Efektivitas penggunaan kartu konsep pada metode pengajaran inkuiri induktif terhadap hasil belajar fisika siswa kelas I MAN Sumenep / oleh Abdul Hayyi

 

Penerapan kolaborasi model pembelajaran think pair share dengan talking stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada standar kompetensi melaksanakan negosiasi (studi pada siswa kelas XI Pemasaran di SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Reviana Widiawati

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Think Pair Share, Talking Stick, Hasil Belajar. Berdasarkan data-data pada saat pra penelitian yang dilakukan di SMK Muhammadiyah 2 Malang diperoleh informasi bahwa pembelajaran pada standar kompetensi Melaksanakan Negosiasi masih jarang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Think Pair Share dengan Talking Stick. Model pembelajaran ini akan membuat siswa lebih menguasai materi serta menghilangkan rasa bosan karena diselingi dengan permainan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) Observasi, dan (4) refleksi. Subyek penelitian adalah 39 siswa kelas XI Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Hasil penerapan kolaborasi model pembelajaran Think Pair Share dengan Talking Stick ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I hasil belajar kognitif sebesar 74,36% , sedangkan pada siklus II sebesar 87,18%. Peningkatan terjadi sebesar 12,82%. Sedangkan hasil belajar siswa ditinjau dari aspek afektif siklus I sebesar 66,67%. Berdasarkan kriteria penilaian afektif, maka nilai rata-rata siswa “B” dengan keterangan “Baik”, sedangkan pada siklus II hasil belajar siswa ditinjau dari aspek afektif sebesar 82,05% , berdasarkan kriteria penilaian afektif, maka nilai rata-rata siswa “A” dengan keterangan “Baik Sekali”. Maka terjadi peningkatan hasil belajar ditinjau dari rata-rata aspek afektif yaitu sebesar 15,38%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa : (1) penerapan model pembelajaran Think Pair Share dan Talking Stick pada standar kompetensi melaksanakan negosiasi pada kelas XI Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang dilakukan dengan tiga tahap yaitu Think, Pair, Share dikolaborasikan dengan Talking Stick ini dapat dikatakan berhasil tetapi kurang maksimal. (2) penerapan model pembelajaran Think Pair Share dan Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan aspek afektif, (3) kendala dan solusi yang dihadapi dalam penerapan model pembelajaran Think Pair Share dan Talking Stick adalah siswa belum terbiasa dengan pembelajaran ini sehingga pada tahap Think Pair Share yang dikolaborasikan dengan Talking Stick menjadi kurang maksimal. Untuk mengatasinya, peneliti memberikan motivasi kepada siswa, agar tetap aktif dan percaya diri selama pembelajaran, selain itu penggunaan waktu yang cukup lama dalam penerapan Think Pair Share dengan Talking Stick membuat penggunaan waktu masih belum sesuai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Solusi pemecahannya peneliti harus dapat mengatur waktu dan tidak bosan untuk mengingatkan siswa tentang waktu yang telah dipakai dan berapa lama lagi sisa waktu yang dimiliki agar dalam penerapan model Think Pair Share dengan Talking Stick baik peneliti dan siswa dapat memanfaatkan waktu secara maksimal. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang diberikan oleh peneliti adalah 1) bagi sekolah diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam memberikan inovasi untuk peningkatan pelaksanaan pembelajaran yang ada di kelas namun perlu dipertimbangkan kriteria mata pelajaran sebaiknya mata pelajaran tersebut sesuai karakteristiknya,2) bagi guru penerapan model pembelajaran Think Pair Share dan Talking Stick diharapkan mempertimbangkan beberapa hal yaitu,(a) untuk memperhatikan dalam penggunaan waktu agar sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, (b) guru memilih materi yang sesuai karakteristik model pembelajaran think pair share dengan talking stick, (c) peran guru sangat dibutuhkan untuk memberi pengarahan pada siswa, agar siswa lebih percaya diri sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang menjadi lebih baik. 3) bagi siswa diharapkan pada saat model pembelajaran think pair share dengan talking stick perlu meningkatkan keaktifan dalam bertanya maupun berpendapat agar lebih memahami materi dan bisa menjadi inovasi pembelajaran siswa untuk meningkatkan hasil belajar. 4) bagi peneliti lain disarankan untuk memperhatikan dalam membuat catatan lapangan dengan format yang lebih banyak untuk observer, dalam pelaksanaannya observer juga harus bisa dalam pengelolaan kelas agar siswa tidak rame sehingga memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru dan memberikan penguatan pada siswa yang kurang aktif misalnya memberikan nilai tambahan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa program studi keahlian tata boga di SMK Negeri 1 Batu / Vega Irmasari

 

Kata Kunci: Faktor-faktor, Pengaruh, Prestasi Belajar Prestasi belajar siswa program studi keahlian Tata Boga di SMK N 1 Batu lebih rendah dibandingkan dengan program studi lainya. Rendahnya prestasi belajar tersebut dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi motivasi belajar dan minat belajar. Faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga dan fasilitas belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa program studi keahlian Tata Boga di SMK N 1 Batu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI dan XII tahun ajaran 2012/2013 program studi keahlian Tata Boga yaitu sebanyak 116 siswa. Dalam pengambilan sampel digunakan teknik stratified proportional random sampling dengan 90 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik inferensial dengan menggunakan analisis data regresi berganda. Hasil Analisis data diketahui motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dibuktikan dengan thitung 2,623 > ttabel 1,988 pada nilai signifikansi 0,010 < 0,05. Minat belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dibuktikan dengan thitung 2.047 > ttabel 1,988 pada nilai signifikansi 0,044 < 0,05. Lingkungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dibuktikan dengan thitung 2,752 > ttabel 1,988 pada nilai signifikansi 0,007 < 0,05. Fasilitas belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dibuktikan dengan thitung 2,208 > ttabel 1,988 pada nilai signifikansi 0,030 > 0,05. Faktor yang paling berpengaruh dilihat dari besarnya koefisien regresi yang paling besar adalah lingkungan keluarga sebesar 0,245. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa motivasi belajar, minat belajar, lingkungan keluarga dan fasilitas belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa program studi Tata Boga di SMK N 1 Batu. Faktor yang paling mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah lingkungan keluarga. Guru hendaknya selalu memotivasi dan senantiasa menumbuhkan minat belajar siswanya. Orang tua sebaiknya lebih memperhatikan lagi putra-putrinya dalam belajar, seperti memberi dorongan/motivasi untuk belajar, memberikan suasana rumah yang nyaman untuk belajar dan melengkapi kebutuhan anak untuk belajar.

Maroalitas cerita Kunjarakarno pada relief Candi Jajaghu Dusun Jago Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang / Fitri Elizi

 

Kata kunci : moralitas, cerita rakyat, relief Indonesia adalah negara yang terkenal akan kekayaan sejarah budayanya, termasuk kesenian, kesusastraan, dan kepercayaan agama. Masyarakat Indonesia perlu mengadakan berbagai upaya untuk mempertahankan budaya luhur bangsa Indonesia. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menggali kembali peninggalan-peninggalan daerah yang mengandung nilai-nilai luhur melalui penelitian, pengkajian, dan pengembangan bahasa dan sastra daerah. Nilai-nilai luhur tersebut dapat kita gali dari cerita rakyat, karena cerita rakyat mengandung banyak nilai luhur yang dapat dipetik diantaranya adalah nilai moral. Salah satu cerita rakyat yang dituliskan adalah cerita yang terdapat pada dinding candi atau lebih dikenal dengan relief. Cerita pada relief tersebut memiliki nilai moral jika dikaji. Penelitian ini menggunaka rancangan deskriptif kualitatif dengan pendekatan moral. Pendekatan tersebut digunakan untuk moralitas yang terdapat dalam cerita Kunjarakarna pada relief Kunjarakarna di candi Jajaghu. Sumber data yang peneliti gunakan adalah relief Kunjarakarna yang ada pada candi Jago. Narasumber dalam penelitian ini adalah juru kunci, biksu, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat sekitar Candi Jajaghu. Moralitas sosial pada cerita Kunjarakarna pada relief Candi Jago meliputi : (a) kepatuhan, bentuk kepatuhan pada cerita Kunjarakarna yaitu kepatuhan Kunjarakarna pada tuhan dan kepatuhan Kusumagandawati pada Purnawijaya agar menunggui jasad Purnawijaya. Kepatuhan pada cerita Kunjarakarna digambarkan pada adegan ketiga, ke-12 dan ke- 13, (b) pemberani, bentuk pemberani pada cerita Kunjarakarna yaitu Kunjarakarkarna yang tetap masuk kedalam neraka meski telah diperingatkan Dwarapala. Sifat pemberani pada cerita Kunjarakarna digambarkan adegan ketiga dan keempat, (c) tanggung jawab, bentuk tanggung jawab pada cerita Kunjarakarna yaitu Purnawijaya yang digambarkan menjalani siksaan di neraka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sifat tanggung jawab pada cerita Kunjarakarna digambarkan pada adegan ke-25 dan ke-26, (d) setia, bentuk setia pada cerita Kunjarakarna yaitu Kusumagandawati yang setia menunngui jasad suaminya dan Kusumagandawati melakukan pemujaan untuk memohonkan ampun dosa suaminya. Sifat setia pada cerita Kunjarakarna tampak panel ke-13, ke-31 dan ke-32, (e) suka menolong, bentuk suka menolong pada cerita Kunjarakarna yaitu Kunjarakarna mengantarkan Purnawijaya menemui Budha Wairocana. Sifat suka menolong pada cerita Kunjarakarna terdapat pada panel ke-10, (f) peduli nasib orang lain, bentuk peduli pada nasib orang lain pada cerita Kunjarakarna yaitu Kunjarakarna melihat sebuah tempat penyiksaan yang disiapkan untuk Purnawijaya yang akan ii segera meninggal dan melihat itu Kunjarakarna memberitahu Purnawijaya. Sifat peduli nasib orang lain pada cerita Kunjarakarna terdapat pada panel keenam dan ketujuh, (g) mengingatkan orang lain yang melakukan kesalahan, bentuk mengingatkan orang lain pada cerita Kunjarakarna yaitu kedatangan Kunjarakarna ke tempat Purnawijaya untuk memperingatkan kesalahan Purnawijaya. Sifat yang suka mengingatkan orang lain yang melakukan kesalahan tampak pada panel ke-10. Moralitas religi pada cerita Kunjarakarna pada relief candi Jago adalah sebagai berikut : (a) memohon ampun, bentuk memohon ampun yaitu Kunjarakarna yang dalam posisi berjongkok menyembah memohon ampun pada Buddha Wairocana, Purnawijaya datang memohon ampun pada Buddha Wairocana, Kusumagandawati datang memuja kepada Buddha Wairocana memohonkan ampun untuk suaminya. Pada cerita Kunjarakarna memohon ampun ampak pada panel kedua, ke-10, ke-31 dan ke-32, (b) Taubat, bentuk taubat pada cerita Kunjarakarna yaitu Purnawijaya datang memohon ampun pada Buddha Wairocana dan Purnawijaya digambarkan dalam hutan Mahameru menuju pertapaannya. Taubat nampak pada panel ke-10, ke-12, dan ke-49. Disarankan bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian yang berkaitan dengan cerita Kunjarakarna, mampu mengadakan penelitian dari pendekatan lain selain nilai moral. Relief adalah cerita yang dipahatkan di dinding candi, pada cerita relief tersebut banyak hal yang bisa dikaji. Sehingga karya sastra tidak hanya meliputi novel, cerpen dan puisi, namun juga cerita yang ada pada relief suatu candi. Bagi pembaca diharapkan dapat menghayati dan m engambil pelajaran nilai moral-nilai moral yang terdapat pada cerita Kunjarakarna. Bagi lembaga terkait, diharapkan dari nilai moral yang terjadi pada penelitian ini, lembaga terkait dapat mengambil hikmah dan menanamkan nilai moral tang baik dalam berbangsa dan bernegara. Selain itu, agar dinas yang terkait agar menyokong pelestarian warisan leluhur kita berupa candi pada umumnya dan Candi Jago pada khususnya. Pelestarian ini bertujuan agar warisan leluhur tersebut dapat dinikmati oleh generasi penerus.

Perancangan logo untuk perusahaan pengolahan minuman sari buah PT Buana Cipta Viesta Technology Malang / Anang Hariyanto

 

Kata Kunci: perancangan, desain, logo, PT Buana Cipta Viesta Technology PT Buana Cipta Viesta Technology merupakan perusahaan industri minuman sari buah yang baru berdiri di Kota Malang. Sebagai perusahaan yang baru berdiri, PT Buana Cipta Viesta Technology membutuhkan sebuah identitas perusahaan yangmemiliki konsep kuat dan diferensiasi atau usaha untuk membedakan identitasnya sehingga mampu untuk menciptakan sebuah identitas sesuai dengan karakteristik, bidang usaha dan tujuan perusahaan. Perancangan logoPT Buana Cipta Viesta Technology menggunakan metode perancangan yang dikemukakan oleh M. Yoshioka yang disesuaikan dengan kebutuhan perancangan logo. Pada konsep perancangan di ciptakan gaya desain dekoratif yang mendukung citra dan tujuan perusahaan, yaitu sebuah perusahaan yang mengoptimalkan sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan teknologi untuk menghasilkan produk minuman sari buah yang mendunia dan memberikan manfaat bagi manusia, serta didukung dengan aplikasi warna yang melambangkan kesehatan, alami dan kesegaran berpadu dengan kebersihan dan teknologi. Perancangan ini menghasilkan logo yang merepresentasikan citra dan tujuan perusahaan, yang diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual untuk membangun dan meningkatkan image perusahaan. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur dalam melakukan perancangan logo, baik bagi mahasiswa, desainer pemula, pengajar dan lain sebagainya.

Model nilai sekarang dari anuitas hikdup akhir dengan pembayaran berubah K kali setahun / Umi Qoiriah

 

Using photonovela to improve grade X students of SMA Negeri 2 Kediri in writing a recount text / Khoiruddin Yanuar Syam

 

Kata Kunci: pembelajaran menulis, fotonovela, teks recount Di level SMA, siswa memiliki beberapa masalah dalam menulis teks recount. Berdasarkan hasil penelitian awal, masalah yang dihadapi siswa adalah kesulitan untuk menuangkan, mengembangkan, dan menata ide dalam paragraf yang koheren dan kesulitan menggunakan tata bahasa teks recount. Untuk mengatasi masalah ini, fotonovela akan digunakan pada pembelajaran menulis, khususnya saat proses menulis. Penggunaan fotonovela adalah sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis teks recount. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam menuangkan, mengembangkan, dan menata ide serta menggunakan tata bahsa yang benar dalam penulisan teks recount. Prosedur strategi yang dilaksanakan yaitu penguatan kemampuan siswa pada fitur kebahasaan dan organisasi teks recount, pengenalan fotonovela, lalu siswa harus membuat fotonovela berdasarkan pengalaman yang menarik yang kemudian dituangkan dalam sebuah teks recount. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Kediri, Jalan Veteran No 7 Kota Kediri. Subjek penelitian adalah kelas X1 tahun akademik 2012/2013 yang terdiri dari 20 siswa, 9 laki-laki dan 11 perempuan. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian tindakan kelas. Data yang diambil terdiri dari kegiatan siswa selama proses pembelajaran dan nilai menulis siswa. Instrumen pegumpulan data adalah wawancara, catatan lapangan, dan tulisan siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri dari enam pertemuan. Dalam satu siklus, peneliti berencana untuk menguatkan kemampuan tata bahasa pada teks recount dan menuangkan, mengembangkan dan menata ide melalui fotonovela. Selama proses pembelajaran, siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis recount teks namun masih ada 3 siswa (15%) yang mendapatkan nilai dibawah 3,75 (4). Pada akhir satu siklus, semua siswa (100%) mampu mencapai tujuan mendapatkan nilai sekurang-kurangnya 4 dalam aspek isi dan organisasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan fotonovela dalam proses menulis bisa membantu siswa dalam menuangkan, mengembangkan, dan menata ide dengan baik dalam penulisan teks recount. Saran yang dapat disampaikan adalah guru mata pelajaran Bahasa Inggris dapat menerapkan fotonovela dalam pembelajaran menulis khususnya menulis teks recount karena fotonovela menarik, otentik, dan mudah untuk diterapkan pada siswa. Untuk para peneliti di masa mendatang, disarankan untuk menggunakan fotonovela pada jenjang pendidikan dan tipe teks yang lain juga keefektifan fotonovela melalui penelitian eksperimental.

Ciri-ciri struktur intrinsik bacaan cerita siswa sekolah dasar kelas empat dalam buku paket Bahasa Indonesia
oleh Suprihadi Saputro

 

Penggunaan media tazos dalam pembelajaran bahasa Jerman siswa kelas XI-IS I SMAN 8 Malang / Hidayah Hamzah

 

Kata Kunci: Media pembelajaran, Tazos, Pembelajaran Bahasa Jerman. Tazos merupakan salah satu jenis media pembelajaran yang berupa permainan kartu kata bergambar. Media ini dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Jerman khususnya untuk melatih kosakata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media Tazos dalam pembelajaran bahasa Jerman di kelas XI-IS I SMAN 8 Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI-IS I SMAN 8 Malang tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 19 orang siswa. Penelitian ini menggunakan tiga buah instrument yaitu, observasi, angket dan tes yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan media Tazos dalam pembelajaran bahasa Jerman. Dari hasil observasi oleh observer menyatakan bahwa siswa sangat bersemangat dalam kegiatan pembelajaran. Hasil angket menunjukkan 52,6% siswa setuju, bahwa media Tazos dapat menumbuhkan semangat siswa dalam pembelajaran. Dari hasil tes, diketahui bahwa nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa adalah 90,7. Hal tersebut berarti siswa telah memahami materi pembelajaran bahasa Jerman dengan baik, karena kriteria ketuntasan minimum di SMAN 8 Malang adalah 78.

Pemakaian bahasa osing siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri I Banyuwangi tahun ajaran 1995/1996
oleh Hairiyah

 

Studi tentang manik-manik dari limbah kaca di Desa Plimbon Gambang Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang / Shelvi Intan Munika

 

Kata Kunci: manik-manik, limbah kaca, Desa Plumbon Gambang Manik-manik yang berasal dari bahan limbah kaca adalah manik yang memiliki keistimewaan. Usaha itu merupakan industri rumah yang sederhana, namun semenjak tahun 1988, pengrajin manik kaca tersebut telah mengekspor produknya ke luar negeri. Pembuatan manik, termasuk dalam menguntainya telah menciptakan kesempatan kerja bagi pelajar putus sekolah, anak-anak sekolah yang ingin memperoleh uang saku, para guru atau pegawai berpenghasilan rendah yang dapat menambah pendapatan mereka. Fokus penelitian ini adalah bagaimana proses pembuatan manik-manik dari limbah kaca di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang serta pemanfaatan sebagai bahan dasar untuk membuat aksesoris busana. Penelitian ini dilakukan di sentra industri manik-manik Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia, peristiwa, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Prosedur analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi data, dan triangulasi. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan manik adalah limbah kaca, pewarna keramik, monte warna, pasir emas, tepung terigu dan kaolin. Sedangkan alat-alat yang diperlukan antara lain: Timbangan, tungku, kompor strong, kompor duduk atau kompor modifikasi, gas elpiji, tempayan, tang, kawat, pipa stenlis, gerinda, kapi. Proses pembuatan kerajinan manik-manik dilakukan dalam dua tahap, yaitu pada tahap pertama membuat batangan kaca dengan cara memanaskan pecahan kaca sampai menjadi lumat kemudian dicubit dan ditarik dengan menggunakan tang pada ujungnya. Tahap kedua adalah membuat butiran manik dengan cara batangan kaca yang sudah jadi dipanaskan kembali pada ujungnya lalu dililitkan melingkar pada kawat yang telah dilapisi kaolin dan tepung terigu,dibentuk sesuai keinginan dengan menggunakan kapi. Pembuatan motif pada manik-manik dilakukan langsung diatas api dengan menggunakan batangan kaca yg berukuran kecil. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan yaitu, para pengusaha dan perajin melaksanakan proses pembuatan melalui beberapa tahap yaitu: (1)Tahap perencanaan motif, brntuk, warna dan desain, (2)Tahap persiapan Alat dan Bahan, (3)Tahap Proses Pembuatan, (4)Tahap Akhir Proses merangkai menjadi produk jadi atau aksesoris.

Kesalahan pemakaian Bahasa Indonesia ragam ilmiah: aspek kata kalimat dalam skripsi mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIPM ALANG tahun 1994
oleh Siti Khoiriyah

 

Pemakaian bentuk sapaan dalam kegiatan rapat bulanan pengurus PERIP (Persatuan Istri-istri Purnawirawan) ABRI Ranting II - anak Cabang II Grati Pasuruan
oleh Yuyus Robentien

 

Penciptaan motif batik malangan berbasis kearifan lokal daerah Malang melalui media digital / Muhammad Arif Rahman Hakim

 

Kata Kunci: Penciptaan,Kearifan Lokal, Batik, Digital. Malang merupakan kota beragam akan kearifan lokal daerah (Local Wisdom), yang tahun 2007 lalu telah mematenkan batiknya. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pengembangan demi menciptakan batik Malangan yang dapat dinikmati oleh khalayak umum untuk warga kota Malang, meliputi ikon kotanya singa, tugu Malang, bunga teratai serta bola. Kajian penciptaan ini bertujuan menciptakan motif batik Malangan yang inovatif, sekaligus mengangkat kearifan lokal daerah lingkup kota Malang. Karena kurangnya kepedulian terhadap kearifan lokal serta warga kota Malang banyak yang belum mengetahui tetang batik Malangan. Model penelitian penciptaan merupakan dasar dalammenciptakan produk yang akan dihasilkan. Dalam penciptaan menggunakan model prosedural, yakni mendefinisikan proses kearifan lokal daerah Malang secara rinci dan intensif meliputi penentuan informasi dengan mengambil pada subjek selera motif desain masyarakat yang terus berkembang dalam penciptaan desain. Dalam penciptaan karya motif batik Malangan digital dengan basis tema kearifan lokal daerah Malang yang menampilkan dari objek yang paling interest yakni variatif bunga, bola, dan kesenian tari sertamengangkat dari filosofi sejarah candi Badut ini dengan tiga tahapan antara lain tahap permulan (Incept), tahap penyempurnaan dan yang terakhir tahap penyelesaian menggunakan Sofware desain. Hasil karya penciptaan motif batik Malangan digital ini adalah penciptaan motif batik 1 (Malang Singaku), penciptaan motif batik 2 (Makobu), peniptaan motif batik 3 (Satu Padma), motif batik 3.1 (Ijo Coklat), motif batik 3.2 (Kembang Pucuk ), motif batik 3.3 (Isih Asih), motif batik 3.4 (Scarlet Pute) serta penciptaan motif batik 4 (Singamu), motif batik 4.1 (Sisinga Muda), motif batik 4.2 (Singa Dua) dan motif batik 4.3 (Singa Desa). Meliputi bunga yang mewakili kota Malang yakni bunga teratai. Dengan penerapan pada aplikasi lanjut bahwa motif batik tersebut mudah dan praktis untuk diterapkan pada tekstil dan nontekstil. Motif batik Malangan digital ini penerapannya membutuhkan banyak biaya serta desain dari motif tersebut cenderung dengan warna gelap. Karya penciptaan motif batik ini pada akhirnya mampu memberikan pengalaman kepada pengamat baik dari segi visualisasi dan teknik. Bahwa hal yang menjadikan pola motif merupakan batik, adalah batik terdiri atas tanahan (dasaran), isen-isen (pengisi), serta cecek (titik), meski pada pembuatan pola gambar di lakukan secara manual ataupun digital (sablon).Segi isi pesan yang ingin tersampaikan penulis adalah bagaimana kearifan lokal dan batik dapat menjadi tema inovatif serta kajian luhur untuk masyarakat.

Analisis sistem pengendalian intern terhadap sistem penjualan pada PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk. Malang
oleh: Rosiawati

 

Pemakaian bahasa Indonesia keilmuan dalam skriupsi mahasiswa program pendidikan Olahraga dan kesehatan FIP IKIP MALANG tahun 1992
oleh Ana Puji Astuti

 

Pengembangan buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah drama Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya / Coulina Dike Virginis Sholiha

 

Kata kunci: buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran, metode Constantin Stanilavsky, naskah drama Bila Malam Bertambah Malam. Bermain peran, khususnya dalam sebuah kelompok teater, tidak dapat diajarkan dengan cepat dan langsung tanpa ada persiapan yang cukup matang. Oleh karena itu perlu dibuat dan diterapkan cara yang dinilai efektif untuk bermain peran. Dengan adanya pengembangan buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran, pelatihan berpusat pada aktor, bukan berpusat pada sutradara. Metode pelatihan dalam bermain peran dapat dikatakan sebagai metode yang dirancang untuk memunculkan pelatihan kemampuan aktor secara menyenangkan sehingga target memunculkan karakter tokoh dalam aktor tercapai. Pelatihan kemampuan bermain peran ini menitikberatkan pada aktor yang akan berusaha sendiri untuk memunculkan kemampuan bermain perannya. Sedangkan sutradara hanya menjadi fasilitator yang nantinya akan membantu mengarahkan aktor dalam bermain peran dengan langkah-langkah yang terangkum dalam buku panduan. Penelitian ini menerapkan metode Constantin Stanilavsky, pertimbangannya Constantin Stanilavsky adalah sutradara, aktor, dan guru dalam bidang bermain peran. Ia adalah seorang teoritikus paling penting abad dua puluh dalam bidang seni teater. Stanilavsky memusatkan diri pada pelatihan keaktoran dengan pencarian laku secara psikologis. Ia terkenal menelurkan 6 prinsip pelatihan aktor yang menitikberatkan pada masalah tubuh dan pikiran aktor, body and mind untuk mewadahi psikologis aktor dan karakter naskah. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan yang bersifat deskriptif kualitatif. Melalui penelitian pengembangan ini, diperkenalkan buku panduan pelatihan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky. Setiap tahapan metode tersebut terdiri atas kegiatan terstruktur sebagai metode pelatihan bermain peran. Pertimbangan pokok dalam menentukan metode pelatihan bermain peran terletak pada keefektifan proses pelatihan bermain peran melalui enam tahap prinsip Constantin Stanilavsky yang dikembangkan dan diwujudkan menjadi buku panduan pelatihan bermain peran. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan: (1) Deskripsi langkah buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah BMBM karya Putu Wijaya prinsip pertama: aktor harus memiliki fisik prima, fleksibel, dan vokal yang terlatih dengan baik agar mampu memainkan berbagai peran, (2) Deskripsi langkah buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah BMBM karya Putu Wijaya prinsip kedua: aktor harus mampu melakukan observasi kehidupan sehingga ia mampu menghidupkan akting, memperkaya gestur, serta mencipta vokal yang artifisial, (3) Deskripsi langkah buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah BMBM karya Putu Wijaya prinsip ketiga: aktor harus menguasai kekuatan psikisnya untuk menghadirkan imajinasinya, (4) Deskripsi langkah buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah BMBM karya Putu Wijaya prinsip keempat: aktor harus mengetahui dan memahami tentang naskah lakon, (5) Deskripsi langkah buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah BMBM karya Putu Wijaya prinsip kelima: aktor harus berkonsentrasi pada imaji, suasana, dan intensitas panggung, dan (6) Deskripsi langkah buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah BMBM karya Putu Wijaya prinsip keenam: aktor harus bersedia bekerja secara terus menerus dan serius mendalami pelatihan demi kesempurnaan dari dan penampilan perannya. Subjek dalam penelitian ini adalah anggota teater SMA Syarif Hidayatullah Pasuruan yang telah lolos casting. Dari 21 siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler teater, dipilih 4 orang calon aktor yang lolos berdasarkan karakteristik tokoh pada naskah drama Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya. Akan tetapi, pelatihan ini hanya dibatasi 2 subjek penelitan yang dinilai dalam proses pelatihan bermain peran, yaitu tokoh Gusti Biang dan Wayan yang membawakan tema cerita. Aktor tersebut mengikuti pelatihan akting dan dialog selama 11 kali pertemuan sesuai tahapan metode Constantin Stanilavsky. Spesifikasi produk yang dihasilkan berupa buku panduan pelatihan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky untuk naskah drama Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya yang telah diujicobakan pada ahli pembelajaran drama, uji praktisi yaitu pelatih, dan uji lapangan yaitu aktor. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa buku panduan pelatihan kemampuan bermain peran dengan metode Constantin Stanilavsky dapat digunakan untuk kegiatan pelatihan bermain peran karena berdasarkan analisis proses seluruh tahapan kegiatan menunjukkan bahwa aktor dapat bermain peran dengan baik. Analisis proses tersebut dapat disimpulkan bahwa aktor telah mampu mengembangkan kemampuan bermain peran dengan baik pada enam tahapan prinsip bermain peran oleh Constantin Stanilavsky.

Analisis kesalahan berbahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas II SMEA Ardjuna I Malang tahun 1994/1995
oleh Siti Saudah

 

Optimalisasi Travelling Salesman Problem with Time Windows (TSPTW) dengan algoritma semut / Budi Prasetyo Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Budi Prasetyo. 2012. Optimalisasi Travelling Salesman problem with Time Windows dengan Algoritma Semut. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D, (II) Susy Kuspambudi Andaini, M. Kom. Kata kunci: Graph, Algoritma Semut, TSPTW. Travelling Salesman Problem with Time Windows adalah permasalahan yang bertujuan untuk mencari biaya tour minimum dari sekumpulan kota, dimana tiap kota hanya dikunjungi satu kali saja dalam batas time windows tertentu, dan tiap kota harus dikunjungi pada batas time windows mereka masing-masing.Terdapat tambahan kendala untuk Travelling Salesman Problem With Time Windows, yaitu adanya time windows untuk masing-masing kota. Time windows [ , ] menunjukkan batas waktu pelayanan di kota i, dimana merupakan batas awalnya, dan merupakan batas akhirnya. Untuk menyelesaikan masalah ini, algoritma yang digunakan adalah algoritma semut. Ada beberapa tahap algoritma dalam menyelesaikan masalah TSPTW dengan algoritma semut, yaitu aturan transisi status, tahap pembaruan pheromon dan perhitungan rute akhir dengan time windows. Kemudian algoritma semut diimplementasikan dalam bahasa pemrograman Borland Delphi 7 dengan menggunakan parameter jumlah semut. Dari analisis didapat bahwa algoritma semut dengan tahap yang ada mampu menyelesaikan masalah TSPTW. Perhitungan secara manual menunjukkan algoritma semut mampu menyelesaikan masalah TSPTW lebih baik daripada algoritma genetika. Untuk membantu menyelesaikan masalah TSPTW, dibuatlah suatu program Delphi yang dapat mencari solusi dari 25 titik dengan 25 semut yang ditempatkan pada setiap titik dengan cepat. Dengan bantuan program ini, permasalahan TSPTW akan jauh lebih mudah dan cepat diselesaikan.

Kompetensi pragmatik aspek informasi faktual dalam menggunakan kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V Sekolah Dasar Klampok I Brebes tahun ajaran 1994/1995
oleh Wagiman

 

Studi tentang model pembelajaran fotografi di SMK Negeri 11 Malang / Guruh Nugroho Putro

 

Kata kunci: model pembelajaran, fotografi, SMK Negeri 11 Malang. Fotografi berasal dari bahasa yunani "photos" dan "graphein" yang arti sebenarnya adalah "melukis dengan cahaya". Dengan kata lain fotografi secara harfiah berasal dari kata photo berarti cahaya dan graphic berarti menggambar jadi kunci utama dalam membuat foto adalah "cahaya". Di era modern ini fotografi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari hal ini dapat terlihat dari banyaknya media publikasi baik iklan, koran, televisi, papan nama, maupun dalam dunia pendidikan yang digunakan dalam penyampaian sebagai media pembelajarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Model Pembelajaran Fotografi Bahan Ajar Pengetahuan Fotografi dan Berkarya Fotografi. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Malang. Sebagai nara sumber adalah guru dan beberapa siswa. Rancangan penelitian menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Analisis yang digunakan adalah analisa mengalir atau analisa terjalin. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran fotografi di SMK Negeri11 Malang pada bahan ajar Pengetahuan Fotografi menggunakan model pembelajaran akademik dan pembelajaran orang dewasa (POD) dengan pendekatan pembelajaran ekspositori. Metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan pemberian tugas/resitasi dengan menggunakan media berbantuan komputer dan alat peraga berupa kamera DSLR dan 3 lensa. Evaluasi yang digunakan adalah evaluasi formatif dimana dilaksanakan setiap satu pokok bahasan selesai. Pada bahan ajar Berkarya Fotografi model yang digunakan sama dengan bahan ajar Pengetahuan Fotografi namun dengan pendekatan pembelajaran yang sedikit berbeda. Pada bahan ajar Berkarya Fotografi menggunakan pendekatan pembelajaran ekspositori dan CBSA berkadar tinggi. Metode pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, pemberian tugs/resitasi, kelompok, dril/latihan, dan kerja cipta terarah. Media yang digunakan adalah media berbantuan komputer dan alat peraga berupa berupa kamera DSLR dan 3 lensa. Evaluasi yang digunakan adalah evaluasi formatif dimana dilaksanakan setiap satu pokok bahasan selesai. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar guru mata pelajaran Fotografi hendaknya memperhatikan aspek penyusunan RPP agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan kesesuaian dengan kurikulum dapat tercapai. Dan dilaksanakan penelitian lebih lanjut dibidang fotografi.

Pemakaian kalimat bahasa Indonesia dalam skripsi mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP MALANA semester genap tahun 1995
oleh Warminah

 

Pelaksanaan kelompok kerja guru pada gugus SD inti dalam meningkatkan profesionalisme guru di Kecamatan Batu Kota Batu / Prihastutik

 

Keyword: kelompok kerja guru, profesionalisme guru, Gugus SD Profesionalisme guru merupakan hal penting yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya-upaya peningkatan profesionalisme guru terus dilakukan baik oleh organisasi non guru seperti pihak pemerintah atau juga oleh organisasi yang beranggotakan para guru. Penelitian ini mengkaji tentang pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dalam upaya peningkatan profesionalisme guru. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan kegiatan meningkatkan profesionalisme guru; 2) menjelaskan strategi KKG dalam meningkatkan profesionalisme guru; 3) mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat KKG pada Gugus SD Inti dalam meningkatkan profesionalisme guru. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus yaitu menelaah suatu kasus secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif dalam hal ini adalah pelaksanaan kelompok kerja guru gugus SD Inti dalam meningkatkan profesionalisme guru Kecamatan Batu kota Batu. Pengumpulan data tersebut menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dari ketiga teknik tersebut dianalisis secara berulang yang di dalamnya melibatkan kegiatan reduksi data, sajian data, dan verivikasi/penarikan kesimpulan. Kredebilitas data di cek melalui trianggulasi sumber, tianggulasi metode, diskusi teman sejawat, dan kecukupan referensi. Sedangkan dependabilitas dan konfirmabilitas diperoleh melalui pengauditan oleh dosen pembimbing. Temuan penelitian ini adalah menunjukkan bahwa KKG SD Inti Kecamatan Batu memiliki berbagai kegiatan dalam pembinaan dan peningkatan profesionalisme guru. Signifikansi program kegiatan tersebut didukung strategi yang dilakukan pihak KKG dalam peningkatan profesionalisme guru. Di antara strategi tersebut meliputi pengembangan program KKG, pengidentifikasian terhadap berbagai permasalahan guru dan siswa sehingga mampu diatasi dengan solusi yang tepat, menentukan skala prioritas program, menentukan kinerja tahunan yang didasarkan pada skala prioritas, dan menyusun instrumen pengukuran keberhasilan KKG. Dalam menyelesaikan dan menjalankan tugasnya sebagai salah satu kelompok pembina dan peningkatan profesionalisme guru ditunjang berbagai faktor pendukung yang diantaranya tempat kegiatan yang memadai, program kerja yang jelas, kegiatan yang rutin, kualifikasi akademik guru yang sebagian besar telah memenuhi standar pendidikan, inovasi dan pemandu kegiatan. Beberapa hambatannya meliputi inkonsistensi dalam penerapan menggunakan pendekatan education production function atau input output analissis, kungkungan sistem birokrasi, kinerja yang belum maksimal, dan belum adanya panduan yang jelas. Dari hasil penelitian ini disarankan: (1) Bagi guru SD Kecamatan Batu Kota Batu, temuan dari penelitian ini diharapkan menjadi motivasi bagi guru untuk meningkatkan kinerja profesionalisme, seperti melakukan penelitian tindakan kelas serta membuat alat peraga pembelajaran, (2) Bagi pengurus KKG, temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengurus KKG untuk memaksimalkan kegiatan KKG sesuai dengan program dalam meningkatkan profesionalisme guru, (3) Bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah, berkontribusi dalam memberikan dukungan dan merevitalisasi peran KKG sebagai wadah guru untuk meningkatkan profesionalisme para guru, (4) Bagi Dinas Pendidikan Kota Batu, disarankan untuk selalu memberikan dukungan kepada pelaksanaan kegiatan KKG gugus sekolah di Kota Batu berupa kemudahan pemberian ijin kegiatan, pemberian dana blockgrand kegiatan KKG, dan sebagai nara sumber dalam kegiatan KKG, dan (4) Bagi Peneliti Selanjutnya, temuan dari penelitian dapat menjadi pijakan motivasi bagi peneliti selanjutnya untuk tertarik dan mengkaji lebih dalam perihal kegiatan KKG gugus sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru. Namun tidak hanya itu, banyak hal yang masih perlu dikaji dan diteliti tentang KKG gugus sekolah. Dan dengan rujukan hasil penelitian ini peneliti berikutnya akan mempunyai dasar dan rujukan yang variatif demi kesempurnaan penelitian selanjutnya.

Hubungan kemampuan memahami bahasa dengan kemampuan memahami isi wacana tulis bahasa Indonesia siswa kelas II MTs Nasruddin Dampit tahun pelajaran 1996/1997
oleh Kustiyawati

 

Teknik menjawab pertanyaan bacaan bahasa Indonesia siswa kelas I SMP IKIP MALANG tahun ajaran 1994/1995
oleh Edy Sujatmiko

 

Appopriateness of addressing terms used in Indonesian translation of Harry Potter and the chamber of secret / Arum Sulistyoningtyas

 

Key words: Kata Sapaan, Padanan, Kesesuaian, Harry Potter Ada kemungkinan ditemukannya beberapa kesalahan dalam sebuah terjemahan yang dilakukan oleh penerjemah, termasuk dalam hal kata sapaan. Terjemahan menurut Catford (1965:20) di dalam Choliludin (2007:4) adalah pengantian bahan tekstual dalam satu bahasa (bahasa sumber) dengan bahan tekstual bahasa lain (bahasa sasaran) yang sepadan. Oleh karena itu, setiap kelompok kata yang ada dalam bahasa sumber seharusnya di terjemahkan ke dalam bahasa sasaran dengan sepadan. Penelitian ini mempelajari tentang penggunaan kata sapaan dalam terjemahan Bahasa Indonesia Harry Potter dan Kamar Rahasia. Penulis bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian penggunaan kata sapaan dalam terjemahan Bahasa Indonesia dengan menggunakan teori Padanan. Harry Potter dan Kamar Rahasia dipilih sebagai objek penelitian karena merupakan hasil terjemahan Bahasa Indonesia yang telah gagal menemukan padanan kata sapaan. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif, jadi hasil penelitiannya berupa deskripsi dan data yang digunakan tidak dalam bentuk kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan ditemukannya kata sapaan yang secara budaya tidak sesuai dengan kata sapaan dalam Bahasa Indonesia. Ditemukan banyak kata sapaan pinjaman dalam novel bahasa sasaran. Kata sapaan seperti Mr, Mrs, dan Sir tetap digunakan dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia, padahal kenyataannya terdapat padanan kata sapaan dalam Bahasa Indonesia. Meskipun penggunaan pinjaman kata sapaan tidak merubah pesan novel, menurut teori penerjemahan, setiap kelompok kata yang ditemukan padanannya harus diterjemahkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ada beberapa penggunaan kata sapaan dalam terjemahan Bahasa Indonesia Harry Potter dan Kamar Rahasia yang sesuai dan yang tidak sesuai.

Komponen tutur dalam pengembangan materi pragmatik
oleh Sudibyo

 

Pengembangan multimedia interaktif untuk mata pelajaran mengolah makanan Indonesia pada kompetensi dasar salad Indonesia di SMKN 1 Nglegok Blitar / Ekanita Fauziah

 

Kata kunci : pengembangan, multimedia, interaktif Pengembangan adalah kegiatan merancang, memproduksi dan memvalidasi media pengembangan bahan ajar menggunakan aplikasi CD Interaktif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan multimedia pembelajaran untuk Matapelajaran Mengolah Makanan Indonesia pada Kompetensi Dasar Salad Indonesia siswa kelas XI Jasa Boga SMKN 1 Nglegok, dengan spesifikasi produk halaman awal berisi tentang intro, menu awal berisi tentang tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan biodata pengembang. Pembuatan multimedia pembelajaran mengolah makanan Indonesia menggunakan Model pengembangan milik Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk mempermudah analisis hasil. Model Borg & Gall terdiri dari 10 tahap, yaitu: (1) analisis situasi awal, (2) perencanaan multimedia, (3) pengembangan rancangan multimedia pembelajaran, (4) pembuatan multimedia pembelajaran (draft produk 1), (5) validasi ahli, (6) tahap revisi, dan (7) draft produk 2, (8) uji coba lapangan, (9) revisi, (10) produk jadi. Validasi produk dilakukan kepada ahli media dan ahli materi. Pedoman penilaian digunakan untuk mengumpulkan data tentang: (1) penilaian ahli materi, (2) penilaian ahli media, (3) penilaian pengguna/peserta didik. Setelah diperoleh masukan dari ahli materi dan ahli media, selanjutnya ,multimedia direvisi. Revisi selesai kemudian dilakukan uji coba produk ke siswa Jasa Boga SMKN 1 Nglegok. Teknik analisis data yang digunakan dalam menganalisis data kuantitatif berupa skor angket penilaian dengan menghitung persentase jawaban. Diperoleh Validasi dari ahli materi dengan nilai rata-rata persentase sebesar 90%, ahli media diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 88,33% dan uji coba lapangan terbatas diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 85%, sehingga diperoleh nilai rata-rata persentase keseluruhan sebesar 87,77% dan disimpulkan bahwa pengembangan multimedia pembelajaran interaktif untuk Matapelajaran Mengolah Makanan Indonesia dinyatakan valid dan tidak perlu direvisi.

Kemampuan menggunakan kata tugas siswa kelas III IPA SMA Negeri Trenggalek tahun 1985/1986
oleh Slamet

 

Pengaruh karakteristik bank dan kondisi makroekonomi terhadap profitabilitas pada bank umum yang go public di Bursa Efek Indonesia 2005-2008 / Dian Riestiawati

 

Kata kunci : Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional atas Pendapatan Operasional (BOPO), Besaran Perusahaan (SIZE), Pertumbuhan Produk Domestik Bruto, Tingkat inflasi dan ROA Perekonomian bank mempunyai peranan yang sangat penting. Bank merupakan lembaga yang dapat mempengaruhi kondisi perekonomian dan merupakan alat pelaksana kebijakan moneter pemerintah. Bank-bank umum menjadi mediator dalam mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan merupakan sasaran kebijakan moneter. Kegiatan ini menyebabkan bank sangat berbeda dengan lembaga keuangan lainnya dalam sistem keuangan. Beberapa kinerja bank yang diukur berdasarkan rasio laporan keuangan atau disebut juga dengan karakteristik bank adala Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional atas Pendapatan Operasional (BOPO), Besaran Perusahaan (SIZE), ROA. Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri, disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank. Bank Indonesia menggunakan CAR untuk mengelompokkan tingkat kesehatan bank, disamping NPL. LDR adalah perbandingan antara jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. BOPO adalah penilaian tingkat efisiensi perbankan yaitu dengan membandingkan antara biaya operasionalnya dengan pendapatan operasionalnya. Size adalah besaran perusahaan yang diukur dengan total aktiva yang dimiliki. Return On Asset (ROA) adalah kemampuan perbankan untuk memperoleh laba atas sejumlah asset yang dimiliki oleh bank. Sedangkan kondisi perekonomian yang sering mempengaruhi tingkat kesehatan bank adalah pertumbuhan produk domestik bruto dan tingkat inflasi. Pertumbuhan produk domestik bruto adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) berdasarkan harga konstan dalam satu tahun yang dinyatakan dalam %. Tingkat inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus. Dalam Bank Indonesia tercatat 128 bank konvensional yang terdiri dari 5 bank pemerintah dan 123 bank swasta. Dari 128 bank konvensional tersebut hanya 30 bank yang tercatat dalam bursa efek Indonesia. Sehingga populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 bank. Penelitian ini tidak dilakukan terhadap populasi, tetapi diambil sebagian dari populasi sehingga penelitian terhadap sampel. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah suatu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria teertentu untuk tujuan tertentu. Dari kriteria-kriteria yang telah ditentukan maka diperoleh 10 bank sebagai sampel. Berdasarkan pengujian hipotesis uji t, variabel CAR (X1), LDR (X2), BOPO (X3), SIZE (X4), Pertumbuhan PDB (X4), Tingkat inflasi (X5) masing-masing memilikki pengaruh secara parsial terhadap variabel ROA (Y). Sedangkan dari hasil pengujian hipotesis uji F, terdapat pengaruh secara simultan antara variabel CAR (X1), LDR (X2), BOPO (X3), SIZE (X4), Pertumbuhan PDB (X4), Tingkat inflasi (X5) terhadap variabel ROA. Variabel CAR (X1) mempunyai pengaruh dominan terhadap ROA. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pihak perusahaan perbankan melakukan : (1)Bank sebagai lembaga intermediasi harus mampu menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi. (2) Perusahaan harus mampu menjaga kredibilitas dan integritas agar kepercayaan nasabah dan investor meningkat. (3) Pihak manajemen perusahaan harus mampu menghimpun dan mengelola dana nasabah secara efektif dan efisien demi kelangsungan hidup perusahaan dan memberikan kredit dan investasi secara luas demi kesejahteraan masyarakat.(4) Bank tidak saja mengutamakan profit oriented akan tetapi juga harus menyediakan dan menawarkan jasa-jasa keuangan lain yang sifatnya lebih menjembatani antara surplus unit dengan defisit unit

Studi tentang kegiatan praktikum unit kalor bagi siswa kelas I Sekolah Menengah Umum IKIP MALANG / oleh Istianah

 

Studi tentang hambatan-hambatan yang dialami oleh guru dalam melaksanakan praktikum kimia berdasarkan kurikulum SMA 1984 di SMA se Kotamadya Blitar / oleh Farida Andriani

 

Mengajarkan elektrostatika di SMP kelas II dengan metode demonstrasi / oleh Ariek Sulistyowati

 

Peningkatan hasil belajar perkalian melalui model pembelajaran Learning Cycle 5E di kelas IV SDN Bendo Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar / Ester Merchie Duarkossu

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, Perkalian, Model Learning Cycle 5E. Pembelajaran matematika di SDN Bendo 2 Kecamatan KepanjenKidul Kota Blitar terdapat siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM. Hal ini Dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang dapat tuntas hanya 41% atau ketuntasan sejumlah 15 dari 37 siswa. Sedangkan yang mengalami ketidaktuntasan belajar sebanyak 59,46% atau sebanyak 22 siswa dari 37 siswa. Secara klasikal belum dapat dikatakan tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 70 keatas hanya 41%, lebih kecil dari ketuntasan kelas yang ditetapkan sebesar 75%. Berkaitan dengan hal tersebut maka pembelajaran tentang materi perkalian dapat dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif bagi siswa SD tersebut yaitu dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E. model tersebut dipilih karena diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi perkalian siswa kelas IV SDN Bendo 2. Tujuan dari penelitian ini: (1) Mendeskripsikan Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E pada siswa kelas IV di SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru, guru kelas (mitra peneliti) sebagai observer, dan rekan mahasiswa sebagai pengambil foto dalam proses pembelajaran perkalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E pada materi perkalian di kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik juga. Persentase ketuntasan hasil belajar pada siswa pada siklus I sebesar 41% menjadi 89% pada siklus II. Sehingga terjadi peningkatan sebesar 49%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E yang dilaksanakan dengan sangat baik dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran perkalian siswa kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar dengan sangat baik pula. Untuk itu guru hendaknya menerapkan model yang inovatif seperti model Learning Cycle 5E, agar siswa lebih aktif dan senang dalam mengikuti pembelajaran serta hasil belajar siswa dapat meningkat sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat.

Sifat organoleptik mendoil dengan menggunakan tempe segar dan tempe semangit dalam jumlah yang berbeda / iRedo Budi Tantowi

 

Kata Kunci: mendol, tempe segar, tempe semangit, organoleptik. Mendol adalah produk olahan tempe yang dihaluskan, dicampur dengan bumbu-bumbu yaitu cabai merah, bawang putih, lengkuas, kencur, daun jeruk, dan garam dengan bentuk lonjong dan digoreng. Mendol terbuat dari tempe semangit pada jaman dahulu, tetapi saat ini mendol banyak terbuat dari tempe segar. Tempe segar dicirikan oleh warna putih bersih dan merata pada permukaannya, struktur homogen dan kompak, serta rasa, aroma, dan bau khas tempe. Tempe semangit mempunyai ciri permukaannya yang basah, struktur tidak kompak, adanya bercak-bercak hitam, dan adanya bau amoniak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik yang meliputi flavor, warna, dan tekstur melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Panelis pada penelitian ini adalah mahasiswa Tata Boga angkatan 2009, 2011, dan masyarakat luar Malang. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan Duncam’s Multiple Range Test (DMRT). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit dalam jumlah yang berbeda yaitu 60% : 40%, 50% : 50%, 40% : 60%. Hasil uji mutu hedonik mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit dalam jumlah yang berbeda yaitu 60% : 40%, 50% : 50%, 40%: 60% menunjukkan perbedaan yang berbeda sangat nyata terhadap flavor, warna, dan tekstur. Mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit dalam jumlah sebesar 60% : 40% menghasilkan flavor kurang kecing dengan skor 2, warna coklat dengan skor 2, dan tekstur cukup rapuh dengan skor 4. Mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit dalam jumlah sebesar 50% : 50% menghasilkan flavor agak kecing dengan skor 3, warna coklat agak tua dengan skor 3, dan tekstur cukup agak rapuh dengan skor 3. Mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit dalam jumlah sebesar 40% : 60% menghasilkan flavor cukup kecing dengan skor 4, warna coklat cukup tua dengan skor 4, dan tekstur kurang rapuh dengan skor 2. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa flavor dan tekstur yang disukai panelis adalah mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit sebesar 60% : 40%, warna yang disukai panelis adalah mendol dengan formulasi tempe segar dan tempe semangit sebesar 50% : 50%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah semakin banyak menggunakan tempe segar tekstur mendol semakin rapuh. Semakin banyak tempe semangit yang digunakan flavor mendol semakin kecing dan berwarna semakin coklat

Hubungan persepsi siswa terhadap penerapan modul dan sikap siswa dengan hasil belajar KKPI pada siswa SMK Negeri 3 Bojonegoro / Sugeng Raharjo

 

ABSTRAK Raharjo, Sugeng. 2012. Hubungan Persepsi Siswa terhadap Penerapan Modul dan Sikap Siswa dengan Hasil Belajar KKPI pada Siswa SMK Negeri 3 Bojonegoro. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. H. Syaad Patmanthara, M.Pd, (II) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T. Kata Kunci: persepsi siswa, modul, sikap siswa, hasil belajar. Pendidikan menengah kejuruan bertujuan membekali siswa dengan kemampuan, agar dapat bekerja pada berbagai sektor formal dan informal serta menciptakan lapangan kerja baik bagi dirinya maupun orang lain. Berdasarkan rasional bahwa strategi pembelajaran sepatutnya ditekankan pada interaksi dan aktifitas mandiri siswa untuk memperoleh kemampuan, maka salah satu strategi pembelajaran efektif yang dapat menumbuhkan kemampuan siswa adalah pendekatan mengajar menggunakan modul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap: (1) signifikansi hubungan antara persepsi siswa terhadap penerapan modul dengan hasil belajar KKPI siswa SMKN 3 Bojonegoro; (2) signifikansi hubungan antara sikap siswa dengan hasil belajar KKPI siswa SMKN 3 Bojonegoro; dan (3) signifikansi hubungan secara simultan antara persepsi siswa terhadap penerapan modul dan sikap siswa dengan hasil belajar KKPI siswa SMKN 3 Bojonegoro. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian korelasional, persepsi siswa terhadap penerapan modul (X1) dan sikap siswa terhadap pelajaran KKPI (X2) sebagai varibel bebas (independent), sedangkan hasil belajar KKPI (Y) sebagai varibel terikat (dependent). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMKN 3 Bojonegoro Tahun Ajaran 2011/2012 yang berjumlah 272 siswa, sampel di ambil menurut rumus Slovin dan mengingat di Sekolah ini mempunyai 5 kompetensi keahlian agar dari semua kompetensi keahlian terwakili berikutnya di ambil sampel secara proporsional sebesar 150 siswa. Hasil penelitian ini menyimpulkan: (1) Ada hubungan yang positip serta signifikan antara persepsi siswa terhadap penerapan modul dengan hasil belajar KKPI siswa SMKN 3 Bojonegoro dengan koefisien korelasi parsial 0,675 dan (p = 0,00 < 0,05); (2) Ada hubungan yang positip serta signifikan antara sikap siswa terhadap pelajaran KKPI dengan hasil belajar KKPI siswa SMKN 3 Bojonegoro dengan koefisien korelasi parsial 0,648 dan (p = 0,00 < 0,05); dan (3) Ada hubungan yang positip serta signifikan secara simultan antara persepsi siswa terhadap penerapan modul dan sikap siswa terhadap pelajaran KKPI dengan hasil belajar KKPI siswa SMKN 3 Bojonegoro sebesar 0,522. Uji anova menghasilkan har¬ga Fhitung sebesar 80,381 dan (p = 0,00 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini hendaknya guru KKPI dalam menerapkan pendekatan mengajar menggunakan modul, memanfaatkan berbagai sumber belajar dan memperhatikan faktok karakteristik siswa, yakni persepsi siswa, sikap siswa, motivasi berprestasi, kebiasaan belajar dan gaya belajar agar diperoleh hasil belajar yang lebih optimal.

Pembuatan media visual kartun untuk pokok bahasan elastisitas / oleh Fadjar Siswanto

 

Students' and teachers' perceptions about characteristics of goode English teacher of Senior High Schools in Madiun / Dewi Indah Puspita

 

