Hubungan antara latar belakang pendidikan peserta didik dan sosial ekonomi orang tua dengan motivasi belajar peserta mengikuti pelatihan otomotif di UPT-PK Singosari / Inwamarroh Tias Pramudnia

 

Pramudnia, Inwamarroh Tias. 2014. Hubungan Antara Latar Belakang Pendidikan Peserta Didik dan Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Motivasi Belajar Peserta Mengikuti Pelatihan Otomotif di UPT-PK Singosari.Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M.A Prawoto, M.Pd, dan (2) Drs. Lasi Purwito , M.S. Kata kunci : latar belakang pendidikan, sosial ekonomi orang tua, motivasi belajar    Dalam pendidikan nasional, proses penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan melalui 3 jalur yaitu jalur pendidikan formal, pendidikan non formal, dan jalur pendidikan informal. Salah satu cara untuk meningkatkan kebutuhan pendidikan itu dapat dilakukan melalui jalur pendidikan non formal.    Salah satu bentuk dari Pendidikan Non Formal adalah pelatihan, karena pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori. Pelatihan merupakan salah satu dari bentuk PLS, karena diorganisasi di luar sistem pendidikan formal.    Motivasi menimbulkan tingkah laku yang beraneka ragam di tempat pelatihan antara individu yang satu dengan yang lain. Keragaman tersebut akan mempengaruhi sikap mental peserta dalam menyerap materi pelatihan yang pada akhirnya akan berakibat pada prestasi belajarnya.    Kondisi ekonomi menentukan perkembangan pendidikan anak disamping sebagai faktor penting bagi kesejahteraan keluarga. Latar belakang keluarga biasanya berkaitan dengan status sosial dan ekonomi keluarga. Status sosial dan ekonomi ini biasanya dipergunakan indikator pendidikan, status sosial, pekerjaan dan penghasilan orang tua.    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi motivasi belajar peserta pelatihan di UPT-PK Singosari atara faktor latar belakang pendidikan atau sosial ekonomi orang tuanya tersebut.    Pengaruh dari latar belakang pendidikan dengan motivasi belajar cukup baik sebesar 50,00%, pengaruh dari sosial ekonomi orang tua dengan motivasi belajar tergolong tinggi sebesar 56,00%, dan hal ini faktor yang paling berpengaruh dalam motivasi belajar peserta pelatihan tersebut adalah dari sosial ekonomi orang tuanya tersebut.    Jadi pada kesimpulannya adalah (1) Sosial ekonomi orang tua mempunyai hubungan yang signifikan terhadap motivasi belajar, (2)Latar belakang pendidikan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap motivasi belajar, (3) Perubahan latar belakang pendidikan peserta dan sosial ekonomi orang tua secara serentak (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan motivasi belajar.    Pada pernyataan di atas peneliti memberikan saran kepada orang tua peserta pelatihan, peserta pelatihan di UPT-PK Singosari, lembaga UPT-PK Singosari dan peneliti selanjutnya.

Hubungan kinerja bursa kerja khusus dalam hal keterserapan tamatan, pendekatan perusahaan, dan informasi lowongan kerja dengan minat peserta penerimaan siswa baru SMK Rumpun Teknologi dan Rekayasa se-kota Kediri / Ade Hari Aji

 

ABSTRAK Aji, Ade Hari. 2015. Hubungan Kinerja Bursa Kerja Khusus Dalam Hal Keterserapan Tamatan, Pendekatan Perusahaan, Dan Informasi Lowongan Kerja Dengan Minat Peserta Penerimaan Siswa Baru Di SMK Rumpun Teknologi Dan Rekayasa Se Kota Kediri, Tesis, Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D. (2) Dr. Mazarina Devi, Msi Kata Kunci: kinerja bursa kerja khusus, keterserapan tamatan, pendekatan perusahaan, informasi lowongan kerja, minat masuk smk. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan yang bertanggungjawab dalam penyiapan SDM tingkat menengah yang handal, berorientasi kepada kebutuhan pasar harus mampu mengembangkan inovasi untuk memenuhi kebutuhan pasar sehingga dapat mewujudkan kepuasan pencari tenaga kerja. Lulusan SMK diharapkan dapat diterima di dunia industri sesuai dengan kompetensi yang dikuasai serta sesuai dengan ketrampilan dan pengetahuan yang sudah diperoleh pada waktu sekolah. Calon siswa SMK adalah lulusan SMP dan yang sederajat dan berlaku seperti halnya konsumen yang mempunyai alasan untuk memutuskan memilih sekolah lanjutan sesuai dengan keinginannya. Mereka umumnya belum dapat memilih sekolah berdasar kepentingan ekonomi atau kepentingan untuk persiapan kerja, masih banyak calon siswa memilih sekolah hanya berdasar pada gengsi, keinginan orang tua, kedekatan dengan teman atau kefavoritan sekolah tanpa mempedulikan kemana mereka diarahkan setelah lulus dari sekolah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualifikasi kinerja bursa kerja khusus SMK se Kota Kediri yang terdiri dari keterserapan tamatan pada DUDI, pendekatan perusahaan, dan informasi lowongan pekerjaan terhadap minat peserta penerimaan siswa baru se kota Kediri. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan angket yang digunakan untuk mengumpulkan data. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi ganda yaitu untuk memprediksi masing variabel kualifikasi kinerja BKK mempunyai hubungan dengan minat peserta penerimaan siswa baru SMK se kota Kediri. Dari hasil penelitian dapat diketahui 1) ada hubungan yang bermakna antara keterserapan tamatan dengan minat peserta penerimaan siswa baru di SMK se-Kota Kediri, 2) tidak ada hubungan yang bermakna antara pendekatan perusahaan oleh sekolah dengan minat peserta penerimaan siswa baru di SMK se-Kota Kediri, 3) ada hubungan yang bermakna antara informasi lowongan kerja dengan minat peserta penerimaan siswa baru di SMK se-Kota Kediri, 4) ada hubungan yang bermakna antara variabel kinerja BKK yang terdiri dari keterserapan tamatan, pendekatan perusahaan, dan informasi lowongan kerja dengan minat peserta penerimaan siswa baru di SMK se-Kota Kediri. Berdasarkan temuan ini ada beberapa saran 1) pengelola BKK tiap SMK di kota Kediri hendaknya selalu meningkatkan kinerja dan berperan aktif dalam hal peningkatan keterserapan tamatan, pendekatan ke perusahaan, penginformasian lowongan kerja dan juga melakukan pembenahan dalam organisasi dan bersinergi dengan unit kerja lain dalam sekolah agar program kerja berjalan sesuai rencana, 2) bagi orang tua hendaknya memberikan informasi dan motivasi kepada anaknya untuk memilih SMK yang sesuai dengan minat, 3) Bagi DU/DI hendaknya bersikap terbuka dan mudah bekerjasama dengan SMK untuk kemajuan bersama, 4) bagi peneliti selanjutnya perlu menggali faktor lain seperti cita-cita, kebutuhan masa depan, dan ketekunan bekerja.

Karakteristik masyarakat desa tertinggal di Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo / Fathur Rakhman

 

Kehidupan ekonomi masyarakat Desa Gerongan dan Desa Ganting Wetan Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo tergolong rendah, karena sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai buruh tani. Kondisi wilayah Kecamatan Maron tidak menguntungkan, khususnya kondisi fisiknya yaitu: lokasi yang relatif jauh, sarana dan prasarana tranportasi terbatas, aksesibilitas rendah, keadaan tanah meskipun subur tetapi kepemilikan tanah sempit, sumber air minum terbatas. Dari segi sosial yaitu tingkat pendidikan rendah dan tidak memiliki keterampilan khusus. Kondisi seperti ini menyebabkan masyarakat di kedua desa tertinggal tersebut belum maju. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik masyarakat desa tertinggal yang meliputi jenis kelamin, umur, beban tanggungan keluarga, tingkat pendidikan, status perkawinan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan keluarga dan pemanfaatan pendapatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. yaitu menggambarkan peristiwa/ keadaan karakteristik demografi masyarakat desa tertinggal, karakteristik sosial masyarakat desa tertinggal dan karakteristik ekonomi masyarakat desa tertinggal secara tepat dan detail. Populasi masyarakat desa tertinggal di Desa Gerongan sebanyak 498 KK, dan Desa Ganting Wetan sebanyak 401 KK. Sampel ditentukan berdasarkan teknik purposive sample, yaitu di Desa Gerongan sebanyak 50 responden dan Desa Ganting Wetan sebanyak 40 responden. Analisis data deskriptif dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian di Desa Gerongan dan Desa Ganting Wetan bahwa jenis kelamin masyarakat desa tertinggal sebesar 88 % atau 44 KK dan 77,5 % atau 31 KK adalah laki-laki, sedangkan 12 % atau 6 KK dan 22,5 % atau 9 KK adalah perempuan, umur masyarakat di kedua desa tertinggal tergolong usia produktif yaitu > 50 tahun sebesar 56 % atau 28 KK dan 30 % atau 12 KK, beban tanggungan keluarga masyarakat kedua desa tertinggal terbanyak 3- 4 orang sebesar 66 % atau 28 KK dan 52,5 % atau 21 KK, tingkat pendidikan masyarakat kedua desa tertinggal adalah tamatan SD sebesar 40 % atau 20 KK dan 62,5 % atau 25 KK, status perkawinan masyarakat kedua desa tertinggal adalah nikah sebesar 88 % atau 44 KK dan 72,5 % atau 29 KK, jenis pekerjaan masyarakat kedua desa tertinggal adalah buruh tani sebesar 100 % atau 50 KK dan 77,5 % atau 31 KK, tingkat pendapatan keluarga masyarakat desa tertinggal Desa Gerongan adalah Rp.300.000-Rp.499.000 per bulan sebesar 52 % atau 26 KK sedangkan Desa Ganting Wetan Rp.500.000-Rp.599.000 per bulan sebesar 37,5 % atau 15 KK, pemanfaatan pendapatan masyarakat desa tertinggal Desa Gerongan untuk kebutuhan makan Rp.100.000-Rp.200.000 per bulan sebesar 70 % atau 35 KK, untuk kebutuhan listrik Rp.5.000-Rp.10.000 per bulan sebesar 74 % atau 37 KK, sedangkan Desa Ganting Wetan untuk kebutuhan makan Rp.400.000 per bulan sebesar 40 % atau 16 KK, untuk kebutuhan listrik Rp.5.000-10.000 per bulan sebesar 85 % atau 34 KK.

Pengaruh stock split terhadap abnormal return dan trading volume activity (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2006) / Chandra Riana

 

Stock split merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh manajer perusahaan dengan cara melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham sesuai dengan split factor. Peristiwa stock split masih merupakan fenomena yang membingungkan bagi para analis keuangan. Hasil dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan ada yang mendukung teori stock split yaitu trading range theory yang menyatakan bahwa stock split akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan signaling theory yang menyatakan bahwa stock split memberikan informasi kepada publik tentang prospek masa depan yang baik mengenai perusahaan yang melakukan stock split tersebut. Tetapi ada pula yang menunjukkan bahwa stock split tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diteliti. Perbedaan pendapat ini masih menjadi kontroversi dan teka-teki yang belum terpecahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh stock split terhadap abnormal return, cumulative abnormal return, trading volume activity serta perbedaan abnormal return, cumulative abnormal return, trading volume activity sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan manufaktur yang listing di BEJ tahun 2003-2006. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di BEJ dan melakukan stock split selama tahun 2003-2006 sebanyak 40 perusahaan. Sedangakan sampel yang digunakan sebanyak 14 perusahaan yang diambil secara purposive judgement sampling dengan menggunakan periode estimasi selama 100 hari dan periode jendela selama 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah stock split. Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa stock split tidak berpengaruh secara signifikan terhadap abnormal return dan trading volume activity yang ditandai dengan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara abnormal return dan trading volume activity sebelum dan sesudah stock split. Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian ini untuk penelitian selanjutnya, yaitu: (1) Memperbanyak sampel penelitian dari semua perusahaan yang listing di BEJ yang melaksanakan kebijakan stock split dengan memperpanjang periode pengamatan sehingga lebih representatif, (2) mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi reaksi pasar modal di seputar stock split, (3) mengamati perusahaan yang juga melakukan kebijakan pemecahan turun (split down).

Pengaruh pemberian tugas terstruktur berbasis inkuiri terhadap peningkatan motivasi dan prestasi belajar akuntansi siswa di SMK Salahuddin Malang / Rika Wijayanti

 

Pendidikan merupakan sarana dalam mewujudkan tujuan nasional, sehingga berbagai upaya terus dilakukan untuk pembaharuan kualitas sistem pendidikan nasional. Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan komponen dan tujuan utama yang sangat mempengaruhi keberhasilan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Salah satu upaya perbaikan kualitas pendidikan adalah melalui pemilihan metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dapat berdampak positif terhadap hasil belajar akuntansi siswa. penerapan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran melalui pemberian tugas terstruktur berbasis inkuiri. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dicobakan metode pembelajaran melalui pemberian tugas terstruktur berbasis inkuiri pada siswa kelas 1A jurusan akuntansi SMK Salahuddin Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara prestasi dan motivasi belajar akuntansi siswa yang diajar melalui pemberian tugas terstruktur berbasis inkuiri dengan siswa yang diajar melalui metode ceramah dan tanya jawab. Pembahasan materi pada penellitian ini dibatasi pada persamaan dasar akuntansi dan laporan keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan membandingkan nilai post tes siswa kelasa eksperimen dengan kelas kontrol. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1A jurusan Akuntansi SMK Salahuddin Malang yang berjumlah 35 siswa sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas 1B jurusan Akuntansi SMK Salahuddin Malang yang berjumlah 34 siswa sebagai kelas kontrol. Analisis data yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji homogenitas dan uji t. Hasil analisis diperoleh sebesar 2,703sedangkan sebesar (2,03) dengan tingkat signifikansi (0,009) < (0,05) maka ditolak dan Ha diterima yang berarti ada perbedaan positif yang signifikan terhadap hasil belajar dan motivasi siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran melalui pemberian tugas terstruktur berbasis inkuiri. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar melalui pemberian tugas terstruktur berbasis inkuiri (kelas eksperimen) lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajar melalui pembelajaran metode ceramah dan tanya jawab(kelas kontrol). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan untuk lebih membahas penelitian ini dengan lebih mendalam dan dalam ruang lingkup yang lebih luas.

Pengembangan media pembelajaran interaktif hands-on equations berbantu komputer pada materi persamaan linier satu variabel untuk siswa kelas VII / Fikriyaturrohmah

 

Fikriyaturrohmah. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Hands-on Equations Berbantu Komputer pada Materi Persamaan Linier Satu Variabel untuk Siswa Kelas VII. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Rini Nurhakiki, M.Pd. Kata Kunci: Media pembelajaran interaktif, persamaan linier satu variabel, Hands-on Equations. Penggunaan media pembelajaran akan memudahkan mengajarkan suatu konsep yang abstrak menjadi lebih konkrit dengan menggunakan obyek-obyek, gambar dan benda yang konkrit. Pengembangan media ini diperlukan untuk mempermudah pemahaman konsep persamaan linier satu variabel dengan media Hands-on Equations yang menggunakan neraca dengan dua sisi untuk mewakili konsep persamaan, pion untuk mewakili variabel dan kotak untuk mewakili bilangan konstanta. Sehingga dengan dikembangkan media pembelajaran interaktif menggunakan program macromedia flash, materi tersebut bisa disampaikan secara interaktif dan menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan program media pembelajaran interaktif Hands-On Equations pada materi persamaan linier satu variabel untuk siswa kelas VII SMP. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang terdiri dari kegiatan: (1) penyusunan rancangan yang terdiri dari (a) identifikasi kebutuhan, (b) perumusan tujuan instruksional, (c) mengumpulkan bahan referensi, (d) konsultasi pada ahli materi dan ahli media, (2) penulisan naskah yang terdiri dari (a) pembuatan bagan program, (b) pembuatan storyboard program,(3) produksi media dan (4) evaluasi program media yang berupa (a) membuat instrumen pengumpulan data, (b) validasi produk, (c) uji coba produk, dan (d) revisi dan menghasilkan produk akhir. Pengumpulan data menggunakan kuesioner (angket). Data yang didapatkan berupa data kuantitatif dan kulitatif deskriptif. Data kuantitatif berasal dari uji validasi produk dari ahli materi, ahli Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK) dan uji coba kelompok kecil pada 6 siswa kelas VI yang belum menempuh materi persamaan linier satu variabel. Data kualitatif deskriptif diperoleh dari kritik dan saran dari validator dan subyek uji coba. Hasil uji validasi dan uji coba adalah sebagai berikut: media yang dihasilkan merupakan media yang berkualitas karena memenuhi kriteria valid dan praktis sebagai media pembelajaran. Hal ini dibuktikan dari hasil perhitungan sebagai berikut: (1) hasil validasi materi diperoleh nilai akhir 79,41% sehingga media dikategorikan valid, (2) hasil validasi media diperoleh persentase 83,33% sehingga media dikategorikan valid, (3) hasil uji coba kelompok kecil pada 6 siswa diperoleh persentase 85,42% sehingga media dikatakan sangat praktis. Disarankan kepada pengembang selanjutnya untuk mengembangkan media persamaan linier satu variabel dengan menggunakan simulasi neraca yang bisa digerakkan oleh siswa dan juga mengembangkan media pada materi pertidaksamaan linier satu variabel.

Pengaruh brand image produk layanan terhadap loyalitas konsumen PT. Pos Indonesia (Persero) Kantor Cabang Malang / Yohanes Tri Widada

 

Aktivitas sari mesokarp pepino (Solanum Muricatum) dan terong lalap ungu (Solanum Melongena) sebagai inhibitor lipase pankreas dan potensinya sebagai minuman kesehatan penurun kadar lemak darah / Yuni Pebrianty

 

Pebrianty, Yuni. 2012. Aktivitas Sari Mesokarp Pepino (Solanum Muricatum) dan terong lalap ungu (Solanum Melongena) sebagai Inhibitor Lipase Pankreas dan Potensinya sebagai Minuman Kesehatan Penurun Kadar Lemak Darah. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Subandi, M.Si., (2) Muntholib, M.Si. Kata kunci: Lipase Inhibitor, sari mesokarp, Orlistat         Konsumsi lemak yang semakin tinggi di kalangan masyarakat dapat meningkatkan kadar lemak darah, yang dapat memicu obesitas dan penyakit cardiovaskular. Untuk menurunkan kadar lemak darah, telah digunakan obat yang bertindak sebagai inhibitor lipase pankreas seperti senyawa turunan lipostatin misalnya Orlistat. Namun seperti obat-obatan kimia yang lain disamping mahal dan harus diimpor, obat tersebut juga mempunyai efek samping. Oleh sebab itu perlu digalakkan penemuan obat-obatan alami (herbal) yang dapat menggantikannya. Salah satu mitos dimasyarakat mempercayai bahwa pepino dan terong lalap dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolestrol dan lemak darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya inhibisi dari sari mesokarp pepino dan terong lalap dalam kondisi mentah dan rebus terhadap aktivitas lipase, mengujinya secara organoleptik serta mengidentifikasi jenis senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak etanol sari mesokarp pepino dan terong lalap.     Penelitian ini bersifat deskriptif Laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri atas beberapa tahap yaitu (1) uji daya inhibisi lipase pankreas (Pankreoflat) oleh sari mesokarp pepino dan terong lalap, relatif terhadap Orlistat, (2) uji daya terima panelis melalui uji organoleptik terhadap sari mesokarp pepino dan terong lalap mentah dan rebus, dan (3) uji kualitatif jenis senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak etanol mesokarp pepino dan terong lalap.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) daya inhibisi lipase pankreas oleh sari 50 gram masing-masing mesokarp adalah 68,8% untuk terong lalap rebus, 60,1% untuk pepino rebus, 54,4% untuk terong lalap mentah dan 17,3% untuk pepino mentah, sehingga jika menginginkan sari mesokarp yang daya inhibisi lipase setara dengan 1 tablet Orlistat maka massa mesokarp yang dibutuhkan berturut-turut adalah 57 g untuk terong lalap rebus, 65 g untuk pepino rebus, 72 g untuk terong lalap mentah, dan 238 g untuk pepino mentah, (2) urutan daya terima panelis terhadap sari mesokarp berturut-turut adalah 84% untuk pepino rebus, 64 % untuk pepino mentah, 58% untuk terong lalap rebus, dan 50% untuk terong lalap mentah, (3) Senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol mesokarp pepino dan terong lalap adalah golongan alkaloid, flavonoid, dan saponin. Berdasarkan daya inhibisi dan hasil uji organoleptik maka urutan potensi sari mesokarp sebagai minuman kesehatan berturut-turut adalah pepino rebus (skor 140,4), terong lalap rebus (skor 126,8), terong lalap mentah (skor 104,4), dan pepino mentah (skor 81,3)

Pengembangan media pembelajaran dengan aplikasi program macromedia flash professional 8 pada mata pelajaran geografi SMA kelas X untuk topik hidrosfer / Arif Baidowi

 

Materi Hidrosfer merupakan kajian geografi fisik yang mengkaji tentang proses alam dan objek-objek alam dalam skala ruang yang luas, sehingga dalam penjelasannya tidak cukup hanya dengan cara lisan saja. Kondisi ini menyebabkan kesulitan siswa dalam memahami materi, khususnya proses-proses alam, seperti: siklus air, terbentuknya sungai, danau, dan terbentuknya air tanah. Hal tersebut disebabkan guru kesulitan untuk menunjukkan secara langsung proses-proses tersebut di dalam kelas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan media pembelajaran yang dapat menunjukkan proses-proses hidrosfer dan objek-objek alam yang dapat membantu siswa memahami materi tersebut. Media ini dikembangkan dengan menggunakan program macromedia flash professional 8 yang merupakan program animasi yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, video, dan animasi sehingga proses-proses hidrosfer dan objek-objek alam dapat dipresentasikan. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, yang terdiri dari kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Data penelitian bersifat kuantitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data hasil uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa media ini ?valid?. Hasil uji coba produk diperoleh nilai 87% dengan kriteria ?layak?. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah. Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan manfaat dan pengembangan produk yang akan datang diajukan adalah: (1) guru hendaknya menggunakan media ini dalam pembelajaran di kelas khususnya untuk materi hidrosfer, (2) penggunaan LCD Proyektor untuk memperoleh tampilan yang lebih besar sehingga memudahkan siswa untuk mengamati tayangan media, (3) agar produk digunakan secara luas, guru pengajar mata pelajaran geografi, baik tingkat SMP maupun SMA dapat mengakses produk ini di Jurusan Geografi Universitas Negeri Malang, (4) pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lainnya seperti: litosfer, laut dan pesisir, dan pedosfer.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis CAI tutorial pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas X SMA / Mochamad Kholid Syaifudin

 

Syaifudin, M. Kholid. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Fisika Berbasis CAI Tutorial Pokok Bahasan Hukum-hukum Newton tentang Gerak untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa SMA Kelas X. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyono Koes H, M.Pd, MA, (II) Dr. Sentot Kusairi, M.Si. Kata Kunci: Bahan Ajar, CAI Tutorial, Pemahaman Konsep, Hukum-hukum Newton tentang gerak. Fisika merupakan ilmu yang banyak mengandung matematis. Hasil penelitian Rochmah (2008:2), kekhususan fisika dibandingkan dengan ilmu lain adalah sifatnya yang kuantitatif yaitu penggunaan konsep-konsep dan hubungan antara konsep yang banyak menggunakan perhitungan matematis. Salah satu materi fisika yang mengandung banyak konsep abstrak dan matematis adalah Hukum-hukum Newton tentang Gerak SMA kelas X. Materi ini sulit dipahamkan kepada siswa dikarenakan keterbatasan tenaga dan waktu yang dimiliki oleh guru dalam pembelajaran. Perlu adanya media komunikasi untuk membantu guru dalam pembelajaran materi tersebut. Media komunikasi dalam pembelajaran salah satunya yaitu bahan ajar. Bahan ajar fisika berbasis CAI Tutorial merupakan bahan ajar yang dapat membantu guru dalam pembelajaran dikarenakan komputer bisa berperan sebagai tutor/pembimbing bagi siswa untuk belajar mandiri. Penelitian pengembangan ini memiliki tujuan menghasilkan dan mengetahui kelayakan tutorial fisika berbasis CAI pokok bahasan Hukum-hukum Newton pada siswa SMA kelas X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi Model Pengem-bangan Borg and Gall (dalam Sukmadinata, 2012: 169) hingga langkah kelima yaitu revisi hasil uji coba. Langkah-langkah tersebut dimodifikasi menjadi tiga langkah pokok yaitu studi pendahuluan, pengembangan produk dan uji coba produk. Produk akhir dikemas dalam bentuk CD pembelajaran yang terdiri dari materi, gambar, animasi, video tutorial dan soal evaluasi. Karena keterbatasan waktu dan biaya, validasi pada penelitian ini hanya validasi materi, dan media.Uji coba terbatas dilakukan pada 10 siswa kelas X SMA N 10 Malang reguler. Pengambilan data uji coba dilakukan menggunakan instrumen berupa angket kepada ahli materi, ahli media, dan pengguna (siswa). Ahli materi terdiri atas dua orang yaitu dosen fisika Universitas Negeri Malang dan guru fisika SMA N 10 Malang reguler. Ahli media adalah dosen fisika Universitas Negeri Malang yang berpengalaman di bidang media komputer. Berdasarkan hasil analisis data diketahui tingkat kelayakan tutorial fisika yang dikembangkan sebesar 75% menurut ahli materi dan sebesar 76% menurut ahli media. Uji keterbacaan oleh pengguna (siswa) diperoleh data berupa kata-kata sulit dan saran serta kritik sebagai bahan direvisi bahan ajar. Bahan ajar yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria layak menurut para ahli media dan materi. Produk dapat diujicobakan lebih lanjut untuk mengetahui kelayakannya ketika digunakan dalam pembelajaran.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan terhadap motivasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Wienda Adriyana

 

Motivasi merupakan daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan, dalam hal ini belajar. Motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah dan rasa senang dalam belajar, sehingga mahasiswa yang termotivasi memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa adalah kondisi fasilitas perkuliahan. Persepsi mahasiswa tentang fasilitas perkuliahan merupakan cara pandang mahasiswa mengenai kondisi fasilitas (sarana dan prasarana ) yang menunjang dalam kegiatan perkuliahan, baik itu kuantitas maupun kualitasnya. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan terhadap motivasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi ( Explanatory Research ). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket dan dokumentasi. Populasi data dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang diwakili sampel sebesar 105 mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir bulan Nopember sampai Desember 2007. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil bahwa kondisi fasilitas perkuliahan mempunyai pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa, yaitu 51,3% dan sisanya sebesar 48,7% dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian. Implikasi dari hasil analisis di atas adalah bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kondisi fasilitas perkuliahan terhadap motivasi belajar mahasiswa. Mahasiswa jurusan akuntansi memiliki motivasi belajar yang tergolong baik dan kondisi fasilitas perkuliahan di Fakultas Ekonomi UM juga baik. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar fasilitas perkuliahan perlu lebih ditingkatkan guna lebih memotivasi mahasiswa dalam belajar.

Peningkatan hasil belajar matematika luas bangun datar melalui model pembelajaran van hiele pada siswa kelas V SDN Dandong 01 kabupaten Blitar, / Liya Yunita

 

Kata Kunci: hasil belajar, luas, bangun datar, model pembelajaran Van Hiele Pembelajaran menghitung luas bangun datar di SDN Dandong 01 masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Berdasarkan hasil observasi, dari 23 siswa hanya 8 siswa yang mendapat nilai di atas KKM. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Van Hiele dipilih untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model pembelajaran Van Hiele diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti sebagai guru bekerjasama dengan guru kelas V sebagai observer dan dilaksanakan di SDN Dandong 01 Kabupaten Blitar. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi aktivitas siswa dalam pembelajaran. Instrument yang digunakan dalam pengumpulan data ialah berupa lembar aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran. Sedangkan kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pelaksanaan pembelajaran dengan model Van Hiele dapat dikatakan berhasil dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya peningkatan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan ialah 63,2 dengan ketuntasan 34,8%. Pada siklus 1 pertemuan 1, nilai rata-rata hasil belajar siswa ialah meningkat menjadi 79,3 dengan ketuntasan klasikal 73,9%. Sedangkan pada siklus 1 pertemuan 2, rata-rata hasil belajar siswa meningkat lagi menjadi 86,1 dengan ketuntasan klasikal 91,3%. Pada siklus 2 pertemuan 1, nilai rata-rata hasil belajar siswa 80,8 dengan ketuntasan klasikal 82,6%. Sedangkan pada siklus 2 pertemuan 2, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 87,1 dengan ketuntasan klasikal mencapai 95,7%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua simpulan, yaitu: pertama, Pelaksanaan model pembelajaran Van Hiele dalam materi menghitung luas bangun datar pada siswa kelas V SDN Dandong 01 Kabupaten Blitar dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Kedua, Model pembelajaran Van Hiele dalam materi menghitung luas bangun datar pada siswa kelas V SDN Dandong 01 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 pertemuan 1 sampai siklus 2 pertemuan 2 mencapai 21,8%.

Sintesis neril asetat dari nerol dan anhidrida asetat serta uji aktivitasnya sebagai sunscreen / Muhtarotur Rofidah

 

Sintesis merupakan reaksi pembentukan senyawa atau molekul target. Esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester yang dapat dilakukan dengan cara mereaksikan asam karboksilat atau turunannya dengan alkohol. Nerol adalah senyawa alkohol yang mempunyai ikatan rangkap dan pasangan elektron bebas. Selain itu, nerol mempunyai bau yang harum, sehingga timbul pemikiran untuk memperluas kegunaannya dengan cara membuat turunannya, misalnya neril asetat. Neril asetat adalah senyawa ester yang mempunyai rantai alkil yang panjang. Secara teori neril asetat dapat disintesis dari nerol dan anhidrida asetat melalui reaksi esterifikasi. Sunscreen adalah suatu senyawa yang dapat menyerap radiasi sinar UV. Pada umumnya senyawa yang dapat menyerap radiasi sinar UV adalah senyawa yang mempunyai ikatan rangkap dan pasangan elektron bebas. Dilihat dari strukturnya neril asetat merupakan senyawa ester yang mempunyai ikatan rangkap dan pasangan elektron bebas, sehingga neril asetat diduga mempunyai aktivitas sebagai sunscreen. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui berlangsung tidaknya reaksi esterifikasi antara nerol dan anhidrida asetat membentuk neril asetat, (2) mengetahui karakter senyawa hasil sintesis, dan (3) mengetahui kemampuan senyawa hasil sintesis sebagai sunscreen. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang dilakukan di laboratorium kimia FMIPA UM. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu, (1) sintesis neril asetat dari nerol dan anhidrida asetat dengan katalis asam klorida pekat serta pemurnian senyawa hasil sintesis, (2) karakterisasi dan identifikasi senyawa hasil sintesis, dan (3) uji aktivitas senyawa hasil sintesis sebagai sunscreen. Sintesis neril asetat dilakukan dengan mengaduk campuran nerol, anhidrida asetat, dan asam korida pekat. Hasil sintesis kemudian dicuci dengan air, dan selanjutnya dikeringkan dengan menambah magnesium sulfat anhidrat. Senyawa hasil sintesis dimurnikan dengan kromatografi kolom dan selanjutnya dikarakterisasi berdasarkan uji organoleptik, berat jenis, indeks bias, titik didih, dan kelarutan. Identifikasi senyawa hasil sintesis dilakukan dengan KLT, spektrofotometer UV, spektrofotometer IR, dan analisis GC-MS. Uji aktivitasnya sebagai sunscreen dilakukan dengan metode spektrofotometri UV. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa reaksi esterifikasi antara nerol dan anhidrida asetat dapat berlangsung pada suhu kamar dan menghasilkan neril asetat dengan rendemen 40,64% dan kemurnian 91,96%. Neril asetat hasil sintesis berwujud cairan berwarna kuning jernih, berbau harum, mempunyai berat jenis 0,896 g/mL, indeks bias 1,45956 pada suhu 20?C, titik didih 222-223?C pada 735 mmHg, larut dalam etanol, 2-propanol, kloroform, n-heksana tetapi tidak larut dalam air. Neril asetat hasil sintesis tidak menunjukkan aktivitas sebagai sunscreen baik sebagai suntan maupun sunblock.

Kajian proses pembelajaran guru untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif melalui pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada mata pelajaran elektronika dasar siswa kelas X-PBB SMK PGRI 3 Malang / Qifhana Khoirul Mudfa

 

Khoirul Mudfa, Qifhana. 2013. Kajian Proses Pembelajaran Guru untuk Meningkatkan Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Kognitif Melalui Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share pada Mata Pelajaran Elektronika Dasar Siswa Kelas X-PBB SMK PGRI 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro Program Studi Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T. M.Pd. (II) Sujito, S.T., M.T. Kata Kunci: Kajian Proses Pembelajaran Guru, Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share, Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Untuk mempersiapkan sumber daya manusia profesional diperlukan guru dan siswa yang aktif dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada bulan Januari 2013 untuk proses pembelajaran pada mata pelajaran Elektronika Dasar diketahui bahwa siswa kelas X-PBB SMK PGRI 3 Malang dengan program keahlian Teknik Pembangkit kelas B masih tergantung pada guru. Sehingga keterampilan proses dan hasil belajar siswa kurang dan guru tidak sepenuhnya mengacu pada RPP yang dibuat. Tujuan dari penelitian ini yaitu; (1) meningkatkan keterampilan proses; (2) meningkatkan hasil belajar; dan (3) mengungkap peningkatan performane guru dalam proses pembelajaran. Penelitian ini mengambil sampel pada kelas X-PBB SMK PGRI 3 Malang yang berjumlah 34 siswa, dengan jumlah laki-laki 32 siswa dan perempuan 2 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan menggunakan kajian proses pembelajaran guru dengan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share. Penelitian ini dilaksanakan dengan 3 siklus dengan 5 pertemuan. Setiap siklus menggunakan tahapan Lesson Study yang digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran pada setiap siklus. Hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan keterampilan proses dan hasil belajar siswa kelas X-PBB SMK PGRI 3 Malang. Keseluruhan peningkatan keterampilan proses siswa dari siklus I ke siklus II dapat dilihat dengan skor ratarata keterampilan proses belajar siswa sebesar 3.97% dan pada siklus II dan siklus III dapat dilihat dengan skor rata-rata keterampilan proses belajar siswa sebesar 8.97%, yaitu pada siklus I rata-rata mencapai 64.26%, pada siklus II rata-rata mencapai 68.23% dan pada siklus III rata-rata mencapai 77.2%. Peningkatan persentase ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar. 8.83%. Kemudian peningkatan persentase ketuntasan belajar dari siklus II ke siklus III yaitu sebesar 5.88%.

Peningkatan motivasi dan hasil belajar biologi siswa dengan pembuatan peta konsep melalui pembelajaran kooperatif model jigsaw siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM / Sutiyani

 

Penerapan model simultaneous roundtable untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar (studi pada siswa kelas X APK mata pelajaran menerapkan prinsip-prinsip kerjasama dengan kolega dan pelanggan di SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Novia Ristania

 

Ristania, Novia. 2013. Penerapan Model Simultaneous Roundtable untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar (Studi pada Siswa Kelas X APK Mata Pelajaran Menerapkan Prinsip-Prinsip Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan Di SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd., M.M. (II) H. Imam Bukhori, S.Pd., M.M. Kata Kunci: Simultaneous Roundtable, Motivasi, Hasil Belajar    Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh sumber daya manusia didalamnya. Guru sebagai pengajar dalam pelaksanaan pembelajaran dituntut untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif, sehingga siswa akan termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) penerapan model Simultaneous Roundtable; (2) motivasi belajar siswa pada saat diterapkan model Simultaneous Roundtable; (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model Simultaneous Roundtable dan (4) kendala-kedala dan solusi pada saat penerapan model Simultaneous Roundtable.    Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas atau PTK dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang yang berjumlah 40 siswa. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara, lembar observasi, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Teknik Analisis data penelitian meliputi tiga hal: (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan kesimpulan.    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Simultaneous Roundtable dapat dilaksanakan dengan baik. Motivasi belajar ditunjukkan rata-rata dari siklus I sebesar 78,39% meningkat menjadi 85,02% pada siklus II. Pada aspek kognitif nilai rata-rata hasil post test siklus I sebesar 81,72% meningkat menjadi 86,56% pada siklus II, dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di SMK Muhammadiyah 2 Malang, yaitu 80. Sedangkan, ketuntasan belajar klasikal aspek kognitif di siklus I sebesar 84,62% meningkat menjadi 94,87% di siklus I.    Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa, (1) penerapan model Simultaneous Roundtable dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. (2) Hambatan yang dialami selama pelaksanaan model Simultaneous Roundtable dapat diatasi dengan adanya solusi salah satunya yaitu, memberikan motivasi dan semangat kepada siswa agar masuk sekolah tepat waktu, sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan maksimal. (3) Saran yang dapat dapat digunakan sebagai bahan rujukan pada penelitian selanjutnya, Sebelum pembelajaran dilakukan, sebaiknya siswa sudah mempunyai pembekalan tentang bagaimana belajar menyampaikan pendapat dalam struktur pembelajaran secara tim, sehingga siswa sudah mempunyai persiapan yang maksimal, dan siswa tidak bingung dengan model pembelajaran yang diterapkan peneliti.

Hubungan bimbingan belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa tunagrahita di SMALB Yayasan Putra Pancasila (YP-2) Kedungkandang Malang / Ratna Wijayanti

 

Wijayanti, Ratna. 2014. Hubungan Bimbingan Belajar dan Motivasi Belajar Dengan Prestasi Belajar Siswa Tunagrahita Di SMALB Yayasan Putra Pancasila (YP-2) Kedung Kandang Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program S-1 Pendidikan Luar Biasa. Dosen Pembimbing: (I) Prof. Dr. Moh. Efendi, M.Pd., M.Kes. (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata kunci : Bimbingan, Motivasi, Prestasi Belajar Siswa Tunagrahita     Bimbingan belajar dan motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong siswa tunagrahita untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik. Dengan adanya bimbingan belajar yang diberikan oleh guru untuk siswa tunagrahita, siswa menjadi semakin termotivasi untuk selalu giat belajar dan meningkatkan prestasi belajarnya karena mendapatkan bimbingan belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memperoleh prestasi belajar yang baik.     Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah, 1) Mendeskripsikan hubungan antara bimbingan belajar dengan prestasi belajar siswa tunagrahita di SMALB YP2 Malang, 2) Mendeskripsikan hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa tunagrahita di SMALB YP2 Malang, dan 3) Mendeskripsikan hubungan bimbingan belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa tunagrahita di SMALB YP2 Malang.     Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket tertutup, wawancara terstruktur yang ditujukan untuk siswa tunagrahita, dan dokumentasi. Adapun analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi dan analisis linear ganda untuk menemukan korelasi antara variabel predictor dengan variabel criterium.     Hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan peneliti adalah sebagai berikut: hipotesis pertama menunjukkan terdapat korelasi yang tinggi dan menuju arah positif antara variabel bimbingan belajar dengan prestasi belajar. Hasil tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien determinasi R = 0.773, hipotesis kedua menunjukkan terdapat korelasi yang tinggi dan menuju arah positif antara variabel motivasi belajar dengan prestasi belajar. Hasil tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien determinasi R = 0.767, dan hipotesis ketiga secara bersama-sama kedua variabel predictor tersebut berpengaruh sangat kuat terhadap variabel criterium, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien determinasi R = 0.891 dan nilai R Square () = 0.794 artinya 79.4 % variasi yang terdapat pada prestasi belajar siswa dijelaskan oleh bimbingan belajar dan motivasi belajar, sisanya 20.6 % dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.     Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara bimbingan belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa tunagrahita di SMALB Yayasan Putra Pancasila Kedung Kandang Malang. Dengan demikian diharapkan guru dapat memberikan dan meningkatkan bimbingan belajar yang lebih baik untuk siswa tunagrahita agar dapat menumbuhkan motivasi belajarnya, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya dengan maksimal.

Pencapaian identitas diri pada remaja: studi kasus pada remaja dengan orang tua tunggal / Seviana Irawati

 

Irawati, Seviana. 2013. Pencapaian Identitas Diri pada Remaja: Studi Kasus pada Remaja dengan Orang Tua Tunggal. Skripsi, Jurusan psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M. Si, (II) Ika Andrini Farida S. Psi, M. Psi Kata kunci: pencapaian identitas diri, remaja, orang tua tunggal Masa remaja merupakan masa rentan dalam perkembangan manusia. Pada masa ini, individu mulai berjuang untuk mendapatkan identitas diri, dengan melalui beberapa perubahan pada tugas perkembangannya. Perubahan tugas perkembangan tersebut dapat memunculkan kebingungan dalam diri remaja, sehingga remaja akan berkembang ke arah negatif. Peran keluarga tidak hanya dapat membantu remaja mengatasi perubahan yang terjadi, tetapi juga penting dalam pencapaian identitas diri pada remaja. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pencapaian identitas diri remaja dengan orang tua tunggal dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sampel penelitian yang digunakan adalah tiga subjek remaja yang memiliki orang tua tunggal. Dua subjek memiliki orang tua tunggal karena meninggal dunia dan satu subjek memiliki orang tua tunggal karena perceraian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah depth-interview dan observasi. Hasil penelitian menemukan bahwa remaja memiliki status identitas achievement untuk aspek pekerjaan dan peran jenis kelamin. Pada aspek peran sosial, dua subjek memiliki status identitas achievement dan satu subjek memiliki status identitas foreclosure. Pada aspek ideologi politik dan agama, remaja memiliki status identitas foreclosure. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian identitas diri subjek adalah pola asuh, model identifikasi, homogenitas lingkungan, perkembangan kognisi, sifat individu, pengalaman masa anak-anak, pengalaman kerja, interaksi sosial, dan kelompok teman sebaya. Saran yang dikemukakan pada penelitian ini yaitu bagi remaja agar mengembangkan diri pada berbagai aspek identitas agar dicapai identitas diri yang baik. Bagi orangtua tunggal, diharapkan memberikan perhatian dan pengawasan kepada anak-anak, agar membantu anak dalam mencapai status identitas yang baik. Selain itu, dikemukakan pula saran bagi peneliti selanjutnya yaitu untuk memperluas ranah penelitian agar tidak terbatas pada area universitas.

Pemberdayaan lembar kerja siswa untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas IV SDN Popoh 3 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar / Irfa Nurohmah

 

Kata Kunci : pemberdayaan LKS, peningkatan aktivitas belajar siswa Mata pelajaran IPA tidak hanya merupakan kumpulan pengetahuan atau fakta saja tetapi IPA merupakan cara kerja, cara berfikir, dan cara memecahkan masalah. Dalam pembelajaran IPA Kelas IV SDN Popoh 3 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar, bahwa pembelajaran membosankan karena masih berpusat pada guru (teacher centered), dan guru tidak menyusun LKS sendiri tetapi menggunakan LKS dari terbitan tertentu yang tidak menitikberatkan pada keterampilan proses. Untuk memecahkan masalah ini dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan memberdayakan LKS pada pembelajaran IPA dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan (1) aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA di kelas IV pada tahap pra tindakan, (2) pelaksanaan pembelajaran melalui pemberdayaan LKS, (3) aktivitas belajar siswa dalam Pembelajaran IPA di kelas IV pada setiap siklus, (4) peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA di kelas IV melalui pemberdayaan LKS. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian siswa SDN Popoh 3 kelas IV yang berjumlah 18 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan (field notes). Analisis data berpedoman pada analisis data penelitian kualitatif. Langkah-langkah analisis penelitian kualitatif meliputi: (1) Reduksi data, (2) Penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Pembelajaran melalui pemberdayaan LKS diperoleh aktivitas belajar semakin meningkat. dari persentase ketuntasan dari tahap pra tindakan 1,33 % meningkat pada siklus I menjadi 74% dengan kriteria cukup baik sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80% dengan kriteria baik.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan pemberdayaan lembar kerja siswa dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa siswa kelas IV SDN Popoh 3 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar. Peningkatan aktivitas belajar siswa melalui pemberdayaan LKS terbukti juga diikuti oleh peningkatan hasil belajar IPA (dari skor rata-rata pra tindakan 59 meningkat menjadi skor 80 pada akhir tindakan). Saran yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah setiap guru hendaknya membuat LKS sendiri yang menitikberatkan pada keterampilan proses sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa pada pembelajaran biologi kelas Xc SMA Negeri Pasirian Lumajang - Jawa Timur / Reni Firia Ningsih

 

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru biologi di SMAN pasirian pada bulan September 2007 diketahui bahwa pembelajaran di SMAN Pasirian masih berupa ceramah walaupun sedikit pernah diterapakan metode lain tetapi guru masih sulit menguasai dan waktunya terbatas. Dan juga dalam pembelajaran di dalam kelas siswa cenderung pasif dan kurang memperdayakan siswa untuk berpikir. Secara umum kemampuan berpikir siswa masih cenderung rendah, hanya 1-3 siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi. Jika kemampuan berpikir siswa rendah maka hasil belajar siswa masih rendah. Kendala yang dihadapi selama pembelajaran antara lain: 1) siswa tidak bisa belajar mandiri, 2) minimnya sarana dan prasarana pembelajaran di sekolah, 3) tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan guru masih kurang. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa guru belum pernah menerapakan metode pembelajaran dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa dengan penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan 2 siklus tindakan yang terdiri dari 4 kali pertemuan. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini subyek penelitian adalah siswa kelas Xc SMAN Pasirian semester gasal 2007/2008 yan berjumlah 49 siswa dengan materi Archaeobacteria dan Eubacteria. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober- November 2007. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, postest, LKS, dan catatan lapangan. Analisa data yang dilakukan dengan deskriptif kualitatif dan teknik prosentase. Hasil penelitian menujukkan penerapan Pembelajaran Kooperatif TPS secara umum dapat meningkatkan kemampun berpikir dan pemahaman siswa kelas Xc SMAN Pasirian. Dari hasil penelitian diperoleh pada siklus 1 jumlah siswa yang bertanya 9 siswa dengan 11 pertanyaan, jumlah siswa menjawab 13 dengan 14 jawaban, skor pertanyaan berdasarkan rubrik adalah 27,27% (skor 1); 45,5% (skor 2); 9,09% (skor 3), skor jawaban berdasarkan rubrik adalah 14,28% (skor 1); 78,57% (skor 2); 7,1% (skor 3), kualitas pertanyaan kognitif rendah 54,5% dan kognitif tinggi 0%, kualitas jawaban kognitif rendah (64,3%) dan kognitif tinggi 0%, rata-rata skor kemampuan berpikir dari hasil tes 50 dan ketuntasan belajar siswa dari tes dengan rubrik 41,02% dan tes tanpa rubrik 58,97%. Sedangkan pada siklus 2 diperoleh jumlah siswa yang bertanya 11 siswa dengan 13 pertanyaan, jumlah siswa menjawab 14 dengan 16 jawaban, skor pertanyaan berdasarkan rubrik adalah 0% (skor 1); 46,15% (skor 2); 15,3% (skor 3); 38,46% (skor 4), skor jawaban berdasarkan rubrik adalah 0% (skor 1); 56,25% (skor 2); 37,5% (skor 3); 6,25% (skor 4), kualitas pertanyaan kognitif rendah 15,3% dan kognitif tinggi 38,8%, kualitas jawaban kognitif rendah 43,8% dan kognitif tinggi 14,3%, rata-rata skor kemampuan berpikir dari hasil tes 70 dan ketuntasan belajar siswa dari tes dengan rubrik 89,74% dan tes tanpa rubrik 92,03%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) kepada guru biologi dapat menerapkan Pembelajaran Kooperatif Model TPS di kelas-kelas lain karena dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa, (2) kepada peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan hasil penelitian penerapan pembelajaran kooperatif TPS dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa.

Perancangan buku bergambar tentang pegalaran wayang kulit sebagai sarana pengenalan budaya untuk anak-anak / Jalu Tohpati

 

Tohpati, Jalu. 2013. Perancangan Buku Bergambar Tentang Tohpati, Jalu. 2013. Perancangan Buku Bergambar Tentang Pagelaran Wayang Kulit Sebagai Sarana Pengenalan Budaya Untuk Anak-Anak. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn Kata Kunci: buku bergambar, pagelaran wayang kulit, anak-anak Pada jaman sekarang ini, pagelaran wayang kulit sudah jarang dikenal oleh anak-anak karena keberadaannya sudah jarang bisa ditemui. Hal tersebut mengakibatkan kurangnya wawasan anak tentang budaya khususnya wayang kulit. Padahal wayang kulit merupakan budaya Indonesia yang telah diakui oleh dunia internasional dan berisi nilai-nilai yang luhur. Oleh karena itu, diperlukan sebuah cara yang bisa digunakan untuk memperkenalkan dan melestarikan pagelaran wayang kulit sejak dini kepada anak-anak. Salah satunya adalah dengan membuat buku bergambar tentang pagelaran wayang kulit. Pemilihan buku bergambar sebagai media dikarenakan buku merupakan media yang mudah dijangkau dan memiliki sifat mobilitas yang tinggi.Tujuan disusunnya perancangan buku bergambar ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan, khususnya pagelaran wayang kulit kepada anak-anak usia 10-12 tahun. Model perancangan yang dibuat adalah menggunakan model perancangan prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Langkah-langkah yang digunakan dalam model prosedural lebih mudah diikuti dan dimengerti. Buku bergambar yang dihasilkan ini memiliki spesifikasi produk dengan ukuran kertas B5 jenis art paper berjumlah 58 halaman, colourfull, dan berjenis buku paperback Hasil perancangan yang dibuat terdiri dari media utama dan media pendukung. Media utama adalah buku bergambar yang menjelaskan tentang peralatan dalam pagelaran wayang kulit, orang yang berperan, alat musik gamelan, tokoh-tokoh wayang kulit, proses pagelaran, cerita wayang kulit, dan permainan. Untuk media pendukung terdiri dari Poster, X-Banner, Pin, Stiker, dan T-shirt. Berdasarkan perancangan ini, disarankan agar dalam merancang buku bergambar dipersiapkan sebaik mungkin karena prosesnya rumit dan memerlukan waktu yang lama dalam proses pembuatan. Selain itu sebelum dicetak harus diteliti agar hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Gender bias in an english textbook for junior high school students / Noni Mia Rahmawati

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd, (II) Prof. Ali Saukah, M.A., Ph.D Kata kunci: bias gender, English textbook, junior high school Bias gender telah menjadi isu di bidang pembelajaran bahasa Inggris selama beberapa dekade. Dalam kurun waktu tersebut, beberapa usaha untuk mengurangi ketidaksetaraan gender antara perempuan dan laki-laki telah dilakukan. Namun demikian, banyak penelitian terbaru masih menemukan bias gender dalam beberapa elemen pembelajaran bahasa Inggris, seperti dalam buku-buku teks. Bias gender dalam buku-buku teks dianggap lebih merugikan dibandingkan bias gender dalam elemen-elemen lain. Hal ini disebabkan bias gender dalam buku-buku teks berdampak lebih luas secara geografis terhadap pembaca lintas pulau dan negara, yaitu memungkinkan pembaca memiliki konsep gender yang salah. Terlebih lagi, buku-buku teks dianggap mengandung kurikulum “tersembunyi” yang menyampaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sehingga akan merugikan bagi pembaca untuk membaca buku-buku teks yang mengandung bias gender karena pembaca akan memiliki konsep yang salah tentang perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian yang berkesinambungan tentang bias gender yang terdapat dalam buku-buku teks untuk mengetahui apakah bias gender terus menerus ada dalam buku-buku teks dan bagaimana para penulis buku-buku tersebut merepresentasikan bias gender. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bias gender pada sebuah buku teks bahasa Inggris untuk siswa Sekolah Menengah Pertama dalam isi teks melalui penggunaan bahasa dan dalam gambar-gambar. Penelitian ini adalah analisis isi yang menjelaskan representasi bias gender pada isi teks melalui penggunaan bahasa dan pada gambar-gambar dalam sebuah buku teks bahasa Inggris. Empat tipe penggunaan bahasa dianalisis pada isi teks, yaitu: (1) ) istilah-istilah maskulin yang mewakili masyarakat umum; (2) istilah-istilah yang menandai gender; (3) kata-kata yang bersanding dengan artikel-artikel yang menunjukkan gender; dan (4) artikel-artikel netral gender yang menunjukkan bias gender. Untuk gambar-gambar, lima criteria ditetapkan dalam meneliti bias gender, yaitu: (1) kegiatan-kegiatan dalam gambar-gambar; (2) karakter-karakter yang aktif dan pasif; (3) bahasa tubuh dan arah mata; (4) pakaian karakter; dan (5) status karakter-karakter. Selain dua set kriteria tersebut, sebuah pedoman dikembangkan untuk digunakan dalam pengumpulan dan analisis data yang terkait dengan bias gender dalam isi teks melalui pengunaan bahasa dan gambar. Lima daftar kata dibuat untuk mengumpulkan data tentang bias gender dalam isi teks melalui penggunaan bahasa. Selain itu, dua tabel dibuat selama pengumpulan data tentang penggunaan artikel-artikel netral gender yang menunjukkan bias gender. Data tentang bias gender dalam isi teks dan gambar dianalisis berdasarkan makna yang terdapat dalam isi teks dan gambar tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks bahasa Inggris untuk siswa Sekolah Menengah Pertama yang diteliti masih mengandung bias gender. Pada isi teks, bias gender terdapat pada empat tipe penggunaan bahasa, yaitu: (1) ) istilah-istilah maskulin yang mewakili masyarakat umum; (2) istilah-istilah yang menandai gender; (3) kata-kata yang bersanding dengan artikel-artikel yang menunjukkan gender; dan (4) artikel-artikel netral gender yang menunjukkan bias gender. Bias gender tersebut muncul karena makna-makna dari keempat tipe penggunaan bahasa tersebut kebanyakan menyiratkan stereotipe-sterotipe traditional yang diyakini masyarakat. Baik perempuan maupun laki-laki di gambarkan dalam stereotipe-stereotipe tersebut. Sama halnya dengan isi teks, gambar-gambar dalam buku teks juga menunjukkan bias gender. Meskipun perempuan digambarkan sebagai pemegang status dalam gambar-gambar tersebut, isu bias gender tampak akibat dari penggambaran perempuan berdasarkan stereotipenya. Namun, dibandingkan dengan beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa bias gender yang terdapat pada buku yang diteliti pada penelitian kali ini lebih sedikit dibanding buku-buku yang diteliti pada penelitian-penilitian sebelumnya. Hal ini disebabkan buku yang diteliti kali ini tidak memotret bias gender sejelas potret bias gender pada buku-bulu yang diteliti sebelumnya. Beberapa saran kemudian diberikan kepada para penulis buku teks bahasa Inggris dan para pengajar bahasa Inggris. Para penulis disarankan untuk lebih memperhatikan penggunaan bahasa yang lebih adil gender dan gambar-gambar perempuan dan laki-laki yang lebih seimbang dalam buku teks, terutama pada makna-makna yang tersirat dari bahasa dan gambar tersebut. Untuk para pengajar bahasa Inggris, disarankan agar mereka juga lebih memperhatikan dan memperluas pengetahuan tentang isu-isu bias gender dalam bidang pendidikan, termasuk bias gender dalam buku-buku teks. Dengan demikian, diharapkan para pengajar dapat memilih buku-buku teks yang mengandung kesetaraan gender sebagai suatu usaha untuk meminimalisasi penggambaran dan perilaku bias gender dalam bidang pendidikan.

Analisis faktor-faktor internal dan eksternal penyebab kesulitan siswa kelas XI Jurusan IPS dalam memahami materi pelajaran akuntansi di MAn 2 Situbondo / Umi Rofiah

 

Belajar merupakan aktivitas manusia yang membutuhkan pikiran dan tindakan mandiri. Belajar dilaksanakan melalui beberapa fase yang menjadikan manusia akan memperoleh wawasan, keterampilan dan perubahan tingkah laku. Dalam melaksanakan proses belajar maka siswa tidak akan terlepas dengan masalah – masalah yang bisa menghambat mereka untuk mencapai kesuksesan dalam belajarnya. Masalah-masalah tersebut harus diketahui oleh semua pelaku pendidikan maka penulis mengadakan suatu penelitian tentang faktor-faktor internal dan eksternal penyebab kesulitan siswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kesulitan siswa dalam memahami materi pelajaran akuntansi. Faktor internal yang disebutkan di atas merupakan faktor yang menyebabkan kesulitan siswa dalam memahami materi pelajaran yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi faktor minat belajar, bakat, motivasi belajar dan kebiasaan belajar. Sedangkan faktor eksternalnya adalah faktor yang mempengaruhi kesulitan siswa dalam belajar yang berasal dari luar diri siswa yang meliputi faktor guru, peran orang tua dan sosial masyarakat. Berdasarkan tujuan ini maka akan diadakan penelitian deskriptif dengan populasi penelitian yaitu semua siswa kelas XI jurusan IPS yang berjumlah 92 orang siswa sedangkan sampelnya yaitu siswa kelas XI yang nilai akuntansinya kurang dari atau sama dengan 6 yang berjumlah 37 orang siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan teknik purposive sampling atau sampel bertujuan. Metode pengumpulan data menggunakan teknik angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang mengalami kesulitan belajar akuntansi berdasarkan hasil analisis faktor masing-masing faktor mempunyai nilai loading: faktor internal yaitu minat sebesar 0,821, bakat sebesar 0,545, motivasi sebesar 0,740, kebiasaan belajar sebesar 0,713 dan faktor eksternal yaitu faktor guru sebesar 0,936, peran orang tua sebesar 0,274, dan sosial masyarakat sebesar -0,094. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada siswa agar lebih meningkatkan semangat belajar dan memperbaiki cara belajarnya dengan memanfaatkan waktu luang untuk belajar dan belajar bukan dengan cara menghafal tetapi dengan memahami agar mudah mengingat semua materi pelajaran. Orang tua sebagai orang yang lebih dekat dengan siswa saat berada di rumah disarankan agar menanamkan kedisiplinan anak sejak dini saat belajar di rumah dan memberikan kesempatan mengikutkan anaknya les untuk mata pelajaran yang masih kurang dikuasai. Keadaan sosial masyarakat juga banyak berpengaruh terhadap belajar siswa sehingga siswa harus berada dalam lingkungan sosial masyarakat yang baik.

Perancangan booklet wisata alam Kabupaten Pasuruan sebagai media promosi berbasis teknik fotografi High Dynamic Range / Agus Rezeki Mujianto

 

Mujianto, Agus Rezeki. 2013. Perancangan Booklet Wisata Alam Kabupaten Pasuruan Sebagai Media Promosi Berbasis Teknik Fotografi High Dynamic Range. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M. Sc (II) H. J. Hendrawan, S. Sn, M. Ds. Kata kunci: Perancangan, Booklet, Promosi, Wisata Alam, Kabupaten Pasuruan, High Dynamic Range    Kabupaten Pasuruan memiliki banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi. Maka dari itu, Kabupaten Pasuruan berpotensi sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Timur. Namun dari sekian banyaknya tempat wisata yang ada, masih banyak yang belum diketahui oleh wisatawan. Diperlukan adanya media promosi yang efektif untuk mempromosikan tempat-tempat tersebut. Media promosi tidak hanya bersifat informatif, namun harus dibuat semenarik dan sekreatif mungkin, agar wisatawan tertarik untuk melihat, membaca, dan akhirnya berminat untuk datang berkunjung. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk memperkenalkan tempat wisata yang ada di Kabupaten Pasuruan khususnya wisata alam, dengan melalui media promosi yang tepat dan menarik.    Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural yang merujuk model perancangan dari J. C. Jones. Model perancangan J. C. Jones memiliki beberapa tahapan diawali dengan adanya sebuah gagasan akan konsep perancangan. Kemudian dari gagasan tersebut dilakukan analisis dari data lapangan dan data pustaka yang nantinya didapatkan informasi-informasi data perancangan. Dari analisis data-data tersebut, dilakukan sintesa yang menghasilkan sebuah konsep perancangan. Hasil dari konsep perancangan yang meliputi konsep media dan konsep kreatif tersebut dievaluasi untuk menghasilkan media promosi yang diharapkan.    Perancangan ini menghasilkan media-media promosi untuk wisata alam yang ada di Kabupaten Pasuruan dengan media utama berupa booklet dan media lain seperti poster, mini x-banner, brosur, leaflet, dan merchandise. Booklet yang dihasilkan menggunakan ilustrasi yang berbasis teknik fotografi High Dynamic Range. Diharapkan penggunaan teknik fotografi High Dynamic Range dapat menghasilkan gambar atau ilustrasi yang lebih menarik dan bersifat lebih dramatis. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam perancangan ini yaitu Kabupaten Pasuruan memiliki potensi sebagai daerah kunjungan wisata. Dengan adanya beberapa wisata yang masih belum diketahui oleh wisatawan, maka diperlukan media promosi yang tepat dan menarik untuk mempromosikannya. Saran yang dapat disampaikan dengan adanya perancangan ini adalah dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, diharapkan adanya tangan-tangan kreatif untuk lebih mengembangkan media-media yang sudah ada menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Penggunaan model siklus belajar dalam pembelajaran kimia untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri I Lawang / Nurin Mariyatul Ulfa

 

Salah satu karakteristik pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2006 (standar isi) adalah menggunakan paradigma pembelajaran konstruktivistik, dimana pembelajaran dilaksanakan berpusat pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada paradigma belajar konstruktivistik adalah model siklus belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penggunaan model siklus belajar terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 lawang dalam mempelajari materi laju reaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan eksperimental semu (Quasy Experimental). Rancangan deskriptif untuk mendeskripsikan keaktifan siswa selama pelaksanaan model siklus belajar. Rancangan eksperimen semu untuk membandingkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Penelitian dilakukan pada siswa kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 2 sebagai kelas kontrol SMA Negeri 1 Lawang. Pemilihan sampel secara bertujuan dengan melihat nilai rata-rata ulangan sebelumnya. Instrumen yang digunakan adalah RPP, lembar observasi keaktifan siswa, lembar observasi kualitas pelaksanaan pembelajaran, tes hasil belajar, dan angket. RPP digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran di kelas, lembar observasi digunakan untuk melihat keaktifan siswa selama proses pembelajaran, tes digunakan untuk memperoleh hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis , dan angket digunakan untuk melihat respon siswa terhadap model siklus belajar. Analisis data dilakukan dengan uji t pada signifikansi = 0,05 dan analisis deskriptif dengan teknik persentase. Hasil penelitian adalah pembelajaran dengan menggunakan model siklus belajar membuat siswa cenderung lebih aktif. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya jumlah siswa yang aktif dalam tiap-tiap pertemuan. Uji-t menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol (thitung 2,511 > ttabel 1,992) dan kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen juga lebih baik dibandingkan kelas kontrol (thitung 2,104 > ttabel 1,992). Persepsi siswa terhadap model siklus belajar yang digunakan secara umum adalah sangat positif.

Prediksi laju erosi pasca penebangan hutan jati menjadi tegalan tanaman jagung dengan menggunakan model Water Erosion Prediction Project (WEPP) di DAS Brantas Hulu Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang / Yanuar Surya

 

Surya, Yanuar. 2013. Prediksi Laju Erosi Pasca Penebangan Hutan Jati Menjadi Tegalan Tanaman Jagung dengan Menggunakan Model Water Erosion Prediction Project (WEPP) di DAS Brantas Hulu Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didik Taryana, M.Si, (II) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si Kata kunci: laju erosi, eksperimen, model WEPP, uji validasi     Erosi sebagai salah satu penyebab kerusakan daerah aliran sungai (DAS) tidak hanya terjadi pada daerah hulu, tetapi juga di daerah yang dilaluinya (tengah) dan daerah hilir. Proses pelepasan, pemindahan, dan pengendapan lapisan tanah sangat rentan terjadi di DAS bagian hulu sehingga menyebabkan penurunan kualitas tanah. Lokasi penelitian, DAS Brantas Hulu Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang memiliki topografi yang bervariasi dari berombak sampai bergunung dengan kemiringan lereng antara 4˚ sampai 35˚. Luasan bentuk wilayah berombak sampai berbukit sebesar 75% dan yang berbukit sampai bergunung sebesar 25%. Sementara untuk hutan jati hanya dapat dijumpai pada lereng-lereng bertopografi kasar.     Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana validitas model WEPP dan memprediksi besarnya laju erosi berdasarkan model WEPP di DAS Brantas Hulu Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang.     Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Data primer berupa sampel tanah, curah hujan, hasil sedimen terangkut, panjang dan kemiringan lereng. Sedangkan data sekunder berupa peta administrasi, RTRW, dan curah hujan Kalipare tahun 2003-2012. Titik sampel yang diteliti adalah titik-titik yang ditentukan berdasarkan metode purposive sampling yaitu sampel yang sudah ditentukan untuk disesuaikan dengan pertimbangan dan tujuan pada lokasi penelitian. Kemiringan lereng terbagi menjadi tiga bagian yaitu AKK 23 %, AKK 31 %, dan AKK 32,6 %.     Hasil penelitian menunjukkan dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, berdasarkan uji validasi yang telah dilakukan terhadap variabel dalam perhitungan laju erosi didapati terdapat hubungan antara model WEPP dan model plot dengan nilai korelasi sebesar 0,949. Nilai sig 0.093, sehingga H1 ditolak dan H0 diterima yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara model WEPP dan model plot, sehingga model yang diajukan yaitu WEPP dapat dikatakan valid (nilai sig > 0,05 tidak signifikan). Kedua, prediksi laju erosi selama satu tahun berdasarkan model WEPP dengan rata-rata curah hujan tahunan setebal 5210,3 mm dan rata-rata aliran limpasan tahunan sebesar 2974,2 mm menghasilkan nilai laju erosi sebesar 24,857 kg/m2/tahun atau 23,017582 ton/ha/tahun dengan daerah tangkapan air 9,26 ha. Hasil perhitungan laju erosi dengan menggunakan model WEPP di DAS Brantas Hulu Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang ini tergolong tinggi.

Meningkatkan ketrampilan menulis deskripsi melalui group field tour (GFT) pada kelas 5 SDN Binangun 2 Kabupaten Blitar / Dian Andik Saputra

 

Kata Kunci: hasil belajar, menulisdeskripsi, group field tour (GFT) Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap pembelajaran menulis deskripsi, siswa masih mendapatkankan nilai jauh dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yakni 70. Dari 15 siswa kelas V, hanya 2 anak yang mendapata nilai 73, 1 anak mendapatkan nilai 70 dan sisanya mendapat nilai di bawah 70 yakni pada kisaran 60 sampai dengan 68. Dengan rata – rata nilai kelas 65. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikkan pembelajaran menulis deskripsi dengan menggunakan GFT. Rumusan masalah penelitian ini: (1) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran menulis dekripsimelalui GFT pada siswa kelas V SD Negeri Binangun 2 Kabupaten Blitar?(2) Apakah Group Field Tour (GFT) dapat meningkatkan keterampilan menulis dekripsisiswa kelas V SD Negeri Binangun 2 Kabupaten Blitar? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Tindakan Kelas (PTK).Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V Binangun 2, Kabupaten Blitar yang berjumlah 15 siswa terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Dalam penelitian ini peneliti sebagai perencana kegiatan, pelaksana pembelajaran, pengumpul data, penganalisis data, dan pelapor hasil penelitian. Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas V yang berperan sebagaipengumpul data dan pengamat situasi pembelajaran (observer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran menulis deskripsi dengan menggunakan GFT siswa kelas V SDNBinangun 2, kecamatan Binangun Kabupaten Blitar sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Presentase ketuntasan pada pratindakan 13% (2 siswa yang tuntas dengan skor ≥70) sedangkan untuk persentase siswa tidak tuntas yaitu 87% (13 siswa yang tidak tuntas dengan skor ≤70), pada siklus 1 pertemuan 1 adalah 60% tuntas, siklus 1 pertemuan 2 adalah 80% siswa tuntas, siklus 2 pertemuan 1 adalah 87% siswa tuntas dan pada siklus 2 pertemuan 2 adalah 100% siswa tuntas. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan guru kelas V Binangun 2, kecamatan binangun Kabupaten Blitar dalam pembelajaran menulis deskripsi untuk menggunakan metode GFTagar hasil belajar siswa meningkat dan lebih optimal.

Peningkatan hasil pembelajaran IPS melalui penerapan Inquiry sosial di kelas 5 SDN Nglawak 111 kabupaten Nganjuk / Anis Siswaningdyah

 

Kata kunci : Peningkatan, Inquiry Sosial, Hasil Belajar. Permasalahan dalam pembelajaran IPS adalah hasil prestasi belajar yang didapatkan siswa masih kurang memuaskan. Hal ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang dipakai adalah metode ceramah padahal materi pada mata pelajaran IPS banyak, sehingga siswa menjadi bosan. Untuk memecahkan permasalahan tersebut perlu menggunakan variasi model pembelajaran yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran inquiry sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V dengan menggunakan model pembelajaran inquiry sosial. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SDN Nglawak III Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk tahun ajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Tagart yang terdiri dari pra tindakan yang menggunakan metode pembelajaran ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan tanpa menggunakan inquiry sosial, siklus I menggunakan metode inquiry sosial, siklus II menggunakan model inquiry sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inquiry sosial dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Nglawak III. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan rata-rata nilai siswa dari pra tindakan yang rata-rata perolehan nilainya 56,25 atau ketuntasan belajar 30%. Dengan demikian pada pra tindakan dinyatakan belum tuntas. Kemudian pada siklus I dinyatakan belum tuntas dengan perolehan nilai rata-rata kelas 68 dan ketuntasan belajar 65%. Pada siklus I ini dinyatakan belum tuntas dikarenakan kriteria ketuntasan adalah banyak siswa yang mendapatkan nilai 70 sebanyak + 100%. Untuk siklus II perolehan nilai rata-rata kelas 92,5 dan ketuntasan belajar mencapai 90%. Siklus ini dinyatakan tuntas karena jumlah siswa yang mendapat nilai minimal 70 sebanyak 90%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model inquiry sosial dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V. untuk itu model inquiry sosial ini dapat diterapkan pada berbagai tingkatan kelas ataupun pada mata pelajaran yang lainnya.

Pengaruh strategi pengajaran timbal balik (reciprocal teaching) terhadap prestasi belajar kimia dan respon siswa kelas X SMAN 2 Malang / Taufan Hadi Susanto

 

Sebagian besar materi kimia yang diberikan kepada siswa berpusat pada hafalan mengenai fakta dan konsep yang tercakup dalam satuan pengajaran. Siswa jarang aktif bertanya serta menanggapi teman atau guru. Selain itu, guru jarang memberikan kesempatan siswa untuk belajar bekerja sama, memberikan tugas yang sifatnya membentuk pola berfikir kritis, seperti menyusun pertanyaan, membuat intisari bacaan dan presentasi hasil. Salah satu alternatif penyempurnaan dari permasalahan tersebut adalah penerapan strategi pengajaran timbal-balik (reciprocal teaching) sebagai salah satu pengajaran yang dirancang untuk saling membelajarkan strategi kognitif antar siswa dalam memahami materi pelajaran yang didasari pendekatan konstruktivisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan strategi pengajaran timbal balik (reciprocal teaching) dengan yang diajar menggunakan pembelajaran kelompok belajar biasa pada pokok bahasan minyak bumi dan petroleum dan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu (quasi experimental designs). Populasi penelitian adalah siswa-siswi kelas X SMA Negeri 2 Malang yang tersebar dalam 8 kelas. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling acak sederhana (simple random sampling) dengan kelas X.8 sebagai kelas kontrol dan kelas X.7 sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen diajar menggunakan strategi pengajaran timbal-balik (reciprocal teaching) dan kelas kontrol dengan metode kelompok belajar biasa. Setelah perlakuan kedua kelas diberi tes prestasi belajar yang sama. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi tes prestasi belajar, soal pretes dan soal postes, lembar observasi keaktifan siswa dan keaktifan kelompok, worksheet, dan lembar keterampilan berfikir kritis. Perbedaan prestasi belajar siswa kedua kelas diketahui dengan menganalisis data menggunakan uji-t independent. Berdasarkan analisis data penelitian diperoleh thitung = 2,32 dan ttabel = 1,99 sehingga thitung > ttabel , artinya ada perbedaan antara prestasi belajar siswa kelas eksperimen dengan prestasi belajar siswa kelas kontrol. Perbedaan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh. Rata-rata prestasi belajar siswa kelas eksperimen (72,04) lebih tinggi dari rata-rata prestasi belajar siswa kelas kontrol (65,34). Berdasarkan hasil pengolahan angket respon siswa terhadap penggunaan strategi pengajaran timbal balik (reciprocal teaching) menunjukkan bahwa rata-rata persentase dari setiap indikator diperoleh sebanyak 79,83% siswa merespon secara positif strategi pengajaran timbal-balik (reciprocal teaching) atau sebanyak 5,67% lebih baik dari respon siswa terhadap metode kelompok belajar biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan strategi pengajaran timbal balik dapat meningkatkan prestasi belajar dan motivasi siswa sehingga disarankan untuk diterapkan dalam pembelajaran dikelas sebagai variasi guru mengajar, terutama untuk materi-materi yang bersifat teori atau berupa wacana.

Sikap moral tokoh dalam novel Mahabarata karya R.K. Narayan / Lilatus Naeni

 

Naeni, Lailaus. 2014. Sikap Moral Tokoh dalam Novel Mahabarata karya R.K. Narayan. Skripsi, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Muakibatul Hasanah, Dr. M.Pd (II) Musthofa Kamal, S.Pd, M.Sn Kata Kunci: sikap moral, novel Mahabarata, apresiasi novel Karya sastra diciptakan selain untuk memberikan hiburan, juga menjadi sarana penanaman nilai moral. Moral adalah ukuran baik buruknya suatu tingkah laku yang telah diterima oleh masyarakat. Ajaran moral dalam karya sastra dapat ditampilkan melalui berbagai macam cara, salah satunya melalui sikap moral para tokoh dalam karya sastra tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan sikap moral tokoh Pandawa, tokoh Kurawa dan sekutunya, serta penggambaran watak tokoh dalam novel Mahabarata karya R.K. Narayan. Penelitian ini merupakan penelitian teks dengan bentuk penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan moral. Data berupa kutipan teks novel Mahabarata karya R.K. Narayan, yaitu berupa klausa, kalimat, dan fragmen yang di dalamnya terdapat kandungan sikap moral tokoh. Sumber data penelitian ini adalah teks novel Mahabarata karya R.K. Narayan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara peneliti membaca secara kritis dan komprehensif novel Mahabarata kemudian mencatat dan mengkaji data-data berupa dialog tokoh, monolog tokoh, dan narasi pengarang yang dipandang sesuai dengan fokus penelitian. Kegiatan analisis data dalam penelitian ini dimulai dengan (1) membaca teks novel Mahabarata; mendata kutipan cerita yang menunjukkan perilaku, pikiran, dan tindakan tokoh yang mengandung sikap moral; dan menyimpulkan wujud sikap moral berdasarkan kutipan cerita, (2) menyajikan temuan data sikap moral tokoh Pandawa, sikap moral tokoh Kurawa dan sekutunya, serta penggambaran watak tokoh dalam novel Mahabarata yang disajikan ke dalam tabel pengumpul data, dan (3) memaparkan hasil analisis dan pembahasan sikap moral tokoh dalam novel Mahabarata, serta pembahasan cara penggambaran watak tokoh oleh pengarang. Adapun pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini yaitu (1) peneliti memeriksa kembali data sikap moral yang telah ditemukan, (2) peneliti membaca kembali bagian teks novel Mahabarata yang di dalamnya terdapat kandungan sikap moral yang tercermin dalam perilaku tokoh, dan (3) mengaitkan temuan data sikap moral dengan indikator sikap moral. Hasil penelitian ini berupa deskripsi sikap moral tokoh dalam novel Mahabarata karya R.K. Narayan, yang meliputi sikap moral tokoh Pandawa dan sikap moral tokoh Kurawa dan sekutunya; serta penggambaran watak dalam novel Mahabarata karya R.K. Narayan. Pertama, sikap moral tokoh Pandawa sebagai berikut: (a) Yudistira menunjukkan sikap moral bertanggung jawab, sabar, selalu berpikir positif, hormat terhadap orang yang lebih tua, bijaksana, rela berkorban, patuh pada aturan dan perintah, dan suka menolong; (b) Bhimasena menunjukkan sikap moral tulus, patuh pada perintah, bijaksana, dan berani; (c) Arjuna menunjukkan sikap moral patuh pada perintah, bijaksana, dan berani; serta (d) Nakula dan Sahadewa menunjukkan sikap moral bijaksana. Kedua, sikap moral tokoh Kurawa dan sekutunya sebagai berikut (a) Bhisma menunjukkan sikap moral menepati janji dan bijaksana; (b) Widura menunjukkan sikap moral bijaksana, suka menolong, jujur dan selalu berbicara benar; (c) Destarastra menunjukkan sikap moral adil dan bijaksana; (d) Wikarna menunjukkan sikap moral bijaksana; (e) Drona menunjukkan sikap moral bijaksana dan tulus; serta (f) Karna menunjukkan sikap moral setia kawan. Ketiga, teknik penggambaran watak tokoh dalam novel Mahabarata karya R.K Narayan yang meliputi: (a) teknik penggambaran watak tokoh secara langsung melalui deskripsi pengarang dan (b) teknik penggambaran watak tokoh secara tidak langsung menggunakan tujuh teknik yang meliputi teknik cakapan, teknik tingkah laku, teknik pikiran perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, teknik reaksi tokoh lain, dan teknik pelukisan fisik. Berdasarkan hasil penelitian ini, kepada peminat sastra, pengajar sastra, serta peneliti selanjutnya disarankan hal-hal berikut. Pertama, kepada peminat sastra, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk menggali nilai kehidupan yang berkaitan dengan sikap moral melalui berbagai bentuk karya sastra yang lain dan menambah pengetahuan baru tentang kisah Mahabarata dan perang Baratayudha. Kedua, kepada pengajar sastra dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai referensi pengajaran mengenai apresiasi sastra tentang novel. Ketiga, kepada peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan refrensi dan rujukan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan fokus penelitian yang berbeda.

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah terhadap hasil belajar IPS siswa kelas 4 SDN Sumberejo 02 kecamatan Gedangan kabupaten Malang / Wening Tyas Pitajeng

 

Kata Kunci : Pemanfaatan perpustakaan sekolah, Hasil belajar, IPS SD. Pemanfaatan perpustakaan dalam kegiatan pembelajaran sebagai sumber belajar merupakan cara yang tepat dalam meningkatan hasil belajar siswa. Dengan kegiatan pemanfaatan sekolah akan meningkatakan pemahaman pengetahuan atau informasi yang dibutuhkan dengan lebih mendalam. Hal ini sangat mendukung bagi pembelajaran IPS yang menuntut siswa untuk memiliki pengetahuan yang luas, sehingga pemanfaatan perpustakaan sekolah dalam pembelajaran dapat meningkatkan pengetahuan siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang empiris mengenai 1) tingkat pemanfaatan perpustakaan di SDN Sumberejo 02; 2) mengetahui pengaruh pemanfaatan perpustakan sekolah terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Sumberejo 02. Penelitian ini mengunakan rancangan deskriptif kuantitatif yang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan yang muncul dalam rumusan masalah dan menyimpulkan sesuai dengan tujuan penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan teknik Kuesioner/angket dan dokumentasi. Sumber data dan reponden dalam penelitian ini adalah Siswa kelas IV SDN Sumberejo 02. Dalam penelitian ini, dilakukan langkah-langkah penganalisisan dengan penyeleksian data, pengkodean dan pentabulasian data guna mengecek keabsahan data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah yang cukup aktif dan hasil belajar baik. Hal ini dibuktikan dengan melakukan uji hipotesis mengunakan perhitungan regresi linier sederhana. Dengan hasil angka R sebesar 0.610>0.05yang berarti menunjukan bahwa korelasi atau hubungan antara variabel X dan variabel Y adalah kuat. angka R Square menunjukan angka koefisien determinasi. Besar R Square adalah 0.372 hal ini berarti 37.2% perubahan variabel Y (Hasil belajar IPS ) disebabkan oleh perubahan variabel X (Pemanfaatan perpustakaan sekolah). Sedangkan sisanya 62.8% disebabkan oleh faktor lain di luar perubahan variabel pemanfaatan perpustakaan sekolah. Dan pada uji anova yang terdiri dati uji T dan uji F menyatakan nilai signifikasi yang sama yaitu 0.000 < 0.05 sehingga Ha gagal ditolak dan membuktikan bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Sumberejo 02 Gedangan Kabupaten Malang.

Peningkatan social skill dan prestasi belajar fisika dengan pembelajaran model problem posing pada pokok bahasan kalor di kelas VIII-E SMPN 20 Malang / Umi Fadhilah

 

Perancangan modelling karakter film animasi 3 dimensi tentang pembuatan cookies tempe / David Firdaus

 

Firdaus, David. 2013. Perancangan Modelling Karakter Film Animasi 3 Dimensi Tentang Pembuatan Cookies Tempe. Tugas Akhir. Jurusan Seni Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Iriaji M. Pd, (II) Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T. Kata Kunci: Modelling, Animasi 3 dimensi, Pembuatan Cookies Tempe Tempe merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang memiliki nilai gizi yang baik. Tempe lebih dikenal sebagai lauk pauk oleh masyarakat. Pada perkembanganya tempe mulai digunakan tidak hanya sebagai lauk pauk melainkan sebagai makanan ringan salah satunya adalah cookies tempe. Pemanfaatan tempe sebagai cookies merupakan bukan hal baru, akan tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana proses pengolahan tempe menjadi cookies tempe. Pengenalan cookies tempe melalui media film animasi 3 dimensi diharapkan dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat. Pembuatan film animasi 3 dimensi melalui 3 tahap yaitu pre-production, production, post-production. Pada Tugas akhir ini penulis merancang modelling karakter dan properti sebagai penunjang dalam pembuatan film animasi 3 dimensi. Modelling merupakan suatu teknik perancangan sebuah objek gambar dua dimensi menjadi sebuah objek 3 dimensi. Tahap selanjutnya adalah rigging. Rigging merupakan pemberian tulang pada objek 3 dimensi yang berfungsi sebagai penggerak objek 3 dimensi. Selanjutnya dalah texturing yaitu pemberian warna pada objek 3 dimensi. Perancangan modelling, rigging, dan texturing menggunakan software Blender 2.63 dan untuk pemberian detail tekstur menggunakan software Adobe Photoshop CS3. Tugas akhir ini menghasilkan 2 model karakter dan 4 model properti yang siap untuk dianimasikan. Model objek 3 dimensi yang yang dihasilkan adalah karakter Kresna, karakter Rovin, properti Rumah, properti cookies, properti Oven, dan properti Tempe. Disarankan model karakter dan properti lebih bervariasi dan Tugas akhir ini perlu melalui proses validasi dan uji coba.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model savi dengan materi pengukuran pada siswa kelas III SDN Karangsono 02 Blitar / Ririn Sumiasih

 

Kata kunci: hasil belajar, model savi, pengukuran Hasil observasi awal ditemukan bahwa kegiatan pembelajaran yang dila- kukan guru sangat membosankan. Dalam pembelajaran guru hanya menggunakan buku paket dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa kurang aktif dalam ke- giatan pembelajaran. Pembelajaran yang membosankan membuat siswa jenuh. Hasil ketuntasan belajar siswa kelas III SDN Karangsono 02 Blitar hanya 24% dari 17 siswa yang hasil belajarnya memenuhi KKM. Penelitian dalam penulisan ini bertujuan untuk: 1) Untuk mengetahui pro-ses pembelajaran materi pengukuran dengan model pembelajaran SAVI untuk sis-wa kelas III di SDN Karangsono 02 Blitar. 2) Untuk mengetahui peningkatan ha-sil belajar siswa kelas III di SDN Karangsono 02 Kabupaten Blitar pada materi pengukuran yang menggunakan model pembelajaran SAVI. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif jenis Penelitian Tinda-kan Kelas (PTK). Langkah-langkah penelitian tindakan kelas mengacu pada alur penelitian dari Kemmis dan Taggart 1998 (dalam Rochiati, W, 2005:66). Model penelitian tindakan kelas ini adalah kolaboratif. Penelitian dilakukan dalam 2 si-klus, dimana 1 siklus terdapat 2 pertemuan. Instrumen yang digunakan dalam pe-nelitian ini adalah instrumen kegiatan guru dan siswa, serta nilai hasil belajar sis-wa. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data, menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan dengan cara menganalisis, menerangkan dan menyimpul-kan yang dilaksanakan sejak awal proses pembelajaran, mengklasifikasi hasil da-lam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model SAVI. Pada penelitian ini peneliti menggunakan model pembelajaran SAVI. Un-sur-unsur model SAVI adalah belajar Somatis (bergerak), belajar Auditori (men-dengar), belajar Visual (melihat), dan belajar Intelektual (berpikir). Model SAVI ini dapat digunakan untuk mempelajari materi panjang dan berat. Ini ditinjau dari aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran mencapai 100% dengan kriteria “Sangat baik”. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, pembelajaran Matematika melalui model SAVI pada materi pengukuran panjang dan berat Kelas III, terbukti hasil belajar siswa menjadi meningkat yaitu dari pra tindakan 24%, pada siklus I perte- muan 1 mencapai 35%, pertemuan 2 mencapai 60%, pada siklus II pertemuan 1 mencapai 70%, pertemuan 2 mencapai 94% dengan kriteria “Sangat baik”. Dari pra tindakan sampai siklus II telah mencapai ketuntasan belajar yang melebihi KKM. Dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pembelajaran matematika materi pengukuran panjang dan berat dengan menggunakan model SAVI hasil belajar siswa meningkat. Disarankan bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan model SAVI dengan materi yang lain.

Penerapan metode bermain sambil belajar sains untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan III Beji Pasuruan / Ika Anggraheni

 

Kata kunci: Belajar Sains, Kognitif. Anak usia prasekolah umumnya merupakan anak yang aktif dan rasa keingintahuannya tinggi, namun yang terjadi pada kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan III Beji masih sedikit anak yang antusias terhadap pembelajaran. Selain itu kemampuan kognitif anak yang berhubungan dengan mengelompokkan benda, mencoba dan menceritakan mengungkapkan asal mula terjadinya sesuatu, mengingat, membedakan benda masih rendah. Buktinya dari 25 anak, ada 15 anak malu bertanya atau mengemukakan pendapatnya, 16 anak belum mampu mencoba dan menceritakan tentang apa yang terjadi (menceritakan mengapa terjadi balon dapat menggelembung); 10 anak belum dapat mengungkapkan sebab akibat mengapa warnanya menjadi berlapis lapis sperti pelangi (air pelangi). Hal ini karena anak tidak dilibatkan secara langsung dalam memecahkan masalah. Mengingat dunia anak adalah bermain dan merupakan bagian dari perkembangan kognitif maka diperlukan penerapan metode bermain sambil belajar sains untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan langkah-langkah penerapan metode bermain sambil belajar sains untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan III Beji, 2) mendeskripsikan penerapan metode bermain sambil belajar sains dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan 3 Beji. Penelitian ini dilakukan di TK Dharma Wanita Persatuan III Beji mulai tanggal 28 Oktober sampai dengan 22 November 2011 pada anak kelompok A yang berjumlah 25 anak, dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 1 siklus dengan dua pertemuan yang terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini observasi berkolaborasi dengan guru kelas A. Hasil penelitian ini menunjukkan pelaksanaan metode bermain sambil belajar sains kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan III Beji dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa dengan rata-rata hasil tes mulai dari pra tindakan (42,56) dengan persentase (8%) meningkat siklus I pertemuan pertama (54,08) dengan persentase (20%) dan meningkat lagi siklus I pertemuan ke dua (76,8) dengan persentase 100%. Dapat disimpulkan metode bermain sambil belajar sains dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan III Beji-Pasuruan. Kegiatan bermain sambil belajar sains ini meliputi, 1) bermain balon ajaib sehingga balonnya dapat menggelembung tanpa di tiup, 2) bermain air pelangi sehingga hasilnya menjadi warnanya berlapis-lapis seperti pelangi. Disarankan bagi para pendidik anak usia dini untuk menggunakan kegiatan bermain sambil belajar sains ini dalam meningkatkan kognitif anak.

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari perak nitrat dengan ligan campuran tiourea dan trifenilstibina / M. Faqihuddin Zaky

 

Zaky, M. Faqihuddin. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Perak Nitrat dengan Ligan Campuran Tiourea dan Trifenilstibina. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Effendy, Ph.D. (2) Dr. Fariati, M.Sc. Kata-kata kunci: sintesis, kompleks perak nitrat, tiourea, trifenilstibina. Perak nitrat telah dilaporkan dapat membentuk senyawa kompleks dengan ligan campuran tiourea dan trifenilfosfina dengan stoikiometri 1 : 1 : 1. Kompleks yang dihasilkan adalah {[Ag(PPh3)(tu)]2(NO3)2.[Ag(PPh3)(tu)(NO3)]2}. Kisi kristal dari kompleks tersebut mengandung dua jenis kompleks dimer, yaitu dimer ionik [Ag(PPh3)(tu)]2(NO3)2 dan dimer molekuler [Ag(PPh3)(tu)(NO3)]2. Penelitian yang serupa yaitu dengan menggunakan trifenilstibina sebagai ganti trifenilfosfina belum dilaporkan. Trifenilstibina merupakan famili dari trifenilfosfina sehingga memungkinkan untuk membentuk senyawa kompleks dengan perak nitrat dan tiourea. Tujuan penelitian adalah untuk mensintesis senyawa kompleks dari perak nitrat dengan ligan tiourea dan trifenilstibina dan memprediksi strukturnya berdasarkan analisis EDX, HyperChem 8.0.3, dan daya hantar listrik (DHL). Senyawa kompleks disintesis melalui reaksi antara [Ag(µ-S-tu)](∞|∞)NO3 dan trifenilstibina dengan stoikiometri 1 : 1 dalam pelarut dimetilsulfoksida. Senyawa kompleks [Ag(µ-S-tu)](∞|∞)NO3 diperoleh dengan mereaksikan perak nitrat dalam pelarut asetonitril dan tiourea dalam pelarut metanol dengan stoikiometri 1 : 1. Senyawa kompleks hasil sintesis diukur titik leburnya dan dianalisis dengan EDX untuk memperoleh rumus empiris. Kemungkinan struktur yang didapat berdasarkan rumus empiris dianalisis dengan HyperChem 8.0.3 untuk menghitung energi bebasnya. Analisis daya hantar listrik dan uji kualitatif ion nitrat dilakukan untuk menentukan senyawa kompleks yang dihasilkan merupakan ionik atau molekuler.     Sintesis yang dilakukan menghasilkan kristal senyawa kompleks yang tidak berwarna. Pengukuran titik lebur menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis adalah senyawa baru. Analisis EDX memberikan rumus empiris C55H49AgN3O3SSb3. Perhitungan energi bebas dengan HyperChem 8.0.3 menunjukkan bahwa semua struktur prediksi merupakan senyawa yang stabil. Pengukuran daya hantar listrik dan uji kualitatif ion nitrat memastikan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis adalah kompleks molekuler. Struktur yang paling sesuai dengan senyawa kompleks hasil sintesis setelah dilakukan karakterisasi adalah [(Ph3Sb)3Ag(tu)NO3] dengan geometri trigonal bipiramidal terdistorsi di sekitar Ag(I). Penentuan struktur menggunakan difraksi sinar-X kristal tunggal diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih tepat.

Penggunaan teknik bertanding perguruan pencak silat beladiri tangan kosong Merpati Putih (studi kasus dalam kejuaraan pencak silat nasional PPS Betako Merpati Putih antar perguruan tinggi di padepokan pencak silat TMII 7-12 September 2005) / Rr. Diyah Wor

 

Pertandingan pencak silat kategori tanding adalah pertandingan yang menampilkan 2 (dua) orang pesilat dari kubu yang berbeda. Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih dalam melakukan pertandingannya, khususnya di kalangan perguruan tinggi atau di kalangan mahasiswa mengalami penurunan kualitas dalam teknik bertanding. Penurunan kualitas bertanding disini termasuk di antaranya adalah tidak diterapkannya teknik bertanding Merpati Putih secara baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan teknik bertading apa saja yang digunakan dan yang paling sering digunakan perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih dalam Kejuaraan Pencak Silat Nasional PPS Betako Merpati Putih Antar Perguruan Tinggi di Padepokan Pencak Silat TMI, 7-12 September 2005. Penelitian ini menggunakan metode survei. Subyek penelitian ini adalah anggota PPS Betako Merpati Putih yang mengikuti pertandingan Kejuaraan Pencak Silat Nasional PPS Betako Merpati Putih Antar Perguruan Tinggi di Padepokan Pencak Silat TMI, 7-12 September 2005 yang dapat memberikan gambaran mengenai teknik bertanding yang digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi. Teknik analisis data menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif berbentuk persentase. Dari hasil observasi yang dilakukan ada empat kelompok jawaban ?sangat sering, sering, jarang dan jarang sekali?. Penelitian ini menghasilkan temuan yaitu: para atlit PPS Betako Merpati Putih yang mengikuti Kejuaraan Pencak Silat Nasional PPS Betako Merpati Putih Antar Perguruan Tinggi di Padepokan Pencak Silat TMII, 7-12 September 2005 masih sering menggunakan teknik bertanding yang sesuai dengan teknik bertanding yang ada di Merpati Putih. Teknik bertanding yang digunakan adalah; 1) pukulan, 2) tendangan, 3) potongan, 4) sautan, 5) sirkel, dan 6) guntingan. Urutan teknik bertanding yang digunakan oleh subyek penelitian adalah: teknik tendangan 63,64% (sering), teknik pukulan 21,59% (Jarang sekali), teknik potongan 6,22% (jarang sekali) serta teknik sautan dan sirkel prosentase masing-masing adalah 4,35% dan 0,66% (jarang sekali). Data di atas menunjukkan bahwa para atlit PPS Betako Merpati Putih yang mengikuti Kejuaraan Pencak Silat Nasional PPS Betako Merpati Putih Antar Perguruan Tinggi di Padepokan Pencak Silat TMII, 7-12 September 2005 masih sering menggunakan teknik bertanding yang sesuai dengan teknik bertanding yang ada di Merpati Putih, sehingga hasil penelitian ini menyanggah masalah pada bab I yang menyebutkan bahwa saat ini PPS Betako Merpati Putih di kalangan mahasiswa lebih cenderung menggunakan parameter bertanding IPSI dan jarang menggunakan teknik bertanding Merpati Putih. Berdasarkan hasil penelitian di atas, diharapkan anggota PPS Betako Merpati Putih lebih giat berlatih menggunakan teknik-teknik bertadingnya, sehingga diharapkan bisa menggunakan dan menerapkan teknik bertanding dalam pertandingan secara lebih bervariatif, efektif dan efisien.

