Komunikasi informal dalam meningkatkan kualitas lulusan (studi multi kasus pada Sekolah Dasar Tawangalun Lor 01, Sekolah Dasar Tawangalun Lor 03, dan Sekolah Dasar Kepatihan 06 di Kabupaten Tawangalun) / Sri Handayani

 

Disertasi. Progran Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Ahmad Sonhadji, K. H. MA., Ph. D., (II) Prof Willem Mantja, M. Pd, (III) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M. Pd. Kata kunci : komunikasi informal, kualitas lulusan, sekolah dasar. Komunikasi dalam dunia pendidikan menjadi kunci yang cukup determinan dalam mencapai tujuan. Seorang guru, dosen, betapa pun pandai dan luas pengetahuannya, bila tidak mampu mengkomunikasikan pikiran, pengetahuan, dan wawasannya, tidak akan efektif menyampaikan transformasi pengetahuan kepada siswanya. Kegagalan komunikasi pendidikan lebih banyak di sebabkan salah satu komponen komunikasi baik komunikator maupun komunikan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kurangnya optimalisasi proses komunikasi yang sedang berlangsung berakibat tujuan pendidikan dan tujuan instruksional yang ditetapkan tidak tercapai atau gagal. Berdasarkan studi pendahuluan, dapat disimpulkan bahwa ketiga kasus memiliki karakter yang berbeda. Pada kasus pertama, status Sekolah Standar Nasional, terakreditasi A. Jumlah siswa : 1314. Proses komunikasi informal pada sekolah tersebut dilakukan secara langsung (tatap muka) dengan pola komunikasi sebagian besar termasuk komunikasi interaksional. Pada kasus kedua, status sekolah: Rintisan Standar Internasional (RSD-BI), terakreditasi A, jumlah siswa: 441. Sekolah dilengkapi oleh tehnologi informasi (TI), pembelajaran memanfaatkan multimedia. Proses komunikasi informal sebagian besar dilakukan secara tidak langsung. Pola komunikasi sebagian besar termasuk pola komunikasi interaksional. Pada kasus ketiga Sekolah Standar Nasional, jumlah siswanya 568 , terakreditasi A. Proses komunikasi informal dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pola komunikasi termasuk pola komunikasi interaksional. Fokus utama penelitian ini adalah peran komunikasi informal dalam meningkatkan kualitas lulusan. Fokus tersebut secara rinci adalah: (1) proses dan komponen-komponen komunikasi informal, (2) model atau pola-pola komunikasi informal, (3) peran komunikasi informal dalam meningkatkan kualitas lulusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Untuk memperoleh data, peneliti merupakan instrumen kunci datang langsung di lapangan untuk mendapatkan data melalui: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, dan (3) dokumentasi. Lokasi penelitian adalah: (1) SDN Tawangalun Lor 01, kasus 1, (2) SDN Tawangalun Lor 03 ( RSD-BI), kasus 2, dan SDN kepatihan 06, kasus 3. Analisis data dilakukan melalui dua tahap, yaitu : (1) analisis data kasus individu, (2) analisis data lintas kasus, dengan tehnik siklus komparatif konstan. Pengecekan keabsahan data dengan: credibility, dependability , dan confirmability. Tahapan penelitian ini adalah; perencanaan, memasuki lapangan, pengumpulan data, analisis data, menarik diri, dan penulisan laporan. Kesimpulan penelitian, pertama: proses dan komponen-komponen komunikasi informal pada tiga sekolah dasar malalui tiga tahapan yaitu: (1) penginterpretasian motif komunikasi, (2) penyandian, dan (3) pengiriman pesan. Adapun komponen-komponen komunikasi terdiri dari: (1) konteks, (2) komunikator, (3) pesan, (4) sistem pengantar, (5) komunikan, dan (6) umpan balik( feedback). Dua : proses komunikasi yang berlangsung di SDN Tawangalun Lor 01, banyak memanfaatkan komunikasi secara langsung. Pada SDN Tawangalun Lor 03, kasus 2, proses komunikasi informal sebagian besar dilakukan secara tidak langsung. Pada SDN Kepatihyan 06 , kasus 3, proses komunikasi dilakukan secara langsung dan tidak langsung dengan media telepon. Tiga: komunikasi antar warga sekolah, antara warga sekolah dengan pihak terkait dapat diklasifikasikan menjadi empat pola/model yaitu: (1) model komunikasi linier: komunikasi searah, komunikator menyampaikan pesan /informasi kepada komunikan, dan komunikan tidak memberikan feedback (umpan balik), (2) model komunikasi interaksional yaitu komunikasi dua arah antara komunikator yang menyampaikan pesan dan komunikan penerima pesan memberikan umpan balik, (3) model komunikasi sirkuler yaitu komunikasi dua arah dengan intensitas tinggi, komunikator dan komunikan mempunyai fungsi yang sama baik sebagai komunikator maupun komunikan, komunikasi seperti lingkaran. (4) model komunikasi transaksional, dalam berkomunikasi ada proses kooperatif, contohnya terjadi pada komunikasi antara kepala sekolah dengan komite sekolah pada kasus 1. Empat, oleh karena warga sekolah dan antara warga sekolah dengan pihak terkait dalam proses komunikasi secara langsung maupun tidak langsung memanfaatkan komponen-komponen komunikasi secara optimal, dan hanya menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan proses pendidikan dan pembelajaran, maka mutu lulusan dapat ditingkatkan. Berdasarkan hasil penelitian, disampaikan saran kepada: pertama, pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten, KepalaUPTD, Pengawas Sekolah, hendaknya memberdayakan komunikasi informal dengan proses yang sesuai, dan memanfaatkan komponen-komponen komunikasi secara benar untuk menyampaikan informasi penting agar kualitas lulusan dapat ditingkatkan. Kedua kepala sekolah sebaiknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan dalam menerapkan komunikasi informal untuk meningkatkan kualitas pendidikan maupun kualitas lulusan. Ketiga, guru sebagai ujung tombak untuk mencetak lulusan yang berkualitas sebaiknya memiliki komitmen tinggi, dengan cara, berkomunikasi secara optimal baik dalam pembelajaran di dalam kelas maupun diluar kelas. Keempat, orangtua siswa hendaknya berperan aktif untuk memotivasi putra- putrinya, memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan sekolah, dan menjalin hubungan harmonis dengan pihak sekolah dalam rangka keberhasilan dan kesuksesan putra-putrinya. Kelima, bagi peneliti lain, sebaiknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai salah satu bahan referensi yang bisa dikembangkan melalui penelitian lebih lanjut dengan pendekatan, subyek, lokasi, tema yang lain.

Analisis rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan ( studi pada KSU MAKMUR SEJATI periode 2005-2010) / Yossy Imam Candika

 

Kata Kunci: rasio keuangan, kinerja keuangan, KSU Makmur Sejati Koperasi perlu dibina secara profesional baik dalam bidang organisasi maupun dalam bidang mental dan usaha. Pengukuran kinerja koperasi diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk itu, maka koperasi harus mampu menilai kinerja keuanganya melalui rasio keuangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan dan tren KSU Makmur Sejati ditinjau dari aspek permodalan yang dinilai dari rasio modal sendiri terhadap total aset, kualitas aktiva produktif yang dinilai dari rasio volume pinjaman pada anggota terhadap volume pinjaman diberikan, efisiensi yang dinilai dari rasio beban usaha terhadap SHU kotor, likuiditas yang dinilai dari rasio kas dan rasio pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima, rentabilitas yang dinilai dari rasio rentabilitas aset dan rasio rentabilitas modal sendiri, serta aspek jasa simpanan anggota dan usaha yang dinilai dari rasio partisipasi bruto. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dengan alat perbandingan secara time series analysis. Subyek penelitian ini adalah KSU Makmur Sejati. Hasil analisis kinerja keuangan KSU Makmur Sejati selama periode tahun 2005-2010 menunjukkan bahwa kinerja keuangan koperasi ini cukup baik dan tren yang menurun dari aspek permodalan yang dilihat dari rasio modal sendiri terhadap total aset dan aspek jasa simpanan anggota dan usaha yang dilihat dari rasio partisipasi bruto. Kinerja baik dan tren yang menurun diperlihatkan pada aspek kualitas aktiva produktif yang dilihat dari rasio volume pinjaman pada anggota terhadap volume pinjaman diberikan, aspek efisiensi yang dilihat dari rasio beban usaha terhadap SHU kotor, aspek likuiditas yang dilihat dari rasio pinjaman diberikan terhadap dana diterima, dan aspek rentabilitas yang dilihat dari rasio rentabilitas modal sendiri. Sementara aspek likuiditas yang dilihat dari rasio kas memiliki kinerja buruk menunjukkan tren yang naik dan aspek rentabilitas yang dilihat dari rasio rentabilitas asset memiliki kinerja yang kurang baik menunjukkan tren yang menurun. KSU Makmur Sejati hendaknya dapat meningkatkan jumlah modal sendiri, menjaga jumlah kas, melakukan penghematan dalam beban usaha, dan meningkatkan penyaluran dana dalam bentuk kredit. Peneliti-peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah subyek penelitian.

Analisis penerapan keselamatan dan kesehatan kerja siswa SMK pada laboraturium pemesinan di SMK Se-Pasuruan / Bagas Surya Hadi

 

Kata Kunci : Keselamatan kesehatan kerja, SMK Pasuruan Pendidikan menengah kejuruan merupakan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk mampu bekerja dalam bidang tertentu, mampu beradaptasi di lingkungan kerja, mampu melihat peluang kerja, dan mampu mengembangkan diri dikemudian hari. Pendidikan di SMK berkatian erat dengan dunia industri terlebih dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja. K3 di bengkel pemesinan SMK di Pasuruan sangat mempengaruhi K3 di perindustrian Pasuruan, karena perindustrian Pasuruan sebagian besar menyerap tenaga kerja dari SMK di Pasuruan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara pemahaman siswa tentang K3, pemahaman guru tentang K3, kelengkapan fasilitas K3 dengan penerapan K3 siswa pada laboratorium pemesinan di SMK se- Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Data penelitian yang berupa angka-angka dalam skala likert ini diperoleh dari dari penelitian yang dilakukan ke SMK di Pasuruan. Pengumpulan data menggunakan teknik angket dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa angket pernyataan. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap validasi angket, uji normalitas, dan kemudian uji hipotesis. Hasil analisis ditemukan. Pertama, untuk variabel pemahaman siswa tentang K3 adalah thitung (2,504) > ttabel (2,042), maka Ada hubungan yang signifikan antara pemahaman siswa tentang K3 dengan penerapan K3 siswa di laboratorium SMK se-Pasuruan. Kedua, untuk variabel pemahaman guru tentang K3 adalah thitung (2,107) > ttabel (2,042), maka ada hubungan yang signifikan antara pemahaman guru tentang K3 dengan penerapan K3 siswa di laboratorium SMK se-Pasuruan. Ketiga, untuk variabel fasilitas K3 adalah thitung (2,209) >ttabel (2,042), maka ada hubungan yang signifikan antara fasilitas K3 dengan penerapan K3 siswa di laboratorium SMK se-Pasuruan. Keempat, dari hasil analisis data Fhitung (13,318) > Ftabel (2,92), dengan demikian terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman siswa tentang K3, pemahaman guru tentang K3 dan kelengkapan fasilitas K3 penerapan K3 siswa di laboratorium pemesinan SMK se-Pasuruan. Dari nilai Adjusted R-Square menunjukkan nilai sebesar 0,560 atau 56,0%. Artinya bahwa penerapan K3 oleh siswa dapat dijelaskan sebesar 56,0% oleh pemahaman siswa tentang K3, pemahaman guru tentang K3, dan kelengkapan fasilitas K3 sedangkan sisanya 44% dijelaskan oleh variabel lain di luar ketiga variabel bebas yang diteliti.

Meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa melalui model pembelajaran learning cycle kelas VIII D SMPN 8 Malang / Raka Pratama D.

 

Kata Kunci : keaktifan, model pembelajaran learning cycle Berdasarkan observasi awal dan wawancara informal dengan guru matematika kelas VIIID SMPN 8 Malang, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran matematika di kelas tersebut masih didominasi oleh guru sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil observasi awal peneliti, prosentase siswa yang aktif sebesar 35%, dengan kategori keaktifan berada dalam tahap “kurang baik”. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa adalah model pembelajaran learning cycle. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran learning cycle yang dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa. Dengan penelitian ini, diharapkan adanya solusi untuk masalah keaktifan belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dengan masing-masing siklus mencakup 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII D SMPN 8 Malang yang terdiri dari 43 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa meningkat melalui model pembelajaran learning cycle. Hal ini ditunjukkan dari hasil observasi yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus. prosentasi nilai rata-rata keaktifan siswa pada observasi awal adalah 35% dengan kategori “kurang baik”, dan siklus I adalah 43,25% dengan kategori “cukup baik”, kemudian meningkat pada siklus II sebesar 65,07% dengan kategori “baik”. Melalui pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran learning cycle, siswa menjadi lebih tertantang untuk memahami sendiri materi yang disampaikan. Rasa percaya diri siswa juga bertambah dalam menyampaikan jawaban dan pendapat saat diskusi kelas. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran semakin meningkat karena siswa merasa senang dan termotivasi dengan adanya pemberian reward bagi yang paling aktif dalam kelas.

Penerapan sistem nilai dalam budaya organisasi sekolah unggul studi (studi multi kasus pada tiga SMP di Kabupaten Banyuwangi / Manshur

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarja¬na Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Ahmad Sonhadji, K.H., M.A. Ph.D.,(II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (III) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata-kata kunci:sistem nilai, budaya organisasi, sekolah unggul, SMP Pada zaman global ini, maraknya berita diberbagai media yang memuat tentang kenakalan remaja, anak-anak, dan guru, orang tua semakin menyadari akan pentingnya pendidikan yang berkulitas bagi anak-anaknya, sekolah yang berkualitas dan berbasis nilai terus dicari dan sekolah yang mutunya rendah ditinggalkan. Orang tua tidak memperdulikan apakah sekolah negeri ataupun swasta. Kenyataan ini terjadi karena kebutuhan yang merata di setiap kota di Indonesia sehingga memunculkan sekolah-sekolah unggul berbasis nilai. Keunggulan suatu sekolah dipengaruhi berbagai variabel baik yang tampak maupun tidak tampak. Selama ini banyak pihak menjelaskan keunggulan sekolah hanya dilihat dari dimensi yang tampak, terutama perolehan nilai ujian akhir nasional dan kondisi fisik sekolah. Owens (1995) menegaskan bahwa dimensi yang tidak tampak yang mencakup nilai-nilai (values), keyakinan (beliefs), budaya dan norma perilaku, justru lebih berpengaruh terhadap kinerja individu. Penelitian ini bermaksud memperoleh gambaran lebih mendalam tentang penerapan sistem nilai dalam budaya sekolah unggul yang memiliki latar budaya organisasi yang berbeda, baik dari segi ni¬lai-nilai yang dianut maupun penye lenggaraannya, yaitu: (1) SMP Negeri 1 Banyuwangi, (2) SMP Kristen Aletheia Genteng, dan (3) SMP Bustanul Makmur Genteng.Fokus penelitian ini tertuju pada tiga hal, yaitu: a)Penerapan sistem nilai pengetahuan, mencakup (1) sistem nilai prestasi (2) sistem nilai mandiri, (3) sistem nilai disiplin, dan (4) sistem nilai keunggulan, b).Penerapan sistem nilai sosial, mencakup (1) sistem nilai kebebas an, (2). sistem nilai kesederhanaan dan kesahajaan, (3) sistem nilai kebersamaan dan persaudaraan, c).Penerapan sistem nilai agama, meliputi : (1). sistem nilai ibadah (2) sistem nilai kerendahan hati/tawaddu’. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ran¬cangan studi multi kasus. Orientasi yang digunakan pendekatan feno¬menologis dan pendekatan budaya, informan ditetapkan secara purposif. Teknik pengumpulan data meliputi: (1) wawan¬cara mendalam, (2) observasi partisipan, dan (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, melalui analisis dalam ka¬sus maupun analisis lintas kasus, guna menyusun konsep dan abstrak¬si temuan penelitian. Kredibilitas data dicek dengan prosedur trianggu¬Iasi, pengecekan anggota, diskusi teman se jawat. Sedangkan depen¬dabilitas dan konfirmabilitas dilakukan oleh para pembimbing seba¬gai dependent auditor. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan : Pertama penerapan sistem nilai pengetahuan dapat terwujud secara efektif(1) apabila terlaksanaVisi-misi, RKAS, pedoman mutu, iklim kondusif, input yang baik, menghargai aktivitas dan capaian, program pengembangan, remidi, evaluasi, mading, SDM, bimbingan belajar, paguyuban kelas,(2) apabila terwujudkebebasan, kejujuran, guru sebagai fasilitator, kelompok kerja, mandiri dan terampil,(3) jikamemiliki disiplin utuh reword, sangsi, kerohanian sesuai dengan agamamasing-masing,(4) apabila keunggulan merupakan kebutuhan dan tanggung jawab seluruh warga,belajar secara intensif, melebihi siswa lain, tambahan jam intensif, bilingual, peningkat kan kemampuan, Sejarahpositif sekolah, kemapanan,dukungan alumni, peng hargan terhadap eksistensi sekolah, rujukan studi banding,penerapan sistem aplikasi sekolah, Kedua,penerapan sistem nilai sosial dapat terwujud secara efektif (1) Jika terwujudkebebasanberpendapat, berkreasi berekspresi,dan menyampaikan kritik,menghargai keberagaman, agenda polling murni tanggung jawab siswa dalam memberikan apresiasi kepada guru, (2)apabila terlaksana PSB seleksi, peduli sosial, simpati kesederhanaan, mendidik, mengajarkan hidup sederhana, pelarangan membawa HP dan perhiasan mencolok, penyediakan telpon gratis,(3) Jikalau terwujud kebersamaan dan persaudaraan, saling tolong, saling bantu tercermin dalam kegiatan OSIS, PMR, pramuka, keagamaan, silaturrahim dan pemberian bantuan, Ketiga, Penerapan sistem nilai agamadapat terwujud secara efektif (1)apabila pelajaran didahuluidengan ibadah,baca kitab suci, renungan pagi, shalat dhuha,PBM dimulaidengan salam, doa, pelajaran inti, evaluasi, dan do’a penutup, (2) apabila moral menjadi penentu kenaikan dan kelulusan, menyambut dan menghormati siswa, diajarkan rendah hati, taat, dibekali training kecerdasan, diajarkan tentang makna hidup, supaya sabar tawakkal, menghormati yang lebih tua, menyapa secara santun & jabat tangan. Kepada beberapa pihak disarankan agar: (1). Bagi guru, karyawan, dan segenap pemangku kepentingan sekolah sebagai tambahan pengetahuan dan tambahan wawasan tentang pelak sanaan sistem nilai dalam budaya organisasi sekolah. (2) Bagi kepala sekolah, agar lebih efektif pelaksanaan sistem nilai supaya dipertimbangkan rasio tim pemantau baik guru agama maupun tim khusus yang lain, dan bagi yayasan merupakan masukan pertimbangan dalam perumusan kebijakan untuk penerapan strategi pelaksanaan dan pelestarian sistem nilai, serta meningkatkan produktifitas dan efektifitas belajar. (3) Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kementerian Agama Kabupateni Banyuwangi sebagai masukan, penerapan sistem nilai dalam budaya organisasi sekolah yang berhubungan dengan aspek: pengetahuan, sosial, maupun agama.(4) Bagi lembaga pendidikan persekolahan: secara konseptual dapat memperkaya teori manajemen pendidikan terutama yang berkaitan dengan penerapan sistem nilai dalam budaya organisasi sekolah yang bersifat homogen maupun yang heterogen. (5)Bagi peneliti-peneliti berikutnya dapat dijadikan acuan, untuk mengkaji lebih mendalam dengan topik dan fokus serta setting yang lain untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya temuan-temuan penelitian ini.

Pengaruh strategi pembelajaran, motivasi berprestasi, dan keterampilan berkomunikasi terhadap hasil belajar mata kuliah pengembangan media pembelajaran IPS di SD pada mahasiswa program studi PGSD / Edy Herianto

 

Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (III) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed. Kata kunci: strategi pembelajaran, motivasi berprestasi, keterampilan berkomunikasi, hasil belajar. Strategi pembelajaran kooperatif-investigasi kelompok adalah strategi pembelajaran inovatif yang membutuhkan keterlibatan aktif mahasiswa pada setiap aktivitas pembelajaran. Optimalnya keterlibatan aktif mahasiswa ditentukan oleh tingginya motivasi berprestasi dan keterampilan berkomunikasi. Motivasi berprestasi tinggi mengarahkan mahasiswa untuk mewujudkan harapannya agar berhasil sesuai tujuan. Keterampilan berkomunikasi tinggi mengarahkan mahasiswa dalam berinteraksi antarsesama yang memiliki kemampuan heterogen. Isu penting pembelajaran mata kuliah PMPIPS-SD adalah hasil belajar masih berupa kemampuan kognitif tingkat rendah (pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi). Isi pesan silabus mata kuliah belum diimplementasikan. Fokus strategi pembelajaran belum melibatkan peran aktif mahasiswa. Di samping itu, motivasi berprestasi dan keterampilan berkomunikasi antarmahasiswa yang memiliki kemampuan kognitif heterogen belum memperoleh perhatian. Mahasiswa belum memperoleh kesempatan untuk melakukan investigasi sebagai wahana pengembangan kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi. Secara teoretis investigasi kelompok merupakan wahana bagi mahasiswa untuk mengembangkan motivasi berprestasi dan keterampilan berkomunikasi antarsesama yang memiliki kemampuan yang heterogen, namun dosen pembina mata kuliah PMPIPS-SD belum mengetahui secara teknis implementasi strategi pembelajaran kooperatif-kelompok investigasi pada kegiatan pembelajaran sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah (1) membandingkan efektivitas penggunaan strategi pembelajaran (strategi kooperatif-investigasi kelompok (PK-IK) dan strategi pembelajaran nonkooperatif-diskusi kelompok (PN-DK)), motivasi berprestasi (tinggi dan rendah), dan keterampilan berkomunikasi (tinggi dan rendah) dilihat dari hasil belajar mahasiswa PGSD pada mata kuliah PMPIPS-SD serta (2) mengkaji interaksi antara strategi pembelajaran, motivasi berprestasi, dan keterampilan berkomunikasi terhadap hasil belajar mata kuliah PMPIPS-SD pada mahasiswa PGSD. Penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest nonequivalent control group design dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan di jenjang S1 Program Studi PGSD FKIP Universitas Mataram. Subjek penelitiannya adalah mahasiswa semester VI (2010/2011) berjumlah 200 orang yang sedang menempuh mata kuliah PMPIPS-SD. Pengumpulan data penelitian menggunakan (1) angket motivasi berprestasi hasil adaptasi dari Robinson terdiri dari 14 item, (2) angket keterampilan berkomunikasi disusun berdasarkan kisi-kisi konsep keterampilan berkomunikasi terdiri dari 15 item, dan (3) tes hasil belajar disusun berdasarkan kisi-kisi mata kuliah PMPIPS-SD terdiri dari 31 item bentuk pilihan ganda dan 5 item bentuk uraian. Data penelitian dianalisis dengan ANOVA tiga jalan melalui program SPSS 16,0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar mata kuliah PMPIPS-SD kelompok mahasiswa yang mendapat strategi PK-IK lebih tinggi dibandingkan dengan strategi PN-DK, (2) mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mempunyai hasil belajar lebih tinggi dari pada yang memiliki motivasi berprestasi rendah, (3) mahasiswa yang memiliki keterampilan berkomuniksai tinggi mempunyai hasil belajar lebih tinggi daripada yang memiliki keterampilan berkomunikasi rendah, (4) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mata kuliah PMPIPS-SD, (5) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dan keterampilan berkomunikasi terhadap hasil belajar mata kuliah PMPIPS-SD, (6) tidak ada interaksi antara motivasi berprestasi dan keterampilan berkomunikasi terhadap hasil belajar mata kuliah PMPIPS-SD, dan (7) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran, motivasi berprestasi, dan keterampilan berkomunikasi terhadap hasil belajar mata kuliah PMPIPS-SD. Berdasarkan temuan penelitian, dosen mata kuliah PMPIPS-SD disarankan menggunakan strategi PK-IK sebagai upaya mewujudkan hasil belajar pada ranah kognitif tingkat tinggi. Pada implementasi strategi PK-IK, dosen disarankan agar memperhatikan karakteristik mahasiswa, khususnya motivasi berprestasi dan keterampilan berkomunikasi, sehingga mahasiswa dapat terlibat aktif di setiap kegiatan investigasi yang akan membuahkan hasil belajar ranah kognitif tingkat tinggi.

Studi pelaksanaan balok dan kolom serta analisa biaya pada proyek pembangunan renovasi rumah sakit Lavalette Jl. WR Supratman no. 10 Malang / Rahman Sudarsono

 

Kata kunci: studi, pelaksanaan, analisa biaya, kolom, dan balok beton. Seiring dengan perkembangan zaman, dan berkembang pula dunia konstruksi di Indonesia saat ini, bangunaan memegang peranan penting dalam kehidupan. Sebagian besar dari hidup manusia berada disekitar atau di dalam bangunan, seperti pada gedung, perkantoran, pabrik-pabrik, perumahan, rumah sakit, sekolah, tempat ibadah dan sebagainya. Permasalahannya adalah bagaimana mendirikan suatu bangunan dengan cara yang benar dan ekonomis. Kolom dan balok adalah salah satu elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur di bawahnya. Kegagalan pelaksanaannya akan berakibat langsung pada runtuhnya stuktrur lain yang berhubungan dengannya. Maka dari itu dalam mendirikan bangunan memerlukan metode dan pengawasan yang ketat, seperti pada bangunan Rumah Sakit Lavalette Malang. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode pelaksanaan kolom dan balok, tahapan-tahapan pekerjaan kolom dan balok, beserta perbedaan biaya yang terjadi pada laporan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan biaya pelaksanaan menurut kajian teori. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan beton khususnya pekerjaan kolom dan balok bertulang di lapangan. Metode pengumpulan data yaitu metode dokumentasi dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil studi pelaksanaan kolom dan balok adalah sebagai berikut. Tahapan pekerjaan kolom dimulai dari pekerjaan pekerjaan persiapan, penulangan, bekisting, perancah, pengecoran, pembongkaran bekisting dan perawatan beton umumnya telah sesui dengan teori. Untuk pekerjaan balok dimulai dari Pekerjaan persiapan,perancah, bekisting, penulangan, pengecoran, pembongkaran bekisting, dan perawatan beton. Untuk analisa biaya terdapat selisih antara yang ada pada Rencana Anggaran Biaya yang berdasarkan data proyek dengan Analisa Biaya Pelaksanaan berdasarkan SK SNI 2007. Hasilnya biaya pelaksanaan lebih besar dari pada biaya perencanaan. Berdasarkan studi ini dapat disarankan bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok beton bertulang agar dilakukan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan yang lebih teliti, begitu juga dengan penggunaan biayanya, sehingga pelaksanaan proyek dapat mencapai kualitas beton yang baik dengan biaya yang efisien.

Pengembangan pembelajaran teknik dasar lompat jauh gaya menggantung dengan menggunakan gaya mengajar resiprokal untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Sarongi Kabupaten Sumenep / Susdiono

 

Kata kunci : pengembangan, pembelajaran, lompat jauh gaya menggantung, gaya mengajar resiprokal Pembelajaran adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam menyampaikan pesan atau materi kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efesien. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap guru pendidikan jasmani di SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep pada tanggal 31 Januari 2011 tentang pembelajaran teknik dasar lompat jauh gaya menggantung, masih banyak siswa yang merasa kesulitan untuk melakukan teknik dasar lompat jauh gaya menggantung dengan baik, dan tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih kurang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru pendidikan jasmani SMP Negeri 1 saronggi kabupaten sumenep maka akan dilakukan pengembangan model pembelajaran lompat jauh gaya menggantung dengan menggunakan strategi gaya mengajar yang sesuai, agar dapat meningkatkan keterampilan, keaktifan, dan pemahaman siswa dalam pembelajaran teknik dasar lompat jauh gaya menggantung. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep merasa kesulitan untuk melakukan teknik dasar lompat jauh gaya menggantung dengan baik, dan tingkat keaktifan siswa masih kurang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran lompat jauh gaya menggantung dengan menggunakan gaya mengajar resiprokal untuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep. Dengan adanya pengembangan model pembelajaran ini diharapkan siswa mampu memahami, terampil melakukan dan mengevaluasi teknik dasar lompat jauh gaya menggantung melaluai pemahaman, peragaan latihan dan pengamatan yang dilakukan secara berpasangan. Model pengembangan lompat jauh gaya menggantung dengan menggunakan gaya mengajar resiprokal untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep ini menggunakan model pengembangan Research and Development dari Borg and Gall yang dimodifikasi, peneliti hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri atas, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli atletik, (2) uji coba kelompok kecil dengan melibatkan 8 siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep, (3) uji coba kelompok besar dengan melibatkan 40 siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep. Dari hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan pembelajaran teknik dasar lompat jauh gaya mengantung dengan menggunakan gaya mengajar resiprokal untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Saronggi Kabupaten Sumenep dengan persentase 69,61% dengan makna digunakan. Sedangkan hasil uji lapangan (kelompok besar) diperoleh dengan persentase 89,01% dengan makna digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan sebaiknya subjek penelitian ini dilakukan pada yang lebih luas maupun kepada siswa kelas VII di sekolah lain.

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Papar tahun ajaran 2009/2010 / Silvia Farida Ariani

 

Kata Kunci : Problem Based Learning (PBL), Keterampilan Proses Sains, Prestasi Belajar Fisika Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas X-6 SMA Negeri I Papar diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan metode ceramah dan diskusi kelas sehingga sis-wa masih kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran, jika diberi kesempatan siswa jarang sekali bertanya atau menyampai¬¬¬kan gagasan. Keterampilan dalam menggu-nakan alat-alat laboratorium masih rendah. Siswa kurang dalam memperoleh pe-ngalaman langsung, dikarenakan guru lebih sering melakukan demonstrasi daripa-da mengajak siswa ikut terlibat langsung dalam melakukan penyelidikan. Akibat-nya keterampilan proses sains seperti keterampilan mengamati, mengukur, mem-prediksi, mengkomunikasikan, bereksperimen, dan menarik kesimpulan, rendah. Selain keterampilan proses yang masih rendah, nilai rata-rata prestasi belajar fisi-ka siswa masih di bawah KKM yaitu 65. Oleh karena itu, perlu dilakukan peneliti-an yang dapat menjadikan siswa mempunyai keterampilan proses sains dan pres-tasi belajar siswa dapat meningkat. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar fisika dan mengetahui kualitas keterampilan proses sains siswa adalah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan prestasi belajar fisika dan mengetahui kualitas keterampilan proses sains siswa kelas X-6 SMA Negeri I Papar melalui penera-pan model pembelajaran PBL. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas adaptasi dari Kemmis & Mc Taggart yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari pe-rencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Papar dengan jumlah 41 siswa. Instrumen penelitian me-liputi instrument tindakan yaitu RPP dan LKS, lembar keterlaksanaan PBL, for-mat catatan lapangan, lembar observasi keterampilan proses sains, dan tes prestasi belajar. Keterampilan proses sains dikatakan berhasil jika tiap aspek telah menca-pai 70% dari skor maksimal. Prestasi belajar dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar telah mencapai 75% dari seluruh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Papar. Hasil analisis dapat dilihat kualitas aspek keterampilan proses sains pada siklus I 59,68% dengan kriteria cukup baik dan pada siklus II 71,27% dengan kriteria baik. Prestasi belajar Fisika juga menunjukkan peningka-tan nilai rata-rata dari observasi awal 65 ke siklus I 74,58 mengalami peningkatan sebesar 14,74 %, dan siklus II meningkat sebesar 23,9%.

Analisis pengaruh dimensi kualitas produk terhadap kepuasan dan dampaknya terhadap loyalitas pelanggan TELKOMSEL (studi pada mahasiswa Universitas Negeri Malanag) / Brahmantyo Rezky

 

Kata kunci: dimensi kualitas produk, kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan. Paradigma pemasaran saat ini adalah customer oriented. Hal ini menjadikan kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan sebagai hal yang ingin diraih setiap pelaku insdustri. Setiap pelaku industri berusaha menciptakan kepuasan dan loyalitas pelanggan dengan terus memperbaiki setiap dimensi kualitas produknya yang terdiri dari: kinerja, interaksi pegawai, reliabilitas/konsistensi kinerja, daya tahan, ketepatan waktu dan kenyamanan, estetika, kesadaran akan merek. Penelitian ini menggunakan analisis jalur untuk mencari pengaruh antara dimensi kualitas produk yang terdiri dari: kinerja, interaksi pegawai, reliabilitas/konsistensi kinerja, daya tahan, ketepatan waktu dan kenyamanan, estetika, kesadaran akan merek; terhadap kepuasan pelanggan dan dampaknya terhadap loyalitas pelanggan Telkomsel. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menggunakan kartu prabayar Telkomsel (simPati dan As). Subyek penelitian berjumlah 355 diambil dengan metode cluster sampling dari tiga fakultas (Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial, dan Fakultas MIPA) dimana dari tiga fakultas tersebut diwakili dua program studi dan setiap program studi diwakili oleh dua kelas. Skala yang disajikan dalam penelitian ini menggunakan model penskalaan Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor tingkat kinerja, interaksi pegawai, konsistensi kinerja, daya tahan, ketepatan waktu dan kenyamanan, estetika, kesadaran akan merek; kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan tergolong tinggi. Analisis jalur menunjukkan bahwa pengaruh antara kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan signifikan dengan koefisien jalur 0,322, interaksi pegawai dan estetika memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan Telkomsel dengan koefisien jalur masing-masing 0,512 dan 0,210. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik interaksi pegawai dengan pelanggan dan juga semakin tinggi estetika produk Telkomsel, maka semakin tinggi tingkat kepuasan pelanggan yang juga akan berdampak pada semakin tingginya loyalitas pelanggan Telkomsel. Perhitungan ketepatan model menghasilkan angka 63,3% yang berarti bahwa kontribusi model untuk menjelaskan hubungan struktural dari ketujuh variabel yang diteliti adalah sebesar 63,3% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terlibat di dalam model. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada perusahaaan untuk melakukan pelatihan pelayanan prima secara berkala, terus memperbaiki desain produk dan juga fasilitas kantor pelayanan sehingga diharapkan mampu menciptakan kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan.

Telaah atas implementasi bagi hasil deposito mudharabah berbasis unsur syariah pada Bank Muamalat Lamongan / Audia Zulfianti

 

Kata kunci: bagi hasil, deposito mudharabah, dan unsur syariah. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan unsur Syariah. Deposito mudharabah adalah produk penghimpunan dana yang mempunyai jangka waktu tertentu (1,3,6,12 bulan). Deposito mudharabah serta bagi hasil yang diperoleh akan diteliti berdasarkan unsur syariah (bebas riba, bebas maysir, bebas gharar, dan bebas bathil). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan telaah atas implementasi bagi hasil deposito mudharabah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif yaitu bermaksud bermaksud malakukan telaah terhadap sistem bagi hasil deposito mudharabah berbasis unsur syariah yang bebas dari unsur riba, maysir, gharar, dan bathil. Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan berdasarkan hasil wawancara terhadap banking staff dan pendapat dari mereka tentang bank syariah bagaimana bagi hasil yang diterapkan oleh bank syariah. Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah unsur syariah dan prosedur bagi hasil. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa bagi hasil belum sepenuhnya bebas dari unsur riba karena perhitungan HI Per Mil yang digunakan sebagai dasar bagi hasil telah jelas transparansinya. Namun pada penetapan nisbah bagi hasil (50:50, 51:49, dll) dimana tidak ada penjelasan perhitungannya. Bebas maysir karena nasabah menanamkan modal yang bersifat produktif sehingga nasabah memperoleh bagi hasil secara tidak langsung karena penyertaan modalnya. Bebas gharar karena penyaluran pembiayaannya hanya untuk usaha yang sudah jelas terbukti dengan adanya pengawasan/pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak bank. Tidak bathil karena diyakini bahwa pendapatan yang diperoleh adalah pendapatan yang halal ditandai dengan adanya pengawasan dari pihak bank dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran yang diperkirakan berguna bagi beberapa pihak antara lain: dengan diterapkannya sistem bagi hasil yang bebas riba, bebas maysir, bebas gharar, dan bebas bathil ini menunjukkan bahwa Bank Muamalat telah sesuai dengan unsur syariah, Selain itu Bank Muamalat harus transparan dalam mengungkapkan penetapan nisbah bagi hasilnya. Sedangkan bagi nasabah, agar mereka mengetahui sistem bagi hasil deposito mudharabah berdasarkan unsur syariah sehingga bisa mempertimbangkan berinvestasi di bank syariah. Bagi penelitian berikutnya, diharapkan pada penelitian berikutnya dapat dilakukan penelitian yang membahas tentang sistem bagi hasil pada produk pembiayaan.

Pengembangan multimedia pembelajaran menggunakan Software macromedia Flash Professional 8 pada mata pelajaran melakukan pekerjaan dengan mesin bubut kelas XI TPm jurusan mesin perkakas SMK Ahmad Yani Probolinggo / Ahmad Fauzi

 

Kata kunci: Pengembangan multimedia pembelajaran, melakukan pekerjaan mesin bubut. Berdasarkan observasi penulis di SMK Ahmad Yani Probolinggo tentang penerapan metode pembelajaran pada Mata Pelajaran Melakukan Pekerjaan dengan Mesin Bubut, peneliti menjumapai dalam penerapan metodenya masih bersifat teoritis, verbalis dengan menggunakan media papan tulis, slide power point dan terpusat pada guru, itu dikarenakan kurangnya pemahaman guru terkait pengembangan media pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan metode pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran lebih menarik, efektif dan efisien. Salah satu yang berkembang saat ini adalah multimedia. Multimedia yang dikembangkan mencakup beberapa komponen yaitu teks, gambar, suara, vidio dan musik, dengan muatan materi menjelaskan teknik pengoprasian mesin bubut, mengoprasikan mesin bubut, memproses bentuk pendakian. Program multimedia pembelajaran ini dirancang dengan menggunakan program software macromedia flash professional 8 dan dikemas dalam CD. Metode pengembangan dalam penelitian ini memodifikasi dari model pengembangan Borg and Gall, diantaranya, analisis kebutuhan, pengembangan draf awal, validasi ahli, revisi I produk, uji coba lapangan terbatas, revisi II produk dan produk akhir. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Jenis angket yang digunakan yaitu angket terbuka dan angket tertutup. Angket terbuka menghasilkan jenis data kualitatif yaitu berupa saran, kritik dan pendapat secara umum terhadap multimedia. Data Kuantitatif tersebut kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif persentase. Memperoleh skor persentase 83,19 % dari validasi ahli materi, 97,50 % dari ahli media, dan 89,44 % dari uji coba lapangan terbatas (pengguna) sehingga secara keseluruhan di dapatkan skor persentase sebesar 90,04% dan dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran dengan software macromedia flash professional 8 pada mata pelajaran melakukan pekerjaan dengan mesin bubut Kelas XI TPm Jurusan Mesin Perkakas SMK Ahmad Yani Probolinggo valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Factors contributing to the development of the efl students' good english reading habits / Erna Iftanti

 

Dissertation, English Language Education, Graduate Program. State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd., M.A., Ph.D., (II) Prof. H. Ali Saukah, M.A., Ph.D., (III) Dr. Monica D.D. Oka, M.A. Key word: reading habits, EFL students A habit is a product of learning, whereas reading is an art of interpreting written discourse and reading habits are activities of reading done routinely, consciously and intentionally. Reading becomes an experience that should be practiced and processed in a course of time. EFL students who are defined as students who learn English as their foreign language are supposed to be engaged much in reading English texts. Thus, the establishment of good English reading habits is demanding. Yet, not much is known about what factors contribute to the EFL students’ good English reading habits. Therefore, this study is intended to find out factors that contribute to the establishment of EFL students’ good English reading habits. The research design of this study is qualitative which was done through two stages namely the subject selection stage which intended to find out EFL students who established good English reading habits and the main study stage which aimed at describing factors that contribute to the EFL students’ good English reading habits. The subjects of this study are students of the English Department of state universities in East Java. The results of this study reveal that reading motivation of the EFL students which is supported with good literacy environment, parents’ reading aloud, phenomenal literary works such as Harry Potter series, box office movies, and good reading habits in L1 contribute to the establishment of the EFL students’ good English reading habits. In addition, the Internet, contrary to criticism of its negative effects, has actually contributed much in enhancing good English reading habits in a vast world through its speed and convenience. Since this study is qualitatively done to find out factors contributing the EFL students’ good English reading habits, it does not reveal the tendency and the degree of the correlation of each factor. Accordingly, these limitations can be taken into account as the basis to conduct further studies. Another limitation of this study is the representativeness of the EFL students. This study did not include the students of Elementary school, Junior High school, Senior High school, and those of non English Department who study English as their foreign language. Therefore, a further study which involves more representative EFL students in Indonesia is suggested to be conducted as well. However, the result of this study can be used as underlying inspiration for English teachers, parents, and librarians to assist the EFL students’ establishment of good English reading habits.

Pengembangan media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kompetensi dasar pertolongan pertama dalam bentuk multimedia interaktif untuk kelas VII SMP Negeri 1 Pacitan / Brahmantya wardhana

 

Kata kunci: penelitian pengembangan, media pembelajaran, multimedia interaktif, pertolongan pertama. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan di SMP Negeri 1 Pacitan terhadap 36 siswa kelas VII dan 2 guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan diperoleh data: 36 (100%) siswa mendapatkan materi pertolongan pertama, 36 (100%) siswa menyatakan kompetensi dasar pertolongan pertama diajarkan berupa teori dan praktek, 36 (100%) siswa mendapatkan materi dari buku LKS, 36 (100%) siswa belum pernah mendapatkan materi dari multimedia interaktif, 36 (100%) siswa menyatakan di sekolah mereka terdapat laboratorium komputer, 36 (100%) siswa menyatakan bisa mengoperasikan komputer, sedangkan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan menyatakan: media yang digunakan untuk mengajar materi pertolongan pertama berupa buku LKS, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan belum pernah menggunakan multimedia interaktif dalam pembelajaran, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan setuju jika dikembangkan multimedia interaktif pertolongan pertama. Peneliti memilih multimedia interaktif untuk menyampaikan informasi tentang pertolongan pertama. Multimedia interaktif dirancang sistematis dengan berpedoman prinsip pertolongan pertama sehingga memungkinkan siswa dapat menerima pengetahuan lebih mudah dan menarik. Multimedia interaktif adalah media yang berisi tulisan, gambar, video yang bisa dioperasikan sesuai keinginan. Berdasarkan tinjauan para ahli ada perbaikan pada produk ini. Perbaikan dari ahli media yaitu mengganti bahan label CD dan buku petunjuk karena rentan terhadap gangguan. Dari ahli kesehatan perbaikan yang dilakukan adalah menambah substansi pada gejala heat exhaustion, heat stroke. Ahli pembelajaran menyarankan agar video pada produk diberi narasi namun jika sudah ada keterangan tulisan pada video tersebut itu sudah cukup. Hasil uji coba (kelompok kecil) menggunakan 9 siswa diperoleh persentase 87,52% dan tergolong kategori valid, pada uji lapangan (kelompok besar) menggunakan 45 siswa diperoleh persentase 84,81% dan tergolong kategori valid sehingga multimedia interaktif kompetensi dasar pertolongan pertama untuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pacitan dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan lebih kreatif dan inovatif untuk pengembangan media pembelajaran. Pemanfaatan media berupa multimedia interaktif untuk pembelajaran membuat siswa lebih tertarik untuk belajar dan bermuara pada percepatan proses pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.

Analisis perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah margaer pada perusahan yang listing di BEI Priode 2004-2010 / Resti Zanuar Hatmanti

 

Kata Kunci: merger, kinerja keuangan, BEI Analisis kinerja keuangan merupakan proses penilaian data keuangan perusahaan yang nantinya hasil dari analisis tersebut menjadi acuan para pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan. Peneliti meneliti perusahaan yang melakukan aktivitas merger dengan alasan perusahaan yang melakukan mer-ger akan berusaha meningkatkan strategi perusahaan demi mencapai pertumbuhan perusahaan yang sehat yang dapat diukur melalui kinerja keuangannya menggunakan rasio likuiditas, leverage, dan profitabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kinerja keuangan sebelum dan sesudah perusahaan melakukan merger serta mendiskripsikan hasil dari penelitian ini. Rancangan penelitian adalah penelitian deskriptif komparatif. Objek pene-litian ini adalah perusahaan merger yang listing di BEI periode 2004-2010. Pene-litian ini menggunakan penelitian populasi. Metode pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Sumber data yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang melakukan merger tahun 2004-2010. Berdasarkan Hasil Analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, rasio kas tidak menunjukkan perbedaan 2 tahun maupun 1 tahun sebelum dan sesudah merger. Kedua, hasil dari pengujian hipotesis terhadap rasio leverage yang diukur dengan debt to assets dan debt to equity menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kegiatan merger perusahaan 2 tahun sebelum dan sesudah serta 1 tahun sebelum dan 1 tahun setelah merger. Ketiga, Pengujian terhadap rasio profitabilitas yang diukur menggunakan ROA dan ROE tidak juga menunjukkan perbedaan 2 tahun dan 1 tahun sebelum dan setelah merger. Saran bagi penelitian selanjutnya hendaknya melakukan penguku-ran kinerja keuangan dengan variabel rasio keuangan yang lain atau metode lain, sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil penelitian. Bagi perusahaan yang akan melakukan kegiatan merger sebaiknya melakukan persiapan yang baik sebelum memutuskan untuk melakukan merger. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah kondisi ekonomi nasional dan internasional apakah dalam keadaan baik atau buruk bagi perusahaan.

Pengembangan perangkat pembelajaran materi larutan standar dan pereaksi untuk SMKN 7 Malang program keahlian kimia analisis / Moh Syaeful Rakhman

 

Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Larutan Standar dan Pereaksi, SMKN 7 Malang. SMKN 7 Malang Program Keahlian Kimia Analisis mempunyai beberapa kompetensi yang harus dicapai. Salah satu kompetensinya adalah membuat larutan standar dan pereaksi. Dalam rangka pencapaian kompetensi ini guru memerlukan bahan ajar yang relevan dengan kebutuhan siswa dan hal ini masih belum terpenuhi. Bahan ajar yang digunakan oleh guru diambil dari bukubuku secara acak dan belum tersusun rapi sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan KTSP SMK. Atas dasar ini, pengembang melakukan pengembangan dan penyusunan perangkat pembelajaran materi larutan standar dan pereaksi yang di dalamnya terdiri dari bahan ajar yang sesuai untuk pembelajaran di SMK. Metode pengembangan perangkat pembelajaran materi larutan standar dan pereaksi mengadopsi sampai tahap 3-D dari model pengembangan 4-D yang direkomendasikan oleh Thiagarajan, dkk, (1974:6-11) karena sesuai dengan langkah-langkah penyususan perangkat pembelajaran yang runtut dan sistematis. Perangkat pembelajaran larutan standar dan pereaksi yang dikembangkan dilakukan validasi isi dan uji coba terbatas. Validator untuk validasi isi adalah satu dosen Kimia FMIPA UM sebagai validator ahli di bidang isi dan dua guru SMK Negeri 7 Malang sebagai sasaran pengguna produk, sedangkan validator untuk uji coba terbatas adalah delapan siswa SMK Negeri 7 Malang Program Keahlian Kimia Analisis. Instrumen pengumpulan data pada pengembangan perangkat pembelajaran berupa angket/kuesioner dengan skala Likert 4 tingkatan serta lembar komentar dan saran. Data yang diperoleh berupa skor penilaian dan komentar dari validator yang digunakan untuk menentukan validitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis perhitungan rata-rata dan persentase. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran materi Larutan Standar dan Pereaksi meliputi Silabus hasil pengembangan, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan Bahan Ajar. Hasil validasi isi diperoleh perhitungan rata-rata dan persentase untuk silabus pengembangan sebesar 3,06 atau 76,56% yang berarti cukup valid. Hasil validasi isi untuk RPP sebesar 3,43 atau 85,71%, kelayakan isi bahan ajar sebesar 3,28 atau 82,14%, serta kebahasaan dan penampilan bahan ajar sebesar 3,62 atau 90,62% yang berarti valid dan perangkat pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan dalam uji lapangan pembelajaran di sekolah. Hasil uji coba terbatas petunjuk praktikum diperoleh perhitungan rata-rata dan persentase sebesar 3,20 dan 80,00% yang berarti valid dan sudah layak untuk digunakan dalam pembelajaran yang sesungguhnya.

Peran bank rakyat indonesia cabang martadinata malang dalam pemberdayaan usaha micro kecil menengah di malang / Fitra Tri Anggara

 

Kata Kunci: Lembaga Keuangan Mikro, Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Peranan keuangan mikro sebagai ujung tombak dalam pengentasan kemiskinan telah mendapat pengakuan secara nasional dan internasional. Di Indonesia, pelaku usaha mikro dan kecil atau yang lebih dikenal dengan ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini terbukti telah menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis ekonomi dan menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah peran Bank Rakyat Indonesia cabang Martadinata Malang dalam memberdayakan usaha mikro kecil menengah di Malang? Apa saja faktor pendorong Bank Rakyat Indonesia cabang Martadinata dalam memberdayakan usaha mikro kecil menengah di Malang? Apa saja faktor penghambat Bank Rakyat Indonesia cabang Martadinata dalam memberdayakan usaha mikro kecil menengah di Malang? Jenis penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan menguraikan dan menggambarkan peran Bank Rakyat Indonesia cabang Martadinata Malang dalam memberdayakan usaha mikro kecil menengah yang ada di Malang. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa Bank Rakyat Indonesia cabang Martadinata Malang berperan dalam memberdayakan usaha mikro kecil menengah di Malang yaitu dengan pemberian dana/modal bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah di Malang sehingga dapat meningkatkan/mengembangkan usaha yang telah dijalankan, target pusat yang menjadi BRI sebagai bank yang menguasai pasar kredit mikro, dan lain sebagainya. Faktor pendorong Bank Rakyat Indonesia cabang Martadinata Malang dalam memberdayakan usaha mikro di Kabupaten Malang yaitu target yang harus dicapai untuk menyalurkan kredit kepada nasabah, sehingga staf kredit mencari nasabah peminjam kredit, dengan banyaknya unit BRI dan Teras BRI memudahkan BRI untuk menguasai pasar kredit, adanya penambahan debitur potensial. Sedangkan faktor penghambatnya adalah belum ada penambahan staf kredit, adanya persaingan dalam menyalurkan kredit, kondisi UMKM yang belum bisa memenuhi syarat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk hendaknya semakin berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam penyaluran KUR guna mengembangkan dan memberdayakan sektor UMKM. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mengoptimalkan strategi-strategi pelaksanaan yang dimiliki untuk terus dapat meningkatkan penyaluran KUR

Analisis buku IPA Sekolah Dasar kelas III semester I yang di gunakan Se-Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Aris Sarsiti

 

Kata kunci: analisis, buku IPA, SDN Kelas III Buku ajar pada pembelajaran IPA mempunyai peran dalam mewujudkan pembelajaran aktif di kelas. Buku ajar tidak hanya digunakan sebagai transfer informasi saja, tetapi dapat dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar. Dari hasil angket buku ajar IPA yang dipakai masih memiliki kekurangan khususnya dari segi isinya. Walaupun sudah melalui proses revisi yang baik namun masih ditemukan beberapa buku ajar IPA yang isi materinya belum sesuai dengan kurikulum, menggunakan ilustrasi gambar kurang jelas karena ukuran yang terlalu kecil, tidak berwarna, tidak sesuai dengan materi. Dalam buku IPA juga dijumpai konsep yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relevansi materi dengan kurikulum, kesesuaian ilustrasi gambar dengan materi, kebenaran konsep, serta soal evaluasi. Penelitian dilakukan pada buku ajar IPA kelas III dengan pengarang dan penerbit berbeda yang digunakan di 5 SDN Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu metode untuk menggambarkan sifat dari suatu keadaaan yang ada pada waktu penelitian dilakukan sehingga menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis secara deskriptif. Untuk relevansi materi dengan kurikulum, kesesuaian ilustrasi gambar dengan materi, kebenaran konsep, soal evaluasi dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan presentase. Hasil penelitian menunjukkan untuk relevansi isi materi dengan kurikulum pada buku A, buku B, buku E seluruhnya (100%) relevan dengan kurikulum, buku C dan buku E hanya sebagian besar (66,66%) relevan dengan kurikulum. Ketepatan ilustrasi gambar yaitu buku A sebagian besar (54%), buku B sebagian kecil (47, 1%), buku C seluruhnya (100%), buku D sebagian kecil (4,4%), buku E umumnya (89,5%) tidak tepat dengan materi. Kebenaran konsep dari 5 buku[[[ dan enam materi sebagian besar (71,68%) menyatakan bahwa konsep dalam buku sudah benar dengan konsep yang sebenarnya, sedangkan sebagian kecil (28,32 %) konsep yang ada dalam buku tidak benar dengan konsep yang sebenarnya. Soal evaluasi dari kelima buku tersebut seluruhnya (100%) memuat satu ranah saja yaitu ranah kognitif. Untuk ranah afektif dan psikomotorik tidak ada didalam kelima buku tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru dan siswa untuk lebih cermat dalam memilih sumber belajar dalam proses pembelajaran dan tidak hanya memiliki satu sumber buku saja.

Pengaruh pengungkapan corporate social responsibility dan retrun on equity terhadap harga saham ( studi empiris pada perusahaan manufaktur yang listing di bursa efek Indonesia Priode 2007-2009 ) / Ari Gunawan Wicaksono

 

Kata Kunci : Corporate Social Responsibility, Return On Equity dan Harga Saham. Pengungkapan Corporate Social Responsibility merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban yang dilakukan perusahaan atas dampak yang ditimbulkan dari aktivitas operasional yang berpengaruh terhadap masyarakat internal maupun eksternal perusahaan. Investor sebagai salah satu stakeholder kunci sangat mempertimbangkan kinerja sosial dan lingkungan perusahaan dalam melakukan keputusan investasinya. Return On Equity merupakan gambaran sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang bisa diperoleh dari pemegang saham untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan Return On Equity terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di BEI. Penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan variable independen adalah Pengungkapan Corporate Social Responsibility, sedangkan variabel dependen adalah harga saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI yang berturut-turut menyampaikan annual report di tahun 2007-2009. Hasil penelitian parsial menunjukkan adanya pengaruh signifikan dan positif pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap harga saham dan Return On Equity juga menunjukkan adanya pengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara simultan dari kedua variabel independen yaitu pengungkapan corporate social responsibility dan ROE juga berpengaruh signifikan dan positif terhadap variabel dependen yaitu harga saham. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan memperluas sampel yang digunanakan, tidak hanya perusahaan manufaktur melainkan jenis perusahaan lain atau menambahkan variabel lain yang berpotensi dapat mempengaruhi harga saham serta memperpanjang rentang waktu data penelitan yang digunakan menjadi beberapa periode agar dapat memprediksi hasil penelitian dalam jangka panjang. Jika tetap memakai rasio disarankan untuk memperbanyak rasio profitabilitas perusahaan.

Pengembangan scien book for grade VII of junior high school / Safwatun Nida

 

Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Effendy, Ph.D (2) Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed. Kata kunci: pengembangan sciece book, makroskopis-mikroskopis-simbolis, IPA terpadu, model connected Pembelajaran IPA pada tingkat SMP memerlukan buku sebagai sumber belajar yang sesuai dengan karakteristik konsep IPA. Pelajaran IPA harus disusun secara berjenjang karena mengandung konsep dasar yang mendasari konsep tingkat lanjut. Konsep IPA juga diberikan secara terpadu karena suatu konsep berhubungan dengan konsep lain. Pemaduan konsep-konsep IPA dapat dilakukan dengan menggunakan model pemaduan connected. Selain itu, hendaknya konsep IPA diberikan dengan representasi makroskopis, mikroskopis, simbolik yang seimbang. Analisis terhadap beberapa buku IPA kelas VII yang telah dilakukan menunjukkan belum optimalnya keberjenjangan, keterpaduan, dan penggunaan representasi makroskopis-mikroskopis-simbolis yang seimbang. Oleh karena itu diperlukan pengembangan buku IPA kelas VII yang sesuai dengan karakteristik konsep IPA. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan buku Science Book for Grade VII of Junior High School yang sesuai dengan karakteristik konsep IPA; (2) mengetahui kelayakan isi, penyajian, dan kebahasaan buku hasil pengembangan; (3) mengetahui keefektifan buku hasil pengembangan dilihat dari hasil belajar siswa; (4) mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan buku hasil pengembangan. Pengembangan produk menggunakan acuan model pengembangan ASSURE dengan prosedur pengembangan meliputi beberapa tahapan pokok, yaitu: (1) analisis siswa, analisis kompetensi, analisis buku yang ada; (2) perencanaan rancangan buku berdasarkan kebutuhan siswa; (3) pengembangan buku berdasarkan rancangan yang telah ditetapkan, (4) Peniliaian dan revisi. Penilaian terhadap kelayakan isi dan penyajian produk hasil pengembangan dilakukan oleh 2 dosen kimia dan 3 guru IPA SMP, sedangkan penilaian terhadap kelayakan bahasa dilakukan oleh dua orang guru bahasa Inggris. Subjek ujicoba adalah siswa Pendidikan Dasar Laboratorium UM, yakni 3 siswa kelas IX dalam ujicoba perorangan untuk mendapatkan revisi mengenai kesalahan penulisan, 6 siswa kelas VIII dalam ujicoba kelompok kecil untuk mendapatkan revisi mengenai kata atau kalimat yang dianggap sulit, dan 10 siswa kelas VII dalam ujicoba lapangan terbatas untuk mendapatkan data keefektifan buku hasil pengembangan dan persepsi siswa terhadap penggunaan buku hasil pengembangan. Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantifatif. Data kualitatif berupa komentar dan saran perbaikan dari dosen, guru, dan siswa; nilai hasil belajar siswa; dan skor persepsi siswa. Data kuantitatif berupa nilai kelayakan isi, penyajian, dan bahasa dari dosen dan guru yang didapat dari angket kelayakan yang dikembangkan berdasarkan standar evaluasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Keefektifan buku hasil pengembangan diukur berdasarkan nilai kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Nilai kognitif diperoleh dari nilai latihan, laporan, dan soal uji kompetensi. Uji kompetensi terdiri dari 50 soal multiple choice yang valid

Pemurnian ekstrak kasar sistem selulase bacillus circulans dengan metoda fraksinasi amonium sulfat mengunakan fraksi 0-30%,30-60%, dan 60-100% / Alfifi Agustina

 

Kata kunci : pemurnian, Bacillus circulans, sistem selulase, fraksinasi amonium sulfat Selulase adalah enzim yang menghidrolisis selulosa menjadi glukosa dengan cara memutus ikatan (β 1→4) glikosidik. Sistem Selulase merupakan sekumpulan selulase yang mempunyai tipe aktivitas berbeda. Ekstrak kasar sistem selulase secara umum masih memiliki aktivitas yang rendah dan mudah mengalami penurunan aktivitas selama penyimpanan karena masih bercampur dengan protein lain. Penggunaan sistem selulase di industri khususnya untuk produksi bioetanol memerlukan selulase dengan aktivitas tinggi dan stabil. Oleh karena itu perlu dilakukan pemurnian ekstrak kasar, salah satu metoda pemurnian protein yang murah dan sederhana adalah fraksinasi amonium sulfat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui aktivitas spesifik fraksi sistem selulase yang dihasilkan dari pemurnian ekstrak kasar selulase dengan fraksinasi amonium sulfat menggunakan fraksi 0-30%, 30-60%, dan 60-100%, (2) pengaruh suhu selama pemurnian terhadap aktivitas spesifik sistem selulase yang dihasilkan serta (3) waktu dan konsentrasi substrat optimum pada reaksi enzimatis yang dilakukan oleh fraksi dengan aktifitas spesifik tertinggi. Penelitian ini bersifat laboratoris, dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UM yang terdiri dari beberapa tahap yaitu: (1) produksi ekstrak kasar selulase dari Bacillus circulans strain lokal dalam media Berg pada pH 9,0; suhu 500C dan waktu inkubasi 5 hari (2) penentuan aktifitas spesifik fraksi hasil pemurnian ekstrak kasar dengan metoda fraksinasi amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 0-30%, 30-60%, 60-100% , (3) penentuan pengaruh suhu kamar dan suhu 4 °C terhadap aktifitas spesifik fraksi hasil pemurnian (4) karakterisasi fraksi dengan aktivitas spesifik tertinggi. Aktivitas sistem selulase ditentukan melalui aktivitas avicelase dan CMCase. Kedua aktivitas ditentukan berdasarkan atas jumlah glukosa yang dihasilkan setelah proses hidrolisis. Kadar glukosa ditentukan dengan metoda spektrofotometri sinar tampak Somogy-Nelson. Kadar protein ditentukan dengan metoda Lowry. Aktivitas spesifik adalah unit aktivitas enzim per mg protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Aktivitas spesifik hasil pemurnian ekstrak kasar selulase dengan fraksinasi amonium sulfat 0-30%, 30- 60%, dan 60-100% yaitu CMCase masing-masing 53,79; 165,12; 150,71 U/mg dan avicelase masing-masing 24,01; 73,38; 97,62 U/mg.(2) Aktivitas spesifik fraksi sistem selulase yang dimurnikan pada suhu 4°C lebih tinggi dibandingkan suhu kamar. Aktivitas spesifik CMCase pada suhu kamar 165,12 U/mg menjadi 242,94 U/mg pada suhu 4°C (naik 48,36%). Aktivitas spesifik Avicelase pada suhu kamar 73,38 U/mg menjadi 113,91 U/mg pada suhu 4°C (naik 80,91%) (3) Fraksi sistem selulase termurnikan (30-60%) memiliki waktu optimum reaksi ii enzimatis selama 3 jam dengan konsentrasi substrat optimum 1,5% (b/v) memiliki aktivitas spesifik CMCase 299,51 U/mg dan avicelase 237,19 U/mg.

Study komparatif perkembangan kelincahan antara anak usiah 9,10,11 tahun di dataran rendah dengan dataran tinggi di kabupaten pasuruan / Chandra Nora Yuda

 

Kata Kunci: Perkembangan kelincahan anak usia 9, 10, 11 tahun di dataran rendah dan dataran tinggi. Anak usia 9, 10, 11 tahun saat ini terdapat di berbagai daerah, baik di kota maupun di desa, baik di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Terkait dengan letak geografis anak-anak seperti yang berada di dataran tinggi dan dataran rendah serta karakteristik anak-anak tersebut di atas, hal ini akan mempengaruhi terhadap tingkat perkembangan kelincahan masing-masing anak. Dengan demikian letak geografis suatu daerah tertentu seperti tempat tinggal dan berbagai jenis aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak berpengaruh terhadap tingkat kelincahan. Dengan kondisi daerah yang berbeda, berarti tingkat kelincahan yang diperoleh juga berbeda. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kelincahan dan perbedaan perkembangan kelincahan antara anak putra usia 9, 10, 11 tahun yang berada di dataran rendah dan dataran tinggi di kabupaten pasuruan Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian cross-sectional adalah penelitian yang dilakukan pada satu waktu dan satu kali, tidak ada follow up, untuk mencari hubungan antara variabel independen (faktor resiko) dengan variabel dependen (efek). Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mengumpulkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hasil output SPSS di dataran tinggi, tabel ANOVA menjelaskan bahwa nilai signifikansi kurang =0.05, artinya H0 ditolak. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kelincahan anak putra usia 9, 10, 11 tahun di dataran rendah. Begitu juga di dataran rendah, tabel ANOVA menjelaskan bahwa nilai signifikansi kurang =0.05, artinya H0 ditolak. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kelincahan anak putra usia 9, 10, 11 tahun di dataran rendah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa nilai signifikansi kurang =0.05, artinya H0 ditolak. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat kelincahan anak putra usia 9, 10, 11 tahun di dataran rendah dan dataran tinggi. Hasil uji Tukey menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara perkembangan kelincahan anak putra di dataran tinggi dan dataran rendah pada usia 9 tahun ke 10 tahun, begitu juga dari 10 tahun ke 11 tahun. Perkembangan yang pesat dialami oleh anak putra usia 9 tahun ke 10 tahun, hal ini ditunjukkan dengan selisih rata-rata lebih besar dari pada usia 10 tahun ke 11 tahun. Diharapkan kepada Guru mata pelajaran penjas yang berada di dataran tinggi maupun di dataran rendah agar dapat mengaplikasikan latihan kelincahan kepada siswa baik melalui permainan-permainan maupun melalui model-model lain yang tidak menjenuhkan bagi siswa. Setelah siswa memperoleh pengetahuan    dan gambaran tentang latihan kelincahan, Diharapkan dalam latihan selanjutnya siswa terus melatih kelincahan sehingga perkembangan tingkat kelincahan berkembang semaksimal mungkin.

Profil kerja ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan fisika dasar di Universitas Jember / Benediktus Beni Bomba

 

Kata Kunci : Kerja Ilmiah, Prestasi Belajar, Fisika Dasar Fisika Dasar merupakan dasar untuk memahami mata kuliah selanjutnya. Pada pembelajaran Fisika dilaksanakan secara inkuiri untuk menumbuhkan kemampuan serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup dalam meningkatkan prestasi belajar dan kerja ilmiah mahasiswa. Pentingnya prestasi belajar dan kerja ilmiah pada mahasiswa merupakan tingkat kecakapan untuk mengetahui profil keberhasilan yang diperoleh mahasiswa karena pengalaman yang diikutinya selama proses pembelajaran Fisika. Pada profil prestasi belajar, Pemahaman yang didapatkan mahasiswa dalam pembelajaran Fisika tidak hanya menyajikan fakta-fakta dan infomasi yang didapatkan, tetapi bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata, maka pada proses pembelajaran Fisika dapat ditekankan, pada proses berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah yang dapat dikembangkan dalam kehidupan nyata salah satunya adalah kerja ilmiah. Pentingnya profil kerja ilmiah pada mahasiswa dalam suatu perkuliahan dapat mengukur sejauh mana mahasiswa dalam memahami konsep yang didapatkan pada proses pembelajaran Fisika Dasar apakah sesuai dengan prestasi belajar yang didapatkan atau tidak. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana profil kerja ilmiah dan prestasi belajar pada mahasiswa di Universitas Jember. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada subyek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan Fisika jurusan FMIPA FKIP Universitas Jember terdiri dari 3 Offreing yang menempuh mata kuliah Fisika Dasar sedangkan sampelnya menggunakan teknik porpusive sampling yaitu Offering A dan B. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, lembar wawancara, dan tes yang berupa prestai belajar dan kerja ilmiah. Pada tes prestasi belajar berdasarkan hasil SPSS nilai Reliabilitasnya sebesar 0,734 sedangkan kerja ilmiah berdasarkan hasil dari SPSS nilai Reliabilitanya 0,832. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini maka teknik analisis data yang akan digunakan, yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Teknik analisis kuantitatif yang akan digunakan seperti persentase, rerata, modus, simpangan baku, nilai terendah, dan nilai tertinggi Hasil penelitian menunjukan bahwa pada pelaksanaan pembelajaran Fisika Dasar yang dinilai dari aspek-aspek yang diamati sudah cukup baik sedangkan kemampuan kerja ilmiah mahasiswa pada perkuliahan Fisika Dasar di UNEJ masih sangat kurang. Pada prestasi belajar mahasiswa di UNEJ perkuliahan Fisika Dasar masih kurang. Sedangkan bantuan-bantuan yang diberikan oleh dosen berupa tugas dan asisten dosen masih kurang optimal.

Professional development of EFL teachers at vocational schools / Mutmainnah Mustofa

 

Kata kunci: pengembangan profesional, guru bahasa asing, sekolah menengah kejuruan Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor dan strategi yang dipakai oleh para guru bahasa asing (EFL teachers) di sekolah menengah kejuruan sebagai kunci utama keberhasilan menjadi guru-guru profesional dalam hal penguasaan materi ajar dan peningkatan kompetensi bahasa Inggris untuk tujuan khusus (ESP) di jurusan mereka. Pengembangan professional merupakan sebuah proses belajar yang berlangsung sepanjang hidup dan bersifat kolaboratif yang memupuk pengembangan para pendidik, baik secara individual maupun sebagai anggota tim. Guru bahasa asing pada sekolah menengah kejuruan menggunakan berbagai macam strategi untuk menguasai materi ajar yang relevan dengan jurusan para siswanya dan terus meningkatkan pengembangan profesional mereka. Salah satu wujud dari penerapan Undang-Undang No. 14/2005 tentang profesionalisme pendidik dan kualitas pendidikan adalah adanya otonomi dan penerapan pembelajaran seumur hidup. Sebelum melakukan wawancara dengan subyek/responden, peneliti mempunyai pemahaman awal mengenai otonomi guru dalam menguasai materi ESP. Hal ini terkait dengan kebebasan guru dalam menyesuaikan input sebagai bekal untuk mengajar, setelah mereka menyelesaikan program studi pendidikan bahasa Inggris jenjang S1 dari fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan memperoleh pengalaman mengajar bahasa Inggris. Penelitian awal telah dilakukan guna mengetahui manfaat dari hasil kajian pengembangan profesionalisme guru bahasa asing pada sekolah menengah kejuruan. Penelitian yang menggunakan grounded theory ini dilakukan secara menyeluruh bertujuan untuk mengetahui pengembangan profesionalisme guru bahasa asing di beberapa sekolah menengah kejuruan. Ada dua permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini yaitu: 1) bagaimana guru ESP pada sekolah menengah kejuruan menguasai materi pelajaran yang diajarkan, dan 2) bagaimanakah cara mereka mengembangkan kompetensi pada materi ESP pada masing-masing jurusan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen seperti peneliti, rekaman kaset, dan pertanyaan yang tersusun pada interviu dan dokumen lain berupa portofolio. Subyek penelitian terdiri dari tiga orang tenaga pengajar dari sekolah menengah kejuruan jurusan Teknologi Otomotif, Pariwisata dan Kerajinan Tangan. Penentuan subyek penelitian berdasarkan pada kemampuan keilmuan yang dimiliki oleh tenaga pengajar pada beberapa sekolah menengah kejuruan yang ada di Kota Malang. Data hasil interviu dibuat dalam bentuk transkripsi dan dianalisis dengan menggunakan teori Model Induktif yang dipelopori oleh Hatch. Teori ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara penguasaan materi GE dan ESP terhadap pengembangan karir tenaga pengajar di sekolah menengah kejuruan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan antara beberapa fenomena sebagai berikut: Pertama, penguasaan materi GE berpengaruh terhadap penguasaan materi ESP. Penguasaan materi GE membantu guru dalam mengajar ESP pada masing-masing program studi yang ada. Kedua, meskipun subyek 2 menguasai GE dengan baik, namun masih mendapatkan kesulitan untuk memahami materi ESP yang diajarkannya. Ketiga, subyek 3 kurang memahami GE, namun hal ini bukanlah faktor penghalang bagi guru tersebut untuk menjadi guru pengajar ESP yang handal pada masing-masing program studi. Motivasi dan komitmennya yang tinggi selalu mendorong guru tersebut menentukan berbagai strategi jitu untuk menguasai materi ESP dan mengajarkannya kepada siswa didiknya. Beberapa strategi yang telah dilakukan oleh ketiga subyek sebagai upaya meningkatkan profesionalismenya antara lain melalui membaca buku sumber, mendengarkan kaset, interaksi dengan penutur asli (native speakers) dan memanfaatkan fasilitas internet seperti You Tube maupun perangkat lunak lainnya. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru pengajar bahasa asing pada sekolah menengah kejuruan berkembang ke arah profesional karena adanya strategi otonomi dari guru-guru tersebut, meskipun mereka memiliki input yang berbeda. Yang dimaksud dengan input di sini adalah poin awal sebagai bekal untuk berkembang kearah profesionalisme. Guru-guru ini belajar dari pengalaman bekerja terdahulu, pengalaman mengajar, dan dari berbagai sumber yang tersedia seperti kegiatan kursus dan penataran. Semua kegiatan tersebut menunjukkan rekam jejak perjalanan pengembangan profesional mereka.

Analisis metode PDM (precedence diagram method) untuk waktu penyelesaian proyek dan penerapannya / Erlinda Dwi Tugas R.

 

Kata Kunci: Penjadwalan, Manajemen Proyek, Jaringan Kerja, PDM. Proyek pembangunan rumah merupakan contoh kegiatan proyek yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Proyek tersebut mempunyai kegiatan-kegiatan yang banyak. Pada proyek tersebut permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menentukan jadwal proyek sehingga proyek tersebut dapat diselesaikan dengan waktu yang optimal. sehingga penjadwalan dengan menggunakan diagram jaringan kerja dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu metode jaringan kerja yang dapat digunakan untuk menyelesaikan durasi proyek tersebut di atas adalah Precedence Diagram Method (PDM). Penjadwalan aktivitas pada PDM ini dilakukan dalam 3 tahap, antara lain perhitungan maju (Forward Pass), perhitungan mundur (Backward Pass), dan perhitungan float time. Hal ini dilakukan untuk mencari kegiatan kritis pada proyek tersebut. Kegiatan kritis merupakan kegiatan yang tidak boleh mengalami penundaan waktu karena dapat mengakibatkan perubahan durasi proyek secara keseluruhan. Data yang digunakan dalam contoh sebagai penerapan dari metode ini adalah berupa data sekunder (dari buku) dan data primer (observasi lapangan) pada pembangunan rumah tipe 36 di Mojo Asri Residence, Mojokerto. Pada metode PDM, selain dengan menggunakan perhitungan manual, disertakan pula hasil penyelesaian dengan menggunakan program Primavera Project Planner (P3). Selain menggunakan metode PDM, dilakukan pula perhitungan dengan menggunakan metode CPM model AOA pada program WinQSB dan CPM model AON. Terdapat 63 kegiatan beserta logika ketergantungan yang teridentifikasi pada pembangunan rumah tersebut. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode PDM antara lain: proyek dimulai pada tanggal 5 September 2011 dan berakhir pada tanggal 3 November 2011 sehingga waktu optimal yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut adalah 60 hari, ada 23 kegiatan kritis yang waktu pelaksanannya tidak boleh ditunda. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode CPM model AOA pada program WinQSB antara lain: waktu optimal yang diperlukan adalah 61 hari dan ada 23 kegiatan kritis yang waktu pelaksanannya tidak boleh ditunda. Dari hasil yang diperoleh, perhitungan dengan metode PDM lebih optimal dibanding dengan metode CPM model AOA karena metode PDM dapat menghandle kegiatan yang tumpang tindih.

Hubungan kemampuan motorik dengan prestasi menendang bola ke arah gawang siswa SSB unibraw 82 malang / Dwi Rudy Prasetyo

 

Kata kunci : penelitian kuantitatif, motorik, kecepatan, kelincahan, menendang bola ke arah gawang, Siswa SSB UNIBRAW 82 Malang. Kemampuan motorik menurut Menurut Rusli Lutan (1988: 96) bahwa, “Kemampuan motorik lebih tepat disebut sebagai kapasitas dari seseorang yang berkaitan dengan pelaksanaan dan peragaan suatu ketrampilan yang relatif melekat setelah masa kanak-kanak”. Komponen kemampuan Motorik yaitu kecepatan, kelincahan, keseimbangan, daya ledak dan Kekuatan, tetapi jika hanya kekuatan dan kelincahan yang diberikan perlakuan berupa peragaan atau pelaksanaan menendang bola ke arah gawang apakah akan menghasilkan hubungan yang positif, hal inilah yang mendorong peneliti melakukan penelitian ini. Rumusan masalah penelitian ini 1)Apakah ada hubungan antara kemampuan motorik kelincahan dengan prestasi menendang bola ke arah gawang ? 2)Apakah ada hubungan antara kemampuan motorik kecepatan dengan prestasi menendang bola ke arah gawang ? 3) Apakah ada hubungan antara kemampuan motorik kecepatan dan kelincahan dengan prestasi menendang bola ke arah gawang ? Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui : 1) Apakah ada hubungan antara kecepatan dengan hasil menendang bola ke arah gawang, 2) Apakah ada hubungan antara kelincahan dengan hasil menendang bola ke arah gawang, dan 3) Apakah ada hubungan antara kedua kemampuan motorik tersebut dengan hasil menendang bola ke arah gawang, Metode penelitian menggunakan survei dengan teknik tes. Hipotesis penelitian adalah : 1) Ada hubungan antara kecepatan lari dengan hasil menendang bola ke arah gawang,2) Ada hubungan antara kelincahan dengan hasil menendang bola ke arah gawang, 3) Ada hubungan antara kedua kemampuan motorik tersebut dengan hasil menendang bola ke arah gawang. Variabel penelitian meliputi variabel bebas (prediktor) terdiri dari 1)Kecepatan (X1), 2) Kelincahan (X2), dan variabel terikat (kriterium) atau Y adalah Hasil menendang bola ke arah gawang. Populasi penelitian sebanyak 40 orang, dengan menggunakan teknik total sampling diperoleh sampel sebanyak 40 orang. Data kemampuan penelitian diolah menggunakan teknik regresi tunggal dan regresi ganda menggunakan program SPSS versi 18, menggunakan taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan yang signifikan antara kecepatan dengan prestasi menendang bola ke arah gawang r = 0,659 dengan sumbangan efektif sebesar 12,856% dan sumbangan relatif sebesar 21,163% (2) terdapat hubungan yang signifikan antara kelincahan dengan prestasi menendang bola ke arah gawang r =0,768 dengan sumbangan efektif sebesar 47,891% dan sumbangan relatif sebesar 78,837% (3) secara bersama-sama terdapat hubungan yang signifikan antara kecepatan dan kelincahan dengan prestasi menendang bola ke arah gawang R = 0,779 dengan total sumbangan efektif sebesar 60,746%. Berdasar pada simpulan kemampuan penelitian ini, disarankan kepada para pelatih sepakbola SSB UNIBRAW 82 Malang, bahwa dalam pelatihan menendang bola ke arahgawang aspek kecepatan dan kelincahan, dapat dijadikan sebagai materi pendukung didalam penyusunan program pelatihan pada siswa SSB UNIBRAW 82 Malang, agarproses pelatihan menendang bola ke arah gawang yang dilakukan dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan kemampuan siswa SSB UNIBRAW 82 Malang.

Pengembangan bahan ajar mata kuliah pengambangan media grafis untuk mahasiswa S1 teknologi pendidikan universitas negeri malang / Utari Dewi

 

Tesis Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sulton, M.Pd, (2) Dr. Anselmus J.E Toenlioe, M.Pd Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, Pengembangan Media Grafis. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah mengidentifikasi dan memecahkan masalah belajar. Pemecahan masalah belajar tersebut amat penting karena terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan adanya proses pembelajaran yang berkualitas akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu sumbangan nyata yang dapat ditunjukkan bidang Teknologi Pembelajaran adalah penyediaan sumber-sumber belajar melalui kegiatan pengembangan (development). Pengembangan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang timbul dalam pembelajaran yaitu mahasiswa kesulitan dalam mendapat referensi yang relevan untuk produksi media grafis dikarenakan buku ajar yang ada kurang sesuai dengan karakteristik mahasiswa dan karakteristik mata kuliah khususnya dalam hal kemenarikan visual. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar mata kuliah Pengembangan Media Grafis yang dilengkapi dengan panduan dosen dan panduan mahasiswa dikembangkankan untuk mahasiswa Teknologi Pendidikan jenjang S1 di Universitas Negeri Surabaya. Dalam mengembangkan rancangan pembelajaran maka diperlukan suatu model pengembangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik isi yang dikembangkan. Model pengembangan bahan ajar mata kuliah Pengembangan Media Grafis ini menggunakan model Recursive, Reflektif, Design and Development (R2D2) yang dipandang sesuai dengan karakteristik mata kuliah dan mengacu pada pembelajaran konstruktif. Struktur model R2D2 mempunyai tiga titik fokus yaitu define, design and development dan dissemination. Tiga titik fokus tersebut merupakan prosedur R2D2 yang sifatnya flexible artinya tidak menjadi langkah-langkah prosedural yang kaku dalam pelaksanaannya dan tidak ada keharusan untuk mengikutinya. Model ini merupakan lawan dari model pengembangan yang sistematis. Hasil pengembangan divalidasi melalui evaluasi formatif yang terdiri dari penilaian ahli dan uji coba. Penilaian ahli meliputi: 1) ahli isi pembelajaran, 2) ahli desain pembelajaran dan 3) ahli media pembelajaran. Hasil tinjauan para ahli dijadikan dasar dalam perbaikan produk yang selanjutnya dapat dilakukan uji coba untuk mendapat masukan dari para pengguna. Uji coba tersebut meliputi 1) uji coba perorangan bagi empat orang mahasiswa, 2) uji kelompok kecil bagi delapan mahasiswa dan 3) uji kelompok besar/ lapangan bagi 30 orang mahasiswa. Berdasarkan hasil evaluasi formatif yang telah dilakukan terhadap bahan ajar mata kuliah Pengembangan Media Grafis dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan ini dinilai layak digunakan sebagai salah satu sumber belajar mata kuliah Pengembangan Media Grafis bagi mahasiswa Teknologi Pendidikan jenjang S1 di Universitas Negeri Surabaya

Pengaruh variasi garam amonium(Nh4cl (Nh4)2C2O4,(Nh4)2So4)pada aktifitasi zeolit-ni sebagai adsorben gas buang sepeda motor bensin 4 tak / Faisol Hidayat

 

Kata kunci: zeolit, nikel, adsorpsi, kadar gas buang Perkembangan otomotif terutama sepeda motor yang cukup pesat telah memberikan kemudahan kepada manusia dalam aktivitas hidupnya, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan tetap ada terutama polusi udara. Polusi udara dari sepeda motor tersebut berupa gas CO, CO2, dan hidrokarbon rantai rendah sangat berbahaya bagi manusia seperti gangguan pernapasan dan kanker kulit. Zeolit yang merupakan kristal aluminosilikat terhidrasi yang mempunyai kemampuan adsorpsi tinggi, sehingga dapat dijadikan adsorben gas CO, CO2, dan hidrokarbon rantai rendah dari sepeda motor. Untuk mendapat hasil adsorpsi yang optimal maka zeolit alam diaktivasi dan impregnasi dengan ion logam. Jenis garam amonium sangat berpengaruh terhadap keasamaan padatan, harga rasio Si/ Al dan kemampuan adsorpsi dari zeolit. Zeolit dengan keasamaan padatan dan harga rasio Si/Al yang tinggi, memiliki kemampuan adsorptivitas yang tinggi terhadap gas buang dari sepeda motor. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh variasi jenis garam amonium terhadap keasamaan padatan, harga rasio Si/ Al zeolit dan kemampuannya mengadsorpi gas CO, CO2, dan hidrokarbon rantai rendah dari sepeda motor. Dalam penelitian ini sampel zeolit yang digunakan berukuran 100-120 mesh. Proses aktivasi sampel zeolit alam dilakukan dengan merendam terlebih dahulu ke dalam larutan HF 1% dan HCl 6 M, dan larutan amonium (amonium klorida, amonium oksalat dan amonium sulfat) dengan konsentrasi masing-masing 1 M, yang diikuti pemanasan pada suhu 750oC. Kemudian diimpregnasi melalui perendaman dengan larutan NiCl2.4H2O, dan dipanaskan pada suhu 8000C di dalam furnace selama 4 jam.Dari proses aktivasi dan impregnasi tersebut diperoleh Z-Ni1 (zeolit alam diaktivasi dengan amonium klorida), Z-Ni2 (zeolit alam diaktivasi dengan amonium oksalat), Z-Ni3 (zeolit alam diaktivasi dengan amonium sulfat). Karakterisasi sampel zeolit meliputi keasaman padatan dan rasio Si/ Al zeolit. Uji adsorpsivitas sampel zeolit dilakukan terhadap gas CO, CO2, dan hidrokarbon rantai rendah dari sepeda motor dengan waktu 15, 25 dan 40 menit. Hasil penelitian menunjukkan zeolit alam yang diaktivasi dengan garam amonium sulfat dan diimpregnasi dengan logam Nikel lebih efektif untuk meningkatkan jumlah keasamaan dan rasio Si/ Al, yaitu adalah 3,725 dan 6.878. Z-Ni3 (zeolit alam diaktivasi dengan amonium sulfat dan diimpregnasi dengan logam Nikel) mempunyai kemampuan adsorpsi yang lebih besar terhadap gas CO (64.82%), CO2 (60,00%) dan hidrokarbon rantai rendah (10,95%) dari sepeda motor serta mencapai titik jenuh pada waktu 40 menit.

Pemetaan distribusi pada permukaan bumi satu titik sumber panas di Cangar Sumber Brantas, Kec, Bumi Aji, Kab, Malang Prop, Jawa Timur / Benediktus Beni Bomba

 

Kata Kunci: Panas Bumi, Pemetaan, Metode Geothermal Panas bumi merupakan suatu energi alternatif dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mempunyai resiko sangat minimal, karena relatif aman terhadap lingkungan serta ketersediaan yang sangat potensi di bumi Nusantara.Panas bumi adalah anugerah alam yang merupakan sisa-sisa panas dari hasil reaksi nuklir yang pernah terjadi pada awal mula terbentuknya bumi dan alam semesta ini Penggunaan panas bumi sebagai salah satu sumber tenaga listrik memiliki banyak keuntungan di sektor lingkungan maupun ekonomi bila dibandingkan sumber daya alam lainnya seperti batubara, minyak bumi, air dan sebagainya. Pemanfaatan energi panas bumi sangat berperan dalam era saat ini. Mengingatkan akan banyaknya kebutuhan energi yang di perlukan untuk menggerakkan pembangunan khususnya dalam bidang industri maka perlu penyediaan energi yang begitu besar sebagai contoh adalah energi panas bumi prospek adanya energi panas bumi di indonesia terdapat di berbagai daerah, salah satunya adalah di permandian Cangar Sumber Brantas, Kec. Bumi Aji, kab. Malang, Prop. Jawa Timur. yang dijadikan tempat penelitian. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui aliran panas pada sumber mata air panas dan menjelasakan bentuk aliran pada daerah penelitian dibawah permukaan daerah penelitian dengan melakukan pemetaan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dari hasil pemetaan T1( pusat) pertama ke pusat berikutnya T7 (pusat) mempunyai nilai suhu yang sangat bervariasi Dengan jarak 40 meter ke bawah suhu menunjukan nilai yang berkisar 22ºC sampai dengan 38ºC tapi dititik yang lain masih ada yang berkisar pada suhu 46ºC hal ini menunjukan variasi nilai pada Suhu di dekat aliran panas dipengaruhi oleh suhu Alam disekitar pusat aliran panas atau variasi temperatur Alam yang selalu berubah. Sedangkan untuk mengetahui nilai kalor jenisnya di sekitar pusat penelitian dari beberapa sampel memiliki kandungan yang sama yaitu Al, Si, S, K, Ca, Ti, V, Cr, Mn, Fe, Cu, Zn, Sr, Mo, Ba, Eu, Re. Tapi ada beberapa nilai kandungan yang sangat besar yang diambil unutk mengetahui nilai kalor jenisnya yaitu Al yang mempunyai nilai 13% dan Si yang mempunyai nilai 34,6%, sedangkan Ca dan Fe mempunyai nilai 14,1% dan 27,4%. Sedangkan dari hasil perhitungan nilai kalor jenisnya dari sampel yang telah diambil adalah c 1, c 2, c 3, c 4, c 5, c 6, c 7 mepunyai nilai 3,77 cal/gr, 0,16 cal/gr, 0,16 cal/gr 0,84 cal/gr, 0,047 cal/gr, 0,074 cal/gr dan 0,039 cal/gr. Berdasarkan hasil dan interprestasi maka dapat disimpulkan bahwa daerah ini relatif bersifat homogen karena sesuai dengan nilainya pola penyebarannya di lokasi penelitian mempunyai 2 tempat penyebaran. Pada Sistem geothermal dipermandian daerah Cangar sangat bervariasi ini dibuktikan dengan mengukur pusat 1 ( pertama) di permandian air panas. Panas multimeter Digital menunjukan bahwa didekat pusat terdapat variasi suhu yang berbeda. Hasil pengukuran suhu pada pusat menunjukan aliran panas pada pusat mempunyai variasi yang berbeda dari T1 sampai dengan T7. Dengan jarak 40 meter ke bawah suhu menunjukan nilai yang berkisar 22ºC sampai dengan 38ºC tapi dititik yang lain masih ada yang berkisar pada suhu 46ºC hal ini menunjukan variasi nilai pada Suhu di dekat aliran panas dipengaruhi oleh suhu Alam disekitar pusat aliran panas atau variasi temperatur Alam yang selalu berubah.

Penerapan model pembelajaran think pair share (TPS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas 5 SDN Donomulyo 07 Kabupaten Malang / Tri Sulistiani

 

Kata Kunci: Think Pair Share (TPS), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif merupakan hal yang sangat penting . Kondisi pembelajaran yang efektif dapat terwujud apabila guru mampu menciptakan sebuah pola belajar yang menarik. Dengan sebuah model pembelajaran guru dapat merencanakan, merancang dan mengimplementasikan sebuah pola pembelajaran yang dapat membantu siswa mendapatkan informasi, ide, dan keterampilan. Penerapan model yang menarik dan melibatkan siswa secara langsung, juga dapat menciptakan suasana belajar yang bermakna. Penelitian ini terlaksana didasarkan pada kurang maksimalnya aktivitas dan hasil belajar siswa. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) tersebut. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan PTK dilakukan dalam 2 siklus. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas 5 SDN Donomulyo 07 yang berjumlah 18 siswa. Instrumen yang digunakan adalah panduan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa. Pada siklus 1 persentase aktivitas siswa sebesar 64,55%, sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan dengan persentase 82,22%. Untuk hasil belajar IPS siswa mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Pada pratindakan rata-rata kelas sebesar 45,05 (5,55%), rata-rata kelas pada siklus 1 68,36 (33,33%) dan pada siklus 2 rata-rata kelas 75,38 (83,33%). Pada siklus 2 rata-rata kelas telah mencapai ketuntasan belajar sehingga siklus dihentikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 5 SDN Donomulyo 07. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah bahwa guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran TPS pada mata pelajaran lainnya agar siswa menjadi lebih aktif dan hasil belajarnya meningkat. Model ini tidak rumit dan sangat fleksibel diterapkan pada mata pelajaran apapun

Gaya hidup dan perilaku konsumtif mahasiswa dalam perspektif status sosial ekonomi orang tua / Evika Febriana Pratiwi

 

Kata Kunci :gaya hidup, perilaku konsumtif, status sosial ekonomi orang tua Dalam memenuhi kebutuhannya, konsumen seringkali didorong oleh motif tertentu untuk mendapatkan prduk/jasa yang dibutuhkannya. Motif konsumsi yang berkembang pada masyarakat modern saat ini adalah lebih banyak berdasarkan emosional motif daripada rasional motif. Fenomena yang dihadapi masyarakat modern dalam kehidupan sehari-hari adalah diwarnai dengan maraknya kegiatan konsumsi. Konsumsi terhadap suatu barang merupakan gaya hidup tertentu dari kelompok status tertentu. Konsumsi terhadap barang merupakan gaya hidup tertentu. Konsumsi terhadap barang merupakan landasan bagi penjejangan dari kelompok status. Seseorang yang berada dalam kelas atas cenderung mempunyai gaya hidup yang berbeda dengan kelas bawah. Secara otomatis seseorang yang berada di kelas atas cenderung untuk berkonsumsi lebih banyak dibandingkan seseorang yang berada di kelas bawah. Hal ini terjadi karena dengan sumberdaya yang melimpah akan membuat seseorang mudah dalam membelanjakannya dan apabila penggunaan tersebut dilakukan tanpa landasan rasional maka akan mengarah pada perilaku konsumtif. Mahasiswa merupakan pelajar yang belajar di Perguruan Tinggi, jenjang pendidikan setelah masa Sekolah Menengah Atas. Dilihat dari sudut usia, mahasiswa ekonomi pembangunan angkatan 2011, yang berkisar antara umur 19 tahun merupakan tahap golongan remaja akhir (masa dewasa dini). Gaya hidup mahasiswa ini tak jauh berbeda pula dengan pelajar sekolah menengah, mereka masih cenderung berubah-ubah karakternya untuk menacapai tujuan menemukan jati diri. Mahasiswa sering berkumpul menghabiskan waktu luang mereka untuk berbagi informasi dan pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis: (1) Perbedaan gaya hidup mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua, (2) Perbedaan perilaku konsumtif mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua, (3) Perbedaan gaya hidup dan perilaku konsumtif mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan yang berjumlah 159 mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Data dianalisis dengan teknik prosentase, korelasi, dan regresi dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa terdapat perbedaan gaya hidup mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua. Terdapat juga perbedaan perilaku konsumtif mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua. Oleh karena itu diharapkan mahasiswa dapat bersikap hati-hati dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, dan mempertahankan kepribadiannya, sehingga mereka dapat mandiri dalam keputusan pembeliannya dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dalam melakukan pembelian dengan demikian maka mahasiswa akan mempunyai kepribadian yang kuat, mandiri, cerdas dan efisien dalam berkonsumsi. Berdasarkan hasil analisis dapat di simpulkan bahwa: (1) Ada pengaruh positif gaya hidup mahasiswa terhadap status sosial ekonomi orang tua, dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara gaya hidup mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua . (2) Ada pengaruh positif perilaku konsumtif mahasiswa terhadap status sosial ekonomi orang tua, dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa terdapat perebedaan antara perilaku konsumtif mahasiswa dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua. (3) Ada pengaruh positif gaya hidup (X1) dan perilaku konsumtif (X2) terhadap status sosial ekonomi orang tua (Y), variabel-variabel tersebut secara bersama-sama mempengaruhi status sosial sosial ekonomi orang tua, dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan gaya hidup dan perilaku konsumtif dalam persepektif status sosial ekonomi orang tua. Berdasarkan saran yang telah di lakukan, maka saran yang diberikan adalah: (1) bagi mahasiswa, diharapkan mahasiswa dapat mengendalikan kecenderungan dalam berperilaku konsumtif. Mahasiswa hendaknya menerapkan pembelajaran ekonomi tentang perilaku konsumen yang telah diajarkan di kelas, terkhusus dalam berperilaku rasional dalam berkonsumsi. (2) bagi peneliti lain, hendaknya meneliti variabel lain yang mempengaruhi perilaku konsumtif diluar variabel status sosial ekonomi orang tua, dan tentang gaya hidup individu. Selain itu hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar penelitian selanjutnya, dengan cara menambah sub variabel dan indikator dalam melakukan penelitian di tempat lain yang sejenis. (3) bagi universitas negeri malang, hendaknya lebih mengembangkan pendidikan karakter mahasiswa agar lulusan universitas tidak hanya paham ilmu ekonomi tetapi juga didukung rasionalitas dan moralitas ekonomi yang baik dalam prakteknya. (4) bagi orang tua, sebagai pihak pertama yang memberikan dukungan kepada putra-putrinya selama di rumah. Orang tua harus selalu memberikan arahan dan dorongan kepada putra-putrinya bahwa status sosial ekonomi orang tua tidak selalu menjadi jaminan bahwa mahasiswa tersebut harus memiliki gaya hidup berekonomi yang baik.

Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar un tuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran SBK siswa kelas III SDN Oro-oro Dowo Kota Malang / Santi Herrini

 

Kata Kunci: Lingkungan, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, SBK. Hasil observasi awal di SDN Oro-oro Dowo Kota Malang belum pernah memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar khususnya pada mata pelajaran SBK. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada materi sikap apresiatif pada simbol benda tiga dimensi sehingga menyebabkan 17 dari 27 siswa nilainya di bawah KKM sekolah yaitu sebesar 70. Penelitian ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran memanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar siswa kelas III SDN Oro-oro Dowo Kota Malang pada mata pelajaran SBK materi gambar imajinatif; (2) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar siswa kelas III SDN Oro-oro Dowo Kota Malang pada mata pelajaran SBK materi gambar imajinatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK meliputi empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan dan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Penelitian ini dilakukan di kelas III SDN Oro-oro Dowo Kota Malang yang berjumlah 27 siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi, tes, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan kemudian dianalisis dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek sikap, kerjasama, dan keefektifan pada siklus I masih rendah karena siswa masih cenderung bersikap pasif pada saat pembelajaran berlangsung dan pada siklus II meningkat naik karena siswa sudah dapat berperan aktif pada setiap kegiatan pembelajaran. Hasil belajar siswa juga meningkat pada aspek kebersihan, kerapian, dan pewarnaan dalam menyelesaikan karya. Hal ini ditunjukkan dengan pra tindakan yang memiliki ketuntasan belajar sebanyak 10 siswa (37,03%) mengalami kenaikan dari hasil belajar pada siklus I menjadi 19 siswa (70,37%) dan mengalami kenaikan lagi pada siklus II menjadi 27 siswa (100%). Hal ini juga terlihat dari ketidak tuntasan siswa yang tadinya pra tindakan dari 17 siswa (62,96%) berkurang menjadi 8 siswa (29,63%) pada siklus I. Pada Siklus II semua siswa mengalami ketuntasan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar siswa kelas III SDN Oro-oro Dowo Kota Malang pada mata pelajaran SBK materi gambar imajinatif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil penilitian ini bagi Kepala Sekolah dapat memotivasi dan mengarahkan Guru agar lebih terfokus dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar yang salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

Pengaruh inflasi, nilai tukar rupiah, dan tingkat suku bunga SBI terhadap IHSG di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010 / Windarti Melia

 

Kata kunci: Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, Suku Bunga, IHSG Pasar modal merupakan salah satu tempat yang paling potensial dalam berinvestasi. Instrumen yang paling banyak diminati dalam pasar modal adalah saham. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengamati perkembangan saham di Indonesia adalah indeks harga saham gabungan (IHSG). Perkembangan harga IHSG dapat menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Pergerakan IHSG dapat dipengaruhi oleh keadaan makro ekonomi Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh inflasi, nilai tukar rupiah, dan suku bunga terhadap indeks harga saham gabungan di bursa efek Indonesia tahun 2008-2010. Populasi penelitian ini adalah indeks harga seluruh saham yang ada di BEI yang terdaftar dari 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2010. Penentuan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan sampling jenuh atau sampel sensus, yaitu teknik penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel sehingga diperoleh 36 sampel. Ada 4 (empat) variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) Indeks Harga Saham Gabungan, (2) Inflasi, (3) Nilai Tukar Rupiah, dan (4) Tingkat Suku Bunga SBI. Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif yang dikumpulkan secara time series. Teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder yang kemudian dianalisis deskriptif dan dilanjutkan dengan pengujian asumsi klasik. Untuk data yang memenuhi asumsi klasik maka akan dilanjutkan untuk uji regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan inflasi, nilai tukar rupiah dan suku bunga berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Sedangkan secara parsial inflasi berpengaruh signifikan positif terhadap IHSG, nilai tukar rupiah berpengaruh signifikan negatif terhadap IHSG, dan suku bunga berpengaruh signifikan negatif terhadap IHSG. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggabungan variabel inflasi, nilai tukar rupiah dan suku bunga SBI relevan digunakan untuk memprediksi IHSG di masa yang akan datang. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) Bagi investor disarankan tidak terburu-buru untuk melakukan aksi jual maupun beli dan lebih bersikap rasional dalam pengambilan keputusan (2) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk tidak menggunakan variabel inflasi dan nilai suku bunga SBI dalam satu persamaan.

Promosi pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Malang Regional Office / Zainollah

 

Kata Kunci : Promosi Strategi pemasaran yang dibuat harus mempertimbangkan situasi dan keadaan perusahaan baik keadaan intern perusahaan itu sendiri atau lingkungan mikro perusahaan, maupun keadaan ekstern perusahaan atau yang dikenal dengan lingkungan makro perusahaan. Perusahaan yang berjaya dan mampu mempertahankan serta meningkatkan penjulannya ditengah-tengah pesaingnya adalah perusahaan yang telah berhasil menetapkan strategi pemasarannya serta strategi bersaingnya dengan tepat. Adapun penentuan promosi bersaing seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan berapa besar dan posisi masing-masing perusahaan dalam pasar, karena perusahaan yang besar mungkin dapat menerapkan stretegi promosi tertentu yang jelas tidak bisa dilakukan oleh perusahaan kecil. Demikian pula sebaliknya, bukanlah menjadi sesuatu hal yang jarang terjadi bahwa perusahaan kecil dengan strateginya sendiri mampu menghasilkan tingkat keuntungan yang sama atau bahkan lebih baik daripada perusahaan besar, sehingga promosi yang dilakukan PT. asuransi jiwasraya (persero) malang regional office harus benar-benar memberikan dampak yang baik dan bersaing agar perusahaan tersebut

Hubungan antara jender, masa kerja, semangat kerja dan aktifitas pelatihan dengan pengambilan keputusan Kepala Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Jember / Sumardi

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang Pembimbing: (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: jender, masa kerja, semangat kerja, aktivitas pelatihan, pengambilan keputusan Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan. Melalui pendidikan, kualitas SDM akan semakin meningkat. Guna mewujudkan pendidikan yang benar-benar mampu menghasilkan sumber daya yang handal, dibutuhkan proses manajemen yang baik. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok organisasi atau pimpinan organisasi untuk mencapai tujuan atau kompetensi pendidikan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah dalam pengelolaan satuan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya sekolah terutama mendayagunakan guru dalam pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Pengelolaan pendidikan di sekolah berkaitan dengan pendelegasian wewenang kepada kepala sekolah. Agar wewenang yang diberikan dapat dijalankan dengan baik, maka diperlukan kepala sekolah yang kompeten dalam menjalankan program-program sekolah termasuk segala wewenang yang dilimpahkan untuk mengambil keputusan. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa ada kecenderungan para kepala sekolah tunduk kepada birokrasi, yakni dengan menggunakan kekuasaan mereka saja dalam implementasi program-program dari pusat. Pola ini nampak berlangsung secara mekanistik. Sebaliknya, kepemimpinan kepala sekolah di masa yang akan datang hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi di bidang pendidikan, sesuai semangat reformasi dan desentralisasi. Pengambilan keputusan oleh KS menjadi sangat urgen dibicarakan, karena pada saat ini, keputusan yang tidak populer dan melalui tahapan yang aspiratif, cenderung menimbulkan ketidakpuasan stakeholder, sehingga akan berakibat kurang baik terhadap kerja dan kinerja secara keseluruhan. Dalam mengambil keputusan seringkali dihadapkan pada berbagai kondisi, antara lain unik, tidak pasti, dinamis, jangka panjang, dan kompleks. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana gambaran hubungan antara variabel jender, masa kerja, semangat kerja, aktivitas pelatihan, dan pengambilan keputusan kepala sekolah menengah pertama di Kabupaten Jember. Apakah terdapat hubungan langsung atau tidak langsung dari variabel-variabel tersebut dan bagaimana model hubungan antar variabel secara struktural. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jender, masa kerja, semangat kerja, aktivitas pelatihan, dan pengambilan keputusan kepala sekolah menengah pertama di Kabupaten Jember. Selain itu, untuk mengetahui ada tidaknya hubungan masing-masing variabel, baik hubungan secara langsung maupun hubungan tidak langsung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian survey. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan subyek yang berkaitan dengan jender, masa kerja, semangat kerja, aktivitas pelatihan, dengan pengambilan keputusan kepala sekolah pada pendidikan menengah pertama di Kabupaten Jember. Sampel penelitian sebanyak 154 kepala sekolah pada taraf signifikan 0,05%, diambil dari populasi sebesar 260 kepala sekolah SMP yang menyebar di 31 kecamatan di Kabupaten Jember dengan teknik proporsional random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui instrumen angket yang telah terbukti memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang dipersyaratkan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa jender, masa kerja, semangat kerja guru, aktivitas pelatihan, dan pengambilan keputusan Kepala Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Jember berada dalam kategori tinggi. Sementara analisis hubungan antar variabel menunjukkan bahwa pada taraf signifikan 0,05% atau taraf kepercayaan 95% terdapat: (1) hubungan langsung yang signifikan antara jender dengan pengambilan keputusan, (2) hubungan langsung yang signifikan antara masa kerja dengan semangat kerja, (3) hubungan langsung yang signifikan antara masa kerja dengan aktivitas pelatihan, (4) hubungan langsung yang signifikan antara masa kerja dengan pengambilan keputusan, (5) hubungan langsung yang signifikan antara semangat kerja dengan pengambilan keputusan, (6) hubungan langsung yang signifikan antara aktivitas pelatihan dengan pengambilan keputusan, (7) hubungan tidak langsung antara masa kerja dengan pengambilan keputusan melalui semangat kerja, (8) hubungan tidak langsung antara masa kerja dengan pengambilan keputusan melalui aktivitas pelatihan, dan (9) hubungan yang signifikan secara simultan antara jender, masa kerja, semangat kerja, dan aktivitas pelatihan dengan pengambilan keputusan Kepala Sekolah SMP di Kabupaten Jember. Berdasarkan temuan-temuan penelitian di atas, dapat dikemukakan saran sebagai berikut: (1) bagi pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan selaku pembina kepala sekolah dalam menjalankan tugas, agar hasil penelitian dijadikan dasar pengambilan keputusan dan kebijakan yang tepat dalam melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan, sehingga kepala sekolah yang ada di kabupaten Jember terus dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, (2) bagi kepala sekolah SMP di Kabupaten Jember, agar hasil penelitian dapat menambah pengetahuan tentang pengambilan keputusan, semangat kerja, dan aktivitas pelatihan. Dengan hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan masukan bagi para kepala sekolah untuk terus menerus mengevaluasi diri dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kinerjanya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Jember, dan (3) sangat diharapkan bagi peneliti berikutnya untuk mengkaji juga variabel-variabel lain yang mungkin saja berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, misalnya perilaku kepala sekolah, partisipasi guru, kepuasan kerja, budaya mutu, dan komitmen organisasi.

Analisis kesalahan penyelesaian soal cerita persamaan dan pertidaksamaan kuadrat berdasarkan tahapan polya oleh siswa x MAN Wlingi pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 / Rahma Ramadhani

 

Kata kunci: analisis kesalahan, soal cerita, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, tahapan Polya. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesalahan-kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal persamaan dan pertidaksamaan kuadrat serta faktor apa yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan deskriptif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-F MAN Wlingi. Tes tertulis sebanyak 5 soal cerita terhadap 34 siswa dengan alokasi waktu untuk mengerjakan 80 menit. Hasil tes dianalisis untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal. Jawaban siswa yang salah dikelompokkan kedalam kesalahan yang sama. Setelah itu dipilih 10 siswa yang melakukan kesalahan untuk diwawancarai. Wawancara dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal. Penelitian ini menggunakan langkah Polya untuk menganalisis penyelesaian soal matematika. Peneliti menyimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada masing-masing tahap, yaitu 1) tahap pemahaman soal yaitu siswa salah dalam menuliskan yang ditanyakan dan data yang diketahui dalam bentuk kata-kata sederhana atau simbol, siswa salah tidak menjawab soal dan siswa tidak lengkap dalam menuliskan yang ditanyakan dan yang diketahui dari soal, 2) tahap perencanaan langkah penyelesaian yaitu siswa salah dalam memodelkan soal, siswa salah kerena tidak menuliskan rumus/cara dan siswa salah dalam menuliskan rumus misalnya kurang lengkap dalam menuliskan rumus/cara, 3) tahap pelaksanaan langkah penyelesaian yaitu siswa salah dalam operasi atau perhitungan, siswa salah dalam memasukkan data serta siswa salah karena tidak melanjutkan langkah selesaian, 4) tahap peninjauan kembali yaitu siswa salah dalam menyimpulkan yaitu siswa salah dalam menuliskan jawaban atau bahkan siswa tidak menulis kesimpulan dan siswa salah karena tidak memeriksa kembali. Faktor-faktor yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan-kesalahan adalah siswa tidak memahami materi dengan baik, siswa tidak memahami soal cerita, siswa kurang memahami materi-materi yang sebelumnya pernah diajarkan, siswa tidak teliti dalam mengerjakan, siswa kurang cermat dalam membaca soal, siswa tidak dapat membagi waktu dengan baik saat mengerjakan soal. Berdasarkan penelitian ini disarankan 1) guru meningkatkan kualitas pembelajaran berdasarkan kesalahan penyelesaian soal yang dilakukan siswa, 2) guru disarankan juga memberikan soal yang merupakan aplikasi dari konsep ii persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, 3) guru hendaknya memastikan materi prasyarat sudah dikuasai siswa, 4) guru pada pembelajaran matematika dapat menyajikan setiap gagasan ataupun soal (masalah) yang mengarah pada penguasaan konsep, 5) siswa hendaknya sering berlatih menyelesaikan soal selain soal biasa juga soal dalam bentuk soal cerita, 6) siswa hendaknya benar-benar memahami materi sebelumnya yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan kuadrat.

Pengaruh leverage keuangan, kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap future value perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2010 / Ika Rakhmad Satria

 

Kata kunci : Leverage keuangan, kebijakan dividen, profitabilitas, dan future value perusahaan. Nilai perusahaan dapat diartikan sebagai ukuran nilai obyektif oleh publik dan orientasi pada kelangsungan hidup perusahaan. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan, yang sering dikaitkan dengan harga saham. Saat prediksi nilai perusahaan di masa depan tinggi, hal ini mengindikasikan harga saham yang tinggi pula. Nilai masa depan (Future Value) perusahaan dapat diukur menggunakan Proksi IOS (Investment Opportunity Set). Faktor-faktor yang mempengaruhi future value perusahaan diantaranya bergantung pada tingkat leverage keuangan, kebijakan dividen, dan profitabilitas perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh leverage keuangan, kebijakan dividen, dan profitabilitas terhadap future value perusahaan. Dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda untuk menguji hipotesis. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang go publik di BEI tahun 2009-2010. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara analisis dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan negatif dari leverage keuangan dan kebijakan dividen terhadap future value perusahaan. Variabel profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap future value perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan antara lain: (a) peneliti selanjutnya hendaknya menambahkan periode dan jumlah sampel, (b) diharapkan pada penelitian selanjutnya ditambahkan proksi-proksi lain sebagai pengukuran future value perusahaan ,(c) Dengan adanya pengaruh positif dan signifikan antara profitabilitas terhadap future value perusahaan, manajemen harus dapat meningkatkan profit agar nilai perusahaan meningkat, dan (d) investor hendaknya juga memperhatikan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap future value perusahaan seperti resiko, institutional ownership, dan kepemilikan manajerial.

Pengembangan model latihan teknik dasar menangkap bola untuk penjaga gawang sepak bola menggunakan media / Yudha Febrian Pradana

 

Kata Kunci: latihan, menangkap bola, penjaga gawang, media Sepakbola salah satu cabang olahraga yang sangat dikenal dan digemari oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia. Sepakbola permainan tim, maka perlu adanya kerjasama yang baik dalam suatu tim itu. Dalam sepakbola ada satu pemain yang perannya sangat penting dalam pertandingan sepakbola adalah penjaga gawang. Kejanggalan dari penjaga gawang, yaitu mereka menggunakan tangannya sementara pemain lain menggunakan kakinya. Tugas mereka adalah menghentikan bola yang meluncur dengan kecepatan 60 mil perjam, sehingga tidak berhasil memasuki gawang yang berukuran 7,32 x 2,44 meter. Penjaga gawang harus mempunyai kemampuan dalam menangkap bola yang baik dan benar yang wajib dikuasai penjaga gawang sepakbola agar bola tidak masuk ke gawang. Tujuan dari penelitian ini adalah, perlu pengembangan model latihan teknik dasar cara menangkap bola untuk penjaga gawang sepakbola menggunakan media, dikarenakan proses latihan masih kurang maksimal atau kurang efektif dan siswa mudah bosan. Juga untuk lebih mempermudah mempercepat siswa dalam pemahaman latihan teknik dasar kemampuan menangkap bola penjaga gawang. Prosedur pengembangan latihan teknik dasar menangkap bola untuk penjaga gawang sepakbola menggunakan media ini melalui beberapa tahap, antara lain: 1) melakukan analisis kebutuhan dengan melakukan riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal. 2) Pembuatan rancangan produk. 3) Evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli media dan 1 ahli kepelatihan sepakbola. 4) pembuatan produk awal. 5) Uji coba kelompok kecil (a) dan melakukan revisi produk pertama sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli. 6) Uji coba kelompok besar (b) dengan subjek yang lebih banyak dan melakukan revisi produk yang kedua sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli. 7) Produk hasil akhir pengembangan. Bentuk-bentuk latihan teknik dasar menangkap bola ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli, secara keseluruhan para ahli memberikan masukan yang baik dan setelah merevisi produk awal maka para ahli setuju dan produk yang sudah jadi siap untuk diuji cobakan di 5 Sekolah Sepakbola di Kabupaten Lumajang. Hasil analisis data yang diperoleh dari uji coba kelompok kecil (a) adalah 82.84%, sedangkan uji coba kelompok besar (b) adalah 84.53%. Oleh karena itu, produk latihan teknik dasar menangkap bola untuk penjaga gawang menggunakan media berupa Vidio Compac Disc (VCD) telah memenuhi kriteria dan semua isi dapat digunakan dalam kegiatan latihan penjaga gawang sepakbola di Sekolah Sepakbola Turangga, Bintang Kesit, Rajawali, Kudamas, Persegen Kabupaten Lumajang.

Pengembangan perangkat pembelajaran analisis elektrokimia untuk SMK program keahlian analisis kimia Malang / Mohammad Alex Firdaus

 

Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Analisis Elektrokimia, SMK. Pada pengajaran Kimia di SMK, bahan ajar termasuk faktor yang penting karena dapat membantu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sebagai sarana pendukung, tambahan informasi, ataupun alternatif untuk memperkaya sumber belajar siswa. Masalah yang berkembang di SMK saat ini salah satunya adalah belum tercukupinya bahan ajar yang dapat memenuhi standar kompetensi lulusan baik secara kuantitatif, kualitatif, dan relevansi. Bahan ajar belum tersusun rapi sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan KTSP SMK. SMK Program Keahlian Analisis Kimia mempunyai beberapa kompetensi yang harus dicapai. Salah satu kompetensinya adalah Analisis Elektrokimia. Dalam rangka pencapaian kompetensi, guru memerlukan bahan ajar yang relevan dengan kebutuhan siswa dan hal ini masih belum terpenuhi. Oleh karena itu, masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan pengembangan dan penyusunan perangkat pembelajaran yang di dalamnya terdiri dari bahan ajar berupa Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang sesuai untuk pembelajaran di SMK. Tujuan utama dari pengembangan adalah mengatasi permasalahan yang ada di SMK Analisis Kimia Malang, yaitu keterbatasan bahan ajar, dengan cara mengembangkan bahan ajar untuk materi Analisis Elektrokimia yang memenuhi standar kompetensi lulusan. Model pengembangan perangkat pembelajaran Analisis Elektrokimia Kelas XI Semester 1 mengacu pada model 4-D, akan tetapi hanya melakukan sampai pada D ketiga dan tidak melakukan D keempat. Adapun tahapan model pengembangan 4-D adalah sebagai berikut: (1) Pembatasan (Define), (2) Perancangan (Design), (3) Pengembangan (Develop), dan (4) Penyebarluasan (Disseminate). Dilakukan validasi isi dan uji coba terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Validasi hanya terbatas pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan LKS. Validator untuk validasi isi adalah satu Dosen Kimia FMIPA UM dan dua Guru SMK Program Keahlian Analisis Kimia. Instrumen pengumpulan data berupa angket/kuesioner dengan skala 4 tingkatan dan lembar saran/komentar. Data yang diperoleh berupa skor penilaian dan saran dari validator yang digunakan untuk menentukan validitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Teknik analisis data yang digunakan adalah perhitungan rata-rata dan persentase. Hasil penelitian dan pengembangan adalah perangkat pembelajaran Analisis Elektrokimia yang meliputi: (1) Silabus hasil pengembangan, (2) Rancangan Pembelajaran (RP), (3) RPP, dan (4) LKS. Hasil validasi terhadap RPP dan LKS menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan rata-rata dan persentase sebesar 3,58 dan 90,95% untuk RPP dan 3,60 dan 89,82% untuk LKS. Hasil uji coba petunjuk praktikum mencapai validitas 3,33 dan 83,05% yang berarti sudah layak untuk digunakan dalam pembelajaran yang sesungguhnya

Pengaruh customer relationship management (CRM) terhadap loyalitas pelenggan IM3 (Studi pada Mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM) / Erwin Budi Satria

 

Kata Kunci: Customer Relationship Management (CRM), Loyalitas Pelanggan Beberapa perusahaan masuk ke dalam setiap industri yang membuat persaingan menjadi sangat tinggi. Semua perusahaan berusaha untuk berinovasi dalam mengikuti selera pasar untuk memuaskan pelanggan mereka, sehingga diharapkan pelanggan dapat loyal pada perusahaan tersebut.Sekarang ini banyak orang di kalangan bisnis membicarakan Customer Relationship Management (CRM)sebagaisuatu strategi yang menitikberatkanpadasemuahal yang terkaitdenganfokuspadapelanggan. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui: (1) deskripsiCustomer Relationship Management (CRM) (identifikasi (X1), diferensiasi (X2), interaksi (X3), customize(X4) dan Loyalitas Pelanggan (Y) produk IM3 bagi mahasiswa jurusan Manajemen FE UM, (2) pengaruh CRMsecara parsialterhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3, (3) pengaruh CRMsecara simultan terhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3, (4) pengaruh dari sub variabel CRM yang dominan terhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan Manajemen FE-UM yang menggunakan IM3. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden.Sampel diambil dengan teknikMulty Stage Sampling yang terdiri dari Cluster Sampling, Proportional Sampling, dan Snowball Samplinguntukmenyebarkankuisioner yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2011.KuisionerdalampenelitianinitermasukdalamkuisionertertutupmenggunakanskalaLikert(Sangat Setuju, Setuju, Cukup Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju).Analisis data menggunakanregresi linier berganda. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa: (1) pada variabelidentifikasi (ketersediaan database, pengenalan individu, keamanan) IM3 tergolong cukup baik, (2) pada variabel diferensiasi (nilai pelanggan, kebutuhanpelanggan) IM3 tergolong cukup baik, (3) pada variabel interaksi (proses pertukaran, efektivitas) IM3 tergolong cukup baik, (4) pada variabel customize(kesesuaian jasa dengan nilai pelanggan, kesesuaian jasa dengan kebutuhan pelanggan) tergolong cukup baik, (5) pada variabel loyalitas pelanggan, keadaan loyalitas pelanggan IM3 tergolongtidak terlalu loyal. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh positif yang signifikan Customer Relationship Management (CRM) secara parsialterhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3,(2) terdapat pengaruh positif yang signifikan Customer Relationship Management (CRM)secara simultan terhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3, (3)Sub variabelinteraksimemilikinilaiSumbanganEfektif (SE) paling besaryaitu12,2%. CRM mempengaruhi loyalitas pelanggan sebesar 40,4% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) IM3 mampu menerapkan CRM dengan baik, (2) terdapat pengaruh positif yang signifikan CRMsecara parsialterhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3, (3) terdapat pengaruh positif yang signifikan CRMsecara simultanterhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3, (4) Jika dibandingkan dengan sub variabel identifikasi, diferensiasi, dan customize, sub variabel interaksi memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas mahasiswa jurusan Manajemen FE UM pada IM3. Saran yang dapat diberikan adalah: (1)CRM perlu ditingkatkan oleh IM3 agar dapat beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan, dengan begitu pelanggan akan mendapat berbagai pilihan layanan dalam satu kartu, sub variabel interaksi memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas pelanggan. Proses pertukaran yang dilakukan antara IM3 dengan pelanggan menjadi indikator terbaik. Sehingga penyediaan pelayanan dan informasi yang baik perlu ditingkatkan kembali, (2) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah variabel penelitian yang dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan selain variabel yang diteliti pada penelitian ini seperti bauran pemasaran dan nilai pelanggan.

Analisis lama "Blanching" dan konsentrasi dekstrin pada tablet ashitaba menggunakan menggunakan percobaan faktorial dengan RAL / Lulun Vita Mufidah

 

Kata Kunci: ashitaba, dekstrin, “blanching”, percobaan faktorial, RAL Ashitaba (Angelica keiskei koidzumi) merupakan sejenis tanaman herbal Asia yang mempunyai genus yang sama dengan Angelica sinensis.. Ashitaba mengandung 11 vitamin, 13 mineral, klorofil, enzim, karoten, germanium, saponin, protein, serat, glukosida, kumarin dan flavonoid yang disebut khalkon yang merupakan antioksidan yang sangat potensial. Kandungan berbagai nutrisi dari ashitaba ini menjadikannya layak untuk dijadikan sebagai makanan kesehatan. Salah satu bentuk pemanfaatan ashitaba sebagai makanan kesehatan adalah pengolahan ashitaba dalam bentuk tablet. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi penambahan dekstrin yang tepat dan lama “blanching” yang dibutuhkan. Pada rancangan penelitian, taraf pemberian konsentrasi dekstrin 10%,15%, 20%, sedangkan taraf lama ”blanching” 1 menit, 5 menit, dan 10 menit. Analisis data menggunakn percobaan faktorial dua faktor dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Berdasarkan hasil analisis data, rendemen tablet hanya dipengaruhi oleh konsentrasi dekstrin. Kekerasan tablet dan waktu hancur tidak dipengaruhi oleh lama ”blanching” dan konsentrasi dekstrin maupun interaksi faktornya. Sedangkan untuk penyimpangan bobot tablet, ternyata masing-masing faktor memberi pengaruh beda nyata terhadap penyimpangan bobot. Pemilihan alternatif terbaik berdasarkan rendemen tertinggi dan penyimpangan bobot, disamping itu kualitas tablet harus memenuhi persyaratan sediaan tablet Farmakope Indonesia IV yaitu lama ”blancing” 1 menit dan pemberian dekstrin 20 %. .

Upaya penuntasan wajib belajar 9 tahun pada persekolahan YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) Keuskupan Manokwari - Sorong Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat / Lambertus Dayanama Niron

 

Tesis. Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd, (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd Kata Kunci: upaya penuntasan, wajib belajar 9 tahun Teluk Bintuni merupakan kawasan yang terletak di bagian barat pulau Besar Papua/Irian Jaya, tepatnya di bawah wilayah “Kepala Burung”.Secara administratif pemerintahan daerah ini merupakan hasil pemekaran dari daerah Kabupaten Manokwari (tahun 2002). Dengan demikian Teluk Bintuni merupakan kabupaten ke sembilan dari sebelas kabupaten di Papua Barat. Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Keuskupan Manokwari Sorong (YPPK KMS) Teluk Bintuni adalah salah satu bagian organisasi sosial keagamaan, yang membawahi pendidikan TK, SD, dan SMP yang tersebar di distrik-distrik. YPPK KMS memiliki tanggungjawab turut serta menyiapkan SDM yang berkualitas. Dengan demikian nantinya diharapkan SDM tersebut dapat membangun daerah sejajar dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Melalui program wajib belajar 9 tahun di bawah pengelolaan YPPK KMS diharapkan penyiapan SDM tersebut dapat terwujud. Permasalahan yang dikaji adalah sebagai berkut : (1) Bagaimana profil wajib belajar 9 tahun di kabupaten Teluk Bintuni? (2) Bagaimana pelaksanaan penuntasan wajib belajar 9 tahun dibawah pelaksanaan YPPK KMS Teluk Bintuni, terutama dilihat dari segi manajemen kesiswaan, personalia (guru), kurikulum, dan partisipasi masyarakat, serta permasalahannya? (3) Bagaimana model pendidikan yang tepat untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun yang dikelola YPPK KMS Teluk Bintuni, terutama dilihat dari segi manajemen tentang perencanaan kesiswaan, kurikulum, personalia (guru), dan partisipasi masyarakat? Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran pelaksanaan wajib belajar (Wajar) 9 tahun di kabupaten Teluk Bintuni, yang meliputi: (a) jumlah riil dan sebaran anak usia 7 tahun – 15 tahun, (b) jumlah riil dan sebaran anak usia 7 tahun - 15 tahun yang bersekolah di persekolahan YPPK , (c) jumlah dan sebaran drop out siswa di persekolahan YPPK, (d) jumlah dan sebaran guru yang mengajar di persekolahan YPPK, (e) mengetahui gambaran pelaksanaan kurikulum di persekolahan YPPK, (f) sebaran penuntasan hasil belajar, dan (g) gambaran peran serta masyarakat dalam membantu kesuksesan wajib belajar; (2) mengetahui masalah-masalah yang dianalisis dari gambaran pelaksanaan Wajar 9 tahun di atas; menentukan kebutuhan yang dirasakan mendesak oleh YPPK Teluk Bintuni; dan (3) mengetahui model penuntasan wajib belajar 9 tahun dengan melibatkan masyarakat. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan rancangan survei deskriptif. Populasi penelitian adalah semua sekolah yang ada di bawah koordinasi persekolahan YPPK KMS Teluk Bintuni yang berjumlah 1 TK, 15 SD, dan 2 SMP. Sampel penelitian ditentukan secara total atau sama dengan populasi karena jumlah sekolah relatif kecil dan bervariasi kondisi sosial dan geografisnya. ii Data dikumpulkan dengan teknik dokumen, pengamatan, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif tepatnya dengan teknik persentase dan analisis kualitatif. Berdasarkan temuan yang diperoleh dari pengamatan empirik dapat dikemukakan beberapa simpulan berikut. Pertama, profil wajib belajar (Wajar) 9 tahun di persekolahan YPPK KMS Teluk Bintuni, dapat dilihat dari: (a) Anak yang bersekolah di SD lebih banyak dari jumlah anak usia 7-12 tahun dan sebaran anak usia 7-12 tahun dan anak yang bersekolah di SD tidak merata setiap distriknya. Sebaran anak usia 7 tahun - 15 tahun ada 9029 orang, usia 7 tahun – 12 tahun ada 7599 orang, dan usia 13 tahun – 15 tahun ada 1430 orang. Sebaran anak usia 7-12 tahun dan anak yang bersekolah di SD YPPK KMS Teluk Bintuni tidak merata setiap sekolahnya, (b) Anak yang bersekolah di SMP lebih banyak dari jumlah anak usia 13-15 tahun dan sebaran anak usia 13-15 tahun dan anak yang bersekolah di SMP tidak merata setiap distriknya. Anak yang bersekolah di SMP YPPK KMS Teluk Bintuni lebih banyak dari jumlah anak usia 13-15 tahun. Jumlah murid SD – SMP 12198 orang, 9699 orang SD dan 2499 orang SMP, (c) jumlah murid di persekolahan YPPK KMS ada 2518 orang, (d) jumlah drop out ada 162 orang, (d) jumlah dan sebaran guru yang mengajar di persekolahan YPPK ada 126 orang, (e) gambaran pelaksanaan kurikulum di persekolahan YPPK belum sistematis, dan (f) terdapat beberapa peran serta masyarakat dalam membantu kesuksesan wajib belajar. Kedua, pelaksanaan wajib belajar (wajar) 9 tahun dapat dilihat dari: (a) aspek kesiswaan: di Persekolahan YPPK Kabupaten Teluk Bintuni, anak sekolah usia 7 – 15 tahun hampir tersebar merata di lima belas sekolah yang ada, namun jumlah anak yang bersekolah tidak merata antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain (terbanyak 1 sekolah 338 anak dan terendah 1 sekolah 41 anak); (b) aspek guru: rasio guru dan murid rata-rata di Persekolahan YPPK KMS Teluk Bintuni 1: 21.33. Artinya 1 orang guru mengajar kepada 21.33 murid, namun sebaran guru tidak merata di Persekolahan YPPK ini menyebabkan angka rasio untuk masing-masing sekolah sangat berbeda; (c) aspek kurikulum: pada semua jenjang Persekolahan (SD, SMP) belum diimplementasikan dengan baik; (d) partisipasi masyarakat dalam mensukseskan wajib belajar dengan: (1) memanfaatkan jasa sekolah, (2) merawat dan membangun fisik sekolah, (3) berpartisipasi pasif; dan (e) masalah-masalah yang muncul dalam pelaksanaan wajib belajar 9 tahun adalah: (1) persekolahan ada di daerah terpencil, (2) banyak penyebab anak putus sekolah antara lain: budaya, minat rendah, kurang perhatian orang tua, ketiadaan sarana, ekonomi, sekolah gratis yang tidak gratis. Ketiga, upaya penuntasan wajib belajar 9 tahun di persekolahan YPPK KMS Teluk Bintuni adalah, Sekolah Berasrama, Kelas Jauh, Sekolah Dasar (SD) Kecil, dan SMP Satu Atap. Model SMP Satu Atap ini dipilih sebagai alternatif terbaik karena pada sejumlah daerah tersebut tidak terdapat SMP Negeri maupun swasta yang mengakomodasikan secara maksimal lulusan dari SD YPPK yang ada di sekitar daerah tersebut. Sebagai implementasi dari hasil penelitian terhadap upaya penuntasan wajib belajar 9 tahun pada persekolahan YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) Keuskupan Manokwari-Sorong Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat kepada pihak-pihak terkait: (a) Sekolah Penyelenggara, (b) Pengelola Sekolah Wilayah (PSW) YPPK KMS Teluk Bintuni, dan (c) Pemerintah Daerah Kabupaten c.q. Dinas Pendidikan) dapat disarankan melakukan kerjasama menentukan model SMP Satu Atap sebagai alternative terbaik yang cocok diterapkan di daerah terpencil.

Pengaruh faktor fundamental Perusahaan terhadap risiko sistematis saham (kasus saham industri makanan dan minuman yang listing di BEI tahun 2006-2008) / Dina Septy Periska

 

Kata Kunci : risiko sistematis, leverage, current ratio, ROA, ROE. Risiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dengan tingkat pengembalian aktual (actual return). Untuk menurunkan risiko, sebagian besar investor akan melakukan diversifikasi dengan membentuk portofolio sekuritas. Namun dalam pembentukan portofolio sekuritas ada bagian risiko yang selalu ada dan tidak bisa dihilangkan sama sekali dengan jalan diversifikasi sekuritas. Risiko ini disebut sebagai risiko sistematis yang diukur dengan beta. Dan penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh leverage, current ratio, ROA dan ROE terhadap risiko sistematis saham, dan diharapkan dapat digunakan sebagai referensi tambahan mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi risiko sistematis saham. Data penelitian diperoleh dari Pojok BEI Universitas Negeri Malang dan website BEI www.idx.co.id. Analisis penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa leverage dan current ratio berpengaruh terhadap risiko sistematis. Leverage berpengaruh positif terhadap risiko sistematis dan current ratio berpengaruh negatif terhadap risiko sistematis. Sedangkan ROA dan ROE tidak berpengaruh terhadap risiko sistematis saham. Berdasarkan hasil penelitian maka: (1) Disarankan agar peneliti selanjutnya bisa mengidentifikasi variabel bebas yaitu faktor fundamental lain dan faktor-faktor teknikal sebagai variabel penelitian serta menambah jumlah periode pengamatan agar dapat mengetahui tren risiko sistematis dalam jangka panjang. (2) Saran bagi investor yaitu sebelum melakukan investasi khsususnya investasi jangka panjang dalam penilaian risiko sistematisnya sebaiknya para calon investor juga mempertimbangkan rasio keuangan perusahaan, khususnya leverage dan current ratio karena kedua rasio tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap risiko sistematis.

Pengaruh profitabilitas, struktur aktiva, tingkat pertumbuhan penjualan, dan kepemilikan manajerial terhadap struktural modal pada perusahaan Food and Beverage yang Listing di Bei Periode 2007-2010 / Taufik Pondra P

 

Kata Kunci : Profitabilitas, Struktur Aktiva, Tingkat Pertumbuhan Penjualan, Kepemilikan Manajerial dan Struktur Modal Modal merupakan sesuatu yang harus dipenuhi dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan. Berbagai macam cara dilakukan perusahaan untuk mendapatkan modal yang besar dan dengan biaya yang rendah. Dalam teori packing order bahwaurutan pendanaan perusahaan pertama menggunakan dana internal dan kemudian menggunakan hutang kalau tidak cukup. Untuk memperoleh hutang disini kreditur melihat kondisi perusahaan dengan 5C, yaitu character disini bisa dilihat pada kepemilikan manajerial, capacity disini bisa dilihat pada tingkat pertumbuhan penjualan, collateral disini bisa dilihat pada struktur aktiva, capital disini bisa dilihat pada profitabilitas, dan condition adalah kondisi eksternal perusahaan. . . Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahi kondisi struktur modal, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan penjualan dan kepemilikan manajerian, dan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas (profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan penjualan dan kepemilikan manajerial) secara parsial terhadap variabel terikat (struktur modal). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi karena menguji hubungan antar variabel, yaitu profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, dan kepemilikan manajerial terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverage yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2010Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kondisi rasio struktur modal, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan perusahaan Food And Beverages yang terdaftar di BEI periode 2007-2010 cenderung mengalami penurunan. Sedangkan struktur aktiva dan kepemilikan manajerial perusahaan Food And Beverages yang terdaftar di BEI periode 2007-2010 cenderung mengalami kenaikan. Hasil perofitabilitas berpengaruh signifikan negatif terhadap struktur modal. Sedangkan struktur aktiva,dan pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan positif terhadap struktur modal. Selain itu, pada kepemilikan manajerial menunjukkan bahwa tidak terjadi pengaruh signifikan terhadap struktur modal karena t > 0,05 yaitu 0,624. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menambah jumlah variabel yang mempengaruhi struktur modal agar penelitian lebih reliable serta menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih riil terhadap hasil penelitian.

Pengembangan modul persamaan garis lurus dengan memfokuskan fase eksplorasi Learning Cycle untuk Siswa SMP Kelas VIII / Ninik Ernawati

 

Kata Kunci : modul, Learning Cycle lima fase, fase eksplorasi, persamaan garis lurus. Dalam pembelajaran matematika. siswa cenderung memahami konsep secara prosedural. Siswa mengerjakan soal-soal dengan cara-cara prosedural tanpa memahami bagaimana prosedur tersebut bekerja. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kesulitan ketika dihadapkan dengan soal-soal dengan tipe berbeda. Pembelajaran matematika yang baik merupakan pembelajaran yang dapat membuat siswa memahami konsep matematika sepenuhnya tidak hanya secara prosedural. Siswa dapat memahami konsep matematika dengan baik apabila siswa terlibat aktif melakukan eksplorasi untuk memahami konsep matematika. Eksplorasi merupakan suatu proses mendayagunakan segala sesuatu yang ada pada diri untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika siswa melakukan eksplorasi berarti siswa mendayagunakan semua indra dan pengetahuan yang dimilikinya untuk mendapatkan suatu konsep baru. Hal ini menunjukkan siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri. Lebih lanjut siswa tidak menerima konsep secara langsung melainkan siswa berusaha memahami konsep dengan bimbingan minimal dari guru. Hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk mengembangkan modul melalui fase eksplorasi learning cycle lima fase. Fase eksplorasi merupakan salah satu fase yang terdapat pada model pembelajaran learning cycle lima fase. Modul yang dikembangkan menekankan pada fase eksplorasi learning cycle. Bentuk penekanannya dalam menyusun kegiatan belajar fase eksplorasi mengacu pada enam karakteristik fase eksplorasi. enam karakteristik fase eksplorasi meliputi (1) siswa diberikan permasalahan, (2) siswa mengamati permasalahan, (3) siswa mengamati permasalahan, (4) siswa menganalisis permasalahan, (5) siswa mengembangkan analisis, dan (6) siswa menyamakan persepsi dengan siswa lain.

The Effektivenness of The Experiential Learning Cycle on The Achievement of The Element Grade Students of SMAN 8 Mataram In The NMarrative Writing Skill / Taufik Akbar Al Fajri

 

Thesis, English Language Department, Graduate Program, State University of Malang Negeri Malang. Advisors: (I) Dr. Gunadi H. Sulistyo, M.A. (II) Dr. Hj. Arwijati Wahyudi, M.Pd, Dipl. TESL Keywords: Narrative, Writing, Experiential Learning Cycle Experiential learning cycle (ELC) is a teaching technique which is used the learners’ experienced as the basis. Based on the background of the study, the objective of the study is to evaluate the effectiveness of the implementation of the experiential learning cycle to improve the students’ narrative writing score. The present study employs pre experimental design with pre test and post test. This design was selected for the purpose to measure the effectiveness of experiential learning cycle in improving the narrative writing skill of the eleventh grade of language program students of SMAN 8 Mataram, West Nusa Tenggara. This design did not include a control group. The treatment was carried out in 7 meetings; they were pre test, experience stage, process stage, generalization stage, application stage and post test. The data obtained from the pre test and post test were analyzed using SPSS version 16. Based on the result of the statistical analysis it is revealed that the alternative hypothesis was accepted since the observe score is higher than the value in the t-table. It means that there is significantly better writing achievement after the implementation of the experiential learning cycle technique. Based on the research findings there are some research suggestions related with the implementation of the experiential learning cycle. Firstly, the English teachers of SMAN 8 Mataram explore more the use ELC Technique in teaching narrative skills. The variation of media may be improving students’ writing skill. Secondly to the school principal of SMAN 8 Mataram to provide internet or hot spot areas where teachers can download pictures and other media to improve their writing skills and lastly to other researchers to follow up another research on the use of the experiential learning cycle.

Manajemen sarana dan prasarana di Lembaga Pendidikan anak usia dini (Studi kasus di TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu) / Ozzy Prima Dinata

 

Kata Kunci : Lembaga Pendidikan anak Usia Dini, Manajemen Sarana dan Prasarana. Pendidikan Nasional sebagai sebuah sistem dari supra sistem pembangunan nasional, memiliki tiga subsistem pendidikan yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hal tersebut sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nonformal diharapkan dapat membantu dan menunjang pendidikan formal dalam mencerdaskan peserta didik serta membantu peserta didik dalam mengimplementasikan ilmu yang didapatkan di pendidikan formal. Selain itu sarana dan prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan pendidikan, tetapi tidak semua jenjang pendidikan nonformal memiliki sarana dan prasarana yang memadai sebab kebanyakan sekolah nonformal mengalami kendala pendanaan dalam pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai. Fokus penelitian ini adalah Proses manajemen sarana dan prasarana di TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu dan Kendala-kendala dalam proses manajemen sarana dan prasarana di TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu. Fokus Proses manajemen sarana dan prasarana dibagi menjadi subfokus perencanaan, pengadaan, pendistribusian, penginventarisasian, pemeliharaan, penghapusan. Fokus kendala-kendala manajemen sarana dan prasarana dibagi menjadi subfokus kendala perencanaan, pengadaan, pendistribusian, penginventarisasian, pemeliharaan, penghapusan. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus tunggal. Pendekatan ini dipilih agar dapat memperoleh data secara alami dan komprehensif mengenai masalah yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci yang merencanakan, melaksanakan, mengumpulkan data, menganalisis, menafsirkan data dan melaporkan hasil penelitian. Data yang diperoleh melalui (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu saat pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Analisis tersebut melalui langkah-langkah yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi data. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah mengadakan pengamatan lebih tekun dan menguji triangulasi. Hasil analisis data tersebut kemudian diperoleh dua kesimpulan yaitu: pertama, Berdasarkan hasil penelitian melalui pengamatan dan hasil wawancara yang telah dilaksanakan dari beberapa sumber yang terkait, berikut ini merupakan hasil dari temuan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sehubungan dengan proses manajemen sarana dan prasarana yang ada di TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu yaitu dijelaskan bahwa :(a) perencanaan yang meliputi tentang penentuan kebutuhan TK terkait sarana dan prasarana, penentuan anggaran yang dibutuhkan, penentuan siapa-siapa saja yang memfasilitasi atau membiayai pengadaan sarana tersebut ; (b) pengadaan yang meliputi :melalui pembelian, membuat sendiri, penerimaan hibah, pendaurulangan barang barang sekolah yang telah using; (c) pendistribusian; (d) inventarisasi; (e) pemeliharaan; (f) penghapusan. Semua poin tersebut merupakan kesatuan proses manajemen sarana dan prasarana yang dilaksanakan di TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu. Kedua, mengenai kendala-kendala dalam proses manajemen sarana dan prasarana di TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu yaitu : (a) perencanaan: keterbatasan anggaran atau dana, birokrasi bantuan pemerintah cukup rumit, kemampuan SDM dalam membuat sarana sendiri terbatas, bantuan dari pemerintah terbatas sehingga pengelola sarana dan prasarana pendidikan di TK tetap harus mengusahakan dengan cara lain; (b) pengadaan: kendala terkait pendanaan ; (c) pendistribusian: tidak ada petugas pendistribusian yang khusus menangani tentang pendistribusian barang sarana prasarana; (d) inventarisasi: model dari buku inventarisasi masih dalam bentuk catatan tangan sehingga tidak membuat efisien pekerjaan sekolah, petugas inventaris merangkap sebagai petugas perpustakaan dan juga bendahara sekolah; (e) pemeliharaan : ada beberapa permainan outdoor yang belum memiliki pengaman sehingga perlu perhatian yang khusus; (f) penghapusan: perusakan yang sering dilakukan oleh siswa “gatal tangan”, apabila barang merupakan barang milik pemerintah, proses penghapusannya pun cukup rumit karena harus sesuai dengan undang-undang tentang penghapusan sarana dan prasarana. Adapun saran yang dapat diberikan di antaranya: (1) Kepala TK Muslimat Hajjah Mariyam Kota Batu diharapkan lebih mendukung kegiatan manajemen sarana dan prasarana, dengan cara membuat proses manajemen sarana dan prasarana yang efektif dan efisien serta menyiapkan tenaga-tenaga yang sesuai dengan manajemen sarana dan prasarana; (2) Ketua Yayasan diharapkan memberi masukan yang lebih terkait dengan manajemen yang baik dalam setiap melaksanakan program kerja, karena dengan manajemen yang kurang matang mengakibatkan pelaksanaan program kerja tersebut kurang maksimal; (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan mengkaji kegiatan manajemen sarana dan prasarana di sekolah yang lain, karena kegiatan manajemen ini sangat penting sekali dalam kelancaran pelaksanaan pendidikan serta untuk kemajuan anak didik; (4) Orang Tua Murid agar lebih aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan melalui pemberian ide, saran maupun finansial sebagai upaya meningkatan mutu pendidikan; (5) Peneliti lain agar dilakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui bentuk kegiatan manajemen sarana dan prasarana pada lembaga-lembaga pendidikan lain, sehingga dapat dijadikan masukan baru bagi kelanjutan di masa yang akan datang.

Keefektifan permainan Trust Circle, Are You Listener, dan Human Knot untuk meningkatkan kematangan sosial Kelas X 1 Ardjuno Malang / Natalia Ika Sari

 

Kata Kunci: keefektifan permainan, trust circle, are you listener, human knot, kematangan sosial Kematangan sosial merupakan hal yang sangat penting untuk membina hubungan persahabatan, kekerabatan dan tentu saja hubungan sosial. Salah satu teknik bimbingan yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan kematangan sosial pada remaja yaitu melalui penggunaan teknik permainan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMK Ardjuna Malang, diketahui bahwa siswa memiliki kematangan sosial rendah yang ditunjukkan dengan adanya kelompokkelompok remaja yang biasa disebut geng di dalam kelas. Selain itu ada sebagian kecil siswa yang dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lain menggunakan bahasa gaul, sehingga tidak dimengerti oleh siswa yang berada di luar kelompoknya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan “permainan trust circle, are you listener, dan human knot” untuk meningkatkan kematangan sosial siswa. Kematangan tidak diturunkan, bukan bawaan sejak lahir, tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih. Selain itu kematangan atau ketidakmatangan juga bisa terkikis dan menular. Bayangkan betapa menyedihkannya bila menyaksikan individu yang sudah berangkat matang, kemudian merosot karena berada di lingkungan yang rusak. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksprimen semu, dengan desain non randomized pretest and posttest control group. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis uji komparatif menggunakan metode analisis uji beda dengan formula mann witney. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas X APK yang berjumlah 23 orang dengan instrument penelitian berupa skala kematangan social. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan uji beda mann witney dapat disimpulkan bahwa teknik permainan trust circle, are you listener, dan human knot efektif untuk meningkatkan kematangan sosial pada siswa kelas X SMK Ardjuna Malang dengan nilai capaian sebesar -4,306.

Pengaruh kompensasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PTPN XI PG. Wonolangan Dringu Prolbolinggo / Oktaviana Utami Mutadji

 

Penerapan model pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IIIB SDN Semanding Kabupaten Kediri / Uluul Khakiim

 

Khakiim, Uluul. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IIIB SDN Semanding Kabupaten Kediri. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Sri Sugiharti, M.Pd, (2) Dra. Hj. Murtiningsih, M.Pd. Kata kunci : model pembelajaran Snowball Throwing, aktivitas, hasil belajar,IPS. Permasalahan dalam pembelajaran IPS di kelas IIIB SDN Semanding Kabupaten Kediri yang ditemukan peneliti dari hasil observasi dan wawancara yaitu pembelajaran masih konvensional, keaktifan siswa dalam pembelajaran masih rendah. Selain itu hasil belajar siswa juga belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 70. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mendeskripsikan penerapan model Snowball Throwing pada pembelajaran IPS di kelas IIIB SDN Semanding; (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa selama menerapkan model Snowball Throwing pada pembelajaran IPS di kelas IIIB SDN Semanding; (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan model Snowball Throwing pada pembelajaran IPS di kelas IIIB SDN Semanding. Snowball Throwing adalah model pembelajaran yang menggali potensi kepemimpinan siswa dalam kelompok dan keterampilan membuat pertanyaan yang dipadukan melalui suatu permainan imajinatif melempar bola salju. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Pada rancangan penelitian ini menggunakan model siklus Kemmis & MC. Taggart dan dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklusnya terdiri dari 2 pertemuan. Penelitian ini dilakukan di SDN Semanding pada semester I tahun pelajaran 2013/2014 dengan subyek penelitian 21 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Snowball Throwing berhasil dilaksanakan, dibuktikan dari persentase kemampuan guru menerapkan model tersebut mencapai 87,49%. Nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I yaitu 66,74, meningkat 11,83 menjadi 78,57 pada siklus II. Persentase ketuntasan aktivitas meningkat dari 52,38% pada siklus I menjadi 80,95% pada siklus II, meningkat 28,57%. Peningkatan hasil belajar siswa sebesar 11,28, pada siklus I yaitu 67,64 menjadi 78,92 pada siklus II. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus I yaitu 61,60% menjadi 80,95% pada siklus II, peningkatannya 19,35%. Kesimpulan penelitian ini yaitu, penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada mata pelajaran IPS kelas IIIB telah berhasil dilaksanakan. Aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada matapelajaran IPS materi pokok kerja sama. Saran bagi guru, hendaknya model pembelajaran ini diterapkan pada materi dan mata pelajaran lainnya.

Pengaruh atribut produk dan iklan televisi terhadap keputusan konsumen dalam membeli sabun lux (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Citra Niada Elisa

 

Kata kunci : Atribut Produk, Iklan Televisi, keputusan Pembelian Produsen personal care mengembangkan produknya dengan berbagai cara, salah satunya lebih menekankan pada atribut produk yang meliputi: merek, kemasan, harga dan kualitas. Untuk dapat menginformasikan keunggulan suatu produk dan menarik perhatian konsumen, dapat dilakukan promosi . Iklan televisi merupakan media promosi yang baik akan memperhatikan beberapa faktor, diantaranya: isi pesan, tema cerita, backsound, bintang iklan dan durasi iklan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang atribut produk dan iklan televisi yang mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Gambaran keadaan atribut produk, iklan televisi dan keputusan pembelian: (2) Pengaruh atribut produk tehadap keputusan pembelian; (3) Pengaruh iklan televisi terhadap keputusan pembelian (4) variabel yang paling dominan terhadap keputusan pembelian. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kriteria tertentu, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang konsumen. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan SPSS 17.00 Version for windows. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) yang meliputi (a). Responden menyatakan kondisi atribut produk sabun Lux sesuai dengan keinginan konsumen; (b) Responden menyatakan iklan televisi sabun Lux menarik perhatian; (c) Responden menyatakan keputusan pembelian sabun Lux dipengaruhi oleh atribut produk dan iklan televisi; (2) Terdapat pengaruh pada atribut produk terhadap keputusan pembelian; (3) Terdapat pengaruh pada iklan televisi terhadap keputusan pembelian; (4) Variabel atribut produk memberi pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian. Hasil dari penelitian ini, dapat disarankan kepada pihak perusahaan (1) Sebaiknya pihak perusahaan terus berinovasi dalam mengembangkan varian sabun Lux sehingga menjadi yang terdepan dalam produk personal care untuk wanita; (2) pihak perusahaan harus lebih mendalami iklan televisi agar pesan yang disampaikan sabun Lux dapat diterima dengan baik dan dapat menarik perhatian konsumen. Dan kepada peneliti selanjutnya, sebaiknya melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang juga dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian.

Perancangan media promosi visual wisata petualangan (adventure) kota Batu / Arivandy Syahputra

 

Kata Kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, Promosi Dengan dirancanganya media komunikasi visual Wisata Petualangan (adventure) Kota Batu ini, diharapkan dapat meningkatkan animo masyarakat akan pariwisata yang berhubungan erat dengan alam atau petualangan. Sebelumnya, Wisata Petualangan (adventure) Kota Batu ini masih kurang agresif dalam segi promosinya, dan terbatas pada saat tertentu saja dan sasaran target market yang dituju juga belum maksimal. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan media promosi yang inovatif, efektif, komunikatif, efisien yang dapat didapat di area Kota Wisata Batu maupun di daaerah lain, sehingga menjadikan Wisata Petualangan (adventure) Kota Batu mampu menarik minat wisatawan. Model perancangan deskriptif diawali dari latar belakang, permasalahan, identifikasi data, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari klien, target market, target audience, dan USP ( unique Selling Preposition ) kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi. Perancangan media promosi visual antara lain: Booklet, peta wisata, poster, Brosur, Notes, key chain. Perancangan media promosi ini secara khusus dapat menjadi sarana promosi yang efektif bagi Wisata Petualangan (adventure) Kota Batu, dan secara umum dapat menjadi acuan desain bagi daerah-daerah wisata yang lain.

Kepemimpinan Kepala sekolah yang efektif di SMAN se-Kabupaten Lumajang / Firzha Tri Aningtyas Putri

 

Kata kunci: kepala sekolah, kepemimpinan. Kepala sekolah adalah seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin di satuan pendidikan, sedangkan kepemimpinan pendidikan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan kelompok itu. Salah satu aspek kepemimpinan di dunia pendidikan adalah kepemimpinan di suatu sekolah. Sekolah sebagai unit kerja dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Untuk dapat bersaing di era globalisasi, maka diperlukan kepala sekolah–kepala sekolah yang profesional. Kepala sekolah yang profesional tak terlepas dari paradigma kepemimpinan pada umumnya. Tidak mudah menjadi kepala sekolah yang profesional. Banyak hal yang harus dikuasi dan dipahami dengan berbagai pendekatan dan strategi. Kepala sekolah menjadi figur sentral dan harus menjadi teladan bagi para tenaga kependidikan. Bukan hanya karena lamanya pengabdian, namun ide-ide cemerlang diperlukan untuk mempersiapkan kader bangsa melalui penggodogan pendidikan di lembaga pendidikan yang disebut sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan kepemimpinan kepala sekolah. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah kuesioner atau angket. Analisis data kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif. Populasi berjumlah 12 orang, sampel penelitian berjumlah 12 orang. Subyek dalam penelitian ini yaitu kepala sekolah seluruh SMA Negeri se-Kabupaten Lumajang. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh melalui penyebaran angket atau kuesioner pada 12 responden yaitu kepala sekolah SMAN se-Kabupaten Lumajang diperoleh data secara keseluruhan tentang kepemimpinn kepala sekolah yang efektif. Terdiri dari 35 pernyataan dan 5 alternatif jawaban, menunjukkan bahwa data tentang tingkat kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang efektif secara umum berada pada katagori baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dapat dikualifikasikan baik dengan 9 responden atau 75%. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini diantaranya, bagi: (1) Kepala sekolah untuk menjadi lebih baik lagi dalam kepemimpinannya di sekolah, (2) Guru Sebagai bahan wacana bagi guru, untuk meningkatkan profesionalisme guru untuk melangkah lebih baik lagi, (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, untuk menambah referensi khususnya yang berhubungan dengan kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, dan (4) Peneliti lain, diharapkan mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dengan menambah kajian variabel yang lainnya.

Efikasi tiga jenis cendawan entomopatogen terhadap nimfa kutu kebul (bemisia tabaci genn.) pada tnaman kedelai /Irma Wijayanti Agung Puji Rahayu

 

Kata Kunci: Efikasi, Cendawan Entomopatogen, Mortalitas, Kerapatan Konidia, Bemisia tabaci. Bemisia tabaci Genn. (kutu kebul) merupakan hama yang sangat merugikan tanaman kedelai karena menimbulkan kerusakan dan memicu tumbuhnya cendawan jelaga seperti Cladosporium dan Alternaria spp. B. tabaci dapat juga berperan sebagai vektor beberapa jenis virus dari kelompok Geminivirus. Cendawan entomopatogen merupakan salah satu agens hayati yang dapat digunakan untuk mengendalikan kutu kebul. Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana dan Paecilomyces fumosoroseus dilaporkan dapat digunakan untuk pengendalian hama meliputi ordo Coleoptera, Lepidoptera, Isoptera, Hemiptera, dan Homoptera. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efikasi tiga jenis cendawan entomopatogen meliputi: M. anisopliae, B. bassiana, dan P. fumosoroseus dengan kerapatan konidia yang berbeda (106, 107, 108, dan 109/ml) terhadap mortalitas nimfa instar satu B. tabaci. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah tiga jenis cendawan, yaitu: (1) M. anisopliae, (2) B. bassiana, dan (3) P. fumosoroseus. Faktor yang kedua adalah kerapatan konidia yaitu: (1) 106, (2) 107, (3) 108, dan (4) 109/ml. Masing-masing perlakuan menggunakan 20 ekor nimfa dan diulang sebanyak 5 kali. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) pada bulan Maret sampai Juni 20011. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan Analisa Varian Ganda. Hasil yang signifikan dilakukan uji lanjut dengan BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan P. fumosoroseus memiliki efikasi yang lebih tinggi dalam membunuh nimfa instar satu B. tabaci, yaitu hingga mencapai 74,75%, dibandingakn dengan efikasi cendawan M. anisopliae yang mampu membunuh nimfa instar 1 B. tabaci sebesar 60,75% dan cendawan B. bassiana sebesar 48,5%. Kerapatan konidia 109/ml memiliki efikasi tertinggi dalam membunuh nimfa B. tabaci.

Dampak ekonomi dan ekologi wisata air panas Gonoharjo / Arif Subekti

 

Kata Kunci: Wisata, Gonoharjo, Ekonomi, Ekologi Pembukaan Wisata Air Panas Gonoharjo tahun 1982, yang mengembangkan usaha-usaha konservasi sumberdaya alam, dalam beberapa hal telah mengubah fungsi tanah perkebunan milik Perhutani Jawa Tengah serta milik warga, menjadi lahan eksplorasi yang bersifat eksploitatif disamping pemekaran areal wisata yang bersifat ekspansif. Hal ini secara bifurkatif, memberikan efek yang di satu sisi positif bagi kemajuan perekonomian penduduk, namun di sisi lain berakibat negatif pada bidang ekologi, yakni bagi pelestarian lingkungan yang dijadikan areal wisata serta pendukung potensi Wisata Air Panas Gonoharjo. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini menyangkut (1) bagaimana keadaan ekonomi dan kondisi ekologi Desa Gonoharjo sebelum dibukanya pariwisata, (2) bagaimana keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo setelah dibukanya pariwisata, (3) bagaimana pola perubahan keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo sejak tahun 1982 hingga tahun 2011. Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif fenomenologis. Deskriptif kualitatif perspektif fenomenologis berarti usaha mencatat, melukiskan, menguraikan, dan melaporkan buah pikiran, sikap tindak, dan perilaku manusia serta gejala alam yang menyangkut ekonomi dan ekologi dalam kenyataan. Sumber data yang diperoleh menggunakan observasi lapang dan sumber lisan melalui wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan; (1) corak kehidupan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo sebelum tahun 1982 secara global adalah agraris, yakni perikehidupan yang mendasarkan usaha ekonominya pada pengelolaan lahan, bahwa tanah merupakan faktor produksi utama bagi penduduk Desa Gonoharjo. Secara ekologis, keseimbangan alam lingkungan desa masih terjaga, dengan belum diadakannya ekplorasi dan ekspansi dalam rangka eksploitasi alam untuk usaha pariwisata. Mobilitas juga masih rendah, sehingga konformitas penduduk relatif masih terjaga; (2) corak kehidupan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo setelah tahun 1982 mengalami perubahan, dari warna agraris menjadi beragam, dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru berikut kesempatan usaha baru yang mengiringinya, bahwa tanah yang sebelumnya merupakan faktor produksi utama bagi penduduk Desa Gonoharjo, menjadi bergeser sebagai komoditas, khususnya bagi penduduk yang memiliki lahan di sekitar areal wisata. Sementara efek langsung dari pembukaan areal wisata beserta varian bisnis yang mengiringinya ialah terjadinya ketidakseimbangan ekologis pada lahan di sekitar areal wisata pada khususnya dan keseluruhan Desa Gonoharjo pada umumnya; (3) pembacaan pola perubahan keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo sejak tahun 1982 hingga tahun 2011 mengambil pola yang jika digambarkan berbentuk spiral, dalam arti bahwa sejarah perubahan keadaan ekonomi dan ekologi Desa Gonoharjo bukanlah sejarah yang berulang, yang terus bergerak dalam lingkaran tiada ujung. Berdasarkan pembahasan hingga kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini, saran-saran yang dapat disampaikan ialah; (1) manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif; dalam arti manusia tidak sekedar mengandalkan hidup mereka pada kemurahan dan keramahan lingkungan, manusia telah berabad-abad lamanya mengembangkan pengelolaan lingkungan dan mengolah sumberdaya secara aktif demi memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan seleranya. Hendaknya usaha aktif ini tetap memerhatikan kondisi lingkungan beserta upaya peremajaannya disamping pelestariannya kembali; (2) berbagai kebijakan yang berkaitan langsung dengan upaya ekplorasi dan ekspansi hutan hendaknya tetap menjaga keseimbangan dari segenap alam yang teratur; (3) bagi peneliti yang hendak melanjutkan membahas permasalahan yang sama, masih sangat banyak aspek yang belum dikaji perihal Pariwisata Air Panas Gonoharjo ini. Untuk mendapatkan sejarah yang lebih baik mengenai pariwisata ini, peneliti selanjutnya dapat mengakses Museum Arsip, serta tokoh kunci lainnya yang belum dapat penulis gali keterangannya. Sebagai masukan untuk fokus penelitian dari aspek kajian yang lain, peneliti dapat menggali kembali aspek sosial budaya kaitannya dengan pembukaan pariwisata ini, atau sejarah Desa Gonoharjo beserta sejarah pariwisata, baik dari rumpun arkeologi maupun antropologi.

Simulator pengaman pintu dan mesin mobil menggunakan handphone sebagai media transmisi data / Lalu Akhmad Junandar, Ferry Andik S

 

Kata Kunci : Pengaman Pintu dan Mesin Mobil, Handphone, Simulator. Maraknya kasus pencurian kendaraan bermotor yang di beritakan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik menjadi perhatian yang serius. Menyikapi hal tersebut di perlukan suatu perangkat pengamanan yang dipasang pada kendaraan sebagai alat kelengkapan pengaman kendaraan berguna dan efisien, baik kendaraan pada saat berjalan atau pada saat diparkir. Salah satu perangkat yang dimaksud adalah pengendali sistem pengunci pintu khususnya system pengunci pintu pada kendaraan. Sistem pengunci pintu ini berfungsi untuk mencegah terjadinya pencurian kendaraan bermotor yang dikarenakan sering terjadi pencurian kendaraan bermotor. Sistem yang dipasang pada kendaraan sangat banyak dengan fungsi yang berbeda. Hasil pengujian simulator pengaman pintu dam mesin mobil menggunakan handphone sebagai media transmisi data, kami melakukan uji coba pada system pengaman pintu dan mesin mobil dengan cara melengkapi sebagian komponen, karena pada dasarnya pintu dan mesin mobil yang dijadikan sebagai bahan Tugas Akhir, tidak dilengkapi dengan pintu, kipas (sebagai simulasi engine), tombol rem (sebagai simulasi rem). Untuk itu penulis mencoba melengkapinya serta merubah ketingkat yang lebih baik. Perancangan Simulator system pengaman pintu dan mesin mobil menggunakan handphone sebagai media transmisi data ini dilakukan agar simulator benar-benar siap dipakai pada saat dipasang dan bisa menganalisa kalau terjadi gangguan pada perancangan simulator tersebut.

Pengaruh persepsi citra toko terhadap keputusan pembelian (studi pada pengunjung foto buku diskon togamas Malang) / Fajar Doni Ardianto

 

Kata kunci: Citra Toko, Keputusan Pembelian Sektor industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Banyaknya produsen membuat persaingan semakin ketat sehingga memperkecil kemungkinan bagi produsen untuk berhubungan langsung dengan konsumen. Konsumen dengan alasannya sendiri juga tidak perlu harus membeli barang langsung kepada produsen. Oleh karena itu dibutuhkan perantara untuk menghubungkan produsen dan konsumennya. Posisi ini dijalankan oleh ritel. Agar peritel mampu bersaing maka dibutuhkan strategi yang cukup efektif untuk menarik pengunjungnya agar melakukan pembelian. Salah satu strategi yang efektif adalah pembentukan citra toko yang baik. Jika toko tersebut memiliki citra baik akan lebih disukai pengunjung walaupun toko itu kecil, dan juga sebaliknya, sebaliknya toko yang mempunyai citra buruk tidak akan disukai konsumen walaupun toko itu besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kondisi citra toko dan keputusan pembelian di Toko Buku Diskon Togamas Malang. (2) pengaruh citra toko secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian pengunjung Toko Buku Diskon Togamas Malang. Variable bebas dalam penelitian ini adalah: barang dagangan (X1), promosi (X2), kenyamanan (X3), fasilitas toko (X4), pelayanan (X5), dan atmosfer toko (X6), sedangkan variabel terikat (Y) adalah keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung Toko Buku Diskon Togamas Malang . Rata-rata jumlah pengunjung perhari 955 dan 28650 perbulan. Sampel ini menggunakan rumus Slovin dengan batas kesalahan sampel 10%, hasilnya 99 sampel yang kemudian dibulatkan menjadi 100 sampel. Teknik sampel ini menggunakan Simple Random Sampling. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) citra toko mendapat respon yang baik dari pengunjung Toko Buku Diskon Togamas Malang terhadap keputusan pembelian (2) citra toko berpengaruh positif yang signifikan secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian di Toko Buku Diskon Togamas Malang sebesar 54,7%. Sedangkan sisanya sebesar 45,3% dipengaruhi faktor lain seperti faktor budaya, psikologis, dan loyalitas konsumen. (3) variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian adalah kenyamanan. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan untuk Toko Buku Diskon Togamas Malang adalah hendaknya selalu memperhatikan citra toko yang dimiliki agar keputusan pembelian yang diambil pengunjung adalah keputusan untuk membeli. Semakin baik citra toko yang dimiliki, semakin baik juga dalam mempengaruhi keputusan pembelian di Toko Buku Diskon Togamas Malang.

Pengaruh kualitas jasa terhadap loyalitas peserta didik pada lembaga bimbingan belajar Nurul Fikri Malang / Manan Hidayanto

 

Kata Kunci: Kualitas Jasa, Loyalitas Peserta Didik. Semakin tingginya tingkat kehidupan masyarakat seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi, diikuti semakin tingginya tuntutan masyarakat akan pemenuhan sumberdaya manusia yang berkualitas. Salah satu sarana untuk penciptaan sumberdaya manusia yang berkualitas ini adalah melalui sarana pendidikan. Lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Malang berupaya sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas jasa yang ditawarkan agar dapat memberikan kepuasan dan sekaligus menumbuhkan loyalitas bagi peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) deskripsi kualitas jasa dan loyalitas peserta didik pada Lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Malang, (2) pengaruh kualitas jasa (X) secara parsial terhadap loyalitas peserta didik (Y), (3) pengaruh kualitas jasa (X) secara simultan terhadap loyalitas peserta didik (Y), (4) subvariabel kualitas jasa yang dominan mempengaruhi loyalitas peserta didik pada Lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), Jaminan (X4), Empati (X5) dan variabel terikatnya adalah loyalitas konsumen (Y). Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi 121 peserta didik. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin sebanyak 93 orang. Teknik sampling menggunakan stratified random sampling dan menggunakan accidental sampling. Kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 4 alternatif jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis statistik regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, dokumentasi dan wawancara. Hasil dalam penelitian ini adalah: sebagian besar responden menyatakan baik terhadap kualitas jasa dan loyal pada Lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Malang. Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan secara parsial pada (X1) B=0,007, thitung=0,099, sig t=0,921, (X3) B=0,089, thitung=0,929, sig t=0,356, (X4) B=0,012, thitung=0,131, sig t=0,896. Terdapat pengaruh positif signifikan secara parsial pada (X2) B=0,208, thitung=2,499, sig t=0,014 dan (X5) B=0,298, thitung=2,852, sig t=0,005. Terdapat pengaruh positif yang signifikan (X1), (X2), (X3), (X4), (X5) secara simultan. Subvariabel dominan (X5) B= 0,298 dan sumbangan efektif sebesar 49%. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,356. 35,6% loyalitas peserta didik dipengaruhi oleh kualitas jasa, 64,4% dipengaruhi faktor lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Saran dalam penelitian ini kepada Lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Malang adalah: kreatifitas tata letak ruang dan bentuk perabot, keandalan dan kemampuan para tentor harus dipertahankan dan terus melakukan inovasi dalam sistem pengajaran, peningkatan daya tanggap tentor dan keamanan, mempertahankan empati yang telah bagus.

Perubahan makna dalam wacana mob (homor) Bahas Melayu Papua (kajian semantik) / Henry Christope Iwong

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim, (2) Dr. Mujianto, M.Pd. Kata-kata kunci: Perubahan Makna, Wacana, Humor, bahasa melayu Papua Humor merupakan salah satu bentuk penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan dan dapat ditemui diberbagai lapisan masyarakat tanpa menghiraukan strata sosial. Pencipataan humor membutuhkan pengetahuan serta pengalaman, begitu juga proses pemahaman terhadap maksud dan makna yang tekandung di dalamnya. Humor yang beredar di masyarakat salah satunya adalah humor etnis yang lebih memfokuskan aspek kelucuannya setelah bisa dipahami maknanya serta perubahan-perubahan makna yang terjadi dengan berbagai pemahaman masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang perubahan makna yang terdapat dalam wacana mob (humor) bahasa melayu Papua dalam wujud (1) perubahan makna meluas, (2) perubahan makna menyempit, (3) perubahan makna total, (4) perubahan makna menghalus, dan (5) perubahan makna mengasar. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frase, dan kalimat yang bersumber dari wacana mob (humor) bahasa melayu Papua yang diperoleh dari surat kabar harian Cenderawasih Pos, surat kabar Papua Pos, dan dari internet yaitu pada website www.ketawa.com (humor Papua) serta www.facebook.com (ruang senyum). Data diambil dan dianalisis dengan menggunakan instrumen pemandu berupa panduan kodifikasi data, panduan analisis data, dan panduan inferensi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan tiga hal, yaitu ketekunan, pengamatan, pemeriksaan teman sejawat, dan kepada ahli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima perubahan makna, serta dua faktor yang mempengaruhi perubahan makna yang dibahas dalam tulisan ini. Lima wujud perubahan makna, yaitu (1) perubahan makna meluas terdiri atas (a) perubahan makna meluas tingkat leksikal karena asosiasi, perkembangan sosial budaya, pertukaran tanggapan indera, perbedaan tanggapan, pengembangan istilah, dan (b) perluasan makna tingkat gramatikal berupa frase akibat adanya asosiasi dan frase akibat penggabungan leksem atau kata. (2) perubahan makna menyempit terdiri atas (a) perubahan makna menyempit tingkat leksikal karena asosiasi, perubahan lingkungan, perbedaan tanggapan pemakai bahasa, dan (b) perubahan makna menyempit tingkat gramatikal berupa frase akibat adanya asosiasi dan frase akibat penggabungan leksem atau kata. (3) perubahan makna total terdiri atas (a) perubahan makna total tingkat leksikal karena adannya asosiasi, perubahan lingkungan, pengembangan istilah, penyingkatan, dan (b) perubahan makna total tingkat gramatikal berupa frase akibat penggabungan leksem atau kata. (4) perubahan makna menghalus terdiri atas (a) perubahan makna menghalus tingkat leksikal berupa perbedaan tanggapan, akibat asosiasi dan (b) perubahan makna menghalus tingkat gramatikal berupa frase akibat asosiasi. (5) perubahan makna mengasar terdiri atas (a) perubahan makna mengasar tingkat leksikal karena asosiasi, perbedaan tanggapan. Dan (b) perubahan makna mengasar tingkat gramatikal berupa frase akibat asosiasi dan frase akibat penggabungan leksem atau kata. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi peneliti bahasa Indonesia atau dalam hal ini bahasa Indonesia dialek Papua atau yang di dalam tulisan ini disebut dengan Bahasa Melayu Papua agar melakukan penelitian serupa yang lebih luas dan mendalam, bagi pemerhati bahasa atau ahli bahasa untuk menambah khasanah kajian bahasa dan ilmunya, serta bagi para pengajar bahasa Indonesia dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan ajar untuk memperkaya pengetahuan peserta belajar.

Strategi kepala sekolah dalam implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 untuk penerimaan siswa baru /(Studi multi kasus pada SMA Islam Kepanjen Malang dan SMPK Santa Maria II Malang) /Marsiti

 

Tesis Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. A. Sonhadji K.H, M.A, Ph.D., (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata kunci: strategi kepala sekolah, sistem manajemen mutu, ISO 9001:2000, Penerimaan siswa baru Siswa dalam standar mutu adalah pelanggan sekolah yang utama.Siswa dalam sekolah harus dipandang sebagai subyek pendidikan.Oleh karena itu pengelolaan mulai dari input, proses dan output mestinya dikemas dalam standar mutu manajemen yang baik Penelitian ini dilakukan di dua kasus, yaitu SMA Islam Kepanjen Malang dan SMPK Santa Maria II di Malang, bertujuan untuk mendeskripsikan segenap fenomena dan peristiwa yang terjadi berkaitan dengan strategi kepala sekolah dalam Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 untuk penerimaan siswa baru yang meliputi: (1) perencanaan penerimaan siswa baru untuk meningkatkan layanan siswa, (2) implementasi penerimaan siswa baru untuk meningkatkan layanan siswa, (3) evaluasi pelaksanaan penerimaan siswa baru untuk meningkatkan layanan siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif, dengan menggunakan studi multi kasus. Data penelitian berupa: data deskriptif yang diperoleh melalui wawancara, data dokumentasi, dan data observasi mengenai penyelenggaraan penerimaan siswa baru.Hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut: Strategi kepala sekolah dalam perencanaan penerimaan siswa baru untuk meningkatkan layanan siswa meliputi: (1) melakukan sosialisasi terhadap semua civitas di lembaga untuk perbaikan sistem, (2) proses penerimaan siswa baru dilaksanakan sebelum dimulainya tahun ajaran baru, (3) strategi yang di tetapkan tidak terbatas pada salah satu aspek melainkan pada semua aspek baik itu sarana prasarana, tenaga pendidik, kurikulum dan pembiayaan sekolah, dan (4) penekanan pada pemberian layanan pada siswa Strategi kepala sekolah dalam implementasi penerimaan siswa baru untuk meningkatkan layanan siswa meliputi: (1) perbaikan pada sistem penerimaan siswa baru berdasarkan pagu, (2) tes IQ dilaksanakan untuk melihat kemempuan siswa dalam proses pendampingan pembelajaran yang akan dilaksanakan, terutama pelajaran IPA (3) Pengendalian dokumen penerimaan siswa baru. Evaluasi pelaksanaan penerimaan siswa baru dalam meningkatkan layanan siswa meliputi: (1) pelaksanaan audit internal secara berkala guna menentukan apakah sistem manajemen mutu yang telah ditetapkan memenuhi aturan yang direncanakan terhadap persyaratan standar internasional ISO 9001:2000, (2) meningkatkan kinerja dilembaga pendidikan terutama terhadap layanan siswa yang prima disekolah, dan (3) melakukan pengukuran dengan standar yang telah ditentukan, sehingga diketahui selisih antara hasil pengukuran dengan standar yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan saran-saran sebagai berikut:(1) Bagi kepala sekolah, dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dan dasar kajian sehubungan dengan pengelolaan sekolah bertarap Internasional, sedangkan bagi guru dapat digunakan sebagai bahan untuk memperluas wawasan atau pengetahuan tentang peranya dalam menerapkan pengelolaan pembelajaran disekolah, (2) bagi Yayasan yang menaungi SMA Islam dan SMPK Santa Maria II Malang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah di masa yang akan datang, (3) bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan Kota Malang dapat menjadi masukan di dalam membina Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas agar diadakan perbaikan dan pengembangan yang relevan dan berkelanjutan, (4) bagi Kementrian Pendidikan dan kebudayaan, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pendidikan, pembinaan dan pengawasan pendidikan khususnya yang menyangkut pengelolaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, (5) bagi pemerhati dan peneliti, dapat digunakan sebagai kajian yang mendalam untuk bahan penelitian lebih lanjut.

Penerapan pembelajaran matematika dengan pendekatan open ended pada siswa kelas 3 SD Negeri Gadang 3 Malang / Gangga Nada Dwi Satria

 

Kata kunci: Penerapan, Open Ended, Respon Siswa Saat ini pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional ternyata masih banyak digunakan oleh guru matematika pada umumnya, terutama di SD Negeri Gadang 3 Malang. Dalam hal ini, pembelajaran masih terpusat pada guru, karena guru hanya memberikan informasi, contoh dan yang lainnya tanpa melibatkan siswa. Sehingga belum ada interaksi yang mendorong siswa untuk aktif dalam mengembangkan kreativitasnya. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang lain, yang dapat melibatkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan pendekatan Open Ended , siswa memiliki kesempatan untuk memecahkan masalah dengan beberapa cara yang benar, sehingga siswa dapat mengembangkan kreativitasnya. Alasan inilah yang melatarbelakangi penelitian dengan pendekatan Open Ended di SD Negeri Gadang 3 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran matematika dengan pendekatan Open Ended pada siswa kelas 3 SD Negeri Gadang 3 Malang, (2) mendeskripsikan respon siswa kelas 3 SD Negeri Gadang 3 Malang terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan Open Ended. Pembelajaran matematika dengan pendekatan Open Ended dilaksanakan melalui tahapan-tahapan antara lain (1) tahap awal, yaitu: membangkitkan pengetahuan awal yang dimiliki siswa (2) tahap inti, terdiri dari 2 periode. periode pertama, yaitu: pemberian masalah Open Ended secara individu, dilanjutkan dengan pemberian masalah Open Ended secara kelompok. Sedangkan periode kedua, yaitu: mendiskusikan hasil kerja kelompok, dan (3) tahap akhir, yaitu: membuat suatu kesimpulan terhadap materi yang dipelajari. Dalam pembelajaran dengan pendekatan Open Ended, siswa memberikan respon yang positif, hal ini terbukti dari hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa aktivitas siswa masuk dalam kategori “baik”, serta hasil angket siswa yang menunjukkan bahwa secara umum siswa senang terhadap pembelajaran dengan pendekatan Open Ended.

Pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntasi di SMK Ardjuna 02 Malang / Linda Amalia Krisnawati

 

Kata Kunci: Lingkungan Keluarga, Sumber Belajar, Prestasi Belajar Lingkungan keluarga merupakan salah satu aspek yang mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkat prestasi belajar siswa. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama, hal ini disebabkan karena keluarga merupakan orang-orang terdekat bagi seorang anak. Selain lingkungan keluarga , ketersediaan sumber belajar di rumah merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam menentukan tingkat prestasi belajar siswa. Dengan dukungan dari keluarga dan dengan ketersediaan sumber belajar di rumah akan memudahkan anak dalam mencapai prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang: (1) pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa; (2) pengaruh ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa; (3) pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Instrument dalam penelitian ini berupa angket, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik regresi berganda. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI dan XII Jurusan Akuntansi SMK Ardjuna 02 Malang yaitu sebanyak 36 siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan keluarga tergolong baik, ketersediaan sumber belajar di rumah tergolong lengkap, dan prestasi belajar siswa tergolong baik. Dan dari hasil analisis regresi berganda terhadap prestasi belajar siswa, diketahui: (1) terdapat pengaruh positif yang signifikan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa; (2) terdapat pengaruh positif yang signifikan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa; (3) terdapat pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah secara positif yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Prestasi belajar dapat dijelaskan oleh variabel bebas (lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah ) sebesar 48% sedangkan sisanya 52% disebabkan oleh variabel lain. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan: (1) agar orang tua meningkatkan lagi perhatian dan motivasi anaknya dalam kegiatan belajar khususnya di waktu siswa di rumah; (2) guru merupakan orang tua ke dua bagi siswa, diharapkan guru lebih memperhatikan kesulitan belajar siswanya, sehingga diharapkan dapat tercipta kondisi belajar siswa yang baik ketika siswa belajar di sekolah yang dapat mendukung prestasi belajar siswa; (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas lagi, misalnya menambah variabel minat dan motivasi, serta penambahan metode wawancara kepada orang tua siswa,sehingga hasil penelitian dapat digunakan sebagai landasan atau bahan litaratur penelitian selanjutnya.

Pengembangan pembelajaran gerak besar lari melalui pendekatan bermain siswa kelas IV SDN Watestani IV Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Juniarto Purnomo

 

Kata kunci: Pengembangan, Pembelajaran Gerak Lari, Pendekatan Bermain. Di SDN Watestani IV pembelajaran pendidikan jasmanI khususnya pembelajaran lari, berdasarkan observasi awal berupa kuesioner analisis kebutuhan yang diberikan kepada guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, materi lari terdapat dalam kurikulum SDN Watestani IV, pembelajaran lari diajarkan pada kelas 4, 5, dan 6, dalam pembelajaran lari guru kurang memiliki referensi tentang permainan-permainan lari sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang menarik dan terkesan monoton. Tujuan pengembangan pembelajaran lari melalui pendekatan bermain di SDN Watestani IV ini adalah diharapakan siswa tertarik dan tidak merasa bosan terhadap pembelajaran yang dilakukan sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, efektif dan menyenangkan. Penelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah adalah sebagai berikut: 1) analisis kebutuhan, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli, 4) uji kelompok kecil, 5) revisi hasil uji kelompok kecil, 6) uji kelompok besar, 7) revisi hasil uji kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa model pembelajaran gerak lari menggunakan pendekatan bermain. Berdasarkan data menggunakan kuesioner untuk ahli dan siswa dengan kualifikasi 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmnai dan 1 ahli atletik, sedangkan untuk siswa dilakukan uji coba kelompok kecil sebanyak 12 siswa dan uji coba kelompok besar sebanyak 30 siswa. Berdasarkan hasil evaluasi ahli diperoleh hasil sebagai berikut: dari ahli pembelajaran pendidikan jasmani 94% (baik), dari ahli atletik 75% (cukup baik). Sedangkan hasil dari uji coba kelompok diperoleh hasil sebagai berikut: dari uji coba kelompok kecil 94% (baik), dari uji kelompok besar (uji lapangan) 100% (baik). Kesimpulan penelitian ini adalah: 1) dapat menarik perhatian siswa untuk mengikuti pembelajaran lari, 2) siswa dapat melakukan pembelajaran lari dengan mudah dan senang, 3) siswa dapat memperoleh kebutuhan gerak lari yang bervariasi. Berdasarkan penelitian ini hendaknya guru pendidikan jasmani lebih kreatif dalam melakukan pembelajaran sehingga siswa merasa senang dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Penelitian pengembangan pembelajaran ini hendaknya dikembangkan pada pembelajaran cabang olahraga yang lain sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani.

Penerapan pembelajaran kooperatif model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar geografi pada materi pelestarian lingkungan hidup siswa kelas VIII C SMPn 9 Malang / Binana Nazsrulin

 

Pengembangan perangkat pembelajaran keterampilan menulis karya ilmiah berpendekatan konstruktivisme /Supriyadi

 

Kata-kata kunci: perangkat pembelajaran, pendekatan konstruktivisme, karya ilmiah, terampil menulis karya ilmiah, makalah, mahasiswa, prestasi belajar Pengembangan perangkat pembelajaran keterampilan menulis karya ilmiah berpendekatan konstruktivisme merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis karya ilmiah mahasiswa, kualitas proses, dan kualitas prestasi/hasil pembelajaran menulis karya ilmiah di perguruan tinggi. Sehubungan dengan itu, secara umum penelitian ini bertujuan mengembangkan perangkat pembelajaran berpendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan kete-rampilan menulis karya ilmiah mahasiswa. Secara khusus, penelitian ini bertujuan mengembangkan (1) panduan pelaksanaan proses pembelajaran, (2) silabus pembel-ajaran, (3) RPS pembelajaran, (4) materi pembelajaran, dan (5) perangkat evaluasi pembelajaran berpendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan keterampilan menulis karya ilmiah mahasiswa. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk menguji efektivitas produk pengembangan dalam proses pembelajaran menulis karya ilmiah berpendekatan konstruktivisme di lapangan. Dalam rangka mencapai tujuan penelitian tersebut digunakan model pengem-bangan R2D2 dan RDR. Model pengembangan R2D2 terdiri atas tiga fokus, yakni fokus (1) penetapan, (2) desain dan pengembangan, dan (3) diseminasi. Fokus diseminasi tidak tercakup dalam penelitian ini karena berkaitan dengan penerbitan produk dan implementasinya dalam skala luas. Fokus penetapan dilakukan dengan menetapkan (1) perangkat yang dikembangkan dan (2) pembentukan tim partisipatif. Perangkat yang dikembangkan terdiri atas lima jenis, yakni (a) panduan pelaksanaan proses pembelajaran, (b) silabus pembelajaran, (c) RPS pembelajaran, (d) materi pembelajaran, dan (e) perangkat evaluasi pembelajaran menulis karya ilmiah. Pengembangan perankat pembelajaran berlandaskan pada pendekatan konstruk-tivisme. Tim partisipatif terdiri atas (a) mahasiswa, (b) dosen, (c) praktisi, dan (d) ahli yang relevan dengan bidang kajian. Model pengembangan RDR terdiri atas tiga kegiatan, yakni (a) penelitian, (b) pengembangan, dan (c) uji efektivitas produk pengembangan. Pelaksanaannya di lapangan, penelitian ini diawali dengan studi pendahuluan untuk memperoleh informasi awal tentang pembelajaran menulis karya ilmiah dan berkolaborasi dengan dosen untuk mengembangkan perangkat pembelajaran menulis karya ilmiah berpendekatan konstruktivisme. Langkah berikutnya secara berturut-turut adalah mendesain dan mengembangkan lima jenis perangkat pembelajaran, uji praktisi, uji ahli, dan uji coba produk dalam kelompok kecil dan kelompok besar, dan revisi produk. Langkah terakhir proses pengembangan adalah uji efektivitas produk pengembangan. Uji efektivitas produk pengembangan dilakukan melalui uji lapangan dengan desain kuasieksperimen (desain pretes dan postes kelompok tunggal). Data uji praktisi dan uji ahli, dan data uji coba produk pengembangan berupa data kualitatif, sedangkan data uji efektivitas produk berupa data kuantitatif. Analisis data kualitatif digunakan teknik analisis domain. Domain yang dimaksud mencakup format, isi, organisasi, dan aspek kebahasaan perangkat pembelajaran. Analisis data kuantitatif digunakan SPSS 16,0 for windows. Hasil penelitian pengembangan ini berupa lima jenis perangkat pembelajaran menulis karya ilmiah berpendekatan konstruktivisme, yakni (a) panduan pelaksanaan proses pembelajaran, (b) silabus pembelajaran, (c) RPS pembelajaran, (d) materi pembelajaran, dan (e) perangkat evaluasi pembelajaran berpendekatan konstruk-tivisme. Perangkat evaluasi pembelajaran mancakup (a) rubrik penilaian, (b) porto-folio, (c) lembar observasi, dan (d) jurnal belajar. Perangkat pembelajaran yang di-kembangkan memiliki kekhasan yang berbeda dengan perangkat pembelajaran konvensional. Kekhasan tersebut tercermin pada penggunaan empat jenis kegiatan pembelajaran dalam lingkup pendekatan konstruktivisme pada lima jenis perangkat pembelajaran produk pengembangan. Keempat jenis kegiatan pembelajaran tersebut adalah (a) orientasi, (b) eksplorasi konsep, (c) interpretasi/penemuan konsep, dan (d) aplikasi konsep. Kekhasan silabus dan RPS terdapat pada komponen (a) indikator, (b) tujuan pembelajaran, (c) materi pembelajaran, (d) kegiatan pembelajaran, dan (e) evaluasi pembelajaran. Kekhasan materi pembelajaran terdapat komponen penyajian materi, kegiatan mahasiswa, penilaian diri, dan pendalaman materi. Kekhasan pada keempat jenis perangkat evaluasi terletak pada implementasi perangkat evaluasi tersebut secara terintegrasi dalam proses pembelajaran. Terakhir, kekhasan panduan pelaksanaan proses pembelajaran menulis karya ilmiah terdapat pada keseluruhan komponen panduan karena panduan tersebut dimanfaatkan sebagai pedoman pelak-sanaan proses pembelajaran menulis karya ilmiah dengan pendekatan konstruk-tivisme. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar menulis karya ilmiah mahasiswa secara signifikan antara sebelum proses pembelajar-an dan sesudah proses pembelajaran. Hasil wawancara dengan mahasiswa juga me-nunjukkan bahwa pembelajaran menulis karya ilmiah berpendekatan konstruktivisme telah memberikan sejumlah manfaat, antara lain melatih keberanian mengungkapkan gagasan, bertanggung jawab bersama, melatih bersosialisasi, melatih kepekaan, menghargai pendapat teman, dan melatih berdemokrasi dalam belajar. Sejalan dengan temuan penelitian ini adalah bahwa pembelajaran yang memanfaatkan perangkat pembelajaran berpendekatan konstruktivisme perlu terus dikembangkan dan disosialisasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pembelajaran menulis karya ilmiah. Dosen dapat memanfaatkan produk pengembang-an ini dalam proses pembelajaran menulis karya ilmiah dan menjadikan pendekatan konstruktivisme dengan empat kegiatan belajar sebagai alternatif untuk memvariasi-kan pelaksanaan proses pembelajaran.

Pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja (Studi pada karyawan terminal BBM Malang) / Hendita Gaustamam

 

Kata kunci : budaya organisasi, kepuasan kerja, komitmen organisasi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :(1) deskripsi budaya organisasi, kepuasan kerja dan komitmen organisasi di Terminal BBM Malang, (2) pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja, (3) pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi, (4) pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi, dan (5) pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah karyawan Terminal BBM Malang sebanyak 63 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proporsional random sampling dengan sampel sebanyak 54 responden. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis jalur (Path Analysis). Berdasarkan analisis deskriptif, kondisi budaya organisasi di Terminal BBM Malang adalah baik, kepuasan kerja karyawan adalah cukup puas, dan komitmen karyawan adalah tinggi. Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa: (1). Terdapat pengaruh positif secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan Terminal BBM Malang, (2). Terdapat pengaruh secara langsung positif yang signifikan budaya organisasi terhadap komitmen organisasi karyawan Terminal BBM Malang, (3).Terdapat pengaruh positif secara langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi karyawan Terminal BBM Malang, (4). Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara budaya organisasi terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan Terminal BBM Malang. Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan agar pihak Terminal BBM Malang untuk: (1) Mempertahankan budaya organisasi yang ada, serta memperhatikan berbagai aspek yang berhubungan dengan kepuasan kerja karyawan sehingga karyawan memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan, (2) Menciptakan suasana kerja yang harmonis antar karyawan dengan pimpinan dengan cara lebih sering berkomunikasi baik di dalam lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja, (3) Manajemen selalu memberikan semangat dan mau menerima masukan saran dan kritik dari karyawan.

Hubungan kinerja sumberdaya manusia, proses pendidikan, dan fasilitas fisik dengan kepuasan mahasiswa dan citra lembaga pada Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya / Dwi Haryanta

 

Disertasi . Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Prof. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., Pembimbing II: Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd., Pembimbing III: Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata kunci: citra lembaga, kepuasan mahasiswa, kinerja sumberdaya manusia, proses pendidikan, fasilitas fisik, perguruan tinggi swasta. Citra perguruan tinggi bagus melekat pada perguruan tinggi yang didukung sumberdaya dan dana yang cukup sehingga memberikan jaminan akan kualitas out put dan out come, dan sekaligus menjadi perguruan tinggi yang mandiri. Perguruan tinggi membangun citra institusi dengan berbagai cara misalnya melakukan rebranding, promosi, menyelenggarakan open house, pameran, komunikasi intensif dengan stakeholder dan lain sebagainya. Citra lembaga pendidikan yang baik dan kuat akan memberikan manfaat (1) memperkuat daya saing lembaga dalam jangka menengah dan jangka panjang, (2) menjadi perisai selama masa kritis, (3) menjadi daya tarik handal, (4) meningkatkan efektifitas strategi pemasaran, dan (5) penghematan biaya operasional. Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui keberadaan citra lembaga pendidikan dan faktor-faktor yang berpengaruh pada perguruan tinggi swasta di Surabaya, dan (2) untuk mengetahui signifikansi hubungan langsung maupun tidak langsung antara citra lembaga pendidikan dengan kepuasan mahasiswa, kinerja sumberdaya manusia, proses pendidikan, dan fasilitas fisik. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, dengan rancangan deskripsi korelasional. Populasi penelitian adalah mahasiswa program Sarjana S-1 pada perguruan tinggi swasta di Surabaya. Sampel ditentukan dengan teknik memilih yang proporsional. Pemilihan perguruan tinggi lokasi berdasar pertimbangan-pertimbangan tertentu dan ditentukan lima lokasi yaitu Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Unversitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, STIE Perbanas Surabaya, dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer “STIKOM” Surabaya. Sampel berjumlah 400 orang mahasiswa. Sampel untuk masing-masing perguruan tinggi dan masing-masing fakultas/program studi ditetapkan secara proporsional berdasar jumlah mahasiswanya. Pengumpulan data dilakukan dengan mendistribusikan angket kepada para calon responden, yaitu seluruh mahasiswa yang lulus yudisium dari masing-masing perguruan tinggi/fakultas/program studi lokasi penelitian. Angket yang sudah diisi oleh responden kemudian dikumpulkan melalui kantor Pimpinan Perguruan Tinggi. Angket yang sudah terkumpul kemudian diperiksa dan diseleksi. Sampel dengan jumlah sebagaimana telah ditetapkan untuk masing-masing perguruan tinggi/fakultas/program studi dipilih dari angket-angket yang telah diisi secara lengkap oleh responden. Teknik analisis data menggunakan analisis deskritif dan analisis model persamaan struktural atau SEM (Structural Equation Modeling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Persepsi mahasiswa terhadap citra lembaga pendidikan (perguruan tinggi) swasta di Surabaya masuk kategori baik. Citra lembaga pendidikan ditentukan oleh komitmen lembaga dalam memenuhi janji yang disampaikan kepada calon mahasiswa, transparansi dalam pemenuhan janji dan keunggulan dibandingkan dengan perguruan tinggi lain; (2) Persepsi mahasiswa terhadap tingkat kepuasan mahasiswa pada perguruan tinggi swasta di Surabaya pada tingkat yang tinggi. Tingkat kepuasan mahasiswa ditentukan oleh kepuasan atas output pendidikan, ketercukupan pelayanan dan kemanfaatan pelayanan oleh perguruan tinggi; (3) Persepsi mahasiswa terhadap fasilitas fisik pada perguruan tinggi swasta di Surabaya pada tingkatan baik. Fasilitas fisik yang sangat dibutuhkan mahasiswa adalah fasilitas pendidikan dan pengajaran, jaminan berfungsinya fasilitas pengajaran, dan ketersdiaan dan ketercukupan fasilitas kegiatan kemahasiswaan; (4) Persepsi mahasiswa terhadap proses pendidikan secara umum telah berjalan dengan baik. Penilaian terhadap efektifitas proses pendidikan dilihat dari keandalan proses, pembakuan proses, dan lamanya waktu berproses, dan (5) Persepsi mahasiswa terhadap kinerja sumberdaya manusia secara umum baik. Kinerja sumberdaya manusia ditentukan oleh tingkat ketanggapan para dosen dan karyawan, empati para dosen dan karyawan, dan kemampuan para dosen dan karyawan dalam memberikan layanan. Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi citra lembaga adalah kepuasan mahasiswa, fasilitas fisik dan kinerja sumberdaya manusia. Sedangkan proses pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap citra lembaga. Oleh karena itu sebagai implikasi baik teoritis maupun praktis bila ingin meningkatkan atau membangun citra lembaga dapat dilakukan dengan meningkatkan variabel-variabel kepuasan mahasiswa, fasilitas fisik dan kinerja sumberdaya manusia. Berdasarkan kesimpulan penelitian, beberapa saran ditujukan kepada (1) Direktur Jendral Pendidikan Tinggi melalui Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan terkait dengan kinerja sumerdaya manusia perguruan tinggi, penyediaan fasilitas pendidikan, efektifitas proses pengajaran dan melakukan pengawasan, pengendalian dan pembinaan pada perguruan tinggi swasta; (2) Para pimpinan perguruan tinggi (PTS) perlu mengembangkan strategi membangun citra lembaga dengan cara konsisten memenuhi janji yang disampaikan kepada calon mahasiswa, transparansi dalam pemenuhan janji, membangun keunggulan-keuanggulan dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, fasilitas pendidikan dan pengajaran, jaminan berfungsinya fasilitas pengajaran, dan ketersediaan serta ketercukupan fasilitas kegiatan kemahasiswaan; (3) para dosen hasil peneltian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk terus menigkatkan kualitas pembelajaran, untuk menjamin terwujudnya layanan pendidikan yang berkualitas, (4) para peneliti lain penelitian ini dapat dikembangkan dengan populasi semua jenjang pendidikan tinggi, mempertimbangkan variabel harga dan dikembangkan sampai dengan pada loyalitas mahasiswa terhadap almamaternya.

Pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap kinerja perusahaan dan reaksi investor / Era Isrotul Ajizah

 

Kata Kunci: Tanggung Jawab Sosial, Kinerja Keuangan, Reaksi Investor, Return on Equity, Trading Volume Activity. Tanggung jawab sosial merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban yang dilakukan perusahaan atas dampak yang ditimbulkan dari aktivitas operasional yang berpengaruh terhadap masyarakat internal maupun eksternal perusahaan. Investor sebagai salah satu stakeholder kunci sangat mempertimbangkan kinerja sosial dan lingkungan perusahaan dalam melakukan keputusan investasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanggung jawab sosial perusahaan terhadap kinerja perusahaan dan reaksi investor dengan variabel pengukur Return on Equity dan Trading Volume Activity. Penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi kanonikal dengan variable independen adalah tanggung jawab sosial, sedangkan variabel dependen adalah kinerja perusahaan dan reaksi investor. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan dengan variabel pengukur return on equity dan tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh signifikan terhadap reaksi investor dengan variabel pengukur trading volume activity dan pengungkapan sosial berpengaruh signifikan terhadap reaksi investor dengan variabel pengukur unexpected trading volume. Artinya, para investor perusahaan manufaktur Indonesia sudah mulai menggunakan informasi tanggung jawab sosial dalam meningkatkan keuntungan ekonomi perusahaan dan melakukan keputusan investasi. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel untuk jenis perusahaan lain dan dapat menambah variabel pengukur lainnya dalam mengukur kinerja perusahaan dan reaksi investor sehingga penelitian selanjutnya bisa lebih akurat.

Pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok dengan penerapan software excel dan LKS untuk memahamkan persamaan lingkaran / Awaluddin

 

Meningkatkan prestasi belajar sistem penerangan dengan menggunakan CD modul pembelajaran interaktif siswa teknik kendaraan ringan siswa SMK Negeri 3 Bondowoso / Muhammad Makhfud

 

Kata Kunci: prestasi belajar, CD modul interaktif, sistem penerangan, teknik kendaraan ringan Sebagai upaya memperbaiki pelaksanaan pembelajaran maka komponen-komponen pada pembelajaran menjadi perhatian dalam penelitian tindakan kelas ini. Keterbatasan sarana belajar yang berdampak terhadap pelaksanaan pembelajaran menuntut adanya upaya perbaikan sebagai pengganti ketersedian sarana. Penggunaan CD modul interaktif adalah upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam merangkai sistem penerangan. Tujuan penelitian ini adalah (1) Penerapan modul interaktif untuk meningkatkan prestasi belajar kompensi sistem penerangan, (2) Upaya peningkatan prestasi belajar kompetensi sistem penerangan siswa Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 3 Bondowoso melalui penerapan modul interaktif, (3)Merumuskan CD modul interaktif yang mampu meningkatkan prestasi belajar kompetensi sistem penerangan siswa Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 3 Bondowoso Penelitian ini menggunakan ran¬cang¬an penelitian tindakan kelas.Penelitian dilaku¬kan di SMK Negeri 3 Bondowoso. Sebagai subjek penelitian, dipilih kelas dengan jumlah 16 siswa dari 36 siswa. Pene¬li¬tian ini menggunakan instrumen preetes dan postes untuk pengumpulan data. Dari hasil penelitian mengungkap fakta bahwa: (1) Penggunaan CD modul interaktif pada mata pelajaran sistem penerangan mampu meningkatkan prestasi belajar (2) Prestasi belajar siswa meningkat secara bertahap, peningkatan pada siklus I masih kecil, namun semakin meningkat pada siklus III, peningkatan diperoleh setelah dilakukan langkah perbaikan pada CD modul interaktif yaitu dengan memberikan animasi rangkaian, penambahan lembar kerja sesuai gambar rangkaian dan petunjuk perbaikan gangguan atau trouble shootting (3) CD modul interaktif yang mampu meningkatkan prestasi belajar adalah CD yang telah menampilkan gambar komponen sesungguhnya, memiliki animasi yang mampu mengulang dan memperlambat rangkaian dan petunjuk perbaikan gangguan. Berdasarkan hasil penelitian menyarankan: (1) Guru perlu upaya perbaikan proses belajar termasuk penggunaan modul sebagai inovasi pembelajaran untuk mengatasi masalah ketersedian alat praktek.(2) Peneliti lain mela¬kukan penelitian lanjutan penggunaan animasi dan simulasi sebagai alternatif dalam mengatasi keterbatasan sarana belajar. (3) siswa harus mampu memilih dan menggunakan CD modul interaktif dengan baik sesuai dengan karakter CD modul yang memberi kebebasan dalam memilih materi dan mengoperasikannya.

Lexical richness in teacher talk of a non native english teacher in the foreign language classroom / Pritomo

 

Tesis, Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd., (II) Dr. Arwijati W. Murdibjono, M.Pd, Dip. TESL. Kata Kunci: kekayaan kata, bahasa guru, guru bukan penutur asli bahasa inggris Penelitihan ini bertujuan untuk menguji kekayaan kata bahasa guru bukan penutur asli bahasa Inggris dalam bahasa lisannya saat mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Masalah-masalah yang diteliti adalah sebagai berikut: jumlah token (semua kata dalam bahasa guru yang direkam), jumlah jenis kata (semua kata yang berbeda dalam bahasa guru yang direkam), perbandingan antara jenis kata dan token (TTR), dan frekwensi yang muncul untuk kata-kata yang berbeda. Penelitihan ini menggunakan rancangan penelitihan diskriptif yang bertujuan menggambarkan kekayaan kata bahasa lisan subyek ketika sedang mengajarkan bahasa Inggris kepada para siswanya. Lebih lanjut, metode kualitatif dan kuantitatif juga digunakan. Metode kualitatif diterapkan dalam pemilihan subyek. Sedangkan, metode kuantitatif digunakan untuk menghitung kekayaan kata bahasa lisan subyek. Penghitungan kekayaan kata dihitung secara otomatis dengan menggunakan AntWordProfiler 1200w, sebuah program komputer yang digunakan untuk menghitung tokens (semua kata dalam bahasa guru yang direkam), types (semua kata yang berbeda dalam bahasa guru yang direkam), perbandingan antara kata yang berbeda dengan semua kata yang ada dalam transkrip rekaman (TTR) yang dipakai untuk mengukur kekayaan kata, serta frekwensi yang muncul untuk kata-kata yang berbeda. Kata-kata yang diucapkan oleh subyek dalam percakapan dibandingkan dengan kata-kata dasar 1 Nation (1000 kata pertama yang sering muncul), kata-kata dasar dua Nation (1000 kata kedua yang sering muncul), kata-kata dasar tiga Nation (1000 kata ketiga yang sering muncul termasuk kata-kata yang dipakai dalam konteks akademik), dan di luar daftar kata (kata-kata diluar 3000 kata). Ketiga tingkatan kata tersebut sudah diintegrasikan dalam program. Prosedur pengumpulan data meliputi: proses perekaman yang dilakukan empat kali, proses merubah, proses penulisan transkrip, proses mengkategorikan, proses analisa, dan proses menafsirkan temuan. Triangulasi data juga dilakukan untuk membandingkan temuan antara bahasa lisan dengan bahasa tulis dari subyek penelitihan.. Temuan penelitihan ini disajikan sebagai berikut: (1) guru mengucapkan paling banyak kata-kata yang dikategorikan pada kata dasar 1 (1000 kata pertama yang sering muncul), lebih sedikit kata-kata yang dikategorikan pada kata dasar 2 (1000 kata kedua yang sering muncul), dan paling sedikit kata-kata yang termasuk pada kata dasar 3 (1000 kata ketiga yang sering muncul). Sementara itu, kata-kata yang dikategorikan di luar daftar kata (kata-kata di luar 3000 kata) selalu berubah-ubah karena munculnya bahasa ibu, (2) dalam hal frekwensi kata, subyek sering mengucapkan banyak kata-kata fungsi yang dikategorikan sebagai kata penentu, kata ganti orang, kata depan, konjungsi, kata kerja bantu, dan partikel. Semua kata-kata fungsi tersebut muncul di kata dasar 1 (1000 kata pertama yang sering muncul). Sedangkan, guru tidak sering memproduksi banyak kata isi yang dikategorikan baik di kata dasar 2 (1000 kata kedua yang sering muncul) dan kata dasar 3 (1000 kata ketiga yang sering muncul), (3) dari empat bahasa guru yang direkam, kekayaan kata bahasa lisan guru rata-rata 28% dan dikategorikan sedang, dan (4) kekayaan kata bahasa tulis guru sama dengan kekayaan kata bahasa lisan guru. Guru menulis paling banyak kata pada kata dasar 1, sedikit kata pada kata dasar 2, dan paling sedikit kata pada kata dasar 3. Kata-kata fungsi seperti kata penentu, kata ganti orang, kata depan, konjungsi, kata kerja bantu, dan partikel sering ditulis tetapi tidak banyak kata isi ditulis pada kata dasar 2 dan 3. Berdasarkan temuan-temuan itu, disarankan bahwa subyek perlu menjelajahi secara luas lebih banyak kata-kata yang dikategorikan pada 1000 kata kedua dan ketiga yang sering muncul dalam bahasa Inggris karena lebih beraneka macam kosa kata bisa mempertinggi bukan hanya kualitas bahasa lisan dan tulis namun juga rasio dari kata-kata yang berbeda dan semua kata-kata yang muncul sebagai suatu tanda kekayaan kata dan seorang guru bahasa Inggris yang ahli. Penjelajahan secara luas pada kedua kata dasar itu dapat dilakukan sebagai contoh, dengan sering membuka Tes Uji Kosakata yang tersedia di banyak situs web gratis. Juga disarankan kepada guru tersebut untuk mengurangi munculnya bahasa ibu saat berbicara kepada para siswa di ruang kelas karena makin sering bahasa ibu diucapkan, makin rendah kekayaan kata.

Manajemen pebelajaran bilingual untuk meningkatkan prestasi Sekolah (Studi kasus di Madrasah Aliyah Ma'arif Nahdlatul Ulama Blitar) / Muh. Khoirul Anam,01020/KI/12

 

Kata kunci: manajemen, pembelajaran bilingual, prestasi sekolah Sistem pendidikan dibangun untuk membentuk manusia seutuhnya tidak hanya bertumpu pada pengembangan kemampuan intelektual saja namun juga bertumpu pada pengembangan emosional, iman, taqwa, dan akhlaq. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar memegang peranan penting dalam rangka pembentukan sikap dan kepribadian serta budi pekerti siswa yang lebih baik yang telah mereka dapatkan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Berdasarkan pengamatan peneliti, Madrasah Aliyah Ma’arif Nahdatul Ulama Blitar, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bercirikan keislaman dengan mengutamakan kualitas kebahasaan di samping bidang-bidang studi yang lain. Hal ini dibuktikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh lembaga ini, antara lain mengoptimalkan bimbingan dan lingkungan Bahasa Arab dan Inggris. Fokus penelitian yaitu: 1) Bagaimana manajemen pembelajaran bilingual yang dilakukan di MA Ma’arif NU Blitar, 2) Bagaimana manajemen pembelajaran bilingual yang dilakukan di asrama Nurul Ulum Blitar, 3) Apa yang menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual, 4) Apa yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual, 5) Apa yang menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual di asrama, 6) Apa yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual di asrama, dan 7) Prestasi apa yang pernah diraih dari pelaksanaan manajemen pembelajaran bilingual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi partisipasi, wawancara dan analisis dokumentasi. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) perpanjangan keikutsertaan, 2) ketekunan/keajegan pengamatan, dan 3) triangulasi. Hasil dari penelitian ini yaitu 1) Manajemen pembelajaran bilingual yang dilakukan di MA Ma’arif NU Blitar, adanya proses perencanaan pembelajaran bilingual dimulai pada saat penyusunan rancangan program belajar sekolah, adanya pengorganisasian pembelajaran bilingual dilakukan dengan menggunakan sistem delegasi dan pembagian tugas sesuai dengan kemampuan guru maupun siswa di bidangnya masing-masing, adanya penggerakan atau pelaksanaan pembelajaran bilingual mengacu pada standar kompetensi dan indikator kemampuan siswa, adanya proses pengawasan pembelajaran bilingual berupa pengawasan secara langsung atau tidak langsung, tergantung dari pihak yang mengawasi kegiatan. 2) Manajemen pembelajaran bilingual yang dilakukan di asrama tidak ada bedanya dengan yang dilakukan di Madrasah, keduanya saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. 3) faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual yaitu sistem boarding school, lingkungan yang mendukung, tenaga pengajar yang ahli dan berkompeten di bidangnya, dan pengasuh asrama yang telaten dan sabar dalam membimbing siswa atau santri di sekolah. 4) Faktor yang menghambat pelaksanan pembelajaran bilingual yaitu sarana dan prasarana yang kurang memadai, kurangnya pendamping untuk siswa dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual, dan program kerja yang kurang menarik siswa. 5) Faktor pendukung yang terdapat dalam pembelajaran bilingual yang dilakukan di asrama adalah pengasuh asrama yang berkompeten dan telaten membimbing para siswa, lingkungan yang kondusif untuk melakukan pembelajaran bilingual dan kebijakan sekolah yang sangat mendukung jalannya kegiatan pembelajaran bilingual di asrama. 6) Faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran bilingual di asrama Nurul Ulum Blitar yaitu sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, kurangnya tenaga pendamping yang dibutuhkan untuk membimbing dan mendampingi siswa dalam proses pembelajaran bilingual, dan program kerja kebahasaan yang kurang menarik minat siswa. dan 7) Prestasi yang pernah diraih oleh MA Ma’arif NU Blitar dari pelaksanaan manajemen pembelajaran bilingual berasal dari lingkungan pendidikan Ma’arif itu sendiri ditambah dengan penghargaan dari tingkat Kota dan Kabupaten Blitar. Saran dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagi kepala MA Ma’arif NU Blitar hendaknya lebih memperhatikan dan memantapkan program pembelajaran bilingual sehingga sekolah lebih berkembang dan berprestasi, lebih memperhatikan manajemen pembelajaran bilingual yang berada di bawah naungannya sehingga dapat menjadi sekolah/madrasah yang berprestasi dan berkualitas, 2) Bagi wakil kepala madrasah bagian kurikulum hendaknya senantiasa melakukan perbaikan dalam kegiatan pelaksanaan semua substansi manajemen pembelajaran untuk siswa terutama dalam sarana prasarana sehingga proses belajar mengajar tidak terhambat, 3) Bagi guru bahasa MA Ma’arif NU Blitar hendaknya dapat melakukan tugas yang dibebankan dengan baik sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan program pembelajaran bilingual di sekolah/madrasah hendaknya terus menerus melakukan perbaikan tugas sebagai pengajar dan staf pengelola serta dapat meningkatkan kemampuan mengajar sehingga akan menambah prestasinya, 4) Bagi siswa MA Ma’arif NU Blitar hasil penelitian ini diharapkan lebih memaksimalkan dan memanfaatkan kegiatan pembelajaran bilingual yang telah diprogramkan sekolah dengan baik agar kualitas sekolah dan prestasi non akademik siswa lebih meningkat serta menambah kesadaran siswa akan pentingnya penggunaan bahasa asing dalam pembelajaran bilingual, 5) Bagi ketua jurusan Administrasi Pendidikan hasil penelitian ini hendaknya menjadi tambahan referensi atau bahan kajian pengembangan ilmu manajemen pendidikan dan lebih meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen pembelajaran bilingual di sekolah/madrasah untuk meningkatkan prestasi sekolah, dan 6) Bagi peneliti lain hendaknya dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain yang bermanfaat dari manajemen pembelajaran, khsusnya manajemen pembelajaran bilingual di sekolah/madrasah sehingga dapat menambah dan mengembangkan hasil yang diperoleh oleh peneliti selanjutnya.

Penerapan model bermain peran (Role Playing) untuk meninggalkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X APK 2 SMKN 1 Probolinggo / Isa Annaqif

 

Kata Kunci: Penerapan model bermain peran (role playing), hasil belajar Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Berbagai upaya pendidikan telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan pengembangan kurikulum di Indonesia secara bertahap, dan disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Selain pengembangan kurikulum, hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah proses pembelajaran. Pada SMK Negeri 1 Probolinggo, metode pembelajaran yang banyak diterapkan adalah metode konvensional seperti ceramah dan tanya jawab yang menyebabkan siswa pasif dan kurang mandiri dalam belajar. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Strategi tersebut dapat dilakukan dengan mengimpelentasikan pembelajaran kooperatif, sehingga suasana belajar lebih kondusif dan mendorong peran aktif siswa dalam belajar. Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran Bermain Peran (Role Playing), dimana siswa berinteraksi dan saling membantu satu sama lain sehingga secara langsung dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X APK 2 SMK Negeri 1 Probolinggo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I aktivitas kooperatif siswa secara klasikal hanya mencapai persentase sebesar 66,67%. Pada siklus II meningkat sebesar 30,55% menjadi 97,22%. Selain itu penerapan model ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa, baik dalam ranah kognitif maupun afektif. Pada ranah kognitif, peningkatan tersebut terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat pra tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada saat akhir penerapan. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada saat pre-test sebanyak 15 siswa (41,67%) sedangkan yang belum tuntas sebanyak 21 siswa (59,33%). Hasil post-test siklus I menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan siswa yang tuntas sebanyak 24 siswa (66,67%) dan yang belum tuntas sebanyak 12 siswa (33,33%). Untuk hasil post-test siklus II juga menunjukkan peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan siklus I yaitu dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 35 siswa (97,22%) dan yang belum tuntas sebanyak 1 siswa (2,78%). Walaupun pada post-test siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah hal yang wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah pertama, bagi sekolah perlu adanya literatur mata pelajaran kewirausahaan yang lebih lengkap. Kedua, bagi siswa perlu adanya keberanian dan motivasi yang tinggi untuk terus giat belajar. Ketiga, bagi guru pembelajaran dengan teknik role playing dapat dijadikan alternatif pilihan pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Keempat, bagi peneliti selanjutnya untuk mengetahui hasil belajar siswa, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan teknik bermain peran (role playing) dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat menerapkan metode pembelajaran kontekstual yang menarik lainnya yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka.

Pengembangan profesionalisme guru melalui optimalisasi peran supervisi pengawas madrasah di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda 2 kota Mojokerto / Agiv Firmansah

 

Kata kunci: profesionalisme guru, peran supervisi, pengawas madrasah Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui upaya pengawas madrasah dalam melakukan supervisi akademik guna optimalisasi peningkatan kemampuan profesional guru di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto serta untuk mengetahui kekuatan, kelemahan dan alternatif solusinya. Fokus penelitian ini adalah: (1) bagaimana supervisi akademik oleh pengawas dalam peningkatan kemampuan profesional guru di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto?; (2) bagaimana upaya pengawas sekolah dalam optimalisasi peningkatan kemampuan profesional guru di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto?; dan (3) bagaimana kekuatan dan kelemahan serta alternatif solusi pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas dalam optimalisasi profesionalisme guru di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto?. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif deskriptif. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa supervisi akademik yang dilakukan pengawas madrasah di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto dalam peningkatan kemampuan profesional guru terdiri dari upaya: (1) peningkatan kualitas pembelajaran meliputi pengembangan metode dan media pembelajaran yang bertujuan agar para guru mampu menggunakan media dan metode pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran sehingga siswa dapat menerima pembelajaran dengan baik serta penilaian terhadap proses dan hasil belajar yang bertujuan agar para guru mampu memantau perkembangan siswa selama proses pembelajaran dan prestasi siswa di akhir pembelajaran; dan (2) penguatan profesi guru meliputi perilaku guru ideal, pengembangan citra profesi, dan kebanggan pada profesi. Aspek kekuatan dalam pelaksanaan supervisi akademik di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto yang terdiri dari: (1) motivasi intrinsik pengawas; (2) penguasaan akses informasi pengawas; (3) pengetahuan dan keterampilan teknis yang dimiliki pengawas; dan (4) sikap responsif dan adaptif pengawas terhadap kondisi. Aspek kelemahan dalam pelaksanaan supervisi akademik di MI Nurul Huda 2 Kota Mojokerto yang terdiri dari: (1) kesulitan pengawas membagi perhatian karena banyaknya tanggung jawab sekolah binaan; (2) kemampuan adaptasi; dan (3) rendahnya kecakapan di bidang TIK. Alternatif solusi yang dilakukan pengawas adalah penyelenggaraan forum diskusi bersama guru dan mengusulkan penyelenggaraan pelatihan tentang pemanfaatan TIK dalam pembelajaran walaupun belum terselenggara karena kendala administrasi. Dari hasil penelitian ini disarankan agar: (1) kepala sekolah mampu meningkatkan kinerja profesionalnya agar kinerja profesional guru juga dapat lebih meningkat; (2) pengawas madrasah mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan pedoman yang ada sehingga dapat meningkatkan kinerjanya sehingga kinerja profesional guru dapat lebih meningkat; (3) guru selalu meningkatkan kinerja profesionalnya, antara lain dengan memperoleh supervisi pengawas madrasah dan melakukan berbagai kegiatan pengembangan profesionalisme; (4) dinas pendidikan kota Mojokerto menjadikan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk mengadakan perbaikan dan pengembangan pendidikan yang lebih memadai terutama yang berkaitan dengan peran supervisi pengawas dan pengembangan profesionalisme guru; dan (5) peneliti lain menjadikan penelitian ini sebagai referensi tambahan dalam bidang administrasi pendidikan terutama yang berkaitan dengan supervisi pengawas madrasah dan pengembangan profesionalisme guru.

Perbedaan hasil belajar antara penerapan model pembelajaran cooperative learning menggunakan metode make-A match dengan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) pada kompetensi memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan TIK siswa kelas X SMA Negeri 7 Ma

 

Kata Kunci: hasil belajar, cooperative learning metode make-a match, pembelajaran langsung (direct instruction) Mutu pendidikan di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Salah upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Guru sebagai tenaga pendidik perlu menerapkan model pembelajaran inovatif dan sesuai dengan kompetensi. Berdasarkan hasil observasi di SMAN 7 Malang diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas X pada kompetensi memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan TIK masih rendah yaitu memiliki rata-rata nilai 59,67. Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru adalah pembelajaran langsung (direct instruction). Akan tetapi faktanya model pembelajaran ini tidak diterapkan secara tepat sesuai dengan langkah-langkahnya. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi pasif, berpusat pada guru, dan berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah. Model pembelajaran cooperative learning menggunakan metode make-a match yang mengusung konsep pembelajaran aktif dan sesuai dengan kompetensi dapat menjadi sebuah solusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan model pembelajaran cooperative learning menggunakan metode make-a match dengan model pembelajaran langsung (direct instruction). Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan menggunakan pretes dan postes pada kedua kelas sampel. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu model pembelajaran, dan variabel terikat yaitu hasil belajar. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X. Penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling kelompok cluster sehingga didapatkan kelas X-6 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-10 sebagai kelas kontrol. Rata-rata nilai kelas kontrol pada waktu pretes adalah 59,67 dan postes 80,25, sedangkan rata-rata nilai kelas eksperimen pada waktu pretes adalah 58,58 dan postes 84,20. Dari penelitian ini didapatkan hasil uji-t dua pihak dari data postes dengan thitung = 2,49 yang lebih besar dari ttabel = 1,99 serta derajat kebebasan 0,015 yang lebih kecil dari 0,05. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas X pada kompetensi memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan TIK melalui penerapan model pembelajaran cooperative learning metode make-a match dengan model pembelajaran langsung (direct instruction).

A proposed syllabus for english course (IPKU-1201) for students of mechanical engineering of Institut Saint & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta / Suprih Ambawani

 

Pendidikan Bahasa Inggris Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang, the State University of Malang. Pembimbing: (1) Dr. Arwijati W. Murdibjono, M.Pd., Dip. TESL (2) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata kunci: silabus, Jurusan Teknik Mesin Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan silabus bahasa Inggris bagi mahasiswa jurusan Teknik Mesin di Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta karena silabus untuk pembelajaran bahasa Inggris (IPKU 1201) belum ada. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan (R&D). Model pengembangannya mengadopsi model pengembangan pelajaran oleh Richard (2001) yang terdiri dari beberapa tahap yaitu: (1) melakukan analisa kebutuhan; (2) mengembangkan course rationale; (3) menentukan entry and exit level, (4) menentukan and mengurutkan isi, (6) merencanakan isi (memilih tipe silabus),(7) merencanakan scope and sequence (8) menulis silabus mengajaran,(9) evaluasi/revisi produk akhir yang meliputi validasi ahli terhadap rancangan silabus, melakukan uji coba dengan membuat lesson plan (RPP) dan melakukan revisi. Analisa kebutuhan penelitian ini. dilaksanakan di Jurusan Teknik Mesin, Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta yang melibatkan mahasiswa semester 5, ketua jurusan, tiga pengajar mata kuliah bidang studi dan juga dosen pengajar bahasa Inggris. Tahap ini dilaksanakan untuk memperoleh kebutuhan mahasiswa dalam mempelajari bahasa Inggris dan dilakukan dengan cara membagikan angket dan wawancara. Hasil dari tahap ini digunakan untuk mengembangkan silabus. Karena produk ini diimplementasikan di jurusan Teknik Mesin, silabus ini selain divalidasi oleh ahli dibidang pengembangan silabus juga divalidasi oleh pengajar bidang studi Teknik Mesin untuk mencocokkan kesesuaian topik dalam silabus dengan materi bidang studi untuk mendukung pemahaman mahasiswa. Revisi dilakukan berdasarkan koreksi, saran dan kritik dari para ahli. Kemudian produk yang sudah direvisi akan diujicobakan kepada guru bahasa Inggris untuk membuat dua contoh lesson plan berdasarkan silabus tersebut. Produk dari penelitian ini adalah a topic based syllabus Bahasa Inggris untuk Jurusan Teknik Mesin yang dilengkapi dengan course outline dan dua rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai contoh. Silabus difokuskan pada ketrampilan membaca. Materi yang dibahas berkaitan dengan bidang studi mahasiswa Pertemuan efektif berlangsung dalam 12 minggu selama 100 menit. Format silabus terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi, kegiatan belajar mengajar, test , alokasi waktu dan sumber materi. Beberapa saran diajukan dalam menerapkan silabus ini antara lain: 1) pengajar bahasa Inggris perlu bekerja sama dengan pengajar bidang studi untuk mendapatkan gambaran yang tepat tentang topic yang dibahas, 2) diskusi/seminar yang dihadiri oleh pengajar bahasa inggris sangat diperlukan untuk mensosialisakan produk, 3) evaluasi dan revisi terhadap silabus perlu terus dilakukan seiring dinamika kebutuhan belajar mahasiswa dan aktivitas pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung / Endang Sriwidati

 

Kata kunci: Aktivitas Belajar Biologi, Hasil Belajar Biologi, TGT Berdasarkan observasi dan hasil wawancara dengan guru biologi maupun siswa di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung pada tanggal 27 Agustus 2009, diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran biologi di kelas masih kurang lancar karena siswa kurang aktif dalam pembelajaran, siswa kurang berani menyampaikan pendapat, ide, gagasan, pertanyaan dan sanggahan terhadap pertanyaan dan penjelasan guru, siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep-konsep biologi, siswa juga cenderung bersaing dalam belajar dan kurang mau bekerjasama sehingga hasil belajar yang dicapai siswa juga rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung dengan model pembelajaran kooperatif TGT. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus tindakan. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 19 November 2009 sampai dengan hari kamis, tanggal 10 Desember 2009. Data penelitian berupa aktivitas belajar siswa yang mencakup aspek menghargai pendapat, mengambil giliran dan berbagi tugas, bertanya, dan memeriksa jawaban yang diperoleh melalui observasi saat proses pembelajaran berlangsung dan hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes pada setiap pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 59,53% dengan kategori “baik“ meningkat menjadi 78,57% dengan kategori “baik“ pada siklus II. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pada siklus I skor rata-rata kelas sebesar 71,92 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 71,43% meningkat menjadi 78,75 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 95,24% pada siklus II. Penelitian memperlihatkan model pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi kelas VIIIC SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung. Disarankan guru menerapkan model pembelajaran kooperatif TGT pada materi selain materi sistem peredaran darah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, guru disarankan memotivasi siswa saat proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang dapat memudahkan siswa untuk belajar, guru disarankan membangkitkan aktivitas siswa dengan menggunkan model pembelajaran yang menarik bagi siswa.

Kompetensi guru dalam mengimplementasikan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) mata pelajaran TIK kelas VII di MTs Negeri Batu / M Faruq Ziat

 

Kata kunci: kompetensi, implementasi, KTSP, TIK. Sekolah merupakan penyelenggara pendidikan yang bersifat formal. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan ditentukan diantaranya oleh figur seorang guru. Keberadaan guru sangat diperlukan untuk mengimplementasikan KTSP dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. TIK adalah salah satu ilmu yang mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan jaman, sehingga guru perlu senantiasa meningkarkan kompetensinya khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Rancangan penelitian adalah deskriptif, jenis data kualitatif, mendeskripsikan kompetensi guru dalam mengimplementasikan KTSP. Subyek penelitian adalah kepala MTsN Batu dan guru TIK. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara dengan interpretasi data dari instrumen panduan observasi dan panduan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam hal membuka pelajaran tergolong kurang baik karena dari delapan komponen, guru hanya melaksanakan tiga komponen saja (42,5%). Dalam hal melaksanakan kegiatan pembelajaran tergolong cukup baik karena dari sepuluh komponen, guru melaksanakan tujuh komponen (70%). Dalam hal menutup pelajaran tergolong kurang baik karena dari keempat komponen, guru hanya melaksanakan satu komponen saja (25%). Dalam hal melaksanakan penilaian proses pembelajaran tergolong sangat baik karena guru melaksanakan semua komponen (100%). Secara keseluruhan, kompetensi guru dalam mengimplementasika KTSP tergolong kurang baik (59,37%). Disamping itu, kompetensi guru TIK dalam mengimplementasikan KTSP masih kurang karena selain di angkat oleh yayasan, gurunya juga masih muda jadi masih belum banyak pengalaman dalam hal mengajar. Selain itu, fasilitas yang dimiliki oleh lembaga untuk menunjang keberhasilan proses belajar mangajar juga masih kurang karena masih ada beberapa siswa yang tidak mendapatkan komputer. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat di sampaikan antara lain: (1) Bagi kepala Madrasah Negeri Batu; untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh guru TIK, perlu adanya peningkatan mutu baik itu melalui diklat-diklat, sertifikasi, study banding dan sebagainya. Disamping itu juga perlu adanya penambahan fasilitas dan sarana prasarana untuk menunjang keberhasilan dalam malaksanakan pembelajaran TIK. (2) Bagi guru TIK; sebelum melaksanakan pembelajaran, siswa perlu persiapan untuk menerima pelajaran baru, jadi perlu adanya motifasi baik itu dengan menerangkan tentang manfaat materi yang akan disampaikan atau yang lain. Disamping itu siswa juga perlu latihan baik sekolah atau di rumah untuk itu perlu adanya tambahan media baik berupa modul, CD interaktif atau yang lain. (3) Bagi peneliti lain; bagi peneliti yang tertarik untuk mengembangkan penelitian ini, selanjutnnya dapat mengembangkannya dengan membuat rancangan KTSP matapelajaran TIK.

Pengaruh cash, retained earning, depreciation, dan long term liability terhadap capital expenditure (Studi empiris di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010) / Muhammad Fikri

 

Kata kunci : cash, retained earning, depreciation, long term liability, capital expenditure, pecking order theory. Capital expenditure adalah salah satu bagian dari investasi yang sangat penting dalam perusahaan. Capital expenditure terkadang dikaitkan dengan kinerja perusahaan, karena diharapkan semakin tinggi capital expenditure maka semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan tersebut. Dana yang diperlukan untuk capital expenditure berasal dari berbagai sumber baik internal maupun eksternal. Alternatif pembiayaan internal adalah penggunaan saldo laba perusahaan dan penyusutan, sedangkan alternatif pembiayaan eksternal adalah melalui hutang dan melalui penerbitan saham. Tujuan penelitian ini adalah menguji sejauh mana capital expenditure dipengaruhi oleh cash, retained earning, depreciation, long term liability. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi karena disesuaikan dengan rumusan hipotesis yang menduga bahwa cash, retained earning, depreciation, long term liability berpengaruh terhadap capital expenditure. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang didapat dari data sekunder berupa jumlah ketersediaan kas, laba ditahan, penyusutan, hutang jangka panjang dan jumlah pengeluaran modal suatu perusahaan. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan automotoive and allied product yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2010. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan pengujian hipotesis secara parsial dan simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan variabel cash, retained earning, depreciation, long term liability terhadap capital expenditure, baik secara parsial maupun simultan. Jumlah cash, retained earning, depreciation, long term liability sebagai sumber pembiayaan internal dan eksternal dalam suatu perusahaan akan menyebabkan usaha monitoring pendanaan modal suatu perusahaan lebih meningkat,. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar penelitian selanjutnya dalam melakukan pengukuran besarnya penyusutan hendaknya tidak hanya berdasarkan pada nilai buku awal dan akhir periode tetapi juga memperhatikan perubahan metode penyusutan yang dipergunakan oleh perusahaan. Disisi lain, dalam melakukan pengukuran capital expenditure hendaknya tidak hanya berdasarkan pada nilai buku aktiva tetap awal dan akhir periode tetapi juga.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization (TAI) berbasis eksperimen untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-A MAN Rejotangan Tulungagung / Ahmad Asrori Nahrun

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif TAI, Aktivitas, Prestasi Belajar Berdasarkan hasil observasi awal di MAN Rejotangan kelas X-A peneliti menemukan beberapa hal berkaitan dengan pembelajaran, diantaranya 1) sebelum kegiatan pembelajaran dimulai siswa terlihat kurang siap, 2) guru jarang memanfaat-kan alat-alat praktikum yang ada ataupun media konstektual, 3) beberapa siswa terli-hat tidak fokus, 4) Siswa jarang bertanya tentang materi pelajaran karena mereka ku-rang tertarik dengan pembelajaran, 5) Siswa kurang bekerja sama dan tidak bertang-gung jawab terhadap tugasnya, 6) nilai rata-rata tes siswa terlihat masih rendah yaitu sebesar 55,30 dengan persentase ketuntasan sebesar 18,5%. Hal itu menunjukkan bah-wa aktifitas kooperatif dan prestasi belajar fisika siswa masih rendah, sehingga perlu dilakukan tindakan untuk memperbaiki hal ini. Berdasarkan permasalahan tersebut diterapkan model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif selama proses pembe-lajaran dan saling membantu untuk memproleh pemahaman. Pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif TAI yang bertujuan untuk meningkatkan aktivi-tas dan prestasi belajar fasika siswa. Model pembelajaran kooperatif TAI dalam pene-litian ini meliputi tahap placement test and team, teaching group, student creative, team study, whole class unit, fact test, team score and team recognition. Lokasi penelitian ini di Kab. Tulungagung dengan subjek penelitian siswa ke-las X-A MAN Rejotangan. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang ber-langsung dalam dua siklus. Pada siklus I subpokok bahasan yang diberikan adalah kuat arus, tegangan dan hambatan serta cara pengukurannya. Untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I, pemberian tindakan dilan-jutkan pada siklus II dengan subpokok bahasan hambatan jenis, hukum I dan II kirchoff. Teknik pengumpulan data aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung melalui 1) observasi dengan menggunakan lembar keterlaksanaan proses pembelajaran, 2) aktivitas belajar siswa melalui observasi dengan menggunakan lembar obser-vasi aktivitas kooperatif siswa, 3) data prestasi belajar diperoleh dari tes. Data tersebut dianalisis dengan perhitungan rata-rata dan persentase yang kemudian diartikan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan. Perolehan persentase pencapaian aktivitas siswa secara klasikal pada siklus I 89,33% dengan taraf baik pada siklus II meningkat menjadi 95,11 % dengan taraf baik. Prestasi belajar siswa meningkat dari data awal sebesar 55,30 menjadi 76,52 pada siklus I dan 77,11 pada siklus II. Siswa yang tuntas belajar juga mengalami peningkatan. Data awal menunjukkan siswa yang tuntas belajar sebanyak 5 anak, pada siklus I sebanyak 18 anak dan pada siklus II meningkat menjadi 24 anak. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan pada penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif TAI dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-A MAN Rejotangan Tulungagung.

"Analisis teknik bordir pada sutera" / Nur Indah Eka Jayanti

 

Kata kunci : Teknik bordir, sutera. Bordir merupakan seni menghias kain yang didapat dengan benang secara dekoratif pada kain dengan tujuan mempercantik dan memberi nilai tambah pada bahan tersebut. Dalam seni bordir terdapat 2 macam teknik dasar yaitu tusuk suji cair dan tusuk loncat, dan berkembang dalam variasi teknik bordir yang beraneka ragam yaitu bordir sasak, bordir granit, inggris, richelie, biji mentimun, aplikasi, bulu ayam dan terawang. Busana dengan hiasan bordir saat ini berkembang pesat dan sangat popular dimasyarakat banyak berbagai macam jenis bahan kain yang dapat dihias dengan seni bordir salah satunya adalah sutera. Sutera bertekstur, halus, lembut, namun tidak licin. Sutera bahan kain yang sangat rapuh dan sensitif, selain lembut bahan ini juga merupakan jenis serat alam yang sangat sulit dihias dengan berbagai macam hiasan sulaman. dengan ini terdapat satu hal yang menarik minat penulis untuk meneliti lebih jauh, yaitu bagaimana teknik bordir yang sesuai yang dapat diterapkan pada kain sutera? Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk menemukan teknik bordir yang sesuai untuk kain sutera. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Dengan penelitian yaitu 10 teknik bordir yang diterapan pada kain sutera. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Metode observasi dilakukan oleh panelis sebagai pengamat, penilai sifat atau mutu benda bedasarkan kesan subjektifitas untuk menguji sampel penelitian. Instrumen penelitian berupa lembaran pengamatan yang berisi indikator. Penilaian skala penilaian dibuat dengan rentang nilai 4 – 1. Setelah dilakukan pengamatan, hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 teknik bordir yang diterapkan pada kain sutera, hampir memenuhi kriteria hasil bordir yang baik, namun diantara 10 teknik bordir yang paling menunjukkan kriteria hasil bordir yang paling baik yaitu teknik bordir inggris dan richelie. dalam 10 teknik bordir yang sudah diterapkan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dari hasil penelitian ini Disarankan agar dalam menghias kain sutera menggunakan variasi teknik bordir yang lebih beragam dan disarankan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang teknik bordir yang lain.

Pengaruh faktor psikologis terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop merek Toshiba (Studi pada penggunan fasilitas Hostpot Cafe Tutu Demas Malang) / Dini Nur Zakiyah

 

Kata kunci: Faktor Psikologis, Proses Keputusan Pembelian Pada era globalisasi dan pasar bebas berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia. Persaingan antar merek setiap produk akan semakin ketat untuk merebut konsumen. Demikian pula yang terjadi pada pasar barang-barang elektronik seperti laptop. Laptop tergolong dalam barang mewah, dan laptop termasuk dalam pengambilan keputusan keterlibatan tinggi (high involvement). Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, dalam hal ini, faktor yang berasal dari dalam diri seseorang atau psikologi memiliki pengaruh terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) dan keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian laptop merek Toshiba pada pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. (2) Pengaruh faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) secara parsial dan simultan terhadap keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian laptop merek Toshiba pada pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. Variabel dalam penelitian ini, meliputi variabel bebas (X) yaitu faktor psikologis yang terdiri dari: motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepercayaan (X4), sikap (X5), sedangkan variabel terikat (Y) adalah proses keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas yang sedang menggunakan laptop merek Toshiba. Dalam penelitian ini jumlah pengguna fasilitas hotspot Cafe Tutu Demas yang sedang menggunakan laptop Toshiba rata-rata per hari adalah 20 orang sehingga perbulan adalah 600 orang. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin dengan kesalahan sampel sebesar 10%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 86 orang, namun peneliti mengembangkan menjadi 90 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan Skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1). Faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop Toshiba pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. (2). Faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan, dan sikap) secara secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop Toshiba pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang. (3). Faktor yang berpengaruh dominan terhadap keterlibatan proses keputusan pembelian laptop Toshiba pengguna fasilitas hotspot Café Tutu Demas Malang adalah motivasi. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Saran kepada konsumen, sebelum melakukan pembelian laptop diharapkan lebih selektif, selain itu lebih memperhatikan fitur-fitur yang memberikan kemudahan dan sesuai dengan kebutuhan. Bahkan sebelum memutuskan pembelian dapat mencari informasi melalui iklan, orang-orang terdekat, atau wiraniaga. (2) Saran kepada perusahaan, yaitu menambah pengetahuan kepada konsumen mengenai produk laptop Toshiba melalui iklan maupun pameran. (3) Saran kepada peneliti selanjutnya hendaknya lebih mengembangkan faktor-faktor yang dikaji dalam penelitiannya, karena faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli laptop Toshiba sangat kompleks dan tidak terbatas pada faktor psikologis yang ada dalam penelitian ini saja. Peneliti selanjutnya bisa mengembangkan penelitiannya misal faktor pribadi, faktor sosial, faktor budaya, dll. 

Tinjauan pengembangan kurikulum operasional pembelajaran biologi kelas 7 International Class Program (ICP) SD Laboratorium Universitas Negeri Malang / Komang Ayu Wirastini

 

Kata Kunci: pengembangan, kurikulum operasional, pembelajaran Biologi, SD Laboratorium Kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau disingkat KTSP. Sekolah dapat memperkaya kurikulum standar nasional dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) atau negara maju lainnya. Sekolah yang menggunakan kurikulum salah satu negara anggota OECD atau negara maju lainnya disebut sebagai SBI. Pada prinsipnya, SBI dapat memberikan jaminan mutu pendidikan dengan standar yang lebih tinggi dari Sekolah Standar Nasional (SSN) sehingga memiliki daya saing di forum internasional. Kritik paling mendasar adalah adanya kesalahan asumsi dari pengembang sekolah bahwa SBI harus fokus dalam pembelajaran berbahasa Inggris dengan menggunakan media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD. Fokus SBI adalah pengembangan kurikulum operasional (kurikulum standar nasional yang diperkaya dengan kurikulum salah satu negara anggota OECD atau negara maju lainnya). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeksripsikan pengembangan dan penerapan kurikulum operasional SD Lab UM pada pembelajaran Biologi serta lesson learn yang didapatkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat naturalistik alamiah. Data dianalisis dari hasil wawancara, observasi, dan analisis dokumen menggunakan metode triangulasi dan pandangan para ahli. Berdasarkan analisis data diperoleh simpulan sebagai berikut. Pertama, pengembangan kurikulum operasional SD Lab UM termasuk ke dalam model pengembangan administratif (line staff). Kedua, penerapan kurikulum operasional SD Lab UM dilakukan melalui pembelajaran inkuiri saintifik dan belajar tuntas untuk meningkatkan keterampilan proses siswa. Ketiga lesson learn yang dapat dipetik adalah kelebihannya a) SD Lab UM merupakan sekolah nasional yang mengembangkan kurikulum nasional yang diperkaya dengan kurikulum Cambridge, b) mencetak lulusan yang kompetitif di lingkungan nasional dan internasional, c) pengembangan kurikulum operasional dilakukan secara mandiri. Tantangan yang dihadapi adalah a) peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran yang berstandar internasional, b) peningkatan fasilitas sekolah sehingga akses belajar siswa semakin meningkat, termasuk di dalamnya pengadaan laboratorium sains dan ruangan berbasis ICT di setiap kelas, c) pemberdayaan kelompok kerja guru sebidang studi meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Autonomous vocabulary learning for improving vocabulary mastery: lexically-based task at MTs Annajah West Lombok-West Nusa Tenggara / Jupri

 

Thesis. Graduate program in English Language Education the State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D., (II) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Keywords: Autonomous vocabulary learning, lexically Based-Task. This study was intended to provide a contribution to the improvement of students’ vocabulary mastery in MTs. Annajah Sesela, Gunungsari District, West Nusa Tenggara Province. Based on the result in the pre-test, the researcher found that this class lack vocabulary mastery in English and the average score was 54. As the school is Islamic-based, students learn Arabic language more intensively and English is only learnt at school. The teachers seldom applied various activities in teaching English. English is not seen as individual words but collocation and colligation. To cope with those problems, the researcher employed Autonomous Vocabulary Learning Strategy through Lexically Based-Task. This research was designed as Pre-Experimental Research and was conducted without a control group. The group was given a pre-test before the experimental treatment. After the treatment was finished, the post-test was administered to see the achievement. The effectiveness of the instructional treatment was measured by comparing the average score of the pre-test and the post-test. The data of were collected through the result of the test, observation checklists, and field notes. The subjects were 30 students of the 2nd grade of MTs. Annajah Sesela, Gunungsari, West Lombok. The procedures of the study were implemented through four steps: (1) the students did extensive reading and searched ten lexicons, (2) the students reported the lexicons along with their lexico-grammatical units to share with the class, (3) the students wrote the lexicons and the sentences on the whiteboard while the audience recorded their friends’ lexicons, (4) the teacher provided feedback for any grammatical errors and assessment was done without scoring to help them achieve the indicators of the instruction. The findings of the study indicated that the average score of pre-test was 54.17 and the post-test was 78.08. It indicated that the mean score of the post-test is higher than that of pre-test (78.08 > 54.17). It means that this Autonomous Vocabulary Learning for Improving Vocabulary Mastery: Lexically-Based Task at Mts. Annajah West Lombok was effective in improving students’ vocabulary mastery. It is suggested that English teachers apply this strategy to increase students’ vocabulary mastery. For this institution, it has to utilize more creative methods in encouraging the students to learn English. For future researchers, the findings of the research can become a good reference to conduct better research.

Studi tentang pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja (K3) pada pembeljaran produktif teknik komputer dan jaringan (studi kasus di SMK Negeri 1 Sidayu Gresik) / Dessy Dwi Puspita Sari

 

ABSTRAK Sari, Dessy Dwi Puspita. 2015. Studi tentang Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Pembelajaran Produktif Teknik Komputer dan Jaringan (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Sidayu Gresik). Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd., (II) Mochamad Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja, K3, TKJ Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Selain di perusahaan, penerapan K3 dapat dilakukan di sekolah agar pendidik dan peserta didik terhindar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik dengan fokus Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui tentang (1) perencanaan K3; (2) pelaksanaan K3; (3) evaluasi K3 pada pembelajaran produktif TKJ di Program Keahlian TKJ SMK Negeri 1 Sidayu Gresik. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai observer dengan mengambil data dari Kepala Program Keahlian TKJ, Kepala laboratorium TKJ, guru produktif TKJ, dan siswa Program Keahlian TKJ menggunakan teknik triangulasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas, transferability, confirmability, dan depenability. Hasil penelitian menunjukan: (1) Perencanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada pembelajaran produktif di Program Keahlian TKJ SMK Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik dilihat dari segi kondisi laboratorium sudah baik dan nyaman. Begitu juga perencanaan dari segi dana yang sudah terprosedur dengan baik. Namun, dari segi sarana dan prasarana K3 masih kurang lengkap; (2) Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada pembelajaran produktif di Program Keahlian TKJ SMK Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik sudah terlaksana, baik sistem pengelolaan yang terorganisasi dengan baik, pemahaman K3 yang diberikan guru mudah dipahami oleh siswa, pengawasan kerja yang dilakukan dengan ketat, dan perawatan untuk memelihara peralatan yang dilakukan secara berkala; (3) Evaluasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada pembelajaran produktif di Program Keahlian TKJ SMK Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik sudah dilaksanakan dengan baik melalui analisis penyebab kecelakaan kerja, sehingga ada penyempurnaan terhadap pelaksanaan K3. Namun, masih menghadapi kendala terhadap perlengkapan K3 yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan kepada kepala laboratorium TKJ SMK Negeri 1 Sidayu Kabupaten Gresik untuk lebih memperhatikan pelaksanaan K3 dimulai dengan pengadaan saran dan prasarana penunjang K3 di dalam laboratorium.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) pada mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa kelas VIII-E SMP Lab. UM Malang / Suci Aprilia Wulyaningrum

 

Kata kunci: pembelajaran Numbered Head Together (NHT), kemampuan berpikir kritis, prestasi belajar Pendidikan merupakan usaha untuk menyiapkan peserta didik yang dilakukan dengan melakukan kegiatan pembelajaran, pengajaran dan latihan sebagai bekal hidup di masyarakat. Di SMP LAB UM Malang ibu Lilik Sulistiani, S.Pd, beliau dalam proses belajar mengajar masih belum optimal dalam penggunaan model dan media pembelajaran, guru lebih sering menggunakan ceramah dan tanya jawab, karena kurang adanya variasi dalam pembelajaran siswa menjadi bosan dan kurang berperan aktif dalam pembelajaran. Sehingga siswa kurang mampu untuk berpikir kritis karena peran siswa yang kurang aktif pada saat pembelajaran ekonomi berlangsung. Oleh karena itu dibutuhkan metode yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu metode pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa untuk aktif di kelas adalah metode pembelajaran kooperatif model NHT (Numbered Heads Together). Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah: (1) Untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran ekonomi, (2) Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, dan (3) Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, pedoman wawancara, lembar tes tertulis, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII-E taraf keberhasilannya adalah cukup. Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan sehingga taraf keberhasilan adalah sangat baik. Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan, pada siklus I ketuntasan belajar secara klasikal kurang dari 85%, dan pada siklus II ketuntasan belajar lebih dari 85%. Kesimpulannya, kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII-E SMP LAB UM Malang meningkat setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT. Prestasi belajar siswa kelas VIII-E SMP LAB UM Malang pada aspek kognitif meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran ekonomi. Adapun saran dari penelitian ini adalah: 1) Bagi guru ekonomi di SMP LAB UM Malang disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT, 2) Bagi sekolah, pembelajaran kooperatif model NHT dapat digunakan sebagai pertimbangan pengembangan strategi pembelajaran, dan 3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT dengan kelas, sekolah dan materi yang berbeda.

Sejarah perkembangan tradisi skilot (1985-2011) pada masyarakat Lekok - Pasuruan / Erza Sahrul Mubarok

 

Kata Kunci: Skilot, Tradisi, Masyarakat, Lekok Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya. Tidak hanya kebudayaan tetapi juga mempunyai kekayaan laut yang sangat luas. Kondisi ini memunculkan perkembangan kebudayaan masyarakat di wilayah pesisir. Kebuda-yaan pesisir sendiri di Indonesia memang tergolong unik dan menarik. Hal ini pula yang ada pada tradisi masyarakat di Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan yang keberadaannya sudah cukup lama dan pantas untuk diperhatikan lebih lanjut. Tradisi tersebut adalah Skilot atau Ski lumpur yang dilaksanakan ketika Hari Raya Ketupat tiba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana awal munculnya sebuah tradisi hingga perkembangannya sekarang. Hal ini dilakukan untuk memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah lokal dan budaya untuk memberikan wawasan bagaimana sebuah budaya itu muncul dan tenggelam dalam perkembangan zaman. Pokok dari penelitian ini diarahkan pada beberapa rumusan masalah, antara lain: 1) Bagaimanakah awal bermulanya tradisi olahraga Skilot, 2) Bagaimanakah sejarah perkembangan tradisi olahraga Skilot dari tahun 1985 sampai 2011, 3) Bagaimanakah peranan Skilot terhadap masyarakat Lekok serta kontribusinya terhadap pendidikan berkarakter. Tulisan ini merupakan kajian historis maka metode yang digunakan adalah metode historis dengan pendekatan kualitatif. Metode historis meliputi, pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Wawancara dengan sumber primer sangat membantu keterbatasan sumber tertulis. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) Kondisi wilayah dan lingkungan daerah Lekok sangat mendukung terciptanya sebuah budaya baru. Wilayah Lekok yang menempati posisi penting dalam sektor hasil laut membuat masyarakatnya bergantung pada hasil laut. Dari sinilah tercipta sebuah kegiatan unik dan menjadi sebuah tradisi. (2) Berawal dari kaum perempuan yang ingin meringankan beban suaminya dengan cara mencari kerang, kegiatan ini dinilai oleh sebagian tokoh masyarakat memiliki unsur permainan yang menarik untuk dilombakan. Akhirnya jadilah sebuah perlombaan yang dilaksanakan untuk memeriahkan Hari Raya Ketupat yang akhirnya menjadi obyek wisata menarik sejak tahun 1985. (3) Keberadaan Skilot sebagai tradisi masyarakat membawa dampak yang positif terhadap masyarakat, terutama ekonomi. Minat masyarakat yang begitu besar terhadap Skilot dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari penghasilan dengan menjadi pedagang-pedagang dadakan di sekitar arena. Skilot juga mengandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi pendidikan karakter bangsa.

Implementasi penilaian kinerja dan hubungannya dengan semangat kerja tenaga administrasi sekolah menengah atas Kota Batu / Dimas Novib Septino

 

Kata Kunci: implementasi penilaian kinerja, semangat kerja, tenaga administrasi sekolah menengah atas Penilaian kinerja merupakan prosedur yang umum diberlakukan dalam segala aktivitas organisasi yang menggunakan prinsip-prinsip manajemen modern, yang biasa disebut dengan Planning, Organizing, Actuating and Controling (POAC) sebagai pengukuran dari standar operasioanl yang telah dibakukan. Tidak terkecuali pada organisasi pemerintahan dan swasta yang bergerak di bidang pendidikan. Sekolah Menengah Atas merupakan organisasi pendidikan yang memiliki kompleksitas yang sama dengan organisasi lain dalam pengelolaan personalia di dalamnya. Personil didalamnya merupakan penunjang fungsi-fungsi strategis dalam perkembangan organisasi tersebut dimana mereka didukung banyak faktor dalam menjalankan pekerjaannya. Faktor internal seperti perilaku, karakter, moral dan lainnya selama ini dianggap sebagai penunjang utama keberhasilan tujuan suatu kelompok kerja. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan adanya hubungan penilaian kinerja dengan semangat kerja tenaga adminitrasi sekolah menegah atas di kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model deskriptif korelasional. Subjek yang diteliti adalah keseluruhan kepala sekolah sebagai penilai dan tenaga administrasi sekolah sebagai yang dinilai dari keseluruhan Sekolah Menengah Atas kota Batu yang berjumlah sembilan sekolah negeri dan swasta. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Data dianalisis dengan teknik survey dan pengujian hipotesis deskriptif. Pengecekan keabsahan data dengan statistik non parametris Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Atas Kota Batu mengimplementasikan penilaian kinerja terhadap tenaga administrasi sekolah dengan menggunakan beberapa metode antara lain skala penilaian grafik, peringkat alternasi, perbandingan berpasangan, distribusi paksa, insiden kritis, skala perilaku dan management by objectives (MBO). Setelah itu penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat penilaian kinerja dengan semangat kerja. Penilaian kinerja memberikan semangat yang positif bagi pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Pegawai akan berusaha lebih baik dalam menyelesaikan pekerjaannya ketika mendapat evaluasi yang dihasilkan dari penilaian yang dilakukan kepala sekolah. Sebagai saran, hendaknya Kepala Sekolah Menengah Atas Kota Batu meningkatkan implementasi peniaian kinerja untuk mendorong tingkat dan kualitas semangat kerja tenaga administrasi sekolahnya.

Monomorfisma dan epimorfisma pada modul semisimpel / Intan Nisfulaila

 

Kata Kunci : balikan kiri, balikan kanan, pemetaan linier, monomorfisma, epimorfisma, modul semisimpel Suatu modul dapat dipandang sebagai suatu perumuman dari ruang vektor dengan skalarnya adalah unsur-unsur pada suatu gelanggang. Dengan demikian beberapa sifat trivial pada ruang vektor menjadi non-trivial pada modul. Susanto (2001) membuktikan bahwa jika suatu homomorfisma grup mempunyai balikan kiri (kanan), maka homomorfisma tersebut injektif (surjektif). Namun konversnya tidak berlaku. Salah satu contoh penyangkalnya adalah homomorfisma grup dari ke adalah injektif (surjektif), tetapi tidak mempunyai balikan kiri (kanan). Berdasarkan ide Susanto, pada skripsi ini akan dikaji syarat cukup agar konversnya berlaku. Kesimpulan yang diperoleh dari skripsi ini yaitu dengan memandang grup sebagai suatu modul atas gelanggang bilangan bulat dan ruang vektor sebagai modul semisimpel atas gelanggang pembagian, dapat dibuktikan bahwa konversnya berlaku, yaitu jika suatu homomorfisma modul adalah injektif (surjektif), maka mempunyai balikan kiri (kanan).

Peran kepimpinan kepala sekolah dalam pengembangan sekolah (Studi kasus di SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang) / Pradita Rachmad Saputra

 

Kata kunci: Peran, Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepemimpinan merupakan salah faktor keberhasilan suatu organisasi. Hal ini telah banyak dibuktikan oleh sejarah peradaban manusia bahwa efektif tidaknya pemimpin akan menentukan kelangsungan hidup sekumpulan manusia atau masyarakat. Dalam lingkup pendidikan pemimpin merupakan kunci keberhasilan sebuah sekolah. SMA Negeri 1 Turen merupakan salah satu sekolah yang berkembang sehingga dapat dilihat apakah peran kepemimpinan kepala sekolah sudah terlihat. Kepala sekolah sebagai pemimpin apakah sudah mendelegasikan kewenangannya dengan baik sehingga sumber daya manusia yang ada di sekolah dapat dioptimalkan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Indikator berkembangnya sebuah sekolah adalah pencapaian sekolah dalam hal prestasi akademik dan non akademik. Berdasar uraian konteks penelitian yang dikemukakan diatas , maka fokus yang diangkat dalam penelitian ini adalah peran kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri 1 Turen. Dari fokus diatas dapat diuraikan menjadi sub fokus (a)Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai educator,(b) Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai leader, (c) Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai innovator, (d)Peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai motivator. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Turen sebagai satu satunya sekolah menengah atas berstatus negeri di Kecamatan Turen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis studi kasus dengan landasan berpikir fenomenologis. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kesimpulan penelitian ini adalah Berdasarkan uraian tentang hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut (1) Kepala Sekolah sebagai leader dituntut untuk memiliki karakter sebagai pemimpin yang baik. (2)Kepala sekolah sebagai edukator juga menginginkan guru menjadi pendidik yang profesional.. (3)Dari hasil pengamatan memang inovasi kepala sekolah sangat menonjol pada perkembangan fisik bangunan.(4)Kepala SMAN 1 Turen dalam memotivasi bawahan cenderung dengan penghargaan dengan tindakan verbal yakni pemberian ucapan terima kasih secara individual maupun pengungkapan di depan publik, serta pengungkapan rasa bangga.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia pada mata pelajaran ekonomi kelas X-A di SMA Negeri 1 Ngantang / Dikha Lulus Arisanti

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Multimedia, Ekonomi Kelas X-A Pembelajaran di kelas sebagai interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa bertujuan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Interaksi belajar mengajar bertujuan mencapai tujuan pembelajaran yang sebelumnya telah digariskan dalam kurikulum. Dalam hal ini dibutuhkan strategi penyampaian pesan melalui pemilihan metode dan media yang tepat. Perkembangan teknologi yang begitu pesat mendorong perkembangan media pembelajaran. Untuk itu diperlukan media pembelajaran berbasis multimedia dalam kegiatan pembelajaran di sekolah khususnya pada pembelajaran mata pelajaran Ekonomi di kelas X-A di SMA Negeri 1 Ngantang. Tujuan penelitian pengembang ini adalah menghasilkan produk media pembelajaran berbasis multimedia (penggabungan teks, audio, video dan visual/grafis, program Wondershare Quiz Creator dan program hyperlink dalam program power point) pada mata pelajaran ekonomi yang dituangkan dalam program Microssoft Office Power Point 2007. Multimedia pembelajaran tersebut akan dikemas dalam CD. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ngantang. Subyek coba dalan desain uji coba adalah siswa kelas X-A SMA Negeri 1 Ngantang. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2010-2011. Instrumen pengumpulan data adalah berupa angket dan wawancara. Angket dipergunakan untuk mendapatkan skor penilaian dan saran/tanggapan. Angket yang disebarkan, merupakan angket dengan menggunakan skala lima. Data yang terkumpul meliputi data kulitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data saran dan tanggapan dan data kuantitatif yaitu data berupa skor penilaian. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif dan teknik statistik deskriptif. Hasil validasi ahli isi bidang studi menunjukkan media pengembangan secara umum berada ekspresi kualitas tinggi. Hal ini dilihat dari rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 80% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 80% ii menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Draf produk kemudian direvisi sesuai dengan tanggapan dan saran dari ahli materi dan selajutnya divalidasi oleh ahli media pembelajaran. Hasil validasi ahli media pembelajaran menunjukkan media pengembangan secara umum berada pada ekspresi kualitas tinggi. Hal ini dilihat dari rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 75,2% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 75, 2% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Draf produk kemudian direvisi untuk selanjutnya diuji cobakan secara perorangan. Hasil uji coba perorangan menunjukkan media pengembangan secara umum berada ekspresi kualitas tinggi. Berdasarkan penilaian 3 orang siswa secara keseluruhan diperoleh rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 87,3% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 87,3% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan media pengembangan secara umum berada ekspresi kualitas tinggi. Berdasarkan penilaian 9 orang siswa secara keseluruhan diperoleh rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 86,2% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualifikasi menunjukkan 86,2% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Hasil uji coba lapangan menunjukkan media pengembangan secara umum berada pada ekspresi kualitas tinggi. Berdasarkan penilaian 36 orang siswa secara keseluruhan diperoleh rata-rata prosentase pencapaian penilaian adalah 86% dan data ini kemudian dikonversikan pada tabel konversi kualifikasi. Tabel konversi kualitas menunjukkan 86% menunjukkan tingkat kualitas tinggi. Tahap akhir untuk menghasilkan produk akhir adalah tahap penyempurnaan produk. Pada tahap ini pengembang mengembangkan sebuah blog sederhana yang dapat menjadi media bagi siswa untuk mengakses materimateri Mata Pelajaran Ekonomi. Blog ini mendukung pembelajaran karena akan meningkatkan kegiatan belajar siswa secara mandiri dan aktif.

Pengaruh High Energy Milling (HEM) dan lama pemanasan terhadap fasa kristal, kekerasan dan konstanta dielektrik senyawa ilmenit/AI / Ahmad Asrori Nahrun

 

Kata Kunci: High Energy Milling, Lama Pemanasan, Ilmenit, Kekerasan, Dielektrisitas. Ilmenit adalah senyawa yang berbasis besi dan titanium yang memiliki bentuk umum FeTiO3. Secara teori, Ilmenit mengandung 31.6% titanium (setara dengan 52.67% TiO2), 36.8% Fe dan oksigen yang seimbang. Ilmenit memiliki sifat diantaranya bahan paramagnetik, berwarna hitam, tak tembus cahaya dan rapuh. Ilmenit memiliki struktur kristal heksagonal, group ruang R-3, titik leleh 1050oC dan densitas 2400 kg/m2-2700kg/m2, Hardness (Vickers) VHN100=566-698 kg/mm2. Luasnya aplikasi material ini menuntut adanya metode sintesis yang relatif cepat. Pada penelitian ini mengunakan metode High Energy Milling (HEM) karena membutuhkan waktu sintesis yang relatif singkat dengan jumlah bahan yang cukup banyak, suhu rendah dan peralatan yang sederhana serta dapat mereduksi hingga ukuran nanometer. Metode HEM merupakan teknik unik dengan menggunakan energi tumbukan antara bola-bola penghancur dan dinding chamber yang diputar dan digerakkan dengan cara tertentu, metode High Energy Milling ini mampu mereduksi ukuran material sampai dibawah 10 nm. Bahan dasar untuk mensintesis senyawa FeTiO3/Al adalah Ilmenit alam hasil produk samping pengolahan biji timah pulau Bangka serta Aluminium murni. Pada awalnya masing-masing bahan ditimbang kemudian dicampur dan digerus menggunakan HEM dengan lama penggerusan divariasi. Setelah itu bahan di kompaksi dan di panasi dengan lama waktu yang berbeda-beda. Fase dan ukuran kristal sampel diuji menggunakan XRD, kekerasan bahan dikarakterisasi menggunakan Mikro Vikers, dan dielektrisitas dikarakterisasi menggunakan kapasitansimeter digital. Hasil penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa ilmenit alam tidak murni tersusun oleh FeTiO3 sehingga ketika ditambahkan Al, di HEM dan dilakukan pemanasan muncul fasa yang cukup banyak. Diluar itu penggerusan HEM telah dapat membentuk fasa baru dan mereduksi ukuran hingga skala nano. Hasil uji kekerasan bahan menunjukkan bahwa semakin lama waktu pemanasan dan semakin lama HEM dapat meningkatkan kekerasan senyawa FeTiO3/Al. Konstanta dielektriknya juga dipengaruhi oleh lama waktu pemanasan dan lama HEM ditunjukkan dengan grafik yang cenderung naik.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan nasabagh dalam menggunakan jasa perbankan pada Bank Syariah di kota Mojokerto / Lisya Purwahiasti

 

Kata kunci : faktor-faktor pengambilan keputusan, nasabah bank syariah Bank syariah muncul sebagai pertimbangan baru dalam memilih jasa perbankan yang diharapkan akan menjadi stabilisator perekonomian. Harapan ini disebabkan oleh komitmen perbankan Islam atas penghapusan pembiayaan hutang dengan mekanisme bunganya yang memberatkan perekonomian. Selain itu sistem ini membuat struktur kewajiban dan asset secara simetris dihubungkan melalui kesepakan pembagian keuntungan dan tidak adanya biaya bunga yang ditetapkan. Alokasi efisiensi terjadi disebabkan alternative investasi dengan tegas dipilih berdasarkan pada produktivitas dan tingkat ekspektasi return. Mojokerto adalah kota yang berpotensi untuk dilakukannya pengembangan bank syariah. Mojokerto adalah kota yang strategis karena letaknya yang cukup strategis, 50 km arah barat Kota Surabaya, daerah ini menjadi hinterland kota metropolitan dan termasuk dalam Gerbang kertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Daerah-daerah ini merupakan kelompok kawasan yang menyangga Kota Surabaya. Sebagai daerah penyangga, roda perekonomian wilayah ini sangat dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi di Surabaya. Jumlah penduduk di kota Mojokerto yaitu sejumlah 112.547 jiwa dengan luas wilayah 1.646,5 Ha sehingga kepadatan penduduknya 69 jiwa-Ha. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: (1) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan nasabah dalam memilih menggunakan jasa perbankan syariah di kota Mojokerto. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Aspek-aspek yang melatarbelakangi pengambilan keputusan, yaitu produk yang menarik, pelayanan yang memuaskan, reputasi bank yang baik, kualitas manajemen syariah yang profesional, fasilitas yang mendukung kinerja bank, motivasi agama, dorongan lingkungan sekitar, lokasi yang strategis, suasana yang islami pada bank syariah promosi yang menarik, keyakinan terhadap nilai-nilai positif sistem syariah dan sikap mendukung sistem syariah, dapat direduksi atau diringkas menjadi 3 faktor yang lebih sederhana; (2) Faktor 1 : Faktor Keyakinan dan Fasilitas memberikan sumbangan sebesar 14,8154%, faktor 2 : Faktor Eksternal memberikan sumbangan sebesar 13,936%; faktor 3 : Faktor Produk dan Pelayanan memberikan sumbangan sebesar 10,441%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada pihak bank harus lebih memperhatikan hal tersebut sejalan dengan perkembangan Bank Syariah agar lebih mampu memenuhi kebutuhan nasabahnya. Bank Syariah perlu lebih memperluas jangkauan pasarnya dan tidak hanya mengandalkan ”spiritual market” yang hanya diisi oleh segmen syariah loyalist, yaitu mereka yang memilih bank semata-mata hanya karena alasan agama. Sehingga nasabah lebih dapat menerima keberadaan Bank Syariah secara lebih rasional denganpertimbangan yang sama dengan Bank Konvensional yang melihat kualitas pelayanan serta benefit lainnya yang ditawarkan daripada hanya dengan melakukan pendekatan emosional. Kepada peneliti selanjutnya yang tertarik mendalami hasil penelitian ini disarankan agar melakukan penelitian dengan menambah atau mencari aspekaspek lain yang belum diteliti agar dapat menghasilkan faktor-faktor yang lebih lengkap. Penulis juga menyarankan untuk menambah jumlah sampel agar lebih dapat mewakili populasi yang sebenarnya di lapangan serta memperluas daerah penelitian agar hasil penelitian selanjutnya dapat digeneralisasikan untuk jangkauan yang lebih luas.

Analisis perbandingan kesehatan perbankan antara penerapan prinsip syariah dan konvensional periode 2008-2010 / Mohamad Bisri

 

Kata Kunci: Capital Adequacy Ratio (CAR), Bad Debt Ratio (BDR), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), rasio BOPO, Loan to Deposit Ratio (LDR), Prinsip Syariah, Prinsip Konvensional. Perbankan syariah mengalami perkembangan yang semakin pesat dari masa ke masa, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya bank-bank syariah baru yang bermunculan ditengah kondisi ekonomi yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada kinerja keuangan yang ditunjukkan antara bank syariah dan bank konvensional. Adapun tolak ukur yang dijadikan standard dalam pengukuran adalah sistem penilaian yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank melalui beberapa indikator seperti rasio permodalan yang ditunjukkan oleh Capital Adequacy Ratio (CAR), rasio kualitas aktiva produktif yang ditunjukkan oleh Bad Debt Ratio (BDR), rasio rentabilitas yang ditunjukkan oleh Return on Total Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan rasio BOPO, serta rasio likuiditas yang ditunjukkan oleh Loan to Deposit Ratio (LDR). Populasi dalam penelitian ini adalah perbankan syariah dan perbankan konvensional yang ada di Indonesia antara tahun 2008 hingga 2010. Terdapat 132 lembaga perbankan sebagai populasi dalam penelitian ini. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Dari metode tersebut diperoleh tiga sampel bank umum syariah, yaitu PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah dan PT Bank Muamalat Indonesia, adapun sampel dari perbankan konvensional adalah PT Bank Rakyat Indonesia, PT Bank Central Asia dan Bank Mandiri Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari website masing-masing sampel selama periode 2008-2010. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan komparatif. Distribusi data dalam penelitian ini tidak normal, sehingga pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji statistik non-parametrik dengan Wilcoxon Signed Rank Test, yang hasilnya terdapat perbedaan yang signifikan antara penerapan prinsip perbankan syariah dan konvensional ditunjukkan dengan nilai ties keduanya nol (0) dan memiliki nilai signifikan kurang dari 5%. Saran yang dapat diberikan penulis dalam penelitian ini adalah untuk peneliti selanjutnya diharapkan mampu menerapkan metode penilaian secara sempurna atas kesehatan suatu perbankan, serta mengambil sampel secara proporsional.

Penerapan model pembelajaran inkuiri menggunakan mind map untuk meningkatkan metakognisi dan hasil belajar siswa kelas X-I SMA Negeri 7 Malang / Ema Aprilisa

 

Kata Kunci: inkuiri, mind map, metakognisi, hasil belajar Metakognisi (metacognition) merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell yang berarti berpikir tentang proses berpikir itu sendiri. Proses belajar yang belum memperhatikan metakognisi siswa merupakan salah satu penyebab hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan hasil observasi pada proses pembelajaran Biologi yang berlangsung di kelas X-1 SMA Negeri 7 Malang, terlihat bahwa proses pembelajaran belum memperhatikan metakognisi siswa dan hasil belajar siswa masih rendah. Model pembelajaran yang diterapkan untuk memperbaiki metakognisi dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran inkuiri dengan mind map. Model pembelajaran inkuiri dilaksanakan berdasarkan tahapan menurut Llewellyn (2002) dengan modifikasi yaitu setiap kelompok merumuskan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran, siswa merencanakan prosedur sekaligus mencari informasi mengenai pemecahan masalah atau pertanyaan yang telah diajukan secara berkelompok, lalu siswa menyimpulkan hasil belajar dalam bentuk mind map. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Analisis data, evaluasi dan refleksi mengenai matakognisi dan hasil belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa 35 orang yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Berdasarkan data yang diperoleh saat dilakukan tindakan, terlihat bahwa terjadi peningkatan proses belajar. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan rata-rata nilai laporan hasil pengamatan dan diskusi siswa dari 49,38 pada siklus I menjadi 80,79 pada siklus II. Rata-rata nilai mind map yang dibuat siswa siswa juga meningkat dari siklus I sebesar 68,06 menjadi 73,41 pada siklus II. Metakognisi siswa meningkat dari sklus I ke siklus II yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata nilai metakognisi siswa yaitu 33,17 pada siklus I menjadi 36,09 pada siklus I. Peningkatan metakognisi siswa seiring dengan peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata nilai tes hasil belajar kognitif pada siklus I yaitu 74,09 dengan persentase ketuntasan kelas sebesar 62, 97% menjadi 78,23 dengan persentase ketuntasan kelas sebesar 68,57% pada siklus I. Kesimpulan penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan model pembelajaran inkuiri menggunakan mind map dapat meningkatkan metakognisi dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 7 Malang.

Efektivitas penerapan metode cooperative learning strategi fighting question untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School Malang / Mardiah Isnianah

 

Kata kunci: Cooperatif Learning, Strategi Fighting Question, Hasil Belajar Siswa Metode pembelajaran ekonomi di SMA Brawijaya Smart School yang sering digunakan guru adalah ceramah dan terkadang guru menunjuk beberapa peserta didik untuk menjawab pertanyaan. Peserta didik cenderung hanya mendengar materi yang disampaikan oleh guru dan tidak mempunyai keinginan untuk menyampaikan ide kreativitasnya sendiri Berkaitan dengan itu, maka perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat menstimulus keinginan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu metode kooperatif learning strategi Fighting Question. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui secara empiris efektivitas penerapan metode cooperative learning strategi fighting question dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan juga bagaimanakah perbandingannya dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan model ceramah dan tanya jawab pada mata pelajaran ekonomi kelas X pokok bahasan permintaan dan penawaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasy Experiment dengan model pretest-postest nonequivalent control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Brawijaya Malang tahun ajaran 2011/2012. Teknik pengambilan sampel adalah teknik simple random sampling. Sampel yang terpilih adalah siswa kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran model ceramah dan tanya jawab dan kelas X-5 sebagai kelas eksperimen yang menerapkan metode cooperatif learning strategi Fighting Question. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik uji-t menggunakan Independent-Sample T-Test. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis terhadap gain score menunjukkan nilai signifikansi 0,009<0,05. Hal ini berarti metode cooperatif learning strategi Fighting Question lebih efektif dibandingkan metode ceramah dan tanya jawab dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar metode cooperative learning strategi Fighting Question. dijadikan salah satu alternatif pilihan bagi guru bidang studi ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa, juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, untuk menerapkan pada materi yang lain dan dengan sampel yang lebih luas sehingga hasil penelitian bisa berlaku lebih general.

Efisiensi antara rancangan acak kelompok dengn rancangan acak lengkap dalam rancangan percobaan pengujian varietas padi di desa Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat / Edwin Rahman

 

Kata Kunci : Rancangan Acak Lengkap, Rancangan Acak Kelompok, Keefisienan Nisbi. Rancangan percobaan dapat diartikan sebagai kegiatan berupa pemikiran dan tindakan yang disiapkan secara kritis dan seksama mengenai berbagai aspek yang dipertimbangkan dan sedapat mungkin diupayakan kelak dapat diselenggarakan dalam suatu percobaan dalam rangka menemukan sesuatu pengetahuan baru. Ada beberapa macam metode yang bisa diterapkan dalam menyusun rancangan percobaan, antara lain rancangan acak lengkap, rancangan acak kelompok, rancangan acak kelompok lengkap, dan rancangan bujur sangkar latin. Setiap metode mempunyai masing masing kelebihan dan kelemahan dalam penerapannya. Skripsi ini hanya membahas tentang rancangan acak lengkap dan rancangan acak kelompok, karena dua rancangan inilah yang dapat diterapkan pada data dengan kondisi dimana banyaknya unit pecobaan dan perlakuan tidak sama. Rancangan acak lengkap mempunyai kelebihan yaitu pelaksanaan dan analisis datanya yang mudah, sedangkan kelebihan rancangan acak kelompok adalah galat yang dihasilkan rancangan acak kelompok dapat lebih diminimalisir daripada galat yg dihasilkan rancangan acak lengkap. Pada rancangan acak lengkap dan rancangan acak kelompok dengan memperhatikan keefisienan nisbi akan ditentukan diantara rancangan acak lengkap dan rancangan acak kelompok yang mana yang lebih efisien digunakan dalam mengolah data rancangan percobaan. Berdasarkan hasil perhitungan keefisienan nisbi pada rancangan percobaan varietas padi di Desa Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat, diperoleh nilai keefisienan nisbinya sebesar 151.094% yang berarti bahwa rancangan acak kelompok lebih efisien dibandingkan dengan rancangan acak lengkap.

Pengembangan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat untuk anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang / Dwi Oktiviandani

 

Kata kunci: Pengembangan, Fisik Motorik Halus, Pembuatan, Boneka Ulat Pertumbuhan dan perkembangan fisik motorik juga merupakan salah satu perkembangan anak yang perlu mendapat stimulasi yang baik, karena setiap kegiatan yang anak lakukan selalu melibatkan motorik, baik motorik halus maupun motorik kasar. Motorik halus digunakan anak saat melakukan aktivitas ringan, seperti bermain mobil-mobilan, membangun balok, menggambar, dll. Jika motorik halus ini tidak berkembang optimal maka akan sangat mengganggu aktivitas anak. Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi terhadap anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat belum pernah dilaksanakan dan merasa perlu untuk dilaksanakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat yang diharapkan mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak. Prosedur pengembangan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat ini adalah: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) Melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) Mengembangkan bentuk produk awal, 4) Melakukan uji coba kelompok kecil dengan 6 subjek, 5) Melakukan revisi terhadap produk awal, 6) Melakukan uji lapangan utama dengan 40 subjek, 7) Melakukan revisi produk. Intrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Hasil pengembangan ini adalah 90% anak mudah melakukan pembuatan boneka ulat, 100% anak senang melakukan pembuatan boneka ulat dan 100% anak tidak berbahaya melakukan aktivitas pembuatan boneka koran. Berdasarkan data hasil pengembangan fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat, maka dapat disimpulkan bahwa pembuatan boneka ulat mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan bagi anak. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat diujicobakan kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya untuk menguji tingkat keefektifan dari produk yang dikembangkan. Berdasarkan hasil observasi selama penelitian dan pengembangan pembelajaran fisik motorik halus melalui pembuatan boneka ulat, dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik, kognitif, bahasa, agama, kreativitas, dan sosial-emosional anak.

Upaya pengembangan industri batik Pamekasan (Studi kasus pada industri batik di desa Klampar Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan) / Dwi Fajar Moerdiono

 

Kata Kunci : Modal, Pemasaran, SumberDayaAlam, Kewirausahaan, PeranPemerintah, Batik merupakansalahsatu icon di KabupatenPamekasansehinggadicantumkan “Pamekasan Kota Batik”.Salah satualasankenapaDesaKlampar di pilihmenjadiobjekpenelitiankarenadesainimerupakansentra batik paling besar di KabupatenPamekasan.Akan tetapipadakenyataannyaDesaKlamparkurangmendapatkanperhatiandaripemerintahsetempat.Padatahun 2010 DesaKlamparpernahmengajukandiriuntukdijadikanwisatakampoeng batik.Tapisampaisaatinimasihbelumterealisasidanjugamasihbelumditanggapiolehpemerintahsetempat. Masalahdalampenelitianiniadalah (1) Bagaimanaupayapengembangan batik di DesaKlamparPamekasanjikaditinjaudariaspek modal, pemasaran, sumberdayamanusia, dankewirausahaan?(2) Bagaimanausahapemerintahdalammengembangkanindustri batik diwilayahPamekasan? Dari hasilpenelitiandapatdisimpulkanbahwasecaraumumperkembanganindustri batik diPamekasaninidipengaruhiolehpengrajin batik yaitukreatifitaspengrajin batik, produk batik Madura yang mempertahankankualitas yang baik, dankepedulianpengrajinuntukmelestarikan batik. Selainitu, dukunganpemerintahdalammengembangkanindustri batik yang adadiPamekasan, dalamaspekpermodalan, pemasaran.SDM, dankewirausahaan.Selainfaktor yang berasaldaripelakuindustri batik, terdapatfaktor yang bersifatoperasionalyaknidalampemasaran batik Madura telahmenggunakanfasilitas internet danpemerintahjugaaktifdalammempromosikan batik Pamekasansehingga batik Pamekasandikenalbaikolehmasyarakatkhususnyadiluar Madura, untukproduksitersedianyabahanbakumembatik yang mudahdiperolehjugamendukungperkembanganindustri batik diPamekasansertaketersediaantenagakerjapembatik yang banyakdiPamekasanmenjadikanpermintaanakan batik Pamekasanterpenuhi, danbudayadidalamkehidupankeluargapengrajin batik yang akanmenurunkanketrampilandankeahlianmembatiknyakepadagenerasiberikutnya, sertaperhatianpemerintahdanbudayawandalammelestarikandanmengembangkankesenian batik ikutmendorongperkembanganindustri batik diPamekasan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |