Penerapan model Team assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV di SDN Gandekan 01 Kabupaten Blitar / Zuliati

 

Kata Kunci: Model TAI, Aktivitas belajar, Hasil belajar, IPS Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa pembelajaran IPS kelas IV di SDN Gandekan 01 masih menggunakan pembelajaran konvensional. Pembelajaran lebih berpusat pada guru (teacher centered) sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti menawarkan model Team Assisted Indivdualization (TAI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV di SDN Gandekan 01 Kabupaten Blitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model TAI pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Gandekan 01, (2) aktivitas siswa kelas IV SDN Gandekan 01 selama pembelajaran IPS dengan model TAI, (3) hasil belajar siswa kelas IV SDN Gandekan 01 setelah diterapkan model TAI. Penelitian ini dilakukan di SDN Gandekan 01 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar dengan subyek siswa kelas IV sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 15 sisa perempuan. Jenis yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggrat, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan kolaborasi dengan guru kelas IV di SDN Gandekan 01. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, catatan lapangan, dokumentasi dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model TAI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas IV SDN Gandekan 01 dengan kompetensi dasar "mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya". Hal ini ditunjukkan dengan adanya perolehan keberhasilan guru dalam penerapan model TAI pada pada siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 74,075% dan pada siklus II meningkat menjadi 92,29 %. Aktivitas siswa meningkat yaitu pada siklus I rata-rata ketuntasan belajar klasikal sebesar 65,5%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 87,9%. Aktivitas ini meliputi kegiatan dalam belajar mandiri, menyampaikan pendapat, kerja sama dan menjawab soal kuis. Hasil belajar juga meningkat pada siklus I rata-rata ketuntasan belajar klasikal sebesar 74,1% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 86,15%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada guru untuk menerapkan model TAI serta memperhatikan kekurangan yang dipaparkan dalam penelitian ini seperti pengelolaan kelas dan pengalokasian waktu harus diperhatikan dan bagi siswa hendaknya terlibat aktif dalam pelaksanaan setiap tahap dari model TAI.

Upaya lembaga PAUD dalam meningkatkan pendidikan moral anak usia dini di Kelompok Bermain Restu 1 Malang / Miftahus Sholiha

 

Kata Kunci: Upaya Lembaga PAUD, Pendidikan Moral, Anak Usia Dini Lembaga Pendidikan anak usia dini sebagai sumber belajar salah satu komponen penting dalam menentukan keberhasilan program pendidikan anak usia dini. Lembaga pendidikan anak usia dini berperan dalam peningkatan mutu pendidikan anak usia dini serta berperan dalam proses pengajaran untuk menambah wawasan orang tuanya. Partisipasi orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap dan ketrampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk memenuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan Upaya lembaga PAUD dalam meningkatkan pendidikan moral anak usia dini (2) mendeskripsikan tingkat pendidikan moral anak usia dini. Jenis penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 32 orang dengan sampel 32 orang yaitu menggunakan sampel total. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan wawancara. Dari hasil penelitian diketahui bahwa data keseluruhan upaya lembaga PAUD dalam meningkatkan Pendidikan Moral Anak Usia Dini memiliki nilai persentase 37,50% dengan kriteria cukup baik. Sedangkan dari hasil penelitian data keseluruhan tingkat pendidikan moral anak usia dini memiliki nilai persentase 58,12% dengan kriteria baik. Berdasarkan temuan data tersebut maka disarankan (1) Bagi Orang Tua, Orang tua sebagai pendidik utama dan yang pertama sebaiknya lebih aktif dalam kegiatan yang diadakan sekolah serta memberikan partisipasinya kepada anaknya. Agar pendidikan anak usia dini lebih bermakna. (2) Bagi lembaga kelompok bermain RESTU, untuk memperluas kegiatan-kegiatan yang berkaitan tentang parenting education. Sehingga nantinya orang tua tidak kesulitan dalam mendidik anaknya. Dan lembaga kelompok bermain Restu semakin berkembang. (3) Bagi Jurusan PLS, untuk memperluas dan mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan program Pendidikan Luar Sekolah dapat semakin berkembang dan semakin dikenali oleh masyarakat luas. Hasil penelitian ini dapat dijadikan kontribusi dalam bidang pengembangan pembelajaran terutama pada pendidikan anak usia dini. (4) Bagi Peneliti lanjut yang ingin mengembangkan penelitian sejenis hendaknya dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas baik variabelnya atau populasinya, dengan demikian dapat dijadikan acuan peneliti dimasa yang akan datang.

Pengaruh pemanfaatan puzzle di rumah terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini di Kelompok Bermain Yayasan Dharma Wanita MAN 3 Malang / Ganis Prastikasari

 

Kata Kunci: pemanfaatan puzzle, kemampuan motorik halus, dan anak usia dini Anak akan memperkaya pengalaman sesuai dengan tahap perkembangannya. Guru dan orangtua haruslah mengetahui dan memahami tahapan perkembangan anak sehingga dapat memberi rangsangan yang baik sesuai tahap perkembangannya. Media permainan puzzle merupakan salah satu bentuk rangsangan dini yang tepat dalam pendidikan anak usia dini untuk perkembangan kreatifitas atau daya motorik anak. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai pengaruh pemanfaatan puzzle di rumah terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan puzzle di rumah dan kemampuan motorik halus anak usia dini, mengetahui hubungan pemanfaatan puzzle di rumah dengan kemampuan motorik halus anak usia dini, dan mengetahui pengaruh pemanfaatan puzzle di rumah terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini. Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional. Penelitian deskriptif untuk menggambarkan pemanfaatan puzzle di rumah dan kemampuan motorik halus anak usia dini. Sedangkan studi korelasional digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan dan pengaruh pemanfaatan puzzle di rumah terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa kuesioner, yaitu orang tua murid KB dan peneliti sendiri. Untuk analisis data tujuan 1 dan 2 digunakan deskriptif persentase, tujuan 3 digunakan korelasi product moment, tujuan 4 digunakan analisis regresi sederhana. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pemanfaatan puzzle di rumah telah dilakukan siswa KB Yayasan Dharma Wanita MAN 3 Malang sebagai media belajar dan bermain. Kedua, kemampuan motorik halus anak usia dini KB Yayasan Dharma Wanita MAN 3 Malang mayoritas sudah bagus. Ketiga, ada hubungan pemanfaatan puzzle di rumah dengan kemampuan motorik halus anak usia dini. Keempat, ada pengaruh pemanfaatan puzzle di rumah terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini. Berdasarkan penelitian ini, disarankan untuk melakukan pengkajian dan penelitian yang lebih lanjut mengenai pemanfaatan puzzle di rumah terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini dan membandingkan dengan pendekatan lain sehingga dapat dijadikan rujukan lanjutan yang lebih komprehensif.

Perbedaan hasil belajar siswa dengan media boneka tongkat dan tanpa media boneka tongkat pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi pokok cerita anak di kelas V SDN Lesanpurom 03 Kota Malang / Denna Delawanti Chrisyarani

 

Kata Kunci: Hasilbelajarsiswa, media bonekatongkat, tanpa media bonekatongkat, bahasa Indonesia. Bonekamerupakanjenismedia yang dipergunakanuntukmemperlihatkanpermainan.Selainitu, media bonekatongkatsengajadipilihpenelitiuntukditerapkan, karenadipandangmemilikikelebihandankekhasan yang sesuaidengankepribadiansiswa, yaitusiswamasihsenangbermain, bergerak, senangbekerjadalamkelompok, dansenangmerasakanataumelakukansesuatusecaralangsung.Untukmemecahkanpermasalahanhasilbelajarsiswa yang masihterbilangkurangdalammemahamimatapelajaranbahasaIndoensia, khususnyamatericeritaanak, penelitiberupayauntukmemperkenalkan media bonekabonekatongkatuntukdigunakandalam proses pembelajaran. Penelitianinidilaksanakandengantujuanuntukmendeskripsikandanmenjawabhipotesisberdasarkanrumusanmasalahtentanghasilbelajarsiswadengan media bonekatongkatdantanpa media bonekatongkat, sertaperbedaanhasilbelajarsiswakeduakelas yang dibandingkantersebut.Siswa yang ditelitiadalahsiswakelas VA dan VB SDN Lesanpuro 3 Kota Malang. Penelitianinimenggunakanrancanganpenelitiankuantitatifdenganjenisquasi eksperimen.Data penelitianberupahasilpenelitianberupaanalisis-analisisstatistik.Pengumpulan data yang diperolehdenganmenggunakansoalpre testdanpost testyang telahdikerjakansiswa. Instrumen yang digunakanadalahchecklist, instrument perlakuandanpengukuranberupates.Kegiatananalisis data dimulaidenganmelakukanujicobasoalpre testdanpost testsebelumsoaltersebutdigunakan di tempatpenelitian, kemudiananalisisbutirsoal, melakukanpenelitian, pengujianprasyarat, ujibeda rata-rata, danpengujianhipotesi yang merupakanjawabansementaradarirumusanmasalah. Berdasarkanhasilanalisis data tersebut, diperoleh 3 kesimpulan yang terkaitdarirumusanmasalahpeneliti.Pertama, hasilbelajarsiswakelompokeksperimen (kelas VA) denganmenggunakan media bonekatongkatdiperolehskor rata-rata darikemampuanakhiryaitu 86,49. Kedua, hasilbelajarsiswakelompokkontrol (kelas VB) tanpamenggunakan media bonekatongkatdiperolehskor rata-rata darikemampuanakhiryaitu 78,16. Ketiga, darihasilrata-rata nilai yang diperolehdariduakelas, menunjukkanbahwasiswakelompokeksperimenmemiliki rata-rata nilailebihtinggidibandingkansiswakelompokkontrol. Hal tersebutjugadiperkuatdenganadanyapengujianhipotesisdenganujiU Mann Whitneypadanilaigain skor yang merupakanselisihdarihasilpost testdanpre testkelaseksperimendankelaskontrol, kemudiandiperolehnilaiSig. (2-tailed) = 0,019< 0,05= 5%, dengankesimpulan Ho ditolakdan Ha diterima. Sehinggadinyatakanterdapatperbedaan yang signifikanpadahasilbelajarsiswaantara yang diajarmenggunakan media bonekatongkatdantanpa media bonekatongkatpadamatapelajaranbahasa Indonesia di kelas V SDN Lesanpuro 3 Kota Malang. Berdasarkankesimpulanhasilbahasan di atas, makauntukmeningkatkankualitaspembelajaran di masa yang akandatang, beberapa saran yang dapatmenjadibahanpertimbanganuntukkemajuansiswaadalahagar guru dapatmenggunakanmedia bonekatongkatsebagaisalahsatualternatifpilihandalam proses pembelajaranuntukmeningkatkanhasilbelajarsiswa yang optimal. Bagipenelitiselanjutnya,diharapkanlebihmampumengembangkanhasilpenelitianini, denganmateri yang berbedadansebagailandasanatauacuanuntukpenelitianselanjutnya.

Pengaruh persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran Bahasa Jerman terhadap minat belajarnya / Silvia Dwi Yunial Kautsar

 

Kata kunci: persepsi, PPL Keguruan, minat belajar Persepsi merupakan suatu kesan atau penilaian terhadap sesuatu yang terjadi melalui indera penglihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium. Keberadaan guru PPL Bahasa Jerman di sekolah akan menimbulkan berbagai kesan dari siswa, persepsi antar satu siswa dengan yang lainnya akan berbeda-beda, baik itu persepsi yang baik atau yang kurang baik. Persepsi tersebut akan berpengaruh pada minat belajarnya. Jika persepsi siswa baik, maka minat belajarnya akan meningkat, sedangkan siswa yang mempunyai persepsi tentang keberadaan guru PPL Bahasa Jerman kurang baik, maka minat belajarnya akan menurun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Laboratorium UM, tapi karena peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan populasi, maka peneliti menggunakan kelas X6 sebagai sampel. Instrumen yang digunakan adalah angket. Teknik pengumpulan data dimulai dari tahap mendata siswa kelas X SMA Lab UM, menentukan sampel, menyebar angket, dan mengumpulkan angket. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif, analisis regresi sederhana, dan uji hipotesis hubungan dua variabel. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL Bahasa Jerman berpengaruh terhadap minat belajarnya. Rata-rata minat belajar setiap siswa sebesar 38,94% dipengaruhi oleh cara mengajar guru PPL Bahasa Jerman dan sikap guru PPL Bahasa Jerman selama mengajar, sedangkan sisanya 61,06% ditentukan oleh faktor lainnya seperti kondisi fisik siswa, faktor kelugaar, kondisi lingkungan atau suasana belajar dan lain sebagainya. Hal tesebut juga dapat dilihat dari kesan, harapan dan kritik siswa pada guru PPL Bahasa Jerman. Adapun kesan siswa terhadap guru PPL Bahasa Jerman yaitu menyenangkan, sedangkan harapan siswa pada proses belajar mengajar adalah supaya lebih baik lagi, dan lebih sering dalam menggunakan media dan metode pembelajaran yang inovatif sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan. Dan kritik yang diberikan siswa pada guru PPl Bahasa Jerman adalah agar lebih adil terhadap siswanya, tidak terlalu cepat dalam menjelaskan materi pelajaran sehingga siswa dapat memahami pelajaran dengan baik, dan lebih sabar menghadapi siswa. Kesan, harapan dan kritik yang diberikan oleh siswa pada guru PPL Bahasa Jerman diharapkan bisa meningkatkan kualitas mengajar guru PPL pada umumnya dan guru PPL Bahasa Jerman pada khususnya, sehingga minat siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Jerman semakin meningkat

Penggunaan Praposition Nach dan Zu pada karangan mahasiswa Jurusan Bahasa Jerman angkatan 2009 Universitas Negeri Malang / Vidya Adinarti

 

Errors in using simple past tense in recount texts writen by the eighth graders of SMP Lab UM / Ansyar

 

Key Words: errors, simple past tense, recount text. This study investigates the errors in using simple past tense in recount texts written by the eighth graders of SMP Lab UM. Most of the students consider writing as the most difficult skill of all. Therefore, the students often make errors, particularly when they use simple past tense in writing recount texts. This study was conducted under the consideration that simple past tense plays an important role in writing a recount text. The problems of this study are what dominant errors in recount texts written by the eighth graders of SMP Lab UM are and what types of errors that occur in using simple past tense in recount texts are. The purposes of this study are to find out the dominant errors in simple past tense in recount texts made by the eighth graders of SMP Lab UM and to find out the types of errors that occur in using simple past tense in recount text. The population of this study was the eighth year students of SMP Lab UM in the academic year of 2011/20012 which consisted of six classes; they were 8A, 8B, 8C, 8D, 8E, and 8F. The total number of the population was 185 students in which 28 students were chosen as the samples. Cluster random sampling was used to collect the data to represent each class, so that they were all well represented. The samples were 15% of the whole population to collect the data. The instrument used is a writing task consisting of an outline in writing a recount text. In analyzing the data, error analysis is used in which there are five steps; they are identifying the errors, classifying the errors, calculating the errors, putting the result in tables and the drawing conclusions. Finally, the result of the analysis shows that there were 11 types of errors. They are omission of to be as many as 9.46%, wrong form of to be as many as 13.96%, wrong form of infinitive to as many as 1.80%, addition of to be (before and after verb) as many as 6.76%, wrong form of verb as many as 53.60%, wrong form of modal auxiliary 6.31%, omission of verb 0.90%, wrong form of negative sentence as many as 2.25%, wrong form of question sentence as many as 0.45%, omission of subject pronoun as many as 2.25%, and wrong form of subject pronoun as many as 2.25%. It is concluded that the dominant errors lie on the wrong form of verb in the students’ recount texts whose proportion of the errors is 53.60%. Based on the result of the research, it is suggested that the eighth graders of SMP Lab UM should be given intensive exercises on the correct structure of simple past tense in their writing. The teacher also should give feedback on the students’ recount texts.

Perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran IPS SDN Barang 4 Kota Malang / Fajar Ilmi Laili

 

Kata kunci: Problem Based Learning, Hasil Belajar, IPS. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di SDN Bareng 4 Kota Malang menunjukkan bahwa tingkat pemecahan masalah yang dilakukan oleh siswa kurang. Karena dalam studi awal yang dilakukan oleh peneiti, banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM bahkan ada yang mendapat nilai 0, pada studi awal tersebut. Berdasarkan hal tersebut, peneliti merasa perlu untuk mengadakan penelitian berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya materi masalah-masalah sosial. Tujuan dari penelitian ayang membandingkan penggunaan model ini adalah (1). Untuk mengetahui bagamana hasil belajar sebelum menggunakan model Problem Based Learning (2). Untuk mengetahui bagaimana hasil belajar sesudah menggunakan model Problem Based Learning (3). Untuk mengetahui adakah perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan model Problem Based Learning. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif. Jenis penelitiannya adalah eskperimen semu (Quasi Experiment) . Data penelitian ini berupa nilai siswa yang diperoleh dari pembelajaran yang dilakukan selama dua kali, yang pertama tanpa menggunakan model pembelajaran dan yang kedua dengan menggunakan model Problem Based Learning. Dari dua nilai tersebut kemudian dibandingkan untuk di uji hipotesis dengan menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan nilai yang diperoleh siswa antara yang menggunakan model dan tidak menggunakan model. Pada pembelajaran pertama rata-rata nilai siswa yaitu sebesar 58,00 dan rata-rata hasil pembelajaran sesudah menggunakan model Problem Based Learning yaitu sebesar 85,73. Hal ini menunjukkan ada perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan model Problem Based Learning dan tanpa menggunakan model. Selain dapat meningkatkan hasil belajar, penggunaan model dapat meningkatkan aktifitas juga. Hal ini dapat dilihat bahwa dalam penggunaan model Problem Based Learning aktifitas siswa semakin meningkat,. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning karena ada perbedaan rata-rata nilai siswa. Dari penelitian ini disarankan pada guru IPS khususnya dikelas 4 agar lebih inovatif dalam menggunakan model pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran. Karena dengan penggunaan model tersebut dapat meningkatkan aktfitas dan hasil belajar siswa. Pembelajaran yang menyenangkan akan memberikan makna tersendiri bagi siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbasis powerpoint tentang kompetensi apresiasi karya seni rupa terapan wayang kulit punakawan pada mata pelajaran seni budaya kelas VIII SMP / Dwi Riyanti

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, PowerPoint, Wayang Kulit Punakawan Mengenal, merespon, dan menghargai wayang kulit merupakan kompetensi yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran apresiasi seni rupa terapan. Terbatasnya media pembelajaran yang memuat kajian tentang wayang kulit membuat pembelajaran tersebut kurang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis PowerPoint untuk mengatasi masalah tersebut. Tema Punakawan dipilih karena Punakawan merupakan salah satu tokoh sentral dalam pewayangan yang sarat dengan nilai-nilai pengembangan karakter. Model pengembangan ini menggunakan Five-D dari Pranata (2012) yaitu Define,Data. Design, Develop dan Disseminate. Hasil produk dilakukan validasi oleh 2 orang ahli media yang meliputi seorang dosen dan seorang guru yang ahli dalam media pembelajaran, 2 orang ahli materi yang meliputi seorang dalang dan seorang perajin wayang kulit di daerah kabupaten Trenggalek, dan uji coba kelompok besar yang meliputi 22 siswa kelas VIIIC di SMPN 1 Watulimo, Trenggalek. Secara garis besar hasil validasi dan uji coba menunjukkan hasil yang valid dengan akumulasi nilai validasi ahli media 91,67%, ahli materi 89,17, serta uji coba kelompok besar 86,36%. Dari ketiganya, apabila dirata-rata bernilai 89,06% dan masuk dalam kualifikasi valid sehingga layak digunakan sebagai media pembelajaran menurut penilaian ahli media, ahli materi, maupun kelompok besar. Hasil revisi media cenderung mengarah kepada kemudahan media untuk digunakan. Menurut ahli media, media lebih menarik bila waktu pengenalan tokoh ditampilkan animasi gerak/humor. Sedangkan revisi materi cenderung mengarah ke potensi implementasi materi dalam produk. Spesifikasi produk final dalam pengembangan ini adalah media pembelajaran dapat dijalankan pada aplikasi MS Office PowerPoint 2010, fisik produk berupa Compact Disc, target kompetensi yaitu mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan Nusantara, isi materi meliputi pengertian, sejarah, penokohan, ciri visualisasi, dan makna simbolik dari Punakawan serta proses pembuatan wayang kulit, dan untuk cakupan Mata Pelajaran adalah Seni Budaya. Pentingnya pengembangan bagi pengembang selanjutnya, dalam mengembangkan media pembelajaran ini, hendaknya mempertimbangkan evaluasi yang telah dilakukan dalam pengembangan ini sebagai referensi kedepannya dalam membuat media yang lebih baik dan bermanfaat agar daya guna produk dapat meningkat.

Pengaruh kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, demografi, perawatan balita, dan lingkungan biofisik terhadap morbiditas balita di Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri / Wahyu Shobirin

 

Kata Kunci: morbiditas balita, hubungan, pengaruh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah bahwa Kecamatan Puncu termasuk dalam kecamatan yang memiliki tingkat mortalitas dan morbiditas tertinggi di Kabupaten Kediri. Kejadian mortalitas balita pada tahun 2011 sebanyak 32 balita dan kejadian morbiditas balita sebanyak 4081 dari 4416 balita di Kecamatan Puncu. Hal ini berarti hampir semua balita di Kecamatan Puncu pernah mengalami sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat morbiditas balita di Kecamatan Puncu (2) besarnya pengaruh kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, kondisi demografi, lingkungan biofisik, dan perawatan balita terhadap morbiditas balita di kecamatan puncu (3) nilai bobot sumbangan masing-masing variabel terhadap tingkat morbiditas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dan metode survey. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mempunyai balita sakit dalam tiga bulan terakhir. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan simple random sampling. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder dikumpulkan dengan teknik dokumentasi, sedangkan data primer dikumpulkan dengan mengunakan kuesioner dan observasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis tabulasi dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan: 1) morbiditas balita di Kecamatan Puncu termasuk tinggi 2) tidak ada pengaruh antara kondisi demografi dengan morbiditas balita, 3) ada pengaruh antara kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, perawatan balita, dan lingkungan biofisik dengan morbiditas balita, 4) perawatan balita merupakan penyumbang terbesar dalam mempengaruhi morbiditas balita. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar meningkatkan sanitasi lingkungan, lebih memperhatikan kebutuhan balita baik gizi maupun perawatan. Disamping itu untuk ibu-ibu balita lebih mencari dan menambah pengetahuan tentang kesehatan balita, gizi balita, dan perawatan balita

Efektivitas metode klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai keberanian siswa SMP / Ovi Nur Hikmah

 

Kata Kunci: klarifikasi nilai, kesadaran akan nilai kepedulian, contoh kasus. Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami nilai moral keberanian (courage value) merupakan keyakinan seseorang atau kelompok untuk berbuat benar meskipun yang lain tidak dengan dasar kejujuran, tanggung jawab, dan pertimbangan resiko yang kemudian diwujudkan dalam bentuk fisik, mental, maupun spiritual. Melalui pendidikan dan pengalaman, kesadaran akan nilai keberanian dapat dibentuk dan dikembangkan. Jika pemahaman nilai keberanian (courage) tidak diberikan kepada anak, maka akan berdampak buruk terhadap perkembangan moral yang lainnya, contoh: kenakalan remaja (sok jago) untuk menguji keberanian bertarung, berani mencontek karena takut dan cemas mendapat nilai rendah atau tidak lulus, dll. Oleh sebab itu, pendidikan dibutuhkan tidak hanya untuk mengembangkan aspek intelektualnya saja, akan tetapi beriringan dengan juga pengembangan aspek moral siswa. Hal ini menjadi tanggungjawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Fokus pada bidang BK, moral keberanian (courage) siswa dapat dikembangkan dengan metode klarifikasi nilai yang menekankan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Teknik klarifikasi nilai dilaksanakan dengan menyajikan sejumlah contoh kasus yang mengandung konflik nilai untuk didiskusikan dan direfleksikan dengan diri siswa. Subjek dilibatkan dalam pembacaan contoh kasus dan didorong untuk menjelaskan perasaan dan nilai yang ada pada dirinya serta mengambil keputusan dan komitmen dalam memilih nilai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan metode klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai courage siswa SMP. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP berjumlah 10 orang. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah one group pretest posttest design, dengan menggunakan alat berupa skala kesadaran akan nilai courage siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir treatment. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji statistik nonparametrix tipe tes wilcoxon. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa metode klarifikasi nilai efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai courage siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada posttest diakhir pertemuan setelah pemberian treatment. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)Konselor mempersiapkan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan kelompok eksperimen dengan menyajikan contoh kasus yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dan setting tempat untuk melaksanakan eksperimen harus dipertimbangkan terlebih dahulu. (2) Pada peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan kegiatan need assesment dan uji validitas treatment.

Keefektifan metode klarifikasi nilai untuk menin gkatkan kesadaran akan nilai kejujuran siswa SMP / Astri Nurani

 

Kata kunci: klarifikasi nilai, kesadaran, nilai kejujuran Kesadaran akan nilai kejujuran penting sekali dimiliki untuk menciptakan manusia yang mampu berbuat jujur dalam kehidupan. Ketidakjujuran merupakan penghalang bagi manusia untuk bersikap positif, khususnya remaja. Kurangnya kesadaran akan nilai kejujuran pada siswa SMP ditunjukan pada perilaku menyontek karena takut dan cemas mendapat nilai rendah atau tidak lulus, dan membohongi orang tua. Nilai kejujuran sebenarnya ada pada diri setiap siswa, akan tetapi kesadaran untuk memunculkannya masih kurang. Dengan meningkatkan kesadaran akan kejujuran, siswa belajar bagaimana mengenal diri dan lingkungannya, sehingga terhindar dari masalah-masalah yang terkait dengan hubungan sosial serta kenakalan remaja. Fokus pada bidang bimbingan dan konseling, moral kejujuran siswa dapat dikembangkan dengan metode klarifikasi nilai (values clarification) yang menekanan pada usaha membantu siswa mengembangkan keterampilan dalam mengkaji perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan perbuatannya, untuk meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai yang ada dalam diri individu. Metode klarifikasi nilai dimulai dari penyajian pola sejumlah cerita berupa contoh kasus yang mengandung konflik nilai dengan pancingan-pancingan pertanyaan, Subjek coba dilibatkan dalam suasana cerita dan didorong untuk menjelaskan perasaan dan nilai yang ada pada dirinya, serta mengambil keputusan dan argumentasi yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan metode klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kejujuran siswa SMP. Subjek penelitian yang dipilih adalah siswa SMP sebanyak 10 siswa. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen one group pretest-posttest design. Pengumpulan data instrumen berupa skala kesadaran akan nilai kejujuran siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon dengan nilai Z=-2.805a dan P=0.005, berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa klarifikasi nilai dengan menggunakan contoh kasus efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kejujuran siswa SMP. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) dalam mengaplikasikan teknik ini, konselor harus mempersiapkan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan kelompok eksperimen, dan contoh kasus yang diberikan lebih baik mengenai masalah yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari. (2) saran pengembangan, untuk peneliti selanjutnya dapat menggunakan teknik dan media yang sama, akan tetapi menggunakan kelompok kontrol, sebelum melakukan penelitian diharapkan melakukan need assessment terlebih dahulu mengenai kasus yang sering dijumpai.

Kefektifan assertive training untuk meningkatkan self esteem siswa kelas XI SMAN 1 Durenan / Vina Candrasari

 

Kata kunci: Assertive Training, Self Esteem, Konseling Behavioral. Siswa yang mengalami kesulitan bersikap asertif akan menyebabkan tingkat self esteem pada dirinya rendah. Hal itu telah disebutkan oleh beberapa teori yang menjelaskan bahwa ketegasan atau asertif mendukung tingkat self esteem individu. Salah satu karakteristik individu dengan self esteem tinggi, yaitu bersikap asertif. Assertive training merupakan salah satu teknik dalam konseling behavioral. Assertive training digunakan untuk mengubah perilaku individu yang semula tidak asertif dalam rangka untuk meningkatkan self esteem siswa. Berbagai masalah akan timbul ketika individu sulit untuk bersikap asertif, misalnya, perasaan tidak berdaya, malu, takut menerima resiko. Rasa tidak berdaya, malu dan takut menerima resiko akan berpengaruh terhadap tingkat self esteem individu. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan assertive training untuk meningkatkan self esteem siswa kelas XI SMA Negeri 1 Durenan Kabupaten Trenggalek. Jenis penelitian ini adalah eksperimen kuasi, dengan one group pretest-posttest design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Durenan yang berjumlah 266 siswa. Kemudian, diambil 8 siswa sebagai kelompok eksperimen berdasarkan hasil pengisian skala self esteem dengan hasil pretest yang menunjukkan self esteem rendah. Assertive training dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan dalam konseling kelompok behavioral. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan tingkat self esteem siswa sebelum dan sesudah diberi treatment yang berupa assertive training. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan self esteem (harga diri) berdasarkan hasil posttest pengisian skala self esteem. Hal ini dibuktikan dengan nilai yang diperoleh dari uji Wilcoxon sebesar (Z=-2.524a) dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.012 dan 0.012<0.05. Kesimpulan dari hasil penelitian terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat self esteem siswa SMA Negeri 1 Durenan Kabupaten Trenggalek sebelum dan sesudah diberikan treatment berupa assertive training dalam konseling kelompok behavioral. Dapat disimpulkan bahwa assertive training efektif untuk meningkatkan self esteem siswa kelas XI SMAN 1 Durenan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada konselor yang akan memberikan assertive training adalah konselor dengan pendidikan SI BK. Konselor harus memperhatikan session latihan asertif agar pelaksanaannya efektif dan maksimal. Konselor perlu memperhatikan efisiensi waktu. Dalam pelaksanaan assertive training, konselor perlu memperhatikan kesehatan konseli agar kegiatan berjalan lancar. Disarankan pula untuk lembaga jurusan BK agar lebih memperbanyak praktik assertive training dalam konseling kelompok behavioral dan memperbanyak mempelajari materi tentang self esteem. Peneliti selanjutnya disarankan untuk dapat mencoba menggunakan prosedur latihan asertif yang lain dan memungkinkan dapat diberikan secara klasikal karena penelitian yang telah dilaksakan oleh peneliti hanya menggunakan subjek penelitian berjumlah 8 siswa dalam setting konseling kelompok behavioral. Peneliti selanjutnya dapat mencoba menggunakan kelompok kontrol sehingga dengan adanya kelompok kontrol dapat diketahui apakah ada perbedaan skor rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah diberi treatment berupa assertive training.