Pengaruh penambahan taurine pada pakan buatan terhadap pertumbuhan juvenile kerapu tikus (Cromileptes altivelis) / Beyti Amalia

 

Taurine merupakan asam amino bebas yang mempunyai peranan pentingantara lain sebagai neurotransmitter, komponen pertumbuhan dan sumber energi.Untuk mengetahui pengaruh taurine terhadap pertumbuhan juvenile kerapu tikusdilakukan dengan cara menghitung pertumbuhan panjang total (Total Lenght) danberat dari ikan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhpenambahan taurine pada pakan buatan terhadap pertumbuhan juvenile keraputikus (Cromileptes altivelis). Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan dalampembuatan ransum makanan ikan dan informasi ilmiah dalam bidang perikanan.Ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) yang digunakan dalam penelitiandiperoleh dari Balai Budidaya Air Payau, Situbondo-Jawa Timur stadia juvenil(3,5 bulan/ panjang 6-7 cm). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi danTeknologi Pakan Balai Budidaya Air Payau Situbondo-Jawa Timur pada bulanNopember sampai bulan Desember 2007. Rancangan penelitian yang digunakanadalah rancangan acak lengkap (RAL). Analisis hasil penelitian yang dipakaiadalah analisis varian klasifikasi tunggal. Kadar taurine yang digunakan dalamperlakuan adalah 0 gr; 0,25 gr; 0,50 gr; 0,75 gr; 1,0 gr. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan taurine pada pakanbuatan berpengaruh terhadap pertumbuhan juvenile kerapu tikus (Cromileptesaltivelis). Perlakuan yang memberikan hasil paling baik bagi pertumbuhanjuvenile kerapu tikus adalah pakan buatan+0,75 gram taurine.Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan kembalipenelitian yang serupa pada stadia ikan yang berbeda sehingga dapat diketahuikadar taurine yang dibuthkan untuk pertumbuhan ikan pada stadia yang berbeda.

Pengembangan inventori adversity quotient dengan media software bagi siswa MAN Blitar / Desika Nanda Nurvita

 

Kata kunci: inventori, adversity quotient, software Adversity Quotient merupakan aspek yang menentukan bagaimana ketahanan individu dalam menghadapi kesulitan hidupnya, sehingga diketahui apakah individu dapat bertahan atau menyerah. Adversity quotient merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Perbaikan adversity quotient siswa dapat membantu siswa dalam mengatasi setiap hambatan yang dilalui dalam hidupnya secara tepat. Sebelum diadakan perbaikan, tingkat adversity quotient siswa perlu diidentifikasi terlebih dahulu. Salah satu cara untuk mengidentifikasi tingkat adversity quotient siswa melalui pengisian inventori Adversity Quotient dengan media software yang dapat bekerja secara cepat, tepat, dan efisien. Tujuan pengembangan ini ialah dihasilkannya deskripsi bentuk inventori Adversity Quotient dengan media software bagi siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Blitar yang memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, sehingga dapat digunakan oleh konselor dan siswa sebagai alat untuk mengetahui tingkat adversity quotient siswa. Model penelitian pengembangan yang digunakan adalah model penelitian pengembangan Borg dan Gall (1983). Pengembangan inventori Adversity Quotient dengan media software mengikuti prosedur: (1) mengumpulkan informasi, (2) perencanaan, (3) menyusun prototype inventori, (4) penilaian produk oleh ahli bimbingan dan konseling, (5) revisi produk berdasarkan hasil penilaian produk oleh ahli bimbingan dan konseling, (6) uji coba produk tahap awal untuk menilai validitas dan reliabilitas, (7) revisi produk berdasarkan hasil uji coba produk tahap awal, (8) input data ke dalam software, (9) penilaian produk oleh ahli media, (10) revisi produk berdasarkan hasil penilaian oleh ahli media, (11) uji coba calon pengguna produk, (12) revisi produk berdasarkan uji calon pengguna produk, (13) uji kelompok kecil, dan (14) revisi produk menjadi produk akhir berdasarkan hasil uji kelompok kecil menghasilkan inventori Adversity Quotient dengan media software bagi siswa MAN Blitar. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari masukan, tanggapan, dan saran-saran dari dosen pembimbing, dosen ahli bimbingan dan konseling, ahli media, dan subjek coba calon pengguna produk (konselor). Selain itu peneliti menerima masukan, tanggapan, dan saran-saran dari siswa mengenai uji keterbacaan inventori Adversity Quotient. Data kuantitatif diperoleh berupa angka-angka dari hasil uji instrumen dengan menggunakan statistik perhitungan koefisien validitas dan reliabilitas, serta untuk mengetahui frekuensi skor siswa. Pengembangan inventori Adversity Quotient dengan media software menunjukkan bahwa: (1) dari uji ahli Bimbingan dan Konseling diperoleh hasil cenderung sesuai, (2) berdasarkan uji konsistensi internal menggunakan rumus product moment menunjukkan item pernyataan valid; ini berarti produk yang dikembangkan mempunyai tingkat kegunaan yang tinggi, sedangkan berdasarkan hasil uji reliabilitas menggunakan rumus alpha cronbach diperoleh reliabilitas yang tinggi, (3) dari uji ahli media diperoleh hasil cenderung sangat baik, (4) dari uji calon pengguna produk diperoleh hasil cenderung sangat baik, dan (5) dari uji kelompok kecil diperoleh hasil cenderung sangat baik, sedangkan dari uji kelompok kecil untuk mengetahui tingkat adversity quotient siswa diketahui dari15 siswa subjek coba terdapat dua siswa yang memiliki skor adversity quotient tinggi dan 13 siswa memperoleh skor adversity quotient sedang. Bertolak dari hasil uji produk, maka diberikan saran berupa: (1) saran pemanfaatan; hasil inventori Adversity Quotient dengan media software ini diharapkan dapat membantu konselor untuk mendekatkan diri dengan siswa dalam upaya memberikan bantuan kepada siswa, hendaknya menguasai software inventori Adversity Quotient, setelah siswa mengetahui tingkat adversity quotient-nya, diharapkan konselor dapat membantu siswa memperbaiki tingkat adversity quotient-nya, bahkan pada akhirnya siswa dapat menjadikan kesulitan sebagai teman, sehingga siswa tidak lagi menghindar dari kesulitan, namun menghadapinya, (2) saran diseminasi; inventori ini dapat disejajarkan dengan instrumen-instrumen psikologi yang lain, karena telah melalui uji ahli dan uji lapangan, inventori ini dapat digunakan oleh sekolah lain, asalkan disesuaikan dengan karakteristik siswa dan sekolah yang akan menggunakan inventori tersebut terlebih dahulu, (3) pengembangan produk lebih lanjut; diharapkan bagi peneliti selanjutnya, kegiatan pengembangan inventori Adversity Quotient dengan media software bagi siswa MAN Blitar dilanjutkan dengan melakukan uji lapangan utama (uji kelompok besar) agar diketahui manfaat dan keefektifan produk yang dihasilkan; bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian juga dilanjutkan dengan pengembangan paket pelatihan untuk meningkatkan tingkat adversity quotient siswa, mengingat tingkat adversity quotient individu dapat diperbaiki dan dikembangkan.

Pengaruh penerapan metode PQ4R (Priview, question, read, reflect, and review) terhadap keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Retno Anjar Risnawati

 

Kata Kunci: Metode PQ4R, Keterampilan Membaca, Kelas V SD Berdasarkan hasil observasi pembelajaran membaca di kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, diketahui bahwa penggunaan metode pembelajaran membaca masih belum bervariasi. Hal ini, dapat dilihat pada proses pembelajaran berlangsung kegiatan yang diberikan hanyalah pemberian tugas kepada siswa untuk membaca secara bergilir, mendengarkan penjelasan isi teks bacaan, dan menjawab pertanyaan dari guru. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa tanpa penerapan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review), keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa dengan penerapan metode PQ4R(Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review), dan pengaruh penerapan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review) terhadap keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (Quasi Experimental Designs) bentuk Nonequivalent Control Group Design. Penelitian ini dilakukan di SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, yang berlangsung selama dua kali pertemuan untuk kelas kontrol dan dua kali pertemuan untuk kelas eksperimen dengan materi pokok membaca teks bahasa Indonesia yang berjudul “Kebiasaan Buang Sampah Sembarangan”. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VA sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan tanpa penerapan metode PQ4R, dan siswa kelas VB sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan penerapan metode PQ4R. Teknik pengumpulan data melalui lembar observasi, tes (pre-test dan post-test), dan dokumentasi. Data yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu: data hasil observasi dan tes keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji prasyarat analisis, dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian. Pertama, keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa tanpa penerapan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review) di kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang rata-rata kurang baik dan hasil tes keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa menunjukkan rata-rata kemampuan awal 52,39 dan rata-rata kemampuan akhir 74,13, sehingga nilai rata-rata gain score yang diperoleh 21,74. Kedua, keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa dengan penerapan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review) di kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang rata-rata sangat baik dan hasil tes keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa menunjukkan rata-rata kemampuan awal 54,17 dan rata-rata kemampuan akhir 84,38, sehingga nilai rata-rata gain score yang diperoleh 30,21. Ketiga, nilai rata-rata gain score untuk kelas kontrol adalah 21,74 dan kelas eksperimen adalah 30,21, sehingga terdapat perbedaan nilai rata-rata gain score antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 8,42. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan penerapan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review) terhadap keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Dengan demikian, penerapan metode PQ4R memiliki pengaruh yang sangat baik terhadap keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Pakisaji 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Saran-saran yang diberikan, yaitu (1) hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi kepada guru mengenai pembelajaran membaca dengan metode PQ4R dan sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran membaca sebelumnya; (2) hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam upaya pembinaan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam rangka peningkatan keterampilan membaca teks bahasa Indonesia siswa; (3) diharapkan hasil penelitian ini dijadikan sebagai bahan rujukan dalam melakukan kajian lebih lanjut dengan cakupan yang lebih luas dan mendalam.

Penerapan pendekatan heuristik IV untuk meningkatkan kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika klas V A SDN Penanggungan / Widawati

 

Kata Kunci: matematika, pendekatan heuristik IV, peningkatan kemampuan pemecahan masalah Matematika merupakan salah satu bidang ilmu yang mempelajari tentang hitungan yang di dalamnya terdapat konsep, materi dan operasi hitung yang dituangkan dalam simbol-simbol. Matematika merupakan ilmu pasti yang rumus dan perhitungannya selalu sama, tidak menimbulkan kerancuan (ambigu) dalam hasil akhirnya. Ciri utama matematika adalah ”penalaran deduktif dan induktif”. Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran, rendahnya aktivitas dan kasil belajar materi “kecepatan” di kelas VA SDN Penanggungan Malang disebabkan pembelajaran pembelajaran kurang menarik. Kurang bervariasinya metode maupun dalam KBM berdampak pada minimnya pemahaman konsep siswa terutama konsep “kecepatan”. Untuk meningkatkan kemampuan siswa peneliti menggunakan pendekatan Heuristik IV. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VA SDN Penanggungan Malang dengan jumlah 35 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, lembar penilaian proses, lembar kegiatan (LK), lembar penilaian observasi, dan soal evaluasi individu. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas hasil belajar siswa kelas VA SDN Penanggungan Malang pada materi “kecepatan”. Pada siklus 1 hasil belajar siswa mencapai 69,3%. Pembelajaran pada siklus 1 belum berhasil, sebab belum mencapai ketuntasan kelas (kelompok) minimal (75%). Hasil belajar pada siklus 2 sebesar 82,5%. Hasil ini sudah mencapai ketuntasan kelas (kelompok) minimal. Dengan demikian penerapan pendekatan Heuristik IV dapat meningkatkan hasil belajar kecepatan di kelas VA SDN Penanggungan Malang sebesar 13,2%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan Heuristik IV berhasil diterapkan pada siswa kelas VA SDN Penanggunan Malang untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah. Disarankan bagi peneliti yang lain, penelitian ini dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam penelitian selanjutnya, sehingga hasilnya dapat dijadikan pedoman dan pengembangan profesi serta meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang / Muthmainnah Wahyuningtyas

 

Kata Kunci: pengembangan, pedoman sosiodrama, rasa percaya diri Kepercayaan diri merupakan awal keberhasilan untuk meraih kesuksesan. Tanpa kepercayaan diri seseorang tidak akan berani mengambil inisiatif untuk bertindak dan melakukan hal-hal baru yang akan mengantarkannya pada kesuksesan. Rasa percaya diri termasuk dalam keterampilan hidup yang dapat dibelajarkan dan ditingkatkan di sepanjang rentang kehidupan individu. Proses pembelajaran keterampilan-keterampilan hidup dapat dilakukan di lingkungan manapun, salah satunya di lingkungan sekolah. Sosiodrama sebagai salah satu teknik bimbingan dalam bimbingan kelompok yang berbentuk permainan peran di sekolah, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa, yang pada penelitian pengembangan ini difokuskan untuk siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa Kelas VII SMP yang telah berterima secara teoretis melalui uji ahli dan telah berterima secara praktis melalui uji coba produk terbatas (uji lapangan terbatas). Rancangan penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural dengan mengadaptasi langkah-langkah dari Borg dan Gall yang meliputi: menentukan potensi dan masalah penelitian, mengumpulkan data, mendesain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk dan revisi produk. Penelitian dilakukan kepada siswa kelas VII di SMP Negeri 20 Malang. Untuk mengetahui pedoman pelaksanaan model sosiodrama yang diterima secara teoretis maupun praktis dilakukan uji validitas produk kepada ahli BK, ahli drama, calon pengguna produk (konselor), dan uji lapangan terbatas. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah format penilaian. Adapun hasil pengisian format penilaian oleh ahli, calon pengguna produk (konselor), dan uji lapangan terbatas kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis kualitatif. Berdasarkan penilaian para ahli, pedoman pelaksanaan model sosiodrama ini berterima secara teoretis. Hal ini dapat diketahui dari hasil penilaian para ahli pada aspek spesifikasi produk yang menyatakan bahwa pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa kelas VII di SMP Negeri 20 Malang sudah sangat baik sebagai pedoman untuk melaksanakan layanan bimbingan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa. Hasil penilaian para ahli secara keseluruhan pada buku pedoman pelaksanaan model sosiodrama menyatakan bahwa buku pedoman pelaksanaan model sosiodrama sangat jelas dan dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan bimbingan, terutama pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan rasa ii percaya diri siswa kelas VII di SMP Negeri 20 Malang. Dari uji lapangan terbatas didapatkan peningkatan rerata skor rasa percaya diri siswa dari rerata skor pre-test sebesar 103,66 menjadi 108,53 pada rerata skor post-test, dengan probabilitas 0,001 < 0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan hasil uji lapangan terbatas sebelum dan sesudah dilaksanakan permainan sosiodrama. Untuk itu, pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa ini telah berterima secara praktis. Kesimpulannya, pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa kelas VII di SMP Negeri 20 Malang ini telah berterima secara teoretis dan praktis. Berdasarkan hasil dari penelitian pengembangan ini, dapat disarankan pada konselor hendaknya mempelajari, memahami dan mengaplikasikan pedoman pelaksanaan model sosiodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa kelas VII ini dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Bagi peneliti selanjutnya, agar penelitian pengembangan ini dilanjutkan ke penelitian eksperimen, sehingga akan diketahui efektivitas dan kelayakan penerapan pedoman pelaksanaan model sosiodrama terhadap peningkatan rasa percaya diri siswa.

Peningkatan hasil belajar operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan melalui pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME) pada siswa kelas III di SDN Tuliskriyo 01 Kabupaten Blitar / Heppy Riawati

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, Perkalian, Pembagian, RME Salah satu bahan kajian Matematika di SD adalah operasi hitung bilangan. Bagi siswa SD, pemahaman bilangan beserta operasinya merupakan prasyarat untuk mempelajari Matematika yang lebih lanjut, dan mempelajari ilmu pengetahuan lain serta dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya sehari-hari. Oleh sebab itu, perlu adanya cara-cara yang mudah dipahami oleh siswa dalam memahami operasi hitung bilangan. Teori belajar J. Piaget bahwa perkembangan kognitif manusia itu tumbuh secara kronologis (menurut urutan waktu) melalui empat tahap tertentu yang berurutan. Anak yang sedang berada pada tahap tertentu menunjukkan kepandaian-kepandaian khusus tertentu pula.

Looking beyond the modernity of Dan Brown's Deception Point / Singgih Kiswantoro

 

Deception Point as a map of modern American Culture conceals an old concept of thought in its characters and way of life description. The old concept is imprinted by one of the American Ancestors, the Puritans, who have an ultimate dream of establishing a leading 'city upon the hill' nation. The old concept remains in the collective unconsciousness of the modern Americans who are still pursuing the same old dream of establishing the leading nation. Similar to Goldmann's Hidden God, this study reveals the collective unconsciousness of the actual society in the novel. That dream of the Puritans lies in the modernity aspect that is identified by noticing the description of the novel's characters. The Modernity results from the Puritans education and rational thinking spirit. Both of those Puritans' spirits become the basis of many Puritans society development. They also develop the current American's socio-cultural thoughts such as democracy and image of good citizens. The modern American democracy system is rooted from the Puritan system that initiated the system of power division. Americans' images of good citizens are incorporated of the skills of being highly educated, zealous, economical and able to apply work ethic, all of which result from Puritans' rational thinking and calculation spirit. All of those Puritans-originated cultural aspect are applied in the modern era by the modern characters to still pursue the Puritans' leading nation goal. The condition of intermingling process of those cultural aspects in the society cannot be evaded since this condition is natural in the structure of society where every aspects of life is developed in a multifaceted way. Every cultural aspect which explains how modern this novel and its characters are, still refers to the values of ancient Puritans. It blends each other in its same purpose of establishing the leading nation of American. The education and rational thinking aspects are always related to other aspects like modernity, democracy, and image of good citizens. The democracy also involves educational concern and good citizens and vice versa. This intermingling condition of the social aspects happening in the pursuit of the leading nation in the complexities existed in the novel. Those modern social thoughts, regarded as the Puritan archetype, are complex in a way the more they are leading to the future, the more ancient they are.

Hubungan anatara konsep diri dan kematangan emosi dengan problem solving para remaja akhir / Roro Kinanti Wulandari

 

Kata Kunci: konsep diri, kematangan emosi, problem solving Konsep diri merupakan pandangan serta pendapat mengenai diri sendiri yang hanya dalam pemikiran seseorang belum tentu menjadi realita, yang berkaitan dengan diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan diri moral/etik. Kematangan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengontrol dirinya ketika berada dalam situasi sosial tertentu sehingga untuk merespon suatu permasalaha ditandai dengan tidak meledakkan emosinya, menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, serta memberikan reaksi emosional yang stabil.Problem solving merupakan suatu proses untuk menemukan suatu solusi atau jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik melalui proses berpikir yang terarah secara langsung dimana proses ini bertujuan untuk memperoleh pemecahan yang ideal atau kepuasan.Penelitian ini bertujuan untuk :1) Mengetahui konsep diri pada remaja akhir 2) Mengetahui kematangan emosi pada remaja akhir 3) mengetahui problem solving pada remaja akhir 4) Mengetahui hubungan antara konsep diri dengan problem solving pada remaja akhir 5) Mengetahui hubungan antara kematangan emosi dengan problem solving 6) Mengetahui hubungan antara konsep diri, kematangan emosi dengan problem solving pada remaja akhir Subjek penelitian ini adalah remaja akhir yang berjumlah 45 orang yang berusia 18-21 tahun. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan dua skala dan satu angket yaitu Skala Konsep Diri, Skala Kematangan Emosi dan Angket Problem Solving. Teknik analisis data untuk melihat gambaran Konsep Diri, Kematangan Emosi dan Problem Solving adalah Analisis Deskriptif, untuk mengetahui hubungan antara Konsep Diri dan Problem Solving, Kematangan Emosi dan Problem Solving adalah dengan analisis korelasi Product Moment, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara Konsep Diri, Kematangan Emosi dan Problem Solving adalah dengan analisis korelasi Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) 64,44% remaja akhir memiliki konsep diri sedang, 17,78% memiliki konsep diri tinggi dan 17,78% memiliki konsep diri rendah. 2) Pada Kematangan Emosi 68,89% remaja akhir memiliki kematangan emosi sedang, 17,78% memiliki kematangan emosi tinggi dan 13,33% memiliki kematangan emosi rendah. 3) Pada Problem Solving 71,11% remaja akhir memiliki kemampuan problem solving sedang, 11,11% memiliki kemampuan problem solving tinggi dan 17,78% memiliki kemampuan problem solving rendah. 4) Adanya hubungan yang signifikan antara konsep diri dan problem solving (rxy = 0.658, p = 0.000<0.05). 5) Adanya hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dan problem solving (rxy = 0.740, p = 0.000<0.05). 6) Adanya hubungan yang signifikan antara konsep diri, kematangan emosi dan problem solving (F = 57,475 dengan nilai p = 0.000<0.05). Berdasar hasil penelitian, remaja akhir masih memiliki konsep diri yang cukup, kematangan emosi dan kemampuan problem solving yang cukup. Sehingga remaja akhir disarankan untuk meningkatkannya dengan cara mengaktualisasi dirinya, latihan memahami dan menguasai emosinya, serta membiasakan berdiskusi permasalahannya dengan orang lain.

Pengaruh penggunaan multimedia interaktif menulis puisi terhadap kemamouan menulis puisi siswa kelasa VIII SMPN 3 Kota Malang tahun ajaran 2013/2014 / Agregat Illah Nur Yanuar

 

Yanuar, Agregat Illah Nur, 2014. Pengaruh Penggunaan Multimedia Interaktif Menulis Puisi terhadap Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII SMPN 3 Kota Malang Tahun Ajaran 2013/2014. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, FS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M. Pd., (II) Dr. Endah Tri Priyatni, M. Pd. Kata Kunci: Multimedia Interaktif Menulis Puisi, Kemampuan Menulis Puisi. Puisi merupakan salah satu kemampuan menulis pada bidang sastra. Kemampuan menulis puisi penting dikuasai oleh siswa, karena menulis puisi juga merupakan salah satu cara untuk melatih kepekaan terhadap lingkungan. Puisi merupakan salah satu sarana dalam mengekspresikan perasaan atau ide yang merangsang panca indra ke dalam suatu tulisan. Untuk mengembangkan kemampuan menulis puisi, maka dilakukan pembelajaran melalui multimedia interaktif menulis puisi yang dapat dioperasionalkan secara mandiri. Melalui penelitian inilah pengaruh penggunaan multimedia interaktif menulis puisi terhadap kemampuan menulis puisi siswa diuji. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) pengaruh penggunaan multimedia interaktif menulis puisi terhadap aspek penggunaan gaya bahasa, (2) pengaruh penggunaan multimedia interaktif menulis puisi terhadap aspek pilhan kata (diksi), (3) pengaruh penggunaan multimedia interaktif menulis puisi terhadap aspek imaji, dan (4) pengaruh penggunaan multimedia interkatif menulis puisi terhadap aspek penggunaan rima pada siswa kelas VIII SMPN 3 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (Quasy Experimental Design) dengan posttest. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 3 Kota Malang, dengan sampel kelas VIII.8 (kelas eksperimen) dan kelas VIII.7 (kelas kontrol). Kelas eksperimen dikenai perlakuan dengan multimedia interaktif menulis puisi. Instrumen yang digunakan adalah lembar soal menulis puisi dan rubrik penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan menulis puisi siswa dengan penggunaan multimedia interaktif menulis puisi dengan tanpa penggunaan multimedia interaktif menulis puisi. Secara khusus, penggunaan multimedia interaktif menulis puisi berpengaruh pada (1) kemampuan pemilihan diksi, (2) kemampuan penggunaan imaji, (3) kemampuan penggunaan majas, dan (4) kemampuan penggunaan rima. Pada posttest yang dilakukan di kelas kontrol dan kelas eksperimen menunjukkan ada perbedaan yang cukup signifikan. Ditinjau dari nilai rerata, kelas eksperimen lebih unggul dibandingkan kelas kontrol. Pada tiap aspek terdapat selisih nilai rata-rata yang diperoleh, kelas kontrol menunjukkan rerata lebih tinggi daripada kelas kontrol pada posttest. Kelas eksperimen memperoleh rata-rata 75,68, sedangkan kelas kontrol memperoleh rata-rata 50,86. Saran yang diajukan peneliti berdasarkan temuan pada saat penelitian adalah (1) multimedia interaktif menulis puisi ini menjadi bahan ajar mandiri siswa, (2) penggunaan multimedia interaktif menulis puisi dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang beragam dan menarik.

Persepsi siswa kelas VI SD Negeri Mojolangu V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang terhadap gambar-gambar yang dimiliki untuk mempermudah belajar IPA / oleh Sufendi

 

Representasi kearifan lokal dalam Babad Tulungagung / Yasip

 

ABSTRAK Yasip. 2016.RepresentasiKearifan LokaldalamBabad Tulungagung. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd (II) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd, (III) Dr. Mujianto, M.Pd. Kata kunci: representasikearifan lokal, babad Tulungagung, kajian folklor. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa kearifan lokal merupakan kemampuan kebudayaan lokal atau setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kebudayaan tersebut berhubungan. Kearifan lokal direpresentasikandalambentuksistem pengetahuan lokal, sistem nilai lokal, mekanisme pengambilan keputusan lokal, dan sistem solidaritas keleompok lokal dalam Babad Tulungagung.Representasi kearifan lokal dalam Babad Tulungagung dengan sumber dari berbagai sistem yang berkembang terjadi karena adanya kebutuhan untuk menghayati, memertahankan, dan melangsungkan hidup sesuai dengan situasi, kondisi, kemampuan, dan tata nilai yang dihayati dalam masyarakat Tulungagung. Penelitian dengan judul “Representasi Kearifan Lokal dalam Babad Tulungagung” ini dilakukan untuk (1) pembentukan kesadaran, bahwa kajian kearifan lokal dalam Babad Tulungagung bermanfaat terhadap usaha menemukan benang merah perjalanan sejarah jati diri masyarakat Tulungagung, (2) menumbuhkan kesadaran banyak pihak dapat memenfaatkan kearifan lokal untuk meningkatkan kualitas kehidupan, dan (3) melestarikan kekayaan budaya yang berupa folklor dalam era globalisasi. Sedangkan fokus dalam penelitian ini adalah (1) representasi sistem pengetahuan lokal, (2) sistem nilai lokal, (3) sistem mekanisme pengambilan keputusan lokal, dan (4) sistem solidaritas kelompok lokal dalam Babad Tulungagung. Penelitian RepresentasiKearifan Lokal dalam Babad Tulungagung ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan kajian folklor. Karakteristik penelitian kualitatif dalam penelitian ini tampak pada ciri data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, penafsiran dan penjelasan makna data. Sementara itu, ciri kajian folklor penelitian ini dapat dilihat pada teori dan model yang digunakan dalam analisis dan penafsiran makna data mengenai kearifan lokal dalam Babad Tulungagung.Data penelitianRepresentasi Kearifan Lokal dalam Babad Tulungagung ini adalah data verbal dari sumber data yang berupa: (1) teks transkripsi hasil rekaman pementasan kentrung dengan lakon Babad Tulungagungdan catatan lapangan; (2) teks transkrip hasil rekaman wawancara pemangku budaya; (3) teks transkripsi VCD pementasan ketoprak Siswo Budoyo dengan lakon Babad Tulungagung; (4) buku Sejarah dan Babad Tulungagung laporan hasil penelitiam Tim Peneliti Kabupaten Tulungagung (5) teks kliping cerita bersambung Babad Tulungagung dengan judul Ontran-ontran Brang Kidul dari Majalah Jaya Baya edisi 2002. Hasil analisis data penelitian meliputi tiga tataran analisis, yakni analisis bentuk, makna, dan fungsi setiap fokus yang diteliti. Secara keseluruhan mencakup empat fokus, pertama sistem pengetahuan lokal dalam Babad Tulungagung yang meliputi (1) kebutuhan dan masalah, (2) kekuatan dan kelebihan, dan (3) ciri-ciri khas. Kedua, sistem nilai lokal dalam Babad Tulungagung yang meliputi (1) sistem nilai lokal yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, (2) sistem nilai lokal yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, (3) sistem nilai lokal yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Ketiga, sistem mekanisme pengambilan keputusan lokal yang meliputi (1) sistem mekanisme pengambilan keputusan secara demokratis,dan (2) sistem mekanisme pengambilan keputusan secara hierarkis, bertingkat atau berjenjang. Keempat,sistem solidaritas kelompok lokal dalam Babad Tulungagung yang meliputi (1) sistem ikatan komunal untuk membentuk solidaritas likal, dan (2) sistem ritual keagamaan atau acara dan upacara adat lainnya. Simpulanakhirpenelitianiniadalahrepresentasikearifan lokaldalamBabad Tulungagungdapatberbentuk sistem pengetahuan lokal, sistem nilai lokal, sistem mekanisme pengambilan keputusan lokal, dan sistem solidaritas kelompok lokal. Bermakna untuk meningkatkan pemahaman dan keyakinan tentang pentingnya kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.Berfungsisebagaimedia pembelajaran untuk menanamkan sikap dan perilaku masyarakat Tulungagung yang bersumber dari kearifan lokal yang terdapat dalam folklor Babad Tulungagung. Berdasarkanhasilpenelitianini, disarankan,pertama kepada masyarakat Tulungagung (khusus generasi muda) agar lebih peduli dan mencintai budaya daerah khususnya folklor yang berupa Babad Tulungagung sebagai jati diri masyarakat Tulungagung.Kedua, kepada pemerintah kabupaten Tulungagung agar lebih memerhatikan dan peduli untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan penelitian terkait budaya Tulungagung, dan sarana agar masyarakat Tulungagung lebih mengenal, mencintai, dan mengapresiasi budayanya sendiri.Ketiga,penelitiselanjutnyadapatmengkajirepresentasikearifan lokal dalamBabad Tulungagungdariaspeklain, misalnyadimensi keterampilan lokal dan dimensi sumber daya lokal.

Peningkatan hasil belajar matematika luas bangun datar siswa kelas V SDN 01 Lorejo Kabupaten Blitar melalui model penemuan terbimbing (Guide Discovery) / Linda Priyanti

 

Kata Kunci : hasil belajar, luas bangun datar, penemuan terbimbing Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa mempunyai kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Pelaksanaan Pembelajaran matematika luas bangun datar siswa kelas V SDN 01 Lorejo terdapat beberapa kelemahan yang menyebabkan siswa memperoleh nilai dibawah KKM. Hal ini dapat dilihat dari kecapaian ketuntasan belajar siswa yang masih mencapai 21,4%. Berkaitan dengan hal tersebut maka pembelajaran matematika dengan materi luas bangun datar menerapkan inovasi pembelajaran yaitu model penemuan terbimbing (guided discovery).Model pembelajaran ini dipilih karena diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi luas bangun datar siswa kelas V SDN 01 Lorejo. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk, (1) mendeskripsikan penerapan model penemuan terbimbing (Guided Discovery) pada pembelajaran matematika luas bangun datar siswa kelas V SDN 01 Lorejo, (2) mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar matematika luas bangun datar siswa kelas V SDN 01 Lorejo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dsikriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa V SDN 01 Lorejo. Data dalam penelitian ini adalah aktivitas guru dan siswa serta hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan pemberian tes pada siswa. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran penemuan terbimbing tentang luas bangun datar pada siswa kelas V SDN 01 Lorejo Kecamatan Bakung sangat baik. Aktifitas belajar siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan, pada siklus I hasil penilaian aktifitas belajar siswa mencapai 60% dan pada siklus II terjadi peningkatan aktifitas belajar siswa mencapai 83%. Kesimpulan dari hasil belajar siswa dalam pembelajaran penemuan terbimbing juga mengalami peningkatan. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 21,4%, pada siklus I pertemuan 1 36%, siklus I pertemuan 2 67,9%, pada siklus II pertemuan 1 92,8% dan pada siklus II pertemuan 2 100%. Hasil kesimpulan menunjukan terjadinya peningkatan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar. Dengan demikian disarankan kepada guru kelas V SDN 01 Lorejo Kecamatan Bakung untuk menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi luas bangun datar, karena dengan menggunakan model penemuan terbimbing dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.

Pengembangan media berbasis edutainment pada pembelajaran IPA materi sistem pernafasan kelas V SDN Madyopuro 6 Malang / Agni Nurani Kurniawati

 

Kata Kunci: Media berbasis edutainment, IPA, Pernafasan Penguasaan TIK oleh sebagian guru masih sedikit sehingga penggunaan media berbasis TIK jarang dilakukan. Penggunaan metode ceramah serta jarangnya penggunaan media membuat pembelajaran kurang bervariasi. Adanya televisi membuat siswa lebih tertarik menonton film dari pada belajar. Dari beberapa faktor di atas mengakibatkan hasil belajar sebanyak 29 siswa dari 36 siswa belum mencapai nilai KKM . Tujuan penelitian ini adalah (1) Menguji kelayakan media berbasis edutainment pada pembelajaran IPA materi sistem pernafasan kelas V semester 1 SDN Madyopuro 6 Malang. (2) Menguji coba media berbasis edutainment pada pembelajaran IPA materi sistem pernafasan kelas V semester 1 SDN Madyopuro 6 Malang. (3) Memaparkan hasil belajar siswa SDN Madyopuro 6 Malang sesudah menggunakan media berbasis edutianment. Dalam penelitian ini, menggunakan Research and Development (R&D) dengan pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualititatif dengan mengadaptasi pengembangan Sadiman. Desain uji kelayakan pada penelitian ini dilakukan terhadap perseorangan (ahli materi dan ahli media) serta kelompok terbatas. Uji coba produk dilakukan di SDN Madyopuro 6. Instrument pengumpulan data berupa angket, tes, lembar pengamatan. Hasil Pengembangan antara lain: (1) Dalam uji kelayakan media berbasis edutainment pada pembelajaran IPA materi sistem pernafasan dilakukan oleh (a) ahli materi menyatakan sangat sesuai sebesar 87,5%, (b) ahli media menyatakan sangat sesuai sebesar 87,5% dan (c) guru kelas SDN Madyopuro 6 menyatakan sangat sesuai sebesar 92,5% dengan produk yang telah direvisi adalah (a) pada scene 7 dan 9 teks yang tidak terlalu penting dihapus (b) Pada scene 7 dan 9 pertemuan pertama serta scene 1 dan 2 pada pertemuan kedua kemunculan lebih dulu adalah tanda panah untuk menunjukkan bagian tertentu muncul, teks nama bagian yang ditunjuk, fungsi bagian yang ditunjuk, (c) Menambah ilustrasi musik, (d) pada scene 5 menambah adegan bernafas sambil berjalan (e) Pada rencana pelaksanaan pembelajaran durasi waktu diganti 9 menit 6 detik pertemuan II yang diganti 6 menit 8 detik sesuai durasi waktu media. (2) Berdasarkan uji coba produk di SDN Madyopuro 6 Malang, media berbasis edutainment efektif untuk digunakan hal ini terbukti dengan hasil perhitungan angket siswa yang menjadi responden yakni sebesar 92,5% dari kriteria yang diharapkan. (3) Prosentase hasil belajar siswa sesudah menggunakan media berbasis edutainment 77, 42%. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan saran-saran ditujukan bagi guru, kepala sekolah, peneliti lain serta bagi Kependidikan sekolah dasar dan Prasekolah.

Emily Bronte's Wuthering Heights in Indonesian version: Lulu Wijaya's translation strategies and inappropriateness explored / Maria Lucia Luciana

 

    Luciana, Maria Lucia. 2013. Emily Brontë’s Wuthering Heights in Indonesian Version: Lulu Wijaya’s Translation Strategies and Inappropriateness Explored. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D., (II) Dr. Enny Irawati, M.Pd.      Kata kunci: strategi penerjemahan, ketidakselarasan          Banyak mahasiswa yang mengambil matakuliah Prose menghadapi dua masalah besar. Pertama, adalah keharusan mereka membaca novel Inggris klasik, sedangkan mereka justru tidak suka membaca. Kedua, adalah keharusan mereka untuk berjuang karena rendahnya kompetensi mereka dalam bahasa Inggris yang mengakibatkan keharusan membaca novel menjadi sebuah beban. Untuk menanggulangi kendala tersebut, mereka berpaling ke versi terjemahan bahasa Indonesia dari novel yang wajib mereka baca. Karena banyak mahasiswa melakukan hal ini, rasa penasaran peneliti menjadi terbangkitkan. Dia ingin meneliti apakah novel klasik berbahasa Inggris tersebut sudah diterjemahkan dengan baik atau tidak. Dengan tujuan inilah maka peneliti memilih novel klasik Wuthering Heights yang ditulis oleh Emily Brontë. Sebagai pembandingnya, peneliti memilih versi bahasa Indonesia dari novel tersebut yang diterjemahkan oleh Lulu Wijaya dan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2011.     Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan jawaban terhadap dua masalah yang diajukan di dalam tesis ini. Pertama, adalah untuk meneliti strategi penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan novel Wuthering Heights yang ditulis oleh Emily Brontë. Kedua, adalah untuk melihat seberapa selaraskah terjemahan versi bahasa Indonesia dari novel ini.     Metode penelitian yang digunakan di dalam tesis ini adalah analisa konten, di mana data primer diambil dari kedua sumber data utama, yakni versi asli Wuthering Heights dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh Emily Brontë dan versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Lulu Wijaya. Data yang diperoleh dari kedua novel tersebut lalu diseleksi lagi secara seksama. Pada mulanya peneliti mendapatkan 342 data, tetapi setelah pengamatan lebih lanjut, dia menguranginya menjadi hanya 100 data. Data tersebut kemudian dianalisa dengan membandingkan versi terjemahan dengan versi aslinya dan dengan saran terjemahan yang diberikan oleh peneliti, yang dianggap lebih selaras daripada versi terjemahan oleh penerjemah, dan juga beberapa catatan atau komentar. Peneliti kemudian membagi data menjadi dua bagian dengan memberikan setengah bagian pertama dari novel asli kepada validator pertama dan setengah bagian kedua kepada validator kedua. Mereka lalu mencermati kedua versi, yakni terjemahan oleh penerjemah dan terjemahan yang disarankan oleh peneliti, dan memberikan catatan mengenai hal tersebut. Dengan terjemahan yang disarankan, catatan atau komentar oleh peneliti dan kedua validator, peneliti akhirnya dapat mengambil kesimpulan dari analisis data.     Berkaitan dengan strategi yang digunakan dalam menerjemahkan 100 entri data yang didapatkan dari kedua novel yang dibahas ini, dapat disimpulkan bahwa penerjemah menggunakan 10 macam strategi, yaitu sinonimi (32 entri), terjemahan literal (23 entri), parafrase (18 entri), penghapusan (16 entri), hiponimi (3 entri), terjemahan bebas (3 entri), dan perubahan penekanan, modulasi, pinjaman, dan perubahan abstraksi, yang masing-masing digunakan hanya satu kali.     Analisis data mengungkapkan bahwa dari 100 entri data yang dianalisa, 96% di antaranya dianggap tidak diterjemahkan dengan selaras sesuai dengan pengamatan dan validasi oleh validator pertama, Hariyanto. Ini berarti dia setuju dengan penerjemah hanya sebanyak 4% dan 96% dia lebih condong dengan versi terjemahan yang disarankan oleh peneliti. Observasi dan validasi oleh validator kedua, Sunardi, menunjukkan bahwa 81,25% entri data dianggap tidak diterjemahkan dengan selaras oleh penerjemah. Jadi, ia 81,25% setuju dengan versi yang disarankan oleh peneliti. Berkaitan dengan keselarasan strategi penerjemahan yang digunakan di penelitian ini dan sebatas 100 entri data yang digunakan, hanya 4% terjemahan versi penerjemah yang dianggap selaras oleh Hariyanto dan 18,75% yang dianggap selaras oleh Sunardi, dengan mengingat bahwa Sunardi hanya mengobservasi dan memvalidasi 32 dari 100 entri data.     Ada beberapa saran yang dikemukakan berkaitan dengan pengajaran matakuliah Translation dan penelitian lebih lanjut, mengingat bahwa ada dua fungsi kesusastraan dalam pengajaran bahasa, yaitu sebagai materi pengajaran dan sebagai sebuah studi. Dalam pengajaran matakuliah Prose, dosen disarankan untuk mendorong mahasiswanya untuk membaca versi asli novel dan mengingatkan mereka untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih versi terjemahan dari novel yang ditugaskan untuk mereka baca, dikarenakan ketidakselarasan terjemahan yang mungkin ada, dan dalam jangka panjang akan mengganggu pemahaman mereka akan isi novel tersebut. Para dosen pengampu matakuliah Translation bisa berbagi dengan mahasiswanya mengenai strategi penerjemahan yang tepat yang digunakan untuk menerjemahkan novel yang sedang dibahas di sini, yang bisa mereka aplikasikan dalam menerjemahkan novel klasik dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pengetahuan semacam ini dapat memperluas cakrawala pemahaman dan kemampuan penerjemahan mahasiswa. Ketidakselarasan penerjemahan entri data oleh penerjemah dapat menjadi pengingat bagi para penerjemah lain bahwa untuk menghasilkan sebuah karya terjemahan yang bagus, jika mereka tertarik untuk menerjemahkan karya-karya sastra, terutama novel, disarankan mereka sebaiknya mempertimbangkan strategi penerjemahan yang akan mereka gunakan dalam karyanya. Ada beberapa saran yang diajukan berkaitan dengan penelitian lebih lanjut. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan pada novel klasik lainnya maupun novel modern dalam bahasa Inggris. Ada kemungkinan bahwa penelitian tersebut akan menghasilkan strategi-strategi yang baru dan berbeda untuk menghasilkan sebuah karya terjemahan yang selaras dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Penerapan pendekatan Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat) melalui TPS (Think-Pair-Share) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan / Mufarohatul Islamiyah

 

Berdasarkan penjajakan lapangan yang dilaksanakan peneliti selama dua kali pembelajaran biologi di kelas X-3 SMAN 1 Paciran Lamongan yaitu pada tanggal 16 dan 23 Agustus 2007, diketahui bahwa kelas X-3 tergolong kelas yang heterogen, yaitu terdiri dari siswa-siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara informal selama peneliti melasanakan penjajakan lapangan di SMAN 1 Paciran Lamongan dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran sudah diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam hal ini guru bidang studi biasa menggunakan metode ceramah dan pembahasan LKS yang sudah terlebih dahulu dikerjakan di rumah. Pembelajaran seperti ini ternyata kurang maksimal karena pada saat pembelajaran berlangsung masih ada beberapa siswa yang hanya ikut-ikutan menjawab pertanyaan dari LKS temannya dengan alasan LKS tertinggal di rumah, atau ada juga beberapa siswa yang LKSnya masih kosong, sehingga terlihat kurang antusias dalam pembelajaran. Dari sini siswa terlihat kurang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena siswa lebih banyak mendengar penjelasan guru lalu mencatatnya di buku atau LKS. Selain itu, dari segi proses dan hasil belajar ternyata siswa kurang maksimal, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa yang tidak tuntas belajar pada pelaksanaan ulangan KD 1. Diperoleh informasi bahwa di SMA Negeri 1 Paciran Lamongan belum pernah menerapkan pembelajaran salingtemas yang digabungkan dengan TPS (Think-Pair-Share). Berdasarkan alasan di atas maka peneliti menerapkan pembelajaran salingtemas yang digabungkan dengan TPS untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Paciran Lamongan pada bulan September 2007 sampai dengan Desember 2007. Pendekatan yang digunakan adalah salingtemas melalui TPS yang diterapkan melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) penyusunan rencana tindakan, (2) implementasi atau pelaksanaan tindakan, (3) observasi atau pengamatan tindakan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan yang berjumlah 24 siswa. Teknik pengumpulan data melalui lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi proses kegiatan belajar siswa, tes dan angket siswa tentang respons siswa terhadap pembelajaran salingtemas dengan TPS. Analisis data ditulis secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui peningkatan proses belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan dengan penerapan pendekatan salingtemas melalui TPS (Think-Pair-Share), (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan dengan penerapan pendekatan salingtemas melalui TPS (Think-Pair-Share), (3) mengetahui respons siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Paciran Lamongan mengenai penerapan pendekatan salingtemas melalui TPS (Think-Pair-Share). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran salingtemas dengan TPS ini dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, serta mendapat respons yang sangat bagus dari siswa. Persentase proses belajar pada siklus I 70,82% dengan taraf keberhasilan baik, dan siklus II 72,5% dengan taraf keberhasilan baik. Jadi proses belajar mengalami peningkatan 1,68%. Untuk hasil belajar siklus I pada ranah kognitif, nilai rata-rata adalah 80,56 dan pada siklus II 82,25. Jadi hasil belajar pada ranah kognitif mengalami peningkatan 1,69%. Untuk ranah afektif pada siklus I 63,59% dan pada siklus II 79,79%. Jadi hasil belajar pada ranah afektif mengalami peningkatan sebesar 16,2%. Dengan demikian dapat disarankan bahwa sebaiknya pembelajaran salingtemas dengan TPS dijadikan alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran untuk peningkatan proses dan hasil belajar siswa SMA.

Pembelajaran membaca teks bahasa Jawa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kalipare / Tanti Septiani Dwi Karjianti

 

Septiani DK, Tanti. 2013. Pembelajaran Membaca Teks Bahasa Jawa Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kalipare. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo Hs, M.Pd., (II) Dewi Pusposari, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran membaca, membaca teks bahasa Jawa Teks bahasa Jawa merupakan sebuah bacaan yang isinya menggunakan bahasa Jawa. Data di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran membaca teks bahasa Jawa pada wilayah yang jauh dari pusat kebudayaan Jawa terkendala dengan cara membacanya. Pengucapan vokal dan konsonan yang salah atau tidak sesuai dapat mempengaruhi arti dari kata yang dibaca. Pembelajaran Bahasa Jawa masuk dalam muatan lokal yang diajarkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah. Siswa kelas VII telah mendapatkan pengalaman belajar membaca teks bahasa Jawa karena pembelajaran Bahasa Jawa sudah diajarkan sejak sekolah dasar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendiskripsikan 1) perencanaan pembelajaran membaca teks bahasa Jawa, 2) pelaksanaan pembelajaran membaca teks bahasa Jawa, dan 3) penilaian pembelajaran membaca teks bahasa Jawa. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa deskripsi tentang pembelajaran membaca teks bahasa Jawa yang diperoleh melalui wawancara, observasi, serta telaah dokumen siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Kalipare. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama dalam penelitian ini yang juga berperan pada seluruh proses penelitian, yaitu sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis isi, penafsir data, dan pembuat kesimpulan atas temuan penelitian. Analisis data dilakukan dengan cara mengklasifikasi dan mengkode setiap komponen perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran, menafsirkan, kemudian menyimpulkan hasil analisis data. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian. Pertama, perencanaan pembelajaran membaca teks bahasa Jawa tidak disusun sendiri oleh guru, sehingga pelaksanaan pembelajaran belum berjalan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Kedua, praktik pembelajaran belum dilakukan secara merata. Dalam rangkaian kegiatan pembelajaran guru belum mengalokasikan waktu dengan jelas, sehingga pembelajaran yang dilakukan belum maksimal. Ketiga, penilaian proses maupun hasil guru tidak disertai pedoman penilaian sebagai acuan, sehingga dapat menimbulkan subjektivitas dalam melakukan penailaian. Saran penelitian ini disampaikan pada peneliti selanjutnya hendaknya dapat melakukan penelitian mengenai pembelajaran menulis dan menyimak bahasa Jawa, serta kendala yang ditemukan dalam pembelajaran. Bagi guru bahasa Jawa hendaknya menyusun sendiri rencana pelaksanaan pembelajaran sebelum melakukan pembelajaran di kelas. Bagi lembaga pendidikan, penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki mutu pelajaran muatan lokal khususnya bahasa Jawa.

Penerapan pembelajaran kooperatof model jigsaw berbasis kecakapan hidup dalam upaya meningkatkan motivasi belajar, aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 10 Malang / Izza Nurdiana

 

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru Biologi kelas X-4 SMA Negeri 10 Malang adalah metode kerja kelompok yang sering didominasi oleh siswa pandai sehingga motivasi belajar siswa menurun dan terjadi kesenjangan pada hasil belajar. Pembelajaran biologi yang dilakukan di sekolah juga masih cenderung secara teoritik, dengan demikian siswa tidak mampu menghubungkan antara ilmu yang telah dipelajari di sekolah dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup. Pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup adalah suatu metode pembelajaran kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pem-belajaran sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Selama kegiatan pembelajaran siswa dibekali dengan kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang disebut kecakapan hidup. Tujuan penerapan pembelajaran ini adalah motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat dengan di-terapkannya pembelajaran pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 10 Malang, pengambilan data dilakukan pada bulan November-Desember 2007. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 yang berjumlah 36 siswa. Materi yang diajarkan adalah materi jamur. Data penilitian berupa motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi maupun aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Persentase siswa yang mempunyai aktivitas baik pada siklus I sebanyak 75,7% dan meningkat menjadi 80,5% pada siklus II. Hasil belajar juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 82,6% dan pada siklus II meningkat menjadi 87,9%. Ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 66,7% sebelum penelitian, menjadi 91,7% pada siklus I dan menjadi 97,2% pada siklus II. Hasil belajar ranah afektif maupun ranah psikomotorik juga menunjukkan terjadi peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 10 Malang tentang penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw berbasis kecakapan hidup yang dapat meningkatkan motivasi belajar, aktivitas belajar dan hasil belajar siswa maka disarankan kepada para guru hendaknya untuk menerapkan metode ini dalam proses pembelajaran di sekolah.

Sejarah terbentuknya regentschap Blitar (1830-1885) / Paramita Oktarina

 

Oktarina, Paramita. 2013. Sejarah Terbentuknya Regentschap Blitar (1830-1885). Skripsi Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Irawan, M.Hum. Pembimbing (II) Deny Yudo Wahyudi S.Pd, M.Hum. Kata Kunci: Sejarah, Regentschap, Blitar. Sejarah terbentuknya Regentschap Blitar erat kaitannya dengan adanya Perang Jawa. Perang Jawa yang terjadi antara tahun 1825-1830 dianggap sebagai awal dalam membahas tentang sejarah terbentuknya Regentschap Blitar. Kemenangan Belanda menjadikan banyak sisa-sisa laskar Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah yang aman dan salah satunya adalah wilayah Blitar dan Srengat, selain itu karena kemenangan Belanda pengawasan bumi mancanegara wetan dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta berada di tangan Belanda. Hal ini kemudian melatar belakangi Belanda untuk segera melakukan perjanjian yakni Perjanjian Sepreh yang menghasilkan Resolusi 31 Desember 1830. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah yang akan dikaji yaitu (1) Bagaimana sejarah terbentuknya pemerintah Regentschap Blitar, (2) Bagaimana perkembangan Regentschap Blitar tahun 1830-1885. Tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini yaitu, (1) Menganalisis sejarah terbentuknya Regentschap Blitar, (2) Menganalisis perkembangan Regentschap Blitar tahun 1830-1885. Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Tahapan dalam penelitian sejarah ini meliputi pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Pemilihan topik menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan emosional dan intelektual. Heuristik dalam penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan sumber primer, sumber sekunder dan sumber tersier yang berhubungan dengan penelitian. Kritik bertujuan untuk mencari kebenaran dengan cara mengecek keabsahan data yang telah diperoleh. Dalam metode sejarah, kritik (verifikasi) sumber dapat dilakukan dengan dua cara yakni dengan kritik eksternal dan kritik internal. Interpretasi atau penafsiran ada dua cara yakni dengan analisis dan sintesis. Hasil interpretasi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang disusun secara kronologis. Hal ini dikenal dengan istilah historiografi yang merupakan tahap akhir dari penelitian sejarah. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut,1) Sejarah terbentuknya Regentschap Blitar dilatarbelakangi oleh beberapa faktor yang antara lain adalah pasca terjadinya Perang Jawa yang terjadi sekitar tahun 1825-1830 yang dimenangkan oleh Pihak Belanda membuat pemerintah kolonial melakukan pengejaran terhadap para sisa-sisa laskar Diponegoro yang melarikan diri. Salah satu tempat yang menjadi tujuan pelarian sisa-sisa laskar Diponegoro adalah Blitar dan Srengat yang ketika itu berada dalam wilayah mancanegara wetan dari Kasunanan Surakarta. Setelah Perang Jawa yang dimenangkan oleh Pihak Belanda kemudian segera melaksanakan pertemuan di Pendopo Sepreh, Berbek yang dilakukan dengan 23 Bupati dari Residensi Madiun dan Residensi Kediri. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah Resolusi Tanggal 31 Desember 1830 No.10 Resolusi inilah yang akhirnya dijadikan sebagai cikal bakal terbentuknya pemerintahan Regentschap Blitar dengan Bupati Raden Mas Arjo Ronggo Hadinegoro. (2) Perkembangan Regentschap Blitar pada tahun 1830-1885 berada di bawah pemerintahan Bupati Ronggo Hadinegoro dan Bupati Raden Ngabehi Warsoe Koesoemo. Regentschap Blitar dipimpin oleh Bupati Ronggo Hadinegoro mulai dari tahun 1830-1869. Raden Mas Ronggo Hadinegoro mulai memerintah ketika diterbitkannya Resolusi 31 Desember 1830 No.10. Raden Ngabehi Warsoe Koesoemo merupakan Bupati yang menggantikan sosok Ronggo Hadinegoro. Pengangkatan Raden Ngabehi Warsoe Koesoemo ini didasarkan pada Gewestlijk Bestuur tanggal 22 Agustus 1869.

Kesenian gerak Tari Jaranan Sentherewe di Desa Banaran Tulungagung / Ihda Nur Kumala Dewi

 

Dewi, Ihda Nur Kumala. 2013. Struktur Gerak Tari Jaranan Sentherewe Di Desa Banaran Tulungagung. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn (II) Drs. Supriyono Kata Kunci : Struktur Gerak, Jaranan Sentherewe, Tulungagung Jaranan merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat khas Tulungagung yang berupa tarian kelompok, dimainkan oleh 4 sampai 6 penari yang menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu atau disebut jaran kepang dan berujung pada atraksi perang-perangan. Pada saat ini keaslian tari jaranan sudah mulai luntur. Sementara kebanyakan masyarakat penikmat sudah tidak mengenal lagi gerak Tari Jaranan Sentherewe. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai struktur gerak Tari Jaranan Sentherewe. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan struktur gerak dalam Tari Jaranan Sentherewe di Desa Banaran Tulungagung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengambilan data berlokasi di Dusun Krajan RT 02 RW 01 Desa Banaran Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung. Narasumber dalam penelitian ini adalah Miswan selaku seniman dan penata Tari Jaranan dan Kasihan selaku tokoh seni dan masyarakat Desa Banaran. Data penelitian yang berupa paparan laporan yang didapat dari wawancara, observasi, dan dokumentasi; keabsahannya dicek menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur gerak dalam Tari Jaranan Sentherewe di Desa Banaran Tulungagung terdiri dari gerak-gerak yang disusun sedemikian rupa, yang terdiri dari: (1) terdapat tiga belas ragam gerak dalam Tari Jaranan Sentherewe, (2) motif gerak yang terdapat dalam Tari Jaranan Sentherewe terdiri dari 20 (dua puluh) susunan motif-motif gerak, dan (3) unsur gerak, yang terdiri dari unsur gerak kepala yang terdiri dari 6 (enam) unsur gerak, yaitu sikap tegak, toleh kanan, toleh kiri, gedeg, sendal pancing dan manthuk, unsur gerak tangan yang terdiri dari 6 (enam) unsur gerak, yaitu mentang,tekuk, bumi langit, mecut, nggegem dan pedangan, unsur gerak badan yang terdiri dari 4 (empat) unsur gerak, yaitu sikap mapan, mayug, hoyog dan sikap tegak, dan unsur gerak kaki yang terdiri dari 8 (delapan) unsur gerak, yaitu junjungan, seleh, gedruk, tanjak, jinjit, jengkeng, loncat dan gejug Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis memberikan saran kepada masyarakat Desa Banaran Tulungagung agar meningkatkan upaya melestarikan dan mengembangkan serta memunculkan rasa cinta terhadap kesenian Tari Jaranan Sentherwe khas Tulungagung sebagai seni tradisi yang wajib untuk dipertahankan.

Penerapan model permainan bisik berantai untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak TK Permata Iman 1 Kota Malang / Siti Masitoh

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, permainan bisik berantai, Taman Kanak-kanak Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan bahasa anak. Hal ini disebabkan karena media yang digunakan guru dalam menyampaikan materi kurang menarik perhatian peserta didik, media yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran hanya berupa berupa lembar kerja siswa, dan selama kegiatan berlangsung guru masih mendominasi kegiatan dan peserta didik belum dilibatkan guru hanya memberikan penjelasan tentang kegiatan setelah selesai peserta didik langsung diminta untuk mengerjakan lembar kerja. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan proses penerapan model permainan bisik berantai untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak didik. (2) mendeskripsikan pengembangan kemampuan berbahasa anak didik setelah dilakukan permainan bisik berantai. Penelitian ini dilakukan di TK Islam Permata Iman Malang, tanggal 14,16, dan 24 November 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan kemampuan bahasa anak dalam mengulang kata yang telah di denagarnya, membaca kata dan menghubungkan gambar dengan tulisan mencapai 79,63% dan meningkat menjadi 86,40% pada siklus II ada kenaikan sebesar 6,77%. Disarankan kepada guru dalam menggunakan permainan bisik berantai pada kegiatan pembelajaran hendaknya mempersiapkan Rancangan Kegiatan Harian dan skenario pembelajaran serta menyiapkan media yang menarik minat anak seperti papan flannel dan flash card, dalam melakukan permainan harus ada variasi sehingga tidak terlihat monoton agar anak tidak bosan mendapatkan hasil yang maksimal.

Profil usaha kecil kerajinan marmer dan onix di Desa Gamping Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung / Ike Retno Wulandari

 

Kenaikan harga BBM pada tahun 2005 menimbulkan inflasi terhadap berbagai barang dan jasa. Kenaikan harga BBM tersebut juga mengakibatkan kenaikan harga bahan baku produksi kerajinan marmer. Kenaikan harga BBM otomatis mengakibatkan kenakan harga jual kerajinan marmer dan onix. Tetapi kenaikan harga tersebut tidak dibarengi dengan kenaikan omzet penjualan yang semakin menurun semenjak kenaikan harga BBM tahun 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam dan komprehensif tentang pengrajin marmer dan onix di desa Gamping kecamatan Campurdarat kabupaten Tulungagung. Motivasi apa saja yang mendasari mereka tetap bertahan atau setia pada usahanya, bagaimana seluk beluk usahanya, bagaimana pemasarannya dan bagaimana mereka mengelola usahanya hingga bisa tetap eksis sampai saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Lokasi penelitian ini terletak di desa Gamping kecamatan Campurdarat kabupaten Tulungagung, tepatnya dirumah Pak Djaselan dan Pak Suwandi. Penelitian ini dilakukan pada Juni 2007-September 2007. Yang menjadi subyek dan informan penelitian ini adalah pengrajin marmer dan onix beserta karyawannya, masyarakat pengguna kerajinan marmer dan onix, dan kepala desa Gamping. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan berperan serta dan wawancara mendalam. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif dengan proses reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Sedangkan untuk keperluan pengecekan keabsahan data digunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha kerajinan marmer dan onix di desa Gamping telah ada sejak tahun 1990an. Pengrajin termotivasi mendirikan usaha kerajinan marmer dan onix karena alasan ekonomi. Dalam hal pengadaan bahan baku pengrajin tergantung kepada penyuplai yang juga banyak terdapat di desa Gamping dan sekitarnya. Tiap pengrajin rata-rata mempunyai pekerja 1-5 orang yang diupah dengan sistem borongan. Modal usaha berasal dari pengrajin sendiri. Teknik produksi kerajinan marmer dan onix sudah menggunakan alat-alat modern, tetapi juga memerlukan ketrampilan dan keahlian khusus dari para pekerja untuk mengoperasikan mesin-mesin tersebut. Ada banyak jenis produk yang dihasilkan oleh pengrajin marmer dan onix di desa Gamping, antara lain; tempat aqua, wastafel, tempat sampah, kaki meja, kursi, asbak, dan jenis barang lainnya sesuai dengan pesanan. Pemasaran kerajinan marmer dan onix sudah sangat luas mencapai tingkat propinsi dan nasional, bahkan ada juga yang diekspor ke luar negeri. Faktor penghambat kerajinan marmer dan onix adalah kurang tersedianya tenaga kerja yang betul-betul ahli dibidangnya, kurangnya modal, pemasaran, kebijakan pemerintah terutama tentang harga BBM dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sedangkan faktor pendukung kerajinan marmer dan onix adalah relatif tersedianya bahan baku utama berupa batu marmer dan onix. Pendapatan yang diperoleh pengrajin dari usaha kerajinan marmer dan onix dapat memberikan manfaat ekonomis bagi usaha dan keluarganya. Kenaikan harga BBM pada tahun 2005 mengakibatkan kenaikan harga bahan baku yang berdampak pada naiknya harga jual. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kerajinan marmer dan onix dapat dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat sekitar. Temuan pokok penelitian: pengrajin marmer dan onix di desa Gamping kecamatan Campurdarat kabupaten Tulungagung pola kehidupan ekonominya cenderung berada pada tingkat kehidupan subsistensi. Pengrajin marmer dan onix di desa Gamping juga masih menganut sistem ekonomi tradisional yang dapat dilihat dari adanya kecenderungan enggan menekuni profesi yang berbeda dengan lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar Pemda (melalui Depperindag) dapat memberikan pembinaan kepada pengrajin marmer dan onix tentang teknik usaha misalnya perubahan desain produk. Bagi penuntut ilmu disarankan agar dapat melakukan penelitian lanjutan (kualitatif) tentang usaha kecil dan lebih intens melakukan penelitian tentang pola kehidupan ekonomi tradisional yang pada kenyataannya masih ada dalam masyarakat di zaman modern ini. Bagi pengrajin disarankan agar dapat menemukan ide-ide baru guna mengembangkan usahanya, semisal dengan cara membentuk perserikatan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada, dan juga dapat meminimalisir dampak negatif yang timbul dari proses produksi kerajinan marmer dan onix. Bagi kalangan akademisi disarankan agar senantiasa memberikan bimbingan dan pembinaan serta mengenalkan teknologi guna mempermudah proses usaha, misalnya mengenalkan komputer dan internet untuk membantu dalam proses pembuatan desain dan pemasaran kerajinan marmer dan onix.

Meningkatkan hasil belajar matematika melalui model problem based larning )PBL) siswa kelas IV SDN Salamrejo Blitar / Gugi bagus Abimanyu

 

Kata Kunci : matematika, hasil belajar, problem based learning (pbl), Pada kenyataan di lapangan, siswa kelas IV SDN Salamrejo Kabupaten Blitar memperoleh nilai di bawah KKM. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimanakah penerapan problem based learning (pbl) dalam pembelajaran pecahan pada siswa kelas IV di SDN Salamrejo kecamatan Binangun Kabupaten Blitar? 2) Bagaimanakah peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran pecahan pada siswa kelas IV di SDN Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar dengan model pembelajaran PBL? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan melalui penerapan model Problem Based Learniang (PBL) sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Salamrejo yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 59,7, siklus I 63,7, dan siklus II 77,3. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 31,25%, siklus I sebesar 56,25%, dan siklus II 87,5%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learniang (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas IV SDN Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Pengembangan media pembelajaran berbasis E-learning pada matapelajaran pemrograman visual berbasis desktop untuk siswa kelas X Rekayasa Perangkat Lunak SMK Negeri 1 Banyuwangi / Deviana Harstuti

 

Harstuti, Deviana.2013. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis e-Learning pada Mata Pelajaran Pemrograman Visual Berbasis Desktop Untuk Siswa Kelas X Rekayasaa Perangkat Lunak di SMK Negeri 1 Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Dwi Prihanto, S,S.T, M.Pd, (II) M. Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci : Media, e-Learning, Website, video     Rekayasa perangkat lunak merupakan salah satu program keahlian yang ada di sekolah kejuruan (SMK) yang memiliki basic programer. Salah satu matapelajaran yang diajarkan adalah pemrograman visual berbasis desktop. Cara pengajarannya masih terkesan konvensional. Terutama saat praktik, guru hanya menerangkan source code tanpa memandu siswanya. Sehingga pemahaman siswa terhadap materi kurang maksimal.dikarenakan guru hanya terpaku pada materi tanpa memberikan ilustrasi dengan menggunakan media yang nyata, yang dapat memberikan motivasi keinginan belajar siswa.      Siswa sekarang menuntut lebih banyak waktu yang berkualitas untuk bisa berdiskusi dan membantu pemahaman dalam kegiatan belajar. Tatap muka di kelas menjadi tidak cukup untuk memenuhi waktu yang berkualitas itu. Karena selama ini pembelajaran di sekolah masih belum maksimal, masih ada guru yang tidak hadir di dalam kelas dan tidak meninggalkan tugas untuk siswanya. Salah satu alternatif adalah dikembangkannya sistem e-learning yang bisa memberi lebih banyak waktu dan kesempatan kepada siswa untuk bisa berdiskusi. Sistem e-learning yang dikembangkan adalah berbasis website sehingga sistem e-learning ini disebut Internet Enabled Learning.      Model peneltian dan pengembangan yang digunakan adalah R&D milik Sugiyono yang terdiri dari; (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk, (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi masal.      Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, didapat presentase hasil validasi oleh ahli media sebesar 85%, hasil validasi ahli materi sebesar 89%, hasil uji coba kelompok kecil 88,3%, dan hasil uji coba lapangan sebesar 87,6%. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa media ini secara keseluruhan dinyatakan layak/valid. Media dapat digunakan sebagai media pembelajaran mandiri siswa.

Potensi waduk Banjaranyar untuk kebutuhan air irigasi lahan pertanian padi di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik / Amerion Fipianto

 

Peningkatan pembelajaran menyimak cerita melalui penggunaan media audio-visual TV dan SD di kelas V SDN 1 Ngadisuko Kabupaten Trenggalek / Enggar Mayasari

 

Kata-kata kunci : pembelajaran,, menyimak, cerita, media audio-visual. Hasil observasi pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V SDN I Ngadisuko Kabupaten Trenggalek tahun ajaran 2011/2012 terdapat beberapa kekurangan. Pembelajaran bersifat monoton dan tergantung pada buku. Akibatnya siswa kurang berminat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menyimak cerita dengan menggunakan media audio visual dan mendeskripsikan peningkatan pembelajaran menyimak cerita dengan menggunakan media audio visual TV dan CD pada siswa kelas V SDN 1 Ngadisuko Kabupaten Trenggalek. Metode Penelitian yang digunakan adalah PTK dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Langkah-langkah penelitian berupa perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi dan refleksi. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data diawali dengan mengumpulkan data, menyajikan dan mendeskripsikan data kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan menggunakan media audio-visual TV dan CD dalam pembelajaran menyimak cerita dapat meningkatkan minat siswa kelas V dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Peningkatan hasil belajar dari pratindakan, siklus I ke siklus II sebagai berikut. Pada pratindakan rata-rata nilai kelas 69,9 dengan presentase 39%. Siklus I mengalami peningkatan menjadi 75,9 dengan presentase keberhasilan tindakan 65%. Siklus II diperoleh rata-rata hasil belajar siswa 80,8 dengan presentase keberhasilan tindakan sebesar 87%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa setelah diterapkan pembelajaran dengan menggunakan media audio-visual TV dan CD.

Penerapan model pembelajaran teknik inkuiri untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran akuntansi, studi kasus pada siswa kelas 1 Akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang / Anif Riyanti

 

Dengan munculnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), berkembang pula satu pendekatan pembelajaran yang diterapkan dengan pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching Learning). Dalam pendekatan kontekstual inilah dikenal asas inkuiri yang merupakan suatu teknik penemuan yang cara penyajian bahan pelajaran lebih banyak melibatkan siswa dalam proses-proses mental. Kesadaran siswa terhadap proses inkuiri dapat ditingkatkan sehingga para siswa dapat diajarkan prosedur-prosedur pemecahan masalah secara ilmiah, dan hal tersebut dapat dipergunakan untuk mengatasi sikap siswa yang cenderung masih pasif dalam mengikuti pelajaran berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan. Faktor penyebabnya guru mata diklat masih menggunakan metode ceramah dan penugasan. Sehingga dengan penerapan model pembelajaran teknik inkuiri ini diharapkan mampu merangsang siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran dengan teknik inkuiri yang efektif didalam pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 1 akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk tindakan kelas yang dirancang dalam tiga siklus kegiatan. Kegiatan pada setiap siklus diarahkan pada penerapan langkah-langkah pembelajaran inkuiri secara bersama-sama. Dimana pada setiap siklus dilakukan tindakan-tindakan perbaikan untuk setiap ada kelemahan yang nampak. Pada siklus I siswa masih mengalami kesulitan didalam menyesuaikan diri dengan penerapan metode baru dan hanya beberapa siswa yang berani aktif. Pada siklus II siswa mulai terbiasa dan mencapai tujuan pembelajaran teknik inkuiri. Sebagai pemantapan dilaksanakan kegiatan di siklus III dengan latihan-latihan soal yang lebih mendalam. Dari hasil analisis dan refleksi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran teknik inkuiri yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya hasil evaluasi siswa pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif siswa sebelum penerapan teknik inkuiri memiliki nilai rata-rata 62.04, pada siklus I meningkat menjadi 69.79, kemudian pada siklus II didapatkan nilai rata-rata 77.3, dan 79.04 pada siklus III. Peserta didik juga mampu meningkatkan prestasi afektif mereka pada setiap siklus pembelajaran. Pada siklus I dicapai hasil evaluasi aspek afektif siswa dengan nilai rata-rata 86.6, di siklus II 79.3, dan di siklus III 90.1. Pada aspek psikomotorik dapat dijelaskan hasil evaluasi yang diperoleh peserta didik sebagai berikut. Di siklus I aspek psikomotorik siswa mencapai persentase total ketercapaian 66.67%, siklus II 73.33%, dan di siklus III 76.67%. Semua hasil evaluasi tersebut menunjukkan kualifikasi nilai dalam kategori baik (untuk kategori penilaian aspek psikomotorik). Disamping itu indikator lain adalah siswa menjadi aktif dalam mengikuti kegiatan belajar dan dalam menjawab pertanyaan serta mengemukakan pendapat dan bertanya. Dengan demikian, hasil yang diperoleh sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan, yaitu benar bahwa penerapan model pembelajaran teknik inkuiri dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran akuntansi.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA 2 YPK Malang / Christina Simatupang

 

Berdasarkan hasil observasi peneliti pada tanggal 23 - 27 Juli 2007 di kelas XI IPA SMA 2 YPK, diperoleh data bahwa pola pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered) sehingga siswa kurang berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan kurang terlibat secara maksimal dalam pembelajaran. Metode ceramah yang digunakan di kelas, kurang menarik minat siswa sehingga dapat menjadi salah satu penyebab kurang aktifnya siswa. Rendahnya motivasi belajar Biologi tersebut berdampak pada hasil belajar yang diperoleh yang secara umum kurang memuaskan, karena tidak memenuhi standar ketuntasan minimum (SKM) yang ditetapkan. Dari upaya untuk meningkatkan motivasi belajar Biologi demi tercapainya proses pembelajaran yang lebih baik, maka dilakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA 2 YPK Malang”. Dalam pembelajaran struktural model Numbered Heads Together siswa di libatkan dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran. Metode ini memiliki prosedur yang ditetapkan untuk memberi waktu lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling membantu antar anggota dalam satu kelompok. Kelebihan – kelebihan dari metode tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa apabila di terapkan dalam penelitian tindakan kelas, sehingga hasil belajar siswa meningkat dan siswa dapat mencapai standar ketuntasan minimum (SKM) yang di tentukan oleh sekolah. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan pokok bahasan sistem gerak. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai perancang kegiatan, pelaksana kegiatan, pengumpul data, penganalisis data dan penyusun hasil penelitian. Data dalam penelitian ini adalah motivasi dan hasil belajar, sumber data diperoleh dari siswa kelas XI IPA SMA 2 YPK Malang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI SMA 2 YPK Malang. Peningkatan motivasi ini juga diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penulis mengharapkan bahwa penelitian ini tidak hanya diterapkan pada pokok bahasan Sistem Gerak tetapi juga dapat diterapkan pada pokok bahasan lainnya.

Peningkatan hasil belajar matematika tentang penyelesaian soal cerita melalui model contextual teaching and learning (CTL) pada kelas IV SDN Sukorejo 01 Kabupaten Blitar / Muhtar Rusydianto

 

Kata Kunci : hasil belajar, soal cerita, model contextual teaching and learning (CTL) Hasil observasi yang dilakukan peniliti pada kelas IV saat pembelajaran Matematika terdapat: 1) guru ceramah mengenai materi dan memberikan penjelasan, 2) siswa saat pembelajaran memperhatikan dengan duduk manis, ada yang menguap, bermain alat tulis, 3) siswa tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengenai materi, 4) siswa mengerjakan soal yang ada di buku paket, 5) setelah selesai siswa dinilai, hasil belajar yang diperoleh yaitu nilai ≤ 64 terdapat 14 siswa dan nilai ≥ 65 terdapat 8 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk:(1) mendeskripsikan penerapan model CTL pada pembelajaran Matematika tentang penyelesaian soal cerita pada Siswa Kelas IV SDN Sukorejo 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika tentang penyelesaian soal cerita melalui model CTL pada Siswa Kelas IV SDN Sukorejo 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas dengan model kolaboratif yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV dengan jumlah 22 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model CTL pada pembelajaran matematika materi uang dan kelipatan di kelas IV dengan kategori amat baik. Hal tersebut didukung dengan munculnya semua komponen model CTL pada saat pembelajaran berlangsung yang dibuktikan dengan penilaian proses. Selain itu juga diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa yang baik pula. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 36,73%, pada siklus I adalah 59,09% dan pada siklus II adalah 90,90% dengan kategori amat baik. Melihat keberhasilan tersebut, disarankan kepada guru untuk menerapakan model CTL pada materi lain di mata pelajaran matematika.

Pengembangan modul dan trainer PLC mikro berbasis kompetensi pada pembelajaran mekatronika / Agus Suyetno

 

ABSTRAK Suyetno, Agus. 2016. Pengembangan Modul dan Trainer PLC Mikro Berbasis Kompetensi pada Pembelajaran Mekatronika. Tesis. Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd, (II) Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. Kata kunci: modul, trainer PLC mikro, kompetensi mekatronika. Mekatronika adalah salah satu matakuliah yang wajib ditempuh mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang karena erat hubungannya dengan sistem kontrol di industri. Permasalahan yang menghambat pencapaian kompetensi mekatronika berdasarkan analisis kebutuhan (need analysis) antara lain: 1) keterbatasan saranan praktikum, 2) sumber belajar yang terbatas, dan 3) tidak terdapat job sheet praktikum. Solusi yang dapat digunakan dari hasil analisis hasil akhir (front end analysis). Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah 1) mengembangkan trainer PLC yang lebih sederhana dan juga dapat disimulasikan pada komputer, 2) mengembangkan modul, dan 3) mengembangkan job sheet sebagai sumber belajar praktikum mekatronika. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan dengan model pengembangan ADDIE, yaitu model pengembangan yang terdiri dari tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Pada tahap analisis akan dilakukan analisis kebutuhan (need analysis) dan analisis hasil akhir (front end analysis). Pada tahap pengembangan, akan dilakukan validasi ahli dan validasi pengguna. Pada tahap implementasi, akan dilakukan evaluasi formatif. Sedangkan evaluasi sumatif pada tahap evaluasi tidak dilakukan karena penelitian yang akan dilakukan hanya sampai pada tahap melihat kelayakan dari media yang dikembangkan. Hasil dari validasi ahli pada tahap pengembangan, media yang dikembangkan termasuk dalam tingkat yang valid dan layak digunakan (96,36%). Berdasarkan hasil validasi pengguna, media yang dikembangkan termasuk dalam tingkat yang valid dan layak digunakan (90,00%). Pada tahap uji coba perorangan, didapatkan hasil tes rata-rata mahasiswa adalah 86 dan hasil angket persepsi mahasiswa terhadap media adalah valid dan layak digunakan (87,62%). Pada tahap uji coba kelompok kecil, didapatkan hasil tes rata-rata mahasiswa adalah 86 dan hasil angket persepsi mahasiswa terhadap media adalah valid dan layak digunakan (91,43%). Pada tahap uji coba lapangan, didapatkan hasil tes rata-rata mahasiswa adalah 87 dan hasil angket persepsi mahasiswa terhadap media adalah valid dan layak digunakan (83,67%). Untuk pengembangan lebih lanjut, media dapat dikembangkan agar bisa dijalankan melalui smart phone karena media yang sekarang dikembangkan hanya dapat dijalankan di komputer. Selain itu pada pengembangan selanjutnya juga dapat menggunakan Arduino dalam penggunaan trainer PLC Mikro.

Penerapan pembelajaran model role playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan (studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas X APK di SMK Cendika Bangsa Kepanjen) / Khozinatul Asror

 

ABSTRAK Asror, khozinatul. 2009. Penerapan Pembelajaran Model Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega dan Pelanggan, Skripsi Jurusan Manajemen, program studi pendidikan adinistrasi perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Eko Soetjipto, M. Ed., M. Si (II) Imam Buchori, S. Pd Kata kunci: Model Pembelajaran Role Playing, Hasil Belajar Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah melalui perbaikan kurikulum. Dengan perbaikan kurikulum, diharapkan kualitas proses pembelajran akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertijuan untuk mengetahui penerapan model role playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan model role playing. Sebagai subjek penelitian, peneliti memilih siswa kelas X APK di SMK Cendika Bangsa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan Siklus II, yang masing-masing siklus dilakukan dalam dua kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan (obsevasi) serta tahap analisis dan refleksi. Hasil belajar terdiri dari aspek kognitif dengan menganalisis hasil pre tes dan post tes setiap siklus. Sedangkan aspek afektif dan psikomotor dianalisis dengan menghitung persentase frekuensi setiap indikator yang muncul. Ketentuan nilai batas minimum ketutasan belajar siswa untuk mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan adalah 68. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif karena guru telah melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik dimana skor rata-rata total yang diperoleh guru pada siklus I sebesar 80.5 % meningkat pada siklus II sebesar 98.1 %. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada aspek kognitif persentase ketuntasan belajar siswa pada post tes meningkat di siklus I sebesar 74.38% menjadi 93.84% di siklus II. Pada aspek afektif nilai rata-rata meningkat secara signifikan pada setiap siklus dan dikatakan tuntas. Sedangkan hasil belajar psikomotor juga meningkat secara signifikan dan dapat pula dikatakan tuntas. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat di sarankan bahwa model pembelajaran role playing dapat digunakan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran lain sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dukungan kepala sekolah sangat diharapkan untuk mengupayakan guru supaya memiliki pengalaman dalam pembelajaran model role playing. Kepada peneliti selanjutnya disarankan agar melibatkan pakar role playing dalam melakukan penelitian tindakan kelas lebih lanjut.

Kesulitan-kesulitan belajar pada siswa kelas V Sekolah dasar sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen Kabupaten pasuruan / Danik Fida Yuliasih

 

Kata kunci : Kesulitan Belajar, siswa kelas V Kesulitan belajar merupakan keadaan di mana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang dialami siswa dalam memahami satu atau lebih bidang studi sehingga mempengaruhi hasil belajar. Perkembangan intelektual dalam fase masa-masa kelas tinggi sekolah dasar (kira-kira 10 s/d 11 tahun) anak mengalami masa kesulitan pendidikan. Kesulitan pendidikan sebagai akibat dari soal-soal watak yang amat realistis, ingin tahu, ingin belajar serta adanya perhatian kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkret. Apabila dalam proses pembelajaran kebutuhan anak tersebut tidak dapat terpenuhi maka akan menyebabkan kesulitan belajar. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian terhadap siswa SD kelas V yang berada diwilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif murni (survei) karena bermaksud memaparkan apa yang terdapat atau terjadi dalam sebuah kancah, lapangan, atau wilayah tertentu. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan survey karena dilihat dari keberadaan data penelitian sudah tersedia dan peneliti melakukan analisis untuk dapat mendeskripsikan keadaan di lapangan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan jenis kesulitan belajar pada siswa kelas V sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen dan mendeskripsikan penyebab kesulitan belajar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V sekolah dasar sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen diketahui Jenis kesulitan belajar yang cukup banyak ditemukan pada siswa kelas V sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen adalah variasi kesulitan dalam mencapai ketuntasan belajar karena ada konsep dasar yang belum dikuasai atau karena proses belajar yang sudah ditempuhnya tidak sesuai dengan karakteristik belajar siswa yang bersangkutan. Sedangkan penyebab kesulitan belajar siswa kelas V SD sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen berasal dari 4 faktor penyebab. Dari empat faktor penyebab utama terdapat kecenderungan sebagai faktor dominan yang ditunjukkan dengan persentase perolehan skor pada tiap indikator. Penyebab kesulitan belajar dari faktor fisiologi disebabkan oleh kondisi kesehatan siswa. Kemudian dari faktor psikologi disebabkan oleh kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan rendahnya motivasi siswa dalam belajar. Dari faktor sosial disebabkan oleh pola pengasuhan orangtua. Sedangkan penyebab kesulitan belajar dari faktor non sosial berasal dari penyajian bahan pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik belajar siswa serta kurangnya penyesuaian standar pelajaran yaitu tidak adanya penyesuaian materi pelajaran sesuai dengan kemampuan siswa. Dari hasil kesimpulan tersebut beberapa saran yang dapat dikemukakan kepada lembaga SD, guru, siswa, dan orangtua untuk bekerjasama dalam mengatasi masalah kesulitan belajar pada siswa. Selain itu, bagi peneliti lanjutan berupaya untuk mengembangkan hasil penelitian terutama dalam upaya mengatasi kesulitan belajar pada siswa.

Pengaruh penerapan permainan kalung sedotan terhadap kemampuan fisik motorik halus anak kelompok B2 TK Petra Bondowoso tahun ajaran 2011/2012 / Steffie Pratiknyo

 

Kata Kunci: pengaruh, permainan kalung sedotan, kemampuan fisik motorik halus anak Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan semua aspek-aspek perkembangan anak secara seimbang, termasuk kemampuan otak anak. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang lebih memperhatikan perkembangan otak kiri anak melalui gencarnya pemberian pelajaran calistung. Hal ini mengakibatkan kurangnya pengembangan otak kanan anak. Kemampuan fisik motorik halus merupakan salah satu tingkat pencapaian perkembangan yang mengembangkan otak kanan anak, dengan meronce sebagai salah satu indikatornya. Dunia anak merupakan dunia bermain. Permainan merupakan salah satu bentuk kegiatan bermain aktif, yang sering dilakukan pada masa kanak-kanak awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan permainan kalung sedotan terhadap kemampuan fisik motorik halus anak Kelompok B2 TK Petra Bondowoso Tahun Ajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen, rancangan penelitian preexperimental design dan desain penelitian one-group pretes- posttest design. Instrumen yang digunakan adalah naskah rancangan penelitian kalung sedotan, lembar observasi pretest dan posttest, serta lembar observasi eksperimen hasil meronce. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi. Kegiatan analisis data menggunakan uji asumsi dan uji hipotesis dengan bantuan program SPSS 18 for windows. Uji asumsi terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Uji hipotesis menggunakan uji T. Berdasarkan hasil analisis penelitian, didapatkan kesimpulan bahwa penerapan permainan kalung sedotan berpengaruh terhadap kemampuan fisik motorik halus anak Kelompok B2 TK Petra Bondowoso Tahun Ajaran 2011/2012. Disarankan bagi guru, agar menerapkan permainan kalung sedotan pada anak didik angkatan berikutnya sebagai salah satu alternatif untuk mengembangkan kemampuan fisik motorik halus anak kelompok B. Bagi lembaga PAUD agar memberikan kesempatan serta fasilitas untuk mendukung pengembangan semua aspek perkembangan anak, terutama melalui permainan-permainan yang menarik dan kreatif. Peneliti pada penelitian lanjut dapat menggunakan desain penelitian dengan menggunakan kelompok kontrol.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME) pada siswa kelas IV SDN Pagerwojo 04 Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar / Rita Sahara

 

Kata kunci : Hasil Belajar, Perkalian, RME Pembelajaran matematika di SDN Pagerwojo 04 Kabupaten Blitar terdapat siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang dapat tuntas hanya 33,33% atau ketutansan sejumlah 7 siswa dari 21 siswa. Sedangkan yang mengalami ketidaktuntasan belajar sebanyak 66,67 % atau sebanyak 14 siswa dari 21 siswa. Secara klasikal belum dapat dikatakan tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 70 keatas hanya sebesar 33,33%, lebih kecil dari ketuntasan kelas yang ditetapkan sebesar 75%. Berkaitan dengan hal tersebut maka pembelajaran tentang materi pekalian dapat menerapkan inovasi baru bagi pembelajaran siswa di SD tersebut yaitu dengan model Realistic Mathematic Education (RME). Model tersebut dipilih karena diharapkan mampu meningkatan hasil belajar siswa tentang materi perkalian siswa kelas IV SDN Pagerwojo 04. Tujuan dari penelitian ini: (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran RME pada siswa kelas IV di SDN Pagerwojo 04 Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar , (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Pagerwojo 04 Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar), guru kelas (mitra peneliti) sebagai observer, dan rekan mahasiswa sebagai pengambil foto dalam proses pembelajaran perkalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran RME tentang perkalian pada kelas IV SDN Pagerwojo 04 Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Presentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 33,33%, pada siklus I pertemuan I 52,4% , Siklus II pertemuan II 66,67% dan siklus II pertemuan II 90,48%. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model RME yang dilaksanakan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran perkalian siswa kelas IV SDN Pagerwojo 04Kabupaten Blitar. Untuk itu guru hendaknya menerapkan model yang inovatif seperti model RME, agar siswa lebih aktif dan senang dalam mengikuti pembelajaran serta hasil belajar siswa dapat meningkat sehingga kualitas tujuan pembelajaran dapat meningkat.

Peningkatan kemampuan siswa kelas V memaknai data hasil pengamatan dalam pembelajaran IPA melalui pendekatan PAKEM di SDN Garum 03 Kabupaten Blitar / Mohamad Bahrul Ulum

 

Kata Kunci : kemampuan memaknai data, pembelajaran IPA, pendekatan PAKEM. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi di kelas V yang menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa dalam memaknai data pada pembelajaran IPA masih kurang berkembang. Hal ini dikarenakan Selama pembelajaran berlangsung, guru belum mengembangkan keterampilan proses memaknai data untuk membangun konsep. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPA kelas V pada pra tindakan, (2) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas V dalam memaknai data pada pra tindakan, (3) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPA melalui pendekatan PAKEM di kelas V, (4) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas V memaknai data dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan PAKEM pada tiap siklus, dan (5) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas V memaknai data dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan PAKEM. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas V yang berjumlah 20 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pada tahap pratindakan belum mencapai keberhasilan Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata kemampuan memaknai data pada pembelajaran pratindakan hanya sebesar 11 dengan kualifikasi nilai sangat kurang baik (SKB). Penerapan pendekatan PAKEM pada pembelajaran IPA dilaksanakan melalui 2 siklus. Pada siklus I aktivitas siswa menggunakan pendekatan PAKEM mendapat skor 56 skor tersebut termasuk kualifikasi cukup baik. Pada siklus II skor aktivitas siswa menggunakan pendekatan PAKEM meningkat 15 poin menjadi 71, skor tersebut termasuk kualifikasi baik. Kemampuan siswa kelas V memaknai data dalam pembelajaran IPA, dengan menggunakan pendekatan PAKEM mengalami peningkatan pada tiap siklus. perolehan skor rata-rata siswa yang mengalami peningkatan secara bertahap mulai dari, siklus I dan siklus II. Dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 20 poin dari skor 55 menjadi 75. Penerapan pendekatan PAKEM dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memaknai data. Hal ini terlihat dari skor rata-rata pelaksanaan PAKEM pada akhir siklus I mendapat skor 56, kemampuan memaknai data pada akhir siklus I mendapat skor rata-rata 55. Pada akhir siklus II skor rata-rata pelaksanaan PAKEM mengalami peningkatan skor sebesar 16 poin menjadi 71. Pada akhir siklus II skor kemampuan memaknai data mengalami peningkatan skor sebesar 20 poin menjadi 75 skor tersebut dalam kualifikasi baik. Guru disarankan dengan kesadaran dapat menerapkan pembelajaran yang di dalamnya terdapat pengalaman langsung sehingga siswa akan bekerja sambil belajar

Identifikasi perakaran tumbuhan di bawah tanah menggunakan metode ground penetrating radar di lahan bakal gedung FIS UM / Hafiz Anshari

 

Anshari, Hafiz. 2013. Identifikasi Perakaran Tumbuhan di Bawah Tanah menggunakan Metode Ground Penetrating Radar di Lahan Bakal Gedung FIS UM. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Daeng Ahmad Suaidi, S.Si., M.Kom. (2) Sujito, S.Pd., M.Si. Kata Kunci : Ground Penetrating Radar, gelombang elektromagnetik, akar, konstanta dielektrik, bangunan. Lokasi pembangunan gedung-gedung di daerah FIS UM berdekatan dengan banyak pohon-pohon besar yang teridentifikasi berakar tunggang yang kuat. Perakaran ini dapat berpotensi merusak bangunan karena aktivitas pertumbuhannya. Metode GPR dipercaya bisa mengidentifikasi akar dengan prinsip pemantulan gelombang elektromagnetik. Penelitian ini menggunakan metode Ground Penetrating Radar dengan tipe Radar Reflection Profilling dimaksudkan untuk mendapatkan citra bawah permukaan. Dengan citra ini, dapat dilakukan identifikasi objek berupa perakaran di bawah permukaan sepanjang lintasan. Instrumen yang digunakan adalah set GPR OKO AB-90 berfrekuensi 90 MHz. Daerah penelitian adalah 11 lintasan yang tersebar di lahan FIS UM, pada 9 April 2013 ketika cuaca cerah. Pengolahan citra GPR (radargram) dan pencarian nilai konstanta dielektrik serta titik/lokasi objek menggunakan software Geoscan32. Berdasarkan pencocokan lokasi, antara hiperbola pada radargram dan akar yang dapat dilihat (anomali permukaan) didapatkan konstanta dielektrik ε=4,9. Nilai ε=4,9 dianggap mewakili akar yang terdapat sepanjang lintasan. Peta kontur dibuat berdasarkan data jarak dan kedalaman epsilon, membantu interpretasi kondisi geologis. Akar yang berpotensi merusak ditemukan di sepanjang halaman gedung di FIS UM sebanyak 9 titik. Pada koridor gedung I2 terdapat 7 titik, koridor I3 1 titik, di taman antara gedung I2 dan I3 sebanyak 6 titik, di koridor gedung I4 sebanyak 5 titik, koridor gedung I5 sebanyak 9 titik, di koridor gedung I6 ada 8 titik. Terdapat pula perakaran pada taman sebelah utara gedung I6 sebanyak 5 titik dan 22 titik, serta koridor belakang gedung-gedung tersebut sebanyak 8 titik. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa semua daerah penelitian pada lahan gedung FIS UM teridentifikasi mengandung perakaran bawah tanah yang berpotensi merusak bangunan.

Analisis efektivitas pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri perdesaan dalam penanggulangan kemiskinan (studi kasus di Kelurahan Bajang Kecamatan Talun Kabupaten Blitar tahun 2012) / Yossy Franscisca Valentina

 

Valentina, Yossy Franscisca. 2014. Analisis Efektivitas Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Dalam Penanggulangan Kemiskinan (Studi Kasus di Kelurahan Bajang Kecamatan Talun Kabupaten Blitar Tahun 2012). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Mit Witjaksono, MS. Ed (II) : Drs. Sapir, S.Sos, M.Si Kata Kunci : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan, Kemiskinan     Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan baik melalui penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan infrastruktur kesehatan dan pendidikan. Upaya-upaya tersebut pada dasarnya telah dijabarkan pada berbagai program penanggulangan kemiskinan. Salah satu upaya pemerintah yang dilakukan untuk penganggulangan kemiskinan adalah dengan adanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang berbasis pemberdayaan masyarakat, yang dilaksanakan sejak tahun 2007 yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dapat mengurangi kemiskinan.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan di Kelurahan Bajang, 2) Hambatan yang dihadapi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dalam Penanggulangan Kemiskinan, serta upaya dalam menanggulanginya, 3) Efektivitas Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kelurahan Bajang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Bajang, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.     Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) Pelaksanaan program simpan pinjam perempuan di Kelurahan Bajang telah berjalan dengan baik, dan sangat diminati oleh warga. Program ini telah menghasilkan 9 kelompok swadaya masyarakat, yang dalam 1 kelompok terdiri dari 5 sampai 20 orang. 2) Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pinjaman bergulir adalah adanya kredit macet. Upaya menanggulanginya dengan membentuk tim pendamping lokal sebagai membina kelompok dan pengawasan. 3) Dampak adanya program simpan pinjam perempuan yaitu dana pinjaman digunakan oleh anggota untuk tambahan modal sehingga dapat meningkatkan usahanya.     Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan yaitu Program pinjaman bergulir diharapkan terus berlangsung dan berkelanjutan dalam pengentasan kemiskinan yang terjadi di Kelurahan ini. Peran Unit Pengelola Keuangan (UPK) diharapkan lebih ditingkatkan lagi dalam memonitoring Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) guna menghindari adanya kemacetan dalam pembayaran. Lebih sering mengadakan pelatihan keterampilan untuk menunjang produktivitas masyarakat.

Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang (studi kasus pada PT. TIKI Jalur Nugraha Ekakurir Pandaan, Kabupaten Pasuruan) / Ika Dhesi Kristanti

 

Perkembangan sektor jasa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Salah satu perusahaan jasa pengiriman barang yang cukup eksis di Indonesia adalah PT. TIKI JALUR NUGRAHA EKAKURIR atau yang lebih dikenal dengan JNE. Untuk dapat bersaing dengan kompetitornya diperlukan strategi pemasaran yang tepat. Salah satunya berkenaan dengan bauran pemasaran jasa yang diterapkannya. Bauran pemasaran jasa dalam penelitian ini terdiri dari tujuh elemen yaitu produk (product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion), orang (people), proses (process), dan layanan konsumen (costumer service). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: pelaksanaan bauran pemasaran jasa serta keputusan pemilihan konsumen yang melakukan pengiriman barang di JNE Pandaan, pengaruh bauran pemasaran jasa (X) baik secara parsial maupun simultan terhadap keputusan konsumen memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), promosi (X4), orang (X5), proses (X6), dan layanan konsumen (X7) serta variabel terikatnya adalah keputusan pemilihan konsumen (Y). Jenis penilitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pengiriman barang di JNE Pandaan berjumlah 913 konsumen terhitung mulai bulan Januari sampai dengan April 2007. Penentuan sampel menggunakan rumus infinite population dengan  = 5%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 73 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan Multy Stage Sampling. Tahapan pertama adalah purposive sampling dan tahap selanjutnya adalah accidental sampling untuk menyebarkan kuisioner pada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini adalah : (1) 47 responden (64,38%) menyatakan kurang setuju terhadap produk yang ditawarkan JNE Pandaan, dengan nilai B1 = - 0,035, nilai thitung = - 0,474, dan nilai sig t = 0,637, (2) 34 responden (46,56%) menyatakan kurang setuju terhadap harga (tarif) yang ditawarkan JNE Pandaan, dengan nilai B2 = 0,083, nilai thitung = 1,407, dan nilai sig t = 0,164, (3) 41 responden (56,17%) menyatakan setuju terhadap tempat JNE Pandaan, dengan nilai B3 = 0,496, nilai thitung = 3,720, dan nilai sig t = 0,000, (4) 43 responden (58,90%) menyatakan kurang setuju terhadap promosi yang dilakukan JNE Pandaan, dengan nilai B4 = 0,080, nilai thitung = 1,656, dan nilai sig t = 0,102, (5) 36 responden (49,32%) menyatakan setuju terhadap orang (karyawan) JNE Pandaan, dengan nilai B5 = 0,146, nilai thitung = 3,217, dan nilai sig t = 0,002, (6) 34 responden (46,56%) menyatakan kurang setuju terhadap proses yang dilakukan JNE Pandaan, dengan nilai B6 = 0,423, nilai thitung = 3,381, dan nilai sig t = 0,001, (7) 30 responden (41,09%) menyatakan setuju terhadap layanan konsumen yang diberikan JNE Pandaan, dengan nilai B7 = 0,009, nilai thitung = 0,118, dan nilai sig t = 0,906. Terdapat pengaruh secara signifikan tempat (X3), orang (X5), dan proses (X6) secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan. Sedangkan tidak terdapat pengaruh secara sinifikan produk (X1), harga (X2), promosi (X4), layanan konsumen (X7) secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan. Terdapat pengaruh produk (X1), harga (X2), tempat (X3), promosi (X4), orang (X5), proses (X6), dan layanan konsumen (X7) secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan berdasarkan nilai Fhitung sebesar 29,120 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sub variabel dari bauran pemasaran jasa yang dominan berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam memilih perusahaan jasa pengiriman barang JNE Pandaan adalah tempat dengan nilai sumbangan efektif sebesar 17,56% selain itu diketahui Adjusted R2 = 0,732 yang berarti korelasi/ hubungan antar variabel bebas adalah kuat. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) mayoritas responden sebanyak 64,38% menyatakan kurang setuju terhadap produk yang ditawarkan JNE Pandaan, (2) mayoritas responden sebanyak 46,56% menyatakan kurang setuju terhadap harga (tarif) yang ditawarkan JNE Pandaan, (3) mayoritas responden sebanyak 56,17% menyatakan setuju terhadap tempat JNE Pandaan, (4) mayoritas responden sebanyak 58,90% menyatakan kurang setuju terhadap promosi yang dilakukan JNE Pandaan, (5) mayoritas responden sebanyak 49,32% menyatakan setuju terhadap orang (karyawan) JNE Pandaan, (6) mayoritas responden sebanyak 46,56% menyatakan kurang setuju terhadap proses yang dilakukan JNE Pandaan, (7) mayoritas responden sebanyak 41,09% menyatakan setuju terhadap layanan konsumen yang diberikan JNE Pandaan. Secara parsial ada pengaruh positif signifikan tempat, proses, dan layanan konsumen terhadap keputusan pemilihan konsumen. Sedangkan secara simultan ada pengaruh positif signifikan produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan layanan konsumen terhadap keputusan pemilihan konsumen. Sedangkan sub variabel bauran pemasaran jasa yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pemilihan konsumen adalah tempat. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Adanya standardisasi dalam layanan pengiriman barang yang variatif sehingga standar pelayanan yang diberikan di seluruh cabang JNE relatif sama sehingga akan menciptakan kepuasan konsumen, (2) Perusahaan hendaknya menyesuaikan harga yang mahal dibanding perusahaan lokal sejenis dengan memberikan pelayanan yang berkualitas karena harga menjadi indikasi dari kualitas jasa suatu perusahaan, (3) Promosi dilakukan dengan membuat situs di internet juga memasang brosur yang berisi segala informasi mengenai JNE Pandaan di tempat-tempat strategis, (4) Layanan konsumen hendaknya juga disertai dengan memberikan jaminan keamanan barang, baik keutuhan barang maupun keamanan saat pengiriman karena pembungkus barang seringkali sudah terbuka ketika sampai di tujuan.

Efektivitas penggunaan media pembelajaran movie maker pada mata pelajaran Melakukan Pengiriman atau Ppenyerahan Produk (MPP) pada siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Turen / Ana Muthmainnah

 

Penerpan model pembelajaran cooperative integrated reading and compsition (CIRC) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Balearjosari 2 Malang / Puguh Hadi Ismanto

 

Kata Kunci : CIRC, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, PKn SD Pembelajaran PKn sangat penting bagi anak, karena membentuk watak dan karakteristik warga negara yang baik.Berdasarkan dokumentasi nilai, rata-rata nilai PKn siswa adalah 52,56 ketuntasan klasikal hanya 43,76 %, hal ini masih di bawah ketuntasan individu yaitu 65, dan ketuntaan klasikal 70 %. Berdasarkan observasi awal siswa kelas V SDN Balearjosari 2 cenderung pasif dalam pembelajaran PKn. Hal ini dikarenakan pembelajaran masih menggunakan cara tradisional/konvensional. Metode yang digunakan lebih banyak ceramah, sehingga guru berperan aktif dalam pembelajaran dan siswa cenderung menghafal materi. Oleh karena itu diperlukan sebuah sebuah model pembelajaran CIRC. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran CIRC pada pembelajaran PKn siswa kelas V SDN Balearjosari 2; (2) mendiskripsikan peningkatan aktivitas siswa kelas V SDN Balearjosari 2 melalui penerapan model pembelajaran CIRC; (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Balearjosari 2 melalui penerapan model pembelajaran CIRC. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Balearjosari 2 meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus berikutnya. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan CIRC dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn. Aktivitas siswa meningkat. Siswa lebih aktif dan antusias selama proses pembelajaran, ini terlihat dari rata-rata nilai aktivitas siswa pada siklus I adalah 68,80 menjadi 72,50 pada siklus II. Dari nilai pratindakan rata-rata 52,56 meningkat pada siklus I menjadi 69,28 dan meningkat menjadi 73,65 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan CIRC dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn pokok bahasan NKRI siswa kelas V SDN Balearjosari Malang. Penerapan model pembelajaran CIRC dilakukan dengan guru menjelaskan materi dengan singkat, siswa saling membacakan wacana dan menemukan ide pokok, dan siswa mengerjakan soal evaluasi. Saran CIRC dapat diterapkan dikelas tinggi dengan kompetensi dasar yang lain serta pembagian kelompok dibagi secara heterogen.

Persuasi dalam brosur produk komputer / Mochammad Zainy

 

Dunia periklanan di Indonesia berkembang pesat, seiring kemajuan teknologi maupun perkembangan lainnya.Iklan yang terletak di media massa, daya persuasinya terletak pada bahasa. Persuasi merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengubah keyakinan, nilai, ataupun sikap orang lain tersebut. Iklan mempunyai daya persuasi yang tinggi. Daya persuasi tersebut dapat dikaji dari segi bahasa yang meliputi diksi dan gaya bahasa. Dalam penelitian ini, masalah yang diangkat adalah kekhasan diksi, gaya bahasa, ungkapan dan teknik persuasi dalam brosur produk komputer. Sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan diksi, gaya bahasa, ungkapan dan aspek-aspek persuasi yang terdapat dalam brosur produk komputer. Pembagian jenis iklan bermacam-macam, tergantung sudut pandang yang digunakan untuk melihatnya. Bila dilihat dari segi fungsi dan tujuan sponsor, iklan yang diteliti termasuk jenis iklan produk. Yang dimaksud iklan produk yaitu iklan yang menonjolkan manfaat suatu produk. Pada iklan produk yang ditemukan dalam brosur komputer, terdapat banyak penggunaan diksi, gaya bahasa, ungkapan dan aspek-aspek persuasi yang diteliti dan dicermati lagi penggunaannya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata dan bukan angka-angka. Data penelitian ini berasal dari iklan yang terdapat dalam brosur produk komputer. Instrumen dalam penelitian ini adalah penulis sendiri. Data dikumpulkan dengan menggunakan kisi-kisi penjaring data berupa tabel. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara induktif. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa diksi dalam iklan brosur produk komputer meliputi; 1) diksi dengan teknik gagasan (bujukan) dengan hadiah dan bujukan tanpa hadiah, 2) diksi dengan teknik membungkus (packing), 3) diksi dengan teknik menempel. Gaya bahasa yang ditemukan meliputi; 1) moral appeals (gaya bahasa erotis, hiperbola, sinekdoke), 2) emotional appeals (gaya bahasa asindeton, polisindeton, aliterasi, simile), dan 3) rational appeals. Ungkapan yang ditemukan terdapat banyak ungkapan kepuasan atau luapan kegembiraan. Sedangkan teknik persuasi yang banyak dimunculkan meliputi; 1) memerintah menggunakan produk secara langssung atau tidak langsung, 2) memuji keunggulan produk (manfaat produk bagi pemakai produk), 3) menjelaskan kandungan produk, 4) menghina produk lain, 5) menegaskan nama produk. Peneliti menyarankan kepada para pembaca agar dapat memanfaatkan hasil penelitian ini yaitu menambah wawasan tentang iklan-iklan yang kini banyak beredar, juga bagi para pengiklan, calon konsumen, guru bahasa Indonesia, dan peneliti selanjutnya.

Pengembangan modul pembelajaran berbasis kontekstual bermuatan nilai karakter bangsa untuk kelas XII SMK PGRI 3 Blitar / Selvi Nindia Mei

 

Mei, Selvi Nindia. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Kontekstual Bermuatan Nilai Karakter Bangsa Untuk Kelas XII SMK PGRI 3 Blitar. Skripsi, Prodi Pendidikan Akuntansi. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sulastri, S.Pd, M.SA, (II) Dr. Suparti, MP. Kata Kunci: Pengembangan, Modul Kontekstual, Nilai Karakter Bangsa.     Untuk menunjang kegiatan pembelajaran guru harus mampu merancang sebuah pembelajaran yang memberikan pengetahuan teoritis, praktik maupun moral secara seimbang. Berdasarkan hasil observasi di SMK PGRI 3 Blitar pembelajaran disekolah tersebut belum menggunakan modul buatan guru. Bahan ajar yang dipakai juga belum sesuai dengan karakteristik siswa yang berkaitan dengan tingkat pemahaman maupun kondisi kontekstual di daerah siswa. Penerapan nilai karakter pada siswa juga masih kurang, berdasarkan wawancara dengan guru bahwa masih banyak siswa yang tidak jujur saat ujian dan kurang antusias dalam belajar. Oleh karena itu pengembang membuat alternatif bahan ajar yang digunakan sebagai pembelajaran siswa secara mandiri, kontekstual, dan penambahan nilai karakter yang diharapkan bisa membentuk karakter siswa dengan baik.     Tujuan pengembangan modul ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar berupa modul berbasis kontekstual bermuatan nilai karakter bangsa pada pokok bahasan menyusun laporan keuangan perusahaan dagang untuk kelas XII SMK PGRI 3 Blitar.     Berdasarkan modifikasi dari model pengembangan Borg & Gall yang melandasi pengembangan modul akuntansi ini yaitu: (1) Analisis Kebutuhan, (2) Mengembangkan produk awal, (3) validasi oleh ahli, (4) Revisi Produk I, (5) Uji coba lapangan terbatas, (6) Revisi Produk II, (7) Produk Akhir. Pengembangan modul akuntansi ini diujicobakan kepada 10 siswa kelas XII Akuntansi SMK PGRI 3 Blitar sebagai pengguna modul. Pengumpulan data uji kevalidan menggunakan instrumen angket yang divalidasikan kepada ahli materi yaitu guru minimal S1 dibidang akuntansi, ahli desain pembelajaran dosen pengembangan media pembelajaran akuntansi yang telah menempuh pendidikan minimal S2.     Hasil pengembangan ini adalah modul akuntansi berbasis kontekstual bermuatan nilai karakter bangsa pada pokok bahasan menyusun laporan keuangan perusahaan dagang. Hasil uji kelayakan diperoleh 92,9% untuk validasi materi, 91,4% untuk validasi desain pembelajaran, dan 92,9% untuk uji coba lapangan terbatas. Dapat disimpulkan bahwa modul telah valid atau layak digunakan sebagai bahan ajar.     Berdasarkan hasil pengembangan disarankan agar modul ini dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam kelas yang didampingi oleh guru maupun digunakan untuk belajar mandiri dirumah, dan dapat digunakan sebagai referensi pengembangan modul pada materi yang lain.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif team assisted individualization (TAI) pada siswa kelas IV SDN Tegalsari 03 Kabupaten Blitar / Eny Siswanti

 

Keywords: Learning Outcomes, KPK, Cooperative TAI The purpose of this study to know the (1) describe the application of cooperative learning model of Team Assisted Individualization (TAI) in the learning of mathematics at the fourth grade students of SDN 03 Tegalasri Blitar district (2) describes the increase in the learning of mathematics at the fourth grade students of SDN 03 counties Tegalasri Blitar through cooperative learning model of Team Assisted Individualization (TAI). This study uses a type of classroom action research (PTK). The stages in the research include the planning, implementation, observation, and reflection. The results are: (1) the application of cooperative learning model of TAI in learning mathematics, (2) Improvement of learning mathematics through cooperative learning model of TAI.

Pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa (studi kasus di SMK Negeri 1 Turen) / Frigia Vevirenika Isudibyo

 

Isudibyo, Frigia Vevirenika. 2014. Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Sebagai Pusat Sumber Belajar Siswa (Studi Kasus Di SMK Negeri 1 Turen). Skripsi, Prodi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Sutrisno, M.M., Pembimbing (II) Handri Dian Wahyudi, S.Pd, S.E, M.Sc. Kata Kunci: pemanfaatan, perpustakaan sekolah, pusat sumber belajar Siswa Perpustakaan adalah salah satu prasarana yang harus dipenuhi untuk mendukung proses pembelajaran dalam setiap satuan pendidikan. Penyelenggaraan perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai penunjang kegiatan pembelajaran, karena perpustakaan sekolah dapat dijadikan sebagai salah satu pusat sumber belajar bagi siswa dalam memberikan berbagai macam pengetahuan. Penelitian di SMK Negeri 1 Turen ini dilaksanakan dengan tujuan (1) Mendiskripsikan bagaimana pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa, (2) Mendiskripsikan upaya peningkatan pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa, dan (3) Mendiskripsikan faktor-faktor yang menghambat dan mendukung pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah narasumber (Informan) yaitu Humas SMK Negeri 1 Turen, petugas perpustakaan, penanggung jawab perpustakaan, guru, dan siswa, peristiwa yang diamati secara langsung, dan dokumen. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi, dan kuesioner. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh kesimpulan bahwa: 1) Siswa-siswi SMK Negeri 1 turen memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, dengan memanfaatkan pelayanan dan bahan pustaka yang ada. Hal tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan SMK Negeri 1 Turen sudah dimanfaatkan oleh siswa sebagai pusat sumber belajar untuk mencapai tujuan belajar dalam proses pembelajaran di sekolah, namun pemanfaatan tersebut belum dilakukan secara optimal dikarenakan perpustakaan memiliki ruangan yang kurang memadai. 2) Berbagai macam upaya untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa, sudah dilakukan agar siswa-siswi SMK Negeri 1 Turen termotivasi dan terdorong untuk lebih memaksimalkan pemanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Upaya peningkatan tersebut dilakukan baik oleh petugas dan penanggung jawab perpustakaan, guru, dan sekolah. 3) Faktor penghambat dalam pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar di SMK Negeri 1 Turen adalah adanya bahan pustaka yang belum memadai, adanya fasilitas perpustakaan yang belum memadai, serta kurangnya jam istirahat untuk berkunjung ke perpustakaan. Sedangkan faktor pendukung dalam pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa di SMK Negeri 1 Turen adalah adanya berbagai macam pelayanan yang memudahkan siswa, adanya tugas yang diberikan oleh guru, serta terdapat sebagian buku yang dapat menunjang pembelajaran.

Identifikasi kesalahan penulisan kalimat efektif pada siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu / Hadi Widodo

 

Kata Kunci : penulisan, kalimat efektif, bahasa Indonesia, sekolah dasar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tulisan hasil karya siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu yang ditempel di papan pajangan banyak menggunakan kalimat-kalimat yang tidak efektif. Oleh sebab itu, diperlukan adanya penggambaran tentang kemampuan menulis kalimat efektif siswa, di antaranya adalah gambaran kesalahan-kesalahan penulisan kalimat efektif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui adanya kesalahan yang dilakukan siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu dalam penulisan kalimat efektif, (2) Menemukan letak kesalahan siswa Kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu dalam penulisan kalimat efektif, dan (3) Mendeskripsikan penyebab kesalahan penulisan kalimat efektif siswa Kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Deskriptif Kualitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu dengan jumlah siswa sebanyak 31 anak. Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari persiapan, pengumpulan data, analisis data, penyajian data, pembahasan, dan penyimpulan. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, analisis hasil tes, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis hasil tes karya tulis siswa. Kesimpulan penelitian ini adalah ditemukan kesalahan penulisan kalimat efektif pada hasil karya tulis siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu. Letak kesalahan itu adalah 33 kesalahan pada aspek kesepadanan struktur, 2 kesalahan pada aspek keparalelan, 1 kesalahan pada aspek ketegasan, 13 kesalahan pada aspek kehematan, 26 kesalahan pada aspek kecermatan, 19 kesalahan pada aspek kepaduan, dan 13 kesalahan pada aspek kelogisan. Penyebab kesalahan penulisan kalimat efektif siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu adalah (1) materi kalimat efektif sulit untuk siswa, (2) proses pembelajaran kalimat efektif tidak berjalan dengan baik, (3) siswa kurang konsentrasi pada saat pembelajaran sedang berlangsung, dan (4) kompetensi menulis kalimat efektif yang dimiliki guru masih kurang. Dapat disimpulkan bahwa ditemukan kesalahan-kesalahan penulisan kalimat efektif oleh siswa kelas VB SDN Pendem 02 Junrejo Kota Batu. Saran yang diberikan peneliti kepada para guru dan peneliti lain adalah (1) guru hendaknya di dalam proses pembelajaran kalimat efektif dapat membuat siswa merasa nyaman (2) guru perlu menggunakan teknik, metode, dan strategi yang tepat agar pembelajaran kalimat efektif dapat berjalan dengan baik.

Pelaksanaan strategi promosi dalam upaya untuk memperkenalkan produk pada PR. Jaya Makmur Panarukan-Kepanjen / Shinta Dynasti M.

 

Dalam dunia perdagangan, persaingan merupakan salah satu permasalahan yang cukup penting, dimana berkaitan dengan penjualan atau pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Persaingan yang semakin ketat menimbulkan konsekwensi bagi setiap perusahaan agar lebih unggul dalam persaingan guna meningkatkan usahanya. Selain itu, perusahaan juga dituntut untuk memanfaatkan peluang pasar yang ada dengan memenuhi kebutuhan konsumen. PR. Jaya Makmur memiliki kompetitor dan menghasilkan produk yang sama fungsinya dengan kelebihan hampir sama. Mengingat PR. Jaya Makmur sebagai perusahaan yang sedang berkembang, penerapan strategi promosi sangat penting dilakukan untuk memperkenalkan produknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi promosi yang digunakan oleh PR. Jaya Makmur, faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh PR. Jaya Makmur dalam menetukan strategi promosi yang digunakan untuk memperkenalkan produknya, selain tiu juga untuk mengetahiu faktor-faktor yang mendukung dan yang menghambat selama kegiatan promosi di PR. Jaya Makmur. Strategi yang digunakan oleh PR. Jaya Makmur Kepanjen dalam memperkenalkan produknya dengan media periklanan, promosi penjualan, penjualan pribadi, dan hubungan masyarakat. PR. Jaya Makmur Kepanjen dalam menentukan strategi promosi yang akan diterapkan dipengaruhi beberapa faktor, yaitu (1) situasi; (2) pasar sasaran; (3) tahap siklus hidup produk; (4) strategi dorong lawan strategi tarik. Dalam pelaksanaan kegiatan promosi ini kekompakan, kretifitas tim manajemen, kualitas kerja dari sales force, serta sarana dan prasarana yang lengkap sangat menunjang pelaksanaan kegiatan promosi. Sedangkan hal yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan promosi ini terkait dengan biaya promosi yang cukup besar sehingga manajemen harus lebih selektif, masalah intern yang mengganggu kegiatan promosi. Untuk itu dalam setiap penggambilan kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan maupun manajemenm hendaknya dikomunikasikan terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat menghambat kerja dari manajemen

Peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa siswa kelas viii SMP Negeri 1 Kediri dengan metode diskusi kelompok kecil / Riko Setiyoko

 

Kata kunci: kemampuan berbicara, bahasa Jawa, metode diskusi kelompok kecil. Kemampuan berbicara adalah suatu kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan secara lisan yang melibatkan aspek kemampuan berbahasa. Siswa berkewajiban mengasah kemampuannya dalam berbicara sehingga guru pengajar memerlukan metode yang tepat dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Salah satu metode yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah metode diskusi kelompok kecil. Melalui metode tersebut, siswa dapat mengumpulkan bahan informasi, mempelajari bahan informasi, dan mengondisikan aktif berbicara bahasa Jawa dengan menceritakan tokoh idolanya kepada anggota kelompok kecil. Oleh karena itu, salah satu upaya yang digunakan untuk peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kediri adalah dengan metode diskusi kelompok kecil. Fokus penelitian dibatasi pada upaya peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kediri dengan metode diskusi kelompok kecil. Tujuan penelitian ini adalah (1) peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa berdasarkan aspek isi, (2) peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa berdasarkan aspek penggunaan bahasa, dan (3) peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa berdasarkan aspek performansi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Sumber data berasal dari aktivitas pembelajaran berbicara bahasa Jawa siswa kelas VIII-C SMPN 1 Kediri dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil. Prosedur penelitian tindakan terdiri atas lima tahapan. Tahapan tersebut adalah (1) studi pendahuluan, (2) rencana tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, dan (5) refleksi. Data penelitian bersumber dari hasil penelitian siklus I dan siklus II. Data penelitian terbagi menjadi dua data. Data tersebut adalah data proses dan data hasil. Data proses adalah data aktivitas siswa dalam pembelajaran. Data hasil adalah data hasil praktik berbicara siswa berdasar aspek isi, aspek penggunaan bahasa, dan aspek performansi. Analisis data dilakukan dalam lima tahapan. Tahapan tersebut adalah (1) identifikasi data, (2) klasifikasi data, (3) kodifikasi data, (4) penyajian data, dan (5) penarikan simpulan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa berdasarkan aspek isi yang dipilah berdasarkan aspek kelengkapan isi, aspek keruntutan isi, dan aspek kepaduan isi. Dari aspek kelengkapan isi, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 30,00%. Dari aspek keruntutan isi, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 20,00%. Dari aspek kepaduan isi, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 20,00%. Ada peningkatan i kemampuan berbicara bahasa Jawa siswa kelas VIII dengan metode diskusi kelompok kecil berdasarkan aspek penggunaan bahasa yang dipilah berdasarkan aspek kejelasan pelafalan, ketepatan pelafalan, jeda, nada, intonasi, pilihan kata, dan keefektifan kalimat. Dari aspek kejelasan pelafalan, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 3,33%. Dari aspek ketepatan pelafalan, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 20,00%. Dari aspek jeda, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 33,33%. Dari aspek nada, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 6,67%. Dari aspek intonasi, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 20,00%. Dari aspek pilihan kata, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 16,67%. Dari aspek keefektifan kalimat, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 16,67%. Ada peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa siswa kelas VIII dengan metode diskusi kelompok kecil berdasarkan aspek performansi yang dipilah berdasarkan aspek gestur, aspek mimik, dan aspek kelancaran. Dari aspek gestur, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 36,67%. Dari aspek mimik, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 3,33%. Dari aspek kelancaran, ada peningkatan kemampuan siswa berbicara bahasa Jawa sebesar 3,33%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, guru mata pelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah disarankan dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran bahasa Jawa dengan metode diskusi kelompok kecil. Pelaksana penelitian selanjutnya disarankan untuk mengadakan penelitian pembelajaran berbicara dengan metode diskusi kelompok kecil pada rumusan masalah yang berbeda. Pembaca penelitian dapat menggunakan penelitian ini sebagai tambahan informasi, khususnya informasi tentang peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa.

Studi perbandingan efektivitas pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) antara sekolah negeri dengan sekolah swasta (studi lapangan di Kota Malang) / Candra Krisnadi Anshori

 

Dana BOS merupakan bantuan pemerintah pusat kepada seluruh siswa Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah se-Indonesia baik negeri maupun swasta atas pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). BOS bertujuan untuk memberikan bantuan kepada sekolah dalam rangka membebaskan iuran siswa, tetapi sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Pelaksanaan pengelolaan dana BOS adalah suatu keberhasilan sekolah dalam mengelola dana BOS melalui suatu proses kerjasama yang sistematis mulai dari perencanaan, penggunaan sampai dengan pertanggungjawabannya untuk mendukung kelancaran dari semua program pendidikan yang ada. Populasi penelitian ini adalah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama baik swasta maupun negeri se-Kota Malang. Sedangkan sampel yang diambil sebanyak 40 sekolah dimana terdiri dari 10 sekolah dasar negeri, 10 sekolah dasar swasta, 10 sekolah menengah pertama negeri dan 10 sekolah menengah pertama swasta. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pengelolaan dana bantuan operasioanal sekolah di sekolah negeri dan swasta kemudian membandingkannya. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif. Teknik yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan persentase, yaitu data yang bersifat kualitatif dikuantitatifkan terlebih dahulu dengan memberikan skor-skor untuk kemudian dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan sehingga diperoleh persentase lalu ditafsirkan ke dalam kalimat yang bersifat kualitatif. Penelitian ini juga menggunakan (One Sampel Kolmogorov-Smirnov Test) melalui bantuan program SPSS 12.00 for Windows. Dan jyga menggunakan uji perbedaan rata-rata (mean) untuk mengetahui perbedaan dari efektivitas pengelolaan dana BOS antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Hasil penelitian ini adalah pelaksanaan pengelolaan dana BOS di sekolah negeri menunjukkan angka yang sangat tinggi empat sekolah, angka tinggi terdapat 15 sekolah, sedang satu sekolah sementara untuk kategori rendah dan sangat rendah tidak ada. Sedangkan untuk sekolah swasta untuk kategori sangat tinggi ada satu sekolah, untuk kategori tinggi ada tiga sekolah, untuk kategori sedang ada tiga belas sekolah, untuk kategori rendah ada tiga sekolah dan kategori sangat rendah tidak ada. Variabel pelaksanaan pengelolaan dana BOS pada sekolah negeri terdistribusi dengan normal. Hal ini terbukti dengan nilai probabiltas di atas 5% atau 0,05 (0,920 > 0,05). Dan variabel pelaksanaan pengelolaan dana BOS pada sekolah swasta terdistribusi dengan normal. Hal ini terbukti dengan nilai probabiltas di atas 5% atau 0,05 (0,690 > 0,05). Terdapat perbedaan pelaksanaan pengelolaan dana BOS antara sekolah negeri dan sekolah swasta hal ini dibuktikan dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,004 < 0,05. Kesimpulan terdapat perbadaaan pelaksanaan pengelolaan dana BOS antara sekolah negeri dan sekolah swasta, tingkat pelaksanaan pengelolaan dana BOS di sekolah negeri lebih tinggi daripada pelaksanaan pengelolaan dana BOS di sekolah swasta. Saran yang dapat diberikan bagi bendahara BOS hendaknya selalu membuat laporan yang transparan dan melaporkan semua pengeluaran yang dilakukan dengan dana BOS tersebut.

Pengaruh minat dalam memilih program studi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Fenny Ariyanti

 

Mahasiswa sudah tentu ingin mencapai prestasi belajar yang optimal. Prestasi belajar yang optimal merupakan jalan yang dapat memudahkan proses kelanjutan studi dan dalam mencapai cita-cita. Sama halnya dengan usaha untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal, usaha untuk mengatasi kesulitan belajar pun tidak mudah dilakukan. Hal ini disebabkan proses belajar merupakan suatu proses yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana minat dalam memilih program studi dan motivasi belajar mempengaruhi prestasi belajar. Penelitian ini mempunyai 2 variabel bebas (X) minat dalam memilih program studi (X1) dan motivasi belajar (X2) dan variabel terikat (Y) prestasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan memiliki tingkat minat yang tinggi dalam memilih program studi yaitu 31 dari 48 mahasiswa atau 64,58%. (2) mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang memiliki tingkat motivasi belajar yang tinggi yaitu , terdapat 41 dari 48 mahasiswa atau 85.817%yang memiliki motivasi belajar tinggi (3) mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan memiliki prestasi belajar yang baik yaitu 37 dari 48 mahasiswa atau 77,08% mempunyai prestasi belajar dalam kategori (4) Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara minat dalam memilih program studi terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran sebesar 32% (5) Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran sebesar 25,2%. (6) Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara minat dalam memilih program studi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi Administrasi Perkantoran sebesar 50,6 %. Fakultas Ekonomi diharapkan meningkatkan kualitas sarana pembelajaran dan menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga mahasiswa termotivasi untuk belajar. Fakultas Ekonomi hendaknya aktif memberikan informasi terhadap SMU tentang program studi pendidikan Administrasi Perkantoran, sehingga menumbuhkan minat memilih pada siswa sejak dini. Peneliti selanjutnya hendaknya mengembangkan penelitian ini dengan meneliti indikator lainnya.

Pengaruh temperatur sintering terhadap pembentukan senyawa polikuasikristal AlxCu0,85-xFe0,15 dan karakteristiknya / Febrina Hariana Gultom

 

Kuasikristal merupakan padatan yang tidak memiliki periodesitas, seperti yang ditunjukkan oleh kristal biasanya dan memiliki sudut putar selain n = 1, 2, 3, 4, dan 6 pada simetri rotasi 3600/n, atau memiliki simetri putar dengan n = 5, 8, 10, 12,15. Kuasikristal memiliki keunikan yaitu kekerasan yang tinggi, energi permukaan yang rendah yang disertai dengan nilai koefisien gesek yang rendah, tahan terhadap korosi, tahan terhadap oksidasi, tahan aus, tahan terhadap goresan, konduktivitas termal dan listrik rendah. Paduan kuasikristal dimanfaatkan untuk produk?produk komersil seperti pelapis, peralatan bedah, alat cukur listrik, peralatan untuk komponen listrik, pelindung permukaan hard disk, sebagai komponen matriks logam, tanki penyimpan hidrogen, sensor inframerah dan lain sebagainya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah paduan AlxCu0,85-xFe0,15 dengan komposisi x = 0,60; x = 0,65; x = 0,70 dan x = 0,75. Sintesis menggunakan reaksi padatan. Variasi temperatur sintering yang digunakan Ts = 5000C; 8000C; 9500C dengan waktu sintering masing-masing 4 jam. Sampel diuji kekerasan dan mikrostrukturnya. Kekerasan diuji dengan menggunakan Mikrovickers. Struktur kristalnya dikarakterisasi menggunakan X-RD, kemudian data difraksi dianalisis menggunakan metode phase matching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu sintering Ts = 5000C; 8000C; 9500C lama sintering masing-masing 4 jam terbentuk senyawa polikuasikristal Al0,65Cu0,20Fe0,15. Sedangkan pada komposisi x = 0,60 dengan Ts = 5000C dan x = 0,65 dengan Ts = 8000C; 9500C memiliki kekerasan yang paling tinggi. Nilai kekerasan bahan cenderung turun pada Ts = 8000C dan meningkat pada temperatur sintering 9500C. Dari mikrostruktur bahan dapat diketahui ukuran butiran dan bentuk butiran. Selain itu ditemukan bahwa perbedaan komposisi mempengaruhi mikrostruktur bahan.

Perbedaan harga saham, volume perdagangan saham dan bid-ask sebelum dan sesudah pengumuman dividen di Bursa Efek Jakarta tahun 2007 (studi kasus pada perusahaan keuangan yang listing di Bursa Efek Jakarta) / Sefti Herdianingsih

 

Syarat utama yang diinginkan oleh pihak investor untuk menyalurkan dananya melalui media pasar modal adalah perasaan aman akan investasinya, sebab investor dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi cukup rasional karena mereka tidak mau mengambil keputusan dengan hanya berspekulasi. Keberadaan suatu informasi dapat mengurangi ketidakpastian yang terjadi dalam pengambilan suatu keputusan sehingga diharapkan keputusan yang ada akan sesuai dengan tujuan utamanya. Pengumuman dividen merupakan bagian dari informasi yang tersebar dan terserap pada pasar cukup kuat sehingga cepat direaksi oleh pihak investor karena erat hubungannya dengan usaha pihak investor untuk memaksimumkan return. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kondisi harga saham, volume perdagangan saham dan bid ask spread sebelum dan sesudah pengumuman pada perusahaan keuangan dividen di Bursa Efek Jakarta tahun 2007 yang merupakan sebagian dari informasi itu. Sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh kemampuan peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang listing di BEJ. Sedangkan metode pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi. Analisis datanya memakai analisis statistik deskriptif, analisis inferensial yaitu memakai uji normalitas dan uji hipotesisnya mempergunakan metode uji beda (uji t) dengan Paired Differnces t Test. Dari hasil penelitian diketahui bahwa (1)Terdapat perbedaan yang signifikan antara saham (price) sebelum dan sesudah pengumuman dividen, (2) Terdapat perbedaan yang signifikan antara volume perdagangan saham pada masa sebelum dan sesudah pengumuman dividen, (3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara bid-ask spread pada masa sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Kesimpulannya setelah diadakan penelitian hasil uji t menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan besarnya saham, volume perdagangan saham, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Hal ini berarti bahwa pengumuman dividen mempunyai pengaruh terhadap perubahan harga saham saham, volume perdagangan saham dan bid-ask spread , atau dengan kata lain bahwa pengumuman dividen mengandung informasi bagi investor. Bagi investor dan calon investor dalam berinvestasi di pasar modal sebaiknya para investor dan calon investor selalu memperhatikan dan memanfaatkan pengumuman dividen dalam membeli dan menjual saham agar terhindar dari kerugian.

Postcolonial reading of Kazuo Ishiguro's a Pale View of Hills / Laili Dian Rahmawati W.N.

 

Nurkhasanah, Laili D.R.W. 2012. Postcolonial Reading of Kazuo Ishiguro’s ‘A Pale View of Hills’. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Kukuh P. Subagyo, M.A. Keywords: western idealization, alienation, mimicry, resistance A Pale View of Hills is an interesting novel written by Kazuo Ishiguro. Western idealization is represented sufficiently in the work. The main character, Etsuko, narrates the story of both her earlier life in Japan and her present life in England. She recollects her past concerning her relationship with Sachiko and Mariko as well as Ogata-san and Jiro. This study aims to reach an understanding and detailed explanation about Etsuko’s recollections. The truth beneath the very suspicious acts of hers is the focus of this study. Implementing postcolonialism in generating meanings of the novel, this thesis attempts to show the text’s resistance against Western domination in one side. Moreover, the project digs out the second side of the text, which is the novel’s surrender to the power of Western idealization. Postcolonial approach is used in order to explore the issue further. The branches of postcolonial concept such as alienation and mimicry are also elaborated in this study to read Etsuko’s behavior. In addition, theory of resistance is also significant to make the research able to achieve its objectives. From the analysis, it is revealed that the novel implicitly shows the destructive effect of dominancy, specifically Western supremacy. Moreover, Etsuko’s feeling of regret justifies how tragic possibly life can do towards those minorized and displaced people. Surprisingly, the story of which Etsuko suffers from the alienation and homeward bound convey the submission and challenge, as well, toward Western hegemony. The hope and expectation of the migrant bride, as shown by the text, is crushed and burnt into ashes when she already moves abroad. It proves the presence of dualism within the novel. From the representations, it is justifiable to say that the novel struggles in challenging the so-called Western idealization; while at the same time surrenders to it. These ambivalences ought to be understood in attempt to reach a complete interpretation of Kazuo Ishiguro’s A Pale View of Hills.  

Analisis kegiatan usaha bercocok tanam (studi kasus) pada petani di Desa Sukonolo Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang / Khamim Zarkasi

 

Negara Indonesia sebagai negara yang bercorak agraris sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Keberhasilan usaha tani tidak hanya ditentukan petani selaku produsen tetapi juga sangat tergantung pada kondisi alam, begitu juga dengan tingkat harga yang sering mengalami fluktuasi menyebabkan pendapatan yang diperoleh petani tidak menentu. Pasar bebas merupakan beban sekaligus tantangan bagi petani karena produk pertanian dari negara asing bebas masuk kedalam negeri tanpa adanya tarif maupun kuota, dikatakan sebagai tantangan karena produk negara asing dapat dijadikan tolak ukur bagi para petani agar lebih termotivasi untuk meningkatkan mutu maupun produktifitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang pemilihan jenis tanaman oleh petani, gambaran proses produksi, pendapatan yang diterima petani dan jenis tanaman yang dapat memberikan keuntungan paling besar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yang bersifat kualitatif diskriptif, informan kunci dalam penelitin ini adalah petani padi, petani cabe merah, petani tomat, petani ketimun, petani tebu dan ketua kelompok tani. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan meliputi: mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan.Untuk keperluan pengecekan keabsahan data digunakan; perpanjangan keikutsertaan peneliti, penggunaan teknik triangulasi dan ketekunan pengamatan. Dari analisis data dapat diketahui bahwa yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman dari masing-masing petani antara lain petani padi yaitu teknik bercocok tanamnya sederhana, tidak terlalu banyak memerlukan pekerjaan, ada petugas pengairan tersendiri. Petani cabe merah; karena sudah terbiasa dan mempunyai pengalaman yang cukup tentang teknik bercocok tanam cabe merah, berharap dengan menanam cabe merah mendapatkan harga yang mahal. Petani tomat; produktifitas yang dihasilkan sangat besar, cara bercocok tanamnya tidak terlalu sulit. Petani ketimun; menghindari kebosanan menanam satu jenis tanaman tertentu, tidak memerlukan biaya yang banyak, perawatannya juga tidak terlalu sulit. Petani tebu; hasil bercocok tanam palawija kurang begitu memuaskan bahkan sering mangalami kerugian yang disebabkan murahnya harga pada waktu panen, harga tebu relatif stabil. Proses produksi pada kegiatan usaha tani melibatkan empat komponen yaitu tanah/lahan pertanian yang digunakan petani menanam berbagai jenis tanaman adalah lahan sawah, kedua tenaga kerja,yang dipekerjakan setiap petani sebanyak 2-3 orang sistem upah yang diterapkan upah borongan dan harian. Ketiga modal, yang digunakan petani modal pribadi saja ada pula yang menggunakan modal pribadi dan pinjaman, besarnya modal petani padi Rp 425.000 petani cabe merah Rp 5.000.000 petani tomat Rp 2.800.000 petani ketimun Rp 1.500.000 dan petani tebu Rp 3.500.000. Keempat teknik produksi yang terdiri dari beberapa tahap antara lain tahap pembibitan, pengolahan tanah, penanaman bibit, pemeliharaan dan pemanenan. Produk yang secara umum dihasilkan petani meliputi padi, cabe merah, tomat, ketimun dan tebu. Pendapatan yang diterima oleh petani adalah bervariasi sesuai dengan jenis tanaman yang ditanamnya, pendapatan yang paling besar diperoleh petani tebu sebesar Rp 2.522.200 ditambah simpanan di KUD Rp 235.000 dan gula sebanyak 263 kg, kedua petani padi Rp 769.000, sedangkan petani palawija kesemuanya menglami kerugian, adapun kerugian yang diderita masing-masing petani yaitu petani cabe merah Rp 423.950, petani tomat Rp 388.250, petani ketimun Rp 246.400. Dengan memanfaatkan lahan pertanian jenis sawah seluas seperempat hektar akan memberikan pendapatan paling besar jika lahan tersebut ditanami tebu atau padi karena harga kedua jenis tanaman ini sampai saat ini masih stabil dan teknik bercocok tanamnya juga tidak terlalu sulit. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada Pemerintah terutama Dinas Pertanian agar lebih memperhatikan nasib para petani melalui bimbingan, penyuluhan, pemberian informasi yang terkini serta penyuluhan tentang administrasi keuangan. Petani diharapkan membuat administrasi keuangan dan jika ingin mendapatkan penghasilan yang pasti dalam melaksanakan kegiatan usaha tani supaya menanam tebu atau padi. Kepada kalangan akademisi agar menjadi partner bagi petani dengan memberikan bimbingan, sumbangan pemikiran. Kepada penuntut ilmu untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik analisis kegitan usaha bercocok tanam agar diperoleh masukan-masukan demi pengembangan kegiatan usaha ini.

Sintesis dan pemanfaatan senyawa kompleks tembaga (II) dengan ligan asetilaseton sebagai bahan pewarna nyala hijau / Dwi Cahyo Nugroho

 

Nyala lilin cair dan alat penerangan berbahan bakar minyak adalah kuning kemerahan. Salah satu cara merubah warna nyala yang dihasilkan adalah dengan melarutkan ion logam pada bahan dasar lilin cair atau minyak, sehingga bercampur secara homogen. Ion-ion logam tidak dapat bercampur secara homogen dengan lilin cair atau minyak karena perbedaan kepolaran. Oleh karena itu, untuk melarutkan ion-ion logam ke dalam bahan dasar lilin cair dan minyak maka kepolaran ion logam harus diturunkan denga cara mengubah ion logam menjadi senyawa kompleks dengan ligan-ligan organik. Dalam penelitian ini digunakan ligan asetilaseton (acac) yang memiliki gugus nonpolar dan ion logam tembaga (II), yang memberikan warna nyala hijau apabila dibakar pada suhu nyala lilin. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa kompleks yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna nyala hijau. Penelitian ini meliputi 3 tahap, yaitu: 1) sintesis senyawa kompleks, 2) karakterisasi senyawa kompleks dan (3) aplikasi senyawa kompleks. Tahap sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan reaksi langsung antara garam tembaga(II) dan asetilaseton dengan perbandingan 1:3 dalam pelarut metanol. Larutan yang diperoleh diperlakukan dengan dua cara. Pertama, larutan yang diperoleh diuapkan perlahan pada suhu kamar untuk memperoleh kristal. Kedua, larutan yang diperoleh diuapkan pada suhu 40°C untuk memperoleh endapan. Tahap karakterisasi meliputi penentuan titik lebur, pengukuran dengan UV-Vis, penentuan bilangan koordinasi dengan metode Jobs, penentuan gugus fungsi dengan IR, dan penentuan muatan kompleks dengan elektrolisis. Pada tahap aplikasi dilakukan penambahan kompleks pada parafin cair, dan minyak goreng kemudian dinyalakan. Pada tahap ini juga diteliti pengaruh penambahan besi(III)-acac- ke dalam larutan kompleks Cu(II)-acac- terhadap intensitas dan kejernihan warna nyala hijau yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis dari Cu(NO)3.3H2O dan asetilaseton dengan penguapan perlahan pada suhu kamar dihasilkan kristal berwarna biru berbentuk jarum. Senyawa kompleks yang dihasilkan dengan cara penguapan pada suhu 40°C adalah serbuk hijau. Dari hasil karakterisasi diprediksikan senyawa kompleks yang terbentuk memiliki rumus [Cu(acac)Lx]NO3 (L = H2O, CH3OH ; x=2 atau 4), tidak larut dalam parafin dan minyak tetapi larut baik dalam alkohol. Penambahan endapan senyawa kompleks pada spiritus, lilin cair dan minyak goreng dengan bantuan oktanol memberikan warna nyala hijau saat dibakar. Penambahan larutan kompleks besi (III)-acac- terhadap larutan kompleks Cu-acac- meningkatkan intensitas dan kejernihan warna nyala hijau yang dihasilkan.

Pengaruh perputaran piutang dan perputaran persediaan terhadap rentabilitas perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006 / Aris Setiyadi

 

Rentabilitas merupakan salah satu indikator untuk menilai baik buruknya kinerja perusahaan. Tingkat Rentabilitas mencerminkan kemampuan modal perusahaan dalam menghasilkan keuntungan melalui kegiatan operasionalnya. Operasional perusahaan diantaranya dipengaruhi oleh besar kecilnya perputaran piutang dan perputaran persediaan dimana akan berdampak pada tingkat perolehan keuntungan perusahaan. Sebagaimana tujuan utama perusahaan yaitu untuk mencapai keuntungan yang optimal, maka setiap perusahaan selalu meningkatkan kemampuan usahanya untuk menghasilkan laba. Salah satunya dengan cara mengelola piutang dan persediaan perusahaan yang bersangkutan seefisien mungkin sehingga mampu mencapai laba yang diinginkan. Tingkat Rentabilitas yang tinggi mencerminkan efisiensi yang tinggi pula. Mengukur efisiensi perusahaan dengan mendasarkan pada jumlah keuntungan semata-mata kuranglah tepat, sebab keuntungan yang tinggi belum mesti disertai rentabilitas yang tinggi pula. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh perputaran piutang dan perputaran persediaan secara parsial maupun simultan terhadap rentabilitas pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006. Dimana rentabilitas yang digunakan adalah rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri. Penelitian ini dilakukan di Pojok BEJ Universitas Brawijaya dan ditekankan pada analisa laporan keuangan perusahaan farmasi yang Listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006. Penelitian ini termasuk jenis penelitian Kuantitatif, dengan menggunakan rasio perputaran piutang, rasio perputaran persediaan, rasio rentabilitas ekonomi dan rasio rentabilitas modal sendiri. Teknik Pengumpulan yang digunakan adalah Teknik Dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Berganda dengan uji asumsi klasik, uji t, dan uji F. Keseluruhan analisis dalam penelitian ini menggunakan bantuan Software SPSS Versi 13.0 for windows. Hasil pengolahan data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh tidak signifikan terhadap rentabilitas ekonomi secara parsial maupun simultan. Perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh tidak signifikan terhadap rentabilitas modal sendiri secara parsial maupun simultan pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa efek Jakarta (BEJ) periode 2001-2006. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan bagi perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) hendaknya lebih meningkatkan lagi perputaran piutang dan perputaran persediaan guna mencapai laba/tingkat rentabilitas yang semaksimal mungkin, adapun cara yang bisa diambil yaitu ii dengan meningkatkan omzet penjualan dan memberikan potongan tunai kepada para pelanggannya dengan tujuan agar pelanggan lebih bergairah lagi dengan tetap memperhatikan laba yang merupakan tujuan dari perusahaan, selain itu sektor industri di Indonesia selalu terbentur dengan ekonomi biaya tinggi perlu dikurangi dengan menerapkan metode just in time. Bagi peneliti berikutnya disarankan untuk meneliti pengaruh dari variabel-variabel lain terhadap rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat menggunakan sampel selain perusahaan farmasi.

"Di balik Kerapan Sapi" Perancangan buku berbasis fotografi / Aditya Hedianto Wibowo

 

Perancangan video iklan televisi sebagai media promosi wisata Air Terjun Coban Rondo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang / Lintang Fajri Moonagusta

 

Moonagusta, Lintang Fajri. 2013. Perancangan Video Iklan Televisi Sebagai Media Promosi Wisata Air Terjun Coban Rondo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Pranti Sayekti S.Sn, M.Si (II) Moh Abdul Rohman, S.Sn, M. Sn. Kata kunci: perancanganvideo, iklan televisi, coban rondo, kota malang.    Kota Malang merupakan salah satu kota di Jawa Timur dengan memiliki potensi wisata yang cukup baik, terbukti dengan adanya salah satu tempat wisata yang terdapat di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, ialah Coban Rondo. Meskipun dilengkapi oleh berbagai macam fasilitas dan wahana wisata, namun diketahui bahwa jumlah pengunjung pada tahun 2010 ialah 472.571 atau sekitar 38%, dan mengalami penurunan sekitar 3% atau 440.251 yaitu 35% pada tahun 2011 dan pada tahun 2012 jumlah pengunjung masih mengalami penurunan 8% yaitu mencapai 337.442 atau sekitar 27%, maka dari itu perlu dilakukan adanya sebuah promosi untuk mengenalkan Coban Rondo kepada masyarakat, diharapkan setelah adanya promosi pengunjung mengalami peningkatan untuk tahun-tahun berikutnya.    Metode perancangan dalam perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural dari Fred Wibowo yang sudah dikembangkan, beberapa tahapan diawali dengan gagasan atau konsep perancangan. Kemudian dari gagasan tersebut dilakukan identifikasi data lapangan dan data pustaka selanjutnya di lakukan analisis yang nantinya didapatkan sebuah informasi mengenai data dari objek penelitian. Dari analisis data-data tersebut dilakukan sintesa yang menghasilkan sebuah konsep perancangan. Setelah konsep perancangan selesai maka masuk pada tahapan Pra Produksi, Produksi dan Pasca Produksi.    Perancangan ini menghasilkan media promosi untuk wisata air terjun Coban Rondo dengan media utama berupa iklan televisi. Iklan televisi dinilai cukup cepat dan informatif dalam menyampaikan informasi sehingga dipilih sebagai media promosi yang tepat untuk Coban Rondo. Disarankan untuk perancangan selanjutnya ialah menetapkan satu tujuan diantaranya mengangkat potensi wisata yang ada didaerah sekitar serta merancang sebuah media promosi dengan lebih kreatif dan inovatif.

Pengaruh penggantian mesin pada kendaraan tempur tank AMX-13 terhadap keefektifan dan efisiensi kerja mesin / Nugroho Yudo Prihanto

 

Strategi pemerolehan kompetensi pragmatik anak usia prasekolah / Dyah Werdiningsih

 

Proses pemerolehan bahasa, termasuk pemerolehan kompetensi pragmatik, dilakukan anak dengan menggunakan strategi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah mengkaji strategi pemerolehan kompetensi pragmatik berbahasa Indonesia (ber-BI) anak usia prasekolah. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji strategi belajar dalam pemerolehan kompetensi pragmatik ber-BI anak usia prasekolah dan (2) mengkaji strategi komunikasi dalam pemerolehan kompetensi pragmatik ber-BI anak usia prasekolah. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan rancang-an penelitian bujur. Instrumen penelitian ini adalah peneliti yang berlaku sebagai instrumen kunci dengan instrumen pendukung berupa pedoman pengamatan dan alat perekam elektronik dan pencatatan lapangan. Data penelitian ini berupa tuturan lisan yang diambil dengan teknik pengamatan terhadap delapan subjek, yang terdiri atas anak usia 2, 3, 4 dan 5 tahun masing-masing dua orang. Data dianalisis berdasarkan teknik analisis performansi. Dengan teknik ini, analisis data dilakukan berdasarkan perilaku berbahasa dan tuturan aktual yang diperformansikan subjek sebagai wujud dari kempetensi pragmatik dan cara pemerolehannya. Berdasarkan analisis data diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pertama, strategi belajar dalam pemerolehan kompetensi pragmatik yang digunakan anak usia prasekolah adalah strategi kognitif dan strategi sosial. Strategi kognitif yang digunakan anak usia prasekolah adalah (1) peniruan tuturan, yaitu peniruan karena kesulitan penuturan dan peniruan karena kesalahan penuturan, (2) pengulangan tuturan, yaitu pengulangan tuturan sendiri, pengulangan tuturan orang dewasa, dan pengulangan tuturan teman sebaya, (3) penggunaan pola tuturan, yaitu penggunaan pola keseharian dan penggunaan pola kreatif, (4) perbaikan tuturan, yaitu perbaikan tuturan oleh mitra tutur dan perbaikan tuturan sendiri, dan (5) penerjemahan, yaitu penerjemahan kata/frase BJ ke dalam BI dan penerjemahan kalimat BJ ke dalam BI. Strategi sosial yang digunakan anak usia prasekolah adalah (1) permintaan klarifikasi, yaitu permintaan penuturan kembali dan penjelasan maksud tuturan dan (2) pertanyaan responsi-timbal balik. Penggunaan tipe dan variasi tipe strategi belajar tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab, yaitu faktor usia, tingkat penguasaan bahasa, kedwibahasaan, kepribadian anak, tujuan komunikasi, dan situasi belajar. Dalam proses pemerolehan kompetensi pragmatik penggunaan tipe dan variasi tipe strategi belajar tersebut berfungsi untuk menguasai bentuk-bentuk tuturan yang digunakan anak untuk menyatakan berbagai maksud kepada mitra tutur. Kedua, strategi komunikasi dalam pemerolehan kompetensi pragmatik yang digunakan anak usia prasekolah adalah strategi penggunaan bentuk nonverbal dan strategi penggunaan bentuk verbal. Strategi penggunaan bentuk nonverbal yang digunakan anak usia prasekolah meliputi (1) penggunaan isyarat dan gerakan, (2) penggunaan gerakan, (3) penggunaan gambar, dan (4) penggunaan lagu. Strategi penggunaan bentuk verbal yang digunakan anak usia prasekolah adalah (1) strategi penggunaan bentuk tuturan dan (2) strategi pengungkapan isi tuturan. Strategi penggunaan bentuk verbal yang digunakan anak usia prasekolah meliputi (a) pengalihan kode tuturan, yaitu pengalihan kata/frase BI ke dalam BJ dan pengalihan kalimat BI ke dalam BJ, (b) pemaparan tuturan, yaitu penggunaan kata-kata sendiri, penggunaan contoh-contoh, penggunaan rekonstruksi kalimat, dan penggunaan analogi, (c) penciptaan kata, yaitu penggunaan bagian kata/-frase, penggunaan sinonim, dan penggunaan asosiasi kata. Strategi pengungkapan isi tuturan yang digunakan anak usia prasekolah meliputi (a) penajaman maksud tuturan, (b) pengalihan topik tuturan, dan (c) pemutusan pesan. Penggunaan tipe dan variasi tipe strategi komunikasi oleh anak usia prasekolah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab, yaitu faktor usia, tingkat penguasaan bahasa, kedwibahasaan, kepribadian pembelajar anak, dan intensitas masukan dan interaksi. Dalam proses pemerolehan kompetensi pragmatik penggunaan tipe dan variasi tipe strategi komunikasi oleh anak usia prasekolah tersebut berfungsi untuk mengatasi kendala komunikasi untuk menggunakan bentuk-bentuk tuturan untuk menyatakan berbagai maksud kepada mitra tutur. Secara teoretis, hasil penelitian ini berimplikasi pada pengembangan teori strategi pemerolehan bahasa, khususnya teori strategi belajar dan strategi komunikasi dalam pemerolehan kompetensi pragmatik oleh pembelajar anak. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memperluas wawasan pendidik tentang proses pemerolehan kompetensi pragmatik anak sehingga dapat memaksimalkan perannya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kompetensi pragmatik anak. Dari hasil penelitian ini ditemukan adanya pengaruh lingkungan dan budaya terhadap proses pemerolehan kompetensi pragmatik. Terkait dengan hal ini disarankan bagi peneliti berikutnya untuk mengkaji lebih lanjut dengan fokus kajian pada pengaruh lingkungan dan budaya terhadap pemerolehan kompetensi pragmatik anak usia prasekolah.

Pengaruh cara pengorganisasian pengajaran melalui penyampaian struktur orientasi konseptual terhadap perolehan belajar siswa / Sjarkawi

 

Hubungan antara intensitas supervisi oleh kepala sekolah, motivasi kerja guru, dengan kinerja guru di SLTP Negeri Kabupaten Malang / Bambang Sugiyono

 

Pengembangan buku panduan pertolongan pertama pada cedera olahraga sepakbola untuk pelatih sekolah sepak bola di Malang Raya / Idham Bintoro Sakti L.

 

Laksono, Idham Bintoro Sakti. 2013. Pengembangan Buku Panduan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga Sepakbola untuk Pelatih Sekolah Sepak Bola di Malang Raya. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) dr. H. Moch Yunus, M.Kes, (II) Drs. Mulyani Surendra, M.S. Kata Kunci: Pengembangan, Buku Buku Panduan, Cedera Olahraga Sepakbola Sepakbola merupakan olahraga yang memiliki tingkat resiko cedera yang besar. Dalam proses perkembangannya, pembinaan sepakbola dilakukan di Sekolah Sepak Bola (SSB) yang terdapat di banyak daerah, salah satunya adalah Malang Raya. Berdasarkan observasi awal, peneliti melakukan survei pemahaman pelatih SSB terhadap cedera olahraga. Survei tersebut dilakukan dengan analisis kebutuhan menggunakan angket kepada sampel pelatih SSB Lawang di Kabupaten Malang dan SSB Merah Putih di Kota Malang dengan total 10 pelatih selama bulan Oktober 2012. Hasil analisis kebutuhan, peneliti memperoleh temuan yaitu 100% anak didik (siswa SSB) pernah mengalami cedera, 100% pelatih memberikan pertolongan pertama pada siswa yang cedera, 50% pelatih merawat siswanya yang mengalami cedera, 50% pelatih tidak dapat memberikan pertolongan cedera sesuai prosedur medis, 80% pelatih perlu untuk mampu menangani cedera, 60% pelatih pernah mempelajari pertolongan pertama, 60% pelatih menggunakan buku sebagai media, 70% pelatih memerlukan panduan mengatasi cedera. Berdasarkan analisis kebutuhan, peneliti mengembangkan buku panduan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga Sepakbola. Langkah yang dilakukan peneliti yaitu mengacu pada langkah Borg dan Gall. Dari 10 langkah Borg dan Gall, peneliti menggunakan 7 langkah yaitu: 1) Pengumpulan informasi dan analisis kebutuhan, 2) Perencanaan dan pembuatan rancangan produk, 3) Pengembangan produk awal, 4) Uji coba kelopok kecil, 5) Revisi produk pertama, 6) Uji coba kelompok besar, 7) Revisi produk kedua. Dalam proses pengembangan produk, produk tersebut dievaluasi oleh ahli pengembangan media dan ahli pertolongan pertama cedera olahraga. Hasil evaluasi ahli tersebut sangat valid dengan kriteria pencapaian untuk evaluasi ahli pengembangan media 95% dan ahli pertolongan pertama cedera olahraga 89%, sehingga produk dapat digunakan untuk uji coba kelompok kecil tanpa adanya revisi.      Uji coba kelompok kecil dilakukan di SSB Lawang (Kabupaten Malang) dengan 7 sampel dan diperoleh hasil 82,07%. Hasil uji coba tersebut masuk dalam kategori cukup valid dan dapat digunakan dengan revisi kecil. Uji coba kelompok besar dilakukan di 5 SSB di Malang Raya yaitu SSB Lawang (Kabupaten Malang), SSB Merah Putih, SSB Unibraw 82 (Kota Malang) dan SSB Temas United (Kota Batu) dengan total 25 subyek pelatih dan diperoleh persentase rata-rata 83,79%. Hasil uji coba tersebut masuk dalam kategori cukup valid dan dapat digunakan dengan revisi kecil. Setelah revisi kecil maka buku Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga Sepakbola dapat digunakan oleh pelatih SSB di Malang Raya.

Studi kondisi daerah dan sosial ekonomi masyarakat penambang pasir-batu sungai di Desa Lempeni Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang / oleh Yuli Tri Handayani

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |