A proposed syllabus for english course (IPKU-1201) for students of mechanical engineering of Institut Saint & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta / Suprih Ambawani

 

Pendidikan Bahasa Inggris Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang, the State University of Malang. Pembimbing: (1) Dr. Arwijati W. Murdibjono, M.Pd., Dip. TESL (2) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata kunci: silabus, Jurusan Teknik Mesin Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan silabus bahasa Inggris bagi mahasiswa jurusan Teknik Mesin di Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta karena silabus untuk pembelajaran bahasa Inggris (IPKU 1201) belum ada. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan (R&D). Model pengembangannya mengadopsi model pengembangan pelajaran oleh Richard (2001) yang terdiri dari beberapa tahap yaitu: (1) melakukan analisa kebutuhan; (2) mengembangkan course rationale; (3) menentukan entry and exit level, (4) menentukan and mengurutkan isi, (6) merencanakan isi (memilih tipe silabus),(7) merencanakan scope and sequence (8) menulis silabus mengajaran,(9) evaluasi/revisi produk akhir yang meliputi validasi ahli terhadap rancangan silabus, melakukan uji coba dengan membuat lesson plan (RPP) dan melakukan revisi. Analisa kebutuhan penelitian ini. dilaksanakan di Jurusan Teknik Mesin, Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta yang melibatkan mahasiswa semester 5, ketua jurusan, tiga pengajar mata kuliah bidang studi dan juga dosen pengajar bahasa Inggris. Tahap ini dilaksanakan untuk memperoleh kebutuhan mahasiswa dalam mempelajari bahasa Inggris dan dilakukan dengan cara membagikan angket dan wawancara. Hasil dari tahap ini digunakan untuk mengembangkan silabus. Karena produk ini diimplementasikan di jurusan Teknik Mesin, silabus ini selain divalidasi oleh ahli dibidang pengembangan silabus juga divalidasi oleh pengajar bidang studi Teknik Mesin untuk mencocokkan kesesuaian topik dalam silabus dengan materi bidang studi untuk mendukung pemahaman mahasiswa. Revisi dilakukan berdasarkan koreksi, saran dan kritik dari para ahli. Kemudian produk yang sudah direvisi akan diujicobakan kepada guru bahasa Inggris untuk membuat dua contoh lesson plan berdasarkan silabus tersebut. Produk dari penelitian ini adalah a topic based syllabus Bahasa Inggris untuk Jurusan Teknik Mesin yang dilengkapi dengan course outline dan dua rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai contoh. Silabus difokuskan pada ketrampilan membaca. Materi yang dibahas berkaitan dengan bidang studi mahasiswa Pertemuan efektif berlangsung dalam 12 minggu selama 100 menit. Format silabus terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi, kegiatan belajar mengajar, test , alokasi waktu dan sumber materi. Beberapa saran diajukan dalam menerapkan silabus ini antara lain: 1) pengajar bahasa Inggris perlu bekerja sama dengan pengajar bidang studi untuk mendapatkan gambaran yang tepat tentang topic yang dibahas, 2) diskusi/seminar yang dihadiri oleh pengajar bahasa inggris sangat diperlukan untuk mensosialisakan produk, 3) evaluasi dan revisi terhadap silabus perlu terus dilakukan seiring dinamika kebutuhan belajar mahasiswa dan aktivitas pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung / Endang Sriwidati

 

Kata kunci: Aktivitas Belajar Biologi, Hasil Belajar Biologi, TGT Berdasarkan observasi dan hasil wawancara dengan guru biologi maupun siswa di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung pada tanggal 27 Agustus 2009, diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran biologi di kelas masih kurang lancar karena siswa kurang aktif dalam pembelajaran, siswa kurang berani menyampaikan pendapat, ide, gagasan, pertanyaan dan sanggahan terhadap pertanyaan dan penjelasan guru, siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep-konsep biologi, siswa juga cenderung bersaing dalam belajar dan kurang mau bekerjasama sehingga hasil belajar yang dicapai siswa juga rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung dengan model pembelajaran kooperatif TGT. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus tindakan. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 19 November 2009 sampai dengan hari kamis, tanggal 10 Desember 2009. Data penelitian berupa aktivitas belajar siswa yang mencakup aspek menghargai pendapat, mengambil giliran dan berbagi tugas, bertanya, dan memeriksa jawaban yang diperoleh melalui observasi saat proses pembelajaran berlangsung dan hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes pada setiap pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 59,53% dengan kategori “baik“ meningkat menjadi 78,57% dengan kategori “baik“ pada siklus II. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pada siklus I skor rata-rata kelas sebesar 71,92 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 71,43% meningkat menjadi 78,75 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 95,24% pada siklus II. Penelitian memperlihatkan model pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung. Disarankan guru menerapkan model pembelajaran kooperatif TGT pada materi selain materi sistem peredaran darah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, guru disarankan memotivasi siswa saat proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang dapat memudahkan siswa untuk belajar, guru disarankan membangkitkan aktivitas siswa dengan menggunkan model pembelajaran yang menarik bagi siswa.

Pengembangan modul pelatihan kewirausahaan pada Lembaga Kursus Keterampilan Jasa / Ninik Sudarwati

 

Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Promotor: Prof. Dr. Bambang Banu Siswoyo, M.M., Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si., Dr. Mit Witjaksono, M.S., M.Ed. Permasalahan adanya gap antara harapan dengan kenyataan modul pelatihan kewirausahaan yang ada untuk warga belajar kursus keterampilan jasa. Modul pelatihan kewirausahaan yang telah di terbitkan oleh PNFI (Pendidikan Non Formal dan Informal) tahun 2010 tidak diminati oleh beberapa kursus keterampilan jasa, karena jumlah judul modul terlalu banyak , isi modul hanya diperuntukkan bagi instruktur sehingga warga belajar tidak bisa mempelajari secara mandiri. Sedangkan karakterisitik pendidikan warga belajar bersifat praktis dan non formal dapat dipelajari dalam kondisi fleksibel. Tujuan penelitian secara umum mengembangkan modul pelatihan kewirausahaan pada lembaga kursus keterampilan jasa dengan pendekatan design based research, dengan rincian: 1) mengidentifikasi kebutuhan bahan pengembangan modul kewirausahaan untuk warga belajar dan instruktur kursus, 2) menjabarkan tujuan penyusunan desain dan batasan materi modul kewirausahaan, 3) menyusun desain dan pengembangan modul pelatihan kewirausahaan untuk lembaga kursus keterampilan jasa, 4) melakukan uji coba pada setiap tahapan pengembangan modul, 5) mengevaluasi hasil uji coba untuk mengukur kelayakan modul, 6) mengkomunikasikan hasil uji coba dalam bentuk revisi modul pada setiap tahap uji coba. Metode penelitian dan pengembangan ini menggunakan pendekatan design-based reseach. Prosedur pengembangan, meliputi: 1) tahap pertama: mengidentifikasi masalah dengan melakukan penggalian data dan diagnosis sampai teridentifikasi masalah, 2) tahap kedua: pemyusunan model konseptual dan prosedural berdasarkan tahap pertama, 3) tahap ketiga :uji coba terbatas penerapan modul pelatihan kewirausahaan pada warga belajar lembaga kursus keterampilan jasa, 4) tahap keempat :evaluasi pelaksanaan uji coba, 5) tahap kelima komunikasi hasil evaluasi sebagai penyempurnaan produk. Desain uji coba dilakukan pada sebuah kelompok eksperimen sebagai kelompok percontohan (pilot project), dengan uji coba perorangan yang meliputi jumlah subyek 3 orang, uji coba kelompok kecil dengan jumlah subyek 8 orang, dan uji coba lapangan terbatas dengan jumlah subyek 26 orang.Teknik analisis, meliputi: 1) menganalisis gap antara harapan dan kenyataan sebagai bahan menyusun desain modul bersama antara peneliti dengan tim kolaborasi, 2) mengukur ketepatan prototipe modul teknik analisis persentase tingkat frekuensi dan prosentase tingkat klasifikasi respon, 3) merevisi modul dari hasil uji coba dan hasil diskusi bersama dengan responden sebagai penyempurnaan akhir produk Hasil pengembangan meliputi penyajian data, hasil uji coba, analisis uji coba, dan revisi produk. Penyajian data meliputi data proses penyusunan modul dari pendahuluan, isi materi modul, dan rancangan modul bersama dengan tim kolaborasi. Hasil susunan modul: a) bagian awal, kemasan label “Modul Pelatihan Kewiraushaan Untuk Warga Belajar Kursus Keterampilan Jasa”, meliputi: latar belakang. prasyarat pengguna modul, tujuan umum pelatihan, petunjuk pengguna modul, evaluasi kemampuan; b) bagian inti, kemasan Bab I ”Entrepreneurship skill” dan Bab 2 “Business skill”, Bab 3 “ Praktik Menyusun Rencana usaha terpadu”, modul ini meliputi: judul, tujuan modul, topik modul, kegiatan masing-masing topik, rangkuman akhir topik, evaluasi akhir topik, kunci jawaban, kriteria penilaian, c) bagian akhir, sebagai penutup dengan langsung pengantar penutup. Hasil uji coba meliputi: a) hasil uji coba perorangan yang menunjukkan sebagian besar (66%) memilih baik, artinya modul cukup mudah dipahami meskipun terdapat beberapa revisi; b) hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan sebagian besar (55%) menyatakan modul jelas namun perlu revisi; c) hasil uji coba lapangan terbatas menunjukkan sebagian besar (60%) menyatakan modul jelas dan dapat dipahami, namun perlu revisi. Analisis data meliputi: a) hasil analisis uji coba perorangan sebesar 71% menyatakan modul efektif, artinya modul sudah layak untuk dijadikan bahan belajar kewirausahaan; b) hasil analisis uji coba kelompok kecil sebesar 79% modul sangat efektif, artinya modul sudah layak pakai untuk warga belajar kelompok kecil, c) hasil analisis uji coba lapangan terbatas menyatakan sebesar 74% modul efektif, artinya modul layak pakai untuk kelompok luas. Revisi produk: tahap I, tahap II, tahap III mengalami revisi perbaikan. Penutup meliputi kajian produk yang sudah direvisi dan saran pengembangan produk. Kajian produk yang sudah direvisi meliputi: a) pengembangan modul pelatihan kewirausahaan dengan karakterisitik pendekatan design based research, b) pengembangan modul pelatihan kewirausahaan dilakukan dengan 6 (enam) fase khusus dari design based research, c) komponen modul menyangkut isi modul yang sesuai dengan harapan warga belajar kursus, d) komponen kegrafisan modul sesuai dengan standar. Saran pengembangan produk lebih lanjut meliputi: a). saran pemanfaatan modul perlu dikembangkan untuk semua kursus, b) saran diseminasi, produk diseminasikan pada lembaga kursus dan instruktur, c) pengembangan produk lebih lanjut berupa pengembangan modul disertai sarana media elektronik yng inovatif dan kreatif, d). rekomendasi hasil penelitian bahwa produk tersebut dapat digunakan setiap waktu dalam tempat yang berbeda.

Kompetensi guru dalam mengimplementasikan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) mata pelajaran TIK kelas VII di MTs Negeri Batu / M Faruq Ziat

 

Kata kunci: kompetensi, implementasi, KTSP, TIK. Sekolah merupakan penyelenggara pendidikan yang bersifat formal. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan ditentukan diantaranya oleh figur seorang guru. Keberadaan guru sangat diperlukan untuk mengimplementasikan KTSP dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. TIK adalah salah satu ilmu yang mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan jaman, sehingga guru perlu senantiasa meningkarkan kompetensinya khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Rancangan penelitian adalah deskriptif, jenis data kualitatif, mendeskripsikan kompetensi guru dalam mengimplementasikan KTSP. Subyek penelitian adalah kepala MTsN Batu dan guru TIK. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara dengan interpretasi data dari instrumen panduan observasi dan panduan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam hal membuka pelajaran tergolong kurang baik karena dari delapan komponen, guru hanya melaksanakan tiga komponen saja (42,5%). Dalam hal melaksanakan kegiatan pembelajaran tergolong cukup baik karena dari sepuluh komponen, guru melaksanakan tujuh komponen (70%). Dalam hal menutup pelajaran tergolong kurang baik karena dari keempat komponen, guru hanya melaksanakan satu komponen saja (25%). Dalam hal melaksanakan penilaian proses pembelajaran tergolong sangat baik karena guru melaksanakan semua komponen (100%). Secara keseluruhan, kompetensi guru dalam mengimplementasika KTSP tergolong kurang baik (59,37%). Disamping itu, kompetensi guru TIK dalam mengimplementasikan KTSP masih kurang karena selain di angkat oleh yayasan, gurunya juga masih muda jadi masih belum banyak pengalaman dalam hal mengajar. Selain itu, fasilitas yang dimiliki oleh lembaga untuk menunjang keberhasilan proses belajar mangajar juga masih kurang karena masih ada beberapa siswa yang tidak mendapatkan komputer. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat di sampaikan antara lain: (1) Bagi kepala Madrasah Negeri Batu; untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh guru TIK, perlu adanya peningkatan mutu baik itu melalui diklat-diklat, sertifikasi, study banding dan sebagainya. Disamping itu juga perlu adanya penambahan fasilitas dan sarana prasarana untuk menunjang keberhasilan dalam malaksanakan pembelajaran TIK. (2) Bagi guru TIK; sebelum melaksanakan pembelajaran, siswa perlu persiapan untuk menerima pelajaran baru, jadi perlu adanya motifasi baik itu dengan menerangkan tentang manfaat materi yang akan disampaikan atau yang lain. Disamping itu siswa juga perlu latihan baik sekolah atau di rumah untuk itu perlu adanya tambahan media baik berupa modul, CD interaktif atau yang lain. (3) Bagi peneliti lain; bagi peneliti yang tertarik untuk mengembangkan penelitian ini, selanjutnnya dapat mengembangkannya dengan membuat rancangan KTSP matapelajaran TIK.

Pengaruh cash, retained earning, depreciation, dan long term liability terhadap capital expenditure (Studi empiris di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010) / Muhammad Fikri

 

Kata kunci : cash, retained earning, depreciation, long term liability, capital expenditure, pecking order theory. Capital expenditure adalah salah satu bagian dari investasi yang sangat penting dalam perusahaan. Capital expenditure terkadang dikaitkan dengan kinerja perusahaan, karena diharapkan semakin tinggi capital expenditure maka semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan tersebut. Dana yang diperlukan untuk capital expenditure berasal dari berbagai sumber baik internal maupun eksternal. Alternatif pembiayaan internal adalah penggunaan saldo laba perusahaan dan penyusutan, sedangkan alternatif pembiayaan eksternal adalah melalui hutang dan melalui penerbitan saham. Tujuan penelitian ini adalah menguji sejauh mana capital expenditure dipengaruhi oleh cash, retained earning, depreciation, long term liability. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi karena disesuaikan dengan rumusan hipotesis yang menduga bahwa cash, retained earning, depreciation, long term liability berpengaruh terhadap capital expenditure. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang didapat dari data sekunder berupa jumlah ketersediaan kas, laba ditahan, penyusutan, hutang jangka panjang dan jumlah pengeluaran modal suatu perusahaan. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan automotoive and allied product yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2010. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan pengujian hipotesis secara parsial dan simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan variabel cash, retained earning, depreciation, long term liability terhadap capital expenditure, baik secara parsial maupun simultan. Jumlah cash, retained earning, depreciation, long term liability sebagai sumber pembiayaan internal dan eksternal dalam suatu perusahaan akan menyebabkan usaha monitoring pendanaan modal suatu perusahaan lebih meningkat,. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar penelitian selanjutnya dalam melakukan pengukuran besarnya penyusutan hendaknya tidak hanya berdasarkan pada nilai buku awal dan akhir periode tetapi juga memperhatikan perubahan metode penyusutan yang dipergunakan oleh perusahaan. Disisi lain, dalam melakukan pengukuran capital expenditure hendaknya tidak hanya berdasarkan pada nilai buku aktiva tetap awal dan akhir periode tetapi juga.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization (TAI) berbasis eksperimen untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-A MAN Rejotangan Tulungagung / Ahmad Asrori Nahrun

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif TAI, Aktivitas, Prestasi Belajar Berdasarkan hasil observasi awal di MAN Rejotangan kelas X-A peneliti menemukan beberapa hal berkaitan dengan pembelajaran, diantaranya 1) sebelum kegiatan pembelajaran dimulai siswa terlihat kurang siap, 2) guru jarang memanfaat-kan alat-alat praktikum yang ada ataupun media konstektual, 3) beberapa siswa terli-hat tidak fokus, 4) Siswa jarang bertanya tentang materi pelajaran karena mereka ku-rang tertarik dengan pembelajaran, 5) Siswa kurang bekerja sama dan tidak bertang-gung jawab terhadap tugasnya, 6) nilai rata-rata tes siswa terlihat masih rendah yaitu sebesar 55,30 dengan persentase ketuntasan sebesar 18,5%. Hal itu menunjukkan bah-wa aktifitas kooperatif dan prestasi belajar fisika siswa masih rendah, sehingga perlu dilakukan tindakan untuk memperbaiki hal ini. Berdasarkan permasalahan tersebut diterapkan model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif selama proses pembe-lajaran dan saling membantu untuk memproleh pemahaman. Pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif TAI yang bertujuan untuk meningkatkan aktivi-tas dan prestasi belajar fasika siswa. Model pembelajaran kooperatif TAI dalam pene-litian ini meliputi tahap placement test and team, teaching group, student creative, team study, whole class unit, fact test, team score and team recognition. Lokasi penelitian ini di Kab. Tulungagung dengan subjek penelitian siswa ke-las X-A MAN Rejotangan. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang ber-langsung dalam dua siklus. Pada siklus I subpokok bahasan yang diberikan adalah kuat arus, tegangan dan hambatan serta cara pengukurannya. Untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I, pemberian tindakan dilan-jutkan pada siklus II dengan subpokok bahasan hambatan jenis, hukum I dan II kirchoff. Teknik pengumpulan data aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung melalui 1) observasi dengan menggunakan lembar keterlaksanaan proses pembelajaran, 2) aktivitas belajar siswa melalui observasi dengan menggunakan lembar obser-vasi aktivitas kooperatif siswa, 3) data prestasi belajar diperoleh dari tes. Data tersebut dianalisis dengan perhitungan rata-rata dan persentase yang kemudian diartikan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan. Perolehan persentase pencapaian aktivitas siswa secara klasikal pada siklus I 89,33% dengan taraf baik pada siklus II meningkat menjadi 95,11 % dengan taraf baik. Prestasi belajar siswa meningkat dari data awal sebesar 55,30 menjadi 76,52 pada siklus I dan 77,11 pada siklus II. Siswa yang tuntas belajar juga mengalami peningkatan. Data awal menunjukkan siswa yang tuntas belajar sebanyak 5 anak, pada siklus I sebanyak 18 anak dan pada siklus II meningkat menjadi 24 anak. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan pada penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif TAI dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-A MAN Rejotangan Tulungagung.

"Analisis teknik bordir pada sutera" / Nur Indah Eka Jayanti

 

Kata kunci : Teknik bordir, sutera. Bordir merupakan seni menghias kain yang didapat dengan benang secara dekoratif pada kain dengan tujuan mempercantik dan memberi nilai tambah pada bahan tersebut. Dalam seni bordir terdapat 2 macam teknik dasar yaitu tusuk suji cair dan tusuk loncat, dan berkembang dalam variasi teknik bordir yang beraneka ragam yaitu bordir sasak, bordir granit, inggris, richelie, biji mentimun, aplikasi, bulu ayam dan terawang. Busana dengan hiasan bordir saat ini berkembang pesat dan sangat popular dimasyarakat banyak berbagai macam jenis bahan kain yang dapat dihias dengan seni bordir salah satunya adalah sutera. Sutera bertekstur, halus, lembut, namun tidak licin. Sutera bahan kain yang sangat rapuh dan sensitif, selain lembut bahan ini juga merupakan jenis serat alam yang sangat sulit dihias dengan berbagai macam hiasan sulaman. dengan ini terdapat satu hal yang menarik minat penulis untuk meneliti lebih jauh, yaitu bagaimana teknik bordir yang sesuai yang dapat diterapkan pada kain sutera? Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk menemukan teknik bordir yang sesuai untuk kain sutera. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Dengan penelitian yaitu 10 teknik bordir yang diterapan pada kain sutera. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Metode observasi dilakukan oleh panelis sebagai pengamat, penilai sifat atau mutu benda bedasarkan kesan subjektifitas untuk menguji sampel penelitian. Instrumen penelitian berupa lembaran pengamatan yang berisi indikator. Penilaian skala penilaian dibuat dengan rentang nilai 4 – 1. Setelah dilakukan pengamatan, hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 teknik bordir yang diterapkan pada kain sutera, hampir memenuhi kriteria hasil bordir yang baik, namun diantara 10 teknik bordir yang paling menunjukkan kriteria hasil bordir yang paling baik yaitu teknik bordir inggris dan richelie. dalam 10 teknik bordir yang sudah diterapkan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dari hasil penelitian ini Disarankan agar dalam menghias kain sutera menggunakan variasi teknik bordir yang lebih beragam dan disarankan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang teknik bordir yang lain.

Pengaruh faktor psikologis terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop merek Toshiba (Studi pada penggunan fasilitas Hostpot Cafe Tutu Demas Malang) / Dini Nur Zakiyah

 

Kata kunci: Faktor Psikologis, Proses Keputusan Pembelian Pada era globalisasi dan pasar bebas berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia. Persaingan antar merek setiap produk akan semakin ketat untuk merebut konsumen. Demikian pula yang terjadi pada pasar barang-barang elektronik seperti laptop. Laptop tergolong dalam barang mewah, dan laptop termasuk dalam pengambilan keputusan keterlibatan tinggi (high involvement). Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, dalam hal ini, faktor yang berasal dari dalam diri seseorang atau psikologi memiliki pengaruh terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) dan keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian laptop merek Toshiba pada pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. (2) Pengaruh faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) secara parsial dan simultan terhadap keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian laptop merek Toshiba pada pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. Variabel dalam penelitian ini, meliputi variabel bebas (X) yaitu faktor psikologis yang terdiri dari: motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepercayaan (X4), sikap (X5), sedangkan variabel terikat (Y) adalah proses keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas yang sedang menggunakan laptop merek Toshiba. Dalam penelitian ini jumlah pengguna fasilitas hotspot Cafe Tutu Demas yang sedang menggunakan laptop Toshiba rata-rata per hari adalah 20 orang sehingga perbulan adalah 600 orang. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin dengan kesalahan sampel sebesar 10%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 86 orang, namun peneliti mengembangkan menjadi 90 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan Skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1). Faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop Toshiba pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. (2). Faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) secara secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop Toshiba pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. (3). Faktor yang berpengaruh dominan terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop Toshiba pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang adalah motivasi. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Saran kepada konsumen, sebelum melakukan pembelian laptop diharapkan lebih selektif, selain itu lebih memperhatikan fitur-fitur yang memberikan kemudahan dan sesuai dengan kebutuhan. Bahkan sebelum memutuskan pembelian dapat mencari informasi melalui iklan, orang-orang terdekat, atau wiraniaga. (2) Saran kepada perusahaan, yaitu menambah pengetahuan kepada konsumen mengenai produk laptop Toshiba melalui iklan maupun pameran. (3) Saran kepada peneliti selanjutnya hendaknya lebih mengembangkan faktor-faktor yang dikaji dalam penelitiannya, karena faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli laptop Toshiba sangat kompleks dan tidak terbatas pada faktor psikologis yang ada dalam penelitian ini saja. Peneliti selanjutnya bisa mengembangkan penelitiannya misal faktor pribadi, faktor sosial, faktor budaya, dll. 

Tinjauan pengembangan kurikulum operasional pembelajaran biologi kelas 7 International Class Program (ICP) SD Laboratorium Universitas Negeri Malang / Komang Ayu Wirastini

 

Kata Kunci: pengembangan, kurikulum operasional, pembelajaran Biologi, SD Laboratorium Kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau disingkat KTSP. Sekolah dapat memperkaya kurikulum standar nasional dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) atau negara maju lainnya. Sekolah yang menggunakan kurikulum salah satu negara anggota OECD atau negara maju lainnya disebut sebagai SBI. Pada prinsipnya, SBI dapat memberikan jaminan mutu pendidikan dengan standar yang lebih tinggi dari Sekolah Standar Nasional (SSN) sehingga memiliki daya saing di forum internasional. Kritik paling mendasar adalah adanya kesalahan asumsi dari pengembang sekolah bahwa SBI harus fokus dalam pembelajaran berbahasa Inggris dengan menggunakan media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD. Fokus SBI adalah pengembangan kurikulum operasional (kurikulum standar nasional yang diperkaya dengan kurikulum salah satu negara anggota OECD atau negara maju lainnya). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeksripsikan pengembangan dan penerapan kurikulum operasional SD Lab UM pada pembelajaran Biologi serta lesson learn yang didapatkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat naturalistik alamiah. Data dianalisis dari hasil wawancara, observasi, dan analisis dokumen menggunakan metode triangulasi dan pandangan para ahli. Berdasarkan analisis data diperoleh simpulan sebagai berikut. Pertama, pengembangan kurikulum operasional SD Lab UM termasuk ke dalam model pengembangan administratif (line staff). Kedua, penerapan kurikulum operasional SD Lab UM dilakukan melalui pembelajaran inkuiri saintifik dan belajar tuntas untuk meningkatkan keterampilan proses siswa. Ketiga lesson learn yang dapat dipetik adalah kelebihannya a) SD Lab UM merupakan sekolah nasional yang mengembangkan kurikulum nasional yang diperkaya dengan kurikulum Cambridge, b) mencetak lulusan yang kompetitif di lingkungan nasional dan internasional, c) pengembangan kurikulum operasional dilakukan secara mandiri. Tantangan yang dihadapi adalah a) peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran yang berstandar internasional, b) peningkatan fasilitas sekolah sehingga akses belajar siswa semakin meningkat, termasuk di dalamnya pengadaan laboratorium sains dan ruangan berbasis ICT di setiap kelas, c) pemberdayaan kelompok kerja guru sebidang studi meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Autonomous vocabulary learning for improving vocabulary mastery: lexically-based task at MTs Annajah West Lombok-West Nusa Tenggara / Jupri

 

Thesis. Graduate program in English Language Education the State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D., (II) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Keywords: Autonomous vocabulary learning, lexically Based-Task. This study was intended to provide a contribution to the improvement of students’ vocabulary mastery in MTs. Annajah Sesela, Gunungsari District, West Nusa Tenggara Province. Based on the result in the pre-test, the researcher found that this class lack vocabulary mastery in English and the average score was 54. As the school is Islamic-based, students learn Arabic language more intensively and English is only learnt at school. The teachers seldom applied various activities in teaching English. English is not seen as individual words but collocation and colligation. To cope with those problems, the researcher employed Autonomous Vocabulary Learning Strategy through Lexically Based-Task. This research was designed as Pre-Experimental Research and was conducted without a control group. The group was given a pre-test before the experimental treatment. After the treatment was finished, the post-test was administered to see the achievement. The effectiveness of the instructional treatment was measured by comparing the average score of the pre-test and the post-test. The data of were collected through the result of the test, observation checklists, and field notes. The subjects were 30 students of the 2nd grade of MTs. Annajah Sesela, Gunungsari, West Lombok. The procedures of the study were implemented through four steps: (1) the students did extensive reading and searched ten lexicons, (2) the students reported the lexicons along with their lexico-grammatical units to share with the class, (3) the students wrote the lexicons and the sentences on the whiteboard while the audience recorded their friends’ lexicons, (4) the teacher provided feedback for any grammatical errors and assessment was done without scoring to help them achieve the indicators of the instruction. The findings of the study indicated that the average score of pre-test was 54.17 and the post-test was 78.08. It indicated that the mean score of the post-test is higher than that of pre-test (78.08 > 54.17). It means that this Autonomous Vocabulary Learning for Improving Vocabulary Mastery: Lexically-Based Task at Mts. Annajah West Lombok was effective in improving students’ vocabulary mastery. It is suggested that English teachers apply this strategy to increase students’ vocabulary mastery. For this institution, it has to utilize more creative methods in encouraging the students to learn English. For future researchers, the findings of the research can become a good reference to conduct better research.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) pada mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa kelas VIII-E SMP Lab. UM Malang / Suci Aprilia Wulyaningrum

 

Kata kunci: pembelajaran Numbered Head Together (NHT), kemampuan berpikir kritis, prestasi belajar Pendidikan merupakan usaha untuk menyiapkan peserta didik yang dilakukan dengan melakukan kegiatan pembelajaran, pengajaran dan latihan sebagai bekal hidup di masyarakat. Di SMP LAB UM Malang ibu Lilik Sulistiani, S.Pd, beliau dalam proses belajar mengajar masih belum optimal dalam penggunaan model dan media pembelajaran, guru lebih sering menggunakan ceramah dan tanya jawab, karena kurang adanya variasi dalam pembelajaran siswa menjadi bosan dan kurang berperan aktif dalam pembelajaran. Sehingga siswa kurang mampu untuk berpikir kritis karena peran siswa yang kurang aktif pada saat pembelajaran ekonomi berlangsung. Oleh karena itu dibutuhkan metode yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu metode pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa untuk aktif di kelas adalah metode pembelajaran kooperatif model NHT (Numbered Heads Together). Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah: (1) Untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran ekonomi, (2) Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, dan (3) Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, pedoman wawancara, lembar tes tertulis, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII-E taraf keberhasilannya adalah cukup. Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan sehingga taraf keberhasilan adalah sangat baik. Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan, pada siklus I ketuntasan belajar secara klasikal kurang dari 85%, dan pada siklus II ketuntasan belajar lebih dari 85%. Kesimpulannya, kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII-E SMP LAB UM Malang meningkat setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT. Prestasi belajar siswa kelas VIII-E SMP LAB UM Malang pada aspek kognitif meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran ekonomi. Adapun saran dari penelitian ini adalah: 1) Bagi guru ekonomi di SMP LAB UM Malang disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT, 2) Bagi sekolah, pembelajaran kooperatif model NHT dapat digunakan sebagai pertimbangan pengembangan strategi pembelajaran, dan 3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT dengan kelas, sekolah dan materi yang berbeda.