Problematika pelaksanaan evaluasi pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas 4 SDN BI Tlogowaru Malang / Siti Hamidah

 

Kata Kunci : problematika, evaluasi pembelajaran, karangan deskripsi Kompetensi menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kompetensi berbahasa paling akhir dikuasai pembelajar bahasa setelah kompetensi mendengarkan, berbicara dan membaca. Beberapa sumber informasi menyimpulkan bahwa keterampilan menulis siswa rendah dibandingkan keterampilan lainnya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya keterampilan guru dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran menulis karangan. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai problematika pelaksanaan evaluasi pembelajaran menulis karangan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan sistem pelaksanaan evaluasi pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas 4 SDN Bertaraf Internasional (BI) Tlogowaru. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui problematika pelaksanaan evaluasi pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas 4 SDN BI Tlogowaru beserta alternatif pemecahannya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan sistem pelaksanaan evaluasi dan problematika yang dialami dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas 4 SDN BI Tlogowaru. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, angket terbuka, observasi dan dokumentasi. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrument manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan kalsifikasi data dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, sistem pelaksanaan evaluasi harian pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas 4 SDN BI Tlogowaru dilakukan oleh guru kelas 4. Sedangkan, pelaksanaan evaluasi pembelajaran tengah semester dan akhir semester menggunakan sistem kepanitiaan yang dibentuk dari guru-guru SDN BI Tlogowaru. Kedua, problematika yang dialami dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas 4 SDN BI Tlogowaru terdapat di dalam 4 aspek yaitu instrument evaluasi, sistem pembelajaran, pelaksanaan evaluasi dan hasil karangan siswa. Dari hasil penelitian yang sudah dipaparkan, maka ada beberapa saran yang peneliti berikan yaitu sebagai berikut. Pertama, adanya pembinaan terhadap guru – guru SDN BI Tlogowaru tentang cara mengevaluasi siswa. Kegiatan dapat berupa workshop dengan mendatangkan narasumber ahli atau dengan mengadakan pembinaan kepada koordinator kelas, koordinator kelas mengimbaskan hasil pembinaan tersebut kepada guru – guru lain dalam forum KKG. Kedua, Adanya buku literatur yang dimiliki oleh semua guru tentang evaluasi pembelajaran. Jika tidak memungkinkan, perpustakaan SDN BI Tlogowaru menyediakan literatur buku tentang pembelajaran. Sehingga semua guru dapat menjadikan perpustakaan sebagai tempat rujukan. Ketiga, Adanya motivasi dari pihak penentu kebijakan agar guru selalu melaksanakan proses evaluasi sesuai dengan standart pelaksanaan penilaian.

Pengaruh perhatian orang tua dan intensitas bermain game terhadap prestasi belajar siswa kelas tinggi SDN Babadan I Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar / Weylda Yusiani

 

Kata Kunci: perhatian orang tua, intensitas bermain game, prestasi belajar Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Siswa dikatakan berhasil dalam proses belajar apabila telah mengalami perubahan tingkah laku yang positif setelah menjalani proses belajar tersebut. Prestasi belajar merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kemampuan atau keberhasilan seseorang yang melakukan proses belajar sesuai dengan bobot/nilai yang berhasil diraihnya. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain perhatian orang tua intensitas bermain game. Untuk mengetahui pengaruh perhatian orang tua dan intensitas bermain game terhadap prestasi belajar maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perhatian orang tua, (2) intensitas bermain game, (3) prestasi belajar dan menjelaskan (4) pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar, (5) pengaruh intensitas bermain game terhadap prestasi belajar, (6) pengaruh perhatian orang tua dan intensitas bermain game terhadap prestasi belajar. Penelitian ini termasuk penelitian korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 328 siswa, dengan sampel penelitian menggunakan teknik stratified cluster random sampling yang berjumlah 105 siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan perhatian orang tua termasuk kategori kurang baik 49,96%, intensitas bermain game ≤ 2 jam 85,29%, prestasi belajar berkategori baik dengan rentangan nilai 76-100. Terdapat pengaruh antara perhatian orang tua dan intensitas bermain game terhadap prestasi belajar dengan melihat model regresi yang dihasilkan yaitu: Y = 527,310 + 0,279X1 + 0,298X2 dimana Y adalah prestasi belajar, (X1) perhatian orang tua, dan (X2) intensitas bermain game. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: perhatian orang tua berkategori kurang baik, intensitas bermain game ≤ 2 jam, prestasi belajar berkategori baik, secara parsial ada pengaruh perhatian orang tua dan intensitas bermain game terhadap prestasi belajar, serta secara simultan ada pengaruh perhatian orang tua dan intensitas bermain game terhadap prestasi belajar siswa. Saran disampaikan kepada orang tua agar memberikan perhatian yang optimal kepada anak, kepada siswa agar menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua, dan kepada peneliti selanjutnya agar memperdalam penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, dengan menambahkan variabel yang akan diteliti.

Analisis buku teks Bahasa Jawa kelas IV SD / Dian Susianti

 

Kata Kunci: analisis, buku teks, bahasa jawa, SD Buku teks sebagai salah satu sumber bahan belajar, sebaiknya tidak satu jenis atau dari satu orang pengarang. Buku teks yang digunakan hendaknya bervariasi agar mendapatkan materi pembelajaran yang luas. Buku teks mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam menunjang keberhasilan belajar, sebab siswa harus mempunyai pengetahuan yang luas. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kelayakan sebuah buku teks, maka seorang guru harus menganalisis sebelum menggunakannya sebagai sumber belajar. Analisis buku teks adalah suatu kegiatan untuk mengkaji buku teks dengan segala aspeknya, penyusunan, dan penerapan telaah buku teks. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana tingkat kelayakan/kesesuaian buku teks, dikaji dari lima aspek dengan kriteria yang telah ditentukan. Aspek yang dikaji antara lain: aspek pendekatan, aspek tujuan, aspek bahan pengajaran, aspek evaluasi, dan aspek bahasa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode analisis isi (content analysis). Data penelitian berupa buku teks, yaitu buku teks Bahasa Jawa kelas IV SD karangan Sukiran tahun 2009 penerbit CV. Citra Cemara Surabaya. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa langkah diantaranya: 1) Melakukan observasi terhadap buku-buku yang digunakan di SD sekecamatan Kedungkandang, 2) Melakukan wawancara kepada guru kelas IV untuk mengetahui buku Bahasa Jawa kelas IV yang digunakan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dilakukan dengan cara menemukan/tidak menemukan kesesuaian antara variabel dengan materi yang tertulis di dalam buku teks. Semua analisis dituangkan dalam bentuk naratif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh simpulan: 1) Dilihat dari aspek pendekatan, bab 8 belum memenuhi kriteria menerapkan dan mengkomunikasikan, 2) Dilihat dari aspek tujuan, semua kriteria terpenuhi sehingga buku teks layak untuk dijadikan sebagai sumber belajar, 3) Dilihat dari aspek bahan, bab 8 belum memenuhi kriteria apresiasi bahasa, 4) Dilihat dari aspek evaluasi, ada kriteria yang tidak muncul disemua bab yaitu kriteria memeriksa kembali, 5) Dilihat dari aspek bahasa, empat bab yang belum memenuhi kriteria yaitu bab 1, bab 6, bab 7, dan bab 8. Saran ditujukan kepada guru/ pengguna buku teks, hendaknya jika menggunakan buku teks ini ditunjang dengan buku teks yang lain sehingga kekurangan yang ada dalam buku teks bisa terlengkapi.

Abalisis butir soal obyektif UAS semester gasal kelas IV pada mata pelajaran IPA tahun pelajaran 2011/2012 di Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri / Yusnia Dwi Maharani

 

Kata kunci: analisis butir soal, UAS, IPA. Melalui penilaian terhadap hasil belajar, akan diketahui tingkat pencapaian hasil belajar terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Pentingya penilaian hasil belajar tersebut, membuat alat penilaian yang digunakan juga harus berkualitas. Artinya berkualitas yaitu bila dilihat dari segi validitas butir, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya beda, dan fungsi pengecoh memiliki kategori yang baik. Dimana kualitas alat penilaian berdampak pada baik atau buruknya hasil penilaian tersebut. Soal ulangan akhir semester ini dibuat oleh guru dari perwakilan masing-masing SD atas nama UPTD SD setempat. Pada proses pembuatan soal, soal yang telah selesai dibuat langsung digunakan tanpa proses ujicoba. Padahal, pada pengujicobaan soal tes akan terlihat tingkatan kualitas soal tes yang telah dibuat. Akhirnya, kualitas soal tes sebagai alat penilaian akan berpengaruh terhadap hasil penilaian yang dilakukan. Penelitian ini hendak menguji sebuah produk yaitu soal UAS gasal kelas IV sekolah dasar pada mata pelajaran IPA tahun pelajaran 2011/2012 yang digunakan di Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Pengujian tersebut berfokus pada analisis butir soal yang bertujuan untuk melihat bagaimanakah validitas butir soal, reliabilitas, tingkat kesukaran soal, daya beda soal, dan fungsi distraktor soal obyektif UAS Gasal kelas IV pada mata pelajaran IPA tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini mempunyai obyek populasi lembar jawaban UAS gasal IPA tahun pelajaran 2011/2012 siswa kelas IV se-Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Penentuan jumlah obyek sampel penelitiannya menggunakan bantuan tabel kesalahan yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael. Pada tabel tersebut peneliti menggunakan taraf kesalahan 1% sehingga didapat sampel berjumlah 301 lembar jawaban UAS gasal IPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa validitas butir sebagian besar berkategori rendah yaitu mencapai 77,1%; soal telah 100% mencapai reliabel; tingkat kesukaran berkategori mudah dengan persentase 54,3%; daya beda soal sebagian besar berkategori jelek yaitu mencapai 45,7%; dan fungsi distraktor masih mencapai keberfungsian sebesar 40%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kualitas soal kurang baik. Adapun saran yang dapat dilakukan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu sebaiknya soal yang akan dipakai untuk mengukur hasil belajar siswa harus melalui proses ujicoba sehingga dapat diketahui kualitas soal tersebut.

Pengaruh etika praktik kerja industri dan prestasi bidang produktif terhadap perencanaan pilihan karier pasca sekolah siswa Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK di Blitar / Indah Kurniawati

 

Kata kunci: Etika prakerin, prestasi bidang produktif, perencanaan pilihan karier. Perencanaan pilihan karier yaitu suatu proses kegiatan menyusun rencana dan mengambil keputusan karier yang ingin digelutinya di masa yang akan datang. Mengingat misi dari SMK yaitu menyiapkan peserta didiknya untuk ke dunia kerja, maka berbagai upaya peningkatan mutu telah banyak dilakukan, diantaranya: menyesuaian kurikulum dengan dunia kerja dan mengikuti program praktik kerja industri. Dalam pelaksanaan prakerin ini, segala perilaku, sikap dan moral siswa dalam bekerja menjadi aspek yang penting dalam penilaian yang dilakukan oleh industri terkait. Sesuai dengan latar belakang tersebut dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) bagaimanakah signifikansi pengaruh etika prakerin terhadap perencanaan pilihan karier siswa pasca sekolah, (2) bagaimanakah signifikansi pengaruh prestasi bidang produktif terhadap perencanaan pilihan karier siswa pasca sekolah, (3) bagaimanakah signifikansi pengaruh secara simultan etika prakerin dan prestasi bidang produktif terhadap perencanaan pilihan karier pasca sekolah siswa program keahlian TKJ SMK di Blitar. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu etika prakerin dan prestasi bidang produktif serta variabel terikat yaitu perencanaan pilihan karier pasca sekolah. Subyek penelitian adalah siswa program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK di Blitar. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling menghasilkan sampel berjumlah 180 siswa dari empat sekolah, yaitu: SMKN 1 Blitar, SMKN 2 Blitar, SMKN 1 Doko dan SMK Katolik Santo Yusup Blitar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menyatakan: (1) ada pengaruh yang signifikan etika prakerin terhadap perencanaan pilihan karier siswa pasca sekolah, diperoleh thitung (13,314) > ttabel (1,973), (2) ada pengaruh yang signifikan prestasi bidang produktif terhadap perencanaan pilihan karier siswa pasca sekolah, diperoleh thitung (13,821) > ttabel (1,973), (3) ada pengaruh secara simultan yang signifikan antara etika prakerin dan prestasi bidang produktif terhadap perencanaan pilihan karier siswa pasca sekolah, diperoleh Fhitung (130,065) > Ftabel (3,05).

Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam meningkatkan kinerja dan kreativitas guru di sekolah (Studi kasus di Taman Kanan-Kanak (TK) Aisiyah Tamanan) / Yessie Lestari

 

Kata kunci: supervisor, kinerja, kreativitas. Pada masa sekarang ini, sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi sangat dibutuhkan. Hal ini terjadi dikarenakan adanya jumlah penduduk yang semakin bertambah dan otomatis persaingan juga semakin ketat. Dunia pendidikan dituntut untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berprestasi tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut peran seorang guru sangatlah dibutuhkan, karena guru adalah orang yang secara langsung dan hampir setiap hari bertatap muka dengan siswa dalam proses belajar-mengajar. Peningkatan kinerja dan kreatvitas guru sangatlah penting untuk menunjang pembelajaran di kelas. Meningkatkan kinerja dan kreativitas guru merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai supervisor. Melalui kegiatan supervisi kepala sekolah dapat memberikan penyuluhan, masukan-masukan, motivasi, dan bantuan-bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan pelaksanaan supervisi yang dilakukan kepala sekolah TK Aisyiyah Tamanan; (2) mendeskripsikan peran kepala sekolah TK Aisyiyah Taman sebagai supervisor; (3) mendeskripsikan upaya kepala sekolah sebagai supervisor dalam meningkatkan kinerja dan kreativitas guru TK Aisyiyah Tamanan; dan (4) Mendeskripsikan tanggapan para guru terhadap kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah TK Aisyiyah Tamanan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kasus tunggal. Di dalam penelitian ini instrumen utamanya berupa manusia, maka dari itu kehadiran peneneliti di lapangan dalam melaksanakan penelitian ini sangat diwajibkan dan diutamakan guna kelancaran serta keabsahan pengumpulan data secara komprehensif. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teknik pngumpulan data seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan sumber data berupa kata-kata dan tindakan, sumber tertulis, dan foto. Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu pada saat pengumpulan data dan setelah pengumpulan data di lapangan. Pada saat pengumpulan data dilaksanakan kegiatan reduksi data dengan membuat catatan lapangan, kemudian membuat kategori dengan mengembangkan sistem pengkodean. Jadi data-data yang diperoleh dalam penelitian ini dipilah-pilah dan disederhanakan. Setelah direduksi, maka dilanjudkan dengan kegiatan display data. Kegiatan display data yaitu mengolah data, mengklasifikasikan data, dan menyaring atau memilah-milah data yang yang telah berbentuk catatan lapangan tersebut yang sesuai dengan penelitian. Setelah data teresebut didisplay, kemudian dilaksanakan kegiatan verifikasi data yaitu penyusunan data menjadi temuan umum. Proses pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan penamatan dan trianggulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh data Teknik supervisi yang diterapkan di TK Aisyiyah Tamanan adalah 1) kunjungan kelas; 2) pertemuan pribadi; 3) rapat dewan guru; 4) dan penataran/ pelatihan. Supervisi tindakan kelas biasanya dilaksanakan 3 bulan sekali. Supervisi rapat guru diadakan secara rutin setiap akhir bulan, tetapi apabila ada sesuatu yang darurat maka dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali rapat. Supervisi penataran di TK Aisyiyah Tamanan yaitu KKG (Kelompok Kerja Guru) Gugus dan KKG IGTKI-PGRI. KKG Gugus diadakan setiap bulan dan sedangkan KKG IGTKI-PGRI dilaksanakan setiap dua bulan sekali. Peran kepala sekolah TK Aisyiyah Tamanan sebagai supervisor adalah memberikan bimbingan bantuan, pengawasan, dan penilaian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan, perbaikan program pengajaran. Di dalam pelaksanaan supervisi, kepala TK Aisyiyah Tamanan memiliki kendala yaitu adanya rasa enggan karena perbedaan usia yang hanya berbeda satu hingga dua tahun saja. Tetapi kepala sekolah tetap melaksanakan tugasnya sebagai supervisor untuk kebaikan dari kemajuan kinerja dan kreativitas guru-guru. Upaya kepala sekolah sebagai supervisor untuk meningkatkan kinerja dan kreativitas guru yaitu mengadakan supervisi, memberikan motivasi, bimbingan, dan mengajak guru mengikuti pelatihan KKG Gugus maupun KKG IGTKI-PGRI, dan mengirimkan guru untuk mengikuti lomba-lomba khusus guru yang diadakan IGABA (Ikatan Guru Bustanul Athfal) se-Kabupaten maupun lomba-lomba dari jalur dinas seperti yang diadakan IGTKI-PGRI Tanggapan para guru terhadap kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah TK Aisyiyah Tamanan yaitu banyak guru yang memiliki respon positif terhadap diadakannya kegiatan supervisi di TK tersebut. Karena para guru merasa terbantu dengan adanya kegiatan supervisi tersebut untuk meningkatkan kinerjanya. Tetapi walaupun guru dan kepala sekolah sudah sering berinteraksi di sekolah, tetapi masih ada beberapa guru yang merasa gugup saat pelaksanaan supervisi berlangsung. Untuk mengatasi hal tersebut seorang kepala sekolah sebagai supervisor harus mampu bergaul dengan guru-guru dan menciptakan iklim kekeluargaan, sehingga kepala sekolah mampu identifikasi masalah yang sedang dihadapi guru dan membantu memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar kepala sekolah mampu mempertahankan pembinaan yang diberikan kepada guru-guru agar semakin peka dan perduli terhadap tingkat kemajuan pendidikan yang ada saat ini serta berusaha untuk bersikap inovatif dan selalu mengembangkan kualitas sumberdaya dalam mengajar dan mendidik. Selain itu untuk peneliti lain dapat digunakan sebagai informasi serta referensi untuk penelitian lainnya dan juga sebagai perbandingan antara teori yang telah diperoleh dari perkuliahan dan kenyataan yang ada di lapangan serta diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana untuk menambah wawasan untuk penelitian selanjutnya.

Proses perubahan organisasional sekolah: Analisis alih fungsi SMK Negeri 12 Malang / Mita Mardyawati

 

Kata Kunci : perubahan organisasional, alih fungsi SMA ke SMK. Perubahan merupakan sebuah hal yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, baik bagi individu maupun organisasi. Perubahan merupakan sebuah upaya untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian terhadap lingkungan. Perubahan seringkali dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk masyarakat agar dapat maju dan berkembang adalah melalui pendidikan. Organisasi pendidikan merupakan organisasi dengan sistem terbuka, dimana organisasi ini dipengaruhi oleh lingkungan. Oleh karena itu masalah pendidikan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Berbagai strategi dilakukan untuk menciptakan sistem pendidikan yang memenuhi tuntutan perkembangan jaman. Salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mendorong pertambahan jumlah SMK di daerah-daerah seluruh Indonesia. Pemerintah Kota Malang mendukung kebijakan pemerintah dengan melakukan alih fungsi SMA ke SMK. Perubahan alih fungsi ini merupakan perubahan secara organisasional, karena menyangkut perubahan pada struktur organisasi, perubahan pada prosedur kerja, perubahan kebutuhan ruang belajar, dan perubahan pada sumber daya manusia (tenaga pendidik dan kependidikan). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan dasar dilaksanakannya perubahan alih fungsi SMA Negeri 12 ke SMK Negeri 12 Malang; (2) mendeskripsikan pengembangan struktur organisasi hasil alih fungsi SMA Negeri 12 ke SMK Negeri 12 Malang; (3) mendeskripsikan perubahan Standard Operating Procedure (SOP) hasil alih fungsi SMA Negeri 12 ke SMK Negeri 12 Malang; (4) mendeskripsikan perubahan kebutuhan ruang belajar hasil alih fungsi SMA Negeri 12 ke SMK Negeri 12 Malang; (5) mendeskripsikan perubahan tenaga pendidik dan kependidikan hasil alih fungsi SMA Negeri 12 ke SMK Negeri 12 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang menafsirkan dan menjelaskan suatu fenomena/peristiwa sosial di masyarakat secara ilmiah, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian terapan. Dalam penelitian ini, peneliti sendirilah yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah waka kurikulum, waka sumber daya manusia/wakil manajemen, waka sarana dan prasarana, waka kesiswaan, dan waka hubungan masyarakat. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara dan dokumen yang berkaitan dengan perubahan organisasional di SMK Negeri 12 Malang. Setelah data tersebut diperoleh kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data dengan metode trianggulasi. ii Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perubahan alih fungsi SMA Negeri 12 ke SMK Negeri 12 Malang dilaksanakan berdasarkan kebijakan pemerintah Kota Malang melalui Surat Keterangan Nomor 46 Tahun 2007. Kebijakan pemerintah Kota Malang ini didasarkan pada harapan dari pemerintah pusat terjadinya pertumbuhan SMK di seluruh wilayah Indonesia dengan mencapai perbandingan siswa SMK 67: SMA 33 pada 2014; (2) Perubahan struktur organisasi ini bersifat pengembangan karena bagian-bagian yang lama seperti waka sarana prasarana, waka kurikulum, waka hubungan masyarakat dan waka kesiswaan tetap ada. Proses pengembangan dilakukan dengan analisis kebutuhan pada tahap awal, kemudian pelaksanaannya menambahkan bagian-bagian yang kurang dan menentukan personal yang menduduki bagian yang ada sesuai dengan kompetensinya. Karena ada beberapa bagian yang mewakili kompetensi produktif maka sekolah melakukan perekrutan pegawai baru dan proses yang sampai saat ini masih berlangsung adalah evaluasi yang dilakukan untuk melihat kinerja dan tercapainya sasaran mutu tiap bagian. Evaluasi tersebut dilakukan satu tahun sekali; (3) Perubahan SOP dilakukan jika memang ada kebutuhan. Perubahan SOP dilakukan oleh masing-masing bagian yang terkait dengan melalui beberapa tahapan. Tahapan perubahan SOP, diawali dengan menganalisis permasalahan yang didapat dari hasil evaluasi dan menemukan penyelesainnya, kemudian SOP kembali disusun, setelah itu SOP diajukan pada wakil manajemen dan kepala sekolah; (4) kebutuhan ruang belajar juga mengalami perubahan dikarenakan kebutuhan ruang belajar tiap jenis satuan pendidikan berbeda. Upaya yang dilakukan untuk memenuhinya dilakukan secara bertahap dengan menambah beberapa laboratorium lengkap dengan peralatannya. Dana diperoleh dari bantuan pemerintah dan komite sekolah; (5) perubahan yang terjadi pada tenaga pendidik dan kependidikan lebih dirasakan pada bertambahnya keterampilan dan pengetahuan tentang menajemen SMK, dan dengan berjalannya waktu perubahan harapan dirasakan sejalan dengan perubahan tujuan organisasi. Berdasarkan kesimpulan atau hasil temuan penelitian, berikut ini dikemukakan saran bagi pihak terkait yaitu: (1) Kepala Dinas Kota Malang, untuk terus melakukan evaluasi serta memberikan bantuan agar pengembangan sekolah dapat berjalan dengan baik; (2) Kepala Sekolah/Guru SMK Negeri 12 Malang, disarankan untuk terus memberikan motivasi serta masukan atau kritik yang membangun agar para pegawai sekolah dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya dalam mengembangkan sekolah dan mencapai sasaran mutu sekolah; (3) Ketua jurusan, para pengajar, dan mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan, Lebih mengkaji tentang manajemen perubahan organisasional sehingga dapat menambah referensi untuk matakuliah Manajemen Perubahan dan Organisasi Pendidikan dan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dengan melihat perbandingan antara teori yang telah diperoleh dari perkuliahan dengan kenyataan yang ada di lapangan berkaitan dengan perubahan organisasional; (4) Peneliti lain, agar dapat melanjutkan penelitian dan menyempurnakan hasil penelitian, sehingga dapat bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan dan disarankan bagi peneliti lain agar dapat meneliti penelitian yang sejenis.

Pengembangan kegiatan bermain meronce manik-manik berwarna untuk meningkatkan kemampuan fifik motorik halus anak di PAUD Harapan Bunda Kademangan Blitar / Ega Antikka

 

Kata Kunci : pengembangan, bermain meronce manik-manik berwarna, fisik motorik halus, PAUD Harapan Bunda Kademangan Blitar. Bermain meronce manik-manikmerupakansalahsatukegiatan bermain yang menggunakan media manik-manik berwarna dan kertasgulung yangdirangkai pada sebuah senar sebagai pengikat sehingga menghasilkan sebuah roncean. Intikegiatan bermaininiadalahanakmampumemasukkan manik-manik dan merjan pada senar, anak mampu menyebutkan warnadanmenghitung manik-manik, anak dapat menyebutkan benda hasil roncean. BerdasarkanhasilpenelitianmelaluiobservasiterhadapanakPAUD Harapan Bunda Kademangan Blitar, pembelajaranfisikmotorikmelaluikegiatan bermain meronce manik-manik berwarna menggunakan manik-manik dan merjan belumpernahdilaksanakandanmerasaperluuntukdilaksanakan.Tujuanpenelitianiniadalahuntukmengembangkankegiatan bermain meronce manik-manik berwarna yang diharapkanmudahuntukdilakukan, menyenangkandanamanbagianak. Prosedurpengembangankegiatan bermain meronce manik-manik berwarnaadalah: 1) melakukanpenelitiandanpengumpulaninformasi, 2) melakukanperencanaan, 3) mengembangkanbentukberupakegiatanbermainmeroncemanik-manikberwarna, 4) melakukanujicobakelompokkecildengan 6 subjek, 5) melakukanrevisiterhadapprodukawal, 6) melakukanujilapanganutamadengan 30 subjek, 7) melakukanrevisiproduk. Instrumen yang digunakanadalahberupakuesioner yang berisirancanganprodukdanproduk yang telahdibuat.Teknikanalisis data yang digunakanadalahanalisiskualitatifdankuantitatifberupapersentase. Hasilpengembanganiniadalah 90% anakmudahmelakukankegiatan, 100% anaksenangmelakukankegiatandan 100% anakamanmelakukankegiatan. Berdasarkan data hasilpengembangankegiatan bermain meronce manik-manik berwarna, dapatdisimpulkankegiatan bermaintersebutmudahuntukdilakukan, menyenangkandanaman dilakukan bagi anak. Diharapkanhasilpengembanganinidapatdiujicobakankepadakelompok yang lebihluasdandapatdisosialisasikankepadasekolah-sekolahdanlembagapendidikan yang terkait.Serta diharapkanadapenelitianselanjutnyauntukmengujitingkatkeefektifandariproduk yang dikembangkan.

Kesalahan siswa dalam menulis paragraf yang memenuhi kualifikasi dan koherensi di kelas V SDN Saptorenggo 02 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Novyan Setya Aditama

 

Kata kunci: Kesalahan Siswa, Menulis Paragraf, Kohesi Koherensi, Sekolah Dasar Pembelajaran bahasa Indonesia juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik lisan maupun tulis. Terdapat beberapa aspek keterampilan dalam berbahasa, yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keterampilan menulis memiliki peran sangat penting untuk siswa karena setiap tugas yang diberikan guru dapat dilakukan dengan baik apabila siswa memiliki keterampilan menulis yang baik. Siswa mengalami kesalahan dalam menulis karangan, jika belum dapat menentukan judul, mengalami kesalahan dalam penggunaan huruf kapital dan penggunaan tanda baca, serta belum mampu membuat paragraf yang runtut. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan siswa kelas V dalam menulis paragraf dalam karangan yang memenuhi kualifikasi kohesi dan koherensi di SDN Saptorenggo 02 dan mendeskripsikan kesalahan siswa dalam menulis karangan yang memenuhi kualifikasi kohesi dan koherensi di kelas V SDN Saptorenggo 02. Untuk proses pengambilan data, menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa pedoman observasi dan wawancara yang tidak terstruktur. Sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil wawancara kesalahan yang dialami oleh siswa dalam menulis karangan adalah menentukan judul karangan, penggunaan bahasa dan tanda baca, penggunaan huruf kapital serta keterkaitan paragraf dan kalimat atau kohesi dan koherensi. Dengan demikian, kemampuan siswa dalam menulis paragraf masih belum sesuai dengan teori yang benar. Untuk mengatasi hal ini, seharusnya guru lebih memperhatikan kesalahan dalam tulisan siswa dan lebih menguasai konsep-konsep penting dalam menulis karangan. Sementara itu, pihak sekolah lebih memperbanyak buku-buku bacaan sehingga mampu menambah wawasan siswa yang akhirnya bermuara pada kreatifitas siswa dalam menulis. Sedangkan untuk siswa, harus banyak berlatih menulis, karena keterampilan menulis dapat berkembang dengan baik hanya dengan latihan rutin.