Kata kunci: Ciri-ciri guru bahasa Inggris yang baik, pandangan siswa dan guru Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ciri-ciri guru bahasa Inggris SMA yang baik menurut pandangan siswa dan guru di Kota Madiun dengan menggunakan empat variabel yang meliputi kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi personal. Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang terkait dengan bidang keilmuan, disiplin ilmu, dan kurikulum yang diperlukan oleh guru bahasa Inggris. Kompetensi pedagogik menunjukan bagaimana guru mempersiapkan pelajaran, bagaimana guru memilih dan mengembangkan materi ajar, menyiapkan latihan-latihan, menyusun dan mengatur kelas, memberikan masukan dan bagaimana seorang guru bahasa Inggris mengajar siswa-siswinya. Kompetensi sosial berkaitan dengan bagaimana seorang guru bahasa Inggris membangun dan menjalin hubungan yang baik dengan murid, teman sejawat, orang tua wali murid dan masyarakat, misalnya anggota dari komite sekolah. Variabel yang terakhir adalah kompetensi personal yang menunjukkan sifat-sifat ketegasan, kedewasaan, kebijaksanaan sebagai sosok yang memberikan teladan bagi siswa-siswinya. Kompetensi kepribadian berkaitan erat dengan komitmen guru terhadap tanggungjawab profesional dan keluwesan dan keterbukaan untuk berubah menjadi lebih bagus. Penelitian ini menggunakan model penelitian survey yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran dari siswa dan guru bahasa Inggris tentang bagaimana siswa dan guru menggambarkan sosok guru bahasa Inggris yang baik di Kota Madiun. Data kuantitative terdiri dari kuisioner untuk siswa, penilaian guru bahasa Inggris terhadap dirinya sendiri dan wawancara dari 11 guru bahasa Inggris SMA Kota Madiun; dari SMAN 3 Madiun (3 orang), SMAN 6 Madiun (5 orang), SMA Cokroaminoto Madiun (2 orang) dan SMA Taman Bhakti (1orang). Sementara itu, data juga diperoleh dari siswa-siswi kelas XII SMA Kota Madiun; dari SMAN 3 Madiun (27 siswa), SMAN 6 Madiun (32 siswa), SMA Taman Bhakti (20 orang) dan SMA Cokroaminoto Madiun (21 orang). Data quantitatif dianalisis menngunakan frequency dan rata-rata dimana wawancara dianalisis melalui penulisan kembali tanggapan dari siswa dan guru dengan menggunakan kode dan perbandingan. Sample dari penelitian ini dipilih dengan menggunakan stratified random sampling nonproposional yang meliputi siswa dan guru di Kota Madiun dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang guru bahasa Inggris yang baik di Kota Madiun. Dari hasil temuan terhadap karakteristik guru bahasa Inggris SMA di Kota Madiun berdasarkan pandangan siswa dan guru, guru bahasa Inggris menunjukan bahwa pandangan siswa dan guru berbeda dalam hal kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan personal. Pada bidang profesional guru menyadari dirinya sendiri harus mengajar dengan menggunakan 10 kegiatan yang disarankan untuk menghubungkan materi pelajaran yang lain dan dengan dunia nyata (kontektual). 9 kegiatan berada pada tingkat ‘baik’.Sementara itu pendapat siswa pada bidang pedagogik menunjukan bahwa 5 kegiatan yang disarankan berada pada tingkat baik. Sementara itu bidang sosial guru menyadari 2 kegitan berada pada tingkat baik. Sementara pendapat siswa menunjukan 1 pada tingkat baik. Pada bidang kepribadian menunjukan bahwa bidang kepribadian menunjukan pendapat siswa dan guru berada pada tingkat baik. Akhirnya, peneliti menyarankan bahwa guru bahasa Inggris seharusnya memahami dan menerapkan keempat kompetensi dasar guru yang baik yang meliputi kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi personal. Dalam hal ini guru bahasa Inggris seharusnya mengetahui apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya terhadap siswa siswinya dalam proses belajar dan pembelajaran. Disamping itu, pihak sekolah seharusnya melakukan penilaian siswa terhadap proses pengajaran guru bahasa Inggris dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan refleksi terhadap proses pengajaran di dalam kelas. Peneliti yang akan datang perlu mengadakan penelitian tentang guru yang baik berdasarkan prestasi siswa atau guru dengan tujuan untuk mengukur kualitas guru yang baik. Dengan menekankan prestasi siswa dan guru akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang guru yang baik yang memiliki keseimbangan antara kemampuan sosial, kepribadian dan kemampuan profesi dan kemampuan pedagogik. Kata kunci: Ciri-ciri guru bahasa Inggris yang baik, pandangan siswa dan guru Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ciri-ciri guru bahasa Inggris SMA yang baik menurut pandangan siswa dan guru di Kota Madiun dengan menggunakan empat variabel yang meliputi kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi personal. Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang terkait dengan bidang keilmuan, disiplin ilmu, dan kurikulum yang diperlukan oleh guru bahasa Inggris. Kompetensi pedagogik menunjukan bagaimana guru mempersiapkan pelajaran, bagaimana guru memilih dan mengembangkan materi ajar, menyiapkan latihan-latihan, menyusun dan mengatur kelas, memberikan masukan dan bagaimana seorang guru bahasa Inggris mengajar siswa-siswinya. Kompetensi sosial berkaitan dengan bagaimana seorang guru bahasa Inggris membangun dan menjalin hubungan yang baik dengan murid, teman sejawat, orang tua wali murid dan masyarakat, misalnya anggota dari komite sekolah. Variabel yang terakhir adalah kompetensi personal yang menunjukkan sifat-sifat ketegasan, kedewasaan, kebijaksanaan sebagai sosok yang memberikan teladan bagi siswa-siswinya. Kompetensi kepribadian berkaitan erat dengan komitmen guru terhadap tanggungjawab profesional dan keluwesan dan keterbukaan untuk berubah menjadi lebih bagus. Penelitian ini menggunakan model penelitian survey yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran dari siswa dan guru bahasa Inggris tentang bagaimana siswa dan guru menggambarkan sosok guru bahasa Inggris yang baik di Kota Madiun. Data kuantitative terdiri dari kuisioner untuk siswa, penilaian guru bahasa Inggris terhadap dirinya sendiri dan wawancara dari 11 guru bahasa Inggris SMA Kota Madiun; dari SMAN 3 Madiun (3 orang), SMAN 6 Madiun (5 orang), SMA Cokroaminoto Madiun (2 orang) dan SMA Taman Bhakti (1orang). Sementara itu, data juga diperoleh dari siswa-siswi kelas XII SMA Kota Madiun; dari SMAN 3 Madiun (27 siswa), SMAN 6 Madiun (32 siswa), SMA Taman Bhakti (20 orang) dan SMA Cokroaminoto Madiun (21 orang). Data quantitatif dianalisis menngunakan frequency dan rata-rata dimana wawancara dianalisis melalui penulisan kembali tanggapan dari siswa dan guru dengan menggunakan kode dan perbandingan. Sample dari penelitian ini dipilih dengan menggunakan stratified random sampling nonproposional yang meliputi siswa dan guru di Kota Madiun dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang guru bahasa Inggris yang baik di Kota Madiun. Dari hasil temuan terhadap karakteristik guru bahasa Inggris SMA di Kota Madiun berdasarkan pandangan siswa dan guru, guru bahasa Inggris menunjukan bahwa pandangan siswa dan guru berbeda dalam hal kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan personal. Pada bidang profesional guru menyadari dirinya sendiri harus mengajar dengan menggunakan 10 kegiatan yang disarankan untuk menghubungkan materi pelajaran yang lain dan dengan dunia nyata (kontektual). 9 kegiatan berada pada tingkat ‘baik’.Sementara itu pendapat siswa pada bidang pedagogik menunjukan bahwa 5 kegiatan yang disarankan berada pada tingkat baik. Sementara itu bidang sosial guru menyadari 2 kegitan berada pada tingkat baik. Sementara pendapat siswa menunjukan 1 pada tingkat baik. Pada bidang kepribadian menunjukan bahwa bidang kepribadian menunjukan pendapat siswa dan guru berada pada tingkat baik. Akhirnya, peneliti menyarankan bahwa guru bahasa Inggris seharusnya memahami dan menerapkan keempat kompetensi dasar guru yang baik yang meliputi kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi personal. Dalam hal ini guru bahasa Inggris seharusnya mengetahui apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya terhadap siswa siswinya dalam proses belajar dan pembelajaran. Disamping itu, pihak sekolah seharusnya melakukan penilaian siswa terhadap proses pengajaran guru bahasa Inggris dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan refleksi terhadap proses pengajaran di dalam kelas. Peneliti yang akan datang perlu mengadakan penelitian tentang guru yang baik berdasarkan prestasi siswa atau guru dengan tujuan untuk mengukur kualitas guru yang baik. Dengan menekankan prestasi siswa dan guru akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang guru yang baik yang memiliki keseimbangan antara kemampuan sosial, kepribadian dan kemampuan profesi dan kemampuan pedagogik.

Studi tentang miskonsepsi fisika dan remidinya pada pokok bahasan gesekan kelas I cawu II SMU Negeri I Batu / oleh Jarot Putranto

 

Studi tentang keanekaragaman perifiton pada substrat pantai berlumpur, Desa Padekan, Kecamatan Rejoso, Pasuruan / Corneles Delon Ratuanak

 

Kata kunci : Perifiton, Tingkat Keanekaragaman, Ekosistem Pantai Berlumpur. Pantai berlumpur adalah tipe pantai yang khas yang memiliki ciri-ciri fisik berbeda dibandingkan dengan ciri-ciri fisik pantai berpasir dan pantai berbatu. Pantai berlumpur banyak dijumpai di muara sungai yang ditumbuhi oleh hutan mangrove, dimana energi gelombang terdisipasi oleh hutan mangrove dan lumpur. Pantai tipe ini relatif mudah berubah bentuk, mengalami deformasi, dan tererosi. Pantai Rejoso merupakan pantai yang memiliki panjang garis pantai ± 2000 m dan merupakan pantai berlumpur. Lumpur pantai ini merupakan hasil sedimentasi tanah liat dan partikel halus yang terbawa oleh arus sungai Rejoso dan gelombang laut. Pada dataran pantai berlumpur biasanya ditemukan mikroalga berwarna hijau kecoklatan pada permukaan lumpur saat surut. Perifiton adalah organisme yang umumnya berukuran kecil, hidup menempel pada substrat. sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas suatu perairan. Sebagai produsen primer, keberadaan perifiton merupakan kontribusi terhadap keanekaragaman hayati di perairan laut. Peranan diatom perifiton sangat penting dalam ekosistem perairan karena merupakan produsen dalam rantai makanan yakni sebagai penghasil bahan organik dan oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk: 1)mengetahui spesies-spesies perifiton yang ditemukan Pada Substrat Pantai Berlumpur, Desa Padekan, Kecamatan Rejoso, Pasuruan. 2)Untuk mengetahui Indeks Keanekaragaman dan Kemerataan, Perifiton pada Substrat Pantai Berlumpur, Desa Padekan, Kecamatan Rejoso, Pasuruan. 3)Untuk mengetahui Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Keanekaragaman dan Kemerataan Perifiton pada Substrat Pantai Berlumpur Desa Padekan Kecamatan Rejoso, Pasuruan Waktu penelitian adalah Maret 2011-April 2011 pada saat surut maksimal, sedangkan tempat penelitian adalah kawasan pantai berlumpur di pantai Rejoso Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan, dan di Laboratorium FMIPA gedung Biologi ruang 109. Populasi penelitian berupa semua jenis perifiton yang ada di substrat pantai berlumpur pantai Rejoso, Desa Patuguran, Pasuruan. Sampel penelitian adalah semua jenis perifiton yang terambil didalam plot yang berukuran 1x1 m2 dengan kedalaman 1 cm. Berdasarkan pengamatan dan penghitungan perifiton yang dilakukan ditemukan sebanyak 11 genus perifiton yang terdapat pada substrat pantai berlumpur, desa Padekan yaitu: Asterococcus, Chroococcus, Pleurosigma, Urospora, Thalassiothrix, Oedogonium, Cuspidothrix, Anabaena, Gyrosigma, Leptocylindrus dan Thalassionema. Spesies-spesies tersebut ditemukan tersebar pada setiap transek dan setiap plot. Indeks keanekaragaman tertinggi terletak pada plot 9 (menjauhi pantai) dengan nilai 2,203 dan indeks keanekaragaman terendah terletak pada plot 1 (mendekati) dengan nilai 2,038. Indeks kemerataan tertinggi terletak pada plot 2 dengan nilai 0,953 dan indeks kemerataan terendah terletak pada plot 1 dengan nilai 0,923. sedangkan indeks kekayaan tertinggi terletak pada plot 5 dengan nilai 1,038 dan indeks kekayaan terendah terletak pada plot 7 dengan nilai 0,914. Faktor abiotik yang berpengaruh yaitu pasang surut air laut, suhu dan pH. Sedangkan untuk faktor abiotik yang lain juga berpengaruh meskipun pengaruhnya lebih kecil.

Pemahaman frasa bahasa Indonesia mahasiswa S1 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Kediri angkatan 1991/1992
oleh Nur Kholidah

 

Studi tentang struktur komunitas gastropoda di hutan mangrove pantai Rejoso Desa PAdekan Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Jawa Timur / Fransina Sopia Lamerburu

 

Lamerburu, Fransina Sopia. 2011. Struktur Komunitas Gastropoda pada Ekosistem Hutan Mangrove Pantai Rejoso Desa Padekan, Kecamatan Rejoso, Pasuruan. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Hawa Tuarita, M. Si. (II) Drs. H. Agus Dharmawan, M. Si. Kata Kunci: gastropoda, struktur komunitas, hutan mangrove Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara laut dan darat yang memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi kehidupan biota yang hidup didalamnya, karena ketersedian berbagai jenis makanan yang terdapat didalamnya, salah satunya adalah Gastropoda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2011. Tempat penelitian adalah ekosistem Hutan Mangrove, pantai Rejoso, Desa Padekan, Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Jenis Gastropoda terdapat pada ekosistem hutan mangrove Pantai Rejoso, (2) Struktur komunitas (dominansi, frekuensi, kepadatan dan nilai penting) Gastropoda pada ekosistem hutan mangrove Pantai Rejoso, (3) Hubungan faktor abiotik (pH, suhu, salinitas, kelembaban udara dan intensitas cahaya) dengan struktur komunitas (dominansi, frekuensi, kepadatan dan nilai penting) gastropoda pada ekosistem hutan mangrove Pantai Rejoso. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan menghitung nilai kepadatan, frekuensi kehadiran, dominansi, dan nilai penting Gastropoda, sedangkan interaksi antara faktor-faktor abiotik dan struktur Gastropoda dianalisis dengan Analisis Regresi Berganda (Univariate Regression). Pengambilan data diakukan dengan menggunakan transek garis yag dibuat dengan GPS. Transek dibentangkan tegak lurus terhadap garis pantai mulai dari vegetasi terluar. Jumlah transek adalah 10 transek dengan jarak antartransek 25 meter. Dalam satu transek dibuat ± 10 plot dengan ukuran 5x5 m dan jarak antar plot adalah 10 m. Hasil penelitian Gastropoda pada hutan mangrove desa Padekan adalah ditemukan ada 13 spesies, yaitu Nerita sp, Littoraria vespacea, Littorina melanostoma, Telescopium telescopium, Sphaerassiminea miniata, Assiminea sp, Planorbidae, Neritina sp, Cerithiidae, Theodoxus oualaniensis, Cerithidea sp, Clithon sp dan Dostia violacea. Kepadatan yang tertinggi terdapat pada plot 9. Frekuensi kehadiran yang paling tinggi terdapat pada plot 2. Tidak terdapat perbedaan dominansi dan nilai penting gastropoda yang signifikan antar plot. Sphaerassiminea miniata merupakan spesies yang memiliki,dominansi, frekuensi kehadiran kepadatan dan nilai penting tertinggi dibandingkan dengan spesies yang lain, artinya populasi spesies ini merupakan spesies kunci dalam komunitas gastropoda di hutan mangrove, bila populasinya terganggu, maka struktur gastropoda di hutan magrove pun berubah. Kondisi fisik-kimia lingkungan (pH air, suhu, salinitas, kelembaban udara dan intensitas cahaya) memberikan pengaruh yang sangat kecil terhadap struktur komunitas gastropoda di hutan mangrove desa Padekan.

Bahasa Indonesia dalam humor verbal tulis (telaah wacana cerita wayang Jawa Pos 1989-1991)
oleh Jupriono

 

Perancangan buku cerita bergambar Si Pitung dan Siasat telur dari timur / Edo Septiyan Putra

 

Kata kunci : Perancangan, Buku Cerita Bergambar, Anak-anak, Si Pitung, Vector. Generasi muda bangsa Indonesia telah dididik untuk lebih memilih dan menyukai hal-hal yang berbau luar negeri, mulai dari game, buku bacaan, dan bisa juga dilihat dari contoh tayangan televisi yang diputar setiap minggu. Hal ini menimbulkan anak-anak generasi sekarang lebih mengidolakan tokoh-tokoh superhero dari luar negeri atau karakter-karakter komik manga ketimbang tokoh-tokoh pahlawan asli Indonesia. Dari paparan masalah di atas maka perancangan buku cerita bergambar 'Si Pitung dan Siasat Telur dari Timur' dengan konsep style vector, penting dan dibutuhkan bagi audience anak-anak untuk menanamkan sifat kepandaian, rela menolong, serta berisi pesan moral untuk berani mengambil keputusan dan berani membela kebenaran. Tujuan perancangan ini adalah agar mampu menarik minat baca anak-anak Indonesia, mampu menarik minat anak-anak dengan karakter Si Pitung dan pesan-pesan moral yang baik yang terkandung di dalam ceritanya, sehingga anak-anak tertarik untuk mengidolakan karakter pahlawan asli Indonesia Model perancangan ini diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari observasi dan studi pustaka. Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan, maka diperoleh data-data bahwa untuk mengenalkan Si Pitung pada pembaca muda maka menghadirkan sosok masa kecil si Pitung, agar bisa lebih bersahabat dengan sifat pembaca yang masih belia. Menyisipkan pesan moral yang baik dengan menghadirkan Si Pitung kecil bagi anak-anak mulai usia 5-10 adalah strategi yang baik karena anak-anak cenderung merasa nyaman berbaur dengan orang-orang seusia mereka. Masa usia 5-10 tahun adalah dimana anak sedang tumbuh dan berkembang dan aktif sehingga pada masa-masa ini dirasa sangatlah cocok untuk mengenalkan sejarah bagi mereka. Buku bergambar yang dihasilkan akan memberikan informasi tentang perilaku Si Pitung si anak pandai, dan segala aksinya dalam mengatasi permasalahan. Buku Bergambar Si Pitung yang dihasilkan ini diharapkan mampu menanamkan pesan moral yang baik kepada anak-anak serta menumbuhkan rasa bangga dengan pahlawan Indonesia.

Tinjauan mutu dan efisiensi biaya penambahan abu batu bara dalam pembuatan batako pada sentra industri di Kabupaten Ponorogo / Achmad Nasihin

 

Kata Kunci: Batako, Abu Batu Bara, Sentra Industri, Kabupaten Ponorogo Batako merupakan bahan bangunan yang telah lama dikenal dan dipakai oleh masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan yang berfungsi untuk bahan bangunan konstruksi. Conblock concrete block atau batu cetak beton adalah komponen bangunan yang dibuat dari campuran semen Portland atau pozolan, pasir, air dan atau tanpa bahan tambahan lainnya additive, dicetak sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas batako dengan campuran limbah abu batu bara dan batako produksi home industy Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo sudah memenuhi Standart yang berlaku Yaitu SNI 03-0349-1989 atau belum. Pengujian kualitas batako meliputi: ukuran, kuat tekan, dan penyerapan air. Penelitian ini bersifat perbandingan, pembuatan benda uji dan sampel diambil dari home industry batako yang berada di Desa Duri Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo dengan sistem produksi menggunakan manual. Pengambilan limbah abu batu bara di Desa Nloning Kecamatan Slahung, dengan menentukan campuran abu batu bara yaitu sebesar, 5%, 10%, dan 15%. Dari masing-masing prosentase dibuat sebanyak 15 buah batako untuk tiga macam pengujian, sebagai batako pembanding juga diambil 5 buah sampel dari home industry. Kemudian sampel dibawa menuju Laboratorium Pengujian Bahan Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Pada pengujian ukuran, batako tidak memenuhi standar SNI 03-0349-1989, hal ini dikarenakan ukuran cetakan yang umum digunakan di daerah Slahung tidak memenuhi standar. Untuk pengujian kuat tekan, batako normal, campuran 5%, dan campuran 15% masuk dalam kategori batako kelas IV, sedangkan dengan campuran abu batu bara 10% masuk dalam kategori batako kelas III. Dari hasil pengujian penyerapan air, semua jenis batako memenuhi SNI 03-0349-1989, dimana penyerapan air batako tidak lebih dari 25%. Efisiensi biaya pembuatan batako antara batako normal dengan batako campuran abu batu bara 10% menghasilkan selisih harga ( Rp 280.000-Rp 256.750 = Rp 23.250 ). Jadi biaya produksi batako antara batako normal dengan batako campuran abu batu bara 10% menghasilkan selisih harga Rp 23.250,00.

Teknik penyajian dan pelatihan materi keterampilan berbahasa dalam buku teks bahasa dan sastra Indonesia kelas I SMK kurikulum 1994 karya Dra. Suparni / oleh Novitri Riyani

 

Pengaruh pola gerakan elektrode dan posisi pengelasan terhadap hasil kekerasan hasil las pada baja ST 60 / Achmad Nurul Qomari

 

Kata Kunci : pola gerakan elektroda, posisi pengelasan, kekerasan hasil las, Heat Affected Zone (HAZ) Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas, maka logam pada sekitar daerah las mengalami perubahan struktur metalurgi, deformasi dan tegangan termal. Pada proses penyambungan logam, sering sekali dilakukan dengan posisi tertentu untuk mengikuti perencanaan serta perancangan kontruksi yang akan dilas. Posisi pengelasan tersebut adalah 1F,1G, 2F, 2G, 3F, 3G, 4F, 4G, pipa 1G, pipa 2G, pipa 5G, pipa 6G. Di lapangan, pola pergerakan elektroda sering didasari oleh pribadi juru las ( berdasarkan selera maupun kenyamanan ) tanpa memperhatikan hasil kekuatan mekanik hasil lasan. Salah satu dari sifat mekanik yang penting adalah kekerasan hasil las. Tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui pengaruh pola gerakan elektroda terhadap kekerasan hasil lasan pada baja ST 60; 2) Mengetahui pengaruh posisi pengelasan terhadap hasil kekerasan hasil lasan pada baja ST 60; 3)Apa pengaruh pola gerakan elektroda dan posisi pengelasan terhadap kekerasan hasil lasan pada baja ST 60; 4)Pola gerakan elektroda dan posisi pengelasan apa yang dapat menghasilkan kekerasan hasil las paling baik pada baja ST 60. Metode penelitian ini berupa eksperimen, dimaksudkan untuk memperoleh deskripsi tentang kecenderungan perubahan kekerasan yang dialami baja ST 60 dari beberapa variasi posisi pengelasan dan pola gerakan elektroda. Variasi posisi pengelasan yang dipakai adalah posisi 1G, 2G, dan 3G. Sedangkan variasai pola gerakan elektroda adalah pola gerakan melingkar, pola zig-zag, dan pola U. Data kekerasan yang diambil adalah pada tiga titik pada daerah Heat Affected Zone (HAZ). Sehingga nanti akan didapatkan 27 data kekerasan dari 9 spesimen yang diuji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posisi pengelasan dan pola gerakan elektroda memberikan pengaruh terhadap kekerasan hasil las pada baja ST 60. Posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekerasan yang paling rendah pada semua pola gerakan elektroda, yakni 203,33 VHN (pola melingkar), 222,97 VHN (pola zig-zag), 240,97 VHN (pola U). Rata-rata kekerasan hasil las posisi 2G pada hasil percobaan berada diantara posisi 1G dan 3G yakni 244,53 VHN (pola melingkar), 245,53 VHN (pola zig-zag), dan 250,53 VHN (pola U). Pada posisi 2G, layer terakhir dilakukan 3 kali pengelasan. Rata-rata kekerasan hasil las posisi 3G pada hasil percobaan adalah yang tertinggi daripada kedua posisi lain yakni 272,37 VHN (pola melingkar), 278,23 VHN (pola zig-zag), dan 284,90 VHN (pola U). Berdasarkan data hasil pengujian dan analisa dari penelitian pengaruh posisi pengelasan dan pola gerakan elektroda terhadap kekerasan hasil pengelasan pada baja ST 60 yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pola gerakan elektroda memberikan pengaruh pada hasil kekerasan, dimana pola U memberikan hasil kekerasan lebih besar daripada pola melingkar dan pola zig-zag pada pengelasan baja ST 60. Kedua, posisi pengelasan memberikan pengaruh yang nyata pada hasil kekerasan, dimana posisi 3G memberikan hasil kekerasan lebih besar daripada posisi 1G dan 2G pada pengelasan baja ST 60. Ketiga, pola gerakan elektroda dan posisi pengelasan memberikan pengaruh pada hasil kekerasan hasil las pada baja ST 60. Keempat, nilai kekerasan Vickers tertinggi rata-rata adalah 284,9 VHN terdapat pada posisi pengelasan 3G dengan pola gerakan U, sedangkan nilai kekerasan terendah rata-rata adalah 203,33 VHN terdapat pada posisi 1G dengan pola gerakan melingkar. Untuk melengkapi hasil penelitian dari variasi posisi dan pola gerakan elektroda : 1) perlu dilakukan pengujian pada posisi atas kepala (4G) untuk mengetahui pengaruh pola gerakan elektroda pada semua posisi; 2) Dapat dilakukan pengujian lain seperti pengujian tarik, impact, struktur mikro, dan lain-lain untuk melengkapi deskripsi pengaruh pola gerakan elektroda dan posisi pengelasan pada baja ST 60; 3)Pengujian kekerasan perlu dilakukan pada daerah weld metal dan base metal untuk mengetahui adakah pengaruh yang terjadi pada dua daerah tersebut jika diberi perlakuan yang sama.

Problematika bentukan kata dan kata tugas bahasa Indonesia tulis pada penutur asing tingkat menengah di program CSASP pasca sarjana IKIP MALANG tahun 1996/1997
oleh Dwi Agus Primurti

 

Kemampuan berpikir kritis melalui kemampuan membaca siswa kelas VI MI Miftahul Huda Bandulan Malang / Muhammad Sulthoni

 

Sulthoni, Muhammad. 2012. Kemampuan Berpikir Kritis melalui Kemampuan Membaca Siswa Kelas VI MI Miftahul Huda Bandulan Malang. Skripsi, Program Studi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Suyono, M.Pd (II) Azizatuz Zahro M.Pd. Kata Kunci: Berpikir kritis, Membaca kritis Kemampuan membaca merupakan salah satu aspek penting dalam keterampilan berbahasa. Melalui kegiatan membaca seseorang mendapatkan informasi, pengetahuan, dan juga hiburan. Ketika membaca kritis, siswa tidak sekedar membaca saja, namun siswa harus membaca secara kritis terhadap bacaan yang dibacanya agar siswa memahami isinya. Terdapat beberapa tingkatan membaca pemahaman, yaitu membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif. Kemampuan berpikir kritis merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk melihat dan memecahkan masalah yang ditandai dengan sifat-sifat dan bakat kritis. Kegiatan membaca kritis sepenuhnya melibatkan kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan salah satu tujuan pendidikan yang memerlukan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini, bagaimanakah kemampuan membaca kritis siswa kelas VI MI Miftahul Huda Bandulan Malang dan bagaimanakah kualitas kemampuan berpikir kritis yang terungkap melalui keterampilan membaca siswa VI MI Miftahul Huda Bandulan kelas Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di MI Miftahul Huda Bandulan Malang tahun ajaran 2011/2012. Objek penelitian ini adalah siswa kelas VI MI Miftahul Huda Bandulan semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 24 siswa, akan tetapi satu siswa tidak masuk tanpa keterangan sehingga tes ini diikuti oleh 23 siswa . Langkah pelaksanaan penelitian ini terdiri atas dua tahapan. Pertama, melakukan uji instrumen di kelas MI An-Nur Bokor Kec. Turen Kab. Malang yang berjumlah 25 siswa. Hasil uji instrumen tersebut dianalisis dan diperbaiki. Kedua, melakukan uji pengambilan data di kelas VI MI Miftahul Huda Bandulan. Setelah dilakukan tes, data diolah menggunakan teknik persentase. Hasil pengolahan data tersebut diklasifikasikan berdasarkan tingkat kemampuan membaca kritis dan tingkat kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa kemampuan seluruh siswa kelas VI MI Miftahul Huda dalam membaca kritis yang dijabarkan melalui persentase yakni tidak mampu (24 %), kurang mampu (46 %), cukup mampu (14 %), Mampu (16 %). Sedangkan kualitas seluruh siswa kelas VI MI Miftahul Huda dalam berpikir kritis yang dijabarkan melalui persentase yakni tidak kritis (20 %), kurang kritis (40 %), cukup kritis (19 %), kritis (21%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, dapat diketahui bahwa nilai kemampuan membaca kritis siswa yang paling tinggi adalah kurang mampu (46%), sedangkan untuk berpikir kritis siswa yang paling tinggi adalah kurang kritis (40). Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kemampuan membaca siswa kelas VI MI Miftahul Huda Bandulan Malang adalah kurang mampu dan kemampuan berpikir kritisnya adalah kurang kritis. Saran yang dapat diberikan bagi guru bahasa Indonesia dari hasil penelitian ini, yaitu dapat dijadikan masukan untuk menambah pengetahuan dan kreativitas guru dalam menerapkan dan meningkatkan pemahaman bacaan membaca kritis dalam pembelajaran di sekolah. Peneliti lain, juga dapat melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa ataupun mengembangkan teks pemahaman bacaan untuk penelitian selanjutnya yang sejenis.

Pemakaian kalimat bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas II SMPN 4 Malang tahun ajaran 1996/1997
oleh Naiti Nurhasanah

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share untuk memahamkan materi logaritma kelas X SMKN 5 Malang / Utama Patrianto

 

Kata Kunci : Logaritma, Think Pair Share, Pemahaman siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru matematika di SMK Negeri 5 Malang, diketahui bahwa pembelajaran yang dilakukan seringkali menggunakan metode ceramah.Seringnya menggunakan metode ceramah dalam kegiatan pembelajaran menyebabkan siswa menjadi bosan, hal ini mengakibatkan siswa tidak memperhatikan penjelasan guru dan menyebabkan siswa tidak memahami materi yang dipelajari. Dengan permasalahan tersebut, peneliti melakukan penelitiandengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada materi logaritma. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas.Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan langkah-langkah pembelajaran dan pemahaman siswa setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada materi logaritma. Data diperoleh dari hasil pengerjaan latihan soal pada lembar kegiatan siswa, tes akhir siklus, observasi kesalahan pekerjaan siswa, hasil observasi kegiatan guru dan siswa, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair sharemenunjukkan bahwa pada siklus I terdapat banyak siswa yang belum memahami logaritma terlihat pada banyaknya kesalahan konsep pada hasil pengerjaan latihan soal pada lembar kegiatan siswa dan tes akhir siklus dan persentase ketuntasan belajar siswa masih rendah yaitu 17,9% dengan rata-rata kelas 49. Pada siklus II diperoleh peningkatan ketuntasan belajar siswa dari siklus I sebanyak 46,4% dengan rata-rata kelas 69,6 dan masih terdapat kesalahan pada pekerjaan siswa. Penyebab belum maksimalnya pembelajaran adalah (1) banyak siswa yang masih bingung cara mengerjakan LKS, (2) siswa lambat untuk menyelesaikan LKS dalam pembelajaran sehingga alokasi waktu tidak mencukupi, (3) siswa belum terbiasa dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share, (4) siswa terkadang belum memahami apa yang dimaksud oleh soal, (5) siswa belum aktif dalam diskusi kelompok, kebanyakan bergurau sendiri dengan kelompoknya.

Teknik penyajian dan pelatihan materi keterampilan berbahasa BTBI kelas I SLTP kurikulum 1994 karya A. Slamet Widodo
oleh Abdul Halim

 

Pengembangan kurikulum muatan lokal seni hadrah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Mandaranrejo Kota Pasuruan / Muhamad Mukhlason

 

Kata Kunci: pengembangan, kurikulum muatan lokal, seni hadrah Penelitian ini penulis lakukan terhadap muatan lokal pada kelas V semester I Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Mandaranrejo Kota Pasuruan. Latar belakang penulis memilih topik ini dikarenakan seni hadrah ini sudah jarang ditemui di tengah Kota Pasuruan. Keberadaanya lebih banyak di desa-desa yang masih membudayakan seni hadrah. Hal ini dikerenakan minat dan hasrat kaum muda Kota Pasuruan semakin terbuai oleh arus modernisasi yang mengusung kebudayaan global sehingga perlahan-lahan bisa mengancam warisan bangsa kita. Selain itu, MIN Mandaranrejo ini hanya mengajarkan Bahasa Daerah dalam mengimplementasikan kurikulum muatan lokal. Adanya kecenderungan tersebut menggugah hati penulis untuk membuat suatu kurikulum muatan lokal yang mengangkat potensi yang ada di daerah Pasuruan yakni seni hadrah. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melestarikan dan mengenalkan salah satu potensi kedaerahan yang ada di Pasuruan kepada para peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini dipilih supaya data yang dibutuhkan bisa diperoleh sebanyak-banyaknya. Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan observasi, angket, wawancara, dan studi dokumentasi. Melalui identifikasi terhadap kebutuhan masyarakat yang dilakukan di awal penelitian melalui penyebaran angket ditemukanlah materi seni hadrah sebagai materi yang sesuai dengan potensi budaya setempat. Setelah itu, penulis meminta persetujuan kepada Instansi Pemerintahan yang ada kaitannya terhadap penyelenggaraan pendidikan di tingkat madrasah ibtidaiyah melalui penyebaran angket. Mereka 100% setuju apabila seni hadrah diajarkan melalui muatan lokal. Langkah penelitian selanjutnya adalah mengumpulkan data yang berkaitan dengan seni hadrah melalui wawancara kepada pengurus seni hadrah Pasuruan. Setelah data terkumpul, maka dilakukan analisis data dengan mengikuti langkah-langkah antara lain: reduksi data, display data, mengambil kesimpulan dan verifikasi. Data-data ini selanjutnya penulis kembangkan menjadi materi mata pelajaran muatan lokal seni hadrah yang bisa diajarkan kepada siswa di dalam kelas. Pengembangan materi berpedoman pada petunjuk yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Untuk mengembangkan muatan lokal mata pelajaran muatan lokal seni hadrah, penulis mulai dengan membuat SK dan KD, Mengembangkan silabus, serta Merancang RPP. Hasil pengembangan kurikulum muatan lokal seni hadrah ini dinyatakan valid. Dengan hasil perhitungan pertama kurikulum ini divalidasikan kepada ahli materi yaitu guru muatan lokal MIN Mandaranrejo Kota Pasuruan sebesar 90% dan seniman hadrah kota pasuruan sebesar 93%, yang kedua kepada ahli kurikulum yaitu waka kurikulum MIN Mandaranrejo sebasar 86,67% dan ahli kuriukulum Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang sebesar 98,3%. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum muatan lokal seni hadrah dapat dikembangkan dan diterapkan pada sekolah-sekolah yang berada di Kota Pasuruan sebagai terobosan baru dalam pembelajaran yang mengangkat tentang potensi khas kebudayaan daerah Pasuruan. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah kurikulum muatan lokal seni hadrah yang dikembangkan termasuk valid dan layak untuk diterapkan pada sekolah-sekolah yang ada di Kota Pasuruan.

Kesilapan dalam pemerolehan konstruksi kalimat bahasa Indonesia siswa berusia delapan tahun berbahasa ibu bahasa Jawa
oleh Nursusilo Mas'ud

 

Kebutuhan belajar pengusaha sepatu dan sandal di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto / Laili Irma Wahyuni

 

Hubungan kemampuan memahami penanda kohesi dengan kemampuan menyusun paragraf siswa kelas II SPG Negeri Blitar tahun ajaran 1987/1988
oleh Maria Magdalena Massa Mieke

 

Hubungan kebiasaan makan dengan kebugaran olahragawan (studi kasus mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan angkatan 2010 Universitas Negeri Malang) / Fatimatuz Zuhriyah

 

Kata Kunci: Kebiasaan Makan, Kebugaran, Olahragawan Seluruh aktifitas atau kegiatan fisik yang dilakukan manusia membutuhkan energi. Olahragawan membutuhkan energi yang lebih besar dalam melakukan setiap aktifitasnya, baik dalam latihan maupun saat pertandingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan dengan kebugaran olahragawan di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan metode pendekatan Cross Sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu 22 orang olahragawan jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Angkatan 2010. Data kebiasaan makan diperoleh melalui instrumen form food recall 2x24 jam, sedangkan data kebugaran diperoleh melalui tes lari 12 menit menggunakan alat treadmill. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan analisis statistik menggunakan Rank Spearman. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa 68% responden memiliki kebiasaan makan baik, 32% responden memiliki kebiasaan makan sedang, tidak ada responden yang memiliki kebiasaan makan kurang dan defisit. Deskripsi kebugaran olahragawan 18% responden kategori istimewa, 14% responden kategori baik, 36% responden kategori cukup, 27% responden kategori kurang, dan 5% responden kategori sangat kurang. Hasil pengujian korelasi Spearman Rank menunjukkan p < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa kebiasaan makan dan kebugaran olahragawan menunjukkan hubungan yang signifikan

Efek sifat pozzolan abu vulkanik gunung Merapi pada mortar untuk pekerjaan sipil / Galih Dian Wahyudi

 

Kata kunci : Pozzolan,Efek sifat,Mortar Pozzzolan merupakan senyawa yang memiliki kandungan silikaPozzolan adalah bahan yang mengandung senyawa silika atau silika alumunia yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen akan tetapi dalam bentuknya yang halus dan tercampurnya dengan air, maka senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi dengan Kalsium Hidroksida (kapur) pada suhu normal membentuk senyawa Kalsium Silikat Hidrat yang bersifat sebagai perekat sehingga dapat meningkatkan kekuatan serta kekedapan beton. Pengujian bahan ini adalah untuk mengetahui kualitas kuat tekan mortar dan tingkat efisiensi biaya yang menggunakan campuran abu vulkanik dan tidak menggunakan campuran abu vulkanik gunung Merapi.Pengujian kuat tekan disini sesuai dengan standart yang berlaku yaitu berdasarkan SNI 03-6825-2002. Pengujain dilaksanakan setelah umur mortar mencapai 28 hari.di dalam pngujian bahan ini menggunakan 50 buah mortar yaitu terdiri dari 40 buah sampel perlakuan dan masing masing memiliki komposisi campuran Komposisi 1( Pc : Pasir = 0,90 : 2,75 ) + 10 % abu vulkanik,Komposisi 2 terdiri ( Pc : Pasir = 0,80 : 2,75 ) + 20 % abu vulkanik,Komposisi 3 terdiri ( Pc : Pasir = 0,70 : 2,75 ) + 30 % abu vulkanik dan Komposisi 4 terdiri ( Pc : Pasir = 0,60 : 2,75 ) + 40 % abu vulkanik.keempat sampel perlakuan tersebut dibuat masing masing 10 buah yang akan di bandingkan dengan 10 buah sampel kontrol yang memiliki komposisi( Pc : Pasir = 1 : 2,75 ). Berdasarkan pengujian bahan yang telah dilakukan di Laboratorium uji bahan D3 teknik sipil dan bangunan Universitas Negeri Malang di dapatkan hasil yaitu kuat tekan mortar yang sangat baik di dapatkan pada komposisi, yaitu komposisi campuran Pc : Ps (0,90 : 2,75 ) + 10 % abu vulkanik gunung Merapi.Mempunyai kuat tekan sebasar 32,68 kg/cm² di bandingkan dengan mortar yang lain yang berkisar jauh di bawah 32,68 kg/cm², Terendah mempunyai kuat tekan 8,48 kg/cm² dengan komposisi campuran Pc : Ps ( 0,60 : 2,75 ) + 40% abu vulkanik gunung Merapi. Komposisi yang tepat yaitu substitusi 10% terhadap Semen.mendapatkan Kuat tekan yang paling tinggi yaitu sebesar 32,68 kg/cm². Disamping itu juga tingkat efisiensi juga terjadi,Penggunaan Campuran Abu vulkanik sebesar 10% juga menghemat efisiensi biaya untuk pembuatan mortar sebesar 10%.

Analisis kesesuaian materi menulis dalam buku teks bahasa Indonesia kelas I SMU kurikulum 1994 terbitan IKIP MALANG dengan wawasan Whole Language
oleh Fatkhul Mufidz

 

Kajian pelaksanaan pembelajaran blended learning pada matapelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang / Shofiyah Al Idrus

 

Kata Kunci: pembelajaran, blended learning, TIK Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran pada matapelajaran TIK berdasarkan blended learning pada siswa di MAN 3 Malang, (2) mendeskripsikan faktor-faktor pendukung di dalam pelaksanaan pembelajaran pada matapelajaran TIK berdasarkan blended learning pada siswa di MAN 3 Malang, (3) mendeskripsikan faktor-faktor penghambat di dalam pelaksanaan pembelajaran pada matapelajaran TIK berdasarkan blended learning pada siswa di MAN 3 Malang, dan (4) mendeskripsikan implikasi pelaksanaan pembelajaran pada matapelajaran TIK berdasarkan blended learning pada siswa di MAN 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Obyek penelitian ini adalah kelas X. Bahan-bahan deskripsi didapatkan melalui wawancara mendalam, pengamatan peran serta, dan dokumentasi. Subyek penelitian yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru matapelajaran TIK, wakil siswa yang representative sebanyak 4 orang. Informan penelitian yang digunakan adalah purposive sampling dengan teknik snow ball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran blended learning di MAN 3 Malang belum maksimal dan efektif. Pelaksanaan pembelajaran berbasis blended learning hanya kental pada penerapan model 5 (lima). Faktor pendukung seperti sarana prasarana, akses terhadap komputer dan internet serta pemanfaatan e-learning telah terpenuhi dengan baik. Sedangkan untuk faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran blended learning terletak pada kemampuan guru dalam bidang TIK. Temuan hasil penelitian mengungkapkan bahwa faktor penghambat terletak pada guru. Guru belum memiliki kemampuan yang cukup dalam hal penguasaan materi dan pemanfaatan fasilitas TIK yang ada secara maksimal Belum cukupnya kemampuan guru dalam hal penguasaan materi dan pemanfaatan fasilitas TIK juga dapat disebabkan karena guru matapelajaran TIK tidak berasal dari ruang lingkup matapelajaran TIK. Disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran blended learning di MAN 3 Malang tidak maksimal dan efektif dikarenakan tidak terpenuhinya kemampuan guru dalam bidang TIK. Oleh karena itu hanya penerapan model 5 (lima) yang terlihat secara maksimal dengan penggunaan fasilitas online yang sangat rendah. Implikasi yang ditunjukkan dari segi siswa dalam proses blended learning, yaitu pemahaman siswa terhadap suatu materi sangat dalam, siswa menjadi kritis, terciptanya kondisi pembelajaran yang menarik dan nyaman, dan menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran.

Perbandingan efektivitas antara model interaksi belajar-mengajar bermain peran dan model interaksi belajar-mengajar ceramah untuk mengajarkan keterampilan berbahasa lisan bahasa Indonesia sebagai perwujudan konsep pragmatik di SMA
oleh Suyono

 

Pengembangan bahan ajar IPA terpadu model connected berbahasa Inggris dengan basis kontektual pada materi energy, nutrient and molecule untuk siswa SMP kelas VIII / Anis Prasetyaningsih

 

Tindak bahasa guru dalam interaksi belajar-mengajar bahasa Indonesia (studi kasus di SMP 2 Mojosari
oleh Akhmad Nurhudah

 

Penggunaan unsur serapan bahasa Inggris pada rubrik opini surat kabar Kompas tahun 2011 / Agus Milu Susetyo

 

Kata kunci: kata dan istilah bahasa inggris, rubrik opini. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau maksud pembicara/penulis kepada pendengar/pembaca. Proses komunikasi bisa dilakukan dengan bahasa lisan maupun bahasa tulis. Selain itu proses komunikasi sendiri biasa terjadi dengan memakai lebih dari satu bahasa. Media massa adalah sarana yang banyak digunakan untuk memperoleh informasi, hiburan atau kebutuhan lain. Di media massa juga proses komunikasi dapat terjadi. Salah satunya adalah rubrik opini. Pada rubrik opini pada surat kabar Kompas, merupakan tempat atau bagian dari media massa yang menyediakan tempat bagi siapa saja dengan latar belakang apa pun bisa mengutarakan argumen, pendapat, kritik dan saran atas peristiwa yang sedang hangat dibicarakan. Rubrik opini yang terdapat pada media massa Kompas tentunya menggunakan bahasa Indonesia yang baku menurut kaidah penggunaan bahasa Indonesia. Namun yang terjadi masih terdapat unsur bahasa Inggris pada rubrik tersebut. Surat kabar Kompas yang berskala nasional yang seharusnya menjunjung tinggi bahasa Indonesia namun masih terdapat penggunaan bahasa Inggris didalamnya. Hal tersebut yang menjadi fokus pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif analisis. Pemilihan pendekatan dan rancangan penelitian tersebut, ditujukan untuk membedah masalah dan memberikan penjelasan dan gambaran tentang penggunaan kata dan istilah bahasa Inggris pada rubrik opini. Peneliti hadir sebagai instrumen penelitian sekaligus pengumpul data. Data penelitian berupa rubrik opini yang terdapat unsur bahasa Inggris yang diperoleh dengan teknik dokumentasi. Proses dokumentasi dilakukan pada bulan agustus,selama satu bulan. Satu bulan tersebut ditentukan sebagai sampel penelitian. Satu bulan penuh diperoleh data yang sudah mewakili dari data yang diperlukan pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa jenis wujud unsur serapan bahasa Inggris, wujudnya, antara lain berupa: kata dasar, kata berimbuhan, frasa dan akronim atau singkatan. Kata dasar yang teridentifikasi sebagian besar berupa kata benda, kata kerja, kata sifat dan kata bilangan. Proses penyerapan bahasa Inggris pada rubrik opini, yang teridentifikasi ada beberapa jenis. Prosesnya antara lain: Macam-macam proses penyerapan terdiri atas (1) penyerapan adopsi tulis dan bunyi, (2) adopsi tulis dengan adaptasi bunyi, (3) adaptasi tulis dengan adopsi bunyi, (4) adaptasi tulis dan bunyi serta (5) adatasi kreatif. Dari masing-masing jenis penggunaan tersebut, memiliki perbedaan dalam penulisannya. Selain data yang terindentifikasi adalah adopsi maka kata dan istilah tersebut ditulis dengan menggunakan huruf miring. Untuk jenis penggunaan yang lain, menggunakan huruf tegak dan disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Fenomena penyerapan unsur-unsur bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia membuktikan bahwa bahasa Indonesia berkembang sesuai tuntutan jaman. Dengan tidak lupa dengan warga Negara Indonesia yang baik, untuk terus mengembangkan bahasa Indonesia, bangga berbahasa dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia. Kontak bahasa antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, disadari atau tidak merupakan salah satu cara untuk mengembangkan bahasa Indonesia. Para pengembang bahasa Indonesia harus terus dan konsisten mengembangkan bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan jaman. Akan tetapi tidak meninggalkan kaidah bahasa Indonesia sehingga bahasa yang diserap bisa dimengerti oleh seluruh pengguna bahasa Indonesia. Sedangkan untuk pengajar, khususnya guru bahasa Indonesia hendaknya tetap memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dipembelajaran, jika namun memakai bahasa asing harus disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, begitu juga bagi pengguna bahasa Indonesia yang lain. Dari penelitian ini juga, diharapkan kepada peneliti yang lain untuk menemukan penelitian yang terbaru mengenai proses penyerapan bahasa asing dalam bahasa Indonesia. Sehingga pengetahuan dan perkembangan kebahasaindonesiaan bisa meningkat.

Pengembangan perangkat pembelajaran matematika tipe problem posing untuk meningkatkan penguasaan konsep operasi bentuk aljabar / Muriadi

 

Muriadi, 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Tipe Problem Posing untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bentuk Aljabar. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. I Nengah Parta, M.Si, (2) Dr. H Makbul Muksar, M.Si. Kata Kunci: Pengembangan Perangkat Pembelajaran, Problem Posing, Penguasaan Konsep Operasi Bentuk Aljabar. Pembelajaran terpusat pada guru, akibatnya siswa cenderung pasif dan penguasaan konsep matematika khususnya materi Operasi Bentuk aljabar masih rendah atau kurang dari KKM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dikembangkan suatu perangkat pembelajaran matematika tipe Problem Posing yang dapat membuat siswa menjadi aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Sehingga penguasaan konsep matematikanya menjadi meningkat. Tujuan penelitian ini adalah: “Menghasilkan produk perangkat pembelajaran matematika tipe Problem Posing untuk meningkatkan penguasaan konsep Operasi Bentuk Aljabar”, yang valid, praktis dan efektif. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini adalah model pengembangan Plomp. Model pengembangan ini terdiri dari lima fase yaitu (1) investigasi awal, (2) perancangan, (3) konstruksi, (4) tes, evaluasi dan revisi, dan (5) implementasi. Produk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) serta Instrumen. Selanjutnya diuji cobakan melalui beberapa tahap, yakni : (1) validasi oleh validator ahli pembelajaran, dan (2) uji coba lapangan. Data hasil validasi tersebut yang berupa saran, tanggapan dan penilaian dari subyek uji coba digunakan sebagai masukan untuk merevisi dan menyempurnakan perangkat pembelajaran. Hasil uji validitas oleh ketiga validator terhadap produk pengembangan perangkat pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Lembar observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran dan observasi aktivitas guru dalam pembelajaran, Lembar observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran dan observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan tes penguasaan bahan ajar, diperoleh rata-rata persentase hasil validasi yaitu 91,41%. Berdasarkan kriteria kevalidan yang telah ditetapkan, maka produk pengembangan memenuhi kriteria valid tanpa revisi. Hasil uji observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran dan observasi aktivitas guru dalam pembelajaran, serta keterlaksanaan perangkat pembelajaran dan observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran, diperoleh rata-rata persentase 93,96%. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka produk pengembangan memenuhi kriteria sangat baik. Sehingga produk pengembangan memenuhi kriteria praktis. Hasil uji coba tentang keefektifan perangkat pembelajaran diperoleh dari data nilai siswa melakukan proses Problem Posing dalam pembelajaran dan data nilai siswa dalam menyelesaikan soal tes penguasaan bahan ajar. Hasil uji coba menunjukkan bahwa persentase nilai rata-rata siswa melakukan Problem Posing adalah 92%. Dan hasil uji coba tentang nilai yang diperoleh siswa dalam menyelesaikan tes penguasaan bahan ajar menunjukkan persentase rata-rata 92%. Sehingga nilai akhir yang diperoleh siswa berdasarkan rumus (3NP + 2NU)/5 adalah 92. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan maka perangkat pembelajaran termasuk sangat efektif. Saran untuk pengembangan selanjutnya adalah sebaiknya dikembangkan lebih lanjut dengan materi-materi lain terutama materi yang ada di kelas VIII semester satu dan dua sehingga pengembangan perangkat pembelajaran matematika tipe Problem Posing ini akan lengkap meliputi seluruh materi yang ada di kelas VIII.

Pengaruh kerja laboratorium terhadap prestasi belajar fisika unit rangkaian listrik arus searah bagi siswa kelas II SMU Negeri 7 Malang tahun ajaran 1995/1996 / oleh Ariani Sri Rahayu

 

Peningkatan hasil belajar PKn melalui penerapan model pembelajaran Snowball Throwing siswa kelas IV SDN Kauman 01 Kota Blitar / Adriana Sersian

 

Kata Kunci hasil belajar, model snowball throwing, pkn sd Hasil observasi hasil belajar siswa kelas IV SDN Kauman 01 kota blitar pada mata pelajaran PKn diperoleh hasil bahwa pada belajar siswa mencapai rat-rata 53,38. Terdapat 5 siswa (25,81%) yang mencapai ketuntasan individu sedangkan 9 siswa (74,19%) belum mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan sebesar 70% tercapai, disebabkan oleh guru menggunakan metode ceramah, monoton, siswa bosan, seehingga diadakan penelitian dengan tujuan: (1) Mendiskripsikan penerapan model pembelajara snowball throwing (2) Mendiskripsikan hasil belajar dengan model pembelajara snowball throwing. Penelitian ini menggunakan desain penelitian PTK dengan menggnakan model pembelajaran siklus. Tiapa siklus mempunyai empat tahap 1) perencanaan. 2) pelaksanaan. 3) observasi 4) refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kauman 01 Kota Blitar yang terdiri atas 14 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah soal tes, lembar observasi, dan dokumentasi (guru dan siswa) analisis data ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dengan model snowball throwing menunjukan bahwa hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I mengalami peningkatan siswa yang tuntas sebanyak 8 (57, 14%). Pada siklus II meningkat lagi yaitu siswa yang tuntas sebanyak 14 (100%) siswa sedangkan aktifitas belajar mengalami peningkatan pra tindakan ke siklus I adalah 15% sedangkan dari siklus I 89% dan siklus II adalah 100 % sudah sangat baik, dan 100% sudah melewati target yg diharapkan yaitu 70%. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing dapat menunjukan aktivitas dan hasil belajar siswa yang meningkat.

Analisis materi listrik statis pada buku ajar SMU kelas 2 ditinjau dari tingkatan kognitif siswa / oleh Ririn Husniyah

 

Tinjauan mutu dan biaya produksi batako ringan dengan komposisi PC, pasir, kapur, dan abu sekam / Purwo Widyantoro

 

Kata Kunci : Batako Ringan, Kapur, Abu Sekam, Biaya Produksi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu dan biaya produksia batako ringan dengan pemanfaatan kapur dan abu sekam sebagai campurannya. Sesuai dengan SNI 03-0349-1989 Conblock (concrete block) atau batu cetak beton, syarat mutu ini meliputi kuat tekan dan satuan. Abu sekam dipilih karena banyak pengrajin bata merah yang membuang begitu saja limbah abu sisa pembakaran bata merah tersebut. Riset ini menguji riset rekayasa di Laboratorium Universitas Negeri Malang. Benda uji campuran batako konvensional tanpa campuran abu sekam di buat dan diuji sebagai pembanding. Campuran menggunakan campuran 1 PC merek Holcim : 4 pasir deposit Gunung Kelud untuk batako konvensional. Sedang untuk batako uji ditambah 10%, 15%, dan 20% campuran 1 kapur : 1 abu sekam. Dari hasil pengujian kuat tekan batako ringan dengan tambah campuran 1 kapur dan 1 abu sekam dengan prosentase (A)10% memenuhi SNI 03 – 0349 – 1989 masuk kuat tekan kelas III , mempunyai berat yang paling ringan yaitu 7,85 Kg dan dari segi biaya produksi lebih mahal yaitu batako ringan dengan tambah campuran 1 kapur dan 1 abu sekam Rp 253.750,00 dan untuk batako konvensional tanpa campuran Rp 250.750,00 dengan selisih Rp 3.000,00. Biaya produksi merupakan yang digunakan untuk membuat batako mulai dar tahap awal sampai tahap akhir.Biaya produksi untuk mengetahui bahan dan upah dalam produksi batako. Untuk itu perlu diadakan pengembangan penelitian lebih lanjut dengan mengganti jumlah PC dengan menambahkan kapur dan abu sekam.

Studi kemampuan menyelesaikan soal-soal fisika tentang suhu dan kalor siswa kelas I cawu III SMUN I Rejotangan Tulungagung / oleh Surati

 

Tindak tutur evaluatif guru dalam pembelajaran di kelas 1 SD Negeri Kesatrian 1 Malang / Rini Oktaviana M.

 

Kata Kunci : tindak tutur evaluatif, guru, pembelajaran Peristiwa tutur adalah wacana yang berupa percakapan, pidato, surat dan lain-lain, maka tindak tutur merupakan unsur yang pembentuknya berupa tuturan. Ragam tindak sendiri antara lain penanda, pengantar, pemancingan, pemeriksaan, direktif, informatif, dorongan, petunjuk, isyarat, tawaran, penunjukkan, pengakuan, balasan atau jawaban, reaksi, komentar, persetujuan, evaluasi, tekanan diam, metastatemen, kesimpulan, putaran, dan sampingan. Dari berbagai macam tindak tutur yeng telah disebutkan, hampir setiap tindak tutur terjadi di dalam kehidupan berbahasa atau bermasyarakat baik disadari atau tidak disadari oleh. Penelitian ini akan berkaitan dengan dunia pendidikan dalam hal berbahasa khususnya tindak tutur guru atau pendidik. Penelitian ini ditujukan pada tindak tutur evaluasi guru dalam wacana kelas karena tindak tutur evaluatif biasanya dilakukan oleh para pendidik dan sering terjadi dalam dunia pendidikan khususnya guru yang bermaksud untuk memberikan penilaian terhadap siswanya. Peneliti bertujuan ingin mengetahui bagaimana bentuk atau wujud, fungsi dan makna bahasa guru saat melakukan evaluasi tehadap hasil kerja siswa. Dapat diartikan bahwa tindak tutur evaluatif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi atau penilaian tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Pemilihan guru didasarkan pada sering terjadinya peristiwa tutur pada guru saat proses pembelajaran di kelas. Tindak tutur evaluatif berperan sangat penting dalam berkomunikasi atau bermasyarakat khususnya dunia pendidikan yang penuturnya adalah guru. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi dan menunjang prestasi siswa dalam belajar di kelas. Siswa dapat termotivasi dan dapat mengevaluasi diri sendiri dari tindak tutur evaluatif guru. Yang termasuk tindak tutur evaluatif misalnya tindakan memuji, mengkriktik, menyalahkan, memberikan penghargaan. Dan ini sering terjadi pada guru, sehingga tintak tutur evaluatif lebih dominan terjadi pada guru dalam proses pembelajaran di kelas. Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tindak tutur evaluatif guru dalam pembelajaran di kelas 1 SDN Kesatrian 1 Malang. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur evaluatif guru dalam pembelajaran kelas 1 SDN Kestrian 1 Malang, (2) fungsi tindak tutur evaluatif guru dalam pembelajaran kelas 1 SDN Kestrian 1 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dimana jenis penelitiannya berupa interaksi kelas. Dalam penelitian ini peneliti terjun langsung ke lapangan penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru kelas dan guru bidang studi tertentu di kelas 1SDN Kesatrian Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan metode simak dalam penelitiannya dengan teknik simak bebas libat cakap, yaitu peneliti tidak terlibat dalam interaksi antara guru dan siswa, peneliti hanya menjadi pengamat penuh dalam penggunaan bahasa atau tindak tutur guru dalam pembelajaran di kelas. Metode simak yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, perekaman, transkrip data, dan identifikasi data. Analisis dengan teknik alir ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan hasil akhir. Pada tahap reduksi data meliputi pengidentifikasian, pengklasifikasian dan pengkodean unit tindak tutur evaluatif guru dalam pembelajaran di kelas. Tahap sajian data meliputi kegiatan penataan data yang telah direduksi. Dilanjutkan dengan penafsiran data yang didasarkan pada analisis prinsip pragmatik. Kemudian, penarikan kesimpulan dilakukan terhadap penafsiran data setelah disajikan. Terakhir, dilakukan pengecekan ulang terhadap hasil penarikan kesimpulan data. Berdasarkan analisis data, dapat diperoleh tiga temuan. Pertama, bentuk tindak evaluatif dalam pembelajaran kelas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa macam bentuk tindak evaluatif guru dalam pembelajaran yang ditemukan. Bentuk tersebut meliputi (1) bentuk tindak tutur evaluatif memuji, (2) bentuk tindak tutur evaluatif mengkritik, (3) bentuk tindak tutur evaluatif menyanjung, (4) bentuk tindak tutur evaluatif menyalahkan, (5) bentuk tindak tutur evaluatif mengingatkan, (6) bentuk tindak tutur evaluatif menyarankan, (7) bentuk tindak tutur evaluatif menganjurkan, dan (8) bentuk tindak tutur evaluatif memperbaiki. Kedua, penggunaan fungsi tindak tutur evaluatif guru dalam pembelajaran di kelas diwujudkan dalam beberapa fungsi. Fungsi tersebut meliputi (1) fungsi tindak tutur evaluatif memuji, (2) fungsi tindak tutur evaluatif mengkritik, (3) fungsi tindaktutur evaluatif menyanjung, (4) fungsi tindak tutur evaluatif menyalahkan, (5) fungsi tindak tutur evaluatif mengingatkan, (6) fungsi tindak tutur evaluatif menyarankan, (7) fungsi tindak tutur evaluatif menganjurkan, dan (8) fungsi tindak tutur evaluatif. Berdasarkan simpulan tersebut, dapat diajukan tiga saran. Pertama, bagi guru, hasil penelitian ini sebagai acuan untuk merencanakan pembelajaran yang mampu menumbuhkan keaktifan siswa dan daya kreativitas dalam mengembangkan potensi. Kedua, bagi penelitian berikutnya, jangkauan masalah dalam penelitian ini perlu diperluas lagi. Untuk keperluan tersebut, peneliti berikutnya dapat memperhatikan: (1) kajian penggunaan terhadap tindak evaluatif guru dalam pembelajaran kelas perlu diperdalam lagi; (2) Kajian dalam ujaran kelas masih luas selain tindak evaluatif, misalnya tindak tutur lain yang digunakan dalam pembelajaran kelas, yaitu penanda (marker), pengantar (starter), pemeriksaan (check), informatif, dorongan (prompt), petunjuk (clue), isyarat (cue), tawaran (bid), penunjukan, pengakuan (acknowledge), jawaban (replay), reaksi, komentar, persetujuan (accept), tekanan diam (silent stress), kesimpulan, putaran (loop), dan sampingan (aside).

Perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang diajar menggunakan KLS standar, LKS buatan peneliti serta tanpa menggunakan LKS, bagi siswa kelas I SMP Negeri 02 Rejotangan Tulungagung pada pokok bhasan suhu tahun ajaran 1995/1996 / oleh Nanik Wigati

 

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran inkuiri nilai pada siswa kelas IV SDN Kauman 02 Kota Blitar / Krisna P. Ditubun

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pendidikan Kewarganegaraan, dan inkuiri nilai. Berdasarkan hasil observasi awal dalam proses pembelajarn PKn, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn. Siswa menganggap mata pelajaran PKn sebagai pelajaran hafalan karena kurang menekankan pada aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa masih kurang. Selain itu guru masih menggunakan model konvensional yaitu masi terpusat pada guru (teacher center) sehingga membuat siswa dalam pembelajaran PKn. Tujuan diadakannya penelitian di SDN Kauman 02 Kota Blitar adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inkuiri nilai pada siswa kelas IV. Diharapkan dengan model pembelajaran ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan. Analisis data hasil observasi siswa yaitu dengan mencari presentase banyak siswa yang mendapat skor dibagai jumlah siswa dan dikalikan 100%. Apabila hasilnya 70% ke atas maka kegiatan yang dilakukan siswa sudah baik. Hasil penelitian menunjukan pada tahap pra hanya 5 siswa atau 14,7% dari 34 siswa yang tuntas belajar. Setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri nilai pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 29,4% dari 14,7% menjadi 44,1%. Sedangkan untuk peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 55,9% dari 44,1% menjadi 100%. Peningkatan hasil belajar siswa ini dikarenakan peneliti menggunakan metode pembelajaran inkuiri nilai (value inquiry). Siswa yang awalnya bosan dan tidak bersemangat, setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri nilai menjadi lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri nilai menunjukan peningkatan hasil belajar PKn. Untuk itu disarankan hendaknya para guru menggunakan model pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna.

Studi gangguang ion nikel pada penentuan serapan besi dalam sistem kompleks besi (II) O-Fenantrolin secara spektrofotometri / oleh Herunata

 

Trainer aplikasi mikrokontroler untuk sensor pada pembelajaran mikroprosesor lanjut di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Puput Pristanto

 

Kata Kunci: trainer, mikrokontroler, sensor, mikroprosesor lanjut Mikroprosesor Lanjut merupakan matakuliah di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang yang memberikan pengeta¬huan dan keterampilan tentang sitem minimum mikro¬kontroler baik secara teori maupun aplikasinya dalam bidang kontrol atau pada bidang elektronika lainnya. Materi yang menjadi pokok bahasan pada matakuliah Mikroprosesor Lanjut yaitu: aplikasi mikro-kontroler untuk keypad, LCD, ADC/DAC, motor DC, motor stepper, sensor, dan akses memori. Untuk pembela¬jaran mata ku¬liah ini dibagi menjadi dua yaitu teori atau materi dan praktik. Pada proses pembelajaran matakuliah Mikroprosesor Lanjut dengan pokok bahasan aplikasi mikrokontroler untuk sensor masih kurangnya trainer aplikasi sensor dengan mikro¬kontroler yang memiliki komplek¬sitas lebih tinggi, yaitu: sensor ultrasonik, sensor kelembaban (SHT), sensor accelerometer, dan lain-lain. Hal ini menye¬babkan mahasiswa kurang memahami bagai¬mana merancang, membuat, dan memprogram sistem kontrol yang memiliki kompleksitas lebih tinggi tersebut. Dengan melihat permasalahan tersebut, dibuatlah suatu trainer aplikasi mikrokon¬troler untuk sensor sebagai media pembelajaran. Sensor yang digunakan yaitu sensor ultrasonik, sensor kelembaban (SHT), sensor accelero¬meter. Dengan adanya trainer ini diharapkan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung secara aktif, efektif, dan bermanfaat. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan yaitu; (1) Mengha¬silkan trainer aplikasi mikrokontroler untuk sensor bagi mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang; (2) Menghasilkan modul ajar teori dan modul praktikum trainer aplikasi mikrokontroler untuk sensor bagi dosen dan mahasiswa. Model pengembangan trainer ini mengadaptasi model pengembangan ADDIE. Dalam model pengembangan ini pengerjaannya tidak secara serial, tetapi ditiap prosesnya selalu ada evaluasi yang tujuannya untuk kesempurnaan trainer yang dibuat. Model pengembangan ini terdiri dari 5 tahap yaitu: (1) Analisis kebutuhan media pembelajaran mikoprosesor lanjut; (2) Desain media pembelajaran berupa trainer dan modul aplikasi mikrokontroler untuk sensor; (3) Pengembangan trainer dan modul aplikasi mikrokontroler untuk sensor; (4) Implementasi trainer dan modul aplikasi mikro¬kontroler untuk sensor; (5) Evaluasi. Berdasarkan pada hasil uji coba, diperoleh presentase dari tiap-tiap subyek coba sebagai berikut: (1) Pada ahli media, diperoleh presentase sebesar 79,26%, (2) Pada ahli materi, diperoleh presentase sebesar 90,00%, (3) Pada kelompok kecil, dipe-ro¬¬¬leh presentase sebesar 83,83%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan trainer mikroprosesor lanjut bahasan trainer aplikasi mikrokontroler untuk sensor untuk mahasiswa jurusan teknik elektro ini layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Pengoptimalan kemampuan mempresentasikan hasil penelitian dengan strategi Think, Pair, Team Share (TPTS) pada siswa kelas XI SMA / Yuli Dwi Pratiwi

 

Kata Kunci: pengoptimalan, kemampuan mempresentasikan, strategi TPTS Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas XI SMA adalah kemampuan mempresentasikan hasil penelitian. Selayaknya siswa kelas XI SMA harus sudah mampu dan lancar dalam berbicara di depan kelas, baik dalam forum diskusi atau presentasi biasa. Namun kenyataannya yang terjadi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tumpang ini, masih banyak siswa yang belum lancar ketika berbicara di depan kelas, mereka masih malu-malu dan kurang percaya diri ketika berbicara di depan kelas. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu diadakan penelitian untuk mengoptimalkan kemampuan siswa ketika presentasi di depan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki dan mengoptimalkan kemampuan siswa dalam presentasi di depan kelas. Dari yang awalnya siswa kurang bisa berbicara di depan kelas, sampai diberi tindakan yaitu strategi think, pair, team, share (TPTS) untuk mengoptimalkan kemampuan siswa sampai siswa mampu dengan lancar dan percaya diri berbicara ketika mereka presentasi di depan kelas. Strategi TPTS sendiri adalah modifikasi dari strategi think, pair, share (TPS). Langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan juga hampir sama, hanya berbeda ketika sampai pada tahap team. Pada strategi TPTS yang digunakan pada penelitian ini, tahap think adalah tahap ketika siswa diberi tugas individu oleh guru untuk mereangkum hasil penelitian yang telah dibagian guru. Ketika selesai merangkum, siswa memasuki tahap pair, yaitu tahapan ketika siswa harus berpasangan dengan siswa yang mempunyai topik penelitian yang sama. Dalam kegiatan berpasangan ini siswa ditugaskan untuk menyelaraskan hasil rangkuman mereka. Setelah selesai pada tahap ini, siswa memasuki tahap team. Yaitu masing-masing pasangan mencari pasagan lain yang mempunyai topik yang sama. Mereka berkumpul membentuk sebuah kelompok baru. Dalam kelompok baru tersebut masing-masing pasangan berlatih untuk presentasi di depan kelas. Pasangan lain yang tidak presentasi ditugaskan untuk menilai kelompok yang sedang berlatih. Setelah selesai berlatih masing-masing siswa kembali ke pasangannya masing-masing. Dan mereka memasuki tahap akhir, yaitu share. Tiap pasangan maju secara acak untuk mempresentasikan di depan kelas hasil rangkuman mereka. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Data penelitian diperoleh dari hasil hasil wawancara, hasil observasi, foto, dan hasil rangkuman siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pedoman wawancara, pedoman observasi, pedoman instrumen proses, dan pedoman instrumen hasil. Kegiatan analisis data dimulai dengan merekap hasil nilai yang telah diperoleh siswa. Setelah direkap dan dihitung, maka bisa diketahui siswa sudah mengalami peningkatan atau belum. Dari hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama keaktifan siswa dapat dilihat pada pelaksanaan tindakan I dan II. Berdasarkan hasil observasi, keaktifan siswa mengalami peningkatan secara bertahap hingga mencapai 73,6% yang telah benar-benar aktif dalam belajar. Penggunaan strategi think, pair, team, share, dapat memacu motivasi siswa sehingga siswa menjadi lebih aktif dan serius dalam belajar dan dengan begitu prestasis siswa dalam belajar akan mengalami peningkatan. Kedua, perhatian siswa saat pembelajaran mengalami peningkatan karena penggunaan strategi think, pair, team, share, melalui pancingan guru pada kelompok terbaik yang akan mendapat penghargaan dari guru sehingga siswa semakin terpacu dan termotivasi untuk lebih perhatian pada proses belajar. Peningkatan perhatian mencapai 73,6% yang benar-benar perhatian terhadap pembelajaran mempresentasikan hasil penelitian. Ketiga adalah kerjasama siswa, setelah dilakukan pembelajaran mempresentasikan hasil penelitian menggunakan strategi think, pair, team, share perubahan antar pasangan dapat dikatakan menjadi lebih baik dan meningkat. Hal ini dapat dilihat dari penampakan setiap pasangan ketika mempresentasikan hasil rangkuman mereka di depan kelas, mereka terlihat dapat bekerjasama dengan baik dan kompak. Kerjasama siswa mencapai 78,9% pasangan siswa yang benar-benar bisa bekerjasama dengan baik. Keempat, peningkaan yang dicapai siswa dalam proses juga mempengaruhi hasil belajar siswa dalam mempresentasikan hasil penelitian tampak pada saat dalam merangkum laporan hasil penelitian setelah diberikan tindakan berupa strategi think, pair, team, share. Nilai rata-rata indikator siklus I kemampuan mempresentasikan hasil penelitian sebesar 65,9, dan pada siklus II 82,6. Kelima, peningkatan kemampuan siswa ketika presentasi pada aspek ketepatan isi mengalami peningkatan dari sebelum diberikan tindakan sampai dengan setelah diberikan tindakan berupa strategi think, pair, team, share. Nilai rata-rata indikator siklus I kemampuan mempresentasikan hasil penelitian sebesar78,3, pada siklus II 85,4. Keenam kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa mengalami peningkatan dari sebelum diberikan tindakan sampai dengan setelah diberikan tindakan berupa strategi think, pair, team, share. Nilai rata-rata indikator siklus I kemampuan mempresentasikan hasil penelitian sebesar 78,9, dan pada siklus II 85,3. Ketujuh, peningkatan kemampuan siswa ketika presentasi pada aspek tampilan mengalami peningkatan dari sebelum diberikan tindakan sampai dengan setelah diberikan tindakan berupa strategi think, pair, team, share. Nilai rata-rata indikator siklus I kemampuan mempresentasikan hasil penelitian sebesar76,3, pada siklus II 83,9.

Studi hubungan antara kemampuan berpikir formal dengan prestasi belajar isomeri struktur siswa kelas I SMU Negeri Gondang Wetan Pasuruan / oleh Tri Setyorini

 

Pengembangan sumber belajar basis data berbasis WEB untuk Prodi PTI Universitas Negeri Malang / Mir'atul Amaliyah

 

Kata Kunci : Sumber Belajar, E-learning, Web, Basis Data. Teknologi sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, informasi yang didapat tidak lagi terbatas dari guru/dosen, buku, surat kabar tetapi juga salah satunya dari jaringan internet. Sebagian besar mahasiswa menjadikan internet sebagai media untuk mencari informasi yang mendukung dalam mengerjakan tugas suatu mata kuliah. Bukan hanya itu mahasiswa juga menjadikan internet sebagai media interaksi dengan temannya melaui chatting maupun web jaringan social seperti facebook atau twiter. Mahasiswa Universitas Negeri Malang Jurusan Elektro prodi Pendidikan Teknik Informatika (PTI) menempuh beberapa matakuliah seperti Pemrogran Berbasis Objek, Keamanan Sistem Komputer, Basis data dll. Untuk matakuliah basis data, mahasiswa diharapkan memahami dan mengaplikasikan konsep, relasi, desain dan normalisasi, SQL, query, pemrosesan transaksi, serta basis data objek dan basis data berbasis Web. Dengan banyaknya kompetensi yang harus dikuasai oleh mahasiswa PTI, Sehingga mahasiswa sekarang menuntut lebih banyak waktu yang berkualitas untuk bisa berdiskusi dan membantu pemahaman dalam perkuliahan. Tatap muka di kelas menjadi tidak cukup untuk memenuhi waktu yang berkualitas itu. Salah satu alternatif adalah dikembangkannya sistem e-Learning yang bisa memberi lebih banyak waktu dan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar mandiri yang membantu dalam pemahaman Matakuliah Basis Data. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Sadiman yang terdiri dari: identifikasi kebutuhan, analisis tujuan, pengembangan materi, pengembangan alat evaluasi, menyusun naskah, produksi, petunjuk pemanfaatan, validasi produk, uji coba produk, revisi dan media siap dimanfaatkan. Sumber belajar yang dihasilkan memiliki beberapa karakteristik antara lain: modul berupa teks berbentuk Portable Document Format (PDF), audio-video, forum, chat. Sumber belajar ini dapat diakses melalui internet dan modul yang ada di dalamnya dapat di-download secara langsung. Pengambilan data validasi sumber belajar dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa angket dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media, ahli materi dan mahasiswa PTI. Hasil uji coba produk yang dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media menyatakan produk ini valid dengan persentase 80,26%, ahli materi menyatakan produk ini valid dengan persentase 81%, mahasiswa PTI 2010 menyatakan produk ini valid dengan persentase 84,43% dan mahasiswa PTI 2011 menyatakan produk ini valid dengan persentase 84,71%

Hubungan antara kemampuan dalam menuliskan struktur Lewis dengan kemampuan dalam meramalkan bentuk molekul pada siswa kelas IIA2 SMAN I Tulungagung dan identifikasi kesulitan yang dihadapi siswa pada materi struktur Lewis dan materi bentuk molekul / oleh

 

Studi tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran apresiasi karya seni rupa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Situbondo / Lions Firman Rossidy

 

Kata Kunci: Pelaksanaan Pembelajaran, Apresiasi, Seni Rupa, SMA. Pembelajaran apresiasi seni rupa adalah bagian dari pendidikan seni rupa yang diselenggarakan di Sekolah. Melalui kegiatan apresiasi, siswa akan memiliki kepekaan terhadap keindahan dan kesensitifan terhadap karya seni. Dengan demikian, siswa akan mampu menghargai, menghayati, dan mencintai karya seni. Tujuan diberikannya pembelajaran apresiasi seni rupa di Sekolah untuk menumbuhkan kepekaan, keberminatan, keterlibatan, dan kepedulian peserta didik pada substansinya, yakni kesenian. Sehingga dapat menanamkan pemahaman, pengalaman, dan penikmatan terhadap kesenian yang terdapat dalam realitas kehidupan peserta didik. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data tentang: (1) pelaksanaan pembelajaran apresiasi seni rupa pada kelas XI IPS di SMAN 2 Situbondo yang dilaksanakan oleh guru, (2) hambatan yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran apresiasi, (3) sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran apresiasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan tenik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan dan verifikasi. Pengecekan data menggunakan trianggulasi sumber dan informasi kunci (guru mata pelajaran). Lokasi penelitian yaitu di SMA Negeri 2 Situbondo. Hasil penelitian menunjukkan: (1) bentuk pelaksanaan pembelajaran: (a) guru selalu menyusun rencana pembelajaran (RPP), (b) model pembelajaran yang digunakan guru adalah telaah karya dan reproduksi karya, (c) pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan problematik dan kesejarahan, (d) metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah, demonstrasi, diskusi. (e) media pembelajaran yang digunakan di kelas adalah karya seni lukis siswa, dan guru memanfaatkan reproduksi karya seni lukis seniman Indonesia untuk tugas proyek apresiasi. (f) guru menerapkan beberapa jenis keterampilan dalam mengajar, (g) guru menggunakan jenis penilaian proyek (penugasan). (2) kendala dalam melaksanakan kegiatan apresiasi adalah: (a) sumber dan media pembelajaran masih terbatas, (b) kepala Sekolah tidak mengijinkan pelaksanaan metode karya wisata, (c) sebagian siswa merasa kesulitan dalam mengapresiasi karya. (3) sikap siswa terhadap pembelajaran apresiasi seni adalah: (a) siswa aktif dalam pembelajaran, (b) siswa mengapresiasi karya sesuai dengan arahan guru, (c) guru berupaya meningkatkan sikap apresiatif siswa melalui kegiatan melukis bebas di tembok pagar Sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru lebih inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran, penyediaan sumber dan media pembelajaran segera dibenahi, agar tujuan pembelajaran apresiasi dapat tercapai dengan baik.

Studi hubungan antara prstasi belajar kimia kelas I cawu I dengan kemampuan dalam memahami konsep mol siswa SMU Negeri Batu / oleh Zumrotul Solikhah

 

Bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep / Andriyanto

 

Kata kunci: tuturan imperatif, bahasa guru, makna pragmatik imperatif. Bentuk tuturan imperatif merupakan kontruksi imperatif yang didasarkan pada struktur formal. Dalam praktik komunikasi interpersonal di sekolah, makna imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru – siswa di SMPN 1 Sumenep dapat diungkapkan dengan konstruksi yang lain. Makna pragmatik imperatif sebuah tuturan tidak selalu sejalan dengan wujud konstruksinya, melainkan ditentukan oleh konteks situasi tutur yang menyertai, melingkupi, dan melatarinya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa analisis bentuk tuturan imperatif interaksi guru – siswa di sekolah yang dilakukan secara struktural belumlah cukup untuk menyajikan seluk beluk imperatif bahasa Indonesia. Analisis bentuk tuturan imperatif guru – siswa di SMPN 1 Sumenep perlu konteks situasi tutur (speech situational contex) dan mempertimbangkan aneka wujud informasi indeksal, agar analisis yang dilakukan benar-benar menjelaskan berbagai kemungkinan makna pragmatik imperatif bahasa Indonesia. Bertolak dari hal tersebut, kajian tuturan imperatif dalam tulisan ini mengacu pada tuturan atau tindak tutur yang dianalisis berdasarkan sudut pandang struktural dan sudut pandang pragmatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan peneliti sebagai instrumen kunci. Jenis penelitiannya adalah deskriptif kualitatif yang berorientasi pada teori pragmatik. Teori pragmatik digunakan untuk menelaah tuturan imperatif guru – siswa yang bervariasi. Dari berbagai variasi tersebut, akan difokuskan dalam kajian bentuk tuturan imperatif, jenis-jenis tuturan imperatif, dan pesan tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru – siswa di SMP Negeri 1 Sumenep. Data penelitian ini adalah wujud verbal tuturan imperatif bahasa Indonesia guru – siswa di sekolah. Wujud verbal tersebut berupa pemilihan bentuk-bentuk tuturan imperatif yang digunakan guru – siswa dalam berinteraksi di sekolah, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pemilihan bentuk-bentuk imperatif merupakan prilaku berbahasa dari subjek (guru – siswa). Prilaku ini bersifat nyata dalam konteks berinteraksi. Hasil penelitian diperoleh bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru – siswa di SMP Negeri 1 Sumenep terdiri dari dua bentuk. Pertama, bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru – siswa di sekolah dilihat dari struktur formal bahasa Indonesia. Kedua, bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia nonformal. Imperatif secara formal dibagi menjadi beberapa struktur formal. Pertama, bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru – siswa di sekolah berdasarkan struktur imperatif aktif. Tuturan imperatif aktif guru – siswa di sekolah digolongkan menjadi dua macam, imperatif aktif yang bercirikan transitif dan imperatif aktif yang bercirikan intransitif. Kedua adalah imperatif pasif. Ketiga, bentuk tuturan imperatif yang tegas. Keempat, bentuk tuturan imperatif biasa. Bentuk tuturan imperatif yang kelima adalah tuturan imperatif halus. Bentuk imperatif yang keenam adalah penggunaan kalimat larangan. Bentuk tuturan imperatif nonformal ada dua. Pertama tuturan deklaratif yang bermakna pragmatik imperatif dan yang kedua tuturan introgatif yang bermakna pragmatik imperatif. Bentuk tuturan imperatif ini dibangun dari kontruksi deklaratif ataupun introgatif yang memiliki makna pragmatik imperatif. Berdasarkan hasil penelitian di SMP Negeri 1 Sumenep diperoleh jenis tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia interaksi guru – siswa yang berupa tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Digunakan jenis tuturan imperatif langsung dalam interaksi guru – siswa di sekolah bertujuan untuk mengungkapkan maksud imperatif secara langsung. Sedangkan tuturan imperatif tidak langsung dalam interaksi guru – siswa di sekolah digunakan untuk mengungkapkan maksud tuturan secara tidak langsung. Penggunaan tuturan imperatif langsung dalam interaksi guru – siswa di sekolah dimaksudkan agar penutur dan mitra tutur mencapai pemahaman bersama. Dalam konteks tertentu ketika guru memberikan nasihat dan intermezo sebagai upaya penyegaran pembelajaran, guru dalam wacana kelas menggunakan jenis tuturan imperatif tidak langsung. Ada tiga belas pesan tuturan imperaif dalam interaksi guru – siswa di sekolah yang merupakan hasil penelitian. Ketiga belas pesan tuturan imperatif itu sebagai berikut: (1) pesan tuturan imperatif yang bermakna perintah, (2) bermakna suruhan, (3) bermakna permintaan, (4) bermakna permohonan, (5) bermakna desakan, (6) bermakna bujukan, (7) bermakna imbauan, (8) bermakna persilaan, (9) bermakna ajakan, (10) bermakna permintaan izin, (11) bermakna larangan, (12) bermakna harapan, dan (13) bermakna anjuran. Dengan demikian, hasil penelitian bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru – siswa di SMPN 1 Sumenep dapat digunakan guru, khususnya guru bahasa Indonesia dalam memilih varian bentuk tuturan imperatif yang sesuai dengan konteks tuturan. Hal ini berdampak pada perlakuan guru kepada siswa sebagai upaya membangun budaya komunikasi yang sehat, menghindari suasana yang kaku, dan benar-benar menumbuhkan motivasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.

Kajian tentang kesalahan siswa kelas II SMU Negeri 3, 5 dan 7 Malang dalam memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan kepolaran molekul / oleh Adien Novrianto

 

Identifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa kelas II SMU Negeri 4 Malang dalam menuliskan persamaan reaksi ion dari berbagai reaksi dalam larutan elektrolit / oleh Eli Juliatun Chaerijah

 

Peningkatan keterampilan menulis melalui menulis narasi dengan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition siswa kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar / Bakri Benamen

 

Kata kunci: keterampilan menulis melalui menulis, narasi, model pembelajaran, cooperative intergrated reading and composition. Berdasarkan studi pendahuluan ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menulis narasi di SDN Turi 02 Kota Blitar antara lain: (1) pelaksanaan pembelajaran menulis dilakukan dengan menulis kalimat dengan huruf tegak bersambung sedangkan aktivitas untuk menulis sesuai karangan/ cerita tidak pernah diterapkan, (2) model pembelajaran bersifat satu arah, guru yang aktif dan siswa pasif, (3) guru hanya terfokus pada pencapaian target materi tanpa memperhatikan perkembangan kompetensi siswa dalam menulis narasi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis narasi siswa di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah IV SDN Turi 02 Kota Blitar semester II tahun pelajaran 2011/2012. Waktu dan lama penelitian dimulai dari 18 Juni 2012 sampai 28 Juni 2012. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menulis narasi dengan penerapan model pembelajaran CIRC di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar, yaitu pada nilai proses nilai rata-rata siswa pada pratindakan sebesar 44, siklus I sebesar 72, dan siklus II sebesar 92. Pada nilai rata-rata kelompok pratindakan siswa belum dibentuk dalam kelompok, pada siklus I sebesar 77 dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 85. Presentase ketuntasan belajar siswa juga meningkat yaitu pada pratindakan sebesar 29%, siklus I sebesar 83%, dan siklus II sebesar 100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan menulis narasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar dalam meningkatkan keterampilan menulis narasi, guru hendaknya menyajikan kegiatan pembelajaran yang kooperatif dan menyenangkan sehingga tidak membosankan siswa. Guru hendaknya kreatif dalam memotivasi siswa untuk lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran.

Perangkat lunak listrik statis sebagai media pengajaran fisika / oleh Joko Siswanto

 

Hubungan antara kemampuan berpikir formal dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri I Durenan dalam menyetarakan persamaan reaksi dengan 3, 4, dan 5 zat / oleh Sutriani

 

Identifikasi hambatan dan dukungan dalam pelaksanaan pengajaran fisika berdasarkan kurikulum SMU 1994 bagi para pengajar fisika kelas I SMU di kabupaten Nganjuk / oleh Puput Utami

 

Persepsi siswa terhadap kegiatan praktikum dalam hubungannya dengan prestasi praktikum siswa kelas I SMUN Lawang / oleh Ratmanto

 

Pengembangan multimedia interaktif dalam pembelajaran proses kerja informasi dan komunikasi untuk siswa kelas X semester 1 di SMAN 3 Malang / Bambang Irwan Suprayitno

 

ABSTRAK Suprayitno, Bambang Irwan. 2012. Pengembangan Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Proses kerja Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Siswa Kelas X Semester 1 di SMAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd (II) Eka Pramono Adi, S.IP, M.Si. Kata kunci: pengembangan multimedia pembelajaran interaktif, proses kerja teknologi informasi dan komunikasi Multimedia pembelajaran interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di sekolah khususnya mata pelajaran TIK Pembelajaran Proses Kerja Teknologi Informasi dan Komunikasi. Berdasarkan hasil observasi di SMAN 3 Malang, penyampaian materi Proses Kerja Teknologi Informasi dan Komunikasi masih menggunakan metode ceramah dan menggunakan gambar diam. Padahal dengan metode tersebut siswa cenderung sulit memahami materi yang diberikan dan cepat bosan, sehingga berdampak pada hasil belajar siswa. Tujuan dari pengembangan multimedia pembelajaran interaktif ini adalah untuk mengembangkan suatu multimedia pembelajaran interaktif yang efektif dan efisien untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga bisa memberikan salah satu alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi Proses Kerja Teknologi Informasi dan Komunikasi. Subjek uji coba dalam pengembangan media animasi ini adalah siswa kelas X SMAN 3 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi pengembangan multimedia interaktif kepada ahli media, ahli materi, dan siswa atau audiens. Analisis data yang digunakan untuk mengolah hasil validasi menggunakan prosentase. Hasil pengembangan multimedia pembelajaran interaktif ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 95%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 75%, dan audiens kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 83%, dan kelompok besar 83%. Sedangkan untuk hasil belajar menunjukkan adanya kenaikan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif yang disajikan secara variatif dapat merangsang minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran TIK Pembelajaran Proses Kerja Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar bagi siswa. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan multimedia pembelajaran interaktif ini adalah diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas penggunaan multimedia pembelajaran interaktif yang telah dikembangkan. Sehingga pengembang berikutnya dapat menghasilkan multimedia pembelajaran interaktif yang lebih efektif dan efisien.

Sejarah keluarga Emi Pangesti dan perannannya terhadap eksistensi batik karan g Tuban (1981-2010) / M. Ma'arif Rakmatullah

 

Kata kunci: Sejarah Keluarga, Batik Karang, Tuban. Batik merupakan salah satu hasil kerajinan yang dijumpai hampir seluruh wilayah di Indonesia khususnya di salah satu wilayah yang memiliki kerajinan Batik yaitu Tuban. Kabupaten Tuban memiliki beberapa varian batik salah satu diantaranya yaitu Batik Karang. Keunikan dari Batik Karang adalah perkembangan bentuk inovasi dari batik motif klasik ke batik motif kontemporer. Disinilah peran penting keluarga Emi Pangesti dalam mengembangkan bentuk perubahan motif Batik Karang dalam kurun tahun 1981-2010. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah yang akan dikaji yaitu (1) Bagaimana perkembangan batik di Indonesia, (2) Bagaimana peran keluarga Emi Pangesti dalam mengembangkan perubahan motif Batik Karang (1981-2010). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) untuk mengetahui perkembangan batik di Indonesia, (2) peranan keluarga Emi Pangesti dalam mengembangkan perubahan motif Batik Karang (1981-2010). Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah. Metode sejarah meliputi heuristik yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber yaitu menguji kebenaran informasi baik dari segi materi maupun substansi, meliputi kritik ekstern untuk menilai keautentikan sumber dan kritik Intern untuk menilai kebenaran isi sumber dan kesaksian. Interpretasi yaitu mencari makna dari fakta-fakta yang telah diperoleh dan Historiografi yaitu penulisan sejarah. Sedangkan metode sejarah lisan digunakan karena masih memungkinkan untuk menggali informasi dari pelaku sejarah melalui wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa ragam hias motif batik di Indonesia telah berkembang sejak masa Kerajaan Hindu-Budha di abad XVII Masehi. Batik mulai memperoleh kedudukan yang tinggi setelah pada abad XVIII saat penguasa keraton Yogyakarta dan Kasunanan Solo mulai melegitimasi motif-motif batik yang hanya boleh digunakan oleh Raja dan kalangan bangsawan. Tujuannya adalah untuk membedakan batik buatan rakyat dengan buatan keraton. Penelitian ini juga diperoleh kesimpulan bahwa eksistensi dan keberadaan Batik Karang Tuban tidak lepas dari peran keluarga Emi. Emi melestarikan Batik Karang dengan cara tetap mempertahankan pembuatan batik tulis, melakukan inovasi motif batik karang, mengikuti pameran seni budaya di dalam dan di luar negeri serta memberi pelatihan membuat batik. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu peneliti dapat mengkaji sejarah keluarga dengan tema industri lainnya dan latar belakang wilayah yang berbeda. Sehingga ada keunikan tersendiri mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri dan munculnya tokoh perintis tersebut.

Pengembangan media pembelajaran berbasis animasi untuk materi dasar-dasar proyeksi pada mata pelajaran dasar-dasar gambar teknik kompetensi keahlian teknik gambar bangunan SMK Negeri 6 Malang / M. Musthofa Al Ansyorie

 

Kata kunci: media pembelajaran, animasi, dasar-dasar proyeksi Sebagai salah satu komponen pokok dalam proses penyampaian dalam pembelajaran media pembelajaran memiliki peran yang sangat penting. Pengembangan media pembelajaran dilakukan untuk menghasilkan sebuah produk yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuk dari media pembelajaran adalah media pembelajaran berbasis animasi. Dengan menggunakan animasi proses transfer pesan atau pengetahuan dari seorang pendidik diharapkan dapat tersampaikan secara maksimal kepada peserta didik. Hasil observasi yang dilakukan didapatkan suatu temuan bahwa khusus pada materi pelajaran proyeksi siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi. Dalam memahami materi proyeksi ini memerlukan imajinasi dan kemampuan membayangkan konsep proyeksi jika tidak ada contoh nyata dalam pembelajaran. Maka berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan materi proyeksi yang sudah ada ke dalam media pembelajaran berbasis animasi. Model penelitian yang digunakan menggunakan model penelitian dan pengembangan dengan langkah-langkah: (1) penelitian dan pengumpulan informasi awal; (2) perencanaan media; (3) pengembangan produk awal; (4) validasi ahli; (5) analisa dan revisi hasil validasi; (6) uji coba kelompok besar; serta, (7) analisis dan revisi produk akhir. Validasi dilakukan terhadap produk awal oleh 2 orang ahli media dan 3 orang ahli materi. Selain itu juga media pembelajarna ini diujicobakan pada siswa kelas X GB 1 dan X GB 2 SMKN 6 Malang untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media ini. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi dan lembar respon siswa dan kemudian dianalisa. Produk yang dihasilkan adalah media pembelajaran berupa file presentasi yang berbasis animasi dan dilengkapi dengan video animasi untuk materi dasardasar proyeksi. Hasil yang didapatkan dari validator adalah nilai rata-rata penilaian oleh ahli media sebesar 3,54 yang tergolong valid atau jika diprosentasekan sebesar 88,5%. Sedangkan untuk rata-rata penilaian dan prosentase penilaian oleh ahli materi adalah 3,38 dengan prosentase sebesar 84,6%. Untuk nilai rata-rata respon siswa terhadap media pembelajaran secara keseluruhan sebesar 3,22 dengan prosentase 80,4%. Jadi dapat disimpulkan media pembelajaran yang dikembangkan tergolong dalam kategori valid dan layak untuk digunakan. Untuk pengembangan lebih lanjut, media ini dapat dibuat menjadi lebih interaktif sehingga tidak perlu pendampingan guru saat menggunakan media ini.

Hubungan antara minat belajar fisika dan kemampuan mengimprovisasi formula fisika dengan prestasi belajar fisika siswa kelas II SMP Negeri I Dringu Kabupaten Probolinggo / oleh Chilatul Fitriyah

 

Hubungan motivasi dan prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaran Ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang / Guntur Pratama Rahwana Putra

 

Kata Kunci : motivasi belajar, prestasi praktik kerja industri, pemilihan karier. Selain memberi bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan di sekolah, sekolah juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menimba ilmu melalui praktik kerja industri. Melalui praktik kerja industri diharapkan siswa memiliki keputusan tentang pemilihan karier yang matang. Dalam memperoleh pemilihan karier yang matang di dukung oleh motivasi belajar yang baik. Melalui motivasi siswa menjadi terdorong untuk mempelajari hal untuk menunjang pemilihan kariernya, serta pelaksanaan praktik industri akan berjalan dengan baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Mengetahui motivasi belajar siswa kelas XII jurusan teknik kendaraan ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang, (2) mengetahui prestasi praktik kerja industri siswa siswa kelas XII jurusan teknik kendaraan ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang, (3) mengetahui pemilihan karier siswa kelas XII jurusan teknik kendaraan ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang, (4) mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan pemilihan karier siswa jurusan teknik kendaraan ringan SMK 01 YP 17 Lumajang, (5) mengetahui hubungan antara prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier siswa jurusan teknik kendaraan ringan SMK 01 YP 17 Lumajang, (6) mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier siswa jurusan teknik kendaraan ringan SMK 01 YP 17 Lumajang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional yang dilaksanakan pada siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMK 01 YP 17 Lumajang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa dengan metode proportional random sampling Pengambilan data yang digunakan adalah metode angket dan dokumentasi. Hasil penelitian terhadap Siswa Kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang: (1) Siswa memiliki motivasi belajar tinggi, (2) siswa mengikuti praktik kerja industri dengan baik, (3) tingkat pemilihan karier siswa tinggi dan kebanyakan memilih mekanik sebagai pilihan pekerjaan setelah tamat, (4) ada hubungan yang positif dan kuat antara motivasi belajar dengan pemilihan karier siswa, (5) ada hubungan yang positif dan kuat antara prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier siswa, (6) ada hubungan yang positif dan kuat antara motivasi belajar dan prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier. Kesimpulan yang diperoleh: (1) siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang memiliki motivasi belajar tinggi, (2) siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP 17 memiliki prestasi praktik kerja industri yang baik, (3) siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP17 Lumajang Lumajang memiliki pemilihan karier tinggi dan kebanyakan memilih mekanik sebagai pilihan pekerjaan setelah tamat, (4) ada hubungan yang positif dan kuat antara motivasi belajar dengan pemilihan karier siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang, (5) ada hubungan yang positif dan kuat antara prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP17 Lumajang, (6) motivasi belajar dan prestasi praktik kerja industri memiliki kontribusi sebesar 60,2%, terhadap pemilihan karier, sisanya dipengaruhi faktor lain seperti lingkungan sosial, lingkungan keluarga, minat, dan pengetahuan. Disimpulkan ada hubungan yang positif dan kuat antara motivasi belajar dan prestasi praktik kerja industri dengan pemilihan karier siswa kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan di SMK 01 YP 17 Lumajang. Saran penelitian antara lain : (1) bagi sekolah diharapkan untuk lebih intensif serta meningkatkan intensitas komunikasi dengan orang tua siswa, dengan tujuan agar orang tua dapat memantau perkembangan dan prestasi belajar siswa, (2) bagi siswa diharapkan supaya aktif dalam proses pembelajaran dan menambah pengetahuan, keterampilan. Serta memanfaatkan kesempatan melaksanakan praktik kerja industri dengan sebaik-baiknya dan menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya dari industri, (3) bagi industri diharapkan membimbing dengan serius siswa yang melaksanakan praktik industri tersebut, guna meningktakan prestasi kerja siswa sehingga siswa sudah siap untuk terjun di dunia kerja.

Teori keputusan statistik keputusan biner dengan pengamatan tunggal
oleh Anto

 

Perancangan sign system apotek Kimia Farma Malang sebagai one stop healthcare solution (OSHcS) / Vendo Widyasanto

 

Widyasanto. Vendo 2012. Perancangan Sign System Apotek Kimia Farma Malang Sebagai One Stop Healtcare Solution, Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn, (II) Gunawan Susilo, S. Sn, M.Sn Kata Kunci: Perancangan Sign System Apotek Kimia Farma Malang Sebagai One Stop Healtcare Solution (OSHcS). Kimia Farma adalah perusahaan BUMN yang berkembang sebagai perusahaan kesehatan utama di Indonesia. One Stop healthcare Solution adalah peningkatan pelayanan kesehatan terpadu yang berorientasi pada pasien dengan memberikan jasa kefarmasian dan solusi jasa kesehatan. Konsep baru tersebut diterapkan di semua Apotek Kimia Farma khususnya Apotek Kimia Farma JL. Kawi Malang. Peningkatan kwalitas dengan konsep barunya, diharapkan dapat menunjang minat masyarakat untuk menggunakan layanan dan fasilitas yang disediakan. Perancangan bertujuan untuk membuat konsep desain sign system Apotek Kimia Farma Malang sebagai media komunikasi agar mampu mendapatkan respon target pasar yang lebih baik serta mampu memberikan citra positif perusahaan . Hasil akhir dari perancangan ini adalah produk desain komunikasi visual berupa sign system Enterance Sign, Identity sign, Tanda Peringatan, Wayfinding Sign yang berfungsi sebagai pemecahan masalah yang dihadapi oleh Apotek Kimia Farma Malang yang menyuguhkan konsep One Stop Healthcare Solution (OSHcS). Semua itu diharapkan dapat memudahkan konsumen yang berasal dari semua kalangan masyarakat untuk mendapatkan informasi hanya dengan melihat dan membaca, sehingga tidak perlu bertanya untuk mengetahui ruang yang ingin dituju, hal ini menjawab bawah konsep One Stop Healthcare Solution (OSHcS) berorientasi kepada pasien (patient oriented), pasien yang dimaksud disini adalah konsumen Apotek Kimia Farma Malang yang ingin memenuhi kebutuhan farmasi dan jasa medis.

Kesebangunan, simetri dan geometri koordinat
oleh Tri Sumardyaningsih

 

Kajian tentang penerapan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan praktikum kimia di SMU Negeri 2 Pare / oleh Hariyanto

 

Peningkatan pembelajaran IPS melalui model Think Pair Share di kelas Vb SDN Bendo 2 Kota Blitar / Halifa Waferjawan

 

Kata Kunci: ilmu pengetahuan sosial, hasil belajar, Think Pair Share Observasi yang dilakukan pada kegiatan pembelajaran IPS di kelas Vb SDN Bendo 2 Kota Blitar menemukan hasil bahwa kegiatan pembelajaran hanya berpusat pada guru, dan siswa kurang aktif. Akibat hasil belajar IPS rendah, yaitu dari 27 siswa hanya 13 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM. Untuk itu diperlukan perbaikan pada pembelajaran IPS melalui model pembelajaran Think Pair Share. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Medeskripsikan penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS; (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui Model Pembelajaran Think Pair Share. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas Vb SDN Bendo 2 Kota Blitar Tahun Pelajaran 2012-2013. Data diperoleh dari hasil observasi aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran, dan hasil tes evaluasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan Model Pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata keaktivitas siswa pada siklus I pertemuan pertama adalah 59,70 pertemuan kedua adalah 76,55. pada siklus II pertemuan pertama adalah 72 pada pertemuan kedua adalah 81. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat mulai dari siklus I, yaitu 22 siswa mencapai nilai diatas KKM dan pada siklus II sebanyak 27 siswa mecapai nilai diatas KKM. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar IPS di Kelas Vb SDN Bendo 2 Kota Blitar. Disarankan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran yang lain.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |