Desain kendali motor universal menggunakan inverter 1 fasa metode SPWM / Krisdiyanto

 

Kata Kunci: Kendali motor, Inverter, SPWM Terdapat beberapa metode untuk mengatur kecepatan putar motor yang bervariasi dan pengasutan bertingkat (untuk menghindari arus pengasutan yang terlalu tinggi) pada motor DC dan motor AC. Maka diperlukan sebuah peralatan yang bekerja secara konvensional (mekanis) atau secara elektronis (elektronika daya) yang terhubung dengan motor tersebut. Untuk menghasilkan tegangan bolak balik maupun tegangan arus searah yang bervariasi, untuk supply daya motor universal terdapat beberapa alternatif diantaranya dengan menggunakan rangkaian AC atau DC terkontrol maupun rangkaian AC atau DC tak terkontrol. Metode inverter yang banyak dikembangkan adalah inverter dengan modulasi lebar pulsa (Pulse Width Modulation, PWM), karena memiliki efisiensi daya yang tinggi, dapat mereduksi rugi-rugi harmonisa, mampu menggerakkan motor induksi dengan putaran yang halus dan rentang operasi kecepatan yang lebar , tujuan tugas akhir ini adalah merakit dan merancang inverter SPWM dengan kendali ATmega 8. Dengan menggunakan inverter ini, maka pengendalian kecepatan motor AC dapat dilakukan dengan lebih teliti. Rangkaian inverter ini dirancang supaya ringkas, oleh karena itu pada minimum sistem mikrokontroler hanya mengandalkan ragam chip tunggal. Berdasarkan hasil perancangan, perakitan, pengujian dan pembahsan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1)Dari perancangan desain kendali motor yang dibuat, hasil yang didapat sudah sesuai dengan prinsip kerja yang dirancang. Sinyal PWM satu fase yang dirancang merupakan jenis PWM sinusoida yang dibangkitkan menggunakan perhitungan lebar pulsa yang nantinya akan di operasikan menggunakan flash memori mikrokontroler pada port timer OCR1A dan OCR1B. (2) Hasil pengamatan menunjukan bahwa rancangan pembangkit SPWM telah berfungsi dengan baik. Sinyal SPWM yang dibangkitkan memiliki 126 pulsa setiap setengah periode dan rentang frekuensi antara 20 – 100 Hz dengan kenaikan dan penurunan setiap 10 Hz. (3) Dari hasil pengujian putaran motor dengan loop terbuka, respon putaran motor dari pengelolaan data input analog to digital ADC pada mikrokontroler cukup baik. Namun untuk mendapatkan putaran yang stabil dengan daya maksimal maka motor harus bekerja pada tegangan yang sesuai dengan name plate yang terdapat pada motor.

Pengembangan modul angiospermae untuk siswa kelas X Sekolah Menengah Atas / Ester Maya Wahyu Susanti

 

Kata Kunci: Modul, Angiospermae Pembelajaran dengan modul memiliki tujuan utama yaitu meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran di sekolah baik dari segi waktu, dana, fasilitas maupun tenaga guna mencapai tujuan pembelajaran secara optimal sehingga pembelajaran dengan menggunakan modul merupakan salah satu metode yang dapat dikembangkan.Berdasarkan observasi yang dilakukan pada SMA Laboratorium UM modul yang dibuat oleh guru di SMA berisikan materi dan latihan soal. Komponen-komponen yang seharusnya ada pada modul tidak lengkap. LKS yang ada pada modul sangat kurang karena lebih menekankan pada rangkuman materi dan latihan soal. Modul yang demikian kurang melibatkan siswa secara aktif. Sekolah membutuhkan contoh modul yang mempunyai komponen lengkap untuk digunakan sebagai suatu bahan ajar pembelajaran di kelas. Pembelajaran inkuiri merupakan salah satu strategi pembelajaran konstruktivistik. Belajar akan lebih bermakna bila siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan dan mampu mengaitkan informasi yang didapat sebagai pengetahuan yang dimilikinya. Strategi pembelajaran inkuiri terbimbing menuntut siswa lebih aktif sehinggasiswa mempunyai pengalaman menggali pengetahuannya sendiri melalui kegiatan eksperimen. Topik modul membahasAngiospermae sebagai tumbuhan dalam Kingdom Plantae dan menjadi materi yang paling banyak dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk berupa modul. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian pengembangan. Metode pengembangan yang digunakan adalah Metode Borg dan Gall yang memiliki 10 tahapan. Penelitian ini mencapai tahap kelima yaitu Persepsi lapangan awal karena penelitian ini untuk jenjang Strata 1. Draf hasil pengembangan divalidasi oleh 3 validator untuk Persepsi kelayakan. Persepsi keterbacaan ditujukan pada 10 siswa. Instrumen validasi dan keterbacaan berupa angket. Persepsi keterbacaan dilaksanakan untuk mengetahui keterbacaan modul. Hasil validasi dan Persepsi keterbacaan dianalisis untuk mengetahui kriteria kelayakan modul. Revisi/perbaikan modul dilaksanakan bertolak dari saran dan komentar yang peroleh dari angket. Hasil penelitian dan pengembangan modul memenuhi kriteria kevalidan modul. Hasil diperoleh dari analisis validator berupa penilaian terendah adalah 78% dan data tertinggi adalah 100% kriteria tersebut adalah valid. Data yang diperoleh siswa adalah 65% dan data tertinggi adalah 93%. Hasil tersebut memenuhi kriteria valid. Disarankan menerapkan modul di kelas dalam bentuk penelitian eksperimen atau PTK untuk lebih memantapkan validitas modul ini.

Problematika belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMP Negeri 1 Sumbergempol Kabupaten Tulungagung / Ratih Dian Mayasari

 

Kunci: Problematika Belajar, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Problematika belajar yang dihadapi oleh siswa satu dengan yang lainya berbeda-beda. Hal ini dikarenakan siswa memiliki kepribadian, pengalaman, tujuan dan kondisi yang beragam. Problematika belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor inteligensi yang rendah, akan tetapi dapat disebabkan oleh faktor-faktor non-inteligensi. Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah belajar dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Salah satunya yaitu problematika belajar pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 1 Sumbergempol. Mencari atau menemukan faktor-faktor apakah yang menyebabkan siswa mengalami masalah belajar sangatlah penting, sehingga dapat dilakukan usaha yang tepat dalam mengatasi dan menanggulangi dampak dari masalah belajar tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) menjelaskan problematika belajar yang dihadapi dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Sumbergempol; (2) mendeskripsikan penyebab problematika belajar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Sumbergempol; (3) menjelaskan cara mengatasi problematika belajar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Sumbergempol. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yaitu jenis penelitian yang menggambarkan, meringkas berbagai kondisi dan situasi yang ada. Peneliti berusaha mengumpulkan informasi secara mendalam dan mendetail terkait dengan problematika yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 1 Sumbergempol dan upaya yang dilakukan dalam mengatasi problematika tersebut. Subjek yang diteliti adalah guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Sumbergempol. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumenatasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), penarikan kesimpulan dan verivikasi. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan triangulasi dan meningkatkan ketekunan peneliti. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa problematika belajar yang dihadapi dalam pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Sumbergempol adalah: (1) kesulitan dalam memahami dan menghafalkan materi pelajaran; (2) kurangnya pemahaman siswa terhadap makna istilah bahasa asing yang digunakan dalam materi pelajaran; (3) siswa kesulitan dalam memahami penjelasan guru. Penyebab dari problematika belajar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Sumbergempol dapat dikelompokkan menjadi dua faktor, yang pertama adalah faktor internal diantaranya adalah: (1) minat dan kebiasaan belajar siswa yang masih kurang maksimal; (2) motivasi belajar siswa yang masih kurang; (3) konsentrasi belajar siswa yang terganggu karena kondisi kelas yang tidak mendukung; (4) kurangnya kesiapan belajar siswa. Kedua adalah faktor eksternal diantaranya adalah: (1) terbatasnya sarana dan fasilitas pembelajaran di sekolah; (2) kondisi sosial ekonomi orang tua dan lingkungan rumah yang kurang mendukung; (3) ketertarikan siswa pada guru; (4) metode yang digunakan guru. Cara yang digunakan dalam mengatasi problematika belajar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Sumbergempol, yaitu: (1) memberikan stimulus; (2) memberikan motivasi dan pendekatan pada siswa; (3) melengkapi sumber bahan materi pelajaran; (4) menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan; (5) menggunakan bahasa pengantar yang dimengerti dan mudah di pahami oleh siswa; (6) menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi; (7) pembenahan terhadap perangkat pembelajaran. Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari hasil penelitian, maka dapat disarankan beberapa hal berikut: (1) sekolah wajib dalam pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan sarana dan fasilitas belajar yang ada disekolah dalam upaya mendukung dan meningkatkan kegiatan pembelajaran; (2) berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan disarankan agar guru lebih mengetahui permasalahan yang dihadapi siswanya dan mencoba untuk membantu mengatasi kesulitan siswa agar dapat mengikuti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan baik. Selain itu guru harus lebih sering menerapkan metode dan model-model pembelajaran yang menarik dan bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan jenuh dalam menerima pelajaran; (3) guru sebaiknya memberikan dukungan dan motivasi kepada siswa agar dalam menerima pelajaran siswa lebih bersemangat; (4) siswa sebaiknya meningkatkan motivasi belajarnya, agar prestasi belajarnya meningkat. Selain itu kebiasaan belajar siswa perlu ditingkatkan, agar lebih memperhatikan penjelasan guru saat mengikuti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, meningkatkan minat siswa untuk membaca buku-buku pelajaran, dan membiasakan belajar secara teratur untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

Implementasi empat pilar keberhasilan dalam manajemen berbasis sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kedungkandang 2 Malang / Dinar Imin Supranti

 

Keywords: Implementation, the four pillars of success in school-based management Implementation of school-based management involves four pillars of success is the success of quality, the success of self-reliance, the success of participation, transparency success. The focus of research: (1) how the school program planning with the School Based Management approach in SDN Kedungkandang 2, (2) how the four pillars of implementation of School Based Management in the SDN Kedungkandang 2; how the pillars of quality in the SDN Kedungkandang 2; bagaiamanakah the pillars of self-reliance in SDN Kedungkandang 2; how was the pillar of participation in SDN Kedungkandung 2; how was the pillar of transparency in the SDN Kedungkandang 2, (3) barriers to the implementation of School Based Management in the SDN Kedungkandang2 (4) the solutions to overcome the obstacles in the process of implementing the four pillars of success School-Based Management on SDN Kedungkandang 2. This study used a qualitative approach to the type of case study research. This site is located at SDN Kedungkandang 2. Its strategic location within easy reach from any direction because of the strategic location situated close to the highway. Data obtained through interviews, observation, and documentation. Data obtained from the three techniques was organized, is reduced if not relevant to the focus of the research, analyzed, and concludes the findings of the field. Tested the validity of the data: (1) extend the presence of researchers in the field, (2) triangulation by source. The focus of research: planning programs include: (1) developing the school vision and mission, (2) self-evaluation in order to identify the various needs of development, (3) identification of development needs, (4) formulation of objectives, (5) preparation of program improvement; (6) implementation of the program, (7) self-evaluation for the purpose of improving the quality of the next. Implementation of the four pillars of the school-based management in the SDN Kedungkandang already performing well. Obstacles in the implementation of school-based management in the SDN Kedungkandang 2, did not experience a large and difficult problems. Solutions to overcome the barriers include: a) a solution to overcome the contradictions of government regulations, the school decided to comply with the regulations of the government b) the principal teacher to send representatives to attend seminars and training to improve the quality of learning; c) innovation of learning time, additional teaching hours and hours work is aimed at teachers working memandirikan all school personnel to move forward; d) the school seeks to embrace the parents tried to explain in a transparent use of funds for school programs and describes the implementation of student learning in Bagimana SDN Kedungkandang 2; e) describe the use of financial assistance to parents who not understand as well as the implementation of student learning.

Perilaku berpacaran remaja (study fenomenologi dimensi hasrat, keintiman, dan komitmen remaja berpacaran) / Arsy rila Istikasari

 

Kata Kunci : perilaku berpacaran, hasrat, keintiman, komitmen Salah satu tugas perkembangan remaja adalah perkembangan sosial yang berorientasi pada persiapan pernikahan. Sebagai usaha pemenuhan tugas-tugas perkembangannya tersebut, remaja melakukan usaha melalui hubungan berpacaran (courthip). Dalam menjalani hubungannya, tidak jarang melanggar norma-norma sosial, agama dan susila yang berlaku. Terdapat beberapa remaja yang menyertakan perilaku seksual dalam hubungan berpacarannya. Berdasarkan fenomena tersebut, fokus penelitian meliputi: (1) Alasan remaja memutuskan untuk berpacaran, (2) Faktor yang mempengaruhi adanya perilaku seksual pada remaja berpacaran, dan (3) Dimensi cinta remaja berpacaran yang terdiri dari hasrat, keintiman dan komitmen. Hal ini diteliti karena segala bentuk perilaku dilatar belakangi oleh adanya alasan utama mereka memutuskan berpacaran serta adanya faktor yang mempengaruhi dan mendorong perilakunya tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologis. Kehadiran peneliti sebagai pengamat berperan serta memanfaatkan sumber lain atau informan untuk memperkuat data. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik snow bowling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu reduksi fenomenal, reduksi eiditis, dan reduksi transedental. Teknik pemeriksaan keabsahan datanya menggunakan triangulasi sumber. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dalam berpacaran subjek, terdapat perilaku seksual yang menyimpang dari norma sosial, agama dan susila. Alasan utama subjek memutuskan berpacaran merupakan upaya pemenuhan kasih sayang dan menyeleksi pasangan hidup. Adanya perilaku seksual tersebut muncul karena terdapat faktor internal yaitu perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksualnya. Sedangkan faktor eksternalnya adalah keadaan lingkungan keluarga dan adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa dengan teknologi yang canggih. Selain itu, diperoleh deskripsi cinta yang dirasakan subjek. Keintimanlah yang paling menonjol dalam berpacaran. Hubungan yang semakin dalam tersebut, menjadikan subjek membumbui hubungannya dengan adanya hasrat yg menimbulkan perilaku seksual. Namun terdapat tanggung jawab dari subjek, yaitu komitmen untuk menikah. Saran dari penelitian ini ditujukan kepada konselor, yaitu memberikan layanan informasi bidang pribadi sosial dengan menyediakan media berupa buku saku tentang etika berpacaran. Layanan informasi bidang pribadi sosial tersebut diharapkan akan mengarahkan para siswa agar tidak melakukan perilaku negatif seperti perilaku seksual dalam berpacaran. Saran kepada peneliti selanjutnya jika dilakukan penelitian sejenis, maka perlu menambah subjek penelitian, misalnya lebih dari satu pasang remaja berpacaran. Saran kepada orang tua, diharapkan menanamkan nilai-nilai sosial, agama, dan susila yang ditanamkan sejak dini kepada anak.

Pengembangan video instruksional untuk mempermudah penguasaan teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat untuk siswa tingkat sabuk jambon Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang / Trisian Adi Danas

 

Kata kunci: pengembangan, media video, pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat, siswa tingkat sabuk jambon persaudaran setia hati terate. Pencak silat merupakan salah satu hasil budaya bangsa Indonesia yang memiliki unsur seni, beladiri, olahraga, dan unsur mental spiritual. Salah satu organisasi pencak silat yaitu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Dalam organisasi PSHT ini, anggota yang belum menjadi anggota tetap (siswa) harus dapat menguasai materi dalam jangka waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kurikulum PSHT. Dari hasil analisis kebutuhan (Need Assesment) didapatkan hasil (1) siswa tidak pernah menggunakan teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki saat sabung, (2) siswa mengalami kesulitan meletakkan posisi kaki maupun posisi badan, dan (3) pelatih jarang memberikan teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki. Dari ketiga analisis tersebut bahwa siswa kurang memahami teknik pola langkah tersebut, karena ketika sabung (diadu) teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki bisa digunakan dan mempunyai nilai “2”, selain itu materi teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki bisa digunakan pada pencak silat prestasi. Yaitu dengan menggunakan media video instruksional teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat yang dikemas dalam bentuk compact disc/ digital versatile disc (CD/DVD) Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media video instruksional untuk mempermudah penguasaan teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat siswa tingkat sabuk jambon, diharapkan dengan adanya media video instruksional ini siswa dapat lebih cepat dalam menguasai teknik tersebut. Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Research & Development (R & D) dari Borg & Gall (1983:775). Adapun prosedur pengembangan materi teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat meliputi: (1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assesment) dengan observasi di latihan serta penyebaran angket yang ditujukan kepada 15 siswa tingkat sabuk jambon, (2) pengembangan produk awal berupa rancangan produk, (3) evaluasi para ahli dengan menggunakan satu ahli media, satu ahli pembelajaran, dan ahli pencak silat (4) revisi produk pertama (sesuai dari hasil evaluasi para ahli dan uji kelompok kecil sebanyak 12 siswa sabuk jambon, (5) uji lapangan dengan mengujikan hasil produksi pertama pada kelompok besar yaitu pada 30 siswa tingkat sabuk jambon, (6) revisi produk akhir sesuai dari hasil uji lapangan (kelompok besar), (7) hasil akhir produk berupa video instruksional teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara kuesioner. Dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase. Hasil penelitian pengembangan media video diperoleh data sebagai berikut: (1) Uji coba tahap I (kelompok kecil) yaitu 100% (Baik), (2) Uji coba tahap II (kelompok besar) yaitu 100%(Baik). Hasil produk pengembangan ini berupa video instruksional teknik pola langkah dengan kombinasi serangan kaki pencak silat yang disajikan dalam bentuk video dan bentuk fisik berupa CD/DVD (Compact Disc/ Digital Versatile Disc). Isi dari video ini adalah gambar bisa bergerak, sehingga ketika dilakukan berulang-ulang akan mudah dipahami, keras lemahnya suara juga bisa diatur, gerakan ada yang dibuat secara lambat, langkah-langkah gerakan jelas, secara bertahap dan dibuat secara menarik agar siswa lebih termotivasi untuk melakukan latihan.

Penerapan pembelajaran inkuiri deduktif untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman konsep materi listrik dinamis siswa kelas X-5 SMAN 6 Malang / Ide Hardiana Santi

 

Kata Kunci: Inkuiri deduktif, keterampilan proses sains, pemahaman konsep. Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMA Negeri 6 Malang, diketahui bahwa pembelajaran fisika yang diterapkan masih bersifat konvensional dan tidak pernah melaksanakan kegiatan praktikum. Siswa masih sepenuhnya bergantung kepada guru, sehingga keterampilan proses dan pemahaman konsep siswa kurang maksimal. Hal tersebut dapat disebabkan karena model pembelajaran yang kurang tepat sehingga perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan proses dan pemahaman konsep siswa di SMA Negeri 6 Malang. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman konsep siswa di kelas X-5 SMA Negeri 6 Malang adalah melalui penerapan pembelajaran inkuiri deduktif. Pembelajaran inkuiri deduktif memiliki empat tahapan, yaitu: pengajuan masalah, penstrukturan masalah, pengajuan hipotesis, dan eksperimen. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas empat tahap, yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap tindakan, (3) tahap observasi, dan (4) tahap refleksi. Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Analisis data kualitatif yaitu dengan menelaah seluruh data, mereduksi data, membuat kategorisasi, menafsirkan data, dan memberian pemaknaan hasil. Berdasarkan temuan penelitian dapat diketahui bahwa keterampilan proses siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan. Rata-rata keterampilan proses sains siswa pada siklus I adalah 65,97% kemudian pada siklus II meningkat menjadi 89%. Rata-rata pemahaman konsep siswa untuk materi listrik dinamis pada siklus I adalah 72,22%. dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 91,67%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri dedukti, dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman konsep siswa pada materi listrik dinamis di kelas X-5 SMA Negeri 6 Malang.

Pengembangan buku ajar pembelajaran teknik dasar lanjutan serangan pencak silat untuk siswa kelas VII semester II SMP Negeri 10 Malang / Nurul Afifah

 

Kata kunci: Buku ajar pembelajaran, Teknik dasar lanjutan serangan, Pencak silat Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang dilakukan pada tanggal 15 Januari 2012 di SMP Negeri 10 Malang yang berkaitan dengan masalah pengembangan buku ajar pembelajaran teknik dasar lanjutan serangan pencak silat untuk siswa kelas VII semester II SMP Negeri 10 Malang dapat diketahui bahwa pembelajaran pencak silat disajikan di kelas VII, akan tetapi pembelajaran yang diberikan kurang sesuai karena materi yang diberikan tidak didukung oleh sumber yang berupa buku ajar, sehingga perlu adanya keberlanjutan pengembangan dalam bentuk buku ajar pada semester II. Berdasarkan penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) kepada guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dapat diperoleh kesimpulan bahwa penyampaian materi pencak silat jarang diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan buku ajar pembelajaran teknik dasar lanjutan serangan pencak silat untuk siswa kelas VII semester II di SMP Negeri 10 Malang sehingga dapat membantu dan mempermudah dalam penyampaian materi praktik pencak silat yang ada dalam mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Metode yang digunakan penelitian ini adalah pengembangan Borg dan Gall yang diadaptasi menjadi lebih sederhana yaitu: (1) mengumpulkan informasi: (a) mengkaji bahan pustaka, (b) analisis kebutuhan; (2) mendesain produk; (3) validasi desain; (4) revisi I; (5) uji coba tahap I; (6) revisi II; (7) Uji coba tahap II; (8) produk akhir. Berdasarkan hasil evaluasi ahli pencak silat diperoleh persentase 88%, ahli pendidikan jasmani 87%, ahli media 85% dan uji tahap I (8 siswa) diperoleh persentase 86,1% , dan pada uji tahap II (38 siswa) diperoleh persentase 87,2% sehingga panduan pembelajaran teknik dasar serangan pencak silat untuk siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang dapat digunakan. Pengembangan buku ajar pembelajaran teknik dasar lanjutan serangan pencak silat dapat digunakan sebagai sumber belajar yang berguna untuk meningkatkan keterampilan belajar siswa dalam pembelajaran pencak silat. Selain itu, disarankan subjek penelitian lebih luas lagi tidak hanya pada satu sekolah tetapi pada beberapa sekolah yang lain.

Upaya pencapaian ranah afektif pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (studi kasus di kelas III SDN Dinoyo 3 Kota Malang) / Adinda Pesona Candra

 

Kata Kunci: Upaya Pencapaian Ranah Afektif, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Masalah yang akan dibahas dalam penelitian yaitu upaya pencapaian ranah afektif dalam pembelajaran PKn dalam kelas maupun luar kelas, kendala yang dihadapi guru dalam pencapaian ranah afektif, serta cara mengetahui tingkat pencapaian ranah afektif siswa pada pembelajaran kewarganegaraan yang telah dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus.Data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata atau tindakan dan selebihnya adalah dokumentasi. Berdasarkan paparan data, temuan penelitian dan pembahasan diperoleh empat kesimpulan. Pertama, upaya pencapaian ranah afektif pada pembelajaran PKn dalam kelas, tidak hanya dengan mentransfer pengetahuan saja, guru juga menanamkan nilai, moral dan sikap yang baik.Upaya pencapaian ranah afektif dimulai guru dengan pembuatan RPP yang benar, mengembangkan indikator-indikator sesuai dengan tahap perkembangan siswa, pemberian teladan yang baik, penggunaan model pembelajaran yang bervariasi, serta penggunaan metode yang tepat. Dalam kegiatan pembelajarannya, dilakukan guru dengan pemberian stimulus awal yang kemudian mendapat respon dari siswa. Selain itu guru juga melakukan kegiatan persuasif sebagai upaya pencapaian ranah afektif. Kedua, kegiatan pencapaian ranah afektif luar kelas yang sesuai dengan pengimplementasian pembelajaran PKn, dilakukan SDN Dinoyo 3 dengan berbagai upaya yang beragam, mulai dari upacara, bimbingan akhlak untuk pembinaan budi pekerti dan kepribadian, kegiatan pramuka, penilaian kepribadian serta kegiatan senyum, sapa dan salam. Selain dari berbagai upaya tersebut, adanya poster-poster yang ada di setiap sudut sekolah secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ranah afektif siswa melalui kata-kata yang mengandung ajakan/persuasi. Ketiga, kendala pencapaian ranah afektif untuk anak kelas III terletak pada penginternalisasian nilai positif, untuk menginternalisasikannya tidak bisa hanya dilakukan dengan memberi tahu saja, tapi dengan pemberian teladan secara langsung. Cara ini pun tidak bisa hanya dilakukan sekali, tapi harus berkali-kali secara intensif. Sedangkan kendala pencapaian ranah afektif di luar kelas (tingkat sekolah) yaitu kegiatan guru yang banyak dilakukan di dalam kelas dan adanya beberapa indikator pelanggaran yang belum terdeteksi, menyebabkan adanya beberapa pelanggaran yang dilakukan siswa selama istirahat berlangsung. Keempat, cara mengetahui tingkat pencapaian ranah afektif siswa pada pembelajaran kewarganegaraan dapat diketahui dari sikap dan tingkah laku siswa dalam kelas maupun luar kelas. Di dalam kelas, cara mengetahuinya dapat dilihat dari nilai reward dan punishment yang ditempelkan di dinding kelas dan pada pajangan yang menggambarkan jam kedatangan siswa. Sedangkan untuk di luar kelas, cara mengetahui pencapaian ranah afektif dapat dilihat dari penilaian kepribadianyang dilakukan sekolah sehari-hari. Penulis memberikan saran kepada pihak sekolah agar beberapa upaya pencapaian ranah afektif yang belum disadari potensinya, seperti adanya poster-poster di setiap sudut sekolah, dapat dimaksimalkan fungsinya. Faktor penentu keberhasilan dari upaya pencapaian ranah afektif adalah komitmen guru serta kepala sekolah, sehingga perlu adanya komitmen antar keduanya. Selain itu, diharapkan upaya-upaya yang telah dilakukan SDN Dinoyo 3 dapat dibinakan pada sekolah-sekolah lain yang belum menerapkannya.

Pembelajaran mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan di kelas VIII SMP Negeri 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012 / Novi Dwi Cahyanti

 

Pengembangan pedal keseimbangan untuk pembelajaran keseimbangan dinamis siswa kelas II SD Permata Jingga Global School Malang / Tomy Ariyanto

 

Kata Kunci: pedal keseimbangan, antropometri, keseimbangan. Sekolah Dasar Permata Jingga Global School Malang merupakan lembaga pendidikan formal yang dalam kegiatan pembelajarannya mencantumkan mata pelajaran pendidikan jasmani kesehatan dan olahraga sebagai mata pelajaran yang wajib diajarkan. Ruang lingkup pendidikan jasmani kesehatan dan olahra meliputi (1) Permaianan dan olaharaga meliputi : olaharaga tradisional, permaianan, eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor, dan manipulatif, atleteik, kasti, rounders, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis, tenis lapangan, bulu tangkis, dan bela diri, serta aktivitas lainya. (2) Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, bentuk postur tubuh serta aktivitas lainya. (3) Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainya. (4) Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobik, serta aktivitas lainya. (5) Aktivitas air meliputi: permaianan di air, keselamatan air, keselatan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainya. (6) pendidikan luar kelas meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan, pengenalan lingkungan, berkemah, berjelajah dan mendaki gunung. (7) kesehatan meliputi: penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepatdan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS, Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek. Pendidikan jasmani, kesehatan dan olahraga yang diajarakan di Sekolah Dasar Permata Jingga Global School Malang meliputi materi materi yang diberikan meliputi aktivitas permainan, kebugaran jasmani, senam, renang, budaya hidup sehat. Pembelajaran kegiatan senam terutama materi keseimbangan guru memberikan pembelaran dengan cara siswa berjalan diatas garis dan berlari diatas garis. Berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan awal terhadap guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di Sekolah Dasar Permata Jingga Global School Malang pada tanggal 26 Januari 2012, di Sekolah Dasar Permata Jingga Global School Malang, guru pernah melakukan pembelajaran keseimbangan dinamis namun tidak pernah menggunakan alat bantu pembelajaran berupa pedal keseimbangan dikarenakan belum adanya alat berupa pedal keseimbangan.

Pemetaan dan perhitungan luas wilayah kampus I Universitas Negeri Malang berbasis Global Positioning System (GPS) / Vivi Aprilia

 

Kata kunci: GPS, Wolfram Mathematica 7.0, Peta digital, Luas wilayah Kampus I UM. GPS merupakan sistem navigasi untuk menentukan posisi berbasiskan satelit yang berhubungan disetiap orbitnya. GPS memberikan berbagai macam informasi seperti koordinat garis lintang dan garis bujur. Informasi posisi dari garis lintang dan garis bujur tersebut merupakan triangulation 3 satelit, dimana setiap satelit memancarkan gelombang elektromagnetik dengan membawa kode yang berbeda secara kontinyu. Koordinat ini dapat diaplikasikan untuk pemetaan wilayah kampus I Universitas Negeri Malang (UM) sehingga dapat diperoleh luas wilayah tersebut. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai pemetaan dan perhitungan luas wilayah Kampus I UM. Adapun tujuan dari skripsi ini adalah memetakan wilayah kampus I Universitas Negeri Malang menggunakan Wolfram Mathematica 7.0 dan menghitung luas wilayah Kampus I Universitas Negeri Malang dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Pemetaan wilayah Kampus I menggunakan software Wolfram Mathematica 7.0 yang mampu membuat peta digital sesuai dengan input data. Peta digital ini dapat memberikan informasi sesuai dengan keinginan seperti perbesaran gambar, perputaran gambar, informasi nilai panjang, nilai lebar dan nilai luas masing-masing bangunan. Sedangkan pada perhitungan luas wilayah Kampus I UM diperoleh dari selisih antara garis lintang/ garis bujur 2 titik. Selisih antara 2 titik tersebut kemudian di konversi dari DMS menjadi DD dan konversi panjang (km). Dari konversi inilah dapat diketahui luas Kampus I UM. Berdasarkan pengukuran konvensional, Kampus I UM menempati area seluas 453.860 m2. Namun, pada pengukuran GPS, Kampus I UM menempati area seluas 454.008,51m2. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 2 simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, simulasi pemetaan dan perhitungan luas wilayah Kampus I UM menggunakan Wolfram Mathematica 7.0 menghasilkan peta digital dengan interpretasi hasil sebagai berikut: perbesaran gambar, perputaran gambar, pemberian inset, pemberian informasi panjang, lebar dan luas masing-masing bangunan. Kedua, perbandingan data luas konvensional dengan pengukuran GPS sangat berbeda sekitar 50-100 m2. Hal ini memperlihatkan bahwa GPS tipe navigasi tidak cocok digunakan untuk pemetaan wilayah berdasarkan garis lintang dan garis bujur.

Keefektifan multimedia dalam pembelajaran menggambar bentuk pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Grujugan Bondowoso / Angga Satrya Atma Nagara

 

Kata Kunci: Keefektifan, Multimedia, Pembelajaran, Menggambar Bentuk Pendidikan seni rupa sangat berhubungan erat dengan istilah menggambar. Menggambar bentuk merupakan salah satu bahan ajar pendidikan seni rupa yang bertujuan melatih peserta didik untuk meningkatkan kecerdasan visual spasial. Dengan kecerdasan visual spasialnya, peserta didik dapat menggali ide bentuk dan keruangan serta dapat mengkomunikasikannya secara visual. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan penggunaan multimedia dalam pembelajaran menggambar bentuk pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Grujugan Bondowoso. Serta untuk mengetahui apakah penggunaan multimedia dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menggambar bentuk. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif kualitatif, yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dalam situasi wajar. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Untuk mejaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data paparan data verifikasi/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran menggambar bentuk pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Grujugan Bondowoso dapat dikatakan efektif karena dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan aktivitas siswa mengalami peningkatan sebagai wujud dari perbaikan perilaku belajar siswa yang semakin memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi kepribadiannya secara optimal.Penerapan materi menggambar bentuk dengan menggunakan multimedia pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar bentuk. Kemampuan menggambar bentuk siswa semakin meningkat sebagai wujud perkembangan kecerdasan visual spasial, perkembangan kemampuan berkreasi dan apresiasi karya seni rupa. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan ketuntasan individu dari 40% menjadi 96,42% setelah diterapkan penggunaan multimedia pembelajaran.

Sikap nasionalisme di kalangan pecinta lagu dan penyanyi Korea yang tergabung dalam komunitas Korea Pop Fandom Malang / Dian Mariani

 

Kata Kunci: KFM, fandom, Korea, komunitas, nasionalisme. Komunitas Korea Pop Fandom Malang (KFM) adalah salah satu komunitas pecinta lagu dan penyanyi Korea yang ada di Kota Malang. KFM ini merupakan salah satu komunitas yang tersubordinasi oleh budaya Korea yang mendunia. Adanya fenomena ini, maka penulis berusaha mengkaji dan meneliti dari aspek sikap nasionalisme dari anggota KFM tersebut. Masalah yang diteliti adalah pertama, bagaimana karakteristik anggota Komunitas Korea Pop Fandom Malang? Kedua, bagaimana wawasan nasionalisme anggota Komunitas Korea Pop Fandom Malang? Ketiga, bagaimana pendapat anggota Korea Pop Fandom Malang terhadap sikap nasionalisme? Keempat, bagaimana bentuk-bentuk perwujudan sikap nasionalisme anggota Korea Pop Fandom Malang ? Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk. Menjelaskan karakteristik anggota Komunitas Korea Pop Fandom Malang, menjelaskan wawasan nasionalisme anggota Komunitas Korea Pop Fandom Malang, menjelaskan pendapat anggota Korea Pop Fandom Malang terhadap sikap nasionalisme, dan menjelaskan bentuk-bentuk perwujudan sikap nasionalisme anggota Korea Pop Fandom Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek penelitiannya adalah ketua, pengurus, dan anggota KFM. Pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis datanya dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Sedangkan pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu: tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah pertama, karakteristik dari anggota KFM adalah anggota perempuan lebih mendominasi, anggota KFM didominasi oleh mahasiswa, anggota KFM berasal dari Kota Malang dan dari luar Kota Malang, KFM menyukai jenis lagu Korea pop, ballad, dan R&B, anggota KFM memiliki berbagai alasan untuk menyukai lagu-lagu dan penyanyi Korea, dan cara anggota KFM menunjukkan bentuk rasa cinta terhadap lagu dan penyanyi Korea. Kedua, wawasan nasionalisme anggota KFM memaknai nasionalisme sebagai cinta tanah air dan anggota KFM memberi contoh wujud nasionalisme. Ketiga, pendapat anggota KFM mengenai nasionalisme ialah pendapat mengenai alasan cinta tanah air sebagai sikap nasionalisme dan pendapat tentang wujud sikap nasionalisme. Keempat, wujud sikap nasionalisme mereka ialah membuat gathering yang bernuansa bakti sosial, menggabungkan antara tarian tradisional bali dengan dance cover korea, memperingati hari kemerdekaan Indonesia, dan anggota KFM memakai baju batik sebagai dresscode dalam acara Indonesia loves Taeyeon by SONEID. Dari penelitian ini dapat ditarik empat simpulan,yaitu pertama, karakteristik yang dimiliki oleh anggota KFM ialah anggota perempuan dan mahasiswa lebih mendominasi jumlah anggota KFM, anggotanya berasal dari Kota Malang dan dari luar Kota Malang, menyukai jenis lagu Korea pop, ballad, dan R&B, menyukai penyanyi solo, boy band,dan girl band Korea, dan memiliki berbagai alasan menyukai lagu dan penyanyi Korea. Kedua, anggota KFM memiliki wawasan nasionalisme sebagai cara pandang terhadap cinta tanah air dan perlu adanya perwujudan terhadap cara pandangan tersebut dalam kehidupanny. Ketiga, anggota KFM berpendapat bahwa sikap nasionalisme itu merupakan perwujudan sikap kebangsan yang cintai tanah air Indonesi dengan cara berprestasi untuk bangsa Indonesia, menyeleksi budaya asing yang masuk ke Indonesia, mencintai pahlawan nasional Indonesia, menjaga budaya dan wilayah Indonesia dari klaim bansa asing,dan tidak setuju dengan pihak yang membenci terhadap lagu kebangsaan Indonesia Raya. Keempat, wujud sikap nasionalisme dari anggota KFM adalah berupa gathering yang bernuansa bakti sosial, menggabungkan antara tarian tradisional Bali dengan dance cover Korea, dan memakai baju batik sebagai dresscode dalam acara Indonesia Loves Taeyeon By SONEID. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini pertama, bagi ketua KFM, agar engajak aggota KFM agar tidak melupakan nasionalisme Indonesia, membuat gathering yang bernuansa nasionalisme, tetap memasukkan budaya Indonesia di dalam komunitas KFM, dan berrsifat selektif terhadap pengaruh budaya Korea yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Saran bagi anggota KFM yaitu, untuk dapat meningkatkan pemahaman anggota KFM tentang konsep nasionalisme, aggota KFM perlu memperdalam pemahaman dan pengetahuan mereka tentang konsep nasionalisme, dan sikap nasionalisme yang telah disebutkan oleh anggota KFM sebaiknya digunakan sebagai sikap nasionalisme dalam kehidupannya. Bagi penelitian lanjutan yaitu diharapkan pada penelitian lanjutan dapat meneliti lebih dalam mengenai bentuk dari wujud nasionalisme yang dilakukan oleh Komunitas Korea Pop Fandom Malang. Bagi pendidikan kewarganegaraan yaitu diharapkan sikap nasionalisme ini ditanamkan di pendidikan sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Karena dalam pendidikan ini generasi penerus bangsa akan muncul dan menjadi individu yang nasionalis dan tidak melupakan jati diri bangsa.

Alat pengunci pintu berpassword berbasis atmega 8535 / As'ad Shidqy Aziz

 

Kata Kunci: Pengunci Pintu, Berpassword, ATMEGA 8535. Sistem keamanan merupakan sistem yang sangat diperlukan oleh orang- orang saat ini dengan banyaknya kasus pencurian terutama kasus pencurian yang menjadi target utama dari para pencuri adalah rumah kosong yang di tinggal penghuninya. Kasus ini banyak terjadi di setiap pelosok daerah bahkan dapat merugikan penghuninya sampai ratusan juta rupiah. Hal ini terjadi karena kelalaian dari para pemilik rumah sendiri. Selain itu juga karena sistem keamanan yang kurang. Dari maraknya pencurian itu diperlukan sebuah sistem pengaman yang terintegerasi. Pembuatan tugas akhir ini bertujuan untuk membuat sebuah inovasi baru terhadap sistem keamanan yang ada sekarang yaitu dengan menggabungkan software dan hardware untuk sistem penguncian pintu yaitu pengunci pintu berpassword dengan komponen utama keypad sebagai masukan password, ATMEGA 8535 yang berfungsi sebagai pengolah masukan dari keypad, LCD sebagai penampil password, RTC DS 1307 sebagai penghasil waktu yang digunakan untuk mengetahui waktu akses terakhir yang dilakukan oleh user, Solenoid door sebagai pengunci pintu dan buzzer sebagai alarm apabila password yang telah dimasukkan salah sebanyak tiga kali. Pembuatan alat ini juga sebagai pengembangan alat yang sudah ada dimana dalam alat yang sudah ada masih menggunakan sebuah IC AT89S51 yang masih menggunakan bahasa tingkat rendah yaitu assembly untuk diganti menjadi ATMEGA 8535 yang dalam pemogramannya sudah menggunakan bahasa C, adanya penampilan password pada LCD akan memudahkan dalam penggunaannya, serta terdapat pencatatan waktu terakhir akses user dan pemblokiran password ketika salah memasukkan sebanyak tiga kali.

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) disertai mind mapping untuk meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa kelas XI-SSI SMA Laboratorium UM tahun ajaran 2011/2012 / Galuh Edytiantika

 

Kata Kunci: Pembelajaran berbasis masalah, Mind Mapping, Keterampilan berpikir kritis, Hasil Belajar Kognitif Hasil observasi awal yang telah dilakukan peneliti di SMA Laboratorium UM khususnya kelas XI-SSI, menunjukkan bahwa keterampilan berfikir kritis di kelas tersebut masih rendah, hal ini bisa diketahui dari kesulitan yang dialami siswa untuk menuliskan dugaan awal pemecahan masalah serta menganalisis data untuk memperoleh jawaban saat diskusi berlangsung karena kedua hal tersebut merupakan indikator dalam keterampilan berfikir kritis. Hal tersebut berdampak pula pada hasil belajar kognitif siswa ketika UTS rata-rata nilai siswa hanya 60, padahal KKM yang ditetapkan adalah 78. Sehingga seluruh siswa dalam kelas tersebut mengikuti remedial. Untuk itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar kognitif serta keterampilan berfikir kritis siswa. Model Pembelajaran yang ditawarkan adalah pembelajaran berbasis masalah, di mana siswa diberikan masalah untuk dipecahkan atau dicari jawabannya, sehingga siswa terbiasa berfikir menyelesaikan masalah. Namun diperlukan juga cara mencatat hasil rekaman informasi selama pembelajaran agar siswa dapat menggunakannya sebagai catatan belajar. Mind mapping dapat digunakan sebagai metode mencatat yang efektif dan menarik berisi informasi lengkap seputar materi dilengkapi warna dan gambar. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang terdiri atas dua siklus dengan 6 kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI-SSI SMA Laboratorium UM dengan jumlah 24 siswa. Instrumen penelitian berupa RPP, LKS, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran berbasis masalah, tes keterampilan berpikir kritis, catatan lapangan, tes evaluasi akhir. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah disertai mind mapping dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan rata – rata persentase keterampilan berpikir kritis 52.4 % pada siklus satu dan 72 % pada siklus II. Hasil belajar kognitif siswa pada siklus I sebesar 21 % meningkat pada siklus II menjadi 79 %.Keterlaksanaan pembelajaran berbasis masalah 69 % pada siklus I dan 84 % pada siklus II. Kesimpulannya bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah disertai mind mapping dapat meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa kelas XI-SSI SMA Laboratorium UM.

Penerapan Laufdiktat pada pembelajaran bahasa Jerman siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang / Ellysa Yuniar Eka Wardhani

 

Kata Kunci: Metode Laufdiktat, kosakata Pengajaran kosakata saat ini semakin mendapatkan perhatian karena telah disadari bahwa pengajaran bahasa yang bersifat gramatikal dapat dikatakan kurang efisien. Pembelajaran kata benda bahasa Jerman merupakan salah satu dari sekian banyak macam pembelajaran dasar yang harus diajarkan kepada siswa, terutama untuk pebelajar pemula. Kata benda dianggap paling penting karena kata benda merupakan bagian pokok suatu kosakata. Kosakata tersebut harus dikuasai oleh siswa agar mudah memahami suatu materi pembelajaran. Kata benda dalam bahasa Jerman selalu diawali dengan Artikel (kata sandang), yaitu jenis maskulin (der), feminin (die), dan neutral (das). Hal-hal tersebut tidak pernah ditemukan sebelumnya oleh siswa dalam bahasa Indonesia. Mengajarkan kosakata akan semakin menarik dan efektif jika menggunakan metode yang tepat. Laufdiktat (dikte berlari) merupakan salah satu bentuk dari metode dikte yang tepat dan dapat meningkatkan kosakata siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Laufdiktat dalam pembelajaran bahasa Jerman siswa kelas X di SMAN 7 Malang, karena di sekolah ini belum pernah melaksanakan metode ini. Selain itu, siswa mengalami kesulitan dalam menghafalkan kata benda. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah seluruh siswa kelas X.3 tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 36 siswa. Untuk mendapatkan data, instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, wawancara, angket respon guru dan siswa, dan lembar hasil pekerjaan siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Laufdiktat merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Melalui metode ini siswa dapat meningkatkan kosakata dalam bahasa Jerman dan juga dapat menulis ejaannya dengan benar. Suasana belajar di dalam kelas akan lebih menyenangkan, sehingga siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil angket siswa sebanyak 75%, yang menyatakan bahwa siswa menjadi lebih aktif ketika menggunakan metode ini dalam pelajaran. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar metode ini dapat diterapkan dalam matapelajaran bahasa asing, pada keterampilan berbahasa yang berbeda dan sekaligus menggunakan penelitian ini sebagai dasar penelitian selanjutnya.

Pengembangan media pembelajaran fisika berbantuan komputer dengan swishmax pada materi teori kinetik gas untuk siswa SMA kelas XI / Syarafina Nur Amalia

 

Kata Kunci : pengembangan, media, SwishMax, teori kinetik gas Teori kinetik gas adalah salah satu materi Fisika yang di dalamnya banyak konsep yang bersifat abstrak. Dengan demikian dibutuhkan suatu alat yang dapat mengambarkan materi tersebut secara jelas dan terlihat nyata. Alat yang tepat digunakan dalam pembelajaran teori kinetik gas adalah berupa media pembelajaran berbentuk animasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat media pembelajaran Fisika berbantuan komputer pada materi teori kinetik gas dan untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran berbantuan komputer yang telah dibuat Metode yang digunakan dari penelitian ini sesuai yang dikemukakan oleh Dick dan Carey. Langkah-langkah pengembangan tersebut, yaitu identifikasi tujuan pembelajaran, analisis instruksional, identifikasi tingkah laku awal/karakteristik siswa, merumuskan tujuan kinerja, mengembangkan instrument penilaian, mengembangkan strategi, mengembangkan produk, melakukan evaluasi, dan revisi. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan angket kepada ahli media dan ahli materi. Data evaluasi tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik persentase untuk mengetahui kevalidan (kelayakan) dari produk media pembelajaran. Hasil analisis data dengan teknik persentase dari masing-masing subjek coba adalah 80% menurut ahli media dan 91,25% menurut ahli materi. Dari hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran berbantuan komputer materi teori kinetik gas memiliki desain dan kebenaran materi yang ditampilkan pada kategori valid (layak).

Pengembangan software permainan simulasi asertif untuk meningkatkan percaya diri siswa SMP / Mulita Isnaini

 

Kata kunci: Software, permainan simulasi, asertif, percaya diri, siswa SMP. Percaya diri adalah sikap positif yang dimiliki individu untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Dalam mengatasi dampak rasa kurang percaya diri siswa, maka diperlukan bimbingan yang terpadu. Salah satu bentuk bimbingan untuk meningkatkan percaya diri siswa adalah dengan melatihkan perilaku asertif. Perilaku asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Perilaku asertif dapat dilatihkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melakukan permainan simulasi. Permainan simulasi adalah permainan yang dimaksudkan untuk merefleksikan situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan yang sebenarnya. Agar siswa lebih tertarik untuk memainkan permainan simulasi ini, permainan simulasi dapat dikemas dalam bentuk software. Pengembangan ini bertujuan menghasilkan produk berupa software permainan simulasi asertif untuk meningkatkan percaya diri siswa sebagai media yang praktis bagi konselor untuk pelaksanaan kegiatan bimbingan. Dengan pengembangan software permainan simulasi ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan perilaku asertif untuk meningkatkan percaya diri siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan yang dikemukakan Borg and Gall (1983), yaitu: 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) melakukan perencanaan, 3) mengembangkan produk awal, 4) melaksanakan uji lapangan permulaan, 5) melakukan revisi produk utama, 6) melakukan uji lapangan terbatas, 7) revisi terhadap produk operasional. Berdasarkan penilaian dari ahli bimbingan dan konseling, yang ditinjau dari aspek kegunaan, kepraktisan dan kemenarikan, software yang dikembangkan sudah memenuhi syarat kelayakan sebagai media bimbingan. Berdasarkan penilaian dari ahli media, ditinjau dari aspek kegunaan, kepraktisan dan kemenarikan, software yang dikembangkan sudah memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Berdasarkan penilaian dari calon pengguna produk (konselor), ditinjau dari aspek kegunaan, kepraktisan dan kemenarikan, software yang dikembangkan sudah memenuhi syarat kelayakan sebagai media bimbingan di sekolah. Berdasarkan penilaian dari calon pengguna produk (siswa), ditinjau dari aspek kegunaan, kepraktisan dan kemenarikan, software yang dikembangkan sudah memenuhi syarat kelayakan sebagai media pelatihan perilaku asertif untuk meningkatkan percaya diri. Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa saran dari peneliti: 1) bagi pengguna; (a) konselor yang akan menggunakan software permainan simulasi ini diharapkan mempunyai latar belakang pendidikan Bimbingan Konseling sehingga akan lebih mudah untuk memahami materi yang ada dalam software permainan simulasi ini; (b) konselor diharapkan memberikan motivasi kepada siswa untuk terus berlatih perilaku-perilaku yang telah diajarkan agar siswa dapat menunjukkan perilaku yang diharapkan; 2) bagi peneliti selanjutnya; (a) pengembangan software permainan simulasi perlu dilakukan uji lapangan untuk dapat mengetahui keefektivan software yang dikembangkan.

Meningkatkan efektivitas pembelajaran lari jarak pendek pada siswa kelas VII G SMP Negeri I Batu dengan metode bermain dan berlomba Rudi Handoko

 

Kata kunci: efektivitas pembelajaran, lari jarak pendek, metode bermain dan berlomba Tingkat efektivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru merupakan salah satu faktor utama kesuksesan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Efektivitas suatu kegiatan belajar dapat terlihat dari proses pembelajaran itu sendiri. Guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan harus kreatif dalam merancang pembelajaran, salah satunya adalah dalam pembelajaran lari jarak pendek. Pembelajaran lari jarak pendek dapat dilakukan dengan metode bermain dan berlomba. Metode bermain dan berlomba merupakan salah satu pendekatan pembelajaran dalam pendidikan jasmani yang berpusat pada permainan dan siswa, untuk membelajarkan tentang permainan yang berhubungan erat dengan olahraga dengan sifat pembelajaran yang konstruktif. Penelitian ini adalah tentang “Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Lari Jarak Pendek pada Siswa Kelas VII G SMP Negeri I Batu dengan Metode Bermain dan Berlomba”. Permasalahannya yaitu bagaimana meningkatkan efektivitas pembelajaran lari jarak pendek di kelas VII G SMP Negeri I Batu dengan metode bermain dan berlomba. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII G SMP Negeri I Batu. Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas terdiri dari siklus-siklus yang saling berhubungan di mana pada tiap-tiap siklus terdiri dari tahap-tahapan; 1. Perencanaan, 2. Pelaksanaan, 3. Pengamatan (observasi), dan 4. Refleksi. Dalam penelitian ini menggunakan dua siklus. Pada siklus pertama terdiri dari dua pertemuan dan pada siklus kedua terdiri dari satu kali pertemuan. Dari hasil pembelajaran lari jarak pendek dengan metode bermain dan berlomba pada siklus I diketahui indikator teknik start jongkok Pada aba-aba “bersedia” sikap yang dilakukan dengan benar oleh siswa adalah sebanyak 21 siswa atau 56,8%. Pada aba-aba “siap” sikap yang benar adalah sebanyak 23 siswa atau 62,2%. Pada aba-aba “ya” sikap yang benar yang dilakukan oleh siswa adalah sebanyak 25 siswa atau 67,6%. Pada teknik berlari persentase gerakan benar adalah 86,5%. Sedangkan teknik memasuki garis finis persentase gerakan benar sebesar 81,1%. Pada siklus II indikator teknik start jongkok pada aba-aba “bersedia” sikap yang dilakukan dengan benar oleh siswa adalah sebanyak 29 siswa atau 78,4%. Pada aba-aba “siap” sikap yang benar adalah sebanyak 31 siswa atau 83,8%. Pada aba-aba “ya” sikap yang benar yang dilakukan oleh siswa adalah sebanyak 33 siswa atau 89,2%. Pada teknik berlari persentase gerakan benar adalah 94,6%. Sedangkan teknik memasuki garis finis persentase gerakan benar sebesar 89,2%.

Proses penerbitan akta kelahiran anak luar kawin di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Jombang / Udia Wati

 

Kata kunci : Penerbitan akta, akta kelahiran, anak luar kawin, catatan sipil. Setiap kelahiran perlu memiliki bukti tertulis dan otentik karena dapat membuktikan identitas seseorang dengan pasti dan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Asal-usul seseorang dapat dilihat pada akta kelahiran yang dikeluarkan oleh suatu lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan akta tersebut yaitu Dinas pendaftaran penduduk dan catatan sipil. Di Jombang Tingkat pengetahuan masyarakat akan pentingnya akta kelahiran dirasa kurang menyeluruh, hal ini dibuktikan masih banyaknya masyarakat kabupaten Jombang melalui program dispensasi pelayanan pencatatan akta kelahiran ada yang belum mempunyai akta kelahiran baik akta kelahiran anak sah dan anak di luar kawin. Permasalahan yang dikaji adalam penelitian ini adalah (1). Apakah syarat-syarat yang dibutuhkan dalam dalam proses penerbitan akta kelahiran anak luar kawin? (2). Bagaimana proses pelayanan penerbitan akta kelahiran anak luar kawin di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten Jombang? (3). Apakah hambatan yang muncul dalam proses penerbitan akta kelahiran anak luar kawin dan bagaimana cara penyelesaiannya? (4). Apakah fungsi akta kelahiran anak luar kawin bagi kehidupan orang yang bersangkutan?. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Untuk mengetahui syarat apa saja yang dibutuhkan dalam penerbitan akta anak luar kawin (2). Untuk mengetahui pelayanan proses penerbitan akta kelahiran khusus di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Jombang (3). Untuk mengetahui hambatan dan cara penyelesaian dalam proses penerbitan akta kelahiran anak luar kawin (4).Untuk mengetahui fungsi akta kelahiran anak luar kawin bagi kehidupan pribadi yang bersangkutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi dalam penelitian ini adalah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Jombang. Sumber data dalam penelitian ini adalah Ibu Sri Kuntari, Ibu Sri Winarsih, Ibu Tatik Sri Berdikariwati, Bapak Beny Iskandar, Bapak Bonasir, peristiwa dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Prosedur analisis data menggunakan model interaktif Milles dan Huberman. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dolumentasi. Data ini dikumpulkan dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akta kelahiran merupakan bukti otentik dan mempunyai kekuatan hukum yang pasti. Proses penerbitan akta kelahiran anak luar kawin sama seperti anak sah pada umunya. Hambatan dalam penerbitan akta kelahiran adalah kurangnya syarat dari pemohon sehingga dalam proses penerbitan akta mengalami sedikit kendala, cara penyelesaiannya adalah pemeriksaan berkas dari pemohon lebih teliti sehingga penerbitan akta berjalan dengan lancar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa (1) Syarat-syarat yang dibutuhkan dalam pengurusan akta kelahiran anak luar kawin itu sama saja dengan persyaratan anak sah, yang membedakan adalah dalam syarat anak luar kawin pemohon tidak melampirkan akta nikah melainkan surat keterangan dari desa bahwa pemohon (ibu) tidak pernah menikah sewaktu melahirkan. (2) Proses Pelayanan penerbitan akta kelahirana anak luar kawin perlu meningkatkan upaya sosialisasi pencatatan kelahiran secara menyeluruh melalui program “Jemput Bola”. (3) Hambatan yang muncul dalam pengurusan akta kelahiran anak luar kawin sejauh ini tidak mengalami hambatan yang sangat rumit, akan tetapi masalah yang menjadi hambatan yang paling sering adalah kurangya syarat-syarat yang diajukan oleh pemohon, cara mengatasi agar tidak terjadi kekeliruan dalam proses penerbitan akta kelahiran, maka perlu sebelum ada penerbitan akta tersebut dilakukan pengecekan sekali lagi kelengkapan berkas atau syarat-syarat dari pemohon sebelum akta kelahiaran dientrimoleh petugas. (4) fungsi akta kelahiran anak luar kawin sama halnya dengan funngsi akta kelahiran secara umum, diantaranya adalah sebagai syarat masuk sekolah dasar sampai perguruan tinggi, membuat KTP, SIM, Paspor, mengurus warisan, mengurus lamaran kerja.dll. Berdasarkan penelitian ini disarankan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten Jombang secara berskala perlu mengadakan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai arti pentingnya akta kelahiran. Mengingat akta kelahiran merupakan bukti yang otentik dalam pembuktian, maka setiap masyarakat wajib mendaftarkan atau mencatatkan setiap peristiwa di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten Jombang. Kemudian Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten Jombang harus lebih aktif dalam meningkatkan pelayanan yang lebih prima kepada masyarakat, perlu ditunjang dengan alokasi pelayanan yang tidak lambat dan efisien sehingga jelas tepat waktunya sesuai alur sistem yang sudah ada.

Hubungan persepsi siswa tentang kompetensi guru bidang studi teknik mekanik otomotif dengan motivasi belajar siswa di SMK Ma'arif Batu / Twin Satriyanto

 

Kata kunci: persepsi siswa, kompetensi guru, motivasi siswa. Dalam proses pembelajaran terdapat interaksi antara guru dan siswa. Dalam keadaan demikian tidak dapat dipungkiri kompetensi guru turut memberi andil dalam mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran. Pengajaran dari guru adalah bagian dari konteks pembelajaran yang merupakan pengalaman pertama yang dihadapi oleh siswa dalam seluruh rangkaian pembelajaran di sekolah, siswa memaknai pengalaman ini melalui proses persepsi dan hasil persepsi mempengaruhi aktivitas mental selanjutnya. Aktivitas mental yang terpengaruh salah satunya adalah motivasi belajar siswa. Persepsi siswa terhadap guru antara lain persepsi tentang kompetensi guru dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru bidang studi teknik mekanik otomotif yang meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi professional, dan kompetensi sosial terhadap motivasi belajar siswa SMK Ma’arif Batu. Penelitian ini dirancang menggunakan deskriptif korelasional yang dilakukan pada siswa kelas X dan XII Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Ma’arif Batu dengan jumlah populasi 64 siswa. Penelitian ini menggunakan angket dan observasi sebagai alat pengumpul data. Kesimpulan penelitian diperoleh ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan motivasi belajar siswa di SMK Ma’arif Batu dengan nilai Fhitung sebesar 41,222 dan signifikansi 0,000 (0,000<0,05) serta dengan sumbangan efektif sebesar 73,68%. Saran yang diajukan berkaitan dengan motivasi belajar siswa Teknik Mekanik Otomotif adalah dengan meningkatkan kompetensi yang dimiliki seorang guru khususnya kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang guru sehingga siswa mampu meningkatkan motivasi belajar secara maksimal.

Meningkatkan kemenarikan pembelajaran lari estafet menggunakan metode pembelajaran kooperatif model TGT untuk siswa kelas IV SD Muhammadiyah 04 Batu / Indraswari Amelia

 

Kata Kunci: Kemenarikan Pembelajaran, Lari Estafet, Kooperatif Model TGT Olahraga atletik diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMA/MA. Lari estafet merupakan salah satu cabang atletik yang diajarkan di SD Muhammadiyah 04 kota batu khususnya pada siswa kelas IV diharapkan dalam pembelajaran ini siswa bisa ikut berperan aktif dalam pembelajaran tetapi dalam kenyataan yang ada di lapangan ditemui fakta bahwa siswa tidak senang dan kurang aktif dalam pelaksanaan pembelajaran lari estafet . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemenarikan pembelajaran lari estafet setelah mengunakan pendekatan pembelajaran kooperatif model TGT. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, lembar observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran lari estafet mengunakan pendekatan kooperatif model TGT. Melalui pembelajaran kooperatif model TGT ini, siswa melakukan lari estafet dalam bentuk permaianan dan perlombaan dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting mengingat tidak semua siswa menyenangi olahraga lari estafet. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 3 siklus. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemenarikan pembelajaran mengunakan pendekatan kooperatif model TGT pada siswa kelas IV SD Muhammadiyah 04 Kota Batu mengalami peningkatan. Hasil tindakan siklus 1 dari perhatian dalam pembelajaran sebesar 47,02%, 2) senang dalam pembelajaran sebesar 51,92%, 3) motivasi dalam pembelajaran 53,84%, 4) keinginan lebih lama untuk belajar sebesar 49,03%. Hasil tindakan siklus 2 dari perhatian dalam pembelajaran sebesar 63,45%, 2) senang dalam pembelajaran sebesar 65,38%, 3) motivasi dalam pembelajaran 69,22%, 4) keinginan lebih lama untuk belajar sebesar 72,11%.. Hasil tindakan siklus 3 dari perhatian dalam pembelajaran sebesar 89,42%, 2) senang dalam pembelajaran sebesar 88,45%, 3) motivasi dalam pembelajaran 86,53%, 4) keinginan lebih lama untuk belajar sebesar 92,30%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Lari Estafet Dengan Pendekatan Kooperatif Model TGT dapat Meningkatkan Kemenarikan Pembelajaran Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah 04 Kota Batu.

Pelaksanaan pembelajaran model STAD untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran melakukan prosedur administrasi (Studi kasus siswa kelas X APK SMK Wisnuwardhana Malang) / Erna Fitria Novianti H.W

 

Kata Kunci: Pembelajaran Model STAD, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Permasalahan yang melatari penelitian ini adalah bahwa metode pengajaran yang digunakan oleh guru mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi di SMK Wisnuwardhana Malang masih menggunakan metode konvensional sehingga peran aktif siswa dalam proses pembelajaran sangat kurang. Masalah ini membuat hasil belajar siswa menjadi kurang maksimal. Salah satu strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar adalah menerapkan pembelajaran model STAD agar dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, meningkatkan aktivitas belajar siswa, dan melatih kerjasama di dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah, untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran model STAD, untuk mengetahui pembelajaran model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, untuk mengetahui hambatan sekaligus solusi dalam pelaksanaan pembelajaran model STAD di kelas X APK SMK Wisnuwardhana Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang berusaha mengungkapkan penerapan pembelajaran model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa secara menyeluruh yang menghasilkan data deskriptif. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APK SMK Wisnuwardhana Malang yang berjumlah 35 siswa. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1)Reduksi data, 2)Penyajian data, dan 3)Penyimpulan hasil analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini berdasarkan pada siklus I prosentase aktivitas belajar siswa adalah 74,09% dan mengalami peningkatan sebesar 9,14% menjadi 83,23% pada siklus II. Perbandingan rata-rata nilai awal siswa dengan rata-rata nilai post test 1 adalah 10,27 dari yang semula 53,17 menjadi 63,44 hal ini terus meningkat pada nilai rata-rata post test 2 yaitu dari rata-rata nilai awal 53,17 menjadi 75,14 pada post test 2. Aspek psikomotor pada siklus I rata-rata nilai siswa sebesar 90,71 mengalami peningkatan sebesar 7,14 menjadi 97,85 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang bisa diberikan adalah pembelajaran model STAD perlu diterapkan dalam proses pembelajaran Melakukan Prosedur Administrasi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi siswa SMK biasakan memahami makna suatu materi bukan hafalan, biasakan mengeksplorasi pemahaman yang dimiliki sebelum bertanya kepada guru. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya model ini dikembangkan lagi, tidak hanya dalam pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi tetapi juga pada mata pelajaran yang lain.

Pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (studi pada kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu) Kabupaten Mojokerto / Yuli Alfi Rusvita

 

Kata Kunci : Pemanfaatan Sumber Belajar, Pembelajaran PKn Sumber belajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses belajar-mengajar di sekolah, selain guru, siswa, bahan ajar, media pembelajaran, metode pembelajaran dan lingkungan belajar. Sumber belajar merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sumber belajar juga memiliki fungsi yang efektif apabila keberadaannya digunakan semaksimal mungkin, agar sumber belajar dapat dimanfaatkan secara optimal maka perlu dikelola dengan sebaik-baiknya. Pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran PKn akan membantu siswa dalam memahami materi PKn dan memudahkan guru menjelaskan materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan:(1) sumber belajar yang dipakai dalam pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu; (2) pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu; (3) hambatan yang dihadapi dalam memanfaatkan sumber belajar dalam proses pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu; (4) upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan dalam memanfaatkan sumber belajar dalam proses pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru PKn kelas VIII dan siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Observasi untuk mengamati langsung segala macam gejala sosial yang ada baik proses, situasi, kondisi, dan aktivitas dari yang diteliti. Wawancara untuk mengetahui dan menjawab segala permasalahan yang sedang diteliti oleh peneliti. Dokumentasi untuk mendokumentasikan sebagai bukti peneliti dan pendukung hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data reduction (reduksi data), data display (penyajian data) conclution of verification (kesimpulan). Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut; (1) sumber belajar yang dipakai dalam pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu adalah buku teks, LKS, koran, kliping, laboratorium komputer dan internet, dan perpustakaan sekolah. Sumber belajar yang paling banyak dimanfaatkan oleh siswa adalah buku teks dan LKS. Setiap siswa memiliki LKS sendiri-sendiri untuk menunjang proses kegiatan belajar mereka. Buku teks juga dimiliki siswa untuk proses pembelajaran dan semua siswa mendapatkannya secara gratis karena mendapat pinjaman dari sekolah; (2) pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu terdapat enam jenis cara pemanfaatan sumber belajar yaitu pemanfaatan pada buku teks, pemanfaatan pada LKS, pemanfaatan pada koran, pemanfaatan pada kliping, pemanfaatan pada laboratorium komputer dan internet, dan pemanfaatan perpustakaan sekolah; (3) hambatan yang yang dihadapi dalam memanfaatkan sumber belajar dalam proses pembelajaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu adalah hambatan pada buku teks yaitu isi dari buku teks kurang lengkap dan kata-katanya sulit dipahami oleh siswa, hambatan pada LKS yaitu soal-soal yang terdapat di LKS sulit dipahami oleh siswa sehingga guru tidak bisa mengambil nilai dari LKS sebagai nilai tugas, hambatan pada kliping dan koran yaitu terjadi keterbatasan dana, keterbatasan waktu dan keterbatasan koran yang terdapat di perpustakaan sekolah, hambatan pada laboratorium komputer dan internet yaitu keterbatasan jumlah komputer dan internet, dan hambatan pada perpustakaan sekolah yaitu kurangnya koleksi buku perpustakaan dan terbatasnya sarana dan prasarana;(4) upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan dalam memanfaatkan sumber belajar dalam proses pembeljaran PKn kelas VIII di SMP Negeri 2 Dlanggu adalah guru menggunakan sumber belajar (buku teks) lebih dari satu, kata-kata yang sulit dipahami dicari dalam kamus, guru menerangkan materi dan soal latihan yang ada di LKS, menambah koleksi perpustakaan sekolah khusunya dalam mata pelajaran PKn, dan mencari informasi atau browsing tentang materi yang sedang diajarkan oleh guru di internet sehingga bisa menambah wawasan guru dan siswa. Saran untuk penelitian ini yaitu dengan adanya upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar, disarankan juga bagi sekolah untuk menambah sumber belajar misalnya berlangganan koran tidak hanya satu koran saja, tetapi bisa lebih dari satu yang bisa dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, saran bagi guru tidak hanya satu kali memanfaatkan sumber belajar seperti koran, perpustakaan, laboratorium komputer atau internet sehingga bisa lebih memotivasi siswa dalam belajar, dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneliti pemanfaatan sumber belajar dalam lingkup lebih luas, dengan menggunakan subyek penelitian lebih dari satu guru dan tidak hanya terpaku di lingkungan sekitar dalam proses belajar mengajar.

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan pemanfaatan lingkungan di kelas V SDN Ngadirejo 2 Kec. Tutur Kabupaten Pasuruan / Eis Saptaningsih

 

Kata Kunci: menulis, puisi, lingkungan Pembelajaran di sekolah-sekolah masih banyak yang menggunakan pembelajaran konvensional sehingga siswa belum terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Pada kenyataannya pembelajaran di SDN Ngadirejo II masih didominasi guru dengan metode ceramah, akibatnya aktivitas dan hasil belajar tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang memfokuskan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam proses menulis. Salah satu alternatif yaitu pemanfaatan lingkungan sekolah dan Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan 1) perencanaan pembelajaran menulis puisi dengan pemanfaatan lingkungan, 2) implementasi pembelajaran penulisan puisi dengan pemanfaatan lingkungan, dan 3) peningkatan kemampuan menulis puisi dengan pemanfaatan lingkungan di Kelas V SDN. Ngadirejo II. Penelitian ini menggunakan Rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelak-sanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini siswa kelas V SDN Ngadi-rejo II Kecamatan Tutur Tahun Pelajaran 2011/2012, yang berjumlah 14 siswa. Data diperoleh melalui observasi, tes tulis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan lingkungan, aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi, dari 62,1% pra tindakan menjadi 72,8% pada siklus I kemudian meningkat pada siklus II menjadi 80%. Serta peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran mulai dari pra kegiatan sampai siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang menggunakan lingkungan, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Ngadirejo II Kecamatan Tutur Pasuruan. Pembelajaran dengan pemanfaatan lingkungan ini membutuhkan waktu, perhatian, dan bimbingan guru yang lebih banyak. Karena memang pembelajaran ini sedikit menyulitkan bagi guru maupun siswa bila tidak direncanakan secara tepat. Untuk itu dalam penerapannya perlu diperhatikan penyusunan rencana pembelajaran dengan memperhatikan alokasi waktu secara cermat, tingkat kesulitan materi, dan tingkat perkembangan anak didik.

Validasi model pembelajaran dengan memanfaatkan museum sebagai media pembelajaran di TK Sriwedari / Tsabita Shabrina

 

Pengembangan CD interaktif pembelajaran biologi materi bakteri (KD 2.2) untuk siswa kelas X SMA/MA dengan pendekatan inkuiri / Fika Anugeraheni

 

Kata kunci: Pengembangan, CD interaktif, bakteri, kelas X SMA/MA, pendekatan inkuiri. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis. Biologi merupakan ilmu yang mempelajari segala kehidupan, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Bakteri sebagai salah satu materi dalam biologi merupakan organisme prokariotik, uniseluler, bersifat heterotrof dan memiliki ukuran tubuh renik. Berdasarkan wawancara diketahui bahwa sifat abstrak pada bakteri disertai istilah-istilah asing yang membingungkan menjadi alasan bagi kebanyakan siswa merasa kesulitan dalam mempelajari materi bakteri. Agar materi bakteri lebih mudah dipahami, maka perlu adanya media yang dapat mengkomunikasikan materi tentang bakteri kepada siswa, oleh karena itu dilakukan penelitian berupa pengembangan CD interaktif untuk materi bakteri. Penelitian pengembangan ini menggunakan model the ASSURE dengan pendekatan inkuiri. Tahapan dalam model the ASSURE yaitu menganalisis pelajar, menyatakan tujuan, memilih metode; media; dan bahan, menggunakan media dan bahan, partisipasi pelajar dalam kelas, serta melakukan penilaian dan revisi. Hasil pengembangan diperoleh dua macam produk yaitu CD interaktif yang terdiri dari komponen-komponen seperti animasi, teks, audio, dan fasilitas berupa tombol-tombol navigasi, dan buku panduan guru sebagai acuan guru ketika menggunakan CD interaktif materi bakteri. CD interaktif dibuat dengan bantuan software Adobe Flash CS 5. Persentasi hasil validasi diperoleh rata-rata sebesar 87,09%, dan 87,01% dalam uji terbatas. Persentase ini menunjukkan bahwa media CD interaktif materi bakteri beserta panduan guru hasil pengembangan baik dari segi isi maupun tampilan dan kemudahan dalam penggunaan sudah layak dan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran materi bakteri di sekolah. Uji terbatas pada siswa juga menunjukkan peningkatan nilai pasca tes dibandingkan nilai pra tes. Agar dapat mengetahui efektifitas CD interaktif, media hasil pengembangan ini perlu diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang sebenarnya baik dalam skala kelas maupun pemanfatan secara mandiri oleh siswa.

Pola perubahan jumlah dan klasifikasi sunspot diamati dari laboratorium astronomi jurusan fisika FMIPA UM pada bulan Februari - April 2012 / Desy Hosenainy

 

Kata Kunci: Sunspot, Aktivitas Matahari, Klasifikasi Zurich Aktivitas matahari berulang rata – rata setiap 11 tahun sekali. Saat ini Matahari memasuki siklus 24 yang dimulai sejak Desember 2008. Siklus 24 diprediksi maksimum terjadi tahun 2013. Menurut kondisi perkembangan sunspot selama kala hidupnya dapat diklasifikasikan ke dalam kelas – kelas perkembangan Sunspot Zurich. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas dan klasifikasi sunspot di permukaan matahari yang diperoleh di Laboratorium Astronomi Fisika UM pada bulan Februari - April 2012 dengan melakukan observasi langsung. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, yaitu memaparkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Astronomi Fisika UM dengan menggunakan Teleskop Celestron. Hasil penelitian menunjukkan perbandingkan nilai 10g+f di Laboratorium Astronomi Fisika UM terhadap Kanzelhöhe Solar Observatory (KSO) yang berada di Universitas Karl Franzen, Graz, Austria didapatkan sebesar 1,154 yang merupakan faktor koreksi Laboratorium Astronomi Fisika UM terhadap Kanzelhöhe Solar Observatory (KSO). Aktivitas Matahari tertinggi yang diamati pada bulan Februari – April 2012 terjadi pada bulan Maret 2012 dengan bilangan sunspot sebesar 76,74. Sedangkan Pola perubahan grup sunspot tidak menunjukkan adanya pola perubahan tertentu. Selama perkembangan grup sunspot memperlihatkan perubahan – perubahan struktur atau fisik grup baik kelas grup, jumlah bintik maupun panjang grup. Penelitian terhadap jumlah dan klasifikasi sunspot tiap bulannya harus terus dilakukan, mengingat perubahan yang terus meningkat pada tahun 2012 dan diprediksi puncak aktivitas matahari berada pada tahun 2013.

Peningkatan kemampuan motorik kasar anak melalui tari kupu-kupu pada kelompok B di TK Pratiwi Pesudukuh Bagor Nganjuk / Eka Wijiastutik

 

Pemetaan resistivitas dengan metode geolistrik flashres 64 61-channel untuk mengidentifikasi deposit bijih emas, titanium dan kalium di Desa Sukorejo Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung / Yunita Agustin

 

Kata kunci: Geolistrik, Deposit , FlashRES64 61-Channel. Batuan sebagai sumber mineral yang berharga merupakan sumber daya alam yang banyak dibutuhkan dan digunakan untuk kehidupan manusia. Desa Sukorejo, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung masih belum memiliki informasi secara detail mengenai potensi deposit sumber daya mineral yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besar deposit dan pola sebaran bijih Emas, Titanium dan Kalium. Hasil uji laboratorium menggunakan XRF menunjukkan bahwa pada lapisan atas di daerah tersebut mengandung bijih Emas (Au) 0,22%, Titanium (Ti) 3,0% dan Kalium (K) 10%. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengungkap besar deposit yang ada di daerah tersebut. Penelitian dilakukan dengan survei lapangan, penentuan line elektroda, pemasangan elektroda, mengalirkan arus melalui elektroda, akuisisi data dengan ZZ Resistivity, pengolahan data dengan software Surfer 9.0, dan prediksi deposit. Jarak line elektroda adalah 11 meter dan jarak spasi elektroda adalah 10 meter dengan kedalaman 100 meter. Dari hasil penelitian, diprediksi volume batuan mineral yang mengandung bijih Emas (Au), Titanium (Ti), dan Kalium (K) adalah 36.575 m3. Tetapi tidak menutup kemungkinan mencapai 419.650 m3.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) siswa kelas X SMA Negeri 4 Blitar / Resa Subhan Effendy

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Group Investigation (GI), hasil belajar. Salah satu permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di kelas X SMA Negeri 4 Blitar adalah rendahnya hasil belajar siswa. Dari hasil belajar pra tindakan diketahui bahwa hanya 12 siswa (40%) yang memenuhi SKM, sedangkan 18 siswa (60%) belum memenuhi, dengan rata-rata hasil belajar pra tindakan sebesar 69. Rendahnya hasil belajar ini dikarenakan guru masih menggunakan metode pembelajaran tradisional dan bersifat teacher oriented seperti ceramah. Akibatnya aktivitas dan keterlibatan siswa dalam belajar menjadi berkurang karena guru mendominasi kegiatan pembelajaran. Untuk itu perlu diterapkan model pembelajaran yang banyak melibatkan aktivitas siswa dalam belajar, salah satunya pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Tahap-tahap penerapannya yaitu: 1) pengelompokan, 2) perencanaan, 3) penyelidikan, 4) pengorganisasian, 5) presentasi, dan 6) evaluasi. Rancangan penelitian ini sendiri menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama dua siklus. Dimana pada setiap siklusnya terdiri dari 4 tahapan meliputi: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Data dalam penelitian diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data ini kemudian dianalisis dan diolah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada siklus I menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa adalah 72,5. Sebanyak 17 siswa (56,6%) sudah memenuhi SKM, sedangkan 13 siswa (43,4%) belum memenuhi SKM. Besarnya peningkatan rata-rata hasil belajar siklus I jika dibandingkan dengan hasil belajar pra tindakan sebesar 4%. Pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 79 dengan keterangan 24 siswa (80%) memenuhi SKM, sedangkan 6 siswa (20%) belum memenuhi SKM. Besarnya peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus II sebesar 8,9%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Group Investigation (GI) dapat meningkatkan hasil belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu: 1) penerapan model Group Investigation (GI) dapat digunakan sebagai referensi sekaligus pertimbangan dalam pemanfaatan model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah, 2) guru perlu melakukan persiapan yang matang, rajin memberikan motivasi, dan semangat kepada siswa agar penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dapat berjalan sesuai dengan perencanaan.

Penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang / Ahmad Sanusi

 

Kata kunci: Penerapan Demokrasi, Lingkungan Siswa Demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Tetapi dalam penerapannya dari Indonesia merdeka hingga sekarang selalu ada penyimpangan pada setiap rezim pemerintah yang pernah berkuasa di negeri ini. Angin segar sempat menginggapi penerapan demokrasi di Indonesia ketika runtuhnya rezim otoriter Orde Baru pada tahun 1998. Namun penerapan demokrasi pada zaman reformasi ini di nilai menyimpang. Agar pemahaman terhadap demokrasi tidak menyimpang maka perlu dilakukan pendidikan demokrasi. Lebih khusus, agar pemahaman siswa terhadap demokrasi tidak menyimpang maka pendidikan demokrasi perlu dilakukan. Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk melakukan pendidikan demokrasi, oleh karena itu SMP Negeri 17 Malang sebagai lembaga pendidikan juga melakukan pendidikan tentang penerapan demokrasi. dengan melakukan pendidikan penerapan demokrasi diharapkan siswa-siswi SMP Negeri 17 Malang dapat memahami penerapan demokrasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang, yang mencakup tujuan penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang; (2) mendeskripsikan wujud nyata penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang; (3) mendeskripsikan tata cara penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang; (4) mendeskripsikan faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang; (5) mendeskripsikan upaya untuk mengatasi faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan kunci seperti peserta didik, kepala SMP Negeri 17 Malang, guru pengajar, dan guru Pembina OSIS. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (1) latar belakang penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang adalah mengacu apa yang telah diamanatkan oleh pancasila sila keempat yang berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” dan pembukaan UUD 1945 alinea pertama hingga alinea keempat. (2) Wujud nyata penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMPN 17 Malang adalah dengan adanya pemilihan OSIS, melakukan musyawarah untuk memperoleh kata mufakat serta memberi kebebasan kepada siswa-siswi untuk menyampaikan inspirasinya kepada guru dan kepala sekolah. (3) Tata cara penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang adalah melaksanakan pemilihan OSIS dengan cara seperti pemilihan umum yang secara langsung dan semua siswa dapat memberikan hak suaranya untuk memilih dan dipilih serta melakukan kampenye bagi calon ketua OSIS. (4) Faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang pemahaman siswa-siswi terhadap materi demokrasi atau penerapan demokrasi yang sangat rendah, selain siswa-siswi ketua OSIS nya saja juga tidak paham tentang penerapan demokrasi sehingga sangat menghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang. (5) Upaya untuk mengatasi faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang adalah Sering melakukan sosialisasi kepada siswa tentang penerapan demokrasi yang baik dan benar agar siswa paham dan tidak keliru dalam mengartikan demokrasi serta melakukan praktek-praktek yang berkaitan dengan penerapan demokrasi khususnya penerapan demokrasi disekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti mengajukan beberapa saran diantaranya adalah: (1) Guru perlu meningkatkan motivasi agar siswa memiliki semangat untuk belajar,baik belajar tentang materi yang mengenai demokrasi maupun penerapan demokrasi. misalnya dengan cara memakai metode belajar belajar yang menyenangkan, dan sekolah memberikan fasilitas yang lebih memadai. (2) Guru pembina OSIS Lebih sering melakukan sosialisasi kepada siswa-siswi bagaimana cara berdemokrasi yang baik, misalnya dengan cara menempelkan tulisan-tulisan di mading sekolah tentang pentingnya penerapan demokrasi di sekolah.(3) Siswa harus lebih kreatif dalam memperoleh sumber dana sendiri agar tidak terlalu bergantung pada sekolah. Misalnya dengan cara mengelolah koperasi untuk menjual barang-barang keperluan siswa SMPN 17 Malang. (4) Sekolah Perlu menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang kondusif agar siswa lebih nyaman dan tidak merasa takut untuk menyampaikan aspirasinya kepada guru, misalnya dengan mengembangkan sikap sopan santun sesama siswa maupun kepada guru (5) Sebagai tempat pendidikan bagi calon guru PKn perlu melakukan penambahan referensi buku-buku tentang demokrasi di perpustakaan jurusan HKn agar mempermudah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan ilmu khususnya tentang demokrasi, mengingat sangat pentingnya masalah penerapan demokrasi bagi calon pendidik atau bagi masyarakat umum.

Hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial-emosional anak usia dini di PAUD Nurusy Syamsi Tanggung Turen Malang / Ria Novita Ningsih

 

Kata Kunci: Intensitas Pengasuhan Orang Tua, Perkembangan Sosial Emosional, Anak Usia Dini. Intensitas pengasuhan orang tua merupakan bentuk interaksi pengasuhan secara langsung mulai dari perkembangan sosial emosional masing-masing anak yang sangatlah unik. Perkembangan sosial emosional anak timbul dari adanya rasa kasih sayang, marah, senang, iri hati, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui a) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial emosional anak usia dini, b) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial anak usia dini usia dini, c) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek amarah, d) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek takut, e) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial emosional anak usia dini pada aspek ingin tahu, f) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek iri hati, g) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek gembira, h) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek sedih, i) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek kasih sayang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua warga belajar di PAUD Nurusy Syamsi yang berjumlah 125 orang dengan menggunakan teknik simple random sampling karena populasi dianggap homogen dan diperoleh sampel sebanyak 50 orang. Pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah analisis deskriptif dan kualifikasi presentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 50 responden intensitas pengasuhan orang tua termasuk kategori sangat baik sebesar 51,72%, perkembangan sosial anak usia dini termasuk kategori sangat baik sebesar 51,72%, perkembangan emosional anak usia dini dibagi menjadi tujuh aspek, pada aspek amarah termasuk kategori tdak baik sebesar 100%, pada aspek takut termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek ingin tahu termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek iri hati termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek gembira termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek sedih termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek kasih sayang termasuk kategori tidak baik sebesar 100%. Tetapi pada hasil korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara variabel X dan Y. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas pengasuhan dengan perkembangan sosial emosional anak usia dini di PAUD Nurusy Syamsi Tanggung Turen Malang. Dari hasil penelitian ini juga disarankan agar orang tua lebih mengembangkan intensitas pengasuhan yang diterapkan pada anak usia dini. Bagi jurusan PLS hendaknya lebih mengembangkan lagi parenting khususnya pada intensitas pengasuhan orang tua. Bagi peneliti lanjutan lebih difokuskan pada intensitas pengasuhan anak usia dini dengan perkembangan emosional anak usia dini.

Analisis isi buku teks ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas 4 SD terbitan pusat pembukuan Departemen Pendidikan Nasional / Dani Prasetiyo

 

Kata Kunci: analisis buku teks, Ilmu Pengetahuan Sosial SD Bahan ajar merupakan bahan pembelajaran yang digunakan untuk membantu siswa dalam belajar. Bahan ajar yang dimaksud, bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar tertulis. Buku teks merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan belajar mengajar, terlebih bagi guru yang yang belum mampu membuat bahan ajar sendiri berdasarkan kurikulum yang berlaku. Buku teks yang baik adalah buku teks yang isinya sesuai dengan kurikulum yang berlaku, karena memang buku teks pembuatannya mengacu pada kurikulum yang berlaku pada saat itu. Berdasarkan hasil kajian terhadap buku IPS kelas 4 terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia pada pokok bahasan peta pada minggu ke-3 bulan Desember, ditemukan terdapat indikator yang belum muncul dalam buku teks tersebut. Indikator tersebut yaitu mendeskripsikan jenis-jenis peta, maka ketika siswa membaca buku tersebut pengetahuan yang didapat siswa tidak menyeluruh. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif dalam penelitian ini bermaksud untuk mengetahui presentase kesesuaian indikator yang termuat dalam kurikulum dengan materi yang terdapat dalam buku teks dan kesesuaian buku teks dilihat dari aspek kognitif yang meliputi adanya fakta, konsep, dan generalisasi. Tidak hanya itu, tetapi dilanjutkan dengan mendeskripsikan hasil analisis pada cakupan materi yang ada pada buku teks berdasarkan aspek afektif dan psikomotor, serta mendeskripsikan hasil analisis evaluasi pada buku teks berdasarkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sampel dalam penelitian ini adalah buku teks IPS SD kelas 4 terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia. Sampel pada penelitian ini diambil dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). Berdasarkan hasil analisis terhadap buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia diketahui kesesuaian cakupan yang terangkum dalam buku IPS SD tersebut berdasarkan kurikulum dapat diketahui sangat sesuai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis Kompetensi Dasar 1.1 sampai Kompetensi Dasar 2.4 terdapat 53 materi pokok yang ingin dicapai. Materi pokok yang belum muncul ada 11 materi pokok atau 20,76%, dan yang telah muncul berjumlah 42 materi pokok atau 79,24%. Dalam analisis selanjutnya, diketahui kesesuaian cakupan yang terangkum dalam buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia berdasarkan aspek kognitif yang berupa fakta, konsep, dan generalisasi dapat dikatakan cukup sesuai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis terdapat 78 fakta, 103 konsep, dan 25 generalisasi yang seharusnya dicapai. Dari data tersebut fakta yang belum muncul ada 29 atau 37,18% dan yang telah muncul ada 49 atau 62,82%, konsep yang belum muncul ada 39 atau 37,86% dan yang telah muncul ada 64 atau 62,14%, dan generalisasi yang belum muncul ada 5 atau 20,00% dan yang telah muncul ada 20 atau 80,00%. Selanjutnya dalam analisis buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia terhadap cakupan materi berdasarkan aspek afektif dan aspek psikomotor dapat dikatakan sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari 117 materi pelajaran yang ada pada buku tersebut hanya terdapat 20 materi pelajaran yang terdapat aspek afektif dan 97 materi pelajaran tidak terdapat aspek afektif. Sedangkan untuk aspek psikomotor, dari 117 materi pelajaran yang ada hanya terdapat pada 9 materi pelajaran dan 108 materi pelajaran tidak terdapat aspek psikomotor. Dalam analisis selanjutnya, diketahui soal evaluasi yang terdapat pada buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia berdasarkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sangat tidak sesuai. Hal ini dapat dilihat dari 310 butir soal evaluasi yang ada pada buku tersebut hanya berada pada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotornya tidak muncul. Dari 310 butir soal kognitif tersebut, 290 butir soal masuk pada C1, 16 butir soal masuk pada C2, dan 4 butir soal masuk pada C3. Saran dalam penelitian ini yaitu, guru sebagai pengajar hendaknya lebih selektif dalam memilih bahan ajar, khususnya buku teks yang sesuai dengan kurikulum yang ada dan juga disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, sehingga materi yang terangkum dalam buku teks dapat dengan mudah dipahami oleh siswa sehingga membantu dalam belajar, dan peneliti menyarankan agar peneliti lain dapat melakukan penelitian yang sejenis namun cakupan analisisnya bisa lebih banyak, misalnya dari aspek bahasa dan media dalam buku teks.

Kegiatan melukis kaca siswa kelas XI IPS 1 pada pembelajaran seni rupa semester 2 (genap) di SMA Negeri 2 Batu / Tiara Astriani

 

Kata Kunci: Melukis kaca, Siswa XI IPS, Pembelajaran Seni Rupa, SMA 2 Batu Kreatifitas siswa SMA yang berkembang memerlukan variasi kegiatan baru dalam pembelajaran seni budaya untuk menambah pengalaman baru bagi siswa. Variasi tersebut yaitu melu¬kis dengan media kaca. Tujuan penelitian ini ada¬lah untuk mengetahui proses pembela¬jar¬an lukis kaca di SMAN 2 Batu, hasil krea¬tifitas siswa, dan fak¬tor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajarannya. Pene¬litian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melakukan obse¬rva¬si, wawancara, dokumentasi dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran melukis kaca pada sis¬wa kelas XI IPS I belum menunjukkan hasil yang maksimal. Hasil dari segi tema kom-posisi, variasi warna yang digunakan masih belum maksimal. Sela¬in itu minat siswa menurun saat melakukan proses pembelajaran. Siswa ma¬sih merasa kesulit¬an dalam men¬cari ide dan melakukan proses pembuatan sket gambar. Dalam pro¬ses pewarnaan, siswa hanya menggunakan bahan seadanya saja tanpa ada usaha un¬¬tuk menampilkan karya yang maksimal. Hal itu disebabkan ka¬rena da¬¬lam pem-belajaranya guru tidak menggunakan metode dan pendekatan yang te¬pat. Terdapat beberapa faktor yang mendukung proses pembelajaran lukis kaca diantaranya yaitu dari pihak sekolah dan orang tua yang mendu¬kung sepenuhnya proses pembe¬lajar¬an lukis kaca. Selain itu biaya yang digunakan ekonomis dan mudah menda¬patka alat dan bahan. Faktor penghambat dalam pembelajaran lukis kaca yaitu ke¬tidak¬siapan guru diantaranya RPP, metode dan pendekatan yang ku¬rang mendu¬kung, waktu dan sarana yang terbatas sehingga proses melukis kaca tidak bisa dikerjakan sepenuhnya disekolah. Dari hasil penelitian disarankan model pembe¬lajar¬an, metode dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dirancang secara mudah dan dapat dicerna oleh siswa. Isi materi pembelajaran sebaiknya mengikuti kurikulum yang berlaku. Pihak sekolah sendiri diharapkan mendukung proses pembelajaran seni dengan menyediakan ruang khusus untuk pembelajaran seni.

Cerita fiksi dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP / Dini Pangestuning Tyas

 

Kata Kunci: cerita fiksi, buku teks bahasa Indonesia SMP. Buku teks yang baik hendaknya menarik dan sesuai dengan kemampuan penggunanya. Buku teks bahasa Indonesia terdapat teks sastra dan nonsastra. Teks yang diteliti dalam penelitian ini adalah teks sastra yang meliputi cerpen dan dongeng. Novel tidak diteliti karena dalam buku teks bahasa Indonesia SMP, novel berupa kutipan sehingga kurang tepat untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Cerita Fiksi dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data penelitian ini adalah paparan kalimat yang berupa kutipan cerita. Sumber data penelitian ini adalah cerpen dan dongeng yang terdapat dalam buku teks bahasa Indonesia SMP kelas VII, VIII, dan IX. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa tabel pengumpul data dan untuk mengenali cerita fiksi, maka digunakan tabel identifikasi cerita. Tahapan analisis data (1) menganalisis tokoh utama, (2) menganalisis sudut pandang, (3) menganalisis penokohan tokoh, (4) menganalisis latar pada cerita, (5) menganalisis alur cerita, (6) menganalisis tema, dan (7) menganalisis kesesuaian cerita fiksi dengan penggunanya. Pengecekan keabsahan data pada penelitian ini dengan tiga cara, yaitu (1) ketekunan pengamatan, (2) kecukupan referensial, dan (3) diskusi kesejawatan. Berdasarkan hasil analisis data diketahui dan disimpulkan bahwa (1) tokoh utama dalam cerita fiksi sebagian besar adalah rakyat biasa dan penokohan dalam cerita fiksi sebagian besar menggunakan teknik dramatik, (2) latar cerpen dan dongeng ditemukan bahwa sebagian besar tempat yang digunakan dalam cerita fiksi tersebut adalah di rumah, (3) alur cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia SMP sebagian besar bersifat kronologis, (4) sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerita fiksi sebagian besar menggunakan sudut pandang orang ketiga, (5) tema yang ditemukan berupa tema sosial dan egoik, (6) kesesuaian cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia SMP dengan aspek psikologi siswa SMP dan latar, sebagian besar sesuai dengan keadaan sekarang. Dari kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu (1) siswa dianjurkan untuk lebih meningkatkan kegemaran membaca karya sastra karena melalui karya sastra, wawasan pengetahuan bisa bertambah luas, (2) guru agar memanfaatkan hasil penelitian ini untuk mengetahui dan memahami karakteristik cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia SMP serta dapat memilih teks sastra yang sesuai untuk siswa, dan (3) peneliti selanjutnya agar dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia.

Pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah 1 Malang / Yulistine Dwi Susanti

 

Kata Kunci : Ekstrakurikuler , Melukis, SD (Sekolah Dasar) Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan diluar jam kurikuler, yang ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar akademik. Sehingga dalam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki siswa tersebut. SD Muhammadiyah 1 Malang adalah salah satu sekolah dasar di Malang yang menyediakan beragam kegiatan ektrakurikuler, termasuk kegiatan ekstrakurikuler melukis. Pelaksanaannya merupakan kegiatan wajib yang diikuti oleh siswa kelas 1 dan kelas 2. Sekolah menyediakan fasilitas menunjang untuk kegiatan ekstrakurikuler ini, misalnya krayon dan buku gambar yang diberikan kepada masing-masing siswa. Pelaksanaannya dibimbing oleh pengajar dari LKM (Lembaga Kesenian Malang). Siswa diajarkan untuk mewarnai menggunakan krayon dengan metode pemberian pola. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah I Malang yang berfokus pada bagaimana pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler melukis dan bagaimana pelaksanaan kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler melukis serta bagaimana hasil karya siswa peserta ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah I Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Analisis data dimulai dari tahap reduksi data, sajian data, dan tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut didapatkan beberapa kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut: (1) mengenai pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler melukis, sekolah belum mengalami kendala selama 3 tahun ekstrakurikuler melukis diadakan, hingga saat ini belum tampak hasil atau prestasi yang menonjol yang ditunjukkan oleh siswa peserta ekstrakurikuler melukis; (2) Pelaksanaan ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah I Malang merupakan kegiatan yang menekankan kegiatan mewarnai dengan menggunakan metode pemberian pola, bukan merupakan kegiatan menggambar bebas ataupun melukis. Minat sangat berpengaruh dalam kegiatan pembelajaran, kaitannya dengan kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler melukis guru kesulitan mengarahkan dan menertibkan siswa, siswa cenderung menunjukkan sikap kurang perhatian pada pembelajaran, memberontak, bermain-main, enggan atau hanya diam saja dan mengerjakan tugas dari guru, sehingga tujuan pembelajaran sulit dicapai; (3) karya siswa dalam satu kelas cenderung menghasilkan karya yang memiliki kemiripan.

Perilaku seks dan kehamilan pranikah remaja (studi fenomenologi) / Diah Megawati

 

Kata Kunci: perilaku seks, kehamilan pranikah remaja, fenomenologis Masa remaja merupakan masa untuk mencari jati diri. Remaja yang sedang dalam masa pubertas atau yang akan memasuki masa puber lebih dipengaruhi oleh libido atau kematangan seksual yang sedang memuncak. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Bagi sebagian remaja, seks pranikah dianggap suatu hal yang wajar seiring dengan perubahan zaman saat ini, sehingga dipersepsikan sebagai gaya hidup yang dapat dikonsumsi oleh siapa pun. Bagi mereka yang awalnya hanya mencoba-coba melakukan hubungan atau kontak seksual, cenderung ketagihan dan akan melakukan lagi, sebab mereka telah mendapatkan kenikmatan dari hubungan terlarang ini. Hal yang paling menonjol dan nyata dari kasus ini adalah meningkatnya angka kehamilan pranikah yang tidak diinginkan oleh pasangan remaja yang pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan rinci mengenai fenomena di lapangan tentang: (1) pemaknaan perilaku seks pranikah bagi remaja, dan (2) pemaknaan kehamilan pranikah bagi remaja. Fenomena atau kasus tersebut akhir-akhir ini marak terjadi pada kehidupan remaja. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Rancangan atau desain penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah desain penelitian fenomenologis. Pendekatan kualitatif dipilih oleh peneliti untuk memperoleh data mengenai fenomena remaja yang terkait dengan pemaknaan perilaku seks pranikah bagi remaja dan pemaknaan kehamilan pranikah bagi remaja. Sumber data penelitian terdiri dari tiga informan yaitu subyek penelitian sebagai sumber primer, saudara kandung laki-laki subyek penelitian sebagai sumber sekunder, dan teman subyek penelitian sebagai sumber tersier. Sumber data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik bola salju (snowball sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Subyek penelitian dalam kasus ini bernama Mawar. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap Mawar, diperoleh hasil penelitian bahwa kegiatan subyek penelitian pada kesehariannya sering nongkrong dengan pacar dan teman-temannya di alun-alun, berboncengan, dan makan ramai-ramai. Subyek penelitian menyukai kehidupan atau pergaulan yang bebas sehingga dia cenderung mudah terpengaruh oleh ajakan pacar atau teman-temannya. Sedangkan di rumah, orang tua memberikan kebebasan bergaul dengan semua orang kepada subyek penelitian. Orang tua juga tidak menanamkan aturan-aturan yang berlaku di rumah yang dapat membuat pergaulan subyek penelitian menjadi terkontrol. Orang tua kurang perhatian kepada subyek penelitian sehingga membuat dia akhirnya terjerumus ke dalam dunia seks pranikah, bahkan sampai mengalami kehamilan pranikah. Perilaku seksual subyek penelitian berawal dari ciuman yang dilakukan setiap kali bertemu dengan pacar. Hal ini membuat subyek penelitian menjadi terdorong untuk mempraktikkan hubungan seksual pranikah. Selain itu, adanya kesempatan juga turut menjadi faktor pendukung bagi subyek penelitian dan pacarnya dalam melancarkan aksi ini. Sekedar mencoba-coba mempraktikkan, subyek penelitian akhirnya menjadi ketagihan untuk berhubungan badan. Perilaku seks pranikah dimaknai oleh subyek penelitian sebagai wujud rasa cinta kepada pacarnya. Perilaku seks pranikah ini dilakukan atas dasar suka sama suka, sehingga tidak ada unsur paksaan, agar dapat menimbulkan kenikmatan ketika berhubungan badan. Subyek penelitian pernah melakukan making love dengan dua orang laki-laki lain yang berbeda, di waktu yang berbeda pula. Kehamilan pranikah sudah dua kali menimpa subyek penelitian. Subyek penelitian menyesal, takut, dan bingung, sampai membuat subyek penelitian pasrah dengan kehamilan yang menimpa dirinya. Sebab, dia hanya menginginkan adanya tanggung jawab atas janin yang dikandungnya.Kehamilan pranikah yang dialami oleh subyek penelitian dimaknai sebagai ujian hidup yang harus dia terima dan harus dijalani. Berdasarkan temuan penelitian di atas, maka disarankan kepada para remaja agar lebih berhati-hati dalam bergaul. Remaja sebaiknya dapat selektif dalam memilih dan memilah teman. Kepada para orang tua, diharapkan agar orang tua dapat menerapkan aturan yang berlaku di rumah. Aturan ini dapat dijadikan sebagai bentuk kepedulian dan kontrol perilaku terhadap pergaulan anak. Untuk konselor, agar lebih intensif dalam memberikan layanan informasi tentang pendidikan seksualitas yang benar kepada siswa. Upaya pemahaman, pencegahan, dan perbaikan dapat menyelamatkan siswa dari pergaulan yang semakin bebas dan kurang kontrol. Agar lebih menarik, konselor dapat mengemas materi seksualitas dalam bentuk media, misalnya saja menggunakan media buku saku. Selain itu, antara konselor dan pihak sekolah dapat bekerja sama dengan pihak lain dalam rangka menyelenggarakan seminar atau workshop kepada siswa tentang pendidikan seksualitas.

Problematika pembelajaran menulis karangan kelas IV sekolah dasar di gugus 4 Kec. Turen Kab. Malang / Kartika Sari Romadhani

 

Kata Kunci : Problematika, Pembelajaran menulis karangan Menulis pada dasarnya merupakan suatu keterampilan berbahasa berupa kegiatan produktif dan ekspresif yang membutuhkan kesabaran, keuletan, dan kejelian tersendiri. Dibandingkan dengan keterampilan menyimak, membaca, dan berbicara, ketermpilan menulis siswa sekolah dasar masih rendah. Diantaranya kendala yang membuat pembelajaran mengarang menjenuhkan adalah kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan berbagai model pembelajaran, kurangnya pemahaman guru terhadap materi mengarang. Akibatnya pembelajaran mengarang menjadi kegiatan yang menjenuhkan. Tujuan dari penelitian ini antaralain: pertama mengetahui persepsi guru terhadap materi sajian mengarang, kedua mendeskripsikan persepsi guru terhadap perencanaan pembelajaran, ketiga mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan pembelajaran, keempat mengetaui sejauh mana persepsi siswa terhadap materi sajian mengarang, serta kelima mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran mengarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah gugus 4 sekolah dasar di Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik random sampling. Guru sebagai populasi sampel karena jumlahnya hanya 9, sedangkan untuk sampel siswa 20% dari 249 siswa yaitu 50 siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat dipaparkan bahwa 78% guru belum memahami persamaan ide pokok dengan gagasan utama, 89% guru bisa menjelaskan jenis-jenis latar, dalam pelaksanaan pembelajaran informasi materi dan informasi tujuan tidak disampaikan, guru masih menggunakan metode yang monoton, tidak menyimpulkan materi dan refleksi pada pelaksanaan pembelajaran. kurangnya faktor pendukung dalam pembelajaran mengarang seperti buku ajar, alat peraga, serta media pembelajaran. Disarankan kepada guru-guru sekolah dasar agar menguasai materi yang akan disampaikan pada siswa, seperti ide pokok, jenis latar, tanda baca, dan jenis kata sebelum melaksanakan pembelajaran mengarang. Hendaknya guru meyusun sendiri rencana pelaksanaan pembelajaran, serta menggunakan media dan metode dalam pembelajaran mengarang yang bervariasi agar siswa tidak merasa bosan dengan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Hubungan penguasaan kosa kata dengan kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo / Dheny Wahyuningtyas

 

Kata Kunci : penguasaan kosakata, menulis cerita, SD. Penguasaan kosakata adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa Kelas IV di Gugus 02, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo dalam memahami kosakata yang meliputi morfologi, fungsi sintaksis, dan ejaan. Penguasaan kosakata sangat penting dalam menulis cerita pengalaman. Untuk itu diperlukan kemampuan penguasaan kosakata untuk menulis cerita pengalaman tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) tingkat penguasaan kosakata siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo, (2) tingkat kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo, dan (3) ada tidaknya hubungan penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas IV SDN di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo yang berjumlah 60 orang dan semuanya diteliti, sehingga disebut sampel total. Data dikumpulkan menggunakan instrumen soal tes pilihan ganda untuk menghitung tingkat penguasaan kosakata siswa dan uraian untuk menghitung kemampuan menulis cerita pengalaman siswa. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan korelasional yang menggunakan teknik korelasi product moment. Instrumen sebelum digunakan untuk mengumpulkan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil analisis validitas dan reliabilitas semua soal dinyatakan valid dan reliabel. Hasil analisis deskriptif terhadap penguasaan kosakata siswa tergolong baik terbukti dengan sebanyak 76,6% siswa mendapatkan nilai 60 sampai dengan 100. Sedangkan hasil kemampuan menulis cerita pengalaman siswa tergolong baik sekali terbukti dengan hasil analisis yang menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai 61 sampai dengan 100 mencapai 100% yang berarti bahwa semua siswa mempunyai kemampuan dalam menulis cerita. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rhitung lebih besar dari rtabel yaitu 0,637>0,330 pada taraf signifikansi 1%. Jadi dapat dikatakan bahwa ada korelasi yang positif dan signifikan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo.

Perbedaan hasil belajar IPA siswa kelas III yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penganggungan Malang / Choirin Nisa'

 

Kata Kunci: model starter eksperimen, hasil belajar IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia yang diperoleh dari pengalaman melalui metode ilmiah. Dalam pembelajaran IPA, siswa diajak belajar mengungkapkan gejala-gejala alam dengan mengikuti kaidah ilmiah. Pada pembelajaran IPA di SDN Penanggungan Malang, guru belum pernah melaksanakan eksperimen, sehingga siswa belum pernah diajak belajar dengan mempraktekkan prinsip-prinsip metode ilmiah. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi pada mata pelajaran IPA. Model pembelajaran starter eksperimen merupakan salah satu model penerapan pembelajaran kontekstual yang melatih dan mengajarkan siswa untuk belajar konsep IPA sama halnya dengan seorang ilmuwan IPA. Model starter eksperimen mempunyai ciri khusus yaitu mengetengahkan lingkungan alam sebagai penyulut (starter) yang ditunjukkan pada tahap percobaan awal melalui demonstrasi guru, selanjutnya pembelajaran dilakukan dengan mempraktekkan prinsip-prinsip metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, desain percobaan, percobaan pengujian dan laporan hasil penelitian. Siswa belajar aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajaran, dengan demikian siswa akan menemukan sendiri sesuai hasil yang diperoleh selama pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memaparkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi (2) memaparkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter ekaperimen dan (3) memaparkan ada atau tidak adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penanggungan Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model penelitian eksperimen semu (quasi experimental). Desain eksperimen yang digunakan adalah desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SDN Penanggungan Kota Malang yang berjumlah 65 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengunpulkan data berupa soal tes hasil belajar. Pada analisis data digunakan rumus Uji-T Independen dengan menggunakan data rata-rata hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen sebesar 85,53 lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi yang hanya mencapai 78,84. Sesuai tabel analisis uji t, diperoleh thitung sebesar 4,120 sedangkan pada taraf signifikansi 5 % dengan N = 65 diperoleh ttabel sebesar 1,990. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel. Maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA siswa kelas III yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penanggungan materi Gerak Benda. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Guru sebaiknya terampil dalam mengembangkan model-model pembelajaran untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA, khususnya model pembelajaran starter eksperimen. Dengan model starter eksperimen, guru dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas siswa untuk menyusun sendiri konsep-konsep baru dalam struktur kognitifnya melalu metode ilmiah dan (2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lanjut yang ingin meneliti dan mengembangkan penelitian ini pada lingkup subjek penelitian yang lebih besar lagi atau menggunakan rancangan True Experiment.

The implementation of life skills education at public senior high schools in Malang / Dewi Ni'matin

 

Kata kunci: penerapan, pendidikan kecakapan hidup Tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang dalam lampiran Peraturan Menteri Nasional Pendidikan No.22 tahun 2006 adalah untuk mengembangkan potensi siswa sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan, mulia, sehat, berilmu, berkompeten, creative, mandiri, dan demokrasi juga bertanggung jawab. Sekolah seharusnya menjadi miniatur dari kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah memasukkan unsure pendidikan kecakapan hidup dalam proses belajar pembelajaran, sehingga siswa mempunyai modal untuk menghadapi masalahnya dkemudian hari. Metode penelitian ini adalah survey karena tujuan penelitian ini adalah untuk mendeksripsikan penerapan pendidikan kecakapan hidup di SMA Negeri di Malang. Peneliti mengambil tiga sekolah sebagai sampel penelitian melalui beberapa tahapan. Pertama, mendata seluruh SMA Negeri di Malang berdasarkan ranking pada ujian nasional tahun 2010. Kedua, mengelompokkan sekolah tersebut menjadi tiga kelompok; tinggi, sedang, dan rendah. Terakhir, memilih satu sekolah dari masing-masing kelompok untuk dijadikan sampel. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada semua guru bahasa Inggris disekolah sampel. Hasil penelitian akan ini disajikan dalam bentuk paparan setelah diklasifikasikan ke dalam aspek yang terkait. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa guru SMA Negeri di Malang menanggapi penerapan pendidikan kecakapan hidup di SMA sebagai program yang bagus karena bermanfaat untuk siswa dan bisa membantu siswa menghadapi masalah mereka dikemudian hari. Dalam pelaksanaanya, guru-guru telah menerapkan pendidikan kecakapan hidup dalam kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Mereka mengalami beberapa hambatan dalam penerapan kecakapan hidup dalam kelas. Sebagian besar hambatan itu berasal dari siswa yaitu siswa tidak mengerti pentingnya pendidikan kecakapan hidup untuk mereka dan beberapa siswa memang memiliki kelemahan dalam bahasa Inggris. Beberapa saran ditujukan kepada beberapa pihak. Guru disarankan untuk memperbanyak variasi kegiatan pembelajaran di kelas sehingga siswa bisa mengasah kemampuan mereka dengan berbagai cara. Untuk Diknas, disarankan untuk menyelenggerakan seminar tentang pendidikan kecakapan hidup agar guru mendapatkan pemahaman lebih tentang kecakapan hidup (life skills). Untuk mahasiswa Universitas Negeri Malang, disarankan untuk mulai membuat kegiatan pembelajaran yang variatif dan menarik yang bisa diterapkan kepada siswanya nanti. Peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti unsur lain tentang pendidikan kecakapan hidup seperti menganalisis teknik dan materi pendidikan.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran Cooperative model intergrated Reading and Compesition (CIRC) pada siswa kelas V SDN II Kenoireng Kecamatan Besuki Tulungagung / Triaswuri Kartikasari

 

Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), SD Hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas V SDN II Keboireng kecamatan Besuki kabupaten Tulungagung pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membaca pemahaman didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi. Dari hasil pra tindakan diketahui bhwa dari 30 orang sisa hanya 5 orang yang mendapatkan nilai lebih dari KKM yang ditentukan yaitu 65,00. Untuk itu untuk agar dapat meningkatkan kemampan membaca pemahaman siswa , maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran yaitu dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskribsikan peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC. Penelitian ini menggunakan jeni penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN II Keboireng kecamatan Besuki kabupaten Tulungagung. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran CIRC dapat dilaksanakan dengan efektif delam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Terbukti dari tercapainya hampir semua indikator sesai dengan RPP yang telah dibuat dengan baik. Aktivitas pembelajaran tersebut meliputi keaktifan dan kerjasama dalam kelompok. Hasil belajar, aspek-aspek yang ditekankan adalah menjawab pertanyaan, menemukan gagasan utama, menceritakan kembali dan memberikan tanggapan sesuai teks bacaan. Hasil penelitian menunjukkn bahwa penerapan model CIRC untuk materi membaca pemahaman cerita rakyat maupun artikel sangat efektif. Kemampuan membaca pemahaman sisa melipuiti pemahaman literal, inferensial, kritis dan kreatif. Hasil belajar pada siklus I memperoleh rata-rata 56,66 dengan prosesntase ketuntasan belajar sebesar 13,33% dan pada siklus II memperoleh rata-rata nilai ebesar 72,17% dengan prosesntase ketuntasan belajar sebesar 80,00%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana rujukan penelian lebih lanjut dengan memperhatikan dan melakukan persiapan yang matang dalam pembagian tugas kelompok.

Kesulitan guru SD dalam pembelajaran membaca permulaan siswa kelas I Gugus 5 Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Heni Widi Astutik

 

Keyword : Difficulty of teacher in study read start. Membaca merupakan alat bagi siswa untuk mengetahui mata pelajaran yang dipelajarinya di sekolah. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum 2004, diarahkan pada pengajaran terpadu untuk lebih menumbuhkan kemampuan berbahasa Indonesia. Dalam pembelajaran baik lisan maupun tulisan. Dalam pengajaran bahasa indonesia mempunyai berbagai kemampuan berbahasa Indonesia, terdapat empat aspek keterampilan yang dilakukan secara terpadu . Keempat aspek yang di lakukan secara terpadu, adalah (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis (Santoso. 2009:3.29) Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata dan kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru di beri kebebasan untuk memilih dan menerapkan model pembelajaran membaca permulaan agar mencapai hasil yang diharapkan. Pembelajaran permulaan di SD ditekankan pada penguasaan lambang-lambang tulisan dengan tujuan, agar siswa mampu membaca lancar dengan lafal yang tepat, karena dengan kemampuan membaca lancar siswa mudah memahami arti dan maksud sebuah kalimat atau bacaan.

Penerapan teori bruner untuk meningkatkan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang pada siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 Pakis / Rina Hikmatul Mufida

 

Kata Kunci: teori Bruner, penguasaan konsep, SDN Banjarejo 03 Berdasarkan hasil observasi awal, diketahui bahwa siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang banyak yang mengalami kesulitan ketika menentukan keliling dan luas jajaran genjang. Dari hasil tes awal, diketahui bahwa banyak siswa yang masih bingung dalam membedakan konsep keliling dan luas jajaran genjang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan penerapan teori Bruner untuk meningkatkan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang pada siswa kelas IV SDN Banjarejo 03, (2) mendeskripsikan peningkatan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang pada siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan teori Bruner, dan (3) mendeskripsikan kesulitan yang dialami siswa dan guru selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan teori Bruner untuk meningkatkan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang di kelas IV SDN Banjarejo 03 Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data tentang proses dan hasil pembelajaran baik sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti meliputi: observasi, wawancara, catatan lapangan, tes, dan dokumentasi. Penelitian ini mengambil sampel siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 Pakis Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan teori Bruner dilakukan berdasarkan tiga tahapan yaitu enaktif, ikonik dan simbolik, penerapan teori Bruner dalam pembelajaran Matematika materi keliling dan luas jajaran genjang dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. Hal tersebut terbukti dari hasil evaluasi yang mengalami peningkatan. Pada hasil pretes yang tuntas mendapatkan nilai di atas KKM hanya 9 siswa (42,9%), pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 14 siswa (66,7%), sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan lagi yaitu menjadi 18 siswa (85,7%). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi guru yang akan mengajarkan konsep Matematika dapat menerapkan teori Bruner sebagai model pembelajaran. Bagi peneliti lain, kelemahan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian lanjutan mengenai teori Bruner agar dapat merancang pembelajaran yang efisien sehingga tidak memerlukan banyak waktu dan hendaknya peneliti memperkenalkan langkah-langkah penerapan teori Bruner terlebih dahulu pada materi yang lain, sehingga pada saat pelaksanaan penelitian siswa dan guru tidak merasa canggung dan kesulitan.

Manajemen perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa di SD Negeri Percobaan 1 Malang / Arief Ardiansyah

 

Kata Kunci : Manajemen perpustakaan, pembinaan, minat baca. Sekolah merupakan suatu tempat yang digunakan untuk atktivitas pembelajaran. Aktivitas pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas saja, namun dapat juga dilakukan di luar kelas, salah satunya di perpustakaan. Pemanfaatan layanan perpustakaan bertujuan agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar sebagai penunjang sarana belajar dan media belajar. Karena perpustakaan sekolah merupakan bagian yang integral dan bagian dari manajemen pendidikan yang vital. Membaca adalah masalah yang penting di dalam dunia pendidikan, sebab dengan membaca seseorang dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi yang penting.Upaya pengembangan minat baca siswa erat kaitannya dengan keberadaan perpustakaan sekolah. Membaca merupakan sebuah proses menangkap atau memperoleh konsep-konsep yang dimaksud oleh pengarangya, mengintepretasi, mengevaluasi konsep-konsep pengarang dan merefleksikan atau bertindak seperti yang dimaksud oleh konsep itu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus observasional. Lokasi penelitian di Perpustakaan Sekolah SD Negeri Percobaan 1 Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan fokus penelitian manajemen perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa dengan jabaran sebagai berikut: (1) perencanaan perpustakaan sekolah; (2) pengorganisasian perpustakaan sekolah; (3) layanan perpustakaan sekolah; dan (4) pengawasan perpustakaan sekolah. Pada penelitian ini, peneliti merupakan pengumpul data yang utama. Adapun pengambilan data digunakan melalui teknik: (1) pengamatan/ pengamatan tidak berperan serta; (2) wawancara; (3) dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dilakukan pengecekkan untuk menguji keabsahan data tersebut dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan, trianggulasi, meliputi trianggulasi sumber data dan metode. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) manajemen perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa adalah dengan memberikan hadiah kepada siswa yang paling sering meminjam buku melalui poin membaca, penambahan koleksi pustaka, pengadaan jam wajib kunjung perpustakaan untuk tiap-tiap kelas, memberikan kebebasan membaca kepada pengunjung, dan memberikan himbauan tentang pentingnya membaca melalui poster-poster atau tulisan-tulisan yang berisikan ajakan-ajakan agar siswa gemar membaca; (2) perencanaan program perpustakaan sekolah dilakukan sesuai tujuan, penambahan bahan pustaka, serta penambahan sarana dan prasarana pendukung perpustakaan yang diperlukan; (3) perpustakaan sekolah ini memiliki struktur organisasi yang memperlihatkan hubungan kerja sama antara bagian-bagian yang ada di dalam organisasi; (4) pelayanan perpustakaan sekolah memilki kegiatan untuk memberikan layanan kepada setiap pengunjung baik berupa layanan sirkulasi maupun referensi; dan (5) pengawasan perpustakaan sekolah dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pihak pembina dan penanggung jawab, petugas memberikan hasil kerjanya dalam bentuk tertulis berisi catatan mengenai data keluar-masuknya buku dan jumlah pengunjung perpustakaandalam tiap semester yang dilaksanakan pada tiap akhir tahun ajaran. Sedangkan untuk meningkatkan profesionalitas kerjanya, petugas perpustakaan mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan perpustakaan.

Karakterisasi mineral magnetik pasir besi di Daerah Pasirian Kabupaten Lumajang untuk pembuatan bahan baku tooner / Ike Yunia Trisdamayanti

 

Kata Kunci: Mineral magnetik, pasir besi, tooner Salah satu sumber deposit pasir besi di Indonesia berada di Pasirian Lumajang. Komposisi sampel didapat dari uji X-Ray Fluorenscene (XRF), dan uji mineral magnetik didapat dari uji suseptibilitas dan dari kestabilan remanen magnetik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui unsur yang mendominasi di dalam sampel dan untuk mengetahui nilai median destructive field (MDF) kedua sampel pasir dan toner. Dengan membandingkan karakteristik kedua sampel, kita dapat menyiapkan senyawa magnetik dari sampel pasir besi sebagai bahan tooner. Komposisi besi dalam sampel berkisar antara 34,4% tanpa ekstasi dan bertambah menjadi 58% setelah ekstrasi. Kemudian setelah penyaringan dengan mesh 200 konsentrasi besi meningkat menjadi 70%. Suseptibilitas dari pasir besi antara 1.5 x 10-4m3kg-1 (tanpa ekstrasi) sampai 1,8 x 10-4m3kg-1 (untuk sampel ekstrasi dan sampel ayak), sementara suseptibilitas toner adalah 2.1 x 10-4m3kg-1 . Sementara itu, nilai MDF toner dan pasir ayak menunjukkan nilai yang hampir sama, yaitu 24 dan 26. Dari data kita dapat menyimpulkan mineral magnetik dari pasir besi dapat dijadikan material toner.

Pengembangan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media kertas untuk siswa kelas 3 Sekolah Dasar Laboratorium Universitas Negeri Malang / Elok Dian Fatmawati

 

Kata kunci: Pengembangan, Gerak Dasar lari, Media Kertas. Sekolah Dasar Laboratorium Universitas Negeri Malang telah menerapkan pembelajaran Pendidikan Jasmani dimana dalam standart kompetensinya terdapat kompetensi gerak dasar, berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan guru belum pernah melaksanakan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan permainan, sehingga siswa kurang tertari dan aktif dalam pembelajaran gerak dasar lari. Maka disusun rancangan produk pengembangan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media kertas. Media kertas yang digunakan berupa kertas yang dibentuk menjadi 3 macam yaitu: (1) baling-baling kertas, (2) spiral kertas, (3) lembaran kertas. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan (research and development) dari Borg dan Gall (1983: 475) yang terdiri dari sepuluh langkah. Namun menurut Ardhana (2002: 9) setiap pengembang tentu saja dapat memilih dan menentukan langkah-langkah yang paling tepat bagi peneliti dengan mempertimbangkan kondisi yang dihadapi dalam proses pengembangan. Maka peneliti melakukan modifikasi untuk menggunakan 7 langkah dari langkah Borg and Gall dengan tidak menggunakan langkah ke delapan hingga kesepuluh. Sehingga prosedur penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah: 1) melakukan penelitian awal (need assesment), 2) melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) mengembangkan produk awal, 4) melakukan uji coba kelompok kecil dengan 6 subyek, 5) melakukan revisi terhadap produk awal, 6) melakukan uji coba lapangan(kelompok besar) denga 33 subyek, 7) melakukan revisi produk. Instrumen yang digunakan adalah berupa angket berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Pembelajaran ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli, yaitu satu orang ahli pembelajaran dan dua orang ahli atletik. Hasil analisis data yang diperoleh adalah 100% siswa mudah dalam melakukan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media dari kertas, 100% siswa senang dalam melakukan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media kertas, pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media dari kertas 100% aman untuk dilakukan siswa. Sehingga diharapkan pengembangan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media dari kertas ini bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran pendidikan jasmani khususnya pada materi gerak dasar lari, agar lebih menarik sehingga siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Isolasi dan karakterisasi bakteri proteolitik, lipolitik, dan amilolitik dari asinan kedelai (Glycine soja) sebagai bahan pembuatan kecap di Probolinggo / Dyah Ayu Aryani

 

Kata kunci: Asinan kedelai, bakteri, indeks hidrolisis, enzim Enzim merupakan biokatalisator yang memegang peranan penting dalam bidang industri. Tiga enzim yang memiliki nilai komersil yang diperdagangkan dalam dasawarsa ini adalah protease, lipase dan amilase. Penelitian tentang isolasi bakteri penghasil enzim banyak dilakukan pada limbah-limbah pembuangan hasil industri makanan sedangkan penelitian mengenai isolasi bakteri penghasil enzim pada makanan masih sedikit dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan, mengetahui indeks hidrolisis, dan mengidentifikasi isolat bakteri proteolitik, lipolitik dan amilolitik indigen dari asinan kedelai yang dibuat secara tradisional di Probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan eksploratif yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA-UM pada bulan Maret-Mei 2011. Sampel penelitian ini adalah asinan kedelai yang diperoleh dari industri kecap yang dibuat secara tradisional yang terletak di Probolinggo. Sampel dihomogenkan dengan medium pengayaan spesifik yaitu medium Skim Milk Agar (SMA) untuk bakteri proteolitik, medium Nutrien Agar + Amilum 1% untuk bakteri amilolitik, dan Nutrien Agar + Olive oil 1% untuk bakteri lipolitik, selanjutnya dipilih 3 isolat untuk masing-masing kelompok bakteri proteolitik, lipolitik, dan amilolitik yang mempunyai kemampuan hidrolisis tertinggi. Penentuan tiga isolat berdasarkan nilai indeks hidrolisis protein, lemak dan amilum tertinggi. Pengamatan dilanjutkan dengan melakukan pengamatan mikrobiologi yang meliputi karakterisasi sifat morfologi koloni bakteri dan karakterisasi sifat sitologi bakteri. Kelengkapan identifikasi hingga tingkat spesies dengan menggunakan Microbact TM GNB 12 A/B/E, 24E Identification Kits. Hasil penelitian menunjukkan ada 6 isolat bakteri proteolitik, 5 isolat bakteri lipolitik, dan 4 isolat bakteri amilolitik asinan kedelai yang ditemukan dan dipilih 3 isolat bakteri yang memiliki indeks hidrolisis terbesar pada masingmasing kelompok bakteri yang bersifat proteolitik, lipolitik, dan amilolitik. Tiga indeks hidrolisis protein tertinggi dengan nilai 2,22 (kode PB), 2,05 (kode PA), dan 1,81 (kode PD), kode tiga isolat yang memiliki indeks hidrolisis lemak tertinggi dengan nilai 1,30 (kode LB), 1,25 (kode LD), dan 0,98 (kode LA) sedangkan indeks hidrolisis amilum tertinggi dengan nilai 2,26 (kode AC), 2,12 (kode AF), dan 2,04 (kode AB). Hasil identifikasi 3 isolat bakteri proteolitik yang memiliki indeks hidrolisis protein tertinggi adalah Bacillus lincheformis, Bacillus subtillis, dan Bacillus thuringiensis, spesies bakteri lipolitik yang ditemukan adalah Serratia liquefaciens, dan Enterobacter gergoviae, sedangkan bakteri amilolitik yang ditemukan adalah Actinomyces spp dan Eubacterium spp.

Potensi novel remaja mutakhir (2000-AN) sebagai alternatif sumber belajar apresiasi prosa berbasis pendidikan karakter / Renny Lutviana

 

Kata Kunci: novel remaja, unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, pendidikan karakter, pembelajaran apresiasi prosa. Novel remaja adalah karya fiksi berbentuk prosa yang isinya mencermin-kan kehidupan sosial para remaja. Permasalahan yang diangkat dalam novel remaja tidak jauh dari kehidupan remaja pada kenyataannya, seperti persahabatan dan percintaan. Novel remaja banyak diminati dan layak untuk dijadikan sumber belajar apresiasi prosa. Pengajaran apresiasi sastra, termasuk apresiasi prosa, penting dilakukan untuk mengembangkan potensi siswa dan dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya sastra. Pembelajaran apresiasi prosa, saat ini, dikembangkan menggunakan strategi pembelajaran berbasis pendidikan karakter. Penelitian ini penting dilakukan untuk memudahkan guru memilih novel remaja yang berkualitas yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sekaligus sesuai dengan pendidikan karakter. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan karakteristik unsur intrinsik novel remaja mutakhir (2000-an), (2) mendeskripsi-kan karakteristik unsur ekstrinsik novel remaja mutakhir (2000-an), dan (3) mengetahui potensi novel remaja mutakhir (2000-an) sebagai alternatif sumber belajar apresiasi prosa berbasis pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti berkedudukan sebagai instrumen utama dalam penelitian ini. Sumber data penelitian ini adalah data verbal dan nonverbal dari novel remaja mutakhir (2000-an). Sumber data dipilih dengan cara (1) mencari daftar novel remaja yang terbit pada tahun 2004-2011, (2) mengklasifikasikan novel remaja menurut tahun terbitnya, (3) memilih novel best seller, (4) memilih novel yang memiliki rating tertinggi, (5) memilih novel yang pernah diresensi dan resensi tersebut pernah dipublikasikan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan cara memperpanjang keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan pengecekan sejawat. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa (1) karakteristik unsur intrinsik novel remaja mutakhir (2000-an) yang berupa (a) tema yang banyak muncul adalah impian dan cinta dapat diraih melalui usaha keras, (b) amanat yang banyak muncul adalah berusahalah dengan keras agar impian dan cinta dapat tercapai, (c) tokoh utama dalam novel masih remaja dan tokoh bawahannya adalah tokoh yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti guru, teman, dan orang tua, (d) penokohan digambarkan sesuai dengan usia remaja, (e) seting tempat dan seting waktu berkaitan dengan kehidupan sosial remaja, seperti rumah dan sekolah, (2) karakteristik unsur ekstrinsik novel remaja mutakhir (2000-an) yang berupa (a) biografi pengarang yang dapat membangkitkan motivasi pembaca dan (b) nilai-nilai yang bersifat positif ditemukan dalam semua novel , dan (3) novel yang berjudul Cybercrime Fighters adalah novel yang paling berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berbasis pendidikan karakter karena memiliki nilai pendidikan karakter yang paling banyak daripada novel lainnya, kedua adalah novel Jilbab Funky, ketiga adalah novel Kintaholic, keempat adalah novel Rahasia Bintang, kelima adalah novel Fairish, keenam adalah novel FBI vs CIA, ketujuh adalah novel Dealova, dan terakhir adalah novel Unbelievable. Dari kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu (1) bagi guru Bahasa Indonesia, penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam melaksanakan pembelajaran apresiasi prosa, (2) siswa disarankan menggunakan penelitian ini sebagai sarana menambah wawasan dan pengetahuan mengenai novel remaja mutakhir, dan (3) bagi peneliti lain, disarankan penelitian ini dapat menjadi contoh atau rujukan dalam mengembangkan sumber belajar seputar prosa.

Analisa tingkat kenyamanan celana wanita sistem Soekarno ( pantalon) pada tubuh ukuran S, M, L SNI / Yoanita Martina Sutino

 

Kata kunci: Kenyamanan, Celana Wanita, SNI Celana adalah pakaian luar yang menutupi badan dari pinggang ke mata kaki dalam dua bagian kaki yang terpisah. celana telah dipakai oleh pria dalam bentuk yang satu ke bentuk yang lainnya, sejak zaman dahulu kala. Zaman sekarang wanita suka sekali memakai celana, ini karena praktis. Apalagi wanita yang suka bergerak. Di Indonesia mayoritas penduduknya adalah muslim, dan banyak busana – busana muslim di Indonesia yang terdiri dari dua bagian yaitu blus dan celana, wanita muslimah Indonesia suka memakai celana karena terlihat trendi dan simple. Pola sistem soekarno, pola ini dalam mengambarnya lebih detail karena menggunakan ukuran control, misalnya untuk ukuran bagian pinggang, ukuran bagian paha, ukuran bagian kaki, bagian lutut, letak kantong dan lipit, dan letak kupnat memiliki rumus-rumus yang detail perhitungannya. Dalam metode Soekarno ukuran yang diperlukan dalam pembuatan pola celana antara lain lingkar pinggang, lingkar panggul, lingkar pesak, lingkar paha, lingkar lutut, lingkar kaki, panjang celana. Untuk menentukan besar paha system Soekarno menggunakan rumus tertentu Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Obyek penelitian ini yaitu celana wanita pantalon sistem soekarno. Sampel yang digunakan adalah sample jenuh. Dalam penelitian ini, tidak ada uji instrumen ( uji validitas dan uji reliabilitas) karena dalam menyusun pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner tersebut sudah berdasarkan teori yang ada di buku dan sudah di validasi ketika bimbingan oleh dosen pembimbing yang setara dengan panelis ahli. Melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat hasil jadi celana wanita yang sudah dipas Kemudian data yang diperoleh dicatat dalam lembar pengamatan berupa kuesioner Berdasarkan penilaian titik pas atau fitting factor diketahui frekwensi rata-rata tingkat kenyamanan pola dasar celana wanita pantaloon system Soekarno pada ukuran (S) adalah sebagai berikut. Penilaian dikatakan nyaman memiliki presentase sebanyak 85,71% kurang nyaman sebanyak 14,29% dan tidak nyaman sebesar 0%. pada ukuran (M) adalah sebagai berikut. Penilaian dikatakan nyaman memiliki presentase sebanyak 71,43% kurang nyaman sebanyak 14,29% dan tidak nyaman sebesar 14,28%. pada ukuran (L) adalah sebagai berikut. Penilaian dikatakan nyaman memiliki presentase sebanyak 75% kurang nyaman sebanyak 14,29% dan tidak nyaman sebesar 10,71%.

Faktor-faktor keterlambatan penyelesaian skripsi mahasiswa S1 Pendidikan tata busana input non SMTA angkatan 2007,2008,2009 / Prayogo Widyastoto Waluyo

 

Kata Kunci: Faktor- Faktor Keterlambatan Penyelesaian Skripsi, Faktor Internal, Faktor Eksternal. Skripsi merupakan mata kuliah wajib dengan SKS (Sistem Kredit Semester) sebesar empat SKS dengan kode PTS 448, mahasiswa harus sudah mencapai 80 % dari total SKS yang bertujuan untuk memiliki kemampuan untuk secara mandiri dan terbimbing menyusun karya ilmiah berwujud skripsi. Skripsi digunakan sebagai salah satu prasyarat bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi banyak dari mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Input Non SMTA angkatan 2007,2008, 2009 yang mengalami keterlambatan penyelesaian skripsi dari batas waktu yang telah ditentukan ( tiga semester) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterlambatan penyelesaian skripsi mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Input Non SMTA. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Input Non SMTA angkatan 2007-2009 yang berjumlah 78 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel dengan proportional random sampling sebanyak 40 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan porsentase. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa faktor keterlambatan penyelesaian skripsi mahasiswa terletak lebih besar pada faktor internal mahasiswa itu sendiri yaitu ketersediaan waktu pengerjaan skripsi (42,5%), mahasiswa masih kurang mengintenskan waktunya untuk melakukan proses konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Hal ini terbaca pada data yang menunjukkan bahwa mahasiswa hanya menggunakan waktunya untuk konsultasi sekitar dua sampai tiga kali seminggu. Faktor internal selanjutnya adalah mahasiswa banyak yang mempunyai masalah pribadi cukup serius bersamaan dengan pengerjaan skripsi (42,5%). Banyak mahasiswa yang ternyata mempunyai rasa ketakutan dengan dosen pembimbing saat proses konsultasi skripsi (80,0%). Selain itu, tingkat pengetahuan mahasiswa tentang prosedur penelitian, analisis data dan kosa kata yang mempunyai tingkatan sedang, menjadi faktor keterlambatan penyelesaian skripsi (65%). Faktor eksternal yang menunjukkan angka sedang adalah kualitas bimbingan dosen pembimbing skripsi terhadap mahasiswanya (77,5%). Kurangnya ketersediaan literatur menjadi kendala dalam penulisan skripsi (55%). Dari hasil penelitian ini dapat disarankan (1) mahasiswa harus segera menyadari bahwa skripsi merupakan tugas akhir yang harus segera diselesaikan. Oleh karena itu perlu adanya motivasi, keinginan yang kuat disertai usaha yang kuat pula agar keinginan untuk menyelesaikan skripsinya dapat terwujud. (2) Perlu adanya persamaan persepsi dan komunikasi yang terjalin antara mahasiswa dengan dosen pembimbing skripsi agar proses bimbingan skripsi lancar.

Hubungan kematangan emosi dan locus of control dengan sikap terhadap induced abortion pada mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2009 dan 2010 / Pepita Chriastianda Apriasta

 

Kata kunci: kematangan emosi, locus of control, sikap terhadap induced abortion. Aborsi yang disengaja atau induced abortion marak terjadi di Indonesia dan sekitar 700 ribu pelakunya adalah remaja di bawah 20 tahun. Perilaku ditentukan oleh intensi dan intensi dibentuk salah satunya oleh sikap sehingga menyelidiki sikap remaja terhadap induced abortion menjadi penting untuk mengetahui kemungkinan perilaku remaja berkenaan dengan aborsi yang disengaja di masa mendatang. Sikap terhadap induced abortion dihubungkan dengan variabel lainnya, yakni kematangan emosi yang membuat individu dapat mengekspresikan emosinya dengan cara yang dapat diterima secara sosial dan locus of control yang merupakan keyakinan individu atas sumber kontrol dari peristiwa dalam hidup individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara: 1) kematangan emosi dengan sikap terhadap induced abortion, 2) locus of control dengan sikap terhadap induced abortion, dan 3) kematangan emosi dan locus of control dengan sikap terhadap induced abortion. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional untuk mengetahui hubungan kematangan emosi dan locus of control dengan sikap terhadap induced abortion. Subyek penelitian adalah 48 mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2009 dan 2010 dengan rentang usia 18 sampai 22 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala, yakni skala kematangan emosi (α=0,901), skala locus of control (α=0,776), dan skala sikap terhadap induced abortion (α=0,970). Pengumpulan data diambil dari pilihan jawaban subyek pada ketiga skala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan negatif antara kematangan emosi dengan sikap terhadap induced abortion (r= -0,303; sig.<0,05), semakin tinggi kematangan emosi maka semakin rendah persetujuan terhadap induced abortion, 2) tidak terdapat hubungan antara locus of control dengan sikap terhadap induced abortion (r=0,220; sig.>0,05), dan 3) tidak terdapat hubungan antara variabel kematangan emosi dan locus of control secara bersama-sama dengan sikap terhadap induced abortion. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan subyek dengan karakteristik yang relevan dengan fenomena induced abortion dan dengan jumlah lebih banyak, serta perlu dilakukan penambahan jumlah aitem dalam pengembangan skala locus of control. Saran bagi para remaja akhir adalah untuk mengupayakan pencapaian dan peningkatan kematangan emosi melalui katarsis, sehingga diharapkan dapat turut mengurangi angka aborsi di Indonesia.

Pengaruh gel Aloe vera terhadap kadar caspase-3 pada ginjal Rattus norvegicus model diabetes mellitus / Rista Puji Kaprianti

 

Kata kunci: caspase-3, diabetes mellitus, gel Aloe vera Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan kematian nomor tujuh di dunia. Kadar Reactive Oxygen Species (ROS) akibat hiperglikemia disinyalir menjadi pemicu timbulnya komplikasi DM. Aloe vera yang mengandung antioksidan diprediksi dapat menyeimbangkan peningkatan kadar ROS yang menyebabkan pengaktifan caspase-3 yang memicu apoptosis sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel Aloe vera terhadap kadar caspase-3 pada ginjal Rattus norvegicus model DM. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK). Tikus diukur kadar glukosa tiga hari setelah injeksi dengan Streptozotocyn dalam dosis 60 mg/kg-BB dan dinyatakan diabetes apabila kadar gula puasa >200 mg/dl. Terapi gel Aloe vera dilakukan secara oral kepada 8 kelompok perlakuan yang terdiri atas kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok non DM dengan pemberian Aloe vera (dosis 30 mg, 60 mg, 120 mg), dan kelompok DM dengan pemberian Aloe vera (dosis 30 mg, 60 mg, 120 mg). Setelah diterapi selama dua minggu, diukur kadar caspase-3 dari sampel ginjal tikus dengan metode ELISA dan diperoleh data dalam satuan µg/ml. Data dianalisis secara statistik dengan one way anova dan menunjukkan bahwa gel Aloe vera berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan kadar caspase-3 ginjal Rattus norvegicus model DM, namun tidak berbeda nyata di antara dosis-dosis yang digunakan. Kadar caspase-3 kelompok kontrol positif (tikus model DM) sebesar 2161.78 µg/dl dan kadar caspase-3 dalam keadaan normal (kontrol negatif) adalah 1642.89 µg/dl. Kelompok tikus model DM yang diterapi gel Aloe vera dengan dosis 30 mg/hari memiliki kadar caspase-3 lebih rendah yaitu sebesar 1886.22 µg/dl dibandingkan kelompok tikus model DM yang diterapi gel Aloe vera dengan dosis 60 mg/hari(1922.889 µg/dl) dan dosis 120 mg/hari (1930.67 µg/dl). Kadar caspase-3 tikus non DM normal yang diterapi gel Aloe vera mengalami peningkatan dibandingdingkan kelompok kontrol negatif. Kadar caspase-3 tikus non DM normal yang diterapi gel Aloe vera dosis 120, dosis 60, dan dosis 30 adalah sebagai berikut: 1642.89 µg/dl, 1815.11 µg/dl, 1972.78 µg/dl, 1935.11 µg/dl secara berurutan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gel Aloe vera berpotensi sebagai anti apoptosis melalui penurunan kadar caspase-3 tikus model DM.

Penerapan model bermain tebak warna geometri untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumber Anyar Nguling Pasuruan / Kartini

 

Kata kunci : Peningkatan kemampuan kognitif, bermain tebak warna geometri Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan kognitif anak dalam mengenal warna, bilangan dan bentuk-bentuk geometri pada kelompok A di RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar Nguling Pasuruan. Guru belum menggunakan media yang tepat dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam mengenal warna, bilangan dan bentuk-bentuk geometri. Hasil observasi awal ditemukan bahwa anak belum mampu mencapai kriteria ketuntasan belajar siswa yang ditentukan sekolah yaitu 67% ketuntasan individu. Penelitian ini diidentifikasi dari masalah 1) Bagaimanakah penerapan metode bermain tebak warna geometri untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar? 2) Apakah metode bermain tebak warna geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar?. Penelitian ini dilaksanakan di RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar Nguling Pasuruan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitian anak kelompok A yang berjumlah 20 anak. Instrumen penelitiannya menggunakan lembar observasi, lembar unjuk kerja, lembar wawancara dan dokumentasi. Teknis Analisis data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan penilaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode bermain tebak warna geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak terbukti dari hasil observasi 25% anak yang mencapai ketuntasan individu, pada siklus I rata-rata (64,25) dengan persentase (55%) dan meningkat pada siklus II rata-rata (77,25), dengan persentase (100%) yang terus mengalami peningkatan. Kesimpulannya bahwasannya dengan bermain tebak warna geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar Nguling Pasuruan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu agar dapat menerapkan metode bermain tebak warna geometri dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak dengan pengembangan lain. Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Hubungan nem mata pelajaran IPA dan Matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada mata diklat statika bangunan program keahlian gambar bangunan SMK Canda Bhirawa Pare

 

Kata Kunci : NEM, prestasi belajar Pandangan siswa terhadap matadiklat statika bangunan sebagai matadiklat paling sulit masih banyak didapatkan, hal tersebut mengakibatkan prestasi belajar matadiklat statika bangunan yang belum bisa dikatakan baik. Peneliti akan menghubungkan masalah tersebut dengan mata pelajaran yang bersifat menghitung sewaktu di SMP/MTs yaitu IPA dan matematika, dimana kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai masalah perhitungan. Dengan anggapan siswa yang menguasai mata pelajaran IPA dan matematika dengan baik diharapkan mampu juga untuk mengusai matadiklat statika bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hubungan antara NEM pelajaran IPA SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan program keahlian Gambar Bangunan, (2) hubungan antara NEM pelajaran matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan program keahlian Gambar Bangunan, dan (3) hubungan NEM mata pelajaran IPA dan matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan program keahlian Gambar Bangunan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional yang terdiri dari tiga variabel, yaitu NEM mata pelajaran IPA dan matematika SMP variabel bebas, sedangkan prestasi belajar matadiklat statika bangunan sebagai variabel terikat. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis korelasi product moment dan kolerasi berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 17 for Windows. Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas X program keahlian Gambar Bangunan SMK Canda Bhirawa Pare yang berjumlah 2 kelas dengan siswa sebanyak 70 orang. Sampel yang diambil sebanyak jumlah populasi, yaitu sebanyak 70 siswa. Hasil penelitian: (1) tidak ada hubungan antara NEM mata pelajaran IPA SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan dengan nilai signifikansi p (0,191), (2) tidak ada hubungan antara NEM mata pelajaran matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan dengan nilai signifikansi p (0,782), dan (3) tidak ada hubungan NEM mata pelajaran IPA dan matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan dengan nilai signifikansi F (0,424) >  (0, 05). Implikasi dari hasil penelitian ini, bahwa dalam menyeleksi penerimaan siswa baru SMK tidak menggunakan nilai NEM semata, tetapi bisa menggunakan nilai lain seperti: nilai rapor waktu SMP, melakukan interview, dan mengadakan tes terlebih dahulu, bisa berupa tes bakat ataupun minat.

Pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model react terhadap hasil belajar IPA pada materi gaya siswa kelas IV di SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang / Mukhammad Luqman Hakim

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual Model REACT, hasil belajar. Selama ini proses pembelajaran masih menganggap bahwa pengetahuan siswa diperoleh dari menghafal teori dan guru sebagai sumber utama belajar sedangkan siswa hanya bertindak pasif untuk menerima apa yang diberikan oleh guru. Untuk itu perlu diterapkan metode pembelajaran kontekstual model REACT yaitu model pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, penggalian materi dari kehidupan nyata serta menerapkannya serta melatih siswa bekerja kelompok untuk bertukar ilmu pengetahuan kemudian diharapkan siswa mampu menyelesaian permasalahan yang diberikan oleh guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model REACT terhadap hasil belajar pada mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu). Penelitian ini dilakukan di SDN Tanjungrejo 5 Malang. Populasi dan sampel dalam penelitian ini diambil dari 2 kelas yang mempunyai kemampuan yang sama atau setara. Instrumen hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan pretest dan postest. Teknik analisis hasil belajar menggunakan uji t (t-test). Dari hasil analisis hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol diketahui bahwa nilai thitung adalah 5.213 dan probability sebesar 0.000. Karena nilai probability menunjukkan 0.000< 0.005 maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Telah diketahui nilai thitung adalah 5.213 sedangkan nilai ttabel adalah 1.691. Berdasarkan data ini, uji t dilakukan dua sisi dengan daerah penerimaan H0 antara (-1.691) sampai (1.691). Nilai thitung sebesar 5.213 berada pada daerah penolakan ttabel atau daerah penolakan H0 serta nilai thitung > ttabel, maka dapat diketahui H0 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis (H0) yang menyatakan “tidak ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model REACT terhadap hasil belajar mata pelajaran IPA kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang” ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model REACT terhadap hasil belajar mata pelajaran IPA kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan (1) Sebelum kegiatan belajar mengajar sebaiknya guru mempersiapkan alat dan media yang akan digunakan. (2) Pada saat pelaksanaan kegiatan pembelajaran, sebaiknya guru benar-benar memperhatikan waktu agar tahapan-tahapan dapat terlaksana sesuai alokasi waktu yang tersedia (3) Penelitian ini perlu dikembangkan di kelas-kelas dengan materi yang berbeda pula.

Perkembangan teknologi ala tangkap nelayan Mayangan Probolinggo (2003-2010) / Ullyl Danik Karyani

 

Kata Kunci: Alat tangkap, nelayan Mayangan Probolinggo. Usaha penangkapan ikan merupakan mata pencaharian yang banyak dilakukan di wilayah pesisir Indonesia. Di Indonesia alat tangkap ikan bersifat tradisional kini telah dimodifikasi menggunakan alat bantu mesin sehingga menimbulkan perubahan sosial ekonomi masyarakat. Perubahan ini mendorong penulis untuk mengkaji lebih lanjut tentang kehidupan masyarakat nelayan, khususnya di Mayangan. Karakteristik lokasi Mayangan yang stategis dilihat dari jaraknya strategis terletak di jalur lalu lintas utama Jawa Timur. Alasan pemilihan angka tahun 2003-2010 yang aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan di Pelabuhan Tanjung Tembaga yang telah terorganisir tahun 2003 dengan keberadaan KUD Mina Mayangsari merupakan cikal bakal pendirian Tempat Pelelangan Ikan Mayangan dan berdirinya Paguyuban Putra Samudra. Masalah pokok kajian ini adalah: pertama, Bagaimana perkembangan alat tangkap ikan nelayan Mayangan? kedua, Bagaimana menjelaskan pengaruh alat tangkap ikan terhadap pendapatan nelayan? Dan ketiga, Bagaimana relevansi antara teknologi penangkapan ikan dengan materi bahan ajar sejarah Tingkat SMA? Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif. Langkah-langkah dalam penelitian deskriptif pendekatan kualitatif adalah: Observasi, Wawancara, Studi dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan beberapa hal: pertama, perkembangan alat tangkap tahun 2003 sampai 2010 ikut mempengaruhi armada perikanan antara lain seperti Pukat cincin yang digunakan Purse seine, Payang yang digunakan kapal Jonggrang ,Gill net dan Tramel net yang digunakan motor tempel dan Bubu dan prawe dasar digunakan perahu Jukung. Dominasi kapal yang berkuasa di Pelabuhan Mayangan ialah kapal Jonggrang dan Purse seine karena hasil tangkapan lebih banyak sehingga memunculkan jaringan sosial pada masyarakat Mayangan.Kedua alat tangkap berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Pendapatan nelayan dikategorikan sesuai nelayan Jukung, nelayan Motor tempel, dan kapal Motor menggunakan bagi hasil sistem teloan kesepakatan antara lain Juragan,Tekong,Pandega sehingga banyak timbul patron-klien berpusat pada pemilik modal. Ketiga, relevansi teknologi penangkapan ikan dengan materi sejarah tingkat SMA dapat dikaji dalam kurikulum KTSP kelas VII pada Semester 2 yang menjelaskan asal mula teknologi yang muncul pada Revolusi Industri yang berdampak bagi masyarakat Indonesia. Penelitian tentang perkembangan alat tangkap ini dapat digunakan sebagai acuan sejarah maritim dan sejarah sosial dalam pembelajaran guna menambah pengetahuan tentang penggunaan alat tangkap nelayan di Indonesia.

Implementasi program ekstrakurikuler dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa SMA Negeri 2 Malang / Nefi Ruspitasari

 

Kata Kunci : Program Ekstrakurkuler, Pembentukan Karakter Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wadah yang disediakan oleh satuan pendidikan untuk menyalurkan minat, bakat, hobi, kepribadian, dan kreativitas peserta didik yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi talenta peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler jika didesain secara profesional maka akan menjadi wahana dalam melahirkan bakat terbesar dalam diri anak, membentuk karakter positif pada siswa, dan tempat aktualisasi diri pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang, (2)pelaksanaan program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang, (3)implementasi program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang dapat mewujudkan pembentukan karakter pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa yang mengikuti program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan teknik perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SMA Negeri 2 Malang terdapat berbagai macam jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dibagi kedalam 6 bidang, diantaranya: (1) bidang olahraga terdiri dari bola basket dan bola voli; (2)Bidang bela negara terdiri dari Paskib dan PMR; ( 3)bidang IPTEK terdiri dari KIR dan Jurnalistik; (4) bidang seni terdiri dari tari tradisional, teater dan breakdance; (5) bidang keagamaan terdiri dari Badan Dakwah Islamdan ru’yah; dan, (6) bidang rekreatif terdiri dari pecinta alam. Jumlah ekstrakurikuler yang ada di SMAN 2 malang keseluruhan berjumlah 11 jenis namun tidak semua ekstrakurikuler tersebut aktif mengadakan latihan. Ekstrakurikuler yang tidak aktif diantaranya tenis meja, bulu tangkis, pramuka serta ru’yah. Ekstrakurikuler yang tidak aktif ini dikarenakan berbagai hal antara lain kurangnya siswa yang berminat, tidak adanya tenaga yang mampu mengoordinasi.Dukungan yang diberikan oleh pihak sekolah untuk semua kegiatan ekstrakurikuler berupa sebagai fasilitator, menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh siswa maupun sebagai motivator yakni mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan oleh ekstrakurikuler tertentu. Adanya program ekstrakurikuler di SMAN 2 Malang diharapkan mampu menjadi wadah dari berbagai bakat yang dimiliki oleh siswa-siswa SMAN 2 Malang. Selain untuk menjadi wadah penyalur bakat siswa SMAN 2 Malang program ekstrakurikuler juga mampu membentuk karakter positif bagi siswa. Karakter yang dapat dibentuk oleh semua jenis ekstrakurikuler diantaranya karakter disiplin, karakter tanggungjawab, karakter tekun.Sementara karakter kerja sama dapat dibentuk melalui kegiatan ekstrakurikuler yang biasanya dilaksanakan secara berkelompok seperti KIR, Bola basket, Bola voli. Karakter percaya diri dapat dibentuk melalui ekstrakurikuler tari tradisional dan teater. Karakter produktif dapat dibentuk melalui ekstrakurikuler jurnalistik. sementara itu melalui BDI diharapkan siswa dapat mengembangkan karakter taqwa. Ekstrakurikuler PMR serta Pecinta alam siswa mampu mengembangkan karakter peduli. Selain dapat mengembangkan karakter peduli PMR juga mampu mengembangan sikap tanggap terhadap keadaan disekitar.Melalui pendidikan karakter seorang siswa akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang diberikan antara lain: Sebagai tempat mencari ilmu dan mengembangkan ilmu, maka perlu adanya penambahan referensi buku mengenai Pembentukan karakter di Perpustakaan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, sehingga mahasiswa yang ingin mengembangkan ilmu yang berhubungan dengan Pembentukan karakter bisa mendapatkan bahan dan tambahan referen mengingat begitu urgennya pembentukan karakter untuk dilaksanakan kepada generasi muda. Pembahasan tentang kajian teori dan kajian lapangan dalam penelitian ini akan menambah referensi tentang keilmuan, khususnya mengenai pembentukan karakter. Sehingga dalam hal ini dapat digunakan untuk pengembangan pembentukan karakter, mulai dari strategi, metode, media dan juga pelaksanaan evaluasinya.Perlu meningkatkan motivasi guru pembina maupun pelatih ekstrakurikuler dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dalam mewujudan karakter siswa SMA Negeri 2 Malang, misalnya dengan memberikan fasilitas pendukung proses pembelajaran dan tambahan insentif.