Perbedaan motivasi belajar mandiri siswa kelas rendah dengan kelas tinggi di SDN Bareng 3 Kota Malang / Novia Ekawati

 

Kata Kunci: Motivasi Belajar Mandiri, Kelas Rendah, Kelas Tinggi. Setiap siswa melalui tahap-tahap perkembangan dalam hidupnya. Setiap tahap perkembangan mempunyai ciri dan tugasnya masing-masing. Motivasi merupakan dasar atau permulaan yang baik untuk belajar. Motivasi tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan kondisi psikologis tetapi juga dipengaruhi oleh (1) cita-cita atau aspirasi, (2) kemampuan siswa, (3) kondisi siswa, (4) kondisi lingkungan siswa, dan (5) unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan motivasi belajar siswa kelas rendah di SDN Bareng 3 Kota Malang dalam melakukan kegiatan belajar mandiri, (2) untuk mendeskripsikan motivasi belajar siswa kelas tinggi di SDN Bareng 3 Kota Malang dalam melakukan kegiatan belajar mandiri, (3) untuk mendeskripsikan perbedaan motivasi belajar antara siswa kelas rendah dengan siswa kelas tinggi di SDN Bareng 3 Kota Malang dalam melakukan kegiatan belajar mandiri. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif komparatif pada siswa kelas rendah dan kelas tinggi SDN Bareng 3. Sampel diambil dengan teknik Cluster Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 104 siswa. Instrumen yang digunakan berupa angket dan analisis datanya menggunakan Uji-t untuk dua sampel bebas ( Independent Sample T-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) motivasi belajar siswa kelas rendah SDN Bareng 3 kota Malang yaitu sebanyak 23 siswa (44,23 %) memiliki motivasi sangat tinggi untuk melakukan kegiatan belajar mandiri, sebanyak 26 siswa (50 %) memiliki motivasi tinggi untuk melakukan kegiatan belajar mandiri, dan sebanyak 3 siswa (5,76 %) memiliki motivasi sedang untuk melakukan kegiatan belajar mandiri; (2) motivasi belajar siswa kelas tinggi SDN Bareng 3 kota Malang yaitu sebanyak 8 siswa (15,38 %) memiliki motivasi sangat tinggi untuk melakukan kegiatan belajar mandiri, sebanyak 40 siswa (76,92 %) memiliki motivasi tinggi untuk melakukan kegiatan belajar mandiri, dan sebanyak 2 siswa (3,85 %) memiliki motivasi sedang untuk melakukan kegiatan belajar mandiri; (3) ada perbedaan motivasi belajar siswa kelas rendah dan kelas tinggi dalam melakukan kegiatan belajar mandiri yang dibuktikan dengan hasil thitung sebesar 2,165 > nilai ttabel sebesar 1,980 dan nilai signifikansi sebesar 0,33 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, hendaknya: (1) guru menciptakan suasana belajar di sekolah yang merupakan pengalaman menyenangkan sehingga siswa tertarik untuk terus belajar meskipun tanpa kehadiran guru, (2) orang tua hendaknya menciptakan suasana belajar dirumah yang menyenangkan (3) peneliti lain dapat melanjutkan penelitian dengan mengadakan penelitian serupa yang lebih khusus dengan jumlah subyek yang lebih banyak dan luas.

Isolasi minyak atsiri dari bunga sirih (Piper betle Linn), karakterisasi dan identifikasi komponen-komponennya dengann GC-MS / Maria Florentina Bria

 

Kata-kata kunci: isolasi, minyak atsiri, bunga sirih. Sirih merupakan jenis tanaman yang merambat pada batang pohon lain. Bagian yang paling bermanfaat dari tanaman sirih adalah daunnya yang mempunyai aroma dan rasa yang pedas. Daun sirih biasanya digunakan untuk menginang dan dimanfaatkan juga dalam dunia pengobatan. Hal ini karena sirih mengandung senyawa aktif khususnya minyak atsiri. Minyak atsiri banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain daun, bunga sirih juga mempunyai aroma dan rasa yang mirip seperti daun sirih. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengisolasi, mengkarakterisasi dan mengidentifikasi komponen-komponen penyusun minyak atsiri dari bunga sirih. Penelitian ini bersifat eksperimen laboratories, meliputi persiapan sampel yang merupakan bunga sirih basah dan bunga sirih yang dikeringkan selama ±1 minggu di bawah sinar matahari. Setelah itu sampel diisolasi minyak atsirinya dengan menggunakan metode destilasi uap-air. Minyak atsiri yang dihasilkan dihitung rendemennya, dikarakterisasi yang meliputi massa jenis, indeks bias dan uji kelarutan dalam beberapa pelarut, serta diidentifikasi lima komponen utamanya dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak atsiri bunga sirih basah sebesar 0,150%, sedangkan rendemen minyak atsiri bunga sirih kering sebesar 0,106%. Karakter dari minyak atsiri bunga sirih basah adalah berwarna kuning dan lebih jernih, massa jenisnya 0,939 g/mL dan indeks bias pada suhu 20 °C adalah 1,496781. Karakter dari minyak atsiri bunga sirih kering adalah berwarna kuning dan lebih keruh, massa jenisnya 0,933 g/mL dan indeks bias pada suhu 20 °C adalah 1,495850. Kedua minyak tersebut mempunyai bau sirih yang khas serta larut dalam pelarut alkohol, kloroform dan KOH alkoholis. Hasil identifikasi lima komponen utama minyak atsiri bunga sirih basah adalah copaene (9,39%), caryophyllene (12,89%), ledene (9,43%), delta cadinene (7,09%) dan 4-alil-1,2-diasetoksibenzena (6,77%) . Lima komponen utama minyak atsiri bunga sirih kering adalah copaene (8,01%), caryophyllene (11,28%), germacrene-d (11,99%), ledene (9,30%) dan 4-alil-1,2-diasetoksibenzena (6,05%).

Hubungan kemampuan memahami penggunaan tanda baca dengan kemampuan menulis cerita siswa kelas IV SDN di Gugus V Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Falistya Roisatul Mar'atin Nuro

 

Keywords: ability to understand, use punctuation, writing stories, Elementary School Ability to understand and use language in every aspect of life is the goal of teaching Indonesian language. In the teaching of Indonesian, there are four aspects that must be mastered. The fourth aspect of the skills in question are listening skills, speaking skills, reading skills and writing skills. Where the four skills are related to one another, and can not be separated. Writing skills are very important skill in life, is not only important in the life of education, but also very important in people's lives. Writing skills are important because it is one of the language skills to be possessed by students. By writing students can reveal or express ideas or opinions, thoughts and feelings they have. writing is a language skill that is used to communicate indirectly, not face to face with others. Writing is also an activity that produksif and expressive. The issue that be reviewed of this study were (1) how the student's ability class IV group V district Karangploso the use of punctuation, (2) how the student's ability class IV group V district. Karangploso in writing the story, (3) Is there any connection with the ability to use punctuation story writing skills of students in the class IV group V district. Karangploso. The purpose of the study are generally divided into three, there are (1) describes the ability to understand the use of punctuation. (2) Describe the ability to write stories. (3) describes the relationship between the ability to use punctuation with the ability to write stories. This research uses descriptive correlative design. Population is all students in class IV group V district. Karangploso. Malang Regency. This study did not use samples because the number of population under 100, then all members of the population involved in this study. Based on the analysis of data obtained information that a student's ability to use punctuation is generally considered sufficient (46%). Students' skills in writing the story is quite (67%). There is a significant relationship between the ability to use yag punctuation with the ability to write stories. It is evident that the value of the correlation coefficient r = 0.345. This means that the hypothesis that there is a use of punctuation skills with ability to write acceptable stories.

Hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan pada siswa kelas IV SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen Kota Malang / Galih Santyagie

 

Kata Kunci : membaca pemahaman, menceritakan kembali isi bacaan, sekolah dasar Kemampuan membaca pemahaman adalah kesanggupan siswa untuk memahami suatu bacaan yang meliputi kesanggupan memahami makna kata, makna kalimat, isi pokok paragraf, dan isi bacaan. Kemampuan membaca pemahaman sangat penting dalam menceritakan kembali isi bacaan. Untuk itu diperlukan kemampuan memahami bacaan untuk diceritakan kembali isi bacaan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) tingkat kemampuan siswa kelas IV SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen kota Malang dalam memahami bacaan, (2) tingkat kemampuan siswa kelas IV SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen kota Malang dalam menceritakan kembali isi bacaan, dan (3) ada tidaknya hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelas IV SDN Bareng 1 kecamatan Klojen kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa SDN Bareng 1 kecamatan Klojen kota Malang yang berjumlah 65 siswa sehingga disebut sampel total. Data dikumpulkan menggunakan tes tulis untuk mengungkap tingkat kemampuan membaca pemahaman dan menceritakan kembali isi bacaan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan korelasional yang menggunakan teknik korelasi product moment. Instrumen sebelum digunakan untuk mengumpulkan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil analisis validitas dan reliabilitas semua soal dinyatakan valid dan reliabel. Hasil analisis deskriptif terhadap kemampuan membaca pemahaman menunjukkan rata-rata 73,14, dengan 30 siswa nilainya di bawah rata-rata dan 35 siswa nilainya di atas rata-rata. Nilai minimum membaca pemahaman siswa sebesar 38,00 ,sedangkan nilai maksimum sebesar 98. Sedangkan untuk menceritakan kembali isi bacaan menunjukkan rata-rata sebesar 67,62, dengan 29 siswa nilainya dibawah rata-rata dan 36 siswa nilainya di atas rata-rata. Nilai minimum menceritakan kembali isi bacaan sebesar 25,00 , sedangkan nilai maksimum sebesar 95. Analisis korelasi dengan jumlah 65 siswa dan taraf signifikansi 1% menunjukkan rhitung > rtabel (0,611>0,317). Menurut ketentuan tabel nilai indeks koefisien korelasi rhitung penelitian sebesar 0,611 termasuk dalam kategori korelasi yang tinggi. Kesimpulannya terjadi korelasi yang positif dan signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan. Berdasarkan temuan hasil penelitian, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Kemampuan membaca pemahaman hendaknya dilatih sejak dini karena pelajaran membaca bermanfaat untuk pelajaran lain, (2) Kemampuan menceritakan kembali isi bacaan juga bisa dilatih sejak dini agar siswa bisa melatih daya ingatnya bukan hanya dalam pelajaran bahasa indonesia saja tetapi juga pelajaran yang lain.

Sistem antrian pasien pada loket rumah sakit berbasis komputer / Ahmad Furqon Almasih

 

Kata kunci: antrian, pasien, loket, delphi. Selama ini pasien dalam mengantri untuk memeriksakan diri pada dokter, harus mendaftar dahulu di loket dan kemudian menunggu perawat untuk mendata biodata pasien.Setelah pendataan, perawat memanggil pasien satu persatu sesuai dengan nomor antrian.Karena hal tersebut terlalu lama, maka diperlukan alat untuk mengatur suatu antrian sehingga lebih menghemat waktu dan membuat tugas perawat lebih efisien dan efektif dalam membantu tugas dokter.Dengan alat ini, saat pasien mendaftar maka perawat hanya perlu memasukkan nomor identitas pasien dan mengatur antrian pasien tersebut pada ruang periksa yang sesuai dengan dokter yang dirujuk.Selain itu, pasien dapat melihat nomor dan jumlah antrian.Sehingga pasien dapat memperkirakan waktu antrian. Prinsip kerja dari sistem secara keseluruhan yaitu: Pasien mendaftar pada operator atau perawat di loket. Maka pasien mendapatkan kartu anggota yang berisi nomor identitas pasien.Setelah pasien memiliki nomor identitas, operator memasukkan nomor identitas pasien pada komputer untuk mengetahui di ruang periksa mana pasien harus mengantri.Pasien didaftarkan dalam antrian.Kemudian pasien mendapat kertas nomor antrian.Pasien menunggu antrian di ruang tunggu.Pergantian antrian ditandai dengan tampilan nomor pada seven segment dan tampilan suara pada pengeras suara.Waktu dimana pasien mendapat giliran memeriksakan diri pada dokter adalah ketika pasien dipanggil dan ditampilkan nomor antriannya.Setelah selesai, pasien kembali ke loket untuk menyelesaikan biaya administrasi. Sistem Antrian Pasien Rumah Sakit Berbasis Komputer ini menggunakan bahasa pemrograman delphi 7. Sistem ini dirancang untuk digunakan pada tiga ruang periksa yang terdapat seorang dokter pada tiap ruangnya.Kemudian, dibutuhkan sebuah loket untuk mengoperasikan alat yang sekaligus sebagai tempat pendaftaran, pengambilan nomor antrian, pengaturan antrian pada tiap ruang periksa dan pembayaran administrasi. Total jumlah antrian pada masing-masing ruang periksa adalah 99. Jika jumlah antrian melebihi 99 maka akan dihitung ulang mulai dari 1 kembali dan seterusnya. Indikator pergantian antrian ditandai dengan tampilan suara dan tampilan nomor. Alat yang digunakan untuk menampilkan suara adalah pengeras suara sedangkan alat yang digunakan untuk menampilkan nomor adalah seven segment. Maka dibutuhkan sebuah pengeras suara dan tiga buah seven segment dua digit. Suara dan tampilan nomor antrian tersebut mencacah naik dimulai dari 1 sampai dengan 99 pada tiap ruang .Mouse dan keyboard digunakan sebagai masukan sistem.Pengeras suara, seven segment, dan printer digunakan sebagai keluaran sistem.Mouse digunakan untuk memasukan data-data pada program, mengaktifkan printer untuk kertas nomor antrian sedangkan keyboard digunakan untuk mengaktifkan suara pada pengeras suara dan tampilan nomor pada seven segment. Dalam pengembangan selanjutnya dapat dilakukan beberapa hal untuk kesempurnaan pada Sistem Antrian Rumah Sakit Berbasis Komputer ini, yaitu:Agar data yang ada pada database tidak dapat diubah oleh pihak yang tidak berhak, database sebaiknya diberi password. Pada perkembangan berikutnya, diharapkan data-data pada database ditambah hingga lebih detail dan juga dapat merekam catatan medis pasien.

Manajeman sarana TIK sebagai alat bantu pembelajaran di SMP Negeri 1 Tulungagung / Andika Tri Cahyanti

 

Kata Kunci : manajemen, sarana, teknologi informasi dan komunikasi, pembelajaran. Sarana pembelajaran merupakan salah satu faktor pendidikan yang keberadaannya sangat mutlak dalam proses pendidikan. Proses pembelajaran akan semakin efektif dan berkualitas bila ditunjang dengan sarana pembelajaran yang memadai. Fasilitas yang tersedia turut menentukan pemilihan metode pembelajaran. Dengan demikian, tanpa adanya sarana dapat dikatakan proses pembelajaran kurang berarti. Ketersediaan sarana pembelajaran yang berbasis TIK menjadi komponen penting yang harus dikembangkan di sekolah, terutama pada sekolah-sekolah yang sudah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), begitu pula di SMP Negeri 1 Tulungagung ini. Akan tetapi sarana pembelajaran, terutama sarana TIK yang telah tersedia tidak akan dapat dipergunakan secara efektif apabila tidak didukung oleh manajemen yang baik dan cermat. Untuk memaksimalkan penggunaan sarana pembelajaran secara optimal maka perlu adanya suatu manajemen untuk mengelola dan mengaturnya agar tujuan pendidikan yang dirumuskan dapat tercapai dengan sempurna. Fokus penelitian ini adalah (1) manajemen sarana dan prasarana TIK sebagai alat bantu pembelajaran di SMP Negeri 1 Tulungagung yang meliputi: pengadaan, pemakaian, pemeliharaan, dan penghapusan sarana TIK; dan (2) faktor-faktor yang menjadi penghambat dan pendukung dalam manajemen sarana dan prasarana TIK sebagai alat bantu pembelajaran di SMP Negeri 1 Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan metode survei. Sekolah yang dipilih menjadi lokasi penelitian adalah SMP Negeri 1 Tulungagung yang sudah berstatus RSBI. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) studi dokumentasi. Sumber data yang dipilih adalah: Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana, Wakil Kepala Sekolah Urusan RSBI, dan guru mata pelajaran TIK. Tahap analisis data yang dilakukan meliputi 3 tahap yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji dengan trianggulasi sumber data dan trianggulasi teknik pengumpulan data. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) manajemen sarana dan prasarana TIK, meliputi: (a) proses pengadaan sarana dan prasarana TIK di SMP Negeri 1 Tulungagung meliputi kegiatan: perencanaan pengadaan sarana dan prasarana TIK, pengadaan sarana dan prasarana TIK, inventarisasi sarana dan prasarana TIK; (b) pemakaian sarana TIK, meliputi: petunjuk teknis khusus dan penyesuaian pemakaian sarana dan prasarana TIK dengan jadwal mengajar tiap guru; (c) pemeliharaan sarana dan prasarana TIK, meliputi: pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala; (d) penghapusan sarana dan prasarana TIK, meliputi: syarat sarana dan prasarana TIK yang perlu dihapus dan prosedur penghapusan sarana dan prasarana TIK di SMP Negeri 1 Tulungagung; dan (2) faktor-faktor yang menjadi kendala dalam manajemen sarana dan prasarana TIK sebagai alat bantu pembelajaran di SMP Negeri 1 Tulungagung antara lain: ketersediaan anggaran, daya listrik yang semakin meningkat tiap tahun, dan keterbatasan pihak supplier yang menjalin kerjasama; sedangkan faktor-faktor yang mendukung antara lain: dukungan dari stakeholder, status RSBI yang disandang oleh sekolah, kemampuan siswa yang tinggi tentang TIK, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, kemampuan tenaga pendidik yang unggul, dan adanya dukungan yang positif dari guru.

Pembelajaran melalui pemecahan masalah untuk mencapai ketuntasan belajar keliling dan luas daerah lingkaran siswa kel;as VIII SMP Kartika IV-9 Malang / Sri Rahayuningsih

 

Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D. dan (II) Dr. Makbul Muksar, M.Si. Kata Kunci : pembelajaran pemecahan masalah, ketuntasan belajar Pemecahan masalah merupakan aspek penting dalam belajar matematika. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada materi keliling dan luas daerah lingkaran masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan usaha yang serius untuk membantu siswa menguasai keliling dan luas daerah lingkaran melalui pembelajaran pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) rancangan pembelajaran melalui pemecahan masalah untuk mencapai ketuntasan belajar keliling dan luas daerah lingkaran, (2) pencapaian ketuntasan belajar keliling dan luas daerah lingkaran melalui pembelajaran tersebut, (3) respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIIIA SMP Kartika IV-9 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran melalui pemecahan masalah yang terdiri dari memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dan memeriksa kembali dapat mencapai ketuntasan belajar keliling dan luas daerah lingkaran dengan ketuntasan klasikal pada siklus I adalah 87,5% dan pada silkus II adalah 90%. Respon siswa terhadap pembelajaran ini sangat positif yang berarti bahwa kemauan siswa untuk belajar mandiri, keyakinan siswa terhadap kemampuan menguasai materi dan disiplin siswa dalam belajar matematika muncul. Sehingga disarankan kepada para guru untuk memakai pembelajaran tersebut dalam mereka mengajar.

Penerapan gerak senam dan lagu untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak usia dini di TK-PAUD Gaya Baru, Desa Sumberrejo, Gedangan-Malang / Dwi Erni Wijayanti

 

Kata Kunci: Gerak senam dan lagu, kemampuan motorik kasar, anak usia dini Pendidikan anak usia dini pada hakekatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak serta kemampuan fisik motoriknya. Namun kenyataannya menunjukkan, bahwa kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK-PAUD Gaya Baru masih rendah, hal ini disebabkan karena guru kurang begitu memperhatikan perkembangan fisik motorik yang dibutuhkan anak. Dengan demikian, diperlukan suatu macam strategi dalam meningkatkan kemampuan motorik kasar yaitu dengan penerapan gerak senam dan lagu. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan langkah-langkah gerak senam dan lagu untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak usia dini di TK-PAUD Gaya Baru, Desa Sumberejo-Malang, serta dengan penerapan gerak senam dan lagu diharapkan kemampuan motorik kasar anak usia dini di TK-PAUD Gaya baru, desa sumberrejo-Malang meningkat. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang digunakan untuk memperoleh informasi dan gambaran tentang aktivitas dan hasil belajar anak selama pembelajaran yang dilakukan secara bersiklus. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok A berjumlah 25 anak yang terdiri dari 13 anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Instrumen yang digunakan pedoman observasi penilaian, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dihitung dari nilai rata-rata dan aspek kemampuan motorik kasar, serta nilai rata-rata ketuntasan belajar dari keseluruhan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan gerak senam dan lagu dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK-PAUD Gaya Baru, desa Sumberrejo, Gedangan-Malang. Peningkatan kemampuan motorik kasar ditunjukkan dengan pencapaian ketuntasan klasikal sebesar 55,5% pada siklus 1 menjadi 81,5 % pada siklus 2. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan melalui penerapan gerak senam dan lagu, kualitas yang diperoleh anak mampu menirukan senam fantasi, mampu mengekspresikan diri dalam gerakan bervariasi, mampu menari/senam menurut musik yang didengar dan dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK-PAUD Gaya Baru, Gedangan-Malang. Saran bagi guru dapat memberikan inspirasi lebih bervariatif lagi dalam menciptakan gerakkan-gerakkan senam dan lagu, dan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan kemampuan yang lainnya yaitu, kemampuan moral, sosial kemandirian, motorik halus, sehingga mendapatkan temuan baru yang lebih signifikan.

Penerapan permainan kartu huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan I Tamanan Trenggalek / Ni Kadek Aris Rahmadani

 

Kata kunci: permainan kartu huruf, membaca permulaan, kelompok B Perkembangan berbahasa anak usia 4-6 tahun sangat berpengaruh terhadap perkembangan membaca permulaan. Adanya tuntutan dari lingkungan menyebabkan tugas utama TK berubah, karena banyak orang tua yang menginginkan anak usia TK sudah mampu membaca. Selain itu, banyak SD yang proses penerimaan siswa baru melalui tes membaca. Masa yang tepat dan terbaik untuk belajar membaca anak pada usia 4-6 tahun. Kegiatan pembelajaran melalui permainan sangat mempengaruhi kemampuan anak dalam menerima pengetahuan yang diberikan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa terdapat 4 anak yang sudah mampu membaca. Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan permainan kartu huruf. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: (1) bagaimanakah penerapan permainan kartu huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan I Tamanan Trenggalek, 2) apakah melalui permainan kartu huruf dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan I Tamanan Trenggalek. Subyek dalam penelitian ini adalah anak-anak kelompok B sebanyak 11 anak, yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 8 anak perempuan. Penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK meliputi empat tahapan, yaitu: 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting, dan 4) revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, lembar penilaian anak, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data sebagai berikut, 1) reduksi data, 2) paparan data, dan 3) penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan permainan kartu huruf dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak. Anak mampu membedakan huruf vokal dan konsonan sesuai dengan kata dan benda yang memiliki suara/ huruf awal yang sama ada sudah benar serta keaktifan dan partisipasi anak meningkat. Hasil dari siklus I, anak yang mampu membaca sebanyak 6 anak dan siklus II semua anak sudah mampu membaca. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diberikan oleh peneliti adalah Bagi Kepala Sekolah dan guru agar dapat menerapkan permainan kartu huruf yang meningkatkan kemampuan membaca permulaan kelompok B. Bagi Penilik PAUD agar mengembangkan pelatihan-pelatihan permainan kartu huruf kepada Kepala Sekolah dan guru-guru TK.

Penggunaan internet sebagai media pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 Kota Malang / Efi Sutrisnawati

 

Kata Kunci: Internet, Media Pembelajaran, IPS SD. Hasil wawancara dan observasi pada pelaksanaan PPL 1 di SDN Sawojajar 4 diketahui bahwa guru sering tidak menggunakan media saat pembelajaran mata pelajaran IPS dikarenakan guru kesulitan dalam menentukan dan mengadakan media pembelajaran. Dari wawancara peneliti dengan guru kelas IV tanggal 18 Januari 2012, diketahui bahwa metode yang umum digunakan guru dalam pembelajaran adalah ceramah. Tanggal 21 Januari 2012 peneliti melihat langsung pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas IV dengan menggunakan metode ceramah. Siswa terlihat bosan dan berbicara dengan temannya. Pernyataan tersebut terbukti dengan rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 tahun ajaran 2011/2012. Hasil analisis dokumentasi hasil ujian akhir semester I menunjukkan 17 siswa dari 37 siswa berada di bawah KKM yang ditentukan yaitu 60. Hasil wawancara tanggal 18 Januari 2012 dengan guru kelas IV, peneliti mengetahui saat pembelajaran tentang “mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya”, guru hanya meminta siswa melihat bahan ajar yang dimilikinya. Banyak media yang bisa dimanfaatkan guru tetapi tidak digunakan contohnya adalah handphone milik guru, sepeda milik siswa, sepeda motor milik guru, lonceng manual maupun lonceng elektronik sekolah, enam buah komputer walaupun belum berada pada ruangan khusus, bahkan di sekolah ada layanan akses ke dunia global yaitu internet yang biasa digunakan petugas tata usaha sekolah untuk memperlancar kinerjanya. Hasil wawancara peneliti dengan siswa kelas IV tanggal 23 Januari 2012, mereka tidak asing dengan internet walaupun belum pernah menggunakan sarana tersebut dalam pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan internet sebagai media pembelajaran IPS di kelas IV SDN Sawojajar 4 Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 Kota Malang selama menggunakan internet sebagai media pembelajaran, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 Kota Malang selama menggunakan internet sebagai media pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting, dan 4) revise plan. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus dan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan internet sebagai media pembelajaran IPS kelas IV di SDN Sawojajar 4 Kota Malang dapat dilaksanakan dengan baik. Persentase kesesuaian RPP yang dibuat dan pelaksanaan pembelajaran siklus 1 sebesar 86,67%, pada siklus 2 sebesar 98,34%, dan pada siklus 3 mencapai 100%. Pembelajaran pada siklus 1 ke siklus 2 meningkat sebesar 11,67% dan pada siklus 2 ke siklus 3 meningkat sebesar 1,66%. Penggunaan internet sebagai media pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Skor rata-rata aktivitas siswa pada siklus 1 adalah 68,47 menjadi 83,78 pada siklus 2, dan 96,28 pada siklus 3. Peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 20,31dan 12,5 dari siklus 2 ke siklus 3. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari rata-rata 69,12 pada siklus 1 menjadi 87,3 pada siklus 2 dan 95,88 pada siklus 3. Peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 18,18 pada siklus 1 ke siklus 2 dan peningkatan dari siklus 2 ke siklus 3 sebesar 8,58. Persentase ketuntasan belajar klasikal 86,5% (32 siswa) pada siklus 1 dan 100% (37 siswa) dicapai pada siklus 2 dan siklus 3. Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut: (1) Hasil observasi peggunaan internet sebagai media pembelajaran IPS pada siklus 1, siklus 2, sampai siklus 3 selalu mengalami peningkatan. (2) Penggunaan internet sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi pokok perkembangan teknologi. (3) Penggunaan internet sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi pokok perkembangan teknologi.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Talangsuko 02 Turen / Wina Wahyuni Wina

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Group Investigation, Pembelajaran, IPA. Pembelajaran harus dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Pembelajaran kooperatif model Group Investigation merupakan model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan tersebut karena selain menciptakan dinamika sosial, siswa juga melakukan investigasi. Berdasarkan observasi di SDN Talangsuko 02 Kecamatan Turen Kabupaten Malang, pembelajaran cenderung monoton dan tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan pendapatnya. Kegiatan siswa terlihat pasif, hanya mencatat apa yang disampaikan oleh guru dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini menyebabkan siswa kurang bisa membangun konsep pengetahuannya sendiri dan bertukar pikiran dengan guru maupun teman sekelasnya sehingga pembelajaran IPA dari segi proses dan hasil masih belum maksimal. Hasil belajar yang diperoleh siswa pun belum mencapai KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajara kooperatif model Group Investigation; (2) mendeskripsikan aktivitas siswa; (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Talangsuko 02 Kecamatan Turen Kabupaten Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 20 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK yang meliputi empat tahap yaitu: 1) planning, 2) acting 3) observing, 4) reflecting dan 4) revise plan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Group Investigation di kelas V SDN Talangsuko 02 Kecamatan Turen Kabupaten Malang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA. Dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti dengan tercapainya indikator dalam RPP dengan baik. Pada setiap siklus indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat yaitu 86.23% pada siklus I dan meningkat menjadi 88,57% pada siklus II. Penerapan model Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini terbukti dengan skor rata-rata siswa pada siklus I yang mencapai 73,27 dan meningkat pada siklus II dengan memperoleh skor rata-rata 78,05. Selain aktivitas juga dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yang mendapat nilai 80,27 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 45% meningkat menjadi 83,33 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 85% pada siklus II. Hal ini berarti dengan menerapkan model Group Investigation dapat meningkatkan kualitas pembelajaran siswa pada pembelajaran IPA di kelas V SDN Talangsuko 02 kecamatan Turen Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk membentuk kelompok yang terdiri dari tim penyaji dan pembanding sehingga pada tahap presentasi tugas akhir siswa diharapkan lebih aktif dalam mengemukakan pendapat/pertanyaan da tidak memakan waktu cukup lama.

Pemanfaatan sumber belajar lingkungan sekitar sekolah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Gawang 1 Kebonagung Pacitan / Heru Wironoto

 

Kata Kunci: Lingkungan Sekitar Sekolah, Aktivitas dan Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi pembelajaran IPS di kelas IV SDN Gawang 1 Kebonagung Pacitan. Diperoleh fakta bahwa siswa kurang tertarik pada pembelajaran, siswa terlihat pasif, merasa bosan selama pembelajaran, dan rendahnya hasil belajar siswa. Hal tersebut disebabkan karena dalam pembelajaran guru tidak menggunakan sumber belajar dalam pembelajaran dan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga guru berperan lebih aktif selama pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar pada materi perkembangan teknologi produksi dan komunikasi (2) peningkatan aktivitas siswa pada materi teknologi produksi dan komunikasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar, (3) peningkatan hasil belajar siswa pada materi perkembangan teknologi produksi dan komunikasi dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar siswa Kelas IV SDN Gawang 1 Kebonagung Pacitan. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis Taggart dengan III siklus. Subjek penelitian siswa kelas IV SDN Gawang 1 Kebonagung Pacitan, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3) refleksi, (4) perbaikan rencana. Dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, tes, dokumentasi dan dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kualitaitif. Hasil penelitian: (1) pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar dapat dilaksanakan dengan baik, (2) pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa hal ini ditandai dengan rata-rata aktivitas siswa siklus I sebesar 72,50, pada siklus II sebesar 79,00 dan meningkat pada siklus III dengan nilai 83,50, (3) pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaranIPS kelas IV SDN Gawang 1 Kebonagung Pacitan hal ini ditandai dengan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I, siklus II dan siklus III, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan 64,5 dengan ketuntasan belajar 22,8%, pada siklus I sebesar 71,05, dari 22 siswa 11 siswa mendapat nilai cukup dan baik, sedangkan 11 siswa mendapat nilai cukup dan kurang diantaranya 1 orang siswa mendapat nilai kurang, dengan ketuntasan belajar 50%, pada siklus II sebesar 77,04 dari 22 siswa 16 siswa mendapat nilai cukup dan baik, sedangkan 6 siswa mendapat nilai cukup, dengan ketuntasan belajar 72,73% dan meningkat pada siklus III sebesar 81,13 dari 22 siswa 20 siswa mendapat nilai cukup dan baik, sedangkan 6 siswa mendapat nilai cukup, dengan ketuntasan belajar 90,90%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Gawang 1 Kebonagung Pacitan. Disarankan agar guru dapat melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, menciptakan suatu variasi pembelajaran yaitu dengan cara penggunaan sumber belajar untuk menghindari kejenuhan siswa, lebih giat memantau diskusi kelompok agar supaya tidak bicara di luar materi pelajaran dan bercanda dengan temannya, serta bagi peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan cara meminimalisir siswa atau kelompok yang ramai selama pembelajaran di luar kelas.

Penerapan model pembelajaran discovery untuk membenahi miskonsepsi struktur tumbuhan di kelas IV SD Muhammadiyah Lawang / Abdul Rochman Amrullah

 

Kata Kunci: pembelajaran discovery, miskonsepsi, struktur tumbuhan Miskonsepsi adalah kesalahan pemahaman individu terhadap suatu konsep. Di sekolah, miskonsepsi pada siswa tidak mudah dihilangkan dengan metode ceramah. Bahkan metode ceramah dapat menimbulkan miskonsepsi baru jika informasi yang diberikan tidak sesuai dengan konsep ilmiah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup konsepsi awal siswa tentang struktur tumbuhan, pelaksanaan pembelajaran dengan model discovery, aktivitas siswa, dan konsepsi akhir siswa tentang struktur tumbuhan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan McTaggart. Menurut Kemmis dan McTaggart, pelaksanaan tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi empat alur (langkah): (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi; dan (4) refleksi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, konsepsi awal siswa tentang struktur bagian tumbuhan sangat beragam. Banyak konsepsi awal siswa yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah yang dapat dilihat dari hasil tanya jawab dan tes awal. Kesalahan konsep tersebut terdapat pada bagian-bagian akar, jenis-jenis batang, jenis-jenis daun, struktur tulang daun, jenis-jenis bunga, dan bagian-bagian bunga. Kedua, pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model Discovery, berangkat dari pengetahuan awal siswa, guru meminta siswa untuk menemukan konsep materi melalui percobaan dan pengamatan secara mandiri dengan kelompoknya masing-masing, dan pembelajaran tersebut juga terpusat pada siswa. Ketiga, Aktivitas siswa dengan model Discovery sangat tepat dikarenakan mampu menekankan siswa kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna, dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Keempat, konsepsi akhir siswa tentang struktur bagian tumbuhan setelah diterapkan model Discovery mampu dibenahi dan hal ini juga berpengaruh pada hasil belajar siswa. Berdasarkan tes yang diberikan pada siswa hasilnya telah diketahui bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman konsep tentang struktur bagian tumbuhan, yaitu akar, batang, daun, dan bunga.

Peningkatan kemampuan fisik motorik anak kelompok B melalui senam fantasi di TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung Malang

 

Kata Kunci: Senam fantasi, kemampuan fisik motorik kasar. Latar belakang penelitian ini berawal dari keinginan penulis untuk meneliti pengembangan pembelajaran bidang fisik motorik anak dengan rentang usia 5-6 tahun. Pergerakan anggota tubuh anak mempunyai banyak manfaat untuk pertumbuhan aspek-aspek kemampuan anak lainnya seperti aspek perkembangan kognitif dan aspek perkembangan sosial emosional anak. Senam fantasi merupakan salah satu kegiatan fisik motorik kasar yang sering dilakukan di TK, namun masih jarang dilakukan penelitian tentang senam fantasi. Penelitian ini menggunakan rumusan masalah, yaitu: (1) bagaimanakah penerapan senam fantasi untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik kasar anak kelompok B di TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung, (2) apakah penerapan senam fantasi dapat meningkatkan kemampuan fisik motorik kasar pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas model Kemmis & Taggart yang meliputi : perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian dilakukan di TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung Malang pada anak kelompok B yang berjumlah 20 anak, terdiri dari 8 anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi penilaian dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dihitung dari nilai rata-rata.dari aspek kemampuan fisik motorik dan nilai rata-rata persentase dari keseluruhan komponen penilaian. Pemerolehan data diklasifikasi dan dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Hasil penelitian didapatkan bahwa (1) penerapan senam fantasi dengan latihan pendahuluan, latihan inti dan latihan penenangan dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik kasar anak, (2) penerapan senam fantasi dapat meningkatkan kemampuan fisik motorik anak Kelompok B TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung Kabupaten Malang dari 74 % pada siklus I meningkat menjadi 82 % pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) kemampuan fisik motorik kasar anak kelompok B di TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung Malang mengalami peningkatan melalui senam fantasi, (2) penerapan senam fantasi dapat meningkatkan kemampuan fisik motorik kasar anak kelompok B di TK Dharma Wanita Sukolilo Jabung. Disarankan bagi guru, agar menerapkan senam fantasi dalam pengembangan fisik motorik anak kelompok B dengan lebih menarik lagi. Bagi lembaga TK/RA dapat melatih guru dalam melaksanakan senam dengan memperkaya variasi pembelajaran lebih bervariatif lagi. Bagi peneliti lain diharapkan menggunakan teknik senam fantasi dengan bidang kemampuan yang lainnya, seperti: kemampuan sosial emosional sehingga mendapatkan temuan baru dan yang lebih signifikan.

Pengembangan desain pembelajaran IPA berbasis karakter untuk siswa kelas V SDN Wonokoyo I Kota Malang / Faridatul Ika Maylinda

 

Penerapan model pembelajaran prodeo untuk meningkatkan kemampuan bercerita pengalaman anak kelompok B RA. Nurul Huda Cemandi Kersikan Bangil / Ninik Masruro

 

Keyword : Model Study of Prodeo, Interest Tell a story Experience. Child majority of RA. Nurul Huda Cemandi Kersikan Bangil less can tell a story experience better. Pursuant to observation on 29 March until 5 April 2012 ( before conducting action ), result of assessment indicate that there is 4 child obtaining biggest individual value and 14 child obtain get value less than 64% for a while by classical its interest equal to 22% and counted 88% still not yet reached maximal interest. Besides less the existence of conducted by perception is children to environments, so that in telling a story experience still less is varying. This research aim to for the 1) Description of applying of model study of Prodeo in improving ability tell a story about experience of Group child of B RA Nurul Huda Bangil Semester of II School Year 2011 / 2012 2) Ability Description tell a story, namely by strive improvement This research represent classroom action research. This research is done by collaborator in course of study of reality in class which in the form of school activity, to improve repair the condition of done study. This research subject is 18 child by using is technical of data collecting, research instrument the used is observation sheet, In research of this class action consist of two cycle. Each every cycle consist of planning, action, and observation of reflection. From result of this research is known by that there is him of is make up of ability tell a story about experience of child with result of research at cycle of 72%, continued at cycle of II become 94%, so that experience of improvement 24%. This matter indicate that model study of prodeo can improve ability tell a story experience of child of RA. Nurul Huda Bangil. Pursuant to result of data analysis, taken by conclusion that Applying of model study of prodeo can improve interest tell a story about experience of group child of B RA. Nurul Huda Bangil seen condition and situation. So whenever use model study of prodeo suggested have to see the condition of weather and child, and also intertwining of good coordination between related element.

Penerapan metode bermain kartu bilangan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Khodijah Baujeng - Beji - Pasuruan / Nur Kholidia

 

Kata kunci : Kognitif, Metode Bermain TK Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan di TK Al-Khodijah Baujeng Beji Pasuruan kemampuan kognitif anak masih rendah dikarenakan pembelajaran yang diterapkan kurang bervariasi. Penelitian ini menggunakan rumusan masalah : 1) Bagaimanakah penerapan metode bermain kartu bilangan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Khodijah Baujeng Beji Pasuruan, 2) Apakah penerapan metode bermain kartu bilangan dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Khodijah Baujeng - Beji - Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggart. Penelitian yang dilakukan melalui dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah anak-anak kelompok A sebanyak 20 anak pada semester II tahun pelajaran 2011-2012 di TK Al-Khodijah Baujeng Beji Pasuruan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dengan pendekatan presentase. Instrument penelitian berupa lembar observasi anak dan lembar penilaian kemampuan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain kartu bilangan dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Khodijah Baujeng Beji Pasuruan. Hasil analisis data pada siklus I mencapai nilai rata-rata 67% dan pada siklus II mencapai rata-rata 84,5%, maka penerapan metode bermain kartu bilangan dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Khodijah Baujeng Beji Pasuruan. Disarankan untuk guru TK agar menggunakan metode bermain kartu bilangan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Pengembangan media kalender IPS pada pembelajaran materi masa penjajahan Jepang di kelas V SDN Percobaan 1 Malang / Yuniastari, Inanahayu

 

Kata Kunci: pengembangan, media Kalender IPS, SD Kemampuan mengingat siswa dalam mengingat tanggal dan mendeskripsikan peristiwa sejarah sangat terbatas. Fakta menunjukkan bahwa daya ingat siswa kelas V SDN Percobaan 1 Malang terhadap tanggal terjadinya peristiwa sejarah dalam materi masa penjajahan Jepang masih kurang. Perlu adanya media yang bisa membantu siswa mengingat tanggal-tanggal peristiwa penting tersebut sehingga siswa mampu mendeskripsikan peristiwa masa penjajahan Jepang berdasarkan tanggalnya dengan benar. Tujuan penelitian pengembangan ini yang pertama adalah menghasilkan rancangan pembelajaran materi masa penjajahan Jepang dan yang kedua yaitu menghasilkan produk media Kalender IPS untuk pembelajaran materi masa penjajahan Jepang. Metodologi penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan Borg and Gall dengan modifikasi yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, perumusan materi, perancangan media, validasi prototype media oleh uji ahli dan calon pengguna, revisi produk, uji coba audiens, revisi produk, dan produk akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media telah dinyatakan sangat valid oleh ahli media, ahli materi, dan calon pengguna dengan perolehan skor masing-masing 115, 111, dan 101. Tingkat validitas ini didasarkan pada kriteria skor validitas yang dikonversikan menggunakan skala Likert. Setelah dilakukan uji coba awal dengan menggunakan subyek coba 10 siswa kelas V didapatkan bahwa media Kalender IPS juga dinyatakan efektif dengan perolehan prosentase keefektifan 87%. Dinyatakan sangat efektif pula berdasarkan kriteria ketercapaian indikator dengan skor 13, dan mencapai kriteria keefektifan media sangat valid berdasarkan hasil postes siswa, yaitu skor 89. Hasil akhirnya adalah produk media Kalender IPS yang bentuknya mengadaptasi dari standar lembar balik dengan ukuran 30 cm x 20 cm x 7,5 cm, dengan spesifikasi terdiri dari 3 saku mika kartu tanggal, kartu gambar, dan kartu deskripsi peristiwa masa penjajahan Jepang, selain itu media Kalender IPS ini juga dilengkapi perangkat lain yaitu profil media, petunjuk penggunaan bagi guru, RPP, dan naskah pendalaman materi. Karena kartu-kartu dalam media Kalender IPS ini bisa dilepas, saran bagi guru bidang studi IPS yaitu guru perlu menggunakan media ini tidak hanya pada satu materi masa penjajahan Jepang saja, guru bisa membuat sendiri kartu-kartu berdasarkan materi IPS yang diangkat dan meletakkan kartu-kartu tersebut ke dalam Kalender IPS untuk digunakan kembali.

Penerapan model pembelajaran read, ancode, annotate, ponder (REAP) terhadap peningkatan pemahaman isi bacaan pada siswa kelas IV SDN Dampit 2 Malang / Linda Pravitasari

 

Kata Kunci: Isi Bacaan, , Model Pembelajaran Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP), SD. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SDN Dampit 2 diketahui bahwa; (1) kurangnya kemampuan siswa dalam memahami isi dari suatu teks/bacaan, dan (2) kurangnya kemampuan siswa dalam merespon isi teks berdasarkan pengetahuan yang diperoleh siswa sebelumnya dengan menggunakan bahasa mereka sendiri..Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan alternatif pembelajaran yang mampu meningkatkan penguasaan atau kemampuan siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan yaitu menerapkan model pembelajaran Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) dalam meningkatkan pemahaman isi bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) pada pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pemahaman isi bacaan, (2) peningkatan pemahaman isi bacaan setelah menerapkan model pembelajaran Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) di kelas IV. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan sebanyak 2 Siklus dan setiap siklus terdiri dari 1 kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) planning, (2) akting & observing, (3) reflecting, (4) revising planning. Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SDN Dampit 2 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang dengan jumlah 27 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) terbukti melatih siswa untuk memahami isi bacaan dan menceritakan kembali isi bacaan dengan bahasa meraka sendiri sesuai dengan pengetahuannya. Berdasarkan analisis data hasil penelitian setelah diterapkan model pembelajaran Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) dalam pemahaman isi bacaan diketahui bahwa: banyaknya siswa yang telah mengalami peningkatan dari pratindakan sampai siklus II. Sebelum siklus hasil yang didapat yaitu 63.6 %. Sedangkan pada saat sudah dilakukan siklus I hasil yang didapat meningkat yaitu 80 % dan pada saat pelaksanaan siklus 2 nilai siswa semakin meningkat yaitu 95 % . Dari data-data yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) dapat meningkatkan pemahaman isi bacaan siswa kelas IV di SDN Dampit 2 Malang. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD yaitu untuk Kepala Sekolah agar memotivasi guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) .Untuk guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan bervariasi agar aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat. Untuk peneliti selanjutnya sebaiknya bisa melakukan penelitian dengan menggunakan Read, Encode, Annotate, Ponder (REAP) dengan lebih disempurnakan dalam penerapan pembelajarannya.

Penerapan model pembelajaran Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review (PQ4R) untuk meningkatkan kemampuan memahami isi cerita pada siswa kelas V SDN Karangbesuki 4 Kota Malang / Ike Eva Sovina

 

Kata Kunci: Memahami Isi Cerita, Model Pembelajaran PQ4R, SD Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas V SDN Karangbesuki 4 Malang diketahui kemampuan siswa dalam memahami isi cerita masih rendah. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca pemahaman guru tidak menggunakan model pembelajaran yang menarik bagi siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan alternatif pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa dengan menerapkan model pembelajaran PQ4R. Rumusan Masalah dari penelitian ini yaitu bagaimanakah penerapan model PQ4R pada siswa kelas V SDN Karangbesuki 4 Malang dan apakah model PQ4R dapat meningkatkan kemampuan memahami isi cerita pada siswa kelas V di SDN Karangbesuki 4 Malang. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan sebanyak 2 Siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subyek penelitian yaitu siswa kelas V SDN Karangbesuki 4 Malang yang berjumlah 31 siswa. Model PQ4R terdiri dari 4 langkah yaitu Preview (membaca sekilas), Question (membuat pertanyaan), Read (membaca), Reflect (refleksi), Recite (membuat intisari), Review (membaca intisari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PQ4R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Berdasarkan analisis data hasil penelitian setelah diterapkan model pembelajaran (PQ4R) diketahui adanya peningkatan kemampuan membaca siswa dari pratindakan sampai siklus II. Rata-rata nilai siswa pra tindakan sebesar 52,74 dengan prosentase keberhasilan 19,35 % pada siklus I rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 62,41 dengan prosentase keberhasilan 41, 93 %, setelah dilakukan perbaikan pada siklus II rata-rata nilai siswa juga mengalami peningkatan menjadi 79,83 dengan prosentase keberhasilan sebesar 83,87 %. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu model PQ4R dapat meningkatkan pemahaman isi cerita siswa kelas V SDN Karangbesuki 4 Malang. Saran yang diajukan peneliti yaitu untuk kepala sekolah agar memotivasi guru untuk menerapkan model pembelajaran yang inovatif, salah satunya yaitu model PQ4R .Untuk guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran yang bervariasi agar aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat. Untuk peneliti selanjutnya sebaiknya bisa melakukan penelitian menggunakan model PQ4R dan lebih disempurnakan dalam melaksanakan pembelajaran agar tercapai hasil yang maksimal.

Perbedaan hasil belajar penerapan metode inkuiri dalam Strategi Cooperative dengan metode Assisted Individualization (TAI) terhadap kompentensi dasar melakukan Setting Peripheral melalui sistem operasi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Sutojayan / Faris Styo Bangun

 

Kata Kunci: hasil belajar, MetodeInkuiri, Metode TAI Metode pembelajaran merupakan sesuatu hal yang harus diperhatikan agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil observasi di SMAN 1 Sutojayan diketahui hasil belajar siswa kelas X pada kompetensi dasar melakukan setting peripheral melalui sistem operasi masih rendah. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru adalah metode TAI. Namun metode pembelajaran ini kurang efektif dengan kondisi siswa dikelas. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi pasif, tidak ada persaingan antar tim, dan saling tergantungan antara siswa yang kurang pandai dengan siswa yang lebih pandai sehingga mengakibatkan pada hasil belajar siswa yang rendah. MetodeInkuiri merupakan cara mengajar dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengembangkan cara belajar aktif siswa. Pada metodeInkuiri siswa menemukan sendiri pemecahan masalah yang diberikan oleh guru sampai pada tahap “yakin”. Dengan menggunakan strategi penemuan, dan cara pembagian kelompok yang dibentuk oleh siswa sendiri akan mengubah pola belajar siswa lebih aktif dalam kelompok mereka, dikarenakan kenyamanan mereka dalam kelompok dan dapat menjadi sebuah solusi. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara penerapam metode Inkuiridalam strategi cooperative dengan metode TAI. Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan menggunakan pretest dan postest pada kedua kelas sampel. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan variabel terikat yaitu hasil belajar. Pupolasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X. Penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling kelompok cluster sehingga didapatkan kelas X-7 sebagai kelas eksperimen dan X-5 sebagai kelas kontrol dengan perimbangan dari nilai pretes dan saran dari guru TIK. Rata-rata nilai kelas kontrol waktu pretest adalah 43,04 dan postes 80,05. Sedangkan rata-rata nilai kelas eksperimen pada waktu pretest adalah 42,25 dan postest 85,82. Dari penelitian ini didapatkan hasil uji-t dua pihak data postes dengan thitung= 5,304 yang lebih besar dari ttabel= 1,99 serta derajat kebebasan 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dari hasil analisis uji-t tersebut didapatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas X pada kompetensi dasar melakukan setting peripheral sistem operasi melalui metode Inkuiridalam strategi cooperative dengan metode Team Assisted Individualization.

Efektivitas teknik stop and think untuk menurunkan perilaku off task dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar / Harmiyanto

 

Kata Kunci: teknik stop and think, perilaku off task Salah satu bentuk gangguan perilaku yang banyak dialami oleh siswa sekolah dasar adalah perilaku Off Task. Perilaku Off Task adalah tingkah laku siswa yang ”ke luar” dari konteks kegiatan pembelajaran yang relatif konstan dan mengganggu proses belajar siswa. Secara behavioral, anak sangat sulit untuk tetap berperilaku on-task, sedangkan secara kognitif siswa melakukan sesuatu tanpa dipikirkan. Stop and Think merupakan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas, terutama untuk mata pelajaran matematika dengan menggunakan empat langkah.yaitu: (1) apa masalahnya (definisi tugas); (2) apa yang dapat saya lakukan terhadap masalah ini (menemukan alternatif); (3) apa hal terbaik yang dapat saya lakukan (melakukan seleksi terhadap anternatif terbaik); (4) bagaimana hasilnya (evaluasi). Tujuan penelitian ini untuk menguji efektivitas teknik stop and think untuk menurunkan perilaku off task dalam pembelajaran matematika di SD ditinjau dari segi frekuensi dan durasi. Hasil penelitian dinyatakan efektif bila mampu mereduksi perilaku off task lebih dari 50%. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimen semu dan menggunakan rancangan eksperimen kasus tunggal. Subjek penelitian sebanyak 3 siswa kelas 3 SD Negeri Sumbersari 2 Malang yang didasarkan pada hasil wawancara dengan kepala sekolah, wali kelas, dan pengamatan yang dilakukan selama 6 hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa baik untuk subjek 1, subjek 2 dan subjek 3 perilaku off task dapat tereduksi lebih dari 50%. Untuk subjek 1, frekuensi tereduksi 80,78 % dan durasi tereduksi 88,49%; subjek 2, frekuensi tereduksi 76,32% dan durasi tereduksi 86,36%; subjek 3, frekuensi tereduksi 78,11% dan durasi tereduksi 83,33%. Dengan demikian teknik stop and think efektif untuk menurunkan perilaku off task dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar Berdasar hasil temuan, disarankan; (1) guru SD perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam menerapkan teknik stop and think yang telah terbukti efektif untuk menurunkan perilaku off task dalam pembelajaran matematika di SD; (2) peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan teknik pembelajaran yang lain, seperti stop the clock, stop and beat dan sebagainya, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensip; (4) peneliti selanjutnya diharapkan mengem-bangkan desain penelitian yang ada, misalnya dengan A-B-A-B atau A-B-A-B-C. Dengan demikian diperlukan adanya desain atau strategi paska baseline II dan fase pemeliharaan perilaku.

Nasehat dalam drama "Syamsun Nahaar" karya Taufiq El Hakim: Kajian semiotik / Zumrotul Mukaromah

 

Kata kunci: nasehat, drama “Syamsun Nahaar”, kajian semiotik. Karya sastra sebagai hasil cipta manusia selain memberikan hiburan juga sarat dengan nilai, baik nilai keindahan maupun nilai- nilai ajaran hidup. Sebagai hasil cipta dari sebuah karya sastra, drama “Syamsun Nahaar” ini sarat akan nasehat yang dikemukakan pengarang melalui dialog tokoh-tokohnya. Karena itu, penulis tertarik untuk melakukan kajian semiotik terhadap drama tersebut.. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur drama dan mendeskripsikan nasehat yang terkandung di dalamnya. Data dalam penelitian ini berupa kata, frase, dan kalimat yang menunjukkan nasehat. Sedangkan sumber datanya adalah salinan naskah drama Syamsun Nahaar Karya Taufiq El Hakim terbitan Daaru Mishro Lith-Thibaa’ah. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai human instrument serta tabel kodifikasi data yang berguna untuk menjaga keabsahan data. Untuk memperoleh data, dilakukan penelusuran nasehat dengan cara membaca teks drama, memilih dan menandai teks satuan dialog, monolog, dan narasi dalam drama yang terkait dengan nasehat, mengidentifikasi data sesuai dengan masalah dan tujuan yang ingin dicapai, dan mengklasifikasi data berdasarkan tabel yang telah dibuat. Data dianalisis dengan teori semiotik Riffaterre, yaitu pembacaan heuristik, pembacaan retroaktif, menemukan hipogram, dan menemukan matriks. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa struktur drama berupa, (1) tema dalam drama “Syamsun Nahaar” karya Taufiq El Hakim adalah perjuangan cinta, (2) alur cerita drama “Syamsun Nahaar” karya Taufiq El Hakim adalah alur maju, (3) tokoh dan penokohan dalam drama “Syamsun Nahaar” karya Taufiq El Hakim, (a) Syamsun Nahaar memiliki penokohan: berpendirian teguh, percaya diri, sederhana dan tidak serakah, pandai dan bercita-cita tinggi, adil, waspada, cerdas, pantang menyerah, menghormati orang tua, dan cantik; (b) Qamar memiliki penokohan: perhatian, suka menggoda, rendah hati, pandai, tidak berlebih-lebihan, profesional, pemberani, percaya diri, pekerja keras dan miskin; (c) Raja Nu’man memiliki penokohan: sayang dan perhatian terhadap putrinya dan mendukung keinginan putrinya; dan (d) Pangeran Hamdan memiliki penokohan: tegas, keras kepala dan mudah putus asa., (4) latar yang digunakan dalam drama “Syamsun Nahaar” karya Taufiq El Hakim adalah istana raja Nu’man, istana pangeran Hamdan, bukit dan desa mati, (5) gaya bahasa yang digunakan dalam drama “Syamsun Nahaar” karya Taufiq El Hakim adalah peribahasa, qashr, majas mursal dan tasybih, dan (6) amanat yang terkandung dalam“Syamsun Nahaar” adalah bersikap adil, berpikir sebelum bertindak, taat pada orang tua, yaitu selalu meminta ridho padanya, tidak berlebih-lebihan, mandiri, mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya, kekayaan dan jabatan tidak menjamin kebahagiaan seseorang dan berusaha dan pantang menyerah. Adapun nasehat yang terkandung dalam drama “Syamsun Nahaar” berupa, (1) percaya kepada Allah SWT, (2) menuntut ilmu, (3) teguh pendirian, (4) bertanggung jawab, (5) percaya diri, (6) sabar, (7) qana’ah, (8) rendah hati, (9) mandiri, (10) tidak berlebih-lebihan, (11) adil, (12) jujur, (13) tolong menolong, (14) tidak menyia-nyiakan kesempatan, (15) saling menyayangi antar sesama makhluk hidup, (16) menjaga lisan, (17) menghormati orang tua, (18) mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat, (19) menahan diri dari sikap amarah, (20) kerja keras, dan (21) kewaspadaan dalam hidup. Bagi Jurusan Sastra Arab, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan refleksi untuk perbaikan dan pengembangan bahan matakuliah, khususnya yang berkaitan dengan matakuliah sastra. Bagi peneliti lain, sebaiknya melakukan penelitian dalam bidang sastra, khususnya kajian semiotik Riffaterre secara lebih mendalam, baik pada drama, puisi maupun prosa. Bagi pengajar bahasa dan sastra Arab, hasil penelitian ini bisa dijadikan bahan pengajaran, baik kajian semiotik Riffaterre maupun drama “Syamsun Nahaar” nya. Bagi pelajar bahasa dan sastra Arab, penelitian tentang kajian semiotik Riffaterre ini diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan rujukan bagi pelajar bahasa dan sastra Arab dalam menelaah karya sastra, seperti drama, prosa atau puisi. Bagi pembaca karya sastra, kajian semiotik dalam menemukan nasehat yang terkandung dalam drama “Syamsun Nahaar” ini diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan masukan bagi pembaca karya sastra, tentang bagaimana cara menemukan nilai-nilai positif yang terdapat dalam karya sastra yang telah dibacanya.

Analisis buku sekolah elektronik (BSE) mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas IV Sekolah Dasar Karangan Prayoga Bestari / Hanifah Hidayatul Laili

 

Kata Kunci : Analisisbuku teks, BSE, Pendidikan Kewarganegaraan SD Buku teks adalah buku yang berfungsi sebagai sumber bahan pembelajaran. Oleh karena itu, buku teks diharapkan benar-benar memiliki kualitas isi yang sesuai dengan kurikulum KTSP baik dari segi standar kurikuler, isi, maupun dari segi mudah atau tidaknya dicerna oleh guru dan para peserta didik.Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan relevansi materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam buku teks BSE Pendidikan Kewarganegaraankelas IV dengan kompetensi dalam KTSP, (2) mendeskripsikan relevansi media dalambukuteks BSE PendidikanKewarganegaraankelas IV denganmateripelajaranPendidikanKewarganegaraankelas IV SD, (3) mendeskripsikan relevansipenilaianaspek yang adadalambukuteks BSE PendidikanKewarganegaraankelas IV denganpenilaianaspekmenurutTaxonomy Bloom. Metode penelitian yang digunakanadalahdeskriptifkualitatif dengan pendekatan penelitian yaitu analisis buku atau dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menganalisis isi buku teks berdasarkan relevansi materi dengan kurikulum, relevansi media dengan materi PKn yang dibahas, dan relevansi penilaian aspek belajar dengan penilaian aspek belajar menurut Taxonomy Bloom. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan teknik pemeriksaan teman sejawat.Hasilpenelitaninimenunjukkanbahwa (1) Pada analisis kesesuaian kurikulum, dari 35 materiterdapat 32 materi yang urutannyasesuaidenganjabaranindikator yang telahdijabarkan,yang tidaksesuaidenganindikatorberjumlah 3 materi, dan terdapat4indikator yang belummuncul; (2) Pada analisis media terdapat 21 gambar dari 26 gambar yang bermanfaat dan 5 gambar lainnya tidak bermanfaat; (3) Pada analisis penilaian aspek belajar didapatkan bahwa terdapat 85 soal evaluasi yang termasuk aspek kognitif, tidak ditemukan soal yang termasuk dalam aspek penilaian afektif dan psikomotor. Kesimpulandaripenelitianiniadalah (1) Relevansiurutanisimateridengankurikulumtergolongsudahsesuai, (2) Relevansi media tergolongsudahbaik, (3) RelevansiaspekpenilaiandenganaspekpenilaianmenurutTaxonomy Bloom tergolongkurangsesuai, dantidakditemukansoal yang memuataspekpenilaianafektifdanpsikomotor. Disarankanuntukaspekpenilaiansebaiknyapenulismenyesuaikansoalevaluasidengankompetensi yang diharapkan.Selainitusoalevaluasijugaharusmencakupaspek kognitif, afektif, danpsikomotor.KarenapenilaianmatapelajaranPendidikanKewarganegaraanpenekanannyaterletakpadaaspekafektifsiswa.

Pengaruh variasi sudut otong dan sudut buang pahat baja Assab ASP 23/Vanadis 23 terhadap tingkat kualitas permukaan benda kerja / Wendhi Paryoga

 

Kata Kunci: sudut potong, sudut buang, kualitas permukaan Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Bagaimanakah pengaruh variasi besar sudut potong pahat baja ASSAB ASP 23/VANADIS 23 terhadap tingkat kualitas permukaan benda kerja hasil pembubutan, 2) Bagaimanakah pengaruh variasi besar sudut buang pahat baja ASSAB ASP 23/VANADIS 23 terhadap tingkat kualitas permukaan benda kerja hasil pembubutan, 3) Bagaimanakah pengaruh variasi besar sudut potong dan variasi besar sudut buang sisi potong pahat baja ASSAB ASP 23/VANADIS 23 terhadap kualitas permukaan hasil pembubutan Dalam pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimental yang melibatkan beberapa variabel. Variabel tersebut diantaranya adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variasi sudut potong dan sudut buang pahat bubut, sedangkan variabel terikat merupakan hasil kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan rata. Kesimpulan pada penelitian ini menyatakan bahwa 1) Penggunaan sudut potong yang terlalu runcing memiliki ketahanan yang kurang sehingga dapat menyebabkan aus pada pahat tersebut. 2) Semakin besar variasi sudut buang yang digunakan (semakin runcing), maka semakin halus pula hasil kekasaran permukaan yang diperoleh. 3) Penggunaan variasi besar sudut potong dan variasi besar sudut buang pahat baja ASSAB ASP 23/VANADIS 23 memiliki tingkat kualitas kekasaran permukaan sedang antara tingkat kelas N7 dan N8. Adapun saran yang dapat peneliti berikan sebagai berikut: 1) Dengan bentuk geometri pahat bubut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan umur keausan pahat. Karena bentuk geometri pahat bubut sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya umur keausan pahat. 2) Harapannya dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan hasil temuan ukuran sudut potong dan sudut buang yang dikombinasikan dengan parameter atau kondisi pemotongan yang lain. Contohnya pengaruh kecepatan potong, kecepatan pemakanan, kedalaman potong, suhu pemotongan, dan lain sebagainya. Sehingga nantinya akan dapat ditemukan variasi-variasi yang baru dalam proses pembubutan untuk meningkatkan kualitas permukaan yang baik.

Pengaruh penggunaan lembar kerja siswa berbasis eksperimen terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang / Puji Astuti

 

Kata Kunci: Lembar Kerja Siswa, Prestasi Belajar. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan melalui kegiatan observasi, diperoleh informasi tentang rendahnya prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Malang. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya rata-rata nilai ulangan harian fisika siswa kelas VIII yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75. Kegiatan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru masih cenderung berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa. Lembar Kerja Siswa yang selama ini digunakan dalam kegiatan pembelajaran hanya sebatas untuk kegiatan diskusi menjawab pertanyaan, sedangkan kegiatan eksperimen jarang sekali dilakukan karena pelaksanaannya dinilai kurang efisien. Diperlukan kejelasan Lembar Kerja Siswa mana yang memiliki dampak lebih besar bagi peningkatan prestasi belajar fisika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan penggunaan Lembar Kerja Siswa berbasis eksperimen dan non-eksperimen dalam pembelajaran dan menunjukkan prestasi belajar fisika yang lebih baik antara siswa yang belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa berbasis eksperimen dan siswa yang belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa berbasis non-eksperimen. Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu, di mana ada dua kelas eksperimen. Siswa kelas eksperimen I belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa berbasis eksperimen, sedangkan siswa kelas eksperimen II belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa berbasis non-eksperimen. Dua kelas eksperimen diperoleh dengan teknik purposive sampling. Sebelum perlakuan diberikan, siswa harus mengalami pretest untuk mengetahui prestasi belajar awal fisika siswa, sedangkan prestasi belajar akhir diukur menggunakan dua cara yaitu posttest pada tiap akhir pertemuan sesuai dengan materi yang disampaikan dan di akhir perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Lembar Kerja Siswa berbasis eksperimen dan non-eksperimen terlaksana dengan baik. Prestasi belajar fisika siswa yang belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa berbasis eksperimen lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar fisika siswa yang belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa berbasis non-eksperimen.

Perbedaan metakognitif siswa pada pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui metode pembelajaran Project Based Learning (PBL) menggunakan E-Module dengan Direct Instruction (DI) menggunakan modul kelas VIII SMP Negeri 1 Mojosari / Andika Rahma Saraswati

 

Kata kunci: metakognitif, metode pembelajaran Project Based Learning, e-module, direct instruction, modul Berdasarkan hasil obsevasi yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Mojosari Mojokerto dapat diidentifikasi pola pembelajaran di kelas yang masih bersifat teacher centered dan kurang efektif karena siswa dipusatkan untuk mendengarkan semua instruksi guru. Akibat dari proses pembelajaran ini adalah kurangnya minat dan perhatian siswa dalam belajar sungguh-sungguh sehingga siswa tidak dapat menjadi seorang pebelajar mandiri yang dapat membangun konsep dan pemahamannya sendiri. Hal tersebut erat kaitannya dengan metakognitif yang menuntut siswa bertanggungjawab terhadap kemajuan belajarnya sendiri. Merujuk pada permasalahan tersebut maka tujuan penelitian ini adalah meningkatkan metakognitif siswa melalui suatu metode. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi experiment, non equivalent control group design menggunakan pretest-posttest control group design untuk mengetahui perbedaan metakognitif siswa melalui metode Project Based Learning (PBL) menggunakan e-Module dengan Direct Instruction (DI) menggunakan modul. Metode PBL dengan E-Module menuntut tanggung jawab siswa untuk dapat menyelesaikan masalah dengan melakukan suatu proyek yang dilakukan melalui suatu perencanaa, pelaksanaan, dan evaluasi yang dibantu bahan ajar berupa e-module. Pembelajaran DI menekankan siswa aktif dalam pembelajaran melalui latihan-latihan dan tanya jawab dengan bantuan modul. Sebelum diberi perlakuan, diambil data awal terlebih dahulu kemudian diuji prasayarat analisis (normalitas dan homogenitas) dan uji kesamaan dua rata-rata apakah data awal terdistribusi normal, homogen, dan memiliki rata-rata yang sama. Hasil penelitian ini adalah peningkatan metakognitif siswa pada kelas ekperimen dan kelas kontrol. Di kelas ekperimen, metakognitif siswa meningkat 49% dari tes uraian awal dan 11,09% dari inventori metakognitif awal. Pada kelas kontrol, metakognitif siswa meningkat 46,96% dari tes uraian awal dan 5,23% dari inventori metakognitif awal. Data metakognitif siswa telah diuji prasyarat analisis dan terdistribusi normal dan homogen. Peningkatan tes uraian lebih besar dari peningkatan inventori metakognitif. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada kedua kelas mengalami peningkatan metakognitif namun di kelas kontrol peningkatannya tidak setinggi di kelas ekperimen dan keterampilan metakognitif siswa lebih meningkat dibandingkan kesadaran metakogitifnya baik di kelas ekperimen maupun di kelas kontrol.

Cycloconverter sebagai pengendali motor AC 1 fasa / Asif Wildan

 

Kata Kunci : Cycloconverter, Motor AC 1 Fasa Penulis mencoba merancang cycloconverter yaitu konverter AC ke AC yang merubah frekuensi tegangan masukan secara langsung sebagai aplikasi kendali motor AC 1 fasa. Pada perancangan tugas akhir ini, motor AC 1 Fasa yang digunakan adalah jenis motor universal untuk aplikasi mesin jahit, kendali utama diatur melalui mikrokontroler ATMega16 sebagai pusat untuk mengendalikan rangkaian daya. Alat ini dilengkapi dengan penampil LCD, push button dan rangkaian daya cycloconverter, untuk menggerakkan motor AC 1 fasa tersebut Cycloconverter adalah konverter daya untuk sumber listrik AC yang berfrekuensi tetap yang akan dirubah ke sumber listrik AC berfrekuensi variable. Secara umum perancangan cycloconverter sebagai pengendali motor AC 1 Fasa ini terdiri dari tujuh blok rangkaian utama yaitu : mikrokontroler ATMega 16, push button, detektor pelintas nol, LCD, rangkaian isolasi optocoupler, dan rangkaian daya SCR. Hasil pengujian dan pembahasan terdiri dari pengujian rangkaian mikrokontroler ATMega16, push button, detektor pelintas nol, LCD, rangkaian isolasi optocoupler, serta pengujian rangkaian keseluruhan. Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian cycloconverter sebagai pengendali motor AC 1 fasa dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) Perancangan cycloconverter sebagai pengendali motor AC 1 fasa ini dilakukan dengan merancang sistem, hardware, dan software, (2) perancangan sistem terdiri dari perancangan rangkaian modul LCD, push button, detektor pelintas nol, rangkaian isolasi optocoupler, serta rangkaian daya SCR, (3) pada perancangan cycloconverter ini telah dilakukan pengujian per blok dan pengujian keseluruhan, (4) cycloconverter sebagai pengendali motor AC 1 fasa ini telah berhasil dibuat dengan kendali ATMega16, LCD sebagai display, push button sebagai masukan data, rangkaian isolasi optocoupler sebagai pemisah blok daya dan blok logika, serta rangkaian daya SCR sebagai pengendali motor AC 1 fasa berjenis motor universal.

Perbedaan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS antara siswa yang diajar guru berlatar belakang bidang sejarah dengan non bidang sejarah di kelas VII SMPN 13 Malang / Avinda Wenni Purnamasari

 

The use of english as a medium of instruction by the biology teachers of the Junior High International Standard Schools / Dwi Ima Hereminingsih

 

Pengembangan media pembelajaran dengan bantuan Adobe Flash CS 5 pada standar kompetensi mengelola dokumen transaksi Program Keahlian Akuntasi di SMK Islam Batu / Nyomi Puji Lestari

 

Kata kunci: Media pembelajaran, Adobe Flash CS 5, Mengelola Dokumen Transaksi Dalam proses belajar mengajar, para guru sering dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan bagaimana cara mempermudah belajar peserta didik. Salah satu unsur yang mempunyai banyak pengaruh untuk mempermudah siswa dalam memperoleh pengetahuan dan informasi adalah adanya unsur media pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan solusi atas permasalahan tersebut sehingga penelitian pengembangan media pembelajarn dengan bantuan Adobe Flash CS 5 ini diharapkan akan membantu guru untuk mengatasi permasalahan tersebut. Adapun tujuan dari pengembangan adalah (1) menghasilkan media pembelajaran yang layak sebagai alternatif media pembelajaran yang interaktif, (2) untuk mempermudah siswa dalam memahami materi mengelola dokumen transaksi sehingga dapat meningkatkan nilai akademik peserta didik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan prosedur pengembangan model Borg and Gall yang telah dimodifikasi. Prosedur pengembangan pada penelitian ini antara lain: (1) analisa kebutuhan, (2) pengumpulan data, (3) mengembangkan desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi I, (6) uji coba produk, (7) revisi II, (8) uji coba lapangan terbatas, (9) revisi III, (10) produk akhir. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Jenis angket yang digunakan yaitu angket tertutup dan angket terbuka. Angket tertutup menghasilkan jenis data kuantitatif, sedangkan angket terbuka menghasilkan jenis data kualitatif yaitu berupa komentar dan saran. Teknik analisis menggunakan data kuantitatif memperoleh skor persentase untuk validasi ahli materi sebesar 89,41%, ahli media 98,00% , uji coba produk sebesar 88,00 dan uji coba lapangan terbatas sebesar 87,60%, sehingga secara keseluruhan didapatkan skor persentase sebesar 90,75%. Hasil analisis uji paired sample t test memperoleh nilai 0,000 lebih kecil daripada 0,05. Berdasarkan hasil validasi dan uji paired sample t test bahwa media pembelajaran dengan bantuan Adobe Flash CS 5 yang dikembangkan layak digunakan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pengembangan media pembelajaran dengan bantuan Adobe Flash CS 5 masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya masih bersifat offline sehingga diharapkan peneliti selanjutnya dalam melakukan pengembangan media pembelajaran bisa bersifat online agar bisa dijangkau pengguna secara lebih luas

Perbandingan penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan Think Talk Write (TTW) terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA N 01 Bululawang / Achmad Fandir Tiyansyah

 

Kata Kunci: Think Pair Share, Think Talk Write, hasil belajar. Guru sebagai pengelola sistem perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran harus berusaha untuk melaksanakan tujuan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan pembelajaran yang dapat mengakomodasikan siswa untuk lebih aktif dan meningkatkan hasil belajar yakni dengan menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Think Pair Share dan Think Talk Write termasuk dalam model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar karena setiap tahapannya melibatkan siswa untuk aktif berfikir, berbicara, menulis, dan menyampaikan gagasannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pembelajaran model Think Pair Share dengan Think Talk Write terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA N 01 Bululawang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dikembangkan dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian ini yakni kelas X-2 sebagai kelas eksperimen 1 yang menerima perlakuan model Think Pair Share dan kelas X-6 sebagai kelas eksperimen 2 yang menerima perlakuan model Think Talk Write. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes objektif. Analisa data yang digunakan adalah uji t (t-test). Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai rata-rata gain score hasil belajar dengan menggunakan model Think Pair Share lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan model Think Talk Write. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara pembelajaran model Think Pair Share dengan Think Talk Write pada mata pelajaran geografi siswa kelas X SMA N 01 Bululawang. Terkait hasil penelitian tersebut disarankan kepada guru untuk dapat menerapkan model Think Pair Share di kelas dengan manajemen waktu yang lebih baik. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada kelas dan materi yang berbeda. Bagi peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk meneliti kemampuan yang lain seperti kemampuan berfikir kritis siswa.

Pengembangan soal latihan berbasis game sebagai media pembelajaran interaktif pada satandar kompetensi merakit personal komputer untuk siswa kelas X SMK / Vita Ariyanti

 

Kata kunci : Soal Latihan, Game Interaktif, Media Pembelajaran. Mata pelajaran produktif TKJ merupakan mata pelajaran penting untuk membekali siswa agar memiliki kompetensi kerja. Namun, pada mata pelajaran ini siswa kelas X SMK Jurusan TKJ mengalami kesulitan dalam memahami materi pada standar kompetensi merakit PC. Pemberian soal latihan merupakan salah satu cara untuk memantapkan pemahaman siswa pada materi-materi sulit, tetapi siswa memiliki motivasi kurang dalam mengerjakan soal latihan. Salah satu media yang dapat digunakan adalah game edukasi karena game edukasi dapat meningkatkan motivasi belajar, kemampuan berpikir, dan keterampilan. Berkaitan dengan itu, maka dirasa penting untuk melakukan pengembangan soal latihan berbasis game untuk siswa kelas X SMK. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif soal latihan berbasis game pada standar kompetensi merakit personal komputer untuk siswa kelas X SMK dan menilai tingkat kelayakan media tersebut. Pada penelitian ini, perancangan dan pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah model pengembangan waterfall, sedangkan pengembangan media pembelajaran yang digunakan adalah metode Research and Development (R&D) menurut Sugiyono (2010). Produk yang dihasilkan berupa soal latihan berbasis game. Subjek uji coba meliputi ahli media, ahli materi dan siswa kelas X SMK. Media dikatakan layak apabila penilaian dari kriteria yang diberikan mencapai angka 50,01%. Berdasarkan hasil uji kelayakan yang dilakukan, didapat persentase hasil validasi ahli media sebesar 94%, hasil validasi ahli materi sebesar 87%, hasil uji coba perseorangan ke siswa sebesar 82%, hasil uji coba kelompok kecil sebesar 85%, dan hasil uji coba lapangan sebesar 86%. Rata-rata keseluruhan dari hasil validasi sebesar 86.8%, sehingga media pembelajaran ini dinyatakan sangat valid tanpa revisi. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran interaktif soal latihan berbasis game untuk siswa kelas X SMK layak digunakan tanpa revisi.

Kajian prevalensi skabiosis pada santri di Pondok Pesantren Nurul Huda Situbondo dan faktor-faktor yang mempengaruhi / Ika Oktaviana Purnamasari

 

Penggunaan media Ritatoon untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Pkn materi pokok ke[utusan bersaama siswa kelas VB SDN Lesanpuro 3 Malang / Anis Raudhatul Maghfiroh

 

Kata Kunci: Media Ritatoon, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn Berdasarkan observasi awal di kelas VB SDN Lesanpuro 3 Malang terdapat permasalahan dalam aktivitas dan hasil belajar siswa. Penyebab rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa dikarenakan, guru dalam pembelajaran masih menggunakan media yang bersifat umum seperti papan tulis. Selain itu guru juga belum memanfaatkan media-media gambar yang terpajang di dinding kelas. Hal ini menjadikan siswa menjadi pasif dan hasil belajar kurang memuaskan. Rumusan masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakah proses penggunaan media ritatoon pada pembelajaran PKn materi keputusan bersama siswa kelas VB SDN Lesanpuro 3 Malang? (2) Bagaimanakah peningkatan aktivitas siswa setelah penggunaan media ritatoon dalam pembelajaran PKn materi pokok keputusan bersama siswa kelas VB SDN Lesanpuro 3 Malang? (3) Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa setelah penggunaan media ritatoon dalam pembelajaran PKn materi pokok keputusan bersama siswa kelas VB SDN Lesanpuro 3 Malang? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas. Model PTK yang digunakan yaitu peneliti sebagai guru (pengajar) yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VB SDN Lesanpuro 3 Malang yang berjumlah 37 siswa terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian pada penggunaan media ritatoon menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan media ritatoon pada pembelajaran PKn, tingkat keberhasilan guru mencapai 86,5% meningkat menjadi 92% pada siklus II, (2) penggunaan media ritatoon dapat meningkatkan aktivitas siswa, dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 10,73% yaitu dari nilai rata-rata 77,25 pada siklus I menjadi 85,54 pada siklus II (3) penggunaan media ritatoon dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diukur dengan presentase ketuntasan belajar secara klasikal siklus 1 dan siklus II. Ketuntasan belajar siswa siklus I sebesar 64,86% menjadi 86,49% pada siklus II. Peningkatan yang terjadi sebesar 33,35% dari siklus I ke siklus II. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media ritatoon dalam pembelajaran PKn materi keputusan bersama dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Untuk itu disarankan kepada kepada kepala sekolah pada umumnya untuk menyediakan media ritatoon dan guru pada khususnya untuk menggunakan media ritatoon dalam pembelajaran baik pembelajaran PKn maupun pembelajaran yang lain. Selain itu, guru sebaiknya merancang pembelajaran dengan media ritatoon yang dikolaborasikan dengan model pembelajaran lain yang dapat mengaktifkan siswa secara utuh. Pada tahap penilaian hasil belajar, disarankan pula untuk mengukur semua aspek yang dimiliki siswa sehingga hasil belajar yang diperoleh kompleks.

Pengembangan media pembelajaran IPA bentuk Powerpoint untuk materi tata surya di kelas VI SDN Cemorokandang 2 Kota Malang / Fitra Prasetyo Wibowo

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Powerpoint, IPA, Tata Surya Berdasarkan hasil wawacara yang dilakukan peneliti dengan guru kelas VI serta hasil observasi di SDN Cemorokandang 2 Kota Malang terhadap media yang digunakan dalam pembelajaran, ditemukan fakta dilapangan bahwa pada pembelajaran IPA untuk materi tata surya masih menggunakan media yang berupa gambar-gambar statis yang ada di dalam buku maupun pajangan di kelas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pemanfaatan teknologi yang dimiliki masih kurang maksimal, terlihat dari kurangnya pemanfaatan sarana LCD Projektor, Laptop dan laboratorium komputer yang dimiliki. Serta belum adanya pengumpulan materi sebagai presentasi yang interaktif dalam bentuk digital untuk membantu siswa dalam memahami materi. Upaya inovasi yang mengarah kepada pencapaian tujuan pembelajaran IPA untuk materi tata surya tersebut mutlak diperlukan di SDN Cemorokandang 2 Kota Malang. Secara teoritis, untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya dengan mengembangkan media pembelajaran IPA yang mampu memvisualkan tata surya secara menarik, sederhana, serta memudahkan siswa dalam mempelajari materi. Media pembelajaran yang dikembangkan adalah media berbantuan komputer menggunakan PowerPoint yang dapat digunakan sebagai media interaktif dalam pembelajaran IPA. Media pembelajaran berbasis PowerPoint ini memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan komponen teks, gambar, suara, dan animasi grafik. Komposisi dari beberapa komponen tersebut dapat memperjelas uraian materi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik jika dibandingkan dengan memakai sumber belajar statis yang berupa buku teks, papan tulis,maupun gambar manual dari pajangan kelas. Media pembelajaran PowerPoint ini juga mampu memberikan balikan sehingga siswa dapat lebih berinteraksi dengan media dengan mempergunakan fasilitas menu soal latihan. Selain itu, media ini juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran dan mampu memberikan pengalaman yang lebih langsung untuk mempelajari materi tata surya. Desain uji coba pengembangan meliputi validasi media dan uji coba lapangan. Validasi media diperoleh dari penilaian dan tanggapan dari validator ahli media dan ahli materi yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kelayakan media dan bagian dari media yang perlu direvisi. Uji coba di lapangan dilakukan dengan mencobakan media yang dikembangkan dalam pembelajaran IPA di kelas VI SDN Cemorokandang Kota Malang. Data yang diperoleh bersifat kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis prosentase. Hasil yang diperoleh dari pengembangan ini yaitu sebuah media pembelajaran IPA berbantuan komputer dengan menggunakan Powerpoint sudah memiliki tingkat kelayakan yang tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil validasi ahli media maupun ahli materi terhadap media yang dikembangkan, yaitu dimana semua validator menyatakan bahwa media yang dikembangkan siap untuk diproduksi dan layak digunakan sebagai media pembelajaran khususnya dalam pembelajaran IPA materi tata surya. Selain itu, berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa dapat diketahui bahwa siswa sangat termotivasi dan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran, sehingga siswa dapat lebih mudah dalam mempelajari materi tata surya. Oleh sebab itu, secara umum media pembelajaran IPA berbasis PowerPoint ini layak untuk digunakan sebagai alternatif pemecahan masalah yang berkaitan dengan media pembelajaran di SDN Cemorokandang 2 Kota Malang untuk materi tata surya. Saran pemanfaatan dan diseminasi lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Media PowerPoint ini memiliki kelebihan dan kekurangan seperti yang telah dijelaskan pada kajian media yang telah direvisi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka mengeliminasi kekurangannya. b. Media pembelajaran PowerPoint untuk materi lain perlu dikembangkan. c. Media pembelajaran PowerPoint ini masih bersifat offline sehingga perlu dikembangkan media pembelajaran PowerPoint yang sudah online sehingga dapat terhubung langsung dengan internet. d. Hasil pengembangan ini masih bersifat kontekstual yang hanya memecahkan masalah pembelajaran IPA materi tata surya untuk siswa kelas VI SDN Cemorokandang 2 Kota Malang saja.

Penerapan pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual) siswa kelas III SDN Penarukan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Siti Mariyatul Ulfa

 

Kata Kunci: pendekatan SAVI, menulis puisi Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Salah satu hal yang dipelajari dalam kegiatan menulis di SD adalah keterampilan menulis puisi. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menarik sehingga siswa sulit dalam menggali ide dan daya imajinasi yang akan dituangkan dalam bentuk puisi. Gaya belajar siswa juga perlu diperhatikan karena mereka memiliki gaya belajar yang berbeda. Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan perbaikan untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan SAVI serta mendeskripsikan peningkatan keterampilan siswa dalam menulis puisi melalui penerapan pendekatan SAVI di kelas III SDN Penarukan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang diadaptasi dari teori Kemmis dan MC. Taggart, meliputi 4 tahap yaitu planning, acting and observing, reflecting, dan revise plan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data terdiri dari instrumen observasi, pedoman wawancara, dan tes. Penelitian ini dilakukan di kelas III SDN Penarukan dengan subyek 24 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan menerapkan pendekatan SAVI pada siklus 1 sudah cukup baik. Pada siklus 1 pertemuan 1 dari 25 deskriptor ada 7 deskriptor yang belum terlaksana. Tetapi pada siklus 1 pertemuan 2 hanya tinggal 4 deskriptor yang belum terlaksana. Pada siklus 2 pertemuan 1 hanya 1 deskriptor yang belum terlaksana. Tetapi pada siklus 2 pertemuan 2 semua deskriptor sudah dilaksanakan selama pembelajaran. Pada siklus 1 pertemuan 1 nilai penerapan pendekatan SAVI adalah 72. Nilai ini meningkat menjadi 88 pada siklus 1 pertemuan 2. Pada siklus 2 pertemuan 1 nilai penerapan pendekatan SAVI meningkat menjadi 96 dan meningkat lagi menjadi 100 pada siklus 2 pertemuan 2. Nilai rata-rata keterampilan menulis puisi siswa kelas III pada siklus 1 adalah 82,2. Pada siklus 2 mengalami peningkatan menjadi 98,7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan SAVI dapat meningkatkan menulis puisi siswa kelas III SDN Penarukan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Pendekatan SAVI ini dapat juga digunakan pada materi yang lain serta pada tingkatan kelas yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa SD. Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis diharapkan agar memperhatikan pengorganisasian siswa dan kegiatan di kelas agar tidak mengalami kekurangan waktu pada saat pembelajaran.

Penerapan metode eksperimen benda terapung tenggelam untuk meningkatkan kemampuan sains anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan VII Gajahbendo-Beji-Pasuruan / Usfuriah

 

Kata Kunci: Kemampuan Sains, Metode Eksperimen, Anak TK Peningkatan kemampuan sains anak melalui metode eksperimen pada anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan VII masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode eksperimen benda terapung tenggelam yang dapat meningkatkan kemampuan sains anak kelompok A di TK Dharma Wanita persatuan VII GajahBendo Beji Pasuruan,(2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan sains anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan VII GajahBendo Beji Pasuruan setelah dibelajarkan dengan menggabungkan metode eksperimen benda terapung tenggelam Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan proses siklus, dalam setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini dilaksanakan di TK Dharma Wanita Persatuan VII GajahBendo Beji Pasuruan pada kelompok A dengan jumlah 16 anak pada semester II tahun pelajaran 2011- 2012. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi yaitu berupa catatan dilapangan, hasil penilaian kemampuan anak, dan dokumentasi. Teknik analisis deskriptif data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu dengan menggunakan teknik deskriptif. Hasil penelitian tindakan menunjukkan bahwa (1) Persiapan pembelajaran, orentasi pembelajaran eksperimen, anak melakukan eksperimen benda terapung tenggelam, anak melaksanakan pengamatan benda terapung tenggelam, kegiatan tindak lanjut.(2) Penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar sains anak kelompok A dari 70,3% pada siklus I meningkat menjadi 84,7%, sehingga metode eksperimen benda terapung tenggelam dapat diterapkan dalam pembelajaran sains anak kelompok A, dan metode eksperimen benda terapung tenggelam dapat meningkatkan kemampuan sains anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa,(1) Penerapan metode eksperimen benda terapung tenggelam untuk meningkatkan kemampuan sains anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan VII GajahBendo Beji Pasuruan sesuai dengan langkah-langkahnya,(2) Metode eksperimen benda terapung dan tenggelam dapat meningkatkan kemampuan sains anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan VII GajahBendo Beji Pasuruan dalam penelitian bisa dilihat hasil peningkatannya, nilai rata-rata yang diperoleh pada pra tindakan sebesar 50%, pada siklus I pertemuan 1 dan 2 sebesar 70,3% menjadi 84,7% pada siklus II dan terjadi peningkatan sebesar 14,4%.

Pengembangan paket pembelajaran tanah dan pupuk untuk siswa kelas X SMK - SPP Provinsi Maluku / Yanti Rumasukun

 

Kata Kunci: Pengembangan Paket Pembelajaran, Mata Pelajaran Tanah dan Pupuk, SMK – SPP Provinsi Maluku Pengembangan paket pembelajaran merupakan upaya untuk mempermudah proses pembelajaran dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pengembangan paket pembelajaran senantiasa perlu dilakukan. Mata pelajaran Tanah dan Pupuk merupakan mata pelajaran yang diajarkan di kelas X (semester 1 dan 2). Kegiatan pembelajaran Tanah dan Pupuk bertujuan agar siswa mampu mengenal kondisi tanah dan memperbaikinya serta mampu melakukan pemupukan dengan tepat dan benar. Berdasarkan hasil pengamatan pengembang, ditemukan beberapa permasalahan dalam pembelajaran mata pelajaran Tanah dan Pupuk di SMK - SPP Provinsi Maluku, antara lain: (a) bahan ajar mata pelajaran Tanah dan Pupuk yang tersedia belum lengkap, (b) sumber belajar tentang Tanah dan Pupuk yang ada masih sangat kurang, bahan ajar yang ada hanya berupa buku-buku umum yang tidak sesuai dengan kurikulum KTSP, dan (c) guru mata pelajaran Tanah dan Pupuk membuat dan menggunakan bahan ajar yang komponennya dibuat terpisah-pisah dan tidak diberikan kepada siswa secara utuh, sehingga menyulitkan siswa pada saat proses pembelajaran. Tujuan pengembangan paket pembelajaran ini adalah menghasilkan produk berupa paket pembelajaran mata pelajaran Tanah dan Pupuk untuk siswa kelas X SMK - SPP Provinsi Maluku yang berupa bahan ajar, panduan siswa, dan panduan guru, sehingga dengan adanya paket pembelajaran ini dapat memudahkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran dengan mengacu pada rancangan pembelajaran model Dick & Carey (2001). Prosedur pengembangan model ini terdiri atas sepuluh langkah, namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sembilan langkah, yaitu: (a) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (b) melakukan analisis pembelajaran, (c) menganalisis karakteristik siswa dan konteks pembelajaran, (d) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (e) mengembangkan instrumen penilaian, (f) mengembangkan strategi pembelajaran, (g) mengembangkan dan memilih materi pelajaran, (h) mendesain dan melaksanakan evalausai formatif, dan (i) merevisi pembelajaran. Hasil ahli isi mata pelajaran, menunjukkan bahwa produk pengembangan (bahan ajar, panduan siswa, dan panduan guru) berada pada kualifikasi sangat baik (88,44%). Hasil ahli desain pembelajaran, menunjukkan bahwa produk pengembangan (bahan ajar, panduan siswa dan panduan guru) berada pada kualifikasi baik (78,13%). Hasil ahli media pembelajaran, menunjukkan bahwa produk pengembangan (bahan ajar, panduan siswa, dan panduan guru) berada pada kualifikasi sangat baik (96,05%). Hasil uji coba perorangan, menunjukkan bahwa produk pengembangan (bahan ajar dan panduan siswa) berada pada kualifikasi sangat baik (87,87%). Hasil uji coba kelompok kecil, menunjukkan bahwa produk pengembangan (bahan ajar, dan panduan siswa) berada pada kualifikasi sangat baik (89,19%). Hasil uji coba lapangan, menunjukkan bahwa produk pengembangan (bahan ajar, panduan siswa, dan panduan guru) berada pada kualifikasi sangat baik (91,08%). Kelebihan paket pembelajaran ini adalah: (1) bahan ajar yang dikembangkan didesain dengan lay out dan warna yang menarik minat untuk membaca/mempelajarinya, dan (2) pada bahan ajar terdapat glosarium yang dapat memudahkan siswa memahami kata-kata yang sulit. Sedangkan kelemahan paket pembelajaran ini adalah: (1) bahan ajar ini tidak lengkapi dengan program pengayaan dan perbaikan (remedial) dan (2) bahan ajar ini memerlukan media pendukung lain yang berupa CD.

Analisis perilaku akuntansi pendapatan dan beban serta pelaporan laba rugi pada pabrik gula Krebet baru di Kabupaten Malang / Nawalia Safira

 

Laba seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja suatu perusahaan. Unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja adalah pendapatan dan beban. Perlakuan akuntansi untuk pendapatan dan beban yang disajikan secara akurat bagi suatu perusahaan bertujuan untuk memberikan informasi yang layak sebagai dasar pengambilan keputusan. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui perlakuan akuntansi baik pengakuan dan pencatatan, pengukuran serta pengungkapan atas pendapatan dan beban. Objek penelitian ini adalah Pabrik Gula Krebet Baru Bululawang-Malang. Metode pengambilan data adalah dengan observasi serta penelitian kepustakaan. Metode pemecahan masalah dilakukan dengan cara membandingkan kesesuaian perlakuan akuntansi pendapatan dan beban dengan PSAK No 1 tentang laporan laba Rugi serta PSAK No 23 tentang pendapatan. Hasil analisis dari observasi dan studi kepustakaan diketahui bahwa perusahaan belum tepat dalam menerapkan perlakuan pendapatan dan beban karena pada harga pokok produksi rincian unsur pembentuk harga pokok produksi tidak tercantum, serta beban usaha yang seharusnya dicatat di dalam laporan laba rugi tetapi dicatat dan menjadi pengurang pada harga pokok produksi. Perusahaan dalam memperlakukan pengakuan pendapatan dan beban belum sesuai dengan PSAK, khususnya PSAK No 23 karena perusahaan mengakui adanya tiga metode pengakuan namun dalam PSAK No 23 hanya mengakui dua metode yaitu accrual basic dan cash basic. Berdasarkan analisis perlakuan pendapatan dan beban dari hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat diajukan beberapa saran atau masukan bagi Pabrik Gula Krebet Baru adalah hendaknya Pabrik Gula Krebet Baru tidak mencantumkan beban usaha yang seharusnya milik induk perusahaan yaitu PT. PG Rajawali ke dalam perhitungan harga pokok produksi, hal ini agar harga jual dari produk tidak tinggi karena akan berakibat pada pendapatan yang akan menurun. Jika harga jual tinggi maka perusahaan akan kehilangan konsumen dan berakibat berkurangnya penjualan produk. Perusahaan sebaiknya menggunakan dua metode pengakuan yang diakui oleh standar akuntansi yaitu accrual basic dan cash basic agar laporan keuangan perusahaan bisa akuntabel dan auditabel.

Penerapan model pembelajaran make a match dengan media kartu bergambar untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS (Studi kasus pada siswa kelas II SDN Kranjingan 5 Jember) / Iis Daniati Fatimah

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Siti Malikhah Towaf, M.A, Ph.D (II) Dr. Sunaryanto, M.Ed Kata kunci : Model make a match, Media kartu bergambar, Motivasi, Hasil Belajar. Model make a match merupakan salah satu model yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif dapat diterapkan untuk siswa sekolah dasar karena mengandung unsur berkelompok, dengan berkelompok siswa lebih mudah memahami konsep materi dengan baik melalui suasana pembelajaran yang menyenangkan. Proses yang menyenangkan dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi terhadap diri siswa. Ketika anak termotivasi belajar maka proses pemerolehan informasi dan pesan materi akan mudah ditangkap oleh siswa. Hal ini yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Kenyataan di sekolah, guru tidak pernah menggunakan model pembelajaran yang bervariasai yang dapat membantu siswa memperoleh informasis atau pesan pembelajaran dalam situasi yang menyenangkan, sehingga siswa belum termotivasi dalam belajar. Oleh karena itu, diperlukan usaha yang serius dalam membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan terkait materi jenis- jenis pekerjaan dimana materi ini sangat dekat dengan kehidupan siswa sehari- hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match (Mencari Pasangan) dengan media kartu bergambar serta untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas III SDN Kranjingan 5 Jember setelah penerapan model pembelajaran make a match (Mencari Pasangan) dengan media kartu bergambar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dengan menggunakan dua siklus, setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Penelitian dilaksanakan di SDN Kranjingan 5 Jember dan subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Kranjingan 5 Jember yang berjumlah 30 siswa. Penelitian dilaksanakan pada tahun pelajaran 2011/2012. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa model make a metch dengan media bergambar dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Kaitannya dengan hasil belajar bahwa dari prasiklus rata- rata kelas 68.7% dengan siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 8 siswa dan yang mendapat nilai ≤ 75 sebanyak 22 siswa. Kemudian dilakukan siklus I dan di peroleh rata- rata kelas 74.3% dengan siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 14 siswa dan yang mendapat nilai ≤ 75 sebanyak 16 siswa. Berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran pada siklus I, dan hasil yang diperoleh belum mencapai KKM mata pelajaran IPS maka dilakukan tindakan pada siklus berikutnya yaitu siklus II, diperoleh rata- rata kelas 83.7% dengan siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 24 siswa dan yang mendapat nilai ≤ 75 sebanyak 6 siswa. Dari hasil yang diperoleh pada siklus II maka tidak diperlukan siklus berikutnya. Adapun peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa kelas III SDN Kranjingan 5 Jember mata pelajaran IPS materi jenis- jenis pekerjaan mulai dari tahap prasiklus, siklus I dan siklus II adalah dari nilai 68.7% menjadi 74.3 terjadi peningkatan sebesar 5.6% dan dari 74.3% menjadi 83.7% terjadi peningkatan sebesar 9.4%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan supaya guru dapat menjadikan pembelajaran model make a match sebagai suatu pembelajaran alternatif yang layak dipertimbangkan dalam pembelajaran materi jenis- jenis pekerjaan. Selain itu, dalam tahap penyajian materi jenis- jenis pekerjaan, sebaiknya guru mengajak siswa agar selalu interaktif dalam bertanya jawab tentang materi yang disampaikan dengan menunjuk nama maupun memberi kebebasan kepada seluruh siswa sehingga dapat menarik perhatian seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran.

Pengaruh persepsi siswa tentang student centered approach, kompentensi guru terhadap prestasi belajar akuntansi yang dimediasi oleh persepsi efektivitas pembelajaran (Studi kasus di SMA Negeri 3 Sumbawa Besar) / Diah Megah Megawarni

 

Program Pascasarjana Universitas Negari Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Tuhardjo, SE. MSi. Ak, (II) Dr. Sunaryanto, M. Ed. Kata kunci: pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered approach), kompetensi professional guru, efektivitas pebelajaran, prestasi belajar. Pendekatan pengajaran yang digunakan di kelas pada mata pelajaran Akuntansi memiliki karakteristik yang berbeda antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Hal ini disebabkan pelajaran Akuntansi merupakan pelajaran yang sangat penting dimiliki seseorang disamping untuk penguasaan pengetahuan juga membekali siswa berbagai keterampilan. Penelitian ini mencoba mengungkapkan persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran dan kompetensi professional guru pada mata pelajaran Akuntansi, bahwa pengajar dianggap sebagai efektif dalam proses belajar mereka. Sementara paradigma pembelajaran yang berpusat pada pelajar telah dianjurkan pada pendidikan tinggi dan sekolah menengah dalam beberapa tahun terakhir, walaupun dalam praktek pembelajaran gaya pengajaran berpusat pada guru masih dominan. Pada penelitian sebelumnya mengungkapkan hasil yang bertentangan pada hubungan antara gaya pendekatan pengajaran dengan hasil belajar, penelitian ini juga menguji hubungan antara variabel-variabel prestasi belajar, efektivitas pembelajaran, lompetensi profesional dan gaya pendekatan pengajaran yang berpusat pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) mengetahui pengaruh langsung persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kompetensi professional guru dan efektivitas pembelajaran terhadap prestasi belajar Akuntansi, (2) mengetahui pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan kompetensi professional guru terhadap prestasi belajar Akuntansi yang di mediasi oleh persepsi efektivitas pembelajaran pada mata pelajaran Akuntansi di SMA Negeri 3 Sumbawa Besar. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan hubungan antar variabel yang bersifat kausal serta digambarkan berdasarkan analisis jalur. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Sumbawa Besar pada kelas XI dan XII jurusan IPS dengan jumlah sampel 150 respunden/siswa. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik Stratified Random Sampling yang menggunakan rumus Cochran. Data dikumpulkan dengan instrument berupa angket serta dokumentasi untuk variabel independent (hasil belajar) pada mata pelajaran Akuntansi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat pengaruh langsung positif signifikan persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa terhadap prestasi belajar, (2) terdapat pengaruh langsung positif signifikan persepsi siswa tentang kompetensi professional guru terhadap prestasi belajar, (3) terdapat pengaruh langsung positif signifikan persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa terhadap efektivitas pembelajaran, (4) terdapat pengaruh langsung positif signifikan persepsi siswa tentang kompetensi professional guru terhadap efektivitas pembelajaran, (5) terdapat pengaruh langsung positif signifikan persepsi siswa tentang efektivitas pembelajaran terhadap prestasi belajar, (6) terdapat pengaruh posistif signifikan persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa terhadap prestasi belajar Akuntansi, pengaruh tersebut tidak dimediasi oleh efektifitas pembelajaran sehingga upaya-upaya untuk meningkatkan prestasi belajar dipengaruhi oleh penggunaan pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa, dan (7) terdapat pengaruh posistif signifikan persepsi siswa tentang kompetensi professional guru terhadap prestasi belajar Akuntansi, pengaruh tersebut tidak dimediasi oleh efektifitas pembelajaran sehingga upaya-upaya untuk meningkatkan prestasi belajar dipengaruhi oleh kompetensi professional yang dimiliki oleh pengajar Akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian di atas dikemukakan saran, bagi pengajar Akuntansi di sekolah menengah khususnya pengajar di lingkungan SMA Negeri 3 Sumbawa Besar, bahwa selama ini pendidikan telah dikritik dengan ketergantungan pada pendekatan pembelajaran yang konvensional/tradisional yang masih berpusat pada guru (teacher center) pada praktiknya. Untuk mengatasi kritik ini, pendidik harus merubah paradigma pembelajaran yang digunakan dalam mengajar siswa. Pendekatan yang dapat memenuhi kebutuhan dan tantangan dari karakteristik individu siswa adalah pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered approach) yang lebih menuntut peran aktif dan kolaboratif siswa pada proses belajar mengajar. Pendekatan pengajaran yang berpusat pada siswa harus dibentuk oleh kompetensi professional guru dalam menjalankan profesinya yang berkaitan dengan tugas pokok pada kegiatan pengajaran agar pembelajaran di kelas dapat berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan.

Pengembangan pembelajaran judo menggunakan vcd untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Rizalatul Adh'ha

 

Kata kunci: penelitian pengembangan, pembelajaran, judo, media VCD. Berdasarkan penelitian awal yang sudah dilakukan peneliti di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang terhadap Dosen Pembina Matakuliah Teori dan Praktik dan mahasiswa peserta Mata Kuliah Teori dan Praktik Judo diperoleh informasi bahwa: (1) Dosen Pembina Mata Kuliah Teori dan Praktik Judo belum pernah menggunakan media VCD. (2) Dosen Pembina Mata Kuliah Teori dan Praktik Judo setuju apabila dikembangkan pembelajaran judo menggunakan VCD untuk mahasiswa. sedangkan mahasiswa peserta mata kuliah Teori dan Praktik judo menyatakan: (1) Mahasiswa belum pernah mendapatkan media pembelajaran berupa VCD, (2) mahasiswa setuju apabila dikembangkan media pembelajaran judo menggunakan VCD untuk mahasiswa. Peneliti menggunakan model Pengembangan Borg dan Gall yang dimodifikasi menjadi model yang lebih sederhana yaitu: (1) Melakukan penelitian awal dan pengumpulan data informasi dengan wawancara dengan Dosen Matakuliah judo dan instrumen analisis kebutuhan kepada mahasiswa. (2) melakukan perencanaan dengan menentukan kompetensi yang akan diberikan pada perkuliahan. (3) Mengembangkan produk awal berupa VCD yang telah dievaluasi para ahli. (4) Melakukan uji coba kelompok kecil. (5) Melakukan revisi terhadap produk sesuai dengan saran-saran uji coba kelompok kecil. (6)Melakukan uji coba kelompok besar. (7) Melakukan revisi produk berdasarkan saran-sarandari hasil uji coba kelompok besar. Penelitian pembelajaran judo menggunakan VCD ini melalui beberapa proses penelitian, yakni produk awal yang pertama dievaluasi oleh para ahli berdasarkan saran-saran antara lain: (1) Musik perlu diganti dengan musik Instrumental; (2) hasil evaluasi ahli pembelajaran adalah sistematika pembelajaran perlu ditambah; (3) hasil evaluasi ahli judo adalah perlu menambahkan latihan langkah kaki. Setelah mendapatkan saran dari para ahli produk yang berupa VCD diperbaiki, selanjutnya dilakukan uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 6 mahasiswa, dari uji coba kelompok kecil diperoleh persentase 87,66% yang tergolong kategori valid, dan selanjutnya uji kelompok besar dengan menggunakan 30 mahasiswa diperoleh persentase 83,10% tergolong kategori valid sehingga pembelajaran judo menggunakan VCD ini dapat digunakan.

Upaya meninghkatkan prestasi belajar fisika melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan penilaian portofolio siswa kelas VIII A SMP Diponegoro Tumpang Kabupaten Malang / Annisa Ifroatul Muthoharoh

 

Kata kunci: prestasi belajar fisika, PBL, portofolio Prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Diponegoro Tumpang yang masih rendah. Hal ini terlihat pada ujian tengah semester pada materi getaran dan gelombang diperoleh siswa yang tuntas sebanyak 13 siswa (40,6%). Hasil tersebut jauh dari KKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu sebesar 75%. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan keterlaksanaan model PBL di kelas VIII SMP Diponegoro Tumpang, (2) mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Diponegoro tumpang selama pembe-lajaran fisika dengan model PBL disertai penilaian porofolio. Penelitian ini meru-pakan Penelitian Tindakan Kelas dengan menerapkan model PBL selama 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :(1) keterlaksanaan penerapan model PBL di kelas VIII SMP Diponegoro Tumpang pada Siklus I pada aspek keterlak-sanaan guru adalah 76,7% dengan kategori baik dan pada aspek keterlaksanaan siswa adalah 65% dengan kategori baik. Pada Siklus II aspek keterlaksanaan guru adalah 88,3% dengan kategori baik dan pada aspek keterlaksanaan siswa adalah 85,8% dengan kategori baik, (2) prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Diponegoro Tumpang mengalami peningkatan selama penerapan model PBL yaitu sebelum dilaksanakan siklus diperoleh siswa yang tuntas sebanyak 13 siswa (40,6%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I diperoleh siswa yang tuntas adalah 18 siswa (56,2%). Dan pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 26 siswa (81,2%). Kenaikan prestasi belajar fisika siswa melalui model PBL dengan penilaian portofolio dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 25%.

Dampak politik etis terhadap perkembangan kesadaran nasional di Indonesia / oleh Nurhasim

 

Upaya meningkatkan pembelajaran keterampilan teknik dasar lempar lembing gaya jingkat menggunakan metode bermain bagi siswa kelas VIII C SMP Negeri 16 Malang / Agus Siswanto

 

Siswanto, Agus. 2014. Upaya Meningkatkan Pembelajaran Keterampilan Teknik Dasar Lempar Lembing Gaya Jingkat Menggunakan Metode Bermain Bagi Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 16 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Supriatna, M.Pd, (II) Drs. Mardianto, M.Kes Kata kunci: peningkatan, keterampilan, lempar lembing, bermain. Siswa dapat mempraktikan teknik dasar salah satu permainan olahraga atletik lanjutan dengan koordinasi yang baik, serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan untuk dapat mempraktikan keterampilan teknik dasar lempar lembing gaya jingkat perlu menggunakan metode bermain. Karena berdasarkan hasil observasi diperoleh hasil yang kurang baik dari keempat teknik dasar yang diamati. Persentase kesalahan terlihat pada teknik pegangan sebanyak 52,63%, teknik membawa sebanyak 57,89%, tahap melempar sebanyak 57,89%, dan teknik akhiran sebanyak 52,63%. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII C SMP Negeri 16 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dokumentasi, tes keterampilan, catatan lapangan. Manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan teknik dasar lempar lembing gaya jingkat maka dengan menggunakan metode bermain untuk menghindarkan siswa menjadi bosan dalam menerima pelajaran. Metode bermain yang saya gunakan adalah (1) bermain melempar lembing lurus ke bawah ke arah sasaran ban bekas tanpa menarik lengan, (2) bermain melempar lembing lurus ke bawah ke arah sasaran ban bekas dengan menarik lengan, (3) bermain melempar lembing lurus ke bawah ke arah sasaran kardus dengan kaki kanan melangkah kedepan, kaki kiri ditarik ke belakang badan, (4) bermain melempar lembing dengan awalan lari 3 (tiga) langkah dengan menggunakan sasaran ban bekas yang digantung setengah tiang pada tali rafia, (5) bermain melempar lembing dengan awalan jingkat menggunakan sasaran ban bekas yang posisinya lebih tinggi dari pada yang melempar dengan cara digantung, (6) bermain melempar lembing dengan mengkoordinasikan seluruh teknik dasar gerakan lempar lembing gaya jingkat dengan sudut lemparan parabola melalui tali yang diarahkan pada sasaran ban bekas yang diletakkan pada lantai

Pengaruh variasi Ion Pb2+ pada senyawa ferroelektrik SrTio3 terhadap struktur kristal dan kurva histerisis E-P / Annisa Ifroatul Muthoharoh

 

Kata Kunci: Ferroelektrik, Struktur kristal, Histeresis, Pb¬(x)Sr¬¬(1-x)TiO¬3 Ferroelektrik adalah bahan dielektrik yang mempunyai kemampuan mengubah polarisasi internalnya dengan menggunakan medan listrik yang sesuai. Strontium Titanate (STO) merupakan salah satu senyawa ferroelektrik yang mempunyai struktur perovskite ABO¬3¬. STO adalah bahan yang cocok sebagai elektronik seperti Niobium Strontium Titanate Doping yang merupakan elektrik konduktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur kristal dan bentuk histerisis bahan ferroelektrik Strontium Titanate pada berbagai variasi doping Pb2+. Pada penelitian ini bahan dasar yang digunakan adalah SrCO3 (99,99%), TiO2 (99,99%), PbO (99,99%). Sampel disintesis dengan metode reaksi padatan (solid state reaction), dikalsinasi pada suhu 800ºC selama 1 jam dan disinterring pada suhu 950ºC selama 4 jam dengan variasi molar x=0; x=0,2; x=0,4; x=0,6; dan x=0,8. Sampel dikarakterisasi kurva histerisisnya dengan menggunakan rangkaian sawyer tower pada suhu ruang. Karakterisasi sampel menggunakan Difraksi Sinar-X (XRD) dan dianalisis menggunakan program RIETICA serta untuk mengetahui pencocokan fase baru digunakan program PCW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh doping ion Pb2+ pada senyawa SrTiO¬¬3¬ tidak menyebabkan perubahan sistem struktur kristal. Sistem struktur kristal tersebut berbentuk kubik sehingga sudut atom α, β, dan γ tidak mengalami perubahan atau tetap yaitu sebesar 900. Perubahan yang terjadi pada parameter kisi a (a=b=c) dan volume sel. Dengan kata lain semakin banyak Pb2+ yang di doping maka volume dan parameter kisi akan semakin besar pula. Sedangkan dari hasil analisis sifat histerisis menunjukkan bahwa sampel dengan x=0,8 memiliki polarisasi remanen dan medan koersif listrik tertinggi dari semua sampel penelitian yaitu sebesar 9,596 x 10-12 C/m2 dan 2,651 kV/m.

Pengaruh pengungkapan informasi sosial perusahaan dalam laporan tahunan dan kinerja financial perusahaan terhadap reaksi investor (Studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2009-2010) / Yosovin Agustina Laksito

 

Kata Kunci: Pengungkapan, tanggung jawab sosial perusahaan, kinerja financial, reaksi investor. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengungkapan sosial perusahaan dan pengaruh kinerja financial perusahaan terhadap reaksi investor pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2009-2010. Variabel independen pada penelitian ini adalah pengungkapan sosial yang dihitung menggunakan indeks pengungkapan sosial dan kinerja financial perusahaan yang dihitung menggunakan Market Value Added (MVA). Sedangkan unutk variabel dependen pada penelitian ini adalah reaksi investor yang dihitung menggunakan Unexpected Trading Volume (VAt). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang berjumlah 122 perusahaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan sampel berupa laporan tahunan. Sampel yang diperoleh sebanyak 36 dengan 18 perusahaan setiap tahunnya selama dua tahun penelitian. Pengolahan data menggunakan teknik regresi linier berganda, dengan program SPSS. Hasil Penelitian berdasarkan analisis regresi linier berganda, secara parsial menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif yang ditunjukkan oleh pengungkapan sosial perusahaan terhadap reaksi investor, dan adanya pengaruh positif yang ditunjukkan oleh kinerja financial perusahaan terhadap reaksi investor. Sedangkan secara simultan juga menunjukkan pengaruh positif antara variabel independen yang terdiri dari pengungkapan sosial perusahaan dan kinerja financial perusahaan terhadap variabel dependen yaitu reaksi investor. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka saran yang diberikan adalah (1) menambah periode penelitian agar diperoleh hasil yang lebih akurat, (2) menambah sampel dalam penelitian, tidak hanya dari perusahaan manufaktur saja, (3) pengukuran kinerja financial perusahaan tidak hanya menggunakan Market Value Added (MVA), (4) pengukuran reaksi investor tidak hanya menggunakan Unexpected Trading Volume (Vat).

Pengaruh persepsi siswa tentang kompentensi profesionalitas guru terhadap prestasi belajar siswa Jurusan Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang / Lissa Bela Chandra Adi Putri

 

Kata Kunci: Persepsi Siswa tentang Kompetensi Profesionalitas Guru, Prestasi Belajar Siswa. Persepsi adalah suatu proses pengenalan individu sebagai tanggapan hasil mencerna, menghayati dan mengumpulkan serta menginternalisasi kesan pengamatan sehingga menjadi dasar bagi terbukanya sikap terhadap suatu objek atau situasi tertentu. Dalam hal ini kompetensi profesionalitas guru yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional merupakan objek yang dipersepsi oleh siswa. Apabila persepsi siswa tentang kompetensi profesionalitas guru baik, maka tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan persepsi siswa tentang profesionalitas guru terhadap prestasi belajar siswa jurusan Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kausal (sebab akibat). Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda.Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas yaitu persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional, serta variabel terikat yaitu prestasi belajar siswa. Subyek penelitian ini adalah semua siswa kelas XI dan XII jurusan Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang. Sedangkan teknik pengumpulan datanya adalah menggunakan angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan arah perubahan variabel persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional terhadap prestasi belajar siswa dapat dilihat dari hasil persamaan regresi berganda, yaitu Y = 2,470 + 0,028 X1 + 0,025 X2 + 0,100 X3 + 0,070 X4. Dari persamaan regresi tersebut, dapat dilihat bahwa koefisien variabel bernilai positif semua, yang berarti terdapat pengaruh positif persepsi siswa tentang kompetensi profesionalitas guru terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan hendaknya semua guru Akuntansi berusaha untuk terus meningkatkan kompetensi profesionalitasnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan pula persepsi siswa tentang kompetensi profesionalitas guru tersebut yang nantinya dapat berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Sedangkan kepada para pembaca yang berminat meneliti kasus sejenis, sebaiknya menggunakan penelitian sampel dengan wilayah populasi yang lebih luas dan mengembangkan permasalahan yang terkait dengan prestasi belajar siswa. Dengan demikian hasil yang diharapkan dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh interaksi sosial teman sebaya dan tingkat kedisiplinan siswa trerhadap prestasi belajar akuntasi siswa SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung / Novita Irawati

 

Kata Kunci: interaksi sosial, teman sebaya, disiplin belajar, prestasi belajar siswa Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh setidaknya banyak faktor baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal (faktor dari dalam siswa) salah satunya yaitu faktor disiplin belajar yang dapat membantu siswa bersifat teratur dalam belajar tanpa ada rasa terpaksa tetapi muncul dari kesadaran, faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa yang salah satunya adalah lingkungan teman sebaya yang didalamnya terdapat adanya relasi antara teman sebaya yang pada prosesnya dapat membantu siswa untuk membentuk watak dan perilaku serta kebiasaan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi sosial teman sebaya terhadap prestasi belajar akuntansi siswa dan tingkat kedisiplinan belajar siswa terhadap prestasi belajar akuntansi siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa IPS kelas XI tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 173 siswa, dengan sampel yang digunakan sebanyak 63 responden yang tersebar dari kelas IPS 1-IPS 5 yang diambil dengan menggunakan teknik proportional sample. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Variabel dalam penelitian ini meliputi interaksi sosial teman sebaya (X1), disiplin belajar (X2), dan prestasi belajar (Y). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif signifikan interaksi sosial teman sebaya terhadap prestasi belajar akuntansi siswa SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung dan ada pengaruh positif signifikan disiplin belajar siswa terhadap prestasi belajar akuntansi siswa SMA Negeri 1 Kauman Tulungagunng yang berada dalam kategori tinggi yang dapat diartikan bahwa siswa sudah sering melakukan interaksi sosial dengan teman sebayanya dengan baik serta siswa sudah memiliki kesadaran dan tanggungjawab untuk belajar walaupun belum selalu diterapkan dalam kegiatan sehari-hari, dari kesimpulan tersebut, maka dapat disimpulkan juga bahwa terdapat implikasi motivasi dalam interaksi sosial terhadap prestasi belajar siswa. Saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya diharapkan variabel interaksi sosial diperluas lagi dan juga diperkaya dengan teknik penelitian yang lebih baik misalnya dengan observasi. Jenis penelitian dapat dirubah dengan metode eksperimen maupun PTK sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih akurat dan spesifik. Selain itu, dengan adanya kemungkinan model pembelajaran juga terpengaruh oleh interaksi sosial, maka hal tersebut menarik untuk dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

Perbedaan penerapan model problem based learning (PBL) yang dipadu think poair share (TPS) dengan model Direct Intruction (DI) terhadap hasil belajar TIK siswa kelas X SMAN 1 Purwosari / Purnomo Hadi Susilo

 

Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), Think Pair Share (TPS), Pembelajaran Langsung, Direct Intruction, Hasil Belajar. Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya nilai hasil belajar TIK siswa. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran komputer di SMAN 1 Purwosari, guru sering kali menggunakan model pembelajaran langsung (direct intruction). Model pembelajaran ini menekankan pembelajaran yang didominasi oleh guru (teacher centered), sehingga siswa masih belum bisa memahami apa yang telah dijelaskan oleh guru. Masalah tersebut dapat diatasi yaitu dengan merubah paradigma teacher centered menjadi student centered melalui penelitian tentang perbedaan penerapan model problem based learning (PBL) yang dipadu think pair share (TPS) dengan Direct Intruction (DI) terhadap hasil belajar TIK siswa kelas X SMAN 1 Purwosari. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dengan pre test dan post test design yang diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X semester II (dua) SMAN 1 Purwosari tahun ajaran 2011/2012 yang terdiri dari 9 kelas. Teknik pengambilan sample menggunakan teknik sampling kelompok (cluster sampling) yaitu dipilihkan oleh guru mata pelajaran TIK yang mengajar 9 kelas tersebut atas pertimbangan hasil nilai dari masing-masing kelas. Teknik pengumpulan data dengan tes obyektif dan lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji prasarat analisis, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PBL yang dipadu TPS dengan model pembelajaran langsung mempunyai perbedaan terhadap hasil belajar. Hasil penelitian tersebut ditandai dengan adanya perbedaan hasil belajar TIK siswa yang diajar menggunakan model PBL yang dipadu TPS dengan model DI, dimana nilai hasil belajar Thitung(3,544)>(1,992)Ttabel dan Nilai rata-rata hasil belajar TIK siswa kelas eksperimen dan kontrol sebesar 82,39 untuk kelas eksperimen dan 76,80 untuk kelas kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara model pembelajaran PBL yang dipadu TPS dengan model pembelajaran langsung pada kompetensi dasar melakukan operasi dasar pada Operating System (OS) komputer.

Implementasi pemasaran pada matakuliah manajemen usaha boga (MUB) catering D3 Tata Boga Universitas Negeri Malang angkatan 2009 / Helena Susilo

 

Kata kunci: implementasi, pemasaran, MUB Catering Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui implementasi pemasaran pada matakuliah MUB catering mahasiswa D3 Tata Boga Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Objek penelitian ini menggunakan sampel total karena jumlah populasi kurang dari 100 yaitu mahasiswa D3 Tata Boga yang telah dan sedang melaksanakan MUB Catering sejumlah 22 orang.Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif persentase (%). Berdasarkan hasil penelitian diketahui analisis pasar dilaksanakan oleh sebagian besar responden (82%) dengan cara menentukan pasar sasaran (55%). Lebih dari setengah responden (68%) menyatakan konsumen sasaran catering adalah mahasiswa dengan pertimbangan keberadaan relasi (64%). Semua responden (100%) memiliki pesaing. Kekuatan pesaing catering adalah harga yang lebih murah (55%) sedangkan keunggulan produk catering dibandingkan dengan pesaing adalah kualitas produk yang baik (64%). Produk yang direncanakan semua mahasiwa (100%) adalah menu paket harian dengan pertimbangan karakteristik konsumen sasaran (68%). Kemasan yang digunakan untuk produk catering adalah kertas bungkus berstempel catering (55%). Pemberian nama produk catering berdasarkan hasil modifikasi (73%). Lebih dari setengah responden (59%) memberikan jaminan terhadap produk catering mereka. Harga produk catering ditetapkan berdasarkan biaya yaitu analisis BEP dan Laba sasaran (59%). Sebagian besar responden (82%) menetapkan harga produk berdasarkan nilai/kualitas produk dan kurang dari setengah responden (36%) menetapkan harga produk berdasarkan persaingan yaitu lebih rendah dari harga di pasar. Jenis promosi yang direncanakan oleh lebih dari setengah responden (64%) menggunakan publisitas dengan pertimbangan karakteristik konsumen sasaran (68%). Alat promosi yang direncanakan sebagian besar responden (86%) adalah brosur dengan pertimbangan biaya (50%) dan cara penyebarannya dengan memberikan langsung kepada konsumen sasaran (91%). Cara pendistribusian (delivery) produk dilakukan oleh sebagian besar responden (91%) menggunakan sepeda motor untuk mengantarkan langsung kepada konsumen dengan pertimbangan jumlah pesanan (55%). Evaluasi dilakukan oleh sebagian besar responden (91%) minimal satu kali dengan cara penyebaran angket (59%). Target hari (50%) serta target penjualan (55%) tidak dapat tercapai. Saran yang dapat diberikan antara lain sebaiknya pengelolaan usaha catering dilakukan dengan pembagian ke dalam kelompok besar dengan nama yang tidak berubah-ubah. Selain itu dapat disarankan untuk meneliti tentang implementasi pemasaran catering yang dilakukan usaha catering lain yang sejenis untuk dijadikan perbandingan dan masukan bagi pengelolaan usaha catering pada matakuliah MUB catering.

Teachers' problems and effort in teaching reading to the eleventh grade students at SMA Islam Almaarif Singosari / Rufa'idatul Hasanah

 

Kata Kunci: RPP, mengajar membaca, permasalahan guru, upaya guru Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan permasalahan-permasalahan beserta upaya-upaya dalam persiapan mengajar membaca (pembuatan RPP) dan praktik mengajar membaca di kelas. Untuk menyiapkan dan melaksanakan praktik mengajar bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru. Terdapat beberapa permasalahn yang harus ditangani dengan membuat upaya penanganan yang sangat baik sehingga pelajaran akan tetap berjalan dengan lancar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru beserta upaya-upaya penanganan yang dibuat oleh guru dalam mengajar membaca. Subyek penelitian ini adalah dua orang guru yang mengajar kelas XI di SMA Islam Almaarif Singosari. Beberapa instrument penelitian yang digunakan untuk membantu peneliti dalam memperoleh data adalah, checklist observasi, panduan wawancara, dan analisa dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan-permasalahan dalam hal persiapan mengajar yang dihadapi oleh guru adalah (1) menentukan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik (2) memilih materi pembelajaran yang sesuai dan menarik bagi peserta didik (3) memilih media pengajaran yang sesuai dengan topic pelajaran (4) mengembangkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu (5) membuat rubric penilaian. Upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah (1) memperbaiki tujuan pembelajaran (2) menemukan materi pembelajaran dari sumber lain dan membuat materi pembelajaran sendiri (3) menemukan media alternatif (4) mengubah langkah-langkah kegiatan pembelajaran, dan (5) memperbaiki, mempelajari, dan bertanya kepada guru-guru lain mengenai penilain pembelajaran. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru yang berhubungan dengan praktik mengajar membaca di kelas adalah (1) kuurangnya minat dan perhatian peserta didik (2) terbatasnya kosa kata peserta didik (3) media pengajaran yang tidak dapat digunakan dengan baik (4) pengelolaan waktu. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut adalah (1) memberikan peringatan ke peserta didik tersebut, (2) mengulangi penjelasan tentang topik tersebut dan meminta peserta didik untuk melihat kamus (3) menemukan media lain secepat mungkin, dan (4) menyusun kerja kelompok untuk menghemat waktu. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bahwa guru sebaiknya lebih siap dalam menghadapi berbagai macam kendala saat proses belajar mengajar dan meningkatkan usaha mereka untuk menangani kendala tersebut. Untuk peneliti lain yang tertarik pada isu yang sama, mereka dapat melakukan penelitian di sekolah dan jenjang pendidikan yang berbeda untuk mengamati permasalahan-permasalahan lain yang dihadapi guru dan bagaimana upaya penyelesaiannya.

Peningkatan kemampuan bercerita melalui model student facilitator and explaining pada siswa kelas V SDN Jeladri II Winongan Pasuruan / Yudianto Kusumo

 

Kata Kunci: Kemampuan Bercerita, Model Student Facilitator And Explaining, SD Kemampuan bercerita merupakan keterampilan berbahasa lisan yang amat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemampuan bercerita dapat memperoleh dan menyampaikan informasi. Kegiatan bercerita dan berbicara tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, siswa dituntut untuk mampu bercerita dengan baik. Permasalahan yang terjadi di kelas V adalah siswa belum mampu bercerita dengan kalimat yang efektif, alur cerita tidak runtut. Sehingga perlu adanya inovasi model pembelajaran yaitu model Student Facilitator And Explaining di kelas V SDN Jeladri II Kecamatan Winongan Pasuruan yang mencakup pilihan kata, variasi kata, struktur kalimat, nada/irama, keberanian, kelancaran, mimik wajah, penguasaan topik cerita. Tujuan dalam penelitian ini adalah: Mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan model Student Facilitator And Explaining, mendeskripsikan hasil penerapan pembelajaran bercerita dengan model Student Facilitator And Explaining untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas V SDN Jeladri II Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) terdiri 2 siklus, setiap siklus terdiri atas empat tahap yaitu: perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe), refleksi (reflect). Subyek penelitian ini adalah 9 orang siswa yang terdiri 2 siswi dan 7 siswa di kelas V SDN Jeladri II Kecamatan Winongan Pasuruan. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, lembar penilaian proses, lembar penilaian kemampuan bercerita, tes dan wawancara. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil kemampuan bercerita siswa mengalami peningkatan dari 48,2 % pada pra tindakan menjadi 59,7 % pada siklus I. Selanjutnya menjadi 92,2% pada siklus II, hasil belajar berupa aktivitas belajar siswa siklus I dari 79 % meningkat menjadi 97 % pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah pembelajaran menggunakan model Student Facilitator And Explaining. Kesimpulannya adalah kemampuan bercerita siswa dapat meningkat melalui penerapan model Student Facilitator And Explaining, dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan model Student Facilitator And Explaining dalam mengajarakan Bahasa Indonesia khususnya kemampuan bercerita. Saran bagi guru hendaknya mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif, bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan model pembelajaran lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Penerapan bermain kartu berpasangan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada kelompok B di RA Bahrul Ulum Keranggen Gempol-Pasuruan / Iin Mufidah

 

Pengembangan paket keterampilan sosial siswa SMAN 10 yang tinggal di asrama / Anom Dian Wicaksono

 

Kata Kunci: paket, keterampilan sosial, asrama Implementasi kurikulum nasional (KTSP) yang didukung Undang-undang Sisdiknas 2003 memberikan kesempatan kepada sekolah dan daerah untuk mengembangkan program-program unggulan sesuai dengan karakteristik sekolah dan daerah masing-masing. Sekolah dapat mengembangkan secara mandiri program-program unggulan mereka. Sampoerna Academy SMA Negeri 10 Malang adalah program mandiri SMAN 10 Malang yang menjadi salah satu sekolah unggulan di Kota Malang. Sampoerna Academy SMA Negeri 10 Malang merupakan hasil kerjasama antara Sampoerna Foundation dengan Pemerintah Kota Malang dan Propinsi Jawa Timur. SMAN 10 Malang menggunakan kurikulum internasional dari Cambridge University (IGCSE) dan KTSP. Siswa SMAN 10 Malang sebagian besar tinggal di asrama (boarding education) yang merupakan keunggulan dari sekolah yang bersangkutan. Berdasarkan hasil wawancara dengan konselor dan angket kebutuhan siswa asrama SMAN 10 Malang, diperoleh fakta bahwa masalah siswa yang sering dialami siswa yang tinggal di asrama adalah interaksi sosial. Siswa yang tinggal di asrama cenderung mempunyai ego yang lebih tinggi karena mereka tinggal dengan orang lain dan orang yang baru dikenalnya. Masalah yang sering muncul adalah masalah pertemanan, masalah adaptasi dengan lingkungan asrama maupun lingkungan sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan penanganan yang tepat untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan sosialnya. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan paket bimbingan peningkatan keterampilan sosial siswa SMA Negeri 10 Malang yang tinggal di asrama. Model pengembangan yang digunakan yaitu adaptasi model pengembangan Borg & Gall (1983) yang terdiri dari tujuh langkah, yaitu: melakukan perencanaan yang terdiri atas kegiatan kajian pustaka, need assessment, dan menetapkan jenis keterampilan sosial yang akan diberikan pada siswa berdasarkan need assessment; mengembangkan produk, terdiri atas kegiatan pengembangan sebagai berikut: merumuskan tujuan Paket Keterampilan Sosial; menyusun prototipe paket keterampilan sosial; menyusun alat evaluasi produk; melakukan uji ahli; revisi produk dari uji ahli; uji lapangan atau uji calon pengguna produk; dan melakukan revisi terhadap produk akhir. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket dan wawancara. Hasil penelitian meliputi “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” dibagi dalam empat materi yaitu keterampilan saling mengenali dan membangun kepercayaan dengan individu lain, keterampilan berkomunikasi secara tepat dan jelas dengan individu lain, keterampilan menerima dan membantu antar individu, dan keterampilan manajemen konflik dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penilaian ahli, calon pengguna, dan kelompok kecil, dapat disimpulkan bahwa prototipe “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” memadai dilihat dari derajat keberterimaannya (acceptable). Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian ahli pada aspek ketepatan mendapatkan penilaian sangat tepat, aspek kegunaan mendapatkan penilaian berguna; aspek kepraktisan mendapatkan penilaian sangat praktis; dan aspek kemenarikan mendapatkan penilaian menarik. Disamping itu penilaian oleh kelompok kecil juga mendapat kriteria layak, sehingga bisa disimpulkan bahwa hasil pengembangan paket telah valid dan layak digunakan. Berdasarkan temuan penelitian ini diajukan beberapa saran sebagai berikut: Pertama, sekolah mempertimbangkan penggunaan “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” sebagai program pengembangan keterampilan sosial di kalangan siswa. Hal itu disebabkan biaya yang diperlukan untuk memprodukasi paket ini cukup terjangkau. Penggunaan paket dapat dilakukan secara mandiri oleh siswa, dan/atau didampingi oleh supervisi secara terbatas oleh guru Bimbingan dan Konseling. Supervisi dapat dilakukan sesuai kebutuhan tanpa harus mengganggu kegiatan belajar mengajar yang diprogramkan secara rutin, serta hasil pendekatan ini lebih akomodatif sesuai dengan karakteristik siswa. Kedua, Peneliti selanjutnya yang tertarik menggunakan “Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMA” hendaknya melakukan uji coba kepada subyek yang lebih besar dan heterogen, misalnya untuk siswa jenjang kelas XI dan XII.

Alat permainan edukatif yang digunakan PAUD dan TK di Kecamatan Blimbing Kota Malang / Dewi Novianti

 

Kata kunci: Alat Permainan Edukatif, PAUD dan TK Bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak dan juga merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna bagi anak usia dini. Dengan bermain diharapkan daya pikir, daya cipta, bahasa, keterampilan, dan jasmani anakanak dapat berkembang maksimal. Salah satu cara mendidik anak yang menyenangkan adalah menggunakan Alat Permainan Edukatif (APE). Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mendeskripsikan jenis-jenis APE yang digunakan Lembaga PAUD dan TK di Kecamatan Blimbing Kota Malang; (2) Untuk mengetahui persepsi Lembaga PAUD dan TK di Kecamatan Blimbing Kota Malang tentang kegunaan APE dalam pengembangan kecerdasan anak usia dini; (3) Untuk mengetahui penganggaran penyediaan APE di Lembaga PAUD dan TK di Kecamatan Blimbing Kota Malang; (4) Untuk mengetahui APE apa saja yang masih dibutuhkan untuk pengembangan anak di lembaga saat ini. Penelitian ini dilakukan terhadap lembaga PAUD dan TK di Kecamatan Blimbing Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Populasi penelitian ini adalah lembaga PAUD dan TK di Kec. Blimbing Kota Malang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode sampel total. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis persentase. Dari hasil penelitian maka dapat dikemukakan bahwa terdapat berbagai jenis APE yang digunakan di PAUD dan TK Kec. Blimbing Kota Malang pada 10 sentra beserta 6 aspek perkembangannya. Mengenai pengadaan APE pada lembaga PAUD dan TK Kec. Blimbing Kota Malang paling banyak lembaga menjawab menganggarkan 5-20% dari anggaran lembaga. Sedangkan APE yang masih dibutuhkan oleh lembaga adalah panjat tebing, kolam renang, puzzle, mandi bola, alat musik, jembatan layang, papan flannel, panggung boneka, gelas reaksi, alat tradisional, komedi putar, jembatan lengkung, tangga bentuk kubus, alat peraga, alat main drama, celemek, gamelan, ayunan, jungkat-jungkit, papan titian, buku-buku, kostum, bak pasir, papan magnet, plastisin, cetakan hewan, dan playground.

Pengembangan media audio pembelajaran senam aerobik materi bimbingan fisik olah raga untuk kelas kejuruan di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang / Asmaidah Rizkillah

 

Penerapan model mnemonik untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Cemorokandang 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Novida Virgiana

 

Kata Kunci: model mnemonik, pembelajaran, IPS Hasil observasi awal di SDN Cemorokandang 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang ditemukan bahwa pembelajaran IPS kelas IV pada materi “Aktivitas Ekonomi”, guru masih menerapkan pembelajaran konvensional, sehingga siswa kurang antusias dalam kegiatan pembelajaran. Siswa terlihat mengantuk dan bicara sendiri dengan teman sebangku. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pra tindakan yaitu 43,2 dan masih terdapat 29 siswa (85,3%) dari 34 siswa belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 70, sedangkan siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa (14,7%). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Mnemonik pada pembelajaran IPS kelas IV SDN Cemorokandang 1, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Cemorokandang 1 setelah penerapan model Mnemonik, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Cemorokandang 1 setelah penerapan model Mnemonik. Mnemonik adalah teknik untuk mengingat kembali suatu informasi dengan menggunakan bantuan. Penelitian ini dilakukan di SDN Cemorokandang 1 Kota Malang dengan subjek siswa kelas IV sebanyak 34 siswa yang terdiri dari 17 laki-laki dan 17 perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Taggart, yang dilakukan 2 siklus. Setiap siklus dilakukan 2 pertemuan yang meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting, 3) observing dan 4) reflecting. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Mnemonik pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Cemorokandang 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti pada aktivitas guru setiap siklus dapat terlaksana dengan baik sesuai RPP yang dibuat yaitu dari skor rata-rata yang diperoleh 95,5 pada siklus I dan meningkat menjadi 98,5 pada siklus II. Penerapan model Mnemonik dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas siswa 51,65 pada siklus I dan meningkat menjadi 74,63 pada siklus II. Selain aktivitas model Mnemonik juga dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini terbukti dari rata-rata 51,0 dengan ketuntasan belajar kelas klasikal 33,82% pada siklus I dan meningkat menjadi 71,8 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 70,58% pada siklus II. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Mnemonik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Saran yang dapat diberikan adalah selain menayangkan gambar guru sebaiknya menggunakan media pendukung lain yang beragam dalam menerapkan model Mnemonik.

Perbandingan prestasi belajar mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan strategi Advance Organizer jenis Mind dan Consept Map yang memiliki gaya kognitif berbeda / Luk-Luk Nur Mufidah

 

Kata Kunci : strategi advance organizer jenis mind map, strategi advance organizer jenis concept map, gaya kognitif, prestasi belajar. Pemahaman terhadap mata kuliah fiqh munakahat selama ini hanya dilakukan oleh dosen dengan cara ceramah tanpa variasi dan diskusi kelompok. namun pembelajaran yang dilakukan dengan kedua cara tersebut di atas tidak cukup efektif dalam menghasilkan kedalaman materi bagi mahasiswa. Ini dikarenakan penyajian materi dan pengorganisasiannya terlalu monoton, membosankan dan kurang menarik bagi mahasiswa. Hal ini berakibat pada tidak optimalnya fungsi struktur kognitif mahasiswa serta lemahnya daya ingat mereka terhadap materi fiqh munakahat sehingga prestasi belajar mereka menurun. Advance organizer adalah suatu strategi membangun struktur kognitif untuk meningkatkan proses pembelajaran serta membangun daya ingat dalam memperoleh informasi baru. Penelitian ini akan membandingkan keampuhan dua jenis graphic organizer yakni mind map dan concept map yang digunakan sebagai advance organizer terhadap prestasi belajar. Karakteristik pebelajar yang kelihatannya cukup signifikan mempengaruhi keberadaan advance organizer adalah gaya kognitif. Pengaruh utama strategi pembelajaran dan pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar merupakan konsentrasi penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan terhadap prestasi belajar mata kuliah fiqh munakahat pada mahasiswa S1 syari’ah. Kegunaan dan manfaat penelitian ini dipilah menjadi dua, yaitu (1) manfaat teoritis terkait dengan pelaksanaan kebijakan dalam pendidikan dan (2) manfaat praktis untuk pelaksanaan tindakan pembelajaran di kelas dalam lembaga pendidikan. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen dengan desain versi nonequivalent control group design. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung jurusan Syari’ah semester II angkatan 2010/2011 yang terdiri dari dua kelas A dan B. Penentuan kelas yang akan menjadi subjek penelitian dilakukan secara acak, tetapi penempatan dalam masing-masing kelas merupakan hal yang harus diterima apa adanya (intact Group). Data yang dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis varian dua jalur 2x2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada perbedaan prestasi belajar mata kuliah fiqh munakahat antara kelompok mahasiswa yang dibelajarkan menggunakan strategi advance organizer jenis mind map dan kelompok mahasiswa yang dibelajarkan dengan strategi advance organizer jenis concept map pada mahasiswa S1 syari’ah, (2) Tidak ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa mata kuliah fiqh munakahat antara kelompok mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependence dan field independence pada mahasiswa S1 syari’ah, (3) Tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran advance organizer jenis mind map dan concept map dengan gaya kognitif field dependence dan field independence terhadap prestasi belajar matakuliah fiqh munakahat. Statistik deskriptif menunjukkan bahwa penggunaan strategi advance organizer jenis mind map (rerata 78,59) lebih unggul dibandingkan penggunaan advance organizer jenis concept map (rerata 67,61) dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan kepada para dosen untuk menggunakan strategi pembelajaran advance organizer jenis mind map dalam mata kuliah yang diampu pada pokok bahasan tertentu yang sesuai dengan karakteristik strategi pembelajaran ini. Walaupun dalam penelitian ini gaya kognitif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar, para dosen hendaknya memperhatikan kondisi pembelajaran, seperti minat, bakat, kemampuan awal, motivasi, gaya kognitif, intelegensi, sikap dan lain-lain, sehingga dosen dapat memberdayakan mahasiswa untuk belajar secara maksimal.

Rancang bangun alat pengontrol suhu furnace jarak jauh dengan bantuan telepon selular melalui aplikasi mikrokontroller AT89S52 / Misbahollah

 

Kata Kunci: Suhu, Furnace, mikrokontroller, sms, ponsel. Telepon seluler dengan fasilitas Short Massage Service (SMS) yang mampu bertukar informasi secara jarak jauh (remote) dan tanpa kabel (wireless) dapat memberikan solusi yang tepat terhadap masalah pemantauan dan pengontrolan suhu jarak jauh. Saat ini pengontrolan suhu masih dilakukan secara manual. Pengontrolan secara manual akan menyulitkan jika user sedang berada pada jarak yang cukup jauh dengan ruang/pemanas yang sedang dikontrol. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu sistem kontrol suhu yang dapat dipantau dan dikontrol dari jarak jauh dengan memanfaatkan fasilitas Short Massage Service (SMS) yang tersedia pada ponsel. Perancangan sistem ini bertujuan untuk menghasilkan alat pengontrol suhu furnace jarak jauh dengan memanfaatkan telepon seluler sebagai media pengirim informasi dengan mengaplikasikan mikrokontroller AT89S52. Sensor suhu yang digunakan adalah thermokopel tipe-K. Data keluaran sensor suhu thermokopel tipe-K dimasukkan ke penguat instrumentasi IC AD620 kemudian diolah menjadi data digital oleh ADC 0809. Data digital yang diperoleh, diproses oleh miktokontroller AT89S52 kemudian ditampilkan ke LCD. Telepon seluler dimanfaatlan sebagai pengirim data melalui SMS, SMS yang dikirim dapat berupa sms-info atau sms-setting. Komunikasi antara ponsel dan mikrokontroller dilakukan melalui port serial yang tersedia pada miktokontroller. Dari hasil pengujian sensor suhu diketahui bahwa sensor dapat mendeteksi perubahan suhu pada rentang 100oC hingga 850oC, seriap kenaikan suhu sebasar 25oC tegangan keluaran sensor rata-rata naik sebesar 0,47 mV. Pada pengujian rangkaian ADC 0809 didapatkan grafik linear antara tegangan input dan nilai biner output. Setelah dilakukan pengujian alat secara keseluruhan, diketahui bahwa alat dapat berfungsi sebagai pengontrol dengan baik dan dapat disimpulkan bahwa alat ini telah layak untuk digunakan.

Penerapan perpanduan model pembelajaran Kooperatif Picture and Pivture dan Talking Stick untuk meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-7 di SMA Negeri 1 Batu / Nofi Diana Eka Marta

 

Kata kunci: Picture And Picture, Talking Stick, dan hasil belajar. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pembaharuan dalam pendidikan, khususnya kurikulum yaitu kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut agar siswa lebih aktif sedangkan guru hanya sebagai fasilitator saja. Guru sebagai fasilitator harus mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran dengan tepat sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif, menyenangkan dan tujuan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture Dan Talking Stick dapat membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, selain itu dengan penerapan perpaduan model pembelajaran ini juga membantu siswa untuk mengasah kemampuan berpikir logis sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Batu dengan jumlah 33 siswa yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan tahun ajaran 2011-2012. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa hasil belajar yang diperoleh dari Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture Dan Talking Stick. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil belajar siswa dalam ranah kognitif diukur melalui pre test dan post test, ranah afektif diukur melalui format penilaian rubrik afektif sedangkan respon siswa terhadap penerapan model ini menggunakan format wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas X-7. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I ke siklus II baik pada ranah kognitif maupun afektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture Dan Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Batu. Guru mata pelajaran Ekonomi disarankan menerapkan model Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture Dan Talking Stick sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan konsumsi, investasi, dan uang.

Analisis kesulitan-kesulitan guru dalam pembelajaran IPSW terpadu (Studi kasus pada SMP Negeri 8 Kota Malang) / Endah Suci Pratiwi

 

Kata Kunci: Pembelajaran IPS Terpadu, Kesulitan guru. Pembelajaran IPS terpadu merupakan mata pelajaran yang diamanatkan dalam kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP). Pembelajaran IPS terpadu bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi setiap hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarkat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan dengan baik. Namun ada beberapa kendala yang menyebabkan pembelajaran IPS terpadu berjalan kurang baik. Sehingga masih banyak sekolah yang menerapkan pembelajaran IPS terpadu secara terpisah-pisah tanpa ada keterpaduannya. Beberapa faktor-faktor penyebab pelaksanaan IPS terpadu yang terpisah-pisah tersebut antara lain; (1) Kurikulum IPS Terpadu sendiri belum menggambarkan satu kesatuan yang terintegrasi, melainkan masih terpisah-pisah antar bidang ilmu-ilmu sosial, (2) Latar belakang guru yang mengajar merupakan guru dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda, belum ada guru yang mempunyai latar belakang sebagai guru IPS Terpadu, (3) Terdapat kesulitan pembagian tugas dan waktu pada masing-masing guru mata pelajaran untuk pembelajaran IPS Terpadu, dan (4) Kurangnya sosialisasi mengenai pembelajaran IPS Terpadu (Depdiknas, 2007a: 5) Penelitian ini merupakan kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja yang menjadi kesulitan/hambatan guru dalam pembelajaran IPS Terpadu. Lokasi penelitian adalah SMP Negeri 8 Malang dikarenakan SMP Negeri 8 Malang merupakan salah satu sekolah yang menerapkan pembelajaran IPS terpadu dengan menggunakan guru tunggal. Sedangkan masih banyak sekolah yang menerapkan IPS terpadu dengan guru yang terpisah-pisah. Subjek penelitian ini guru IPS terpadu di SMP Negeri 8 Malang. Dalam penelitian ini, peneliti merupakan key instrumen yang akan terjun langsung ke lapangan atau lokasi penelitian untuk mengumpulkan data melalui teknik triangulasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, display data, dan verifikasi data. Dalam pengabsahan data, peneliti menggunakan uji kredibilitas, uji transferability, uji dependability, dan uji konfirmability. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemahaman guru tentang konsep dasar dan tujuan dari pembelajaran IPS terpadu cukup baik. Dalam penerapan pembelajaran IPS terpadu di kelas sesuai dengan yang diharapkan pembelajaran IPS terpadu. Beberapa kesulitan guru pada saat pembelajaran IPS terpadu di antara lain; (1) Guru mengalami kesulitan pada saat menyampaikan materi yang bukan merupakan bidang ilmunya, (2) Guru mengalami kesulitan pada saat menyusun perencanaan pembelajaran karena banyaknya indikator yang akan ditempuh oleh siswa dan tidak semua materi dapat dipadukan. Sehingga apabila ingin memadukan ilmu-ilmu sosial tersebut harus dipilah-pilah terlebih dahulu dan disesuaikan dengan tema yang sudah ditentukan, (3) Kesulitan dialami karena kurangnya pedoman untuk mengintegrasikan materi-materi yang tercakup dalam SK dan KD IPS terpadu yang disusun secara tematik, (4) Sulitnya membagi waktu antara menyampaikan materi yang tercakup dalam IPS dan melaksanakan pembelajaran IPS terpadu, (5) Kesulitan dialami guru karena kurikulum IPS terpadu yang dianggap masih terpisah-pisah dan butuh pengkajian ulang apabila ingin bisa dipadukan dengan baik, (6) Faktor-faktor eksternal, misalnya siswa yang malas dan lain-lain. Dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut, guru IPS terpadu di SMP Negeri 8 Malang telah melakukan berbagai upaya. Upaya-upaya tersebut antara lain; (1) belajar sebelum mengajar terutama sebelum mengajar yang bukan merupakan bidang ilmu guru tersebut, (2) membentuk forum guru IPS terpadu disekolah yang kegiatannya antara lain mengembangkan silabus IPS terpadu, diskusi-diskusi dan lain-lain, (3) menambah wawasan melalui MGMP, PLPG dan sebagainya, (4) variasi gaya mengajar dan model-model pembelajaran, (5) penggunaan berbagai sumber dan media belajar antara lain lingkungan sekolah, lingkungan sekitar siswa, buku dan internet sekolah (wifi), dan pemanfaatan fasilitas teknologi yang disediakan oleh sekolah seperti LCD dan komputer.

Hubungan persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran dan lingkungan sekolah dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS SMAN 10 Malang / Lina Rusdiana Sari

 

Kata Kunci: persepsi, kualitas pembelajaran, lingkungan sekolah, hasil belajar Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi faktor kesehatan, psikologis, dan kelelahan, serta faktor eksternal yaitu faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Adapun faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah faktor sekolah yang meliputi kualitas pembelajaran guru ekonomi dan lingkungan sekolah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis beberapa hal yaitu: persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran, persepsi siswa tentang lingkungan sekolah, hasil belajar mata pelajaran ekonomi, hubungan persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran dengan hasil belajar, hubungan persepsi siswa tentang lingkungan sekolah dengan hasil belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS di SMAN 10 Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 57 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dengan dua variabel bebas yaitu persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran dan lingkungan sekolah, serta satu variabel terikat yaitu hasil belajar. Teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil sebagai persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran di SMAN 10 Malang dalam kategori tinggi, persepsi siswa tentang lingkungan sekolah dipersepsikan baik, hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi mempunyai hasil belajar yang baik. Untuk mengetahui hubungan antar variabel secara parsial dilakukan melalui analisis korelasi Spearman Rank. Korelasi antara persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran dengan hasil belajar menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,785. Sementara itu, korelasi antara persepsi siswa tentang lingkungan sekolah dengan hasil belajar menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,723. Angka koefisien positif menunjukkan hubungan yang positif, yaitu jika variabel bebas meningkat, maka variabel terikat juga meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran dan persepsi siswa tentang lingkungan sekolah memiliki hubungan dengan hasil belajar siswa baik secara parsial. Saran yang diajukan adalah (1) bagi guru ekonomi diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga memperoleh hasil yang maksimal. (2) Bagi SMAN 10 Malang, diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas lingkungan sekolah baik dari segi fisik maupun non fisik demi tercapainya lingkungan sekolah yang kondusif dan akademis untuk mendorong siswa berprestasi. (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan variabel penelitian yang lain.

Pengaruh pembiayaan, dana pihak ketiga, dan biaya intermediasi terhadap tingkat profitabilitas Bank Umum Syariah periode 2008-2010 / Melati Ayu Lestari

 

Kata Kunci: Pembiayaan, Dana Pihak Ketiga, Biaya Intermediasi, Profitabilitas. Bank Syariah merupakan lembaga perantara yang memiliki kegiatan usaha dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana yang terkumpul tersebut ke masyarakat yang membutuhkannya dalam bentuk pembiayaan serta memberikan jasa-jasa bank lainnya berdasarkan prinsip syariah Islam. Kondisi bank syariah saat ini yang menghadapi persaingan yang semakin kompetitif, baik antar sesama bank syariah maupun dengan bank konvensional akan berpengaruh pada pencapaian tingkat profitabilitas sehingga bank syariah dituntut untuk meningkatkan kinerjanya agar dapat menarik investor. Dana pihak ketiga yang diperoleh bank akan disalurkan menjadi pembiayaan untuk menghasilkan pendapatan bagi bank syariah. Pendapatan dari penyaluran pembiayaan ini nantinya akan mempengaruhi profitabilitas yang diukur dengan rasio marjin laba. Selain itu, tingginya tingkat profitabilitas yang diukur dengan rasio marjin laba juga tergantung pada biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank syariah, yaitu biaya intermediasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembiayaan, dana pihak ketiga, dan biaya intermediasi terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dengan rasio marjin laba Bank Umum Syariah baik secara parsial maupun simultan. Populasi dari penelitian ini adalah Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2008-2010 yang berjumlah 11 bank. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 3 sampel. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan triwulanan PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank Syariah Mega Indonesia periode tahun 2008-2010. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan sumber data dalam penelitian ini bersifat data sekunder yang diperoleh dari PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank Syariah Mega Indonesia periode tahun 2008-2010. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan secara parsial pembiayaan dan dana pihak ketiga berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dengan rasio marjin laba dengan tingkat signifikansi sebesar 0,017 dan 0,002. Sedangkan, biaya intermediasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dengan rasio marjin laba dengan tingkat signifikansi sebesar 0,002. Secara simultan pembiayaan, dana pihak ketiga, dan biaya intermediasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dengan rasio marjin laba dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Saran yang diberikan adalah: (1) peneliti selanjutnya dapat meneliti tentang kinerja non keuangan, (2) peneliti selanjutnya menggunakan sampel yang lebih banyak dan menambah atau memperpanjang periode pengamatan agar penelitian lebih berguna, (3) peneliti selanjutnya lebih mempertimbangkan variabel independen lain yang lebih dapat memprediksi peningkatan profitabilitas, seperti rasio keuangan dan jumlah rekening Bank Umum Syariah, (4) peneliti selanjutnya dapat menggunakan pengukuran profitabilitas lainnya dengan pertimbangan yang tepat, seperti Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE).

Pengaruh penggunaan media CD pembelajaran pada materi hidrosfer terhadap minat dan hasil belajar siswa kelas X di SMA Negeri 7 Malang / Irmawati

 

Kata Kunci: media CD Pembelajaran, minat belajar siswa, hasil belajar siswa Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa. Dalam proses pembelajaran sering kali guru menyampaikan materi hanya dengan metode ceramah dan tidak memanfaatkan media yang telah disediakan. Hal ini akan menurunkan minat siswa karena akan merasa bosan, tidak tertarik, dan mengurangi perhatian siswa. Minat siswa yang rendah akan berdampak pada pemahaman siswa terhadap materi, sehingga hasil siswapun akan menurun. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memanfaatkan media seperti media CD Pembelajaran. Media ini dipilih karena memiliki beberapa kelebihan, diantaranya mampu menampilkan animasi bergerak, dilengkapi dengan audio, dan gambar-gambar yang tampilannya menarik. Media ini akan menarik siswa dan tidak membosankan sehingga siswa akan lebih mudah memahami isi materi secara optimal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media CD Pembelajaran pada materi Hidrosfer terhadap minat belajar siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang. Selain pada minat belajar siswa, tujuan penelitian ini juga untuk mengetahui pengaruh penggunaan media CD Pembelajaran pada materi Hidrosfer terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian semu (Quasi Experiment) dengan desain penelitian pre test-pos test control group desaign. Subyek dalam penelitian ini terdapat dua kelas yaitu kelas X-6 sebagai kelas kontrol dan kelas X-2 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian pada minat belajar siswa berupa angket minat belajar, sedangkan pada hasil belajar siswa berupa tes esai yang digunakan untuk pra test dan pasca test. Teknik analisis data minat dan hasil belajar dimulai dengan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh perbedaan minat dan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan media CD Pembelajaran dengan kelas kontrol yang memanfaatkan media gambar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Data minat belajar siswa juga menunjukkan kelas eksperimen mempunyai minat belajar yang lebih tinggi daripada kelas kontrol. Jadi, dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa penggunaan media CD Pembelajaran mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap minat dan hasil belajar siswa. Disarankan bagi sekolah agar menganjurkan kepada guru-guru untuk menggunakan media CD Pembelajaran dalam proses pembelajaran dan bagi guru agar menggunakan media CD Pembelajaran ketika menemukan permasalahan tentang minat dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya dapat menambah variabel seperti, motivasi siswa, keaktifan siswa, atau retensi belajar siswa.

Pengaruh pemanfaatanmultimedia pembelajaran terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang / Nurul Faridah

 

Kata Kunci: Multimedia Pembelajaran, Prestasi Belajar, Akuntansi. Pemanfaatan multimedia pembelajaran disadari oleh banyak praktisi pendidikan dapat membantu aktivitas proses belajar mengajar baik di dalam maupun di luar kelas. Multimedia pembelajaran memiliki kemampuan dalam menggabungkan semua unsur media seperti teks, gambar, animasi, dan suara menjadi satu kesatuan penyajian yang terintegrasi sehingga diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar akuntansi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan multimedia pembelajaran terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 yang berjumlah 30 siswa sebagai kelas kontrol dan siswa kelas XI IPS 3 yang berjumlah 30 siswa sebagai kelas eksperimen. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T Test (Uji T untuk dua sampel tidak berpasangan). Hasil analisis diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,272. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,272 lebih besar daripada 0,05. Berdasarkan nilai signifikansi yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa H0 diterima yang berarti bahwa tidak ada pengaruh pemanfaatan multimedia pembelajaran terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan prestasi belajar akuntansi antara siswa kelas ekperimen yang mendapat perlakuan berupa multimedia pembelajaran dengan siswa kelas kontrol yang mendapat perlakuan tanpa multimedia pembelajaran atau hanya menggunakan metode konvensional saja. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar guru lebih kreatif dan inovatif dalam merancang dan memanfaatkan media pembelajaran untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik.

Rancang bangun mesin penghancur jagung kapasitas 20 kg/jam dengan blower / Ali Aq'san

 

Kata kunci : pembuatan, penghancur, jagung, tumbukan Mesin penghancur jagung yang sudah ada di pasaran memiliki kapasitas penghancuran yang kurang mencukupi, sehingga dalam hal ini tujuan pembuatan alat ini untuk menangani kelemahan dari mesin yang sudah ada di pasaran tersebut. Sistem kerja mesin ini menggunakan sistem tumbukan, jadi di dalam silinder luar dan silinder dalam terdapat las-lasan besi, sehingga jagung yang masuk akan berputar dan terbentur pada besi dan akan hancur. Metode pembuatan meliputi perancangan mesin, pembuatan gambar, proses pemesinan yang meliputi : membubut, mengebor, mengelas, menggerinda, kerja bangku serta perakitan. Hasil berupa mesin penghancur jagung kapasitas 20 kg/jam. Harga jual mesin ini sebesar Rp 1.903.173,- dan modal akan kembali setelah mesin ini beroperasi selama 46 hari dengan 8 jam kerja setiap harinya.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap pengambilan keputusan kredit sepeda motor / Anwar Bagus Sampurno

 

Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Pengambilan Keputusan Kredit. Fenomena semakin bertambahnya pengguna sepeda motor setiap tahunnya menyebabkan sepeda motor sebagai salah satu kendaraan yang paling banyak digunakan di Indonesia. Peluang ini juga mendorong lembaga – lembaga pembiayaan untuk menyediakan jasa kredit. Untuk memenuhi besarnya permintaan kredit sepeda motor, berbagai lembaga pembiayaan menyediakan beragam layanannya. Pelayanan terbaik yang diberikan nantinya akan menentukan konsumen dalam melakukan pengambilan keputusan kredit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap pengambilan keputusan kredit sepeda motor secara parsial dan simultan pada nasabah PT Summit OTO Finance Cabang Pasuruan. Penelitian ini termasuk penelitian metode explanatory research. Penelitian ini terdiri dari variabel independent (X) dan variabel dependent (Y). Variabel independent dalam penelitian ini adalah kualitas pelayanan yang terdiri dari tangibles (bukti fisik) (X1), responsiveness (daya tanggap) (X2), assurance (jaminan) (X3), reliability (kehandalan) (X4), empathy (perhatian) (X5), variabel dependent adalah pengambilan keputusan. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah nasabah kredit PT Summit OTO Finance Cabang Pasuruan sebanyak 390 responden dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Penelitian ini menggunakan analisis regresi dengan tujuan untuk menguji hipotesis, yang menyatakan ada pengaruh secara parsial ataupun secara simultan antara variabel independent (X) dengan variabel dependent (Y). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan secara simultan dan parsial antara variabel kualitas pelayanan yang terdiri dari tangibles, responsiveness, assurance, reliability, empathy terhadap keputusan pembelian kredit sepeda motor pada PT Summit OTO Finance Cabang Pasuruan. Sedangkan untuk variabel dominan dari kualitas pelayanan yaitu variabel responsiveness yang mempunyai beta standar paling besar yakni 0,274. Dari hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan untuk perusahaan adalah perusahaan meningkatkan program pelatihan dan memberikan bonus/ penghargaan guna meningkatkan kualitas pelayanan. Saran kepada karyawan lebih meningkatkan pelayanan dengan memberikan identitas diri sehingga konsumen merasa lebih diperhatikan. Bagi konsumen saran yang diberikan agar lebih selektif dalam melakukan pemilihan lembaga pembiayaan supaya tidak mengakibatkan kerugian. Saran bagi peneliti selanjutnya agar lebih mengembangkan penelitian pada tempat lainnya untuk memperdalam kajian.

Meningkatkan pemahaman siswa tentang sifat-sifat perkalian bilangan cacah menggunakan tali rafia dan stryrofoam persegi di Sekolah dasar Negeri (SDN) Gadang 2 Kota Malang / Beni Asyhar

 

Kata kunci: Tali Rafia, Styrofoam Persegi, Sifat-sifat Perkalian Bilangan Cacah Perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah mempunyai peranan penting dalam bidang matematika dan banyak digunakan dalam kehidupan seharihari, sehingga penguasaan terhadap konsep perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah perlu ditekankan pada siswa sejak awal. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah masih rendah. Siswa cenderung menghafal perkalian. Siswa tidak memperoleh kesempatan untuk memahami sendiri konsep perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah. Oleh karena itu, diperlukan usaha yang serius dalam membangun penguasaan siswa terhadap konsep perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah dengan menggunakan alat peraga berupa tali rafia dan styrofoam persegi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang sifat-sifat perkalian bilangan cacah menggunakan tali rafia dan styrofoam persegi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gadang 2 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas II. Subjek wawancara 5 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 3 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Pemilihan subjek wawancara berdasarkan hasil tes awal dan pertimbangan bahwa siswa-siswa tersebut mudah diajak komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa: 1) pembelajaran menggunakan tali rafia dan styrofoam persegi dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah dengan 3 tahapan pembelajaran, yaitu: (i) tahap awal meliputi menyampaikan tujuan pembelajaran, pemberian motivasi tentang pentingnya perkalian bilangan cacah, memeriksa pengetahuan prasyarat, dan membagikan alat peraga dan LKS, (ii) tahap inti meliputi pelaksanaan diskusi kelompok dan presentasi hasil diskusi, dan (iii) tahap akhir meliputi membuat kesimpulan dan evaluasi, dan 2) respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan tali rafia dan styrofoam persegi pada materi perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah adalah positif. Bagi peneliti lain yang berminat mengadakan penelitian serupa hendaknya melakukan pada sekolah yang lain sehingga akan diperoleh gambaran lebih lanjut mengenai efektifitas pembelajaran dengan menggunakan tali rafia dan styrofoam persegi pada materi perkalian dan sifat-sifat perkalian bilangan cacah. Selain dilakukan pada sekolah lain, hendaknya tujuan penelitiannya diarahkan pada bagaimana siswa menemukan konsep matematika sendiri.

Pengaruh partisipasi siswa di koperasi sekolah terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 8 Malang / Karsi Windasari

 

Kata Kunci: Partisipasi Siswa, Koperasi Sekolah, Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Koperasi sekolah merupakan salah satu sarana belajar yang penting dalam proses belajar mengajar di sebuah lembaga pendidikan formal, khususnya berkaitan dengan mata pelajaran Ekonomi. Dengan berpartisipasi aktif di koperasi sekolah, siswa akan lebih mudah memahami teori-teori ekonomi yang diajarkan di dalam kelas dengan praktek langsung di koperasi sekolah, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Selain itu koperasi sekolah juga memiliki potensi peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengalaman berwirausaha, dan pemenuhan kebutuhan siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X,XI,XII yang memperoleh pembelajaran Ekonomi yang berjumlah 525 siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 110 siswa responden. Peneliti mengambil sampel seluruh siswa kelas XI IPS. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket/kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Terdapat pengaruh partisipasi siswa di bidang organisasi (X1) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 8 Malang (Y) sebesar 17,86%. (2) Terdapat pengaruh partisipasi siswa di bidang usaha (X2) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 8 Malang (Y) sebesar 29,06%. (3) Terdapat pengaruh partisipasi siswa di bidang modal (X3) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 8 Malang (Y) sebesar16,37%. (4) Terdapat pengaruh partisipasi siswa di bidang organisasi, usaha dan modal (X1, X2, X3) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 8 Malang sebesar 63,3%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan : (1) Bagi kepala sekolah : Memberikan dukungan bagi perkembangan koperasi sekolah dengan sering mengikutsertakan dalam ajang perlombaan antar koperasi sekolah, sehingga koperasi sekolah dapat berkembang lebih pesat dan menjadi laboratorium yang baik bagi siswa. (2) Bagi guru mata pelajaran ekonomi : Menggunakan koperasi sekolah sebagai wadah atau fasilitas belajar yang dapat digunakan siswa untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar ekonomi, mengenal ekonomi secara dan meneliti perilaku ekonomi secara lebih nyata. ( 3) Bagi pengurus koperasi sekolah : Meningkatkan profesionalisme pengurus koperasi sekolah dengan banyak belajar dan meminta bimbingan dan arahan pada guru pembina koperasi sekolah. (4) Bagi siswa : Meningkatkan keaktifan siswa di koperasi sekolah dengan ikut serta mengembangkan koperasi sekolah ke arah yang lebih baik lagi guna menunjang peningkatan hasil belajar siswa pada umumnya.

Pengembangan media pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dalam bentuk multimedia interaktif berbasis komputer kompetensi dasar renang gaya bebas dan gaya dada untuk siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen / Inggit Kurniawan

 

Kata kunci: pengembangan, multimedia interaktif, renang gaya bebas, renang gaya dada. Aktivitas air merupakan salah satu ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Keterampilan renang merupakan salah satu kompetensi dasar yangh diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen. Dalam kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 1 Kepanjen kompetensi dasar renang, guru mengajar 1 kali pertemuan di kelas dan 1 kali pertemuan praktik. Dalam menyampaikan materi di dalam kelas, guru hanya menjelaskan secara verbal dan memberikan sedikit gambaran gerakan renang. Dengan didukung media berupa buku ajar terkadang siswa masih kurang mengerti dengan materi yang dijelaskan guru karena siswa hanya dapat membayangkan gerakan renang dari penjelasan guru dan gambar yang ada pada buku ajar. Oleh karena itu perlu dikembangkan media yang mampu memberikan gambaran yang nyata dan menyeluruh dalam bentuk multimedia interaktif, sehingga diharapkan dapat membantu memudahkan siswa untuk mengerti materi yang dipelajari. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer dalam bentuk multimedia interaktif pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan khususnya kompetensi dasar renang gaya bebas dan gaya dada yang diharapkan dapat membantu mengoptimalisasi pembelajaran siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan dari Borg dan Gall yang diadaptasi menjadi model yang sederhana yaitu: 1) menentukan potensi dan masalah penelitian; (2) mengumpulkan informasi, (a) mengkaji bahan pustaka, (b) analisis kebutuhan; (3) mendesain produk dan validasi desain, (a) uji ahli media (1 orang), (b) uji ahli renang (1 orang), (c) uji ahli pembelajaran (1 orang); (4) uji coba (kelompok kecil pada 9 siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen); (5) merevisi hasil uji coba (6) uji lapangan (kelompok besar pada 45 siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen); (7) produk akhir pengembangan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil tinjauan para ahli, dari ahli media menyatakan bahwa secara keseluruhan sudah bagus, namun hendaknya musik diberi pilihan beat atau tempo lambat atau sedang atau tinggi, video sebaiknya disertai dari mana video diperoleh, kontrol suara hendaknya tidak memakai persentase tetapi memakai slider. Tinjauan ahli renang menyatakan bahwa seluruh aktivitas dan konsep materi dalam multimedia interaktif sudah sesuai dengan konsep yang sebenarnya, namun peraturan pertandingan hendaknya diberi sumber. Dan yang terakhir yaitu tinjauan ahli pembelajaran menyatakan secara keseluruhan sudah bagus. Dari seluruh hasil tinjauan para ahli tersebut, maka dinyatakan bahwa produk yang dikembangkan sudah baik dan dapat digunakan untuk uji produk. Dari hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan multimedia interaktif kompetensi dasar renang gaya bebas dan gaya dada untuk siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 76%-100%. Sedangkan hasil uji lapangan (kelompok besar) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan multimedia interaktif kompetensi dasar renang gaya bebas dan gaya dada untuk siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar), maka diperoleh bahwa produk pengembangan multimedia interaktif kompetensi dasar renang gaya bebas dan gaya dada untuk siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 76%-100%, sehingga dapat digunakan. Berdasarkan data yang diperoleh dari para ahli, uji coba (kelompok kecil), maupun uji lapangan (kelompok besar), maka multimedia interaktif kompetensi dasar renang gaya bebas dan renang gaya dada untuk siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen ini dapat dipergunakan sebagai media belajar.

Perbedaan hasil belajar matematika melalui pembelajaran menggunakan metode silih tanya dengan yang menggunakan metode ekspositori di SMPN 4 Malang / Dwi Romdiyah

 

Kata Kunci : hasil belajar, metode silih tanya, metode ekspositori Di sekolah, anak berlatih untuk berpikir, belajar, dan menyelesaikan masalah. Proses pembelajaran matematika di sekolah banyak yang menggunakan metode ekspositori.Variasi metode pembelajaran diperlukan agar siswa merasa nyaman dan tidak bosan di kelas. Metode silih tanya memiliki empat unsur pokok yaitu penyusunan masalah, kompetisi, permainan dan kerjasama. Sehingga dalam pembelajaran tercipta situasi yang nyaman, selanjutnya diharapkan hasil belajar siswa optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan metode silih tanya dengan yang menggunakan metode ekspositori dan untuk mengetahui metode yang memberikan hasil belajar lebih tinggi, jika kedua metode tersebut menghasilkan hasil belajar yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis eksperimen semu. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII Reguler SMPN 4 Malang semester gasal tahun ajaran 2011/2012. Siswa kelas VIII C adalah kelas ekperimen yang mendapat pembelajaran dengan metode silih tanya, sedangkan kelas VIII D adalah kelas kontrol yang mendapat pembelajaran dengan metode ekspositori. Instrumen yang digunakan adalah instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Data skor hasil belajar diperoleh dari skor tes setelah proses pembelajaran berakhir Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Berdasarkan hasil penelitian dan uji hipotesis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pada hasil belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan metode silih tanya dengan yang menggunakan metode ekspositori di SMP Negeri 4 Malang. Faktor yang mungkin menjadi penyebab tidak adanya perbedaan adalah pertama,siswa kelas eksperimen kesulitan merumuskan soal , soal yang diajukan kurang bervariasi, dan kualitas soal rendah sedangkan di kelas kontrol siswa mendapatkan latihan soal yang diberikan oleh guru dengan soal yang bervariasi, kedua, berapa siswa berbuat curang, kurang cakapnya peneliti dalam mengkondisikan kelas, serta tipe instrument pengukuran yang digunakan kurang sesuai dengan materi. Oleh karena itu, bagi peneliti lain yang hendak melaksanakan atau mengembangkan penelitian serupa hendaknya mengadakan perbaikan desain pembelajaran dalam aktifitas silih tanya dan memilih tipe instrument yang sesuai dengan materi yang diajarkan.

Developing snake and ladder game board as a media to teach english vocabulary to elementary school students / Candrika Citra Sari

 

Key words: vocabulary, elementary students, Giant Snake and Ladder In general the purpose of the present study is to develop Snake and Ladder game as a media to teach vocabulary to elementary students. The design of this study is research and development. This study follows the R&D cycles which are presented by Borg and Gall (1983). The steps are: (1) need analysis, (2) product development, (3) try out, (4) product revision, (5) final product. The need analysis was done at SDN Percobaan I Malang. The product was developed based on the result of need analysis. Then, the try out was held in SDN Percobaan I Malang. The accessible population is the students in 5b class. Since all members of the accessible population are involved in the study, no sampling technique was applied. The product which is tried out is a set of board game called Giant Snake and Ladder. It consists of some equipment, i.e. (1) a board, (2) a dice, (3) eleven tokens, (4) vocabulary cards, (5) answer key, and (6) play guide. Different from the original Snake and Ladder, Giant Snake and Ladder has a larger board, so the students can step on it to move the tokens. The tokens and the dice are very unique. They are made from cardboard. All the equipments used in this game are user friendly and not dangerous for children. The materials of the vocabulary cards deal with post office, bank, and hotel. The result of the try out indicates that the game is suitable for learning vocabulary in 5b class SDN Percobaan I Malang. The majority of the students like the game, since it involves physical movement and group work. The students also learn some new vocabularies through this game. Based on the teacher’s point of view, Giant Snake and Ladder is suitable for learning vocabulary since the materials in the vocabulary cards suited the students’ level In addition to the vocabulary learning, through Giant Snake and Ladder the students can learn about cooperative work as the students must work in group. The group work challenges the students to have social interaction within the group’s members. Then, the students can also learn about up and down in life. Snake represent the unfortunate events, while ladder represent the fortunate events in life. There are two obstacles which are found during the product try out. First, the size of the board is not big enough for eleven groups. Second, the vocabulary cards are too small to be read together by the members of the group at one time. Thus, it is advisable that the English teacher who wants to use this game as a media to teach vocabulary to adjust the board size and the vocabulary cards sizes with the number of students and the students’ needs. At last, this game still needs more variation in term of topics, exercise, and rules. Therefore, further research is also advisable to be conducted to develop this game and to find out this game effectiveness in vocabulary teaching.

Pengaruh atmosfer toko dan harga terhadap keputusan pembelian (Studi pada konsumen Giant Hypermarket Gajayana Malang) / Rachmawati Budi Lestari

 

Kata kunci: Atmosfer Toko, Harga, Keputusan Pembelian Seiring dengan perkembangan dunia pada masa sekarang ini yang semakin maju, telah menjadi perkembangan yang cukup besar dalam dunia usaha perdagangan di Indonesia. Pasar ritel di Indonesia juga mengalami perkembangan dengan persaingan yang semakin ketat. Salah satu mal yang berdiri di kota Malang adalah Mal Olympic Garden (MOG). Mal Olympic Garden merupakan salah satu pilihan dan saran berbelanja yang mempunyai banyak gerai diantaranya adalah Giant Hypermarket Gajayana Malang. Atmosfer toko pada suatu bisnis ritel sangat penting untuk diperhatikan karena atmosfer toko yang menyenangkan akan mempengaruhi perilaku konsumen. Penetapan harga yang sesuai akan mempengaruhi keputusan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang atmosfer toko dan harga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Kondisi atau deskripsi atmosfer toko, harga, dan keputusan pembelian, (2) Pengaruh pengaruh atmosfer toko terhadap keputusan pembelian, (3) Pengaruh harga terhadap keputusan pembelian, dan (4) Variabel yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis regresi berganda dengan menggunakan SPSS For Windows dengan versi 17.0. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang melakukan kegiatan pembelian di Giant Hypermarket Gajayana Malang yang jumlahnya tak terhingga atau disebut dengan infinite population. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang. Hasil analisis deskriptif dapat diketahui bahwa: (1) 60% jawaban responden menyatakan setuju bahwa atmosfer toko yang terdapat pada Giant Hypermarket Gajayana Malang sudah sesuai dengan harapan konsumen, (2) 50% jawaban responden menyatakan setuju bahwa harga yang ditetapkan Giant Hypermarket Gajayana Malang sudah sesuai dengan harapan konsumen, (3) 48% jawaban responden menyatakan setuju bahwa keputusan pembelian pada Giant Hypermarket Gajayana Malang sudah sesuai tinggi. Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa atmosfer toko mempunyai nilai thitung 0,272 dengan taraf signifikansi t = 0,786. Sedangkan harga mempunyai nilai thitung 3,845 dengan taraf signifikansi t = 0,000. Diketahui pula bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,114 yang berarti bahwa atmosfer toko dan harga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada Giant Hypermarket Gajayana Malang sebesar 11,4% sedangkan sisanya 88,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diketahui pula bahwa variabel yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada Giant Hypermarket Gajayana Malang adalah harga. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Kondisi atau deskripsi atmosfer toko, harga, dan keputusan pembelian menurut persepsi konsumen sebagian besar responden menyatakan setuju karena sudah sesuai dengan harapan konsumen, (2) Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan atmosfer toko terhadap keputusan pembelian konsumen Giant Hypermarket Gajayana Malang, (3) Terdapat pengaruh positif yang signifikan harga terhadap keputusan pembelian konsumen Giant Hypermarket Gajayana Malang, (4) Harga adalah faktor yang dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen Giant Hypermarket Gajayana Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada Manajemen Giant Hypermarket Gajayana Malang: (1) Sebaiknya terus meningkatkan atmosfer toko agar dapat menimbulkan efek positif yang mendorong keputusan pembelian konsumen, (2) Sebaiknya dibuat kartu member lain selain Citi Giant Card agar konsumen berkesempatan untuk mendapatkan diskon dan cashback seperti pengguna Citi Giant Card, (3) Hendaknya Giant Hypermarket Gajayana Malang juga memperhatikan pula faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini guna menarik konsumen. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan: (1) Sebaiknya dalam penelitian dalam penelitian selanjutnya untuk mencoba melakukan penelitian pada tempat lain agar nantinya hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan sebagai perbandingan bagaimana pengaruh atmosfer toko dan harga terhadap keputusan pembelian, dan (2) kepada peneliti berikutnya diharapkan untuk menyempurnakan hasil penelitian ini yaitu dengan menggunakan variabel lain seperti kualitas layanan, bauran promosi, citra toko, dan sebagainya yang berpengaruh terhadap keputusan sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan

Pemanfaatan metode pembelajaran role playing untuk meningkatkanj aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas 5 SDN Kemirisewu 2 Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Sandhi Sirna Prahara

 

Kata kunci: Metode pembelajaran Role Playing, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas 5 SDN Kemirisewu 2 Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan pada kegiatan pembelajaran IPS dapat diketahui beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS, di antaranya adalah siswa cenderung pasif, hanya memperhatikan penjelasan guru saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa hanya mencatat materi yang disampaikan guru. Guru juga kurang menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga kurang menarik minat siswa. Dari kenyataan tersebut berakibat nilai rata-rata pembelajaran IPS 21,05. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: mendeskripsikan pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V di SDN Kemirisewu 2 Kecamatan Pandaan dengan menggunakan metode pembelajaran Role Playing. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini mengacu pada rancangan penelitian model Kemmis dan Taggart, (Sa‟dun Akbar, 2010:30) penelitian terdiri 2 siklus. Masing-masing siklus terdapat 4 tahapan yaitu (a) perencanaan; (b) pelaksanaan tindakan dan observasi; (c) refleksi; (d) revisi. Kemudian setiap siklus ada 2 kali pertemuan. Untuk mengumpulkan data, instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa: 1) observasi 2) tes. Seorang siswa dinyatakan tuntas belajarnya apabila telah mencapai skor 70. Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5 SDN Kemirisewu 2 Kecamatan Pandaan Kabupaten Pauruan. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan ketuntasan aktifitas belajar siswa dari 70,42 % meningkat menjadi 80,85 %. Dari peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa 36,61` meningkat menjadi 80,76. Dilihat dari rata-rata hasil belajar pada pelaksanaan siklus I pertemuan ke-1 meningkat menjadi 53,2 sedangkan pelaksanaan siklus I pertemuan ke-2 meningkat menjadi 58 dan siklus II pertemuan ke-1 hasil belajar siswa mencapai 72,30 dan pada siklus II pertemuan ke-2 hasil belajar siswa meningkat menjadi 78,84. Pemanfaatan metode pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan metode pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPS siswa kelas 5 SDN Kemirisewu 2 Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada guru agar dalam kegiatan pembelajaran mampu mengaktifkan siswa dalam belajar yang salah satunya adalah Role Playing.

Analisis strategi pengusaha tempe Sanan dalam mengembangkan usaha (Studi kasus pada pengrajin tempe di Sanan Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, Kota Malang) / Bobby Krisna Dwicahyo

 

Kata Kunci : Kondisi Usaha, Strategi Pengusaha Dalam mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, UKM dan koperasi mampu memberikan kontribusi yang besar bagi Kota Malang maupun Indonesia pada umumnya, salah satunya adalah melalui Sentra UKM tempe dan keripik tempe. Permasalahan saat ini adalah adanya monopoli perdagangan yang dilakukan oleh produsen hilir (produsen yang hanya menjual produk keripik saja) terhadap produsen hulu (produsen yang melakukan proses produksi dari awal hingga akhir). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Dengan demikian penelitian ini untuk mendeskripsikan data secara objektif terhadap kondisi usaha, potensi sentra usaha, dan strategi pengusaha dalam mengembangkan industri keripik tempe. Penelitian ini menggunakan 7 informan yaitu Pak Azhari, Ibu Rokhana, Pak Sentot, Pak Muhammad Ali, Pak Rudy, Pak Nasikan, Ibu Halimah. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusaha kecil sentra usaha keripik tempe di Kelurahan Purwantoro mengalami kesulitan pada kurangnya keterampilan dalam pembukuan, pemasaran dan modal. Di samping itu pengusaha melakukan upaya-upaya dalam mempertahankan usahanya dengan menciptakan inovasi produk, menawarkan mutu yang lebih baik dan memelihara pelanggan serta meningkatkan pelayanan. Strategi pengusaha diklasifikasikan menjadi tiga model, yakni strategi pengembangan produk, strategi bertahan, dan strategi pemasaran. Untuk mendukung dari semua upaya-upaya mempertahankan dan mengembangkan usaha, pengusaha dianjurkan untuk meningkatkan kerjasama di antara pengusaha lainnya. Begitu pula peran pemerintah sangat dibutuhkan para pengusaha dalam rangka mengembangkan usaha. Dan hasil skripsi ini bisa digunakan sebagai informasi dalam upaya untuk mengembangkan usaha.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 |