Naskah drama Cipoa karya Putu Wijaya dalam perpektif pementasan / Ajeng Herlin Listyaningrum

 

ABSTRAK Listyaningrum, Ajeng Herlin. 2015. Naskah drama Cipoa karya Putu Wijaya dalam perspektif pementasan. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto,M.Pd. (II) Dr.Widodo Hs, M.Pd. Kata Kunci: drama, naskah drama, pementasan, analisis, perspektif Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang unik. Drama mampu menggambarkan realitas kehidupan yang ada, kemudian mengangkatnya dalam bentuk pementasan. Sebuah pementasan drama tidak lepas dari kehadiran naskah drama. Naskah drama merupakan pegangan untuk melaksanakan sebuah pementasan. Dalam mementaskan sebuah naskah drama, tentu terjadi perubahan di dalamnya. Sebuah naskah yang dipentaskan sekilas akan terlihat sama, namun dibalik hal tersebut terdapat perbedaan-perbedaan yang terjadi. Perbedaan naskah ketika dipentaskan tersebut yang menarik perhatian peneliti, sehingga penelitian berjudul Naskah Drama Cipoa karya Putu Wijaya dalam Perspektif Pementasan, dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui alur dalam naskah drama Cipoa dan pementasan, (2) mengetahui penokohan dalam naskah drama Cipoa dan pementasan, (3) mengetahui tema dalam naskah drama Cipoa dan pementasan, (4) mengetahui latar naskah dalam drama Cipoa dan pementasan, dan (5) mengetahui dialog dalam drama Cipoa dan pementasan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendektan struktural semiotik. Sumber data yang digunakan yaitu berupa salinan naskah drama Cipoa dan video pementasan Cipoa kelas minor drama angkatan 2011. Sedangkan, data yang diambil berupa kata, frase, kalimat, dan dialog yang mendukung tujuan penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan teknik observasi. Kegiatan menganalisis data dimulai dari tahap mendeskripsikan data, mengelompokkan data, dan menganalisis tanda yang sudah dikelompokkan dan selajutnya menyusun hasil analisis menggunakan teori-teori yang ada. Hasil penelitian ini berupa paparan struktur naskah drama Cipoa dan perspektif pementasan. Paparan struktur naskah drama tersebut meliputi: (1) alur, (2) penokohan, (3) tema, (4) latar, dan (5) dialog. Alur dalam naskah dan pementasan memiliki kesamaan, yaitu menggunakan alur maju. Unsur penokohan dalam naskah dan pementasan mengalami perbedaan berupa pengurangan tokoh dan adanya parodi tokoh. Unsur tema dalam naskah dan pementasan memiliki kesamaan yaitu menggunakan tema kejujuran. Unsur latar dalam naskah dan pementasan memiliki kesamaan. Latar tersebut meliputi latar tempat yaitu lokasi pertambangan emas, latar waktu yang yaitu pagi hari menjelang subuh, dan juga sore hari menjelang malam. Unsur terakhir dalam analisis naskah drama Cipoa karya Putu Wijaya yaitu dialog. Dalam pementasan Cipoa, unsur dialog mengalami perbedaan berupa perubahan, pengurangan, dan penambahan dialog. Kesimpulan penelitan ini yakni terdapat perbedaan pada naskah yang dipentaskan. Sebuah naskah yang dipentaskan akan mengalami perbedaan, walaupun sekilas terlihat sama akan tetapi perbedaan tersebut akan terlihat ketika ditelisik lebih mendalam lagi. Perbedaan tersebut dapat berupa perubahan, pengurangan, penambahan dialog maupun adegan, atau adanya parodi tokoh. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan tentang drama yang berupa unsur pembangun sebuah naskah drama serta dapat memberi pengetahuan mengenai perspektif pementasan dari sebuah naskah drama. Penelitian ini juga dapat dijadikan inspirasi awal bagi peneliti lain untuk menemukan ide penelitian baru yang berkaitan dengan naskah drama dan perspektif pementasan.

Perkembangan pementasan kesenian tradisional wayang kulit bagi masyarakat Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung / Kiky Arisandy

 

Kata kunci: Perkembangan Pementasan Wayang Kulit. Wayang kulit merupakan salah satu budaya yang telah lama ada di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Di dalam wayang mengandung beberapa unsur yaitu drama, seni sastra (cerita), seni suara (sulukan, dan lagu-lagu pengiringnya), seni musik (gending) dan seni rupa (wujud wayang). Oleh karena itu perlu diusahakan usaha peningkatkan lebih lanjut pelestariannya pewayangan tersebut. Salah satunya dengan mengadakat penelitian.Perkembangan pewayanan di Indonesia terus ditingkatkan sehingga pewayangan tidak hanya di kenal oleh masyarakat Jawa saja namun telah dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Obyek penelitian ini adalah pementasan wayang kulit yang berada di Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui latar belakang perkembangan pementasan kesenian tradisional wayang kulit di Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Pengambilan data dilakukan terhadap informan, analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari sampai dengan bulan Juli 2011. Data penelitian yang berupa paparan kebahasaan dalam bentuk visual yang terdapat dalam pertujukan ini yang diperoleh dari pementasan wayang kulit dengan lakon “Pandawa Kalah Main Dadu dan Semar Munggah Kahyangan”. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrument yang digunakan untuk mengumpulan data berupa informan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan Trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Temuan penelitian ini adalah bagaimana perkembangan pementasan kesenian tradisional wayang kulit di Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Perkembangan pementasan wayang kulit ternyata selalu mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam perkembangan pementasan wayang kulit dari tahun 1970an mengalami kemunduran, yang menyebabkan wayang kulit berada diujung tanduk kepunahan, kemudian sekitar tahun 1990an pementasan wayang kulit sudah mulai menunjukkan eksistensinya kembali di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi perkembangan wayang kulit tersebut tidak bertahan lama karena adanya krisis moneter yang berkepanjangan. Dan pada tahun 2000 sampai sekarang ini wayang mengalami perkembangan yang cukup pesat dan sekarang didukung juga banyaknya pementasan wayang kulit yang diadakan di stasiunstasiun TV besar.

Pengaruh kurs Dollar AS, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga SBI terhadap pergerakan harga saham perusahaan otomotif dan komponennya yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) / Nilam Fairuz Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, NilamFairuz. 2016. PengaruhKurs Dollar AS, Tingkat Inflasi, dan Tingkat SukuBunga SBI TerhadapPergerakanHargaSaham Perusahaan OtomotifdanKomponennya yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi, JurusanAkuntansiFakultasEkonomiUniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. BambangSugeng, S.E., M.A., M.M.Ak. (II) Dr. Sunaryanto, M.Ed. Kata Kunci : Kurs Dollar AS, Tingkat Inflasi, Tingkat SukuBunga SBI, PergerakanHargaSaham, Perusahaan OtomotifdanKomponennya. Pasar modal dapatmenjadisaranabagiperusahaandalamkebutuhan modal untukjangkapanjangdenganpenerbitansurat-suratberhargasepertisahamataupunobligasi. Dalamsuatusahamperusahaanterdapatbeberapafaktor yang dapatmempengaruhifluktuasinyayaitufaktormakromaupunfaktormikro. Terdepresiasinyakurs dollar AS, berfluktuasinyatingkatinflasidantingkatsukubunga SBI merupakanbeberapadarifaktormakro yang dapatmempengaruhiinvestasidanberakibatpadaberfluktuasinyahargasaham. Dalamduatahunterakhir, yaitu 2014 hingga 2015 merupakanperiode di mananilaitukarataukurs Indonesia terhadap dollar AS mengalamidepresiasihinggamenyebabkanbeberapaperusahaan yang berbasisimpormengalamikendaladalambiayauntukmembelibeberapabahanbakudansalahsatuperusahaantersebutadalahperusahaanotomotifdankomponennya. Berkaitandenganhaltersebut, makadiperlukanpembahasanuntukmengetahuipengaruhsecaraparsialdarikurs dollar AS, tingkatinflasi, dantingkatsukubunga SBI terhadappergerakanhargasahamperusahaanotomotifdankomponennya. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipengaruhdarivariabelindependen (kurs dollar AS, tingkatinflasi, dantingkatsukubunga SBI) terhadapvariabeldependen (perubahanhargasaham) danmerupakanjenispenelitianexplanatory. Populasidalampenelitianiniadalahperusahaanotomotifdankomponennya yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) padaperiode 2014-2015, denganteknikpurposive sampling diperoleh 12 perusahaanotomotifdankomponennya yang memenuhikriteriadandijadikansampel. Ujihipotesisdilakukandengananalisisregresi linier berganda. Hasilanalisismenunjukkanbahwahanyavariabeltingkatsukubunga SBI yang berpengaruhpositifsignifikanterhadappergerakanhargasahamperusahaanotomotifdankomponennya, sedangkanvariabelkurs dollar AS dantingkatinflasitidakberpengaruhsignifikanterhadappergerakanhargasahamperusahaanotomotifdankomponennya. Keterbatasandalampenelitianiniadalahhanyamenggunakanvariabelmakrodalammenilaipengaruhnyaterhadappergerakanhargasahamsehinggadapatdisarankandalampenelitianselanjutnya agar menambahkanvariabelindependen yang bersifatdari internal perusahaansepertikinerjakeuanganperusahaanitusendiri agar investor dapatmenilaitidakhanyadarisisimakro, namunjugadari internal (mikro) perusahaan.

Penggunaan permainan tata angka untuk meningkatkan aktifitas belajar mengenal bilangan di kelompok A TK Satu Atap SDN Tulusrejo 3 Kota Malang / Ida Fariani

 

Perancangan instalasi penerangan pada stadion sepak bola / Januar Saraswanto

 

Kata Kunci: Perancangan Penerangan Stadion, cahaya. Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang banyak digemari oleh semua kalangan baik yang kaya maupun yang miskin. Dalam sebuah pertandingan, olahraga ini dimainkan oleh dua kelompok berlawanan yang masing-masing berjuang untuk memasukkan bola ke gawang kelompok lawan. Masing-masing kelompok beranggotakan sebelas pemain, dan karenanya kelompok tersebut juga dinamakan kesebelasan, selain itu dala sebuah kelompok juga terdapat seorang pelatih. Menurut Zubaidi (2009), Olahraga Sepak bola saat ini bukan lagi hanya sekadar olahraga atau permainan, namun telah menjadi industri di berbagai kejuaraan dunia. Salah satunya di ajang Euro 2008, pertandingan sepak bola di kalangan negara-negara Eropa yang telah berlangsung di Swiss dan Austria. Dalam event yang berlangsung empat tahun sekali itu ada mekanisme yang mempertemukan hukum permintaan dan penawaran. Di sana ada tim, pemain, pelatih, dan penyelenggara sebagai pemasok. Di sana ada pula pemirsa yang membeli permainan, tontonan, drama, dan hiburan sebagai komoditas. Oleh karena itu, kenyamanan bagi penonton dalam menonton pertandingan menjadi hal yang penting dalam kelancaran penyelenggaraan pertandingan. Salah satunya yang mempengaruhi kenyamanan penonton adalah sistem penerangan suatu stadion pada malam hari. Penerangan yang baik adalah penerangan yang tidak menyebabkan silau pada mata pemain maupun penonton. Pada perancangan instalasi penerangan sebuah stadion banyak hal yang mempengaruhi kualitas penerangan, diantaranya jenis lampu yang digunakan, posisi lampu dan sebagainya. Perancangan ini menggunakan sistem 6 tiang dan dibuat dengan sebuah simulasi 3D. Perhitungan sudut yang dihasilkan jika lampu pertama memiliki sudut sebesar 600 , maka sudut dari lampu kedua adalah sebesar 62.10. pada sistim 6 tiang rasio kerataan lebih mendekati nilai 1 dibanding sistim 2 dan 4 tiang dengan jumlah dan jenis lampu yang sama tiap tiang, karena semakin banyak terjadi perpotongan cahaya lampu sorot menjadikan pencahayaan pada permukaan lapangan semakin merata.

Pengaruh kebiasaan belajar, kepercayaan diri siswa, dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar mata pelajaran akuntansi (SMA Negeri 1 Sumberpucung Kabupaten Malang) / Nur Khasanah

 

Kata Kunci: Kebiasaan Belajar, kepercayaan diri siswa, dan lingkungan Keluarga, Hasil Belajar. Upayah mencetak sumberdaya manusia yang berkualitas dapat dilakukan dengan melakukan peningkatan mutu di bidang pendidikan. Dalam hal ini peserta didik dan hasil belajar memiliki peran yang sangat penting posisinya dalam meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu: kebiasaan belajar, kepercayaan diri siswa dan lingkungan keluarga. Dengan demikian, penelitian ini ingin menguji tentang pengaruh kebiasaan belajar, kepercayaan diri siswa, dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar siswa jurusan IPS di SMA Negeri 1 Sumberpucung. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis rancangan penelitian eksplanatif dengan desain penelitian menunakan analisis regresi linier berganda. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan angket dan dokumentasi nilai rapor. Hasil penelitian ini menunjukkna bahwa: 1) ada pengaruh kebiasaan belajar terhadap hasil belajar siswa jurusan IPS di SMA Negeri 1 Sumberpucung dengan melihati hasil uji t yang menunjukkan sig 0,023 < 0,05, 2) ada pengaruh kepercayaan diri siswa terhadap hasil belajar siswa jurusan IPS di SMA Negeri 1 Sumberpucung dengan melihati hasil uji t yang menunjukkan sig 0,005 < 0,05, dan 3) ada pengaruh lingkungan keluarga terhadap hasil belajat siswa jurusan IPS di SMA Negeri 1 Sumberpucung dengan melihati hasil uji t yang menunjukkan sig 0,037 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, Guru diharapkan mampu memberikan contoh perilaku/kebiasaan belajar yang baik di dalam kelas untuk membentuk disiplin belajar siswa, guru juga diharapkan dapat menggali kepercayaan diri siswa demi kesuksesan proses belajar, sehingga siswa bisa lebih maksimal lagi dalam belajarnya dan dapat memperoleh hasil belajar yang lebih maksimal lagi.

Pengaruh berbagai macam detergen, penambahan garam dan ekstrak nanas (Ananas comusus (L.) Merr.) terhadap hasil isolasi DNA berbagai macam buah sebagai topik praktikum mata kuliah genetika / oleh Jamilah

 

Penerapan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar biologi siswa kelas IB SMA Negeri 2 Malang pada pokok bahasan klasifikasi tumbuhan / oleh Nanik Budi Asih

 

Penerapan pembelajaran kooperatif teknik stad (student teams achievement division) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi pada siswa kelas I SMA Kemala Hikmah Bhayangkari 3 Porong Sidoarjo / oleh Nurul Hidayati

 

Pemanfaatan media mading untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas V SDN Sawojajar 4 Kota Malang / Intan Puspita Sari

 

Kata kunci: Pemanfaatan Media Mading, Keterampilan Menulis Puisi, Siswa Kelas V SD. Hasil observasi awal di kelas V SDN Sawojajar 4 Kota Malang, menyimpulkan bahwa keterampilan siswa terhadap materi menulis puisi masih rendah.Pembelajaran masih bersifat konvensional hanya ceramah dan pemberian tugas, sehingga siswa cenderung pasif dan mengakibatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi menjadi rendah. Selain itu guru belum menggunakan media sehingga siswa kurang bersemangat dalam pembelajaran.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan media mading. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan dengan model siklus. Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Masing-masing siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sawojajar 4 Kota Malang. Instrumen dalam penelitian ini berupa: (1) tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara (4) catatan lapangan.Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai perancang tindakan dan pelaksana tindakan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dengan memanfaatkan media mading pada kelas V SDN Sawojajar 4 KotaMalang berhasil diterapkan pada pelajaran bahasa Indonesia materi menulis puisi. Pada siklus I pertemuan pertama dalam tahap pramenulis siswa masih kesulitan dalam menentukan ide atau gagasan yang dijadikan dasar dalam menulis puisi. Pada tahap menulis, siswa masih mengalami kesulitan dalam menulis puisi berdasarkan ide yang dituliskan. Selanjutnya pada tahap merevisi, siswa dalam menata ide pokok masih belum tertata dengan runtut, siswa dalam mengembangkan kata atau diksi juga masih kurang, serta penyampaian pesan atau amanat dalam puisi masih banyak yang belum terbaca. Pada pertemuan kedua dalam tahap mengedit, siswa banyak yang tidak menuliskan hasil dari mengeditnya. Pada tahap publikasi, sebagian besar siswa masih malu untuk mendeklamasikan puisi didepan kelas sehingga banyak mengulur waktu. Sedangkan pada tahap memajang puisi, siswa sangat antusias untuk menghias dan memajang puisi yang telah dibuat. Melihat keadaan tersebut, maka dilakukan perbaikan pada siklus 2. Pertemuan pertama tahap pramenulis menunjukkan sebagian besar siswa sudah tidak mengalami kesulitan dalam menentukan ide atau gagasan yang dijadikan dasar dalam menulis puisi. Pada tahap menulis, siswa sudah dapat menulis puisi berdasarkan ide yang telah dituliskan pada tahap pramenulis. pada tahap merevisi, siswa juga telah dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam tahap menulis. Pada ii pertemuan kedua tahap mengedit, siswa telah dapat memperbaiki kesalahan tulisan, tata bahasa, dan kesesuaian dengan struktur kerangka. Pada tahap publikasi, beberapa siswa berani maju mendeklamasikan puisinya sebelum ditunjuk oleh guru. Siswa lebih kreatif dalam menghias puisi dari sebelumnya dan siswa sangat antusias dan berebut memajang hasil karyanya berupa puisi. Dari paparan tersebut, terlihat keterampilan siswa dalam menulis puisi meningkat setelah melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan media mading. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan media mading dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi, dibuktikan dengan hasil nilai siswa yang mengalami peningkatan selama 2 siklus. Selain itu keberhasilan pemanfaatan media mading juga dapat meningkatkan keaktifan siswa saat pembelajaran dan dapat pula meningkatkan aktivitas guru selama pembelajaran.Mengingat pentingnya keterampilan menulis puisi bagi siswa, maka disarankan bagi guru untuk memanfaatkan media yang menarik bagi siswa sehingga siswa dapat memahami materi yang diberikan dengan mudah. Salah satu alternatifnya adalah dengan memanfaatkan media mading. Melalui penelitian ini disarankan pula bagi peneliti lain yang tertarik dalam pembelajaran menulis puisi dapat memanfaatkan media mading sebagai model dalam pembelajaran menulis khususnya puisi. Model ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Penggunaan foto pankromatik hitam putih untuk interpretasi variabel erosi tanah dan pengubahan faktor pengelolaan lahan (P) untuk prediksi tingkat erosi terbolehkan di sub das Ngujung Kecamatan Bumiaji Kota Batu / oleh Niken Kristina

 

Pengembangan modul bimbingan pribadi sosial untuk membentuk keterbukaan diri siswa SMP / Yudan Ari Purwanto

 

Kata Kunci: keterbukaan diri, modul, siswa SMP Keterbukaan diri adalah sikap seseorang dalam memberikan informasi positif dan negatif mengenai dirinya kepada lingkungan. Keterbukaan diri perlu dikembangkan, karena sikap terbuka merupakan jalan bagi berkembangnya individu ke arah yang baik. Setiap individu pada dasarnya memiliki sikap keterbukaan diri. Sikap terbuka bisa diajarkan kepada siapa saja, termasuk kepada siswa SMP. Tercatat beberapa tahun belakangan ada fakta mengenai keterbukaan diri remaja SMP, sehingga dikembangkan untuk membantu mencapai perkembangan lebih optimal lagi pada kehidupan selanjutnya. Bimbingan dan konseling mempunyai banyak teknik dan metode dalam membantu siswa menuju perkembangannya yang optimal, termasuk juga untuk membentuk keterbukaan diri di kalangan remaja SMP. Selama ini penerapan dari teknik dan metode belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media yang bisa membantu siswa untuk membentuk keterbukaan dirinya secara mandiri. Sehingga dipilihlah media yang berupa modul tentang keterbukaan diri yang bisa dipelajari oleh siswa secara mandiri namun masih dalam pengawasan konselor. Penggunaan modul, banyak memiliki keunggulan dibandingkan dengan teknik dan media yang lainnya. Modul keterbukaan diri dapat memandirikan siswa, sehingga siswa bisa belajar secara mandiri tentang keterbukaan diri dan bagi konselor modul keterbukaan diri dapat sebagai data tambahan pemahaman tentang siswa secara mendalam dan dijadikan sebagai tindak lanjut atas kebutuhan siswa. Diadaptasi dari tahap pengembangan yang dicetuskan oleh Borg and Gall (1983). Namun dalam pengembangan ini hanya memakai empat dari sepuluh tahapan yang dicetuskan oleh Borg and Gall: 1) melakukan need assessment dengan berdasarkan penelitian sebelumnya dipadukan dengan kejadian yang ada dilapangan pada beberapa tahun belakangan ini; 2) memilih metode dan teknik yang sesuai dan akhirnya dipilihlah modul; 3) menyusun draf kasar namun sudah sempurna; 4) melakukan uji ahli terhadap draf modul yang telah dibuat. Berdasarkan uji ahli yang telah dilakukan yakni uji ahli media dan materi didapatkan data yang berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Dengan kesimpulan keduanya yakni layak. Untuk memperkuat data, pengembang meminta penilaian kepada konselor SMP serta kepada calon konselor dan didapatkan kesimpulan layak untuk diberikan kepada siswa SMP. selanjutnya dilakukan revisi untuk menyempurnakan produk. Penelitian pengembangan ini mempuyai keterbatasan yakni belum diujikan kepada subjek lapangan baik skala kecil maupun skala besar. Sehingga diharapkan adanya peneliti lain yang bisa melanjutkan penelitian dan pengembangan ini agar nantinya diperoleh sebuah produk yang baik dan benar ii sesuai dengan tahapan yang dicetuskan oleh Borg and Gall serta bermanfaat bagi konselor dan siswa SMP. Serta bisa didapatkan data-data yang berkaitan dengan keterbukaan diri yang bisa bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Pengaruh kepuasan di lihat dari dimensi kualitas layanan terhadap loyalitas konsumen Hero Supermarket Malang / oleh Primajati Candra Hastuti

 

Peranan Bethoro Katong dalam islamisasi di Ponorogo pada tahun 1482-1496 / Antika Christantina

 

Kata Kunci: Agama Islam, masyarakat Ponorogo Pada abad ke XV Ponorogo adalah merupakan daerah kekuasaan di bawah kerajaan Majapahit. Dengan demikian maka dapat di ketahui bahwa Kerajaan Majapahit menganut agama atau kepercayaan dan juga kebudayaan Hindu-Budha, sehingga pada masa itu Wengker juga menganut agama dan kepercayaan serta kebudayaan Hindu-Budha. Pada saat Islam masuk dan berkembang di Ponorogo, terjadilah akulturasi budaya asli dari masyarakat setempat dengan agama dan kepercayaan baru yaitu Islam. Masa tersebut adalah masa peralihan, istilah tersebut adalah istilah dimana suatu periode transisi dari zaman Hindu-Budha ke zaman Islam secara resmi. Masuk dan berkembangnya Islam di Ponorogo menurut tradisi setempat tidak lepas dari peran Bethara Katong, Islam mulai berkembang di Ponorogo ketika Bethara Katong dinobatkan menjadi Adipati di daerah Ponorogo. Untuk itulah penelitian ini mengangkat permasalahan mengenai masuk dan berkembangnya agama Islam pada masyarakat di Ponorogo. Dengan beberapa permasalahan diantaranya adalah (1) Mengenai masayarakat Jawa di masa akhir Majapahit (2) Keadaan Ponorogo sebelum agama Islam masuk, (3) Proses Islamisasi oleh Bethara Katong di Ponorogo, (4) Strategi Islamisasi yang dilakukan oleh Bethara Katong di Ponorogo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dan juga metode kompilatif. Metode penelitian memaparkan tentang proses menguji dan menganalisis secara kritis, rekaman dan peninggalan masa lampau. Secara teoritis penulisannya meliputi pemilihan topik, heuristik, yaitu sumber data primer dan sekunder, kritik sumber dan Historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Adanya perebutan kekuasaan serta perselisihan keluarga Kerajaan Majapahit yang berlarut-larut serta terjadi secara terus menerus, menimbulkan peperangan antara keluarga kerajaan. Masa akhir Majapahit telah meninggalkan permasalahan keagamaan, yaitu masalah perkembangan agama Hindu (Siwa) dan agama Budha. Adanya gejala kemunduran agama Siwa dan Budha serta “menghilangnya” peranan agama Budha yang ketika itu disebabkan karena terjadinya hubungan yang erat diantara kedua agama tersebut. (2) Sebelum agama Islam masuk Ponorogo adalah bagian dari daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit, sebelum agama Islam masuk di Ponorogo agama yang ada di Ponorogo adalah agama Hindu dan agama Budha. (3) Agama Islam masuk ke Ponorogo dimulai ketika Adipati Terung, adik dari Raden Patah mendapatkan perintah langsung dari Raden Patah untuk menaklukkan daerah sebelah timur. Daerah sebelah timur tersebut diantaranya adalah Ponorogo. Ketika Itu Ponorogo dipimpin oleh seorang Adipati Bethara Katong. Pada saat penakhlukan Raden Patah diangkat sebagai Sultan di Demak pada tahun 1481 M. Islam masuk di Ponorogo sekitar 1482 M, hal tersebut dapat dilihat pada batu peninggalan Bethara Katong yang ditemukan di daerah sekitar Telaga Ngebel. (4) Berkembangan agama Islam di Ponorogo sangat dipengaruhi oleh peranan Bethara Katong. Cara-cara yang dilakukan oleh Bethara Katong tidak lepas dari saluran-saluran Islamisasi yang berkembang di Nusantara. Cara-caranya diantaranya adalah: (a) kesenian, (b) pengaruh politik, (c) perkawinan (d) strategi kultural. Berdasarkan kesimpulan maka disarankan: (1) Dilestarikan dan dipelajarinya sejarah lokal khususnya sejarah lokal Ponorogo maka akan semakin menjaga kearifan lokal yang ada. Dengan melestarikan sejarah yang telah ada dan berkembang maka menjadikan suatu kebanggaan dan keunggulan terhadap kota Ponorogo. (2) Keikut sertaan masyarakat kota Ponorogo dalam melestarikan kebudayaan Indonesia akan mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan tanpa membeda-bedakan agama dan kepercayaan yang dianut oleh masing masing umat beragama. (3) Penelitian tentang Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Masyarakat Ponorogo ini dapat memperkaya wawasan mahasiswa jurusan sejarah tentang sejarah lokal yang ada dan berkembang di Indonesia. (4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan apabila meneliti dengan tema yang sama sebisa mungkin fokus penelitian lebih luas dan lebih banyak serta lebih kreatif. Sehingga bisa memberikan tambahan ataupun saran dan kritik yang lebih membengun. Dengan demikian para pembaca bisa dengan mudah memahami apa yang peneliti maksud dan bisa menambah wawasan dan pengetahuan yang luas tentang siapa sebenarnya Bethara Katong dan dengan demikian kearifan lokal bisa tetap terjaga dengan baik.

Nilai edukatif dalam cerita "Immer mit der ruhe" karya Willy Breinholst menurut perspektif Indonesia / oleh Lailatul Rosidah

 

Isolasi dan identifikasi bakteri termofilik penghasil lipase termostabil dari sumber air panas Cangar Kota Batu Jawa Timur / Yeni Rohmatillah

 

Kata kunci: bakteri termofilik, lipase termostabil, sumber air panas Cangar, Baccillus lentus. Lipase (E.C 3.1.1.3) merupakan salah satu enzim dari kelas hidrolase yang dapat menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Dalam bioteknologi, lipase digunakan dalam industri makanan, detergen, kulit serta oleokimia. Proses di industri membutuhkan kondisi khusus seperti suhu tinggi, tahan terhadap denaturasi dan proteolisis yang dapat menyebabkan enzim terdenaturasi dan aktivitasnya menurun. Lipase termostabil merupakan enzim yang sangat potensial untuk mengatasi kendala teknis industri. Enzim termostabil dapat diisolasi dari mikroorganisme termofilik yang hidup di sumber air panas, misalnya sumber air panas Cangar. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengisolasi bakteri termofilik penghasil lipase termostabil dari sumber air panas Cangar, (2) menentukan aktifitas ekstrak kasar lipase termostabil dari bakteri termofilik isolat Cangar, dan (3) menentukan spesies bakteri termofilik penghasil lipase termostabil dengan Microbact System 12B Penelitian ini bersifat deskriptif eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang dan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Penelitian terdiri atas 6 tahap yaitu: (1) pengambilan sampel, (2) isolasi bakteri termofilik, (3) seleksi bakteri termofilik lipolitik, (4) produksi ekstrak kasar lipase termostabil (5) uji aktivitas lipase, dan (6) identifikasi bakteri penghasil lipase dengan menggunakan Microbact System 12B . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bakteri termofilik lipolitik dapat diisolasi dari sumber air panas Cangar menggunakan media selektif lipase dan diinkubasi pada suhu 55 C selama 96 jam, (2) aktifitas rata-rata ekstrak kasar lipase termostabil dari bakteri termofilik lipolitik isolat Cangar adalah 0,16 (U/mL), dan (3) hasil identifikasi bakteri termofilik lipolitik isolat Cangar secara fenotip dengan Microbact System 12B adalah Baccillus lentus.

Pertanyaan respon dalam interaksi kelas pada pembelajaran Bahasa Indonsia di SD Negeri Karang Besuki Kota Malang / oleh Adnan

 

Implementasi peer assessment to improve the writing ability of the second year students of SMP Negeri 4 Palu / by Diah Agustiningsih

 

Pembuatan nasi kuning instan dan uji organoleptik / oleh Dwiyanti Ervinningsih

 

Teknik pembuatan busana muslim Sido Mukti dengan hiasan modifikasi semok / oleh Sri Ningsih

 

Pembuatan busana pesta modifikasi baju terate pengantin Palembang / oleh Stevanie Ambarwati

 

Pembuatan busana pesta dari tenun ikat NTT / oleh Rifka Dewi Nurlaila

 

Penerapan aksen tenun ikat ulos dan teknik hias terawang pada gaun pesta / oleh Riza Handayani

 

Penerapan ornamen bulu ayam pada busana pesta malam / oleh Zulhi Ravillia Indra

 

Penggunaan batik Madura pada pembuatan busana muslim untuk pesta / oleh Fatimatus Zahroh

 

Menghias gaun malam dengan tusuk jelujur dan tusuk rantai / oleh Atik Wardiningsih

 

Penerapan aplikasi bordir batik Pekalongan pada busana pesta / oleh Suci Indi Ani

 

Manajemen sekolah unggul berbasis nilai Buddhisme (studi multi-situs Sekolah Dasar Virya Dharma, Sekolah Dasar Metta, dan Sekolah Dasar Budi Bakti) / Adi W. Gunawan

 

Kata kunci: manajemen sekolah, kepemimpinan sekolah, sekolah unggul, nilai-nilai Budhisme, manajemen inovasi pembelajaran Bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah dengan kekhususan agama yang lain, sekolah dengan kekhususan nilai-nilai Buddhisme didirikan dan berkembang lebih belakangan. Sejumlah sekolah Buddhis terdahulu didirikan lebih dengan dorongan semangat pengabdian, kurang mencerminkan manajemen sekolah modern, dan kurang melibatkan dunia usaha. Belakangan, beberapa sekolah Buddhis sudah menerapkan manajemen sekolah modern, inovasi pembelajaran, dan diprakarsai para pelaku dunia usaha. Tiga di antaranya, yang terpilih sebagai situs penelitian ini adalah: (1) Sekolah Dasar Virya Dharma, (2) Sekolah Dasar Metta, dan (3) Sekolah Dasar Budi Bakti. Penelitian ini bertujuan memaparkan: (1) pemahaman komunitas sekolah, baik model teladan maupun model adaptasi terhadap landasan filosofis, teleologis dan normatif sekolah, serta mengenali perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, (2) penghayatan komunitas sekolah baik model teladan maupun model adaptasi terhadap nilai-nilai, visi, dan misi sekolah, serta mengenali perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, (3) praktik manajemen dan kepemimpinan sekolah, baik pada model teladan maupun adaptasi, serta mengenali perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, (4) kegiatan sekolah dan pembelajaran di sekolah, baik pada model teladan maupun pada model adaptasi, serta perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, dan (5) tanggapan orangtua siswa terhadap kinerja sekolah, serta perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan rancangan studi multi-situs. Situs pertama, Sekolah Dasar Virya Dharma, merupakan model teladan, sedangkan situs kedua dan ketiga, Sekolah Dasar Metta dan Sekolah Dasar Budi Bakti, merupakan model adaptasi. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam, baik secara perseorangan maupun kelompok, teknik pengamatan berperan-serta, dan teknik kajian dokumen. Analisis situs sekolah dilakukan dengan menggunakan metode analisis induktif termodifikasi, sedangkan analisis lintas situs sekolah dilakukan dengan metode persamaan, yang merupakan salah satu metode penarikan kesimpulan secara induktif. Penelitian ini menghasilkan lima kesimpulan. Pertama, landasan filosofis, teleologis, dan normatif ketiga sekolah bersumber dari ajaran Jalan Mulia Berunsur Delapan menurut Buddha, yaitu: pandangan benar atau samma ditthi, pikiran benar atau niat benar atau samma sankappa, ucapan benar atau samma vaca, perbuatan benar atau tindakan benar atau samma kammanta, mata pencaharian benar atau penghidupan benar atau samma ajiva, daya upaya benar atau samma vayama, perhatian benar atau kewaspadaan benar atau samma sati, dan konsentrasi benar atau samma samadhi. Kedua, terdapat keragaman pada tataran nilai-nilai, visi dan misi sekolah. Sekolah model teladan lebih mengedepankan dharma bakti atau pengabdian utama, model adaptasi pertama mengedepankan nilai cinta-kasih, sedangkan model adaptasi kedua lebih mengedepankan nilai pengabdian ilmu pengetahuan dan pemikiran. Ada perbedaan rumusan visi dan misi antara sekolah model teladan dengan sekolah model adaptasi. Ketiga, baik sekolah model teladan maupun kedua model adaptasi menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern. Pendiri sekolah menuntut agar kepala sekolah dan guru bisa menjadi operator menuju visi dan misi sekolah, sehingga harus memahami dan menghayati visi dan misi sekolah, serta memiliki kompetensi untuk menjabarkannya menjadi program dan kegiatan sekolah. Prinsip dasar yang dijadikan pegangan bersama adalah berorientasi kepada anak, efisiensi dalam penggunaan sumber daya, keefektifan dalam pembelajaran, serta kewirausahaan dalam manajemen sekolah. Keempat, masing-masing sekolah mengedepankan citra yang berbeda. Sekolah model teladan menampilkan diri sebagai sekolah re-edukasi. Sekolah model adaptasi pertama menampilkan diri sebagai sekolah modern multi-lingual dan ajaran Konfusius. Sekolah model adaptasi kedua mengedepankan ke-Indonesiaan modern yang inklusif. Semua sekolah menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan agar bisa menyebarluaskan kemanfaatan sosial. Praktik pembelajaran dan kegiatan di sekolah juga menunjukkan kecenderungan sama, yaitu berpusat pada visi sekolah, memperhatikan psikologi, dengan pendekatan inovasi. Model teladan mengedepankan inovasi sebagai praktik membaharu berbasis ketersediaan sumberdaya, sedangkan sekolah model adaptasi menekankan pada inovasi sebagai produk. Aspek kreativitas pendidik lebih menonjol pada model teladan, sedangkan aspek teknologi mutakhir lebih menonjol pada dua model adaptasi. Kelima, berdasarkan nilai dan peringkat akreditasi dan nilai rata-rata ujian akhir sekolah berdasarkan standar nasional, sekolah model teladan tergolong sebagai sekolah berkinerja sangat baik. Secara proses, sekolah model teladan juga sangat baik karena relatif berhasil menjalankan fungsi re-edukasi bagi anak-anak yang memiliki masalah psikologis dan belajar. Orangtua siswa baik pada model teladan maupun pada model adaptasi mempunyai penilaian sangat positif terhadap kinerja sekolah. Secara keseluruhan keunggulan sekolah, yang sekaligus juga disarankan untuk diupayakan baik oleh kepala sekolah dan para guru, lembaga penyelenggara, dan dinas pendidikan, dicirikan oleh komitmen untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan, yang untuk itu perlu melembagakan mekanisme untuk pengenalan kebutuhan belajar dan kebutuhan inovasi, dengan tetap berorientasi kepada tujuan, dan menyelenggarakan fungsi penelitian, penilaian dan pengembangan pendidikan, yang didukung oleh komunitas dan stake-holder, termasuk khususnya lembaga atau perorangan yang memberikan dukungan keuangan, dengan budaya organisasi sekolah yang berciri sebagai organisasi terbuka dan belajar, yang mengambil keputusan secara rasional dan objektif, dan keberanian mengambil risiko secara rasional, dan memberikan penghargaan secara wajar kepada para pembaharu pendidikan.

Ornamen rotan dan manik kayu dengan paduan teknik macrame pada busana pesta dari batik gedog Tuban / oleh Esti Lestari

 

Penerapan media crossword puzzle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVB SDN Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang / Angga Tri Aprilia

 

Penerapan ornamen pelepah pisang pada busana pesta wanita dari kain batik gedog Tuban / oleh Irma Tri Yunita

 

Penerapan pendekatan CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas II SDIT Mutiara Hati Kota Malang / Erlia Burul Fatmawati

 

Kata Kunci: Pendekatan CTL, Aktivitas belajar, Hasil belajar, IPS Hasil belajar siswa di SDIT Mutiara Hati, khususnya pada bidang studi IPS masih rendah. Dari 17 siswa, hanya 4 orang siswa yang mampu mencapai KKM yang ditetapkan. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tesebut, diterapkan pendekatan CTL. Dengan penerapan pendekatan pembelajaran ini, siswa didorong untuk lebih aktif dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya melalui permainan yang menyenangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) penerapan pendekatan CTL pada pembelajaran IPS siswa kelas II SDIT Mutiara Hati, (2) aktivitas belajar siswa kelas II SDIT Mutiara Hati pada pembelajaran IPS dengan pendekatan CTL, (3) hasil belajar siswa kelas II SDIT Mutiara Hati setelah penerapan pembelajaran IPS dengan pendekatan CTL. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan kolaborasi dengan guru kelas II di SDIT Mutiara Hati Kota Malang. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dokumentasi, catatan lapangan, dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas II di SDIT Mutiara Hati Kota Malang dengan kompetensi dasar “memberi contoh bentuk-bentuk kerjasama di lingkungan tetangga”. Hal ini ditunjukkan dengan keberhasilan guru dalam menerapkan pendekatan CTL pada pada siklus I yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 82% dan pada siklus II meningkat menjadi 94 %. Rata-rata nilai akhir penyusunan RPP pada siklus I adalah 90,5% dan meningkat menjadi 96,5%. Aktivitas siswa pada siklus I rata-rata perolehan nilainya adalah 80,5 dan meningkat menjadi 88,35. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal mencapai 73,7% pada siklus I dan meningkat menjadi 91,1% pada siklus II. Hasil belajar pada siklus I rata-rata perolehan nilainya adalah 78,45 dan meningkat menjadi 86,75 pada siklus II. Sementara itu ketuntasan belajar klasikal mencapai 73,45% dan meningkat menjadi 88,2% pada siklus II. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa kekurangan yang dapat dijadikan pelajaran bagi guru atau peneliti selanjutnya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan pada penelitian ini seperti memberikan materi dengan kalimat yang mudah dimengerti siswa, penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL hendaknya sesuai dengan RPP CTL yang telah disusun, dan guru lebih memperhatikan pengelolaan waktu, diharapkan dapat meminimalisir kesalahan pada penelitian selanjutnya.

Teknik aplikasi dengan sekang Makasar / oleh Lutfi Rosidah

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS di kelas IV SDI Nurul Izzah Kedungkandang Malang / Murtiningsih

 

Kata Kunci: Model NHT, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa pembelajaran IPS di kelas IV SDI Nurul Izzah masih konvensional. Pembelajaran lebih berpusat pada guru (teacher centered) sehingga siswa belum terlibat aktif dalam pembelajaran, akibatnya aktivitas dan hasil belajar siswa rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti menawarkan penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS di kelas IV SDI Nurul Izzah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) Penerapan model pembelajaran kooperatif NHT pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDI Nurul Izzah Kedungkandang. (2) Aktivitas belajar siswa selama diterapkan model pembelajaran kooperatif NHT di kelas IV SDI Nurul Izzah Kedungkandang Malang. (3) Hasil belajar siswa kelas IV SDI Nurul Izzah Kedungkandang Malang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif NHT. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan model NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas IV SDI Nurul Izzah. perolehan keberhasilan guru dalam penerapan model pembelajaran pembelajaran kooperatif NHT pada pada siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 84% dan pada siklus II meningkat menjadi 93%. Aktivitas siswa meningkat yaitu pada siklus I rata-rata ketuntasan belajar klasikal sebesar 69,45%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 84,7%. Hasil belajar juga meningkat. Pada siklus I rata-rata ketuntasan belajar klasikal sebesar 62,55% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 84,7%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model NHT di kelas IV SDI Nurul Izzah telah dilaksanakan sesuai langkah-langkah NHT sebagai berikut numbering, questioning, heads together, answering. Penerapan model NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDI Nurul Izzah Kedungkandang Malang. Disarankan penelitian berikutnya memperbaiki kelemahan penerapan NHT yang telah dilakukan peneliti sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Pembuatan busana pesta dari bahan tenun ikat lurik / oleh Amalia Nikmatus Zahro

 

Studi tingkat kesulitan belajar siswa dalam menganalisis soal-soal materi IPS kelas V SDN 1 Nglumber Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro / Arvi Febri Swandari

 

Kata kunci : Tingkat kesulitan belajar siswa, menyelesaikan materi soal-soal IPS. Tingkat kesulitan belajar siswa merupakan suatu perbedaan individu dimana tidak semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan. Beberapa siswa menunjukkan hasil belajar yang rendah dalam menyelesaikan materi soal-soal IPS, sering kali juga terdapat siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar karena adanya hambatan misalnya materi pra syarat yang belum di kuasai. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan prosentase tingkat kesulitan belajar siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPS, (2) berapakah tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan materi soal-soal IPS, (3) hubungan siswa yang mengalami kesulitan belajar dan tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan materi soal-soal IPS. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripstif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif adalah penelitian deskriptif yang menggunakan data berupa angka Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan korelasional. Subyek penelitian adalah kelas V tahun ajaran 2011/2012. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket/kuesioner tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal materi IPS. Uji validitas angket tingkat kesulitan siswa dalam penelitian ini menggunakan pengujian validitas konstruk, yaitu dengan menggunakan pendapat dari ahli (Sugiyono, 2009: 177), untuk mencari reliabilitas digunakan rumus Alpha dan penghitungannya menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows, Teknik yang digunakan dalam uji normalitas ini adalah teknik statistik Kolmogorof Smirnov (uji K-S), untuk menguji hubungan linier antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y) dilakukan melalui uji koefisien F. Pembahasan kesulitan belajar siswa dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki tingkat kesulitan belajar rendah didalam kegiatan pembelajaran, dan senantiasa dijumpai berbagai macam kesulitan yang dialami siswa. Kesulitan yang dialami ini akan memungkinkan terjadinya kesalahan sewaktu menjawab soal, dengan kata lain kesalahan yang dibuat siswa dalam menjawab soal merupakan indicator adanya kesulitan belajar. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa ada hubungan positif tingkat kesulitan belajar siswa dan kemampuan menyelesaikan materi soal-soal IPS pada siswa kelas V SDN 1 Nglumber Kabupaten Bojonegoro. Jadi, semakin rendah tingkat kesulitan belajar seorang anak maka semakin tinggi kemampuan menyelesaikan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Prosentase tingkat kesulitan siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPS dari 65 subyek penelitian ditemukan bahwa siswa kelas V SDN 1 Nglumber Kabupaten Bojonegoro memiliki rentangan skala tingkat kesulitan belajar siswa memiliki skor rata-rata (mean) 14,91 dengan SD sebesar 1,877. Skor terendah adalah 10 dan skor tertinggi adalah 19. Ditinjau dari pengklasifikasian norma kelompok, skor rata-rata tingkat kesulitan belajar siswa kelas V SDN 1 Nglumber Kabupaten Bojonegoro termasuk dalam kategori tinggi. (2) Tingkat kesulitan siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPS dari 65 subyek penelitian, memiliki kemampuan menyelesaikan materi soal-soal IPS sangat tinggi adalah sejumlah 4 siswa (6,15%), tinggi sejumlah 51 siswa (78,46%), rendah sejumlah 1 siswa (1,54%), dan sangat rendah sejumlah 9 orang (13,85%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa kelas V SDN 1 Nglumber kabupaten Bojonegoro terbukti mengalami kesulitan belajar dalam menanalisis soal-soal materi IPS. (3) Hasil penelitian didapatkan hubungan positif dan signifikan antara tingkat kesulitan belajar siswa dan menyelesaikan materi soal-soal IPS pada siswa kelas V SDN 1 Nglumber Kabupaten Bojonegoro sebesar nilai rxy hitung= 0,329 sedangkan rxy tabel= 0,317. Hal ini menunjukkan bahwa skor rendah pada variable tingkat kesulitan belajar siswa akan membuat skor yang tinggi pula pada variabel kemampuan menyelesaikan materi soal-soal IPS dan sebaliknya. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa ada hubungan positif tingkat kesulitan belajar siswa dan kemampuan menyelesaikan materi soal-soal IPS siswa kelas V SDN 1 Nglumber Kabupaten Bojonegoro. Jadi, semakin rendah tingkat kesulitan belajar seorang anak maka semakin tinggi kemampuan menyelesaikan. Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran-saran yang diajukan antara lain: (1) disarankan bagi sekolah untuk lebih memberikan bimbingan, motivasi dan pengarahan untuk meningkatkan kesenangan siswa dalam pelajaran IPS. (2) disarankan kepada peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema penelitian ini agar mengadakan penelitian lanjutan dapat meneliti tingkat kesulitan belajar siswa dan menyelesaikan materi soal-soal IPS dengan latar yang berbeda.

Modifikasi gaun pesta dari songket Palembang dengan rangkaian pita-pita / oleh Ika Oktaviartini

 

Pengembangan buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya untuk siswa SMP / Nanda Novarda Rahma Esa

 

Kata Kunci : buku bergambar, pacaran, akibat pacaran, siswa SMP Penelitian pengembangan buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya untuk siswa SMP ini dilatarbelakangi oleh belum adanya media yang tepat, berguna, mudah dan menarik untuk dapat digunakan dalam memberikan informasi tentang pacaran dan akibatnya. Topik ini perlu diangkat karena banyaknya kasus yang diakibatkan oleh pacaran yang sangat merugikan, sehingga media ini sebagai upaya preventif terhadap akibat-akibat pacaran terutama yang sifatnya negatif. Strategi ceramah dan menasehati tidak lagi efektif dan kurang mengena, sehingga dibutuhkan media yang tepat, berguna, mudah, dan menarik agar siswa tertarik untuk mengetahuinya, sehingga mereka tidak akan melakukan hal-hal yang mengarah pada akibat-akibat yang negatif dari pacaran. Tujuan dari penelitian pengembangan ini ialah menghasilkan buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya di Sekolah Menengah Pertama yang dapat diterima dari segi ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1983) melalui studi lapangan/need assessment, pengembangan produk, menguji produk dengan ahli materi/isi dan ahli media, merevisi, menguji kepada calon pengguna produk (4 siswa), merevisi produk tersebut sehingga dihasilkan produk yang sesuai dengan tujuan pengembangan yaitu buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya yang tepat, berguna, mudah dan menarik untuk media informasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif, yaitu persentase. Berdasarkan hasil penilaian oleh ahli materi/isi, ahli media, dan pengguna produk (siswa), menunjukkan bahwa, media yang berupa buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya ini layak digunakan sebagai media untuk pelayanan informasi pada siswa tentang pacaran dan akibatnya dilihat dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan. Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa saran yang diberikan, yaitu: (1) konselor dapat menggunakan buku bergambar ini untuk memberikan layanan informasi kepada siswa tentang pacaran dan akibatnya, (2) peneliti selanjutnya bisa melakukan penelitian terhadap buku bergambar ini dengan metode penelitian eksperimen dan melakukan uji lapangan atau kelompok besar, sehingga media yang dikembangkan ini dapat dirasakan manfaatnya oleh lebih banyak pengguna.

Smok Belanda dan anyaman sengkelit pada busana pesta / oleh Elis Nur Unsudah

 

Peningkatan kemampuan kognitif anak usia dini melalui kegiatan meroce manik geometri kelompok A di TK PGRI 02 Nglegok, Blitar / Ratih Kartika Sari

 

Kata Kunci: Kemampuan Kognitif, manik geometri Latar belakang penelitian ini yaitu munculnya permasalahan masih banyak anak yang kurang memahami pembelajaran dalam membedakan dan pengelompokkan bermacam-macam bentuk geometri yaitu ada 7 anak dari keseluruhan 19 anak. Penyebabnya adalah penggunaan media yang kurang bervariasi dan anak cenderung bosan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan peningkatan permainan meronce untuk mengembangkan kemampuan Kognitif anak melalui media manik geometri, (2) Mendeskripsikan penggunaan permainan meronce dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak di TK PGRI 02 Nglegok, Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model PTK (Peneitian Tindakan Kelas)). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dalam setiap siklusnya terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian guru dan anak didik kelompok A di TK TK PGRI 02 Nglegok Blitar, dengan jumlah peserta didik 19 anak. Data dijaring melalui observasi dan dokumentasi. Dokumentasi yang dimaksud berupa foto-foto kegiatan yang telah dilaksanakan anak dalam pembelajaran. Instrumen yang digunakan adalah: (1) lembar observasi aktivitas yang dilakukan guru; (2) lembar observasi aktivitas anak dalam meronce manik geometri; (3) lembar observasi hasil peningkatan kemampuan kognitif anak. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I kemampuan kognitif anak prosentase anak tuntas mencapai 48,6% dan prosentase anak tuntas meningkat menjadi 76,7% pada siklus II. Pada siklus I ke siklus II pada kemampuan kognitif anak prosentase anak tuntas mengalami peningkatan yaitu 28,1%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penggunaan media manik geometri dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat menerapkan langkah metode pembelajaran yang inovatif, menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Prototipe elevator pada gedung bertingkat menggunakan PLC / oleh Wahyu Widodo dan Kasinul Umami

 

Meningkatkan keterampilan teknik mendarat pada lompat jauh gaya jongkok dengan menggunakan metode bermain melompat siswa kelas IV SDN Ngampel 2 Kota Kediri / Corry Martha Susanti

 

Kata kunci:Keterampilan, Lompat Jauh Gaya Jongkok, Teknik Mendarat, Metode Bermain Melompat. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh tingkat kegagalan pada teknik mendarat mencapai 79,17%. Dari aktivitas di lapangan terlihat siswa sering kali melakukan kesalahan dalam teknik mendarat yaitu kebanyakan posisi mendarat siswa cenderung tidak jongkok ke depan dan kurangnya keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pada lompat jauh gaya jongkok khususnya teknik mendarat dengan menggunakan metode bermain melompat pada siswa kelas IV SDN Ngampel 2 Kota Kediri. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Dilakukan dengan 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Peneliti berkolaborasi dengan guru pendidikan jasmani. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 24 siswa kelas IV SDN Ngampel 2 Kota Kediri yang terdiri dari 13 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan teknik mendarat pada lompat jauh gaya jongkok selama mengikuti pembelajaran dari tiap siklus. Pada siklus 1 gerakan kepala ditundukkan yang melakukan dengan benar sebesar 70,83%, gerakan sikap badan jongkok yang melakukan dengan benar sebesar 62,5%, gerakan sikap badan seimbang yang melakukan dengan benar sebesar 58,33%, gerakan menjulurkan tangan yang melakukan gerakan benar sebesar 70,83% dan gerakan kaki lentur dan lemas yang melakukan gerakan benar sebesar 54,17%. Hasil dari siklus 2 menunjukkan peningkatan penguasaan keterampilan teknik mendarat pada lompat jauh gaya jongkok dengan masing-masing taraf keberhasilan dari gerakan kepala ditundukkan yang melakukan dengan benar sebesar 95,83% dengan taraf keberhasilan baik, gerakan sikap badan jongkok yang melakukan dengan benar sebesar 95,83% dengan taraf keberhasilan baik, gerakan sikap badan seimbang yang melakukan dengan benar sebesar 83,33% dengan taraf keberhasilan baik, gerakan menjulurkan tangan yang melakukan gerakan benar sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik dan gerakan kaki lentur dan lemas yang melakukan gerakan benar sebesar 79,17% dengan taraf keberhasilan baik. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode bermain melompat dapat meningkatkan keterampilan teknik mendarat pada lompat jauh gaya jongkok siswa kelas IV SDN Ngampel 2 Kota Kediri.

Robot berkamera pemadam api berbasis PC (Personal Computer) oleh Sholikhudin dan Ibnu Saifudin

 

Pemanfaatan SIG untuk pemetaan penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar / Effantra Effendi

 

Kata Kunci : Pemanfaatan SIG, Penyalahgunaan Trotoar, Kota Blitar Trotoar merupakan suatu area yang digunakan untuk aktivitas berjalan kaki. Sistem transportasi yang baik adalah yang memberikan fasilitas tersendiri baik untuk kendaraan bermotor maupun pejalan kaki. Namun, kondisi trotoar yang ada di beberapa ruas jalan di Kota Blitar telah mengalami penurunan baik dari segi kondisi fisiknya maupun dari segi pemanfaatannya. Dari segi pemanfaatannya, banyak trotoar yang disalahgunakan dari fungsinya bagi pejalan kaki menjadi tempat berdagang, tempat parkir, maupun jasa. Pejalan kaki yang semula merasa aman berjalan di trotoar kini harus mengalah untuk berjalan di badan jalan karena trotoar yang ada telah mengalami penyempitan akibat aktivitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar, mengkaji pola persebaran spasial penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar, dan mengkaji dampak spasial dari penyalahgunaan pemanfaatan trotoar terhadap penjalan kaki di Kota Blitar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survey. Objek penelitian adalah trotoar di Kota Blitar dengan subjek penelitian penyalahgunaan pemanfaatan trotoar. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sedangkan analisis yang digunakan adalah analisis deskripstif. Berdasarkan analisis data dapat diperoleh kesimpulan bahwa 1) Karakteristik kelompok penyalahguna trotoar sangat beragam. Kelompok penyalahguna trotoar semua menunjukkan pada usia produktif dengan tingkat pendidikan sebagian besar SMA/sederajat. Lama usaha sebagian besar 1-10 tahun dengan lama aktifitas 6-10,9 jam per hari. Sebagian besar kelompok penyalahgunaan trotoar tidak ditarik biaya retribusi sedangkan untuk kelompok yang ditarik retribusi yaitu lebih dari Rp. 2.000. 2) Pola persebaran spasial penyalahgunaan trotoar terpusat pada beberapa pusat penting seperti alun-alun yakni jalan merapi, stasiun yakni jalan Mastrip, dan tempat wisata yakni jalan Dr. Moh. Hatta dan Ir. Soekarno. Penyalahgunaan trotoar yang terjadi digunakan untuk perdagangan, jasa, dan perparkiran. Presentase penyalahgunaan pada pagi, siang, dan malam hari terbesar terjadi di trotoar jalan Merapi dengan presentase 98,40%. Sedangkan presentase terkecil pada pagi dan siang hari terjadi di trotoar jalan Sudirman dengan presentase 0%, untuk malam hari di trotoar jalan S. Supriadi dengan presentase 1,59%. 3) Penyalahgunaan untuk perparkiran antara lain parkir sepeda dan motor. Keberadaan kelompok penyalahguna trotoar mengganggu kenyamanan pejalan kaki yang menggunakan trotoar. 4) Pemanfaatan SIG untuk pemetaan penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar sangat membantu karena lebih mudah dan lebih fleksibel, mulai dari pemasukan data seperti digitasi peta administrasi hingga pemasukan keberadaan trotoar, pengolahan data seperti pemasukan titik koordinat kelompok penyalahguna trotoar yang sudah didapatkan, sampai pengeluaran data berupa peta penyalahgunaan pemanfaatan trotoar dan peta presentase penyalahgunaan pemanfaataan trotoar pada pagi, siang, dan malam hari. Hasil akhir berupa peta skala 1:15.000 karena keterbatasan tempat maka hasil akhir peta berskala 1:20.000.

Perencanaan sistem pendingin udara (AC) pada kendaraan panser V-150 commando / oleh Ponco Srihartono

 

Hubungan kebiasaan belajar dengan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 Koata Malang / Novi Hariyani

 

Kata Kunci: hubungan, kebiasaan belajar, hasil belajar, siswa Sekolah Dasar Siswa SDN Sawojajar 4 Kota Malang masih perlu meningkatkan kebiasaan belajar yang baik dan hasil belajarnya, khususnya kelas IV masih terdapat siswa yang mempunyai kebiasaan belajar dan hasil belajar yang kurang baik diduga karena berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kebiasaan belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 4 Kota Malang, (2) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 4 Kota Malang, dan (3) mendeskripsikan hubungan antara belajar siswa dengan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 4 Kota Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 kota Malang sebanyak 37 orang siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket atau kuesioner. Data tentang hasil belajar siswa diperoleh melalui dokumen yang ada di sekolah tersebut. Untuk mencari hasil tentang kebiasaan belajar dan hasil belajar menggunakan teknik prosentase. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan program SPSS 17 for Windows. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa (1) kebiasaan belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 kota Malang sebesar (67,58%) atau sebanyak 25 siswa mempunyai kebiasaan yang cukup atau sedang; (2) hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 kota Malang sebesar (45,94%) atau sebanyak 17 siswa mempunyai hasil belajar yang cukup atau sedang; dan (3) analisis statistik korelasi menunjukkan nilai rhitung sebesar 0,966, sedangkan rtabel adalah 0,325 dengan batas signifikasi 5%, nilai signifikansi adalah 0,000; dan nilai koefisiennya berada pada interval koefisien antara 0,800 sampai dengan 1,000 yang dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan hasil belajar siswa kelas VI SDN Sawojajar 4 kota Malang dengan tingkat korelasi sangat kuat. Artinya kebiasaan belajar memiliki hubungan yang nyata dan berarti dengan hasil belajar serta memberikan kontribusi yang tinggi terhadap hasil belajar. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya agar hasil belajarnya tinggi kepada kepala sekolah dan guru hendaknya lebih memperhatikan dan memberikan bimbingan pada siswa agar siswa dapat belajar dengan baik lagi.

Perencanaan model pembelajaran Air Conditioner (AC) mobil / oleh Sugeng Haryanto

 

Self-disclousure remaja di akun facebook di Kota Malang / Ria Handayani

 

Kata Kunci: self-disclosure, remaja, facebook Facebook sebagai media komunikasi online saat ini menjadi alternatif komunikasi yang digemari banyak orang. Facebook tidak hanya digunakan oleh orang dewasa sebagai sarana untuk menjalin interaksi di dunia maya, tetapi juga para remaja. Facebook dianggap sebagai medium yang baik untuk menceritakan keadaan dirinya. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai keterbukaan diri remaja pada akun Facebook yang dimilikinya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, mencakup motif pengungkapan diri remaja di Facebook, hal-hal yang diungkapkan oleh remaja melalui akun Facebook, faktor penguat pengungkapan diri remaja melalui Facebook, dan temuan-temuan lain yang berkaitan dengan penelitian. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi. Metode penggalian data yang digunakan adalah wawancara dan studi dokumentasi. Prosedur analisis data dengan cara mereduksi data hasil dokumenter berupa transkrip wall status serta notes yang dilakukan oleh informan dan hasil wawancara dengan subjek terteliti. Subjek penelitian yang dipilih adalah para remaja usia sekolah menengah yang menggunakan Facebook dengan lokasi penelitian yang berada di kota Malang. Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan meningkatkan ketekunan dengan cara membaca berbagai referensi buku ataupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) Motif remaja dalam menggunakan Facebook adalah adanya rasa keingintahuan dari dalam diri remaja terhadap perkembangan jejaring sosial terbaru, menjadi sarana bagi remaja untuk mengungkapkan keadaan dirinya mengenai pendapatnya, share emosi, mencari informasi yang mereka butuhkan untuk diri sendiri, dan sebagai hiburan untuk mengisi waktu luang, (2) Informasi yang diungkapkan remaja melalui akun Facebooknya tergantung dari kepercayaan dan kedekatan yang dijalin dengan orang lain yang dikenalnya. Informasi yang sifatnya pribadi hanya dibagikan kepada teman-teman dan orang lain yang dipercayai. Informasi yang bersifat umum berupa identitas diri, seperti nama, pekerjaan, sekolah, asal daerah, tempat tinggal, dan identitas umum lainnya dibagi kepada orang yang belum dikenal dengan baik, (3) Beberapa faktor penguat yang mempengaruhi pengungkapan diri remaja di akun Facebook ialah adanya pengaruh dari kawan sebaya. Penggunaan Facebook juga didukung dengan penggunaan teknologi yang dipandang mudah dan murah, sehingga mendorong terjadinya self-disclosure, (4) Penemuan lain dalam penelitian ini adalah informan mengetahui dampak dari penggunaan Facebook. Berbagai dampak positif yang dirasakan informan berkenaan dengan pertemanan, bisa ii berbagi informasi, sebagai media penyimpanan data, dan sarana berdiskusi. Facebook juga memiliki dampak negatif yaitu, dapat memicu pertengkaran, orang lain bisa mengetahui keadaan informan hanya dengan melihat status Facebooknya, adanya perusakan akun pribadi oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dapat mengurangi waktu dan mengganggu aktivitas belajar remaja sebagi siswa. Selain itu, informan sebagai pengguna Facebook juga cenderung menyisihkan sebagian uang sakunya untuk biaya mengakses internet. Saran dari penelitian ini adalah: (1) Remaja hendaknya lebih berhati-hati dalam memposting tulisan melalui Facebook,agar tidak menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain itu, manajemen waktu juga dibutuhkan dalam mengakses internet agar tidak mengganggu waktu belajar, (2) Di samping itu, konselor hendaknya memanfaatkan Facebook sebagai sarana untuk memahami diri siswa. Konselor hendaknya menggunakan Facebook sebagai media untuk menyebarkan informasi yang berkaitan dengan pendidikan.

Penerapan strategi produk asuransi mitra beasiswa berencana pada AJB Bumi Putera 1912 Kantor Operasional Malang Celaket / oleh Wahyu Hariyadi

 

Perbedaan penerapan model pembelajaran quantum teaching-snowball throwing dengan direct instruction terhadap motivasi dan hasil belajar TIK siswa kelas VII SMPN 1 Srengat / Putriana Prihadi

 

Kata kunci: pembelajaran Quantum Teaching Snowball Throwing, pembelajaran Direct Instruction, motivasi belajar, hasil belajar. Proses belajar dan mengajar merupakan wadah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu yang berkaitan dengan belajar begitu sangat berarti. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Srengat, diketahui beberapa hal diantaranya pembelajaran TIK yang berlangsung di kelas cenderung menggunakan cara belajar langsung (Direct Instruction). Pada saat kegiatan belajar mengajar, siswa cenderung pasif dan kurang termotivasi karena pembelajaran di kelas masih berorientasi pada guru (teacher centered). Dampaknya, hasil belajar siswa kurang memuaskan. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan pembelajaran aktif yang dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa agar siswa mempunyai prestasi yang optimal. Pembelajaran Quantum Teaching Snowball Throwing merupakan perpaduan pembelajaran di mana kegiatan dengan peran dan fungsinya yang saling mendukung untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang lebih variatif dan bermakna. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Quantum Teaching Snowball Throwing dibandingkan siswa yang diajar dengan pembelajaran Direct Instruction. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 1 Srengat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik tidak acak dengan pertimbangan penyamaan beban kelas. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan (silabus, RPP, hand out, dan worksheet) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar, angket motivasi dan lembar observasi). Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan pada kelas eksperimen, persentase keseluruhan siswa yang sangat termotivasi sebesar 71% dengan rata-rata 82 sedangkan pada kelas kontrol hanya 31% dengan rata-rata 77. Hasil belajar kognitif kelas eksperimen dengan nilai rata-rata sebesar 82,2 sedangkan nilai ratarata kelas kontrol sebesar 79,1. Hasil belajar afektif kelas eksperimen dengan nilai rata-rata sebesar 79 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 70. Hasil belajar psikomotor kelas eksperimen dengan nilai rata-rata sebesar 77 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 70. Kesimpulan: hasil belajar kognitif, afektif, psikomotor dan motivasi belajar kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol.

Pelaksanaan sistem pelayanan dan prosedur pemberian kredit perumahan sebagai upaya meningkatkan jumlah nasabah pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) : studi kasus pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Malang / oleh Ana Yugus Novitasari

 

Analisis fitting factor pada vuring blazer sistem Soekarno / Dyan Sukma Sekti Lestari

 

Kata kunci: Fitting factor, vuring, blazer sistem Soekarno Pembuatan blazer cukup rumit, karena menggunakan tambahan vuring dan menggunakan sistem tailoring, sehingga memerlukan pengetahuan, keterampilan, ketelitian, dan tertib kerja yang benar supaya menghasilkan blazer yang rapi, indah, dan nyaman dipakai. Teknik membuat blazer yang masih digunakan yaitu sistem Soekarno, karena polanya mudah untuk dipelajari. Selain itu sistem ini sudah diakui, dipercayai, dan dibukukan di Indonesia sehingga kemungkinan besar dijadikan rujukan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fitting factor pada vuring blazer sistem Soekarno. Berdasarkan tujuan penelitian, jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah menggunakan metode persentase. Obyek pada penelitian ini adalah hasil jadi blazer menggunakan sistem Soekarno yang diuji cobakan pada tubuh wanita dewasa ukuran M. Metode yang digunakan adalah metode observasi. Pengamatan dilakukan oleh empat panelis yang ahli di bidang busana khususnya tailoring. Jenis data, berupa data ordinal dengan alternatif tepat, kurang tepat, dan tidak tepat. Instrumen penelitian berupa lembar pengamatan yang terdiri dari lima belas kriteria penilaian. Sedangkan teknik analisis datanya berupa persentase. Hasil validasi dari ke empat panelis dengan 15 (lima belas) kriteria, dinyatakan tepat sebesar 88,33%, kurang tepat sebesar 8,33%, dan tidak tepat sebesar 3,33%. Blazer dengan sistem Soekarno kekurangannya terletak pada garis prinses dan pada kerung lengan yang terlalu sempit. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan dalam membuat pola blazer menggunakan sistem Soekarno pada ukuran M, harus diperhatikan bagian kerung lengan dan garis prinsesnya.

Pelaksanaan kegiatan promosi yang dilaksanakan pada club house Istana Dieng Malang / oleh Heris Sunaryo

 

Hubungan antara tingkat kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal siswa kelas XI SMK Negeri se-Kota Pamekasan / Maulidir Rasuly

 

Kata Kunci : kepercayaan diri, penerimaan diri, komunikasi interpersonal Perasaan rendah diri yang dirasakan oleh siswa dapat mengakibatkan percaya dirinya kurang sehingga secara tidak langsung juga akan berpengaruh dalam melakukan komunikasi. Seharusnya, siswa SMK Negeri di Kota Pamekasan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal yang memudahkan mereka dalam bersosialisasi. Namun tidak semua siswa memiliki keterampilan komunikasi yang memadai sehingga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan, gagasan atau pikirannya kepada teman atau guru, baik ketika proses belajar mengajar di kelas maupun dalam kegiatan-kegiatan di luar kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) deskripsi kepercayaan diri, (2) deskripsi penerimaan diri, (3) deskripsi keterampilan komunikasi interpersonal siswa SMK Negeri se-Kota pamekasan, (4) hubungan secara parsial antara kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal SMK Negeri se-Kota pamekasan, (5) hubungan secara simultan antara kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal SMK Negeri se-Kota pamekasan, dan (6) sumbangan efektif kepercayaan diri dan penerimanan diri terhadap keterampilan komunikasi interpersonal. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif koresional. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMK Negeri se-Kota Pamekasan sebanyak 877. Sampel penelitian sebanyak 88 siswa ditentukan dengan teknik proporsional random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu skala kepercayaan diri, skala penerimaan diri dan skala keterampilan komunikasi interpersonal dengan jawaban berskala. Teknik analisis yang digunakan analisis statistik deskriptif infrensial. Teknik analisis data inferensial penelitian dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas dan variabel terikat mempunyai hubungan kausal atau korelasi, adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : (1) cukup banyak siswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi, (2) cukup banyak siswa yang memiliki tingkat penerimaan diri sedang, (3) cukup banyak siswa yang memiliki tingkat keterampilan komunikasi interpersonal sedang, (4) ada hubungan yang signifikan secara parsial antara tingkat kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal, (5) ada hubungan yang signifikan secara simultan antara tingkat kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal, (6) penerimaan diri memberikan sumbangan efektif paling dominan terhadap keterampilan komunikasi interpersonal (43,5328%). Berdasarkan kesimpulan di atas, maka (1) disarankan kepada konselor agar memberikan layanan bimbingan pribadi dan sosial yang berkaitan dengan kepercayaan diri, penerimaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal, (2) di samping sebagai pendidik diharapkan juga bisa memberikan motivasi-motivasi agar rasa percaya diri yg siswa yang tinggi tetap terjaga dan untuk penerimaan diri siswa yang masih sedang agar lebih ditingkatkan lagi sehingga siswa dapat melakukan komunikasi dengan baik dalam kelas maupun diluar kelas, dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah, (3) disarankan kepada peneliti selanjutnya agar mengadakan penelitian pada subyek yang lebih luas lagi sehingga dapat melengkapi penelitian sebelumnya yang juga mengetengahkan masalah kepercayaan diri, penerimaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal siswa.

Evaluasi penerimaan pajak hotel dan restoran sebagai panunjang Pendekatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Malang / oleh Ahmad Nafi'

 

Penerapan pembelajaran aktif tipe prediction guide untuk meningkatkan oral activities dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-I SMPN 1 Binangun-Blitar tahun pelajaran 2011/2012 / Pinda Maya Nursanti

 

Kata kunci: prediction guide, oral activities, prestasi belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa dan guru fisika serta observasi awal di SMP Negeri 1 Binangun-Blitar, diperoleh informasi bahwa kegiatan pembelajaran sering dilakukan di laboratorium akan tetapi bukan untuk praktikum. Jarangnya diadakan praktikum maupun diskusi, membentuk karakter siswa kurang mengetahui penerapan fisika, menguasai konsep fisika dan minimnya rasa ingin tahu siswa. Pembelajaran masih berpusat pada guru dengan metode ceramah dan siswa menerima materi sambil membuat catatan. Sedikitnya siswa yang bertanya dan sedikitnya siswa yang menjawab ketika ada pertanyaan dari guru, kebanyakan siswa masih kesulitan mengerjakan soal latihan. Kesulitan siswa ini mengindikasikan bahwa pemahaman siswa terhadap suatu materi masih kurang sehingga prestasi belajar siswa rendah. Nilai ulangan harian siswa materi gelombang elektromagnetik dan hukum pemantulan bunyi hanya sebesar 13,33% dan rata-rata kelas hanya 53,25. Bila dibandingkan dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 75 hanya empat siswa yang tuntas.Untuk meningkat-kan oral activities dan prestasi belajar siswa kelas 8-I SMP Negeri 1 Binangun-Blitar tersebut, diterapkan salah satu pembelajaran aktif tipe prediction guide. Pembelajaran aktif tipe prediction guide adalah serangkaian pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa secara aktif untuk memprediksi suatu pernyataan berdasarkan pemahaman siswa, menyesuaikan prediksi melalui pembahasan dalam kelas, menyimpulkan hasil prediksi dan mempresentasikan hasil prediksi. Pembelajaran aktif tipe prediction guide ini digunakan agar siswa aktif mulai dari awal sampai akhir pembelajaran. Dalam pembelajaran ini, siswa diminta untuk mengungkapkan prediksinya terhadap pernyataan yang diberikan pada lembar prediksi. Kemudian berdiskusi bersama teman kelompoknya dan selama pembelajaran siswa menyesuaikan prediksinya dengan pembelajaran di kelas hingga menghasilkan prediksi akhir. Siswa dituntut untuk menyimpulkan berdasarkan kebenaran hasil prediksinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pembelajaran siklus I dan II dilaksanakan dengan cara pengerjaan prediction guide sheet (PGS), rangkuman siswa, dan tes prestasi belajar. Untuk melihat ketercapaian persentase prestasi belajar siswa dengan pembelajaran aktif tipe prediction guide pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Persentase KKM klasikal pada siklus I 74,4% menjadi 85,0% pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 10,6%. Sementara itu persentase tingkat ketuntasan pada siklus I 59,3% menjadi 90,0% pada siklus II mengalami ii peningkatan sebesar 30,7%. Peningkatan persentase pada masing-masing aspek oral activities yang diamati pada siklus I dan siklus II sebagai berikut. Mengajukan pertanyaan pada siklus I 66,67% meningkat pada siklus II menjadi 86,67%. Menjawab pertanyaan pada siklus I 85,00% meningkat menjadi 90,83% pada siklus II. Mengajukan pendapat pada siklus I 68,33% pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Menyampaikan hasil diskusi pada siklus I 80,83% meningkat pada siklus II menjadi 81,67%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran penerapan pembelajaran aktif tipe prediction guide dapat meningkatkan oral activities dan prestasi belajar siswa kelas VIII-I SMP Negeri 1 Binangun. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi guru fisika kelas VIII-I untuk menerapkan pembelajaran aktif tipe prediction guide sebagai salah satu variasi metode pembelajaran di kelas.

Analisis keterlambatan pengembalian kredit dan dampaknya terhadap pengelolaan dana pada PT. BPR Pamekasan "Purapersada" / oleh Kasliyetti AlWaliyyu

 

Pengembangan media pembelajaran audio visual pada mata pelajaran bubut dasar teknik pemesinan kelas XI SMK Islam 1 Blitar / Ma'sum Andik Prasetya

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Audio Visual, Bubut Dasar, Teknik Pemesinan Media pembelajaran audio visual dapat membantu siswa dalam mempelajari bahan pelajaran yang sangat luas, yang mana didalamnya memuat berbagai konsep, fakta dan prinsip-prinsip tertentu yang berhubungan dengan bahan pelajaran tersebut. Pemilihan media audio visual sebagai produk teknologi media pengajaran mengunakan bubut dasar adalah karena realita bahwa kita berada dalam era teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk media audio visual untuk mendukung pembelajaran praktik menggunakan mesin bubut dasar, yang materinya disesuaikan dengan sajian materi dalam RPP. Pembelajaran dalam bentuk CD yang dikembangkan nantinya akan dijadikan salah satu sumber belajar di seluruh SMK khususnya yang memiliki jurusan Teknik Pemesinan guna menciptakan kreativitas belajar mandiri siswa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Keefektifan media pembelajaran ini pada guru yang menggunakan media audio visual. Dalam pengembangan ini dikembangkan model pengembangan media menurut Sadiman (2010). Dalam menyusun pengembangan media audio visual, melalui beberapa tahapan sebagai berikut: (a) Analisis kebutuhan, (b) Perumusan tujuan, (c) Pengembangan materi, (d) Pengembangan alat evaluasi, (e) Menyusun naskah/storyboard, (f) Produksi, (g) Petunjuk pemanfaatan, (h) Validasi (i) Revisi. Dari hasil uji coba produk kepada para ahli media yakni sebesar 93.75%, guru/materi sebesar 82.5% dan siswa sebesar 82.08%, menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai. Kesesuaian media dalam pembelajaran terutama kompetensi “Mempergunakan Mesin Bubut Dasar “ sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Berdasarkan hasil penelitian ini pada mata Pelajaran “Mempergunakan Mesin Bubut Dasar Teknik Pemesinan SMK Islam 1 Blitar” diperoleh kesimpulan media pembelajaran yang dihasilkan adalah berupa VCD, spesifikasi produk media pembelajaran ini berbentuk flash player. Yang didalamnya terdapat materi dan video juga gambar tentang mesin bubut. Penelitian yang dilakukan memperoleh hasil yang cukup memadai, sehingga media ini dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Pada dasarnya media pembelajaran ini digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran mesin bubut dasar dan bisa digunakan oleh siswa untuk pengayaan materi tersebut.

Upaya Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru dalam proses reedukasi moralitas narapidana kasus narkoba di Kota Malang / Dhimas Galuh Kusumaningrum

 

Kusumaningrum, Dhimas Galuh. 2014.Upaya Lembaga Pemasyarakatan lowokwaru dalam proses Reedukasi moralitas narapidana kasus narkoba di kota Malang. Skripsi, Prodi PPKn, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Drs. H. Suko Wiyono. SH,. M.Hum, (II) Rusdianto Umar, SH., M. Hum, Kata Kunci : Reedukasi Moralitas, Narapidana narkoba, Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik Pemasyarakatan. Reedukasi moralitas maksudnya adalah pembinaan moral atau pendidikan ulang tentang moral. Reedukasi terhadap narapidana bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena menyangkut berbagai faktor yang sangat erat kaitannya. Lembaga Pemasyarakatan dituntut untuk membina dan mengembalikannya ke masyarakat dalam keadaan siap bermasyarakat. Hal semacam ini perlu diwaspadai, di cegah agar tingkat kejahatan seperti penyalagunaan narkoba yang tinggi dapat ditekan. Penyalagunaan narkoba memiliki dampak yang sangat besar dan dapat membahayakan kehidupan. Lembaga Pemasyarakatan sebagai suatu Lembaga yang bertugas membimbing dan membina narapidana agar nantinya setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan benar-benar berubah menjadi berperilaku yang lebih baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan memberikan pembinaan moral kepada semua narapidana dengan tujuan untuk membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat sekitar sebagai warga Negara yang baik dan bertanggung jawab. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui bentuk upaya Lembaga Pemasyarakatan lowokwaru dalam proses Reedukasi moralitas narapidana kasus narkoba di kota Malang, (2) mengetahui kendala Lembaga Pemasyarakatan lowokwaru dalam proses Reedukasi moralitas narapidana kasus narkoba di kota Malang, dan (3) mengetahui upaya Lembaga Pemasyarakatan lowokwaru untuk mengatasi kendala dalam proses Reedukasi moralitas narapidana kasus narkoba di kota Malang. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan lowokwaru kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan mengambil kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses Reedukasi moralitas di dilakukan dengan memberikan beberapa program pembinaan yang meliputi program pembinaan tahap awal Administrasi Orientasi dan pembinaan spiritual kerohanian serta pembinaan selanjutnya yaitu pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Pembinaan kepribadian terdiri atas (a). Pendidikan mental meliputi : Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara, pembinaan kesadaran hukum, pembinaan kemampuan intelektual. (b). Pembinaan spritual, (c). Pembinaan jasmani. Sedangkan pembinaan kemandirian terdiri atas Pembinaan keterampilan dan bimbingan kerja. Proses Reedukasi moralitas ini tidak terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi, yang meliputi : jumlah penghuni yang melebihi kapasitas, kurang nya jumlah tenaga profesional guru yang mengajar di Lembaga Pemasyarakatan, banyak narapidana yang masuk tidak memiliki keterampilan khusus, banyak hasil karya dari narapidana yang tidak habis terjual di pasaran. Untuk mengatasi masalah yang ada diusahakan dengan mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak yang relevan sehingga dapat membantu mengatasi masalah yang ada.

Meningkatkan hasil belajar IPS dengan memanfaatkan media peta di kelas IV SD Negeri Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Rahama Wati Suatkab

 

ABSTRAK Suatkab,Wati,Rahama. 2009. Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Memanfaatkan Media Peta di Kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah , Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.SY.S.Pd, M.Pd, (2) Drs. Toha Mashudi.S.Pd,M.Pd. Kata Kunci: Hasil Belajar, Manfaat Media Peta,IPS. Pendidikan sebagai upaya untuk membangun sumber daya manusia memerlukan wawasan yang luas, karena pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Pendidikan nasional merupakan salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut UU RI No 21 tahun 2003 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus memilih model pembelajaran atau media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan perkembangan berpikir siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan pemanfaatan media peta untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrument pengumpulan data berupa (a) observasi yaitu aktifitas belajar siswa, dan proses pembelajaran (b) tes yaitu pra tindakan, siklus I dan siklus II. Data yang di peroleh dari hasil tes evaluasi hasil belajar dianalisis secara kualitatif dengan nilai standar 60 (10-100), dan tuntas belajarnya apabila telah mencapai 60. Pelaksanaan pembelajaran sibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Hasil dari yang di peroleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dinilai dari proses pembelajaran pada para tindakan, tindaka siklus I, dan tindakan siklus II dengan nilai rata-rata kelas sebagai berikut:pra tindakan 940, tindakan siklus I 1210, dan tindakan siklus II 1630. dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan memanfaatan media peta dalam pembelajaran IPS materi Peta jawa timur, pada: (a) pra tindakan menunjukann 10 siswa mendapat nilai sangat kurang yaitu 37,0, menunjukan 12 siswa mendapat nilai kurang yaitu 44,4, dan 5 siswa mendapat nilai cukup yaitu 18,5. (b) tindakan siklus I menunjukan 10 siswa mendapat nilai kurang yaitu 59,2, menunjukan 7 siswa mendapat nilai cukup 25,9, dan 4 siswa mendapat nilai baik 14,8. (c) tindakan siklus II menunjukan 5 siswa mendapat nilai kurang 18,5, menunjukan 11 siswa mendapat nilai cukup 40,7, dan 11 siswa mendapat nilai baik 40,7. dengan demikian 27 siswa dikatakan tuntas. Peneliti memberi kesimpulan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan Meningkatkan hasil belajar IPS dengan memanfaatkan media peta, terbukti dengan adanya hasil beljar siswa pada setiap akhir siklus. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut, makadapat menyarankan kepada: (1) Guru, dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh siswa dalam diskusi maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan materi, memberikan bimbingan atau permasalahan yang diberikan kepada mereka dalam upaya peningkatan kemampuan yang dimiliki siswa. (2) Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan motivasi, bimbingan kepada guru-guru di lingkungan SDN Gununggangsir III, agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama hasil belajar siswa kearah yang lebih baik. ABSTRAK Suatkab,Wati,Rahama. 2009. Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Memanfaatkan Media Peta di Kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah , Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.SY.S.Pd, M.Pd, (2) Drs. Toha Mashudi.S.Pd,M.Pd. Kata Kunci: Hasil Belajar, Manfaat Media Peta,IPS. Pendidikan sebagai upaya untuk membangun sumber daya manusia memerlukan wawasan yang luas, karena pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Pendidikan nasional merupakan salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut UU RI No 21 tahun 2003 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus memilih model pembelajaran atau media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan perkembangan berpikir siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan pemanfaatan media peta untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrument pengumpulan data berupa (a) observasi yaitu aktifitas belajar siswa, dan proses pembelajaran (b) tes yaitu pra tindakan, siklus I dan siklus II. Data yang di peroleh dari hasil tes evaluasi hasil belajar dianalisis secara kualitatif dengan nilai standar 60 (10-100), dan tuntas belajarnya apabila telah mencapai 60. Pelaksanaan pembelajaran sibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Hasil dari yang di peroleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dinilai dari proses pembelajaran pada para tindakan, tindaka siklus I, dan tindakan siklus II dengan nilai rata-rata kelas sebagai berikut:pra tindakan 940, tindakan siklus I 1210, dan tindakan siklus II 1630. dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan memanfaatan media peta dalam pembelajaran IPS materi Peta jawa timur, pada: (a) pra tindakan menunjukann 10 siswa mendapat nilai sangat kurang yaitu 37,0, menunjukan 12 siswa mendapat nilai kurang yaitu 44,4, dan 5 siswa mendapat nilai cukup yaitu 18,5. (b) tindakan siklus I menunjukan 10 siswa mendapat nilai kurang yaitu 59,2, menunjukan 7 siswa mendapat nilai cukup 25,9, dan 4 siswa mendapat nilai baik 14,8. (c) tindakan siklus II menunjukan 5 siswa mendapat nilai kurang 18,5, menunjukan 11 siswa mendapat nilai cukup 40,7, dan 11 siswa mendapat nilai baik 40,7. dengan demikian 27 siswa dikatakan tuntas. Peneliti memberi kesimpulan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan Meningkatkan hasil belajar IPS dengan memanfaatkan media peta, terbukti dengan adanya hasil beljar siswa pada setiap akhir siklus. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut, makadapat menyarankan kepada: (1) Guru, dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh siswa dalam diskusi maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan materi, memberikan bimbingan atau permasalahan yang diberikan kepada mereka dalam upaya peningkatan kemampuan yang dimiliki siswa. (2) Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan motivasi, bimbingan kepada guru-guru di lingkungan SDN Gununggangsir III, agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama hasil belajar siswa kearah yang lebih baik.

Fungsi upacara erau bagi kehdupan masyarakat Tenggarong di Kbaupaten Kutai Kartanegara / oleh Edwinsyah

 

Penerapan model pembelajaran JIGSAW untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V MI As-Sholihin Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan / Dewi Ainur Rizqiyah

 

Kata Kunci : model pembelajaran, jigsaw, keterampilan berbicara, MI Penelitian ini mengacu pada salah satu Sekolah Dasar di wilayah kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, yaitu MI As-Sholihin Desa Rebalas. Di Madrasah Ibtidaiyah ini keterampilan berbicara siswa sangat memprihatinkan. Hal tersebut disebabkan oleh kurang diterapkannya penggunaan bahasa Indonesia pada kehidupan sehari-hari siswa, bahasa siswa masih sangat terpengaruh bahasa pertama mereka, dan siswa kurang percaya diri ketika menggunakan bahasa Indonesia. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk lebih meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V MI As-Sholihin kecamatan Grati kabupaten Pasuruan dengan menggunakan model pembelajaran jigsaw. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V MI As-Sholihin Kecamatan Grati Pasuruan. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis kualitatif meliputi klasifikasi data dan penyajian data. Dari observasi yang telah dilaksanakan, hasil yang diperoleh siswa mengalami peningkatan nilai. Hasil belajar siswa pada pratindakan secara klasikal yang pada mulanya hanya 25%, meningkat pada kegiatan siklus I, yaitu 75%. Setelah diberikan pembelajaran pada siklus II, hasil belajar siswa lebih meningkat lagi menjadi 87,5%. Dengan demikian, secara klasikal dan individual, siswa telah tuntas, dan tidak memerlukan perbaikan lagi. Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan yaitu melalui siklus I dan siklus II. Dengan menggunakan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam keterampilan berbicara siswa kelas V MI As-Sholihin Kecamatan Grati Pasuruan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa mulai dari kegiatan siklus I ke siklus II. Pada kegiatan siklus I secara klasikal nilai siswa mencapai 75%, dan pada siklus II nilai siswa meningkat menjadi 87,5%. Berdasarkan kesimpulan di atas , maka disarankan guru hendaknya dalam menyampaikan pelajaran harus benar-benar memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Jika model pembelajaran yang digunakan sesuai dengan materi yang dipelajari maka guru bersama siswa akan mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Penelitian tentang perubahan corak lukisan karya Yon Wahyuono periode 1970-2004 / oleh Niko Arya Surya Nagra

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru ekonomi SMA se-Malang Raya / Sri Handayani

 

Kata kunci : Kompetensi Guru Ekonomi, Status Sosial Ekonomi, Komitmen Profesional Guru, Perilaku Ekonomi Guru, Kinerja Guru Ekonomi Kinerja guru yang profesional seharusnya dimiliki oleh setiap pendidik karena melalui kondisi tersebut dapat diperoleh pendidikan yang mampu membentuk manusia berkualitas. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan pembangunan pendidikan terkini, maka guru dituntut untuk terus menerus berupaya meningkatkan kompetensinya secara dinamis. Oleh karena itu kinerja guru dipengaruhi oleh kompetensi guru ekonomi. Guru mata pelajaran ekonomi yang seharusnya sudah memiliki pemahaman dan menguasai tentang hakikat mendasar dari ilmu ekonomi yang didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Untuk itu dituntut untuk lebih peka dan rasional dalam berperilaku ekonomi. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor internal yang melekat pada diri seseorang. Faktor-faktor internal tersebut terkait dengan kompetensi guru, status sosial ekonomi guru, komitmen profesional guru dan perilaku ekonomi guru. Kompetensi dasar yang harus dimiliki guru meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi personal atau kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan status sosial ekonomi guru merupakan kedudukan seorang guru dalam hubungannya dengan orang lain di dalam suatu masyarakat berdasarkan pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan rumah yang dihuni. Faktor internal yang berikutnya yaitu komitmen profesional yang diartikan sebagai kekuatan/intensitas identifikasi dan keterlibatan individu dengan profesinya. Sedangkan untuk perilaku ekonomi pada dasarnya perilaku manusia dalam kegiatan ekonomi bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya. Penelitian ini mengambil 117 responden yang berasal dari Guru Ekonomi SMA di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Pemilihan responden tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penelitian dengan mengambil 3 area yang berbeda sehingga mewakili dari objekpenelitian. Penelitian ini termasuk penelitian explanatory. Tujuan dari penelitian eksplanatori yaitu untuk menjelaskan dan menganalisis variabel tertentu secara objektif. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, serta hipotesis yang diuji dalam penelitian ini, maka teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Structual Equation Modeling (SEM), teknik analisis gabungan antara analisis faktor dan analisis regresi dan penerapannya dilakukan secara simultan yang alat pengumpulannya berupa angket. Dari hasil penelitian ini diketemukan bahwa dari 117 yang dijadikan penelitian 82 responden memiliki kompetensi guru yang tinggi, untuk status sosial ekonomi guru ditemukan bahwa 56 responden memiliki status sosial ekonomi yang sedang, sedangkan untuk komitmen profesional 71 responden memiliki komitmen profesional sangat tinggi, untuk perilaku ekonomi guru ditemukan bahwan 72 responden memiiki perilaku ekonomi yang baik, serta untuk kinerja guru 75 responden memiliki kinerja yang baik. Untuk pengaruh antar variabel diketahui bahwa (1) Kompetensi Guru Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Guru Ekonomi, (2) Status Sosial Ekonomi tidak berpengaruh terhadap Kinerja Guru Ekonomi, (3) Penilaian Komitmen Profesional Guru berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Guru Ekonomi, (4) Kompetensi Guru Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Ekonomi Guru Ekonomi, (5) Status Sosial Ekonomi Guru Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Ekonomi Guru Ekonomi, (6) Penilaian Komitmen Profesional Guru Ekonomi tidak berpengaruh terhadap Perilaku Ekonomi Guru Ekonomi, (7) Perilaku Ekonomi Guru berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Guru Ekonomi.

Peningkatan kualitas proses dan hasil belajar Biologi siswa SMAN 5 Malang kelas X semester II melalui pendekatan belajar berbasis masalah / oleh Lailatul Maghfiroh

 

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian pada brownies Amanda Cabang I Malang / Herlina Setiani

 

Kata kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian. Di dalam era globalisasi dan pasar bebas, berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia. Seorang pemasar yang baik harus mampu meletakkan posisi produk melalui atribut produk. Dalam penelitian ini, atribut produk yang mempengaruhi keputusan pembelian ini terdiri dari harga, kualitas, kemasan dan merek. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui deskripsi mengenai kondisi atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) dan keputusan pembelian pada Brownies Amanda Cabang I Malang, (2) untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara parsial antara atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) terhadap keputusan pembelian Brownies Amanda Cabang I Malang, (3) untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara simultan antara atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) terhadap keputusan pembelian pada Brownies Amanda Cabang I Malang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian penjelasan (explanatory research). Terdiri dari dua variabel yaitu atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) sebagai variabel bebas dan keputusan pembelian sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah orang yang melakukan keputusan pembelian langsung pada produk-produk Brownies Amanda Cabang I Malang, dan tergolong infinite population (tak terhingga jumlahnya). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Pengambilan data primer dalam penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa angket atau kuesioner yang sebelumnya telah diuji kepada 30 responden di luar sampel yang akan diambil. Instrumen penelitian tersebut menggunakan skala likert dengan 5 skala pengukuran meliputi: sangat setuju (5), setuju (4), cukup setuju (3), tidak setuju (2), sangat tidak setuju (1). Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 16 For Windows. Hasil penelitian ini adalah: (1) deskripsi persepsi konsumen tentang atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) dan keputusan pembelian secara keseluruhan sudah baik, (2) analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 16, For Windows, dengan taraf signifikansi 5%. Dari analisis regresi berganda diketahui hasil penelitian: harga mempunyai thitung = 3,952 dengan β = 0,269, kualitas mempunyai thitung = 6,918 dengan β = 0,472, kemasan mempunyai thitung = 5,778 dengan β = 0,395, dan merek mempunyai thitung = 3,161 dengan β = 0,215, dari hasil tersebut disimpulkan bahwa atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian, (3) diperoleh hasil bahwa nilai Fhitung = 31,303 , Ftabel =1,61 serta dengan sig.F = 0,000. Jadi, pada penelitian ini Fhitung > Ftabel dengan sig.F < alpha (0,000 < 0,05), dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa atribut produk (harga, ii kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap keputusan pembelian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) deskripsi persepsi konsumen tentang atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) dan keputusan pembelian pada Brownies Amanda Cabang I Malang secara keseluruhan sudah baik, (2) atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian Brownies Amanda Cabang I Malang, (3) atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap keputusan pembelian Brownies Amanda Cabang I Malang. Saran yang bisa diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian adalah (1) sebaiknya Brownies Amanda menambah jenis dan varian rasa baru (2) menambah jenis ukuran kue Brownies Amanda agar lebih bervariasi (3) Karena atribut produk dalam penelitian ini hanya berpengaruh 55% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain, maka diharapkan peneliti selanjutnya untuk meneliti variabel selain atribut produk, misalnya brand image.

Penerapan pembelajaran berdasarkan masalah melalui metode kooperatif model stad (Student Teams Achievement Division) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Biologi siswa kelas II-8 SMAN 1 Sumenep / oleh Sakina Arafah

 

Implementasi Standar Isi (SI) mata pelajaran ekonomi SMA berdasarkan persepsi guru ekonomi SMA Negeri di Kota Malang / Dian Rachmawati

 

Kata kunci : standar isi, tujuan mata pelajaran ekonomi Dari delapan standar nasional pendidikan salah satu yang paling utama adalah standar isi (SI), karena SI merupakan acuan dalam proses pembelajaran di kelas. SI langsung memilahkan “isi” pendidikan menjadi: (a) muatan lokal, (b) kelompok mata pelajaran dan, (c) materi pengembangan diri. Hal tersebut mengakibatkan Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang SI sebagai kebijakan resmi yang by default. Mata pelajaran Ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (a) Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara, (b) Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi, (c) Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara, (d) Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan tujuan agar dapat memperoleh pemahaman dan penafsiran mendalam tentang makna dari fenomena yang ada di lapangan. Sedangkan sifat atau kategori dalam penelitian ini merupakan penelitian evaluasi menggunakan metodologi studi kasus (case studies). Dalam penelitian ini beberapa tahapan dalam proses pengumpulan data yaitu: (a) survey/ observasi awal, (b) Penyebaran kuesioner, (c) wawancara. Penafsiran rumusan tujuan SI mata pelajaran ekonomi dipersepsikan sesuai dengan background pendidikan dan latar belakang para guru hal tersebut terjadi karena tidak ada langkah operasional yang terkandung dalam SI, sehingga kajian tentang rumusan tujuan mata pelajaran ekonomi masih sangat kurang. Empat rumusan yang terkandung dalam SI memiliki tingkatan aspek yaitu kogitif, afektif, dan psikomotor. Hal tersebut tidak disadari oleh para guru. Setiap guru mengajar namun mereka tidak menyadari bahwa ada tujuan besar yang terkandung dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Pelaksanaan pembelajaran di kelas tidak dirumuskan berdasarkan rumusan tujuan SI. RPP dilaksanakan berdasarkan tujuan pembelajaran, sedangkan tujuan pembelajarannya pun tidak mengacu pada rumusan tujuan SI. Implementasi tentu saja dilakukan sesuai dengan kebutuhan materi sehingga setiap tujuan begitu sulit untuk diimplementasikan secara menyeluruh dalam setiap pembelajaran di kelas.

Pengaruh penerapan pembelajaran dengan Problem-Based Learning terhadap mutu pembelajaran kimia dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Kedungwaru Kabupaten Tulungagung pada pokok bahasan minyak bumi dan Petrokimia / oleh Eny Kurniasari

 

Pengembangan sistem informasi keuangan SPPD di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Fitri Kushandayani

 

Keyword: Sistem InformasiKeuangan,SPPD,Web Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik adalahsalah satu unit kerja di lingkungan Universitas Negeri Malang. SeiringbertambahnyawaktuJurusanTeknikElektroFakultasTeknikmengalamiperkembangan yang signifikan.Perkembanganinimenuntutadanyasebuahsaranadanprasaranauntukmempercepatkinerjadanefisiensididalamadministrasipendidikantermasukjugamasalahadminstrasikeuangansepertipencatatansurattugas, pencatatanrincianbiayaperjalanandinas (SPPD), danpelaporankeuangannya. Untukitudiperlukanadanyasuatusisteminformasikeuangan yang dapatmencatat, memprosesdanmenghasilkansebuahsisteminformasikeuangan yang cepatdanaman.Permasalahan yang dibahasdalamskripsiiniadalahbagaimanamembangunsebuahsisteminformasikeuanganberbasisweb di JurusanTeknikElektroFakultasTekniksehinggadapatmenyajikaninformasitentangkeuanganperjalanandinas (SPPD) Dalam pengembangan sistem informasi keuangan SPPD ini penulis menggunakan Waterfall Modeldengan pengujian Black Box. Sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan observasi,wawancaradanangket.Rancangansistemdimulaidenganmendefinisikankebutuhanperangkatlunakkemudianmenganalisaalur proses kerjasistem yang kemudiandigambarkandalamflowchart, data flow diagram (DFD), kemudianmenyusundatabasedan yang terakhirmembuattampilaninformasipada web.Pembuatansisteminformasikeuangan SPPD inimenggunakanbahasapemrograman PHP dandiinteraksikandengan database MySQL, kemudianditampilkandenganaplikasiweb browser. Hasilpengembanganiniadalahsebuahsisteminformasikeuangan yang berisiinformasitentang data rincianbiayaperjalanandinas, data pegawai, data surattugasdan data perhitunganbiayaperjalanandinas. Berdasakanhasilpenelitiandapatdisimpulkanbahwasisteminformasikeuangan SPPD dapatmembantumempercepatpembuatanSuratPerintahPerjalananDinaskarenainformasikeuangandiolahdandihasilkanlebihcepat, lebihefisiendanefektif.Dari hasilpenelitianinidisarankan agar dilakukanlebihlanjutsehinggadapatmenyempurnakansisteminformasikeuangan yang telahada.

Persepsi guru pembimbing mengenai pertanggungjawaban pelaksanaan program bimbingan konseling / oleh Siswoyo

 

Penggunaan metode discovery untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Suwaru Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang / Devienta Maya Sari

 

Kata kunci: Metode Discovery, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi di kelas IV yang menunjukkan bahwa ketuntasan belajar pada pembelajaran IPS masih rendah. Rendahnya tingkat ketuntasan belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu (a) kurangnya pengelolaan kelas oleh guru, (b) kurangnya kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran, (c) penggunaan metode yang monoton, (d) pengetahuan yang didominasi fakta dan data tidak mudah diingat oleh siswa (e) penggunaan media belum maksimal, (f) siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan tidak mendapat perhatian dari guru. Salah satu metode yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar yaitu metode Discovery. Metode Discovery adalah metode pembelajaran yang menekankan pada proses penemuan pengetahuan data dan fakta (keterampilan proses). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penggunaan metode Discovery dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Suwaru, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Suwaru melalui penggunaan metode Discovery, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Suwaru melalui penggunaan metode Discovery Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis&Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV yang berjumlah 24 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan antara lain pedoman observasi aktivitas guru, pedoman observasi aktivitas siswa, dan soal tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Discovery dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari peningkatan skor rata-rata siswa pada setiap tahap. Prosentase aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus I 50% dan siklus II sebesar 83,33% atau meningkat sebesar 33,33%". Sedangkan peningkatan prosentase hasil belajar siswa yang tuntas belajar dari siklus I 54,16% ke siklus II 83,33% menjadi naik sebesar 29,17%, (dari 24 siswa, 20 tuntas belajar) dan yang belum tuntas ada 4 siswa, karena kemampuannya sangat rendah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Discovery dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Suwaru telah berhasil dan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran serta dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Suwaru. Disarankan bagi guru hendaknya mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, mempertimbangkan penggunaan waktu dan membuat penilaian yang sesuai tujuan pembelajaran.

Nilai-nilai budaya Bali aplikasinya dalam konseling / oleh Anak Agung Oka Waicaka

 

Penerapan kolaborasi model pembelajaran kooperatif STAD dan talking stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (studi pada mata pelajaran manajemen perkantoran siswa kelas X AP SMK Wisnuwardhana Malang) / Weny Widyaningsih

 

Kata Kunci: Kolaborasi Pembelajaran Kooperatif, Model STAD (Student Teams Achievement Division) dan Model Talking Stick, Aktivitas, Hasil Belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) dan Talking Stick pada Mata Pelajaran Manajemen Perkantoran studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas X AP SMK Wisnuwardhana Malang, sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X AP SMK Wisnuwardhana Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 36 siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif, yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan empat tahapan untuk tiap siklusnya, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui: observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Aktivitas siswa dalam penerapan kolaborasi Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) dan Talking Stick siklus I pada pertemuan I menunjukkan presentase keberhasilan mencapai 61.14% dan pertemuan II 62.85%, mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 1.71%. Ini menunjukkan peningkatan yang masih belum terlalu tinggi. Sedangkan siklus II pada pertemuan I menunjukkan presentase keberhasilan mencapai 63.72% dan pertemuan II 78.80%, mengalami peningkatan yang baik 15.08%. Ini menunjukkan peningkatan yang sudah tinggi dan masuk dalam kategori baik. Hasil belajar dalam penelitian ini meliputi aspek kognitif siswa dari siklus I dan siklus II. Aspek kognitif siswa siklus I, menunjukkan nilai rata-rata post test siswa adalah 71.09. Sedangkan pada siklus II, nilai rata-rata post test siswa mencapai 83.2.Terjadi peningkatan antara siklus I dan siklus II sebesar 12,11 dengan maksud meningkat dari kategori baik menjadi sangat baik. Saran yang diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah: 1) bagi guru mata pelajaran, diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran yang bisa diterapkan di kelas, 2) bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam hal mengemukakan pendapat serta keaktifannya sebagai anggota kelompok maupun individu, 3) bagi sekolah SMK Wisnuwardhana Malang, diharapkan dapat menjadikan model pembelajaran kooperatif sebagai model pembelajaran di kelas yang tentunya relevan dengan masing-masing pelajaran.

Pengaruh bauran eceran (retailing mix) terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada Apolo Swalayan Jombang) / Retno Sari Dewanti

 

Kata kunci: Bauran eceran, keputusan pembelian konsumen. Seiring dengan perkembangan dunia bisnis dan kebutuhan manusia akan barang dan jasa, banyak bermunculan perusahaan dagang yang bergerak di bidang perdagangan eceran (retail) yang berbentuk toko, minimarket, pasar swalayan dan lain-lain. Jumlah pasar swalayan yang semakin meningkat tersebut menyebabkan persaingan yang semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat menuntut pelaku bisnis untuk pandai-pandai mengatur strategi untuk dapat memenangkan persaingan yaitu dengan mengembangkan strategi-strategi pemasaran berdasarkan sasaran dan rencana strategis keseluruhan. Strategi-strategi yang digunakan pengecer untuk mencapai sasarannya yaitu dengan merumuskan bauran eceran (retailing mix). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi bauran eceran (retailing mix) dan keputusan pembelian konsumen pada Apolo walayan, Jombang, (2) Pengaruh positif bauran eceran (retailing mix) secara parsial yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan, Jombang, (3) Pengaruh positif bauran eceran (retailing mix) secara simultan yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan, Jombang. (4) serta untuk mengetahui elemen bauran eceran (retailing mix) yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian di Apolo Swalayan, Jombang. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari Merchandise (X1), harga (X2), Lokasi (X3), Promosi (X4), retail service (X5), atmosphere (X6),dan variabel terikatnya adalah keputusan pembelian konsumen (Y). Jenis dari penelitian ini adalah asosiatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pembelian di Apolo Swalayan Jombang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 responden. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus untuk populasi tak terhingga.. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner, skala pengukuran yang dipakai adalah Skala Likert (Sangat Setuju, Setuju, Cukup Setuju, Kurang Setuju, dan Tidak Setuju). Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X1) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,264 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X2) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,312 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X3) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,184 dan sig t = 0,003, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X4) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,185 dan sig t = 0,020, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X5) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,127 dan sig t = 0,003, tidak terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X6) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,031 dan sig t = 0,693. (2) Terdapat pengaruh merchandise (X1), harga (X2), lokasi (X3), promosi (X4), retail service (X5), atmosphere (X6),secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen berdasarkan nilai Fhitung sebesar 51,193 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari bauran eceran yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen adalah harga (X2) dengan nilai sumbangan efektif sebesar 22,5%. Selain itu, dalam diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,753, ini berarti bahwa variabel merchandise, harga, lokasi, promosi, retail service dan atmosphere secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian sebesar 75% sedangkan sisanya sebesar 25% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1)Variabel bauran eceran (retail mix) yang terdiri dari variabel merchandise, harga, lokasi, promosi, lokasi, retail service dan atmosphere mempengaruhi keputusan pembelian Apolo Swalayan Jombang baik secara simultan maupun parsial. (2) Setiap variabel bauran eceran (retail mix) dapat mempengaruhi penjualan di Apolo Swalayan Jombang dan satu sama lain saling mempengaruhi. (3) Dari hasil uji t diketahui bahwa variabel yang memiliki nilai koefisien Beta yang distandarisasi yang terbesar adalah variabel harga (X2). Hal ini membuktikan bahwa harga merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan Jombang. (4) Variabel atmosphere kurang berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen Apolo Swalayan. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pengelola Apolo Swalayan Jombang perlu memperhatikan pengaruh bauran eceran terhadap keputusan pembelian konsumen dalam penyusunan rencana maupun strategi pemasaran Apolo Swalayan Jombang. (2) pengelola Apolo Swalayan dapat melakukan penetapan harga yang mampu bersaing dengan Swalayan lain. (3) pengelola Apolo Swalayan diharapkan dapat melakukan peningkatan kualitas dalam toko, misalnya dalam segi desain interior dan eksterior, memperhatikan suhu ruangan agar membuat konsumen nyaman dalam berbelanja, dll. (4) meningkatkan pelayanan terhadap konsumen sangat penting untuk memberikan kesan yang positif dengan cara pelatihan karyawan dalam melayani baik keterampilan teknis maupun keterampilan antarpribadi. Yang dapat diwujudkan dari komitmen semua karyawan untuk meningkatkan pelayanan (5) bagi peneliti lain yang berminat mengembangkan studi ini disarankan untuk lebih memperdalam kajian melalui pengembangan item-item pernyataan untuk variabel-variabel bauran eceran (retail mix) dan meneliti variabel-variabel lain yang belum masuk dalam model, karena dalam penelitian ini masih terdapat variabel lain yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian yang ditunjukkan dengan sisa nilai adjusted R square sebesar 25%.

Evaluasi sistem pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan pada pabrik gula Ngadirejo Kediri tahun 2011 / Nova Kurnia Edwinanda

 

Kata Kunci: Evaluasi Sistem, Pengendalian Intern, Gaji dan Upah Gaji dan upah merupakan bagian dari kompensasi yang paling besar yang diberikan perusahaan sebagai balas jasa kepada karyawannya. Seperti halnya yang dilakukan PG. Ngadiredjo dalam kewajibannya memberikan gaji dan upah kepada seluruh karyawannya. Dibutuhkan pengendalian intern dalam prosedur penggajian dan pengupahan untuk mencegah ancaman dan mengatasi masalah jika terjadi dalam pelaksanaannya. Sistem pengendalian intern yang baik dapat menghasilkan informasi akuntansi yang dapat dipercaya. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kesesuaian pengendalian intern penggajian dan pengupahan (pemisahan fungsi, wewenang otorisasi, praktek yang sehat, dan karyawan yang berkualitas) dalam upaya menghasilkan informasi akuntansi yang berkualitas. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada penanggung jawab Bagian Pengolahan, Pengawas Bagian Pembukuan, dan Wakil Kepala Bagian Perencanaan dan Pengawasan. Dokumentasi diperoleh dari Bagian Pengolahan, Bagian Pembukuan, dan Bagian Perencanaan dan Pengawasan. Metode pemecahan masalah dilakukan dengan cara menganalisis kesesuaian unsur-unsur pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo. Langkah-langkah dalam menganalisis yaitu mengevaluasi kesesuaian pemisahan fungsi, mengevaluasi kesesuaian wewenang otorisasi dalam pembuatan dokumen-dokumen, mengevaluasi kesesuaian praktik pelaksanaan setiap bagian yang bertugas, dan mengevaluasi kesesuaian kualitas karyawan yang menangani prosedur penggajian dan pengupahan. Berdasarkan hasil analisis dari wawancara dan dokumentasi diketahui bahwa pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo terdapat ketidaksesuaian di beberapa hal yaitu adanya perangkapan jabatan antara pembuat dan pendistribusian cek gaji dan upah, penulisan jam/waktu lembur yang dilakukan oleh karyawan yang bersangkutan, praktek tidak sehat ditandai dengan tidak adanya rotasi jabatan secara berkala di Bagian Pengolahan, serta proses perekrutan karyawan dengan jumlah sedikit yang dilkakukan secara tertutup dengan memprioritaskan lingkungan intern. Kesimpulan penulisan Tugas Akhir ini yaitu pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo memiliki beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya namun bukan berarti prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo buruk sepenuhnya. Sehingga saran mengenai hasil pembahasan Tugas Akhir ini yaitu adanya kelemahan yang ditemukan dapat dijadikan acuan dalam perbaikan atau pembentukan sistem baru yang lebih efektif agar dapat menghasilkan informasi akuntansi yang memiliki akuntabilitas tinggi serta tidak merugikan perusahaan.

Profil pelaksanaan evaluasi pembelajaran PKn kelas IV SDN se-gugus II Kec. Pagelaran Kab. Malang / Deviena Maya Sari

 

Bahasa Arab Amiyah dalam percakapan sehari-hari pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang / Muh. Taib Azizin

 

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Ragam dan situasi penggunaan bahasa Arab terbagi menjadi dua, yaitu bahasa Arab fasih (fusha) dan bahasa Arab umum (amiyah). Bahasa fusha digunakan dalam situasi yang formal. Bahasa amiyah atau bahasa pasaran pada umumnya digunakan dalam kondisi informal, misalnya percakapan sehari-hari. Bahasa amiyah pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang menarik untuk diteliti karena merupakan bahasa yang sifatnya unik dan asing bagi kelompok masyarakat di luar penggunanya. Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa hal pokok yang meliputi: (1) bentuk kosakata bahasa Arab amiyah yang digunakan oleh masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, (2) pola kecenderung-an penggunaan bahasa Arab amiyah yang terjadi ketika berkomunikasi sehari-hari dalam masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, (3) faktor-faktor yang mendorong terjadinya penggunaan bahasa Arab amiyah dalam ber-komunikasi pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang . Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan kualitiatif. Keseluruhan data diambil dari observasi terlibat, wawancara, rekaman audio dan foto. Data diperoleh dari percakapan sehari-hari pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang. Peneliti sebagai instrumen utama dan alat rekaman audio (Flash Disk MP3), kamera digital dan tabel berformat sebagai instrumen tambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode cakap dan metode simak. Dalam pengumpulan data peneliti mendengarkan, mewawancarai dan merekam komunikasi informan yakni para jama’ah masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, kemudian mencatat data bahasa dan konteksnya yang meliputi (1) topik, (2) tempat pembicaraan, dan (3) peserta tutur. Langkah-langkah penyajian data ialah (1) transkripsi data (2) identifikasi data, (3) klasifikasi data (4) pemaparaan analisa data, dan (5) penyimpulan. Hasil penelitian adalah (1) kosakata Arab amiyah setempat yang mengalami pergeseran makna dan ujaran dari bahasa Arab fusha, bahasa Arab amiyah setempat terinterferensi oleh bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, (2) bahasa arab amiyah setempat digunakan untuk beralih kode yang berupa alih bahasa dan campur kode yang berupa campur bahasa dalam tataran kata dan frase. (3) penggunaan bahasa Arab amiyah oleh jama’ah di Embong Arab Kota Malang didorong oleh faktor sosial untuk mengakrabkan, merahasiakan, mengungkapkan perasaan dan faktor pengaruh situasi bicara.

Persepsi mahasiswa terhadap layanan dan pemanfaatan pustaka Laboratorium Historigrafi Universitas Negeri Malang / Riza Rizkiana

 

ABSTRAK Rizkiana, Riza. 2016. Persepsi Mahasiswa terhadap Layanan dan Pemanfaatan Pustaka Laboratorium Historiografi Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Deny Yudo Wahyudi, S.Pd., M.Hum. (II) Aditya Nugroho Widiadi, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci:Persepsi, Layanan, Pemanfaatan, Pustaka, Laboratorium Historiografi. Universitas Negeri Malang memiliki beberapa sumber belajar yang dapat digunakan oleh civitas akademik untuk menyelesaikan studinya. Salah satu sumber belajar yang dimiliki Universitas Negeri Malang yaitu Laboratorium Historiografi. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa hal yang menarik ketika berkunjung ke Laboratorium Historiografi. Ketertarikan peneliti yang ingin dikaji yaitu mahasiswa yang berkunjung dan memanfaatkan pustaka Laboratorium Historiografi tidak hanya dari mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, bahkan ada mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Malang, dan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Oleh karena itu Peneliti ingin mengkaji tentang persepsi mahasiswa terhadap layanan dan pemanfaatan pustaka Laboratorium Historiografi. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana persepsi mahasiswa terhadap layanan pustaka Laboratorium Historiografi Universitas Negeri Malang dan (2) Bagaimana persepsi mahasiswa terhadap pemanfaatan pustaka Laboratorium Historiografi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi. Sumber data penelitian ini adalah sumber data utama yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan, dan sumber data pendukung berupa dokumentasi. Pengolahan datanya menggunakan analisis reduksi data, sajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) persepsi mahasiswa terhadap layanan pustaka Laboratorium Historiografi itu sangat beragam. Pada dasarnya persepsi mahasiswa terhadap layanan pustaka Laboratorium Historiografi itu sudah bagus. Akan tetapi ada beberapa mahasiswa yang mengemukakan bahwa layanannya itu masih kurang bagus hal ini terlihat pada layanan penataan pustaka Laboratorium Historiografi, (2) persepsi mahasiswa terhadap pemanfaatan pustaka Laboratorium Historiografi sudah bagus. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang memanfaatkan pustaka Laboratorium Historiografi, meskipun pemanfaatan pustaka tersebut akan meningkat ketika menjelang Ulangan Tengah Semester dan Ulangan Akhir Semester. Berdasarkan temuan hasil penelitian dapat disarankan beberapa hal yaitu: (1) pihak pengelola Laboratorium Historiografi lebih meningkatkan kualitas layanannya dengan cara membuat sistem onlinesehingga mahasiswa lebih mudah mencari pustaka yang dibutuhkannya, (2) pihak pengelola Laboratorium Historiografi lebih meningkatkan kualitas penataan pustaka yang ada di Laboratorium Historiografi.

Analisis akuntansi biaya bersama dalam perhitungan harga pokok produksi di KUD Batu" Unit Perlebahan Batu
oleh Jesy Diah Rokhmawati"

 

Seringkaldi itemuis uatup erusahaadna lamp rosesp roduksinyam enghasilkan lebihd ari satum acamp roduk,h al ini sebagaai kibatd ari teknisp rosis produksii tu sendiriP. roduk-produky angd ihasilkanit u merupakanp rodukb lrsamad etrgan me_nggunakbaiany a-biayay angd ikeluarkanu ntuk satup rosesp roduksiy angk arena akibatte knisk emudianm enghasilkalenb ihd arisatum acamb arangd iseirubt iaya bersamaJ.a dib iayab ersamam erupakanb iaya-biayay angt elahd ikiluarkanu ntuk satup rosesp roduksiy angt idak dapatd ihindarkanu ntukm enghasilkand uam acam barang/lebidhi manat erdiri atasb iayab ahanb aku,b iayat enagak erja,d anb iaya overheapda brik sedangkano utputnyad isebutp rodukb ersamay aiiu beberapa macamp roduky angd ihasilkanb ersama-samataa us erempackl engamn enggunakan satum acama taub eberapam acamb ahanb aku,t enagak erjad anf asilitasp iult yung disediakan. Biayab ersamaak and ialokasikakne produk-procluyka ngd ihasilkanb erfungsi sebagaail at untukm elakukanp erhitungante rhadaph argap okokp roduksis etiap produkM. aka hargap okokp roduksim erupakanb iayab aik langsungm aupunt idak langsungya ngd ikorbankand alamp rosesp roduksiu ntukm englasifkanb arang/jasa yangs iapu ntukd ijual danu ntukm emperolehp enghasilanD. isampingit u pengalokasiabnia yab ersamak e tiap+iapp roduks ebagaai lat untukr nengetahui jumlahb iayay angt elahd iserapd and inikmatio lehm icam produks ehinlgad apat diketahudi enganp astib iayap roduky angt erkandungd alamb iayab ersaria. Penelitianin i dilakukand i KUD "BATU" Unit perlebahanya ngm embahas mengenabi iayab ersamameliputai tas:b iayab ahan,b iayat enagat e4a=aaunl aya overheapda brik,j umlah biayab ersamate rsebuat kand ii

Studi komparatif perkembangan kecepatan lari dan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang tinggal di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk di Malang Raya / Barnes Alfan Tanjihan

 

Kata Kunci: Perkembangan, Kecepatan Lari, Kelincahan, Daerah Padat Penduduk, Daerah Jarang Penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan kecepatan lari dan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang tinggal di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk di Malang Raya. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar yang berada di daerah padat penduduk yaitu Sekolah Dasar Negeri Sawojajar II, IV dan VI sedangkan untuk daerah jarang penduduk yaitu Sekolah Dasar Negeri Bantur I, II dan IV pada tahun ajaran 2011/2012. Berdasarkan latar belakang dan tujuan, penelitian ini menggunakan penelitian metode cross sectional. Penelitian Metode cross-sectional adalah metode yang dipergunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relatif singkat. Artinya tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. kemudian instrumen yang digunakan untuk mengukur perkembangan kecepatan lari dan perkembangan kelincahan peneliti menggunakan tes lari cepat 30 meter versi Asim dan untuk tes kelincahan menggunakan Shuttle run 4 x 10 m versi A.C.S.P.F.T. Dari hasil perhitungan uji Anova menggunakan program SPSS dapat disimpulkan bahwa di daerah padat penduduk nilai signifikansinya kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak. Begitu juga di daerah jarang penduduk uji Anova menunjukkan bahwa hasil perhitungan nilai signifikansi kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak dari penjelasan di atas berarti ada perbedaan tingkat perkembangan kecepatan lari dan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk, begitu juga di daerah jarang penduduk juga terdapat perkembangan kecepatan lari dan kelincahannya. Hasil skor total perolehan waktu untuk perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk memperoleh rata-rata sebesar 6,78 detik sedangkan hasil skor total yang diperoleh waktu untuk perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah jarang penduduk memperoleh rata-rata sebesar 6,60 detik. Untuk hasil skor total perolehan waktu untuk perkembangan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk memperoleh rata-rata sebesar 15,96 detik sedangkan hasil skor total yang diperoleh waktu untuk perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah jarang penduduk memperoleh rata-rata sebesar 14,03 detik. Hasil pengujian perhitungan ANOVA pada perkembangan kecepatan lari nilai signifikansi sebesar (0,00) < 0,05, maka H0 ditolak, yang berarti terdapat perbedaan perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di ii daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk. Hasil pengujian perhitungan ANOVA pada perkembangan kelincahan nilai signifikansinya sebesar (0,00) <0,05, maka H0 ditolak, yang berarti terdapat perbedaan perkembangan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk. Hasil penelitian ini sangat penting untuk diketahui oleh guru pendidikan jasmani baik yang berada di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk. Dengan perkembangan yang berbeda yaitu lebih baik perkembangan anak 7-9 tahun di daerah jarang penduduk tentunya guru yang berada di daerah padat penduduk harus mampu menyesuaikan pola pembelajarannya agar anak yang berada di daerah padat penduduk mempunyai perkembangan kecepatan lari dan kelincahan yang sama dengan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah jarang penduduk.

Evaluasi automatic voltage regulator pada generator sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Kelurahan Temas Kota Batu / Jajang Candra Lesmana

 

Kata Kunci: generator sinkron, AVR, mikrohidro, brush exitation. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang terdapat di Kelurahan Temas, Kota Batu. PLTMh tersebut merupakan suatu pembangkit yang perlu di kembangkan, sehingga pembangkit yang sudah ada dapat difungsikan secara optimal, dimana daya keluaran yang dihasilkan sekitar 4,43 kW dengan kapasitas total generator 10 kW. Penulis akan membahas tentang studi evaluasi terhadap generator PLTMh di Kelurahan Temas, Kota Batu dan perencanaan Automatic Voltage Regulator (AVR) pada generator sinkron 1 fasa yang difungsikan sebagai alat pengatur pada sistem penguatan kutub generator tipe Brush Exitation menggunakan sikat-sikat sebagai penghubung dengan slipring pada rotor. Dari hasil pengujian terhadap generator tanpa beban, diketahui daya keluaran generator menunjukkan bahwa jumlah putaran generator pada saat mencapai 1500 rpm menghasilkan tegangan keluaran 230 Volt, dimana hal tersebut sudah sesuai dengan data nameplate pada generator. Sedangkan pada pengujian berbeban baik pada saat frekuensi tetap maupun tegangan tetap menunjukkan penurunan keluaran generator pada setiap kenaikkan beban yang mengakibatkan generator menjadi berputar pelan dan berat, beban yang digunakan mencapai 935 Volt. Dalam pengevaluasian ini, dirancang sebuah Automatic Voltage Regulator (AVR) yang berfungsi untuk memberikan arus eksitasi pada penguatan kutub jenis Brush Exitation yang dihubungkan ke slipring rotor dengan menggunakan sikat-sikat arang. Dimana AVR mampu menghasilkan tegangan keluaran VDC maksimal 60,65 Volt pada saat tegangan input mencapai 150-165 Volt dengan kondisi potensiometer pengatur tegangan input AVR menunjukkan posisi setegah terbuka, apabila potensiometer terbuka penuh maka keluaran AVR mencapai 75,23 VDC. Dan pada saat input > 220 Volt maka tegangan output AVR akan turun hingga mencapai 23 VDC.

Perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran scaffolding berbasis TAI dan yang belajar dengan cooperative learning tipe STAD pada mata pelajaran sejarah / Kiki Risna Ami Fadilah

 

ABSTRAK Fadilah, Kiki Risna Ami. 2016. Perbedaan Hasil Belajar Kognitif antara Siswa yang Belajar dengan Model Pembelajaran Scaffolding Berbasis TAI dan yang Belajar dengan Cooperative Learning tipe STAD pada Mata Pelajaran Sejarah. Skripsi. Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum., (II) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd. Kata Kunci: model pembelajaran, scaffolding, Team Assisted Individually (TAI), Student Team Achievement Divisions (STAD), hasil belajar kognitif. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Keberhasilan pembelajaran dapat terjadi apabila siswa aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif adalah model pembelajaran Scaffolding berbasis TAI. Model pembelajaran tersebut membantu siswa membangun pengetahuan secara kelompok dengan interaksi bersama teman sebayanya. Hal tersebut dapat membuat siswa saling mengembangkan berbagai pengetahuan dalam kelompoknya sehingga siswa akan lebih memahami materi. Lembar kerja yang diberikan kepada setiap individu juga dapat membuat siswa bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Penelitian ini betujuan untuk mengkaji tentang perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran scaffolding berbasis TAI dan yang belajar menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe STAD pada matapelajaran Sejarah Kelas X SMKN 12 Malang. Model pembelajaran cooperative learning tipe STAD merupakan model pembelajaran yang biasa digunakan pada pembelajaran sejarah di SMKN 12 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian quasi experiment. Rancangan penelitian ini adalah Two-group Posttest-only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMKN 12 Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X TKJ 2 sebagai kelas eksperimen dan X TKJ 3 sebagai kelas kontrol. Teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan jenis simple random sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa RPP, LKS, lembar observasi, dan tes hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan diolah secara statistik dengan menggunakan uji Mann Whitney U Test pada taraf signifikansi α = 0,05. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran scaffolding berbasis TAI dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran cooperative learning tipe STAD. Dari hasil uji U menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yaitu kurang dari 0,05, maka Ho ditolak dan Hi diterima. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 79,31, sedangkan kelas kontrol sebesar 62,69. Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran scaffolding berbasis TAI dapat meningkatkan kemampuan sosial dan pengetahuan siswa; kondisi kelas lebih terstruktur; meningkatkan motivasi dalam belajar; dapat melibatkan siswa untuk aktif dalam proses belajar; menciptakan rasa peduli dan rasa tanggungjawab terhadap teman; serta bagi siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru Sejarah untuk menggunakan model pembelajaran scaffolding berbasis TAI sebagai variasi model pembelajaran dalam kelas, karena dapat berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa. Bagi peneliti lain, hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap materi yang lain, sehingga dapat diketahui efektifitasnya terhadap mata pelajaran sejarah secara keseluruhan.

Pengembangan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA / Anik Purwati

 

Kata Kunci: Pengembangan Bahan Ajar, Menulis Laporan Penelitian, Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran menulis laporan penelitian berdasarkan penelitian pada prapengembangan mengalami beberapa masalah. Permasalahan-permasalahan tersebut, yakni pada pembelajaran menulis laporan penelitian guru terpaku pada buku teks dan diketahui bahwa pembahasan di dalam buku teks mengenai laporan penelitian sangat sedikit. Permasalahan lain yang muncul pada siswa adalah (1) siswa kesulitan untuk menuangkan ide-ide mereka ke dalam laporan penelitian, (2) siswa belum paham sistematika menulis laporan penelitian yang benar, dan (3) siswa kurang tertarik terhadap materi menulis laporan penelitian. Permasalahanpermasalahan tersebut harus dipecahkan agar siswa dapat mencapai indikator pembelajaran yang diharapkan. Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan siswa pun bersemangat dalam menulis laporan penelitian, maka peneliti mengembangkan bahan ajar yang menarik dan dikolaborasikan dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran menulis laporan penelitian. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA yang sesuai dengan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan siswa yang dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi bahan menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (2) mengembangkan sistematika bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (3) mengembangkan bahasa bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (4) mengembangkan tampilan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA. Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan model penelitian pengembangan yang telah dimodifikasi dari model pengembangan Borg dan Gall, Sukmadinata, dan Sugiyono. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 3 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) prapengembangan, (2) pengembangan, dan (3) tahap uji produk. Untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar pada penelitian ini dilakukan uji produk yang melalui tiga kelompok uji, yakni (1) uji ahli pembelajaran menulis laporan penelitian, (2) uji ahli menulis bahan ajar, (3) uji ii praktisi yakni guru bahasa Indonesia kelas XI SMA, dan (4) uji kelompok kecil siswa kelas XI SMA. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripkan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskripsikan data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah implementasi, revisi atau diganti. Dari uji bahan ajar dengan ahli pembelajaran menulis laporan penelitian rata-rata adalah 75%, ahli menulis bahan ajar 83,3%, guru bahasa indonesia 100%, dan siswa 96%. Hasil uji dengan ahli pembelajaran menulis laporan penelitian tergolong layak dan dapat diimplementasi, namun, ada beberapa bagian dari bahan ajar yang perlu direvisi seperti tinjauan kompetensi, penggunaan bahan ajar, ringkasan materi dan penambahan halaman glosarium. Menurut ahli pembelajaran menulis bahan ajar produk tergolong layak dan dapat diimplementasi dan disarankan untuk mengganti tampilan halaman sampul agar tidak mencolok. Guru bahasa Indonesia dan siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dari hasil uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi siswa bahan ajar ini dapat menjadi alternatif untuk pembelajaran menulis laporan penelitian. Bagi guru dapat menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek ini, diharapkan pembelajaran menulis laporan penelitian lebih menarik dan siswa lebih bersemangat untuk menulis laporan penelitian. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Pengembangan paket pelatihan penegasan konsep diri soal siswa SMP / Niza Wulandari

 

Using pictures to improve the speaking skill of the seventh graders of MTs Al-Madany Menganti Gresik in delivering oral description / Siswa Yusbido

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd. (2) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd. Key words: Pictures, Improving Speaking Skill, Delivering Oral Description. The objective of the research is to improve the speaking skill of the seventh graders of MTs Al-Madany Menganti-Gresik by using the pictures. This research was conducted on the basis of the result of preliminary study of the seventh graders of MTs Al- Madany Kec. Menganti Kab. Gresik showed that the speaking skill in delivering oral description was not sufficient based on the minimum adequacy criterion (Kriteria Ketuntasan Minimum) that was 6.0. The students’ average score was 2,5 or only 2 of eighteen students could pass. By using the pictures of people the researcher is greatly motivated to solve some problems arising in the teaching of speaking skill. This research employed classroom-action research design to improve the students’ speaking skill using picture with the research problem: How can using pictures improve the speaking skill of seventh grade students at MTs Al - Madany Kec. Menganti Kab. Gresik in delivering oral description? The procedure of the research consisted of four main steps i.e. planning, implementing, observing and reflecting. This research was conducted in two cycles. Each cycle comprised two meetings. The subjects of the study were class VII of MTs Al-Madany Kec. Menganti Kab. Gresik in the 2010-2011 academic years consisting18 students. The instruments for collecting the data were questionnaire, observation checklist, field notes, and speaking assessment. Implementing pictures for teaching speaking involves: 1) show some pictures to the students, 2) guide students to find some words based on the pictures, 3) asking questions to the students to check the students’ understanding about words related to the pictures, 4) translating and pronouncing the words to make clear what the pictures are about while teacher writes the description of pictures on the board to become a model in describing someone for the students, 5) dividing the students into four or five groups to do short question and answer base on the pictures given, 6) giving a model in describing someone trough pictures, 7) asking the students to make brief notes of their ideas based on the pictures, 8) asking and guiding the students to do a monolog in describing someone based on the pictures, 9) correcting the student’s pronunciation and grammar usage, 10) asking the students with the different pictures in each group or individually to practice more in or out of class to develop their speaking ability. The finding of the research indicated that the uses of pictures were successful in improving students’ speaking skill based on the students’ speaking performance that could achieve the criteria of success (60% students achieve the standard minimum score 60). The improvement could be seen from the increase of the students’ speaking assessment in cycles one two. It found that 5 (28%) of the students who got 34-54 (Poor Score), 7 (39%) of the students who got 55-64 (Average Score), 4 (22%) of students who got 65-84 (Good Score) and 2 (11%) of the students who got 85-100 (Very Good Score) in cycle one. And in cycle two, 1 (6%) of the students who got 34-54 (Poor Score), 5 (28%) of the students who got Average Score, 8 (44%) of students who got 65-84 (Good Score) and 4 (22%) of the students who got 85-100 (Very Good Score). Based on the improvement of the students’ speaking skill after the implementation of using pictures of people in teaching speaking, it is suggested the English teacher and other language teachers who have similar classroom problems to implement the technique in their class particularly in the speaking class. To the principals, they should provide facilities of media to improve the English teachers’ teaching quality, to socialize the teaching technique to the teachers, and to hold an in-service training about teaching methods for the English teachers. For the future researchers, they should conduct the research more attentive with some students’ obstacles arising like pronunciation, grammar and background knowledge of vocabularies, besides implementing pictures in teaching other language skills such as listening and writing.

Penanaman nilai kemanusiaan yang adil dan beradab melalui kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Sampang / Moh. Habibi

 

ABSTRAK Habibi, Moh. 2016. Penanaman Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Sampang. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd. M.H. (II) Siti Awaliyah, S.Pd. M.Hum. Kata kunci: Kemanusiaan yang adil dan beradab, Ekstrakurikuler, Palang Merah Remaja (PMR). Pada dasarnya manusia merupakan mahluk individu yang sifatnya berdiri sendiri untuk mencapai tujuan pribadinya. Namun untuk mencapai perkembangan pribadinya, manusia tidak mungkin mampu mencukupi dirinya sendiri melainkan memerlukan manusia lain dalam masyarakat. Manusia sebagai mahluk sosial haruslah memiliki rasa kemanusiaan yang adil dan beradab dalam berinteraksi dengan manusia lain. Pancasila yang merupakan dasar dan pandangan hidup bangsa Indonesia pada dasarnya memiliki tujuan yang bersumber dari hakikat manusia dan tentang kemanusiaan itu sendiri termuat dalam sila kedua Pancasila yaitu sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk menambah pengetahuan peserta didik maka perlu adanya kegiatan tambahan yang berguna untuk memberikan keterampilan dan juga menunjang pada pelajaran sekolah, salah satunya kegiatan ekstrakurikuler PMR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) proses perencanaan program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang; (2) pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang dalam menanakan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) nilai–nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang terkandung dalam kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang; (4) kendala yang ada dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang; (5) cara mengatasi kendala yang ada dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. pendekatan kualitatif deskriptif ini digunakan karena peneliti ingin menjelaskan atau memaparkan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) dalam penanaman nilai kemanusiaan yang adil dan beradab di SMAN 1 Sampang. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk memaparkan bagaimana pembelajaran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab pada kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Sampang secara objektif, sistematif dan akurat. Data penelitian berupa data hasil wawancara maupun dokumentasi dari ektrakulikuler PMR. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan meningkatkan ketekunan pengamat dan triangulasi data. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut, yang pertama Proses perencanaan program kegiatan ektrakulikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang disusun oleh banyak pihak mulai dari anggota, pembina, dan kepala sekolah. Dalam proses perencanaan program kegiatan ektrakulikuler PMR mengacu kepada perkembangan atau pengetahuan yang diberikan oleh PMI, program kegiatan yang dilaksanakan periode sebelumnya yang dirasa masih bisa dilaksanakan di periode sekarang serta melihat situasi dan kondisi pada saat ini, dan tentunya tri bakti PMR dan 7 prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit yang berisi nilai-nilai dasar yang harus ada di setiap program kegiatan kepalang merahan. Kedua, Dalam kegiatan yang dilasanakan oleh ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang selalu menanamkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab kepada siapapun yang terlibat didalamnya. Selain itu pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang memiliki tujuan untuk menambah wawasan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan memahami nilai-nilai yang terdapat dalam setiap program kegiatan yang dilaksanakan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Jenis nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang terdapat dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang Sampang merupakan cerminan dari tujuh prinsip palang merah. Adapun nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang ditanamkan Dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh ekstrakurikuler PMR adalah nilai kemanusiaan, nilai kesamaan, nilai kerja sama, dan nilai kesukarelaan. Keempat, Kendala yang terdapat dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang dibedakan menjadi dua jenis masalah yaitu kendala yang sangat sering dihadapi dalam hal ini adalah kurangnya partisipasi atau minat dari anggota. Selanjutnya kendala yang sangat sulit untuk diselesaikan dalam hal ini adalah masalah pendanaan yang sangat minim pada setiap pelaksanaan program kegiatan dan kendala waktu yang berbenturan antara kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan kurikuler. Kelima, Cara menangani kendala yang terdapat dalam kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) yaitu dengan cara melakukan membuat program kegiatan semenarik mungkin sehingga anggota yang kurang aktif bisa kembali tertarik untuk mengikuti kegiatan PMR tersebut. Untuk masalah dana kegiatan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang dan pihak sekolah. Untuk kendala waktu yang berbenturan antara kegiatan ekstrakurikuler dan kurikuler, dalam hal ini harus dikembalikan kepada masing-masing anggota ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang yang diharapkan bisa membagi waktu dengan baik sehingga tidak mengganggu kegiatan kurikuler.

Keberadaan ABRI dalam percaturan politik di Indonesia pada masa Orde Baru dan pasca Orde Baru
oleh Khoiruman

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas X Akuntansi di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang / Puput Candra Wijayanti

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Model Numbered Head Together (NHT) merupakan model pembelajaran kooperatif terstruktur dan menekankan kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling benar. Struktur yang ada pada pembelajaran NHT dalam penelitian ini adalah pembagian kelompok, pemberian pertanyaan, diskusi kelompok, menjawab pertanyaan. Adapun rumusan dari penelitian ini, (1) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT, (2) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, (3) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (4) Bagaimanakah respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model NHT. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus di mana tiap siklus terdiri 4 tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi yang berjumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data), dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini diketahui bahwa : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran Kewirausahaan siswa kelas X Akuntansi di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang, (2) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, terbukti dengan persentase rata-rata skor aktivitas belajar siswa pada siklus 1 jumlah skor yang diperoleh 74 dengan skor maksimal 90, persentase nilai rata-rata 82% termasuk dalam kategori baik, sedangkan pada siklus II jumlah skor aktivitas siswa yang diperoleh 84, skor maksimal 90 persentase nilai rata-rata 93%, termasuk kategori sangat baik. (3) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar, terbukti dari hasil Post Test siklus I menunjukkan siswa yang sudah tuntas belajar 18 siswa (64,20%) dan siswa yang belum tuntas belajar 10 siswa (35,72%) dengan nilai rata-rata kelas 73,58, sedangkan hasil belajar pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan siklus I yaitu jumlah siswa yang tuntas belajar 24 siswa (85,71%) sedangkan siswa belum tuntas belajar 4 siswa (14,28%), nilai rata-rata kelas 80, (4) Hasil respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran Kewirausahaan diperoleh hasil rata-rata 80,4%. Siswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran, lebih mudah memahami materi pembelajaran, dapat melatih diri untuk saling bekerjasama dan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan paparan hasil data, dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas X Akuntansi di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang. (2) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. (3) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar. (4) Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran Kewirausahaan positif hal ini dapat dilihat dari hasil angket respon siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Bagi guru Kewirausahaan, hendaknya mulai mencoba menerapkan pembelajaraan kooperatif model NHT dalam proses pembelajaran untuk menuntut siswa lebih aktif dalam pembelajaran berlangsung, (2) Bagi seluruh siswa-siswi, hendaknya siswa mempersiapkan diri dengan belajar terlebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran di kelas, sehingga pada saat diskusi kelas siswa lebih mudah mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Selain itu siswa harus bisa dengan cepat bersosialisasi dengan teman dalam satu kelasnya, (3) Bagi Peneliti Khususnya Mahasiswa Universitas Negeri Malang, disarankan kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian dengan menggunakan tujuan penelitian yang bervariasi masih berkaitan pada judul penelitian ini, sehingga penelitian selanjutkan akan lebih bisa dikembangkan lagi dan lebih baik lagi.

Pengembangan bahan ajar Computer Assisted Instruction (CAI) IPA terpadu tema air limbah rumah tangga sebagai media belajar siswa SMP/MTs kelas VII / Lailatul Masruroh

 

Kata kunci: CAI, IPA terpadu, media belajar, tema air limbah rumah tangga. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA untuk SMP/ MTs merupakan IPA terpadu. Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran terpadu. Pengembangan bahan ajar IPA Terpadu harus disesuaikan dengan perkembangan IPTEK. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dan pengembangan dengan tujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan Bahan Ajar Computer Assisted Instruction (CAI) IPA Terpadu Tema Air Limbah Rumah Tangga sebagai Media Belajar Siswa SMP/MTs Kelas VII. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan metode Borg dan Gall, yaitu (1) studi pendahuluan yang terdiri dari studi pustaka, survei lapangan, dan rencana pengembangan, (2) pengembangan draft produk yang terdiri dari draft produk, uji kelayakan, revisi draft produk, dan produk hasil pengembangan. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji kelayakan oleh ahli media (dosen Fisika dan Biologi) dan ahli materi (dosen Biologi dan guru IPA SMP). Desain uji coba dalam pengembangan bahan ajar CAI ini adalah uji coba terbatas pada siswa SMP Lab UM. Jenis data ada dua yaitu data kuantitatif dan data kualitatif untuk perbaikan bahan ajar CAI. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis skor rata-rata. Hasil analisis rata-rata evaluator ahli media menunjukkan nilai tingkat kelayakan sebesar 3,43 (layak), ahli materi sebesar 3,60 (layak), dan audiens sebesar 3,32 (layak). Secara keseluruhan diperoleh rata-rata total sebesar 3,45 yang berada pada kategori layak. Berdasarkan analisis data kualitatif dari ahli media dan ahli materi, terdapat beberapa bagian produk yang perlu direvisi. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat bahan ajar CAI sebagai media belajar di sekolah maupun mandiri. Berdasarkan perolehan uji kelayakan dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar CAI (Computer Assisted Instruction) IPA Terpadu Tema Air Limbah Rumah Tangga untuk Siswa SMP/MTs Kelas VII ini layak untuk digunakan sebagai media belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif aplikasi contruct 2-kingdom of knowledge dalam pembelajaran sejarah SMA kelas X pokok bahasan Kerajaan Majapahit / Ade Pramudya Wardhana

 

ABSTRAK Wardhana, A.P. 2016. Pengembangan MediaPembelajaranBerbasis Multimedia Interaktif Aplikasi Construct 2-Kingdom of Knowledge Dalam Pembelajaran Sejarah SMA Kelas X Pokok Bahasan Kerajaan Majapahit. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs.Dewa Agung Gede Agung, M.Hum. Kata kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Kingdom of Knowledge, Kerajaan Majapahit. Sejarah adalah mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakata Indonesia dan dunia pada masa lampau hingga masa kini. Orientasi pembelajaran sejarah di tingkat di tingkat SMA bertujuan agar siswa memperoleh pemahaman ilmu dan memupuk pemikiran historis dan pemahaman sejarah. Pada kurikulum 2013 memerlukan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran untuk menunjang keberhasilan. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran dalam sebuah proses belajar mengajar sangat penting. Kingdom of Knowledge merupakan media dengan bentuk HTML 5. Dipilih untuk di kembangkan karena permainan dan gambar pada media ini dapat membuat peserta didik tertarik. Berdasarkan pertimbangan tersebut penulis melakukan pengembangan media pembelajaran dengan tujuan menghasilkan sebuah produk media pembelajaran Kingdom of Knowledge pada materi Kerajaan Majapahit untuk peserta didik SMA/MA kelas X mata pelajaran sejarah wajib Kingdom of Knowledge ini dikembangkan untuk mata pelajaran sejarah wajib kelas X dengan materi Kerajaan Majapahit, yang terdapat pada KD 3.7 dan KD 4.2. Alasan memilih materi ini karena berdasarkan dari sejumlah siswa yang diwawancara dan guru rata-rata mereka mengatakan bahwa materi Kerajaan Majapahit merupaka materi yang cukup sulit untuk dipelajari dan cukup banyak materinya, hal ini yang menyebabkaan siswa menjadi sedikit malas saat mempelajari materi tentang Kerajaan Majapahit.. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan menurut Sugiyono.Metode ini memilikisepuluh tahap, namun dalam penelitian ini hanya digunakan sembilan tahap diantaranya: (1) Potensi Dan Masalah; (2) mengumpulkan informasi; (3) desain produk; (4) validasi desain; (5) perbaikan desain; (6) uji coba produk; (7) revisi produk; (8) uji coba pemakaian; (9) revisi produk. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar validasi ahli materi dan media, serta angket respon peserta didik. Melalui penelitian yang telah dilakukan di kelas X SMA Negeri 1 Malang dan SMA Negeri 9 Kota Malang ini diperoleh hasil dari rata-rata validasi ahli materi sebesar 84% dan 94% dari hasil validasi ahli media. Sedangkan hasil dari angket respon peserta didik dari uji coba produk (kelompok kecil) sebesar 79% di SMA Negeri 1 Kota Malang dan 84% SMA Negeri 9 Kota Malang.Hasil angket respon peserta didik pada uji coba pemakaian (kelompok besar) sebesar 81% SMA Negeri 1 Kota Malang dan 86% SMA Negeri 9 Kota Malang. Kesimpulan yang diperoleh dari perolehan persentase diatas yaitu media pembelajaran Kingdom of Knowledge yang dikembangakan sangat valid, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas. Perludilakukannya penelitian pengembangan kembali pada media pembelajaran Kingdom of Knowledge untuk materi sejarah lain.

Pengembangan instrumen tes pilihan ganda untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMA pada pokok bahasan dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar / Revinda Afifatintia

 

Kata Kunci : instrumen tes pilihan ganda, miskonsepsi, dinamika rotasi dan kese-timbangan benda tegar Miskonsepsi adalah perbedaan konsepsi seseorang dengan konsepsi yang dimiliki para ahli dalam bidang tertentu yang telah diyakini kebenarannya. Mis-konsepsi dapat mengganggu pemikiran siswa baik ketika mengerjakan soal maupun ketika siswa menerima materi berikutnya. Miskonsepsi dapat disebabkan karena adanya faktor internal dari dalam diri siswa dan faktor eksternal. Alat identifikasi miskonsepsi yang selama ini dikembangkan adalah peta konsep, tes esai tertulis, wawancara, dan diskusi dalam kelas. Alat yang dikembangkan terse-but dalam proses analisisnya membutuhkan waktu lama, sehingga sebagian besar guru enggan untuk melakukan identifikasi miskonsepsi. Atas dasar kendala terse-but, maka dikembangkan alat yang dapat mengidentifikasi miskonsepsi dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam proses analisisnya berupa pengembangan instrumen tes pilihan ganda pada materi dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar. Penelitian pengembangan (Research and Development) ini memanfaatkan modifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Brog dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut ada-lah sebagai berikut: (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji lapangan awal, (5) revisi produk utama. Produk akhir penelitian pengembangan ini adalah instrumen tes pilihan ganda sebagai alat identifikasi miskonsepsi. Instrumen ini dikembangkan berda-sarkan respon siswa terhadap soal uraian yang diujicobakan pada siswa. Setiap butir pilihan ganda memiliki empat pilihan jawaban yang terdiri atas satu jawaban benar dan tiga jawaban pengecoh. Keempat pilihan jawaban disusun berdasarkan jawaban siswa dalam soal uraian yang mengandung miskonsepsi. Kelayakan produk ini didasarkan pada hasil validasi oleh tim ahli (dosen dan guru SMA) dan uji coba satu kali (terbatas) pada siswa. Selain itu juga dilaku-kan analisis kelayakan menggunakan program AAFF. Hasil analisis validasi oleh validator dan program AAFF menunjukkan bahwa instrumen tes yang telah disusun sudah memenuhi kriteria layak, namun masih perlu adanya revisi berdasarkan saran, kritik dan tanggapan dari validator. Instrumen pilihan ganda yang dikembangkan mampu membedakan siswa yang mengalami miskonsepsi dan yang tidak miskonsepsi serta mampu mengelompok-kan siswa berdasarkan bentuk miskonsepsinya. Proses identifikasi dilakukan de-ngan melihat kecenderungan jawaban siswa

The implementation of giving indirect corrective feedback to improve students' writing ability of the tenth grade students of SMAN 01 Purwosari / Ariska Rosalia

 

ABSTRAK Rosalia, Ariska. 2016. PenerapanPemberian Indirect Corrective Feedback untukMeningkatkanKemampuanMenulisSiswaKelas X SMAN 01 Purwosari.Skripsi, JurusanSastraInggris, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Ali Saukah, M.A., Ph.D. (2) Dr. MirjamAnugerahwati, M.A. Kata Kunci:kemampuanmenulis, indirect corrective feedback, teks recount Penelitianinibertujuanuntukmeningkatkankemampuanmenulissiswamelaluiindirect corrective feedback dalam proses menulisuntukmendapatkanproduktulisan yang lebihbaik. PenelitianinimenggunakanmetodePenelitianTindakanKelas yang memiliki 4 langkah; perencanaan, penerapan, observasi, danrefleksi. Subjekdalampenelitianiniadalahsiswakelas X Bahasa SMAN 01 Purwosaritahunajaran 2015/ 2016. Terdapat 31 siswadalamsatukelas. Penelitianinihanyafokuspadaindirect corrective feedbackmenggunakankodeerorpadaproduktulisansiswa. Penelitianinimenggunakan 5 jenisinstrumenuntukmendapatkan data, yaitulembarobservasi, catatanlapangan, kuesioner, pedomanwawancara, danproduktulisansiswa. Penelitianinidinyatakanberhasilapabila 75% siswamendapatkannila 75 atadiatasnyadanjuga 75% siswamempunyaipandanganpositifterhadapstrategi. Penelitianinidilakukandalamsatusiklus yang terdiridari 6 pertemuan. Ada duapengamat, yaitu guru kelasbahasaInggrisdanmahasiswajurusansastraInggrisUniversitasNegeri Malang. Padapenilitianini, indirect corrective feedbacktidakhanyaberasaldaripeneliti, tetapijugadarisiswa. Strategiditerapkan di setiappertemuansetelahaktivitasmenulis. Penilaiansejawatdilakukandua kali padaakhir proses menulispadapertemuanketigadanterakhirkarenasiswamenulisteks recountsecaraindividudua kali selamapenelitian. Setelahsiswamelakukanpeer feedback, penelitimemberiindirect corrective feedback pada draft siswa. Kemudian, siswamerivisinyasebagaiproduktulisanakhir. Produktulisansiswadinilaimenggunakanrubrik yang diadaptasidari Brown (2007) dantelahdivalidasioleh validator. Temuandaripenelitianinimenunjukkanbahwanilaimenulissiswapadaakhirpertemuanmeningkatbaikdibandingkandengannilaimerekasebelumpenerapanstrategi. Rata- rata darinilaiakhirsiswamenunjukkanpeningkatandan rata- rata padasetiapaspekdalammenulismengindikasikanpeningkatan yang bagus. Peningkatan yang paling besarterdapatpadabahasa yang menjadisalahsatufokusdalampenelitianini. Nilai rata- rata setelahpenerapanstrategiadalah 88.6, sedangkannilai rata- rata sebelumpenerapanadalah 80. Semuasiswamendapatkannilaidiatasnilai minimum. Selainitu, 87% siswamenunjukkanpandangan yangpositifterhadapstrategiberdasarkanhasilkuesioner. Berdasarkanpenemuanini, guru bahasaInggrisdiharapkanmenerapkanindirect corrective feedbackdimanasiswadilibatkansecaraaktifdalamkegiatansepertipemberian feedback danrevisi. Feedback akanefektifhanyajikasiswaterlibatdi dalamaktivitas. Penelitiselanjutnyadiharapkanmelakukanpenelitian yang samauntukwaktu yang lebih lama danuntuktipeteks yang lain. Selainitu, akanlebihbaikjikaterdapat inter rater. Subjekpenelitianjugadiharapkanpada level yang lebihtinggimisalnyamahasiswabahasaInggris yang mengambilmatapelajaranmenulis.

Keefektifan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP / Anggun Dian Fitriyah

 

Kata Kunci: keefektifan, kesadaran tanggung jawab, permainan simulasi Tanggung jawab adalah kewajiban untuk bertindak sesuai dengan norma yang berlaku secara umum terhadap segala situasi dalam hal untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara tidak merugikan, merampas atau mengorbankan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, serta kemampuan memikul segala konsekuensi dari apa yang dilakukan. Pada kenyataannya masih banyak individu yang kurang memiliki kesadaran tanggung jawab, dalam hal ini adalah siswa SMP. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab adalah permainan simulasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan permainan simulasi dalam meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP. Permainan simulasi merupakan penggambaran berbagai kejadian atau fakta permasalahan dalam kehidupan yang dituangkan dalam lembar beberan yang dilengkapi pesan-pesan bimbingan dan nantinya akan dimainkan oleh beberapa orang pemain dengan aturan permainan yang telah disepakati bersama. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre-experimental design dengan bentuk Pre-test and Post-Test One Group Design. Rancangan pelaksanaan penelitiannya adalah pertama dengan memberikan pretest, kemudian melaksanakan treatment dan yang terakhir adalah pemberian posttest. Subjek penelitian sebanyak sebelas orang siswa yang memiliki klasifikasi skor skala kesadaran tanggung jawab rendah dan sedang. Instrument yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket kesadaran tanggung jawab. Data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif dan analisis uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa teknik permaninan simulasi efektif untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP. Kesimpulan tersebut berdasarkan perbedaan skor pretest dan posttest yang menunjukkan adanya peningkatan setelah diberikan treatment, serta juga dapat dilihat dari hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT) yang membuktikan hipotesis penelitian diterima. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) konselor hendaknya menggunakan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa (2) peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan kelompok kontrol dengan teknik yang berbeda sebagai pembanding dari kelompok eksperimen.

Penggunaan timbangan kodok untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok pengukuran berat bagi siswa kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan / Nur Aini

 

Kata Kunci : Alat Peraga, Timbangan Kodok, Hasil Belajar, Pengukuran Berat, Matematika. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kelas III ditemukan bahwa hasil belajar siswa kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan tentang pengukuran berat masih rendah. Dari 12 siswa hanya 3 siswa yang mencapai standar ketuntasan minimal. Untuk memperbaiki kondisi tersebut diperlukan strategi yang tepat. Dalam penelitian ini ditetapkan strategi dengan menggunakan timbangan kodok yang telah dikenal oleh siswa sebagai alat peraga yang dikombinasikan dengan metode yang bervariatif yang bisa melibatkan siswa secara aktif. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : (1) Mendeskripsikan penggunaan timbangan kodok untuk meningkatkan hasil belajar Matematika materi pokok pengukuran berat bagi siswa kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika siswa khususnya materi pokok pengukuran berat dengan penggunaan timbangan kodok di kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan, (3) Mendeskripsikan tingkat aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika materi pokok pengukuran berat dengan penggunaan timbangan kodok untuk meningkatkan hasil belajar di kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif. Penelitian dilaksanakan di MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan dengan subyek penelitian sebanyak 12 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara, pedoman observasi dan lembar soal tes formatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan timbangan kodok dengan cara melakukan praktik penimbangan secara berkelompok untuk membandingkan berat benda-benda yang sejenis, membandingkan berat bendpa-benda yang tidak sejenis, serta mencari dan mempelajari hubungan antar satuan berat dan bermain jual beli dapat meningkatkan hasil belajar pengukuran berat. Pada pra tindakan nilai rata-rata 40,0 meningkat menjadi 81,25 pada akhir I dan pada siklus II meningkat menjadi 89,58. Penggunaan timbangan kodok dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar. Pada kahir siklus I tingkat aktivitas siswa mencapai 84,9 % dan meningkat menjadi 90,1 % pada akhir siklus II dengan criteria sangat aktif. Selanjutnya peneliti menyarankan bagi para guru sebaiknya menggunakan timbangan kodok dalam pembelajaran pengukuran agar siswa lebih antusias dalam belajar sehingga lebih mudah menerima materi yang diajarkan. Sedangkan bagi para peneliti lanjutan disarankan untuk membuat rancangan penelitian yang lebih komprehensif karena rancangan penelitian ini masih sangat sederhana.

Persepsi mahasiswa jurusan PPKn FPIPS IKIP MALANG tentang gerakan reformasi di Indonesia (studi penelitian tahun akademik 1998/1999)
oleh Luqman

 

Sejakp ertengahtaanh un1 997B, angsaln donessiau dahh arusm erasakabne tapa pedihnydait erpab adaki risisM. uladi arik risise konompi,o titikb, ahkasna mpapi adak risis moralM. ahasiswseab agaaig enoi f changdee ngasne galiad ealismenyyaan gk uat idakb isa diamm elihakto ndiskir isiste rsebuMt. ahasiswlnad oneskiae mudiatanm pidl i barisadne pan untukm encasrei babkr isisd anb erusahmae ncarijalkaenl uarnyPau. ncagke rakamn ahasiswa adalahd engantu runnyaP resideSn oehartsoe caram onumentpaal dab ulanM ei 1998. Berbagbaei ntupk elanggareatnik ad alama spek ehidupasne caran yatad ant idakte rkoreksi menjasdei babu tamkar isisb erkepanjantgearsne but. Reformaksai,t a-kaitnai k emudiamne njadbie gitute nadr i setiapk alangatne,r masuk mahasiswTau.n tutarne formatsoit aal khimyma enjadtui mpuakne luadr arik risisM. aha;iswa JurusaPne ndidikPaann casdila nK ewarganega(rPaPaK nn )F PIPSlK lPM ALANsGe bagai bagianin tegradla rim ahasiswInad onesjiuag at idakk etinggaladna lamm eneriakkdaann mewujudkcainta -citag erakarne fcrrmaSsie. bagami ahasiswyaa ngk ayaa kanr eferenpsio itik, hukum,k etatanegarataenn tunyas angatm enariku nfuk diketahupi e,sepsmi ereka (mahasiswrean) tangge rakarne formasi. Tt{uand arip enelitiainni adalahte rdiskripsikanpneyrase pmsi ahasiswJau rusaPn P KnF PIPSlK lPM ALANtGen tangge rakarne formadsi il ndonciaP. sndekatyaann gd ipakai dalamp enelitiainni adalahp endekatkauna litatSif.u mbedra tad ipilihs ecarab ertujuapna da angkata1n9 96-199P8e.n gumpudlaanta d ilakukadne ngawn awsncamrae ndalaAmn. gket digunakapna das aatp enelitiapne ndahuluvaann gb ertujuaunn tukm engetahkuoi ndisri. rmum resoondePnc. nyajiadna tad ilakukadne nganm endeskripsikeaand aalna panganU.n tuk mendapatkkaentj .enarpaenm aparadnila kukadne ngapne mbahasdaenn gatne mans ejawat, melacakke sesuaihaans ilt,r ianggulacsrio, ssd atad ank elengkapraenfe rensial. Temuapne ntindga lamp enelitiainni adalabha hwad i JurusaPn P Knt edapaCt ua kelompobke sayr angm ewampaei rsepmsi ahasiswtean tangge rakarne fonnadsii Indonesia. Duak elompoinki d itengarsaai ngasti gnifikadne ngapne rsepsmi ahasiswtean tanhga l-halal in. Kelompotek rsebuat dalahp ertamap, enepsyi angm endasarkdainri padap emahaman keagamaadna,n k eduap ersepsiyabnegr dasaratpaesm ahamaakna demik. Munculnkyear agamapne rsepysai ngk emudiatenr klasifikamsei njaddiu ak elompok itu tersebudt ikarenakapne rbedaasnu dutp andangp,e mahamadna, n latarb elakang organisaresis oonddeanl amm encermrautmi usamna sala(ho byek).

Profil pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW di Dusun Ngrobyong Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Yuwanita Ariyanti

 

Kata Kunci: pola asuh, pendidikan, anak TKI-TKW Pola asuh merupakan usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa. Pola asuh yang diterapkan pada anak tidak hanya diterapkan oleh orang tua kandung melainkan juga diterapkan oleh orang tua wali, terutama terhadap anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka ke luar negeri sebagai TKW maupun sebagai TKI. Sejauh ini belum terlalu banyak fakta yang diungkap tentang pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW sehingga perlu adanya pembahasan yang menggambarkan tentang profil pola asuh anak TKI-TKW.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW di Dusun Ngrobyong, Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data yang dilaporkan berupa paparan yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman wawancara maupun peneliti sendiri. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Analisis data dimulai dari reduksi data, kategorisasi, penyajian data (display), kemudian diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua wali anak TKI-TKW tidak bersifat mutlak menggunakan pola asuh otoriter, demokratis, maupun, permisif. Pada dasarnya pola asuh tersebut lebih bersifat campuran dengan dominasi indikator pola asuh tertentu. Hal ini ditinjau dari perlakuan wali terhadap anak meliputi pengelolaan keuangan, pemenuhan pendidikan, dan pemenuhan hak anak dalam berkomunikasi dengan orang tua. Faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua, meliputi pengalaman orang tua dalam memperlakukan anak sebagai bagian dari masyarakat. Dalam pelaksanaannya pola asuh tersebut melibatkan orang-orang terdekat maupun masyarakat sekitar tempat tinggal. Orang tua wali cenderung lebih banyak berkolaborasi dengan tetangga dekat dibandingkan dengan orang tua di luar negeri akibat dari keterbatasan komunikasi yang dapat dilakukan, mengingat jarak dan waktu yang tidak mendukung. Sehingga sebagian anak TKI-TKW cenderung lebih dekat dengan orang tua wali maupun dengan salah satu dari orang tua mereka.

The implementation of PLAN (Predict, Locate, Add, and Note) to improve reading comprehension skills of eleventh grade students of MAN Tambakberas Jombang / Annisa Rizqiana

 

ABSTRAK Rizqiana, Annisa. 2016. The Implementation of PLAN (Predict, Locate, Add, Note) to Improve Reading Comprehension Skill of Eleventh Grade Students of MAN Tambakberas Jombang. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Gunadi Harry Sulistyo M.A., (II) Dr. Suharmanto M.Pd. Kata kunci: reading comprehension, report texts, strategi PLAN Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami oleh siswa kelas XI MIPA 1 di MAN Tambakberas Jombang. Berdasarkan hasil pada penelitian pendahuluan, ditemukan bahwa kelas XI MIPA 1 memiliki masalah pada reading comprehension. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis memutuskan untuk mengimplementasikan strategi PLAN untuk meningkatkan pembelajaran reading di kelas untuk meningkatkan kemampuan reading comprehension siswa pada teks report. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri dari empat tahap yakni perencanaan, penerapan, observasi, dan refleksi. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas sebelas di MAN Tambakberas Jombang, yaitu kelas XI MIPA 1, yang terdiri dari 24 siswa. Pada penelitian ini, data yang dikumpulkan adalah nilai reading siswa untuk mengidentifikasi apakah siswa mengalami kemajuan pada kemampuan membacanya, pedoman wawancara, kuisioner siswa, lembar pengamatan terhadap aktifitas dan hasil guru dan siswa selama implementasi strategi PLAN pada proses belajar dan pembelajaran, dan catatan lapangan untuk mencatat data di luar cakupan lembar pengamatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi strategi PLAN pada pengajaran reading comprehension mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa. Hal ini bisa di identifikasi setelah penerapan strategi terdapat peningkatan pada jumlah siswa yang mendapatkan nilai lebih baik atau sama dengan Kriteria Kelulusan Minimum 75 yaitu 21 dari 24 siswa, atau 87,5% dari jumlah siswa. Hasil tersebut berhasil memenuhi kritetia kesuksesan dalam peningkatan nilai, yaitu 80% siswa berhasil mencapai Kriteria Kelulusan Minimal. Peneliti bersama dengan guru bahasa Inggris menentukan kriteria kesuksesan. Selain itu, siswa memberikan respon yang positif terhadap implementasi strategi PLAN pada kegiatan belajar mengajar reading. Penelitian ini memberikan sebuah alternatif dalam pengajaran reading. Dalam pengimplementasian strategi PLAN, siswa diminta untuk bekerja secara berkelompok. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru-guru bahasa Inggris diarahkan untuk mengimplementasikan strategi PLAN sebagai sebuah teknik mengajar alternatif khususnya mengajar reading di kelas agar dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Untuk peneliti yang lain, penelitian ini dapat menjadi sebuah referensi dalam melakukan penelitian dengan tempat dan subjek yang sama atau bahkan berbeda.

Pengembangan aplikasi WEB sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) bagi anak usia Taman Kanak-kanak (TK) di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang) / Kusdarmadi

 

Kata Kunci : website, multiple intelligences, pengembangan Sebagian besar orang tua dan guru pada tingkat pendidikan anak usia dini atau TK berpandangan bahwa anak yang cerdas adalah yang bisa berhitung logika paling cepat dan bertutur bahasa paling lancar. Setiap anak pasti memiliki potensi kecerdasan lain disamping logika dan bahasa yang patut mendapatkan apresiasi serta stimulasi hingga berkembang dengan baik. Permasalahannya saat ini belum ada media atau alat bantu yang bisa diakses secara cepat dan memberikan kontribusi informasi yang akurat terhadap kecerdasan anak usia TK. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media website yang berfungsi sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) bagi anak usia TK berdasarkan teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Dr. Howard Gardner (1983). Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (research and development) Borg and Gall dengan langkah-langkah sebagai berikut:(1) analisis kebutuhan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) uji coba perseorangan, (5) revisi, (6) uji coba kelompok kecil, (7) revisi, (8) uji coba lapangan, (9) revisi, (10) penyebaran dan pelaporan. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan instrumen berbentuk angket ahli media dan ahli materi serta siswa. Teknik analisis menggunakan analisis data angket dan analisis data secara keseluruhan yang dihitung menggunakan rumus statistik. Berdasarkan hasil uji coba pada ahli media melalui hasil angket diperoleh persentase 96.25% yang berarti media layak digunakan dan dari ahli materi menunjukkan persentase 88.75% berarti materi dalam media website ini layak dijadikan sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) anak. Sedangkan uji coba lapangan pada kelompok kecil dengan subyek 3 siswa TK mendapat persentase 86.45% yang berarti layak dan uji coba lapangan pada kelompok besar 25 siswa TK mendapatkan persentase 94.5% yang berarti layak untuk diterapkan di TK sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |