Penerapan manajemen berbasis sekolah dan kaitannya dengan prestasi belajar siswa semester gasal tahun ajaran 2012/2013 di SDI Surya Buana Malang / Rahmi Yulianingsih

 

Kata Kunci: manajemen berbasis sekolah (MBS) dan prestasi belajar siswa Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada tingkat lokal/sekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat) dalam pembuatan keputusan untuk meningkatkan mutu sekolah. Tujuannya untuk meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran siswa. Prestasi belajar adalah hasil belajar atau tingkat pengetahuan yang diperoleh siswa setelah proses kegiatan belajar, yang ditentukan melalui pengukuran dan penilaian pada siswa dengan melihat aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan manajemen berbasis sekolah yang telah diterapkan di SDI Surya Buana Malang, (2) mendeskripsikan prestasi belajar siswa semester gasal tahun ajaran 2012/2013 di SDI Surya Buana Malang, (3) mendeskripsikan penerapan manajemen berbasis sekolah dan kaitannya dengan prestasi belajar siswa semester gasal tahun ajaran 2012/2013 di SDI Surya Buana Malang. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah guru-guru dan siswa-siswi SDI Surya Buana Malang. Sampel penelitian terdiri atas guru SDI Surya Buana Malang yang berjumlah 14 orang dan siswa-siswi SDI Surya Buana Malang yang berjumlah 162 siswa. Teknik pengambilan sampel guru yaitu menggunakan teknik sampling jenuh, sedangkan sampel siswa menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 13 responden guru menyatakan bahwa penerapan manajemen berbasis sekolah di SDI Surya Buana Malang yaitu sangat baik dengan perolehan nilai sebesar 93% dan 1 responden guru menyatakan baik dengan perolehan sebesar 7%. Sedangkan hasil penelitian prestasi belajar di SDI Surya Buana Malang menunjukkan bahwa 67 siswa mempunyai prestasi belajar yang sangat tinggi yaitu sebesar 41%, 88 siswa mempunyai prestasi belajar yang tinggi sebesar 54%, 6 siswa mempunyai prestasi belajar yang cukup sebesar 4%, dan 1 siswa mempunyai prestasi belajar yang kurang yaitu 1 %. Kesimpulan yang diperoleh yaitu, penerapan manajemen berbasis sekolah di SDI Surya Buana Malang dikategorikan sangat baik dan prestasi belajar siswa semester gasal tahun ajaran 2012/2013 di SDI Surya Buana Malang dikategorikan tinggi. Dari hasil uji korelasi yang dilakukan tidak terdapat hubungan antara manajemen berbasis sekolah dan prestasi belajar siswa, akan tetapi penerapan manajemen berbasis sekolah yang diterapkan di SDI Surya Buana Malang telah memberikan banyak manfaat dan baik untuk mengembangkan kualitas sekolah. Penerapan manajemen berbasis sekolah di SDI Surya Buana malang telah berhasil melibatkan secara langsung semua warga sekolah. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan manajemen berbasis sekolah yang diterapkan, berhasil dengan baik. Saran untuk hasil penelitian ini yaitu untuk terus meningkatkan penerapan manajemen berbasis sekolah, guna untuk meningkatkan kualitas sekolah dalam proses belajar mengajar, hendaknya terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru supaya mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif. Serta siswa juga terus dimotivasi untuk belajar lebih giat. Dengan demikian, prestasi belajar yang diperoleh dapat ditingkatkan. Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini. Karena penelitian ini dilakukan dengan berbagai keterbatasan-keterbatasan yang ada. Penelitian selanjutnya diharapkan mengembangkan variabel, sub variabel dan indikator yang dapat memberi pengaruh terhadap prestasi belajar.

Keefektifan supervisi klinis untuk penguasaan kompetensi profesional konselor dalam konseling / Sosthenes Malioy

 

Kata Kunci: kompetensi profesional, konseling realitas, supervisi klinis Penguasaan konseling merupakan tuntutan profesional konselor sekolah. Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Ambon banyak ditemukan konselor yang belum melakukan layanan konseling secara tepat terhadap siswa. Pada umumnya konseling dilaksanakan dalam bentuk nasihat, dan belum menerapkan pendekatan yang memadai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan penguasaan kompetensi profesional dalam konseling realitas antara konselor yang disupervisi klinis dan yang tidak disupervisi klinis. Penelitian ini dilakukan pada 22 konselor yang dipilih secara random dari 34 konselor di semua SMA Negeri Kota Ambon. Desain yang digunakan adalah quasi experimental posttest only control group. Penetapan 11 subjek kelompok eksperimen dan 11 subjek kelompok kontrol dipilih secara sistematik dengan menggunakan teknik matching. Subjek kelompok eksperimen memperoleh treatmen berupa supervisi klinis dalam melaksanakan konseling realitas, sedangkan subjek kelompok kontrol melaksanakan konseling realitas tanpa supervisi klinis. Instrumen format observasi konseling realitas digunakan untuk mengukur penguasaan kompetensi konseling realitas. Instrumen meliputi aspek pembinaan hubungan baik, identifikasi keinginan saat ini, identifikasi dan penilaian perilaku saat ini, perencanaan perilaku bertanggungjawab, dan terminasi dan tindak lanjut. Data dianalisis dengan uji-t dengan sampel bebas. Hasil ujicoba instrumen menunjukkan reliabilitas sebesar 0,973 dan validitas setiap butir lebih besar dari 0,3. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan signifikan penguasaan kompetensi profesional dalam konseling realitas antara subjek yang disupervisi klinis dan yang tidak disupervisi klinis. Secara khusus juga ada perbedaan penguasaan tiap-tiap aspek konseling realitas yakni aspek pembinaan hubungan baik, identifikasi keinginan konseli saat ini, identifikasi dan penilaian perilaku konseli saat ini, perencanaan perilaku bertanggungjawab, dan terminasi dan tindak lanjut dalam konseling realitas. Berdasarkan hasil penelitian disampaikan saran (1) pengawas bimbingan dan konseling perlu menggunakan supervisi klinis untuk mengembangkan kompetensi profesional konselor sekolah, (2) Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) perlu menggunakan supervisi klinis dalam meningkatkan kompetensi profesional konselor sekolah, (3) dosen program studi bimbingan dan konseling dianjurkan menggunakan supervisi klinis khususnya dengan model experiential learning dalam menyiapkan mahasiswa calon konselor, dan (4) bagi peneliti lain agar mengembangkan model-model supervisi klinis bagi konselor dalam melaksanakan konseling dengan pendekatan yang lain seperti client- centered, cognitive behavior dan gestalt.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas bagi siswa kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar / Muhamad Ali Radja

 

Kata Kunci Hasil belajar, metode pemberian tugas, IPS SD Pemilihan metode pembelajaran sangat penting untuk dipertimbangkan oleh guru karena metode pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam mempelajari materi. Berdasarkan hasil observasi metode yang digunakan oleh guru adalah ceramah, siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, hal itu diperkuat dengan rata-rata nilai ulangan akhir semester siswa kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar adalah 50,3. Alternatif pemecahan masalah tersebut yaitu menggunakan metode pemberian tugas dalam pelajaran IPS. Tujuan penelitian ini: 1) mendeskripsikan penerapan metode pemberian tugas pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar.2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui motode pemberian tugas di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar. Penelitian ini adalah jenis penenlitian tindakan kelas (PTK. Penelitian terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Isntrumen dalam penelitian ini yaitu lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas guru, tes, angket, dan kamera. Observasi aktivitas siswa, data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan alam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian dari pra- tindakan sampai sikus II pertemuan II diketahui persentase peningkatan aktivitas siswa, peningkatan aktivitas guru, dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar. Aktivitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan I mengalami peningkatan sebesar 27%, kemuadian pada siklus I pertemuan II mengalami peningkatan 6% dan pada siklus II pertemuan I mengalami peningkatan sebesar 4% dan pada siklus II pertemuan II mengalami peningkatan sebesar 6% persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 9,16% pada siklus I pertemuan I pada siklus I pertemuan II mengalami peningkatan 10,25% pada siklus II pertemuan I mengalami peningkatan sebesar 9,59% dan pada siklus II pertemuan II mengalami penngkatan sebesar 11,41%. Hasil belajar siswa pada siklus pertemuan I mengalami penurunan sebesar 1,16% pada siklus I pertemuan II terjadi penngkatan sebesar 3,55% pada siklus II pertemuan I terjadi peningkatan 10,78% dan pada siklus II pertemuan II terjadi peningkatan sebesar 85%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran carousel feedback untuk meningkatkan hasil belajar dan efikasi diri (studi pembelajaran IPS pada siswa kelas VI SDN Bandungrejosari 3 Malang) / Elsinora Mahananingtyas

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Carousel Feedback, hasil belajar, efikasi diri dan IPS SD. Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas hendaknya memiliki kemampuan keterampilan sosial, keterampilan berfikir dan efikasi diri yang baik. Penerapan pembelajaran seharusnya mendorong siswa agar lebih aktif dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, namun pada prakteknya penerapan pembelajaran kurang mendorong pada pencapaian kepercayaan pada diri siswa. Siswa malu jika diminta untuk mengemukakan pendapatnya, tidak mau maju jika diminta untuk mempresentasikan hasil kerjanya, tidak memberikan komentar, masukan dan saran kepada teman yang mempresentasikan hasil kerjanya. Berdasarkan masalah tersebut, model pembelajaran yang cocok diterapkan pada pembelajaran IPS, yaitu model pembelajaran Carousel Feedback. Model Pembelajaran Carousel Feedback adalah strategi yang menyediakan kesempatan bagi siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan dan memahami tentang isu-isu kunci, masalah, dan konsep dengan mengingat fakta, keyakinan, informasi, dan/atau kesepakatan kunci. Selama proses ini, siswa bekerja sama untuk menghasilkan tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru dan merenungkan tanggapan yang dihasilkan oleh sesama siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Carousel Feedback untuk meningkatkan hasil belajar dan efikasi diri siswa pada pembelajaran IPS kelas VI SDN Bandungrejosari 3 Malang. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengambil subjek penelitian kelas VI sebanyak 35 siswa. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah RPP, lembar observasi, angket efikasi diri siswa, angket model pembelajaran, pre-tes dan post-test, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Data yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif adalah tentang hasil belajar siswa, pre-test dan post-test, dan data efikasi diri siswa menggunakan skala efikasi diri, sedangkan data kualitatif berupa catatan observasi, dokumen hasil belajar siswa, dan dokumentasi foto-foto kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini dapat ditemukan bahwa penerapan model pembelajaran Carousel Feedback dapat meningkatkan hasil belajar dan efikasi diri siswa kelas VI SDN Bandungrejosari 3 Malang. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa 40% siklus I manjadi 77% pada siklus II, dan 100% pada siklus III. Nilai rata-rata pada peningkatan efikasi diri siswa 22,8% siklus I menjadi 45,7 % pada siklus II, dan 85,7% pada siklus III. Penerapan model pembelajaran Carousel Feedback untuk maningkatkan hasil belajar dan efikasi diri siswa SDN Bandungrejosari 3 Malang dapat tercapai. Disarankan penerapan model pembelajaran Carousel Feedback dilakukan sebelum penelitian secara berulang-ulang oleh guru, sebelum itu pula guru telah dibekali dan diberi penjelasan secara jelas mengenai model yang akan diterapkan, sehingga pada saat penelitian siswa tidak bingung dan ribut dengan perputaran kelompok. Peningkatan KKM dari 65 ke 70 untuk mata pelajaran IPS. Dorongan dan motivasi kepada siswa agar memiliki efikasi diri yang tinggi.

Kemampuan menemukan masalah utama berita bertopik sama siswa kelas VIIIA dan B SMP Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2012/2013 / Sherly Debrina Savitri

 

Kata kunci: pembelajaran membaca, membaca ekstensif, membaca berita. Membaca merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa yang dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Salah satu kompetensi yang dikembangkan dalam pembelajaran membaca, yaitu menemukan masalah utama dari beberapa berita yang bertopik sama melalui membaca ekstensif. Pada siswa kelas VIII SMP diharapkan mampu menemukan masalah utama beberapa berita yang bertopik sama. Dewasa ini setiap orang dituntut untuk memiliki kemampuan menyerap dan menguasai informasi yang beredar. Karena sebagian besar informasi yang beredar dalam bentuk tulis, seperti buku teks, majalah, jurnal dan surat kabar, maka kemampuan yang sangat diperlukan untuk menyerap informasi adalah kemampuan membaca. Oleh karena itu, pembelajaran menemukan masalah utama berita ini sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari siswa. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan menemukan masalah utama berita bertopik sama siswa kelas VIIIA dan B SMP Negeri 7 Malang. Secara khusus tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menemukan masalah utama berita bertopik sama pada aspek: (1) mengidentifikasi informasi pokok teks berita, (2) menentukan persamaan dan perbedaan masalah pada beberapa berita bertopik sama, dan (3) menyimpulkan masalah utama dari berita yang bertopik sama. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif. Subjek umum penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang, sedangkan subjek khusus penelitian adalah 70 siswa. Data yang diperoleh dalam penelitian berupa skor kemampuan menemukan masalah utama beberapa berita yang bertopik sama siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang. Analisis data dilakukan dalam empat langkah, yaitu (1) tahap perencanaan, (2) pengumpulan data, (3) analisis data, dan (4) penggolongan kemampuan berdasarkan kualifikasi. Berdasarkan analisis dalam penelitian ini secara umum dapat diketahui bahwa kemampuan menemukan masalah utama beberapa berita yang bertopik sama siswa kelas VIIIA dan B SMP Negeri 7 Malang mampu mencapai standar ketuntasan, hal ini dibuktikan sebesar 77,1% (54 siswa) mendapatkan nilai ≥75 yang artinya melebihi standar pencapaian ketuntasan sebanyak 70%, sedangkan kemampuan menemukan masalah utama berita yang bertopik sama siswa kelas VIIIA dan B SMP Negeri 7 Malang per aspek dapat dinyatakan: (1) mampu mengidentifikasi informasi pokok teks berita dengan memperoleh nilai ≥75 sebanyak 66 siswa (94,3%). Sementara itu, siswa yang cukup mampu dan kurang mampu mengidentifikasi informasi pokok teks dengan memperoleh nilai <75 sebanyak 4 siswa (5,7%), (2) mampu menentukan persamaan dan perbedaan masalah pada beberapa berita bertopik sama dengan memperoleh nilai ≥75 sebanyak 51 siswa (72,9%). Sementara itu, siswa yang cukup mampu dan kurang mampu menentukan persamaan dan perbedaan masalah pada beberapa berita yang bertopik sama dengan memperoleh nilai <75 sebanyak 19 siswa (27,1%), dan (3)tidak mampu menyimpulkan masalah utama berita yang bertopik sama dengan memperoleh nilai ≥75 sebanyak 23 siswa (32,8%), sedangkan siswa yang memperoleh nilai <75 sebanyak 47 siswa (67,2%). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru bahasa Indonesia untuk memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan dan bahan masukan dalam menyusun materi pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih kreatif dan inovatif khususnya pada kompetensi dasar menemukan masalah utama beberapa berita yang bertopik sama. Kepada peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam melakukan penelitian sejenis dan disarankan untuk menggunakan sumber dan media pembelajaran yang lain yang lebih menarik dan lebih kreatif sehingga dapat mengukur kemampuan siswa dengan baik dan maksimal.

Communication strategies employed during role-play by 7 grades at SMPN 5 Malang / Ninuk Retna Sumiarsih

 

Kata Kunci: strategi komunikasi, permainan peran, taksonomi Dörnyei Di level kelas tujuh, murid Indonesia belajar berbagai jenis ekspresi transaksional dan interpersonal dalam bahasa Inggris. Untuk mempelajari ekspresi tersebut, beberapa latihan berkomunikasi dilakukan. Namun, pada saat latihan berkomunikasi, beberapa masalah muncul yang kemudian diatasi dengan strategi komunikasi. Studi ini bertujuan untuk memperoleh data strategi komunikasi yang digunakan oleh murid, frekuensi penggunaan strategi komunikasi, dan alasan penggunaan Untuk memperoleh data tersebut di atas, design penelitian deksriptif kualitatif digunakan dengan subject adalah murid kelas 7.5 angkatan 2012/2013 dari SMPN 5 Malang. Selain itu, data primer penelitian ini adalah strategi komunikasi yang muncul pada ucapan murid Untuk memperoleh data tersebut dan data sekunder diperoleh dari penelitian terdahulu dari Hartatik (2012). Untuk memperoleh data primer, rekaman video, angket, interview, dan field note digunakan dalam studi ini. Selanjutnya analisis interim dari Johnson & Christensen (2004:501) digunakan untuk menganalisis data. Taksonomi Dörnyei (1995:58) seperti yang dikutip oleh Brown (2007:138) difunakan untuk mengklasifikasikan data. Hasil menunjukan bahwa selama bermain peran, para murid menggunakan beberapa strategi komunikasi. Selebihnya, strategi komunikasi yang digunakan mendukung taksonomi Dörnyei (1995:58) dengan hasil sebagai berikut: dalam kelompok strategi penghindaran, murid menggunakan: dari kelompok strategi penghindaran (avoidance strategies), murid menggunakan (1) strategi penghindaran topic (topic avoidance) dan (2) strategi penghindaran pesan (message abandonment). Selebihnya, dalam kelompok strategi kompensatori (compensatory strategies), murid menggunakan (1) strategi pola prefabrikasi (prefabricated pattern; (2) sinyal nonlinguistik (nonlinguistic signals); (3) penerjemahan harfiah (literal translation); (4) alih kode (code-switching); (5) meminta tolong (appeal for help); dan (6) strategi mengulur atau memperpanjang waktu (stalling or time gaining strategies). Selanjutnya, frekuensi penggunaan adalah sebagai berikut: dari kelompok strategi penghindaran, (1) strategi penghindaran topic (5.5%) dan (2) strategi penghindaran pesan (1.9%). Selebihnya, dalam kelompok strategi kompensatori, murid menggunakan (1) strategi pola prefabrikasi(1.9%); (2) sinyal nonlinguistic (5.5%); (3) penerjemahan harfiah (7.4%); (4) alih kode (1.9%); (5) meminta tolong (18.5%), dan (6) strategi mengulur atau memperpanjang waktu (57.4%). Berdasarkan data yang diperoleh, strategi mengulur atau memperpanjang waktu (stalling or time-gaining strategies) merupakan strategi komunikasi yang paling sering digunakan. Selanjutnya, murid menggunakan strategi komunikasi karena mereka ingin memecahkan permasalahan komunikasi yang mereka hadapi. Selebihnya, masalah ini dipicu oleh minimnya pengetahuan kosa kata bahasa Inggris, grammar, dan cara pengucapan. Studi ini menyajikan beberapa saran. Pertama, para guru disarankan untuk menjadi model bagus dalam menggunakan strategi komunikasi saat memecahkan masalah komunikasi, memberi kesempatan lebih kepada murid untuk berbicara bahasa Inggris, dan untuk menambah mengetahuan siswa tentang kosakata bahasa Inggris, grammar, dan cara pengucapan. Kedua,murid disarankan untuk lebih sering berlatih berbicara bahasa Inggris. Ketiga, peneliti yang akan datang diharapkan menggunakan lebih dari satu taksonomi, menciptakan aktifitas komunikasi yang lebih bersifat alami, membawa rekan untuk membantu mengoperasikan kamera saat proses pengumpulan data.

Upaya guru sejarah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak / Lista Wahyuni

 

Kata Kunci: Guru Sejarah, Implementasi, Pendidikan Karakter, SMA Negeri 1 Pagak Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan juga membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berkaitan dengan fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional tersebut maka pendidikan karakter memiliki peran penting dalam sebuah lembaga satuan pendidikan. Pendidikan karakter diterapkan di sekolah-sekolah guna mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional termasuk di SMA Negeri 1 Pagak. Berbagai upaya dilakukan oleh seluruh pihak sekolah SMA Negeri 1 Pagak dalam mengimplementasikan pendidikan karakter termasuk upaya yang dilakukan oleh guru sejarah di SMA Negeri 1 Pagak. SMA Negeri 1 Pagak dipilih oleh peneliti sebagai objek penelitian karena SMA Negeri 1 Pagak merupakan salah satu sekolah menengah atas yang terletak di pinggiran yakni di Kecamatan Pagak yaitu di daerah Malang Selatan dan merupakan satu satunya SMA Negeri di Kecamatan Pagak tersebut. Meskipun sekolah ini terletak di daerah pinggiran banyak prestasi yang telah diraih oleh SMA ini baik itu prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik. Untuk peneliti mengambil judul ini untuk mengkaji mendalam tentang pendidikan karakter yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pagak. Masalah dalam penelitian ini antara lain: (1) Bagaimana pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak?. (2) Bagaimana upaya guru sejarah dalam menimplementasikan pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak?. (3) Bagaimana dampak pengimplementasian pendidikan karakter pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Pagak? Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini yaitu metode penelitian gabungan yaitu menggabungkan antara kualitatif dengan kuantitatif dimana kualitatif lebih mendominasi dan data kuantitatif digunakan untuk melengkapi data kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik wawancara, observasi, studi dokumenter, serta pengisian angket. Sampel penelitian diambil secara acak. Sampel yang diambil adalah 56 orang. Analisis data dilakukan dengan menggabungkan hasil wawancara, observasi, studi dokumenter hasil jawaban angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak diimplementasikan melalui pengembangan kurikulum, pengintegrasian dalam seluruh mata pelajaran serta melalui program-program pengembangan diri. Pendidikan karakter diterapkan juga melalui kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh sekolah. Upaya yang dilakukan oleh guru sejarah dalam mengimplementasikan dengan memasukkan nilai karakter kedalam sillabus dan RPP mereka. Dalam mengimplementasikannya di kelas berbeda-beda. Dalam pengimplementasiannya meski belum maksimal namun sudah dilaksanakan. Upaya pengimplementasian pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Pagak mulai tampak, ke 18 nilai karakter yang telah diupayakan untuk diimplementasikan di SMA Negeri 1 Pagak telah mulai berkembang hal ini berdasarkan dari tabulasi angket serta hasil observasi peneliti. Meskipun dalam pengimplementasian yang dilakukan oleh guru sejarah belum maksimal namun siswa sudah menampakkan nilai karakter yang mulai berkembang. Terlihat dalam hasil tabulasi data angket bahwa ke-18 nilai karakter mulai dari Religius hingga tanggung jawab yang diimplementasikan di SMA Negeri 1 Pagak telah berkembang hal tersebut nampak dalam kegiatan siswa disekolah sehari-hari. Dalam penelitian ini hanya memfokuskan pada tema bahasan tentang upaya guru sejarah saja sedangkan dalam mengkaji dampak dari pengimplementasian pendidikan karakter sendiri belum terkaji secara rinci sehingga disarankan untuk peneliti selanjutnya agar mengkaji lebih mendalam tentang dampak pengimplementasian pendidikan karakter tersebut.

Manifestasi ideologi romantik dalam puisi-puisi Acep Zamzam Noor / Nita Widiati Efsa

 

Kata kunci: ideologi, romantik, perasaan, alam, imajinasi, mitologi Penelitian ini bertujuan mendapatkan paparan yang lengkap dan jelas tentang manifestasi ideologi romantik dalam puisi-puisi karya AZN. Penelitian ini bersifat kajian pustaka, hal itu sesuai dengan karakteristik penelitian pustaka yang memiliki makna mengkaji permasalahan penelitian dengan menampilkan argumentasi penalaran keilmuan, dan memaparkan hasil kajian pustaka, serta hasil olah pikir peneliti mengenai suatu masalah atau topik kajian. Bahkan menggali kerangka teori serta arah perkembangan penelitian, dalam hal ini berkenaan dengan deskripsi manifestasi ideologi romantik dalam puisi-puisi AZN, yang meliputi, (1) manifestasi ideologi romantik terkait perasaan, (2) manifestasi ideologi romantik terkait alam, (3) manifestasi ideologi romantik terkait imajinasi, 4) manifestasi ideologi romantik terkait mitologi. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menentukan suatu kerja ilmiah yang dilakukan secara bertahap dan terus-menerus, meliputi analisis dan pembacaan kritis terhadap data terpilih berupa puisi-puisi AZN. Penelitian ini didisain dengan mempergunakan teori secara multidisipliner antara historisisme baru, arkeologi pengetahuan, dan psikologi agama. Proses kerja analisis data penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, membaca dan memeriksa data yang terpilih. Kedua, menandai dan mengklasifikasi data. Ketiga, menganalisis data berdasarkan teori yang dipandang relevan, sebagaimana yang telah disampaikan pada bagian ancangan teori. Keempat, menyusun deskripsi dan kemungkinan eksplanasi hasil penelitian dari analisis data, serta membuat kesimpulan. Data penelitian ini bersumber dari sepuluh kumpulan puisi yang menunjukkan eksistensi AZN sebagai penyair dan telah terbit dalam rentang waktu 1982–2007. Kesepuluh kumpulan puisi tersebut adalah (1) Tamparlah Mukaku (1982), (2) Aku Kini Doa (1982), (3) Kasidah Sunyi (1989), (4) Dayeuh Matapoe (1993), (5) Di Luar Kata (1996), (6) Dari Kota Hujan (1996), (7) Di Atas Umbria (2000), (8) Dongeng Dari Negeri Sembako (2002), (9) Jalan Menuju Rumahmu (2004), dan (10) Menjadi Penyair Lagi (2007), serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993). Temuan penelitian ini adalah (1) manifestasi ideologi romantik terkait perasaan dalam puisi-puisi AZN, meliputi (a) manifestasi perasaan kerinduan, (1) manifestasi kemanusiaan, dibedakan menjadi (a) menunjukkan tempat, muara, atau asal rindu, (b) kekuatan rindu, (c) keindahan rindu, (d) keraguan akan hadirnya kerinduan, (e) kepahaman akan kerinduan, (f) kekekalan rindu, (g) rindu adalah tindakan nyata, (h) keinginan menyelamatkan, (i) kerinduan adalah rasa cinta yang sama, (j) perasaan cinta, (k) ungkapan kerinduan untuk menyatakan harapan, (l) ungkapan tentang jarak rindu, (m) kerinduan untuk menyatakan harapan, (n) kerinduan adalah kesepian. (2) manifestasi kereligiusan, yang dibedakan menjadi (a) keimanan, (b) kekecewaan, (c) teringat kampung halaman, (d) mempertanyakan rindu, dan (e) suara alam. (3) manifestasi kematian, dibedakan menjadi (a) eksistensi rindu, (b) pengibaratan bahwa rindu adalah kematian kecil, (c) kepasrahan, dan (d) kenyataan, dan (e) manifestasi keindahan alam, (4) manifestasi keindahan alam dibedakan menjadi (a) perjalanan rindu, (b) alam memiliki rasa rindu, (c) alam sebagai ekspresi bisikan rindu. (b) manifestasi perasaan kesunyian, dibedakan menjadi (1) merasa sendiri, meliputi (a) mempertanyakan sepi, (b) rindu dendam, (c) kerahasiaan sepi, (d) paradoks sepi adalah keramaian, dan (e) kesempurnaan kesunyian. (2) merasa mencintai, meliputi (a) pernyataan menuduh, (b) menyatakan kesia-siaan, (c) mengingat kembali, (3) merasa tersakiti, meliputi (a) ketidakpastian, (b) keberterimaan, (c) kesempurnaan sunyi yang dialami aku lirik. (c) manifestasi perasaan kegelisahan, dibedakan menjadi (1) menunggu, meliputi (a) ketidakpahaman, (b) keinginan dan kenyataan yang harus dialami aku lirik, (2) manifestasi perasaan ketidak-jelasan sesuatu, meliputi (a) kekhawatiran, (b) kehilangan. (3) kenyataan yang dihadapi, meliputi (a) ungkapan kenyataan, (b) kepasrahan, (c) pertanyaan, (d) kehilangan, (e) ketidakmungkinan, dan (f) harapan. (2) manifestasi ideologi romantik terkait alam dalam puisi-puisi AZN, meliputi a) manifestasi alam laut, dibedakan menjadi (1) sanjungan, (2) perasaan cinta, (3) prinsip hidup, (4) kesedihan, (b) manifestasi alam gunung, dibedakan menjadi (1) keenangan hidup, (2) isyarat kekasihsayangan, (3) kekaguman, dan (c) manifestasi alam langit, dibedakan menjadi (1) sebagai bentuk argumentasi, (2) sebagai bentuk kekecewaan. (3) manifestasi ideologi romantik terkait imajinasi, meliputi a) manifestasi imajinasi produksi, b) manifestasi imajinasi reproduksi; (4) manifestasi ideologi romantik terkait mitologi, meliputi a) mitos religius, dibedakan menjadi (1) religius ketuhanan, (2) religius kemanusiaan, (3) religius kealaman, b) mitos ritual, dibedakan menjadi (1) ritual Islam, (2) ritual Nasrani, (3) ritual Hindu, c) mitos sejarah, dibedakan menjadi (1) sejarah manusia, (2) sejarah tempat, d) mitos erotika, dibedakan menjadi (1) erotika tentang Tuhan, (2) erotica tentang manusia, (3) erotica tentang alam, dan 5) mitos politik. Implikasi penelitian ini ditujukan untuk kepentingan pembelajaran bahasa dan sastra, terutama yang berkaitan dengan sejarah sastra dan proses penciptaan puisi.

A big-book as instructional media in teaching vocabulary to the fifth graders / Fenny Mei Lina

 

Keterbatasan fasilitas dan media pembelajaran di SDN Druju 1 adalah alasan utama mengapa penelitian dan pengembangan ini harus dilakukan. Penelitian dan pengembangan ini dimaksudkan untuk mengembangan media ajar dalam bentuk sebuah buku besar yang dapat digunakan untuk mengajar kosakata kepada peserta didik kelas lima. Dalam pengembangan buku-besar ini, peneliti mengadaptasi desain penelitian dari Borg dan Gall (1983). Ada sembilan langkah di dalam penelitian dan pengembangan ini, yaitu (1) Analisis kebutuhan (2) Pengembangan Produk (3) Validasi Ahli (4) Revisi (5) Uji Coba (6) Revisi (7) Uji Lapangan (8) Revisi dan (9) Produk Akhir. Berdasarkan hasil dari validasi ahli, buku besar sudah valid. Validator memberikan nilai 86 untuk keseluruhan dari buku- besar. Berdasarkan ukuran validitas Arikunto, nilai tersebut telah menunjukkan bahwa buku-besar tersebut telah valid. Namun, validator menyarankan untuk merevisi beberapa bagian dari buku besar. Setelah peneliti menyelesaikan revisi berdasarkan saran yang diberikan oleh validator, peneliti melakukan uji coba terhadap buku besar. Uji coba produk dilakukan di SDN Ringinsari 1. Sekolah ini terletak di Kabupaten Malang. Berdasarkan uji coba yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa buku besar sudah layak untuk digunakan. Setelah melakukan uji coba produk, peneliti melakukan revisi kedua. Di dalam revisi ini, peneliti harus melakukan revisi pada teka teki silang yang digunakan sebagai lembar kerja peserta didik. Setelah peneliti melakukan revisi kedua, buku besar sudah siap untuk digunakan sebagai media pembelajarn dalam uji lapangan. Uji lapangan dilakukan di SDN Druju 1. Uji lapangan ini melibatkan 30 peserta didik kelas lima. Selama uji lapangan dilakukan, buku besar ini digunakan sebagai media dalam aktivitas pembelajaran. Berdasarkan data yang dikumpulkan selama uji lapangan, peserta didik menyatakan bahwa mereka menikmati aktivitas pembelajaran karena mere terlibat dalam banyak aktivitas seperti membaca nyaring, bernyanyi, dan melengkapi teka teki silang. Dari uji lapangan, peneliti menemukan bahwa buku besar sudah relevan untuk digunakan sebagai media pembelajaran kosakata. Hasil dari penelitian dan pengembangan ini adalah sebuah buku besar yang berjudul My Family. Buku ini terdiri dari 12 halaman termasuk halaman sampul. Buku besar ini mempunyai lima teks dan juga ilustrasi dari teks. Halaman akhir dari buku-besar ini terdiri dari sebuah lagu yang berhubungan dengan teks sebelumnya. Ukuran dari buku besar ini adalah 65 X 50 cm. Buku ini dicetak dengan menggunakan Art Paper 230 gram. Buku besar ini dapat digunakan sebagai media untuk mengajar kosakata karena memberikan guru aktivitas yang berhubungan dengan pembelajaran kosakata seperti drilling dan jazz chant. Berdasarkan validasi ahli dan uji lapangan, buku besar ini sudah sesuai dengan materi dan dapat digunakan untuk pengajaran kosakata.

Implementasi pembelajaran kooperatif model teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata diklat melakukan prosedur administrasi pada siswa kelas X APK SMK Kosgoro 1 Lawang / Fitria Novitasari

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, aktivitas belajar, hasil belajar, Teams Games Tournamen (TGT) Sekolah Menengah Kejuruan bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya,agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan ketrampilan maka harus : memiliki stamina yang tinggi, menguasai bidang keahlian dan dasardasar ilmu pengetahuan dan tehnolgi, memiliki etos kerja yang tinggi,dan mampu berkomunikasi sesuai tuntutan pekerjaan serta memiliki kemampuan mengembangkan diri. Oleh karena itu, dalam pembelajaran melakukan prosedur administrasi siswa harus selalu di beri latihan-latihan secara intensif, sehingga siswa betul-betul mampu mempraktekkannya dengan baik. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournamen (TGT) untuk meningkatkan ketrampilan dan hasil belajar pada mata diklat melakukan prosedur administrasi. Penelitian dilaksanakan dengan rumusan masalah: (1) Bagaimana implementasi pembelajaran Kooperatif Model Teams Games Tournamen (TGT) pada Mata Pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi pada siswa kelas X-APK semester genap SMK Kosgoro 1 Lawang. (2) Apakah pembelajaran dengan pembelajaran Kooperatif Model Teams Games Tournamen (TGT) pada Mata Pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-APK semester genap SMK Kosgoro 1 Lawang. (3) Apa saja hambatan dan solusi dalam pelaksanaan penerapan pembelajaran Kooperatif Model Teams Games Tournamen (TGT) pada Mata Pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi kelas X-APK SMK Kosgoro 1 Lawang. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan pembelajaran Kooperatif. Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri 4 tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah kelas X Administrasi Perkantoran yang berjumlah 34 siswa di SMK Kosgoro 1 Lawang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Reduksi Data, Penyajian Data, dan Penarikan Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut nilai afektif mengalami peningkatan sebesar 19,05% . Dari siklus I sebesar 80,95% meningkat menjadi 100% di siklus II karena siswa dapat melaksanakan indikator-indikator yang telah ditentukan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I dari hasil tes ini diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum diberikan tindakan ii sebanyak 2 siswa (6,25%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 30 siswa (93,75%). Sedangkan jumlah siswa yang tuntas belajar setelah diberikan tindakan sebanyak 23 siswa (71,87%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 10siswa (31,25%). Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II diketahui yang tuntas 6 siswa (19,36%), dan yang tidak tuntas 25 siswa (80,64%), nilai post test dari pre test ini diketahui yang tuntas 29 siswa (90,62%), dan yang tidak tuntas 3 siswa (9,38%). Apabila dibandingkan dengan nilai ratarata pada siklus I maka nilai rata-rata pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan pada pre test meningkat sebesar 13,11%, pada post test mengalami peningkatan 18,75%. Penilaian hasil belajar siswa pada aspek afektif dalam penelitian ini menggunakan rubrik penilaian aspek afektif. Aspek yang dinilai meliputi kerjasama dalam kelompok, ketelitian, keberanian. Pada siklus I diketahui bahwa 21,76% dan pada siklus II 77,77%. Dapat dilihat bahwa pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 56,01%. Paparan hasil data di atas, dapat disimpulkan bahwa: (1) Implementasi pembelajaran kooperatif model TGT cocok diterapkan pada Mata Pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi kelas X APK di SMK Kosgoro 1 Lawang. (2) Implementasi pembelajaran kooperatif model pembelajaran TGT pada Mata Pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi kelas X APK SMK Kosgoro 1 Lawang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. (3) Hambatanhambatan yang dihadapi peneliti dalam implementasi pembelajaran kooperatif model TGT adalah sebagai berikut: Hambatan-hambatan yang dihadapi peneliti dalam implementasi pembelajaran kooperatif Model TGT adalah sebagai berikut: Metode ini membutuhkan media belajar yang cukup banyak, mulai dari LKS, bahan ajar, kartu soal turnamen dan kartu jawaban, nomor dada siswa, serta media penunjang lainnya. Oleh karena itu diperlukan perencanaan dan persiapan media belajar yang matang sebelum metode ini diterapkan agar siswa tidak merasa kesulitan dalam memanfaatkan media tersebut.

Pramuwisata sebagai profesi alternatif bagi mahasiswa lulusan S1 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Lalu Ahmad Hamdani

 

Kata Kunci : Pramuwisata, Profesi Alternatif, Lulusan S1 JSJ UM Kebutuhan akan profesi alternatif bagi mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang (JSJ UM) saat ini sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan karena peluang menjadi guru khususnya di daerah Malang Raya sangat kecil. Salah satu profesi alternatif yang tepat bagi mahasiswa lulusan S1 JSJ UM adalah menjadi pramuwisata, karena industri pariwisata di daerah Malang Raya saat ini semakin berkembang. Perkembangan tersebut tentunya diikuti dengan kebutuhan tenaga-tenaga kerja profesional khususnya tenaga pramuwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa pramuwisata profesional adalah alternatif yang tepat dan sesuai bagi mahasiswa lulusan S1 JSJ UM, dan untuk mengetahui potensi yang ada dalam profesi tersebut sehingga menjadi profesi alternatif bagi mahasiswa lulusan S1 JSJ UM. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dengan tiga cara, yaitu 1) wawancara dengan Ketua Jurusan Sastra Jerman UM, Pegawai Biro Perjalanan Pariwisata, Pramuwisata bahasa Jerman Profesional maupun freelance, Pramuwisata bahasa Inggris, serta masyarakat yang bergelut di industri dan objek pariwisata seperti, pegawai Malang Tourist Information Center dan pengemudi Jeep di Objek Wisata Bromo; 2) Observasi terhadap iklim industri pariwisata di daerah Malang; dan 3) Studi dokumentasi terhadap dokumen-dokumen pariwisata. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan, bahwa berkarir sebagai seorang pramuwisata profesional adalah alternatif yang tepat dan sesuai bagi mahasiswa lulusan S1 JSJ UM, karena mahasiswa lulusan S1 JSJ UM memiliki kompetensi yang cukup untuk menjadi pramuwisata. Kompetensi tersebut antara lain: memiliki kemampuan berbahasa Jerman yang baik dan memiliki pengetahuan serta pengalaman praktik kerja dalam industri pariwisata yang telah dipelajari dalam mata kuliah Tourismus dan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Pramuwisata sangat potensial sebagai profesi alternatif bagi mahasiswa lulusan S1 JSJ UM. Hal ini dikarenakan wisatawan asing asal Jerman, Austria, dan Swiss yang berkunjung ke daerah Malang tiap tahunnya mengalami peningkatan. Sehingga kebutuhan industri pariwisata akan pramuwisata bahasa Jerman juga meningkat.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model kooperatif sckrip pada siswa kelas SDN Turi 2 Kota Blitar / Marice Gainau

 

Kata Kunci: Hasil belajar, Pendidikan kewarganegaraan, model kooperatif scrip Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran PKn di SD Negeri Turi 2 kota Blitar ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya 1) kesulitan siswa dalam memahami materi dan soal; 2) penggunaan model pembelajaran yang konvensional; 3) kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru (te centered); 4) kurangnya pemanfaatan lingkungan sekolah; 5) keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar yang sangat kurang, serta 6) nilai mata pelajaran PKn sebagian besar siswa dibawah Standaar Kriteria Minimal (SKM) yang ditetapkan sekolah. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal mencapai 17.4% dan yang belum tuntas mencapai 82.6% Berdasarkan hasil wawancara denga guru dan beberapa siswa ditemukan beberapa permasalahan yaitu kesulitan guru dalam meningkatkan motifasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dan kesulitan siswa dalam memahami soal. Kegiatan penilitian ini bertujuan (1) untuk mendeskripsikan pelaksaan pembelajaran model kooperatif Scrip pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan bagi siswa kelas IV SDN Turi 2 Kota Blitar, (2) untuk menjelaskan peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan melalui model kooperatif Scrip bagi siswa kelas IV SDN Turi 2 Kota Blitar. Kegiatan penilitian ini mengunakan jenis penilitian tindakan yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam kegiatan ini, penelitian berperan sebagai observer, guru, penanggung jawab penuh penelitian, pengumpul dan penganalisis data, dan penyusunan laporan penilitian. Analisis data penelitian dilakukan menggunakan analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil observasi pratindakan pembelajaran PKn, ketuntasan belajar siswa mencapai 17.4% dan siswa belum tuntas mencapai 82.6%. Hasil ini menunjukkan belum tercapainya Kriteria ketuntasan Minimal (LKS) yang ditentukan sekolah yaitu 7.00. Secara klasikal ketuntasan belajar siswa siklus I pertemuan 1 mencapai 39.13%, pertemuan 2 mencapai 47.82%, dan mencapai 82.61%. pada siklus II ketuntasan belajar siswa pertemuan 1 mencapai 73.91%, pertemuan 2 mencapai 78.26%, dan pencapai 82.60%. dengan menerapkan pembelajaran model kooperatif Scrip dalam pembelajaran PKn, secara betahap siswa mampu mecapai KKM yang ditentukan oleh sekolah. yaitu 70 Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, dengan menerapkan pembelajaran terpadu model kooperatif Scrip dalam pembelajaran PKn, hasil belajar siswa dapat meningkat dan mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah.yaitu 70

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model jigsaw pada siswa kelas IV SDN Kauman Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Rosina Kailausian

 

Kata kunci : peningkatan, hasil belajar, IPS, jigsaw. Pemilihan model pembelajaran kooperatif Jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kauman 01 Kota Blitar dalam pembelajaran IPS dilatar belakangi oleh masalah rendahnya hasil belajar siswa kelas IV (37 % masih dibawah KKM, dan 63 % sudah diatas KKM) yang diantaranya karena selama ini guru menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran IPS. Adapun permasalahan yang dipecahkan dalam skripsi ini (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kauman 1 Kota Blitar, (2) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kauman 1 Kota Blitar. Penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus penelitian yaitu siklus I (2 kali pertemuan) dan II (2 kali pertemuan). Setiap siklus secara berdaur meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Kegiatan refleksi dilakukan setiap akhir siklus dan dijadikan sebagai penentuan tindakan pada siklus berikutnya. Tahap pelaksanaan dilakukan secara kolaboratif dengan guru pembimbing yang ditunjuk oleh sekolah sebagai observer. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif. Dalam penerapannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan proses pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kauman 01 Kota Blitar yaitu sebesar 87%. Penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw yang sesuai dengan prosedur, dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok. Hal ini terbukti dengan meningkatnya persentase ketuntasan belajar dari masing-masing siklus. Siklus I 75% dan pada siklus II menjadi 87% Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw aktivitas dan motivasi siswa dapat meningkat, hal ini terbukti dengan meningkatnya persentase hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. Berdasarkan simpulan tersebut, maka saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan penarikan kesimpulan adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kauman 01 Kota Blitar dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga model pembelajaran ini hendaknya dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik pada mata pelajaran IPS maupun mata pelajaran lainnya, sehingga akan menambah referensi guru dalam memfasilitasi siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Studi keanekaragaman kepiting di kawasan hutan magrove Desa Padekan Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Jawa Timur / Maria Magdalena Maranressy

 

Kata Kunci: Kepiting, Keanekaragaman Kepiting, Mangrove. Kepiting merupakan salah satu biota memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Hewan tersebut merupakan spesies yang khas di kawasan hutan mangrove dan hidup di daerah muara sungai dan rawa pasang surut yang banyak ditumbuhi vegetasi mangrove dengan substrat berlumpur atau lumpur berpasir. Tujuan penelitian adalah untuk (1) mengetahui jenis-jenis kepiting bakau, (2) indeks keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan kepiting bakau dan (3) mengetahui faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan kepiting bakau yang ditemukan pada kawasan hutan mangrove Desa Padekan, Kecamatan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif dengan metode survei di kawasan hutan mangrove Desa Padekan, Kecamatan Rejoso. Populasi Penelitian berupa semua jenis kepiting bakau yang ada pada kawasan hutan mangrove, Desa Padekan Kecamatan Rejoso dan sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis kepiting bakau yang ditemukan didalam plot yang berukuran 10x10 m pada kawasan hutan mangrove Desa Padekan, Kecamatan Rejoso. Waktu penelitian yaitu pada tanggal 16 April 2011 dan waktu pengambilan sampel pada saat surut, sedangkan tempat penelitian adalah kawasan hutan mangrove Desa padekan Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Prosedur penelitian dilakukan secara tahap persiapan, tahap pelaksanaan, pengamatan faktor abiotik dan pengambilan data. Perhitungan keanekaragaman dihitung dengan menggunakan nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wiener. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertama, terdapat 4 spesies kepiting bakau yang ditemukan yaitu Scylla serrata, Metaplax elegans , Uca sp, dan Parathelphusa sp yang masih dari satu ordo Decapoda. Kedua, keanekaragaman tertinggi terletak pada plot 2, sedangkan keanekaragaman terendah terdapat pada plot 10. Kemerataan tertinggi terletak pada plot 2 dan kemerataan terendah terdapat pada plot 10, sedangkan kekayaan tertinggi terdapat pada plot 1 dan kekayaan terendah terdapat pada plot 9. Keanekaragaman semakin menjauhi laut menunjukkan nilai keanekaragaman cenderung meningkat. Ketiga, faktor abiotik yang berpengaruh terhadap keanekargaman dan kemerataan adalah suhu udara dan faktor abiotik yang berpengaruh terhadap kekayaan adalah kelembaban udara.

Peningkatan kemampuan membaca cepat melalui penggunaan strategi directed reading and thinking activity (DRTA) pada siswa kelas 4 SDN Girimoyo 02 Karangploso / Paramita Dwi Agustin

 

Kata kunci: Membaca Cepat, Peningkatan Kemampuan, Strategi Directed Reading and Thinking Activity, Sekolah Dasar. Membaca dalam waktu singkat (membaca cepat) merupakan kemampuan yang mutlak diperlukan oleh setiap orang pada era globalisasi ini. Sehingga sejak dini siswa sekolah dasar perlu diberi bekal kemampuan membaca cepat. Proses pembelajaran membaca cepat seharusnya tidak hanya bertujuan untuk melatih siswa membaca dalam waktu singkat tetapi juga memahami isi bacaan. Berdasarkan hasil test awal yang dilakukan peneliti di SDN Girimoyo 02, kemampuan membaca cepat siswa kelas 4 masih sangat rendah. Hal ini terlihat pada rendahnya ketuntasan kelas yang hanya mencapai 24%. Sehingga diperlukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa kelas 4 SDN Girimoyo 02 melalui penggunaan strategi Directed Reading and Thinking Activity (DRTA). Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas 4 SDN Girimoyo 02, Karangploso yang berjumlah 37 siswa. Dengan kompetensi dasar: menemukan pikiran pokok teks agak panjang (150-200 kata) dengan cara membaca sekilas. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : observasi, dokumentasi, dan test. Prosedur penelitian ini terdiri dari 4 tahap yang meliputi tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan perbaikan. Penerapan strategi DRTA pada pembelajaran membaca cepat di kelas 4 SDN Girimoyo 02 melalui 3 tahap yaitu Tahap Prabaca (Eksplorasi) dengan membuat prediksi bacaan, Tahap Saat baca (Elaborasi) dengan membaca cepat teks bacaan, Tahap Pascabaca (konfirmasi) dengan mengkonfirmasikan prediksi terhadap bacaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang sangat signifikan terhadap ketuntasan belajar siswa dari tahap pra tindakan yang hanya 24% menjadi 62% pada siklus I atau mengalami peningkatan sebanyak 38%. Hasil tersebut kemudian meningkat lagi menjadi 78%. Sehingga secara keseluruhan siswa mengalami peningkatan sebesar 54%. Dari kegiatan penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan strategi DRTA dapat meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa kelas 4 SDN Girimoyo 02. Adapun saran yang bisa diberikan bagi peneliti adalah untuk lebih menambah pengetahuan tentang membaca cepat. Bagi guru untuk lebih meningkatkan pembelajaran membaca cepat di sekolah dasar, dan bagi mahasiswa PGSD diharapkan penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk kegiatan-kegiatan inovatif lainnya.

Penerepan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas X MA Al-Ma'arif pada materi geometri / Wahyunur Mardianita

 

Kata Kunci: Pendekatan Inkuiri, kreativitas siswa Kreativitas merupakan salah satu aspek yang dianggap penting dalam pembelajaran matematika, kreativitas berguna untuk melatih siswa mengembangkan ide-ide yang dimilikinya sehingga pemahaman mereka lebih berkembang. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk menjelaskan desain pembelajaran matematika melalui pendekatan inkuiri yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika; 2) untuk menjelaskan peningkatan kreativitas siswa yang diperoleh dari pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di MA Al-Ma’arif Singosari dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas X tahun ajaran 2011/2012. Data yang dikumpulkan dari hasil pengerjaan LKS, hasil tes, hasil angket, hasil observasi aktivitas siswa, hasil observasi aktivitas guru, dan hasil wawancara. Pembelajaran matematika melalui pendekatan inkuiri dalam penelitian ini terdiri dari empat langkah, yaitu: 1) keaktifan siswa, guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan menulusuri pengetahuan prasyarat yang dimiliki siswa diawal pembelajaran dengan pertanyaan pengingat yaitu dengan meminta siswa menyebutkan unsur-unsur yang terdapat pada bangun ruang, dan siswa diingatkan kembali cara mencari salah satu sisi yang belum diketahui dengan menggunakan rumus phytagoras maupun trigonometri pada segitiga siku-siku 2) Diskusi Kelompok, kelompok siswa mengerjakan lembar kerja yang dipersiapkan oleh guru. Lembar Kerja Siswa (LKS) berisi soal-soal yang mengarahkan siswa menemukan jarak titik ke titik, garis, dan bidang pada balok dan kubus, 3) Scaffolding, adalah dukungan yang diberikan guru kepada siswa dalam belajar dan mendorong mereka dalam mencari solusi untuk mengatasi masalah yang ada. 4) Presentasi siswa dilakukan setiap selesai diskusi kelompok dan membahas secara bersama-sama lembar kerja yang telah didiskusikan siswa dalam kelompoknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan inkuiri mampu membuat siswa meningkatkan kreativitasnya, hal ini ditunjukkan oleh hasil penilaian pengerjaan LKS pada fase tindakan menunjukkan bahwa persentase skor hasil pengerjaan LKS siswa secara klasikal seluruhnya sudah berada pada kategori kreatif, hasil tes sebelum tindakan persentase skor rata-rata tes kreativitas siswa secara klasikal hanya sebesar 26,31% dan meningkat pada tes akhir dengan persentase skor rata-rata skor tes kreativitas siswa setelah tindakan secara klasikal adalah 92,1%. Hal ini berarti bahwa kreativitas siswa secara klasikal dalam kategori sangat kreatif. Pembelajaran yang telah dilakukan telah mencerminkan tahapan-tahapan inkuiri dalam menemukan jarak titik pada kubus dan balok telah terlaksana dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil observasi terhadap aktivitas guru menunjukkan bahwa rata-rata persentase keterlaksanaan pembelajaran sebesar 86,8%. Hal ini, berarti pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang telah direncanakan dan berada pada kategori sangat baik. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa menunjukkan kegiatan siswa yang diharapkan telah muncul dalam pembelajaran dan persentase skor observasinya adalah 81,7% dan berada pada kategori baik.

Pemanfaatan barang bekas sebagai media edukatif untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A di RA Iskandar Sulaiman, Batu / Tutik Suparmi

 

Kata Kunci: Pemanfaatan Barang Bekas,Sebagai Media Pembelajaran,kemampuan kognitif, PAUD. Bidang perkembangan kognitif merupakan salah satu bidang kemampuan dasar yang wajib diberikan di taman kanak-kanak. Kemampuan kognitif dikembangkan di taman kanak-kanak dengan menggunakan berbagai variasi pembelajaran agar kemampuan kognitif anak berkembang secara optimal. Berdasarkan hasil observasi anak kelompok A RA Iskandar Sulaiman Sekar putih, ditemukan bahwa 9 dari 20 anak kemampuan kognitifnya rendah. Hal ini berdampak pada kemampuan mengenal konsep bilangan dan membilang. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pemanfaatan barang bekas sebagai media untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A di Ra Iskandar Sulaiman. (2) apakah pemanfaatan barang bekas dapat meningkatkan kemampuan kognitif kelompok A di RA Iskandar Sulaiman. Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan sebanyak satu siklus melalui melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan penelitian, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A RA Isakndar Sulaiman yang berjumlah 20 anak. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi, instrumen menggunakan lembar observasi dan daftar dokumentasi. Cara memanfaatkan barang bekas sebagai media, dengan cara merancang media, membuat media menyenangkan bagi anak dengan cara membilang jumlah anggota tubuh,menyamakan jumlah kelereng dengan jari dan tangan,dan menggoyang-goyangkan kelereng hingga jatuh. Hasil penelitian di ketahui bahwa Pemanfaatan barang bekas sebagai media dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak, terlihat pada tingkat pencapaian perkembangan 66,25 % pada siklus I pertemuan ke I dan meningkat menjadi 85,42 % pada siklus I pertemuan ke II. Saran yang diberikan kepada guru,agar menggunakan barang bekas sebagai media pembelajaran di TK, bagi pihak sekolah, sebagai fasilitasi pemanfaatan barang bekas dan bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian tentang pemanfaatan barang bekas untuk meningkatkan kemampuan bahasa.

Gerabah mambang-jombang: tradisi prasejarah yang masih berlangsung sampai sekarang sebagai wujud enkulturasi / Andik Suharyanto

 

Kata Kunci: gerabah Mambang, tradisi prasejarah, enkulturasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli diketahui bahwa gerabah sudah mulai dikenal sejak masa bercocok tanam. Pembuatan gerabah merupakan usaha yang telah berlangsung secara turun-temurun. Salah satu gerabah yang berlangsung secara turun-temurun adalah Gerabah Mambang. Teknik pembuatan gerabah Mambang masih menggunakan alat-alat tradisional. Walaupun sebagian besar pekerjaan masyarakat Mambang adalah bertani, namun pembuatan gerabah masih dilakukan sebagai usaha sampingan guna membantu perekonomian mereka. Dalam regenerasi, mereka mengajarkan teknik pembuatan gerabah kepada anaknya lewat pendidikan informal. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana teknik pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang? (2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan gerabah tradisional Mambang-Jombang masih dapat bertahan sampai sekarang? (3) Bagaimana proses enkulturasi pada pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang? Dengan tujuan penilitian: (1) Mengetahui teknik pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang. (2) Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gerabah tradisional Mambang-Jombang masih dapat bertahan sampai sekarang. (3) Menjelaskan proses enkulturasi pada pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang. Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitiannya adalah deskriptif, dan menggunakan kajian etnoarkeologi. Adapun tahap-tahap penelitiannya, yaitu; tahap persiapan, tahap penelitian lapangan, dan tahap penyelesaian. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa: (1) Teknik pembuatan gerabah di Mambang menggunakan metode roda putar. Alat-alat yang digunakan, yaitu perbot, tetep, watu, kerik, dan dalim. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi gerabah Mambang masih dapat bertahan sampai sekarang, yaitu; perubahan fungsi gerabah, tidak boleh kerja jauh, tingkat pendidikan rendah dan tidak ada pekerjaan lain, satu-satunya keahlian yang dimiliki, petani dan buruh tani yang memiliki banyak waktu luang, dan respon pasar yang baik. (3) Proses enkulturasi terlihat ketika anak dikenalkan bahan-bahan, alat pembuatan dan pewarnaan, proses penjemuran, dan proses pembakaran.

Perencanaan upper structure jembatan beton prategang di Desa Kalituri Kabupaten Tulungagung / Dhanang Bagus Setyobudi

 

Kata-kata kunci: Jembatan, Prategang, Upper Structure, Beton Prategang Desa Kalituri dan Desa Sobontoro merupakan bagian dari Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung. Desa tersebut dipisahkan oleh sungai dengan lebar 50 m. Pada sungai tersebut, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Jembatan tersebut terbuat dari jembatan komposit dengan lebar total 5m. Jembatan tersebut merupakan akses utama untuk menuju kabupaten Trenggalek dan sebaliknya. Seiring berkembangnya waktu semakin banyak truk-truk besar yang melintas juga intensitas kendaraan yang lewat juga semakin padat. Berdasarkan info yang diperoleh jembataan tersebut rencananya akan ditambah satu disebelah jembatan lama. Ini bertujuan supaya arus kendaraan yang lewat menjadi lebih lancar. Dari kondisi di tersebut, jembatan beton prategang dapat digunakan sebagi salah satu alternatif pilihan jembatan. Permasalahan yang ditinjau dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana menentukan spesifikasi jembatan beton prategang di Desa Kalituri . (2) Bagaimana menganalisa perhitungan kekuatan komponen jembatan terhadap gaya dalamnya. (3) Bagaimana menuangkan hasil analisa perhitungan ke dalam bentuk gambar teknik. Hasil dari perencanaan adalah jembatan panjang bentang 50 m, lebar total 7 m, tebal slab 20 cm, untuk tulangan positif dan negatif dengan tulangan D16 – 200 dan tulangan bagi D13 -100, dengan dimensi tiang sandaran 15cm x 15 cm jumlah 2 D 12 dengan tulangan geser ø 6 – 150, penulangan bagian trotoar menggunakan tulangan dengan D16 – 150 dan tulangan bagi D12 – 100, gelagar Induk beton prategang balok I dengan tinggi 2m sebanyak 5 buah, dengan jarak 1.2 m antar gelagar.Jumlah tendon yang digunakan 4 dengan 3 tendon berisi 19 strands dan 1 tendon berisi 12 strands, jenis strands yang digunakan Uncoated 7 wire super strands ASTM A-416 grade 270, tulangan arah memanjang balok dengan menggunakan besi D 12 dengan jumlah bagian atas 8, bagian bawah 12 dan tengah 14,tulangan geser menggunakan D 12. Dari hasil perhitungan, gaya-gaya dalam yang terjadi telah memenuhi syarat SNI-T-12-2004.

Pengaruh variasi temperatur carburizing terhadap tingkat kekerasan dan kedalaman difusi karbon pada baja ST 41 dengan metode pack carburizing / Chandra Wahyu Pratama

 

Kata Kunci: Variasi temperatur, baja St 41, pack carburizing, quenching. Mengingat permintaan pasar yang terus menuntut bahan yang lebih kuat dan keras, maka perlu kiranya diadakan penelitian terhadap pengaruh variasi temperatur terhadap tingkat kekerasan pada baja St 41 dengan metode pack carburizing, agar dapat menghasilkan baja yang lebih keras dan kuat untuk memenuhi permintaan pasar. Diharapkan nantinya waktu yang dibutuhkan untuk produksi bisa lebih singkat dengan adanya variasi temperatur carburizing. Pack carburizing adalah salah satu metoda yang digunakan untuk menambah kandungan karbon didalam baja dengan menggunakan media padat. Pemanasan yang dilakukan pada penelitian ini, menggunakan variasi temperatur 900º C, 950º C, dan 1000º C dengan penahanan waktu pemananasan (holding time) 60 menit. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh variasi temperatur carburizing terhadap tingkat kekerasan baja St 41 dengan metode pack carburizing. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Teknik analisis data menggunakan analisis one way anova. Analisis statistik tersebut digunakan untuk pengujian dan membuktikan hipotesis. Objek penelitian ini adalah baja St 41 yang kemudian diberi perlakuan yakni pack carburizing dengan variasi temperatur carburizing dan kemudian diquenching. Hasil penelitian rata-rata kekerasan tertinggi diperoleh pada temperatur 10000 C sebesar 1427,8 HV, pada temperatur 9500 C sebesar 1143,5 HV, dan kekerasan terendah diperoleh pada temperatur 9000 C sebesar 1039,2 HV. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai kekerasan permukaan pada baja St 41 antara sebelum dan setelah mengalami proses pack carburizing dengan variasi temperatur sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi temperatur pada proses pack carburizing dan quenching berpengaruh terhadap tingkat kekerasan permukaan pada baja St 41. Kekerasan permukaan baja akan meningkat seiring bertambahnya temperatur proses pack carburizing pada baja St 41.

The use terms of address, code mixing and code switching in online facebook businesses / Citra Larasati

 

Kata Kunci: panggilan kesayangan, strategi kesantunan positif, Facebook Fenomena terbaru dalam strategi komunikasi adalah komunikasi online. Komunikasi online tidak hanya bermanfaat untuk membangun relasi sosial antar individu, pula berperan penting dalam mempromosikan komoditas dalam toko-toko online. Keberadaan toko-toko online dapat dengan mudah ditemukan di sarana online berupa jejaring sosial, salah satunya adalah Facebook. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah jenis dari kata sapaan dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang mengindikasikan keintiman, persamaan, dan solidaritas, alasan yang memungkinkan pelaku bisnis online untuk mencampurkan dan menggabungkan bahasa, dan jenis dari kata sapaan dalam kaitannya dengan harga berdasarkan strata sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data primer berasal dari dialog dari pelaku bisnis online yang mengandung kata sapaan. Data sekunder berasal dari karya tulis Skagerström (2010) dan ThielkeMatrike (2011) yang digunakan sebagai referensi. Terdapat tiga hasil penelitian dalam karya ilmiah ini (1) Jenis-jenis kata sapaan yang digunakan oleh para pelaku bisnis online yang menunjukan kedekatan, persamaan dan solidaritas (2) alasan yang memungkinkan pelaku bisnis online untuk mencampurkan dan menggabungkan bahasa (3) jenis-jenis kata sapaan vs harga berdasarkan strata sosial. Hasil penelitian tersebut dianalisa menggunakan teori dari Brown and Levinson (1987) strategi no 4 kesantunan positif: penanda identitas grup dan teori gaya bicara wanita dari Tannen (1990, 1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 145 data kata sapaan yang dapat dikategorikan sebagai panggilan kesayangan dalam Bahasa Inggris (74 data) dan panggilan kesayangan dalam Bahasa Indonesia (71 data). Dari 74 data panggilan kesayangan dalam Bahasa Inggris, tipe yang paling sering muncul adalah Sister (54,1 %), kedua adalah Dear (17,6%), dilanjutkan oleh Baby (14,9,%) dan Madam (5,3%). Darling, Honey, dan Girls memiliki jumlah perhitungan yang sama (2,7%). Dari 71 data panggilan kesayangan dalam Bahasa Indonesia,tipe yang paling sering muncul adalah Sayang (43,7%), kedua adalah Kakak (22,5%). Tipe ketiga adalah Mbak (21,2%). Keempat adalah Jeng (4,2%) dan Mas Bro (4,2%). Cinta, Neng dan Gan memiliki jumlah penghitungan yang sama (1,4%). Alasan yang melatarbelakangi pelaku bisnis online untuk mencampurkan dan menggabungkan bahasa sebagaimana dijabarkan oleh Hoffman (1991:116) and Savile-Troike (1986:69) adalah, alasan yang marak terjadi yaitu untuk pengekspresian identitas grup (43,0%), kemudian alasan untuk membicarakan mengenai topik tertentu (36,4%), intensi untuk memperjelas isi dari pembicaraan kepada lawan bicara (10,3%), kelengkapan leksikal (6,7 %), alasan untuk memperhalus maupun mempertegas permintaan atau perintah (3,0%), penghubung kalimat (0,6%). Namun, tidak ditemukan kasus pencampuran dan penggabungan bahasa dengan alasan untuk mengutip suatu sumber, menunjukkan sikap empati, dan pengulangan kata demi memperjelas arti (0.0 %). Sehubungan dengan bahasan bahwa panggilan kesayangan memiliki kaitan dengan harga-harga produk berdasarkan strata sosial, hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa harga dari produk tidak memiliki korelasi dengan kata sapaan favorit yang digunakan oleh pembicara. Harga dari produk tidak dapat mengungkapkan pilihan dari panggilan kesayangan tersebut. Hal ini disebabkab karena panggilan kesayangan yang digunakan para pelaku bisnis online adalah sebuah tatanan kebiasaan. Penggunaan panggilan kesayangan oleh para pelaku bisnis telah memberikan gambaran yang jelas mengenai implementasi dari strategi kesantunan positif. Implementasi dari strategi ini akan mempengaruhi pembeli dengan alasan bahwa mereka akan memiliki kedekatan hubungan dan diperlakuan dengan baik oleh penjual. Dalam bisnis, berlaku sopan dan ramah dengan orang lain dalam konteks ini untuk memperlakukan orang asing sebagaimana teman dekat bertujuan untuk meningkatkan penjualan. Penelitian masa depan dalam topik kata sapaan diharapkan dapat memberikan sudut padang baru dalam ranah penelitian yang berbeda, misalnya dalam dunia politik.

Pengembangan media peta digital untuk pembelajaran IPS materi persebaran manusia purba Di Indonesia (Pulau Jawa) Kelas VII SMP Negeri 23 Malang / Achmad Nawawi

 

Kata Kunci: media, pembelajaran, peta digital, dan mata pelajaran sejarah Media adalah suatu alat atau sarana atau perangkat yang berfungsi sebagai perantara atau saluran atau jembatan dalam kegiatan komunikasi (penyampaian dan penerimaan pesan ) antara kominikator (penyampai pesan ) dan komunikan ( penerima pesan ). Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Hal yang melandasi dari pengembangan media ini yaitu pengembang melihat kondisi pada saat belajar sejarah di kelas VII SMP Negeri 23 Malang masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dari guru. Tingkat keefektivan siswa dalam hal bertanya, menjawab pertanyaan, mengungkapkan ide gagasan dan proses pembelajaran lainnya menurut pengembang kurang efektif, karena sejarah merupakan pelajaran yang berhubungan dengan peristiwa yang membahas masa lampau, sehingga tidak memungkinkan siswa untuk menggunakan media cetak saja dalam proses pembelajaran. Tujuan dari pengembangan yaitu untuk menghasilkan suatu produk media peta digital yang layak dan efektif sebagai sarana pembelajaran mata pelajaran IPS (Sejarah) pada materi persebaran manusia purba di Indonesia (Pulau Jawa) siswa kelas VII SMP Negeri 23 Malang. Tahap penelitian pengembangan yang digunakan adalah menggunakan tahapan ADDIE yang terdiri dari lima tahapan : (1) analisis, (2) desain, (3) pengembangan, (4) implementasi, dan (5) evaluasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil. Media ini divalidasikan oleh ahli materi sebanyak 1 orang, ahli media sebanyak 2 orang dan audiens sebanyak 20 orang. Setelah dianalisis kelayakannya hasil validasi dari media peta digital ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 84,2%, ahli materi 91,6%, siswa individual 90,0%, siswa kelompok kecil 88,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media peta digital ini cukup layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPS (Sejarah) dan disarankan agar pihak sekolah lebih meningkatkan pengadaan sarana berupa media pembelajaran sebagai media utama maupun media tambahan dalam kegiatan pembelajaran, karena media peta digital ini sudah terbukti sangat efektif meningkatkan hasil belajar siswa.

Rancangbangun trainer robot line follower analog untuk motivasi siswa dalam pembelajaran keterampilan elektronika dan robotika Di SMP Negeri 1 Glagah Banyuwangi / Emha Fathoni Al

 

Kata Kunci: Trainer, Robot Line Follower Analog Ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Robotika sekarang ini sudah berkembang pesat, itu terbukti saat ini sudah banyak sekolah – sekolah maupun Institusi – institusi yang mengadakan suatu pelatihan robotika sampai dengan mengadakan suatu perlombaan di bidang robotika. Memandang hal tersebut, SMPN 1 Glagah Banyuwangi menginginkan peserta didiknya mempunyai suatu kreatifitas tambahan yaitu dibidang Robotika, jadi tidak hanya kreatifitas dibidang seni seperti kesenian tari dan kesenian musik tetapi ada suatu kreatifitas tambahan dibidang Elektronika dan Robotika. Namun harapan itu masih belum tercapai karena Peserta didik belum pernah mendapatkan mata pelajaran yang berkaitan dengan elektronika. Berdasarkan hasil interview dan angket persepsi siswa, selama ini pembelajaran robotika di sekolah tidak pernah diperkenalkan sama sekali oleh guru. Hal ini menyebabkan siswa belum mengenal sama sekali tentang teknologi robotika. Dengan melihat itu maka penulis bermaksud membuat Trainer atau media pembelajaran yang berkaitan dengan elektronika khususnya dalam hal pembuatan robot line follower, dengan harapan peserta didik yang semula tidak mengenal elektronika dan robotika, dengan adanya media pembelajaran yang berisi modul elektronika dan Robotika, serta di tambah dengan Trainer Robot Line Follower, maka siswa akan dapat dengan mudah memahami dasar ilmu elektronika dan robotika.Model rancang bangun trainer ini mengadaptasi model rancangbangun Pusdiklat (Depdiknas). Dalam model rancangbangun ini pengerjaannya tidak terlalu rumit, tetapi diakhir prosesnya selalu ada evaluasi yang tujuannya untuk kesempurnaan trainer yang dibuat. Model rancangbangun ini terdiri dari 5 tahap yaitu: (1) Analisis kebutuhan media pembelajaran robotika; (2) Strategi Pendekatan; (3) Penyusunan Bahan /trainer robot Line Follower; (4) Pelaksanaan; (5) Evaluasi. Berdasarkan pada hasil uji coba, diperoleh presentase dari tiap-tiap subyek coba sebagai berikut: (1) Pada ahli media, diperoleh presentase sebesar 93,33 %, (2) Pada ahli materi, diperoleh presentase sebesar 96,66%, (3) Pada kelompok kecil, dipe¬ro¬¬¬leh presentase sebesar 67,64 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rancangbangun trainer robotika Line Follower untuk siswa SMPN 1 Glagah Banyuwangi ini layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Pengembangan sistem informasi alumni berbasis web Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Fery Ferdiansya

 

Kata Kunci :SistemInformasi,Alumni,PHP,MySQL ABSTRAK : Alumni adalah salah satu aset sebuah institusi untuk mempromosikan suatu lembaga. Di Jurusan Teknik Elektro UM, pendataan alumni masih dilakukan manual menggunakan lembaran angket. Maka dari itu dikembangkannya sistem informasi web alumni guna membantu dalam pendataan alumni jurusan. Tujuan dari pengembangan ini adalah memfasilitasi para alumni untuk dapat memberikan data diri tanpa harus datang ke Jurusan Teknik Elektro UM.Pengembangan sistem informasi alumni berbasis web ini menggunakan metode dari waterfall dengan membangun suatu metode nyata yang menyediakan kelompok objek dari sebuah sistem. Model waterfall menyediakan pendekatan alur yang di mulai dari analisis kebutuhan, desain sistem, penulisan kode program, pengujian program dan penerapan program. Metode pengujian menggunakan Pengujian black box. Pengujian produk dengan metode black box dilakukan kepada 3 user antara lain user alumni, user kajur dan user admin . Hasil pengujian terhadap user alumni diperoleh 7 kelompok uji tentang kesesuaian keluaran dari sistem informasi mendapat persentase 100% diterima, hasil pengujian terhadap user kajur diperoleh 4 komponen uji tentang kesesuaian keluaran dari sistem informasi mendapat persentase 100% diterima, hasil pengujian terhadap user admin diperoleh 6 komponen uji tentang kesesuaian keluaran dari sistem informasi mendapat persentase 100% diterima. Kesimpulan dari pengolahan data ke 3 user keseluruhan mendapatkan persentase 100% diterima.

Peningkatan kemampuan membaca intensif siswa kelas III SDN Gagangkepuhsari Sidoarjo dengan strategi PBSCT (prediksi, baca, cek, simpulkan, tulis) / Nur Arifah Lutfianah

 

Kata Kunci: pembelajaran membaca , kemampuan membaca Intensif, strategi PBCST Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas III SD. Salah satunya adalah kemampuan membaca intensif. Membaca intensif perlu dibiasakan kepada siswa sejak duduk di bangku kelas rendah. Melalui membaca intensif, siswa dapat mengetahui ide, pesan, maupun isi dari bacaan secara menyeluruh sehingga dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan seperti mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan menuliskan kembali teks yang dibaca. Berdasarkan hasil pengamatan di kelas III SDN Gagangkepuhsari, sebagian siswa belum mampu membaca intensif dengan tepat sehingga banyak kendala yang dihadapi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kendala-kendala tersebut adalah 1) siswa belum mampu menjawab pertanyaan literal, 2) siswa belum mampu mengajukan pertanyaan literal, 3) siswa belum mampu menuliskan kembali teks yang dibaca dengan bahasa sendiri. Siswa cenderung menuliskan kembali dengan kata-kata yang sama dengan kata yang berada dalam bacaan. Perlu adanya strategi pembelajaran yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Strategi PBCST adalah strategi pembelajaran yang memfokuskan keterlibatan siswa dengan teks karena siswa memprediksi dan membuktikannya ketika membaca. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN Gagangkepuhsari yang terdiri dari 19 siswa. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan strategi PBCST dapat meningkatkan kemampuan membaca intensif. Kemampuan siswa mengalami peningkatan secara bertahap dan mencapai hasil yang optimal pada siklus II. Analisis data menunjukkan bahwa skor penilaian rata-rata siswa pada siklus I sebesar 60,3 sehingga siklus I belum dikatakan berhasil karena belum mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu 68. Pada siklus II, skor rata-rata siswa mengalami peningkatan, yaitu sebesar 80,2. Melalui strategi PBCST dalam pembelajaran membaca intensif, siswa dapat membaca tanpa bersuara dan tidak menggeleng-gelengkan kepala, siswa lebih termotivasi dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan, dan siswa lebih konsentrasi dan teliti dalam membaca. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran membaca intensif dengan strategi PBCST dapat meningkatkan minat, keberanian, dan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran, serta meningkatkan hasil belajar siswa. Diharapkan strategi PBCST dapat digunakan untuk diterapkan pada mata pelajaran lainnya.

Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Bunulrejo 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang / Ika Rusaria

 

Kata Kunci: Model Problem Based Learning, pembelajaran, IPA. Berdasarkan hasil observasi awal di SDN Bunulrejo 2 Kota Malang ditemukan bahwa dalam pembelajaran IPA kelas IV masih menggunakan metode ekspositori dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang konvensional, sehingga mengakibatkan siswa menjadi pasif dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah yang ditunjukkan dengan ketuntasan hasil belajar kelas belum tercapai karena hanya 47% telah tuntas dan 53% belum tuntas belajar. Model Problem Based Learning (PBL) membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektualnya, karena adanya keterlibatan langsung dalam pengalaman nyata serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa setelah menerapkan model Problem Based Learning, dan (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa setelah menerapkan model Problem Based Learning. Penelitian ini dilakukan di SDN Bunulrejo 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV berjumlah 30 siswa, terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Tagart, meliputi 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan tes. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL pada pembelajaran IPA kelas IV dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan guru mengajar dengan sangat baik yaitu tercapainya sebagian besar dari indikator dalam RPP. Penerapan model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa melalui observasi pada siklus I sebanyak 70% meningkat menjadi 82% pada sikus II. Sementara untuk hasil belajar siswa meningkat dari rata-rata nilai 66 dengan 47% siswa tuntas belajar pada siklus I meningkat menjadi 82 dengan 87% siswa tuntas belajar pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran menggunakan model PBL perlu dilakukan karena dapat mengaktifkan siswa selama pembelajaran, penilaian aktivitas siswa diharapkan lebih teliti, selalu memotivasi siswa, serta diharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan pembelajaran IPA dengan materi yang berbeda.

Meningkatkan keterampilan gerak dasar senam lantai guling depan dengan pendekatan bermain untuk anak tunagrahita kelas V SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang / Moeh. Arif Muttaqin

 

Kata Kunci: Meningkatkan, Keterampilan Senam Lantai Guling Depan, Pendekatan Bermain Senam lantai guling depan adalah gerakan berguling ke arah depan melalui bagian belakang badan (tengkuk), pinggul, pinggang dan panggul bagian belakang. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas V SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang, belum optimal pada saat sikap awal, gerakan berguling, dan sikap akhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki pembelajaran senam lantai yang belum optimal yang diharapkan bisa meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas V SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang yang belum optimal dengan menggunakan pendekatan bermain Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dan tes. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa melalui pendekatan bermain mampu meningkatkan keterampilan siswa dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan siswa dalam melakukan senam lantai guling depan setelah diberikan tindakan dari siklus1 dan siklus 2 hasilnya, dari 1 (20%) siswa yang sudah bisa melakukan gerakan sikap awal dengan baik menjadi 5 (100%) siswa yang mampu melakukan gerakan yang benar dengan katagori baik. Dari belum ada siswa yang bisa melakukan gerakan berguling (0%) menjadi 4 (80%) siswa yang mampu melakukan gerakan benar pada gerakan dengan katagori baik. Dari belum ada siswa yang bisa melakukan sikap akhir dengan benar (0%) menjadi 4 (80%) siswa yang mampu melakukan gerakan yang benar pada sikap akhir dengan kategori baik Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah dengan pemberian pendekatan bermain dapat memperbaiki pembelajaran senam lantai yang belum optimal dan dapat meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas V SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasinal Lawang.

Hubungan kompetensi guru dan fasilitas laboratorium terhadap hasil belajar TIK siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang / Gita Rehuellah Suherman

 

Kata kunci : Kompetensi Guru, Fasilitas Laboratorium, Hasil Belajar TIK Pada umumnya keberhasilan belajar siswa dapat tercapai secara optimal apabila faktor –faktor yang mempengaruhinya berada pada situasi yang kondusif. Beberapa faktor tersebut di antaranya adalah kompetensi guru dan fasilitas laboratorium. Dalam perannya sebagai seorang teladan dan pengelola pembelajaran, guru dituntut untuk selalu mengembangkan kompetensi yang ada pada dirinya supaya dapat berdampak positif pada hasil belajar. Begitu pula dengan fasilitas laboratorium yang dituntut agar selalu menyajikan teknologi terkini dan canggih supaya dapat membawa hasil belajar TIK ke arah yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kompetensi guru dan fasilitas laboratorium dengan hasil belajar TIK siswa kelas XI SMKN 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional yang menggunakan metode Ex Post Facto, yaitu penelitian yang tidak ada perlakuan terhadap populasi atau sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner dan dokumentasi. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu kompetensi guru dan fasilitas laboratorium, dan variabel terikat yaitu hasil belajar TIK siswa. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI TKJ SMKN 2 Malang yang berjumlah 117 siswa. Penentuan sampel menggunakan teknik random sampling atau sampel acak yaitu sejumlah 38 siswa yang secara persentase merupakan 30% dari populasi. Dalam penelitian ini, antara variabel kompetensi guru dan hasil belajar siswa dikorelasikan menggunakan teknik korelasi Pearson karena merupakan sebuah data interval dan didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,200 dan signifikansi sebesar 0,030. Kemudian antara fasilitas laboratorium dan hasil belajar siswa dikorelasikan menggunakan teknik korelasi Point Serial karena merupakan sebuah data nominal dan didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,258 dan signifikansi sebesar 0,000. Dan pada uji korelasi ganda untuk menguji variabel-variabel tersebut secara simultan, yaitu variabel kompetensi guru dan fasilitas laboratorium diuji bersama-sama terhadap variabel hasil belajar siswa, didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,0581, dan fhitung (3,514) lebih besar dari ftabel (3,073). Dari hasil analisis korelasi tersebut, maka didapatkan kesimpulan bahwa secara parsial ada hubungan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar TIK siswa, serta ada hubungan signifikan antara fasilitas laboratorium dengan hasil belajar TIK siswa. Dan secara simultan ada hubungan signifikan antara kompetensi guru dan fasilitas laboratorium dengan hasil belajar TIK siswa.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran advokasi bagi siswa kelas III SDN Bendo 2 Kota Blitar / Mikha Unwakoly

 

Kata Kunci : Model Advokasi, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS SD. Model Pembelajaran Advokasi merupakan salah satu model dalam pembelajaran Kooperatif dimana dengan cara diskusi/debat kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Hasil pengamatan tentang mata pelajaran IPS kelas III SDN Bendo 2 dapat diketahui bahwa siswa memiliki minat belajar yang renda, diantarannya siswa cenderung pasif dan merasa bosan dalam pembelajaran IPS nilai rata-rata dalam hasil belajar adalah 65% masih kurang dari kriteria yang ditentukan, yaitu 70%. Hal ini dikarenakan guru masih menggunakan metode konvensional. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan 1) Pelaksanaan model pembelajaran Advokasi dalam meningkatkan aktivitas belajar IPS pada siswa kelas III SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar. 2) Meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas III SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan desanin penelitian tindakan kelas dengan model dari Kammis dan Taggart yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar yang terdiri dari 23 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soel tes, lembar observasi, lembar wawancara, dan kamera. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaaan pembelajaran IPS melalui model pembelajaran Advokasi dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar yang ditunjukan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 40%, siklus I sebesar 79%, dan siklus II sebesar 100%. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 43%, siklus I 61%, siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Advokasi dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas III SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar dengan baik. Untuk itu disarankan bagi guru sebagai seorang ahli yang mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan interaksi yang edukatif, komunikatif yang menyenangkan bagi siswa dan guru sendiri. 

Manajemen pelayanan khusus bimbingan dan konseling di sekolah menengah kejuruan (studi multi situs di SMKN 1 & SMKN 7 Samarinda, Kalimantan Timur) / Rika Dewi Agustiyani

 

Uji kualitas mikrobiologi air yang berasal dari beberapa sumber mata air di Lokoboko, Ende-Flores-NTT berdasarkan nilai MPN coliform dan nilai MPN coliform fekal / Yoseph Sirilus Rinu

 

Kata Kunci: Air, Nilai MPN coliform, Nilai MPN coliform fekal Air merupakan salah satu kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan untuk kehidupan manusia. Air diperlukan untuk berbagai macam kegiatan seperti minum masak, dan mandi. Kita ketahui bahwa air minum sangat rentan ter-kontaminasi oleh mikroorganisme termasuk oleh bakteri coliform, sehingga ada kemungkinan air yang digunakan dalam keadaan mentah tercemar oleh bakteri coliform. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengetahui Nilai MPN coliform sampel air dari beberapa sumber mata air yang berada di Lokoboko Ende-Flores- NTT, (2) mengetahui nilai MPN coliform fekal sampel air dari beberapa sumber mata air yang berada di Lokoboko Ende-Flores-NTT, (3) Mengetahui kualitas mikrobiologi air dari beberapa sumber mata air yang berada di Lokoboko Ende, Flores-NTT ditinjau berdasarkan Nilai MPN coliform dan coliform fekal. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif observasional. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang pada bulan Januari 2011 sampai dengan bulan Maret 2011. Sampel yang digunakan ialah air yang berasal dari tiga sumber mata air di Lokoboko. Pengambilan sampel untuk masing- masing sumber mata air sebanyak 3 kali ulangan secara langsung pada hari yang sama. Sampel yang diperiksa sebanyak 100 mL yang dilakukan dalam tiga ulangan.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan perhitungan Nilai MPN coliform dan perhitungan Nilai MPN coliform fekal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Rerata nilai MPN coliform pada sampel air, yaitu > 2,4 x 103 sel/ml sampel air. 2) Nilai MPN coliform fekal pada sampel air, yaitu > 2,4 x 103 sel/ml sampel air. Nilai ini ternyata melebihi standar maksimal yang telah ditetapkan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Republik Indonesia, Nomor HK.00.06.1.52 tahun 2009, yaitu nilai MPN coliform pada sampel air tidak boleh lebih 3 sel / ml sampel air. Berdasarkan kenyataan tersebut diketahui bahwa Nilai MPN coliform dan coliform fekal pada sampel air minum dari tiga sumber mata air tersebut tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan BADAN POM, berarti sampel air yang berasal dari tiga sumber mata air dapat dikatakan tidak layak untuk dikonsumsi.

Persepsi guru terhadap perkembangan emosional anak melalui kegiatan pembelajaran yang diiringi musik klasik pada anak kelompok A di Taman Kanak-kanak Dharma Wanita 2 Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Ferdina Yessitadevi

 

Kata Kunci: Persepsi Guru, Perkembangan Emosional, Pembelajaran Musik Klasik, Anak Usia Dini Anak usia dini sebaiknya tidak dididik cerdas saja, tetapi kemampuan emosi anak perlu diasah. Banyak cara yang dapat dilakukan agar kemampuan emosional anak terasah dengan baik, salah satunya dengan memperdengarkan musik klasik. Mendengarkan musik klasik berpengaruh pada emosional anak, sehingga anak merasa lebih tenang dan emosi anak mudah dikendalikan ketika pembelajaran berlangsung, namun di TK yang peneliti lakukan tidak mengiringi kegiatan dengan musik klasik sehingga anak sulit dikendalikan dan situasi kelas tidak tenang. Hal ini menyebabkan perlu adanya penelitian tentang persepsi guru terhadap perkembangan emosional anak melalui kegiatan pembelajaran yang diiringi musik klasik pada anak kelompok A di TK Dharma Wanita 2 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rumusan masalah bagaimanakah persepsi guru terhadap perkembangan emosional anak melalui kegiatan pembelajaran yang diiringi musik klasik pada anak kelompok A TK Dharma Wanita 2 Kecamatan Turen Kabupaten Malang dan bagaimanakah penggunaan musik klasik terhadap perkembangan emosional pada anak kelompok A TK Dharma Wanita 2 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Rancangan Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif yang dimaksud untuk menggambarkan suatu kejadian baik yang tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati pada saat penelitian dilakukan. Penelitian dilakukan di TK Dharma Wanita 2 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Subyek penelitian adalah 18 anak kelompok A TK Dharma Wanita 2 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Instrumen penelitian menggunakan wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa dari persepsi guru menyatakan adanya perkembangan emosional pada anak kelompok A yang kegiatan pembelajarannya diiringi musik klasik seperti anak lebih tenang, senang, lebih percaya diri dan anak tidak mudah marah. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan persepsi guru terhadap perkembangan emosinal anak melalui kegiatan pembelajaran yang diiringi musik klasik sangat baik untuk diterapkan dan berpengaruh pada perkembangan emosional anak seperti anak lebih tenang, senang, lebih percaya diri dan anak tidak mudah marah. Disarankan kepada guru untuk menyertakan musik klasik sebagai pengiring kegiatan pembelajaran yang berlangsung demi perkembangan emosional anak lebilagih baik. Disarankan kepada kepala TK mengambil kebijakan untuk menerapkan kegiatan pembelajaran yang diiringi musik klasik dalam mengembangkan emosional anak.

Manajemen kesiswaan pada penyelenggaraan pendidikan inklusi (studi multisitus di SDN Percobaan I Malang dan SDN Junrejo I Kota Batu) / Wilujeng Herawati

 

Kata Kunci: manajemen, kesiswaan, manajemen kesiswaan, pendidikan inklusi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 70 Tahun 2009 membahas pendidikan layanan khusus (pendidikan isklusif). Dalam peraturan ini, yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya (pasal 1). Penyelenggaraan pendidikan inklusi sudah banyak didirikan di sekolah negeri tetapi perkembangannya belum dapat maksimal karena masih kurangnya pemahaman tentang manajemen layanan khusus terutama manajemen kesiswaan/kepesertadidikan. Lokasi penelitian ini adalah di SDN Percobaaan I Malang dan di SDN Junrejo I Kecamatan Junrejo Kota Batu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan seleksi atau penerimaan siswa pada penyelenggaraan sekolah inklusif di SDN Percobaan I Malang dan SDN Junrejo I Kecamatan Junrejo Kota Batu. (2) mendeskripsikan pengelompokan siswa pada penyelenggaraan sekolah inklusif di SDN Percobaan I Malang dan SDN Junrejo I Kecamatan Junrejo Kota Batu. (3) mendeskripsikan pembinaan pendidikan pada sekolah inklusif di SDN Percobaan I Malang dan SDN Junrejo I Kecamatan Junrejo Kota Batu. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang berupaya mendeskripsikan suatu proses. Adapun rancangan penelitian ini adalah Studi Multi-Situs. Penelitian dengan multi-situs arahnya lebih banyak untuk mengembangkan teori yang kecenderungan memiliki banyak situs yaitu dua atau tiga. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: (1) wawancara, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Analisis data yang telah diperoleh, dilakukan melalui kegiatan menelaah data, menata, membagi menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesis, mencari pola yang akan diteliti dan diputuskan oleh peneliti untuk dilaporkan secara sistematis. Hasil penelitian: (1) adanya beberapa perbedaan waktu pendaftaran calon siswa baru di SDN Percobaan I Malang untuk calon siswa regular dan calon siswa ABK. Calon siswa juga harus melewati seleksi administrasi dan tes tulis yang sangat ketat. Sedangkan di SDN Junrejo I kecamatan Junrejo Kota Batu waktu pendaftaran untuk calon siswa regular dan ABK waktunya bersamaan dengan menggunakan sistem promosi atau semua siswa akan diterima jika daya tampung kelas masih tersedia. (2) pengelompokan siswa di SDN Percobaan I Malang dan di SDN Junrejo I Kecamatan Junrejo Kota Batu memiliki kesamaan yaitu: pengelompokan berdasarkan kecerdasan, Kemampuan akademik dan kebutuhan khusus. (3) penanganan siswa baru di SDN percoban I Malang melalui tahapan observasi yang mendalam, baik sebelum resmi menjadi siswa maupun setelah resmi menjadi siswa. Sedangkan di SDN Junrejo I Kecamatan Junrejo Kota Batu ABK yang mendaftar akan dikaji ulang, apabila belum bisa masuk di kelas regular maka akan ditempatkan di kelas khusus.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui metode role playing pada siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar / Barbalina Benamen

 

Kata kunci: kemampuan berbicara, role playing Hasil pengamatan pratindakan menunjukan hasil penelitian pembelajaran bahasa memperoleh nilai dibawah KKM yaitu beberapa kali ulangan keterampilan berbicara nilai rata-rata kelas hanya berkisar 75 dari 21 siswa. Berdasarkan hasil tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode Role Playing dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar, dan (2) mendeskripsikan hasil peningkatan hasil pembelajaran metode Role Playing pada siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar. Pendekatan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian yang dilakukan dengan dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini dari observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran role playing pada bahasa indonesia di kelas IV sudah sangat baik. Hal ini didukung dengan sudah munculnya semua aspek/ komponen metode pembelajaran role playing pada saat pembelajaran berlangsung. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula nilai 70-80. Presentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 39,13%, pada siklus I mengalami peningkatan siswa yang dikatakan tuntas sebanyak 17 siswa (39,13%). Pada siklus II meningkat lagi yaitu siswa yang tuntas sebanyak 20 siswa (52,17%) sedangkan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I mengalami peningkatan siswa yang dikatakan tuntas sebanyak 17 siswa (67,44 %). Pada siklus II meningkat lagi yaitu siswa yang tuntas banyak 20 orang (95,34 %) siswa setelah penerapan metode role playing. Penerapan metode pembelajaran role playing sangat cocok dengan pembelajaran bahasa indonesia bagi siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar yaitu pada meteri petunjuk penggunaan alat dan sejenisnya karena dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara. Dari hasil tersebut diharapkan agar senantiasa meningkatkan kualtas dan kinerjanya dengan menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam menerapkan pembelajaran baru yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak.

Studi evaluasi pelaksanaan erection precast dan perbandingan rencana anggaran biaya plat precast dan plat konvensional / Hifrery Laksana Ugama

 

Kata Kunci: pelaksanaan, RAB, pondasi tiang pancang, pile cap Struktur beton merupakan komponen penting dalam bangunan, dimana fungsinya sebagai rangka bangunan dan penahan gaya-gaya yang ada dalam bangunan tersebut. Adapun gaya-gaya yang ada di dalam bangunan, yaitu: beban mati yang berupa berat beton itu sendiri, beban hidup yang direncanakan dalam penentuan kekuatannya, dan gaya-gaya horizontal maupun vertical dari luar seperti tekanan angin dan gravitasi. Kekuatan utama untuk menerima gaya-gaya atau beban yang diterima oleh struktur yang berada di area setiap joint struktur. Studi Proyek Akhir ini dilakukan pada proyek Pembangunan Rusunawa Type 24 Probolimggo . Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan observasi, interview (wawancara) dan dokumentasi. Dari data-data tersebut dilakukan analisa melalui pembandingan antara teori dan pelaksanaan dari masing-masing komponen kemudian menyimpulkan hasil penelitian. Dari hasil studi proyek diperoleh bahwa pelaksanaan erection tiap tiap struktur ada beberapa tahap yaitu penentuan titik, pengcekan beam ,pengangkatan ,grouting dan topping. Dari hasil pembahasan pelaksanana erection precast dengan kajian teori dapat disimpulkan bahwa secara garis besar pelaksanaan erection precast sudah sesuai dengan kajian teori. Sedangkan perbandingan RAB plat pre cast dan plat konvensional lebih mahal plat precast sebesar Rp 15.555,85 per 1 meter persegi. Saran yang dinajurkan dari proyek ini adalah hendaknya mengantisipasi angin tiup pada proyek yang menggangu proses erection. Sehingga pelaksanaan proyek dapat sesuai dengan rencana.

Penerapan model peta konsep untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas IV SDN Madyopuro 6 Kedungkandang-Malang / Ani Ginting Lestari

 

Kata kunci: Pembelajaran, IPA, Peta Konsep. IPA merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan analitik manusia berupa fakta, konsep, prinsip dan teori. Hasil observasi menyatakan bahwa pembelajaran IPA di SDN Madyopuro 6 didominasi dengan kegiatan ceramah. Aktivitas siswa terbatas pada mendengarkan dan menulis. Pengetahun guru tentang model pembelajaran masih minim. Hasil belajar rata-rata 59,29. Hanya 2,04 % siswa yang mampu mencapai KKM yaitu 75,33.Guru mengalami kesulitan dalam memberikan materi yang menuntut siswa untuk menghafal. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter materi rangka yaitu dengan model peta konsep. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model peta konsep pada pembelajaran IPA di kelas IV, aktivitas siswa selama berlangsungnya penerapan model peta konsep pada pembelajaran IPA di Kelas IV, dan hasil belajar siswa setelah penerapan model peta konsep pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Madyopuro 6. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru IPA Kelas IV sebagai observer dan seorang teman sejawat yang bertugas dalam pengambilan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan pada pembelajaran IPA dengan kompetensi dasar mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya. Subyek dalam penelitian ini adalah seorang guru IPA dan siswa kelas IV SDN Madyopuro 6 yang berjumlah 34 siswa yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penerapan model peta konsep mncakup 4 langkah kegiatan, yaitu menentukan konsep utama, menempatkan konsep utama di tengah atau di puncak peta, mengelompokkan sub-sub konsep di sekeliling konsep utama, serta memberikan preposisi. Hasil penelitian menyatakan bahwa pada penerapan mdel peta konsep telah meningkatkan pembelajaran IPA di kelas IV. Hal ini ditandai dengan nilai aktivitas siswa pada siklus I adalah 77,5 dan meningkat menjadi 89,9 pada siklus II. Persentase hasil belajar siswa yang tuntas belajar pada siklus I adalah 55,85% meningkat menjadi 79,35% pada siklus II. Hasil belajar siswa yang mampu meraih KKM telah mencapai target yang diharapkan yaitu lebih dari 75%. Penerapan model peta konsep dapat diberikan untuk materi yang luas dan menuntut hafalan. Seperti materi rangka sebaiknya digunakan model pembelajaran peta konsep.

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejarah untuk meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Batu / Ilham Mahmud

 

Kata Kunci: MGMP Sejarah, Kegiatan MGMP, Profesionalisme Guru MGMP sejarah Kota Batu sudah ada sejak tahun 2002 bersamaan dengan berdirinya Kota Batu. Dalam perkembangannya,MGMP sejarah ini mengalami pasang surut dalam melakukan berbagai macam kegiatan. Berbagai macam alasan yang menyebabkan MGMP kurang berjalan secara maksimal mulai dari masalah pendanaan karena tidak pernah mendapat dana Block Grant dari P4TK dan LPMP, kesulitan mengatur jadwal pertemuan dan kurangnya dukungan dari berbagai macam pihak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimanakah penjadwalan kegiatan yang ditangani oleh MGMP sejarah Kota Batu?, 2) Kegiatan apa saja yang dilakukan oleh MGMP sejarah dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Batu?, 3) Bagaimanakah peran dari Dinas Pendidikan dalam pengembangan MGMP sejarah Kota Batu?. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan penjadwalan kegiatan yang ditangani oleh MGMP sejarah Kota Batu, 2) Mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh MGMP sejarah dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Batu, 3) Mendeskripsikan peran dari Dinas Pendidikan dalam pengembangan MGMP sejarah Kota Batu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Dari penelitian menunjukkan bahwa MGMP sejarah Kota Batu tidak mampu mengatur jadwal kegiatan yang efektif sehingga mengakibatkan kegiatan-kegiatan MGMP selama ini kurang berjalan secara maksimal. Jadwal kegiatan MGMP harus menyesuaikan jadwal dari masing-masing sekolah. Hal ini kurang benar, jadwal masing-masing sekolah yang seharusnya menyesuaikan dengan jadwal MGMP bukan malah kebalikannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa MGMP sejarah Kota Batu dalam melakukan kegiatan-kegiatan masih belum maksimal karena, (1) Sejak tahun 2002 sampai sekarang kegiatannya masih belum rutin, kadang aktif tapi kadang juga kurang aktif, misalnya saja dalam dua tahun ini terjadi kevakuman kegiatan, (2) Dalam pelaksanaannya, kegiatan MGMP tidak berjalan sesuai dengan jadwal yang ada sehingga pertemuannya masih bersifat insidental. Kondisi seperti ini harus segera diatasi agar MGMP sejarah aktif kembali seperti dulu sehingga tujuan dari MGMP yakni meningkatkan profesionalisme guru segera tercapai. Dinas pendidikan selama ini terkesan masih kurang berperan dalam pengembangan MGMP sejarah Kota Batu. Dinas Pendidikan seakan-akan kurang mempedulikan MGMP sejarah, selama ini tidak pernah mengecek ataupunmeminta laporan hasil dari kegiatan MGMP yang pernah dilakukan. Diharapkan untuk ke depannya antara pihak Dinas Pendidikan dan MGMP sejarah terjadi saling komunikasi yang berkelanjutan agar MGMP terus aktif dan dapat meningkatkan profesionalisme guru.

Peningkatan kemampuan bahasa anak menggunakan media pembelajaran boneka jari di TK Pertiwi Jegu 01 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar / Triana Susanti

 

Kata Kunci : Peningkatan, Kemampuan Bahasa, Boneka Jari Masa anak usia TK merupakan masa emas (Golden Age) yang harus mendapatkan pendidikan yang tepat. Upaya yang dilakukan dengan memunculkan keanekaragaman media pembelajaran yang mendukung pembelajaran, namun tidak semua media sesuai dengan karakteristik anak, terutama anak TK. Hal ini perlu diperhatikan terutama dalam perkembangan bahasa sebagai salah satu pondasi awal anak untuk memahami lingkungan. Di TK Pertiwi Jegu 01 peningkatan bahasa belum dapat berkembang secara signifikan. Melihat hal tersebut Boneka Jari dipandang tepat untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penggunaaan media boneka jari untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok B; (2) mendeskripsikan bahwa media boneka jari dapat mengembangkan kemampuan bahasa anak dan; (3) faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan boneka jari dapat lebih meningkatkan pengembangan bahasa anak kelompok B di TK Pertiwi Jegu 1 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model (PTK) Penelitian Tindakan kelas melalui tiga siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian anak didik kelompok B di TK Pertiwi jegu 1 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, dengan jumlah peserta didik 11 anak. Alat Pengumpulan data terdiri dari observasi, dokumentasi, dan wawancara. Instrumen yang digunakan adalah : (1) lembar observasi aktivitas guru; (2) lembar observasi aktivitas anak dalam cerita menggunakan boneka jari; (3) lembar observasi hasil peningkatan kemampuan bahasa anak; (4) lembar observasi media pembelajaran boneka jari. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan bahasa anak terbukti pada siklus I prosentase anak tuntas mencapai 64 % dan prosentase anak tuntas meningkat 82 % pada siklus II serta pada siklus III terjadi peningkatan 91 %. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penggunaan media boneka jari dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak melalui tiga tahap antar lain: 1) Kegiatan awal; 2) inti; dan akhir. Dalam pelaksanaannya ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain: 1) usia; 2) lingkungan; 3) kecerdasan; dan 4) ekonomi. Saran yang dapat diberikan dari peneliti ini adalah 1) Guru kelas B dapat menggunakan media boneka jari untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak; 2) Seorang guru hendaknya mampu untuk melakukan inovasi terhadap media pembelajaran; 3) Peneliti selanjutnya untuk menggunakan media boneka jari dengan metode yang lain.

Dari desa menjadi Kampung Inggris (kajian sejarah perekonomian Desa Tulungrejo Pare Kediri 1977-2011) / Kusnul Dwi Anitasari

 

Kata Kunci: Kampung Inggris, Perekonomian Kampung Inggris merupakan sebutan untuk Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri karena kemampuannya dalam mengembangkan kursus bahasa Inggris. Kehadiran Kampung Inggris telah mampu mendongkrak Desa Tulungrejo menjadi salah satu primadona investasi baru di wilayah Kecamatan Pare dan sekitarnya. Keberadaan Kampung Inggris telah menjadikan pola kehidupan masyarakat desa ini berangsur-angsur mengalami perubahan dengan ditandai semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang berdiri. Pertanyaan penelitian adalah bagaimana perkembangan Desa Tulungrejo menjadi Kampung Inggris dan bagaimana perkembangan perekenomian masyarakat Desa Tulungrejo setelah menjadi Kampung Inggris. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk mendiskripsikan perkembangan Desa Tulungrejo menjadi Kampung Inggris dan perkembangan perekenomian masyarakat Desa Tulungrejo setelah menjadi Kampung Inggris. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan antropologi. Tahapan kegiatan yang tercakup dalam penelitian ini, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk menjaga kevalidan data dilakukan dengan kegiatan kritik sumber dan ketekunan pengamatan. Kegiatan interpretasi dilaksanakan setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai. Dari penelitian ini diperoleh dua kesimpulan yakni sebagai berikut. Pertama, perkembangan Desa Tulungrejo menjadi Kampung Inggris tidak terlepas dari sosok Yazid, kyai kondang yang menguasai delapan bahasa dunia dan merupakan pemandu Clliford Geertz dalam menulis buku The Religion of Java. Berkat talenta dan keinginanYazid memasyarakatkan bahasa Inggris untuk berdakwah telah mengantarkan Kalend mampu mengembangkan kursus bahasa Inggris. Kedua, kehadiran lembaga kursus telah membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Tulungrejo dari sektor pertanian bertambah menjadi sektor usaha jasa seperti tempat kos dan warung makan. Peluang adanya lapangan pekerjaan baru, mengakibatkan penduduk dari daerah lain berbondong-bodong datang ke tempat ini, sehingga lambat laun terjadi sikap saling berkompetisi antara penduduk bermodal kecil dan bermodal besar. Kehadiran pemilik modal besar memberikan dampak positif dan negatif. Di satu sisi meningkatkan perekonomian, namun di sisi lain mengikis kearifan lokal serta mengancam keberadaan masyarakat pemilik modal kecil. Sementara itu, dari pihak pemerintah desa nampak kurang mampu menjalankan fungsinya yaitu memberikan perlindungan dan keamanan bagi rakyat. Penelitian ini mengalami kendala akan keterbatasan data mengenai administrasi desa seperti kependudukan dan mata pencaharian pada tahun 2000-an ke bawah dan kesulitan dalam menggali informasi secara mendalam terkait dengan lembaga kursus. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemilik modal kecil agar berupaya untuk lebih mendayagunakan keterampilan secara efektif, kreatif dan efisien dalam mendesain usahanya di Kampung Inggris sehingga mampu untuk bersaing dengan pemilik modal besar. Bagi yang ingin melakukan penelitian di Kampung Inggris, peneliti menyarankan agar mengambil tema mengenai persaingan yang terjadi antara pemilik modal kecil dan pemilik modal besar.

Sejarah perkembangan kawasan Lamongan (1569-1942) / Nanik Prasasti

 

Kata Kunci: Perkembangan, Sejarah Daerah, Kawasan Lamongan Lamongan sebagai salah satu kabupaten di Jawa Timur memiliki beberapa peninggalan kuno yang dapat digunakan untuk merekonstruksi awal kehidupan di kawasan tersebut. Rekonstruksi mengenai kehidupan masyarakat kawasan Lamongan merupakan studi sejarah daerah yang dapat memberikan sumbangan pada sejarah nasional, khususnya sejarah propinsi Jawa Timur. Lamongan pada tahun 1569 memiliki sistem administrasi wilayah sendiri yang dipimpim seorang Tumenggung. Meskipun Lamongan masih dalam status wilayah yang kurang memberi sumbangan pada Belanda, akan tetapi peninggalannya sampai pada masa berakhirnya kekuasaan Belanda sekitar tahun 1942 cukup banyak. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimana latar belakang masyarakat kawasan Lamongan hingga Hindu-Budha?, (2) Bagaimana sejarah kawasan Lamongan tahun 1569-1942?, (3) Bagaimana nilai-nilai pendidikan studi tentang sejarah Lamongan?.Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk menjelaskan latar belakang masyarakat kawasan Lamongan hingga Hindu-Budha, (2) Untuk mengetahui kawasan Lamongan tahun 1569-1942, (3) Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan dalam studi sejarah Lamongan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah terdiri dari 5 tahap yaitu 1) pemilihan topik, 2) heuristik, 3) verifikasi, 4) interpretasi, 5) historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang kehidupan masyarakat Lamongan sebelum masuknya Islam sudah memiliki unsur religi-magis yang cukup tinggi. Sejak masa Hindu-Budha juga sudah terbentuk lapisan masyarakat. Sejak kawasan Lamongan dipimpin oleh seorang Tumenggung, kawasan Lamongan memiliki wilayah administratif tradisional. Kemudian pada masa pendudukan Belanda menjadi wilayah yang cukup dikembangkan karena memiliki pelabuhan di pantai utara yang memudahkan untuk melakukan perdagangan dan wilayah selatan yang memiliki lahan pertanian yang menghasilkan padi dan tebu yang merupakan hasil pertanian yang dibutuhkan orang-orang Belanda. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari penelitian ini diantaranya nilai religius-magis, kerja keras, toleransi, rasa ingin tahu, peduli sosial, keadilan sosial, tanggung jawab, menghargai prestasi dan semangat kebangsaan. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat lebih memfokuskan pada satu masa, tetapi dengan kajian yang lebih mendalam, misalnya masa Hindu-Budha di Lamongan, penelitian selanjutnya bisa mengkaji bagian peninggalan Airlangga di Lamongan berupa sebaran prasastinya yang sampai saat ini masih terus dikembangkan oleh ahlinya, sehingga mungkin bisa didapatkan wacana baru mengenai ibukota sementara Kerajaan Airlangga yang sampai saat ini masih banyak diperdebatkan. Penelitian ini juga hanya terbatasi sampai berakhirnya pendudukan Belanda, untuk penelitian selanjutnya juga bisa ditambahkan masa pasca kemerdekaan di Lamongan sampai masa sekarang sehingga menjadi pelengkap dari penelitian ini.

Pengembangan model manajemen pelatihan pendidikan seni budaya bagi guru SD / Warih Handayaningrum

 

Kata kunci: model manajemen pelatihan, pendidikan seni budaya, guru SD kelas awal Berdasarkan penelitian awal di SD saat pelatihan seni di Batu serta angket yang diisi oleh guru SD saat PLPG tahun 2011di Tuban, ditemukan adanya permasalahan pembelajaran seni budaya saat ini dari aspek guru: tidak semua sekolah memiliki guru seni, tidak semua guru seni budaya mempunyai latar pendidikan seni. Dari paradigma guru ada mis konsepsi terhadap pendidikan seni yaitu pendidikan seni dianggap mendidik anak jadi seniman. Mata pelajaran seni budaya tidak dianggap penting dan sebagai pelengkap pengalaman di lapangan. Masih berpusat pada guru karena referensi terbatas, belum mengoptimalkan lingkungan dan belum mengembangkan kreativitas anak. Akhirnya out put hanya aspek kognitif, berorientasi hasil bukan proses, kreativitas siswa rendah. Dari permasalahan di atas Dinas Pendidikan kota maupun Provinsi telah mengadakan pelatihan. Namun ada permasalahan dalam penyelenggaraan pelatihan yaitu dari paradigma bahwa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mencipta karya seni, sehingga fokus pelatihan adalah keterampilan seni, rekrutmen guru SD juga yang mempunyai keterampilan seni, guru SD yang demikian jumlahnya terbatas, out put menguasai keterampilan seni dan bisa mencipta seni, yang diperuntukkan lomba atupun festival, bukan membelajarkan seni budaya di SD. Berangkat dari sinilah diperlukan adanya pengembangan model pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian awal, maka pengembangan produk awal dalam penelitian ini menghasilkan buku model manajemen pelatihan, buku materi pelatihan pendidikan seni budaya bagi guru SD Menurut Borg dan Gall dan Puslitjaknov ada lima langkah untuk menghasilkan produk, sebagai berikut: (1) Melakukan analisis produk dengan mengadakan penelitian dan pengumpulan data awal, (2) Mengembangkan produk awal, (3) Validasi ahli dan revisi, (4) Uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk (4) Uji coba skala besar dan produk akhir. Produk divalidasi oleh ahli pelatihan yaitu Prof. Dr. Mundzir, M.Pd Guru Besar Pendidikan Luar Sekolah UM, Prof. Dr. Roesminingsih M.Pd Guru Besar Pendidikan Luar Sekolah Unesa. Validasi ahli bidang seni yaitu Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn dosen seni Unesa dan Drs. Hadjar Pamadhi, M.A, dosen seni UNY. Validasi ahli pembelajaran. Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd Guru Besar Teknologi Pembelajaran UM dan Prof. Dr. H. Muhamad Nur Guru Besar Pembelajaran Unesa. Pada validasi putaran 1 difokuskan pada kualitas isi tulisan sehingga revisi produk berdasarkan masukan ahli. Validasi pada putaran 2 difokuskan pada tingkat kemanfaatan, sistematika, tingkat kejelasan, tingkat keterbacaan, tingkat kemudahan, kemutakhiran keenam ahli memberikan penilaian dikategori tinggi dan sangat tinggi.

Penggunaan abu vulkanik gunung Merapi untuk pembuatan batako ditinjau dari efisiensi biaya produksi / Tri Hana Yuli Setyawan

 

Kata Kunci : Efisiensi Harga, Batako, Abu Vulkanik, Home Industry. Batako merupakan produk bahan bangunan dari semen yang digunakan sebagai salah satu alternatif pengganti batu bata. Batako berfungsi sebagai bahan pengisi dinding. Efisiensi dalam pemasangan dan perawatan yang mudah membuat batako lebih banyak diminati. Seiring berkembangnya produk batako, hal ini dikarenakan proses pembuatan yang lebih efisien dibandingkan dengan pembuatan batu bata merah. Penelitian ini bersifat perbandingan harga batako campuran abu vulkanik dan batako tanpa campuran abu vulkanik yang pembuatannya dari home industry batako yang berada di Desa Sempalwadak Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang dengan sistem produksi menggunakan manual. Pengambilan abu vulkanik di Sleman Yogyakarta, sebagai bahan perbandingan juga diambil 10 buah sampel dari home industry. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi biaya produksi antara batako yang umum dipakai dengan batako campuran abu vulkanik Gunung Merapi. Dari hasil penelitian ini sementara hasil perbandingan harga batako home industy di Desa Sempalwadak Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang biaya yang diperlukan untuk 20 batako menggunakan campuran abu vulkanik adalah Rp. 76.000 dan batako tanpa campuran abu vulkanik adalah Rp. 26.000. Perhitungan selisih harga produksi untuk pembuatan 20 batako bahan dasar abu vulkanik dengan bahan dasar tanpa abu vulkanik adalah Rp 76.000 : Rp 26.000 akan menghasilkan selisih harga Rp. 50.000. Persentase tingkat efisiensi biaya produksi antara batako tanpa campuran abu vulkanik dengan batako menggunakan campuran abu vulkanik adalah 65,8 %.

Penerapan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang / Arniati

 

Kata kunci: pendekatan keterampilan proses, hasil belajar Di lingkungan sekolah dasar diharapkan ada penekanan pembelajaran yang diarahkan pada pengalaman belajar siswa. Dalam pembelajaran IPA kelas IV SDN Karangbesuki 1 masih menggunakan metode ceramah dan teori saja. Jarang dilakukan eksperimen, sehingga siswa masih kurang memahami materi pelajaran dan berdampak pada ketuntasan hasil belajar siswa. Hasil belajar UTS siswa SDN Karangbesuki 1 diketahui 20 siswa mencapai nilai KKM >70 dan 16 siswa mendapat nilai <70. Pendekatan lain yang dapat memacu peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa yaitu penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA. Dengan penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA, siswa akan mampu menemukan fakta, konsep dan prinsip. Penelitian ini dilaksanakan dengan rumusan masalah (1) bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran IPA yang dilakukan guru dengan pendekatan keterampilan proses di kelas IV SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang, (2) bagaimankah aktivitas keterampilan proses yang dimiliki siswa kelas IV SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang, (3) apakah penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif dan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dengan materi sifat dan perubahan benda. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu pedoman wawancara, observasi dan tes tertulis. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam pembelajaran IPA mengenai sifat dan perubahan benda, diperoleh ketuntasan klasikal pada siklus I (66,7%) mengalami peningkatan pada sikus II yaitu (81,81%). Hasil observasi aktivitas pembelajaran siswa menjadi lebih meningkat dengan penerapan pendekatan keterampilan proses yang terlihat pada siklus I yaitu 78,1% dan siklus II menjadi 91,3% . Hasil observasi kemampuan guru dalam pembelajaran IPA dikatagorikan baik yang terlihat pada siklus I 81,8% dan meningkat pada siklus II yaitu 86,3%. Berdasarkan penelitan yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA kelas IV di SDN Karangbesuki 1 sudah diterapkan dengan baik oleh guru dan dapat meningkatkan aktivitas keterampilan siswa serta hasil belajar siswa.  

Peningkatan hasil berkarya siswa dalam menggambar bentuk melalui pemanfaatan inovasi media pembelajaran di kelas VII C SMP Negeri 1 Sambeng Lamongan / Kiki Widyantono

 

Kata Kunci: hasil berkarya, menggambar bentuk, media pembelajaran, SMP Hasil observasi awal, rata-rata siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Sambeng Lamongan mengalami kesulitan dalam menggambar bentuk, terutama saat menyeket gambar, sehingga hasil gambarnya kurang maksimal. Hal ini disebabkan kurangnya media pembelajaran yang tersedia. Berkaitan dengan hal itu, maka dilaksanakan penelitian tindakan berupa pembelajaran gambar bentuk melalui pemanfaatan inovasi media LCD Proyektor untuk meningkatkan aktivitas dan hasil berkarya siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: 1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran gambar bentuk melalui pemanfaatan inovasi media LCD Proyektor yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Sambeng Lamongan, dan 2) mendeskripsikan penerapan pembelajaran gambar bentuk melalui pemanfaatan inovasi media LCD Proyektor yang dapat meningkatkan hasil berkarya siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Sambeng Lamongan. Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan Penelitian Tindakan Kelas, dengan rancangan tindakan pada siklus pembelajaran. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII C yang saat ini menduduki semester ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 di SMP Negeri 1 Sambeng Lamongan, jumlah 36 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, angket, tes, dan dokumentasi, dan dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase (%). Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran gambar bentuk dengan memanfaatkan inovasi media LCD Proyektor diterapkan menggunakan model pembelajaran demonstrasi dan pemberian tugas. Fungsi LCD Proyektor bukan sebagai prosedur, namun hanya sebagai sarana media untuk membantu siswa menyeket gambar dengan meniru karakter yang tampak pada bidang gambar. Setelah gambar disket, siswa memberi gradasi dengan teknik arsir tanpa menggunakan LCD Proyektor, dan secara bertahap menentukan bentuk dari berbagai contoh objek yang ditampilkan untuk dijadikan satu komposisi gambar. Hasil analisis siklus 1 menunjukkan 49,7% siswa aktif dalam KBM, sedangkan 50,3% siswa tidak aktif dalam KBM. Hasil analisis siklus 2 menunjukkan peningkatan aktivitas siswa, yaitu 58,9% siswa aktif dalam KBM, sedangkan jumlah siswa yang tidak aktif dalam KBM menurun menjadi 41,1%. Hasil analisis data tes menggambar bentuk siklus 1 menunjukkan 56% siswa memiliki hasil karya baik, dan hasil analisis data tes menggambar bentuk siklus 2 menunjukkan peningkatan hasil karya siswa yaitu 80% siswa memiliki hasil karya baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas dan hasil berkarya siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Sambeng Lamongan dapat ditingkatkan melalui penerapan pembelajaran gambar bentuk dengan memanfaatkan inovasi media LCD Proyektor.

Penggunaan abu vulkanik gunung Merapi untuk bahan tambah pembuatan genteng beton ditinjau dari kualitas fisik dan mekanik / Ivandre Kusumadhana

 

Kata Kunci : Uji Genteng Beton, Abu vulkanik, Home Industry. Genteng beton merupakan produk bahan bangunan dari semen yang digunakan sebagai salah satu alternatif penutup atap. Genteng beton berfungsi sebagai penutup atap bangunan dan melindungi bangunan di bawahnya dari cuaca. Efisiensi dalam pemasangan dan perawatan yang mudah membuat genteng beton lebih banyak diminati. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya produk genteng beton maka menimbulkan peluang untuk diadakan penelitian agar mendapatkan kualitas yang lebih baik dari pada yang sebelumnya, untuk memberi informasi kepada para pengusaha bagaimanakah kualitas genteng beton yang selama ini diproduksinya. Pengujian ini bersifat perbandingan dan mencari kualitas formula yang terbaik dan bermanfaat, pembuatan benda uji dan sampel diambil dari home industry genteng beton yang berada, di Desa Kelutan Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk dengan sistem produksi menggunakan manual. Pengambilan abu vulkanik di sekitar Gunung Merapi, dengan menentukan formula tambahan abu vulkanik yaitu sebesar, 5%, 10%, 15% sebanyak 30 buah, sebagai bahan perbandingan juga diambil 10buah sampel dari home industry yaitu genteng beton jenis garuda. Kemudian sampel dan benda uji dibawa menuju Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang untuk diuji dan diteliti. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui kualitas genteng beton dengan bahan tambah abu vulkanik dan genteng beton produksi home industy, sudah memenuhi Standar yang berlaku yaitu SNI-03-0096-2007 atau belum, untuk mengetahui bagus tidaknya kualitas genteng beton dengan bahan tambah abu vulkanik. Pengujian kualitas genteng beton meliputi: uji fisik, ukuran, kerataan, uji beban lentur, penyerapan air dan ketahanan terhadap rembesan (impermeabilitas ). Dari hasil pengujian sifat fisik , uji beban lentur untuk semua formula sudah memenuhi syarat SNI, sedangkan uji penyerapan air sebagian benda uji tidak memenuhi standar yang ditentukan SNI. sementara hasil pengujian genteng beton produksi home industy Kecamatan Ngronggot memenuhi standar yang ditentukan SNI. Hasil pengujian penyerapan air yang mempunyai penyerapan air paling tinggi yaitu formula 15% yang tidak memenuhi standar SNI. Untuk pengujian ketahanan terhadap rembesan air tidak ada rembesan sama sekali, pada seluruh benda uji jadi memenuhi standar SNI. Genteng beton produksi home industry Kecamatan Ngronggot dari semua pengujian memenuhi standar SNI-03-0096-2007 .

Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB pada matakuliah teori Dasar Pemrograman Komputer (DPK) di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Teguh Pribadi

 

Isolasi minyak atsiri dari rimpang sereh merah (Cymbopogon nardus Linn), karakterisasi dan identifikasi komponen-komponennya dengan GC-MS / Maria Fransiska Kolly

 

Kata Kunci : Minyak Atsiri, Isolasi, Rimpang Sereh Merah Rimpang sereh merah sering digunakan sebagai obat tradisional seperti peluruh dahak atau batuk, peluruh keringat, peluruh air seni, penghangat tubuh dan sebagai bahan pengusir nyamuk. Komponen utama minyak sereh umumnya adalah sitronelal dan geraniol. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, menghitung dan mengetahui rendemen,mengetahui karakterisasi minyak serta mengidentifikasi komponen minyak atsiri rimpang sereh merah. Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Penelitian Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang. Isolasi minyak atsiri rimpang sereh merah dilakukan dengan menggunakan metode destilasi Uap-Air. Identifikasi senyawa penyusun minyak atsiri rimpang sereh merah dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (Gas Chromatography Mass Spectrometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri rimpang sereh merah basah dan kering memiliki rendemen berturut-turut sebesar 0,09% dan 0,29%. Berat jenis minyak atsiri rimpang sereh merah basah adalah 0,822 g/mL dan untuk minyak atsiri rimpang sereh merah kering sebesar 0,903 g/mL. Indeks bias rata-rata yang diperoleh untuk minyak atsiri rimpang sereh merah basah adalah 1,476 dan untuk minyak atsiri rimpang sereh merah kering sebesar 1,482. Diduga komponen-komponen yang terdapat pada minyak atsiri rimpang sereh merah basah adalah linalool (3,54%), geranil asetat (14,53%), citronellol (9,25%), trans geraniol (55,90%), isoeugenol (3,38%) dan komponen minyak atsiri rimpang sereh merah kering diduga adalah geranil asetat (14,60%), α-cedrol (9,29%), trans geraniol (41,68%), elemol (8,08%), isoeugenol (4,14%).

Peningkatan hasil belajar PKN melalui pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas IV SDN Tanggung 01 Kota Blitar / Soleman Parsin

 

Kata Kunci : peningkatan hasil belajar, PKn, pembelajaran berbasis masalah Pengamatan di SDN Tanggung 01 kelas IV pada mata pelajaran PKn siswa belum memahami cara dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Hail belajarnya rendah dari 27 siswa yang tuntas 23 siswa yang belum tuntas 4 siswa, ini disebabkan oleh cara guru mengajar yang menoton, ceramah sehingga siswa menjadi bosan, perluh diadakan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada kelas IV di SDN Tanggung 01 Kota Blitar. (2) Mendeskripsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Tanggung 01 Kota Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang di bantu guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukan adanya peningkatan keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan hasil belajar siswa. Rata-rata keterampilan dalam memecahkan masalah pada pra tindakan mencapai 11.4% dari 27 siswa meningkat menjadi 69.2% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 77 %. Sedangkan hasil belajar juga mengalami peningkatan. pada pra tindakan adalah 58.2 % meningkat menjadi 73.37 % pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 80.4 %. Sedangkan ketercapaian belajar secara klasikal pada pra tindakan 44 % meningkat menjadi 66.7 % dan pada siklus II meningkat menjadi 85.2 %. Yang tuntas 23 siswa, yang belum tuntas 4 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar Pkn siswa kelas IV SDN Tanggung 01 Kota Blitar. Dalam membelajarkan siswa guru disarankan menciptakan pembelajaran dengan menghadirkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan.

Meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan keterampilan proses pada siswa kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar / Edwin Akbar Salles

 

Kata Kunci: hasil belajar, menulis deskripsi, pendekatan keterampilan proses Berdasarkan hasil observasi pratindakan, ada beberapa permasalahan dalam melaksanakan menulis karangan deskripsi di antaranya, siswa sulit dalam menemukan ide atau gagasan, belum mampu mengembangkan paragraf dengan baik, belum mampu menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara runtut dalam bentuk bahasa tulis, dan kurang termotivasi mengikuti pembelajaran menulis. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan keterampilan proses dalam keterampilan menulis karangan deskripsi di kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar, dan (2) mendeskripsikan peningkatan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan keterampilan proses pada siswa kelas V SDN Bendo 2 Kota Blitar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan dan siklus II terdiri dari 2 kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 26 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes tulis, dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah analisis data deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa pada setiap tahap. Pada pembelajaran pratindakan nilai rata-rata siswa sebesar 63, siklus I sebesar 80, dan siklus II sebesar 87. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan sebesar 36% , siklus I sebesar 71%, dan siklus II sebesar 93%. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang menulis karangan deskripsi terbukti dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas V dalam menulis karangan deskripsi. Maka disarankan agar guru menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan deskripsi.

Peningkatan keterampilan menulis melalui menulis surat resmi siswa kelas IV SDN Tanggung 01 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Lazarus P. Seldjatem

 

Kata kunci: menulis surat resmi, peningkatan ketrampilan menulis surat resmi. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa siswa kelas IV SDN Tanggung 01 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar memiliki kemampuan menulis surat resmi yang rendah. Maka perlu diadakan penilitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penilitian ini adalah (1) Bagaimana pelaksanaan peningkatan keterampilan menulis dalam pembelajaran menulis surat resmi siswa kelas IV SDN Tanggung 01 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar? (2) Apakah peningkatan keterampilan menulis dapat meninkatkan keterampilan menulis surat resmi siswa kelas IV di SDN Tanggung 01 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar? Metode penilitian yang digunakan adalah metode penilitian deskriptif kualitatif. Jenis penilitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penilitian Tindakan Kelas (PTK). Peningkatan yang di gunakan dalam penilitian ini adalah peningkatan kualitatif. Penilitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: (1) perencana,(2) pelaksanaan,(3) observasi,dan (4)refleksi. Sedankan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penilitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis surat resmi melalui peningkatan keterampilan menulis dapat meningkatkan hasil menulis surat resmi siswa kelas IV SDN Tanggung 01 yang ditunjukan dengan nilai rata-rata pada pra tindakan 65, siklus I 74, dan siklus II 84. Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 20% , siklus I sebesar 70%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penilitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis surat resmi melalui peningkatan keterampilan menulis dapat meningkatkan hasil belajar menulis surat resmi siswa kelas IV SDN Tanggung 01 Kota Blitat. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan peningkatan keterampilan menulis dalam melaksanakan pembelajaran menulis surat resmi.

Tranlation procedures in the audience-engaged articles of vemale.com rubric, kapanlagi.com / Vira Yohanna

 

Kata kunci: translation, translation procedures, translation types, articles, audience-engaged, KapanLagi.com Penelitian ini terfokus pada strategi penerjemahan, jenis penerjemahan dan catatan komunikatif yang digunakan dalam artikel komunikatif pada rubrik Vemale.com, KapanLagi.com. Dalam hal ini, peneliti menggunakan teori Newmark (1988) untuk mengidentifikasi penggunaan strategi penerjemahan. Di samping itu, peneliti juga mengambil beberapa poin dari teori Savory (1969) dan Catford (1969) untuk mengidentifikasi jenis penerjemahan. Selanjutnya, peneliti menggunakan teori Schulte (2010) untuk menciptakan istilah audience-engaged notes untuk menganalisa catatan komunikatif yang ditemukan dalam artikel Vemale.com. Penelitian ini dirancang secara kualitatif dan termasuk ke dalam penelitian deskriptif karena bertujuan untuk mendeskripsikan fakta dan karakteristik dari populasi atau bidang tertentu secara sistematis dan akurat. Penelitian ini menggunakan dua macam data. Data pertama, teks bahasa sasaran (BSa), merupakan teks hasil penerjemahan dalam Bahasa Indonesia yang ditampilkan pada rubrik Vemale.com, KapanLagi.com, khususnya dalam topik Relationship, Fashion, dan Body and Mind. Data kedua, teks bahasa sumber (BSu), merupakan artikel berbahasa Inggris tentang kesehatan, kecantikan, cinta dan mode yang didapatkan dari berbagai website. Data analisis dalam penelitian ini dibagi ke dalam level frasa dan kalimat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi penerjemahan dan jenis penerjemahan yang digunakan dalam level frasa berbeda dengan yang digunakan dalam level kalimat. Pada level frasa, penerjemah menggunakan literal, transference, naturalization, descriptive equivalent, synonymy, transposition, modulation, compensation, reduction and expansion, adaptation, couplet dan addition. Sedangkan pada level kalimat, penerjemah menggunakan literal, transference, naturalization, descriptive equivalent, synonymy, transposition, modulation, reduction and expansion, paraphrase, couplet dan addition. Kemudian, penerjemah menerapkan semua jenis penerjemahan dalam level frasa, yaitu full translation, partial translation, faithful translation dan adequate translation. Sedangkan pada level kalimat, penerjemah tidak menggunakan faithful translation. Mengenai penggunaan catatan komunikatif, peneliti menemukan bahwa penerjemah cenderung lebih banyak menggunakan persuasive statements. Selain itu, penerjemah juga menggunakan leading questions, additional facts, suggestions, dan greeting. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi dan jenis penerjemahan pada level frasa lebih bervariasi daripada penggunaannya pada level kalimat. Selain itu, poin terpenting dalam penggunaan catatan komunikatif yaitu untuk mengajak pembaca agar mereka tertarik untuk mengikuti isi artikel secara keseluruhan.

An analysis of VII grade English coursebook entitled English On Sky 1 in terms of gender balance of the materials / Wahyu Kartika Wienanda

 

Kata Kunci: buku teks Bahasa Inggris, English On Sky 1, kesetaraan jender, evaluasi Kesetaraan jender menjadi salah satu aspek yang perlu dievaluasi dalam proses evaluasi buku teks, terutama buku teks Bahasa Inggris. Hal ini dikarenakan representasi jender yang tidak berimbang dapat menimbulkan persepsi stereotip pada peserta didik. Untuk itulah, skripsi in mengkaji representasi jender pada buku teks Bahasa Inggris berjudul English On Sky 1. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi apakanh buku teks tersebut telah menggambarkan kedua jender secara setara. Beberapa aspek yang diteliti antara lain: (1) jumlah kemunculan pada ilustrasi dan jumlah orang terkenal yang disebutkan, (2) jumlah pekerjaan dan jenisnya, (3) jumlah kemunculan pada dialog, (4) ke’pertamaan’, (5) jenis kata sifat (adjectives) untuk jender yang berbeda, (6) jenis tugas rumah tangga dan hobi, (7) istilah general dan penamaan, serta (8) topik dialog dan panjangnya ungkapan. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam mengumpulkan data. Data kuantitatif meliputi data nomor (1) hingga (4), sedangkan data kualitatif meliputi nomor (5) hingga (8). Penulis juga menggunakan ceklis yang dikermbangkan kriteria yang diajukan oleh Porreca (1984) dan Sadker dan Sadker (2001) sebagaimena dikutip oleh Chafiaa (2011). Data yang terkumpul akan dideskripsikan secara kualitatif. Jumlah kemunculan pada ilustrasi untuk kedua jender sudah setara dengan selisih 8.60%, selisih untuk penyebutan orang terkenal mencapai 13.64%, dan selisih untuk jumlah pekerjaan mencapai 11.68%. Hasil tersebut dianggap setara. Sedangkan untuk jumlah kemunculan pada dialog dan ke-’pertamaan’, selisihnya mencapai 33.88% dan 49% masing-masing, termasuk agak bias. Untuk data kualitatif, English On Sky 1 memberikan gambaran yang tidak berimbang untuk laki-laki dan perempuan pada materi yang ada. Dikarenakan studi ini hanya menganalisa sebuah buku, butuh adanya perubahan dan pengembangan untuk peneliti yang akan melakukan studi dengan topik yang sama. Tidak lupa, studi ini diharapkan bisa menjadi salah satu referensi untuk mengevaluasi buku teks dalam hal representasi jender.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan strategi genius learning pada siswa MI Darut Taqwa Pasuruan / Achmad Yusuf

 

Kata Kunci: strategi genius learning, kemampuan menulis karangan narasi, pengalaman pribadi. Menulis merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (MI) sebagaimana diamanatkan dalam kurikulum yaitu siswa mampu menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan. Akan tetapi pada kenyataannya berdasarkan hasil studi pendahuluan diketahui bahwa sebagian besar nilai rata-rata kemampuan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi siswa kelas V MI Darut Taqwa rendah. Dari jumlah 38 siswa, diketahui 23 siswa memperoleh nilai di bawah KKM (75), sedangkan 15 siswa belum mampu menyelesaikan tugas karangannya. Hal ini ditandai: (1) antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis pengalaman pribadi kurang; (2) respon dan minat siswa sangat kurang; (3) rendahnya inisiatif dan imajinasi siswa dalam pembelajaran menulis pengalaman pribadi; (4) siswa kurang aktif dalam memberikan ide dan kurang bekerjasama dengan temannya dalam membuat karangan; dan (5) siswa kurang mampu mengembangkan karangan narasi. Penyebab kurangnya kemampuan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi adalah penerapan strategi dalam pembelajaran menulis pengalaman pribadi masih terpusat pada guru (teacher centered), bersifat monoton, dan kurang bervariasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas proses kemampuan menulis karangan narasi yaitu diterapkannya strategi genius learning. Strategi ini menggunakan gaya belajar siswa (modalitas) visual, auditori, dan kinestetik yang diterapkan terdiri atas tiga tahap, pra menulis, saat menulis, dan pasca menulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif/kritis dengan rancangan penelitian tindakan kelas melalui empat tahap (1) rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Data penelitian ini terdiri dari data proses pembelajaran strategi genius learning dan data hasil kemampuan menulis karangan narasi. Data proses diperoleh dari aktivitas belajar siswa pada tahap pra menulis, saat menulis, dan pasca menulis. Data hasil diperoleh dari karangan siswa. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti dibantu guru kolaborator dengan menggunakan lembar pedoman observasi aktivitas siswa, pedoman rubrik penilaian hasil karangan. Kriteria keberhasilan dari pembelajaran menulis pada penelitian ini adalah 75% siswa mendapat nilai sesuai dengan KKM yaitu 75. Berdasarkan temuan penelitian, penerapan strategi genius learning untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan langkah: (1) tahap pra menulis (a) mengondisikan suasana, (b) menghubungkan materi dengan pengalaman, (c) membuat gambaran besar (mind mapping), dan (d) menetapkan tujuan pembelajaran; (2) tahap saat menulis (a) memasukkan informasi, (b) mengaktifkan pengetahuan, (c) mendemonstrasikan; dan (3) tahap pasca menulis yakni mengulangi dan menjangkarkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan strategi genius learning dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas V MI Darut Taqwa Pasuruan. Peningkatan kualitas proses dibuktikan dengan rata-rata persentase yang terus meningkat dari siklus I-II. Secara umum pada keempat aspek berkategori sangat baik (86-100) yaitu aspek respon (97%), motivasi (98%), keaktifan (92%), dan kerjasama (90%). Aspek respon ditandai dengan ekspresi yang sangat senang, banyak bertanya, dan menunjukan wajah berseri-seri serta gembira pada saat siswa mengikuti pembelajaran menulis pengalaman pribadi. Aspek motivasi ditandai dengan sikap sangat bersemangat dan segera melakukan setiap tugas-tugas yang diberikan guru saat pembelajaran. Aspek keaktifan ditandai dengan aktivitas siswa yang sangat aktif berpendapat, aktif memberikan ide pada teman dan selalu terlibat saat melakukan kegiatan pengamatan. Aspek kerjasama ditandai dengan aktivitas siswa mampu bekerjasama dengan sangat baik bersama anggota kelompok saat pembelajaran menulis pengalaman pribadi. Hasil kemampuan menulis karangan narasi terbukti meningkat, diketahui nilai rata-rata penilaian aspek kemampuan menulis karangan narasi dari 22% pada pra tindakan menjadi 76% pada siklus I dan menjadi 89% pada siklus II. Adapun secara terinci aspek narasi siklus I sebagian besar (56%) baik (76-85); sisanya (41%) cukup (66-75), dan (3%) kurang (56-65), meningkat lagi pada siklus II sebagian besar (62%) baik (76-85); dan (22%) sangat baik (86-100); sisanya (16%) cukup. Aspek penggunaan bahasa pada siklus I sebagian besar (61%) cukup (66-75); sisanya (37%) baik (76-85), dan (2%) kurang, siklus II sebagian besar (66%) baik (76-85), dan (7%) sangat baik (86-100); sisanya (25%) cukup (66-75). Aspek mekanikal pada siklus I sebagian besar (68%) baik (76-100) dan (12%) sangat baik; sisanya (24%) cukup (66-75), dan (3%) kurang, siklus II sebagian besar (54%) sangat baik (86-100) dan (38%) baik (76-85); sisanya (6%) cukup (66-75), dan (1%) kurang. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan kepada guru SD agar menerapkan strategi genius learning sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi atau karangan yang lain. berdasarkan pengalaman pribadi, mengondisikan suasana kelas dengan cara melaksanakan senam otak, menyambut kedatangan siswa dengan ramah, agar siswa merasa aman dan nyaman agar lebih siap belajar, serta menggunakan pemanfaatan media pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa visual, auditori, dan kinestetik (modalitas).

Analisis produk keramik cinderamata milik H. Syamsul Arifin Dinoyo Malang / Mega Yuliana Resti Lestari

 

Kata Kunci: produk, keramik, cinderamata, H. Syamsul Arifin, Malang Kota Malang merupakan salah satu kota penghasil keramik terbaik di Jawa Timur. Keramik sudah menjadi salah satu ikon kota Malang, terutama keramik cinderamata. Produk-produk keramik cinderamata kota Malang sudah terkenal dari luar kota sampai mancanegara. Salah satu produk keramik cinderamata yang terkenal adalah milik H. Syamsul Arifin. Produk keramik cinderamata H. Syamsul Arifin terkenal memiliki kekhasan sendiri dari segi desain bentuk dan dekorasinya. Pada umumnya masyarakat kota Malang dan mahasiswa jurusan Seni dan Desain, khususnya yang mengambil paket keramik tidak mengetahui kekhasan produk-produk cinderamata keramik milik H.Syamsul Arifin. Hal ini dikarenakan tidak adanya buku yang dapat menjelaskannya secara rinci. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai produk keramik cinderamata milik H. Syamsul Arifin dari segi desain bentuk dan dekorasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal mengenai keramik cinderamata milik H. Syamsul Arifin. Diantaranya mengenai desain bentuk produk keramik cinderamata dan dekorasi produk keramik milik H. Syamsul Arifin. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa teks dan beragam gambar yang diperoleh dari pengumpulan data hasil observasi dan wawancara denga H. Syamsul Arifin selaku narasumber. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian. Pertama, mengenai bentuk produk. Bentuk geometrik yang nampak pada keramik cinderamata milik H. Syamsul Arifin, seperti bola, tabung, segi enam, dan sebagainya. Adapun bentuk non geometrik yang nampak, yaitu bentuk-bentuk yang melengkung, bentuk hewan, bentuk daun, dan sebagainya. Warna body produk keramik cinderamata ini terkesan natural, karena mempertahankan warna asli dari kaolin sebagai bahan bakunya. Berbeda dari keramik di sentra industri keramik lainnya, yang kebanyakan menggunakan glasir penuh dalam proses pewarnaannya. Kedua adalah mengenai dekorasi produk. Dekorasi yang digunakan pada keramik cinderamata milik H. Syamsul Arifin ini adalah dekorasi clay-body leather hard. Kebanyakan dekorasinya juga menggunakan glasir mengkilap. Adapun motifnya kebanyakan menggunakan motif non geometrik. Motif non geometrik yang terlihat adalah motif bunga, motif daun, motif capung, dan motif garis yang melingkar.

Penerapan model pembelajaran think pair share untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Albina Djondjonler

 

Kata Kunci: Model pembelajaran think-pair-share, pembelajaran IPA, Hasil Belajar Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil observasi di kelas V SDN Bendo 2 yang menunjukan bahwa 1) kegiatan pembelajaran dilakukan menggunkaan model konvensional, 2) siswa kurang aktif dalam pembelajaran yaitu hanya mendengarkan ceramah guru, 3) siswa belum diberi kesempatan untuk bertanya atau melakukan aktifitas ketika pembelajaran berlangsung, dan 4) siswa terus dikekang untuk mengikuti semua aturan guru sehingga hasil belajar siswa rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) penerapan model pembelajaran think-pair-share pada tiap siklus di kelas V SDN Bendo 2, 2) peningkatan hasil belajar IPA Pada siswa kelas V SDN Bendo 2 dengan menggunakan model pembelajaran think-pair-share pada pembelajaran IPA. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu pratindakan, siklus I, dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas V sebanyak 27 siswa yaitu 12 laki-laki dan 15 perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, dokumentasi, wawancara, Tes, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajran think-pair-share dalam pembelajaran IPA mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan skor hasil belajar siswa. Rata-rata skor hasil belajar siswa pada tahap pratindakan sebesar 25,18 dengan kualifikasi sangat kurang (SK), siklus I sebesar 85,60 dengn kualifikasi baik (SB) dan dengan nilai huruf (A), dan siklus II sebesar 86, 44 dengan kualifikasi baik (SB) dengan nilai huruf (A). Model pembelajaran think-pair-share dapat diterapkan pada siklus I dan siklus II yang mencapai rata-rata skor antara 100%. Pemerolehan skor ini menunjukan bahwa semua tahapan model pembelajaran think-pair-share dapat dilakukan guru. Simpulan dari penelitian ini adalah dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran think-pair-share dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam bidang studi IPA dengan materi penyesuaian diri makaluk hidup terhadap lingkungan dan perubahan sifat benda sementara dan tetap. Melihat keberhasilan penelitian ini disarankan pada guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan model think-pair-share agar hasil belajar siswa meningkat dengan baik. Selain itu guru harus memperhatikan karakteristik siswa itu sendiri ketika melakukan kegiatan pembelajaran. Jika hal ini dilakuakan guru maka hasil belajar siswa dapat meningkat dengan baik.

Struktur komunitas perifiton pada sediment pantai berlumpur, pantai Rejoso, Desa PAtuguran, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan / Melkianus K. Masrikat

 

Masrikat, Karlriedel Melkianus. Struktur Komunitas Perifiton pada Sedimen Pantai Berlumpur, Pantai Rejoso, Desa Patuguran, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si Kata kunci: Perifiton, komunitas, Pantai Berlumpur. Umumnya pantai berlumpur memiliki arus yang lemah karena daerah ini terlindung dari ombak sehingga materi yang tersuspensi di badan air tidak semua terbawa ke laut akan tetapi mengendap di dasar perairan ini. Semakin tinggi kandungan tersupsensi yang dibawa air tersebut semakin tinggi endapan lumpur di estuaria. Perifiton adalah organisme yang umumnya berukuran kecil, hidup menempelpada substrat. sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas suatu perairan. Sebagai Produsen primer, keberadaan perifiton merupakan Kontribusi terhadap keanekaragaman hayati di Perairan laut. Perifiton merupakan produsen utama, karena melimpahnya perifiton yang terdapat di permukaan pantai berlumpur pada saat pasang surut, maka keberada perifiton tersebut secara tidak langsung akan mempengharui keberadaan organisme konsumen yang yang terdapat di Ekosistem pantai berlumpur pada saat pasang surut. Pengamatan dan perhitungan perifiton diketahui terdapat 10 jenis perifiton yang tersebar dari transek 1 sampai transek 10 dan plot 1 sampai plot 10. Jenis perifiton yang teramati diantaranya Chlorella vulgaris, Gyrosigma attenuatum, Urospora vancouveriana, Biddulphia roperiana, Ceratulina Bergonii, Ankistrodesmus falcatus, Stephanodiscus sp, Urospora sp, Thalassionema nitzschioides, Euglena viridis, yang diantaranya terdapt Diatom. kepadatan perifiton yang relatif tinggi terdapat pada plot 3, dengan nilai rata-rata nilai penting 1527,52, sedangkan spesies yang memiliki rerata nilai penting tertinggi adalah Urospora vancouveriana, yaitu 65,0632% diikuti dengan Thalassionema nitzschioides denga nilai penting 43,08998%, sedangkan spesies yang memiliki rerata nilai penting yang terendah adalah Euglena viridis, yaitu 13,77948nilai F hitung plot adalah 0 dengan nilai signifikansi 1,00. Nilai signifikansi dari hasil pengujian ini lebih besar dari 0,05. Ini berarti tidak terdapat perbedaan dominansi perifiton yang signifikan antar plot di pantai berlumpur desa Patuguran. Sedangkan nilai F hitung kode spesies 24,931dengan nilai signifikansi 0. Nilai signifikansi dari hasil pengujian ini lebih kecil dari 0,05, yang berarti terdapat perbedaan dominansi perifiton yang signifikan antar spesiesnya.

Studi tentang batik Sidoarjo pada rumah batik tulis Al-Huda / Eka Mustika Elyaningtyas

 

Elyaningtyas, Eka Mustika. 2012. Studi tentang Batik Sidoarjo pada Rumah Batik Tulis Al-Huda. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mistaram, M.Pd., (II) Ike Ratnawati, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: batik Sidoarjo, batik tulis, Al-Huda Batik adalah salah satu kebudayaan Indonesia yang sudah disahkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Ada bermacam-macam batik yang tersebar di Nusantara. Di Sidoarjo banyak terdapat rumah batik, salah satu rumah batik yang masih memproduksi dan melestarikan batik Sidoarjo adalah rumah batik tulis Al-Huda. Rumah batik tulis Al-Huda ini adalah milik dari Ir. Nurul Huda. Beliau adalah ketua paguyupan dari batik Sidoarjo. Meskipun batik Sidoarjo memiliki kekhasan, tidak banyak masyarakat yang tahu akan batik Sidoarjo. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk motif, warna, dan makna mengenai batik Sidoarjo pada rumah batik tulis Al-Huda. Makna ini meliputi ide penciptaan dan ide warna. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa teks dan beragam gambar motif, warna dan makna batik Sidoarjo yang diperoleh dari pengumpulan data hasil observasi dan wawancara pada Ir. Nurul Huda selaku narasumber. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian. Pertama, mengenai motif khas batik Sidoarjo. Batik Sidoarjo ternyata memiliki tiga motif khas yaitu kembang tebu, beras utah, dan kembang bayem. Dari ketiga motif ini dikembangkan beragam batik, dimana perkembangannya pada segi ornamen utama, ornamen pendukung, serta dari segi warna. Ada dua belas batik yang dianalisis sebagai bentuk perkembangan dari ketiga motif khas tersebut. Batik-batik tersebut antara lain yaitu batik kembang tebu sekardangan, batik kembang tebu bunga sepatu, batik kembang tebu kutilang jambul, batik kembang tebu kupu-kupu liar, batik kembang tebu burung merak, batik beras utah tritis, batik beras utah kupu-kupu disiplin, batik beras utah kontemporer, batik beras utah sekar jagad geometrik, batik kembang bayem burung cendrawasih, batik kolaborasi beras utah dan kembang bayem sekar jagad dan batik kolaborasi beras utah dan kembang bayem sekar jagad matahari. Selain motif, batik Sidoarjo juga memiliki warna khas, yaitu coklat tua, coklat muda, dan coklat kemerahan. Perkembangan warna yang terjadi yaitu warna-warna pada batik Sidoarjo menjadi berwarna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan lain sebagainya. Selanjutnya mengenai makna batik Sidoarjo. Pada dasarnya ide penciptaan batik Sidoarjo mengangkat tentang kehidupan.

Pemisahan komponen minyak kelapa (Cocos nucifera L.) berdasarkan perbedaan titik beku dan analisis asam lemak penyusunnya / Maria Elsy Indrayati

 

Kata Kunci: pemisahan komponen, minyak kelapa, titik beku,asam lemak Tanaman kelapa adalah salah satu hasil bumi yang tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah tropis. Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam proses pembuatan minyak kelapa adalah asam lemak penyusunnya.Minyak kelapa merupakan campuran dari berbagai macam trigliserida. Trigliserida yang tersusun oleh asam lemak jenuh lebih mudah membeku daripada trigiserida yang tersusun oleh asam lemak tidak jenuh.Diduga, minyak kelapa yang mudah membeku mengandung asam lemak jenuh.Oleh karena itu, tujuan pelitian ini untuk mengetahui komponen-komponen asam lemak yang menyebabkan minyak kelapa mudah membeku sekaligus akan dilakukan pemisahan terhadap komponen-komponejn tersebut. Penelitian ini bersifat eksperimen laboratoris, meliputi persiapan sampel yang merupakan minyak kelapa yang terbuat dari santan kelapa. Setelah itu pemisahan minyak dilakukan secara sederhana berdasarkan perbedaan titik beku. Komponen asam lemak pada minyak kelapa yang telah dipisahkan berdasarkan perbedaaan titik beku,dikarakterisasi yang meliputi massa jenis, indeks bias, bilangan penyabunan dan bilangan iod, serta diidentifikasi komponen utamanya dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi minyak kelapa dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan titik beku namun pemisahannya belum efektif. Karakter fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu 22°C adalah massa jenisnya 0,906 g/mL, indeks bias pada suhu 20°C adalah 1,457685, bilangan iod sebesar 130,304 dan bilangan penyabunan sebesar 172,177. Karakter dari fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu 23°C adalah massa jenisnya 0,885 g/mL, indeks bias pada suhu 20°C adalah1,458275, bilangan iod sebesar 140,577 dan bilangan penyabunan sebesar 223,707. Karakter dari fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu >23°C adalah massa jenisnya 0,871 g/mL, indeks bias pada suhu 20°C adalah 1,459343, bilangan iod sebesar 175,540 dan bilangan penyabunan sebesar 258,780. Komponen-komponen asam lemak penyusun fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu 22°C sebanyak 11 senyawa. Lima komponen utama yang terkandung di dalam fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu 22°C ini diduga adalah asam kaprilat (7,08%), asam laurat (36,29%), asam miristat (20,02%), asam palmitat (12,30%) dan asam oleat (12,88%). Komponen-komponen asam lemak penyusun fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu 23°C sebanyak 10 senyawa. Lima komponen utama yang terkandung di dalam fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu 23°C ini diduga adalah asam kaprilat (8,42%), asam laurat (34,81%), asam miristat (20,00%), asam palmitat (12,28%) dan asam oleat (9,19%). Komponen-komponen asam lemak penyusun fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu >23°C sebanyak 9 senyawa. Lima komponen utama yang terkandung didalam fraksi minyak kelapa yang membeku pada suhu >23°C ini diduga adalah asam kaprilat (7,59%), asam laurat (41,44%), asam miristat (21,16%), asam palmitat (10,68%) dan asam oleat (8,80%).

Pengembangan game edukasi sebagai media pembelajaran pada standar kompetensi memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi kelas X di MAN 3 Malang / Sunsya Putri Ratu Pertiwi

 

Kata Kunci : pengembangan, media pembelajaran, game edukasi. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang merupakan salah satu sekolah Menengah setara dengan SMA yang termasuk dalam madrasah terpadu di Indonesia. Sebagai madrasah terpadu, MAN 3 Malang menyediakan berbagai fasilitas perangkat teknologi yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa secara optimal. Namun, ketersediaan fasilitas tersebut belum digunakan secara optimal oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas khususnya pada matapelajaran TIK. Dalam kegiatan pembelajaran, guru lebih sering menggunakan media yang bersifat satu arah dan cenderung tidak interaktif. Hal ini membuat siswa merasa jenuh sehingga melakukan aktifitas lain (bermain game, browsing, melihat video) yang lebih menarik. Oleh karena itu penulis mengembangkan game edukasi sebagai media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan game edukasi sebagai media pembelajaran pada standar kompetensi memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan TIK kelas X di MAN 3 Malang dan menilai tingkat kelayakan media tersebut. Penelitian ini menggunakan model pengembangan yang mengacu pada model pengembangan Borg dan Gall dalam Sukmadinata (2007). Adapun tahap-tahap pengembangan tersebut meliputi: (1) analisis kebutuhan; (2) perancangan media; (3) produksi media; (4) validasi ahli materi dan ahli media; (5) revisi materi dan media; (6) uji coba kelompok kecil; (7) revisi media; (8) uji coba lapangan; (9) revisi media; (10) media siap digunakan. Produk yang dihasilkan berupa game edukasi sebagai media pembelajaran. Subjek uji coba meliputi ahli materi, ahli media dan siswa kelas X MAN 3 Malang. Berdasarkan hasil analisis data dari hasil validasi dan uji coba yang dilakukan, didapat persentase hasil validasi ahli media sebesar 89,17%, hasil ahli materi sebesar 95,71%, hasil uji coba kelompok kecil sebesar 78,66%, dan hasil uji coba lapangan sebesar 87,56%, sehingga media sudah dinyatakan sangat valid. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa game edukasi sebagai media pembelajaran untuk siswa kelas X ini dapat digunakan.

Pengembangan bahan ajar membaca berbasis cerita anak untuk siswa SMP kelas VII / Hanif Srihardi Ningsih

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, membaca, cerita anak Cerita anak merupakan cerita atau bacaan yang dibaca oleh anak-anak dengan bimbingan dan pengarahan orang dewasa. Cerita anak penting bagi anak-anak karena melalui cerita anak, anak akan terhibur dan memeroleh informasi tentang sekelilingnya dan juga dunia. Meskipun demikian, minat membaca cerita anak yang mempunyai nilai-nilai positif masih kurang. Anak cenderung menyukai jenis buku bacaan seperti komik karena bahasanya yang ringan dan gambarnya yang menarik. Selain itu, faktor lain yang memengaruhi minat baca tersebut adalah ketersediaan buku cerita anak yang masih terbatas. Berkaitan dengan proses pembelajaran membaca, terutama tentang membaca cerita anak agar dapat berlangsung dengan baik, guru sebagai pembimbing dituntut agar mampu menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan dapat memotivasi siswa agar membaca cerita anak yang bernilai positif. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan (1) bahan ajar yang memenuhi syarat pengembangan isi bahan ajar, (2) bahan ajar yang memenuhi syarat pengorganisasian isi bahan ajar, (3) bahan ajar yang memenuhi syarat penggunaan bahasa dalam bahan ajar, dan (4) bahan ajar yang memenuhi syarat tampilan bahan ajar. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan bahan ajar adalah adaptasi dari model pengembangan Borg & Gall (dalam Sukmadinata, 2012:169—170). Berdasarkan model tersebut, terdapat empat tahap pengembangan, yaitu (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi atau penyempurnaan. Produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yaitu melalui uji ahli, uji praktisi, dan uji kelompok kecil (siswa SMP kelas VII). Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik diperoleh dari hasil penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk, yakni berupa skor. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Instrumen pendukung adalah angket penilaian, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tulis dari angket, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasi data verbal tulis dan lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan menyimpulkan untuk bahan revisi produk bahan ajar. Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk berupa bahan ajar. Bahan ajar tersebut berisi materi tentang cerita anak dan realitas kehidupan anak, contoh cerita anak, pembahasan, serta latihan. Pengorganisasian isi bahan ajar disusun berurutan mulai dari sampul, kata mutiara, kata pengantar, daftar isi, petunjuk penggunaan, kompetensi yang harus dikuasai siswa, isi bahan ajar, dan daftar rujukan. Bahasa yang digunakan adalah ragam formal, komunikatif, dan logis. Ilustrasi dalam bahan ajar mempertimbangkan kesesuaian dengan siswa SMP kelas VII dan kesesuaian dengan materi yang dibahas. Berdasarkan hasil analisis ketiga tahap uji coba yang telah dilakukan, diperoleh simpulan bahwa produk bahan ajar ini layak digunakan untuk pembelajaran. Namun, beberapa aspek dalam bahan ajar masih harus direvisi untuk kesempurnaan produk bahan ajar. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, disarankan agar siswa menggunakan bahan ajar ini dalam pembelajaran membaca cerita anak, mencermati isi bahan ajar, dan menanyakan kepada guru jika ada hal-hal yang tidak dimengerti. Guru disarankan menggunakan bahan ajar ini sebagai salah satu sumber dalam pembelajaran membaca cerita anak. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan, antara lain dalam forum MGMP dan dapat juga dimuat dalam jurnal penelitian. Langkah-langkah pengembangan dapat dijadikan acuan dalam pengembangan bahan ajar membaca yang lain.

Kompetensi guru dalam menyusun butir soal pada mata pelajaran akuntansi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kota Blitar / Erin Gunawan

 

ABSTRAK Gunawan, Erin. 2011. Kompetensi Guru Dalam Menyusun Butir Soal pada Mata Pelajaran Akuntansi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi, FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sriyani Mentari, S. Pd, M. M (II) Triadi Agung S, S.E, M. Si, Ak. Kata kunci: kompetensi, butir soal, validitas, tingkat kesukaran. Butir soal yang diujikan pada siswa digunakan oleh guru untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai suatu materi atau kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui kemampuan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menyusun soal ulangan pada mata pelajaran Akuntansi dengan memenuhi syarat penulisan butir soal yang baik. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dan dokumentasi. Guru yang diambil sebagai subjek penelitian adalah guru mata pelajaran Akuntansi dari SMK Negeri 2 Blitar dan SMK PGRI 3 Blitar. Skor jawaban diambil di kelas XI-AK1 untuk SMK Negeri 2 Blitar dan kelas X-AK1 untuk SMK PGRI 3 Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Soal Ulangan Formatif mata pelajaran Akuntansi materi Laporan Keuangan Perusahaan Jasa di SMK Negeri 2 Blitar dan SMK PGRI 3 Blitar mempunyai validitas kurikuler baik, (2) Soal Ulangan Formatif materi Laporan Keuangan Perusahaan Jasa di SMK Negeri 2 telah memiliki validitas bahasa yang baik. Sedangkan Soal Ulangan Formatif materi Laporan Keuangan Perusahaan Jasa di SMK PGRI 3 Blitar memliki validitas bahasa yang kurang baik, (3) Soal Ulangan Formatif mata pelajaran Akuntansi materi Laporan Keuangan Perusahaan Jasa di SMK Negeri 2 Blitar dan SMK PGRI 3 Blitar mempunyai tingkat kesukaran jelek, dan (4) Guru akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar dan SMK PGRI 3 Blitar menyusun butir soal berdasarkan silabus dan kendala yang dialami oleh masing-masing guru dalam menyusun butir soal dapat diselesaikan dengan baik. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cukup mampu menyusun soal ulangan pada mata pelajaran Akuntansi dengan memenuhi beberapa syarat penulisan butir soal yang baik. Guru cenderung memperhatikan validitas kurikuler sehingga, aspek lain yang menjadikan butir soal baik kurang diperhatikan. Saran dalam penelitian ini diajukan kepada: (1) Guru, sebaiknya dalam menyusun butir soal melakukan ujicoba dan analisis terhadap butir soal terlebih dahulu agar menghasilkan alat evaluasi yang baik sehingga, mampu mengukur kemampuan siswa yang sebenarnya, (2) Peneliti selanjutnya, Guna memudahkan peneliti selanjutnya disarankan data yang diambil dalam bentuk soal objektif untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis butir soal sehingga, diperoleh hasil yang lebih baik.

Kebutuhan kompetensi pada perusahaan jasa konstruksi bidang pelaksanaan bangunan di Malang Raya / I Made Oka Mulya

 

Kata kunci : kebutuhan kompetensi, jasa konstruksi, pelaksana bangunan Fungsi pendidikan vokasi adalah menyiapkan tenaga yang terampil sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Kompetensi yang dibelajarkan mencakup kompetensi yang diperlukan di dunia usaha/industri dan masyarakat. Namun demikian sering dijumpai bahwa permintaan tenaga kerja oleh perusahaan jasa konstruksi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perusahaan sering tidak dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan kompetensi perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) kebutuhan kompetensi kognitif pada jas konstruksi bidang pelaksanaan bangunan, (2) kebutuhan kompetensi psikomotorik pada jasa konstruksi bidang pelaksanaan bangunan, dan (3) kebutuhan kompetensi afektif pada jasa konstruksi bidang pelaksanaan bangunan di Malang Raya. Rancangan penelitian menggunakan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Data-data yang telah didapat disusun dan dianalisis menggunakan harga rata-rata. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa pertama, kebutuhan kompetensi kognitif sangat penting yang harus dimiliki oleh tenaga kerja jasa konstruksi (a) bidang kerja laboratorium tanah adalah cara megambil dan uji contoh tanah, cara uji pemadatan tanah; (b) bidang kerja pasangan batu adalah cara membuat spesi, cara memasang bouwplank, cara memasang batu, pemahaman mempersiapkan bahan dan alat; (c) bidang kerja besi beton adalah cara memotong dan membengkok besi beton, pemahaman mempersiapkan bahan dan alat, serta cara memasang tulangan; (d) bidang kerja laboratorium beton adalah cara menyusun dan uji rancangan campuran beton; (e) bidang kerja cat bangunan adalah cara pengecatan dasar, dan cara memperbaiki permukaan yang akan di cat; (f) bidang kerja kayu adalah cara membuat sambungan kayu, cara memotong, membelah, dan menyerut kayu, pemahaman mempersiapkan bahan dan alat, serta cara menyimpan kayu; (g) bidang kerja konstruksi baja adalah cara membuat sambungan sederhana, cara memotong, membelah, dan memahat baja; (h) bidang kerja plumbing adalah cara mengerjakan plumbing dengan sistim air bersih; (i) bidang kerja quantity surveyor adalah cara menghitung bahan, peralatan, dan tenaga kerja, cara menyusun time schedule bangunan gedung, cara menghitung biaya akibat perubahan gambar dan eskalasi harga, pemahaman mengidentifikasi jenis pekerjaan; dan (j) bidang kerja pelaksana lapangan adalah pemahaman mempersiapkan gambar kerja dan standar material bangunan, cara membuat saran teknis pekerjaan dan memecahkan hambatan, cara menyusun jadual penyampaian volume pekerjaan kepada unit terkait, cara penyusunan jadual tanaga kerja dan material serta pengukuran hasil pekerjaan. Kedua, kebutuhan kompetensi psikomotorik sangat penting yang harus dimiliki oleh tenaga kerja jasa konstruksi (a) bidang kerja laboratorium tanah adalah melaksanakan uji tanah dan pemadatan, melaksanakan pengambilan contoh tanah; (b) bidang kerja pasangan batu adalah memasang bouwplank, memasang batu, membuat spesi, mempersiapkan bahan dan alat; (c) bidang kerja besi beton adalah memotong dan membengkok besi beton, memasang tulangan, mempersiapkan bahan dan alat; (d) bidang kerja laboratorium beton adalah menyusun dan menguji rancangan campuran beton; (e) bidang kerja cat bangunan adalah melaksanakan perbaikan permukaan yang akan di cat, melaksanakan pengecatan dasar; (f) bidang kerja kayu adalah membuat sambungan kayu, melakukan penyimpanan kayu, mempersiapkan bahan dan alat, memotong, membelah, dan menyerut kayu; (g) bidang kerja konstruksi baja adalah membuat sambungan sederhana, memotong, membelah, dan memahat baja, mempersiapkan bahan dan alat; (h) bidang kerja plumbing adalah melaksanakan plumbing dengan sistim air bersih; (i) bidang kerja quantity surveyor adalah menghitung bahan dan peralatan, serta tenaga kerja, menyusun time schedule bangunan gedung, menghitung biaya akibat perubahan gambar dan eskalasi harga, mengidentifikasi jenis pekerjaan; dan (j) bidang kerja pelaksana lapangan adalah mempersiapkan gambar kerja dan standar penggunaan material, membuat saran teknis pekerjaan dan memecahkan hambatan, menyusun jadual tanaga kerja dan material serta pengukuran hasil pekerjaan, menyusun jadual penyampaian volume pekerjaan kepada unit terkait. Ketiga, kebutuhan kompetensi afektif sangat penting yang harus dimiliki oleh tenaga kerja jasa konstruksi untuk bidang kerja laboratorium tanah, bidang kerja pasangan batu, bidang kerja besi baton, bidang kerja laboratorium beton, bidang kerja cat bangunan, bidang kerja kayu, bidang kerja konstruksi baja, bidang kerja plumbing, bidang kerja quantity surveyor, dan bidang kerja pelaksana lapangan adalah bersikap menyadari adanya rasa tanggung jawab, menerima adanya perubahan dan persyaratan, merespon permasalahan yang timbul, menghargai peraturan maupun pedoman, dan pendapat/pernyataan yang ada, menampilkan sikap kerja sama, mengutamakan kualitas proses dan hasil kerja, peduli terhadap kerapian pekerjaan, konsisten, penghayatan tentang tugas, hak, dan kewajiban. Saran-saran peneliti (1) Kepada Jurusan Teknik Sipil FT UM, khususnya Program Studi Teknik Sipil, agar kurikulum pada Jurusan Teknik Sipil FT UM sesuai dengan yang diperlukan oleh perusahaan jasa konstruksi, maka disarankan dalam pengembangan kurikulum tersebut mempertimbangkan hasil penelitian ini. (2) Kepada Peneliti Jurusan Teknik Sipil FT UM, agar mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang kebutuhan kompetensi jasa konstruksi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun pengembangan kurikulum dan program pembelajaran, sehingga memiliki keterkaitan dan kesesuaian dengan kebutuhan kompetensi perusahaan jasa konstruksi. (3) Kepada Peneliti lain dapat melakukan penelitian ini dengan populasi yang lebih luas. (4) Kepada perusahaan jasa konsruksi, agar diadakan kerja sama yang lebih erat lagi dengan Lembaga Pendidikan Tinggi terutama dengan Jurusan Teknik Sipil FT UM, untuk meningkatkan kompetensi para tenaga kerja.

Pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan proses dan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi kelas X SMA Negeri 1 Probolinggo tahun pelajaran 2012-2013 / Gumun Nilawati

 

Kata kunci: pembelajaran inkuiri, keterampilan proses, hasil belajar kognitif. Salah satu indikator keberhasilan pendidikan disekolah adalah kualitas atau prestasi hasil belajar siswa dan adanya perubahan perilaku siswa kearah yang lebih baik. Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia tampak dari adanya perubahan paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa, dari satu arah menuju interaktif, dari isolasi menuju lingkungan jejaring, dari pasif menuju aktif-menyelidiki, dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata, dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim, dari alat tunggal menuju alat multimedia, dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif, dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. Oleh karena itu penentuan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat akan ikut menentukan keberhasilan perubahan paradigma pembelajaran tersebut. Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dan terbuka akan memfasilitasi siswa menguasai berbagai keterampilan proses, sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui adanya perbedaan keterampilan proses siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (2) mengetahui adanya perbedaan keterampilan proses siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (3) mengetahui adanya perbedaan keterampilan proses siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka; (4) mengetahui adanya perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (5) mengetahui ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (6) mengetahui adanya perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka. Penelitian ini eksperimen semu (quasi experiment design) dengan rancangan eksperimen Non Random Pre-test post-test Control Group untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat yang melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes keterampilan proses dan tes hasil belajar kognitif melalui tahap pretes dan postes. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Anakova (Analysis of Covariance) untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Bila hasil analisis signifikan (variabel bebas berpengaruh pada variabel terikat) maka analisis dilanjutkan dengan uji lanjut (LSD) dengan menggunakan program statistik software SPSS 15 for Windows dengan taraf signifikansi 0,05 (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan keterampilan proses siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (2) terdapat perbedaan keterampilan proses siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (3) tidak terdapat perbedaan keterampilan proses siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka; (4) terdapat perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (5) terdapat perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka dengan yang diberi pembelajaran konvensional; (6) tidak terdapat perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran biologi di SMA Negeri 1 Probolinggo antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan yang diberi pembelajaran inkuiri terbuka. Berdasarkan hasil dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat diajukan beberapa saran yang dapat dipertimbangkan bagi semua pihak yang berkepentingan sebagai berikut: (1) Bagi para guru khususnya guru biologi, dalam rangka meningkatkan kemampuan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif siswa, hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran yang sesuai terutama metode pembelajaran yang dapat melatih siswa dalam mengkonstruk pengetahuan dan menemukan konsep, sehingga siswa memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran inkuiri terbimbing atau inkuiri terbuka; (2) bagi siswa, untuk lebih meningkatkan kemampuan keterampilan proses dan hasil belajar kognitifnya, sebaiknya siswa lebih aktif bertanya kepada guru, mencari sumber belajar/referensi lain, serta aktif dalam kegiatan diskusi kelompok maupun diskusi kelas; (3) bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu dasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran biologi; dengan mengembangkan pembelajaran inkuiri terbimbing atau inkuiri terbuka. (4) bagi pemerintah daerah melalui dinas pendidikan, penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu dasar dalam mengambil keputusan pengembangan pembelajaran inkuiri secara terpadu antar bidang studi.

Pengaruh metode pembelajaran eksperimen virtual-real terhadap hasil belajar IPA kelas IX ditinjau dari kemampuan akademik di SMP Negeri 1 Lumajang / Eko Purwantoro

 

Kata kunci: eksperimen virtual-real, kemampuan akademik, hasil belajar. Melalui proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi seperti pemanfaatan komputer dan internet pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang bersifat abstrak dapat lebih divisualisasikan. Konsep listrik mengalir pada jenjang Sekolah Menengah Pertama merupakan konsep abstrak sehingga siswa mengalami kesulitan untuk memahaminya. Pembelajaran konsep listrik dapat dilakukan dengan eksperimen nyata atau eksperimen virtual dengan bantuan komputer. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan tingkat kemampuan akademik terhadap hasil belajar, perbedaan hasil belajar yang memperoleh urutan metode eksperimen virtual-real ditinjau dari kemampuan akademik dan interaksi antara urutan metode eksperimen virtual-real dan tingkat kemampuan akademik terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IX pada pokok bahasan listrik mengalir di SMP Negeri 1 Lumajang Tahun Pelajaran 2012-2013.

Perilaku belajar siswa pada saat pelajaran sosiologi berbasis Teknologi Informasi (TI) di SMA Negeri 1 Probolinggo (studi kasus di SMA Negeri 1 Probolinggo) / Abd. Wafi

 

ABSTRAK Wafi. Abd. 2013. Perilaku Belajar Siswa pada saat Pelajaran Sosiologi Berbasis Teknologi Informasi (IT) di SMA Negeri 1 Probolinggo (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Probolinggo). Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar IPS, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., (II) Dr. Ach Amirudin, M.Pd. Kata Kunci: perilaku belajar, teknologi informasi (IT), hasil belajar. Pesatnya perkembangan teknologi informasi terutama dalam dunia pendidikan, mempermudah siswa dan guru dalam mengakses informasi. Namun di balik kemudahan tersebut ada beberapa perilaku siswa yang kurang maksimal dalam memanfaatkan fasilitas yang ada dalam praktek pembelajaran di dalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti perilaku siswa di kelas saat proses pelajaran sosiologi berlangsung. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan proses pembelajaran sosiologi berbasis teknologi informasi di kelas XI-IS SMA Negeri 1 Probolinggo; 2) mendeskripsikan perilaku belajar siswa dalam menerima dan merespon pelajaran sosiologi berbasis teknologi informasi; 3) mendeskripsikan dampak perilaku siswa terhadap hasil belajar. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif. Dalam hal ini, peneliti adalah sebagai instrumen utama. Dalam mengumpulkan data melalui observasi, peneliti menggunakan video recorder, pedoman wawancara dan catatan lapangan. Dalam penelitian ini, triangulasi sumber data, triangulasi metode diterapkan untuk mengecek keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran sosiologi sudah menggunakan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Hal ini terlihat dari guru yang menyampaikan materi pelajaran sosiologi dengan menggunakan power point, memberikan tugas pada siswa dan dicari di internet juga tersedianya sarana LCD proyektor, televisi, komputer, area hot spot di dalam kelas. Terkadang masih ada kendala-kendala yang dihadapi seperti listrik padam, gangguan pada kabel konektor. Kendala tersebut sangat menyita waktu akan dimulainya pelajaran. Dalam hal ini para guru untuk lebih menguasai dalam hal pembelajaran yang berbasis teknologi informasi, agar bisa memberikan yang terbaik dalam mendidik siswa dan mengawasi perilaku siswa saat pembelajaran berlangsung. Pada saat proses pelajaran sosiologi berlangsung ditemukan beberapa perilaku siswa yang peneliti anggap tidak responsif pada pelajaran yaitu dengan memanfaatkan sarana IT seperti jaringan internet (Wifi) dengan membuka facebook, main game online, BBMan, SMS dengan temannya dan mengerjakan tugas di luar pelajaran sosiologi serta Browsing di luar materi sosiologi. Perilaku demikian sangat berdampak terhadap hasil belajar siswa. Sebagaimana terlihat pada hasil ulangan harian siswa dibawah standar nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) kognitif. Sementara pada nilai afektif siswa sudah tercapai, akan tetapi peneliti menganggap ada sebuah ketimpangan dalam pemberian nilai afektif. Tuntasnya nilai afektif dalam penilaian tersebut tidak lepas dengan adanya interpretasi guru terhadap keharusan tuntasnya nilai siswa dalam rapot. Sebagai saran, perlunya perhatian dari pihak guru dalam memperhatikan posisi tempat duduk siswa dan pemilihan tempat duduk. Kemudian perlu adanya peningkatan sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran,yang lebih diutamakan adalah peningkatan kreatifitas guru dalam menguasai teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Untuk mengantisipasi perilaku yang tidak responsif pada diri siswa terhadap pelajaran sosiologi, maka disarankan bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menarik minat belajar siswa. Guru sebagai pengganti orang tua di rumah memberikan perhatian yang lebih pada siswa yang bermasalah misalnya dalam keluarga disamping itu juga peran sekolah serta keluarga juga sangat dibutuhkan untuk membangkitkan semangat belajar siswa. Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sebaiknya guru dalam memberikan penilaian sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh siswa terutama dalam memberikan nilai sikap (afektif). Disarankan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lanjutan terhadap permasalahan yang diteliti dengan melakukan pengembangan dalam beberapa hal, antara lain pemilihan subyek penelitian diambil dari beberapa lokasi. Diharapkan pada penelitian lanjutan akan mengkaji perilaku belajar siswa, baik mereka berada di ruang kelas maupun di luar ruang kelas.

Peningkatan kemampuan menulis cerita narasi siswa kelas XI SMK Negeri 1 Udanawu Blitar tahun 2011/2012 dengan teknik makrocloze / Wahyu Endang Lestariningsih

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, cerita narasi, teknik makrocloze Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembelajaran menulis adalah metode pembelajaran yang tepat. Berkaitan dengan kondisi pembelajaran tersebut, perlu diupayakan suatu model pembelajaran yang sesuai sehingga diharapkan siswa dapat belajar dengan maksimal. Model pembelajaran yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah menulis cerita narasi dengan menggunakan teknik makrocloze. Teknik makrocloze ini dipilih karena memiliki kelebihan-kelebihan. Kelebihan yang dimaksud adalah (1) teknik ini dapat mendorong siswa secara bertahap menjadi penulis mandiri, dan (2) siswa dapat menggunakan gagasan dan pemikiran baru untuk membentuk ceritanya sendiri. Dengan kelebihan teknik makrocloze ini diharapkan keterampilan menulis narasi siswa dapat meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita narasi siswa kelas XI SMKN 1 Udanawu dengan menggunakan teknik makrocloze. Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah (1) untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita narasi siswa kelas XI SMKN 1 Udanawu dengan menerapkan teknik makrocloze pada isi cerita; yang meliputi pengembangan ide, keruntutan alur cerita, kesesuaian tokoh, ketepatan penokohan, kejelasan latar atau setting, dan (2) untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita narasi siswa kelas XI SMKN 1 Udanawu dengan menerapkan teknik makrocloze pada penggunaan bahasa cerita; yang meliputi kepaduan paragraf, pilihan kata atau diksi, gaya bahasa, ketelitian struktur tulisan, ejaan dan tanda baca. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau dikenal dengan PTK. Model penelitian tindakan digambarkan dengan model siklus-siklus. Dalam setiap siklus terdiri atas empat komponen penelitian tindakan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti terjun langsung ke lapangan penelitian. Data yang diteliti dalam penelitian ini adalah karangan atau cerita narasi siswa dengan menggunakan teknik makrocloze. Data lainnya adalah semua informasi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung di Kelas XI Pemasaran-2 SMKN 1 Udanawu. Sumber data adalah siswa kelas XI Pemasaran-2 SMKN 1 Udanawu dan guru bahasa Indonesia kelas XI. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menelaah seluruh data yang diperoleh, mereduksi data, mengklasifikasi data, dan menarik kesimpulan. Sementara, teknik kuantitatif dilakukan dengan analisis rata-rata skor siswa. Peneliti menggunakan data berupa skor dari hasil menulis cerita narasi siswa dengan teknik makrocloze. Hasil penelitian dalam pembelajaran menulis cerita narasi meliputi (1) temuan peningkatan kemampuan menulis cerita narasi pada aspek isi, dan (2) temuan peningkatan kemampuan menulis cerita narasi pada aspek penggunaan bahasa. Pertama, temuan peningkatan kemampuan menulis cerita narasi pada aspek isi, mencakup kemampuan (1) mengembangkan ide, (2) keruntutan alur, (3) kesesuaian tokoh, (4) ketepatan penokohan, dan (5) kejelasan latar. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II dapat diketahui bahwa kemampuan siswa menulis cerita narasi pada aspek isi mengalami peningkatan. Pada siklus I rata-rata nilai siswa pada aspek isi yakni 76,7 dan pada siklus II rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 83,7. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis cerita narasi dengan menggunakan teknik makrocloze. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa sudah dapat menulis cerita narasi pada aspek isi dengan baik. Kedua, temuan peningkatan kemampuan menulis cerita narasi pada aspek penggunaan bahasa. Subaspek tersebut meliputi (1) kepaduan paragraf, (2) pilihan kata atau diksi, (3) penggunaan gaya bahasa, (4) ketelitian struktur tulisan, dan (5) penggunaan ejaan dan tanda baca. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II dapat diketahui bahwa kemampuan siswa menulis cerita narasi pada aspek penggunaan bahasa mengalami peningkatan. Pada siklus I rata-rata nilai siswa pada aspek penggunaan bahasa yakni 66,2 dan pada siklus II rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 76,6. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis cerita narasi dengan menggunakan teknik makrocloze. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa sudah dapat menulis cerita narasi pada aspek penggunaan bahasa dengan baik. Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh maka disarankan kepada guru untuk menggunakan teknik makrocloze dalam pembelajaran menulis cerita narasi. Hal ini didasari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa (1) terjadi peningkatan kemampuan menulis cerita narasi pada aspek isi dan penggunaan bahasa, (2) siswa lebih aktif dan termotivasi untuk mengerjakan tugas pembelajaran, dan (3) siswa merasa mendapat pembelajaran yang bermanfaat. Sementara bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan sabagai acuan keberhasilan dalam pembelajaran menulis cerita narasi dengan teknik makrocloze. Selain itu, peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitian sejenis dengan menggunakan teknik pembelajaran yang lain.

Pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu di SDLB Negeri Campurdarat Kabupaten Tulungagung / Irma Rachmayanti

 

Kata kunci: huruf hijaiah, tunarungu, Tulungagung Pembelajaran huruf hijaiah merupakan salah satu tahap pembelajaran yang harus dilaksanakan untuk memahami bahasa Arab dan al-Quran. Terdapat beberapa hal yang mendasari dilaksanakannya penelitian ini yaitu, (1) belum ditemukannya penelitian tentang pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) pada penelitian-penelitian sebelumnya, baik di Jurusan Sastra Arab, fakultas sastra, Universitas Negeri Malang, maupun di jurusan lain, (2) penelitian ini dirasa perlu, karena untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dalam pembelajaran huruf hijaiah bagi tunarungu dengan peserta didik di sekolah dasar umum, (3) pembelajaran bahasa untuk peserta didik berkebutuhan khusus, terutama bahasa asing yang di dalamnya termasuk bahasa Arab selama ini kurang mendapat perhatian, baik dari segi metode, media, dan sebagainya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan bisa dijadikan refleksi terhadap pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik berkebutuhan khusus, khususnya peserta didik tunarungu. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu di SDLBN Campurdarat. Dalam pembelajaran terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu di SDLBN Campurdarat, kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang diperoleh berupa data kualitatif yang terkait dengan pembelajaran huruf hijaiah di SDLBN Campurdarat yaitu a) perencanaan, yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus PAI, dan program pengajaran semester I tahun 2012/2013, b) pelaksanaan, meliputi langkah-langkah, bahan ajar dan media pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu di SDLBN Campurdarat, c) evaluasi, yaitu kegiatan evaluasi dan alat ukur yang digunakan dalam pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu di SDLBN Campurdarat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa human instrumen, yaitu peneliti sendiri. Untuk pengecekan keabsahan temuan maka dilakukan pengujian credibility, tranferability, dependability, dan confirmability. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap penyusunan laporan berdasarkan data yang diperoleh. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga hasil simpulan sebagai berikut. Pertama, perencanaan yang digunakan dalam pembelajaran huruf hijaiah di SDLBN Campurdarat adalah program pengajaran semester I tahun 2012/ 2013, silabus PAI semester 1, dan RPP dalam setiap pertemuannya. Ketiga komponen perencanaan pembelajaran tersebut telah sesuai dengan prosedur penyusunan perencanaan dalam pembelajaran. Kedua, pelaksanaan pembelajaran huruf hijaiah yang meliputi bahan ajar, metode, dan media pembelajaran. Bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran huruf hijaiah peserta didik tunarungu adalah buku panduan PAI yang berjudul “Senangnya Belajar Agama Islam SD” yang diterbitkan oleh Erlangga. Selain buku panduan, bahan ajar yang digunakan adalah LKS dan juz ‘amma. Penggunaan LKS ini adalah sebagai alat bantu latihan untuk peserta didik dalam memahami pelajaran. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode alphabetik untuk pembelajaran huruf hijaiah kelas dua, dan untuk pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik kelas lima dan enam adalah metode ceramah dengan menggunakan bahasa isyarat dan demonstrasi. Penerapan metode-metode ini tidak bisa lepas dari penggunaan bahasa isyarat Indonesia. Adapun media yang digunakan dalam pembelajaran huruf hijaiah pada peserta didik tunarungu adalah kartu dan juz ‘amma. Ketiga, berdasarkan evaluasi proses belajar peserta didik tunarungu dalam pembelajaran huruf hijaiah di SDLBN Campurdarat menunjukkan bahwa peserta didik sudah mampu melafalkan, menghafalkan, dan memahami materi tentang huruf hijaiah, baik yang tunggal atau bersambung. Sedangkan aspek yang dinilai dalam pembelajaran huruf hijaiah ini adalah makhraj dan penggunaan bahasa isyarat Indonesia dalam melafalkan huruf hijaiah. Selain evaluasi proses, terdapat evaluasi hasil yang dilaksanakan pada tengah dan akhir semester.

Pengembangan media pembelajaran berbasis powerpoint tentang pembuatan kriya anyam matapelajaran seni budaya kelas X SMAN 2 Situbondo / Amar Ma'ruf Stya Bakti

 

Kata Kunci: media pembelajaran,kriya anyam, seni budaya kelas X Media pembelajaran memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Media pembelajaran dapat dimaknai sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. Salah satunya materi ekspresi daerah setempat yaitu tentang kriya anyam. Kriya anyam di daerah Situbondo sudah banyak berkembang dengan berbagai motif dan corak sesuai daerah. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan media materi kriya anyam untuk membantu pembelajaran Seni Budaya. Penelitian ini bertujuanuntuk mengembangkanmediapembelajaran khusunya kriya anyam dengan menggunakan software Microsoft PowerPoint 2010berdasarkankurikulumTingkatSatuan Pendidikan (KTSP)2006 pada tingkatSekolah Menengah Atas (SMA) kelas X untuk semester gasal, Standar KompetensiEkspresi pokok bahasan ditekankan pada seni rupa terapan daerah setempat. Materi yang diangkat yaitu pembuatan kriya anyam dengan teknik dan motif daerah setempat. Modelpenelitian dan pengembangandalampenelitian ini merupakan model pengembangan prosedural yaitu model Four-D(Define, design, developdan disseminate).Telah divalidasikan kepada ahlimateri, ahli media, ahli pembelajaran, dan kelompok besar. Dari hasil validasi yang telah dilakukan, media pembelajaran ini dinyatakan valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah. Perhitungan statistik secara keseluruhan melalui validasi memperoleh skor antara lain: ahlimedia 82, ahli materi 85, ahli pembelajaran 89, dan kelompok besar93. Revisi produk yang diperoleh diantaranya perubahan jarak antar tulisan/font, pemberian gambar pada ragam motif dan perubahan runtutan materi pada media. Dari hasil penelitian ini dapatdisarankan agar(1) Pendidik dapat memanfaatkan media pembelajaran pembuatan kriya anyam.(2) Peserta didik dapatmandiri dan semangatdalambelajar secara individu. (3) Lembaga Sekolah memanfaatkan media ini untuk menjadi alternatifproses pembelajaranselanjutnya.(4)Penelitidapatmengembangkan media pembelajaran menjadilebih baik lagi, tepat guna dantepatsasaran sehingga dapatdimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Pengaruh pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) terhadap keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran fisika / Moch. Choirul Anam

 

Kata kunci: POGIL, keterampilan proses sains, berpikir kritis. Pemerintah melakukan perbaikan kualitas pendidikan salah satunya dengan melakukan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum yang digunakan saat ini adalah KTSP yang dikembangkan berdasarkan potensi dan karakteristik wilayah siswa. Pelaksanaan pembelajaran IPA pada KTSP salah satunya adalah melakukan inquiry. Pembelajaran inquiry dapat dilaksanakan dengan cara guided inquiry dan open inquiry. Salah satu bentuk dari pembelajaran dengan guided inquiry adalah process oriented guided inquiry learning (POGIL). Pembelajaran POGIL terdiri dari beberapa tahap yaitu Orientation, Exploration, Concept Formation, Application, dan Closure. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII UPT SMP Negeri 1 Pasuruan tahun pelajaran 2012/2013. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Penentuan sampel dilakukan dengan cara random sampling melalui undian. Kelas VIII C merupakan kelompok eksperimen yang menggunakan pembelajaran POGIL sedangkan kelas VIII B merupakan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran secara konvensional yaitu direct intruction. Teknik analisis data dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Data yang ingin dianalisis adalah keterampilan proses sains siswa menggunakan analisis uji t, kemampuan berpikir kritis menggunakan analisis uji Mann-Whitney, dan interaksi antara keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir kritis menggunakan analisis kendall’s tau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata keterampilan proses sains siswa pada kelas eksperimen adalah 72.36 dan pada kelas kontrol adalah 63.95 dengan nilai Sign 0,045 < 0,05. Hal ini mengandung makna bahwa keterampilan proses sains siswa dengan pembelajaran POGIL lebih tinggi dibanding siswa dengan pembelajaran konvensional. Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen adalah74.27 dan pada kelas kontrol adalah 69.59 dengan nilai Sign 0.041 < 0,05. Hal ini mengandung makna bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dengan pembelajaran POGIL lebih tinggi dibanding siswa dengan pembelajaran konvensional. keterampilan proses sains berkorelasi positif dengan kemampuan berpikir kritis siswa dengan koefisien korelasi positif sebesar 0,446 dan signifikan pada level 0,000. Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara keterampilan proses sains dengan kemampuan berpikir kritis siswa dengan pengaruh sebesar 8,20 %.

Perbedaan antara penggunaan media pembelajaran berbasis WEB dan media gambar terhadap hasil belajar mata diklat sistem pengapian elektronik siswa kelas XI Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 3 Bondowoso / Muhammad Munib Rosadi

 

Kata Kunci: media web, media gambar, hasil belajar Model pembelajaran yang diterapkan di SMK Negeri 3 Bondowoso pada umumnya menggunakan metode ceramah dengan media pembelajaran yang digunakan adalah media gambar dari modul ataupun buku paket. Peneliti mencoba menyuguhkan media Web sebagai alternatif lain dalam melaksanakan pembelajaran sistem pengapian elektronik dengan harapan siswa dapat memahami materi sehingga meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar antara kelas yang diajar dengan metode ceramah berbantuan media gambar dan kelas siswa yang diajar dengan metode ceramah berbantuan media Web. Juga untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara keduanya. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Pre Experimental Design). Terdapat 36 subjek kelompok eksperimen (KE) dan 36 subjek kelompok kontrol (KK) yang dikelompokkan mengunakan metode purposive sampling. Hasil belajar diambil dari hasil pre–test dan post–test. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis Uji–t (T Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata–rata skor hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah berbantuan media gambar yakni 62.08. Rata–rata skor hasil belajar siswa yang diajar menggunakan meode ceeramah berbantuan media Web yakni 73.47. Perbedaan antara dua kelompok perlakuan dianalisis menggunakan analisis Independent–Samples T Test, dengan α = 0,05. Dari perhitungan dengan Software SPSS 16.0 for Windows didapatkan Probabilitas (Sig. 2–tailed) = 0,000. Berarti ada perbedaan hasil belajar mata diklat sistem pengapian elektronik antara kelompok siswa yang diajar menggunakan metode ceramah berbantuan media Web dan kelompok siswa yang diajar menggunakan metode ceramah berbantuan media gambar. Penggunaan media Web berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil belajar materi tentang sistem pengapian elektronik. Media Web mampu membantu siswa dalam mengembangkan daya nalar mereka terhadap penjelasan fungsi komponen serta cara kerja sistem pengapian elektronik. Saran dari hasil penelitian ini adalah penggunaan media Web sebagai alternatif media pembelajaran khususnya pada mata diklat sistem pengapian elektronik dan juga mata diklat lan yang memerlukan penalaran tinggi. Bagi peneliti lain disarankan menggunakan media lain pada kompetensi yang berbeda dengan jumlah subjek yang lebih besar lagi.

Analisis kualitas pembelajaran pada kompetensi keahlian produktif teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan / Dimas Risqi Firmansyah

 

Kata kunci: Analisis Kualitas Pembelajaran, Kompetensi Keahlian Teknik Ototronik. Peraturan Pemerintah ( Permen) No. 41 tahun 2007 yang merupakan pelaksanaan ketentuan pasal 24 peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan yang mencakup tentang standar proses untuk satuan pendidikan dan menengah. Pada pasal satu dijelaskan bahwa standar proses untuk sekolah dasar dan menengah mencakup perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Dalam mengetahui kualitas pembelajaran peniliti memfokuskan penelitian, antara lain: 1. bagaimanakah kualitas perencanaan pembelajaran pada kompetensi keahlian teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan. 2. bagaimanakah kualitas pelaksanaan pembelajaran pada kompetensi keahlian teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan. 3. bagaimanakah kualitas hasil evaluasi pembelajaran pada kompetensi keahlian teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus yaitu menjelaskan secara komprehensif mengenai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi, suatu program, atau situasi sosial. Penelitian kualitatif “the researcher is the key instrument” jadi peneliti adalah merupakan instrument kunci dalam penelitian kualitatif, dengan data dan sumber data yaitu data primer dan sekunder. Pengumpulan datanya ada 3 tahapan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisa data mencangkup reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data dengan :derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan dan kepastian. Hasil penelitian analisis kualitas pembelajaran pada kompetensi keahlian produktif teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan sebagai berikut: 1. Kualitas perencanaan pembelajaran pada kompetensi keahlian produktif teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan di susun secara dengan baik dan sistematis dengan silabus yang sudah ditetapkan secara nasional. 2. Kualitas pelaksanaan pembelajaran pada kompetensi keahlian produktif teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan terdapat kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup sudah berjalan secara berurutan dan aktif pada saat pembelajaran, Meskipun masih ada siswa yang bergurau dengan temanya saat pemberian materi sebelum praktek dimulai dan hanya terdapat satu pengajar dalam pembelajaran produktif dalam kelas sehingga siswa kurang mendapat pemahaman secara menyeluruh. 3. Kualitas evaluasi pembelajaran pada kompetensi keahlian produktif teknik ototronik di SMK Negeri 2 Pasuruan untuk mendapatkan hasil penilaian yang akurat maka melakukan tiga tahapan dalam mengevaluasi hasil belajar, antara lain aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. ii Terdapat saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu : 1. Kepada Sekolah yaitu SMK Negeri 2 Pasuruan untuk lebih memperhatikan fasilitas sekolah seperti pengadaan meja kursi untuk pembelajaran produktif ototronik dan Perlu diadakan penambahan guru yang mengajar kompetensi keahlian produktif. 2. Kepada Ketua Kompetensi Keahlian Teknik Ototronik dan Guru SMK Negeri 2 Pasuruan supaya lebih mengembangkan materi pembelajaran produktif agar siswa lebih kreatif dalam praktek maupun teori. 3. Kepada Guru SMK Negeri 2 Pasuruan untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajarannya dan lebih bervariasi dalam menyampaikan materi pelajarannya 4. Kepada peneliti lain agar bisa melakukan penelitian yang juga fokus dalam menganalisis kualitas pembelajaran pada jurusan SMK yang sama atau meneliti pada jurusan yang berbeda.

Studi tentang tingkat kesulitan pembuatan jas wanita di SMK Negeri 5 Malang / Siti Nafiisah Ipmawati

 

Kata Kunci: Jas Wanita, Tingkat Kesulitan, Pembuatan Jas Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam kurikulum SMK terdapat kumpulan mata diklat adaptif, normatif, dan produktif. Ketiga kompetensi tersebut dirancang guna membentuk siswa yang terampil. Guru yang dapat membimbing dan mengarahkan siswa sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan dan membentuk serta mengembangkan kemampuan siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran, seorang guru akan berusaha agar apa yang diajarkan dapat dipahami oleh siswa dan siswanya dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas akan ditemui sejumlah hambatan dan kesulitan yang dialami oleh siswa. Mata diklat membuat busana wanita 2 merupakan salah satu mata diklat produktif yang ada pada Program Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 5 Malang. Dalam mata diklat membuat busana wanita 2 siswa diberikan kompetensi membuat jas wanita. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada siswa kelas XI PK Busana Butik SMK Negeri 5 Malang yang telah mengikuti mata pelajaran Membuat Busana Wanita 2, berjumlah 45 siswa, mengatakan bahwa kompetensi membuat jas wanita merupakan kompetensi yang sulit. Selain itu berdasarkan diskusi yang dilakukan dengan guru yang mengajar kompetensi membuat jas wanita, mengatakan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam membuat jas wanita. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui tingkat kesulitan pembuatan jas wanita di SMK Negeri 5 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian siswa kelas XI 2 Program Keahlian Busana Butik SMK Negeri 5 Malang sebanyak 30 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dan lembar observasi. Instrumen angket ini diuji validitas dengan rumus korelasi Product Moment dan dinyatakan valid, uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha dan dinyatakan reliabel dengan nilai Alpha sebesar 0.959. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kesulitan pembuatan jas wanita di SMK N 5 Malang dinyatakan berada dalam tingkat tidak sulit oleh 47,2% siswa . Tingkat kesulitan paling dominan terletak pada pembuatan pola dan menjahit jas wanita, adapun letak kesulitan tersebut adalah sebagai berikut; membuat pecah pola badan. Membuat rancangan bahan. Memotong bahan utama. Melakukan pengepresan interlining pada badan muka. membuat lubang kancing passepoille, saku klep, memasang kerah, memasang lengan, penyelesaian leingkar kerung lengan dengan sum dalam. Proses trimming/bersih benang dan pengepresan akhir

Peningkatan kemampuan menulis surat dinas siswa kelas XII SMA Negeri 1 Dampit dengan menggunakan teknik pemodelan / Nursila Dwi Nugraha

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, surat dinas, teknik pemodelan. Salah satu ragam keterampilan menulis yang diajarkan di SMA adalah menulis surat dinas. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, pembelajaran menulis surat dinas menjadi salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SMA secara maksimal. Oleh karena itu, peran guru sangat besar selama proses pembelajaran menulis surat. Guru dituntut dapat menggunakan teknik yang tepat untuk meningkatkan kemampuan menulis surat dinas. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada studi pendahuluan di SMA Negeri 1 Dampit, diketahui bahwa teknik pembelajaran yang digunakan dalam menulis surat dinas adalah teknik ceramah saja. Kondisi seperti ini menyebabkan kegiatan belajar siswa kurang aktif dan hasil belajar siswa belum maksimal. Berdasarkan analisis hasil belajar siswa tersebut, dapat dikemukakan bahwa terdapat tiga kekurangan dalam menulis surat dinas tersebut. Ketiga kekurangan tersebut adalah (1) siswa tidak mampu menulis surat dinas pada aspek isi surat, (2) siswa tidak mampu menulis surat dinas pada aspek bahasa surat, dan (3) siswa tidak mampu menulis surat dinas pada aspek struktur surat. Berkaitan dengan masalah tersebut, perlu dicarikan sebuah teknik yang inovatif untuk mengatasi masalah tersebut. Peneliti dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sepakat untuk merapkan teknik pemodelan sebagai upaya dalam meningkatkan kemampuan menulis surat dinas siswa. Teknik ini merupakan komposisi terpadu antara keterampilan membaca dan menulis. Teknik pemodelan ini dapat mempermudah siswa dalam menulis surat dinas karena pembelajaran tidak langsung pada kegiatan menulis surat dinas, tetapi melalui kegiatan membaca dan mengidentifikasi isi, bahasa, dan struktur surat dinas model. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) meningkatkan kemampuan menulis surat dinas siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Dampit dengan teknik pemodelan pada aspek isi, (2) meningkatkan kemampuan menulis surat dinas siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Dampit dengan teknik pemodelan pada aspek bahasa, (3) meningkatkan kemampuan menulis surat dinas siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Dampit dengan teknik pemodelan pada aspek struktur surat dinas, dan (4) meningkatkan kualitas pembelajaran menulis surat dinas siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Dampit dengan teknik pemodelan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pemilihan rancangan ini sesuai dengan karakteristik PTK, yaitu permasalahan yang diangkat untuk dipecahkan bermula dari persoalan pembelajaran sehari-hari. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas lima hal pokok, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pelaksanaan, (4) observasi atau pengamatan, dan (5) refleksi. Penelitian ini berlokasi di SMA Negeri 1 Dampit yang terletak di Jalan Gunung Jati 1138, lebih dikhususkan pada kelas XII IPA 3. Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada tanggal 27 September 2012 sampai dengan tanggal 13 Oktober 2012 dalam dua siklus. Data dalam penelitian ini adalah hasil surat dinas siswa yang diajar dengan menggunakan teknik pemodelan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Dampit. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA 3 dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sudah dapat menulis surat dinas dengan baik. Hasil penelitian bersumber dari surat dinas siswa yang meliputi aspek isi, bahasa, dan struktur. Kemampuan menulis surat dinas pada aspek isi meliputi kesesuaian, keruntutan, kelengkapan, kepaduan. Kemampuan menulis surat dinas pada aspek bahasa meliputi ejaan, tanda baca, pilihan kata, dan keefektifan kalimat. Kemampuan menulis surat dinas pada aspek struktur surat meliputi kepala surat, isi surat, dan penutup surat. Kemampuan menulis ketiga aspek tersebut dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Selain itu, kualitas proses pembelajaran mulai dari studi pendahuluan hingga siklus II telah mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data bahwa penggunaan teknik pemodelan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis surat dinas pada aspek isi, bahasa, dan struktur surat dinas. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menggunakan teknik pemodelan dalam pembelajaran menulis surat dinas. Selain itu, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan teknik pemodelan dalam pembelajaran menulis surat dinas pada jenjang yang berbeda, misalnya jenjang SMP atau SMK. Dengan demikian, hasil penelitian selanjutnya dapat memperkaya pengetahuan mengenai upaya meningkatkan kemampuan menulis surat dinas siswa.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui pengaktifan skemata dan peer assessment pada siswa kelas VA SDN Bandungrejosari 03 Kota Malang / Novialita Angga Wiratama

 

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran kooperatif "plasma cluster" terhadap motivasi, keaktifan, dan hasil belajar biologi peserta didik kelas XI IPA SMAN 1 Ponorogo / Asmara Johan

 

The practice of teaching speaking in English conversation club of Dhamysoga at SMAN 5 Malang / Sari Rahayu

 

Kata Kunci: berbicara, klubpercakapan. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling digunakan untuk komunikasi secara global.Bahasa Inggris adalah bahasa International yang digunakan secara global.Bahasa Inggris juga banyak digunakan dalam bidang teknologi maupun pendidikan.Pembelajaran bahasa Inggris menjadi kurang sempurna tanpa pemahaman dalam kemampuan berbicara.Ada beberapa sekolah, diantaranya SMAN 5 Malang, telah menyelenggarakan klubpercakapan yang khusus diberikan sebagai sarana siswa dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan pembelajaran berbicara di klub percakapan Dhamysoga di SMAN 5 Malang. Terdapat lima variabel dalam penelitian ini, diantaranya aktivitas-akitivitas pembelajaran dalam klub percakapan, materi dan media yang digunakan, kendala yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran serta solusi yang mereka gunakan dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Latar dari penelitian ini adalah anggota klub percakapan bahasa Inggris Dhamysoga sebagai sampel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.Instrumen-instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data diantaranya adalah lembar wawancara bagiguru bahasa Inggris serta kuisioner bagi siswa. Hasil dari penelitian ini: Pertama, aktivitas-aktivitas pembelajaran dalam klub diantaranya adalah menceritakan kembali sebuah cerita, permainan link, bermain peran, membaca berita dan debat. Kedua, materi yang digunakan diantaranya adalah teks yang berisi tentang cerita lucu, berita-berita aktual yang terjadi di Indonesia dan film. Ketiga, media yang digunakan adalah film dan papan tulis. Keempat, kendala yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran terkait dengan masalah psikologi dan tata bahasa. Kelima, strategi-strategi yang digunakan siswa dalam mengatasi kendala-kendala yang mereka hadapi selama proses pembelajaran diantaranya adalah memparafrase, mengira-ngira, menggunakan gesture, bertanya pada guru pengajar, dan menggunakan bahasa lokal (nonInggris). Berdasarkan dari hasil penelitian diatas, disarankan bagi guru pengajar untuk lebih kreatif dalam membuat aktivitas-aktivitas. Untuk SMAN5 Malang, disarankan untuk menyelenggarakan kelas conversation sebagai ekstrakurikuler wajib untuk memotivasi seluruh siswa SMAN 5 Malang dalam memperbaiki kemampuan berbicara. Bagi pembaca yang ingin mengadakan penelitian mengenai klubpercakapan, diharapkan untuk meneliti bagian-bagian lain dalam klub percakapan yang belum dibahas dalam skripsi ini.

Sistem pendidikan dakwah pondok pesantren Nurul Haromain Pujon, Malang dan perkembangannya / Muhammad Addib Zubaidi

 

Kata kunci: Sistem pendidikan, dakwah, pondok pesantren. Secara historis pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah terbukti mampu mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan penting dalam membentuk religiusitas bangsa Indonesia. Perkembangan pesantren dengan beragam variasinya saat ini tetap diperhitungkan oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan alternatif. Oleh karena itu, diperlukan penelitian tentang variasi pesantren untuk mengetahui persamaan ataupun perbedaan dari sekian banyak variasi pesantren. Penelitian juga untuk menemukan karakteristik/ciri khas suatu pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menjadi kelebihan pesantren tertentu. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup: (a) sejarah pondok pesantren dan profil pengasuh; (b) sistem pendidikan pondok pesantren untuk mendeskripsikan karakteristik pendidikan pesantren; (c) perkembangan sistem pendidikan pondok pesantren untuk mendeskripsikan sistem pendidikan secara komprehensif dan mengetahui klasifikasi pesantren; (d) hasil penerapan sistem pendidikan pondok pesantren sebagai keberhasilan tujuan pendidikan pondok pesantren dan membedakan antara tujuan pendidikan pesantren satu dengan yang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi pendidikan dan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus.Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode penelitian. Metode yang digunakan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, PP. Nurul Haromain merupakan pondok pesantren kontemporer. Profil pengasuh yaitu KH. Muhammad Ihya’ Ulumuddin merupakan seorang kiai alumni Pondok Pesantren Langitan, Tuban (tahun 1974 M),YAPI Bondowoso (1976 M) dan At-Tarbiyah As-Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliki, Makkah, Arab Saudi (tahun 1980 M). Pengalaman pribadi merintis dakwah adalah: (a) mengisi pengajian Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Keputran, Kejambon, Surabaya; (b) menjadi salah seorang perintis dakwah di kampus-kampus negeri di Surabaya; (c) mengisi pengajian bulanan di rumah H. Maki, Madura; (d) menjadi pengasuh PP. Nurul Haromain sejak tahun 1991 M. Kedua, dalam sistem pendidikan dakwah PP. Nurul Haromain terdapat beberapa karakteristik atau ciri khusus yaitu: (a) visi dan misi pendidikan mencetak kader-kader dakwah; (b) meskipun menganut faham Sunni Ahlussunah wal Jama’ah tidak menjadikan pondok pesantren condong atau terikat terhadap ii kelompok tertentu; (c) santri mendapatkan pelajaran langsung dari kiai dan belajar bersama (mudzakarah) bukan dari ustadz; (d) input pendidikan merupakan santri yang sudah mampu membaca kitab kuning/kitab gundul dengan baik (alumni pesantren); (e) interaksi pelaku pendidikan bersifat shuhbah (berkawan, terbuka, akrab dan saling mendukung); (f) kurikulum pendidikan berupa pengembangan keilmuan melalui ilmu Al-Qur’an-Hadits dan praktik dakwah; (g) sumber belajar menggunakan kitab-kitab tingkat tinggi; (h) poses belajar-mengajar terdiri dari pembelajaran di dalam pondok dan di luar pondok; (i) santri bebas biaya pendidikan; (j) tersedia alat-alat pendidikan modern di pondok pesantren. Ketiga, berdasarkan perkembangannya, PP. Nurul Haromain dapat diklasifikasikan menurut variasi bentuk dan pola tertentu yaitu: (a) variasi bentuk memiliki kecondongan terhadap tipe A (yaitu dimana para santri belajar dan bertempat tinggal di asrama lingkungan pondok pesantren dengan pengajaran yang berlangsung secara tradisional berupa sistem wetonan atau sorogan) dan pondok pesantren salaf (pondok pesantren yang di dalamnya terdapat sistem pendidikan salaf (weton dan sorogan), dan sistem klasikal (madrasah) salaf); (b) pola pesantren memiliki kecondongan terhadap pola I (pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang disediakan para santri yang datang dari daerah lain) dan II (materi pelajaran yang dikemukakan bersumber dari kitab-kitab klasik. Metode penyampaian adalah wetonan dan sorogan, tidak memakai sistem klasikal). Keempat, hasil penerapan sistem pendidikan PP. Nurul Haromain berupa: (a) alumni yang memiliki keilmuan tidak hanya bersifat teoritis tetapi praktis; (b) alumni yang memiliki sikap tawasuth (tengah-tengah dan tidak ekstrim atau kaku) dalam menghadapi suatu masalah keagamaan; (c) alumni adalah kader-kader da’i. Dari kesimpulan hasil penelitian tersebut, secara umum dapat disarankan bahwa pondok pesantren hendaknya mengembangkan pendidikannya sesuai dengan potensi dan ciri khas masing-masing sehingga menumbuhkan karakter setiap pondok pesantren. Sedangkan secara teoritik, khususnya bagi peneliti selanjutnya yaitu sebelum meneliti tentang suatu pondok pesantren hendaknya mempunyai bekal pengetahuan yang cukup terhadap pondok pesantren salafiyah sebagai bentuk dasar/awal pondok pesantren sehingga dapat lebih mudah memahami fenomena-fenomena perkembangan pondok pesantren pada zaman sekarang.

Pengembangan sistem informasi UKM Blero Universitas Negeri Malang berbasis WEB menggunakan PHP, Jquery, Ajax, dan MySQL / Didit Alizar Firman

 

Kata Kunci: SI, PHP, MySQL, jQuery, AJAX. Perkembangan teknologi memang telah memberikan banyak perubahan pada kehidupan masyarakat di Indonesia. Internet sebagai salah satu bukti nyata dari perkembangan teknologi informasi. Internet pun digunakan untuk beberapa hal, seperti: marketing, narablog, blogger, chatting, forum diskusi on-line, bahkan jejaring sosial yang sedang naik daun saat ini di Indonesia. UKM Blero UM sendiri telah memiliki akun Facebook sejak tahun 2009 dan akun Twitter di tahun 2012 ini. Namun hingga saat ini UKM Blero UM belum memiliki website resmi yang isi halamannya diterbitkan oleh pengurus UKM Blero UM. Melalui website resmi, UKM Blero UM dapat memperkenalkan profil UKM Blero serta mempublikasikan kegiatannya secara resmi agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi akibat ketidakjelasan sumber informasi seperti yang sering terjadi pada kebanyakan jejaring sosial. Metode yang digunakan dalam pengembangkan Sistem Informasi UKM Blero UM (SI BLERO UM) adalah dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP, pustaka jQuery dan teknologi AJAX yang terkoneksi dengan basis data MySQL. PHP sendiri merupakan bahasa scripting yang dinamis karena memiliki banyak referensi, sehingga mempermudah proses pengembangannya. Penggunaan jQuery untuk mempermudah pengembangan script yang akan digunakan. Sedangkan teknologi AJAX digunakan untuk membuat respon sistem menjadi cepat seperti saat menggunakan program dari desktop. Hasil yang dicapai dengan mengembangkan SI BLERO UM ini adalah UKM Blero UM memiliki sistem informasi resmi yang dikelola oleh pengurus UKM Blero UM, sehingga pengunjung dapat memperoleh informasi yang terpercaya di sumber yang pasti. Selain itu dengan SI BLERO UM juga UKM Blero UM juga mampu memperkenalkan Kentrung Kreasi UKM Blero UM kepada masyarakat umum, menginformasikan berita seputaran kegiatan UKM Blero UM maupun literatur-literatur berupa posting artikel yang ada secara terstruktur, mempublikasikan kegiatan UKM Blero UM secara efisien serta tepat sasaran, berdiskusi serta berkomunikasi tanpa terbatas tempat, dan memperbaiki sistem penyaluran inspirasi serta aspirasi sebelumnya yang dirasa kurang efisien.

Tabungan dana sehat sebagai investasi dalam upaya pemberdayaan masyarakat (studi kasus pada kelompok dasa wisma di Desa Teja Timur Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan) / Siti Maimunah

 

Maimunah, Siti, 2012, Tabungan Dana Sehat sebagai Investasi dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus pada Kelompok Dasa Wisma Desa Teja Timur Kabupaten Pamekasan), Disertasi Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. J.G Nirbito, M.Pd (II) Dr. Sunaryanto, M. Ed. (III) Prof. Dr. Agus Suman, SE., DEA Kata-kata kunci : Tabungan dana sehat, Investasi, Pemberdayaan masyarakat Kesehatan sebagai investasi telah dipilih sebagai tema kajian dalam penelitian ini, mengingat tantangan yang dihadapi oleh dunia kesehatan semakin kompleks terlihat pada perubahan gejala biopsikososial yang dipicu oleh perubahan iklim dan pola hidup dari manusia itu sendiri. Kompleksitas tantangan yang dihadapi dunia kesehatan berpengaruh pada produktivitas kerja, yang akhirnya juga berefek negatif pada pembangunan ekonomi dan daya saing dengan bangsa lain. Tabungan dana sehat merupakan kegiatan sosial dengan azas usaha bersama dan kekeluargaan untuk mewujudkan kesehatan masyarakat. Keberadaanya menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti di tengah maraknya asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi dan Jamkesmas yang diregulasikan oleh pemerintah. Banyaknya bentuk pendanaan kesehatan dan besarnya alokasi anggaran pemerintah senantiasa tidak cukup karena ledakan penduduk yang terus bertambah dan permasalahan kesehatan yang semakin kompleks. Kegiatan tabungan dana sehat menjadi bagian dari bentuk peran serta masyarakat terhadap pembangunan nasional yang telah berkontribusi memutus matarantai permasalahan bidang kesehatan. Untuk menjawab problematika utama tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada tabungan dana sehat pada kelompok dasa wisma desa Teja Timur kecamatan Pamekasan kabupaten Pamekasan. Serta melalui observasi dan dokumentasi, data-data dianalisis dengan analisis teoritik dengan teknik induktif-konseptualistik, induktif-komparatif, kategorisasi, dan inferensi; analisis hasil wawancara, analisis hasil observasi, dan analisis dokumen. Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat menyumbang konsep pendanaan sosial sebagai investasi bidang kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan untuk hidup sehat dan terbentukya model pembiayaan kesehatan dalam bentuk investasi di bidang kesehatan yang beorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa; kegiatan tabungan dana sehat merupakan aksi sosial yang melingkupi kegiatan pro sosial dan pro kehidupan. Pro sosial ditunjukkan dengan membangun kesadaran untuk mengedepankan kepentingan bersama masyarakat, care terhadap lingkungan, dan aktif dalam kegiatan bakti sosial. Tabungan dana sehat dikategorisasi sebagai kegiatan pro sosial karena dana sehat menciptakan keseimbangan sosial dengan merekatkan hubungan antara si kaya dengan si miskin. Kesamaan dalam memandang kepentingan sosial ditunjukkan dalam pertemuan kelompok dasa wisma dan aksi sosial yang dilakukan yang tidak membedakan latar belakang sosial ekonomi satu dengan yang lain. Tabungan dana sehat dikelola dengan swadaya masyarakat memiliki nilai lebih pada otentisitas sikap “kesukarelaan” yang dilatarbelakangi oleh motivasi atas; (1) perintah agama yaitu infaq dan sodaqoh, (2) kecenderungan naluriah kemanusiaan untuk berbagi dengan sesama, (3) tujuan pemberdayaan, dan (4) tujuan investasi. Keempat motivasi itu menjadi pintu yang membuka jalan mengerti yang mengalihkan peran dan fungsi individu, keluarga dan masyarakat dari kepedulian sosial terhadap kesehatan masyarakat menjadi tanggungjawab sosial. Keempat motivasi tersebut menghantarkan pemahaman bahwa perkembangan peradaban tidak hanya terdiri dari hiruk pikuk aktifitas ekonomi dan teknologi, tetapi ada proses kemanusiaan yang lebih bersifat nirlaba untuk keberlanjutan kehidupan. Tabungan dana sehat dikategorisasi sebagai kegiatan yang pro kehidupan karena tabungan dana sehat tampil dalam ruang publik telah mengurai beberapa amal kebajikan, yaitu; menabung, tanggungrenteng, gotongroyong, kepedulian sosial dan kesukarelaan. Seluruh amal kabajikan tersebut dididikkan pada seluruh anggota untuk menjadi warga negara yang baik, warga negara yang tidak bergantung pada dana pemerintah yang dapat dijadikan sebagai model konstruksi sosial bidang kesehatan yang mandiri. Kesemua sikap terpuji tersebut adalah modal sosial (social capital) untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang selaras dengan tujuan pembangunan mewujudkan Indonesia sehat. Pemberdayaan dalam pelaksanaan dana sehat menjadi mesin penggerak untuk maksimalisasi utilitas yang bertujuan untuk mempercepat dan memperluas akses kesehatan dalam masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menciptakan kesadaran melalui kegiatan promotif, dan preventif. Program pemberdayaan yang dilaksanakan meliputi jumlah penyuluhan yang dilakukan, frekuensi pelatihan yang diimplementasikan, jumlah masyarakat yang terlibat, dan intensitas pertemuan yang telah dilaksanakan. Apabila pemberdayaan kesehatan masyarakat semakin ditingkatkan maka kesadaran investasi untuk kesehatan akan semakin meningkat, tentu pula berdampak positif pada pembangunan kualitas pembangunan sumberdaya manusia. Tingkat kesehatan yang baik akan mendorong peningkatan produktivitas nasional dan mengubah kinerja yang lebih cerdas, efektif dan efisien. Perbaikan kualitas kesehatan masyarakat yang dilakukan dengan usaha bersama dan mandiri merupakan wujud pemberdayaan.

Keefektifan teknik swa-kelola dan swa-penguatan untuk menin gkatkan efikasi diri akademik siswa SMAN 9 Malang / Dewi Nugraheni,

 

Nugraheni, Dewi. 2012. Keefektifan Teknik Swa-Kelola dan Swa-Penguatan untuk Meningkatkan Efikasi Diri Akademik Siswa SMAN 9 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Triyono, M.Pd (2) Drs. Harmiyanto, M.Pd Kata kunci: teknik swa-kelola, teknik swa-penguatan, efikasi diri Pada umumnya setiap siswa memiliki kewajiban untuk rajin belajar agar prestasi belajarnya meningkat. Salah satu faktor yang mempengaruhi naik turunnya prestasi belajar adalah efikasi diri. Efikasi diri adalah keyakinan untuk memperkirakan kemampuan dirinya sendiri dalam menyelesaikan suatu tugas atau kegiatan yang memiliki tujuan tertentu. Perilaku yang menunjukkan efikasi diri rendah diantaranya adalah mengobrol dengan teman, bercanda dengan teman, melamun, meninggalkan tugas sebelum selesai dikerjakan, melihat jawaban teman, bermain HP, tidur-tiduran di kelas, dan melakukan aktivitas tertentu yang tidak ada kaitannya dengan proses belajar (memainkan pulpen dan dasi). Teknik swa-kelola dan swa-penguatan merupakan teknik pengubahan perilaku yang dapat membantu siswa dalam mengelola perilakunya, dan memberikan penguatan untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa. Teknik swa-kelola adalah suatu kemampuan yang berkenaan dengan kesadaran diri dan keterampilan di mana individu mengarahkan pengubahan tingkah lakunya sendiri dengan pemanipulasian stimulus dan respon baik internal maupun eksternal. Sedangkan teknik swa-penguatan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memberi respon kepada diri sendiri yang berguna untuk menampilkan kembali perilakunya atau mengubah perilakunya tersebut tanpa tergantung lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik swa-kelola dan swa-penguatan untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMAN 9 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimen semu, jenis one group pretest-posttest design, dan menggunakan desain eksperimen A-B-A. Subjek penelitian sebanyak 18 siswa kelas X yang didasarkan dari hasil pretest, wawancara dengan konselor dan observasi untuk menentukan subjek penelitian. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan antara pretest dan posttest. Berdasarkan hasil pretest dengan menggunakan persentase efikasi diri dapat diperoleh data 83,3% memiliki tingkat kriteria sedang dan 16,6% memiliki tingkat kriteria rendah. Sedangkan hasil posttest setelah siswa diberikan intervensi didapatkan kenaikan tingkat persentase efikasi diri siswa yaitu 5,5% memiliki tingkat kriteria sangat tinggi, 83,3% memiliki tingkat kriteria tinggi, dan 11,1% memiliki tingkat kriteria sedang. Dengan demikian teknik swa-kelola dan swa-penguatan efektif untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMAN 9 Malang. Berdasarkan hasil temuan, disarankan: (1). Sebaiknya bagi peneliti selanjutnya diharapkan adanya kelompok kontrol. (2). Hasil penelitian ini hanya berlaku pada tempat pelaksanaan penelitian. (3) Diharapkan konselor tetap memberikan intervensi agar siswa bisa mengoptimalkan pelaksanaan teknik ini.

Pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar siswa (studi pada siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Deby Windianasari

 

Windianasari, Deby. 2012. Pengaruh Konsep Diri Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Studi Pada Siswa Kelas XII SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen SI. Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Agung Winarno, M.M. (2) Dr. Ludi Wishnu Wardana, S.T., S.pd., S.E., M.M. Kata Kunci: Konsep diri, prestasi belajar Konsep diri merupakan keseluruhan pandangan tentang diri sendiri, dengan kata lain konsep diri merupakan potret tentang bagaimana seseorang melihat, menilai, serta menyikapi diri. Konsep diri penting diperhatiakan sebab konsep diri merupakan penentu tingkah laku seseorang dan merupakan pandangan terhadap diri sendiri yang merupakan dasar bagi semua tingkah laku. Bila individu mempunyai konsep diri yang rendah atau negatif, individu akan menjadi kurang percaya diri, mudah putus asa, dan kurang berorientasi pada prestasi, sehingga akan mempengaruhi prestasi akademiknya di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Konsep diri siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 2 Malang, (2) Prestasi belajar siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 2 Malang, (3) Pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatatn kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII yang berjumlah 150 siswa. Dalam peneltian ini menggunakan sampel 60 siswa. Instrument yang digunakan untuk variabel konsep diri adalah angket skala konsep diri dan untuk variabel prestasi belajar menggunakan nilai rata-rata raport semester satu sampai semester empat tahun ajaran 2010-2011. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik persentase dan teknik korelasi Product Moment. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mempunyai Konsep diri konsep diri positif (tinggi), sedangkan prestasi belajar siswa juga tergolong baik yang dilihat dari rata-rata nilai raport semester satu sampai semester empat tahun 2010/2011. Dari hasil analisis statistik ditemukan bahwa Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara konsep diri terhadap prestasi belajar siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 2 Malang, dengan artian bahwa semakin tinggi konsep diri yang dimiliki siswa maka semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Peneliti menyampaikan saran kepada (1) siswa agar memiliki konsep diri yang baik karena Prestasi belajar yang tinggi akan memberikan kontribusi yang sangat baik dalam kehidupan. (2) Diharapkan guru dapat mengerti akan siswa yang memiliki prestasi belajar yang rendah, sehingga dapat membantu dalam proses hasil belajar untuk menjadi lebih aktif dari sebelumnya.

Efektivitas teknik sosiodrama untuk meningkatkan empat siswa sekolah menengah pertama / Dian Pujiastuti

 

Kata Kunci: teknik sosiodrama, empati Empati saat ini sulit ditemukan dalam diri seseorang, hal ini karena seiring dengan era globalisasi dan teknologi yang canggih membuat siswa terlena, teknologi membentuk siswa menjadi makhluk individual. Berkurangnya kemampuan berempati yang ditunjukkan siswa di lingkungan sekolah antara lain adalah kebiasaan mengejek teman-temannya yang terkadang sebagai pemicu perekelahian. Bimbingan dan konseling berperan penting dalam mengatasi masalah empati, melalui salah satu teknik dalam bimbingan dan konseling yaitu teknik sosiodrama. Dalam hal ini teknik sosiodrama merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan empati siswa SMP. Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik sosiodrama untuk meningkatkan empati siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi guru dan konselor mengenai salah satu layanan yang efektif untuk meningkatkan empati pada siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre experimental design dengan jenis One Group Pretest and Posttest design. Eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok tanpa kelompok pembanding. Pelaksanaan rancangan penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan perlakuan kepada sekelompok individu berupa skala empati, treatment berupa sosiodrama, dan posttest berupa skala empati. Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 5 Malang kelas VII.1 yang memiliki empati rendah dan berjumlah 13 orang siswa. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan uji beda wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik sosiodrama efektif untuk meningkatkan empati siswa SMP. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan skor empati kelompok eksperimen setelah diberikan treatment dengan menghasilkan nilai wilcoxon sebesar (z = -3.182a ) dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,001 pada derajat signifikan <0,05. Dasar pengambilan keputusan adalah jika probabilitas <0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada perbedaan skor empati sebelum dan sesudah treatment. Dari hasil penelitian maka dapat disarankan agar: 1) Konselor dapat membantu siswa untuk meningkatkan empati dengan menggunakan teknik sosiodrama dan dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti: kesiapan konselor, kesiapan siswa, ketersediaan waktu, memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai teknik sosiodrama, konselor juga hendaknya memperhatian beberapa hal mengenai sosiodrama seperti: tema dan skenario sosiodrama, alur cerita, adegan dan bahasa. 2) peneliti selanjutnya dapat meneliti efektivitas teknik sosiodrama untuk meningkatkan empati siswa SMP dengan menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding, sehingga hasil yang diperoleh akan lebih sempurna.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran murder di kelas IV SDN Turi I Kecamatan Sukorejo Kota Blitar / Masnawi Goulap

 

Goulap, Masnawi. 2012. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran MURDER di Kelas IV SDN TURI I Kecamatan sukorejo Kota Blitar Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dra. Widayati, MH, (II) Dra. Hj. Lilik Bintartik M.Pd. Kata Kunci : hasil belajar, IPS, MURDER Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Turi 1, dketahui terdapat beberapa permasalahan, antara lain: (1) pembelajaran tidak di awali dengan apersepsi dan siswa tidak mendapat informasi materi serta informasi tujuan pembelajaran; (2) siswa secara pasif menerima pengetahuan tanpa mengungkapkan pendapat; (3) pembelajaran terkesan abstrak dan teoritis; dan (4) guru belum memanfaatkan lingkungan sekitar atau media lainnya untuk menyampaikan materi. Permasalahan tersebut menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Hanya ada 14 siswa (46,67%) yang tuntas belajar dan ada 16 siswa (50%) yang belum tuntas belajar. Dan belum mencapai standar ketuntasan belajar klasikal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran MURDER dalam pembelajaran IPS dan untuk mengetahui apakah model pembelajran MURDER dapat meningkatkan hasil belajar IPS di Kelas IV SDN Turi 1Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang tiap siklusnya terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran MURDER pada pembelajaran IPS telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Turi 1. Hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari pratindakan dengan ketuntasan belajar klasikal 46,67 % yang menjadi 63,63% pada siklus 1 pertemuan 1. Pada pertemuan 2 meningkat menjadi 50%, dan pada pertemuan 3 mencapai 53,33%. Pada siklus 2 pertemuan 1 ketuntasan belajar klasikal sebesar 60% dan pertemuan 2 mencapai 80 %. Pembelajaran dinyatakan tuntas pada siklus 2 pertemuan 2 karena ketuntasan klasikal telah mencapai lebih dari 70 % yaitu sebesar 80%. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran MURDER dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Turi 1 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat meningkatkan hasil belajar IPS di kelas IV SDN Turi 1 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar.

Penggunaan tempe dalam pembuatan cookies / Hamidah Insani

 

Kata Kunci : Tempe, cookies Cookies adalah salah satu jenis snack ukuran kecil yang banyak digemari di Indonesia dengan tekstur yang renyah. Selain mudah dan cepat dalam pembuatannya cookies ini sangat beragam dan hampir semua jenis cookies bahan utamanya adalah terigu. Tujuan penggunaan tempe dalam pembuatan cookies adalah untuk menambah protein, lemak, dan karbohidrat. Cookies tempe adalah makanan ringan dengan kualitas rasa yang baik dengan kandungan gizi yang baik pula. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji hedonik atau uji kesukaan. Uji hedonik dilakukan untuk tingkat kesukaan panelis terhadap penggunaan tempe dalam pembuatan cookies yang meliputi warna, rasa, tekstur. Panelis yang digunakan untuk uji hedonik sebanyak 30 orang. Hasil dari uji kesukaan penggunaan tempe dalam pembuatan cookies, 40% panelis menyatakan agak suka terhadap warna, 56,7% panelis menyatakan agak suka terhadap rasa, 50% panelis menyatakan biasa saja terhadap tekstur. Saran dapat menambah variasi produk yang berasal dari tempe, dan penelitian dapat dijadikan referensi baru dalam mengembangkan pemanfaatan sumber pangan yang baru serta sebagai pengayaan materi kuliah pastry.

Perancangan pop-up book "Ayo Mengenal Pancasila" untuk anak sekolah dasar / Indah Yuniarti

 

Kata Kunci: perancangan, pop-up book, Pancasila, anak sekolah dasar Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Pancasila diajarkan sejak jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pancasila yang merupakan mata pelajaran teori, kurang menarik bagi siswa kelas 1-3 SD, sehingga dibutuhkan media yang mampu memberikan pengetahuan tentang Pancasila secara praktis dan menarik, salah satunya melalui pop-up book. Model perancangan yang digunakan adalah model prosedural yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan akan perancangan ini, yaitu diawali dengan mengumpulkan data-data melalui observasi dan wawancara pada target audience dan target market, menganalisa data-data yang sudah terkumpul serta solusi pemecahan masalahnya. Tahap selanjutnya membuat konsep perancangan yang terdiri atas pop-up book “Ayo Mengenal Pancasila” untuk anak Sekolah Dasar dan media promosi berupa pameran launching produk yang diselenggarakan di toko-toko buku dan Sekolah Dasar di kota Malang, kemudian mulai pada tahap proses perancangan dan yang terakhir menghasilkan desain final yang mampu menjawab permasalahan. Perancangan ini bertujuan menghasilkan pop-up book “Ayo Mengenal Pancasila” untuk anak Sekolah Dasar, yang kontennya berdasarkan adaptasi dari contoh kegiatan-kegiatan siswa pada buku pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas 1-3, serta media pendukung dan promosi berupa puzzle Pancasila sebagai bonus, leaflet, poster, sticker, maskot, kemasan dan x-banner. Pop-up book ini berisi 6 orang tokoh karakter anak Sekolah Dasar dari beberapa daerah di Indonesia yang mewakili 6 agama di Indonesia. Pop-up book ini menggunakan gaya ilustrasi vector dengan warna-warna cerah sesuai karakter anak-anak. Teknik pop-up yang digunakan adalah teknik Scenery Flat.

Inovasi produk sereal dengan subtitusi tepung kacang merah / Riske Dwi Jayanti

 

Kata Kunci: Sereal, Kacang Merah, Uji Kesukaan Produk Sereal merupakan salah satu makanan alternatif siap saji yang dapat dibuat dari biji gandum, beras, dan oat. Produk sereal biasanya dimakan dengan menggunakan susu sapi, susu kedelai, yoghurt dan buah. Pemanfaatan kacang merah dalam pembuatan produk sereal bertujuan untuk mendapatkan formulasi yang tepat dan mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap produk sereal kacang merah. Uji coba formulasi produk sereal kacang merah dilakukan sebanyak 2 kali. Uji hedonik produk sereal kacang merah dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap warna, rasa, tekstur dan konsistensi produk sereal kacang merah. Hasil formulasi produk sereal kacang merah yang tepat adalah formulasi yang ke-2 yaitu dengan subtitusi tepung kacang merah sebanyak 30 gram. Hasil dari uji kesukaan terhadap warna produk sereal kacang merah yaitu sebanyak 40% panelis menyatakan suka, 56,6% panelis menyatakan suka terhadap rasa produk sereal dan sebanyak, 40% panelis menyatakan suka terhadap tekstur produk sereal kacang merah. Hasil uji kesukaan terhadap warna produk sereal kacang merah yang diseduh dengan susu sebanyak 46,6% panelis menyatakan suka, sebanyak 60% panelis menyatakan suka terhadap rasa produk sereal kacang merah yang diseduh dengan susu dan hasil uji konsistensi sebanyak 43,3% panelis menyatakan suka.

Penerapan model pembelajaran siklus dengan menggunakan media yang sesuai untuk meningkatkan proses dan hasil belajar kompetensi membuat hiasan pada busana di SMKN 5 Malang / Erni Budiarti

 

Erni Budiarti. 2012. The Implementation of Cyclic Learning Model Use Appropriate Media to Improve Learning Process and Result of Openwork Competency in SMKN 5 Malang. Final Academic Assignment. Study Program S1 Dressmaking Education. Faculty of Engineering. State University of Malang. Advisor (I) Dra Hapsari Kusuwardani, M.Pd. Advisor (II) Dra Dwi Astuti Sih A, M.Kes. Keywords : Learning Cycle, Appropriate Media, Learning Process and Result, Openwork Competency Teacher is the key to successful learning process and result in in-class learning activities. The teacher should be an ideal person that give good example and guidance in all of activities and scientific application for the students in the school. A teacher should have an accurate knowledge on his/her subject. He/she also should take appropriate action when problems occur in the learning process. Then, a teacher must be professional in his/her job as educator. One of activities to enhance the professionalism of the teacher is Class Action Research (PTK, Penelitian Tindakan Kelas) to solve the problems in learning process and when the result of study is not as expected as the expectation of the teacher. Based on observation conducted by researcher on the learning process to improve openwork competency in SMKN 5 Malang, it known that the learning process and the result of study og openwork competency was not as expected by teacher. The students did not reach Minimal Accomplishment Criteria (Kriteria Ketuntasan Minimal, KKM). As specified by Competency Standard (SK) in syllabus, the KKM is 7,78 and the students failed to achieve it. Based on the problem, as a teacher, the researcher try to implement learning cycle model to improve learning process and the result of study of openwork competency. The objective of the reserach is to descrive learning cycle model use appropariate media, that is pictures media, fragment media, and final product media to improve the learning process and the result of study of openwork competency in SMKN 5 Malang Academic Year 2012 – 2013. This research use descriptive approach in which the researcher collected qualitative and quantitative data. The research is belong class action research (PTK) with as its subject the 2nd class 3rd semester students in SMKN 5 Malang. Data is gathered by (1) observation, used to observe teacher and students activities during learning process, (2) field notes, use to complete unrecorded data in observation sheet, (3) The result of practice tests to know the result of practice learning in the end of learning cycle, (4) The result of written tests to know the result of theoretical learning process in the end of learning cycle. There are two kinds of data in the research, qualitative and quantitative data. Qualitative data is analyzed by data analysis techniques consist of data reduction, data presentation, and inference. Quantitative data is analyzed by find its mean value and percentage. The results of achievement in cycle I are: (1) the successful percentage of the student activities based on observation is 75,7% (2) the successful percentage of the learning management by teacher based on observation is 81,3% (3) the successful percentage of the result of practice tests of the students is 36,7% (4) the successful percentage of the the result of theoretical tests of the student is 63,3%. Those cylce I data is not as expected. The results of achievement in cycle II are: (1) the successful percentage of the student activities based on observation is 87,5% (2) the successful percentage of the learning management by teacher based on observation is 92,4% (3) the successful percentage of the result of practice tests of the students is 70% (4) the successful percentage of the the result of theoretical tests of the student is 80%. There is an improvement in the cycle II compared with the cycle I, but it is not enough. The results of achievement in cycle III as the final cycle are: (1) the successful percentage of the student activities based on observation is 93% (2) the successful percentage of the learning management by teacher based on observation is 95,4% (3) the successful percentage of the result of practice tests of the students is 90% (4) the successful percentage of the the result of theoretical tests of the student is 100%. Those result showed that there is improvement in learning cycle III and its result better than the results in cycle I and II. However, the teacher should develop learning model to improve the learning process to achieve better results in the near future. Based on the results of the research, it is concluded that ‘The Implementation of Cyclic Learning Model Use Appropriate Media to Improve Learning Process and Result of Openwork Competency in SMKN 5 Malang’ is succeeded in improving learning process and the result of study of 2nd 3rd semester students academic year 2012-2013.

Peningkatan kemampuan berbicara melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar / Fransiskus Waitaby

 

Kata kunci : kemampuan berbicara, CTL dan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar (SD). Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Berdasarkan hasil observasi, guru masih menggunakan metode ceramah sehingga siswa merasa bosan dan malas untuk belajar, guru kurang telaten membiasakan siswa untuk selalu berkomunikasi lisan. Hal tersebut menjadi penyebab belum memaksimalkan kemampuan berbicara siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai peningkatan kemampuan berbicara melalui pendekatan CTL pada siswa kelas IV. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran berbicara melalui pendekatan CTL pada siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar, dan (2) mendiskripsikan penerapan pendekatan CTL yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa. kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode ini diharapkan mampu membantu peneliti dalam menentukan data yang layak dan dapat membantu peneliti dalam menemukan hal baru dalam dunia pendidikan. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi, dan refleksi. Pengumpulan data tentang penelitian didapat melalui angket, pedoman observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa pada tahap pratindakan keterampilan berbicara siswa kelas IV SDN Tanggung 1 sangat kurang 0%. Setelah dilakukan perbaikan melalui siklus I, hasil pembelajaran siswa meningkat dan ketuntasan siswa mencapai 45%. Kemudian setelah dilakukan perbaikan melalui siklus II hasil pembelajaran siswa meningkat dan ketuntasan siswa mencapai 78,8%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CTL terbukti dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SDN Tanggung 1 Kota Blitar. Oleh karena itu, disarankan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, guru menguasai dan mampu menerapkan pendekatan CTL karena mampu mengajak siswa untuk menemukan masalah dan mencoba untuk memecahkannya, serta menjadikan siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran.

Uapaya pembinaan disiplin guru untuk meningkatkan prestasi guru di lingkungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Nganjuk / Lukman Agus Kartiko

 

Pengembangan game 2 dimensi "The Bugs Hunter" menggunakan flashdevelop berbasis open source flixel library untuk personal komputer dan android / Anisa Aprilia

 

Aprilia, Anisa. 2012. Pengembangan Game 2 Dimensi The Bugs Hunter” Menggunakan Flashdevelop Berbasis Open Source Flixel Library Untuk Personal Komputer dan Android. Skripsi. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pemimbing (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T. Kata kunci: Game, Lingkungan, Flashdevelop, Flixel Library, Open Source Malang, memiliki predikat kota bunga. Kepedulian masyarakat pada lingkungan dibutuhkan untuk agar lingkungan nyaman. Oleh karena itu, diperlukan media untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan. Media tersebut berupa game bertema lingkungan. Game dapat dirancang dari berbagai software. Software yang sesuai yang memiliki fasilitas yang dibutuhkan dan gratis. Salah satunya dengan menggunakan Flashdevelop, keunggulan yang utama adalah gratis dengan fasilitas yang lengkap dan dapat dipadukan dengan Flixel source code library. Metode Pengembangan ini menggunakan model 5D, define, data, desain, develop, dan disseminate. Tahap define disimpulkan dibutuhkan media agar pengguna dapat meningkatkan kepedulian lingkungan. Game engine yang sesuai adalah menggunakan Flashdevelop open source yang dipadukan dengan Flixel source code library. Tahap Data digunakan sebagai dasar penyusunan konsep dan desain game dan teknik programming. Tahap desain menyusun game secara konsep dan teknis. Tahap Develop menvalidasi game pada ahli materi, ahli media, dan ahli informatika yang selanjutnya diuji coba oleh pengguna. Tahap disseminate adalah proses produk game disebarluaskan pada audiens melalui pameran dan proses unggah ke internet. Validasi dan uji coba terhadap produk mendapatkan nilai 95% dari ahli informatika, 81% dari ahli materi, 86% dari ahli media, dan 90% dari hasil uji coba. Selain itu dari validasi dan ujicoba disimpulkan dibutuhkan beberapa revisi. Revisi ahli media meliputi perubahan tampilan user interface menu utama, penyesuaian musik pada level 1, target nilai yang berbeda, , merapikan outline background pada level 3. Ahli materi, revisi meliputi perbaikan ejaan dan kesalahan penulisan, penambahan properti pada setting area game. Dari ahli informatika agar meningkatkan kemampuan programming basis GUI. Sedangkan dari hasil uji coba pada audiens didapatkan revisi jarak tiles map pada beberapa level sulit dijangkau. Karya skripsi menghasilkan produk berupa game 2 dimensi untuk personal komputer dan Android. Game dirancang melalui game engine Flashdevelop yang dikombinasikan dengan Flixel source library bertema adventure side scrolling dengan eksistensi SWF dapat dijalankan melalui Flash Player 10.1, dan eksistensi APK untuk Android dapat dijalankan pada perangkat telepon selular dengan operating system Android Ginger Bread versi 2.3 dengan Flashplayer 10.1.

Pengaruh dampak kota vokasi, motivasi kerja, dan kinerja guru terhadap prestasi Sekolah Menenganh Kejuruan (SMK) swasta si Kota Malang / Setiyo Budiono

 

Budiono, Setiyo, 2012, Pengaruh Dampak Kota Vokasi, Motivasi Kerja, Dan Kinerja Guru Terhadap Prestasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta diKota Malang.Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing I: Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd, Pembimbing II: Drs. WahyuSaktiGunawanIriantoM.Kom. Kata kunci: dampak kota vokasi, motivasi kerja guru, kinerja guru, prestasi SMK swasta. Pengembangan sebuah kota vokasi/kota pendidikan kejuruan dimaknai agar daerah/kota tersebut berkembang menjadi pusat pembelajaran pendidikan kejuruan, penyedia tenaga kerja yang berkualitas serta sebagai pusat produksi barang dan jasa. Dan SMK swasta di kota Malang adalah salah satu pilar utama bersama masyarakat vokasi yang ada. Dengan berkembangnya kota vokasi diharapkan berdampak maju dan meningkatnya prestasi SMK swasta tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk:1) mendeskripsikanbesarnyahubunganlangsungantaradampakkotavokasidengankinerja guru SMK swastadi kota Malang, 2) untukmendeskripsikanbesarnyahubunganlangsungantaradampakkotavokasidenganprestasi SMK wasta di kota Malang, 3) untukmendeskripsikanbesarnyahubunganlangsungantaramotivasikerja guru dengankinerja guru SMK swasta di kota Malang, 4) untukmendeskripsikanbesarnyahubunganlangsungantaramotivasikerja guru denganprestasi SMK swasta di kota Malang, 5) untukmendeskripsikanhubunganlangsung yang signifikanantarakinerja guru denganprestasi SMK swasta di kota Malang. Penelitian ini dilakukan di SMK swasta kota Malang dengan responden guru-guru berjumlah 115 orang sebagai sampelnya. Pengambilan data dilaksanakan dengan menggunakan angket dengan skala linkert dan analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif, analisa jalur (path analisis) serta pengembangan regresi ganda. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) ada hubunganlangsung yang positifdansignifikanantaradampakkotavokasidengankinerja guru SMK swasta di kota Malang. Hal iniberartibahwadampakkotavokasimempunyaihubunganpositif yang signifikandenganvariabelkinerja guru SMK swasta, danvariabeldampakkotavokasidapatmemprediksikanvariabelkinerja guru SMK swasta di kota Malang, 2) tidakadahubunganlangsung yang positifdansignifikanantaradampakkotavokasidenganprestasi SMK swasta di kota Malang. Hal ini berarti bahwa dampak kota vokasi tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi SMK swasta dan variabel prestasi SMK swasta tidak dapat diprediksikan dengan variabel dampak kota vokasi. 3) ada hubunganlangsung yang positifdansignifikanantaramotivasikerja guru dengankinerja guru SMK swasta di kota Malang.Hal ini berarti bahwa motivasikerja guru mempunyai hubungan yang signifikan dengan kinerja guru SMK swastadan variabel kinerja guru SMK swastadapat diprediksikan dengan motivasikerja guru, 4) adahubunganlangsung yang positifdansignifikanantaramotivasikerja guru denganprestasi SMK swasta di kota Malang.Hal ini berarti bahwa motivasikerja guru mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi SMK swasta dan variabel prestasi SMK swastadapat diprediksikan oleh variabel motivasikerja guru, 5) ada hubunganlansungdansignifikanantarakinerja guru terhadapprestasi SMK swasta di kota Malang.Hal ini berarti bahwa kinerja guru mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi SMK swastadan variabel prestasi SMK swastadapat diprediksikan oleh kinerja guru.

Pengembangan media pembelajaran apresiasi seni budaya melalui modul museum seni rupa Sampurno tingkat SMP kelas VIII di Kediri / Amalia Nur Hadi

 

Hadi, Nur, Amalia. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran Apresiasi Seni Budaya Melalui Modul Museum Seni Rupa Sampurno Tingkat SMP Kelas VIII di Kediri. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Ida Siti Herawati, M.Pd, (II) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd Kata Kunci : media, apresiasi, modul, museum sampurno, SMP. Di tingkat SMP, pembelajaran apresiasi mempunyai kompetensi dasar yang harus dilaksanakan di VIII. Dan kompetensi dasar yang harus ditempuh yaitu menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik seni rupa murni daerah setempat. Untuk memperkenalkan siswa tentang seni rupa murni daerah setempat di daerah kediri, maka perlu memperkenalkan museum seni rupa Sampurno. Sehingga perlu adanya suatu media pembelajaran apresiasi SMP kelas VIII yang dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran apresiasi seni. Sehingga pembelajaran apresiasi seni rupa dapat dilaksanakan dengan mudah dan terarah. Modul yang disusun merupakan pengembangan media pembelajaran Apresiasi Seni Budaya di Museum Seni Rupa Sampurno Tingkat SMP di Kediri. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah mengembangkan modul museum seni rupa Sampurno yang dapat membantu siswa tingkat SMP, dalam pembelajaran apresiasi, pada mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa . Model yang digunakan dalam pengembangan modul ini adalah model konseptual, yaitu model yang bersifat analitis yang memberikan komponen-komponen modul yang akan dikembangkan, sedangkan prosedur yang digunakan dalam uji coba pengembangan ini meliputi tiga tahap yaitu, tahap persiapan, penyusunan, validasi dan uji coba. Selanjutnya, data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah data kuantitatif, yaitu hasil validasi modul, hasil tugas belajar siswa dan data kualitatif, yaitu berupa angket. Berdasarkan hasil analisis data hasil validasi, skor nilai rata-rata ahli media 2,96 dan ahli materi 2,66 sedangkan guru bidang studi 2,93 dengan tingkat kelayakan L yang berarti layak bahwa modul sudah sesuai sehingga modul dinyatakan Layak untuk diujicobakan dengan beberapa revisi. berdasarkan hasil analisis data uji coba, yaitu hasil tugas apresiasi dari 8 siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) bahkan diatas KKM yaitu 82 dan dari analisis angket siswa dengan skor 3,21 dengan tingkat kelayakan Sangat layak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa modul dapat diterima siswa dan sangat layak untuk digunakan sebagai salah satu sumber pembelajaran apresiasi SMP kelas VIII.

A study of pronunciation problems in teaching songs faced by kindergarten teachers at TK Aisyiyah 18 Bustanul Athfal Malang / Asmaul Chusna

 

Key words: masalah pelafalan, pengajaran lagu, taman kanak-kanak. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang masalah yang dihadapi guru TK dalam pembelajaran lagu dengan menjawab rumusan masalah: Apa saja masalah pelafalan yang dihadapi guru TK dalam pembelajaran lagu? Apa saja masalah pelafalan yang dihadapi siswa TK dalam menyanyikan lagu? Apa saja strategi guru untuk mengatasi masalah-masalah tersebut?. Kajian ini menggunakan model deskriptif-kualitatif karena terbatas untuk mengetahui masalah pelafalan dalam pengajaran lagu. Penelitian telah dilaksanakan di TK Aisyiyah 18 Bustanul Athfal Malang. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas A, kelas B dan kepala sekolah. Penelitian juga menggunakan angket, catatan, dan wawancara sebagai alat untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Semua data telah dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan analisis dan pengumpulan data, hasil penelitian ini dapat dideskripsikan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa masalah pelafalan dalam pengajaran lagu yang dialami oleh guru TK terjadi pada saat melafalkan kata “h” /eItʃ/ menjadi /eIt/, “nose” /nouz/ menjadi /nuz/, “mouth” /mauθ/ menjadi /muθ/ dan “hear” /hıə/ menjadi /hər/. dalam melafalkan stress pada kata “blessing”/'bles׀η/ menjadi /bles׀η'/ dan pada kata “Indian”/'׀nd׀ən/ menjadi /׀nd׀ən'/. Guru juga mengalami masalah pada pemilihan lagu dan tahap-tahap yang digunakan. Terlebih lagi, terdapat kesalahan tulisan fonetik dalam buku ajar dan tidak terdapat tulisan fonetik pada lagu-lagu lain. Masalah-masalah tersebut membuat guru menyanyikan lagu hanya berdasarkan perasaan dan membuat beberapa kesalahan pelafalan. Bagaimanapun juga, masalah yang dihadapi oleh guru berimbas pada murid. Pada saat itu, murid mengikuti palafalan yang dicontohkan oleh guru. Oleh karena itu, ketika guru melakukan kesalahan, murid juga mengikuti. Terlebih berdasarkan pada penelitian kelas, murid-murid hanya semangat ketika lagu-lagu tersebut menggunakan gerakan tubuh dan guu menggunakan media untuk mengajar. Selanjutnya, guru mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi masalah dengan menggunakan media pembelajaran, mengulang-ulang dalam menyanyikan lagu, mengganti lagu dengan lagu yang sesuai untuk anak-anak, mendengarkan lagu dari berbagai sumber, dan melatih siswa untuk melafalkan dengan benar. Saran ditujukan kepada: guru TK Aisyiyah 18 Bustanul Athfal Malang dan peneliti selanjutnya. Disarankan kepada guru Aisyiyah 18 untuk mencari tulisan fonetik, meningkatkan pengetahuan dan lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Dalam memilih lagu yang digunakan, guru hendaknya memiliki beberapa pertimbangan yang berhubungan dengan karateristik dan minat anak. Ahirnya, saran juga ditujukan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan masalah pelafalan yang dihadapi oleh guru dalam mengajar lagu di sekolah lain.

Studi survei sarana dan prasarana laboratorium teknik mekanik otomotif di SMK Negeri I Udanawu Kabupaten Blitar / Joko Trilaksono Hadi

 

Kata kunci: Laboratorium, Sarana dan Prasarana, Teknik Mekanik Otomotif Kelengkapan sarana dan prasarana praktik merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan formal terutama sekolah kejuruan (SMK). Ketidak lengkapan sarana dan prasarana memberi dampak pada kurang efektifnya pembelajaran, dan penurunan kualitas skill lulusan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan kesesuain dari sarana dan prasarana laboratorium teknik mekanik otomotif dengan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah, serta usaha-usaha pemenuhan standar sarana dan prasarana yang dilakukan oleh SMK Negeri 1 Udanawu Kabupaten Blitar. Untuk laboratorium teknik mekanik otomotif sendiri, terdiri dari area kerja mesin otomotif, area kerja chasis dan pemindah tenaga, area kerja kelistrikan otomotif, dan juga ruang penyimpanan dan instruktur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survey, kuantitatif dan kualitatif dengan analisis deskriptif menggunakan skala bertingkat (rating scale). Untuk tingkat kesesuaian sarana dari laboratorium teknik mekanik otomotif masing-masing area sebagai berikut area kerja mesin otomotif tingkat kesesuaiannya hanya 54,6%, area kerja chasis dan pemindah tenaga 47,7%, dan area kerja kelistrikan otomotif mencapai 60,6%, sedangkan untuk ruang penyimpanan dan instruktur hanya 36 %. Sedangkan dengan prasarana ruang pada masing-masing area kerja laboratorium teknik mekanik otomotif tersebut yaitu pada area kerja mesin otomotif tingkat kesesuaiannya hanya 25%, area kerja chasis dan pemindah tenaga 28,7%, dan area kerja kelistrikan otomotif juga hanya 25%, sedangkan untuk ruang penyimpanan dan instruktur mencapai 67,5 %. Sekolah melakukan berbagai usaha untuk memenuhi standar sarana dan prasarana yang ada khususnya laboratorium teknik mekanik otomotif, usaha- usaha tersebut meliputi pengajuan proposal dana ke pemerintah pusat maupun daerah, guru-guru diminta untuk mencatat kekurangan sarana yang dibutuhkan sampai menggerakan siswa dalam pembuatan trainer-trainer untuk praktikum. Berdasarkan hasil penelitian diketahui sarana dan prasarana laboratorium teknik mekanik otomotif masih belum mencapai angka 100%. Hal ini dikarenakan sekolah masih belum terlalu lama berdiri sehingga pemenuhan sarana dan prasarana masih dalam tahap proses. Untuk itu dapat disarankan bagi kepala sekolah dan pihak jurusan otomotif untuk saling berkomunikasi dan saling membantu agar sarana dan prasarana khususnya laboratorium teknik mekanik otomotif segera dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan pemerintah melalui BSNP maupun Permendiknas No 40 Tahun 2008.

Optimalisasi penerapan metode diskusi untuk meningkatkan kecakapan sosial mahasiswa PGSD peserta kuliah konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial sekolah dasar / Nihayati

 

Perancangan media promosi pada objek wisata Candi Penataran / Catra Yudha Pradana

 

Pradana, Catra Yudha, 2012. Perancangan Media Promosi Pada Objek Wisata Candi Penataran. Skripsi. Program Studi Desain Komunikiasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc. (2) Rudi Irawanto S.Pd, M.Sn. Kata kunci: perancangan, desain, media promosi, Candi Penataran Candi Penataran memiliki komplek percandian Hindu terbesar di provinsi Jawa Timur. Pengelolaan objek wisata ini dilakukan oleh Balai Pelestarian cagar Budaya Wilayah Kerja Jawa Timur yang berada di Trowulan, Mojokerto. Promosi yang dilakukan oleh pengelola candi sangat kurang, terlihat dari media yang digunakan untuk menginformasikan keberadaan candi hanya berupa brosur dan leaflet yang hanya ada di lokasi objek wisata Candi Penataran. Berdasarkan permasalahan tersebut, dibutuhkan media promosi yang informatif dan komunikatif yang digunakan untuk menginformasikan keberadaan Candi Penataran dan meningkatkan jumlah pengunjung. Perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural atau model perancangan yang bersifat deskriptif. Dimana perancang melakukan langkah-langkah yang ditempuh melalui pengumpulan data dan perancangan program menggunakan model perancangan Surianto Rustan. Hal tersebut meliputi kegiatan identifikasi masalah, pengumpulan data, identifikasi dan analisa data, sistesis, konsep perancangan, perancangan media, dan desain final. Untuk mendukung perancangan media promosi ini, strategi yang digunakan adalah analisis SWOT dan USP. Hasil perancangan media promosi Objek Wisata Candi Penataran ini adalah buku wisata, billboard, brosur, signboard, dan merchandise. Perancangan ini diharapkan dapat dilanjutkan hingga menghasilkan karya yang lebih lengkap dan mendalam karena potensi wisata pada Candi Penataran masih banyak lagi yang dapat dikembangkan untuk tujuan edukasi, pariwisata, religi maupun tujuan komersial.

Aplikasi parkir di Masjid Al-Hasyimi berbasis visual basic / Alif Bela Fitrianto

 

Kata Kunci : Aplikasi Parkir, Visual Basic, Microsoft Access. Semakin meningkatnya perkembangan sistem dalam bidang informasi dan pengetahuan sehingga dapat memudahkan manusia menyelesaikan masalah dengan dengan efisien. Hal ini yang mendorong ide pembuatan Aplikasi Parkir di Masjid Berbasis Visual Basic. Metode perancangan dilakukan dengan cara membuat DFD (Data Flow Diagram), ERD (Entity Relationship Diagram) dan menggunakan database Microsoft Accsess, Proses keluar masuk nomor kendaraan dan laporan pemasukan parkir setiap bulan. Untuk merancang sebuah aplikasi parkir yang berfungsi membantu memasukkan data nomor kendaraan tanpa harus menulis ulang data nomor kendaraan yang keluar secara otomatis akan muncul sehingga membantu petugas parkir mempercepat pencarian data serta akan muncul biaya yang dikenakan oleh musafir tergantung kendaraan yang di parkir. Hasil yang dicapai adalah suatu aplikasi parkir berbasis Visual Basic yang mempermudah proses menyimpan dan proses pencarian nomor kendaraan oleh petugas, dan design tampilan aplikasi yang dibuat semenarik mungkin. Sehingga petugas parkir tidak repot menulis di kertas untuk membuat laporan pemasukan parkir setiap bulan, karena aplikasi sudah dilengkapi dengan menu print. Kesimpulan dari penulisan tugas akhir ini adalah Aplikasi Parkir sebagai sarana penyimpanan data nomor kendaraan dan mempercepat kinerja petugas dalam proses perparkiran. Menu tampilan dan menu keluar menggunakan Visual Basic, sebagai pengolah database aplikasi parkir menggunakan program Microsoft Access.

Perancangan sistem informasi biodata mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Eka Januardi

 

Kata kunci : Perancangan Aplikasi, Pengolahan Biodata Mahasiswa Data mahasiswa merupakan hal yang penting disajikan secara tepat, akurat dan mudah dipahami serta sangat diperlukan sebagai acuan dalam menyajikan laporan. Biodata merupakan riwayat hidup singkat yang dimiliki seorang yang berupa daftar kepribadian seseorang tentang segala hal yang menyangkut diri pribadi sebagai identitas diri. Penggunaan perangkat komputer sebagai perangkat pendukung manajemen dan pengolahan data, dengan demikian penggunaan perangkat komputer dalam setiap informasi sangat mendukung sistem pengambilan keputusan. Dalam aktifitas membuat laporan pendataan mahasiswa Sub Bagian Pendidikan Fakultas Ilmu Keolahragaan belum menerapkan sistem komputerisasi secara optimal. Dalam menyajikan laporan tersebut penggunaan komputer hanya sebatas pengetikan seluruh data mahasiswa yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan menggunakan aplikasi Ms-Word dan Ms-Excel, sehingga didalam menghasilkan seluruh laporan yang akurat dan tepat relatif lama serta kurang lengkapnya laporan yang dihasilkan. Sistem Informasi Pendataan Biodata Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan ini terdiri dari , form login, form utama, form utama ini terdiri dari beberapa Button antara lain, form button entry data mahasiswa, form button print dan form button keluar, form login terdiri dari beberapa button antara lain, button reset password dan ganti password. Software yang digunakan Visual Basic 2008.Net sebagai pengolah database pendataan biodata mahasiswa FIK, program ini memakai aplikasi database Microsoft Access.

Pengaruh kacang hijau (Phaseolus radiatus) dan jenis starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan tekstur, rasa, aroma, dan kadar asam laktat sebagai bahan ajar biologi di SMP / Agustin Widiastuti

 

Kata Kunci: kacang hijau, starter, tekstur, rasa, aroma, dan kadar asam laktat bahan ajar biologi Kacang hijau ialah jenis kacang-kacangan yang terdapat hampir di seluruh Indonesia. Kacang hijau memiliki kandungan protein dan sumber mineral lain seperti kalsium dan fosfor yang diperlukan oleh tubuh. Pemanfaatan kacang hijau menjadi bahan olahan minuman probiotik yang berupa yoghurt merupakan upaya diversifikasi makanan. Yoghurt kacang hijau merupakan salah satu produk olahan sari kacang hijau yang diperoleh dari hasil fermentasi melalui aktivitas bakteri asam laktat. Salah satu materi pembelajaran Biologi di SMP ialah tentang Bioteknologi. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dirancang pembuatan bahan ajar Biologi khususnya tentang materi yoghurt kacang hijau sebagai salah satu macam minuman hasil fermentasi melalui penyusunan bahan ajar bentuk handout. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menguji pengaruh varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan tekstur yoghurt, (2) menguji pengaruh varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan rasa yoghurt, (3) menguji pengaruh varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan aroma yoghurt, (4) menguji pengaruh varietas kacang hijau terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan kadar asam laktat yoghurt, (5) menguji pengaruh jenis starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan kadar asam laktat yoghurt, (6) menganalisis pengaruh interaksi varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau berdasarkan kadar asam laktat yoghurt, dan (7) merancang hasil penelitian pengaruh varietas kacang hijau dan jenis Starter terhadap kualitas yoghurt kacang hijau sebagai Bahan Ajar Biologi di SMP. Jenis penelitian ini ialah penelitian eksperimen murni yang hasilnya diimplikasikan dalam bentuk bahan ajar Biologi berupa handout. Obyek penelitian ini terdiri dari tiga varietas kacang hijau, yaitu varietas Perkutut, varietas Sriti, dan varietas Vima 1 yang diperoleh dari BALITKABI Kab Malang.dan jenis starter yang terdiri dari Yakult dan Biokul. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 sampai dengan November 2012. Kualitas yoghurt ditentukan berdasarkan hasil uji organoleptik yang terdiri dari tekstur, rasa, aroma yoghurt yang dilakukan oleh 16 responden, dan kadar asam laktat yoghurt kacang hijau yang diuji dengan metode Titrasi. Teknik pengambilan data kadar asam laktat masing-masing perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Hasil penelitian untuk hasil uji organoleptik dianalisis menggunakan analisis varians tunggal, sedangkan untuk kadar asam laktat dianalisis dengan menggunakan analisis varians ganda. Bila F hitung lebih besar dari F tabel maka dilanjutkan dengan uji DMRT0,05. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) tidak ada pengaruh yang signifikan pada varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap tekstur yoghurt kacang hijau, (2) ada pengaruh yang signifikan pada varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap rasa yoghurt kacang hijau. Varietas Perkutut dan jenis starter Yakult memberikan pengaruh paling tinggi terhadap rasa yoghurt kacang hijau, (3) ada pengaruh yang signifikan pada varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap aroma yoghurt kacang hijau. Varietas Sriti dan jenis starter Yakult memberikan pengaruh paling tinggi terhadap aroma yoghurt kacang hijau, (4) ada pengaruh yang signifikan pada varietas kacang hijau terhadap kadar asam laktat yoghurt. Varietas Sriti memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kadar asam laktat yoghurt kacang hijau dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan varietas Vima 1 dan varietas Perkutut, (5) tidak ada pengaruh penambahan jenis starter terhadap kadar asam laktat yoghurt kacang hijau, (6) tidak ada pengaruh hasil interaksi antara varietas kacang hijau dan jenis starter terhadap kualitas berdasarkan kadar asam laktat yoghurt kacang hijau, dan (7) hasil penelitian diaplikasikan pada kegiatan pembelajaran di sekolah melalui penyusunan bahan ajar dalam bentuk Handout Biologi di SMP pada materi Bioteknologi. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan sebagai berikut, (1) kepada siswa pembuatan yoghurt kacang hijau dapat menambah wawasan tentang peranan bakteri asam laktat dalam proses fermentasi non alkoholik, (2) kepada masyarakat dapat membuat yoghurt dari kacang hijau sebagai alternatif diversifikasi minuman fermentasi yang bermanfaat bagi kesehatan sistem pencernaan, (3) kepada peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dengan menggunakan jenis biji-bijian yang berbeda seperti biji kacang kedelai, jagung atau kacang hijau varietas yang lain, diharapkan pula meneliti aspek gizi yang berbeda pada produk yoghurt kacang hijau.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |