Pengembangan bahan ajar berupa modul praktikum mata kuliah Komunikasi Data dan Jaring dan Komputer bagi Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Johan Iriawan Akbar

 

ABSTRAK Iriawan Akbar, Johan. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Berupa Modul Praktikum Mata Kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer bagi Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muladi, S.T., M.T. (II) Utomo Pujianto, S.Kom., M.Kom. Kata Kunci: Pengembangan, Modul Ajar, Komunikasi Data, Jaringan Komputer. Komunikasi Data dan Jaringan Komputer merupakan salah satu mata kuliah yang disajikan oleh Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang. Dalamsetiap matakuliah praktikum disertakan bahan ajar berupa modul sebagai penunjang kegiatan praktikum. Komunikasi Data dan Jaringan Komputer telah menerapkan konsep modul ajar yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan perkembangan teknologi yang ada. Sampai saat ini, sudah memiliki tujuh modul yang telah digunakan selama dua tahun dalam proses belajar mengajar.Dalam pelaksanaan praktik di laboratorium, penggunaan modul ajar yang relevan dan baku masih belum terealisasikan dengan baik, sehingga menyulitkan peserta didik dalam memahami prosedur dan materi praktikum. Berdasarkan masalah tersebut, maka kegiatan praktikum mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer perlu memiliki bahan ajar berupa modul yang relevan dan baku serta sesuai dengan tujuannya sebagai sumber belajar yang efektif. Oleh karena itu perlu adanya penyeimbangan antara konsep materi dan kesesuaian perkembangan teknologi yang ada. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengembangan ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang menggunakan model pengembangan 4D menurut Thiagarajan. Model 4D memuat tahapan yang harus dilaksanakan untuk menghasilkan suatu produk, meliputi Define, Design, DevelopmentandDissemination. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan proses pengembangan, kualitas modul ajar, dan implementasi modul ajar berupa uji coba yang dapat ditinjau dari keterlaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan pendidik dan peserta didik. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, didapat persentase hasil akhir validasi oleh ahli media sebesar 83.33%, hasil validasi oleh ahli materi sebesar 85,00%, hasil uji coba kelompok kecil offering A sebesar 79.44% dan hasil uji coba kelompok kecil offering B sebesar 85.28% sedangkan hasil uji coba kelompok besar offering A sebesar 79,57% dan hasil uji coba kelompok besar offering B sebesar 82,78%. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berupa modul Komunikasi Data dan Jaringan Komputer secara keseluruhan dinyatakan layak dan bisa digunakan. Bahan ajar dapat digunakan sebagai suplemen pembelajaran dan media belajar mandiri bagi mahasiswa.

Hubungan kecerdasan emosi dan kecemasan dalam menghadapi ujian nasional pada siswa kelas XII SMA Negeri di kota Malang / Thika Dwiparing Rachma

 

Kata Kunci: kecerdasan emosi, kecemasan Kecemasan memang menjadi hal yang wajar dirasakan setiap manusia, termasuk kecemasan siswa ketika menghadapi ujian nasional. Jumlah kasus kecemasan meningkat signifikan pada masa menjelang dilaksanakannya Ujian Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) tingkat kecerdasan emosi siswa, 2) tingkat kecemasan siswa, dan 3) ada tidaknya hubungan antara kecerdasan emosi dan kecemasan pada siswa. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional dengan variabel bebas adalah kecerdasan emosi dan variabel terikatnya adalah kecemasan menghadapi ujian nasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 169 siswa. Validitas instrumen menggunakan uji validitas konstruk dengan loading factor masing-masing butir menunjukkan ≥ 0,50. Instrumen yang digunakan berupa skala kecerdasan emosi dengan reliabilitas Alpha Cronbach = 0,797, dan skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional dengan reliablitias Alpha Cronbach = 0,758. Data dianalisis menggunakan tenik uji korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) sebesar 34,32% siswa memiliki kecerdasan emosi pada tingkat sedang, 2) sebesar 44,38% siswa memiliki kecemasan menghadapi Ujian Nasional pada tingkat sedang, 3) terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan kecemasan menghadapi ujian nasional pada siswa kelas XII SMA Negeri di Kota Malang. Nilai rxy product moment sebesar -0,344 dengan signifikansi 0,000. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin rendah kecemasan yang dimiliki siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada: 1) sekolah dapat memberikan pelatihan kecerdasan emosi agar siswa dapat menerapkan apa yang diperoleh untuk meredam kecemasan yang muncul secara berlebihan saat menghadapi ujian nasional, 2) bagi para siswa diharapkan mengikuti pelatihan kecerdasan emosi yang diberikan sekolah maupun instansi lain secara sungguhsungguh, 3) peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema yang sama disarankan untuk melakukan penyempurnaan alat ukur agar lebih baik, dapat menambah variabel pembeda pada sampel penelitian, dapat memperluas jangkauannya sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Tingkat penerimaan makanan di Rumah Sakit Umum (RSU) Aminah Blitar / Arum Kusuma Astutie

 

ABSTRAK Astutie, A.K. 2016. Tingkat Penerimaan Makanan di Rumah Sakit Umum (RSU) Aminah Blitar. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra.Mazarina Devi.,M.Si, (II) AisyahLarasati, S.T., M.T., MIM., Ph.D. Kata kunci : Penampilan, cita rasa, nafsumakan,penerimaanmakanan. Tingkat penerimaanmakananadalahperbandingan persentasemakanan yang dikonsumsioleh pasien denganmakananyang dihidangkan di rumahsakit. Tingkat penerimaanmakanan di rumahsakitbertujuanuntukmempercepatpenyembuhandanpemulihankesehatanpasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganantaratingkatpenerimaanmakanandenganketertarikanterhadappenampilanmakanan, cita rasa makanandanfaktor internal (nafsu makan)padapasienrawatinap di RumahSakitUmum (RSU)AminahBlitar. Penelitianinimerupakanpenelitiankorelasional,penelitianmenggunakanrancanganpenelitiancross sectional,data dikumpulkandengan carapurposive random sampling. Angket diberikan kepada 30 pasien untuk mengetahui pendapat tentang penampilan makanan, cita rasa makanan dan nafsu makan. Tingkat penerimaan makanan diperoleh dengan pengukuran secara visual setiap kali waktu makan (tiga kali waktu makan). Tingkat penerimaan makanan di Rumah Sakit Umum Aminah tinggi (78 %). Hasil ujiKorelasiSpearman Rank (rho) menunjukkanadahubunganyang positif dan signifikanantaratingkatpenerimaanmakanandenganpenampilanmakanan (warna, bentuk, tekstur atau konsistensi, besar porsi dan penyajian makanan) (rho = 0,64, p = 0,000).Cita rasamakanan (aroma, rasa dan kematangan) (rho = 0,713, p = 0,000). Nafsu makan pasien (rho = 0,947, p = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkatpenerimaanmakanan berhubungan denganpenampilan makanan, cita rasa makanan dan nafsu makan. Bagian instalasi gizi di Rumah Sakit Umum Aminah Blitar diharapkan meningkatkan penampilan makanan dan cita rasa pada makanan yang dihidangkan kepada pasien. Meningkatkan penyuluhan kepada setiap keluarga pasien yang memiliki nafsu makan relatif rendah agar tingkat penerimaan makanan tinggi.

Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan di Sekolah / Siti Rodliyah

 

Kata kunci : partisipasi masyarakat, pengambilan keputusan, perencanaan, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, lembaga sekolah, dan masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan maksimal. Sekarang semua sekolah telah mempunyai Komite Sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah dan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Masyarakat, sebagaimana diamanahkan dalam UU No. 20 tahun 2003, memiliki hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat berhak berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pendidikan. Adapun kewajibannya adalah memberikan dukungan sumber daya, dan sumber dana dalam penyelenggaraan pendidikan. Penelitian ini bertujuan mengungkap lebih mendalam tentang partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan pada tiga sekolah lanjutan tingkat atas (MAN 1, SMAN 1, dan SMKN 1) di Kabupaten Jember yang memiliki karakteristik berbeda. Fokus penelitian ini meliputi empat hal yaitu: pertama, wujud partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan peren- canaan, meliputi: (1) sumbangan tenaga /fisik, (2) sumbangan ide/ pemikiran, (3) sumbangan dana, dan (4) sumbangan moral, kedua, tingkat partisipasi msyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, meliputi: (1) partisi- pasi aktif, dan (2) partisipasi pasif, ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanan, meliputi: (1) tingkat pendidikan, dan (2) jenis pekerjaan, dan keempat, proses pengambilan keputusan dan perencanaan yang melibatkan partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis diskriptif kualitatif, dengan cara data yang telah terkumpul dinalisis dengan menggunakan tiga cara yaitu organisasi data dan reduksi data, penyajian data, dan analisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis kasus individu maupun analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian yang sekaligus menjadi verifikasi/penarikan kesimpulan akhir. Sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan (1) kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi (sumber dan metode), pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat, (2) dependabilitas, merupakan kriteria untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah atau tidak, dan (3) konfir- mabilitas, digunakan untuk melihat tingkat konfirmabilitas antara temuan yang diperoleh dengan data pendukungnya. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, wujud partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan pada tiga lokasi meliputi: (1) Sumbangan tenaga/fisik berupa tanah, bimbingan prakerin, komputer, printer, sound system, keamanan, kontrol komite , sosialisasi narkoba, pendidikan sex, berlalu lintas yang benar , (2) sumbangan ide/pemikiran berupa usulan, masukan, dan kritikan dalam pembuatan visi, misi, tujuan, RPS, RKS, RAKS menjadi bahan pertimbangan, dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan sekolah, (3) sumbangan dana berupa: SPP, beasiswa, dana pengembangan sekolah, dana peningkatan kualitas guru dan siswa, dana les, memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran berjalan dengan baik, dan (4) sumbangan moral berupa keamanan, nasehat, pembinaan moral, amanat, dan ekstrakurikuler pendalaman agama memotivasi tujuan sekolah tercapai, kedua, tingkat partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan meliputi; (1) partisipasi aktif berupa kehadiran dalam rapat menyusun visi, misi, tujuan, RKS, RPS, dan RAKS mendorong sekolah maju, berkembang, dan berkualitas, (2) partisipasi pasif berupa mengontrol, mendampingi belajar, berkomunikasi dengan guru, itu meningkatkan prestasi belajar anak, ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan meliputi; (1) tingkat pendidikan orang tua membuat rasa tanggungjawab masyarakat meningkat, dan (2) jenis pekerjaan orang tua membantu kemajuan dan pengembangan sekolah, keempat, proses pengambilan keputusan dan perencaan yang melibatkan partisipasi masyarakat dimulai dari intern yaitu diputuskan oleh lembaga sendiri, sedangkan secara ekstern di mulai dari membahas rencana program dengan Komite Sekolah, sosialisasi ke wali murid untuk mendapatkan dukungan dan persetujuan, kepala sekolah mengambil keputusan, mengajukan atau memberi tembusan ke kapala kantor dinas pendidikan dan kebudayaan dan kepala kantor kementrian Agama, kemudian SK Bupati turun, kepala sekolah mengeluarkan sebuah kebijakan. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka disarankan kepada (1) kepala sekolah diharapkan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, tetap melibatkan dan mempertimbangkan masukan, usulan dan kritikan dari masyara- kat, (2) Guru hendaknya meningkatkan hubungan silaturahmi dengan orang tua siswa baik langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan membentuk kepribadian anak, (3) Komite Sekolah diharapkan mampu menjadi mediator yang profesional bagi sekolah dan orang tua untuk tercapainya tujuan pendidikan yang berkualitas, (4) masyarakat (orang tua, DUDI dan umum) hendaknya memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap keberhasilan belajar anak (5) kepala kantor Dinas Pendidikan dan Kebudaayaan dan kepala kantor Kementrian Agama Kabupaten Jember hendaknya memberikan kesempatan kepada kepala sekolah untuk mengambil keputusan dan perencanaan dengan melibatkan masyarakat (6) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian Agama hendaknya memberikan otonomi penuh kepada sekolah sesuai dengan konsep MBS, dan (7) peneliti lain agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengembangkan fokus penelitian lain yang lebih mendalam.

Studi tentang motif batik pada rumah industri "Joglo Suminar Batik" Desa Sekoto Kecamatan Badas Kabupaten Kediri / Bitari Saskia Ererra Avroditha

 

ABSTRAK Avroditha, Bitari Saskia Ererra. 2016. Study Tentang Motif Batik pada Rumah Industri “Joglo Suminar Batik” Desa Sekoto, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri . Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd (II) Ike Ratnawati, S. Pd. M.Pd Kata Kunci: Motif Batik, Joglo Suminar Batik, Kediri. Saat ini batik merupakan bagian dari kebudayaan yang sudah populer bagi masyarakat Indonesia.“Joglo Suminar Batik” berdiri sejak 1984 oleh Dra. Suminarwati Sundoro. Penelitian dilakukan di rumah industri batik tersebut, karena rumah industri batik tersebut pertama di Kediri yang mengangkat icon-icon tema motif Kabupaten Kediri yang tidak dimiliki oleh daerah lain dan telah diakui oleh pemerintah. Keunikan lain yaitu titik-titik Bolleches pada batiknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan latar belakang dan visualisasi dari motif batik pada rumah industri “Joglo Suminar Batik”. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, berupa paparan data mengenai latar belakang dan visualisasi motif batik pada rumah industi “Joglo Suminar Batik”. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan. Kemudian dilakukan trianggulasi sumber data untuk menjaga keabsahan data. Motif yang terdapat di Joglo Suminar Batik adalah motif batik Brambang Sekoto, Fenomena Kelud Erupsi, Garuda Muka Teratai Mekar, Kediri Lagi, Kuda Lumping, Mangga Podang, Sekar Jagad Kelud, dan motif Simpang Lima Gumul. Latar belakang motif berdasarkan ide dari lingkungan tempat tinggal perajin sendiri. Motif batik tersebut dibuat berdasarkan beberapa faktor, antara lain: (1) keinginan perajin memperkenalkan potensi daerahnya, (2) keinginan memperkaya ragam motif yang dibuat, (3) keinginan melestarikan warisan tradisi, (4) ingin menyampaikan pesan melalui karya: dan (5) berdasarkan pesanan. Sedangkan Visualisasi motif batik pada karya perajin, ditemukan tema motif golongan, antara lain: (1) motif hias tumbuhan, (2) motif hias pemandangan, (3) motif hias hewan (4.) motif hias geometris. Motif batik pada rumah industri “Joglo Suminar Batik” memiliki bagian-bagian motif yang berbeda sebagian besar memiliki bagian- bagian yang lengkap mulai dari ornamen utama dan ornamen tambahan, serta isen-isen motif. Serta sebagian besar motif memunculkan Bolleches. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan dalam dunia pendidikan formal maupun non formal berkaitan dengan latar belakang ide terinspirasi dari daerah lingkungan sekitar untuk diperkenalkan serta memahami visualisasi motif batik khas mengangkat tema potensi daerah. Penelitian ini mencakup wawasan mengenai visualisasi motif batik diharapkan memerikan sumbangsih berupa wawasan dan pengetahuan mengembangkan batik, khususnya batik Kediri untuk kalangan pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat mendapatkan informasi dan mempelajari serta diharapkan dimasa kini dan akan datang turut serta melestarikan hasil kebudayaan batik di Indonesia.

Meningkatkan kemampuan menulis permulaan dengan pemanfaatan media permainan flash card di kelas I SDC Klampok 1 Singosari Kabupaten Malang / Efata Kusumawati

 

ABSTRAK Kusumawati, Efata. 2016. MeningkatkanKemampuanMenulisPermulaandenganPemanfaatan Media PermainanFlash Card di Kelas I SDN Klampok 1 SingosariKabupaten Malang.Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sutrisno, S.Pd.,M.Pd (II)Dr. MuhanaGipayana, M.Pd. Kata Kunci:MenulisPermulaan, Flash Card, SekolahDasar Berdasarkanhasilobservasidanwawancarakepada guru kelas I SDN Klampok 1 SingosariKabupaten Malang padasaatpembelajaranberbahasaditemukanpermasalahan (1) pembelajaranbahasakurangmenarik, (2) penggunaan media yang masih minim, dan (3) siswa yang masihkesulitanmenulishuruftertentu. Penelitianinidilaksanakandengantujuanmendeskripsikanpenerapanpermainanflash carduntukmeningkatkankemampuanmenulispermulaandanpeningkatanketerampilanmenulispermulaandenganpermainanflash cardsiswakelas I SD NegeriKlampok 1 SingosariKabupaten Malang. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifdenganjenispenelitiantindakankelas.Pengumpulan data denganmenggunakanteknikobservasi, wawancara, dokumentasi, tesdancatatanlapangan.Teknikanalisis data yang digunakanadalahanalisiskualitatif. Pembelajarandilakukanselamaduasiklus, denganempatpertemuan.Media permainanflash carddigunakansecaracepatdanberulang.Selama proses pembelajarandiselingikegiatantebak kata maupunhurufacak yang akandisusunmenjadi kata yang tepat. Penggunaanmedia permainanflash carddalampembelajaranmenulispermulaanberjalandenganbaikdanterbuktidapatmeningkatkanaktivitassiswasertanilaiakhirsiswa.Aktivitassiswapadasiklus I sebesar 65% meningkatmenjadi 96% padasiklus 2. Rata-rata nilaiakhirsiswajugamengalamipeningkatanyaitu 71,7padasiklus I menjadi 83,5 padasiklus II. Data tersebutdapatdisimpulkanbahwapenggunaan media permainanflash carddalampembelajarandapatmeningkatkankemampuanmenulispermulaansiswa SDN Klampok 1 SingosariKabupaten Malang.Berdasarkanhasilpenelitiandisarankandalam proses pembelajarantentangaspekmenulishendaknyamenggunakan media pembelajaran, sertastrategi yang tepat. Penggunaanflash cardsangatdianjurkandalam proses pembelajaranterutamasaatmenulispermulaan. Sebaiknyakepalasekolahmengembangkanfasilitaspengadaan media.Saatmenggunakan media permainanflash card, guru lebihbaikmelibatkansiswa.Media tersebutdibutuhkan agar siswalebihaktif, kreatifdanmemilikimotivasidalambelajar.Jikainginmengembangkan media ini, karenapenggunaannya yang dilakukansetiappertemuanmakaperludilakukanvariasigambarmaupunhuruf.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) pada materi pythagoras di SMP / Suwandi

 

ABSTRAK Suwandi. 2016.Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer Dengan Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME)Pada Materi Pythagoras di SMP. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc, (II)Darmawan Satyananda, S.T, M.T Kata kunci: Media pembelajaran berbantuan komputer,Realistic Mathematics Education (RME), Pythagoras. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajarandengan pendekatanRealistic Mathematics Education(RME) berbantuan macromedia flash 8 pada materi Pythagoras di SMP. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kualitas media pembelajaran yang dikembangkan ditinjau dari aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Model penelitian dan pengembangan yang dikembangkan diadopsi dari model Thiagarajan yang dimodifikasi menjadi 3 tahap, yaitu (1) pendefinisian, (2) perancangan, (3) pengembangan. Tahap define terdiri dari: a) analisis awal-akhir, b) analisis siswa, c) analisis konsep, d) analisis tugas, e) spesifikasi tujuan pembelajaran. Tahap design terdiri dari: a) penyusunan tes, b) pemilihan media, c) pemilihan format, d) perancangan awal. Tahap development terdiri dari: a) penilaian para ahli, b) uji coba lapangan. Produk yang dihasilkan berupa CD pembelajaran interaktif dengan nama PS 2016(PYTHAGORAS SOLUTION). Media pembelajaran PS 2016 telah diuji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya oleh validator dan pengguna selama penelitian. Nilai rata-ratamateri mediaadalah 3,64dan rata-rata validasi media adalah 3,65, sehingga PS 2016 memenuhi kriteria valid. Sedangkan dari hasil uji kepraktisan dan keefektifan berlangsung di SMPN12 Malang didapat rata-rata kepraktisan adalah 3,77, sehingga PS 2016 memenuhi kriteria praktis. Sedangkan hasil pengerjaan soal evaluasi sangat bagus karena100%siswa mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan nilai KKM yaitu 75.Berdasarkan hal tersebut, diketahui bahwa media pembelajaran PS 2016 dinyatakan valid, praktis, dan efektif serta layak digunakan untuk orang yang peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Peningkatan pemahaman isi cerpen melalui kegiatan membaca cepat pada siswa kelas IV SDN Pandanwangi 04 Kota Malang / Erick Muzaqi

 

ABSTRAK Muzaqi, Erick. 2016. Peningkatan Pemahaman Isi Cerpen Melalui Kegiatan Membaca Cepat Pada Siswa Kelas IV SDN Pandanwangi 04 Kota Malang. Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Rumidjan, M.Pd., (II) Dr. I Made Suardana, S.Pd., M.Pd Kata Kunci: Cerpen, Membaca Cepat, Hasil Belajar, SD Hasil observasipada 29 Januari 2016 di kelas IV SDN Pandanwangi 04. Guru hanya meminta siswa membaca, kemudian siswa diminta untuk mengerjakan soal. Guru cenderung tidak memperhatikan kemampuan siswa dalam membaca cerita. Ketika guru menugaskan untuk membaca, sebanyak 23 dari 38 siswa masih memvokalkan bacaan. Hal ini menyebabkan waktu untuk membaca menjadi lama. Selanjutnya guru memberikan soal tentang isi cerita yang dibaca ternyata hasilnya kurang maksimal Kurangnya pengetahuan tentang cara membaca yang efektif menyebabkan kurangnya pemahaman pada waktu membaca dan boros akan pemanfaatan waktu. Berdasarkan uraian tersebut tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan penerapan kegiatan membaca cepat dalam meningkatkan pemahaman isi cerpen dan mendeskripsikan peningkatan pemahaman isi cerpen melalui kegiatan membaca cepat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Pandanwangi 04 Kota malang yang terdiri dari 38 siswa. Langkah-langkah membaca cepat ini ialah dengan membaca dalam hati, berkonsentrasi dalam bacaan cerpen, tidak menggerakkan bibir untuk melafalkan kata, tidak menggunakan jari untuk menunjuk kata, tidak menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, tidak melakukan regresi atau pengulangan kata dan melebarkan jangkauan mata 2-5 kata. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes , dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan hasi belajar sebesar 16,3% dari sebelum dilaksanakannya tindakan dengan melihat tingkat keberhasilan kelas sebelum dan sesudah dilaksanakan tindakan siklus 1. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 2,2% menjadi 80%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunakan teknik membaca cepat dalam meningkatkan pemahaman isi cerpen siswa kela IV SDN Pandanwangi 04 Kota Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Oleh karena itu dapat disarankan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa juga dapat mempercepat siswa dalam membaca. Penggunaan teknik membaca cepat dapat di jadikan pertimbangan dalam membelajarkan siswa dalam memahami teks bacaan cerpen. Penerapan membaca cepat hendaknya dapat digunakan dalam melaksanakan dan mengembangkan penelitian serupa dengan subjek yang berbeda.

Minat baca masyarakat dan intensitas kehadiran pengunjung di taman baca Amin di kota Batu / Dian Nur Anggraini

 

Kata Kunci: Minat Baca, Intensitas Kehadiran, Taman Baca AMIN. Dalam masyarakat kita budaya membaca, sangat minim karena masyarakat terlena dengan media propaganda (terutama televisi) dan desain gaya hidup yang berusaha menumpulkan pola pikir Untuk meningkatkan minat baca masyarakat, pemerintah mendorong tumbuhnya berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan konsep berbeda dari perpustakaan. Kemudian muncul pula nama-nama alternatif untuk menggeser kata perpustakaan. Sebut saja misalnya taman baca, rumah baca, rumah pintar, gelaran buku, rumah buku, café buku, dan sebagainya. Nama-nama tersebut berkesan lebih ringan dan akrab bagi pengunjung. Taman Baca AMIN yang tidak termasuk dalam data dari Dinas Pendidikan Kota Batu, memiliki jumlah pengunjung sekitar 70—80 orang setiap hari, memiliki jam buka rutin setiap hari pukul 14.00—21.00 WIB, berada di lokasi yang strategis serta, memiliki koleksi bahan bacaan lebih dari 5000 buku. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan minat baca masyarakat di Taman Baca AMIN di Kota Batu (2) mendeskripsikan intensitas kehadiran pengunjung di Taman Baca AMIN di Kota Batu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 200 orang orang dengan sampel 50 orang dengan menggunakan sampel random. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pengunjung Taman Baca AMIN di Kota Batu memiliki minat baca tinggi sebanyak 56%. (2) Intensitas kehadiran pengunjung di Taman Baca AMIN di Kota Batu dapat diketahui bahwa frekuensi kehadiran pengunjung memiliki kategori sangat sering sebanyak 56%. Lama membaca pengunjung memiliki kategori sangat lama sebanyak 60%. Motivasi kehadiran pengunjung memiliki kategori sangat tinggi sebanyak 54%. Berdasarkan temuan data tersebut maka disarankan (1) Bagi Taman Baca AMIN Untuk meningkatkan minat baca dan jumlah pengunjung sebaiknya menambahkan program kreatif meliputi kegiatan bedah buku, membaca bersama, menonton film, belajar menulis dari penulis, dongeng boneka, dan lain-lain. Sehingga nantinya Taman Baca AMIN dapat menjadi contoh bagi Taman Bacaan Masyarakat lainnya yang berada di Kota Batu dalam rangka menarik minat baca masyarakat Kota Batu. (2) Bagi Jurusan PLS, untuk memperluas dan mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan program Pendidikan Luar Sekolah sehingga semakin dikenal oleh masyarakat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan kontribusi dalam bidang pengembangan Taman Bacaan Masyarakat. (3) Bagi peneliti lanjutan yang ingin mengembangkan penelitian sejenis hendaknya dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas baik variabelnya atau populasinya.

Manajemen peserta didik pada sekolah satu atap sebagai penuntasan wajib belajar di daerah terpencil (studi kasus di SMP Negeri 2 Karangploso satu atap kabupaten Malang) / Sinta Maya Sari

 

Kata Kunci : manajemen peserta didik, sekolah satu atap, wajib belajar. Manajemen peserta didik adalah layanan yang difokuskan kepada peserta didik dalam pengelolaan mulai peserta didik masuk, selama menempuh pembelajaran hingga peserta didik itu lulus. Manajemen peserta didik pada sekolah satu atap adalah manajemen yang pengelolaannya difokuskan pada peserta didik SD dan SMP. Mengelola dua lembaga pendidikan sekaligus bukan hal mudah, apalagi untuk sekolah yang berada di daerah yang terkendala geografis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: (1) Sejarah SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap; (2) Perencanaan peserta didik SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap; (3) Pembinaan peserta didik SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap; (4) Dampak keberadaan SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap terhadap penuntasan wajib belajar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data yaitu wawancara mendalam, observasi berperan serta, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan perpanjangan keikutsertaan dan triangulasi sebagai cara untuk pengecekan keabsahan data. Perpanjangan keikutsertaan dihentikan apabila informasi yang diperoleh benar-benar sudah mencapai batas kelengkapan. Perpanjangan keikutsertaan tersebut didukung oleh triangulasi sumber yang dilakukan oleh peneliti dalam pengecekan keabsahan data. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) Sejarah didirikan SMP Negeri Satu Atap ini karena jumlah APK yang sangat banyak, letak geografis yang terpencil dan juga terpencar serta tidak ada sekolah lanjutan menengah pertama di daerah ini. Langkah awal untuk mendirikan sekolah satu atap adalah verifikasi data yang kemudian hasilnya diserahkan pada Diknas untuk didata dan apabila memenuhi kriteria akan didirikan sekolah satu atap di daerah yang terkendala geografis; (2) Perencanaan peserta didik dilakukan dengan kegiatan analisis kebutuhan peserta didik, rekruitmen peserta didik, dan orientasi peserta didik. Setiap tahun ajaran baru pada analisis kebutuhan peserta didik sekolah tidak pernah mempertimbangkan daya tampung kelas semua peserta didik yang mendaftar selalu diterima di sekolah. Rekruitmen baik untuk SD dan SMP tidak terlalu ketat karena memang tujuan sekolah satu atap adalah melancarkan program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun khususnya di daerah yang terkendala geografis. Walaupun sebagian besar peserta didik adalah lulusan dari SD ini sendiri, pelaksanaan orientasi tetap dilaksanakan untuk menyetarakan dengan SMP reguler; (3) Pembinaan peserta didik terdiri kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler menggunakan KTSP. Jam pembelajaran peserta didik SD dilaksanakan pagi hari dan peserta didik SMP dilaksanakan siang hari. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah untuk sementara waktu di vacum-kan karena sekolah lebih mengoptimalka kegiatan intrakurikuler; (4) Dampak keberadaan SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap antara lain mampu menekan jumlah APK. Berdasarkan kesimpulan tersebut, hasil penelitian ini disarankan bagi: (1) Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap, apabila dapat mendekatkan diri pada masyarakat maka tradisi masyarakat untuk mendaftarkan putra-putrinya lebih terstruktur sesuai jadwal yang diberikan sekolah; (2) Guru SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap, kegiatan ekstrakurikuler juga penting agar peserta didik dapat mendapat ketrampilan lebih di samping mendapat kegiatan intrakurikuler, apabila sekolah terkendala tenaga pengajar, sekolah bisa mencari karang taruna di sekitar untuk menjadi pembina; (3) Diknas Kabupaten Malang, dengan laporan ini supaya lebih terjadwal dalam memantau perkembangan di seluruh sekolah satu atap; (4) Peneliti lain, supaya mengkaji penelitian sebelumnya dan mengembangkan penelitian dengan melakukan action research di bidang layanan khusus perpustakaan.  

Pengembangan permainan colour stick geometri dalam pembelajaran kognitif anak TK kelompok B / Yulinda Paripurnanti

 

ABSTRAK Paripurnanti, Yulinda. 2016. PengembanganPermainanColour StickGeometridalamPembelajaranKognitifAnak TK Kelompok B. Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Kependidikan Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd, M.Pd, (II) EvaniaYafie, S.Pd,M.Pd. Kata Kunci:colour stick geometri,kognitif,TK Kelompok B Berdasarkan hasil studi pendahuluan di TK Pertiwi III Karangsarimenunjukkan bahwa anak membutuhkan media pembelajaran yang inovatif, agar pembelajarankognitif lebih menyenangkan. Pembelajaranmengelompokkan yang dilakukan selama ini masih cenderung menggunakan media lembarkerja, papantulis, masihberpusatpada guru, dantidakmenggunakanbenda-benda yang konkret. Pembelajarandenganmenggunakanpermainancolour stickgeometridapatdigunakansebagai alternative pembelajarankognitif di luarkelas agar anaktidakbosan, colour stickgeometriinimemilikitujuanyaitumenghasilkanprodukberupa media permainancolour stickgeometri yang menyenangkan, aman, mudah, danlayakdigunakandalampembelajarankognitifuntukmengelompokkanbendaberdasarkanbentukdanwarnamenurutbeberapaahli. Penelitianinimenggunakan model pengembanganresearch and development Borg and Gall yang dimodifikasi oleh peneliti menjadi tujuh langkah.Instrumen yang digunakan adalah kuesioner berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Hasil analisis data pada saat penelitian adalah permainancolour stick geometrimenyenangkandalamsetiapkegiatannya sebesar 99,42%, mudahdantepatsebesar 83,8% dan100% amandalamkegiatanpermainannya. Berdasarkan hasil pengembangan permainancolour stick geometri dapat disimpulkanbahwa media tersebut menyenangkan,mudah, tepat, danaman bagi anak dan layak digunakan pada anak TK Kelompok B.Pendidik hendaknya dapat menggunakanpermainan ini sebagai alternatif padapembelajarankognitif untuk anak TK kelompok B. Bagi peneliti selanjutnya media ini dapat diujikan kepada kelompok yang lebih luas, dikembangkanlagidenganmembuat stick geometridenganberbagaiukuran agar dapatdigunakanuntukmengelompokkanbendaberdasarkanukurannya dan disosialisasikan ke sekolah atau lembaga pendidikan yang terkait.Selain hal tersebut, penelitiselanjutnyadiharapkandapatmelakukan penelitian tindakan kelas menggunakanpermainancolour stickgeometridenganmenambahkanaspekperkembanganyang lain kedalam media.

Kolaborasi problem based learning dan mind mapping untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X perkantoran SMK Ardjuna 1 Malang mata diklat kewirausahaan) / Devi Januari Cristina

 

Kata Kunci: Problem Based Learning, Mind Mapping, Kemampuan Berpikir Kreatif, Hasil Belajar Siswa Hasil observasi di kelas X Administrasi Perkantoran SMK Ardjuna 1 Kota Malang diperoleh bahwa pembelajaran di kelas masih bersifat pemberian informasi dari guru kepada siswa yang mengakitbatkan siswa cenderung pasif dan kurang mandiri. Oleh karena itu perlu adanya sebuah pembaharuan pembelajaran untuk mengubah paradigma tersebut yaitu dengan penerapan pembelajaran kolaborasi Problem Based Learning dan Mnd Mapping yang mengarahkan kepada siswa untuk mempelajari materi melalui pembelajaran berbasis masalah dan dibantu dengan teknik peta pikiran atau mind mapping. Tujuan penelitian ini adalah berusaha untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan jenis enelitian tindakan kelas menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, catatan lapangan, dan angket belajar afektifi siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I dengan poin B+. Pada siklus II meningkat dengan perolehan poin A. Selain itu penilitian ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat pra tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada saat akhir penerapan. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada saat pre-test siklus I sebanyak 4 siswa dan untuk post-test sebanyak 6 siswa untuk siswa yang tuntas belajar. Kemudian untuk hasil post-test siklus II juga menunjukkan peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan siklus I yaitu dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 12 siswa dan yang belum tuntas sebanyak 1 siswa. Pada hasil belajar afektif siswa terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II dalam hal diskusi kelas dan diskusi kelompok. Walaupun pada post-test siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah hal yang wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua.Kemampuan berpikir kreatif siswa juga meningkat dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Bagi Guru SMK Ardjuna 1 Malang dengan model pembelajaran kolaborasi Problem Based Learning dan Mind Mapping perlu menjadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas karena tidak semua materi pelajaran cocok dengan model pembelajaran ini (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kolaborasi Problem Based Learning dan Mind Mapping pada pengajaran mata diklat yang sama atau mata diklat lainnya di tempat yang berbeda untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Untuk peneliti selanjutnya bila masih ditemukan siswa yang belum tuntas belajar maka disarankan untuk melakukan siklus berikutnya.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament berbantu monopoli matematika untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa SMP Negeri 12 Malang / Diana Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Diana. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournamentberbantu Monopoli Matematika untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika SiswaSmpNegeri 12 Malang. Skripsi.JurusanMatematika, Fakultas MIPA, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: Dra. EtyTejoDwi C., M.Pd. Kata Kunci :pembelajarankooperatif TGT, motivasibelajarmatematika. Hasilobservasi di kelas VIII B SMP Negeri 12 Malang menunjukkanbahwamotivasibelajarmatematikasiswamasihrendah.Hal inidikarenakansiswajenuhdenganpembelajaranmatematikadi kelasdankurangtertarikpadamodel pembelajaran yang diterapkanoleh guru.Sehubungandenganhaltersebut, makadipilih model pembelajaran yang sesuai di kelas VIII B SMP Negeri 12 Malang,yaitu model pembelajarankooperatiftipe TGTberbantu media monopolimatematika.Tujuandaridilaksanakannyapenelitianiniyaituuntukmeningkatkanmotivasibelajarmatematikasiswa. JenispenelitianiniadalahPenelitianTindakanKelas (PTK) yang terdiridariduasiklusdenganmenggunakanpendekatankualitatif.Subjekdari penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 12 Malang, Kota Malang.Tahapanpentingpada PTK iniadalah: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi.Adapunperangkatpembelajarandalampenelitianiniyaitu: RencanaPelaksanaanPembelajaran (RPP) danLembarKerjaKelompok (LKK). Sedangkaninstrumenpenelitianiniyakni: LembarObservasi, CatatanLapangan, danLembarAngketMotivasiBelajarSiswa. Sebelumdilaksanakanpenelitiansiklus I, motivasibelajarmatematikasiswayaitusebesarkurangdari 50% siswamemilikimotivasibelajarmatematika yang beradapadatingkatan “Baik”.Kemudiansetelahditerapkanpenelitianpadasiklus I denganmenggunakan model pembelajarankooperatiftipe TGT berbantumonopolimatematikadiperolehhasilbahwasiswa di kelas yang memilikimotivasibelajarmatematika yang beradapadatingkat “Cukup” adalah 20%, “Baik” adalah 66,7%, dan “BaikSekali” adalah 13,3%”. Sedangkanpeningkatanmotivasi rata-rata kelasmencapai 73,3% . Selanjutnyapadasiklus II diperolehhasilbahwasiswa di kelas yang memilikimotivasibelajarmatematika yang beradapadatingkat “Baik” adalah 66.7%, dan “BaikSekali” adalah 33.3%”.Sedangkanpeningkatanmotivasi rata-rata kelasdarisiklus I kesiklus II yaitu93.3% .Berdasarkan data tersebut, dapatdisimpulkanbahwapenerapan model pembelajarankooperatiftipeTeams Games Tournament (TGT) berbantumonopolimatematikadapatmeningkatkanmotivasibelajarmatematikasiswa SMP Negeri 12 Malang.

Pengaruh insider ownership, dispersion of ownership, free chash flow, dan collaterizable assets terhadap kebijakan dividen ( studi pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2008- 2010) / Fadila qori' imami

 

Kata kunci : Insider Ownership, Dispersion Of ownership, Free Cash Flow, Collaterizable Assets, Kebijakan Dividen Kebijakan dividen adalah keputusan untuk menentukan besarnya bagian pendapatan (earning) yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dan bagian yang ditahan di perusahaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan pembayaran dividen kepada pemegang saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collaterizable assets terhadap variabel terikat kebijakan dividen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana populasinya adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010 dengan sampel sebanyak 15 perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan data diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial insider ownership, dispersion of ownership, dan collaterizable assets berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan free cash flow berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal-hal yang bisa disarankan dari hasil penelitian adalah: (1) Bagi investor atau calon investor yang hendak melakukan inivestasi hendaknya perlu memperhatikan insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collaterizable assets perusahaan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan investasi, karena secara parsial keempat variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2008-2010. (2) Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lebih lanjut dengan menambah variabel bebas yang diduga berpengaruh terhadap kebijakan dividen seperti kepemilikan institusional, kebijakan hutang, dan kinerja keuangan perusahaan serta mengganti sampel penelitian.

Tuturan mahasiswa Program Dharmasiswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Balai Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Malang tahun 2015 / Emy Rizta Kusuma

 

ABSTRAK Kusuma, EmyRizta. 2016. TuturanMahasiswa ProgramDharmasiswadalamPembelajaranBahasaIndonesiadiBalaiBahasadanBudaya, UniversitasNegeri Malang Tahun 2015. Skripsi, JurusanSastra Indonesia, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Imam Suyitno, M. Pd. (II) Dr. GatutSusanto, M.M, M. Pd. Kata kunci :tuturan, tindaktutur, pembelajaranbahasa, program Dharmasiswa Tuturanmerupakansalahsatutindakberbahasa yang digunakanmanusiaketikaberinteraksi. Salah satuinteraksi yang menggunakantuturansebagai media untukberinteraksiadalahkegiatanpembelajar. Tuturandalamkegiatanpembelajaranmerupakanujaran yang terjadiantaramahasiswadanmahasiswalainnya, maupunmahasiswadenganpengajar. Penelitianinimemilihtuturanmahasiswa program Dharmasiswakarenabeberapaalasan. Pertama, mahasiswa program Dharmasiswa yang belajarbahasa Indonesia memilikicirikhastersendiriketikamenggunakanbahasa Indonesia. Kedua, mahasiswa program Dharmasiswaberasaldarinegara yang berbedasehinggamerekaharusmenggunakansatubahasaketikaberinteraksi di kelas.Tujuanmendeskripsikantuturan yang digunakanmahasiswa program Dharmasiswadalampembelajaranbahasa di BalaiBahasadanBudayaUniversitasNegeri Malang adalahuntukmendeskripsikan (1) bentuktuturan, dan (2 fungsituturan yang digunakanmahasiswa program Dhramasiswadalamwacanakelas BIPA. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifdenganjenispenelitiandeskriptif. Data penelitianiniberupadeskripsibentuk dan fungsi tuturan yang digunakan mahasiswa ketika berinteraksi di kelas. Sumber data daripenelitianiniadalahtuturan mahasiswa ketika berinteraksi di kelas. Pengumpulan data dilakukanmenggunakanteknikrekamdengancaramerekamtuturanmahasiswadanpengajarketikaberinteraksi di kelas. Penelitianinidibantudenganinstrumenberupapanduanperekamandanalatperekamberupa recorder ponsel.Analisis data daripenelitianinidilakukandalamempatlangkah, yakni (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi,dan(4) penarikansimpulandarituturaninteraktifmahasiswaasing program Dharmasiswa. Selanjutnya,penelitimengujikeabsahandata daripenelitianyamelaluibeberapatahap, yakni (1) penelititerlibatlangsungdalampenelitiannyadi BalaiBahasadanBudayaUniversitasNegeri Malang, (2) penelitimengamatisecaratelitidanmendalampadabentukdanfungsituturan, (3) penelitimelakukantriangulasipadatemuanpenelitiannyadenganparaahli, dan (4) penelitimelakukandiskusidengantemansejawat yang memahami BIPAdanteoritindaktutur. Hasil yang ditemukandalampenelitianiniadalah (1) bentuk, dan (2) fungsituturanmahasiswaprogram Dharmasiswadalamwacanakelas BIPA. Dalampenelitianiniditemukanempatbentuktindaktutur yang digunakanmahasiswadalamwacanakelas BIPA, yakni (1) bentukasertif, (2) bentukdirektif, (3) bentukekspresif, dan (4) bentukkomisif. Bentuktindaktutur yang paling dominandigunakandalamwacanakelas BIPA mahasiswa program Dharmasiswaadalahbentukdirektifdanbentukasertif, sedangkanbentukekspresifdanbentukkomisifjarangsekalidigunakanolehmahasiswaasingdalamwacanakelas BIPA tersebut. Ditemukanbeberapafungsi yang terdapatpadatiap-tiapbentuktindaktutur yang digunakanmahasiswaketikaberinteraksi dikelas. Padabentuktindaktuturasertifditemukantigafungsituturan,yakni (1) fungsimenyatakan, (2) fungsimengusulkan, dan (3) fungsimenceritakan. Padabentuktindaktuturdirektifditemukanempatfungsituturan, yakni (1) fungsipertanyaan, (2) fungsipermintaan, (3) fungsiperintah, dan (4) fungsiseruan. Padabentuktindaktuturekspresifditemukanempatfungsituturan, yakni (1) fungsimemintamaaf, (2) fungsimenyesal, (3) fungsimengucapkanselamat, dan (4) fungsiterimakasih. Padabentuktindaktuturkomisifditemukanduafungsituturan, yakni (1) fungsimenjanjikansesuatudan (2) fungsimenawarkansesuatu. Simpulanpenelitianiniadalahhanyaditemukanempatbentuktindaktutur yang digunakandalamwacanakelas BIPA mahasiswa program Dharmasiswa. Keempatbentuktuturantersebutmampumemfasilitasikegiatanpembelajaran BIPA. Dari keempatbentuktindaktuturtersebut, ditemukanduabentuktindaktutur yang dominandigunakanolehmahasiswa, yakni (1) bentukasertifdan (2) bentukdirektif. Dari keempatbentuktindaktuturtersebutjugaditemukanbeberapafungsi yang penggunaannyadisesuaikandengankonteksdanfungsinyadalamkegiatanpembelajaran di kelas.  

Pengembangan instrumen asesmen perkembangan bahasa anak usia 4-5 tahun / Siti Nur Aini

 

ABSTRAK Siti Nur Aini. 2016. Pengembangan Instrumen Asesmen Perkembangan Bahasa Anak Usia 5-6 Tahun. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Tumardi S.Pd, M.Pd (2) Evania Yafie, S.Pd.,M.Pd Kata Kunci: Instrumen Asesmen, Perkembangan Bahasa, Anak Usia 5-6 Tahun. Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang harus selalu dilakukan sepanjang proses pembelajaran. Hasil observasi di taman kanak-kanak di kecamatan Pakisaji, didapatkan bahwa masih banyak guru-guru yang mengalami kesulitan dalam mendata perkembangan anak khususnya perkembangan bahasa anak. Kesulitan guru-guru taman kanak-kanak dalam mendata perkembangan aspek bahasa anak dikarenakan kurangnya pemahaman guru tentang hakekat dan proses mengevalusi perkembangan aspek bahasa anak serta belum adanya instrumen asesmen yang valid yang dapat membantu guru untuk mendata perkembangan aspek bahasa anak. Perkembangan ini pada umumnya didata dengan menggunakan cara perkiraan untuk menentukan tingkat ketercapaian anak. Peneliti ingin mengembangkan instrumen asesmen perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun. Tujuan penelitian pengembangan ini yaitu menghasilkan instrumen asesmen perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun yang berkialitas, yaitu instrumen asesmen yang valid, reliabel dan praktis. Sehingga dapat digunakan oleh guru Taman Kanak-Kanak sebagai pedoman penilaian perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun. Pengembangan produk media pembelajaran bongkar pasang lempeng pecahan ini menggunakan model pengembangan Borg dan Gall. Tahap-tahap penelitian & pengembangan sebagai berikut. : (1) identifikasi masalah; (2) perancangan produk awal; (3)validasi ahli; (4) revisi; (5) uji coba produk skala luas; dan (6) revisi; (7) produk final. Data penelitian berupa hasil validasi dan kepraktisan produk yang diperoleh dari uji ahli bahasa, ahli evaluasi dan guru. Data yang diperoleh dianalisis dengan menghitung tingkat validitas, reliabilitas serta kepraktisan produk yang disesuaikan kriteria yang telah ditetapkan serta menelaah data berupa komentar. Hasil validasi ahli bahasa dan evaluasi, diperoleh hasil dari 39 item, 4 item dinyatakan valid, dan 35 item dinyatakan sangat valid. Dari uji coba produk diperoleh tingkat kepraktisannya sebesar 89 %, tingkat reliabilitasnya berada pada kategori sangat reliabel dengan hasil alpha cronbach sebesar 0,886. Dari uji validitas item menggunakan perhitungan SPSS 23 For Windows menyatakan bahwa 14 item tidak valid karena nilai rho<0.202 dengan N= 96. Hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa instrumen asesmen perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun ini sangat layak digunakan dalam pendataan perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun dan telah teruji kualitasnya yaitu dari segi validitas, reliabilitas dan kepraktisannya. Sehingga instrumen ini dapat digunakan oleh guru Taman Kanak-Kanak sebagai pedoman penilaian perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun.

Penerapan permainan detektif koin untuk mengembangkan keterampilan berhitung permulaan pada anak kelompok B TK PKK Bina Ana Prasa Pakis / Feni Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Feni. 2016. Penerapan Permainan Detektif Koin Untuk Mengembangkan Keterampilan Berhitung Permulaan Pada Anak Kelompok B TK PKK Bina Ana Prasa. Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Kependidikan Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tumardi, S.Pd, M.Pd., (II) Evania Yafie, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Permainan Detektif Koin, Keterampilan Berhitung Berdasarkan latar belakang mengenai keterampilan berhitung anak kelompok B TK PKK Bina Ana Prasa Pakis Malang yang masih rendah, yaitu sebanyak 56% anak kelompok B2 belum mampu melakukan proses berhitung sederhana maka dilaksanakan penelitian ini. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang dilakukan kurang menarik bagi anak dan minimnya media yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan permainan Detektif Koin untuk meningkatkan keterampilan berhitung permulaan dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan berhitung setelah dilakukan penerapan permainan Detektif Koin. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model siklus Kemmis & Mc Taggart, dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah 25 anak kelompok B. Instrumen penelitian yang menjadi pedoman adalah lembar observasi dan refleksi yang dilakukan oleh guru kelas dan peneliti. Adapun data penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Penerapan permainan detektif koin digunakan untuk meningkatkan keterampilan berhitung permulaan dengan indikator membilang/ menyebut urutan bilanganm 1-20, membilang dengan menunjuk benda, menghubungkan/ memasangkan lambang bilangan dengan benda-benda sampai 10, menyebutkan hasil penambahan dengan benda sampai 10. Keterampilan berhitung anak kelompok B telah menunjukkan perkembangan dilihat dari persentase ketuntasan kelas pada saat observasi sebesar 44%, setelah dilakukan tindakan siklus I telah meningkat menjadi 60%. Dikarenakan belum mencapai standar ketuntasan yaitu ≥75% maka dilaksanakan siklus II dengan perbaikan tindakan guru yaitu dengan memberikan contoh secara langsung dalam melakukan permaian. Pada siklus II ketuntasan kelas meningkat menjadi 92%. Berdasarkan persentase ketuntasan kelas tersebut, kemampuan berhitung penjumlahan anak kelompok B TK PKK Bina Ana Prasa mengalami perkembangan sebesar 32%. Sehingga permainan detektif koin mampu untuk mengembangkan keterampilan berhitung. Peneliti berharap permainan detektif koin dapat dijadikan referensi kegiatan belajar untuk mengembangkan keterampilan berhitung anak kelompok B. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan permainan detektif koin sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan mampu untuk membangun minat anak dalam belajar.

Tathwiru darsi al-'adadi wal ma'dudi kamaddatin ta'limiyyatin / Abdul Aziz Khoiri

 

ABSTRAK Khoiri, Abdul Aziz. 2015. Pengembangan bahan ajar materi ‘adad ma’dūd untuk siswa madrasah aliyah (MA) dalam keterampilan menulis. Skripsi, jurusan sastra Arab, fakultas sastra, universitas negeri Malang (UM). Pembimbing; (1) Drs. Moh. Khasairi, M. Pd, (2) Laily Maziyah, M. Pd. Kata kunci; bahan ajar, pengembangan bahan ajar, dan materi ‘adad ma’dūd. Bahan ajar merupakan salah satu unsur pokok selain media pembelejaran dalam proses pembelajaran. Meteri ‘adad ma’dūd adalah satu bahan ajar yang ada di dalam kitab-kitab nahwu. Secara umum materi adad ma’dud dalam beberapa kitab nahwu seperti jami’uad-durus, qowaidu al-lughah al-rabiyah disajikan secara global tentang kaidah penulisanya saja, tanpa disertai dengan penjelasan dan contoh-contoh yang rinci. Sedangkan menurut hasil pengamatan peneliti, belum ada pengembangan bahan ajar ‘adad ma’dūd khususnya bagi siswa madrasah aliyah (MA). Tujuan penelitian pengembangan ini adalah; pertama, untuk menghasilkan bahan ajar meteri ‘adad ma’dūd bagi siswa madrasah aliayah (MA) dalam keterampilan menulis. Kedua, untuk mendeskripsikan kualitas bahan ajar materi ‘adad ma’dūd bagi siswa madrasah aliyah (MA) dalam keterampilan menulis. Desain penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain Ball dan Gall yang meliputi; (1) pengumpulan data, (2) desain produk yang dikembangkan, (3) validasi ahli, (4) revisi produk, (5) uji coba lapangan, dan (6) hasil akhir. Adapun data-data hasil penelitian pengembangan diperoleh dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Arab di MA dan dari angket yang dibagikan kepada guru bahasa arab dan siswa. Sementara medote analisis data adalah menggunakan prosentasi hasil penelitian. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah materi ‘adad tartibi dan ‘adad hisabi (dari angka satu sampai ratusan). Hasil penelitian pengembangan menunjukan bahwa, (1) bahan ajar yang dikembangkan termasuk katagori “valid” dengan nilai 75% dari hasil validasi ahli meteri. (2) bahan ajar yang dikembangkan termasuk katagori “sangant valid” dengan nilai 76, 7 % dari hasil validasi ahli media, nilai 92,5% dari hasil validasi guru mata pelajaran bahasa Arab, dan nilai 84, 25% dari hasil uji coba pada siswa. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan di atas, maka diharapakan bagi guru dan siswa untuk menggunakan materi yang telah dikembangkan ini dalam pembelajaran tarkib di tingkat madrasah aliyah agar para siswa mampu memahami kaidah-kaidah ‘adad ma’dūd dalam bahasa Arab, serta menerapkanya dalam keterampilan menulis. Di samping itu, bahan ajar ini memudahkan bagi guru dalam pembelajaran kaidah ‘adad ma’dūd. Karena itu, sarankan bagi peneliti berikutnya untuk mengembagan bahan ajar ini dengan media lain dan manambah materi-materi yang belum ada.

Pengaruh corporate governance dan pengungkapan corporate social responsibility terhadap penghindaran pajak pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014 / Angen Resti Retno Wulan

 

ABSTRAK Wulan, Angen Resti R. 2016. Pengaruh Corporate Governance dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Penghindaran Pajak Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2014. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak., CA (II) Ika Putri Larasati, S. E., Mcom Kata Kunci: Corporate Governance, Corporate Social Responsibility, ETR, Penghindaran Pajak Beban pajak yang tinggi mendorong banyak perusahaan berusaha melakukan manajemen pajak agar pajak yang dibayarkan lebih sedikit. Salah satu manajemen pajak yang dilakukan perusahaan yaitu dengan melakukan penghindaran pajak. Penghindaran pajak merupakan cara mengurangi beban pajak secara legal atau dengan memanfaatkan kelemahan dalam undang-undang perpajakan.Pembentukan corporate governance(tata kelola perusahaan) dapat mengawasikinerja pengelola perusahaan yang salah satunya menyangkut perpajakan. Selain itu, moral individu juga dapat berpengaruh terhadap kegiatan penghindaran pajak terkait dengan orang yang menjalankan perusahaan. Hal tersebut tercermin dalam pengungkapan corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Penelitian ini bertujuanuntuk menguji pengaruh jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris, persentase komisaris independen, jumlah komite audit, dan pengungkapan CSR terhadap penghindaran pajak perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014. Alat ukur yang digunakan untuk variabel corporate governance yaitu dengan melihat pada laporan tahunan perusahaan, sedangkan pengungkapan CSR diukur dengan cara membagi jumlah item atau indikator yang diungkapkan perusahaan dengan jumlah item yang seharusnya diungkapkan. Penghindaran pajak diukur dengan ETR yaitu beban pajak penghasilan dibagi dengan pendapatan atau laba sebelum pajak. Berdasarkan metode purposive sampling terdapat 40 perusahaan sebagai sampel selama 3 tahun, sehingga terdapat 120 pengamatan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda, dengan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris, persentase komisaris independen, dan jumlah komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak, sedangkan pengungkapan CSR berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak. Jika diuji secara simultan jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris, persentase komisaris independen, jumlah komite audit, dan pengungkapan CSR berpengaruh 5,5% terhadap penghindaran pajak, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.

Authentic learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa program studi pendidikan fisika Universitas Negeri Malang dalam mata kuliah strategi pembelajaran fisika / Muhammad Nur Hudha

 

Kata kunci : Authentic learning, berpikir kritis Tingkat kemampuan berpikir kritis untuk menyelesaikan suatu permasalahan awal mahasiswa prodi pendidikan fisika masih belum maksimal. Kemampuan berpikir kritis dapat diamati melalui tes dengan indikator yaitu merumuskan masalah, memberi argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan evaluasi, memutus dan melaksanakan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dari Kemmis & Mc Taggart dengan tahapan; indentifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan tindakan berupa authentic learning. Authentic Learning yang digunakan berupa Problem Based Learning (PBL), Think Pair Share (TPS), Two Stay Two Stray (TS-TS). Penelitian dilakukan dua siklus pada 19 mahasiswa pada matakuliah Strategi Pembelajaran Fisika (SPF) di Prodi Pendidikan Fisika UM. Keterlaksanaan authentic learning diukur menggunakan Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran. Kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan tes pada setiap akhir siklus. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan peningkatan persentase rata-rata keterlaksanaan authentic learning sebesar 6,75%. Sedangkan persentase rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis diperoleh peningkatan sebesar 11%. Indikator merumuskan masalah, memberi argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi mengalami peningkatan. Indikator melakukan evaluasi persentasenya tetap dan indikator memutus dan melaksanakan mengalami penurunan. Kesimpulan penelitian ini adalah authentic learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika pada matakuliah Strategi Pembelajaran Fisika (SPF) di UM.

The Psychological aspects of strinberg's Miss Julie" / by Engelbertien Wahju Artistyanti"

 

Motif Airlangga melakukan pembagian terhadap kerajaannya tahun 1052 masehi / oleh Didik Widiyono

 

The efects of word frequency and sentence length on the readability of texts / by Kusumarasdyati

 

Sajak-sajak kristiani (studi intertekstualitas sajak-sajak Rendra dengan Bibel)
oleh Wadji

 

Pengaruh fasilitas matakuliah Perencanaan Bangunan Gedung terhadap hasil belajar matakuliah Perencanaan Bangunan Gedung mahasiswa jurusan PTB FPTK IKIP Malang
oleh Dinok Triartini

 

Studi tentang tingkat kenyamanan kebaya menggunakan pola Victory Collection / Suci Duarni

 

Kata Kunci: pola, kebaya, victory collection, kenyamanan. Busana adalah kebutuhan utama disamping kebutuhan lainnya. Busana banyak mengalami perkembangan dari masa ke masa. Mulai dari bahan dasar yang digunakan, model, fungsi, serta teknik pembuatannya semua mengalami perkembangan. Dalam dunia mode busana wanita lebih banyak dibicarakan, salah satunya ialah kebaya. Kebaya adalah salah satu busana daerah yang dipakai oleh wanita dan sekarang menjadi busana nasional. Kebaya menjadi pilihan wanita dalam memenuhi kebutuhan berpakaian saat acara-acara tertentu seperti saat pesta pernikahan, wisuda, serta acara lain yang diangap istimewa. Kebaya memiliki ciri-ciri pas di badan, dengan lengan panjang, panjangnya dapat pas panggul, di atas panggul (kebaya pendek) atau di bawah panggul (kebaya panjang). Meskipun memiliki ciri pas badan namun kebaya haruslah nyaman ketika dikenakan. Salah satu yang mempengaruhi kenyamanan tersebut adalah pola yang dipakai dalam membuat kebaya. Pola Victory Collection adalah salah satu pola yang digunakan untuk membuat kebaya. Pola ini adalah pola yang diciptakan oleh pemilik usaha dengan memodifikasi pola So’En asli. Penelitian ini penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui besarnya persentase tingkat kenyamanan kebaya yang dibuat menggunakan pola Victory Collection. Kebaya ini dipaskan pada tubuh model dengan ukuran M (SNI) dengan menggunakan lembar pengamatan yang berisikan instrumen penelitian dengan 14 kriteria titik pas yang diisi oleh 6 panelis. Dari hasi pengamatan kebaya yang menggunakan pola Victory Collection di dapat hasil penilaian dengan kriteria tepat memperoleh persentase sebesar 65,48%, kriteria kurang tepat sebesar 33,33%, dan kriteria tidak tepat sebesar 1,19%. Rata-rata keseluruhan penilaian titik pas sebesar 88,09% yang termasuk dalam rentang kelas interval dengan kategori nyaman.

Hubungan antara kadar pemanfaatan media instruksional bahasa Indonesia menurut persepsi guru dengan prestasi belajar siswa dalam pengajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri se-Kabupaten Sumenep - Madura
oleh Zainur Rahmad

 

Perancangan media promosi kampoeng wisata keramik Dinoyo Malang / Laura Citra Zhahira

 

Kata Kunci: Media Promosi, Kampung Wisata, Keramik Dinoyo Kota Malang termasuk salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang baru berdiri adalah Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo. Sentra keramik Dinoyo yang dulu sempat mengalami masa jaya ini, kemudian semakin lesu seiring dengan perkembangan jaman. Hal inilah yang membuat pemerintah setempat berusaha mengangkat kembali masa jaya sentra keramik Dinoyo dengan pengukuhan nama baru dan menjadikannya sebagai tempat objek wisata. Perancangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk merancang paket media promosi yang tepat dan efektif bagi Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo. Dengan dirancangnya media promosi tersebut, diharapkan akan membantu objek wisata ini untuk semakin eksis serta memiliki jumlah pengunjung yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu, perancangan ini bertujuan untuk mempromosikan sentra keramik Dinoyo sebagai tempat belanja dan belajar keramik. Perancangan ini menggunakan model perancangan milik Sadjiman Ebdi Sanyoto, karena memiliki alur kerja yang sesuai dengan perancangan media promosi. Proses ini diawali dengan perumusan latar belakang masalah, identifikasi, analisa data, sintesis, konsep perancangan, serta konsep tata desain hingga menjadi desain final. Produk yang dihasilkan berupa paket media promosi yang terdiri dari dua macam, yaitu media ATL dan media BTL. Media tersebut berupa iklan surat kabar, outdoor horizontal banner, outdoor vertical banner, billboard, leaflet, booklet, dan website, poster dan stiker. Perancangan media promosi tersebut menggunakan konsep desain natural yang memberikan kesan alami. Dasar tema yang diangkat dalam perancangan ini adalah Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo sebagai wisata belanja dan belajar keramik. Pemasangan media promosi tersebut memiliki jangka waktu selama 1 (satu) tahun, terhitung sejak bulan Juni 2012 sampai bulan Mei 2013.

Pengaruh umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, solvabilitas dan likuiditas terhadap audit delay pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 / Kurnia Herwati

 

Kata Kunci: audit delay, umur perusahan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, solvabilitas, likuiditas Salah satu kriteria profesionalisme dari auditor adalah ketepatan waktu penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu ini terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri. Jika terjadi penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan keuangan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Lamanya waktu penyelesaian audit ini dapat mempengaruhi ketepatan waktu informasi tersebut dipublikasikan. Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan auditor. Perbedaan waktu ini dalam auditing sering disebut dengan audit delay. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur perusahaan, ukuran perusahan, ukuran KAP, solvabilitas, likuiditas terhadap audit delay. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan LQ45 yang listing di BEI tahun 2006-2009. Sampel penelitian ini adalah 10 perusahaan finansial dan manufaktur yang tergabung dalam perusahaan LQ45 selama 4 tahun berturut-turut., yang terdiri dari 6 perusahaan finansial dan 4 perusahaan manufaktur. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan metode analisa data menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP berpengaruh terhadap audit delay, sedangkan solvabilitas dan likuiditas tidak berpengaruh terhadap audit delay. Saran yang dapat diberikan, bagi auditor diharapkan mampu untuk mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay tersebut, dengan cara merencanakan pekerjaan audit sebaik mungkin agar audit delay dapat ditekan seminimal mungkin. Merekrut tenaga kerja yang professional juga dapat membantu menyelesaikan audit tepat waktu. Bagi perusahaan publik, diharapkan dapat bekerjasama dengan auditor dengan cara memberikan data dan informasi yang dibutuhkan oleh auditor secara benar dan akurat. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menambah faktor-faktor itu antara lain kualitas sistem pengendalian internal perusahaan, ada tidaknya komite audit, rata-rata pengalaman kerja pegawai dan masih banyak faktor-faktor lain yang dapat diujikan terhadap audit delay.

Hubungan faktor-faktor motivasi dengan disiplin kerja pegawai tatausaha fakultas dilingkungan IKIP Malang
oleh Umi Hidayati

 

Manajemen guru pendamping pada kegiatan tetirah Unit Pelaksana Tehnis Pelayanan Sosial Petirahan Anak Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur (studi kasus di UPT PSPA Batu) / Yayuk Rahayuningsih

 

Kata kunci : Manajemen, UPT PSPA Batu, guru pendamping, kegiatan tetirah. Implementasi manajemen pendidikan oleh guru pendamping pada kegiatan tetirah di UPT Pelayanan Sosial Petirahan Anak merupakan kesuksesan proses belajar mengajar bagi siswa tetirah yang mengikuti program tetirah. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui profil UPT Pelayanan Sosial Petirahan Anak Batu, 2) untuk mengetahui profil guru pendamping dalam kegiatan tetirah di PSPA Batu, 3) untuk mengetahui peran guru pendamping dalam kegiatan tetirah di PSPA Batu, 4) untuk mengetahui implementasi manajemen pendidikan guru pendamping dalam kegiatan tetirah. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif guna menjawab pertanyaan di atas. Dalam penelitian ini, peneliti adalah sebagai instrument utama. Data penelitian ini adalah jawaban-jawaban yang dihasilkan dari ujaran guru pendamping, staf UPT PSPA Batu, siswa tetirah selama proses kegiatan tetirah berlangsung. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan pedoman wawancara, yangh kemudian disusun dalam transkrip wawancara, menggunakan pedoman dan pencatatan hasil observasi, serta pencatata dokumen lainnya. Dalam penelitian ini triangulasi sumber data, data, teori dan metodologi serta dependabilitas diterapkan untuk mengecek keabsahan data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran guru pendamping di UPT PSPA Batu sangat multifungsi dalam kegiatan tetirah di UPT PSPA Batu. Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk modal yang perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan, guru pendamping sebagai Manajer pendidikan di sekolah dasar layaknya dengan menerapka lima modal manajemen sekolah dasar yaitu modal guru, modal keuangan, modal social, modal politik serta modal integrative Hal ini diimplementasikan dalam peran guru pendamping. Guru pendamping juga berperan sebagai orang tua pengganti selama kegiatan tetirah berlangsung, , bahkan dipersiapkan sebagai calon guru bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Saran penelitian yang dapat diberikan antara lain bagi lembaga dapat dijadikan masukan dalam peningkatan pelayanan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan guru pendamping selama di UPT PSPA Batu, bagi guru pendamping dapat digunakan sebagai kerangka perbaikan sistem pengajaran selama di di UPT PSPA Batu, selanjutnya bagi daerah kabupaten dan kota dapat dijadikan indikator prasyarat guru pendamping yang akan dikirim.

Pemanfaatan laboratorium bahasa multimedia dalam pengajaran kemahiran berbicara kelas X di SMA Negeri 1 Malang / Yusman

 

Kata kunci: pengajaran, laboratorium bahasa multimedia, berbicara. Pengajaran kemahiran berbicara membutuhkan laboratorium bahasa multimedia sebagai media penunjangnya. Dengan menggunakan multimedia pembelajaran, pengguna akan diajak secara langsung mencoba dan menggunakan simulasi yang tersedia, dan juga pengguna akan mencoba secara langsung bagaimana sesuatu terjadi. Berbeda halnya jika materi yang disampaikan hanya melalui buku. Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimanakah pemanfaatan laboratorium bahasa multimedia dalam pengajaran berbicara di SMA Negeri 1 Malang; (2) Bagaimana efektivitas pemanfaatan laboratorium bahasa multimedia dalam pengajaran berbicara di SMA Negeri 1 Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X, guru bahasa Arab, dan laboran. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, tes, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) penyajian data; dan (4) penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laboratorium bahasa multimedia sudah digunakan dalam pengajaran berbicara, dan digunakan satu kali dalam satu minggu. Fasilitas yang digunakan dalam pengajaran kemahiran berbicara di dalam laboratorium bahasa multimedia meliputi home theatre, televisi dan parabola, serta mic wireless clip on. Dengan kelengkapan fasilitas yang ada di laboratorium bahasa multimedia siswa merasa tenang dan nyaman belajar bahasa Arab di laboratorium bahasa multimedia daripada belajar di dalam kelas. Materi yang disampaikan bervariasi mulai dari pemutaran video/film, power point, acara televisi, hingga latihan percakapan. Laboratorium bahasa multimedia dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa dalam memahami pelajaran. Selain itu, hasil tes menunjukkan adanya kemajuan bagi siswa dalam belajar bahasa Arab. Namun meskipun motivasi belajar siswa bertambah, akan tetapi penggunaan media dalam meningkatkan hasil belajar siswa belum maksimal, hal ini dibuktikan dengan terbatasnya penggunaan home theatre. Selain itu, hambatan yang diketahui yaitu kesulitan mengoprasikan peralatan. Dengan demikian, pihak pengelola laboratorium bahasa multimedia agar terus mempertahankan sekaligus mengembangkan fasilitas-fasilitas yang ada. Sedangkan pengajar, guru maupun tentor bahasa Arab agar juga mempertahankan menggunakan laboratorium bahasa multimedia sebagai media pembelajaran.

Hubungan antara latar belakang orangtua dengan tingkat partisipasi siswa dalam kepramukaan di kalangan siswa SLTA Negeri se Kodya Malang
oleh L. Rahayu Lestari

 

Korelasi antara tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kebiasaan kebersihan dengan kualitas pemukiman di Tlogomas Kotamadya Malang / oleh Ratri Cahyo Wahyuni

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif mind mapping untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran kewirausahaan kelas X Program Keahlian Pemasaran di SMK Ma'arif NU 04 Pakis Malang / Evrida Nur Anita

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Mind Mapping, Hasil Belajar Hasil observasi pada tanggal 23 Januari 2012 menunjukkan bahwa, menurut data kelas (sekolah) sebagian besar siswa (69%) tidak dapat memahami materi mata pelajaran Kewirausahaan karena kurangnya pemahaman dan minat pada pelajaran tersebut. Artinya, dari 31 siswa yang ada di kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang, sekitar 18 siswa diantaranya belum mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu 75. Hal tersebut terbukti pada saat Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung. Selain itu, siswa masih pasif dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapat pada saat proses belajar-mengajar. Oleh karena itulah, penelitian ini dilakukan oleh peneliti untuk menerapkan model pembelajaran Mind Mapping dalam rangka meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model Mind Mapping pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas X program keahlian Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang, (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang melalui model pembelajaran Mind Mapping, (3) Respon siswa selama diterapkan pembelajaran model Mind Mapping pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X program keahlian Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang. Untuk mencapai maksud tersebut, maka metode penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, analisis reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan pada ranah kognitif yang diukur dari nilai pre test dan post test siswa pada siklus 1 meningkat, yaitu sebelum diberi tindakan 66,93% dan sesudah diberi tindakan menjadi 67,74%. Begitu juga dengan siklus 2, sebelum diberi tindakan 71,61% dan sesudah diberi tindakan menjadi 86,90%. Dan pada ranah afektif yang diukur dari keaktifan siswa, setiap siklusnya mengalami peningkatan pada siklus 1 68,80% dan siklus II 93,82% Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan (1) Dengan adanya penerapan model pembelajaran Mind Mapping siswa lebih aktif, kreatif, dan berani mengungkapkan pendapat (2) model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang pada mata pelajaran Kewirausahaan dengan pokok bahasan Menerapkan sikap dan perilaku kerja prestatif, (3) model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan respon siswa yang positif setiap siklusnya. Bagi guru mata pelajaran Kewirausahaan disarankan Sebaiknya guru harus memotivasi siswa terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran agar siswa mengerti apa yang akan dipelajari pada pertemuan sekarang, bagi siswa hendaknya mempersiapkan diri dengan belajar terlebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran di kelas sehingga pada saat diskusi kelas siswa mudah mengikuti pembelajaran, bagi peneliti selanjutnya disarankan (1) Dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian mempertimbangkan kebijakan sekolah terutama alokasi waktu, sehingga pencapaian hasil penelitian lebih maksimal (2) Untuk mengukur nilai kognitif sebaiknya peneliti membandingkan nilai ulangan dari guru mata pelajaran dengan soal post test.

Pengembangan media e-comics pembelajaran matematika bentuk soal cerita bab bilangan semester II pada siswa kelas 5 SDN Kauman I Malang / Anandia Rahayu

 

Kata kunci: Pengembangan, Media E- comics pembelajaran, matematika. Matematika mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika sekolah. Pada umumnya, masalah pembelajaran matematika yang cenderung pada pembelajaran berpusat pada guru (teacher oriented) menjadikan anak jenuh dan kesusahan memahami soal matematika khususnya soal cerita . Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas dan guru pengajar matematika kelas V di SDN I Kauman Malang pada 2 Februari 2012, didapatkan hasil bahwa pembelajaran matematika masih menggunakan metode ceramah dan pemakaian buku matematika yang telah disediakan oleh sekolah. Pemanfaatan LCD Proyektor yang tersedia di setiap kelas juga dilakukan untuk menampilkan materi matematika dalam bentuk slideshow namun tampilannya terlihat kurang menarik sehingga membuat siswa merasa jenuh dan kurang tertarik untuk belajar matematika. Pengembang ingin membuat siswa merasa tertarik untuk belajar matematika, sehingga tujuan pembelajaran matematika khususnya bab bilangan pecahan semester 2 pada siswa kelas V di SDN Kauman I Malang dapat tercapai dengan adanya media sebagai pendukung materi pembelajaran. Pengembang memilih media e-comics dengan mengingat keunggulan efek cerita, efek hiburan,efek visual, dan efek gabungan yang terdapat dalam media ini. Pengembangan media e-comics ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket dan post test. Media e-comics pembelajaran ini melalui tahap validasi media dan materi untuk diketahuai kelayakannya. Validitas dilakukan oleh 2 orang ahli media dengan hasil 90% yang berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak, sedangkan oleh ahli materi didapat hasil 91,67% yang berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak, dan dari audiens/ siswa satu lawan satu didapatkan skor presentase sebesar 93,75% media e-comics pembelajaran berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak, dari audien/ siswa kelompok kecil didapatkan skor presentase sebesar 95,25% media e-comics pembelajaran berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak dipergunakan sebagai media pembelajaran. . Hasil dari post-test yang dilakukan pada siswa kelas V SDN I Kauman Malang mendapatkan hasil dari 28 orang siswa mereka rata-rata mendapatkan skor diatas 80 dan semua siswa memenuhi KKM sekolah yaitu 70. Hal ini menunjukkan bahwa e-comics bisa dikatakan efektif, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran matematika bab bilangan semester II.

Penerapan model pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1, SMA Negeri 1 Gondang, Tulungagung pada mata pelajaran geografi / Frengki Desi Kayanto

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif model Student Teams-Achievment Divisions (STAD), Hasil belajar Berdasarkan observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di SMA Negeri 1 Gondang, Tulungagung, diketahui bahwa belum terjadi proses pembelajaran yang terpusat. Guru menjadi satu-satunya sumber informasi bagi siswa, guru belum menggunakan model-model pembelajaran sebagai strategi dalam pembelajaran, selain itu siswa masih mengandalkan LKS menjadi satu-satunya sumber pembelajaran. Guru juga belum bisa memotivasi semangat belajar siswa, sehingga suasana belajar cenderung membosankan. Berdasarkan observasi dari dokumen penilaian hasil belajar dan biografi umum para siswa menunjukkan bahwa nilai tes pada materi sebelumnya hanya terdapat 15 siswa yang mendapatkan nilai ketuntasan dan 21 siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Kemudian berdasarkan dokumentasi biografi siswa, menunjukkan bahwa rata-rata pekerjaan orang tua siswa adalah petani. Setiap siswa memiliki kondisi perekonomian yang masih rendah sehingga mereka harus membantu orang tuanya untuk bekerja atau menjaga adiknya karena rata-rata memiliki saudara 3 sehingga tidak memiliki waktu belajar yang cukup untuk belajar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan menerapan metode pembelajaran Student Teams-Achievment Divisions (STAD), yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Gondangan, Tulungagung dalam mata pelajaran IPS Geografi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari 2 siklus, siklus pertama dilaksanakan dalam 2 pertemuan dan siklus kedua juga dilaksanakan dalam 2 pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di kelas XI IPS 1 dengan jumlah siswa 36 orang. Data dalam penelitian ini berupa hasil belajar siswa. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, hasil observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar Geografi siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Gondang, Tulungagung. Rata-rata nilai sebelum tindakan adalah 66,22 mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 79,86 dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 82,75. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1) bagi guru IPS Geografi, model pembelajaran Student Teams-Achievment Divisions (STAD) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Perlu memperhatikan tingkat kesulitan butir soal dan alokasi waktu agar tujuan pembelajaran dapat berlangsung serta tahapan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

The lyrics of Seblang Bakungan: an ethnopoetic investigation / Dian Novita

 

ABSTRAK Novita, D. 2016. The Lyrics of Seblang Bakungan: An Ethnopoetic Investigation.Skripsi, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. A. Effendi Kadarisman, Ph.D., (II) Maria Hidayati, S.S., M.Pd. Kata kunci:lirik, Seblang Bakungan, etnopuitika Penelitianinimembahaslirik dariSeblangBakungan, sebuahupacara adatmasyarakat Usingyang telah berlangsung selama 400 tahun di Banyuwangi, JawaTimur,darisudut pandangetnopuitika (Kadarisman, 1999).Kajian tentangSeblangBakungantelahditelitiolehbeberapapakarAntropologi (Wessing, 2013; Wolbers, 1992) yang pada akhirnyamenghasilkanrekonstruksi lirik yang menyuguhkancerita di baliklagu-lagu tersebut. Namun demikian, penelitianinilebihberfokuspadapemaparandokumentasilagu-lagudari ritual ini yang dilaksanakanpadatahun 2015. PenelitianinidilakukanuntukmendeskripsikanaspeklinguistikdanpuitikadarilirikSeblangBakunganyang membuatmerekaberbedadariBahasa Using sehari-haridanbagaimanaaspek-aspektersebutdapatberkontribusiuntukmendapatkanwawasanlebihdalambudaya Usingitusendiri. Untukmengatasimasalahtersebut, penelitimenggunakanmetodedeskriptif-kualitatif untuk mengumpulkan dan menganalisa data.Adapun data primer dalam penelitian ini adalah dua belas lagu, denganpara penyanyidariSeblangBakunganyang dianggap sebagaisubjekpenelitian. Rekaman audio berfungsi untukmempertahankan "keaslian" darilirik, yang kemudianditranskripsikandandisajikandalamlampiran penelitian. Temuan dari penelitian ini mengungkap (a) aspek linguistik yang ada pada lirik lagu yang mencakup perubahan semantik dan fungsi pragmatis, (b) aspek puitika yang meliputi rima, aliterasi, konsonansi, dan asonansi, dan (c) strategi dalam upaya menambah wawasan budaya Using dengan memahami peran serta pengaruh lagu dan ritus pada budaya masyarakat Using itu sendiri. Lagu “Sukma Ilang” ternyata dapat diterapkan pada kehidupan sehar-hari sebagai mantra karena mantra itu sendiri merupakan bagian dari budaya suku Using. Atasdasartemuan yang telah dipaparkan, penelitimenyarankanagarpara penelitilebihlanjutmengkaji aspekmorfosintaksis dari lirik Seblang Bakungan, sehinggakeseluruhanaspeklinguistikdari lirik lagu tersebut dapatterungkapsepenuhnya.

Perbedaan penerapan model cooperative learning tipe TPSQ dengan STAD terhadap hasil belajar teknik elektronika dasar kelas X Teknik Elektronika Industri di SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang / Wawan Purwanto

 

ABSTRAK Purwanto, Wawan. 2016. PerbedaanPenerapan Model Cooperative Learning tipe TPSQ dengan STAD terhadapHasilBelajarTeknikElektronikaDasarKelas X TeknikElektronikaIndustri di SMK Negeri 2 SingosariKabupaten Malang.Skripsi,JurusanTeknikElektro, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. HarySuswanto, S.T., M.T. (II) Drs. PugerHonggowiyono, M.T. Kata Kunci:TPSQ, STAD, danHasilBelajar Berdasarkanobservasi di SMK Negeri 2 SingosariKabupaten Malang, padapembelajaranTeknikElektronikaDasardiperolehhasilsebagaiberikut: (1) guru masihmenggunakan model pembelajaran yang belummenerapkanstudent center; (2) keaktifandankeseriusanpesertadidikmasihkurang; (3) pesertadidikkurangmemahamimateripembelajaran;dan (4) hasilbelajarbelummemuaskan. Berdasarkan data observasi, dari 72 pesertadidikdalamduakelas, dimanamasing-masingkelasterdiridari 36 pesertadidik, hanya 16,6% pesertadidik yang aktifdanantusiasbertanyadalammengikutipembelajaran. Hal tersebutdikarenakan model pembelajaran yang belummenerapkanprinsipstudent center, sehinggapesertadidikmenjadicepatbosan, kurangaktif, kurangantusiasdalambelajar, kurangmemahamimateripembelajaran, danmenyebabkanhasilbelajarpesertadidikpadaranahpengetahuan, sikap, danketerampilanmenjadikurangmemuaskan. Untukitu agar dapatmeningkatkanhasilbelajarpesertadidikdantercapainyatujuanpembelajaranpadamatapelajaranTeknikElektronikaDasarperludiadakanperbaikanpembelajarandenganmenggunakan model Cooperative Learningtipe TPSQdan STAD. PenelitianinibertujuanuntukmengetahuisignifikansiperbedaanhasilbelajarpadamatapelajaranTeknikElektronikaDasarantarapesertadidikpadakelasA yang dibelajarkanmenggunakan model Cooperative LearningtipeSTAD, sedangkanpadakelas Bdibelajarkanmenggunakan model Cooperative LearningtipeTPSQ.Penelitianinimenggunakandesaineksperimensemu (quasi experimental design)denganpolanonequivalent posttest only design. Variabel yang akandiukuradalahhasilbelajarpesertadidikranahpengetahuan, sikap, keterampilandan juga membandingkanhasilbelajarantarakeduakelas. Analisis data yang digunakanuntukmengujihipotesisadalahuji-t. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaterdapatperbedaanhasilbelajar yang signifikanpadaranahpengetahuan (sig. 0,000<0,05) dansikap (sig.0,000<0,05). Sedangkanpadaranahketerampilantidakterdapatperbedaanhasilbelajar yang signifikan (sig. 0,689>0,05). Kesimpulandaripenelitianyaituterdapatperbedaanhasilbelajar yang signifikanpadaranahpengetahuandansikap, sedangkanpadaranahketerampilantidakterdapatperbedaanhasilbelajar yang signifikanantarapesertadidikkelas A yang dibelajarkanmenggunakan model Cooperative LearningtipeSTAD dengankelas B yang dibelajarkanmenggunakan model Cooperative Learningtipe TPSQ.

Hubungan antara pemanfaatan sumber belajar dengan keefektifan proses pembelajaran di Lembaga PAUD se-kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Dian Puji Astuti

 

Kata Kunci: Pemanfaatan Sumber Belajar, Keefektifan Proses Pembelajaran Sumber belajar merupakan salah satu aspek atau komponen yang terpenting dalam proses pembelajaran guna membantu meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia untuk menuju ke dalam kehidupan yang lebih baik. Dalam usaha meningkatkan kualiatas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran, sebaiknya tidak melupakan satu hal yang sudah pasti keberadaannya, yaitu bahwa peserta didik maupun pendidik harus banyak beriteraksi dengan sumber belajar. Yang menjadi sasaran dalam pencapaian hasil belajar dalam mencapai perubahan tingkah laku ada tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar manusia dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (2) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar perpustakaan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (3) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar mass media dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (4) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar alam lingkungan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (5) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar alat pengajaran dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (6) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar museum dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Rancanagan Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 46 responden. Hasil penelitian ini adalah (1) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar manusia dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, (2) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar perpustakaan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif , afektif maupun psikomotorik (3) terdapati hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar media massa dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif , afektif maupun psiokomotorik, (4) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dalam lingkungan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, (5) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar alat pengajaran dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, (6) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar museum dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang penelii ajukan adalah: (1) Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh dalam keberhasilan belajar bagi peserta didik. Dapat dilihat dari segi pembelajarn, teman, pendidik, serta media dan sumber belajar yang ada. Diharapkan Lembaga menyediakan dan memanfaatkan sumber belajar yang berasal dari media massa, dalam lingkungan serta museum agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. (2) Pendidik sebagai pembelajar bagi anak, juga sebagai penganti orang tua disekolah harus mampu memberikan pembelajaran yang baik bagi anak. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran, diharapkan para pendidik PAUD dapat memanfaatkaan sumber belajar yang telah ada terutama sumber belajar media massa, dalam lingkungan serta museum agar pembelajaran dapat berhasil baik dalam ranah kognitig, afektif maupun psikomotorik. (3) Sebagai pemberdayaan masyarakat, berkaitan dengan permasalahan ini hendaknya PLS lebih memantau keadaan Lembaga PAUD dan memberikan pelatihan-pelatihan terutama mengenai tentang pembelajaran serta dalam upaya peningkatan mutu pendidik dan kependidikan bagi Lembaga PAUD.

Pengaruh gradasi butir-butir semen merah terhadap kuat tekan Mortel
oleh Noor Lailiyah

 

Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang bercirikan Realistic Mathematics Education (RME) pada materi untuk SMP kelas VIII / Rohmat Yusufa

 

Kata Kunci: Lembar Kerja Siswa (LKS), RME, Lingkaran. Ketersediaan LKS matematika untuk SMP yang beredar dipasaran saat ini tidak dapat ditemukan. Oleh karena itu, perlu disusun dan dikembangkan LKS yang berkualitas menurut kriteria tertentu. LKS yang akan dikembangkan menggunakan salah satu pendekatan pembelajaran yang akan menggiring siswa memahami konsep matematika dengan mengkontruksi sendiri melalui pengetahuan sebelumnya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya, menemukan sendiri konsep tersebut sehingga belajarnya menjadi bermakna. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan LKS bercirikan RME yang valid sehingga dapat digunakan dalam mendukung proses pembelajaran di kelas pada materi keliling dan luas lingkaran. Model pengembangan LKS pada penelitian ini mengacu pada model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang telah dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut, 1) penyederhanaan model yang sebelumnya terdapat empat tahap menjadi tiga tahapan saja yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop), hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu serta biaya, 2) tidak semua tahapan pada model 4-D digunakan karena disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan bahan ajar yang berupa LKS. Berdasarkan hasil validasi yang telah diuraikan pada Bab IV, secara keseluruhan produk LKS yang dikembangkan dinyatakan valid menurut penilaian validator ahli dan praktisi dan validator user. Jadi dapat disimpulkan bahwa LKS yang dikembangkan memenuhi kriteria baik. Disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk mengujicobakan LKS ini kepada siswa dalam kelompok yang lebih besar dengan menerapkan tiga prinsip dan lima karakteristik RME secara utuh.

Kepuasan kerja guru Sekolah Dasar Negeri di Kotamadya Mojokerto / oleh Maisyaroh

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd, (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (III) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E. Kata kunci: pelaksanaan supervisi kolegial, sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah Supervisi kolegial merupakan proses pemberian bantuan sesama guru dengan bekerja sama, saling memberikan dorongan, bimbingan untuk meningkatkan kompetensinya. Dalam perspektif struktural, kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Disamping itu, berdasarkan studi pendahuluan di SDN Percobaan 1, MIN Malang 2 dan MI Islamiyah Malang antar guru telah melaksanakan supervisi kolegial, namun belum diketahui model pelaksanaannya. Sistem pembinaan ini memberi peluang kepada guru untuk meningkatkan kemampuan sesama guru. Fokus penelitian ini adalah pelaksanaan supervisi kolegial di SDN Percobaan 1, MIN Malang 2 dan MI Islamiyah Malang. Fokus tersebut dirinci sebagai berikut: (1) model pelaksanaan supervisi kolegial yang dilakukan oleh guru terhadap guru yang lain, (2) keterlibatan guru dalam pelaksanaan supervisi kolegial, (3) peran kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi kolegial, (4) peran pengawas dan nara sumber dalam pelaksanaan supervisi kolegial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mengacu ke fenomenologis. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi multi situs dengan induksi analitik termodifikasi. Lokasi penelitian di SDN Percobaan 1, MIN Malang 2 dan MI Islamiyah Malang. Penentuan lokasi dipilih secara purposive dengan informan kunci kepala sekolah dan berkembang ke informan lain yaitu guru dan tenaga administrasi sekolah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik studi dokumentasi, pengamatan, serta wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dua tahap, yaitu analisis data dalam situs dan analisis data lintas situs. Untuk mendapatkan keabsahan temuan, digunakan dua kriteria, yaitu derajat kepercayaan dan kepastian. Kesimpulan penelitian ini meliputi: Pertama, model pelaksanaan supervisi kolegial yang dilakukan oleh guru ditemukan ada 4 macam, yaitu model kelompok-formal, individual-formal, kelompok-informal, dan individual-informal. Supervisi kolegial model kelompok-formal diselenggarakan oleh suatu tim guru dengan langkah pembentukan tim kelompok guru, perencanaan observasi kelas, observasi kelas, pembahasan hasil observasi dan penentuan tindak lanjut. Supervisi kolegial model individual-formal diselenggarakan oleh 2 orang guru dengan langkah penentuan pasangan, pertemuan pendahuluan, observasi kelas, pertemuan balikan, dan tindak lanjut. Supervisi kolegial model kelompok-informal diselenggarakan sekelompok guru. Model individual-informal diselenggarakan oleh 2 orang guru. Kedua model terakhir ini bersifat informal dan tidak memiliki langkah yang baku. Pengaturan waktu supervisi di luar jam efektif mengajar, pada saat istirahat, setelah jam pembelajaran dan khusus lokakarya saat libur semester. Kegitan observasi kelas pada saat guru yang diamati sedang mengajar, pengamat tidak ada jam mengajar atau jam diisi oleh guru lain. Kegiatan supervisi kolegial diikuti guru kelas dan guru bidang studi. Kedua, keterlibatan guru dalam pelaksanaan supervisi kolegial sebagai pelaksana dan sebagai pengelola. Sebagai pelaksana, guru terlibat merencanakan dan melaksanakan observasi kelas, memberi balikan, menyimpulkan hasil dan merencanakan kegiatan pada tahap berikutnya. Sebagai nara sumber dan peserta, guru aktif merumuskan masalah, aktif bertanya, bersama-sama memecahkan masalah dan merumuskan hasilnya. Sebagai pengelola, guru ikut merencanakan kegiatan, menganalisis kebutuhan guru, menentukan dan mencatat waktu pelaksanaan dan proses pelaksanaan, mengevaluasi, menentukan tindak lanjutnya terutama pada kegiatan yang dilaksanakan secara formal. Ketiga, peran kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi kolegial, sebagai manajer, kepala sekolah menyediakan tempat, fasilitas, sumber pustaka, dana, pengaturan jadwal kegiatan supervisi kolegial. Sebagai pemimpin, kepala sekolah menunjuk guru untuk menyampaikan pengalaman dan membantu guru lain, memelihara kebersamaan tim, memotivasi guru untuk meningkatkan kemampuannya, menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan memelihara iklim kolegialitas, memberi semangat dan memberi kepercayaan kepada guru untuk berani maju. Sebagai supervisor, kepala sekolah memberi kesempatan guru untuk saling membantu sesama guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, memberi contoh mensupervisi guru, mengembangkan sikap saling asah, asih dan asuh, dan menekankan pentingnya belajar sepanjang waktu melalui interaksi dengan sesama guru. Keempat, peran pengawas dan nara sumber dalam pelaksanaan supervisi kolegial, yaitu pengawas memantau kegiatan sekolah, bertanya, dan memberikan informasi yang belum dipahami guru secara umum. Nara sumber berperan dalam membahas pengembangan kurikulum, serta membantu guru dan kepala sekolah dalam meningkatkan kemampuan sehingga guru-guru bisa saling membantu satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian ini diberikan saran kepada pihak-pihak yang terkait. Pertama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Kementerian Agama Kantor Kota Malang agar dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan masukan untuk menyempurnakan kebijakan pengembangan guru Sekolah Dasar melalui pelaksanaan supervisi kolegial; kedua, Kepala SDN Percobaan 1, MIN Malang 2 dan MI Islamiyah di Kota Malang dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai alternatif pelaksanaan supervisi di sekolah, sebagai bahan masukan untuk menyempurnakan ragam model pelaksanaan supervisi kolegial, mengoptimalkan keterlibatan guru dan meningkatkan peran kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi kolegial di sekolah; ketiga, guru dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai balikan pengembangan kompetensi secara rinci sehingga bisa dijadikan bahan penyempurnaan supervisi untuk pengembangan diri selanjutnya; dan keempat, peneliti lain dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai landasan penelitian lanjutan yang masih bisa dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda.

Korelasi antara suseptibilitas magnetik dengan unsur logam berat pada sekuensi tanah di Pujon, Malang / Dian Farida Rosanti

 

Kata Kunci: Suseptibilitas magnetik, unsur logam berat, korelasi Suseptibilitas magnetik tanah berhubungan erat dengan keberadaan mineral magnetik. Mineral magnetik dalam tanah terbentuk dari dua sumber, yaitu mineral yang hadir secara alami dan mineral yang berasal dari proses anthropogenic (industri). Penelitian ini menggunakan sampel dua kolom dari profil sekuensi tanah di Pujon,Malang, yang diuji dengan suseptibilitas magnetik dan alat X-Ray Flourscene (XRF). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi data dan kecocokan pola serta bentuk grafik antara suseptibilitas magnetik dengan unsur logam berat sebagai indikator pembawa mineral magnetiknya. Rentang nilai suseptibilitas magnetik pada penelitian ini adalah sebesar 695,90 x 10-8 m3/kg – 2432,30 x 10-8 m3/kg. Sementara itu logam berat yang terdeteksi dari XRF didominasi logam besi (Fe) dengan persentase rata-rata sebesar 40,9%. Logam berat lainnya seperti Mn, Fe, Cu, Zn, dan Pb juga terukur dengan persentase rata-rata kurang dari 10%. Korelasi matematis suseptibilitas magnetik antara sampel dalam kedua kolom pada pemberian frekuensi tinggi yaitu sebesar 0,7. Koefisien korelasi terbesar dari suseptibilitas magnetik dan persentase logam berat ditunjukkan dari nilai yang kecil hingga negatif. Hal ini berarti sebagian besar mineral magnetik dibawa oleh alam, daripada anthropogenic.

Peningkatan pembelajaran gerak dasar melempar dan menangkap menggunakan metode bermain pada siswa kelas 3 Bagian C (tunagrahita) Sekolah Dasar Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional Lawang / Mohammad Zainuri

 

Kata kunci: Peningkatan, Pembelajaran, Gerak Dasar Melempar dan Menangkap, Metode Bermain, Tunagrahita Praktek pembelajaran Penjasorkes di SDLB Pembina Tingkat Nasional Lawang masih belum maksimal Hal ini bisa dilihat dari hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa pembelajaran gerak melempar dan menangkap siswa kelas III bagian C (tunagrahita) ternyata kesalahan yang banyak muncul adalah sikap kaki, sikap tangan dan proses pembelajaran yang membosankan. Jumlah siswa kelas III Bagian C adalah 6 siswa, dari hasil observasi yang telah diperoleh 6 siswa mengalami kesulitan antara lain siswa kurang menguasai teknik melempar dan menangkap dengan benar, siswa mudah merasa bosan dengan pembelajaran Penjasorkes, siswa cenderung seenaknya sendiri dan siswa lebih senang dengan kegitan bermain. Oleh karena itu perlu adanya penyampaian materi dengan metode baru yaitu dengan metode bermain yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Penjasorkes. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pembelajaran gerak dasar melempar dan menangkap menggunakan metode bermain pada 6 siswa kelas III Bagian C (Tunagrahita) Sekolah Dasar Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus di mana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah 6 siswa kelas III Bagian C (Tunagrahita). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan keterampilan siswa dari pertemuan ke pertemuan. Pada siklus I ternyata semua siswa sudah memenuhi standar ketuntasan minimal yaitu di atas 76. Dari hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan terhadap penguasaan materi. Meskipun pada siklus I semua siswa sudah memenuhi standar ketuntasan minimal namun siklus II tetap dilakukan sebagai pemantapan materi gerak dasar melempar dan menangkap. Selain hal tersebut diperoleh hasil persentase keberhasilan sebagai berikut: aspek psikomotor 47,91%, aspek afektif 27,67%, aspek kognitif 17,50% dan apabila dijumlah hasil keberhasilan siswa mencapai 93,08%. Peneliti menyarankan bagi guru bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan dan model pembelajaran gerak dasar melempar dan menangkap yang sudah diperbaiki, bagi siswa digunakan sebagai pedoman belajar, bagi sekolah digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran Penjasorkes dan bagi peneliti dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian yang berkaitan dengan materi pada skripsi ini.

Pengembangan senam aerobik dengan kombinasi tarian cha-cha menggunakan media audio visual di Sanggar Senam GOR (SSG) Lumajang / Anggun Kartika Sari

 

Kata kunci: pengembangan, senam aerobik, tarian cha-cha, media audio visual, Sanggar Senam Gor Lumajang Senam aerobik merupakan salah satu cabang olahraga yang menyenangkan karena gerakannya dipadukan dengan musik. Peminat dari senam aerobik adalah kebanyakan dari kaum wanita karena ingin memiliki tubuh yang kencang dan indah. Senam aerobik yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu sangat monoton dan membuat bosan, selain itu ibu-ibu sering merasa sulit mengingat dengan gerakan yang telah diajarkan oleh instruktur jika akan melakukan sendiri di rumah . Untuk itu perlu variasi gerakan yang menarik untuk dikombinasikan dengan senam aerobik dalam bentuk VCD sebagai media panduan belajar.Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat produk VCD yang berisi pengembangan rangkaian senam aerobik yang dikombinasikan dengan tarian cha-cha. Pengembangan senam aerobik ini merupakan kombinasi dari teknik dasar senam aerobik dan teknik dasar tari cha-cha yang disusun menjadi satu rangkaian gerakan, yang terdiri dari: (1) pemanasan, (2) inti yang terdiri dari 3 rangkaian dan setiap jeda gerakan inti ada gerakan peralihan, (3) pendinginan yang ditampilkan dalam bentuk media audio-visual yaitu VCD. Senam aerobik ini diberi nama Senam Aerobik Kombinasi Tarian Cha-Cha. Pengembangan senam aerobik ini menggunakan model pengembangan instruksional yang lebih spesifik untuk VCD dari Sadiman (2003:38) yang dimodifikasi dengan prosedur pengembangan oleh peneliti sebagai berikut: (1) ide, (2) analisis kebutuhan (3) penulisan naskah, evaluasi dan revisi, (4) produk prototipe, pengambilan gambar, (5) evalusi 3 ahli, (6) revisi produk awal, (7) uji kelompok kecil dengan menggunakan 5 subyek, (8) revisi produk utama, (9) uji lapangan dengan menggunakan 25 subyek, (10) revisi produk akhir, (11) hasil akhir. Subyek uji coba dalam pengembanagn senam aerobik ini terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 1 ahli senam aerobik, 1 ahli ahli tari, 1 ahli media, (2) member senam aerobik sebagai kelompok uji coba dengan jumlah 5 orang untuk uji coba kelompok kecil dan 25 orang untuk uji coba kelompok besar. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket dan analisis yang digunakan adalah persentase. Hasil pengembangan Senam Aerobik Kombinasi Tarian Cha-Cha memenuhi kriteria cukup valid untuk ahli senam aerobik memperoleh 75,00%, memenuhi kriteria valid untuk ahli tari memperoleh 81,67%, memenuhi kriteria valid untuk ahli media memperoleh 91,67%, memenuhi kriteria valid untuk uji coba kelompok kecil 85,33%, dan memenuhi kriteria valid untuk uji coba kelompok besar memperoleh 81,33%. Ini berarti pengembangan senam ini bisa diterapkan di sanggar dan menjadi senam model baru yang menarik. Untuk perbaikan pengembangan Senam Aerobik Kombinasi Tarian Cha-Cha diharapkan ada peneliti lain yang menindak lanjuti tentang kefektifannya agar dapat lebih bermanfaat dan diharapkan dapat disosialisasikan di sanggar-sanggar kebugaran.

Efektivitas pengelolaan kawasan pariwisata Sumber Ubalan di Kabupaten Kediri / Endah Yuliana

 

ABSTRAK Yuliana, Endah. Efektivitas Pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan Berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H., M.Si. (2) Dr. Sutoyo, S.H., M.Hum. Kata Kunci : Efektivitas, Pengelolaan, Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan, Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentnag Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga Perkembangan pariwisata di Indonesia akhir-akhir ini berkembang pesat. Hal ini sejalan dengan usaha pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pariwisata di Indonesia dengan berusaha menarik minat wisatawan sebanyak mungkin, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Berbagai wisata telah dikembangkan dengan cara membenahi obyek-obyek wisata dan sarana yang diperlukan. Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan merupakan salah satu wisata yang berlokasi di Dusun Kalasan Desa Jarak Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri yang sangat menarik dikunjungi, dimana pelaksanaan pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan pada Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Wisata dan Olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)Program pengelolaan KawasanPariwisata Sumber Ubalan; (2)Pelaksanaan pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga; (3)Hambatan pelaksanaan pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga; (4)Efektivitas pelaksanaan pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Koordinator Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan, pengunjung, pedagang, serta masyarakat sekitar Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan. Kegiatan analisis data dengan menggunakan model analisis interaktif dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, pemeriksaan kesimpulan atau verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitiant tersebut, diperoleh empat kesimpulan penelitian sebagai berikut : (1)Program pengelolaan KawasanPariwisata Sumber Ubalan, tersapat empat program yaitu: (a)Perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana; (b)Penyelenggaraan acara pada hari tertentu; (c)Peningkatan kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitar; (d)Promosi pariwisata melalui website,baliho, dan brosur; (2)Pelaksanaan program pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, perbaikan sarana dan prasarana yaitu kandang satwa dan jalan di arean Sumber Ubalan, mengadakan acara kesenian jaranan pada Hari Raya Idhul Fitri dan Electone badut pada Tahun Baru Masehi; (3)Hambatan pelaksanaan pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, hambatan dibagi dua yaitu hambatan dari lingkungan dan kurangnya jumlah tenaga kerja; (4)Efektivitas pelaksanaan pengelolaan Kawasan Pariwisata Sumber Ubalan berdasarkan Perda Kabupaten Kediri No.16 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga.

Pembuatan yoghurt dengan penambahan buah alpukat / Raslianti Ikhlasiah HS.

 

Kata Kunci: yoghurt, buah alpukat, uji kesukaan Yoghurt adalah produk yang diperoleh dari susu yang telah dipasteurisasi, kemudian difermentasikan dengan bakteri tertentu sampai diperoleh keasaman, bau, dan rasa yang khas dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diizinkan. Minuman ini memiliki bentuk yang mirip ice cream atau bubur halus yang sangat digemari banyak orang karena rasa, aroma, dan teksturnya yang khas, menyegarkan dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Buah alpukat merupakan buah yang memiliki nilai nutrisi, kandungan lemak dan nilai energi buah yang tinggi. Kandungan lemak yang terdapat dalam buah alpukat sebagian besar 63% merupakan asam lemak tak jenuh tunggal yang lebih dibutuhkan oleh tubuh manusia. Lemak pada alpukat bersifat antioksidan yang sangat berguna untuk mencegah kerusakan arteri akibat keganasan kolestrol LDL (Low Density Lopoprotein). Kandungan serat dan glutationnya membantu sistem pencernaan dan membuang sisa pencernaan yang beracun. Daging buah alpukat kaya akan zat besi, vitamin A, vitamin B serta Energi dalam 100 gr daging alpukat juga banyak sekitar 600-800 kj/100 gr. Uji coba diawali dengan penimbangan bahan, penghalusan alpukat, pasteurisasi, penambahan alpukat, kulturisasi (penambahan bakteri), inkubasi 7 jam. Proses selanjutnya adalah dengan uji coba formulasi resep yang dilakukan sebanyak 3 kali hingga didapatkan hasil formulasi resep yang tepat. Formulasi ke 3 dengan penanganan buah alpukat yang tepat dan proses fermentasi yang tepat hasil yang diperoleh yaitu rasa asam/khas, aroma normal/khas dan warna hijau muda. Tugas akhir ini membahas tentang uji kesukaan terhadap yoghurt alpukat. Adapun kriteria yang diuji dari segi rasa, aroma, dan warna. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa sebagian kecil 11 responden (12.3%) menyukai rasa asam yoghurt alpukat, Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa kurang dari setengah 23 responden (25,6%) menyukai aroma normal/khas yoghurt alpukat, dan Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa lebih dari setengah 63 responden (70%) menyukai warna hijau muda yoghurt alpukat.

Persepsi stakeholder pendidikan terhadap kebijakan penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 5 Malang / Retno Palupi

 

Palupi, Retno. 2013. Persepsi Stakeholder Pendidikan Terhadap Kebijakan Penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional Di Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Pekantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra.Wasiti, S.Sos, M.Si. (2) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd, M.M. Kata Kunci : RSBI, perubahan, dampak, persepsi stakeholder pendidikan, kendala. Latar belakang penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 20 Pasal 50 ayat 3 tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat membuat Rintisan Sekolah Bertaraf Internsional dihapuskan dan sekolah menjalankan perubahan sesuai dengan kebijakan Mahkamah Konstitusi pada surat edaran nomor : 017/MPK/SE/2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan, dampak, persepsi dan kendala yang dihadapi stakeholder pendidikan setelah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik kualitatif dan data diperoleh melalui wawancara kepada stakeholder pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua siswa SMA Negeri 5 Malang yang merasakan penerapan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Berdasarkan hasil penelitian, kebijakan penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional membawa perubahan terhadap indikator penilaian kinerja seperti indikator kurikulum, indikator proses pembelajaran, indikator proses penilaian pembelajaran yang kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan peran Dinas Pendidikan dalam masalah pembiayaan. Semua itu membawa dampak pelaksanaan pembelajaran lebih baik karena tidak ada beban bahasa, beban biaya, beban waktu yang menjadi keluhan selama ini serta guru dan siswa lebih paham dalam memahami materi. Penelitian ini juga membuktikan persepsi stakeholder pendidikan yang setuju dengan kebijakan penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dengan alasan pelaksanaan kebijakan nasional yang sudah ditetapkan, adanya beban jam mengajar, beban bahasa, beban biaya yang menimbulkan adanya keluhan. Kendala yang dihadapi SMA Negeri 5 Malang saat berstatus RSBI adalah beban biaya yang mahal menjadi keluhan orangtua, beban bahasa bilingual membuat guru terbebani dan siswa tidak maksimal memahami materi, dan pemenuhan sarana-prasarana bertaraf internasional yang harganya cukup mahal. Sedangkan kendala pada saat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan adalah peran Dinas Pendidikan yang tidak lagi memberikan bantuan biaya. Saran untuk menghadapi perubahan,dampak, dan kendala, sekolah harus memiliki suatu pelaksanaan pengajaran yang tepat di sekolah yang bertujuan meningkatkan kualitas menuju Go Internasional meskipun tanpa menggunakan status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dengan cara mempertimbangkan dari segala segi.

Kedudukan parfa pihak dalam perjanjian kemitraan beternak ayam potong (broilers) di Desa Semen, Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Diptania Lely Purwaningrum

 

ABSTRAK Purwaningrum, Diptania Lely. 2016. Kedudukan Para Pihak Dalam Perjanjian Kemitraan Beternak Ayam Potong (broilers) di Desa Semen Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Skripsi. Prodi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutoyo, SH, M.Hum (II) Rusdianto Umar Kata Kunci: parapihak, perjanjian, kemitraan Perjanjian merupakan kesepakatan yang dibuat oleh dua orang atau lebih dilakukan dalam suatu waktu tertentu dan dengan tujuan tertentu. Pada hakikatnya perjanjian dibuat untuk melindungi hak-hak dari pihak yang membuat perjanjian. Kemitraan merupakan kerja sama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan (sumardjo, dkk, 2004:2). Kerjasama kemitraan dalam beternak ayam potong merupakan kerjasama yang melibatkan dua pihak yaitu pihak inti dan pihak plasma. Dalam kemitraan beternak ayam potong dikenal dua sistem yang popular yaitu sistem kontrak dimana pihak inti dan plasma membentuk kesepakatan kerjasama berdasarkan perjanjian tertulis, dan sistem maklon, dalam kerjasama ini tidak ada perjanjian tertulis dan keuntungan bagi pihak plasma di hitung berdasarkan indeks prestasi yaitu jumlah ayam hidup yang berhasil terpanen. Penelitian inimenggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui dokumentasi, wawancara, observasi. Kerjasama kemitraaan beternak ayam potong (broilers) di Desa Semen ada dua yaitu dengan Sistem kontrak dan dengan sistem makloon. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam kerjasama kemitraanyang dilakukan dengan sistem kontrak menggunakan perjanjian tertulis dan sistem makloon disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada. Masing-masing sistem kerjasama telah adil dan menguntungkan masing-masing pihak. Perjanjian kemitraan dengan sistem makloon ataupun sistem kontrak dapat berjalan sesuai dengan harapan karena masing-masing pihak yang terlibat mampu melaksanakan kewajiban dan menuntut hak yang seimbang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti memberi beberapa saran sebagai berikut: (a) Perusahaan inti dan pihak plasma yang akan melaksanakan kemitraan pola inti-plasma dengan sistem makloon hendaknya melakukan kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian tertulis bermaterai. Surat perjanjian harus memuat kewajiban dan hak bagi masing-masing pihak dilengkapi dengan sanksi apabila terjadi pengingkaran terhadap perjanjian. Hal ini bertujuan untuk menjamin kedudukan masing-masing pihak secara hukum. Sehingga apabila terjadi permasalahan dikemudian hari pihak yang berselisih memiliki bukti perjanjian yang dapat dibuktikan secara jelas (b) Di dalam kerjasama kemitraan denan sistem kontrak, perjanjian kerjasama hendaknya dilakukan bersama-sama sehingga plasma memiliki andil dalam menentukan isi perjanjian sebagai upaya mengurangi dominasi inti.  

Studi tentang kualitas genteng keramik bentuk rata model Karangpilang yang siap dipasarkan hasil industri rakyat di Wilayah Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek
oleh Much. Rojikin

 

Studi tentang pemanfaatan internet dalam pembelajaran pada Jurusan Teknik Informatika (TI) di SMK se-kota Probolinggo / Berdina Amelia Wandansari

 

ABSTRAK Amelia, Berdina. 2015. Studi Tentang Pemanfaatan Internet Dalam Pembelajaran pada Jurusan Teknik Informatika di SMK Se-Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Pendidikan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd. (II) Dyah Lestari, S.T., M.Eng. Kata Kunci: pemanfaatan internet, pembelajaran Internet pada umumnya akan sangat membantu dalam melakukan hal apapun, salah satunya adalah memudahkan seorang pendidik dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas maupun diluar kelas. Walaupun untuk saat ini di Indonesia masih ada beberapa tempat yang masih belum bisa dicapai jaringan internet. Hampir di semua tempat pendidikan di Indonesia sudah ada jaringan internetnya meskipun berada pada tempat yang cukup terpencil, tetapi tidak bisa memasang jaringan internet di seluruh lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mendeskripsikan tingkat pemanfaatan internet untuk pembelajaran pada Jurusan TI di SMK Se-Kota Probolinggo; (2) untuk mendeskripsikan efektifitas pemanfaatan internet untuk pembelajaran pada Jurusan TI di SMK Se-Kota Probolinggo; (3) untuk mendeskripsikan frekuensi pemanfaatan internet untuk pembelajaran sebagai sumber dan media belajar pada Jurusan TI di SMK Se-Kota Probolinggo; (4) untuk mendeskripsikan tingkat kepuasan peserta didik terhadap pemanfaatan internet untuk pembelajaran pada Jurusan TI di SMK Se-Kota Probolinggo; dan (5) untuk mendeskripsikan sikap peserta didik terhadap pemanfaatan internet pada Jurusan TI di SMK Se-Kota Probolinggo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan angket menggunakan proportional random sampling, data dari angket akan di analisis deskriptif. Data akan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X pada SMK Se-Kota Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat pemanfaatan internet memiliki 63,23 persen (kategori sangat tinggi); (2) efektivitas pemanfaatan internet memiliki 58,82 persen (kategori sangat tinggi); (3) frekuensi penggunaan internet memiliki 41,17 persen (kategori tinggi); (4) tingkat kepuasan penggunaan internet memiliki 54,41 persen (kategori tinggi); dan (5) sikap peserta didik dalam menggunakan internet 44,11 persen (kategori sangat tinggi). Kesimpulan dari pemanfaatan internet dalam pembelajaran pada Jurusan Teknik Informatika di SMK Se-Kota Probolinggo adalah pada rentangan kategori tinggi sampai sangat tinggi.

Tindak tutur direktif dalam wacana kelas (kajian mikroetnografi terhadap bahasa guru) / Dian Etikasari

 

Kata Kunci: tindak tutur direktif, wacana kelas, bahasa guru Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia dalam kehidupannya. Keberadaan bahasa diharapkan dapat membantu manusia untuk memperlancar segala jenis kegiatannya. Semua profesi dan aktivitas dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari penggunaan bahasa. Salah satunya adalah guru yang menggunakan bahasa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, penggunaan bahasa merupakan realitas interaksi komunikasi yang berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar. Guru dalam kegiatan berkomunikasi tersebut harus mampu berkomunikasi dengan baik untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa sehingga menjadi siswa yang aktif. Dalam mewujudkan keaktifan siswa dalam pembelajaran guru harus mampu mengelola kelas dengan baik disertai dengan tindak berbahasa yang mampu menumbuhkan keterampilan dan semangat siswa dalam pembelajaran. Satu diantara wujud tindak bahasa yang tidak kalah penting adalah tindak tutur direktif . Tindak tutur direktif merupakan salah satu usaha untuk memancing respon siswa agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran di kelas yang nantinya akan bermanfaat bagi siswa. Dalam penelitian ini terkait dengan tindak tutur direktif dalam wacana kelas permasalah yang dibahas dalam penelitian ini meliputi tiga hal, yaitu (1) bagaimana bentuk tindak tutur direktif guru dalam wacana kelas, (2) bagaimana fungsi tindak tutur direktif dalam wacana kelas terkait proses pembelajaran, dan (3) bagaimana konteks tindak tutur direktif dalam wacana kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian mikroetnografi yang berorentasi pada teori pragmatik. Penelitian ini digunakan untuk memotret penggunaan bahasa guru dalam wacana kelas selama proses pembelajaran. Data penelitian ini berupa tuturan guru yang diindikasikan sebagai tindak tutur direktif dalam wacana kelas. Data tersebut diperoleh dari tuturan guru kelas II SDN Sumbersari 3 Malang. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu, kehadiran peneliti wajid ada selama proses penelitian (pengumpulan data). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan camera digital untuk merekam tuturan guru dan alat tulis untuk mencatat konteks peristiwa tutur. Pada pengumpulan dat, peneliti menggunakan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, yaitu peneliti tidak terlibat dalam interakasi komunikasi antara guru dan siswa, peneliti hanya menjadi pengamat penuh dalam penggunaan bahasa guru dalam pembelajaran di kelas. Dari hasil penelitian tindak tutur direktif guru dalam wacana kelas dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, bentuk tindak tutur direktif dalam wacana kelas meliputi (1) bentuk tindak tutur direktif suruhan, (2) bentuk tindak tutur direktif memerintah, (3) bentuk tindak tutur direktif meminta, (4) bentuk tindak tutur direktif ajakan, (5) bentuk tindak tutur direktif desakan, (6) tindak tutur direktif larangan, (7) bentuk tindak tutur direktif menyarankan, dan (8) bentuk tindak tutur direktif bujukan. Kedua, penggunaan fungsi tindak tutur direktif dalam wacana kelas, meliputi (1) fungsi tindak tutur direktif suruhan dalam proses pembelajaran, (2) fungsi tindak tutur direktif memerintah dalam proses pembelajaran, (3) fungsi tindak tutur direktif meminta dalam proses pembelajaran, (4) fungsi tindak tutur direktif ajakan dalam proses pembelajaran, (5) fungsi tindak tutur direktif desakan dalam proses pembelajaran, (6) fungsi tindak tutur direktif larangan dalam proses pembelajaran, (7) fungsi tindak tutur direktif menyarankan dalam proses pembelajaran, dan (8) fungsi tindak tutur direktif bujukan dalam proses pembelajaran. Ketiga, Konteks tindak tutur direktif dalam wacana kelas ditemukan pada kegiatan pendahuluan, inti, dan akhir pada pembelajaran meliputi (1) kegiatan pendahaluan terdiri dari (a) tindak tutur direktif dalam wacana kelas pada konteks menyiapkan kondisi kelas, (b) tindak tutur direktif ajakan dalam wacana kelas pada konteks apersepsi, (c) tindak tutur direkti bujukan dalam wacana kelas pada konteks menyampaikan salam dan memberikan perhatian; (2) pada konteks kegiatan inti terdiri dari (a) tindak tutur direktif suruhan dalam wacana kelas pada konteks mengevaluasi hasil tugas, (b) tindak tutur direktif suruhan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan konsep materi, (c) tindak tutur direktif memerintah dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan contoh, (d) tindak tutur direktif meminta dalam wacana kelas pada konteks memberikan perhatian dan motivasi, (e) tindak tutur direktif ajakan dalam wacana kelas pada konteks mengevaluasi hasil latihan, (f) tindak tutur direktif desakan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan contoh, (g) tindak tutur direktif desakan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan konsep materi, (h) tindak tutur direktif larangan dalam wacana kelas pada konteks kedisiplinan, (i) tindak tutur direktif bujukan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan contoh, selanjutnya (3) pada kegiatan akhir ditemukan tuturan direktif, yaitu tindak tutur direktif desakan dalam wacana kelas pada konteks mengevaluasi tugas siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru SD dalam memilih dan menggunakan tindak tutur direktif dalam bentuk, fungsi, dan konteks dalam pembelajaran serta guru membiasakan menggunakan bahasa yang baku dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, komunikasi antara guru dan siswa sebagai salah satu bentuk membangun komunikasi yang sehat sehingga siswa memeroleh pembelajaran yang bermakna. Selain itu, kepala sekolah dan guru mampu bekerja sama untuk merencanakan pembelajaran yang lebih baik disertai dengan kemampuan berbahasa yang baik sehingga mampu memotivisi siswa dalam pembelajarannya.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis learning cycle 5E pada materi kromatografi lapis tipis untuk kelas X Program Keahlian Teknik Kimia di SMK Negeri 7 Malang / Erviyana Rahmawati

 

Kata kunci: bahan ajar, kromatografi lapis tipis, model Learning Cycle 5E. Program Keahlian Teknik Kimia merupakan salah satu program keahlian/kejuruan yang ada di SMK Negeri 7 Malang. Dari hasil observasi di SMK Negeri 7 Malang Program Keahlian Teknik Kimia, diketahui bahwa terdapat permasalahan berupa rendahnya pemahaman siswa pada materi kromatografi lapis tipis. Hal tersebut didukung dengan data hasil belajar siswa kelas X yaitu 61,11% siswa nilainya berada di bawah standar ketuntasan minimal (SKM). Hasil wawancara dengan guru kimia menyatakan bahwa perlu adanya pengembangan bahan ajar dan alternatif model pembelajaran. Salah satu alternatifnya adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E. Tujuan penelitian adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan bahan ajar kimia berbasis Learning Cycle 5E pada materi kromatografi lapis tipis untuk kelas X Program Keahlian Teknik Kimia di SMK Negeri 7 Malang. Pada penelitian ini, model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan yaitu 4-D. Model pengembangan 4-D terdiri dari empat tahapan yaitu define (perencanaan), design (rancangan), develop (pengembangan), disseminate (penyebarluasan). Namun peneliti hanya melakukan sampai tahap ketiga. Produk yang dikembangkan oleh peneliti berupa bahan ajar cetak yaitu buku ajar kromatografi lapis tipis dan RPP. Produk hasil pengembangan diuji coba untuk mengetahui kelayakannya, melalui validasi isi produk (buku ajar dan RPP) dan uji coba soal. Produk yang telah divalidasi kemudian direvisi. Produk yang telah direvisi kemudian di crosscheck kepada guru kimia SMK Negeri 7 Malang untuk mengetahui kesesuaian produk yang telah dikembangkan. Hasil validasi buku ajar oleh satu dosen kimia menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,46 yang berarti sangat valid sedangkan dari dua guru kimia menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,10 yang berarti valid, dan hasil uji terbatas menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,53 yang berarti sangat valid. Hasil validasi RPP menunjukkan nilai rata-rata 3,13 yang berarti valid. Berdasarkan hasil analisis data dan hasil crosscheck oleh guru kimia, dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan layak untuk digunakan.

Kajian implementasi model pembelajaran generatif dengan tugas ope ended dan close ended terhadap prestasi, keterampilan proses dan sikap belajar mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang / Zuffa Anisa

 

Kata Kunci: Pembelajaran Generatif, Tugas Open Ended, Tugas Close Ended, Keterampilan Proses, Sikap Belajar Fisika Dasar merupakan matakuliah yang menjadi dasar untuk melanjutkan mata kuliah-mata kuliah lain, namun kemampuan awal Fisika mahasiswa Fisika Dasar rendah. Hal ini terlihat dari hasil pre-test yang rendah Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan, mahasiswa merasa bahwa fisika itu sulit karena terlalu banyak rumus. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan konsep fisika masih rendah. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa sikap dan keterampilan proses mahasiswa rendah. Saat pembelajaran berlangsung mahasiswa hanya diam bahkan terlihat tidak tertarik saat mengikuti perkuliahan. Bahkan ketika dosen berupaya untuk berinteraksi, mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa, mahasiswa tidak kunjung menjawab secara aktif. Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar, keterampilan proses, dan sikap mahasiswa perlu dilakukan. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran tepat yang dapat meningkatkan keterampilan proses dan sikap belajar sehingga menyebabkan prestasi belajar meningkat. Dalam penelitian ini peneliti mencoba membandingkan model pembelajaran dengan pemberian tugas open ended dan close ended. Pembelajaran generatif dengan tugas close ended masih tetap diberikan karena melihat kemampuan awal dan penguasaan konsep yang masih rendah. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan open ended dapat meningkatkan pemahaman, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar. Oleh karena itu peneliti mencoba membandingkan 2 model pembelajaran tersebut dan menerapkan kepada mahasiswa Fisika Dasar untuk meningkatkan prestasi, keterampilan proses, serta sikap belajar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian semu (quasi experiment design). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fisika angkatan 2010 tahun ajaran 2011/2012 Universitas Negeri Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas C dan M. Kelas C terdiri dari 34 mahasiswa sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas M terdiri dari 37 mahasiswa sebagai kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa terdapat perbedaan prestasi, keterampilan proses dan sikap belajar yang signifikan antara mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran generatif dengan tugas open ended dan close ended. Prestasi, keterampilan proses, dan sikap belajar mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran generatif dengan tugas open ended lebih baik dari pada mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran close ended.

The use of games in teaching english at SMAN 2 Pare / Lusi Dyah Ayu M.P.W.

 

Keywords: Games, Teaching of English. English has been the most spoken language in the world and been used for global communication. The teaching of English in Indonesia has been advocated to foster students’ ability in mastering the four skills; they are listening, speaking, reading, and writing. Teaching English as a foreign language is a hard task since students practically do not use it every day. Therefore it is clear that a constant effort is required. Teachers need to take up the challenges by having permanent recourse to enhance students’ desire in learning the language for example by using games as an effective way. Therefore the study on the use of games in teaching English is worth conducting. This study is undertaken to describe the use of games in teaching at SMAN 2 Pare. It deals with three aspects. They are (1) kinds of games used and the implementation (2) the problems faced in using games in teaching English including the four skills which are listening, speaking, reading, and writing (3) and the students’ opinions toward the use of games in teaching the four skills in English. This study employed a descriptive-qualitative design specifically case study. The data were obtained through some instruments, namely interview guide, observations, and questionnaire. In analyzing the data the researcher used three processes namely data reduction, data display, and data interpretation. The setting of the study was at SMAN 2 Pare and the subjects of this study were three English teachers, four classes of students of grade X and XI of SMAN 2 Pare. The findings showed that (1) there were several games used by the teacher (There were five games which were observed, they were “Jeopardy”, “Spell Your Word”, “Guess the Word”, “Chain Writing”, and “Rolling Box”) which intended to deliver the material, to give assessment, and to revise the material that had been taught, (2) there were several problems faced by the teacher while conducting the games in teaching and learning process included time management, place, lacked motivated students, finding of suited material, and assessment (3) the result of questionnaire given almost all of the students gave positive responses toward the use of games in teaching English since it provided the students opportunity to improve their abilities. There were some suggestions given by the researcher and they were intended to the English teachers and to the other researchers in the last chapter of the thesis. For the English teachers the suggestions are: (1) giving more attention toward the students while conducting the games, (2) managing the time better by coming on time and making better preparation, (3) giving clear instruction to the students by writing it on a piece of paper about the rules of games and how the teacher assess them, (4) making a good lesson plan so that the teaching and learning process can be done in order. The suggestions for other researchers are: (1) conducting a study which focuses on the improvement of English teacher’s personality, (2) focusing the study on making a good lesson plan for English.

Alasan pemilihan program keahlian dan orientasi setelah lulus bidang keahlian bangunan SMKN Winongan Kabupaten Pasuruan / Muhammad Kholili

 

Kata kunci :Alasan, Orientasi BerawaldaribanyaknyaLapangankerja di kabupatenpasuruan di bidangbangunan, namunKabupatenPasuruanhanyamemilikisatu SMKN yang membukabidangkeahlianbangunan. Berdasarkanlatarbelakang, makatujuanpenelitianiniadalahuntukmengetahuialasansiswamemilihbidangkeahlianbangunandanOrientasisiswasetelah lulus di SekolahMenengahKejuruanNegeriWinonganKabupatenPasuruan. Banyakalasansiswamemilihbidangkeahlianbangunanbeberapa di antaranyaadalahminatdanbakat, danorientasisiswasetelahlulusnantisangatperludiketahuisebagaibahanpertimbanganpengembangankurikulumdanpembelajaran. PenelitiandalamskripsiinimenggunakanmetodepenelitianDeskriptif.Sedangteknikpengambilan data menggunakanteknikangket.Lokasipengambilan data inidilakukan di SMKN WinonganKabupatenPasuruan.PopulasipenelitianiniadalahSiswakelas10 sampel yang di ambil39siswadarikelas 10 Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa42,56%% darisiswamemilikibakat yang sesuaidengan program keahlian yang dipilihnya.50,00%darisiswamemilikiminat yang rendahterhadapbidangkahlian yang dipilihnya. Lebihbanyaksiswa yang memilihkuliahdaripadabekerjadenganperincian64,96% siswa yang memilihkuliahdan33,75% siswamemilihbekerjasetelah lulus nanti

Perancangan buku pengetahuan mengenai pelestarian hutan berbentuk pop-up / Tulus Nur Yuliarini Rahayu

 

Kata Kunci: Buku Pop-Up, Pelestarian Hutan, Anak Tingkat kesadaran manusia dalam melestarikan hutan belum sepenuhnya tertanam pada diri manusia sebagai makhluk Tuhan. Terbukti dari sikap manusia yang mengabaikan pentingnya hutan. Maka perlu dilakukan langkah-langkah positif yaitu menanamkan budaya melestarikan hutan sejak dini. Pembentukan kesadaran sejak dini kepada anak-anak, dilakukan karena serapan informasi kedalam otak anak akan lebih tertanam sehingga lebih mudah untuk membangun antusias dan kepedulian untuk melakukan hal-hal positif. Solusi dari permasalahan di atas, penulis merancang buku pop-up mengenai pelestarian hutan sebagai media pengetahuan yang dikemas dengan cerita yang sesuai dengan karakteristik anak-anak. Media ini dapat digunakan anak-anak untuk belajar mandiri mengenai lingkungan hidupnya dan bersikap baik terhadap sesama. Metode perancangan yang digunakan dalam pembuatan buku pop-up ini adalah model prosedural yang diawali dengan penjabaran latar belakang, perumusan masalah dan tujuan perancangan, menentukan metode perancangan, mengidentifikasi dan analisis data, menentukan konsep perancangan dan visualisasi desain yang terdiri dari rought layout; comprehensive layout; hingga final product. Dalam membantu kegiatan promosi dan proses belajar anak, maka juga dirancang media pendukung seperti pembatas buku, tas, kalender unik, stiker, poster, x-banner, dan leaflet yang semuanya memuat pesan-pesan untuk melestarikan hutan dan melakukan hal yang positif kepada sesama makhluk Tuhan. Pada perancangan ini dapat disimpulkan bahwa buku pop-up Petualangan Kaka dan Kiki Menjelajahi Hutan ini merupakan media yang memberikan informasi mengenai cara-cara untuk melestarikan hutan pada masyarakat baik anak-anak maupun orang dewasa. Buku ini dapat juga digunakan sebagai media pendidikan anak untuk melestarikan hutan.

Profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan fisika dasar di Universitas Negeri Malang / Zulaikah

 

Kata kunci: Fisika Dasar, Prestasi Belajar, Sikap Ilmiah. Fisika Dasar merupakan mata kuliah wajib yang merupakan landasan untuk mempelajari fisika selanjutnya, namun hasil studi pendahuluan penelitian Saul et.al sebelumnya menunjukkan bahwa berdasarkan laporan dosen-dosen fisika banyak mahasiswa yang menempuh matakuliah Fisika Dasar yang diselenggarakan melalui ceramah dan kegiatan laboratorium tradisional mengalami berbagai kesulitan. Komponen penting dalam perkuliahan Fisika Dasar tidak hanya prestasi belajar, tetapi juga sikap ilmiah mahasiswa dalam menempuh mata kuliah tersebut, karena dengan sikap ilmiah yang positif, mahasiswa akan cenderung untuk belajar lebih baik. Selain itu, hal-hal penting dalam perkuliahan adalah kegiatan perkuliahan dan fasilitas akademis yang diberikan dosen. Oleh karena itu diperlukan adanya penelitian terhadap karakteristik kegiatan perkuliahan, fasilitas akademis yang diberikan pada mahasiswa, profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang dalam perkuliahan Fisika Dasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode tes prestasi belajar, pengisian skala sikap ilmiah, wawancara dosen dan mahasiswa, dan observasi kegiatan perkuliahan Fisika Dasar. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan perkuliahan Fisika Dasar di UM dilaksanakan dengan tepat, bantuan-bantuan yang diberikan dosen meliputi bimbingan diluar perkuliahan oleh dosen sendiri dan kegiatan tutorial oleh asisten dosen. Profil sikap ilmiah mahasiswa UM dalam perkuliahan Fisika Dasar sudah tinggi, yaitu dengan skor rata-rata 61,6 atau 77,0%. Prestasi belajar Fisika Dasar mahasiswa masih rendah, skor rata-rata 9,4 atau dengan persentase sebesar 55,2%. Pencapaian skor prestasi belajar topik listrik statis (48,1%), topik listrik dinamis (70,9%), topik medan magnet (78,5%), topik induksi elektomagnetik (55,4%), topik persamaan gelombang (46,2%), topik optik fisis (48,1,0%), dan topik optik geometri (47,7%). Skor prestasi yang rendah menunjukkan bahwa mahasiswa masih mengalami kesulitan belajar dan didukung dari hasil wawancara terhadap dosen dan mahasiswa. Semua mahasiswa yang diwawancara menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan belajar Fisika Dasar. Semua dosen yang diwawancarai juga menyatakan hal yang sama dengan persentase bervariasi. Pelaksanaan perkuliahan Fisika Dasar yang tepat dan sikap ilmiah mahasiswa baik masih belum berdampak positif terhadap prestasi belajar mahasiswa. Bantuan akademis dengan berbagai cara untuk mengurangi kesulitan belajar mahasiswa yang secara umum dilaksanakan di luar jam kuliah juga belum bisa mengatasi kesulitan belajar mahasiswa, dengan kata lain perkuliahan yang sudah tepat masih belum mampu menjembatani prestasi belajar mahasiswa menuju pemahaman Fisika Dasar yang mantap. Oleh karena itu diperlukan bantuan, pendampingan dan dukungan yang diintegrasikan kedalam kegiatan perkuliahan.

Perbandingan pengetahuan, sikap dan pertisipasi masyarakat dalam konservasi hutan mangrove di wilayah pesisir dan muara sungai Kabupaten Situbondo / Hardiyanti Utami

 

Kata Kunci: pengetahuan, sikap, partisipasi, konservasi mangrove Konservasi hutan mangrove merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan Dinas Pengelolaan Dampak Lingkungan yang secara intensif berupa kegiatan penanaman pohon mangrove. Pelaksanaan konservasi hutan mangrove saat ini telah menunjukkan hasil yang baik, namun di beberapa lokasi masih terdapat masalah. Lokasi penanaman pohon mangrove yang diadakan oleh dinas terkait tersebut berada di wilayah pesisir dan muara sungai Kabupaten Situbondo. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian untuk membandingkan pengetahuan, sikap, dan partisipasi masyarakat pada dua wilayah yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan, sikap, dan partisipasi masyarakat dalam konservasi hutan mangrove serta membandingkan ketiga variabel antara wilayah pesisir dan muara sungai Kabupaten Situbondo. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survei. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan lembar tes, sedangkan data mengenai sikap dan partisipasi diperoleh dengan menggunakan angket tertutup. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis tabulasi tunggal untuk variabel pengetahuan, sikap, dan partisipasi serta analisis tabulasi silang untuk perbandingan kedua wilayah. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut. Pengetahuan masyarakat di wilayah pesisir sebesar 77,97% dan masyarakat di muara sungai sebesar 48,78%. Sikap positif yang ditunjukkan oleh masyarakat wilayah pesisir sebesar 74,58% dan masyarakat muara sungai sebesar 82,93%. Masyarakat wilayah pesisir mayoritas berpartisipasi dalam bentuk partisipasi informatif, sedangkan masyarakat muara sungai seluruhnya berpartisipasi dalam bentuk partisipasi mandiri, informatif, interaktif, dan insentif. Perbandinganpengetahuan, sikap, danpartisipasimasyarakatdalamkonservasihutan mangrove di wilayahpesisirdanmuarasungaimenunjukkanbahwamasyarakatwilayahpesisir yang bersikappositifcenderunglebihsedikitsehinggabentukpartisipasi yang diberikanolehmasyarakatpesisirjugalebihrendahdibandingkanpartisipasimasyarakatmuarasungai, meskipunmasyarakat di wilayahpesisir yang mengetahuihutan mangrove dankonservasinyalebihbesar. Mengacupadapermasalahan yang ditemukan di wilayahpesisirterutama di DesaBanyuglugur, makapenulismenyarankan agar pelaksanaankonservasihutan Mangrove selanjutnyabisalebihmelibatkanmasyarakatsehinggamasyarakatdapatberpartisipasisecaraaktifdalambentukpartisipasi yang lain.

Lexical quality of translation in bilungual mathematics taxtbooks for senior hidh school / Yudha Yanuar Akbar

 

Key Word: lexis, lexical quality, Mathematics, bilingual textbook. Living in globalization era The Ministry of Education and Culture has started to upgrade Indonesian’s Sekolah Standar Nasional (National Standard School) into Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (Pioneering International Standard School) with the materials delivered in English. For this purpose some of the book publishers publish their textbooks in bilingual (Bahasa Indonesia and English). In relation to this matter the researcher found the need to have a study about the lexical quality of translation of the bilingual textbooks. The aim of this study is to know the lexical quality of translation used in two bilingual Mathematics textbooks for Senior High School specifically in lexical aspect for it is can be considered as most important aspect with upmost priority need to be preserved appropriately regardless of the original text forms, field of work, topic and media. The design of this research is qualitative because specifically in this matter the research was to evaluate the lexical quality of translation of bilingual textbooks. Two bilingual Mathematics textbook was evaluated in this research with both Indonesian and English as its language provided together with Indonesian as its source language and English as target language. The bilingual Mathematics textbooks used are for first grader of senior high school for first semester entitled Mathematics 1A and 1B for Senior High School by ESIS and Matematika Bilingual untuk SMA kelas X Semester 1 & 2 by Yrama Widya. Data gathering of this research was done by listing the Mathematics contextual dictions from the aforementioned bilingual textbooks. The data obtained after the data collection is 228 items of contextual diction where 130 items are from first textbook and 98 items are from the second textbook. The data analysis process is started by (1) initial comparison and (2) definition cross-reference. From the first data analysis the researcher found that out of 130 items from the first bilingual textbook, six of them are inappropriately translated. On the other hand, in the second bilingual textbook seven out of the 98 contextual items are inappropriately translated. Yet, after the second data analysis, definition cross-reference, the inappropriate contextual items from each bilingual textbooks reduced by two, leaving only four inappropriate items in the first bilingual textbook and five items in the second bilingual textbooks. After the calculation, first bilingual textbook’s lexical quality level is 96.92% and categorized as “Excellent” while the second bilingual textbook’s lexical quality level is 94.90% and categorized as “Good”. With these quality levels the two bilingual Mathematics textbooks provide qualified translation which will not confuse their users even though there are still some mistranslations in lexical level.

Perancangan alat bantu visual pembelajaran untuk anak usia dini / Anna Jihad Fatihah

 

Kata Kunci : Perancangan, Alat Bantu Visual, Pembelajaran, Anak Usia Dini Media dalam pembelajaran khususnya dalam pendidikan anak usia dini semakin penting artinya mengingat perkembangan anak pada saat itu berada pada masa berfikir konkrit. Prinsip tersebut mengisyaratkan perlunya digunakan media sebagai saluran penyampai pesan-pesan pendidikan untuk anak usia dini. Alat bantu visual pembelajaran adalah salah satu media pembelajaran yang dapat digu-nakan melihat kondisi di mana sarana dan prasarana belajar secara kuantitatif maupun kualitatif masih terbatas. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi PAUD di Indonesia menurut Direktorat PPAUD. Banyak upaya dapat dilakukan agar sa-rana dan prasarana yang digunakan dalam pendidikan anak usia dini semakin baik. Salah satunya dengan merancang secara khusus alat bantu visual pembelaja-ran yang sesuai dengan kurikulum yang digunakan pada pendidikan anak usia di-ni, yang dapat menstimulus potensi kecerdasan majemuk pada anak usia dini. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan alat bantu visual pembelaja-ran untuk anak-anak usia dini yang disesuaikan dengan kurikulum pendidikan anak usia dini Hasil perancangan desain berupa media grafis cetak yaitu buku identifikasi, flashcards, papan sikuen kegiatan, dan papan lagu anak Indonesia. Media grafis (visual) merupakan media yang langsung melibatkan indera penglihatan dan pendengaran. Media visual memiliki stimulus visual sekaligus stimulus kata, dengan demikian media ini cocok digunakan untuk meningkatkan berbagai kemampuan pada anak-anak usia dini. Penggunaan media visual ini dije-laskan pada konsep perancangan yang terdiri dari konsep isi media berisi penjela-san tujuan media, fungsi media dan materi isi yang ada dalam media tersebut. Konsep isi media dibuat berdasarkan tujuan pembalajaran dan fungsi pembelaja-ran dengan menggunakan media yang dipilih. Konsep bentuk media membahas gambar, tipografi, warna, background, dan spesifikasi desain yang diharapkan. Kesimpulan, perancangan alat bantu visual pembelajaran yang disesuaikan dengan tema dalam kurikulum pendidikan anak usia dini merupakan salah satu upaya untuk menambah daftar alat bantu visual pembelajaran yang layak untuk pembelajaran anak-anak usia dini mengingat masih terbatasnya sarana dan prasa-rana pembelajaran untuk mendukung kegiatan pembelajaran anak usia dini.

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran daur belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan soal (Problem Posinbg) terhadap hasil belajar dan motivasi belajar pada materi hidrolisis garam / Reny Eka Evi Susanti

 

Kata Kunci: Learning Cycle-Problem Posing, motivasi belajar, hasil belajar Penelitian tentang penggabungan dua strategi pembelajaran yakni Daur Belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan Soal (Problem Posing) bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Daur Belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan Soal (Problem Posing) terhadap hasil belajar kimia siswa RSBI kelas XI semester 2 SMA Negeri 8 Malang pada materi pokok Hidrolisis Garam, (2) Mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Daur Belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan Soal (Problem Posing) terhadap motivasi belajar kimia siswa RSBI kelas XI semester 2 SMA Negeri 8 Malang pada materi pokok Hidrolisis Garam tahun ajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (Quasy Experimental Design) tanpa pretes dan rancangan penilaian deskriptif. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F-Pembentukan Soal dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran secara nyata motivasi belajar siswa setelah dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F -Pembentukan Soal. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang, sebagai sampel yaitu kelas XI IPA 1 (kelas eksperimen), kelas XI IPA 5 (kelas kontrol). Kelas eksperimen dikenai perlakuan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F -Pembentukan Soal dan kelas kontrol dikenai perlakuan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas yang menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F-Pembentukan Soal dengan kelas yang menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F. Penerapan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F -Pembentukan soal berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Pengembangan paket pembelajaran kewirausahaan kontekstual dengan model Dick & Carrey untuk siswa kelas X SMP-PP Negeri Padang / Hendra Gusmedi

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Pd., M.Ed., (2) Dr. H. Sulton, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Model Dick & Carey dan Paket Pembelajaran Kewirausahaan. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Pemecahan masalah belajar tersebut penting karena terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan adanya proses pembelajaran yang berkualitas, akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu upaya pemecahan masalah belajar yaitu melalui pengembangan paket pembelajaran, seperti pengembangan paket pembelajaran kewirausahaan untuk siswa kelas X semester 2 SMK-PP Negeri Padang. Paket pembelajaran kewirausahaan terdiri dari 3 produk yaitu: bahan ajar, panduan siswa, dan panduan guru. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran dengan mengacu kepada rancangan pembelajaran model Dick & Carey, dengan langkah-langkah: (1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) menganalisis karakterisktik siswa, (4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, (5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan melilih materi pembelajaran, (8) merancang dan melakukan evaluasi formatif, (9) merevisi pembelajaran, (10) merancang dan melakukan evaluasi sumatif. Namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sampai langkah kesembilan. Hasil uji coba ahli isi untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, panduan siswa baik, dan panduan guru sangat baik, hasil uji coba ahli desain pembelajaran untuk bahan ajar berada dalam kriteria baik, untuk panduan siswa sangat baik, dan untuk panduan guru juga sangat baik, hasil uji coba ahli media pembelajaran untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, untuk panduan siswa sangat baik, dan untuk panduan guru juga sangat baik. Hasil uji coba perorangan untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan siswa baik, hasil uji coba kelompok kecil untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan siswa juga sangat baik, hasil uji lapangan untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan siswa juga sangat baik, hasil tanggapan guru matapelajaran untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan guru juga sangat baik. Dari kajian produk yang telah direvisi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Produk paket pembelajaran kewirausahaan ini dikembangkan secara sistematis berdasarkan analisis kebutuhan empirik di lapangan, (2) Produk paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan rancangan pembelajaran model Dick & Carey. Penilaian pada langkah pengembangan dilakukan hanya sampai penilaian formatif saja setelah satu pokok bahasan tertentu selesai diuji cobakan, dan (3) Produk paket pembelajaran ini dianggap telah memenuhi syarat atau kriteria kelayakan melalui tahapan penyusunan, analisis, dan revisi produk.

Keefektifan penerapan modal pembelajaran Learning Cycle 5-E pada materi pokok hidrokarbon untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang / Inma Yunita Setorini

 

Kata Kunci: Keefektifan, Learning Cycle 5-E, Hidrokarbon, hasil belajar Pelaksanaan proses pembelajaran di SMA berpengaruh penting terhadap keberhasilan belajar siswa. Proses pembelajaran yang kurang sesuai akan membuat siswa tidak fokus dan tidak tertarik mengikuti pelajaran. Selain itu, mata pelajaran yang dianggap sulit juga menjadi faktor siswa kurang berminat dalam proses pembelajaran salah satunya pada mata pelajaran kimia. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang sesuai untuk mempelajari materi kimia yang dapat menekankan pada pemberian pengalaman langsung. Salah satu model pembelajaran yang cocok dengan karakteristik ilmu kimia adalah model pembelajaran yang berbasis konstruktivistik, seperti model pembelajaran Learning Cycle 5-E. Untuk alasan itulah diperlukan studi mengenai keefektifan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5-E untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cycle 5-E pada mata pelajaran Kimia materi Hidrokarbon di kelas X SMA Negeri 6 Malang. (2) untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar antara siswa SMA kelas X yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori pada aspek kognitif dan afektif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu, rancangan penelitian kuasi eksperimen. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMAN 6 Malang yang terdiri dari 7 kelas. Sampel penelitian diambil secara acak dn terpilih kelas X-7 sebagai kontrol dan kelas X-6 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: (1) Silabus (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (3) Lembar Kerja Siswa (4) Handout (5) Lembar penilaian kognitif proses (6) Lembar penilaian afektif (7) Soal Ulangan Harian. Teknik analisis data yang digunakan meliputi: analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk mengungkapkan data hasil belajar siswa, meliputi hasil belajar kognitif proses dan afektif. Analisis statistik digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, yaitu menggunakan uji-t. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. Keterlaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E saat pembelajaran I, pembelajaran II, dan pembelajaran III diperoleh nilai persentase berturut-turut sebasar 72,40%; 82,30%; dan 74,00%. Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E ( ̅ lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori ̅ . Rata-rata hasil belajar kognitif proses siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E ( ̅ lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar kognitif proses siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori ̅ . Rata-rata hasil belajar afektif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E ̅ lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar afektif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori ̅ . Ada perbedaan hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disarankan bahwa model pembelajaran Learning Cycle 5-E dapat digunakan guru pada pokok bahasan yang berbeda karena telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model Learning Cycle 5-E hendaknya dapat mengatur waktu pembelajaran dengan baik.

Pengembangan paket pembelajaran perbanyakan tanaman secara vegetatif kelas X SPMA H. Moenadi Ungaran / Agus Ikwanto

 

Kata kunci ; Latar belakang pengembangan, Pengembangan paket pembelajaran, Prosedur pengembangan, Hasil pengembangan paket pembelajaran. Bahan ajar yang diterbitkan untuk dipakai di sekolah-sekolah sekarang ini, penyusunanya seringkali tanpa mempertimbangkan struktur isi bidang studi untuk keperluan pembelajaran. Isi buku teks lebih banyak menggunakan pendekatan disiplin bukan pendekatan metodologi pembelajaran, sehingga seringkali terlihat tidak ada kaitan antar bab yang satu dengan bab lainnya, atau bagian-bagian bab yang lebih rinci. Oleh karena itu perlu adanya upaya penyediaan paket pembelajaran yang cocok/sesuai dengan keperluan, kondisi, dan lingkungan dimana siswa melakukan kegiatan belajar. Pengembangan paket pembelajaran sangat penting dikerjakan dengan alasan yaitu: 1) dapat digunakan siswa sebagai salah satu sumber belajar yang diharapkan memudahkan dalam proses belajar baik secara individual, 2) dapat memfasilitasi guru dalam proses pembelajaran dan memberi arah bagi guru dalam membimbing siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan tuntas, 3) dapat digunakan dalam proses pembelajaran, baik klasikal maupun individual, dan 4) dapat menjadi titik awal bagi lembaga sekolah untuk penetapan keputusan dalam memilih dan mengembangkan paket pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan. Prosedur dalam pengembangan paket pembelajaran menggunakan model Dick and Carey dengan tahapan sebagai berikut: 1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, 2) melakukan analisis pembelajaran, 3) mengidentifikasi karakteris-tik siswa, 4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan, 6) pengembangan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku, 8) merancang dan melaksanakan penilaian formatif, 9) merevisi bahan pembelajaran, dan 10) merancang dan melaksanakan evaluasi sumatif. Hasil pengembangan terhadap produk paket pembelajaran DKK Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif adalah sangat layak untuk digunakan dan dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil validasi yang diperoleh dari para ahli yaitu: penilaian ahli isi mata pelajaran terhadap paket pembelajaran adalah 130 atau 81,3% (kriteria sangat layak), penilaian ahli desain pembelajaran adalah 170 atau 75%, berada dalam kriteria layak, dan penilaian dari ahli media pembelajaran adalah 187 atau 85%, dengan kriteria sangat layak).

Penerapan metode pembelajaran kooperatif Jigsaw untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas V semester II tahun 2011/2012 di SD Negeri Tanjungrejo I Malang / Ilham Fahriansah

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw, Keaktifan, Hasil Belajar Metode Pembelajaran Kooperatif Jigsaw dipilih untuk diterapkan di SD Negeri Tanjungrejo I Malang, Mata pelajaran IPS Kelas V Semester II karena proses pembelajarannya belum sesuai dengan prinsip belajar sehingga berdampak terhadap hasil belajar siswa yang rendah. Selain itu juga pelajaran IPS materinya membutuhkan waktu lama, waktunya terbatas jika dikerjakan secara individu, harus dikuasai secara mendalam agar pengetahuan yang sudah diperoleh siswa tidak mudah dilupakan, dan siswa dapat mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari. Maka dengan metode pembelajaran kooperatif jigsaw waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama karena materi dikerjakan secara berkelompok dimana setiap siswa diberikan materi yang berbeda dalam kelompok dan kemudian masing-masing siswa menjelaskan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain, bisa meringankan siswa dalam menguasai suatu materi, proses pembelajarannya menekankan pada keaktifan dan pengalaman siswa secara langsung sehingga materi yang diperoleh siswa tidak mudah dilupakan, hasil belajarnya dapat dicapai dengan kelompok jigsaw atau kelompok ahli. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif jigsaw untuk siswa kelas V semester II di SD Negeri Tanjungrejo I Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Dimana pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini setiap siklusnya ada 2x pertemuan. Pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari tes hasil belajar siswa, hasil observasi/pengamatan dan dilengkapi dengan data wawancara, catatan lapangan, dan pedoman dokumentasi. Proses perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dari siklus I ke siklus II yaitu peneliti lebih merangsang interaksi antar siswa, dan peneliti lebih berusaha untuk menemukan soal-soal yang sulit. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa setelah penerapan metode pembelajaran kooperatif jigsaw hasil dan keaktifan belajar siswa dalam kelompok pada mata pelajaran IPS kelas V semester II di SD Negeri tanjungrejo I meningkat. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 71,20 dan ketuntasan klasikal 69% menjadi sebesar 84,13 dan ketuntasan klasikal 90% pada siklus II. Sedangkan rata-rata keaktifan siswa pada siklus I pertemuan 1 dan 2 sebesar 67,8% dan 69,7% menjadi sebesar 82,4% dan 86,6% pada siklus II pertemuan 1 dan 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas Kabupaten Kediri / Hidayatika Ibenty H.

 

Kata Kunci:tingkat kesejahteraan, petani ikan Kecamatan Badas merupakan salah satu kecamatan di sebelah utara Ibukota Kabupaten Kediri. Kecamatan ini merupakan daerah yang subur dengan saluran irigasi yang baik dan dialiri sungai yang mengalir sepanjang tahun.Kecamatan Badas banyak terdapat petani ikan lahan sawah yang terdapat pada dua desa, yakni Desa Canggu dan Desa Krecek. Petani ikan lahan sawah yang terdapat pada dua desa tersebut diduga memiliki tingkat kesejahteraan yang meningkat. Pada tahun 2008, diketahui tingkat kesejahteraan yang dimiliki adalah Keluarga Sejahtera 1, Keluarga Sejahtera 2, Keluarga Sejahtera 3 dan Keluarga Sejahtera 3+. Sedangkan Pada Tahun 2010 tingkat kesejahteraannya meningkat menjadi Keluarga Sejahtera 2, Keluarga Sejahtera 3, dan Keluarga Sejahtera 3+. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah, mendeskripsikan tingkat kesejahteraaan petani ikan dan mendeskripsikan hubungan antara faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan dengan tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah.Penelitian ini merupakan penelitian sensus. Penelitian ini menggunankan metode survey dengan sampel semua petani ikan lahan sawah yang terdapat di Desa Canggu dan Desa Krecek. Teknik pengambilan data yang digunakan angket, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas meliputi pendidikan, pendapatan, beban tanggungan, pengeluaran, lahan, produktifitas dan modal usaha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas mengalami peningkatan. Tingkat kesejahteraan petani ikan yang mengalami peningkatan yakni tidak ditemukannya tingkat kesejahteraan keluarga 2 dan bertambahnya tingkat kesejahteraan keluarga 3+. Berdasarkan hasil analisis diketahui faktor yang mempengaruhi dengan tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah adalah luasan lahan dan pendapatan pokok petani ikan lahan sawah. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kecenderungan kaitan antara luasan lahan sebesar 1400-<7000 m2 dengan tingkat kesejahteraan petani ikan. Sedangkan hasil analisis tabulasi silang antara pendapatan pokok dengan tingkat kesejahteraan didapatkan nilai kecenderungan Rp 1.000.000-< Rp 5000.000 dengan tingkat kesejahteraan. Luasan lahan dan pendapatan pokok sangat berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan petani ikan.

Pemanfaatan lingkungan sosial sebagai sumber pengajaran IPS kelas V di SD Negeri se Kecamatan Nganjuk
oleh Handaya Susila

 

Peranan Lembaga Musyawarah Desa dalam pembangunan masyarakat di Desa Keboireng Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung
oleh Ida Sananti

 

Kajian tentang pemahaman konsep reaksi redoks pada seswa kelas X semester II SMA nEGERI 5 Malang tahun ajaran 2011/2012 / Agustina Catur Wulandari

 

Kata kunci: pemahaman siswa, konsep reaksi redoks Konsep kimia merupakan konsep berjenjang berkembang dari sederhana ke konsep lebih tinggi tingkatannya. Dengan demikian untuk memahami konsep lebih tinggi tingkatannya diperlukan pemahaman secara benar mengenai konsep dasar untuk membangun konsep tersebut. Sebagai contoh adalah konsep reaksi redoks yang dibangun oleh konsep bilangan oksidasi, reaksi reduksi-oksidasi, reduktor-oksidator dan identifikasi reaksi. Kesulitan dalam memahami konsep sederhana akan menyebabkan kesulitan dalam memahami konsep yang lebih kompleks. Materi reaksi redoks pada umumnya termasuk materi yang sulit, hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya dan karena di SMA Negeri 5 Malang belum pernah diadakan penelitian tentang pemahaman siswa tentang reaksi redoks, maka peneliti menganggap penting untuk mengadakan penelitian pemahaman siswa tentang konsepreaksi redoks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemahaman siswa kelas X SMAN 5 Malang mengenai reaksi oksidasi, reaksi reduksi, bilangan oksidasi, oksidator-reduktor, identifikasi reaksi redoks, penyetaraan reaksi redoks dalam suasana asam dan suasana basa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa secara sistematik dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan, dimana peneliti hanya melakukan survei terhadap pemahaman siswa tentang materi redoks. Sampel penelitian yaitu siswa kelas X-5 dan kelas X-10. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan cluster random sampling, yang dilakukan secara acak kelas. Instrumen penelitian adalah tes pemahaman siswa pada konsep reaksi redoks, yang terdiri-dari 30 butir, berupa tes obyektif dengan pemberian alasan pemilihan jawaban. Dari hasil validasi isi diperoleh instrumen valid dengan validitas 97,77%, dan reliabel dengan koefisien reliabilitas 0,733. Data dianalisis dengan menghitung persentase tingkat pemahaman konsep siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang: (1) terhadap reaksi oksidasi berdasarkan penggabungan oksigen tergolong rendah (55%) dan terhadap reaksi oksidasi berdasarkan transfer elektron (pelepasan elektron) tergolong cukup (60%). (2) terhadap reaksi reduksi berdasarkan pelepasan oksigen tergolong cukup (62%) reaksi reduksi berdasarkan transfer elektron (pengikatan elektron) tergolong cukup (59%). (3) dalam menentukan senyawa yang termasuk reduktor dan oksidator berdasarkan konsep pengikatan dan pelepasan oksigen tergolong tinggi (70%) dan dalam menentukan senyawa yang termasuk reduktor dan oksidator berdasarkan konsep transfer elektron tergolong rendah (45%) serta dalam menentukan senyawa yang termasuk reduktor dan oksidator berdasarkan perubahan bilangan oksidasi tergolong cukup (62%). (4) terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion tunggal tergolong rendah (51%), terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur bebas tergolong sangat tinggi (83%), terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa tergolong rendah (52%) dan terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion poliatom tergolong sangat tinggi (81%). (5) dalam menentukan reaksi redoks berdasarkan perubahan bilangan oksidasi tergolong rendah (52%). (6) dalam mengidentifikasi reaksi autoredoks tergolong rendah (47%). (7) dalam menyetarakan reaksi redoks dengan metode ion-elektron tergolong cukup (65%) dan tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dalam larutan asam tergolong tinggi (73%), serta tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dalam larutan basa tergolong rendah (42%).

Pemanfaatan kapur sebagai filter untuk campuran aspal beton ditinjau dari parameter marshall / Yusti Anggraeni Pertiwi

 

Kata kunci : kapur, filler, aspal beton, parameter marshall. Batu kapur merupakan salah satu bahan bangunan yang mudah dicari di daerah khususnya yang memiliki tanah dan pegunungan kapur yang ada di Indonesia. Batu kapur adalah salah satu filler yang diharapkan dapat meningkatkan sifat-sifat fisik pada campuran aspal, terutama pada lapisan aspal beton yang kurang baik dalam menggunakan campuran beraspal. Berdasarkan pada pentingnya kualitas bahan yang digunakan untuk lapisan aspal beton, maka perlu dilakukan penelitian kualitas perkerasan lapisan aspal beton yang dihasilkan dari campuran aspal yang menggunakan filler kapur dan dicampur dengan aspal penetrasi 60/70 kemudian diuji dengan menggunakan alat Marshall. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui sifat dan karakteristik aspal bahan penyusun aspal beton, (2) Mengetahui sifat dan karakteristik aspal beton dengan digunakannya kapur sebagai filler. Metode penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap pemilihan bahan, tahap persiapan, dan pembuatan benda uji, serta tahapan pengujian dan analisis data. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sifat dan karakteristik bahan penyusun aspal beton dapat diketahui dengan pengujian berat jenis dengan nilai 2,645 gr/cm3, penyerapan agregat kasar 2,24% , pengujian keausan agregat kasar 17,67%, pengujian penetrasi aspal 63,33 mm, pengujian berat jenis aspal 1,069 gr/cm3, pengujian daktilitas aspal 134,8 cm, pengujian titik nyala 3290C, dan pengujian titik lembek 490C, (2) Sifat dan karakteristik aspal beton dengan digunakannya filler kapur sebagai bahan penyusun aspal beton ditinjau dari Parameter Marshall dapat diketahui dengan nilai Stabilitas maksimum 1313,18 kg pada kadar kapu 0%, Flow yang memenuhi syarat diperoleh pada kadar kapur 0-80% yaitu 3,85-3,92 mm, Marshall Quotient dengan nilai 257,314 mm pada kadar kapur 80%, VIM yang memenuhi syarat pada kadar kapur 0% dengan nilai 4,57%, dan VMA yang memenuhi syarat pada kadar kapur 0-100% dengan nilai 17,14-22,51 %, (3) Berdasarkan tahap dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan filler batu kapur yang paling baik dengan menggunakan kadar dibawah 80% dan filler batu kapur ini dapat dimanfaatkan pada campuran Lapisan Aspal Beton (LASTON).

Peningkatan kemampuan membaca nyaring siswa kelas III melalui Metode Audiolingual (MAL) di SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang / Achmad Fauzi

 

Kata Kunci: Membaca, Nyaring, MetodeAudiolingual (MAL), SD Pembelajaran merupakan inti dalam proses pendidikan, karena melalui pembelajaran akan tercipta suatu proses belajar mengajar. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar perlu adanya suatu pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga pembelajaran didalam kelas benar-benar mengeksplorasi seluruh kemampuan siswa. Diantara metode yang cocok untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah metode Audiolingual (MAL) untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring. Penelitianinibertujuanuntuk (1) MendeskripsikanpenerapanMetode Audio Lingual (MAL) untukmeningkatkanketerampilanmembacanyaringsiswakelas III SDN KarangBesuki I Kota Malang (2) Mendeskripsikanpeningkatanketerampilanmembacanyaringsiswakelas III SDN KarangBesuki I KecamatanSukun Kota Malang melaluiMetode Audio Lingual (MAL). Penelitianinimenggunakanpenelitiantindakankelas.Dalampengumpulan data penelitimenggunakantekniktesdan non tes.Tekniktesdigunakanuntukmengumpulkan data kemampuansiswadalammembacanyaring.TesdilakukandenganpemberiantugasmembacanyaringsuatuteksbacaandenganmetodeAudiolingual.Teknik non tesdilakukanuntukmengetahuikeadaan yang terjadisebenarnyaselama proses pembelajaran di dalamkelas, yaitudenganmenggunakanteknikobservasi, wawancara, dancatatanlapangan. Hasilpenelitianpratindakandiketahuibahwa guru dalammengajarkhususnyapembelajaranmembacamasihmenggunakanmetodeklasik (ceramah) sehinggamenyebabkansiswakurangantusiasdalammengikutipembelajaran.Setelahmengikutipembelajaranmembacanyaringdenganmetodeaudiolingual,aktivitasdankemampuansiswadalammembacanyaringmengalamipeningkatan.Kemampuanmembacanyaringdarisiklus I pertemuanpertamakepertemuankeduamengalamipeningkatansebesar 47,3%. Sedangkandarisiklus I pertemuankeduakeSiklus II mengalamipeningkatansebesar 31,6%. Hasilanalisistersebutmenunjukkanbahwapembelajarandenganmetodeaudiolingualdapatmeningkatkanaktivitas yang positifsehinggasiswalebihtertarikdanantusiasdalampembelajaranmembacanyaringdankemampuanmembacanyameningkat. Berdasarkanuraian di atasdapatdisimpulkanbahwametodeaudiolingualdapatmeningkatkankemampuanmembacanyaringsiswakelas III SDN Karangbesuki I KecamatanSukun Kota Malang.Olehkarenaitudisarankanbagi guru dansekolahsupayalebihtermotivasidanlebihsemangatdalammemberikanpengajaran yang bermutu, bervariasidanberinovasiuntukmeningkatkanmutupendidikan.

Penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKN di SMA Negeri 1 Mojosari Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto / Ayu Maya Wulandari

 

Kata kunci: Lembar Kerja Siswa, PKn, Sarana Bahan Ajar. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan dari berbagai macam sumber belajar. Pembelajaran dapat melibatkan antara dua pihak yaitu siswa sebagai pebelajar dan guru sebagai pembelajar. Pendukung dalam kegiatan pembelajaran salah satunya adalah bahan ajar yang digunakan, diantaranya adalah lembar kerja siswa. Lembar kerja siswa tersebut berupa lembaran-lembaran materi singkat dan soal latihan untuk siswa. Bahan ajar tersebut berfungsi membuat siswa aktif melakukan belajar secara mandiri disaat guru berhalangan hadir untuk memberikan pembelajaran, perumusan masalah penelitian tersebut adalah bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar di SMA Negeri 1 Mojosari? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui penyusunan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, (2) untuk mengetahui penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, (3) untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, (4) untuk mengetahui upaya guru dalam mengatasi masalah kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumen. Dipilihnya SMA Negeri 1 Mojosari sebagai lokasi penelitian dikarenakan sekolah tersebut merupakan sekolah percontohan dari rintisan sekolah bertaraf internasional di Kabupaten Mojokerto dan merupakan satu-satunya SMA RBSI di Kabupaten Mojokerto. terpilihnya SMA Negeri 1 Mojosari sebagai sekolah percontohan tersebut dikarenakan kinerja guru yang profesional, lingkungan belajar yang kondusif, dan SMA Negeri 1 Mojosari mampu memenuhi delapan standart Nasional pendidikan sesuai PP no 19 tahun 2005. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran yang terdapat di sekolah tersebut menggunakan lembar kerja siswa sebagai salah satu bahan ajar pendamping pada mata pelajaran PKn selain buku teks yang digunakan. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini bersumber dari para guru PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, siswa dan dokumentasi. Temuan penelitian dikemukakan bahwa (1) penyusunan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari adalah pembentukan Tim MGMP yang didalamnya merupakan gabungan dari guru-guru dari Kabupaten Mojokerto. Penyusunan lembar kerja siswa dari Tim MGMP tersebut bertujuan untuk membuat bahan ajar yang sesuai dengan kriteria siswa dalam sekolah, hal ini dikarenakan dengan disusunnya lembar kerja siswa tersebut guru mampu mengetahui tingkat pemahaman siswa. Pemanfaatan lembar kerja siswa tersebut merupakan salah satu usaha yang digunakan oleh guru untuk membuat siswa mampu untuk belajar mandiri. (2) Penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari adalah sebagai salah satu bahan ajar pendamping dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan, lembar kerja siswa bukan satu-satunya bahan ajar yang digunakan di SMA Negeri 1 Mojosari. Bahan ajar pendamping lain yang dijadikan referensi dalam kegiatan belajar mengajar dapat berupa buku teks yang tersedia diperpustakaan sekolah, maupun memanfaatkan perkembangan IT yang isinya selalu mengikuti perkembangan dalam masyarakat. (3) Kelebihan dan kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, adalah jika dilihat dari segi kelebihannya menggunakan lembar kerja siswa dilihat dari isi materi yang singkat membuat guru mampu membagi waktu pembelajaran dengan baik, mampu membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran pada saat kegiatan pembelajaran tidak kondusif yang artinya guru mata pelajaran tidak dapat memberikan pembelajaran dikarenakan tugas lain, dan siswa lebih mudah melakukan belajar secara mandiri dengan menggunakan lembar kerja siswa karena penulisannya menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh siswa, sedangkan kelemahan dalam penggunaan lembar kerja siswa dari isi yang singkat membuat siswa kurang mampu memahami materi secara keseluruhan dan secara utuh, karena siswa sebagai pengguna lembar kerja tersebut merasa cukup dengan bahan ajar tersebut. (4) Upaya guru dalam mengatasi masalah kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, dengan cara memperbaiki isi daripada lembar kerja siswa tersebut, maupun membiasakan siswa mampu memanfaatkan waktu luang dalam kegiatan pembelajaran untuk belajar mencari referensi untuk memperkaya materi. Berdasarkan temuan penelitian di sarankan bagi siswa untuk mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk kepentingan belajar, memanfaatkan perpustakan pada saat terjadinya kekosongan jam pelajaran, selain itu siswa dapat melakukan belajar mandiri dengan bimbingan teman sebaya.

Manajemen "Moving Class" sebagai pengorganisasian sumber daya pembelajaran (Studi multikasus di SMA Charis Malang, SMA Negeri 3 Sidoarjo, dan SMA Negeri 3 Malang) / Edy Widayat

 

Kata kunci : manajemen pembelajaran, moving class, sumber daya pembelajaran. Moving class adalah bentuk pembelajaran yang merupakan bagian dari manajemen kelas. Namun dalam pelaksanaannya moving class sangatlah luas cakupannya karena sangat berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran, penge-lolaan kelas serta strategi pembelajaran. Manajemen moving class mencakup pengelolaan iklim pembelajaran dan pengelolaan alat. Pengelolaam iklim menyangkut pengelolaan manusianya (human), sedangkan pengelolaan alat menyangkut sarana dan prasarana (tools). Penelitian ini bertujuan pertama, mendiskripsikan dan menjelaskan peren-canaan moving class sebagai pengorganisasian sumber daya pembelajaran di tiga SMA yang meliputi: a) pembelajaran yang dilakukan oleh guru, b) aktivitas guru mengontrol perilaku siswa, c) penyediaan sarana prasarana belajar, d) pengaturan tata ruang belajar mengajar e) pengaturan perpindahan peserta didik, dan f) penga-turan dan penyusunan jadwal pembelajaran. Kedua, mendiskripsikan dan menje-laskan pelaksanaan moving class sebagai pengorganisasian sumber daya pembel-ajaran di tiga SMA yang meliputi: a) pembelajaran yang dilakukan oleh guru, b) aktivitas guru mengontrol perilaku siswa, c) penyediaan sarana dan prasarana belajar, d) pengaturan tata ruang belajar mengajar e) pengaturan perpindahan peserta didik, dan f) pengaturan dan penyusunan jadwal pembelajaran. Ketiga, mendiskripsikan dan menjelaskan pengendalian moving class sebagai pengorga-nisasian sumber daya pembelajaran di tiga SMA yang meliputi: a) proses, dan b) hasil/produk pembelajaran Moving Class. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis fenomenologis untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan mene-kankan pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan ke luar dan kesadaran di dalam, yang berbasis pada ingatan, gambaran dan makna. Penelitian dirancang dengan rancangan studi multikasus dimana analisis data, menggunakan metode komparatif konstan (the constant comparative method) merupakan rangkaian ta-hapan-tahapan kerja yang berlangsung secara serempak atau sekaligus dan analisis datanya senantiasa berbalik ulang ke tahap pengumpulan data dan pengkodean. Tehnik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (indepth intervie-wing), observasi berperan serta, dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan tehnik triangulasi, pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan audibilitas data penelitian oleh para pembimbing sebagai “independent auditor” untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ketiga tehnik tersebut diorganisir, ditafsir dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus (individual cases analysis) maupun analisis lintas kasus (cross cases analysis) guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Langkah penelitian yang dilaksanakan Pertama, dilakukan pengamatan dan pengumpulan data pada SMA Charis Malang. Data terkumpul dipelajari, diberi sandi, dan dikerjakan dengan memperhatikan kategori yang dikembangkan dalam tema, sehingga menjadi temuan konseptual yang masih tentatif. Kedua, dilakukan pengamatan dan pe-ngumpulan data pada SMAN 3 Sidoarjo. Ketiga, dilakukan pengamatan dan pengumpul-an data pada SMAN 3 Malang. Hasil penelitian menunjukan: Pertama, perencanaan pembelajaran yang dilaku-kan oleh guru pada tiga sekolah dilihat dari persiapan mengajar, administrasi pembelajar-an, kegiatan remidial, praktikum dan penilaian hasil pembelajaran harus dilakukan guru dengan tertib baik dalam pembelajaran tim maupun secara mandiri. Kedua, kontrol guru terhadap siswa meliputi penciptaan iklim dan kondisi pembelajaran, bimbingan konseling dan kegiatan ekskul perlu dilakukan agar kondisi kelas kondusif yang memungkinkan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Ketiga, perencanaan untuk pengadaan sa-rana dan prasarana sebagai bagian moving class perlu terus diprogramkan pengadaannya untuk “pangkarakteran” kelas mata pelajaran. Keempat, penataan ruang belajar yang bercirikan mata pelajaran perlu diupayakan oleh guru mata pelajaran dengan didukung penyiapan sarana dan prasarana pembelajaran. Kelima, perpindahan kelas perlu dirancang melalui jadwal dan disesuaikan dengan denah gedung agar pembelajaran bisa berjalan efektif. Keenam, Penyusunan jadwal perlu dibuat dengan mekanisme yang ada serta memperhatikan masukan karena menentukan efektifitas belajar. Ketujuh, pelaksanaan pembelajaran, administrasi kelas, remidi, praktikum dan penilaian yang dilakukan guru tidak harus pembelajaran tim, walau guru harus mengajar 24 jam. Kedelapan, kontrol guru terhadap siswa baik di kelas dan luar kelas perlu dilakukan agar pembelajaran dapat berjalan efektif. Kesembilan, sarana dan prasa-rana belajar wajib disediakan untuk mendukung pembelajaran yang berciri mata pelajaran. Kesepuluh, penataan ruang belajar dengan sarana dan media yang mendukung karakter mata pelajaran perlu disiapkan untuk efektifitas belajar. Kesebelas, perpindahan kelas perlu untuk melatih disiplin siswa, refreshing dan belajar bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang diikuti. Keduabelas, penyusunan jadwal perlu disusun agar baik siswa dan guru dapat mentaati jam pelajaran yang ada, sehingga mengatur pembelajaran secara mekanis. Ketigabelas, pengendalian proses dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung, supervisi kepada guru dan pengendalian terhadap perilaku siswa serta terhadap sarana dan prasarana pembelajaran. Keempatbelas, pengendalian hasil/produk dilakukan agar pembelajaran, prestasi siswa tetap berkualitas serta guru dituntut meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saran-saran dari penelitian ini antara lain disampaikan kepada: 1) Pimpin-an dan guru sekolah yang diteliti sebagai masukan bermanfaat dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan khususnya dalam mengelola moving class agar mendasarkan hasil temuan baik aspek perencanaan, pelaksanaan maupun pengendalian. 2) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur untuk menjadi bahan masukan yang bermanfaat dalam perumusan kebijakan bidang manajemen moving class agar mendasarkan pada hasil temuan. 3) DinasPendidik-an dan Kebudayaan kabupaten Sidoarjo dan kota Malang untuk menjadi bahan masukan yang bermanfaat dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputus-an menyangkut pengelolaan moving class 4) peneliti lain yang menaruh minat ter-hadap manajemen moving class sebagai pengorganisasian sumber daya pembela-jaran di sekolah dan variabel-variabel yang berpengaruh terhadap prestasi siswa.

Kata-kata yang paling tinggi frekuensi penggunaannya dalam Al-Qur'an / oleh Maimunah

 

Kompetensi mengapresiasi cerita pendek berbahasa Arab mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab FPBS IKIP Malang / oleh Imam Fu'adi

 

Korelasi perputaran persediaan dengan operating profit margin pada PT Boma Bisma Indra divisi tempa Pasuruan periode 1987 - 1991
oleh Solichah

 

Perbedaan kualitas tempe kedelai dari bahan kedelai yang dicampur pepaya Jinggo, pepaya Thailand, pepaya Jawa, pepaya Cibinong / oleh Nuning Sri Wahyuningsih

 

Studi tentang efisiensi penggunaan komputer pada Pusat Komputer IKIP Malang
oleh Dasih Susilowati

 

Pola konsumsi masyarakat Kotamadya Kediri
oleh Endang Tri Windusari

 

Peningkatan pemahaman bahan belajar sains siswa kelas III SDN Pule 2 Kecamatan Kandat Kabipaten kediri dengan pendekatan tematik melalui variasi metode pembelajaran Numbered Heads Together / Niken Dani Safitri

 

Kata Kunci : Pendekatan Tematik, Metode Pembelajaran Numbered Heads Together. Pembelajaran Sains di SDN Pule 2 kecamatan Kandat kabupaten Kediri selama ini, guru menggunakan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif karena guru hanya menjelaskan saja selama kegiatan pembelajaran, dan siswa hanya mendengarkan saja, kemudian guru memberi soal atau PR untuk dikerjakan secara individu oleh siswa. Kegiatan diskusi dalam pembelajaran juga tidak pernah dilakukan, sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik dan siswa menjadi tidak aktif. Selain itu, siswa juga menjadi bersifat individual dan cenderung tidak bisa bekerjasama dengan teman-temannya. Nilai mata pelajaran Sains siswa kelas III rata-rata di bawah SKM dan siswa banyak yang tidak pernah memperhatikan saat pembelajaran berlangsung Untuk menangani masalah tersebut maka guru dan peneliti memutuskan untuk menerapkan sebuah pembelajaran yang sesuai untuk siswa kelas III SDN Pule 2 yaitu pembelajaran dengan pendekatan Tematik dan metode pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan pemahaman bahan belajar sains siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana yang menjadi ciri khasnya adalah adanya siklus-siklus. Dalam Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari tes setelah pelaksanaan tiap siklus, dilengkapi dengan hasil observasi. Pada penerapan pendekatan Tematik dan metode pembelajaran NHT siklus 1 diperoleh data bahwa rata-rata skor hasil tes siswa pada mata pelajaran Sains adalah 71,25 dengan keterangan 15 siswa mencapai SKM dan 9 siswa belum mencapai SKM. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada penerapan pendekatan Tematik dan metode pembelajaran NHT siklus 1 belum berhasil karena dari 24 siswa hanya 15 siswa yang dapat mencapai SKM, untuk itu perlu adanya tindak lanjut dengan siklus 2. Setelah peneliti dan guru merancang pelaksanaan pembelajaran untuk siklus 2 dengan melihat hasil refleksi siklus 1, akhirnya pada penerapan pendekatan tematik dan metode pembelajaran NHT di siklus 2 memperoleh hasil yang lebih baik. Rata-rata skor hasil belajar siswa meningkat menjadi 73,95 dengan keterangan 19 siswa mencapai SKM dan 5 siswa belum mencapai SKM. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pendekatan tematik dan metode pembelajaran NHT telah berhasil dalam meningkatkan pemahaman bahan belajar sains siswa kelas III SDN Pule 2 kecamatan Kandat kabupaten Kediri.

Korelasi antara aktivitas aplikasi metode mengajar denagan kualitas mengajar guru SMEA Negeri se-Kabupaten Bondowoso
oleh Juharyanto

 

Penerapan metode demonstrasi melalui bermain alat musik perkusi untuk meningkatan kemampuan seni anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan / Devinta Eka Prastiwi

 

Kata Kunci: Metode Demonstrasi, Bermain Alat Musik Perkusi, Kemampuan seni, Taman Kanak-kanak Dalam pembelajaran bermain musik selama ini metode demonstrasi sudah diterapkan, akan tetapi dalam penyampaiannya kurang menarik minat anak. Materi yang didemonstrasikan sulit untuk ditirukan oleh anak, faktor penunjangnya alat musik yang digunakan dan juga cara penyampaian kurang menarik bagi anak. Selain hal tersebut selama ini pembelajaran guru lebih banyak pada penggunaan metode pemberian tugas yang cenderung pada lembar kerja, sehingga metode demonstrasi kurang digunakan secara maksimal. Tujuan penelitian yaitu: 1) Mendeskripsikan pelaksanaan metode demonstrasi dalam upaya meningkatkan kemampuan seni melalui bermain alat musik pada anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kab. Pasuruan. 2) Mendiskripsikan hasil peningkatan kemampuan seni dengan metode demonstrasi melalui bermain alat musik perkusi pada anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kab. Pasuruan. Penelitian dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada semester 2, subyek penelitian adalah anak kelompok A TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2012. Terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pra tindakan sebesar 53%, tindakan siklus I menunjukkan peningkatan penerapan metode demonstrasi sejumlah 11% dengan skor rata-rata sebesar 58%, selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peningkatan sejumlah 28% dengan skor rata-rata sebesar 86%. Kesimpulan penelitian adalah bahwa metode demonstrasi merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan seni anak melalui bermain alat musik perkusi anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. Sebagai upaya untuk penerapan metode demonstrasi melalui bermain alat musik perkusi untuk meningkatkan kemampuan seni anak disarankan kepada guru untuk memberikan pembelajaran yang kreatif, materi yang menarik minat anak untuk bermain alat musik perkusi, dan menempatkan anak didik sebagai subyek.

Peran Kodim 0820 dalam meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar Kota Probolinggo (studi kasus di MTs Negeri dan SMK 1 Muhammadiyah Probolinggo) / Indah Purwoningsih

 

ABSTRAK Purwoningsih, Indah. 2016. Peran Kodim 0820 Dalam Meningkatkan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara bagi Pelajar Kota Probolinggo (Study Kasus di MTs Negeri dan SMK 1 Muhammadiyah Probolinggo). Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si, (II) Yuniastuti, S.H, M.Pd Kata Kunci: wawasan kebangsaan, bela negara, Kodim 0820 dan pelajar Wawasan kebangsaan yang baik perlu dimiliki oleh pelajar sebagai generasi muda untuk lebih menghormati dan mencintai bangsa dan negaranya. Begitupun dengan kesadaran bela negara yang wajib dilakukan oleh generasi muda demi meningkatkan pertahanan dan keamanan di Indonesia karena upaya bela negara merupakan kesediaan warga negara untuk melindungi, mempertahankan, dan memajukan negara. Pada era globalisasi sekarang ini dapat dilihat adanya penurunan kesadaran bela negara oleh pelajar serta kurangnya pemahaman tentang wawasan kebangsaan. Banyak permasalahan-permasalahanyang dijumpai seperti merosotnya moral remaja, lebih terbukanya remaja terhadap budaya luar yang masuk, menurunnya kedisiplinan, dan lain-lain. Dalam rangka mengembalikan dan menumbuhkan kembali kesadaran bela negara serta membangun wawasan kebangsaan pada generasi muda khususnya pelajar, Kodim 0820 menyelenggarakan program kegiatan untuk meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara yang diwujudkan dengan beberapa kegiatan yaitu Seminar Wawasan Kebangsaan, Pelatihan Baris-Berbaris, Penghormatan Bendera Merah-Putih dan Saka Wira Kartika. Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan: (1)program kegiatan Kodim 0820 Kota Probolinggo dalam rangka upaya meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar; (2) pelaksanaan program kegiatan Kodim 0820 Kota Probolinggo dalam rangka upaya meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar; (3) faktor pendukung dan penghambat dalam penyelenggaraan program kegiatan Kodim 0820 Kota Probolinggo dalam rangka upaya meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar; (4) upaya yang dilakukan dalam menangani kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program kegiatan Kodim 0820 Kota Probolinggo dalamrangka upaya meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian ini berada di Kodim 0820, MTs Negeri dan SMK 1 Muhammadiyah Probolinggo. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi.Analisis data yang digunakan yaitu model Miles and Huberman dengan tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut;(1) program kegiatan Kodim 0820 dalam rangka upaya meningkatkan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar kota Probolinggo diantaranya, Pembinaan Wawasan Kebangsaan (Seminar Wawasan Kebangsaan), Pelatihan Bela Negara (Pelatihan Baris-Berbaris, Pengormatan Bendera Merah-Putih dan Saka Wira Kartika);(2) pelaksanaan seminar diadakan rutin setiap tahun ajaran baru dan juga bersifat sewaktu-waktu,Pelatihan Baris-Berbaris dan Pengormatan Bendera Merah-Putihdilakukan rutin setiap tahun ajaran baru dan latihan Saka dilaksanakan setiap hari Minggu;(3) faktor pendukung dalam pelaksanaan pembinaaan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar yaitu; (a) dari segi personel yaitu kecakapan personel yang telah terlatih dan menguasai wasbang; (b) dari segi sekolah yaitu adanya dukungan dan kerjasama berkelanjutan antara pihak sekolah dengan Kodim 0820 dan (c) dari segi siswa yaitu sikap antusias siswa. Sedangkan faktor penghambat yaitu; (a) dari segi personel Kodim 0820 yaitu cara mengajar yang monoton; (b) dari segi siswa yaitu adanya beberapa siswa yang kurang memperhatikan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatanpeningkatankesadaran bela negara bagi pelajar adalah sebagai berikut; (a) dari segi personel, yaitu personel Kodim 0820 yaitumenguasai keterampilan Pelatihan Baris-Berbaris dan Pengormatan Bendera Merah-Putihdengan baik; (b) dari segi pihak sekolah, adanya dukungan penuh dari pihak sekolah; (c) dari segi siswa, siswa dapat mengikuti kegiatan dengan baik; (d) faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan Saka Wira Kartika adalah adanya jalinan kerjasama dengan beberapa lembaga dalam halperlengkapan. Sedangkan faktor penghambat dalam pelatihan penghormatan bendera sama dengan pelaksanaan pelatihan baris-berbaris yaitu jadwal yang hanya sekali dalam setahun.; (4) berdasarkan kendala dari pelaksanaan kegiatan pembinaan wawasan kebangsaan solusi yang diberikan, antara lain; (a) solusi untuk menangani kendala dari segi personel Kodim 0820 cara mengajar yang monoton, dengan menyesuaikan cara mengajar dengan lingkungan yang dibina dan memberikan variasi; (b) solusi untuk menangani kendala dari segi siswa yaitu beberapa siswa yang kurang perhatian dan suka berbicara sendiri dengan temannya saat seminar berlangsung adalah dengan teguran, peringatan dan hukuman. Upaya yang dilakukan dalam menangani kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pelatihan Baris-Berbaris dan Pelatihan Penghormatan Bendera Merah Putih yaitu jadwal yang hanya sekali dalam setahun adalah dengan menambah jadwal pelaksanaan di sekolah minimal menjadi 3 kali dalam setiap tahun. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis dalam penelitian maka penulis memberikan saran kepada pihak terkait sebagai berikut: (1)bagi pihak Universitas Negeri Malang khususnya program studi PPKn, hasil penelitian ini seyogyanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menjalin kerjasama dengan Kodim 0833 kota Malang dalam rangka memberikan pembinaan kepada mahasiswa mengenai wawasan kebangsaan dan bela negara, (2) bagi pihak Kodim 0820, dapat menambah jadwal dalam pelaksanaan program kegiatan dalam rangka peningkatan wawasan kebangsaan dan bela negara agar hasil yang dicapai lebih maksimal. Serta semakin banyak menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di kota Probolinggo, (3) bagi pihak peneliti, untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam melakukan penelitian yang sejenis ataupun yang lain, (4) bagi mahasiswa lain, hendaknya perlu diadakan penelitian lanjutan mengenai program peningkatan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi pelajar, (5) bagi siswa, hendaknya setelah mendapatkan pembinaan mengenai wawasan kebangsaan dan bela negara dapat diterapkan di sekolah dan di lingkungan salah satunya adalah dengan wujud kedisiplinan, dan (6) bagi pihak sekolah, agar lebih meningkatkan kerjasama dengan pihak Kodim 0820 agar pelaksanaan pembinaan dapat lebih ditingkatkan lagi.

Pemanfaatan webquest sebagai media pembelajaran akuntansi untuk menin gkatan motivasi dan hasil bvelajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI KU 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen / Yunita Budi Artanti

 

Kata Kunci: Pembelajaran, WebQuest, motivasi, hasil belajar Perkembangan teknologi media berbasis internet berpotensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar. Salah satu media berbasis internet tersebut adalah WebQuest. Pembelajaran dengan menggunakan media WebQuest akan membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan, kreatif dan tidak membosankan sehingga akan memotivasi siswa dalam belajar dan akhirnya diperoleh hasil belajar yang optimal. Keller telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Perhatian (Attention), relevansi (Relevance), kepercayaan diri (Confidence), kepuasan (Satisfaction) atau ARCS, adalah prinsip-prinsip motivasi yang dapat digunakan untuk memotivasi seseorang agar belajar lebih baik. Penelitian ini merupakan penelitian sampel yang dilakukan kepada 31 siswa kelas XI KU 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner (angket) dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis Uji Beda Paired-Sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan WebQuest sebagai media pembelajaran belum dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan nilai Sig (2 tailed) (0,265) > (0,005). (2) pemanfaatan WebQuest sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menghasilkan nilai.sig (2-tailed (0,000) < (0,05), jadi kedua perlakuan memiliki hasil belajar yang berbeda. Saran yang dapat diberikan adalah (1) hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah untuk memperbaiki sistem pembelajaran dan fasilitas sekolah, sehingga terjadi perbaikan pada kualitas pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif, (2) para guru harus meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih kreatif dengan menggunakan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, dan (3) bagi penelitian selanjutnya yang akan mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk mengukur motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan diberikan dan memperluas penilaian hasil belajar pada ranah afektif serta psikomotor

Hubungan antara promosi penjualan dan periklanan dengan pencapaian omzet penjualan rumah/real estate pada beberapa developer di Kodya Malang
oleh Sugeng Iryanto

 

Manajemen kurikulum berbasis karakter (studi kasus di sekolah dasar negeri Percobaan 1 Malang) / Benny Irawan

 

Kata kunci: strategi, manajemen kurikulum, karakter Globalisasi telah membawa dampak yang luas di belahan bumi manapun, tak terkecuali di Indonesia. Globalisasi bisa berdampak positif ataupun sebaliknya. Dampak negatif globalisasi tersebut diantaranya kekerasan, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, kriminalitas dan sebagainya. Semua hal tersebut berakibat hilangnya karakter bangsa. Oleh karena itu pendidikan karakter merupakan salah satu penyaring efek negatif dari globalisasi. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah sebagai alat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sudah mulai tergerus oleh arus globalisasi. Pengintegrasian muatan karakter ke dalam kurikulum merupakan terobosan yang digunakan dalam menanamkan karakter yang luhur pada diri peserta didik. Hal ini dapat dilakukan melalui Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kegiatan pengembangan diri dan kegiatan pembiasaan. Ketiga hal tersebut merupakan sarana yang efektif dalam penanaman karakter di SDN Percobaan 1 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) perencanaan kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang, (2) pelaksanaan kurikulum berbasis karakter di SD Negeri Percobaan 1 Malang, (3) evaluasi kurikulum berbasis karakter di SD Negeri Percobaan 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi penelitian berada di SDN Percobaan 1 Malang. Sekolah ini memiliki motto,”Anggun dalam Berfikir dan Anggun dalam Berbudi Pekerti”. Dengan demikian sekolah ini tidak hanya mementingkan aspek akademik saja akan tetapi juga mengutamakan juga tentang pembentukan karakter luhur dalam diri peserta didik. Itulah alasan peneliti memilih SDN Percobaan 1 Malang sebagai lokasi penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk memperoleh data menggunakan teknik sampling yaitu mencari informan yang memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan fokus penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala SDN Percobaan 1 Malang, Wakil Kepala SDN Percobaan 1 Malang, Guru Kelas dan bapak ibu guru yang berperan dalam penanaman karakter pada peserta didik. Berdasarkan proses pengumpulan dan analisis data didapatkan hasil berikut. Pertama, perencanaan kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang melewati beberapa langkah. Langkah awal yang ditempuh adalah mengembangkan nilai-nilai karakter dari pusat agar menjadi lebih beraneka ragam sehingga dapat lebih mengoptimalkan dalam penanaman karakter pada peserta didik. Selanjutnya nilai-nilai tersebut diintegrasikan ke dalam perangkat pembelajaran yaitu ke Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kedua, pelaksanaan atau implementasi kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang melewati beberapa macam cara, yaitu (1) terintegrasi dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Dalam Kegiatan Belajar Mengajar muatan karakter terintegrasi dalam proses pembelajaran; (2) terintegrasi dalam kegiatan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri di SDN Percobaan 1 Malang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kegiatan pengembangan diri secara terprogram dan kegiatan pengembangan diri yang tidak terprogram; (3) kegiatan pembiasaan. Kegiatan pembiasaan ini ada yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan. Ketiga, evaluasi kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang berkaitan dengan keefektifan penanaman muatan karakter pada diri peserta didik. Penilaian ini meliputi proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kegiatan pengembangan diri dan kegiatan pembiasaan. Penilaian ini memperhatikan indikator sekolah dan indikator kelas yang telah ditentukan. Peneliti memberikan saran kepada: (1) Kepala SDN Percobaan 1 Malang agar dapat mempertahankan dan mengembangkan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum yang telah berjalan selam ini, (2) Kepala Jurusan Administrasi Pendidikan agar dapat mempersiapkan lulusasan yang menguasai pengintegrasian karakter dalam kurikulum, (3) Mahasiswa Administrasi Pendidikan agar mempelajari tentang implementasi manajemen kurikulum berbasis karakter karena pendidikan karakter menjadi rencana jangka penjang Kementrian Pendidikan Nasional, (4) Peneliti lain agar melalukan penelitian yang sejenis di lokasi yang berlainan agar bisa mengembangkan kurikulum berbasis karakter.

Pengembangan media video pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal (studi pada kelas VII SMP Negeri 4 Malang) / Dozier Adventus Siregar

 

ABSTRAK Siregar, Dozier Adventus.2016. Pengembangan Video Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal (Studi Pada Kelas VII SMP Negeri 4 Malang). Tesis, Pendidikan Dasar IPS, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si (II) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, video pembelajaran, IPS, Kelas VII SMP Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang tujuannya adalah untuk mengembangkan video pembelajaran dengan materi potensi dan sebaran sumber daya alam Indonesia. Keunggulan dari penelitian ini ditunjukkan pada video yang memuat atau menonjolkan bentuk kearifan lokal yang ada di daerah Malang. Kearifan lokal berupa potensi sumber daya alam udara, air, hutan, tambang, laut, sehingga kearifan lokal di daerah Malang dapat dijaga secara arif agar potensi sumber daya alam dapat terjaga sampai ke generasi berikutnya. Pengembangan media video pembelajaran ini menggunakan modek Dick And Carey. Dimana langkah-langkahnya adalah (1) Analisis kebutuhan dan tujuan, (2) Analisis pembelajaran, (3) Analisis pembelajaran dan kontesk, (4) Merumuskan tujuan khusus, (5). Mengembangkan instrumen, (6) Mengembangkan strategi pembelajaran, (7) Mengembangkan dan memilih bahan pelajaran, (8) Merancang dan melakukan evalusia formatif, (9) Melakukan revisi, (10) Evaluasi sumatif. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah angket dan tes hasil belajar siswa berupa soal tes. Hasil penelitian pengembangan ini menunjukkan bahwa (1) Data dari ahli desain dan media menyatakan bahwa video pembelajaran potensi dan sebaran sumber daya alam Indonesia mencapai persentase 86,08% dengan kualifikasi valid atau layak (2) Data dari Ahli materi pembelajaran mencapai persentase 89,5% dengan kualifikasi valid atau layak (3) Data dari hasil uji coba perorangan mencapai persentase 87,14 dengan kualifikasi valid atau layak (4) Data dari hasil uji coba kelompok kecil mencapai persentase 84,5% dengan kualifikasi cukup valid atau cukup layak (5) Data dari hasil uji coba kelompok besar (lapangan) mencapai persentase 86,1% dengan kualifikasi valid atau layak (6) Data tes hasil belajar sumatif sesuai dengan konversi kriteria tingkat keberhasilan siswa diperoleh persentase 87,5%.

Pola hubungan magersari pemanfaatan lahan perhutani oleh masyarakat Dusun Sumbersari di Desa Tawangargo Kecamatan Karangploso / Ira Maya Santi

 

Kata kunci: Pola Hubungan, Sosial Ekonomi, Magersari. Penelitian tentang kehidupan sosial ekonomi petani magersari dalam pemanfaatan lahan Perhutani di Dusun Sumbersari Kecamatan Karangploso dilandasi oleh ketertarikan penulis terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat petani magersari yang tempat tinggal dan bertaninya merupakan lahan milik perhutani. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat tidak akan lepas dari kehidupan sosial ekonomi. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi sesama petani magersari di Dusun Sumbersari?; (2) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan Perhutani?; (3) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan pemilik modal?; (4) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan tengkulak?; (5) Bagaimana tingkat pendapatan petani magersari?. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan; (1) Pola hubungan sosial ekonomi sesama petani magersari di Dusun Sumbersari; (2) Pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan Perhutani; (3) Pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan pemilik modal; (4) Pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan tengkulak; (5) Mengetahui tingkat pendapatan petani magersari di Dusun Sumbersari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Subjek penelitiannya adalah masyarakat petani magersari di Dusun Sumbersari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: (a) mencatat yang menghasilkan catatan lapangan yang dilakukan di Dusun Sumbersari, (b) mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan data, (c) mencari dan menemukan pola dan hubungan dan membuat temuan-temuan umum, (d) kesimpulan wawancara dan kesimpulan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Hubungan masyarakat petani magersari dengan sesama petani magersari lainnya adalah saling membutuhkan satu sama lain. (2) Hubungan Perhutani dengan petani magersari membentuk hubungan patron-klien. Kedudukan Perhutani kuat terhadap petani magersari karena dapat membuat petani tergantung kepada Perhutani. Ketergantungn tersebut karena petani magersari membutuhkan tempat tinggal dan lahan pertanian untuk kelangsungan kehidupan perekonomian mereka. Meskipun petani magersari tergantung pada Perhutani, tetapi petani magersari tidak hanya menerima bantuan dari Perhutani tetapi juga memberi yaitu bekerja bakti, menyadap getah dan membayar siring kepada Perhutani; (3) Pola hubungan antara Koperasi dengan petani magersari terjadi karena petani membutuhkan modal untuk bertani. Hubungan Koperasai dengan petani magersari merupakan hubungan timbal balik (reciprocity). Hal ini dapat dilihat ketika petani membutuhkan modal maka petani meminjam modal ke Koperasi dengan jaminan BPKB kendaraan mereka dengan imbalan yang harus di berikan petani magersari kepada pihak koperasi adalah bunga sebesar 2,5% setiap bulannya dari nilai uang pinjaman. Sedangkan hubungan antara petani magersari dengan rentenir juga membentuk hubungan timbal-balik (Recyprocity). Rentenir meminta jaminan berupa KTP (kartu tanda penduduk) kepada petani magersari dengan tujuan untuk mengikat petani magersari, dari pemberian pinjaman uang tersebut petani magersari berusaha untuk memberi balasan dari pemberian tersebut melalui bunga sebesar 20% yang dibayarkan pada tiap minggunya; (4) Pola hubungan antara tengkulak dengan petani magersari terjadi karena petani yang kekurangan modal bergantung kepada tengkulak. Hubungan bersifat ketergantungan petani terhadap tengkulak. Hal ini dapat dilihat yaitu dengan adanya pemberian modal berupa uang, bibit maupun pupuk yang dipergunakan petani untuk kebutuhan pertanian, maka menjadikan petani tidak berani menjual hasil pertaniannya ke orang lain, sehingga dalam memasarkan hasil pertaniannya petani magersari menjualnya ke tengkulak yang telah memberikan modal sebelumnya. Kalaupun petani magersari menjual ke orang lain mereka harus melakukan secara sembunyi-sembunyi, hubungan petani magersari dengan tengkulak yang juga sebagai petani magersari membentuk suatu patron-klien.(5) Tingkat penghasilan petani magersari adalah rendah dan cukup. Rendah ketika mengalami kegagalan panen, cukup saat hasil panen bagus. Untuk saran dalam penelitian ini yaitu: (1) Diharapkan pemerintah dapat memberikan pendidikan dalam mengelola pertanian dan keuangan, supaya masyarakat magersari tidak semakin terjerat oleh hutang, (2) Diharapkan Perhutani lebih memahami kondisi masyarakat petani magersari supaya terjalin kerjasama yang lebih baik, (3) Untuk menindak-lanjuti karya tulis ini, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang pola hubungan yang terjadi di Dusun Sumbersari dilihat dari dimensi lain, selain dimensi sosial ekonomi.

Illocutionary acts of the oath utterances employed in english translation of the noble qur'an / Fathur Rahman Macmud

 

Key Words: Noble Qur’an, Oath utterance, Illocutionary act, Illocutionary force, Speech act Linguistic phenomena in any kind of Islamic literatures are an interesting issue to investigate, especially the Holy Qur’an as the main source of Islamic literatures. The Qur’an which is in Arabic language has a rich pragmatic issue to conduct since it comes to be the main important point to interpret and ‘humanize’ the meaning of its utterances. In this case, it is important for every Muslim to understand the message of the Noble Qur’an, particularly for the implicit messages since it is the guidance book for mankind to implement. Thus, the pragmatic study of the Qur’an mostly deals with the illocutionary analysis to be the underlying theory in this study. In accordance with this reason, this study is aimed to find how illocutionary acts used and the illocutionary force performed particularly in the oath utterances in English translation of the holy Qur’an. What makes this study crucial to be conducted is that the oath utterances as messages from the speaker (God) are essential to be completely understood by the hearer (people). Thus, the context analysis is needed to get the intentional meaning of the speaker in the oath utterances which tend to be implicitly performed. To figure out the speaker’s intentions on his utterances, the researcher used descriptive qualitative because it deals with the nature of the real situation and is designed to obtain information concerning the linguistic phenomena. The researcher made himself as the key instrument that collected the data from the English translation of the Noble Qur’an. The fourteen data of this study are the oath utterances in English translation of the Noble Qur’an chapter 30 since they are mostly found in this chapter. After analyzing the data, the researcher found that the object of oath utterances used mostly in the form of concrete noun rather than abstract one. This finding shows that the speaker (God) most frequently uses the concrete objects to make the oath utterances more understandable and make sense to the hearer. The five illocutionary act types of Searle are performed in the oath utterances of the Noble Qur’an, namely assertive and commissive, directive, declarative, and expressive. These five types of illocutionary acts are performed in two different ways: direct and indirect. The form of assertive and declarative are performed in direct ways by the speaker to make them as informative as possible. However, commissive, directive, and expressive are mostly indirectly performed by using some figurative languages.

Kovariasi keruangan antara jarak dari jalan utama dan kenyamanan bermukim dengan nilai tanah di Kotamadya Malang / oleh Suwandak

 

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar siklus akuntansi siswa kelas X SMK Ardjuna 2 Malang / Maria Sudarwati

 

Kata Kunci: pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, prestasi belajar siswa. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sumber belajar yang dapat menunjang peningkatan kualitas pendidikan karena perpustakaan sekolah merupakan bagian penting dari komponen pendidikan yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari lingkungan sekolah. Sebagai sumber belajar, perpustakaan sekolah berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajar siswa, membantu siswa dan guru dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar (X), sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar (Y). Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Ardjuna 2 Malang yang berjumlah 49 siswa. Data diperoleh dari hasil kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis regresi linier sederhana digunakan untuk menganalisis seberapa jauh pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siklus akuntansi siswa kelas X SMK Ardjuna 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan adalah: (1) guru memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai pusat pembelajaran selain di kelas; (2) populasi yang digunakan lebih besar dari populasi penelitian ini serta mengembangkan permasalahan yang dibahas dan teknik pengumpulan data tidak hanya dilakukan dengan kuesioner (angket) saja tetapi dapat dikombinasikan dengan teknik wawancara atau observasi sehingga hasil penelitian nantinya dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar mengajar.

Penyimpangan mitos perang Baratayuda dalam novel Perang" Putu Wijaya
oleh M. Sinwan"

 

Peningkatan keterampilan memahami isi teks bacaan melalui media buku cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indinesia kelas II SDN Jatimulyo 1 malang / Maya Kristiningrum

 

Kata Kunci: Memahami isi teks bacaan, buku cerita bergambar, Bahasa Indonesia,Sekolah Dasar Hasil pengamatan pada siswa kelas II SDN Jatimulyo I, ditemukan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia aspek membaca belum terlaksana dengan optimal. Siswa terlihat kurang berminat dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, karena (1) siswa belum bisa memahami kosakata yang ada dalam bacaan. (2) siswa belum bisa memahami kalimat yang ada dalam bacaan. (3) siswa belum bisa memahami isi paragraf dalam bacaan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) mendeskripsikan proses penggunaan media buku cerita bergambar untuk meningkatkan kemampuan memahami isi teks bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami isi teks bacaan melalui media buku cerita bergambar dalam pembelajaran memahami isi teks bacaan siswa. Pemecahan masalah dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas dengan menggunakan media buku cerita bergambar. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas II yang berjumlah 20 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan tes, observasi dan wawancara. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisa secara deskritif kualitatif. Hasil peneitian siklus I dan II menunjukkan perubahan positif terhadap hasil keterampilan siswa. Penggunaan buku cerita bergambar dapat meningkatkan keaktifan proses pra membaca dari rata-rata 2,3 menjadi 2,5 pada siklus II. Proses saat membaca dari 1,95 menjadi 2,5 di siklus ke II. Pada proses pasca membaca dari rata-rata 1,7 menjadi 2,2 di siklus II. Guru disarankan untuk menerapkan dan mengembangkan penggunaan media buku cerita bergambar tersebut ke dalam kompetensi atau materi lain sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Dalam penelitian ini masih ada siswa yang belum menimgkat hasil keterampilan memahami isi teks bacaan. Hal ini disarankan untuk dapat ditingkatkan oleh peneliti-peneliti lain dalam kegiatan serupa, sehingga hasil belajar bisa lebih baik.

Alat pemberi pakan ayam otomatis berbasis mikrokomtroler / Septian Benny Pradana Putra .

 

Kata kunci: Paakan Ayam , Otomatis, mikrokontrol. Mikrokontrolmerupakan bagian tak terpisahkan dari proses otomasi. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu :alamat, instruksi, dan operand. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah : (1) Mengetahui bagaimana Perancangan pakan ayam otomatis berbasis mikrokontrol.(2mengetahuibagaimana aplikasi rancangan pakan ayam otomatis berbasis mikrokontrol.(3)mengetahui jalanya proses pakan pada pakan ayam otomatis berbasis mikrokontrol.Metode perancangan meliputi : (1) perancangan pengaturan sensor, (2) perancangan sistem kontrol (hardware), (3) perancangan program (software). Prinsip kerja dari sistem kontrol ini adalah pengaturan volume pakan yang diatur oleh sensor photodiode.Yang dalam proses pengisian tempat pakan menggunakan program mikrokontrol. Hasil dari analisis tersebut antara lain:(1) perpindahan crane dari posisi awal sampai ke tempat pakan, (2) pengaturan volume pakan dengan menggunakan mikrokontroler, akan selalu memantau setiap hai (3) motor menggerakkan crane yang akan mengisi pakan sesuai dengan program mikrokontroler yang telah dibuat dan dikontrol oleh sensor. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan : (1)untuk mengatur volume pakan sesuai kebutuhan ayam digunakan mikrokontroler, dimana volume pakan akan terus dipantau sesuai dengan program yang telah dibuat dan akan berjalan sesuai timer. (2) setting hardware dan software menggunakan rangkaian sensor, rangkaian driver motor dan solenoid yang diolah oleh mikrokontroler(3)untuk membatasi atau mengetahui jumlah pakan ayam sudah penuh apa tidak digunakan rangkaian sensor.

Suksesi kepemimpinan nasional presiden 1996 ditinjau dari sudut hukum tata negara
oleh Evy Sophia

 

Pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja melalui kepercayaan pada atasan (Studi kasus karyawan PT. Catur Elang Perkasa KMota Surabaya) / Yogi

 

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan Transformasional, Kepercayaan pada Atasan, Kepuasan kerja. Kepemimpinan adalah suatu proses pemimpin mengarahkan dan mempengaruhi bawahan nya dalam suatu pekerjaan. Gaya kepemimpinan transformasional adalah suatu gaya kepemimpinan yang didalamnya menekankan bahwa seorang pemimpin mampu menciptakan visi dan lingkungan yang memotivasi bawahannya untuk bekerja melampaui harapan nya. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan faktor penentu didalam sebuah organisasi yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja dan kepercayaan pada atasan. Kepuasan kerja merupakan suatu hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi, hal ini dikarenakan kepuasan kerja dinilai mapu untuk mempengaruhi jalannya organisasi secara keseluruhan. Pemimpin dipercaya untuk memainkan peran utama dalam membangun dan mengembangkan kepercayaan dalam sebuah organisasi, karena pemimpin yang dapat dipercaya akan membawa sebuah organisasi dimana diperlukan tugas-tugas yang kompleks memerlukan tingkat saling ketergantungan, kerja sama dan berbagi informasi. Penelitian ini dilakukan di PT. Catur Elang Perkasa Surabaya, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan operasional PT. Catur Elang Perkasa Surabaya yang berjumalah 90 karyawan, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 74 karyawan dan teknik pengambilan sampel berupa Purposive Sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas (X1) gaya kepemimpinan transformasional, variabel intervening (Z) kepercayaan pada atasan, dan variabel terikat (Y) kepuasan kerja. Data diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung yang signifikan gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepercayaan pada atasan; (2) terdapat pengaruh langsung yang signifikan gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja; (3) terdapat pengaruh langsung yang signifikan Kepercayaan pada Atasan terhadap kepuasan kerja. Deskripsi penelitian menyatakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional tinggi, kepercayaan pada atasan tinggi dan kepuasan kerja juga berada pada tingkatan puas. Saran yang bisa diberikan untuk PT. Catur Elang perkasa Surabaya untuk lebih menguatkan gaya kepemimpinan transformasional hendaknya perusahaan diharapkan mampu mengumpulkan informasi yang akurat dan lengkap dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk pengalokasian hasil keputusan terhadap karyawan. Hasil penelitian menunjukan tingkat kepuasan kerja yang cukup. Untuk lebih meningkatkan tingkat kepuasan kerja hendaknya perusahaan lebih memperkuat hubungan interpersonal terhadap karyawan. Karena dengan kepuasan kerja yang minim dapat mempengaruhi ondisi perusahaan dalam jangka panjang yang terutama berkaitan dengan kepercayaan yang akan semakin menurun dalam menghadapi berbagai macam perubahan yang dinamis.

Identifikasi teknik-teknik pengubahan perilaku dalam penerapan pemikiran Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah untuk pengentasan pelaku seks bebas dan homoseks (kajian analisis hermeneutika bersusun) / Aswar

 

ABSTRAK Aswar. 2016. Identifikasi Teknik-Teknik Pengubahan Perilaku Dalam Penerapan Pemikiran Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah Untuk Pengentasan Pelaku Seks Bebas dan Homoseks. Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Andi Mappiare-AT, M.Pd., (II) Dr. H. M. Ramli, MA. Kata-kunci: Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, teknik-teknik pengubahan perilaku, seks bebas dan homoseks. Perilaku seks bebas dan homoseks di kalangan pelajarmenunjukkan keprihatinan. Nada-nadanya menyuratkan konstribusi riil bimbingan dan konseling dalam upaya pencegahan dan pengentasan perilaku malasuai tersebut. Adapun melalui pengkajian teks pemikiran Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah diyakini dapat memberikan sajian solutif atasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif-ekploratif, dengan strategi analisis hermeneutika bersusun. Data teks dalam penelitian ini adalah:1) teks pemikiran Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah melalui sejumlah kitab karangannya; 2) data lapangan diperoleh dari subjek terteliti lapangan yaitu ustadz/roqy/praktisi melalui interviu; dan 3) data observasi melalui pengamatan situasi Ma’had ‘Aly al-Aimmah Malang, dan situasi prosesi ruqyahsyar’iyyah tim RSC-M. Adapun pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi, validasi intersubjektivitas, dan peer review. Tujuan penelitian ini adalah: 1) memperoleh sejumlah keterangan deskriptif-ekploratif terkait sasaran intervensi pengubahan perilaku seks bebas dan homoseks berdasarkan teks pemikiran Ibnu Qoyyim al-Jauziyah; 2) memperoleh sejumlah keterangan deskriptif-eksploratif terkait analisis dan diagnosis masalah pelaku seks bebas dan homoseks berdasarkan teks pemikiran Ibnu Qoyyim al-Jauziyah; 3) memperoleh sejumlah pemahaman deskriptif-ekploratif pada tiap bentuk perlakuan yang dapat dijadikan sebagai teknik pengubahan perilaku seks bebas dan homoseks berdasarkan teks pemikiran Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa: 1) sasaran intervensi pengubahan perilaku berfokus di pikiran/keyakinan; 2) analisis dan diagnosis masalah pelaku seks bebas dan homoseks berkutat pada pikiran/keyakinan tidak sehat dan perbuatan/kebiasaan tidak sehat. Adapun 3) teknik-teknik pengubahan perilakuuntuk pengentasan perilakuseks bebas dan homoseks yaitu: a) teknik intervensi pikiran; b) teknik mengatasigangguan syahwat; c) teknik mengatasi homoseks; dan d) praktik ibadah sebagai teknik pengubahan perilaku. Implikasi dari penelitian ini adalah dapat dimanfaatkan oleh segenap profesiyang bersifat helping profession seperti konselor, Guru, dan psikolog sebagai kerangka konseptual untuk intervensi pengubahan perilaku malasuai. Adapun saran-saran dan pengharapan penelitian selanjutnya yaitu: 1) hasil penelitian ini seyogianya diterapkan di lingkungan pendidikan dan sosial-masyarakat; 2) ditindak lanjuti dengan penelitian action research; dan 3) peneliti berharap ada upaya penelitian selanjutnya yang berbasis kajian pemikiran ulama klasik yang dapat diserap ke dalam bimbingan dan konseling.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |