Utilizing semantic mapping strategy to improve the reading comprehension of the eight graders of SMPN 1 Bunyu / Wahyudi

 

Thesis. Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Yazid Basthomi, M.A. (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd., M.Ed. Key Words: semantic mapping, reading comprehension. The fact that emerged from the teaching of English at SMP Negeri 1 Bunyu, especially the teaching of reading comprehension, is the low ability of the students in comprehending reading texts. The observation result showed that: (1) the students found difficulties in understanding English texts, (2) the students’ motivation in learning English was low, (3) the teachers’ was monotonous teaching, and (4) the reading activities were dominated by a small minority of the best students. To cope with the problems, the researcher applies the Semantic Mapping Strategy. With such a learning strategy, it is expected that the students’ reading comprehension could be improved. This study is designed to investigate how semantic mapping strategy improves the students’ reading comprehension. It aims at finding out how the semantic mapping strategy can be used to improve the students’ reading comprehension at SMP Negeri 1 Bunyu. The study employed a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, implementing the action, analyzing the data and doing the reflection. The subjects of this research were 22 eighth graders of SMP Negeri 1 Bunyu, Bulungan regency, East Kalimantan in the academic year of 2010/2011. This study was conducted in a cycle, following the procedure of action research namely: (1) planning, (2) implementing, (3) observing, and (4) reflecting. This study was conducted in two cycles, each cycle of the study comprises two meetings and followed by evaluation on the result by did a test. The data of this study were obtained through (1) observation guidelines, and checklist, (2) interview, and (3) the students’ test results. They were taken during the implementation of the action. The findings show that the implementation of semantic mapping strategy in the teaching-learning of reading comprehension can improve the students’ reading comprehension. The students’ mean score increased from 76.67 in the first test to 77.50 in the second test. The study also shows that the appropriate procedures of implementing the semantic mapping strategy in the teaching-learning of reading comprehension of the study were (1) explaining the students to the objectives of learning (2) gearing the students to the topic by asking questions and by using media, (3) brainstorming, (4) making a semantic map in the pre-reading activity, (5) classifying information, (6) grouping the students, (7) finding Indonesian equivalence of unfamiliar words, (8) discussing the text, (9) identifying the main and supporting ideas, (10) making a semantic map in the post-reading activity, (11) guiding the students to share and complete the map, (12) checking the students’ works, and (13) administering a formative test about the text. It also shows that the students were really interest and courage to do the reading activities during the action, and that they give a positive perception. Thus the students’ involvement in teaching-learning process through the appropriate procedure of semantic mapping strategy improved. Based on the findings, some suggestions are made. First, it is recommended the teachers apply this strategy as one of the alternatives used in the teaching of reading comprehension. It is suggested that teachers make a well-prepared lesson plan which focuses on the selection of the instructional material and media as well as the time allotment. In the pre-reading activity, the teachers encourage the students to make a semantic map of their own version if they are already familiar with this strategy. In the whilst-reading activity, it is proposed to assign the students to make a semantic map in pairs or individually. In the post-reading activity, they should display or publish the students’ work as the benchmark on the class wall or in the school paper. Moreover, in the evaluation/assessment stage, it advisable for teacher to make the evaluation on the process and the evaluation on the result, and to design subjective test to measure the students’ achievement. Second, for the future researcher, it is suggested that they use the result of this present study as their reference.

Penggunaan media gambar seri dalam meningkatkan ketrampilan bercerita pada anak kelompok A TK al Hidayah 01 Talun / Siti Julaikah

 

Kata kunci : ketrampilan, media gambar seri, bercerita Penelitian ini berlatar belakang pada saat pembelajaran bercerita tentang diri anak atau pengalaman yang dialami anak. Anak-anak kurang menyukai kegiatan bercerita, karena menganggap bercerita itu hal yang sulit. Ada sebagian anak sudah mampu bercerita walaupun masih terpatah-patah, bahkan ada yang diam tanpa sepatah katapun. Bercerita dengan menggunakan alat peraga masih jarang dilakukan oleh guru, khususnya media gambar seri. Penelitian ini untuk menjawab rumusan masalah penggunaan media gambar seri dalam meningkatkan ketrampilan bercerita dan media gambar seri dapat meningkatkan ketrampilan bercerita pada anak Kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun. Penelitian ini dilakukan di TK Al Hidayah 01 Talun. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) model siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media gambar seri dalam meningkatkan ketrampilan bercerita di TK Al Hidayah 01 Talun sangat membantu anak. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan nilai proses dari pratindakan sampai siklus II, mengalami kenaikan 30,9% dengan rincian sebagai berikut : pra tindakan 33,3%, siklus I 64,2%, dan siklus II 77,6%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkat melalui kegiatan bercerita dengan gambar seri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan ketrampilan bercerita anak melalui kegiatan berbagi dan bertanya. Dengan melakukan tanya jawab, menggunakan media gambar seri yang diberikan guru dan dapat melatih untuk menuangkan ide dan inspirasinya melalui gambar seri, dan disarankan bahwa kegiatan bercerita menggunakan media gambar seri dapat diterapkan untuk meningkatkan ketrampilan bercerita anak. Media gambar seri yang digunakan hendaknya bisa menarik agar anak mempunyai minat untuk bercerita. Guru lebih mempersiapkan kelengkapan belajar agar suasana kelas dapat terkondisikan dengan baik sehingga apa yang disampaikan dapat dimengerti anak. Guru harus memotivasi anak agar percaya diri untuk melakukan sesuatu yang baru.

Penerapan model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Bareng 3 Kota Malang / Ferid Aquarista

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran PBI, aktivitas, hasil belajar, mata pelajaran PKn PKn merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting karena berhubungan dengan sikap atau mental anak dimasa yang akan datang. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran PKn harus dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa di SDN Bareng 3 Kota Malang belum menerapkan model PBI. Proses pembelajaran PKn menghendaki pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran, dan dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung selama pembelajaran tersebut, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan model PBI, peningkatan proses dan hasil belajar setelah menggunakan model PBI. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian kualitatif Interaktif. Subyek penelitian ini adalah 38 siswa kelas V B SDN Bareng 3 Kecamatan Klojen Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap guru kelas V B SDN Bareng 03 Kota Malang (arsip nilai yang dimiliki guru) juga menunjukkan bahwa, dari 38 siswa yang mendapatkan nilai diatas 75 hanya 18 anak (45%), sedangkan yang dibawah SKM sebanyak 20 anak (55%). Hasil temuan penilitian ini mengacu pada paparan data, yang menggambarkan secara umum, penerapan model PBI pada mata pelajaran PKn dapat meningkatkan kualitas pembelajaran tentang materi "organisasi" di SDN Bareng 3 Malang. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran PBI menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan dari 63,25 pada observasi awal menjadi 73,95 pada tindakan siklus I. Sedangkan peningkatan rata-rata dari siklus I ke siklus II meningkat dari 73,95 menjadi 83,65. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Bareng 3 Kecamatan Klojen Kota Malang, materi pokok Organisasi. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapankan guru menerapkan pembelajaran PBI pada mata pelajaran PKn sehingga siswa dapat merubah tingkah lakunya, memahami masalah sosial yang ada di lingkungannya serta dapat menyelesaikan tugas dan penilaian yang dilakukan oleh guru.

Penggunaan balanced scorecard sebagai alat pengukuran kinerja manajemen RSUD Blambangan Banyuwangi / Bram Johanis

 

Kata kunci: Pengukuran Kinerja, Balanced Scorecard, Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan, Perspektif Proses Bisnis Internal, Perspektif Pertumbuhan Dan Pembelajaran. RSUD Blambangan merupakan organisasi publik yang melayani masyarakat pada bidang pelayanan kesehatan di Kabupaten Banyuwangi. Sebagai rumah sakit pemerintah RSUD Blambangan dituntut untuk selalu memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat sebagai konsekuensi logis dari penjabaran visi, misi, serta tujuan strategis RSUD Blambangan agar mampu menghadapi persaingan di tahuntahun mendatang sehingga diperlukan adanya kemampuan evaluasi kinerja. Salah satu cara mengevaluasi kinerja organisasi secara komprehensif adalah melalui metode balanced scorecard. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi, survei, dan wawancara. Tahapan dalam analisis data adalah menilai kinerja manajemen melalui teknik analisis rasio dan hasil survei. Hasil yang telah dianalisis kemudian dikombinasikan dengan data yang didapatkan melalui wawancara pada pihak manajemen RSUD Blambangan untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai kinerja manajemen dari berbagai perspektif. Setelah itu dilakukan telaah mendalam hasil kinerja yang telah dianalisis melalui peraturan dan teori mengenai penyelenggaraan good governance. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja RSUD Blambangan pada perspektif keuangan pada tahun 2010 mengalami peningkatan melalui indikator sales growth rate tetapi mengalami penurunan pada indikator return on investment dan rasio kemandirian. Penurunan baik indikator return on investment dan rasio kemandirian disebabkan oleh penurunan surplus dan meningkatnya total belanja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penurunan nilai pada perspektif keuangan disebabkan oleh meningkatnya total belanja pada tahun 2010. Peningkatan total belanja paling besar ditunjukkan pada dua akun belanja yaitu belanja bahan/material dan belanja jasa kantor. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 manajemen RSUD Blambangan mengalokasikan sebagian total belanja pada kegiatan investasi dan perbaikan serta peningkatan jasa administrasi. Pencapaian kinerja pada perspektif keuangan dan kebijakan yang diambil melalui investasi sesuai dengan usaha mancapai visi, misi, dan tujuan organisasi. Prinsip – prinsip good governance yaitu transparansi dan akuntabilitas melalui informasi keuangan juga telah dilaksanakan dengan baik dengan menyusun dokumen yaitu Rencana Bisnis dan Anggaran, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta diadakannya audit pada Laporan Keuangan untuk mempertanggungjawabkan kinerja pada periode berjalan.

Penerapan strategi Graphic Organizer (GO) untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IV SDN Purwantoro 2 Malang / Faizatul May Mahmudah

 

Kata Kunci: Strategi GO, menulis karangan, SD. Berdasarkan observasi pendahuluan pada kemampuan menulis karangan yang dilakukan peneliti terhadap guru kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Malang menunjukkan bahwa, dari 28 siswa yang mendapatkan nilai diatas 70 terdapat13 anak (46%), sedangkan 15 anak (54%) mendapatkan nilai dibawah 70. Ketercapaian kompetensi siswa dalam menulis karangan kurang optimal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan strategi GO yaitu peningkatan kemampuan menulis karangan setelah menggunakan strategi GO. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi, dan perbaikan rencana. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 28 siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan strategi GO menunjukkan bahwa kemampuan menulis karangan siswa secara klasikal terjadi peningkatan dari 56% pada observasi awal menjadi 68,25% pada tindakan siklus I. Sedangkan peningkatan rata-rata dari siklus I ke siklus II meningkat dari 68,25% menjadi 83,90%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi GO dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Malang. Sehingga disarankan agar guru menggunakan model pembelajaran GO untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa sehingga siswa dapat menyelesaikan tugas dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menerapkan untuk mengembangkan kemampuan menulis karangan siswa kelas tinggi maupun kelas rendah.

Pengembangan paket pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas VIII SMPN 2 Purwoharjo / Risky Febria Rinasari

 

Tesis. PSSJ Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof Dr.Mohammad Efendi, , M.Pd, M.Kes (II). Dr. Anselmus J.E Toenlioe, M.Pd. Kata Kunci : pengembangan, paket pembelajaran, mata pelajaran bahasa inggris. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah mengidentifikasi dan memecahkan masalah belajar, dan untuk pengembangan ini tujuannya adalah menghasilkan produk pembelajaran berupa paket pembelajaran yang berupa bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa untuk kelas VIII SMPN 2 Purwoharjo . Pemecahan masalah belajar tersebut penting karena terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Pengembangan paket pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk memecahkan masalah belajar. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran mengacu pada rancangan pembelajaran model Dick, Carey & Carey (2001). Prosedur pengembangan ini terdiri atas sepuluh langkah, namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sembilan langkah yaitu (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (5) mengembangkan butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, (8) merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) merevisi pembelajaran. Pengembangan paket pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dan membantu guru dalam menfasilitasi pembelajaran. Paket pembelajaran yang dikembangkan berupa mata pelajaran Bahasa Inggris, panduan guru dan panduan siswa. Hasil uji coba ahli isi dan ahli desain bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa dalam kategori baik. Hasil uji coba perorangan terdapat 9 kesalahan dalam pengetikan, 4 kesalahan dalam penggunaan tanda baca, dan 5 hal yang seharusnya diperbaiki. Hasil uji coba kelompok kecil dan hasil uji coba lapangan bahan ajar dan panduan siswa dalam kategori baik. Hasil pre test dan post test dengan derajat kebebasan 29 dan taraf signifikansi 0,005 di dapat t observasi = 19,44 lebih besar dari t tabel = 2.042, maka dapat dikatakan bahwa perbedaan mean tersebut meyakinkan atau dengan kata lain bahan ajar yang digunakan efektif.

Penerapan permainan tradisional pasaran untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa di kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar / Indah Noor Qomaroh

 

Kata Kunci: permainan tradisional pasaran, kemampuan kognitif dan berbahasa Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada bulan Maret 2011 bahwa pengembangan kemampuan dasar kognitif dan berbahasa anak di kelompok A Tk Al Hidayah 01 Talun dalam pengembangannya mengalami beberapa hambatan. Hambatan pada pengembangan kemampuan dasar kognitif tersebut adalah menghubungkan/ memasangkan lambang bilangan dengan benda-benda. Hasilnya adalah 52% dari 25 anak dalam satu kelas masih belum mencapai kompetensi yang diharapkan. Sedangkan pada kemampuan dasar berbahasa yaitu menghubungkan gambar/ benda dengan kata, 60% anak belum mencapai kompetensi yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan permainan tradisioanal ”Pasaran” untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa di kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar, (2) perkembangan kemampuan kognitif anak melalui permainan tradisional ”Pasaran”, (3) perkembangan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tradisional ”Pasaran”. Rancangan yang digunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah anak kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar tahun 2010/2011. Jumlah siswa 25 anak. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu lembar observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan tradisional “Pasaran” dilakukan dengan menentukan seting permainan, menyediakan media, mengelompokkan barang, mengambil kartu angka, menjual dan membeli dengan kartu angka, dan menyimpan barang di keranjang sesuai kartu kata, sehingga dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa di kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar. Hal ini ditandai dengan kemampuan kognitif anak dalam menghubungkan lambang bilangan dengan benda meningkat dari 72% pada siklus I, menjadi 88% pada siklus II. Sedangkan kemampuan berbahasa anak dalam menghubungkan benda dengan kata meningkat dari 68% pada siklus I, menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) pendidik anak usia dini hendaknya menerapkan permainan tradisional “Pasaran” dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa anak, dan (2) bagi peneliti lain, diharapkan untuk meneliti penerapan permainan tradisional “Pasaran” dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa anak.

Peningkatan kemampuan pemahaman isi teks melalui metode membaca cepat (speed reading) di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar / Adhitia Putra Harsono

 

Kata kunci: membaca teks, metode membaca cepat Pembelajaran membaca isi teks di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar dinilai kurang efektif. Pembelajaran membaca pemahaman isi teks dilaksanakan dengan guru memberi tugas. Tidak adanya penjelasan pembela-jaran menyebabkan sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah KKM yang ditetapkan (65). Penelitian ini membahas permasalahan (1) bagaimanakah pene-rapan metode Speed Reading pada pembelajaran membaca isi teks di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar, dan (2) apakah metode Speed Reading dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obser-vasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Speed Reading dapat meningkatkan hasil membaca pemahaman isi teks siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Hal ini dapat dilihat dari dengan perubahan sikap siswa selama pembelajaran, meliputi keaktifan dan kerjasama. Peningkatan proses ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai siklus I 60 meningkat pada siklus II menjadi 71. Peningkatan hasil membaca isi teks ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 58, siklus I 60, dan siklus II 70. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 24%, siklus I sebesar 52%, dan siklus II 82%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode Speed Reading dapat meningkatkan hasil membaca isi teks siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Hal ini, ditunjukkan dengan kemampuan siswa membaca cepat dalam waktu yang ditentukan. Siswa yang sebelumnya lambat dalam membaca namun dengan metode Speed Reading, siswa dapat membaca dengan waktu yang lebih cepat. Pemahaman siswa dalam membaca isi teks juga meningkat. Oleh karena itu, guru disarankan untuk menerapkan metode Speed Reading dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas IV, khususnya dalam pembelajaran membaca.

Pengembangan bahan ajar ilustrasional mata pelajaran kimia kelas X pada Homeschooling dengan model Addie / Yuni Eka Fajarwati

 

Tesis, Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed, (II) Dr. A. J. E. Toenlioe, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, ilustrasional, kimia Kimia merupakan salah satu mata pelajaran dari rumpun IPA. Bagi sebagian besar siswa sekolah menengah atas, kimia dianggap sebagai pelajaran yang cukup sulit. Faktor yang menyebabkan adalah 1) materi bersifat abstrak dan kompleks, 2) berjenjang dan berurutan, dan 3) memerlukan ketrampilan algoritma matematika. Faktor lain yang menyebabkan mata pelajaran ini sulit bagi peserta homeschooling adalah 1) terbatasnya sarana dan prasarana pendukung laboratoriun, 2) kemampuan siswa yang bervariasi, 3) kemandirian belajar rendah, 4) kemampuan matematis yang kurang, dan 5) kurangnya kemampuan dalam membaca tabel, grafik ataupun bagan. Selain faktor-faktor tersebut sebagian besar guru pengajar kimia menggunakan cara konvensional dalam mengajar. Tesis ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar yang mempertimbangkan karakterisitik mata pelajaran dan karakter siswa. Bahan ajar ini dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga dapat meningkatkan ketertarikan siswa dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar. Model yang dipilih dalam mengembangkan bahan ajar ini adalah model ADDIE. Alasan memilih model ini karena model ini begitu sederhana dan sistematik. Sehingga sangat sesuai dengan karakteristik mata pelajaran kimia yang dikembangkan pada homeschooling. Alasan lain adalah model ini dapat digunkan untuk mengembangkan bahan ajar pada pembelajaran di ranah informasi verbal, ketrampilan intelektual, psikomotor dan sikap yang relevan dengan Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tahapan yang dilakukan dalam pengembangan paket pembelajaran ini adalah 1) analisa pembelajaran, 2) desain produk, 3)pengembangan bahan ajar, 4) penerapan bahan ajar, dan 5) evaluasi bahan ajar. Penelian pengembangan ini menghasilkan 3(tiga) produk yaitu 1) buku ajar, 2) panduan guru, dan 3) panduan siswa. Proses pengembangan ini melibatkan ahli isi mata pelajaran, ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran untuk memberikan tanggapan dan masukan perbaikan. Selain itu guru mata pelajaran kimia dan siswa homeschooling sebagai pengguna bahan ajar ini juga diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan. Perbaikan produk pengembangan setelah review ahli isi, ahli desain dan ahli media dengan tahap-tahap 1) uji coba perorangan oleh 3 orang siswa sebagai responden, dan 2) uji coba lapangan dengan responden sebanyak 5 orang siswa dan 1 guru kimia. Hasil uji coba lapangan menunjukkan 1) buku ajar memperoleh prosentase pencapaian 84,90% dari siswa dan 75% dari guru, sehingga buku ajar berada pada kualifikasi baik, 2) panduan siswa memperoleh nilai 81,16% dari siswa menunjukkan kualifikasi baik, dan 3) panduan guru mendapatkan penilaian 80% dari guru menunjukkan berada pada kualifikasi baik. Bahan ajar kimia kelas X semester genap dikembangkan oleh Yuni Eka Fajarwati yang dapat digunakan pada homeschooling dan siswa maupun guru sekolah formal setara SMA dengan memperhatikan saran pemanfaatan produk, desiminasi dan saran pengembangan lebih lanjut

Pengaruh penggunaan media gambar seri terhadap hasil belajar keterampilan berbicara bahasa Mandarin mahasiswa Politeknik Negeri Malang / Nancy Perdanasari

 

Tesis. Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Ed., M.Pd., (II) Dr. H. Sulton, M.Pd. Kata kunci: penggunaan media gambar seri, peningkatan keterampilan berbicara bahasa Mandarin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar berbicara mahasiswa yang menggunakan media gambar seri lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang tidak menggunakan media gambar seri pada mata kuliah bahasa Mandarin di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi experiment), karena peneliti tidak bisa sepenuhnya melakukan kontrol. Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah penggunaan media gambar seri, sedangkan variabel terikatnya adalah keterampilan berbicara bahasa Mandarin. Subyek penelitian adalah mahasiswa semester IV pada Program D3 Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang, yang terbagi menjadi kelompok eksperimen (25 orang) dan kelompok kontrol (26 orang). Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan gambar seri, pada awal eksperimen diberikan prates, baik kepada kelompok eksperimen maupun kontrol; dan pada akhir eksperimen diberikan pascates kepada kedua kelompok tersebut. Bagi kelompok eksperimen, hasil prates adalah 50,93 dan hasil pascates adalah 60,26; sedangkan bagi kelompok kontrol hasil prates adalah 49,74 dan hasil pascates adalah 52,56. Dengan menggunakan SPSS for Windows, dilakukan uji-t terhadap nilai prates dan pascates bagi kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Hasilnya, ditemukan t-hitung 5,03 untuk kelompok eksperimen dengan t-tabel 1,711; dan ditemukan t-hitung 1,85 untuk kelompok kontrol dengan t-tabel 1,708. Kedua nilai t-hitung tersebut memiliki taraf signifikansi 0.05. Ini berarti bahwa kemampuan berbicara bahasa Mandarin pada kelompok eksperimen meningkat lebih dari 2,5 kali lipat (tepatnya, 2,72 kali lipat) dibandingkan kemampuan kelompok kontrol Sedangkan untuk menemukan perbedaan capaian (gain) antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dilakukan uji-t terhadap perbedaan nilai prates dan pascates pada kedua kelompok tersebut, dengan hasil t-hitung sebesar 2,87 pada t-tabel 1,676 dan taraf signifikansi 0,05. Artinya, ada perbedaan signfikan antara hasil belajar mahasiswa yang menggunakan gambar seri dan hasil belajar mahasiswa yang tidak menggunakan gambar seri.

Penggunaan media kartu gambar dan kata untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK PKK Dewi Sartika 01 Balerejo Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar / Diah Asmoro Asih

 

Kata kunci : Kemampuan Berbahasa, media kartu gambar,TK Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan berbahasa anak. Hal ini terjadi adalah karena guru tidak ada alat peraga,kurang bervariasinya penggunaan metode mengajar, sehingga menyebabkan anak kurang senang atau menjadi enggan bahkan ramai sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mendeskripsikan penggunaan media kartu gambar dan kata yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak dan ( 2).mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa anak melalui penggunaan media kartu gambar dan kata pada anak kelompok B di TK PKK Dewi Sartika Balerejo 01 Kec.Wlingi Kab.Blitar . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian, tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, subyek penelitian, instrumen juga menggunakan analisis data. Penelitian di lakukan pada tanggal 23 Mei 2011 sampai dengan 1 Juni 2011.Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi kegiatan anak dan unjuk kerja, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pemberian tugas dengan menggunakan media kartu gambar dan kata dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata rata anak mencapai 67,96 % meningkat menjadi 88,28125 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan bahasa melalui menirukan urutan 4-5 urutan kata dan menghubungkan tulisan dengan simbol yang melambangkannya. Disarankan bahwa dalam pembelajaran untuk meningkatkan bahasa anak dapat menggunakan media kartu gambar dan kata. Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan masalah lain yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bidang pengembangan selain bidang kemampuan bahasa , yaitu seni,kognitif dan fisik motorik .

Penerapan metode bercerita dengan menggunakan media finger puppet untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Ana Setyoningrum

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, media finger puppets ,metode bercerita,TK Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan berbahasa anak dalam hal menceritakan pengalaman secara sederhana pada kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar.Guru belum menggunakan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana, disamping itu keberanian bercerita didepan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta imajinasi anak dalam bercerita juga relative rendah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan langkah metode bercerita dengan media finger puppet yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa serta Mendeskripsikan penerapan metode bercerita dengan media finger puppet untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di Tk PKK I Sentul Kec.Kepanjenkidul dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model siklus . Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan mengunakan media finger puppets dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata rata anak mencapai 64,28 % meningkat menjadi 84,52 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan bahasa melalui keberanian bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita, imajinasi anak dalam bercerita. Berdasarkan penelitian ini, mendengarkan cerita dan menceritakan kembali cerita yang baru didengar, menceritakan pengalaman secara sederhana dan bercerita dengan menggunakan kata ganti aku, saya kamu, mereka, dia dengan menggunakan media finger puppets dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak dalam bercerita.

Keanekaragaman jenis lichen crustose di hutan Cangar Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo, Batu, Jawa Timur / Miftahul Jannah

 

Kata Kunci: lichen crustose, keanekaragaman, persebaran, hutan cangar TAHURA R. Soeryo Lichen merupakan organisme hasil asosiasi simbiosis antara alga (Photobiont) dan Jamur (mycobiont). Berdasarkan bentuk talus, lichen dibedakan menjadi tujuh kelompok yaitu foliose, fruticose, crustose, squamolose, leprose, filamentous dan placodioid. Penelitian ini merupakan deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mempelajari jenis lichen crustose, karakter dan persebarannya di Hutan Cangar TAHURA R. Soeryo. Pengambilan sampel menggunakan teknik jelajah bebas. Penelitian berdasarkan karakter morfologi, anatomi, dan uji kimia. Penelitian dilaksanakan dari bulan September 2010 sampai Januari 2011. Data penelitian berupa nama jenis, karakter, dan kondisi ekologi yang meliputi ketinggian tempat, kelembaban, suhu, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian di Hutan Cangar TAHURA R. Soeryo ditemukan sebanyak 22 jenis lichen tipe crustose yang terkelompok dalam 9 suku dan 11 marga. 17 jenis teridentifikasi sampai tingkat jenis, 3 jenis sampai tingkat marga, 1 jenis sampai tingkat suku dan 1 jenis belum teridentifikasi. Jenis lichen yang ditemukan yaitu Graphina anguina, Graphina columbina, Graphina ruiziana., Graphis scripta, Phaeographis lyelli, Megalospora campylospora, Megalospora cf sulphurata, Megalospora kalbii, Pertusaria amara, Pertusaria corallina, Pertusaria sp., Pachyphiale carneola, Pachyphiale sp., Lepraria sp., Phlyctis agelaea, Lecanora carpinea, Lecania cyrtella, dan Cyphellium inquinans. Lichen tipe crustose di Hutan Cangar banyak ditemukan di daerah yang memiliki intensitas cahaya lebih dari 1000 lux, kelembaban kurang dari 90%, suhu 18-190C, dan ketinggian tempat ±1640 dpl. Topografi dan ketinggian merupakan faktor adanya kehadiran suatu jenis yang endemik. Graphina ruiziana hanya ditemukan di ketinggian ± 1780 dpl, sedangkan Phlyctis agelaea, Lecanora carpinea, Megalospora cf. sulphurata, Lecania cyrtella, Pertusaria amara, Pertusaria corallina, Phaeographis lyelli dan Cyphelium inquinans hanya ditemukan di ketinggian ± 1640 dpl. Banyaknya jenis lichen yang ditemukan di Hutan Cangar mengindikasikan keadaan hutan yang sehat.

Efektivitas penerapan strategi pembelajaran kooperatif model TGT (Team Games Tournament) yang dipadukan dengan model Time Token Arends dan tipe pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Trenggalek pada mata pelajaran ekonomi / Kiki Eka

 

Kata Kunci: Hasil belajar siswa, Model pembelajaran TGT (Team Games Tournament), Time Token Arends dan Konvensional Sistem Pendidikan Nasional sampai saat ini menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada sekolah-sekolah sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang cenderung teacher-oriented dalam proses belajar mengajar, sehingga diperlukan strategi atau model pembelajaran yang menyenangkan dalam upaya meningkatkan hasil belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah mampu menguasai materi pelajaran dan memilih metode yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan efektivitas metode pembelajaran kooperatif model TGT (Team Games Tournament) yang dipadukan dengan model Time Token Arends dan tipe Konvensional pada mata pelajaran Ekonomi terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Trenggalek. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Trenggalek, yang berlangsung selama dua kali pertemuan dengan pokok bahasan Permintaan dan Penawaran Uang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XH sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model TGT yang dipadukan dengan model Time Token Arends, dan siswa kelas XA sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan model konvensional. Teknik pengumpulan data melalui tes (pre-test dan post-test), dan lembar observasi. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data hasil belajar. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas varian, uji kesamaan rata-rata, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa merasa model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) yang dipadukan dengan Model Time Token Arends sangat menarik dan tidak membosankan, karena mengandung unsur permainan. Di samping itu model tersebut juga dapat menumbuhkan sikap untuk berkompetensi antar kelompok sehingga dapat mendorong siswa untuk menguasai materi secara mendalam, serta dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan ide maupun pendapat dengan lebih kreatif, dapat menghilangkan sifat egois, tidak mendominasi kelompok, dan menang sendiri serta mau menerima ide/pendapat orang lain dan menggunakannya yang dirasa lebih baik. Sedangkan Model Konvensional cenderung berpusat pada guru, sedangkan posisi siswa hanya sebagai pendengar dan pencatat saja. Jadi kecil peluang bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi pada pembelajaran model TGT yang dipadukan dengan model Time Token Arends dan model Konvensional. Di mana penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT yang dipadukan dengan model Time Token Arends di SMA Negeri 2 Trenggalek lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran konvensional.

Penggunaan media manik-manik untuk meningkatkan hasil belajar operasi penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SDN Sidorahayu 04 Wagir Malang / Suryanto

 

Kata Kunci : media manik-manik, bilangan bulat, hasil belajar . Sesuai dengan kenyataan yang ada di SDN Sidorahayu 04 Kecamatan Wagir tempat peneliti mengajar, bahwa siswa kelas IV masih kesulitan memahami operasi penjumlahan bilangan bulat. Hal ini terlihat dari hasil ulangan harian matematika siswa kelas IV SDN Sidorahayu 04 Kecamatan Wagir pada materi operasi penjumlahan bilangan bulat. Dari 20 siswa, yang menjawab benar 3 anak. Sedangkan yang 17 anak menjawab salah. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan proses belajar mengajar dengan penerapan media manik-manik dalam meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD N Sidorahayu 04 Wagir, dan mendeskripsikan aktivitas hasil belajar siswa. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD N Sidorahayu 04 Wagir sebanyak dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini ada 20 siswa. Hasil penelitian ini merupakan penggunaan media manik-manik untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada operasi penjumlahan bilangan bulat, yang dibuktikan dengan pelaksanaan pembelajaran dari siklus I hingga siklus II dengan menggunakan media manik-manik sudah mencapai seluruh indikator. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan observasi, teknik dokumentasi berupa foto kegiatan dan dokumen portofolio. Simpulan dari penelitian ini yaitu, penggunaan media berupa benda manik-manik dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada operasi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV sdn Sidorahayu 04 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.

Pengaruh bauran eceran (retail mix) terhadap citra toko (studi pada konsumen Carrefour Market Malang) / Yohanes Setiawan

 

Kata Kunci: Bauran Eceran, Citra Toko Kemajuan di bidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang cukup pesat dalam bidang usaha ritel. Hal ini menimbulkan persaingan diantara perusahaan ritel. Agar suatu perusahaan dapat terus dan memenangkan persaingan, perusahaan dituntut untuk mengadakan perbaikan dan peningkatan di bidang pemasaran. Hal yang sangat perlu dilakukan oleh seorang peritel adalah bagaimana peritel tersebut harus bisa menciptakan strategi pemasaran agar dapat menarik perhatian pelanggan dan menciptakan citra toko yang baik dari konsumen dengan cara melaksanakan bauran eceran dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Gambaran bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) dan citra toko pada Carrefour Market, (2) Pengaruh bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) secara parsial terhadap citra toko pada Carrefour Market, (3) Pengaruh bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) secara simultan terhadap citra toko pada Carrefour Market, (4) Variabel yang berpenganruh dominan dari bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) terhadap citra toko pada Carrefour Market. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah bauran eceran, dengan sub variabel: lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service. Sedangkan variabel terikat adalah citra toko. Penelitian ini dilakukan di Carrefour Market Malang pada Januari 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda, dengan uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian dijaring dengan memberikan kuesioner kepada 174 responden, yaitu konsemen dari Carrefour Market Malang. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) berpengaruh secara simultan terhadap citra toko. Dapat dilihat dari besarnya F hitung= 30.755 dan tingkat signifikansinya adalah 0.000 < 0.05. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya pengaruh secara parsial dari masing-masing sub variabel bauran eceran terhadap citra toko. Variabel lokasi besarnya (b1) = 0.229, t hitung = 4.471 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel merchandise besarnya (b2) = 0.190, t hitung = 2.570 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel pricing besarnya (b3) = 0.217, t hitung = 2.123 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel promosi besarnya (b4) = 0.081, t hitung = 2.526 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel atmosfer dalam gerai besarnya (b5) = 0.118, t hitung = 2.317 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel retail service besarnya (b6) = 0.195, t hitung = 3.079 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Dari hasil yang didapatkan dalam penelitian, keberlakuan teori tentang pengaruh bauran eceran terhadap citra toko sudah terpenuhi, namun hasilnya belum maksimal. Dalam penelitian ini penulis menyarankan agar Carrefour Market Malang lebih memperjelas informasi tentang promo yang diberikan, meningkatkan promosi supaya tidak kalah bersaing dengan pesaing lainnya. Karyawan lebih memperhatikan penampilan, bersikap sopan, dan ramah agar konsumen nyaman. Peneliti berharap agar citra toko yang baik di Carrefour Market Malang juga akan terus meningkat.

Efektivitas pemanfaatan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang / Ayidah Habibah

 

Kata Kunci: efektifitas, sumber belajar, Lembar Kerja Siswa (LKS) Sumber belajar merupakan sarana atau alat bantu siswa dalam menunjang proses pembelajaran, dengan memanfaatkan sumber belajar maka siswa dapat mengembangkan pola pikir belajarnya sendiri, tidak hanya tergantung dari ajaran guru. Dari hasil observasi di SMA Negeri 6 Malang diketahui bahwa sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran ekonomi adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). Pemanfaatan sumber belajar yang sesuai sebagaimana mestinya maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menjawab rumusan masalah: (1) Bagaimana keberadaan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi dalam proses pembelajaran ekonomi? (2) Bagaimana pemanfaatan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagai sumber belajar siswa? (3) Bagaimana hasil pemanfaatan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagai sumber belajar siswa SMA Negeri 6 Malang? Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X.1 dan X.4 beserta 1 guru ekonomi di SMA Negeri 6 Malang pada bulan April-Mei 2011. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian adalah simbolic interactionisme. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survei, wawancara dan dokumen. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi teknik dan member cek. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Keadaan fisik LKS yang dimanfaatkan pada pembelajaran di kelas X SMA Negeri 6 Malang sudah baik. anya sampul LKS yang dianggap kurang menarik karena menggunakan kertas buram, permasalahn yang dihadapi siswa pada setiap bab yaitu pada bahasa yang digunakan tetapi permasalahan tersebut dapat diatasi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa LKS yang baik harus memenuhi persyaratan konstruksi. Persyaratan konstruksi tersebut meliputi syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan, kosakata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang hakekatnya harus tepat guna dalan arti dapat dimengerti oleh pihak pengguna LKS yaitu peserta didik. Dalam teknis penulisan LKS menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi. (2) Dalam pemanfaatan LKS guru selalu berpedoman pada SK, KD, indikator dan alokasi waktu. Siswa dan guru selalu menggunakan LKS dalam proses pembelajaran. Setelah guru menerangkan materi siswa ditugaskan untuk mengerjakan latihan soal guna mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Ketika mengerjakan soal ternyata dijumpai permasalahan yaitu jawaban dari pertanyaan tidak ada pada materi. Akibatnya siswa harus mencari sumber belajar lain yang bisa digunakan dalam menyelesaikan soal latihan LKS. Teori yang mendukung pernyataan iniadalah Proses pembelajaran ekonomi dengan LKS salah satunya dilaksanakan dengan ketentuan yaitu Guru menerangkan materi pembahasan sesuai dengan SK, KD, dan indikator. Tugas-tugas sebuah lembar kerja tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. (3) Ketika nilai siswa dalam mengerjakan latihan soal kurang dari KKM maka yang dilakukan adalah meminta remedi kepada guru. Tugas yang diberikan guru untuk perbaikan nilai berupa mencari artikel di internet disesuaikan dengan pokok bahasan yang belum tuntas. Berdasarkan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pendidikan ekonomi di sekolah menengah maka saran yang ditujukan kepada: (1) Guru, Guru sebagai enaga pendidik yang mengarahkan siswa pada keberhasilan pendidikan hendaknya bisa memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagaimana mestinya yang tidak telepas dari fungsi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sebenarnya. (2) Sekolah, Penelitian ini dilakukan hanya pada 1 sekolah saja sehingga untuk penelitian selanjutnya perlu dilakukan penelitian dengan responden yang lebih banyak sehingga nantinya akan ada perbandingan antara antara satu sekolah dengan sekolah yang lain yang sama-sama memanfaatkan LKS sebagai sumber belajar.

Persepsi guru tentang pelaksanaan supervisi klinis dan kompetensi guru di SD/MI Gugus V Kecamatan Sukun Kota Malang / Yuli Amaliyah

 

Kata Kunci: Supervisi Klinis, Profesionalisme guru, SD Guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun Kota Malang memiliki perbedaan persepsi mengenai pelaksanaan supervisi klinis dan kompetensi guru. Hal ini terjadi diduga disebabkan antara lain: iklim sosial, sistem kedinasan, atau persepsi dari guru sendiri. Persepsi guru mengenai supervisi klinis dilihat dari pelaksanaan supervisi tersebut. Sedangkan persepsi guru mengenai kompetensi guru dilihat dari penguasaan kompetensi sebagai seorang guru, meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, dan profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi tentang pelaksanaan supervisi klinis dan kompetensi guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun kota Malang. Penelitian ini dilakukan dengan sampel 65 dipada guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun kota Malang.Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan metode penelitian deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner (angket). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki persepsi ‘efektif’ (44.62%) mengenai pelaksanaan supervisi klinis, diartikan supervisi klinis telah dilaksanakan dengan efektif namun belum secara maksimal kerena belum berkesinambungan dengan baik pada prosedur supervisi klinis. Sedangkan mengenai kompetensi guru, sebagian besar guru memiliki persepsi yang sangat tinggi (52.31%), diartikan bahwa guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun kota Malang adalah guru yang berkompeten atau telah memiliki kompetensi/kemampuan sabagai seorang guru Disarankan Bagi Kepala Sekolah agar menindaklanjuti pelaksanaan supervisi klinis dengan secara berkesinambungan dan terkoordinasi dengan baik, serta mengevalusai kinerja guru untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran didalam atau diluar kelas.Bagi guru disarankan untuk melaksanakan supervisi klinis dengan intensif untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran dikelas guna meningkatkan profesionalisme, serta melaksanakan sebagaimana mestinya kompetensi sebagai guru yang profesional dan menyelenggarakan program pembelajaran yang baik kepada peserta didiknya, sehingga akan tercipta suasana belajar yang komunikatif, variatif dan berdaya saing. Bagi peneliti diharapkan apabila menggunakan variabel yang sama dalam penelitiannya disarankan agar mengambil jumlah sampel yang lebih luas sehingga hasil penelitian tersebut bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan risk of return terhadap bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split (studi empiris pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2006-2009) / Yuli Dwi Jayanti

 

Kata Kunci: Harga Saham, Volume Perdagangan, Risk of Return, Bid Ask Spread Pelaksanaan stock split oleh emiten akan direspon para partisipan pasar sebagai informasi dalam melakukan transaksi di lantai bursa. Corporate action tersebut akan mempengaruhi tingkat likuiditas saham. Salah satunya ditunjukkan dengan nilai bid ask spread saham. Bid ask spread merupakan selisih antara ask price terendah dengan bid price tertinggi suatu saham. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan risk of return terhadap bid ask spread di sekitar pengumuman stock split dan untuk mengetahui pengaruh stock split terhadap bid ask spread. Populasi penelitian ini sebanyak 32 perusahaan yang melakukan pemecahan saham dan terdaftar di BEI tahun 2006-2009. Metode penentuan sampel dengan menggunakan purposive sampling menghasilkan sampel sebanyak 24 perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 17,0. Analisis linier berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan risk of return terhadap bid ask spread. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa tidak ada pengaruh signifikan rata-rata harga saham terhadap bid ask spread sebelum dan sesudah stock split. Volume perdagangan sebelum stock split tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap bid ask spread dan berpengaruh signifikan terhadap bid ask spread sesudah stock split. Variabel risk of return tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap bid ask spread sebelum dan sesudah stock split. Saran yang dapat diberikan penulis bagi para investor dengan adanya informasi pengumuman stock split dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan pengambilan keputusan mengenai investasi mana yang paling menguntungkan secara cepat dan akurat sehingga kepentingannya dapat tercapai. Bagi emiten yang akan melakukan stock split harus berupaya memberikan sinyal yang positif kepada investor mengenai tujuan pelaksanaan stock split. Hal ini dimaksudkan agar investor terkesan bahwa dengan stock split akan menghasilkan return yang positif sehingga penurunan harga saham setelah stock split tidak berlangsung lama. Bagi penelitian selanjutnya disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan menambahkan variabel independen lain, jumlah sampel, dan memperpanjang periode pengamatan agar hasil yang didapatkan lebih baik dan akurat.

Studi tentang aplikasi pembelajaran biologi berbasis inkuiri di SMA negeri se Kota Malang oleh mahasiswa PPL tahun ajaran 2010/2011 / Asri Puji Kuswanti

 

Kata Kunci : Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri, Mahasiswa PPL. Biologi sebagai bagian dari IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pada hakikatnya, pembelajaran biologi merupakan proses untuk menjadikan siswa berinkuiri dalam rangka memecahkan masalah kehidupannya.Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan aplikasi pembelajaran Biologi berbasis inkuiri di SMA Negeri se kota Malang oleh mahasiswa PPL tahun ajaran 2010/2011. Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan teknik observasi dan dokumentasi angket. Observasi dilakukan terhadap pembelajaran oleh mahasiswa PPL di SMAN 2 Malang. Sedangkan angket diberikan kepada mahasiswa yang PPL di SMAN se Kota Malang selain SMAN 2 Malang. Populasi penelitian yaitu mahasiswa PPL jurusan Biologi semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SMA Negeri Se Kota Malang. Sampel penelitian yaitu sampel total. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April 2011. Lokasi penelitian dengan teknik observasi adalah di SMA Negeri 2 Malang, Jl. Laksamana Laut RE Martadinata 84 Malang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan angket. Data dari hasil observasi dan angket dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui pembelajaran Biologi berbasis inkuiri diaplikasikan melalui kegiatan eksperimental dan noneksperimental. Kegiatan eksperimental diaplikasikan oleh enam mahasiswa secara terpimpin dengan langkah-langkah meliputi perumusan masalah, pengajuan hipotesis, penentuan variabel, perancangan dan perakitan instrumen, pelaksanaan investigasi, penyajian dan penafsiran data secara sistematis, penyusunan kesimpulan, serta pengkomunikasian data. Kegiatan noneksperimental diaplikasikan oleh 23 mahasiswa dengan langkah-langkah meliputi perumusan masalah, perancangan dan perakitan instrumen (pengamatan, diskusi, studi pustaka, pembuatan peta konsep, melihat fenomena sehari-hari, browsing internet, dan penyusunan bagan), pelaksanaan investigasi, penyajian dan penafsiran data secara sistematis, penyusunan kesimpulan, serta pengkomunikasian data. Kegiatan noneksperimental diaplikasikan secara (1) terpimpin; (2) bebas yang dimodifikasikan; dan (3) bebas.

Upaya peningkatan pembelajaran IPA melalui model pembelajaran STM (Sains Teknologi dan Masyarakat) pada siswa kelas V SDN Pronojiwo 02 Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang / Imro'atun Nasikhah

 

Pengaruh konsentrasi larutan Cd(No3)2, larutan klorofil dan waktu gelling terhadap adsorpsi Cd2+ dan klorofil oleh gel nata de coco dengan metode Batch / Miftahur Rahmah

 

Kata kunci: adsorpsi, Cd2+, klorofil, nata de coco, batch. Adsorpsi adalah proses penarikan komponen dari campuran gas atau cairan oleh permukaan adsorben. Nata de coco dapat digunakan sebagai adsorben, karena nata memiliki banyak situs aktif, yaitu OH dan C-O, selain itu nata merupakan bacterial sellulose yang memiliki kemurnian yang tinggi, jika dibandingkan selulosa yang lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi larutan Cd(NO3)2, larutan klorofil dan waktu gelling terhadap adsorpsi Cd2+ dan klorofil oleh gel nata de coco dengan metode batch. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia Fakultas MIPA UM. Metode yang digunakan adalah metode batch dengan nata de coco sebagai adsorben sedangkan Cd(NO3)2, molekul klorofil sebagai adsorbat. Nata de coco dibuat dengan cara mencampurkan air kelapa beserta pendukungnya (gula pasir, ZA dan asam asetat), didihkan, kemudian ditambah dengan bakteri Acetobacter xylinum. Nata de coco yang digunakan merupakan gelling 6 hari dan 11 hari. Proses adsorpsi menggunakan 3 gram nata de coco gelling, kemudian 50 mL adsorbat Cd2+ dengan variasi konsentrasi masing-masing 10, 25, dan 50 ppm ditambahkan, dikocok dengan shaker 100 rpm, dan waktu kontak 20 menit. Larutan Cd(NO3)2 sebelum dan sesudah proses adsorpsi diukur konsentrasinya dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada panjang gelombang 228,8 nm. Sehingga dapat diketahui kapasitas teradsorpsinya. Percobaan yang sama dilakukan pula pada molekul klorofil sebagai pengganti Cd(NO3)2. Filtrat yang diperoleh diukur dengan spektronik 20D+ pada panjang gelombang 398 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kapasitas adsorpsi Cd2+ oleh nata de coco gelling 6 hari pada konsentrasi Cd2+ 10, 25, 50 ppm adalah sebesar 0,090 mg/g; 0,091 mg/g; dan 0,157 mg/g, (2) kapasitas adsorpsi Cd2+ oleh nata de coco gelling 11 hari pada konsentrasi Cd2+ 10, 25, 50 ppm adalah sebesar 0,119 mg/g; 0,298 mg/g; dan 0,536 mg/g. (3) kapasitas adsorpsi molekul klorofil oleh nata de coco gelling 6 hari pada pengenceran molekul klorofil 10 kali dan 5 kali adalah sebesar 0,020 mg/g; 0,015 mg/g, dan (4) kapasitas adsorpsi molekul klorofil oleh nata de coco gelling 11 hari pada pengenceran molekul klorofil 10 kali dan 5 kali adalah sebesar 0,011 mg/g; 0,018 mg/g.

Pengaruh perputaran piutang dan persediaan terhadap return saham melalui Return On Investment pada perusahaan manufaktur yang listing di BEi periode 2007-2009 / Ratna Suliyantiningtias

 

Kata kunci: Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Return Saham, Return On Investment Sumber pembiayaan perusahaan tidak hanya berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, namun perusahaan juga harus mencari sumber pembiayaan dari luar perusahaan salah satunya dengan penjualan saham. Timbal balik perusahaan terhadap investor adalah dengan memberikan return atas investasi tersebut. Apabila keadaan perusahaan mengalami goncangan maka return yang diterima oleh investor akan ikut berpengaruh. Motif investor menanamkan modalnya dalam bentuk saham adalah untuk mendapatkan nilai tambah dalam usahanya yang berupa return saham. Tujuan penelitian ini yaitu Untuk mengetahui: (1)kondisi return saham, perputaran piutang, perputaran persediaan, dan return on invesment pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2007-2009, (2)pengaruh perputaran piutang terhadap return saham, (3)pengaruh perputaran persediaan terhadap return on invesment (4)pengaruh perputaran piutang terhadap return saham, (5)pengaruh perputaran persediaan terhadap return saham, (6)pengaruh return on invesment terhadap return, (7)pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung langsung perputaran piutang terhadap return saham melalui, (8)pengaruh secara langsung maupun tidak langsung langsung perputaran persediaan terhadap return saham melalui ROI. Variabel dalam penelitian ini menggunakan perputaran piutang, perputaran persediaan, return on investment dan return saham. Sedangkan populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa, laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Pusat Data Bisnis Universitas Negeri Malang dan Website Bursa Efek Indonesia. Teknik analisi yang digunakan menggunakan teknik analisis path. Penelitian menunjukkan bahwa (1)perputaran piutang berpengaruh positif terhadap ROI, (2)perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap ROI. (3)perputaran piutang berpengaruh positif terhadap return saham, (4)perputaran persediaan berpengaruh positif terhadap return saham, (5)ROI berpengaruh positif terhadap return saham,(6)terdapat pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung perputaran piutang terhadap return saham melalui ROI, (7)terdapat pengaruh langsung perputaran persediaan terhadap return saham, tetapi melalui ROI tidak terdapat perngaruh tidak langsung pada perusahaan manufaktur yang go public periode 2007-2009 Dari disarankan bagi perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel pada penelitian ini hendaknya lebih memperhatikan lagi pengelolaan terhadap asset-aset yang dimiliki. Apabila kinerja perusahaan sudah mulai menurun, hendaknya perusahaan lebih cermat menganalisis faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan kinerja tersebut menjadi menurun karena hal tersebut akan berdampak pula pada kesejahteraan para pemegang saham. Pihak manajemen hendaknya juga hasil penelitian memperhatikan kondisi di luar perusahaan, seperti para pesaing, kondisi pasar, dan faktor ekstern yang bisa berdampak pada kinerja perusahaan. Pada penelitian ini terdapat variabel yang tidak berpengaruh terhadap variabel lainnya, hal ini diduga terdapat faktor makro di luar variabel penelitian yang mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan tanpa memperhatikan struktur modal perusahaan, misalnya Kondisi Fundamental Emiten, Hukum Permintaan dan Penawaran, Tingkat Suku Bunga (SBI), Valuta Asing, Dana Asing di Bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), News and Rumor

Designing lexically-based English syllabus for the first year Analytical Chemistry Program students of SMK Negeri 7 Malang / Istu Handayani

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D, (II) Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd. Kata kunci: silabus, berbasisleksikal, kimiaanalisis, surveikebutuhan Penyusunan silabus pengajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas X program Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang sangat penting dilakukan sehubungan dengan kenyataan bahwa selama ini silabus yang dipakai adalah silabus yang diadopsi dari silabus yang telah dirilis oleh BSNP tanpa menelitinya terlebih dahulu. Fakta menunjukkan bahwa hasil dari proses belajar pembelajaran bahasaInggris di sekolah inij uga belum memuaskan seperti yang diharapkan. Siswa masih memiliki kemampuan yang rendah dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan. Mereka masih mendapatkan nilai yang kurang memuaskan pada ujian nasional. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya adalah kemampuan awals iswa yang terbatas, latar belakang keluarga, tuntutan yang tinggi dari pemerintah, dan ketidakpedulian terhadap kebutuhan siswa. Kemampuansiswa yang terbatas terhadap leksikal dalam bahasa Inggris sangat membatasi kemampuan siswa untuk memahami semua pelajaran yang diberikan oleh guru. Siswa, guru, dan pelaksanapendidikan di sekolah ternyata memiliki pemahaman yang sama terhadap masalah ini. Merespon temuan di atas, penelitian ini diadakan dengan tujuan untuk menyusun sebuah silabus yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan dapat memenuhi tuntutan semua pihak. Mengacu pada bagian terpenting yakni rendahnya kapasitas leksikal siswa, maka silabus berbasis leksikal dipercaya akan dapat menyelesaikan masalah di atas. Penelitian ini merupakan penelitian riset dan penegembangan. Pada tahap riset, peneliti melakukan studi dokumen, analisa kebutuhan siswa, serta interview kepala sekolah dan guru. Berdasar hasil dari riset tersebut, syllabus ini dibuat dengan menerapkan tahap-tahap yang merupakan kombinasi dari model pengembangan pelajaran oleh Richard (2001:145-167) dan pengembangan program bahasa yang dipopulerkan oleh Yalden (1987:88). Kombinasi tersebut menghasilkan empat tahap yaitu: (1) melakukansurveikebutuhan; (2) meyusunsilabusberdasar model yang dipopulerkanoleh Richard; (3) melakukanvalidasiterhadaprancangansilabus; (4) melakukanujicoba. Tahap pengembangan menghasilkan sebuah silabus yang telah tervalidasi untuk pengajaran bahasa Inggris di kelas X Program Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh silabus ini. Pertama, meskipun format yang digunakan adalah format yang dirilis oleh BSNP, beberapa pengembangan dilakukan. Silabus ini mencakup: (1) identitas; (2) standar kompetensi; (3) kompetensi dasar; (4) indikator; (5) materi; (6) konten leksikal; (7) pengalaman pembelajaran; (8) penilaian; (9) waktu; (10) sumber dan media pembelajaran. Keberadaan kolom konten leksikal adalah karakteristik utama untuk menunjukkan bahwa silabus ini berbasis leksikal. Terlebih lagi, silabus ini dilampiri dengan daftar 2000 kata yang paling sering muncul yang harus dikuasai oleh siswa dengan beberapa sumber concordance dari internet yang bisa digunakan untuk mempelajari collocation dan colligation. Pengembangan juga dilakukan sehubungan dengan materi yang juga meliputi materi yang berhubungan dengan kimia, indicator, kegiatan pembelajaran, metode penilaian yang lebih jelas, serta adanya media pembelajaran. Keberadaan silabus ini akan sangat membantu para pengajar sebagai acuan pengajaran.Selain itu, karena kebutuhan dan minat siswa juga diperhatikan dalam penyusunan silabus ini, maka silabus ini akan lebih bermakna bagi siswa. Tuntutan dari pembuatkebijakan di dunia pendidikan juga diperhatikan. Kesimpulannya, silabus ini akan memenuhi tuntutan komponen-komponen yang saling terkait tersebut. Berdasar proses riset dan pengembangan dalam penyusunan silabus ini, beberapa saran diberikan. Silabus ini terbuka terhadap revisi. Ketika latarbelakang dan kondisi berubah, adaptasi harus dilakukan. Karena silabus ini hanya diperuntukkan siswa kelas X program Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang, silabus untuk level yang lebih tinggi atau untuk program lain dapat disusun dengan menggunakan tahapan yang sama dengan penyusunan silabus ini. Terakhir, melakukan ulang penelitian ini sangat dimungkinkan ketika kelemahan ditemukan untuk mendapatkan hasil yang lebih lengkap dan bagus.

Media pembelajaran berbantuan komputer sistem Isyarat Bahasa Indonesia (Isyando) bagi siswa tunarungu sekolah dasar luar biasa / Rosita Berlianda

 

Kata Kunci : Pembelajaran Berbantuan Komputer, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia, Tunarungu. Media pembelajaran yang mengikuti perkembangan IPTEK saat ini adalah Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK). Kehadiran teknologi canggih, yakni komputer membuat ahli pendidikan berkeingingan untuk memanfaatkannya dalam membantu memecahkan berbagai masalah pembelajaran yang sedang dihadapi. Seperti juga di dalam pendidikan pada umumnya, pendidikan kaum tunarungu sangat memerlukan sarana pendidikan, karena sebagai putra bangsa mereka memiliki hak yang sama pula dalam mendapatkan pendidikan.. Kaum tunarungu, karena tidak dapat menggunakan indera pendengarannya secara penuh, sulit mengembangkan kemampuan berbicara sehingga menghambat perkembangan kepribadian, kecerdasan, dan penampilan sebagai makhluk sosial. Tak mengherankan apabila dalam dunia pendidikan anak tunarungu, pendekatan diprioritaskan kepada pengembangan kemampuan berbicara dengan orang lain. Berkembanglah metode oral, komunikasi total dan sistem isyarat bahasa indonesia, dalam bentuk kamus tebal. Namun tak dapat disangkal hal ini memberikan hasil yang masih jauh dari yang diharapkan. Karena kebanyakan siswa tunarungu menganggap guru berkelakuan seperti orang gila saat sedang memperagakan gerakan isyarat tersebut. Hal inilah yang memunculkan pendekatan baru, yaitu memanfaatkan segala media yang ada di dalam pengajaran anak tunarungu. Media tersebut adalah media pembelajaran berbantuan komputer sistem isyarat bahasa indonesia. Pengembangan media ini bertujuan untuk membantu kerja guru dalam mengajar sistem isyando, dan memberikan suasana baru dalam kegiatan belajar mengajar. Serta diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi dan motivasi belajar siswa tunarungu sekolah dasar luar biasa. Hasil pengembangan ini diharapkan media yang telah dibuat dapat memenuhi kelayakan untuk digunakan taman kanak-kanak sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran ini telah divalidasi oleh ahli media, ahli materi dan telah diujicobakan serta telah didapatkan hasil dari ahli media TE dan PLB dengan persentase sebesar 90,00% dan 92,50% , ini berarti media pembelajaran isyando layak digunakan pada pembelajaran, hasil dari ahli materi menyebutkan bahwa persentase sebesar 93,75% , ini berarti media pembelajaran isyando juga dapat dikatakan layak digunakan pada pembelajaran, hasil dari siswa menyebutkan bahwa persentase sebesar 94,44% untuk kelompok kecil dan 92,40 % untuk uji coba lapangan, ini berarti media pembelajaran calistung dapat diterima dan layak digunakan pada pembelajaran.

Pengembangan model permainan kejar-kejaran dan halang rintang beranting dalam pembelajaran lari estafet untuk siswa kelas XI SMA Negeri 1 Ngimbang Lamongan / Okvan Kusuma Faishol Akbar

 

Kata Kunci: permainan, lari estafet, kejar-kejaran, halang rintang beranting Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlom-baan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Dari data analisis kebutuhan yang peneliti lakukan kepada 20 siswa di SMA Negeri 1 Ngimbang Lamongan, dapat disimpulkan bahwa 80% siswa menganggap pembelajaran lari estafet tidak menyenangkan. Dalam pembelajaran lari estafet di SMA Negeri 1 Ngimbang Lamongan, tidak ada media yang digunakan sehingga pembelajaran kurang menarik bagi siswa. Menurut observasi dengan 2 guru penjaskes kelas XI, nilai siswa kelas XI untuk lari estafet sangat kurang dan siswa kurang menguasai teknik dasar lari estafet. Untuk itu peneliti akan mengembangkan permaian kejar-kejaran dan halang rintang beranting di SMA Negeri 1 Ngimbang Lamongan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model permainan kejar-kejaran dan halang rintang beranting yang menyenangkan dalam pembelajaran lari estafet kelas XI di SMA Negeri 1 Ngimbang Lamongan. Prosedur dan tahap-tahap pengembangan ini adalah sebagai berikut: (1) Analisis kebutuhan. (2) Pembuatan produk awal. (3) Tinjauan ahli. (4) Uji coba produk awal (kelompok kecil). (5) Revisi produk pertama. (6) Uji coba lapangan (kelompok besar). (7) Revisi produk akhir. (8) Produk akhir. Pengumpulan data untuk data evaluasi ahli berupa kuesioner/angket untuk: (1) 1 ahli pembelajaran pendidikan jamani. (2) 1 ahli permainan. Untuk mendapatkan data hasil uji coba kelompok kecil menggunakan 20 siswa kelas XI dan untuk uji coba kelompok besar menggunakan 30 siswa kelas XI. Peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa instrumen yang disajikan dalam bentuk kuesioner/angket. Teknik analisis yang digunakan untuk mengelola data hasil penelitian adalah teknik persentase. Hasil penelitian pengembangan model permainan kejar-kejaran dan halang rintang beranting dalam pembelajaran lari estafet diperoleh hasil sebagai berikut: (1) permainan kejar-kejaran menurut ahli permainan yaitu 80% (valid) dan permainan halang rintang beranting menurut ahli permainan yaitu 85% (valid). (2) permainan kejar-kejaran menurut ahli pembelajaran pendidikan jasmani yaitu 90% (valid) dan permainan halang rintang beranting menurut ahli pembelajaran pendidikan jasmani yaitu 90% (valid). (3) uji coba tahap I (kelompok kecil) untuk permainan kejar-kejaran yaitu 96.25% (valid) dan uji coba tahap I (kelompok kecil) untuk permainan halang rintang beranting yaitu 96.41%. (valid). (4) uji coba tahap II (kelompok besar) untuk permainan kejar-kejaran yaitu 98.78% (valid) dan uji coba tahap II (kelompok besar) untuk permainan halang rintang beranting 99.05% (valid).

Kajian implementasi Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL-MP) dalam pelaksanaan pembelajaran biologi kelas XI di SMAN 2 Malang oleh mahasiswa PPL / Dewi Rosalina

 

Kata Kunci : Kajian Implementasi SKL-MP, Pembelajaran Biologi kelas XI, SMAN 2 Malang, Mahasiswa PPL. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang dapat diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas adalah Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL-MP). Pelaksanaan pembelajaran dikelas harus sesuai dengan SKL-MP agar siswa memiliki kompetensi minimal yang harus dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Jika guru tidak mengimplementasikan SKL-MP maka siswa tidak memiliki kualifikasi minimal yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan cara mahasiswa PPL mengimplementasikan keterampilan proses dalam SKL-MP dalam pelaksanaan pembelajaran Biologi kelas XI di SMAN 2 Malang. Penelitian merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan teknik observasi secara langsung terhadap proses pelaksanaan pembelajaran dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data bersumber pada audio visual. Data yang dibutuhkan dalam penelitian adalah data proses pelaksanaan pembelajaran di SMAN 2 Malang. Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April tahun 2011. Tempat penelitian dilakukan di SMAN 2 Malang, Jl. Laksamana Laut RE Martadinata No. 84 Malang. Populasi penelitian adalah jumlah pertemuan pelaksanaan pembelajaran kelas XI pada materi sistem ekskresi dan sistem regulasi di SMAN 2 Malang. Sampel penelitian adalah sampel total. Instrumen yang digunakan berupa Lembar Observasi (LO). Data dianalisis dengan cara memberikan penjelasan deskriptif secara sistematis tentang fakta yang terjadi pada kegiatan observasi dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa keterampilan proses yang tercantum dalam SKL-MP biologi diimplementasikan oleh mahasiswa PPL dengan cara eksperimental dan noneksperimental. Kegiatan eksperimental dilakukan secara terbimbing pada kegiatan uji kandungan urine. Langkah-langkah kegiatan eksperimen terbimbing meliputi perumusan masalah, pengajuan hipotesis, penentuan variabel, perancangan dan perakitan instrumen, pengumpulan data dalam rangka pengujian hipotesis, penyajian dan penafsiran data secara sistematis, pengolahan data secara sistematis, penyusunan kesimpulan, serta pengkomunikasian data. Berbeda dengan kegiatan eksperimental, kegiatan noneksperimental umumnya menggunakan keterampilan proses yang meliputi perumusan masalah, perancangan dan perakitan instrumen melalui penggunaan metode TPS (1 kali), diskusi kelompok (4 kali), simulasi (1 kali), peta konsep (1 kali), Talk Show (1 kali), tanya jawab (1 kali) dan Jigsaw (2 kali), pengumpulan data, penyajian dan penafsiran data secara sistematis, pengolahan data secara sistematis, penyusunan kesimpulan, serta pengkomunikasian data.

Penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan pada siswa kelas IV SDN Sempalwadak Bululawang / Syaiful Amir

 

Kata kunci: media, gambar seri, menulis karangan, SD Saat ini pembelajaran menulis adalah pembelajaran dasar bagi siswa disamping pembelajaran membaca. Menulis dapat digunakan sebagai media pengungkapan gagasan, pikiran dan ungkapan hati menggunakan bahasa tulis. Menulis karangan adalah salah satu pembelajaran menulis di sekolah dasar (SD). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di kelas IV SDN Sempalwadak ditemukan beberapa masalah dalam pembelajaran menulis karangan yaitu: (1) cara penyampaian materi yang dilakukan oleh guru kurang bisa dimengerti oleh siswa; (2) guru tidak menggunakan media yang sesuai dengan materi mengarang yang sedang diajarkan; dan (3) kurangnya perbendaharaan kata yang dimiliki oleh seorang siswa. Masalah yang ditemukan pada saat studi pendahuluan membutuhkan pemecahan oleh karena itu perlu diadakan penelitian tentang Penggunaan Media Gambar Seri untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Pada Siswa Kelas IV SDN Sempalwadak Bululawang. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa. Pada kegiatan pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa 62,4. Pada siklus I meningkat menjadi 68 dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 77,8. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Penggunaan media gambar seri pada pembelajaran menulis karangan di kelas IV SDN Sempalwadak Bululawang dapat meningkatkan aktivitas dan semangat belajar siswa. (2) Dampak setelah penerapan media gambar seri pada pembelajaran menulis karangan di kelas IV SDN Sempalwadak adalah peningkatan hasil belajar siswa yaitu pada kegiatan pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa 62,4. Pada siklus I meningkat menjadi 68 dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 77,8. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar mengalami peningkatan, maka disarankan: (1) Bagi Sekolah, hendaknya sekolah-sekolah menerapkan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan; (2) Bagi Guru, hendaknya penggunaan media gambar seri ini dapat lebih dikembangkan secara optimal; (3) Bagi siswa, hendaknya penggunaan media gambar seri dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa dan dapat dijadikan media untuk belajar dalam bentuk visual.

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) berbantuan media macromedia flash pada materi kimia untuk makanan terhadap prestasi belajar siswa di SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang / Miftahur Rahmah

 

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions) berbantuan media pembelajaran berbasis komputer materi bahan kimia rumah tangga terhadap hasil belajar siswa di SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang / Anggun Winata

 

Kata kunci: media pembelajaran berbasis komputer, bahan kimia rumah tangga, model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada hakekatnya pembelajaran lebih menitik beratkan pada keaktifan siswa dalam proses belajar dan keaktifan guru dalam menciptakan lingkungan belajar bagi siswa sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri dengan lingkungan belajar yang dibuat oleh guru. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan pada guru, pengajaran di SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang masih didominasi oleh guru dengan menggunakan pembelajaran konvensional dan hasil belajar siswa juga masih rendah untuk materi IPA terpadu. Berdasarkan karakter siswa Brawijaya Smart School (BSS) Malang yang heterogen dengan kemampuan siswa yang pandai dan kurang pandai tersebar pada tiap-tiap kelas maka salah satu alternatif pembelajaran yang dapat digunakan dalam peningkatan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Salah satu materi kimia SMP adalah bahan kimia rumah tangga. Pada materi tersebut terdapat beberapa materi yang bersifat abstrak sehingga digunakan media pembelajaran berbasis komputer agar lebih jelas dan siswa lebih memahami materi. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media pembelajaran berbasis komputer diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental Design). Populasi yang dijadikan penelitian yaitu siswa kelas VIII SMP Brawijaya Smart School (BSS) semester II Tahun ajaran 2010/2011. Populasi penelitian yang digunakan ada dua kelas yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol diajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional sedangkan kelas eksperimen diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media berbasis komputer materi bahan kimia rumah tangga. Instrumen untuk mengukur hasil belajar siswa berupa tes atau ulangan harian. Analisis hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji-t dua pihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions) berbantuan media pembelajaran berbasis komputer materi bahan kimia rumah tangga terhadap hasil belajar siswa di SMP Brawijaya Smart School (BSS) Malang. Hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) berbantuan media pembelajaran berbasis komputer lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional.

Upaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana melalui model siklus belajar pada siswa kelas V SDN 2 Bangunmulyo Kabupaten Tulungagung / Esthi Novianningrum

 

Kata Kunci : Pembelajaran, IPA, Siklus Belajar (Learning Cycle), SD Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada siswa kelas V SDN 2 Bangunmulyo Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung pada saat pembelajaran IPA materi “Pesawat Sederhana” diperoleh bahwa dalam pembelajaran siswa masih kurang berperan aktif. Siswa kurang antusias dan masih takut dalam menjawab pertanyaan dari guru, siswa juga masih banyak yang membuka buku saat menjawab pertanyaan. Dalam pembelajaran siswa terkesan menghafalakan materi, jadi siswa kurang memahami konsep yang dipelajarinya. Pada saat diberikan pertanyaan siswa tidak mampu menjawab dengan tepat tanpa membaca buku, karena siswa hanya menghalkan materi saja. Dan dari tes yang diberikan oleh peneliti, mendapatkan prosentase ketuntasan 12,5% yang mana masih kurang dari KKM yaitu 65. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendiskripsikan penerapan model pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle) pada pembelajaran IPA. mendiskripsikan seberapa besar peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle) dalam pembelajaran IPA. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus, 1 siklus terdiri dari 2 pertemuan. Setiap siklus PTK terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Bangunmulyo 2 Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung dengan jumlah siswa 24 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Penerapan model pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle) adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru berhasil dalam penerapan model Siklus Belajar. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 58,91 menjadi 70,5 pada siklus II. Hasil belajar siswa juga meningkat pada siklus I 47,91% dan siklus II meningkat menjadi 79,08%.. Berdasarkan uraian diatas penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa terjadi peningkatan pembelajaran dalam penerapan model pembelajaran siklus belajar (learning cycle). Peneliti memberikan saran kepada guru agar dapat dipertimbangkan penerapan model pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle) dalam pembelajaran IPA sebagai salah satu alternatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Tapi yang harus diperhatikan yaitu, bahwa model Siklus Belajar hanya bias diterapkan pada materi-materi tertentu.

Pengaruh bimbingan orang tua dan kedisiplinan belajar terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang / Mike Tania

 

Kata kunci: Bimbingan orang tua, kedisiplinan belajar, prestasi belajar. Dalam kenyataan, sering ditemukan bahwa orang tua merasa tidak perlu membimbing anak untuk belajar karena anak dianggap telah dewasa dan dapat menjalankan tugas secara mandiri. Padahal bimbingan belajar tetap harus diberikan agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki anak. Di samping itu, salah satu syarat keberhasilan belajar adalah adanya kedisiplinan dalam mendalami pengertian, sikap, dan keterampilan. Kedisiplinan belajar sangat dibutuhkan dalam usaha pembiasaan agar kemampuan seseorang dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengaruh antara bimbingan orang tua dan kedisiplinan belajar terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksplanatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah bimbingan orang tua (X1) dan kedisiplinan belajar (X2) sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar (Y). Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa jurusan akuntansi di SMK ardjuna 2 Malang yang berjumlah 61 siswa. Data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan dokumentasi diolah dengan teknik analisis regresi berganda. Teknik analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis seberapa jauh pengaruh bimbingan orang dan kedisiplinan belajar terhadap prestasi siswa jurusan akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang. Dari hasil penelitian, diketahui terdapat pengaruh signifikan antara bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntansi di SMK ardjuna 2 Malang didasarkan dari hasil analisis dengan nilai nilai t hitung (2,032) > t tabel (2,001) dan nilai signifikansi lebih kecil dari alpha, yaitu 0,047 < 0,05. Kedisiplinan belajar juga memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang didasarkan hasil analisis dengan nilai nilai t hitung (3,425) > t tabel (2,001) dan nilai signifikansi lebih kecil dari nilai alpha yaitu 0,01< 0,05. Selain itu, dari hasil persamaan regresi diketahui bimbingan orang tua memberikan kenaikan sebesar 0,023 terhadap prestasi belajar dan kedisiplinan belajar memberikan kenaikan sebesar 0,055 terhadap prestasi belajar jika variabel-variabel tersebut mengalami kenaikan satu satuan. Bimbingan belajar yang dilakukan orang tua terhadap anak harus ditingkatkan agar kemampuan yang dimiliki dapat meningkat. Selain itu, diperlukan adanya sikap disiplin dalam belajar yang ditunjukkan dengan secara aktif tanpa paksaan untuk menaati peraturan dan belajar secara konsisten serta teratur agar tercipta suasana belajar yang baik.

Pengaruh penerapan lembar kerja siswa dengan menggunakan media komik terhadap peningkatan hasil belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Batu / Hardyo Wijanto

 

Kata kunci: Lembar Kerja Siswa, komik, hasil belajar. Kuruikulum pendidikan menghendaki setiap lulusan memiliki kecakapan yang memadai setelah mengikuti pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan atau sebagai bekal pendidikan selanjutnya. Pencapaian kemampuan siswa dalam pendidikan sangat tergantung pada proses pembelajaran yang diikuti. Pembelajaran akuntansi umumnya monoton dan membosankan. Hal ini didukung fakta dilapangan bahwa umumnya guru cenderung memilih metode ceramah untuk menyampaikan materi daripada harus menggunakan media pembelajaran. Komik merupakan media yang dapat digunakan dalam pembelajaran dan populer bagi anak. Pendekatan visual dalam komik dapat menarik minat siswa sehingga siswa akan merasa senang dalam belajar. Fakta inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh penerapan Lembar Kerja Siswa dengan menggunakan media komik terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan Lembar Kerja Siswa dengan menggunakan media komik terhadap peningkatan hasil belajar Akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Batu. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian yang digunakan adalah Nonrandomized Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah siswa XI IPS di SMAN 2 Batu yang terdirip dari tiga kelas dengan jumlah 113 siswa. Sedangkan sampel yang digunakan adalah siswa kelas XI IPS 1 dan kelas XI IPS 3, dengan jumlah 74 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling untuk memilih dua kelas dari tiga kemungkinan kelas yang ada. Instrumen yang digunakan berupa soal pre test dan post test berbentuk pilihan ganda sebanyak 13 item. Teknik analisis data untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan Uji T, untuk membandingkan rata-rata hasil belajar (gain value) kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gain value kelompok eksperimen sebesar 12,89 dan gain value kelompok kontrol sebesar 8,11. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara gain value kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,039 < 0,05. Rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dari rata-rata hasil belajar kelompok kontrol, sehingga dapat dilihat bahwa penggunaan media komik terbukti lebih efektif menigkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan guru dapat lebih kreatif dalam menerapkan media pembelajaran, karena dengan penggunaan media dalam kelas dapat membuat suasana pembelajaran lebih menyenagkan sehingga menimbulkan motivasi bagi siswa. Penggunaan LKS dengan media komik ini dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk diterapkan dalam pembelajaran akuntansi.

Peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media kartu kata pada siswa kelas V SDN Jarak 1 Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang / Irfan Arif

 

Kata kunci: media, kartu kata, menulis puisi, SD Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penggunaan media kartu kata yang dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran dan mendeskripsikan bagaimana pengaruh penggunaan media kartu kata pada keterampilan menulis puisi pada siswa kelas V SDN Jarak I Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi foto dan video serta menggunakan lembar observasi dan lembar penilaian hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan kartu kata mampu meningkatkan aktifitas proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata penilaian proses sebelum tindakan adalah 53. Selanjutnya pada siklus I rata-rata nilai proses adalah 70 dan pada siklus II nilai rata-rata proses meningkat menjadi 76. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya peningkatan keterampilan siswa dalam menulis puisi yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil karya puisi sebelum tindakan adalah 53, pada siklus I meningkat menjadi 65 dan pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 74. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Penggunaan media kartu kata pada kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi. peningkatan tersebut adalah meliputi aspek pilihan kata, rima, imajinasi, dan ketajaman makna, (2) Penggunaan media kartu kata dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas dan semangat belajar siswa.

Pengaruh kepribadian terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) melalui komitmen organisasional (studi pada PT. Pindad (Persero) Turen Malang) / Heny Yusman

 

Kata Kunci: kepribadian, organizational citizenship behaviour (OCB), dan komitmen organisasional Kepribadian adalah sebuah karakteristik didalam diri individu yang relatif menetap, bertahan, yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Kepribadian karyawan ini akan menjadi sangat penting diketahui karena kepribadian karyawan akan mempengaruhi prilaku-prilaku karyawan tersebut. Salah satu cara mensukseskan sebuah organisasi adalah dengan menumbuhkan komitmen karyawan untuk mencapai tujuan organisasi. Selain komitmen organisasional prilaku positif karyawan lain yang dapat memberikan kontribusi terhadap perusahaan adalah prilaku OCB. Prilaku OCB karyawan merupakan prilaku karyawan yang bekerja lebih dari deskripsi kerja formal yang diberikan perusahaan dengan suka rela dan memberi kontribusi pada keefektifan dan keefisienan fungsi organisasi serta tidak secara langsung dihargai perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel kepribadian, dan komitmen oraganisasional terhadap karyawan departemen umum divisi munisi PT. Pindad (Persero), dengan menempatkan variabel kepribadian (X) sebagai variabel bebas, OCB (Y) sebagai variabel terikat dan komitmen organisasional(Z) sebagi variabel intervening. Populasi dalam penelitian ini yaitu karyawan departemen umum divisi munisi PT. Pindad (Persero) dengan sampel 60 karyawan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar angket dan wawancara. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis) Kesimpulan hasil penelitian ini menyatakan: (1)Terdapat pengaruh yang signifikan kepribadian karyawan terhadap komitmen organisasionl pada karyawan; (2) terdapat pengaruh yang signifikan komitmen organisasional terhadap OCB pada karyawan; (3)Terdapat pengaruh yang signifikan kepribadian karyawan tehadap OCB pada karyawan. Deskripsi penelitian menyatakan kepribadian, komitmen organisasional dan OCB karyawan tinggi Saran yang bisa diberikan hendaknya digunakan sebagai alternatif bagi pihak manajemen PT. Pindad (Persero) untuk memperhatikan kepribadian karyawan dan menjaga komitmen organisasional karyawan agar dapat mempertahankan tingkat OCB para karyawan terhadap perusahaanya agar tetap tinggi.

Penerapan pendekatan discovery untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA konsep kenampakan bulan siswa kelas IV SDN Sukoharjo II Kota Malang / Mashuri Warat

 

Kata Kunci: Aktivitas, Hasil belajar, IPA, Pendekatan Discovery Pendekatan discovery merupakan salah satu pendekatan yang memberikan suasana belajar aktif dan memberi kesempatan kapada siswa untuk melakukan proses penemuan. Berdasarkan data yang di peroleh dari hasil baelajar siswa konsep kenampakan bulan menunjukan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas IV adalah 67.56. Hasil belajar siswa tersebut masih kurang dari standar ketuntasan individu maupun klasikal yang ditentukan 70%, pembelajaran cenderung berpusat kepada guru dikarenakan pendekatan pembelajaran yang di gunakan masih bersifat informatif. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Sukoharjo II Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivtas dan hasil belajar melalui penerapan pendekatan discovery. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif jenis penelitian tindakan kelas (PTK) collaborative yang dilakukan dengan terapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan/observasi, dan refleksi. Subyek dalam Penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sukoharjo II Kota Malang yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan dengan jumlah keseluruhan sebanyak 39 siswa. Hasil penelitian diperoleh data bahwa nilai rata-rata aktivitas siswa pada akhir siklus I yaitu 68,37% dan hasil belajar akhir siklus I yaitu 70,48. Pada akhir siklus II nilai rata-rata aktivitas siswa yaitu 87,77% dan hasil belajar akhir siklus II yaitu 90%. Hasil tersebut telah mencapai standar ketuntasan klasikal baik aktivitas maupun hasil belajar siswa.. Sehinggga dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPA konsep kenampakan bulan telah tuntas. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka disimpulkan bahwa Penerapan pendekatan discovery pada pembelajaran IPA dapat menciptakan suasana belajar yang lebih di peran oleh siswa dan guru sebagai pembimbing belajar (siswa aktif dan guru pasif). Dengan menggunakan pendekatan discovery aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Sesuai kesimpulan diatas maka dapat disarankan kepada: guru yang mengembangkan pembelajaran IPA melalui pendekatan discovery di harapkan dapat memberikan hasil yang optimal kepada siswa untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Bagi sekolah Sebagai bahan pertimbangan dalam pengembagan mutu pendidikan serta pengetahuan yang dijadikan sebagai sumber dalam menciptakan tenaga lulusan yang Skill Continius Quality di masa yang akan datang serta bagi peneliti dapat mengembangkan pendekatan discovery pada sekolah yang akan diabdinya dan dapat lebih memperdalam lagi pendekatan discovery agar memperoleh hasil yang lebih baik.

Penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar teknik menera untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan IV Kersikan Bangil / Nunik Mufidah

 

Kata Kunci : Metode Demonstrasi, Menggambaar Teknik Menera, Kemampuan Seni Anak Kelompok B. Menggambar dan melukis merupakan kegiatan anak dalam berekspresi karena dengan cara seperti itu anak dapat menuangkan perasaan sesuai dengan imajinasinya dengan cara membuat gambar menggunakan pewarna cair. Arti dari menera adalah membuat gambar secara tidak langsung yaitu, memindahkan gambar melalui bantuan teknik atau alat tera/klise (istilah percetakan) yang telah dilakukan, kemampuan seni pada anak kelompok B masih mencapai 50% dari kemampuan yang diharapkan. Anak kurang tertarik terhadap kegiatan menggambar karena guru hanya menyuruh anak untuk mewarnai gambar saja. Sehingga anak tidak bisa mengekspresikan perasaan, emosi, dan pengalamannya ke dalam bentuk gambar. Untuk mengatasi masalah kurang berkesempatan tersebut, maka peneliti mencoba memilih kegiatan yang tepat untuk mengatasi rendahnya seni melalui penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar teknik menera. Berdasarkan permasalahan tersebut maka tujuan penelitian yaitu 1) untuk mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar teknik menera dalam upaya pengembangan seni amak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan IV Kersikan Bangil, 2) untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan seni dan setelah menerapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar teknik menera. Metode pemilihan yang digunakan disini menggunakan metode deskriptif dengan rancangan PTK yang terdiri atas 2 siklus. Masing-masing siklus memiliki 4 tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini ialah 17 anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan IV Kersikan Bangil. Instrumen yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan seni anak pada pra tindakan sebesar 50% meningkat 62% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 81% pada siklus II. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan IV Kersikan Bangil. Dari pengalamannya, anak dapat berekspresi ke dalam bentuk gambar. Ada beberapa saran yang dikemukakan adalah agar para guru hendaknya menggunakan menerapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar teknik menera untuk meningkatkan kemampuan seni, bagi sekolah yang ingin mengubah pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada anak.

Meningkatkan ekspresi gerak anak dengan metode demonstrasi pada pembelajaran tari kelompok B di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan / Ayu Asmah

 

Kata Kunci: Ekspresi Gerak, Metode Demonstrasi, Pembelajaran Tari. Pengembangan potensi anak dalam seni tari selama ini hanya sekedar sebagai hiasan pengembangan kreatifitas, anak hanya berperan sebagai obyek dan tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi subyek. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa anak kelompok B di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan dalam kegiatan pengembangan gerak melalui menari masih kurang optimal terutama pada ekspresi gerak. Jumlah 15 anak didik menunjukkan hanya sekitar 20% dapat mengekspresikan gerak dalam menari dan 80% menunjukkan masih kurangnya kemampuan mengekspresikan gerak dalam menari. Mengatasi masalah tersebut, maka peneliti memilih metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan mengekspresikan gerak dalam menari menggunakan metode demonstrasi. Tujuan penelitian yaitu: 1) Mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran tari dengan metode demonstrasi dalam rangka meningkatkan ekspresi gerak anak kelompok B di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan, 2) Mendeskripsikan peningkatan ekspresi gerak dengan metode demonstrasi pada pembelajaran tari anak kelompok B di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. Penelitian dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada semester 2, subyek penelitian adalah anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan,.Penelitian dilakukan pada bulan Januari – Pebruari 2011. Terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pra tindakan sebesar 52%, tindakan siklus I menunjukkan peningkatan kemampuan ekspresi gerak sejumlah 11% dengan skor rata-rata sebesar 63%, selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peningkatan sejumlah 17% dengan skor rata-rata sebesar 80%. Kesimpulan penelitian adalah bahwa metode demonstrasi merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan ekspresi gerak anak dalam menari anak kelompok B di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. Sebagai upaya untuk meningkatkan ekspresi gerak anak dalam menari melalui metode demonstrasi disarankan kepada guru untuk memberikan pembelajaran yang kreatif, materi yang menarik minat anak untuk menari, dan menempatkan anak didik sebagai subyek.

Memoirs of Vidocq: Master of Crime: is Vidocq a hidden criminal of a hidden policeman? / Nurmianti

 

Keywords: Anti-hero, archetype, individuation As an anti-hero character, Eugene Francois Vidocq, went through a radical development within himself. The radical development made him possess two contrasting identities. He began his career as a notorious scoundrel, but then he ended up becoming a famous policeman. The former identity of Vidocq as a criminal made him remain a hidden criminal amongst his policemen fellows, regardless of his services to the La Surete Police Department. On the contrary, he also had to keep his identity to hold his power being a policeman when he was in the service. Hence, there is also a possibility that he was also a hidden policeman. In this thesis, the writer analyzed the development of Vidocq character by using the psychoanalysis of Carl Jung to know whether Vidocq was a hidden criminal or a hidden policeman. The psychoanalysis dug out the deepest human psychic that revealed the most hidden identity of human being. It was also paralleled with fabula study as one of the theories of narratology. The theory of fabula allowed the readers to make sense the psychoanalysis theory within Vidocq character in the narrative text. The study also used a descriptive qualitative method to describe the development of Vidocq character. The result of the study revealed that Vidocq went through a human psychic process that led him to reach the deepest identity of his maturity. As a criminal who needed to survive, he used his potential to catch his own friends, who were also criminals, in order for his freedom. Thus, the situation that he dealt with and the ways he held his superior power to catch thieves made him become a hidden policeman.

Penerapan brain gym untuk meningkatkan kemampuan menggambar anak kelompok A di TK Pertiwi Bendosari Kabupaten Blitar / Nichen Oktavyani

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Menggambar, Brain Gym Berdasarkan observasi kegiatan pembelajaran menggambar di TK Pertiwi, diketahui bahwa terdapat permasalahan yang muncul antara lain: (1) kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru, (2) kegiatan pembelajaran menggambar kurang bervariasi sehingga anak cepat bosan, (3) kegiatan kurang menarik bagi anak karena kurangnya media pembelajaran yang digunakan, (4) kurangnya motivasi yang diberikan guru kepada anak, (5) hasil belajar anak masih rendah, untuk itu perlu diadakan penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan menggambar dengan menggunakan metode brain gym. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah anak kelompok A TK Pertiwi Bendosari Kabupaten Blitar dengan jumlah 12 anak. instrumen yang digunakan meliputi observasi, tes dan dokumentasi, melalui beberapa langkah, yaitu guru menjelaskan langkah melakukan gerakan brain gym, guru memberi contoh dan membimbing gerakan brain gym permainan jari, membuat garis tegak, arm activation, doodle doodle dan alphabets 8s, kegiatan brain gym dilakukan pada setiap awal kegiatan, anak diberi kesempatan untuk menggambar sesuai keinginannya berdasarkan tema yang ditentukan. Hasil belajar anak terus meningkat dari pratindakan 2 anak mendapat bintang 3 dengan persentase 16,6% meningkat menjadi 8 anak mendapat bintang 3 dengan persentase 66,6% pada siklus I. Namun belum mencapai keberhasilan yang diharapkan sehingga perlu dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II diperoleh hasil 11 anak mendapat bintang 3 dengan persentase 91,6%. Pembelajaran dinyatakan berhasil karena persentase keberhasilan telah di atas 80% anak mendapat bintang 3 Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa penerapan brain gym pada anak kelompok A TK Pertiwi Bendosari Kabupaten Blitar dapat meningkatkan kemampuan menggambar anak. Disarankan agar guru dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan penerapan brain gym untuk anak.

Penggunaan media gambar seri untuk peningkatan kemampuan berbahasa pada anak kelompok A TK PKK 01 Kedungwungu Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar / Binarti

 

Kata Kunci : kemampuan berbahasa, media gambar seri, TK Penelitian ini berlatar belakang pada masih rendahnya kemampuan berbahasa anak dalam hal mengungkapkan gagasan/ide untuk menyampaikan maksud. Hal ini disebabkan kegiatan pembelajaran yang masih bersifat monoton, kegiatan pembelajaran berpusat pada guru, tidak adanya media peraga dan penampilan guru kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendiskripsikan penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada kelompok A TK PKK 01 Kedungwungu Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar.(2) Mendiskripsikan apakah penggunaan media gambar seri dapat meningkatan kemampuan berbahasa pada Kelompok A TK PKK 01 Kedungwungu Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan di TK PKK 01 Kedungwungu, pada kelompok A yang berjumlah 30 anak. Instrumen pada penelitian ini menggunakan lembar observasi, eksperimen dan catatan/jurnal. Penelitian dilaksanakan atas 2 siklus yaitu siklus I dan Siklus II. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tindakan penelitian berupa penerapan metode bercakap-cakap, demonstrasi, pemberian tugas dan bercerita melalui media gambar seri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Terbukti terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan kemampuan anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan menceritakan pengalaman, menjawab pertanyaan, menyimak cerita, mengurutkan gambar, dan menceritakan gambar yang disediakan. Berkaitan dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini seharusnya guru maupun orang tua sering mengajak anak berkomunikasi tentang kegiatan anak sehari-hari. Diharapkan dengan sering berkomunikasi kosa kata anak bertambah dan beragam. Selain itu kegiatan bercerita bisa dilakukan di luar kelas supaya anak tidak cepat bosan dan anak bisa bereksplorasi maupun berinteraksi langsung dengan lingkungan. Hal ini dapat meningkatkan kreatifitas maupun daya imajinasi anak, agar kemampuan berbahasa dapat berkembang secara optimal.

Persepsi siswa terhadap pengelolaan kelas oleh guru praktikan sejarah dan hubungannya dengan prestasi belajar siswa pada semester genap 2010/2011 di SMP Negeri 6 Malang / Anik Rahayu Ningrum

 

Kata Kunci: pengelolaan kelas, guru praktikan, prestasi belajar Selama guru praktikan melaksanakan kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) mereka harus menguasai semua keterampilan mengajar. Salah satu keterampilan mengajar yang harus dimiliki oleh setiap guru adalah pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas merupakan beberapa tindakan yang dilakukan oleh guru untuk mencegah gangguan di dalam kelas dan menciptakan serta memelihara situasi yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Pengelolaan kelas yang baik akan berdampak pada tercapainya kegiatan pembelajaran yang efektif dan tercapainya tujuan pembelajaran.Tanpa guru melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik, bisa dipastikan bahwa kondisi kelas akan menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajaran yang akan berakibat pada rendahnya prestasi siswa. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui persepsi siswa terhadap pengelolaan kelas yang dilaksanakan oleh guru praktikan sejarah di SMP Negeri 6 Malang, (2) Mengetahui hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel pengelolaan kelas (X) dan variabel prestasi belajar siswa (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang diajar oleh guru praktikan sejumlah 242 siswa dengan jumlah sampel sebesar 70 siswa. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan teknik proportional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket sebagai instrumen utama, lembar observasi sebagai instrumen pendukung bagi hasil penyebaran angket, dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi. Selanjutnya data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan analisis korelasi product moment Pearson dengan bantuan komputer SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)Persepsi siswa terhadap pengelolaan kelas yang dilaksanakan oleh ibu Afit: penerapan upaya pengelolaan kelas yang bersifat preventif terkadang dilaksanakan sebesar 40,9%, penerapan upaya pengelolaan kelas yang bersifat kuratif terkadang dilaksanakan sebesar 36,4%, penerapan pendekatan modifikasi perilaku terkadang dilaksanakan sebesar 37,9%, penerapan pendekatan iklim sosio-emosional terkadang dilaksanakan sebesar 34,4%, dan penerapan pendekatan proses kelompok selalu dilaksanakan sebesar 32,7%. (2) Persepsi siswa terhadap pengelolaan kelas yang dilaksanakan oleh Bapak Yudha: penerapan upaya pengelolaan kelas yang bersifat preventif terkadang dilaksanakan sebesar 50%, penerapan upaya pengelolaan kelas yang bersifat kuratif terkadang dilaksanakan sebesar 34,7%, penerapan pendekatan modifikasi perilaku terkadang dilaksanakan sebesar 40,9%, penerapan pendekatan iklim sosio-emosional terkadang dilaksanakan sebesar 39,7%, dan penerapan pendekatan proses kelompok terkadang dilaksanakan sebesar 41,4%. (3) Persepsi siswa terhadap pengelolaan kelas yang dilaksanakan oleh Ibu Septian: penerapan upaya pengelolaan kelas yang bersifat preventif terkadang dilaksanakan sebesar 37,5%, penerapan upaya pengelolaan kelas yang bersifat kuratif terkadang dilaksanakan sebesar 40,3%, penerapan pendekatan modifikasi perilaku terkadang dilaksanakan sebesar 38,2%, penerapan pendekatan iklim sosio-emosional terkadang dilaksanakan sebesar 35,6%, dan penerapan pendekatan proses kelompok sering dilaksanakan sebesar 32,5%. (4) Terdapat hubungan yang signifikan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan rhitung 0,516 > rtabel 0,235 Saran dalam penelitian adalah (1) Bagi guru praktikan harus lebih menguasai teknik dan pendekatan pengelolaan kelas dan terampil dalam menerapkannya pada kegiatan pembelajaran, (2) Bagi Kepala sekolah harus memonitoring kegiatan guru-guru dalam mengelola kelas karena terbukti adanya hubungan antara kegiatan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa, (3) Bagi peneliti lanjutan, hendaknya menambah atau mengembangkan teori mengenai kegiatan pengelolaan kelas dan teori mengenai hubungan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa sehingga hasil penelitian semakin detail dan akurat.

Profil juara 1 UKS tingkat nasional SDN Pandanwangi 1 Malang tahun 2009 / Christyanto Yudha Pratidina

 

Kata Kunci: UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), Trias UKS, Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat. Keinginan untuk selalu hidup sehat merupakan dambaan bagi kita semua karena lingkup kesehatan sangatlah luas, bisa meliputi sehat secara jasmani, rohani, lingkungan. Sekolah sebagai salah satu yang mempunyai peran penting dalam mewujudkan kesehatan seperti yang kita harapkan. Pendidikan kesehatan sekolah ini telah didapatkan sejak kita mengenal dunia sekolah, karena tak jarang di beberapa tempat sekolah taman kanak-kanak kita telah mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, salah satu contohnya adalah bagaimana cara menggosok gigi yang benar. Walaupun belum terfokus namun tak dipungkiri banyak hal tentang kesehatan bisa diajarkan di sekolah taman kanak-kanak ini. Hal ini sesuai dengan sasaran pembinaan UKS yakni UKS dijalankan di pendidikan formal dan juga pendidikan non formal pada setiap jalur dan jenis pendidikan, mulai dari tingkat pra sekolah hingga Sekolah Menengah Atas termasuk perguruan agama dan lingkungannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan profil SDN Pandanwangi 1 Malang dapat mencapai prestasi juara UKS Tingkat Nasional pada tahun 2009. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan lembar observasi kepada Kepala Sekolah SDN Pandanwangi 1 Malang, serta ditunjang oleh lembar triangulasi kepada guru, karyawan, siswa, wali murid SDN Pandanwangi 1 Malang dan Masyarakat sekitar SDN Pandanwangi 1 Malang. Berdasarkan data observasi dari Kepala Sekolah SDN Pandanwangi 1 Malang, semua yang diinginkan tim pembina UKS Tingkat Jawa Timur telah dilaksanakan dengan baik mulai dari strata minimal, standar, optimal hingga srata paripurna, bahkan SDN Pandanwangi 1 Malang dapat menerapkan program itu dengan lebih baik lagi, misalnya penerapan kantin kejujuran, pengolahan limbah air menjadi media pembelajaran melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kolam. Serta pengolahan sampah menjadi kerajinan tangan sehingga dapat digunakan sebagai bahan layak pakai atau mempunyai nilai ekonomis. Berdasarkan temuan tersebut disarankan: (1) bagi sekolah-sekolah yang lain, Hendaknya setiap sekolah tahu strata-strata pelaksanaan UKS sehingga jika melaksanakan UKS di sekolah tidak hanya menyediakan kasur dan obat-obatan saja, (2) bagi warga sekolah (Guru, Siswa, dan Karyawan), Peran serta warga sekolah menentukan pencapaian kualitas UKS untuk itu diharapkan untuk tidak mengerjakan kegiatan dengan setengah-setengah untuk mewujudkan UKS yang optimal. (3) masyarakat dan Lembaga/Instansi, dukungan dari masyarakat sekitar dan lembaga/instasi yang ada sangat diperlukan bukan hanya terlibat langsung namun tak langsung pun diperlukan misalnya untuk tidak merokok di sekitar sekolah, (4) bagi jurusan, hendaknya menambah literautur tentang dunia kesehatan khususnya literatur tentang Usaha Kesehatan Sekolah, (5) bagi peneliti lanjutan, diharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan dengan lebih mendalam dan lebih luas dan hendaknya melakukan pengembangan terhadap hasil penelitian ini melalui metode dan fokus yang berbeda serta melengkapi kekurangan yang ada.

