dan memberikan kontribusi yang positif bagi para peneliti terutama untuk kajian kebudayaan daerah setempat. Disarankan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sejenis.

Pengaruh keterampilan proses terhadap hasil belajar pembelajaran berbasis proyek (project based learning) pada mata pelajaran KKPI di SMK Cendika Bangsa Malang / Anggi Maritza Rindani

 

Kata Kunci: PBL, Keterampilan Proses, hasil belajar. Proses pembelajaran KKPI di SMK Cendika Bangsa Malang memerlukan adanya inovasi metode pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar. Pada hasil observasi awal proses pembelajaran KKPI di kelas X, ditemukan permasalahan rendahnya kegiatan berkelompok yang cenderung hanya menyelesaikan tugas sehingga menyebabkan rendahnya keterampilan proses siswa di kelas. Hal ini terlihat dari kegiatan belajar kelompok dikelas dimana dalam kegiatan tersebut siswa berbicara sendiri dengan teman sekelompoknya dan tugas yang diberikan guru cenderung dikerjakan oleh sebagian anggota kelompok. Sedangkan siswa yang lain menunggu dan mencontoh jawaban dari teman sekelompoknya atau mencari jawaban lain tanpa memahami tugas yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran PBL merupakan pendekatan pemecahan masalah yang menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa dalam mengoperasikan software presentasi. Dengan pembelajaran tersebut diharapkan siswa akan lebih aktif dan hasil belajar dapat tercapai. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan Ekperimen Semu dengan pendekatan kuantitatif. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas X gabungan A SMK Cendika Bangsa Malang yang berjumlah 27 siswa. Instrumen penelitian ini yaitu instrumen perlakuan dan pengukuran. Instrumen perlakuan berupa perangkat pembelajaran. Instrumen pengukuran berupa lembar observasi afektif, lembar observasi keterampilan proses, lembar observasi proyek, dan tes tertulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh dari keterampilan proses siswa terhadap hasil belajar penerapan pembelajaran PBL pada kompetensi dasar mengoperasikan software presentasi. Nilai rata-rata pencapaian hasil belajar meningkat sebesar 80,43 dari rata-rata kemampuan awal sebesar 27,94. Pencapaian rata-rata persentase keterampilan proses siswa pun meningkat dari 59% menjadi 80%. Peningkatan keterampilan proses siswa ini termasuk dalam kriteria Baik.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia SMP berbasis inkuiri dan kontekstual dengan strategi REACT pada pokok bahasan perubahan materi dan ciri-ciri reaksi kimia / oleh Indra Reknowati

 

Pengaruh keaktifan berorganisasi dan minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang periode 2011/2012 / Moh. Farid Wajdi Fahmi

 

Kata Kunci :Keaktifan Berorganisasi, Minat Belajar, Prestasi Belajar Mahasiswa, Mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Dunia perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan yang mengedepankan kemandirian bagi individu yang terlibat di dalamnya, sehingga kebebasan dalam bidang akademik maupun non akademik sangat terasa bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan di bawahnya. Aspek kegiatan dalam dunia perkuliahan, yaitu kegiatan intrakulikuler (akademik) dan kegiatan ekstrakulikuler (keaktifan dalam berorganisasi) menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan seorang mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengetahui pengaruh Keaktifan berorganisasi mahasiswa terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 2) Mengetahui pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, 3) Mengetahui pengaruh keaktifan berorganisasi dan minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif, penelitian ini menggunakan teknik penelitian populasi, hal ini dikarenakan jumlah populasi dari subjek penelitian tidak lebih dari 100 responden. Tepatnya 75 responden, maka penelitian ini menggunakan penelitian populasi. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisis datanya menggunakan analisis statistik deskriptif, analisis regresi linier berganda, dan pengujian hipotesis (uji t dan uji f) Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan berorganisasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pengaruh antara variabel X1 (keaktifan berorganisasi) dengan variabel y (prestasi belajar) dengan uji signifikansi 0,001 yang lebih kecil dari α 0,005. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa keaktifan berorganisasi memberikan pengaruh secara parsial sebesar 37,3% terhadap prestasi belajar mahasiswa.Signifikan t variabel X2 (minat belajar) adalah sebesar 0,000 yang lebih kecil dari α 0,005. Hal ini merupakan bukti kuat bahwa keaktifan berorganisasi mahasiswa jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dan minat belajar memberikan pengaruh secara parsial sebesar 39,6% terhadap prestasi belajar (Y), Sehubungan dengan Hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat diberikan oleh penulis kepada mahasiswa, yaitu hendaknya lebih bijak membagi waktu antara organisasi dan akademik, melibatkan diri secara aktif karena akan memperoleh pengalaman edukatif yang akan mempengaruhi sikap dan cara berpikirnya, sedangkan untuk peneliti berikutnya perlu mengadakan penelitian kembali dengan mengambil sampel yang lebih luas lagi dan menghubungkan variabel lain di luar variabel yang telah ada

Perbedaan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu / Marcelyna Shitara

 

Kata Kunci: konsep diri, urutan kelahiran, anak sulung, anak bungsu Konsep diri adalah pandangan dan sikap seseorang tentang seluruh aspek dalam dirinya sendiri yang meliputi diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan diri moral berdasarkan persepsi, pikiran dan keyakinan individu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang, menggunakan purposive sampling maka sampel yang digunakan adalah 50 mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak sulung dan 50 mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak bungsu. Instrumen penelitian menggunakan skala konsep diri dengan 64 item. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean pada mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak sulung sebesar 198,46 dengan rincian 31 mahasiswa (62%) memiliki konsep diri positif dan 19 mahasiswa (38%) memiliki konsep diri negatif. Skor mean pada mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak bungsu sebesar 183,58 dan dengan rincian 34 mahasiswa (68%) memiliki konsep diri negatif, 16 mahasiswa (32%) memiliki konsep diri negatif. Berdasarkan analisis komparatif diperoleh hasil t-hitung = 4,511 signifikansi 0,000 < 0,05 maka terdapat perbedaan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu dimana anak sulung memiliki konsep diri positif dan anak bungsu memiliki konsep diri negatif. Dengan mengetahui perbedaan konsep ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu maka disarankan bagi orang tua untuk tidak membandingkan kemampuan masing-masing anak dan memberikan porsi perhatian dan ambisi yang sama pada setiap anak. Mahasiswa diharapkan dapat aktif dalam organisasi untuk mengasah interaksi sosialnya, melatih diri belajar dalam persaingan sehat dalam suatu organisasi dan dapat bertukar pendapat secara sportif dan mampu mengembangkan perasaan dihargai dan menghargai orang lain.Bagi peneliti selanjutnya diharapkan tidak hanya melakukan penelitian dengan metode kuantitatif namun juga dengan metode kualitatif agar hasil penelitian yang diperoleh lebih mendalam.

Pengkajian konduksi kalor dua demensi pada keadaan tak tunak berdasarkan tinjauan numerik / oleh Lutfi Indrianto

 

Pengembangan paket pembelajaran teknik budidaya tanaman cabai kelas XI untuk SPP-SPMA Negeri Banjarbaru / Arni Setyo Priambodo

 

Kata kunci: Pengembangan, Paket pembelajaran, Teknik Budidaya Cabai, Dick and Carey. Pengembangan paket pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk memecahkan masalah belajar. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pembelajaran mata pelajaran Teknik Budidaya Tanaman Cabai di SPP-SPMA Negeri Banjarbaru belum menggunakan bahan ajar atau buku yang dirancang khusus untuk keperluan proses pembelajaran. Oleh, karena itu dirasa perlu untuk merancang dan mengembangkan suatu paket pembelajaran Teknik Budidaya Tanaman Cabai. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran dengan mengacu pada rancangan pembelajaran model Dick & Carey (2001). Paket pembelajaran yang dikembangkan berupa mata pelajaran Teknik Budidaya Tanaman Cabai bagi siswa kelas XI semester 1 terdiri dari 3 bagian yaitu: bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa. Pengembangan paket pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan proses pembelajaran, membantu guru dalam memfasilitasi pembelajaran Hasil uji coba ahli isi untuk bahan ajar berada dalam kategori sangat baik, hasil uji coba ahli desain untuk bahan ajar berada dalam ketegori sangat baik untuk panduan guru dalam kategori baik dan panduan siswa dalam kategori sangat baik. Hasil uji coba ahli media bahan ajar berada dalam ketegori baik, panduan guru dalam kategori sangat baik, panduan siswa sangat baik. Hasil uji coba perorangan bahan ajar terdapat 18 kesalahan dalam pengetikan, 15 kesalahan dalam penggunaan tanda baca, 5 huruf yang seharusnya huruf besar, 1 huruf yang seharusnya huruf kecil, 4 hal-hal lain yang perlu diperbaiki, hasil uji coba kelompok kecil bahan ajar dalam kategori sangat baik, panduan siswa dalam kategori sangat baik Hasil uji coba lapangan bahan ajar hasil tanggapan siswa dalam kategori sangat baik, hasil tanggapan guru dalam kategori sangat baik, panduan siswa dalam kategori sangat baik dan panduan guru dalam kategori sangat baik. Hasil pre tes dan post tes dengan derajat kebebasan 29 dan taraf signifikansi 0,05 di dapat t hitung = -6,7000 lebih besar dari t tabel = 2,086, maka dapat dikatakan bahwa perbedaan mean tersebut menyakinkan atau dengan kata lain bahan ajar yang digunakan efektif. Secara keseluruhan dari hasil uji coba ahli isi, Ahi desain, Ahli media, hingga uji coba lapangan, data yang diperoleh menunjukkan bahwa produk pengembangan bahan ajar sudah Dapat dan Layak dipergunakan sebagai salah satu sumber belajar mata pelajaran teknik budidaya tanaman cabai. Saran yang diajukan berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan selanjutnya sebagai berikut:(1) Sebelum menggunakan bahan ajar, diharapkan siswa membaca terlebih dahulu petunjuk penggunaan bahan ajar, (2) Bahan ajar Teknik Budidaya Tanaman Cabai hanya dapat dipakai di SPP-SPMA Negeri Banjarbaru (3) Apabila bahan ajar ini digunakan oleh siswa angkatan berikutnya, perlu dilakukan kembali analisis kebutuhan siswa, agar materi yang ada dalam bahan ajar benar-benar sesuai dengan karakteristik siswa tersebut.

Penerapan pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas VII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang topik kubus dan balok / oleh Norhikmah

 

Pengaruh iklim organisasi terhadap produktivitas kerja pegawai di lingkungan kantor dinas pendidikan Kabupaten Cirebon / oleh Muhammad Bambang Aruman

 

Alat pengaman regulator gas LPG berbasis mikrokontroler / Ferdian Miko Wijoyo

 

Kata kunci: Regulator, LPG, Mikrokontroler. Menipisnya cadangan minyak di perut bumi dan melimpahnya gas alam di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu mengganti minyak tanah yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari beralih menggunakan gas LPG. Sejak itu, sering terjadi kebakaran atau ledakan yang disebabkan oleh kebocoran gas LPG dan sering kali kebocoran terletak pada regulator tabung gas LPG. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diperlukan alat pengaman regulator gas LPG yang dapat menutup regulator secara otomatis ketika terjadi kebocoran gas. Perencanaan, pembuatan dan implementasi perancangan Alat Pengaman Regulator Gas LPG Berbasis Mikrokontroler memiliki tujuan antara lain: Mengembangkan alat pengaman regulator berbasis mikrokontroler, Menciptakan alat pengaman regulator yang dapat menghindarkan kebakaran atau ledakan yang disebabkan oleh kebocoran gas, Menguji alat pengaman regulator yang dapat menghindarkan kebakaran atau ledakan yang disebabkan oleh kebocoran gas. Sistem yang dikembangkan pada ”Alat Pengaman Regulator Gas LPG Berbasis Mikrokontroler” terdiri dari beberapa blok meliputi: Sensor LPG, Mikrokontroler ATMega 8535, Buzzer, Driver, dan Motor DC. Hasil perencanaan, pembuatan dan implementasi perancangan menunjukkan bahwa sistem bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Alat ini dapat bekerja apabila sensor mendeteksi adanya gas dan tegangan keluaran lebih dari 1 volt, yaitu motor berputar untuk menutup regulator gas LPG dan buzzer berbunyi sebagai indikasi adanya kebocoran gas. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah Dapat mengembangkan alat pendeteksi kebocoran gas LPG yang dilengkapi dengan motor untuk menutup regulator. Perancangan alat pengaman regulator gas LPG berbasis mikrokontroler terdiri dari beberapa blok diagram meliputi: Sensor LPG, Mikrokontroler ATMega 8535, Buzzer, Driver, dan Motor DC. Alat Pengaman Regulator Gas LPG Berbasis Mikrokontroler berhasil diuji yaitu apabila sensor mendeteksi adanya gas dan tegangan keluaran sensor lebih dari 1 volt, maka motor penutup regulator berputar dan buzzer berbunyi.

Perbedaan prestasi belajar kimia kelas X SMA Negeri 1 Tuban antara siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif model STAD dengan metode pembelajaran kelompok biasa pada materi Alkana, Alkena, dan Alkuna / oleh Nila Kamilia Suryaningrum

 

Kind of ambiguity verbal humors in stand-up comedy Indonesia / Ririh Wejangning Tyas

 

ABSTRAK Tyas, Ririh Wejangning. 2016. Manipulating Linguistic Ambiguity to Arouse Verbal Humor in Stand Up Comedy Indonesia. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri MalangState. Dosen Pembimbing: (I) Prof. A. Effendi Kadarisman,M.A. Ph. D, (II) Aulia Apriana, S.S., M. Pd Kata Kunci: linguistic ambiguity, humor, verbal humor, linguistic twist Penelitian ini disusun untuk mengidentifikasi ambiguitas linguistik di dalam stand up komedi Indonesia. Penelitian ini terfokus pada aspek-aspek linguistik yang digunakan dalam stand up komedi. Objek dalam penelitian ini adalah tiga stand up komedian yaitu; Dodit, Dzawin dan Abdur. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dan temuan dalam penelitian ini diperoleh dengan melihat beberapa video dari stand up komedian yaitu; Dodit, Dzawin, dan Abdur. Kemudian peneliti mengidentifikasi dan memilih data-data mana saja yang memiliki ambiguitas.Setelah itu, peneliti mentraskrib data dan mengkategorikannya ke dalam tipe-tipe ambiguitas linguistik. Peneleti kemudian juga menghitung frekuensi dari berapa banyak data yang tergolong dalam ambiguitas linguistik dan menguraikannya berdasarkan teori. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ambiguitas dalam discourse memiliki frekuensi yang paling tinggi dengan jumlah presentase sebesear (37%). Posisi kedua adalah twisting logic dengan presentase 27%, ambiguitas dalam pragmatik sebesar 20%, ambiguitas dalam fonologi 10%, dan terakhir ambiguitas dalam semantik dan leksikal sebesar 3%. Berdasarkan data diatas kita dapat menyimpulkan bahwa ambiguitas dalam discourse lebih dominan dan berperan sangat penting untuk memeberikan kesan humor dalam stand up komedi Indonesia. Sebagai tambahan ambiguitas dalam morfologi dan sintax tidak ditemukan dalam analisis data. Peneliti berharap hasil dari penelitian ini memberikan kontribusi di dalam ranah linguistik. Di samping itu, peneliti juga berharap hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti-peneliti selanjutnya.

Rancang bangun mesin penggiling es untuk pengawet ikan dengan kapasitas 960 kg/jam / Ade Aprilrizka Ananda, Lukman Yoga Hadyawan

 

Perancangan komik 2 dimensi dan desain visual game 2 dimensi tentang topeng Malang / Payoma Kusuma Abiyasa

 

Abiyasa, Payoma Kusuma, 2013. Perancangan Komik 2 Dimensi Dan Desain Visual Game 2 Dimensi Tentang Topeng Malangan. Tugas Akhir, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Andi Pramono S.Kom, M.T, (II) Joko Samudro S.Kom. Kata Kunci: Perancangan Komik, Desain, Visual, Game, Topeng Malangan Perancangan Komik 2 Dimensi dan Desain Visual untuk Game Topeng Malangan ini adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengembangkan dan mempopulerkan kisah cerita Topeng Malangan sebagai warisan budaya nasional Indonesia, sehingga melalui perancangan komik dalam game ini dapat menghasilkan sebuah produk yang bisa diterima dan diminati oleh masyarakat Indonesia dari semua kalangan khususnya di kalangan remaja. Proses perancangan komik 2 Dimensi dan Desain Visual untuk game Topeng Malangan ini mempunyai 3 tahap perancangan, yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Sedangkan model perancangan yang digunakan adalah model prosedural yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Perancangan ini menghasilkan sebuah komik yang disisipkan sebagai cerita utama dalam game dan desain visualisasi untuk game bertema Topeng Malangan. Dan juga menghasilkan beberapa media pendukung untuk memperkenalkan hasil dari perancangan ini seperti sticker, pin, poster, yang didesain sesuai hasil dari perancangan komik dan desain visual game

Penerapan pembelajaran berbasis observasi gejala fisis pada perkuliahan fisika dasar 1 untuk mengurangi terjadinya salah konsep fisika mahasiswa program studi Pendidikan Fisika tahun akademik 2004/2005 / oleh Sitti Aisah

 

Pengembangan tutorial, fisika matematika 1 pada analisis vektor pada mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang tahun akademik 2004/2005 / oleh Trina Sutanti

 

Analisis perlakuan akuntansi dana pensiun pada perusahaan listrik negara (Persero) distribusi Jawa Timur Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Malang / oleh Ririn Wijayati

 

Pengaruh taraf kecerdasan (IQ) dan nilai surat tanda kelulusan (STK) SMU terhadap prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang/Widiastuti Aryadne

 

Hubungan antara status sosial orangtua dan jumlah uang saku terhadap sikap berekonomi siswa di MAN 3 Malang "dibebankan menurut prestasi belajar" / oleh Suyani S.

 

Efektivitas penerapan pembelajaran ekonomi dengan pendekatan CTL di SMP Negeri 1 Kaangjati Kabupaten Ngawi / oleh Danik Kurniawati

 

Kompetensi pedagogik guru dalam mendorong motivasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2011/2012 / Ika Fitri Maharani

 

Kata kunci: kompetensi pedagogik guru, motivasi belajar Guru sebagai pendidik dan pembimbing dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai, karena pada saat mengajar guru akan berhadapan dengan anak didik sedangkan tiap-tiap anak didik memiliki potensi yang berbeda. Tugas guru dalam mengajar di kelas tidak hanya menyajikan bahan pelajaran, tetapi juga menciptakan situasi kelas, interaksi, kerjasama, memberikan arahan, petunjuk, penjelasan, serta dorongan, rangsangan, motivasi agar peserta didik belajar secara optimal. Di dalam pelaksanaan pembelajaran, guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang sangat energik, cara penyampaiannya cukup jelas, penguasaan materi juga baik. Disisi lain siswa juga semangat mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Ibu Kun. Dari sini peneliti mempunyai keinginan untuk meneliti bagaimana kompetensi pedagogik guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang dalam mendorong motivasi belajar siswa, karena kompetensi pedagogik merupakan salah satu bagian penting dari kompetensi yang harus dimiliki guru, selain itu guru yang memiliki kompetensi yang baik dalam bidangnya merupakan salah satu faktor yang mendorong motivasi belajar siswa. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana kompetensi pedagogik guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan pemahaman terhadap peserta didik? (2) kompetensi pedagogik guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan perencanaan pembelajaran? (3) bagaimanakah kompetensi pedagogik guru dalam mendorong motivasi belajar sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran? Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan pemahaman terhadap peserta didik (2) mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan perencanaan pembelajaran (3) mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru dalam mendorong motivasi belajar sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk memperoleh gambaran tentang kompetensi pedagogik guru, motivasi belajar, dan kompetensi pedagogik guru dalam mendorong motivasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS dan guru sejarah kelas XI IPS yang berjumlah 1. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dengan guru, observasi terhadap guru dan siswa, serta dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. i Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru sejarah SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan pemahaman terhadap peserta didik sudah cukup baik, kompetensi pedagogik guru sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan perencanaan pembelajaran masih terdapat kekurangan-kekurangan, kompetensi pedagogik guru dalam mendorong motivasi belajar sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran adalah baik. Meskipun di dalam penyusunan RPP masih terdapat kekurangan, tetapi didalam pelaksanaan pembelajaran sudah baik, misalnya saja penguasaan materi yang baik, penyampaian materi yang jelas, memanfaatkan media pembelajaran yang ada, sehingga menjadikan siswa tertarik untuk lebih memperhatikan dan mempelajari materi yang diajarkan. Guru juga sudah mampu memotivasi siswa untuk hadir di kelas, memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran, menyampaikan materi dengan jelas sehingga mudah diterima oleh siswa. Selain itu siswa juga aktif bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru maupun pada saat diskusi, siswa sudah mampu menyimpulkan materi yang telah diberikan. Ini berarti kompetensi pedagogik guru mampu mendorong motivasi belajar siswa. Adapun saran yang dikemukakan peneliti adalah (1) bagi sekolah, sekolah hendaknya untuk senantiasa memantau dan mengevaluasi para guru dalam proses pembelajaran, agar dapat meningkatkan kompetensinya. (2) bagi guru, diharapkan tetap memperhatikan dan meningkatkan kompetensi pedagogiknya, lebih diperhatikan lagi dalam penyusunan RPP dan sebaiknya mengikuti standar yang sudah ditentukan, karena ilmu pengetahuan yang dipelajari pada mata pelajaran sejarah terus berkembang setiap waktu. (3) bagi peneliti, peneliti selanjutnya sebaiknya menambah kompetensi guru yang meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. (4) bagi siswa, siswa hendaknya mempertahankan motivasi belajarnya dan lebih meningkatkan lagi motivasi dalam belajar, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang baik.

Pengaruh latihan aerobik teratur dan tidak teratur terhadap stres oksidatif dengan indikator kadar malondialdehyde serum tikus wistar / oleh Ratna Sartika

 

Perbedaan latar belakang pendidikan mahasiswa terhadap prestasi belajar pada mata kuliah teknik dasar menjahit mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Ajeng Atma Kusuma

 

Kata kunci: latar belakang pendidikan, prestasi belajar Input mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 adalah heterogen yaitu berasal dari lulusan SMK Tata Busana dan Non SMK Tata Busana yang memiliki dasar karakter pendidikan yang berbeda. Adanya perbedaan karakter pendidikan tersebut diduga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan prestasi belajar khususnya pada mata kuliah Konstruksi Pola dan Pecah Model serta Teknik Dasar Menjahit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) latar belakang pendidikan mahasiswa program studi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, (2) Prestasi belajar mata kuliah Teknik Dasar Menjahit, (3) Ada atau tidak, perbedaan latar belakang pendidikan mahasiswa terhadap prestasi belajar mata kuliah Teknik Dasar Menjahit. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah komparasi dengan pendekatan kuantitatif. Data yang diperoleh dari data dokumentasi. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program studi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 Universitas Negeri Malang sejumlah 63 mahasiswa. Teknik analisis yang digunakan adalah Two Independent Samples Tests dengan menggunakan uji Mann Whitney U dengan bantuan SPSS 17 (Statistical Product and Service Solution). Two Independent Samples Tests dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) mahasiswa Proram S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 Universitas Negeri Malang diketahui 37 mahasiswa dari SMK Tata Busana dan 26 mahasiwa dari Non SMK Tata Busana, (2) rata-rata prestasi belajar mahasiswa yang berlatar pendidikan SMK Tata Busana lebih tinggi (14,44) dari pada mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan Non SMK Tata Busana (10,92), khususnya pada mata kuliah Teknik Dasar Menjahit, (3) Ada perbedaan latar belakang pendidikan mahasiswa terhadap prestasi belajar pada mata kuliah Teknik Dasar Menjahit dengan taraf signifikansi 0,000 (< 0,05). Adapun saran yang dapat diberikan: (1) bagi lembaga, khususnya di Jurusan Teknologi Industri, sebaiknya mengadakan tes uji praktik bagi calon mahasiswa baru baru untuk mengatahui potensi awal yang dimiliki mahasiswa. (2) Bagi dosen, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi ilmiah tentang perbedaan latar belakang pendidikan mahasiswa terhadap prestasi belajar pada mata kuliah Teknik Dasar Menjahit,(3) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai kajian untuk penelitian lanjut, dan diarahkan untuk meneliti tentang strategi pembelajaran yang tepat untuk mata kuliah Teknik Dasar Menjahit, agar dapat mengakomodir prestasi belajar mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan Non SMK Tata Busana.

Pelaksanaan pembelajaran IPA SD pola seqip di Kecamatan Ngunut, Pucanglaban dan Campur Darat Kabupaten Tulungagung semester II tahun ajaran 2004/2005 / oleh Fitri Nur Anihayah

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu) / Erwina Safitri

 

Analisis kestabilan lapisan tanah sepanjang bantaran sungai Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen, Malang dengan metode geolistrik tahanan jenis / Deltha Yuwita N.

 

Kata Kunci: Metode Geolistrik, Resistivitas, kestabilan tanah Suatu lereng dikatakan stabil atau tidak tergantung pada kemiringan lereng, struktur lapisan tanah dan besarnya pembebanan pada lereng. Kebanyakan ketakstabilan lereng dapat menyebabkan pergerakan tanah (longsor). Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen, Malang merupakan daerah pemukiman dan pertanian. Di Desa ini terdapat lereng terjal dengan kemiringan sekitar 75o. Lereng ini berada di sepanjang sungai dengan ketinggian sekitar 10m. Daerah penelitian ini terletak pada 08008’35,7’’ LS dan 112033’28,6’’BT dan memiliki ketinggian 346 dari permukaan laut. Banyak aktivitas penduduk yang masih dilakukan di sungai tersebut, seperti mencuci dan mandi. Informasi mengenai kestabilan lapisan tanah di area ini diperlukan mengingat adanya aktifitas warga yang dilakukan di bawah lereng di dekat sungai tersebut. Metode yang digunakan adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner. Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu cara untuk mengetahui kestabilan tanah, dengan metode pengukuran berdasar sifat-sifat listrik yaitu sifat tahanan jenis dari batuan di lapangan. Keunggulan metode ini adalah dapat digunakan untuk mengadakan eksplorasi dangkal yang tidak bersifat merusak dalam pendeteksiannya. Dari hasil analisis res2div diketahui pada bentangan 2m -96 m dari titik nol pengukuran memiliki nilai resistivitas sekitar 10,8 – 13,7 Ωm dengan kedalaman sekitar antara 0m - 3,765 m. Nilai resistivitas ini menunjukkan bahwa pada lapisan ini tersusun oleh lapisan lempung. Nilai resistivitas sekitar 17,4-58,0 Ωm dengan kedalaman sekitar antara 3,765m – 15,8m pada bentang 22m – 78m menunjukkan bahwa lapisan ini berupa lanauan. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa lokasi penelitian ini diduga tidak stabil dan memiliki potensi longsor yang cukup besar. Hal tesebut dapat dilihat dari beberapa faktor – faktor yaitu kemiringan lereng 75otermasuk dalam kemiringan lereng yang terjal dengan kerentanan gerakan tanah yang tinggi. Nilai resistivitas yang kecil. Jenis tanahnya berupa lempung dan lanauan dimana lempung mudah menyerap air. Batuan yang mudah menyerap air maka bobot isinya menjadi lebih besar, sehingga akan memperkecil kemantapan lereng. Hal ini mengakibatkan tanah tidak stabil. lanauan yang akan cendrungan mengalir sebagai suatu cairan kental dalam keadaan jenuh. posisinya yang dekat dengan aliran air menyababkan lapisan ini berpotensi besar menjadi jenuh.Porositas tanah bagian bawah relatif lebih kecil dari pada bagian atas tetapi letak lereng yang berdekatan dengan sungai yang memungkinkan semen pada tanah lapisan bawah terkikis oleh air sungai menyebabkan daya ikat antar butirannya berkurang.Longsoran yang mungkin terjadi adalah tipe jatuhan atau rutuhan.

 

Analisis pengaruh laba per lembar saham (EPS), rasio lambang harga (PER) dan nilai tambah ekonomi (EVA) terhadap return saham di BEI tahun 2009-2011 / Surya Dwi Admaja

 

Kata Kunci: Return saham, EPS,PER,EVA Pasar modal di Indonesia memiliki peranan yang penting dalam meningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu peran pasar modal dalam pembangunan ekonomi Indonesia adalah sebagai sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan. Seorang investor yang rasional selalu berusaha agar investasinya mendatangkan tingkat keuntungan yang melebihi biaya modalnya di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Para investor selalu ingin memaksimalkan return (tingkat pengembalian investasi) yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dominan antara Earning Per Share, Price Earning Ratio, dan Economic Value Added terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di BEI. Pergerakan saham-saham di BEI yang fluktuatif mampu merefleksikan perekonomian Indonesia. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menekankan pada pengujian-pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistic. Pengujian hipotesis diuji dengan menggunakan derajat signifikan 5%. Populasi terdiri dari 432 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode pengambilan sampel menggunakan purpossive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 perusahaan dengan periode pengamatan 3 tahun yaitu periode 2009-2011. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji f dan uji t. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa semua variabel berpengaruh signifikan positif terhadap return saham. Hasil penelitian secara simultan juga menunjukkan bahwa berpengaruh signifikan positif terhadap return saham. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan variabel EPS, PER, dan EVA berpengaruh terhadap return saham diterima.

Pelabelan total sisi ajaib pada graph (2n+1)P2 / Ika Rahmawati

 

Pelabelan pada suatu graph adalah pemetaan yang memetakan unsur-unsur pada suatu graph ke bilangan-bilangan yang biasanya bilangan-bilangan tersebut adalah bilangan bulat positif atau bilangan bulat non-negatif. Pelabelan total sisi ajaib pada graph G(V , E ) adalah fungsi bijektif f dari V È E ke {1,2,3,..., V È E }, sehingga untuk masing-masing sisi vivi+1diG berlaku ( ) + f v f (v v )+ ( )= , dengan k konstanta. Pelabelan total sisi ajaib I mi i+1 f vi+1 k dapat diartikan bahwa jumlah label suatu sisi dan label titik yang terkait langsung dengan sisi tersebut adalah sama atau konstan untuk semua sisi. Graph total sisi ajaib adalah graph yang dapat dikenakan pelabelan total sisi ajaib. Pada skripsi ini ditunjukkan bahwa graph (2n +1)P2merupakan graph yang dapat dikenakan pelabelan total sisi ajaib. Pelabelan total sisi ajaib pada graph (2n + P 1)2 ini dikerjakan dengan dua cara yaitu sisi terlebih dahulu yang dilabeli, dilanjutkan dengan titik dan titik terlebih dahulu yang dilabeli dilanjutkan dengan sisi. Dari pembahasan dan pengerjaan dua cara tersebut diperoleh pelabelan total sisi ajaib dengan konstanta ajaib yang sama yaitu k = 9n + 6 . Pelabelan total sisi ajaib pada graph (2n + P1)2 dengan dua cara pengerjaan di atas diimplementasikan ke dalam program komputer menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7.0.

Pengaruh penggunaan model daur belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X semester II tahun pelajaran 2004/2005 SMA Negeri 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit / oleh Dyah Novita Rahmawati

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe problem possing terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari motivasi siswa kelas X SMK Negeri 1 Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2009-2010 / Samsu Bashari

 

Program Studi: Pendidikan Fisika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro, M.Si., (2) Drs. Yudyanto, M.Si. Kata kunci: Kooperatif tipe problem possing, prestasi belajar Hasil penelitian terdahulu dan kajian teori menunjukkan bahwa pengaruh penerapan model kooperatif tipe problem possing pada pembelajaran fisika memiliki dampak yang sangat baik terhadap motivasi dan prestasi siswa. Salah satu keunggulan model kooperatif tipe problem possing adalah dapat dilakukan dengan memberikan orientasi permasalahan secara langsung terhadap siswa sesuai materi yang diajarkan dan siswa dapat mengamati sesuai dengan pengalaman sehari-hari dan sekaligus memecahkan masalah sendiri. Gejala yang ada dewasa ini banyak siswa memiliki pengetahuan faktual yang cukup tetapi gagal menggunakan pengetahuannya saat memecahkan masalah. Salah satu faktor yang ditengarai sebagai penyebab gagalnya pembelajaran di kelas adalah proses pembelajaran yang didominasi guru, model pembelajaran yang tidak mendukung aktifitas siswa maka perlu adanya perubahan model pembelajaran yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menguji perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional. 2) Menguji interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi 3) Menguji perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi tinggi. (4) Menguji perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi rendah. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, dengan variabel bebas model pembelajaran kooperatif tipe problem possing dan model konvensional, variabel terikatnya prestasi belajar dan sebagai variabel moderat adalah motivasi belajar. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri I Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2009-2010. Data dianalisis dengan statistik ANAVA dua jalur dan Uji Tukey. Pengujian hipoteis nol dilakukan pada taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan temuan-temuan sebagai berikut. 1) Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional. 2) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar. 3) Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi tinggi. (4) Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi rendah.

Pengaruh penggunaan model daur belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMAN 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan tahun pelajaran 2004/2005 pada materi pokok reaksi oksidasi reduksi / oleh Diana Firdaus

 

Pemetaan akuifer di Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen Malang dengan metode geolistrik tahanan jenis / Lina Khoiriyah

 

Kata Kunci: Metode Geolistrik, Tahanan Jenis, Akuifer, Desa Panggungrejo Air merupakan sumber daya alam yang mutlak dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Sumber daya air dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia di sektor pertanian, perkebunan maupun rumah tangga. Sekitar 0,75% dari jumlah air di bumi merupakan air tawar yang mendukung kehidupan makhluk hidup di darat, di danau, di sungai dan di dalam tanah. Untuk mendapatkan air tawar yang sangat diperlukan manusia tersebut tidaklah mudah. Keadaan ini mendorong dilakukannya penelitian tentang pemetaan akuifer. Penelitian ini dilakukan di desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen Malang. Pemetaan dilakukan di dua tempat, yang pertama dilakukan di sumber air pada koordinat 112o33’21.2” BT dan 08o08’38.3” LS dengan panjang lintasan 16 meter. Nilai resistivitas akuifer di daerah sumber dijadikan referensi untuk mengetahui nilai resistivitas di daerah pemukiman. Pemetaan ke dua dilakukan di daerah pemukiman tepatnya di lahan belakang rumah ibu Potani dan ibu Dul pada koordinat 112o33’30.6” BT, dan 08o08’36.6” LS dengan panjang lintasan 120 meter. Pemetaan akuifer dilakukan dengan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner. Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu cara dalam penelitian air tanah dengan metode pengukuran berdasar sifat-sifat listrik yaitu sifat tahanan jenis dari batuan di lapangan. Keunggulan metode ini adalah dapat digunakan untuk mengadakan eksplorasi dangkal yang tidak bersifat merusak dalam pendeteksiannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan interpretasi data dengan menggunakan Microsoft Excel dan inversi Res2Dinv didapatkan nilai resistivitas akuifer di daerah sumber air adalah 29,5-67,0 Ωm. Di daerah pemukiman, pada bentangan 34-82 meter dari titik nol pengukuran diduga memiliki potensi akuifer. Adapun posisinya adalah pada 42 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman 8,81-11,5 meter, pada 50-64 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman 4,98-9,71 meter, pada 78 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman 9,71-13,5 meter. Pada posisi tersebut nilai resistivitasnya sekitar 32,6-65,7 Ωm. Lokasi yang paling tepat untuk dijadikan sumur galian adalah lahan di belakang rumah ibu Potani dan ibu Dul pada posisi 50-64 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman sekitar 4,98-9,71 meter.

Pengembangan media pop up untuk pengenalan pakaian adat daerah Nusantara tema Kebutuhanku sub tema Pakaian Tradisional pada anak usia dini / Muhamad Ikhwan Nurdiansyah

 

ABSTRAK Nurdiansyah, M. Ikhwan. 2016. Pengembangan Media Pop Up Untuk Pengenalan Pakaian Adat Daerah Nusantara Tema Kebutuhanku Sub Tema Pakaian Tradisional Pada Anak Usia Dini.Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sulton, M.Pd., (II) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Media Pop Up, Pakaian Adat, Anak Usia Dini. Hasil observasi yang dilakukan di RA Perwanida 3 Malang, diketahuisiswa yang cenderung terlalu aktif dalam belajar sehingga kurang memperhatikan penjelasan guru dalam karena selama ini guru hanya menggunakan sumber belajar berupa buku yang masih berupa teks dan sedikit gambar. Sehingga menimbulkan kejenuhan yang berakibat perhatian siswa kurang fokus sehingga kurang memperhatikan penjelasan guru dalam belajar karena rancangan buku ajar yang kurang disesuaikan dengan materi akibatnya memungkinkan materi yang disampaikan tidak dapat diserap dengan maksimal oleh siswa. Media Pop Upmerupakan sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi. Pemanfaatan media pop up yang menarik sebagai sumber belajar yang menyenangkan, maka media pop up ini dikembangkan dengan menggunakan warna-warna yang cerah dan gambar-gambar yang menarik agar menarik ketertarikan pada anak. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa media pop up yang valid dan layak digunakan dalam pengenalan pakaian adat daerah di Indonesia. Selain itu media pop up ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber belajar yang menarik pada pengenalan pakaian adat daerah Nusantara tema kebutuhanku sub tema pakaian tradisional. Penelitian ini menggunakan model pengembanganSugiyono. Subjek penelitian dalam pengembangan ini adalah siswa TK-B di RA Perwanida 3 Malang. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif (instrumen ahli media, ahli materi, dan observer). Hasil pengembangan media pop uppengenalan pakaian adat daerah Nusantara telah divalidasi oleh seorang ahli media, seorang ahli materi, dan diujicoba implementasikan kepada 20 siswa. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh hasil persentase 83,75% di kategorikan valid, ahli materi diperoleh hasil persentase 87,50%di kategorikan valid. Uji coba lapangan didapat kesimpulan bahwa dari segi kemenarikan sudah terpenuhi dan dari segi efektivitas hasil belajar diperoleh total persentase 96,25%. Dapat disimpulkan bahwa media popyang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Agar produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran, maka ada beberapa saran yang terkait dengan media pop up. Peran guru dibutuhkan untuk menjelaskan media pop up untuk pengenalan pakaian adat daerah Nusantara kepada siswa. Sebelum disebarluaskan sebagai media penunjang pembelajaran sebaiknya disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait seperti guru TK dan sekolah untuk memperoleh pengakuan dan perijinan sebagai media yang valid dan layak digunakan.

Pengaruh metode pembelajaran inkuiri terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas II MAN I Bojonegoro pada pokok bahasan sistem koloid / Luthfi Fathurrahman

 

Pengaruh current ratio, tingkat suku bunga, dan beta akuntansi terhadap beta saham syariah di BEI tahun 2007-2009 / Alief Nur Rohmad

 

Kata Kunci: Current Ratio, Suku Bunga, Beta Akuntansi, dan Beta Saham Berkembangnya pasar modal dan kondisi perekonomian, berdampak pada resiko yang akan diterima oleh investor. secara teori resiko dibagi menjadi dua yaitu resiko unsistematis yang dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan dan resiko sistematis yang dipengaruhi oleh faktor eksternal perusahaan. terdapat ketidak konsistenan teori resiko sitematis yang dikemukakan oleh Jogiyanto. Teori tersebut menyatakan bahwa, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi beta saham seperti rasio likuiditas, Tingkat suku bunga dan beta akuntansi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh current ratio, tingkat suku bunga dan beta akuntansi, sehingga informasi tersebut dapat mempengaruhi besarnya beta saham syariah secara parsial dan simultan Populasi yang digunakan adalah semua perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2007-2009 yaitu sebanyak 78 perusahaan, dimana dari populasi tersebut terpilih 12 perusahaan sebagai sampel yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan, beberapa situs resmi penyedia data saham perusahaan dan data lainnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda, uji asumsi klasik serta uji hipotesis dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial current ratio berpengaruh negatif tidak signifikan, dengan korelasi bernilai negatif dengan signifikansi 0,939. Beta akuntansi secara parsial juga berpengaruh positif tidak signifikan dengan korelasi yang bernilai negatif dengan tingkat signifikan 0,269. Tingkat suku bunga secara parsial juga berpengaruh negatif tidak signifikan, dengan korelasi bernilai negatif dengan signifikansi 0,007. Sedangkan hasil penelitian ini secara simultan ketiga variabel independen tersebut memiliki pengaruh terhadap beta saham syariah dengan nilai signifikan 0.038 Berdasarkan penelitian ini maka disarankan investor dapat menggunakan variabel lain untuk menganalisis faktor yang menmpengaruhi beta saham. Untuk peneliti selanjutnya dapat menambah periode pengamatan serta sampel mengingat periode pengamatan yang dilakukan hanya tiga tahun dan terfokus pada perusahaan yang listing di JII

Penerapan strategi diferensiasi produk pada Jawa Pos Radar Malang / Deni Irfayanti

 

Kata Kunci: startegi diferensiasi, produk Globalisasi ditandai dengan dimulainya era perdagangan yang tidak mengenal batas-batas negara. Untuk menghadapi suatu persaingan yang ketat tersebut dibutuhkan manajemen yang handal dan mampu mengantisipasi pada semua persaingan. Pada dasarnya keberhasilan suatu perusahaan di dalam memproduksi dan memasarkan produknya sangat ditentukan oleh ketepatan strategi yang dipakai oleh perusahaan. Strategi adalah suatu kesatuan rencana perusahaan yang menyeluruh untuk mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang. Strategi yang harus digunakan oleh perusahaan agar produk yang dipasarkan lebih menarik dan berbeda adalah dengan diferensiasi produk atau biasa disebut sebagai memodifikasi produk. Unsur-unsur strategi adalah ruang lingkup tujuan dan sasaran, pengalokasian sumber daya, identifikasi keunggulan kompetitif yang layak, dan strategi diferensiasi yang sudah dilakukan dalam perusahaan tersebut. Untuk itu perusahaan perlu memahami kompetensi inti di dalam memiliki keunggulan dibandingkan para pesaing. Strategi yang memiliki ciri ini sering disebut sebagai srategi diferensiasi, yang meliputi strategi produk, personalia,citra dan pelayanan. Melalui strategi yang tepat maka akan dimungkinkan dapat dicapainya nilai kepuasan seperti yang diharapkan. Untuk melakukan diferensiasi perusahaan harus mencoba mengidentifikasi cara-cara spesifik yang menjadi suatu pembeda untuk mencapai keunggulan kompetitif. Karena dengan melakukan diferensiasi ini akan membuat produk atau jasa yang ditawarkan menjadi unik dipasar. Kalau produk yang ditawarkan berbeda dengan produk yang ada dipasaran, pelanggan akan bersedia membayar lebih mahal untuk menikmati perbedaan tersebut. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan dan mendapat laba yang besar sehingga kemajuan perusahaan akan menjadi nyata. Dalam penyusunan tugas akhir yang dimulai dari PKL, yang dilaksanakan mulai tanggal 7 Januari sampai 7 Maret 2011, penulis berusaha untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan strategi diferensiasi Jawa Pos Radar Malang. Tujuan yang ingin dicapai dari strategi diferensiasi dari Jawa Pos Radar Malang, serta kelebihan dan kekurangan dari strategi tersebut. Dengan hasil laporan ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan dan identifikasi pasar yang paling potensial untuk dikembangkan. Sehingga dapat mengembangkan Jawa Pos Radar Malang, serta lebih memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Pembuatan adsorben silika-selulosa. silika-selulosa-surfaktan, dan aplikasinya sebagai adsorben rhodamin B, tartrazin, dan campurannya / Setyowati Dewi Yulandari

 

ABSTRAK Yulandari, Setyowati Dewi. 2016. Pembuatan Adsorben Silika-Selulosa, Silika-Selulosa-Surfaktan, dan Aplikasinya sebagai Adsorben Rhodamin B, Tartrazin, dan Campurannya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. Kata kunci: adsorpsi, rhodamin B-tartrazin, silika-selulosa, silika-selulosa-surfaktan, surfaktan. Adsorben silika-selulosa mampu menyerap dan memisahkan campuran rhodamin B dan tartrazin. Sifat kepolaran silika-selulosa lebih rendah jika dibandingkan dengan silika gel, sehingga menghasilkan keterpisahan yang lebih baik. Berdasarkan penelitian sebelumnya, adsorben silika gel dapat ditambahkan dengan surfaktan n-CTMABr sehingga mampu meningkatkan daya adsorpsi terhadap rhodamin B, tartrazin, dan campurannya. Daya adsorpsi silika-selulosa dan silika-surfaktan belum memperoleh hasil yang baik sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu dengan pembuatan adsorben baru, yaitu silika-selulosa-surfaktan. Tujuan penelitian adalah (1) membuat adsorben silika-selulosa, dan silika-selulosa-surfaktan, (2) menguji keterpisahan antara campuran rhodamin B dan tartrazin dalam eluen etanol, metanol, dan surfaktan dalam etanol dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT), (3) mengetahui keterserapan rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode Batch dalam adsorben silika-selulosa, dan silika-selulosa-surfaktan. Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu (1) pembuatanadsorben silika-selulosa dan silika-selulosa-surfaktan yang masing-masing diperoleh dari ekstraksi silika sekam padi, hidrolisis selulosa nata de coco, dan perpaduan dengan surfaktan n-CTMABr, (2) karakterisasi adsorben, (3) aplikasi kemampuan adsorben dalam memisahkan rhodamin B dan tartrazin dalam berbagai eluen, (4) aplikasi kemampuan adsorben dalam mengadsorpsi rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode Batch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil karakterisasi uji fisik adsorbenyang meliputi kadar air, kadar abu, massa jenis, dan daya serap terhadap iod pada silika-selulosa-surfaktan lebih besar dibandingkan dengan silika-selulosa, namun hasil karakterisasi BET menunjukkan bahwa silika-selulosa memiliki luas permukaan, diameter pori, dan volume pori lebih besar daripada silika-selulosa-surfaktan, (2) kedua adsorben mampu memisahkan campuran rhodamin B dan tartrazin, namun silika-selulosa-surfaktan menghasilkan pola keterpisahanyang lebih baik pada eluen surfaktan dalam etanol, (3) silika-selulosa-surfaktan dapat mengadsorpsi rhodamin B, tartrazin, dan campurannya lebih baik dibandingkan silika-selulosa.

Pengembangan bahan ajar tata bahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand tingkat pemula / Miss Kholiyoh Salaeh

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo Hs, M. Pd, (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M. Pd. Kata Kunci: Bahan ajar tatabahasa, pembelajar Thailand tingkat pemula. Bahan ajar adalah salah satu komponen inti dalam sistem pembelajaran. Bentuk atau wujud bahan ajar sangat menentukan tercapainya keberhasilan tujuan pembelajaran. Karakteristik pembelajaran BIPA berbeda dengan karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia umum (Bahasa Indonesia bagi penutur Indonesia). Perbedaan mendasar antara BIPA dan bukan BIPA (bahasa Indonesia umum) terletak pada komponen pembelajarnya. Pembelajar BIPA adalah orang asing, sedangkan pembelajar BI umum adalah orang Indonesia. Pembelajar Thailand yang belajar bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam mempelajari tata bahasa Indonesia karena struktur dan tipe tata bahasa Indonesia dengan bahasa Thai sangat berbeda. Bahan ajar khusus tata bahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand belum pernah disusun sebelumnya. Untuk mensiasati masalah kesulitan tersebut, peneliti mencoba mengembangkan sebuah produk bahan ajar tatabahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand tingkat pemula. Penelitian ini untuk mengembangkan materi ajar berupa, bentuk produk penyajian materi tata bahasa, dan kerelevansian materi tata bahasa dengan kebutuhan pembelajar Thailand tingkat pemula. Model yang digunakan dalam penelitian ini model pengembangan R2D2 (reflective, recursive, design and development) yang diadopsi dari model R2D2 Jerry Willis (1995, 2000). Model ini bekerja berdasarkan tiga kegiatan pokok, yaitu: 1) kegiatan pendefinisian 2) kegiatan perencanaan dan pengembangan, dan 3) kegiatan penyebarluasan. Dalam kegiatan pendefinisian, peneliti melakukan tiga kegiatan. Ketiga kegiatan itu adalah (1) membentuk tim partisipatif, tim partisipatif terdiri dari tujuh orang, yaitu peneliti sendiri, satu orang pengajar, empat orang pembelajar Thailand, satu orang pakar BIPA, satu orang pakar bahan ajar. (2) pemecahan masalah berkelanjutan dan (3) pemahaman konteks dengan mengajak tim partisipatif memasuki konteks BIPA. Dalam perancangan dan pengembangan, peneliti juga melaksanakan lima kegiatan, yaitu: (1) pemilihan lingkungan pengembangan (membatasi lingkungan pengembangan bahan ajar BIPA yang digunakan di Indonesia, khususnya program BIPA FS UM), 2) memilih format media pengembangan berupa buku teks, dan 3) pemilihan strategi evaluasi, (4) Desain pengembangan produk, dan (5) Prosedur pengembangan produk hingga tersusun produk akhir. Prosedur pengembangan produk meliputi a) pengembangan bahan ajar, b) uji coba, c) refleksi dan rekursi yang dilakukan secara berulang sehingga tersusun produk akhir. Penelitian ini belum menjangkau upaya penyebarluasan yang sesungguhnya, misalnya menggandakan produk dalam jumlah yang banyak untuk disebarkan ke lingkup pemakaian yang lebih luas. Produk akhir pengembangan hanya akan disebarluaskan dilingkungan terbatas di mana pembelajar Thailand belajar Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya sebuah produk bahan ajar tata bahasa Indonesia sebagai bahan ajar tambahan/pendamping bagi bahan ajar utama yang telah digunakan untuk pembelajar Thailand di kelas. Produk akhir ini dapat menfalisitasi pengajar dan pembelajar dalam kegiatan belajar mengajar di BIPA. Bahan ajar ini terdiri dari 10 pelajaran. Setiap unit dibutuhkan proses KBM selama 120 menit (2 jam). Komponen bahan ajar berupa 1) konsep materi, 2) ilustrasi penggunaan, dan 3) latihan-latihan. Bahan ajar tata bahasa Indonesia bagi pembelajar Thailand tingkat pemula ini memiliki konten materi yang terdiri atas sepuluh bagian. Kesepuluh bagian tersebut adalah 1) pengenelan huruf alfabet dalam bahasa Indonesia, 2) jenis kata dalam bahasa Indonesia, 3) kata tanya, 4) kata bilangan, 5) kata ganti nama 6) kata perintah, 7) Penanda aspek, 8) konjungsi, 9) kata kerja berawalan me[N]-, ber-, di, memper, diper, dan 10) akhiran –kan dan i-. Bahan ajar ini disusun untuk melibatkan respon pengguna secara aktif. Produk bahan ajar ini juga terkategorikan sebagai tutorial mandiri. Pembelajar tingkat lanjut dapat menggunakan bahan ajar secara mandiri. Konsep materi tatabahasa diterjemahkan ke dalam bahasa Thai. Contoh/ilustrasi yang disajikan mencerminkan penggunaan kalimat yang digunakan sehari-hari.

Peningkatan hasil belajar siswa melalui metode mind mapping dalam pembelajaran IPS kegiatan ekonomi masyarakat kelas V di SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar / Niken Wiyanti

 

Kata kunci : hasil belajar siswa, mind mapping. Hasil observasi penelitian diketahui bahwa pada semester I tahun pelajaran 2010-2011 hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS hanya mencapai rata-rata 57,5 paling rendah bila dibandingkan dengan nilai rata-rata mata pelajaran lain. Dari 11 siswa, terdapat 3 siswa mendapat nilai 55, 2 siswa 50 dan 1 siswa mendapat nilai 48. Dalam kegiatan pembelajaran hanya beberapa anak saja yang antusias memperhatikan, sedangkan yang lain asyik berbicara sendiri bahkan ada berapa anak yang menyandarkan kepala di meja. Jarang dijumpai siswa mencatat materi yang diterangkan oleh guru, sering kali jika tidak diminta mencatat materi yang ditulis guru di papan tulis siswa tidak akan menulis. Tujuan penelitian sesuai dengan rumusan masalah adalah sebagai berikut. (1) Untuk mendeskripsikan penerapan metode mind mapping dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS Kelas V Di SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar pada setiap siklus. (2) Untuk mengetahuai hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS Kelas V di SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar dari penggunaan metode mind mapping. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitiannya yaitu siswa kelas V SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar yang berjumlah 11 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Setelah menggunakan metode mind mapping pada siklus I,hasil belajar siswa mencapai yaitu nilai rata- rata 56,3 sedangkan pada siklus II mencapai rata-rata 63,3 sehingga dapat diketahui hasil belajar siswa meningkat 7,3. Peningkatan aktivitas belajar dari pra tindakan dan siklus I sebanyak 14,2. Pada siklus II aktivitas belajar siswa menjadi 76,5, peningkatan 21,8 dari pra tindakan,dan peningkatan 7,6 dari siklus I. Berdasarkan peningkatan hail belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode mind mapping yang di laksanakan dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN Bajang 03. Untuk itu, hendaknya para guru lebih aktif dan kreatif dalam menggunakan metode mind mapping dalam pembelajaran IPS, sehingga anak menjadi lebih aktif dan hasil belajarnya meningkat maksimal.

Dampak pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan terhadap kehidupan masayarakat Desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Fatriyani

 

ABSTRAK Fatriyani. 2016. Dampak Pembangunan Jalan Tol Alternatif Gempol-Pasuruan Terhadap Kehidupan Masyarakat Desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si (2) Yuniastuti, S.H, M.Pd. Kata kunci: Pembangunan, Jalan tol, Dampak bagi Masyarakat. Pembangunan pada hakikatnya merupakan suatu upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk peningkatan daya saing ekonomi, dan kemampuan dalam IPTEK, serta tetap memperhatikan kualitas lingkungan hidup. Pembangunan jalan tol yang dilakukan di desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam bidang infrastruktur untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar, dan juga sebagai alat untuk mendekatkan pasar-pasar produksi dengan daerah pasar karena diketahui bahwa daerah Pasuruan sendiri yang sebagian besar merupakan wilayah industri dengan berbagai macam produksi. Selain itu adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan ini juga untuk mengurangi kemacetan yang sering terjadi di wilayah Pasuruan. Rumusan penelitian ini mencakup (1) latar belakang diadakannya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; (2) dampak positif dan negatif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan terhadap kehidupan masyarakat Desa Gununggangsir; (3) kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; dan (4) upaya mengatasi kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal meliputi (1)latar belakang diadakannya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; (2) dampak positif dan negatif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan terhadap kehidupan masyarakat desa Gununggangsir; (3) kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; dan (4) upaya untuk mengatasi kendala yang ada dalam pembangun jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang membahas menjabarkan tentang dampak pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di dusun Pajejeran dan dusun Kepuhrejo desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Teknik pengunpulan data yang digunakan adalah (1) pengamatan; (2) wawancara; (3) dokumentasi; (4) catatan lapangan; dan (5) penggunaan dokumen. Kemudian data yang diperoleh dalam penelitian diolah dengan dianalisis menggunakan beberapa cara seperti: (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) pemrosesan satuan; (4) kategorisasi; dan (5) verifikasi/ penafsiran data. Tahap-tahapan yang dilakukan dalam proses penelitian ini meliputi: (1) Tahapan pra lapangan; (2) Tahapan pekerjaan lapangan; (3) Tahap analisis data; dan (4) Tahap penulisan laporan. Hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan yaitu (1)Latar belakang diadakannya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan adalah kebutuhan prasarana umum yang dapat menunjang aktivitas masyarakat dengan tujuan untuk memperlancar arus lalu lintas dan perdagangan ataupun kegiatan lain yang melintasi Surabaya, Gempol, Pandaan, Pasuruan, Probolinggo, sampai Banyuwangi dan sekitarnya karena wilayah desa Gununggangsir yang strategis untuk dijadikan salah satu arus lintasan tersebut. (2)Dampak positif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan bagi masyarakat desa Gununggangsiradalah adanya kemudahan akses lalu lintas bagi masyarakat, sebagai alat penunjang aktivitas masyarakat maupun industri baik dari segi ekonomi maupun sosial, dan adanya renovasi makam sesepuh dusun Kepuhrejo pasca pembangunan tol ruas Gempol-Pasuruan yang nantinya dapat dijadikan aset desa sebagai salah satu destinasi atau lokasi pariwisata religi. (3)Dampak negatif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan bagi masyarakat desa Gununggangsiradalah berupa getaran, debu akibat aktivitas tol maupun kendaraan yang digunakan dalam proyek terutama ketika musim kemarauserta jalanan menjadi becek ketika musim hujan. Selain itu dampak negatif yang lain di dusun Pajejeran yaitu adanya penutupan jalan warga oleh pihak tol tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu, kemudian dampak negatif yang dialami masyarakat dusun Kepuhrejo yaitu kehilangan salah satu aset dusun yaitu pemandian atau sumber peninggalan purbakala yang ditimbun oleh pihak tol untuk digantikan dengan badan tol ruas Gempol-Pasuruan. (4) Kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan adalah berupa pembebasan lahan di dusun Kepuhrejodan sistem sewa yang berlaku bagi pihak tol kepada perusahaan terkait setiap aktivitas tol dilakukan. Kemudian kendala yang bagi warga yaitu terhambatnya aktivitas mereka karena kondisi jalan yang kurang layak, selain itu untuk dusun Pajejeran sendiri yaitu karena adanya penutupan salah satu jalan dusun membuat warga terhambat, selain mengakibatkan jalan menjadi menikung juga berdampak pada jalan yang rawan kecelakaan. Bagi pihak tol sendiri dengan adanya penutupan tersebut memberikan kendala besar karena protes dari warga setempat yang mengakibatkan dilakukannya penghentian sementara. (5) Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak tol untuk menanggulangi yaitu dengan mempertanggungjawabkan kesepakatan yang telah dibuat serta menjawab tuntutan masyarakat yang ada. Untuk kendala seperti debu, getaraan dan lainnya pihak tol telah memberikan kompensasi, dan untuk di dusun Kepuhrejo pihak tol diharapkan dengan bijaksana dapat mengambil kesepakatan untuk segera dialakukannya pembebasan lahan yang masih ada serta segera memenuhi janjinya merenovasi makam sesepuh untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi.

Pengaruh model pembelajaran dan kemampuan awal terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen pada materi kesetimbangan kimia / Nur Candra Eka Setiawan

 

Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed dan (2) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc, Ph.D Kata kunci: model pembelajaran, kemampuan awal, hasil belajar kimia, kemampuan berpikir tingkat tinggi Guru-guru di SMAN 1 Turen telah mencoba menerapkan model-model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun masih mengalami kendala dalam implementasinya. Peningkatan kualitas pembelajaran yang menekankan pembelajaran proses dapat dilakukan dengan memberi pengalaman kerja ilmiah kepada siswa. Pengalaman kerja ilmiah siswa yang diterapkan melalui model pembelajaran siklus belajar tipe hypothetical-deductive (HDLC), kooperatif tipe student teams achievement divisions (STAD) dan metode pembelajaran langsung (MPL) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dampak penggunaan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL berdasarkan kemampuan awal siswa pada materi pokok kesetimbangan kimia terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dengan desain faktorial 3 × 2. Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Turen, sampel penelitian dipilih dengan teknik cluster random sampling terdiri atas 3 kelas yaitu kelas XI IPA 2 (36 siswa) sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran HDLC, kelas XI IPA 3 (36 siswa) sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran STAD dan kelas IX IPA 4 sebagai kelas yang dibelajarkan dengan MPL. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa 30 soal valid dengan validitas isi dari instrumen tersebut sebesar 95,3% dan reliabilitas 0,917. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan program Statistical Package for Social Sciences versi 16.0 for windows pada taraf signifikan α = 0,05 dengan uji anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL pada materi pokok Ketimbangan Kimia kelas XI SMAN 1 Turen; (2) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah pada materi pokok Kesetimbangan Kimia kelas XI SMAN 1 Turen; dan (3) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL dengan memperhatikan kemampuan awal siswa.

Promosi, kendala, dan solusi di Perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang / Moh. Zawawi

 

ABSTRAK Zawawi, Mohammad. 2015. Promosi, Kendala dan Solusi di Perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Tugas Akhir, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. KusubaktiAndajani, M.Pd. (II) Drs. Hari Santoso, S.Sos. Kata Kunci: Promosi, Perpustakaan Promosi perpustakaan merupakan usaha untuk meningkatkan pemustaka datang ke perpustakaan bisa dengan cara membujuk, menginformasikan dan merayu demi mendorong suksesnya sebuah perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang menerapkan promosi ialah perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian yang berkaitan tentang promosi perpustakaan di perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang belum ada. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai promosi yang dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tiga hal, yang mencangkup usaha promosi yang sudah dilakukan, kendala apa saja yang dihadapi ketika melakukan promosi, upaya pemecahan masalah terhadap kendala yang telah dihadapi dalam melakukan promosi perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa paparan dalam bentuk verbal mengenai promosi perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Pengumpulan data di lakukan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan ialah menggunakan wawancara terstruktur dan participant observation (observasi berperan serta). Analisisdata dimulai dengan cara menginterpretasikan data berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan dan wawancara dengan landasan teori yang ada. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama promosi yang dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang menggunakan teknik periklanan dan publisitas. Periklanan dilakukan melalui dua media yaitu media cetak dan media elektronik/non cetak. Media cetak yang dilakukan dalam melakukan promosi yaitu spanduk, x banner dan newsletter. Media elektronik/non cetak yang dilakukan yaitu internet dan penayangan video. Teknik publisitas yang dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang sebagai berikut penayangan buku baru, mengikutsertakan pemustaka dalam pengusulan buku baru, pemaparan sertifikat, seminar, pengadaan bazar atau pameran dan penyelenggaraan pendidikan pemakai. Kedua, kendala yang dihadapi perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang ketika melakukan promosi dibagi menjadi dua kendala dari luar dan dalam. Kendala dari dalam antara lain pandangan tradisional pemustaka, pengetahuan pustakawan mengenai promosi, kendala dana dan kurangnya kerjasama antar pustakawan. Untuk kendala dari luar, komitmen dari pimpinan, kendala dengan staf pengajar dan manajemen perpustakaan. Ketiga, solusi pemecahan masalah yang sudah dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruan Malang dalam mengatasi kendala yang ada sebagai berikut (1) perpustakaan akan membuat komitmen dari semua pihak supaya tidak lagi ada salah paham yang berkelanjutan; (2) untuk permasalahan dengan pimpinan pustakawan akan berusaha semakin giat dalam menunjukkan kinerja yang terbaik; (3) solusi buat persepsi orang yang negatif maka harus meneliti dulu kebutuhan mereka; (4) solusi untuk dengan staf pengajar nanti diberikan dalam evaluasi ke pimpinan dan akan membuat kebijakan baru dengan ada masalahnya seperti ini; (5) kekurangan keefektifan pada waktu P3T akan dirundingkan supaya lebih efektif pada waktu seminar ketika bertemu kepala prodi serta para dosen; dan (6) solusi dari dana pustakawan akan anggarkan buat promosi tahun depan karena dirasa sangat penting untuk menunjang minat kunjung pemustaka. Untuk sementara ini pustakawan menggunakan uang denda digunakan dalam melakukan promosi perpustakaan.

Peningkatan hasil belajar seni tari menyususn sinopsis tari kreasi tunggal melalui metode kooperatif model think pair share pada kelas X-Pemasaran SMK Ahmad Yani Gurah Kabupaten Kediri / Jamil Malika Ulum

 

ABSTRAK Ulum, Jamil Malika. 2016. Peningkatan Hasil Belajar Seni Tari Menyusun Sinopsis Tari Kreasi Tunggal Melalui Metode Kooperatif Model Think Pair Share pada Kelas X-Pemasaran SMK Ahmad Yani Gurah Kabupaten Kediri. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd, (II) Rully A Zandra, M.Sn, M.Pd. Kata Kunci: Hasil belajar, seni tari, sinopsis tari kreasi, TPS, SMK, Kediri. Data awal yang diperoleh diketahui bahwa hasil belajar seni tari menyusun sinopsis tari kreasi siswa kelas X-Pemasara SMK Ahmad Yani Gurah belum mencapai KKM. Penyebab rendahnya nilai siswa yaitu guru belum menggunakan metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diberikan. Upaya yang dilakukan adalah menggunakan strategi atau model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik masalah. Peneliti menggunakan metode kooperatif model TPS sesuai karakteristik permasalahan, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar seni tari menyusun sinopsis tari kreasi tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode kooperatif model TPS yang dapat meningkatkan hasil belajar menyusun sinopsis tari kreasi tunggal berdasarkan tari Nusantara pada siswa kelas X-Pemasaran di SMK Ahmad Yani Gurah Kediri. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode penelitian PTK, mengacu pada model siklus oleh Arikunto. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi dengan menggunakan dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan siklus I, nilai rata-rata ranah afektif 88,3 dan kognitif 67,8, sedangkan nilai ketuntasan belajar secara klasikal ranah afektif 80,5% dan kognitif 20,7%. Ketercapaian guru dalam menerapkan metode kooperatif model TPS sebesar 84,37%. Siklus II, nilai rata-rata ranak afektif 94,2 dan kognitif 87, sedangkan nilai ketuntasan belajar ranah afektif 91,5% dan kognitif 90%. Ketercapaian guru dalam menerapkan metode kooperatif model TPS sebesar 93,75%. Indikator ranah afektif yaitu jujur, disiplin, dan tanggungjawab. Indikator ranah kognitif yaitu pengertian, tujuan, tahapan menyusun, contoh, dan membuat sinopsis tari kreasi tunggal. Siswa dikatakan tuntas belajar jika mendapat skor 75 atau di atas 75. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan metode kooperatif model TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi menyususn sinopsis tari kreasi berdasarkan tari Nusantara. Hasil yang dicapai yaitu hasil belajar nilai rata-rata dan nilai ketuntasan siswa yang meningkat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 |