Pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap kinerja perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia / Aan Ria Apriyani

 

Apriyani, AanRia. 2013. Pengaruh Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan terhadap Kinerja Perusahaan pada perusahaan Real Estate dan Property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Pembimbing: (I) Prof. Dr. Bambang Sugeng, S.E., M.A., M.M.Ak(II) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si., Ak Kata Kunci: Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSDI) dan Kinerja Perusahaan (ROE)      Dalam perkembangan dunia ekonomi saat ini, dipenuhi berbagai persaingan. Untuk menghadapi persaingan dunia usaha saat ini perusahaan harus berusaha meningkatkan kinerjanya. Salah satu usaha untuk meningkatkan kinerja perusahaan adalah dengan pengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan. Pengungkapkan tanggung jawab sosial diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aktivitas sosial perusahaan, sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap aspek sosial disekitarnya.      Salah satu indicator dalam menilai kinerja keuangan perusahaan adalah dengan Return On Equity (ROE). Rasio keuangan ini merupakan suatu alat analisis yang diperlukan untuk mengukur kondisi dan aktivitas operasi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu laba bersih. Dengan ROE, investor atau pemilik dapat melihat tingkat pengembalian atas investasi yang diukur dengan membandingkan laba bersih terhadap total ekuitas.      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap kinerja keuangan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Real estate dan property yang terdaftar di BEI periode2009-2011. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive esampling sehingga diperoleh 20perusahaan. Metode analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode regresi linear sederhana      Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkatnya perusahaan dalam mempraktikan CSR dalam pelaporan keuangan maka semakin baik hubungan perusahaan dengan masyarakat.      Berdasarkanhasil penelitian saran yang dapat diberikan sebagai berikut: (1) Jumlah populasi perlu ditambah, tidak hanya perusahaan padas ektor Real Estate dan Property, (2) Seluruh perusahaan diharapkan dapat memberikan pengungkapan sosial sebagai informasi dalam laporan tahunannya, karena setiap perusahaan haru smeningkatkan kesadaran akan tanggung jawab sosialnya, (3) Bagi pemerintah diharapkan dapat membuat kebijakan, peraturan dan standar tentang tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia.

Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII E SMP Negeri 8 Malang dengan pembelajaran kooperatif tipe think pair square share / Yuniar Ika Putri Pranyata

 

Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah, pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square Share Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang strategis untuk mengetahui kompetensi siswa dalam menerapkan 4 tahapan pemecahan masalah. Masalah yang dimaksudkan adalah suatu persoalan matematika dengan penyelesaian yang beragam dan memuat empat tahap pemecahan masalah yaitu memahami, merencanakan, menyelesaikan dan mengecek solusi yang didapatkan. Menurut tes kemampuan awal yang dilakukan di SMP Negeri 8 Malang, sebagian besar siswa kelas VIII E memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lemah ditunjukkan dengan skor tes yang rendah. Think Pair Square Share adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif dengan tingkat berpikir yang bertahap sehingga dapat mengakomodasi siswa untuk berpikir secara mandiri memahami masalah sampai pada tahap mengkomunisasikan rencana dan solusi dari permasalahan pada teman atau guru. Proses pembelajaran menuntut siswa untuk dapat menyelesaikan masalah secara individu dan secara kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan guru dalam langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square Share yang meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII E SMP Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2011 dengan materi pembelajaran lingkaran. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tindakan guru dalam langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe think pair square share yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah (1) guru mengelompokkan siswa dengan kemampuan yang heterogen menurut hasil tes kemampuan awal, langkah ini dapat meningkatkan sikap siswa saat merencanakan solusi, (2) tahap think, guru memberikan suatu permasalahan dalam bentuk LKS dan meminta siswa mengerjakan secara individu. Guru menekankan kepada siswa untuk mengerjakan sendiri dengan membuka buku sumber. Langkah ini terbukti meningkatkan sikap siswa dalam memahami permasalahan, (3) tahap pair, guru meminta siswa berdiskusi untuk bertukar ide dengan teman sebangku. Guru mengarahkan pasangan siswa untuk bekerjasama secara positif guna merencanakan penyelesaian masalah, (4) tahap square, guru meminta siswa berdiskusi tetapi dengan pasangan lain sehingga membentuk kelompok berempat. Guru membimbing kelompok siswa yang masih belum bisa memecahkan masalah. Tahap ini meningkatkan sikap penyelesaian masalah siswa, (5) tahap share, guru meminta siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok yang telah dilakukan. Siswa lain diminta guru berperan menjadi pengamat serta penanya guna memperoleh solusi yang paling efektif dan benar. Siswa yang aktif dan kooperatif akan mendapat penghargaan berupa tambahan nilai. Penambahan kuantitas soal pemecahan masalah dan pengkonstruksian materi yang jelas akan mempermudah siswa untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

Paragraf dalam laporan hasil observasi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pandaan / Eka Meike Astiti

 

ABSTRAK Astiti, Eka Meike. 2015. Paragraf dalam Laporan Hasil Observasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pandaan. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumadi, M.Pd, (II) Musthofa Kamal, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: paragraf, teks laporan hasil observasi. Paragraf merupakan unsur pembangun dalam sebuah teks. Dalam menulis sebuah teks, salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah paragraf yang terdapat dalam teks tersebut. Sebuah teks dibangun atas beberapa paragraf yang saling berhubungan sehingga bisa menyampaikan maksud dari teks tersebut kepada pembaca dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kelengkapan syarat-syarat pembentukan paragraf, (2) teknik pengembangan paragraf, dan (3) penggunaan unsur kebahasaan dalam paragraf teks laporan hasil observasi karya siswa SMP Negeri 1 Pandaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data penelitian ini berupa paragraf-paragraf yang terdapat pada teks laporan hasil observasi karya siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pandaan. Sumber data penelitian ini adalah teks laporan hasil observasi karya siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pandaan. Instrumen penelitian ini ada tiga yaitu (1) tes, (2) tabel panduan kodifikasi data, dan (3) tabel analisis data. Prosedur pengumpulan data penelitian ini dilakukan melalui pemberian tugas menulis teks laporan hasil observasi melalui instrumen tes yang berbentuk lembar kerja siswa. Analisis data penelitian ini ialah analisis paragraf. Analisis data penelitian ini dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Reduksi data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi. Reduksi data dalam penelitian ini didasarkan pada syarat (1) paragraf terdiri atas lebih dari satu kalimat, dan (2) identitas paragraf jelas (nama pengarang/siswa, nomor presensi, dan kelas). Sementara itu, paragraf yang tidak memenuhi syarat dan paragraf yang tidak terbaca tidak dianalisis karena dapat menimbulkan kerancauan dalam analisis data. Data penelitian ini disajikan sesuai dengan fokus penelitian. Penarikan simpulan pada penelitian ini dilakukan dengan mengecek kesesuaian hasil analisis dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Temuan penelitian ini disajikan sesuai dengan fokus penelitian. Pertama, dari aspek kelengkapan syarat-syarat pembentukan paragraf ditemukan (1) kalimat-kalimat dalam paragraf secara bersama-sama menyatakan satu ide pokok, (2) kalimat-kalimat dalam paragraf memiliki keterkaitan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain, (3) kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kalimat topik dalam paragraf, (4) kalimat yang tidak mendukung ide pokok paragraf, (5) paragraf yang menyatakan dua hal yang berbeda, (6) paragraf yang tidak memiliki keterkaitan antarkalimat, (7) paragraf dengan kalimat yang singkat dan tidak dikembangkan secara lebih luas, dan (8) paragraf yang memiliki dua ide pokok yang berbeda dan tidak dijelaskan secara rinci dengan kalimat penjelas. Kedua, Dari aspek teknik pengembangan paragraf ditemukan (1) paragraf yang memiliki ide pokok berupa hal umum yang terdapat di awal paragraf dan dijelaskan dengan hal khusus sebagai kalimat penjelas, (2)paragraf yang memiliki ide pokok yang dijelaskan dengan contoh-contoh konkret dalam kalimat penjelas, (3) paragraf yang mengandung perbandingan antara dua hal, (4) paragraf yang diawali dengan ide pokok yang menjadi sebab dan dijelaskan dengan akibat dalam kalimat penjelas, (5) paragraf yang memiliki ide pokok yang dijelaskan dengan kalimat penjelas yang menjelaskan urutan tempat, (6) paragraf yang memiliki kalimat penjelas yang memaparkan proses-proses tertentu, dan (7) paragraf yang dikembangkan dengan dua teknik yaitu teknik pengembangan sebab-akibat dan teknik pengembangan dengan contoh. Ketiga, dari aspek penggunaan unsur kebahasaan ditemukan (1) ketepatan penggunaan huruf kapital, (2) ketepatan penggunaan tanda koma dan tanda titik, (3) kata yang sudah sesuai dengan konteks kalimat dan ketepatan penulisan kata, (4) kalimat yang memiliki subjek dan predikat, (5) konjungsi yang sesuai dengan kedudukan dan maknanya, (6) kesalahan penulisan huruf kapital dan huruf miring, (7) kesalahan penggunaan tanda titik dan tanda koma, (8) kesalahan penulisan kata, dan (9) kalimat yang tidak memiliki subjek. Berdasarkan hasil temuan penelitian terdapat tiga saran yang dapat diberikan. Pertama, Guru bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 1 Pandaan disarankan untuk melatih keterampilan siswa menulis paragraf yang terdiri atas kalimat yang mendukung ide pokok paragraf dan kalimat-kalimat yang menyatakan satu ide pokok. Guru juga disarankan untuk melatih siswa menulis paragraf yang mengandung keterkaitan antarkalimat dan kalimat penjelas yang dikembangkan secara luas dan rinci. Kedua, siswa disarankan untuk belajar mengenai teknik-teknik pengembangan paragraf agar siswa dapat menulis paragraf dengan berbagai macam teknik pengembangan paragaf. Ketiga, siswa disarankan untuk berlatih menulis sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan memperhatikan penulisan huruf kapital dan huruf miring yang benar, penggunaan tanda titik dan tanda koma yang tepat, penulisan kata, dan kalimat yang lengkap.

Ketidakadilan gender dalam novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif / oleh Donny Asmoro

 

Tanggapan pengelola butik tentang kompetensi SMK pada program keahlian tata busana / Fatwa Ayu Rosida

 

Kata Kunci : Tanggapan Pengelola Butik, Kompetensi, Tata Busana Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat dicapai melalui pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan pada masyarakat. Tujuan utama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja handal dengan mengutamakan kemampuan kejuruan jenis tertentu. Namun kenyataannya cukup kontradiktif, SMK sebagai lembaga yang mempersiapkan lulusan siap kerja justru sebaliknya. Angka pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan didominasi oleh lulusan SMK. Salah satu cara untuk meningkatkan skill dan menambah pengalaman siswa SMK khususnya program keahlian tata busana yaitu dengan melaksanakan praktek kerja industri (prakerin). Prakerin merupakan bagian dari program pembelajaran yang dilaksanakan di dunia industri. Hasil survei menunjukkan sebagian siswa melaksanakan prakerin di butik. Kompetensi yang diberikan pengelola butik kepada siswa SMK yaitu kompetensi menjahit, menghias busana, membuat pelengkap busana, dan mengerjakan bagian finishing. Oleh sebab itu peneliti ingin mengetahui bagaimana tanggapan pengelola butik tentang kompetensi siswa SMK pada program keahlian tata busana. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dari penelitian ini yaitu pengelola butik yang menjadi tempat prakerin siswa SMKN se-Kota Madya Malang yaitu SMKN 3 Malang, SMKN 5 Malang, dan SMKN 7 Malang yang berjumlah 13 pengelola butik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dengan jumlah pertanyaan 46 item. Uji instrumen menggunakan uji validitas konstuk dan dinyatakan valid, sedangkan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha dengan nilai 0,828. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggapan dari 13 pengelola butik menyatakan bahwa: (1) siswa kompeten dalam menjahit busana butik, (2) siswa kompeten dalam menghias busana, (3) siswa kompeten dalam membuat pelengkap busana, dan (4) siswa kompeten pada bagian finishing busana butik. Simpulan; pengelola butik menyatakan bahwa kompetensi siswa prakerin pada program keahlian tata busana sudah kompeten. Saran; kepada pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) disarankan agar tetap mempertahankan kompetensi yang sudah dimiliki siswa dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan sesuai dengan perkembangan di dunia industri khususnya butik seperti, teknik menghias busana dan pelengkap busana.

Penerapan model think pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas X A di SMAN 1 Gondanlegi / Nurmauladina Oktorina

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS), hasil belajar Berdasarkan hasil observasi awal pada bulan Oktober 2010 dalam proses pembelajaran geografi di kelas XA SMAN 1 Gondanglegi tahun ajaran 2010/2011 terdapat beberapa kelemahan yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu: (1) Kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi pembelajaran menganalisis masih kurang dikarenakan metode yang dilakukan di dalam kelas monoton yng membuat siswa bosan sehingga hasil belajar rendah (2) Hasil belajar siswa masih rendah diketahui dari hasil analisis data hasil belajar pratindakan belum ada siswa yang mempunyai nilai dengan kriteria sangat baik, kriteria nilai siswa yang terbanyak adalah baik 38% dan cukup 38%, juga masih tedapat kriteria kurang dan sangat kurang, bila dihubungkan dengan belajar tuntas ketuntasan belajar siswa masih rendah yaitu hanya 38% saja siswa yang dinyatakan tuntas dalam belajar. (3) Dalam kegiatan diskusi kelompok yang selama ini dilakukan di dalam kelas cenderung gaduh dan tidak efektif dikarenakan anggota kelompok yang berlebihan (5-6 orang). Tujuan penelitian ini meningkatkan hasil belajar geografi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TPS . Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, dilakukan di kelas X A SMAN 1 Gondanglegi pada bulan Januari-Februari 2011. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan tabel persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar geografi siswa mengalami peningkatan. Siklus I hasil belajarnya sebagian besar baik yaitu 56% dari semua, namun masih ada nilai sisiwa dengan kriteria kurang yaitu 32% dari semua siswa, dan ketuntasan belajarnya mengalami peningkatan 59%. Siklus II hasil belajarnya mengalami peningkatan sebagian besar nilai siswa mendapat kriteria sangat baik yaitu 62% dari semua siswa, 32% lainnya dengan kriteria baik dan untuk kategori kurang sudah tidak ada, dalam hal ketuntasan belajar siklus II mengalami peningkatan dari siklus I yaitu 94%. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa Siswa dapat lebih siap untuk memperoleh pembelajaran bila LKS diberikan sebelum pembelajaran dimulai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar geografi setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model TPS. Disarankan kepada para guru geografi untuk mencoba menerapkan model TPS agar kualitas pembelajaran geografi semakin meningkat dan memberikan tugas sebelum pembelajaran agar siswa lebih siap. Kepada pihak sekolah disarankan agar memberikan fasilitas yang menunjang keberhasilan penerapan model tersebut di sekolah, seperti media belajar geografi yang memadai dan menerapkan beberapa model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Students' strategies in overcoming speaking problems at SMP Negeri 8 Malang / by Vidya Kurniasari

 

Persepsi dan pemahaman guru mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter dan aplikasinya pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Batu / Dinesh Basti Farani

 

Kata Kunci: Persepsi dan Pemahaman Guru, Kurikulum Pendidikan Karakter, Mata Pelajaran Ekonomi Pendidikan di Indonesia dewasa ini, bisa dikatakan masih tertinggal dibanding pendidikan di negara lain. Untuk mengantisipasi hal tersebut salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah materi atau yang biasa disebut kurikulum. Saat ini pendidikan karakter sedang menjadi isu utama dalam dunia pendidikan di Indonesia, harapannya melalui pendidikan karakter tersebut mampu menjadi landasan utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam berbagai bidang dalam bernegara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi dan pemahaman guru mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter serta aplikasinya pada mata pelajaran ekonomi di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memahami fenomena yang sedang dikaji. Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Negeri 1 Batu yang merupakan satu-satunya sekolah yang berstatus RSBI di kota Batu. Informan dalam penelitian ini adalah semua guru mata pelajaran ekonomi, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah kelas X, XI-IPS, dan XII-IPS. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan persepsi dan pemahaman guru mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter baik pada mata pelajaran ekonomi baik. Sehingga persepsi dan pemahaman guru yang baik tersebut, secara langsung akan mempengaruhi terhadap aplikasinya sendiri. Aplikasi pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Batu, tidak hanya dilakukan dalam kegiatan pemebelajaran di dalam kelas, namun juga diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain dan juga budaya sekolah. Saran dalam penelitian ini adalah Bagi Guru Ekonomi hendaknya mampu untuk memasukkan nilai karakter dengan baik dalam RPP dan silabus serta menyusun skenario pembelajaran sehingga nilai karakter yang diharapkan dapat tercapai. (2) Bagi pihak sekolah, terutama bidang kurikulum hendaknya lebih mengawasi sendiri dan juga mengembangkan alat untuk melakukan penilaian terhadap pelaksanaan pendidikan karakter. (3) Bagi pihak Universitas yang berorientasi di bidang pendidikan hendaknya berperan dalam meningkatkan kompetensi guru maupun mencetak calon guru yang berkualitas sehingga mampu untuk mengaplikasikan pendidikan karakter dengan baik. (4). Bagi penelitian selanjutnya, hendaknya tidak hanya meneliti tentang persepsi, pemahaman guru, serta aplikasinya pada mata pelajaran ekonomi namun pada evaluasi, atau analisis permasalahan yang terdapat dalam pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas khususnya dalam hal kurikulum di sekolah.

Survei tentang proses pembelajaran seni tari kelas VII di SMP Negeri 1 Panji Situbondo / oleh Wiwik Hendriyati

 

Pengaruh pemberian RCAS-cWnt5a contruct pada HeLa cell line / Nada Putri Djihad

 

Kata Kunci: Wnt5a, HeLa cell line, proliferasi Wnt5a merupakan salah satu anggota famili gen Wnt yang terlibat dalam berbagai proses perkembangan pada makhluk hidup dan diduga berperan dalam tumorigenesis. Namun demikian, peran gen Wnt5a dalam tumorigenesis hingga saat ini masih tetap menjadi kontroversi. Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian penduduk di dunia dan sekitar 70% dari kasus kematian akibat kanker terjadi pada negara miskin dan berkembang. Kanker berkembang dari tumor yang muncul akibat pembelahan sel normal secara tidak terkontrol. Kanker serviks merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari mekanisme gen Wnt5a dalam proliferasi dan morfologi sel, terutama pada HeLa cell line dengan memberikan penambahan RCAS-cWnt5a construct. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Pada penelitian ini dilakukan transfeksi virus RCAS-cWnt5a sebagai kelompok perlakuan dan RCAS-EGFP sebagai kontrol positif pada HeLa cell line dengan waktu inkubasi 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Pengaruh terhadap proliferasi sel diuji melalui penghitungan jumlah sel hidup, sel mati, dan sel total, serta analisis statistik uji anava ganda, sedangkan pengujian terhadap morfologi sel dilakukan dengan pengamatan bentuk HeLa cell line yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah sel total disertai penurunan jumlah sel hidup dan sel mati pada kelompok perlakuan (P) dari 48 jam hingga 72 jam. Namun demikian, hasil uji anava ganda menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan jumlah sel hidup, sel mati dan sel total (p > 0,05) pada ketiga kelompok penelitian (K-, K+, dan P) dan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam, dan 72 jam), serta interaksi keduanya. Diduga, terjadi hambatan proliferasi HeLa cell line akibat penambahan RCAS-cWnt5a construct yang menyebabkan ekspresi berlebihan (overekspresi) gen Wnt5a pada HeLa cell line yang telah mengalami upregulasi Wnt5a pada keadaan normal.

Pengaruh ekuitas merek terhadap keputusan pembelain konsumen : studi kasus pada konsumen televisi merek Samsung di kelurahan Bugul Kidul Pasuruan / oleh Diana Febriastutik

 

Survei tentang tingkat kesegaran jasmani siswa putra kelas I dan II SMP Negeri 1 Sreseh Kabupaten Sampang / oleh Ismail Hidayat

 

Studi tingkat kebugaran jasmani siswa pengikut ekstra kurikuler olahraga di SMP Negeri I Gondanglegi Kabupaten Malang / oleh Ahmad Zamroni

 

Penerapan metode pembelajaran berbasis kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa (studi pada siswa kelas X APK 3 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata pelajaran prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran) / Puguh Erdin Supardi

 

Supardi, Puguh Erdin. 2012. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa. (Studi Pada Siswa Kelas X APK 3 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Pada Mata Pelajaran Prinsip Penyelengaraan Administrasi Perkantoran). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Wayan Jaman A.P. M.Si, (II) Drs. Sarbini. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Jigsaw, aktifitas, dan hasil belajar.     Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, bahwa telah terjadi kesenjangan perolehan nilai hasil ulangan harian yang sebelumnya diselenggarakan oleh guru mata pelajaran prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Penyebabnya ternyata adalah pola ajar yang kurang menekankan pada siswa, sehingga terlihat perbedaan antara siswa yang pintar dengan siswa yang kurang pintar. Untuk dapat menyamarkan kesenjangan yang terlihat tersebut, serta agar lebih meningkatkan hasil belajar maka perlu dilakukan varian dalam proses belajar mengajar, misalnya dengan pembelajaran kooperatif.     Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Jigsaw. Melalui pembelajaran kooperatif model Jigsaw, siswa dilatih untuk dapat bekerjasama, saling mendengarkan pendapat teman dan bertanggung jawab dalam menunjukkan penguasaanya terhadap materi yang ditugaskan oleh guru.     Penelitian tindakan kelas (PTK) pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran kompetensi dasar mengidentifikasi persyaratan personil administrasi perkantoran kelas X APK 3 SMK Muhammadyah 5 Kepanjen , serta mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan model pembelajaran Jigsaw ini berlangsung     Data penelitian berupa peningkatan hasil belajar siswa yang didasarkan pada nilai tes prestasi belajar yang dilakukan di setiap akhir siklus yang disebut post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama siswa kelas X APK 3 SMK Muhammadyah 5 Kepanjen telah tuntas 43%, kemudian dilakukan perbaikan pada siklus II yang berdampak positif pada peningkatan hasil belajar siswa dengan jumlah 95,23% siswa tuntas pada materi kompetensi dasar mengidentifikasi persyaratan personil administrasi perkantoran.     Dari hasil diatas, dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran Jigsaw telah mampu meningkatkan aktifitas dan hasil belajar, dikarenakan materi yang diajarkan pada siklus II merupakan lanjutan dari materi siklus I dan materi yang diberikan guru sebelumnya.

Pengembangan Senam Irama dengan Tongkat (Serato) untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Malang / oleh Agus Suryanto

 

Analisis kesalahan dan perbaikan penyajian pada buku teks matematika sekolah menengah kejuruan (SMK) kelas X / Hud Umar Ardhanareswara

 

Upaya-upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan disiplin pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) : studi kasus di Kelurahan se-Kecamatan Klojen-Kota Malang / oleh Rindang Setyo Widariyanti

 

Kajian mutu nuggets ampas tahu dengan perlakuan perbandingan tepung komposit dan persentase penambahan putih telur / Nurul Hidayah

 

Kata Kunci: nuggets, ampas tahu, tepung komposit (susu bubuk skim : terigu), putih telur. Ampas tahu merupakan salah satu hasil samping (limbah) dalam pembuatan tahu. Di Kota Malang ampas tahu sangat melimpah dan hanya dimanfaatkan sebagai makanan ternak dan bahan dasar pembuatan “tempe menjes”. Nilai ekonomis dari ampas tahu sangat murah, yaitu Rp 425/kg. Diversifikasi produk ampas tahu sangat terbatas jumlahnya dan belum begitu dikenal oleh masyarakat karena anggapan bahwa produk dari ampas tahu adalah produk murahan dan rendah gizi. Ampas tahu masih mempunyai serat kasar yang cukup tinggi dengan kuantitas dan kualitas protein yang cukup baik. Serat yang tidak dapat dicerna mempunyai peranan penting dalam sistem pencernaan. Ampas tahu memiliki karakter flavor langu dan mudah rusak jika tidak segera digunakan. Untuk memberi nilai tambah (ekonomis dan manfaat) pada ampas tahu dan diversifikasi pangan maka ampas tahu diolah menjadi produk makanan, misalnya nuggets. Nuggets merupakan produk olahan daging yang disukai konsumen karena memiliki rasa yang enak (gurih), praktis dan juga memiliki daya simpan yang lama (freezer) sehingga cocok bagi mereka yang sibuk bekerja (karir). Pada umumnya nuggets terbuat dari daging yang merupakan sumber protein. Kandungan serat kasar yang cukup tinggi dengan kuantitas dan kualitas protein yang cukup baik memungkinkan ampas tahu sebagai pengganti daging dalam pembuatan nuggets. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik, sifat fisik dan sifat kimia nuggets ampas tahu dengan perbandingan komposisi ampas tahu, terigu, susu bubuk skim, dan putih telur yang tepat sehingga menghasilkan nuggets ampas tahu yang disukai masyarakat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah perbandingan komposisi tepung komposit yang bebeda (susu bubuk skim : terigu) dengan perbandingan (5:25%), (10:20%) dan (15:15%). Faktor II persentase penambahan putih telur yang berbeda yaitu 25%BB dan 40%BB. Uji organoleptik terhadap tekstur, rasa, dan flavor dilakukan di Laboratorium Pastry & Bakery Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, sedangkan untuk uji fisik dan uji kimia dilakukan di Laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (analisis varian dua arah dengan replikasi dan analisis varian satu arah) dilanjutkan dengan analisis DMRT (Duncans Multiple Range Test). Parameter uji mutu hedonik untuk tekstur skor tertinggi terdapat pada nuggets yang bertekstur kenyal dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Skor tertinggi uji mutu hedonik rasa terdapat pada nuggets berasa gurih yaitu nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Skor tertinggi uji mutu hedonik flavor terdapat pada nuggets dengan flavor tidak langu dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Parameter uji hedonik tekstur nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Rasa nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (10:20%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Flavor nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (10:20%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Parameter uji fisik kimia untuk tekstur skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB dan 40%BB (0,3625) dengan tekstur paling lunak. Untuk kandungan karbohidrat skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB (38,10). Untuk kandungan serat skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB (1,31). Untuk kandungan protein skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB (8,25).

Peran pemerintah dalam memberdayakan wayang Thengul sebagai aset pariwisata daerah di Bojonegoro / oleh Yuni Riskianawati

 

Dinamika kepribadian perempuan biseksual : studi kasus pada seorang perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual / Siti Mu'allafah

 

Model perangkat pembelajaran menulis berdasarkan pendekatan proses genre bagi siswa SMP / Kastam Syamsi

 

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Suparno, (2) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M. Pd., (3) Dr. H. Nurhadi, M. Pd. Kata Kunci: model perangkat pembelajaran, menulis, pendekatan proses genre Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis adalah melakukan inovasi model pembelajaran melalui penerapan pendekatan proses genre. Untuk mengimplementasikan inovasi model pembelajaran menulis itu, harus dikembangkan model perangkat pembelajarannya. Oleh karena itu, penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan model (1) silabus pembelajaran menulis, (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menulis, (3) materi pembelajaran menulis, (4) instrumen evaluasi pembelajaran menulis, dan (5) panduan pembelajaran menulis berdasarkan pendekatan proses genre. Prosedur penelitian pengembangan ini terdiri atas tiga tahap, yakni (1) pendefinisian, (2) perencanaan dan pengembangan, dan (3) penyebarluasan. Aktivitas pendefinisian difokuskan pada (a) menciptakan kerja sama tim, (b) menemukan solusi problem progresif, dan (c) melakukan pemahaman masalah secara kontekstual. Aktivitas perencanaan dan pengembangan difokuskan pada (a) mempelajari konteks pembelajaran, (b) memilih format dan media, (c) menentukan strategi evaluasi, (d) mendesain produk dan pengembangannya, (e) uji coba produk, dan (f) uji efektivitas produk. Aktivitas penyebarluasan difokuskan pada (a) evaluasi otentik, dan (b) penyusunan paket akhir produk sesuai dengan konteks. Uji efektivitas produk dilakukan untuk melihat efektivitas produk dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa berdasarkan pendekatan proses genre. data uji coba produk berupa data kualitatif, yakni kritik, saran, dan komentar yang ditulis pada berkas model atau lembar instrumen penilaian, dan atau yang disampaikan secara lisan dalam kegiatan diskusi. Data tersebut digunakan untuk menganalisis, merevisi, dan menyempurnakan model perangkat pembelajaran. Data uji efektivitas produk berupa data kuantitatif, yakni nilai kemampuan menulis siswa yang diperoleh berdasarkan pretes dan postes pada kelompok kontrol yang diberi perlakuan stategi konvensional dan kelompok eksperimen yang diberi perlakuan pendekatan proses genre. Data tersebut digunakan untuk mengetahui efektivitas produk model perangkat pembelajaran menulis. Analisis data kualitatif dilakukan dengan teknik analisis domain dengan prinsip kritis dan reflektif, sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan teknik analisis statistik uji t dengan program SPSS 15.0 for Windows. Hasil penelitian ini terdiri atas lima model, yakni (1) silabus pembelajaran menulis, (2) RPP menulis, (3) materi pembelajaran menulis, (4) instrumen evaluasi pembelajaran menulis, dan (5) panduan pembelajaran menulis berdasarkan pendekatan proses genre. Kelima model perangkat pembelajaran tersebut dikembangkan berdasarkan pendekatan proses genre dengan langkah-langkah kegiatan (1) mengenal teks, (2) memahami bahasa atau kaidah penulisan teks, (3) menganalisis teks, (4) merefleksi, (5) mengembangkan bahan atau ide, (6) menyusun kerangka, (7) menulis draf, (8) merevisi, (9) melakukan evaluasi diri, dan (10) melakukan tindak lanjut. Berdasarkan analisis data kualitatif diketahui bahwa kelima model perangkat pembelajaran menulis tersebut memiliki tingkat kelayakan yang sangat layak. Berdasarkan analisis data kuantitatif diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan skor pretes dan postes kemampuan menulis berdasarkan pendekatan proses genre pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kalasan Kabupaten Sleman. Hal ini berarti bahwa model perangkat pembelajaran menulis berdasarkan pendekatan proses genre tersebut terbukti efektif terhadap peningkatan kemampuan menulis siswa. Oleh karena itu, guru, penulis materi ajar, dan pengembang kurikulum disarankan memanfaatkan produk penelitian ini sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran menulis di sekolah. Selain itu, disarankan agar dilakukan sosialisasi produk dan konsep teoritik, serta pengembangan produk yang lebih luas cakupannya.

Pengaruh penggantian kuarsa dengan pasir laut Balaikambang pada komposisi bahan keramik stoneware terhadap kuat tekan dan prositas keramik / oleh Hanny Ulfa

 

Hubungan kecerdasan intelektual siswa, minat baca siswa, dan kinerja guru sejarah dengan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran sejarah SMA negeri 1 Batu / Wahyu Kurnianto

 

Rancang bangun mesin pembuat pakan akan air tawar bentuk pelet / Moh. Andiyatno dan Hengki Oky Prayogi

 

Kata kunci : Ikan Air Tawar, Mesin Pembuat Pakan Ikan Dengan pesatnya perkembangan budidaya perikanan Indonesia membuat kebutuhan pakan ikan tersebut menjadi meningkat, sehingga apabila hanya mengandalkan pakan alami saja tidak akan mencukupi kapasitas pakan ikan tersebut. Banyak petani budidaya ikan menggunakan pakan buatan, sebagai tambahan untuk pakan ikan. Tujuan membuat Mesin Pembuat Pakan Ikan Air Tawar Bentuk Pelet yaitu untuk membantu para petani ikan agar dapat memproduksi pakan ikan sendiri, sehingga akan dapat mengurangi beban biaya. Pada Mesin Pembuat Pakan Ikan Air Tawar Bentuk Pelet ini pencetak pelet berupa Piringan terbuat dari besi dengan diameter 108 mm dan tebal 10 mm, lubang pencetak dengan diameter 5 mm. Cara kerjanya yaitu dengan memasukkan adonan yang telah tercampur sedikit demi sedikit sampai lubang pencetak terisi, lalu masukan adonan secara kontinu. Kapasitas tampung dari mesin ini adalah 25 kg/jam. Daya motor yang digunakan 0,5 dalam satuan kuda (HP). Setelah diketahui komponen maka dilanjutkan dengan memasang komponen-komponen yaitu Pecetak Pelet, AS, Roll, Pegas, Penutup, pulley, poros, sabuk V. Hasil dari proses berupa Pelet, namun hasil yang didapat tidak memiliki kepadatan dan kekerasan Pelethal ini dikarenakan pada saat Adonan dicampurkan kebanyakan atau kekurangan air, bahan yang digunakan kasar sehingga pada waktu pencetakan pelet, hasilnya tidak sempurna.

Pengaruh periklanan dan brand image terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor Yamaha Mio (studi kasus p[ada Dealer Armada Pagora Jaya Tulungagung) / Riza Ardhiananto

 

ABSTRAK Ardhiananto, Riza. 2013. Pengaruh Periklanan dan Brand Image Terhadap Keputusan Konsumen dalam Membeli Sepeda Motor Yamaha Mio (Studi Kasus pada Dealer Armada Pagora Jaya Tulungagung). Skrisi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sudarmiatin, M. Si (2) Dr. Ludiwishnu W. S.T., S.E., S.Pd, M.M Kata kunci: Periklanan, Brand Image, Keputusan Pembelian. Pemasaran merupakan fungsi bisnis yang bertugas untuk mengenali kebutuhan dan keinginan konsumen, menentukan pasar sasaran mana yang dapat dilayani dengan sebaik-baiknya oleh perusahaan. Perusahaan memiliki berbagai cara untuk menarik konsumen ataupun menyampaikan produk ke konsumen diantaranyadengan periklanan. Iklan dianggap merupakan salah suatu media promosi yang dinilai lebih efektif dan efisiendalam menjaring konsumen ataupun menyampaikan produk. Iklan dapat menjangkau konsumen dalam wilayah luas dan jumlah yang besar pada waktu bersamaan dengan menggunakan media perantara. Tidak hanya iklan namun citra merek atau Brand Image juga menjadi faktor penentu bagi keputusan pembelian atau minat beli konsumen. Perusahaan harus menciptakan citra merek yang baik di masyarakat. Agar mereknya mempunyai citra yang baik dan selalu melekat di hati masyarakat ketika akan membeli barang. Periklanan dan Brand Image akan mempengaruhi keputusan pembelian oleh konsumen. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Periklanan dan Brand Image Terhadap Keputusan Konsumen dalam Membeli Sepeda Motor Yamaha Mio. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini meliputi Periklanan dan Brand Image sebagai variabel bebas, serta Keputusan Pembelian sebagai variabel terikat. Penelitian ini dilakukan di DealerArmada Pagora Jaya Tulungagung dengan responden yang dipilih secara acak pada pengguna sepeda Yamaha Mio yang membeli di dealer Armada Pagora Jaya Tulungagung yang berasal dari dokumentasi yang berada di dealer Armada Pagora Jaya Tulungagung selama rentang waktu 3 bulan yaitu bulan Juni 2012 – bulan Agustus 2012 sebagai populasinya. Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian deskriptif korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah propotional random sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara proposional yaitu sebesar 100 responden dari jumlah populasi yang berjumlah 252 responden. Metode analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, uji t dan uji F. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 16 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis regresi linear berganda, uji t menunjukkan bahwa periklanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dengan koefisien regresi 0,139 dan signifikansi 0,000. Variabel Brand Image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi 0,118 dan signifikansi 0,000. Uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel periklanan dan Brand Image berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian ditunjukkan dengan nilai F sebesar 51,528 dan signifikansi 0,000. Variabel yang mempunyai pengaruh lebih dominan terhadap keputusan pembelian adalah Brand Image, ditunjukkan dengan nilai t yang lebih besar yaitu 5,411. Diketahui pula hasil regresi model Summary bahwa nilai Adjusted R Square = 0,515 yang artinya proporsi perubahan total variabel periklanan dan Brand Image sebesar 51,5%. Sedangkan sisanya sebesar 48,5% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka penulis memberikan saran yang dapat dijadikan pertimbangan yaitu bagi dealer Armada Pagora Jaya diharapkan memperhatikan dan menjaga Brand image atau citra merek yang sudah baik ini yang membuat konsumen memilih produk sepeda motor Yamaha Mio di Dealer Armada Pagora Jaya. Dan bagi penelitian selanjutnya diharapkan meningkatkan kualitas penelitian dengan cara menambah variabel diluar variabel dalam penelitian ini.

Pengaruh suasana kelas terhadap efektivitas pembelajaran bahasa Jerman siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang / Rina Purwati

 

Kata kunci: suasana kelas, pengelolaan kelas, pembelajaran bahasa Jerman. Proses pembelajaran yang baik yaitu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Dalam mewujudkan proses pembelajaran yang baik, perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran di antaranaya faktor guru, siswa, sarana dan prasarana, serta lingkungan sekolah. Pada proses pembelajaran bahasa Jerman di kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang, faktor lingkungan sekolah adalah salah satu faktor yang menghambat kelancaran proses pembelajaran. Kelancaran dan efektivitas dari suatu proses pembelajaran tidak dapat dicapai dengan maksimal, apabila suasana dalam suatu proses pembelajaran tidak berjalan kondusif. Dalam hal ini kemampuan pengelolaan kelas yang baik sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh suasana kelas terhadap efektivitas pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan hasil angket siswa. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. untuk menjaga keabsahan data, dilakukan pengamatan berulang dan kegiatan triangulasi data. Sumber data dalam penelitian ini adalah 38 siswa kelas XI IPS 4 yang mengikuti pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa suasana kelas dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran bahasa Jerman di kelas XI IPS 4. Hal ini terbukti dari hasil observasi dan angket siswa, yaitu sebanyak 53% siswa menjawab setuju bahwa suasana kelas berpengaruh pada efektivitas pembelajaran bahasa. Berdasarkan hasil penelitian, guru disarankan agar memperbaiki kemampuan pengelolaan kelas yang dimiliki. Pada proses pembelajaran hendaknya guru memperhatikan pengaturan tempat duduk siswa, kedisiplinan, kelengkapan sarana dan prasarana, sumber belajar, variasi belajar, serta interaksi yang terjalin di dalam kelas. Hal ini bertujuan menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam pembelajaran keterampilan mendengar dan berbicara, sehingga tujuan dan efektivitas pembelajaran dapat dicapai dengan baik.

Peran agen perubahan dalam memberdayakan masyarakat di bidang pendidikan (studi kasus di RA Harapan Bajulmati, Kec. Gedangan, Kabupaten Malang) / Nurul Anwar

 

ABSTRAK Nurul, Anwar. 2016. Peran Agen Perubahan Dalam Memberdayakan Masyarakat Dibidang Pendidikan (Studi Kasus di RA Harapan Bajulmati Desa Gajahrejo Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang). Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Prof. Dr.H.SMundzirM.pd, Pembimbing II: Drs. H. Moh. IshomM.pd Kata kunci: Peran Pendidikan, Agen Perubahan. Pendidikan luar sekolah memegang peranan penting dalam pendidikan non formal (pendidikan sebagai pelengkap, penunjang, pengganti pendidikan formal) dan pendidikan informal (pendidikan lingkungan). Agen perubahan memiliki peran dalam proses pemberdayaan dibidang pendidikan yaitu sebagai katalisator, mediator, pemberi solusi, role model, penghubung, dan memiliki strategi komunikasi serta menjadi pemangku kepentingan. Fokus dalam penelitian ini adalah: (1) menggali latar belakang agen perubahan dalam mendidik dan mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat di Dusun Bajulmati (2) menggali tentang peran yang dilakukan oleh agen perubahan dalam mengembangkan dan menjalakan pemberdayaan di bidang pendidikan khususnya di RA Harapan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara, observasi serta studi dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis data model spiral yang melalui tahapan pengolahan data (file, unit, organisasi), pembacaan, pencatatan (refleksi, penulisan), deskripsi, klarifikasi, interpretasi (konteks, kategorisasai, komparasi), penyajian, visualisasi (matrik, pohon, preposisi). Untuk mendapatkan data yang valid maka yang menjadisumber data adalah agen perubahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang melatarbelakangi agen perubahan dalam mendidik adalah adanya rasa keprihatinan tanpa memikirkan keuntungan finansial. Peran yang dilakukan agen perubahan meyakinkan anggota masyarakat, menghubungkan antara sumber yang satu dengan sumber yang lain, member solusi permaslahan memberikan contoh yang baik, dan sebagai pemangku kepentingan. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah, untuk kedepannya semakin lebih mempersiapkan tenaga pendidik dan meningkatkan kompentensinya guna menyikapi tumbuh dan kembangnya dunia pendidikan.

Hubungan antara konsep diri dengn motivasi berorganisasi pada mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Roman Listyanu

 

Kata kunci : Konsep Diri, Motivasi Berorganisasi Organisasi kemahasiswaan merupakan wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa kearah perluasan wawasan, peningkatan kecendekiawanan dan integritas kepribadian, serta wadah pengembangan kegiatan extra kulikuler mahasiswa. Tentunya hasil yang dicapai dalam berorganisasi tidak lepas dari motivasi berorganisasi mahasiswa tersebut. Begitu juga motivasi berorganisasi mahasiswa yang menpuyai hubungan erat dengan konsep diri mahasiswa. Mahasiswa dengan konsep diri yang tinggi akan diikuti dengan tingginya motivasi berorganisasi, begitu juga sebaliknya. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui konsep diri mahasiswa, (2) mengetahui motivasi berorganisasi mahasiswa, (3) mengetahui hubungan antara konsep diri dengan motivasi berorganisasi mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa program S1 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang sebanyak 282 mahasiswa. Subyek penelitian memiliki ciri-ciri (1) mahasiswa Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Pendidikan angkatan 2008, 2009, dan 2010 (2) pengurus inti dari organisasi mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan periode 2011. Data konsep diri dan data motivasi berorganisasi diperoleh dari skala konsep diri dan skala motivasi berorganisasi model likert. Reliabilitas skala konsep diri sebesar 0.875, sedangkan skala motivasi berorganisasi sebesar 0.839. data hasil penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis korelasi Product Moment. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas konsep diri mahasiswa pengurus Ormawa Fakultas Ilmu Pendidikan berada dalam klasifikasi sedang sejumlah 231 orang (81,91%). Sementara sejumlah 228 orang (80,85%) memiliki tingkat motivasi berorganisasi sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif antara konsep diri dengan motivasi berorganisasi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, (rxy= 0,241 ; p = 0,000 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsep diri maka semakin tinggi pula motivasi berorganisasi mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) bagi mahasiswa, untuk meningkatkan konsep dirinya menjadi lebih positif agar dapat memiliki motivasi berorganisasi yang tinggi (2) bagi pembina kemahasiswaan, hendaknya memberikan pelatihan pengembangan diri dan memberikan penghargaan bagi para pengurus ormawa sehingga bisa menjadi stimulus yang baik untuk meningkatkan motivasi berorganisasi mahasiswa. (3) bagi peneliti selanjutnya, disarankan menggunakan terhadap variabel-variabel lain yang mungkin berhubungan dengan variabel motivasi berorganisasi, mengingat motivasi berorganisasi tidak hanya berhubungan dengan konsep diri seseorang

The Conformity between the "Developing english competencies 3" Textbook and the 2006 standard of content / Erwin Tri Ardianto

 

Keywords: textbook, conformity, standard of content Due to the increasing need for the use of English as communication mean, the Indonesian government decided that English has to be taught in secondary school as a compulsory subject (Yuwono, 2005:1). Kitao (1997) states that in improving the quality of English teaching and learning, it is important to understand the five essential components of language instruction, one of which is the materials. Brown (2001) states that the most obvious and most common form of materials support for language instructions comes from textbooks. according to Pusporini (2009:7), a good textbook provides good teaching materials and good teaching materials will result in good learning. Furthermore, Nunan proposed four criteria of a good textbook, one of which is that the materials should be clearly related to curriculum they serve. And based on Nunan’s criteria, the researcher would like to investigate the conformity of the English textbook used in senior high school with the 2006 School Based Curriculum/ Standard of Content. This study is conducted with the purpose of analyzing how much the English textbook entitled Developing English Competencies 3 confirm the 2006 Standard of Content. Specifically, this study is aimed to analyze the textbook’s conformity with the 2006 Standard of Content in terms of: (1) the standard of competence and the basic competence, (2) the short functional and monolog texts, (3) the transactional and interpersonal texts, and (4) the four language skills. This is a descriptive study which focuses on content analysis that attempts to analyze the textbook used for the twelfth grade at senior high school. The source of data was the English textbook entitled Developing English Competencies 3. The instrument used in the data collection was a checklist developed by the researcher. Based on findings, it was found that the conformity of the textbook with the 2006 Standard of Content in terms of the standard of competence and basic competence was 92%, in terms of the short functional and monolog texts 86.7%, in terms of the transactional and interpersonal texts 45.3%, and in terms of the four language skills 64%. It can be concluded that the English textbook entitled Developing English Competencies 3 for the twelfth grade at senior high school is a good textbook since it has met most of the requirements stated in the 2006 standard of competence and the percentage of overall conformity was 72%. It means that the textbook is relatively suitable to be used as learning materials for teachers and students at twelfth grade senior high school. The researcher suggest that the teachers using the textbook to prepare some supplementary and other audio materials in order to cover the drawbacks of the textbook, the writers of the textbook should improve the quality of the textbook by considering several aspects and for future researchers who want to conduct a similar study are suggested to use different criteria on evaluating the textbook or different textbook of different grade as the subject of their study to enrich their research.

Perancangan alat ukur daya digital untuk rangkaian satu fasa berbasis mikrokontroler / Didiet Heru Prasetya

 

Kata kunci: Alat ukur daya, Mikrokontroler, Pengukuran Daya, Listrik satu Fasa. Perkembangan teknologi khususnya dalam bidang elektronika sangatlah pesat sekali. Berbagai jenis produksi alat elektronika dapat berkembang dengan sangat cepat kecanggihannya. Pada hakekatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terlepas dari bidang elektronika mengingat bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan erat dengan bidang elektronika. Bidang yang terkait dengan bidang elektronika antara lain yaitu dalam bidang alat ukur daya. Karena itu diperlukan suatu rangkaian peralatan elektronika sebagai penghitung daya pemakaian listrik yang terpakai. Pada alat yang sebelumnya adalah penghitung daya sesaat yang terpakai dalam rangkaian 1 fasa dan memakai IC mikrokontroler AT89S51 dimana masih membutuhkan tambahan IC ADC untuk mengubah masukan analog menjadi digital. Dan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, IC mikrokontroler juga mengalami perkembangan dengan munculnya generasi AVR ATMEGA 8535, keunggulan dari AVR ATMEGA 8535 memiliki ADC dan EEPROM internal dan memiliki kapasitas yang lebih besar. Sehingga alat pengukuran daya 1 fasa yang menggunakan AT89S51 dapat diganti dengan ATMEGA 8535 dan perancangan rangkaian alat ukur daya 1 fasa menjadi lebih sederhana. Keunggulan pengukur daya satu fasa ini memiliki tingkat ketelitian yang lebih akurat. Alat ini dapat melengkapi alat ukur daya yang sudah ada serta dapat melakukan pembacaan daya sesaat pada perangkat elektronika rumah tangga.

Hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan hasil belajar siswa SD kelas III se-Gugus I Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek / Risky Priliani Puspitasari

 

ABSTRAK Puspitasari, Risky Priliani. 2016. Hubungan Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Hasil Belajar Siswa SD kelas III Se-Gugus I Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd, Pembimbing (2) Drs. Suhartono, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Tingkat Pendidikan, Orang Tua, Hasil Belajar Siswa. Pendidikan memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas suatu bangsa. Keterpaduan pendidikan baik di keluarga, sekolah dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan dalam dunia pendidikan. Tingkat pendidikan terakhir orang tua yang berbeda-beda dari SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, cenderung sangat mempengaruhi hasil belajar anak. Oleh karena itu, orang tua harus selalu belajar untuk mempertinggi pengetahuannya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif korelasional. Dilihat dari segi cara memperoleh data, penelitian ini juga termasuk penelitian ex-post facto. Data penelitian berupa tingkat pendidikan orang tua dan hasil belajar siswa SD kelas III. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi data tingkat pendidikan orang tua dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari nilai raport siswa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik dan analisis statistik korelasional. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan terhadap hasil penelitian yang diperoleh melalui dokumentasi, dapat disimpulkan sebagai tingkat pendidikan orang tua dengan hasil belajar siswa kelas III SD menunjukkan ada hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan hasil belajar siswa SD dengan tingkat Sig. sebesar 0,009. Jika dibandingkan dengan α=0,05, nilai sig. lebih kecil daripada α (Sig. ≤ α), yaitu 0,009 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut (Ha) diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Pada tingkat pendidikan ayah diketahui menunjukkan hubungan antar kedua variabel rendah, sedangkan pada tingkat pendidikan ibu diketahui bahwa , menunjukkan hubungan antar kedua variabel cukup kuat. Dapat disimpulkan bahwa hubungan tingkat pendidikan ibu lebih besar dampaknya dengan hasil belajar siswa SD. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, akan cenderung semakin tinggi kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Manfaat dari penelitian ini yaitu: (a) orang tua diharapkan lebih memperhatikan anaknya dalam belajar dengan memberikan nasihat serta memberikan motivasi; (b) guru diharapkan untuk lebih memperhatikan hasil belajar siswa dengan memantau dan mengarahkan siswa untuk giat belajar; (c) peneliti lain diharapkan untuk lebih memperhatikan dalam menggunakan teknik random sampling yang memberikan hasil yang berbeda, karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.

Pengembangan bahan ajar kimia rintisan SMA bertaraf internasional kelas XI pada materi laju reaksi / Inova Putri Carera

 

Kata Kunci: bahan ajar, Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMA-BI), laju reaksi. Perbandingan konten materi laju reaksi KTSP dan A-Level menunjukkan bahwa materi laju reaksi pada KTSP lebih rendah daripada materi pada A-Level oleh karena itu cakupan materi laju reaksi pada pembelajaran kimia RSMA-BI perlu diperluasdan diperdalam seperti pada A-Level. Adanya perluasan dan pendalaman ini menuntut guru agar lebih kreatif dalam menyusun perangkat pembelajaran khususnya bahan ajar dari berbagai sumber sehingga mampu memenuhi kompetensi yang diharapkan pada kurikulum RSMA-BI. Hasil analisis konsep terhadap empat buku teks yang banyak dipakai di Kota Malang diketahui bahwa terdapat perbedaan keluasan dan kedalaman materi kimia laju reaksi pada buku teks yang dipakai di RSMA-BI. Meskipun demikian, buku A-Level Chemistry For Senior High School Students Volume 2A, penulis Effendy, terbitan Bayumedia (2007)merupakan buku yang layak untuk dipakai dalampembelajaran materi laju reaksi di RSMA-BI meskipun terdapat beberapa kekurangan yang berhubungan dengan keterlibatan IT untuk proses pembelajaran. Untuk itu perlu dikembangkan bahan ajar kimia RSMA-BI kelas XI pada materi Laju Reaksi untuk dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam mengajar di RSMA-BI. Tujuan dari penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar kimia RSMA-BI pada materi Laju Reaksi dan terujinya kelayakan bahan ajar yang telah dikembangkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Model pengembangan bahan ajar yang diacu adalah Model 4D dari Thiagarajan, dkk (1974), yang meliputi empat tahap utama yaitu define, design, develop, dan disseminate. Karena keterbatasan waktu dan pendukung lain, model yang digunakan terbatas pada tahap define, design dan develop. Validasi isi dilakukan dengan memberikan angket penilaian semi terbuka terhadap bahan ajar yang dikembangkan kepada validator yaitu satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia RSMA-BI. Angket penilaian ini mengadaptasi butir instrumen penilaian buku teks yang dikeluarkan oleh BSNP. Jenis data yang diperoleh dari hasil validasi pengembangan bahan ajar ada dua, yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata hasil validasi ahli untuk mengetahui besarnya kelayakan/kevalidan bahan ajar tersebut dan data kualitatif berupa tanggapan/saran dari validator.Setelah dilakukan validasi isi bahan ajar kemudian dilakukan uji terbatas kepada 20 siswa RSMA-BI. Revisi paket hasil pengembangan dilakukan setelah diperoleh data validasi. Keefektifan bahan ajar dilakukan atas skor tes prestasi belajar dengan menggunakan bahan ajar tersebut. Untuk mengetahui keefektifan dilakukan uji kelompok kecil dengan menggunakan tes pilihan ganda dan uraian. Hasil uji coba soal pilihan ganda diperoleh 27 soal valid dengan validitas dan realibilitas sebesar 0,72 dan 0,58. Sementara, hasil uji coba soal uraian diperoleh 5 soal valid dengan validitas dan realibilitas sebesar 0,70 dan 0,49. Produk dari pengembangan adalah bahan ajar kimia Rintisan SMA Bertaraf Internasional kelas XI pada materi laju reaksi. Bahan ajar laju reaksi yang dihasilkan ditulis dengan pendekatan kontekstual dan menggunakan bahasa Inggris yang secara keseluruhan terdiri dari 54 halaman. Bahan ajar terdiri atas empat bagian utama yaitu pendahuluan, materi, evaluasi dan penutup. Materi tersusun atas tujuh sub materi yaitu ii Reaction Rate Concept, The Rate’s Expressions, Rate Law and Reaction Order, Experimental Determination of a Rate Law, Reaction Mechanism, Theories of Reaction Rate, Factors Affecting Reaction Rate. Hasil validasi bahan ajar yang meliputi validasi isi diperoleh nilai rata-rata 3,56 dari rentang skor 1-4 dengan kriteria valid/baik/layak. Hasil uji terbatas terhadap bahan ajar yang dihasilkan, diperoleh nilai rata-rata 3,35 dari rentang skor 1-4 dengan kriteria valid/baik/layak. Hasil uji keefektifan bahan ajar diperoleh skor sebesar 77,8. Skor ini diatas SKM (Skor Kelulusan Minimal) yaitu 75. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar kimia RSMA-BI kelas XI pada materi laju reaksi sudah layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas.

Efektivitas pembelajaran kooperatif model stad terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari motivasi berprstasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang / Budi Nurani

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Wartono, M.Pd (2) Drs. Yudyanto, M.Si Kata Kunci: Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model STAD, Motivasi Berprestasi, Prestasi Belajar. Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa berinteraksi secara kooperatif, sehingga siswa bisa menjadi sumber belajar bagi sesamanya. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar. Salah satu metode pembelajaran kooperatif adalah model STAD. Pembelajaran kooperatif model STAD yang didukung dengan motivasi berprestasi diyakini mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan pembelajaran konvensional? (2) Bagaimanakah efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan prestasi belajar untuk siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi? (3) Bagaimanakah efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan prestasi belajar untuk siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah? Untuk menjawab permasalahan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan quasi experiment dengan desain faktorial 2 x 2. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Dari keseluruhan siswa yang terbagi menjadi 8 kelas paralel, 4 kelas diambil sebagai sampel. Dari 4 kelas sampel tersebut, 2 kelas digunakan sebagai kelas eksperimen yang belajar dengan pembelajaran kooperatif model STAD, dan 2 kelas sebagai kelas kontrol yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran kooperatif model STAD dan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional, dengan Fhitung (4,780) > Ftabel (3,94), tetapi pembelajaran kooperatif model STAD tidak lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa (Qhitung (3,092) < Qtabel (3,90)), (2) Pembelajaran kooperatif model STAD lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi (Qhitung (4,789) > Qtabel (3,79)), (3) Pembelajaran kooperatif model STAD tidak lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah (Qhitung (0,416) > Qtabel (3,79)). Berdasarkan temuan-temuan tersebut, disarankan sebagai berikut: (1) sekolah sebagai salah satu pemangku kebijakan harus mendukung pelaksanaan pembelajaran kooperatif, (2) guru menggunakan pembelajaran kooperatif di kelasnya, (3) guru fisika perlu penelitian dengan menggunakan pendekatan kooperatif selain model STAD, dan (4) instrumen motivasi menggunakan observasi atau wawancara.

Pengaruh perbedaan resistansi koil dan putaran mesin terhadap daya motor pada sepeda motor Honda Supra X 125 CC / oleh Adimas Wahyu Wirawan

 

Pemetaan perubahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kontribusinya sebagai kawasan resapan air hujan untuk imbuhan air tanah di Kota Malang / oleh Ayu Hana Proboyanti

 

Ruang terbuka hijau di kota Malang yang berfungsi sebagai kawasan resapan air hujan perlu dipertahankan luasannya karena akan berperan terhadap pengurangan banjir atau genangan tidak wajar pada musim penghujan dan mempunyai potensi untuk imbuhan air tanah pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan ruang terbuka hijau di kota Malang dari tahun 1995 sampai 2005, mengetahui kapasitas infiltrasi dan agihan kapasita infiltrasi serta kontribusi ruang terbuka hijau tersebut untuk imbuhan air tanah di kota Malang. Jenis penelitian ini adalah survey dengan pengukuran langsung dalam hal ini kapasitas resapan air hujan (infiltrasi) ruang terbuka hijau di kota Malang. Metode pengambilan sampel pengukuran kapasitas resapan air hujan (infiltrasi) menggunakan metode purposive sampling yaitu perubahan ruang terbuka hijau di kota Malang. Untuk mengetahui alih fungsi atau perubahan ruang terbuka hijau dan eksisting ruang terbuka hijau digunakan metode overlay peta (tumpang susun) kemudian analisis data untuk mengetahui nilai kapasitas resapan air hujan (infiltrasi) dihitung dengan menggunakan metode Horton yang kemudian dipresentasikan agihannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan penyusutan ruang terbuka hijau kota Malang tahun 1995 sampai 2005 sebesar 4,6% dari total luas ruang terbuka hijau kota Malang tahun 1995. Kapasitas infiltrasi kota Malang bervariasi, kapasitas infiltrasi tertinggi di Hutan Arjosari Blimbing sebesar 1797,81 cm/hari, sedangkan kapasitas infiltrasi terendah pada Taman Serayu yaitu sebesar 30,64 cm/hari. Tingkat infiltrasi kota Malang termasuk kelas sangat tinggi atau >53 mm/jam, hal ini menunjukkan bahwa kota Malang merupakan daerah resapan air yang sangat baik. Total kontribusi ruang terbuka hijau dengan luas keseluruhan 49277,5 m2 memberikan supplay air tanah sebesar 13594,536 m3/jam. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan ruang terbuka hijau yang ada di kota Malang untuk tetap dipertahankan bahkan menambah tanaman karena ruang terbuka hijau akan berperan terhadap pengurangan banjir atau genangan tidak wajar pada musim penghujan dan mempunyai potensi untuk imbuhan air tanah pada musim kemarau. Penelitian lebih lanjut mengenai ruang terbuka hijau kota Malang yang berfungsi sebagai kawasan resapan air hujan, disarankan menggunakan metode dengan tidak menggenangkan air, metode plot misalnya dan mengambil lokasi pengukuran infiltrasi di ruang terbuka hijau yang sudah ditetapkan oleh dinas pertamanan sebagai daerah resapan air.

Uji aktivitas karagenan fraksi tidak larut dalam KCL 2,5% dari Eucheuma cottonii sebagai zat antikoagulan / oleh Sukarti

 

Studi kasus batik tulis gedog produksi industri batik "warna jaya" di desa margorejo kecamatan kerek kabupaten tuban / Ahmad Abdurrohman Wahid SR

 

Wahid, Ahmad Abdurrohman. 2012. Studi Kasus Batik Tulis Gedog Produksi Industri Warna Jaya di Desa Margorejo Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mistaram, M.Pd, Ph.D. (II) Ike Ratnawati, S.Pd, M. Pd. Kata Kunci: Batik Gedog, Motif Batik Tulis, Warna Batik, Tuban Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki ragam kebudayaan, salah satu produk seni khas Indonesia adalah batik tulis. Batik merupakan warisan budaya dari nenek moyang Bangsa Indonesia. Batik tulis Gedog sekarang ini perkembangannya sudah semakin pesat tentunya didaerah kotaTuban sendiri, pelestarian batik tulis Gedog ini sendiri menjadi kebanggaan bagi masyarakat kotaTuban khususnya di Desa Margorejo Kecamatan Kerek dikarenakan membatik sudah menjadi bagian dari pekerjaan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif, berupa paparan data mengenai macam-macam motif batik tulis Gedog, warna yang digunakan dan proses pembuatan batik tulis. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis mengalir (Flow Model Analisis). Terkait dengan visualisasi motif batik tulis Gedog di industri “Warna Jaya” ditemukan beberapa jenis motif lama dan motif baru, antara lain adalah motif flora, fauna, benda alam dan manusia. Pembuatan motif baru bersumber pada lingkungan sekitar, wawasan luas dalam segala bidang, dan kreatifitas perajin. Hampir secara keseluruhan motif-motif di industri batik tulis Gedog ”Warna Jaya” adalah non geometris.     Warna pada batik tulis Gedog identik dengan warna biru yang berasal dari pewarna alam Indigofera Guatematensis. Batik tulis Gedog memiliki warna dasar yang diperuntunkan oleh kalangan tertentu dengan makna tertentu, yaitu Bangrod, Pipitan, Putihan, Irengan.Tetapi terkadang warna bisa berubah tergantung pesanan konsumen.     Proses pembuatan batik tulis Gedog, perajin menggunakan bahan kain yaitu kain Gedog dan kain mori, malam batik, pewarna naptol dan remasol ada juga bahan pewarna alam. Proses pembuatannya dikerjakan melalui tahapan yang cukup panjang dan memerlukan bantuan seseorang untuk lebih cepat dalam proses pembuatannya. Saran untuk penelitian ini supaya industri Warna Jaya lebih mengembangkan lagi dalam segi penciptaan motif-motif baru, dan lebih mengekplorasikan lagi dalam hal pewarnaan, sehingga tidak kalah dengan industri-industri lain yang berkembang saat ini.

Pengembangan tes prestasi berdasarkan kompetensi berjenang dengan penyediaan kesempatan (tes remedi) pada perkuliahan fisika matematika I pokok bahasan analisis vektor untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universit

 

Pengaruh pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi keuangan dan kecerdasan emosional terhadap sikap etis mahasiswa / Mohammad Ghofirin

 

Pembelajaran fisika melalui pendekatan kontekstual model siklus belajar dan damnpaknya terhadap minat dan prestasi belajar siswa kelas II-4 SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2004/2005 / oleh Nirsam

 

Perbandingan laju erosi yang terjadi di lahan hutan dan lahan pertanian sayur di desa Sarangan Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan / oleh Riske Misdaningsih

 

Pembelajaran reportase berita di kelas IX SMP Negeri 3 Malang tahun ajaran 2012-2013 / Laila Ayuningtyas

 

Pngaruh reputasi underwriter, reputasi auditor, Return On Asset (ROA), dan financial leverage terhadap tingkat underpricing pada penawaran saham perdana (di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2008-2010) / Faridatul Munawaroh

 

Kata kunci: Reputasi Underwriter, Reputasi Auditor, Return On Asset, Dan Financial Leverage Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh reputasi underwriter, reputasi auditor, return on asset dan financial leverage terhadap tingkat underpricing pada penawaran saham perdana (di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2010). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif kausalitas. Populasi yang digunakan adalah perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2008-2010 yang mengalami underpricing. Dari 44 perusahaan diambil sampel sebanyak 39 perusahaan berdasarkan teknik pusposive sampling. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis secara parsial diketahui bahwa variabel reputasi underwriter berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat underpricing. Tetapi variabel reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing. Sedangkan variabel return on asset berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat underpricing. Serta variabel financial leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing. Sedangkan hasil analisis secara simultan diketahui variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, return on asset, dan financial leverage berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing pada saat penawaran saham perdana/IPO. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) Bagi perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana sebaiknya mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing agar mampu mengurangi kerugian akibat tingginya tingkat underpricing yang terjadi pada saat IPO. (2) Bagi investor sebaiknya sebelum menginvestasikan modalnya di pasar perdana membuat acuan/bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi untuk mendapatkan return yang maksimal. (3) Bagi penelitian selanjutnya diharapkan mampu meneliti variabel-variabel lain yang mempengaruhi tingkat underpricing pada saat IPO, seperti jenis industri, umur perusahaan, serta dengan rentang waktu penelitian yang lebih panjang.  

Pengaruh persepsi gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap partisipasi penyusunan anggaran di Kabupaten Pasuruan / Nindia Maharani

 

ABSTRAK Maharani, Nindia. Ma2016. Pengaruh Persepsi Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Partisipasi Penyusunan Anggaran di Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sri Pujiningsih, S.E., M.Si., Ak, (II) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si., Ak. CA. Kata Kunci : Persepsi Gaya Kepemimpinan, Budaya Organisasi dan Partisipasi Penyusunan Anggaran. Wacana tentang good governance (pemerintahan yang baik) saat ini sangat marak dibicarakan. Masyarakat menuntut agar sistem pengelolaan daerah dan pengelolaan keuangan dapat dijalankan secara transparan dan tanggungjawab. Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, pemerintah pun terdorong untuk mengembangkan dan menerapkan sistem pertanggungjawaban yang jelas, tepat waktu, teratur dan efektif. Mengelola anggaran secara ekonomis, efisien dan efektif dilakukan dengan cara membagi waktu secara proporsional untuk satuan kerja atas dan bawahan. Agar anggaran itu tepat waktu dan tepat sasaran maka diperlukan kerjasama yang baik antara bawahan dan atasan dalam penyusunan anggaran. Namun dalam kenyataannya penyusunan anggaran mengalami keterlambatan. Pemerintah daerah sering kali tidak bisa tepat waktu dalam menyusun anggaran. Penelitian ini diakukan di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Pasuruan. Data yang digunakan diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Model analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Pengujian kualitas data yang digunakan adalah uji validitas data dan reliabilitas data. Pengujian hipotesis yang digunakan adalah uji signifikan partisial (uji-t). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi gaya kepemimpinan yang berorientasi hubungan mampu mempengaruhi partisipasi PPTK dalam penyusunan anggaran karena gaya kepemimpinan ini bersifat memotivasi, saling percaya, saling menghormati dan bersahabat. Selain itu budaya oraganisasi yang tinggi juga mampu mempengaruhi partisipasi PPTK dalam penyusunan anggaran karena budaya organisasi bisa memengaruhi cara kerja dan berperilaku para anggota organisasi dalam berpartisipasi penyusunan anggaran. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa persepsi gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap partisipasi penyusnan anggaran dan budaya organisasi berpengaruh terhadap partisipasi penyusunan anggaran. Dari penelitian ini penulis memberikan saran yaitu sebaiknya melakukan penelitan kualitatif dengan wawacara dan pengamatan langsung kepada responden dan penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas variabel-variabel lain.

Penerapan pembelajaran kooperatif konstruktivistik untuk meningkatkan sikap dan prestasi belajar siswa kelas II-A SMP Negeri 1 Purwosari / oleh Nurul Adnan

 

Pengaruh natrium chlorida (NaCl) terhadap tingkat penetasan (Hatching rate) telur dan tingkat kelulushidupan (Survival rate) larva ikan mas (Cyprinus carpio L.) ras Punten / oleh Lislyatit Purnamasari

 

Penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan trigonometri
oleh Restuti Yulistyorini

 

Penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan trigonometri merupakan salah satu pokok bahasan dalam pelajaran matematika SMU Kelas III yang terkait dengan materi trigonometri sebelumnya. Penulisan ini bertujuan untuk membahas tentang penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan trigonometri, dan diharapkan dapat menambah pemahaman tentang pnyelesaian persamaan dan pertidaksamaan trigonometri bagi penulis sebagai bekal untuk terjun dalam dunia pendidikan nantinya dan menambah wawasan bagi mahasiswa lainnya.

Identifikasi keragaman bentuk dan kerapatan kristal kalsium oksalat pada buah subtropis impor di Malang / oleh Yeni Sugiati

 

Pengaruh perasan bawang putih (Allium sativum L.) terhadap mortalitas cacing hati (Fasciola gigantica L.) secara in vitro / oleh Adi Sukamto

 

Mengembangkan Motif candi badut dalam penciptaan karya lukis gaya pribadi / Indra Lukmana

 

Kata Kunci: Mengembangkan, Motif Candi Badut, Penciptaan Lukisan, Gaya Pribadi. Lukisan merupakan media fisik wujud dari rangkuman ide gagasan yang dibulatkan menjadi konsep penciptanya. Merupakan tebaran pigmen atau warna cair pada permukaan bidang datar (kanvas, papan kayu, hardboard, kertas) untuk menghasilkan sensasi atau ilusi keruangan, gerak, tekstur, bentuk sama baiknya dengan tekanan yang dihasilkan kombinasi unsur-unsur tersebut. Mengembangkan yang dimaksud disini adalah mengolah motif Candi Badut menjadi objek lukisan. Motif Candi Badut merupakan bahan mentah yang dikembangkan menjadi salah satu objek dalam penciptaan karya lukis. pengembangan motif ini dilakukan sesuai dengan keinginan dan kesesuaian ide pencipta. Motif yang dikembangkan antara lain motif karamakala, motif kalanaga, dan motif manusia. Gaya pribadi merupakan karakteristik karya yang diciptakan oleh pencipta dan memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakan karya pencipta dengan karya orang lain, baik dari segi teknik penciptaan maupun non teknik. Yang termasuk dalam teknik penciptaan gaya pribadi antara lain teknik lelehan, teknik cipratan, penggunaan warna gelap, detail karya. Yang mencakup non teknis antara lain, konsep karya, penggunaan objek ikan arwana/koi yang menjadi ciri khas pencipta, latar belakang kehidupan pencipta, dan lingkungan hidup pencipta. Hasil dari pengembangan motif Candi Badut ini adalah visualisasi objek (motif Candi) dengan kombinasi gaya pribadi pencipta. Dalam penciptaan karya lukis ini menampilkan 7 karya lukis dengan media estetik berupa garis, warna, tekstur, bentuk dan ruang sebagai simbolisasi dari konsep, media fisik berupa kanvas, triplek, dan hardboard, cat acrylic, pigmen warna serta alat yang variatif. Menggunakan tiga teknik yaitu teknik leleh, cipratan, dan detail garis untuk cahaya, gelap terang, dan penegasan bentuk. Proses penciptaan ini diawali dengan pencarian ide gagasan, menentukan konsep, perancangan awal berupa sketsa, proses berkarya dengan teknik dan gaya pribadi pencipta, finishing karya dan pameran. Berdasarkan hasil penciptaan diharapkan dapat memberikan pengalaman baik berupa wujud, proses maupun kreatifitas melalui pemikiran pencipta dalam berkarya seni dan dapat memberikan stimulus pada pengamat.

Pembelajaran di luar kelas dengan strategi relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring pada mata pelajaran sains pokok materi "Pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan" untuk meningkatkan motivasi dan

 

Pengembangan inventori kematangan bagi siswa SMA negeri di kota Malang / Setyorini

 

Kata Kunci: Pengembangan, Inventori, Kematangan Karir Pengukuran kematangan karir merupakan langkah awal bagi konselor untuk menentukan jenis layanan atau bantuan yang akan diberikan kepada siswa . Data yang diperoleh melalui alat pengukuran kematangan karir sebaiknya juga di uji apakah data itu memang layak dijadikan dasar untuk memahami diri siswa. Lebih tepat bila dikatakan alat pengukur kematangan karir yang sudah melewati proses validasi instrumen khususnya validitas dan reliabilitas akan menghasilkan data yang lebih akurat. Selama ini belum pernah dikembangkan inventori kematangan karir yang dapat digunakan konselor sebagai alat pengukuran kematangan karir bagi siswa sekolah menengah. Inventori kematangan karir merupakan instrumen yang bermanfaat bagi siswa untuk mengetahui kematangan karirnya sendiri, praktis, dan mudah digunakan. Masalah penelitian ini berfokus pada perlunya pengembangan inventori kematangan karir yang memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai dan dapat digunakan konselor untuk mengukur kematangan karir siswa secara praktis dan sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inventori kematangan karir khususnya kematangan karir bagi siswa Sekolah Menengah Atas yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang memadai , serta menetapkan norma yang dapat dipergunakan sebagai pedoman. Inventori dikembangkan berdasarkan konstruk kematangan karir Super (1981) yang terdiri dari 4 aspek yaitu perencanaan karir (career planning), eksplorasi karir (career exploration), pembuatan keputusan (decision making), informasi dunia kerja (world of work information). Dalam penelitian ini digunakan rancangan penelitian dan pengembangan atau R&D (Research dan Development), untuk mengembangkan dan memvalidasi alat ukur psikologis sebagai salah satu produk penelitian. Model pengembangan ini terdiri dari atas siklus pengembangan yang lebih terurai dan sistematis. Sampel penelitian sebanyak 620 siswa SMA Negeri di Kota malang. Pemilihan sampel menggunakan teknik cluster random sampling Inventori kematangan karir dikembangkan mula-mula 160 item, dianalisis dengan analisis faktor eksploratori dihasilkan 54 item yang dinyatakan valid dengan loading factor ≥0,5 yaitu berkisar 0,565 sampai dengan 0,911 dan besar Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO-MSA) 0,729 pada signifikansi 0,00. Uji reliabilitas dengan menggunakan Cronbach Alpha memiliki tingkat reliabilitas α= 0,951. Hal ini berarti bahwa inventori kematangan karir hasil pengembangan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi. . Dari hasil penelitian ini disusun norma yang mengacu pada percentile. Norma ini merupakan norma lokal yang hanya dapat digunakan bagi Sekolah Menengah Atas Negeri dikota Malang. Jika akan digunakan pada siswa di luar populasi norma, maka harus diadaptasi lagi sesuai dengan karakteristik sekolah tersebut. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini disarankan (1) Inventori ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui kematangan karir siswa dengan di dukung alat pengumpulan data lain seperti observasi, wawancara mendalam dan lain sebagainya.(2) Pengukuran kematangan karir merupakan langkah awal bagi konselor sebelum menentukan layanan bantuan yang diberikan kepada siswa. Pemanfaatan hasil inventori kematangan karir ini sangat berguna bagi konselor untuk memahami pribadi siswa, melakukan diagnosa dan merencanakan kegiatan dan layanan.(3) Bagi peneliti yang berminat untuk mengembangkan inventori kematangan karir ini lebih lanjut, dapat mengembangkan inventori kematangan karir untuk siswa tingkat SLTP atau tingkat SD maupun untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi. (4) Pengujian validitas untuk penelitian berikutnya dapat digunakan pendekatan analisis faktor confirmatory yang menguji hipotesis, apakah konstruk kematangan karir yang dikembangkan berkorelasi tinggi dengan alat ukur lain yang dinyatakan valid. (5) Penetapan norma yang akan diterapkan /digunakan oleh daerah lain perlu menggunakan norma tersendiri sesuai populasi daerah dengan jumlah populasi yang lebih baik.

Analisis pengaruh current ratio, DPR, ROE, dan financial leverage terhadap price earning ratio pada perusahaan [property dan real estate yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010) / Moh. Tohari

 

Kata Kunci: Current Ratio, Dividend Payout Ratio, Return On Equity, Financial Leverage dan Price Earning Ratio Latar belakang penelitian ini dimulai dari kondisi saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia pada saat krisis global. Dimana sebagian besar trend saham perusahaan menunjukkan penurunan, namun hal tersebut tidak terjadi pada saham perusahaan di sektor Property dan Realestate yang menunjukkan trend positif. Melihat lebih jauh tentang penilaian saham pada perusahaan Property dan Real Estate pada rentang krisis global diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna bagi kalayak umum. Dengan menggunakan analisis fundamental melalui pendekatan Price Earning Ratio (PER) penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Current Ratio, Devidend Payout Ratio, Return On Equity dan Financial Leverage terhadap Price Earning Ratio pada Perusahaan Property dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Sampel dalam penelitian ini adalah 10 perusahaan Property dan Real Estate. Periode pengamatan penelitian ini selama 5 tahun, yaitu tahun 2006 sampai tahun 2010. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda serta membandingkan antara PER calculated dengan PER actual untuk mengetahui kondisi harga saham perusahaan. Secara simultan diketahui bahwa variabel Current Ratio (X1), Dividend Payout Ratio (X2), Return On Equity (X3) dan Financial Leverage (X4) memiliki pengaruh signifikan terhadap PER secara simultan. Dengan melihat perbandingan signifikansi F-value dan α, diperoleh hasil signifikansi F-value sebesar 0,000 yang berarti adanya pengaruh keempat variabel bebas terhadap PER secara simultan. Hasil penelitian menunjukkan secara parsial variabel Dividend Payout Ratio, dan Financial Leverage memiliki pengaruh signifikan positif terhadap PER dengan masing-masing nilai signifikansi t sebesar 0,011, dan 0,017 dan Return On Equity yang memiliki pengaruh signifikan negatif dengan nilai signifikansi t sebesar 0,008. Sedangkan variabel Current Ratio menunjukkan adanya pengaruh yang tidak signifikan, dengan nilai signifikansi t sebesar 0,105. Koefisien determinasi (adjusted R2) dalam model regresi yang dibangun adalah 95.8%. Ini menunjukkan variabel bebas dalam model regresi mampu menjelaskan keragaman variabel respon sebesar 95.8%, sedangkan 4,2% sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model regresi. Pegujian nilai PER dalam saham Perusahaan sampel Property dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010 berada pada posisi tidak wajar (Undervalue sebesar 60% dan Overvalue sebesar 40%).

Karakteristik masyarakat penambang batu di kecamatan Sampang Kabupaten sampang Madura / oleh Liana Retnowati

 

Pembelajaran teorema phytagoras dengan pendekatan inquiry untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada kelas VIII SMP semester 1 / Nina Ocktaiana

 

Kata Kunci: Pendekatan Inkuiri, Aktivitas, dan Hasil belajar Penelitian ini didasari rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep matematika khususnya pada materi Teorema Phytagoras. Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran masih terpusat pada guru, sehingga hasil belajar siswa belum memenuhi ketuntasan belajar di sekolah yaitu siswa yang memperoleh nilai 65 masih kurang dari 80%. Adapun data tentang ketuntasan hasil belajar siswa materi Teorema Phytagoras untuk tahun 2007/2008 adalah 74% dan tahun 2008/2009 adalah 66%. Berdasarkan temuan permasalahan tersebut direncanakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan inkuiri. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran Teorema Phytagoras; (2) untuk meningkatkan aktivitas siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1; (3) untuk meningkatkan hasil belajar siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1 sehingga dapat mencapai nilai dengan ketuntasan 80%. Penelitian ini mencoba untuk mengatasi permasalahan berikut: (1) bagaimana penerapan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran Teorema Phytagoras pada siswa kelas VIII semester 1? (2) bagaimana meningkatkan aktivitas siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1? (3) bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana tiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Jabung Satu Atap tahun ajaran 2009/2010, yang terdiri dari 33 siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: (1) penerapan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri dilakukan 6 tahap kegiatan yaitu orientasi, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesi, dan membuat kesimpulan; (2) penerapan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa; (3) respon siswa pada pembelajaran dengan pendekatan inkuiri materi Teorema Phytagoras sangat positif.

Efektifitas metode pembelajaran berprograma pada pokok bahasan gerak terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas I MTs Nurul Ulum Malang / oleh Sri Herliana

 

Berdasarkan pengamatan dari rata-rata nilai fisika pada siswa kelas 1 Mts Nurul Ulum Malang, ditunjukkan bahwa nilai fisika lebih rendah dari bidang studi lainnya. Untuk itulah upaya meningkatkan nilai fisika dipengaruhi oleh metode pembelajarannya. Dalam penelitian ini ingin diketahui bagaimana efektifitas metode pembelajaran berprogram dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengaruh pH, suhu dan waktu inkubasi terhadap tingkat hidrolisis sukrosa dengan katalis enzim invertase pada pembuatan sirup invert / oleh Muchammad Agus Wirajati

 

Pengaruh penguasaan mata diklat produktif dan minat siswa terhadap keberhasilan praktek kerja industri pada siswa pemesinan SMK Negeri Widang Tuban / Depit Krisbianto

 

Kata Kunci: Penguasaan Mata Diklat Produktif, Minat Siswa, Keberhasilan Praktik Kerja Industri. Praktik kerja industri merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang dilakukan oleh sekolah-sekolah kejuruan. Keberhasilan praktik kerja industri dalam DU/DI yang dibuktikan dengan meningkatnya prestasi praktik kerja industri siswa yang tercermin pada nilai sertifikat yang baik. Keberhasilan tersebut diperoleh dengan perpaduan dari faktor afektif, kognitif dan psikomotorik di setiap siswa. Faktor kognitif dalam penguasaan pengetahuan yang diperoleh siswa diimplikasikan kedalam faktor psikomotorik dalam praktik kerja industri dan didorong oleh minat atau keinginan atau kesadaran atau perasaan senang siswa dalam mengikuti praktik kerja industri sangat berpengaruh dalam keberhasilan praktik kerja industri dalam program PSG di SMK N Widang Tuban. Tujuan utama penelitian adalah Untuk mengetahui pengaruh minat siswa terhadap keberhasilan praktik kerja industri pada siswa kelas XII Program Keahlian Pemesinan di SMK Negeri Widang Tuban. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanasi. Penelitian ini dilakukan di SMKN Widang Tuban. Responden dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XII progam keahlian teknik pemesinan yang sudah melakukan praktik kerja industri berjumlah 36 anak. Teknik pengumpulan data data menggunakan angket dan dokumentasi, sedangkan analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik (uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas), regresi berganda, dan pengujian hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara penguasaan mata diklat produktif dan minat siswa terhadap keberhasilan praktik kerja industri. Hal ini berdasarkan analisis data persamaan regresi yaitu Y = 5,988 + 0,620 X1 + 0,403 X2, dengan uji simultan diperoleh Fhitung sebesar 29,793 dengan probabilitas 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu sebesar 0,05 (5%). Secara parsial dengan menggunakan uji t diperoleh thitung untuk variabel penguasaan mata diklat produktif (X1) sebesar 2,510 dengan probabilitas 0,017 < 0,05. Sedangkan thitung untuk variabel minat siswa (X2) sebesar 3,252 dengan probabilitas 0,003 < 0,05. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah siswa sebelum melakukan praktik industri diharapkan lebih mampu menguasai mata diklat produktif dengan menambah jam teorih dan memperbanyak praktik karena penguasaan mata diklat produktif berpengaruh sebersar 27,73% terdahap keberhasilan praktik kerja industri. Dalam penjaringan siswa baru diharapkan melakukan tes bakat teknik dan minat terhadap teknik mesin dan memantau terus proses belajar pada mata diklat produktif, supaya mengetahui minat siswa terhadap teknik mesin dan meningkatkan minat tehradap praktik kerja industry juga, karena minat siswa berpengaruh sebesar 37,04% terdahap keberhasilan praktik kerja industri.

Proses kreatif menulis cerpen anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang / Siti Nur Zumrotun Niswah

 

ABSTRAK Niswah, Siti Nur Zumrotun. 2016. Proses Kreatif Menulis Cerpen Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Kusubakti Andajani, S.Pd, M.Pd., (II) Drs. Pidekso Adi, M.Pd. Kata Kunci: proses kreatif, menulis cerpen, dan UKM Penulis UM Keterampilan menulis menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai, terutama di dunia akademik. Agar menghasilkan tulisan bernilai tinggi, menulis tidak cukup jika hanya dilakukan sekali sehingga harus dilakukan secara terus menerus. Salah satu cara untuk melatih keterampilan menulis adalah bergabung dengan komunitas penulis. Di Universitas Negeri Malang terdapat komunitas penulis yang bernama Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP UM). Terdapat tiga bidang di UKMP, yaitu bidang ilmiah, jurnalistik, dan fiksi. Fiksi dibagi lagi ke dalam genre novel, puisi, dan cerpen. Cerpen-cerpen karya anggota UKMP sudah dimuat di media massa, menjuarai perlombaan, dan juga diterbitkan menjadi buku kumpulan cerpen. Karya yang dihasilkan tersebut tidak terlepas dari proses kreatif yang dialami oleh para anggota UKMP ketika menulis cerpen. Proses kreatif menulis cerpen adalah rangkaian kegiatan dalam menulis cerpen yang dimulai dari proses penemuan ide hingga penyuntingan cerpen yang berbeda antar penulis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kreatif yang dialami oleh anggota UKMP mulai dari proses kreatif sebelum menulis cerpen, proses kreatif ketika menulis cerpen, dan proses kreatif setelah menulis cerpen. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskritif karena data yang dihasilkan berupa deskripsi tentang proses kreatif menulis cerpen anggota UKMP. Data utama dalam penelitian ini berupa deskripsi tentang proses kreatif menulis cerpen anggota UKMP yang diperoleh melalui wawancara kepada anggota UKMP. Sedangkan data pendukung berupa deskripsi teks cerpen karya anggota UKMP yang diperoleh melalui telaah teks cerpen. Data tersebut selanjutnya dianalisis, dideskripsikan, dan diambil kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, proses kreatif sebelum menulis cerpen masing-masing anggota UKMP berbeda. Terdapat anggota UKMP yang menulis cerpen karena adanya dorongan dari diri sendiri dan karena mendapat pengaruh dari orang lain. Kegiatan menemukan ide cerpen dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya menonton film, berdiskusi, jalan-jalan, membaca buku, dan mendengarkan musik. Kedua, sebelum mulai menulis cerpen, terdapat anggota UKMP yang memilih untuk membuat kerangka cerpen terlebih dahulu dan terdapat pula anggota UKMP yang langsung menulis tanpa menyusun kerangka terlebih dahulu. Setiap anggota UKMP mempunyai cara tersendiri dalam mengawali cerita, yakni dengan dialog dan dengan narasi. Terdapat anggota UKMP yang menentukan judul sebelum menulis cerpen dan ada pula anggota UKMP yang menentukan judul setelah selesai menulis cerpen. Anggota UKMP ada yang menggunakan alur maju dan campuran. Latar tempat yang digunakan oleh anggota UKMP dapat berasal dari hasil imajinasi maupun dari pengalaman hidup penulis. Perbedaan-perbedaan tentang proses kreatif tersebut bergantung kepada kebiasaan dari para anggota UKMP. Ketiga, waktu yang dibutuhkan oleh anggota UKMP untuk menyelesaikan sebuah cerpen berbeda-beda, mulai dari beberapa jam hingga bertahun-tahun. Cepat atau lambatnya penyelesaian cerpen tersebut dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi, keinginan untuk menulis, dan kesibukan masing-masing anggota UKMP. Anggota UKMP yang telah menyelesaikan cerpen memilih untuk melakukan perbaikan atau penyuntingan teks cerpen untuk meminimalisasi kesalahan dalam tulisan. Bagian-bagian yang disunting misalnya logika cerita, kesalahan ketik, susunan kalimat, serta alur cerita. Semua anggota UKMP kemudian melakukan perenungan setelah selesai menulis cerpen. Perenungan dilakukan untuk menilai apakah cerpen yang selesai ditulis layak dipublikasikan atau tidak. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan ketika akan menulis cerpen. Guru dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan referensi ketika akan mengajarkan materi tentang proses kreatif menulis cerpen. Hasil penelitian ini juga dapat memberi masukan untuk pengembangan ilmu tentnag proses kreatif menulis cerpen bagi semua kalangan.

Identifikasi pendapat guru tentang faktor-faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran biologi berdasarkan kurikulum 2004 yang dihadapi guru biologi di SMAN Kabupaten Pamekasan dan upaya-upaya untuk mengatasinya / oleh Sumrani

 

Hubungan kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman oleh guru di sekolah / Asri Rahayu

 

Kata kunci: kematangan emosi, hukuman di sekolah Kematangan emosi merupakan kemampuan yang dimiliki untuk mengontrol emosi sehingga individu dapat bertingkah sesuai dengan situasi di lingkungan dan mampu mengendalikan emosi ketika berada dalam situasi sosial tertentu. Perilaku pemberian hukuman di sekolah merupakan tindakan guru dalam menghadapi pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, tindakan untuk menghukum siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman di sekolah. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Subyek penelitian ini adalah guru yang mengajar di SMP Negeri di Kecamatan Wates Kediri sebanyak 80 guru. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala kematangan emosi dan skala perilaku pemberian hukuman. Skala kematangan emosi terdiri dari 33 aitem dengan reliabilitas 0,908 dan skala perilaku pemberian hukuman terdiri dari 36 aitem dengan reliabilitas 0,897. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan emosi guru SMP Negeri di Kecamatan Wates sebagian besar dalam kategori cukup matang dengan persentase sebesar 46,25% dan perilaku pemberian hukuman oleh guru SMP Negeri di Kecamatan Wates sebagian besar dalam kategori cukup efektif dengan persentase sebesar 53,75%. Uji hipotesis menyimpulkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman di sekolah pada guru SMP Negeri di Kecamatan Wates (rxy=0,226; p=0,044< 0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman oleh guru di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan: (1) Guru diharapkan dapat mempertahankan serta meningkatkan kematangan emosi yang dimiliki, dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kematangan emosi guru, dan diharapkan menggunakan hukuman sebagai solusi terakhir, dalam memberikan hukuman guru diharapkan dapat memberikan hukuman yang efektif bagi para siswanya. (2) Sekolah diharapkan agar ikut berperan serta untuk mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kematangan emosi guru berupa pelatihan kematangan emosi dan dapat membuat kebijakan dan training tentang bagaimana cara memberi hukuman yang baik dan efektif. (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi untuk mengembangkan penelitian tentang kematangan emosi dan perilaku pemberian hukuman dan variabel lain yang berkaitan dengan kematangan emosi dan perilaku pemberian hukuman oleh guru di sekolah.

Peranan misionaris Ordo Karmel dalam penyebaran Agama Katolik di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang tahun 1934-1990 serta muatan edukasinya / Dionisius Widyatmoko

 

Kata kunci : peranan, misionaris, Ordo Karmel, penyebaran agama Katolik, muatan edukasi Penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh para misionaris Ordo Karmel di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang memiliki keunikan tersendiri. Agama Katolik di Donomulyo diwarnai dengan unsur-unsur tradisi dan budaya lokal, salah satunya adalah adanya kepercayaan bahwa air yang ada di Gua Maria Sendang Purwaningsih dapat membawa berkah dan keselamatan. Gua Maria Sendang Purwaningsih yang terdapat di Kecamatan Donomulyo tersebut merupakan salah satu tempat ziarah terbesar bagi umat Katolik. Latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang peranan misionaris Ordo Karmel dalam penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang tahun 1934-1990 serta muatan edukasinya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana latar belakang penyebaran agama Katolik oleh misionaris Ordo Karmel di Kecamatan Donomulyo?, 2) bagaimana proses penyebaran agama Katolik pada masyarakat di Kecamatan Donomulyo?, 3) bagaimana peranan misionaris Ordo Karmel dalam proses penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo?, 4) bagaimana muatan edukasi yang terkandung dalam proses penyebaran agama Katolik oleh misionaris Ordo Karmel bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan latar belakang penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh misionaris Ordo Karmel di Kecamatan Donomulyo, 2) mendeskripsikan proses penyebaran agama Katolik pada masyarakat di Kecamatan Donomulyo, 3) mendeskripsikan peranan misionaris Ordo Karmel dalam proses penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo, dan 4) mendeskripsikan muatan edukasi yang terkandung dalam proses penyebaran agama Katolik . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian ini berupa paparan data tentang latar belakang, proses dan peran para misionaris Ordo Karmel dalam menyebarkan agama Katolik di Kecamatan Donomulyo serta muatan edukasi yang terdapat dalam penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Metode penelitian terdiri dari 5 tahap yaitu 1) pemilihan topik 2) heuristik, 3) verifikasi, 4)interpretasi, 5) historiografi. Hasil penelitian ini adalah penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh para misionaris Ordo Karmel dilatarbelakangi oleh faktor geografis, kondisi sosial dan religius masyarakat Donomulyo serta ajaran agama yang mengharuskan mereka menyebarkan agama Katolik. Proses penyerbaran agama Katolik oleh para misionaris Ordo Karmel dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya dengan

Pengaruh latihan high interval dan moderat continuous terhadap limfosit tikus diabetes melitus induksi streptozotocin / Oggy Brian Putra Nanda Herlanggeng

 

ABSTRAK Herlanggeng, Oggy Brian Putra Nanda. 2016. Pengaruh Latihan High Interval dan Moderat Continuous Terhadap Limfosit Tikus Diabetes Melitus Induksi Streptozotocin. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) dr. Rias Gesang Kinanti, M.Kes. (II) Dr. Slamet Raharjo, S.Pd., M.Or. Kata Kunci:diabetes melitus, inflamasi, limfosit,sistem imun,streptozotocin,high interval, moderat continuous. Hiperglikemia dalam waktu yang lama menyebabkan stres hingga terbentuk inflamasi pada keadaan Diabetes Melitus (DM) hasil penginduksian streptozotocin (STZ) dosis 40mg/kg berat badan meningkatkan produksi limfosit. Peningkatan limfosit sebagai anti-inflamasi diperantarai oleh adanya respon imun. Penurunan limfosit dapat dilakukan menggunakan olahraga dengan pengaturan metode latihan, intensitas, dan durasi latihan untuk meningkatkan sistem imun saat mereduksi inflamasi. Ketika mereduksi inflamasi, beberapalimfosit akan mengalami necrosis (kematian sel) dan apoptosis (kematian sel terprogram) untuk meregenerasi sel, selanjutnya keadaan inflamasi dapat ditekan dan keadaan limfosit kembali normal.Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan high interval dan moderat continuous terhadap sel limfosit pada keadaan diabetes melitus menggunakan hewan uji tikus jantan strain wistaryang terbagi dalam 3 kelompok (n=8), yakni kontrol, latihan high interval dan moderat continuous.Perlakuan berupa latihan renang metode interval dan continuous. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratories dengan sistem Random Control Group Posttest-Only Design. Pada kelompok kontrol tanpa perlakuan, kelompok high interval (5-15% berat badan), dan kelompok moderat continuous (2-5% berat badan). Latihan dilakukan 3 kali seminggu selama 8 minggu, waktu latihan dilakukan pada malam hari. Pengukuran kadar limfosit menggunakan alat Cobas Micros atau Haematology Counter Cell Analyzer. Analisis data menggunakan uji One¬-Way Anova dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil analisis data menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara latihan high interval dan moderat continuousterhadap sel limfosit diabetes melitus dengan hasil 0,802(P > 0,05). Namun bila dilihat dari nilai rerata sel limfosit kelompok high interval 65,62%, kelompok moderat continuous 64,64% dan kelompok kontrol 68,06%, menunjukkan bahwa penurunan sel limfosit lebih banyak terjadi pada kelompok moderat continuousdan juga lebih rendah dari kelompok kontrol. Hal ini disebabkan karena tingkat stres pada intensitas latihan moderat lebih rendah dibandingkan kelompok high interval. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa latihan high interval dan moderat continuous mempunyai pengaruh terhadap penurunan sel limfosit pada tikus diabetes melitus, namun kecenderungan penurunan lebih banyak kelompok moderat continuous.Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat memperhatikan kondisi lingkungan hewan uji agar tidak mengalami stres berlebih yang dapat meningkatkan inflamasi dan juga meningkatkan kadar sel limfosit

Makna simbolik bentuk penyajian tari jathilan dalam kesenian reog / Danis Novita Pratiwi

 

Kata Kunci: Makna Simbolik Bentuk Penyajian Tari Jathilan Dalam Kesenian Reog Ponorogo. Berdasarkan himbauan dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Yayasan Reog Ponorogo. Tari Jathilan merupakan salah satu tarian yang wajib diberikan sebagai muatan lokal di wilayah Ponorogo. Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti dilapangan bahwa SMP Negeri 2 Bungkal merupakan sekolah yang banyak mengikuti festival-festival tari baik yang di dalam maupun di luar wilayah Kabupaten Ponorogo dan banyak mendapat penghargaan. Kegiatan pembelajaran tari Jathilan di SMP Negeri 2 Bungkal dilaksanakan dalam ekstrakulikuler. Ekstrakulikuler tersebut dimaksudkan sebagai kegiatan pengembangan diri bagi siswa dan siswi. Dari alasan tersebut di atas maka peneliti memilihnya sebagai topik penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah bentuk tari Jathilan dalam kesenian Reog?, (2) Bagaimanakah makna simbolik bentuk tari Jathilan dalam kesenian Reog?. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menghasilkan data yang deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru seni budaya dan seniman pakar kesenian Reog Ponorogo. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrumen atau alat pengumpul data utama. Dalam teknik pengupulan datanya, peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dirancang. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk tari Jathilan dalam kesenian Reog merupakan bentuk tari berpasangan (2) Makna simbolik tari Jathilan dalam kesenian Reog adalah kepandaian dan ketangkasan seorang prajurit. Hal tersebut dapat dilihat dari segi gerak adalah ungkapan jiwa keprajuritan, dari segi busana adalah penggambaran pakaian seorang prajurit, dari segi property adalah penggambaran sebagai tunggangan, dari segi tat arias adalah simbolisasi seorang prajurit yang gagah dan pemberani, dan dari segi iringan menggambarkan seorang prajurit yang halus dan lemah lembut, namun memiliki jiwa yang kuat, tangguh, dan percaya diri. Dari hasil penelitian ini diharapkan makna simbolik tari Jathilan dalam kesenian Reog sebagai bisa diajarkan pada sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Ponorogo sebagai materi pembelajaran siswa agar lebih dapat memahami makna simbolik yang terkandung dalam tari Jathilan tersebut. Sementara itu bagi guru seni budaya dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagia bahan ajar pembelajaran siswa baik di intra maupun di ekstrakulikuler sekolah.

Pengaruh LKS berbasis learning cycle 5E terhadap hasil belajar stoikiometri siswa kelas X SMAN 5 Malang / Bazhlina Puji Prawesti

 

ABSTRAK Prawesti, Bazhlina Puji. 2016. Pengaruh LKS Berbasis Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Stoikiometri Siswa Kelas X SMAN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Muntholib, S.Pd.,M.Si, Pembimbing II: Drs. Ida Bagus Suryadarma, M.S. Kata Kunci : LKS, Model Pembelajaran Learning Cycle 5E, Hasil Belajar Siswa. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengatahuan Alam yang memiliki karakteristik: a) ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika, b) ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Namun demikian, umumnya pembelajaran kimia masih dilakukan dengan menggunakan pendekatan ekspositori yakni ceramah. Pembelajaran dengan menggunakan ceramah sebenarnya memiliki keuntungan, yakni waktu yang diperlukan lebih singkat dan lebih efisien. Namun penggunaan ceramah memiliki kelemahan, diantaranya siswa cenderung pasif dan bergantung pada penjelasan guru dan kurang dapat menyampaikan ide-idenya sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna. Hal ini menyebabkan perolehan hasil belajar belum sesuai dengan harapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan LKS Berbasis Learning Cycle 5E dalam pembelajaran stoikiometri di kelas X SMAN 5 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dengan model pre-test post-test design. Pengambilan sampel dilakukan dengan acak klasikaldan diperoleh dua kelas, yakni X MIA 4 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan model Learning Cycle 5E, dan kelas X MIA 6 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan model Direct Instruction. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalahtes hasil belajar. Analisis data dilakukan dengan uji-t pada nilai α= 0,05 dan analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis keterlaksanaan pembelajaran. Analisis statistik dengan uji-tindependent sample test digunakan untuk menguji perbedaan hasil belajar kognitif siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran, baik kelas yang menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E dan model pembelajaran Direct Instruction, terlaksana dengan sangat baik dengan rata-rata persentase keterlaksanaan sebesar berturut-turut sebesar 91,12% dan 90,38%. Hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa yang dibelajarkan dengan LKS berbasisLearning Cycle 5E lebih tinggi daripada yang dibelajarkan dengan LKS berbasisDirect Instruction.

Developing an English course syllabus for Agribusiness Management Study Program of State Polytechnic of Jember / Enik Rukiati

 

English Language Education Program. The State University of Malang. Advisor :(1) Dr. Monica D.D.Oka, MA., (2) Prof. Dr.Nur Mukminatien,M.Pd Key words: silabus, pembelajaran bahasa Inggris untuk tujuan khusus, program studi manajemen agribisnis Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan silabus mata kuliah bahasa Inggris untuk Program Studi Managemen Agribusinis. Berdasarkan pembelajaran studi awal yang dilakukan oleh peneliti diketemukan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di program studi ini belum mempunyai silabus. Oleh karena itu, memiliki silabus merupakan suatu kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi karena dengan tidak adanya silabus yang dapat dipakai sebagai pedoman mengajar oleh guru menyebabkan pengajaran bahasa Inggris menjadi tidak efektif. Pengembangan silabus yang dilakukan oleh peneliti didasarkan atas saran, informasi dan harapan-harapan dari mahasiswa, guru bahasa Inggris, ketua program studi, pengguna lulusan (stakeholders) dan juga dari kurikulum Program Studi Management Agribisnis. Penelitian ini memakai desain penelitian pengembangan(R and D). Tahapan pengembangan meliputi melakukan analisis kebutuhan, merumuskan tujuan pengajaran, memilih silabus yang sesuai, membuat proto silabus, menulis silabus pengajaran, melakukan evaluasi yang meliputi validasi ahli dan uji coba produk. Tahapan terpenting dalam pengembangan silabus adalah analisis kebutuhan yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan nyata dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan pembelajaran bahasa Inggris sebagai dasar untuk pengembangan silabus. Analisis kebutuhan dilakukan dengan meminta sebanyak tiga puluh tiga mahasiswa Program Studi Manajemen Agribisnis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner. Ketua program studi dan lima staf pengajar Program Studi Manajemen Agribisnis beserta seorang pengajar bahasa Inggris, dan dua pengguna lulusan (stakeholder) diwawancarai dengan tujuan untuk mendapat informasi tentang harapan mereka terhadap pembelajaran bahasa Inggris. Informasi yang berhubungan dengan distribusi mata kuliah, jumlah kredit mata kuliah dan kompetensi lulusan didapat dari kurikulum program Studi Managemen Agribisnis. Mata kuliah bahasa Inggris diberikan sekali dalam seminggu dengan alokasi waktu tiga jam perpertemuan. Profile lulusan dari program studi ini adalah pengusaha dibidang pertanian, supervisor pertanian, asisten manager dibidang pertanian, penyuluh pertanian, and asisten lapang. Observasi kelas juga dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata dari pengajaran bahasa Inggris dikelas. Hasil dari kuesioner, wawancara dan observasi kelas menunjukkan bahwa tujuan dari pengajaran bahasa Inggris adalah membuat siswa mempunyai keterampilan komunikasi dasar dalam bidang managemen agribisnis yang dibutuhkan oleh dunia kerja yang difokuskan pada keterampilan berbicara. Karena silabus yang dikembangkan akan diterapkan di program studi Management Agribisnis, maka perlu dilakukan validasi dengan meminta seorang ahli dibidang perencanaan silabus dan seorang dosen senior di bidang management agribisnis. Ahli design silabus mengecek bahasa yang termuat didalam silabus. Dosen senior mengecek kesesuaian topik-topik dalam silabus. Evaluasi dan revisi dilakukan berdasarkan saran, koreksi, kritik dari para ahli dan kemudian produk ini akan diujicobakan kepada pengajar Bahasa Inggris dengan meminta pengajar bahasa Inggris untuk membuat satu rencana pengajaran (lesson plan) berdasarkan silabus ini. Berdasarkan hasil dari analisa kebutuhan dan hasil akhir dari pengembangan silabus ada beberapa saran untuk menerapan silabus ini. Pertama, silabus yang dikembangkan menggunakan topical-functional silabus yang oleh peneliti dianggap paling sesuai untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Inggris di program studi ini. Kedua, pengajar bahasa Inggris harus selalu bekerjasama dengan pengajar bidang studi dalam menentukan topic-topik yang akan dimuat dalam sillabus. Terakhir, untuk memenuhi tuntutan kemajuan pembelajaran bahasa Inggris untuk tujuan khusus (English for Specific Purposes), silabus ini perlu dievaluasi dan direvisi. Peneliti berharap bagi peneliti selanjutnya untuk menerapkan silabus yang telah disusun ini dalam mengajar bahasa Inggris di program studi managemne Agribisnis untuk melihat ke effektifan dari silabus yang dikembangkan dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa Inggris.

Tingkat kemampuan profesional mahasiswa program studi pendidikan fisika FMIPA UM angkatan 2002 sebagai calon guru fisika dalam pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) semester genap 2005/2006 / oleh Irwan S. Widodo

 

Kepaduan dan keruntunan hubungan antar kalimat dalam paragraf deskripsi siswa kelas X.1 SMA Brawijaya Smart School Malang / Arahman Alfan Subarkah

 

Kata Kunci : kemampuan menulis, paragraf deskripsi. Pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia di SMA memiliki tujuan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Untuk dapat menguasai kemampuan berkomunikasi, mata pelajaran bahasa indonesia dibagi menjadi empat aspek keterampilan. Empat aspek kersebut adalah membaca, menulis, mendengar atau menyimak, dan berbicara. Di antara empat aspek keterampilan bahasa Indonesia, terdapat dua aspek keterampilan yang bersifat aktif. Dua aspek tersebut adalah membaca dan menulis. Karena dengan menguasai dua aspek tersebut, siswa dapat mengembangkan keterampilan yang bermanfaat bagi masa depannya. Pembelajaran menulis memiliki bermacam-macam jenis. Salah satu jenis kegiatan menulis yang diajarkan di SMA kelas X adalah menulis paragraf deskripsi. Deskripsi adalah suatu bentuk wacana yang menggambarkan ata mendeskripsokan sesuatu. Kemampuan menulis paragraf deskripsi perlu dikuasai agar siswa terlatih untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam mengamati, memahami serta menggambarkan suatu objek dengan terperinci. Tujuan penelitian yaitu (1) Keruntutan hubungan antarkalimat dalam paragraf deskripsi (2) Kepaduan hubungan antarkalimat dalam paragraf deskripsi. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif karena peneliti mendeskripsikan atau menggambarkan dengan kata-kata secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pargraf deskripsi siswa belum menunjukkan keruntutan antar kalimat. Hal ini di tandai dengan belum sesuai pola urutan tempat. Dalam kepaduan hubungan antar kalimat paragraf deskripsi ditemukan banyaknya kesalahan dalam penggunaan kata ganti dan kata penghubung.

Perbedaan prestasi belajar matematika pada pokok bahasan himpunan antara siswa yang diajar melalui pendekatan Problem Posing dengan siswa yang diajar dngan pembelajaran konvensional kelas VII di SMP Negeri 1 Panggul / oleh Siti Rohmah

 

Evaluasi diri menggunakan analisis swot di klub perpani "Hardha Dhedhali" Pengcab kota Batu / Pembayun Pandam Asmara

 

Kata Kunci : Evaluasi Diri, Klub PERPANI, Analisis SWOT Dalam membentuk suatu atlet yang berkompeten tinggi, sebuah klub tidak hanya harus memiliki tujuan dan program-program latihan yang sistematis untuk atletnya, namun juga harus diimbangi dengan sistem organisasai dan manajemen yang baik pula. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan dari pembinaan atlet yang berkualitas seperti yang terpapar di atas, dibutuhkan sebuah wadah atau suatu organisasi untuk melaksanakan program-program latihan yang sistematis dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu berdasarkan analisis SWOT (Kekuatan/Kelebihan, Kelemahan/Kekurangan, Ancaman dan Peluang). Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan diskriprif kuantitatif dengan analisis data SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Teknik pengumpulan data menggunakan angket terbuka dan angket tertutup, serta dokumentasi. Faktor-faktor pendukung Strengths (Kekuatan) Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota adalah (a) visi, misi dan tujuan yang dimiliki klub memiliki kejelasan dan kerealistisan visi, misi, dan tujuan, (b) tersetrukturnya tata kelola, (c) tata kelola memenuhi tiga aspek dari lima aspek penting dari organisasi yaitu sistematis, tersetruktur, transparan, bertanggung jawab dan adil, (d) kepemimpinan yang dimiliki, berdasarkan responden seluruh anggota klub tergolong demokratis dan transparan, (e) pelatih yang berkompeten dan berkualitas dalam bidangnnya khususnya dalam cabang olahraga panahan, (f) cukup menghasilkan atlet yang berprestasi, (g) program-program latihan yang bervariatif, (h) kesesuaian strategi latihan yang dipimpin oleh pelatih, i) kemampuan atlet memahami materi yang diberikan oleh pelatih tergolong mampu memahami dan menjalankan materi, dan j) kerjasama yang terjadi diantara seluruh anggota klub. Kemudian faktor-faktor penyebab Weaknesses (Kelemahan), Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota adalah (a) kurangnya terealisasinya visi, misi dan tujuan klub, (b) kefektifan proses pencapaian visi, misi dan tujuan awal klub klub perpani “hardha dhedhali” pengcab kota batu ini, (c) terdapat peran ganda dalam susunan tugas kerja tata kelola, (d) gaya kepemimpinan yang demokratis memiliki kelemahan yaitu dalam mencapaian mufakat dalam setiap musyawarah, pengambilan keputusan tidak dapat diambil secara cepat, (e) masih tergong cukupnya bakat atlet yang dimiliki, (f) pemenuhan target perekrutan atlet yang tergolong cukup memenuhi, (g) tidak adanya kurikulum yang secara langsung menjadi landasan proses latihan klub berdampak kurang terarahnya ii tujuan latihan, (h) kurang memadainya sarana dan prasarana latihan. hal ini dikarenakan sarana dan prasarana untuk cabang olahraga panahan membutuhkan pendanaan yang besar, dan (i) kurang baiknya kerjasama yang terjadi antara klub dengan pihak luar yang bersangkutan. Selanjutnya dalah faktor-faktor pendukung adanya Opportunities (Peluang) bagi Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu adalah (a) dengan adanya kejelasan visi, misi maupun tujuan klub, memberikan pemahaman terhadap seluruh anggota klub dan memberikan peluang pencapaian oleh setiap anggota klub dikarenakan visi, misi dan tujuan klub realistis, (b) dukungan yang diberikan oleh tata kelola klub akan mempermudah klub dalam pencapaian visi, misi dan tujuan klub, (c) meskipun belum terlaksana, regenerasi kepengurusan yang akan diadakan setiap masa jabatan, akan menjadi peluang munculnya ide-ide atau kebijakan-kebijakan baru, (d) kepemimpinan demokratis dan transparan akan menghasilkan kesepakaran dan keputusan yang tepat karena dilakukan secara musyawarah antar seluruh anggota klub, (e) latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh pelatih hanya tergolong cukup mendukung, (f) program-program latihan yang bervariatif dapat sedikit menghindari permasalahan sarana dan prasarana, (g) cukup efektifnya pelaksanaan program-program latihan, (h) kesesuaian program-program latihan dengan minimnya sarana dan prasarana panahan yang dimiliki menimbulkan peluang bagi atlet untuk mengembangkan bakatnya,( i) kerjasama yang terjadi diantara seluruh anggota klub, dan (j) kerjasama dengan masyarakat sekitar akan membantu klub dalam mengembangkan klub dalam hal jumlah atlet dan lebih tersetruktrurnya kepengurusan. Dan yang terakhir adalah faktor-faktor penyebab Threats (Ancaman) Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu adalah (a) kurangnya memadainya sarana dan prasarana klub, (b) proses kerjasama dengan pihak luar kurang baik dalam segi pendanaan, mengancam kurang efektifnya pencapaian visi, misi dan tujuan klub, (c) adanya beberapa tugas ganda yang dikerjakan oleh satu orang akan menghambat kinerjanya, (d) ancaman yang akan dihadapi oleh klub perpani “hardha dhedhali” pengcab kota batu yang memiliki sistem kepemimpinan demokratis adalah jika terjadi suatu keadaan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat, (e) kurang ketatnya proses perekrutan atlet, (f) dengan tidak adanya kurikulum tertulis dan secara langsung mengatur jalannya pelaksanaan latihan, akan mempersulit pelatih untuk menyampaikan setiap materi latihan, (g) kurang memadainya sarana dan prasarana latihan akan menjadi ancaman bagi atlet dan klub dalam menghasilkan atlet yang berkualitas dan berkompeten dan pencapaian visi, misi dan tujuan bagi klub, dan (h) kurang baiknya kerjasama yang terjadi antara klub dengan pihak luar yang bersangkutan akan berakibat kurang maksimalnya pemenuhan kebutuhan klub dalam hal pendanaan klub dan pemenuhan sarana dan prasarana klub yang masih tergolong kurang menunjang. Dari hasil persentase perhitungan frekuensi jawaban seluruh responden terbanyak di setiap butir pertanyaan yang diberikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu memiliki organisasi yang Cukup Baik dengan persentase perhitungan 60,99%.

Perbedaan prestasi belajar matematika yang menggunakan pembelajaran kooperatif model stad dengan yang menggunakan metode ekspositori pada materi pook teorema phytagoras siswa kelas VIII semester II SMP Negeri 1 Pajarakan / oleh Ika Arifah

 

Pembelajaran dengan pendekatan problem posing pada pokok bahasan lingkaran untuk SLTP kelas II semester II / oleh Christine Widiati

 

Pengembangan media pembelajaran proses pembuatan roda gigi lurus untuk standar kompetensi memfrais kompleks jurusan teknik mesin produksi di SMK Negeri 3 Boyolangu / Dedy Suprayogi.

 

Kata Kunci: media pembelajaran, roda gigi lurus Pendidikan SMK bertujuan meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional. Banyak kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajarannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diupayakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih aktif. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar. Produk media pembelajaran ini dikembangkan dan di uji coba di SMK Negeri 3 Boyolangu pada standar kompetensi memfrais kompleks pada materi pembuatan roda gigi lurus. Tujuan dari penelitian ini adalah: Menghasilkan produk multimedia sebagai sarana pembelajaran mata pelajaran memfrais pada materi pembuatan roda gigi lurus terhadap siswa SMKN 3 Boyolangu. Tahapan penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahapan ADDIE yang terdiri dari lima tahapan: (1) analysis, (2) design, (3) development, (4) implementation, dan (5) evaluation. Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada dua ahli media, ahli materi, uji coba perorangan dengan 2 orang siswa, dan uji coba kelompok kecil dengan 10 orang siswa. Data yang diperoleh berupa data kualitatif hasil wawancara sebagai data awal dan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan kevalidanya. Produk media ini berbentuk software cd interaktif. Hasil validasi isi terhadap kelayakan media media pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 92,5%, validasi ahli materi 88%, uji coba perorangan 81,5%, dan uji coba kelompok kecil 82,2%. Hasil pengembangan media pembelajaran telah direvisi meliputi: (1) video diberi penjelasan berupa tulisan, (2) warna teks yang berwarna kuning pada materi diganti karena warna kuning menunjukkan link atau tombol, (3) menu tujuan pembelajaran disesuaikan, (4) tata tulis digunakan bahasa yang baik, dan (5) tabel usahakan janganditampilkan secara print screen karena tulisan di dalam tabel kurang jelas.

Studi tentang Batik Tulis "Raden Wijaya" di Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu / Sri Indayani

 

ABSTRAK Indayani, Sri 2011. Studi Tentang Motif Batik Tulis “Raden Wijaya” Di Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nurul Aini, M.Pd., (II) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Kata kunci: Batik Tulis “Raden Wijaya” Setiap daerah di Indonesia hampir semuanya memiliki tradisi membuat batik, salah satunya Kota Batu. . Kota Batu merupakan Daerah Otonom termuda di Jawa Timur, daerah yang topografinya sebagian besar berupa wilayah perbukitan. Perkembangan Kota Batu sangat mempengaruhi perkembangan kerajinan di Kota Batu, terutama pada kerajinan batik. Di Kota Batu terdapat tiga sanggar batik yaitu sanggar butik Olive Batik, Raden Wijaya, dan Semar. Sanggar Raden Wijaya merupakan salah satu sanggar batik tulis yang proses pembatikan dilakukan di sanggar batik mulai dari pembentukan motif hingga pewarnaan sehingga terbentuk corak maupun motif batik. Motif batik “Raden Wijaya” mempunyai ciri yang sangat khas pada motifnya, yaitu dengan menonjolkan kreasi unik sesuai dengan potensi daerah Kota Batu, seperti buah apel, sayur-sayuran, bunga, serangga serta perkembangan tempat wisata. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan batik tulis “Raden Wijaya” di desa Pandanejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu motif batik tulis “Raden Wijaya”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan adalah pemilik sanggar batik tulis “Raden Wijaya”, DISKOPERINDAG Kota Batu dan pengelolah sanggar batik tulis Raden Wijaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis model interaksi Miles dan Huberman dengan tahapan (1) pengumpulan data, (2) reduksi dan penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan yaitu (1) Batik tulis “Raden Wijaya” termasuk batik modern/kontemporer karena motif batiknya tidak lagi menggunakan patokan dari batik klasik. Motif-motif yang dipilih bergaya bebas tidak terikat oleh bentuk-bentuk sebelumya dan bersifat naturalis, (2) Motif yang dapat di identifikasi penulis pada penelitian ini berjumlah 15 motif yaitu motif Apel Strawbery, Alun-alun, Museum Angkut, Shinning Batu, Predator Fun Park, Bantengan,Kampung Kolonial Belanda, Kawung Strawbery, Mawar, Tulip, Kupu-kupu, Biota Laut, Ikan Koi, Buah Sayur dan Singo Edan, (3) Motif alun-alun dipakai seragam untuk seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Batu serta seluruh anggota lembaga kemasyarakatan se Kota Batu dan sudah memiliki hak paten, (4) Dilihat dari bagian-bagian motif, motif batik tulis “Raden Wijaya” termasuk batik lengkap karena terdiri dari ornamen, ornamen pengisi dan Isen-isen motif, (5) Berdasarkan pengamatan peneliti, pembentukan motif batik tulis “Raden Wijaya” di pengaruhi beberapa faktor yaitu: hasil perkebunan, budaya serta tempat wisata karena Kota Batu merupakan salah satu destinasi wisata baik nasional maupun internasional. Saran dalam penelitian ini adalah motif pada batik tulis “Raden Wijaya” hendaknya (1) Mengembangkan desain motif dalam hal ini perpaduan corak dalam pembentukan motif sehingga mempunyai nilai seni dengan harga jual yang tinggi serta disesuaikan dengan selera pasar, (2) Mendokumentasikan serta membakukan motif yang dibuat, sehingga memiliki data dan arsip yang lengkap, (3) Dinas terkait hendaknya membantu dalam proses promosi dengan mengarahkan wisatawan untuk mengunjungi sentra batik khususnya Industri Kerajinan Batik Tulis “Raden Wijaya” dan membantu memperlancar jalannya proses pembuatan hak paten produk. (4) Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini perlu ditindaklanjuti, baik dalam hal pewarnaan, produk hasil, pengembangan motif serta pemasaran.

Penyusunan tes keterampilan bolavoli untuk siswa putra SMP Negeri kelas 2 di SMP Negeri 1 Ngoro Kabupaten Mojokerto / oleh Yeni Mariana

 

Hubungan antara prestasi matakuliah tenis meja dengan prestasi matakuliah tenis lapangan mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi / oleh Yoan Achmad Ghozali

 

Studi tentang fertilitas penduduk geladangan di Kota Malang / oleh Fifit Choiriyah

 

Motivasi kerj aguru mata pelajaran geografi di Sekolah Menengah atas (SMA) Negeri se-Kota Malang / oleh Eko Anang Hadi Santoso

 

Pengaruh ketersediaan fasilitas belajar di sekolah dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2005/2006 / oleh Dini Ariyanti

 

Kendala-kendala pelaksanaan pembelajaran bolavoli mini untuk siswa kelas 4 sekolah dasar negeri se-kecamatan Diwek Kabupaten Jombang / oleh Mecca Puspitaning Sari

 

Persepsi mahasiswa Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Malang tentang soft skill dalam praktik industri / Pipit Ritudina

 

Kata kunci: Persepsi Mahasiswa, Soft Skill, Praktik Industri. Persaingan dunia kerja yang semakin ketat menuntut semua orang yang akan memasuki dunia kerja agar memiliki kemampuan lebih dari pesaingnya, tidak hanya dalam segi akademik saja tetapi juga kemampuan soft skill. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan persepsi mahasiswa tentang soft skill saat praktik industri di DU/DI; (2) mengetahui kualifikasi soft skill intrapersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI; (3) mengetahui kualifikasi soft skill interpersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah S1 Pendidikan Tata Boga yang telah menempuh Praktik Industri, dengan sampel sebanyak 103 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan (1) persepsi mahasiswa tentang soft skill saat praktik industri di DU/DI sangat baik (93,2%) atau sebanyak 96 responden; (2) soft skill intrapersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI sangat baik ( 79,6%). Indikator yang paling menonjol bersemangat, berargumen logis, dapat meringkas, berpikir kritis, dan manajemen diri; (3) soft skill interpersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI sangat baik (89,8%). Indikator yang sering muncul adalah motivasi, kemampuan analisis, komunikasi lisan maupun tulisan, kerja dalam tim, dan menyelesaikan persoalan. Berdasarkan hasil penelitian yang ada hendaknya menerapkan soft skill pada setiap perkuliahan, sebagai bekal bagi mahasiswa untuk memasuki dunia usaha dan industri.

Motivasi ibu rumah tangga mengikuti senam aerobik di Sanggar Senam Taurus Malang / oleh Rislam Harfiah

 

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Rantepao I Kabupaten Toraja Utara / Benyamin Salu

 

Kata Kunci: strategi pembelajaran penemuan terbimbing, motivasi belajar, hasil belajar Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan berperan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Hal ini memerlukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, selain penguasaan bahan atau materi ajar, juga diperlukan pengetahuan tentang pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkan dan tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Adakah pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap motivasi belajar siswa, dan 2) Adakah pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah desain eksperimen kuasi (quasi experimental design) dengan rancangan kelompok nonekuivalencontrol group. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Rantepao I Kabupaten Toraja Utara yang terdiri dari dua kelas yaitu kelas IVA 38 siswa dan kelas IVB 37 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, angket, dan tes. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Pengujian hipotesis menggunakan teknik Analisis Covariance (Anacova) Hasil penelitian pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing terhadap motivasi dan hasil belajar siswa adalah: 1) Ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap motivasi belajar siswa. Motivasi belajar lebih tinggi 7,3% (hasil angket) dan 7,18% (hasil observasi) pada strategi pembelajaran penemuan terbimbing dibanding dengan strategi pembelajaran konvensional, 2) Ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada strategi pembelajaran penemuan terbimbing lebih tinggi 4,79% dibanding dengan hasil belajar pada pembelajaran konvensional. Respon siswa terhadap strategi pembelajaran penemuan terbimbing adalah 34,21% menyukai dan 65,79% sangat menyukai. Beberapa saran terkait dengan hasil penelitian ini adalah: 1) Bagi para guru, strategi pembelajaran penemuan terbimbing dapat dipilih sebagai salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, 2) Bagi sekolah atau lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu dasar dalam mengambil keputusan dalam peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa, dan 3) Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan motivasi dan hasil belajar.

Perbedaan perilaku agresi ditinjau dari tahap perkembangan dan jenis kelamin pada renaja di SMP dan SMA Yayasan Pupul Kaltim / Merdekania

 

Perilaku agresi terutama pada remaja merupakan fenomena yang seringkali terjadi di masa sekarang ini, berbagai media cetak dan elektronik banyak memuat berita-berita mengenai maraknya perilaku agresi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Remaja seringkali berperilaku agresi karena dipicu oleh hal-hal yang sepele maupun serius misalnya, para siswa salah satu sekolah menengah swasta di kota Blitar yang terlibat tawuran antar pelajar hanya karena gengsi. Selain itu, perkelahian massal di antara pelajar semakin brutal dan kerap kali terjadi di jalan-jalan umum sehingga keberadaan kelompok pelajar di tengah-tengah masyarakat seringkali menimbulkan rasa takut dan khawatir pada masyarakat pengguna jalan. Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang cenderung meningkat sehingga dapat mempengaruhi terjadinya perilaku agresi pada remaja. Selain remaja laki-laki, remaja perempuan juga ikut menjadi pelaku agresi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku agresi ditinjau dari tahap perkembangan dan jenis kelamin pada remaja. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif komparatif. Uji coba instrumen dilaksanakan pada 46 remaja. Penelitian dilakukan di SMP dan SMA Yayasan Pupuk Kaltim dengan subjek penelitian berjumlah 99 remaja sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala perilaku agresi yang disusun berdasarkan metode Rating yang Dijumlahkan (Methods of Summated Ratings) dari Rensis Likert. Selain itu, angket terbuka berisi 8 buah pertanyaan yang berhubungan dengan perilaku agresi remaja juga digunakan sebagai data pendukung untuk melengkapi pembahasan hasil penelitian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis Uji-t, yaitu Uji Independent Sample Test dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja awal yang berperilaku agresi tinggi sebanyak 64,81% dan remaja awal yang berperilaku agresi rendah sebanyak 35,19%. Remaja akhir yang berperilaku agresi tinggi sebanyak 11,11% dan remaja akhir yang berperilaku agresi rendah sebanyak 88,89%. Ada perbedaan perilaku agresi antara remaja awal dan remaja akhir, dengan hasil uji t = 6,524, p < 0,05. Ada perbedaan perilaku agresi antara remaja laki-laki dan remaja perempuan, dengan hasil uji t = 3,185, p < 0,05. Ada perbedaan perilaku agresi antara remaja awal laki-laki dan remaja awal perempuan, dengan hasil uji t = 3,955, p < 0,05. Ada perbedaan perilaku agresi antara remaja akhir laki-laki dan remaja akhir perempuan, dengan hasil uji t = 4,346, p < 0,05. Ada perbedaan perilaku agresi antara remaja awal laki-laki dan remaja akhir laki-laki, dengan hasil uji t = 6,853, p < 0,05. Ada perbedaan perilaku agresi antara remaja awal perempuan dan remaja akhir perempuan, dengan hasil uji t = 5,948, p < 0,05. Hasil angket terbuka menunjukkan bahwa remaja awal berperilaku lebih agresif daripada remaja akhir karena remaja awal dalam mengungkapkan emosi negatifnya misal rasa marah dilampiaskan pada benda-benda ataupun orang yang berada di sekitarnya sehingga sering berdampak buruk. Sedangkan remaja akhir lebih memilih untuk melampiaskan rasa marah pada hal-hal yang positif, seperti berolahraga, mendengarkan musik, menyelesaikan masalah secara baik-baik dan bermain games sehingga perilaku agresi pada remaja akhir cenderung berkurang intensitasnya. Remaja laki-laki lebih sering berperilaku agresi fisik aktif sedangkan remaja perempuan lebih sering berperilaku agresi verbal pasif. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi pihak sekolah menciptakan atau meningkatkan sarana yang dapat membantu remaja menyalurkan perilaku agresinya dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga beladiri dan kesenian. Bagi orang tua melakukan pendekatan dengan remaja sebagai seorang teman atau sahabat sehingga dapat terus memantau pergaulan remaja tanpa harus bersikap mengekang dan otoriter. Bagi remaja bersikap lebih terbuka kepada orang tua atau guru apabila mengalami masalah sehingga dapat menemukan penyelesaian atau solusi yang terbaik atas masalah yang dihadapi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas segala resiko yang harus ditanggung karena perilaku agresi yang dilakukan. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya menambah atau mengembangkan teori mengenai perilaku agresi khususnya pada remaja sehingga hasil penelitian yang diperoleh semakin detail dan akurat. Selain itu, peneliti juga dapat meminta data tambahan dari para guru di sekolah untuk melakukan penilaian mengenai perilaku agresi remaja di sekolah.

Komposisi zooplankton pada outlet tambak yang berada di sungai Kalisodo Pasuruan Jawa Timur / Nomaliza Gandry Yani

 

Yani, Nomaliza Gandry . 2013. Komposisi Zooplankton pada Outlet Tambak yang Berada Di Sungai Kalisodo Pasuruan Jawa Timur. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Agus Dharmawan, M.Si, (II) Dra. Hawa Tuarita, M.S. Kata Kunci: komposisi Zooplankton, outlet, tambak sungai Kalisodo     Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan merupakan kawasan pesisir pantai yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk pertambakan. Para petani mengelola tambak secara tradisional yang tergantung pada ketersediaan zooplankton dan pasang surut air laut serta perbedaan letak tambak. Zooplankton yang terbawa keluar pada saat surut memberikan kontribusi ke laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi zooplankton pada outlet tambak yang berada di Sungai Kalisodo dan faktor abiotik yang mempengaruhinya.     Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengambilan sampel zooplankton pada outlet tambak dilakukan dengan cara menggunakan teknik penyaringan dengan menggunakan jaring plankton, kemudian dilakukan pengamatan dan penghitungan zooplankton. Perhitungan komposisi zooplankton dihitung dengan menggunakan nilai indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan, analisis data menggunakan analisis varian dan regresi, waktu penelitian adalah waktu pengambilan sampel yaitu pada bulan Februari 2012, tempat penelitian adalah di kawasan pesisir pantai muara sungai Kalisodo Pasuruan.     Hasil pengamatan dan penghitungan zooplankton terdapat 34 spesies yang terdiri dari 18 family dan 16 genus zooplankton dengan indeks keanekaragaman dalam katagori sedang (0,86-1,66), indeks kemerataan (0,42-0,72), indeks (0,73-1,53), dan ketiga parameter tersebut menunjukkan penurunan searah dengan jarak yang menjauhi muara sungai. Faktor abiotik terukur (pH, suhu, salinitas, turbiditas, konduktivitas, DO) tidak memberikan pengaruh nyata.     

Perbandingan prestasi belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif model stad dengan siswa yang proses pembelajarann menggunakan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan perbandingan di MTS Miftahul Ulum Melirang Bungah Gresik oleh N

 

Salahs atuf aktory angm empengaruhtei rjadinyap rosesh asilb elajarm engajar adalahg uru. Guru dalam melaksanakanp rosesp embelajaranik ut bertanggungiawab di dalarnp emilihanm etodep embelajarany ang tepat.K etepatanp emilihan metode pembelajarana kanb erpengaruhp adap restasib elajar siswa.D aldm proses pembelajaranM atematikab anyakm etodep embelajarany ang digunakano leh guru diantaranyaa dalah:m etodep embelajarank ooperatifmodel STAD dan metode ' pembelaaj rank onvensional. Penelitiani ni bertujuanu ntuk mengetahuai pakahp restasib elajarm atematika sisway ang prosesp embelajarannyma enggunakanp embelajarank ooperatif model STAD lebih baik dibandingkand engans isway angp rosesp embelajarannya menggunakapne mbelajarakno nvensional. Penelitiani ni merupakanp enelitiane ksperimeny, ang dinamakane ksperimen semu( quasi experiment).R ancanganp enelitiany ang dipilih adalahP osstesto nly Control Group Design, sedangkanp opulasinyaa dalahs iswak elasI I MTs Miftahul UlumM elirangB ungahG resiky angt erdiri dari 4 kelas.P engambilansa mpelnya dilakukans ecaraa calcy" angt erpilih sebagasi ampedl alamp enelitianin i adalahk elas IIa sebanyak3 3 sisway aitu sebagaki elase ksperimeny ang menggunakan pembelajarakno operatifm odelS TAD dank elasl ls sebanya3k 2 siswas ebagai kelompokp embandingy aitu yang menggunakanp embelajarank onvensional. Uji prasyaraty ang digunakana dalahu ji normalitas,u ji homogenitasd, an uji kesamaadnu ar ata-ratas, edangkaunj i hipotesisnyma engguqakaann alisisk ovarian (anakova)D. ari hasila nalisisd iperolehF nioo>s Ftuu"yr,a itu 4,48> 4,00m akaI {4 ditolak berarti prestasib elajars isway angp rosesp embelajarannyam enggunakan pembelajaranko operatifm odel STAD prestasinyale bih baik dibandingkand engan sisway angp rosesp embelajarannymae nggunakapne mbelajarakno nvensional.l l t

Discourse markers in EFL students' expository essays of five development methods / Titik Rahayu

 

Titik, Rahayu. 2015. Discourse Markers in EFL Students’ Expository Essays of Five Development Methods. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasrajana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M. Pd., M.A., Ph. D., (II) Dr. Emalia Iragiliati, M. Pd. Kata Kunci: penanda wacana, lima metode pengembangan paragraf, esai ekspositori Penanda wacana sangat bermanfaat untuk membangun koherensi dan kohesi dalam sebuah teks. Penanda wacana berperan penting untuk memautkan ide-ide di dalam teks dengan memberikan petunjuk tekstual kepada pembaca dan membantu mereka untuk menginterpretasikan makna yang dimaksud. Aspek kohesi dan koherensi sangat penting dalam penilaian. Kohesi yang menciptakan koherensi menentukan kualitas dari sebuah teks. Beberapa penelitian yang dilaksanakan di konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing telah menemukan beberapa kecenderungan penggunaan jenis penanda wacana tertentu di dalam sebuah tipe teks. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menemukan fenomena dari penggunaan penanda wacana dalam esai ekspositori menggunakan lima metode pengembangan yang dihasilkan oleh siswa prasarjana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tiga hal utama yang didiskusikan melalui analisis esai ekspositori dengan lima metode pengembangan adalah sebagai berikut: (1) jenis penanda wacana yang sering digunakan di lima metode pengembangan dari esai ekspositori, (2) variasi umum dari penanda wacana yang digunakan oleh siswa yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, dan (3) ke(tidak)patutan dari penggunaan penanda wacana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian korpus dengan menganalisa 275 esai yang ditulis oleh 55 siswa dari kelas C dan kelas D jurusan pendidikan bahasa Inggris prasarjana Universitas Negeri Malang tahun akademik 2014/2015. Mereka mengambil mata kuliah Essay Writing. Esai dikembangkan dengan menggunakan lima metode pengembangan yaitu: (1) contoh, (2) perbandingan dan kontras, (3) klasifikasi, (4) analisis proses, dan (5) analisis sebab-akibat. Analisis esai menggunakan program AntConc 3.2.4w. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penanda wacana sering digunakan oleh siswa di lima metode pengembangan esai ekspositori. Hasil tersebut menyatakan bahwa esai contoh, perbandingan dan kontras, dan klasifikasi menggunakan banyak penanda elaboratif. Akan tetapi, esai analisis proses dan analisis sebab-akibat menggunakan banyak penanda inferensial. Selain itu, setiap jenis penanda wacana menunjukan beberapa variasi umum: (1) penanda kontras menunjukkan lima variasi umum yaitu but, however, although, on the other hand, dan in contrast, (2) penanda elaboratif menunjukkan enam variasi umum yaitu also, and, for example, or, moreover, dan in addition, dan (3) penanda inferensial menunjukkan enam variasi umum yaitu because, so, then, because of, in conclusion, dan therefore. Dari analisis kepatutan penanda wacana, ada beberapa masalah yang dapat digolongkan ke dalam enam kategori pokok, yaitu: (1) pertukaran tidak setara, (2) kelebihan penggunaan, (3) logika dangkal, (4) pertautan yang salah, (5) ketidaklengkapan semantik, dan (6) gangguan. Kesalahan yang paling sering adalah pertautan yang salah. Kesalahan tersebut menyebabkan beberapa masalah yang berhubungan dengan kohesi dan koherensi teks. Berdasarkan temuan penelitian ini, mahasiswa masih bermasalah dengan penggunaan penanda wacana. Oleh karena itu, guru seharusnya meningkatkan kesadaran siswa akan penggunaan penanda wacana dalam menulis khususny esai ekspositori. Kemudian, peneliti selanjutnya perlu mengkaji korelasi antara penggunaan penanda wacana dan skor tulisan siswa, penggunaan penanda wacana sehubungan dengan retorika, pengembangan materi untuk penggunaan penanda wacana dalam esai ekspositori, persepsi mahasiswa terhadap penggunaan penanda wacana untuk menghasilkan esai yang kohesif dan koheren, dan perbandingan antara penggunaan penanda wacana dalam konteks asing dan konteks asli.

Penerapan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari Malang / Eva Agustine Yusnita Sari

 

Kata Kunci: Pendekatan kontekstual, aktivitas belajar, hasil belajar, mata pelajaran IPA Permasalahan yang terkait dengan hasil belajar terutama pada mata pelajaran IPA terjadi karena beberapa faktor yaitu minimnya aktivitas siswa. Berdasarkan observasi pendahuluan pada mata pelajaran IPA yang dilakukan peneliti terhadap guru dan siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 menunjukkan bahwa rata-rata kelas baru mencapai 63,3 dan siswa yang nilainya memenuhi Standar Ketuntasan Minimal (SKM) sebanyak 12 dari 33 siswa atau 36,4%. Pencapaian prestasi siswa pada mata pelajaran IPA di bawah SKM yaitu 70. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA, aktivitas siswa selama diterapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual, dan hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa. Dengan diterapkannya pendekatan kontekstual peran siswa lebih lebih dominan daripada peran guru dalam pembelajaran. Dengan 7 komponen yaitu constructivism, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection, authentic assessment. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 33 siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari Malang. Hasil penelitian dengan penerapan pendekatan kontekstual menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa kelas IV meningkat ditandai dengan aspek-aspek yang diamati (construktivism, inquiry, questioning, dan authentic assesment) dari siklus I sebesar 70,9 pada siklus II meningkat menjadi 83,5. Selain itu, peningkatan hasil belajar siswa sebelum penerapan pendekatan kontekstual yang hanya mencapai rata-rata 63,3 dengan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan individu sebanyak 12 siswa. Pada siklus I hasil belajar siswa diperoleh rata-rata sebesar 70,9 sebanyak 19 siswa (57,6%) sudah memenuhi ketuntasan. Kemudian meningkat lagi pada siklus II rata-rata siklus II rata-rata menjadi 83,5 sebanyak 29 (87,9%) siswa sudah memenuhi SKM. Apabila seorang peneliti lain ingin menerapkan model ini, diharapkan bisa memperhatikan hal-hal atau kendala yang mempengaruhi pembelajaran tersebut agar penerapan pendekatan kontekstual dapat berjalan secara optimal

Pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2005/2006 / oleh Leni Lisnawati

 

Pengaruh model pembelajaran team game tournament terhadap motivasi belajar geografi siswa kelas X SMAN 10 Malang / Bayu Adi Nugraha

 

ABSTRAK Nugraha, Bayu Adi. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Team Game Tournament Terhadap Motivasi Belajar Geografi Siswa Kelas X SMAN 10 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Purwanto, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: model pembelajaran Team Game Tournament, motivasi belajar geografi. Model pembelajaran konvesional yang diterapkan guru di sekolah berdampak terhadap motivasi belajar geografi siswa. Siswa cenderung enggan mengikuti mata pelajaran geografi karena siswa merasa tidak bisa menerapkan pelajaran yang di dapat dalam kehidupan sehari-hari sehingga kurang bermanfaat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibutuhkan sebuah model pembelajaran yang inovatif. Model pembelajaran Team Game Tournament bisa menjadi salah satu alternatif untuk menstimulasi motivasi belajar geografi siswa. Model pembelajaran dapat menstimulasi motivasi belajar geografi siswa karena mengandung unsur kompetisi dan penghargaan. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu menggunakan Pretest-Posttest Control Group Design. Penelitian ini menggunakan kelas X 6J2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X 6K2 sebagai kelas kontrol dengan pengambilan sample simple random sampling karena semua kelas X Ilmu Sosial mempunyai kemampuan yang hampir sama. Instrumen pengukuran motivasi belajar menggunakan angket dengan 20 butir penyataan. Analisis data yang digunakan adalah uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Team Game Tournament berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata gain score yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada siswa kelas kontrol. Kelas eksperimen mendapat nilai rata-rata gain score 6,83, sedangkan nilai rata-rata gain score kelas kontrol sebesar 2,69. Model pembelajaran Team Game Tournament memiliki kelebihan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa karena mengandung unsur penguatan (reinforcement). Semua siswa dituntut untuk berkompetisi dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Saran untuk penelitian selanjutnya agar mendapat hasil yang optimal adalah motivasi siswa tidak hanya dibangun dari luar dengan cara pemberian hadiah, tetapi motivasi juga perlu dibangun dari dalam diri siswa sendiri. Saat motivasi dari dalam diri siswa mampu dibangkitkan maka akan tercapai pembelajaran Team Game Tournament yang baik dan maksimal.

Penyusunan modul pengajaran matematika pada SMU kelas I caturwulan 3 tentang invers matriks
oleh Abdul Latif Al Fauzi

 

Para ahli pendidikan dalam rangka memperbaharui sistem pengajaran yang ada, berusaha memperbaiki sistem yang sudah lama berlaku dalam sistem pendidikan nasional. Alternatif yang ditawarkan adalah sistem pengajaran dengan menggunakan modul.

Perbedaan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar, motivasi belajar, dan sikap ilmiah pada pelajaran fisika siswa kelas XI-IA1 dan XI-IA2 SMA Negeri 4 Malang pokok bahasan dinamika / o

 

Penggunaan media pohon hitung untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK PKK 1 Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Ninik Novita Sari.

 

Kata Kunci: kemampuan kognitif, media pohon hitung ,TK Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan kognitif anak dalam berhitung dengan menggunakan pohon hitung terutama pada waktu menyebut anagka 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebut penambahan dan pengurangan dengan benda Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan langkah- langkah pengunaan media pohon hitung serta mendeskripsikan penggunaan media pohon hitung dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK PKK I Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di Tk PKK I Ngadirejo dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model Kemiss dan Mc Taggart . Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pohon hitung dalam kegiatan pembelajaran menyebut bilangan 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebutkan penambahan dan pengurangan dengan benda terbukti untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata- rata anak mencapai 69,99 % meningkat menjadi 88,51 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan kognitif melalui menyebut bilangan 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebutkan penambahan dan pengurangan dengan benda . Berdasarkan penelitian ini, menyebut bilangan 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebutkan penambahan dan pengurangan dengan benda dengan menggunakan media pohon hitung dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam berhitung. disarankan untuk mencoba penelitian dengan masalah yang lain dengan menggunakan media yang lain,yaitu pada bidang pengembangan fisik motorik, pembiasaan, seni, dan Bahasa.

Pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SMKN 8 Malang / Riris Hatul Hasanah

 

ABSTRAK Hatul, Riris. 2016. Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah di SMKN 8 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si (2) Drs. H. Petir Pundjantoro, M.Si Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Budaya Sekolah, SMK Pendidikan karakter merupakan pembentukan moralitas pada siswa, yang diberikan oleh pihak guru ketika di sekolah. Penelitian ini mengambil rumusan masalah mengenai bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, efektifitas penerapan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, hambatan dan upaya guru dalam menerapkan pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SMKN 8 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam mencari data, beberapa informan yaitu guru, pembina program budaya sekolah SMKN 8 Malang, tenaga kependidikan beserta siswa. Data dianalisis mulai dari tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara triangulasi waktu dan teknik. Hasil penelitian tersebut adalah: (1) pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SMKN 8 Malang terwujud dalam beberapa kegiatan antara lain meliputi: Budaya Mengaji Pagi; Budaya Salaman; Budaya Pengibaran Bendera Merah Putih; Budaya Adiwiyata; Budaya Jumat Bersih dan Sehat; Budaya Menyanyi Lagu Nasional; (2) pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah: Budaya Mengaji dilaksanakan setiap pagi oleh siswa Badan Dakwah Islam (BDI) dan siswa Non BDI; Budaya Salaman dilaksankan setiap pagi di depan sekolah oleh guru dan murid; Budaya Pengibaran Bendera Merah Putih dilaksanakan oleh siswa setiap pagi sebelum jam pelajaran dimulai; Budaya Adiwiyata dilaksanakan pada jam kosong ketika di dalam sekolah, dan kegiatan rutin dilaksanakan di luar jam sekolah; Budaya Jumat Bersih dan Sehat dilaksanakan setiap hari Jumat pagi yang diikuti oleh semua siswa dan semua guru; Budaya Menyanyi Lagu Nasional di dalam kelas dilaksanakan setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai; (3) efektifitas pendidikan karakter melalui budaya sekolah dapat dilihat dari kurangnya angka keterlambatan siswa, tanggung jawab siswa dalam melaksanakan kegiatan yang ada di sekolah, dan rasa nasionalisme pada siswa. (4) hambatan dalam menerapkan pendidikan karakter melalui budaya sekolah: kurangnya kesadaran siswa; siswa terlambat; kurangnya tingkat kedisiplinan pada siswa, kurangnya rasa tanggung jawab siswa, dan fasilitas yang kurang memadai dalam menjalankan budaya adiwiyata di sekolah. (5) upaya dalam menerapkan pendidikan karakter melalaui budaya sekolah di SMKN 8 Malang: guru ikut serta dalam penerapan pendidikan karakter melalui budaya sekolah; guru memberikan teladan yang baik pada siswa Saran yang diberikan peneliti antara lain: (1) Kepada pihak sekolah hendaknya memberikan fasilitas yang baik dalam menerapkan pendidikan karakter melalui budaya Adiwiyata, harus digalakkannya aturan dan peringatan kepada siswa dalam menjalankan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, (2) sekolah perlu meningkatkan profesionalitas dan partisipasi seluruh tenaga kependidikan SMKN 8 Malang terutama dalam penerapan pendidikan karakter melalui Budaya Sekolah (3) siswa diharapkan dapat lebih berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam melaksanakan budaya-budaya yang diterapkan di sekolah, serta harus merasa meiliki sekolah agar lebih bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan sekolah.

Efektivitas penilaian kinerja siswa oleh teman sebaya pada pembelajaran kooperatif materi termodinamika kelas XI-1A SMA Negeri 1 Malang / oleh Siti Rofiah

 

Survei kegiatan latihan sepakbola di klub sepakbola Gajayana kota Malang / Ari Darma Amirullah

 

Kata Kunci: Bentuk latihan sepakbola Menjadi pemain yang profesional tentunya tidak mudah, harus memiliki kemauan dan tekat yang kuat, tidak mudah menyerah dan tentunya menguasai teknik dasar sepakbola. Peran pelatih juga sangat mendukung dalam tercapainya suatu prestasi dengan program -program latihan yang dibuatnya. Seperti halnya di klub sepakbola Gajayana Kota Malang, dimana pelatih mempunyai program latihan seperti latihan fisik, teknik dan taktik. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Untuk mengetahui bentuk latihan fisik dalam permainan sepakbola di klub Gajayana Kota malang. (2) Untuk mengetahui bentuk latihan teknik dalam permainan sepakbola di klub Gajayana Kota malang. (3) Untuk mengetahui bentuk latihan taktik dalam permainan sepakbola di klub Gajayana Kota malang. Dalam penelitian ini peneliti hanya menggambarkan tentang bentuk-bentuk kegiatan latihan yang ada di klub sepakbola Gajayana Kota Malang. Subyek dari penelitian ini terdiri dari: 1 (satu) orang ketua klub, 2 (dua) orang pelatih, dan 25 atlet. teknik analisis datanya menggunakan instrumen non tes yaitu wawancara dan dokumentasi. Hasil dari bentuk latihan sepakbola di klub sepakbola Gajayan Kota malang adalah: (1) latihan fisik yang dilakukan dengan tujuan melatih daya tahan, kecepatan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, dan kelincahan, seperti: croos country ±8 kilo, latihan sprint, joging memutari lapangan sepakbola selama 15 Menit, sit up dan push up. (2) latihan teknik yang diberikan dikombinasikan sehingga membentuk variasi latihan yang bermacam-macam, sperti: latihan passing berpasangan, latihan passing berkelompok, latihan passing dikombinasikan dengan dribel, latihan dribel dikombinasikan dengan shooting, dan latihan passing dikombinasikan dengan shooting. (3) latihan taktik dilakukan dengan tujuan untuk menyusun strategi yang digunakan pada saat menyerang maupun bertahan. Latihan tersebut seperti: latihan penyerangan dari tengah, latihan penyerangan dari samping kanan dan kiri, latihan memotong pergerakan lawan, latihan melakukan pressing lawan, latihan koordinasi pemain belakang dan latihan membuang bola kedepan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa latihan yang dilakukan di klub Gajayana Kota Malang secara garis besar sama dengan latihan di klub-klub lain yang membedakan adalah variasi latihan, kombinasi dari beberapa bentuk latihan agar pemain tidak merasa jenuh. Latihan tersebut secara tidak langsung melatih fisik, teknik, dan juga taktik. Dengan rutinitas latihan yang dilakukan diharapkan tercapailah suatu prestasi yang maksimal.

Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan mutu pembelajaran membaca dan meningkatkan mutu pembelajaran membaca dan menulis paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari / Shinta Dwi Ayuna Adiesti

 

Kata kunci: Model CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), Membaca, Menulis, Paragraf, SD. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi aktif dengan benar baik secara lisan maupun tulis. Tetapi kenyataan yang terjadi di SDN Tamanharjo 1 Singosari, siswa cenderung pasif dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar mereka, khususnya tentang membaca dan menulis paragraf. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran bahasa Indonesia masih bersifat konvensinal dan didominasi oleh guru. Siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut coba diatasi dengan model pembelajaran CIRC yang sesuai untuk mengatasi permasalahan siswa dalam membaca dan menulis paragraf. Kegiatan belajarnya berkelompok dalam menemukan ide pokok paragraf. Semua siswa dalam kelompok aktif karena memiliki tugas yang jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:1) Penerapan model pembelajaran CIRC pada pelajaran membaca dan menulis paragraf siswa kelas IV materi ide pokok paragraf; 2) Peningkatan kemampuan membaca paragraf dan menemukan ide pokok siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari; dan 3) Peningkatan kemampuan menulis paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari. Rancangan penelitian berupa penelitian tindakan kelas. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dan perencana tindakan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tamanharjo 1 Singosari dengan subjek siswa kelas IV jumlah 33 siswa. Data yang dikumpulkan berupa penerapan aktivitas mengajar guru menggunakan model CIRC, kemampuan siswa membaca dan menemukan ide pokok paragraf, kemampuan siswa dalam menulis paragraf. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Data yang dianalisis berupa data tentang penerapan guru dalam mengajar menggunakan model CIRC, kemampuan siswa dalam membaca dan menemukan ide pokok, kemampuan siswa dalam menulis paragraf . Prosedur penelitian dilaksanakan menggunakan model siklus Kemmis dan Taggart. Hasil penelitian setelah menggunakan model pembelajaran CIRC kemampuan siswa menemukan ide pokok paragraf siklus I rata-rata kelas 75 siklus II 82,87. Sedangkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf siklus I rata-rata kelas 65,33, siklus II 77,96. Hal tersebut menunjukkan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis paragraf. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:1) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat dilaksanakan dengan baik sesuai rencana pembelajaran; 2) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari; 3) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari. Saran peneliti ditujukan pada: 1) bagi siswa, agar dapat mengembangkan ketrampilan menulis khusunya kemampuan menulis paragraf berdasarkan ide pokok yang ditemukan dengan bahasa sendiri; 2) bagi guru, agar menerapkan model pembelajaran CIRC dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada matei lain; 3) bagi peneliti lain, mencoba model ini dengan materi lain dan dapat mengembangkan penelitian ini lebih baik lagi.

Pembuatan modul pengujian karakteristik pengaturan generator AC satu fasa / Lutfi Riyadus Sholihin.

 

Kata kunci: modul, generator AC satu fasa, karakteristik luar dan pengaturan Generator merupakan mesin yang digunakan untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Berdasarkan jumlah fasanya dibedakan menjadi dua yaitu: 1) generator satu fasa dan 2) generator tiga fasa. Generator mempunyai beberapa karakteristik diantaranya: a) karakteristik luar dan b) karakteristik pengaturan. Karakteristik generator bermanfaat untuk mengetahui keterkaitan antara arus dan tegangan pada suatu pembangkit tenaga listrik. Untuk menambah ketrampilan yang dimiliki mahasiswa program D-3 Teknik Elektro dalam bidang pembangkitan tenaga listrik dan mesin-mesin listrik perlu mengadakan suatu pengujian. Pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang khususnya D3 Teknik Elektro perlu melakukan pengujian generator AC satu fasa tersebut. Hal ini dikarenakan pada salah satu program study perkuliahan yaitu Mesin Listrik 2 yang membahas tentang generator. Mahasiswa dituntut untuk memahami dan mampu menguasai teori-teori yang diberikan selama perkuliahan. Salah satu kajian teorinya yaitu pengujian karakteristik pengaturan generator AC satu fasa. Karena selain dapat menambah ilmu tentang generator juga dapat menambah ilmu praktikum tentang generator AC satu fasa. Dalam pembuatan modul pengujian karakteristik pengaturan generator alat-alat yang dibutuhkan antara lain: jala-jala listrik, inverter, catu daya DC, motor AC tiga fasa, beban (tahanan air), dan peralatan lainya. Pengujian karakteristik pengaturan generator dibagi menjadi dua pengujian yaitu: (1) pengujian karakteristik luar dan (2) pengujian karakteristik pengaturan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian karakteristik luar adalah sebagai berikut: (a) tegangan jepit berubah hal ini dikarenakan perubahan arus pada beban, (b) arus pada beban berubah-ubah berdasarkan pengaturan pada tahanan air , (c) arus penguatan medan tetap, (d) faktor daya tetap, dan (e) putaran generator konstan. Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian karakteristik pengaturan adalah sebagai berikut: (a) tegangan jepit dipertahankan tetap dengan mengubah nilai arus penguatan medan, (b) arus pada beban berubah-ubah berdasarkan pengaturan pada tahanan air, (c) arus penguatan medan berubah-ubah untuk mengatur nilai tegangan jepit agar tetap konstan, (d) faktor daya tetap, dan (e) putaran generator konstan. Dari hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pada karakteristik luar generator semakin besar nilai arus beban 〖(I〗_L) yang dihasilkan semakin kecil nilai tegangan jepit (E_k ) yang dihasilkan hal ini dikarenakan terjadi rugi-rugi impedansi dan terdapat flux bocor pada generator. Sedangkan pada karakteristik pengaturan semakin besar nilai arus beban (I_L) yang diberikan maka semakin besar pula nilai arus penguatan medan (I_m) hal ini dikarenakan untuk mempertahankan nilai tegangan jepit (E_k ) agar tetap konstan.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTS Mambaul Ulum Banjarejo / Husnul Fathoni

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, STAD, Hasil belajar Berdasarkan hasil try out yang dilaksanakan oleh KKM MTsN Malang III sebanyak 5 kali pada tahun pelajaran 2011/2012, siswa MTs Mambaul Ulum Banjarejo yang lulus rata-rata 9 % dari 79 siswa. Standar kelulusan minimal yang harus dicapai siswa setiap mata pelajaran adalah 5,50. Oleh karena itu, diperlukan deskripsi penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIII MTs Mambaul Ulum Banjarejo. Instrumen pengumpulan data adalah tes, pedoman wawancara dan lembar observasi. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui beberapa tahapan. Yaitu (a) pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam, mempresensi siswa, dan menyampaikan tujuan pembelajaran tentang gradien dan persamaan garis lurus, memotivasi siswa dengan menampilkan gambar menara pisa dan memberikan beberapa bertanyaan berkaitan dengan menara pisa, dan membahas materi prasyarat serta memberikan soal dengan metode penemuan terbimbing, (b) Siswa dibagi menjadi 6 kelompok berdasarkan nilai pretes. Setiap kelompok diberi LKS sebanyak 2 untuk didiskusikan dengan anggota kelompok. 1 LKS dikumpulkan dan 1 LKS arsip kelompok. (c) postes, siswa mengerjakan postes berdasarkan kemampuannya. dan (d) pemberian penghargaan kepada kelompok berdasarkan poin peningkatan setiap kelompok. Pemberian penghargaan kepada siswa berupa sertifikat yang dibuat oleh guru.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 |