Analisis model matematika transmisi demam berdarah dengan diagnosa klinis / Qumil Laila

 

Kata kunci : demam berdarah, diagnosa klinis, Basic Reproduction Ratio. Matematika adalah bidang ilmu pengetahuan yang sering digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan. Baik permasalahan yang memang berhubungan langsung dengan bidang matematika seperti perhitungan maupun permasalahan di luar bidang matematika. Salah satu cabang ilmu matematika yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan di luar bidang matematika tersebut adalah Pemodelan Matematika. Sebagian besar permasalahan dalam kehidupan dapat diformulasikan ke dalam model matematika. Salah satunya adalah mengenai demam berdarah, yang merupakan penyakit yang sering menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) setiap tahunnya dan sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Melalui dignosa klinis penderita demam berdarah dibedakan menjadi tiga yaitu manusia yang terinfeksi dengan diagnosa klinis Dengue Fever (DF), terinfeksi Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), dan terinfeksi Dengue Shock Syndrome (DSS). Setelah ditambah dengan manusia suspectible dan recovered, populasi manusia total terdiri dari lima kelompok. Sedangkan populasi vektor nyamuk total terdiri dua kelompok yaitu vektor suspectible dan vektor terinfeksi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa model matematika yang dihasilkan mempunyai dua titik kesetimbangan yaitu titik kesetimbangan bebas penyakit dan titik kesetimbangan endemik. Kestabilan titik kesetimbangan bebas penyakit  0,0,0,0,11E akan menjadi stabil asimtotik jika R0 < 1 dan tidak stabil jika R 0 0  VDSSDHFDFHIIIISE,,,,2 akan stabil jika R0 > 1. Parameter R0 dalam kajian epidemiologi dikenal sebagai parameter Basic Reproduction Ratio. R0 ini menyatakan banyaknya kasus infeksi kedua terhadap banyaknya kasus infeksi pertama (awal) dalam populasi bebas penyakit dan tertutup. Perilaku di sekitar titik kesetimbangan bebas penyakit 1 E dengan nilai R0 = 0,000473 memenuhi kondisi bahwa selesaian akan secara asimtotis menuju ke titik kesetimbangan 1,0,0,0,0 1 E  . Artinya pada kondisi cukup lama  t manusia suspectible akan kembali pada kondisi awal 1, tidak ada manusia yang terinfeksi dengan DF, DHF, maupun DSS dan tidak ada vektor nyamuk yang terinfeksi. Sedangkan perilaku di sekitar titik kesetimbangan endemik 2 E dengan nilai R0 = 1,26 memenuhi kondisi bahwa selesaian akan secara asimtotis menuju ke titik kesetimbangan  VDSSDHFDFHIIIISE,,,,2 . Artinya akan selalu ada penyakit dalam populasi. > 1. Sedangkan titik kesetimbangan endemik

Analisis kelompok (cluster analysis) metode hirarki untuk pengelompokan kecamatan di Kabupaten Malang berdasarkan indikator pemerataan pendidikan / Ahmad Jauhar Anam

 

Kata Kunci: otonomi daerah, pengelompokan, analisis kelompok, metode hirarki,indeks RMSSTD ( root-mean-square standard deviation) Dengan diberlakukannya otonomi daerah, yaitu dengan diterapkannya UU No. 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pada bidang pendidikan perubahan itu terjadi pada bidang pengelolaan dari sentralisasi menjadi desentralisasi, dimana daerah diberi keleluasaan untuk menyelenggarakan pendidikan dan mengelola faktor-faktor pendukungnya. Dalam hal memenuhi salah satu arah kebijakan pendidikan nasional yaitu perluasan dan pemerataan pendidikan, maka dalam menyusun perencanaan pendidikan, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memerlukan informasi mengenai kondisi pendidikan di wilayahnya, tidak terkecuali oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Untuk mengetahui informasi mengenai pemerataan pendidikan di 33 Kecamatan di Kabupaten Malang, maka perlu digunakan suatu metode pengelompokkan. Pada Penelitian ini, metode pengelompokan yang akan diimplementasikan pada kasus pengelompokan 33 Kecamatan di Kabupaten Malang berdasarkan indikator pemerataan pendidikan adalah analisis kelompok (cluster analysis) dengan menggunakan 5 metode hirarki. Analisis kelompok atau biasa dikenal sebagai cluster analysis adalah salah satu teknik statistik yang bertujuan untuk mengelompokkan objek kedalam suatu kelompok sedemikian sehingga objek yang berada dalam satu kelompok akan memiliki kesamaan yang tinggi dibandingkan dengan objek yang berada di kelompok lain Indeks validitas yang digunakan untuk mengetahui jumlah kelompok (cluster) optimum dan metode terbaik adalah Indeks RMSSTD (root-mean-square standard deviation). Berdasarkan indeks RMSSTD yang minimum yaitu sebesar 89,694, metode single linkage, complete linkage, average linkage dan centroid dengan jumlah kelompok sama dengan 2 adalah metode terbaik untuk jenjang SD dan sederajat. Sedangkan untuk jenjang SMP dan sederajat, metode ward dengan jumlah kelompok sama dengan 7 adalah metode terbaik dengan nilai RMSSTD sebesar 3,659. Metode complete linkage dengan jumlah kelompok sama dengan 9 adalah metode terbaik untuk jenjang SMA dan sederajat dengan nilai RMSSTD sebesar 2,074.

Identifikasi kesulitan dalam memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan pada siswa kelas XI IPA SMAN 1 Singosari / Magfirah

 

Kata Kunci: identifikasi kesulitan, kelarutan dan hasil kali kelarutan, siswa kelas XI IPA SMAN 1 Singosari Ilmu kimia merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Siswa seringkali kesulitan untuk memahami materi pelajaran kimia yang bersifat abstrak atau materi kimia yang konsepnya saling berkaitan. Konsep dalam materi kelarutan dan hasil kali kelarutan ini bersifat berurutan, untuk memahami konsep dalam materi kelarutan dan hasil kali kelarutan siswa perlu memahami konsep yang mendasar seperti konsentrasi, persamaan reaksi, kesetimbangan kimia, zat terlarut dan pelarut, jika tidak maka siswa akan kesulitan. Kesulitan ini akan membawa dampak yang kurang baik bagi pemahaman siswa akan konsep-konsep kimia, karena tujuan dari pengajaran kimia sendiri adalah agar siswa menguasai konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam: (1) memahami kelarutan, (2) memahami hasil kali kelarutan, (3) meramalkan pengendapan, (4) memahami pengaruh ion senama serta pH terhadap kelarutan suatu zat dan (5) untuk mengetahui pada sub materi apa dalam materi kelarutan dan hasil kali kelarutan siswa paling banyak mengalami kesulitan dan apa sebabnya. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1, XI IPA 2, dan XI IPA 3 SMAN 1 Singosari tahun ajaran 2010/2011 semester genap , yang berjumlah 97 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes obyektif pilihan ganda sebanyak 26 butir soal. Berdasarkan hasil verifikasi instrumen dan uji coba, diperoleh validitas isi instrumen sebesar 91,6% dan reliabilitas yang dihitung menggunakan KR-20 sebesar 0,75. Selanjutnya data dianalisis dengan menghitung persentase kesulitan tiap rumusan masalah. Untuk mengetahui penyebab kesulitan siswa dalam memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dilakukan wawancara. Kemudian seluruh data yang ada dideskripsikan untuk memperoleh gambaran tentang kesulitan siswa dalam memahami materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami kelarutan adalah 50,1 % yang berarti bahwa tingkat kesulitan siswadalam memahami kelarutan cukup besar, (2) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami hasil kali kelarutan adalah 37,9 % yang berarti bahwa tingkat kesulitan siswa dalam memahami hasil kali kelarutan kecil, (3) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam meramalkan pengendapan suatu zat adalah 66,3 % yang berarti bahwa tingkat kesulitan siswa dalam meramalkan pengendapan suatu zat besar, (4) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pengaruh ion senama serta pH terhadap kelarutan suatu zat adalah 47,0 % yang berarti bahwa tingkat kesulitan siswa dalam memahami pengaruh ion senama serta pH terhadap kelarutan suatu zat cukup besar dan (5) dalam memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan siswa paling banyak mengalami kesulitan pada sub materi meramalkan pengendapan, hal tersebut disebabkan oleh (a) siswa kurang paham dengan materi prasyarat dan konsep dasar yang sebenarnya harus dikuasai (b) siswa kurang paham terhadap materi yang diberikan oleh guru karena dijelaskan dengan cepat dan (c) siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal dengan stoikiometri kimia

Keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berbantuan media pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar dan minat belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kepanjen pada materi koloid / Abdul Barri

 

Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif TPS, media pembelajaran, hasil belajar, minat belajar, koloid. Model pembelajaran kooperatif TPS yang terdiri dari tahapan think, pair, dan share tidak dapat berjalan efektif dalam penerapannya disebabkan oleh beberapa faktor yang berasal dari siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat berdampak pada hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor serta minat belajar siswa. Beberapa upaya dapat dilakukan sebagai alternatif peningkatan keefektifan penerapan model kooperatif TPS salah satunya penggunaan media pembelajaran sebagai media bantuan dalam pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui keterlaksanaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) berbantuan media pembelajaran siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kepanjen pada materi Koloid, (2) mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) berbantuan media pembelajaran siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kepanjen pada hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor serta minat belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu. Penelitian ini menggunakan dua kelas yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen yaitu kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) berbantuan media pembelajaran. Kelas kontrol diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS). Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dengan cara tidak diacak. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (terdiri dari silabus, RPP, LKS dan hands-out) dan instrumen pengukuran yang terdiri dari tes, lembar observasi untuk menilai kemampuan afektif dan psikomotor siswa serta angket. Analisis data dilakukan dengan uji Mann Whitney U dan uji t pada signifikansi α = 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen (82,0) hampir sama dengan kelas kontrol (80,8). Hasil tersebut sama secara signifikan α = 0,99 > 0,05 pada taraf signifikansi 5%. Sedangkan hasil belajar afektif (87), psikomotor (93), dan minat belajar (47) siswa kelas eksperimen lebih baik daripada hasil belajar afektif (82), psikomotor (88), dan minat belajar (43) siswa kelas kontrol. Hasil tersebut secara signifikan berbeda berturut-turut α = 0,006 < 0,05, α = 0,001< 0,05, dan α = 0,018< 0,05 pada taraf signifikansi 5%. Hal ini menunjukkan bahwa keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) berbantuan media pembelajaran lebih tinggi daripada model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) pada hasil belajar afektif, psikomotor, dan minat belajar siswa.

Penerapan metode Question Student Have (QSH) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata diklat kewirausahaan (studi kasus pada siswa kelas X B Akuntansi di SMK PGRI Pakisaji Malang) / Endang Irsyadah

 

Kata Kunci: Question Have (QSH), Motivasi, Hasil Belajar, Kewirausahaan. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, berbagai upaya pendidikan telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan kajian-kajian dan pengembangan kurikulum di Indonesia secara bertahap, konsisten dan disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Salah satu strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu metode pembelajaran yang berkembang pada saat ini adalah pembelajaran aktif. Salah satu bentuk pembelajaran aktif adalah metode Question Student Have (QSH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran QSH pada kelas X Akuntansi B SMK PGRI Pakisaji pada mata pelajaran Kewirausahaan, mengetahui motivasi belajar siswa pada kelas X Akuntansi B SMK PGRI Pakisaji setelah menerapkan metode QSH pada mata diklat Kewirausahaan, mengetahui hasil belajar siswa pada kelas X Akuntansi B SMK PGRI Pakisaji setelah menerapkan metode QSH pada mata pelajaran Kewirausahaan, mengetahui kendala-kendala dan solusi yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran QSH pada kelas X Akuntansi B SMK PGRI Pakisaji pada mata pelajaran Kewirausahaan, penerapan model pembelajaran QSH pada kelas X Akuntansi B SMK PGRI Pakisaji dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar di SMK PGRI Pakisaji pada mata pelajaran Kewirausahaan. Penelitian ini merupakan penelitian jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi B SMK PGRI Pakisaji Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, catatan lapangan dan angket motivasi siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data) dan conclusion drawing (penarikan kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I skor tertinggi yang diperoleh adalah 45 dan skor maksimalnya adalah 52, dengan presentasi nilai rata-rata 86,54% dan termasuk dalam kategori baik dan mendapatkan poin B. Sedangkan skor terendah adalah 34 dengan skor maksimal 52, dengan presentase nilai rata-rata yaitu 65,38% dan termasuk dalam kategori cukup dan mendapat poin C. Pada siklus II skor tertinggi yang diperoleh adalah 52 dengan nilai rata-rata 100% dan termasuk dalam kategori sangat baik dan mendapat poin A. Sedangkan skor terendah adalah 35 dengan skor maksimal 52, presentasi nilai rata-rata yaitu 67,3% dan termasuk dalam kategori baik dan mendapat poin B. Peningkatan yang signifikan dan secara keseluruhan pembelajaran ini mampu meningkatkan motivasi dan aktifitas belajar. Selain itu penelitian ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang terlihat dari perbandingan hasil pre test dan post test sebelum penerapan metode QSH dan jumlah siswa yang tuntas belajar pada saat pre test dan post test. Hasil pre test terdapat sebanyak 6 siswa (15,8%) sedangkan yang belum tuntas sebanyak 32 siswa (84,2%). Hasil setelah tindakan (post test) menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan siswa yang tuntas sebanyak 33 siswa (86,8%) dan yang belum tuntas sebanyak 5 siswa (13,1%). Walaupun pada setelah tindakan masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah hal yang wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua.

Penerapan contextual teaching and learning untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi bagi siswa kelas 5 SDN Ketawanggede 1 Kota Malang / Betty Rosmalina Pribadi

 

Kata kunci: Model Contextual Teaching and Learning, Menulis Puisi, Keterampilan Menulis. SDN Ketawanggede 1 Kota malang merupakan sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diperlakukan mulai tahun ajaran 2006. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang siswa kurang mampu menulis secara runtut dengan menggunakan kalimat efektif yaitu dalam memilih kata yang tepat dan belum menggunakan ejaan yang benar. Terutama dalam menulis puisi siswa kelas 5 masih menemukan kesulitan dalam pemilihan kata. Siswa cenderung terlihat jenuh setiap kali pembelajaran yang hanya dilakukan di ruang kelas. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan penerapan model contextual teaching and learning dan mencoba pula pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. Kegiatan belajarnya dilakukan di luar kelas dan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk meningkatkan keaktifan siswa sehingga keterampilan siswa akan terlihat. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) Mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis puisi melalui model pembelajaran contextual teaching and learning bagi siswa kelas 5, (2) Mendeskripsikan kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa serta cara mengatasinya dalam meningkatkan keterampilan menulis puisi melalui model pembelajaran contextual teaching and learning bagi siswa kelas 5. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokementasi. Data yang dianalisis pada penelitian ini berupa keterampilan menulis yang diperoleh melalui hasil penilaian proses belajar mengajar dan hasil penilaian terakhir pembelajaran yang didapat dari nilai test akhir, dan aktivitas siswa diperoleh dari keaktifan siswa selama melaksanakan kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 5 SDN Ketawanggede 1 Kota Malang, dengan jumlah siswa sebanyak 25 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010-2011, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai Bahasa Indonesia, lembar kerja siswa, dan lembar penilaian proses menulis. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Penerapan model pembelajaran contextual teaching and learning dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa SDN Ketawanggede 1 Kota Malang pada pelajaran bahasa Indonesia; 2) Setelah diterapkannya model pembelajaran contextual teaching and learning pada siklus I materi menulis puisi naik dari rata-rata nilai sebelum tindakan yaitu 63,2 menjadi 71,56, dan pada siklus II mengalami peningkatan dari siklus I menjadi 77,08. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran contextual teaching and learning dan pembelajaran di luar kelas perlu diterapkan di kelas, karena dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Dengan melaksanakan pembelajaran di luar kelas, siswa dapat mengamati lingkungan sekitar sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan dengan cara mengalami sendiri dan membantu siswa karena membuat siswa lebih aktif dan tidak jenuh saat pembelajaran berlangsung.

Pengembangan panduan pelatihan kecerdasan sosial (social intelligence) bagi siswa SMK / Fendahapsari Singgih Sendayu

 

Tesis, Program Studi Bimbingan Konseling. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A., Pembimbing (II) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A. Kata kunci: pengembangan, panduan, pelatihan kecerdasan sosial (social intelligence) Kecerdasan Sosial adalah kecerdasan yang digunakan orang untuk berinteraksi dan berhubungan antara satu dengan yang lain. Selain itu kecerdasan sosial adalah merupakan keseluruhan dari kemampuan seseorang yang digunakan untuk berinteraksi atau berhubungan secara efektif dengan orang lain. Kapanpun seseorang berinteraksi dengan orang lain, apakah dengan teman, anggota keluarga, kenalan, asosiasi bisnis, maupun penjaga toko, kecerdasan sosial merupakan suatu keterampilan yang harus dimiliki. Sikap yang menunjukkan individu cerdas secara sosial dapat terlihat dalam bentuk kasih sayang, peduli sekitarnya, mampu mebawa diri, jujur, empati, menolong, menghargai, dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar. Kecerdasan sosial merupakan salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang siswa karena bertujuan membentuk pribadi siswa supaya menjadi manusia, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Metode yang digunakan dalam mengembangkan perilaku kecerdasan sosial pada siswa salah satunya adalah dengan media biblioterapi atau lebih dikenal dengan bibliokonseling. Dalam hal ini konselor memberikan buku atau cerita yang di dalamnya terdapat ajaran tentang berperilaku kecerdasan sosial yang meliputi peduli/kesadaran sosial, kemampuan membawa diri, kebenaran, kejelasan, dan empati. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menguji efektifitas panduan kecerdasan sosial bagi siswa SMK. Produk penelitian pengembangan ini adalah: buku panduan bagi konselor, dan buku panduan bagi siswa SMK. Uji akseptabilitas dimaksudkan untuk mengetahui keberterimaan panduan yang didasarkan pada empat indikator yaitu: kegunaan (utility), kelayakan (feasibility), ketepatan (accuracy), dan kemenarikan. Uji efektifitas dilakukan setelah standar akseptabilitas produk terpenuhi. Efektifitas panduan didasarkan pada analisa hasil pemahaman, sikap, dan tingkah-laku tentang aspek-aspek kecerdasan sosial yaitu: aspek Situational Awareness (Kesadaran Situasional), Presense (Kemampuan Membawa Diri), Authenticity (Keaslian atau Kebenaran dari Pribadi Individu), Clarity (Kejelasan), dan Empathy (Empati). Pengembangan panduan pelatihan kecerdasan sosial (social intelligence) menggunakan model kombinasi Borg & Gall dengan Dick & Carey yang terdiri atas tiga tahapan pengembangan, yaitu pra pengembangan, pengembangan, dan pasca pengembangan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pra pengembangan adalah melakukan need assessment dan penjaringan siswa yang akan dijadikan subjek pelatihan. Dari hasil wawancara dengan konselor dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang akan diadakan sangat perlu dan bermanfaat bagi siswa. Selanjutnya pemilihan subjek pelatihan dilakukan melalui pengisian skala kecerdasan sosial, dan laporan dari konselor sekolah, sehingga terpilihlah tujuh orang siswa yang menjadi subyek pelatihan. Dalam tahap pengembangan, langkah-langkah yang ditempuh adalah menyusun draf panduan, merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus panduan pelatihan, mengembangkan alat evaluasi, dan menentukan strategi pelatihan. Tahap ini menghasilkan prototype panduan pelatihan kecerdasan sosial (sosial intelligence) bagi konselor dan siswa. Tahap pasca pengembangan atau tahap evaluasi formatif terdiri empat tahap yaitu tahap uji caba prototype produk oleh ahli, konselor, perorangan (dua orang siswa) dan uji kelompok terbatas (siswa). Hasil penilaian ahli dan konselor menunjukkan bahwa panduan pelatihan kecerdasan sosial (social intelligence) efektif bila ditinjau dari segi kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kemenarikan. Uji efektifitas pada kelompok terbatas dilakukan dengan rancangan singgle subject design dengan model A-B. Berdasarkan hasil uji coba penelitian, menunjukkan bahwa secara keseluruhan bahwa panduan kecerdasan sosial (social intelligence) dengan menerapkan teknik biblioterapi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan sosial siswa yang meliputi aspek kesadaran situasional (Situational Awareness), kemampuan membawa diri (Presence), kebenaran (Authenticity), kejelasan (Clarity), dan empati (Empathy), memiliki dampak yang positif terhadap peningkatan kemampuan target behavior yang diinginkan. Peningkatan kemampuan pemahaman, sikap, dan perilaku kecerdasan sosial ke tujuh subyek ditunjukkan melalui meningkatnya mean level dan perubahan dari level, central tendency, trend, dan latency tiap subyek pada tiap aspek kecerdasan sosial. Dengan meningkatnya data-data tersebut mengindikasikan bahwa panduan kecerdasan sosial (social intelligence) dengan menerapkan teknik biblioterapi efektif untuk meningkatkan kemampuan, pemahaman, sikap, dan tingkah-laku kecerdasan sosial siswa SMK.

Nilai sekarang (present value) anuitas awal dari anuitas hidup berubah pembayaran K kali dalam setahun / Samsul Arifin

 

Kata kunci: Anuitas Hidup, Pembayaran Berubah, Periode beberapa kali dalam Setahun. Anuitas hidup adalah serangkaian pembayaran yang dilakukan secara berkala/periodik dimana setiap pembayaran akan dilakukan sampai dengan akhir dari masa pembayaran (jatuh tempo) selama masih hidup. Konsep anuitas dapat dimulai dengan ketersedian sejumlah dana yang digunakan untuk membayar angsuran dalam suatu jangka waktu sampai dana tersebut habis. Namun pembayaran anuitas yang biasanya tahunan dengan jumlah pembayaran tetap adalah hal yang biasa. Oleh karena itu pembayaran anuitas dilakukan dengan beberapa kali pembayaran dalam satu tahun dengan jumlah uang yang dibayarkan dalam setiap periodenya berubah. Pembayaran anuitas yang seperti ini bisa dijadikan pilihan bagi para anuitan dalam memilih model pembayaran anuitas. Periode yang digunakan bisa semesteran, quartalan, bulanan bahkan mingguan. Dalam tugas akhir ini akan dibahas tentang pencarian penaksiran nilai sekarang anuitas hidup yang dibayarkan diawal periode dengan jumlah pembayaran setiap periodenya berubah dan dilakukan beberapa kali dalam setahun. Cara mencari nilai sekarang anuitas awal dari anuitas hidup berubah pembayaran k kali dalam setahun adalah dengan menambahkan h (satuan uang) pada anuitas hidup (tetap) pembayaran k kali dalam setahun pada setiap periode pembayaran. Sehingga diperoleh dua sigma fungsi dan kemudian sigma fungsi yang diperoleh untuk menaksirkanya dilakukan pendekatan polinomial pangkat tiga (interpolasi hermite). Dengan menjumlahkan hasil penaksiran masingmasing rumus sigma, diperoleh penaksiran nilai sekarang anuitas hidup berubah pembayaran di awal periode dengan pembayaran k kali dalam setahun. Model dari anuitas hidup (berubah) pembayaran k kali dalam setahun mempunyai perbedaan dengan anuitas hidup (tentu) pembayaran k kali dalam setahun. Dan perbedaanya terletak pada jumlah uang yang dibayarkan pada setiap periodenya. Pada anuitas hidup pembayaran berubah, jumlah uang yang dibayarkan dalam setiap periode pembayaran akan bertambah sebesar h (satuan uang ), yang berarti terjadi peningkatan jumlah uang yang dibayarkan dalam setiap periode pembayaran. Hal ini bisa dikatakan juga sebagai anuitas hidup yang berubah secara meningkat (Increasing Annuity).

Pengembangan media elektronik book pada matakuliah teori dan praktik judo untuk mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Beni Wahyu Prabowo

 

Kata Kunci: Pengembangan, Elektronik Book, Teori dan Praktik Judo. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dan dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Seperti yang kita ketahui saat ini bahwa jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal. Didalam pendidikan formal terdapat jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian pada tanggal 21-24 Februari 2011 terhadap analisis kebutuhan yang dilakukan melalui pengisian angket yang tersebar pada 35 mahasiswa angkatan 2007 jurusan pendidikan jasmani dan kesehatan Universitas Negeri Malang yang diambil secara acak dan sudah mengikuti mata kuliah Teori dan Praktik Judo. Dari hasil pengisian angket diperoleh data 100% mahasiswa sudah mendapatkan mata kuliah Teori dan Praktik Judo. Sebanyak 100% mahasiswa belum pernah mendapatkan media interaktif dalam mata kuliah Teori dan Praktik Judo. Dan 100% setuju bila dikembangkan media interaktif pembelajaran Teori dan Praktik Judo. Tujuan Penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran Elektronik Book Teori dan Praktik Judo untuk mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Produk yang dikembangkan berupa software yang mengoperasikan menggunakan komputer sebagai media pembelajaran yang berbentuk Elektronik book. Elektronik book yang di kembangkan sebagai media, diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep dan teknik gerakan judo pada perkuliahan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang.Teknik-teknik gambar bantingan judo pada cover diharapkan dapat memberikan daya tarik pada cabang olahraga yang di tampilkan pada elektronik book. Menu pada Elektronik book “teori dan praktik judo” meliputi sejarah judo di Dunia dan di Indonesia, sarana dan prasarana meliputi tempat latihan judo (Dojo) dan pakaian judo (Judogi), latihan meliputi senam judo, latihan jatuhan judo, cara pegangan pakaian judo, cara melangkahkan kaki dan cara menghilangkan keseimbangan. Teknik judo terdiri dari teknik bantingan, teknik kuncian, teknik cekikan, teknik patahan, peraturan meliputi peraturan pertandingan, peraturan sistem penilaian dan peraturan teknik terlarang. Diharapkan mahasiswa dengan mudah dapat memilih menu dengan cara klik salah satu pilihan menu yang di inginkan. Penelitian pengembangan ini mengacu pada model penelitian pengembangan (research and development) Borg dan Gall yang terdiri dari sepuluh langkah yang di modifikasi menjadi 7 langkah, Oleh karena penelitian ini dilakukan pada satu Fakultas dengan melibatkan jumlah subyek tiga puluh lima mahasiswa, Maka penelitian ini mengambil tujuh langkah, dari langkah pertama sampai dengan langkah ketujuh. (1) Analisis kebutuhan, (2) Pembuatan rancangan bentuk produk awal dan dievaluasi ahli media, (3) Produk awal dan dievaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli media, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani dan 1 ahli Judo, (4) Uji coba kelompok kecil, (5) Revisi produk, (6) Uji coba kelompok besar, (7) Produk akhir. Berdasarkan evaluasi ahli terhadap rancangan produk Elektronik Book Teori dan Praktik Judo sebagai media sudah lengkap dan layak untuk diproduksi, selanjutnya dibuat produk awal dan dievaluasi ahli media, ahli pembelajaran pendidikan jasmani, ahli Judo selanjutnya diuji coba dengan menggunakan instrumen uji coba kelompok kecil pada 10 orang mahasiswa setelah itu direvisi dan diuji coba kelompok besar sebanyak 35 orang mahasiswa. Berdasarkan uji coba kelompok kecil dan kelompok besar isi dari Elektronik Book Teori dan Praktik Judo ini telah memenuhi kriteria dan sudah lengkap serta Elektronik Book Teori dan Praktik Judo yang dikembangkan ini dapat digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran.

Pengaruh Return On Equity (ROE), Earning Per share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Corporate Governance Perception Index (CGPI) terhadap return saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia / Fendy Satria Susanto

 

Kata Kunci: Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Corporate Governance Perception Index (CGPI) dan Return Saham. Tujuan investor menanamkan modal pada sekuritas saham adalah mendapatkan return saham disamping harus menanggung risiko investasi, oleh sebab itu investor memerlukan informasi relevan dan berguna untuk membuat sebuah keputusan investasi. Informasi relevan dan berguna dapat diperoleh dari informasi kinerja keuangan perusahaan. Kinerja perusahaan yang baik dapat menawarkan return saham tinggi. Analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan. Rasio keuangan seperti Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) dapat memberikan manfaat bagi investor dalam membuat sebuah keputusan investasi. Selain itu informasi Corporate Governance Perception Index (CGPI) merupakan informasi non keuangan mengenai riset dan pemeringkatan tata kelola perusahaan publik. Perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip GCG dan bersedia ikut CGPI Award dipercaya dapat meningkatkan kepercayaan publik. Tujuan penelitian untuk menjelaskan pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Corporate Governance Perseption Index (CGPI) terhadap variabel terikat return saham. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar pada CGPI Award tahun 2006-2009. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria perusahaan yang masuk dalam sepuluh besar CGPI dan listing di Bursa Efek Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini data laporan keuangan perusahaan yang terdapat di Indonesian Capital Market Directory dan data CGPI diperoleh publikasi CGPI Award yang diselenggarakan IICG. Analisis data menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara parsial ROE tidak berpengaruh terhadap return saham, sedangkan EPS, PER, dan CGPI berpengaruh secara parsial terhadap return saham. Pengujian secara simultan ROE, EPS, PER, dan CGPI berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat menambah variabel lain yang lebih potensial, menambah periode penelitian dan sampel penelitian supaya hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya

Pengembangan model pengenalan air melalui permainan air bagi pebelajar renang pemula di SDN Dawuhan Lor 03 Kabupaten Lumajang / Feny Kristiningrum

 

Kata kunci : pengembangan, pengenalan air, permainan air. Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 17 pebruari 2011 di SDN Dawuhan Lor 03 Kabupaten Lumajang kepada siswa kelas IV dan guru Pedidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, guru belum pernah memberikan pengenalan air dengan permainan tetapi guru hanya membiasakan siswa sebelum masuk ke dalam kolam renang siswa duduk ditepi kolam sambil mengayun-ayunkan kaki dan menyelam beberapa detik. pada aktivitas meluncur, sebagaian besar siswa (75%) tidak dapat melaksanakan dengan baik siswa melakukan maksimal hanya sampai 1,5-2 meter saja. Sulitnya menerima materi renang di sebabkan adanya bayangan rasa takut tenggelam dibenak mereka. Dengan adanya perasaan itu siswa tidak dapat melakukan aktivitas air dengan baik sesuai dengan intruksi dari guru. Dalam pengembangan model pengenlan air melalui permainan air bagi pebelajar renang pemula di SDN Dawuhan Lor 03 kabupaten Lumajang ini menggunakan model pengembangan Research & Development (R & D) dari Borg and Gall yang dimodifikasi (1983:775), yaitu peneliti hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada. Menurut Ardana (2002:9) bahwa Setiap pengembangan tentu saja dapat memilih dan menentukan langkah-langkah yang paling tepat bagi dirinya berdasarkan kondisi khusus yang dihadapinya dalam proses pengembangan. Penelitian ini dilakukan di SDN Dawuhan Lor 03 Kabupaten Lumajang. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri dari, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 2 ahli renang, (2) uji coba kelompok kecil dengan melibatkan 12 siswa kelas IV SDN Dawuhan Lor 03 Kabupaten Lumajang, (3) uji coba kelompok besar dengan melibatkan 45 siswa kelas IV SDN Dawuhan Lor 03 Kabupaten Lumajang. Dari pengembangan dan prosedur yang dilakukan di atas, diperoleh kesimpulan bahwa pengembangan model pengenalan air melalui permainan air dapat digunakan dan dapat dipraktekkan oleh siswa kelas IV SDN Dawuhan Lor 03 Kabupaten Lumajang. Yang dapat dibuktikan dari hasil yang sudah memenuhi kreteria dapat digunakan yaitu untuk ahli pembelajaran, dapat digunakan untuk ahli renang, sudah memenuhi kreteria sehingga dapat digunkan untuk uji coba (kelompok kecil), dan sudah memenuhi kreteria sehingga dapat digunakan untuk uji lapangan (kelompok besar) Untuk perbaikan pengembangan model pengenalan air melalui permainan air bagi pebelajar renang pemula ini disarankan agar adanya tindak lanjut oleh peneliti lain yang sesuai dengan pengembangan ini, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada pengembangan ini. Sehingga hasil pengembangan ini dapat dimanfaatkan dengan baik

Pembelajaran oleh instruktur dalam pandangan peserta pelatihan (studi fenomenologi pada pelatihan teknik dasar menggambar karakter di PKBM ZamZam Malang) / Dimas Asih Rahayu

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Pelatihan Pembelajaran merupakan suatu proses perilaku seseorang diubah, dibentuk atau dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum tentang pembelajaran oleh instruktur dalam pandangan peserta pelatihan di PKBM ZamZam Kota Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif studi fenomenologi. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, pengamatan atau observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dalam pembelajaran yang dilakukan oleh instruktur dalam pandangan peserta pelatihan teknik dasar menggambar karakter yang dilaksanakan di PKBM ZamZam dilihat dari metode, media, dan evaluasi yang dilakukan menggunakan pembelajaran dengan pendekatan andragogi. Pembelajaran yang diterapkan lebih berpusat pada peserta pelatihan serta lebih bersifat mengarahkan peserta pelatihan untuk belajar, menjadikan peserta sebagi sumber belajar, serta keterlibatan secara aktif peserta pelatihan selama kegiatan pelatihan berlangsung. Peserta pelatihan teknik dasar menggambar lebih menyukai pelatihan yang bersifat partisipatif, maksudnya yaitu peserta dilibatkan baik dalam setiap proses pembelajarannya maupun pada saat evaluasi, ini merupakan prinsip dari pembelajaran andragogi. Kegiatan belajar berpusat pada peserta dan berasal dari pengalaman peserta pelatihan itu sendiri. Selain dikarenakan oleh proses pembelajarannya yang sesuai dengan usia peserta, peserta pelatihan melakukan kegiatan belajar dalam kegiatan pelatihan,juga dikarenakan oleh ketertarikan tersendiri peserta pelatihan terhadap instruktur pelatihan, baik dari cara membelajarkan yang dilakukan oleh instruktur maupun dari sikap dan kepribadian instruktur tersebut. Dari hasil penelitian, saran yang diajukan peneliti: (1) PKBM ZamZam disarankan agar meningkatkan pemahaman tentang pembelajaran dengan menggunakan pendekatan andragogi khususnya bagi instruktur pelatihan. (2) bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah disarankan untuk dapat membantu melakukan pendampingan kepada pihak PKBM ZamZam untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai andragogi, khususnya bagi instruktur pelatihan agar program yang dilaksanakan dapat berkesinambungan.