Sejarah perkembangan tradisi skilot (1985-2011) pada masyarakat Lekok - Pasuruan / Erza Sahrul Mubarok

 

Kata Kunci: Skilot, Tradisi, Masyarakat, Lekok Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya. Tidak hanya kebudayaan tetapi juga mempunyai kekayaan laut yang sangat luas. Kondisi ini memunculkan perkembangan kebudayaan masyarakat di wilayah pesisir. Kebuda-yaan pesisir sendiri di Indonesia memang tergolong unik dan menarik. Hal ini pula yang ada pada tradisi masyarakat di Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan yang keberadaannya sudah cukup lama dan pantas untuk diperhatikan lebih lanjut. Tradisi tersebut adalah Skilot atau Ski lumpur yang dilaksanakan ketika Hari Raya Ketupat tiba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana awal munculnya sebuah tradisi hingga perkembangannya sekarang. Hal ini dilakukan untuk memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah lokal dan budaya untuk memberikan wawasan bagaimana sebuah budaya itu muncul dan tenggelam dalam perkembangan zaman. Pokok dari penelitian ini diarahkan pada beberapa rumusan masalah, antara lain: 1) Bagaimanakah awal bermulanya tradisi olahraga Skilot, 2) Bagaimanakah sejarah perkembangan tradisi olahraga Skilot dari tahun 1985 sampai 2011, 3) Bagaimanakah peranan Skilot terhadap masyarakat Lekok serta kontribusinya terhadap pendidikan berkarakter. Tulisan ini merupakan kajian historis maka metode yang digunakan adalah metode historis dengan pendekatan kualitatif. Metode historis meliputi, pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Wawancara dengan sumber primer sangat membantu keterbatasan sumber tertulis. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) Kondisi wilayah dan lingkungan daerah Lekok sangat mendukung terciptanya sebuah budaya baru. Wilayah Lekok yang menempati posisi penting dalam sektor hasil laut membuat masyarakatnya bergantung pada hasil laut. Dari sinilah tercipta sebuah kegiatan unik dan menjadi sebuah tradisi. (2) Berawal dari kaum perempuan yang ingin meringankan beban suaminya dengan cara mencari kerang, kegiatan ini dinilai oleh sebagian tokoh masyarakat memiliki unsur permainan yang menarik untuk dilombakan. Akhirnya jadilah sebuah perlombaan yang dilaksanakan untuk memeriahkan Hari Raya Ketupat yang akhirnya menjadi obyek wisata menarik sejak tahun 1985. (3) Keberadaan Skilot sebagai tradisi masyarakat membawa dampak yang positif terhadap masyarakat, terutama ekonomi. Minat masyarakat yang begitu besar terhadap Skilot dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari penghasilan dengan menjadi pedagang-pedagang dadakan di sekitar arena. Skilot juga mengandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi pendidikan karakter bangsa.

Implementasi penilaian kinerja dan hubungannya dengan semangat kerja tenaga administrasi sekolah menengah atas Kota Batu / Dimas Novib Septino

 

Kata Kunci: implementasi penilaian kinerja, semangat kerja, tenaga administrasi sekolah menengah atas Penilaian kinerja merupakan prosedur yang umum diberlakukan dalam segala aktivitas organisasi yang menggunakan prinsip-prinsip manajemen modern, yang biasa disebut dengan Planning, Organizing, Actuating and Controling (POAC) sebagai pengukuran dari standar operasioanl yang telah dibakukan. Tidak terkecuali pada organisasi pemerintahan dan swasta yang bergerak di bidang pendidikan. Sekolah Menengah Atas merupakan organisasi pendidikan yang memiliki kompleksitas yang sama dengan organisasi lain dalam pengelolaan personalia di dalamnya. Personil didalamnya merupakan penunjang fungsi-fungsi strategis dalam perkembangan organisasi tersebut dimana mereka didukung banyak faktor dalam menjalankan pekerjaannya. Faktor internal seperti perilaku, karakter, moral dan lainnya selama ini dianggap sebagai penunjang utama keberhasilan tujuan suatu kelompok kerja. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan adanya hubungan penilaian kinerja dengan semangat kerja tenaga adminitrasi sekolah menegah atas di kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model deskriptif korelasional. Subjek yang diteliti adalah keseluruhan kepala sekolah sebagai penilai dan tenaga administrasi sekolah sebagai yang dinilai dari keseluruhan Sekolah Menengah Atas kota Batu yang berjumlah sembilan sekolah negeri dan swasta. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Data dianalisis dengan teknik survey dan pengujian hipotesis deskriptif. Pengecekan keabsahan data dengan statistik non parametris Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Atas Kota Batu mengimplementasikan penilaian kinerja terhadap tenaga administrasi sekolah dengan menggunakan beberapa metode antara lain skala penilaian grafik, peringkat alternasi, perbandingan berpasangan, distribusi paksa, insiden kritis, skala perilaku dan management by objectives (MBO). Setelah itu penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat penilaian kinerja dengan semangat kerja. Penilaian kinerja memberikan semangat yang positif bagi pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Pegawai akan berusaha lebih baik dalam menyelesaikan pekerjaannya ketika mendapat evaluasi yang dihasilkan dari penilaian yang dilakukan kepala sekolah. Sebagai saran, hendaknya Kepala Sekolah Menengah Atas Kota Batu meningkatkan implementasi peniaian kinerja untuk mendorong tingkat dan kualitas semangat kerja tenaga administrasi sekolahnya.

Monomorfisma dan epimorfisma pada modul semisimpel / Intan Nisfulaila

 

Kata Kunci : balikan kiri, balikan kanan, pemetaan linier, monomorfisma, epimorfisma, modul semisimpel Suatu modul dapat dipandang sebagai suatu perumuman dari ruang vektor dengan skalarnya adalah unsur-unsur pada suatu gelanggang. Dengan demikian beberapa sifat trivial pada ruang vektor menjadi non-trivial pada modul. Susanto (2001) membuktikan bahwa jika suatu homomorfisma grup mempunyai balikan kiri (kanan), maka homomorfisma tersebut injektif (surjektif). Namun konversnya tidak berlaku. Salah satu contoh penyangkalnya adalah homomorfisma grup dari ke adalah injektif (surjektif), tetapi tidak mempunyai balikan kiri (kanan). Berdasarkan ide Susanto, pada skripsi ini akan dikaji syarat cukup agar konversnya berlaku. Kesimpulan yang diperoleh dari skripsi ini yaitu dengan memandang grup sebagai suatu modul atas gelanggang bilangan bulat dan ruang vektor sebagai modul semisimpel atas gelanggang pembagian, dapat dibuktikan bahwa konversnya berlaku, yaitu jika suatu homomorfisma modul adalah injektif (surjektif), maka mempunyai balikan kiri (kanan).

Peran kepimpinan kepala sekolah dalam pengembangan sekolah (Studi kasus di SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang) / Pradita Rachmad Saputra

 

Kata kunci: Peran, Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepemimpinan merupakan salah faktor keberhasilan suatu organisasi. Hal ini telah banyak dibuktikan oleh sejarah peradaban manusia bahwa efektif tidaknya pemimpin akan menentukan kelangsungan hidup sekumpulan manusia atau masyarakat. Dalam lingkup pendidikan pemimpin merupakan kunci keberhasilan sebuah sekolah. SMA Negeri 1 Turen merupakan salah satu sekolah yang berkembang sehingga dapat dilihat apakah peran kepemimpinan kepala sekolah sudah terlihat. Kepala sekolah sebagai pemimpin apakah sudah mendelegasikan kewenangannya dengan baik sehingga sumber daya manusia yang ada di sekolah dapat dioptimalkan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Indikator berkembangnya sebuah sekolah adalah pencapaian sekolah dalam hal prestasi akademik dan non akademik. Berdasar uraian konteks penelitian yang dikemukakan diatas , maka fokus yang diangkat dalam penelitian ini adalah peran kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri 1 Turen. Dari fokus diatas dapat diuraikan menjadi sub fokus (a)Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai educator,(b) Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai leader, (c) Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai innovator, (d)Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai motivator. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Turen sebagai satu satunya sekolah menengah atas berstatus negeri di Kecamatan Turen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis studi kasus dengan landasan berpikir fenomenologis. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kesimpulan penelitian ini adalah Berdasarkan uraian tentang hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut (1) Kepala Sekolah sebagai leader dituntut untuk memiliki karakter sebagai pemimpin yang baik. (2)Kepala sekolah sebagai edukator juga menginginkan guru menjadi pendidik yang profesional.. (3)Dari hasil pengamatan memang inovasi kepala sekolah sangat menonjol pada perkembangan fisik bangunan.(4)Kepala SMAN 1 Turen dalam memotivasi bawahan cenderung dengan penghargaan dengan tindakan verbal yakni pemberian ucapan terima kasih secara individual maupun pengungkapan di depan publik, serta pengungkapan rasa bangga.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia pada mata pelajaran ekonomi kelas X-A di SMA Negeri 1 Ngantang / Dikha Lulus Arisanti

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Multimedia, Ekonomi Kelas X-A Pembelajaran di kelas sebagai interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa bertujuan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Interaksi belajar mengajar bertujuan mencapai tujuan pembelajaran yang sebelumnya telah digariskan dalam kurikulum. Dalam hal ini dibutuhkan strategi penyampaian pesan melalui pemilihan metode dan media yang tepat. Perkembangan teknologi yang begitu pesat mendorong perkembangan media pembelajaran. Untuk itu diperlukan media pembelajaran berbasis multimedia dalam kegiatan pembelajaran di sekolah khususnya pada pembelajaran mata pelajaran Ekonomi di kelas X-A di SMA Negeri 1 Ngantang. Tujuan penelitian pengembang ini adalah menghasilkan produk media pembelajaran berbasis multimedia (penggabungan teks, audio, video dan visual/grafis, program Wondershare Quiz Creator dan program hyperlink dalam program power point) pada mata pelajaran ekonomi yang dituangkan dalam program Microssoft Office Power Point 2007. Multimedia pembelajaran tersebut akan dikemas dalam CD. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ngantang. Subyek coba dalan desain uji coba adalah siswa kelas X-A SMA Negeri 1 Ngantang. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2010-2011. Instrumen pengumpulan data adalah berupa angket dan wawancara. Angket dipergunakan untuk mendapatkan skor penilaian dan saran/tanggapan. Angket yang disebarkan, merupakan angket dengan menggunakan skala lima. Data yang terkumpul meliputi data kulitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data saran dan tanggapan dan data kuantitatif yaitu data berupa skor penilaian. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif dan teknik statistik deskriptif. Hasil validasi ahli isi bidang studi menunjukkan media pengembangan secara umum berada ekspresi kualitas tinggi. Hal ini dilihat dari rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 80% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 80% ii menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Draf produk kemudian direvisi sesuai dengan tanggapan dan saran dari ahli materi dan selajutnya divalidasi oleh ahli media pembelajaran. Hasil validasi ahli media pembelajaran menunjukkan media pengembangan secara umum berada pada ekspresi kualitas tinggi. Hal ini dilihat dari rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 75,2% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 75, 2% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Draf produk kemudian direvisi untuk selanjutnya diuji cobakan secara perorangan. Hasil uji coba perorangan menunjukkan media pengembangan secara umum berada ekspresi kualitas tinggi. Berdasarkan penilaian 3 orang siswa secara keseluruhan diperoleh rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 87,3% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 87,3% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan media pengembangan secara umum berada ekspresi kualitas tinggi. Berdasarkan penilaian 9 orang siswa secara keseluruhan diperoleh rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 86,2% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 86,2% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Hasil uji coba lapangan menunjukkan media pengembangan secara umum berada pada ekspresi kualitas tinggi. Berdasarkan penilaian 36 orang siswa secara keseluruhan diperoleh rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 86% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualitas menunjukkan 86% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Tahap akhir untuk menghasilkan produk akhir adalah tahap penyempurnaan produk. Pada tahap ini pengembang mengembangkan sebuah blog sederhana yang dapat menjadi media bagi siswa untuk mengakses materimateri Mata Pelajaran Ekonomi. Blog ini mendukung pembelajaran karena akan meningkatkan kegiatan belajar siswa secara mandiri dan aktif.

Pengaruh High Energy Milling (HEM) dan lama pemanasan terhadap fasa kristal, kekerasan dan konstanta dielektrik senyawa ilmenit/AI / Ahmad Asrori Nahrun

 

Kata Kunci: High Energy Milling, Lama Pemanasan, Ilmenit, Kekerasan, Dielektrisitas. Ilmenit adalah senyawa yang berbasis besi dan titanium yang memiliki bentuk umum FeTiO3. Secara teori, Ilmenit mengandung 31.6% titanium (setara dengan 52.67% TiO2), 36.8% Fe dan oksigen yang seimbang. Ilmenit memiliki sifat diantaranya bahan paramagnetik, berwarna hitam, tak tembus cahaya dan rapuh. Ilmenit memiliki struktur kristal heksagonal, group ruang R-3, titik leleh 1050oC dan densitas 2400 kg/m2-2700kg/m2, Hardness (Vickers) VHN100=566-698 kg/mm2. Luasnya aplikasi material ini menuntut adanya metode sintesis yang relatif cepat. Pada penelitian ini mengunakan metode High Energy Milling (HEM) karena membutuhkan waktu sintesis yang relatif singkat dengan jumlah bahan yang cukup banyak, suhu rendah dan peralatan yang sederhana serta dapat mereduksi hingga ukuran nanometer. Metode HEM merupakan teknik unik dengan menggunakan energi tumbukan antara bola-bola penghancur dan dinding chamber yang diputar dan digerakkan dengan cara tertentu, metode High Energy Milling ini mampu mereduksi ukuran material sampai dibawah 10 nm. Bahan dasar untuk mensintesis senyawa FeTiO3/Al adalah Ilmenit alam hasil produk samping pengolahan biji timah pulau Bangka serta Aluminium murni. Pada awalnya masing-masing bahan ditimbang kemudian dicampur dan digerus menggunakan HEM dengan lama penggerusan divariasi. Setelah itu bahan di kompaksi dan di panasi dengan lama waktu yang berbeda-beda. Fase dan ukuran kristal sampel diuji menggunakan XRD, kekerasan bahan dikarakterisasi menggunakan Mikro Vikers, dan dielektrisitas dikarakterisasi menggunakan kapasitansimeter digital. Hasil penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa ilmenit alam tidak murni tersusun oleh FeTiO3 sehingga ketika ditambahkan Al, di HEM dan dilakukan pemanasan muncul fasa yang cukup banyak. Diluar itu penggerusan HEM telah dapat membentuk fasa baru dan mereduksi ukuran hingga skala nano. Hasil uji kekerasan bahan menunjukkan bahwa semakin lama waktu pemanasan dan semakin lama HEM dapat meningkatkan kekerasan senyawa FeTiO3/Al. Konstanta dielektriknya juga dipengaruhi oleh lama waktu pemanasan dan lama HEM ditunjukkan dengan grafik yang cenderung naik.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan nasabagh dalam menggunakan jasa perbankan pada Bank Syariah di kota Mojokerto / Lisya Purwahiasti

 

Kata kunci : faktor-faktor pengambilan keputusan, nasabah bank syariah Bank syariah muncul sebagai pertimbangan baru dalam memilih jasa perbankan yang diharapkan akan menjadi stabilisator perekonomian. Harapan ini disebabkan oleh komitmen perbankan Islam atas penghapusan pembiayaan hutang dengan mekanisme bunganya yang memberatkan perekonomian. Selain itu sistem ini membuat struktur kewajiban dan asset secara simetris dihubungkan melalui kesepakan pembagian keuntungan dan tidak adanya biaya bunga yang ditetapkan. Alokasi efisiensi terjadi disebabkan alternative investasi dengan tegas dipilih berdasarkan pada produktivitas dan tingkat ekspektasi return. Mojokerto adalah kota yang berpotensi untuk dilakukannya pengembangan bank syariah. Mojokerto adalah kota yang strategis karena letaknya yang cukup strategis, 50 km arah barat Kota Surabaya, daerah ini menjadi hinterland kota metropolitan dan termasuk dalam Gerbang kertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Daerah-daerah ini merupakan kelompok kawasan yang menyangga Kota Surabaya. Sebagai daerah penyangga, roda perekonomian wilayah ini sangat dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi di Surabaya. Jumlah penduduk di kota Mojokerto yaitu sejumlah 112.547 jiwa dengan luas wilayah 1.646,5 Ha sehingga kepadatan penduduknya 69 jiwa-Ha. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: (1) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan nasabah dalam memilih menggunakan jasa perbankan syariah di kota Mojokerto. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Aspek-aspek yang melatarbelakangi pengambilan keputusan, yaitu produk yang menarik, pelayanan yang memuaskan, reputasi bank yang baik, kualitas manajemen syariah yang profesional, fasilitas yang mendukung kinerja bank, motivasi agama, dorongan lingkungan sekitar, lokasi yang strategis, suasana yang islami pada bank syariah promosi yang menarik, keyakinan terhadap nilai-nilai positif sistem syariah dan sikap mendukung sistem syariah, dapat direduksi atau diringkas menjadi 3 faktor yang lebih sederhana; (2) Faktor 1 : Faktor Keyakinan dan Fasilitas memberikan sumbangan sebesar 14,8154%, faktor 2 : Faktor Eksternal memberikan sumbangan sebesar 13,936%; faktor 3 : Faktor Produk dan Pelayanan memberikan sumbangan sebesar 10,441%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada pihak bank harus lebih memperhatikan hal tersebut sejalan dengan perkembangan Bank Syariah agar lebih mampu memenuhi kebutuhan nasabahnya. Bank Syariah perlu lebih memperluas jangkauan pasarnya dan tidak hanya mengandalkan ”spiritual market” yang hanya diisi oleh segmen syariah loyalist, yaitu mereka yang memilih bank semata-mata hanya karena alasan agama. Sehingga nasabah lebih dapat menerima keberadaan Bank Syariah secara lebih rasional denganpertimbangan yang sama dengan Bank Konvensional yang melihat kualitas pelayanan serta benefit lainnya yang ditawarkan daripada hanya dengan melakukan pendekatan emosional. Kepada peneliti selanjutnya yang tertarik mendalami hasil penelitian ini disarankan agar melakukan penelitian dengan menambah atau mencari aspekaspek lain yang belum diteliti agar dapat menghasilkan faktor-faktor yang lebih lengkap. Penulis juga menyarankan untuk menambah jumlah sampel agar lebih dapat mewakili populasi yang sebenarnya di lapangan serta memperluas daerah penelitian agar hasil penelitian selanjutnya dapat digeneralisasikan untuk jangkauan yang lebih luas.

Perbedaan hasil belajar antara penerapan metode pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) dengan Student Facilitator and Explaining (SFAE) pada kompetensi memahami ketentuan penggunaan TIK siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang / Muhammad In'am Eka Pramuka

 

Kata Kunci: Student Team Achievement Divisions (STAD), Student Facillitator And Explaining (SFAE), Hasil Belajar, Memahami Ketentuan Penggunaan TIK. Hasil belajar pada Standar Kompetensi Memahami Ketentuan Penggunaan TIK masih kurang optimal. Hal ini disebabkan antara lain penggunaan metode pembelajaran yang kurang cocok. Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di SMAN 9 Malang salah satunya menggunakan metode pembelajaran Student Facillitator And Explaining (SFAE). Metode ini menuntut siswa menjadi fasilitator di depan kelas, namun rata-rata siswa kurang mampu menjalankannya dengan baik dan merasa terbebani. Agar siswa merasa senang dan tertarik untuk belajar, perlu dibangun pembelajaran dengan suasana menyenangkan bagi siswa salah satunya dengan menggunakan metode Student Team Achievement Divisions (STAD). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa menggunakan metode STAD pada Kompetensi Memahami Ketentuan Penggunaan TIK, mendeskripsikan hasil belajar siswa menggunakan metode SFAE pada Kompetensi Memahami Ketentuan Penggunaan TIK, dan mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa antara penerapan metode STAD dengan metode SFAE pada Kompetensi Memahami Ketentuan Penggunaan TIK . Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian menggunakan prates (pretest) dan pasca tes (posttest) atau pretest-posttest control group design. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan variabel terikat yaitu hasil belajar. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang yang berjumlah 9 kelas. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik sampling kelompok (cluster). Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kedua metode pembelajaran yaitu uji-t. Setelah dilakukan pembelajaran menggunakan metode STAD, didapatkan nilai rata-rata hasil belajar adalah 86,04 dengan nilai tertinggi adalah 93,67 dan nilai terendah adalah 80,33. Sedangkan pembelajaran menggunakan metode SFAE didapatkan didapatkan nilai rata-rata hasil belajar adalah 81,37dengan nilai tertinggi adalah 90,11 dan nilai terendah adalah 73,56.. Berdasarkan analisis data uji–t dua pihak diperoleh nilai thitung (4,779) lebih besar dari ttabel (1,992) dan nilai Sig. (0,000) kurang dari 0,05 maka didapatkan kesimpulan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa yang menggunakan metode STAD dengan yang menggunakan metode SFAE pada Kompetensi Memahami Ketentuan Penggunaan TIK.

Analisis perbandingan kesehatan perbankan antara penerapan prinsip syariah dan konvensional periode 2008-2010 / Mohamad Bisri

 

Kata Kunci: Capital Adequacy Ratio (CAR), Bad Debt Ratio (BDR), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), rasio BOPO, Loan to Deposit Ratio (LDR), Prinsip Syariah, Prinsip Konvensional. Perbankan syariah mengalami perkembangan yang semakin pesat dari masa ke masa, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya bank-bank syariah baru yang bermunculan ditengah kondisi ekonomi yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada kinerja keuangan yang ditunjukkan antara bank syariah dan bank konvensional. Adapun tolak ukur yang dijadikan standard dalam pengukuran adalah sistem penilaian yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank melalui beberapa indikator seperti rasio permodalan yang ditunjukkan oleh Capital Adequacy Ratio (CAR), rasio kualitas aktiva produktif yang ditunjukkan oleh Bad Debt Ratio (BDR), rasio rentabilitas yang ditunjukkan oleh Return on Total Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan rasio BOPO, serta rasio likuiditas yang ditunjukkan oleh Loan to Deposit Ratio (LDR). Populasi dalam penelitian ini adalah perbankan syariah dan perbankan konvensional yang ada di Indonesia antara tahun 2008 hingga 2010. Terdapat 132 lembaga perbankan sebagai populasi dalam penelitian ini. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Dari metode tersebut diperoleh tiga sampel bank umum syariah, yaitu PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah dan PT Bank Muamalat Indonesia, adapun sampel dari perbankan konvensional adalah PT Bank Rakyat Indonesia, PT Bank Central Asia dan Bank Mandiri Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari website masing-masing sampel selama periode 2008-2010. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan komparatif. Distribusi data dalam penelitian ini tidak normal, sehingga pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji statistik non-parametrik dengan Wilcoxon Signed Rank Test, yang hasilnya terdapat perbedaan yang signifikan antara penerapan prinsip perbankan syariah dan konvensional ditunjukkan dengan nilai ties keduanya nol (0) dan memiliki nilai signifikan kurang dari 5%. Saran yang dapat diberikan penulis dalam penelitian ini adalah untuk peneliti selanjutnya diharapkan mampu menerapkan metode penilaian secara sempurna atas kesehatan suatu perbankan, serta mengambil sampel secara proporsional.

Penerapan model pembelajaran inkuiri menggunakan mind map untuk meningkatkan metakognisi dan hasil belajar siswa kelas X-I SMA Negeri 7 Malang / Ema Aprilisa

 

Kata Kunci: inkuiri, mind map, metakognisi, hasil belajar Metakognisi (metacognition) merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell yang berarti berpikir tentang proses berpikir itu sendiri. Proses belajar yang belum memperhatikan metakognisi siswa merupakan salah satu penyebab hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan hasil observasi pada proses pembelajaran Biologi yang berlangsung di kelas X-1 SMA Negeri 7 Malang, terlihat bahwa proses pembelajaran belum memperhatikan metakognisi siswa dan hasil belajar siswa masih rendah. Model pembelajaran yang diterapkan untuk memperbaiki metakognisi dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran inkuiri dengan mind map. Model pembelajaran inkuiri dilaksanakan berdasarkan tahapan menurut Llewellyn (2002) dengan modifikasi yaitu setiap kelompok merumuskan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran, siswa merencanakan prosedur sekaligus mencari informasi mengenai pemecahan masalah atau pertanyaan yang telah diajukan secara berkelompok, lalu siswa menyimpulkan hasil belajar dalam bentuk mind map. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Analisis data, evaluasi dan refleksi mengenai matakognisi dan hasil belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa 35 orang yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Berdasarkan data yang diperoleh saat dilakukan tindakan, terlihat bahwa terjadi peningkatan proses belajar. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan rata-rata nilai laporan hasil pengamatan dan diskusi siswa dari 49,38 pada siklus I menjadi 80,79 pada siklus II. Rata-rata nilai mind map yang dibuat siswa siswa juga meningkat dari siklus I sebesar 68,06 menjadi 73,41 pada siklus II. Metakognisi siswa meningkat dari sklus I ke siklus II yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata nilai metakognisi siswa yaitu 33,17 pada siklus I menjadi 36,09 pada siklus I. Peningkatan metakognisi siswa seiring dengan peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata nilai tes hasil belajar kognitif pada siklus I yaitu 74,09 dengan persentase ketuntasan kelas sebesar 62, 97% menjadi 78,23 dengan persentase ketuntasan kelas sebesar 68,57% pada siklus I. Kesimpulan penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan model pembelajaran inkuiri menggunakan mind map dapat meningkatkan metakognisi dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 7 Malang.

Efektivitas penerapan metode cooperative learning strategi fighting question untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School Malang / Mardiah Isnianah

 

Kata kunci: Cooperatif Learning, Strategi Fighting Question, Hasil Belajar Siswa Metode pembelajaran ekonomi di SMA Brawijaya Smart School yang sering digunakan guru adalah ceramah dan terkadang guru menunjuk beberapa peserta didik untuk menjawab pertanyaan. Peserta didik cenderung hanya mendengar materi yang disampaikan oleh guru dan tidak mempunyai keinginan untuk menyampaikan ide kreativitasnya sendiri Berkaitan dengan itu, maka perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat menstimulus keinginan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu metode kooperatif learning strategi Fighting Question. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui secara empiris efektivitas penerapan metode cooperative learning strategi fighting question dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan juga bagaimanakah perbandingannya dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan model ceramah dan tanya jawab pada mata pelajaran ekonomi kelas X pokok bahasan permintaan dan penawaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasy Experiment dengan model pretest-postest nonequivalent control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Brawijaya Malang tahun ajaran 2011/2012. Teknik pengambilan sampel adalah teknik simple random sampling. Sampel yang terpilih adalah siswa kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran model ceramah dan tanya jawab dan kelas X-5 sebagai kelas eksperimen yang menerapkan metode cooperatif learning strategi Fighting Question. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik uji-t menggunakan Independent-Sample T-Test. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis terhadap gain score menunjukkan nilai signifikansi 0,009<0,05. Hal ini berarti metode cooperatif learning strategi Fighting Question lebih efektif dibandingkan metode ceramah dan tanya jawab dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar metode cooperative learning strategi Fighting Question. dijadikan salah satu alternatif pilihan bagi guru bidang studi ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa, juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, untuk menerapkan pada materi yang lain dan dengan sampel yang lebih luas sehingga hasil penelitian bisa berlaku lebih general.

Efisiensi antara rancangan acak kelompok dengn rancangan acak lengkap dalam rancangan percobaan pengujian varietas padi di desa Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat / Edwin Rahman

 

Kata Kunci : Rancangan Acak Lengkap, Rancangan Acak Kelompok, Keefisienan Nisbi. Rancangan percobaan dapat diartikan sebagai kegiatan berupa pemikiran dan tindakan yang disiapkan secara kritis dan seksama mengenai berbagai aspek yang dipertimbangkan dan sedapat mungkin diupayakan kelak dapat diselenggarakan dalam suatu percobaan dalam rangka menemukan sesuatu pengetahuan baru. Ada beberapa macam metode yang bisa diterapkan dalam menyusun rancangan percobaan, antara lain rancangan acak lengkap, rancangan acak kelompok, rancangan acak kelompok lengkap, dan rancangan bujur sangkar latin. Setiap metode mempunyai masing masing kelebihan dan kelemahan dalam penerapannya. Skripsi ini hanya membahas tentang rancangan acak lengkap dan rancangan acak kelompok, karena dua rancangan inilah yang dapat diterapkan pada data dengan kondisi dimana banyaknya unit pecobaan dan perlakuan tidak sama. Rancangan acak lengkap mempunyai kelebihan yaitu pelaksanaan dan analisis datanya yang mudah, sedangkan kelebihan rancangan acak kelompok adalah galat yang dihasilkan rancangan acak kelompok dapat lebih diminimalisir daripada galat yg dihasilkan rancangan acak lengkap. Pada rancangan acak lengkap dan rancangan acak kelompok dengan memperhatikan keefisienan nisbi akan ditentukan diantara rancangan acak lengkap dan rancangan acak kelompok yang mana yang lebih efisien digunakan dalam mengolah data rancangan percobaan. Berdasarkan hasil perhitungan keefisienan nisbi pada rancangan percobaan varietas padi di Desa Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat, diperoleh nilai keefisienan nisbinya sebesar 151.094% yang berarti bahwa rancangan acak kelompok lebih efisien dibandingkan dengan rancangan acak lengkap.

Pengembangan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat untuk anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang / Dwi Oktiviandani

 

Kata kunci: Pengembangan, Fisik Motorik Halus, Pembuatan, Boneka Ulat Pertumbuhan dan perkembangan fisik motorik juga merupakan salah satu perkembangan anak yang perlu mendapat stimulasi yang baik, karena setiap kegiatan yang anak lakukan selalu melibatkan motorik, baik motorik halus maupun motorik kasar. Motorik halus digunakan anak saat melakukan aktivitas ringan, seperti bermain mobil-mobilan, membangun balok, menggambar, dll. Jika motorik halus ini tidak berkembang optimal maka akan sangat mengganggu aktivitas anak. Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi terhadap anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat belum pernah dilaksanakan dan merasa perlu untuk dilaksanakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat yang diharapkan mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak. Prosedur pengembangan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat ini adalah: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) Melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) Mengembangkan bentuk produk awal, 4) Melakukan uji coba kelompok kecil dengan 6 subjek, 5) Melakukan revisi terhadap produk awal, 6) Melakukan uji lapangan utama dengan 40 subjek, 7) Melakukan revisi produk. Intrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Hasil pengembangan ini adalah 90% anak mudah melakukan pembuatan boneka ulat, 100% anak senang melakukan pembuatan boneka ulat dan 100% anak tidak berbahaya melakukan aktivitas pembuatan boneka koran. Berdasarkan data hasil pengembangan fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat, maka dapat disimpulkan bahwa pembuatan boneka ulat mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat diujicobakan kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya untuk menguji tingkat keefektifan dari produk yang dikembangkan. Berdasarkan hasil observasi selama penelitian dan pengembangan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat, dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik, kognitif, bahasa, agama, kreativitas, dan sosial-emosional anak.

Upaya pengembangan industri batik Pamekasan (Studi kasus pada industri batik di desa Klampar Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan) / Dwi Fajar Moerdiono

 

Kata Kunci : Modal, Pemasaran, SumberDayaAlam, Kewirausahaan, PeranPemerintah, Batik merupakansalahsatu icon di KabupatenPamekasansehinggadicantumkan “Pamekasan Kota Batik”.Salah satualasankenapaDesaKlampar di pilihmenjadiobjekpenelitiankarenadesainimerupakansentra batik paling besar di KabupatenPamekasan.Akan tetapipadakenyataannyaDesaKlamparkurangmendapatkanperhatiandaripemerintahsetempat.Padatahun 2010 DesaKlamparpernahmengajukandiriuntukdijadikanwisatakampoeng batik.Tapisampaisaatinimasihbelumterealisasidanjugamasihbelumditanggapiolehpemerintahsetempat. Masalahdalampenelitianiniadalah (1) Bagaimanaupayapengembangan batik di DesaKlamparPamekasanjikaditinjaudariaspek modal, pemasaran, sumberdayamanusia, dankewirausahaan?(2) Bagaimanausahapemerintahdalammengembangkanindustri batik diwilayahPamekasan? Dari hasilpenelitiandapatdisimpulkanbahwasecaraumumperkembanganindustri batik diPamekasaninidipengaruhiolehpengrajin batik yaitukreatifitaspengrajin batik, produk batik Madura yang mempertahankankualitas yang baik, dankepedulianpengrajinuntukmelestarikan batik. Selainitu, dukunganpemerintahdalammengembangkanindustri batik yang adadiPamekasan, dalamaspekpermodalan, pemasaran.SDM, dankewirausahaan.Selainfaktor yang berasaldaripelakuindustri batik, terdapatfaktor yang bersifatoperasionalyaknidalampemasaran batik Madura telahmenggunakanfasilitas internet danpemerintahjugaaktifdalammempromosikan batik Pamekasansehingga batik Pamekasandikenalbaikolehmasyarakatkhususnyadiluar Madura, untukproduksitersedianyabahanbakumembatik yang mudahdiperolehjugamendukungperkembanganindustri batik diPamekasansertaketersediaantenagakerjapembatik yang banyakdiPamekasanmenjadikanpermintaanakan batik Pamekasanterpenuhi, danbudayadidalamkehidupankeluargapengrajin batik yang akanmenurunkanketrampilandankeahlianmembatiknyakepadagenerasiberikutnya, sertaperhatianpemerintahdanbudayawandalammelestarikandanmengembangkankesenian batik ikutmendorongperkembanganindustri batik diPamekasan.

Penyusunan laporan keuangan UMKM Sari Apel di kota Batu berbasis pernyataan standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (PSAK ATAP) (Studi kasus pada Brosem Agro Industri, Ambata Agro Mandiri, dan CV Catur Surya Putra) / Ninik Fila Sari

 

Kata Kunci: Laporan Keuangan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah, dan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik. Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan yang bermanfaat bagi pemakai dalam pengambilan keputusan serta pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepada atasan. Diterbitkannya SAK ETAP oleh regulator merupakan suatu pedoman yang wajib ditaati dalam rangka melakukan kegiatan di bidang akuntansi dalam rangka menyusun laporan keuangan. Selain itu, hal ini juga akan dapat membantu untuk mengurangi kegagalan pasar dan mencapai tujuan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi laporan keuangan UMKM sari apel, menganalisa asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan UMKM sari apel, menganalisa penerapan PSAK ETAP pada penyusunan laporan keuangan UMKM sari apel, dan menganalisa kendala yang dihadapi UMKM dalam menerapkan PSAK ETAP. Sampel dalam penelitian ini adalah tiga UMKM sari apel di Kota Batu yang berbeda-beda tingkatan, yaitu Brosem Agro Industri yang merupakan usaha menengah, Ambata Agro Mandiri yang merupakan usaha kecil, dan CV Catur Surya Putra yang merupakan usaha mikro. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode lapangan, yaitu dengan melakukan peninjauan langsung pada tiga UMKM sari apel di Kota Batu. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara pada pihak manager atau bagian keuangan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Brosem Agro Industri, Ambata Agro Mandiri, dan CV Catur Surya Alam sudah menyelenggarakan laporan keuangan. Namun, laporan keuangan yang dibuat masih dalam bentuk sederhana dan berbasisi kas. Penerapan PSAK ETAP pada UMKM sari apel dalam penyusunan laporan keuangan sangatlah dimungkinkan, meskipun ada beberapa kendala yang dihadapi, yaitu rendahnya pengetahuan SDM, belum adanya sosialisasi, dan pelatihan dalam implementasi PSAK ETAP. Oleh karena itu, saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah (1) bagi UMKM sari apel sebaiknya menerapkan PSAK ETAP mulai dari sekarang, (2) melaksanakan sosialisasi dan pelatihan implementasi PSAK ETAP untuk UMKM, dan (3) agar penelitian lebih akurat dan mewakili, penelitian selanjutnya dapat menambahkan sampel UMKM

Pengaruh kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi Dewan Komisaris Independen dan ukuran komite audit terhadap manajemen laba pada perusahaan merger atau akuisisi di BEI tahun 2007-2009 / Irna Sa'diayatul Mukhlishoh

 

Kata Kunci : Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Dewan Komisaris Independen, Komite Audit, Manajemen Laba. Manajemen laba merupakan perilaku opportunistik yang dilakukan oleh manajer untuk kepentingan dirinya sendiri dalam memperoleh keuntungan. Manajemen laba dilakukan pada periode merger atau akuisisi biasanya dilakukan dengan menaikkan nilai laba perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai saham perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menarik para investor agar menanamkan modalnya di perusahaan. Oleh karena itu, mekanisme corporate governance yang baik diperlukan agar dapat digunakan sebagai alat untuk mengurangi adanya manajemen laba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mekanisme corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan ukuran komite audit terhadap manajemen laba yang diproksikan dengan discretionary accrual. Kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan ukuran komite audit merupakan mekanisme corporate governance yang digunakan dalam penelitian ini. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 15 perusahaan yang diperoleh berdasarkan metode purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional, proporsi dewan komisaris independen dan ukuran komite audit berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut mempunyai peranan penting untuk mengurangi tindakan manajemen laba. Akan tetapi, kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini dikarenakan adanya kepemilikan saham yang lebih besar dari pihak lain, sehingga kepemilikan manajerial menjadi tidak penting dalam pengambilan kebijakan perusahaan. Saran penelitian ini bagi perusahaan untuk memperhatikan tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajer agar tidak merugikan pihak investor. Selanjutnya, para investor disarankan agar memperhatikan perusahaan yang menerapkan mekanisme corporate governance sebelum membuat keputusan investasi. Kemudian, untuk penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan periode penelitian pada saat kondisi ekonomi stabil. Selain itu, menambah variabel lain yang menunjang implementasi GCG pada suatu perusahaan seperti ukuran dewan direksi, ukuran perusahaan, keberadaan corporate secretary dan komite-komite penunjang lainnya seperti komite nominasi dan komite remunerasi.

Using comic strips in process-genre based approach to improve the ability of the twelfth graders of MAN Bangil in writing narrative texts / Fika Megawati

 

Thesis, Graduate Program in English LanguageTeaching, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Mohammad Adnan Latief, M.A., Ph.D. (2) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Key words: writing, media, comic strips, narrative, action research This study was conducted to improve the ability of the twelfth graders of MAN Bangil in writing a narrative text. Comic strips were proposed to be applied in the teaching of writing not only because they are appealing, but also because it is a good medium to introduce and present the content, organization and the grammatical features of narrative texts. In addition, some previous studies found that comic strips were able to stimulate the students to be more actively involved in the writing activity, so their writing ability could be enhanced. This study used collaborative classroom action research design. The researcher and her collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, setting the criteria of success, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subjects of this study were XII language program students of MAN Bangil of the 2011/2012 academic year. This study was conducted by following the procedures of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The main activity of the teaching and learning process was (1) building knowledge of the field related to the narrative texts and their features (including grammar theory of Past Tense, Direct & Indirect Speech), (2) modelling of the narrative text and writing narrative text using comic strips, (3) joint construction of the text (collaborative writing with group and pairs), and (4) independent writing as the writing test. In the first meeting, the students were given a narrative text then the students analyzed the generic structure and language features used in the text. After that the researcher gave comic strips followed by a modelling on how to write a narrative text based on the story in the comic strips. In collaborative writing, the students wrote a narrative text collaboratively in group and in pairs by following the procedures in modelling. In writing test, the students wrote a narrative text individually and the scores were used as their writing achievement. The result of the study showed that the use of comic strips through writing process can improve the students’s ability in writing a narrative text. The percentage of the students achieving the score above minimum passing criterion (70) had improved from only 9.70% (3 students out of 31 students) in the preliminary study to 61% (19 students out of 31 students) in Cycle 1 and to 100% in Cycle 2 (31 students). Besides, the score of each aspect; content, organization, vocabulary, grammar, and mechanics, also improved. Based on the findings of the study, it is suggested for English teachers to implement comic strips in teaching writing, especially narrative texts. In implementing the comic strips, the teachers should vary in the way how they teach students so that the students will not get bored. It is also suggested that the teachers be selective in choosing the appropriate story or stories for students to make them focused and interested in joining the class. For further researchers, it is suggested to use comic strips for different text types, skill, and on different grades and levels of education. In addition, further researchers are suggested to provide comic strips with more appropriate mechanics aspect, primarily capitalization in the speech bubbles.

Analisis kesesuaian Buku Sekolah Elektronik (BSE) IPS sekolah dasar kelas IV dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan se gugus Madyopuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Puji Astuti

 

Kata Kunci: analisis, BSE IPS, KTSP, Kota Malang Banyaknya buku yang beredar termasuk buku IPS memberikan banyak pilihan bagi para pengguna buku untuk menentukan buku yang digunakan sebagai panduan dalam belajar. Selain menguntungkan juga menimbulkan permasalahan baru bagi dunia pendidikan. Permasalahan tersebut, guru maupun siswa sering bingung untuk menentukan buku yang sesuai dengan kurikulum untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Sering dijumpai beberapa konsep dalam buku ajar yang satu berbeda dengan buku yang lain, evaluasi yang ada dalam buku ajar juga tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum. Selain itu gambar ilustrasi yang ditampilkan dalam buku ajar tidak sesuai dengan materi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang meliputi format sajian dan kesesuaian isi dalam BSE. Kesesuaian isi yang dianalisis meliputi, kesesuaian isi materi BSE IPS SD Kelas IV dengan KTSP, kesesuaian media gambar yang disajikan BSE IPS SD Kelas IV dengan materi, dan kesesuaian sistem evaluasi BSE IPS SD Kelas IV dengan sistem evaluasi pada KTSP. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi (Content Analysis) karena yang menjadi objek kajian dalam penelitian adalah dokumen yang berupa buku IPS SD kelas IV. Hal yang inti dari suatu analisis konten adalah mencari tahu isi dan maksud suatu teks. Sumber data dari penelitian ini adalah 2 buah BSE IPS SD kelas IV yang digunakan di Gugus Madyopuro. Pengambilan data dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan instrumen penelitian. Teknik analisis kuantitatif yang dapat digunakan dalam analisis isi anatara lain distribusi frekuensi. Upaya untuk menjamin keabsahan datanya digunakan teknik trianggulasi dengan sumber. Kegiatan analisis data dimulai dari merumuskan masalah, identifikasi buku ajar, penyusunan instrumen penelitian, pengumpulan data, analisis data, penarikan kesimpulan, dan pelaporan. Berdasarkan hasil amalisis peneliti terhadap BSE IPS Kelas IV yang ditulis oleh I.S Sadiman dan Sehendy Amalia diperoleh hasil sebagai berikut. Kesesuaian format sajian bukunya tergolong baik atau sebesar 66,67 %, kesesuaian media gambar yang ditampilkan tergolong sangat baik atau sebesar 96,72% , kesesuain isi materi dengan KTSP tergolong baik atau sebesar 74,6%, ada 17 materi/indikator yang tidak termuat dalam BSE IPS kelas IV yang ditulis oleh I.S Sadiman dan Shendy Amalia, yaitu sebesar 25,4%. Sesuai hasil ini maka, materi dalam BSE IPS Kelas IV ini tidak sesuai dengan KTSP. Kesesuaian sistem evaluasi dengan KTSP yang ada dalam buku tergolong baik atau sebesar 66,67%. Berdasarkan hasil amalisis peneliti terhadap BSE IPS Kelas IV yang ditulis oleh Radjiman dan A.Triyono diperoleh hasil sebagai berikut. Kesesuaian

Analisis rasio keuangan sebagai penilaian kinerja keuangan pada PT Bank NTB Cabang Sumbawa / Linda Rista Rianty

 

Analisis struktural semiotik kisah Ashabul Kahfi di dalam surat al-Kahfi / Muhammad Arif Nasruddin

 

Kata kunci: analisis struktural semiotik, kisah ashabul kahfi, surat al-kahfi. Kisah Ashabul Kahfi adalah salah satu kisah yang menakjubkan yang dituturkan di dalam Al-Qur’an, tepatnya di dalam surat Al-Kahfi. Dari beberapa kisah yang dituturkan di dalam surat Al-Kahfi, kisah Ashabul Kahfi merupakan kisah yang pengisahannya dominan. Untuk memperjelas kisah Ashabul Kahfi dan menggali makna-maknanya, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pisau analisis struktural semiotik. Dengan menganalisis struktur kisah tersebut, akan diketahui siapakah tokoh-tokohnya, bagaimana alur ceritanya, dan semua yang berhubungan dengan struktur kisah. Sedangkan dengan analisis semiotik akan digali makna-makna yang terkandung dibalik tanda-petanda yang ada dalam kisah tersebut. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah 1) memaparkan struktur kisah Ashabul Kahfi dengan menggunakan analisis struktural; 2) memaparkan hasil analisis semiotik kisah Ashabul Kahfi dengan teori semiotik; 3) mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Ashabul Kahfi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian yang berupa teks kisah Ashabul Kahfi diperoleh dari Al-Qur’an dan beberapa sumber lainnya yang menceritakan kisah Ashabul Kahfi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia “Humam instrumen”, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, identifikasi dan klasifikasi data, dan terakhir tahap evaluasi data. Setelah dilakukan penelitian struktural, ditemukan bahwa tokoh utama dalam kisah Ashabul Kahfi adalah Tamlikha, yang diiringan oleh tokoh andalan yaitu Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius, dan Sidemius, dan ditambah seorang pengembala. Sedangkan yang menjadi tokoh antagonisnya adalah raja Dikyanus, seorang raja dzalim yang mensekutukan Allah. Kisah tersebut melibatkan beberapa tempat, di antaranya adalah daerah tempat mereka tinggal yitu kota Aphesus yang kemudian disebut kota Tharsus, istana raja, gua, dan pasar di mana mereka membeli makanan. Dalam pengisahannya kisah Ashabul Kahfi tidak seperti kisah-kisah pada umumnya, dalam kisah tersebut banyak terkandung pesan-pesan dan juga tanda-tanda kebesaran Allah SWT sehingga menjadikan kisah tersebut luar biasa. Setelah dilakukan analisis semiotik, dihasilkan bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak terbatas dan tidak terpengaruh apapun, Ketika Allah berkehendak, maka itulah yang terjadi. Seorang hamba yang shaleh tidak akan merasa takut terhadap kebatilan karena dia mempunyai pelindung yang maha segala-galanya, meskipun yang dihadapi seorang raja sekalipun, karena pelindungnya adalah Raja di atas raja yang merajai segala-galanya. Ketika dia meminta kepada-Nya maka Diapun akan memberikannya. Allah tidak memberikan seseorang yang dipilhNya dengan emas permata maupun segala gemerlap dunia, namun Allah memberikan yang jauh lebih berharga dari itu semua yang sampai terkadang manusia tidak mempercayainya, pemberian itu adalah Hudan (petunjuk), yang dengan itulah seseorang tadi bisa selamat hidup di dunia sampai akhirat. Ketahuilah bahwa segala janji yang dijanjikan-Nya benar-benar akan terjadi walau akal manusia tak mampu memikirkannya, karena itu semua telah Dia gambarkan dengan setiap kejadian dan ciptaan-Nya yang dapat kita ketahui di atas muka bumi ini. Di antara janji itu adalah dihidupkannya kembali seluruh manusia untuk menjalani kehidupan akhirat. Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Ashabul Kahfi adalah tauchidillah (meliputi keimanan, pengesaan, dan ketaqwaan), tadl-chiyyah (pengorbanan), tawakkal (pasrah kepada Allah), al-futuwah al-qudwah (pencurahan segala kebaikan, menahan atau menghindari hal-hal yang menyakiti, meninggalkan pengaduan kepada selain Allah swt. dan meninggalkan hal-hal yang haram dan menyambut segera hal-hal yang mulia), dan pembenaran janji Allah bahwa semua manusia akan diangkitkan dari mati menuju hari pembalasan. Setelah melakukan penelitian ini, penulis berharab kepada peneliti selanjutnya untuk terus meningkatkan penelita tentang teks Al-Qur’an. Untuk bekal menuju penelitian tersebut, diharapkan pengajaran teori-teori penelitian juga semakin dimatangkan. Penelitian ini belum sepenuhnya sempurna, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian kembali terhadap kisah Ashabul Kahfi, baik dengan teori yang sama maupun berbeda.

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS di SMA Negeri 10 Malang / Amrina Rosada

 

Kata Kunci: Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah, Internet, Minat Baca, Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Belajar mengajar sebagai suatu proses yang tidak lepas dari komponen lainnya yang saling interaksi di dalamnya.salah satu komponen dalam proses tersebut adalah fasilitas belajar. Fasilitas belajar yang disediakan di sekolah antara lain perpustakaan dan internet. Penggunaan fasilitas dan minat baca tersebut akan memberikan suatu dampak bagi tumbuhnya motivasi siswa untuk lebih giat belajar dan menjadi siswa yang berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) pengaruh langsung pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet dan minat baca terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS di SMAN 10 Malang, (2) pengaruh langsung pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, minat baca dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS di SMAN 10 Malang, (3) pengaruh tidak langsung pemanfaatan perpustakaan sekolah,internet dan minat baca terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS di SMAN 10 Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi (explanatory research) yaitu penelitian yang dilakukan untuk menguji hubungan antara variabel bebas dan terikat dengan populasi seluruh siswa kelas XI IPS di SMAN 10 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis jalur (path analysis).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet dan minat baca berpengaruh langsung secara positif terhadap motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS di SMAN 10 Malang, (2) pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet minat baca dan motivasi belajar berpengaruh langsung secara positif terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS di SMAN 10 Malang, (3) pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet dan minat baca berpengaruh tidak langsung secara positif terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS di SMAN 10 Malang . Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan, (1) kepala sekolah dan guru hendaknya lebih memotivasi dan memberikan kenyamanan pada fasilitas-fasilitas sekolah, (2) Siswa hendaknya dapat memanfaatkan dan memelihara fasilitas sekolah yang sudah disediakan (3) Peneliti selanjutnya sebaiknya mengembangkan variabel-variabel serta memperluas populasi dan menggunakan teknik pengumpulan data yang lebih bervariasi agar hasil penelitian lebih akurat dan objektif.

Analisis kontribusi sumber-sumber pajak reklame terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Gresik tahun 2007-2010 / Sandro Pranata

 

Kata kunci: Pajak Reklame, Pendapatan Asli Daerah. Pajak reklame merupakan salah satu pajak daerah yang potensial di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besarkah peran sumber- sumber pajak reklame terhadap Pendapatan Asli Daerah. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara wawancara yaitu dengan mengadakan Tanya jawab dengan pihak yang dianggap dapat memberikan keterangan secara benar selain itu dengan cara observasi yaitu dengan cara mengamati secara langsung beberapa aktifitas yang terjadi pada obyek yang diteliti dan yang terakhir dengan cara dokumentasi yang di peroleh dari Dinas PPKAD, Data yang di gunakan adalah data primer dan sekunder yaitu data PAD pada tahun 2007- 2010. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pada tahun 2007- 2010 kontribusi dan laju pertumbuhan sumber- sumber pajak reklame mengalami perubahan yang tidak stabil, Hal ini disebabkan karena pada tahun 2008 terjadi perubahan tarip sehingga mengakibatkan kelesuan pasar yang mengakibatkan tidak banyak perusahaan yang beriklan, Dan pada tahun 2009-2010 terjadi ketidakstabilan karena ada pemilihan legislative di tahun 2009 dan pemilihan kepala daerah di tahun 2010. Dari hasil penelitian ini, disarankan agar pemerintah lebih mampu mengembangkan Kabupaten Gresik agar potensi pajak reklame dapat berkembang dan memberikan penyuluhan kepada perusahaan kecil maupun perusahaan besar agar krisis global tidak mengakibatkan kelesuan pada pasar yang berakibat sedikitnya perusahaan yang beriklan.

Pengaruh penerapan permainan kalung sedotan terhadap kemampuan fisik motorik halus anak kelompok B2 TK Petra Bondowoso tahun ajaran 2011/2012 / Steffie Pratiknyo

 

Kata Kunci: pengaruh, permainan kalung sedotan, kemampuan fisik motorik halus anak Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan semua aspek-aspek perkembangan anak secara seimbang, termasuk kemampuan otak anak. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang lebih memperhatikan perkembangan otak kiri anak melalui gencarnya pemberian pelajaran calistung. Hal ini mengakibatkan kurangnya pengembangan otak kanan anak. Kemampuan fisik motorik halus merupakan salah satu tingkat pencapaian perkembangan yang mengembangkan otak kanan anak, dengan meronce sebagai salah satu indikatornya. Dunia anak merupakan dunia bermain. Permainan merupakan salah satu bentuk kegiatan bermain aktif, yang sering dilakukan pada masa kanak-kanak awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan permainan kalung sedotan terhadap kemampuan fisik motorik halus anak Kelompok B2 TK Petra Bondowoso Tahun Ajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen, rancangan penelitian preexperimental design dan desain penelitian one-group pretes- posttest design. Instrumen yang digunakan adalah naskah rancangan penelitian kalung sedotan, lembar observasi pretest dan posttest, serta lembar observasi eksperimen hasil meronce. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi. Kegiatan analisis data menggunakan uji asumsi dan uji hipotesis dengan bantuan program SPSS 18 for windows. Uji asumsi terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Uji hipotesis menggunakan uji T. Berdasarkan hasil analisis penelitian, didapatkan kesimpulan bahwa penerapan permainan kalung sedotan berpengaruh terhadap kemampuan fisik motorik halus anak Kelompok B2 TK Petra Bondowoso Tahun Ajaran 2011/2012. Disarankan bagi guru, agar menerapkan permainan kalung sedotan pada anak didik angkatan berikutnya sebagai salah satu alternatif untuk mengembangkan kemampuan fisik motorik halus anak kelompok B. Bagi lembaga PAUD agar memberikan kesempatan serta fasilitas untuk mendukung pengembangan semua aspek perkembangan anak, terutama melalui permainan-permainan yang menarik dan kreatif. Peneliti pada penelitian lanjut dapat menggunakan desain penelitian dengan menggunakan kelompok kontrol.

Swadaya masyarakat dalam pelaksanaan peningkatan pembangunan desa (studi de Desa Ambeng-ambeng Watang Rejo Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik) / Muafi El Wafi

 

Kata Kunci: Pembangunan Swadaya Masyarakat. Swadaya masyarakat dilakukan untuk mengetahui potensi masyarakat desa dalam pembangun daerahnya, seberapa besar swadaya dari masyarakat dalam melaksanakan pembangunan di daerahnya. Pembangunan yang dilaksanakan atas swadaya masyarakat menunjukkan bahwa kalau masyarakat desa mampu membangun daerahnya sendiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Bagaimana swadaya masyarakat dalam pembangunan di desa Ambeng-ambeng Watang Rejo kecamatan Duduk Sampeyan kabupaten Gresik. (2) Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan pemerintah desa dalam menumbuhkan/meningkatkan swadaya masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan desa Ambeng-ambeng Watang Rejo kecamatan Duduk Sampeyan kabupaten Gresik. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data diambil dari kantor kepala desa, pengurus swadaya masyarakat dan masyarakat desa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tingkat positif. Hal ini terlihat dengan banyaknya jenis swadaya masyarakat yang ada dan dari pelaksanaan pembangunan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat berupa pembangunan swadaya masyarakat yang sedang berlangsung berupa pembangunan Tutup Got, jalan tembus desa, pembangunan gapura. Dimana pembangunan yang dilaksanakan atas swadaya masyarakat untuk membangun desanya. Berdasarkan hasil kesimpulan ini adalah (1) Swadaya masyarakat di desa Ambeng-ambeng Watang Rejo kecamatan Duduk Sampeyan kabupaten Gresik dilakukan atas kesadaran masyarakat sendiri dimana setiap warga setiap bulan pada saat diadakan arisan rutin setiap warga membayar Rp.20.000,- yang mencakup uang arisan, dana kas dusun dan sebagian untuk cicilan swadaya. Hasil swadaya masyarakat digunakan untuk pembangunan desa. Pembangunan yang dilaksanakan berdasarkan atas pendapatan desa yaitu berupa : yang berasal dari tanah desa, dari punggutan desa, swadaya masyarakat, dari bantuan pemerintah Propinsi bantuan daerah kota. Tingkat kemampuan masyarakat dalam menggalang dana untuk pembangunan atas swadaya masyarakat dilakukan dengan sistem cicilan yaitu setiap kali diadakan arisan dusun. (2) Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah desa dalam menumbuhkan atau meningkatkan swadaya masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan desa adalah pembinaan kepada warga pada saat dilakukan arisan rutin. Pembinaan ini dilakukan oleh aparat pemerintah Desa yang telah ditunjuk oleh Kepala desa Ambeng-ambeng Watang Rejo Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik.

Pemikiran politik Soekarno (tahun 1927-1945) / Yudha Teguh Wardhana

 

Kata-kunci: Pemikiran, Politik, dan Soekarno Soekarno merupakan tokoh yang mempunyai andil cukup besar dalam proses kemerdekaan Indonesia. Melalui pemikiran politiknya, Soekarno mampu membawa kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Untuk melawan penjajah Soekarno menggunakan taktik politik yang berbeda-beda di setiap masa penjajahan. Pada masa Hindia Belanda Soekarno melawan dengan tidak mau bekerjasama (nonkooperatif) dengan pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan masa pendudukan Jepang Soekarno mau bekerjasama (kooperatif) dengan pemerintahan pendudukan Jepang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pemikiran Soekarno sebelum tahun 1927. (2) bagaimana pemikiran Soekarno pada tahun 1927-1945. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengidentifikasi pemikiran Soekarno sebelum tahun 1927. (2) Untuk mengidentifikasi pemikiran Soekarno pada tahun 1927-1945. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah adapun langkah-langkahnya adalah : pengumpulan data, komparasi, analisi data, sintesis, menari kesimpulan, penulisan hasil pembahasan dalam bentuk tulisan sejarah sebagai akhir dariproses penelitian sejarah. Proses pengarapan yang di pergunakan dalam kajian ini tetap bersandar pada prosedur penelitian sejarah yang meliputi heuristic, kritik, interprestasi, dan hitoriografi. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa Soekarno dalam melawan penjajahan memiliki pemikiran politik yang berubah-ubah. Sebelum mendirikan partai PNI pada tanggal 4 Juli 1927 tepatnya pada saat masa kecil pemikiran Soekarno lebih dipengaruhi oleh budaya terutama budaya jawa. Saat bersekolah di Surabya mulai mendapat pengaruh ideologi dari para tokoh nasional. Di Bandung –lah mulai muncul pemikiran politik Soekarno yang dapat di ketahui melalui tulisannya yang berjudul Nasionalis, Islamisme, dan Marxsisme. Untuk mewujutkan gagasan tentang politiknya, Soekarno mendirikan PNI pada tanggal 4 Juli 1927. Dalam melawan pemerintahan Hindia Belanda Soekarno dan PNI tidak mau bekerjasama (nonokooperatif) dengan pemerintah. Pemikiran politik Soekarno untuk mewujutkan Indonesia merdeka mulai berubah pada masa pendudukan Jepang. Masa pendudukan Jepang Soekarno mau bekerjasama (kooperati) dengan pemerintahan pendudukan Jepang. Pada tanggal 1Juni 1945 Soekarno berpidato di BPUPKI. Pidato tersebut merupakan salah satu puncak dalam karya politiknya yang di berinama pancasila. Pada tanggal 15 Agustus Jepang menyerah pada Sekutu sehingga dimafaatkan Soekarno untuk mengucapkan proklamasi Indoensia pada tanggal 17 Agustus 1945. Diharapkan untuk para peneliti yang ingin meneliti politik Soekarno terutama pemikirannya disarankan untuk membahas pemikiran Soekarno pada masa Demokrasi terpimpin, pemikiran Soekarno pada masa orde baru atau pemikiran Soekarno pada masa reformasi. Sebab pemikiran-pemikiran Soekarno terutama pada masa orde baru maupun masa reformas masih belum banyak yang meneliti.

Analisis vehicle routing problem with simultaneous deliveries and pick-ups times window (VRPSDPTW) dengan algoritma tabu search / Firman Sudiansyah

 

Kata Kunci : Vehicle Routing Problem, VRP with times window, VRP with Simultaneous Deliveries and Pick-ups times window, Metode Nearest Neighbour, Algoritma Tabu Search, Metode Nearest Insertion Heuristic. Salah satu konsep pada teori graph yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan distribusi penyediaan barang atau jasa adalah Vehicle Routing Problem (VRP). Salah satu pengembangan dari permasalahan VRP yaitu Vehicle Routing Problem with Simultaneous Deliveries and Pick-ups Times window (VRPSDPTW) yang merupakan pengembangan dari VRPPD dengan penambahan kendala, dimana pada saat pengiriman barang, dilakukan pula pengambilan kemasan isi ulang atau produk cacat secara simultan pada setiap titik pada lintasan. Algoritma tabu search merupakan methaheuristic lokal. Methaheuristic adalah aturan-aturan penyelsaian secara umum yang memperluas ruang solusi untuk mengidentifikasi solusi yang baik dan sering menyimpan beberapa susunan rute standar serta perbaikan heuristic. Permasalahan VRPSDPTW yang dibahas diselesaikan dengan menggunakan Algoritma Tabu Search dan digambarkan dengan suatu graph. Gambar graph tersebut dianggap sebagai peta yang menjelaskan kemungkinan jalur yang dapat dilewati dengan setiap titik mewakili depot dan pelanggan, setiap sisi menunjukkan jalan yang menghubungkan antar titik dan setiap bobot pada sisi mewakili jarak. Jumlah permintaan barang dinotasikan dengan , pengembalian barang , dan kapasitas kendaraan Q. Penyelesaian Algoritma tabu search ada dua tahap penyelesaian , yaitu tahap inisialiasai dan tahap pengembangan. Pembahasan selanjutnya adalah menemukan waktu pelayanan dan jarak tempuh yang diselesaikan dengan algoritma tabu search dibandingkan dengan waktu pelayanan dan jarak tempuh yang diselesaikan dengan metode nearest insertion heuristic. Pembahasan mengenai permasalahan VRPSDPTW ini memberikan beberapa analisa. Algoritma tabu search yang digunakan dalam penyelesaian permasalahan VRPSDPTW yaitu pemilihan titik pelanggan didasarkan pada jumlah permintaan maupun pengembalian barang tiap pelanggan. Urutan pelanggan harus diperhatikan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap kendala kapasitas. Berdasarkan tiga contoh yang telah dibahas diketahui bahwa algoritma tabu search dapat meminimumkan waktu pelayanan ke setiap pelanggan dibandingkan dengan metode nearest insertion heuristic. Hal ini dikarenakan algoritma tabu search langsung menyeleksi waktu pada setiap titik yang terhubung langsung dengan titik yang terpilih sebelumnya. Akan tetapi algoritma tabu search tidak memperhatikan jarak antara titik terakhir ke depot sehingga harus menempuh jarak lebih panjang saat kembali ke depot.

Masalah-msalah pembelajaran tematik kelas 3 sekolah dasar (studi kasus di SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang) / Ludfi Arya Wardana

 

Kata kunci: masalah pembelajaran tematik, siswa SD kelas III Pada penelitian yang penulis lakukan di kelas III SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang tentang pembelajaran tematik, latar belakang penelitian ini adalah ternyata guru kelas III masih mengalami kesulitan dari persiapan pembelajaran tematik, pelaksanaan pembelajaran tematik, hingga penilaian pembelajaran tematik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifkasi permasalahan persiapan pembelajaran tematik di kelas III Sekolah Dasar; (2) mengidentifikasi permasalahan pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas III Sekolah Dasar; dan (3) mengidentifikasi permasalahan penilaian pembelajaran tematik di kelas III Sekolah Dasar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Jenis penelitian adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data penelitian ini berupa observasi, wawancara, dokumentasi untuk mengidentifikasi permasalahan dalam pembelajaran tematik di kelas III SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa guru kelas III SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang mengalami permasalahan dalam persiapan pembelajaran tematik, pelaksanaan pembelajaran tematik, hingga penilaian pembelajaran tematik. Merujuk dari hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa guru kelas III SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang mengalami permasalahan dalam persiapan pembelajaran tematik, pelaksanaan pembelajaran tematik, hingga penilaian pembelajaran tematik. Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan agar Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Malang mengadakan pelatihan-pelatihan tentang pembelajaran tematik. Selain itu guru kelas III harus berpedoman pada: ketentuan-ketentuan pembelajaran tematik, silabus tematik, tingkat perkembangan siswa dan lingkungan sekitar siswa.

Sebaran kedapatan harian antara wereng hijau (Empoascap.) dengan kubah kubah (Curius coeruleus) pada tanaman teh (Camellia sintesis L.O.K.) klon gambung di kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Haris Sulton

 

Kata Kunci : sebaran harian, wereng hijau (Empoasca Sp), kumbang kubah (Curinus coeruleus),Tanaman Teh Klon Gambung. Pengendalian hama secara hayati adalah pengendalian hama yang proses pengendaliannya tanpa merusak lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan membiarkan musuh-musuh alaminya dari suatu hama yakni predator tetap hidup, kumbang kubah adalah predator dari wereng hiaju yang bisa digunakan untuk pengendalian hayati oleh karenanya perlu dikaji tentang sebaran harian dari wereng hijau dan kumbang kubah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1)sebaran kepadatan harian wereng hijau dan kumbang kubah pada tanaman teh, (2)hubungan populasi antara keduanya,dan (3) faktor abiotik yang paling berpengaruh pada sebaran kepadatan harian antara wereng hijau dan kumbang kubah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan di Kebun Teh Wonosari, Singosari, Kabupaten Malang pada bulan Maret 2011. Tempat pencuplikan sampel wereng hijau dan kumbang kubah pada tanaman teh klon Gambung, sedangkan penentuan titik cuplikan dengan cara membuat garis transek pada petak tanaman teh klon Gambung secara diagonal, serta menentukan titik pencuplikan secara sistematis sebanyak 13 titik pencuplikan. Faktor abiotik yang diukur meliputi suhu, kelembapan udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin, perbedaan jumlah kelimpahan antar waktu dianalisis secara deskriptif, hubungan antara wereng hijau dengan faktor lingkungan dan hubungan antara kumbang kubah dengan faktor lingkungan dianalisis dengan analisis regresi ganda bertahap (stepwise multiple regression) dengan menggunakan program SPSS, sedang pola distribusi harian wereng hijau dan kumbang kubah dianalisis dengan menghitung indeks sebaran Morisita (Is). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan populasi harian wereng hijau cenderung menurun dari pagi ke sore. Kedua sebaran kepadatan harian kumbang kubah cenderung menurun dari pagi ke sore dan kepadatan terendah pada siang hari. Ketiga sebaran harian kumbang kubah pada tanaman the klon gambung berhubungan signifikan dengan keberaaan wereng hijau. Keempat faktor abiotik yang berpengaruh terhadap kelimpahan harian wereng hijau adalah intensitas cahaya untuk waktu pagi hari, kelembaban udara untuk siang dan sore hari. Sedangkan pada kumbang kubah adalah kelembaban udara pada waktu pagi hari, kecepatan angin untuk siang hari, dan kelembaban udara pada waktu sore.

Kontribusi pajak reklame dan pajak hiburan terhadap PAD Kabupaten Pasuruan tahun 2005-2010 / Irsyadul Ibad Hidayat

 

Kata kunci: Kontribusi pajak reklame, Kontribusi pajak hiburan, PAD. Pajak Reklame dan Pajak hiburan adalah salah satu penyumbang PAD di Kabupaten Pasuruan, meskipun bukan penerimaan pajak yang utama, namun kontribusi pajak reklame dan kontribusi pajak hiburan Kabupaten Pasuruan memiliki peranan yang cukup penting, yakni sebagai salah satu penyumbang dalam penerimaan pajak daerah pada khususnya dan PAD pada umumnya. Untuk mengetahui fokus dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Seberapa besar Elastisitas pajak reklame terhadap PAD Kabupaten Pasuruan 2005-2010? (2) Seberapa besar Elastisitas pajak hiburan terhadap PAD Kabupaten Pasuruan 2005-2010? (3) Faktor penghambat apa saja yang dihadapi pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan pajak reklame?(4) Faktor penghambat apa saja yang dihadapi pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan kontribusi pajak hiburan?(5) Solusi apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan pajak reklame?(6) solusi apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan pajak hiburan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan Kas Daerah (DPKD) dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Metode pengumpulan data menggunakan data sekunder (PAD, Pajak Reklame, Pajak Hiburan ) dan hasil wawancara yang diperoleh dari pihak DPKD Kab. Pasuruan. Data sekunder yang diperoleh diolah, dianalisis kontribusinya dan keelastisitasanya terhadap PAD Kab. Pasuruan periode tahun 2005-2010. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Elastisitasi Pajak Reklame terhadap PAD Kabupaten Pasuruan dari tahun 2005 karena keterbatasan informasi yang diberikan oleh pihak DPKD,data tahun 2004 sebagai dasar perhitungan elastisitas PAD tahun 2005 tidak dapat dilakukan, tahun 2006 sebesar0.014%, tahun 2007 sebesar 0.14%, tahun 2008 sebesar 5.13%, tahun 2009 sebesar 2.78%, tahun 2010 sebesar 3.53% Perhitungan kontribusi Pajak Hiburan terhadap PAD Kabupaen Pasuruan tahun 2005 karena keterbatasan informasi yang diberikan oleh pihak DPKD,data tahun 2004 sebagai dasar perhitungan elastisitas PAD tahun 2005 tidak dapat dilakukan, tahun tahun 2006 sebesar 0.001%, tahun 2007 sebesar 0.0074%, pada tahun 2008 sebesar 0.69%, pada tahun 2009 sebesar 0.43%, pada tahun 2010 sebesar 0.29%. Dalam pungutan pajak hiburan masih ada kendala-kendala yang dihadapi para pemungut pajak, begitu pula para wajib pajak yang masih kurang sadar dalam melaksanakan kewajibannyaseperti, tempat – tempat hiburan yanhg dengan sengaja tidak mendaftarkan usahanya kepada pemerintah (dinas perijinan). Sebenarnya kendala – kendala yang dihadapi pajak hiburan masih tergolong ringan jika dibanding dengan kendala yang dihadapi oleh pajak reklame dikarenakan pungutan pajak hiburan lebih terkordinasi dan mudah karena masih berupa bangunan – bangunan dan kegiatan – kegiatan hiburan.

Perbedaan kemampuan pemahaman teorema Pythagoras siswa SMK kelas VIII antara yang menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif model STAD dengan pembelajaran model konvensional / Siti Hermawati Fazri

 

Kata Kunci: Perbedaan, Pemahaman, Kooperatif Tipe STAD, Konvensional Belajar Matematika tidak hanya sekedar menghapal saja saja, melainkan harus pahami. Oleh karena itu filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi pembelajaran matematika. Maka diperlukan pendekatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran ekonomi khususnya dalam penelitian ini adalah pada materi teorema Phytagoras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman pembelajaran Kooperatif Tipe model Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap hasil belajar, efektivitas pembelajaran Kontekstual Tipe konvensional terhadap hasil belajar pada mata pelajaran matematika kelas VIII di SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment. Instrumen penelitian meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Instrumen aktivitas belajar (lembar observasi aktivitas siswa), Instrumen hasil belajar (nilai Pretest dan posttest). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan uji coba kemampuan awal yang diambil dari hasil UTS, dan pengambilan data dilakukan dengan pemberian pretest, pemberian perlakuan (treatment), dan pemberian posttest. Data hasil penelitian kemudian dipaparkan secara deskriptif. Kegiatan analisis data dimulai dengan tahap uji prasyarat analisis hingga pengujian hipotesis. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) memberikan peningkatan terhadap pemahaman siswa matematika terhadap materi teorema Phytagoras pada siswa kelas VIII di SMA Negeri 10 Malang. Karena bisa meningkatkan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran. Demikian pula dengan Pembelajaran Konvensional juga memberikan peningkatan terhadap pemahaman siswa matematika terhadap materi teorema Phytagoras pada siswa kelas VIII di SMA Negeri 10 Malang. Karena bisa meningkatkan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran. Akan tetapi terdapat perbedaan kemampuan pemahaman yang signifikan antara Pembelajaran Kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) dengan pembelajaran konvensional yang diketahui dari hasil pengujian data Gain Score pada kedua kelompok. Oleh karena itu, diharapkan Guru mata pelajaran matematika dapat menerapkan pembelajaran Kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dengan alokasi waktu yang efisien.

Pengaruh kondisi ekonomi keluarga dan prestasi belajar trhadap motivasi melanjutkan pendidikan ke SMA (Studi pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Kepung Kabupaten Kediri) / Diana Nur Pratiwi

 

Pengaruh inflansi, suku bunga, kurs rupiah, dan tingkat likuiditas terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic ndex tahun 2008-2010 / Nurmalitasari

 

Kata Kunci: Inflasi, Suku Bunga, Kurs Rupiah, Likuiditas, Risiko Investasi Saham Risiko merupakan penyimpangan dari hasil yang ingin diperoleh investor. Investor dalam memandang risiko dibagi menjadi tiga yaitu investor yang menyukai risiko (risk seeker), investor yang netral terhadap risiko (risk neutral) dan investor yang tidak menyukai risiko (risk averter). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Inflasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan, (2) Suku Bunga mempunyai pengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan, (3) Kurs rupiah mempunyai pengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan, dan (4) Tingkat likuiditas mempunyai pengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan. Variabel dalam penelitian ini, meliputi variabel bebas yaitu Inflasi (X1), Suku Bunga (X2), Kurs rupiah (X3),Tingkat likuiditas (X4), dan variabel terikat Risiko investasi saham (Y). Populasi dalam penelitian ini yaitu perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode 2008-2010 sebanyak 55 perusahaan. Sampel sebanyak 11 perusahaan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini purposive sampling. Penelitian ini menggunakan analisis data regresi berganda yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan menggunakan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Variabel inflasi (X1) mempunyai pengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index; 2) Variabel suku bunga (X2) berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index; 3) Variabel kurs rupiah (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index; 4) Variabel tingkat likuiditas (X4) tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index; 5) Variabel yang paling berpengaruh terhadap risiko investasi saham adalah suku bunga. Inflasi, suku bunga, kurs rupiah, dan tingkat likuiditas secara simultan berpengaruh terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2008-2010 sebesar 8,8%. Secara singkat dapat disimpulkan: 1) Kondisi inflasi, suku bunga, kurs rupiah, tingkat likuiditas, dan risiko investasi saham perusahaan tahun 2008-2010 yaitu; a) Kondisi inflasi mengalami kenaikan tiap triwulan pada tahun 2008, pada tahun 2009 mengalami penurunan selama empat triwulan, kemudian mengalami kenaikan hingga triwulan IV tahun 2010, b) Kondisi suku bunga mengalami ii kenaikan tiap triwulan pada tahun 2008, pada tahun 2009 mengalami penurunan selama empat triwulan, kemudian stabil pada tahun 2010, c) Kondisi kurs rupiah mengalami kenaikan tiap triwulan pada tahun 2008, pada tahun 2009 mengalami penurunan selama tiga triwulan, kemudian mengalami kenaikan pada triwulan selanjutnya hingga akhir tahun 2010, d) Kondisi tingkat likuiditas masing-masing perusahaan cenderung fluktuatif selama tahun 2008-2010, e) Kondisi risiko investasi saham masing-masing perusahaan cenderung fluktuatif selama tahun 2008-2010; 2) Inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2008-2010; 3) Suku bunga berpengaruh positif signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2008-2010; 4) Kurs rupiah tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2008-2010; 5) Tingkat likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2008-2010. Saran yang dapat diberikan berdasarkan temuan penelitian sebagai berikut: (1) Bagi investor yang hendak menanamkan modal di pasar modal hendaknya memperhatikan tingkat suku bunga dan inflasi sebab dalam penelitian ini terbukti inflasi dan suku bunga berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. (2) Bagi peneliti selanjutnya menambah variabel penelitian yang mempengaruhi risiko investasi saham, seperti peredaran uang, peraturan perpajakan, kebijakan pemerintah, dan lain-lain.

Studi tentang kebutuhan manusia menurut Maslow (studi kebutuhan member Champion Futbal Puncak Tidar dalam bermain futsal) / Muhammad Farid

 

Pengaruh penerapan remedial intelligent tutoring system berbasis web terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran TIK kelas VIII semester II tahun ajaran 2011/2012 di SMP Negeri 18 Malang / Baiq Fiya Hidayani Azhar

 

Kata kunci: Remedial, Intelligent Tutoring System, Hasil Belajar. Proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian dari hasil belajarnya. Untuk mencapai tujuan pembelajaran dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan atau masalah belajar. Untuk mengatasi masalah tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran remedial atau perbaikan. Namun, pembelajaran remedial tidak selamanya berdampak positif bagi pendidikan. Berdasarkan hasil obsevasi di SMPN 18 Malang diketahui bahwa sering terjadinya waktu yang tidak efisien dalam pelaksanaan remedial. Banyaknya tes remedial berarti tambahan pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga bagi seorang guru. Dimana guru harus mampu mendeteksi siapa saja siswa yang perlu mendapat perhatian dan perlu memperoleh pengajaran remedial. Sementara itu tidak menutup kemungkinan hasil remedial itu sendiri tidak lebih baik dari hasil tes sebelumnya. Maka perlu diterapkan metode pembelajaran remedial yang dapat mempermudah guru dalam mengajar serta meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu dalam penelitian ini diterapkan remedial ITS terhadap hasil belajar, untuk mengetahui keefektifan penerapan pembelajaran remedial ITS dalam meningkatkan hasil belajar siswa di SMPN 18 Malang. Rancangan penelitian ini yaitu eksperimen semu dengan pretest-posttest. Populasi penelitian ini siswa kelas VIII SMPN 18 Malang tahun pelajaran 2011/2012, pengambilan sampel dengan purposive sampling yaitu kelas VIII F sebagai kelas eksperimen dan VIII E sebagai kelas kontrol. Variabel bebas yaitu pembelajaran remedial ITS dan variabel terikat yaitu hasil belajar. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan remedial ITS berbasis web pada kelas eksperimen memiliki rata-rata hasil belajar lebih tinggi dari pada penerapan remedial konvensional pada kelas kontrol yaitu 73,62 > 67,93. Hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan yaitu dengan nilai Sig(p) 0,003 < 0,05. Terdapat pengaruh signifikan antara pembelajaran remedial ITS berbasis web terhadap hasil belajar dengan hubungan sebesar 53,4% serta sumbangan pengaruh 28,5%. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa remedial yang mengikuti pembelajaran remedial ITS dengan pembelajaran remedial konvensional dan terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan pembelajaran remedial ITS terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 18 Malang

Pengaruh penerapan model pembelajaran problem posing dalam model pembelajaran think pair square (TPS-PP) terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan / Nur Hidayati Afifa

 

Kata Kunci: Think Pair Square-Problem Posing, hasil belajar, motivasi belajar, kelarutan dan hasil kali kelarutan Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) merupakan salah satu materi kimia yang sulit dan berurutan. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi ini. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan siswa tersebut adalah model pembelajaran Think Pair Square (TPS). Model pembelajaran ini memberi kesempatan siswa untuk menjadi tutor sebaya. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan melibatkan operasi matematik, yang menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari materi yang melibatkan hitungan. Untuk mengatasinya dapat digunakan model pembelajaran Problem Posing. Kedua model pembelajaran ini dapat dipadukan dengan cara menyisipkan langkah-langkah Problem Posing pada model Think Pair Square, sehingga dihasilkan model Think Pair Square-Problem Posing (TPS-PP). Langkah-langkah model pembelajaran TPS-PP adalah: 1) Guru menyampaikan materi pelajaran; 2) Guru memberi contoh membuat soal dan cara menyelesaikannya; 3) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya; 4) Pada tahap Think guru membagikan LKS yang berisi kondisi soal dan meminta siswa membuat soal secara individu; 5) Pada tahap Pair guru meminta siswa bertukar soal dengan pasangannya, mengerjakan soal buatan temannya, kemudian mendiskusikan soal dan jawaban yang telah dibuat temannya serta materi yang belum dipahami; 6) Pada tahap Square guru meminta tiap pasang kelompok bergabung dengan pasangan yang lain untuk mendiskusikan soal yang telah dibuat dan jawabannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Problem Posing pada model Think Pair Square terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model TPS-PP dan TPS. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ganda, yaitu rancangan eksperimen semu dan rancangan deskriptif. Ada tiga variabel pada penelitian ini, yaitu variabel bebas (model TPS-PP dan TPS), variabel terikat (hasil dan motivasi belajar), dan variabel kontrol (waktu dan materi pelajaran , jenis dan waktu tes, serta guru). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMAN 1 Purwosari, sedangkan sampelnya adalah siswa kelas XI IPA 2 (kelas eksperimen) dan siswa kelas IPA 3 (kelas kontrol). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling. Ada dua macam instrumen pada penelitian ini, yaitu instrumen perlakuan (berupa silabus, RPP, hand out, LKS) dan instrumen pengukuran (berupa tes, lembar observasi, angket). Pengumpulan data hasil belajar melalui ulangan harian, sedangkan motivasi belajar melalui angket. Analisis data hasil belajar menggunakan program SPSS 16.0 for windows, sedangkan data motivasi belajar siswa dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh dua kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Posing pada model pembelajaran Think Pair Square (TPS-PP) terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Purwosari pada materi larutan dan hasil kali kelarutan. Nilai rata-rata kelas eksperimen (68,718) lebih tinggi, dari pada kelas kontrol (63,205). Kedua, Motivasi belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model Problem Posing-Think Pair Square (TPS-PP) lebih baik dari pada motivasi belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model Think Pair Square (TPS). Persentase motivasi belajar siswa dari kedua kelas adalah sebagai berikut: siswa yang sangat termotivasi pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS-PP 48,7%, pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS 36,5%; siswa yang termotivasi pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS-PP 48,7%, pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS 56,4%; siswa yang kurang termotivasi pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS-PP 2,6% , pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS 5,1%. Sedangkan berdasarkan rata-rata motivasivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model TPS-PP (80) lebih baik dari pada siswa yang dibelajarkan dengan model TPS (75,4).

Pengembangan media informasi jenis-jenis pekerjaan berbentuk permainan monopoli dengan menggunakan multimedia bagi siswa SMP / Nur Ita Jannah

 

Kata Kunci: media, informasi jenis-jenis pekerjaan, permainan monopoli dengan menggunakan multimedia Sering dijumpai siswa kelas VIII SMP yang belum matang dalam menentukan pilihan merasa bingung ketika ingin melanjutkan sekolah pada jenjang SMA atau SMK. Bahkan siswa tidak menyadari bahwa penentuan pilihan sekolah pada jenjang pendidikan lanjutan merupakan langkah awal mengembangkan rencana keputusan. Suatu pilihan yang diputuskan oleh siswa akan mempunyai sangkut paut dengan pendidikan yang harus ditempuh untuk mempersiapkan diri dalam pekerjaan yang diinginkannya. Sebaliknya, keputusan tentang pendidikan yang akan ditekuninya mempunyai implikasi langsung terhadap pekerjaan yang akan dibinanya setelah menamatkan pendidikan. Oleh karena itu siswa perlu mendapatkan informasi jenis-jenis pekerjaan agar siswa mendapatkan pemahaman lebih luas untuk dapat mengembangkan rencana pilihan kariernya. Media yang dikenalkan untuk membantu konselor dalam penyampaikan informasi bimbingan yang lebih menarik diantaranya adalah multimedia. Melalui multimedia dikembangkannya media informasi jenis-jenis pekerjaan berbentuk permainan monopoli dengan menggunakan multimedia bagi siswa SMP yang dapat membantu konselor mengenalkan informasi jenis-jenis pekerjaan. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan media informasi jenis-jenis pekerjaan berbentuk permainan monopoli dengan menggunakan multimedia bagi siswa SMP beserta panduan penggunaannya bagi konselor yang dapat diterima secara teoritis maupun praktis. Produk pengembangan yang dihasilkan terdiri atas dua jenis yaitu (1) media informasi jenis-jenis pekerjaan berbentuk permainan monopoli dengan menggunakan multimedia bagi siswa SMP, dan (2) panduan penggunaan media bagi konselor. Pengembangan ini mengikuti langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: (1) need assesment; (2) menentukan prioritas kebutuhan; (3) merumuskan tujuan; (4) menyusun poduk yang dikembangkan; (5) menyusun alat evaluasi; (6) penilaian uji ahli; (7) revisi produk dari ahli; (8) penilaian uji calon pengguna produk; (9) uji coba kelompok kecil; (10) revisi produk; (11) produk akhir. Untuk mengetahui media yang dikembangkan diterima secara teoritik maupun praktis dilakukan uji validitas produk kepada ahli BK, ahli media pembelajaran, calon pengguna produk, dan kelompok kecil. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah angket format penilaian. Adapun hasil pengisian angket oleh ahli, calon pengguna produk dianalisis menggunakan analisis deskriptif jenis tendensi sentral dan kualitatif deskriptif. Hasil pengisian angket uji kelompok kecil kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif jenis tendensi sentral mean dan kualitatif deskriptif. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa media ingformasi jenis-jenis pekerjaan berbentuk permainan monopoli dengan menggunakan multimedia untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Malang menurut ahli dan pengguna produk memiliki skor 4 pada aspek ketepatan, kegunakan, kelayakan, dan kemenarikan yang berarti memiliki karakteristik sangat tepat, sangat berguna, sanagat layak dan sangat menarik media untuk digunakan di SMP. Menurut penilain siswa dapat disimpulkan bahwa media yang dikembangkan sudah dapat dietrima dengan hasil skor rata-rata 3,6 berarti media yang dikembangkan memiliki karakteristik sangat tepat, sangat layak, sangat berguna dan sangat menarik di gunakan di SMP. Berdasarkan hasil pengembangan media informasi jenis-jenis pekerjaan berbentuk permainan monopoli dengan menggunakan multimedia bagi siswa SMP, maka (1) konselor hendaknya menggunakan media yang dikembangkan untuk membantu siswa memperoleh wawasan jenis-jenis pekerjaan yang terdapat di masyarakat dan membantu siswa mengembangkan pilihan karier; (2) konselor hendaknya dapat menguasai dengan baik karakteristik multimedia dan mampu menjelaskan lebih rinci mengenai materi yang belum dipahami siswa. Saran bagi pengembang selanjutnya adalah: (1) hendaknya untuk mengetahui efektivitas penggunaan media dan untuk menyempurnakan lebih lanjut hasil pengembangan ini dengan melakukan penelitian tindakan kelas dan uji lapangan utama.

Analisis kualitas pembelajaran mata DIKLAT produktif di SMK Negeri 1 Singosari / Anom Wisnu Murti

 

Kata kunci: Analisis Kualitas Pembelajaran, Mata Diklat Produktif. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pembelajaran mata diklat produktif dikelas X TPm dan XII TPm Praktek Bengkel Permesinan SMKN 1 Singosari, maka penelitian ini difokuskan sebagai berikut: (1) mengetahui kualitas perencanaan pembelajaran mata diklat produktif dikelas praktek SMKN 1 Singosari; (2) mengetahui kualitas pelaksanaan pembelajaran mata diklat produktif dikelas praktek SMKN 1 Singosari; (3) mengetahui kualitas evaluasi pembelajaran mata diklat produktif dikelas praktek SMKN 1 Singosari. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, data diambil siswa dengan menggunakan angket dan dihitung secara statistik. Dengan mengambil sampel 9 guru produktif, 25 siswa Kelas X dan 19 siswa kelas XII TPm. Pengumpulan data dilakukan dengan (1) Angket; (2) Observasi dan Wawancara (Foto Kompetensi); (3) dan Lembar Kerja Siswa kelas X dan XII TPm. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh temuan-temuan, sebagai berikut: (1) perencanaan pembelajaran: 67% atau 6 guru dinyatakan baik, 11% atau 1 guru cukup baik, 11% atau 1 guru sangat baik dan 11% atau 1 guru sangat baik sekali perencanaan pembelajaran meliputi (pembuatan silabus, RPP, lembar kerja, media pembelajaran), (2) pada pelaksanaan pembelajaran: 41% atau 18 siswa menyatakan pelaksanaan pembelajaran baik, 27% atau 12 siswa menyatakan sangat baik, 20% atau 9 siswa menyatakan cukup baik, 11% atau 5 siswa menyatakan pelaksanaan pembelajaran sangat baik sekali pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan standart proses Permendiknas No 41. Tahun 2007, (3) evaluasi pembelajaran 56% atau 5 guru dinyatakan sangat baik sekali, 33% atau 3 guru sangat baik, 11% atau 1 cukup baik dalam evaluasi pembelajaran, evaluasi pembelajaran meliputi perencanaan skor evaluasi praktek dan teori, waktu, dan skor pelaksanaan evaluasi praktek maupun teori. Ada hal yang disarankan, yaitu: peneliti lain agar juga bisa melakukan penelitian yang lebih fokus dalam menganalisis kualitas pembelajaran pada bidang studi yang sama atau bidang studi yang berbeda.

Penerapan pembelajaran cooperative script dengan diagram roundhouse untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi pada siswa kelas XIA5 SMAN 7 Malang / Zulfa Ulfiayatul Azizah

 

Kata Kunci: Cooperative Script, Diagram Roundhouse, Motivasi, Hasil Belajar. Belajar biologi bagi siswa pada saat ini adalah usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap, keterampilan berpikir, serta meningkatkan keterampilan motoriknya bukan sekedar usaha untuk mencari dan mengumpulkan pengetahuan tentang kehidupan mahluk hidup. Berdasarkan studi awal peneliti dan hasil wawancara dengan beberapa siswa di kelas X SMAN 7 Malang menyatakan bahwa selama proses pembelajaran Biologi para siswa diberi tugas untuk merangkum materi yang sedang dipelajari, membuat peta konsep, dan mengerjakan LKS. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi yang masih belum mencapai persentase ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil belajar biologi siswa terutama dalam ranah kognitif di kelas X SMAN 7 Malang masih rendah dan perlu adanya usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa, baik ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus. Siklus I dilaksanakan pada KD 1.1 yaitu mendeskripsikan komponen kimiawi sel, struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan. Siklus II dilaksanakan pada KD 1.2 yaitu mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan. Siklus III dilaksanakan pada KD 1.3 yaitu membandingkan mekanisme transpor pada membran (difusi, osmosis, transpor aktif, endositosis, eksositosis). Subjek penelitian adalah siswa kelas XIA5 SMAN 7 Malang sebanyak 32 siswa. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa terdapat peningkatan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa kelas XIA5 SMAN 7 Malang. Peningkatan motivasi belajar siswa meningkat dari siklus I, siklus II, dan siklus III, terbukti dari peningkatan persentase motivasi belajar siswa yaitu pada siklus I sebesar 85,80%, siklus II sebesar 91,78%, dan siklus III sebesar 97,34%. Motivasi belajar siswa tergolong tinggi dengan taraf keberhasilan termasuk dalam kategori sangat baik. Hasil belajar siswa yang terdiri dari kognitif, psikomotor dan afektif juga mengalami peningkatan. Peningkatan ditunjukkan dengan rata-rata nilai tes hasil belajar kognitif siswa pada siklus I yaitu 75,07 dengan persentase ketuntasan kelas sebesar 68,96%. Pada siklus II, rata-rata nilai siswa siswa untuk tes hasil belajar kognitif meningkat menjadi 75,79 dan persentase ketuntasan kelas sebesar 75,86%. Pada siklus III, rata-rata nilai siswa siswa untuk tes hasil belajar kognitif meningkat lagi menjadi 80,03 dengan persentase ketuntasan kelas sebesar 81,25%. Ketercapaian hasil belajar psikomotor siswa pada siklus 1 adalah 84,35%; meningkat menjadi 85,95% pasa siklus II, dan meningkat menjadi 93,40% pada siklus III. Persentase hasil belajar afektif siswa pada siklus I 3,45% sedang; 82,76% baik, 13,76% sangat baik. Persentase hasil belajar afektif siswa pada siklus II 3,45% kurang; 6,89% sedang; 82,76% baik, 6,89% sangat baik

Pengaruh tingkat likuiditas, leverage, dan perputaran total aktiva terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2009 / Moh. Kamarudin

 

Kata kunci : Tingkat Likuiditas, Leverage, Perputaran Total Aktiva, dan ROE. Untuk dapat menarik investor dari luar, maka suatu perusahaan haruslah memiliki kinerja keuangan yang baik, yang antara lain ditunjukkan oleh tingkat keuntungan atau tingkat profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan bersangkutan. Salah satu cara untuk menghitung profitabilitas adalah Return On Equity (ROE), yaitu alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya ROE diantaranya adalah aktiva, penjualan, dan hutang yang tertanam dalam perusahaan. Pengelolaan aktiva secara efektif dalam perusahaan akan dapat meningkatkan nilai ROE, yang berarti tingkat keuntungan yang tersedia bagi pemilik modal juga semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh current ratio, acid test ratio, debt to tota asset ratio, dan perputaran total aktiva terhadap ROE. Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda yaitu uji asumsi klasik untuk mencari bentuk pengaruhnya, serta uji t untuk menguji pengaruh secara parsial untuk masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dan uji F untuk menguji pengaruh secara simultan dari keseluruhan variabel bebas tehadap variabel terikat dan uji koefisien determinasi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahan-perusahaan manufaktur yang go publik di BEI tahun 2009 yang berjumlah 149 perusahaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak karena setiap populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih menjadi sampel. sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 perusahaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari current ratio, acid test ratio, dan debt to total asset ratio terhadap ROE, sedangkan untuk perputaran total aktiva ada pengaruh yang signifikan terhadap ROE. Secara simultan ada pengaruh yang signifikan antara current ratio, acid test ratio, debt to total asset ratio, dan perputaran total aktiva terhadap ROE. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel bebas yang dapat diindikasikan ada pengaruh terhadap ROE dan meneliti jenis perusahaan lain serta menambah jumlah sampel. Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang pengaruh current ratio, acid test ratio, debt to total asset ratio dan perputaran total aktiva terhadap ROE sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat.

Optimasi waktu dan jumlah ragi tape untuk tahap fermentasi pada produksi bioetanol dari ubi jalar putih (Ipomoea batatas L) dengan teknik Hidrolisis Fermentasi Terpisah (HFT) / Zem Sainfalak

 

Kata kunci: fermentasi, ragi tape, bioetanol, ubi jalar putih. Bietanol adalah etanol yang diperoleh melalui proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan pada tahap fermentasi dapat dalam bentuk biakan murni atau biakan campuran yang mengandung mikroba yang melakukan fermentasi alkohol seperti ragi tape. Produksi bioetanol dari ubi jalar putih dapat dilakukan dengan teknik hidrolisis fermentasi terpisah (HFT) yang terdiri dari 2 tahap yang berurutan yaitu hidrolisis untuk mengubah pati (amilum) menjadi glukosa dan fermentasi untuk mengubah glukosa menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah ragi tape dan waktu fermentasi optimum untuk menghasilkan bioetanol dari ubi jalar putih dengan teknik hidrolisis fermentasi terpisah. Penelitian ini merupakan penelitian laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang dari bulan Desember 2010 hingga bulan Mei 2011. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu: (1) pembuatan media dan penentuan kurva pertumbuhan Aspergillus niger, (2) preparasi ubi jalar putih, (3) penentuan jumlah ragi tape dan waktu optimum, dan (4) penentuan rendemen bioetanol optimum dari ubi jalar putih. Penentuan rendemen bioetanol didasarkan pada pengukuran kadar alkohol dalam destilat hasil pemurnian dengan menggunakan alkoholmeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) waktu fermentasi optimum produksi bioetanol dari ubi jalar putih menggunakan ragi tape adalah 48 jam, (2) jumlah ragi tape optimum produksi bioetanol dari ubi jalar putih adalah 5 g/200 g tepung ubi jalar putih, dan (3) analisis dengan uji CAN, FeCl3, Lucas dan uji nyala menyatakan bahwa hasil fermentasi bubur tepung ubi jalar dengan ragi tape mengandung alkohol primer yang diduga etanol.

Pengaruh prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan ekonomi terhadap kemampuan mengajar dalam praktik pengalaman lapangan (PPL) di Sekolah Menengah Atas Negeri se-kota Malang / Gungsu Anika

 

Kata Kunci : prestasi akademik, kemampuan mengajar, PPL Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh prestasi akademik mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi terhadap kemampuan mengajar dalam Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan rancangan penelitian ini berupa Eksplanatory Research. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan ekonomi sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan mengajar. Instrumen dalam penelitian ini adalah closed questionare dan menggunakan skala likert dengan lima alternatif jawaban. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang mengambil 27 responden, dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini adalah: (1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel prestasi akademik MKK (X1) terhadap kemampuan mengajar. Dilihat dari signifikansi variabel X1 sebesar 0.016 < 0.05, (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel prestasi akademik MPK (X2) terhadap kemampuan mengajar. Dilihat dari signifikansi variabel X1 sebesar 0.006 < 0.05, (3). Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel prestasi akademik MKB (X3) terhadap kemampuan mengajar. Dilihat dari signifikansi variabel X1 sebesar 0.000 < 0.05, (4) Hasil uji regresi ganda antara prestasi akademik MPK, prestasi akademik MKK, dan prestasi akademik MKB mahasiswa pendidikan ekonomi secara simultan terhadap kemampuan mengajar dalam PPL diketahui nilai korelasi MPK 0.525, nilai korelasi MKK 0.406 dan nilai korelasi MKB 0.980, nilai sig F 0.000 < 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa Ho dalam penelitian ini tidak diterima dan Ha diterima. Dengan demikian perubahan variabel X1 (prestasi akademik MPK), X2 (prestasi akademik MKK), X3 (prestasi akademik MKB) secara simultan berpengaruh terhadap perubahan Y (Kemampuan Mengajar). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa : (1) Terdapat pengaruh yang paling rendah antara prestasi akademik MPK mahasiswa pendidikan ekonomi terhadap kemampuan mengajar dalam PPL, (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara prestasi akademik MKK mahasiswa pendidikan ekonomi terhadap kemampuan mengajar dalam PPL, (3) Terdapat pengaruh antara prestasi akademik MKB mahasiswa pendidikan ekonomi terhadap kemampuan mengajar dalam PPL, (4) Prestasi akademik MPK, prestasi akademik MKK, dan prestasi akademik MKB mahasiswa pendidikan ekonomi secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan mengajar mahasiswa dalam PPL. Adapun saran yang dapat disampaikan penulis adalah sebagai berikut: (1) Bagi pihak yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan agar menambahkan instrument untuk varibel MPK. Mengingat MPK dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang paling rendah dibandingkan variabel lain, (2) Mahasiswa pendidikan ekonomi diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam pelaksanaan PPL di sekolah dengan cara lebih mengoptimalkan pemahaman tentang materi MKK dan kegiatan PPL I (di kampus) sebagai persiapan PPL II di sekolah, (3) Diharapkan memberi pembekalan yang lebih matang kepada semua mahasiswa yang akan melaksanakan PPL. Pembekalan ini dapat berupa pemberian matakuliah yang menyiapkan tenaga guru menjadi guru profesional seperti pemberian MKB, dan (4) Bagi Unit Pelaksana Teknis (UPT PPL), diharapkan agar kegiatan PPL baik PPL I maupun PPL II diperketat pelaksanaannya. Agar lebih matang dalam mempraktikkan kemampuan mengajar.

Isolasi, karakterisasi, dan identifikasi poligalaktan sulfat dari Eucheuma alvarezii Doty perairan Wewaria Ende Flores Nusa Tenggara Timur / Junedin Abdullah

 

Kata kunci: isolasi, karakterisasi, identifikasi, poligalaktan sulfat, Eucheuma alvarezii Doty Perairan Wewaria Ende Flores Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan hayati yang cukup melimpah, salah satunya adalah alga merah. Alga merah mengandung karagenan, alginat, dan agar-agar yang banyak diperlukan oleh industri kembang gula, kosmetik, media cita rasa, pengalengan ikan atau daging, obat-obatan dan es krim. Salah satu jenis alga merah yang banyak diperairan Wewaria adalah jenis Eucheuma alvarezzi Doty. Penelitian pada alga merah jenis Eucheuma cottoni telah dilakukan oleh Purwati (2005) dengan rendemen karagenan sebesar 62,5% dan digunakan sebagai absorben ion Cr (III). Namun penelitian mengenai poligalaktan sulfat pada Eucheuma alvarezzi Doty dari perairan Wewaria Ende Flores Nusa Tenggara Timur belum dilakukan. Penelitian ini bersifat ruang secara eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Penelitian Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan bulan November 2010 sampai bulan Juni 2011. Tahapan-tahapan penelitian meliputi persiapan sampel sampai didapat sebuk coklat Eucheuma alvarezzi Doty, Isolasi Poligalaktan sulfat dilakukan pada pH 8, sehingga diperoleh rendemen poligalaktan sulfat maksimum pada suhu 80 0C. fraksinasi poligalaktan sulfat dilakukan dengan menggunakan larutan KCl 2,5%. Pemurnian poligalaktan sulfat dilakukan dengan menggunakan larutan hydrogen peroksida 30%. Karakterisasi meliputi: kadar sulfat, kadar galaktosa total, kelarutan dalam air, kadar abu total, kadar abu tidak larut dalam air, dan kadar abu tidak larut dalam asam. Identifikasi jenis poligalaktan sulfat dilakukan dengan spektrofotometi inframerah. Hasil isolasi poligalaktan sulfat dari Eucheuma alvarezii Doty diperoleh rendemen total 76,37% , rendemen hasil pemurnian dengan H2O2 30% 68,226%, fraksi larut dalam KCl 2,5% adalah 16,944 % (dari hasil pemurnian), fraksi tidak larut dalam KCl 2,5% adalah 68,679% (dari hasil pemurnian). Poligalaktan sulfat murni tersebut mempunyai kadar sulfat 32,904%, kadar galaktosa total 45,59%, kadar abu total 20,77%, kadar abu tidak larut dalam asam 5,797%, dan kadar abu larut dalam air 9,756%, serta kelarutan 0,28% g/mL. Poligalaktan sulfat fraksi larut tersebut mempunyai kadar sulfat 29,6136%, kadar galaktosa total 59,98%, kadar abu total 20,79%, kadar abu tidak larut dalam asam 1,4925%, dan kadar abu larut dalam air 7,920%, serta kelarutan 1,26 % g/mL. Poligalaktan sulfat fraksi tidak larut tersebut mempunyai kadar sulfat 22,79 %, kadar galaktosa total 38,825%, kadar abu total 26%, kadar abu tidak larut dalam asam 0,99%, dan kadar abu larut dalam air 1,98%, serta mempunyai kelarutan 0,12 % g/mL. Berdasarkan hasil karakter-karakter tersebut dan identifikasi dari spectrum inframerahnya didapat untuk poligalaktan sulfat murni -Karagenan dan - Karagenan, fraksi larut -Karagenan, fraksi tidak larut -Karagenan.

Peningkatan kemampuan bercerita dengan permainan key word bag pada anak kelompok A2 di TA Ar-Ridlo Malang / Dian Riska Oktiasary

 

Kata kunci: Anak Kelompok A, Kemampuan Bercerita, Permainan Key Word Bag Anak kelompok A mempunyai kemampuan bercerita yang masih belum terstimulasi. Dari hasil observasi pada anak kelompok A2 di TA Ar-Ridlo Malang ditemukan bahwa kemampuan bercerita anak belum maksimal. Hal tersebut diperkuat dari 20 anak terdapat 15 anak yang belum mampu bercerita kembali. Rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana penerapan permainan Key Word Bag untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, 2) apakah penerapan permainan Key Word Bag dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar- Ridlo Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dirancang dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian yaitu kelompok A2 TA Ar-Ridlo Malang sebanyak 20 anak. Intrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) permainan Key Word Bag dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan bercerita. Anak memperoleh informasi baru dengan mengambil item kata kunci pada tas. Selanjutnya anak menyusun item kata kunci menjadi rangkaian cerita dan berimajinasi saat bercerita dengan menggunakan item kata kunci yang telah dirangkai. Anak berpikir kritis dalam merespon cerita. Kepercayaan diri anak juga terlihat saat anak berekspresi dengan gerak tubuh, intonasi, dan mimik wajah saat bercerita. 2) pada siklus I, persentase kemampuan bercerita mencapai 67,7%. Pada siklus II kemampuan bercerita mengalami peningkatan dengan persentase sebesar 89,1%, artinya rata-rata kemampuan bercerita anak kelompok A2 di TA Ar-Ridlo Malang mengalami peningkatan sebesar 21,4%. Disimpulkan bahwa permainan Key Word Bag dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A2 di TA Ar- Ridlo Malang. Adapun saran yang dikemukakan peneliti adalah 1) bagi sekolah, penelitian ini dapat menjadi panduan dalam mengembangkan media dan metode pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran, 2) bagi guru, penelitian ini mampu menjadi inspirasi untuk lebih terampil menggunakan teknik bercerita dalam pembelajaran, dan 3) bagi peneliti selanjutnya, peneliti selanjutnya dapat lebih mengembangkan kemampuan bercerita anak melalui media pembelajaran yang lebih kreatif lagi.

Pengembangan media pembelajaran transmisi otomatis berbaris facebook untuk mahasiswa pendidikin teknik otomotif jurusan teknik mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Isa Muhammad Said

 

Kata Kunci : Media Pembelajaran, Facebook, Transmisi Otomatis Media atau medium merupakan sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan atau membawa sesuatu. Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk membantu berlangsungnya proses belajar mengajar. Tidak sedikit dari praktisi pendidikan baik guru maupun dosen menggunakan media pembelajaran sebagai alat untuk mendampingi proses kegiatan belajar mengajar. Media pembelajaran terdiri dari beragam bentuk dan fungsi yang berbeda, bisa berupa modul atau file-file berbentuk multimedia. Multimedia merupakan perpaduan antara berbagai media berupa teks, grafik, suara, gambar gerak serta file berupa video. Facebook merupakan situs jejaring sosial yang cukup populer di dunia, facebook menyediakan ruang lingkup untuk berkomunikasi dan berbagi seperti berbagi content berupa file-file berbentuk multimedia. Tidak sedikit para pelajar yang memiliki akun facebook. Transmisi Otomatis merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dengan jumlah SKS 2 SKS dan jam studi 2 jam dengan 1 jam studi 60 menit. Tujuan dari pembelajaran mata kuliah Transmisi Otomatis ialah agar mahasiswa jurusan teknik mesin khususnya program studi pendidikan teknik otomotif dapat mengetahui nama-nama komponen, fungsi dan cara kerja serta dapat menganalisa kerja mekanik, elektronik dan hidrolik, mampu melakukan overhaul, pemeriksaan dimensi komponen serta penyetelan pada saat uji jalan dan uji kemampuan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap beberapa mahasiswa yang pernah mengikuti mata kuliah Transmisi Otomatis di Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif didapat kesimpulan dari beberapa pendapat yang diungkapkan secara langsung, bahwa mahasiswa merasa kesulitan mengejar dan memahami materi perkuliahan dengan jumlah jam studi dua jam perkuliahan dengan materi perkuliahan yang cukup kompleks. Penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah media pembelajaran mata kuliah Transmisi Otomatis bagi mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Metode penelitian dan pengembangan ini memuat tiga komponen utama, diantaranya ialah model pengembangan, prosedur pengembangan dan uji coba produk. Pengembangan media pembelajaran transmisi otomatis menggunakan model pembelajaran prosedural yang merupakan model pengembangan yang bersifat deskriptif. Prosedur penelitian dan pengembangan memaparkan prosedur yang ditempuh oleh peneliti, terdiri atas 1) Analisis Tujuan dan Karakteristik Mata Kuliah Transmisi Otomatis; 2) Analisis Sumber Belajar untuk Mata Kuliah Transmisi Otomatis; 3) Analisis Karakteristik Peserta Didik Untuk Mata Kuliah Transmisi Otomatis; 4) Indikator Pembelajaran Mata Kuliah Transmisi Otomatis; 5) Strategi Pengorganisasian Isi Mata Kuliah Transmisi Otomatis; 6) Menetapkan Strategi Penyampaian Isi Pembelajaran Transmisi Otomatis; 7) Menetapkan Strategi Pengolahan Isi Pembelajaran Transmisi Otomatis; 8) Pembuatan Produk Berdasarkan beberapa pendapat ahli media, secara prosedural melalui referensi teori, bimbingan dosen serta masukan ahli isi materi, ahli media dan uji coba user kelompok kecil, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini telah: 1). Menghasilkan media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa pendidikan teknik otomotif, 2). Memberikan alternatif media pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan karakteristik peserta didik terhadap materi yang disajikan melalui penggunaan media pembelajaran sebagai media belajar, 3). Menghasilkan media pembelajaran yang memiliki daya tarik mahasiswa terhadap informasi yang diberikan pendidik sehingga peserta didik termotivasi untuk menguasai materi yang disajikan. Media pembelajaran berbasis facebook ini dinyatakan layak oleh ahli materi, ahli media serta uji coba kelompok kecil sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang.

Efektivitas program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri pedesaan terhadap tingkat kesejahteraan hidup masyarakat di desa Kampungbaru Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri / Diana Nur Pratiwi

 

Kata Kunci: Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan dan Kesejahteraan Masyarakat. Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Namun penangannya selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Untuk itu diperlukan perubahan yang bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Salah satu kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan di pedesaan yaitu melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan. Melalui pelaksanaan PNPM Mandiri dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, diharapkan mampu ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai objek melainkan sebagai subjek upaya penanggulangan kemiskinan. Namun yang paling penting program PNPM juga bertujuan untuk menumbuhkembangkan kembali solidaritas masyarakat agar dapat bekerjasama untuk meningkatkan keberdayaan dan tingkat kesejahteraanya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Subjek penelitian ini adalah masyarakat miskin penerima bantuan PNPM Mandiri Pedesaan, Kader Pembedayaan Masyarakat Desa (KPMD), Pendamping Lokal (PL), Fasilitator Kecamatan (FK) dan ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK). Metode penelitian yang yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus sehingga dapat diperolah gambaran yang jelas dari permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan pemilihan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga tahap dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. Dilihat dari indikator efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat menunjukkan bahwa, PNPM tidak secara langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saran yang dapat diberikan kepada masyarakat adalah program kegiatan yang dilaksanakan hendaknya saling seimbang antara sarana fisik dan non fisik. Dalam hal ini tidak hanya pembangunan sarana fisik saja yang dipentingkan tetapi peningkatan kemampuan masyarakat juga sangatlah penting untuk menunjang keberhasilan dan keberlanjutan program ini.

Analisis kegiatan pengendalian atas prosedur pengesahan surat pertanggungjawaban (SPJ) bendahara pengeluaran pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nganjuk berdasarkan Permendagri No. 13 tahun 2006 / Layla Nur Ardi

 

Kata Kunci : SPJ, Kegiatan Pengendalian, Penatausahaan Pengeluaran Daerah. Salah satu prosedur pokok yang harus dilakukan dalam mewujudkan kondisi keuangan yang baik adalah pembuatan Surat Pertanggungjawaban serta Sistem Pengendalian Intern yang maksimal. Dalam pembuatan SPJ ini diperlukan ketelitian yang tinggi serta prosedur dan pemisahan tugas yang jelas, agar memperoleh laporan yang akurat. Penerapan kegiatan pengendalian atas prosedur Pengesahan SPJ oleh bendahara pengeluaran di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nganjuk dirasa sangat dibutuhkan juga. Sehingga penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kegiatan pengendalian atas pengesahan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) oleh bendahara pengeluaran dan pelaksanaan pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, pemisahan fungsi, otorisasi atas transaksi, penyelenggaraan dokumentasi atas transaksi, pembatasan akses, dan pencatatan yang akurat di BKD Nganjuk. Untuk mencapai tujuan penulisan diterapkan metode pemecahan masalah yaitu membandingkan penatausahaan pengeluaran daerah di BKD dengan yang tertuang pada Permendagri No. 13/2006 dan Permendagri No. 55/2008, serta membandingkan penerapan kegiatan pengendalian yang diutamakan pada kegiatan pokok sub bagian keuangan di Badan Kepegawaian Daerah dengan yang tertuang pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 60/2008. Hasilnya menunjukkan bahwa prosedur penatausahaan pengeluaran daerah di BKD Nganjuk sudah bisa dikatakan baik, sehingga penerapan kegiatan pengendalian dalam pengesahan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) oleh bendahara pengeluaran di BKD Nganjuk sudah terlaksana sebagaimana mestinya. Selain itu penerapan kegiatan pengendalian yang diutamakan pada kegiatan pokok sub bagian keuangan seperti otorisasi atas transaksi, pembatasan akses, dan pencatatan yang akurat sudah terlaksana dengan baik. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi juga seperti kurangnya sarana komputer pada masing-masing bidang dan tidak adanya Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) yang mengakibatkan kurangnya kelengkapan dokumen-dokumen pendukung dalam proses pengesahan Surat Pertanggungjawaban. Sehingga saran yang perlu diberikan adalah perlunya kelengkapan berupa komputer tersebut segera terpenuhi untuk masing-masing bidang. Serta adanya Bendahara Pengeluaran Pembantu di BKD untuk membantu tugas Bendahara Pengeluaran agar mengurangi tindakan penerbitan surat penolakan. Diharapkan perbaikan tersebut dapat menciptakan suatu proses pengesahan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang transparan dan sesui dengan sistem peraturan yang berlaku.

Pengembangan model latihan shooting dalam permainan sepakbola di Sekolah Sepakbola Indonesia Muda (IM) Malang / Yulianto Dwi Saputro

 

Kata kunci: pengembangan, model latihan, shooting dalam permainan sepakbola Shooting adalah salah satu ketrampilan individu dalam permainan sepakbola dengan tujuan memasukkan bola ke gawang lawan untuk memenangkan pertandingan. Langkah perbuatan yang dimaksud berupa melakukan sebuah tendangan sederhana secara umum lebih keras dari sebuah operan dan mempunyai peluang untuk menghasilkan gol dimana kiper tidak mampu menjangkau bola. Shooting merupakan salah satu komponen penting dalam sepakbola yang harus dilatihkan dengan harapan kualitas permainan individu dan tim untuk menciptakan peluang dan kesempatan menciptakan gol lebih besar. Kenyataan yang ada di lapangan khususnya pada SEkolah Sepakbola Indonesia Muda (IM) Malang, model latihan shooting masih belum mendapatkan perhatian secara khusus, sehingga diperlukan model-model latihan shooting yang jelas dan terprogram. Untuk itu peneliti akan mengembangkan model latihan shooting dalam permainan sepakbola yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan oleh pelatih dalam menerapkan model-model latihan yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model latihan shooting dalam permainan sepakbola di Sekolah Sepakbola Indonesia Muda (IM) Malang yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan latihan shooting. Prosedur pengembangan model latihan shooting dalam permainan sepakbola melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) Penentuan ide-ide, (2) Penulisan naskah media (produk), di dalamnya berisi sketsa-sketsa model-model latihan shooting, (3) Evaluasi Produk, (4) Revisi Produk I, (5) Produksi prototipe, dengan memberikan model latihan shooting pada kelompok kecil maupun kelompok besar, (6) Uji coba prototipe, dengan mengujicobakan hasil revisi produk I, (7) Revisi Produk II, (8) Reproduksi, penyempurnaan produk untuk menuju produk akhir yang diharapkan pada pengembangan. Lokasi penelitian dilakukan di Stadion Sepakbola Indonwsia Muda Malang. Subyek uji coba terdiri dari (1) Tinjauan ahli, terdiri dari 2 orang ahli yaitu ahli di bidang kepelatihan dan pelatih sepakbola, (2) Uji coba kelompok kecil adalah menggunakan 10 orang pemain sepakbola Indonesia Muda (IM) Malang yang diambil secara random sampling, dan (3) Uji coba kelompok besar atau uji coba lapangan yang terdiri dari 20 orang pemain SEkolah Sepakbola Indonesia Muda (IM) Malang. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan model latihan shooting dalam permainan sepakbola pada pemain sepakbola Indonesia Muda (IM) Malang yang dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada SEkolah sepakbola yang ada di sekitar tempat pengembangan produk, peneliti sendiri dan peneliti lain untuk dikembangkan ke arah lebih lanjut.

Peran guru PAUD dalam membentuk moral dan nilai-nilai agama anak usia dini di PAUD Amanah Blitar / Amanah Rahma Ningtyas

 

Kata Kunci: Peran Guru PAUD, Moral dan Nilai-nilai Agama, Anak Usia Dini Moral dan Nilai-Nilai Agama merupakan salah satu aspek perkembangan anak yang sangat diperlukan bagi anak agar mereka dapat membedakan perilaku mana yang baik dan buruk, mana yang harus mereka lakukan dan mana yang tidak perlu dilakukan. Masalah yang diangkat oleh peneliti ini berawal dari observasi di lapangan, ternyata terdapat perilaku moral dan nilai-nilai agama anak yang masih kurang sesuai dan belum mengerti. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendriskripsikan beberapa hal, yang mencakup perilaku moral dan nilai-nilai agama yang diberikan pada anak, Perilaku moral dan nilai-nilai agama yang dilakukan anak selama berada disekolah, dan peran guru dalam membentuk moral dan nilai-nilai agama anak. Rancangan Penelitian ini adalah tipe penelitian kualitatif yang dilakukan di PAUD Amanah dengan judul Peran Guru PAUD dalam Membentuk Moral dan Nilai-Nilai Agama Anak Usia Dini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Fokus penelitian ini adalah bentuk perilaku moral dan nilai-nilai agama anak dalam kegiatan pembelajaran di PAUD Amanah Mojorejo Wates Blitar. Peran guru dalam membentuk moral dan nilai-nilai agama anak usia dini di PAUD Amanah Mojorejo Wates Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru PAUD dalam memberikan kegiatan pembelajaran moral dan nilai-nilai agama pada anak usia dini disesuaikan dengan tingkat usia dan perkembangan anak. Guru PAUD sebagai pendidik, pengasuh, dan pembimbing diharapkan mampu dalam mengarahkan anak usia dini dalam berperilaku sesuai dengan moral dan nilai-nilai- agama. Dari hasil penelitian yang di peroleh dapat disimpulkan terdapat kegiatan pembelajaran moral dan nilai-nilai agama yang diberikan di PAUD Amanah ini di kelompok bermain,kelompok A, serta kelompok B, bentuk perilaku moral dan nilai-nilai agama yang dilakukan oleh anak, yaitu: sebelum memulai kegiatan pembelajaran, kemudian saat kegiatan pembelajaran di dalam kelas, sampai proses kegiatan pembelajaran selesai, Guru PAUD sebagai pendidik, pengasuh, dan pembimbing diharapkan mau dan mampu dalam mengarahkan anak usia dini dalam berperilaku sesuai dengan moral dan nilai-nilai- agama, maka disarankan kepada guru PAUD sebagai pendidik, pengasuh, pembimbing dapat selalu berperan dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung di sekolah sesuai dengan moral dan nilai-nilai agama.

Pengembangan media animasi kartun dengan adobe flash CS4 profesional pada materi hukum Newton tentang gerak / Fenny Dwi Rahayu

 

Kata kunci: pengembangan media, animasi kartun, adobe flash cs4 profesional, hukum Newton Guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran mempunyaipengaruh yang besar. Dalam proses pembelajaranterjadiinteraksiantara guru danmurid, dalam proses inihampirsetiap guru pernahmenemukansuasanakelas yang tidaknyaman, hal ini dikarenakan model pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi, misalnya model ceramah sehingga siswa merasa jenuh dan bosan dalam proses pembelajaran. Siswa menampakkan sikap kurang bergairah, kurang bersemangat, dan kurang siap menerima pelajaran, atau motivasi dan minat belajar mereka rendah sehingga berdampak pada nilai dan prestasi siswa yang kurang memuaskan. Fisika sebagai salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan satu kesatuan utuh yang terdiri dari materi-materi yang saling berkaitan. Mengingatfisikamerupakankonsep-konsep yang relatifabstrak, makaanimasiterhadapkonsep yang abstrakakandapatmembantumemudahkanpenyerapanfisikaolehpengguna sehinggaanimasi yang dapatmenunjukkangejalafisisperludiutamakantanpamengabaikan proses lainnya. Media pembelajaranberupaanimasikartunadalahsalahsatupemecahandarimasalahkurangnyamotivasi, keaktifandanperhatiansiswaterhadapmateripelajaran.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa untuk materi hukum Newton. Pengembangan media animasi kartun ini menggunakan model Thiagarajan (4-D Models) terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define (Pendefinisian), Design (perancangan), Developing (pengembangan), danDisseminating (penyebaran). Pengujian validitas media ini menggunakan angket. Pengujian validitas meliputi validasi media, validasi materi dan uji terbatas. Validator pada validasi media adalah dua dosen Fisika UM dansatu paraktisi multimedia. Validator pada validasi materi adalah satu dosen fisika UM, satu guru SMAN 7 Malang dan satu guru MA Darussalam Agung Malang. Uji terbatas dilakukan pada 25 siswa kelas X SMAN 7 Malang. Setelah melalui tahap validasi, media ini direvisi berdasarkan masukan-masukan yang diberikan oleh para validator. Hasil penelitian pengembangan ini berupa media pembelajaran pada materi hukum Newton untuk kelas Xdalam bentuk compact disc. Media ini dikembangkan untuk membantu guru dalam mengajar dikelas serta sarana belajar mandiri bagi siswa. Validasi hasil pengembangan media oleh validator ahli materimenunjukkan persentase rata-rata kelayakan media sebesar 92,85 % dan validasi hasil pengembangan media oleh validator ahli media menunjukkan persentase rata-rata kelayakan sebesar 92,82 % sedangkan hasil validasi terhadap kelompok kecil (uji terbatas) menunjukkan persentase rata-rata kelayakan media pembelajaran sebesar 90,33 %. Ketigahasil validasi tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran ini layak untuk dipergunakan, namun keefektifanya perlu di teliti lebih lanjutmelalui kegiatan pembelajaran di kelas.

Pengembangan model bimbingan karier untuk pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan siswa tunarungu SMALB-B / Endang Pudjiastuti Sartinah

 

Disertasi, Program Studi Bimbingan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A., (III) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Psi. Kata Kunci: bimbingan karier, pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan. Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa permasalahan mendasar yang berkaitan dengan pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan pada siswa tunarungu SMALB-B, antara lain; 1) kurangnya pemahaman diri 2) minimnya pengetahuan dalam lingkungan dunia kerja; 3) rendahnya kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap potensi dan prestasi siswa tunarungu dalam bekerja; 4) implementasi kurikulum bimbingan karier di SMALB-B lebih ditekankan pada keterampilan praktis. Dari hasil pengamatan peneliti belum ada model bimbingan karier yang menekankan pada pemahaman diri siswa tunarungu dan kaitannya dengan pemilihan karier di masa datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model bimbingan karier untuk pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan bagi siswa tunarungu SMALB-B. Prosedur pengembangan dalam penelitian ini mengadaptasi model pengembangan Borg & Gall (1983) yang terdiri atas 10 langkah, namun dalam penelitian ini hanya menggunakan 6 langkah, yaitu 1) penelusuran dan pengumpulan informasi, 2) perencanaan, 3) pengembangan format produk awal, 4) validasi rancangan prototype, 5) revisi rancangan produk utama, 6) uji lapangan utama (uji skala kecil). Prosedur pengujian akseptabilitas model bimbingan karier ini dilakukan melalui (1) uji ahli Bimbingan Konseling dan ahli Pendidikan Luar Biasa, data dari uji ahli dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif, (2) uji coba lapangan utama atau skala kecil, data dari uji lapangan di analisis dengan menggunakan teknik statistik uji Paired Samples T Test. Dari hasil uji ahli menunjukkan bahwa model bimbingan karier untuk pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan bagi siswa tunarungu tepat dan layak serta dapat digunakan dalam memberikan layanan bimbingan karier bagi siswa tunarungu. Sedangkan dari hasil uji lapangan terbatas menunjukkan adanya perubahan tingkat pemahaman diri dan pemahaman karier siswa tunarungu dengan ditunjukkan hasil uji Paired Samples T Test terhadap komponen-komponen pemahaman minat, pemahaman abilitas, pemahaman kepribadian, pemahaman nilai dan sikap, pemahaman cita-cita atau pola berpikir individu terhadap pekerjaan, pemahaman mengaitkan antara pemahaman diri dengan bidang pekerjaan yang ingin ditekuni. Sehingga dari dua uji akseptabilitas dapat disimpulkan bahwa model bimbingan karier untuk pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan bagi siswa tunarungu SMALB-B telah memenuhi kriteria akseptabilitas yaitu tepat, berguna dan layak digunakan dalam mengoptimalkan perubahan pengetahuan dan keterampilan dalam pemahaman diri dan pemahaman pekerjaan pada siswa SMALB-B.

Pengembangan sumber belajar berbasis e-learning pokok bahasan menjahit kemeja pria untuk belajar mandiri / Khumairoh

 

Kata Kunci: E-Learning, Belajar mandiri E-learning merupakan dampak dari adanya perkembangan teknologi. melalui e-learning memungkinkan tersampainya bahan ajar ke peserta didik dengan menggunakan sumber belajar online dengan demikian peserta didik akan memperoleh literatur yang lebih luas dan relevan sebagai bahan belajar mandiri yang dapat diperlajari sesuai dengan kemampuan dan waktu yang dimiliki peserta didik. Belajar mandiri adalah peningkatan kemauan dan ketrampilan siswa dalam belajar dengan sedikit bantuan dari orang lain Proses belajar mandiri memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami materi belajar dengan sedikit bantuan guru. Pada pengembangan sumber belajar berbasis e-learing pokok bahasan menjahit kemeja pria untuk belajar mandiri. Kegiatan belajar mandiri siswa dapat melakukan dengan cara mengakses materi pembelajaran melalui internet. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengadobsi model ADDIE karena berorientasi pada sistem pembelajar¬an yang dapat digunakan secara individual, kelompok kecil atau sedang. Dalam model ini memperlihatkan tahapan-tahapan dasar sesuai dengan sistem pembelajaran yang sederhana dan sesuai kebutuhan. prosedur pengembangan sumber belajar berbasis e-learning, dilakukan melalui kegiatan berikut: (1) analisis diantaranya, analisis kebutuhan (need assessment), mengidentifikasi masalah, dan melakukan analisis tugas (task analysis). (2) desain, dengan menentukan dan mengumpulkan data dan membuat rancangan (storyboard). (3) pengembangan, yaitu mengembangkan software, dan review dan rivise product (kegiatan evaluasi) oleh tim ahli dan uji coba kelompok kecil. (4) implementasi, menerapakan produk yang telah diproduksi. (5) evaluasi, untuk melihat hasil. Hasil validasi sumber belajar dari ahli media menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 88%, ahli materi menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 92%, uji coba kelompok kecil menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 89%. Sumber belajar yang dikembangkan ini dapat diterapakn untuk belajar mandiri untuk masyarakat umum dan para peminat ketrampilan menjahit pakaian. Dari Penulisan penilitian ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan pemahaman terhadap materi pokok bahasan menjahit kemeja pria.

Pengembangan bahan ajar fisika pokok bahasan listrik dinamis untuk siswa SMA kelas X semester II berbasisi sains teknologi masyarakat / Vitri Angriantika Wulandari

 

Kata Kunci: pengembangan, bahan ajar, listrik dinamis, sains teknologi masyarakat (STM). Bahan ajar berbasis Sains Teknologi Masyarakat mengambil suatu permasalahan atau isu-isu yang sedang beredar dan relevan dari lingkungan sekitar siswa. Isu-isu tersebut ditinjau berdasarkan sains dan teknologi yang ada di masyarakat. Pokok bahasan listrik dinamis dalam kompetensi dasar menurut KTSP ditekankan pada pemahaman dan penerapan. Bahan ajar yang beredar di SMA saat ini belum menerapkan model tertentu yang sesuai dengan karakteristik konsep yang diajarkan. Pengembangan bahan ajar berbasis sains teknologi masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan dalam mengajarkan listrik dinamis. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri atas bahan ajar untuk siswa dan bahan ajar untuk guru. Bahan ajar berbasis Sains Teknologi Masyarakat bercirikan khusus yaitu bagian sains terdiri atas fakta, konsep, teori, prinsip, hukum, dan keterampilan proses. Bagian teknologi berisi tentang perkembangan teknologi, kegunaan teknologi, dan cara kerja teknologi yang sejalan dengan sains dan masyarakat. Bagian masyarakat berisi tentang kegunaan fakta, konsep, teori, prinsip, dan hukum pada masyarakat. Penelitian dan pengembangan bahan ajar ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan prosedur pengembangan dan memperoleh serta mendeskripsikan kelayakan bahan ajar Listrik Dinamis untuk siswa SMA kelas X semester II berbasis sains teknologi masyarakat. Penelitian dan pengembangan bahan ajar ini mengadaptasi model pengembangan Research and Development (R & D) dikemukakan oleh Borg dan Gall. Penelitian dan pengembangan bahan ajar ini divalidasi isi oleh tiga dosen Fisika UM dan direvisi sesuai saran validator, kemudian diujicobakan satu subpokok bahasan yaitu mengenai alat ukur listrik dan besarannya di tiga sekolah yaitu SMAN 1 Kraksaan, SMAN 1 Paiton, dan SMAN 1 Gending. Uji kelayakan dilakukan oleh tiga guru fisika dari sekolah tersebut. Uji keterbacaan dilakukan oleh 83 siswa kelas X SMA, yaitu 30 Siswa SMAN 1 Kraksaan, 18 Siswa SMAN 1 Paiton, dan 35 Siswa SMAN 1 Gending. Hasil validasi isi bahan ajar untuk siswa dan untuk guru sudah menunjukkan bahan ajar berbasis sains teknologi masyarakat sebesar 95,72% dan 96,29% pada kriteria penilaian valid. Hasil uji kelayakan bahan ajar untuk siswa dinilai sangat layak dengan rata-rata kelayakan isi, kebahasaan dan penyajian secara berturut-turut sebesar 3,40; 3,81; dan 3,48. Bahan ajar untuk guru dinilai sangat layak dengan kelayakan isi sebesar 3,84, kelayakan kebahasaan sebesar 3,67, dan kelayakan penyajian sebesar 3,81. Hasil uji keterbacaan siswa adalah sangat layak dengan nilai rata-rata 3,42. Bahan ajar Listrik Dinamis berbasis Sains Teknologi Masyarakat perlu uji coba menyeluruh dan penyempurnaan sampai tahap desimilasi.

Pengembangan permainan smile sirkuit untuk pembelajaran fisik motorik anak kelompok B di TA Ar-Ridlo Malang / Aminah

 

Kata kunci: Permainan Smile Sirkuit, Pembelajaran Fisik Motorik, Anak Kelompok B Pertumbuhan dan perkembangan fisik motorik merupakan salah satu perkembangan anak yang perlu mendapat stimulasi baik, karena setiap kegiatan anak selalu melibatkan motorik. Anak akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal jika pada masa peka anak diberi stimulasi sesuai dengan kebutuhan motoriknya. Berdasarkan hasil oservasi dan wawancara diperoleh data: pada kegiatan senam pagi dan lempar tangkap bola pada anak kelas B belum mencapai hasil maksimal karena dari seluruh anak, 40 % anak mengerjakan dengan senang hati, 10% anak merasa bosan, 20% anak enggan melaksanakan kegiatan fisik motorik dan 30% anak tetap mengerjakan tapi bermalas-malasan dan tidak semangat karena terpaksa. Hal tersebut menurut peneliti kurang sesuai dengan perkembangan anak, untuk itu peneliti bekerja sama dengan guru TK untuk memperbaikinya melalui permainan Smile Sirkuit. Tujuan penelitian dan pengembangan permainan Smile Sirkuit adalah untuk mengembangkan pembelajaran fisik motorik melalui permainan Smile Sirkuit yang diharapkan mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak. Prosedur pengembangan permainan Smile Sirkuit untuk pembelajaran fisik motorik adalah: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) Melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) Mengembangkan bentuk produk awal, 4) Melakukan uji coba kelompok kecil dengan 6 subjek, 5) Melakukan revisi terhadap produk awal, 6) Melakukan uji lapangan utama dengan 34 subjek, 7) Melakukan revisi produk. Intrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Hasil penelitian dan pengembangan ini adalah 94% anak mudah melakukan permainan Smile Sirkuit, 100% anak senang melakukan permainan Smile Sirkuit dan 100% anak tidak berbahaya melakukan aktivitas permainan Smile Sirkuit. Kesimpulan penelitian dan pengembangan permainan Smile Sirkuit untuk pembelajaran fisik motorik mudah, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat diujicobakan kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya untuk menguji tingkat keefektifan dari produk yang dikembangkan.

Perubahan sosial budaya masyarakat petani setelah masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro / Tiara Ulfa Raharyati

 

Kata Kunci: Perubahan Sosial Budaya, Masyarakat Petani, Industri Pertambangan Minyak Sebelum masuknya industri pertambangan minyak, masyarakat Desa Gayam sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Setelah masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam dimungkinkan adanya perubahan kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat petani setelah kehilangan lahan pertanian akibat adanya pembebasan lahan yang dilakukan oleh pihak pertambangan. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah; (1) Bagaimana kondisi sosial budaya masyarakat petani Desa Gayam sebelum masuknya industri pertambangan minyak, (2) Bagaimana perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat petani setelah masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam, (3) Bagaimana implikasi industri pertambangan minyak terhadap pendidikan masyarakat Desa Gayam. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kondisi sosial budaya masyarakat sebelum masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam, menganalisis perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat petani di Desa Gayam setelah masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam, serta menganalisis implikasi industri pertambangan minyak terhadap pendidikan masyarakat Desa Gayam. Penelitian ini menggunakan metode historis. Hasil penelitian menunjukkan sebelum masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam, masyarakat mengandalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, hal ini menimbulkan keadaan ekonomi yang rendah, pendidikan yang rendah, gaya hidup dan pola pikir yang sederhana sedangkan dalam bidang stratifikasi sosial masyarakat petani belum ada jarak yang relatif tinggi, masyarakat masih sangat memegang adat istiadat. Setelah masuknya industri pertambangan minyak, masyarakat mengalami perubahan. Masyarakat mulai mengenal pegawai industri pertambangan minyak, sebagai salah satu strata stratifikasi sosial masyarakat, dalam hal gaya hidup masyarakat mulai mengikuti gaya hidup perkotaan dengan mengandalkan pemenuhan terhadap simbol-simbol. Bidang ekonomi, masyarakat lebih memenuhi kebutuhan konsumtif. Pendidikan mengalami kemajuan yang pesat. Adat istiadat masyarakat masih dilaksanakan, pola pikir masyarakat menjadi lebih maju. Konflik juga terjadi dalam masyarakat, konflik dapat diselesaikan dengan kesepakatan yang terjadi antara kedua belah pihak. Industri pertambangan minyak membawa dampak terhadap pendidikan masyarakat. Adanya kebutuhan untuk keahlian khusus membuat masyarakat mengikuti kursus maupun pelatihan. Perubahan sosial masyarakat petani setelah masuknya industri pertambangan minyak di Desa Gayam juga bisa dikaitkan dengan pembelajaran yang ada di sekolah maupun universitas. Dari penelitian ini dapat disarankan bahwa, pelaku pembebasan lahan pertanian hendaknya mengganti lahan pertanian masyarakat dengan lahan pertanian tidak dengan uang, karena masyarakat cenderung menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif saja, untuk pemenuhan utama tidak diperhatikan.

Penerapan pendekatan quantum learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bangoan 1 Kabupaten Tulungagung / Enggar Fitrianingrum

 

Kata Kunci: Quantum Learning, pembelajaran, IPS SD. Hasil observasi awal di SDN Bangoan 1 Kabupaten Tulungagung ditemukan bahwa pembelajaran IPS kelas IV pada kompetensi dasar “mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya”, guru masih menggunakan pendekatan pembelajaran yang jarang melibatkan serta mengaktifkan siswa. Siswa kurang antusias dalam kegiatan pembelajaran. Siswa terlihat berbicara dengan teman sebangku atau belakangnya. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Berdasarkan KKM yang telah ditetapkan sekolah yaitu 70, masih terdapat 21 siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar individu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan Quantum Learning pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Bangoan 1 Kabupaten Tulungagung, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Bangoan 1 Kabupaten Tulungagung setelah penerapan pendekatan Quantum Learning, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bangoan 1 Kabupaten Tulungagung setelah penerapan pendekatan Quantum Learning. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting, dan 4) revise plan. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Quantum Learning pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Bangoan 1 Kabupaten Tulungagung dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti pada setiap siklus indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat yaitu dari skor rata-rata yang diperoleh 85,49 pada siklus I dan meningkat menjadi 98,75 pada siklus II. Pada penerapan pendekatan Quantum Learning presentase peningkatan sebesar 13,26. Penerapan pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas siswa 72,01 pada siklus I dan meningkat menjadi 76,27 pada siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari rata-rata 73,57 pada siklus I dan meningkat menjadi 84,40 pada siklus II. Pada hasil belajar siswa terjadi peningkatan dengan prosentase sebesar 10,83 dengan ketuntasan belajar klasikal 76,2% (32 siswa) pada siklus I dan 95,2% (40 siswa) pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: (1) Hasil observasi penerapan pendekatan Quantum Learning pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. (2) Penerapan pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS pokok bahasan aktivitas ekonomi. (3) Penerapan pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS pokok bahasan aktivitas ekonomi.

Pengaruh pemberian tugas terstruktur terhadap hasil belajar geografi kelas X MA Negeri Kandat Kediri / Endah Hapsari Syuhada

 

Kata kunci: metode pemberian tugas terstruktur, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dapat berdampak positif terhadap hasil belajar geografi siswa. Penerapan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran melalui pemberian tugas terstruktur. Metode pemberian tugas terstruktur dapat menjadi alternatif pemilihan pembelajaran tersebut, karena melalui pemberian tugas terstruktur, siswa focus pada materi yang disajikan guru, kemudian siswa diharuskan untuk berpikir menggunakan kemampuannya dan menjawab soal yang telah diberikan oleh guru. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tugas terstruktur terhadap hasil belajar Geografi siswa kelas X MA Negeri Kandat. Rancangan penelitian menggunakan eksperimen semu (quasy experimen). Subjek penelitian adalah siswa kelas X MA Negeri Kandat yang terdiri atas kelas X-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes objektif. Teknik analisis data adalah uji t dengan menggunakan komputer program SPSS 14.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian tugas terstruktur terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X MA Negeri Kandat. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata gain score siswa kelas kontrol sebesar 10,78 dan rata-rata gain score siswa kelas eksperimen sebesar 23,28. Berdasarkan uji hipotesis, diperoleh nilai p adalah 0,000. dengan demikian p<0,05, sehingga terdapat pengaruh signifikan pemberian tugas tertsruktur terhadap hasil belajar geografi. Atas dasar temuan tersebut disarankan kepada guru geografi untuk dapat menggunakan metode pemberian tugas terstruktur sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran geografi.

Peningkatan kemampuan menemukan ide pokok dan ide penjelas dalam paragraf melalui model Cooperative Intergrated Reading and Composition (CIRC) pada siswa kelas IV SDN Madyopuro 3 Kota Malang / Dian Nur Rahmawati

 

Kata kunci: Ide pokok paragraf, Ide penjelas paragraf, Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang penting untuk dipelajari sedini mungkin. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat aspek, salah satu diantaranya adalah aspek membaca. Membaca adalah proses untuk memperoleh makna atau informasi. Dalam aspek membaca terdapat kompetensi dasar menemukan ide pokok dan ide penjelas suatu paragraf. Ide pokok merupakan kunci untuk mengetahui ide masalah yang dibicarakan oleh penulis, sedangkan ide penjelas adalah ide-ide yang menjelaskan ide pokok. Informasi yang diperoleh dari siswa kelas IV di SDN Madyopuro 3 bahwa kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok dan ide penjelas masih rendah. Hal itu dikarenakan kurangnya minat baca siswa dan rendahnya pemahaman siswa terhadap bacaan, serta metode pembelajaran yang digunakan masih kurang efektif. Dengan demikian, maka peneliti perlu melakukan variasi dalam pembelajaran khusunya pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi ide pokok dan ide penjelas. Adapun tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan menemukan ide pokok dan ide penjelas dalam paragraf dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menemukan ide pokok dan ide penjelas dalam paragraf pada siswa kelas IV SDN Madyopuro 3 Kota Malang melalui model CIRC. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Madyopuro 3 Kota Malang pada siswa kelas IV dengan jumlah 42 siswa, terdiri dari 18 laki-laki dan 24 perempuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menerapkan model CIRC menyatakan bahwa terjadi peningkatan terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa dalam menemukan ide pokok dan ide penjelas selama pembelajaran berlangsung mulai dari siklus I sampai dengan siklus II. Hal ini dibuktikan, pada siklus I banyak siswa yang masih merasa kebingungan dalam menemukan ide pokok dan ide penjelas, sehingga aktivitas siswa dalam menemukan ide pokok dan ide penjelas diperoleh rata-rata 64,2 dan hasil belajar siswa diperoleh rata-rata 58,23 dengan siswa yang tuntas sebanyak 11 siswa (26%). Sedangkan, pada siklus II banyak siswa yang sudah paham dan bisa menemukan ide pokok dan ide penjelas dengan tepat dan benar, sehingga aktivitas siswa dalam menemukan ide

Peningkatan kreativitas anak melalui bermain finger painting kelompok B di RA Muslimat Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang / Nur Siti Zulaikah Dwi Alami

 

Kata kunci: Kreativitas, Bermain Finger Painting Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan dirasakan merupakan kebutuhan setiap anak. Sehubungan dengan ini pendidikan hendaknya bertuju pada pengembangan kreativitas peserta didik agar dapat memenuhi kebutuhan pribadi, kebutuhan masyarakat dan negara. Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kreativitas anak. Disebabkan karena kegiatan pembelajaran monoton dan lebih menekankan pada pengembangan akademis. Berdasarkan latar belakang di atas, yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah penerapan permainan finger painting untuk mengembangkan kreativitas anak kelompok B di RA. Muslimat Gedangan, Malang?; (2) Apakah penerapan permainan finger painting dapat mengembangkan kreativitas anak kelompok B di RA. Muslimat Gedangan, Malang? Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses bersiklus. Dalam setiap siklus ada beberapa tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di RA. Muslimat Gedangan, Malang mulai bulan Februari-Maret 2011. Subyek adalah anak kelompok B. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi dan dokumentasi. Untuk mengumpulkan data, menggunakan instrumen lembar observasi dan instrumen penilaian untuk menilai hasil karya anak. Analisis data dilakukan secara deskriptif baik secara kuantitatif dan kulitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan dapat meningkatkan kreativitas anak yaitu melukis dengan jari bentuk yang ada dilingkungan sekitar anak, meniru membuat garis tegak, lurus, lengkung dan lingkaran, melukis dengan jari/finger painting (tempat wisata), Melukis dengan jari (tempat rekreasi yang paling disukai/pemandangan), terbukti dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada observasi kreativitas anak dan kreativitas hasil karya anak pada pra tindakan skor keberhasilan sebesar 48% dan pada siklus I 61%, terjadi peningkatan 13%. Siklus I 61% dan pada siklus II skor keberhasilan mencapai 82%, terjadi peningkatan 21%. Peningkatan yang terjadi sesuai standar yang diharapkan peneliti, bahkan sudah melebihi batas minimal yang diterapkan yaitu sebesar 75%. Saran bagi guru yaitu agar dapat menerapkan permainan finger painting untuk mengembangkan kreativitas anak dengan kegiatan yang lebih dapat memberikan anak-anak kebebasan untuk menciptakan hasil karya yang lebih banyak sesuai dengan ide-ide kreatif yang dimiliki anak. Bagi peneliti selanjutnya kegiatan yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan oleh penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga akan menjadi lebih baik lagi dan untuk meningkatkan kemampuan anak yang lain tidak hanya kreativitasnya.

Penerapan permainan maze berintangan untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik anak kelompok A di TK ABA 6 Kota Malang / Rizky Lailatul Khomariyah

 

Kata kunci : Permainan maze berintangan, fisik motorik, taman kanak-kanak. Dalam kegiatan fisik motorik yaitu senam bersama 7 anak dari 23 anak yang dapat melakukan senam dengan baik. Mereka mengalami kesulitan saat menirukan gerakan ibu guru. Kemungkinan hal ini disebabkan kurang berkembangnya keterampilan motorik, koordinasi gerak tangan dan kaki anak. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan keterampilan fisik motorik yang efektif, menarik dan menyenangkan, yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar sebagai media pembelajaran. Selain itu, pembelajaran fisik motorik yang optimal juga harus dapat memperhatikan komponen-komponen perkembangan fisik motorik. Tujuan Penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan permainan maze berintangan di kelompok A TK ABA 6 Kota Malang dan mendeskripsikan peningkatkan fisik motorik anak di kelompok A TK ABA 6 Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Adapun tahap-tahap penelitiannya terdiri dari 2 siklus, yaitu meliputi: siklus 1 dan siklus 2 yang masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi. Penelitian ini dilakukan di TK ABA 6 Kota Malang Kelompok A yang berjumlah 23 anak, mulai bulan Februari-Maret 2012. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, penilaian perkembangan anak dan dokumentasi. Data yang diperoleh melalui observasi, hasil penilaian kemajuan individu dan dokumentasi kemudian melalui proses analisis dalam kerangka memperoleh data yang benar, kemudian disimpulkan dan dimaknai. Hasil penelitian yaitu penerapan permainan maze berintangan meliputi kegiatan anak menelusuri jalan sambil merangkak, meloncat, berjalan di atas papan titian, melempar dan menendang bola. Bahwa kegiatan maze berintangan dapat meningkatkan kemampuan fisik motorik anak hal ini terlihat dari hasil nilai keseluruhan kelas pada siklus I yaitu 90% dan pada siklus II yaitu 96,67% yang berarti anak sangat mampu bermain maze berintangan. Disimpulkan bahwa permainan maze berintangan dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik anak. Disarankan agar guru AUD memberikan kegiatan pembelajaran yang sesuai usia anak didik dan karakteristik anak-anak khususnya dalam mengembangkan fisik motorik anak, salah satunya yaitu dengan bermain maze berintangan. Dan ketika melakukan kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan dengan cara bermain, karena bermain merupakan hal yang paling menyenangkan dan menggembirakan bagi anak

Pengaruh agency cost terhadap dividend payout ratio pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009 / M. Isa Anshori

 

Kata Kunci: Insider ownership, dispersion ownership, free cash flow, collaterizable assets, dividend payout ratio. Kebijakan dividen telah lama menjadi topik yang menarik di bidang keuangan. Sampai saat ini, telah banyak penelitian dilakukan terhadap agency cost dan kebijakan dividen. Kebijakan dividen adalah sebuah keputusan yang sangat penting dalam sebuah perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh agency cost terhadap kebijakan dividen di dalam pasar Indonesia. Perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2007-2009 menjadi sampel dalam penelitian ini. Sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling dengan hasil sebanyak 11 perusahaan. Hasil dari penelitian ini adalah menyatakan adanya pengaruh yang signfikan secara simultan antara agency cost terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009. Sama halnya dengan, uji parsial yang dilakukan, menunjukkan bahwa variabel insider ownership dan collaterizable asset memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap kebijakan dividen, sedangkan variabel dispersion ownership dan free cash flow mmiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap kebijakan dividen.

Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk pemetaan lahan kritis daerah aliran sungai Lesti Kabupaten Malang / Galih Aries Swastanto

 

Kata Kunci: Pemetaan, SIG, Lahan Kritis, DAS Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari sistem tata air di wilayah DAS yang buruk. Banjir yang terjadi kemudian mengakibatkan penumpukan sedimen diwilayah hilir dan kawasan waduk, hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut. Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. Sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran air lainnya hingga lahan – lahan di sekitar DAS menjadi kritis. Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam penelitian ini digunakan untuk memetakan daerah-daerah kritis dan identifikasi tingkat kekritisanya. Pemetaan mutlak diperlukan untuk mengetahui sebaran lahan kritis di DAS Lesti. Penelitian ini dilakukan dengan cara penggabungan beberapa peta yang merupakan bagian dari analisa dalam Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi observasional, yaitu mengadakan penelitian atau pengamatan gejala dan faktorfaktor untuk memperoleh data sebagai landasan dalam penyajian sesuai dengan maksud dan tujuan. Sedangkan tindakan operasionalnya meliputi tahapan pengumpulan data baik data primer maupun data skunder, untuk data primer pengumpulan data dengan cara purposive sampling, kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah satuan medan, sehingga setiap satuan medan yang sama akan dipilih salah satu untuk diambil sampelnya. Tahap selanjutnya adalah pemrosesan data yang telah terkumpul baik data primer maupun skunder. Berikutnya dilakukan analisis data di dalam laboratorium. Tahap terakhir adalah klasifikasi hasil analisis data yang bertujuan untuk menentukan sebaran daerah potensi longsor dan tingkat kerentanannya. Berdasarkan analisis data dilapangan terdapat 109 satuan medan, dengan kesimpulan sebagai berikut: Daerah penelitian memiliki berbagai tipe kelas kekritisan lahan meliputi sangat kritis 3907,79 Ha (11,29%); kritis 16943,34 Ha(48,95%); semi kritis 13037,03 Ha (37,66%); dan potensial kritis 725,27 Ha (2,10%). Dengan kondisi tersebut perlu dilakukan usaha – usaha konservasi dan rehabilitasi lahan yang disesuaikan dengan hasil analisa dan penggunaan lahan yang ada, berdasarkan hasil analisa didapatkan arahan sebagai berikut: kawasan budidaya tanaman semusim 1991,62 Ha (4,27%); kawasan budidaya tanaman tahunan 23058,02 Ha (49,45%); kawasan penyangga 13249,57 Ha (28,42%); kawasan lindung 8327,31 Ha (17,86%)

Pengaruh iklan media TV terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio (studi pada komunitas Mio Fans Club Malang) / Lucky Septia Nurhadi

 

Penerapan permainan kotak rahasia untuk meningkatkan kemampuan pramembaca anak kelompok B di TK ABA 6 Kota Malang / Amalia Nur Fitriya

 

kunci: Anak TK kelompok B, kemampuan pramembaca, permainan kotak rahasia. Kemampuan pramembaca anak kelompok B TK ABA 6 Malang masih rendah, hal ini terbukti dari 13 anak yang tuntas belajar dengan rata-rata kelas yang mencapai 76,6 dengan persentase 77%. Metode pembelajaran yang dilakukan guru kurang menarik minat dan perhatian anak, sehingga dalam kegiatan pembelajaran beberapa anak lebih memilih ramai sendiri daripada mendengarkan penjelasan dari guru. Dalam kegiatan pembelajaran diperlukan kegiatan yang menarik bagi anak, khususnya untuk menstimulasi kemampuan pramembaca anak yaitu dengan metode bermain melalui permainan kotak rahasia. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan permainan Kotak Rahasia dalam upaya meningkatkan kemampuan pramembaca pada dan meningkatkan kemampuan pramembaca anak melalui penerapan permainan kotak rahasia. Penelitian ini dilakukan di Kelompok B TK ABA 6 Kota Malang dengan jumlah siswa 21 anak mulai Maret sampai April 2012 dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, penilaian perkembangan anak dan dokumentasi. Data yang diperoleh melalui observasi, hasil penilaian kemajuan individu dan dokumentasi kemudian melalui proses analisis dalam kerangka memperoleh data yang benar, kemudian disimpulkan dan dimaknai. Analisis data menggunakan deskripsi kualitatif dan deskripsi kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan 2 hal yaitu; (1) Penerapan permaian kotak rahasia dapat meningkatkan kemampuan pramembaca anak kelompok B TK ABA 6 Malang yang meliputi mencari gambar, membaca kata, mencari huruf yang hilang, menyusun huruf dan bercerita. (2) Bahwa dengan kegiatan bermain Kotak Rahasia dapat mengembangkan kemampuan pramembaca di kelompok B TK ABA 6 Kota Malang. Hal ini terbukti dengan hasil rata-rata nilai anak meningkat dari 81,4 dengan persentase 82% pada siklus 1 menjadi 82,6 dengan persentase 83% yang berarti sangat baik. Jumlah ketuntasan belajar anak juga meningkatkan dari 18 anak dengan jumlah persentase mencapai 85,71% menjadi 20 anak dengan persentase 95,23%. Kesimpulannya permainan kotak rahasia dapat meningkatkan kemampuan pramembaca anak kelompok B, disarankan bagi para pendidik anak usia dini untuk melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan pembelajaran.

Analisis rasio eagles untuk mengukur perbedaan tingkat kinerja bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis global / Ita Purnamawati

 

Kata kunci: tingkat kesehatan bank, bank konvensional, bank syariah, krisis ekonomi global, EAGLES. Terjadinya krisis ekonomi global tahun 2008 diduga berpengaruh pada perekonomian baik di negara maju maupun dinegara berkembang. Dengan adanya isu tersebut kinerja bank sebagai lembaga mediasi dalam perekonomian perlu diperhatikan tingkat kinerjanya. Jenis bank di Indonesi berdasarkan jenis kegiatannya dibagi menjadi dua, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Pada keduanya terdapat prinsip yang berbeda. Berdasarkan perbedaan prinsip tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan untuk membandingkan kinerja bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis. Dengan penelitian ini diharapkan dapat diketahui apakah perbedaan prinsip tersebut berpengaruh pada tingkat ketahanan terhadap isu krisis yang terjadi. Penelitian menggunakan model analisis EAGLES. Kelebihan dari model ini adalah aspek EAGLES adalah model analisis kuantitatif yang dalam prakteknya mudah digunakan dan relevan untuk mengukur tingkat kinerja bank. Populasi dalam penelitian ini adalah bank konvensional dan bank syariah yang terdaftar di Bank Indonesia yaitu sebanyak 149 bank konvensional dan 11 bank syariah. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive samplingdengan kriteria kriteria tertentu dan dihasilkan 7 bank konvensional dan 3 bank syariah yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji beda menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan Mann-Whitney Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan EAGLESterdapat perbedaan tingkat kesehatan bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global. Pada bank konvensional terdapat perbedaan yang signifikan pada ROA, DGR, LGR, dan SRQ 1 antara periode sebelum dan setelah krisis, sementara untuk bank syariah perbedaan hanya terdapat pada DGR. Hal ini menunjukkan bahwa bank konvensional lebih terpengaruh terhadap isu krisis daripada bank syariah.Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar pada penelitian berikutnya melibatkanlebihbanyaksampelpenelitianuntuk memperkuat hasil penelitian tersebut. selain itu disarankan pula untuk menambahkanproksi lain yangrelevanuntukmemperkayamodel analisiskinerja bank, sehinggadapatmemberikanmanfaatbagi bank danpihak lain yang berkepentingandengankinerja bank.

Penerapan pelatihan kelentukan tubuh sebagai pendukung pelaksanaan senam guling ke depan pada mata pelajaran pendidikan jasmani bagi siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Batu / Avin Adibah H.B.

 

Kata kunci: Pelatihan Kelentukan Tubuh, Senam Guling ke Depan. Pendidikan jasmani dan kesehatan khususnya materi senam guling ke depan belum berjalan dengan baik, hal tersebut dikarenakan bahwa dalam pelaksanaan senam guling ke depan perlu dipersiapkan pemanasan yang benar terutama pemanasan yang menuju pada kelentukan tubuh. Berdasarkan observasi awal, diperoleh hasil pemberian pemanasan yang menuju pada pelaksanan guling depan saat awal pembelajaran kurang maksimal, 2) jumlah pembelajaran efektif untuk senam guling depan ada 2 kali tatap muka yang terdiri dari 1 kali pemberian materi dan 1 kali tes, 3) kurang variatif materi yang diberikan, 4) tidak adanya pendinginan dan evaluasi setelah pelajaran. Oleh karena itu perlu adanya pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan yang sistematis.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pembelajaran senam guling ke depan dengan pelatihan kelentukan tubuh pada 32 siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Batu. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelatihan kelentukan tubuh. Hasil pada siklus 1, siswa yang nilainya melampaui KKM sebesar 20 (62,50%) dari 32 siswa, pada siklus II menjadi 30 (93,75%). Setelah dilakukan PTK, ketuntasan belajar klasikal siswa mengalami peningkatan 21,87% menjadi 62,50% pada siklus I. Pada siklus II, ketuntasan belajar klasikal siswa mengalami peningkatan 3 l,25% menjadi 93,75%. Peneliti menyarankan dalam pembelajaran senam guling ke depan dengan menggunakan latihan kelentukan tubuh dapat diterapkan dalam pembelajaran senam guling ke depan, karena dengan menggunakan latihan tersebut terbukti dapat meningkatkan keterampilan senam guling ke depan di SMA Negeri 1 Batu.

Pengembangan game interaktif sebagai media pembelajaran bahasa Arab untuk siswa kelas IV semester 1 SD/MI / Hanik Tasniati

 

Kata Kunci: game interaktif, media pembelajaran, bahasa Arab untuk anak. Game interaktif merupakan game yang memanfaatkan teknologi komputer atau digital sebagai sarana dalam beraktifitas bermainnya. Game merupakan aplikasi yang cukup diminati oleh semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini karena game bisa dimanfaatkan sebagai ajang refreshing dan olah otak. Game interaktif yang mempunyai sifat dasar bersenang-senang dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai media pembelajaran yang menarik untuk menyampaikan pembelajaran bahasa Arab SD/MI. Sehingga pembelajaran bahasa Arab untuk anak tidak berlangsung secara monoton. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) untuk menghasilkan game interaktif sebagai media pembelajaran bahasa Arab untuk siswa kelas IV semester 1 SD/MI, (2) untuk mengetahui hasil pengembangan game interaktif sebagai media pembelajaran bahasa Arab untuk siswa kelas IV semester 1 SD/MI, dan (3) untuk mengetahui petunjuk penggunaan game interaktif sebagai media pembelajaran bahasa Arab untuk siswa kelas IV semester 1 SD/MI. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Penelitian ini mengadaptasi model pengembangan yang dikemukakan oleh Hannafin dan Pack. Prosedur pengembangan dalam penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi/ analisis kebutuhan, (2) studi pendahuluan, (3) memilih materi, (4) tahap produksi, (5) menyusun petunjuk pemanfaatan, (6) tahap validasi dari ahli materi dan ahli media, (7) tahap revisi dan penyempurnaan . Validasi media ini meliputi : (a) uji coba ahli media dan ahli materi (b) uji coba guru bidang studi bahasa Arab SDIT Nurul Izzah Gurah Kediri, (c) uji coba lapangan atau klasikal. Pada uji coba lapangan ini menggunakan siswa-siswi kelas IV SDIT Nurul Izzah, Gurah Kediri. Subjek coba dalam pengembangan ini meliputi ahli media, ahli materi, guru bidang studi bahasa Arab, dan siswa kelas IV SDIT Nurul Izzah, Gurah Kediri. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dan soal angket. Jenis data yang digunakan dalam peneltitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif Hasil penelitian adalah berupa produk CD interaktif game bahasa Arab. Berdasarkan hasil validasi yang melibatkan ahli media dan ahli materi bahasa Arab keseluruhan media pembelajaran yang merupakan produk pengembangan memiliki tingkat validitas 84,63%. Hal ini berarti media pembelajaran tersebut memenuhi kriteria valid. Untuk meningkatkan tingkat validitasnya, diadakan revisi terhadap media. Berdasarkan hasil uji coba guru bidang studi bahasa Arab di SD/MI diperoleh prosentase sebesar 87,5 %. Hal ini berarti media game interaktif ini juga memenuhi kriteria valid. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, diperoleh prosentase sebesar 81,94%. Hal ini menunjukkan bahwa media game interaktif bahasa Arab yang dikembangkan juga memenuhi kriteria valid. Saran bagi peneliti lain, hendaknya peneliti selanjutnya dapat mengembangkan model game lain atau media interaktif lain agar media pembelajaran bahasa Arab menjadi lebih bervariasi dengan tema yang lebih luas dan muncul inovasi-inovasi baru dalam media pendidikan khususnya bahasa Arab.

Perbedaan hasil belajar siswa pada matapelajaran PKn kelas 4 SD di gugus IV Sananwetan Kota Blitar dengan menggunakan model DDCT dan keliling kelompok / Letta Yuskadiningrum

 

Kata kunci: hasil belajar PKn, DDCT, dan Keliling Kelompok. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 4 di SDN Sananwetan 2 dan SDN Sananwetan 3, KKM untuk seluruh bidang studi adalah 70. Secara umum masih sekitar 40% siswa yang mampu melampaui KKM tersebut. Beberapa cara sudah dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada matapelajaran PKn, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal. Pembelajaran yang berpusat pada guru sudah tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum tahun 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini pembelajaran dipusatkan kepada siswa dengan guru sebagai fasilitator. Pada pembelajaran ini siswa diberi kebebasan untuk mengkonstruksi pengetahuan kognitifnya sendiri. Atas dasar kenyataan tersebut, maka pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan perlu menggunakan model yang inovatif. Suatu model yang dapat memotivasi siswa dalam kelompok agar saling membantu untuk menguasai materi yang disajikan sesuai dengan pengalaman melalui kebebasan berpendapat, tidak hanya menekankan keaktifan siswa pada aspek fisik akan tetapi juga aspek intelektual, sosial, mental, emosional dan spiritual serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang mampu mengembangkan hal-hal tersebut adalah model Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan model Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) pada matapelajaran PKn dengan materi pokok globalisasi siswa kelas 4 SD Gugus IV Sananwetan Kota Blitar. (2) Mengetahui perbedaan hasil belajar siswa pada matapelajaran PKn materi pokok globalisasi antara siswa kelas 4 SD di Gugus IV Sananwetan Kota Blitar yang dibelajarkan menggunakan model Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) dengan yang dibelajarkan menggunakan model keliling kelompok. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal – tes akhir dan kelompok kontrol ( the randomized pretest – posttest control group design, using mathced subjects). Pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif pada penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan pelaksanaan model DDCT. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa Kelas 4 SD di Gugus IV Sananwetan Kota Blitar. Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen perlakuan (terdiri dari, RPP dan LKK) dan instrumen pengukuran (terdiri dari tes dan lembar observasi penilaian kelompok). Analisis dilakukan dengan uji t dan atau uji Mann-Whitney pada taraf signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen (dibelajarkan dengan menggunakan model DDCT) lebih tinggi dari pada kelas kontrol (dibelajarkan dengan menggunakan model keliling kelompok), hal ini didasarkan pada hasil uji Mann-Whitney diketahui nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah 0,000 < 0,05. Jadi Ho ditolak sedangkan Ha diterima. Artinya ada perbedaan hasil belajar siswa pada matapelajaran PKn materi pokok globalisasi antara siswa kelas 4 SD di Gugus IV Sananwetan Kota Blitar yang dibelajarkan menggunakan model Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) dengan yang dibelajarkan menggunakan model keliling kelompok. Pelaksanaan pembelajaran DDCT pada siswa kelas 4 SD di gugus IV Sananwetan Kota Blitar dengan materi pokok globalisasi relatif telah berlangsung dengan baik sesuai dengan langkah-langkah yang telah termuat di dalam RPP. Hal ini dibuktikan dengan persentase pelaksanaan pembelajaran yaitu: 99,87%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa: (1) Pelaksanaan pembelajaran DDCT pada siswa kelas 4 SD di gugus IV Sananwetan Kota Blitar dengan materi pokok globalisasi relatif telah berlangsung dengan baik sesuai dengan langkah-langkah yang telah termuat di dalam RPP. Langkah-langkah yang telah direncanakan tersebut meliputi lima tahap, yaitu tahap 1 (hening), tahap 2 (membangun komunitas), tahap 3 (kegiatan inti), tahap 4 (refleksi), dan tahap 5 (evaluasi). Hal ini dibuktikan dengan persentase pelaksanaan pembelajaran yaitu: 99,87%. Siswa di kelas kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakakan model keliling kelompok, setiap siswa akan mengkonstruksi pemahaman secara individu dikarenakan sebelum kegiatan diskusi kelompok tidak ada upaya untuk menjalin komunitas serta upaya mempersiapkan mental, emosional dan spiritual sehingga siswa akan mengutamakan kepentingannya sendiri dan dapat menyebabkan persaingan antar individu. (2) Ada perbedaan hasil belajar siswa pada matapelajaran PKn materi pokok globalisasi antara siswa kelas 4 SD di Gugus IV Sananwetan Kota Blitar yang dibelajarkan menggunakan model Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) dengan yang dibelajarkan menggunakan model keliling kelompok Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan saran antara lain: (1) Selama proses pelaksanaan pembelajaran, terutama pada saat menerapkan tahap-tahap yang terdapat dalam model DDCT, kelas harus terkondisi dengan baik sebab diperlukan alokasi waktu yang cukup lama dalam penerapannya. Oleh karena itu perlu adanya manajemen yang baik dari guru untuk mengelola kelas dan waktu agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat tercapai. (2) Bagi peneliti selanjutnya, mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai pokok bahasan dan alat penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan, maka untuk mengetahui lebih jelas tentang model pembelajaran DDCT dalam pembelajaran PKn perlu dilakukan penelitian pada pokok bahasan PKn yang lain dan mengembangkan model penilaian yang dapat membantu tenaga pengajar lebih obyektif memberi penilaian hasil belajar siswanya.

Kajian makna simbolik kesenian tayub di Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung / Astika Kusumawardhani

 

Kata Kunci: Makna Simbolik, Kesenian, Tayub Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang mewarnai kehidupan manusia. Kesenian juga merupakan karya manusia yang bersifat indah. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, terdapat berbagai macam kesenian tradisional yang masih bertahan seiring perkembangan jaman, salah satunya kesenian tayub. Tayub adalah kesenian tradisional khas suku Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tayub merupakan istilah yang digunakan oleh orang Jawa dalam sebuah seni tari. Kesenian ini sangat populer di kalangan masyarakat Jawa karena tampilannya yang atraktif, dinamis, estetis dan ekspresif. Tari Tayub adalah seni tari yang menjadikan perempuan sebagai unsur dominan. Simbol merupakan pengantar pemahaman terhadap objek, dalam pertunjukan kesenian Tayub terdapat berbagai simbol yang ditampilkan dan makna di dalam simbol tersebut yang menarik untuk digali. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) Keberadaan kesenian tayub di Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. (2)Makna simbolik kesenian tayub di Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan sistem dokumentasi. Analisis data yang dilakukan yaitu bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari. Kemudian pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah perpanjangan keikutsertaan, ketekunan atau keajegan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Keberadaan kesenian Tayub di Desa Segawe merupakan bentuk pewarisan budaya nenek moyang atau leluhur yang diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Kesenian tayub tersebut bernama Setyo Pradonggo dan dengan adanya kesenian tayub menimbulkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan budaya daerahnya. Kesenian tayub Setyo Pradonggo menjunjung tinggi nilai kesopanan dan keindahan dalam setiap pertunjukannya, tata prilaku tidak sopan, kasar, dan erotik tidak digunakan. Selain itu di era modernisasi seperti sekarang ini, kesenian tayub Setyo Pradonggo masih tetap bertahan dan populer. (2) Dalam pertunjukan kesenian tayub terdapat berbagai simbol yang ditampilkan antara lain ritual sesaji, musik gamelan, kostum, gerakan tari, dan saweran. Makna dari setiap simbol tersebut antara lain : a) Ritual sesaji mempunyai makna material untuk meminta keselamatan dan kelancaran, serta makna sosial untuk menghargai tradisi leluhur. b) Musik gamelan mempunyai makna material untuk pemantaban rasa tari warenggono guna keindahan dalam penampilanya dan makna sosialnya yaitu untuk memperthankan musik tradisional Jawa, agar tetap bisa dinikmati oleh masyarakat, terutama di Desa Segawe. c) Kostum mempunyai makna material yaitu sebagai daya tarik atau keindahan dalam pertunjukan kesenian tayub dan makna sosialnya yaitu bentuk identitas diri yang mempengaruhi citranya dalam masyarakat. d) Gerakan tari mempunyai makna material yaitu untuk menunjukkan kepiawaian warenggono dalam menghibur para penikmat kesenian tayub dan makna sosial yaitu sebagai daya pikat warenggono terhadap penikmat tayub. e) Saweran mempunyai makna material yaitu untuk meminta gendhing yang diinginkan dan makna sosial yaitu bentuk rasa terimakasih penikmat tayub karena merasa terhibur dengan penampilan warenggono. Berdasarkan kesimpulan maka disarankan: (1) Perkembangan kesenian tradisional Tayub di Kabupaten Tulungagung khususnya di Desa Segawe, sebaiknya harus lebih disoroti Pemerintah Daerah Tulungagung (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan), selain untuk mempertahankan eksistensinya, dapat dijadikan salah satu aset yang dimiliki Kabupaten Tulungagung dan merupakan wujud pelestarian budaya. (2) Masyarakat Desa Segawe diharapkan untuk tetap melestarikan kesenian tradisional Setyo Pradonggo, agar tetap bertahan dan populer di era modern seperti sekarang ini. Supaya Kesenian Tradisional tayub tetap diwariskan pada generasi penerusnya nanti. (3) Bagi jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang diharapkan dengan adanya penelitian mengenai makna simbolik Kesenian Tayub di Desa Segawe ini, bisa dijadikan wawasan baru untuk ditambahkan dalam literatur yang terkait dengan masalah tersebut. Misalnya dalam hal ini bisa dikaitkan dengan sejarah kebudayaan. (4) Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada tema ini, diharapkan dapat mencari ruang kosong dari penelitian sebelumnya, yang masih belum dibahas. Misalnya tentang pengaruh pemahaman makna simbol dari pertunjukan kesenian tayub terhadap wawasan masyarakat Jawa.

Profesionalitas guru pendidikan kewarganegaraan yang sudah memperoleh sertifikat pendidik di SMPN I se-kabupaten Ponorogo / Mawan Wahyu Jatmiko

 

Kata kunci:Profesionalitas Guru, SertifikatPendidik Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan rendahnya kualitas guruadalah dengan menyelenggarakan program sertifikasi guru. Mengacu kepada amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dandosen, ditegaskan bahwa guru merupakan suatu profesi tersendiri di masyarakat. Undang-Undang ini juga mengatur kualifikasi pendidikan minimal untuk memenuhi persyaratan profesi, sertifikasi profesi, pendidikan keprofesian berkelanjutan, hak dan kewajiban pendidik, kesejahteraan pendidik, pengangkatan, mutasi, pemberian penghargaan, pemberhentian pendidik, dan organisasi profesi pendidik. Undang-Undang tersebut juga menjamin kesejahteraan guru yang telah memenuhi persyaratan profesi yang bentuknya berupa gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan fungsional, profesi, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan.Tujuansertifikasi guru inijugaikut menentukankelayakan guru dalammelaksanakantugassebagaiagenpembelajaran, dimana tujuan adanya sertifikasi itu sendiri yaituuntukmeningkatkanmutudanmenentukankelayakan guru dalammelaksanakantugassebagaiagenpembelajaran. Dengan adanya sertifikasi, pemerintah berharap kinerja guru akan meningkat, dan pada gilirannya mutu pendidikan nasional akan meningkat pula. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kompetensiguru pendidikankewarganegaraandi SMP Negeri I se-KabupatenPonorogo yang sudahmemperolehsertifikatpendidik. Sekaligus mendeskripsikanhambatan yang dihadapioleh guru dalamupayamenjadi guru yang profesional. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penumpulan data dilakukandenganmetodewawancara, observasidandokumentasi.Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yaitu kegiatan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dari hasil penelitian tersebutdiperoleh data sebagaiberikut. PertamaKompetensi pedagogik guru yang sudah memperoleh sertifikat pendidik di Kabupaten Ponorogo adalah selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan kreatifitas dalam proses pembelajaran sebagai bagian dari kemampuan pedagogik guru agar di dalam proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Seperti dalam menyusun silabus PKn, karena selama ini sebagian

Optimasi konsentrasi NaOH dan waktu perendaman pada perlakuan awal ampas tebu dengan metode autoklafing-perendaman dalam sakarifikasi ampas tebu secara enzimatis / Maria Anggelina Mimi

 

Sifat organoleptik mi basah substitusi tepung ubi jalar kuning dengan jumlah yang berbeda / Wari Defiana

 

Kata Kunci: Mi basah, tepung Ubi Jalar Kuning, Sifat Organoleptik Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu membuat mi basah yang disubstitusi tepung ubi jalar kuning dengan jumlah yang berbeda.Tujuan penelitian untuk mengetahui sifat organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap warna, tekstur, dan flavour mi basah tersebut. Analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analisis sidik ragam. Apabila ada perbedaan yang signifikan maka dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan yang signifikan pada taraf 1% terhadap warna, tekstur, dan flavour mi basah substitusi tepung ubi jalar kuning sebesar 10%, 15%, dan 20%. Hasil uji mutu hedonik mi basah pada substitusi tepung ubi jalar sebesar 20% menghasilkan warna kuning tua, tekstur agak kenyal, dan flavour tepung ubi jalar cukup kuat. Mi basah substitusi tepung ubi jalar sebesar 15%, menghasilkan warna kuning, tekstur cukup kenyal, dan flavour tepung ubi jalar yang kurang kuat. Mi basah substitusi tepung ubi jalar sebesar 10% menghasilkan warna kuning muda, tekstur kenyal, dan flavour tepung ubi jalar yang kurang kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah substitusi tepung ubi jalar kuning terhadap terigu dengan jumlah yang berbeda pada pembuatan mi basah akan menghasilkan sifat organoleptik yang berbeda secara signifikan. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu perlu di teliti mengenai formulasi bahan utama dan bahan tambahan yang lebih tepat pada proses pembuatan mi basah substitusi tepung ubi jalar, agar menghasilkan hasil organoleptik yang lebih baik

Bahasa kias Laskar Pelangi karya Andrea Hirata / Mawaddah Muhajiroh

 

Kata kunci : bahasa kias, novel, Andrea Hirata Beragam karya sastra menggunakan gaya bahasa kiasan untuk menimbulkan kesan menyamakan atau membandingkan dalam bentuk ungkapanungkapan yang biasanya dalam bentuk populer. Penggunaan bahasa (kiasan) dalam novel ini dapat menggambarkan tokoh dan wataknya, mendeskripsikan latar/setting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penggunaan bahasa kias pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sesuai penglasifikasian gaya bahasa kiasan menurut Gorys Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa. Bahasa kias yang ditemukan juga mengacu pada kekhasan yang digunakan pengarangnya dan bahasa kias yang membangun unsur intrinsik. Penelitian ini menggunakan pandangan kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan struktural-semiotik. Data penelitian berupa teks paparan kebahasaan dalam novel Lakar Pelangi yang mengandung bahasa kias. Sumber datanya berupa novel Laskar Pelangi. Penelitian dilakukan oleh peneliti sendiri sebagai human instrument dan dengan pembuatan instrumen penjaringan data. Prosedur pengumpulan data dilaksanakan dengan 1.membaca novel secara keseluruhan. 2. Membaca literatur yang berkaitan. 3. Memahami dan menganalisis unsur intrinsik dan bahasa kias. Analisis data pada penelitian dilakukan melalui prosedur (1) pengaturan data sesuai dalam tahap permasalahan yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalisasi tertentu sesuai dengan antisipasi ciri, urutan pilihan, data kategorisasi yang akan dihasilkan, (3) memberi kode pada data yang ditemukan, (4) penafsiran representasi makna sesuai dengan masalah yang akan dijawab, dan (5) penentuan data mana yang dianggap tidak layak, sampai ke prediksi keperluan pengumpulan data baru akibat kerumpangan data bila dihubungkan dengan keseluruhan rentang permasalahannya. Berdasarkan analisis, ditemukan sepuluh jenis penggunaan bahasa kias yaitu simile, metafora, personifikasi, alegori (meliputi alegori dan parabel), alusio, eponim, sinekdoke, metonimia, antonomasia, dan ironi (meliputi sinisme dan sarkasme). Dari 502 data yang diperoleh, gaya bahasa kiasan yang paling banyak ditemukan adalah simile berjumlah 140, sedangkan lainnya metafora berjumlah 46, alegori dan parabel 6data, personifikasi 42data, metonimia, alusi 3data, eponim 12data, sinekdoke 5 data, metonimia 12 data, antonomasia 5 data, dan ironi (sinisme dan sarkasme) 20 data. bahasa kias juga menampilkan tokoh atau penokohan, mendeskripsikan watak tokoh, dan menggambarkan/menampilkan latar. Dari analisis data diperoleh 28 data gaya bahasa yang menggambarkan latar, 66 data menggambarkan dan menghadirkan tokoh atau penokohan,45 data yang menggambarkan watak tokoh. Selain itu, gaya bahasa kiasan juga menunjukkan kekhasan pengarangnya. Kekhasan gaya bahasa yang digunakan pengarang, yaitu Andrea Hirata adalah adanya penggunaan kata-kata ilmiah , pemanfaatan peristiwa atau keadaan alam, pemanfaatan nama/sifat binatang/tumbuhan, pemanfaatan nama ilmuwan dan tokoh populer.

Evaluasi terpadu sistem pendidikan (studi kasus pada sekolah menengah di lingkungan Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan) / P. Gin Indriani

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing I: Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, dan Pembimbing II: Prof.Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata kunci: evaluasi terpadu, keefektifan evaluasi, sistem pendidikan. Mengingat sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan yang mempunyai komponen pokok yang harus dikembangkan antara lain: (1) peserta didik; (2) tenaga kependidikan; (3) kurikulum; (4) sarana prasarana; (5) keuangan; (6) kemitraan dengan masyarakat; (7) bimbingan dan pelayanan khusus, maka semua komponen-komponen tersebut yang sangat berguna untuk terwujudnya peningkatan mutu. Perlu disadari pula, bahwa mutu keluaran pendidikan sangat ditentukan oleh mutu manajemennya yang meliputi kegiatan perencanaan, penyusunan program, pengorganisasian, pelaksanaan/penggerakan, pengawasan, dan evaluasi. Dua hal terakhir ini hampir merupakan titik lemah dalam manajemen tradisional yang menganggap bahwa fungsi pengawasan/kontrol dan evaluasi pada setiap proses termasuk lembaga pendidikan, dianggap sebagai upaya mengurangi kebebasan dan kemerdekaan para pelaksana kegiatan tersebut. Oleh karena itu, evaluasi sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, baik ditinjau dari segi profesionalisme tugas pendidikan, proses, dan manajemen pendidikan itu sendiri mengharuskan adanya aktivitas evaluasi. Pengawasan dan pembinaan sebagai bagian dari manajemen harus dijalankan secara seimbang dengan fungsi manajemen lainnya, agar dapat dicapai peningkatan kinerja unit kerja secara optimal. Hal ini mendorong adanya pelaksanaan proses evaluasi yang lebih profesional, obyektif, jujur dan transparansi sebagai rangkaian dari pengawasan, pembinaan dan pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Fokus penelitian ini adalah evaluasi terpadu sistem pendidikan: studi kasus pada Sekolah menengah Di Lingkungan Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan, dengan sub fokus sebagai berikut: (1) Alasan pelaksanaan evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah pada Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan. (2) Faktor pendukung evaluasi terpadu dan pemberdayaannya. (3) Faktor penghambat evaluasi terpadu dan strategi mengatasinya. (4) Keefektifan evaluasi terpadu. Berdasarkan konteks dan fokus penelitian tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berilkut: (1) Mendiskripsikan pelaksanaan evaluasi terpadu bagi Sekolah – sekolah pada Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan. (2)Mendiskripsikan faktor pendukung evaluasi terpadu dan pemberdayaannya bagi Sekolah – sekolah pada Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan. (3)Mendiskripsikan faktor penghambat evaluasi terpadu dan strategi mengatasinya (4) Mendiskripsikan efektivitas pelaksanaan Evaluasi terpadu bagi sekolah-sekolah pada Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan jenis penelitian kualitatif. Tehnik pengumpulan data: (1) observasi, (2) wawancara, (3)dokumentasi data yang diperoleh melalui metode tersebut, diorganisasikan, ditafsirkan dan dianalisa untuk mendapat konsep dan abstraksi temuan penelitian. Pengecekan keabsahan data melalui: (1) perpanjangan kehadiran peneliti, (2) observasi yang diperdalam, (3) triangulasi, (4) pembahasan sejawat, (5) pengecekan anggota, (6) transferabilitas, (7) ketergantungan, (8) konfirmabilitas. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan: (1) pelaksanaan evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah Yayasan Pendidikan sekolah Lanjutan pandaan, dengan maksud sebagai pemetaan kekuatan serta antisipasi terhadap penurunan kualitas dan kuantitas peserta didik, sarana peningkatan profesionalisme manajemen sekolah termasuk guru, pegawai dalam lingkungan YPSLP,(2) faktor pendukung evaluasi terpadu dan pemberdayaannya yakni faktor internal dari dalam (internal) peserta dan faktor dari luar (External) (3) faktor penghambat evaluasi terpadu dan strategi mengatasinya yakni faktor dari dalam yang berkaitan dengan SDM guru-pegawai, siswa yang belum siap menerima perubahan, faktor dari luar adalah faktor waktu dan teknik (4) keefektifan evaluasi terpadu bagi sekolah-sekolah pada yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan membawa perubahan terhadap penataan program kerja sekolah dan Administrasi sekolah (keuangan), kerja sama, SDM guru - pegawai dan sumber daya lainnya. Sebagai kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa kegiatan evaluasi terpadu yang dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan, bagi unit kerjanya dipandang perlu dengan maksud sebagai pemetaan kekuatan , antisipasi kemungkinan penurunan kualitas dan kuantitas peserta didik, untuk peningkatan profesionalisme manajemen persekolahan, sebagai alat regulasi diri (self-regulation) sekolah, mengukur mutu hasil pendidikan, mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah, membuat keputusan kepada peserta didik serta mengadakan perbaikan kurikulum dengan memakai model pendekatan proses; faktor pendukung evaluasi terpadu ada dua faktor yakni faktor internal atau dari dari peserta yang ingin saling belajar, dan saling berbagi pengalaman sedangkan faktor eksternal adalah adanya materi yang selalu up to date atau yang aktual; dan upaya pemberdayaannya yang dilakukan berupa sosialisasi materi hasil evaluasi terpadu; faktor penghambatnya adalah dari sumber daya manusianya (SDM) sedangkan faktor eksternalnya adalah waktu dan teknis pelaksanaannya; keefektifannya tercermin pada tertatanya program kerja sekolah, kerja sama, kinerja dan kedisiplinan guru,kualitas lembaga(prestasi)baik akademik maupun non akademik, output (keluaran) cukup bagus dibanding dengan input (masukan).Semua hal ini bermuara pada suatu titik harapan yakni menghasilkan output pendidikan yang berkualitas (bermutu). Beberapa saran yang bisa disampaikan dalam penelitian ini adalah Evaluasi terpadu sebaiknya tidak hanya dihadiri oleh Para Kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan urusan saja, tetapi harus di ikuti oleh semua dewan guru, sehingga hasil evaluasi terpadu lebih mudah dalam implementasinya di lapangan; Materi evaluasi terpadu harus aktual serta nara sumber evaluasi terpadu tidak hanya dari Yayasan, tetapi nara sumber ahli dari luar Yayasan, yang ahli dalam bidang pendidikan, sehingga lebih diperkaya wawasan peserta; Pengurus yayasan, seyogianya membentuk tim evaluator independen evaluasi terpadu; Yayasan pendidikan lainnya dapat belajar dari Yayasan Pendidikan Sekolah Lanjutan Pandaan tentang pentingnya kegiatan evaluasi terpadu guna melihat keefektifan proses belajar mengajar di sekolah; Dinas pendidikan dapat memfasilitasi sekaligus mendukung kegiatan serupa bagi sekolah - sekolah di wilayahnya; Bagi peneliti selanjutnya evaluasi terpadu bagi sekolah - sekolah dapat dikembangkan dengan cara yang lain demi keefektifan sebuah lembaga pendidikan.

Pengembangan modul pemberdayaan UMKM berbasis knowledge management: studi pada BDSP (Business Development Service Provider) Kota Kediri / Rr. Forijati

 

). Disertasi : Program Studi Pendidikan Ekonomi Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Wahjoedi, ME. (2) Prof. Dr. Bambang Banu Siswoyo, MM (3) Dr. Hari Wahyono, MP.d Kata Kunci : Pengembangan Modul, Pemberdayaan UMKM, Knowledge Management BDSP (Business Development Service Provider). Berdasarkan pengalaman dari berbagai negara baik negara maju maupun berkembang menunjukkan bahwa UMKM memiliki peran yang penting dalam pengembangan ekonominya. Data BPS tahun 2009 menunjukkan bahwa dari 48.528 juta industri di Indonesia 97,30% adalah UMKM. Oleh karena itu pengembangan UMKM merupakan hal penting yang secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan sebagian besar rakyat Indonesia. Beberapa kendala yang menghambat pengembangan UMKM, antara lain pengusaha UMKM sering tidak mempunyai catatan keuangan, sehingga tidak mengetahui secara pasti keuntungan yang di dapat dan ketika akan mengakses pemodalan ke perbankan, mereka cenderung tidak bisa menghitung berapa sesungguhnya modal yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan. Karena kelemahan dari berbagai aspek, UMKM memerlukan bantuan, bimbingan dan pelatihan oleh BDSP. dan untuk memperlancar pemberdayaan UMKM diperlukan suatu Modul Pemberdayaan berbasis knowledge management berupa Modul Manajemen Usaha Untuk UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Modul Manajemen Usaha untuk UMKM berbasis Knowledge management BDSP. Modul ini di gunakan oleh UMKM yang berada dalam binaan BDSP. Knowledge Management diperlukan oleh BDSP agar dapat menjalankan tugasnya sebagai fasilitator dalam pembelajaran Modul Manajemen Usaha tersebut. Disamping itu juga, dalam rangka mengevaluasi keberhasilan pemberdayaan UMKM yang berbasis knowledge management BDSP, dikembangkan instrumen evaluasi pelatihan penggunaan Modul Manajemen Usaha yang diadopsi dari model CIPP. Spesifikasi produk yang dihasilkan adalah 1) Modul pemberdayaan berupa Modul Manajemen Usaha untuk UMKM dan 2) Instrumen Evaluasi Pelatihan Modul Manajemen Usaha yang mengadopsi model CIPP. Prosedur pengembangan dalam penelitian ini adalah 1) studi pendahuluan yaitu mengeksplorasi kebutuhan UMKM dan mengeksplorasi knowledge management BDSP sehingga diketahui knowledge management BDSP dalam rangka pemberdayaan UMKM 2) pembuatan Modul Manajemen Usaha Untuk UMKM yang terdiri dari : a) skenario pembelajaran b) materi pembelajaran c) evaluasi. 3) validasi dari expert: ahli rancangan pembelajaran, ahli isi bidang ilmu, ahli media pembelajaran 4) pelaksanaan kegiatan pengembangan (uji coba prototype) 7) evaluasi kegiatan dengan model CIPP. Hasil pengembangan, secara konseptual menurut tanggapan/penilaian ahli rancangan, ahli isi bidang ilmu dan ahli media pembelajaran menunjukkan produk pengembangan yang dihasilkan dinyatakan tepat dan layak untuk dimanfaatkan sebagai Modul pembelajaran. Dari hasil uji coba kelompok kecil dan ujicoba lapangan menunjukkan bahwa produk pengembangan yang diujicobakan menghasikan perolehan belajar yang positif bagi subyek uji coba (pebelajar). Hal ini ditandai dengan nilai hasil uji validitas dengan kualifikasi sangat baik. Dari hasil analisis Pre test dann post test di uji Paire Test sample t-test (uji t-test) menunjukkan perbedaan yang signifikan antara hasil tes akhir dengan tes awal. Evaluasi kebermaknaan Modul Manjemen Usaha untuk UMKM dengan menggunakan model CIPP, di simpulkan bahwa dari aspek Konteks, Input, Proses dan Produk dapat dikatakan bahwa instrumen evaluasi tersebut sudah baik dan layak untuk digunakan sebagai alat evaluasi pemberdayaan melalui pelatihan. Hal ini juga didukung oleh hasil analisis kualitatif yang menyatakan bahwa Modul Manajemen Usaha untuk UMKM sangat berguna bagi UMKM dalam pengembangan usahanya. Oleh sebab itu, Modul Pemberdayaan berupa Modul Manajemen Usaha Untuk UMKM berbasis Knowledge Management dan instrument evaluasi pelatihan Modul Manajemen Usaha Untuk UMKM dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh semua lembaga dan juga Stakeholder yang bergerak di bidang pemberdayaan UMKM.

Hubungan fungsional variasi spasi elektroda terhadap penetrasi kedalaman pada data survei geolistrik / Hoirotus Siyamah

 

Kata Kunci : geolistrik, wenner, res2dinv, resistivity, resistivitymeter Bagian dalam Bumi terdiri dari lapisan dan batuan yang heterogen. Resistivitas dari penyusun suatu lapisan digunakan sebagai indikator lapisan batuan. Suatu perubahan lapisan dapat dideteksi dengan mengukur perubahan nilai resistivitas dari batuan. Salah satu metode fisika yang digunakan untuk menentukan nilai resistivitas adalah metode Geolistrik. Metode Geolistrik yang digunakan adalah metode tahanan jenis. Pada penelitian ini, pengukuran resistivitas dilakukan dengan menggunakan OYO McOHM. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah Vertical Sounding konfigurasi Wenner. Penelitian ini dilakukan di 3 tempat yaitu, di daerah Kedung Kandang, Pandan Wangi, dan Jalan Semarang depan UM. Tujuannya adalah mengetahui hubungan fungsional variasi spasi elektroda terhadap penetrasi kedalaman pada data survey geolistrik untuk jenis lapisan batuan yang berbeda. Interpretasi dan analisis data menggunakan software Res2Dinv. Berdasarkan ketiga grafik yang dihasilkan, dapat dijelaskan bahwa untuk spasi yang sama, diproleh kedalaman yang sama meskipun nilai Resistivitasnya berbeda. Hasil fitting Microsoft Excel adalah y=1,248e0,053x, dengan Y= kedalaman dan X= jarak spasi elektroda. Pada masing-masing grafik hubungan, diperoleh persamaan kurva yang sama, yang artinya bahwa spasi elektroda terhadap penetrasi kedalaman tidak dipengaruhi oleh jenis lapisan batuan.

Sintesis, karakterisasi, dan prediksi struktur senyawa kompleks dari ion logam Ni2+ dan Co2+ dengan ligan isokuinolina dan tiosianat / Fitrianingsih

 

Kata kunci : kompleks Nikel(II), kompleks Co(II), ligan isokuinolina, tiosianat, sintesis. Penelitian mengenai sintesis senyawa kompleks dengan menggunakan ion logam transisi, ligan N-heterosiklik, dan ligan jembatan telah banyak dilakukan. Senyawa kompleks yang disintesis dari ion logam Ni2+ dan Co2+ dengan ligan isokuinolina dan tiosianat menarik untuk dipelajari struktur dan karakteristiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi struktur dan karakteristik senyawa kompleks yang disintesis dari ion logam Ni2+ dan Co2+ dengan ligan isokuinolina dan tiosianat. Penelitian eksperimental dilakukan di Laboratorium Penelitian Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Tahap-tahap penelitian adalah (1) sintesis kompleks nikel(II)-isokuinolina dan kompleks nikel(II)isokuinolina-kobalt(II) tiosianat dengan reaksi langsung, kristalisasi dilakukan dengan penguapan perlahan; (2) karakterisasi senyawa kompleks hasil sintesis yang meliputi penentuan titik lebur, penentuan kandungan unsur, dan bentuk permukaan kristal dengan SEM-EDAX, uji kualitatif anion pengimbang, dan uji daya hantar listrik. Hasil penelitian adalah (1) senyawa kompleks nikel(II)-isokuinolina dapat disintesis dengan metode reaksi langsung; menghasilkan kristal berwarna hijau muda; rentang titik lebur 187-189ºC; dan memiliki prediksi struktur [Ni(C9H7N)3(CH3OH)]Cl2. (2) senyawa kompleks nikel(II) isokuinolina-kobalt(II) tiosianat dapat disintesis dengan metode reaksi langsung; menghasilkan kristal berwarna hijau kehitaman; rentang titik lebur 225-227ºC; dan memiliki prediksi struktur [Ni(C9H7N)2(CH3OH)][Co(SCN)3(CH3OH)3]Cl.

Analisis kandungan logam dalam simplisia yang digunakan oleh dua perusahaan jamu di Malang Raya / Nevy Vilanti

 

Kata kunci: Simplisia, Jamu, Logam dalam simplisia, X-Ray Fluorescence. Ramuan obat tradisional merupakan kumpulan dari beberapa jenis simplisia. Suatu simplisia selain mengandung senyawa organik juga mengandung senyawa anorganik seperti logam Fe, Cu, Zn dan Mn. Logam yang terdapat dalam simplisia dapat berupa logam toksik seperti logam Hg, Pb, Cd, As dan logam esensial seperti logam Fe, Cu, Zn dan Mg. Penetapan sampel simplisia diawali dengan pemberian kuesioner kepada perusahaan jamu. Perusahaan jamu A dan perusahaan jamu B memberikan hasil jawaban kuesioner. Sampel simplisia ditetapkan berdasarkan hasil jawaban kuesioner dari kedua perusahaan. Sampel penelitian merupakan simplisia yang banyak digunakan oleh dua perusahaan jamu. Simplisia yang digunakan adalah serbuk simplisia sambiloto (Andrographidis Herba), serbuk simplisia jati belanda (Guazumae Folium), serbuk simplisia kunir putih (Zedoariae Rizhoma), serbuk simplisia pegagan (Centelae Herba), serbuk simplisia meniran (Phyllanti Herba), serbuk simplisia temulawak (Xanthorrizae Rhizoma), serbuk simplisia brotowali (Tinosporae Caulis), serbuk simplisia pecut kuda (Stachytarphetae Folium). Pengujian logam dilakukan dengan menggunakan metode analisis X-ray Fluorescence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam yang terdapat dalam 10 sampel simplisia meliputi 17 jenis logam yaitu silikon (Si), fosfor (P), sulfur (S), kalium (K), kalsium (Ca), titanium (Ti), kromium (Cr), mangan (Mn), besi (Fe), nikel (Ni), tembaga (Cu), seng (Zn), molibdenum (Mo), barium (Ba), europium (Eu), renium (Re), dan ytterbium (Yb). Lima jenis logam meliputi logam P, S, K, Mn dan Fe merupakan logam yang ditemukan dalam seluruh sampel simplisia sedangkan 12 logam lainnya hanya terdapat dalam beberapa simplisia tertentu. Kadar dan jenis logam berbeda-beda untuk masing-masing simplisia.

Hubungan antara waktu belajar dan waktu kegiatan ekstra kurikuler terhadap prestasi belajar IPA pada siswa SLTP Islam Gondanglegi Kabupaten Malang / Slamet

 

Kata-kata kunci: Waktu, belajar, kegiatan ekstra kurikuler, prestasi belajar. Penelitian ini mengungkapkan sebagian keadaan siswa kelas II SLTP Islam terutama yang berkaitan dengan waktu belajar, waktu kegiatan ekstra kurikuler dan prestasi belajar IPA. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara waktu belajar dan waktu kegiatan ekstra kurikuler dengan prestasi belajar IPA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data diperoleh dari penyebaran angket. Angket digunakan untuk menjaring waktu belajar dan waktu kegiatan ekstra kurikuler. Waktu belajar dikonversikan dalam bentuk angka yaitu: 1, 2, 3 dan 4. Demikian juga dengan waktu kegiatan ekstra kurikuler. Data yang diperoleh digunakan untuk mencari korelasi antara waktu belajar terhadap prestasi belajar IPA, dan waktu kegiatan ekstra kurikuler terhadap prestasi belajar IPA. Untuk itu digunakan analisis product moment. Untuk mengetahui korelasi antara kedua variabel bebas yaitu waktu belajar dan waktu kegiatan ekstra kurikuler secara. bersama-sama terhadap prestasi belajar IPA, maka digunakan analisis regresi. Dari hasil analisis antara waktu belajar dengan prestasi belajar IPA ternyata menunjukkan adanya korelasi. Hal ini disebabkan siswa-siswi kelas II SLTP Islam Gondang legi sudah cermat dalam mengatur jadwal kegiatannya serta telah melaksanakannya dengan teratur. Sedangkan dari hasil analisis korelasi antara waktu kegiatan ekstra kurikuler terhadap prestasi belajar IPA tidak ditemukan adanya korelasi. Hal ini disebabkan karena kurang minatnya siswa-siswi dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler merupakan satu kesatuan yang saling mendukung terhadap prestasi belajar IPA yang baik, siswa tidak cukup dengan belajar saja. Melainkan juga perlu penerapan belajar dalam bentuk lain yaitu dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.

Penerapan media cerita gambar seri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan anak kelompok B di TK Kemala Bhayangkari 11 Tumpang / Tri Lestari

 

Kata Kunci : kemampuan berbahasa lisan, media cerita gambar seri Penelitian ini berlatar belakang pada masih rendahnya kemampuan berbahasa lisan anak terutama dalam hal mengungkapkan gagasan/ide untuk menyampaikan maksud. Anak mengalami kesulitan dalam pengembangan kemampuan berbahasa lisan, terutama ketika guru melakukan tanya jawab dengan anak. Hal ini disebabkan kegiatan pembelajaran yang diterapkan selama ini kurang menyenangkan bagi anak, kurang memperhatikan karakteristik anak, dan bersifat memaksa. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendiskripsikan penerapan media cerita gambar seri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan anak kelompok B di TK Kemala Bhayangkari 11 Tumpang. (2) mendiskripsikan apakah penerapan media cerita gambar seri dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan anak kelompok B di TK Kemala Bhayangkari 11 Tumpang. Penelitian ini dilakukan di TK Kemala Bhayangkari 11 Tumpang, pada anak Kelompok B yang berjumlah 31 anak. Instrument pada penelitian ini menggunakan lembar observasi. Penelitian dilaksanakan 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tindakan penelitian berupa penerapan metode bercakap-cakap, pemberian tugas, praktek langsung, dan bercerita menggunakan media cerita gambar seri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media cerita gambar seri dilaksanakan melalui 10 langkah. Penerapan media cerita gambar seri dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan anak, peningkatan kemampuan anak ditandai dengan meningkatnya ketuntasan klasikal anak dari siklus I dan siklus II dimana pada siklus I kemampuan anak mencapai 70,9% menjadi 96,67% pada siklus II. Pada siklus I ada 9 anak yang belum mencapai keruntasan klasikal pada siklus II hanya ada 1 anak yang belum mencapai ketuntasan klasikal. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini penerapan media cerita gambar seri dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berbahasa lisan anak. Dengan menggunakan media yang menarik bagi anak dan ukuran yang dapat dilihat oleh semua anak. Serta dengan memperhatikan karakteristik dari masing-masing anak.

Identifikasi spesies-spesies kapang kontaminan pada tepung maizena dari beberapa pasar di Kabupaten Malang / Nursiah Hamzah

 

Kata kunci : tepung maizena, kapang kontaminan Tepung maizena berasal dari biji jagung yang digiling. Unsur gizi yang terkandung di dalam biji jagung berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Tepung maizena dapat terkontaminasi oleh berbagai spesies kapang kontaminan, sehingga dapat menurunkan kualitasnya dan membahayakan kesehatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui spesies-spesies kapang kontaminan yang terdapat dalam tepung maizena, 2) mengetahui spesies kapang kontaminan apakah yang paling dominan yang terdapat pada tepung maizena. Tepung maizena yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari tiga pasar di Kabupaten Malang, yaitu pasar Karangploso, pasar Singosari dan pasar Lawang. Jenis penelitian ialah penelitian deskriptif observasional. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dimulai pada bulan Januari sampai dengan Maret 2011. Sampel penelitian ini ialah 10 gram tepung maizena yang diperoleh dari salah satu penjual di pasar Karangploso, pasar Singosari dan pasar Lawang Kabupaten Malang. Sampel tepung maizena sebanyak 10 gram dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1. Suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1% secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6. Perlakuan sampel tepung maizena dilakukan sebanyak 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 250C selama 7 24 jam. Selanjutnya dilakukan isolasi, jumlah koloni tiap spesies, deskripsi ciri-ciri morfologi koloni dan mikroskopis, serta identifikasi terhadap tiap-tiap spesies kapang kontaminan yang tumbuh pada medium lempeng Czapek Agar (CA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) kapang kontaminan yang ditemukan dalam sampel tepung maizena pada penelitian ini sebanyak 16 spesies kapang yaitu Penicillium corylophilum Dierckx, Penicillium nalfiovense Laxa, Oidiodendron sp, Penicillium citrinum Thom, Aspergillus versicolor (Vuill) Tiraboschi, Penicillium camemberti Thom, Penicillium verrucosum var cyclopium (Westling) Samson dkk , Aspergillus tereus Thom, Penicillium frequentans Westling, Penicillium hirayaramae Udagawa, Penicillium verrucosum Diereck var melanoclorum Samson dkk, Varicosporium sp, Tricoderma harzianum Rifai, Penicillium verrucosum Dercks, Nematoctonus Sp, dan Aspergillus niger Van Tieghem, 2) spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada tepung maizena ialah ialah Aspergillus versicolor (Vuill) Tiraboschi dengan jumlah koloni dari spesies kapang tersebut ialah 5,5 Χ 106 cfu/g.

Pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan pabrik gula Djombang Baru) / Novita Layyina Wardah

 

Kata kunci : kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja, komitmen organisasional Keterbatasan manusia ada pada pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan. Persoalan tersebut akan dapat terlaksana dan terpenuhi apabila beberapa variabel yang mempengaruhi mendukung. Variabel-variabel yang dimaksud adalah kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Kepemimpinan transformasional menyiratkan bahwa kepemimpinan melibatkan penggunaaan pengaruh dan bahwa semua hubungan dapat melibatkan kepemimpinan. Peran pemimpin sangat menentukan dalam mewujudkan kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Bila organisasi memeperlakukan para karyawan secara adil dan menyediakan balas jasa dan jaminan kerja yang memadai, para karyawan besar kemungkinan akan memiliki kepuasan kerja dan komitmen organisasional yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) deskripsi kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja dan komitmen organisasional di Pabrik Gula Djombang Baru, (2) pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja, (3) pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasional, (4) pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional, dan (5) pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah karyawan Pabrik Gula Djombang Baru sebanyak 275 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proporsional random sampling dengan sampel sebanyak 73 responden. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Berdasarkan analisis deskriptif, kondisi kepemimpinan transformasional di Pabrik Gula Djombang Baru adalah cukup baik, kepuasan kerja karyawan adalah puas, dan komitmen karyawan adalah cukup baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (2). Terdapat pengaruh positif secara langsung yang signifikan antara kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja karyawan Pabrik Gula Djombang Baru, (3).Terdapat pengaruh positif secara langsung yang signifikan antara variabel kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional karyawan Pabrik Gula Djombang Baru, (4). Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja karyawan Pabrik Gula Djombang Baru.

Pengaruh iklim organisasi sekolah dan kepuasan kerja terhadap kinerja guru ekonomi SMA se-kota Malang / Lifa Farida Panduwinata

 

Kata Kunci: IklimOrganisasiSekolah, KepuasanKerja, Kinerja Usaha meningkatkankualitaspendidikanekonomitanpaprioritasperbaikankualitasguru merupakanhal yang tidakmungkin.Menyimakpendapat di atas yang lebihpentingdilakukanadalahbagaimanamenjadikanprofesi guru ekonomisebagaijabatan yang terhormatdanmembanggakandalammasyarakat.Kurikulumekonomisebaikapapun, danaseberapabanyak, program serelevanapapundanteknologisecanggihapapuntidakmampumenghasilkankualitaspendidikanekonomi yang baiktanpadidukungolehguru yang berkualitasdanaktifuntukmerekamperistiwaekonomi yang terjadi di sekitarlingkungannya.Selainitu, melaluisentuhangurulahdihasilkanpesertadidik yang berkualitas, baiksecaraakademis, skill (keahlian), kematangan, emosional, dan moral serta spiritual.Dengandemikian, akandihasilkangenerasimasadepan yang siaphidupdengantantanganjamannya. Olehkarenaitu, diperlukansosok guru yang mempunyaikualifikasi, kompetensi, dandedikasi yang tinggidalammenjalankantugasprofesionalnya.Dalamhalini guru tidaksemata-matasebagaipengajar yang melakukan transfer ilmupengetahuan, tetapijugasebagaipendidik yang melakukan transfer nilai-nilaisekaligussebagaipembimbing yang memberikanpengarahkandanmenuntunsiswadalambelajar. Penelitianinibertujuanuntukmenjelaskanpengaruhlangsungiklimorganisasisekolahdankepuasankerjaterhadapkinerja guru ekonomi. Penelitianinimerupakanpenelitianeksplanatori (penjelasan).Teknikpengumpulan data yang digunakandalampenelitianiniadalahteknikkuesioneratauangket.Sedangkananalisisdatanyamenggunakananalisisdeskriptifdananalisisjalur (Path Analysis).Adapunsubjek yang digunakandalampenelitianiniadalahguru ekonomi SMA di Kota Malang denganpopulasisebesar 80 orang dansampelsebesar 66 orang.Hasilanalisisdeskriptifmenunjukkanbahwasecaraumumiklimorganisasisekolah SMA Se-Kota Malang menurut guru ekonomiadalahdalamkondisi yang sangatkondusif, tingkatkepuasankerja guru beradapadatingkattinggi, dankinerja guru beradapadatingkatsangattinggi.Hasilujihihotesisjugamemperlihatkanbahwaterdapatpengaruhlangsungpositifsignifikaniklimorganisasisekolahterhadapkinerja guru ekonomi, tidakterdapatpengaruhlangsungpositifsignifikankepuasansekolahterhadapkinerja guru ekonomi, terdapatpengaruhlangsungpositifsignifikaniklimorganisasisekolahterhadapkepuasankerja guru ekonomi, dantidakterdapatpengaruhtidaklangsungiklimorganisasisekolahterhadapkinerja guru ekonomimelaluikepuasankerja. Berdasarkanhasiladabeberapa saran yang diajukanyaitusebagaiberikut: (1) disarankanpadapihaksekolah agar selalumemberikankesempatankepada guru ekonomiuntukdapatmengikutiperkembangandanmemanfaatkanteknologiinformasi&komunikasi yang adadalamrangkauntukmeningkatkankualitaspembelajaran yang padaakhirnyadapatmeningkatkankinerja guru ekonomi di sekolah,(2) disarankanpadapihaksekolah agar selalumenciptakaniklimorganisasisekolah yang kondusifkhususnyapadahubungansekolahdenganmasyarakatsekitaruntukmemperlancarkegiatanbelajarmengajardanmewujudkansuasanapembelajaran yang menyenangkan, dan (3) bagipenelitiselanjutnya yang akanmelakukanpenelitiansejenisdiharapkandapatmenggunakanhasilpenelitianinisebagaireferensipenelitianlebihlanjutdisertaipengembanganmasalahdarisudut yang berbeda.

Pengembangan e-module dengan model pembelajaran learning cycle 5-e pada pokok bahasan kesetimbangan kimia untuk SMA kelas XI IPA semester gasal / Mawadatur Rohmah

 

Kata Kunci: e-module, Learning Cycle 5E, dan Kesetimbangan Kimia. Perkembangan bahan ajar kimia saat ini sangat pesat. Dalam perkembangannya, bahan ajar berupa media pembelajaran dengan program macromedia flash saja tidaklah cukup, akan lebih baik jika dilengkapi dengan model pembelajaran yang sintaksnya digunakan dalam media tersebut yang juga dilengkapi dengan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Salah satu alternatif bahan ajar macromedia flash yang dapat dilengkapi dengan suatu model pembelajaran adalah e-module. e-module merupakan pengembangan dari bahan ajar modul cetak berupa program macromedia flash khususnya pada pokok bahasan Kesetimbangan Kimia yang dilengkapi dengan model pembelajaran tertentu. Model pembelajaran yang digunakan adalah learning cycle 5E karena diharapkan siswa dapat membangun dan mengembangkan konsep secara mandiri sesuai dengan fase-fase LC 5E yaitu fase engagement, fase exploration, fase explanation, fase elaboration, dan fase evaluation untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tujuan penelitian dan pengembangan ini yaitu untuk mengembangkan bahan ajar e-module dengan model pembelajaran learning cycle 5E pada pokok bahasan Kesetimbangan Kimia untuk SMA kelas XI IPA semester gasal dan untuk mengetahui kelayakan produk hasil pengembangan bahan ajar e-module tersebut. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan Sadiman (2009) yang terdiri dari 8 langkah, antara lain : (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusan tujuan; (3) perumusan butir-butir materi; (4) perumusan alat pengukur keberhasilan; (5) penulisan naskah; (6) validasi; (7) revisi; dan (8) produksi. Teknik analisis data hasil validasi media e-module yang digunakan dengan validasi individu dan validasi kelompok dengan penilaian angket dengan daftar check-list untuk data kuantitatif dan dengan hasil saran, tanggapan, masukan dan kritikan untuk data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) silabus dan RPP dengan model pembelajaran learning cycle 5E yang dikembangkan layak digunakan dengan persentase validitas sebesar 90%; dan (2) bahan ajar e-module dengan model learning cycle 5E pada pokok bahasan Kesetimbangan Kimia yang sesuai dengan silabus dan RPP dikembangkan dengan baik dengan persentase validitas dari validator sebesar 82% dan dari pengguna sebesar 84%. Hal ini menunjukkan bahwa silabus dan RPP dengan model pembelajaran learning cycle 5E layak digunakan, dan media e-module dengan model pembelajaran learning cycle 5E pada pokok bahasan Kesetimbangan Kimia layak digunakan sebagai media pembelajaran, serta telah sesuai dengan sintaks model pembelajaran learning cycle 5E.

Peningkatan proses kooperatif dalam pembelajaran biologi dengan praktikum untuk meningkatkan keterampilan proses dan pemahaman konsep di SMAK Frateran Malang / Retnayu Dini Cahyani

 

Kata kunci: praktikum, proses kooperatif, keterampilan proses, pemahaman konsep. Dalam pembelajaran IPA khususnya biologi, praktikum merupakan bagian yang sangat penting, karena kegiatan inilah yang membedakan antara IPA dengan mata pelajaran lain selain IPA. Dari hasil obeservasi ditemukan bahwa pembelajaran praktikum siswa SMAK Frateran jarang dilakukan. Dan ditemukan bahwa pemahaman konsep dan keterampilan proses sains yang rendah. Salah satu upaya meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman konsep siswa adalah dengan membelajarakan praktikum yang kooperatif. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk menjadikan kerja kelompok dalam praktikum yang tidak bersifat kooperatif meningkat menjadi bersifat kooperatif; 2) untuk mengetahui apakah kerja kelompok dalam praktikum yang bersifat kooperatif dapat meningkatkan keterampilan proses; 3) untuk mengetahui apakah kerja kelompok dalam praktikum yang bersifat kooperatif dapat meningkatkan pemahaman konsep. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Siklus I dan II secara berturut-turut dilaksanakan sebanyak tiga kali dan dua kali pertemuan. Materi yang diajarkan pada siklus I adalah Uji Bahan Makanan, sedangkan pada siklus II membahas Sistem Pencernaan Vertebrata (Ikan Mas, Katak, Burung Merpati, dan Marmut). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah proses praktikum, proses kooperatif, keterampilan proses dan pemahaman konsep siswa. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan praktikum dari yang tidak bersifat kooperatif menjadi bersifat kooperatif dengan meningkatnya unsur-unsur kooperatif. 1) Peningkatan unsur saling ketergantungan positif saat siswa memberikan kontribusi menulis laporan kelompok; memerankan observer, recorder, dan motor; menyumbangkan literatur untuk kelompoknya, duduk dalam 1 meja dan berhadapan; saat kelompok meraih prestasi di dalam kelas secara umum meningkat 74% pada siklus I menjadi 77% terlaksana pada siklus II. 2) Peningkatan unsur pertanggungjawaban individu saat siswa memenuhi tugasnya membuat diagram alir dalam kelompok, siswa melakukan tes individual dan menjawab pertanyaan guru saat diskusi, dan bergiliran berbicara dalam kelompok; dari 61% pada siklus I menjadi 94% pada siklus II terlaksana. 3) Peningkatan unsur keterampilan berinteraksi antar individu dan kelompok dari 58% pada siklus I menjadi 87% pada siklus II terlaksana dengan menunjukkan indikator menunjukkan kebenaran dalam membuat diagram alir, bertanya mengenai materi pelajaran kepada guru dan teman, memberi motivasi dan sanggahan saat praktikum berlangsung. 4) Peningkatan unsur evaluasi dari 68% pada siklus I

Penerapan model permainan fun cooking untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok V TK Kartika 22 Singosari Malang / Rizka Susilo Widiastuti

 

Kata Kunci: Kemampuan Motorik Halus, Model Permainan Fun Cooking, Anak Usia Dini Latar belakang dalam penelitian ini berdasar pada rendahnya kemampuan motorik halus anak pada kelompok B di TK Kartika 22 Singosari Malang. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya anak meminta bantuan kepada guru untuk membuat bentuk dengan plastisin/playdough daripada berinisiatif dan mencoba sendiri membuat bentuk-bentuk yang diinginkan anak. Berkaitan dengan itu, sebagai upaya guru untuk meningkatkan motorik halus anak dalam membuat bentuk dengan plastisin/playdough maka diperlukan model permainan yang sesuai, yaitu dengan menerapkan model permainan fun cooking. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan cara penerapan model permainan fun cooking untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B TK Kartika 22 Singosari Malang, dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan motorik halus anak kelompok B TK Kartika 22 Singosari Malang dengan menerapkan model permainan fun cooking. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahapan: perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, masing-masing siklus terdiri dari 1 (satu) kali pertemuan. Subyek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B di TK Kartika 22 Singosari Malang, dengan jumlah murid 20 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi. Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan dari awal hingga akhir dapat dikatakan bahwa penggunaan model permainan fun cooking dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak dari 60% pada siklus I menjadi 85% pada siklus II. Pada siklus I jumlah anak yang mencapai presentase minimal keberhasilan kemampuan motorik halus hanya mencapai 12 orang anak, pada siklus II meningkat menjadi 17 orang anak. Saran bagi lembaga, sebagai salah satu masukan dalam memperkaya variasi kegiatan pembelajaran dan membuat materi pelajaran yang lebih variatif lagi serta memprogramkan peningkatan gizi anak melalui permainan fun cooking. Bagi guru, hendaknya menggunakan model permainan fun cooking sebagai variasi pembelajaran yang menyenangkan bagianak disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi. Bagi peneliti selanjutnya, permainan fun cooking yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan perbandingan sehingga menjadi dapat lebih baik lagi dalam meningkatkan kemampuan anak.

Pengembangan media pembelajaran proses pembuatan roda gigi payung untuk standar kompetensi memfrais kompleks Jurusan Teknik Mesin Produksi di SMKN 3 Boyolangu / Afifudin Ghozali

 

Kata Kunci: media pembelajaran, roda gigi payung Dalam suatu proses pembelajaran, ada dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Masih minimya media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan pelajaran masih menulis di papan tulis dan ada sebagian menggunakan presentasi power point dengan cara ini peserta didik masih kesulitan memahami materi yang diajarkan oleh guru. Disamping itu untuk prakteknya menggunakan sistem kelompok artinya dalam membuat satu benda kerja dikerjakan beberapa siswa, perlu diupayakan suatu pendekatan yang dapat digunakan untuk membuat proses pembelajaran lebih aktif. Salah satu caranya yaitu pemakaian media pembelajaran yang tepat sehingga dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi, dan rangsangan dalam kegiatan belajar. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) Menghasilkan produk multimedia sebagai sarana pendukung proses pembelajaran standart kompetensi memfrais kompleks pada materi pembuatan roda gigi payung untuk siswa kelas XII teknik pemesinan SMKN 3 Boyolangu, (2) Mengetahui tingkat kelayakan multimedia interaktif roda gigi payung. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam media ini adalah adopsi dari model pengembangan Borg and Gall yang terdiri dari enam tahapan yaitu: (1) pengukuran kebutuhan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) validasi, (5) uji coba dan (6) produk media pembelajaran. Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, uji coba perseorangan dengan 2 orang siswa dan uji coba kelompok kecil dengan 10 orang siswa. Hasil produk media yang dikembangkan berbentuk software CD interaktif pada materi proses pembuatan roda gigi payung. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan kevalidanya, hasil validasi kelayakan media pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan skor sebagai berikut: validasi ahli media 95,8%, validasi ahli materi 84,3%, uji coba perorangan 85%, dan uji coba kelompok kecil 90,3%.

Mikoflora kontaminan dan spesies kapang kontaminan dominan pada kacang hijau (Vigna radiata L.) yang dijual di pasar besar Kota Batu / Maria Angelia Genere Koban

 

Kata Kunci: Kapang kontaminan, Kacang Hijau Biji kacang hijau (Vigna radiata L.) banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Masyarakat Kota Batu biasanya memanfaat-kan biji kacang hijau untuk membuat berbagai macam makanan olahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya sehari-hari seperti bubur kacang hijau, es kacang hijau, isi onde-onde, dan sebagainya. Biji kacang hijau dapat mengalami ke-rusakan selama masa pertumbuhan, masa panen maupun penyimpanan, yang di-tandai dengan ciri-ciri antara lain; biji berlubang, berkeriput dan berserbuk. Secara tidak langsung kapang dapat mengkontaminasi biji-biji kacang hijau melalui ke-rusakan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk; 1) Mengetahui spesies-spesies kapang kontaminan yang terdapat pada biji kacang hijau yang dijual di pasar besar Kota Batu; 2) Mengetahui spesies kapang kontaminan dominan yang ter-dapat dalam biji kacang hijau yang dijual di pasar besar Kota Batu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang di-laksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, dimulai pada bulan Januari 2011 sampai dengan bulan April 2011. Sampel yang digunakan ialah biji kacang hijau yang diperoleh dari 5 pe-dagang di pasar besar kota Batu sebanyak 10 gram. Teknik sampling yang di-gunakan ialah secara acak. Sampel kacang hijau sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1. Suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1% secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat peng-enceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6. Perlakuan sampel biji kacang hijau di-lakukan sebanyak 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1ml dan di-inkubasikan pada suhu 250C selama 724 jam. Selanjutnya dilakukan isolasi, penghitungan jumlah koloni kapang, deskripsi ciri-ciri morfologi koloni dan mikroskopis, serta identifikasi terhadap tiap-tiap spesies kapang kontaminan yang tumbuh pada medium lempeng Czapek Agar (CA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Kapang kontaminan yang ditemukan dalam sampel biji kacang hijau pada penelitian ini sebanyak 14 spesies kapang yaitu Botryoderma sp, Penicillium camembertii Thom, Cladosporium cladosporoides (Fres) de Vries, Penicillium chrysogenum Thom, Penicilium nalgiovanse Laxa, Curvularia lunata (wakker) Boedijn, Penicillium expansum ii Link, Cladosporium herbarum (Pers). Link ex Gray, Geotrichum candidum Link, Rhynchosporium sp, Cladosporium sphaerospermum Penzig, Aspergillus niger Van Tieghem, Penicillium citrinum Thom., dan ordo khusus Mycelia sterilia; 2) Spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada biji kacang hijau ialah: Botryoderma sp dan Penicillium camembertii Thom dengan rerata jumlah koloni dari kedua spesies kapang tersebut masing-masing ialah 1,1 Χ 106 cfu/g.

Identifikasi kapang kontaminan dan uji kualitas mikrobiologi berdasarkan angka lempeng total koloni kapang pada biji kacang merah (Phaseolus vulgaris L. var Hawkesburry wonder) dari lima pasar tradisional di Kota Malang / Umi Kulsum Nur Qomariah

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 |