Pengembangan permainan sirkuit bakiak untuk pembelajaran fisik motorik kasar anak kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang / Lilik Maslahah Muslimin

 

ABSTRAK Muslimin, Lilik Maslahah, 2012. Pengembangan Permainan Sirkuit Bakiak Untuk Pembelajaran Fisik Motorik Kasar Anak Kelompok B di TKAisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Drs. Heru Widijoto, M. S (2) Retno Tri Wulandari, S. Pd, M. Pd Kata Kunci: Pengembangan, Permainan, Sirkuit Bakiak, Fisik Motorik Kasar Permainan bakiak merupakan permainan tradisional yang dilakukan menggunakan bakiak dan diharapkan dapat mengembangkan fisik motorik anak, mudah untuk dilakukan, menyenangkan serta tidak membahayakan bagi anak. Guru di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang belum pernah menerapkan permainan sirkuit bakiak. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengembangkan permainan sirkuit bakiak yang diharapkan dapat menyenangkan, mudah, dan aman dilakukan serta sebagai salah satu alternatif pembelajaran fisik motorik kasar anak taman kanak-kanak yang dilaksanakan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Prosedur pengembangan permainan sirkuit bakiak menggunakan 7 langkah pengembangan. Data penelitian yang digunakan diperoleh dari evaluasi ahli, uji kelompok kecil, dan uji kelompok besar. Subjek penelitian yakni anak kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang yang berjumlah 30 anak. Jenis data yang digunakan yakni data kuantitatif sedangkan instrument yang digunakan berupa pedoman observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase. Hasil evaluasi dari dua ahli pembelajaran dan satu ahli fisik motorik menunjukkan bahwa permainan sirkuit bakiak bisa digunakan sebagai salah satu pembelajaran fisik motorik kasar untuk anak TK. Uji coba kelompok kecil dan uji kelompok besar anak dapat mengembangkan fisik motorik kasar yang meliputi 4 komponen kebugaran dan 1 komponen ketrampilan: kelentukan, kelincahan, keseimbangan, kekuatan dan ketepatan. Berdasarkan data hasil pengembangan permainan sirkuit bakiak, dapat disimpulkan permainan tersebut mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan anak. Permainan sirkuit bakiak ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pembelajran fisik motorik kasar anak kelompok B. Hasil pengembangan ini dapat diuji kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah- sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya untuk menguji tingkat keefektifan dari produk yang dikembangkan.

Pengaruh konsentrasi surfaktan Alkil Benzena Sulfonat (ABS) terhadap adsorpsi ion cd2+ oleh serbuk nata de coco menggunakan metode batch / Edeldreda Bone

 

ABSTRAK Bone, Edeldreda. 2011. Pengaruh Konsentrasi Surfaktan Alkil Benzena Sulfonat (ABS) terhadap Adsorpsi Ion Cd2+ oleh Serbuk Nata de Coco dengan Metode Batch. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D, Pembimbing (2) Neena Zakia, S.Si, M.Si. Kata Kunci: adsorpsi, nata de coco, surfaktan alkil benzena sulfonat (ABS), ion Cd2+ Adsorpsi merupakan proses penarikan komponen dari campuran gas atau cair dimana komponen yang dipisahkan, diadsorpsi oleh permukaan adsorben. Media yang biasa digunakan sebagai adsorben adalah bahan yang mempunyai struktur permukaan berpori karena rongga-rongga dalam pori tersebut akan mempengaruhi ion-ion dan molekul terperangkap pada permukaan pori. Selulosa nata de coco merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai adsorben karena memiliki ukuran pori yang lebih kecil dibanding selulosa pada adsorben lain, kekuatan tarik tinggi, dan mempunyai gugus –OH yang dapat berinteraksi dengan komponen adsorbat. Dalam penelitian ini digunakan ion Cd2+ sebagai adsorbat dengan penambahan surfaktan ABS untuk mempermudah proses adsorpsi karena surfaktan mempunyai kemampuan menurunkan tegangan permukaan air (larutan adsorbat) sehingga mempermudah penyerapan ion Cd2+ oleh adsorben serbuk nata de coco. Penelitian bersifat eksperimental laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Penelitian Jurusan Kimia dan Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA UM. nata de coco diperoleh setelah masa inkubasi selama 10-15 hari, kemudian dikeringkan dan diblender untuk diperoleh serbuk. Metode adsorpsi yang digunakan adalah metode Batch. Serbuk nata de coco sebanyak 0,3 g dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL yang telah berisi 50 mL larutan ion Cd2+ untuk konsentrasi 50 ppm dan juga 15 ppm masing-masing 3 erlenmeyer yang sebelumnya kedalam setiap konsentrasi larutan tersebut dilarutkan pasta surfaktan ABS dengan variasi berat surfaktan ABS 0,005 g; 0,01 g; 0,05 g, kemudian dishaker dengan kecepatan 100 rpm selama 60 menit, setelah itu disaring, filtrat ditampung dan diukur dengan AAS untuk mengetahui kadar ion Cd2+ teradsorpsi, dan untuk analisis kadar surfaktan ABS yang teradsorpsi menggunakan metode MBAS. Panjang gelombang maksimum dari surfaktan diukur dengan UV-Vis dan diperoleh nilai tertinggi pada λ 680 nm, sedangkan pengukuran absorbansinya menggunakan spektronik 20D+. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (a) Penurunan konsentrasi ion Cd2+ dalam larutan adsorbat yakni dari 50 ppm ke 15 ppm berpengaruh secara signifikan terhadap adsorpsi ion Cd2+, (b) Persentase teradsorpsi ion Cd2+ menurun seiring dengan banyaknya penambahan surfaktan, sedangkan persentase teradsorpsi ion Cd2+ tanpa penambahan surfaktan lebih besar dibanding dengan penambahan surfaktan, (c) persentase surfaktan teradsorpsi berbanding lurus dengan banyaknya penambahan surfaktan.

Uji efektivitas ekstrak etanol daun besaran (Morus alba L.) dengan berbagai konsentrasi dalam penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro / Anggia Oktantia

 

Kata Kunci: ekstraketanoldaunbesaran, dayahambat, pertumbuhan, Staphylococcus aureus. Besaran (MorusalbaL.) merupakantanaman yang termasukdalamfamiliMoraceae. Biasanyadaunbesarandigunakanolehmasyarakatuntukmengatasiberbagaimacampenyakitterutama yang berhubungandengansaluranpernafasanyaitubatuk.Staphylococcus aureusmerupakan flora normal dalamsaluranpernafasandandapatmenyebabkanpenyakitbiladalamjumlah yang besar.Daunbesaranmengandungbeberapasenyawaaktif yang didugabersifatantibakteriantara lain: quercetindanantosianin. Senyawaaktiftersebuttermasukdalamsenyawafenol. Penelitianinibertujuanuntuk: (1) menganalisispengaruhekstrakdaunbesarandalamberbagaimacamkonsentrasiterhadappenghambatanpertumbuhanbakteriS. aureussecara in vitro, (2)menentukan konsentrasi ekstrak daun besaran yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro, (3) menentukan kriteria daya antibakteri ekstrak daun besaran pada masing-masing konsentrasi ekstrak. Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu di laboratorium Mikrobiologi, jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang dan di laboratorium ekstraksi Balai Materia Medika Batu pada bulan Februari-Mei 2012. Jenis penelitian ini ialah penelitian eksperimental. Rancangan yang digunakan ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan beberapa macam konsentrasi ekstrak daun besaran, yaitu 0%, 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85%, dan 95% yang diulang sebanyak tiga kali. Ekstrak daun besaran diperoleh dengan melarutkan serbuk simplisia daun besaran ke dalam alkohol 95% dengan perbandingan 1:3, kemudian dibuat beberapa macam konsentrasi tersebut. Pengujian daya hambat pertumbuhan S. aureus dengan menggunakan metode difusi agar. Penentuan daya hambat pertumbuhan S. aureus berdasarkan hasil pengukuran diameter zona jernih yang terbentuk di sekeliling lubang sumuran yang berisi ekstrak daun besaran dikurangi dengan diameter lubang sumuran pada medium Nutrien Agar (NA). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analisis Variansi Tunggal dan dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh ekstrakdaunbesarandalambeberapamacamkonsentrasiterhadappenghambatanpertumbuhanbakteriS. aureussecara in vitro; (2) Konsentrasiekstrakdaunbesaran yang memilikidayahambat paling efektifterhadappertumbuhanS. aureusyaitu 75%. (3)Konsentrasi 75% termasuk dalam daya antibakteri yang tergolong kuat sedangkan konsentrasi yang lain tergolong sedang.

Analisis pengaruh nilai tukar, tingkat suku bunga SBI, dan laju inflasi terhadap indeks harga asaham gabungan di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010 / Moh. Wiranda Arif

 

Kata Kunci : Nilai Tukar, Suku Bunga, Tingkat Inflasi, Indeks Harga Saham Gabungan, Error Correction Model ( ECM ) Pada saat ini, hampir semua Negara menaruh perhatian besar terhadap pasar modal, karena memiliki peranan strategi untuk menguatkan ketahanan ekonomi suatu negara pasar modal merupakan salah satu instrument ekonomi yang mengalami perkembangan sangat pesat saat ini. Pasar modal merupakan indikator kemajuan perekonomian suatu negara serta menunjang ekonomi negara yang bersangkutan, Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang sedang berkembang (emerging market), yang dalam perkembangannya sangat rentan terhadap kondisi makroekonomi secara umum. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan cerminan dari kegiatan pasar modal secara umum. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengaruh variabel Nilai tukar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 – 2010. Bagaimana pengaruh variabel Suku bunga SBI terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 – 2010. Bagaimana pengaruh variabel Laju inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 – 2010. Bagaimana pengaruh variabel nilai tukar, tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi secara bersama – sama terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 – 2010. Penelitian ini dilakukan pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010. Data yang digunakan adalah data yang diperoleh dari perpustakaan Bank Indonesia dan www.yahoofinance.com. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel nilai tukar rupiah/dollar, tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi. Sedangkan sebagai variable dependen adalah indeks harga saham gabungan (IHSG). Alat analisis yang digunakan adalah Eviews 5.1 dengan menggunakan model analisis koreksi kesalahan atau Error Correction Model ( ECM ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial ada pengaruh signifikan antara nilai tukar rupiah/dollar dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan tingkat suku bunga SBI berpengaruh signifikan negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baik dalam jangka pendek atau dalam jangka panjang. Namun tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Inflasi dalam jangka panjang terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan dalam jangka pendek variabel Inflasi berpengaruh negatif signifikan. Terdapat pengaruh signifikan antara tingkat inflasi, nilai tukar rupiah/dollar dan tingkat suku bunga SBI secara bersama-sama terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai referensi tambahan bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian mengenai indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini berguna bagi investor dalam mengambil keputusan untuk menginvestasikan dananya pada pasar saham.

Studi morfologi vegatatif dan spora tumbuhan paku di wilayah Universitas Negeri Malang / Novita Sari

 

Kata kunci : Morfologi Vegetatif Tumbuhan Paku, Spora, Universitas Negeri Malang Tumbuhan paku memiliki morfologi vegetatif yang menarik. Tumbuhan ini memiliki ukuran dan penampilan khas, tetapi kurang mendapat perhatian dari mahasiswa karena (1) tumbuhan paku di Universitas Negeri Malang sebagian be-sar tumbuh secara epifit dipohon sehingga tidak terlihat secara langsung (2) spora dan sporangium berukuran kecil sehingga sulit diamati secara langsung. Kampus Universitas Negeri Malang terletak di ketinggian 450 dpl yang memungkinkan ditemukan berbagai tumbuhan paku. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Juli 2012. Pengambilan spesimen tumbuhan paku di wilayah Universitas Negeri Malang dengan metode jelajah bebas. Spesimen yang diteliti adalah tumbuhan paku yang saat penelitian menghasilkan spora. Tujuan penelitian untuk (1) mengetahui keanekaragaman tumbuhan paku di kampus UM (2) mengetahui ciri morfologi vegetatif dan spora (3) menyediakan kunci untuk mengenal spesies tumbuhan paku yang ditemukan di kampus UM. Hasil dari penelitian didapatkan 16 spesies tumbuhan paku dalam 7 suku dan 13 marga. Variasi morfologi meliputi morfologi daun, letak sorus, dan susunan sporangium. Spora tumbuhan paku yang ditemukan berbentuk segitiga, bulat, dan cembung. Ukuran spora berkisar 10,6 μm-58,2 μm; berornamentasi ekinat, retikulatus, ekinat dengan sayap, psilat, dan verukat; sedangkan tipe apertura trilet, monolet, monoporat. Kunci identifikasi berdasarkan ciri khusus morfologi vegetatif dan spora. Berdasarkan hasil observasi saat penelitian tidak semua tumbuhan paku membentuk spora, sehingga disarankan untuk diteliti lebih lanjut. Ciri yang diamati digunakan untuk kepentingan identifikasi, bukan ciri untuk menentukan kekerabatan, sehingga disarankan untuk diteliti kekerabatannya.

Penerapan permainan bola zig-zag untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar pada anak kelompok A di TK Permata Bunda Malang / Defi Ardianti

 

Kata Kunci:Permainan Bola Zig-Zag, Keterampilan motorik kasar, TK Permata Bunda Malang. Peningkatan keterampilan motorik kasar anak TK berperan penting terhadap pertumbuhan aspek perkembangan kemampuan anak,akantetapi dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran masih jarang dilaksanakan secara maksimal. Kegiatan pembelajaran di TK Permata Bunda dilakukan di dalam kelas sehingga anak-anak kurang bebas dalam bergerak.Keterbatasan alat permainan yang tidak bervariatif membuat anak kurang bersemangat dan bosan.Selain itu pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar jarang menerapkan kegiatan yang dirancang melalui permainan. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan permainan bola zig-zag dalam meningkatkan keterampilan motorik kasar pada anak TK A, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan motorik kasar anak TK A melalaui permainan bola zig-zag. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas, dengan subyek penelitian anak kelompok A yang berjumlah 15 anak terdiri dari 8 anak laki- laki dan 7 anak perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus, masing- masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Teknik pengumpulan data yang diambil melalui observasi penilaian aktivitas anak dalam kegiatan permainan dan dokumentasi. Instrumen berupa lembar observasi aktivitas anak pada penerapan permainan bola zig-zag. Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian siklus I dan siklus II didapatkan bahwa penerapan permainan bola zig-zag dilaksanakan melalui persiapan dengan pemilihan anggota kelompok dan pelaksanaaan dengan kegiatan anak-anak melempar dan menangkap bola. Keterampilan motorik kasar anak mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II dengan prosentase skor kegiatan melempar bola 21,66%, menangkap bola 16,66%, penguasaan permainan 15% dan skor secara keseluruhan mengalami peningkatan 17,77%. Disimpulkan bahwa permainan bola zig-zag dapat dilaksanakan dalam pembelajaran motorik kasar anak TK A. Permainan bola zig-zag juga dapat meningkatkan keterampilan motorik kasar pada anak kelompok A di TK Permata Bunda.Malang.Hal tersebut dapat dibuktikan dengan peningkatan skor dan nilai yang diperoleh anak pada setiap siklusnya.

Penerapan model quantum teaching dalam hubungannya dengan hasil belajar PKn di kelas IV SDN wilayah UPTD Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar / Aditya Pamungkas Prahara

 

Peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah melalui model pembelajaran problem solving pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Bangsri 01 Kabupaten Blitar / Aris Mutmainah

 

ABSTRAK Mutmainah, Aris. 2012. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Memecahkan Masalah Melalui Model Pembelajaran Problem Solving pada Mata Pelajaran PKn Kelas V SDN Bangsri 01 Kabupaten Blitar.Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Widayati, MH., (II) Dra. Sri Nuryati, M.Pd. Katakunci: kemampuan siswa, problem solving, pembelajaran PKn, Bangsri Kemampuan siswa SDN Bangsri 01 dalam memecahkan masalah pada mata pelajaran PKn masih sangat kurang. Hal ini disebabkan, pembelajaran PKn yang dilakukan oleh guru lebih berorientasi pada aktivitas hafalan. Oleh karena itu penelitian mengenai peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sangat diperlukan, salah satunya adalah melalui model problem solving. Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang mendorong siswa untuk menyelesaikan suatu masalah dengan mengembangkan proses berpikir kritis dan kreatif melalui aktivitas atau tahapan tertentu. Model problem solving dilakukan melalui beberapa tahap yaitu menggali dan menemukan masalah, memahami hakikat masalah, menetapkan hipotesis atau rencana pemecahan masalah, melakukan pengujian data serta menarik kesimpulan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model problem solving pada mata pelajaran PKn kelas V serta untuk mendeskripsikan penerapan model problem solving dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Bangsri 01 Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus masing-masing dua kali pertemuan. Data penelitian yang berupa paparan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran diperoleh dari observasi ketika pembelajaran berlangsung.Sedangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah diperoleh dari pemberian tes tertulis. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes tertulis. Analisis data berupa teknik kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Pengukuran aktivitas siswa dilakukan dengan teknik rentang nilai yang bersifat kualitatif, sedangkan pengukuran kemampuan siswa dilakukan dengan berpedoman pada kriteria ketuntasan minimal (KKM) SDN Bangsri 01 dengan perhitungan ketuntasan kelas sebesar 70%. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan sebagai hasil penelitian sebagai berikut.Pertama, penerapan model pembelajaran problem solving pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Bangsri 01 Kabupaten Blitar dapat meningkatkan aktivitas siswa terutama dalam tahap penyelesaian masalah.Kedua, penerapan model pembelajaran problem solving pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Bangsri 01 Kabupaten Blitar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

Analisis faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi partisipasi masyarakat memelihara lingkungan perkotaan di Kota Probolinggo (Studi kasus Kelurahan Sukabumi Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo) / Hengky Firman Syaah

 

Kata Kunci: Pendididkan, Pekerjaan, Pendapatan, Partisipasi Masyarakat Dalam pembangunan perkotaan, lingkungan perkotaan memiliki kekuatan yang sangat besar terhadap terciptanya kota yang sehat. Untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang sehat perlu adanya partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Dilihat dari segi sosial ekonomi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dari partisipasi masyarakat memelihara lingkungan perkotaan, antara lain yaitu pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Dari ketiga faktor tersebut sangatlah berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat memelihara lingkungan perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor sosial ekonomi mana yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap partisipasi masyarakat memelihara lingkungan perkotaan. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian diperoleh dengan memberikan kuesioner kepada 280 responden yang merupakan warga masyarakat Kelurahan Sukabumi Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan empat variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas terdiri dari pendidikan (X1), pekerjaan (X2), pendapatan (X3). Sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah partisipasi masyarakat. Dari hasil penelitian dapat diketahui secara parsial faktor pendidikan faktor pekerjaan dan faktor pendapatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi masyarakat. Secara simultan faktor pendidikan, pekerjaan dan pendapatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi masyarakat memelihara lingkungan perkotaan. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil yang ditunjukkan melalui hasil analisis data menggunakan SPSS 17.0. kesimpulan lain yang dapat diambil adalah pendidikan, pekerjaan dan pendapatan memiliki pengaruh sebesar 0,503 atau 50,3% terhadap partisipasi masyarakat sedangkan sisanya sebesar 49,7% dipengaruhi oleh faktor lain.

Penerapan model Talking Stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IVA pada mata pelajaran IPS di SDN Sekarpuro Kecamatan Pakius Kabupaten Malang / Tri Muryani

 

ABSTRAK Muryani, Tri. 2012. Penerapan Model Talking Stick untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV A Pada Mata Pelajaran IPS di SDN Sekarpuro Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd (2) Murtiningsih, M.Pd. Kata Kunci: Model Talking Stick, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi di kelas IV A diketahui bahwa dalam pembelajaran IPS sebagian besar siswa mencapai hasil belajar di bawah KKM yang ditetapkan yaitu 65. Dari 25 siswa, hanya 7 siswa yang dinyatakan tuntas belajar, sedangkan 18 siswa lainnya memperoleh hasil belajar di bawah KKM. Persentase hasil belajar siswa juga masih belum mencapai 75% dari seluruh jumlah siswa di kelas. Hal itu karena guru dalam pembelajaran masih dominan menggunanakan metode ceramah sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kurang. Kenyataan inilah yang melatarbelakangi diadakannya PTK ini. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan rancangan PTK yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan yang mencakup: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV A di SDN Sekarpuro Kabupaten Malang dengan jumlah 25 siswa. Data penelitian diperoleh dari observasi, tes akhir pembelajaran dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal itu dibuktikan dengan peningkatan aktivitas siswa pada siklus 2 yang mencapai 82,4%, 2) pelaksanaan pembelajaran IPS dengan model Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan jumlah rata-rata siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 12 siswa dan pada siklus 2 sebanyak 20 siswa dari 25 siswa kelas IV A di SDN Sekarpuro Kabupaten Malang. Adanya siswa yang belum tuntas karena ada beberapa siswa yang tidak mau bertanya pada guru apabila ada kesulitan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV A di SDN Sekarpuro Kabupaten Malang. Oleh karena itu disarankan kepada guru untuk menggunakan model Talking Stick dalam pembelajaran IPS.

Peningkatan hasil belajar matematika dengan mengembangkan karakter kreatif melalui model learning cycle pada siswa kelas IV SDN Purworejo 3 Kabupaten Blitar / Yuniar Jiwastri

 

ABSTRAK Jiwastri, Yuniar. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Mengem-bangkan Karakter Kreatif melalui Model Learning Cycle pada Siswa Kelas IV SDN Purworejo 3 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H.M. Zainuddin, M.Pd, (II) Dra. Hj. Wasih D.S., M.Pd. Kata kunci: model Learning Cycle, Matematika, hasil belajar, karakter kreatif Mata pelajaran matematika membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Hasil observasi menunjukkan bahwa lebih dari 50% hasil belajar matematika siswa Kelas IV SDN Purworejo mendapatkan nilai di bawah KKM yang ditentukan yaitu 70 dan siswa pasif terhadap pembelajaran. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) pelaksanaan pembe-lajaran matematika melalui model learning cycle pada siswa Kelas IV SDN Pur-worejo 3 Kabupaten Blitar, (2) peningkatan hasil belajar matematika melalui mo-del learning cycle siswa Kelas IV SDN Purworejo 3 Kabupaten Blitar, dan (3) pe-ngembangan karakter kreatif dalam pembelajaran matematika melalui model lear-ning cycle siswa Kelas IV SDN Purworejo 3 Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, yai-tu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu pelaksanaan pembelajaran matema-tika melalui model learning cycle pada setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini tampak dalam persentase proses belajar siswa siklus I sebesar 74% dan me-ningkat 5,5 poin dalam siklus II yaitu sebesar 79,5%. Hasil belajar siswa pada siklus I mendapat persentase sebesar 70,2%, pada siklus II mendapat persentase sebesar 80%. Karakter kreatif siswa pada siklus I mendapat persentase sebesar 48,2%, pada siklus II mendapat persentase sebesar 63,6%. Kesimpulan penelitian adalah (1) pelaksanaan pembelajaran matematika melalui model learning cycle meningkat 5,5 poin dari 74% menjadi 79,5%, (2) hasil belajar siswa meningkat 9,8 poin dari 70,2% menjadi 80%, dan (3) karakter kreatif siswa meningkat 15,4 poin dari 48,2% menjadi 63,6%. Saran yang diajukan yaitu (1) Dalam melaksanakan pembelajaran, sebaik-nya guru memilih model pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa untuk mem-bangun pengetahuan sendiri tentang suatu materi, sehingga pengetahuan yang di-peroleh siswa dapat lebih bermakna, dan (2) Dalam penerapan pembelajaran ma-tematika, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang bisa membuat siswa berperan aktif menemukan konsep dan mengembangkan karakternya, salah satunya yaitu model learning cycle agar siswa tidak hanya diam, melainkan aktif dan kreatif dalam kegiatan menemukan konsep. ABSTRACT Jiwastri, Yuniar. 2012. The Improvement Of Mathematics Lear-ning Outcomes By Developing Creative Character Through Lear-ning Cycle Model Of Fourth Grader Students At Purworejo Ele-mentary School 3 Blitar. Thesis, Department of Primary and Pre-school Education, Faculty of Education, University of Malang. Counselor (I) Dr. H.M. Zainuddin, M. Pd, (II) Dra. Hj. Wasih D.S., M.Pd. Keywords: Learning Cycle Model, Math, learning outcomes, crea-tive character Mathematics courses equip students with the ability to think logically, analytical, systematic, critical, and creative, as well as the ability to cooperate. Observations indicate that more than 50% of the Class IV students learn mathematics SDN Purworejo KKM score below 70 and determined that passive students towards learning. To remedy the situation is done Classroom Action Research (CAR). The purpose of this study was to describe (1) the implementation of learning mathematics through the learning cycle model of Class IV student of SDN Pur-worejo 3 Blitar, (2) improved learning outcomes through the model's mathematical learning cycle students SDN Purworejo Class 3 District IV Blitar, and (3) the creative character of the development in learning mathematics through the model cycle learning Class IV students SDN Purworejo 3 Blitar. The method used in this research is descriptive qualitative research design is the PTK. This is a collaborative research model, yai-tu researchers act as implementers observers in teaching and learning activities are assisted by fourth grade teacher as an observer. Results of research on the implementation of learning math through learning cycle models has increased in every cycle. This is evident in the percentage of student learning cycle of 74% and her soared 5.5 points in the second cycle is equal to 79.5%. Student learning outcomes in the cycle I got a percentage of 70.2%, in the second cycle got a percentage of 80%. Creative character of students in cycle I got a percentage of 48.2%, in the second cycle got a percentage of 63.6%. Conclusions: (1) the implementation of learning mathematics through the learning cycle models increased 5.5 points from 74% to 79.5%, (2) the learning outcomes of students rose 9.8 points from 70.2% to 80%, and (3 ) creative character of students increased 15.4 points from 48.2% to 63.6%. Suggestions were put forward: (1) In carrying out of teaching, teachers should choose a model of learning that can enable students to construct their own knowledge about the material, so the knowledge that students can obtain more meaningful, and (2) In the application of learning mathematics, teachers should use a learning model that can make students actively discover concepts and develop his character, one that is a model learning cycle so that students not only silent, Inkan melaactive and creative in the activities of finding concepts.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model siklus belajar pada siswa kelas V SDN Sragi Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Ratna Sulistriyaniva

 

Kata Kunci: hasil belajar, pendidikan kewarganegaraan, model siklus belajar Pembelajaran PKn tidak hanya mengembangkan kemampuan siswa secara kognitif tetapi lebih pada pembentukan sikap. Dalam pembelajaran PKn, guru hendaknya dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dan konstruktiv bagi siswa. Tetapi kenyataan di lapangan masih jauh dari yang diharapkan. Hasil observasi yang dilakukan di kelas V SDN Sragi Kecamatan Talun Kabupaten Blitar pada pembelajaran PKn dengan materi mendeskripsikan NKRI didapatkan fakta bahwa hasil belajar siswa rendah. Dari 26 siswa hanya 10 siswa (38%) yang mendapat nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selebihnya yakni 16 siswa (62%) masih di bawah KKM. KKM yang ditentukan adalah 70. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model siklus belajar serta mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn melalui model siklus belajar pada siswa kelas V SDN Sragi Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif model kolaboratif. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe), dan refleksi (reflect). Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sragi Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model siklus belajar dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas V SDN Sragi ditinjau dari aktivitas guru, pada siklus I keberhasilan guru mencapai 83% (baik). Pada siklus II mencapai 100% (sangat baik). Sementara ditinjau dari aktivitas siswa, pada siklus I mencapai ketercapaian 63% (cukup), dan pada siklus II mencapai 82% (baik). Ketuntasan hasil belajar siswa dari pratindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 32% dari 38% menjadi 70%. Pada siklus I, dari 26 siswa yang mendapat hasil belajar tuntas mencapai 18 siswa (70%) dan yang belum tuntas sejumlah 8 siswa (30%). Sedangkan peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 22% dari 70% menjadi 92%. Pada akhir siklus II, dari 26 siswa yang mendapat hasil belajar tuntas mencapai 24 siswa (92%) dan yang belum tuntas sejumlah 2 siswa (8%), dikarenakan siswa tersebut memiliki kekurangan lemah dalam menyerap materi pelajaran. Selain itu juga kurang lancar membaca. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model siklus belajar sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran PKn sesuai dengan langkah-langkahnya. Hal ini dikarenakan model siklus belajar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Perbedaan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 4 Malang dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diberi reinforcement / Reni Sitatun

 

ABSTRAK Sitatun, Reni. 2012. Perbedaan Tingkat Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Madyopuro 4 Kota Malang dalam Pembelajaran IPS Sebelum dan Sesudah Diberi Reinforcement. Skripsi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Kependidikan Sekolah dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Toha Mashudi, S. Pd M. Pd (2) Drs. Sutarno, M. Pd Kata Kunci: Reinforcement, Aktivitas Belajar Siswa, Hasil Belajar, IPS Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut mampu merangsang munculnya proses berpikir, harus dapat membantu tumbuhnya sikap kritis, serta harus mampu mengubah pandangan siswanya. Salah satu usaha untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran adalah melalui reinforcement. Penggunaan reinforcement yang tepat dalam proses belajar-mengajar dapat menimbulkan pengaruh berupa sikap yang lebih positif dari pihak siswa sehingga partisipasinya dalam proses belajar mengajar akan meningkat dan dengan begitu dapat diharapkan bahwa pencapaian prestasi belajar mengajar menjadi lebih tinggi. Tujuan penelitian ini secara rinci adalah membuktikan ada tidaknya perbedaan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 4 dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diberi reinforcement. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental Design). Rancangan penelitian ini menggunakan dua kelas untuk dijadikan sampel penelitian. Satu kelas dijadikan kelas kontrol dan satu kelas lainnya dijadikan kelas eksperimen. Kelas kontrol dalam penelitian ini yaitu kelas tanpa adanya pemberian penguatan selama pembelajaran IPS (kelas IVA), sedangkan kelas eksperimen adalah kelas dengan adanya pemberian penguatan selama pembelajaran IPS (kelas IVB). Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi untuk mengetahui keaktifan siswa dan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan berupa uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji t independent. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh Rata-rata aktivitas kelompok eksperimen (69,23) lebih tinggi dari rata-rata aktivitas kelompok kontrol. Selain aktivitas siswa, juga diperoleh perbedaan hasil belajar siswa atau kelas yang diberi reinforcement dengan siswa atau kelas yang tidak diberi reinforcement dalam pembelajaran. Rata-rata gain score kelompok eksperimen (8,21) lebih tinggi dari rata-rata gain score kelompok kontrol (5,77). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian yang dibantu dengan program SPSS 15.0 for windows untuk analisis Compare Means Independent Sampel t- test, menunjukkan nilai probabilitas ≤ 0,05 (0,032 ≤ 0,05) yang berarti Ha diterima. Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 4 dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diberi reinforcement.

Analisis model matematika penyakit HIV/AIDS / Ria Desy Ambarwati

 

ABSTRAK Ambarwati, Ria D. 2012. Analisis Model Matematika Penyakit HIV/AIDS. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tjang Daniel Chandra, M. Si, Ph. D, (II) Lucky Tri Oktoviana, S. Si, M. Kom. Kata kunci: model penyakit HIV/AIDS, titik kesetimbangan. Model matematika merupakan salah satu alat yang dapat membantu mempermudah menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Salah satu penerapannya yaitu di bidang biologi. Adapun contohnya yaitu aplikasi untuk mengetahui model penyebaran penyakit menular pada suatu daerah tertentu, misalnya penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh virus. Pada tahun 1986 Anderson dkk. membuat sebuah model Susceptible Infectious AIDS Recovered (SIAR) penyakit HIV/AIDS . Misalkan banyaknya populasi pada saat t adalah N(t). S(t), I(t), A(t), dan R(t) berturut-turut menyatakan banyaknya individu yang rentan, terinfeksi, terjangkit AIDS, dan sembuh dari infeksi HIV pada saat t. Individu dikatakan sembuh dari infeksi HIV berarti pada tubuh individu terdapat antibodi yang mampu melawan virus HIV sehingga individu tersebut tidak masuk dalam kelas terjangkit AIDS. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa model matematika yang dihasilkan mempunyai dua titik kesetimbangan yaitu  yang 0,0,0,),,,(RAIS merupakan titik kesetimbangan bebas penyakit dan yang merupakan titik kesetimbangan endemik. 0,0,0,,,,RAIS Dari analisis kestabilan titik kesetimbangan bebas penyakit dan titik kesetimbangan endemik didapat sebuah bilangan reproduksi dasar yaitu: . Titik kesetimbangan bebas penyakit akan stabil asimtotik jika Sedangkan titik kesetimbangan endemik akan stabil jika

Pengembangan perangkat pembelajaran IPA berpola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dan Think Pair Share (TPS) serta pengaruh penerapannya terhadap metokognisi, berpikir kritis, dan sikap sosial siswa SD Multietnis di Kota Ternate / Ade HI Haerullah

 

Penggunaan media video untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang / Mei Puspita Dewi

 

Kata Kunci: Media Video, Kemampuan menyimak, Cerita, SD Berdasarkan hasil belajar pada pra tindakan menunjukkan bahwa tingkat kemampuan menyimak cerita siswa masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain siswa kurang berminat terhadap pembelajaran menyimak cerita karena dianggap sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menyenangkan, siswa mengalami kesulitan dalam menceritakan kembali isi cerita, pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan cara membacakan cerita hanya sebatas yang ada pada buku paket Bahasa Indonesia. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakah penggunaan media video dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang? (2) Bagaimanakah peningkatan kemampuan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang dengan digunakannya media video? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart. Pengumpulan data menggunakan 5 teknik yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi, (5) Catatan Lapangan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V sebanyak 28 siswa, yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun ajaran 2012/2013. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga cara yaitu reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Pelaksanaan pembelajaran menyimak cerita dengan menggunakan media video berjalan sangat baik, siswa telihat antusias, suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, dan siswa lebih berkonsentrasi dalam menyimak cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata aktivitas siswa dalam menyimak cerita mencapai 76,34 dengan kriteria baik pada siklus I dan 82,84 dengan kriteria baik sekali pada siklus II. Sedangkan nilai rata-rata kemampuan menyimak cerita siswa mencapai 59,8 dengan kriteria cukup pada pratindakan menjadi 69,3 dengan kriteria baik pada siklus I dan 82,7 dengan kriteria baik sekali pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian yaitu bahwa penggunaan media video dapat meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang. Disarankan bahwa dalam pembelajaran menyimak, guru kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang hendaknya menggunakan media video cerita. Bagi peneliti lanjut, hendaknya menggunakan video yang lebih beragam dan menarik.

Penerapan kegiatan bermain sudoku fantasi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kelompok B di TK Dharmawanita Pamotan 1 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang / Evi Yulifa Safmawati

 

Kata Kunci : Bermain Sudoku Fantasi, Kemampuan Kognitif, Anak Kelompok B Selama peneliti melakukan observasi di kelompok B pada kurannya kemampuan kognitif anak dalam memahami konsep mengurutkan pola dan mengurutkan bilangan 1-15. Dari 25 anak terlihat sekitar 17 anak yang kurang mengerti bagaimana cara mengurutkan pola dan menulis angka juga sering terbalik, dan 8 anak yang berhasil dan mampu mengerjakan dengan benar. disetiap pembelajaran di kelas guru hanya cenderung monoton meminta anak untuk mengerjakan tugas dipapan tulis dan dimajalah saja, sehingga anak sering kali cepat merasa bosan. Maka diperlukan konsep belajar mengajar yang baru dan menyenangkan untuk anak, yang dapat memberikan semangat baru anak dalam belajar. Penelitian dilaksanakan dengan rumusan masalah (1) Bagaimana penerapan atau cara bermain sodoku fantasi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kelompok B di TK Dharmawanita pamotan 1, (2) Apakah ada peningkatan pada kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharmawanita Pamotan 1 Dampit dengan diterapkannya permainan sudoku fantasi Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Siklus I dan Siklus II ditempuh selama 4 kali pertemuan. Strategi pengumpulan data untuk mendukung penelitian tersebut dengan menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut: (1) Observasi, (2) Penilaian hasil belajar, (3) Dokumentasi, (4) Catatan lapangan. Subyek penelitian ini dilakukan pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013 bidang kemampuan kognitif yang dilaksanakan pada bulan September hingga Nopember 2012. Hasil penelitian yang diperoleh dari penerapan kegiatan bermain sudoku fantasi terhadap kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Dharmawanita Pamotan 01 Dampit pada siklus I pertemuan pertama 65,2% dan pertemuan kedua 74,5%. Diperoleh hasil rata-rata 70% sehingga mengalami peningkatan siklus I sebesar 9,3% dan pada siklus II pertemuan pertama 81,48% dan pertemuan kedua 86,5% diperoleh rata-rata sebesar 84% sehingga mengalami peningkatan siklus II pada kemampuan kognitif sebanyak 5,02%. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan anak telah meningkat dalam memahammi konsep bilangan1-20 dan mengurutkan pola setelah diterapkan kegiatan bermain sudoku fantasi. Untuk itu guru diharapkan mampu menerapkan kegiatan bermain sudoku fantasi ini untuk membantu proses belajar, sehingga anak meresa senang karena pembeljaran yang diberikan tidak monoton dan membosankan bagi anak.

Penerapan permainan engklek geometri untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok A di RA Qomarul Hidayah Tambaksari Purwodadi Pasuruan / Mujiati

 

Kata Kunci: Permainan, Engklek, Keaktifan, Kemampuan Kognitif, PAUD Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelompok A RA Qomarul Hidayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, berlatar belakang rendahnya keaktifan dan kemampuan kognitif, metode pembelajaran yang kurang menarik, dan kurangnya media pembelajaran, terdapat rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di RA Qomarul Hidayah melalui “Permainan Engklek Geometri”, 2) Apakah dengan penerapan “Permainan Engklek Geometri” dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Qomarul Hidayah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: 1) mendeskripsikan penggunaan “Permainan Engklek Geometri” dalam meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak, 2) mendeskripsikan peningkatan keaktifan dan kemampuan kognitif anak dengan menggunakan “Permainan Engklek Geometri”. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah anak kelompok A RA Qomarul Hidayah kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 20 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran, wawancara, dokumentasi berupa foto selama pembelajaran, dan pengamatan terhadap kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan penerapan “Permainan Engklek Geometri” dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok A. Pembelajaran dilaksanakan dengan cara bermain agar anak merasa senang dalam mengelompokkan, mengurutkan, dan menghubungkan. Keaktifan anak juga dapat meningkat, ditandai dengan perolehan skor yaitu yaitu 16 yang dikategorikan anak sangat aktif. Bagi peneliti yang lain dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan penelitian berikutnya untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak. Permainan Engklek Geometri juga dapat meningkatkan kecerdasan yang lain selain kognitif, antara lain bidang pembiasaan, kemampuan bahasa, kemampuan kemampuan fisik motorik, dan kemampuan seni.

Pengaruh tepung biji nangka (Artocarpus heterophyllus) sebagai tambahan pakan terhadap akumulasi logam berat daging ayam broiler strain Cobb / Toni Irawan

 

ABSTRAK Irawan, Toni. 2012. Pengaruh Tepung Biji Nangka (Artocarpus heterophyllus) sebagai Tambahan Pakan terhadap Akumulasi Logam Berat Daging Ayam Broiler Strain Cobb. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Abdul Gofur, M.Si, (II) Agung Witjoro, S.Pd, M.Kes. Kata Kunci: tepung biji nangka, logam berat, ayam broiler Permasalah yang muncul di dalam beternak ayam broiler adalah harga pakan yang relatif mahal. Salah satu upaya untuk meminimalisasi harga pakan pabrik adalah dengan menemukan pakan alternatif. Tepung biji nangka merupakan salah satu limbah yang dapat digunakan sebagai pakan alternatif karena mengandung mineral yang dibutuhkan oleh ayam tetapi tepung biji nangka mengandung logam berat Fe, Cu, dan Zn yang apabila kadarnya tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Penelitian ini menggunakan tepung biji nangka sebagai tambahan pakan ayam broiler, sehingga harus diteliti akumulasi logam berat Fe, Cu dan Zn di dalam daging ayam broiler. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tepung biji nangka (Artocarpus heterophyllus) sebagai tambahan pakan terhadap akumulasi logam berat (Fe, Cu dan Zn) di daging ayam broiler strain Cobb. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, dan 5 kali ulangan untuk setiap perlakuan. Obyek penelitian yang digunakan adalah ayam broiler strain Cobb umur 15 hari – 35 hari. Data diperoleh melalui analisis dengan menggunakan alat X-ray Flourosecence (XRF) di laboratorium sentral FMIPA Universitas Negeri Malang, dan dilanjutkan dengan analisis ANAVA. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan logam Fe dan Cu cenderung menurun pada pemberian perlakuan, tetapi pada perlakuan 0% dan 20% logam Cu mengalami peningkatan. Logam Zn tidak terdeteksi pada semua perlakuan.

Peningkatan hasil belajar matematika materi pokok perkalian melalui pembelajaran konseptual di kelas III SDN IV Ngrejo Kecamatan Tanggunggunung Kabupaten Tulungagung tahun ajaran 2012/2013 / Rudi Hartono

 

Kata kunci: hasil belajar, konseptual, metode. Fakta di lapangan, siswa kelas III SDN IV Ngrejo Tulungagung memiliki pemahaman konsep perkalian yang rendah. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1)Bagaimanakah penerapan Pembelajaran Konseptual Untuk Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Perkalian Pada Kelas III SDN IV Ngrejo Kecamatan Tanggunggunung Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2012/2013? 2)Apakah dengan penerapan Pembelajaran Konseptual Materi Pokok Perkalian Pada Kelas III SDN IV Ngrejo Kecamatan Tanggunggunung Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2012/2013, hasil belajar siswa dapat meningkat? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran perkalian melalui pembelajaran konseptual dapat meningkatkan hasil belajar perkalian siswa kelas III SDN IV Ngrejo yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan 54,8, siklus I 73, dan siklus II 86 . Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 18%, siklus I sebesar 65%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran konseptual dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN IV Ngrejo Tulungagung, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan dan memahami pembelajaran konseptual sebagai salah satu pertimbangan untuk membelajarkan dan memotivasi siswa dalam memberikan konsep-konsep matematika, karena hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model make a match pada siswa kelas IV SD Bendo 2 Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar / Nonia Duganata

 

Kata Kunci : hasil belajar, make a match, pkn. Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa agar mereka secara lahir dan batin dapat menghayati dan mengamalkan pancasila dalam segala aspek kehidupan. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn di SDN Bendo 2 Blitar diketahui bahwa pembelajaran PKn di SDN Bendo 2 Blitar belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan yaitu 70, jumlah keseluruhan siswa 37 yang tuntas 16 siswa, yang dibawah Kriteria ketuntasan minimal (KKM) 21 Hal ini disebabkan guru masih menggunakan pembelajaran yang konvensional yaitu menggunakan metode ceramah, siswa bosan, pembelajaran kurang bervariasi, aktivitas guru lebih dominan daripada siswa. Penelitian ini bertujuan; (1) untuk mendeskripsikan model pembelajaran make a match (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bendo 2 Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian ini adalah penelitian tindaka kelas dengan pelaksanaan 4 tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap refleksi.Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu menggunakan observasi, tes, dokumentasi, wawancara, selama proses pembelajaran berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendekatan pembelajaran dengan make a match dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa kelas IV SDN Bendo 2 Blitar. Ini terbukti peningkatan aktivitas siswa juga meningkat dari setiap pertemuan atau siklus. dari pra tindakan siswa yang tuntas 15 dengan presentase 40%, pada siklus I siswa yang tuntas sebesar 20 siswa dengan presentase 54%, sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas sebesar 37 siswa dengan presentase 100% dengan demikian terbukti bahwa pembelajaran PKn menggunakan model Make a Match dapat meningkat hasil belajar siswa, dengan demikian tidak dilakukan perbaikan pada siklus III

Peningkatan pembelajaran PKn melalui model Value Clarification Technique (VCT) pada siswa kelas III SDN 02 Majan Kabupaten Tulungagung / Siti Eni Mardiana

 

Mardiana, Siti Eni. 2012. Peningkatan Pembelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) Pada Siswa Kelas III SDN 02 Majan Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Alif Mudiono, M.Pd, (II) Drs. H. Suhel Madyono, M.Pd. Kata kunci: PKn, model VCT, SDN 02 Majan     Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu mata pelajaran di SD yang memberikan pembekalan kepada siswa berhubungan dengan pemupukan nilai-nilai, sikap dan kepribadian yang sesuai dengan pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada pembelajaran PKn kelas III SDN 02 Majan Kabupaten Tulungagung, siswa lebih banyak berbicara dengan temannya serta bermain sendiri. Minat dan motivasi belajar siswa kurang dalam proses pembelajaran. Hasil belajar PKn siswa kelas III masih rendah. Hasil belajar siswa kelas III menunjukkan bahwa 70% mendapatkan nilai di bawah KKM yang ditentukan yaitu 70 dan siswa pasif terhadap pembelajaran. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).     Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) penerapan pembe-lajaran PKn melalui model VCT pada siswa Kelas III SDN 02 Majan Kabupaten Tulungagung, dan (2) peningkatan pembelajaran PKn dilihat dari segi proses belajar siswa dan hasil belajar siswa melalui model VCT pada siswa kelas III SDN 02 Majan Kabupaten Tulungagung.     Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, yai-tu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas III sebagai observer.     Hasil penelitian yang dilakukan yaitu hasil belajar siswa pada siklus I per-temuan 1 dan pertemuan 2 diperoleh nilai rata-rata 70,55 dengan persentase ketuntasan 60%. Pada siklus II pertemuan 1 dan pertemuan 2 diperoleh nilai rata-rata 83,13 dengan persentase ketuntasan 85%. Aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 dan pertemuan 2 diperoleh nilai rata-rata 70 dengan persentase keberhasilan 50%. Pada siklus II pertemuan 1 dan pertemuan 2 diperoleh nilai rata-rata 75 dengan persentase keberhasilan 75%.     Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model VCT dapat meningkatkan pembelajaran PKn siswa Kelas III SDN 02 Majan Kabupaten Tulungagung. Guru dalam melaksanakan pembelajaran PKn hendaknya menggunakan model pembelajaran VCT salah satunya dengan teknik percontohan karena dapat membuat siswa berperan aktif dalam pembelajaran PKn. Selain itu dengan menggunakan model VCT maka dapat membina kecerdasan (knowledge) siswa, serta mengemban misi untuk membina nilai, moral, sikap dan perilaku siswa.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui penggunaan media two counter coin pada siswa kelas IV SN Wlingi 02 Kabupaten Blitar / Tri Eko Wahyuni

 

Kata Kunci :hasilbelajar, matematika, media two counter coin Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulatmerupakansalahsatumateriyang ada dalam mata pelajaranmatematika kelas IV SD.Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan peneliti diketahui bahwa siswakelas IV SDN Wlingi 02 mengalamikesulitandalammenyelesaikansoalpenjumlahan danpengurangan bilangan bulatkarena pembelajaran yang dilakukan guru dilakukan tanpa menggunakan media. Sehinggahasilbelajarsebagianbesarsiswatidakdapatmencapaiketuntasanbelajar minimal yang telahditentukan. Untukitu, perlu dilakukantindakanuntukmencapaiketuntasansiswadalambelajar.Tindakan yang dilakukanyaitudenganmelaksanakanpembelajaranmenggunakan media two counter coin.Penelitianinibertujuanuntukmendeskripsikanpenerapandanpeningkatanhasilbelajarmatematikamateripenjumlahan dan pengurangan bilangan bulatmelaluipenggunaan media two counter coinpadasiswakelas IV SDN Wlingi 02 KabupatenBlitar. Penelitiandilakukanmenggunakan pendekatankualitatif, jenispenelitiantindakankelas.Tahapanpenelitiandilakukansesuaidengantahapan yang dikemukakanKemmisdan Taggart.Subjekpenelitian 26 siswa. Data yang diambiladalah data keterlaksanaanpembelajaran menggunakan media two counter coin, baikkegiatan guru maupun aktivitassiswadalampembelajaran,danhasilbelajarsiswa yang berupatesakhir. Instrumen yang digunakanadalahlembarobservasi, angketdantes.Analisis data menggunakanteknikpersentaseuntukmelihatpeningkatan yang terjadidalamkegiatanpembelajaran.Target pencapaiankeberhasilanindividudanklasikaldalampembelajarandipatoksebesar 75%. Hasilpenelitian yang diperolehadalahsebagaiberikut: keterlaksanaanpembelajaran penggunaan media two counter coinpada aktivitas siswa mengalamipeningkatan, darisiklus I 75,85% dengankriteriaklasikalbaikmenjadi80,54% padasiklus II dengan kriteria baik.Kemudianpadaaktivitas guru juga mengalami peningkatan, dari siklus I 79,17% dengankriteriakeberhasilanbaikmenjadi 87,5% pada siklus II dengan kriteria sangat baik. Hasilbelajarsiswa yang berupatesakhir, secaraklasikaljugamengalamipeningkatandarisiklus I 73,65% dengan criteria keberhasilanbaikmenjadi 80,77% padasiklus II dengan kriteria baik. Jadidapatdisimpulkanbahwahasilbelajarmatematikasiswakelas IV dapatmeningkatmelaluipenggunaan media two counter coin.

Pengembangan tes kecerdasan sosial siswa sekolah menengah atas / Paul Arjanto

 

Kata-kata kunci: pengembangan, tes, kecerdasan sosial Kecerdasan sosial memiliki peranan penting dalam pemenuhan tugas perkembangan pada aspek sosial di masa remaja yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan masa anak-anak. Kecerdasan sosial dapat membantu remaja atau siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk membangun hubungan baik dengan lawan jenis, mengambil peran sebagai anggota masyarakat, dan mengambil tanggung-jawab sosial. Pengukuran terhadap kecerdasan sosial siswa SMA belum tersedia. Beberapa sebab konselor belum mengembangkan instrumen kecerdasan sosial, di antaranya: 1) konselor masih bingung tentang hakikat kecerdasan sosial, 2) ketiadaan waktu dan dana untuk mengembangkan instrumen untuk mengukur kecerdasan sosial siswa, 3) konselor belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan instrumen yang valid dan reliabel. Berdasarkan berbagai permasalah tersebut maka, penelitian ini bertujuan menghasilkan instrumen tes yang dapat mengukur kecerdasan sosial siswa SMA yang terdiri dari format verbal dan non-verbal. Pengembangan ini terdiri dari tujuh tahap, yaitu: 1) mendefinisikan tes, 2) menentukan metode pengukuran, 3) mengkonstruksi item tes, 4) analisis item tes, 5) revisi tes, 6) standarisasi dan norma tes, 7) pembuatan material dan manual tes. Hasil uji ahli dengan menggunakan inter-rater agreement model menunjukan indeks uji ahli yang tinggi antara variabel dengan sub-variabel, subvariabel dengan indikator, indikator dengan sub-indikator, sub-indikator dengan deskriptor, dan deskriptor dengan item/pertanyaan tes kecerdasan sosial. Hasil uji keterbacaan dari 100 siswa SMA menunjukkan bahwa 95% siswa memahami petunjuk tes kecerdasan sosial, 96% siswa mudah memahami bahasa yang digunakan dalam pertanyaan tes, 83% siswa dapat mengerti kata-kata yang digunakan pada pertanyaan tes, 94% siswa menyatakan bahwa kalimat-kalimat pada pertanyaan tes kecerdasan sosial memiliki maksud yang jelas dan alternatif jawaban yang disediakan dapat dimengerti oleh 92% siswa. Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan metode konsistensi internal memperoleh koefisien Alpha sebesar 0.899. Dengan demikian, tes kecerdasan sosial memiliki reliabilitas yang tinggi. Hasil uji validitas konstruk format nonverbal tes dengan mengunakan analisis faktor eksploratori menunjukkan terdapat 6 faktor yang terbentuk. Faktor-faktor yang terbentuk sesuai dengan konstruk kecerdasan sosial Goleman, yaitu: empati dasar, penyelarasan, ketepatan empatik, sinkronisasi, dan kepedulian. Hasil uji validitas konstruk format verbal tes dengan mengunakan analisis faktor eksploratori menunjukkan terdapat 4 faktor yang ii terbentuk. Faktor-faktor yang terbentuk sesuai dengan konstruk kecerdasan sosial Goleman, yaitu: penyelarasan, kognisi sosial, penampilan diri, dan pengaruh. Hasil validasi analisis faktor eksploratori menunjukkan muatan faktor tiap item pada setiap indikatornya berkisar antara 0.566-0.995, muatan faktor tiap indikator pada setiap sub-variabelnya berkisar antara 0.930-0.996, muatan faktor tiap sub-variabel pada setiap variabelnya berkisar antara 0.594-0.785, dan muatan faktor tiap variabel pada konstruk kecerdasan sosial sebesar 0.822. Setelah melalui uji ahli, uji keterbacaan siswa, uji reliabilitas, dan uji validitas maka, dari 160 item tes yang dikembangkan terreduksi 48 item. Norma kecerdasan sosial siswa dapat diklasifikasi ke dalam 7 tingkatan, yaitu: sangat tinggi (>47), tinggi (46-47), di atas rata-rata (42-45), rata-rata (30-41), di bawah rata-rata (22-29), rendah (13-21) dan sangat rendah (<13). Tes ini dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan sosial siswa SMA khususnya di kota Malang. Namun demikian, tes ini masih perlu pengembangan lebih lanjut melalui uji lapangan operasional dengan subjek yang lebih besar, dengan mempertimbangkan aspek budaya, jenis kelamin, dan usia agar diperoleh norma tes yang lebih baik.

Penerapan Problem Based Learning (PBL) dipadu dengan Group Investigation (GI) untuk meningkatkan keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar biologi siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Tumpang / Nurlaily Lavianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dipadu dengan Group Investigation (GI), ketrampilan kerja ilmiah, hasil belajar. Berdasarkan observasi di kelas X-2 SMA Negeri 1 Tumpang diketahui bahwa hasil belajar siswa rendah dengan ketuntasan nilai kognitif yang dicapai oleh siswa yaitu hanya 60%, sedangkan siswa yang tidak dapat mencapai KKM sebesar 40%. Kesulitan yang dihadapi guru pada saat pembelajaran Biologi adalah siswa sering pasif saat pembelajaran, siswa masih kesulitan dalam melakukan kegiatan pengamatan, siswa masih kesulitam saat membahas hasil pengamatan sehingga masih tergantung pada buku dan guru, kemampuan dalam berdiskusi dan membangun pengetahuan yang siswa dapatkan masih rendah, serta minat baca terhadap mata pelajaran Biologi yang masih kurang, sehingga banyak siswa masih rendah dalam hal keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar. Hal tersebut menyebabkan materi pelajaran yang seharusnya dikuasai siswa tidak dapat dipahami dengan baik. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu diterapkan pembelajaran PBL dipadu dengan GI untuk meningkatkan ketrampilan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Tumpang. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-2 semester genap yang berjumlah 35 siswa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2012. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran guru dan siswa, catatan lapangan, lembar observasi ketrampilan kerja ilmiah, soal tes kognitif, dan angket afektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase ketercapaian ketrampilan kerja ilmiah siswa mengalami peningkatan dengan persentase keseluruhan sebesar 10% dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar Biologi siswa juga mengalami peningkatan dengan persentase peningkatan rata-rata nilai kognitif dan afektif sebesar 17% dan 9% serta peningkatan ketuntasan belajar kognitif dan afektif sebesar 28%. ii Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran PBL dipadu dengan GI dapat meningkatkan ketrampilan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa kelas X-2 SMA Negeri 1 Tumpang pada materi ekosistem dan pencemaran. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan guru bidang studi ataupun peneliti yang lain untuk menerapkan pembelajaran tersebut.

Studi keanekaragaman tumbuhan mangrove di pantai Banyuglugur Desa Banyuglugur Kecamatan Banyuglugur Kabupaten Situbondo Jawa Timur / Nurlaily Lavianti

 

ABSTRAK Lavianti, Nurlaily. 2012. Studi Keanekaragaman Mangrove di Pantai Banyuglugur Desa Banyuglugur Kecamatan Banyuglugur Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Skripsi, Program Studi Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman, M,Si., (II) Dra. Hawa Tuarita, M.S. Kata Kunci: Indeks keanekaragaman (H’), kemerataan, kekayaan, kelimpahan, tumbuhan mangrove, pantai Banyuglugur. Hutan mangrove merupakan salah satu sumber daya pesisir yang memiliki ekosistem khas dan unik serta berpotensi besar bagi kepentingan manusia dan ekologis. Namun, akhir-akhir ini banyak terjadi kegiatan manusia yang dimungkinkan dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati sehingga keberadaan dan keseimbangan alam tumbuhan mangrove di Pantai Banyuglugur menjadi terganggu. Salah satu upaya untuk mengetahui tingkat kerusakan tumbuhan mangrove di Pantai Banyuglugur yaitu dengan mengetahui besarnya indeks keanekaragaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan mangrove, indeks keanekaragaman (H’), kemerataan, kekayaan, dan kelimpahan tumbuhan mangrove di Pantai Banyuglugur, dan faktor abiotik terukur yang mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan mangrove di Pantai Banyuglugur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2011-Januari 2012 dan hasilnya dianalisis secara statistik regresi ganda. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode kuadrat (20m x 20m). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) jenis tumbuhan yang ditemukan di Pantai Banyuglugur ada 6 jenis yang termasuk dalam 2 famili yakni family Rhizophoraceae dan Sonneratiaceae. Adapun jenis tumbuhan yang ditemukan yang tergolong dalam famili Rhizophoraceae adalah Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan bruguiera gymnorhiza, sedangkan untuk jenis yang tergolong dalam famili Sonneratiaceae adalah Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris; 2) tingkat keanekaragaman tumbuhan mangrove di Pantai Banyuglugur termasuk dalam kategori sedang yakni sebesar 1,414, nilai kemerataan (evenness) sebesar 0,26 hal ini menunjukkan bahwa ada jenis yang mendominasi pada wilayah Pantai Banyuglugur, dan kekayaan jenisnya (richness) sebesar 0,922. Perhitungan untuk kelimpahan relatif yang tertinggi adalah dari Famili Rhizophoraceae yakni spesies Rhizophora apiculata dengan persentase kelimpahan sebesar 37,17% dan yang terendah adalah Bruguiera gymnorhyza yakni dengan persentase kelimpahan 0,08 %; 3) hasil analisis regresi untuk kelima faktor abiotik yang terukur yaitu suhu udara, kelembaban udara, pH tanah, suhu tanah, dan salinitas menunjukkan bahwa faktor abiotik terukur di Pantai Banyuglugur yang memberikan sumbangan relatif terbesar yakni 80,64% terhadap indeks keanekaragaman adalah suhu tanah. i

Perbedaan hasil belajar materi luas bangun datar siswa kelas VI SDN Gunungronggo Kabupaten Malang antara yang diajar menggunakan media CD pembelajaran interaktif dengan media gambar / Dini Delhita Anundyah

 

ABSTRAK Anundyah, Dini. Delhita. 2012 Perbedaan Hasil Belajar Materi Luas Bangun Datar Siswa Kelas VI SDN Gunungronggo Kabupaten Malang antara yang Diajar Menggunakan Media CD Pembelajaran Interaktif dengan Media Gambar. Skripsi Jurusan KSDP, Program Studi S1 PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Made Seken, M.Pd (2) Dra. Harti Kartini, M.Pd Kata kunci: Hasil Belajar, Luas, Bangun Datar Fakta di lapangan berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di SDN Gunungronggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang, menunjukkan bahwa di perpustakaan SDN Gunungronggo terdapat media pembelajaran berupa CD pembelajaran interaktif. CD pembelajaran interaktif ini belum pernah dipergunakan guru dalam pembelajaran. Guru hanya membuka CD pembelajaran tersebut dan melihat isinya, tetapi masih belum dipergunakan dalam pembelajaran. Penelitian ini dimaksud untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar materi luas bangun datar siswa kelas VI SDN Gunungronggo Kabupaten Malang antara yang diajar menggunakan media CD Pembelajaran Interaktif dengan media gambar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan bentuk rancangan kuasi eksperimen (Quasi Experimental). Bentuk desain Quasi Experimental yang digunakan yaitu Nonequivalent Group Design. Populasi dalam penelitian ini yaitu kelas VI SDN Gunungronggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VI A dan VI B SDN Gunungronggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes tulis. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa tentang materi luas bangun datar. Tes diberikan sebelum perlakuan (pre test) dan sesudah perlakuan (post test). Bentuk soal yang digunakan yaitu soal objektif dengan dengan jumlah 10 soal. Setelah dilaksanakan perlakuan yang berbeda dengan menggunakan media CD pembelajaran interaktif dan media gambar, kemampuan akhir kedua kelompok mengalami perbedaan. Perbedaan hasil belajar ditunjukkan oleh adanya nilai gain score. Pembahasan menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan hasil belajar materi luas bangun datar siswa kelas VI SDN Gunungronggo Kabupaten Malang yang diajar menggunakan media CD Pembelajaran Interaktif dengan media gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan hasil belajar materi luas bangun datar siswa kelas VI SDN Gunungronggo Kabupaten Malang antara yang diajar menggunakan media CD Pembelajaran Interaktif dengan media gambar. Perbedaan yang ada pada kedua kelompok tersebut dapat diketahui melalui pengujian yang menghasilkan nilai Asymp. Sign 2-tiled pada nilai gain score pada kedua kelas ekperimen. Nilai Asymp. Sign 2-tiled 0,036 < 0,05 sehingga Ha diterima.  

Pengembangan rasa tanggung jawab dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang / Yogga Agus Wahyudi

 

ABSTRAK Wahyudi,Yogga Agus. 2012.Pengembangan Rasa Tanggung Jawab dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang.Skripsi, JurusanKependidikanSekolahDasardanPrasekolah, FakultasIlmuPendidikan, UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (1) Drs. Tumardi, S.Pd, M.Pd, (2) Drs. Imam Nawawi, M.Si. Kata Kunci: Pengembangan, Tanggung Jawab, PKn, SD Pengembangan rasa tanggung jawab dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah upaya yang dilakukan guru secara terstruktur dan bertahap, baik di dalam maupun di luar kelas untuk memfasilitasi siswa mencapai tujuan yang dikehendaki, yaitu sikap tanggung jawab siswa. Pengembangan tersebut dilakukan melalui mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) yang meliputi pengintegrasian nilai tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan, serta melalui pengondisian lingkungan sekolah, yang meliputi pengintegrasian dalam tata tertib, kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian fasilitas sekolah. Tujuan daripenelitianini dimaksudkanuntukmenjawabpermasalahan yaitu: (1) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam mengembangkan rasa tanggung jawab siswa kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang?; (2) Apakah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dapat mengembangkan rasa tanggung jawab siswa kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang?; (3) Apakah pengondisian lingkungan sekolah melalui kejelasan aturan dapat mengembangkan rasa tanggung jawab siswa kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang?. Penelitianinimenggunakanmetodedeskriptifkualitatif, dimanapengumpulan data dilakukandenganteknikobservasi, wawancara, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi.Selanjutnya data dianalisismelaluitahapreduksi data,penyajian data, danpenarikankesimpulansertaverifikasi.Sementara pengecekankeabsahantemuan datadilakukandengantriangulasi. Berdasarkanhasilanalisis data tersebutdiperolehhasil bahwa kegiatan yang efektif dalam pengembangan rasa tanggunggung jawab siswa pada mata pelajaran PKn dilakukan melalui kegiatan pembiasaan, keteladanan, serta pengondisian lingkungan sekolah meliputi tata tertib, kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengondisian fasilitas sekolah. Sementara kegiatan pembelajaran PKn kurang memberikan kontribusi karena guru lebih menekankan pada aspek kognitif berupa pemahaman materi pelajaran daripada penekanan pada aspek afeksi dan konasi dalam pembentukan sikap tanggung jawab siswa. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu kegiatan yang memberikan kontribusi dalam pengembangan rasa tanggung jawab yaitu kegiatan pembiasaan, pengondisian lingkungan sekolah, dan keteladanan guru sebagai model sikap tanggung jawab. Sedangkan saran yang dapatpenulissampaikanyaitu sebaiknyadalampengembangan rasa tanggung jawab siswa, guru dapat menggunakan kegiatan pembiasaan, keteladanan dan pengondisian lingkungan sekolah. Sementara dalam kegiatan pembelajaran PKnsebaiknya guru lebih menekankan pada aspek afeksi dan konasi dalam pembentukan sikap siswa.

Peningkatan hasil belajar operasi hitung campuran menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) di kelas II SDN Bandung Kabupaten Tulungagung / Riya Dwi Rahayu

 

Pengaruh strategi pembelajaran kooperatif (tipe jigsaw dan STAD) dan gaya belajar terhadap pemahaman materi evaluasi pembelajaran dan kemampuan menyusun tes bidang studi pendidikan agama Islam / Moh. Sahlan

 

Perbedaan hasil belajar IPS yang menggunakan media gambar kebudayaan dan media peta budaya pada siswa SD kelas V se-gugus VI Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Winarni

 

Kata Kunci: Perbedaan Hasil Belajar, IPS, Media Dalam pembelajaran, siswa merupakan penerima pesan, sedangkan media merupakan pembawa pesan yang berinteraksi dengan para siswa dengan indera mereka. Media merupakan komponen yang penting untuk menunjang pembelajaran, khususnya pada pembelajaran IPS. Dalam mengetahui dan memahami materi, siswa sangat membutuhkan media yang sesuai dengan materi. Media yang digunakan dalam penelitian ini yaitu media gambar kebudayaan dan media peta budaya. Peneliti ingin mengetahui perbedaan hasil belajar IPS yang menggunakan media gambar kebudayaan dan media peta budaya pada siswa kelas V SD se-gugus VI Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimanakah hasil belajar IPS dalam materi keragaman budaya bila menggunakan media gambar kebudayaan pada siswa kelas V SD Se-gugus VI Kecamatan Pakis?; (2) bagaimanakah hasil belajar IPS dalam materi keragaman budaya bila menggunakan media peta budaya pada siswa kelas V SD Se-gugus VI Kecamatan Pakis?; (3) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPS dalam materi keragaman budaya apabila menggunakan media gambar kebudayaan dan menggunakan media peta budaya pada siswa kelas V SD Se-gugus VI Kecamatan Pakis? Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yang menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V Gugus VI Kec. Pakis semester I tahun pelajaran 2012/2013. Sampel yang diambil yaitu kelas V SDN Mangliawan 03 dengan jumlah 28 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas V SDN Ampeldento 01 dengan jumlah 28 siswa sebagai kelas kontrol. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media gambar kebudayaan dan media peta budaya, variabel terikatnya adalah hasil belajar IPS. Instrumen yang digunakan yaitu tes. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu berupa tes tulis. Sebelum melakukan analisis data, terlebih dahulu harus melakukan uji normalitas dan uji homogenitas untuk menguji hipotesis penelitian. Berdasarkan hasil analisis data, hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil rata-rata nilai post-test kelas kontrol 41,96 sedangkan hasil rata-rata nilai post-test kelas eksperimen 69,29 serta perolehan gainscore kelas eksperimen 27,86 sedangkan hasil perolehan gainscore kelas kontrol sebesar 19,64. Berdasarkan uji hipotesis, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPS materi keragaman budaya Indonesia yang menggunakan media gambar kebudayaan dan media peta budaya pada siswa kelas V SD se-gugus VI Kec. Pakis Kab. Malang. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan pada guru untuk menerapkan media peta budaya pada pembelajaran yang berkaitan dengan materi keragaman budaya Indonesia baik dalam pembelajaran IPS, PKn maupun SBK.

Pemanfaatan media papan tunjuk dengan metode demonstrasi untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak pada kelompok B TK PGRI 2 Kalipare Malang / Linda Kumalasari

 

Kata Kunci: medi papan tunjuk, kemampuan berbahasa, Taman Kanak-Kanak Bahasa adalah segala bentuk komunikasi dimana pikiran dan perasaan manusia disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti atau maksud kepada orang lain. Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa kelompok B di TK PGRI 2 Kalipare Malang, ditemukan bahwa 11 dari 20 anak (50, 9%) kemampuan bahasanya rendah. Hal ini berdampak pada kurangnya kosa kata yang dimiliki anak untuk mengembangkan ketrampilan menyimak, mendengar, dan berbicara. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana Pemanfaatan Media Papan Tunjuk dengan Metode Demonstrasi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak pada kelompok B TK PGRI 2 Kalipare Malang? (2) Apakah Pemanfaatan Media Papan Tunjuk dengan mengunakan Metode Demontrasi dapat meningkatkan berbahasa anak pada kelompok B TK PGRI 2 Kalipare Malang? Rencangan Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini direncanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan penelitian, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B TK PGRI 2 Kalipare Malang yang berjumlah 20 anak. Analisis penelitian data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif serta analisis kuantitatif juga. Hasil penelitian menunjukkan pra tindakan ketuntasan mencapai 49,10 %, setelah dilakukan tindakan siklus I jumlah anak yang tuntas adalah 11 dari 20 anak (60,00 %). Selanjutnya pada siklus 2 rata-rata kemampuan bahasa anak mencapai kriteria ketuntasan kelas dengan perolehan (17 dari 20 anak tuntas) dengan rata-rata 85,70 %. Pemanfaatan Media Papan Tunjuk data menunjukkan media dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B TK PGRI 2 Kalipare, Malang. Terbukti dengan semakin banyaknya kosa kata yang didapat anak. Saran yang diberikan untuk pihak sekolah hendaknya untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak khususnya ketrampilan mendengar, menyimak dan berbicara, diharapkan Pemanfaatan Media Papan Tunjuk untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B yang lebih menarik dan bervariasi.

Penerapan model inkuiri terbimbing untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas IV MI Miftahul Ulum Banjarkejen Pandaan / Moh. Fauzi

 

Kata Kunci: Pembelajaran IPA, Model inkuiri terbimbing, Aktivitas dan hasil Belajar IPA IPAsebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sebagai proses. Proses pembelajaran IPAdi sekolah dasar menuntut guru mampu menyediakan dan mengelola pembelajaran IPA dengan model dan teknik penunjang yang memungkinkan siswa dapat mengalami seluruh tahapan pembelajaran yang memuat keterampilan proses, dan penguasaan konsep. Fakta hasil observasi awal diperoleh data bahwa pembelajaran menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan media pembelajaran suasan akelas pasif, hasil belajar siswa tidak maksimal dan hasil belajar masih rendah yaitu 62,3. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dilakukan penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) Mendiskripsikan penerapan model inkuiri terbimbing dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV MI Miftahul Ulum Banjarkejen Pandaan pada materi Perubahan Lingkungan Fisik . 2) Untuk mendiskripsikan aktivitas siswa kelas IV MI Miftahul Ulum Banjarkejen Pandaan setelah diterapkan model inkuiri terbimbing. 3).untuk mendiskripsikan hasil belajar IPA siswa kelas IV MI Miftahul Ulum Banjarkejen Pandaan setelah diterapkan model inkuiri terbimbing. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.Subyek penelitian berjumlah 23 siswa terdiri dari 15 laki-laki dan 8 perempuan.Data hasil penelitian dikumpulkan melalui observasi, dokumen dan hasil tes. Hasil penelitian terhadap penerapan model inkuiri terbimbing oleh guru meningkat, pada siklus I pertemuan I 83,33% pada pertemuan II meningkat menjadi 87,50%. Pada siklus II pertemuan I dari 87,50%. Pada pertemuan II menjadi 95,83%,. Sedangkan aktivitas belajar siswa juga meningkat pada siklus I terdapat 29,56% siswa pada kriteria sangat baik, 40,86% kriteria relatif baik, 24,34% siswa pada taraf cukup. 5,21% taraf kurang tepat. Pertemuan II terdapat 33,91% siswa kriteria sangat baik, 43,47% siswa menunjukan kriteria pada relatif baik. Dan terdapat 21,73% siswa menunjukan kriteria pada taraf cukup. 0,86% taraf kurang tepat. Pada siklus II penerapan model inkuiri terbimbing pada proses belajar IPA materi abrasi dan cara pencegahannya pertemuan I yaitu terdapat 41,73% siswa yang memenuhi kriteria sangat baik. Berikutnya terdapat 43,47% siswa yang menunjukan kriteria pada taraf relatif baik. Sedangkan terdapat 14,78% siswa yang menunjukan kriteria pada taraf cukup. Pada pertemuan II meningkat yaitu terdapat 52,17% siswa yang memenuhi kriteria sangat baik. Berikutnya terdapat 39,13% siswa yang menunjukan kriteria pada taraf relatif baik. Sedangkan terdapat 8,69% siswa yang menunjukan kriteria pada taraf cukup. dalam hal hasil belajar, penerapan model inkuiri terbimbing menunjukkan bahwa hasil belajar IPA meningkat, dari tahap observasi awal 62,3 pada siklus I menjadi 64,1 dan padas iklus II menjadi 72,6. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan guru selalu menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakter siswa khususnya menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada mata pelajaran IPA, sehingga siswa mengetahui dan mengalami secara langsung dan materi yang diperoleh dapat diingat lebih lama

Pengembangan sirkuit "Cerdas Ceria" untuk meningkatkan kebugaran jasmani pada kelompok A di TK Al-Ghufron Malang / Misnati

 

Kata Kunci: Pengembangan Fisik Motorik, Sirkuit Kebugaran “Cerdas Ceria” Studi pendahuluan diketahui bahwa pembnelajaran fisik motorik di TK AL-Ghufron Malang belum maksimal. Sehingga mendorong peneliti untuk menggembangkan fisik motorik yang menggandung unsur-unsur kebugaran yang di beri nama Sirkuit Kebugaran “Cerdas Ceria”. Sirkuit Kebugaran “Cerdas Ceria” memanfaatkan limbah botol air, bambu dan karet gelang. Tujuan pengembangan pembelajaran fisik motorik dengan sirkuit Kebugaran “Cerdas Ceria” di AL-Ghufron Malang ini adalah dapat dijadikan sebagai aktivitas pembelajaran fisik motorik yang menyenangkan bagi anak dan anak vlebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran fisik motorik disekolah. Peneliti menggunakan model-model penelitian pengembangan dari Borg & Gall. Model pengembangan tersebut memiliki sepuluh langkah penelitian pengembangan, namun dalam peneliti ini, peneliti hanya menggunakan 7 langkah, karena peneliti ini dilaksanakan pada 1 sekolah saja dan subyek peneliti kurang dari 100 anak. Adapun 7 langkah yang dipilih peneliti adalah sebagai berikut : 1) melakukan penelitian dan pengumpulan data informasi termasuk kajian pustaka dan analisis kebutuhan, 2) menggembangkan bentuk produk awal, 3) evaluasi para ahli dan uji coba (kelompok kecil), 4) revisi produk pertama (sesuai dari hasil evaluasi para ahli dan uji coba kelompok kecil), 5) uji coba lapangan dengan mengujicobakan hasil revisi produk pertama, 6) revisi produk akhir (sesuai dari hasil uji lapangan), 7) hasil akhir, berupa produk pembelajaran fisik motorik dengan Sirkuit Kebugaran “Cerdas Ceria” pada Kelompok Malang. Hasil peneliti menunjukkan bahwa Sirkuit Kebugaran “Cerdas Ceria” mudah dan menyernangkan bagi anak dalam melakaukan aktivitas kebugaran. Peneliti ini dapat diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru TK/RA dalam memberikan pembelajaran fisik motorik. Dalam penyebarluasan produk pengembangan ini sebaiknya produk ini di evaluasi kembali dan di sesuaikan dengan sasaran yang ingin dicapai dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di setiap sekolah. Untuk pengembangan lebih lanjut, peneliti memberi saran untuk menggembangkan pembelajaran fisik motorik pada kelompok A dengan bentuk aktivitas Fisik Motorik yang lebih kreatif dan inovatif.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pemecahan masalah (problem solving) pada siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar / Rino Lengam

 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan (1) pelaksanaan pembelajaran IPS melalui model Problem Solving terhadap peningkatan hasil belajar siswa, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa, setelah dilaksanakan pembelajaran melalui model Problem Solving. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) kolaboratif dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian dilaksanankan pada siswa kelas V SDN Kauman 1 kota Blitar, tahun pelajaran 2012-2013. Data penelitian diperoleh dari kajian dokumen, observasi, wawancara, dan tes pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran IPS dengan model Problem Solving dapat meningkatkan aktivitas siswa, (2) pelaksanaan pembelajaran IPS dengan model Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar diukur dari nilai rata-rata lembar kerja, proses, dan tes akhir pembelajaran pada pratindakan, siklus I dan siklus II. Rata-rata hasil belajar pratindakan sebesar 36,3, siklus I sebesar 64, dan siklus II sebesar 82. Kata kunci: hasil belajar, ips, problem solving

Perbedaan tingkat kemandirian anak yang berasal dari PAUD non formal dan PAUD formal di TK ABA 26 Malang / Reski Yulina Widiastuti

 

ABSTRAK Widiastuti, Reski Yulina. 2012. Perbedaan Tingkat Kemandirian Anak yang Berasal dari PAUD Nonformal dan PAUD Informal di TK ABA 26 Malang. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd, (II) Retno Tri Wulandari, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Kemandirian, PAUD Nonformal, PAUD Informal Kemandirian adalah Sikap anak yang dalam menghadapi suatu masalah cenderung mengambil keputusan sendiri, berinisiatif dalam memulai suatu pekerjaan secara kreatif dalam mengembangkan suatu pekerjaan, disiplin dalam penggunaan dan perencanaan kegiatan serta bertanggung jawab atas semua usaha dan hasil yang dilakukan. Perbedaan kemandirian dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah jenis PAUD yang memungkinkan anak memiliki pengalaman dan pembelajaran yang berbeda. PAUD dalam penelitian ini dibedakan antara PAUD nonformal dan PAUD informal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kemandirian anak TK A yang berasal dari paud non formal dan paud informal di TK ABA 26 Malang. Rancangan penelitan yang digunakan adalah Rancangan analisis komparatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh anak TK A di TK ABA 26 Malang yang berasal dari PAUD nonformal dan PAUD informal. Sampel penelitian ini adalah sampel total (94 anak). Instrumen yang digunakan adalah angket (kuesioner). Validitas instrumen diuji menggunakan rumus Product Moment Pearson dan reliabilitasnya diuji menggunakan rumus koefisien Alpha. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kemandirian anak TK A yang berasal dari PAUD nonformal dan PAUD informal di TK ABA 26 Malang. Dilihat dari perbadingan mean (rata-rata) tampak terlihat bahwa kelompok PAUD nonformal memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibanding PAUD informal namun perbedaan selisihnya tidak signifikan. Tidak adanya perbedaan ini dapat disebabkan faktor kemandirian anak tidak hanya diperoleh hanya dengan anak mengikuti sebuah lembaga pendidikan tetapi pola asuh keluarga juga berperan penting membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini, diajukan saran (1) Orang tua tidak perlu berkecil hati apabila tidak memasukkan anak di sebuah PAUD nonformal karena orang tua juga memiliki kemampuan untuk mendidik anak dengan baik melalui pola asuh yang tepat. (2) Bagi peneliti selanjutnya yang berminat terhadap masalah yang sama, hendaknya hasil peneliti meneliti variabel-variabel lain yang menentukan kemandirian anak. Diharapkan penelitian ini dapat membuka wawasan yang lebih luas secara teoritis maupun praktis

Pengaruh bagi hasil, tingkat inflasi, dan nilai tukar rupiah terhadap Return On Assets (ROA) (studi pada bank umum syariah periode 2008-2010) / Luki Mardianto

 

Kata Kunci : Bagi Hasil, Inflasi, Nilai Tukar, Return on Assets (ROA) Kinerja suatu bank ditentukan oleh seberapa baiknya suatu bank dalam mengelola usahanya sehingga dapat memperoleh profitabilitas yang maksimal. Dalam usahanya untuk memperoleh profit, banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah bagi hasil, inflasi dan nilaitukar. Sedangkan untuk tingkat profitabilitas diukur dengan variabel ROA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur pengaruh tingkat kesehatan bank yaitu dilihat dari nilai bagi hasil, tingkat inflasi dan nilai tukar terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dari ROA. Populasi dari penelitian ini adalah perbankan syariah di Indonesia periode 2008-2010 yang berjumlah 11 bank. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 3 sampel, yaitu PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, PT Bank Syariah Mega Indonesia dan PT Bank Syariah Mandiri. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan triwulan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, PT Bank Syariah Mega Indonesia dan PT Bank Syariah Mandiri periode 2008-2010. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi berganda melalui pengujian SPSS dengan mempertimbangkan uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan secara parsial bagi hasil berpengaruh negatif terhadap ROA dengan tingkat signifikansi sebesar 0,009.Sedangkan inflasi dan nilai tukar berpengaruh negative dengan tingkat signifikansi sebesar 0.166 dan 0.143. Secara simultan bagi hasil, inflasi dan nilai tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Saran yang diberikan penulis dalam penelitian ini adalah:(1)Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dapat memperluas sampel penelitian bank syariah dengan meneliti tidak hanya Bank Umum Syariah Devisa saja tetapi juga Bank Syariah Non Devisa, Unit Usaha Syariah atau BPR Syariah.(2)Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya memasukkan variabel rasio keuangan yang lain dalam menguji profitabilitas bank syariah serta menambah periode penelitian supaya hasilnya lebih akurat. (3) Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian kembali dengan melakukan penelitian menggunakan data rasio keuangan tahunan supaya hasilnya lebih akurat.

Peningkatan hasil belajar KPK dan FPB dengan mengembangkan rasa keingintahuan siswa kelas IV melalui model penemuan terbimbing di SDN Balonggebang 1 Kabupaten Nganjuk / Ida Nurul Hidayati

 

Kata Kunci : hasil belajar, KPK dan FPB, rasa keingintahuan, model penemuan terbimbing Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi di kelas IV yang menunjukkan bahwa hasil belajar KPK dan FPB serta karakter rasa keingintahuan siswa kurang sesuai harapan. Dari 29 siswa hanya 13 yang dapat mencapai nilai KKM (≥ 70). Hal ini dikarenakan pembelajaran masih berpusat pada guru sehing-ga siswa pasif. Untuk memperbaiki pembelajaran tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas dengan model pembelajaran penemuan terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) pelaksanaan pembela-jaran KPK dan FPB melalui model penemuan terbimbing pada siswa Kelas IV SDN Balonggebang I Kabupaten Nganjuk, (2) peningkatan hasil belajar KPK dan FPB melalui model penemuan terbimbing siswa Kelas IV SDN Balonggebang I Kabupaten Nganjuk, dan (3) pengembangan karakter rasa keingintahuan siswa dalam pembelajaran KPK dan FPB melalui model penemuan terbimbing siswa Kelas IV SDN Balonggebang I Kabupaten Nganjuk. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan kualitatif, jenis PTK. Ta-hapan penelitian dilakukan sesuai dengan tahapan Kemmis dan Taggart. Model penelitian adalah kolaboratif, yaitu peneliti bertindak sebagai guru dan dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Data yang diambil adalah data pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model penemuan terbimbing, hasil belajar siswa yang berupa tes akhir, serta perkembangan rasa keingintahuan siswa di kelas IV. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, wawancara, tes, dokumenta-si, dan catatan lapangan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: pelaksanaan pem-belajaran dengan penerapan model penemuan terbimbing yaitu dari 78% pada si-klus I mengalami peningkatan menjadi 92% pada siklus II. Aktivitas siswa me-ngalami peningkatan dari siklus I 61% meningkat menjadi 70% pada siklus II dengan kriteria baik. Hasil belajar siswa yang berupa tes akhir, secara klasikal juga mengalami peningkatan dari siklus I 61% menjadi 71% pada siklus II dengan kriteria baik. Rasa keingintahuan siswa juga telah mengalami perkembangan dari siklus I sebesar 61% menjadi 70% pada siklus II dengan kriteria baik. Simpulan berdasarkan data yang diperoleh bahwa (1) pelaksanaan pem-belajaran dengan penerapan model penemuan terbimbing dapat berjalan sesuai langkah-langkah yang telah ditentukan, (2) hasil belajar KPK dan FPB siswa kelas IV dapat meningkat melalui penerapan model penemuan terbimbing, serta (3) rasa keingintahuan siswa kelas IV dapat berkembang melalui penerapan model penemuan terbimbing. Saran ditujukan untuk guru antara lain: (1) guru hendaknya memperdalam pemahaman siswa pada perkalian dan pembagian, (2) Guru dapat membuat media pembelajaran yang relevan dengan materi KPK dan FPB, (3) guru mampu meng-gunakan model penemuan terbimbing dalam materi lain.

Peningkatan kemampuan fisik motorik melalui metode demonstrasi dalam kegiatan cooking class pada anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan IX Beji Pasuruan / Sarifah Astutik

 

Kata Kunci : Kemampuan Fisik Motorik, Metode Demonstrasi, TK Kemampuan fisik motorik anak di TK Dharma Wanita persatuan IX banyak mengalami kesulitan ketika kegiatan pembelajaran yaitu meliputi kertas, meremas, menggerakkan tangan menjajah anak-anak untuk praktek pembelajaran langsung dengan cara mengoles roti dengan mentega. Berdasarkan hasil observasi kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan IX Beji Pasuruan terdapat rumusan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimanakah penerapan metode demonstrasi dalam peningkatan kemampuan fisik motorik melalui metode demonstrasi dalam kegiatan cooking class pada anak TK, 2) Apakah ada peningkatan kemampuan fisik motorik melalui metode demonstrasi dalam kegiatan cooking class pada anak TK. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart. Penelitian yang dilakukan melalui dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A sebanyak 20 anak TK Dharma Wanita Persatuan IX Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa lembar observasi anak dan lembar penelitian kemampuan anak. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis penelitian kemampuan fisik motorik dalam kegiatan cooking class pada para tindakan di peroleh 42,09 %. Pada siklus I dilakukan sebanyak 1 kali pertemuan 22 Mei 2012 di peroleh rata-rata 48,34 % dan siklus II yaitu pada tanggal 30 Mei 2012 di peroleh rata-rata 93,51 % terdapat kenaikan skor sebesar 45,17 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kegiatan cooking class dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik. Bagi guru TK disarankan agar pembelajaran lebih menyenangkan, tidak membosankan dan menarik minat anak.

Sejarah perkembangan trem di gemeente Surabaya tahun 1911-1934 / Baihaqi Al Mutoif

 

Kata kunci: Surabaya, Trem, Penumpang Pada awal abad ke-19, Surabaya merupakan kota perdagangan dan industri terbesar di Jawa. Tahun 1870 merupakan awal penerapan undang-undang agraria yang membuka Hindia Belanda untuk investor, oleh karena itu, tahun 1870 banyak orang Eropa yang datang ke Hindia Belanda pada umumnya dan Surabaya pada khususnya. Kedatangan orang Eropa tersebut merupakan awal dari terbentuknya kota indies di Hindia Belanda dengan fasilitas yang lengkap, salah satunya adalah jaringan kereta api. Trem memiliki beberapa persamaan dengan kereta api, yaitu memiliki jalur khusus berupa rel, memiliki lokomotif dan gerbong, namun trem memiliki perbedaan dengan kereta api yaitu memiliki rel yang lebih kecil dan jaringan trem hanya berada di dalam kota. Trem di Surabaya pada zaman Hindia Belanda, mampu memenuhi kebutuhan transportasi dan perdagangan di Surabaya. Tiga permasalahan muncul kemudian untuk dilanjutkan menjadi penelitan, yaitu: (1) bagaimana perkembangan trem di Surabaya, (2) apa peranan trem sebagai alat transportasi pada tahun 1911-1934, dan (3) bagaimana dampak operasional trem terhadap perkembangan masyarakat Kota Surabaya tahun 1911-1934. Metode peneitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah adalah metode penelitian historis, dengan jenis penelitian deskriptif-observasi. Langkah-langkah yang digunakan dalam metode penelitian historis adalah (1) penentuan judul berdasarkan kedekatan emosional peneliti ketika menaiki kereta komuter di Surabaya dan kedekatan intelektual peneliti ketika membaca buku berjudul “Tempo Doeloe Selaloe Aktual” yang terdapat tulisan Masykur Ismail yang berjudul “Kereta Api Di Madura”; (2) langkah kedua adalah heuritistik atau pengumpulan data sekunder yang berupa buku dan data primer yang berupa arsip dari Badan Arsip Jawa Timur dan Arsip Nasional; (3) langkah ketiga adalah kritik eksternal berupa kertas, bahasa, serta tulisan yang telah diuji oleh ahli di Arsip Nasional dan kritik internal mencocokkan antara arsip laporan perusahaan dengan surat yang dikeluarkan oleh direktur perusahaan sehingga berkesinambungan; (4) langkah keempat adalah interpretasi dari dokumen yang diperoleh dengan dianalisis dan dilakukan sintetis; (5) semua proses yang telah dilakukan, kemudian dilakukan historigrafi menjadi laporan yang disusun secara sistematis dan terperinci. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) trem uap yang dioperasikan pertama kali 1889, menimbulkan kemacetan dan polusi, sehingga tahun 1911, diganti trem listrik. Beroperasinya trem listrik tidak menghapuskan peran trem uap, karena trem uap berperan bagi perdagangan Kota Surabaya. (2) Penumpang trem uap menurun ketika trem listrik dioperasikan, namun penumpang trem listrik kemudian menurun ketika krisis melanda Hindia Belanda dan taksi mulai dioperasikan. (3) Keberadaan trem memberikan tiga dampak bagi masyarakat, ii yaitu dampak sosial adalah urbanisasi dan melonggarnya status sosial yang berdasarkan warna kulit menjadi berdasarkan ekonomi dan pendidikan pada masyarakat Surabaya, dampak ekonomi berupa kelancaran distribusi komoditi pasar, dampak ruang tata kota berupa perkembangan pusat keramaian dan pemukiman. Saran yang dapat diberikan peneliti adalah masih banyak sejarah transportasi yang belum diangkat oleh akademisi sebagai kajian mengenai sejarah teknologi dan penelitian mengenai sejarah transportasi di Hindia Belanda dapat dijadikan kajian yang menarik sebagai saran pemecahan problem kota besar yang berupa kemacetan di Indonesia.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran true or false pada siswa kelas V SDN Purworejo 01 Wates Blitar / Yuni Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Yuni. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran True Or False Pada Siswa Kelas V SDN Purworejo 01 Wates Blitar. Skripsi, Jurusan Keguruan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. M. Zainuddin, (II) Dra. Hj. Wasih D.S., M.Pd Kata kunci: model true or false, matematika, karakter kerja keras. Matematika merupakan ilmu yang universal yang mendasari perkembang-an teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Pelaksanaan pembelajaran Matematika di kelas V SDN Purworejo 01 masih menerapkan pembelajaran yang berpusat pada guru. Minat belajar siswa pada pelajaran Matematika rendah, sehingga prestasi belajarnya rendah. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Penelitian Tin-dakan Kelas (PTK). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) Pelaksanaan pembe-lajaran Matematika dengan menggunakan model pembelajaran true or false pada siswa kelas V SDN Purworejo 01 Wates Blitar, (2) Peningkatan hasil belajar Ma-tematika siswa kelas V SDN Purworejo 01 Wates Blitar dengan menggunakan model true or false pada tiap siklus, (3) Karakter kerja keras siswa kelas V SDN Purworejo 01 Wates Blitar pada pembelajaran Matematika dengan menggunakan model pembelajaran true or false pada tiap siklus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, yaitu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan be-lajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas V sebagai observer. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu pembelajaran Matematika pada se-tiap siklus mengalami peningkatan sebesar 10,5% dari siklus I sebesar 84,2% de-ngan kriteria baik ke siklus II sebesar 94,7% dengan kriteria sangat baik. Hasil be-lajar siswa pada pembelajaran Matematika dari siklus I ke siklus II mengalami pe-ningkatan sebesar 12,8%. Pengembangan karakter kerja keras siswa pada pembe-lajaran Matematika dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 25 %. Simpulan yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian tersebut adalah hasil belajar dan karakter kerja keras siswa kelas V SDN Purworejo 01Wates Blitar de-ngan menggunakan model true or false dapat meningkat. Saran yang bisa diberikan terkait dengan pelaksanaan pembelajaran Mate-matika berdasarkan simpulan tersebut adalah (1) Dalam penerapan pembelajaran Matematika, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang bisa me-munculkan nilai-nilai karakter dan membuat siswa berperan langsung dalam pem-belajaran sehingga siswa dapat mencari sendiri penyelesaian dari permasalahan yang sedang dibahas, salah satunya yaitu model true or false, (2) Hendaknya guru mencoba menerapkan model true or false pada pembelajaran Matematika dengan SK dan KD yang berbeda.

Peningkatan hasil belajar matematika kelas V dengan model reciprocal teaching di SDN Sidodadi 05 Kabupaten Blitar / Falentina Yussita Dwi Hatmaningtyas

 

Kata kunci: hasil belajar, luas trapesium, luas layang-layang, reciprocal teaching Proses pembelajaran matematika di SDN Sidodadi 05 masih menggunakan model konvensional, dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Selain itu hasil belajar siswa juga masih kurang memuaskan, karena siswa masih belum menguasai materi dan siswa kurang terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satu model inovatif yang dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran adalah model Reciprocal Teaching. Model ini menekankan pada pemahaman bacaan yang baik kemudian menyampaikan pemahamannya kepada pihak lain. Mengingat siswa kelas V sudah dapat membaca dan berlatih memahami bacaan, maka modal ini perlu dikembangkan lebih lanjut dengan memberi kesempatan siswa aktif menemukan sendiri melalui kegiatan pemahaman bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika kelas V SDN Sidodadi 05 dengan menggunakan model Reciprocal Teaching dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika kelas V setelah menggunakan model Reciprocal Teaching.. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sidodadi 05 Kabupaten Blitar semester I tahun pelajaran 2012/2013dengan jumlah l6 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, catatan lapangan, wawancara, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan model Reciprocal Teaching dalam pembelajaran matematika dapat berjalan dengan baik.Persentase proses belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan model Reciprocal Teaching mengalami peningkatan, pada siklus I persentase proses belajar siswa masih 53,13% dan pada siklus II dapat mencapai 88,54%. Selain itu persentase hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, pada siklus 1 persentase hasil belajar siswa adalah 60,81% dan pada siklus II meningkat menjadi 72,71%. Simpulan dari penelitian tersebut adalah penerapan Reciprocal Teaching dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan persentase proses belajar dan hasil belajar siswa kelas V SDN Sidodadi 05 pada meteri luas trapesium dan layang-layang. Oleh karena itu disarankan kepada guru untuk menggunakan model Reciprocal Teaching sebagai altematif dalam pembelajaran matematika selanjutnya dan mencoba untuk mengembangkan model ini pada materi pembelajaran yang lain.

Peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran matematika luas bangun datar melalui model Van Hiele di kelas III SDN Dandong 01 Kabupaten Blitar / Zulham Pelay

 

Kata Kunci: hasil belajar, luas, bangun datar, model pembelajaran Van Hiele Pembelajaran menghitung luas bangun datar di SDN Dandong 01 masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Berdasarkan hasil observasi, dari 26 siswa hanya 6 siswa yang mendapat nilai di atas KKM. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Van Hiele dipilih untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model pembelajaran Van Hiele diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan model Van Hiele dan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti sebagai guru bekerjasama dengan guru kelas III sebagai observer dan dilaksanakan di SDN Dandong 01 Kabupaten Blitar. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi aktivitas siswa dalam pembelajaran. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data ialah lembar observasi guru dan siswa dalam pembelajaran. Sedangkan kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Setelah itu data dievaluasi dan dilakukan refleksi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pelaksanaan pembelajaran dengan model Van Hiele dapat dikatakan berhasil dengan sangat baik, karena menunjukkan adanya peningkatan. Rata-rata hasil belajar pada pra tindakan ialah 55 dengan ketuntasan 23,1%. Pada siklus 1 pertemuan 1, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 65,9 dengan ketuntasan klasikal 57,7%. Pertemuan 2, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 82,7dengan ketuntasan klasikal 80,8%. Sedangkan pada pertemuan 3 rata-rata hasil belajar siswa meningkat lagi menjadi 90,5 dengan ketuntasan klasikal 96,2%. Pada siklus 2 pertemuan 1, rata-rata hasil belajar siswa 71,5 dengan ketuntasan klasikal 65,4%. Pertemuan 2, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 81,5 dengan ketuntasan klasikal 84,6%. Sedangkan pertemuan 3 rata-rata hasil belajar siswa meningkat lagi menjadi 92,1 dengan ketuntasan klasikal 96,2%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua simpulan, yaitu: pertama, Pelaksanaan model pembelajaran Van Hiele dalam materi menghitung luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Dandong 01 dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Kedua, Model pembelajaran Van Hiele dalam materi menghitung luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Dandong 01 Kabupaten Blitar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 pertemuan 1 sampai siklus 2 pertemuan 3 mencapai 38,5%.

Peningkatan hasil belajar PKn kelas IV melalui model inkuiri nilai di SDN Pojok 03 Kabupaten Blitar / Dela Sukmawati

 

Kata Kunci : hasil belajar, pendidikan kewarganegaraan, inkuiri nilai. Didapatkan pembelajaran yang dilaksanakan di SDN Pojok 03 masih menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga berdampak pada aktivitas dan hasil siswa. Hal ini dapat diketahui dari data nilai PKn kelas IV SD Negeri Pojok 03, bahwa siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM (70) hanya 3 siswa, dari 10 siswa, sedangkan 7 siswa mendapat nilai diawah KKM. Tujuan diadakannya penelitian di SDN Pojok 03 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar adalah untuk mendiskripsikan penerapan model inkuiri nilai dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru pada saat pembelajaran serta peningkatan hasil belajar siswa. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes hasil belajar, dokumentasi, wawancara dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat pada setiap siklus pembelajaran yang dilakukan. Siklus I diketahui rata-rata nilai siswa mencapai 66,5 dari 10 siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM adalah 8 siswa (80%), 2 siswa (20%) berada di atas nilai KKM dengan kriteria penilaian kurang. Pada siklus II nilai rata-rata 84 dari 10 siswa yang memperoleh nilai diatas KKM adalah 10 siswa (100%) pada siklus ini tidak ada nilai dibawah KKM. Kriteria keberhasilan dikategorikan sangat baik. Sedangkan dari hasil siklus I dan II mencapai rata-rata75,5. Dari 10 siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sejumlah 9 siswa (90%), dan 1 siswa (10%) memperoleh nilai dibawah KKM. Hal ini dikarenakan kurang mampunya siswa membaca lancar, kurang fokusnya siswa terhadap pelajaran, serta factor lain yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model inkuiri nilai dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru serta peningkatan hasil belajar yang dapat dilihat pada pratindakan, siklus I dan siklus II.

Peningkatan hasil belajar IPS menggunakan model pembelajaran circuit learning kelas V SDN II Bandung Kabupaten Tulungagung / Yeyen Yodisudana

 

Perbedaan hasil belajar siswa melalui media visual dengan media audio visual pada mata pelajaran IPS di kelas IV SD se-gugus 1 Kecamatan Pakisaji / Ika Suryanti

 

Kata Kunci: Hasil Belajar Siswa, Media Visual, media Audio Visual, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pembelajaran dengan menggunakan media audio visual adalah sebuah cara pembelajaran dengan menggunakan media yang mengandung unsur suara dan visual yang melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar dirasa kurang interaktif bagi siswa karena siswa hanya dihadapkan pada buku teks saja. Media audio visual yang dikemas dalam bentuk CD Interaktif ini ditawarkan sebagai inovasi media dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan bagaimana hasil belajar siswa melalui media visual dengan media audio visual pada mata pelajaran IPS di kelas IV SD Se-Gugus I Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, (2) Menjelaskan apakah terjadi perbedaan hasil belajar antara pembelajaran melalui media visual dan audio visual pada mata pelajaran IPS di kelas IV SD Se-Gugus I Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan kuasi eksperimen (Pretest-Postest control Group Design). Subyek penelitian melibatkan semua siwa Kelas IV semester satu di SDN Kebonagung 02 dan SDN Kebonagung 06 Kabupaten Malang dengan jumlah masing-masing sekolah terdapat 44 siswa. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh perhitungan perbedaan hasil nilai rata-rata kedua kelompok (gain score) diperoleh hasil kelompok eksperimen (19,32) lebih tinggi dari rata-rata gain score kelompok kontrol (14,09). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian diperoleh nilai probabilitas ≤ 0,05 (0,01 ≤ 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa melalui media visual dengan media audio visual pada mata pelajaran IPS di kelas IV SD Se-Gugus I Kecamatan Pakisaji. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa melalui media visual berupa gambar dengan media audio visual berupa CD Interaktif pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD Se-Gugus I Kecamatan Pakisaji. Maka saran yang dapat diberikan (1) guru dapat menggunakan media pembelajaran audio visual sberupa CD Interaktif sebagai salah satu alternatif pilihan dalam melaksanakan pembelajaran IPS SD (2) guru lebih menguasai dalam mengoperasikan media pembelajaran audio visual berupa CD Interaktif sehingga penggunaan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan (3) sekolah dapat mengupayakan media pembelajaran audio visual berupa CD Interaktif diterapkan pada mata pelajaran IPS.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model group investigation di kelas V SDN Tenggur Kabupaten Tulungagung / Kholid Yuda Wijaya

 

Kata Kunci: hasil belajar, pendidikan kewarganegaraan, group investigation Berdasarkan hasil observasi awal dalam proses pembelajaran PKn, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn. Siswa menganggap mata pelajaran PKn sebagai pelajaran hafalan karena kurang menekankan pada aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa masih kurang. Selain itu guru masih meng-gunakan model konvensional yaitu masih terpusat pada guru (teacher center) sehingga membuat siswa bosan dalam proses pembelajaran PKn. Salah satu alternatif model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam mengorganisasikan dan menemukan hubungan-hubungan dari informasi yang diperoleh adalah Group Insvestigasion. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan penerapan model group investigation dalam pembelajaran PKn di kelas V SDN Tenggur, 2) mendeskripsikan tentang peningkatan hasil belajar siswa kelas V setelah digunakan model group investigation dalam pembelajaran PKn. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart dengan menggunakan empat komponen penelitian tindakan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Refleksi dilakukan disetiap akhir siklus yang kemudian dijadikan acuan untuk memperbaiki dan menyusun rencana pembelajaran pada siklus berikutnya. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus. Perencanaan pembelajaran dengan mempersiapkan instrumen penelitian yaitu lembar tes, lembar observasi guru dan siswa dan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN Tenggur Kabupaten Tulungagung yang terdiri dari 20 siswa. Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan terdiri dari terdiri dari enam tahap, yaitu (1) mengidentifikasi topik dan mengatur siswa dalam kelompok, (2) merencanakan tugas yang akan dipelajari (3) melaksanakan investigasi, (4) menyiapkan laporan akhir, (5) mempresentasikan laporan akhir dan (6) evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan nilai rata-rata siklus I yaitu 67,60 dengan prosentase siswa yang mencapai KKM sebanyak 55 %, dan siklus II yaitu 78,00 dengan prosentase 80 %, hasil belajar afektif dan psikomotornya dikategorikan baik karena dari siklus I sampai Siklus II mengalami peningkatan dan rata-rata dalam semua aspek mencapai di atas 70% dan penerapan model group investigation telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Tenggur Kabupaten Tulungagung tahun ajaran 2012/2013. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model group investigation menunjukkan peningkatan hasil belajar PKn. Untuk itu disarankan hendaknya para guru menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sesuai situasi dan kondisi siswa. Dengan demikian pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui strategi direct reading thingking activities bagi siswa kelas III SDN I Karangan Trenggalek / Lia Dwi Purnama

 

Kata kunci : hasil belajar PKn, Direct Reading Thinking Activities, SD. Hasil observasi dan wawancara siswa di SDN I Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek dalam pembelajaran PKn siswa masih kurang terfokus dalam pembelajaran, motivasi siswa yang rendah, dan nilai yang kurang dalam pembelajaran. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa tidak mencapai ketuntasan minimal yang telah ditentukan yakni > 70. Dalam proses pembelajaran masih ditemukan hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan dari guru yakni dalam pembelajaran PKn guru masih menggunakan cara lama yaitu dengan metode ceramah dan tanya jawab, kurang menggunakan media secara maksimal, dan kurang memberikan contoh yang maksimal tentang materi yang diajarkan Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan strategi Direct Reading Thinking Activities dalam pembelajaran PKn siswa kelas III SDN I Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn melalui strategi Direct reading Thinking Activities siswa kelas III SDN I Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK), dengan subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN I Karanganom Trenggalek, dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Sedangkan instrument penelitian yang digunakan adalah panduan observasi dan soal tes untuk menilai hasil belajar siswa Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar pada pra tindakan adalah 27,52 dengan kriteria sangat rendah mengalami peningkatan yang pada siklus 1 yaitu 63,28 dengan kriteria rendah dan mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus 2 yaitu 80,28 dengan kriteria baik. Meskipun ada 5 siswa (20%) yang tidak mencapai kriteria ketuntasan individu yaitu minimal 70. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penerapan strategi Direct Reading Thinking Activities dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn pada siswa kelas III SDN I Karanganom Trenggalek. Saran dari penelitian ini, guru hendaknya mengembangkan penerapan strategi Direct reading Thinking Activities sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran PKn di SD. Bagi peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini berdasarkan keterbatasan yang ada pada peneliti.

Pemanfaatan sumber belajar dalam pembelajaran IPS di Gugus Sekolah Dasar 06 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Devi Hendar Wardhani

 

Kata Kunci: Sumber belajar, Pembelajaran, IPS SD Mata pelajaran IPS diberikan di sekolah dasar tidak semata-mata hanya untuk melengkapi kurikulum saja, namun terdapat tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajaran IPS. Materi IPS berkenaan dengan kemasyarakatan atau kehidupan sosial, sehingga IPS memiliki sumber belajar yang luas dan sangat kompleks cakupannya. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan sumber belajar yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS di Gugus Sekolah Dasar 06 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, (2) Mendeskripsikan kesulitan guru dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar pada pembelajaran IPS di Gugus Sekolah Dasar 06 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu guru yang mengajar mata pelajaran IPS di Gugus Sekolah Dasar 06 Kec. Pakis Kab. Malang (9 guru), dan siswa kelas IV dan V Gugus Sekolah Dasar 06 Kec. Pakis Kab. Malang (35 siswa). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa angket, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik deskriptif kuantitatif berupa persentase. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa dalam memanfaatkan sumber belajar: 11,1% guru selalu menggunakan lingkungan budaya; 44,4 % guru kadang-kadang menggunakan media elektronik; 55,6 % guru selalu menggunakan lingkungan fisik/alam, 77,8 % guru selalu menggunakan buku teks; 66,7 % guru selalu menggunakan lingkungan sosial, 11,1 % guru sering menggunakan orang/nara sumber; 55,6 % guru menghadapi kendala biaya dalam memanfaatkan sumber belajar dan 77,8 % guru mengatasi kendala tersebut dengan cara mencari alternatif sumber belajar lain. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Sumber belajar yang banyak digunakan guru dalam pembelajaran IPS di Gugus Sekolah Dasar 06 Kec. Pakis Kab. Malang yaitu sumber belajar buku teks, lingkungan sosial, dan lingkungan fisik/alam, dalam memilih sumber belajar guru kurang memperhatikan kekurangan dan kelebihan sumber belajar yang digunakan; (2) kendala yang banyak dihadapi oleh guru yaitu kendala yang berkaitan dengan biaya kendala tersebut dapat diatasi oleh guru dengan cara mencari alternatif sumber lain atau sumber belajar yang sudah tersedia. Berdasarkan hasil kesimpulan dapat disarankan: (1) di lingkungan sekitar sekolah terdapat banyak nara sumber (orang) yang dapat dimanfaatkan guru sebagai sumber belajar, misalnya petani dan tokoh masyakat, untuk itu hendaknya guru dapat memanfaatkan nara sumber (orang) tersebut sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS, dalam pemilihan sumber belajar, guru juga memperhatikan kekurangan dan kelebihan sumber belajar yang digunakan hal tersebut bertujuan agar fungsi sumber belajar dapat berfungsi sebagaimana mestinya; (2) hendaknya guru tetap memperhatikan kriteria pemilihan sumber belajar dalam penggunaan alternatif sumber belajar lain untuk mengatasi kendala pemanfaatan sumber belajar.

Peningkatan hasil belajar menyelesaikan soal cerita melalui model pembelajaran konseptual pada siswa kelas IV SDN Pojok 03 Kabupaten Blitar / Dinik Solawati

 

Kata Kunci: hasil belajar, penyelesaian soal cerita, model pembelajaran konseptual Proses pembelajaran matematika di SDN Pojok 03 Kabupaten Blitar diketahui bahwa, siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru, kemudian berakhir pada pemberian latihan soal yang ada di LKS. Guru melakukan metode ceramah dan aktif memberikan informasi kepada siswa, sedangkan keaktifan siswa kurang. Hal tersebut menyebabkan rendahnya pemahaman konsep sehingga hasil belajar yang diperoleh tidak dapat mencapai kriteria ketuntasan minimum. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan model pembelajaran konseptual pada penyelesaian soal cerita pada siswa kelas IV SDN Pojok 03 Kabupaten Blitar, dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar melalui model pembelajaran konseptual di kelas IV di SDN Pojok 03 Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2012/2013. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian siswa kelas IV SDN Pojok 03 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar dengan jumlah 16 siswa. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) observasi, (2) wawancara, (3), tes (4) dokumentasi dan (5) catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penerapan model pembelajaran konseptual menggunakan lima langkah-langkah yaitu (1) Mencari unsur-unsur yang termasuk ke dalam konsep dan mengelompokkannya. (2) Menentukan dan merumuskan tujuan instruksional. (3) Memilih hal-hal atau situasi yang dapat mendukung konsep serta memperlancar tujuan instruksional. (4) Merencanakan dan mencari hal-hal yang diperkirakan membantu siswa dalam proses pemahaman dan pemantapan konsep. (5) Mencari dan menetukan cara penyajian dan pengembangan proses internalisasi konsep secara lengkap. Hasil penelitian ini, melalui model pembelajaran konseptual dapat mengatasi aktivitas siswa dalam pembelajaran, aktivitas guru, dan hasil belajar siswa. Hal tersebut diketahui pada hasil aktivitas siswa siklus 1 dengan PNR klasikal 64.7% dengan kualifikasi cukup baik meningkat menjadi 72.5% dengan kualifikasi baik pada siklus II. Hasil aktivitas guru siklus 1 dengan PNR 80% meningkat menjadi 90% pada siklus II, sehingga terjadi peningkatan aktivitas guru dari siklus I ke siklus II sebesar 10%. Hasil belajar siswa siklus 1 dengan persentase siswa lulus belajar 56.25% dengan kualifikasi cukup baik meningkat menjadi 75% dengan kualifikasi baik pada siklus II, sehingga telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 18.75%. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebaiknya model pembelajaran konseptual dilaksanakan oleh guru pada materi pelajaran yang lainnya.

Pengembangan media karpet bintang berwarna untuk melatih kecerdasan visual spasial anak PAUD ABA 24 Malang / Ajie Angga Kusuma Dewi

 

ABSTRAK Angga, Ajie K.D. 2012. Pengembangan Media Karpet Bintang Berwarna Untuk Melatih Kecerdasan Visual Spasial Anak PAUD ABA 24 Malang Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Saichudin M. Kes., (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata Kunci: Pengembangan, Media Karpet Bintang Berwarna, Kecerdasan Visual Spasial Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di PAUD ABA 24 Malang dalam hal mengembangkan kecerdasan jamak atau salah satu kecerdasan jarang dilakukan, karena pendidik hanya terfokus pada program semester untuk segera dilakukan. Kegiatan pembelajaran di PAUD ABA 24 Malang menjadi kurang menarik dan inovatif, oleh karena itu peneliti merancang sebuah produk yang diberi nama “media karpet bintang berwarna” untuk melatih kecerdasan visual spasial. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan media karpet bintang berwarna yang diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam pengadaan media pembelajaran untuk melatih kecerdasan jamak khususnya kecerdasan visual spasial di PAUD ABA 24 Malang Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall. Pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan 7 langkah penelitian dan dilaksanakan di 1 sekolah saja dengan subjek penelitian 22 anak. Langkah penelitian dimulai dari pengumpulan data, rancangan produk, revisi ahli dengan 1 ahli media pembelajaran, dan 1 ahli kecerdasan, revisi berdasarkan ahli, uji coba kelompok kecil dilakukan pada 6 subjek penelitian, revisi dilakukan berdasarkan hambatan di lapangan, dan uji kelompok besar dilakukan terhadap 22 anak dan revisi akhir. Pengembangan Media karpet bintang berwarna untuk melatih kecerdasan visual spasial ini dinyatakan valid. Hal ini dibuktikan dengan hasil penghitungan statistik dari data ahli media mendapatkan 88,46%, dari ahli kecerdasan mendapatkan 90,9%, dari hasil uji coba kelompok kecil berdasarkan kemenarikan mendapatkan 100%, kemudahan 94,44%, efektifitas 88,88%, bidang pengembangan 93,22%. Untuk hasil uji coba kelompok besar berdasarkan kemenarikan 90,9%, kemudahan 87,87%, efektifitas 85,6%, bidang pengembangan 83,8%. Berdasarkan hasil analisis data tersebut media karpet bintang berwarna untuk melatih kecerdasan visual spasial anak ini menarik, mudah dan efektif untuk digunakan sebagai salah satu media pembelajaran di PAUD. Saran-saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan ini ditujukan kepada guru ketika melakukan pendampingan pada anak saat menggunakan media karpet bintang berwarna dan kepada peneliti lebih lanjut untuk media karpet bintang berwarna dibuat lebih variatif sehingga tidak hanya fokus pada 1 kecerdasan visual spasial.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model Polya pada siswa kelas VI MI Al Ihsaniyah Wonorejo Kabupaten Blitar / Fuadifu Zahro

 

Kata Kunci: hasil belajar matematika, model polya, Hasil observasi dalam pembelajaran Matematika materi permasalahan yang berkaitan dengan debit guru cenderung menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas yang mengakibatkan ketuntasan kelas hanya mencapai 11% dengan kualifikasi kurang. Untuk memperbaiki hal tersebut digunakanlah model Polya. Hal ini dikarenakan model ini memiliki kelebihan 1) pembelajaran melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memcahkan masalah secara terampil, 2) siswa dapat dengan lebih runtut dan terstruktur dalam memecahkan masalah matematika sehinga nantinya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah 1) bagaimanakah pembelajaran matematika melalui model Polya pada siswa kelas VI MI Al Ihsaniyah Wonorejo Kabupaten Blitar?, 2) Apakah pembelajaran matematika melalui model Polya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI MI Al Ihsaniyah Wonorejo Kabupaten Blitar? Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart. data dan sumber data dalam penelitian ini meliputi 1) Data aktivitas guru dan siswa, 2) Data hasil belajar siswa, 3) Data untuk mengetahui pandangan dan sikap siswa terhadap pembelajaran sebelum dan setelah diterapkannya model Polya. Pengumpulan data dalam peneltian ini melalui proses observasi,wawancara, tes, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti yang dibantu oleh observer. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil tindakan diperoleh data 1) aktivitas guru siklus I dan siklus II mencapai 100% dan mendapatkan nilai A dengan kualifikasi sangat baik, 2) aktivitas siswa siklus I mencapai 72% dengan kualifikasi baik dan siklus II mencapai 92% dengan kualifikasi sangat baik, 3) hasil belajar siswa siklus I ketuntasan kelas mencapai 44% dengan kualifikasi kurang dan siklus II mencapai 88% dengan kualifikasi sangat baik, 4) Siswa senang belajar Matematika dengan model Polya. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu 1) Pembelajaran Matematika melalui model Polya di kelas VI MI Al Ihsaniyah telah berjalan dengan sangat baik, 2) Pembelajaran Matematika melalui model Polya meningkatkan hasil belajar Matematika kelas VI MI Al Ihsaniyah dengan kualifikasi ketuntasan kelas sangat baik.

Penggunaan media kotak engklek untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak di kelompok A TK PGRI 06 Kalipare Kabupaten Malang / Ika Risawati

 

Kata Kunci: Penggunaan media kotak engklek, Pengembangan Kognitif, TK PGRI 06 Kalipare. Kemampuan kognitif anak kelompok A di TK PGRI 06 Kalipare Kabupaten Malang pada pembelajaran membilang 1 sampai 10 masih belum maksimal. Anak kurang memahami dalam membilang /menyebut urutan bilangan dari 1sampai10, membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda-benda) sampai 10, menunjuk urutan benda untuk bilangan sampai 10, membuat urutan bilangan 1-10 dengan benda-benda, dan meniru lambang bilangan 1-10 masih belum maksimal. Hal ini disebabkan media belajar dan metode pembelajaran yang belum memenuhi sasaran. Masalah yang akan diteliti adalah: (1) Bagaimana langkah-langkah penerapan media kotak engklek untuk mengembangkan kognitif anak dalam berhitung 1 sampai 10 di kelompok A. (2) Apakah dengan menggunakan media kotak engklek dapat mengembangkan kogitif anak dalam membilang 1 sampai 10. Penelitian ini dilakukan di Kelompok A TK PGRI 06 Kalipare Kabupaten Malang dengan jumlah siswa 16 anak pada tanggal 12-14, 23 November 2011 dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelompok A. Selanjutnya dari rancangan tersebut dilaksanakan pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi danlembar penilaian kemampuan kognitif, kemudian dianalisis dengan rumus prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan 2 hal yaitu; (1)Langkah-langkah penerapan kegiatan penerapan media kotak engklek(a) Anak-anak diajak bernyanyi dan bertepuk sambil duduk dikarpet, (b) Anak diajak bercakap-cakap tentang tema hari ini. (c) Guru mulai mengenalkan angka 1 sampai 10 dengan tebakan pada anak dan menggunakan gambar-gambar buah serta buah-buahan yang sebenarnya. (d) Guru menyiapkan tempat yang akan digunakan untuk bermain. (e) Guru menjelaskan akan diajak bermain apa, bagaimana cara menggunakannya, (f) kegiatan ditutup dengan tanya jawab kegiatan hari ini atau pemantapan dan doa penutup. (2)Bahwa dengan menggunakan media kotak engklek dapat mengembangkan kognitif anak dalam membilang 1 sampai 10 di kelompok A TK PGRI 06 Kalipate Kabupaten Malang. Hal ini terbukti dengan hasil rata-rata nilai anak meningkat 87,5% yang berarti sangat baik. Disarankan bagi para pendidik anak usia dini untuk melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan pembelajaran dalam mengembangkan kemampuan kognitif. Anak lebih senang, tanpa paksaan dan penggunaan media yang baru juga sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik pada anak dengan hasil yang optimal.

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui model Think Pair and Share (TPS) di kelas IV SDN Plosoarang 02 Kecamatan Sanankulon Blitar / Endang Sri Wulandari

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, PKn, Think Pair Share Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peranan yang strategis dan penting, yaitu dalam membentuk sikap siswa maupun dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diharapkan setiap individu mampu menjadi pribadi yang baik. Dari hasil wawancara pada siswa diperoleh informasi bahwa selama ini pembelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang sulit, kurang penting, dan membosankan. Apalagi terhadap materi yang baru diketahui oleh siswa, yaitu yang berkaitan dengan Pemerintahan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan yang dimiliki siswa. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas IV pada waktu pembelajaran PKn terdapat: (1) guru menggunakan metode ceramah yang dominan, sehingga siswa kurang aktif (2) siswa kurang berkonsentrasi dalam belajar, terbukti saat pembelajaran ada yang bermain sendiri, mengantuk, kepala diletakkan di atas meja pada saat guru menjelaskan materi, (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran,padahal adanya media pembelajaran itu penting sebagai alat bantu mengajar, (4) suasana belajar kurang menyenangkan, terlihat siswa malas mengikuti pembelajaran, (5) selama pembelajaran siswa tidak belajar secara berkelompok, melainkan belajar secara individu, sehingga tidak ada diskusi (6) akhir pembelajaran tugas dinilai, hasil belajar yang diperoleh yaitu nilai ≤ 70 ada 8 siswa dan nilai ≥ 70 ada 6 siswa. Pada pembelajaran PKn, KKM yang ditentukan yaitu 70. Ada 8 siswa dari jumlah keseluruhan 14siswa yang hasil belajarnya di bawah KKM, sehingga mereka belum tuntas. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran dalam mata pelajaran PKn perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share yaitu siswa belajar secara berkelompok dengan anggota berpasangan. Penelitian ini bertujuan untuk:(1) Mendeskripsikan tentang penerapan pembelajaran PKn melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair share di kelas IV SDN Plosoarang 02 Kecamatan Sanankulon Blitar , (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn melalui model pembelajaran kooperatif tipe think pair share di kelas IV SDN Plosoarang 02 Kecamatan Sanankulon Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran think pair share pada PKn di kelas IV sudah sangat baik. Hal ini didukung dengan meningkatnya hasil belajar siswa pada kegiatan think pair and share. Hasil belajar siswa meliputi aspek aktivitas belajar siswa dan nilai akhir siswa.Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran think pair and share dan nilai akhir yang berasal dari gabungan nilai individu dan kelompok. hasil belajar dimulai dari pra tindakan sampai dengan tindakan penelitian pada siklus I dan siklus II. Siswa yang tuntas pada tahap pra tindakan sebanyak 6 anak, dan yang belum tuntas sebanyak 8 anak. Pada siklus I, ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan setiap pertemuannya. Peningkatan ketuntasan siswa dari pratindakan ke siklus I sebanyak 4 anak, sedangkan siswa yang belum tuntas berkurang menjadi 4 anak. Pada siklus II mengalami peningkatan dari siklus I sebanyak 3 anak. Dengan demikian 13 siswa tuntas belajar pada tahap siklus II dan 1 siswa belum tuntas belajar. Berdasarkan hasil kesimpulan, disarankan kepada guru hendaknya guru bisa menerapkan model pembelajaran think pair share. Agar siswa lebih aktif dan mampu memahami materi mengenal lembaga-lembaga dalam pemerintahan desa dan kecamatan.

Penggunaan kartu kata bergambar untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa kelas I SDN Sumbergondo 02, Bumiaji Kota Batu / Susanti

 

Kata kunci : Kartu Kata Bergambar, peningkatan membaca, menulis, Sekolah Dasar Kartu Kata Bergambar merupakan kertas berukuran 10 x 7 cm, kartu bergambar yang menerangkan tentang kosa kata baru, atau hal yang dimaksud dari gambar tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk 1) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan penggunaan kartu kata bergambar dalam pembelajaran membaca dan menulis siswa kelas I SDN Sumbergondo 02 Bumiaji Batu; 2) Untuk mendeskripsikan ada tidaknya peningkatan kemampuan membaca dan menulis SD kelas I SDN Sumbergondo 02 Bumiaji Batu dengan menggunakan media kartu kata bergambar. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Hasil penelitian pra tindakan menunjukkan 13 siswa (62%) tuntas, sedangkan 8 siswa (38%) belum tuntas. Nilai rata-rata kelas menunjukkan 63,33, nilai tertinggi 90, nilai terendah 20, belum tuntas. Pada siklus I Rata-rata kemampuan baca tulis siswa adalah 67,61, terjadi peningkatan sebesar 4,28 (20,38%), ada 6 siswa (28,57%) belum tuntas dan 15 siswa (71,43%) sudah tuntas sesuai dengan KKM yang ditetapkan (70%). Pada siklus II rata-rata kemampuan baca tulis 85,48, terjadi peningkatan sebesar 17,87, ada 2 siswa (9,52%) belum tuntas dan 19 siswa (90,48) sudah tuntas sesuai dengan KKM yang sudah ditentukan, nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 55. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sebelum tindakan nilai rata-rata kemampuan baca tulis siswa adalah 63,33. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I hasil belajar mengalami peningkatan yaitu rata-ratanya menjadi 67,61 Pada siklus I terdapat 6 siswa (28,57%) belum mencapai KKM sedangkan 15 siswa (71,43%) sudah mencapai ketuntasan individu dan ketuntasan kelas yang ditetapkan yakni 70%. Selanjutnya dilakukan tindakan pada siklus II dan rata-rata hasil belajar siswa menjadi 85,48 dan hanya 2 siswa (9,52%) belum mencapai KKM sedangkan 19 siswa (90,48%) sudah mencapai KKM. Terbukti bahwa penggunaan kartu kata bergambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Sumbergondo 02 Bumiaji Batu. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disarankan (1) bagi guru dapat mengembangkan penggunaan media " Kartu Kata Bergambar" yang telah dimodifikasi untuk pelajaran Bahasa Indonesia maupun mata pelajaran lainnya, (2) bagi siswa tetap melatih kemampuan baca tulis dengan menggunakan media kartu kata bergambar baik saat pembelajaran maupun pada saat jam istirahat, (3) bagi sekolah hendaknya membimbing dan mengarahkan guru dalam menggunakan media yang lebih inovatif lagi khususnya pada pembelajaran baca tulis SD, (3) dan peneliti berikutnya agar meminimalisir kekurangan yang ada agar hasilnya lebih baik.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran problem solving untuk menumbuhkan kejujuran siswa kelas IV SDN Karangrejo 01 Garum Blitar / Nury Fataya

 

Kata kunci: model pembelajaran problem solving, matematika, hasil belajar, karakter kreatif Pembelajaran Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak, oleh karena itu diperlukan strategi supaya siswa dapat belajar dengan senang dan dapat memahaminya. Hasil belajar matematika siswa di kelas IV SDN Karangrejo 01 Garum Blitar menunjukkan bahwa lebih dari 50% siswa kelas IV mendapatkan nilai di bawah KKM yang ditentukan yaitu 65 dan siswa pasif terhadap pembelaja-ran disebabkan guru sering menggunakan model pembelajaran ceramah yang tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) pelaksanaan pembe-lajaran matematika melalui model pembelajaran Problem Solving pada siswa Kelas IV SDN Karangrejo 01 Garum Kabupaten Blitar, (2) peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran Problem Solving siswa Kelas IV SDN Karangrejo 01 Garum Kabupaten Blitar, dan (3) pengembangan karakter kejujuran dalam pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Problem Solving siswa Kelas IV SDN Karangrejo 01 Garum Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, yai-tu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu hasil belajar siswa pada siklus I per-temuan I mencapai persentase sebesar 61,22%, pada pertemuan II mencapai per-sentase sebesar 75,11%, pada siklus II pertemuan I mencapai persentase sebesar 75,56%, pada pertemuan II mencapai persentase sebesar 83,22 %. Karakter kejujuran siswa pada siklus I pertemuan I mencapai persentase sebesar 36,89%, pada pertemuan II mencapai persentase sebesar 70,56%, pada siklus II pertemuan I mencapai persentase sebesar 70,56%, pada pertemuan II mendapat mencapai sebesar 96,33%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dan karakter kejujuran siswa kelas IV SDN Karangrejo 01 Kabupaten Blitar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving dapat meningkat. Berdasarkan simpulan tersebut, yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas, yaitu (1) Dalam pembelajaran, sebaiknya guru memilih model pembelajaran sebagai salah satu pertimbangan untuk membe-lajarkan dan memotivasi siswa, dan (2) Dalam pembelajaran matematika, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang dapat mengembangkan karakter untuk menumbuhkan budaya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Pemanfaatan surat kabar sebagai sumber belajar untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Sekarpuro Malang / Devia Fitra Ahyari

 

Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Surat Kabar, SD Membaca pemahaman merupakan lanjutan dari membaca dalam hati, mulai diberikan di kelas 3 Sekolah Dasar, membaca tanpa suara dengan tujuan untuk memahami isi bacaan. Berdasarkan observasi menunjukkan bahwa tingkat keterampilan membaca pemahaman di kelas V-B masih rendah. Siswa mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang sesuai dengan bacaan. Metode yang digunakan guru hanya metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Sumber belajar yang dipakai guru hanya dari buku paket saja. Untuk itu, perlu adanya sumber belajar alternatif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa yaitu surat kabar. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dengan memanfaatkan sumber belajar surat kabar pada siswa kelas V SDN Sekarpuro Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan memanfaatkan sumber belajar surat kabar pada siswa kelas V SDN Sekarpuro Malang. Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (PTK), dengan 4 tahapan yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Teknik pengumpulan data yaitu: (1) observasi, (2) wawancara, (3) tes, (4) dokumentasi, (5) catatan lapangan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V-B SDN Sekarpuro Malang yang berjumlah 28 siswa. Penelitian ini dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2012/2013.Analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dengan memanfaatkan surat kabar berjalan dengan baik. Siswa antusias dan bersemangat ketika pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan surat kabar dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V-B SDN Sekarpuro Malang. Rata-rata kemampuan awal siswa yaitu 58,89 dengan tingkat keberhasilan 21,42%. Setelah dilaksanakan siklus I rata-rata kemampuan siswa menjadi 65,8 dengan tingkat keberhasilan 36%. Pada siklus II rata-rata kemampuan siswa meningkat kembali menjadi 75,4 dengan tingkat keberhasilan 83,33%. Saran bagi guru bisa memanfaatkan surat kabar sebagai variasi dalam memilih sumber belajar. Bagi peneliti lain sebaiknya surat kabar yang digunakan dilengkapi gambar. Bagi siswa dapat mengambil pengalaman dari pembelajaran Bahasa Indonesia dengan memanfaatkan surat kabar. Bagi sekolah sebaiknya memanfaatkan surat kabar sebagai sumber belajar alternatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pengaruh penerapan pendekatan keterampilan proses terhadap kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V di SDN Turen 3 Kabupaten Malang / Nova Dwijayanti

 

Kata Kunci: pendekatan, keterampilan proses, kemampuan menulis, karangan narasi, sekolah dasar. Menulis merupakan salah satu aspek yang penting dikuasai siswa karena sebagai aspek berpikir dan pendidikan. Sehingga, menutup kemungkinan penggalakan pembelajaran menulis telah dilakukan sedini mungkin. Terdapat lima tahapan menulis yaitu pramenulis, menulis, revisi, editing dan publishing. Dalam tahapan tersebut terdapat serangkaian proses berupa kegiatan yang harus dilakukan siswa untuk memperoleh hasil yang optimal. Proses tersebut meliputi kegiatan:mengamati,mengklasifikasi/menggolongkan,menafsirkan/menginterpretasi,meramalkan/memprediksi, menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1). mendeskripsikan kemampuan menulis siswa bila diajar tanpa menggunakan pendekatan keterampilan proses, (2). Mendeskripsikan kemampuan menulis siswa bila diajar dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses, (3). Mengetahui ada atau tidak pengaruh pendekatan keterampilan proses terhadap kemampuan menulis karangan narasi, (4). Mendeskripsikan bagaimana pengaruh penerapan pendekatan keterampilan proses terhadap kemampuan menulis siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan eksperimen. Populasi penelitian adalah siswa kelas V SDN Turen 3 yang berjumlah 66 siswa dan semuanya diteliti, sehingga disebut sampel total. Data dikumpulkan menggunakan tes tulis untuk mengungkap hasil kemampuan menulis karangan. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik inferensial berupa data interval dengan menggunakan uji t-tes, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Hasil kemampuan menulis sebelum perlakuan untuk kelas eksperimen mencapai nilai rata-rata 60,96, sedangkan kelas kontrol 61,96. Nilai rata-rata kemampuan menulis pada saat perlakuan untuk kelas eksperimen 70,5 sedangkan kelas kontrol 66,06. Nilai rata-rata kemampuan menulis setelah perlakuan untuk kelas eksperimen mencapai 73,75, sedangkan kelas kontrol mencapai 65,03. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan statistik uji-t independent diperoleh 〖t 〗_hitung sebesar 2,292 dan 〖t 〗_tabel untuk db = 55 adalah 2,015. Dari perhitungan tersebut dapat diketahui terdapat pengaruh yang signifikan penerapan pendekatan keterampilan proses terhadap kemampuan menulis karangan narasi. Sehingga peneliti dapat menyimpulkan pendekatan keterampilan proses dapat mempengaruhi kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V di SDN Turen 3 Kabupaten Malang. Berdasarkan temuan hasil penelitian, dikemukakan saran sebagai berikut: (1). Guru perlu merencanakan/merancang pembelajaran sebaik mungkin dan matang. Inti pembelajaran ini menuntut siswa mengerjakan tugas secara tersruktur sehingga akan nampak dengan jelas aktivitas siswa yang menunjukkan adanya proses, (2). Guru sebaiknya menyiapkan bahan untuk melengkapi tugas menulis, sehingga memudahkan siswa dalam mengungkapkan ide. Misalnya media cetak dan gambar sebagai wahana berkreasi, (3). Kurang pembendaharaan kata dapat diatasi dengan pengarahan kata-kata kunci yang mungkin akan digunakan dalam mengarang.

Penggunaan motif batik Ponorogo untuk meningkatkan hasil belajar menggambar dekoratif pada siswa kelas V SDN Sempu Ponorogo / Bayu Triwicaksono

 

Kata kunci: motif batik Ponorogo, hasil belajar, menggambar dekoratif. Hasil belajar menggambar dekoratif siswa di kelas V SDN Sempu Ponorogo rata-rata hanya mencapai 65,7. Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya keterampilan yang dimiliki guru dalam mengajar materi menggambar dekoratif dan minimnya sumber belajar yang memadai dari sekolah. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka pembelajaran menggambar dekoratif dilaksanakan melalui penggunaan motif batik Ponorogo sebagai sumber belajar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pembelajaran menggambar dekoratif di dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan melalui penggunaan motif batik Ponorogo pada siswa kelas V SDN Sempu Ponorogo, (2) peningkatan hasil belajar menggambar dekoratif di dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan melalui penggunaan motif batik Ponorogo pada siswa kelas V SDN Sempu Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian tindakan kelas (PTK) langkah pelaksanaan di setiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di SDN Sempu Ponorogo pada semester I tahun pelajaran 2012/2013, subyek berjumlah 13 siswa terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data melalui pengamatan, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian adalah: (1) penggunaan motif batik Ponorogo sebagai sumber belajar menggambar dekoratif di kelas V SDN Sempu Ponorogo sudah sesuai dengan perencanaan yang dibuat, (2) hasil belajar siswa dalam menggambar dekoratif mengalami peningkatan melalui penggunaan motif batik Ponorogo selama II siklus. Dari hasil pratindakan ke siklus I pertemuan I meningkat menjadi 71, pada siklus I pertemuan II menjadi 75,5 dan menjadi 83 pada siklus II. Pada pratindakan hingga siklus II proses menggambar dekoratif siswa dari aspek keaktifan meningkat 92%, keberanian 85%, kesungguhan 85% dan keterampilan 77%. Sedangkan pada hasil dari aspek kesesuaian gambar dekoratif siswa meningkat 77%, komposisi 85%, kreasi 85% dan keindahan 77%. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan motif batik Ponorogo dapat meningkatkan hasil belajar menggambar dekoratif pada siswa kelas V SDN Sempu Ponorogo. Disarankan bagi guru yang ingin meningkatkan hasil belajar siswa dalam menggambar dekoratif untuk menggunakan sumber belajar yang konkret, menarik dan bervariasi.

Analisis muatan karakter pada buku teks (BSE) pendidikan kewarganegaraan kelas V SD terbitan Pusat Perbukuan Depdiknas / Kuncahyono

 

Kata kunci: Buku Teks (BSE), Pendidikan Kewarganegaraan, Karakter, SD Buku teks memuat adanya materi yang disajikan. Lazimnya materi tersebut bermuatan nilai agar dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan karakter penggunanya (siswa). Dari hasil penyebaran angket di enam SD Negeri se-Gugus IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang diperoleh buku yang paling banyak digunakan adalah buku sekolah elektronik terbitan Pusat Perbukuan Depdiknas karangan Setiati Widihastuti dan Fajar Rahayuningsih. Perlu adanya suatu analisis yang mendalam untuk mengkaji muatan-muatan karakter yang ada di buku teks PKn (BSE) tersebut, agar nantinya dapat menjadi pertimbangan apakah buku tersebut layak untuk digunakan atau masih perlu adanya perbaikan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) Mendeskripsikan keberadaan nilai-nilai karakter yang termuat dalam buku teks terbitan Pusat Perbukuan Depdiknas yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI Kelas V, dan (2) Mendeskripsikan jenis-jenis nilai karakter yang termuat dalam buku teks terbitan Pusat Perbukuan Depdiknas yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI Kelas V. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitataif dengan teknik analisis isi, karena yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini yaitu buku teks. Sumber data penelitian ini adalah buku teks (BSE) yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI Kelas V karangan Setiati Widihastuti dan Fajar Rahayuningsih terbitan Pusat Perbukuan Depdiknas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa materi pada bab 1, 2, 3, dan bab 4 sebagian besar sudah memuat karakter, yaitu: (1) karakter cinta tanah air, (2) semangat kebangsaan, (3) rasa ingin tahu, (4) cinta damai, (5) tanggung jawab, (6) toleransi, (7) disiplin, (8) jujur, (9) peduli sosial, (10) bersahabat/komunikatif, dan (11) demokratis. Berdasarkan hasil pembahasan, tidak semua deskripsi muatan karakter yang terdapat dalam buku teks sejalan dengan deskripsi muatan karakter pada kontrak standar isi kurikulum tahun 2006. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan: (1) buku teks (BSE) Kelas V karangan Setiati Widihastuti dan Fajar Rahayuningsih telah bermuatan karakter, dan (2) Deskripsi muatan karakter yang terdapat pada buku teks (BSE) PKn tidak sepenuhnya sejalan dengan deskripsi muatan karakter pada kontrak standar isi kurikulum 2006. Terdapat 4 muatan karakter yang tidak termuat dalam buku teks namun ada 2 nilai karakter baru yang termuat yaitu nilai karakter cinta damai, dan jujur. Saran yang dapat diberikan yaitu: (1) Kepada penulis buku teks PKn ini, diharapkan dapat melakukan revisi, (2) Kepada sekolah dan guru, diharapkan lebih selektif dalam memilih dan menggunakan buku teks yang mengandung muatan nilai-nilai pendidikan karakter.

Peningkatan kemampuan siswa merancang penyelidikan sederhana mata pelajaran IPA melalui metode diskoveri inkuiri kelas V di SDN Kebonangung I Kec. Wonodadi Kab. Blitar / Yuni Ratna Sari

 

Kata Kunci : kemampuan merancang penyelidikan sederhana, metode Diskoveri Inkuiri. Hasil observasi pendahuluan memberikan informasi bahwa guru masih menggunakan pembelajaran yang besifat konvensional yaitu siswa terlihat lebih pasif, siswa hanya menerima materi yang diberikan oleh guru. Siswa tidak melakukan kegiatan mendukung siswa menemukan dan membangun pengetahuan sendiri. Alasan inilah yang mendorong untuk melakukan penelitian tindakan kelas agar siswa dapat terlatih berpikir aktif, kritis, dan kreatif dengan cara me-ningkatkan kemampuan merancang penyelidikan sederhana. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mendiskripsikan (1) kegiatan pembelajaran IPA pada tahap pra tindakan. (2) kemampuan siswa merancang penyelidikan sederhana pada tahap pra tindakan, (3) kegiatan pembelajaran IPA di kelas V dengan menggunakan metode diskoveri inkuiri pada tiap siklus, (4) kemampuan siswa merancang penyelidikan sederhana dengan menggunakan metode diskoveri inkuiri IPA di kelas V pada tiap siklus, dan (5) peningkatan kemampuan siswa kelas V dalam merancang penyelidikan sederhana dengan menggunakan metode diskoveri inkuiri. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V sebanyak 13 anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran IPA pada tahap pra tindakan mendapat persentasi 0% kualifikasi sangat kurang baik. Kemampuan siswa merancang penyelidikan sederhana pada tahap pra tindakan mendapat persentasi 0% kualifikasi sangat kurang baik. Kegiatan siswa dalam pembelajaran IPA menggunakan metode diskoveri inkuiri meningkat dari siklus I sampai siklus II, yaitu mendapat persentasi 50% kualifikasi kurang menjadi 78% kualifikasi baik. Kemampuan siswa melakukan penyelidikan sederhana meningkat siklus I sampai siklus II persentasi 42% kualifikasi kurang baik menjadi 78% kualifikasi baik. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan metode diskoveri inkuiri dapat meningkatkan kemampuan siswa merancang penyelidikan sederhana.Siswa mendapatkan pengalaman langsung saat kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa dapat membangun dan menemukan konsep sendiri. Disarankan : (1) bagi guru dapat menggunakan metode diskoveri inkuiri dalam melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran lain. (2) guru dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa salah satunya dengan melakukan kegiatan merancang penyelidikan sederhana.

Penerapan mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA kelas IV SDN Lowokwaru 5 Kota Malang / Laili Lutfi Arini

 

Kata kunci: Model Mind Mapping, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Mind Mapping merupakan suatu model pembelajaran dengan cara mencatat kreatif yang memudahkan siswa untuk mengingat banyak informasi, serta membentuk pola gagasan yang saling berkaitan. Berdasarkan hasil observasi dilakukan pada kelas IV SDN Lowokwaru 5 Kota Malang, pada waktu pembelajaran IPA aktivitas didominasi oleh guru dan aktivitas siswa masih terbatas pada mendengar, mencatat, dan mengerjakan soal. Akibatnya hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana masih rendah. Diperoleh data rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 55,4 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 25,6 %, sedangkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan adalah 67. Agar dapat meningkatkan pembelajaran IPA perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran Mind Mapping. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model Mind Mapping pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model Mind Mapping, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model Mind Mapping. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interaktif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Jenis Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model Mind Mapping, lembar observasi aktivitas siswa, dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Mind Mapping untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Lowokwaru 5 dapat dilaksanakan sesuai harapan peneliti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan guru dalam penerapan model Mind Mapping. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 70,5 dan pada siklus II menjadi 77. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 57,6 pada siklus I menjadi rata-rata 70. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penerapan model Mind Mapping dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di SDN Lowokwaru 5. Berdasarkan hasil penelitian maka diberikan saran agar model Mind Mapping dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPA di SD.

Peningkatan hasil belajar matematika tentangoperasi hitung campuran melalui model Make A- Match di kelas IV SDN Kesamben 06 Kabupaten Blitar / Agnes Agnes Mustika

 

Kata kunci: operasi hitung campuran, hasil belajar, make a-match Suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan akan membantu siswa dalam memahami materi.. Dalam pembelajaran matematika Kelas IV SDN keasamben 06 kabupaten Blitar, bahwa pembelajaran membosankan karena masih berpusat pada guru (teacher centered), dan guru tidak menggunakan model pem-belajaran yang menarik Untuk memecahkan masalah ini dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan model pembelajaran make a-match pada pembelajaran Matematika dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) Penerapan model make a-match dalam pembelajaran matematika tentang operasi hitung campuran di kelas IV SDN Kesamben 06, dan (2) Peningkatan hasil belajar matematika tentang operasi hitung campuran di kelas IV SDN Kesamben 06 Kabupaten Blitar Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian siswa SDN Kesamben 06 kelas IV yang berjumlah 20 siswa. Data diperoleh dari aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil tes akhir siswa. Sedangkan instrumennya berupa lembar observasi, lembar tes dan kamera digital. Model penelitian ini adalah kolaboratif, maksudnya yaitu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Analisis data berpedoman pada analisis data penelitian kualitatif. Langkah-langkah analisis penelitian kualitatif meliputi: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Pelaksanaan pembelajaran matematika melalui model make a-match pada siswa kelas IV SDN Kesamben 06 Kabupaten Blitar meningkat secara bertahap yaitu aktivitas guru pada tahap pratindakan mencapai 54,67% dengan kualifikasi kurang. Pada Siklus I persentase skor yang diperoleh adalah 84,6% dengan kualifikasi baik. Sedangkan pada Siklus II persentase skor yang diperoleh adalah 100% dengan kualifikasi sangat baik. Aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menerapkan model make a-match juga meningkat secara bertahap. Pada tahap pratindakan sebesar 9,25%. Selanjutnya pada siklus I persentase yang diperoleh 55,83% dengan kualifikasi sangat kurang. Pada siklus II, aktivitas siswa mencapai 88,33% dengan kualifikasi sangat baik. Peningkatan hasil belajar siswa juga meningkat secara bertahap yaitu pada pratindakan mencapai 58,25% dengan kualifikasi cukup. Pada Siklus I persentase skor yang diperoleh adalah 71% dengan kualifikasi baik. Sedangkan pada Siklus II persentase skor yang diperoleh adalah 84,25% dengan kualifikasi baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model make a-match dapat meningkatkan pembelajaran matematika dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kesamben 06 Kabupaten Blitar. Saran yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah Guru hendaknya memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi, salah satunya adalah model pembelajaran make a-match. Sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model NUmbered Heads Together (NHT) untuk menumbuhkan tanggung jawab pada siswa kelas V SDN Boyolangu II Kabupaten Tulungagung / Amrika Ely Windayani

 

Kata kunci: model NHT, matematika, hasil belajar, tanggung jawab Mata pelajaran matematika membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Boyolangu II menunjukkan bahwa 20 dari 28 siswa atau 71,43% siswa mendapatkan nilai di bawah KKM yang ditentukan yaitu 70 dan siswa juga pasif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) penerapan model NHT untuk meningkatkan hasil belajar matematika dengan materi operasi hitung campuran pada siswa kelas V, (2) peningkatkan hasil belajar siswa kelas V dengan pembelajaran model NHT dalam pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran, dan (3) menumbuhkan tanggung jawab siswa dengan pembelajaran matematika melalui model NHT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, yai-tu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas V sebagai observer. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu persentase penerapan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan I 71,4%, pertemuan II 80,9%, pada siklus II pertemuan I 85,7%, pertemuan II 90,5%. Untuk persentase hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan I 66,8%, pada pertemuan II 67,8%, pada siklus II pertemuan I 60,9%, pada pertemuan II 76,8%. Karakter tanggung jawab siswa pada siklus I pertemuan I mendapat persentase sebesar 61,7%, pada pertemuan II mendapat persentase sebesar 66,7%, pada siklus II pertemuan I mendapat persentase sebesar 73%, pada pertemuan II mendapat persentase sebesar 75,8%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran, hasil belajar dan karakter tanggung jawab siswa kelas V SDN Boyolangu II Kabupaten Tulungagung dengan menggunakan model NHT dapat meningkat. Berdasarkan kesimpulan tersebut, yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas, yaitu (1) dalam melaksanakan pembelajaran, sebaiknya guru memilih model pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa untuk berinteraksi dengan temannya, sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat bertambah dan lebih bermakna, dan (2) dalam penerapan pembelajaran matematika, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang bisa membuat siswa berperan aktif dan mengembangkan karakternya, salah satunya yaitu model NHT agar siswa tidak hanya diam, melainkan aktif dalam berinteraksi dengan teman-temannya.

Penerapan permainan kubus bergambar untuk mengembangan kemampuan berhitung anak kelompok B di TK Masyithoh X Mlaten Plintahan Pandaan Pasuruan / Siti Henik Mailah

 

Kata kunci: kemampuan berhitung, permainan kubus bergambar, Anak kelom pok B Taman kanak-kanak sebagai lembaga Pendidikan Anak Usia Dini merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik yang meliputi moral dan nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa dan fisik motorik, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat bagi kehidupan selanjutnya. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia, melalui penerapan permainan kubus bergambar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berhitung anak. Penelitian ini menggunakan rumusan masalah yaitu bagaimanakah penerapan permainan kubus bergambar untuk mengembangkan kemampuan berhitung anak kelompok B di TK Masyithoh X Mlaten Plintahan Pandaan Pasuruan. Apakah penerapan permainan kubus bergambar dapat mengembangkan kemampuan berhitung anak kelompok B di TK Masyithoh X Mlaten Plintahan Pandaan Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah anak kelompok B TK Masyithoh X Mlaten Plintahan Pandaan Pasuruan sebanyak 20 anak. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan dokumentasi. Teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan kubus bergambar untuk mengembangkan kemampuan berhitung anak kelompok B di TK Masyithoh X Mlaten Plintahan Pandaan Pasuruan berhasil sesuai dengan harapan. Hasil pra tindakan 42%, siklus I 62%, siklus II 78% mengalami peningkatan, pada siklus ini dilaksanakan permainan parallel dan media ditambah sehingga tiap anak bermain kubus tanpa menunggu giliran. Melalui penerapan permainan kubus bergambar dapat mengembangkan kemampuan berhitung, dan dapat disarankan kepada guru, agar dapat menerapkan permainan kubus bergambar ini untuk mengembangkan kemampuan berhitung anak . permainan kubus bergambar ini dapat digunakan peneliti sebagai bahan perbandingan, sehingga dikemudian hari mudah-mudahan menjadi lebih baik.

Studi komparasi sistem pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut Undang-undang Nomor 12 tahun 2003 dan Undang-undang Nomor 10 tahun 2008 / Dian Komala sari

 

Kata Kunci: Pemilihan Umum, anggota legislatif Regulasi dalam Pemilihan Umum merupakan salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya Pelaksanaan Pemilu. Pemilu yang sukses mengindikasikan bahwa pembangunan dalam suatu Negara berhasil dilaksanakan dengan sukses pula. Ini berarti bahwa Negara tersebut berhasil mengantisipasi perbuatan dalam proses pengelolaan pembangunan, sekaligus mengoreksi kelemahan-kelemahan yang ada, dan sanggup membawa pembangunan pada sasaran dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Di Indonesia, kesemuanya itu bertumpu pada 4 (empat) pilar, yaitu Dasar Negara Pancasila sebagai ideology bangsa, Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Pelaksanaan pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan Negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan diselenggarakan pada setiap lima tahun sekali, serta dilaksanakan di seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan. Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur hari yang diliburkan. Skripsi ini berjudul: Studi Komparasi Sistem Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Menurut Undang Undang Nomor 12 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 10 Tahun 2008. Tujuan dari penelitian ini adalah Menjelaskan elemen-elemen dan variable-variabel dalam pemilu di Indonesia serta manfaatnya dan penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir secara akademis dan ilmiah dalam memandang pemiilihan umum sebagai suatu elemen yang sangat penting dalam demokrasi dan system politik suatu Negara. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode hukum normatif, dimana metode ini akan meneliti hukum dari dalam dan peneliti selalu mendasarkan pemiliran pada aturan perundang-undangan sebagai bahan hukum utama penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan dari Undang-Undang No. 12 tahun 2003 dan Undang-undang no. 10 tahun 2008.

Perbedaan hasil belajar pembagian bilangan ditinjau dari pengurangan berulang dan pengukuran di kelas II SD se-Guslah V Kec. Bangil Kab. Pasuruan / Nur Shiyam

 

ABSTRAK Shiyam, Nur. 2012. Perbedaan Hasil Belajar Pembagian Bilangan ditinjau dari Pengurangan Berulang dan Pengukuran di Kelas II SD se-Guslah V Kec.Bangil Kab.Pasuruan. Skripsi, Jurusan PGSD, Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Goenawan Roebyanto, M.Pd. Kata Kunci: perbedaan, pengurangan berulang, pengukuran. Materi pelajaran matematika tentang pembagian bilangan dua angka di kelas II SD terdapat beberapa cara penyelesaian yang berbeda. Cara tersebut antara lain dengan pengurangan berulang dan pengukuran. Dari kedua cara penyelesaian tersebut, berdasarkan hasil studi awal yang dilakukan peneliti terdapat siswa yang mengalami kesulitan. Hal tersebut menjadikan peneliti tertarik untuk membandingkan nilai hasil belajar siswa dalam penyelesaian pembagian dengan pengurangan berulang dan pengukuran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu tentang nilai hasil belajar dan perbedaan nilai hasil belajar siswa kelas II SD, dengan penyelesaian secara pengurangan berulang dan pengukuran. Sasaran penelitian ini yaitu siswa kelas II SD se-Guslah V Kec.Bangil Kab.Pasuruan, yang berjumlah sebanyak142 siswa dari 6 SD yang ada. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif yang merupakan jenis komparatif. Peneliti melakukan analisis masalah terhadap hasil belajar siswa kelas II SD tentang perbedaan penyelesaian pembagian dengan teknik pengurangan berulang dan teknik pengukuran. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu berupa tes hasil belajar dan wawancara. Instrumen penelitian yang akan digunakan terlebih dulu diuji secara validitas dan reliabilitasnya. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengkodean (coding), mengelompokkan jenis data, dan menganalisis data. Dari hasil penelitian untuk hasil belajar pembagian dengan pengurangan berulang dan pengukuran, siswa melakukan kesalahan dalam langkah-langkah pengerjaan dan kesalahan konsep. Dari 142 siswa yang mendapat nilai 65 s/d 77 terdapat 24,6% pada pengurangan berulang dan 25,4% pada pengukuran. Hasil penghitungan uji t diperoleh t hitung -0,030 yang lebih kecil dari t tabel 1,960. Dari data yang ada simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, hasil belajar pembagian dengan pengurangan berulang dan pengukuran siswa kurang memahami konsep pembagian. Menurut Teori perkembangan intelektual, jika struktur mental siswa yang ada tidak cukup kuat untuk menghubungkan pengetahuan yang baru maka dapat menyebabkan kesalahan konsep. Kedua, hasil belajar pembagian dengan pengurangan berulang dan pengukuran terdapat sebagian siswa yang menjawab salah dalam melakukan langkah-langkah dalam pengerjaan. Keterampilan didasarkan atas pemahaman dan latihan yang cukup. Hal ini berguna agar siswa tidak mudah lupa tentang segala hal yang telah dipelajarinya Ketiga, dari nilai hasil belajar pembagian dengan dua cara tersebut tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Pembagian dengan pengurangan berulang saling berkesinambungan dengan pembagian dengan cara pengukuran. Hal tersebut karena penyelesaian pembagian dilakukan dengan cara bertahap dan satu sama lain saling berkesinambungan dalam pemahaman konsep tentang penyelesaian pengerjaan pembagian.

Implementasi model Make a Match pada mata pelajaran PKn SD kelas IV di Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek / Baranita Arnivia

 

Kata Kunci: implementasi, model make a match, mata pelajaran PKn. Pelaksanaan pembelajaran PKn di SD guru lebih sering menggunakan ceramah dan pengorganisasian kelasnya masih sering bersifat klasikal. Adapun beberapa guru yang sudah melakukan pengelompokan dalam kelas, akan tetapi kelompok yang dibentuk tidak pernah berubah, sehingga siswa sering merasa bosan dengan anggota kelompok tersebut. Model make a match ini merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu konsep melalui suatu permainan kartu pasangan. Dengan mengimplementasikan model ini diharapkan terjadi pembaharuan dalam caramengajar guru dan siswa dapat memahami konsep suatu materi PKn yang disampaikan dengan cara menyenangkan. Sehingga siswa akan lebih mampu untuk berfikir kritis, rasional, aktif dan kreatif serta bertanggungjawab. Dengan demikian perlu diadakan penelitian tentang Implementasi Model Pembelajaran Make A Match pada mata Pelajaran PKn SD Kelas IV di Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui implementasi model make a match pada Mata Pelajaran PKn SD di Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa paparan data dari hasil observasi terhadap guru dan aktivitas siswa, serta hasil angket guru dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, angket, dan wawancara. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu denga lembar observasi dan angket. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan waktu observasi dan ketekunan pengamatan. Hasil dari pengamatan yang telah dilakukan dalam implementasi model make a match pada Mata Pelajaran PKn SD kelas IV kriteria keberhasilan dengan observasi guru adalah mencapai 92%. Dari hasil observasi aktivitas siswa kriteria keberhasilannya adalah 94%. Sedangkan hasil angket guru menunjukkan kriteria keberhasilan 77%, dan angket siswa adalah 91%. Kesimpulan dari hasil pengamatan implemantasi model make a match pada Mata Pelajaran PKn SD kelas IV di Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek adalah sudah berhasil dengan baik. Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah guru dalam pembelajaran sebaiknya lebih sering menggunakan model-model pembelajaran untuk variasi mengajar. Sehingga siswa tidak pasif dan merasa jenuh serta lebih senang dalam belajar, salah satunya yaitu dengan model make a match. 

Perbedaan persepsi siswa sekolah dasar tentang pembelajaran guru berlatar pendidikan PGSD dan guru berlatar belakang Non PGSD se Gugus Sekolah III Kec. Lowokwaru Kota Malang / Miftachul Chasanah

 

Kata Kunci : Persepsi, pembelajaran guru, latar pendidikan, PGSD dan non PGSD Guru berpendidikan PGSD berkompeten untuk menyelenggarakan pembelajaran bagi siswa SD. Guru berlatar pendidikan PGSD memperoleh matakuliah yang dibagi menjadi 6 komponen program kurikulum S1 PGSD. Kesemua matakuliah dan kemampuan yang dimiliki oleh individu yang berlatar pendidikan PGSD berhubungan dengan ke-SD-an. Berdasarkan data latar pendidikan guru SD se-kecamatan Lowokwaru diperoleh data lebih banyak guru berlatar pendidikan non PGSD yang memegang kendali pembelajaran di Sekolah Dasar daripada guru berlatar pendidikan PGSD. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian komparasi dengan metode survai pada siswa yang diajar oleh guru berlatar pendidikan PGSD dan berlatar pendidikan non PGSD dalam satu kelas di gugus sekolah III Kec. Lowokwaru Kota Malang sejumlah 145 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling dan diambil sampel 50% dari populasi sejumlah 73 siswa. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Hasil perhitungan dengan menggunakan Independent Sample Test diketahui bahwa nilai probabilitas persepsi siswa tentang (1) pemahaman terhadap siswa SD = 0,227; (2) penguasaan mata pelajaran SD = 0,313; (3) penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik = 0,121; (4) pengembangan kemampuan profesional = 0,146; (5) pembelajaran total = 0,034. Hasil perhitungan pada keempat variabel menunjukkan nilai probabilitas ≥ 0,05, artinya tidak ada perbedaan persepsi siswa tentang kemampuan guru berlatar pendidikan PGSD dan non PGSD. Sedangkan perhitungan pada pembelajaran total, nilai probabilitas < 0,05, artinya ada perbedaan persepsi siswa tentang pembelajaran total antara guru berlatar pendidikan PGSD dan non PGSD. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa tentang pembelajaran guru berlatar pendidikan PGSD baik, persepsi siswa tentang pembelajaran guru berlatar pendidikan non PGSD tidak sebaik persepsi siswa tentang pembelajaran guru berlatar pendidikan PGSD dan terdapat perbedaan persepsi siswa tentang pembelajaran guru berlatar pendidikan PGSD dan non PGSD. Maka saran yang dapat diberikan (1) guru berlatar pendidikan PGSD perlu meningkatkan kemampuannya dalam mengendalikan pembelajaran siswa SD, (2) guru berlatar pendidikan non PGSD dapat bertukar pendapat dengan guru berlatar pendidikan PGSD dalam mengendalikan pembelajaran siswa SD (3) sekolah dapat pengupayakan diadakannya pelatihan bagi guru non PGSD guna meningkatkan kemampuannya dalam mengendalikan pembelajaran siswa SD.

Peningkatan pembelajaran IPA melalui model CTL pada siswa kelas III SDN Candirenggo 03 Singosari Malang / Yusnita Dwi Febrianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran, IPA, model CTL Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Namun, dalam pembelajaran IPA kelas III di SDN Candirenggo 03 Singosari, guru belum maksimal dalam mengaktifkan siswa untuk berbuat dan mengalami sendiri. Dalam pembelajaran CTL terdapat 7 komponen yang dapat mengaktifkan siswa dan membantu siswa mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari sehingga siswa akan lebih cepat memahami materi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) Penerapan pembelajaran IPA melalui model CTL pada siswa kelas III SDN Candirenggo 03 Singosari Malang 2) Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Candirenggo 03 Singosari Malang menggunakan model CTL 3) Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Candirenggo 03 Singosari Malang menggunakan model CTL. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Subyeknya adalah siswa kelas III SDN Candirenggo 03 Singosari Malang sebanyak 35 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes evaluasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA model CTL yang dilakukan guru sudah sesuai dengan tahapan dalam CTL. Aktivitas guru selama menerapkan pembelajaran model CTL meningkat dari siklus 1 sebesar 78,8 menjadi 92,5 pada siklus 2. Aktivitas belajar siswa juga meningkat yakni nilai aktivitas siswa pada siklus 1 adalah 67,81 yang dikategorikan aktif sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 88,15 yang dikategorikan sangat aktif. Selain itu, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada siklus 1 nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 75,53. Sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan sehingga nilai rata-rata hasil belajar siswa menjadi 81,14. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu penerapan pembelajaran IPA menggunakan model CTL dapat meningkatkan pembelajaran IPA pada siswa kelas III SDN Candirenggo 03 Singosari. Adapun saran yang harus dilakukan guru yaitu sebaiknya guru lebih jelas dalam menentukan alokasi waktu terutama dalam kegiatan pembelajaran di luar kelas. Selain itu, sebaiknya anggota tiap kelompok tidak lebih dari 4 siswa agar guru lebih mudah dalam mengontrol siswa dan membimbing siswa.

Penggunaan model Snowball Throwing untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDNU Bangil / Achmad Zahron

 

Kata kunci: model snowball throwing, aktivitas belajar, hasil belajar, pembelajaran IPA. Berdasarkan pengamatan, pembelajaran IPA kelas V semester 2 tahun pelajaran 2011/2012 pada tanggal 12 Januari 2012 belum sepenuhnya berpusat pada siswa namun berlangsung patuh tapi pasif. Dari 33 siswa, yang kurang aktif mencapai 25 siswa dan hanya 6 siswa yang berani untuk mengajukan pertanyaan secara mandiri sedangkan berdasarkan data hasil belajar yang didokumentasikan guru, nilai rata-rata IPA siswa kelas V pada awal semester 2 tahun pelajaran 2011/2012 belum mencapai Standart Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang telah ditentukan yaitu 75. Dari 33 siswa, yang mendapat nilai memenuhi SKBM adalah 11 siswa (33,33 %) sedangkan 22 siswa (66,67 %) belum memenuhi SKBM. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan penerapan model snowball throwing pada pembelajaran IPA di Kelas V SDNU Bangil Pasuruan, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa pada pembelajaran IPA di Kelas V SDNU Bangil Pasuruan ketika diterapkan model snowball throwing. (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA setelah diterapkan model pembelajaran snowball throwing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara bersiklus. Subjek penelitian adalah siswa Kelas V SDNU Bangil Pasuruan yang berjumlah 33 siswa. Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan paparan data, pengelolaan data dan penyimpulan data. Hasil penelitian pembelajaran IPA dengan menggunakan model snowball throwing yang awalnya siswa kurang terbiasa sehingga 6 indikator dari model snowball throwing belum bisa dilaksanakan namun setelah diberikan tindakan di siklus II bisa dilaksanakan semuanya. Sedangkan hasil aktivitas belajar siswa pada siklus 1 mencapai 57,57% dan pada siklus 2 mencapai 81,81 % sedangkan hasil belajar setelah penerapan model snowball throwing skor nilai hasil belajar siswa pada siklus 1 mendapat rata-rata skor tes yaitu 71,12 sedangkan pada siklus 2 terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar siswa yaitu 81,21 Saran yang diberikan adalah: (1) penggunaan model snowball throwing hendaknya dijadikan pendamping dalam pembelajaran IPA selain eksperimen yang merupakan pokok dari pembelajaran IPA untuk mengaktifkan siswa, (2) pembuatan RPP dan melakukan pengelolaan kelas yang baik lebih khususnya pada pembentukan kelompok maupun proses melempar bola pada kelompok lain, (3) perlunya pendampingan pada setiap langkah pada model ini, (4) perlunya memberikan motivasi agar lebih berani dalam mengungkapkan pendapat maupun mengajukan pertanyaan, (5) penggunaan bahasa dalam pembuatan lembar kegiatan siswa hendaknya sesuai dengan karakteristik siswa SD.

Penerapan model Contetextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Sambigede 01 Sumberpucung-Malang / Yayuk Yuliawati

 

Kata Kunci: Model Contextual Teaching and Learning (CTL), Pembelajaran, IPA Hasil observasi di kelas IV menyatakan bahwa dalam pembelajaran IPA guru belum melibatkan siswa secara aktif. Guru berperan lebih banyak bila dibandingkan dengan siswanya. Permasalahan yang muncul siswa hanya diam dan mendengarkan tanpa menunjukkan rasa ingin tahu. Hal ini menyebabkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah. Untuk mengatasi masalalah tersebut diperlukan perbaikan dalam pembelajaran dengan menerapkan model CTL. Dengan CTL siswa terlatih untuk aktif serta mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan: (1) Penerapan model CTL pada pelajaran IPA materi wujud benda dan sifatnya, (2) Aktivitas siswa dengan menerapkan model CTL, (3) Hasil belajar siswa dengan menggunakan model CTL. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Siklus I dan siklus II ditempuh selama 4 kali pertemuan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan: (1) observasi, (2) tes hasil belajar, (3) dokumentasi, (4) catatan lapangan. Subyek penelitian ini siswa kelas IV yang berjumlah 23 siswa. Hasil penelitian penerapan model CTL dalam pembelajaran IPA sebagai berikut: (1) Aktivitas tindakan guru dalam menerapkan model CTL sangat baik, (2) Aktivitas belajar siswa mengalami kategori cukup aktif dan pada siklus II menjadi 75 dengan kategori aktif, (3) Hasil belajar siswa setelah diterapkan model CTL mengalami peningkatan rata-rata nilai 77,4 dengan kategori sangat baik, meningkat menjadi 81,5 pada siklus II. Siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 65% menjadi 87% pada siklus II. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan model CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dan saran yang dapat diajukan dalam proses pembelajaran CTL diharapkan peran guru lebih kreatif dalam memotivasi siswa agar dapat menemukan pengetahuannya sendiri.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model STAD untuk mengembangkan karakter tanggung jawab di kelas III SDN Gembongan 04 Kabupaten Blitar / Susiani

 

Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, perkembangan karakter tanggungjawab, pembelajaran matematika, STAD Observasi awal di kelas III SDN Gembongan 04 Kabupaten Blitar pembelajaran matematika tentang perkalian dan pembagian belum memenuhi standar. Penyebabnya adalah siswa belum memahami konsep perkalian dan pembagian, guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, pemberian tugas, kurang menggunakan media, dan tidak menggunakan RPP, selain itu guru juga kesulitan dalam mengelola kelas yang terdiri dari siswa yang heterogen. Siswa yang heterogen tersebut mengakibatkan penurunan dalam karakter tanggungjawab siswa karena siswa yang lambat sering kali menyontek siswa yang cepat. Berkaitan dengan hal itu, maka diperlukan perbaikan dalam pembelajaran matematika untuk mengembangkan karakter tanggungjawab siswa melalui model STAD. Tujuan penelitian pada skripsi ini ada tiga. Tujuan yang pertam adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan model STAD dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar dan mengembangkan karakter tanggungjawab siswa di SDN Gembongan 04 Kabupaten Blitar. Tujuan kedua yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika melaui model STAD di kelas III SDN Gembongan 04 Kabupaten Blitar .Tujuan ketiga yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan perkembangan karakter tanggungjawab dalam pembelajaran matematika melaui model STAD di kelas III SDN Gembongan 04 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pende-katan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai beri-kut: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Data yang diperoleh ada tiga yaitu penerapan model STAD dengan sumber data guru dan siswa, data hasil belajar dan karakter tanggungjawab siswa dengan sumber data siswa, sedangkan instrumennya berupa lembar observasi, lembar tes, pedoman wawancara dan kamera digital. Data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan mulai tanggal 5 November 2012, sampai 19 November 2012 , menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dan perkembangan karakter tanggungjawab siswa setelah menggunakan model STAD. Hasil belajar siswa dilihat dari rata-rata kelas dari silus I sampai siklus II adalah 67, 68, 77, dan 79. Sedangkan karakter tanggungjawab dari siklus I sampai siklus II dilihat dari persentase sangat baik dan baik adalah 72%, 80%, 88%, dan 92%. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian tersebut adalah, Hasil belajar matematika siswa meningkat setelah menerapkan model STAD yaitu terlihat dari meningkatnya nilai rata-rata siswa secara klasikal, dan persentase siswa yang kualifikasinya sangat baik dan baik pada siklus I sampai siklus II. Hal ini tampak pada perolehan rata-rata klasikal sebesar 67, 68, 77, dan 79. Sedangkan persentase siswa yang kualifikasinya sangat baik dan baik pada masing-masing siklus adalah siklus I pertemuan 1 dan 2 mengalami penurunan 4% dari ketuntasan klasikal 56% menjadi 52% yang disebabkan banyaknya siswa yang pesimis dalam bersaing memperoleh predikat terbaik. Sedangkan pada siklus II petemuan 1 dan 2 sudah mengalami peningkatan sebesar 4% yaitu dari 76% menjadi 80%. Karakter tanggungjawab siswa pada pembelajaran matematika melalui model STAD mengalami perkembangan. Tampak dari siklus I pertemuan 1 sampai siklus II pertemuan 1 meningkat. Namun pada siklus II pertemuan 2 menurun hal ini disebabkan oleh perkelahian yang dilakukan oleh siswa di kelas III. Meskipun demikian persentase siswa yang memiliki kualifikasi sangat baik dan baik dari siklus I sampai siklus II selalu meningkat yaitu dari 72%, 80%, 88%, dan 92%, dengan hasil akhir tersisa dua anak yang kurang memiliki karakter tanggungjawab karena adanya faktor perkelahian siswa. Saran yang diberikan berdasarkan kesimpulan adalah (1) bagi siswa disarankan agar aktif mengikuti kegiatan pembelajaran, (2) bagi guru hendaknya menerapkan model stad agar siswa lebih aktif dan mudah mdalam mengelola kelas yang hterogen (3) bagi kepala sekolah hendaknya menyarankan guru untuk menggunakan model STAD jika guru mengalami kesulitan dalam mengelola kelas yang hetrogen, (4) bagi sekolah, dengan adanya penelitian ini sekolah hendaknya dapat meningkatkan ketrampilan guru, perbaikan proses, dan hasil belajar siswa sehingga kualitas tujuan pembelajaran dapat ditingkatkan, (5) bagi peneliti selanjutnya untuk bisa lebih memperbaiki dan menambahkan yang belum ada pada penelitian ini, sehingga harapannya model STAD ini bisa dilaksanakan dengan lebih baik dan membawa perubahan yang berarti bagi peningkatan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran matematika.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemapuan siswa kelas V memecahkan masalah dalam pembelajaran IPA di SDN Tlumpu Kota Blitar / Ririd Dwi Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Ririd Dwi. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas V Memecahkan Masalah dalam Pembelajaran IPA di SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Wasih DS, M.Pd. (2) Dra. Lilik Bintartik, M.Pd. Kata kunci: Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Kemampuan Memecahkan Masalah, Pembelajaran IPA Observasi pendahuluan memberikan informasi bahwa kemampuan siswa memecahkan masalah pada pembelajaran IPA masih rendah, karena siswa hanya sebagai objek belajar sedangkan guru mendominasi kegiatan pembelajaran. Siswa hanya ditransfer suatu informasi, tidak ada kesempatan siswa untuk mengembang-kan bakat dan jati dirinya untuk memecahkan suatu permasalahan yang ditemu-kannya pada saat pembelajaran serta guru tidak menggunakan model pembelajar-an yang dapat merangsang keaktifan siswa. Berkaitan dengan kondisi tersebut, perlu diadakan penelitian untuk meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan (1) pe-laksanaan pembelajaran IPA kelas V SDN Tlumpu pada tahap pra tindakan; (2) kemampuan siswa kelas V memecahkan masalah dalam pembelajaran IPA pada tahap pra tindakan; (3) pelaksanaan model pembelajaran Berbasis Masalah pada pembelajaran IPA kelas V SDN Tlumpu pada setiap siklus; (4) kemampuan siswa kelas V memecahkan masalah dalam pembelajaran IPA pada setiap siklus; (5) pe-ningkatan kemampuan siswa kelas V memecahkan masalah dalam pembelajaran melalui model pembelajaran Berbasis Masalah. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Tlumpu sebanyak 35 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, tes, catatan lapangan dan doku-mentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualita-tif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPA pada pra tindakan memperoleh persentase 50% (kriteria Kurang Baik). Siklus I pertemuan 1 pembe-lajaran dengan menerapkan model Berbasis Masalah terjadi peningkatan aktifitas siswa dibanding pada pra tindakan sebesar 58% (kriteria Cukup Baik). Pertemuan 2 mengalami peningkatan hingga 17% sebesar 75% (kriteria Baik), sedangkan pa-da pertemuan 3 mengalami peningkatan 4% sebesar 79% (kriteria Baik). Siklus II pertemuan 1 diperoleh persentase sama dengan pertemuan 3 siklus I yaitu 79% (kriteria Baik) kemudian pada pertemuan 2 sebesar 83% (kriteria Baik) dan per-temuan 3 mencapai persentase 88% (kriteria Sangat Baik). Kemampuan siswa memecahkan masalah terkait dengan materi pembe-lajaran pada pra tindakan memperoleh persentase 61% (kriteria Cukup Baik). Siklus I pertemuan 1sebesar 69% (kriteria Cukup Baik). Pertemuan 2 mengalami peningkatam diperoleh persentase 71% (kriteria Baik). Kemampuan siswa meme-cahkan masalah telah mencapai target yang ditetapkan pada siklus I di pertemuan 2. Pada pertemuan 3 diperoleh persentase 73% (kriteria Baik). Siklus II pertemuan 1 persentase kemampuan siswa memecahkan masalah diperoleh persentase sama dengan siklus I pertemuan 3 yaitu 73% (kriteria Baik). Pertemuan 2 diperoleh per-sentase 74% (kriteria Baik), sedangkan pertemuan 3 diperoleh persentase 75% (kriteria Baik) dan telah mencapai target yang ditetapkan pada siklus II yaitu 75%. Rata-rata peningkatan kemampuan siswa kelas V memecahkan masalah dari pra tindakan ke siklus I sebesar 10%. Sedangkan siklus I ke siklus II sebesar 3%. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pem-belajaran IPA dan kemampuan siswa memecahkan masalah adalah pembelajaran menggunakan model Berbasis Masalah yang dilakukan dengan sangat baik dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah dalam pembelajaran de-ngan baik. Pada masing-masing siklus telah mencapai target penelitian yang di-tentukan. Saran yang dapat diberikan kepada guru dan sekolah berdasarkan peneliti-an yang telah dilaksanakan yaitu hendaknya guru menciptakan suasana pembela-jaran yang menarik perhatian siswa dengan menerapkan model-model pembelajar-an yang sesuai dengan karakteristik siswa dan juga karakteristik pembelajaran yang dilakukan terutama pembelajaran IPA. Sekolah hendaknya berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah secara kreatif dan inovatif untuk men-capai tujuan pendidikan nasional.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran berbasis masalah untuk menumbuhkan tanggung jawab siswa pada materi operasi hitung campuran di kelas IV SDN Kenayan 01 Tulungagung / Vemby Ika Rasiana

 

ABSTRAK Rasiana, Vemby Ika. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Menumbuhkan Tanggung Jawab Siswa pada Materi Operasi Hitung Campuran di Kelas IV SDN Kenayan 01 Tulungagung. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H.M. Zainuddin, M.Pd, (II) Dra. Hj. Wasih D.S., M.Pd. Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran berbasis masalah, tanggung jawab, operasi hitung campuran Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada di dalamnya. Hasil belajar matematika siswa Kelas IV SDN Kenayan 01 pada observasi pendahuluan menunjukkan bahwa lebih dari 40% siswa kelas IV mendapatkan nilai di bawah KKM yang ditentukan yaitu 65, Siswa kurang bisa memfokuskan perhatiannya terhadap materi yang disampaikan oleh guru, karena dalam menjelaskan materi kurang bisa dipahami oleh siswa dan kurangnya media yang digunakan Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) penerapan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran berbasis masalah pada siswa Kelas IV SDN Kenayan 01 Tulungagung, (2) peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran berbasis masalah siswa Kelas IV SDN Kenayan 01 Tulungagung, dan (3) peningkatan tanggung jawab siswa dalam pembelajaran matematika melalui model pembelajaran berbasis masalah siswa Kelas IV SDN Kenayan 01 Tulungagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Model penelitian ini adalah kolaboratif, yaitu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan (1) pelaksanaan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran berbasis masalah dengan aktivitas guru mendapat persentase sebesar 66,7% dengan kriteria cukup pada pertemuan 1 siklus I meningkat sebesar 16,7% menjadi 83,4% dengan kriteria baik pada pertemuan 2, pada siklus II dari 77,8% dengan kriteria baik meningkat sebesar 16,7 menjadi 94,5% dengan kriteria sangat baik pada pertemuan 2; (2) aktivitas siswa pada siklus I dari 67% dengan kriteria cukup meningkat sebesar 11,57 menjadi 78,57% dengan kriteria baik , pada siklus II dari 79,26% dengan kriteria baik meningkat sebesar 7,74% menjadi 87% dengan criteria sangat baik; (3) hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan I mendapat persentase sebesar 59% dengan kriteria cukup meningkat sebesar 13,2% menjadi 72,2% dengan kriteria baik, pada siklus II pertemuan I mendapat persentase sebesar 77% dengan kriteria baik meningkat sebesar 3% menjadi 80% dengan kriteria baik; (4) Sikap tanggung jawab siswa pada siklus I pertemuan I mendapat persentase sebesar 67,73% dengan kriteria cukup meningkat sebesar 11,01 menjadi 78,74% dengan kriteria baik, pada siklus II pertemuan I mendapat persentase sebesar 80,2% dengan kriteria baik meningkat sebesar 11,4% menjadi 91,6% dengan kriteria sangat baik pada pertemuan II. Simpulan hasil penelitian tersebut antara lain (1) Pelaksanaan pembelajaran melalui model pembelajaran berbasis masalah, (2) Hasil belajar, dan (3) Tanggung jawab siswa kelas IV SDN Kenayan 01 Tulungagung dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkat. Saran yang dikemukakan untuk guru hendaknya kreatif dalam inovasi pembelajaran yang menunjang mutu pendidikan dengan menerapkan model-model pembelajaran terbaru sebagai upaya perbaikan peningkatan mutu pembelajaran.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui metode role playing (bermain peran) pada siswa kelas V SDN Turi 01 Kota Blitar / Lukman Lengam

 

Kata Kunci: keterampilan berbicara, role playing. Berdasarkan hasil observasi, permasalahan yang dialami siswa SDN Turi 01 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar, yaitu kurang mampu siswa berbicara atau mengungkapkan tuturannya dalam pembelajaran bermain peran. Untuk meningkatkan salah satu pembelajaran berbicara dilakukan penelitian dengan menerapkan metode role playing. Penelitian ini betujuan (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berbicara melalui metode role playing dan (2) mendeskripsikan peningkatan pembelajaran menggunakan metode role playing pada siswa kelas V SDN Turi 01 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus (putaran). Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian pada penerapan metode role playing diperoleh rata-rata persentase kegiatan siklus I 52% dan siklus II 93%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan metode role playing dapat meningkatkan pembelajaran berbicara siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk guru, hendaknya pembelajaran berbicara dapat menggunakan metode role playing. Untuk siswa agar lebih berani, kreatif, dan tidak takut bertanya.

Penerapan permainan tata huruf dalam meningkatkan kemampuan bahasa di kelompok B TK Cutnya'dien Karangsono Sukorejo Pasuruan / Dartikah

 

Kata Kunci: Kemampuan bahasa, permainan tata huruf, Taman Kanak-Kanak. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia TK. Pada masa kanak-kanak idealnya anak mulai mengkombinasikan suku kata menjadi kata dan kata menjadi kalimat. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan hendaknya diberikan dalam situasi yang menyenangkan. Anak usia dini senang dengan permainan yang menyenangkan, kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan seraya bermain. Salah satu bentuk kegiatan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak usia dini adalah menggunakan permainan tata huruf. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelompok B TK Cut Nya’ Dien Karangsono Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan, terdapat rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana penerapan permainan tata huruf untuk meningkatkan kemampuan bahasa di kelompok B TK Cut Nya’ Dien Karangsono Sukorejo, 2) Apakah ada peningkatan kemampuan bahasa anak di Kelompok B TK Cut Nya’ Dien Karangsono Sukorejo dengan penerapan permainan tata huruf. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK dimana dalam siklus terdiri 4 langkah yaitu: Perencanaan (Planning), pelaksanaan tindakan (Acting), Observasi (Observing), refleksi (Reflecting). Subjek penelitian adalah kelompok B dengan jumlah 16 anak, lokasi penelitian adalah TK Cut Nya’ Dien Karangsono Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Instrumen pengumpulan datanya dengan melalui lembar observasi dan dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Analisis data dilakukan deskriptif kualitatif dalam pembelajaran dan kuantitatif terbentuk tindakan kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan tata huruf dalam meningkatkan kemampuan bahasa di Kelompok B TK Cut Nya’ Dien Karangsono Sukorejo Pasuruan berjalan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang dan berhasil sesuai dengan harapan. Hasil pra tindakan diperoleh rata-rata 49,68%. Pada siklus I pada pertemuan I dan pertemuan II diperoleh rata-rata 66,56%. Selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peningkatan dengan skor sebesar 19,69% diperoleh rata-rata 86,25%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan permainan tata huruf dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak di Kelompok B TK Cut Nya’ Dien Karangsono Sukorejo. Saran yang disampaikan pada guru TK agar dapat menerapkan permainan tata huruf untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak.

Survey kesulitan dan usaha guru dalam pembelajaran sastra di kelas tinggi SD se-gugus VII Kecamatan Blimbing Kota Malang / Frida Sri Wulandari

 

Kata kunci: kesulitan guru, usaha guru, pembelajaran sastra Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di kelas tinggi SDN Purwodadi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang pada pembelajaran sastra dapat diketahui beberapa permasalahan pada pembelajaran sastra, di antaranya adalah guru belum memahami ketiga genre sastra, apresiasi guru terhadap karya sastra kurang, sedikitnya waktu untuk apresiasi sastra seperti deklamasi puisi dan drama, belum adanya wadah yang tepat untuk menumbuhkembangkan bakat sastra yang dimiliki siswa, seperti drama klasikal ketika perpisahan kelas VI yang tertunda karena biaya, alat evaluasi hanya berupa evaluasi kognitif, keengganan guru menggunakan media untuk menarik perhatian dan minat siswa terhadap sastra, pembelajaran sastra terfokus pada LKS dan buku paket, serta budaya menulis membaca karya sastra masih minim. Dari kenyataan tersebut berakibat minimnya pengetahuan sastra siswa, terutama pada kegiatan apresiasi sastra. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja kesulitan dan usaha guru dalam pembelajaran sastra di kelas tinggi SD Se-gugus VII Kecamatan Blimbing Kota Malang. Penelitian terbatas pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran puisi, prosa,drama di kelas tinggi SD Se-gugus VII Kecamatan Blimbing Kota Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan kuantitatif dengan pendekatan studi deskriptif (survey). Prosedur dan teknik pengambilan sampel menggunakan sampel berstrata atau stratified sample. Dalam penelitian ini, sampel berstrata berupa tingkatan kelas tinggi. Tahap pengumpulan data yang dilakukan berupa: 1) persiapan, meliputi: menyusun instrumen penelitian, pengurusan izin mengadakan penelitian, menyusun cara pengumpulan data, observasi awal; 2) pelaksanaan, meliputi: penyebaran angket, pengumpulan data angket dan wawancara, pengolahan data; 3) pengolahan data analisis data yang diperoleh dari angket dan hasil wawancara dicek untuk kemudian disusun dan diolah, sehingga data tersebut siap untuk dianalisis; 4) penulisan laporan dilakukan dengan cara mendeskripsikan hasil penelitian yang telah dilakukan. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas tinggi SD Se-gugus VII Kecamatan Blimbing Kota Malang. Hasil yang diperoleh dari survey ini adalah kesulitan pembelajaran sastra terletak pada tahap perencanaan pembelajaran berupa pengembangan silabus dengan skor 88 yang dialami oleh 12 guru dengan kriteria sikap kadang-kadang; pembimbingan proses penyusunan puisi, prosa, dan drama dengan skor 89 yang dialami oleh 12 guru dengan kriteria sikap sering. Usaha yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan pembelajaran sastra tersebut adalah guru bertanya dan mendatangkan para ahli pembelajaran sastra. Kesimpulan penelitian ini adalah Survey kesulitan dan usaha guru dalam pembelajaran sastra di kelas tinggi SD se-gugus VII Kecamatan Blimbing memiliki skor sebesar 106. Skor tersebut berarti bahwa guru kadang-kadang mengalami kesulitan pembelajaran puisi, prosa, dan drama di kelas tinggi SD se-gugus VII Kecamatan Blimbing Kota Malang. Berdasarkan penelitian ini, direkomendasikan kepada UPT Kecamatan Blimbing untuk mengadakan pelatihan sastra berupa penyusunan puisi, prosa, dan drama, serta apresiasi sastra kepada guru SD.

Pengembangan permainan sirkuit sehat cerdas ceria pada pembelajaran fisik motorik anak kelompok B di RA Al-Amin Ledug Prigen Pasuruan / Nawang Sri Rahayu

 

Kata Kunci: pengembangan, permainan, sirkuit sehat cerdas ceria, fisik motorik. Aspek pengembangan yang perlu diperhatikan pada anak usia dini adalah kognitif, bahasa, sosial emosional, moral agama dan ketrampilan motorik. Terkait dengan pembinaan anak usia dini yang berkualitas, salah satu komponen tersebut adalah program pengembangan ketrampilan motorik yang tepat dan terarah. Berdasarkan hasil wawancara terhadap satu orang guru RA Al-Amin Ledug Prigen Pasuruan ditemukan temuan bahwa,(a) keterbatasan macam dan jumlah alat, (b) kegiatan pembelajaran yang lama (c) pembelajaran yang diulang-ulang sehingga 28 dari 35 anak merasa bosan dan kurang tertarik, (d) 7 anak tidak mau mengikuti pembelajaran, (e) kegiatan pembelajaran yang dilakukan belum mencakup seluruh aspek perkembangan anak, (f) kegiatan pembelajaran fisik motorik belum pernah menerapkan pembelajaran yang berbentuk sirkuit. Guru setuju jika dikembangkan pembelajaran fisik motorik dengan permainan sirkuit sehat cerdas ceria. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan permainan sirkuit sehat cerdas ceria yang diharapkan mudah dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak serta sebagai salah satu alternatif pembelajaran fisik motorik pada anak RA Al-Amin Ledug khususnya kelompok B. Permainan sirkuit sehat cerdas ceria merupakan satu rangkaian kegiatan pembelajaran motorik yang mempunyai kelebihan mengembangkan 5 aspek perkembangan anak yang lain selain fisik motorik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan melalui prosedur : 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) melakukan perencanaan selanjutnya dievaluasi para ahli, 3) mengembangkan bentuk produk awal, 4) melakukan uji coba kelompok kecil dengan 8 subyek, 5) melakukan revisi terhadap produk awal, 6) melakukan uji coba kelompok lapangan dengan 35 subyek. Instrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan hasil produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif berupa persentase yang ditujukan kepada dua ahli pembelajaran fisik motorik dan satu ahli pembelajaran fisik motorik dan teknik analisis kualitatif yang berupa saran dari ahli pembelajaran anak usia dini dan ahli pembelajaran fisik motorik. Hasil pengembangan pada analisis data kuantitatif uji lapangan ( kelompok besar) diperoleh persentase yaitu: (1) 94,3 % anak mudah melakukan permainan, (2) 100 % anak senang melakukan permainan, dan (3) 100 % anak aman saat melakukan permainan sirkuit sehat cerdas ceria. Berdasarkan hasil pengembangan permainan sirkuit sehat cerdas ceria, maka disimpulkan bahwa media ini mudah digunakan, menyenangkan dan aman dilakukan oleh anak. Disarankan hasil pengembangan produk yang dilakukan di RA Al-Amin tidak hanya pada kelompok B saja tetapi juga pada kelompok A, serta diharapkan dapat digunakan di sekolah lain serta lembaga pendidikan yang terkait.

Analisis buku teks BSE karangan I.S. Sadiman dan Shendy Amalia mata pelajaran IPS kelas IV SD di Gugus VI Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Muhammad Mushfi El Iq Bali

 

Kata Kunci: analisis buku teks BSE, Sadiman, Gugus VI Kec. Kedungkandang Buku teks merupakan salah satu bahan ajar sebagai sumber pembelajaran yang memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, bahkan dianggap sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan siswa. Namun, para pengguna buku teks dibingungkan dalam menentukan buku yang sesuai, yang bisa digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, karena seringkali dijumpai beberapa konsep dalam buku teks yang satu berbeda dengan buku teks yang lain dan tidak sesuai dengan kurikulum. Berdasarkan hasil penyebaran angket di sembilan sekolah dasar se-Gugus VI Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, diketahui buku pelajaran IPS kelas IV yang paling banyak digunakan, yaitu buku BSE karangan I.S. Sadiman dan Shendy A. dengan persentase 53%. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis buku teks BSE mata pelajaran IPS kelas IV yang mencakup kesesuaian materi dalam buku teks dengan KTSP 2006. Kesesuaian pendekatan penulisan dalam buku teks dengan pendekatan dalam KTSP 2006. Selanjutnya kesesuaian evaluasi yang ada dalam buku teks dengan evaluasi menurut Taxonomy Bloom dalam KTSP 2006. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kuantitatif yang menggunakan analisis dokumen atau analisis isi. Objek dalam penelitian ini adalah semua materi pada buku teks IPS SD kelas IV karangan I.S. Sadiman dan Shendy A. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik multistage sampling (penarikan sampel beberapa tahap). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pedoman analisis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa; (1) kesesuaian urutan materi dengan kurikulum tergolong cukup sesuai, karena dari 67 materi dalam buku tersebut, terdapat 39 materi yang sesuai atau sebesar 58,2%; (2) kesesuaian lingkup materi dengan kurikulum tergolong cukup sesuai, karena terdapat 47 materi yang sesuai atau sebesar 70,1%; (3) pendekatan yang digunakan dalam buku tergolong cukup sesuai dengan pendekatan konstruktivistik, yaitu sebanyak 41 materi atau sebesar 61,1%; (4) kesesuaian evaluasi dalam buku tergolong kurang sesuai dengan evaluasi menurut Taxonomy Bloom dalam KTSP 2006, karena soal-soal evaluasi dalam buku tersebut didominasi oleh aspek kognitif. Dari 55 kategori, terdapat 32 kategori atau 58,2% mencakup aspek kognitif, 16 kategori atau 29,1% mencakup aspek afektif, dan 7 kategori atau 12,7% mencakup aspek psikomotor.

Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi melalui model estafet writing di kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang / Khoirotin Nur Diana

 

Kata Kunci: Estafet Writing, Keterampilan Menulis, Karangan Narasi, SD Berdasarkan hasil observasi di kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam menulis karangan narasi. Kesulitan tersebut diantaranya (1) siswa memerlukan waktu yang relatif lama untuk menyelesaikan tugas mengarang. (2) siswa kesulitan menuangkan ide atau gagasan dan perasannya dalam karangan, dan (3) siswa kurang memahami tata tulis benar, terutama dalam penggunaan ejaan serta tanda baca. Oleh sebab itu perlu adanya perbaikan pembelajaran dan model Estafet Writing dipandang tepat. Masalah pada penelitian ini, yaitu bagaimanakah penerapan pembelajaran menulis karangan narasi melalui model Estafet Writing di kelas VA SDN Sekarpuro Kabupaten Malang?, bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis karangan narasi dengan menerapkan model Estafet Writing di kelas VA SDN Sekarpuro Kabupaten Malang?. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini yaitu siswa kelas VA SDN Sekarpuro Kabupaten Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data: lembar observasi penerapan model Estafet Writing, lembar penilaian aktivitas siswa, format catatan lapangan, pedoman wawancara, kamera, dan portofolio. Hasil penerapan model Estafet Writing dalam menulis karangan narasi dilakukan secara 7 tahap yaitu: (1) penyampaian tujuan, (2) pengorganisasian, (3) penentuan topik karangan, (4) pembuatan draft karangan secara estafet, (5) merevisi, (6) mengedit, (7) menyusun karangan utuh. Penyusunan karangan utuh merupakan pengembangan dari draft karangan yang telah direvisi dan dikoreksi oleh siswa sebelumnya. Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas V SDN Sekarpuro Kabupaten Malang dilihat dari proses berupa aktivitas siswa, proses menulis dan hasil belajar. Peningkatan proses menulis karangan siswa dilihat dari rata-rata yaitu pada siklus I 74,6 dengan prosentase keberhasilan 65,4%. Pada siklus II meningkat menjadi 85,2 dengan prosentase 88,4%. Artinya siswa telah terampil dalam menerapkan proses menulis dari pembuatan draft, melakukan revisi pada draft karangan serta mengkoreksi ejaan serta tanda baca yang kurang tepat pada draft karangan. Hasil karangan pada siklus I rata-rata mencapai 79,9 dengan keberhasilan klasikal 69,2%. Selanjutnya siklus II meningkat menjadi 85,7 dengan keberhasilan klasikal 88,4%. Artinya siswa sudah lebih terampil dalam menulis karangan narasi secara utuh. Keaktivitan siswa pada siklus I mencapai nilai rata-rata 82,8 dengan prosentase keaktivan 80,8%. Pada siklus II meningkat menjadi 88,3 dengan prosentase keaktivan 88,4%. Keaktivan siswa mulai dari keberanian berpendapat, kerjasama dalam kelompok, kemamdirian siswa dalam menulis karangan, dan ketepatan jawaban siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru meningkat. Dari data menunjukkan bahwa penerapan model Estafet Writing dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi. Berdasarkan hasil penelitian, untuk guru dapat disarankan Model Estafet Writing dapat diterapkan sebagai variasi dalam proses belajar mengajar di kelas agar pembelajaran yang dilaksanakan lebih beragam sehingga siswa tidak meras bosan dalam mengikuti pembelajaran. Bagi peneliti lain penelitian ini dapat disajikan sebagai dasar pertimbangan penelitian lebih lanjut yang sejenis dengan menggunakan jenis karangan yang sama maupun yang berbeda atau keterampilan bahasa yang lain yang termasuk dalam aspek menulis yang dititikberatkan pada keterampilan siswa dalam merevisi tulisan serta pemakaian tanda baca yang benar.

Studi perbandingan tentang hasil belajar perkalian teknik bersusun dan teknik gelosia pada siswa kelas IV MI Winongan Pasuruan / Erna Setiorini

 

ABSTRAK Setiorini, Erna. 2012. Studi Perbandingan Tentang Hasil Belajar Perkalian Teknik Bersusun dan Teknik Gelosia Pada Siswa kelas IV MI Winongan Pasuruan. Skripsi, Jurusan PGSD. FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Goenawan Roebyanto, M.Pd. Kata Kunci: Perbandingan, perkalian teknik bersusun dan teknik Gelosia Materi Pelajaran Matematika tentang perkalian bilangan kurang dari empat angka terdapat beberapa cara penyelesaian yang berbeda, antara lain dengan teknik bersusun dan teknik Gelosia. Dari kedua teknik yang berbeda tersebut, berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti, ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa. Hal tersebut yang menjadikan peneliti tertarik untuk membandingkan hasil belajar siswa pada penyelesaian perkalian dengan teknik bersusun dan Gelosia. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui beberapa hal, yang mencakup nilai hasil belajar siswa dan perbandingan nilai hasil belajar siswa kelas IV dengan teknik bersusun dan teknik Gelosia. Sasaran penelitian ini yaitu siswa kelas IV MI Winongan Pasuruan, dengan banyak siswa 105 siswa dari 10 MI yang ada. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan metode Kausal Komparatif. Pada penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data melalui tes dan wawancara terhadap guru dan siswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes hasil belajar. Instrumen penelitian yang akan digunakan terlebih dahulu diuji secara validitas dan reliabilitas. Kegiatan analisis data yang dilakukan yaitu dengan menggunakan uji t. Untuk memeriksa keabsahan data dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh beberapa simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, data skor tes hasil belajar perkalian teknik bersusun dikategorikan rendah. Hal ini dikarenakan siswa kurang memahami konsep perkalian dan langkah-langkah dalam menyelesaikan tes. Kedua, data skor tes hasil belajar perkalian teknik Gelosia dikategorikan cukup. Karena dengan teknik Gelosia siswa merasa lebih mudah mengerjakan tes, tidak perlu menulis simpanan hasil perkalian sehingga penghitungan yang dilakukan siswa lebih akurat dan kesalahan siswa dalam menyelesaikan tes lebih sedikit. Ketiga, berdasarkan analisis data dari hasil penelitian uji hipotesis bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa kelas IV pada perkalian teknik bersusun dan perkalian teknik Gelosia.

Peningkatan keterampilan menulis tegak bersambung dengan metode latihan (Drill) di kelas II SDN Dukuhmojo II Kabupaten Jombang / Selfia Norafika

 

Kata kunci: keterampilan menulis, tegak bersambung, metode latihan (drill) Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas II pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi menulis tegak bersambung adalah sebagai berikut; (1) guru menilai tulisan siswa tidak menggunakan kriteria penilaian yang jelas, (2) tidak membenarkan tulisan siswa yang salah, (3) kurang memberikan penjelasan mengenai cara menulis tegak bersambung yang benar, (4) banyak siswa yang berbicara sendiri pada saat guru menjelaskan, (5) mengganggu temannya sampai ada yang menangis, dan (6) memegang mainan di dalam kelas. Keterampilan menulis tegak bersambung merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dan penting dikuasai siswa, karena berguna pada jenjang berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode latihan (drill) dan meningkatkan keterampilan menulis tegak bersambung siswa kelas II SDN Dukuhmojo II kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK)dengan model Kemmis dan Taggart. PTK termasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menulis tegak bersambung secara bertahap pada siklus I pertemuan 1 sebesar 5 %, siklus I pertemuan II sebesar 52 %, dan siklus sebesar 90%. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode latihan (drill) pada pelajaran menulis tegak bersambung dapat meningkatkan keterampilan menulis tegak bersambung siswa. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru senantiasa memperhatikan keterampilan menulis tegak bersambung siswa di setiap pelajaran. Guru juga harus meningkatkan kinerjanya dan pengetahuannya tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa dan memadukannya dengan model pembelajaran dan pendekatan pembelajaran. Hal tersebut sebagai upaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Peningkatan hasil belajar luas trapesium dan layang-layang melalui model discovery untuk mengembangkan karakter mandiri pada siswa kelas V SDN Bangsri 01 Kabupaten Blitar / Marfu'atin

 

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model siklus pembelajaran 5E pada siswa kelas IV SDN Ponggok 04 Kabupaten Blitar / Endah Daroini

 

Kata kunci: perkalian dan pembagian, peningkatan hasil belajar, siklus belajar 5E Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin memajukan daya pikir manusia. Observasi awal di kelas IV SDN Ponggok 04 Kabupaten Blitar pada pembelajaran matematika tentang perkalian dan pembagian belum memenuhi harapan, karena 13 dari 20 siswa belum mencapai KKM. Penyebabnya adalah sis-wa belum memahami konsep perkalian dan pembagian. Selain itu guru menyampai-kan materi dengan metode ceramah, pemberian tugas. Berkaitan dengan hal itu, maka diperlukan perbaikan mengenai pembelajaran operasi hitung perkalian dan pembagian melalui model siklus belajar 5E. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) Pelaksanaan pembe-lajaran matematika dengan menggunakan model siklus belajar 5E siswa kelas IV SDN Ponggok 04 Kabupaten Blitar, dan (2) Peningkatan hasil belajar siswa kelas IV pada pembelajaran matematika dengan menggunakan model siklus belajar 5E di SDN Ponggok 04 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Data diperoleh dari aktivitas guru dan aktivitas siswa, sedangkan instrumennya berupa lembar observasi, lembar tes dan kamera digital. Model penelitian ini adalah kolaboratif, maksudnya yaitu peneliti bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang dibantu oleh guru kelas IV sebagai observer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran operasi hitung perkalian dan pembagian melalui model siklus belajar 5E dapat meningkat-kan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ponggok 04 Kabupaten Blitar. Hal itu dapat dibuktikan dengan skor rata-rata hasil belajar pada pra tindakan 48,4%, siklus I 65,65%, dan siklus II 79,7% . Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 35%, siklus I sebesar 60%, dan siklus II 90%. Kesimpulan yang diambil dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan yaitu bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Ponggok 04 Kabupaten Blitar dengan menggunakan model siklus belajar 5E dapat meningkat. Terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 17,25% dari pra tindakan ke siklus I dan 14,05% dari siklus I ke siklus II. Peningkatan ketuntasan klasikal siswa dari pra tindakan menuju siklus I sebesar 35%. Sedangakan dari Siklus I ke Siklus II terjadi peningkatan sebesar 30%. Saran diberikan kepada guru yaitu untuk 1) melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa untuk membangun pengetahuan sendiri tentang suatu materi, sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dapat lebih bermakna, 2) mencoba menggunakan model pembelajaran siklus belajar 5E sebagai salah satu pertimbangan untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika pada materi yang lain.

Penerapan model pembelajaran numbered heads together dan model pembelajaran talking stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerja sama dengan kolega dan pelanggan (studi pada siswa tingkat X Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 5

 

ABSTRAK Yason, Teddy. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together dan Talking Stick Untuk Meningkatan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan (Studi Pada Siswa Kelas X APk 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen). Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Arief, M.Si (II) Drs. Agus Hermawan, M.Si., Grad Dip MGT., M.Bus. Kata Kunci: Model Pembelajaran Numbered Head Together, Model Pembelajaran Talking Stick, Hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar adalah model Pembelajaran Numbered Head Together dan Talking Stick. Pemilihan model Pembelajaran Numbered Head Together dan Talking Stick sebagai fokus penelitian ini, disebabkan model pembelajaran ini dapat mempermudah siswa memahami materi yang diajarkan, meningkatkan prestasi belajar siswa melalui sistem gotong-royong (saling membantu). Suasana belajar suasana belajar kooperatif menghasilkan hasil belajar yang lebih baik, pemahaman materi lebih cepat, mudah mengingat, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan, hasil belajar siswa, hambatan dan solusi, dan respon siswa terhadap penerapan model Pembelajaran Numbered Head Together dan Talking Stick pada siswa kelas X APk 2 di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APk 2 di SMK Muhammadiyah % Kepanjen dengan jumlah 43 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui; 1) observasi, 2) tes, 3) angket, 4) catatan lapangan, 5) dokumentasi, dan 6) wawancara. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan yaitu; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) penerapan model pembelajaran ini dapat berjalan dengan baik, terbukti adanya peningkatan pada hasil belajar siswa baik melalui pre test maupun post test, 2) penerapan model pembelajaran ini, hasil belajar siswa lebih baik (meningkat) dibandingkan dengan sebelum adanya penerapan model pembelajaran ini dapat terlihat dari nilai rata-rata kelas sebesar 77,5 menjadi 86,5. 3) Hambatan yang dihadapi peneliti dalam penelitian penerapan kolaborasi model pembelajaran adalah siswa mengalami kesulitan untuk menemukan fakta nyata yang terkait dengan materi yang dijarkan, kolaborasi model Pembelajaran Inquiry dan Student Teams Achievement Divisions belum pernah ada sebelumnya, alokasi waktu yang digunakan kurang efektif terutama pada pelaksanaan pembelajaran Siklus I yaitu pada pembentukan kelompok dan pelaksanaan diskusi kelompok, siswa kurang memahami pelaksanaan diskusi yang baik, Siswa kurang berani untuk mengemukakan pendapat dalam diskusi kelas, dan 4) Respon postif siswa terhadap penerapan kolaborasi model pembelajaran ini. Saran bagi bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan kegiatan lebih lanjut tentang penerapan model pembelajaran Numbered Head Together dan Talking Stick dengan mata pelajaran yang lain dan subjek penelitian yang berbeda. Peneliti juga dapat melakukan kegiatan eksperimen untuk mengetahui perbedaan penggunaan model pembelajaran Numbered Head Together dan Talking Stick dengan model lain dalam mengefektifkan penerapan pembelajaran di kelas.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas IV SDN Pagerwojo 04 Kabupaten Blitar / Syafi'ati Nugrahayu

 

Kata Kunci : hasil belajar,Contextual Teaching and Learning (CTL),berfikir kreatif. Pembelajaran Matematika dengan model contextual teaching and learning (CTL) menuntut guru untuk kreatif dalam memberikan permasalahan yang ada disekitar siswa sehingga siswa dapat menggali pengetahuannya dan menumbuh-kan kreativitasnya dari masalah yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas IV pada waktu pem-belajaran Matematika ditemukan bahwa (1) dalam pembelajaran guru hanya me-nerangkan di papan tulis, memberikan pertanyaan dan tugas, (2) guru jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan media pembelajaran, (3) siswa bermain sendiri dan mengganggu teman sebangkunya, (4) setelah memberikan tugas, siswa di-tinggal keluar oleh guru, serta (5) di akhir pembelajaran tugas dibahas bersama-sama dan dinilai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Contex-tual Teaching and Learning (CTL) pada pembelajaran Matematika di kelas IV SDN Pagerwojo 04 Kabupaten Blitar, mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) di kelas IV SDN Pagerwojo 04 Kabupaten Blitar, dan mendeskripsikan peningkatan ke-mampuan berfikir kreatif siswa Kelas IV SDN Pagerwojo 04 melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif jenis pe-nelitian tindakan kelas, yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari pe-rencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV dengan jumlah 17 siswa yang terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Contextual Teach-ing and Learning (CTL) pada pembelajaran matematika di kelas IV sudah baik. Hal ini didukung dengan sudah munculnya semua aspek/komponen model Contextual Teaching and Learning (CTL) pada saat pembelajaran berlangsung. Terlihat dari aktivitas guru pada siklus I yaitu 58,25% dan pada siklus II yaitu 81,48%. Hal itu juga, diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang baik pula. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan yaitu 23,52%, pada siklus I yaitu 29,41% dan pada siklus II yaitu 76,47%. Sedangkan dalam menumbuhkan kemampuan berfikir kreatif siswa kelas IV pada siklus I persentase hasil yang diperoleh yaitu 39,21% dan pada siklus II yaitu 70,59%. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut sebagai berikut. Pertama, pem-belajaran dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) yang terdiri dari tujuh komponen yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, dan penilaian nyata, dari ketujuh komponen tersebut sudah dimunculkan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tiap siklus dan penerapan pembelajaran dengan model CTL tersebut sudah baik. Kedua, berdasar-kan hasil belajar siswa diperoleh persentase ketuntasan belajar siswa dari pra tindakan ke siklus I meningkat sebesar 5,89% dan dari siklus I ke siklus II me-ningkat sebesar 47,06%. Ketiga, dari hasil pengamatan, dalam menumbuhkan kemampuan berfikir kreatif siswa kelas IV tersebut sudah baik, kemampuan ber-fikir kreatif siswa kelas IV dari siklus I ke siklus II sudah meningkat sebanyak 31,38%.

Penerapan perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X MA Muallimat Malang semester genap tahun ajaran 2012/2012 / Soleh Arifin

 

Kata Kunci: mind mapping, cooperative script, Hasil Belajar Penerapan perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script merupakan pembelajaran yang mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok serta membangun pengetahuan dan kemampuan berpikirnya yang diaplikasikan dalam bentuk catatan ringkas berupa mind mapping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X MA Mu’allimat Malang. Penelitian ini dilaksanakan di MA Mu’allimat Malang pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus . Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Analisis data yang digunakan meliputi tahap mereduksi data, menyajikan data, dan verifikasi data atau menarik kesimpulan. Hasil penelitian dalam penerapan pembelajaran adalah: dalam materi konsumsi, tabungan, dan investasi mengalami peningkatan skor hasil klasikal belajar dari 60% dengan kategori cukup dan meningkat menjadi 87% dengan kategori sangat baik. Rata-rata nilai kelas juga mengalami peningkatan dari 59,27 pada saat pra siklus, menjadi 74,60 pada siklus I, dan meningkat menjadi 87,05 pada siklus II. Selain itu penerapan pembelajaran perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script juga meningkatkan aktivitas siswa dikelas. Skor aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi yang berisi indikator-indikator yang sudah ditetapkan oleh peneliti. Pada siklus I, skor yang dicapai adalah 74,25% dengan kategori baik meningkat menjadi 89,4% dengan kategori sangat baik. Tidak hanya aktivitas siswa yang meningkat, aktivitas guru juga meningkat dalam pembelajaran. Pada siklus I, skor aktivitas guru sebesar 87,8% meningkat menjadi 91,7% dengan nilai A. Penerapan perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script ini sangat cocok untuk diterapkan pada materi dengan karakteristik tertentu yaitu materi-materi yang rumit (berhubungan dengan rumus-rumus) seperti pada materi konsumsi, tabungan, dan investasi ini yang memerlukan penjelasan lebih dan banyak latihan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya secara umum dapat disimpulkan bahwa: 1. Keterlaksanaan penerapan perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script pada mata pelajaran ekonomi di kelas X MA Mu’alliamat Malang telah terlaksana 72,7% untuk aktivitas siswa dan 87,5 untuk aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada siklus I dan telah terlaksana 89,4% untuk aktivitas siswa dan 91,7% untuk aktivitas guru atau peneliti dalam proses pembelajaran pada siklus II. 2. Peningkatan hasil belajar siswa kelas X MA Mu’allimat Malang terjadi akibat adanya penerapan perpaduan metode mind mapping dengan model pembelajaran cooperative script pada mata pelajaran ekonomi. Jumlah siswa yang tuntas pada siklus I sebesar 60% dan pada siklus II sebesar 87%. Pada siklus I hasil belajar siswa yang diperoleh dari skor rata-rata postest sebesar 74,60. Kemudian diadakan perbaikan pada siklus II sehingga diperoleh rata-rata nilai postest sebesar 85,07.

Perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media CAI dan media gambar diam mata pelajaran IPS kelas IV SD Kecamatan Lokwaru Kota Malang / Ernes Dwi Andika

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Media CAI, Media Gambar Diam, IPS IPS merupakan salah satu matapelajaran yang diajarkan di sekolah dasar. Dalam pembelajaran IPS diperlukan media pembelajaran yang dapat menarik perhatian, memusatkan pemikiran, membangkitkan kesenangan, dan menumbuhkan motivasi siswa terhadap pembelajaran. Media pembelajaran berbantuan komputer atau Computer Assisted Instruction (CAI) dan media gambar diam adalah dua jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS SD. Berkaitan dengan hal itu, maka diperlukan pembahasan mengenai perbedaan hasil belajar menggunakan kedua media pembelajaran tersebut. Rancangan penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Gugus 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 13 kelas. Sedangkan sampelnya adalah siswa SDN Lowokwaru 3 kelas IVA yang diajar menggunakan media CAI dan siswa kelas IVB yang diajar menggunakan media gambar diam. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes menggunakan instrumen soal tes yang terdiri dari 25 soal pilihan ganda. Kegiatan analisis data dimulai dengan tahap uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas pada data nilai pre test, post test, dan gain score. Jika telah terpenuhi, tahap selanjutnya adalah uji hipotesis pada data nilai pre test, post test, dan gain score. Berdasarkan hasil perhitungan, dapat diketahui bahwa siswa kelas IVA memperoleh nilai rata-rata pre test 60,6, post test 79,4, dan gain score 18,8. Sedangkan siswa kelas IVB memperoleh nilai rata-rata pre test 58,3, post test 68,8, dan gain score 10,5. Berdasarkan hasil uji hipotesis terhadap nilai gain score siswa kelas IVA dan siswa kelas IVB diketahui nilai probabilitas (Asymp Sig.) 0,001 < 0,05 diperoleh thitung 3,495 > ttabel 1,990. Jadi, dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata gain score siswa kelas IVA dan siswa kelas IVB. Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media CAI dan media gambar diam pada mata pelajaran IPS Kelas IV SD Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka dapat diberikan saran, yaitu: penerapan pembelajaran menggunakan media CAI perlu mempertimbangkan sarana, prasarana, alokasi waktu dan tempat yang memadai, kemapuan guru dan siswa dalam mengoperasikan media CAI. Sedangkan Penerapan pembelajaran menggunakan media gambar diam perlu memperhatikan warna yang menarik, ukuran yang dapat menjangkau semua siswa di dalam kelas, dan maksud dari gambar diam yang mudah dimengerti oleh siswa.

Aplikasi analisis deret berkala dengan metode Winter's pada peramalan laju inflasi di Indonesia / Anik Miftakhul Khasanah

 

Peningkatan hasil belajar matematika tentang operasi penjumlahan dan pengurangan melalui model Guided Note Taking pada siswa kelas II SDN Gedog 2 Kota Blitar / Fajar Sugeng Trilaksono

 

Kata kunci: model guided note taking, hasil belajar matematika, operasi penjumlahan, operasi pengurangan Penelitian dilakukan di Kelas II SDN Gedog 2 Kota Blitar yang terdiri dari 29 siswa dengan 16 siswa belum memenuhi ketuntasan minimum 65 yang sudah ditetapkan di sekolah, sehingga tingkat ketuntasan klasikal hanya 56,7% dan masih kurang dari ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan sebesar 75%. Dengan demikian, pada tanggal 13 September 2012 dilakukan observasi dan wawancara kepada siswa dan guru di Kelas II SDN Gedog 2 Kota Blitar. Berdasarkan hasil observasi diperoleh informasi bahwa (1) siswa tidak menguasai nilai tempat sehingga kurang pahamnya siswa terhadap penjumlahan dua bilangan yang dikerjakan secara bersusun pendek, (2) siswa kurang teliti dalam mengerjakan penjumlahan dua bilangan, (3) sebagian siswa kesulitan melakukan penjumlahan bilangan yang terdiri dari tiga angka terutama dalam hal penyimpanan dan, (4) guru menyampaikan materi dengan metode ceramah dan pemberian tugas. Hidayah dan Sugiharto (2007:4) pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Komunikan pada proses pembelajaran adalah siswa, sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Berdasarkan pendapat tersebut jelas bahwa kegiatan pembelajaran tidak lepas dari dua komponen yang saling terikat, yaitu guru dan siswa. Aunurrahman (2010: 34) menyatakan bahwa “pembelajaran merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal”. Hasil wawancara dengan siswa diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa menganggap pelajaran matematika membingungkan dan membosankan. Hal itu karena gurunya kurang menarik, suaranya kurang keras, dan selalu ceramah sehingga siswa merasa jenuh. Sedangkan hasil wawancara dengan guru dapat diketahui bahwa guru tidak pernah menggunakan model-model pembelajaran yang lain atau model pembelajaran yang terbaru, kurang memanfaatkan media pembelajaran, dan sebagian besar siswa tidak memperhatikan guru dalam menyampaikan materi sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami operasi penjumlahan dengan cara bersusun pendek. Melalui observasi dan wawancara tersebut, maka dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa masih berada di bawah rata-rata kelas. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka guru perlu menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Temuan penelitian dari Herenana (2011: 1) menyatakan bahwa “penerapan model pembelajaran guided note taking dalam pembelajaran IPS di Kelas VC SDN Benteng 3 Kota Malang dilaksanakan dengan sangat baik”. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) pelaksanaan pembelajaran matematika tentang operasi penjumlahan pada tahap pratindakan, 2) hasil belajar siswa tentang operasi penjumlahan pada tahap pratindakan, 3) pelaksanaan operasi penjumlahan dan pengurangan melalui model guided note taking pada setiap siklus, 4) hasil belajar siswa tentang operasi penjumlahan dan pengurangan melalui model guided note taking pada setiap siklus, dan 5) peningkatan hasil belajar siswa tentang operasi penjumlahan dan pengurangan melalui model guided note taking pada setiap siklus.

Perbedaan penggunaan media E-learning google earth dan media peta terhadap hasil belajar IPS kelas 6 pada materi mengenal benua di SDN se-Gugus 1 Kota Malang / Nuralimah

 

Kata Kunci: Media Google Earth, Media Peta, Hasil Belajar IPS SD Google Earth adalah sebuah program komputer mengenai globe virtual yang dikembangkan oleh Google. Program ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang interaktif pengganti peta dengan format tiga dimensi. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar pada materi yang mempelajari tentang bumi dan kenampakan alam dirasa kurang interaktif bagi siswa karena siswa hanya dihadapkan pada buku cetak saja. Berkaitan dengan ini maka dibutuhkan penelitian tentang media Google Earth tersebut sebagai inovasi media dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menguji apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media Google Earth dengan yang diajar menggunakan media peta pada siswa kelas VI pada mata pelajaran IPS kompetensi dasar mengidentifikasi benua-benua di SD se-Gugus I Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan rancangan kuasi eksperimen (Pretest-Postest control Group Design). Subjek penelitian melibatkan seluruh siswa Kelas VI semester satu di 2 Sekolah Dasar, yaitu SDN Lowokwaru 2 dan SDN Lowokwaru 3 Kota Malang dengan jumlah keseluruhan sebanyak 94 siswa yang terbagi atas dua kelompok. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh perhitungan hasil perbedaan rata-rata nilai pre-test dan post-test dapat diketahui peningkatan nilai rata-rata kedua kelompok (gain score) yang dijadikan alat untuk mengukur hasil belajar siswa. Rata-rata gain score kelompok eksperimen (17,98) lebih tinggi dari rata-rata gain score kelompok kontrol (13,72). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian yang dibantu dengan program SPSS 16.0 for windows untuk analisis Compare Means Independent Sampel T Test, menunjukkan nilai probabilitas (0,004) < 0,05 yang berarti Ho gagal diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai gain score antara kelompok eksperimen (pembelajaran dengan Google Earth) dengan kelompok kontrol (pembelajaran dengan peta). Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas VI antara kelas kontrol dan eksperimen dalam pembelajaran IPS. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini yaitu, (1) Sekolah disarankan untuk menerapkan pembelajaran menggunakan media yang lebih interaktif seperti media Google Earth untuk meningkatkan hasil belajar, (2) Guru disarankan untuk menggunakan media Google Earth pada mata pelajaran IPS kompetensi dasar lainnya yang masih berhubungan dengan bumi, (3) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan eksperimen lanjutan dengan mengembangkan media Google Earth dalam pembelajaran IPA, PKn, Bahasa Indonesia, dan mata pelajaran lainnya.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model picture and picture siswa kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar / Agustinus Laklaka

 

ABSTRAK Laklaka, Agustinus Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui Model Picture And Picture Pada Siswa Kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah.Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.Pembimbing (I) Dra. Sri Nuryati, M.Pd (II) Dra. Sutansi, M.Pd Kata kunci: keterampilan menulis, narasi, model picture and picture Pada observasi awal diperoleh data bahwa pada saat pembelajaran guru masih menggunakan metode yang konvensional.Selain itu, dari data hasil belajar bahasa Indonesia menunjukan bahwa siswa belum memahami pelajaran menulis narasi. Kemampuan menulis siswa yang rendah ini pada umumnya siswa belum dapat membuat kalimat yang baik dan sesuai dengan perintah soal yang dimaksud. Hal Ini mengakibatkan 88% siswa yang tidak tuntas mencapai KKM yang telah ditetapkan yaitu 75. Berdasarkan hasil tersebut maka, perlu diadakan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan keterampilan menulis narasi melalui model picture and picture pada siswa kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar.Dan mendeskripsikan peningkatkan keterampilan menulis narasi pada siswa kelas V SDN Bendo 2 Kabupaten Kota Blitar Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK).Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan,(2) pelaksanaan,(3) observasi, dan (4) releksi.Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis narasi melalui model picture and picture dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi, siswa kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar yang ditunjukan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 63%, siklus I 73%, dan siklus II 95% . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 26%, siklus I 67%,dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran keterampilan menulis narasi dengan menggunakan model picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Untuk itu disarankan agar guru menggunakan model picture and picture karena selain dapat meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat meningkatkan hasil belajar kelompok.

Bermain "Putar Karpet Warna" untuk meningkatkan kognitif dalam penguasaan konsep bentuk, warna dan bilangan pada kelompok A di TK Anandav Ngaglik Kota Batu / Yeny Ludiana

 

Kata Kunci : Penguasaan Konsep Bentuk, Warna, dan Bilangan, Bermain ”Putar Karpet Warna”, Meningkatkan Kognitif, Pendidikan Anak Usia Dini. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelompok A, Taman Kanak – kanak Ananda Ngaglik Kota Batu terdapat beberapa masalah yang dihadapi dalam pembelajaran yang dilakukan dikelas. Awal dari kegiatan sekolah, anak kelompok A sulit dalam penguasaan konsep bentuk geometri, warna dan bilangan. Sekolah memfokuskan pembelajaran pasa aspek akademik yang sebagian besar dilakukan dengan kegiatan calistung dan mengerjakan LKS. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1). Penguasaan konsep bentuk 2). Penguasaan konsep warna 3). Penguasaan konsep bilangan pada kelompok A TK Ananda Ngaglik Kota Batu Rancangan Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitas berbentuk tindakan kelas dan di rancang dalam 2 (dua ) siklus . Masing – masing terdiri dari 5 tahapan 1) Refleksi awal 2) Perencanaan 3) Pelaksanaan tindakan 4) Pengamatan 5) Refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok A, Taman kanak – kanak Ananda Ngaglik Kota Batu sebanyak 10 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran dan dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bermain”Putar Karpet Warna” ini dimainkan dengan menunjukkan bentuk, warna maupun bilangan yang didapat dari instruksi guru. Kegiatan ini dilakukan dengan memijak setiap instruksi yang didapat dengan bentuk, warna, dan bilangan yang ditunjukkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan aktivitas bermain “Putar Karpet Warna” dapat meningkatkan penguasaan konsep bentuk, warna, dan konsep bilangan. Berdasarkan lembar observasi pada siklus I penguasaan anak dalam konsep bentuk, warna, dan konsep bilangan mencapai 70%, pada siklus II hasil observasi untuk penguasaan konsep bentuk, warna, dan konsep bilangan 85%. Bedasarkan hasil penelitian tersebut dapat, disimpulkan bahwa penerapan aktivitas bermain “Putar Karpet Warna” dapat meningkatkan penguasaan konsep bentuk warna, dan konep bilangan konsep bilangan pada anak kelompok A di TK Ananda Ngaglik Kota Batu.

Peningkatan kemampuan penguasaan konsep geometri melalui permainan geo and pic box di kelompok A TK Islam terpadu As Salam Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Elfrida Bachtiarini

 

Studi kasus perkembangan emosional pada anak yang mengikuti PAUD dan anak yang tidak mengikuti PAUD / Annisa Fitria

 

ABSTRAK Fitria, Annisa. 2012. Studi Kasus Perkembangan Emosional Anak yang Mengikuti Paud dan Anak yang tidak mengikuti Paud di TK Permata Bunda. Skripsi, Jurusan PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Musa Sukardi, M. Pd (II) Prof. Dr. H. Sa’dun Akbar, M. Pd. Kata Kunci: Perkembangan emosional, anak yang mengikuti Paud dan tidak mengikuti Paud, Permata Bunda. Perkembangan emosioanl merupakan kemampuan dan kompetensi serta hasil belajar anak yang ingin dicapai dalam kemampuan mengenal lingkungan sosial, peranan masyarakat, mengenal alam,mengenal lingkungan sekitar dan menghargai keberagamaan sosial dan yang ada disekitar anak sehingga anak memiliki konsep diri, sikap positif terhadap belajar, memiliki kontrol diri yang baik dan memiliki rasa empati pada orang lain.Anak-anak usia 4-6 tahun merupakan anak-anak yang berada pada masa pra sekolah dimana pada masa ini anak memiliki emosi yang sangat kuat sehingga dibutuhkan pengajaran dan bimbingan dari orang tua atau guru agar emosi anak berjalan dengan baik. Berkaitan denga itu, maka diperlukan pembahasan mengenai perkembangan emosinal pada anak. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan gambaran perkembangan emosi anak yang mengikuti PAUDdan anak yang tidak mengikuti PAUD, serta perbedaan perkembangan emosi diantara anak yang mengikuti PAUDdan anak yang tidak mengikuti PAUD di TK Permata Bunda. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Data penelitian yang digunakan berupa paparan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, obseravasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa insturmen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelahaan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan. Pertama, bahwaanak yang mengikuti PAUD memiliki sikap kemandirian dalam setiap kegiatan yang ada disekolah dan dilingkungan rumah, anak juga memiliki interaksi yang baik terhadap orang lain sehingga anak menjadi sosok yang mudah berteman dan bermain dengan siapa saja. Selain itu anak juga dapat belajar mengontrol perasaannya jika tidak sesuai dengan kehendak, anak juga belajar untuk menghargai dan menghormati orang yang lebih tua. Ketika berada di lingkungan luar anak dapat memahami apa saja yang boleh dia lakukan dan apa saja yang tidak boleh dia lakukan sehingga anak lebih terbiasa untuk menjaga kebersihan diri dengan menjaga dirinnya sendiri terhadap lingkungan.   Kedua, emosional anak yang berasal dari Non-Paud menunjukkan bahwa anak memiliki tingkat kemandirian yang kurang dalam setiap aktifitas yang dilakukan disekolah, anak juga kurang bisa beriteraksi dengan baik terhadap teman sehinga anak tidak memiliki teman dalam bermain. Anak cenderung menampakan sikap agresifnya ketika ingin berteman seperti mendorong, mencubit, memukul sehingga membuat anak-anak yang lain menjauh. Dalam kegiatan bermain anak kurang bisa memahami aturan yang ada dan tata cara bermain yang baik, sehingga anak cendrung bermain tanpa aturan yang baik dan benar. Begitu juga dalam menghargai orang lain anak kurang bisa mendengarkan jika guru atau orang lain berbicara. Dalam menjaga dirinya sendirinya anak juga kurang bisa memahami apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan sehingga membuat anak kurang mampu dalam menjaga kebersihan dan kerapian diri. Ketiga, terdapat perbedaan perkembangan emosional anak yang berasal dari Paud dan Non-Paud. Anak yang berasal dari PAUD memiliki tingkat kemandirian yang baik, dapat mengendalikan perasaannya ketika berinteraksi dengan teman, selain itu anak juga bisa menghargai orang lain dan dirinya sendiri. Sedangkan anak yang tidak berasal dari PAUD memiliki tingkat kemandirian yang kurang baik, kurang bisa mengendalikan perasaannya ketika berinteraksi dengan teman, dan belum bisa menghargai orang lain ataupun dirinya sendiri.  

Peningkatan pembelajaran PKn melalui model jigsaw di kelas IV SDN Talun 05 Kabupaten Blitar / Weda Kardiastuti

 

ABSTRAK Astuti, Weda Kardi. 2012. Peningkatan Pembelajaran PKn Melalui Model Jigsaw di Kelas IV SDN Talun 05 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program S-I Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Suwarti, S.Pd, M.Pd, Dra. Widayati, M.H. Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, PKn, model jigsaw Penelitian ini memiliki latar belakang rendahnya hasil belajar PKn siswa kelas IV di SDN Talun 05 Kabupaten Blitar. Dari 19 siswa, terdapat 15 siswa atau 79% siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM yang ditetapkan sekolah. Hal tersebut tidak sesuai dengan harapan sekolah yang mengharapkan ketuntasan belajara klasikal mata pelajaran PKn yaitu ≥ 70%. Berdasarkan hal tersebut, guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model jigsaw. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) penerapan model jigsaw pada pembelajaran PKn di kelas IV SDN Talun 05 Kabupaten Blitar, dan (2) peningkatan pembelajaran PKn di kelas IV SDN Talun 05 Kabupaten Blitar dengan model jigsaw. Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah kelas IV SDN Talun 05 Kabupaten Blitar dengan jumlah 24 siswa. Setipa siklus PTK terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, tes hasil belajar, catatan lapangan, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase keberhasilan pembelajaran model jigsaw dan hasil belajara siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dari pratindakan ke siklus I yang mengalami peningkatan persentase rata-rata ketuntasan belajar klasikal yaitu dari 21% menjadi 51 %. Sedangkan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan persentase rata-rata ketuntasan belajar klasikal yaitu dari 50% menjadi 82%. Selain peningkatan hasil belajar, aktifitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model jigsaw juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu 55,5% menjadi 84,5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikatan bahwa penerapan model jigsaw dapat meningkatkan pembelajaran PKn di kelas IV SDN Talun 05 Kabupaten Blitar.  

Peningkatan hasil belajar KPK dan FPB melalui model Realistic Mathematic Education (RME) untuk mengembangkan kreatif siswa kelas V SDN II Gamping Kabupaten Tulungagung / Agustina Prima Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Agustina Prima. 2012. Peningkatan Hasil Belajar KPK dan FPB Melalui Model Realistic Mathematic Education (RME) untuk Mengembangkan Kreatif Siswa Kelas V SDN II Gamping Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. M. Zainuddin, M.Pd, (2) Dra. Hj. Lilik Bintartik, M.Pd. Kata kunci : hasil belajar, kpk dan fpb, rme, kreatif Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas V pada waktu pembe-lajaran Matematika diperoleh hasil bahwa hasil belajar siswa kurang memuaskan, yaitu dari 16 siswa hanya 6 siswa yang nilainya dapat mencapai KKM atau ≥ 65, sedangkan 10 siswa lainnya masih belum dapat mencapai KKM atau ≤ 64. Hal ini disebabkan karena guru kurang memberikan penekanan materi yang jelas tentang KPK dan FPB tersebut, setelah memberikan tugas kepada siswa, guru meninggal-kan ruangan, guru tidak menggunakan strategi, metode maupun model pembelaja-ran yang dapat digunakan untuk mengembangkan kreatif siswa, serta masih ba-nyak siswa yang bermain sendiri pada saat pembelajaran berlangsung. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar dan kreatif siswa serta tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model Realistic Mathematic Education (RME). Rumusan masalah penelitian ini: (1) bagaimanakah penerapan model pem-belajaran Realistic Mathematic Education (RME) untuk meningkatkan hasil bela-jar dan mengembangkan kreatif siswa pada materi KPK dan FPB?, (2) apakah ada peningkatan hasil belajar KPK dan FPB melalui model pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME)?, (3) apakah model Realistic Mathematic Educati-on (RME) dapat mengembangkan kreatif siswa pada materi KPK dan FPB ? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas V. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (peng-ajar), guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer proses pembelajaran KPK dan FPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Realistic Mathematic Education (RME) untuk meningkatkan hasil belajar dan mengembangkan kreatif siswa pada materi KPK dan FPB siswa kelas V SDN II Gamping Kabupaten Tulungagung mempunyai kriteria keberhasilan baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yaitu persentase pada siklus I 68,75% dan pada siklus II 78,84%. Peningkatan hasil belajar tersebut juga diimbangi dengan perkembangan kreatif siswa pada siklus I 70,83% menjadi 87,49% pada siklus II. Simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan pembelajaran KPK dan FPB melalui model Realistic Mathematics Education (RME) dapat meningkatkan hasil belajar dan mengembangkan kreatif siswa kelas V SDN II Gamping Kabupaten Tulungagung. Oleh karena itu guru disarankan untuk menggunakan model Realistic Mathematic Education (RME) dalam pembe-lajaran Matematika pada materi KPK dan FPB agar hasil belajar siswa meningkat dan kreatif siswa berkembang lebih optimal.

Pengaruh penggunaan pembelajaran kooperatif model jigsaw terhadap hasil belajar bangun ruang siswa kelas V SDN Kepanjen 02 / Ririn Kristiana

 

ABSTRAK Kristiana, Ririn. 2012. Pengaruh penggunaan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw terhadap Hasil Belajar Bangun Ruang Siswa Kelas V SDN Kepanjen 02. Skripsi, Prodi PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Goenawan Roebyanto, S.Pd, M.Pd (II) Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd Kata kunci: pengaruh, jigsaw, hasil belajar, bangun ruang Pembelajaran matematika bertujuan agar siswa mampu menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, sehingga diharapkan adanya model pembelajaran yang inovatif dan mampu mewujudkan tujuan pembelajaran tersebut. Namun dalam kenyataannya pembelajaran matematika masih berpusat pada guru dan menggunakan metode ceramah yang berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang optimal. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar materi bangun ruang yaitu dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil belajar siswa kelas VA yang menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw dengan siswa kelas VB yang menggunakan pembelajaran konvensional pada pembelajaran matematika materi bangun ruang. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental semu (Quasi experimental). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal pre test dan pos test. Teknik analisis data dengan menggunakan uji t pada hasil kemampuan awal siswa dan kemampuan akhir siswa yang diawali dengan uji prasyarat analisis normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw yang semula 58,75 dengan nilai tertinggi 80 dan terendah 30 rata-ratanya meningkat menjadi 77,5 dengan nilai tertinggi 100 dan terendah 40 serta terdapat 5 siswa dari 40 siswa atau 12% siswa yang mendapat nilai dibawak KKM 70. Dari nilai hasil uji pre test dan post test dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata siswa kelas eksperimen mengalami kenaikan sebesar 31%. Nilai rata-rata kemampuan akhir siswa kelas eksperimen sudah di atas KKM 70 sehingga pembelajaran matematika materi bangun ruang sudah menunjukkan hasil yang baik. Dampak positif dalam penelitian ini, perhatian, konsentrasi dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran semakin meningkat. Selama proses pembelajaran berlangsung, interaksi antara guru dan siswa menjadi baik. Siswa dalam melakukan kegiatan kelompok jigsaw sesuai dengan langkah-langkah penerapan model jigsaw sehingga siswa dapat berfikir kritis, pengalaman belajar menjadi lebih menyenangkan dan menguatkan pemahaman siswa sehingga model jigsaw sangat cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 |