Manajemen OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang / Zondag Setya Nugraha

 

Kata Kunci: manajemen organisasi siswa intra sekolah (osis), soft skill, dan hard skill siswa SMAN 8 Malang merupakan lembaga pendidikan umum tingkat menengah atas, yang mempunyai predikat sekolah penuh prestasi di Malang. Berdasarkan uraian ini maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang manajemen organisasi siswa intra sekolah, khususnya dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa SMAN 8 Malang. Ada enam fokus dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimanakah perencanaan OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang, (2) bagaimanakah pengorganisasian OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang, (3) bagaimanakah pengarahan OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang, (4) bagaimanakah pengawasan OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang, (5) bagaimanakah evaluasi OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang, (6) apa sajakah faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan manajemen OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa di SMAN 8 Malang. Penelitian ini dilakukan di SMAN 8 Malang dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) observasi, (2) wawancara mendalam, (3) dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga metode tersebut diorganisir, ditafsirkan, dan dianalisis secara berulang-ulang guna penyusunan konsep dan abstraksi, dan temuan lapangan. Keabsahan data dicek dengan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Temuan penelitian ini yaitu: pertama, perencanaan OSIS SMAN 8 Malang secara matang telah dipersiapkan dan disusun sejak awal ajaran baru. Penyusunan di bedakan menjadi dua tahap yaitu: (1) perekrutan OSIS dengan melihat dari segi kepemimpinan, akademik, percaya diri, pemecahan masalah, program kerja, dan mental. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Sekolah, Pembina OSIS, Waka urusan Kesiswaan dan guru, (2) penyusunan program kerja OSIS yang melibatkan Kepala Sekolah, Pembina OSIS, Waka urusan Kesiswaan, Pengurus Harian, dan koordinator setiap bidang, kedua, pengorganisasian OSIS SMAN 8 Malang ini meliputi: (1) adanya pembagian wewenang dan tugas secara hierarki yang sesuai dengan struktur kepengurusan OSIS, (2) pembagian pelaksanaan kegiatan OSIS selama ini dilakukan oleh setiap unit bagian yang sudah ditetapkan sesuai dengan tugas dan keahlian masing-masing, ketiga, pengarahan OSIS SMAN 8 Malang mencakup: (1) pengarahan secara rutin oleh Pembina OSIS, (2) pengarahan bertujuan untuk memberi motivasi dan membimbing pengurus OSIS supaya lebih mandiri, keempat, pengawasan OSIS iv SMAN 8 Malang ini dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Pembina OSIS, kelima, evaluasi OSIS SMAN 8 Malang ini dalam bentuk pelaporan bulanan dan tahunan. Guna untuk mengetahui keberhasilan tingkat pencapaian target, dan untuk memperbaiki program-program selanjutnya, keenam, faktor pendukung dan penghambat OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa SMAN 8 Malang yaitu, (1) faktor pendukung meliputi; (a) dukungan dari pihak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu guru SMAN 8 Malang, siswa/siswi SMAN 8 Malang, dan orangtua/wali murid, (b) jumlah Pembina OSIS sesuai dengan bidang yang ada pada OSIS, (c) jumlah pengurus OSIS yang cukup banyak, (d) potensi (pengalaman) yang dimiliki pengurus OSIS sangat bagus yang diiringi dengan semangat dan kekompakan pengurus OSIS, (e) sarana dan prasarana yang mewadahi, (2) faktor penghambat pelaksanaan manajemen OSIS dalam meningkatkan soft skill dan hard skill siswa meliputi, dari segi finansial, perijinan untuk mengikuti kegiatan OSIS, dan kurangnya prasarana untuk kegiatan ekstrakurikuler siswa yang berupa lapangan. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini maka disarankan kepada: (1) Kepala Sekolah hendaknya secara bertahap sekolah dapat mengadakan lapangan baru yang nantinya digunakan untuk kegiatan-kegiatan OSIS tanpa mengganggu kegiatan ekstrakurikuler yang lainnya. Selain itu untuk menambah anggaran dana OSIS dengan menambahkan anggaran dana yang dihimpun dari awal siswa masuk dan registrasi di SMAN 8 Malang, (2) Pembina OSIS hendaknya selalu menjaga, memelihara dan meningkatkan kegiatan manajemen OSIS SMAN 8 Malang yang sudah berjalan cukup baik dan disarankan agar meningkatkan hubungan kerja sama yang baik dengan pembina OSIS sekolah lain, sehingga saling bertukar pikiran dan pengalaman dalam menangani masalah manajemen OSIS, (3) Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya jurusan mengadakan sosialisasi pentingnya upaya peningkatan kerja sama dengan SMA se-kota Malang dalam bentuk pelatihan, seminar maupun symposium yang berhubungan dengan manajemen organisasi sekolah, khususnya OSIS, (4) Ketua Umum OSIS SMAN 8 Malang disarankan agar bisa menjalin komunikasi yang lebih intim dengan ekstrakurikuler yang ada di sekolah agar tercipta keharmonisan siswa dengan saling mendukung kegiatan-kegiatan yang dilselenggarakannya, (5) Anggota OSIS SMAN 8 Malang, dengan adanya beragam kegiatan manajemen OSIS ini dapat membantu dan memotivasi siswa dalam rangka peningkatan soft skill dan hard skill, baik di sekolah ataupun di luar sekolah, (6) orangtua/wali murid disarankan agar dapat mengidentifikasi dan mengembangkan kemampuan berupa soft skill dan hard skill yang dimiliki putra/putrinya yang bersekolah di SMAN 8 Malang, (7) peneliti lain disarankan bagi peneliti lain untuk meneliti manajemen organisasi sekolah yang lebih fokus disetiap substansinya. Agar hasilnya bisa lebih maksimal untuk terus dikembangankan.

Implementasi teknik manajemen pendidikan bagi pemimpin berlatar belakang kyai (studi kasus di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep) / Moh. Andiyono

 

Kata kunci: teknik manajemen pendidikan, pemimpin berlatar belakang kyai Pada umumnya seorang kepala sekolah bergelar sarjana bahkan magister dengan pengetahuan mendalam tentang manajemen pendidikan, dengan gelar atau jabatan yang diembannya tersebut, mampu mencapai standar mutu pendidikan. Namun, apabila pemimpin sebuah lembaga pendidikan digerakkan oleh kyai yang secara keilmuan lebih berkompeten dalam bidang agama, dan masyarakat menganggap bahwa seorang kyai adalah tokoh kunci menuju pembangunan masyarakat islami, maka kemungkinan ada perbedaan dalam menerapkan teknik manajemen pendidikan apabila dibandingkan dengan kepala sekolah yang bergelar sarjana atau magister. Perbedaan di sini bukan berarti kyai tidak bisa menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin di lembaga pendidikan formal, tetapi bagaimana teknik yang dijalankan di dalam mengimplementasikan teknik manajemen pendidikan agar bisa sejalan kemampuannya dengan Kepala Sekolah di lembaga pendidikan formal lainnya, bahkan kemungkinan lebih baik kompetensinya daripada yang memepunyai pengetahuan mendalam tentang manajemen pendidikan. Teknik manajemen pendidikan adalah cara tertentu untuk mempergunakan atau mempermainkan organisasi, sistem dan kontrol manajemen pendidikan untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep merupakan sekolah yang dipimpin oleh kyai. Setiap kyai tentu memiliki pola pandang dan keputusan yang berbeda dibandingkan dengan kepala sekolah yang mempunyai pengetahuan manajemen pendidikan dalam membangun sistem pendidikan yang ada di sekolah. Fokus umum dalam penelitian ini adalah implementasi teknik manajemen pendidikan dengan pemimpin berlatar belakang kyai, sedangkan fokus khusus dalam penelitian ini dapat dijabarkan dalam sub fokus sebagai berikut: 1) apa saja jenis teknik manajemen pendidikan yang diterapkan oleh kyai di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep, 2) bagaimana penerapan teknik manajemen pendidikan oleh kyai di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep, 3) apa saja faktor pendukung dalam penerapan teknik manajemen oleh kyai di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep, 4) apa saja faktor penghambat dan pemecahannya dalamm penerapan teknik manajemen pendidikan oleh kyai di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk mendeskripsikan implementasi teknik manajemen pendidikan dengan pemimpin berlatar belakang kyai, sedangkan tujuan secara khusus dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Mendeskripsikan jenis teknik manajemen pendidikan yang diterapkan oleh kyai di v Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep, 2) mendeskripsikan penerapan teknik manajemen pendidikan yang diterapkan oleh kyai di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep, 3) mendeskripsikan faktor pendukung dalam penerapan teknik manajemen pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep, 4) mendeskripsikan faktor penghambat dan pemecahannya dalam penerapan teknik manajemen pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah Kasengan Manding Sumenep. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ini menggunakan desain penelitian studi kasus dalam arti penelitian difokuskan pada satu fenomena saja yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam, dengan mengabaikan fenomena-fenomena lainnya. Penelitian ini dilakukan secara langsung dengan menggunakan catatan lapangan dan kamera untuk dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi partisipasi nihil, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik ketekunan/keajegan pengamatan, trianggulasi dan pengecekan anggota. Hasil dari penelitian ini yaitu: 1) jenis teknik manajemen yang diterapkan oleh kyai di MI An-Najah adalah manajemen berdasarkan kepribadian, hal tersebut dikarenakan teknik tersebut sangat sesuai dengan kondisi lembaga, 2) penerapan teknik manajemen pendidikan dapat dilihat dari berbagai kegiatan seperti pengambilan keputusan sepihak saat rapat, antusiasme masyarakat ketika ada acara besar semisal imtihan (perpisahan) dan penerapan yang utama adalah pemberian teladan yang baik dari kepala madrasah ke guru, murid, dan masyarkat serta dari guru ke murid dan masyrakat, 3) faktor pendukung dalam penerapan teknik manajemen pendidikan adalah kualitas guru yang sangat mumpuni dan kesigapan masyarakat ketika tenaganya oleh madrasah, 4) faktor penghambatnya adalah keterbatasan dana untuk belanja alat-alat pendidikan dan kurang harmonisnya hubungan antara pimpinan dan guru-guru, langkah yang perlu diambil untuk mengatasinya adalah mengadakan pertemuan-pertemuan non formal untuk membahas alokasi dana dan pengambilan kebijakan. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada: 1) kepala Madrasah Ibtidaiyah An-Najah yaitu hendaknya memadukan teknik manajemen konvensional dengan modern, dan hendaknya tidak membawa unsur diktator ketika rapat atau kegiatan lainnya, 2) kepada guru-guru di Madrasah Ibtidaiyah An-Najah hendaknya jangan takut menyuarakan pendapatnya 3) kepada ketua jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya lebih memperbanyak penelitian tentang teknik manajemen pendidikan, dan 4) kepada peneliti lain, diharapkan dapat memberikan wawasan dan informasi mengenai penelitian yang sejenis sehingga lebih memaksimalkan hasil yang diperoleh peneliti selanjutnya.

Evaluasi program pelatihan yang dilaksanakan Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam perspektif peserta dan penyelenggara (study kasus pada pelatihan peningkatan kapasitas sekretaris desa) / Agung Candra Kurniawan

 

Kata Kunci: Evaluasi Program Pelatihan, Pendidikan Luar Sekolah. Pelatihan peningkatan kapasitas sekretaris desa diselenggarakan oleh Balai Besar Pemeberdayaan Masyarakat dan Desa Malang yang berlokasi di Jl. Raya Langsep No. 7 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum evaluasi program pelatihan peningkatan kapasitas sekretaris desa yang dilaksanakan Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam Perspektif Peserta dan Penyelenggara. Dalam hal ini sangat penting peran Pendidikan Luar Sekolah untuk mencari tahu keberhasilan pelatihan yang diselenggarakan dengan mengetahui evaluasinya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Studi Kasus. Metode pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah (1) Desain evaluasi pelatihan peningkatan kapasitas sekretaris desa di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang adalah (a) evaluasi selama pelatihan, meliputi; evaluasi refleksi, harian, belajar, pre tes-pos tes, dan (b) monitoring dan evaluasi pasca pelatihan. (2) Pelaksanaan evaluasi pelatihan peningkatan kapasitas sekretaris desa adalah (a) evaluasi selama pelatihan meliputi; evaluasi reaksi/refleksi adalah evaluasi yang dilakukan fasilitator secara lisan dipagi hari, evaluasi harian adalah evaluasi yang dilakukan setiap hari pada akhir pemberian materi, evaluasi belajar adalah evaluasi yang disajikan fasilitator secara lisan di setiap materi yang disampaikan, evaluasi pre dan pos tes evaluasi yang dilakukan pada hari pertama dan pada hari terakhir pelatihan, (b) monitoring dan evaluasi pasca pelatihan pelaksanaannya satu tahun setelah pelatihan selesai. (3) Pandangan Pimpinan memaknai evaluasi adalah sebagai pertanggungjawaban danbahan pengajuan anggaran. (4) Pemaknaan yang diberikan penyelenggara terhadap evaluasi adalah untuk mengetahui tercapainya tujuan pelatihan. (5) Pemaknaan yang diberikan peserta terhadap evaluasi adalah dianggap menguji atau mengukur pengetahuan mereka. Berdasarkan hasil penilitan ini, (1) Saran kepada Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam evaluasi belajar (PB-SPB) sebaiknya ada instrumentnya dan tidak disampaikan secara lisan. Kemudian agar lebih memperhatikan input dan impact, (2) Bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dapat dijadikan sebagai tempat pembelajaran bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, (3) Untuk peneliti selanjutnya, sebaiknya lebih menekankan pada penerapan evaluasi studi lapangnya.

Hubungan antara locus of control dengan kecemasan menghadapi ujian semester pada taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan Surabaya / Yuanna Fatmawati

 

Kata kunci: Locus Of Control, Kecemasan. Kecemasan pasti kerap dialami oleh setiap orang baik di lingkungan masyarakat, sosial ataupun instansi pendidikan seperti sekolah. Banyak siswa yang mengalami kecemasan terutama saat menghadapi ujian. Kecemasan yang dialami oleh siswa dalam menghadapi ujian dapat disebabkan oleh kekhawatiran tidak dapat menjawab soal ujian, khawatir mendapat nilai yang buruk, khawatir tidak lulus dan sebagainya. Selain itu juga terdapat faktor dari dalam diri taruna yang dapat mempengaruhi kecemasan yaitu mengetahui gambaran locus of control. Locus of control merupakan salah satu karakteristik kepribadian yang dimiliki setiap individu untuk dapat mengontrol semua perilakunya. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui gambaran locus of control, (2) Mengetahui gambaran locus of control Internal, (3) Mengetahui gambaran locus of control Eksternal, (4) Mengetahui gambaran kecemasan menghadapi ujian, (5) Mengetahui hubungan antara locus of control dengan kecemasan menghadapi ujian pada siswa taruna. Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan subyek sebanyak 26 siswa taruna angkatan 2009 baik laki-laki maupun perempuan yang yang akan menghadapi ujian semester di Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan yang diambil dengan Teknik Accidental Sampling. Data locus of control dikumpulkan dengan skala locus of control dengan koefisien reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach diperoleh skor 0,916 dan data kecemasan mengahadapi ujian semester dikumpulkan dengan skala kecemasan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,911 menggunakan koefisien Alpha Cronbach). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa, (1) 15 taruna (57,69%) memiliki kendali locus of control internal dan terdapat 11 taruna (42,31%) memiliki kendali locus of control eksternal. Sebanyak 11 taruna berarti memiliki kecenderungan locus of control eksternal yang tinggi. Selain itu, tingkat kecemasan taruna/taruni sebanyak 11,5% (3 taruna/taruni) termasuk dalam kategori tinggi sekali, 19,2% (5 taruna) termasuk dalam kategori tinggi, 34,6% (9 taruna/taruni) termasuk dalam kategori cukup, 27% (7 taruna/taruni) termasuk dalam kategori rendah, dan 7,7% (2 taruna/taruni) termasuk dalam kategori rendah sekali.(2) Hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan teknik Korelasi Product Moment menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara locus of control dengan kecemasan (rs = -0,392, sign.= 0,047<0,05). ada hubungan negatif yang signifikan antara locus of control internal dengan kecemasan (rs = 0,761, sign.= 0,000<0,05). Sedangkan pada locus of control eksternal dengan kecemasan menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan (rs = 0,512, sign.= 0,007<0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi taruna, hendaknya mampu meminimalisir terjadinya kecemasan yaitu dengan memiliki locus of control internal yang tinggi dan diimbangi juga dengan locus of control eksternal

Evaluasi lahan kawasan industri di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto / Dheni Wulandari

 

Kata kunci: Evaluasi, Lahan, Kawasan Industri Kawasan industri adalah suatu kawasan atau wilayah yang diperuntukkan unutk kegiatan industri oleh pemerintah. Pengembangan kawasan industri perlu dikembangkan secara lebih terarah dan terpadu. Program pengembangan industri yang layak huni perlu diadakan kajian daerah yang aman dari bencana. Evaluasi lahan berguna untuk menduga dan memberikan informasi seberapa besar suatu lahan untuk mendukung kemampuan suatu lahan bagi pengembangan kawasan industri. Salah satu lokasi yang diperuntukkan untuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Mojokerto adalah di Kecamatan Ngoro. Agar dapat diketahui lahan yang dijadikan sebagai lokasi industri sesuai dengan daya dukung lahannya maka perlu dilakukan evaluasi lahan untuk pengembangan industri. Penelitian ini bertujuan untuk (I) mendeskripsikan faktor-faktor yang erat hubungannya dengan pembangunan kawasan industri di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto (2) mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan unutk lokasi industri di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto (3) mengetahui fungsi kawasan industri Ngoro terhadap perekonomian Kabupaten Mojokerto. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Objek penelitian ini adalah kawasan industri di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Data primer yang dikumpulkan meliputi tekstur tanah dan kedalaman air. Sedangkan data sekunder meliputi peta administrasi, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan peta penggunaan lahan, data curah hujan, data pendapatan daerah Kabupaten Mojokerto dan data perusahaan yang terdapat di Kawasan Industri Ngoro. Analisis data dilakuakn secara deskriptif yaitu dengan menceritakan hasil yang didapat dari penelitian baik dari data primer maupun data sekunder tentang kesesuaian lahan dan lokasi indsustri di Kecamatan Ngoro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto sesuai atau layak dijadikan kawasan industri. Evaluasi lahan industri tersebut dapat diketahui dari parameter yang ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi di lapangan telah memenuhi parameter yang dipakai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diajukan adalah perusahaan-perusahaan yang terdapat di Ngoro industri untuk menyediakan instalasi pengolahan limbah yang lebih efektif dan efisien terutama untuk limbah padat, memperbaiki infrastruktur yang menunjang keberadaan industri di kecamatan tersebut, selain itu dengan adanya kawasan industri di Kecamatan Ngoro diharapkan agar lebih dapat memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal khusunya yang berasal dari kecamatan itu sendiri.

Membangun destination branding ekowisata bawah laut di Pulau Mahengetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara melalui perancangan sistem identitas dan aplikasinya / Hanifah Muslimah Azzahra

 

Kata kunci : sistem identitas, destination branding, ekowisata bawah laut Pulau Mahengetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara memiliki keunikan berupa gunung berapi bawah laut yang berada di perairan dangkal, sangat jarang dijumpai di tempat lain diseluruh dunia. Keunikan tersebut, didukung kondisi ekosistem bawah laut di perairan Pulau Mahengetang yang indah dan masih terjaga dengan baik. Kondisi tersebut sangat potensial untuk pengembangan sektor pariwista. Namun, kurangnya usaha promosi wisata dan terbatasnya akses transportasi dan komunikasi. Prinsip ekowisata harus diterapkan untuk menunjang ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian alam. Dalam pengembangan ekowisata bawah laut, membangun destination branding mutlak diperlukan dengan tujuan: membangun brand image positif bagi suatu lokasi; meningkatkan quality of life bagi masyarakat di lokasi tersebut; membangun brand awareness sehinga mampu menarik target audience yaitu wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, bisnis dan industri; dan menemukan pasar ekspor. Pada perancangan ini digunakan model perancangan prosedural untuk pemecahan masalah secara komunikasi visual. Perancangan meliputi merancang sistem identitas dan aplikasikannya. Produk perancangan yang dihasilkan, berupa pedoman sistem identitas yang berisi ketentuan elemen-elemen dasar: nama, tagline, logo, warna dan tipografi; elemen-elemen visual lainnya dan aplikasi pada stationery, media digital, media cetak merchandise, signage, stiker dan embed. Sebagai nilai jual utama, gunung api bawah laut menjadi objek yang dieksplorasi dalam perancangan nama, tagline, logo, warna, tipografi dan keseluruhan rangkaian sistem identitas dan aplikasinya. Perancangan sebagai pemecahan secara komunikasi visual ini membutuhkan analisis lebih lanjut untuk pengembangan ekowisata bahari dalam berbagai aspek, meliputi: sosial, ekonomi, ekologi, budaya agar tebangun suatu konsep ekowisata bahari yang berkelanjutan (sustainable) di Pulau Mahengetang untuk menunjang ekonomi masyarat dan menjaga kelestarian alam.

The quality of student book "Bahasa Inggris for Junior High School Year VIII" / Myta Laili Maghfiroh

 

Key words: English textbook, EFL book criteria This study is conducted in order to analyze how much the English textbook entitled Bahasa Inggris for Junior High School Year VIII that is used as one of English textbooks in international standard school meets the requirements of good EFL book criteria. Specifically, this study aims at analyzing the English textbook in terms of (1) language content and skills, (2) communicative aspects, (3) authenticity of the dialogs and reading texts, (4) practice materials, (5) sequence and gradation, and (6) technicalities. This is a descriptive evaluative study which focuses on content analysis that attempts to analyze the English textbook used for eighth graders especially in international standard school. The source of the data is the English textbook - Bahasa Inggris for Junior High School Year VIII. The instruments used are checklists and analysis forms. This study found that the textbook is categorized as good with percentage 84,30% in terms of language content and skills. Secondly, in terms of communicative aspect, the textbook is categorized as very good with percentage 94,21%. Next, in terms of authenticity of the dialogs and reading skills, the textbook is categorized as very poor with percentage 36,13%. Fourthly, the textbook is categorized as good with percentage 66,29% in terms of practice materials. Fifthly, the textbook is categorized as good with percentage 74,56% in terms of sequence and gradation. Lastly, in terms of technicalities, the textbook is categorized as good with percentage 65,96%. It can be concluded that the English textbook entitled Bahasa Inggris for Junior High School Year VIII in general has met the criteria of a good EFL textbook well, since the average percentage that describe the fulfillment of the textbook towards the criteria of good EFL textbook is 70,25%. It means that the textbook is relatively suitable to be used as learning materials for the teacher and students. Based on the findings, the researcher suggests that the writer of the textbook should improve the quality of the textbook by considering several aspects in the textbook. The textbook publishers should also be more selective in choosing the textbooks that will be published and do some editing and evaluating before publishing them, so that the quality of the textbook can be maintained. The English teachers need to consider finding other alternative learning materials and resources to teach the students and not rely on one textbook only. For other researchers who may conduct the similar studies about textbook evaluation, it is suggested that the next researchers should make more careful consideration in selecting the criteria of the textbook that will be evaluated.

Analisis kesulitan siswa kelas X dalam memahami komponen dan langkah-langkah stoikiometri di SMA Negeri 1 Singosari / Febryanti Eka Andriyani

 

Kata Kunci: Analisis Kesulitan Siswa, Komponen Stoikiometri, Langkah-langkah Stoikiometri. Kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 1 Singosari untuk pembelajaran stoikiometri adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menekankan penggunaan pembelajaran konstruktivistik. Pada proses belajar pada pembelajaran konstruktivistik, siswa lebih ditekankan pada pembelajaran pembelajaran bermakna (meaningfull learning) yang berasumsi bahwa siswa memahami konsep dengan baik khususnya stoikiometri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) persentase siswa kelas X SMA Negeri 1 Singosari yang mengalami kesulitan dalam memahami materi stoikiometri untuk masing-masing komponen (2) kesalahan yang dibuat oleh siswa dalam memahami komponen stoikiometri (3) komponen stoikiometri yang memberikan kesulitan paling tinggi dan paling rendah (4) persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami langkah-langkah stoikiometri dengan pertolongan maupun tanpa pertolongan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan 36 siswa SMA Negeri 1 Singosari dari kelas X-5, X-6, dan X-7 sebagai sampel yang diambil dengan cara teknik sampling random kelompok (classter random sampling). Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil secara acak masing-masing 12 siswa tiap kelas sehingga diperoleh 36 siswa. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah soal tes dalam bentuk tes 16 butir soal pilihan ganda dan 7 butir soal essai. Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif yakni dengan mendeskripsikan kesulitan yang dialami siswa terhadap materi stoikiometri pada masing-masing komponen serta langkah-langkahnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Tingkat kesulitan siswa kelas X SMA Negeri 1 Singosari dalam memahami komponen stoikiometri tergolong cukup besar, dengan rincian : pada komponen hubungan mol dengan jumlah partikel dan massa tergolong kecil yang mengalami kesulitan; komponen persamaan reaksi, perbandingan mol sebagai faktor konversi, hubungan mol dengan volume, pereaksi pembatas, dan rumus molekul tergolong cukup besar mengalami kesulitan; dan komponen rumus empiris yang tergolong yang mengalami kesulitan sangat besar. (2) Kesalahan yang dibuat oleh siswa dalam memahami komponen stoikiometri adalah belum dapat menerjemahkan bahasa soal dalam bahasa simbol kimia, memahami mengenai perbandingan mol saat sebelum bereaksi dan sesudah bereaksi, tidak dapat menghitung perbandingan mol yang bereaksi, tidak dapat menentukan jumlah mol produk, tidak memahami hubungan jumlah mol dengan volume molar pada suatu gas ideal, belum menguasai konsep dasar, ciri-ciri dari pereaksi pembatas dan konsep mol, tidak dapat menghitung mol atom-atom unsur penyusun zat dan Mr suatu senyawa, dan tidak dapat menghitung komposisi massa dalam senyawa dan Mr senyawa secara tepat . (3) Komponen stoikiometri yang memberikan kesulitan paling tinggi adalah komponen menentukan rumus empiris (80,7%) sedangkan kesulitan paling rendah adalah komponen hubungan mol dengan massa (32,0%). (4) Tingkat kesulitan siswa kelas X SMA Negeri 1 Singosari dalam memahami langkah-langkah stoikiometri cukup besar, dengan rincian langkah-langkah stoikiometri dengan pertolongan terbesar adalah pada langkah persamaan reaksi dan pereaksi pembatas (72,2%), sedangkan pada langkah-langkah stoikiometri tanpa pertolongan kesulitan terbesar terletak pada langkah pereaksi pembatas (71,2%).

Hubungan antara uji kompetensi dan motivasi belajar dengan minat berwirausaha siswa kelas XII TKJ SMK Negeri 12 Malang / Rizfadli

 

Kata Kunci: hubungan, uji kompetensi, motivasi, minat, wirausaha Minat berwirausaha merupakan kemampuan, kecenderungan atau ketertarikan untuk mengelola sesuatu yang ada dalam diri untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal sehingga ide-ide yang dimiliki untuk melakukan usaha dengan karakteristik kepribadian yang berani mengambil resiko, dapat menerima tantangan, percaya diri, mempunyai kekuatan usaha, kreatif dan inovatif serta mempunyai ketrampilan untuk meningkatkan taraf hidup dimasa yang akan datang dimana dengan menyatunya kompetensi dan motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa akan semakin meningkatkan percaya diri siswa dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam berwirausaha. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hubungan kompetensi kerja dengan minat berwirausaha siswa kelas XII SMK Negeri 12 Malang, (2) hubungan motivasi belajar dengan minat berwirausaha siswa kelas XII SMK Negeri 12 Malang, (3) hubungan antara kompetensi kerja dan motivasi belajar dengan minat berwirausaha siswa kelas XII SMK Negeri 12 Malang. Penelitian ini termasuk expost facto yang bersifat korelasional. Analisis korelasional menggunakan analisis korelasi parsial dan analisis korelasi ganda, dengan bantuan SPSS for Windows release 17. Variabel dalam penelitian ini meliputi, variabel bebas adalah kompetensi kerja(X1) dan motivasi belajar (X2), sedangkan variabel terikat adalah minat berwirausaha (Y). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar dokumentasi dan angket. Untuk uji instrumen menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dapat diketahui bahwa siswa kelas XII TKJ SMK Negeri 12 Malang menunjukkan bahwa uji kompetensi siswa dalam kriteria sangat baik dan menyatakan bahwa motivasi belajar siswa dalam kriteria baik, Sedangkan minat berwirausaha siswa menunjukkan dalam kriteria baik. Uji kompetensi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan minat berwirausaha siswa kelas XII TKJ SMK Negeri 12 Malang dengan memberi kontribusi sebesar 18,7%. Motivasi belajar mempunyai hubungan yang signifikan dengan minat berwirausaha siswa kelas XII TKJ SMK Negeri 12 Malang dengan kontribusi yang diberikan sebesar 18,1%. Uji kompetensi dan motivasi belajar mempunyai hubungan yang positif dan signifikan secara simultan dengan minat berwirausaha siswa kelas XII TKJ SMK Negeri 12 Malang dengan memerikan kontribusi sebesar 36,8% sedangkan 63,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Pengembangan media pembelajaran berbasis mobile learning pada materi pengenalan teknologi informasi dan komunikasi untuk siswa kelas VII SMP Negeri 3 Malang / Venty Yulita Fajarwati

 

Kata kunci: pengembangan, media pembelajaran, mobile learning. Perangkat handphone merupakan salah satu perangkat komunikasi yang semakin dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Namun pemanfaatan perangkat handphone masih sebatas untuk komunikasi serta hiburan. Mobile learning merupakan pembelajaran yang menggunakan bantuan teknologi yaitu teknologi handphone, yang dimanfaatkan sebagai sarana didalam penyampaian materi pembelajaran maupun evaluasi pembelajaran. SMP Negeri 3 Malang merupakan institusi pendidikan yang telah memanfaatkan mobile learning sebagai sarana evaluasi pembelajaran. Belum adanya pengembangan media pembelajaran berbasis mobile learning sebagai sarana pembelajaran siswa secara mandiri pada matapelajaran TIK. Media pembelajaran berbasis mobile learning akan menjadi alternatif siswa didalam memanfaatkan perangkat handphone sebagai sarana belajar setiap saat. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan media ini adalah model Dick and Carey (2005). Uji coba kelayakan media pembelajaran dengan menyebarkan instrumen berupa angket yang ditujukan kepada ahli media (1 orang), ahli materi (2 orang) dan siswa yang terbagi perorangan, kelompok kecil serta uji lapangan. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif pada penelitian ini berupa penilaian media pembelajaran berbasis mobile learning oleh para validator yaitu ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kualitatif berupa tanggapan yang diberikan oleh validator yang berupa kritik dan saran tentang media pembelajaran berbasis mobile learning. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, didapatkan persentase hasil validasi oleh ahli media sebesar 91,67%, hasil validasi oleh ahli materi sebesar 96,67%, hasil validasi uji perseorangan kategori siswa sebesar 83,89%, hasil validasi uji kelompok kecil sebesar 82,17% dan hasil validasi uji lapangan sebesar 85,93%. Menurut pedoman kriteria persentase tingkat kelayakan media, maka media pembelajaran berbasis mobile learning pada materi pengenalan teknologi informasi dan komunikasi untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Malang sudah dinyatakan valid dan layak untuk digunakan. Media pembelajaran berbasis mobile learning ini dapat berjalan dengan baik pada perangkat handphone yang memiliki Flash Lite Player 2.0 ke atas. Diharapkan pengembang produk selanjutnya dapat mengatasi keragaman platform pada handphone. Sehingga diharapkan semua siswa-siswi dapat menggunakan media pembelajaran berbasis mobile learning dengan maksimal.

Peningkatan kemampuan memahami gagasan utama bacaan melalui teknik membaca cepat dengan bahan bacaan fiksi ilmu pengetahuan di kelas V SDI Wahid Hasyim Kota Malang / Idrus Ahmad

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd. (II) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata kunci: memahami gagasan utama, membaca cepat, fiksi ilmu pengetahuan Membaca cepat memiliki kedudukan yang sangat penting bagi manusia di abad 21 ini. Perkembangan informasi di era ini semakin gencar disebabkan makin bervariasi dan canggihnya media informasi cetak maupun elektronik menuntut kecepatan membaca untuk meng-update informasi itu. Padahal, waktu yang kita miliki sampai saat ini, tetap 24 jam setiap harinya, tidak terus bertambah seperti bertambahnya informasi. Akibatnya, banyak informasi yang tidak sempat kita serap. Hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah kecepatan membaca kita yang masih perlu ditingkatkan. Pemikiran ini, mendasari para perancang pendidikan kita merencanakan pembelajaran membaca cepat sejak dini, yakni sejak SD kelas V (periksa KTSP). Menindaklajuti pemikiran ini pula, pembelajaran memahami gagasan utama bacaan melalui TMC dengan bahan bacaan FIP sebagai fokus penelitian, bertolak dari kenyataan di lapangan, bahwa pembelajaran membaca cepat, belum terlaksana secara optimal. Penyebabnya, diduga karena guru lebih menekankan pada hal-hal yang mekanikal. Karena itu, diperlukan TMC dan bahan ajar yang dapat memotivasi siswa belajar membaca cepat. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret-Mei 2011 terhadap 23 responden dengan rancangan penelitian tindakan melalui alur berikut: membuat perencanaan tindakan, malaksanakan tindakan dalam pembelajaran, mengadakan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan, dan merefleksi pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi tersebut digunakan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan melanjutkan atau menghentikan penelitian. Data penelitian berupa catatan hasil pengamatan dan hasil pembelajaran. Instrumen utama pengumpulan data adalah peneliti, sedangkan instrumen penunjang adalah pedoman observasi, rekaman audio, catatan lapangan, dan hasil pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan teknik kualitatif model mengalir, meliputi, tahap reduksi data, pemaparan data, verifikasi, dan penyimpulan data. Untuk menguji keabsahan data dilakukan pengecekan silang (triangulasi) data dengan guru atau praktisi. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas dua kali tindakan. Proses pembelajaran siklus I menunjukan bahwa siswa masih mengalami hambatan membaca cepat karena membaca kata-perkata, membaca dengan lambat menggerakkan mata mengikuti baris-baris bacaan dan membaca berulang-ulang. Berdasarkan hambatan tersebut, guru kemudian memberi pemahan tentang teknik membaca cepat sehingga-hambatan-hambatan tersebut tidak teramati lagi pada siklus II. Sedangkan hasil pembelajaran siklus I menunjukkan, bahwa kecepatan membaca dari 23 siswa, 13 responden atau 56,52% telah mencapai kecepatan di atas 70 KPM kategori tinggi dan sangat tinggi dan 14 responden atau 60,87% mencapai pemahaman di atas 70% kategori baik dan baik sekali. Karena itu, diperlukan pengulangan siklus untuk kecepatan dan pemahaman membaca siswa. Sedangkan hasil tindakan siklus II menunjukkan, kecepatan membaca dari 23 siswa, 20 responden atau 86,97% telah mencapai kecepatan di atas 70 KPM kategori tinggi dan sangat tinggi dan 17 responden atau 73,91% mencapai pemahaman di atas 70% kategori baik dan baik sekali. Nilai tersebut bermakna bahwa pembelajaran membaca sebelumnya belum terlaksana secara optimal karena guru lebih menekankan pada hal-hal yang mekanikal. Sementara pembelajaran memahami gagasan utama melalui TMC dengan bahan bacaan FIP jauh lebih baik karena selain memacu kecepatan membaca juga menjangkau pemikiran anak-anak. Karena itu, tidak diperlukan lagi pengulangan siklus untuk kecepatan dan pemahaman membaca siswa. Disarankan kepada guru untuk menggunakan teknik pembelajaran ini sebagai alternatif pembelajaran membaca di sekolah dasar dengan membuat perencanaan meliputi: merumuskan tujuan pembelajaran, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih materi sesuai dengan level kemampuan siswa, menyiapkan media yang sesuai, dan menyusun alat evaluasi. Pada tahap prabaca disarankan guru menggunakan pertanyaan yang sesuai dengan pengalaman siswa Pada tahap saat baca disarankan guru memantau proses membaca siswa dan menjawab pertanyaan dengan cepat dan penuh teliti. Pada tahap pascabaca disarankan guru menyelenggarakan diskusi kelas berkaitan dengan isi bacaan, mendorong partisipasi siswa berdiskusi, dan myimpulkan hasil diskusi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi bacaan.

Pengaruh pendidikan kewirausahaan di lingkungan keluarga, kampus, srawung teman sebaya dan karakteristik kepribadian terhadap sikap kewirausahaan (studi pada mahasiswa peserta Program Mahasiswa Wirausaha Universitas Negeri Malang) / Elfina Rohmah

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E., (II) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si Kata kunci: pendidikan kewirausahaan, pendidikan keluarga, srawung teman sebaya, pendidikan di kampus, karakteristik kepribadian, sikap kewirausahaan. Banyak variabel yang menentukan pembentukan karakteristik kepribadian dan sikap kewirausahaan. Sebagaimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kewirausahaan di lingkungan keluarga, kampus, dan sra-wung teman sebaya terhadap karakteristik kepribadian dan sikap kewirausahaan mahasiswa. Populasi penelitian ini adalah semua mahasiswa peserta Program Maha-siswa Wirausaha (PMW) Universitas Malang tahun 2010 sejumlah 328 mahasiswa. Adapun sampel ditetapkan sebesar 141 mahasiswa yang diambil secara pro-porsional per fakultas. Data kemudian diolah dengan analisis jalur. Dari pengujian menggunakan analisis jalur, didapatkan bahwa karakteristik kepribadian merupakan penentu terbesar terbentuknya sikap kewirausahaan, disusul pendidikan di lingkungan keluarga dan srawung teman sebaya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada pengaruh langsung dan tidak langsung yang signifkan antara pendidikan kewirausahaan di lingkungan keluarga dan srawung teman sebaya terhadap karakteristik kepribadian dan sikap kewirau-sahaan mahasiswa. Sedangkan pendidikan kewirausahaan di kampus tidak ber-pengaruh secara langsung terhadap pembentukan kepribadian dan sikap kewirau-sahaan mahasiswa. Pendidikan kewirausahaan di kampus hanya memiliki pengaruh terhadap sikap kewirausahaan melalui karakteristik kepribadian. Bagi dosen dan pihak universitas kiranya pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa tidak hanya menekankan pada aspek kognitif dan ketrampilan saja, tetapi juga perlu adanya pembelajaran kearah penanaman karakter dan sikap kewi-rausahaan dengan penyempurnaan kurikulum kewirausahaan. Orang tua perlu ki-ranya lebih memperhatikan pola asuh kearah penanaman karakter wirausaha pada anaknya. Implikasi dalam temuan ini adalah perlu adanya sinkronisasi pembela-jaran kewirausahaan antara pihak kampus dan keluarga. Dengan kata lain pihak kampus maupun keluarga termasuk teman sebaya harus mampu membangun bu-daya kewirausahaan yang sehat mengingat faktor tersebut dapat mempengaruhi kepribadian seseorang yang pada akhirnya dapat membentuk sikap kewirausahaan.

The teaching and learning of English in a rural elementary school: a case-study in SDN 1 Tulungrejo, Donomulyo, Malang / Yusaeny Rozelyna

 

Thesis, English Language Education Department, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd., M.A., Ph.D. (II) Dr. Gunadi Harry Sulistyo, M.A. Key words: teaching English, rural area, Malang This study aims at gaining a comprehensive description of teaching and learning English, SDN 1 Tulungrejo, in Donomulyo District, Malang Regency and investigating the process of variables affecting the students’ English ability. Since the study uses quantitative and qualitative data, the purpose of this study is not only to explore and describe phenomena but also to explain the process how the factors (teacher’s competence, lesson plan implementation, students’ attitude and parents’ involvement) affect the students’ English achievement, the study belongs to explanatory case study. The researcher uses questionnaire, field notes, observation, documents, and interview guide as the instruments for collecting the data. The study observes the students of SDN 1 Tulungrejo where is located in a remote area, Donomulyo District in Malang Regency. It has six classes with a total 110 students. There are about fifteen to twenty students in each class. The data are analyzed by some steps: labeling the description of each variable to get the inferences, explaining the process of how the variables affect the students’ English achievement, generating one important inference from each variable, and crosschecking among the independent variables to answer the problems of the study. The first finding of the study is about the teacher’s competence. Besides having good English skills such as good pronunciation and speaking English clearly, the teacher has the ability to deal with the low-ability students and manage the classroom. The teacher has met the criteria of a good English teacher particularly for elementary school. She knows how to deal with the students in order to generate the conducive atmosphere in a classroom. The lack of ability in designing syllabus and lesson plan does not contribute to the teacher’s bad performance in teaching English in the classroom since the education department office provides the ready-to-use syllabus and lesson plan. The second important finding is about the implementation of syllabus and lesson plan in the classroom. From the result of the study it was found that the teacher can implement the syllabus well into the use of lesson plan for the guidance in teaching English in the classroom. The third finding of the study shows that the students’ attitudes towards the English subject and the teacher are generally good. The students have positive attitudes towards the English subject and the teacher. The fourth finding is about the parents’ involvement (encouragement) in students’ English learning. The result of the study reveals that the majority of parents do not give supports to the students’ English learning. They only rely on the teacher’s effort so that they think teacher is the only person who has the responsibility in making their children’ achievement good. Finally, the researcher concludes that the implementation of teaching English at SDN 1 Tulungrejo Donomulyo is generally good. The problem which influences the students’ low English achievement is that the school and the parents’ effort are not coherently related. Thus, in this study, the writer suggests that there must be synergy among students, teachers, parents, and the school principal in improving the English achievement. Each party must have responsibilities in improving the students’ English achievement.

Penggunaan strategi survey, question, read, record, recite, dan review (SQ4R) untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman di kelas V SDN Kasin Kota Malang / Riska Puspita Sari

 

Kata Kunci: Strategi SQ4R, Keterampilan Membaca Pemahaman Siswa SD Pembelajaran membaca di Sekolah Dasar merupakan dasar atau landasan untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Keefektifan pembelajaran membaca ditentukan oleh implikasi membaca sebagai proses mengembangkan keterampilan memahami isi bacaan. Berdasarkan hasil orientasi di lokasi penelitian, ditemukan beberapa masalah dalam pembelajaran membaca, yaitu (1) rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran membaca (2) siswa masih kurang tepat sebagian menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi bacaan, dan (3) siswa kesulitan menyimpulkan isi bacaan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) rencana pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa melalui strategi SQ4R, (2) pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa melalui strategi SQ4R, dan (3) peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan strategi SQ4R. Rancangan penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas, yang terdiri dari dua siklus. Siklus pertama meliputi penemuan masalah umum, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Siklus kedua berisi perbaikan masalah umum penelitian dengan perencanaan yang lebih terfokus. Instrumen penelitian berupa (1) pedoman observasi, (2) dokumentasi, dan (3) wawancara. Sumber data penelitian ini adalah guru bidang studi bahasa Indonesia dan siswa kelas V SDN Kasin, Kota Malang yang berjumlah 49 siswa. Hasil penelitian siklus pertama menemukan bahwa hasil belajar siswa yang telah tuntas belajar sebesar 67,85% (35 siswa) dan yang belum tuntas belajar sebesar 32,14% (14 siswa) belum mencapai standar ketuntasan klasikal sebesar 74%, Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses belajar Bahasa Indonesia belum mendapatkan hasil yang maksimal yakni 66.63% (belum tuntas). Oleh karena itu agar hasilnya lebih optimal maka akan dilanjutkan pada siklus kedua. Pada hasil belajar siswa siklus II ini, terdapat 44 siswa yang tuntas SKM sebesar 89,28% (44 anak). Namun masih ada juga siswa yang tidak tuntas hasil belajarnya yaitu 10,71 % (5 anak). hasil belajar siswa pada siklus II sudah memenuhi standar ketuntasan rata-rata kelas sebesar 74%. Yang mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 21,43% (67,85% - 89,28%). Dengan begitu strategi SQ4R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Kasin Kota Malang.

Analisa faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pengrajin pada industri kecil (studi kasus pada industri kecil pengrajin genteng di Desa Urek-urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang) / Rizky Nurcahyo

 

Kata Kunci : Modal Kerja, Pengalaman Kerja Pengrajin, Jam Kerja Pengrajin, Jumlah Produksi, Pendapatan Pengrajin Penduduk di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang telah berusaha menciptakan lapangan kerja sendiri, yaitu dengan mendirikan industri kecil genteng sebagai usaha meningkatkan pendapatan individu. Adanya masalah yang dihadap usaha genteng tersebut dalam menjalankan usaha maupun mengembangkan usaha yang mempengaruhi pendapatan mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh langsung modal kerja terhadap jumlah produksi; pengaruh langsung pengalaman kerja pengrajin terhadap jumlah produksi; pengaruh langsung jam kerja pengrajin terhadap jumlah produksi; pengaruh langsung modal kerja terhadap pendapatan pengrajin; pengaruh langsung pengalaman kerja pengrajin terhadap pendapatan pengrajin; pengaruh langsung jam kerja pengrajin terhadap pendapatan pengrajin; pengaruh tidak langsung modal kerja, pengalaman kerja pengrajin, jam kerja pengrajin terhadap pendapatan pengrajin melalui jumlah produksi genteng di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Populasi penelitian ini adalah seluruh pengrajin genteng di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang yang berjumlah 200 orang. Pengambilan sampel yang berjumlah 67 orang dilakukan dengan tehnik random sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara langsung maupun tidak langsung pada hasil analisis, peneliti menggunakan analisis jalur dan hubungan variabelnya distrukturkan berdasarkan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh langsung modal kerja terhadap jumlah produksi, (2) Tidak terdapat pengaruh langsung pengalaman kerja pengrajin terhadap jumlah produksi, (3) Terdapat pengaruh langsung jam kerja pengrajin terhadap jumlah produksi, (4) Terdapat pengaruh langsung modal kerja terhadap pendapatan pengrajin, (5) Tidak terdapat pengaruh langsung pengalaman kerja pengrajin terhadap pendapatan pengrajin, (6) Tidak terdapat pengaruh langsung jam kerja pengrajin terhadap pendapatan pengrajin, (7) Terdapat pengaruh secara tidak langsung modal kerja dan jam kerja terhadap pendapatan pengrajin. Oleh karena itu, peneliti dapat memberikan saran bagi pihak pemerintah daerah supaya memberikan perhatian pada para pengrajin atas usahanya dengan memberikan bantuan modal, serta mempermudah akses para pengrajin dengan lembaga keuangan. Bagi para pengrajin agar mengelola modal kerja dengan baik dan mengubah pola pemasaran mereka menjadi lebih baik tidak hanya mengandalkan order. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya memperluas penelitian, memperdalam kajian dan melakukan dengan metode yang lebih baik.

Penerapan model pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada siswa kelas X Akuntansi A SMK PGRI Pakisaji Malang) / Ade Sela Damayanty

 

Kata Kunci: Bermain Peran, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, Kewirausahaan. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan menyempurnakan kurikulum KBK menjadi KTSP. KTSP merupakan kurikulum yang disempurnakan pada tahun 2004 dan 2006. Tujuan KTSP adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia, meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama, meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. Peningkatan kualitas pembelajaran harus digalakan melalui upaya pembelajaran yang inovatif. Implementasi pembaelajaran yang inovatif ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui implementasi strategi pembelajaran untuk mendorong siswa menjadi student centre. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Bermain Peran pada kelas X Akuntansi A di SMK PGRI Pakisaji Malang pada mata pelajaran Kewirausahaan, mengetahui aktivitas belajar siswa pada kelas X Akuntansi A di SMK PGRI Pakisaji Malang setelah menerapkan model Bermain Peran pada mata pelajaran Kewirausahaan, mengetahui hasil belajar siswa pada kelas X Akuntansi A di SMK PGRI Pakisaji Malang setelah menerapkan model Bermain Peran pada mata pelajaran Kewirausahaan, mengetahui kendala-kendala dan solusi yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran Bermain Peran pada kelas X Akuntansi A di SMK PGRI Pakisaji pada mata pelajaran Kewirausahaan, penerapan model pembelajaran Bermain Peran pada kelas X Akuntansi A dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar di SMK PGRI Pakisaji Malang pada mata pelajaran Kewirausahaan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) atau sering disebut dengan Classroom Action Reasearch. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dari penelitian ini diperoleh secara langsung dari hasil test, wawancara, angket, pengamatan dan data sekunder yang diperoleh dari dokumen SMK PGRI Pakisaji. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi A SMK PGRI Pakisaji. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu dengan catatan lapangan, observasi aktivitas guru dan siswa. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II yang dapat diukur pada hasil observasi aktivitas siswa siklus I sebesar 81,5% dan siklus II sebesar 85%. Terjadi peningkatan sebesar 3,5%. Selain itu peningkatan aktivitas juga dapat dilihat ketuntasan siswa melalui hasil belajar aspek kognitif dari siklus I 66,83 dan siklus II dengan presentasi 73.42% dari penilaian tes sebelum penerapan dan setelah penerapan model pembelajaran Bermain Peran terdapat peningkatan ketuntasan sebesar 6,59%. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penerapan model bermain peran pada mata pelajaran kewirausahaan dapat meningkatkan aktivitas dari siklus I ke siklus II sebesar 3,5% dan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 6,59% di kelas X Akuntansi A SMK PGRI Pakisaji Malang.

Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) untuk pembelajaran berbasis inkuiri pada materi limit fungsi kelas XI IPA / Ulumul Umah

 

Kata Kunci: Lembar Kegiatan Siswa, Pembelajaran Berbasis Inkuiri, Limit Fungsi. Pembelajaran berbasis inkuiri dapat mendorong siswa aktif terlibat dalam proses menemukan suatu konsep. Lembar Kegiatan Siswa merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam penerapan pembelajaran berbasis inkuiri pada materi limit fungsi. Oleh karena itu, LKS untuk pembelajaran berbasis inkuiri pada materi limit fungsi dikembangkan pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan proses pengembangan Lembar Kegiatan Siswa untuk pembelajaran berbasis inkuiri pada materi limit fungsi kelas XI IPA yang valid, praktis, dan efisien, (2) menghasilkan Lembar Kegiatan Siswa untuk pembelajaran berbasis inkuiri pada materi limit fungsi kelas XI IPA yang valid, praktis, dan efisien. Pengembangan LKS mengacu pada model pengembangan Plomp dengan beberapa penyesuaian. Langkah pengembangan meliputi investigasi awal, produksi, validasi, revisi stelah validasi, uji coba LKS, uji kepraktisan, uji keefisienan, dan revisi setelah analisis hasil uji coba. LKS telah divalidasi oleh dua dosen matematika Universitas Negeri Malang. Uji coba melibatkan tiga siswa kelas XI IPA 5 SMA Negeri 7 Kediri. Hasil validasi menunjukkan LKS yang dikembangkan valid tetapi ada beberapa bagian yang perlu direvisi. Hasil uji kepraktisan menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan praktis menurut guru tetapi belum praktis menurut siswa. Sedangkan hasil uji keefisienan menunjukkan bahwa ada bagian-bagian LKS yang harus direvisi. Revisi setelah uji coba dilakukan berdasarkan hasil uji keparaktisan dan uji keefisienan. Kelebihan LKS yang telah dikembangkan yaitu (1) sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Kasar KTSP, (2) LKS memberikan stimulus bagi siswa untuk aktif berpikir, (3) tampilan LKS menarik. Adapun kelemahan LKS yang telah dikembangkan terdapat pada aspek bahasa. Beberapa pertanyaan dalam LKS ini tidak mudah dipahami oleh siswa. Saran pemanfaatan dan pengembangan produk lebih lanjut antara lain (1) peneliti lain sebaiknya mengembangkan produk serupa untuk materi lain, dan (2) peneliti yang mengembangkan produk serupa sebaiknya melakukan uji coba pada suatu kelas dan melakukan uji coba tahap lanjut.

Resepsi pembaca terhadap Ayat Ayat Cinta / Munaris

 

Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (2) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., dan (3) Dr. H. Mujianto, M.Pd. Kata Kunci: Resepsi, Pembaca, Hermeneutika Kajian resepsi teks adalah studi yang memosisikan pembaca sebagai sen¬tral kajian karena pembaca yang memberikan makna terhadap teks. Dalam kon¬teks penelitian ini, teks yang diresepsi adalah Ayat Ayat Cinta (AAC). Resepsi pem¬baca tersebut diwujudkan dalam teks tulis yang disebut teks resepsi. Teks re¬sepsi yang dijadikan sumber data adalah teks resepsi yang diunggah di internet. Dengan demikian, kajian ini bukan berpusat pada teks ACC, namun berpusat pada teks yang diproduksi pembaca sebagai penerimaan pembaca terhadap teks yang dibaca (aseptabilitas). Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan resepsi pembaca terha-dap AAC. Tujuan utama tersebut dirinci menjadi tiga tujuan, yaitu (1) mendes¬krip-sikan dan menjelaskan resepsi pembaca terhadap unsur-unsur AAC, yaitu terhadap unsur tekstual dan unsur ekstratekstual; (2) mendeskripsikan dan menjelaskan ka-tegori resepsi pembaca AAC dalam perspektif resepsi terhadap teks; dan (3) men-des¬kripsikan dan menjelaskan strategi resepsi pembaca AAC. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatifdengan menggunakan an-cangan hermeneutika. Basis utama penelitian ini adalah kerja penafsiran. Data pe-nelitian berupa penggalan-penggalan teks (unit) yang relevan dengan fokus dan tujuan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Pe¬ne-liti merupakan instrumen kunci, yaitu peneliti yang menjalankan seluruh prosedur penelitian.Dalam melakukan perannya sebagai instrumen, peneliti dilengkapi dengan kisi pengembangan instrumen, panduan pengumpulan data untuk masalah pertama, panduan pengumpulan data untuk masalah kedua, dan panduan pe-ngumpulan data untuk masalah ketiga. Analisis data dilakukan dengan model alir dan interaktif dengan basis kerja hermeneutika. Alur kerja interpretasi yang digunakan adalah alur kerja menurut Ricoeur, yaitu beranjak dari pemahaman (verstehen) ke penjelasan (erklaren). Oleh karena itu, komponen-kompenen pene¬li-tian digerakkan langkah demi langkah, namun juga saling berinteraksi untuk mendapatkan kesesuaian penafsiran data dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca cenderung meresepsi un¬sur tekstual AAC dari pada unsur ekstratekstual.Pembaca meresepsi unsur-unsur tekstual (pembangun) AAC, yaitu meliputi fakta cerita (tokoh, alur, latar), sarana cerita (judul, sudut pandang, gaya, dan nada), dan tema (topik-topik) cerita. Dari unsur-unsur tersebut, pembaca cenderung meresepsi tokoh cerita kemudian nada, alur, latar, topik cinta, gaya, topik pluralisme, topik poligami, judul, topik toleransi, dan sudut pandang. Untuk unsur ekstratekstual, pembaca cenderung me¬resepsi unsur pengarang kemudian motto, referensi, sampul, catatan kaki, prolog, dan testimoni. Secara umum, unsur-unsur AAC, baik unsur tekstual maupun eks-tratekstual, cenderung diresepsi secara positif walaupun ada juga yang meresepsi secara negatif. Karena pembaca cenderung meresepsi unsur pembangun (unsur formal) cerita naratif fiksional,maka resepsi pembaca cenderung masuk dalam kategori formal. Kategori resepsi pembaca berikutnya adalah kategori personal, kategori interpretatif, kategori kepedulian sastra lebih luas, dan kategori topikal. Pembaca cenderung meresepsi hal-hal tekstual dan pembaca juga cenderung melibatkan perasaannya dalam meresepsi teks AAC. Berkaitan dengan strategi resepsi, pembaca cenderung mengguna¬kan stra¬tegi menilai dan menyertakan. Selain dua strategi tersebut, pembaca juga meng¬gunakan strategi menerangkan, strategi merinci, strategi menghubungkan, strategi menafsirkan, dan strategi memahami. Kecenderungan tersebut menunjukkan pem-baca cenderung memberi penilaian dan cenderung mengungkapkan pera¬sa¬an¬nya dalam meresepsi AAC.

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Kemiri 01 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang / Dian Mastoah Layli

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 7 desember 2010 di kelas V SDN Kemiri 01 kecamatan Jabung kabupaten Malang diketahui sebagian besar kegiatan belajar mengajar (KBM) masih didominasi oleh guru atau dapat dikatakan guru aktif, sedangkan siswa hanya duduk, mendengarkan, mencatat bahkan ada sebagian siswa yang diam dengan keadaan mengantuk, sehingga motivasi belajar siswa rendah pada saat pembelajaran berlangsung. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran Make A Match. Make A Match merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat melatih siswa untuk lebih aktif sehingga termotivasi untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah hasil posstest siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Make A Match lebih tinggi dari pada hasil pretest. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian One-shot case study, jenis penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimen. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat langsung dalam seluruh proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan data. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan angket. Penelitian dilaksanakan di kelas V SDN Kemiri 01 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang dengan jumlah siswa 34 orang, pada materi Macam-macam Usaha dan Kegiatan Ekonomi di Indonesia dengan sub pokok bahasan Usaha Ekonomi yang Dikelola Kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hasil posttest siswa lebih tinggi dari hasil pretest. Hal ini dapat diperoleh dari hasil rata-rata belajar siswa mengalami peninggkatan dari pretest (6,03) meningkat menjadi (7,03) pada hasil posttest. Selain itu penggunaan model pembelajaran Make A Match berpengaruh terhadap hasil belajar siswa ini dapat ditunjukan dari hasil perhitungan menggunakan uji-t diperoleh t hitung (31,91) ≥ t tabel (2,021) dengan taraf signifikan 5%. Berdasarkan hasil penelitian saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini yaitu:1) bagi kepala sekolah adalah memberikan motivasi kepada semua guru untuk mencoba menerapkan model ini sebagai variasi model mengajar, 2) bagi guru hendaknya lebih meningkatkan kemampuan keprofesionalannya dalam menyampaikan materi dengan metode yang lebih efektif untuk menunjang keberanian siswa untuk bertanya, 3) perlu adanya pengelolaan kelas yang lebih baik terutama dalam mengatasi siswa yang sering membuat ramai dan gaduh, sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar, 4) peneliti lanjutan dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan teknik mencari pasangan (Make A Match) dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda.

Perbandingan hasil belajar siswa menggunakan metode diskusi dan metode ceramah pada mata pelajaran matematika kelas VIII MTs Nurul Hidayah Mojokerto / Miftakhul Jannah

 

Metode merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode diskusi adalah suatu cara mengelola masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Metode diskusi dapat melatih sikap siswa untuk menghargai pendapat orang lain, melatih keberanian untuk mengutarakan pendapat, mempertahankan pendapat dan memberi rasional sehubungan dengan pendapat yang dikemukakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan metode diskusi dan metode ceramah. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2011 dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas VIII di MTs Nurul Hidayah Mojokerto. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Teknik sampling dipilih rancangan Untreatened control group design with pretest and posttest (rancangan prates dan pascates dengan pemilihan kelompok yang tidak diacak). Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah uji beda atau uji t. Hasil penelitian pembelajaran menggunakan metode diskusi ini menunjukkan bahwa t[1]   31,91 ≥ t  2,021 dari α = 0,05 dengan dk = (n-2) = (34 - 2) = 32 yang artinya terdapat perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil pascates masing-masing kelompok yaitu rata-rata nilai pascates kelompok eksperimen sebesar 7,03 dan rata-rata nilai pascates kelompok kontrol sebesar 6,58. Berdasarkan hasil penelitian, saran-saran yang dapat dikemukakan yaitu: 1) untuk meningkatkan minat belajar siswa, dalam mengajar guru dapat menggunakan metode diskusi; 2) apabila dalam proses pembelajaran guru menemukan masalah-masalah yang bisa menghasilkan banyak alternatif pemecahan dan masalah yang mengandung banyak variabel, guru bisa memanfaatkan metode diskusi ini untuk memecahkan masalah tersebut; 3) untuk melatih keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat, siswa dapat mengembangkannya saat metode diskusi ini dilaksanakan; 4) oleh karena penulis hanya melakukan penelitian di satu tempat, maka diharapkan peneliti lanjutan dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan menerapkan metode diskusi (Discussion Method) dengan menggunakan kompetensi dan subjek penelitian yang berbeda.

Meningkatkan hasil belajar matematika kelas III di SDN Kebonwaris, Pandaan Kabupaten Pasuruan melalui pembelajaran model inkuiri / Heri Ardiansyah

 

Keywords: acvievement, mathematic, Inquiry Learning Model The problem want to solve on the research are for: 1)to know the implementation of the inquiry learning model, 2) Does the implementation of the inquiry learning model improving the mathematic achievement third grader Kebonwaris Elementary School Pandaan. The data researches collected by interview and observed the subject research also analyzed the achievement on the every final tes in each activities. The research held on the third grader of Kebonwaris Elementary School at Pandaan city. Subjects are twenty 25 consist of 10 boys and 15 girls. Document analyzing presents by cualitative descript methode. Those activities on the research succeed to improve the achievement mathematic on third grader. Learning by inquiry model make the students more active and have critical think facing a problem on their learn. Those helps them build their own knowledge on every lessons.

Dampak pengembangan obyek wisata penataran terhadap pembangunan ekonomi lokal di Kabupaten Blitar / Dian Setia Yusmiady

 

Kata Kunci: Obyek Wisata, Pembangunan Ekonomi lokal. Keberadaan suatu obyek wisata tidak terlepas dari adanya pembangunan ekonomi lokal yaitu meningkatkan kegiatan ekonomi yang ada dalam wilayah tersebut, tidak terkecuali obyek wisata Penataran. Keberadaan obyek wisata Penataran telah banyak memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah. Pembangunan ekonomi yang timbul karena keberadaan obyek wisata Penataran dapat mendorong terciptanya kesempatan kerja serta peningkatan perekonomian masyarakat sekitar. Jadi hal tersebut dapat memicu pembangunan daerah yang berkesinambungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pengembangan obyek wisata Penataran terhadap pembangunan ekonomi lokal. Untuk mengetahui fokus dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai yaitu Bagaimana dampak pengembangan obyek wisata penataran terhadap pembangunan ekonomi lokal dan peran pemerintah dalam pengembangan obyek wisata penataran terhadap pembangunan ekonomi lokal. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan mengambil lokasi di Obyek Wisata Penataran di Kabupaten Blitar. Fokus dalam penelitian ini adalah Dampak Obyek Wisata Penataran Terhadap Pembangunan Ekonomi Lokal di Kabupaten Blitar. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini yaitu Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, pengelola obyek wisata Penataran dan pembangunan ekonomi lokal masyarakat Penataran. Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa obyek wisata penataran mempunyai peranan yang penting terhadap pembangunan ekonomi lokal masyarakat Penataran. Dampak pengembangan obyek wisata penataran terhadap pembangunan ekonomi lokal adalah meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, meningkatkan pendapatan asli daerah serta terjalinnya hubungan baik dengan investor, agar dapat membantu dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil penelitian terdapat usaha-usaha di sekitar obyek wisata Penataran, seperti pedagang cinderamata/ souvenir, pedagang makanan dan minuman, pedagang bakso serta juru parkir. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengembangan obyek wisata penataran memberikan dampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi lokal masyarakat penataran yang ditandai dengan pengelolaan sumberdaya manusia yang baik sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Saran bagi pemerintah Kabupaten Blitar hendaknya dalam perkembangannya memperhatikan dampak yang timbul dari pengembangaan obyek wisata Penataran baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga setelah mengetahuinya dampak negatif yang ada dapat diminimalisir dan mendorong peningkatan pada dampak positif yang terjadi sehingga nantinya dapat digunakan sebagai penentuan kebijakan dan keputusan Pemerintah Kabupaten Blitar

Pengaruh pembelajaran berbasis masalah melalui strategi Think Pair Share terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar biologi dan retensi siswa dengan kemampuan akademik berbeda / Eva Nurul Malahayati

 

Kata Kunci: pembelajaran berbasis masalah, think pair share, metakognitif, berpikir kritis, hasil belajar biologi, retensi, kemampuan akademik beda. Pembelajaran sains (biologi) menuntut siswa memahami konsep-konsep pokok melalui penalaran, menemukan konsep-konsep yang berkaitan, atau dengan berbagai cara membuat hubungan antar konsep. Faktanya, siswa kurang terlibat secara aktif, baik fisik maupun mental mencari hubungan antar konsep-konsep dalam pembelajaran biologi. Pemahaman siswa tidak terbangun secara utuh sehingga kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar, dan retensi siswa rendah. Pembelajaran berbasis masalah berpotensi melatih siswa untuk meningkatkan kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar. Strategi Think Pair Share memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara mandiri, merespon/ menjawab, dan bekerja sama dengan yang lain mampu meningkatkan daya ingat atau retensi siswa. Dengan demikian, gabungan keduanya berpotensi untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam meningkatkan kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar biologi dan retensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran berbasis masalah melalui strategi TPS terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar biologi dan retensi siswa dengan kemampuan akademik berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan metode quasi eksperimen melalui desain Nonrandomized Control Group Pretest-Postest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang dan SMAI Al- Ma’arif Singosari semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Sampel penelitian adalah kelas X-4 dan X-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-5 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian terdiri atas angket inventori metakognitif, soal tes uraian untuk mengakses ketrampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar dan retensi. Angket inventori metakognitif dan soal tes diberikan pada awal dan akhir pembelajaran, kemudian tes retensi kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar dilakukan 4 minggu setelah pelaksanaan postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan ANAKOVA. Uji lanjut menggunakan uji Least Significant Different (LSD). Pengujian terhadap konsistensi pelaksanaan strategi pembelajaran digunakan analisis regresi. Pengujian hipotesis nol dilakukan pada taraf signifikansi 0.5%. Semua proses analisis data dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PBM + TPS berpengaruh terhadap retensi keterampilan metakognitif sebesar 83.306%, retensi kemampuan berpikir kritis dan retensi hasil belajar berturut-turut sebesar 82.149% dan 95.029%, sedangkan tidak berpengaruh terhadap kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar serta retensi kesadaran metakognitif. Kemampuan akademik berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensinya berturut-turut sebesar 131.425%, 134.475%, dan 73.959%. Namun, tidak berpengaruh terhadap kesadaran metakognitif, kemampuan berpikir kritis, retensi kesadaran metakognitif, dan retensi keterampilan metakognitif. Interaksi strategi PBM + TPS dengan kemampuan akademik hanya berpengaruh terhadap kesadaran metakognitif dengan kemampuan akademik tinggi, tetapi tidak berbeda nyata dengan interaksi multistrategi dengan kemampuan akademik rendah. Terkait hasil penelitian tersebut, maka peneliti memberikan saran agar penelitian yang sejenis perlu terus dikembangkan dengan kombinasi beberapa strategi pembelajaran yang lain pada jenjang pendidikan yang sama atau berbeda. Penggunaan angket inventori kesadaran metakognitif belum sepenuhnya dapat mengakses kesadaran metakognitif siswa secara efektif, sebaiknya selain dengan angket digunakan tes verbal dan wawancara. Sebaiknya untuk mempertahankan daya retensi siswa dilakukan pembelajaran yang bervariasi agar siswa tidak mengalami kebosanan. Nilai Ujian Nasional belum sepenuhnya menggambarkan kemampuan akademik, sebaiknya untuk mengelompokkan siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah menggunakan tes bakat skolastik

Pengembangan modul pembelajaran kimia SMA/MA kelas XI semester 2 pada materi hidrolisis garam dengan model learning cycle 5-E / Rika Septina Ratih

 

Kata Kunci: Modul, Hidrolisis Garam, Learning Cycle 5-E Materi kimia khususnya pada pokok bahasan hidrolisis garam mengandung banyak kegiatan belajar yang bervariasi seperti pemahaman konsep, percobaan atau kegiatan laboratorium, bahkan analisis masalah. Berdasarkan karakteristik tersebut, perlu adanya strategi pembelajaran khusus yang diterapakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk materi hidrolisis garam adalah Learning Cycle 5-E. Penerapan model Learning Cycle melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar sehingga terjadi proses asimilasi, akomodasi dan organisasi dalam struktur kognitif siswa. Dalam satu siklus pembelajaran Learning Cycle 5-E terdapat lima fase yaitu: engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate. Agar pembelajaran hidrolisis garam dapat melibatkan siswa dalam penemuan konsep-konsep maka dilakukan penelitian pada modul dengan model Learning Cycle 5-E. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan modul Hidrolisis Garam dengan model Learning Cycle 5-E untuk SMA/MA kelas XI semester 2 dan mengetahui kelayakan atau kevalidan dari modul Hidrolisis Garam tersebut. Rancangan penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan. Hasil akhir penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar atau modul cetak pada materi kimia yaitu hidrolisis garam dengan model pembelajaran Learning Cycle 5-E. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Borg and Gall. Terdapat sepuluh tahap pada model pengembangan Borg and Gall. Namun, hanya lima tahap yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba lapangan awal dengan uji terbatas, serta revisi produk hasil uji coba. Modul Hidrolisis Garam yang telah dikembangkan terdiri dari beberapa bagian yaitu bagian pra pendahuluan, bagian pendahuluan dan bagian isi/kegiatan belajar. Bagian pra pendahuluan dalam modul ini meliputi kata pengantar, tahap-tahap penggunaan modul, pedoman penggunaan modul, petunjuk untuk guru dan siswa, daftar isi, daftar tabel, dan daftar gambar. Bagian pendahuluan berisi judul modul, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Bagian isi/kegiatan belajar berisi Kegiatan 1 (Sifat Garam dan Konsep Hidrolisis) dan Kegiatan 2 (Menghitung pH Larutan Garam), soal-soal uji kompetensi, daftar pustaka, daftar istilah, umpan balik, dan kunci jawaban. Berdasarkan hasil validasi modul yang dikembangkan, secara keseluruhan diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,35 dengan kriteria sangat valid. Hal ini menunjukkan bahwa modul Hidrolisis Garam yang dikembangkan sudah sesuai dan layak digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di SMA/MA.

Penerapan model quantum learning untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang / Maya Puspita Indah Sari

 

Kata Kunci : Quantum Learning dan hasil belajar siswa. Model Quantum Learning sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran IPA, yang membawa siswa belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Siswa akan lebih bebas dalam menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya, sehingga diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa. Berdasarkan observasi awal di SDN Tulusrejo 02 Malang, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas V masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditetapkan pada sekolah sebesar 70, permasalahan lainnya daya ingat siswa yang kurang. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang menarik, yaitu dengan model Quantum Learning. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang Standar Kompetensi “Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model”. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) untuk mendeskripsikan penerapan model Quantum Learning, 2) mendeskripsikan penerapan model Quantum Learning untuk meningkatkan aktivitas siswa, 3) mendeskripsikan penerapan model Quantum Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Quantum Learning dapat meningkatkan : 1) aktivitas guru dari siklus I ke siklus II, nialai rata-rata aktivitas guru pada siklus I yaitu 86,11 dan pada siklus II nilai rata-rata aktivitas guru yaitu 91,63, 2) aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II dimana nilai rata-rata aktivitas siswa pada siklus I yaitu 60,70, dan nilai rata-rata pada siklus II yaitu 76.41 3) hasil belajar siswa yang diukur dengan skor rata-rata dan persentase ketuntasan belajar secara klasikal dari pratindakan siklus I, dan siklus II. Skor ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada pratindakan yaitu 25,64 pada siklus I yaitu 75,87 dan pada siklus II yaitu 82,78. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model Quantum Learning dapat meningkatkan pembelajaran siswa. Peneliti juga menyarankan pada seorang guru/peneliti lain untuk memperhatikan kesalahan yang dilakukan peneliti yaitu siswa yang terlalu banyak dan ruangan yang tidak terlalu besar sehingga sulit untuk menata ruangan yang digunakan untuk menerapkan model Quantum Learning.

Pengembangan buku ajar model latihan kaki renang gaya bebas pengikut ekstrakurikuler renang siswa SMK Prajnaparamita Kota Malang / Nico Chandra Nugroho

 

Kata Kunci: Pengembangan, model latihan, gerak kaki, renang, Malang Renang adalah suatu olahraga yang dilakukan di air, dengan cara menggerakan seluruh anggota badan, berenang di air saat ini digemari masyarakat layaknya olahraga pada umumnya, tetapi dalam olahraga renang ini harus dilakaukan dengan baik dan intensif, serta kontinyu agar memperoleh gerakan yang baik dan benar dalam berenang. Seiring dengan perkembangan renang yang pesat banyak sekolah memiliki ekstrakurikuler renang. Namun pada kenyataannya tidak sedikit juga para siswa peserta ekstrakurikuler renang yang belum mengerti teknik-teknik dasar dalam olahraga air ini, terutama dalam hal melakukan teknik dasar gerak kaki yang benar. Siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler renang di SMK Prajnaparamita Kota Malang pada saat melakukan latihan maupun berenang, lebih banyak menggunakan teknik berenang mengapung sehingga kemampuan berenang siswa tidak nampak. Model adalah suatu bentuk tiruan dari aslinya dengan tujuan memperoleh sesuatu yang ideal dengan memperhatikan faktor potensi fisiologis, fasilitas, dan lingkungan sosial. Latihan adalah suatu proses kerja yang dilakukan secara kontinyu , berkesinambungan, dalam waktu yang panjang, dilakukan secara tepat dan berulang-ulang dengan tujuan meningkatkan kemampuan/keterampilan, dan meningkatkan kesegaran dan kebugaran jasmani. Renang gaya bebas adalah suatu gerakan seluruh anggota badan yang dilakukan di air, gaya bebas ini banyak mengunakan gerakan kaki dan yang paling utama dibandingkan dengan gaya yang lainya. Namun pada prakteknya, untuk melakukan latihan renang gaya bebas siswa SMK Prajnaparamita pengikut ekstrakurikuler banyak yang masih belum bisa menguasai taknik gerak renang gaya bebas. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor Model pelatihan yang diajarkan kurang variatif, sehingga anak kesulitan untuk belajar teknik berenang gaya bebas. Untuk itu peneliti perlu melakukan suatu cara agar siswa pengikut ekstrakurikuler bisa lebih mudah mengusai teknik latihan gerak kaki renang gaya bebas. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk mengembangkan model latihan kaki pada peserta ekstrakurikuler renang di SMK Prajnaparamita Kota Malang. Model Pengembangan dalam penelitian ini, merupakan penerapan dari Borg & Gall yaitu ada langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Pada pengembangan model latihan gerak kaki gaya bebas ini melalui beberapa tahap antara lain adalah analisis kebutuhan, pembuatan produk awal, uji coba produk, revisi produk utama, uji lapangan dan revisi produk akhir. Subjek penelitian yang digunakan adalah peserta ekstrakurikuler renang SMK Prajnaparamita Malang dan penelitian ini dilaksanakan di kolam renang dieng pada bulan April 2011 sampai bulan Mei 2011, dari hasil penelitian pengembangan menunjukkan tanggapan peserta ekstrakurikuler sebesar 88.68% pada uji kelompok kecil dan 86.27% pada uji lapangan sehingga produk pengembangan dapat digunakan. Hasil penelitian ini dapat berguna dan sangat bermanfaat sekali bagi peserta ekstrakurikuler renang di SMK Prajnaparamita Kota Malang, Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar: (1) Subyek penelitian sebaiknya dilakukan pada subyek yang lebih luas, baik itu dari faktor usia dan jumlah sekolah SMP dan SMA yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler renang, (2) Hasil pengembangan ini hanya sampai tersusunnnya sebuah produk, belum sampai tingkat efektivitas produk yang dikembangkan, jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektivitas produk yang dikembangkan, (3) Dianalisis tingkat efektivitas, dengan membandingkan dari beberapa bentuk model variasi latihan mana yang paling baik atau efektif dalam meningkatkan kemampuan keterampilan teknik dasar gerak kaki gaya bebas dalam berenang, (4) Buku pedoman model latihan gerak kaki gaya bebas ini untuk selanjutnya diharapkan bisa dikembangkan dalam bentuk VCD untuk lebih menarik minat siswa dan mempermudah pemahaman siswa tentang teknik dasar gerak kaki gaya bebas dalam berenang.

Penjadwalan produksi flow shop menggunakan algoritma genetika / Benawati Yusmariana

 

Kata Kunci: penjadwalan, flow shop, algoritma genetika, makespan. Pada perusahaan manufaktur, penjadwalan produksi flow shop memegang peranan penting dalam hal tercapainya kondisi optimal dalam proses produksi. Masalah penjadwalan flow shop adalah menjadwalkan proses produksi dari masing-masing n job yang mempunyai urutan proses produksi dan melalui m mesin yang sama. Melalui penelitian ini penulis bermaksud untuk menerapkan algoritma genetika pada penjadwalan flow shop dengan tujuan minimasi makespan. Dalam implementasinya, algoritma genetika akan dikolaborasikan dengan algoritma NEH_Insertion. Algoritma genetika didasari oleh proses evolusi yang berada di alam. Termasuk di dalamnya terjadinya populasi, mutasi, dan juga berkembang biak. Algoritma Genetika mensimulasikan proses yang terjadi pada populasi alamiah yang merupakan hal penting dalam proses evolusi Algoritma Genetika mengadaptasi proses kerja genetika pada makluk hidup. Idenya berawal dari tujuan mendapatkan populasi baru dengan karakteristik yang lebih baik dari populasi baru dengan karakteristik yang lebih baik dari populasi sebelumnya. Prosesnya di ulang hingga ditemukan penyelesaian baru, sampai kriteria yang diinginkan diperoleh. Algoritma genetika baik digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek yaitu masalah optimasi yang memiliki banyak kemungkinan solusi. Hal ini dikarenakan algoritma genetika adalah salah satu algoritma heuristik yang memiliki keseimbangan yang baik antara eksplorasi dan kuantitas optimal dari solusi yang di dapat, sehingga merupakan metode fleksibel yang banyak digunakan untuk melakukan optimasi di bidang industri. Penyelesaian permasalahan penjadwalan flow shop dibedakan dalam tiga kasus pada bab III. Penyelesaian yang dikerjakan dengan algoritma Genetika pada kasus 1 menghasilkan makespan sebesar 20 jam, pada kasus 2 diperoleh makespan sebesar 56 jam, sedangkan pada kasus 3 diperoleh makespan sebesar 116 jam. Pada kasus 2 dan 3 menghasilkan dua urutan job dengan makespan dan nilai fitness yang sama. Sedangkan penyelesaian yang dikerjakan dengan algoritma Simulated Annealing pada kasus 1 menghasilkan makespan 20 jam, pada kasus 2 diperoleh makespan sebesar 60 jam, sedangkan pada kasus 3 diperoleh makespan sebesar 120 jam. Dan pada algoritma Simulated Annealing diperolah satu urutan job. Dari ketiga kasus tersebut terlihat bahwa algoritma Genetika menghasilkan makespan (lama waktu total penyelesaian seluruh pekerjaan) yang lebih minimum. Kelebihan algoritma Genetika adalah memberikan solusi makespan yang lebih minimum jika dibandingkan dengan algoritma Simulated Annealing dan juga dapat menawarkan beberapa solusi (kromosom terbaik) sekaligus yang memiliki nilai fungsi tujuan (nilai fitness) yang sama. Namun iterasi yang dibutuhkan untuk memperoleh solusi relatif lebih panjang.

Pengembangan media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran geografi kelas X di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo / R. Pitria Atika

 

Kata kunci : Pengembangan, Media Pembelajran Interaktif, Geografi. Media pembelajaran interaktif ini dikembangkan untuk memberikan variasi dan motivasi agar tidak jenuh dan bosan. Selain itu juga untuk untuk mencapai tujuan pembelajaran pada mata pelajaran Geografi SMA Kelas X secara efisien dan efektif. Sekolah yang menjadi tempat penelitian pengembangan adalah SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo, dalam pembelajarannya masih cendrung pada proses pembelajaran yang terpusat pada guru. Dalam kondisi demikian pembelajaran hanya dikuasai oleh guru, membuat pebelajar menjadi cepat jenuh dan bosan, akibatnya para pebelajar tidak dapat memahami secara keseluruhan materi yang diberikan oleh guru. Pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk berupa media pembelajaran interaktif sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang efektif dan tidak membosankan bagi pebelajar dalam belajar khuusnya pada mata pelajaran Geografi kelas X SMA. Metode pengembangan yang digunakan adalah model Kemp dengan prosedur pengembangan yang terdiri dari 10 tahap yaitu : (1) Identifikasi Masalah Pembelajaran (2) Analisis Siswa, (3) Menentukan Tujuan Pembelajaran Khusus, (4) Menentukan Materi Pembelajaran, (5) Penyusunan Evaluasi, (6) Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), (7) Evaluasi, (8) Revisi. Media pembelajaran interaktif siap digunakan dalam kegiatan pembelajaran kepada siswa SMA kelas X. Sampel yang diambil adalah siswa SMA kelas X G dalam pembelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo. Sumber data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam Pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (pre-test dan post-test). Teknik analisis data yang digunakan antara lain: analisis angket, interpretasi data dengan kriteria tingkat validitas dan mengolah tes hasil belajar siswa dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran interaktif. Hasil pengembangan media pembelajaran interaktif mata pelajaran Geografi yang telah diujicobakan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi ahli media diperoleh 83,3%, ahli materi diperoleh 88,3%, siswa/ audiens mencapai tingkat kevalidan 93%. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa media pembelajaran interaktif yang dikembangkan termasuk dalam kriteria Valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran Geografi pada materi litosfer dan pedosfer di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo. Hasil tes belajar baik pre- test maupun post- test yang diberikan kepada siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kraksaan Probolinggo. Pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran interaktif ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan media pembelajaran interaktif, persentase peningkatan hasil belajar pada uji coba sebesar 90%. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran Geografi pokok materi litosfer dan pedosfer, valid/ layak digunakan sebagai media pembelajaran

Penerapan lesson study untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran reproduksi dan imunitas di SMA Al-Rifa'ie Gondanglegi Malang / Herlina Ike Oktaviani

 

Kata Kunci : Lesson Study, Hasil Belajar Lesson study adalah suatu proses kolaboratif pada kelompok guru ketika mengidentifikasi masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran. Lesson study dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan keprofesionalan guru sehingga faktor itulah yang diharapkan akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Lesson study diterapkan di SMA Al-Rifa’ie karena masih banyak guru muda yang memerlukan peningkatan keprofesionalan untuk mengembangkan pembelajaran dan beberapa siswa yang belum memenuhi SKM dalam pembelajaran biologi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1)mendeskripsikan penerapan lesson study untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran reproduksi dan imunitas di SMA Al-Rifa’ie, (2) mengidentifikasikan manfaat lesson study bagi guru Biologi, dan (3) mengidentifikasikan kendala dalam penerapan lesson study di SMA Al-Rifa’ie. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini diambil dari wawancara, observasi dan beberapa dokumen yang diperlukan dalam penelitian. Instrumen yang dibutuhkan dalam pengumpulan data adalah pedoman observasi, pedoman wawancara dan pedoman dokumentasi. Analisis dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa setelah diterapkan lesson study hasil belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran reproduksi dan imunitas di SMA Al-Rifa’ie meningkat. Hal itu dikarenakan pembelajaran direncanakan, dilaksanakan dan direfleksi secara kolaboratif oleh beberapa guru sehingga banyak gagasan, saran serta kritik dalam meningkatkan mutu pembelajaran dengan strategi pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa. Lesson study memberi manfaat bagi guru Biologi yaitu adanya kerjasama secara kolaboratif antara beberapa guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan; guru lebih terbantu dalam proses pembelajaran; lebih profesional dalam mengajar; dan siswa menjadi lebih aktif.Beberapa kendala yang dirasakan dalam penerapan lesson study di SMA Al-Rifa’ie, yaitu membutuhkan waktu yang lama untuk persiapan RPP karena berhubungan dengan guru-guru yang lain; sulitnya mencari waktu yang sesuai; beberapa guru masih malu untuk menjadi guru pengajar yang diamati oleh observer; waktu yang terbatas untuk mengikuti tahapan lesson study; dan sedikitnya guru yang termotivasi untuk memperbaiki dan menambah inovasi pembelajaran.

Pengembangan model permainan pada pembelajaran lari sprint 50 M kelas VII SMP Negeri 3 Batu / Nurul Fadilah

 

Kata Kunci: Pengembangan, Model permainan, Lari sprint 50 m Berdasarkan penelitian melalui wawancara pada tanggal 8 Februari 2011 terhadap dua guru Pendidikan Jasmani Olaharaga dan Kesehatan SMP Negeri 3 Batu yaitu guru menjelaskan bahwa respon siswa kurang aktif terhadap pembelajaran atletik lari sprint 50 m. Hal itu disebabkan karena siswa belum terkondisi dengan materi ajar dan sarana prasarana yang kurang memadai. Pada penelitian awal melalui penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) kepada siswa didapatkan hasil (1) Sebanyak 95% peserta menyatakan lebih senang dengan permainan bola besar (sepakbola, bolabasket, bolavoli) daripada atletik (lari, lempar, lompat); (2) Sebanyak 64% peserta menyatakan kurang tertarik dengan materi olahraga atletik lari sprint 50 m; (3) Sebanyak 60% peserta menyatakan model pembelajaran lari sprint 50 m yang diberikan guru kurang menyenangkan; (4) Sebanyak 68% peserta menyatakan menyukai permainan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model permainan yang menarik bagi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Batu, sehingga model permainan tersebut dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Penelitian yang dilaksanakan di SMP Negeri 3 Batu ini termasuk penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari hasil evaluasi uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 8 siswa diperoleh persentase 79,06%, dan pada uji kelompok besar dengan menggunakan 40 siswa diperoleh persentase 78.18% sehingga model permainan pada pembelajaran lari sprint 50 m kelas VII SMPN 3 Batu dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan di antaranya: sebelum disebarluaskan sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Selain itu subjek penelitian sebaiknya diperluas, baik siswa maupun sekolah yang digunakan sebagai kelompok uji coba.

Pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5 (studi kasus di SDN Sumber Asri 5 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar) / Afid Farhan Prabowo

 

Kata Kunci: Pembudayaan, nilai-nilai Pancasila, penataan suasana sekolah. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila menempati kedudukan utama, yaitu sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa sudah seharusnya Pancasila di terapkan secara konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sarana untuk pembudayaan Pancasila yang efektif salah satunya melalui proses pendidikan. Sesuai amanat UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1ayat 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”, sehingga pembudayaan nilai-nilai Pancasila di sekolah dasar merupakan suatu kewajiban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rancangan pembudayaan nilainilai Pancasila melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, mengetahui pelaksanaan pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui penataan suasana sekolah di SDN. Sumber Asri 5 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, dan mengetahui upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam mengatasi kendala pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Untuk mencapai tujuan tersebut maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Informan terdiri dari guru-guru SDN Sumber Asri 5 dan siswa-siswi SDN Sumber Asri 5. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data dilaksanakan dengan cara: koleksi data, reduksi data, display data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan temuan data dilakukan ketekunan pengamatan, triangulasi, dan perpanjangan keikutsertaan. Hasil penelitian menunjukkan (1) sebelum pelaksanaan PNP diadakan musyawarah antara kepala sekolah, guru, dan komite sekolah untuk membahas pelaksanaan PNP melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5, rencananya PNP akan dilaksanakan melalui dua jalur yaitu penataan suasana sekolah dalam bentuk fisik dan penataan suasana sekolah dalam bentuk non fisik(2) Pelaksanaan PNP melalui penataan suasana sekolah dilakukan dalam ii bentuk fisik dan non fisik. Penataan suasana sekolah SDN Sumber Asri 5 dalam bentuk fisik meliputi penataan ruang kelas, ruang guru, halaman sekolah, mushola, perpustakaan, ruang uks, kamar kecil dan kamar mandi, pagar sekolah, tempat sampah, dan tiang bedera.Sedangkan penataan suasana sekolah dalam bentuk non fisik meliputi slogan-slogan yang sesuai dengan pembudayaan nilainilai Pancasila, contoh-contoh perilaku dari guru dan kegiatan rutin meliputi kegiatan upacara bendera, senam pagi, dan apel pagi. (3) Kendala-kendala yang dihadapi dalam PNP melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5 meliputi: (a) Kurangnya perhatiaan orang tua kepada proses pendidikan anakanaknya. (b) Belum semua guru mengenal pembudayaaan nilai-nilai Pancasila. (c) Kurangnya dukungan dari kebijakan Pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap pembudayaaan nilai-nilai Pancasila. (d) Adanya anggapan sinis dari masyarakat tentang pembudayaan nilai-nilai Pancasila ini karena dianggap pembudayaan ini sama dengan P4. (e) Anggaran dana program pembudayaan nilai-nilai Pancasila di SDN Sumber Asri 5 tidak 100% keluar semua. (4) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala PNP melalui penataan suasana sekolah di SDN Sumber Asri 5 meliputi: (a) Sekolah secara kelembagaan mensukseskan pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui kebijakan kepala sekolah. (b) Sekolah melaksanakan program pembudayaan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan petunjuk dari konsultan PNP Propinsi. (c) Memberikan penjelasan kepada masyarakat kalau membudayakan pancasila sangat penting untuk dilaksanakan saat ini. (d) Meningkatkan sarana dan prasarana di sekolah yang sesuai dengan PNP. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan (1) Sebaiknya Dinas Pendidikan baik pusat maupun daerah hendaknya menjadikan program pembudayaan nilai-nilai Pancasila sebagai program wajib yang harus diterapkan di setiap sekolah baik di SD, SMP muapun SMA. (2) Sebaiknya kepala sekolah lebih aktif dalam mengevaluasi pelaksanaan dari pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui penataan suasana sekolah di sekolahnya. (3) Sebaiknya guruguru lebih memahami kembali esensi pembudayaan nilai-nilai Pancasila ini dan lebih pro aktif dalam mengembangkan nilai-nilai Pancasila kepada siswanya. (4) Sebaiknya petugas apel pagi tidak hanya siswa kelas 4, 5, dan 6 saja, tetapi siswa kelas 2 dan 3 juga menjadi petugas apel pagi. (5) Sebaiknya foto kepala sekolah tidak diletakkan di bawah foto presiden, wakil presiden, dan lambang Garuda Pancasila. Alangkah lebih baiknya foto kepala sekolah diletakkan di tempat foto para guru.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham pada perusahaan otomotif dan industri terkait yang terdaftar di BEI periode 2005-2009 / Aries Widianto

 

Kata Kunci: Kinerja Keuangan (CR,DER,TATO,ROE,NPM) dan Harga Saham Untuk berinvestasi dipasar modal, selain mendapatkan keuntungan yang menjanjikan juga dihadapkan pada risiko yang besar pula, maka dalam berinvestasi di Bursa Efek Indonesia seorang investor diharapkan untuk lebih memahami dan dapat memprediksi harga saham dimasa mendatang, sehingga para investor dapat memperhitungkan besarnya keuntungan yang diharapkan akan didapatkan, dan risiko yang harus dihadapi. Analisis rasio keuangan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan. Dengan kinerja keuangan yang baik akan menyebabkan kepercayaan para investor dalam berinvestasi, sehingga berdampak pada naiknya harga saham perusahaan. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan variabel CR, DER, TATO, ROE dan NPM. Kelima variabel bebas yang digunakan yaitu CR, DER, TATO, ROE dan NPM dikarenakan kelima variabel tersebut dapat menilai dan mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek, mengukur tingkat pendanaan dari utang serta ekuitas, menilai efektivitas penggunaan seluruh aktiva dalam menghasilkan penjualan, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang dilakukan dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan otomotif dan industri terkait pada tahun 2005-2009 sebanyak 19 perusahaan, dan menghasilkan 17 perusahaan otomotif dan industri terkait sebagai sampel untuk penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria dan digunakan dalam penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari laporan keuangan perusahaan yang terdapat di Indonesian Capital Market Directory.Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel CR, DER dan NPM secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham karena tingkat signifikannya menunjukkan di atas 0,05 yaitu (0,271), (0,203) dan (0,188) sedangkan TATO dan ROE memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham dengan tingkat signifikan 0,033 dan 0,001. Hal tersebut menggambarkan bahwa investor tidak menggunakan rasio CR, DER, NPM dalam berinvestasi. Investor lebih cenderung mengunakan rasio TATO dan ROE serta analisis teknikal dalam memprediksi pergerakan harga saham masa mendatang.

Penyelesaian Vehicle Routing Problem with Time Windows (VRPTW) dengan menggunakan algoritma Ant Colony System (ACS) / Pratimoria Elly Agustin

 

Kata Kunci: Graph, Vehicle Routing Problem (VRP), VRP With Time Window (VRPTW), Algoritma Ant Colony System (ACS). Vehicle Routing Problem With Time Window (VRPTW) merupakan masalah kombinatorial yang kompleks dalam masalah optimalisasi. Pendeskripsian VRPTW adalah bagaimana suatu depot pusat distribusi barang, dengan sejumlah kendaraan berkapasitas tertentu melayani sejumlah customer pada titik-titik lokasi terpisah, dengan permintaan dan batasan time window tertentu, dengan tujuan meminimalkan total biaya perjalanan, tanpa mengabaikan batasan kapasitas kendaraan dan time window depot. Penyelesaian VRPTW dapat dilakukan menggunakan metode eksak atau heuristik. Dalam tugas akhir ini, VRPTW diselesaikan dengan menggunakan algoritma Ant Colony System (ACS) yang merupakan permasalahan optimasi berbasis artificial intelligence yang berdasarkan pada observasi tingkah laku koloni semut nyata. Dari segi pandangan optimasi, satu hal yang terpenting dalam perilaku koloni semut nyata adalah perilaku mereka dalam mencari makanan. Lebih tepatnya, semut dapat menemukan jalur terpendek dalam mencari makanan dari sarang mereka ke sumber makanan dan sebaliknya. Penyelesaian contoh permasalahan pada bab 3 yang dikerjakan dengan menggunakan algoritma ACS. Pada contoh pertama menghasilkan 2 rute dengan total jarak tempuh 32 km, contoh kedua menghasilkan 2 rute dengan total jarak tempuh 122,63 km, dan untuk contoh ketiga menghasilkan 2 rute dengan total jarak tempuh 130,8 km. Sedangkan penyelesaian contoh permasalahan yang diselesaikan dengan algoritma Clark and Wright pada contoh pertama menghasilkan 2 rute dengan total jarak tempuh 37 km, contoh kedua 2 rute dengan total jarak tempuh 140,35 km, dan pada contoh ketiga menghasilkan 2 rute dengan total jarak tempuh 144,88 km. Dari hasil ketiga penyelesaian contoh permasalahan terlihat bahwa algoritma ACS menghasilkan rute dengan total jarak tempuh yang lebih minimum dibandingkan dengan algoritma Clark and Wright. Kelebihan dari algoritma ACS yaitu pada saat perluasan rute yang dilakukan dengan cara penyisipan customer pada dua rute yang berbeda. Yaitu, apabila pada rute pertama kendala kapasitas belum mencapai batas maksimum dari kapasitas kendaraan, maka customer pada rute kedua dapat disisipkan pada rute pertama dengan menggunakan Local Search Insertion Move tanpa mengabaikan batasan time window dan kapasitas kendaraan.

Kepemimpinan kepala madrasah dalam pengembangan Lembaga Pendidikan Islam di MAN 1 Sumenep / Ridwan Ainur Rahman

 

Kata kunci: kepemimpinan kepala madrasah, pengembangan lembaga pendidikan islam Kepemimpinan kepala madrasah mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar di dalam kehidupan madrasah, walaupun kepala madrasah bukan merupakan seorang yang memiliki kekuasaan yang mutlak dalam lingkungan madrasah. Kepemimpinan kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam yang secara langsung mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang tidak terlepas dari karakteristik kepemimpinan, tipe pemimpin, fungsi pemimpin, dan kegiatan- kegiatan pemimpin. Peran seorang pimpinan madrasah dalam melakukan serangkaian inovasi dan improvisasi program atau kegiatan madrasah sangatlah perlu dalam rangka meningkatkan perkembangan dan kemajuan madrasah. Kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam tidak sekedar dilandasi kemampuan mengatur dan menjalankan mekanisme kepemimpinan saja, tetapi juga harus mampu memimpin dan mengembangkan organisasi tersebut. Berdasarkan uraian konteks penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka fokus penelitian ini adalah: (1) karakteristik kepemimpinan Kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam, (2) deskripsi tipe kepemimpinan yang diterapkan Kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam, (3) fungsi-fungsi kepemimpinan yang diterapkan Kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam, (4) kegiatan-kegiatan Kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Sumenep dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: wawancara, observasi; dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsirkan, dan dianalisa secara berulangulang guna penyusunan konsep dan abstraksi temuan lapangan. Kredibilitasi sumber dengan menggunakan triangulasi teknik pengumpulan data. Temuan penelitian ini yaitu karakteristik kepemimpinan Kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam, yakni memiliki karakteristik kepemimpinan yang karismatik dan terbuka. Tipe kepemimpinan demokratis yang dimilikinya, semakin membuat MAN 1 Sumenep terus berkembang dan maju karena semua pegawai baik atasan dan bawahan yang terdapat di lembaga ikut terlibat langsung dan memiliki tanggung jawab bersama untuk melayani masyarakat. Pada fungsi kepemimpinan, Kepala MAN mempunyai fungsi instruksi, fungsi konsultasi, fungsi partisipasi, fungsi delegasi dan fungsi pengendalian. Pemimpin juga berusaha membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama dengan penuh rasa kebebasan. Di samping itu juga

Pengembangan model kuliner berupa jajanan dengan penambahan tepung daun kelor sebagai potensi peningkatan asupan kalsium bagi perempuan keluarga miskin / Riza Fadhila

 

Kata kunci: Pengembangan model kuliner, kalsium,perempuan keluarga miskin Daun kelor mengandung semua unsur gizi, salah satunya adalah kalsium. Kandungan kalsium dalam daun kelor kering sangat tinggi yaitu sebesar 2003mg dibandingkan dalam daun kelor segar yaitu sebesar 440mg, sehingga dalam penelitian ini daun kelor yang digunakan berupa tepung daun kelor. Tidak semua perempuan di Indonesia dapat memenuhi kebutuhan kalsium, karena mereka beranggapan pemenuhan kalsium hanya didapat dari mengkonsumsi susu atau susu tinggi kalsium. Perempuan dari keluarga miskin mempunyai daya beli yang rendah terhadap produk tersebut, padahal masih ada bahan makanan lain yang kandungan kalsiumnya tinggi yaitu daun kelor. Tepung daun kelor yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung daun kelor dengan perlakuan direbus selama 5 menit dan dengan penambahan natrium bikarbonat sebanyak 0,5% bb, karena dengan adanya perlakuan tersebut dapat mempertahankan warna hijau daun sehingga tepung daun kelor ini berfungsi sebagai pewarna hijau alami pada produk jajanan, yang selama ini menggunakan pewarna dari air daun suji atau pewarna hijau buatan. Produk jajanan dibuat karena tepung daun kelor lebih memungkinkan untuk ditambahkan sebagai pewarna alami pada produk jajanan (lebih bervariasi) dibandingkan untuk menu makanan sehari-hari (sayur, lauk-pauk). Keempat produk model kuliner (Klepon Moringa Oleifera, Putri Gunung Cookies Moringa Oleifera, Green Cookies Moringa Oleifera, Green Stick Moringa Oleifera). Jenis penelitian yang digunakan adalah R&D (Research and Development). Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan yang dari Sugiyono (2009) yang telah dimodifikasi oleh peneliti dengan pengembangan sebagai berikut: 1) studi pendahuluan, 2) desain produk, 3) validasi desain, 4) revisi desain, dan 5) uji coba produk. Pada tahap validasi yang dilakukan peneliti bersama empat ahli tata boga dalam bidang pastry, hasil keseluruhan produk sudah cukup baik dan dinyatakan valid. Teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif. Hasil uji kesukaan produk model kuliner berupa jajanan dapat diterima oleh perempuan keluarga miskin di Desa Pamotan dukuh Sumber Ayu Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, persentase daya terima tersebut antara lain: 1) KleponMoringa Oleifera dari segi warna hijau cerah produk sebesar 80%, tekstur kenyal produk sebesar 83%, flavour daun kelor produk sebesar 80%, dan rasa gurih produk sebesar 82%, 2) Putri Gunung CookiesMoringa Oleifera, dari segi warna hijau cerah produk sebesar 83%, tekstur renyah produk sebesar 80%, flavour daun kelor produk sebesar 87%, dan rasa manis produk sebesar 82%, 3) Green Cookies Moringa Oleifera, dari segi warna hijau cerah produk sebesar 87%, tekstur renyah produk sebesar 88%, flavour daun kelor produk sebesar 85%, dan rasa manis produk sebesar 85%, 4) Green Stick Moringa Oleifera, dari segi warna hijau agak gelap produk sebesar 82%, tekstur renyah produk sebesar 85%, flavour daun kelor produk sebesar 82%, dan rasa gurih produk sebesar 83%. Produk model kuliner tersebut terjadi perubahan kadar kalsium setelah proses pengolahan, antara lain 1) Klepon Moringa Oleifera terjadi penurunan kadar kalsium sebesar 70,65%, 2) Putri Gunung Cookies Moringa Oleifera terjadi penurunan kalsium sebesar 44,53%, 3)Green Cookies Moringa Oleiferaterjadi penurunan kalsium sebesar 53,54%, 4) Green Stick Moringa Oleiferaterjadi penurunan kalsium sebesar 60%. Berdasarkan hasil pengembangan disimpulkan bahwa model kuliner berupa jajanan dengan penambahan tepung daun kelor dapat diterima oleh perempuan keluarga miskin di Desa Pamotan Dukuh Sumber Ayu Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Saran pengembangan lebih lanjut diharapkan bagi masyarakat Dampit, memperoleh informasi tentang manfaat dan kandungan kalsium daun kelor mengingat kandungan kalsium daun kelor yang tinggi, sehingga daun kelor tersebut dapat dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari dan bagi calon wirausaha, dapat menjadikan produk jajanan (Klepon, Putri Gunung, Green Cookies, Green Stick Moringa Oleifera) dengan penambahan tepung daun kelor sebagai prospek usaha jajanan.

Evaluasi mutu mi instan fortifikasi tepung daun kelor yang menggunakan metode pengolahan boiling, steaming dan sauteing dalam kuliner ibu menyusui / Puput Agustiningsih

 

Kata kunci: mi instan, tepung daun kelor, metode pengolahan, ibu menyusui, kurang nutrisi Mi instan sangat popular di seluruh lapisan masyarakat. Mi instan sangat digemari mulai anak-anak sampai orang dewasa karena rasanya enak, harganya relatif terjangkau, praktis dan mengenyangkan. Dibalik itu ternyata mi instan kurang didukung oleh nilai gizi yang seimbang terutama bagi ibu menyusui yang sangat membutuhkan protein dan mineral. Salah satu cara untuk mengatasi kendala tersebut yaitu dengan cara Fortifikasi tepung daun kelor. Daun kelor dipercaya memiliki efek laktagogum yang dapat meningkatkan produksi ASI ibu. Selama ini daun kelor masih terbatas pemanfaatannya yaitu hanya dikonsumsi segar sebagai lalapan atau dibuat sayur. Fortifikasi tepung daun kelor dalam pembuatan mi instan sangat prospektif untuk dikembangkan sehingga menghasilkan produk pangan yang murah, mudah diperoleh, memiliki efek laktagogum dan tinggi nutrisi terutama bagi ibu menyusui. Penelitian ini terdiri dari dua tahap penelitian. Penelitian tahap I bertujuan mendapatkan mi Fortifikasi tepung daun kelor dengan proporsi tepung daun kelor yang paling disukai oleh ibu menyusui. Uji yang dilakukan hanya uji kesukaan terhadap 54 ibu menyusui di Dukuh Sumber Ayu Dampit-Malang, sedangkan parameter organoleptik meliputi warna, tekstur, aroma dan rasa. Penelitian tahap II bertujuan mendapatkan mi instan Fortifikasi tepung daun kelor dengan metode pengolahan terbaik dan paling disukai dalam kuliner ibu menyusui. Uji yang dilakukan meliputi uji sifat fisik (warna L*a*b dan daya putus) dan kimia (kadar protein, kadar lemak, kadar Betakaroten dan kadar Kalsium), sedangkan uji organoleptik dilakukan di daerah yang memiliki potensi daun kelor (Dukuh Sumber Ayu Dampit-Malang). Adapun parameter organoleptik meliputi warna, tekstur, aroma dan rasa. Design perlakuan menggunakan rancangan percobaan RAK (Rancangan Acak Kelompok) satu faktor dengan ulangan sebanyak 3 kali. Faktor dalam penelitian tahap I yaitu proporsi tepung daun kelor 2.35 gr, 4.7 gr dan 9.4 gr, sedangkan faktor dalam penelitian tahap II yaitu metode pengolahan boiling, steaming dan sauteing. Hasil uji organoleptik penelitian tahap I menunjukkan persentase kesukaan ibu menyusui terhadap mi Fortifikasi tepung daun kelor dengan proporsi tepung daun kelor sebanyak 2.35 gr yaitu warna 70%, tekstur 60%, aroma 49% dan rasa 56 %, sedangkan pada proporsi 4.7 gr yaitu warna 61%, tekstur 56%, aroma 65% dan rasa 63%. Adapun pada proporsi 9.4 gr yaitu warna 21%, tekstur 36%, aroma 41% dan rasa 36%. Berdasarkan metode indeks efektifitas deGarmo, proporsi tepung daun kelor yang paling disukai sebagai mi hasil Fortifikasi adalah tepung daun kelor sebanyak 4.7 gr, dengan parameter organoleptik sebagai berikut: warna 33.00, tekstur 30.33, aroma 36.33, dan rasa 34.00. Selanjutnya hasil mi Fortifikasi yang paling disukai pada penelitian tahap I digunakan sebagai control pada uji organoleptik tahap II. Hasil penelitian tahap II menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap sifat fisik dan kimia mi instan Fortifikasi tepung daun kelor dengan metode pengolahan yang berbeda. Pada uji organoleptik, terdapat perbedaan yang nyata terhadap rasa mi instan Fortifikasi tepung daun kelor, sedangkan parameter warna (28.33-29.33), tekstur (29.00-35.67) dan aroma (17.33-33.00) menunjukkan ada metode pengolahan yang tidak berbeda nyata. Mi instan Fortifikasi tepung daun kelor terbaik dan paling disukai oleh ibu menyusui adalah mi instan dengan metode pengolahan boiling, dengan hasil sebagai berikut: kadar protein 6.42 %, kadar lemak 4.60 %, betakaroten 11.89 μ/100g, kalsium 40.44 mg/100g, warna L*a*b yaitu 28.1, 2.1 dan 20.67, daya putus 0.65 N/g, warna 29.33, tekstur 40.00, aroma 36.33 dan rasa 36.33. Kesimpulan dari penelitian mi hasil Fortifikasi tepung daun kelor yang paling disukai adalah proporsi 4.7 gr, sedangkan metode pengolahan terbaik dan paling disukai adalah boiling. Disarankan untuk melakukan uji lanjutan tentang sifat fisik-kimia yang lain misalnya kadar air, daya serap air, cooking loss, pembuatan bumbu instan sebagai pelengkap mi, pengemasan produk dan analisis kelayakan usaha. Disamping itu perlu dilakukan pengembangan model-model makanan berbahan dasar mi instan Fortifikasi tepung daun kelor serta daya terimanya di masyarakat. Produk mi instan hasil Fortifikasi tepung daun kelor dapat dimanfaatkan bagi masyarakat pengguna terutama masyarakat Dukuh Sumber Ayu-Desa Pamotan Kec. Dampit Kab. Malang dengan memanfaatkan potensi daun kelor yang melimpah di sekitar daerah tersebut.

Penerapan ice breaking pada pelatihan manajemen pemerintahan kelurahan di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang / Agil Ardiansyah

 

Kata Kunci: Ice Breaking, Prestasi Belajar, Motivasi Belajar Pelatihan merupakan salah satu program dari pendidikan luar sekolah (PLS). Keberhasilan pelatihan memerlukan penggunaan metode pelatihan dan prinsip-prinsip pembelajaran yang sesuai dengan jenis pelatihan. Salah satu metode pelatihan adalah dengan menggunakan ice breaking. Teknik permainan (ice breaking) sangat cocok digunakan dalam pembelajaran pada suatu pelatihan, karena kebanyakan warga belajar/peserta pelatihan merupakan orang dewasa. Orang dewasa dalam belajar cenderung cepat bosan dan lelah saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan pemakaian teknik permainan dalam pembelajaran dapat mengubah suasana yang membosankan menjadi lebih menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan ice breaking dan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan penggunaan ice breaking terhadap prestasi belajar peserta pelatihan pada pelatihan manajemen pemerintahan kelurahan di BBPMD Malang. Rancangan yang dipakai dalam penelitian ini dengan menggunakan penelitian eksperimen dan rancangan kulaitatif deskriptif. Rancangan eksperimen yaitu rancangan penelitian yang digunakan untuk mencari ada tidaknya pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Rancangan eksperimen dalam penelitian ini menggunakan quasi eksperimental design dengan bentuk nonequivalent kontrol group design. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan ekperimen. Sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan seluruh populasi yang berjumlah 60 peserta pelatihan manajemen pemerintahan kelurahan. Dalam pelatihan manajemen pemerintahan kelurahan terdapat dua kelas, yaitu kelas C dan kelas D. Kelas C berjumlah 30 peserta dan kelas D juga berjumlah 30 peserta. Dalam penelitian ini menggunakan kelas C sebagai kelompok eksperimen yang diberi perlakuan ice breaking, sedangkan kelas D dijadikan sebagai kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan ice breaking. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan test yang berupa pre-test dan post-test. Teknik analisis data yang digunakan ialah t-test dengan separated varian. Hasil dari penelitian ini tentang penerapan ice breaking bahwa peserta pelatihan tidak mengalami perubahan dalam suasana belajar dan kurang termotivasi dalam belajar. Kondisi tersebut dikarenakan kurang tepatnya jenis, waktu, dan cara penerapan ice breaking, sehingga peserta pelatihan kurang termotivasi dalam belajar. Hasil analisis juga menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan ice breaking terhadap prestasi belajar peserta pelatihan pada pelatihan manajemen pemerintahan kelurahan di BBPMD Malang. Tidak adanya pengaruh penggunaan ice breaking terhadap prestasi belajar peserta pelatihan mungkin disebabkan oleh faktor lain, dikarenakan penggunaan ice breaking dalam pembelajaran yang kurang tepat. Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor yang berasal dari dalam diri seseorang maupun yang berasal dari luar diri seseorang. faktor lingkungan, bahan belajar, faktor instrumental, dan kondisi individu mempengaruhi kondisi belajar peserta dalam proses pembelajaran. Selain itu penggunaan ice breaking yang baik jenis dan waktu penerapannya juga mempengaruhi kondisi belajar peserta dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar: (1) Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam proses pembelajaran hendaknya fasilitator mengembangkan ice breaking yang sesuai dengan kondisi peserta pelatihan dan lebih memperhatikan faktor lain selain menggunakan ice breaking dalam memotivasi peserta pelatihan, seperti faktor lingkungan (sosial), kondisi individu, sarana dan prasarana, serta kecerdasan, sehingga nantinya akan berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar peserta pelatihan yang lebih baik, (2) bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah agar mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah menerapkan ice breaking harus tepat jenis dan waktunya saat proses pembelajaran pada pelatihan,sehingga fungsi dan kegunaan ice breaking pada pelatihan berjalan dengan baik. dan (3) bagi peneliti lanjutan diharapkan hasil penelitian ini dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dan hendaknya dilakukan dengan melihat faktor lain selain penggunaan ice breaking dan menerapkan ice breaking mengikuti syarat, ketentuan, jenis, dan waktu penggunaan yang benar, sehingga sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan hasilnya memberikan masukan terhadap penggunaan ice breaking pada pelatihan.

Pengembangan modul bangun ruang dengan model learning cycle-5E untuk siswa kelas VIII SMP N 2 Gambiran / Nelita Tri Wulandari

 

Kata Kunci : modul, bangun ruang, learning cycle-5e. Sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di Indonesia yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum berorientasi pada siswa. Hal ini sesuai dengan pembelajaran konstruktivistik, dalam kegiatan pembelajarannya, siswa yang lebih aktif dalam menemukan konsep materi yang dipelajari. Salah satu pembelajaran konstruktivistik yang berorientasi pada siswa yaitu pembelajaran dengan modul yang dikembangkan menggunakan model learning cycle-5e. Learning cycle-5e merupakan pembelajaran konstruktivis yang memuat lima tahap yaitu engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate. Selanjutnya materi yang disajikan dalam modul adalah bangun ruang pada pokok bahasan prisma dan limas. Tujuan dari pengembangan ini adalah mengembangkan modul bangun ruang dengan model learning cycle-5e dan mengetahui hasil uji coba modul tersebut. Selanjutnya penerapan modul dengan model learning cycle-5e diharapkan dapat memudahkan siswa untuk memahami materi yang dipelajari. Prosedur yang digunakan untuk mengembangkan modul didasarkan pada prosedur pengembangan modul menurut Ditjen PMPTK Depdiknas (2008). Tahap-tahap pengembangan modul yaitu (1) analisis kebutuhan modul, (2) penyusunan modul, (3) validasi, (4) uji coba, dan (5) revisi. Uji coba modul yang pertama melibatkan 2 orang dosen Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang dan 2 orang guru matematika SMP Negeri 2 Gambiran Banyuwangi. Selanjutnya uji coba modul yang kedua melibatkan 6 siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gambiran Banyuwangi. Berdasarkan analisis data, skor persentase rata-rata hasil uji coba adalah 2,57. Hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan valid. Dengan memperhatikan komentar dan saran dari validator, modul yang dikembangkan telah direvisi agar modul yang dikembangkan lebih berkualitas.

Representation of power relations in Death Race / Mei Suciyati

 

Keywords Death Race. The film represents how discipline is established in order to sustain the creation of prisoners as ‘docile-bodies’ in Terminal Island Penitentiary, the prison institution this film narrates about. Hence, the focus of this study is to analyze how the narrations and the plots of this film show the establishment of discipline that represents particular power relations. In reference to the study focus, the analysis will employ Foucault’s theories on discipline as the way to exercise power. Above all, this study finds out how Death Race represents particular power relation through the establishment of discipline in Terminal Island Penitentiary. The establishment of discipline is suggested through the spatial organization of the prison as well as the exercise of particular disciplinary techniques in making the prisoners docile, thus, useful. i : Power, Power-Relation, Death Race, Discipline, Prison Foucault’s concepts of power have been considered the reforming ones. Foucault has poled his power concepts apart from other’s by decentralizing power to its most subtle existences and relations in society. He views that power does exist in the form of relations that lead to the modification of individual actions (Foucault, 1995: 219), and is reproduced through the relations. Foucault’s views of power have been linked to his analysis of discipline as the technology of the exercise of power through its particular and strategic mechanisms. Through his analysis of discipline, he suggests several power concepts such as it is ‘omnipresent’, and is not simply repressive as Marxists and other theorists do. Besides, the power exercised through the establishment of discipline brings him on linking it to the presence of prison as the ideal locus for exercising disciplinary power. The representation of power-relations through the establishment of discipline is found in film

Penerapan origami untuk mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak kelompok B TK Pertiwi 01 Talun Kabupaten Blitar / Herviana Kristianingdyah

 

Kata Kunci : Origami, Motorik Halus Anak. Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan motorik halus anak pada pembelajaran origami. Hal ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran origami jarang sekali diberikan kepada anak. Dari fakta tersebut, penyusun mencoba mengatasi permasalahan dalam usaha mengembangkan motorik halus anak dalam berolah tangan. Dengan bimbingan dan motivasi serta memberikan pembelajaran origami yang dilakukan secara berulang-ulang, diharapkan anak akan lebih terampil dan menyenangi kegiatan ini. Penelitian bertujuan untuk (1) mendiskripsikan Penerapan Origami untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak (2) mendiskripsikan peningkatan kemampuan motorik halus melalui penerapan origami pada anak (3) mendiskripsikan aktifitas motorik halus ketika anak bermain origami. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di Kelompok B TK Pertiwi I Talun Kabupaten Blitar dengan subyek sebanyak 22 anak, terdiri dari 12 anak perempuan dan 10 anak laki-laki. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) origami dapat diterapkan untuk meningkatkan motorik halus anak melalui tema binatang (2) penerapan origami dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak (3) motorik halus yang berkembang melalui bermain origami ialah ketepatan dan kerapian melipat kertas. Pada siklus I dari rata-rata 55% meningkat menjadi rata-rata 75% pada siklus II. Berdasarkan hasil analisa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan origami dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan motorik halus pada anak. Disarankan pada pendidik untuk menerapkan kegiatan pembelajaran origami untuk mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak usia dini.

Keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas X-8 SMA Negeri 1 Grogol Kediri dengan model inkuiri terbimbing / Aristya Putri Wika Pratiwi

 

Kata kunci: Inkuiriterbimbing, hasilbelajar, keterampilan proses sains. Pelaksanaan KTSP padaprinsipnyamenekankanpadapemberianpengalamansecaralangsunguntukmengembangkankompetensi agar siswamampumenjelajahidanmemahamialamsekitarsecaraalamiah.Selarasdenganhaltersebut, makadirancangsuatupembelajaran yang memberikankesempatankepadasiswauntukmemperolehpengalamansecaralangsungdengancaramemahamialamsekitar. Salah satuprinsippembelajaran yang dirancang UNESCO adalahkegiatanpembelajaran yang menanamkankemampuanbelajaruntukbelajar (learning to learn), yaitupembelajaraninkuiri.Dalaminkuriterdapatkerjailmiahuntukmenemukankonsepsendiri.Tujuan yang ingindicapaidalampenelitiandengan model inkuiriterbimbingpadamaterireaksioksidasireduksi di kelas X-8 SMA Negeri 1 GrogolKediri meliputi: (1) mendeskripsikanketerlaksanaan proses pembelajarannya, (2) mengetahuipersentasepenguasaankelasterhadapketerampilan proses sains, (3) mengetahuitingkatkeberhasilanpenggunaan model tersebutterhadaphasilbelajarsiswa, (4) mengetahuibesarnyahubunganantaraketerampilan proses sainsdenganprodukpembelajaran (nilaikognitif). Penelitianinidilaksanakanpadatanggal 23 Februarisampaidengan 13 April 2011 di SMA Negeri 1 Grogol Kediri.Subjekpenelitianadalahsiswakelas X-8 di SMA tersebut.Pemilihansubjekpenelitianberdasarkan saran/masukandanpertimbangandari guru kimia SMA Negeri 1 Grogol Kediri.Rancanganpenelitian yang digunakanadalahdeskriptifkuantitatif.Instrumen yang digunakanmeliputi RPP, LKS, lembarobservasi(keterampilan proses sains, afektif, psikomotor), dansoaltes. Sebelumdigunakansemuainstrumentelahdikonsultasikankepadadosenpembimbing, dansoaltestelahdivalidasioleh gurukimia SMA Negeri 1 Grogol Kediri. Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa: (1) Proses pembelajaran yang dilaksanakanselarasdengan yang direncanakan. Persentaseketerlaksanaansiswasebesar 94%, persentaseketerlaksanaan guru sebesar 97%.Siswadan guru dapatberperanaktifdalam proses pembelajaran.Siswamemerlukanwaktu yang lebihpanjangdalammenemukankonsepsendiri. (2) Kelas X-8 SMA Negeri 1 Grogolmempunyaipenguasaanterhadapketerampilan proses sainssebesar 85%. (3) Nilaikognitifsiswakelas X-8 SMA Negeri 1 Grogoldinyatakankurangberhasildalam proses pembelajaranmaterireaksioksidasireduksidenganmenggunakan model pembelajaraninkuiriterbimbing.Penerapan modelinkuiriterbimbingmemberikanpengaruhpositifterhadapsikapsiswadankeberhasilankelasdalamranahpsikomotor. (4)Keterampilan proses sainstidakmempunyaipengaruh yang signifikanterhadapprodukpembelajaran (nilaikognitif) yang dimilikisiswa. Pengaruhketerampilan proses sainsterhadapprodukpembelajaran (nilaikognitif) siswakelas X-8 SMA Negeri 1 Grogoladalahsebesar 1,6%.

Perancangan program feature tentang waria berupa profil Viru Devana yang berjudul "Aku Yang Sebenarnya" / Reny Suci Agusvitasari

 

Kata Kunci: feature, waria. Waria adalah transgender laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku seperti perempuan. Keberadaan waria selalu dikaitkan dengan prostitusi, dianggap tidak normal dan dikucilkan dalam masyarakat. Beberapa penelitian telah dilakukan namun program feature yang membahas tentang proses dan latar belakan seseorang sehingga menjadi waria belum ada, sehingga diperlukan sebuah perancangan program feature yang mengangkat topik tersebut. Perancangan dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan media utama berupa program feature berdurasi 15 menit dan media pendukung. Perancangan program feature berjudul Aku Yang Sebenarnya menggunakan model prosedural, yang merupakan model yang bersifat deskriptif dengan menggariskan langkah-langkah yang harus ditempuh. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi yang digunakan adalah gabungan dari metode observasi tak terstruktur dan metode observasi pastisipatif pasif. Proses analisis data dilakukan dengan metode reduksi dan pengelompokan data. Dari proses tersebut Viru Devana dipilih sebagai narasumber utama dan topik program feature tersebut adalah kehidupan Viru Devana sebagai seorang waria mulai dari masa kecill hingga sekarang. Dari proses perancangan media utama dilakukan melalui proses pra produksi, produksi dan pasca produksi sehingga didapatkan media utama berupa program feature. Media pendukung bertema pelangi dan diberi simbol transgender karena kedua unsur tersebut adalah ciri khas transgender yang telah digunakan di berbagai belahan dunia. Media tersebut dibuat melalui proses desain yaitu thumbnail, rough layout dan comprehensive layout sehingga didapatkan media pendukung berupa poster, X – banner dan merchandise berupa T-shirt, pin dan mug. Berdasarkan perancangan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa program feature tentang waria berupa profil Viru Devana adalah salah satu bentuk penyelesaian masalah yang diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara waria dengan lingkungannya. Waria harus dapat memahami pandangan masyarakat yang tidak setuju dengan beberapa perilaku mereka, demikian juga dengan lingkungan masyarakat yang hendaknya bisa lebih toleran dan tidak melakukan kekerasan terhadap waria.

Developing English oral communication instructional materials for the nursing school / Sismiati

 

Key Words: Material Development, Speaking skill, Yalden’s concept of development, Contextual Teaching and Learning (CTL). The increase in the number of nursing schools means to increase the number of graduates every year which causes a serious problem in the job market. The Government has taken steps to solve this problem. These steps are still focused on efforts for equitable distribution of nurses throughout Indonesia. The government cannot place all of them in an appropriate position as civil servants because there is no budget for them. Alternatively, to send those ‘surplus’ nurses abroad is considered the best solution decided by the government for improving the country foreign reserves and reducing unemployment in Indonesia There are opportunities for Indonesia to send nurses abroad due to the high demand of nurses in neighboring countries. Several countries have been offering opportunities for nurses, medical doctors and other human resources on health to work there. They have asked for nurses to work there with various kinds of criteria including English communication skill. Based on the result of needs analysis which was done in Indonesia and Wellington New Zealand for four months, to increase the passing rate of the applicants, one of the requirements to get a job abroad and in international hospitals for graduates of nursing schools is the ability to communicate in English. However, the speaking class is taught by teachers with many weaknesses, limited materials and activities. Moreover, the syllabus is not created based on the students’ need but based on the teachers’ preference. This results show the discrepancy between the demand of the students and the teaching learning process. So developing speaking instructional materials should be done to meet the students’ need. The model used in this study is based on Yalden’s model (1987), namely Language Program Development (LPD). The research consists of Needs Analysis, Development, Validation and Revision, Try- out, and Revision to produce Final Product. The development was done after all the information was gathered from the needs analysis. Then the draft of the syllabus and the materials were designed. The developed materials were validated by the experts to get feed backs; opinions, and suggestions. After the products were revised, they were tried –out in class to know the acceptability and usability of the developed materials for nursing students. Findings for the try-out were used to revise the products. All the findings in the field were discussed with the experts to revise the product again. The product of the study is a speaking textbook for nursing projected to work at the hospital. This therefore the materials deal with English for occupation or professional purposes as the branch of English for Specific Purposes (ESP). This will constitute the basic stand and corridor for all activities to be performed in the study. The final products have the characteristics as follows: the topics are arranged based on the real duties of nurses in hospital wards where English is spoken, the vocabulary exercises are made based on the nurses’ need in understanding the nursing context, and speaking activities are designed based on the nurses’ need to communicate in nursing settings, and the language functions are explained to support the nursing students to use their own sentences which are used in their speaking practice. The speaking activities as the application of CTL are designed based on the real context of nursing settings in daily working hours in hospital. These characteristics are reflected in the materials since the materials are presented in a particular context and it has the elements of seven pillar of CTL, such as: constructivism, inquiry, questioning, and learning community, modeling, reflection, and authentic assessment. Therefore, the final product is considered acceptable and usable for nursing students.

Pengembangan bambu keseimbangan sederhana untuk pembelajaran keseimbangan dinamis pada kelas II di SDN Sukomulyo III Kecamatan Pujon Kabupaten Malang / Tedy Yudho Prianggono

 

Kata Kunci: bambu keseimbangan sederhana, keseimbangan dinamis. SDN Sukomulyo 3 terletak di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang yang terletak di daerah pegunungan.. Dengan keadaan geofrafis seperti itu, tentunya siswa di SDN Sukomulyo 3 akan sering melewati pematang sawah maupun jembatan tradisional yang terbuat dari bambu dalam kehidupan sehari-hari, yang membutuhkan keseimbangan. Berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan awal terhadap guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SDN Sukomulyo 3 pada tanggal 24 Maret 2011, di SDN Sukomulyo 3, guru belum pernah melakukan pembelajaran keseimbangan dinamis karena tidak ada alat/media untuk pembelajaran keseimbangan dinamis di SDN Sukomulyo 3 Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan bambu keseimbangan sederhana untuk pembelajaran keseimbangan dinamis.. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi dari Borg dan Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan bambu keseimbangan sederhana adalah sebagai berikut: (1) analisis kebutuhan dan kajian pustaka, (2) mengembangkan produk awal, (3) evaluasi ahli, (4) uji coba kelompok kecil, (5) revisi produk awal berdasarkan evaluasi para ahli dan kegiatan uji coba kelompok kecil, (6) uji coba kelompok besar , dan (7) revisi produk akhir. Hasil penelitian berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil diperoeh rata-rata persentase 100% dan uji coba kelompok besar diperoleh rata-rata persentase 96,77%, dapat dimaknai bahwa hasil pengembangan bambu keseimbangan sederhana untuk pembelajaran keseimbangan dinamis dinyatakan dapat digunakan. Kesimpulan pada penelitian ini produk akhir berupa bambu keseimbangan sederhana model B dengan panjang 5 meter dan tinggi 11,5 cm dengan dicat warna merah, dan Model C dengan panjang 3,75 meter dan tinggi 11,5 cm dengan dicat warna merah dapat digunakan untuk pembelajaran keseimbangan dinamis pada kelas II di SDN Sukomulyo 3 Kecamatan Pujon Kabupaten Malang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 |