Pengembangan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) pada teknik dasar lompat jauh dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SMP Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar / Dian Setiawan

 

Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif, two stay two stray, teknik dasar lompat jauh Berdasarkan penelitian melalui wawancara pada tanggal 21 Januari 2011 terhadap dua guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan SMP Negeri 1 Garum yaitu guru menjelaskan pembelajaran atletik lompat jauh kurang mendapat respons positif dari siswa dibandingkan dengan meteri permainan bola besar. Pada penelitian awal melalui penyebaran kuesioner analisis kebutuhan (need assessment) kepada siswa menunjukkan bahwa 68,97% siswa kurang menyukai materi pelajaran atletik khususnya lompat jauh, 20,68% siswa menyatakan tidak menyukai lompat jauh dan 10,35% menyukai lompat jauh. Data mengenai suasana kelas dalam pembelajaran teknik dasar lompat jauh 10,35% siswa mengatakan menyenangkan, 75,86% siswa menyatakan kurang menyenangkan, dan 13,78% menyatakan tidak menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknik dasar lompat jauh dengan pendekatan model pembelajaran kooperatif two stay two stray yang sesuai bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Garum, sehingga model pembelajaran tersebut dapat digunakan untuk alternatif pelaksanaan proses pembelajaran. Penelitian yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Garum ini termasuk penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Hasil penelitian ini berupa produk yang dikemas dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) teknik dasar lompat dengan pendekatan model pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS), dengan spesifikasi sebagai berikut : persentase tentang kemudahan pembelajaran pada model I, II, III dan IV, sebanyak 90,52% siswa menyatakan mudah, persentase untuk tingkat menyenangkan, sebanyak 92,36% siswa menyatakan menyenangkan. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan RPP teknik dasar lompat jauh dengan pendekatan model pembelajaran kooperatif two stay two stray dapat digunakan oleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan di antaranya: sebelum disebarluaskan sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Selain itu subjek penelitian sebaiknya dilakukan pada subjek yang lebih luas, baik siswa maupun sekolah yang digunakan sebagai kelompok uji coba.

Teknik analisis regresi komponen utama untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap penyakit jantung koroner: studi kasus pada penderita jantung koroner di RSUD Dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan / Novi Tri Wahyuni

 

Kata Kunci : jantung koroner, analisis regresi linear berganda, multikolinearitas, analisis regresi komponen utama. Penyakit jantung koroner bisa disebabkan oleh beberapa faktor, oleh karena itu dalam penelitian ini diharapkan bisa diketahui faktor yang paling berpengaruh terhadap penyakit jantung koroner. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah analisis regresi berganda yaitu suatu metode untuk menyelidiki hubungan antar satu variabel tak bebas dari beberapa variabel bebas yang memerlukan asumsi dimana variabel-variabel bebas tidak saling berkorelasi (tidak terjadi multikolinearitas). Pada penelitian ini analisis regresi berganda digunakan untuk mencari bagaimana pengaruh variabel-variabel bebas (usia, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, kadar kolesterol total, kadar kolesterol LDL, kadar kolesterol HDL, kadar trigliserida, dan kadar glukosa) terhadap variabel terikat (jumlah frekuensi detak jantung pada EKG). Dari variabel-variabel bebas tersebut diidentifikasi terdapat multikolinearitas. Untuk mengatasi multikolinearitas maka digunakan analisis regresi komponen utama. Analisis regresi komponen utama menghasilkan variabel-variabel bebas baru yang tidak saling berkorelasi sehingga masalah multikolinearitas dapat diatasi. Dengan analisis regresi komponen utama maka menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut : Y = 135,699814 – 0,142715 X1 + 0,029826 X2 + 0,303874 X3 + 0,037929 X4 – 0,037244 X5 + 0,260129 X6 – 0,094943 X7 + 0,055694 X8. Dari persamaan regresi yang diperoleh maka faktor dominan yang mempengaruhi penyakit jantung koroner adalah X2, X3, X6, X8 yaitu tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, kadar kolesterol HDL dan kadar glukosa.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) menggunakan media permainan ular tangga materi bangun ruang sisi datar untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tumpang / Nurita Yulifatul Janah

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, TGT (Teams Games Tournament), Permainan Ular Tangga, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dikelas VIII SMP Negeri 2 Tumpang diketahui bahwa dalam proses kegiatan pembelajaran metode yang sering dipakai oleh guru adalah metode ceramah, siswa cenderung menjadi siswa yang pasif karena kurangnya interaksi antara guru dan siswa selama pembelajaran. Meskipun telah menerapkan model pembelajaran kooperatif, namun dalam pelaksanaannya kurang efektif karena dalam proses diskusi hanya beberapa anggota kelompok yang melakukan diskusi. Berdasarkan hasil ulangan akhir semester ganjil, diketahui nilai rata-rata kelas untuk mata pelajaran matematika adalah 55 dan dari 37 siswa hanya 4 siswa yang mendapat nilai diatas SKM( Standar Ketuntasan Minimum). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT menggunakan media ular tangga pada materi bangun ruang sisi datar dan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT menggunakan media ular tangga pada materi bangun ruang sisi datar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tumpang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tumpang dengan subjek siswa kelas VIII B yang terdiri dari 37 siswa. Data diperoleh dari nilai tes hasil belajar pada akhir setiap siklus, hasil observasi aktivitas guru dan siswa, hasil wawancara dan catatan lapangan. Kriteria keberhasilan penelitian ini adalah jika persentase banyaknya siswa berkategori tuntas belajar minimal 85% dari banyaknya siswa dalam satu kelas dengan kriteria tuntas belajar apabila nilai hasil evaluasi siswa pada siklus I, II minimal 65 dan persentase aktivitas siswa dalam pembelajaran minimal 75% yang diukur dengan melihat lembar observasi siswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak siswa yang memperoleh nilai sesuai dengan SKM sebanyak 27 siswa dan persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I adalah 73% serta persentase rata-rata aktivitas siswa siklus I adalah 69%. Pada siklus II banyaknya siswa yang memenuhi kriteria SKM sebanyak 33 siswa dan persentase ketuntasan belajar secara klasikal adalah 89% serta persentase rata-rata aktivitas siswa siklus II adalah 76%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) menggunakan media permainan ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tumpang.

Pengembangan media pembelajaran otomotif berbasis free web blog pokok bahasan sistem starter dan pengisian untuk siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Kediri / Kurnia Mahanani

 

Kata Kunci:free web blog, media pembelajaran, sistem starter dan pengisian Perkembangan teknologi informasi semakin berkembang dan membawa dampak yang sangat besar pada kemajuan dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam pendidikan. Salah satu bentuk dari teknologi informasi adalah teknologi jaringan belajar yang disebut online technology. Teknologi ini menawarkan alternatif yang memungkinkan siswa dapat mengakses sendiri materi pembelajaran (self contained materials) yaitu dalam bentuk pembelajaran web. Dengan perkembangan teknologi informasi ini dapat diperoleh banyak manfaat, namun kenyataan belum banyak pihak yang memanfaatkan web sebagai media pembelajaran. Produk Media pembelajaran berbasis free web blogini dikembangkan dan di uji coba di SMK Negeri 1 Kediri pada mata pelajaran Memperbaiki Sistem Starter dan Pengisian. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menghasilkan media pembelajaran otomotif berbasis free web blog pokok bahasan Sistem Starter dan Pengisian untuk siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Kediri, dan (2) Mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran otomotif berbasis free web blog pokok bahasan Sistem Starter dan Pengisian untuk siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Kediri. Tahapan penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahapan ADDIE yang terdiri dari lima tahapan: (1) analysis, (2) design, (3) development, (4) implementation, dan (5) evaluation. Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada dua ahli media, ahli materi, uji coba perorangan dengan 3 orang siswa, uji coba kelompok kecil dengan 10 orang siswa, dan uji coba lapangan dengan 25 orang siswa. Data yang diperoleh berupa data kualitatif hasil wawancara sebagai data awal dan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan kevalidanya. Produk media pembelajaran free web blog ini menggunakan blogger.Dalam penelitian ini, media pembelajaran berbasis free web blog dapat diakses di alamat situs www.otomotiflearning.blogspot.com. Hasil validasi isi terhadap kelayakan media media pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 95%, validasi ahli materi 97%, uji coba perorangan 96%, uji coba kelompok kecil 94%, dan uji coba lapangan 91%. Hasil pengembangan media pembelajaran telah direvisi meliputi: (1) penggunaan jenis, ukuran, dan warna teks dan (2) petunjuk pemanfaatan media pembelajaran.

Pengaruh bid-ask spread, market value dan risk of return terhadap holding period saham (studi pada perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009) / Yasmin Astrit Marini

 

Kata Kunci: Bid-Ask Spread, Market Value, Risk of Return, Holding Period Investor yang bersedia menanamkan dana pada sekuritas (saham) dan perusahaan yang bersedia menerbitkan sekuritas setelah go public merupakan faktor penting dalam menunjang kebehasilan transaksi jual beli saham di pasar modal. Holding Period merupakan periode yang menunjukkan jangka waktu antara pembelian dan penjualan saham oleh seorang Investor untuk tujuan memaksimalkan keuntungan sekaligus menekan risiko serendah-rendahnya. Indikator untuk mengukur besarnya holding period yaitu bid-ask spread, market value dan risk of return. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh bid-ask spread, market value dan risk of return terhadap holding period saham. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang go public di BEI tahun 2007-2009 dan diperoleh sample sebanyak 17 perusahaan. Data yang digunakan adalah data sekunder saham. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antar variabel bid-ask spread, market value dan risk of return terhadap holding period saham baik secara parsial maupun simultan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bid-ask spread memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari nilai α sebesar 0,05, market value memiliki nilai signifikansi sebesar 0,025 yang lebih kecil dari nilai α sebesar 0,05 dan risk of return memiliki nilai signifikansi sebesar 0,009 yang lebih kecil dari nilai α sebesar 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa secara parsial ketiga variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap holding period, begitu juga secara simultan ketiganya berpengaruh signifikan ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari nilai α sebesar 0,05. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah (1) Investor dalam melakukan kegiatan investasi di BEI disarankan memperhatikan variabel bid-ask spread, market value dan risk of return karena menurut hasil penelitian ini variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap holding period, (2) perlu dilakukan penelitian dengan periodesasi yang lebih panjang untuk mengetahui sampai berapa lama variabel bid-ask spread, market value dan risk of return mempengaruhi holding period (3) hendaknya menggunakan semua perusahaan yang go public di BEI sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal yang sesungguhnya (4) Investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan variabel bid-ask spread, market value dan risk of return saja dalam keputusan menahan saham yang dimiliki, akan tetapi perlu mempertimbangkan faktor lain seperti tingkat suku bunga bank, tingkat inflasi, nilai kurs rupiah dan kinerja dari masing- masing perusahaan. Sehingga investor dapat melakukan pengambilan keputusan investasi yang tepat dan mendapatkan gain yang optimal.

The use of English in bilingual class at the Mathematics Department State University of Malang / Carolinda Kusuma Maharany

 

Keywords: Classroom language, Bilingual Class, Mathematics Department This study was conducted to describe the use of English as a medium of instruction for Mathematics teaching and learning in bilingual class at the Mathematics Department, State University of Malang. Then, it was elaborated into several aspects such as (1) the categories of classroom English used during the Mathematics teaching and learning in bilingual class and (2) the students' responses toward the use of English as a medium of instruction in bilingual class. This study was descriptive qualitative research since the data were presented in the form of description. The data were collected through observation, interview and questionnaire. The researcher used some instruments such as interview guide, observation checklist, field notes, and also questionnaire. The study was conducted at Mathematics bilingual class, Mathematics Department State University of Malang. The subjects of this study were the Mathematics bilingual lecturer and 21 students of bilingual class academic year 2009/2010. The findings of this study revealed that English in Mathematics bilingual class at Mathematics Department has been used. The lecturer became the center of the class since his talk became the major source of input for the students. In the Mathematics bilingual class, the classroom language that was used by the lecturer could be categorized into several parts namely (1) organization, (2) interrogation, (3) explanation, and (4) interaction. The lecturer had tried to use full-English during teaching learning activity and used variation of English expression. Yet, the problem faced by the lecturer was the students were sometimes afraid and shy to express their idea because they were afraid of making mistakes. Based on the students' response of the bilingual program and the use of English as medium of instruction, it could be concluded that the program was a good program for the students since it was very useful in improving their English. Based on the research findings, some suggestions were given for the lecturer, the Mathematics Department, and other researchers. For the lecturer, he has to increase his English proficiency especially in pronouncing English words. To the Mathematics Department or the authority of Mathematics Department has to be more selective in placing the students in bilingual class through the placement test. For the future researcher, they may explore the area of bilingualism, especially in relation to the recent trends in education.

Akuntansi pertanggungjawaban sebagai dasar penilaian kinerja pemasaran pda McDonald's Mitra 1 Malang / Evana Widayanti

 

Kata Kunci: Akuntansi Pertanggungjawaban, Biaya Pendapatan, Penilaian Kinerja. Akuntansi pertanggungjawaban timbul dari adanya pelimpahan wewenang oleh pemimpin kepada para bawahannya karena pemimpin dituntut untuk dapat memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki secara efektif dalam usaha perusahaan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnnya dan bagaimana mempertanggungjawabkannya dalam bentuk laporan tertulis. Laporan tersebut berupa laporan pertanggungjawaban yang dapat digunakan sebagai dasar analisa pengukuran prestasi kerja manajer untuk setiap pusat pertanggungjawaban. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan akuntansi pertanggungjawaban dalam menilai kinerja pemasaran pada McD Mitra 1 Malang. Untuk menilai kinerja ini, bagian pemasaran McD Mitra 1 Malang dapat melihat selisih antara anggaran dengan realisasinya. Metode yang digunakan untuk pemecahan masalah ini adalah dengan menetapkan biaya pendapatan. Menganalisa struktur organisasi dan pembagian tugas dan pendelegasian. Serta melihat laporan yang digunakan untuk laporan pertanggungjawaban. Berdasarkan hasil analisis bahwa bagian pemasaran telah menerapkan akuntansi pertanggungjawaban. Penerapan akuntansi pertanggungjawaban tercermin pada penyusunan struktur organisasi yang jelas, pendelegasian dan menerapkan sistem biaya pendapatan yang mengacu pada penjualan. Saran yang diberikan adalah Manajer sebaiknya melakukan analisis dan koreksi terhadap penyimpangan yang tidak menguntungkan kemudian mengajukan rekomendasi menanggapi penyimpangan materiil yang terjadi.

Sekolah lampu merah: sebuah perancangan film pendek tentang pentingnya pendidikan / Farid Firmansyah

 

Kata kunci: perancangan, film pendek, pendidikan. Pendidikan adalah faktor terpenting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Di Indonesia jumlah akumulasi angka anak putus sekolah tiap tahun mengalami kenaikan 20%, sekitar 600 ribu anak, menurut survei resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Hal ini tentu sangat tidak sesuai dengan Undang Undang Dasar 1945 pasal 2 yang mengamanatkan negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Perancangan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Perancangan film pendek sekolah lampu merah ini menggunakan model perancangan yang bersifat linear dan terdeskripsi langkah-langkah kerjanya, sehingga jelas arah berpikir dalam menyusunnya yang disebut sebagai model rasional. Dalam model perancangan rasional, langkah-langkah perancangan dilakukan secara sistematik dan terstruktur, berurutan dari awal sampai akhir. langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi (1) perumusan masalah, (2) pengumpulan dan analisis data, (3) penetapan konsep perancangan dan (4) program perancangan. Produk yang dihasilkan adalah film pendek yang berjudul sekolah lampu merah, berdurasi 10 menit, genre yang diangkat adalah drama dengan narasi. Secara umum kelebihan dari film pendek ini adalah pandangannya mengenai problem pendidkan yang global namun dengan penyelesaian masalahnya yang sederhana, yaitu kepedulian untuk saling membantu. Kelemahan dari film pendek ini adalah penggunaan alat yang belum sesuai standard pembuatan film profesional, pemilihan pemain yang belum maksimal dan jumlah kru film yang terbatas.

Pengembangan bahan ajar materi hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI IPA SMA/MA / Prita Saridewi

 

Kata kunci : bahan ajar, inkuiri terbimbing, hidrolisis garam Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 telah menjelaskan bahwa mata pelajaran kimia perlu diajarkan untuk tujuan yaitu membekali siswa dengan pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Tujuan mata pelajaran kimia dicapai oleh siswa melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan mata pelajaran kimia tersebut, maka diperlukan pengembangan bahan ajar yang menggunakan pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri sebagai sarana pendukung proses pembelajaran. Oleh karena itu dilakukan penelitian pengembangan bahan ajar materi hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI IPA SMA/MA. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Produk yang dihasilkan berupa bahan ajar. Rancangan pengembangan yang digunakan adalah rancangan Borg dan Gall yang diadaptasi oleh Sukmadinata. Tahapan yang dilakukan adalah: (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji coba lapangan awal. (5) merevisi hasil uji coba, (6) uji lapangan skala kecil, dan (7) revisi hasil uji coba lapangan. Draf hasil pengembangan divalidasi oleh 3 validator ahli dan dilakukan uji keterbacaan oleh 10 orang siswa. Instrumen validasi dan uji keterbacaan yang digunakan berupa angket. Data hasil validasi terdiri dari dua jenis, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar kimia pada materi pokok hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI IPA SMA/MA. Bahan ajar ini terdiri dari 3 bagian, yaitu: (1) bagian pendahuluan, (2) bagian isi dan (3) penutup. Pada bagian pendahuluan terdapat beberapa komponen yaitu: (1) halaman muka (cover), (2) kata pengantar, (3) daftar isi, (4) daftar gambar, (5) daftar tabel, (6) petunjuk penggunaan bahan ajar, (7) halaman SK, KD, sub materi, dan indikator, serta (8) peta konsep. Pada bagian isi terdapat dua komponen yaitu bagian pengantar dan uraian sub materi pokok. Pada bagian penutup terdapat beberapa komponen, yaitu: (1) latihan soal, (2) ulangan harian, (3) kunci soal latihan, (4) kunci soal ulangan harian, (5) daftar istilah dan (6) daftar pustaka. Hasil validasi bahan ajar oleh ahli menunjukkan persentase rata-rata sebesar 88,2% dan uji keterbacaan pada siswa menunjukkan persentase rata-rata sebesar 79,4%. Hasil validasi dan uji keterbacaan menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan ini valid pada berbagai kriteria penilaian dan tidak memerlukan perubahan yang mendasar. Bahan ajar ini layak untuk digunakan sebagai bahan ajar pada kelas XI IPA SMA/MA.

Penerapan model pembelajaran problem posing dengan Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pandaan / Neni Apriliana

 

Kata kunci: problem posing, NHT, kreativitas Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 2 Pandaan, diketahui bahwa siswa kurang mandiri dalam belajar. Hal ini terlihat jika guru belum datang, siswa tidak berinisiatif untuk belajar sendiri bersama temannya, tetapi mereka justru ramai dan bercanda dengan teman-temannya, bahkan ada yang masih berada diluar kelas untuk bermain sepakbola. Sebagai tambahan diperoleh bahwa tingkat kreativitas siswa dalam menyelesaikan pertanyaan cenderung berada pada kelompok “kurang kreatif”. Hal ini dapat dilihat pada hasil pretest, hanya 11,36% dari 44 siswa yang berada pada kategori kreativitas “cukup kreatif”, sementara sisanya yaitu 88,63% berada pada kategori kreativitas “kurang kreatif” dan “tidak kreatif”. Oleh karena itu, perlu diterapkan pembelajaran yang dapat memperbaiki persepsi siswa tentang matematika sehingga siswa dapat menyelesaikan permasalahan dengan cara yang kreatif dan hasil belajar siswa yang diperoleh menjadi lebih baik. Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika yang tidak rutin adalah pembelajaran NHT dengan pendekatan problem posing, yaitu pembelajaran problem posing dengan NHT. Pada pembelajaran ini, langkah pembelajaran sebagai berikut, (1) siswa dibagi ke dalam kelompok kecil secara heterogen berdasarkan kemampuan dan pemberian nomor pada masing-masing anggotanya, (2) guru membagikan lembar kerja siswa untuk didiskusikan dalam berkelompok, (3) guru memanggil nomor siswa untuk menunjukkan hasil kerjanya di kelas, (4) guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menyusun pertanyaan sekaligus menyelesaikannya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus memuat empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2011. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pandaan, dengan banyak siswa 44. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran problem posing dengan NHT dapat meningkatkan kreativitas siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pandaan. Persentase kreativitas siswa secara klasikal pada kategori kreativitas minimal “cukup kreatif” pada siklus I adalah 36,37% dan meningkat pada siklus II menjadi 75%. Karena lebih dari 70% siswa berada pada kategori kreativitas minimal “cukup kreatif”, sehingga siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pandaan dapat dikatakan kreatif.

Pengaruh pertumbuhan total aset dan Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap pendapatan bagi hasil pihak ketiga pada bank umum syariah di Indonesia / Rista Amiliya

 

Kata kunci: total asset, financing to deposit ratio, pendapatan bagi hasil Dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 sebagai amandemen dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan serta dikeluarkannya Fatwa Bunga Haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2003 banyak bank yang menjalankan operasionalnya berdasarkan prinsip syariah. Keberhasilan bank dalam menghimpun dana dengan komposisi biaya termurah dan dalam penggunaan dana mampu disalurkan ke sektor produktif dengan risiko terendah sehingga dapat menghasilkan pendapatan bagi hasil terbesar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan total aset dan financing to deposit ratio terhadap pendapatan bagi hasil pihak ketiga bank umum syariah di Indonesia, baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian dilakukan di PT Bank Syariah Muamalat Indonesia dan PT Bank Syariah Mega Indonesia periode 2005-2009. Penelitian yang dilakukan menggunakan teknik dokumentasi melalui data laporan keuangan triwulanan yang dipublikasikan oleh di PT Bank Syariah Muamalat Indonesia dan PT Bank Syariah Mega Indonesia periode 2005-2009 melalui media internet. Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah regresi linier berganda yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel bebas (pertumbuhan total aset dan financing to deposit ratio) dengan satu variabel terikat (pendapatan bagi hasil pihak ketiga) yang menjadi obyek dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa t hitung = 2,543 > t tabel = 2,026 dengan sig t = 0,015 < 0,05 dan t hitung = 2,011 < 2,026 dengan sig t = 0,055 > 0,05 dan F hitung = 8,003 > F tabel = 3,252 dengan sig F = 0,001 < 0,05. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan total aset berpengaruh positif terhadap pendapatan bagi hasil pihak ketiga,FDR berpengaruh negatif terhadap pendapatan bagi hasil pihak ketiga, dan pertumbuhan total asset dan FDR berpengaruh positif secara simultan terhadap pendapatan bagi hasil pihak ketiga. Keterbatasan penelitian hanya menggunakan 2 Bank Umum Syariah,periode pengambilan sampel dilakukan pada 2005-2009, dimana pada tahun 2008 terdapat kondisi ekonomi yang tidak stabil, dan variabel penelitian yang digunakan hanya 2. Saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya bank dapat mengelola total aset dan FDR dengan baik agar dapat menghasilkan pendapatan bagi hasil pihak ketiga.

Vocfun: developing an interactive vocabulary CD as self-study materials at SDN Percobaan 1 Malang / Yudi Indra Setyawan

 

Key words: interactive CD, multimedia, vocabulary, EYL (English for Young Learners), self-study materials. In learning a foreign language, vocabulary plays an important role. It is an element that integrates into each of the four skills of language, that is, listening, speaking, reading and writing. In Teaching English for Young Learner, media is considered necessary to support learning. In the past, teaching learning activity may use only one kind of media, visual or audio, such as using pictures or songs. Nowadays, by using a computer, teacher can combine more than one media to be applied in class. A number of teachers have already started to use multimedia in the classroom. The objective of this study is to develop teaching media in the form of an interactive CD ROM to enhance the students‟ vocabulary mastery relevant to the syllabus of English for fifth grade students of Elementary School. The design used in this study was Research and Development design. The procedure of the CD development started with need analysis which aimed to know the students‟ background and students‟ characteristics in learning English. In this phase, the data collection used were analyzing document, distributing questionnaires and doing observations and interviews. The next phase was development; in this phase, the researcher designed the product and gathered all multimedia elements to be compiled into a trial version of the product. Then the process continued into validation phase which consists of three stages, that were, expert validation, developmental test and field test. Revision was needed during the validation phase in order to get the best result of the product. After being revised in the validation phase, the final product was produced. The final product in this study is an Interactive CD that contains teaching media of vocabulary learning. The CD covers seven topics taken from the English materials for V grade students of Elementary School. Each topic consisted of three subtopics. In the first subtopic, that is vocabulary section, the users will be shown some pictures related to the topics. The students can find an example sentence of the picture, the phonetic symbols, and the audio on how to pronounce the words. The second subtopic contains three kinds of activities, that is, matching, anagram, and arranging. The activities are completed with visualization. The last part is two songs related to the topic. There were forty students involved in the field test and the result from the questionnaire showed that the majority of the students (80%) confirmed that they „totally like‟ the graphic interface of the CD. In addition, 67.5% of the students found it „totally easy‟ to operate the interactive CD. 77.5% of the students stated that they „totally like‟ the materials inserted in the CD. Finally, the result stated that 70% percent of the students confirmed that the CD „totally help‟ them to learn English especially on vocabulary. Based on the findings, the final product of this study was found to be an interesting and attractive multimedia for vocabulary learning. The students liked to learn vocabulary using the interactive CD and they did the activities enthusiastically. Related to the findings, some suggestions are given as follows: English teachers are suggested to use media in the classroom and/or for self-study to support learning especially in Teaching English to Young Learners (TEYL). For the future researchers who would like to conduct research on similar topics are suggested to develop a CD which is targeted to students of different grades, covering different topics with more varied activities.

Upaya guru dalam pembelajaran menulis puisi / Rengganis Vidya Anjani

 

Kata kunci: Upaya guru, menulis, puisi. Kualitas pendidikan dapat berjalan dengan baik, apabila guru dalam proses pembelajarannya memiliki suatu upaya. Upaya yang dilakukan guru diharapkan mampu memotivasi anak didiknya untuk belajar sehingga terjadi proses belajar mengajar yang baik yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa didiknya. Dengan kata lain, peningkatan mutu hasil belajar siswa dapat dicapai melalui proses belajar mengajar yang efektif. Kegiatan belajar mengajar dapat terjadi apabila siswa mempunyai perhatian dan dorongan terhadap stimulus belajar. Guru harus berupaya menimbulkan dan mempertahankan perhatian serta mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Upaya yang dilakukan guru dapat dilakukan dengan cara mempersiapkan dan mengelola pembelajaran, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik. Persiapan dan pengelolaan pembelajaran yang baik dapat diwujudkan dengan cara memilih dan menggunakan teknik, media, dan evaluasi secara tepat dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan upaya guru dalam pembelajaran menulis puisi ditinjau dari teknik pembelajaran, media pembelajaran yang digunakan, dan evaluasi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskripsi kualitatif. Data penelitian berupa proses belajar mengajar yang di dalamnya terdapat aktivitas guru dan siswa. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrument manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data dan analisis data. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, dalam pembelajaran menulis puisi ada enam teknik yang dipilih dan digunakan guru. Teknik pembelajaran tersebut meliputi 1) tanya jawab (questioning), 2) pemodelan, 3) diskusi, 4) moving class, 5) ceramah, 6) pemetaan pikiran (mind mapping), dan 7) sugesti lagu gambar (sulaga). Kedua, dalam pembelajaran menulis puisi ada enam media yang dipilih dan digunakan guru. Media pembelajaran tersebut meliputi 1) teks lagu, 2) kartu bertema, 3) teks puisi, 4) papan tulis, 5) alam, 6) dan media audiovisual. Ketiga, dalam pembelajaran menulis puisi, ada dua tahap evaluasi yang dilakukan guru. Evaluasi tersebut meliputi 1) evaluasi proses, dan 2) evaluasi hasil. Dari serangkaian pembelajaran menulis puisi yang telah dilakukan guru mampu mengoptimalkan penggunaan teknik, media, dan evaluasi. Selain itu, guru aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menyenangkan, dan menarik minat siswa sehingga tujuan pembelajaran menulis puisi tercapai.

Dampak pola spasial curah hujan terhadap aktivitas pola tanam pada lahan basah dan lahan kering di Kabupaten Lombok Timur / Nurul Ikhwatika

 

Kata kunci: pola spasial, curah hujan, pola tanam, lahan basah, lahan kering, dan Kabupaten Lombok Timur. Latar belakang penelitian ini adalah keadaan pola spasial curah hujan di Kabupaten Lombok Timur yang tidak pernah tetap antara lokasi yang satu dengan yang lain. Kabupaten Lombok Timur adalah daerah dengan rata-rata curah hujan yang sangat bervariasi. Variasi curah hujan tersebut sangat mempengaruhi pola tanam baik pada lahan basah (sawah) maupun pada lahan kering, sehingga sangat penting mengkaji perubahan pola tanam berdasarkan pola tanam tahun 2001-2010 untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen akibat penerapan pola tanam yang salah. Penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu (1) mengkaji karakteristik pola spasial curah hujan dan pola tanam dari tahun 2001-2010, dan (2) menganalisis dampak pola spasial curah hujan terhadap pola tanam pada lahan basah dan kering di Kabupaten Lombok Timur dari tahun 2001-2010. Penelitian ini menggunakan metode survei. Subjek penelitian ini adalah semua lahan pertanian di Kabupaten Lombok Timur, baik lahan basah maupun lahan kering. Sampel diambil menggunakan teknik sampel bertujuan dan sampel penelitian diambil pada sebelas titik lahan pertanian. Pengambilan data menggunakan teknik dokumentasi, observasi, dan wawancara dengan petani sebagai data tambahan. Analisis data curah hujan menggunakan rerata garis isohyet dan analsis deskriptif untuk menjelaskan pengaruh curah hujan terhadap pola tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 2003, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada tahun 2005, 2006, dan 2009. Rendahnya curah hujan dan berubahnya pola musim pada tahun tersebut terjadi karena peristiwa el nino, yaitu peristiwa memanasnya suhu air permukaan laut di pantai barat Peru-Ekuador (Amerika Selatan) yang mengakibatkan gangguan iklim secara global dan menyebabkan curah hujan lebih rendah dari kondisi normal pada beberapa wilayah, termasuk Indonesia. Berdasarkan data curah hujan dari tahun 2001-2010, terjadi perubahan pola tanam pada setiap tahun, akan tetapi perubahan paling signifikan terjadi pada tahun 2005, 2006, dan 2009. Adapun daerah yang relatif tidak berubah baik curah hujan dan pola tanam adalah Labuhan Haji dan Pringgabaya karena curah hujan selalu rendah dan tanaman yang ditanam lebih banyak tanaman tahunan (perkebunan). Selain itu, Pola tanam normal di Kabupaten Lombok Timur pada lahan basah adalah padipadi- palawija, berubah menjadi padi-padi-palawija-bero. Adapun pada lahan kering, pola tanam normal adalah padi gogo-palawija, berubah menjadi palawijapalawija- bero.

Pengaruh kepuasan kerja dan motivasi terhadap kinerja guru ekonomi SMA negeri di Kabupaten Malang / Sih Windarti

 

Kata kunci: Kepuasan Kerja, Motivasi, dan Kinerja Guru Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat mengembangkan potensi masyarakat serta menghasilkan generasi bangsa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia berkualitas. Guru sebagai salah satu komponen yang mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran diharapkan memiliki kepuasan kerja dan motivasi yang tinggi, sehingga menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal dan menghasilkan manusia yang memiliki sumber daya manusia berkualitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kepuasan kerja, motivasi, dan kinerja guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri di Kabupaten Malang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja dan motivasi terhadap kinerja guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri di Kabupaten Malang, secara simultan maupun secara parsial. Penelitian ini merupakan jenis penelitian bersifat eksplanasi dengan pendekatan survei. Bersifat eksplanasi karena bertujuan untuk menjelaskan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Pendekatan survei yaitu penelitian yang dilakukan pada populasi besar atau kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data yang diambil dari populasi, sehingga ditemukan hubungan antara variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja guru ekonomi di Kabupaten Malang termasuk kategori sedang (37,5%), motivasi sedang (37,5%), tingkat kinerja guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri di Kabupaten Malang termasuk kategori sedang (47,5%). Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa kepuasan kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja guru dan motivasi berpengaruhsignifikan terhadap kinerja guru serta kepuasan dan motivasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru ekonomi SMA Negeri di Kabupaten Malang. Saran penelitian ini, bagi guru yang sudah merasakan adanya kepuasan kerja selalu mempertahankan kinerja yang sudah baik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Guru selalu meningkatkan motivasi kerja sehingga kinerja juga lebih meningkat. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian selanjutnya dengan variabel dan subjek yang lebih luas, misalnya program sertifikasi guru.

Pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) melalui kepuasan kerja dan komitmen organisasi (studi pada PT. Alim Surya Steel, Sidorarjo) / Andreass Ivan Santoso

 

Kata Kunci : Karakteristik Pekerjaan, organizational citizenship behavior (OCB), kepuasan kerja, komitmen organisasional. Salah satu kunci keberhasilan suatu organisasi di tengah-tengah persaingan adalah sejauh mana karyawan dalam organisasi secara sinergis berkontribusi positif, baik dalam perencanaan maupun dalam pengimplementasian rencana yang disusun dan diarahkan pada usaha pencapaian tujuan. OCB merupakan perilaku positif karyawan yang ada dalam suatu organisasi. Perilaku ini tercerminkan dalam bentuk kesediaan secara sadar dan suka rela untuk bekerja serta memberikan kontribusi yang lebih daripada apa yang dituntut oleh organisasi secara formal. Salah satu determinan penting dalam terbentuknya OCB adalah dengan adanya suatu kepuasan kerja dan komitmen organisasional serta didukung dengan karakteristik pekerjaan. Karakteristk pekerjaan yang tepat terbukti dapat meningkatkan perilaku OCB karyawan dalam suatu organisasi. Penelitian ini dilakukan di PT.Alim Surya Steel Sidoarjo, subjek dalam penelitian ini adalah karyawan Departemen Pabrikasi PT.Alim Surya Steel Sidoarjo yang berjumlah 116 karyawan, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 90 karyawan dan teknik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Dalam penelitian ini, terdiri dari variabel bebas (X) Karakteristik Pekerjaan, variabel intervening (Z) Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasional, dan variabel terikat (Y) Organizational Citizenship Behavior (OCB). Data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: angket, wawancara, dan observasi. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Berdasarkan teknik analisis statistik deskriptif diketahui bahwa sebanyak 59 karyawan Departemen Pabrikasi PT.Alim Surya Steel netral dan 9 karyawan setuju bahwa Karakteristik Pekerjaan yang diterapkan di perusahaan sudah baik, 13 setuju bahwa mereka memiliki kepuasan kerja yang cukup tinggi, sebanyak 21 karyawan PT.Alim Surya Steel setuju bahwa mereka memiliki komitmen organisasional yang cukup baik, dan sementara sebanyak 45 karyawan Departemen Pabrikasi PT.Alim Surya Steel cukup setuju bahwa mereka memiliki organizational citizenship behavior (OCB) yang cukup baik. Sedangkan berdasarkan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5% dapat diketahui variabel bebas (X) Karakteristik ii Pekerjaan mempunyai nilai sig t signifikansi α (0,000 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel bebas (X) Karakteristik Pekerjaan berpengaruh secara signifikan terhadap OCB (Y), kepuasan kerja (Z1) dan komitmen organisasional (Z2) secara langsung, variabel intervening (Z1) kepuasan kerja mempunyai nilai sig t signifikansi α (0,000 < 0,05) terhadap OCB dan karakteristik pekerjaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel intervening (Z1) kepuasan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap OCB (Y) dan karakteristik pekerjaan (X) secara langsung, variabel intervening (Z2) komitmen organisasional mempunyai nilai sig t signifikansi α (0,000 > 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel intervening (Z2) komitmen organisasional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap OCB (Y) secara langsung. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti adalah pimpinan perusahaan sebaiknya dapat menyesuaikan karakteristik pekerjaan dengan faktor-faktor situasional, untuk meningkatkan komitmen organisasional karyawan, perusahaan harus menumbuhkan rasa identifikasi, keterlibatan, dan loyalitas para karyawan terhadap perusahaan, dan agar karyawan merasakan kepuasan kerja tentunya perusahaan sebaiknya memenuhi, menyediakan, dan memelihara secara terusmenerus faktor-faktor yang dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawannya.

A descriptive study on the teaching of English using pictures to introduce vocabulary at TK Negeri Pembina Malang / Jerlit Alpon Pah

 

Key Words: English teaching, Descriptive study, Pictures, Vocabulary, TK Negeri Pembina Malang. This study was conducted to describe the teaching of English using pictures to introduce vocabulary at TK Negeri Pembina Malang. It aims at: (1) describing kinds of pictures used by teacher at TK Negeri Pembina Malang, (2) describing how the teacher at TK Negeri Pembina Malang selected the pictures to introduce vocabulary, and (3) describing how the teacher at TK Negeri Pembina Malang used the pictures. This study is a descriptive qualitative. In the instrument used were field notes and interview guide. The data were collected through observation and interviews and analyzed descriptively. The findings show that the kinds of pictures used by the teacher include: (1) Drawing on the board, (2) Flashcards, (3) Poster, (4) Pictures on the book. The kinds of pictures above are used to introduce vocabulary to the students in the classroom. The teacher selected the pictures first before the teaching in the classroom began. The teacher got the picture from the internet, the text book, and she also made some of the pictures by herself. She sometimes also made drawings on the board. The teacher chose the pictures based on: appropriacy with the lesson theme, clarity of the pictures, and the attractiveness of the pictures. The teacher used some techniques in teaching vocabulary in the classroom. In using flash cards, the teacher first showed the picture cards to the students one by one. While mentioning the names of the pictures, she asked the students to repeat what she had mentioned repeatedly. After that, the teacher asked them to mention the names of things on the pictures she showed. In using posters, the teacher first put the poster of animal or human on the blackboard. After that, the teacher gave students explanation or introduces them to new vocabulary based on the poster. Then, the teacher asked the students to repeat what she had mentioned. After that, she asked two or more students to show the picture in the form of poster in front of the class while mentioning the names of pictures in the poster. The last, in using pictures on the book, the teacher gave the students explanation on the names of pictures on the book. The teacher asked the students to look at the pictures on their book. Then the teacher gave them clues for them to identify the names of pictures on their book. Sometimes the teacher asked the students to call the names of the pictures together, but sometimes one by one. Based on the findings, it is suggested that the teacher improve the use of pictures in vocabulary learning by making the activities more varied. It is also suggested that the teacher also use other kinds of media to support vocabulary learning. She can use real objects, song, and games. For future researchers, it is suggested that they conduct research on the use of other kinds of media in the teaching of English at Kindergarten.

Analisis kredit bermasalah pada PT. BPR Gunung Ringgit Malang / Frida Alfiana

 

Kata Kunci : Kredi Bermasalah, kolektibilitas bank Pemberian kredit oleh bank mengandung resiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasannya, sehingga dapat berpengaruh terhadap kesehatan bank. Mengingat bahwa bank tersebut bersumber dari dana masyarakat yang disimpan pada bank, maka resiko yang dihadapi bank dapat berpengaruh pula pada keamanan dana masyarakat tersebut. Penulisan tugas akhir ini dimaksudkan untuk mengetahui dan menganalisis kredit bermasalah PT. BPR Gunung Ringgit Malang. Dalam penyusunan tugas akhir ini, metode yang di gunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai analisis kredit bermasalah terhadap debitur yang ada di PT. BPR Gunug Ringgit Malang. Kredit bermasalah pada PT. BPR Gunung Ringgit disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya nasabah yang terlambat membayar angsuran yang disebabkan pendapatan usahanya mengalami penurunan, gagal panen, atau nasabah tersebut memiliki watak/ karakter untuk tidak membayar angsuran dan melunasi pinjamannya. Dari pihak bank dapat disebabkan oleh pihak analisis kredit yang mungkin kurang teliti dan tidak sepenuhnya menerapkan unsur 5C dalam proses analisis untuk realisasi kredit karena adanya unsur kecurangan lainnya. Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan timbulnya kredit bermasalah pada PT. BPR Gunung Ringgit dikarenakan belum diterapkannya unsur 5C secara maksimal, dan upaya yang dilakukan untuk menagih kepada debitur juga kurang maksimal Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa sebaiknya pihak bank yang melakukan analisis kredit melakukan analisis dengan teliti agar semua unsur 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition dapat di peroleh dari nasabah dengan baik dan benar guna meminimalisir kredit bermasalah, mengadakan penagihan piutang secara intensif, untuk mempertahankan jumlah modal yang ada.

Pengaruh iklan televisi dan layanan purna jual terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor Yamaha (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Hendra Karuniawan

 

Kata kunci: iklan televisi, layanan purna jual, keputusan pembelian] Seiring dengan tuntutan konsumen akan produk sepeda motor yang tidak hanya terpaku pada kegunaan dasar sebagai alat transportasi untuk mempermudah mobilitas tetapi ditambah dengan tuntutan aspek model dan gaya hidup yang semakin kompleks. Salah satu merek yang menguasai pangsa pasar sepeda motor di Indonesia adalah Yamaha. Yamaha meningkatkan promosinya terutama melalui iklan televisi, Yamaha membuat iklan dengan menggunakan teknik animasianimasi, efek-efek khusus dan tokoh yang terkenal yaitu pembalap Moto GP Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di dalam iklannya sehingga menarik perhatian. Selain iklan televisi Yamaha juga meningkatkan layanan purna jual (After Sales Service), karena bidang otomotif adalah salah satu produk konsumsi yang tahan lama, maka konsumen tidak hanya mengevaluasi produk hanya pada saat pembelian saja tapi juga pada saat pasca pembelian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi pengaruh iklan televisi dan layanan purna jual sepeda motor merek Yamaha pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli sepeda motor merek Yamaha, mengetahui pengaruh variable iklan televisi (X1) dan layanan purna jual(X2) secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian (Y) pengambil keputusan pembelian sepeda motor Yamaha yang digunakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dan mengetahui sub variable yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini dilakukan pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Populasi dalam penelitian ini yaitu pengambil keputusan pembelian sepeda motor Yamaha yang digunakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan jumlah sampel sejumlah 100 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik accidental sampling dan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa iklan televisi (X1), dan layanan purna jual (X2) mempunyai nilai thitung masing-masing (7,392; 3,075) sedangkan nilai Fhitung sebesar 40,750 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai  0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan iklan televisi (X1), dan layanan purna jual (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y) sepeda motor Yamaha yang digunakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang secara parsial maupun simultan. Sedangkan faktor berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha yang digunakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.adalah iklan televisi (X1). ii ABSTRACT Karuniawan, Hendra. 2011. The Effects of Television Commercials and After-sales Service on Customers’ Purchase Decision in Buying Yamaha Motorbike (A Study on the Students of the Faculty of Economics State University of Malang). Sarjana’s Thesis. Department of Management, Faculty of Economics State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si. (II) Dr. heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M. Keywords: Television Commercials, After-sales Service, Purchase Decision The customers of motorbike nowadays desire for motorbike product that not only it has the basic function of a transportation means to support mobility, but also the model to meet the complex life style. One of many motorbike producersin Indonesia is Yamaha. Yamaha boosts the promotion particularly through television commercials in which they demonstrate sophisticated animation techniques, special effects, as well as young, talented Valentino Rossi and Jorge Lorenzo to attract more customers. Besides, Yamaha also boosts the After-sales Service for the reason that automobile is a long-lasting consumption product, so that the customers will evaluate the product not only on the purchasing, but also on the after-sales. This study aimed at finding out: (1) the effects of television commercials and after-sales service on purchase decision in buying Yamaha motorbike in the students of the Faculty of Economics State University of Malang; (2) the effects of the television commercials (X1) and after-sales service (X2) partially and simultaneously on purchase decision in buying Yamaha motorbike in the students of the Faculty of Economics State University of Malang; and (3) the dominant sub-variable effecting on purchase decision in buying Yamaha motorbike in the students of the Faculty of Economics State University of Malang. This study was was conducted at State University of Malang. The population was the all students of the Faculty of Economics State University of Malang, while the sample was taken from 100 of them using Accidental Sampling Technique. The data was collected using questionnaire and was analyzed using Multiple Linear Regression technique. The result of the study showed that: (1) television commercial and after-sales service had a positively significant effect on purchase decision in buying Yamaha motorbike in the students of the Faculty of Economics State University of Malang, both partially and simultaneously; (2) the dominant sub-variable effecting on purchase decision in buying Yamaha motorbike in the students of the Facu

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang / Dwi Setyorini

 

Kata kunci : Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar. Berdasarkan observasi awal selama Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan melalui wawancara dengan salah satu guru matematika kelas X-5 SMAN 9 Malang, diperoleh informasi bahwa hasil belajar sebagian besar siswa pada mata pelajaran matematika masih tergolong rendah. Proses pembelajaran matematika di SMAN 9 Malang masih berpusat pada guru dengan metode ceramah dan pengerjaan soal secara individu. Siswa kurang bersemangat untuk belajar matematika. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak nilai tes siswa yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan di SMAN 9 Malang. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. TGT ( Teams Games Tournament) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya kerjasama antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. TGT mempunyai ciri khas adanya turnamen dan kemudian pemberian penghargaan sehingga diharapkan siswa akan lebih termotivasi dan bersemangat belajar serta berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa. Penelitian ini mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran matematika dengan menggunakan TGT untuk melihat hasil belajar siswa kelas X-5 SMAN 9 Malang pada materi menentukan besar sudut antara garis dan bidang serta antara bidang dan bidang dalam ruang dimensi tiga. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2011. Data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan penyajian kelas (mengajar), selanjutnya guru mengorganisasikan siswa untuk belajar kelompok kemudian diadakan turnamen dan siswa memainkan pertandingan akademik, diakhiri dengan penghargaan kelompok dan evaluasi serta refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I banyaknya siswa yang tuntas belajar dalam subpokok bahasan menentukan besar sudut antara garis dan bidang dalam ruang dimensi tiga adalah 64,71%, sedangkan pada siklus II banyaknya siswa yang tuntas belajar dalam subpokok bahasan menentukan besar sudut antara dua bidang dalam ruang dimensi tiga adalah 82,35%. Aktivitas siswa selama pembelajaran kooperatif tipe TGT secara keseluruhan mendapat penilaian dari observer sebesar 62,5% pada siklus I dan pada siklus II sebesar 82,29%. Dalam analisis persentase skor rata-rata observer tersebut menunjukkan bahwa aktivitas siswa termasuk dalam kategori “baik” untuk siklus I dan kategori “sangat baik ” untuk siklus II. Aktivitas guru selama pembelajaran kooperatif tipe TGT secara keseluruhan mendapat penilaian dari observer sebesar 71,82% pada siklus I dan pada siklus II sebesar 83,33%. Dalam analisis persentase skor rata-rata observer tersebut menunjukkan bahwa aktivitas guru termasuk dalam kategori “ baik” untuk siklus I dan kategori “sangat baik” untuk siklus II. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di SMA Negeri 9 Malang untuk mata pelajaran matematika adalah 75. Berdasarkan ketuntasan pembelajaran di SMA Negeri 9 Malang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil apabila sekurangkurangnya 75% siswa mendapat nilai minimal 75 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang.

Pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negei 1 Batu tahun pelajaran 2010-2011 / Ita Ismawati

 

Kata Kunci: pemanfaatan internet sebagai sumber belajar motivasi belajar siswa, prestasi belajar siswa. Pembelajaran saat ini banyak dilaksanakan dengan memanfaatkan media pembelajaran yang semakin canggih sebagai sumber belajar. Sumber belajar yang dimanfaatkan bukan hanya konvensional seperti perpustakaan, tetapi sumber belajar berbasis multimedia seperti internet telah banyak digunakan dan dikembangkan dalam dunia pendidikan. Melalui internet, siswa bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dimanapun dan kapanpun waktu yang diinginkan. Sebagai sebuah sumber informasi yang hampir tak terbatas, maka jaringan internet dijadikan sebagai salah satu sumber pembelajaran. Penelitian ini, bertujuan: (1) untuk mengetahui pengaruh langsung pemanfaatan internet sebagai sumber belajar terhadap motivasi belajar siswa; (2) pengaruh langsung pemanfaatan internet sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa; (3) pengaruh langsung motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar; dan (4) pengaruh tidak langsung pemanfaatan internet sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi dengan bentuk deskriptif kuantitatif. Analisis penelitian menggunakan analisis jalur (path analisys). Sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS. Teknik pengumpulan data menggunakan angket untuk variabel pemanfaatan internet dan motivasi belajar siswa, serta dokumentasi untuk prestasi belajar siswa. Hasil penelitian adalah: (1) pemanfaatan internet berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi belajar siswa dengan nilai signifikansi sebesar 0,349; (2) pemanfaatan internet sebagai sumber belajar berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai signifikansi sebesar 0,399; (3) motivasi belajar siswa berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai signifikansi sebesar 0,724; dan (4) pemanfaatan internet berpengaruh tidak langsung terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa dengan diperoleh nilai secara manual yakni sebesar 0,253. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan internet sebagai sumber belajar berpengaruh positif terhadap kemunculan motivasi belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan adalah: (1) guru harus mempunyai upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan faktor-faktor lain di luar pemanfaatan internet sebagai sumber belajar dan motivasi belajar yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa seperti minat belajar dan sarana prasarana yang mendukung; (2) variabel bebas yang ingin diteliti lebih diperluas, mengingat hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh faktor lain yang besar yang mempengaruhi prestasi belajar selain motivasi belajar

Pengembangan inventori gaya belajar siswa sekolah dasar berbasis software dan implikasi bimbingannya / Bela Hening Hukama

 

Kata kunci: Inventori, gaya belajar, software Setiap anak memiliki kemampuan berbeda dalam memahami mata pelajaran. Hal itu bergantung pada tipe gaya belajar yang dimilikinya. Gaya belajar adalah cara yang konsisten atau kebiasaan yang dilakukan individu dalam menyerap, memproses, dan mengelola stimulus, pengalaman, dan informasi. Menurut Mechael Brinder terdapat tiga macam tipe gaya belajar yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Dengan diketahuinya tipe gaya belajar pada setiap siswa diharapkan siswa tersebut dapat belajar dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal. Untuk mengetahui tipe gaya belajar yang dimiliki oleh setiap siswa sekolah dasar maka dilakukan pula penelitian terhadap pengembangan inventori gaya belajar berbasis software. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah bentuk inventori gaya belajar yang memiliki validitas dan reabilitas yang tinggi? (2) Bagaimanakah bentuk inventori gaya belajar berbasis software? (3) Bagaimanakah bentuk buku petunjuk penggunaan inventori gaya belajar berbasis software? Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian pengembangan Borg and Gall. Subjek pengembangan dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri Lawangan Daya II yang terletak di Kabupaten Pamekasan, dengan menggunakan siswa kelas VI tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 20 orang. Penelitian ini menjalani beberapa tahap pengujian yaitu, uji ahli bimbingan konseling, uji ahli kelompok kecil, uji lapangan, dan uji ahli media. Penelitian ini juga menggunakan proses perhitungan validitas konstruk dan validitas internal dengan rumus Product Moment Pearson dan untuk reliabilitas menggunakan rumus koefisien alpha serta perhitungan penormaan dengan menggunakan rumus kelas interval sebagai pedoman untuk penyekoran dan menginterpretasikan hasil skor jawaban responden. Produk penelitian ini berupa inventori gaya belajar berbasis software yang berisi 60 item pernyataan inventori gaya belajar. Berdasarkan penilaian ahli bimbingan konseling terdapat kesesuaian antara sub variabel dengan indikator, indikator dengan deskriptor, deskriptor dengan item pernyataan inventori. Dari hasil uji kelompok kecil terdapat beberapa kalimat yang harus direvisi karena bahasa yang digunakan masih sulit dimengerti oleh siswa sekolah dasar. Berdasarkan hasil perhitungan validitas dari 60 pernyataan inventori sebanyak 49 pernyataan dinyatakan valid dan 11 pernyataan dinyatakan tidak valid dan hasil perhitungan reliabilitas yaitu sebesar 0.891 dinyatakan memiliki reliabilitas tinggi. ii Sedangkan untuk penormaan, menggunakan rumus kelas interval yang diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dari penelitian ini dihasilkan produk berupa software inventori gaya belajar dan buku petunjuk penggunaan software inventori gaya belajar tersebut. Konselor sebaiknya dapat memanfaatkan software inventori gaya belajar ini dalam membantu siswa untuk mengatasi masalah dan mengoptimalkan hasil belajarnya. Selain itu konselor sebaiknya lebih meningkatkan efektivitas kinerjanya dengan memanfaatkan software inventori gaya belajar ini. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya memperbanyak sampel penelitian sehingga didapat hasil penelitian yang lebih komprehensif serta juga dapat mengembangkan inventori gaya belajar berdasarkan kecerdasan majemuk.

Pengaruh penerapan paket IPA terpadu berbsis konstruktivisme dengan tema peredaran darah terhadap kompetensi IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bululawang / Mukhammad Faisol Amin

 

Kata Kunci : Paket IPA Terpadu, Kompetensi IPA. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah secara tegas menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Hasil pengamatan di SMP Negeri 1 Bululawang menunjukkan bahwa pembelajaran IPA masih disampaikan secara terpisah-pisah dalam disiplin ilmu fisika, kimia dan biologi. Salah satu penyebabnya adalah karena terbatasnya bahan ajar yang menyajikan IPA secara terpadu. Pada tahun 2009 telah dikembangkan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema Peredaran Darah oleh Rayendra Wahyu Bachtiar yang telah diuji kelayakannya meliputi penilaian Paket IPA Terpadu oleh dosen, guru dan siswa SMP. Penelitian ini bermaksud menguji paket tersebut secara empirik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis penelitian eksperimen semu, dengan desain Control Group Pre test-Pos test Design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bululawang Tahun Pelajaran 2010/2011. Sampel pada penelitian ini adalah kelas VIII D dan VIII H. Kelas VIII D berjumlah 31 siswa sebagai kelas pembanding dan kelas VIII H berjumlah 34 siswa sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen mendapat pembelajaran menggunakan Paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dengan Tema Peredaran Darah, sedangkan kelas pembanding mendapat pembelajaran dengan paket IPA yang telah ditetapkan sekolah. Kedua kelas memperoleh materi yang sama sesuai SK dan KD IPA kelas VIII semester 2. Instrumen pretest dan posttest telah diuji validitasnya terhadap 140 responden. Instrumen tes prestasi belajar berupa soal pilihan ganda sebanyak 16 butir dengan reliabilitas = 0, 642, essay untuk soal tes kerja ilmiah sebanyak 10 butir dengan reliabilitas = 0,615, dan skala sikap ilmiah sebanyak 16 butir dengan reliabilitas = 0,802. Berdasarkan uji prasyarat analisis diperoleh bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga uji hipotesis dilakukan dengan uji non-parametrik U Mann- Whitney. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai z prestasi belajar sebesar 4,975, nilai z kerja ilmiah sebesar 6,039 dan nilai z sikap ilmiah sebesar 0,3094, dimana z tabel sebesar 1,645. Ini menunjukkan terdapat perbedaan prestasi belajar dan kerja ilmiah antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan Paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dengan Tema Peredaran Darah dengan siswa yang tidak mendapat pembelajaran menggunakan Paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dengan Tema Peredaran Darah. Namun tidak terdapat perbedaan sikap ilmiah pada kelas eksperimen dan kelas pembanding.

Pengaruh penerapan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema cahaya terhadap kompetensi IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pakis / Gemma Lugas Listianto

 

Kata Kunci: Paket IPA Terpadu, Kompetensi IPA. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah secara tegas menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Hasil pengamatan di SMP Negeri 1 Pakis menunjukkan bahwa pembelajaran IPA masih disampaikan secara terpisah-pisah dalam disiplin ilmu fisika, kimia dan biologi. Salah satu penyebabnya adalah karena terbatasnya bahan ajar yang menyajikan IPA secara terpadu. Pada tahun 2009 telah dikembangkan paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dengan Tema Cahaya oleh Muklis yang telah diuji kelayakannya meliputi penilaian Paket IPA Terpadu oleh dosen IPA dan guru IPA SMP serta uji keterbacaan paket IPA Terpadu oleh siswa SMP, tetapi secara empirik belum diketahui pengaruhnya terhadap kompetensi IPA (prestasi belajar, kerja ilmiah dan sikap ilmiah) siswa. Oleh karena itu perlu dilakukan pembelajaran IPA terpadu menggunakan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema Cahaya untuk mengetahui keefektifannya dalam meningkatkan kompetensi IPA siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis penelitian eksperimen semu, dengan desain Control Group Pre test-Pos test Design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pakis Kabupaten Malang Tahun Pelajaran 2010/2011. Sampel pada penelitian ini adalah kelas VIII A dan VIII H. Kelas VIII A sebagai kelas pembanding dan kelas VIII H sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen mendapat pembelajaran menggunakan Paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dengan Tema Cahaya, sedangkan kelas pembanding mendapat pembelajaran dengan paket IPA yang telah ditetapkan sekolah. Kedua kelas memperoleh materi yang sama sesuai SK dan KD IPA kelas VIII semester 2. Instrumen pretest dan posttest telah diuji validitasnya terhadap 209 responden Instrumen tes prestasi belajar berupa soal pilihan ganda sebanyak 13 butir dengan reliabilitas = 0,542, soal tes kerja ilmiah sebanyak 13 butir dengan reliabilitas = 0,746, dan skala sikap ilmiah sebanyak 16 butir dengan reliabilitas = 0,802. Berdasarkan uji prasyarat analisis diperoleh bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga uji hipotesis dilakukan dengan uji non-parametrik U Mann-Whitney. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai z prestasi belajar sebesar 4,011, nilai z kerja ilmiah sebesar 2,637 dan nilai z sikap ilmiah sebesar 2,700 yang lebih besar daripada nilai kritis z (1,645). Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi IPA kelas eksperimen lebih tinggi daripada kompetensi IPA kelas pembanding. Oleh sebab itu, disarankan kepada guru IPA SMP untuk menggunakan paket IPA Terpadu Tema Cahaya dalam pembelajaran di kelas.

Pengembangan bahan pembelajaran kognitif lompat jauh gaya lenting untuk kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen menggunakan multimedia interaktif / Adin Karyawan

 

Kata kunci: pengembangan, multimedia interaktif, lompat jauh gaya lenting. Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia, sekolah menengah atas adalah salah satu lembaga pendidikan formal di masyarakat yang bertujuan untuk pembinaan mutu sumber daya manusia. salah satu pendidikan yang diajarkan di sekolah menengah atas adalah pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan memilki tujuan untuk mencapai tujuan diperlukan media pembelajaran yang menarik berupa bahan ajar, komputer merupakan media pembelajaran modern Berdasarkan penelitian berupa analisis kebutuhan yang dilakukan peneliti melalui lembar kuisioner pada guru dan siswa di SMA Negeri 1 Kepanjen diperoleh hasil bahwa guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan mengajarkan materi lompat jauh dengan alokasi waktu 2 kali pertemuan dalam satu semester. Pada pembelajaran yang berupa praktik di lapangan, apabila terjadi hujan, maka pembelajaran dilakukan di ruangan kelas dengan pemberian teori. Guru mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan menggunakan LKS sebagai bahan ajar teori. Berdasarkan hasil angket terhadap siswa diperoleh data bahwa siswa belum pernah mendapatkan materi dari multimedia interaktif, serta di sekolah terdapat fasilitas belajar berbasis computer. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer dalam bentuk mengembangkan multimedia interaktif mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan khususnya kompetensi dasar lompat jauh gaya lenting, yang diharapkan dapat membantu memberi kemudahan bagi siswa dalam memahami konsep dan teknik gerakan pada pembelajaran di SMA Negeri I Kepanjen kelas X.. Produk pengembangan berupa multimedia interaktif kompetensi dasar lompat jauh gaya lenting yang berisi konsep tentang sejarah atletik, sarana prasarana lompat jauh, peraturan pertandingan lompat jauh untuk menambah pengetahuan siswa, dan didalamnya juga terdapat video teknik gerakan lompat jauh gaya lenting yang diharapkan menarik minat siswa untuk mempelajari serta mudah memahami. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan dari Borg and Gall. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket kuesioner. Angket kuesioner diberikan pada ahli media, ahli atletik, ahli pembelajaran, uji coba (kelompok kecil) terhadap siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen sebanyak 9 siswa dan uji lapangan (kelompok besar) terhadap siswa kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen sebanyak 45 orang. ii Hasil tinjauan para ahli, dari ahli media menyatakan bahwa secara keseluruhan sudah baik, namun hendaknya diberi pengatur musik, video dan gambar sebaiknya diberi sumbernya. Tinjauan ahli atletik menyatakan bahwa seluruh aktivitas dan konsep materi terkait lompat jauh gaya lenting pada multimedia interaktif sudah sesuai dengan konsep yang sebenarnya. Dan tinjauan ahli pembelajaran menyatakan secara keseluruhan sudah bagus. Dari seluruh hasil tinjauan para ahli tersebut, maka dinyatakan bahwa produk yang dikembangkan sudah baik dan dapat digunakan untuk uji produk. Dari hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan multimedia interaktif kompetensi dasar lompat jauh gaya lenting untuk siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%. Sedangkan hasil uji lapangan (kelompok besar) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan multimedia interaktif kompetensi dasar lompat jauh gaya lenting untuk siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar), maka diperoleh bahwa produk pengembangan multimedia interaktif kompetensi dasar lompat jauh gaya lenting untuk siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%, sehingga dapat digunakan. Hasil penelitian dan pengembangan ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Peningkatan keterampilan teknik mengumpu lompat jauh gaya menggantung menggunakan metode bermain siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Batu / Novi Bagus Prasetya

 

Kata kunci: Peningkatan, Keterampilan, Lompat Jauh Gaya Menggantung, Metode Bermain. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan lompat jauh gaya menggantung siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Batu dapat dikatakan kurang baik karena dari keempat teknik dasar yang diamati, seperti awalan, tumpuan, melayang, dan saat mendarat persentase kesalahan masih banyak terlihat pada teknik menumpu yaitu 60,60%. Jumlah subjek pada penelitian ini berjumlah 33 siswa, 15 putra dan 18 putri. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa pada lompat jauh gaya menggantung khususnya pada teknik menumpu dengan menggunakan metode bermain pada siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Batu. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Batu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada keterampilan menumpu siswa selama mengikuti pembelajaran lompat jauh gaya menggantung dari siklus ke siklus. Pada siklus 1 dari aspek ketepatan kaki pada papan tumpu yang melakukan dengan benar sebesar 52,51%, aspek posisi badan yang melakukan dengan benar sebesar 67,77%, aspek gerakan tumpuan kaki tumpu pada papan tumpu yang melakukan dengan benar sebesar 90,90%, dan pada aspek ayunan kaki dan lengan yang melakukan dengan benar sebesar 57,57%. Dari hasil tersebut menunjukkan peningkatan terhadap penguasaan keterampilan lompat jauh gaya menggantung khususnya pada teknik menumpu yang terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat sebelum tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada akhir tindakan. Untuk hasil dari siklus 2 juga menunjukkan peningkatan penguasaan keterampilan lompat jauh gaya menggantung khususnya pada teknik menumpu dengan masing masing taraf keberhasilan dari aspek menumpu diantaranya, dari aspek ketepatan kaki pada papan tumpu yang melakukan dengan benar sebesar 93,94%, aspek posisi badan yang melakukan dengan benar sebesar 100%, aspek gerakan tumpuan kaki tumpu pada papan tumpu yang melakukan dengan benar sebesar 100%, dan pada aspek ayunan kaki dan lengan yang melakukan dengan benar sebesar 96,97%. Selain hasil persentasi mengenai teknik menumpu pada lompat jauh gaya menggantung diperoleh pula hasil pengamatan sikap siswa pada saat proses pembelajaran, pada siklus 1 siswa melakukan pemanasan sendiri tanpa didampingi oleh guru, siswa yang terlambat tidak ditegur oleh guru, dan siswa tidak memperhatikan penjelasan guru saat guru menjelaskan. Namun pada siklus 2 sudah terlihat peningkatan yang cukup baik dibandingkan dengan siklus 1, pada siklus 2 ini sudah tidak ada siswa yang terlambat, siswa melakukan proses belajar dengan baik, dan siswa sudah menguasai keterampilan menumpu dengan baik dan benar. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dengan menggunakan metode bermain dapat meningkatkan keterampilan teknik menumpu pada lompat jauh gaya menggantung siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Batu. Bagi guru pendidkan jasmani, olahraga dan kesehatan model pembelajaran dengan metode bermain dapat digunakan sebagai referensi dalam memberikan materi lompat jauh gaya menggantung khususnya untuk meningkatkan keterampilan teknik menumpu.

Pengembangan komik pembelajaran renang sebagai media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan di sekolah dasar / Ika Retno Pratiwi

 

Kata Kunci: pengembangan, komik pembelajaran renang, pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Komik merupakan media yang banyak diminati siswa khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Dalam berbagai hal, komik dapat diterapkan untuk menyampaikan pesan dari berbagai ilmu pengetahuan karena penampilannya yang menarik berisikan tulisan dan gambar yang berwarna. Bagi anak-anak khususnya siswa sekolah dasar, kegiatan membaca komik merupakan kegiatan yang menghibur dan menyenangkan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa komik sudah familiar dikalangan anak-anak. Oleh karena itu, peneliti memilih komik untuk menyampaikan informasi mengenai renang dimana siswa tidak mendapatkannya dari guru. Komik pembelajaran renang ini dirancang secara sistematis sehingga siswa sekolah dasar dapat menerima informasi lebih mudah dan menarik. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan komik pembelajaran renang pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan di sekolah dasar. Dalam penelitian dan pengembangan ini, peneliti menggunakan tujuh langkah. Adapun tujuh langkah yang dilakukan antara lain: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan angket yang ditujukan kepada dua orang guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan pada dua sekolah dasar, 2) melakukan perencanaan penelitian, 3) evaluasi para ahli dengan memilih satu ahli media, satu ahli renang, dan satu ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa komik pembelajaran renang. Produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini berupa komik pembelajaran renang dalam bentuk komik berbasis teknologi cetak (buku) yang berisi materi renang gaya bebas dan gaya dada serta komik yang berbasis teknologi komputer (power point) yang berisi materi renang gaya punggung dan gaya kupu-kupu. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar pada dua sekolah dasar berkaitan mengenai efektifitas, efesiensi, dan daya tarik komik pembelajaran renang diperoleh hasil bahwa komik pembelajaran renang dinyatakan baik dan siap dimanfaatkan sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan di sekolah dasar.

Penggunaan kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas (kajian etnografi komunikasi di SMP Negeri 3 Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang) / Amiruddin T.

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H Imam Syafi’ie, (II) Dr. Sunaryo HS, S.H., M.Hum Kata kunci: Kesantunan, Tindak Direktif, Wujud, Fungsi, Strategi. Penggunaan kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas merupakan realitas komunikasi bahasa yang terikat konteks sosiokultural. Dengan memanfaatkan teori kesantunan, tindak tutur dan etnografi komunikasi memotret aktivitas berbahasa di dalam pembelajaran di kelas melalui tiga fokus utama, yakni: (1) wujud kesantunan tindak direktif, (2) fungsi kesantunan tindak direktif, dan (3) strategi kesantunan tindak direktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan penggunaan kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas meliputi (1) wujud kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas, (2) fungsi kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas, dan (3) strategi kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas. penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan pragmatik dan etnografi komunikasi dan memanfaatkan teori kesantunan, tindak tutur secara eklektik. Data penelitian terdiri atas, data tuturan dan catatan lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, perekaman dan wawancara, data yang terkumpul dianalisis melalui empat tahapan, yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan/verifikasi. Berdasarkan analisis data, ditemukan diversifikasi wujud, fungsi, dan strategi kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia oleh guru sebagai berikut. Wujud kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia oleh guru dalam pembelajaran di kelas secara deskriptif diekspresikan melalui tiga modus tuturan yakni: (1) modus tuturan deklaratif mengekspresikan tindak (a) memohon sebelum menyatakan informasi, (b) menyatakan suruhan, (c) menyatakan permintaan, dan (d) menyatakan larangan; (2) modus tuturan imperatif mengekspresikan tindak (a) wujud tindak ajakan, (b) wujud tindak permintaan, (c) wujud tindak suruhan, (d) wujud tindak larangan, dan (e) wujud tindak pengizinan; dan (3) modus tuturan interogatif mengekspresikan (a) wujud pertanyaan menyatakan suruhan, (b) wujud pertanyaan menyatakan ajakan, (c) wujud pertanyaan menyatakan permintaan, (d) wujud pertanyaan menyatakan larangan, dan (e) wujud tindak pengizinan. Fungsi kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru secara deskriptif diekspresikan melalui (1) fungsi kesantunan dalam perintah mencakup (a) fungsi kesantunan dalam suruhan dan (b) fungsi kesantunan dalam larangan; (2) fungsi kesantunan dalam ajakan, (3) fungsi kesantunan dalam permohonan; (4) fungsi kesantunan dalam permintaan mencakup (a) fungsi kesantunan dalam meminta pengakuan, (b) fungsi kesantunan dalam meminta keterangan, (c) fungsi kesantunan dalam meminta alasan, (d)fungsi kesantunan dalam meminta pendapat, dan (e) fungsi kesantunan dalam meminta kesungguhan; (5) fungsi kesantunan dalam mengizinkan, dan (6) fungsi kesantunan dalam menasihati. Strategi kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas secara deskriptif melalui dua kategori strategi. Pertama, strategi langsung atau bertutur terus terang tanpa basa-basi (Bald on Record) yang diekspresikan dalam tuturan bermodus imperatif. Kedua, bertutur secara tidak langsung. Bertutur secara tidak langsung terbagi atas dua bagian, yakni: (1) stratergi bertutur dengan basa-basi kesantunan positif, diekspresikan melalui delapan substrategi, meliputi (a) tuturan untuk meningkatkan ketertarikan (memotivasi), (b) memberi petunjuk, (c) menggunakan penanda yang menunujukkan jati diri atau kelompok, (d) membuat janji atau penawaran, (e) menunjukkan rasa optimisme, (f) melibatkan lawan tutur dalam kegiatan, (g) memberi dan meminta alasan, dan (h) mengharap atau menuntut balik; dan (2) strategi bertutur dengan basa-basi kesantunan negatif, diekspresikan melalui enam substrategi, meliputi (a) ungkapan secara tidak langsung, (b) meminimalkan pembebenan, (c) menyatakan rasa hormat, (d) permohonan maaf, (e) tidak menyebutkan penutur dan lawan tutur, dan (f) permintaan dalam bentuk pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan sebuah simpulan bahwa pengggunaan kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas direpresentasikan secara beragam melalui wujud, fungsi, dan strategi dengan menggunakan teori kesantunan, teori tindak tutur, dan teori etnografi komunikasi.

Keefektifan pembelajaran kooperatif model TGT dengan menggunakan media animasi program flash diukur dengan proses dan hasil belajar kimia pada pokok bahasan elektrokimia siswa kelas XI SMK Negeri 1 Singosari / Khaeruman

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. H. Suhadi Ibnu, M.A. Ph.D (2) Dr. H. Subandi, M.Si Kata kunci: Team game turnamen, media animasi, prestasi belajar, persepsi siswa, elektrokimia. Elektrokimia merupakan suatu topik yang dianggap sulit oleh siswa dan guru. Topik ini terdiri dari konsep-konsep yang abstrak seperti konsep oksidasi dan reduksi, dan perhitungan matematik seperti perhitungan tentang massa katode pada sel elektrolisis. Kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari elektrokimia, mungkin dapat diatasi dengan animasi. Dengan mengamati animasi siswa akan lebih mudah untuk memahami konsep yang abstrak. Hal ini cenderung memberikan prestasi belajar siswa menjadi lebih baik pada materi stokiometri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan; (1) Kualitas proses pembelajaran elektrokimia menggunakan model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) dikombinasikan dengan animasi, TGT saja, dan paduan pembelajaran konvensional dengan animasi; (2) perbedaan hasil belajar siswa dari tiga model pembelajaran yang diterapkan; dan (3 ) persepsi siswa tentang penerapan model pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu. Sampel penelitian terdiri dari tiga kelompok siswa di SMK Negeri 1 Singosari. Kelompok pertama dilibatkan dalam pembelajaran elektrokimia menggunakan TGT dan animasi. Kelompok kedua dilibatkan dalam pembelajaran elektrokimia menggunakan TGT saja. Kelompok ketiga dilibatkan dalam pembelajaran elektrokimia menggunakan paduan konvensional dan animasi. Instrumen penelitian terdiri atas tes hasil belajar, lembar observasi, dan angket. Tes hasil belajar siswa terdiri dari 30 soal, dengan validitas isi 96,5, dan koefisien reliabilitas tes, dihitung dengan rumus Correlation Product Moment, sebesar 1,00. Observasi dilakukan untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran dan angket untuk mengetahui persepsi siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Data tentang hasil belajar siswa di analisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Data hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dianalisis secara deskriptif. Dari hasil penelitian diperoleh. (1) Kualitas proses pembelajaran elektrokimia menggunakan paduan TGT dan animasi menunjukkan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan paduan konvensional dan animasi, dibandingkan dengan pembelajaran TGT saja. (2) hasil belajar siswa pada pembelajaran elektrokimia menggunakan paduan TGT dan animasi lebih baik dibandingkan dengan paduan pembelajaran konvensional dan animasi serta bila dibandingkan pula dengan hasil belajar siswa dengan TGT saja. (3) Siswa memiliki persepsi positif terhadap ke tiga jenis model pembelajaran yang diterapkan. Persepsi positif terhadap paduan pembelajaran TGT dan animasi adalah yang tertinggi, disusul oleh penerapan pembelajaran konvensional dan animasi, kemudian pembelajaran TGT saja. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk menerapkan paduan pembelajaran TGT dan animasi dalam mempelajari elektrokimia.

Implementing mind mapping strategy to improve the writing ability in recount text of the eight graders of SMPN 9 Malang / Niesia Novarina

 

Keywords: Mind Mapping, Writing Ability, Recount Text Prewriting activity is a stage which all writers go through before composing a writing product. The process involves generating idea and making a connection between ideas. A teaching and learning activity in writing ability which put less attention to this stage would affect the students' achievement. Based on the observation result on the teaching and learning activity especially in writing ability of eighth graders at SMP Negeri 9 Malang, it was revealed that the teaching and learning activity in the class put no attention to the prewriting stage so the students' achievement was low. The strategy used to improve the writing ability in writing recount text in this research was mind mapping as mind mapping is helpful to help organizing idea and make it easier to be understood. Mind mapping was used as students had difficulty in developing the idea they were about to write and mind mapping help them develop the idea in an interesting way. Mind mapping was used in the prewriting stage and fit the function of outline. The steps in implementing the strategy was adapted by the steps of making mind map by Buzan (2007) which was modified to fit the learners' need. The research was a Classroom Action Research with 2 cycles. Each cycle consisted of four stages which were planning, implementing, observing, and reflection. The criteria of success of the research were if 85% of the students were able to reach the SKM which was 75 and they were active during the teaching and learning activity. The change made in Cycle 2 was on focusing in the process of making outline in form of mind map. The data analysis resulted from implementing mind mapping strategy in writing recount text was done descriptively. The subject of the research was a class of eighth graders of SMP Negeri 9 Malang consisting of 40 students. Based on the data obtained on the research, there was an improvement on the students' score of writing especially in term of content and organization. in comparison with the result of preliminary study which there were no students passed the SKM, there were an improvement in the result of Cycle 1 and Cycle 2. There were 23.68% of students (5 students) who passed the SKM in Cycle 1 and 86.84% of the students (33 students) in Cycle 2. In line with the students' writing performance, the students' participation in class was improved as well. More than 85% of the students (34 students) who raise their hands in every questions given by the researcher and participate actively in every instruction given by the researcher. In summary, the students were more active and possessed the motivation to write. Mind mapping was used in pre activity and whilst activity of three phase technique used in the lesson plan. In pre activity mind mapping was used to explain the theory of recount text and in whilst activity, mind mapping was used in the prewriting stage. The implementing of mind mapping strategy follows a set of steps:1) introducing mind mapping to the students by giving direct example of it, 2) discussing the generic structure and language feature as well the mistake often occurred in writing recount text, 3) giving the students direct exercise in correcting mistake made in recount text, 4) asking the students to make mind map of their experience, 5) self correcting by the students to their mind map, and 6) writing the recount text. In conclusion, the implementation of mind mapping strategy can be used to improve students' writing ability of eight graders of SMP Negeri 9 Malang. The researcher suggests to English teacher that to overcome any problem occurred in class, especially in writing ability, to bring a fun and interesting strategy into the class as students' motivation will increased when they deal with something fun and fit their interest. And for the future researcher, it is recommended to explore further the implementation of mind mapping strategy in other kind of texts and grades.

Pola pembelajaran magang (studi kasus di bengkel Tuban las aluminium, Desa Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro) / Nur Huda Agus Atfan

 

Kata kunci: Magang,Pola, Pembelajaran Bengkel Las Tuban Aluminium merupakan salah satu bengkel yang menyediakan sarana pembelajaran bagi masyarakat yang mengalami penyimpangan sosial ataupun yang ingin mendapatkan keterampilan. Pembelajaran magang di Bengkel Las Tuban Aluminium merupakan salah satu program Pendidikan Non Formal. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan pembelajaran magang dapat menjawab salah satu masalah masyarakat dalam mengatasi penyimpangan sosial dan pengangguran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pembelajaran magang di Bengkel Las Tuban Aluminium, penyebab kegiatan magang diminati dan manfaat yang didapat dalam kegiatan magang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan berdasarkan analisis teori - teori pembelajaran, pendapat para pakar dan temuan data. Hasil yang diperoleh dalam penelitian pola pembelajaran magang meliputi Perekrutan peserta didik yang dilakukan dengan 3 cara yaitu (1) orang-orang yang mengalami penyimpang sosial, (2) orang yang terkena Putus Hubungan Kerja, dan (3)kerja sama dengan sekolah kejuruan di wilayah Bojonegoro. Komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari (1) tujuan pembelajaran magang yang berdasarkan pada analisa kebutuhan peserta didik. (2) bahan pembelajaran yang disesuaikan dengan pesanan barang yang dibutuhkan konsumen. (3) kegiatan belajar mengajar yang kondusif. (4) metode pembelajaran yang diterapkan, (a) mengingatkan kembali (Review) peserta didik terhadap pengetahuan sebelumnya, (b) diskusi kelompok, (c) pemberian umpan balik, (d) praktik kerja. (5) media belajar yang digunakan adalah perlatan bengkel yang telah disediakan. (6) sumber belajar yang selain berasal dari instruktur juga ada alumni. (7) evaluasi kegiatan belajar yang terpusat pada penilaian diri sendiri. Hubungan Bengkel Las Tuban Aluminium dengan para alumni yang saling mendukung guna mengembangkan pembelajaran magang di Bengkel Las Tuban Aluminium. Penyebab kegiatan magang ini banyak diminati memiliki beberapa alasan yang terdiri dari (1) pola pembelajaran yang menerapkan proses belajar yang bebas dan bertanggung jawab, (2) perhatian instruktur kepada peserta didik yang dilakukan secara merata, (3) tempat pembelajaran yang stategis, (4) adanya ketertarikan pekerjaan yang dilakukan atas kerja sama dengan pihak pertambangan, (5) fasilitas alat yang mendukung proses belajar, dan (6) kualitas barang yang dihasilkan oleh Bengkel Las Tuban Aluminium. Selain itu ada pula ada beberapa manfaat yang didapat dalam kegiatan magang yang terdiri dari (1) penambahan keterampilan yang dapat digunakan peserta didik untuk modal bekerja, (2) perubahan sikap yang membantu peserta didik dapat diterima kembali di masyarakat, (3) kemandirian dalam belajar dan bekerja, (4) jaringan pekerjaan yang dapat membantu peserta didik dalam membuka atau membuat lapangan pekerjaaan. (5) bantuan dalam membuka lapangan kerja baru yang diperoleh dari tabungan peserta didik dan pengelola. Berdasarkan penelitian ini telah ditemukan beberapa hal penting yang harus dijadikan perhatian dari beberapa pihak. Sehubungan dengan hal tersebut peneliti memberikan beberapa saran (1) pengelola hendaknya dapat mempromosikan diri dengan menggunakan media massa dan elektronik agar dapat dikenal oleh masyarakat di luar Desa Kalitidu. (2) para instruktur dapat melibatkan peserta didik dalam diagnosis kebutuhan belajar. (3) perlunya peran aktif yang tinggi dari para alumni sehingga dapat memberikan informasi tambahan bagi peserta didik. (4) bagi peserta kegitan magang hendaknya dapat mengembangkan sikap, idealisme dan minat dalam menyerap informasi dari para instruktur. (5) Bagi peneliti lanjut dapat mempertimbangkan hasil kajian ini dalam mengadakan penelitian yang serupa.

Pengembangan paket pembelajaran IPA biologi kelas VIII SMPLB-B SLB PTN Bagian C Malang dengan model Dick, Carey & Carey / Whening Dyah Triarini

 

TTesis, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Dr. Sulton, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, paket pembelajaran IPA Biologi, model Dick Carey & Carey Pengembangan merupakan bagian dari bidang garapan teknologi pembelajaran. Penelitian ini dilaksnakan untuk mengadakan pengembangan paket pembelajaran IPA Biologi Kelas VIII SMPLB-B. Tujuan pengembangan adalah: 1) menghasilkan paket pembelajaran Biologi berupa buku teks dengan kalimat pendek dan lebih sederhana beserta kata-kata tertentu yang memerlukan bahasa isyarat serta dilengkapi dengan media visual berupa gambar statis, panduan guru, dan panduan siswa dengan memperhatikan karakteristik siswa Tunarungu Kelas VIII SMPLB-B di Sekolah Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang yang mengalami hambatan dalam komunikasi bahasa verbal; 2) membantu siswa tunarungu mempermudah belajarnya sehingga dapat meningkatkan kualitas belajarnya guna mencapai kompetensi dasar yang menjadi tuntutan kurikulum dengan memperhatikan karakteristik kebutuhannya. Pengembangan ini menggunakan model Dick Carey & Carey, dengan sembilan langkah yang terdiri dari: 1) menilai kebutuhan untuk mengidentifikasi tujuan; 2) analisa instruksional; 3) mengidentifikasi kebutuhan dan konteks; 4) merumuskan tujuan performa (unjuk kerja); 5) mengembangkan instrumen penilaian; 6) mengembangkan strategi instruksional; 7) mengembngkan dan memilih materi instruksional; 8) melaksanakan evaluasi formatif; 9) merevisi pembelajaran. Pengembangan ini melalui lima tahap yaitu: 1) menetapkan matapelajaran yang akan dikembangkan; 2) mengidentifikasi kurikulum matapelajaran yang dikembangkan; 3) proses pengembangan bahan ajar IPA Biologi dengan Sembilan langkah Dick Carey & Carey; 4) menyusun bahan ajar, panduan siswa dan panduan guru; 5) uji coba produk yang meliputi tanggapan ahli isi mata pelajaran, ahli desain dan media pembelajaran, uji coba perorangan dan uji coba lapangan. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa tanggapan terhadap bahan ajar baik dari ahli isi, ahli desain maupun ahli media menyatakan dalam kualifikasi sangat baik. Tanggapan terhadap panduan siswa maupun panduan guru dari ahli isi, ahli desain maupun ahli media menyatakan telah memadai. Saran yang diajukan sehubungan dengan pemanfaatan adalah sebagai berikut:1) sebelum menggunakan bahan ajar ini, sebaiknya guru membaca terlebih dahulu petunjuk penggunaan bahan ajar; 2) bahan ajar ini hanya digunakan untuk siswa SLB Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang; 3) apabila digunakan pada siswa lain sebaiknya dilakukan analisis kebutuhan siswa dahulu supaya materi bahan ajar sesuai dengan karakteristik siswa.

Analisis kestabilan lapisan tanah untuk pertimbangan pemilihan jenis paku bumi di Jalan Soekarno Hatta Kota Malang dengan menggunakan metode seismik refraksi / Pradipta Pramuda Putranto

 

Kata Kunci : Friction Pile, Kestabilan Tanah, Paku Bumi, Metode Seismic Refraction Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui struktur geologis di Kecamatan Lowokwaru, Malang. Struktur geologis yang diamati adalah tentang kestabilan tanah untuk penancapan paku bumi. Metode yang digunakan adalah metode seismik refraksi, yaitu metode yang bekerja berdasarkan gelombang seismic yang direfraksikan mengikuti lapisan-lapisan bumi di bawah permukaan. Waktu tempuh gelombang antara sumber getar dan penerima akan menghasilkan gambaran tentang kecepatan dan kedalaman lapisan. Penelitian ini dilakukan sebanyak empat posisi horizontal, dengan menggunakan metode seismic refraction, dengan luas area 25 m x 20 m. Teknik pengukuran dilakukan didasarkan pada stacking chart yang telah dibuat sebelumnya yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Metode seismic refraction digunakan untuk mengetahui variasi kecepatan gelombang, kedalaman lapisan, dan jenis lapisan di daerah penelitian. Dari hasil pengukuran seismik dan analisis data, diperoleh kesimpulan tentang tiga lapisan tanah yaitu pada lapisan pertama dengan variasi kecepatan antara 322,31 m/s–338,01 m/s merupakan lapisan pemukaan lapuk dengan kedalaman antara 2,14 m–2,10m. Pada lapisan kedua dengan variasi kecepatan antara 532,37 m/s–561,47 m/s merupakan lapisan kerikil atau pasir kering yang memiliki kedalaman antara 4,38 m–4,42 m, dan pada lapisan ketiga dengan variasi kecepatan antara 667,36 m/s–699,14 m/s merupakan lapisan pasir basah dengan kedalaman antara 7,13 m – 7,88m. Jenis tiang pancang yang cocok digunakan pada fondasi bangunan di daerah penelitian adalah jenis tiang Friction Pile.

Pengontrolan rumah cerdas berbasis PLC yang terintegrasi dengan sistem Scada / Ardha Setiawan

 

Kata kunci: SCADA, Rumah Cerdas, Programmable Logic Controller. Kemajuan teknologi mendorong manusia untuk berpikir untuk mengatasi masalah disekitarnya. Teknologi yang berkembang saat ini adalah PLC. PLC (Programmable Logic Controller) merupakan alat kendali yang populer di kalangan industri. Seiring berkembangnya PLC orang mulai berpikir untuk menggunakan PLC sebagai alat yang digunakan untuk membantu memudahkan manusia dalam menyelesaikan masalah yang ada. Salah satunya adalah penggunakan PLC untuk sistem keamanan rumah dan manajemen energi pada rumah. Pembuatan miniatur rumah cerdas yang terintegrasi dengan sistem SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) ini bertujuan untuk memudahkan manusia dalam mengahadapi masalah sperti saat ini misalnya keamanan dan pengaturan penggunaan energi. Keamanan merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh semua orang karena tingkat kriminalitas meningkat. Penghematan pemakaian energi juga tidak kalah pentingnya untuk kehidupan masa mendatang. Dalam miniatur ini dibuat sensor cahaya untuk menyalakan lampu secara otomatis guna dapat membantu manusia dalam mengatur penggunaan energi yang ada dirumah tersebut. Sensor cahaya ini menggunakan LDR yang dikendalikan oleh PLC. PLC ini dintegrasikan dengan PC ( SCADA software) sehingga plant yang ada bisa dimonitoring bahkan dikendalikan . Lampu pada miniatur rumah cerdas ini juga bisa dikendalikan oleh saklar sesuai kebutuhan. Selain sensor cahaya dalam miniatur rumah cerdas ini terdapat sensor suhu menggunakan LM35 untuk menyalakan kipas pada ruangan secara otomatis sehingga memudahkan pemilik rumah dalam hal manjemen energi. Selain manajemen energi dalam rumah cerdas ini juga terdapat sistem keamanan yaitu pintu berpassword sehingga sebelum memasuki pintu harus mengetahui kata sandinya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar keamanan terjaga. Jika password yang dimasukkan salah maka indikator lampu merah akan menyala, jika benar maka warna hijau akan menyala. Dari pembuatan miniatur rumah cerdas diatas dapat disimpulkan bahwa alat ini berjalan sesuai dengan rencana pembuatan. Disarankan dalam perancangan prototype alat ini hendaknya dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu dalam pemakaian komponen keseluruhan.Dalam pelaksanaan pembuatan alat harus dipantau terus kemajuan pekerjaan apakah sesuai dengan rencana atau tidak, karena hal ini berpengaruh dalam waktu penyelesaian pembuatan alat tersebut.

Pengembangan kemampuan berbahasa anak usia dini melalui metode bermain bisik berantai di TK PKK Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar / Sumiasih

 

Kata Kunci : Kemampuan Berbahasa, Metode Bermain, TK. Penelitian berlatar belakang bahwa kemampuan berbahasa anak TK PKK Salamrejo masih rendah. Hal ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran masih bersifat ceramah. Akibatnya anak menjadi bosan dan pembelajaran kurang menyenangkan bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan penerapan metode bermain bisik berantai untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak TK kelompok A di TK PKK Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan peningkatan kemapuan bahasa anak kelompok A di TK PKK Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan di TK PKK Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar.. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tahab siklus, tiap siklus terdiri dari tahab perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilakukan secara kolaborati dengan guru kelas A. Hasil penelitian menunjukan bahwa menerapkan metode bermain bisik berantai dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Pada kegiatan pratindakan kemampuan bahasa anak mencapai rata-rata 58,1. Pada siklus 1 kemampuan berbahasa anak mencapai 69,8 meningkat menjadi 89,7pada siklus II. meningkatnya kemampuan menirukan dua sampai dengan empat kata atau angka secara berurutan, mengikuti dua perintah sekaligus, menceritakan gambar yang telah disediakan, berbicara lancer dengan kalimat sederhana. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disimpulkan : (1) Dengan menerapkan metode bermain bisik berantai anak mendapat pengalaman saat membisikkan kepada teman pertama dan dilanjutkan kepada teman ke dua berikutnya sampai terakhir mengucapkan dengan keras sesuai pesan yang diterima, (2) Dengan penerapan metode bermain bisik berantai dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak, sebab bermain bisik berantai dapat melibatkan kemampuan mendengar, menyimak, berbicara sesuai dengan kemampuan berbahasa anak yang dimiliki. Sebaiknya guru menggunakan metode bermain bisik berantai dalam pembelajaran yang sesuai untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Persepsi mahasiswa Universitas Negeri Malang mengenai kualitas produk Yamaha Mio dan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian / Ariska Kurniawati

 

Kata kunci: Persepsi Kualitas Produk, Keputusan Pembelian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan pengaruh pada konsep pemasaran modern yang menempatkan konsumen sebagai perhatian utama. Banyaknya pilihan produk yang beredar di pasaran, dalam hal ini menuntut para pemasar untuk dapat menyediakan produk-produk yang berkualitas serta dapat mengembangkan suatu produk yang bermanfaat dan inovatif sesuai dengan harapan konsumen dan kebutuhan pasar. Teknologi transportasi yang semakin berkembang pada saat ini membuat persaingan antar produsen sepeda motor untuk merebut pelanggan semakin ketat. Terdapat empat faktor yang menjadi tuntutan dan pertimbangan para pelanggan dan calon pelanggan sepeda motor untuk memilih produk sepeda motor yang akan digunakan, antara lain kinerja produk yang tinggi melalui kecanggihan teknologi yang digunakan, keistimewaan produk melalui desain produk yang menarik, keandalan produk melalui kecilnya kemungkinan terjadi gangguan dan kegagalan, serta daya tahan produk melalui keawetan produk. Keputusan pembelian suatu produk pada dasarnya merupakan proses pemecahan masalah, dimulai dengan usaha konsumen menentukan tempat untuk membeli suatu produk. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui variabel-variabel kualitas produk yang mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas (X) terdiri dari sub variabel, yaitu kinerja produk (X1), keistimewaan produk (X2), keandalan produk (X3), dan daya tahan produk (X4), sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah keputusan pembelian. Penelitian ini bersifat cause-effect relationship. Populasi yang dipilih adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menggunakan sepeda motor Yamaha Mio dan yang mengambil keputusan untuk membeli. Sampel yang digunakan berjumlah 147 responden dan pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode proportional sampling dan accidental sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil dari analisis yang didapat melalui penyebaran kuesioner menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja produk, keistimewaan produk, keandalan produk, dan daya tahan produk secara parsial terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio, (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara kinerja produk, keistimewaan produk, keandalan produk, dan daya tahan produk secara simultan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio dengan koefisien Adjusted R Square sebesar 53,9%, Fhitung sebesar 43,681 dengan tingkat signifikansi 0,000. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) Kualitas produk Yamaha Mio yang terbentuk di mata konsumen yang telah memutuskan untuk membeli produk sudah baik, khususnya keandalan produk yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian. Dengan adanya hal ini, hendaknya bagi perusahaan tetap mempertahankannya, bahkan meningkatkan keandalan produk tersebut, (2) Dengan semakin ketatnya persaingan dalam bisnis otomotif, maka PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) selaku produsen sepeda motor Yamaha Mio harus tetap menjaga kinerja produk, keistimewaan produk, dan daya tahan produk, dimana variabel tersebut bukan merupakan variabel dominan yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian Yamaha Mio, (3) Sebagai produk sepeda motor matic yang masih berhasil memimpin pasar, Yamaha Mio harus aktif meningkatkan daya tahan produk sehingga menjadi produk yang lebih berkualitas. Dalam penelitian ini, daya tahan Yamaha Mio memberikan kontribusi terkecil sehingga perusahaan perlu meningkatkan keunggulan bersaing yang membedakan dengan produk pesaing lainnya, dan (4) Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan pijakan untuk penelitian selanjutnya dengan mengangkat hal-hal baru dan potensial selain kualitas produk seperti brand image, atribut produk, harga, promosi, dan variable lainnya sebagai variabel yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian.

Diagnosis kesulitan belajar dan pengajaran remidinya materi bangun ruang sisi datar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang / Aziza Nurmavia

 

Kata Kunci: diagnosis, kesulitan belajar, pengajaran remidi, bangun ruang sisi datar. Diagnosis kesulitan belajar merupakan suatu usaha untuk menemukan dan menentukan faktor-faktor penghambat yang dialami oleh siswa dalam mencapai tuju-an belajar atau hasil belajar. Siswa mengalami kesulitan dalam belajar geometri mu-lai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah bangun ruang sisi datar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari bangun ruang sisi datar dan mendeskripsikan pengajaran remidi yang tepat untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari bangun ruang sisi datar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pende-katan kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-C SMPN 4 Kepanjen tahun ajaran 2010-2011 sebanyak 33 siswa. Langkah-langkah yang dilaku-kan pada penelitian ini yaitu: (1) melakukan observasi proses pembelajaran, (2) memberikan tes diagnostik, (3) menganalisa hasil tes diagnostik, (4) menentukan subyek penelitian, (5) mewawancari subyek penelitian, (5) melaksanakan pengajaran remedi, (6) melaksanakan tes akhir, dan (7) melakukan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari materi bangun ruang sisi datar adalah: (1) kesulitan memahami konsep definisi pada bangun ruang sisi datar, (2) kesulitan memahami dan menggunakan prinsip penulisan titik sudut, bidang sisi, diagonal sisi, diagonal ruang, dan bidang diagonal pada bangun ruang sisi datar, (3) kesulitan memahami dan menggunakan prinsip menggambar bangun ruang sisi datar dan juga jaring-jaringnya, (4) kesulitan memahami dan menggunakan prinsip menamai bangun ruang sisi datar, (5) kesulitan memahami dan menggunakan konsep dalam menentukan bagian-bagian pada bangun ruang sisi datar, (6) kesulitan memahami dan menggunakan konsep perbandingan an-tara volume dan luas permukaan pada bangun ruang sisi datar, (7) kesulitan mema-hami konsep prasyarat materi bangun ruang sisi datar, (8) kesulitan dalam menyusun langkah-langkah yang sistematis, dan (9) kesulitan dalam menginterpretasi bahasa. Pengajaran remidi dalam penelitian ini dilakukan secara klasikal. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (1) membahas soal tes diagnostik, (2) memberi penguatan pada siswa tentang materi bangun ruang sisi datar, (3) memberi latihan soal dan lembar kerja yang didiskusikan berkelompok, (4) memberikan bimbingan individual kepada subyek penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pengajaran remidi yang dilakukan hendaknya direncanakan sebaik mungkin agar dapat mengatasi kesulitan siswa. Apabila terdapat siswa yang telah memenuhi nilai standar dapat diikutkan pada proses remidi karena dapat membantu menuntaskan siswa lain dengan cara kooperatif.

Analisis perilaku dan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita matematika model Polya / Ria Norfika Yuliandari

 

Program Studi Pendidikan Matematika SD, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A., (II) Dr. H. Makbul Muksar, S.Pd. M.Si. Kata kunci: perilaku, kesalahan, soal cerita matematika, model Polya Soal cerita adalah salah satu permasalahan yang merupakan pendekatan pemecahan masalah. Pembelajaran soal cerita dapat digunakan sebagai cara untuk melatih siswa menyelelesaikan masalah. Dalam soal cerita siswa dituntut untuk dapat dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang diberikan, membuat model matematika dari permasalahan tersebut, menemukan cara penyelesaiannya dan menafsirkan kembali selesaian yang diperoleh. Namun pada kenyataannya menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan sehingga membuat kesalahan saat menyelesaikan soal cerita. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa soal cerita lebih sulit dipecahkan daripada soal-soal yang hanya melibatkan bilangan-bilangan (Suharjo, 2005; Manalu, 1996; Haji, 1994; Suarjana, 1997; Akhmad, 2000; Rudnistky, Etheradge, Freeman, & Gilbert 1995; Kennedy, Eliot dan Krulee yang diungkapkan oleh Hudojo ,1990). Berkenaan dengan itu timbul keinginan untuk mengetahui perilaku dan kesalahan yang dilakukan oleh siswa saat menyelesaikan soal cerita dengan menggunakan pemecahan masalah model Polya. Pemecahan masalah model Polya ini mempunyai empat tahapan yaitu understanding the problem (memahami masalah), devise a plan (merencanakan penyelesaian), carry out the plan (melaksanakan rencana penyelesaian) dan look back (melihat kembali selesaian). Tahapan model Polya ini dapat digunakan untuk mengetahui perilaku dan kesalahan saat menyelesaikan soal cerita. Penelitian difokuskan pada mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan yang dilakukan siswa saat menyelesaikan soal cerita. permasalahan yang akan dicari jawabannya adalah (a) perilaku seperti apa yang ditunjukkan oleh siswa saat menyelesaikan soal cerita dan klasifikasinya (b) jenis-jenis kesalahan yang dilakukandan klasifikasinya. Selain itu juga akan di ungkap penyebab terjadinya kesalahan dan bagaimana upaya mengatasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan pada siswa kelas V di SDN I Kebonsari Malang. Subyek penelitian dipilih melalui tes awal dengan variasi kesalahan dan hasil diskusi dengan guru kelas. Subyek penelitian terpilih sebanyak delapan siswa yang terdiri dari dua siswa berkemampuan tinggi, dua siswa berkemampuan sedang dan empat siswa berkemampuan rendah. Perilaku, jenis kesalahan dan penyebabnya didapat dari hasil tes dan wawancara. Perilaku yang ditunjukkan oleh siswa kelas V SDN I Kebonsari diklasifikasikan menjadi empat kategori, antara lain: DTA-Not Proficient dan DTA- Proficient. Selain itu ditemukan juga perilaku lain yang berbeda tetapi masih ada kaitannya dengan perilaku pemecahan masalah Pape, yaitu DTA-Limited Context + behavior translation but without explanation, DTA Proficient + behavior translation with limited context, DTA-Not Proficient + behavior translation. Sedangkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: kesalahan dalam memahami soal dan kesalahan perhitungan matematis. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada guru supaya sebelum pembelajaran dimulai sebaiknya ketahui dahulu letak ksalahan yang sering dilakukan oleh siswa agar lebih menekankan pembelajaran pada letak kesalahan tersebut. Guru juga lebih banyak memberikan latihan-latihan soal terutama soal cerita untuk melatih pengalaman siswa dalam menyelesaikannya. Selain itu, tahap-tahap penyelesaian masalah seperti model Polya ini sebaiknya perlu ditekankan penggunaannya karena ini akan melatih siswa untuk berfikir secara sistematis. Untuk peneliti lanjutan, jika ingin menggunakan hasil penelitian ini untuk melanjutkan penelitian lain maka perlu dipertimbangkan penerapannya untuk kondisi siswa dan sekolah yang berbeda atau untuk topik matematika yang lain pada subyek yang sama.

Pengembangan panduan pelatihan keterampilan pemecahan masalah dengan cinemeducation untuk siswa SMP / Nugraheni Warih Utami

 

Tesis, Program Studi Bimbingan Konseling. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Psi. (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A, Kata Kunci : panduan, keterampilan pemecahan masalah Keterampilan pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan dalam memahami masalah dan menemukan jalan keluar yang tepat untuk mengatasi suatu masalah. Fenomena yang terjadi di sekolah 76% siswa dalam menghadapi masalah, mereka cenderung menghindari masalah dan 24 % siswa berupaya menyelesaikan masalahnya. Dalam menyelesaikan masalahnya ada remaja yang berupaya menyelesaikan masalah dengan mendiskusikan masalah dengan teman sebaya atau mencari berbagai macam informasi untuk mencari solusi alternatif yang tepat. Kebiasaan tersebut akan menjadi tidak tepat apabila solusi yang diberikan akan menyesatkan atau menjerumuskan remaja dan bahkan dapat menimbulkan masalah baru. Keterampilan ini perlu dilatihkan kepada remaja, karena setiap hari remaja tidak dapat terlepas dari adanya masalah. Dalam menghadapi keseluruhan perkembangan diri remaja, mulai dari pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif dan perkembangan emosi remaja juga menimbulkan masalah. Dalam proses memahami keadaan dirinya inilah remaja perlu terampil dalam mengelola masalahnya. Keinginan remaja untuk memiliki keterampilan tersebut merupakan komponen kunci dalam melatihkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving skill), karena keinginan tersebut akan membuka wawasan dan pemahaman remaja tentang pentingnya keterampilan yang akan dilatihkan. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk menghasilkan panduan pelatihan keterampilan pemecahan masalah yang memenuhi kriteria kegunaan, kelayakan dan kepatutan panduan, dan untuk mengatahui pelaksanaan langkah-langkah cinemeducation dalam meningkatkan keterampilan siswa menengah pertama (SMP). Pengembangan panduan ini menggunakan model Borg & Gall (1983) yang terdiri atas: prapengembangan, pengembangan, dan pascapengembangan.. Penjaringan siswa dilakukan melalui pengisian skala keterampilan pemecahan masalah (problem solving skill), dan wawancara dari konselor terpilih tujuh orang siswa yang menjadi subyek. Dalam tahap pengembangan, langkah-langkah yang ditempuh adalah menyusun panduan pelatihan, merumuskan tujuan, mengembangkan alat observasi dan menentukan strategi pelatihan dengan cinemeducation. Tahap ini menghasilkan panduan pelatihan berupa buku panduan untuk konselor, buku panduan untuk siswa dan kaset DVD berisi cuplikan-cuplikan film yang digunakan dalam panduan. Tahap pasca pengembangan terdiri dari tahap uji ahli, tahap uji pengguna dan uji lapangan terbatas. Hasil penilaian ahli dan konselor menunjukkan bahwa panduan pelatihan efektif bila ditinjau dari segi kegunaan, kelayakan, ketepatan dan penilaian media. Penerapan teknik sinemeducation dilakukan dengan tahap: 1)menonton cuplikan masalah dalam film, 2) diskusi I SOLVE, 3) refleksi diri dan pengalaman, 4) menonton I SOLVE dalam cuplikan film. Intervensi dilakukan dalam 6 kali pertemuan pelatihan dan 6 kali evaluasi yang merupakan tindakan pada siklus I dan II. Pelaksanaan kegiatan pelatihan keterampilan pemecahan masalah dilakukan dua siklus hingga tercapai tujuan pelatihan yaitu siswa terlatih dan terampil dalam menyelesaikan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah yaitu: pada tahap identifikasi masalah (I) skor rata-rata yang dicapai pada siklus I yaitu 59,3 meningkat menjadi 71,8. Tahap membuat daftar solusi (S) skor rata-rata yang dicapai adalah 62 meningkat menjadi 69,8.. Tahap mnemukan hambatan solusi (O) skor rata-rata dicapai adalah 59,3 menjadi 67,9. Tahap memilih solusi (O) skor rata-rata pada siklus I adalah 62,6 menjadi 68,6. Tahap menyebutkan uji coba solusi (V) skor rata-rata pada siklus I adalah 57,5 menjadi 68,2. Dan tahap evaluasi hasil (E) skor rata-rata adalah 59,1 meningkat menjadi 66,5 pada siklus II. Dengan meningkatnya keterampilan siswa tersebut mengindikasikan bahwa pelaksanaan langkah-langkah cinemeducation dapat meningkatkan keterampilan siswa SMP Taman Harapan Malang.

Pengembangan sumber belajar berbasis e-learning mengoperasikan software pengolah angka untuk suplemen mata pelajaran TIK / Roni Nurindah Eka Soleh Firgiarta

 

Kata Kunci: Sumber Belajar, E-Learning, Belajar Mandiri. Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Hal terpenting dalam proses belajar mandiri adalah peningkatan kemauan dan keterampilan siswa/peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya siswa/peserta didik tidak tergantung pada guru/instruktur, pembimbing, teman, atau orang lain dalam belajar. Dalam belajar mandiri siswa/peserta didik akan berusaha sendiri dahulu untuk memahami isi pelajaran yang dibaca atau dilihatnya melalui media audio visual, kalau mendapat kesulitan baru bertanya atau mendiskusikannya dengan teman, guru/instruktur atau orang lain. Siswa/peserta didik yang mandiri akan mampu mencari sumber belajar yang dibutuhkannya. Salah satu solusi yang bisa membantu siswa dalam belajar mandiri adalah menggunakan pembelajaran berbasis e-learning. Perangkat lunak pengolah angka salah satunya yaitu microsoft excel merupakan program aplikasi spreadsheet (lembar kerja elektronik) canggih yang paling popular yang digunakan untuk mengolah data secara otomatis meliputi perhitungan dasar, penggunaan fungsi-fungsi, pembuatan grafik dan manajemen data. Tidak dipungkiri kalau microsoft excel dianggap susah oleh sebagian siswa terutama saat menghadapi fungsi-fungsi bawaan microsoft excel baik fungsi logika, text, tanggal, matematika, statistik, dan fungsi lainnya. Materi ini memerlukan media yang dapat mendukung keterampilan siswa dalam suatu kompetensi. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Sadiman yang terdiri dari: identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan butir-butir materi, perumusan alat keberhasilan, penulisan naskah uji coba, Tes Uji coba, revisi sumber belajar, sumber belajar siap dimanfaatkan. Sumber belajar yang dihasilkan memiliki beberapa fasilitas antara lain: modul berupa teks berbentuk Portable Document Format (PDF), ilustrasi gambar/foto, audio-video, forum, chat,kuis dan latihan atau penugasan. Sumber belajar ini dapat diakses melalui internet dan modul yang ada di dalamnya dapat di-download secara langsung, akan tetapi juga bisa digunakan untuk pembelajaran dikelas Pengambilan data validasi sumber belajar dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa angket dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media, ahli materi dan siswa/audiens. Hasil uji coba produk yang dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 89,1%, ahli materi menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 93,8%, uji coba perorangan menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 89,2% dan kelompok kecil menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 92,7%. Harapan penulis dalam penulisan skripsi ini dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi suplemen untuk pembelajaran Mandiri, pokok bahasan Pengolah Angka Microsoft Office 2007

Pemetaan daerah rawan tanah longsor di Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung / Catur surya Yuni Lestari

 

Kata Kunci: pemetaan, kerawan, tanah longsor, bentuk lahan, Kecamatan Pagerwojo Tanah longsor merupakan pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng akibat pengaruh gaya gravitasi. Kecamatan Pagerwojo memiliki karakteristik fisik yang menunjang terjadinya tanah longsor. Tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Pagerwojo selalu menimbulkan kerugian materi maupun korban jiwa. Banyaknya kerugian yang dialami akibat tanah longsor terjadi karena penduduk di kecamatan ini tidak mengetahui daerah mana yang berpotensi terjadinya tanah longsor. Pemetaan daerah rawan terhadap tanah longsor merupakan langkah awal dalam pengurangan risiko bencana yang mutlak dilakukan untuk mengetahui persebaran daerah yang memiliki potensi terjadinya tanah longsor. Penelitian ini bertujuan untuk membuat peta bentuk lahan dan peta distribusi longsor, mengidentifikasi tipe, membuat peta agihan tingkat kerawanan longsor serta menganalisis pengaruh bentuk lahan terhadap kejadian longsor di Kecamatan Pagerwojo. Penelitian ini merupakan penelitian survey. Data dalam penelitian ini tekstur tanah, permeabilitas, indeks plastisitas, struktur batuan, tingkat pelapukan, kerapatan kekar dan kedalaman pelapukan, keterdapatan mata air/ rembesan, kemiringan lereng. Pengambilan data dengan teknik purposive sampling, dengan sampel bentuk lahan yang diperoleh dari interpretasi 3D peta kontur, geologi, dan kerja lapangan pada bentuk lahan yang sama diambil satu sampel. Tipe dan pengaruh bentuk lahan terhadap tanah longsor diperoleh dengan analisis deskriptif. Penentuan tingkat kerawanan tanah longsor ditetapkan berdasarkan hasil pengharkatan (scoring) terhadap parameter-parameter tanah longsor pada tiap-tiap satuan bentuk lahan. Hasil penelitian menunjukkan daerah penelitian memiliki 6 bentuk lahan dengan 4 tipe tanah longsor yang berkembang, yaitu jatuhan, robohan, aliran dan longsoran. Daerah penelitian dengan luas 88,22 Km2 memiliki 3 kelas kerawanan tanah longsor, yaitu rendah, menengah dan tinggi. Kelas kerawanan tinggi memiliki persentase 51,58 % dari seluruh luas daerah penelitian yang terdapat pada bentuk lahan lereng atas pegunungan dan lereng tengah pegunungan struktural berbatuan andesit basal, tingkat menengah dengan 47,22 % dari luas daerah penelitian terdapat pada bentuk lahan perbukitan denudasional serta lereng kaki pegunungan berbatuan andesit basal. Tingkat kerawanan rendah dengan persentase 1,2 % dari luas daerah penelitian terdapat pada bentuk lahan dataran aluvial. Tingkat kerawanan yang berbeda pada tiap bentuk lahan tersebut menunjukkan bahwa bentuk lahan suatu wilayah mempengaruhi tingkat kerawanan tanah longsor yang dimiliki daerah tersebut.

Implementasi metode Yates untuk penduga data hilang pada percobaan faktorial RAK (suatu pembanding dengan rancangan tidak seimbang) / Dewi Rofiqoh

 

Kata Kunci: Anova Faktorial RAK, Data Hilang, Metode Yates, Uji Tukey Anova faktorial RAK dengan data hilang memerlukan proses pendugaan. Salah satu metode penduga data hilang adalah dengan Metode Yates. Pada percobaan ini terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah tingkat penambahan kultur K. Lactis dan faktor kedua adalah tingkat penambahan susu bubuk skim, sedangkan responnya adalah kadar protein. Pada percobaan ini ada dua data hilang. Pembanding penduga data hilang adalah rancangan tidak seimbang. Hasil analisis menunjukkan penduga data hilang menggunakan metode Yates diperoleh nilai h1 (perlakuan kombinasi dari K3S1) adalah 3,921 dan h2 (perlakuan kombinasi dari K1S3) adalah 4,878. Pada hasil anova rancangan tidak seimbang faktor utamanya berpengaruh nyata terhadap kadar protein. Demikian pula pada hasil anova penduga data hilang. Jadi pada hasil anova dari rancangan tidak seimbang dan penduga data hilang tidak ada perbedaan. Berdasarkan hasil Uji Tukey terdapat perbedaan antara rancangan tidak seimbang dan penduga data hilang. Perbedaan faktor pertama adalah pada rancangan tidak seimbang rata-rata kadar protein (%) pengaruh dari kultur K. Lactis 3% dengan kultur K. Lactis 5% pada whey fermentasi adalah sama dengan tingkat kepercayaan 99%. Sedangkan pada penduga data hilang rata-rata kadar protein (%) pengaruh dari kultur K. Lactis 3% pada whey fermentasi berbeda dengan pengaruh kultur K. Lactis 5% dengan tingkat kepercayaan 99%. Perbedaan faktor kedua adalah pada rancangan tidak seimbang rata-rata kadar protein (%) pengaruh dari susu bubuk skim 0,5% dengan susu bubuk skim 1% pada whey fermentasi adalah sama dengan tingkat kepercayaan 99%. Sedangkan pada penduga data hilang rata-rata kadar protein (%) pengaruh dari susu bubuk skim 0,5% pada whey fermentasi berbeda dengan susu bubuk skim 1% dengan tingkat kepercayaan 99%.

Proses mengkonstruksi pengetahuan turunan berdasarkan komunikasi multiarah dan penyelesaian soal oleh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sumberpucung / Nopviani Eko Putri

 

Kata Kunci: Proses Mengkonstruksi Pengetahuan Turunan, Komunikasi Multiarah, Penyelesaian Soal Proses mengkonstruksi pengetahuan merupakan proses penyatuan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif seseorang dengan sistem kerja asimilasi dan akomodasi. Menurut Piaget, asimilasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang sudah terbentuk. Akomodasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru melalui pengubahan skema lama atau pembentukan skema baru untuk menyesuaikan dengan stimulus yang diterima. Guru dan siswa lain sebagai mediator atau fasilitator pembelajaran merupakan unsur penting dalam proses mengkonstruksi pengetahuan siswa. Oleh karena itu, antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa lain seharusnya terjadi komunikasi multiarah yang mana satu sama lain dapat menjadi komunikan sekaligus komunikator. Selain itu, siswa harus melakukan penyelesaian soal saat mengkonstruksi pengetahuan karena dengan menyelesaikan soal berarti siswa belajar untuk mengkaitkan ide. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Sumberpucung pada kelas XI IPA 2 dengan 3 siswa (dari 37 siswa) sebagai subjek penelitian. Oleh karena tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana proses mengkonstruksi pengetahuan turunan maka metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara langsung oleh peneliti kepada ketiga subjek penelitian. Saat wawancara, subjek diminta untuk mengungkapkan secara keras apa yang dipikirkan dalam menjawab pertanyaan. Setelah data diperoleh, peneliti menyusun satuan, mengkodekan, dan menggambar struktur proses mengkonstruksi pengetahuan turunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pengetahuan dapat dikonstruksi secara lengkap pada proses mengkonstruksi pengetahuan turunan berdasarkan komunikasi multiarah dan penyelesaian soal oleh ketiga subjek penelitian. Hal tersebut diperkirakan karena pengalaman subjek dalam memahami pengetahuan turunan masih sedikit. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan apabila dilakukan penelitian yang sejenis sebaiknya tidak menggunakan hanya satu acuan untuk pemilihan subjek penelitian agar diperoleh sample yang tepat sehingga dapat mewakili keseluruhan siswa.

Mewujudkan pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan dalam sistem organisasi sekolah (studi kasus di SMA Negeri 5 Kota Malang) / Ubaid Al Faruq

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E., (II) Dr. Sugeng Hadi Utomo Kata kunci: Pembelajaran, Ekonomi Lingkungan, Sistem Organisasi Sekolah. Pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan merupakan program pembelajaran ekonomi yang memasukkan dasar-dasar lingkungan hidup, agar peserta didik memiliki pengertian, kesadaran, sikap, dan perilaku rasional serta tanggung jawab terhadap masalah ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif, dalam hal ini peneliti adalah sebagai instrumen utama. Adapun subjek penelitian ini adalah para civitas akademik SMA Negeri 5 Malang. Dalam pengumpulan data, dipergunakan voice recorder, pedoman wawancara dan catatan lapangan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) makna pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan menurut para civitas akademik SMA Negeri 5 Malang adalah sebagai pembelajaran perilaku ekonomi siswa, terutama sikap dan tindakannya untuk tetap sadar terhadap lingkungan, mengetahui akibat yang ditimbulkan, agar terjadi keseimbangan antara manusia dan kebutuhannya, teknologi yang digunakan serta sumber daya alam yang ada; (2) tentang proses pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan di SMA Negeri 5 Malang dilaksanakan dalam 4 kegiatan, (a) kegiatan kurikuler yaitu kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam mata pelajaran ekonomi yang mengintegrasikan pengetahuan lingkungan hidup di dalamnya, bisa dalam bentuk pembelajaran di dalam kelas maupun praktek di luar kelas; (b) Kegiatan ekstrakurikuler, yaitu ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pokja (kelompok kerja), antara lain: pokja kompos, pokja jamur, pokja anggrek, dan UKS; (c) Mulok (muatan lokal) yaitu kegiatan pembelajaran diajarkan secara monolitik dalam bentuk mata pelajaran muatan lokal, antara lain: pendidikan lingkungan hidup, dan kewirausahaan; dan (d) Kegiatan yang dilakukan oleh personil sekolah lainnya yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pengelola kantin dan koperasi siswa, dengan beberapa aturan penjualan makanan yang tidak mengandung unsur-unsur kimia, bahan pengawet dan sejenisnya; (3) Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan di SMA Negeri 5 Malang yaitu (a) masalah pembiayaan, faktor ini adalah faktor utama yang menjadi kendala dalam pelaksanaan proses pembelajaran, karena tidak mungkin sekolah untuk meminta dana kepada siswa dengan alasan apapun ketika sekolah kekurangan biaya dalam pelaksanaan pembelajaran; (b) gaya hidup, gaya hidup siswa-siswi SMA yang bisa dikatakan sebagai anak remaja yang cenderung mudah terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan yang muncul dalam media elektronik seperti televisi yang kebanyakan memberikan contoh gaya hidup mewah dari kalangan selebriti, menjadi masalah tersendiri bagi proses pembelajaran, mereka cenderung meniru gaya hidup yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan dalam berperilaku ekonomi. Dari beberapa faktor yang menjadi kendala tersebut dibutuhkan solusi untuk mengatasinya, seperti dibutuhkan adanya kreativitas guru dalam memberikan pengajaran. Dari beberapa kegiatan tadi jelas dilakukan melalui sistem organisasi sekolah yang ada, antara lain, visi, misi, dan tujuan; kurikulum; kebijakan sekolah; dan ditunjang dengan fasilitas atau sarana dan prasarana yang ada. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa adanya tindakan untuk mendukung dan melaksanakan UU No 23 tahun 2009 tentang bermitra dalam gerak pembangunan berkelanjutan, salah satunya adanya program adiwiyata di sekolah yang bertujuan untuk menyadarkan peserta didik untuk memikirkan aspek lingkungan dengan mengintegrasikannya ke dalam tiap mata pelajaran ataupun secara monolitik. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diberikan adalah pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan di SMA Negeri 5 Malang seharusnya dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain, mengingat krisis ekologi yang sedang melanda negeri diakibatkan oleh perilaku ekonomi manusia yang tidak memperdulikan keseimbangan SDA yang ada, dan untuk para pelaksana pendidikan seharusnya lebih memperhatikan dan mendukung adanya pembelajaran ekonomi berwawasan lingkungan.

Pembuatan kemeja dengan hiasan tusuk hias / Sishayatul Hanifah Rohmiati

 

Katakunci: Kemeja, Hiasan, Pembuatan Kemeja Pembuatan kemeja ini mengikuti trend fashion 2011 yang mengexplor keindahan laut. Kemeja ini berwarna off white dengan motif transparan. Pemilihan warna untuk kemeja ini terinspirasi dari angel fish yang berwarna off white. Warna putih merupakan warna netral yang dapat dipadu padankan dengan warna apa saja. Hiasan yang digunakan berupa tusuk hias pada beberapa bagian motif . tusuk hias yang digunakan ada tiga macam yaitu tusuk jelujur, rantai, dan flannel. Alasan memilih tiga macam tusuk hias tersebut karena memiliki bentuk yang sederhana. Warna benang yang digunakan untuk membuat tusuk hias adalah warna biru yang terinspirasi dari air laut. Pada umumnya tusuk hias digunakan sebagai hiasan pada lenan rumah tangga dan busana wanita, masih jarang desainer yang menggunakan tusuk hias sebagai hiasan pada kemeja. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kemeja adalah bahan yang bertekstur kasar dan transparan. Langkah kerja dari pembuatan kemeja ini meliputi pembuatan desain, pola, pemotongan bahan, menjahit, menghias kemeja, dan pengepasan. Hasil yang diperoleh dari pembuatan kemeja ini adalah, kemeja yang berkesan mewah. Kemewahan nampak dari warna off white, selain itu hiasan berupa tusuk hias menambah keindahan pada kemeja.

Developing supplementary computer-based reading materials to improve the motivation of the eight graders of the International Program at SMP Negeri 3 Tulungagung / Desy Christanti

 

Key words: computer-based materials, reading, international standard class (SBI) curriculum This research was intended to develop supplementary computer-based reading materials to improve the motivation of eighth graders of international standard class of SMP Negeri 3 Tulungagung. Based on the preliminary study, the main course book used in the international standard class was used in the regular program.The book also does not suit with the curriculum for Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Moreover, the students had low motivation to read the text and do the tasks in the workbook. Therefore, the product of this research is expected to overcome these problems by providing interactive and fun materials. This research used an adapted research and development (R&D) of the systematic instructional design by Dick and Carey (2001). In this model, the procedures consists of seven steps: (1) needs analysis, (2) developing reading materials, (3) developing computer-based reading materials, (4) expert validation, (5) revision I, (6) try out, and (7) revision II. The materials consist of six units, i.e., nature, adventure, history, fiesta, honesty, and water aid. As the result, the materials are put in an autorun installer CD-ROM which is necessary to facilitate the materials to be installed in the hard disk and to make it run faster. Thus, the product fulfilled three ideal criteria: (1) students' needs, (2) the curriculum of Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), and (3) the design of the product. The first criterion was to make sure that the product was developed based on the students' needs. Therefore, the collected data from the try out was as an evaluation to know whether the product fulfilled their needs. The second criterion, the curriculum, was used to evaluate whether the product achieved the reading requirement in the international schools, especially in presenting the texts types. The texts types for international schools were divided into three: description, recount, narration, and exposition. The third criterion was the design of the product. Dealing with the students' motivation, the product presented the various navigations such as the main menu, back, next, and exist that were used to directly move through every scene and provided with the various tasks and feedback. In addition, this product design was intermediate level that increased the interaction between the students and the computer. Moreover, the result of the try-out showed that the students likes and enjoyed the tasks in the materials. They were interested in the computer-based application which consisted of videos, pictures and animations. It means that the computer-based reading materials are able to improve the students' motivation. Thus, the use of supplementary computer-based reading materials is expected to bring a positive impact to the teaching and learning reading so the learning process will be more fun. It is also expected that the materials can be an alternative media since the media used are still limited to the coursebook or workbook.

Pengaruh kualitas pelayanan dan nilai nasabah terhadap kepuasan nasabah BMT Makmur Sejahtera Wlingi / Asril Reza Yusniar

 

Kata kunci : bahan ajar, inkuiri terbimbing, hidrolisis garam Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 telah menjelaskan bahwa mata pelajaran kimia perlu diajarkan untuk tujuan yaitu membekali siswa dengan pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Tujuan mata pelajaran kimia dicapai oleh siswa melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan mata pelajaran kimia tersebut, maka diperlukan pengembangan bahan ajar yang menggunakan pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri sebagai sarana pendukung proses pembelajaran. Oleh karena itu dilakukan penelitian pengembangan bahan ajar materi hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI IPA SMA/MA. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Produk yang dihasilkan berupa bahan ajar. Rancangan pengembangan yang digunakan adalah rancangan Borg dan Gall yang diadaptasi oleh Sukmadinata. Tahapan yang dilakukan adalah: (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji coba lapangan awal. (5) merevisi hasil uji coba, (6) uji lapangan skala kecil, dan (7) revisi hasil uji coba lapangan. Draf hasil pengembangan divalidasi oleh 3 validator ahli dan dilakukan uji keterbacaan oleh 10 orang siswa. Instrumen validasi dan uji keterbacaan yang digunakan berupa angket. Data hasil validasi terdiri dari dua jenis, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar kimia pada materi pokok hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI IPA SMA/MA. Bahan ajar ini terdiri dari 3 bagian, yaitu: (1) bagian pendahuluan, (2) bagian isi dan (3) penutup. Pada bagian pendahuluan terdapat beberapa komponen yaitu: (1) halaman muka (cover), (2) kata pengantar, (3) daftar isi, (4) daftar gambar, (5) daftar tabel, (6) petunjuk penggunaan bahan ajar, (7) halaman SK, KD, sub materi, dan indikator, serta (8) peta konsep. Pada bagian isi terdapat dua komponen yaitu bagian pengantar dan uraian sub materi pokok. Pada bagian penutup terdapat beberapa komponen, yaitu: (1) latihan soal, (2) ulangan harian, (3) kunci soal latihan, (4) kunci soal ulangan harian, (5) daftar istilah dan (6) daftar pustaka. Hasil validasi bahan ajar oleh ahli menunjukkan persentase rata-rata sebesar 88,2% dan uji keterbacaan pada siswa menunjukkan persentase rata-rata sebesar 79,4%. Hasil validasi dan uji keterbacaan menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan ini valid pada berbagai kriteria penilaian dan tidak memerlukan perubahan yang mendasar. Bahan ajar ini layak untuk digunakan sebagai bahan ajar pada kelas XI IPA SMA/MA.

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani materi lari jarak pendek kelas X di SMK Negeri 6 Malang / Brian Kresna Adityawan

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Pendidikan Jasmani, Lari Jarak Pendek Lari jarak pendek merupakan salah satu materi pelajaran pendidikan jasmani yang diberikan oleh guru kepada siswa. SMK Negeri 6 malang merupakan salah satu sekolah yang memberikan materi lari jarak pendek dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani khususnya di kelas X. Dalam pelaksanaan pembelajaran materi lari jarak pendek guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, tetapi pada kenyataannya tidak semua guru telah menguasai pelaksanaan pembelajaran dengan baik. Maka dari itu, perlu adanya studi tentang pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani materi lari jarak pendek kelas X di SMK Negeri 6 Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan persentase yang bertujuan mengetahui pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani materi lari jarak pendek kelas X di SMK Negeri 6 Malang. Pendekatan persentase diharapkan dapat mempermudah dalam menyajikan data yang diperoleh dari beberapa variabel yaitu : tahap perencanaan, tahap pendahuluan, tahap inti dan tahap penutup. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa diperoleh hasil persentase tahap perencanaan diperoleh hasil 60 % yang berarti cukup baik, tahap pendahuluan diperoleh hasil 56,25% yang berarti cukup baik, tahap inti diperoleh hasil 75% yang berarti cukup baik dan pada tahap penutup diperoleh hasil 50% yang berarti kurang baik. Dari seluruh aspek diperoleh rata-rata 60,31%, dengan demikian secara keseluruhan pelaksanaan pembelajaran pendidkan jasmani materi lari jarak pendek kelas X di SMK Negeri 6 Malang sudah dilaksanakan dengan cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan adalah dalam perencanaaan/kegiatan awal hendaknyya guru menyiapkan program tahuan, program semester, rencana pekan efektif, RPP, silabus serta sarana dan prasarana, dalam tahap pendahuluan hendaknya guru memberikan pemanasan yang sesuai dengan kebutuhan lari jarak pendek, serta bisa diberikan pemanasan yang berupa permainan, Dalam tahap inti guru lebih variatif dalam memberikan dan menyampaikan materi lari jarak pendek agar siswa lebih antusias dan semangat dalam menjalankan materi lari jarak pendek, dan dalam tahap penutup guru hendaknya memberikan pendinginan agar siswa mampu memulihkan kembali otot-otot setelah beraktivitas, guru juga harus memberikan evaluasi serta penugasan kepada siswa setalah materi lari jarak pendek berakhir.

Peningkatan kemampuan menulis karangan melalui sharing media kliping berita pada siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Kota Malang / Puji Tri Atmoko

 

Kata Kunci: Kemampuan Menulis Karangan, Sharing Media Kliping Berita SD. Kemampuan menulis karangan adalah kecakapan siswa untuk menulis karangan dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dan unsure karangan (5W+1H) terdiri dari (What) apa yang dijelaskan, (Where) dimana setting/lokasi/tempatnya, (When) kapan peristiwa-peristiwa/kejadian berlangsung, (Why) apa tujuan memaparkan data tersebut, (How) bagaimana cerita itu dipaparkan). Hasil observasi di SDN Ketawanggede I kota Malang di kelas IVmenunjukkan masih banyak siswa yang belum mampu menulis secara benar. Mereka masih kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah paragraf yang utuh dan padu, siswa kurang paham dengan penggunaan ejaan dan tanda baca, siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan sebuah peristiwa secara runtut. Oleh Karena itu diperlukan pembahasan mengenai menulis karangan melalui sharing Media Kliping Berita. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : (1) penerapan menulis karangan dengan menggunakan Sharing Media Kliping Berita pada siswa kelas IV SDN Ketawanggede I kota Malang; (2) Peningkatan kemampuan menulis karangan siswa dengan menggunakan Sharing Media Kliping Berita. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Pada penelitian ini menggunakan model peneliti sebagai guru dengan kerjasama kepada guru kelas sebagai observer pada saat peneliti melaksanakan tindakan (mengajar). Subyek penelitian ini adalah siswa SDN Ketawanggede I kota Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Tahapan dalam siklus tersebut dituangkan dalam tiap tahapan proses penulisan, yang terdiri dari prapenulisan, penulisan, dan penyuntingan. Dalam penerapan pelaksanaan tindakan diterapkan tahapan-tahapan model Sharing Media Kliping Berita yang terdiri dari menilai karangan, sharing media antar kelompok, presentasi, dan penulisan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis karangan siswa meningkat yang dapat dilihat pada sebelum tindakan ketuntasan klasikal belajar siswa sebesar 27%, pada siklus I ketuntasan klasikal belajar siswa sebesar 58%, dan pada siklus II menunjukkan ketuntasan klasikal belajar siswa sebesar 100% dari KKM (66). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran Sharing Media Kliping Berita kemampuan siswa dalam pembuatan judul, pemaparan informasi, ketepatan penulisan EYD, dan kesatupaduan dalam menulis karangan semakin meningkat dari siklus ke siklus berikutnya. Karangan yang ditulis siswa menjadi lebih baik, lengkap, susunan paragrafnya beruntun dari kalimat satu ke kalimat yang lain, serta pola pengembangan isinya tepat. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru untuk pembelajaran menulis karangan, siswa dapat mengembangkan kemampuan menulis karangan tidak hanya pada menulis berita tetapi juga menulis jenis karangan yang lain, bagi peneliti selanjutnya penelitian ini dapat dikembangkan dengan jenis yang lain.

Pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja (studi pada karyawan bagian tanaman PG. Kebon Agung, Malang) / Fajar Bayu Ardiansyah.

 

Kata Kunci: Budaya Organisasi, Kepuasan Kerja Budaya organisasi penting, karena merupakan kebiasaan-kebiasan yang terjadi dalam hirarki organisasi yang mewakili norma-norma perilaku yang diikuti oleh para anggota organisasi. Kesesuaian antara nilai individu dengan nilai organisasi akan menghasilkan kepuasan kerja pada diri karyawan. Adanya kesesuaian antara nilai pribadi dengan nilai perusahaan akan menimbulkan kepuasaan kerja. Lebih jauh diungkapkan bahwa budaya organisasi membantu perkembangan pemberdayaan karyawan dan rasa percaya pada pihak manajemen sehingga berhubungan dengan kepuasan kerja yang tinggi. Dari hasil wawancara dengan sumber, dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja karyawan bagian tanaman terbilang baik, hal ini juga dapat dilihat dari data tentang lama bekerja karyawan bagian tanaman yang rata-rata telah bekerja selama 8 tahun pada pabrik ini. Hal ini menarik penulis untuk meneliti apakah faktor yang menyebabkan kepuasan kerja karyawan bagian tanaman adalah budaya organisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan bagian tanaman pada PG. Kebon Agung, Malang yang berjumlah 60 orang. Metode dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja karyawan bagian tanaman PG. Kebon Agung, Malang juga diakibatkan dari adanya pengaruh budaya organisasi yang kuat. Budaya organisasi dalam perusahan biasa disebut juga budaya perusahaan. Budaya organisasi mempunyai pengaruh yang kuat untuk dapat membentuk perilaku dengan dengan memberi anggota organisasi rasa identitas, membangun pengakuan, yang berujung pada kepuasan kerja karyawan, dan selain itu, apabila budaya organisasi ini dapat terpenuhi, maka suatu budaya dengan karakteristik tertentu, umpamanya budaya organisasi yang tinggi atau kuat akan dapat dibentuk di dalam suatu organisasi. Pengertiannya, budaya yang terbentuk akan menjadi landasan filosofis bagi organisasi, kelompok didalam organisasi, dan individu di dalam organisasi untuk berperilaku dan bertindak, yang pada akhirnya dapat membentuk performa dan kepuasan kerja karyawan yang tinggi. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, dewasa ini kepuasan kerja seseorang karyawan tidak semata-mata dipengaruhi dari faktor besarnya gaji saja akan tetapi faktor intangible seperti budaya organisasi yang kuat juga dapat mempengaruhi kepuasan kerja.

Pengaruh penerapan model pembelajaran learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa kels XI IPA SMA Negeri 4 Malang pada materi pokok hidrolisis garam / Nikmatur Rohmah

 

Kata Kunci: Model pembelajaran Learning Cycle 5E, Hasil Belajar. Pembelajaran kimia di SMA Negeri 4 Malang umumnya masih menggunakan pembelajaran konvensional, sehingga dalam proses pembelajarannya guru berperan sebagai pusat pembelajaran. Standar Ketuntasan Mininmal (SKM) di SMA Negeri 4 Malang pada mata pelajaran kimia adalah76. Berdasarkan SKM tersebut dapat diketahui bahwa persentase ketuntasan siswa yang memenuhi SKM adalah kurang dari 70% dan yang berada di bawah SKM lebih dari 30%. Oleh karena itu untuk meningkatkan persentase ketuntasan siswa yang memenuhi SKM diperlukan inovasi dan kreativitas guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E (LC 5E). Pemilihan model pembelajaran ini didasarkan pada kesesuaian model pembelajaran LC 5E dengan karakteristik materi hidrolisis garam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran LC 5E dengan siswa yang pembelajarannya menggunakan metode konvensional pada materi hidrolisis garam. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasy experimental design). Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI IPA SMA Negeri 4 Malang tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 5 kelas mulai dari XI IPA 1 sampai XI IPA 5 dengan rata-rata tiap kelas terdiri dari 33 siswa. Penentuan kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan secara acak sehingga diperoleh kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 4 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E dan kelas kontrol menggunakan metode konvensional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen pembelajaran (silabus, RPP) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar dan lembar observasi). Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik kuantitatif berupa uji hipotesis (uji t) dengan signifikansi α = 0,05. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Window. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E lebih tinggi daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan metode konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata dan persentase ketuntasan kelas ekperimen lebih tinggi dibanding dengan kelas kontrol yaitu 84,61 dan 75,75 untuk kelas eksperimen dan 75,88 dan 60,60 untuk kelas kontrol.

Pengaruh metode pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap prestasi belajar kimia dan persepsi siswa SMK Negeri 4 Malang pada materi reaksi reduksi oksidasi / Nita Febriyawati

 

Kata kunci: Metode Inkuiri Terbimbing, Prestasi Belajar, Persepsi. Dalam pembelajaran di sekolah, ilmu kimia merupakan materi yang sulit dipahami berdasarkan ciri-ciri di dalamnya. Untuk dapat menguasai materi kimia dengan konsep-konsep yang abstrak dan sulit dipahami oleh siswa, siswa harus dilibatkan dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang menekankan penemuan konsep dalam memberikan pengalaman belajar kepada siswa adalah metode pembelajaran inkuiri terbimbing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terhadap perbedaan prestasi belajar antara siswa yang dibelajarkan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode konvensional dan persepsi siswa terhadap penggunaan metode inkuiri terbimbing dalam materi reaksi reduksi oksidasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dan deskriptif. Rancangan semu untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rancangan deskriptif untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan metode pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 4 Malang semester genap tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 28 kelas. Sampel penelitian ini adalah kelas X Persiapan Grafika-B sebagai kelas eksperimen dan kelas X Persiapan Grafika-D sebagai kelas kontrol yang diambil dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2011. Kelas eksperimen menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing sedangkan kelas kontrol menggunakan metode konvensional. Instrumen penelitian berupa soal tes dan angket. Tes berupa soal dengan bentuk pilihan ganda terdiri dari 25 butir soal yang valid, dengan reliabilitas sebesar 0,729. Analisis yang dilakukan adalah analisis statistik uji-t menggunakan bantuan SPSS 16,0 for Windows dengan signifikansi 0,05 dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode konvensional (t hitung = 2,176 > t tabel = 1996) pada taraf signifikansi 0,05. Rata-rata prestasi belajar kelas eksperimen sebesar 68,1 lebih tinggi daripada kelas kontrol sebesar 64,3. Dalam analisis deskriptif, diperoleh persepsi siswa dengan kategori sangat positif sebesar 19%, kategori positif sebesar 81%.

Pengembangan buku model pelatihan renang gaya bebas tanpa alat untuk kelas VII dalam ekstrakurikuler renang di SMP Negeri 18 Malang / Ernanda Fiki Harry Jaya

 

Kata Kunci: Pengembangan Buku Model Pelatihan Renang Gaya Bebas Tanpa Alat Di dalam olahraga renang ada empat gaya umum yang digunakan, diantaranya adalah gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan gaya dada. Dilihat dari segi manfaatnya renang juga bisa menjadi sarana penunjang bagi siswa untuk bergerak dengan bebas dengan tujuan utamanya adalah untuk membekali siswa dengan sebuah keterampilan hidup, atau keterampilan untuk mengisi waktu senggang dengan renang yang menyehatkan. Kemudian dilihat dari aspek psikologis dan segi sosialnya berenang banyak bermanfaat bagi kehidupan anak. Dilihat dari aspek psikologis, berenang bagi anak memiliki nilai yang khas dan meluas cakupannya, yaitu memupuk keberanian dan perasaan mampu serta percaya diri, disamping untuk membangkitkan suasana kegembiraan yang tidak dijumpai dalam aktifitas jasmani lainnya, “dari segi sosial, yakni manakala ada orang yang memerlukan pertolongan akibat kecelakaan dalam air (misalnya, karena banjir, perahu tenggelam) maka orang yang terampil berenang akan dapat membantunya (Rusli Lutan dkk, 2002:168). Telah diketahui sendiri bahwa di SMP telah ada meteri renang. Dalam ekstrakurikuler renang di SMP Negeri 18 Malang yang dilaksanakan di kolam renang Permata Jingga yang kedalamannya hanya 1.20 m. Pelatih renang di SMP Negeri 18 Malang menerapkan model pelatihan renang tanpa alat dan ada 4 gaya yang diajarkan, yaitu gaya bebas, gaya punggung, gaya kupu-kupu, dan gaya dada. Namun pada prakteknya, untuk melakukan pelatihan renang, terutama gaya bebas masih mengalami kesulitan, khususnya anak kelas VII. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor model pelatihan yang diajarkan kurang variatif, dan disamping itu pelatihan yang dilakukan adalah pelatihan renang tanpa alat sehingga anak kesulitan untuk belajar teknik renang gaya bebas. Untuk itu peneliti perlu melakukan suatu cara agar anak kelas VII bisa lebih mudah mengusai teknik pelatihan renang gaya bebas. Dan peneliti melakukan suatu cara berupa “Pengembangan Buku Model Pelatihan Renang Gaya Bebas Tanpa Alat Untuk Kelas VII Dalam Ekstrakurikuler Renang Di SMP Negeri 18 Malang ”, dan diharapkan dengan adanya buku model pelatihan renang gaya bebas tanpa alat, siswa bisa lebih cepat menguasai cara latihan berenang gaya bebas dengan tanpa alat. Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall (1983:775). Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara kuesioner berupa angket yang diberikan kepada 1 ahli renang dan 1 ahli media serta siswa yang berisi pertanyaan tentang isi Buku Model Pelatihan Renang Gaya Bebas Tanpa Alat dengan mengacu pada metode atau prosedur yang telah ditentukan. Data pada Pengembangan Buku model pelatihan renang gaya bebas tanpa alat ini adalah data kuantitatif, karena data yang diperoleh dinyatakan dengan angka bukan kalimat. Data analisis tersebut diperoleh dengan cara memberi skor pada kuesioner yang diberikan., dimana hasil data uji coba kelompok kecil adalah 92,95% dan untuk uji lapangan (kelompok besar) adalah 98,97%. Serta untuk klasifikasi persentase secara keseluruhan pengembangan buku model pelatihan renang gaya bebas tanpa alat adalah persentase dengan hasil baik.

Redesain Corporate Identity Naughty Horny Cloth / Denny Cahya Saputra

 

Sebuah perusahaan yang mempunyai citra dipengaruhi oleh sebuah desain yang berhubungan dengan perusahaan tersebut, apakah perusahaan tersebut terlihat elegant, bonafit, murahan ataupun kampungan dipengaruhi oleh bentuk desainnya. Naughty Horny Cloth. memiliki suatu kelemahan dalam desainnya, terutama pada desain logo Naughty Horny Cloth. yang terkesan terlalu vulgar dan mengarah pada pornografi. Logo Naughty Horny Cloth. tersebut menjadikan konsumen merasa risih dan enggan untuk membeli produk Naughty Horny Cloth. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan perancangan ini adalah untuk mendeskripsikan redesain logo Naughty Horny Cloth. serta aplikasi logo tersebut pada atribut perusahaan dan media promosi. Perancangan Redesain Corporate Identity Naughty Horny Cloth. ini menggunakan model perancangan deskriptif. Prosedural penyusunan yang digunakan adalan menggunakan prosedur Surianto Rustan yang telah dimodifikasi. Teknik dalam pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket. Berdasarkan analisis data, secara keseluruhan dapat kita lihat bahwa Naughty Horny Cloth. adalah perusahaan yang berkembang, namun dengan banyaknya perusahaan sejenis dan juga logo lama Naughty Horny cloth yang berkesan vulgar mengakibatkan Naughty Horny Cloth. memiliki image negative dimata konsumen. Oleh sebab itu, perusahaan memerlukan adanya visualisasi identitas baru yang tidak vulgar dan menjadi pembeda dari para pesaingnya. Melalui pembedaan tersebut maka terbentuk wujud perusahaan dalam benak masyarakat dan diharapkan dapat menaikkan citra perusahaan. Dalam konsep perancangannya, diciptakan logo baru dari inisial Naughty Horny Cloth yaitu menjadi NH Cloth. diharapkan semakin menghilangkan citra negative Naughty Horny, hal ini didukung dengan model gaya desain yang simple minimalis, yaitu dengan typografi yang didukung dengan tiga buah panah yang menunjukkan arah perusahaan untuk semakin maju. diharapkan secara keseluruhan mampu mengangkat citra positif, termasuk didalamnya berupa system stationery, poster, amplop, kartu nama, dan x-banner. Sehingga mampu memancarkan sebuah refleksi citra bisnis yang baik dari Naughty Horny Clothing. Hasil dari perancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengadakan redesain sebuah corporate identity, baik bagi mahasiswa, desainer grafis, pengajar, dan lain sebagainya

Penerapan model snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IVB SDN Tlogomas 02 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Wahyu Sri Indarti

 

Kata Kunci: Snowball Throwing, Hasil Belajar, PKn SD Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada kelas IVB SDN Tlogomas 02 Malang pembelajaran PKn, didapatkan fakta bahwa pembelajaran seutuhnya masih dijelaskan oleh guru, dan terlihat kurang aktif bertanya. Hasil belajar sswa belum memenuhi KKM yang telah ditetapkan yaitu 70,00. Oleh karena itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran PKn perlu diadakan perbaikan salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran. Model pembelajaran snowball throwing merupakan model yang berbentuk permainan yang dilakukan secara berkelompok antara 4-6 siswa. Kemudian membuat pertanyaan pada kertas yang diremas membentuk bola salju. Selanjutnya dilempar pada kelompok lain untuk dijawab. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas atau classroom research. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan diskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Data yang dipaparkan meliputi data tahap pra tindakan, pelaksanaan siklus I dan pelaksanaan siklus II. Penelitian dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari 1 kali pertemuan. Langkah kegiatan pembelajaran sesuai dengan model snowball throwing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menggunakan model snowball throwing, persentase ketuntasan klasikal 33,3% dengan rata-rata kelas 43,8. Setelah menggunakan model snowball throwing pada siklus I, persentase ketuntasan klasikal 57,1% dengan rata-rata kelas 67,6. Sedangkan pada siklus II, persentase ketuntasan klasikal 85,7% dengan rata-rata kelas 80,1. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran snowball throwing dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran PKn siswa kelas IVB dan penerapan model snowball throwing. Jika guru mengajar dengan jumlah siswa yang besar, perlu persiapan dengan matang semua perangkat pembelajaran. Sedangkan bagi peneliti lain, penelitian ini masih terdapat kekurangan namun dapat digunakan sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Studi tentang pembelajaran melukis dengan memanfaatkan model wayang klasik menjadi wayang kreasi mata pelajaran seni budaya kelas IX SMP Negeri 2 Sutojayan di Kabupaten Blitar / Herman Aswindra Kosasih

 

Kata kunci: pembelajaran, wayang klasik, wayang kreasi Budaya dimiliki oleh sebuah kelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi dan selalu mengalami perkembangan. Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan dari belajar yaitu berupa perubahan pengetahuan, tingkah laku, dan sikap siswa baik sebagian maupun seluruhnya melalui serangkaian pengalaman belajar. Proses pembelajaran meliputi tiga tahapan, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persiapan, penyampaian, pelaksanaan hasil karya faktor pendukung dan kendala pembelajaran melukis dengan memanfaatkan model wayang klasik menjadi wayang kreasi mata pelajaran seni budaya. Penelitian ini beerkaitan dengan standar kompetensi mengapresiasi karya seni terapan dan mengekspresikan diri melalui karya seni terapan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan analisa induktif. Dilakukan di kelas IX SMP Negeri 2 Sutojayan, pada bulan Januari dan Februari 2011. Teknik yang dilakukan peneliti dalam mengumpulkan data dilakukan dengan wawancara dengan guru seni budaya dan observasi lapangan.Wayang merupakan salah satu wujud kebudayaan yang bersifat fisik (material). Dalam pembelajaran melukis yang diteliti adalah aktivitas guru dalam mengajar, meliputi: pencapaian kompetensi, penerapan metode, penggunaan media, dan pengelolaan kelas, sedangkan untuk aktifitas siswa dalam belajar, sebagai hasil pengajaran guru meliputi: perhatian dan kinerja siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Persiapan pembelajaran materi melukis dengan memanfaatkan model wayang klasik menjadi wayang kreasi sesuai dengan standart kompetensi ekspresi dan apresiasi karya seni terapan dalam kurikulum KTSP; 2) Guru dalam melaksanakan pembelajaran telah menciptakan suasana yang menggairahkan dan rancangan yang dinamis untuk menata pembelajaran; 3) Media pembelajaran yang digunakan dapat memperjelas penyajian pesan, dan mengirim pesan dari guru ke siswa serta sesuai dengan koridor kompetansi dasar yang ingin dicapai.; 4) Faktor pendukung pembelajaran ini adalah keluarga karena siswa bisa menghargai karya budaya bangsa dirinya, sekolah karena sesuai dengan visi sekolah materi wayang kreasi juga selalu dimasukan dalam kalender sekolah dan masyarakat karena dengan pembelajaran tersebut diharapkan siswa semakin mencintai budaya bangsanya ;5) Adapun yang menjadi faktor kendala adalah permainan game playstation yang dimainkan oleh siswa secara berlebihan sehingga mengganggu rutinitas waktu belajar.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui strategi Direct Reading Thinking Activities (DRTA) di kelas III SN Sumberbendo I Kabupaten Kediri / Ari Kusuma Wijayanti

 

Kata Kunci: membaca pemahaman, direct reading thinking aktivities Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas III SDN Sumberbendo I kabupaten Kediri, kegiatan membaca pemahaman isi bacaan yang dilakukan oleh guru masih menggunakan metode tradisional, yaitu baca dan kerjakan. Guru menyuruh siswa membaca bacaan dari buku teks, dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dan membahas secara bersama-sama. Kegiatan seperti ini sudah menjadi rutinitas belajar mereka di sekolah. Guru menggunakan metode yang kurang menarik dalam pembelajaran tersebut mengakibatkan siswa menjadi bosan dan ada pula yang mengantuk. Berdasarkan hasil tes menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar hanya 46%. Untuk itulah diperlukan alternatif perbaikan salah satunya adalah dengan strategi Direct Reading Thinking Aktivities (DRTA). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui penerapan strategi Direct Reading Thinking Aktivities dalam pembelajaran membaca pemahaman di kelas III SDN Sumberbendo I kabupaten Kediri dan untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa kelas III SDN Sumberbendo I kabupaten Kediri melalui strategi Direct Reading Thinking Aktivities. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: (1) Penerapan strategi Direct Reading Thinking Aktivities dalam pembelajaran membaca pemahaman di kelas III SDN Sumberbendo I kabupaten Kediri siswa menjadi lebih mudah mengingat dan memahami isi bacaan, dan (2) Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas III SDN Sumberbendo I kabupaten Kediri melalui strategi Direct Reading Thinking Aktivities mengalami peningkatan, yaitu ketuntasan hasil belajar dari pratindakan sampai siklus II meningkat sebesar 44%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar siswa membaca teks bacaan dengan berkonsentrasi supaya siswa dapat memahami isi bacaan dengan benar dan dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran serta guru dalam mengajak siswa memprediksi isi bacaan terlebih dahulu menentukan hal-hal penting yang akan disampaikan kepada siswa supaya terdapat kesesuaian urutan cerita antara hasil prediksi siswa dengan isi bacaan.

Keefektifan konseling realita untuk meningkatkan pengendalian perilaku siswa di SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung / Dewi Ratih Nuraini

 

Kata Kunci: Konseling Realita, pengendalian perilaku Pengendalian perilaku perlu dimiliki oleh remaja. Namun kenyataannya banyak di antara remaja mudah diliputi rasa cemas dan penuh dengan rangsangrangsang negatif yang lebih sering dikenal dengan istilah “kenakalan remaja”. Salah satu pendekatan konseling yang efektif untuk meningkatkan pengendalian perilaku adalah menggunakan Konseling Realita. Sejauh mana keefektifannya diperlukan uji empirik melalui penelitian. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan Konseling Realita terhadap peningkatan pengendalian perilaku siswa di SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung. Sedangkan hipotesis yang digunakan adalah Penerapan Konseling Realita efektif untuk meningkatkan pengendalian perilaku siswa di SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Jumlah subjek yang diambil sebanyak 5 siswa yang mempunyai pengendalian perilaku rendah. Data diperoleh melalui subjek, menggunakan inventori pengendalian perilaku yang telah diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir dan uji reliabilitas dengan didapatkan r alpha sebesar 0, 766> r tabel 0, 316. Analisis hasil penelitian menggunakan statistic nonparametric dengan menggunakan uji beda Wilcoxon (The Wilcoxon Signedranks test). Dari hasil penghitungan uji beda dengan formula wilcoxon didapatkan nilai Z wilcoxon sebesar -2,060 dengan probabilitas (p) atau signifikansi (α) sebesar 0,039. Oleh karena nilai Z wilcoxon memiliki probabilitas (p) atau signifikansi (α) kurang dari 0,05 (p < 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor data pengendalian perilaku sebelum dan setelah pemberian treatmen, sehingga dapat disimpulkan bahwa Konseling Realita efektif untuk meningkatkan pengendalian perilaku siswa di SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lanjutan serupa dengan menggunakan teknik-teknik Konseling Realita yang lain sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan. (2) Dapat menambah waktu/sesi konseling pada setiap konseli. (3) Follow up dapat dilakukan oleh peneliti sendiri, bukan wawancara.

Penerapan pendekatan sains teknologi masyarakat untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Kebonsari 4 Kota Malang / Windra Septi Mulyanti

 

Kata Kunci : Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Pembelajaran IPA di SD menekankan pemberian pengalaman belajar langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pendekatan STM merupakan cara pandang bahwa siswa belajar, menyusun pengetahuan, melalui interaksi pribadi antara pengalaman dengan skema pengetahuannya Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaran IPA kelas III SDN Kebonsari 4 Kota malang dapat disimpulkan bahwa 1) guru kurang kreatif dalam menerapkan pendekatan pembelajaran, 2) media pembelajaran dan sumber belajar kurang variatif dan inovatif, 3) dalam skenario kegiatan pembelajaran keaktifan siswa kurang nampak dan 5) kepedulian siswa terhadap masyarakat dan lingkungannya rendah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pendekatan STM pada pembelajaran IPA, dan peningkatan aktivitas dan hasil belajar melalui penerapan pendekatan STM pada pembelajaran IPA kelas III SDN Kebonsari 4 Kota Malang. Penelitain ini menggunakan pendekatan PTK. Tahapan penelitian ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Waktu penelitian bulan Pebruari sampai dengan Mei 2011 semester 2 tahun pelajaran 2010/2011. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Kebonsari 4 Kota Malang sejumlah 40 siswa yang terdiri dari siswa laki-laki 19 dan siswa perempuan 21. Teknik-teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi Hasil penelitian ini adalah pada siklus-1 rerata aktivitas belajar mencapai 6,68 dan siklus-2 mencapai 7,83 yang berarti meningkat sebesar 1,15. Sedangkan pada siklus-1 rerata hasil belajar mencapai 7,24 dan siklus-2 mencapai 8,11 yang berati meningkat 0,87. Ketuntasan pada siklus-2 mencapai 100%. Penerapan pendekatan sains teknologi masyarakat dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pembelajaran IPA pada kelas III di SDN Kebonsari 4 kota Malang. Dengan demikian disarankan kepada guru hendaknya menerapkan pendekatan sains teknologi masyarakat khususnya dalam mata pelajaran IPA. Karena dapat menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan bahan pertimbangan dan acuan dalam penelitian selanjutnya.

Pembelajaran seni tari anak melalui kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Dasar Ummu Aiman Lawang / Putri Setianing Kinanti

 

Kata kunci: Pembelajaran, TariAnak, Ekstrakurikuler Pembelajarandiartikansebagaisuatu proses menciptakanlingkungansebaik-baiknya agar terjadikegiatanbelajar yang berdayaguna. Ekstrakurikulermerupakankegiatan yang sejalandenganpendidikan formal, maksudnyakegiatan yang diselenggarakan di sekolahtetapi di luar jam pelajaranpedidikan formal.Kegiatanekstrakurikuler yang di pilihsebagaiobyekpenelitianadalahTariAnakdimanakegiatansenibagiseoranganakmerupakansebuahbagian yang melekatdarikehidupan.Dengansenianakdapatmengungkapkankemauandanimajinasinya,Penelitianinibertujuanuntukmendeskripsikanmetodedan media pembelajaran, evaluasihasilpembelajaran, faktorpendukungdanpenghambatsenitarianakmelaluikegiatanekstrakurikuler, khususnya di SD UmmuAimanLawang.Penelitianinimenggunakanpendekatandeskriptifkualitatifdenganteknikpengumpulan data berupaobservasidanwawancara.Analisis data dilakukansecarabersamaanpadasaatpenelitiandengantahap-tahappenelitiansebagaiberikut: tahappengumpulan data, tahapreduksi, tahappenyajian data, tahappenarikansimpulan/verifikasi. Penelitimengambillokasipenelitian di SD UmmuAimanLawangdenganinforman guru pembimbingkegiatanekstrakurikulerdankegiatanpembelajaranekstrakurikulersertafotohasildokumentasi. Prosedurpengumpulan data dilakukanberdasarkanjenis data antaralainobservasilangsungdanwawancara. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa :Penerapanmetodedalampenyajianmaterimenggunakanmetode yang bervariasimeliputi : guru menggunakanmetodeceramah, tanyajawab, demonstrasi, mencontoh, penugasan. Kesemuanyaitudilakukanoleh guru sebagaicarauntukberinteraksidengansiswauntukmendukung proses pembelajaran.Padatahapevaluasihasilbelajarmeliputitigaunsurpenilaianyaitupenilaianunsurgerak, polalantai, danketepataniringanmusik.Faktor yang mendukung proses pembelajaranekstrakurikuleradalahadanyaruanguntukkegiatanekstrakurikulertarisedangkanuntukfaktorpenghambatpembelajaranadalah guru pengajarekstrakurikulertarihanyasatu orang sehinggaapabilatidakmasukakanmenghambat proses pembelajaranekstrakurikulertarimenjaditerhenti, disampingituwaktupelaksanaanekstrakurikulerjugabersamaansehinggadapatmenggangguantarapembelajaranekstrakurikuler yang satudengan yang lain. DarihasilpenelitianpembelajaranTariAnakdalamkegiatanekstrakurikuler di SD UmmuAimanLawang, kiranyapihaksekolahdapatmenambahtenagapengajarekstrakurikulertariagar pembelajarankegiatanekstrakurikulerdapatberjalanlebih optimal sehingganantinyadapatmemberikanprestasidalambidangsenibagisekolah.

Pengembangan modul pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk kelas VIII semester genap SMP Negeri 18 Malang / Ichwan Dwitya Rossandy

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran yang tercantum dalam isi kurikulum pendidikan. Seperti mata pelajaran yang lain, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan juga memerlukan buku ajar. Modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu buku ajar yang dapat digunakan baik siswa maupun guru kelas VIII di SMP Negeri 18 Malang untuk membantu proses pembelajaran. Modul ini dikembangkan sesuai dengan karakteristik pada SMP Negeri 18 Malang. Dengan adanya modul tersebut siswa dapat aktif mengikuti proses belajar mengajar dan memperoleh pengetahuan dari isi modul. Penelitian ini mengacu metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775). Dari sepuluh langkah yang dikemukakan oleh Borg & Gall, penelitian dan pengembangan ini hanya menggunakan 7 langkah saja dimana disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan pengembangan. Adapun 7 langkah adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan angket yang ditujukan kepada 2 orang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan 1 orang wakil kepala sekolah bidang kurikulum 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli modul dan 2 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang menghasilkan berupa produk awal, 4) Mengujicobakan pada kelompok kecil dengan menggunakan 8 orang siswa, 5) revisi hasil uji coba lapangan kelompok kecil, 6) Mengujicobakan hasil revisi pada kelompok besar dengan menggunakan 40 orang siswa, 7) revisi hasil uji coba lapangan kelompok besar. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 8 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 40 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang, dapat disimpulkan bahwa 94,3% siswa menyatakan bahwa modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan untuk VIII semester genap SMP Negeri 18 Malang sangat jelas dan sangat membantu dalam belajar. Sehingga, tidak diperlukan revisi dari uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini berupa modul pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Peneliti berharap dapat membantu meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan pada semester genap kelas VIII SMP Negeri 18 Malang Selain itu, peneliti juga berharap modul ini dapat disebarluaskan pada sekolah lain yang memiliki KTSP yang sama.

Perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik / Febrilia Yulvidi Asri

 

Kata Kunci: Prestasi belajar, gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik Ada tiga jenis gaya belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa, yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Guru di harapkan mengetahui gaya belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswanya, sehingga akan menunjang peningkatan prestasi belajar siswa. Dengan begitu guru harus bisa memvariasikan metode mengajar yang digunakan agar siswa dapat memahami dan menerima pelajaran yang disampaikannya. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk menjelaskan gaya belajar siswa kelas XI Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Singosari; (2) untuk menjelaskan perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Singosari yang berjumlah 105 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Proportional Random Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 51 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatif , sedangkan data yang digunakan adalah data primer berupa kuesioner gaya belajar, sedangkan data sekunder berupa nilai raport semester gasal.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis varian satu jalur (One Way Anova). Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik dengan nilai signifikansi sebesar 0,00. Hasil penelitian kuesioner gaya belajar diperoleh bahwa siswa kelas XI Ilmu Sosial memiliki gaya belajar visual dan auditorial. Gaya belajar visual dan auditorial memiliki jumlah responden yang sama yaitu masing-masing 20 siswa sedangkan kinestetik hanya 11 siswa. Jika dilihat dari prestasi siswa, gaya belajar visual memiliki prestasi yang tinggi dibanding siswa yang memiliki gaya belajar auditorial dan kinestetik. Keterbatasan penelitian ini yaitu, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket (kuesioner) dan prestasi belajar diukur dengan menggunakan nilai raport semester gasal. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) peneliti lain yang meneliti kasus sejenis, sebaiknya menggunakan wilayah populasi yang lebih luas dan mengembangkan permasalahan yang terkait dengan gaya belajar; (2) siswa diharapkan mendapat pengalaman dan cara baru dalam belajar mata pelajaran akuntansi; (3) guru diharapkan mengetahui gaya belajar yang dimiliki masing-masing siswanya, agar dapat menciptakan metode mengajar yang bervariatif sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa; (4) sekolah diharapkan menyediakan sarana dan fasilitas yang diperlukan siswanya untuk mengembangkan kreativitasnya.

Implementasi model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang) / Galuh Ayu Pranesthi

 

Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), aktivitas belajar, hasil belajar siswa Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMK PGRI 3 Malang diketahui beberapa hambatan kegiatan pembelajaran pada kelas X Pemasaran A1 Mata Pelajaran Melakukan Negosiasi. Hambatan yang ditemui antara lain siswa yang kurang fokus pada pelajaran, sulitnya siswa untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan masalah di dunia nyata dan nilai ulangan harian siswa banyak yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Rendahnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang ditunjukkan dari dominasi yang banyak dari guru, menyebabkan minimnya interaksi siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru di dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan strategi pembelajaran Problem Based Learning diharapkan siswa dapat mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada di kelas dan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? (2) Apakah implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? (3) Apakah implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? (4) Apakah yang menjadi faktor penghambat dan pendukung proses implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2 x 45 menit. Pada tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran A1 SMK PGRI 3 Malang yang berjumlah 29 siswa. Terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran Problem Based Learning. Implementasi model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran produktif Melakukan Negosiasi, siswa kelas X Pemasaran A1 di SMK PGRI 3 Malang ini, terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa dari Siklus I ke Siklus II. Peningkatan ketuntasan belajar siswa pada ranah kognitif Siklus I sebesar 72,41% meningkat pada Siklus II menjadi 96,55%. Pada hasil belajar ranah afektif Siklus I ketuntasan belajar siswa sebesar 93,1% meningkat menjadi 100% pada Siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa ranah psikomotor pada Siklus I sebesar 31,04 meningkat pada Siklus II menjadi 93,1%. Faktor yang menghambat adalah jumlah observer yang terbatas, artinya 1 observer mengamati 2 kelompok siswa, rendahnya rasa percaya diri siswa dan interaksi antar siswa dalam 1 kelas masih kurang. Adapun faktor yang mendukung adalah sarana dan prasarana serta kemampuan guru untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah Pada tahap observasi, diperlukan instrumen penelitian yang dapat merekam setiap kegiatan penelitian misalnya selain menggunakan lembar observasi juga menggunakan handycamp. Untuk mendapatkan peningkatan hasil belajar siswa secara signifikan, peneliti memberikan saran kepada peneliti berikutnya untuk memberikan jumlah soal tes lebih dari 5 butir soal. Proses bimbingan intensif oleh peneliti untuk memotivasi siswa dalam hal mencari jawaban atas pertanyaan dan pentingnya bekerja sama dalam kelompok sangat menentukan keberhasilan pembelajaran dalam hal meningkatkan aktivitas siswa. Untuk lebih memaksimalkan observasi aktivitas siswa apabila memungkinkan setiap kelompok diamati oleh 1 orang observer dan hendaknya penelitian dilakukan bukan hanya pada mata pelajaran Melakukan Negoisasi, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang relevan.

Penerapan model quantum teaching untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran IPS kelas V MI Islamiyah Kebonsari Kota Malang / Evy Rosalina Susanti

 

Kata Kunci: Model Quantum Teaching, Kualitas Belajar, IPS SD. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS kelas V MI Islamiyah Kebonsari, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS kelas V. Permasalahan tersebut antara lain: (1) terjadi kebosanan pada siswa saat pembelajaran, (2) pembelajaran masih bersifat teacher centered, (3) hasil belajar siswa yang masih rendah yaitu rata-rata hasil belajar siswa sebesar 65,15. Hal tersebut disebabkan karena metode yang digunakan lebih banyak ceramah. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah model Quantum Teaching, yaitu model pembelajaran yang bertujuan untuk memecahkan permasalahan dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Quantum Teaching pada pembelajaran IPS siswa kelas V MI Islamiyah Kebonsari; (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model Quantum Teaching. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Adapun rancangan PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart. Rancangan PTK melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus selanjutnya. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V MI Islamiyah Kebonsari Kota Malang dengan jumlah siswa 32. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Quantum Teaching pada pembelajaran IPS telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MI Islamiyah Kebonsari. Hal ini dilihat dari perolehan hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (65,15) mengalami paningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (70,90) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (68,75) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (80,56) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (81,25%). Disarankan untuk peneliti selanjutnya dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Efektivitas teknik thought stopping untuk meningkatkan self-esteem siswa di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang / Yessy Wulansari

 

Kata Kunci: teknik thought stopping, konseling kelompok, self-esteem Self-esteem yang tinggi perlu bagi siswa SMP. Namun kenyataannya banyak diantara siswa yang memiliki self-esteem rendah. Mereka sering merasa dirinya bodoh atau tidak mampu dalam melakukan berbagai hal, tidak percaya diri, bahkan merasa hidupnya tidak bahagia. Salah satu latihan yang efektif untuk meningkatkan self-esteem adalah teknik thought stopping. Teknik thought stopping adalah cara yang digunakan untuk mengatasi pikiran yang tidak rasional yang dapat membuat masalah dengan mengubah kepada pikiran yang netral, positif dan tegas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektivan teknik thought stopping dalam konseling kelompok untuk meningkatkan self-esteem siswa di SMP Laboratorium UM. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan one group pretest – posttes design. Kelompok eksperimen adalah siswa yang memiliki kriteria self-esteem rendah melalui instrumen self-esteem. Konseling kelompok dengan teknik penghentian pikiran dilakukan dalam 8 kali pertemuan dengan tema yang berbeda-beda. Jumlah subyek yang diambil sebanyak 8 siswa. Data yang diperoleh melalui subyek, menggunakan inventori self-esteem yang telah diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir dan uji reliabilitas, sehingga didapatkan r alpha lebih besar daripada r table dengan tingkat reliabilities 0,715 yang berarti reliabel atau dapat dipercaya. Hasil analisis Wilcoxon dan Sign menunjukkan statistik hitung < statistik tabel, maka hipotesis alternatif diterima. Hasil uji z terlihat bahwa pada kolom Asymp. Sign 2-tailed untuk uji satu sisi adalah 0,012. Oleh karena kasus ini adalah uji satu sisi, maka probabilitasnya menjadi 0,012:2 = 0,0006. Disini terdapat probabilitas dibawah 0,05 (0,0006 < 0,05), sehingga Hipotesis nihil ditolak atau bisa juga diartikan teknik konseling penghentian pikiran efektif untuk meningkatkan self-esteem di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik thought stopping efektif untuk meningkatkan self-esteem siswa di SMP Laboratorium UM yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre test dan post test. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran : (1) pihak sekolah diharapkan memperhatikan dan memantau self-esteem siswa, (2) konselor diharapkan membantu siswa meningkatkan self-esteem, (3) peneliti lanjutan, jika ingin melakukan penelitian serupa disarankan untuk mempertimbangkan waktu/ lamanya treatment, menggunakan stimulasi yang bervariasi seperi sinema pendek, dan memperluas subyek penelitian di wilayah sekolah-sekolah di kota Malang.

Hubungan antara konformitas dengan perilaku delikuensi pada remaja tengah SMA di Kota Malang / Fitria Hari Christiana

 

Kata Kunci: Konformitas, Perilaku Delinkuensi Konformitas banyak terjadi pada masa remaja yaitu perilaku untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya agar mereka dapat diterima oleh kelompoknya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) konformitas remaja, (2) mengetahui perilaku delinkuensi remaja, (3) hubungan antara konformitas dengan perilaku delinkuensi pada remaja tengah SMA di kota Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Populasi penelitian adalah siswa SMA di kota Malang yang berusia 15—18 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dengan jumlah sampel 178 orang yang terdiri dari kelas X dan XI SMA. Instrumen penelitian menggunakan skala konformitas dan skala perilaku delinkuensi. Skala konformitas sebanyak 22 item dengan koefisien korelasi berkisar antara 0.270 sampai 0.663 dan reliabilitas sebesar 0.820. Sedangkan skala perilaku delinkuensi sebanyak 24 item dengan validitas berkisar antara 0.346 sampai 0.572 dan reliabilitas sebesar 0.840. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) sebagian besar memiliki konformitas pada kategori yang rendah, 2) perilaku delinkuensi siswa sebagian besar pada kategori sangat rendah, 3) korelasi antara konformitas dengan perilaku delinkensi sebesar 0.507 dan p=0.000 < 0.05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara konformitas dengan perilaku delinkuensi. Berdasarkan pada hasil penelitian disarankan agar (1) untuk sekolah khususnya guru bimbingan konseling agar memberikan pengarahan pada siswa secara intensif dengan memberikan informasi dan bimbingan kelompok yang berkaitan dengan konformitas dan perilaku delinkuensi (2) bagi siswa diharapkan dapat menentukan sikap kapan harus konform dan kapan harus memegang teguh pendiriannya 3) bagi peneliti lain agar memperluas penelitian dengan menggunakan variabel lainnya yang bisa menyebabkan perilaku delinkuensi. Selain itu bisa juga menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi sehingga peneliti bisa mendapatkan informasi yang lebih mendalam.

Hubungan antara imaginary audience (penonton khayalan) dengan body image (citra tubuh) pada remaja putri / Mia Fitriani

 

Kata Kunci: imaginary audience, body image Imaginary audience adalah keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Body image adalah gambaran yang dibuat seseorang mengenai tubuhnya. Body image bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, melainkan dapat berubah-ubah akibat berbagai hal salah satunya media massa. Dengan semakin maraknya pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa serta tekanan-tekanan yang berasal dari lingkungan di sekitarnya mengenai citra ideal tertentu akan menyebabkan remaja semakin memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri untuk mencapai citra ideal tersebut. Dalam keyakinannya bahwa ia memiliki penonton yang terus menerus mengamatinya, maka cacat sekecil apapun akan menyebabkan remaja menjadi semakin mengkhawatirkan penampilannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) imaginary audience pada remaja putri, (2) body image pada remaja putri, (3) hubungan antara imaginary audience dengan body image pada remaja putri. Penelitian dilakukan di SMKN 3 Malang dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 58 orang. Rancangan penelitian yaitu penelitian deskriptif korelasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala NIAS (New Imaginary Audience Scale) dan skala body image. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik analisis korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat 5,17% siswi dengan imaginary audience sangat tinggi, 50% siswi dengan imaginary audience tinggi, 43,1% siswi dengan imaginary audience rendah, 1,72% siswi dengan imaginary audience sangat rendah; (2) 3,45% siswi dengan body image sangat tinggi, 51,72% siswi dengan body image tinggi, 44,83% dengan body image rendah, (3) dari hasil uji korelasi diperoleh r sebesar 0,630 (p=0,000<0,05), berarti ada hubungan positif antara imaginary audience dengan body image pada siswi kelas X SMKN 3 Malang. Semakin tinggi tingkat imaginary audience diikuti oleh semakin tinggi pula tingkat body image. Berdasarkan hasil penelitian adabeberapa saran, yaitu: (1) remaja putri diharapkan untuk tidak hanya memusatkan perhatian pada penampilan fisiknya dan lebih menggali potensi-potensi positif yang dimilikinya. (1) Orangtua dan sekolah diharapkan dapat memberikan dorongan dan dukungan kepada para remaja putri untuk lebih mengembangkan potensi-potensi positif lain dari remaja putri. (3) Peneliti lain disarankan untuk lebih memperluas variabel-variabel penelitian dan subyek penelitian.

Pengaruh profesionalisme auditor dan etika profesi terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan (studi empiris pada auditor di KAP Wilayah Malang) / Dina Fahma Sari

 

Kata Kunci: Profesionalisme Auditor, Etika Profesi, dan Pertimbangan Tingkat Materialitas Profesionalisme adalah semangat, mutu, paradigma, spirit, tingkah laku, ideologi, pemikiran, gairah untuk terus-menerus dewasa, secara intelek meningkatkan kualitas profesi. Etika profesi adalah suatu teori, konsep, asas atau prinsip-prinsip dengan beralasan dan akhirnya sampai pada suatu rekomendasi yang memadai dan akhirnya dapat diterima pada suatu profesi tertentu untuk menentukan perilaku yang baik atau tidak berguna untuk kepentingan masyarakat dan melindungi keluhuran profesi tersebut. Materialitas adalah besarnya penghilangan atau salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, yang dapat mempengaruhi pertimbangan pihak yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut. Profesionalisme auditor sangat dibutuhkan dalam melakukan pertimbangan tingkat materialitas untuk merencanakan bukti audit yang memadai dan menentukan jenis bukti yang tepat. Etika profesi adalah seperangkat prinsipprinsip moral yang mengatur tentang perilaku profesional yang menyangkut faktor-faktor kualitatif yang dapat mempengaruhi tingkat materialitas Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi. Analisis dalam penelitian menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Variabel dalam penelitian ini adalah profesionalisme auditor (X1), etika profesi (X2) dan pertimbangan tingkat materialitas (Y). Sampel dari penelitian ini adalah auditor di 9 KAP di wilayah Malang. Seluruh sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 auditor. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan angket untuk variabel profesionalisme auditor, etika profesi dan pertimbangan materialitas. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah profesionalisme auditor berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dengan nilai signifikansi sebesar 0,002. Namun, etika profesi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas. Secara simultan, profesionalisme auditor dan etika profesi berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 serta berpengaruh sebesar 38,6% terhadap pertimbangan tingkat materialitas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan beberapa hal diantaranya: (1) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menambah variabel lain selain profesionalisme auditor dan etika profesi apabila akan mengambil masalah serupa karena terbukti kedua faktor tersebut bukanlah faktor yang berpengaruh banyak terhadap pertimbangan tingkat materialitas, (2) Peneliti selanjutnya bisa memperluas sampel tidak hanya auditor di wilayah Malang saja.

Penggunaan metode quantum learning dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 7 Malang / Sheidy Yudhiasta

 

Kata kunci: metode Quantum Learning, keterampilan menulis Metode pembelajaran bahasa Jerman yang digunakan oleh guru masih konvensional, yaitu dengan metode ceramah. Model pembelajaran konvensional seperti itu terkesan kaku, monoton, dan sangat formal. Dengan metode tersebut, murid terlihat jenuh dan kurang bersemangat. Penggunaan metode ini mengakibatkan keadaan kelas menjadi kaku, sehingga siswa menjadi tidak nyaman dalam kegiatan pembelajaran. Akibatnya, materi pembelajaran yang sedang diberikan tidak dapat diterima siswa dengan baik. Dalam kegiatan menulis dibutuhkan situasi pembelajaran yang nyaman, sehingga karangan yang ditulis siswa tidak monoton dan lebih bervariasi. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menggunakan metode Quantum Learning sebagai metode pembelajaran untuk keterampilan menulis, khususnya pembelajaran menulis surat pribadi, agar siswa dapat menulis dengan nyaman dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode Quantum Learning dalam pembelajaran keterampilan menulis siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yaitu siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 7 Malang yang berjumlah 26 orang. Data yang dikumpulkan adalah data proses kegiatan pembelajaran dan data hasil kuesioner siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan angket. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Pengecekan keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian mengenai penggunaan metode Quantum Learning ini menunjukkan, bahwa metode ini merupakan metode pembelajaran yang menarik. Hal ini disebabkan oleh penggunaan media-media baru yang tidak pernah digunakan oleh guru sebelumnya, sehingga siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. Penerapan metode Quantum Learning ini mempermudah siswa dalam menulis surat pribadi dalam bahasa Jerman. Sebelum menggunakan metode Quantum Learning, banyak siswa melakukan kesalahan dalam tata bahasa, kosakata, dan pengembangan kalimat. Kesalahan-kesalahan tersebut semakin berkurang setelah metode Quantum Learning ini diterapkan. Kemampuan menulis siswa dengan metode ini sudah cukup baik. Hal ini terbukti dari nilai yang diperoleh sebagian besar siswa yang sudah memenuhi Standar Kentuntasan Minimum (SKM) yang ditentukan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, metode Quantum Learning merupakan metode pembelajaran yang menyenangkan. Siswa merasa nyaman sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan santai. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menggunakan metode Quantum Learning dalam pembelajaran bahasa Jerman. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian tentang penerapan metode Quantum Learning pada keterampilan berbahasa yang lainnya.

Pengembangan perangkat pembelajaran analisis titrimetri untuk SMK Program Keahlian Analisis Kimia Malang / Alziyah Nur Anis Khaula

 

Kata Kunci: PerangkatPembelajaran, AnalisisTitrimetri, SMK. Salah satuupayapemerintahdalammeningkatkankualitaspendidikanadalahdenganmenam bahjumlahSekolahMenengahKejuruan (SMK).SekolahMenengahKejuruandengan Program KeahlianAnalisis Kimia mempunyaikompetensi yang harusdikuasaiolehpesertadidik, salahsatunyaadalahanalisistitrimetri.PokokbahasanAnalisisTitrimetritermasukmate riproseduralkarenaberisitentangcaramenganalisiskadarsuatuzatmelaluititrasi. Olehkarenaitu, pokokbahasanAnalisisTitrimetrisesuaijikadikembangkandengansalahsatu model dalampembelajarankonstruktivistik, yaituinkuiriterbimbing. Akan tetapi, dalammengembangkanpembelajaranpadapokokbahasananalisistitrimetri, guru mengalamibeberapakendalaantara lain keterbatasanbahan ajar. Tujuanpenelitianpengembanganadalahmenghasilkanprodukberupaperangkatpemb elajaran yang terdiridarisilabus, RencanaPelaksanaanPembelajaran (RPP), LKS, dan HandoutuntukpokokbahasanAnalisisTitrimetri di SMK Program KeahlianAnalisis Kimia, sertamengetahuitingkatvaliditasperangkatpembelajarantersebut. Model pengembanganperangkatpembelajaranAnalisisTitrimetriuntuk SMK Program KeahlianAnalisis Kimia Malang, mengacupada model pengembangan 4- D. Akan tetapi, model pengembangan 4-D yang dilakukan, dibatasisampaipada D yang ke-tiga. Adapunketigalangkahpengembangan yang dilakukanadalahpembatasan (define), rancangan (design), danpengembangan (develop). Desainvalidasi yang dilakukanpadapengembanganperangkatpembelajaranyaituvalidasiisidanujicobater batas.Data diperolehdari 3 validator yang terdiridari 1 dosenkimia UM dan 2 guru SMK.Instrumenpengumpulan data validasipadapenelitianpengembanganadalahangketdenganskalaLikert 4 tingkatandanlembar saran dankomentar.Data yang diperolehberupaskorpenilaiandantanggapandari validator yang digunakanuntukmenentukanvaliditasprodukrancanganpembelajaran yang dikembangkan.Teknikanalisis data yang digunakanadalahanalisispersentase ratarata. HasilpenelitianpengembanganadalahperangkatpembelajaranAnalisisTitrim etriuntuk SMK Program KeahlianAnalisis Kimia yang berupasilabus, RPP, LKS, danHandout.Hasilvalidasiuntuk RPP mencapaitingkatvaliditas80,55%,sedangkanuntuk Handoutadalah 79,76%. Padaujicobaterbatasdiperoleh databerupapersentase rata-rata dantanggapanterhadappetunjukpraktikum. Tingkat validitasnyaadalah 79,76%.Hal iii tersebutberartibahwaperangkatpembelajaran yang dikembangkanlayakuntukdigunakan.

Pengembangan media LCMS dalam pembelajaran bahasa Inggris kelas XI semester genap tahun 2010-2011 SMK PGRI Dampit / Ferry Yanuar Hariyanto

 

Kata Kunci : Pengembangan, LCMS, Bahasa Inggris LCMS adalah teknologi yang berkaitan dengan sistem manajemen pembelajaran yang difokuskan pada manajemen, pengembangan dan penerbitan konten yang biasanya akan dikirimkan melalui LMS (Learning Management System). Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk berupa media pembelajaran berbasis WEB dalam pembelajaran Bahasa Inggris Kelas XI SMK yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan dan peningkatan partisipasi dan motivasi belajar siswa. Pengembangan dilaksanakan di SMK PGRI Dampit. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens,. Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1)tahap analisis, (2) tahap perancangan evaluasi, (3) tahap desain, (4) tahap pengembangan media LCMS, (5) implementasi terbatas, (6) evaluasi formatif, (7) implementasi menyeluruh.. Hasil pengembangan media LCMS. Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Media LCMS ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 87,5%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 90%, Siswa mencapai tingkat kevalidan 82,6% Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Media LCMS Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas XI Semester Genap Tahun 2010-2011 SMK PGRI Dampit, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Saran yang diajukan, hendaknya Media LCMS yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti tidak hanya pada mata pelajaran Bahasa Inggris saja akan tetapi pada semua mata pelajaran. Perlu adanya pembaharuan secara bertahap baik konten maupun desain agar media LCMS semakin diminati dan dimanfaatkan secara maksimal.

Format pembelajaran pada pesantren Al-Qur'an Nurun Nisa' Kelurahan Jodipan Kota Malang / Siti Nur Laili

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Karekteristik, Warga Belajar, Fasilitator. Pendidikan Non Formal dalam UU Sisdiknas 2003 adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, seperti halnya majelis takllim, pondok pesantren, serta satuan pendidikan yang sejenis. Adanya jalur non formal, dalam hal ini tertuju pada pendidikan luar sekolah yang bertujuan untuk membantu warga belajar dan masyarakat, sehingga mereka selalu belajar tentang nilai-nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan fungsional yang diperlukan untuk mengaktualisasi diri dan membangun masyarakat dengan selalu berorientasi pada kemajuan kehidupan. Pesantren mengkaji berbagai ilmu agama, mulai dari yang dasar/ pemula sampai kelas dewasa . Pesantren merupakan sebuah tempat berkumpulnya para warga belajar untuk mencari ilmu, namun tidak menyediakan ruangan atau pondok untuk menginap, sehingga seluruh warga belajarnya berangkat belajar dari rumah masing-masing. Dalam upaya penyelenggaraan program pesantren, tidak akan terlepas dengan peran fasilitator serta semangat dari warga belajar untuk mengikuti proses pembelajaran. Fasilitator memegang peranan penting pada peningkatan dan pengembangan aspek afektif, kognitif dan psikomotorik dari warga belajarnya. Dalam pembelajaran tidak mengenal unsur paksaan dalam belajar, karena dalam proses pembelajarannya berlandaskan pada prinsip-prinsip andragogi, meskipun warga belajarnya terdiri dari berbagai usia atau usia di dalam kelasnya tidak sebaya atau campuran Meski demikian, pengaruh pengondisian suasana belajar yang dilakukan oleh fasilitator untuk menciptakan pengalaman belajar tetap dibutuhkan. Oleh karena itu, kerjasama dan kualitas dari elemen pesantren adalah suatu tuntutan yang harus dipenuhi agar tujuan dari pembelajaran dapat terpenuhi. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah menggunakan metode deskriptif, dengan menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah Mengelola data dengan menciptakan dan mengorganisasikan fail untuk data. Membaca dan membuat catatan yang menghasilkan catatan-catatan berdasarkan lintas pertanyaan dan refleksi. Mendeskripsikan kasus yang ditemukan dilapangan dan konteksnya. Mengklasifikasi, menginterpretasi yang menghasilkan konteks kategori dan komparasi (diperbandingkan) antara temuan data satu dengan data yang lainnya.Menafsirkan dengan interpretasi langsung terhadap temuan penelitian serta mengembangkan generalisasi naturalistik. Menyajikan dan menvisualisasikan secara naratif yang didukung dengan tabel dan gambar

Pengolahan siomay dengan penambahan tepung sukun pada kulit dan substitusi tepung sukun pada isi / Siti Muslikah

 

Kata kunci: siomay, tepung sukun, uji kesukaan Sukun adalah tumbuhan dari genus Artocarpus dalam famili Moraceae dan merupakan komoditas yang mudah rusak. Upaya untuk memperpanjang daya simpan sukun salah satunya dibuat menjadi tepung. Tepung sukun dapat diaplikasikan sebagai olahan siomay. Pengolahan siomay dengan penambahan tepung sukun pada kulit dan subtitusi pada isi siomay dimungkinkan dapat menjadi terobosan baru yaitu mendayagunakan potensi sukun sebagai inovasi produk baru. Uji coba ini merupakan uji coba pembuatan siomay yang menggunakan komposisi bahan tepung sukun. Aplikasi tepung sukun menjadi siomay yaitu sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kulit sebanyak 30 gram dari jumlah terigu. Adonan isi siomay disubtitusi dengan tepung sukun sebanyak 50% dari jumlah tepung tapioka. Hasil kulit dan isi kemudian dipadukan dan dibuat menjadi siomay utuh. Siomay yang dihasilkan dengan penambahan tepung sukun pada kulit dan subtitusi pada isi siomay kemudian dilakukan uji kesukaan. Tujuannya yaitu untuk mengetahui kesukaan responden dan daya terima responden terhadap siomay dengan penambahan tepung sukun pada kulit dan subtitusi pada isi siomay. Uji Kesukaan meliputi warna, rasa, dan tekstur. Hasil analisis menunjukkan bahwa responden menyukai warna siomay yang putih kekuningan sebanyak 86,7%. Responden menyukai rasa siomay yang gurih sebanyak 95,6%, dan responden menyukai tekstur siomay yang kenyal sebanyak 86,6%. Kesimpulannya adalah warna, rasa, dan tekstur siomay dengan penambahan tepung sukun pada kulit dan subtitusi pada isi siomay disukai oleh responden. Saran bagi masyarakat yang akan membuat siomay sebaiknya ditambah dengan tepung sukun untuk lebih mengembangkan sumber ketahanan pangan lokal khususnya buah sukun. Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan uji coba sebaiknya melakukan uji coba cara mempertahankan daya simpan siomay dengan penambahan tepung sukun pada kulit dan subtitusi pada isi siomay.

Analisis kesalahan konsep dan perbaikannya pada buku teks matematika SMP kelas VII / Trinindya W. Nurike

 

Kata kunci: kesalahan konsep matematika, perbaikan konsep matematika, buku teks matematika. Buku teks merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan belajar siswa. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada SMP di Tulungagung, siswa dan guru menggunakan buku teks sebagai bahan acuan dalam mengajar matematika. Namun, menurut penelitian sebelumnya, kesalahan konsep dan isi yang tidak sesuai kurikulum masih sering ditemukan. Pada penelitian ini, penulis menganalisis lima buku teks matematika SMP kelas VII, yaitu: PP, TS, E1/ E2, AD, dan IP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan dan perbaikan konsep matematika pada buku teks matematika dan kesesuaian materi pada buku teks dengan kurikulum. Kesalahan konsep matematika dalam hal ini adalah kesalahan mendefinisikan konsep, kesalahan membedakan contoh dan bukan contoh konsep, pemberian ilustrasi tidak sesuai dengan definisi konsep yang diberikan, ketidaktepatan atau ketidaklengkapan dalam mengungkapkan semesta pembicaraan, dan penggunaan konsep yang belum dikenal atau penggunaan yang tidak konsisten. Dari analisis, didapatkan kesalahan konsep matematika pada lima buku teks, yaitu dengan rincian: (1) Kesalahan konsep matematika dalam hal ini adalah kesalahan mendefinisikan konsep ditemukan sebanyak 28 data, (2) Kesalahan membedakan contoh dan bukan contoh konsep sebanyak 5 data, (3) Pemberian ilustrasi tidak sesuai dengan definisi konsep yang diberikan tidak ditemukan kesalahan, dan (4) Ketidaktepatan atau ketidaklengkapan dalam mengungkapkan semesta pembicaraan ditemukan sebanyak 14 data, dan (5) Penggunaan konsep yang belum dikenal atau penggunaan konsep yang tidak konsisten ditemukan sebanyak 12 data. Untuk penyajian materi pada kelima buku sudah sesuai dengan kurikulum, yaitu dengan persentase kesesuaian untuk PP 95,50%, buku TS 87,64%, buku E1/ E2 84,23%, buku AD 77,53% dan buku IP 80,90%. Berdasarkan hasil analisis dan perbaikan yang dilakukan, disarankan bagi guru yang ingin menggunakan buku teks yang telah dianalisis dapat merujuk hasil penelitian, bagi peneliti selanjutnya, analisis buku teks matematika SMP perlu ditingkatkan pada aspek yang lain, misalnya bahasa yang digunakan, penulisan, kekonsistenan penyajian, kesesuaian indikator, dan tingkat kesulitan soal untuk mengukur kualitas dari buku teks, dan bagi penerbit, buku teks matematika sebaiknya dikonsultasikan kepada para ahli sebelum dicetak dan apabila ingin mencetak kembali dapat merujuk hasil penelitian.

Pengolahan wortel sebagai bahan dasar pembuatan nata / Risma Kartikasari Nursyam

 

Kata Kunci : Nata, Wortel, Uji Kesukaan. Nata termasuk minuman berserat tinggi dan rendah kalori. Nata merupakan suatu bahan menyerupai gel (agar-agar) yang terapung pada medium yang mengandung gula dan asam hasil pembentukan mikroorganisme Acetobacter xylium. Nata de carrot merupakan minuman yang terbuat dari jus wortel, yang mempunyai tekstur agak kenyal dan berwarna putih transparan. Masalah dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui formula resep yang tepat dalam pembuatan nata de carrot, untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap warna dan tekstur nata de carrot. Pengolahan nata de carrot ini dilakukan dua kali uji coba resep agar dapat menghasilkan warna dan tekstur nata pada umumnya. Formula resep yang tepat pada produk nata de carrot adalah 1200 ml jus wortel, gula 60 gr, asam asetat glasial 2 ml, asam sitrat 0.7 gr, pupuk ZA 2 gr, bibit nata 120 ml. Garam inggris 0.7 gr. Pengolahan wortel menjadi jus yaitu, melalui proses penghancuran wortel menjadi jus dan direbus dengan gula selama ± 30 menit, penambahan bahan bantu, pewadahan dan pendinginan, penambahan bibit atau stater, fermentasi selama 6-7 hari, pascapanen selama 6-7 hari. Tekstur yang dihasilkan, yaitu agak kenyal, berwarna putih transparan. Uji kesukaan responden terhadap warna dan tekstur nata de carrot dilakukan dengan cara memberi angket dan produk. Respondennya adalah anak-anak, remaja dan dewasa. Hasil uji kesukaan warna nata de carrot pada produk yang disukai sebanyak 64.4% sehingga warna produk nata de carrot diasumsikan dapat diterima oleh respoden karena warna nata de carrot tidak berbeda dengan warna nata pada umumnya, yaitu putih transparan. Tekstur nata de carrot yang disukai sebanyak 82.1% sehingga tekstur nata de carrot diasumsikan sangat dapat diterima oleh responden karena tekstur nata de carrot hampir sama dengan tekstur nata pada umumnya, yaitu agak kenyal, agar nata de carrot lebih dikenal dan disukai banyak masyarakat sebaiknya air nata de carrot diberi perasa lain misalnya melon atau leci.

Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepemimpinan transformasional (studi pada RS dr. Iskak, Tulungagung) / Lugas Khaliq Pangabdi

 

Kata kunci: kecerdasan emosional, motivasi diri, empati, keterampilan sosial, kepemimpinan transformasional Perencanaan suksesi yang bertujuan untuk regenerasi pemimpin, membutuhkan serangkaian proses yang selektif untuk menemukan karyawankaryawan potensial yang akan menjadi visi leader pada masa yang akan datang. Suksesi integrasi perencanaan dan pengembangan perilaku kepemimpinan transformasional akan dipengaruhi oleh kecerdasan emosional (EI) para pemimpin masa kini dalam merancang dan menemukan potensi-potensi karyawan dengan EI tinggi. Untuk itu komponen-komponen kecerdasan emosional harus dibangun dalam proses integrasi program perencanaan suksesi dan pengembangan kepemimpinan. Penelitian bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh antara dua variabel yaitu antara kecerdasan emosional sebagai variabel independent yang terdiri dari subvariabel motivasi diri, Empati, dan ketrampilan sosial, dengan kepemimpinan transformasional sebagai variabel dependent. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pimpinan pada bidang pelayanan medis dan keperawatan RS.dr.Iskak, Tulungagung. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 40 orang). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, metode pengumpulan data menggunakan metode kuesioner, sedangkan analsis data menggunakan regresi linier berganda, uji t, dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi kecerdasan emosional yang terdiri dari motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial secara positif dan signifikan secara parsial berpengaruh terhadap kepemimpinan transformasional dengan nilai thitung (5.511, 2.498, 2.104). Secara bersama-sama komponen kecerdasan emosional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepemimpinan transformasional dengan Fhitung 27.023, sig 0.000, dan R square = 0,730, sehingga dapat disimpulkan semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional pimpinan maka akan semakin tinggi pula kepemimpinan transformasionalnya. Kesimpulan dari penelitian ini dimensi kecerdasan emosional yang terdiri dari motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial, masing-masing berpengaruh signifikan terhadap kepemimpinan transformasional baik secara parsial maupun bersama-sama.

Pengaruh motivasi kerja dan persepsi guru tentang program sertifikasi terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Purwosari / Dinda Pritasari Putri Harita

 

Kata Kunci: Motivasi Kerja, Persepsi Guru tentang Program Sertifikasi, Kinerja Guru Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah mutu guru. Salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru melalui program sertifikasi guru. Pemberian sertifikat guru ini bertujuan agar guru dapat meningkatkan kinerja. Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh persepsi guru atas program sertifikasi, bagi guru yang merasa program ini menguntungkan akan berusaha memenuhi kualifikasi uji sertifikasi tetapi bagi guru yang merasa kurang diuntungkan dengan program ini akan menyambut kurang baik adanya program sertifikasi. Motivasi kerja guru juga merupakan salah satu faktor yang mempunyai peranan penting didalam tujuan pendidikan. Motivasi guru perlu dibangun karena motivasi merupakan dorongan untuk bekerja. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru dan untuk mengetahui pengaruh persepsi guru tentang program sertifikasi terhadap kinerja guru. Populasi penelitian ini adalah guru SMA Negeri 1 Purwosari yang berjumlah 42. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden dan dianalisis menggunakan analisis regresi linear dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signifikan motivasi kerja terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Purwosari, dilihat dari nilai sig (p) 0,009 < 0,05. Hasil lain menunjukkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan persepsi guru tentang program sertifikasi terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Purwosari, dilihat dari nilai sig (p) 0,005 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikemukakan beberapa saran diantaranya adalah: 1) Semua guru diharapkan tetap menjaga dan terus meningkatkan kompentensi profesionalisme dengan cara mengikuti lokakarya, kursus, workshop, dan seminar, 2) Kepala sekolah harus selalu mendorong untuk terciptanya peningkatan motivasi, salah satunya dengan memperhatikan tingkat pemahaman kebutuhan guru dan karyawan, 3) Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan teknik lain seperti, wawancara dan observasi langsung untuk mengumpulkan data; 4) Membandingkan penilaian kinerja guru antara kinerja guru sebelum adanya program sertifikasi dengan sesudah adanya program sertifikasi; 5) Menambah variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel kinerja guru.

Peningkatan keterampilan menulis paragraf melalui media film dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Kepoh I Bojonegoro / Fidyahanggita

 

Kata Kunci: Keterampilan menulis, paragraf, media film. Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan menulis paragraf siswa kelas III SDN Kepoh I Bojonegoro. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dapat diketahui bahwa, siswa kurang mampu mengembangkan ide dalam menyusun paragraf. Siswa belum mampu menggunakan tanda baca dan ejaan dengan tepat. Serta guru belum memanfaatkan secara optimal fasilitas LCD yang tersedia. Oleh sebab itu diperlukan adanya strategi yang lebih baik dalam pembelajaran, Strategi yang dipandang tepat untuk memecahkan masalah tersebut adalah penggunaan media film. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kegiatan pembelajaran menulis dengan menggunakan media film untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Kepoh 1 Kabupaten Bojonegoro dan (2) mendeskripsikan peningkatkan keterampilan menulis paragraf bahasa Indonesia melalui pembelajaran menulis dengan media film siswa kelas III SDN Kepoh I Kabupaten Bojonegoro Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN Kepoh I Kabupaten Bojonegoro dengan jumlah siswa sebanyak 26 anak. Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan observasi, panduan wawancara, dan soal tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis paragraf siswa mengalami peningkatan. Melalui pembelajaran menulis dengan menggunakan media film, kalimat siswa lebih mudah dipahami dan saling berhubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Penggunaan lima aktivitas dalam pembelajaran menulis yang terdiri dari pramenulis, pemburaman, perbaikan, penyuntingan dan publikasi juga memberikan dampak yang positif bagi siswa. Siswa menjadi lebih mudah dalam menulis sebab tahap-tahap kegiatan yang dilakukan berurutan. Selain itu, siswa menjadi lebih teliti dalam memperhatikan penggunaan ejaan, tanda baca, dan huruf kapital dengan benar. Rasa percaya diri dan keberanian siswa juga semakin meningkat terutama dalam mempublikasikan hasil paragraf mereka. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar penggunaan media film perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan agar memperoleh hasil yang maksimal.

Pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi swasta (studi multi kasus di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram) / Baiq Rohiyatun

 

Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Sumber Daya Manusia, Perguruan Tinggi Swasta Pengembangan organisasi merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Hal ini karena mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan pencapaian tujuan perguruan tinggi. Di dalam rangka pengembangan organisasi, PTS hendaknya mengoptimalkan layanan pendidikan dengan potensi sumber daya yang ada sesuai dengan tuntutan lingkungan internal dan eksternal. Salah satu cara dalam menggali potensi yang dimiliki oleh sumber daya manusia di perguruan tinggi adalah dengan pengembangan. Pengembangan sumber daya manusia merupakan dimensi penting dalam proses pembangunan nasional yang saling berkaitan dengan pembangunan dimensi yang lain, karena faktor yang paling menentukan keberhasilan suatu bangsa bukan kekayaan alam yang dipunyainya, melainkan kualitas sumber daya manusia yang dipunyainya. Begitupun dalam lembaga perguruan tinggi, faktor yang menentukan keberhasilan organisasai adalah kualitas Sumber Daya Manusianya terutama tenaga pengajar atau yang disebut dosen. Dosen adalah merupakan ujung tombak pelaksanaan kegiatan pendidikan yang sifat pekerjaanya selalu berkembang dan dinamis seirama dengan perubahan yang terjadi. Fokus utama dari penelitian ini adalah: pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Mataram. Fokus tersebut dijabarkan menjadi sub fokus penelitian yakni: (1) Perencanaan pengembangan sumber daya Manusia dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram; (2) Tehnik-tehnik Pengembangan Sumber Daya Manusia dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram; dan (3) Tindak lanjut pengembangan sumber daya manusia dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multikasus. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) wawancara mendalam; (2) observasi berperan serta dan (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian dilakukan secara snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan alur: (1) reduksi data; (2) penyajian data; (3) penarikan kesimpulan. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan melalui: (1) Uji Kredibilitas yang terdiri dari Triangulasi, Member cek dan diskusi teman sejawat; (2) Dependabilitas; dan (3) Konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan: pertama perencanaan pengembangan sumber daya manusia dosen dikedua perguruan tinggi swasta lokasi penelitian sesuai dengan tuntutan kebijakan pemerintah dan keinginan untuk terus eksis ditengah persaingan kualitas dari PTS yang lain. Kedua tehnik-tehnik pengembangan sumber daya manusia dosen di kedua perguruan tinggi swasta lokasi penelitian menggunakan tehnik studi lanjut, pelatihan atau penataran, workshop atau lokakarya dan seminar kesemua tehnik-tehnik tersebut ditentukan berdasarkan kebutuhan dosen dan kebutuhan lembaga perguruan tinggi. Penetapan tehnik yang digunakan melibatkan peran serta pimpinan perguruan tinggi dan unsur yayasan. Ketiga Tindak lanjut pengembangan sumber daya manusia dosen di kedua perguruan tinggi swasta lokasi penelitian menunjukkan bahwa akan dipasilitasi dalam bentuk sarana dan dana agar apa yang sudah dipelajari dalam tehnik-tehnik pengembangan SDM dapat diaplikasikan untuk peningkatan kemampuan mengajar dan ilmu spesialisasi dosen disamping itu juga faktor kompensasi akan diupayakan untuk meningkatkan motivasi kerja dan kesejahteraan dosen. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) Untuk Kopertis wilayah IIIV dan DIKTI, bekerjasama dengan perguruan tinggi memberikan dana dalam rangka pengembangan kualitas dosen. Pengadaan tehnik-tehnik pengembangan dosen selain studi lanjut perlu diintensifkan penyelenggaraannya dengan mengundang dosen-dosen dari PTS-PTS yang ada, sehingga semua kebijakan maupun program yang dikembangkan tepat sasaran dan dapat ditindak lanjuti; (2) Untuk IKIP Mataram, Perguruan tinggi walaupun swasta perlu berinisiatif dengan sungguh-sungguh untuk menggunakan hasil analisis kebutuhan sebagai dasar dalam menyusun program pengembangan sumber daya manusia dosen, perguruan tinggi perlu menyusun tehnik-tehnik apa yang sesuai untuk program pengembangan sumber daya manusia dosen dan dapat bekerjasama dengan Universitas lain, DIKTI/Kopertis dan lembaga pendidikan lain untuk memberikan bimbingan berkelanjutan dalam hal pengembangan sumber daya manusia. Khusus untuk penelitian karena data yang penulis dapatkan dilapangan bahwa belum ada hasil penelitian dosen yang diseminarkan maka perlu kiranya IKIP Mataram mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk seminar; (3) Bagi UMM, walaupun swasta perlu berinisiatif dengan sungguh-sungguh untuk menggunakan hasil analisis kebutuhan sebagai dasar dalam menyusun program pengembangan sumber daya manusia dosen, perguruan tinggi perlu menyusun tehnik-tehnik apa yang sesuai untuk program pengembangan sumber daya manusia dosen dan dapat bekerjasama dengan Universitas lain, DIKTI/Kopertis dan lembaga pendidikan lain untuk memberikan bimbingan berkelanjutan dalam hal pengembangan sumber daya manusia; (4) bagi dosen, tanggung jawab dan kewajiban sebagai seorang dosen adalah melaksanakan Tri Dharma Perguruan tinggi sudah seharusnya untuk melakukan pengembangan diri tidak hanya menunggu giliran dan kesempatan dari perguruan tinggi tetapi ada inisiatif sendiri untuk mau mengembangkan diri menjadi dosen yang professional; (5) Bagi peneliti lain, dapat dijadikan acuan bagi para peneliti-peneliti selanjutnya dalam rangka perbaikan kedepan, apabila metodologi dan temuan penelitian ini dinilai kredibel dan relevan, maka dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam meneliti kasus sejenis pada lembaga lainya.

Kesesuaian pelaksanaan pelatihan desain grafis sebagai media promosi dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan di PKBM Zamzam Kota Malang / Aulia Inneke Puspita

 

Kata kunci: pelatihan desain grafis, kebutuhan belajar Pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan pelatihan desain grafis sebagai media promosi dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan di PKBM ZamZam Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh peserta pelatihan desain grafis yang berjumlah 27 orang yang diambil dari semua peserta pelatihan dan tehnik sampelnya menggunakan tehnik sampel total, sampel diambil dari seluruh populasi yang berjumlah 27 orang. Tehnik pengumpulan data menggunakan angket/kuesioner. Angket ini digunakan sebagai data primer dan angket yang tersebar dari populasi responden berjumlah 27 orang namun yang kembali 24 orang. Selain menggunakan angket, peneliti juga menggunakan metode observasi dan dokumentasi, dimana metode ini digunakan sebagai data sekunder dari data yang sudah ada dalam pengumpulan data melalui metode angket. Analisis datanya menggunakan analisa presentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 24 responden menyatakan pelaksanaan pelatihan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan, ini dapat dilihat dari beberapa indicator yang diteliti, yaitu: (1) Tujuan pelaksanaan pelatihan telah sesuai dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan yaitu dengan persentase 54%, (2) Materi pelatihan cukup sesuai dengan tujuan pelatihan desain grafis yaitu dengan persentase 50% dan materi telah sesuai dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan yaitu dengan persentase 63%, (3) Pelatih dalam menguasai materi telah sesuai yaitu dengan persentase 46%, peranan pelatih telah sangat membantu peserta pelatihan yaitu dengan persentase 54%, dan penyampaian materi oleh pelatih cukup sesuai yaitu dengan persentase 47%, (4) Fasilitas dalam pelaksanaan pelatihan telah sesuai yaitu dengan persentase 50%, (5) Metode pembelajaran yang digunaan dalam pelatihan telah sesuai yaitu dengan persentase 50% dan metode pembelajaran telah sesuai dengan pemahaman peserta pelatihan yaitu dengan persentase 59%, (6) Waktu pelaksanaan pelatihan cukup sesuai dengan struktur materi yang telah disiapkan yaitu dengan persentase 42%, (7) Hasil/output yang didapat dalam pelatihan ini telah memberikan manfaat yang besar sesuai dengan harapan peserta yaitu dengan persentase 59%. Dari hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menarik kesimpulan bahwa pelaksanaan pelatihan desain grafis sebagai media promosi sesuai dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan. Hal ini telah diteliti dari berbagai indikator antara lain: tujuan pelaksanaan pelatihan, materi pelatihan, pelatih dalam menguasai materi, fasilitas dalam pelaksanaan pelatihan, metode pembelajaran, waktu pelaksanaan pelatihan, dan hasil/output yang didapat dalam pelatihan Dalam penelitian ini disarankan bagi PKBM ZamZam agar meningkatkan sarana dan prasarana agar lebih baik untuk menunjang kemajuan PKBM ZamZam itu sendiri, bagi pelatih/instruktur diharapkan mengembangkan metode yang lebih bervariasi dan diharapkan bisa lebih menjadi motivator bagi peserta pelatihan, bagi peserta pelatihan diharapkan agar lebih berperan aktif dalam pelaksanaan pelatihan dan dapat mengembangkan dan menerapkan apa yang telah didapat dalam pelatihan desain grafis, bagi peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini melalui jenis penelitian yang berbeda.

Ekstraksi dan identifikasi kandungan senyawa pada kayu secang (Caesalpina sappan Linn) serta uji aktivitasnya sebagai antioksidan / Zahrotul Lutfia

 

Kata kunci: kayu Secang, antioksidan, DPPH, IC50 Antioksidan adalah senyawa-senyawa yang dapat mengurangi reaksi oksidasi di dalam tubuh yang disebabkan oleh senyawa radikal bebas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, menyatakan bahwa kayu secang memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan antioksidan komersial. Pengujian aktivitas antioksidan dapat dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (1,1-Difenil-2-pikrilhidrazil) berdasarkan nilai IC50nya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sejumlah volume ekstrak kayu secang dalam pelarut etanol, mengetahui komponen yang terkandung di dalamnya, serta mengetahui aktivitas antioksidannya dengan menggunakan DPPH. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium penelitian Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu tahap ekstraksi dengan menggunakan metode sokhletasi dengan pelarut etanol 96%, tahap kedua yaitu tahap identifikasi kandungan senyawa dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis; uji kualitatif dengan pereaksi kimia; dan identifikasi menggunakan GCMS, dan tahap ketiga yaitu pengujian aktivitas sebagai antioksidan dengan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) ekstraksi pada 18,085 g batang kayu pohon secang menghasilkan ekstrak sebanyak 12,8 mL dengan berat jenis 0,9182 g/mL, (b) identifikasi dengan spektrofotometri UV-Vis menghasilkan 6 puncak; uji kualitatif menunjukkan bahwa ekstrak positif mengandung flavonoid, polifenol dan tannin; uji GCMS menunjukkan bahwa ekstak fasa etil asetat mengandung 40 komponen, (c) uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu secang menghasilkan nilai IC50 sebesar 162,785μg/mL pada menit ke-10 dan 143,032μg/mL pada menit ke-60.

Pengembangan media pembelajaran audio visual mata pelajaran biologi kelas VIII semester II di SMPN 15 Malang / Maulana Andri Firmansyah

 

Kata kunci: Pengembangan, Media pembelajaran, audio visual, Biologi. Media audio visual merupakan gabungan antara suara dan rupa sehingga terbentuk media video. Media audio visual adalah merupakan media atau penggunaan materi dan penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. SMPN 15 Malang, sekolah yang akan dilaksanakannya pengembangan ini merupakan sekolah yang sistem pembelajarannya optimal terbukti dengan hasil belajar siswa yang memuaskan. Sekolah ini bukannya tidak memiliki permasalahan dalam proses pembelajaran, menurut observasi yang dilakukan, pembelajaran dikelas pada mata pelajaran biologi dengan materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga. Guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, ini membuat siswa salah persepsi mengenai materi yang ada dalam pembelajaran, karena materi prosedural yang mengenai sebuah proses butuh penjelasan secara detail. Adapun dengan media gambar yang terdapat dalam buku, gambar tidak dapat menunujukan secara detail proses awal sampai akhir dari materi pembelajaran tersebut, dengan itu hasil belajar siswa banyak yang dibawah standar ketuntasan minimal (SKM) yang ditetapkan sekolah. Materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga merupakan materi yang membutuhkan media gerak untuk dijelaskan dalam pembelajaran, semua terkait dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa dalam materi tersebut. Dengan itu pembelajaran ini memerlukan media audio visual, karena media audio visual merupakan media yang dapat menampilkan sebuah proses dan terdapat suara untuk menjelaskan proses tersebut. Adapun tujuan pengembangan adalah menghasilkan media pembelajaran audio visual yang teruji kevalidannya serta lebih efektif dalam membantu guru untuk memecahkan masalah pembelajaran dikelas dengan membuat siswa fokus memperhatikan penjelasan materi melalui media tersebut. Media pembelajaran audio visual ini dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan Sadiman yang terdiri dari 10 langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat pengukuran keberhasilan, (5) penulisan naskah, (6) produksi, (7) menyusun petunjuk pemanfaatan (8) uji coba, (9) revisi. (10) produk siap dimanfaatkan ii Pengembangan media pembelajaran audio visual ini dikembangkan di SMPN 15 Malang pada kelas VIII semester II mata pelajaran biologi dengan materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga. Pengambilan data pada pengembangan ini menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Kualitatif meliputi hasil validasi ahli media, ahli materi dan audien (siswa), adapun hasil validasi tersebut adalah: ahli media dengan persentase 82,5 %, ahli materi dengan persentase 80% dan audien (siswa) dengan persentase 82,4%. Sedangkan data kuantitatif meliputi hasil pre test dan post test, adapun hasil pre test dalam persentase 44,1% dan hasil post test dalam persentase 64,6%. Berdasarkan hasil data kualitatif diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran audio visual di SMPN 15 Malang dapat dikatagorikan layak dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelas khususnya kelas VIII semester II mata pelajaran biologi dengan materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga. Sedangkan menurut data kuantitatif diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran audio visual ini dapat dikatakan efektif karena terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Pengembangan disini mengalami sedikit kendala dalam melaksanakan pengembangan media audio visual yakni tampilan media audio visual banyak mengalami revisi, dan pemanfaatan media kurang maksimal dalam pembelajaran. Pengembang menyarankan bagi pengembang selanjutnya lebih mengkaji lagi pemilihan materi, pemilihan software untuk mengembangkan media audio visual berikutnya dan mampu memberikan tampilan media audio visual lebih layak dan sesuai dengan materi pembelajaran. Bagi guru sebelum menampilkan media audio visual harus memperhatikan petunjuk pemanfaatan dengan seksama. Seterusnya bagi siswa agar media pembelajaran audio visual ini dapat menjadi salah satu variasi proses pembelajaran dikelas.

A study on the use of scene setting in PPP for teaching simple present tense at ILP Malang / Hafida Ruminar

 

Key Words: PPP, presentation stage, scene setting, simple present tense PPP, which stands for Presentation-Practice-Production, is a variation of Audio-lingual method. In PPP the teacher introduces a situation which contextualizes the language to be taught then presented. After that, the teacher leads the students into a highly controlled practice of the language using individual, choral, or pair work drilling. In the production stage, the students start to use the language spontaneously and occasionally in a free conversation or role play. This study is concerned with the presentation stage in PPP since it is the main part in which grammar function is presented implicitly through scene setting. Scene setting is a manipulative situation in which the target language form is used in real-communication that is created by the teacher. Hence the fitness of integrating the target language into scene setting is an important consideration. This phenomenon brings the researcher to conduct a study on the use of scene setting in PPP for presenting simple present in terms of describing daily routines. A basic interpretive study is employed. The subject of the study was a teacher who teaches Basic 1 level many times and she has been teaching in ILP for three years. The instrument used to collect the data was a video observation. The video tape of the presentation stage was then transcribed, analyzed, and reported descriptively. The findings showed that the teacher brought interviewing and reporting public figure’s daily routine as the theme of scene setting. In presenting three grammar forms of simple present tense, the teacher used three scenes setting. It is concluded that in presenting each grammar form, it is needed one scene setting. Another finding is that applying scene setting in presenting grammar needs creative teachers due to the complexity of fitting the situation into when and how the target language forms are used. Besides, the choice and the criteria of pictures in supporting the scene setting need to be considered. Those findings bring the challenges for teachers in creating scene setting. The benefits of scene setting are providing the students to learn the language through a situation and enabling the teacher to elicit the target language forms while supporting students to obtain the context. Based on findings, discussions, and conclusions, ILP teacher and the other English teachers are recommended to use the scene setting ideas that the researcher found in this study, modified and explored it further. Future researchers are recommended to study the scene setting in the same level but with different topics. It is recommended to conduct an in-depth study on the use of scene setting in all language functions in the same level and then describes the implementation for each language function.

Aktivitas pers mahasiswa Kota Malang tahun 1992-2002 / Mohamad Fahmi

 

Kata Kunci: aktivitas, pers mahasiswa, kota Malang Aktivitas pers mahasiswa kota Malang memiliki keunikan tersendiri. Dari awal tahun 1990an sampai 2000an terjadi beberapa peristiwa yang menjadi tonggak sejarah pers mahasiswa di kota Malang. Namun, dari waktu ke waktu berbagai peristiwa yang terjadi itu sudah tidak begitu diingat oleh penggiat pers mahasiswa saat ini, apalagi masyarakat luas. Minimnya transfer informasi dari para penggiat pers mahasiswa senior kepada juniornya merupakan satu sebab aktivitas pers mahsiswa tahun 1990an dan awal 2000an semakin dilupakan. Latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang aktivitas pers mahasiswa Kota Malang tahun 1992-2002. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana latar belakang proses berkembangnya pers mahasiswa di Kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002?, (2) Bagaimana aktivitas pers mahasiswa di Kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002?. Dari rumusan masalah yang ada, peneliti mempunyai tujuan sebagai berikut: Mendeskripsikan proses berkembangnya pers mahasiwa di kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002 dan mendeskripsikan aktivitas pers mahasiswa di Kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian sejarah. Metode ini memiliki 5 tahapan yaitu: (1) pemilihan topik, (2) heuristik, (3) verivikasi, (4) interpretasi, (5) historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa universitas-universitas besar di Malang baik negeri atau swasta memberikan ruang kepada penggiat-penggiat pers mahasiswa. Oleh karena itu pada awal tahun 1990an pers mahasiswa sudah tersebar di universitas-universitas Kota Malang. Seperti pers mahasiswa SiarHMP di IKIP Malang, Kavling 10, Indikator, Dianns, Solid, Manifest di Univeritas Brawijaya, Unit Aktifitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi di STAIN Malang, Mei di Universitas Islam Malang, Civitas di Universitas Merdeka Malang. Pers mahasiswa kota Malang pada tahun 1990 telah membuat wadah dalam lingkup kota Malang saja yaitu Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Kota Malang (FKPMM). Tahun 1992 adalah tahun kebangkitan pers mahasiswa Indonesia. Tahun kebangkitan ini ditandai dengan dideklarasikannya sebuah wadah bagi pers mahasiswa di kota Malang, tepatnya di Universitas Brawijaya dalam sebuah acara lokakarya pers mahasiswa Indonesia tanggal 15 sampai 18 Oktober 1992. Wadah itu bernama Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI). Acara ini dihadiri oleh 72 peserta yang merupakan perwakilan dari 37 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia. Aktivitas pers mahasiswa kota Malang bisa dikatakan pada awal-awal tahun 1990an adalah fase pembangkitan. Dengan ditandai hadirnya FKPMM dan PPMI. Dari wadah-wadah ini terjadi komunikasi dan pembentukan kultur pers mahasiswa di Malang. Tahun 1995 setelah terjadi kongres PPMI di Jember, pers mahasiswa di Malang turut mengalami perubahan. Salah satu sebabnya adalah perubahan nama PPMI dari “penerbit” menjadi “pers” sehingga menjadi Pehimpunan Pers Mahasiswa Indonesia. PPMI kemudian menginstruksikan kepada seluruh kota dan dewan kota yang menjadi anggota untuk mengganti nama penerbit menjadi pers. Eksistensi pers mahasiswa kota Malang mengalami perubahan setelah pergantian rezim pemerintahan di Indonesia. Kalau pada masa Orde Baru pers mahasiswa kota Malang eksistensi dan pengaruhnya dalam gerakan mahasiswa cukup besar namun tidak demikian setelah Indonesia mengalami reformasi. Pers mahasiswa di kota Malang turut mengalami depresi dan bahkan mengalami krisis sumber daya manusia. Meskipun demikian aktivitas pers mahasiswa kota Malang tidak menjadi padam. Pers mahasiswa kota Malang masih terus kelihatan aktif bahkan dengan adanya “gerakan media” pers mahasiswa kota Malang terus bersemangat belajar dan berkarya Penelitian selanjutnya diharapkan mampu menutupi penelitian ini baik dari segi data dan sumber. Tema seperti gerakan pers mahasiswa pada masa reformasi, sejarah pers mahasiswa di masing-masing kampus belum ada yang membahasnya sehingga kesempatan melakukan penelitian bertemakan pers mahasiswa masih terbuka lebar dan yang penting penelitian selanjutnya diharapkan mampu menutupi kekurangan dari penelitian ini.

Pengembangan modul pembelajaran termokimia dengan model learning cycle 5-E untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI semester I / Nurcahyadi

 

Kata kunci: modul, Learning Cycle 5-E, termokimia Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kimia di Sekolah Menengah Kejuruan adalah dengan melakukan perbaikan terhadap bahan ajar kimia yang digunakan. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dapat diaplikasikan pada SMK dan dikombinasikan dengan pembelajaran di sekolah yang mengacu pada struktur kurikulum yang berlaku. Pengembangan bahan ajar sebaiknya juga memperhatikan paradigma pembelajaran yang bersifat konstruktivistik. Salah satu model pembelajaran yang bersifat konstruktivistik dan dapat diaplikasikan dalam pengembangan modul adalah Learning Cycle 5-E. Sejauh ini bahan ajar berupa modul yang dikembangkan dengan model Learning Cycle 5-E untuk SMK pada pokok bahasan termokimia belum tersedia. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan modul pembelajaran termokimia dengan model Learning Cycle 5-E. Adapun tujuan dari penelitian pengembangan modul adalah untuk menghasilkan modul pembelajaran termokimia dengan model Learning Cycle 5-E untuk SMK kelas XI semester I. Penelitian ini termasuk dalam educational research & development. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam pengembangan modul mengacu pada 10 langkah penelitian dan pengembangan Borg dan Gall yang disederhanakan menjadi lima langkah penelitian dan pengembangan yaitu: (1) melakukan analisis produk yang akan dikembangkan, (2) mengembangkan produk awal, (3) validasi ahli dan revisi, (4) uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk, serta (5) uji coba lapangan skala besar dan produk akhir. Pengembangan modul hanya dibatasi sampai langkah ketiga karena adanya keterbatasan waktu dan biaya. Desain validasi terdiri dari dua macam yaitu validasi soal pendalaman termokimia yang merupakan soal uji kompetensi dan validasi isi produk (modul dan RPP pelengkap modul). Intrumen pengumpulan data berupa soal pendalaman termokimia serta angket validasi modul dan RPP.Validasi soal pendalaman termokimia dilakukan dengan mengujicobakan soal ke siswa dan dianalisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya bedanya. Soal-soal dengan kriteria baik dimasukkan dalam modul. Modul yang telah dilengkapi dengan RPP divalidasi isi oleh ahli (validator). Dari angket validasi modul dan RPP diperoleh data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif hasil validasi dianalisis dengan teknik analisis nilai rata-rata. Data kualitatif berupa komentar dan saran dari validator digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap modul yang dikembangkan. Hasil dari pengembangan adalah modul pembelajaran termokimia yang dilengkapi dengan RPP. Dari hasil validasi modul yang dikembangkan diperoleh nilai rata-rata 3,27 dengan kriteria penilaian valid/baik/layak, sedangkan untuk RPP diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,16 dengan kriteria penilaian cukup

Pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap prestasi dan motivasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari pada materi reaksi redoks / Kunindya Wiyatsih

 

Kata kunci: inkuiri terbimbing, prestasi belajar, motivasi belajar, reaksi redoks. Kimia merupakan salah satu mata pelajaran sains yang sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dipahami oleh siswa sehingga motivasi siswa untuk mempelajari ilmu kimia secara umum dapat dikatakan relatif rendah. Berdasarkan karakteristiknya, materi reaksi oksidasi reduksi adalah materi kimia yang bersifat abstrak. Materi reaksi redoks yang bersifat abstrak cocok bila dibelajarkan kepada siswa dengan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan konsep-konsep dalam materi reaksi oksidasi reduksi. Model pembelajaran yang sesuai antara lain adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan inkuiri terbimbing dan kemampuan inkuiri siswa, serta mengkaji perbedaan prestasi belajar dan mendeskripsikan motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan deskriptif, dengan rancangan Quasy Experimental Design dan desain Posttest Only Control Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari yang terdiri dari 8 kelas. Sampel yang terdiri dari 2 kelas, diambil dengan teknik purposive sampling. Penentuan kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan cara acak kelompok, sehingga diperoleh kelas X-5 sebagai kelas kontrol dan kelas X-4 sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen dibelajarkan dengan model pembe-lajaran inkuiri terbimbing dan kelas kontrol dengan metode konvensional. Ins-trumen penelitian berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan terdiri dari silabus, LKS dan RPP, sedangkan instrumen pengukuran terdiri dari tes prestasi belajar berupa soal objektif terdiri 25 butir soal yang valid dengan reliabilitas 0,725, lembar observasi dan angket motivasi be-lajar. Analisis prestasi belajar menggunakan uji t dua pihak dengan signifikansi α = 0,05, sedangkan data keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing, kemam-puan inkuiri siswa dan motivasi belajar dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas yang dibelajarkan dengan metode konvensional. Rata-rata nilai prestasi belajar kelas eksperimen adalah 69,3 lebih tinggi daripada kelas kontrol sebesar 64,0. Motivasi belajar siswa pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Persentase siswa yang sangat termotivasi pada kelas eksperimen mencapai 40% lebih tinggi daripada kelas kontrol yang hanya 20%, sedangkan persentase siswa yang termotivasi dan kurang termotivasi lebih tinggi pada kelas kontrol dibandingkan pada kelas eksperimen.

Pengaruh Return On Equity (ROE), Economic Value Added (EVA) dan Earning Per Share (EPS) terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listed di BEI periode 2008-2009 / Dwi Marta Siswa

 

Kata Kunci: Return On Equity (ROE), Economic Value Added (EVA), Earning Per Shared (EPS),Return saham Penelitian ini dilatarbelakangi dengan pemikiran bahwa investor ingin mendapatkan keuntungan dari investasinya sehingga investor dapat melihat dari faktor eksternal maupun faktor internal perusahaan. Faktor internal perusahaan seperti ROE, EVA dan EPS. Metode ini digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan atas modal yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Return saham merupakan cerminan dari hasil yang diperoleh suatu perusahaan atas saham dipasar bursa, tinggi maupun rendahnya return saham dapat dipengaruhi oleh nilai harga saham dipasar serta penilaian investor pada perusahaan yang memiliki kinerja yang baik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang digunakan pada populasi atau sampel tertentu dan analisis data bersifat kuantitatif. Teknik sampel menggunakan purposive sampel dan sebanyak 15 perusahaan memenuhi kriteria sampel. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan dan data indeks harga saham selama periode 2008-2009. Analisis data menggunakan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas, dan uji heterokedastisitas serta menggunakan analisis regresi linier berganda dengan uji regresi secara parsial (uji t) dan uji regresi secara simultan (uji F). Pengolahan data dibantu dengan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ROE secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return saham dengan tingkat signifikansi sebesar 0,005 < 0,05 sehingga Ho ditolak, sedangkan untuk variabel EVA secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return saham dengan tingkat signifikansi sebesar 0,022 < 0,05 sehingga Ho ditolak , EPS berpengaruh secara parsial terhadap return saham dengan nilai signifikansi sebesar 0,041 < 0,05 sehingga Ho ditolak, secara simultan variabel ROE, EVA dan EPS berpengaruh signifikan terhadap return saham dengan tingkat signifikansi 0,026 < 0,05 sehingga Ho ditolak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan bagi peneliti selanjutnya adalah penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menggunakan periode waktu penelitian yang lebih panjang dan menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dan dapat menambahkan variabel-variabel lain yaitu faktor-faktor eksternal seperti inflasi, SBI, kurs rupiah terhadap USD sehingga dapat diperoleh hasil kesimpulan yang lebih akurat dan valid.

Pengaruh kualitas pelayanan jasa terhadap loyalitas nasabah Bank BNI 46 Malang (studi pada nasabah BNI 46 Malang Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang) / Mohammad Iman Fahrian

 

Kata Kunci: Kualitas Pelayanan Jasa (Bukti Fisik, Keandalan, Daya Tanggap, Jaminan, empati), Loyalitas Nasabah. Pertumbuhan dunia perbankan dewasa ini semakin berkembang di Indonesia. Hal ini dengan ditandai banyak berdirinya bank - bank swasta, baik lokal maupun penanam modal asing. Semua itu tidak terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup pesat. Masing-masing bank berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan meningkatkan kualitas baik dari segi pelayanan, hadiah, produk, bunga, sampai dengan pemanfaatan teknologi yang semakin berkembang. Perusahaan penyedia jasa perbankan harus mulai berkonsentrasi pada loyalitas nasabah, bukan hanya pada kepuasan nasabah semata. Karena pada saat ini perang pemasaran sudah menjadi strategi nilai, dan persaingan industri sudah menjadi persaingan nilai, maka tidaklah mencukupi bagi perusahaan perbankan untuk berkonsentrasi semata-mata pada kepuasan nasabah. Sasaran akhir perusahaan haruslah loyalitas nasabah, karena nasabah yang puas akan menjadi nasabah yang loyal. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dan analisis data bersifat kuantitatif. Teknik sampel menggunakan purposive sampel sebanyak 85 responden (Nasabah BNI Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang) sebagai populasi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket/kuesioner yang terdiri dari 30 item pertanyaan. Analisis data menggunakan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heterokedastisitas serta menggunakan analisis regresi linier berganda dengan uji regresi secara parsial (uji t) dan uji regresi secara simultan (uji F). Pengolahan data yang dilakukan peneliti dibantu dengan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Kondisi Kualitas Pelayanan Jasa yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati dalam mempengaruhi Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang tergolong sudah baik. (2)Kondisi Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang tergolong loyal atau setia terhadap BNI 46. (3) Bukti Fisik mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. Keandalan juga mempunyai pengaruh postif dan signifikan terhadap Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. Daya Tanggap juga mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. Variabel Jaminan pun juga mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap ii Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. Serta variabel Empati juga mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. (4) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati secara bersama-sama terhadap loyalitas nasabah BNI Malang Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. (5) Berdasarkan Sumbangan Efektif (SE), variabel Daya Tanggap memilki pengaruh paling dominan terhadap Loyalitas Nasabah BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang. Sedangkan dari kelima variabel tersebut variabel Keandalan dan Jaminan mempunyai pengaruh paling kecil. Hal ini dapat dilihat dari hasil signifikansi-nya yang hanya sebesar 0,49 untuk variabel Keandalan dan 0,47 untuk variabel Jaminan. Dengan demikian disarankan (1) Agar pihak BNI 46 Malang Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang lebih meningkatkan keandalan karyawan dalam melayani dan memenuhi kebutuhan dari para nasabah-nya. Selain itu juga harus lebih memperbaiki jaminan dari transaksi yang dilakukan nasabah, tanggung jawab karyawan dalam pelayanan serta karyawan harus lebih profesional dalam bidangnya. Karena dari penelitian ini Keandalan dan Jaminan yang di berikan BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Universitas Negeri Malang dirasa masih kurang. (2) Demi terciptanya nasabah yang loyal terhadap BNI Malang, maka perusahaan perlu melakukan hal seperti ini : Melakukan inventarisasi terhadap nasabah-nasabah yang selama ini puas dan loyal atas pelayanan yang diberikan. Mendorong dengan cara memberikan hadiah atau bonus terhadap nasabah-nasabah yang loyal untuk mempertahankan keloyalitasanya terhadap BNI Malang. (3) Dengan kualitas pelayanan yang baik maka nasabah akan merasa puas dan dalam jangka panjang akan menumbuhkan loyalitas nasabah pada pihak penyedia jasa, dalam penelitian ini untuk mengukur pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas nasabah dilakukan secara langsung artinya tanpa melalui perantara variabel moderating yang dalam hal ini adalah kepuasan nasabah, maka disarankan perlu ada penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih banyak dan melibatkan variabel kepuasan pelanggan. (4) Saran bagi penelitian selanjutnya yaitu, untuk peneliti selanjutnya diharapkan lebih menyempurnakan penelitian ini dengan menanbah variabel bebas (kualitas pelayanan jasa) yang tidak terbatas pada lima variabel, yaitu bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati. Hal ini bertujuan agar penelitian yang sejenis tentang pengaruh kualitas pelayanan jasa terhadap loyalitas nasabah lebih sempurna dan bervariasi sehingga dapat dijadikan referensi penelitian-penelitian berikutnya.

Perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih pasangan ditinjau dari kelestarian hubungan cinta / Mar'atush Sholihah

 

Kata Kunci: Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Memilih Pasangan, Kelestarian Hubungan Cinta Putusnya hubungan cinta saat masih pacaran dan kasus-kasus perceraian merupakan ketidakcocokan yang bersumber dari kesalahan memilih pasangan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih pasangan, mengetahui besar sumbangan masing-masing faktor, mengetahui perbedaan faktor-faktor antara hubungan cinta selama 1 tahun, 3 tahun dan pasangan yang sudah menikah, dan mengetahui perbedaan faktor-faktor antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Cross-Sectional. Data penelitian berupa data kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa skala yaitu Skala Memilih Pasangan. Variabel bebas penelitian ini ialah lamanya hubungan cinta dan jenis kelamin dan variabel terikatnya ialah pengambilan keputusan memilih pasangan. Sampel penelitian ialah 100 mahasisiwa Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Malang, yang berusia 19-24 tahun. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 4 kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama diketahui terdapat 5 faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih pasangan. Meliputi faktor keamanan, faktor keintiman, faktor kesamaan, faktor kedekatan dan faktor asertif. Kedua, Masing-masing faktor hasil analisis faktor memberikan sumbangan terhadap PKMP. Faktor keamanan memberikan total sumbangan 25.122 %, faktor keintiman memberikan total sumbangan 10.961 %, faktor kesamaan memberikan total sumbangan 9.437 %, faktor kedekatan memberikan total sumbangan 5.418 %, faktor asertif memberikan total sumbangan 4.735 %. Ketiga, tidak ada perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi PKMP antara hubungan cinta selama 1 tahun, 3 tahun dan pasangan yang sudah menikah. Keempat, tidak ada perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi PKMP antara jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. Disarankan kepada pasangan, sejak mulai berpacaran untuk lebih dahulu mempertimbangkan dengan matang faktor-faktor apa saja dalam memilih pasangannya. kepada peneliti selanjutnya, untuk menyempurnakan penelitian agar dapat menjelaskan 45.327% varian yang tidak tercover oleh penelitian ini.

Pengaruh kompensasi dan komunikasi internal terhadap semangat kerja karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari Malang / Indriwati

 

Kata Kunci: Kompensasi, Komunikasi Internal, Semangat Kerja. Kompensasi merupakan salah satu aspek yang berarti bagi karyawan, karena bagi individu/karyawan besarnya kompensasi mencerminkan ukuran nilai karya mereka di antara para karyawan itu sendiri, keluarga dan masyarakat. Bila kompensasi diberikan secara benar, karyawan akan termotivasi dan lebih terpusatkan untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi. Komunikasi memiliki peran penting, terutama dalam membentuk organisasi yang efektif dan efisien. Komunikasi yang terjadi di CV. Indah Cemerlang Singosari Malang sudah cukup baik yaitu terdapat keharmonisan komunikasi antara atasan dengan bawahan, sedangkan komunikasi antar bawahan cukup harmonis, hal ini disebabkan adanya persaingan antar bawahan untuk menunjukkan kinerjanya pada perusahaan. Sedangkan mengenai semangat kerja karyawan ada sebagian besar yang mengalami peningkatan tetapi ada juga yang memiliki semangat kerja yang menurun, hal ini disebabkan karena karyawan merasa kompensasi yang diterima karyawan tidak menerapkan prinsip adil dan layak serta menganggap perusahaan masih kurang memperhatikan dalam pengambilan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kompensasi, komunikasi internal dan semangat kerja karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari Malang, menganalisis pengaruh kompensasi terhadap semangat kerja karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari Malang, dan menganalisis pengaruh komunikasi internal terhadap semangat kerja karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari Malang. Sampel yang digunakan berjumlah 62 karyawan. Teknik analisis data yang digunakan uji validitas, uji reliabilitas, analisis regresi berganda dan uji t dengan menggunakan program SPSS 15 for Windows. Berdasarkan analisis deskriptif dapat diketahui kondisi kompensasi, komunikasi internal dan semangat kerja yaitu sebagai berikut: Karyawan merasa sangat puas dengan pemberian kompensasi dari CV. Indah Cemerlang Singosari. Komunikasi internal antara atasan dengan bawahan maupun antara bawahan dengan bawahan di CV. Indah Cemerlang Singosari berjalan dengan sangat baik. Karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari memiliki semangat kerja yang tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan. Ada pengaruh yang positif dan signifikan kompensasi terhadap semangat kerja karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari Malang. Ada pengaruh yang positif dan signifikan komunikasi internal terhadap semangat kerja karyawan CV. Indah Cemerlang Singosari Malang. Sehubungan dengan hal tersebut, maka disarankan perusahaan mempertahankan dan meningkatkan kompensasi dan komunikasi internal agar semangat kerja karyawan dapat semakin meningkat, dengan cara perusahaan mengikuti perkembangan kenaikan UMR dan memberikan kenaikan bonus tiap tahun, ada penilaian dari bawahan untuk atasan, dan menerima kritik dari bawahan misalnya dengan menyediakan kotak saran

Pengembangan pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan alat modifikasi dari bahan kayu waru untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gandusari Kabupaten Trenggalek / Putri Norma Yurissa

 

Kata kunci: Pengembangan, pembelajaran, kebugaran jasmani, alat modifikasi, kayu waru Kebugaran jasmani merupakan salah satu aspek dalam ruang lingkup aktivitas pengembangan mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan bagi siswa kelas VIII. Aktivitas kebugaran jasmani bagi siswa kelas VIII meliputi latihan kekuatan, kecepatan, kelincahan, dan daya tahan. Berdasarkan hasil penelitian awal yang dilakukan kepada 2 orang guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan SMP Negeri 2 Gandusari Kabupaten Blitar diperoleh data bahwa aktivitas kebugaran jasmani yang diberikan membuat siswa kurang tertarik dan tidak serius dalam melaksanakannya, dan belum pernah ada alat modifikasi sederhana dari bahan kayu untuk pembelajaran kebugaran jasmani. Sehingga tujuan dari pengembangan pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan alat modifikasi dari bahan kayu waru diharapkan dapat menarik minat siswa selama proses pembelajaran kebugaran jasmani. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket kuesioner. Angket kuesioner diberikan pada dua ahli pembelajaran dan satu ahli kebugaran jasmani, uji kelompok kecil terhadap siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gandusari Kabupaten Blitar sebanyak 12 siswa dan uji kelompok besar sebanyak 40 siswa. Produk pengembangan merupakan pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan alat modifikasi dari bahan kayu waru yang meliputi latihan kekuatan, kecepatan, latihan kelincahan, dan daya tahan. Alat modifikasi yang digunakan berupa gawang kayu, tumpuan kayu, lembaran kayu, jembatan kayu, balok kayu, dan tiang kayu yang dibuat dari bahan kayu waru. Hasil revisi produk dari tinjauan para ahli menyatakan bahwa produk yang dikembangkan sudah baik dan dapat digunakan untuk uji produk. Dari hasil analisis uji kelompok kecil dan uji kelompok besar diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan alat modifikasi dari bahan kayu waru untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gandusari Kabupaten Blitar tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 76-100%. Produk pengembangan pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan alat modifikasi sederhana dari bahan kayu waru diharapkan dapat dijadikan referensi guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dalam memberikan materi pembelajaran kebugaran jasmani serta memotivasi untuk lebih aktif dalam melaksanakan pembelajaran.

Pengembangan lembar kerja siswa akuntansi digital dengan bantuan macromedia flash MX pada materi menyusun laporan keuangan perusahaan jasa / Yosep Yogi Prawira

 

Kata Kunci: Pengembangan LKS Akuntansi Digital, Macromedia Flash MX, Laporan Keuangan Perusahaan Jasa LKS merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang akan dikembangkan. Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) maka timbul inovasi LKS yang bersifat konvensional yaitu LKS yang dikemas dalam bentuk cetak, menjadi LKS yang bersifat modern yaitu LKS yang dikemas dalam bentuk elektronik atau dalam bentuk digital, yang disebut LKS digital. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk berupa LKS Akuntansi Digital dengan menggunakan bantuan Macromedia Flash MX pada materi menyusun laporan keuangan perusahaan jasa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Jenis angket yang digunakan yaitu angket terbuka dan angket tertutup. Angket terbuka menghasilkan jenis data kualitatif yaitu berupa saran, kritik dan pendapat secara umum terhadap LKS Akuntansi digital. Sedangkan angket tertutup menghasilkan jenis data kuantitatif yaitu skor hasil validasi terhadap LKS Akuntansi Digital yang menggunakan skala Likert. Data kuantitatif tersebut kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif persentase. Hasil validasi menunjukkan skor persentase 87,59% dari validasi ahli materi, 74,67% dari ahli media, dan 73,36% dari uji coba lapangan terbatas, sehingga secara keseluruhan didapatkan skor persentase sebesar 78,54%, dan dapat disimpulkan bahwa LKS Akuntansi digital dengan bantuan Macromedia Flash MX pada materi menyusun laporan keuangan perusahaan jasa valid/layak digunakan sebagai LKS Digital.

Meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) (studi pada siswa kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2010/2011 pada mata pelajaran mene

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC), minat belajar, hasil belajar Salah satu persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah rendahnya kualitas pendidikan nasional. Rendahnya kualitas pendidikan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah kurangnya jumlah guru yang berkualitas, kurangnya buku sebagai penunjang kegiatan belajar, dan model pembelajaran yang kurang menarik minat siswa untuk belajar. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat, menarik dan harus efektif sehingga siswa dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. Oleh karena itu, diperlukanlah model pembelajaran kooperatif yang dapat membantu siswa meningkatkan hasil belajarnya. Ada banyak model pembelajaran cooperative learning yang memenuhi ciri pembelajaran efektif diantaranya adalah model kooperatif tipe CIRC yang dapat membantu siswa untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah dalam menyelesaikan soal cerita. Sehingga dengan model pembelajaran tersebut siswa mampu dan terampil menyelesaikan masalah dalam soal cerita dengan langkah-langkah yang tepat. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan siswa kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang teridentifikasi mempunyai permasalahan dalam proses pembelajaran. Permasalahan itu adalah siswa tampak kurang antusias mengikuti proses belajar mengajar. Hanya beberapa siswa yang aktif menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Ini menjadikan kondisi yang tidak proposional dan guru sangat aktif, tetapi sebaliknya siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi sangat lemah. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) dengan penerapan model pembelajaran CIRC. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah metode dokumentasi, kuesioner, tes dan observasi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pada akhir siklus II tingkat keberhasilan tindakan pada minat belajar siswa mencapai 81,65% dengan jumlah siswa yang dikategorikan berminat adalah 41 siswa. Sebanyak 35 siswa (85,36%) hasil belajarnya mengalami peningkatan pada aspek kognitif. Tingkat keberhasilan tindakan pada hasil belajar aspek afektif dan aspek psikomotorik adalah 78,25% dan 78,05%. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa minat belajar dan hasil belajar siswa meningkat setelah penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah diharapkan bagi seorang guru dapat menerapkan model pembelajaran ini pada mata pelajaran yang dianggap sesuai, seorang guru harus dapat memotivasi siswa untuk mengadakan persiapan belajar di rumah sebelum materi disampaikan disekolah. Dengan cara memberi tahu siswa bahwa setiap kali pertemuan akan diadakan pre-test dan post-test, seorang siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan penuh konsentrasi, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, dapat memecahkan dan menganalisis suatu permasalahan, menumbuhkan rasa sosialisasi antar teman.

Hubungan antara motivasi memilih program studi, persepsi terhadap program studi, dan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM / Idayati Nurlita

 

Kata Kunci: motivasi, persepsi, prestasi belajar. Salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pendidikan seseorang adalah dengan mengetahui prestasi belajarnya. Dalam mencapai prestasi belajar yang diinginkan, tentunya terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh peserta didik. Kendala tersebut bisa berasal dari dalam diri seseorang maupun berasal dari lingkungan luar. Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan diri pada dua faktor tersebut. Pertama adalah faktor internal yang berupa motivasi, motivasi yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini bukanlah motivasi untuk belajar atau motivasi untuk berprestasi, akan tetapi motivasi memilih program studi, motivasi yang timbul pada saat seseorang memutuskan untuk memasuki program studi dalam sebuah perguruan tinggi. Kedua adalah faktor eksternal yang berupa persepsi terhadap program studi, persepsi terhadap program studi ini peneliti anggap sebagai faktor lingkungan tempat belajar. Faktor persepsi ini timbul ketika seseorang telah masuk pada program studi tertentu. Sehingga faktor persepsi terhadap program studi ini muncul setelah faktor motivasi memilih program studi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hubungan antara motivasi memilih program studi dengan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM, (2) hubungan antara persepsi terhadap program studi dengan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM, (3) hubungan antara motivasi memilih program studi, persepsi terhadap program studi, dan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional dengan tiga variabel, yaitu motivasi memilih program studi (variabel bebas), persepsi terhadap program studi (variabel bebas), dan prestasi belajar (variabel terikat). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi PLS UM angkatan tahun 2007 s/d 2010 sebanyak 327 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling dengan mengambil sampel 25% tiap angkatan, sehingga diperoleh jumlah sampel 81 mahasiswa. Instrumen yang digunakan dalam memperoleh data adalah angket/kuesioner dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, regresi linier tunggal, dan regresi linier ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan yang signifikan antara motivasi memilih program studi dengan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM yang ditunjukkan dengan r = 0,239, (2) ada hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap program studi dengan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM yang ditunjukkan dengan r = 0,301, (3) ada hubungan yang signifikan antara motivasi memilih program studi dan persepsi terhadap program studi dengan prestasi belajar mahasiswa Program Studi PLS UM yang ditunjukkan dengan r = 0,318. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang peneliti ajukan adalah: (1) sebelum memilih program studi di perguruan tinggi, hendaknya calon mahasiswa mempertimbangkan dengan matang hal-hal yang berkaitan dengan program studi yang akan dimasuki, (2) diharapkan mahasiswa yang memiliki motivasi yang rendah ketika memilih program studi dan memiliki persepsi yang kurang baik terhadap program studi dapat meningkatkan motivasi dan memperbaiki persepsi. Sedangkan bagi mahasiswa yang memiliki motivasi yang tinggi ketika memilih program studi dan memiliki persepsi yang baik terhadap program studi tetap mempertahankan motivasi dan persepsi tersebut, (3) diharapkan dosen mampu membuat mahasiswa memiliki persepsi yang baik terhadap prodi serta memotivasi mahasiswa dengan menunjukkan motivasi mengajar yang baik, ketepatan masuk kelas, strategi pembelajaran yang digunakan, objektif dalam penilaian, dsb., (4) pihak Prodi PLS hendaknya lebih memperhatikan sarana prasarana, kurikulum, tenaga pengajar, proses pembelajaran, dan mengupayakan perbaikan citra PLS di mata masyarakat, (5) disarankan agar ada penelitian lanjutan yang mengkaji hubungan antara variabel intelegensi dan ketiga variabel penelitian ini dan kontribusi masing-masing. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian tentang persepsi guru BK di SLTA terhadap Prodi PLS dan korelasinya dengan persepsi calon mahasiswa terhadap Prodi PLS dan keberhasilan studi mereka di Prodi PLS.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia berbasis masalah (problem based learning) untuk SMA/MA SBI kelas XI semester 2 pada materi pokok larutan penyangga / Mira Pusparini

 

Kata kunci : Perangkat pembelajaran, Problem Based Learning, SBI, Larutan Penyangga Perkembangan global membutuhkan suatu terobosan pembelajaran yang efektif dan memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP). Upaya yang telah dilakukan pemerintah Indonesia memenuhi tuntutan global adalah mengembangkan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan kurikulum yang diterapkan berupa kurikulum adaptif. Guru yang mengajar di SBI perlu perangkat pembelajaran dengan strategi pembelajaran tertentu. Beberapa kajian dan pencarian informasi yang telah dilakukan oleh penulis menunjukkan belum banyak tersedia perangkat pembelajaran yang berbasis masalah (Problem Based Learning) pada materi pokok larutan penyangga untuk Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengetahui produk akhir perangkat pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) pada materi pokok larutan penyangga di SMA/MA SBI yang meliputi sistematika dan tingkat validitas produk akhir perangkat pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Pengembangan perangkat pembelajaran larutan penyangga didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan yakni 4D-Model (Define, Design, Develop, and Disseminate). Keempat D dalam 4D Model merupakan tahap-tahap (sintaks) dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Pada model pengembangan ini akan diadopsi sampai pada D yang ketiga yakni hingga tahap develop (pengembangan). Validator dalam pengembangan ini adalah 2 dosen Kimia Universitas Negeri Malang dan 2 guru Kimia SMA yaitu dari SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 5 Malang. Instrumen yang digunakan adalah angket penilaian dan tanggapan terhadap perangkat pembelajaran kemudian dianalisis dengan teknik analisis persentase. Perangkat pembelajaran kimia terdiri dari 4 bagian yaitu bahan ajar, silabus (syllabus), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (lesson plan), dan instrumen penilaian. Bagian bahan ajar terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal berisi halaman judul (cover), kata pengantar (preface), daftar isi (contents), daftar tabel (table), daftar gambar (figure), dan petunjuk penggunaan bahan ajar (instructions for using the teaching materials). Bagian isi berisi bagian pendahuluan (introductions), lembar SK dan KD, orientasi masalah (orientation on the problem), dan materi Buffer Solutions. Bagian akhir berisi rangkuman (summary), latihan soal (additional exercise), glossarium (glossary), daftar pustaka (references), dan kunci jawaban (answer key). Berdasarkan uji validasi perangkat pembelajaran diperoleh persentase 89,81%. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran kimia hasil pengembangan bernilai valid dan layak untuk digunakan.

Pengolahan buah belimbing manis sebagai bahan dasar nata belimbing (nata de Averrhoa) / Andrias Kriswanti

 

Kata Kunci:Belimbing Manis, Nata, Uji Kesukaan Buah belimbing manis merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara berbentuk bulat memanjang dengan lima rusuk sehingga dikenal dengan Starfruit. Buah belimbing manis berasal dari divisio:Spermatophyta, kelas:Angiospermae, ordo:Oxalidales, famili:Oxalidaceae, genus:Averrhoa, spesies:Averrhoa Carambola. Nata termasuk salah satu jenis minuman berserat yang memiliki tekstur kenyal seperti gel atau agar-agar, berwarna putih transparan dihasilkan dari pembentukan mikroorganisme Acetobacter Xylinum pada suatu medium. Pemberian nama nata disesuaikan dengan pertumbuhan Acetobacter Xylinum, sehingga ada beberapa nama nata diantaranya, nata de soya dihasilkan dari limbah tahu, nata de mango diperoleh dari sari buah mangga Nata de Averrhoa merupakan varian dari produk nata yang tekstur serta warna menyerupai nata pada umumnya. Bahan utama yang digunakan untuk membuat Nata de Averrhoa adalah air yang diperoleh dari penghancuran buah belimbing manis. Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan Nata de Averrhoa, untuk mengetahui uji kesukaan konsumen terhadap warna, tekstur serta rasa Nata de Averrhoa. Proses pengolahan jus buah belimbing menjadi Nata de Averrhoa yaitu dengan perebusan yang ditambahkan dengan bahan bantu, pewadahan, pendinginan yang dilanjutkan dengan penambahan bibit nata atau starter, fermentasi selama 12 hari, dan pasca panen setelah 12 hari. Tekstur yang dihasilkan yaitu kenyal, berwarna putih transparan dan tidak memiliki rasa. Pembuatan Nata de Averrhoa dilakukan sebanyak dua kali uji coba resep agar bisa menghasilkan warna, tekstur dan rasa yang diharapkan. Pada uji coba kedua diperoleh formula yang tepat untuk membuat Nata de Averrhoa, yaitu belimbing manis 1000 gr ditambahkan air 600 ml untuk hasil 1000 ml cairan, gula pasir 50 gr, Ammonium Sulfat (ZA) 4 gr, garam mineral 0,5 gr, Asam Asetat 1 ml, Asam Sitrat 0,5 gr, bibit nata 100 ml. Hasil uji kesukaan responden terhadap warna, tekstur dan rasa Nata de Averrhhoa dapat diketahui dengan cara memberi angket dan produk kepada masyarakat umum, yaitu anak-anak, remaja dan dewasa. Pada uji kesukaan responden yang menyukai warna Nata de Averrhoa yaitu sebanyak 32,2% dengan kategori cukup suka, 43,3% untuk responden yang menyukai tekstur Nata de Averrhoa dengan kategori cukup suka, dan 48,9% untuk responden yang menyukai rasa Nata de Averrhoa dengan kategori cukup suka.

Meningkatkan prestasi belajar matematika tentang soal cerita dengan pemecahan masalah model Polya siswa kelas III SDN Nglundo 1 Sukomoro / Gatot Subroto

 

Hasil penelitian menunujukkan bahwa penerapan pembelajaran pemecahan masalah pada materi pecahan dengan model Polya dapat dilaksanakan dengan baik, dan dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Hal ini dapat dilihat dari penerapan model Polya pada siklus I rata-rata skor yang diperoleh 11 dan meningkat pada siklus II menjadi 11,5. Aktivitas siswa meningkat, siklus I mendapat rata-rata 72,73 menjadi 94,36 pada siklus II. Kemampuan memecahkan masalah sudah meningkat dapat dilihat dari kenaikan rata-rata nilai pada tiap siklus. nilai proses siklus I 74,25 pada siklus II meningkat 92,23. Nilai evaluasi pada siklus I 74,75 meningkat pada siklus II yaitu 81,25. Dan nilai rata-rata tugas siklus I 94,93 meningkat pada siklus II 95,5. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan guru dalam kegiatan pembelajaran matematika yang berkaitan dengan pemecahan masalah hendaknya menggunkana model Polya dalam pembelajaran sehingga siswa bisa lebih mudah menyelesaiakan pemecahan masalah. Peneliti lain, selanjutnya kalau menggadakan penelitian tentang pemecahan masalah bisa menggunakan model pemecahan masalah lain yang sejenis sehingga prestasi belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita akan meningkat.

Pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV sekolah dasar / Novika Sari

 

Kata kunci: Pengembangan, Menerapkan Budaya Hidup Sehat, Mutimedia Interaktif, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Menerapkan budaya hidup sehat merupakan salah satu standar kompetensi yang ada pada kelas IV Sekolah Dasar mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Berdasarkan analisis kebutuhan di tiga sekolah dasar yaitu di SDN Percobaan 1 Malang, SDN Klojen Malang dan SDN Madyopuro 5, referensi yang digunakan sangat kurang khususnya tentang kesehatan dan hanya menggunakan buku paket 1996-1997 dan LKS Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan. Kurangnya perhatian siswa tentang kebersihan lingkungan terlihat saat siswa membuang sampah sembarangan di halaman sekolah padahal di tempat tersebut terdapat banyak slogan-slogan tentang kebersihan dan di lacilaci bangku terdapat sampah kertas dan bungkus jajan. Kurangnya referensi tentang kesehatan dan kurangnya perhatian siswa tentang kebersihan lingkungan maka dibutuhkan media pembelajaran tentang budaya hidup sehat khususnya kebersihan lingkungan yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami konsep dan contoh tentang kebersihan lingkungan. Budaya hidup sehat merupakan standar kompetensi yang terdapat di kelas IV khususnya tentang kebersihan lingkungan mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat siswa kelas IV sangat senang dengan pembelajaran yang berhubungan dengan komputer, oleh karena itu peneliti mengembangkan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengembangkan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yang diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep dan contoh. Dalam metode penelitian dan pengembangan ini, peneliti menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun prosedur penelitian dan pengembangan sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan angket yang ditujukan kepada 3 orang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan pengamatan kepada siswa kelas IV, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, 1 ahli kesehatan dan 1 ahli media, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan ii evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil dengan menggunakan 6 subyek kelas IV, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar menggunakan 45 subyek kelas IV, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekoalah Dasar. Hasil pengembangan produk berupa multimedia interaktif dengan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Pengembangan produk standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer menggunakan aplikasi Microsoft Office Powerpoint sebanyak 169 slide yang berisi 4 kompetensi dasar yaitu kompetensi dasar pertama “menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah” terdapat di slide 3 sampai slide ke-61. Kompetensi dasar kedua “membiasakan membuang sampah pada tempatnya” terdapat di slide 62 sampai slide ke-119. Kompetensi dasar ketiga “mengenal berbagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan” terdapat di slide 120 sampai slide ke-141. Kompetensi dasar keempat “menjaga kebersihan lingkungan terhadap sumber penularan penyakit seperti nyamuk dan unggas” terdapat di slide 142 sampai slide ke-168. Hasil pengembangan melalui multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat ini memenuhi kriteria baik dan dapat digunakan dengan hasil uji coba lapangan awal terhadap efektivitas multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat mencapai 92%, hasil uji coba lapangan terhadap efektivitas multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat mencapai 94%. Untuk hasil uji coba lapangan awal terhadap efisiensi multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat mencapai waktu 81 menit 3 detik, untuk hasil uji coba lapangan terhadap efisiensi multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat mencapai waktu 80 menit 8 detik. Untuk hasil uji coba lapangan awal terhadap daya tarik multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat mencapai 100%, untuk hasil uji coba lapangan terhadap daya tarik multimedia interaktif menerapkan budaya hidup sehat mencapai 100%. Berdasarkan hasil analisis data uji coba lapangan awal terhadap 6 orang siswa dan uji coba lapangan terhadap 45 orang siswa kelas IV di SDN Percobaan 1 Malang, SDN Klojen Malang, dan SDN Madyopuro 5 multimedia interaktif berbasis komputer menerapkan budaya hidup sehat untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar dinyatakan baik dan dapat digunakan. Peneliti memiliki beberapa saran terhadap produk pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yaitu bagi sekolah dapat membantu dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, disesuaikan dengan keadaan sekolah yang akan dituju agar dapat digunakan dengan maksimal. Dapat digunakan baik siswa maupun guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan sebagai salah satu media pembelajaran. Dengan semakin banyak media yang dikembangkan dan lebih menarik maka pembelajaran akan lebih menyenangkan dan diharapkan dengan media pembelajaran multimedia interaktif siswa akan lebih mudah dalam memahami pelajaran.

Hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah dengan sanitasi rumah masyarakat di Desa Kucur / Novalia Fitria Pratiwi

 

Kata Kunci: pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga, ventilasi rumah, pembuangan limbah rumah tangga, penggunaan sumber air bersih. Tidak ada satupun di muka bumi ini yang berdiri sendiri, semuanya saling bergantung dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Demikian juga antara manusia dengan lingkungan. Lingkungan yang sehat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lingkungan rumah tangga itu sangat penting karena akan memberikan dampak terhadap kondisi sanitasi rumah masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga dengan ventilasi rumah warga masyarakat desa Kucur, (2) hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga dengan cara pembuangangan limbah rumah tangga masyarakat di desa Kucur, (3) hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga dengan penggunaan sumber air bersih masyarakat desa Kucur. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan random sampling dengan mengambil 10% dari jumlah populasi, sehingga diperoleh jumlah sampel 182 orang. Instrumen yang digunakan dalam memperoleh data adalah angket/kuesioner dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga dengan ventilasi rumah warga masyarakat desa Kucur yang ditunjukkan dengan r = 0,344, (2) ada hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga dengan cara pembuangangan limbah rumah tangga masyarakat di desa Kucur yang ditunjukkan dengan r = 0,0,200, (3) ada hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan lingkungan rumah tangga dengan penggunaan sumber air bersih masyarakat desa Kucur yang ditunjukkan dengan r = 0,211. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang peneliti ajukan adalah: (1)bagi desa diharapkan penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan informasi dalam pengembangan desa secara merata khususnya dalam bidang kesehatan lingkungan dan diharapkan aparat desa mampu mengembangkan dan memanfaatkan sumber air yang ada agar tidak terbuang percuma, (2)bagi jurusan pendidikan laur sekolah diharapkan mampu mengembangkan program yang nantinya bisa menjadikan masyarakat mau dan mampu menjadikan lingkungan rumahnya menjadi lebih baik salah satunya dengan mengadakan program pemberdayaan masyarakat tentang lingkungan, (3)bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengembangkan penelitian ini dengan mengkaji hubungan lain yang berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan rumah.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 |