Pengembangan multimedia pembelajaran mata pelajaran fisika SMA kelas X pokok bahasan arus listrik di SMA Negeri IV Kediri / Miftahudin

 

Kata kunci : pengembangan, multimedia pembelajaran, fisika Multimedia pembelajaran merupakan salah satu media pembelajaran yang saat ini banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Multimedia merupakan perpaduan antara tulisan, gambar, serta suara. Dalam pemanfaatannya yang menggunakan Komputer menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa untuk mempelajari fisika. Berdasarkan observasi di SMA Negeri 4 Kediri, dalam pembelajaran fisika media yang digunakan belum maksimal. Media yang digunakan kurang menarik, Ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajarannya yang selalu memanfaatkan media papan tulis yang hanya bisa menghasilkan gambar statis sehingga siswa lebih banyak membayangkan dalam memahami konsep materi. Kegiatan pembelajarannya masih didominasi oleh guru dengan banyak menjalaskan materi, sehingga siswa lebih pasif dalam menerima materi. Oleh karena itu, multimedia dijadikan pilihan untuk digunakan sebagai media pembelajaran karena dengan multimedia siswa akan lebih memahami materi dengan konkrit dengan bantuan gambar dan animasi. Pengembangan multimedia pembelajaran ini bertujuan menghasilkan multimedia pembelajaran mata pelajaran fisika pokok bahasan arus listrik yang menarik dan bermanfaat bagi siswa. Sedangkan subyek uji coba pengembangan ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Kediri. Pengembangan multimedia pembelajaran ini divalidasi oleh seorang ahli media, dua orang ahli materi, diikuti uji coba individual sebanyak tiga siswa dan uji coba lapangan sebanyak dua puluh siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan multimedia pembelajaran yang dihasilkan dinyatakan valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran fisika pokok bahasan arus listrik. Dalam proses pengembangan yang dilakukan, peneliti melakukan perbaikan sesuai saran dari validator (ahli media dan ahli materi). Perbaikan tersebut meliputi: (1) Pembenahan teknis tata kalimat. (2) pembenahan kualitas video yang terlalu panjang. (3) Pembenahan urutan bahasan materi. (4) Penambahan animasi dalam multimedia yang dikembangkan. Sedangkan hasil analisis angket yang diberikan kepada ahli media menunjukkan 82,50% dan ahli materi 80%.   Multimedia yang dikembangkan juga terbukti menarik dan bermanfaat. Hal ini ditunjukan oleh hasil analisis angket siswa 86,67% untuk uji coba individual, 83,25% untuk uji coba lapangan, selain itu kemanfaatan multimedia ini juga diperkuat oleh tes hasil belajar siswa yang menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 97 dari skor maksimal 100. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada pihak sekolah agar mendorong pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan multimedia pada mata pelajaran yang lainnya karena multimedia sangat berguna untuk memaksimalkan pembelajaran di kelas.

Penerapan model Explicit Instuction untuk meningkatkan kualitasa pembelajaran IPA siswa kelas IV A Sdn Lesanpuro 3 Kota Malang / Ayuk Susilaning Stiyas

 

Kata Kunci: Model Explicit Instruction, Pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi pembelajaran IPA di SDN Lesanpuro 3 Kota Malang, pembelajaran kurang melibatkan siswa secara langsung. Guru mengajar dengan metode ceramah dan juga demonstrasi namun hanya dilakukan oleh guru. Siswa hanya mengamati, mendengarkan penjelasan guru, mencatat, kemudian mengerjakan LKS. Hal ini membuat pembelajaran kurang bermakna bagi siswa, sehingga dari segi proses dan hasil masih belum maksimal. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penerapan model Explicit Instruction dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang pada pembelajaran IPA selama diterapkan model Explicit Instruction, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang pada pembelajaran IPA setelah diterapkan model Explicit Instruction. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 35 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang meliputi empat tahapan yaitu: planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, pemberian tugas mandiri, dan catatan lapangan. Hasil penelitian mencerminkan bahwa penerapan model Explicit Instruction pada siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang dapat berhasil dengan baik. Hal ini terbukti dengan tercapainya keberhasilan penerapan model Explicit Instruction pada siklus I mencapai 87,5%, dan meningkat menjadi 94,65% pada siklus II. Selain itu, aktivitas siswa juga mengalami peningkatan setelah diterapkan model Explicit Instruction. Pada siklus I nilai rata-rata aktivitas siswa mencapai 70,5 dan menjadi 78,5 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 69,7 dengan ketuntasan belajar siswa mencapai 50%, dan menjadi 77,96 dengan ketuntasan belajar siswa mencapai 81,5% pada siklus II. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Explicit Instruction dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang. Pada penelitian ini, disarankan agar guru mempunyai cara untuk memusatkan perhatian siswa terutama setelah kegiatan pelatihan, mengorganisasikan waktu lebih baik lagi serta terus melatih, memotivasi siswa agar mau menanggapi umpan balik yang diberikan, serta menyesuaikan materi yang akan diajarkan.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis learning cycle 5E pada materi laju reaksi untuk kelas XI kompetensi keahlian kimia analisis di SMK Negeri VII / Arum Setyaningsih

 

Kata Kunci: Bahan Ajar, Model Learning Cycle 5E, Laju Reaksi SMKN 7 Malang merupakan SMK di kota Malang yang memiliki jurusan kompetensi keahlian kimia analisis. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas XI SMK Negeri 7 Malang Kompetensi Keahlian Kimia Analisis mengalami kendala, yakni rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi laju reaksi, yakni 86% siswa yang belum mencapai nilai SKM. Oleh sebab itu, guru kimia menyatakan perlu adanya pengembangan bahan ajar dan variasi model pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan kajian teoritis dan faktual yakni model pembelajaran Learning Cycle 5E dirasa tepat digunakan dalam pengorganisasian materi laju reaksi dalam pengembangan bahan ajar kimia di SMKN 7 Malang berupa buku ajar dan RPP. Tujuan dari pengembangan bahan ajar kimia pada materi laju reaksi adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan bahan ajar kimia pada materi laju reaksi berbasis Learning Cycle 5E untuk kelas XI Kompetensi Keahlian Analis Kimia di SMKN 7 Malang. Peneliti mengadopsi metodologi penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Thiagarajan yakni model 4-D (four-D) yang meliputi tahap define, design , develop dan desiminate . Dalam hal ini peneliti menggunakan tahapan penelitian dan pengembangan hingga pada tahap ketiga. Hasil pengembangan produk dilakukan uji coba produk untuk mengetahui kelayakan dan setelah direvisi dilakukan crosscheck kepada guru untuk mengetahui kesesuaian produk. Uji coba produk yang dilakukan meliputi validasi produk oleh dosen, guru dan uji terbatas oleh siswa kelas XI melalui instrumen penelitian yang berupa lembar validasi, dan soal uji kompetensi. Hasil analisis data produk hasil pengembangan bahan ajar laju reaksi menyatakan, buku ajar yang dikembangkan dinyatakan sangat valid dengan tingkat validitas total 3,9 oleh validator dosen dan dinyatakan valid dengan tingkat validasi 3,2 oleh validator guru sehingga buku ajar dapat digunakan. RPP yang dikembangkan dinyatakan valid dengan tingkat validitas 3 sehingga RPP dapat digunakan.Seluruh soal pilihan ganda dan esai yang tertulis dalam uji kompetensi pada buku ajar telah diuji validitas, realibilitas, tingkat kesukaran dan daya beda dinyatakan valid sehingga dapat digunakan. Hasil analisis data dan crosscheck kepada guru kimia dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak dan baik untuk digunakan.

Implementasi pembelajaran tematik kelas 1 semester 2 di SDN Percobaan 01 Malang / Hermin Tri Wahyuni

 

Kata Kunci: Implementasi, Pembelajaran Tematik, SDN Percobaan 01 Malang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SDN Percobaan 01 Malang menunjukkan bahwa di sekolah tersebut telah melaksanakan pembelajaran tematik di kelas rendah yaitu kelas 1 sampai 3. Seperti yang telah diketahui, tematik merupakan pembelajaran untuk anak kelas rendah di sekolah dasar dan bagian dari KTSP yang sedang dikembangkan pada saat ini. Tematik merupakan salah satu bentuk pendekatan dari pembelajaran terpadu yang menjadi hal baru bagi guru karena pembelajaran berdasarkan pada satu tema tertentu. Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah, masih banyak ditemukan kekurangan dan kendala. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, (2) faktor pendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, (3) faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, dan (4) upaya untuk mengatasi hambatan pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan melakukan pengamatan langsung pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas, pencarian data dengan melakukan wawancara, memberikan angket kepada guru, pengumpulan dokumen untuk mengetahui kelemahan pelaksanaan pembelajaran tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 sudah baik dan mencakup semua konsep pembelajaran tematik, mulai dari persiapan pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi yang dilakukan guru. Fakor pendukung yang dikemukakan ditinjau dari beberapa hal yaitu dukungan dari: (1) sekolah, (2) guru, (3) siswa, dan (4) lingkungan sekitar sekolah. faktor penghambat yang ditemukan adalah kesulitan guru dalam : (1) Mencari kaitan antara mata pelajaran satu dengan yang lain dalam satu tema, (2) Merancang pembelajaran yang padu. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan yang ditemukan adalah (1) Menggambarkan terlebih dahulu jaringan tema, sehingga akan mudah dalam mencari kaitannya, (2) Membuat skenario pembelajaran yang disesuaikan dengan jaringan tema dan kaitan antar mata pelajaran yang telah ditemukan untuk menciptakan pembelajaran yang padu, (3) Diskusi dengan guru lain di dalam KKG atau dengan teman sejawat yaitu guru kelas 1B. Beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu : (1) Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan identifikasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, (2) Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas dalam melaksanakan pembelajaran oleh guru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan keluarga penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang / Bejo Apriyanto

 

Kata Kunci: pendapatan, beban tanggungan, umur penambang pasir, curahan waktu, kemiskinan penambang pasir Kemiskinan merupakan suatu masalah yang sejak dulu membelenggu sebagian masyarakat Indonesia. Sejahtera tentu menjadi dambaan setiap orang untuk mencapainya.Khusus untuk daerah perdesaan kemiskinan ditandai dengan semakin menyempitnya lahan pertanian. Sulitnya mencari pekerjaan dan meningkatnya biaya hidup sehingga menyebabkan orang memutar otak untuk mencari pekerjaan alternatif. Salah satu diantaranya adalah dengan menambang pasir karena dengan pekerjaan tersebut peluang untuk bekerja di Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendapatan, jumlah beban tanggungan keluarga, umur penambang pasir, dan curahan waktu terhadap tingkat kemiskinan penambang pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei, yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang telah diperoleh. Populasi penelitian adalah semua penambang pasir yang berada di Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini merupakan penelitian sensus yaitu mengambil semua penambang pasir yang berada di Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang sebanyak 78 responden. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Setelah data terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan tabulasi tunggal, silang dan korelasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada pengaruh tingkat pendapatan, jumlah beban tanggungan keluarga, dan curahan waktu berpengaruh terhadap kemiskinan dan kemiskinan dalam penelitian termasuk bentuk kemiskinan natural yaitu kemiskinan yang menimbulkan seseorang atau sekelompok orang karena yang bersangkutan memang berasal muasal miskin dan tidak memilki sumberdaya manusia yang memadai. Kondisi penduduk yang rentan sekali untuk menjadi sangat miskin apabila terjadi perubahan ekonomi atau permasalahan sosial lainnya. Sedangkan hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa tingkat pendapatan, jumlah beban tanggungan keluarga, curahan waktu berpengaruh terhadap kemiskinan. Saran yang dapat diberikan adalah: 1) Adanya pelayanan serta peningkatan pendidikan bagi masyarakat Desa Bago Kecamatan Pasirian guna meningkatkan sumberdaya manusia sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan menurunkan tingkat kemiskinan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian.2) Perlu adanya kesadaran masyarakat Desa Bago Kecamatan Pasirian akan pentingnya keluarga kecil. 3) Bagi instansi baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten hendaknya dapat memberikan penyuluhan rutin kepada kepala keluarga, serta menyediakan alternatif kesempatan kerja dengan membuka lapangan pekerjaan selain disektor pertambangan pasir.

Studi perbandingan penggunaan dekak-dekak dengan penggunaan potongan batang lidi terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 SDN Gadang IV Kota Malang / Lintang Fajar Kusuma Wardani

 

Kata Kunci: dekak-dekak, potongan batang lidi, hasil belajar, penjumlahan dua bilangan, siswa SD Pada tahapan perkembangan kognitif, siswa sekolah dasar sudah bisa berpikir logis tentang berbagai hal, termasuk hal yang agak rumit, tetapi dengan syarat bahwa hal-hal tersebut disajikan secara konkret. Media merupakan alat yang mampu menyampaikan pesan dari guru kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan guru kelas yang dilakukan oleh peneliti di kelas 1 SDN Gadang 4 Kecamatan Sukun, Kota Malang terdapat beberapa permasalahan yaitu siswa sering mengalami kekeliruan dalam menuliskan urutan bilangan saat menggunakan cara bersusun pendek. Siswa mengalami kesulitan dalam menentukan dimanakah letak satuan dan puluhan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian komparatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V SDN Gadang 4 Kota Malang. Sampel penelitian yaitu kelas 1A sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas 1B sebagai kelas eksperimen 2. Langkah-langkah penelitian ini antara lain yaitu: (1) pemberian pre-test, (2) pemberian perlakuan media dekak-dekak untuk kelas 1A dan pemberian perlakuan batang lidi untuk kelas 1B, (3) pemberian post-test. Analisis data yang digunakan meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pre-test kelas eksperimen 2 yaitu 55 dan kelas eksperimen 1 yaitu 60. Pada pemberian post-test rata-rata kelas kelas eksperimen 2 yaitu 60 sedangkan kelas eksperimen 1 yaitu 66. Berdasarkan hasil uji homogenitas data kelas eksperimen 2 dan kelas eksperimen 1 mempunyai varians hasil belajar (post-test) yang homogen karena nilai probabilitas 0,936 > 0,05 dan F levene Statistic (hitung) 0,006 < Ftabel (4,027). Hasil uji normalitas hasil belajar (post-test) menunjukkan bahwa kelas kontrol dan kelas eksperimen berdistribusi normal. Kelas kontrol 0,137 > 0,05 sedangkan kelas eksperimen 0,147 > 0,05. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signikansi 0,032 < 0,05 pada taraf signifikansi 0,05. Selain itu juga diperoleh nilai thitung > ttabel (2,218 > 2,009). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan media dekak-dekak dengan batang lidi. Saran yang diberikan peneliti yaitu (1) bagi guru hendaknya menggunakan media pembelajaran yang lebih bervariatif untuk meningkatkan semangan belajar siswa. (2) bagi sekolah hendaknya media pembelajaran yang ada disekitar siswa dapat dijadikan sebagai referensi dan penunjang dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar tehnik membatik untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok B RA Nurul Huda Cemandi Kersikan Bangil / Nur Laila

 

Keyword : Demonstration Metod, Drawing of Batik, Technique, Art Ability of Child Group B Ability at child of Group B is 49 % from the ability of child is wanted. Children interest less in the drawing activity, because in draw studying of batik technique, children just are given model without have guidance, so children draw just do it, without valve of art. Based on the experience, so the observer choose the right activity solve the art less by implementation of demonstration method in draw studying of batik technique. This experiment have purpose to make description demonstration method in the draw studying of batik technique to increase children art ability in Group B RA Nurul Huda. The method that used is research of class action, the experiment by two cycle, each cycle are planning stage, action stage, observation stage and reflection stage. The subject are 17 children in Group B RA Nurul Huda. The instrument used are observation and documentation, the analisys technique used is descriptif. The result of this experiment show that the art abiltity of child in pre cycle is 49 % increase become 63 % in cycle I and icrease become 87 % in cycle II. Based on the result of experiment can summed up that implementation demonstration method in the draw studying of child Group B RA Nurul Huda. Based on the experience, child can make expretion by drawing. Some suggested to the teacher it will good to use demonstration method in the draw studying of batik technique to increase the art ability.

Pengaruh strategi pembelajaran kewirausahaan, sosek orang tua, sikap kewirausahaan, minat kewirausahaan terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa PPS di Kota Malang / Sebastianus Gudat

 

Kata Kunci: Pengaruh Strategi Pembelajaran Kewirausahaan, Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Sikap Kewirausahaan Mahasiswa, Minat Kewirausahaan Mahasiswa, dan Kesiapan Kerja Mandiri Mahasiswa. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa dalam memasuki persaingan dunia kerja. Untuk tercapainya kesiapan kerja mandiri mahasiswa yang optimal, diperlukan adanya dukungan: kualitas pembelajaran kewirausahaan, latar belakang sosial ekonomi orang tua, sikap kewirausahaan mahasiswa, minat kewirausahaan mahasiswa. Beberapa masalah yang teridentifikasi di lapangan yakni masih belum tertatanya strategi pembelajaran kewirausahaan yang baik, latar belakang sosial ekonomi orang tua yang kurang mendukung dalam berwirausaha, kurangnya sikap dan minat kewirausahaan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh strategi pembelajaran kewirausahaan, latar belakang sosial ekonomi orang tua, sikap kewirausahaan mahasiswa, minat kewirausahaan mahasiswa dengan kesiapan kerja mandiri mahasiswa PTS di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 8 PTS di Malang dengan total 105 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner, observasi, wawancara dan dokumentasi, serta teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) Strategi pembelajaran kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 0,463. Maknanya adalah strategi pembelajaran kewirausahaan yang semakin baik akan dapat meningkatkan sikap kewirausahaan mahasiswa, 2) Strategi pembelajaran kewirausahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Meskipun tidak berpengaruh secara signifikan antara kedua variabel tersebut, apabila indikator strategi pembelajaran kewirausahaan tersebut diperbaiki dan ditingkatkan, maka akan meningkat pula minat kewirausahaan mahasiswa, 3) Latar belakang sosial ekonomi orang tua tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa. Meskipun tidak berpengaruh secara signifikan antara kedua variabel tersebut, apabila indikator latar belakang sosial ekonomi orang tua tersebut semakin baik, maka akan semakin baik pula terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa, 4) Latar belakang sosial ekonomi orang berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 0,546. Maknanya adalah latar belakang sosial ekonomi orang yang semakin baik akan akan dapat membantu terhadap minat kewirausahaan mahasiswa, 5) Sikap kewirausahaan mahasiswa berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 2,655. Maknanya adalah sikap kewirausahaan mahasiswa yang semakin baik akan memberikan peningkatan dukungan moril pada kesiapan kerja mandiri mahasiswa, dan 6) Minat kewirausahaan mahasiswa berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 0,493. Maknanya adalah minat kewirausahaan mahasiswa yang semakin meningkat dan baik akan memberikan peningkatan pada kesiapan kerja mandiri mahasiswa Berdasarkan penelitian tersebut, maka disarankan; 1) Melakukan perbaikan dan penataan urutan penyajian isi mata kuliah kewirausahaan, 2) Peningkatan dan perbaikan media pembelajaran kewirausahaan, 3) Penataan penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran kewirausahaan, 4) Peningkatan kemajuan belajar mahasiswa, 5) Peran serta aktif orang tua (tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi yang dimiliki) dalam memberi dukungan dan memotivasi anak didiknya dalam rangka menumbuhkembangkan sikap kewirausahaan mahasiswa dan minat kewirausahaan mahasiswa, 6) Menciptakan keberanian mencoba berwirausaha dan perencanaan yang baik untuk berwirausaha, dan 7) Peningkatan pengetahuan kewirausahaan mahasiswa, melalui; a) pengetahuan kewirausahaan selama di bangku kuliah, b) fasilitas sarana dan prasarana yang cukup memadai selama mengikuti perkuliahan di kampus, c) memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mengatasi kegagalan dalam berwirausaha, d) memiliki pengetahuan manajemen sumber daya manusia yang memadai untuk berwirausaha, e) memiliki pengetahuan manajemen keuangan yang memadai untuk berwirausaha, dan f) mengetahui cara terbaik untuk memulai usaha mandiri.

Penerapan metode pemberian tugas untuk meningkatkan kemampuan seni menggambar anak kelompok A di TK Aba I Gondang Legi Beji Pasuruan / Eni Triana

 

Kata kunci : metode pemberian tugas, kemampuan seni. Pembelajaran menggambar di bidang seni menggambar sangat penting untuk meningkatkan kemampuan seni dan perasaan anak melalui garis-garis, namun keberhasilan pembelajaran seni menggambar anak di TK ABA I Gondanglegi Beji Pasuruan masih rendah. Berdasarkan pengamatan dari 17 peserta didik yang ada di TK ditemukan bahwa 12 anak yang belum mampu menggambar sehingga masih mendapat bintang 1 dan 2 . Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode pemberian tugas untuk meningkatkan kemampuan seni menggambar anak kelompok A, di TK ABA I Gondanglegi Beji Pasuruan, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan seni menggambar anak kelompok A di TK ABA I Gondanglegi Kecamatan Beji Pasuruan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses siklus dari setiap tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan metode pemberian tugas melalui menggambar rumah untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok A TK ABA I, sedangkan yang menjadi subyek penelitian adalah anak didik kelompok A dengan jumlah 17 anak dan 2 orang kolabolator (teman sejawat). Hasil penelitian menunjukan kemampuan seni anak dalam penerapan metode pemberian tugas pada pratindakan meningkat dari 50 % pada siklus 1 kemampuan seni anak mencapai 62 % meningkat menjadi 81% pada siklus ke2 peninggkatan kemampuan seni menggambar anak ditandai dengan perolehan rata–rata pada siklus 1 12% dan siklus ke II 19 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pemberian tugas dalam kemampuan seni menggambar anak dapat ditandai dengan meninggkatnya kemampuan seni dalam memahami penjelasan guru, minat kemandirian, imajinasi, kreatifitas, komposisi dan mengerakkan jari tanganya. Disarankan kepada pendidik PAUD pembelajaran menggambar untuk meningkatkan kemampuan seni anak TK.

Penerapan permainan ular tangga untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok A di TK Ummatul Wahidah Gempeng Bangil / Lilik Mas'udah

 

Kata kunci: Permainan ular tangga, kemampuan berbicara anak. Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan berbicara anak, hal ini disebabkan karena perkembangan anak yang kurang optimal, selain hal tersebut guru dalam menstimulasi berbagai perkembangan anak cara guru cenderung konvensional dimana pembelajaran masih berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbicara anak dengan menggunakan media permainan ular tangga. Dalam penelitian ini bertujuan sebagai berikut : (1) Mendeskripsikan penerapan permainan ular tangga yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak Kelompok A di TK. Ummatul Wahidah Gempeng Bangil, (2) Mendeskripsikan peningkatan pembelajaran dengan penerapan permainan ular tangga untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak Kelompok A di TK Ummatul Wahidah. Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 20 anak dan melibatkan satu guru kolabolator, tempat penelitian di TK Ummatul Wahidah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tehnik observasi terhadap proses pembelajaran kemampuan berbicara. Tehnik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu secara deskriptif baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan ketuntasan belajar minimal secara individu dan klasikal. Hasil penelitian sebagai berikut: kemampuan berbicara pada pra tindakan diperoleh rata-rata 68%. Pada siklus I dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan pada 3 dan 4 April 2012 pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 diperoleh rata-rata 79% dengan kategori B. Pada siklus II dilakukan 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 18 dan 19 April 2012 diperoleh rata-rata 89% terdapat kenaikan skor sebesar 10%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa media permainan ular tangga dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan berbicara: (1) Berbicara dengan teman sebaya tentang rencana dalam bermain (2) menjawab pertanyaan tentang keterangan atau informasi secara sederhana (3) menyebutkan posisi keterangan tempat misal : diluar, didalam, diatas, dll (4) Indikator menjawab pertanyaan tentang keterangan tempat, misal : di dalam, di luar, di atas, dll.Bagi guru TK dalam pembelajaran kemampuan berbicara anak disarankan agar guru memberikan pembelajaran yang menerapkan permainan ular tangga.

Pengembangan program latihan tehnik pukulan forehand overhead clear anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raketn yang dimodifikasi di persatuan bulutangkis Wiratama Lumajang / Agung Prasetyo

 

Kata Kunci: pengembangan, program latihan, anak usia 5-10 tahun, raket yang dimodifikasi Bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Untuk menjadi seorang pebulutangkis yang mempunyai keterampilan teknik yang baik dan bagus, diperlukan pembinaan mulai sejak dini yang dimulai pada kisaran umur 5-10 tahun. Program latihan yang diperuntukkan anak usia 5-10 tahun tidak boleh disamakan dengan program latihan atlet pada umumnya. Raket yang digunakan juga harus dimodifikasi sehingga sesuai dengan kebutuhan anak. Teknik pukulan forehand overhead clear merupakan salah satu teknik dasar bulutangkis yang harus dikuasai para pebulutangkis. Berdasarkan analisis kebutuhan 100 % peserta latihan menjawab perlu adanya modifikasi raket dalam latihan. Berawal dari masalah tersebut maka peneliti mencoba mengembangkan program latihan pukulan forehand overhead clear untuk anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raket modifikasi. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk membuat program latihan teknik pukulan forehand overhead clear yang sesuai dengan anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raket yang dimodifikasi di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang. Penelitian pengembangan ini ini menggunakan teknik analisis data deskriptif persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh melalui instrument yang dibuat peneliti. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, observasi dan wawancara. Produk penelitian adalah berupa program latihan teknik pukulan forehand overhead clear yang sesuai dengan anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raket yang dimodifikasi di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang. Spesifikasi program latihan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang karakteristik produk yang diharapkan dari kegiatan pengembangan yang berisi materi kognitif teknik pukulan forehand overhead clear, dan dilengkapi gambar serta cara melakukan latihan. Materi latihan terdiri dari latihan footwork, shadow, drill dan stroke. Penelitian awal dengan pengumpulan informasi termasuk kajian pustaka dan observasi lapangan. Perencanaan termasuk definisi keahlian melalui menentukan objek-objek masalah dalam satu lingkup masalah dan skala tes kecil yang mungkin terjadi. Pengembangan produk awal meliputi persiapan materi pembelajaran, buku pedoman dan perangkat evaluasi. Persiapan uji kelompok kecil diadakan di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang dengan menggunakan 12 subjek yang diteliti, data wawancara, observasi dan kuesioner dikumpulkan dan dianalisis. Revisi produk seperti yang telah dihasilkan oleh tes persiapan lapangan. Uji kelompok besar menggunakan 30 subjek, data kuantitatif dalam penampilan subjek sebelum dan sesudah tes dikumpulkan. Revisi produk operasional, revisi produk yang telah disarankan oleh hasil tes lapangan utama, Hasil penelitian berdasarkan tinjauan para ahli bulutagkis adalah sebagai berikut. Kesesuaian dan kelengkapan program latihan pukulan forehandover head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 tahun dinyatakan, sangat baik (94%). Kesesuaian dan kelengkapan materi kognitif keseluruhan program latihan pukulan forehand over head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 Tahun dinyatakan Baik (75%). Kesesuaian dan kelengkapan materi footwork dinyatakan sangat baik (100%). Kesesuaian dan kelengkapan materi stroke dinyatakan sangat baik (92%). Kesesuaian dan kelengkapan materi drill dinyatakan sangat baik (100%). Kesesuaian dan kelengkapan keseluruhan program latihan pukulan forehand over head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 tahun dinyatakan sangat baik (94%). Kesesuaian alokasi waktu latihan secara keseluruhan dinyatakan sangat baik (100%). Kesesuaian dan kelengkapan volume latihan secara keseluruhan dinyatakan baik (75%). Kesesuaian dan kelengkapan intensitas latihan secara keseluruhan dinyatakan sangat baik (94%). Kesesuaian dan kelengkapan keseluruhan variasi program latihan pukulan forehand over head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 tahun dinyatakan sangat baik (100%). Dengan melihat hasil yang diperoleh pada saat penelitian tersebut maka dapat dikatakan bahwa program latihan teknik pukulan forehand overhead clear untuk anak usia 5-10 tahun di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang ini efektif. Sehingga program latihan tersebut dapat digunakan untuk latihan di Persatuan Bulutangkis yang lainnya.

Implementasi Model pembelajaran arias (assurance, relevance, interest, assesment, dan Satisfaction) untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika dan kualitas pembelajaran fisika siswa kelas VII-E semester genap tahun Pelajaran 2011/2012 SMP Muhammdiyah 08 Batu / Ervina Vi

 

Kata Kunci: Model pembelajaran ARIAS, Pemahaman konsep, kualitas pembelajaran. Hasil observasi di kelas VII-E SMP Muhammadiyah 08 Batu, menunjukkan kurangnya pemahaman konsep siswa. Hal ini terbukti siswa belum mampu mengaplikasikan konsep fisika dalam kegiatan praktikum, menjelaskan fenomena teknologi di sekitar siswa dengan konsep fisika yang telah dipelajari. Guru sebagai mediator dalam proses pembelajaran telah menerapkan berbagai metode salah satunya inquiri terbimbing untuk membantu siswa dalam praktikum dan metode drama untuk memotivasi siswa. Tetapi kedua metode yang digunakan tidak berjalan maksimal, sehingga kualitas pembelajaran kurang. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kualitas pembelajaran fisika. Kelas VII-E membutuhkan suatu model yang dapat menanamkan rasa percaya diri, menunjukkan hubungan antara materi pelajaran dan kenyataan, selain mampu menarik perhatian juga dapat memelihara perhatian siswa, melakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pembelajaran dan menunjukkan rasa bangga agar siswa termotivasi untuk lebih baik. Maka peneliti menerapkan model pembelajaran ARIAS. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yaitu sebuah penelitian kolaboratif dengan pihak lain seperti guru, siswa, dan pihak sekolah yang lain untuk menciptakan kinerja sekolah yang lebih baik. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan kenyataan di lapangan. Hasil penelitian yang menerapkan model pembelajaran ARIAS menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep dan kualitas belajar fisika. Hal ini ditunjukkan untuk pemahaman konsep pada siklus I mencapai 68.43% mengalami kenaikan 14.16% menjadi 82.59% pada siklus II. Kualitas pembelajaran yang mencakup tiga aspek motivasi belajar siswa, aktivitas siswa dan prestasi belajar. Pada aspek motivasi belajar siswa siklus I mencapai 84.09% mengalami kenaikan sebesar 4.60% menjadi 88.69% pada siklus II. Aspek aktivitas siswa pada siklus I mencapai 79.32% mengalami kenaikan sebesar 8.18% menjadi 87.50% pada siklus II. Prestasi belajar pada siklus I nilai rata-rata mencapai 76.97 dengan ketuntasan siswa sebanyak 23 anak dari 33 anak dengan persentase 69.67%. Pada siklus II mengalami peningkatan nilai rata-rata menjadi 77.27, jumlah siswa yang tuntas sebanyak 25 siswa dari 33 siswa dengan persentse 75.76%.

Aplikasi metode geolistrik resistivitas untuk menentukan letak akumulasi rembesan polutan sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) Rampal Malang / Sulistyo Noviana Rahayu

 

Kata Kunci : Geolistrik, Konfigurasi Wenner, Sounding mapping, Res2dinv. Telah dilakukan penelitian di daerah HUBDAM karena untuk mengidentifikasi adanya rembesan polutan yang mencemari daerah tersebut. Di daerah tersebut rembesan sudah mencemari sungai yang berada 3 meter dari tempat sampah yang berada di area penelitian. Daerah penelitian merupakan dekat daerah pemukiman dan lokasi penelitian tersebut berada di belakang pemukiman tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Wenner. Pengambilan data dilakukan pada dua lintasan. Lintasan pertama pada daerah timur-barat dengan bentangan 93 meter, dan lintasan kedua utara-selatan dengan bentangan 20 meter.Data yang didapat dari lapangan berupa arus dan beda potensial. Hasil invers menggunakan software Res2dinv menunjukkan bahwa nilai resitivitas lapisan bawah tanah pada bentang timur-barat dengan panjang bentangan 93 meter, Lapisan pertama dengan kedalaman 2,55 m pada bentangan 16 m didapatkan harga resistivitas 7,97 Ωm sampai 17,5 Ωm.Lapisan kedua dengan kedalaman 4,98 m pada bentangan 32 m didapatkan harga resistivitas 7,97 Ωm sampai 186 Ωm. Lapisan ketiga dengan kedalaman 7,91 m pada bentangan 48 m di peroleh harga resistivitas seberar 17,7 Ωm sampai 408 Ωm. Lapisan keempat dengan kedalaman 11,5 m pada bentangan 64 m didapatkan harga resistivitas 7,97 Ωm sampai 38,4 Ωm.Lapisan kelima dengan kedalaman 13,5 m pada bentangan 80 m didapatkan harga resistivitas 7,97Ωm sampai 38,4 Ωm. Untuk nilai resitivitas lapisan bawah tanah pada bentang utara-selatan dengan bentang 20 meter, Lapisan pertama dengan kedalaman 1,27 m pada bentangan 5 m didapatkan harga resitivitas 2,96 Ωm sampai 6,21 Ωm. Lapisan kedua dengan kedalaman 2,49 m pada bentangan 10 m didapatkan harga resitivitas 6,21 Ωm sampai 57,2 Ωm.Pada lapisan ketiga dengan kedalaman 3,96 m pada bentangan 15 m didapatkan harga resitivitas 27,3 Ωm sampai 57,2 Ωm. Berdasarkan resitivitas tersebut dapat disimpulkan bahwa resitivitas air tawar fres adalah antara 10-100 Ωm dan air tercemar memiliki resitivitas yang sangat rendah kurang dari 10 Ωm diasosiasikan dengan adanya kontaminan leachate pada lapisan tersebut. Jadi air tanah di sekitar pemukiman di lokasi penelitian tersebut sudah tercemar polutan sampah.

Analisis LKS IPA Kelas IV Semester 1 yang digunakan di Sekolah Dasar segugus 7 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Heni Wulandari

 

Kata Kunci: LKS, IPA, Evaluasi. Lembar Kegiatan Siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa yang berisi petunjuk, mencakup materi pokok secara singkat, soal-soal evaluasi, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas dapat berupa teori dan atau praktik. Dengan menggunakan LKS dalam pengajaran akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian guru bertanggung jawab penuh dalam memantau siswa dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kesesuaian materi dengan kurikulum, kebenaran bahasa, ketersediaan media gambar, kesesuaian isi LKS dengan syarat didaktif, kontruksi dan teknik, serta pertanyaan-pertanyaan berdasarkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor menurut Taksonomi Bloom pada LKS IPA kelas IV semester 1 yang digunakan di Sekolah Dasar Se Gugus 7 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar se gugus 7 Kecamatan Kepanjen yang terdiri dari 8 Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah teknik analisis deskriptif dengan presentase (%). Hasil penelitian analisis LKS IPA kelas IV semester 1 yang digunakan di sekolah dasar Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, menunjukkan bahwa kesesuaian materi dengan kurikulum memperoleh 78,57%, kebenaran bahasa pada ke-4 LKS termasuk dalam kategori sedang, ketersediaan media gambar yang digunakan cukup inovatif, kesesuaian isi dengan syarat didaktif memperoleh 80%, syarat kontruksi memperoleh 70%, dan syarat teknis memperoleh 92,86%, serta pertanyaan-pertanyaan dari ke-4 LKS memperoleh 100% hanya terdapat ranah kognitif. Dari hasil kesimpulan disarankan apabila menggunakan LKS yang sudah ada hendaknya ditelaah terlebih dahulu agar kesalahan yang ada dalam LKS tersebut tidak disajikan dalam pembelajaran. Lebih bagus apabila dalam mengajar seorang guru mampu membuat LKS sendiri sesuai dengan ketentuan ilmiah yang ada dan sesuai kriteria dalam kurikulum yang berlaku.

Pengembangan modul pembelajaran IPS terpadu untuk siswa kelas VIII SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang / Cicilia Dwi Anggria Rizkawati

 

Kata kunci : Pengembangan, Modul, pembelajaran, IPS, IPS terpadu. Pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang tertuang dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa. Modul pembelajaran IPS Terpadu dikembangkan karena media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran terpadu masih terbatas dan belum ada yang sesuai dengan pembelajaran terpadu. Modul pembelajaran IPS Terpadu berisi perpaduan antar berbagai bidang studi IPS yang disatukan dengan tema. Bidang studi yang dipadukan adalah Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Tema yang dijadikan sebagai pemersatu bidang studi yaitu ‘permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’. Adapun tujuan dari pengembangan yaitu menghasilkan produk modul pembelajaran IPS terpadu dengan tema’permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’ untuk siswa kelas VIII semester 2 SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang dan memvalidasi produk modul pembelajaran IPS terpadu dengan tema’permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’ untuk siswa kelas VIII semester 2 SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan desain pengembangan diadaptasi dan dimodfikasi dari Dick and Carrey. Desain pengembangan yang dilakukan dengan 5 tahap yaitu sebagai berikut: (1) tahap analisis situasi awal, (2) tahap kegiatan pengembangan rancangan modul, (3) tahap pengembangan modul, (4) kegiatan penilaian/ validasi, (5) revisi produk. Instrument yang digunakan dalam penilitian ini berupa angket kelayakan untuk ahli materi, ahli media, dan siswa. Jenis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari kritik dan saran dari ahli materi, ahli media dan siswa, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil tes belajar siswa. Modul pembelajaran IPS Terpadu hasil pengembangan terdiri dari pendahuluan, pedoman guru, pedoman siswa, jaringan tema, peta konsep, materi, soal tes formatif dan sumatif, daftar pustaka, silabus IPS Terpadu,. Hasil instrument penilaian oleh evaluator menunjukkan bahwa: hasil uji coba angket ahli materi menilai modul yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (92,5%), ahli media menilai modul yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (98,3%), siswa perseorangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (95%), siswa kelompok kecil menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (94,6%), kelompok besar/ lapangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (93,5%). hasil uji coba tes hasil belajar siswa dari tes hasil formatif perseorangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid dengan prosentase (83,4%), kelompok kecil menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (80%), kelompok besar/ lapangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (85,8%). Berdasarkan hasil uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran IPS Terpadu dengan tema’permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’ untuk siswa kelas VIII semester 2 SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang termasuk dalam kualifikasi valid sehingga layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa Kelas VII pada materi kondisi geografis dan penduduk di SMP Negeri II Laren Kabupaten Lamongan / Kiftirul Afni

 

Kata kunci: Model Pembelajaran TPS, Hasil Belajar Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas VII pada mata pelajaran Geografi, diketahui bahwa pembelajaran di sekolah masih dilakukan dengan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Kemampuan siswa pada ranah kognitif masih rendah yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar siswa di bawah rata-rata. Selain itu dari 26 siswa yang tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru sebesar 100%, ini terlihat dari nilai rata-rata kurang dari 70. Tidak ada siswa yang mendapatkan nilai di atas 7, yang mendapat nilai 50-70 tediri dari 10 siswa dengan persentasi 38,5%, selebihnya memperoleh nilai kurang dari 50 dengan persentase 61,5%. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kabupaten Lamongan melalui model pembelajaran TPS pada Materi Kondisi Geografis dan Penduduk. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tindakan berupa penerapan pembelajaran TPS. Penelitian ini terdiri atas 2 siklus dan tiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan dengan disertai perbaikan tiap siklusnya. Subyek penelitian ini adalah siswa SMP N 2 Laren kelas VII dengan jumlah 26 siswa. Instrumen penelitian berupa tes penilaian hasil belajar siswa, lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran, dan catatan lapangan serta instrumen pembelajaran meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) lengkap dengan LKS, dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan persentase. Penerapan pembelajaran TPS menunjukkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan ini dapat dilihat dari ketuntasan belajar secara keseluruhan pada perbandingan siklus I dengan siklus II. Indikator keberhasilan untuk ranah kognitif terjadi peningkatan belajar sebesar 26,9%. Berdasarkan penelitian dikemukakan beberapa saran: a). Bagi siswa disarankan untuk memperhatikan guru saat menjelaskan, aktif saat pembelajaran, berani mengungkapkan pendapat, dan jangan ramai saat pembelajaran berlangsung b). Guru juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang model TPS kepada siswa dengan jelas sehingga siswa tidak merasa bingung dan guru harus memperhatikan alokasi waktu yang terdapat pada RPP supaya tahap-tahap dalam TPS dapat berjalan dengan baik.c). Bagi peneliti agar dikembangkan lebih lanjut pada materi lain, mata pelajaran lain. dan hendaknya semua aspek yang dapat mengganggu proses pembelajaran dihindari, seperti alokasi waktu yang tepat, membuat LKS dengan bahasa yang lugas dan komunikatif, dan menciptakan suasana yang memberikan kenyamanan bagi siswa untuk belajar.

Pengembangan media interaktif untuk anak usia dini berbasis multiple intelligence di BA Restu 2 Kecamatan Klojen Kota Malang / Afrizal Dihani Prayoga

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Interaktif, Multiple Intelligence. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan jamak atau multiple intelligence di BA Restu 2 minim dilaksanakan setiap harinya anak lebih terfokus pada pengerjaan LKS. Selain itu karena adanya tuntutan dari orang tua maka pembelajaran pada anak terbatas pada calistung. Jika hal tersebut terus dilakukan maka anak akan kehilangan sempatan untuk memaksimalkan potensi kecerdasan lain yang dimilikinya. Maka peneliti merancang sebuah produk yang diberi nama “media interaktif” yaitu media yang didalamnya terdapat permainan-permainan edukatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media interaktif yang diharapkan dapat mempermudah proses pembelajaran, menyenangkan dan tidak membahayakan anak, serta memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada anak sejak dini tentang penggunaan komputer di BA Restu 2 Jalan Pandeglang Malang. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall. Model pengembangan tersebut hanya menggunakan 7 langkah penelitian dan dilaksanakan pada 1 sekolah saja dengan subjek penelitian 36 Anak. Langkah penelitian dimulai dari analisis kebutuhan, rancangan produk, revisi ahli dengan 1 ahli pembelajaran PAUD, 1 ahli materi mutiple intelligence, dan 2 Ahli Media Interaktif, uji coba kecil dilakukan pada 6 subjek penelitian, revisi dilakukan berdasarkan hambatan yang ada di lapangan, dan uji kelompok besar dilakukan terhadap 30 anak dan revisi akhir. Media interaktif untuk anak usia dini berbasis multiple intelligence ini dinyatakan valid. Hal ini dibuktikan bahwa hasil perhitungan statistik dari data ahli media mendapatkan 96,4%, dari ahli materi mendapatkan 98,6%, dari ahli pembelajaran mendapatkan 93%, dari hasil uji coba kelompok kecil berdasarkan kemenarikan 93,3%, efisiensi, 87,5% efektifitas 86,6%. Sedangkan statistik berdasarkan uji kelompok besar berdasarkan kemenarikan 98,6%, efisiensi 95,8%, efektifitas 96,6%. Berdasarkan hasil analisis data tersebut media interaktif untuk anak usia dini berbasis multiple intelligence ini menarik, efisien, efektif dan layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk anak usia dini. Saran-saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan ini yang ditujukan kepada guru untuk memberikan pendampingan ketika pengoprasian media interaktif, dan kepada pengembang lebih lanjut untuk membuat media interaktif yang lebih difokuskan pada salah satu tema pembelajaran yang ada di TK.

Aplikasi model anomali geolistrik anisotropi dar-Zarrouk untuk menentukan reservoir hidrokarbon di Benakat Barat - Sumatera Selatan / M. Yazid Triwansyah

 

Kata Kunci: anisotropi, reservoir, hidrokarbon, resistivitas, well logging. Di Indonesia, studi dan eksplorasi lanjut untuk mencari potensi hidrokarbon dari lapangan minyak tua semakin gencar dilakukan. Lapangan minyak di Benakat Barat- Sumatera Selatan merupakan suatu lapangan minyak tua yang sudah mengalami penurunan laju produksi. Seiring dengan keadaan tersebut, maka dilakukan eksplorasi lanjutan untuk mencari potensi akumulasi hidrokarbon yang memungkinkan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui distribusi resistivitas bawah permukaan dan mendeteksi jenis formasi lapisan batuan yang diperkirakan mengandung hidrokarbon di daerah lapangan minyak Benakat Barat- Sumatera Selatan. Data yang diperoleh pada penelitian ini merupakan data resistivitas semu dengan menggunakan metode Geolistrik Resistivitas dengan tehnik sounding dengan konfigurasi schlumberger. Penelitian ini meliputi panjang lintasan total mencapai 33 Km yang terdiri dari 275 titik sounding dan dikelompokkan dalam 11 lintasan. Panjang bentangan maksimal yang dipergunakan mencapai 1000 meter, sehingga kedalaman yang diperoleh lebih dari 600 meter di bawah permukaan. Adapun pengolahan data lanjutan adalah dengan menggunakan konsep tahanan jenis anisotropi yang menghasilkan parameter dar zarrouk yang meliputi tahanan jenis transversal, tahanan jenis longitudinal, dan tahanan jenis medium. Nilai tahanan jenis medium ini kemudian dikalibrasikan dengan menggunakan data dari sumur logging sehingga nilai resistivitas akhir yang diperoleh mendekati nilai sebenarnya. Hasil dari pengolahan data resitivitas tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat diketahui pola sebaran resistivitas bawah permukaan. Hasil interpretasi tersebut menunjukkan bahwa pada daerah penelitian terdapat 2 lapisan batupasir yang diduga mengandung hidrokarbon.

Pengembangan model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted / Catur Rika Aguspratiwi

 

Kata kunci : Pemahaman kepribadian, permainan kartu kwarted, bimbingan karier. Dewasa ini, seringkali ditemui permasalahan yang ada di sekolah menengah atas maupun di sekolah menengah kejuruan, yaitu banyaknya siswa yang pindah jurusan karena merasa jurusan yang ia pilih, tidak sesuai dengan minatnya. Seperti hasil wawancara dengan salah seorang konselor di SMKN Malang, menjelaskan bahwa dalam setiap tahunnya ada sekitar 2-3 anak pada setiap jurusan yang memutuskan untuk pindah jurusan, dan hasil wawancara dengan siswa SMA 1 Ponorogo yang menyatakan ada 2 temannya yang juga pindah jurusan, hal ini karena jurusan yang dipilih sebelumnya tidak sesuai dengan keinginan anak tersebut. Permasalahan ini menunjukkan bahwa siswa SMP masih belum paham akan kepribadiannya, sehingga tidak dapat memilih sekolah lanjutan maupun jurusan pada sekolah lanjutan yang sesuai dengan minatnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka diperlukan adanya suatu model layanan pemahaman kepribadian untuk membantu siswa dalam memahami kepribadiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted yang dapat berterima baik secara teoritik maupun praktik. Model layanan ini dapat digunakan konselor untuk membantu siswa dalam memahami tipe kepribadiannya sehingga siswa dapat merencanakan kariernya dengan tepat. Selain itu juga, agar mempermudah konselor sekolah dalam membantu konseli memahami kepribadiannya dengan cara yang menyenangkan yaitu melalui permainan kartu kwarted. Design model penelitian dan pengembangan ini mengadaptasi dari design Borg dan Gall. Langkah-langkah yang dilakukan, yaitu ; 1) penelitian awal (need assesment), 2) perencanaan berupa penyusunan langkah-langkah dan rancangan produk, 3) pengembangan produk awal hingga evaluasi dari para ahli, 4) melakukan uji coba kelompok kecil, dan 5) merevisi hasil uji coba. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dengan prosentase. Hasil penilaian dari para ahli, menunjukkan bahwa produk model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted ini dapat berterima baik secara teoritik. Hal ini didukung dengan rata-rata penilaian dari para ahli pada setiap aspek, yaitu sebesar 87% pada aspek kegunaan, 91% pada aspek ketepatan, 85% pada aspek kemudahan, 88% pada aspek kemenarikan, 81% pada aspek keefektifan, dan 86% pada aspek kejelasan. Adapun rata-rata prosentase keseluruhannya yaitu sebesar 86%. Sedangkan hasil penilaian dari uji coba, menunjukkan bahwa produk model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted ini dapat berterima baik secara praktik. Hal ini didukung dengan rata-rata penilaian dari uji coba kelompok kecil yang mendapatkan prosentase sebesar 81,2%. Kedua penilaian ini menunjukkan bahwa produk pengembangan ini dapat diterima baik secara teori maupun secara praktik. Namun demikian, produk ini tetap melewati penyempurnaan produk (revisi). Setelah melakukan penyempurnaan produk maka model layanan ini dapat dijadikan konselor sebagai salah satu alternatif dalam pemberian layanan pemahaman kepribadian, yang mudah dan menarik serta dapat membuat siswa senang dalam memahami kepribadiannya. Saran yang dapat disampaikan terkait penelitian ini untuk pemanfaatan yaitu, layanan diberikan pada siswa kelas VIII. Saran untuk penyebarluasan yaitu hendaknya dievaluasi kembali, khususnya terkait dengan waktu pelaksanaan. Sedangkan saran untuk pengembangan lebih lanjut, diharapkan dapat melakukan uji coba dengan berbagai prosedur (2 kali pertemuan maupun seluruh siswa bermain kartu kwarted, tanpa ada yang menjadi observer), dalam proses evaluasi yang bisa dilakukan dengan 2 cara, yakni tulis dan lisan, sebaiknya dilakukan dengan cara tulis, yaitu siswa menulis pada lembar evaluasi, melakukan uji kelompok besar dan pengkajian untuk mengetahui keefektifan dengan penelitian tindakan.

Pengembangan mediasi (Compact Disk) pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk Kelas VI di Sekolah Dasar Negeri Jempun 1 Tulung Agung / Chandra Adi Kurnia

 

Identifikasi mineral magnetik pada sedimen Waduk Selorejo berdasarkan suseptibilitas magnetik, x-ray fluorescence dan scanning electron microscope / Eka Sri Mu'alimah

 

ABSTRAK Mu’alimah, Eka Sri. 2015. Identifikasi Mineral Magnetik pada Sedimen Waduk Selorejo Menggunakan Suseptibilitas Magnetik, X-Ray Flourescence dan Scanning Electron Microscope. Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Zulaikah, S.Pd., M.Si., (2) Drs. Sutrisno, M.T. Kata Kunci: mineral magnetik, sedimen, suseptibilitas magnetik, X-Ray Fluorescence (XRF), Scanning Electron Microscope (SEM) Sifat magnetik sedimen ditentukan oleh mineral magnetik yang terdapat di dalamnya. Berkaitan dengan itu, maka peneliti ingin melakukan identifikasi mineral magnetik pada sedimen Waduk Selorejo dengan menggunakan suseptibilitas magnetik, X-Ray Flourescence dan Scanning Electron Microscope Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi mineral magnetik, diantaranya mengetahui rentang nilai suseptibilitas magnetik, frekuensi dependent rata – rata, hubungan antara suseptibilitas magnetik dengan frekuensi dependent, unsur yang terkandung dan bentuk visual mineral magnetik pada sedimen Waduk Selorejo. Hasil analisis menunjukkan rentang nilai suseptibilitas magnetik pada sedimen Waduk sebesar 4 x 10-6 m3kg-1 hingga 47 x 10-6 m3kg-1 dengan nilai frekuensi dependent rata-rata 2% diidentifikasi terdapat campuran bulir magnetik halus dalam domain SP (Superparamagnetik) dan bulir kasar non-SP. Bulir SP memiliki ukuran bulir < 0,005 µm. Suseptibilitas magnetik frekuensi rendah (χlf) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan suseptibiltas yang bergantung frekuensi (χhf) yaitu, semakin besar nilai suseptibilitas magnetik, semakin kecil nilai frekuensi dependent mengikuti persamaan χfd = -1,262 In (χlf) + 5,1022 dengan koefisien korelasi R = 0.925. Berdasarkan hasil uji X-Ray Fluorescence (XRF), kandungan unsur Fe sedimen waduk selorejo adalah 57% - 63%. Besarnya unsur Fe menunjukan pembawa sifat magnetik dalam sedimen Waduk Selorejo adalah mineral magnetik. Mineral magnetik yang terkandung pada sedimen Waduk Selorejo jika dilihat dari pencitraan Scanning Electron Microscope with Dispersive Analysis X-Ray (SEM-EDAX) didominasi oleh mineral magnetik titanomagnetite berasal dari mineral detrital daerah tangkapan yang di angkut ke waduk dari aliran sungai, dan jenis mineral lainya yakni, mineral deposisi debu dari atmosfer (loess dari abu vulkanik) dan magnetic spherules dari polusi.

Pemetaan kampus I Universitas Negeri Malang menggunakan Wolfram Mathematica dan penentuan luasnya berbasis Google Earth / Fani Diaz Zulkarnain

 

Kata Kunci: Pemetaan, Luas, Kampus I UM, Google Earth,Wolfram Mathematica. Geokomputasi merupakan suatu alat/media yang dipergunakan untuk melakukan aktivitas pengolahan dan visualisasi data geografi, baik dari penyimpanan maupun pengolahan data menggunakan bantuan komputer. Pengambilan data, penyajian hasil peta maupun penentuan luas didapat dengan bantuan software. Pengambilan data dilakukan dari Google Earth, pengolahan data dilakukan di Microsoft Excel, dan pemetaan dilakukan oleh Wolfram Mathematica. Dengan metode geokomputasi maka dapat dilakaukan pemetaan dengan akurat dan efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan Kampus I UM dan menentukan luas Kampus I UM berbasis Google Earth dengan Wolfram Mathematica. Pemetaan Kampus I dari Wolfam Mathematica menghasilkan peta digital yang mempunyai fasilitas-fasilitas tambahan agar peta mudah untuk dimengerti. Fasilitas-fasilitas yang tersaji yaitu, perbesaran gambar berguna untuk memperbesar peta hingga empat kali perbesarn, perputaran gambar digunakan untuk memutar sesuai jalan yang dilalui, penunjuk arah menunjukan jlan menuju ke gedung tertentu dari pintu masuk tertentu, dan luas masing-masing gedung. Namun Wolfram Mathematica masih belum mampu menggabungkan dua gambar dengan sudut kemiringan berbeda, sehingga tulisan pada peta akan sulit dibaca jika peta diputar. Luas peta ditentukan dari Google Earth dengan menu Polygon, dan didapat luas Kampus I adalah 453.979 m2. Luas dari Google Earth mempunyai selisih 0.11% dari luas yang didapatkan dari pihak kampus.

Kompetensi profesional guru dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial kelas V di SDN Polehan 2 Malang / Mahendrawan Nugraha Aji Pratama

 

Kata kunci: Kompetensi profesional guru, pembelajaran IPS Dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional maka dibutuhkan peran pendidik yang profesional. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Berbagai kendala yang dihadapi sekolah terutama di daerah luar kota, umumnya mengalami kekurangan guru yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan subjek atau bidang studi yang sesuai dengan latar belakang guru. Permasalahan dalam penelitian ini adalah guru masih belum menggunakan media pembelajaran berbasis IT dalam pembelajarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diambil meliputi : kompetensi profesional guru dalam pembelajaran IPS dan kegiatan pembelajaran IPS kelas V di SDN Polehan 2 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial guru kelas V SDN Polehan 2 Malang, dapat disimpulkan bahwa guru sudah cukup professional. Hal tersebut dibuktikan dengan terlaksananya komponen instrumen penilaian kinerja guru dalam hal penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran, dan penguasaan standard kompetensi, dan kompetensi dasar mata pelajaran, mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif, usaha dalam mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan reflektif. Sedangkan dalam usaha memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri, guru kelas V di SDN Polehan 2 Malang jarang dilakukan dalam proses pembelajaran secara khusus karena keterbatasan kemampuan guru dalam hal teknologi, tetapi secara umum sudah dilakukan. Hal ini disebabkan karena kedua narasumber merupakan guru yang sudah berusia 50 tahun ke atas, dan baru mulai belajar menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi kurang lebih 1 tahun terakhir. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru meningkatkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip penggunaan media, meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media berbasis IT. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti kursus atau workshop dalam meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media, khususnya media untuk pembelajaran berbasis IT.

Simulasi konduksi kalor 2 dimensi dengan variasi suhu awal dan suhu akhir / Septian Nur Karomatun Nisa'

 

Kata Kunci: Konduksi kalor, Konstanta difusivitas, Simulasi. Konduksi kalor merupakan salah satu persoalan fisik yang banyak dijumpai dalam bidang industri maupun rekayasa. Contoh sederhana adalah proses pemanasan atau pendinginan transien. Pada proses ini, analisa dilakukan untuk mendapatkan penyelesaian akhir berupa distribusi suhu bergantung waktu di dalam bahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konstanta difusivitas pada kecepatan perambatan kalor dalam proses pemanasan dan pendinginan transien. Uji coba dilakukan dengan cara mensimulasikan proses konduksi dalam bentuk kontur distribusi suhu dua dimensi. Program dibuat dengan menggunakan metode analitik dan dibantu dengan perangkat lunak Wolfram Mathematica. Hasil uji coba program diperlihatkan untuk nilai konstanta difusivitas 0,001cm2/s dan 0,002cm2/s, dengan rentang waktu 1s sampai 100s. Pada proses pemanasan transien, untuk nilai konstanta difusivitas 0,001cm2/s diperoleh suhu tertinggi sebesar 79,2o, sedangkan untuk nilai kostanta difusivitas 0,002cm2/s diperoleh suhu tertinggi sebesar 97,2o. Pada proses pendinginan transien, untuk nilai konstanta difusivitas 0,001cm2/s diperoleh suhu terendah sebesar 19,2o, sedangkan untuk nilai kostanta difusivitas 0,002cm2/s diperoleh suhu terendah sebesar 2,8o. Berdasarkan hasil uji coba program dapat diketahui bahwa kecepatan perambatan kalor pada bahan berbanding lurus dengan nilai konstanta difusivitas

Pemanfaatan sistem informasi geografis untuk evaluasi tingkat kerawanan penyakit demam berdarah di Kecamatan Klojen Kota Malang / Rosalia Afin Annisakh

 

Kata Kunci:demam berdarah, evaluasi, sistem informasi geografis, tingkat kerawanan Demam berdarahDengue (DBD)merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang.Beberapa jenis KejadianLuarBiasa (KLB) mengalami penurunan seperti, diare, campak dan malaria, tetapi beberapa jenis KLB penyakit lainnya justru semakin meningkat seperti demam berdarah.Diperlukan suatu basis data spasial untuk mengetahui tingkat kerawanan DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat kerawanan penyakit demam berdarah di Kecamatan Klojen Kota Malang. Mengkaji karakteristik wilayah yang terjangkit DBD. Serta untuk mengkaji kesesuaian jumlah penderita dengan tingkat kerawanannya. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan analisis tumpang susun berjenjangyang menghasilkan tingkat kerawanan DBD tentatif/2010, serta melakukan cek lapangan untuk mencocokkan hasil pemetaaan sementara dengan kondisi penggunaaan lahan di lapangan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknikpurposive sampling. Pemilihan teknikpurposive sampling dilakukan pada beberapa titik pengamatan yang dianggap mewakili kondisi kerawanan dan lokasi penderita di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kerawanan DBD pada Kecamatan Klojen dapatdiklasifikasikandalam 4 kategoriyaitu: Tingkat kerawanantinggi seluas 537.7 Ha atau 60,93 %, yang meliputisemua wilayah KecamatanKlojen kecuali kelurahanOro-Oro dowoyaitu128.8 Ha,Penanggungan27.4 Ha, Kasin24.2 Ha, Bareng 44.2 Ha, dan Kidul Dalem 20.2 Ha.Tingkat kerawanan sangat tinggi meliputiseluas 171.7 Ha atau 19.46 % yang meliputi wilayahKelurahanKidul Dalemyaitu5.3 Ha, Rampal Celaket 22.7 ha, Bareng 60.3 Ha, Sukoharjo 29.8 Ha, dan Samaan 53.5 Ha. Kategori sedang seluas 44.3 Ha atau 5.02%, dan Kategori rendah sebanyak 128.8 Ha atau14.59%.Karakteristikdaerah yang memilikitingkatkerawanansangattinggidantinggiditunjukkandengankondisilingkunganpermukimantidakteraturdengansanitasiburuk, sedangkankarateristiktingkatkerawananrendahditunjukkandengankondisilingkunganpermukimanteraturdansanitasi yang baik.Secaraspasialantara tingkat kerawanan memilikihubunganpositifdenganjumlah penderita DBD pada tahun 2010 pada Kecamatan Klojen.

Pengembangan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD Darussalam Blitar / Dian Mardika Siwi

 

Kata Kunci: Permainan Pasir, Fisik Motorik, Anak Usia 4-5 tahun PAUD Darusssalam Blitar memiliki halaman yang luas, sarana bermain cukup banyak, salah satu sarana bermain yang tidak dimanfaatkan yakni arena pasir dan dari analisis kebutuhan yang dilakukan dengan menggunakan angket berupa kuisoner dan wawancara terhadap 2 guru PAUD Darussalam mengalami permasalahan dalam mencari alternatif permainan di luar kelas pada pembelajaran fisik motorik anak. Mencermati kondisi tersebut maka diperlukan pengembangan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan permainan di luar kelas untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik anak usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan permainan pasir pada pembelaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD Darussalam Blitar yang dapat dijadikan alternatif permainan untuk mengembangkan fisik motorik anak usia 4-5 tahun saat bermain di luar kelas khususnya di arena pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan. Adapun langkah-langkah yang dipilih peneliti untuk mengembangkan permainan pasir pada pembelajaran anak usia 4-5 tahun sebagai berikut: 1) Analisis kebutuhan, 2) Pembuatan produk awal berupa draf kasar yang akan dievaluasikan ke para ahli, 3) Revisi tahap I, dari tinjauan para ahli, 4) Uji coba kelompok kecil, 5) Revisi II yaitu hasil uji coba kelompok kecil, 6) Uji coba lapangan, 7) Revisi produk akhir yaitu berdasarkan hasil uji lapangan, hingga diperoleh produk akhir berupa permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun. Subjek penelitian yang digunakan sebagai berikut: 1) Analisis kebutuhan terhadap dua guru, 2) subjek evaluasi yaitu ahli pembelajaran AUD, ahli fisik motorik, ahli media dan ahli bahasa, 3) subjek uji coba kelompok kecil terdiri dari 2 guru dan 6 anak PAUD Darussalam Blitar, 4) subjek uji kelompok besar terdiri 3 guru dan 31 anak PAUD Darussalam Blitar. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dan kuantitatif dengan instrumen pengumpulan data berupa kuisioner, wawancara dan observasi. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk mengunakan tehnik analisis deskriptif kualitatif dan tehnik analisis data kuantitatif. Data kuantitatif tersebut dikelompokkan, dianalisis dan kemudian disimpulkan menggunakan analisis persentase hasil evaluasi subjek uji coba. Berdasarkan pengembangan dan prosedural yang telah dilakukan, diperoleh sembilan permainan pasir. Permainan tersebut yaitu, Ikuti Jejakku dengan persentase 91,1% dari kriteria yang telah ditentukan, Balap Angkut Pasir dengan persentase 87% dari kriteria yang telah ditentukan, Berburu Harta Karun dengan persentase 87,9% dari kriteria yang telah ditentukan, Lompat Tinggi AUD dengan persentase 100% dari kriteria yang telah ditentukan, Membuat Bentuk dengan persentase 93,5% dari kriteria yang telah ditentukan, Menggambar Di Atas Pasir dengan persentase 94,3% dari kriteria yang telah ditentukan, Padempu dengan persentase 94,3% dari kriteria yang telah ditentukan, Gelundung Bola dengan persentase 86,6% dari kriteria yang telah ditentukan, Lompat Jauh AUD dengan persentase 100% dari kriteria yang telah ditentukan. Kesimpulan dari penelitian dan pengembangan ini dihasilkan produk berupa sembilan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun dengan tingkat validitas sangat valid dan dapat digunakan, sehingga sembilan permainan pasir dalam penelitian dan pengembangan ini dapat digunakan pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD Darussalam Blitar. Saran dari hasil penelitian ini, yaitu 1) untuk pemanfaatan produk guru diharapkan membatasi jumlah pemain dalam arena pasir, memperhatikan kondisi dan cuaca karena permainan yang dikembangkan ini merupakan permainan di luar kelas. 2) untuk saran diseminasi sebaiknya produk ini disosialisasikan kepada tiap-tiap PAUD, sehingga nantinya guru PAUD dapat mengetahui, memahami dan melaksanakan sesuai dengan tujuan dari pengembangan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD 3) untuk saran pengembangan lebih lanjut sebaiknya melakukan penelitian untuk tingkat efisensi produk dan memodifikasi produk pengembangan ini untuk mengembangkan aspek lainnya.

Dampak implementasi model pembelajaran problem based - learning (PBL) trehadap prestasi belajar optika geometrik mata kuliah fisika dasar II ditinjau dari kerja ilmiah mahasiswa program pendidikan fisika - FMIPA Universitas Negeri Malang angkatan 2011 / Rulisa Qurrata A

 

Kata Kunci: model pembelajaran PBL, prestasi belajar kognitif, kerja ilmiah Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah wajib mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang, yang secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum fisika dasar. Pemisahan mata kuliah teori dan praktikum memiliki kelebihan yaitu sebagai calon guru fisika, menjadi lebih berkonsentrasi pada teori dan kegiatan praktikum dengan tanggung jawab besar karena kuliah materi dan kegiatan praktikum memiliki nilai tersendiri, namun juga memiliki kelemahan yaitu materi yang disajikan pada kuliah teori cenderung berupa informasi, dosen cenderung menuntaskan materi yang ada pada silabi, perkuliahan fisika dasar tidak merupakan proses aktif dari inkuiri dimana dosen dan mahasiswa dapat berpartisipasi, sehingga mahasiswa mengalami kesulitan belajar dalam menguasai konsep fisika dan dalam memecahkan masalah fisika. Model pembelajaran yang mampu merubah cara berfikir mahasiswa adalah model pembelajaran Problem Base-Learning (PBL). Pembelajaran PBL terdiri dari lima tahap yaitu orientasi masalah, organisasi masalah, investigasi mandiri, penyajian hasil karya, dan evaluasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penerapan model tersebut terhadap prestasi belajar ditinjau dari kerja ilmiah mahasiswa pendidikan fisika- FMIPA UM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian eksperimen semu, dengan desain penelitian posttest only control group. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan fisika-FMIPA UM angkatan 2012. Proses penentuan sampel penelitian dengan purposive sampling dan dipilih kelas BB dan CC. Kelas BB dengan jumlah siswa 36 ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas CC dengan jumlah siswa 36 ditetapkan sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen pembelajaran dilakukan dengan model PBL dan kelas kontrol pembelajaran dilakukan dengan pembelajaran konvensional metode ceramah dan tanya jawab. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji ANAVA dua jalur dan uji lanjutan Tukey’s HSD. Berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan, maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar antar kelompok kerja ilmiah tinggi kelas kontrol dan eksperimen tidak memiliki perbedaan, sedangkan prestasi belajar kelompok kerja ilmiah rendah kelas eksperimen lebih baik dari kerja ilmiah rendah kelas kontrol.

Bentuk konsep diri dan kecemasan terhadap kematian pada penderita kanker payudara / Boby Yanuar Arisandi

 

Key word: Self Concept, Anxiety, Mortality, Breast Cancer The Breast Cancer is not only a crucial biological problem, but also there is psychologically which influence the sufferer itself. Breast is the most valuable things for woman. If there is a disorder on this part absolutely it will influence psychologically on self concept. The purpose of this research is to describe some matter, there are self concept, the anxiety of the sufferer toward the mortality, and the behavior from or the thingking process on the breast cancer victim facing the death. This research uses qualitative case- study methods. By using it, the research is done intensively, deeply, detail and comprehensively. The data collection is done by using interview and observation technique. The instrument which used to collect data is the researcher itself. To maintain the validation of the data the researcher conduct triangulation data. The data analysis activity starting by collect the data, data reduction process, and categorization. Based on the data analysis result, the researcher finds two result. Firstly, the subject of the research has positive self concept. The positive self-concept is gained from the parental advisory, interaction among the society surroundings. The subject of the research suffer worry facing the death, depression and isolation phase, and also accepting phase. Secondly, the subject of research has positive self-concept which gained from the interaction between friend, neighbor, and surrounding. The second subject of research does not suffer worry toward the death. The subject of research is worried about the high cost of medicine treatment when she staying in the hospital. The subject of the research does not worry with the breast cancer and also the death. The conclusion of this research is not all of cronically disease such as breast cancer will give worry impact toward the death or mortality to the sufferer. The behavior and thinking process of the breast cancer sufferer toward the death such as, rejecting, isolation, angry , bargaining and acceptance is not always serially and mixed. The next researcher is expected to analyze more subject research which has different background such as unmarried woman. Finnaly, the next research can see the self concept description and the behavior form or thinking process facing the death or mortality.

Penerapan metode demostrasi teknik kolase untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok B di RA Hasan Munadi I Banggle Kecamatan Beji Kabpate Pasuruan / Umi Khabibah

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Guru SMK Tata Busana (Lulusan Teknologi Industri) di Wilayah Malang Raya dalam Berwira Usaha / Christianingrum Nisma

 

Kata Kunci: Faktor, guru SMK Tata Busana, wirausaha. Kewirausahaan merupakan suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan kemungkinan untung atau rugi. Terdapat dua faktor (internal dan eksternal) yang mempengaruhi seseorang berwirausaha. Faktor internal yaitu memanfaatkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan keterampilan, adanya bakat berwirausaha, cita-cita menjadi wirausahawan, pengalaman, menambah pendapatan, dan berwirausaha tidak terikat oleh waktu. Faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) di Wilayah Malang Raya dalam berwirausaha. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) di Wilayah Malang Raya sejumlah 26 responden yang berwirausaha dibidang busana. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Uji coba dilakukan kepada 8 responden Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) diluar Wilayah Malang Raya yang berwirausaha. Uji validitas dan reliabilitas instrumen menggunakan bantuan program SPSS 16.00 for windows. Hasil penelitian diketahui bahwa seluruh indikator dari faktor internal dan faktor eksternal mempengaruhi Guru SMK Tata Busana dalam berwirausaha. Disimpulkan bahwa (1) 89,6% (26 orang) lulusan TI di Wilayah Malang Raya telah berprofesi sebagai guru dan juga berwirausaha. (2) Usaha yang dikelola Guru (lulusan TI) yaitu modiste, usaha jahit busana, kursus menjahit dan usaha pembuatan kebaya. (3) Faktor internal yang mempengaruhi Guru (lulusan TI) dalam berwirausaha antara lain memanfaatkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan keterampilan, bakat, cita-cita, pengalaman, menambah pendapatan, dan berwirausaha tidak terikat waktu. (4) Faktor internal yang dominan yaitu memanfaatkan ilmu pengetahuan, sedangkan faktor terendah adalah bakat. (5) Faktor eksternal yang mempengaruhi Guru (lulusan TI) dalam berwirausaha antara lain lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. (6) Faktor eksternal yang dominan yaitu lingkungan keluarga, sedangkan faktor terendah adalah lingkungan masyarakat. (7) Faktor dominan yang mempengaruhi (lulusan TI) dalam berwirausaha adalah memanfaaatkan ilmu pengetahuan. Hal itu membuktikan bahwa program kewirausahaan yang menjadi ciri khas jurusan TI Universitas Negeri Malang, sangat relevan dengan lulusan yang dihasilkan. Saran yang dapat disampaikan adalah (1) Guru SMK Tata Busana diharapkan tetap fokus utama sebagai guru, sedangkan wirausaha adalah profesi sampingan. (2) Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) yang berwirausaha pintar dalam membagi waktu. (3) Usaha yang dikelola oleh Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) dapat dikembangkan menjadi lebih besar dengan menyerap tenaga kerja lulusan SMK Tata Busana atau bekerja sama dengan lulusan TI yang lain.

Hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap tehnik bermain sepak bola peserta ekstrakurikuler sepak bola SMA Negeri 5 Malang / Ari Yuwono Bakti Wibowo

 

Kata kunci: Hubungan, ekstrakurikuler sepakbola,tes dan pengukuran, kekuatan otot tungkai, kelincahan, teknik bermain sepakbola, dan sepakbola. Kegiatan olahraga sepakbola merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMA Negeri 5 Malang yang diselenggarakan pada hari Jum’at mulai dari pukul 15.00 – 17.00 WIB dengan dukungan fasilitas yang cukup memadai. Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan, guru yang membina ekstrakurikuler sepakbola menyatakan setuju untuk melakukan penelitian bagi peserta ekstrakurikuler sepakbola sebagai data dasar guru untuk melihat hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola. Dari penelitian tersebut, pembina ekstrakurikuler sepakbola dapat merencanakan porsi latihan yang memadai dari hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain pada peserta ekstrakurikuler sepakbola di SMA Negeri 5 Malang. Hipotesis penelitian adalah ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasi sedangkan rencana pelaksanaan menggunakan tes dan pengukuran. Instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri dan subyek penelitian adalah 20 peserta ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 5 Malang. Variabel penelitian meliputi variabel bebas yang terdiri dari kekuatan otot tungkai (X1) dan kelincahan (X2), variabel terikat yaitu teknik bermain sepakbola (Y). Hasil penelitian yang telah dilakukan kepada subyek penelitian yang berjumlah 20 peserta ekstrakurikuler sepakbola di SMA Negeri 5 Malang didapatkan korelasi antara kekuatan otot tungkai dengan teknik bermain sepakbola sebesar 0,46 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dengan teknik bermain sepakbola, korelasi antara kelincahan dengan teknik bermain sepakbola sebesar 0,23 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kelincahan dengan teknik bermain sepakbola, dan korelasi antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola sebesar 0,49 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola peserta ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 5 Malang. Kesimpulan, setelah dilakukan penelitian dan diperoleh hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dengan teknik bermain sepakbola, ada hubungan yang berarti antara kelincahan dengan teknik bermain sepakbola dan ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola peserta ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 5 Malang. Saran dari penelitian ini adalah dengan terujinya kekuatan otot tungkai dengan kelincahan yang memiliki hubungan terhadap teknik bermain sepakbola maka dalam perencanaan latihan sepakbola porsi latihan untuk kekuatan otot tungkai dan kelincahan perlu diperhatikan serta teknik-teknik bermain sepakbola yang perlu diberi porsi latihan yang cukup.

Perbandingan distribusi suhu tunak pada pelat segi empat dengan Metode Analitik, Numerik, dan Acak Menggunnakan Wolfram Mathematica / Meisithoh Niagawati

 

Kata Kunci: distribusi suhu keadaan tunak, pelat segi empat, analitik, numerik, acak, Wolfram Mathematica. Pada suatu pelat segi empat yang suhu keempat dindingnya dipertahankan tetap setiap saat, suhu di setiap titik di dalam pelat dapat diketahui dengan metode analitik, numerik, dan acak. Metode analitik menggunakan solusi persamaan Laplace yag disesuaikan dengan syarat batas, metode numerik menggunakan prinsip rata-rata keempat tetangga, sedangkan metode acak menggunakan prinsip gerak acak. Sri Budhi Utami (2004) telah membuat program tentang persamaan Laplace dengan metode numerik namun tampilannya hanya berupa angka. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengembangan terhadap tampilan program sehingga dibuatlah program yang mampu menghitung distribusi suhu tunak pada pelat segi empat dengan metode analitik, numerik, dan acak sehingga dapat membandingkan hasil dari ketiga metode tersebut. Adapun software yang digunakan adalah Wolfram Mathematica. Menurut rancangan program, ukuran pelat dapat diinputkan oleh pengguna program sedangkan suhu keempat dindingnya dapat dipilih melalui slider. Untuk metode analitik diberikan pilihan jumlah suku sebesar 10, 20, 30, ..., 100, untuk metode numerik diberikan pilihan lebar kisi sebesar 0,5 dan 1, sedangkan untuk metode acak dapat diinputkan titik awal yang ingin diketahui nilai suhunya. Program mampu menampilkan kontur untuk metode analitik dan numerik serta menampilkan gerak acak dari titik yang ditinjau pada metode acak. Berdasarkan hasil program, dapat disimpulkan bahwa program ini mampu menghitung distribusi suhu tunak pada pelat segi empat dengan metode analitik, numerik, dan acak menggunakan Wolfram Mathematica sehingga dapat dibandingkan hasil dari metode analitik, numerik, dan acak. Metode analitik memberikan solusi sebenarnya untuk titik di dalam pelat. Namun, untuk titik dinding pelat nilainya semakin mendekati syarat batas jika jumlah suku yang digunakan semakin banyak. Metode numerik cocok untuk semua titik baik untuk dinding pelat maupun titik di dalam pelat. Pada dinding pelat, nilai yang diperoleh sesuai dengan syarat batas sedangkan pada titik di dalam pelat nilai yang diperoleh mendekati solusi analitik. Metode acak hanya digunakan untuk mengetahui nilai sebuah titik tertentu di dalam pelat dan solusi yang dihasilkan adalah solusi pendekatan. Ditinjau dari segi waktu, metode analitik mempunyai waktu lebih cepat dibanding metode numerik untuk tampilan program berupa angka. Namun, untuk tampilan program berupa kontur, metode numerik lebih cepat dibanding metode analitik. Metode acak membutuhkan jumlah gerak acak yang banyak untuk memperoleh hasil yang akurat. Hal ini menyebabkan metode acak membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding kedua metode lainnya.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi melalui teknik pemodelan siswa kelas IV SDN Pankunden 02 Kota Blitar / Khoiril Azizah

 

Kata kunci: peningkatan kemampuan menulis, karangan narasi, teknik pemodelan. Berdasarkan observasi pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SDN Pakunden II Kota Blitar, diperoleh nilai yang kurang, dari 40 siswa hanya ada 10 siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM, sedangkan 30 siswa lainnya dinyatakan belum tuntas belajar. Hal ini dikarenakan, guru hanya menggunakan metode ceramah, guru tidak memberikan bimbingan yang intensif, dan tidak menggunakan media saat kegiatan pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik pemodelan dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa Kelas IV SDN Pakunden II Kota Blitar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian dengan menerapkan teknik pemodelan menunjukkan adanya peningkatan dalam aktivitas siswa. Pada siklus I, nilai akhir siswa kelas IV dalam pembelajaran menulis karangan narasi dengan menerapkan teknik pemodelan menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 87.2. Persentase ketuntasan belajar siswa adalah sebesar 68.75% atau sebanyak 27 siswa telah tuntas belajar. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM sebesar 31.25% atau sebanyak 13 siswa yang belum tuntas belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa persentase siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar hanya 67.5% dan persentase tersebut masih belum mencapai dari persentase ketuntasan yang ingin dicapai yaitu minimal 85%. Dalam siklus II, penelitian dengan menerapkan teknik pemodelan menunjukkan adanya peningkatan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 82.6. Persentase ketuntasan klasikal satu kelas adalah sebesar 81.25% atau sebanyak 35 siswa telah tuntas belajar. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM sebesar 18.75% atau sebanyak 5 siswa yang belum tuntas belajar. Permasalahan siswa yang tidak tuntas dikarenakan tulisan siswa yang tidak rapid an komponen karangan narasi yang kurang lengkap. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik pemodelan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa. Dengan demikian, hendaknya guru menerapkan teknik pemodelan dalam pembelajaran menulis karangan narasi untuk mempermudah siswa menulis karangan narasi siswa.

Pengembangan karakter tanggungjawab, kejujuran, tekun / gigih dan peningkatan hasil belajar kognitif fisika matematika II melalui keterpaduan sistem, perangkat, dan metode perkuliahan / Umy Hidayatur Rasyidah

 

Kata Kunci: Tanggung jawab, kejujuran, tekun/gigih, hasil belajar kognitif. Datang terlambat pada saat perkuliahan atau ujian, ketidakjujuran dalam mengerjakan tugas, laporan atau ujian, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, mengobrol sendiri ketika perkuliahan berlangsung sering dilakukan oleh mahasiswa. Hal ini disebabkan telah berkurangnya nilai karakter-karakter mulia pada mahasiswa. Apabila contoh-contoh seperti di atas terus dibiarkan berkembang menuju ke arah yang kurang baik maka akan menimbulkan permasalahan yang lain, seperti maraknya tindak kriminal korupsi. Dalam hal ini peneliti menyadari bahwa seharusnya pendidikan tidak hanya mentrasfer ilmu dan pengetahuan, tetapi juga mentrasfer nilai karakter mulia. Di samping itu rata–rata nilai Fisika Matematika II pada bab sebelumnya (Solusi Persamaan Diferensial dengan Deret) adalah antara 29.3 atau masuk kategori tidak lulus. Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan karakter dan meningkatkan hasil belajar Fisika Matematika II melalui keterpaduan sistem, perangkat, dan metode perkuliahan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan 2 siklus dan melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fisika Matematika II offering MG-NH semester genap 2010/2011 jurusan Fisika FMIPA UM. Dalam mengumpulkan data melalui observasi, peneliti menggunakan video recorder, lembar pengamatan, dan catatan lapangan. Kemunculan indikator karakter yang diteliti adalah tanggung jawab, kejujuran dan tekun/gigih. Karakter tanggung jawab pada mahasiswa diamati dengan berada di kelas sesaat sebelum perkuliahan dimulai dan membawa handout ketika perkuliahan berlangsung. Pada siklus I, terdapat 5-10 mahasiswa datang terlambat pada saat perkuliahan dan hampir semua mahasiswa membawa handout. Pada siklus II menunjukkan hanya terdapat 2-3 mahasiswa yang terlambat. Karakter kejujuran diamati dengan mahasiswa mengerjakan sendiri ujian harian dan tidak melihat ke kiri atau ke kanan dengan maksud mendapatkan jawaban teman. Pada siklus I, terdapat sekitar 3-4 mahasiswa yang melakukan kecurangan dalam mengerjakan ujian. Pada siklus II, mahasiswa telah berusaha mengerjakan sendiri ujian harian. Karakter tekun/gigih diamati dengan sikap mahasiswa yang selalu sibuk mengerjakan ujian atau tidak diam saja saat ujian. Hasil penelitian pada peningkatan hasil belajar mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan yaitu dengan melihat rata-rata nilai ujian harian pada siklus I 46,7 dan pada siklus II 59,8. Peningkatan hasil belajar mahasiswa yaitu sekitar 13,1.

Pembuatan busana pesta model long dress dengan penerapan pleatsket / Toni

 

Kata Kunci: Busana Pesta, Long Dress, Pleatsket. Busana berfungsi sebagai pelindung tubuh dari rasa dingin dan sengatan sinar matahari, serta untuk memenuhi adat kesopanan yang berlaku dalam masyarakat, dan menambah penampilan diri seseorang lebih baik dan lebih nyaman apabila dipandang. Busana pesta adalah busana yang dipergunakan untuk menghadiri acara jamuan pesta, baik yang bersifat formal, semi formal atau non formal. Busana pesta mempunyai banyak ragamnya mulai dari busana pesta yang bermodel mini dress, busana pesta cookil dress, bahkan long dress. long dress adalah busana terusan yang membentuk tubuh seseorang dan panjangnya sampai mata kaki. Bahan yang digunakan oleh penulis adalah sifon kasionik dengan penerapan pleatsket pada gaun, yaitu knife pleatsket. Tujuan yang dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir adalah menjelaskan tentang pembuatan busana pesta model long dress dengan knife pleatsket dari bahan sifon kasionik manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir adalah menambah pengetahuan dan inspirasi bagi pembaca dalam pembuatan busana pesta dengan penerapan pleatsket berbahan sifon kasionik. Proses pembuatan yang dilakukkan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing biaya yang dkeluarkan adalah Rp 253.000,00. Saran yang dapat diberikan adalah saat proses pembuatan pleatsket pada long dress diperlukan teknik jelujur, untuk mempermudahkan proses pembuatan pleatsket.

Pengaruh penggunaan media CD interaktif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS peserta didik kelas IV SDN Rejosari 01 Bantur / Puji Astutik

 

Kata kunci: Media CD Interaktif, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar IPS. Upaya untuk menciptakan pembelajaran IPS yang menarik, selain memilih model dan metode juga harus diperhatikan pemilihan media yang tepat. Melalui media pembelajaran materi yang disampaikan akan lebih mudah dan jelas. Berdasarkan hasil pengamatan di SDN Rejosari 01 Bantur di kelas IVB pada tanggal 13,20 September 2011, serta IVA pada tanggal 15, 22 September 2011, ditemukan kenyataan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan tanpa menggunakan media. Aktivitas belajar peserta didik kurang, karena hanya membaca dan mengerjakan latihan di LKS. Hasil wawancara dengan guru kelas dan kepala sekolah, diperoleh keterangan bahwa selama semester ganjil hanya sekali menggunakan media dalam pembelajaran. Belum pernah ada yang memanfaatkan CD interaktif, komputer dan laptop yang ada untuk pembelajaran. Berdasarkan data nilai murni UAS Ganjil tahun pelajaran 2011/2012 nilai IPS kelas IV tergolong rendah. Media CD interaktif adalah media berbantuan komputer yang dikemas dalam CD dengan tujuan aplikasi interaktif di dalamnya. Media CD interaktif tersedia dalam tiga model yaitu model tutorial, drill, dan game. Model CD interaktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah model tutorial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan media CD interaktif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS peserta didik. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (Quasy Experimental Design) dan desain perlakuan Control Group pre-test post-test. Subjek penelitian ini adalah kelas IVA dan IVB SDN Rejosari 01 Bantur. Pengambilan sampel menggunakan teknik dengan pertimbangan (purposive sampling). Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan (RPP), bahan ajar, lembar kerja siswa (LKS)), instrumen pengukuran hasil belajar kognitif (tes tulis) dan instrumen pengukuran aktivitas belajar (lembar pengamatan aktivitas belajar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas IVA (kelompok eksperimen) dan peserta didik kelas IV B (kelompok kontrol). Rata-rata nilai kemampuan akhir (post test) kelompok eksperimen 70,52 lebih tinggi dari pada rata-rata kelompok kontrol 61,22. Rata-rata peningkatan nilai hasil belajar (gain score) kelompok eksperimen 18,30 lebih tinggi dari pada rata-rata kelompok kontrol 8,36. Rata-rata aktivitas kelompok eksperimen 84,80 lebih tinggi dari pada rata-rata kelompok kontrol 69,04. Berdasarkan perbedaan aktivitas dan hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan media CD interaktif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS peserta didik kelas IV SDN Rejosari 01 Bantur.

Sintesis dan karakterisasi nanomaterial Fe3O4 Berlapis karbon berbasis pasir besi tulungagung

 

Kata Kunci : Struktur Kristal, Pelapisan karbon, Kopresipitasi, Nanopartikel Fe3O4. Magnetik Fe3O4 menjadi bahan kajian yang menarik perhatian para peneliti karena memiliki peluang aplikasi yang luas pada berbagai bidang, mulai dari bidang medis, bidang teknologi maupun bidang lingkungan. Diketahui bahwa nanopartikel Fe3O4 kurang stabil terhadap alam seperti suhu tinggi dan asam yang membuat Fe3O4 akan teroksidasi menjadi Fe2O3. Oleh karena itu perlu adanya upaya agar Fe3O4 stabil di alam. Salah satu caranya adalah dengan dilakukan pelapisan karbon (Carbon encapsulated). Penelitian ini bertujuan mensintesis pasir besi Tulungagung sebagai bahan dasar nanomaterial Fe3O4 berlapis karbon. Proses pembentukannya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembentukan nanomaterial Fe3O4 dengan metoda kopresipitasi, selanjutnya dilakukan tahap kedua yaitu proses pembungkusan karbon (Carbon encapsulated) nanomaterial menggunakan metode sonifikasi. Pada penelitian ini, Fe3O4 dilapisi karbon dalam bentuk Fe3O4@C (Variasi molaritas Glukosa 0M-3M). Bahan dasar yang digunakan adalah Pasir Besi, HCl, NH4OH, dan Glukosa sebagai sumber karbon. Karakterisasi struktur kristal dilakukan menggunakan difraktometer sinar-X dan karakterisasi morfologi dan mikrostruktur serta kandungan unsur-unsur lain dikarakterisasi menggunakan SEM EDAX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanomaterial Fe3O4@C telah berhasil disintesis dengan ukuran butir kristal berkisar antara 10 nm sampai 12 nm. Hasil SEM menunjukkan bahwa masih banyak partikel nanomaterial yang teraglomerasi. Hasil karakterisasi sampel Fe3O4@C menggunakan EDAX menunjukkan bahwa seiring dengan pertambahan Molaritas Glukosa, semakin tebal lapisan karbon yang terbentuk, dan hasil uji ketahanan sampel dengan pemberian asam (HCl 1M) menunjukan bahwa Fe3O4@C lebih tahan suasana asam daripada Fe3O4 tanpa karbon.

Pengembangan bahan ajar Fisika pokok bahasan getaran dan gelombang untuk menunjang pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sooko Mojokerto / Iva Sa'id Dwi Febri Anita

 

Kata Kunci : Bahan ajar, pembelajaran berbasis masalah, getaran dan gelombang. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Dengan diberlakukannya KTSP, guru dituntut agar lebih kreatif untuk mengembangkan suatu perangkat pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap bagus dan layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran adalah pembelajaran aktif inovatif kreatif, efektif dan menyenangkan. Metode PAIKEM merupakan metode yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa, maka dari itu banyak hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM salah satunya ialah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah. Berdasarkan hal itulah maka dikembangkan bahan ajar berbasis masalah yang cocok diterapkan didalam metode pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berorientasi pembelajaran berbasis masalah pada materi getaran dan gelombang untuk SMP kelas VIII agar mempermudah siswa dalam mempelajari konsep getaran dan gelombang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan produk dan mengetahui karakteristik produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan dengan langkah-langkah meliputi tahap penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba lapangan awal dan revisi produk akhir. Penelitian ini menggunakan teknik validasi isi yang dilakukan oleh validator yang berasal dari pihak dosen dan guru sebagai ahli serta dilakukan uji coba awal terhadap siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang disertai rubrik. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan Skala Likert dan data kualitatif berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir dari pengembangan bahan ajar ini adalah bahan ajar berorientasi pembelajaran berbasis masalah pada materi getaran dan gelombang. Berdasarkan hasil analisis data, produk akhir yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak dan sudah direvisi pada beberapa bagian berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda dari bahan ajar yang lain, diantaranya: setiap awal materi diawali pembahasan yang memotivasi belajar siswa dan pertanyaan-pertanyaan sederhana, terdapat kata mutiara di setiap halaman, setiap pembahasan diperjelas dengan gambar, pembahasannya sederhana dan mudah dimengerti siswa, terdapat Web Link serta desain isi lebih menarik dan full colour.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materi wujud zat dan perubahannya untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII / Julia Ulfiyah

 

Kata Kunci : bahan ajar, kontekstual, wujud zat dan perubahannya. Dalam mengajarkan mata pelajaran fisika diharapkan dapat memotivasi siswa dan menciptakan suasana yang menyenangkan agar siswa tidak jenuh, sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Proses pembelajaran dengan kondisi yang menyenangkan dan santai akan membantu siswa menyerap materi pelajaran dengan baik. Pembahasan mengenai materi pelajaran tidak bisa terlepas dari yang namanya bahan ajar. Salah satu perangkat pembelajaran yang penting untuk menunjang kesuksesan belajar siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga bahan ajar tersebut tidak hanya memberikan materi secara instan tetapi mampu menggiring siswa kepada kemampuan untuk mengerti konsep yang dipelajari yang pada akhirnya menjadikan belajar siswa menjadi bermakna. Berdasarkan uraian tersebut maka dikembangkan bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materi wujud zat dan perubahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materi wujud zat dan perubahannya untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) kelas VII agar mempermudah siswa dalam mempelajari konsep wujud zat dan perubahnnya. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan dengan langkah-langkah meliputi tahap penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk, uji coba lapangan awal dan revisi produk. Penelitian ini menggunakan teknik validasi isi yang dilakukan oleh validator yang berasal dari pihak dosen dan guru sebagai ahli serta dilakukan uji coba awal terhadap siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang disertai rubrik. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan Skala Likert dan data kualitatif berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir penelitian ini adalah bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materu wujud zat dan perubahannya. Berdasarkan hasil analisis data, produk akhir yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak dan sudah direvisi pada beberapa bagian berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda dari bahan ajar yang lain, diantaranya: setiap awal materi diawali pembahasan yang memotivasi belajar siswa dan pertanyaan-pertanyaan sederhana, setiap pembahasan diperjelas dengan gambar, pembahasannya sederhana dan mudah dimengerti siswa, terdapat jelajah internet dan peta konsep serta desain isi lebih menarik dan full colour.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |