Perubahan sifat organoleptik bumbu rujak cingur tanpa perlakuan pasteurisasi dan yang diberi perlakuan pasteurisasi / oleh Azizil Alim

 

Uji organoleptik sponge zake substitusi tepung labu kuning (Cucrbita muschata, ex. Poir) dengan persentase yang berbeda / oleh Patmawati

 

Kendala-kendala program Pendidikan Luar Sekolah pada kelompok belajar paket C : studi kasus pengelolaan kelompok belajar paket C di kelurahan Talumolo Kota Timur Kota Gorontalo / oleh Ummyssalam A.T.A Duludu

 

Kemampuan self-regulated learning pada siswa berprestasi di SLTPN 1 Bantul Yogyakarta / oleh Muhammad Nur Wangid

 

Pengembangan paket pembelajaran dengan model Dick & Carey pada mata kuliah sinetron pendidikan Jurusan Teknologi Pendidikan IKIP Negeri Singaraja / oleh I Made Tegeh

 

Penggunaan metode SAS dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD Negeri Karangwidoro II Kecamatan Dau Kabupaten Malang / oleh Is'adi

 

Hubungan antara motivasi belajar dan prestasi belajar praktik keahlian otomotif dengan kemampuan melaksanakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) siswa Jurusan Otomotif SMK Teknologi se-Kota Malang / oleh Dwi Susanti

 

Perbedaan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang yang diajar dengan strategi peta konsep-diagram Vee dengan yang tidak diajar secara konvensional pada materi pokok sistem Koloid tahun ajaran 2005/2006 / oleh Riva Artanti

 

Penguasaan konsep mekanika mahasiswa Jurusan Fisika angkatan 2013 sebelum dan sesudah mengikuti perkuliahan fisika dasar I / Andika Rudita

 

Rudita, Andika. 2014. Penguasaan Konsep Mekanika Mahasiswa Jurusan Fisika angkatan 2013 Sebelum dan Sesudah Mengikuti Perkuliahan Fisika Dasar I. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutopo, M.Si, (II) Sulur, S.Pd, M.Si, MTD. Kata Kunci: Mekanika, Fisika Dasar I, Penguasaan Konsep, Mechanics Baseline Test (MBT), Nilai Ujian Nasional (NUN) Fisika. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penguasaan konsep mekanika pada mata kuliah Fisika Dasar I untuk mahasiswa jurusan Fisika FMIPA UM. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap konsep-konsep mekanika yang belum dikuasai mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitaif. Instrumen penelitian untuk pre-test dan post-test yang digunakan adalah Mechanic Baseline Test (MBT). Data penelitian ini berupa hasil pre-test, post-test, NUN Fisika, Jalur masuk Universitas Negeri Malang, dan hasil wawancara. Data tersebut kemudian diolah menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif berupa uji beda dan uji korelasi. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil penelitian. Hasil analisis data memberi kesimpulan sebagai berikut, tidak ada perbedaan yang signifikan (p = 0,84 > 0,05) antara hasil pre-test mahasiswa program studi Pendidikan Fisika maupun program studi Fisika. Namun sebagian besar (99%) mahasiswa termasuk kategori kurang kompeten (nilai pre-test < 60%). Mahasiswa masih terbiasa dengan soal-soal hitungan. Selain itu, hubungan antara Nilai Ujian Nasional (NUN) Fisika dengan hasil pre-test termasuk dalam kriteria lemah (rho = 0,19, p = 0,07 > 0,05). Setelah mengikuti mata kuliah Fisika Dasar I, mahasiswa mengalami peningkatan. Rata-rata keseluruhan mahasiswa mengalami peningkatan N-gain sebesar 0,16 termasuk kategori rendah (N-gain < 0,25). Sebagian besar mahasiswa masih belum menguasai dengan baik konsep percepatan pada gerak melingkar, gaya normal, gaya tegangan tali pada gerak bandul sederhana, serta hubungan usaha dengan energi kinetik.

Studi mengenai kapabilitas unit kegiatan mahasiswa bidang minat olahraga Universitas Negeri Malang periode tahun 2006 / oleh Candra Intan Permatasari

 

Kekerasan suami terhadap istri dalam rumah tangga : studi kasus psikologi dalam perspektif budaya patriarki dan agama / oleh Marnia Lusiyanti

 

Pengaruh tingkat perputaran piutang usaha dan volume piutang usaha terhadap rentabilitas pada PT HM. Sampurna Tbk. dan anak perusahaan / oleh Lilik Andayani

 

Pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan Hotel Merdeka Madiun / oleh Kurnia Yedijaroni

 

Perancangan desain komunikasi visual Hotel Purnama Batu sebagai media promosi / oelh Eko Prasetyo

 

Analisis Muchassina:t Lafdhiyyah dalam al-Qur'an juz 30 / oleh Atik Rahmawati

 

Peningkatan hasil belajar penjumlahan pecahan melalui model mastery learning (Belajar tuntas) siswa kelas IV SD Islam Hasanul Amin Kabupaten Blitar / Ratana Pratiwi

 

Kata Kunci : Pembelajaran Matematika, Model Mastery Learning (Belajar Tuntas), Hasil Belajar Dari hasil pengamatan proses belajar mengajar, guru menggunakan model konvensional akibatnya pembelajaran matematika di SD Islam Hasanul Amin Kabupaten Blitar terdapat siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang dapat tuntas hanya 30 % atau ketuntasan sejumlah 6 siswa dari 20 siswa. Sedangkan yang mengalami ketidaktuntasan belajar sebanyak 70%, sebanyak 14 siswa dari 20 siswa. Nilai rata-rata yang diperoleh 51,5. Berdasarkan hasil pencapaian tujuan belajar persentasenya dibawah 65% dinyatakan tidak tuntas. Secara klasikal belum dapat dikatakan tuntas dalam belajar. Karena siswa yang memperoleh nilai 65 keatas hanya sebesar 30%, lebih kecil dari ketuntasan kelas yang ditetapkan sebesar 75%. Berkaitan dengan hal tersebut maka pembelajaran tentang materi pecahan dapat menerapkan inovasi baru bagi pembelajaran siswa di SD tersebut yaitu dengan model Mastery Learning (belajar tuntas). Model tersebut dipilih karena diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi pecahan siswa kelas IV SD Islam Hasanul Amin. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik analisa data kualitatif dilakukan dengan menelaah seluruh data, mereduksi data, menafsirkan data, dan memberikan pemaknaan hasil. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan jenis penelitian tindakan (action research), yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari tiga tahap yaitu pra tindakan, siklus 1, dan siklus 2. Masing-masing tahap terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Penerapan model mastery learning (belajar tuntas) dalam pembelajaran matematika kelas IV SD Islam Hasanul Amin Kabupaten Blitar dilaksanakan guru dengan baik. Berdasarkan data siklus 1 dapat dipaparkan bahwa ketuntasan belajar siswa 60%, atau ketuntasan sejumlah 12 siswa dari 20 siswa. Sedangkan yang mengalami ketidaktuntasan belajar sebanyak 40%, sebanyak 8 siswa dari 20 siswa. Nilai rata-rata yang diperoleh 67,5. Berdasarkan data pada siklus 2 dapat dipaparkan bahwa ketuntasan belajar siswa 85%, atau ketuntasan sejumlah 17 siswa dari 20 siswa. Sedangkan yang mengalami ketidaktuntasan belajar sebanyak 15%, berarti 3 siswa dari 20 siswa. Nilai rata-rata yang diperoleh 81,25. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Mastery learning (belajar tuntas) yang dilaksanakan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran penjumlahan pecahan siswa kelas IV SD Islam Hasanul Amin Kabupaten Blitar. Untuk itu guru hendaknya menerapkan model yang inovatif seperti model mastery learning (belajar tuntas) agar siswa lebih aktif dan senang dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat sehingga kualitas tujuan pembelajaran dapat ditingkatkan.

Pengembangan bahan ajar menulis puisi SMP / MTs berdasarkan pendekatan kontekstual / oleh Nofita Dewi Wulandari

 

Pengembangan perangkat pembelajaran drama untuk siswa SMA / oleh Wahyu Mayranti

 

Hubungan antara gaya pengasuhan orang tua, budaya sekolah dan budaya masyarakat dengan empati siswa SMP Negeri di kota Malang / Solfema

 

Disertasi, Program Studi Psikologi Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (II) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Psi., dan (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata Kunci: gaya pengasuhan orang tua, budaya sekolah, budaya masyarakat, em-pati Empati merupakan salah satu aspek kecerdasan sosial dan emosional yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan seseorang. Empati dapat meningkat-kan hubungan sosial antar pribadi, termasuk hubungan antar pribadi siswa. Masa-lahnya, dewasa ini rasa empati sudah menipis di masyarakat, termasuk siswa. Me-nipisnya empati diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah gaya pengasuhan orang tua, budaya sekolah, dan budaya masyarakat. Gaya pengasuhan orang tua berpengaruh karena empati merupakan hasil pengaturan emosi semenjak dini yang berkaitan dengan sosialisasi atau pengasuhan di keluarga. Sedangkan bu-daya sekolah berpengaruh karena dia merupakan kumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian yang akan mempengaruhi semua aspek perilaku personil sekolah termasuk siswa. Akhirnya, budaya masyarakat berpenga-ruh karena budaya itu mempengaruhi corak kepribadian seseorang, termasuk em-pati siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan secara sendiri-sendiri dan bersama-sama antara variabel independen (gaya pengasuhan orang tua, budaya se-kolah, dan budaya masyarakat) dengan variabel dependen (empati), serta menemu-kan sumbangan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kore-lasional, yakni untuk mengetahui hubungan secara sendiri-sendiri dan bersama-sama variabel independen (gaya pengasuhan orang tua, budaya sekolah,dan budaya masyarakat) dengan variabel dependen (empati) dan mengetahui besarnya sum-bangan, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama varibel independen terhadap variabel dependen. Populasi pene¬litian ini sejumlah 21.578 orang siswa SMPN Ko-ta Malang. Penarikan sampel menggunakan teknik sampling banyak tahap untuk selajutnya digunakan rumus Slovin, sehigga diperoleh sampel sejumlah 393 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket dan dianalisis dengan mengguna-kan teknik analisis statistik regresi berganda (multiple regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat hubungan yang signifi-kan antara gaya pengasuhan orang tua dengan empati; (2) Terdapat hubungan yang signifikan antara budaya sekolah dengan empati; (3) Terdapat hubungan yang sig-nifikan antara budaya masya¬rakat dengan empati; (4) Terdapat hubungan yang sig-nifikan secara bersama-sama antara gaya pengasuhan orang tua, budaya sekolah, dan budaya masyarakat dengan empati; dan (5) Terdapat sumbangan yang signifi-kan variabel gaya pengasuhan orang tua, budaya sekolah, dan budaya masyarakat terhadap empati siswa dengan sumbangan terbesar diberikan oleh gaya pengasuhan orang tua, diikuti oleh budaya sekolah, dan terkecil diberikan oleh budaya masyara-kat. Saran-saran dikemukakan sebagai berikut: (1) Diharapkan agar pihak seko-lah memperbanyak program-program bimbingan yang sifatnya memberikan pence-rahan ter¬hadap para orang tua dalam melaksanakan pengasuhan anak melalui perte-muan pertemuan yang terstruktur; (2) Personil sekolah diharapkan dapat menghar-gai prestasi siswa, memperlakukan siswa dengan penuh kasih sayang, menanamkan sifat-sifat sosial, berlaku adil dan tegas dalam penerapan peraturan, membina hu-bungan yang hangat dan menyenangkan antara se¬mua personil sekolah, dan meme-lihara kondisi lingkungan sekolah yang kondusif dan nyaman; (3) Praktisi dan pengambil kebijakan dalam masyarakat perlu mengembangkan berbagai program pembinaan terhadap budaya masyarakat; (4) Sekolah untuk mengintensifkan pro-gram kerjasama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat khususnya dalam hal memperkuat pengembangan empati siswa; (5) Peneliti berikutnya untuk meneliti variabel lain selain pengasuhan orang tua, budaya sekolah, dan budaya masyarakat yang mempengaruhi pengembangan empati siswa, serta konsep empati yang lebih luas.

Awal masuk dan berkembangnya Islam di Kerajaan Banjarmasin abad XVI - XVIII / oleh Sri Wahyuni

 

Efektifitas model pembelajaran dengan multimedia, konvensional dan campuran (Multimedia-Konvensional) terhadap prestasi dan motivasi belajar mata diklat produktif siswa kelas X (Sepuluh) bidang keahlian advence otomotif di SMKN Singosari / Dwi Hery Pahlawan

 

Katakunci:Efektifitas model pembelajaran, Prestasi, Motivasi, Mata diklat produktif keahlian advance otomotif. Untuk mencapai tujuan pendidikan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran yaitu guru, siswa, sarana, alat dan media, serta lingkungan.Pembelajaran teknik umumnyaberbasis metode pelatihan proses pembelajarannya bercirikan apprenticeship, yaitu penurunan ketrampilan dari pengajar kepada siswa baik dikelas ataupun dilaboratorium dan urutannya cenderung stereotif, yakni : (1) pemberian penjelasan tujuan dan prosedur kerja, (2) pemberian contoh oleh instruktur, (3) melakukan kegiatan simulatif, baru kemudian komputer, LCD, animasi dan gambar-gambar atraktif lainnya yang innovatif dalam proses pembelajaran, melalui multimedia di harapkan lebih maksimal dan pemanfaatan multimedia pada pembelajaran yang tepat diharapkan menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif dan efesien Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti menetapkan rumusan masalah dalam penelitian pembelajaran mata diklat produktif bidang keahlian advance otomotif di SMKN 1 Singosari se¬ca¬ra rinci diuraikan sebagai berikut: (1) apakah ada perbedaan efektifitas pencapaian kompetensi pada mata diklat produktif otomotif antara model pembelajaran menggunakan multimedia, konvensional dan campuran multi media-konvensional?; (2) apakah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran (multimedia, konvensional dan campuran) terhadap prestasi belajar?; (3) apakah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran terhadap motivasi belajar? Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah para siswa kelas X mata diklat produktif bidang keahlian advance otomotif di SMKN 1 Singosari. Instumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: lembar observasi, angket dan kehadiran peneliti sebagai instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, observasi, dan kuesioner. Hasil dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa (1) efektivitas metode pembelajaran terhadap prestasi siswa, menunjukkan bahwa penerapan ketiga metode pembelajaran yaitu metode multimedia, konvensional, maupun campuran memberikan efektivitas yang signifikan terhadap prestasi siswa dari grafik prestasi belajar model pembelajaran konvensional memberi gambaran yang terbaik grafik motivasi belajar model pembelajaran konvensional tertinggi; (2) Identifikasi adanya pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi siswa, secara statistika terbukti bahwa metode pembelajaran memiliki pengaruh terhadap prestasi siswa pada kelas produktif chasis, Pada kelas chasis, metode konvensional menunjukkan prestasi siswa yang cenderung naik. Juga dialami oleh kelas dengan metode pembelajaran campuran; (3) Pengaruh metode pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa, secara statistika telah ditunjukkan bahwa metode pembelajaran berpengaruh terhadap motivasi belajar siswakelas X mata diklat produktif bidang keahlian advance otomotif di SMKN 1 Singosari. Dan secara menyeluruh hasil penelitian ini memberikan penjelasan bahwa model pembelajaran konvensional yang paling tepat untuk digunakan sebagai model pembelajaran chasis agar prestasi dan motivasi siswa/peserta didik meningkat.

Profil pemberdayaan perempuan pasca kekerasan dalam rumah tangga : studi tentang program Self Support Group di Women Crisis Center Savy Amira Surabaya / oleh Ari Triyuni Puspasari

 

Pemanfaatan dan pengelolaan perpustakaan sekolah di MAN Tambakberas Kabupaten Jombang / oleh Irfan Prasetya

 

Pengelolaan program pendidikan kesetaraan Paket C di LSM Aliansi Nasyarakat Miskin Malang Kota Malang / Abdul Rohman

 

Rohma, Abdul. 2014. Pengelolaan Program Pendidikan Kesetaraan Paket C di LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. M. Djauzi Moedzakir, M.A. (2) Dr. M. Ishaq, M.Pd Kata Kunci: Paket C, LSM, Pengelolaan, Program Program Pendidikan Kesetaraan Paket C Setara SMA merupakan program pendidikan bagi para warga belajar dengan kategori putus sekolah (SMA) atau tidak naik kelas. LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang merupakan salah satu penyelenggara program pendidikan kesetaraan Paket C sebagai bentuk kegiatan pendidikan luar sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pengelolaan program Paket C yang diselenggarakan, apa saja faktor pendukung dan penghambat yang ditemua serta bagaimana sumberdaya manusia dan non manusia di LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam bentuk studi kasus. Teknik penggalian data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) pengelolaan progam paket C di LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang, (2) faktor pendukung dan penghambat pengelolaan program paket C, dan (3) strategi lembaga dalam mengatasi masalah pengelolaan program paket C. Pengelolaan Progam Paket C di LSM Aliansi Masyarakat Miskin Malang di bagi dalam tiga hal yaitu: persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam tahap persiapan tutor menyiapkan bahan/materi utuk pembelajaran, pada tahap pelaksanaan tutor menyampaikan materi yang sudah disiapkan dengan menggunakan media seadanya, dan pada tahap evaluasi para tutor mengunakan metode tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dari warga belajar. Faktor pendukung dan penghambat pengelolaan program paket C meliputi waktu penyelenggaraan program paket C pada hari minggu, biaya pendidikan yang gratis, dan tempat yang nyaman sedangkan faktor penghambatnya adalah minimnya sarana-prasarana utamanya adalah media pembelajaran dan tutor yang kurang memahami pola pembelajaran andragogi. Strategi yang dilakukan lembaga dalam mengatasi masalah pengelolaan program paket C adalah dengan memetakan akar permasalahannya, dalam hal ini ada dua kategori, yaitu: aspek manusia dan nonmanusia. Aspek manusia, meliputi: (a) Kualifikasi yakni, strategi yang dilakukan lembaga adalah dengan memperbanyak jaringan dengan organisasi-organisasi mahasiswa intra kampus dan organisasi ekstrakampus. Untuk meminimalisasi kekurangan personil dalam tubuh lembaga, (b) kompetensi, dalam meningkatkan sumber daya manusia lembaga, lembaga melakukan beberapa hal yaitu: dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pembelajaran dan lembaga juga melakukan studi banding dengan PKBM, dan (c) motivasi, yakni dalam meningkatkan motivasi para tutor dan pengurus, lembaga melakukan pendekatan emosional kepada masing-masing personal yang ada dalam lembaga, pendekatan-pendekatan informal. Sedangkan aspek nonmanusia meliputi wilayah sarana prasarana dan keuangan. Strategi yang dilakukan lembaga adalah dengan membangun kerjasama dengan semua golongan, utamanya adalah lembaga donor. Saran dari penelitian ini adalah: (1) pengelola pengelola program kesetaraan paket C hendaknya melakukan perbaikan dan penataan di bidang administrasi, melakukan kontroling terhadap proses pembelajaran, peningkatan kualitas tutor, dan melengkapi fasilitas-fasilitas pembelajaran utamanya adalah media pembelajaran, dan (2) tutor paket C hendaknya melakukan pengembangan bahan dan media pembelajaran serta strategi pembelajaran yang digunakan, dan meningkatkan kapasitas keilmuan utamanya dalam pembelajaran orang dewasa (andragogi).

Penggunaan unterordnende konjunktion dalam karangan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Maqlang angkatan 2009 offering AA / Dian Dwi Lestari

 

Lestari, Dian Dwi. 2012. Penggunaan unterordnende Konjunktion dalam Karangan Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Desti Nur Aini, S.S, M.Pd., (2) Sri Prameswari Indriwardhani, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: unterordnende Konjunktion, karangan Sebuah karangan dikatakan baik jika karangan tersebut komunikatif atau terdapat keterpaduan antar kalimat. Salah satu cara agar suatu karangan lebih baik adalah dengan menggunakan konjungsi. Dalam bahasa Jerman terdapat 2 jenis konjungsi yang salah satu diantaranya adalah unterordnende Konjunktion atau konjungsi subordinatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan unterordnende Konjunktion dalam karangan mahasiswa. Serta untuk mendeskripsikan unterordnende Konjunktion yang sering digunakan dalam karangan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil karangan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang angkatan 2009 offering AA yang telah menempuh matakuliah Aufsatz2 yang berjumlah 10 orang. Sedangkan data penelitian ini berupa kalimat – kalimat yang mengandung unsur unterordende Konjunktion. Dalam melakukan penelitian ini, peneiti menggunakan dua instrumen, yaitu peneliti sebagai instrumen utama, serta tabel sebagai instrumen pembantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 156 penggunaan unterordnende Konjunktion dalam karangan mahasiswa. Keseluruhan data tersebut terbagi ke dalam 9 konjungsi, antara lain dass, weil, wenn, als,obwohl, um…zu, je…desto, bevor,dan bis. Konjungsi tersebut diklasifikasikan berdasarkan (1) ketepatan penggunaan konjungsi, (2) kesalahan pengkonjugasian verba, (3) kesalahan peletakan verba, (4) kesalahan pemilihan konjungsi, dan (5) kesalahan ketiadaan tanda koma. Konjungsi yang paling sering digunakan mahasiswa adalah weil, dass, wenn, dan als. Konjungsi weil digunakan sebanyak 26,9%, dass digunakan sebanyak 25%, wenn digunakan sebanyak 23%, dan als digunakan sebanyak 9%.

Penerapan hiasan patchwork pada rompi pria berbahan denim / Novita Ayu Marcelina

 

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis konstruktivistik dan kontekstual untuk SMA/MA kelas X pada materi pokok larutan elektrolit dan nonelektrolit serta reaksi oksidasi reduksi / oleh Vita Fatimah

 

Pengaruh minat, motivasi belajar, dan kelengkapan sarana laboratoriumk poroduksi terhadap hasil be;ajar mata pelajaran usaha jasa boga pada siswa SMK Negeri 2 Malang / Noer Amin Hidayatullah

 

Kata kunci: minat belajar, motivasi belajar, kelengkapan sarana laboratorium produksi, hasil belajar. Minat dan motivasi merupakan faktor internal yang berperan dalam proses pencapaian hasil belajar. Sedangkan sarana laboratorium merupakan faktor eksternal berfungsi sebagai ruang tempat peserta didik menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan keahlian melalui praktik, latihan, penelitian, percobaan. Faktor internal dan eksternal yang baik pada sistem pengajaran menjadi pendorong bagi siswa agar dapat lebih leluasa dalam melakukan dan menemukan berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikannya. Dalam hal ini siswa lebih terdorong untuk meraih hasil belajar yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh minat belajar terhadap hasil belajar siswa, 2) pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa, 3) pengaruh kelengkapan sarana laboratorium produksi terhadap hasil belajar siswa, 4) pengaruh secara simultan minat belajar, motivasi belajar, dan kelengkapan sarana laboratorium produksi terhadap hasil belajar mata pelajaran produktif usaha jasa boga di SMK Negeri 2 Malang. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kausatif. Populasi penelitian ini adalah siswa jurusan jasa boga kelas XII sebanyak 76 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling populasi sebanyak 76 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket minat belajar, motivasi belajar, dan kelengkapan sarana laboratorium produksi. Sedangkan data hasil belajar diambil dari nilai ujian tengah semester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XII Jasa Boga di SMK Negeri 2 Malang (1) memiliki minat belajar yang tinggi dengan persentase 60,53%. Ini berarti rata-rata siswa memiliki minat belajar yang tinggi. (2) memiliki motivasi yang tinggi dengan persentase 67,11%. Ini berarti rata-rata siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. (3) menyatakan bahwa kelengkapan sarana laboratorium produksi dalam kategori cukup lengkap dengan persentase 80,26%. Ini berarti rata-rata kelengkapan laboratorium produksi jasa boga cukup lengkap. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 1) pengaruh yang segnifikan minat terhadap hasil belajar pada mata pelajaran usaha jasa boga siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang, 2) pengaruh yang segnifikan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar pada mata pelajaran usaha jasa boga siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang, 3) pengaruh yang segnifikan kelengkapan sarana laboratorium produksi di SMK Negeri 2 Malang terhadap hasil belajar pada mata pelajaran usaha jasa boga siswa kelas XII, 4) pengaruh yang segnifikan secara simultan minat, motivasi belajar dan kelengkapan sarana laboratorium produksi terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran usaha jasa boga terhadap hasil belajar siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang. Bagi pihak sekolah diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa serta memperhatikan kelengkapan sarana laboratorium produksi untuk tercapainya prestasi belajar siswa yang diharapkan. Bagi siswa senantiasa rajin dan giat dalam belajar dan pembelajaran di sekolah dengan minat dan motifasi yang tinngi agar tercapai hasil belajar yang memuaskan.

Perancangan film animasi 2 dimensi tentang Pembuatan Legen Khas Tuban / Nur Wijayanto

 

Wijayanto, Nur. 2014. Perancangan Film Animasi 2 Dimensi tentang Pembuatan Minuman Khas Tuban. Tugas Akhir Program Studi D3 Animasi, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Andy Pramono, S.Kom, M.T. (II) Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T. Kata Kunci: Perancangan, Animasi2D, Pembuatan minuman khas tuban Masyarakat umum sangat perlu melestarikan budaya kuliner di nusantara ini. Minuman tradisional seperti legen dapat menyehatkan tubuh serta bisa menyembuhkan penyakit seperti batu ginjal dan kencing manis. Oleh sebab itu, dibutuhkan media sebagai pengenalan pembuatan minuman legen, yaitu melalui media film animasi. Metode pembuatan animasi 2D melalui 3 tahapan, yaitu pra produksi, produksi dan pasca produksi. Tahap awal yang penulis lakukan adalah mengumpulkan data dari sumber observasi dan internet. Setelah data terkumpul penulis menentukan konsep desain meliputi judul film, sinopsis cerita, storyboard, sket karakter dan sket properti. Tahapan selanjutnya, penulis menentukan referensi karakter berupa foto orang asli, sebagai referensi desain karakter dan properti. Tahapan selanjutnya yaitu proses animasi menggerakkan karakter, pohon, awan dll proses editing mengabungkan video, menambahkan desain audio, dan pemberian efek khusus pada video. Selanjutnya, proses rendering menghasilkan movie berupa gabungan satu file video dengan format MPEG 4. Tugas Akhir ini penulis menghasilkan sebuah film animasi2D tentang pembuatan minuman khasTuban. Film ini memiliki segi cerita yang menarik dan style animasi yang sesuai masyarakat Tuban. Disarankan film ini memiliki lebih banyak karakter dan lebih banyak membahas masalah seputar makanan sehat. Tugas akhir inipun diperlukan proses validasi dan uji coba

Kajian pembelajaran reaksi oksidasi reduksi berbantuan modul berorientasi kontekstual-learning cycle pada siswa kelas X SMA Negeri 12 Malang / oleh Lailatul Fitriyah

 

Analisis persepsi keadilan dan komitmen organisasi antara karyawan harian dan borongan (Studi pada PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung) / Dyan Rani Anggraini

 

Kata Kunci: Persepsi Keadilan, Komitmen Organisasi, Karyawan Harian dan Karyawan Borongan Saat ini sebuah organisasi sebagian besar tenaga kerjanya terdiri dari karyawan kontrak. Karyawan kontrak yaitu orang yang bersedia untuk melakukan pekerjaan yang diberikan atasan atas dasar kontrak dengan waktu terbatas. Meskipun ada pandangan yang berbeda pada konsekuensi perubahan hubungan kerja, karyawan kontrak sering dinilai positif oleh atasan. Dalam beberapa studi, karyawan kontrak menunjukkan sikap kurang menguntungkan dan kinerja yang lebih rendah dari pada karyawan tetap. Menurut perspektif ekonomi, secara umum kemampuan organisasi untuk menyesuaikan tenaga kerja untuk kebutuhan mendesak, menunjukkan hasil signifikan bahwa biaya tenaga kerja kontrak lebih rendah bila dibandingkan dengan organisasi yang menggunakan karyawan tetap untuk setiap tingkat dalam organisasi ekonomi. Dengan demikian perlu diketahui adanya perbedaan persepsi keadilan dan komitmen organisasi antara karyawan harian dan karyawan borongan. Perbedaan ini sedikit banyak akan mempengaruhi sikap dan prilaku dari karyawan. Dengan adanya sikap kerja yang baik, maka tujuan perusahaan dapat tercapai. Tentu saja hal ini menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk bagaimana menciptakan persepsi keadilan serta memantapkan komitmen organisasi. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif deskriptif yang ingin mengetahui bagaimana persepsi keadilan dan komitmen organisasi karyawan harian dan karyawan borongan dan apakah terdapat perbedaan persepsi keadilan dan komitmen organisasi yang signifikan antara karyawan harian dan karyawan borongan. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan harian dan karyawan borongan PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung. Dengan sampel karyawan harian 61 orang dan karyawan borongan 79 orang. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi keadilan karyawan harian PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung adalah baik, sedangkan persepsi keadilan karyawan borongan PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung adalah sedang. Komitmen organisasi karyawan harian PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung adalah rendah, begitu juga komitmen organisasi karyawan borongan PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung adalah rendah. Selain itu pada penelitian ini dapat diketahui bahwa thitung untuk persepsi keadilan adalah tidak identik atau berbeda sangat signifikan. Ada perbedaan yang signifikan antara komitmen organisasi karyawan harian maupun karyawan borongan di PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung. Selanjutnya, dari proses wawancara diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan persepsi keadilan dan komitmen organisasi karyawan harian dan karyawan borongan. Saran yang bisa diberikan adalah (1) Bagi pihak manajemen PT. Guna Atmaja Jaya Tulungagung harus mempunyai pertimbangan khusus dalam pemberian tugas-tugas terkait status karyawan. (2) Bagi penelitian selanjutnya, sebaiknya lebih diarahkan pada hubungan persepsi keadilan dan komitmen organisasi ke variabel-variabel yang lain dan juga mengukur pengaruhnya terhadap perilaku kerja. Selain itu juga, untuk lebih melengkapi penelitian ini dianjurkan kepada peneliti selanjutnya untuk mengkorelasi kedua variabel tersebut.

Pola penanaman nilai-nilai karakter pada anak usia dini (studi kasus di Little Camel School Mojokerto) / Minarni Puji Sulistyarini

 

Minarni Puji Sulistyarini, 2014. Pola Penanaman Nilai Karakter Pada Anak Usia Dini (Studi Kasus di Little Camel School Mojokerto). Tesis Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M.Pd (2) Prof. Dr. S. Mundzir, M.Pd Kata Kunci : Penanaman Nilai Karakter, Nilai Karakter, Anak Usia Dini      Setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk berkarakter sesuai dengan fitrah penciptaan manusia saat dilahirkan, akan tetapi dalam kehidupannya kemudian memerlukan proses panjang pembentukan karakter melalui pengasuhan dan pendidikan sejak usia dini. Anak didik seharusnya dapat secara nyaman bereksplorasi, bermain, mencoba dan memenuhi rasa ingin tahu tanpa membuat anak stress, karena proses pembelajaran di sekolah ataupun di lembaga paud berlangsung sesuai dengan tahapan perkembangan usia dan berpikirnya. Selama ini belum ditemui pola yang tepat untuk penanaman nilai karakter pada anak usia dini. Banyak lembaga pendidikan yang menjadikan karakter sebagai unggulan, dan masing masing lembaga mempunyai pola sendiri agar tercapai tujuan yang ditetapkan. Hal tersebut yang mendasari peneliti untuk mempelajari dan meneliti tentang penanaman nilai karakter untuk anak usia dini dan merumuskan tentang fokus penelitian yaitu bagaimana pola penanaman penanaman nilai karakter untuk anak usia dini di LCS Mojokerto serta apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam penanaman karakter untuk anak usia dini di LCS Mojokerto akan menjadi fokus dalam penelitian ini.      Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan desain studi kasus. Prosedur pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan studi dokumentasi.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penanaman nilai karakter pada anak usia dini di LCS Mojokerto yaitu integrasi kurikulum ISL, CSL dan SLR dalam pembelajaran yang didukung oleh sarana prasarana, kerjasama antara pendidik, dan tenaga kependidikan maupun manajemen. Didukung dengan adanya kerjasama dengan orang tua, lingkungan sekolah, masyarakat dan kebijakan pemerintah tentang penanaman karakter, kemudian diperkuat dengan kegiatan SKC untuk anak TK B sehingga membentuk anak-anak LCS yang berkarakter sesuai dengan ajaran agama Islam (berakhlaqul karimah).Nilai yang ditanamkan di LCS Mojokerto di dasarkan pada nilai-nilai ajaran agama Islam yang dituangkan dalam kurikulum ISL. Kurikulum ISL yang dimaksud di sini adalah memberikan pembelajaran kepada anak tentang akhlak, aqidah dan tauhid. Faktor pendukung dalam pelaksanaan penanaman nilai karakter untuk anak usia dini yaitu SDM pendidik yang ada di LCS memang mempunyai latar belakang pendidikan agama Islam dan didukung pula oleh sarana dan prasana yang ada yaitu musholla dan kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan seperti sholat dhuha berjamaah, sholat dhuhur berjamaah dan membaca sholawat dan doa sehari-hari.Faktor penghambat dari pelaksanaan penanaman nilai karakter yaitu dari kondisi anak yang moody, sehingga berpengaruh pada kesiapan belajar anak. Selain itu, adanya perbedaan pola asuh, pengetahuan dan latar belakang keluarga masing-masing anak mempengaruhi perilaku pada anak. Upaya yang dilakukan oleh sekolah yaitu dengan mengadakaan pendekatan secara individual ke anak dan tidak memaksa anak untuk mengikuti setiap kegiatan ketika dia tidak mau. Menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan ditunjang dengan metode pembelajaran yang bervariatif dapat menjadi pemecahan masalah tersebut diatas.

Keefektifan penerapan pendekatan problem posing dalam pembelajaran sifat koligatif larutan non elektrolit berbahan ajar terpadu dalam meningkatkan hasil belajar kimia siswa kelas 3 IPA SMA Negeri 1 Geger Madiun tahun ajaran 2005/2006 / oleh Arik Febri Tri

 

Peningkatan hasil belajar matematika materi FPB dan KPK melalui pendekatan open ended kelas V SDN Karangsari 2 Kota blitar / Ulfa Kostansetiani

 

Kata Kunci: hasil belajar, Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), pendekatan Open – Ended Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), siswa masih mendapatkankan nilai jauh dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yakni 65. Dari 15 siswa kelas Va, hanya 2 anak yang mendapata nilai 75, 1 anak mendapatkan nilai 65 dan sisanya mendapat nilai di bawah 65 yakni pada kisaran 42 sampai dengan 33. Rata – rata nilai kelas 46. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikkan pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dengan menggunakan pendekatan Open Ended. Rumusan masalah penelitian ini: (1) Bagaimanakah proses pembelajaran matematika materi Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) siswa kelas V di SDN Karangsari 2 Kota Blitar?, (2) Adakah peningkatan hasil belajar pembelajaran Matematika materi Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) siswa kelas V SDN Karangsari 2 Kota Blitar dengan menggunakan pendekatan Open Ended? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V di SDN Karangsari 2, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar yang berjumlah 15 siswa terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Dalam penelitian ini peneliti sebagai Observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dengan menggunakan pendekatan open ended SDN Karangsari 2 Kota Blitar kelas V sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Presentase ketuntasan pada pra tindakan 13% (2 siswa yang tuntas dengan skor ≥65) sedangkan untuk persentase siswa tidak tuntas yaitu 87% (13 siswa yang tidak tuntas dengan skor ≤65), pada siklus 1 pertemuan 1 adalah 67% tuntas, siklus 1 pertemuan 2 adalah 73% siswa tuntas, siklus 2 pertemuan 1 adalah 80% siswa tuntas dan pada siklus 2 pertemuan 2 adalah 93% siswa tuntas. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan guru kelas V SDN Karangsari 2 Kota Blitar dalam pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan

Pelaksanaan pembelajaran sains kimia SMP berdasarkan kurikulum 2004 di SMP Negeri se-Kabupaten Jember / oleh Rumiatik

 

Penerapan jurnal matematika sebagai asesmen alternatif pada pembelajaran garis dan sudut untuk siswa kelas VII SMP Negeri 3 Malang / oleh Nani Kusrokhani

 

Tingkat Keterbacaan Buku Sekolah Elektronik (BSE) Bahasa Indonesia Kelas IV Sekolah Dasar

 

Kata kunci: Buku Sekolah Elektronik (BSE), tingkat keterbacaan, dan bacaan yang bebas bias gender. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada guru-guru kelas IV SDN se-Kecamatan Garum Kabupaten Blitar menyatakan bahwa guru-guru tersebut menggunakan Buku Sekolah Elektronik (BSE). BSE tersebut sebagai sumber belajar dalam mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV. Para guru tersebut belum memahami akan keterbacaan BSE yang mereka gunakan. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengetahui dan mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah tingkat keterbacaan Buku Sekolah Elektronik (BSE) Bahasa Indonesia Kelas IV Sekolah Dasar, (2) apakah isi teks bacaan dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE) Bahasa Indonesia kelas IV Sekolah Dasar sudah bebas dari bias gender. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan tingkat keterbacaan Buku Sekolah Elektronik (BSE) Bahasa Indonesia Kelas IV Sekolah Dasar, (2) mendeskripsikan isi teks bacaan dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE) bebas dari bias gender. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini adalah analisis isi. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah pendekatan deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Buku Sekolah elektronik yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Prosedur pengumpulan data keterbacaan BSE Bahasa Indonesia Kelas IV dengan menggunakan formula Simplified Measure of Gobbledygook (SMOG) dan menganalisis bacaan yang bebas dari bias gender. Hasil penelitian ini berdasarkan tingkat keterbacaannya BSEBI 1 persentasenya 20%; BSEBI 2 persentasenya 26,6%; BSEBI 3 persentasenya 7,7%; BSEBI 4 persentasenya 22,2%; dan BSEBI 5 persentasenya 10%. Berdasarkan bacaan yang bebas dari bias gender BSEBI 1 persentasenya 60%; BSEBI 2 persentasenya 80%; BSEBI 3 persentasenya 76,9%; BSEBI 4 77,8%; dan BSEBI 5 persentasenya 30%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat keterbacaan Buku Sekolah Elektronik (BSE) Bahasa Indonesia Kelas IV rendah. Hal ini, ditunjukkan dari persentase tingkat keterbacaan BSE dengan rata-rata 17,3%. Sedangkan isi teks bacaan dalam BSE Bahasa Indonesia Kelas IV yang bebas dari bias gender sudah baik. Hal ini, ditunjukkan dari persentase bacaan yang bebas dari bias gender memiliki rata-rata 64,7%. Saran untuk penerbit yaitu Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional agar lebih selektif dalam menentukan kelayakan keterbacaan dan memperhatikan bacaan yang bebas bias gender dari buku-buku teks yang akan diedarkan. Para guru juga harus selektif dalam memilih buku teks untuk siswa.

Pengembangan trainer sistem integrasi pembangkit listrik skala piko / Dedi Tri Laksono

 

Laksono, Dedi Tri. 2014. Pengembangan Trainer Pembangkit Listrik Skala Piko. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Ahmad Fahmi, S.T., M.T., (2) Moh. Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci: trainer, integrasi, pembangkit listrik Praktikum pembangkit tenaga listrik adalah salah satu matakuliah di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pada matakuliah ini memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai sistem integrasi pembangkit listrik. Dalam menyampaikan materi integrasi, tentunya disajikan menggunakan media melalui wujud trainer. Dalam kurun waktu terakhir ini para ahli menyadari belum ada media trainer yang relevan mengenai sistem integrasi pembangkit listrik, khususnya di Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.    Pada proses pembelajaran matakuliah Praktikum Pembangkit Tenaga Listrik dengan pokok bahasan sistem integrasi pembangkit listrik masih kekurangan media trainer mengenai sistem integrasi. Hal ini menyebabkan mahasiswa kurang memahami bagaimana merancang, membuat, dan mengoperasikan sistem integrasi yang memiliki kompleksitas tinggi tersebut.    Bila melihat permasalahan yang ada, maka dibuatlah suatu trainer integrasi pembangkit listrik skala piko untuk sebagai media pembelajaran. Integrasi dilakukan dengan menggabungkan dua sumber listrik, pada pengembangan ini dua sumber listrik tersebut berasal dari generator DC dan PLN. Dengan adanya trainer ini diharapkan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung secara aktif, efektif, dan bermanfaat. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan yaitu; (1) Menghasilkan trainer integrasi pembangkit listrik skala piko bagi mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang; (2) Menghasilkan jobsheet trainer integrasi pembangkit listrik skala piko bagi dosen dan mahasiswa.    Pada penelitian ini mengadaptasi model pengembangan Sugiyono. Pada model pengembangan ini pada setiap langkah pengerjaannya memiliki revisi, yang bertujuan untuk kevalidan data dan kesempurnaan trainer yang dibuat. Model pengembangan ini terdiri dari 10 tahap yaitu: (1) potensi dan masalah; (2) pengumpulan data; (3) desain produk; (4) validasi desain; (5) revisi desain; (6) uji coba produk; (7) revisi produk; (8) uji coba pemakaian; (9) revisi produk; (10) produksi massal; Berdasarkan pada hasil uji coba, diperoleh presentase dari tiap-tiap subjek coba sebagai berikut: (1) Pada ahli media, diperoleh persentase sebesar 88,00%, (2) Pada ahli materi, diperoleh persentase sebesar 86,00%, (3) Pada kelompok kecil, diperoleh persentase sebesar 89,60%, (4) Pada kelompok besar, diperoleh persentase sebesar 86,07%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan trainer integrasi pembangkit listrik skala piko ini valid dan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Sistem persamaan diferensial linear dengan tiga variabel / Moch. Afiq Dwi Arifin

 

Kata Kunci: Sistem Linear, Stabilitas Skripsi ini membahas tentang bagaimana menentukan kestabilan dan potret fase dari sistem persamaan diferensial linear dengan tiga variabel yang merupakan pengembangan sistem persamaan diferensial linear dengan dua variabel. Ada dua cara dalam menentukan kestabilan sistem linear, yaitu pertama dengan memperhatikan penyelesaian dari sistem persamaan diferensial linear, dan kedua dengan memperhatikan nilai eigen yang merupakan akar persamaan karakteristik dari sistem persamaan diferensial linear. Potret fase digambarkan dengan menggunakan bantuan program maple. Dari kajian yang dilakukan disimpulkan bahwa sistem linear terbagi menjadi tiga bagian, yaitu; stabil, stabil asimtotik, dan tidak stabil. Ciri-ciri sistem linear yang stabil, stabil asimtotik, maupun tidak stabil dapat dilihat dari potret fasenya.

The linguistic production of child named Mara in the holophrastic and telegraphic stages / by Patuan Raja

 

Pemahaman siswa tentang equal sign dalam menyelesaikan tugas matematika / Setiawan Budi Sartati

 

ABSTRAK Sartati,S.B. 2015. PemahamanSiswatentangEqual Sign dalamMenyelesaikanTugasMatematika. Tesis, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M. Si., (II) Dr. Sisworo, M. Si. Kata kunci: equal sign, operational, basic relational, substitution,matematika, aritmetika, aljabar. Equal sign adalah sebuah tanda yang digunakan sebagai penghubung pada kalimat kesetaraan. Equal sign diuraikan menjadi tiga bagian, di antaranyaequal sign sebagai operational yaitu untuk menunjukkan hasil, equal sign sebagai basic relational yaitu menyatakan kesamaan hasil operasi, dan equal sign sebagai substitution yaitu menyatakan penggantian satu representasi dengan yang lain.Hasilobservasimenunjukkanbahwasiswaterpakupadapandanganequal sign hanyasebagaioperational, haliniterlihatdarikekeliruanmunculuntukpadapernyataan yang berlanjut, misalnya3 + 4 = 7 + 2 . Menanggapihaltersebut, penelitimelakukanpenelitianuntukmendeskripsikanpemahaman siswa tentang equal sign dalammenyelesaikantugasmatematika. Penelitianinitermasukdalampenelitiandeskriptifkualitatif.Pada penelitian, data yang dikumpulkan merupakan data hasil kerja siswa dan data verbal (hasilwawancara). Subjek penelitiannya adalah 6 siswa kelas VII MTs Attariqie Malang tahun pelajaran 2014/2015, dengan perincian 2 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 2 siswa berkemampuan rendah. Pemahamansiswatentangequal sign selanjutnyadikajidenganmemberikantesdanwawancarapadaenamsubjekpenelitian. Wawancara dilakukan secara individu setelah siswa mengerjakan soal secara individu. Adapuntugasmatematikamemuatpermasalahanaritmetikadanaljabar. Berdasarkanhasilpenelitian, semuasubjekmampumemahamiequal sign sebagaioperationaldanequal sign sebagaisubstitution.Untukequal sign sebagaibasic relational, hanyasiswa yang berkemampuantinggi yang mampumemahaminya.Pemahaman siswa-siswa yang berkemampuansedangdanrendah yang sudah mengakar pada pola operasional yaituequal sign sebagaioperationalmenyebabkankekeliruanmemahamiequal sign sebagaibasic relational,misalnya14 + 11 = 25 + 8dimana siswa hanya memperhatikan hasil operasi 14 ditambah 11 yaitu sama dengan 25 tanpa memperhatikan hubungan operasi penjumlahan dengan 8.

Penerapan pembelajaran konstruktivistik untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMAN 7 Malang / oleh Waqiatul Azizah

 

Penerapan asesmen portofolio dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang / oleh Ike Hardiyanti

 

Pembelajaran segitiga melalui pendekatan open-ended pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang / oleh Nurma'in

 

Pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournaments) terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu pada materi alkana, alkena, dan alkuna / oleh Eko Hadi Yuwono

 

Optimasasi penggunaan amonium bikarbonat sebagai Catcher formaldehida pada kayu lapis (Plywood) yang menggunakan perekat urea formaldehida / oleh Dina Sugiyanti

 

Analisis kesehatan keuangan pusat koprasi pegawai republik Indonesia kabupaten Nganjuk tahun 2006-2010 / Trias Anggi Bestari

 

Kata Kunci: Permodalan, Kualitas Aktiva Produktif, Efisiensi, Rentabilitas, Likuiditas, Partisipasi Keuangan Anggota Dalam menjalankan usahanya PKPRI Kabupaten Nganjuk tentu melibatkan berbagai pihak, mulai dari anggota koperasi, pengurus koperasi, para investor, kreditur dan bank, serta pemerintah. Untuk itu PKPRI Kabupaten Nganjuk harus memberikan gambaran kondisi keuangannya dengan berupa laporan keuangan koperasi agar pihak-pihak yang bersangkutan tersebut dapat menganalisis laporan keuangan guna mengetahui kondisi kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk. Dalam Permenkop No.14/Per/M.KUKM/XII/2009 ditentukan bahwa untuk menilai kesehatan keuangan koperasi dapat dilihat dari aspek permodalan, kualitas aktiva produktif, efisiensi, rentabilitas, likuiditas, dan partisipasi keuangan anggota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk bila dilihat dari aspek permodalan, kualitas aktiva produktif, efisiensi, rentabilitas, likuiditas, dan partisipasi keuangan anggota. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah PKPRI Kabupaten Nganjuk dengan rentang waktu penelitian tahun 2006-2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif dan menggunakan analisis statistik. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk dilihat dari aspek permodalan dengan menggunakan rasio modal sendiri terhadap total asset menunjukan kondisi yang sehat karena persentase rasio yang diperoleh >80% selama tahun 2006-2010, (2) kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk dilihat dari aspek kualitas aktiva produktif dengan menggunakan rasio volume pinjaman anggota terhadap total volume pinjaman menunjukan kondisi yang sehat karena persentase rasio yang diperoleh >75% selama tahun 2006-2010, (3) kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk dilihat dari aspek efisiensi dengan menggunakan rasio beban usaha terhadap SHU kotor menunjukan kondisi yang tidak sehat karena, persentase rasio yang diperoleh >80% (4) kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk dilihat dari aspek rentabilitas dengan menggunakan rasio rentabilitas asset menunjukan kondisi yang tidak sehat, karena persentase rasio yang diperoleh <5% selama tahun 2006-2010 (5) kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk dilihat dari aspek likuiditas dengan menggunakan rasio kas menunjukan kondisi yang tidak sehat, karena persentase yang diperoleh >20% pada tahun 2006, 2008, dan 2009 kemudian <10% pada tahun 2007 dan 2010, (6) kesehatan keuangan PKPRI Kabupaten Nganjuk dilihat dari aspek partisipasi keuangan anggota dengan menggunakan rasio partisipasi bruto menunjukan kondisi yang tidak sehat karena persentase rasio yang diperoleh <25% selama tahun 2006-2010.

Penerapan asesmen portofolio dalam pembelajaran secara konstruktivistis untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap pokok bahasan logika matematika siswa kelas X SMA Laboratorium UM / oleh Dewi Kristiana

 

Diagnosis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi peluang serta pengajaran remidinya pada siswa kelas XI IPS, SMAN 1 Bangil / oleh Wakhida Apriliyanti

 

Upaya meningkatkanprestasi belajar siswa melalui penggunaan portofolio dalam pembelajaran matematika / oleh Yanis Artasari

 

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui media gambar ilustrasi cerita bagi siswa kelas V SDN Sumbersari 05 Kabupaten Blitar / Zeni Farida Maslukhotin

 

ABSTRAK Farida. M, Zeni. 2012. Meningkatkan Hasil Belajar Pkn Melalui Media Gambar Ilustrasi Cerita bagi Siswa Kelas V SDN Sumberasri 05 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Suminah, S.Pd, M.Pd , (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: meningkatkan, hasil belajar, media gambar ilustrasi cerita. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas V pada pembelajaran PKn dengan materi mendeskripsikan peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut: (1) guru masih menggunakan pembelajaran konvensional, (2) materi disampaikan secara ceramah, (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran, (4) guru tidak membimbing siswa ketika mengerjakan tugas, (5) siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, (6) siswa kurang memahami materi yang disampaikan guru, (7) hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, karena dari jumlah 19 siswa yang tuntas hanya 4 siswa, sedangkan sisanya 15 siswa masih belum tuntas. Materi dalam pembelajaran PKn hendaknya dikondisikan dapat menanamkan nilai dan moral pada siswa. Penanaman nilai dan moral tersebut mengharuskan guru untuk melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan juga bermakna bagi siswa sehingga kelak siswa mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media gambar ilustrasi cerita dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumberasri 05 kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus, tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar secara bertahap pada siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada siklus I mencapai 71 dengan persentase ketuntasan 58%. Sedangkan siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 80 dengan persentase ketuntasan 89%. Rekapitulasi akhir hasil belajar siswa adalah mencapai 76. Dari 19 siswa, yang memperoleh nilai di atas KKM sejumlah 17 siswa (89%), dan 2 siswa (11%) memperoleh nilai di bawah KKM. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar ilustrasi cerita dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru senantiasa memperhatikan aktivitas siswa di setiap pelajaran, serta meningkatkan kualitas dan kinerjanya dengan menambah pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran yang baru.  

Pasar-pasar di era stadsgemeente Malang (1914-1942) / Aris Hartono Junda

 

Kata kunci: Pasar, Perubahan, Perekonomian, Malang. Perubahan Malang yang sebelumnya merupakan kampung kemudian berkembang sebagai afdeeling yang mempunyai banyak area perkebunan, setelah tanggal 1 April 1914 menjadi Gemeente yang memiliki administrasi sendiri telah merubah perekonomian masyarakat Kota Malang. Untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk akan perdagangan, Gemeente Malang melalui Pasarbedrijf melakukan pembangunan dan pengaturan pasar-pasar di Kota Malang. Perkembangan kebijakan dalam pengelolaan dan pembangunan pasar-pasar di Malang, mempengaruhi pemasukan pajak retribusi dari masing-masing pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan yang terjadi pada pasar-pasar di Kota Malang serta peran pasar terhadap perekonomian Gemeente Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah ditambah sumber-sumber sejarah yang dipakai untuk menyusun fakta, mendeskripsikan, dan menarik kesimpulan tentang masa lampau. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam metode sejarah yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: perubahan pasar-pasar di Malang dibagi menjadi dua, secara fisik dan administratif. Perubahan fisik terjadi pada awalnya pasar-pasar belum mempunyai bangunan yang memadai menjadi pasar yang memiliki konstruksi yang kuat. Perubahan administratif pasar terlihat dari spesifikasi pasar yaitu Pasar Pusat dan Pembantu Pasar golongan besar; Pembantu Pasar golongan kecil; Pasar Kampung dan warungcentrale. Komoditi yang diperdagangkan antara pasar tradisional dan pasar Gemeente hampir sama, perbedaan hanya terletak pada jumlah kuantitas dan tingkat kebersihan komoditinya. Peran pasar sangat penting bagi Gemeente Malang, Eksisteni pasar berperan sebagai media sirkulasi perdagangan di Kota Malang. Peningkatan volume perdagangan menyebabkan meningkatnya pendapatan pajak retribusi Gemeente Malang. Saran bagi peneliti berikutnya, Kota Malang merupakan kota yang memiliki sejarah panjang dalam pembentukannya, kajian sejarah ekonomi, sangat menarik untuk dikaji, terutama tema-tema tentang kehidupan sehari-hari yang ada dalam masyarakat di masa lalu misalnya pasar. Pasar dapat menjadi refleksi utama dalam melihat keadaan masyarakat di masa lalu, pasar yang besar dan maju merupakan indikator kemajuan ekonomi. Bagi pemerintah Kota Malang, diharapkan penelititan ini memberikan pertimbangan kebijakan terhadap pasar tradisional dan modern di Kota Malang. Perlindungan terhadap para petani, pedagang, dan pengaturan terhadap kebersihan pasar, sehingga tercipta masyarakat kota yang sejahtera. Bagi masyarakat Kota Malang pasar bukan saja sebuah tempat perekonomian namun juga memiliki nilai sejarah.

Peningkatan penguasaan konsep penjumlahan pecahan dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika kelas III SD Negeri Pandanwangi III Kota Malang / oleh Sriati

 

Manajemen pengembangan sumber daya manusia pada pondok pesantren (studi multikasus pada Pondol Pesantren Al-Azizah Lombok Barat NTB dan Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo Malang Jawa Timur) / Haromain

 

Kata kunci : manajemen pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pondok pesantren Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam dalam perkembangannya harus mampu mengikuti setiap perubahan yang terjadi. Kemampuan pondok pesantren untuk mempertahankan eksistensinya haruslah didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni dibidangnya. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pengelolaan pondok pesantren ternyata masih menggunakan sistem tradisional yang memungkinkannya sulit untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi bila tidak didukung oleh inovasi-inovasi dalam mengembangkan dirinya. Keberadaan sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak keterlaksanaan setiap program sangat menentukan efektifitas pencapaian tujuan pondok pesantren. Untuk itu perlu adanya pengembangan sumber daya manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh pondok pesantren. Dalam hal ini program-program yang dirancang harus mampu mengcover peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia pada pondok pesantren. Dalam prosesnya, pengembangan sumber daya manusia harus dilakukan secara sistematis untuk mengefektifkan pencapaian tujuan pengembangan. Berdasarkan konteks tersebut diatas, peneliti merumuskan fokus penelitian yang terdiri atas: (1) perencanaan pengembangan sumber daya manusia. (2) implementasi pengembangan sumber daya manusia, dan (3) evaluasi pengembangan sumber daya manusia. Untuk dapat mendeskripsikan ketiga fokus tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi multi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahap yaitu analisis data kasus individu serta analisis data lintas kasus. Analisis data kasus individu berupa reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Sedangkan analisis data lintas kasus dilakukan dengan mengkomparasikan temuan-temuan pada masing-masing kasus individu. Hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut : (1) perencanaan pengembangan sumber daya manusia pada pondok pesantren dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: (a) analisis kebutuhan pengembangan yang berkaitan dengan : analisis perbandingan antara jumlah tenaga pengajar dan mudabbir dengan jumlah santri serta analisis kualifikasi akademik tenaga pengajar pada pondok pesantren, (b) penentuan tujuan pengembangan yang berkaitan dengan tujuan pengembangan bagi individu serta tujuan pengembangan bagi pondok pesantren, dan (c) perumusan strategi pengembangan berkaitan dengan strategi yang disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan pengembangan yaitu rekrutmen sumber daya manusia, program pendidikan dan pelatihan serta pembentukan budaya pesantren. (2) implementasi pengembangan sumber daya manusia dilakukan melalui: (a) rekrutmen sumber daya manusia yang meliputi identifikasi kebutuhan sumber daya manusia dari segi jumlah maupun kualifikasinya, penetapan asal calon tenaga pengajar dan mudabbir, pengusulan calon tenaga pengajar dan mudabbir kepada Tuan Guru/Kyai serta persetujuan calon oleh Tuan Guru/Kyai berdasarkan kriteria kelayakan, (b) program pendidikan dan pelatihan meliputi studi lanjut bagi alumni berprestasi, optimalisasi peran alumni, kerjasama pondok pesantren dengan perguruan tinggi serta pendelegasian sumber daya manusia untuk mengikuti kegiatan-kegiatan diluar pesantren, dan (c) pembentukan budaya pesantren yang merupakan ciri khas yang membedakan pesantren satu dengan pesantren lainnya, cerminan visi dan misi pondok pesantren serta pendalaman nilai-nilai keikhlasan, persaudaraan, tolong menolong serta kebebasan. (3) evaluasi program pengembangan yang berkaitan dengan proses serta hasil yang dicapai dalam proses pengembangan sumber daya manusia. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut: (1) Bagi penyelenggara pendidikan keagamaan khususnya pondok pesantren agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan kajian yang dapat membantu proses berfikir inovatif dalam mengembangkan sumber daya manusianya yang tentunya dapat menjadi dasar bagi pengaplikasian fungsi spiritual yang terkait dengan aqidah, syari’ah dan akhlak, (2) Bagi Kementrian Agama Cq. Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren agar dapat membuat kebijakan, keputusan dan semacamnya yang berkaitan dengan upaya-upaya pengembangan sumber daya manusia pada pondok pesantren, baik berupa sarana prasarana, dana dan teknologi tepat guna agar program yang sudah, sedang dan akan dilaksanakan dapat memacu perubahan percepatan yang positif, (3) Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini akan memberikan khazanah pengetahuan yang diharapkan dapat dikembangkan penelitian berikutnya berbasis pengembangan sumber daya manusia dengan latar berbeda dan pendekatan penelitian yang lain, (4) Bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan dan sosial kemasyarakatan dan keagamaan agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai referensi pemikiran serta pijakan bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan khususnya yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia.

Alasan peserta didik mengikuti lembaga bimbingan belajar : studi pada peserta didik LBB Primagama Cabang Pamekasan / oleh Alvin Wahyuni

 

Analisis Hedging sebagai tindakan untuk membatasai eksposur transaksi pada PT. Bakrie dan Brothers, Tbk. / oleh Cinde Ririh Windayu

 

Implementasi algoritma Dijkstra dalam pencarian lintasan terpendek lokasi rumah sakir, hotel, dan terminal Kota Malang berbasis WEB / Riyadhush Sholichin

 

Kata Kunci: Algoritma Dijkstra, Lintasan Terpendek, Web. Algoritma Dijkstra merupakan algoritma yang dapat digunakan dalam pencarian lintasan terpendek dari suatu tempat ke tempat yang lain. Algoritma Dijkstra memiliki iterasi untuk mencari titik yang jaraknya dari titik awal adalah paling pendek. Pada setiap iterasi, jarak titik yang diketahui (dari titik awal) diperbarui bila ternyata didapat titik yang baru yang memberikan jarak terpendek. Pembuatan program Implementasi Algoritma Dijkstra Dalam Pencarian Lintasan Terpendek Lokasi Rumah Sakit, Hotel dan Terminal Kota Malang Berbasis Web diawali dengan perencanaan pembuatan program selanjutnya dilakukan pembangunan web dan diakhiri dengan publikasi web. Algoritma Dijkstra diimplementasikan ke dalam sebuah web dengan mengkonversi prosedur algoritma Dijkstra menjadi script program, kemudian disertakan dalam web. Titik- titik yang digunakan dalam program implementasi algoritma Dijkstra adalah nama rumah sakit, hotel dan terminal yang terletak di pusat kota Malang. Program yang dihasilkan disimpan dalam sebuah folder dengan nama Dijkstra yang ditempatkan dalam server web untuk dapat dijalankan. Program yang dikembangkan ini diharapkan dapat dimanfaatkan khalayak umum yang membutuhkan informasi lintasan terpendek untuk menuju lokasi rumah sakit, hotel dan terminal yang ada di kota Malang.

Peningkatan keterampilan siswa melakukan penyelidikan sederhana melalui model Discovery Inquiry dalam pembelajaran IPA kelas 4 SDN 1 boyolangu kabupaten Tulungagung / Fitri Andriyani

 

Kata kunci: model discovery inquiry, IPA, keterampilan penyelidikan sederhana. IPA merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan langsung dengan ke-hidupan makhluk hidup dan alam semesta. Pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas IV SDN I Boyolangu masih menerapkan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered). hanya melakukan apa saja yang diperintah guru, sehingga ke-aktifan siswa tidak tampak. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Pe-nelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) Pelaksanaan pem-belajaran IPA kelas IV SDN I Boyo-langu pada tahap pra tindakan, (2) Keteram-pilan penyelidikan sederhana siswa kelas IV pada pem-belajaran IPA di SDN I Boyolangu pada tahap pra tindakan, (3) Pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan model discovery inquiry pada kelas IV SDN I Boyolangu pada se-tiap siklus, (4) Keterampilan penyelidikan sederhana siswa kelas IV pada pembel-ajaran IPA dengan menggunakan model discovery inquiry di SDN I Boyolangu pada setiap siklus, dan (5) Peningkatan keterampilan penyelidikan sederhana sis-wa kelas IV pada pembelajaran IPA dengan menggunakan model discovery inquiry di SDN I Boyolangu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, maksudnya yaitu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu keterampilan penyelidikan sederhana pada tahap pra tindakan mendapat persentase sebesar 0% dengankriteria sangat kurang baik. Pada siklus I pertemuan I mendapat persentase sebesar 50% dengan kriteria kurang baik, pada pertemuan II mendapat persentase sebesar 60% dengan kriteria cukup baik, dan pada pertemuan III mendapat persentase sebesar 70% dengan kriteria baik. Pada siklus II pertemuan I mendapat persentase sebesar 73,4% dengan kriteria baik, pada pertemuan II mendapat persentase sebesar 78,5% dengan kriteria baik, dan pada pertemuan III mendapat persentase sebesar 83,2 dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keteram-pilan siswa melakukan penyelidikan sederhana siswa kelas IV SDN I Boyolangu dengan menggunakan model discovery inquiry dapat meningkat. Berdasarkan simpulan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas, yaitu (1) Dalam melaksanakan pembelajaran, sebaiknya guru memilih model pembelajaran yang bisa mengak-tifkan siswa untuk membangun pengetahuan sendiri tentang suatu materi, sehing-ga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat lebih bermakna, dan (2) Dalam pene-rapan pembelajaran IPA, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang bisa membuat siswa berperan aktif mencari sendiri penyelesaian dari permasalah-an yang sedang dibahas, salah satunya yaitu model pembelajaran discovery inquiry.

Pengembangan perangkat pembelajaran sel volta berorientasi pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) / oleh Uun Syarifatin

 

Penciptaan citra kualitas sekolah (studi multi situs di SDN Kauman 1 dan SDN Tunjungsekar 1 Kota Malang) / Mutmainah Amini

 

Kata Kunci: penciptaan citra, kualitas sekolah. Penelitian ini dilakukan berlandaskan keberadaan pendidikan yang memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa dan dalam membangun watak bangsa. Salah satu pendekatan yang dipilih di era desentralisasi sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan melalui pengembangan organisasi sekolah adalah pemberian otonomi yang luas di tingkat sekolah serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.Sekolah sebagai penyedia layanan pendidikan kepada masyarakat memiliki karekteristik yang spesifik yang erat kaitannya dengan citra positif sekolah itu yang telah berkembang di masyarakat. Penciptaan citra kualitas sekolah yang seharusnya diupayakan oleh lembaga pendidikan tersebut bertujuan agar mampu membawa kemajuan. Kemajuan dalam hal akademis dan non akademis secara intern yang akan berpengaruh positif pada image sekolah. Penelitian ini dilakukan di dua situs, yaitu SDN kauman 1 dan SDN Tunjungsekar 1 yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sebuah citra dapat dibangun melalui berbagai aspek pada sekolah yang diantaranya melalui: (1) proses belajar, (2) kedisiplinan warga sekolah, dan (3) sarana prasarana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi multi situs. Data berupa data deskripsi yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa penciptaan citra kualitas sekolah yang dilakukan di SDN Kauman I dan SDN Tunjungsekar I Kota Malang: 1) Pelaksanaan proses belajar mengajar, yaitu di kedua sekolah tersebut terdapatkesamaan konsep yang dilakukan yaitudalam pelaksanaan proses belajar mengajar agar dapat membawa siswa memahami materi yang diajarkan karena guru membuat persiapan mengajar yang matang, memiliki ketrampilan mengajar yang benar, siswa ditempatkan pada posisi benar-benar belajar, dan belajar disiplin dan tanggung jawab, menggunakan sistem reward and recognition, dan pemahaman materi dan praktik. 2) Di kedua sekolah tersebut menunjukkandisiplin sekolah berjalan dengan lancar karena kepala sekolah dan guru menjadi suri tauladan, berjalannya komunikasi, dan kepengawasan secara tidak langsung oleh komite, masyarakat dan walimurid. 3) Di kedua sekolah tersebut menunjukkanpemenuhan kebutuhan sarana prasarana sekolah lebih mudah teratasi karena pemenuhan sarana prasarana yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan didukung oleh pemerintah dan masyarakat. Sarana prasarana yang ada di kedua SD yang dapat menunjang kegiatan proses belajar mengajar di sekolah berupa pemenuhan sarana di tiap kelas yangminimal terdapat LCD, Komputer, dan Speaker, ketersediaan laboratorium: IPA, Multimedia/sanggar kesenian, Bahasa, Komputer, dan ketersediaan pendukung berupa Ruang Kepala Sekolah, Ruang Guru Ruang Tata Usaha, Ruang Kelas, Perpustakaan, Serbaguna/Aula, Mushola, Ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Ruang Kelompok Kerja Guru (KKG), Kantin sekolah, Gudang, Kamar kecil/WC Guru, Kamar kecil/WC murid, Dapur, Pos Satpam, dan Rumah Penjaga Sekolah. Kemudian, berikut adalah saran berdasarkan temuan diatas terkait dengan penciptaan citra kualitas sekolah di SDN Kauman 1 dan SDN Tunjungsekar 1 Kota Malang: 1) Bagi Kepala Sekolah agar program yang dilakukan guna meningkatkan proses belajar mengajar, kedisiplinan, dan kelengkapan sarana prasarana senantiasa dipertahankan supaya dapat meningkatkan mutu pendidikan sehingga dapat menciptakan citra kualitas sekolah yang positif, 2) Bagi guru agar pelaksanaan program yang dilakukan guna meningkatkan proses belajar mengajar dan kedisiplinan senantiasa dipertahankan, serta pemeliharaan dan penggunaan sarana prasarana tetap dilakukan agar dapat meningkatkan antusiasme belajar dan prestasi siswa, 3) Bagi Komite Sekolah, kemitraan yang partisipatif dan aktif mampu menjaga mutu sekolah terkait proses belajar mengajar, pemeliharaan tradisi kedisiplinan, serta penggunaan dan pemanfaatan sarana prasarana, 4) Bagi orang tua untuk senantiasa berpartisipasi dalam memberikan saran untuk meningkatkan kebaikan sekolah terkait proses belajar mengajar, pelaksanaan kedisiplinan, serta penggunaan dan pemanfaatan sarana prasarana, dan 5) Bagi semua warga sekolah tetap disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya supaya dapat menjadi suri tauladan.

Evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman kapok (Ceiba pentandra) di Kecamatan Junrejo Kota Batu / Faizatul Muwahidah

 

Penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran teknik listrik dasar otomotif pada kelas X TKR III di SMK Negeri 2 Probolinggo / Muhammad Syakroni

 

v ABSTRAK Syakroni, Muhammad. 2015. Penerapan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Teknik Listrik Dasar Otomotif Pada Kelas X TKR III Di SMK Negeri 2 Probolinggo. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Partono, M.Pd. (II) Drs. Paryono, S.T., M.T. Kata Kunci : Penerapan Kurikulum 2013 Perubahan kurikulum sudah saatnya dilakukan karena selama ini kurikulum pendidikan yang ada tidak menekankan pada pengembangan sumber daya manusia yang berkarakter. Siswa lebih banyak dijejali dengan hafalan, bukan kompetensi dan sains yang sebenarnya sangat diperlukan dalam kehidupan seharihari. Kurikulum KTSP terlalu menitik beratkan pada aspek kognitif. Mata pelajaran yang terlalu banyak sehingga membebani siswa. Pada kurikulum KTSP guru lebih aktif dari siswa, sedangkan untuk kurikulum 2013 siswa yang lebih aktif. Konsep Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju ke arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Kurikulum 2013 lebih memfokuskan semua mata pelajaran harus mendukung semua kompetensi baik dalam sikap, pengetahuan dan keterampilan. Perbedaan Kurikulum 2013 ada pada penambahan durasi jam waktu belajar siswa disekolah, sehingga diharapkan agar siswa tidak melakukan tindakan negatif diluar sekolah yang diakibatkan oleh jam belajar disekolah sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Teknik Listrik Dasar Otomotif Di SMK Negeri 2 Probolinggo. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif, dimana penulis menggambarkan atau menceritakan suatu pembelajaran ketika diterapkannya Kurikulum 2013. Hasil penelitian yang didapat saat penelitian adalah untuk kesiapan guru seperti penyusunan RPP yang dilakukan oleh guru sudah sangat optimal, dan perencanaan pembelajaran juga sudah sangat optimal, sedangkan untuk penyusunan penilaian dinyatakan telah optimal. Selanjutnya untuk proses pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan penutup sudah sangat optimal, sedangkan untuk proses penilaian dinyatakan optimal dalam menerapkan kurikulum 2013. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat dinyatakan bahwasanya untuk proses pembelajaran sudah sangat optimal ketika menerapkan Kurikulum 2013, namun untuk penyusunan dan proses penilaian guru masih kurang baik dalam menerapkannya. Ada banyak faktor penghambat yang dirasakan guru, terutama dalam hal penilaian. Terutama instrumen penilaian untuk Kurikulum 2013 masih dirasa terlalu banyak oleh guru, sehingga guru kesulitan antara membagi waktu dengan menilai dan memberikan materi, sedangkan untuk faktor pendukung sudah baik, seperti sarana dan prasarana yaitu LCD, Laptop, dan pelatihan yang didapatkan oleh guru sudah dikatakan baik. vi ABSTRACT Syakroni, Muhammad. 2015. The application of curriculum of 2013 on subjects of Basic Electrical Engineering Automotive Class X TKR III At SMK Negeri 2 Probolinggo.Thesis, Department Of Mechanical Engineering, Faculty Of Engineering, State University Of Malang. Supervisor: (I) Drs. Partono, M. Pd. (II) Drs. Paryono, S.T., M.T. Keyword: application of Curriculum 2013 It is high time the curriculum change was done because during this education curriculum that is not emphasized human resources development that character. Students more thronged with rote, not actual science competency and is indispensable in everyday life. KTSP curriculum is too focused on the cognitive aspect of the drip. The subjects the student weighs too much so. KTSP curriculum teachersmore actively from the student curriculum, while for 2013 more active students. The concept of Curriculum 2013 are meant to be able to direct education towards the aimsand intended learning activities in a thoroughly. 2013 curriculum focus all subjectsmust support all competence both in attitude, knowledge and skills. The differencethere is in addition the 2013 Curriculum duration hours study time students in all schools, so it is expected that students do not do negative actions outside of schoolcaused by hours of learning in all schools a bit. This research aims to study how the application of curriculum of 2013 on subjects of Basic Electrical Engineering Automotive In SMK Negeri 2 Probolinggo. The research method used is descriptive quantitative methods, in which the author describes ornarrates a learning when implementing Curriculum 2013. Research results are obtained when the research was for the readiness of teacherssuch as preparation of the RPP made by teachers is highly optimized, and planning of learning have also been highly optimized, while for the preparation of the assessmentstated have been optimal. Next to the learning process which consists of initialactivities, core and cover have been highly optimized. As for the assessment processwas optimized in implementing curriculum 2013. Based on the results above, it can be stated that for the learning process has been very useful when implementing Curriculum 2013. However, for the preparation andprocess of assessment of teachers still lacking both in applying it. There are a lot of factors perceived barrier to teachers, especially in terms of assessment. Curriculumassessment for instruments primarily 2013 is still considered too much by the teacher, so the teacher trouble between divide time by assessing and providing material. As for the supporting factors are good, such as facilities and infrastructure i.e. LCD, Laptop, and acquired by the teacher training was said to be good.

Analisis tingkat pencapaian penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dengan pendekatan Balanced Scorecard di SMA Negeri 3 Kota Malang / oleh Faridah Hidayati

 

Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran matematika realistik pada materi himpunan di SMP negri 3 ingin jaya Aceh besar / Taufik

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc, (2) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata Kunci: meningkatkan prestasi belajar siswa, pembelajaran matematika realistik. Pembelajaran yang diterapkan di sekolah masih menggunakan metode ceramah, siswa tidak bebas mengeluarkan ide-idenya karena pembelajaran didominasi oleh guru. Siswa banyak menghafal konsep matematika yang diberikan guru dan menyelesaikan masalah secara prosedural. Akibatnya, pemahaman siswa terhadap konsep dan penerapan masih rendah. Untuk mengetahui hasil pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik pada materi himpunan, maka pada penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah proses pembelajaran matematika realistik pada materi himpunan yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIa SMP Negeri 3 Ingin Jaya Aceh Besar? Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan di kelas VIIa SMP Negeri 3 Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Untuk keperluan wawancara, dipilih 3 orang siswa sebagai subjek penelitian yang terdiri dari seorang siswa berkemampuan intelektual tinggi, seorang siswa berkemampuan intelektual sedang, dan seorang siswa berkemampuan intelektual rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan termasuk dalam kategori baik dan sangat baik. Dari hasil tes, skor rata-rata (dalam persen) dari keseluruhan siswa yang memperoleh skor tidak kurang dari 65 pada siklus I dan siklus II berturut-turut adalah 70 dan 77. Sedangkan hasil wawancara menunjukkan bahwa ketiga subjek penelitian telah memahami konsep himpunan dengan baik. Dengan demikian tindakan pada siklus I dan II menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang konsep himpunan meningkat. Dalam pembelajaran konsep himpunan, peneliti menyarankan kepada para guru untuk menggunakan (1) pendekatan pembelajaran matematika realistik, (2) LKS yang memberi kesempatan bagi siswa mengkonstruksi sendiri konsep-konsep matematika yang sedang dipelajarinya.

Hubungan antara tempramen, minat menonton film laga di televisi dan perilaku agresif siswa SMA Islam Al-Ma'arif Singosari Kabupaten Malang / oleh Khikmah Wulan Sari

 

Kesalahan penggunaan kasus akkusativ dan dativ dalam karangan mahasiswa angkatan 2009 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada matakuliah aufsatz I / Anggun Lancana Putri

 

Kata kunci : kesalahan gramatika, Akkusativ, Dativ. Dalam pembelajaran bahasa Jerman tentu akan selalu berkaitan dengan gramatika yang terdiri dari berbagai macam klasifikasi. Salah satunya adalah Kasus yang terdiri dari empat macam, yaitu Nominativ, Akkusativ, Dativ, dan Genitiv. Keempat kasus tersebut dipelajari oleh mahasiswa Offering B angkatan 2009 pada matakuliah Deutsch I-III dan dipelajari secara khusus serta lebih mendalam pada matakuliah Struktur und Wortschatz I yang kemudian diaplikasikan pada matakuliah Aufsatz I. Sehingga mahasiswa seharusnya tidak lagi mengalami kesulitan dalam penggunaan keempat kasus tersebut. Namun pada kenyataannya masih terdapat banyak kesalahan gramatika yang mewarnai karangan mahasiswa pada matakuliah Aufsatz I, terutama penggunaan kasus Akkusativ dan Dativ. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menganalisis kesalahan gramatika terkait Akkusativ dan Dativ yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menulis karangan pada matakuliah Aufsatz I. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan gramatika terkait dengan penggunaan kasus Akkusativ dan Dativ pada karangan mahasiswa pada matakuliah Aufsatz I. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah hasil karangan mahasiswa Offering B Angkatan 2009 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang yang berjumlah 18 orang dengan 8 tema dari masing-masing mahasiswa. Data penelitian berupa semua kalimat dalam karangan yang mengandung unsur kasus Akkusativ dan Dativ. Dalam prosedur pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen utama dan peneliti membutuhkan instrumen penunjang yaitu tabel dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat enam jenis kesalahan pada karangan mahasiswa yaitu: (1) kesalahan Akkusativ/Dativ pada penggunaan/pemilihan preposisi, (2) kesalahan Akkusativ/Dativ pada penggunaan/pemilihan artikel, (3) kesalahan Akkusativ Dativ pada deklinasi adjektiva (4) kesalahan Akkusativ/Dativ pada bentuk plural, (5) kesalahan Akkusativ/Dativ pada penggunaan Possesivpronomen, dan (6) kesalahan Dativ pada penggunaan obyek tidak langsung. Dari keenam jenis kesalahan tersebut, mahasiswa paling banyak melakukan kesalahan Akkusativ Dativ pada penggunaan/pemilihan artikel dan memang benar bahwa mahasiswa masih kesulitan dalam penggunaan kasus Akkusativ dan Dativ. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa masih mengalami banyak kesalahan dalam penggunaan kasus Akkusativ dan Dativ bahasa Jerman. Meskipun mahasiswa telah memperoleh materi Akkusativ dan Dativ pada matakuliah Deutsch I-III dan Struktur und Wortschatz I pada semester sebelumnya. Oleh karena itu, disarankan agar mahasiswa lebih meningkatkan i semangat belajar dengan menggunakan buku ajar yang relevan yang sangat membantu dalam pembelajaran materi tersebut. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengerjakan lebih banyak soal latihan baik secara mandiri ataupun belajar kelompok serta lebih teliti saat menggunakan kasus Akkusativ dan Dativ, sehingga mahasiswa dapat menghasilkan karangan yang baik dan benar sesuai dengan gramatika bahasa Jerman.

Studi tentang pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah di SMAN Kota Batu / oleh Achmad Muhajir Rahmad H.

 

Penentuan koefisien difusi larutan HCl menggunakan interferometer Michelson berbasis Borland Delphi 7.0 / Ari Kuswanto

 

ABSTRAK Kuswanto, Ari.2012. PenentuanKoefisienDifusiLarutanHClMenggunakan Interferometer Michelson Berbasis Borland Delphi 7.0.Skripsi, Program StudiFisika,JurusanFisika,FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam,UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Daeng Ahmad Suadi, S.Si, M.Kom, (2) Sujito, S.Pd, M.Si. Kata kunci: koefisiendifusi, interferometer michelson, borlandDelphi. TelahdilakukanpenelitianuntukmenentukanbesarnyakoefisiendifusipadalarutanHCldenganmenggunakanInterferometer Michelson.Penelitianinimenggunakanlarutantransparanyang mampuditembusolehsinar laser.Larutanyang digunakanadalahHCl 3M, 6 M, dan 12 M. PenelitianinimenggunakanmetodeBorland Delphi 7.0 untukmenentukankoefisiendifusidantampilananimasigejaladifusinya.Penggunaanmetodeinidimaksudkanuntukmengujikeakuratandankepraktisandalampengambilandanpengolahandata. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwakoefsiendifusidarimasing-masingkonsentrasiselama 12.720 detikantara lain:padakonsentrasi 3 M sebesar 3,44 x 10-1 cm2/s, padakonsentrasi 6 M sebesar 3,33 x 10-1cm2/s, danpadakonsentrasi 12 M sebesar 9,12 x 10-1 cm2/s.Dengandiketahuinyakoefisiendifusitersebutmakapenggunaanmetode Borland Delphimembuktikanbahwasemakinbesarkonsentrasilarutanmakasemakinkecilkoefisiendifusinya. Metode Borland Delphi memilikiduakeunggulanyaitumemudahkanpengambilan data, danpraktisuntukmenghitung data yang dilengkapidengangambargejalafenomenadifusilarutantransparanmelaluitampilananimasi.

Penerapan model inkuiri untuk meningkatkan kualitas belajar IPA pada siswa kelas 4 gunungrejo 2 Singosari kabupaten Malang / Erwin Priandono

 

Kata Kunci: Model Inkuiri, aktivitas belajar, hasil belajar, belajar IPA Berdasarkan fakta yang ditemukan peneliti terdapat permasalahan yang terjadi dikelas IV SDN Gunungrejo 2 Singosari Kabupaten Malang dalam aktvitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Berdasarkan hasil wawacara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas IV di SDN Gunungrejo 2 Singosari Kabupaten Malang, menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih mengandalkan guru sepenuhnya atau masih teacher centered. Guru lebih sering meggunakan ceramah, penugasan yang dilakukan secara individu sehingga siswa merasa cepat bosan dalam pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) mendeskripsikan penerapan model inkuiri pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV dalam mata pelajaran IPA, (2) medeskripsikan aktivitas belajar siswa pada kelas IV SDN Gunungrejo 2 Singosari Kabupaten Malang, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPA melalui model inkuiri. Penelitian ini menggunakan desain PTK yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan dan pengamatan, (3) refleksi, dan (4) perbaikan rencana. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil yaitu : (1) Dengan menggunakan langkah-langkah inkuiri, terjadi peningkatan dalam aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) Berdasarkan hasil analisis data, aktivitas belajar siswa kelas IV setelah diberi tindakan pada siklus I dan siklus II lebih baik. (3) Dengan menggunakan penerapan model inkuiri untuk meningkatkkan kualitas belajar IPA kelas IV SDN Gunungrejo 2 Singosari Kabupaten Malang terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya perolehan skor rata-rata postes siswa yang meningkat secara bertahap, dari rata-rata sebelum tindakan 60,03 (41,81%) menjadi 67,38 (58,18%) dan meningkat lagi menjadi 77,87 (81,81%) pada siklus II. Pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal diatas 70%. Melalui penerapan model inkuiri, siswa memiliki pengalaman belajar yang nyata dan aktif, serta siswa mampu memecahkan masalah dalam belajar IPA. Dalam hal ini, rasa keingintahuan siswa sangat tinggi. Model inkuiri ini membutuhkan waktu yang panjang dalam pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran IPA di sekolah yang berpusat pada siswa dan menekankan pentingnya belajar aktif , mengubah persepsi tentang guru yang selalu memberikan informasi dan menjadi sumber pengetahuan bagi siswa. Berdasarkan penelitian ini disarankan bagi guru dan peneliti lanjutan diharapkan dapat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran seperti penerapan model inkuiri dalam pembelajaran.

Identifikasi masalah pribadi dan kelompok melalui pelatihan Outbound bagi kepala sekolah SD, SMP, SMA SMK se-Jawa Timur / oleh Edi Widianto

 

Pengaruh pembelajaran open inquiry terrhadap prestasi belajar fiska ditinjau dari kerja ilmiah siswa SMA Negeri 1 Blitar / Ratnaningtyas Martuti

 

Pengembangan Web Based Learning (WBL) dalam mata kuliah algoritma pemrograman 1 di STMIK Pradnya Paramita Malang / oleh Fitri Marisa

 

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model example non example pada siswa kelas V SDN Kauman 01 Kota Blitar / Oktofina Leftafuran

 

Kata Kunci : keterampilan, menulis deskripsi, model example non example. Berdasarkan hasil observasi permulaan yang telah dilakukan oleh peneliti di SDN Kauman 01 Kota Bitar, pada pelaksanaan pembelajaran keterampilan ditemukan suatu masalah yaitu dari 11 siswa hanya 2 orang saja yang nilainya dapat mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditetapkan yaitu 60, sedangkan 9 siswa masih belum dapat mencapai KKM. Banyaknya siswa yang mendapat nilai dibawah KKM disebabkan karena pembelajaran berpusat pada guru dan model pembelajaran yang digunakan guru kurang menari. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah penerapan model example non example dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi di kelas V SDN Kauman 01 Kota Blitar? (2) Apakah model example non example dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi di kelas V SDN Kauman 01 Kota Blitar? Metode penelitian yang digunakan adalah PTK. Langkah-langkah penelitian berupa perencanaan pelakanaan, observasi dan refleksi. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar hasil observasi dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran example non example di SDN Kauman 01 Kota Blitar diterapkan dalam tujuh langkah yaitu : (a) Guru mempersiapkan gambar example non example; (b) Guru menempelkan gambar example non example dipapan tulis; (c) Guru menjelaskan cara menganalisis gambar; (d) Guru membentuk kelompok dengan anggota 3-4 siswa untuk menganalisis dan mendiskusikan gambar example dan non example; (e) Siswa membacakana hasil diskusi kelompok dan kelompok lain mengomentar; (f) Guru menjelaskan materi berdasarkan hasil diskusi kelompok; (g) Siswa membuat kesimpulan tentang “Menulis Deskripsi”, setelah menggunakan model pembelajaran example non example dalam pembelajaran menulis deskripsi meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pratindakan 41,81 dan tindakan siklus I adalah 50,45, dan tindakan siklus II adalah 80,73. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa melalui model example non example pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi karangan deskripsi pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan dari 50 % menjadi 100 % siswa tuntas belajar dari 11 siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model example non example dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Kauman 01 Kota Blitar. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan pihak sekolah agar menggunakan model example non example untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa.

Kepemimpinan kepala sekolah SMA Negeri 1 Probolinggo dalam menciptakan iklim kondusif bagi proses belajar mengajar / oleh Siwi Ambarprapti Handanani

 

Konstruksi baja : tugas / oleh Junaedi

 

Pengaruh citra perusahan terhadap organizational citizenship behavior (OCB) melalui komitmen organisasional (Studi pada pegawai tetap PT.PLN (Persero) APJ Malang) / Puspita Widya Utami

 

Kata Kunci: Citra Perusahaan, organizational citizenship behavior (OCB), Komitmen Organisasi Citra Perusahaan merupakan kesan yang dimiliki oleh lingkungan internal maupun eksternal perusahaan, dimana lingkungan internal perusahaan antara lain salah satunya adalah para pegawai perusahaan tersebut. Kesan tersebut diperoleh dari penilaian-penilaian para pegawai mengenai atribut-atribut perusahaan. Hal tersebut mendukung para pegawai untuk lebih berkomitmen terhadap perusahaannya jika perusahaan dapat memberikan kesan baik pada para pegawainya. dengan adanya pendekatan komitmen organisasi seorang pegawai akan merasa bangga menjadi bagian dari perusahaan tersebut sehingga secara tidak langsung akan mendatangkan rasa nyaman untuk bekerja dan karyawan akan memberikan perilaku citizenship secara sukarela dengan sendirinya. Hal tersebut menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk meningkatkan perilaku citizenship karyawan. Oleh karena itu diperlukan pembahasan mengenai hal tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan hasil sebagai berikut: 1) Citra Perusahaan secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap Komitmen Organisasi pada karyawan PT. PLN (Persero) Malang sebesar 0,410. 2) Citra Perusahaan secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan PT. PLN (Persero) Malang sebesar 0,537. 3) Komitmen Organisasi secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan PT. PLN (Persero) Malang sebesar 0,622. 4) Citra Perusahaan secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) yang dimediatori Komitmen Organisasi karyawan PT. PLN (Persero) Malang sebesar 0,255. Dengan demikian, Citra Perusahaan secara positif dan signifikan berpengaruh total terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) karyawan PT. PLN (Persero) Malang sebesar 0,949. Saran bagi perusahaan agar tetap menjaga Citra Perusahaan agar dapat meningkatkan Komitmen Organisasi para pegawainya yang membuat tingkat Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan PT. PLN (Persero) tetap tinggi.

The Implementation of short story writing workshop on university students / by Ary Sudiargo

 

Pemanfaatan kegiatan Simpan Pinjam Perempuan (SPP) sebagai proses pembelajaran masyarakat: studi deskriptif program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri (PNPM-MP) Perdesaan di Desa Nglinggo Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk / Siti Nur Pita Sari

 

ABSTRAK Sari, Siti Nur Pita. 2015. Pemanfaatan Kegiatan Simpan Pinjam Perempuan (SPP) Dalam Proses Pembelajaran Di Masyarakat. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Moh. Ishom Ihsan, M.Pd, (2) Drs. H. Nurhadi, M.Pd Kata Kunci: Pembelajaran, Kegiatan Simpan Pinjam Perempuan Proses pembelajaran yang terjadi menggambarkan bahwa pembelajaran yang ini merupakan tujuan yang ingin dicapai dari program PNPM-MP itu sendiri guna menjadikan masyarakat desa lebih berdaya di daerahnya khususnya dalam hal ini untuk kesetaraan gender yaitu perempuan. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan proses pembelajaran yang terjadi lewat kegiatan SPP yang meliputi: (1) mengetahui kegiatan Simpan Pinjam Perempuan sebagai Proses Pembelajaran Masyarakat, (2) mengetahui cara pengelolaan dana Simpan Pinjam Perempuan sebagai Proses Pembelajaran Masyarakat, dan (3) faktor pendukung dan penghambat Kegiatan Simpan Pinjam Perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Penggalian data menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Responden dalam penelitian ini terdiri dari Ketua UPK, Ketua BKAD, dan Ketua serta Anggota Kelompok SPP. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini ialah terjadinya pembelajaran yaitu anggota kelompok SPP mendapatkan pembelajaran tentang pengorganisasian, kerjasama, komunikasi, serta pengelolaan dana pinjaman yang telah dikelola oleh kelompok. Dari Hasil penelitian diatas disarankan (1) Bagi kelompok SPP yaitu a) Konsisten mengelola dana pinjaman agar bisa berkembang usahanya. b) Memiliki inisiatif pengembangan usaha atau mengajukan pelatihan kewirausahaan terkait ke desa. c) Kerjasama antar kelompok lebih solid untuk membangun basis usaha kelompok dan membuat ide produk olahan unggulan khas daerah. (2) Bagi UPK dan pihak terkait meliputi: a) Monitoring hendaknya dilakukan sacara terus menerus dan berkala sehingga masyarakat lebih terakomodir. b) UPK hendaknya menyiapkan lahan pemasaran produk hasil usaha, atau pameran khusus untuk menarik minat konsumen dari luar daerah. c) UPK memberikan bahan evaluasi kinerja program yang lebih bermanfaat dan berkembang untuk masyarakat miskin khususnya dan masyarakat yang berkembang pada umumnya, terutama yang memiliki keterampilan dan usaha yang ingin dikembangkan.

Syntactic analysis and semantic interpretation of William Butler Yeats' poems : a linguistic approach to literature / by Moch. Imam Machfudi

 

Penerapan metode pemberian tugas dalam pembelajaran matematika tentang penjumlahan bilangan pecahan campuran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI SD Muhammadiyah 6 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / oleh Tri Bambang Suprapto

 

Pengembangan media buku bergambar dalam pembelajaran satuan pengukuran berat siswa kelas II SDN Karangsari 02 Bantur-Malang / Riska Dianing Saputri

 

Kata kunci: media buku bergambar, satuan berat, SD Media pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, karena dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari yaitu satuan pengukuran berat. Sehingga diperlukan gambar-gambar yang lebih dapat mengkonkritkan materi yaitu dengan media buku bergambar yang dapat memvisualisasikan gambar lebih mendekati konkrit dan tidak membutuhkan alat penunjang lain, sehingga lebih praktis dalam penggunaannya. Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk media buku bergambar yang dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan meningkatkan keterlibatan siswa pada pembelajaran matematika, yaitu pada pembelajaran satuan pengukuran berat. Diharapkan media buku bergambar dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang efektif dan efisien. Ada beberapa langkah dalam pengembangan media buku bergambar, yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisa tujuan, (3) pengembangan materi, (4) penulisan naskah media pembelajaran, (5) produksi, (6) validasi, (7) revisi. Subyek uji coba: ahli media, ahli materi, audiens, observer. Instrumen pengumpulan data: angket dan lembar observasi. Untuk mengolah hasil validasi dari ahli media, ahli materi, dan audiens dengan menggunakan teknik prosentase, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Sedangkan dari hasil observasi akan dipaparkan berdasarkan data yang terkumpul. Hasil pengembangan media buku bergambar yang diperoleh dari hasil validasi dari ahli media yang merupakan dosen pengembangan pendidikan kesenian SD mencapai tingkat kevalidan 82,5% dengan kriteria sangat valid, ahli materi, yaitu dosen matematika dan guru kelas II mencapai tingkat kevalidan 77,5% dengan kriteria valid dan 92,5% dengan kriteria sangat valid, sedangkan audiens mencapai tingkat kevalidan 93,4% dengan kriteria sangat valid. Hasil observasi diperoleh bahwa media buku bergambar dapat meningkatkan kehandalan komunikasi, memberikan gambaran nyata, meningkatkan minat siswa dalam belajar, dan dapat mencapai tujuan kompetensi yang diharapkan. Sehingga media buku bergambar valid dan layak digunakan dalam pembelajaran. Dalam pengembangan ini disimpulkan bahwa media buku bergambar mempunyai peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Disarankan: (1) pemanfaatan: pada pertemuan 1 materi yang dipelajari halaman 2 s/d 16, dan pertemuan 2 halaman 17 s/d 35, (2) diseminasi produk: subyek uji coba lebih luas, (3) bagi pengembang lain dapat memproduksi media buku bergambar yang lebih efektif dan efisien.

Kemampuan siswa kelas III mengubah soal cerita menjadi bentuk kalimat matematika di SDN Jatimulyo III Kecamatan Lowokwaru Malang / oleh Yusnani Prihatiningtyas

 

Analisis regresi dan deret berkala pada data penjualan produk asuransi : studi kasus peramalan efisiensi produk di PT. Metlife Sejahtera / oleh Elina Nur Fatimah

 

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pringapus 2 kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek / Linda Rachmawati

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model Problem Based Laerning (PBL) PBL merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berdasarkan hasil observasi dilakukan oleh peneliti pada kelas V SDN Pringapus 2 Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek, pada waktu pembelajaran IPA aktivitas didominasi oleh guru, siswa masih ramai sendiri, guru kurang mengarahkan siswa dalam kelompok. Akibatnya hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana masih rendah. Diperoleh data rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 49,24 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 24,24 %, sedangkan SKBM (Standart Ketuntasan Belajar Minimal) yang ditentukan adalah. Agar dapat meningkatkan pembelajaran IPA perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran PBL. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model PBL untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model PBL, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model PBL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Jenis Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model PBL, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, dan lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran PBL untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pringapus 2 dapat dilaksanakan sesuai harapan peneliti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya skor keberhasilan guru dalam penerapan model PBL, pada siklus I yaitu 76,65 dan meningkat pada siklus II menjadi 93,3. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 58,6 dan pada siklus II menjadi 71,4. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 63,4 pada siklus I menjadi rata-rata 80,94. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penerapan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di SDN Pringapus 2. Hasil penelitian ini memiliki saran agar model PBL dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam penilaian untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPA di SD.

Kajian pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah umum di kotamadya Ujung Pandang / oleh Achmad Tolla

 

Hubungan antara rancangan pembelajaran sejarah dengan prestasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Blitar / oleh Mera Anjayanti

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor merek Honda di Tulungagung / oleh Nurkasanah

 

Peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas V SD melalui model numbered heads together (NHT) dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SDN Karangbesuki 01 kota Malang / Rochma Arini

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, Numbered Heads Together (NHT), SD Penerapan model Numbered Heads Together setidaknya dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa karena siswa dituntut komunikatif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN Karangbesuki 01 Malang, guru masih menggunakan metode konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 60,3 dan masih terdapat 20 siswa atau 55,6% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 60 sehingga masih jauh dari KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Numbered Heads Together yang terdiri dari tahap penomoran dengan memberikan topi kepala bernomor dan memberikan penamaan pada setiap kelompok, tahap pengajuan pertanyaan dilakukan dengan memberikan Lembar Kegiatan Kelompok (LKK) untuk didiskusikan, tahap berpikir bersama merupakan proses siswa bersama kelompok untuk diskusi LKK dan tahap pemberian jawaban merupakan langkah terakhir dimana seriap individu mampu memberikan jawaban atau mengomentari suatu persoalan faktual, (2) peningkatan keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia setelah menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) di kelas V SDN Karangbesuki 01 . Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 38 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 24 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK oleh Iskandar meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari pembuatan rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembelajaran dengan menggunakan model tersebut. Hasil observasi aktivitas guru selama pembelajaran dengan menggunakan model Numbered heads Together (NHT) menunjukan prosentase pada siklus I sebesar 88,05 % meningkat ke siklus II dengan prosentase sebesar 97,6% dan hasil observasi dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan model Numbered Heads Together (NHT) pada siklus I memperoleh prosentase 74,9% meningkat pada siklus II memperoleh prosentase sebesar 100%. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap siswa yang meliputi aktivitas dan keterampilan siswa dalam berbicara dengan materi persoalan faktual dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang diharapkan mampu merubah cara belajar siswa dari siswa yang cenderung pasif dalam berpendapat menjadi komunikatif. Selain itu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada aspek keterampilan berbicara siswa. Aktivitas siswa yang diskor dari keaktifan, keberanian dan ketepatan jawaban, dari hasil observasi dapat terlihat dari skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa disiklus I sebesar 74,9 dan pada siklus II skor rata-rata yang diperoleh meningkat menjadi 82,9. Hasil belajar siswa pada aspek keterampilan berbicara juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil dari keterampilan berbicara yaitu 60,3 dengan ketuntasan belajar kelas 44,4%, pada siklus I meningkat menjadi 71,8 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 72,2%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 81,1 meskipun ada 3 siswa atau (11,6%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 88,6%. Berdasarkan hasil wawancara siswa dan guru dapat disimpulkan bahwa siswa sedikit demi sedikit mengalami peningkatan keterampilan berbicara khususnya dalam mengomentari persoalan faktual dengan baik daripada sebelum menerapkan model Numbered Heads Togeher (NHT). Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah hendaknya memotivasi agar meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Bagi Guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada pelajaran Bahasa Indonesia dengan Kompetensi Dasar yang sama dengan tema yang berbeda agar siswa lebih komunikatif dalam mengomentari persoalan faktual dengan jelas. Bagi peneliti yang lain mengingat pada penelitian ini masih terdapat kekurangan, diantaranya belum bisa menuntaskan hasil belajar siswa seluruhnya, maka disarankan untuk mengkombinasikan penggunaan media pembelajaran lain yang lebih relevan , sekiranya mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek berbicara.

Pengembangan modul pembelajaran individual penerapannya pada matakuliah teori permesinan di jurusan Pendidikan Teknik Mesin FPTK IKIP MALANG
oleh Eddy Sutadji

 

Pengaruh konflik peran dan kerancuan peran terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja : studi pada tenaga perawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Mardhi Waloeja Malang / oleh Sulistyo Gunawan

 

Interferensi berpikir siswa SMP pada materi KPK dan FPB / Gendis Murpratiwi

 

Analisis akuntansi pajak pertambahan nilai (PPN) atas barang produksi PT Industri Sandang Nusantara Unit Patal Grati Kota Pasuruan / Vivi Aprilia S.

 

Evaluasi tingkat bahaya erosi dan konservasi tanah pada lahan kosong di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / oleh Wiwin Ardiani

 

Aktivitas Mohammad Hatta 1950-1957 / Dia Safitri

 

Kata Kunci: Aktivitas, Mohammad Hatta Hatta merupakan tokoh besar yang jasa-jasanya kepada bangsa Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Hatta merupakan seorang administrator yang ahli dalam penyelenggaraan negara namun tidak terampil dalam menghadapi massa. Memasuki tahun 1950 kondisi Indonesia terpuruk baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Jatuh bangunnya kabinet selama periode demokrasi liberal tersebut, sebagai akibat partai-partai yang lebih mementingkan golongannya sendiri untuk memperoleh kekuasaan, daripada memikirkan keadaan negara dan rakyatnya. Alasan pemilihan judul didasarkan pada keadaan Indonesia, terutama dalam pemerintahan yang mengalami kebobrokan seperti dalam masalah korupsi dan demoralisasi. Hampir semua pejabat dan politisi terlibat kasus korupsi dari masa kolonialisme hingga saat ini. Indonesia memerlukan sosok pemimpin yang bisa memimpin Indonesia menjadi lebih baik. Mohammad Hatta adalah seorang pemimpin yang jujur, tidak melakukan tindakan korupsi, memegang teguh prinsip, tegas, terampil berorganisasi, dan pemegang sosialis yang setia yang berpihak pada rakyatnya. Hatta yang hanya menjadi wakil presiden konstitusional pada masa itu, berusaha membangun Indonesia dari keterpurukan meski Hatta tidak mempunyai kekuasaan yang memadai untuk menyelesaikan masalah. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai aktivitas Mohammad Hatta sebagai wakil presiden konstitusional. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana dasar-dasar pemikiran Mohammad Hatta? (2) Bagaimana keadaan politik Indonesia tahun 1950-1957? (3) Bagaimana aktivitas Mohammad Hatta pada 1950-1957 (4) Bagaimana kontribusi penelitian ini pada pendidikan sejarah? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Mohammad Hatta. (2) Untuk menjelaskan keadaan politik Indonesia pada tahun 1950-1957. (3) Untuk menjelaskan aktivitas Mohammad Hatta pada 1950-1957 (4) Untuk menjelaskan kontribusi penelitian ini pada pendidikan sejarah. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Ada lima tahap yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Dalam penelitian ini sumber tertulis yang digunakan berupa data-data arsip, koran yang diterbitkan pada kurun waktu 1950-an dan buku-buku karangan Mohammad Hatta sendiri sebagai sumber primer. Sumber sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku dan tulisan yang relevan dengan permasalahan di atas. Berdasarkan hasil penelitian ini latar belakang kehidupan Mohammad Hatta ikut membentuk karakter Hatta misalnya latar belakang pendidikan Hatta yang memperoleh pendidikan di Barat mempengaruhi kebijakan politik, ekonomi, dan sosial yang dilakukan oleh Hatta. Selama menjadi wakil presiden, Hatta memang tidak memiliki kekuasaan untuk melakukan kebijakan yang berarti, namun Hatta berusaha untuk membagun negeri ini ke arah yang lebih baik. Ia melakukan tugasnya dengan baik dengan memberikan arahan, saran, bahkan kritikan kepada pemerintah apabila perlu. Selain aktif dalam pemerintahan menjalankan tugas negara, Hatta juga aktif membangun ekonomi Indonesia dengan terjun langsung ke lapangan mengembangkan koperasi yang dianggap mampu meningkatkan ekonomi Indonesia. Dengan jerih payah dan usaha untuk membangun koperasi akhirnya Hatta berhasil mengembangkan koperasi, namun kemudian koperasi justru menjadi sarang korupsi di Indonesia, koperasi cenderung dianggap sebagai lembaga sosial ketimbang institusi ekonomi. Pada masa Orde Lama koperasi dijadikan alat politik Nasakom. Hatta menggunakan asas demokrasi dalam setiap kebijakan yang diambilnya hal ini terlihat dalam arahan, saran, dan kritik yang diberikan selama menjadi wakil presiden. Dalam bidang militer Hatta tidak ingin adanya dwifungsi militer dan dalam hal pemerataan pembangunan Hatta menyarankan desentralisasi dan otonomi daerah. Hatta juga aktif dalam pendidikan, ia mengajar di beberapa universitas di Indonesia dan memberikan ceramahnya pada mahasiswa yang memerlukan arahan dari Mohammad Hatta baik tentang politik, ekonomi, maupun sosial. Selama menjadi wakil presiden konstitusional Hatta usaha tidak banyak berhasil karena memang Hatta bukan pelaksana pemerintahan. Oleh sebab itu tidak semua apa yang ia pikir, sarankan tercermin dalam pemerintah. Ia sangat menjaga kedudukan konstitusionalnya. Kekecewaan pada pemerintah yang gagal dalam menyelesaikan masalah, partai-partai yang mementingkan golongannya sendiri dan perbedaan pandangan politiknya dengan Soekarno, Hatta akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Kontribusi terhadap pendidikan sejarah dalam penelitian ini, penulis mencoba menunjukkan pendidikan nilai yang ada dalam diri Mohammad Hatta. Nilai-Nilai Pendidikan dari Sosok Mohammad Hatta antara lain: nilai cinta tanah air (patriotisme), nilai Demokrasi, nilai moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Pada penelitian selanjutnya dapat mengulas bagaimana kebijakan politik Hatta dari sudut pandang lain, seperti ekonomi terutama ekonomi koperasi yang dikembangkan Hatta di Indonesia atau aktivitas politik Mohammad Hatta setelah mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden.

Interferensi leksikal bahasa Indonesia terhadap bahasa Jawa dalam gancaran karya siswa kelas VI SDN Nogosari I Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Pacitan / oleh Lusy Ayu Widowati

 

Developing working big books for teaching English for first grade elementary students / Kristin Yuliana

 

Yuliana, Kristin. 2012. Mengembangkan Working Big Books sebagai Materi Pembelajaran Kosakata untuki Sekolah Dasar Kelas Satu. Skripsi, Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Emalia Iragiliati Sukarni, M.Pd. Kata Kunci: Working big books, media, kosakata, bahasa Inggris untuk pembelajar muda, metode children-centered. Dalam mempelajari bahasa asing, kosakata memegang sebuah peranan yang penting. Kosakata adalah sebuah elemen yang mengubungkan keempat kemampuan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Didalam pengajaran bahasa Inggris untuk para pembelajar muda, keberadaan media terutama dalam bentuk audio dan visual sangat diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran. Salah satu media berbasis gambar yang sering digunakan untuk mengajar bahasa inggris kepada pebelajar muda adalah big books. Media ini biasanya digunakan untuk membacakan cerita dimana guru berperan sebagai pembaca, sedangkan murid sebagai pendengar. Kelebihan dari media ini adalah, murid dibawa ke suasana santai seperti saat dibacakan dongeng dirumah. Kekurangan dari media ini adalah, kurang effektif untuk digunakan di kelas besar, apalagi mengingat kondisi kelas-kelas di Indonesia yang mayoritas kelasnya besar, berisikan lebih dari 25 murid per kelas. Dengan kehadiran working big books sebagai versi baru dari big books, diharapkan sebuah pembelajaran yang interaktif dapat dilaksanakan di kelas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan media ajar berbentuk working big books untuk meningkatkan kemampuan kosakata dalam bahasa Inggris untuk sekolah dasar kelas satu yang sesuai dengan silabus bahasa Inggris yang digunakan. Desain penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah desain penelitian dan pengembangan. Prosedur pengembangan working big books ini diawali dengan analisa kebutuhan untuk mencari tahu latar karakteristik siswa, materi bahasa inggris yang diperlukan siswa, media dan metode pembelajaran yang digunakan guru, serta fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar di kelas. Didalam tahapan ini, data diperoleh dengan menganalisa dokumen, dan melakukan observasi serta wawancara. Tahapan berikutnya adalah pengembangan, dalam tahap ini peneliti mendesain produk untuk dijadikan versi uji coba dari produk yang akan diproduksi. Proses kemudian berlanjut ke proses validasi yang terdiri dari tiga tahap, yaitu validasi ahli, uji pengembangan, dan uji lapangan. Selama tahap validasi, pembenahan akan terus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang sempurna dari produk yang akan dihasilkan. Setelah itu dilakukan perbaikan berulang kali didalam tahap validasi dan pada akhirnya produk akhir siap untuk diproduksi. Hasil akhir dari studi ini adalah working big books yang memuat media pembelajaran untuk pembelajaran kosakata. Media working big books ini mencakup dua topik yang diambildari materi bahasa inggris untuk kelas satu SD yakni numbers dan body parts. Ada 13 working big books untuk topic number yang terdiri dari 10 working big books untuk diwarnai, dan satu working big books “Punum” untuk bermain. Dua buah big bokks yang lain adalah tentang body parts bernama “Bopuz” working big books untuk permainan. Hasil dari kuesioner dalam tes lapangan yang diikuti 30 siswa, menunjukkan bahwa mayoritas siswa menyatakan bahwa mereka menyukai working big books tersebut. Gambar sebagai objek illustrasi kosakata dalam working big books memegang peranan penting untuk menarik perhatian siswa. Validasi guru juga dilaksanakan selama proses try out. Hasilnya menunjukkan bahwa “working big books” adalah media yang cocok untuk mengajar anak kelas satu SD. Berdasarkan pada temuan diatas, produk akhir dalam studi ini dapat dikatakan sebagai media yang menarik dan asyik untuk pembelajaran kosakata. Siswa menyukai pembelajaran kosakata menggunakan working big books dan siswa mengerjakan aktivitas dalamworking big books tersebut dengan antusias. Terkait dengan temuan tersebut, disarankan guru bahasa Inggris untuk menggunakan mediaini di kelas untuk mendukung pembelajaran khususnya pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak. Untuk peneliti selanjutnya yang akan meneliti dengan topik yang sama, disarankan untuk mengembangkan working big books untuk jenjang yang berbeda dan mencakup keseluruhan topik dengan aktivitas yang beragam.

Ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama wanita dalam novel wajah sebuah vagina karya Naning Pranoto/ Muhammad Zaqi Faluqi

 

Kata Kunci: Ketidakadilan Gender, Novel, Kritik Sastra Feminis Gender merupakan suatu ideologi yang melekat pada masyarakat yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural sehingga menimbulkan perbedaan fungsi, peran, dan tanggung jawab berdasarkan jenis kelamin. Perbedaan gender yang terjadi melalui proses yang sangat panjang serta adanya dukungan institusi sosial yang ada dalam masyarakat menyebabkan perbedaan hak, peran, dan status dalam relasi gender. Dalam relasi gender ada pihak yang dirugikan, terutama wanita. Persoalan gender tidak akan muncul apabila relasi gender berjalan selaras sehingga antara gender laki-laki dan wanita dapat saling melengkapi dan menghargai. Persoalan muncul ketika ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam relasi gender telah melahirkan ketidakadilan terhadap wanita. Implikasi lebih luas dari ketimpangan gender adalah wanita banyak kehilangan hak dan kebebasannya dalam mengambil setiap keputusan baik itu yang menyangkut dirinya sendiri maupun masyarakat. Untuk menganalisis berbagai bentuk ketidakadilan gender kepada wanita dalam novel Wajah Sebuah Vagina, penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis adalah salah satu kajian karya sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi wanita, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastranya. Kritik sastra feminis sebagai kajian sastra muncul dari adanya kenyataan bahwa di dalam karya sastra terdapat permasalahan gender antara lakilaki dan wanita. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang bentuk ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama wanita dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan (1) bentuk ketidakadilan gender berupa stereotipe, (2) bentuk ketidakadilan gender berupa subordinasi, (3) bentuk ketidakadilan gender berupa marginalisasi, dan (4) bentuk ketidakadilan gender berupa kekerasan terhadap tokoh utama wanita yang terkandung dalam novel Wajah Sebuah Vagina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminis serta pendekatan mimetik untuk mengetahui berbagai persoalan gender yang telah merugikan pihak wanita akibat dominasi kaum laki-laki. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto. Data berupa unit-unit teks yang berisi deskripsi tentang tentang bentuk ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama wanita dalam paparan bahasa berbentuk monolog, dialog, dan narasi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data dan peneliti berperan sebagai instrumen.

Hubungan minat menjadi guru dengan prestasi belajar mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / oleh Bani Klito Sudrajat

 

Peningkatan keterampilan berbicara melalui wawancara pada siswa kelas V SDN Turi 1 Kota Blitar / Agustina Waitaby

 

Kata Kunci : Keterampilan berbicara, wawancara Permasalahan dalam penelitian yang dilakukan di SDNTuri I Kecamatan Sukarejo kota Blitar adalah guru didalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa masih menggunakan metode ceramah. Dalam pembelajaran anak belum terampil berbicara secara lancar dan runtut, sehingga perlu diterapkan metode wawancara dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VSDN Turi 1Kota Blitar dan mendeskripsikan peningkatan untuk keterampilan berbicara, siswa kelas VSDN Turi 1 kecamatan sukarejo Kota Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Untuk menyaring data diperoleh dengan observasi, tes, dokumentasi, wawancara.Teknik analisis data dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan peningkatkan keterampilan berbicara siswa. Pada masing-masing siklus terjadi peningkatan hasil belajar pada aspek berbicara dalam pembelajaran siswa. Hal ini terbukti dengan peningkatan hasil belajara siswa pada nilai hasil siklus I dan siklus II. Pada siklus I, prosentase ketuntasan belajar siswa adalah 87 % dan pada siklus II, belajaran persentase ketuntasan belajar adalah 93% . Hasil ini berarti telah terjadi peningkatan hasil belajaran siswa dalam berbicara melalui wawancara. Dari hasil PTK ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan peningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Tuti 1 kecamatan sukarejo Kota Blitar dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang memaksimalkan potensi siswa untuk berbicara/berkomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti berdialog, berdiskusi, Tanya jawab, mengungkapkan pendapat/sanggahan. Peningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Turi 1 Kecamatan sukarejo Kota Blitar.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |