Tanggapan pengelola butik tentang kompetensi SMK pada program keahlian tata busana / Fatwa Ayu Rosida

 

Kata Kunci : Tanggapan Pengelola Butik, Kompetensi, Tata Busana Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat dicapai melalui pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan pada masyarakat. Tujuan utama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja handal dengan mengutamakan kemampuan kejuruan jenis tertentu. Namun kenyataannya cukup kontradiktif, SMK sebagai lembaga yang mempersiapkan lulusan siap kerja justru sebaliknya. Angka pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan didominasi oleh lulusan SMK. Salah satu cara untuk meningkatkan skill dan menambah pengalaman siswa SMK khususnya program keahlian tata busana yaitu dengan melaksanakan praktek kerja industri (prakerin). Prakerin merupakan bagian dari program pembelajaran yang dilaksanakan di dunia industri. Hasil survei menunjukkan sebagian siswa melaksanakan prakerin di butik. Kompetensi yang diberikan pengelola butik kepada siswa SMK yaitu kompetensi menjahit, menghias busana, membuat pelengkap busana, dan mengerjakan bagian finishing. Oleh sebab itu peneliti ingin mengetahui bagaimana tanggapan pengelola butik tentang kompetensi siswa SMK pada program keahlian tata busana. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dari penelitian ini yaitu pengelola butik yang menjadi tempat prakerin siswa SMKN se-Kota Madya Malang yaitu SMKN 3 Malang, SMKN 5 Malang, dan SMKN 7 Malang yang berjumlah 13 pengelola butik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dengan jumlah pertanyaan 46 item. Uji instrumen menggunakan uji validitas konstuk dan dinyatakan valid, sedangkan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha dengan nilai 0,828. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggapan dari 13 pengelola butik menyatakan bahwa: (1) siswa kompeten dalam menjahit busana butik, (2) siswa kompeten dalam menghias busana, (3) siswa kompeten dalam membuat pelengkap busana, dan (4) siswa kompeten pada bagian finishing busana butik. Simpulan; pengelola butik menyatakan bahwa kompetensi siswa prakerin pada program keahlian tata busana sudah kompeten. Saran; kepada pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) disarankan agar tetap mempertahankan kompetensi yang sudah dimiliki siswa dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan sesuai dengan perkembangan di dunia industri khususnya butik seperti, teknik menghias busana dan pelengkap busana.

Persepsi dan pemahaman guru mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter dan aplikasinya pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Batu / Dinesh Basti Farani

 

Kata Kunci: Persepsi dan Pemahaman Guru, Kurikulum Pendidikan Karakter, Mata Pelajaran Ekonomi Pendidikan di Indonesia dewasa ini, bisa dikatakan masih tertinggal dibanding pendidikan di negara lain. Untuk mengantisipasi hal tersebut salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah materi atau yang biasa disebut kurikulum. Saat ini pendidikan karakter sedang menjadi isu utama dalam dunia pendidikan di Indonesia, harapannya melalui pendidikan karakter tersebut mampu menjadi landasan utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam berbagai bidang dalam bernegara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi dan pemahaman guru mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter serta aplikasinya pada mata pelajaran ekonomi di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memahami fenomena yang sedang dikaji. Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Negeri 1 Batu yang merupakan satu-satunya sekolah yang berstatus RSBI di kota Batu. Informan dalam penelitian ini adalah semua guru mata pelajaran ekonomi, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah kelas X, XI-IPS, dan XII-IPS. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan persepsi dan pemahaman guru mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter baik pada mata pelajaran ekonomi baik. Sehingga persepsi dan pemahaman guru yang baik tersebut, secara langsung akan mempengaruhi terhadap aplikasinya sendiri. Aplikasi pendidikan karakter di SMA Negeri 1 Batu, tidak hanya dilakukan dalam kegiatan pemebelajaran di dalam kelas, namun juga diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain dan juga budaya sekolah. Saran dalam penelitian ini adalah Bagi Guru Ekonomi hendaknya mampu untuk memasukkan nilai karakter dengan baik dalam RPP dan silabus serta menyusun skenario pembelajaran sehingga nilai karakter yang diharapkan dapat tercapai. (2) Bagi pihak sekolah, terutama bidang kurikulum hendaknya lebih mengawasi sendiri dan juga mengembangkan alat untuk melakukan penilaian terhadap pelaksanaan pendidikan karakter. (3) Bagi pihak Universitas yang berorientasi di bidang pendidikan hendaknya berperan dalam meningkatkan kompetensi guru maupun mencetak calon guru yang berkualitas sehingga mampu untuk mengaplikasikan pendidikan karakter dengan baik. (4). Bagi penelitian selanjutnya, hendaknya tidak hanya meneliti tentang persepsi, pemahaman guru, serta aplikasinya pada mata pelajaran ekonomi namun pada evaluasi, atau analisis permasalahan yang terdapat dalam pelaksanaan kurikulum berbasis pendidikan karakter sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas khususnya dalam hal kurikulum di sekolah.

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasdil belajar siswa kelas XI IPS-2 SMAN Klakah-Lumajang / Malia Ulfa

 

Kata Kunci: Problem Based Learning, Hasil Belajar. Dewasa ini, pendidikan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal tersebut mengakibatkan adanya persaingan yang sangat ketat di bidang pendidikan, maka untuk mengahadapinya diperlukan kualitas pendidikan yang bermutu dan semakin meningkat. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tentu telah di upayakan oleh berbagai pihak yang terkait dan saling bekerjasama untuk melakukan pembaharuan di bidang pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan antara lain melalui berbagai pelatihan dan meningkatkan kualifikasi guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pembelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lainnya serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Dari waktu ke waktu pemerintah selalu berusaha guna penyempurnaan pendidikan salah satunya seperti telah disebutkan yaitu penyempurnaan kurikulum. Pemerintah mengganti kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 dan sekarang berubah lagi pada kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembaharuan kurikulum yaitu KTSP (Kurikulum TingkatSatuan Pendidikan) adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran kontekstual adalah Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran PBL merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mendorong inkuiri terbuka dan berpikir bebas, membantu siswa untuk menjadi pembelajaran mandiri yang dapat memecahkan masalah. Adapaun rumusan masalah penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakan penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran PKn pada siswa kelas XI IPS-2 SMA N Klakah? (2) Apakah penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS-2 pada mata pelajaran PKn di SMA N Klakah? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observer, (4) refleksi di setiap siklus. Instrumen yang digunakan penelitian ini berupa: (1) soal ulangan, (2) pedoman observasi ketepatan guru, (3) angket, (4) catatan lapangan, (5) dokumentasi.

Pengaruh pemberian RCAS-cWnt5a contruct pada HeLa cell line / Nada Putri Djihad

 

Kata Kunci: Wnt5a, HeLa cell line, proliferasi Wnt5a merupakan salah satu anggota famili gen Wnt yang terlibat dalam berbagai proses perkembangan pada makhluk hidup dan diduga berperan dalam tumorigenesis. Namun demikian, peran gen Wnt5a dalam tumorigenesis hingga saat ini masih tetap menjadi kontroversi. Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian penduduk di dunia dan sekitar 70% dari kasus kematian akibat kanker terjadi pada negara miskin dan berkembang. Kanker berkembang dari tumor yang muncul akibat pembelahan sel normal secara tidak terkontrol. Kanker serviks merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari mekanisme gen Wnt5a dalam proliferasi dan morfologi sel, terutama pada HeLa cell line dengan memberikan penambahan RCAS-cWnt5a construct. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Pada penelitian ini dilakukan transfeksi virus RCAS-cWnt5a sebagai kelompok perlakuan dan RCAS-EGFP sebagai kontrol positif pada HeLa cell line dengan waktu inkubasi 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Pengaruh terhadap proliferasi sel diuji melalui penghitungan jumlah sel hidup, sel mati, dan sel total, serta analisis statistik uji anava ganda, sedangkan pengujian terhadap morfologi sel dilakukan dengan pengamatan bentuk HeLa cell line yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah sel total disertai penurunan jumlah sel hidup dan sel mati pada kelompok perlakuan (P) dari 48 jam hingga 72 jam. Namun demikian, hasil uji anava ganda menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan jumlah sel hidup, sel mati dan sel total (p > 0,05) pada ketiga kelompok penelitian (K-, K+, dan P) dan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam, dan 72 jam), serta interaksi keduanya. Diduga, terjadi hambatan proliferasi HeLa cell line akibat penambahan RCAS-cWnt5a construct yang menyebabkan ekspresi berlebihan (overekspresi) gen Wnt5a pada HeLa cell line yang telah mengalami upregulasi Wnt5a pada keadaan normal.

Pendidikan karakter yang ditemukan dalam unsur-unsur intrinsik novel sang pemimpi karya Andrea Hirata / Moch. Faizal Mohtarom

 

Kata kunci: unsur intrinsik, pendidikan karakter, novel Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pendidikan karakter yang ditemukan di dalam unsur-unsur intrinsik novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Unsur-unsur intrinsik meliputi tema, latar, dan penokohan, sedangkan pendidikan karakter meliputi : (1) unsur pendidikan karakter yakni afektif, kognitif, psikomotorik dan (2) pola pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, karena menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis. Data penelitian ini adalah kutipan novel yang berupa paparan narasi dan dialog yang mengandung pendidikan karakter. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka Yogyakarta pada tahun 2008. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data. Prosedur pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: (1) membaca dengan cermat novel Sang Pemimpi; (2) mengidentifiasi naskah yang mengandung pendidikan karakter; (3) memilah-milah naskah sesuai dengan rumusan masalah; dan (4) menginterpretasi data kemudian dari hasil interpretasi terdapat hasil temuan. Deskripsi hasil analisis adalah pendidikan karakter dalam novel sang pemimpi dipengaruhi oleh tiga elemen pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat yang disebut sebagai educational networker. Pendidikan karakter juga mencakup tiga dimensi dasar kemanusiaan, yakni afektif, kognitif, dan psikomotorik. Unsur afektif dalam novel sang pemimpi ditemukan pada unsur intrinsik tokoh, yakni kualitas keimanan Arai dan budi pekerti luhur Pak Balia sebagai guru. Unsur kognitif dalam novel sang pemimpi ditemukan pada unsur intrinsik tokoh, yakni kapasitas pikir Arai dan daya intelektualitas Arai dan Ikal, serta penguasaan ilmu pengetahuan oleh A Put sebagai tokoh masyarakat. Selain itu, unsur kognitif juga ditemukan dalam unsur intrinsik latar, yakni keharusan masyarakat Belitung dalam penguasaan ilmu agama, khususnya Islam sebagai cermin budaya Melayu. Unsur psikomotorik dalam novel sang pemimpi ditemukan pada unsur intrinsik alur, yakni peristiwa di PHK-nya karyawan pabrik timah yang mengharuskan anak SMA Belitung melakukan pekerjaan sambilan agar tetap dapat bersekolah, hal tersebut merupakan pengembangan keterampilan teknis. Selain itu, juga ditemukan dalam unsur intrinsik tokoh, yakni kekaguman Arai pada Bang Zaitun yang terampil bermain alat musik. Temuan terakhir yaitu pola pendidikan karakter dalam novel Sang Pemimpi adalah: (1) keteladanan, yaitu berupa contoh tindakan yang dilakukan tokoh dalam novel dan tokoh inspirasi yang dalam hal ini disebut sebagai model pemberi contoh; (2) nasehat verbal (diskusi), yaitu ungkapan yang dikemukakan oleh orang yang lebih tua baik itu guru atau ayah dan ibu, serta oleh sesama teman yaitu berupa diskusi mengenai suatu hal; (3) larangan, yaitu berupa aturan yang mengikat dan peringatan-peringatan agar tidak melanggar norma; (4) dan kebiasaan atau rutinitas, yaitu kegiatan yang dilakukan terus-menerus dan konsisten.

Perancangan dan pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan komputer pada materi fungsi komposisi untuk siswa SMA kelas XI program IPS / Fajar Prabowo

 

Kata Kunci :MediaPembelajaran, MediaPembelajaranBerbantuanKomputer, FungsiKomposisi Berdasarkanpengalaman yang diperolehpadasaatmelaksanakanPraktikPengalamanLapangan (PPL) di SMA Negeri 7 Malang, sebagianbesarsiswamengalamikesulitandalammempelajarimaterifungsikomposisi, terutamasiswa program IPS. Sebagianbesarsiswakesulitandalammendefinisikanfungsidanfungsikomposisi.Selainitusebagianbesarsiswajugakurangtermotivasiuntukmempelajarimaterifungsikomposisikarenakurangnyapengetahuantentangkegunaandancontohfungsikomposisidalamkehidupansehari-hari. Hal tersebutdapatdiketahuidarinilaiujiansiswapadamaterifungsikomposisi yang sebagianbesar di bawah KKM.Berdasarkanwawancaradenganbeberapasiswakelas XI program IPS di SMA Negeri 7 Malang, guru dinilaikurangtanggapdenganpermasalahansiswa. Guru terlalubanyakmemberikanmaterisecarakonvensional. Siswamerasa guru terlalubanyakmemberikantugasdanlatihansoal, haltersebutmembuatsiswamerasajenuh.Media pembelajaran adalah perantara yang berupa sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional yang dapat dimanfaatkan siswa untuk menunjang kegiatan belajar.Penyampaianmaterifungsikomposisipada media pembelajaraninidibuat agar siswa merasa senang dan tidak bosan dalam proses pembelajaran. Pengembangan media pembelajaranberbantuan computer inimerujukpadaprosedurpengembangan media yang dilakukanolehKariadinatayaitumeliputi (1) tahapconcept ( konsep), (2) tahapanlysis(analisis), (3) tahapdesign(desain), (4) tahap material collecting(pengumpulan bahan), (5) tahapassembly(pembuatan), (6) tahapevalution(evaluasi), (7) tahaptesting(uji coba), dan (8) tahapdistribution (distribusi). Media pembelajaraninitelahmelaluitahapvalidasioleh 3 validatoryaitusatu orang dosenmatematikaUniversitasNegeri Malangsebagaiahlimaterisekaligusahli media, satu orang guru matematika SMA Negeri 7 Malangsebagaiahlimateri, satu orang staf IT UniversitasBrawijayasebagaiahli mediadandiujicobakankepadasiswakelas XI IPS 4 SMA Negri 7 Malang. HasilValidasiolehahlimaterimenunjukkanpresentasekeseluruhansebesar 82,38% dandinyatakan valid. Hasilvalidasiolehahli mediadengantingkatpresentase81,57% dandinyatakan valid. Sedangkanhasilujicobamenunjukkantingkatpresentasesebesar 78,99% dandinyatakan valid. Saran untukpengembanganselanjutnyadiharapkanmengembangkan media pembelajaran komputer untuk materi lain,dilengkapi suara narator sehingga lebih interaktif, pengembangan lebih lanjut pada materi fungsi komposisi, seperti penelitian eksperimen, menghitung durasi waktu untuk masing-masing sub menu serta durasi waktu keseluruhan sehingga pengguna dapat memanfaatkan waktu yang dimiliki dengan maksimal. 

Pembelajaran nila-nilai disiplin dalam PKN siswa kelas XI sebagai upaya penegakan tata tertib di SMAN 3 Probolinggo / Pujo Dwi Nugroho

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Nilai-nilai Disiplin, Tata Tertib Pembelajaran adalah pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar yang akan membentuk suatu struktur kognitif baru yang lebih mantap, yang dapat dipandang sebagai hasil belajar.. Nilai-nilai disiplin merupakan tindakan, suatu perbuatan yang sengaja diterapkan untuk kepentingan pendidikan di sekolah. Tindakan atau perbuatan tersebut dapat berupa perintah, nasehat, larangan, harapan, dan hukuman atau sanksi. Kedisiplinan sebagai alat pendidikan diterapkan dalam rangka proses pembentukan, pembinaan dan pengembangan sikap dan tingkah laku yang baik. Tata Tertib sebagai aturan yang diterapkan oleh sekolah merupakan ketentuan-ketentuan yang mengatur segala tindakan yang ada dikehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi tertib siswa adalah bagian dari dari tata terib sekolah Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui isi kompetensi dasar pembelajaran nilai-nilai disiplin dalam Pkn, strategi pembelajaran nilai-nilai displin, keterkaitan nilai-nilai disiplin dengan tata tertib sekolah, kendala yang dialami guru dalam menerapkan pembelajaran nilai-nilai disiplin sebagai upaya penegakan tata tertib, dan upaya guru dalam mengoptimalkan pembelajaran nilai-nilai disiplin. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan meliputi data yang berasal dari instrumen lembar pedoman wawancara serta dokumentasi seperti silabus dan RPP. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa Melalui proses wawancara dengan guru mata pelajaran PKn sebagai narasumbernya, peneliti berusaha mengumpulkan dokumen seperti Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Silabus yang didalamnya memuat aturan tata tertib, dan isi Kompetensi Dasar semester ganjil yang memuat tentang pembelajaran nilai-nilai disiplin dalam PKn kelas XI yaitu : (a) 3.1 Mendeskripsikan pengertian dan pentingnya keterbukaan dan keadilan, (b) 3.2 Menganalisis dampak kepercayaan pemerintah yang tidak transparan, (c) 3.3 Menunjukkan sikap keterbukaan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara Strategi pembelajaran yang ditampilkan adalah salah satu pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran jigsaw, dimana model pembelajaran tersebut bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir, artinya tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah bukan sekedar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal dalam memecahkan permasalahan soal yang telah diberikan oleh guru PKn. Keterkaitan nilai-nilai disiplin dengan tata tertib yakni setiap pelanggaran tata tertib sekolah akan diberikan poin atau bobot angka yang menunjukan kesalahan yang diperbuat. Poin atau bobot angka ini nantinya akan ditotal menjadi laporan pada tiap akhir tahun pelajaran. Bagi siswa yang telah masuk atau melebihi bobot angka tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan yang telah diatur dalam tata tertib sekolah. Sanksi akan diberikan sesuai dengan derajat kesalahan yang telah ditentukan dalam tata tertib sekolah. Kendala yang dialami guru dalam menerapkan pembelajaran nilai-nilai disiplin sebagai upaya penegakan tata tertib yakni terdiri dari berbagi faktor diantaranya: (1) Terlambat sekolah; (2) Menyontek; (3) Tidak mengerjakan tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru; (4) ramai didalam kelas ketika proses KBM; (5) bolos sekolah; (6) keluar dari kelas pada saat jam pelajaran berlangsung. Dari penelitian di atas maka dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Siswa diharapkan agar memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan dan mentaati tata tertib yang berlaku disekolah, (2) Guru hendaknya memberikan sanksi yang tegas kepada siswa apabila melanggar aturan tata tertib sekolah, sehingga memberikan efek jera dan menjadi contoh bagi siswa lain untuk tidak melakukan pelanggaran, serta guru mampu menjadi mitra dialog bagi siswa yang bermasalah melanggar aturan tata tertib, (3) Pengawasan dari pihak sekolah harus lebih ditingkatkan karena untuk menciptakan kondisi disiplin siswa disekolah membutuhkan peran yang tegas dari berbagai semua pihak sekolah terutama mengenai perilaku dan seluruh kegiatan di sekolah pada umunya.

Studi tentang keanekaragaman perifiton pada substrat pantai berlumpur, pantai rejoso, desa patuguran, kecamatan rejoso, pasuruan / Ermelinda Tue

 

Kata Kunci : Perifiton, Tingkat Keanekaragaman, Ekosistem Pantai Berlumpur Pantai berlumpur adalah tipe pantai yang khas yang memiliki ciri-ciri fisik berbeda dibandingkan dengan ciri-ciri fisik pantai berpasir dan pantai berbatu. Pantai berlumpur banyak dijumpai du muara sungai yang ditumbuhi oleh hutan mangrove, dimana energi gelombang terdisipasi oleh hutan mangrove dan lumpur. Pantai tipe ini banyak ditemui di Pantai Utara Pulau Jawa, Pantai Timur Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Pantai tipe ini relatif mudah berubah bentuk, mengalami deformasi, dan tererosi. Pantai Rejoso merupakan pantai yang memiliki panjang garis pantai ± 2000 m dan merupakan pantai berlumpur. Lumpur pantai ini merupakan hasil sedimentasi tanah liat dan partikel halus yang terbawa oleh arus sungai Rejoso dan gelombang laut. Pada dataran pantai berlumpur biasanya ditemukan mikroalga berwarna hijau kecoklatan pada permukaan lumpur saat surut. Perifiton adalah organisme yang umumnya berukuran kecil, hidup menempel pada substrat. sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas suatu perairan. Sebagai produsen primer, keberadaan perifiton merupakan kontribusi terhadap keanekaragaman hayati di perairan laut. Peranan diatom perifiton sangat penting dalam ekosistem perairan karena merupakan produsen dalam rantai makanan yakni sebagai penghasil bahan organik dan oksigen. Diatom perifiton sebagai flora menjadi sangat penting peranannya karena dapat berkembangbiak secara cepat sehingga berguna sebagai bahan makanan bagi hewan invertebrata dan ikan dalam ekosistem perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan di Ekosistem Pantai Berlumpur, Pantai Rejoso, Desa Patuguran, Pasuruan yang bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Perifiton serta interaksi faktor-faktor abiotik terhadap keanekaragaman Perifiton di ekosistem Pantai Berlumpur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan menghitung nilai indeks keanekaragaman dan kemerataan Perifiton, sedangkan interaksi antara faktor-faktor abiotik dan komposisi Perifiton dianalisis dengan Analisis Regresi Berganda (Multiple Regression). Pengambilan data diakukan dengan membuat transek yang menjauhi mangrove dan transek yang menjauhi muara. Untuk transek yang menjauhi mangrove diambil 10 transek secara horizontal dari batasan surut maksimal dengan jarak antar garis transek 25 meter. Masing-masing transek dibuat 10 plot dengan jarak antar plot 5 m. Plot yang dibuat adalah dalam bentuk kuadrat dengan ukuran 1 x1 m2. Sedangkan untuk transek yang menjauhi muara plot yang digunakan dilihat dari gradasi transek yang menjauhi mangrove. Jadi, terdapat 10 transek dan jarak antar transek adalah 5 m. Masing-masing transek terdapat 10 plot dengan jarak 25 m. Selanjunya setelah semua data terkumpul baik sampel maupun pengukuran faktror abiotik, maka dilakukan pengamatan mikroskopis Perifiton kemudian dilakukan identifikasi serta perhitungannnya. Identifikasi Perifiton dilakukan minimal sampai tingkat genus. Dalam hasil penelitian ini, ditemukan 15 genus Perifiton yaitu genus Gyrosigma, Pleurosigma, Netrium, Gonium, Ceratium, Melosira, Chronococcus, Dytillum, Thalasiothrix, Rhizolenia, Navicula, Cymbella, Stephanophyxis, Pinularia, dan Synedra. Kebanyakan spesies yang ditemukan adalah Diatom. Perhitungan nilai keanekaragaman untuk transek mangrove, nilai keanekaragaman tertinggi terdapat pada transek 10 dengan nilai 2,459 sedangkan keanekaragaman terendah terdapat pada transek 1 dengan nilai 2,201. Hal ini bisa dikatakan bahwa semakin menjauhi muara maka keanekaragaman Perifiton cenderung meningkat. Untuk transek muara, keanekaragaman tertinggi terdapat pada 10 dengan nilai 2,527 sedangkan keanekaragaman terendah terdapat pada transek 1 dengan nilai 1,812. Hal ini juga bisa dikatakan bahwa semakin menjauhi mangrove maka keanekaragaman Perifiton cenderung meningkat. Selanjutnya, untuk perhitungan nilai kemerataan, tingkat kemerataan Perifiton tertinggi untuk transek mangrove atau yang menjauhi muara terdapat pada transek 6 dengan nilai 0,932 sedangkan kemerataan terendah terdapat di transek 9 dengan nilai 0,873. Tingkat kemerataan Perifiton tertinggi untuk transek muara atau menjauhi mangrove terdapat pada transek 6 dengan nilai 0,916 sedangkan kemerataan terendah terdapat di transek 9 dengan nilai 0,894. Faktor lingkungan yang berpengaruh pada keanekaragaman adalah pH dan pada kemerataan adalah kelembaban tanah.

Keefektifan penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dan Problem Posing (PP) terhadap keaktifan dan hasil belajar pelajaran ekonomi

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Think Pair Share, Problem Posing, Keaktifan Belajar, Hasil Belajar, Pendidikan Ekonomi, Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui apakah terdapat perbedaan keaktifan belajar siswa pada pelajaran ekonomi siswa dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing, 2) mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi siswa dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing, 3) mengetahui apakah terdapat keefektifan pada penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi. Penelitian ini bersifat quasi eksperimen atau eksperimen semu untuk mengimplementasikan penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing dengan rancangan pretest-postest control group design dengan faktorial 2X2 dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pandaan sebanyak 203 (dua ratus tiga) siswa yang terbagi dalam 9 (Sembilan) kelas, sedangkan sampel penelitian yang bersifat purposive sampling adalah dua kelas yaitu 1 (satu) kelas untuk kelas yang diberi perlakuan Think Pair Share yakni VIII H, dan 1 (satu) kelas untuk kelas yang diberi perlakuan Problem Posing yakni kelas VIII G. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keaktifan dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi, dan variabel bebasnya adalah metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing. Instrumen penelitian untuk variabel terikat adalah angket keaktifan untuk mengetahui keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Instrumen penelitian untuk variabel bebas adalah silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, lembar observasi. Hasil gain score yang diperoleh dari hasil pretes-postes. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan uji t dengan bantuan program spss 19. Hasil penelitian menunjukkan, 1) terdapat perbedaan keaktifan belajar siswa pada pelajaran ekonomi dengan penerapan pembelajaran Think Pair Share dan Problem Posing ). Pada kelas Think Pair Share keaktifan belajar pelajaran ekonomi rata-rata sebesar 80,26, sedangkan pada kelas Problem Posing sebesar 83,45. Jadi terdapat perbedaan rata-rata sebesar 3,19 dan keaktifan belajar siswa pada pelajaran ekonomi di kelas Problem Posing lebih tinggi daripada kelas Think Pair Share, 2) terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi ekonomi siswa dengan penerapan pembelajaran Think Pair Share dan Problem Posing. Hasil belajar ekonomi yang ditunjukkan dengan gain score, pada kelas Think Pair Share rata-rata sebesar 6,79%, sedangkan pada kelas Problem Posing rata-rata sebesar 14,37%. Jadi terdapat perbedaan rata-rata gain score sebesar 7,58% lebih tinggi kelas Problem Posing daripada kelas Think Pair Share, 3) terdapat keefektifan pada penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi, serta dinyatakan metode Problem Posing lebih efektif daripada Think Pair Share, karena pada keaktifan dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi di kelas Problem Posing selalu menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada kelas Think Pair Share. Pada akhirnya bisa disimpulkan juga bahwa keaktifan dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi dapat ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan metode pembelajaran kooperatif yang menarik seperti Think Pair Share dan Problem Posing. Think Pair Share dan Problem Posing melatih siswa bekerja sama dan saling membantu untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Peserta didik dapat membangun pengetahuannya dari yang sederhana menuju pengetahuan yang kompleks dan melatih sikap kritis dan cara berpikir divergen, serta peserta didik lebih peka terhadap masalah yang timbul di sekitarnya (keterkaitan). Guru dapat melihat sejauh mana daya serap peserta didik terhadap materi pembelajaran. Guru disarankan untuk mengimplementasikan atau menerapkan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Problem Posing dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial-Ekonomi agar siswa merasa lebih tertarik dan lebih termotivasi serta menumbuhkan keaktifan untuk belajar yang akhirnya bisa lebih meningkatkan hasil belajar pelajaran ekonomi.

Pengembangan modul pembelajaran fisika bersuplemen digital materi gerak lurus untuk siswa SMA kelas X / Ira Mufita Ilmiana

 

Kata Kunci : modul pembelajaran fisika, suplemen digital, gerak lurus, siswa SMA kelas X Salah satu komponen yang berperan penting pada keberhasilan belajar peserta didik adalah bahan ajar. Salah satu bahan ajar yang dinilai cukup efektif dalam pembelajaran adalah modul. Sejauh ini modul yang ada memiliki keterbatasan untuk menggambarkan fakta-fakta terkait dengan materi yang dijelaskan pada modul. Untuk memperoleh pemahaman terhadap fakta terkait materi, peserta didik perlu mengamatinya secara langsung. Namun, jika setiap materi berupa fakta pada modul/bahan ajar ini mensyaratkan harus melakukan pengamatan secara langsung maka hal ini akan membutuhkan dana, dan resiko keamanan bagi peserta didik. Selain itu, proses pembelajaran juga memiliki keterbatasan waktu. Oleh karena itu, penggunakan modul akan lebih efektif lagi dengan adanya suplemen digital. Suplemen digital yang dimaksudkan adalah berupa video berisi fakta-fakta yang mendukung pemahaman konsep dari materi pembelajaran pada modul. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengembangan modul dan mengetahui kelayakan modul setelah divalidasi isi dan ujicoba terbatas Model penelitian dan pengembangan pada penelitian ini diadopsi dari I Wayan Santyasa. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Pagak. Uji coba produk pengembangan dilakukan melalui dua tahap, yaitu Uji Perseorangan dan Uji Kelompok Kecil. Tahap Uji Perseorangan sama dengan tahap validasi isi. Validator adalah 2 dosen fisika UM dan 1 guru fisika SMA Negeri 1 Pagak. Responden Uji Coba Terbatas (Uji Kelompok Kecil) terdiri dari 10 siswa SMA Negeri 1 Pagak yang pernah memperoleh materi gerak lurus. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa nilai rata-rata angka-angka hasil angket uji coba dari para validator. Data kualitatif berupa saran, kritik, dan tanggapan dari validator dan siswa. Instrumen dalam penelitian yang digunakan adalah angket penilaian kompenen-komponen modul. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perhitungan nilai rata-rata dari hasil penilaian modul pada angket. Berdasarkan data, analisis data, validasi, dan pembahasan maka diperoleh kesimpulan penelitian yaitu: komponen-komponen modul pengembangan menunjukkan hasil valid dan layak digunakan peserta didik dengan skor 3,48 dari skor maksimal 4,00. Rincian skor setiap komponen adalah cover/halaman muka (3,55/valid); petunjuk penggunaan modul(3,67/valid); daftar isi (3,67/valid); tujuan pembelajaran (3,67/valid); peta konsep (3,16/cukup valid); kelayakan isi (3,24/cukup valid); penyajian isi (3,33/valid); rangkuman (3,67/valid); soal evaluasi (3,42/valid); kunci jawaban (4,00/valid); daftar pustaka (3,67/valid); komponen kebahasaan (3,3/valid); media digital (2,84/cukup valid).

Penerapan pembelajaran kooperatif course review horay pada pembelajaran mufradat siswa kelas V MI Yaspumi Malang / Hakmi Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Hakmi. 2012. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Course Review Horay (CRH) pada Pembelajaran Mufradat Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyyah YASPURI Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurul Murtadho, M.Pd., (II) Ali Ma’sum, S.Pd., M.A. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Course Review Horay (CRH), Mufradat, Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Model Course Review Horay (CRH) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang bersifat menyenangkan dan meningkatkan kemampuan siswa dalam berkompetisi secara positif dalam pembelajaran, selain itu juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, serta membantu siswa untuk mengingat konsep yang dipelajari secara mudah. Berdasarkan hasil observasi di kelas V MI YASPURI Malang pembelajaran yang dilakukan guru belum menggunakan pembelajaran yang optimal, guru cenderung menoton, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Rata-rata nilai siswa 57,75 dengan ketuntusan 42,57%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 70 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu penelitian dengan menerapkan model Course Review Horay (CRH) ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk : mendeskripsikan (1) kondisi awal pembelajaran bahasa Arab, (2) proses pembelajaran mufradat dengan menerapkan model pembelajaran Course Review Horay (CRH), dan (3) aktifitas dan hasil belajar pembelajaran mufradat melalui model Course Review Horay (CRH) di MI YASPURI Malang. Penelitian tindakan kelas ini bersifat deskriptif kualitatif model kolaboratif. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek penelitian adalah siswa kelas V MI YASPURI Malang yang berjumlah 30 orang, terdiri atas 14 siswa dan 16 siswi beserta guru bahasa Arab. Data pada penelitian ini terdiri atas dua macam, (1) data kuantitatif, dan (2) data kualitatif. Pengumpulan data pada penelitian ini melalui beberapa cara, yaitu: observasi, wawancara, tes, angket, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode analisis kualitatif deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yan diperoleh saat penelitian. Tahap-tahap penelitian terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) merencanakan tindakan (planning), (2) melaksanakan tindakan (action), (3) mengobservasi tindakan (observation), dan (4) merefleksikan tindakan (reflection). Hasil penelitian ini yaitu: (1) kondisi awal pembelajaran bahasa Arab di MI YASPURI Malang yaitu guru masih menggunakan metode konvensional, tanpa diselingi dengan model pembelajaran yang lain, sehingga hasil belajar yang diharapkan belum maksimal, (2) pelaksanaan pembelajaran model CRH terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri atas tiga kali pertemuan dengan rincian pertemuan pertama dan kedua untuk menerapkan tindakan sedangkan pertemuan ketiga untuk post test,dan (3) Aktifitas belajar siswa kelas V MI YASPURI Malang pada mata pelajaran bahasa Arab mengalami peningkatan setelah diterapkan metode Course Review Horay (CRH). Hasil belajar siswa juga meningkat drastis dari rata-rata 50, 53 dengan ketuntasan kelas 10 % sebelum tindakan (pre test) menjadi rata-rata 93,1 dengan ketuntasan kelas mencapai 100% pada akhir siklus II. Bersadarkan hasil penelitian, penerapaan model Course Review Horay (CRH) dapat diterapkan pada mata pelajaran bahasa Arab, karena dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa, dan diharapkan kepada peneliti selanjutnya, dapat mengembangkan cakupan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Course Review Horay (CRH) sehingga tidak hanya terfokus pada pembelajaran mufradat saja, tetapi berlanjut pada pembelajaran unsur bahasa Arab lainnya maupun kemampuan berbahasa lainnya.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis laboratorium untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar IPA siswa kelas VII-4 di SMP negeri 1 Probolinggo / Karyatin

 

Nilai pendidikan karakter dalam novel rumah tanpa jendela karya Asma Nadia dan implementasinya dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter / Rizki Ari Prastiwi

 

Kata kunci : karya fiksi, nilai, pendidikan karakter Karya fiksi memiliki dua fungsi, yaitu kesenangan (dulce) dan manfaat (utile). Karya fiksi memberikan kesenangan artinya, pembaca dapat menikmati cerita dan menghibur diri untuk mendapatkan kepuasan batin. Adapun karya fiksi memberikan manfaat artinya, pembaca dapat memetik pesan-pesan yang dapat memperluas wawasan pembaca tentang kehidupan. Karya sastra diciptakan pengarang dengan menampilkan nilai-nilai kehidupan. Karya fiksi berupa novel Rumah Tanpa Jendela ditulis oleh Asma Nadia dengan mengangkat ketangguhan seorang anak pemulung memperjuangkan hidup untuk mewujudkan mimpinya. Oleh karena itu, peneliti memanfaatkan novel Rumah Tanpa Jendela untuk meneliti nilai pendidikan karakter yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Terdapat langkah lanjutan dari penelitian ini yaitu berupa implementasi nilai pendidikan karakter untuk penulisan RPP yang seharusnya dikembangkan dengan desain penelitian pengembangan. Namun penelitian ini terbatas pada pengembangan yang bersifat kolaboratif dengan melibatkan guru Bahasa Indonesia. Data penelitian ini berupa paparan kebahasaan yang berupa sikap, perilaku, ucapan, dan pemikiran tokoh yang menunjukkan wujud (1) nilai ketuhanan, (2) nilai keluhuran pribadi, dan (3) nilai sosial dalam novel Rumah Tanpa Jendela dan hasil validasi. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrument. Teknik pengumpulan data dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah membaca novel untuk memperoleh makna keseluruhan, memberi tanda pada paparan kebahasaaan yang sesuai dengan tujuan penelitian, memberikan kode, membaca ulang data yang sudah dikumpulkan, mengklasifikasikan data sesuai dengan kelompok sejenis berdasarkan indikator permasalahan, menginterpretasikan, mendeskripsikan, dan melakukan triangulasi atau pengecekan keabsahan data. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh empat simpulan sebagai berikut. Pertama adalah wujud nilai ketuhanan untuk pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Rumah Tanpa Jendela berupa (1) keimanan dan ketakwaan yang diaktualisasikan dengan kepercayaan bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa, (2) bertawakal yang diaktualisasikan dengan berserah diri setelah melakukan usaha, (3) bersyukur yang diaktualisasikan dengan berterima kasih kepada Tuhan atas pemberian rezeki berupa makanan, dan (4) ihsan yang diaktualisasikan dengan melakukan kegiatan atas nama Allah. Kedua, wujud nilai keluhuran pribadi untuk pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Rumah Tanpa Jendela berupa (1) jujur yang diaktualisasikan dengan berkata sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan, (2) tanggung jawab yang diaktualisasikan dengan melaksanakan tugas yang sesuai dengan kedudukan dalam keluarga, (3) hidup sehat yang diaktualisasikan dengan menjaga kebersihan diri, (4) kerja keras yang diaktualisasikan dengan berusaha keras untuk mewujudkan mimpi, (5) percaya diri yang diaktualisasikan dengan berani menunjukkan mimpi, (6) berjiwa wirausaha yang diaktualisasikan dengan menjual barang bekas, (7) kreatif dan inovatif yang diaktualisasikan dengan memanfaatkan barang bekas untuk membuat jendela, dan (8) memiliki rasa ingin tahu yang diaktualisasikan dengan membaca banyak buku tentang autis. Ketiga, wujud nilai sosial untuk pendidikan karakter dalam novel Rumah Tanpa Jendela berupa (1) patuh pada aturan sosial yang diaktualisasikan dengan tidak mengkonsumsi alkohol dan narkoba, (2) menghargai karya orang lain yang diaktualisasikan dengan memuji karya orang lain, (3) santun yang diaktualisasikan dengan sopan dalam berkata, (4) demokratis yang diaktualisasikan dengan menjunjung persamaan hak belajar, (5) peduli sosial yang diaktualisasikan dengan membantu orang lain yang kesusahan, dan (6) peduli lingkungan hidup yang diaktualisasikan dengan menegur orang-orang yang merokok. Keempat, implementasi nilai pendidikan karakter dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter terdapat pada setiap komponen RPP, yaitu dengan langkah penentuan dan pengembangan (1) kompetensi dasar apresiasi prosa fiksi di SMA yang relevan dengan pendidikan karakter dan implementasi nilai pendidikan karakter dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter, (2) indikator pencapaian kompetensi dan indikator karakter dalam pembelajaran apresiasi prosa fiksi serta implementasi nilai pendidikan karakter dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter, (3) materi pokok untuk pengembangan indikator serta implementasi nilai pendidikan karakter dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter, (4) kegiatan pembelajaran dan model pembelajaran serta implementasi nilai pendidikan karakter untuk penulisan RPP berbasis pendidikan karakter, (5) pemanfaatan penggalan novel Rumah Tanpa Jendela yang mengandung nilai pendidikan karakter sebagai sumber belajar dan implementasinya dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter, dan (6) teknik penilaian berkarakter dan implementasinya dalam penulisan RPP berbasis pendidikan karakter. Saran pada penelitian ini adalah agar penelitian ini dijadikan tolak ukur pada penelitian selanjutnya. Saran untuk guru adalah agar memanfaatkan nilai dalam karya sastra untuk alternatif penyusunan RPP berbasis pendidikan karakter. Saran untuk penyusun bahan ajar adalah agar memanfaatkan karya sastra yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter sebagai bahan untuk penyusunan bahan ajar. Saran untuk pembaca adalah agar menjadikan nilai-nilai dalam karya sastra sebagai rujukan menjalani hidup yang lebih arif.  

Pembelajaran inkuiri terbimbing melalui strategi kooperatif numbered head together untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas VII.6 SMP negeri 1 Probolinggo tahun pelajaran 2012-2013 / Nur Hidayati

 

Kata kunci: Inkuiri Terbimbing, Numbered Heads Together, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, hasil belajar siswa kelas VIII.6 tahun pelajaran 2012-2013 belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Ulangan pertama rata-rata 68,11 dengan 71% siswa mendapat nilai di bawah KKM dan ulangan kedua rata-rata 73,18 dengan 43% siswa mendapat nilai di bawah KKM. Motivasi belajar siswa yang meliputi indikator perhatian (attention), keterkaitan (relevansi), percaya diri (confidence), dan kepuasan (satisfaction), juga masih rendah. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran inkuiri terbimbing melalui strategi kooperatif Numbered Heads Together. Inkuiri terbimbing adalah proses pembelajaran yang diawali dari merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menyusun kesimpulan dengan bimbingan guru. Pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dilaksanakan melalui empat tahapan yaitu tahap penomoran (numbering), tahap pengajuan pertanyaan atau masalah (questioning), tahap berpikir bersama (heads together), dan tahap menjawab pertanyaan (answering). Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat kali pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2x40 menit. Subyek yang diteliti adalah siswa kelas VIII.6 SMP Negeri 1 Probolinggo tahun pelajaran 2012-2013 yang berjumlah 28 siswa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai bulan Nopember 2012. Motivasi belajar siswa diketahui dari angket dan lembar observasi motivasi belajar siswa yang terdiri 4 indikator yaitu perhatian (attention), keterkaitan (relevansi), percaya diri (confidence), dan kepuasan (satisfaction). Hasil belajar siswa diketahui dari observasi hasil belajar psikomotorik dan tes hasil belajar kognitif. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan rata-rata persentase hasil observasi motivasi belajar siswa sebesar 9.26% dari siklus I sebesar 68.12% dengan kategori baik menjadi 77.38% dengan kategori baik pada siklus II dan peningkatan rata-rata hasil angket motivasi belajar siswa sebelum diberi tindakan siklus I yaitu 3.36 dengan taraf keberhasilan baik, menjadi 4.03 setelah diberi tindakan siklus II dengan taraf keberhasilan sangat baik. Peningkatan motivasi belajar siswa pada masing-masing indikator yaitu perhatian (attention) meningkat 18.54%, keterkaitan (relevansi) meningkat 0.91%, percaya diri (confidence) meningkat 3.96%, dan kepuasan (satisfaction) meningkat 13.63%. Rata-rata hasil belajar kognitif siswa juga mengalami peningkatan 21.42% dari siklus I sebesar 76.57 dengan ketuntasan klasikal sebesar 64.29% menjadi 82.32 dengan ketuntasan klasikal sebesar 85.71% pada siklus II, dan peningkatan rata-rata persentase hasil belajar psikomotorik dari 82.11% pada siklus I meningkat menjadi 83.87% pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing melalui strategi kooperatif Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas VIII.6 SMP Negeri 1 Probolinggo tahun pelajaran 2012-2013. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, disampaikan saran-saran yaitu: (1) guru bisa menerapkan pembelajaran ini pada kelasnya sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, (2) guru hendaknya memiliki pemahaman yang kongkret mengenai pembelajaran inkuiri terbimbing melalui strategi kooperatif Numbered Heads Together sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran di kelas, dan (3) guru yang akan menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing melalui strategi kooperatif Numbered Heads Together perlu merencanakan dengan matang, dan mempertimbangkan alokasi waktu agar pelaksanaan pembelajaran sesuai rencana.

Rancang bangun logic analyzer menggunakan atmega 16 berbantuan PC / Intan Permata Sari

 

Kata Kunci: Logic Analyzer, PC. Seiring berkembangnya teknologi, peralatan yang menggunakan sistem digital semakin diminati masyarakat. Internet dan telepon seluler adalah sebagian kecil teknologi digital handal yang sudah terbukti digunakan masyarakat. Dengan semakin diminatinya sistem digital menuntut adanya alat ukur yang mampu menganalisis sinyal digital dari rangkaian digital atau IC. Alat yang ada saat ini adalah Logic Anaylzer. Pada umumnya Logic Analyzer hanya memiliki channel masukan yang digunakan untuk membaca logika keluaran dari rangkaian yang diuji lalu ditampilkan dalam bentuk grafik berupa gelombang kotak yang mewakili logika 0 ketika gelombang pada level rendah dan 1 ketika gelombang pada level naik seperti Logic Analyzer Agilent type 16800 keluaran tahun 2006. Logic Analyzer tersebut tidak memiliki fasilitas untuk mengeluarkan logika sebagai masukan alat yang diuji,tidak memiliki fasilitas untuk menyimpan data hasil pengujian.Fasilitas ini dibutuhkan untuk memberi kemudahan dalam pengujian. Tujuan Penelitian ini adalah memperoleh rancangan alat pembaca logika keluaran dan pemberi logika masukan IC dan rangkaian elektronika digital dan membuat perangkat lunak pengolahan data supaya dapat ditampilkan pada komputer. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan. Data penelitian berupa data kuantitatif seperti data yang didapatkan dari pengujian komunikasi serial, pengukuran impedansi masukan, pengukuran tegangan logika, pengukuran konsumsi daya dan pengukuran kecepatan pada dua mode. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran dan pengujian. Kegiatan analisis dilakukan dengan menghitung nilai kesalahan saat pengujian dengan data kuantitatif serta membandingkan hasil pengujian IC dengan datasheet IC yang diuji. Hasil Penelitian ini yaitu rancang bangun logic analyzer menggunakan ATMega16 berbantuan PC. Logic Analyzer memiliki Impedansi masukan sebesar 16,25 Ώ, Tegangan logika bernilai 1 ketika mendapat tegangan 3.39 – 5 Vdan akan bernilai 0 ketika mendapat tegangan 0-3.18V, konsumsi daya Logic Analyzer ini sebesar 0,106651 W. Alat ini memiliki 16 channel masukan dan 8 channel keluaran. Proses pengambilan data pada alat ini terdapat dua mode, yaitu Mode real time yang digunakan untuk menguji IC yang tidak memerlukan kecepatan tinggi, kecepatan maksimum mode ini 14.25 Hz dan Mode Save Memory yang memiliki kecepatan maksimum 166,67Khz. Alat ini memiliki beberapa fasilitas pada tampilannya.

Meningkatkan psikomotor gerak dasar atletik dengan metode play and games pada siswa kelas VI SDN Mojolangu 04 Kota Malang / Fitriady

 

Kata Kunci: Meningkatkan Psikomotor, Gerak dasar Atletik (Jalan,Lari,Lempar,Lompat) Metode Play and Games Psikomotor pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SDN Mojolangu 4 Malang khususnya gerak dasar Atletik belum sebagaimana yang di harapkan, hal ini di sebabkan karena guru pendidikan jasmani belum menerapkan metode yang bervariasi terhadap proses pembelajaran. Berdasarkan observasi awal pada kelas VI SDN Mojolangu 4 Malang , diperoleh hasil bahwa penguasaan gerak, pemahaman materi dan pengembangan sikap terhadap pembelajaran ternyata belum optimal sehingga perlu di tingkatkan melalui penerapan metode yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan psikomotor gerak dasar atletik melalui penerapan metode Play and games. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui 2 siklus, 1 siklus 2 kali pertemuan dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah 25 siswa kelas VI di SDN Mojolangu 4 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan) dan tes. Melalui penerapan metode play and games diharapkan dapat meningkatkan gerak dasar atletik dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan siswa dalam melakukan gerak dasar atletik setelah diberikan tindakan dari siklus I dan siklus II hasilnya, Psikomotor gerak dasar Atletik dari siklus I pertemuan ke 1 sebesar 39,5% dengan katagori tidak baik dan pertemuan ke 2 sebesar 71% dengan katagori cukup, dan pada siklus II pertemuan ke 1 mengalami peningkatan dengan skor 99% yang tergolong dalam katagori baik . Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah dengan menerapkan metode play and games dapat meningkatkan Psikomotor gerak dasar Atletik siswa dalam pembelajaran teknik dasar jalan,lari,lompat dan lempar di SDN Mojolangu 4 Malang. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar pada sekolah-sekolah yang lain dapat menerapkan metode play and games pada pembelajarannya sehingga proses pembelajaranya dapat menjadi lebih optimal.

Hubungan antara intensitas membaca teks berbahasa Jerman dengan kemampuan memahami pada kelas XII program IPA dan IPS SMAN 1 Malang / Rezeki Shinta Sri

 

Kata Kunci: intensitas membaca, kemampuan memahami, teks bahasa Jerman. Kemampuan membaca teks perlu dimiliki oleh para pembelajar bahasa asing, khususnya dalam teks-teks bahasa asing. Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan bahasa yang tidak kalah pentingnya dengan keterampilan yang lain. Meskipun demikian gejala enggan membaca telah menggerogoti para siswa pada saat ini. Keengganan siswa dalam membaca dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah intensitas membaca. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMAN 1 Malang, sedangkan sampel penelitian yaitu siswa kelas XII IPA dan IPS yang berjumlah 61 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar angket dan perangkat tes. Angket digunakan untuk mengumpulkan data mengenai intensitas membaca, sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan siswa dalam memahami teks bahasa Jerman. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kendal Tau untuk mengetahui apakah variabel X berpengaruh terhadap variabel Y. Berdasarkan hasil angket setelah dilakukan analisis data, diperoleh tiga hasil simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, tingkat intensitas membaca siswa kelas XII IPA dan IPS cukup tinggi. Kedua, siswa kelas XII IPA dan IPS memiliki kemampuan memahami teks yang cukup baik. Ketiga, terdapat hubungan yang positif antara intensitas membaca teks bahasa Jerman dengan kemampuan memahami teks.

Analisis tentang karakteristik karya lukis Slamet Henkus / Teguh Pranata

 

Kata Kunci: Analisis, Karakteristik, Karya Lukis, Slamet Henkus. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu permasalahan untuk nnmemperoleh pengertian yang tepat dari keadaan yang sebenarnya. Karya seni lukis yang dianalisis merupakan hasil imajinasi kreatif Slamet Henkus yang memiliki karakter berkaitan dengan perwujudan visual berupa garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang. Karya yang ditampilkan merupakan perwujudan dari pola kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan aktifitas serta dialami secara langsung dan tidak langsung. Slamet Henkus sebagai perupa dan budayawan dalam penciptan karya seni lukisnya mewujudkan bentuk-bentuk figural dan non figural. Berkaitan dengan itu maka diperlukan pembahasan mengenai latar belakang penciptaan karya lukis Slamet Henkus dan karakteristik karya, yang dilihat dari perwujudan unsur visual berupa garis, bentuk, warna, tekstur dan ruang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan latar belakang penciptaan dan karakteristik karya lukis Slamet Henkus. Sumber data berupa subjek penelitian yaitu seniman, karya lukis, dan sumber tertulis yang dipublikasikan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan trianggulasi sumber data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut maka diperoleh simpulan penelitian yang pertama yaitu latar belakang penciptaan karya lukis Slamet Henkus didasari faktor intern dan ekstern. Kedua, karakter yang terlihat pada tampilan unsur visual berupa garis, bentuk, warna, tekstur dan ruang dalam karya lukis Slamet Henkus adalah unik dan menunjukkan identitas dirinya.

Tindak komisif SPG (Sales Promotion Girl) dalam wacana penawaran produk gadget di kota Malang dan pemanfaatannya untuk pembelajaran bernegosiasi di SMK / Galih Agustan

 

Kata kunci: tindak komisif, SPG (Sales Promotion Girl), pembelajaran bernegosiasi Keberadaan bahasa tentunya diharapkan dapat membantu manusia untuk memperlancar segala jenis kegiatannya. Apapun profesi dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhan berbahasa. Salah satunya, yaitu kebutuhan berbahasa dalam kegiatan jual beli suatu produk. Para wanita seringkali dijadikan sebagai media promosi suatu produk. Wanita yang mempunyai pekerjaan mempromosikan suatu produk disebut SPG atau Sales Promotion Girl. Seorang SPG pasti akan memakai tuturan yang dianggap paling tepat untuk menginformasikan serta mengusulkan suatu produk kepada calon pembeli. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur komisif SPG dalam kegiatan menawarkan produk gadget di Kota Malang, (2) strategi bertutur komisif yang dipakai SPG dalam kegiatan menawarkan produk gadget di Kota Malang (3) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan tindak komisif yang dipakai SPG dalam kegiatan menawarkan produk gadget di kota Malang, serta (4) pemanfaatan hasil penelitian untuk pembelajaran bernegosiasi di SMK Pendekatan yang digunakan penelitian ini adalah pendekatan pragmatik dan jenisnya digolongkan ke dalam penelitian kualitatif. Data penelitian ini berupa data verbal, yaitu tuturan SPG dalam menawarkan gadget di Kota Malang. Sumber data penelitian ini diambil dari SPG dalam menawarkan gadget di Kota Malang. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan hasil akhir. Penelitian ini menghasilkan temuan tentang jenis tindak tutur SPG dalam menawarkan gadget di Kota Malang. Pertama, bentuk tindak komisif SPG dalam menawarkan gadget antara lain: kategori berjanji, terdiri dari bertaruh, menyampaikan kebenaran dan garansi produk. Kategori menawarkan, terdiri atas pengabdian diri dan pertukaran. Kedua, strategi penggunaan tindak komisif SPG dalam menawarkan gadget di Kota Malang menggunakan strategi langsung dan strategi tidak langsung. Strategi langsung dikategorikan lagi menjadi dua yaitu strategi langsung reaksi lisan dan langsung reaksi gerak. Ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: faktor yang berasal dari aspek kebahasaan, terdiri atas: (1) penutur serta mitra tutur dan (2) isi tuturan serta tujuan pertuturan. Kedua adalah faktor yang berasal dari aspek non-kebahasaan antara lain: (1) situasi, dan (2) norma/aturan. Terakhir bahwa pemanfaatan hasil penelitian dapat digunakan sebagai pemodelan dalam pembelajaran SMK, kompetensi dasar bernegosiasi yang menghasilkan dalam konteks bekerja.

Penerapan metode pembelajaran berbasis kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa (studi pada siswa kelas X APK 3 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata pelajaran prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran) / Puguh Erdin Supardi

 

Supardi, Puguh Erdin. 2012. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa. (Studi Pada Siswa Kelas X APK 3 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Pada Mata Pelajaran Prinsip Penyelengaraan Administrasi Perkantoran). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Wayan Jaman A.P. M.Si, (II) Drs. Sarbini. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Jigsaw, aktifitas, dan hasil belajar.     Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, bahwa telah terjadi kesenjangan perolehan nilai hasil ulangan harian yang sebelumnya diselenggarakan oleh guru mata pelajaran prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Penyebabnya ternyata adalah pola ajar yang kurang menekankan pada siswa, sehingga terlihat perbedaan antara siswa yang pintar dengan siswa yang kurang pintar. Untuk dapat menyamarkan kesenjangan yang terlihat tersebut, serta agar lebih meningkatkan hasil belajar maka perlu dilakukan varian dalam proses belajar mengajar, misalnya dengan pembelajaran kooperatif.     Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Jigsaw. Melalui pembelajaran kooperatif model Jigsaw, siswa dilatih untuk dapat bekerjasama, saling mendengarkan pendapat teman dan bertanggung jawab dalam menunjukkan penguasaanya terhadap materi yang ditugaskan oleh guru.     Penelitian tindakan kelas (PTK) pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran prinsip penyelenggaraan administrasi perkantoran kompetensi dasar mengidentifikasi persyaratan personil administrasi perkantoran kelas X APK 3 SMK Muhammadyah 5 Kepanjen , serta mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan model pembelajaran Jigsaw ini berlangsung     Data penelitian berupa peningkatan hasil belajar siswa yang didasarkan pada nilai tes prestasi belajar yang dilakukan di setiap akhir siklus yang disebut post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama siswa kelas X APK 3 SMK Muhammadyah 5 Kepanjen telah tuntas 43%, kemudian dilakukan perbaikan pada siklus II yang berdampak positif pada peningkatan hasil belajar siswa dengan jumlah 95,23% siswa tuntas pada materi kompetensi dasar mengidentifikasi persyaratan personil administrasi perkantoran.     Dari hasil diatas, dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran Jigsaw telah mampu meningkatkan aktifitas dan hasil belajar, dikarenakan materi yang diajarkan pada siklus II merupakan lanjutan dari materi siklus I dan materi yang diberikan guru sebelumnya.

Analisis kesalahan dan perbaikan penyajian pada buku teks matematika sekolah menengah kejuruan (SMK) kelas X / Hud Umar Ardhanareswara

 

Kajian mutu nuggets ampas tahu dengan perlakuan perbandingan tepung komposit dan persentase penambahan putih telur / Nurul Hidayah

 

Kata Kunci: nuggets, ampas tahu, tepung komposit (susu bubuk skim : terigu), putih telur. Ampas tahu merupakan salah satu hasil samping (limbah) dalam pembuatan tahu. Di Kota Malang ampas tahu sangat melimpah dan hanya dimanfaatkan sebagai makanan ternak dan bahan dasar pembuatan “tempe menjes”. Nilai ekonomis dari ampas tahu sangat murah, yaitu Rp 425/kg. Diversifikasi produk ampas tahu sangat terbatas jumlahnya dan belum begitu dikenal oleh masyarakat karena anggapan bahwa produk dari ampas tahu adalah produk murahan dan rendah gizi. Ampas tahu masih mempunyai serat kasar yang cukup tinggi dengan kuantitas dan kualitas protein yang cukup baik. Serat yang tidak dapat dicerna mempunyai peranan penting dalam sistem pencernaan. Ampas tahu memiliki karakter flavor langu dan mudah rusak jika tidak segera digunakan. Untuk memberi nilai tambah (ekonomis dan manfaat) pada ampas tahu dan diversifikasi pangan maka ampas tahu diolah menjadi produk makanan, misalnya nuggets. Nuggets merupakan produk olahan daging yang disukai konsumen karena memiliki rasa yang enak (gurih), praktis dan juga memiliki daya simpan yang lama (freezer) sehingga cocok bagi mereka yang sibuk bekerja (karir). Pada umumnya nuggets terbuat dari daging yang merupakan sumber protein. Kandungan serat kasar yang cukup tinggi dengan kuantitas dan kualitas protein yang cukup baik memungkinkan ampas tahu sebagai pengganti daging dalam pembuatan nuggets. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik, sifat fisik dan sifat kimia nuggets ampas tahu dengan perbandingan komposisi ampas tahu, terigu, susu bubuk skim, dan putih telur yang tepat sehingga menghasilkan nuggets ampas tahu yang disukai masyarakat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah perbandingan komposisi tepung komposit yang bebeda (susu bubuk skim : terigu) dengan perbandingan (5:25%), (10:20%) dan (15:15%). Faktor II persentase penambahan putih telur yang berbeda yaitu 25%BB dan 40%BB. Uji organoleptik terhadap tekstur, rasa, dan flavor dilakukan di Laboratorium Pastry & Bakery Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, sedangkan untuk uji fisik dan uji kimia dilakukan di Laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (analisis varian dua arah dengan replikasi dan analisis varian satu arah) dilanjutkan dengan analisis DMRT (Duncans Multiple Range Test). Parameter uji mutu hedonik untuk tekstur skor tertinggi terdapat pada nuggets yang bertekstur kenyal dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Skor tertinggi uji mutu hedonik rasa terdapat pada nuggets berasa gurih yaitu nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Skor tertinggi uji mutu hedonik flavor terdapat pada nuggets dengan flavor tidak langu dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Parameter uji hedonik tekstur nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Rasa nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (10:20%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Flavor nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (10:20%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Parameter uji fisik kimia untuk tekstur skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB dan 40%BB (0,3625) dengan tekstur paling lunak. Untuk kandungan karbohidrat skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB (38,10). Untuk kandungan serat skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB (1,31). Untuk kandungan protein skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB (8,25).

Dinamika kepribadian perempuan biseksual : studi kasus pada seorang perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual / Siti Mu'allafah

 

Hubungan kecerdasan intelektual siswa, minat baca siswa, dan kinerja guru sejarah dengan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran sejarah SMA negeri 1 Batu / Wahyu Kurnianto

 

Kritik terhadap lukisan karya Eko Utomo seniman dari Jombang / Novita Augustina

 

Kata Kunci: Seniman, Lukisan, Kritik Seni Seorang seniman merupakan pribadi kreatif yang selalu memiliki ide atau gagasan baru dengan menggunakan imajinasinya dalam menciptakan karya seni. Seniman ingin berkomunikasi dengan orang lain melalui media visual berupa karya seni yang diciptakannya. Eko Utomo adalah seorang pelukis di Jombang yang sudah memiliki banyak pengalaman di bidangnya. Lukisan Eko Utomo cenderung didominasi penggambaran wujud kebudayaan Jombang, seperti dalam tiga lukisan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu Trace of Jombang (2009), Topeng Jatiduwur (2009) dan Trance (2011) yang bertemakan kebudayaan Jombang sebagai upaya seniman untuk memperkenalkan serta mengembangkan kesenian dan budaya daerahnya. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah latar belakang kehidupan Eko Utomo. Selain itu, karya lukis Eko Utomo yang berjudul Trace of Jombang (2009), Topeng Jatiduwur (2009) dan Trance (2011). Disamping itu juga interpretasi terhadap karya lukis Eko Utomo yang berjudul Trace of Jombang (2009), Topeng Jatiduwur (2009) dan Trance (2011). Serta hubungan latar belakang kehidupan Eko Utomo, karya lukis Eko Utomo dan interpretasi terhadap karya lukis Eko Utomo. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik Holistik. Sedangkan metode yang digunakan adalah (a) pendekatan dan jenis penelitian, (b) kehadiran peneliti, (c) lokasi penelitian, (d) sumber data, (e) prosedur pengumpulan data, (f) analisis data, (g) pengecekan keabsahan temuan, (h) tahap-tahap penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah seniman Eko Utomo, informan pendukung, katalog pameran dan foto-foto dokumen untuk memperoleh informasi genetik subjektif dan genetik objektif. Karya seni lukis untuk memperoleh informasi objektif. Selain itu, peneliti untuk memperoleh informasi afektif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sintesa yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu nilai cinta akan seni budaya daerah, nilai edukasi atas pentingnya menjaga seni budaya daerah dan nilai budaya karena ingin berpesan dalam hal pelestarian dan pengembangan budaya daerah.

Pendataan sungai bawah tanah di gua bagus-jebrot untuk sumber daya air kawasan karst di desa mentaraman kecamatan donomulyo kabupaten malang / Agung Suprianto

 

Kata Kunci: Sungai Bawah Tanah, Gua, dan Kawasan Karst Wilayah Kabupaten Malang bagian Selatan, khususnya Desa Mentaraman, dikenal sebagai kawasan yang tandus dan sering kekurangan air untuk mencukupi kebutuhan domestik. Hal ini sebagai akibat kondisi geomorfologi sebagian besar wilayah tersebut yang dicirikan oleh bukit‐bukit berbatuan gamping yang dikenal sebagai daerah karst, sehingga menjadi berkembangnya sistem drainase bawah permukaan (sungai bawah tanah) yang jauh lebih dominan dibandingkan dengan sistem aliran permukaannya. Masyarakat Desa Mentaraman yang bermata pencaharian petani tentunya sangat membutuhkan irigasi yang cukup selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan melakukan pendataan sungai bawah tanah di Gua Bagus-Jebrot. Pendataan tersebut meliputi kuantitas debit air, perhitungan mengenai lorong gua serta sebaran ornament, dan cekungan air tanah yang ada di Gua Bagus-Jebrot Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif. Subjek penelitian di dalam gua diambil pada setiap stasiun, sampel yang akan diambil meliputi debit air, tinggi lorong, lebar lorong pada setiap stasiun, kedalaman/kemiringan, ornament gua dan panjang lorong. Hasil penelitian menunjukan Gua Bagus-Jebrot merupakan Sistem Perguaan Bagus-Jebrot di mana gabungan dari Gua Bagus dan Gua Jebrot dengan enterence berupa lorong horizontal yang berada di lembahan. Debit air hasil pengukuran yaitu 299 liter dalam setiap detiknya, debit tersebut termasuk cukup besar serta daerah penelitian termasuk dalam Cekungan Air Tanah Sumberbening. Morfometri sungai bawah tanah di Gua Bagus-Jebrot memiliki luas DAS 78 Ha dan Pola Dendrintik. Sedangkan panjang Gua Bagus yang terpetakan 123,06 m dan Gua Jebrot yang terpetakan 289,73 m. Luas lorong Gua Bagus 548,54 m² dan Gua Jebrot 527,84 m². Ornament yang dapat ditemui di Gua Bagus yaitu stalagmite, stalactite, coulumn/pillar, flowstone, gourdam, dan soda straw. Gua Jebrot yaitu stalagtit, flowstone, dan gourdam. Debit air sungai bawah tanah tersebut diharapkan dapat digunakan petani sebagai irigasi saat musim kemarau. Keberagaman ornament yang ada di lorong gua juga menambah daya tarik sendiri bagi wisatawan, sehingga daerah penelitian dapat dijadikan untuk ekowisata dan wilayah konservasi.

Perkembangan kawasan kayutangan 1914-1969 / Andriawan Rahmat Hidayat

 

Studi perbandingan hasil belajar teknologi motor bensin pada mahasiswa lulusan SMA/MA dan SMK prodi S1 pendidikan teknik otomotif universitas negeri malang angkatan 2010 / Yulinda Arfindawati Putri

 

Kata Kunci: perbandingan, hasilbelajar, teknologi motor bensin, mahasiswalulusanSMA/MA dan SMK Berdasarkantujuanpendidikanuntuk SMA/MA dan SMK,pelajarlulusan SMK memilikihak yang samasepertilulusan SMA/MA untukmelanjutkanpendidikankeperguruantinggi. Secaraotomatismenghapuspembedaantarapelajarlulusan SMA/MA dan SMK dalamhalkesempatanmenempuhpendidikankejenjang yang lebihtinggi, namunkenyataannyamahasiswalulusan SMA/MA dan SMK memilikiperbedaan yang mencolokdalamdayatangkapmateri yang disampaikan. Perbedaantersebutdikarenakanpengaruhdariasalsekolahsebelumnya, yaitu SMA/MA atau SMK.Tujuan (1) MengetahuihasilbelajarmatakuliahTeknologi Motor Bensinmahasiswalulusan SMA/MA, (2) MengetahuihasilbelajarmatakuliahTeknologi Motor Bensinmahasiswalulusan SMK, (3) MengetahuiadadantidaknyaperbedaanhasilbelajarmatakuliahTeknik Motor Bensinpadamahasiswalulusan SMA/MA dan SMK. Rancanganpenelitianinidilakukandenganmenggunakanmetodepenelitiankomparatif.Subjekpenelitiandalampenelitianiniadalah 30 mahasiswa S1 PendidikanTeknikOtomotifUniversitasNegeri Malang Angkatan 2010, yang terdiridari 15 mahasiswalulusan SMA/MA dan 15 mahasiswalulusan SMK.Teknikanalisis data yang digunakanadalahstatistikdeskriptif, ujiprasyarat, hipotesis. Berdasarkanhasilpenelitian, dapatdiketahuibahwa(1)Hasilbelajarmahasiswalulusan SMA/MA padamatakuliahTeknologi Motor Bensinsebagaiberikut:nilai rata-rata 67,53, nilai minimum sebesar 50, nilaimaksimum 84, modus 58, simpanganbaku 10,281. (2)Hasilbelajarmahasiswalulusan SMA/MA padamatakuliahTeknologi Motor Bensinsebagaiberikut:nilai rata-rata 76,33, nilai minimum sebesar 55, nilaimaksimum 92, modus 71, simpanganbaku 10,499. (3)AdanyaperbedaanhasilbelajarmatakuliahTeknologi Motor Bensinantaramahasiswalulusan SMA/MA dan SMK, dilihatdariuji tdengannilai t sebesar-2,319 (p sebesar 0,028< 0,050). Kesimpulan(1) Hasilbelajarmahasiswalulusan SMA/MA padamatakuliahTeknologi Motor Bensinditunjukkandengannilai rata-rata sebesar 67,53, nilai minimum sebesar 50 dannilai maksimum 84. (2) Hasilbelajarmahasiswalulusan SMK padamatakuliahTeknologi Motor Bensinditunjukkandengannilai rata-rata sebesar 76,33, nilai minimum sebesar 55 dannilaimaksimumsebesar 92. (3)Terdapatperbedaanhasilbelajarantaramahasiswa S1 PendidikanTeknikOtomotifUniversitasNegeri Malang Angkatan 2010 lulusan SMA/MA dan SMK padamatakuliahTeknologi Motor Bensin.Saran (1) MenjadibahanpertimbanganbagiKetuaJurusanFakultasTeknikMesinuntukmengambilankeputusandalammenyeleksipenerimaancalonmahasiswabarudenganproporsilulusan SMK lebihbanyakdaripadalulusan SMA/MA.(2)MemacuDosendalammemilihmetodedanmerancangskenariopembelajaran yang sesuaidengankarakteristikmahasiswasertamenerapkannyapadakegiatanperkuliahan.(3)Bagimahasiswa S1 PendidikanTeknikOtomotiflulusan SMA/MA diharapkanuntukbelajarlebihkerasdibandingkandenganmahasiswalulusan SMK, sedangkanuntukmahasiswalulusan SMK diharapkanuntuktetapbelajarsertamembantumahasiswalulusan SMA agar hasilbelajar yang dicapaiseluruhmahasiswamaksimal. (4)Sebagaibahanrujukandalampengembanganpenelitianbagipenelitiselanjutnya.

Nilai-nilai moral dalam antologi cerita pendek kangen karya Asma Nadia birulaut / Ameilia Radja Bengoe

 

Kata kunci: nilai moral, cerita pendek, sastra populer Karya sastra merupakan gambaran atau refleksi kehidupan masyarakat. Pengarang berusaha merepresentasikan lingkungan sosial masyarakat yang ada disekitarnya melalui karya sastra. Karya sastra tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Melalui karya sastra, seorang pengarang mampu menyisipkan nilai-nilai moral yang tidak bersifat menggurui atau memberatkan sehingga pesan-pesan moral itu dapat ditangkap penikmat sastra dengan baik. Dalam realitas kehidupan dapat ditemukan orang-orang yang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan, misalnya bercinta, melakukan tindak kejahatan atau bunuh diri seperti cerita-cerita dalam karya sastra. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan nilai moral sosial dan nilai moral religi dalam antologi cerita pendek Kangen karya Asma Nadia dan Birulaut. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan moral. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengkaji nilai-nilai moral dalam antologi cerita pendek Kangen. Data penelitian ini berupa paparan kebahasaan yang mengandung nilai moral sosial dan nilai moral religi. Sumber data penelitian ini adalah kumpulan cerpen Kangen karya Asma Nadia dan Birulaut. Instrumen penelitian ini adalah format klasifikasi data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara peneliti membaca kumpulan cerpen kemudian mengkaji dan mencatat data-data berupa dialog tokoh, monolog tokoh, dan narasi pengarang yang dipandang sesuai dengan fokus penelitian. Teknik analisis data dilakukan dengan cara membaca data yang telah ditemukan untuk memperoleh pemahaman yang dalam mengenai data tersebut kemudian, menguraikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam data berpedoman pada format klasifikasi data yang telah ditentukan selanjutnya, memberikan interpretasi yaitu, kegiatan untuk memberikan pandangan kritis pada data yang telah ditemukan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memberikan penguatan-penguatan pada analisis dengan memanfaatkan berbagai sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai moral dalam antologi cerita pendek Kangen karya Asma Nadia dan Birulaut, yaitu nilai moral sosial dan nilai moral religi. Nilai-nilai moral sosial meliputi: (1) hubungan antaranggota keluarga hendaknya dilandasi dengan kasih sayang yang digambarkan dalam hubungan antara ayah dengan anak, ibu dengan anak, anak dengan ibu, dan hubungan suami dengan istri, (2) hubungan antaranggota keluarga hendaknya dilandasi dengan tanggung jawab seperti yang digambarkan pengarang dalam hubungan antara istri dengan suami, (3) hubungan antaranggota keluarga hendaknya dilandasi dengan kepedulian yakni hubungan antara ibu mertua dengan menantunya serta hubungan antara istri dengan suami, dan (4) hubungan antaranggota keluarga hendaknya dilandasi dengan rela berkorban yakni hubungan antara suami dengan istri. Nilai-nilai moral religi meliputi: (1) manusia hendaknya selalu beriman kepada Tuhan, (2) manusia hendaknya selalu bersyukur atas anugerah yang diterima, (4) manusia hendaknya taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan, dan (5) manusia hendaknya bertawakal kepada Tuhan setelah berusaha (berikhtiar). Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan saran-saran yang diperuntukkan bagi bidang pendidikan sastra, diharapkan agar penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi pengajaran mata pelajaran bahasa Indonesia terutama untuk menemukan nilai-nilai dalam sastra populer khususnya cerita pendek, bagi pembaca, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk menggali nilai kehidupan yang berkaitan dengan moral melalui berbagai bentuk karya sastra populer yang lain dan bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dan rujukan untuk melakukan penelitian lanjutan yang berusaha menggali nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari moral terhadap sastra populer yang berkembang di masyarakat.

Pengaruh perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia (2003-2010) / Wihardika Novaldhy

 

Kata Kunci: Perdagangan Internasional, Pertumbuhan Ekonomi Perdagangan Internasional memegang peranan penting dalam sejarah pembangunan di negara berkembang. Sejak dekade lalu, ekspor komoditi primer di negara-negara Afrika, Asia, Timur Tengah dan Amerika Latin, selalu merupakan bagian yang cukup besar dalam perolehan Gross National Product (GNP) masing-masing negara tersebut. Di beberapa negara, sekitar 25-40 % dari GNP mereka berasal dari ekspor komoditi pertanian dan komoditi primer lainnya, seperti kopi, teh, kapas, coklat. Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan internasional dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi bagi suatu negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Perdagangan Internasional Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Dalam penelitin ini Peneliti Menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh pada hasil penelitian peneliti menggunakan regresi linear berganda (multiple regression). Dari hasil Pengolahan data atau analisis data dapat diketahui : Perdagangan Internasional Berpengaruh Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Pada penelitian ini dapat di lihat bahwa variable ekspor dan impor berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi baik secara parsial maupun simultan, dikarenakan oleh adanya krisis global yang dialami oleh tiap negara. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Perdagangan Internasional berpengaruhh terhadap pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengaruhnya besar. Sehingga dalam periode ini perdagangan internasional berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, itu dapat dilihat dari menurunnya perdagangan internasional akibat pengaruh krisis global yang dialami setiap negara maka pertumbuhan ekonomi juga mengalami perlambatan. Untuk peneliti selanjutnya diharakan menambah variabel yang bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan menggunakan periode penelitian yang terbaru sehingga hasil penelitian lebih akurat dan relevan.

Penerapan algoritma cost scaling pada permasalahan minimum cost flow dan implementasinya pada program / Fajar Prabowo

 

Kata Kunci: Algoritmacost scaling, Minimum Cost Flow, sisiadmisibel,push/relabel Teori graph merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang memiliki banyak aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penerapan graph yang populer digunakan adalah masalah optimalisasi biaya pengiriman barang dari produsen ke konsumen.Minimum cost flowadalahpermasalahanmenentukanbiaya minimum yang digunakanuntukmendistribusikanbarangdariprodusenatau distributorkekonsumen. Algoritmacost scalingmerupakansalahsatualgoritma yang dapatdigunakanuntukmenyelesaikanpermasalahanminimum cost flow. Padaalgoritmacost scaling, pemilihansisiadmisibel(i,j) ditentukanolehreduced cost (c_ij^π) yang memenuhi-ε/2≤c_ij^π<0. Pemilihansisiadmisibeldimulaidengansisi yang paling minimum sehinggaakanmenimbulkanbiaya yang paling minimum.Algoritmacost scalingpada minimum cost flowdilakukandenganmelakukanprosedurpush/relabel, yaituprosedurpush denganmemilihtitikaktifkemudianmengirimkansupply padasisiadmisibel.Apabilatidakterdapatsisiadmisibellakukanprosedurrelabeluntukmencarisisiadmisibelterlebihdahulu. Algoritmacost scalinginidiujicobakanpadatigacontohyaitupermasalahanpadaempattitik, permasalahanpadaenamtitikdanpermasalahanpendistribusianbrempadahasil PKL olehDewiRatna (2010). Ketigacontohtersebutdikerjakandenganduaalgoritmayaitualgoritmalintasanterpendekberulangsebagaialgoritmapembandingdanalgorimacost scallingdandiperolehhasil yang sama.Perbedaanalgoritmacost scalingdenganalgoritmalintasanterpendekberulangadalahterletakpadacarapenentuannode potential yang mempengaruhinilaireduced cost, caramenentukansuplai yang akandikirimdanpemilihansisi yang akandikirim.Untuk memudahkan pencarian minimum cost flowdenganalgoritmacost scalingdibutuhkan alat bantu. Padaskripsiinidibuatalatbantu program menggunakan Delphi. Pada program Delphi tersebutdibuatlangkah-langkahuntukmenentukanimbalance node,prosedurimprove/approximationuntukmenentukansisiadmisibeldanprosedurpush/relabeluntukmenentukanaliransuplai.  

Efektifitas model pembelajaran hipotetik deduktif terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika pada materi keseimbangan benda tegar / Agus Winoto

 

Kata Kunci: Pembelajaran Hipotetik Deduktif, Keterampilan Proses Sains, Pengusaan Konsep Fisika. Pembelajaran fisika yang diharapkan adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan membuat siswa untuk menjalani suatu proses bagaimana pe-ngetahuan ditemukan serta dapat menemukan hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dengan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata sehingga pelajaran fisika tidak hanya sebagai kumpulan rumus dan fakta yang harus dihafalkan oleh siswa. Dalam proses pembelajaran diharapkan siswa tidak hanya bergantung pada buku pegangan guru saja sehingga hal ini dapat mengembangkan sejumlah keterampilan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pola keterampilan proses sains. Dengan pembelajaran hipotetik deduktif diyakini dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika siswa. Tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran hipotetik deduktif terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika. Penelitian dirancang menggunakan quasi experiment dengan desain faktorial 2 x 2. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Dari populasi diambil 2 kelas sebagi sampel penelitian, 1 kelas digunakan sebagai kelas eksperimen yang belajar dengan pembelajaran hipotetik deduktif dan 1 kelas sebagai kelas kontrol yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Uji validitas dan reliabilitas instrument penelitian dihasilkan r = 0,93 untuk instrument keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika. Pengumpulan data dilakukan dengan pos test instrument keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika terhadap satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Sebelum diuji hipotesis terlebih dahulu data diuji dengan uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Analisis data dilakukan dengan uji t dan uji tukey. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Keterampilan proses sains siswa yang menggunakan pembelajaran hipotetik deduktif lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. (2) Penguasaanan Konsep fisika siswa yang menggunakan pembelajaran hipotetik deduktif lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Rancang bangun mesin pembatik elektrik berbasis komputer dengan implementasi pemrograman user interface menggunakan delphi / Tri Putri Yuniarti

 

Kata Kunci: batik, mikrokotroler, PC, Delphi, image processing. Batik merupakan bagian dari hasil kebudayaan Indonesia yang telah diakui dunia internasional. Dalam era globalisasi seperti saat ini minat masyarakat terhadap batik semakin meningkat. Hal ini menuntut peningkatan produktivitas batik, sedangkan proses pembuatan batik tulis pada saat ini masih menggunakan cara tradisional. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan penelitian tentang otomasi pembuatan batik tulis. Penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu alat yang dapat mengolah citra serta mengirimkan perintah ke kontrol mesin untuk menggambarkan citra pada kain. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan. Data penelitian berupa data kualitatif berupa hasil pengolahan citra digital dan hasil pembatikan serta data kuantitatif seperti data yang didapatkan dari pengujian komunikasi serial, pengukuran konsumsi daya mesin pembatik dan pengujian mekanik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran dan pengujian. Kegiatan analisis data dilakukan dengan mengitung nilai kesalahan pada pengujian dengan data kuantitatif serta membandingkan setiap citra hasil pengolahan temasuk juga citra hasil pembatikan pada pengujian kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh tiga kesimpulan sebagai berikut. Pertama, program pengolahan citra digital mampu mengolah citra dengan proses segmentasi, deteksi tepi dan pemberian warna serta dapat mengubah citra menjadi kode-kode perintah yang akan dikirim ke kontrol mesin. Kedua, mesin pembatik mampu menggambarkan pola pada kain dengan menggunakan lilin secara akurat berdasarkan kode perintah yang dikirim dari komputer ke kontrol mesin. Ketiga, konsumsi daya mesin pada suhu canting maksimum sebesar 64,24 Watt.

Peningkatan pemahaman konsep kelipatan persekutuan terkecil (KPK) menggunakan bahan manipulatif uang logam pada siswa kelas IV sekolah dasar negeri Mojorejo Ponorogo / Intan Dwi Hastuti

 

Kata kunci: pemahaman konsep, kelipatan persekutuan terkecil, bahan manipulatif, uang logam. Konsep memiliki kaitan yang erat dalam pembelajaran matematika, sehingga pemahaman konsep merupakan salah satu aspek dasar yang harus dicapai. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti peningkatan pemahaman konsep kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dengan menggunakan bahan manipulatif uang logam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran bahan manipulatif uang logam yang dapat meningkatkan pemahaman konsep KPK pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Mojorejo Ponororgo. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Dalam hal ini, peneliti berperan sebagai pemberi tindakan, instrumen kunci, pelapor hasil penelitian, dan pewawancara terhadap subjek penelitian. Data penelitian ini berupa hasil kajian dari jawaban tes siswa dan hasil wawancara. Pengumpulan data dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar observasi kegiatan siswa, lembar observasi kegiatan guru, pedoman penskoran soal tes, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran menggunakan bahan manipulatif uang logam yang dapat meningkatkan pemahaman konsep KPK terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) membuat dua tumpukan keping logam yaitu tumpukan di sebelah kiri dan kanan, (2) melakukan terus penambahan keping pada tiap tumpukan sampai menghasilkan tinggi tumpukan yang sama, (3) menemukan beberapa pasang tumpukan sehingga setiap pasangnya menghasilkan tinggi tumpukan yang sama, dan (4) dari pasangan-pasangan tumpukan bertinggi sama yang dihasilkan pada langkah kedua dan ketiga, siswa diminta untuk mengidentifikasi tumpukan terendah. Banyak keping logam pada tumpukan terendah merepresentasikan sebagai KPK. Kriteria keberhasilan yang ditetapkan peneliti telah tercapai pada siklus II yaitu persentase siswa yang tidak melakukan kesalahan konsep, prosedur, dan kalkulasi di atas 65% dan persentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sudah di atas 80%. Secara lebih rinci persentase siswa yang tidak melakukan kesalahan konsep, kalkulasi, dan prosedur adalah sebagai berikut (1) persentase siswa yang tidak melakukan kesalahan konsep adalah sebesar 84%, (2) persentase siswa yang tidak melakukan kesalahan prosedur sebesar 79%, dan (3) persentase siswa yang tidak melakukan kesalahan kalkulasi sebesar 89% serta (4) persentase siswa yang sudah mencapai KKM adalah sebesar 89%.

Rancang bangun mesin pengering sale pisang dengan energi listrik dan pengontrol suhu / Agus Fikri Saifurrizal, Nanang Ismail

 

Kata Kunci: Pisang, Sale Pisang, Sistem Otomatis, Pisang sale adalah pisang matang konsumsi yang telah dikeringkan. Pengeringan menyebakan kadar air turun dan secara relatif kadar gula naik. Warna pisang sale berkisar antara coklat muda sampai coklat kehitaman. Oleh karena itu proses pengeringan pada sale pisang sangatlah penting. Dalam hal ini panas pengeringan harus benar-benar konstan dan terorganisir. Maka pengeringan sale pisang dapat dilakukan menggunakan mesin pengering sebagai sumber energi alternatif apabila sumber energi pengeringan pada matahari tidak dapat dilakukan diakibatkan beberapa faktor antara lain, saat terjadinya hujan ataupun pergantian siang ke malam. Mesin pengerig sale pisang ini dilengkapi pengatur suhu agar tetap konstan dan dapat di program sesuai keinginan dengan menggunakan sistem kontrol otomatis pada thermometer. Dari desain mesin pengering sale pisang ini, diharapkan mampu menampung ± 2,55 kg buah pisang untuk memaksimalkan kondisi kadar air berkurang 20% selama proses pengeringan ± 10 jam sehinga sale pisang lebih efektif dan efisien.

Studi perbedaan prestasi belajar kelistrikan otomotif antara siswa yang mempunyai gaya belajar berbeda di SMK negeri 12 Malang / Bobby Abdurakhman

 

Kata Kunci: gaya belajar (learning style) dan prestasi belajar. Gaya belajar (learning style) merupakan kombinasi bagaimana seorang siswa menyerap, menerima, mengatur, dan mengolah informasi (pesan pembelajaran) yang diterimanya.Gaya belajar menurut modalitasnya terdiri dari gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik, setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. masing-masing siswa lebih suka belajar dengan satu macam gaya belajar, tapi ada juga beberapa siswa yang sudah bisa menggunakan ketiga macam gaya belajar. Siswa yang mengatahui gaya belajarnya, maka akan mempermudah siswa tersebut dalam menyerap, menerima, mengatur, dan mengolah informasi (pesan pembelajaran), sehingga pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif, yaitu bertujuan untuk melihat perbedaan antar variabel bebas (independent) penelitian terhadap variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah gaya belajar (X) dengan tiga variasinya yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar (Y). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII TKR di SMK Negeri 12 Malang Tahun Ajaran 2012/2013 dengan jumlah subyek penelitian adalah 45 siswa, tehnik pengambilan sampel adalah proportional random sampling. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket/kuesioner tertutup yang diuji dengan uji validitas dan reliabilitas untuk variabel gaya belajar di sekolah. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial meliputi uji asumsi klasik dan uji hipotesis, untuk menguji hipotesis digunakan uji F (One Way Anova) dengan uji analisis lanjut menggunakan metode Scheffe pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui ada perbedaan signifikan prestasi belajar antar gaya belajar siswa pada mata pelajaran kelistrikan otomotif di SMK Negeri 12 Malang. Hal ini dapat dilihat berdasarkan analisis variabel gaya belajar di sekolah secera parsial diperoleh nilai Fhitung 46,043 lebih besar dari F tabel 1,53, dengan signifikansi 0,000 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu gaya belajar di sekolah secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini diperkuat oleh hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan dengan siswa dan guru. Dengan melihat Mean Difference dari masing-masing gaya belajar dapat diketahui bahwa rata-rata prestasi gaya belajar visual berbeda secara nyata dengan prestasi gaya belajar auditorial, kemudian prestasi gaya belajar visual berbeda dengan prestasi gaya belajar kinestetik dan prestasi gaya belajar auditorial berbeda dengan prestasi gaya belajar kinestetik dalam prestasi belajar mata pelajaran kelistrikan otomotif di SMK Negeri 12 Malang. ii Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara parsial ada perbedaan signifikan prestasi belajar antar gaya belajar siswa pada mata pelajaran kelistrikan otomotif di SMK Negeri12 Malang. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah (1) sekolah diharapkan dalam pengadaan fasilitas belajar hendaknya memperhatikan kebutuhan gaya belajar siswa, terutama memperbaiki fasilitas belajar yang telah ada dan penambahan perlengkapan dan peralatan laboratorium Kelistrikan yang dapat menunjang dalam proses pembelajaran, seperti penambahan pengeras suara di ruang laboratorium kelistrikan yang dapat menunjang kebutuhan gaya belajar auditorial siswa dan juga penambahan baterai (accu) beserta alat-alat pengukurnya sehingga agar menunjang kebutuhan gaya belajar kinestetik siswa, (2) guru diharapkan dapat lebih memaksimalkan media pembelajaran yang ada di sekolah agar dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Seperti penggunaan LCD agar menunjang kebutuhan gaya belajar visual, penggunaan media pengeras suara dan media video baterai dalam penggunaannya sehari-hari agar dapat menunjang kebutuhan gaya belajar auditorial dan penggunaan bahan serta alat praktek yang merata ke seluruh siswa di kelas sehingga menunjang bagi kebutuhan gaya belajar kinestetik siswa, (3) siswa diharapkan belajar sesuai dengan gaya belajarnya karena dengan begitu akan memudahkan siswa dalam belajar sehingga dapat mencapai prestasi yang baik, (4) peneliti lain diharapkan apabila akan melakukan penelitian yang serupa perlu memperhatikan jumlah variabel bebas dan masalah populasi, yaitu mengenai jumlah variabel bebas yang akan diteliti dikembangkan, tidak hanya tiga variabel saja dan teori tentang pengambilan populasi tak terhingga sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Captain america as the mother in the avengers: A psychoanalytic study on superhero character / Muhammad Yuda Librata

 

Kata Kunci: Captain America, ibu, psikoanalisis, anima-animus Selama puluhan tahun, banyak orang menyangka bahwa para superhero identik dengan figur ayah karena kedua hal tersebut merepresentasikan maskulinitas. Namun, mereka sepertinya lupa bahwa jender dan jenis kelamin adalah dua hal ayang sama sekali berbeda; jenis kelamin bersifat inheren, sedangkan jender erat kaitannya dengan pembagian peran-peran di masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Stereotip jender dengan melekatkan gambaran ayah kepada superhero adalah hal yang akan dibantah oleh skripsi ini, karena faktanya, pada film yang berjudul The Avengers, ada sesosok superhero, yakni Captain America. Meskipun dia berbadan kekar dan mampu bertarung dengan sangat baik, dia juga mampu menunjukkan perilaku yang penuh kasih layaknya seorang ibu. Agar dapat melihat sifat-sifat “keibuan” yang memiliki andil dalam membentuk kepribadian Captain America, konsep-konsep Freudian mengenai emosi akan dipakai. Konsep-konsep Freud akan berguna dalam usaha skripsi ini mengidentifikasi pentingnya pengaruh emosi terhadap pembentukan kepribadian manusia. Agar tujuan utama skripsi ini dapat tercapai, konsep Freud mengenai emosi akan digabungkan dengan gagasan Jung mengenai anima dan animus. Gagasan Jung ini akan sangat berguna karena dalam topik ini, Jung menyinggung tentang sifat-sifat “kewanitaan” yang bersemayam di alam taksadar pria. Mengingat anima adalah sifat-sifat “kewanitaan” yang ada di alam taksadar pria, skripsi ini berargumen bahwa Captain America bukan hanya alter-ego dari Steve Rogers, namun juga anima-nya. Dilihat dari peranannya di dalam film, Captain America memang mampu menyatukan sifat-sifat “kewanitaan” dengan tubuh yang berotot. Hal ini sama dengan gagasan Jung mengenai arketip tentang penyatuan maskulinitas dengan femininitas, yahg telah merasuki kebudayaan-kebudayaan di dunia. Jika budaya Asia Timur memiliki Yin dan Yang sebagai simbol penyatuan dua elemen yang tampaknya kontras satu sama lain, mis. pria dan wanita, maka Hollywood memiliki Captain America sebagai Yin dan Yang dalam kebudayaan mereka.

Analisis potensi pajak bumi dan bangunan terhadap pendapatan asli daerah kabupaten trenggalek / Kidung Arganing Yekti

 

Kata Kunci: Pajak Bumi dan Bangunan, Pendapatan Asli Daerah Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan retribusi daerah, diharapkan dapat mendorong Pemerintah daerah terus berupaya untuk mengoptimalkan PAD, khususnya yang berasal dari Pajak daerah. Pajak daerah diharapkan bisa menjadi salah satu tulang punggung PAD. Untuk memperoleh sumber pembiayaan dimaksud maka sangat diperlukan adanya peran serta masyarakat, salah satu peran serta masyarakat dalam pembangunan adalah dengan cara membayar pajak, karena dengan membayar pajak akan menambah penerimaan daerah yang berakibat menambah ketersediaannya sumber pembiayaan pembangunan. Adapun jenis pajak yang bersumber dari masyarakat adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan yang cukup dominan dalam menjamin kesinambungan penyelenggaraan pembangunan daerah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah realisasi anggaran Pajak Bumi dan Bangunan sudah memenuhi target yang ditentukan pemerintah Kab. Trenggalek? Bagaimana sistem penetapan NJOP yang berlaku saat ini? Apakah penetapan PBB yang didassarkan pada NJOP sudah menggambarkan harga riil di lapangan? Dalam penelitian ini peneliti membagi empat tahap yaitu; tahap sebelum ke lapangan, pekerjaan lapangan, analisis data dan penulisan laporan. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa dalam hal penerimaan pajak pemerintah Kabupaten Trenggalek mengalami peningkatan setiap tahunnya pada tahun 2010 saja pencapaian realisasi pajak bumi dan bangunan mencapai 95,59% dari ketetapan pokok pajak sebesar Rp. 10.343.705.498 dengan pencapaian realisasi sebesar Rp. 9.887.292.022,00 dari wajib pajak bumi dan bangunan. Sistem penetapan NJOP yang telah dikemukakan oleh Tri Wibowo berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Kabupaten Trenggalek hal ini dikarenakan faktor lokasi penelitian. Tri Wibowo meneliti di Makasar sedangkan peneliti meneliti di Kabupaten Trenggalek. Perbandingan ini jelas terlihat dari penetapan kenaikan ataupun penurunan prosentase harga riil dengan harga penetapan NJOP. Dalam hal dampak penyesuaian tarif PBB terhadap PAD belum terjadi dampak yang nyata karena Kabupaten Trenggalek belum menerapkan penyesuaian tarif PBB menurut UU No. 28 tahun 2009 namun Kabupaten Trenggalek akan menerapkan paling lambat akhir 2012 atau awal 2013 karena banyak faktor yang harus dibenahi terlebih dahulu baik dari segi kelembagaannya maupun dari segi persiapan yang lain.

Pengaruh pendekatan pendidikan matematika realistik indonesia (PMRI) pada hasil belajar operasi pecahan di kelas V SDN sumberpucung 02 kabupaten malang / Henny Rimayanti

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar pokok bahasan pecahan siswa SDN Sumberpucung 02 Kabupaten Malang. Masalah pokok yang perlu dibahas dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengaruh Pendekatan PMRI Pada Hasil Belajar Konsep Pecahan Kelas V SDN Sumberpucung 02 Kabupaten Malang. Keadaan demikian mungkin terjadi karena di dalam proses pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya. Perubahan cara berpikir yang perlu sejak awal diperhatikan ialah bahwa hasil belajar siswa meruapakan tanggung jawab siswa sendiri. Artinya bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi secara langsung oleh karakteristik siswa sendiri dan pengalaman belajarnya.Tanggung jawab langsung guru sebenarnya pada penciptaan kondisi belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang baik (Marpaung, 2004). Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang sesuai dengan paradigma pendidikan sekarang. PMRI menginginkan adanya perubahan dalam paradigma pembelajaran, yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma belajar (Marpaung, 2004). Pengalaman belajar akan terbentuk apabila siswa ikut terlibat dalam pembelajaran yang terlihat dari aktivitas belajarnya.PMRI juga menekankan untuk membawa matematika pada pengajaran bermakna dengan mengkaitkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat realistik. Siswa disajikan masalah-masalah kontekstual, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi realistik. Kata realistik disini dimaksudkan sebagai suatu situasi yang dapat dibayangkan oleh siswa atau menggambarkan situasi dalam dunia nyata (Zulkarnain, 2002).Aktivitas belajar yang terjadi dalam pembelajaran dengan pendekatan belajar yang relatif baru ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan peningkatan hasil belajar konsep perkalian dan pembagian pecahan siswa kelas V SDN Sumberpucung 02 Kabupaten Malang. Kata Kunci : PMRI dan Pecahan

Struktur novel negeri 5 menara (N2M) karya A. Fuadi dan potensinya sebagai bahan ajar apresiasi sastra siswa SMP / Firdaus Ermayanti

 

Kata Kunci: Struktur novel, apresiasi sastra, bahan ajar apresiasi sastra Struktur merupakan susunan unsur yang membangun karya sastra sehingga membentuk keutuhan. Struktur teks sastra terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik berdiri atas alur, tokoh, penokohan, latar cerita, sudut pandang, gaya bahasa, amanat, dan tema. Alur adalah rangkaian peristiwa yang menjalankan sebuah cerita dari awal hingga akhir cerita. Tokoh adalah pelaku jalan cerita yang memiliki kepribadian sehingga dapat memberikan gambaran baik dan buruk suatu tindakan di dalam cerita. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan watak tokoh di dalam cerita. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang dapat digunakan pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk memandu siswa memahami materi yang disampaikan pendidik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) alur, (2) tokoh utama dan penokohan, dan (3) potensi novel N5M Karya A. Fuadi sebagai bahan ajar apresiasi sastra siswa SMP dilihat dari segi alur, tokoh utama dan penokohan. Penelitian ini merupakan penelitian kajian teks dengan menggunakan pendekatan struktural. Data penelitian ini berupa data verbal atau paparan bahasa yang menunjukkan (1) peristiwa-peristiwa yang menyangkut penyituasian, pemunculan konflik, peningkatan konflik, klimaks, penyelesaian hingga terbentuk alur, (2) tokoh dan penokohannya. Sumber data penelitian ini adalah novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi cetakan ketiga yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2009 dengan tebal 423 halaman. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu (1) mengidentifikasi alur meliputi klasifikasi tahapan alur, membuat grafik alur, meringkas cerita, menentukan kepadatan cerita dan urutan waktu alur; (2) mengidentifikasi tokoh utama dan penokohan meliputi mendata kutipan cerita, klasifikasi dan kodifikasi, (3) menyimpulkan alur, tokoh utama dan penokohan, serta potensi bahan ajar. Teknik Analisis data yang digunakan yaitu reduksi, pengelompokan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data diperlukan teknik beberapa teknik yaitu ketekunan penelaahan dan kecukupan referensial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tahapan alur novel N5M memiliki delapan peristiwa. Peristiwa tersebut yaitu tahap penyelesaian, pemunculan konflik, penyituasian, peningkatan konflik, peningkatan konflik, peningkatan konflik, tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Dilihat dari kepadatan alur merupakan alur padat dan dilihat dari urutan waktu merupakan alur campuran. Tokoh utama novel N5M yaitu M1/Said memiliki karakter bertanggung jawab, peduli sosial, cinta tanah air, dan cinta damai; M2/Raja memiliki karakter gemar membaca, demokratis, ahli pidato dan bahasa Inggris; M3/Alif memiliki karakter rasa ingin tahu tinggi, religius, pintar, dan kerja keras; M4/Atang memiliki karakter jujur, disiplin, kreatif, dan religius; M5/Dulmajid memiliki karakter disiplin, mandiri, peduli sosial, dan cinta tanah air; dan M6/Baso memiliki karakter bersahabat/komunikatif, menghargai prestasi dan religius. Penokohan novel N5M menggunakan berbagai teknik yang dapat menggambarkan berbagai karakter tokoh yang dapat diteladani. Potensi novel N5M Karya A. Fuadi sebagai bahan ajar apresiasi sastra siswa SMP dilihat dari segi alur yaitu jenis kepadatan alur dalam novel ini merupakan alur padat. Peristiwa yang digambarkan merupakan peristiwa yang saling berkaitan antara sub-sub judul sehingga siswa dalam jenjang SMP mudah memahami alur novel ini. Dilihat dari kriteria waktu alur menggunakan alur campuran. Peristiwa pertama tentang keberhasilan tokoh utama, dilanjutkan menggambarkan masa lalu tokoh dan akhirnya kembali pada awal peristiwa. Alur tersebut membuat siswa dapat berimajinasi dengan lebih mudah dan sederhana. Penelitian ini mendeskripsikan alur novel N5M sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran apresiasi sastra. Potensi novel N5M Karya A. Fuadi sebagai bahan ajar apresiasi sastra siswa SMP dilihat dari segi tokoh utama dan penokohannya yaitu tokoh utama merupakan peserta didik yang dimulai dari jenjang SMP yang tidak jauh dari kehidupan peserta didik. Penokohan yang dihadirkan peneliti menggunakan teknik analitik dan dramatik. Sebelum penulis memaparkan dengan teknik analitik, penulis menggunakan teknik dramatik terlebih dahulu. Hal tersebut dapat diterima oleh siswa dalam jenjang SMP yang sudah mulai belajar menyiratkan makna. Namun pada akhirnya penulis menggambarkan karakter tokoh dengan teknik analitik sehingga tidak ada salah tafsir tentang karakter tokoh. Enam tokoh utama yang dihadirkan memiliki karakter yang bisa diteladani dari setiap ucapan, tindakan, tingkah laku tokoh, atau penjelasan tokoh lain sehingga dapat diaplikasikan pada pembelajaran apresiasi sastra. Peneliti menyarankan kepada peneliti lain untuk mengembangkan unsur intrinsik yang lain kecuali yang telah diteliti. Peneliti lain dapat meneliti unsur ekstrinsik novel dengan teori dan sudut pandang yang lain. Selain itu, peneliti lain juga dapat meneliti tentang karya-karya sastra apa saja yang berpotensi sebagai bahan ajar untuk siswa. Sarankan kepada penulis karya sastra agar menghasilkan karya sastra yang berisi nilai pendidikan karakter, bukan hanya memberikan hiburan saja namun akan ada manfaat yang bisa diteladani setelah membaca novel. Saran untuk pembaca khususnya pendidik bahasa Indonesia yaitu penelitian ini dapat dikembangkan sebagai bahan ajar apresiasi sastra dalam proses belajar mengajar.

Pengkajian sport development index (SDI) di kecamatan Tegalombo kabupaten Pacitan tahun 2012 / Tinton Yospion

 

Kata Kunci: Indek partisipasi, indek ruang terbuka, indek SDM keolahragaan, indek kebugaran, dan indek SDI Penelitian ini bertujuan untuk mengidentikasi Sport Development Index (SDI) di Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan. Adapun dimensi yang akan diukur dari SDI adalah: 1) dimensi ruang terbuka, 2) dimensi SDM Keolahragaan, 3) dimens ipartisipasi, dan 4) dimensi kebugaran. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, rancangan penelitian ini menggunakan teknik survey. Penelitian ini dilaksanakan di tiga Desa di Kecamatan Tegalombo, yang meliputi: Desa Tegalombo, Desa Gemaharjo, dan Desa Gedangan. Penentuan wilayah didasarkan pada Indek Pembangunan Manusia (IPM), dengan kategori tinggi, sedang dan rendah. Populasi dalam penelitian adalah masyarakat dengan usia 7 tahun ke atas, yang dikelompokkan menjadi; anak-anak (7-14 tahun), remaja (15-24 tahun) dan dewasa (25-40 tahun). Sampel penelitian diambil 27 orang pada setiap desa, dengan demikian terdapat 81 orang untuk tiga Desa yang diteliti. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik multistage random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) Dokumentasi, (2) Wawancara, (3) Angket; dan (4) Tes kebugaran jasmani menggunakan MFT. Data yang dikumpulkan berupa data: (1) partisipasi, (2) ruang terbuka, (3) kebugaran, dan (4) Sumber Daya Manusia. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Indek partisipasi: Masyarakat Desa Tegalombo 0,85 (85,19%), Desa Gemaharjo 0,74 (74,07%), dan Desa Gedangan 0,52 (52,85%); (2) Indek ruang terbuka: Desa Tegalombo sebesar (1,79 m2) atau dengan indek 0,51, Desa Gemaharjo, sebesar (1,89 m2) atau dengan indek 0,54, dan Desa Gedangan, sebesar (3,63 m2) atau dengan indek 1,04; (3) Indek kebugaran: Desa Tegalombo dengan indek 0,73, Desa Gemaharjo, 0,48, dan Desa Gedangan, 0,59; (4) Indek SDM: Desa Tegalombo dengan indek 0,0029, Desa Gemaharjo, 0,0019, dan Desa Gedangan, 0,0029; (5) Indek SDI: Desa Tegalombo dengan indek 0,53, Desa Gemaharjo, 0,44, dan Desa Gedangan, 0,53. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Indek Partisipasi masyarakat Kecamatan terhadap kegiatan olahraga cukup baik (2) Indek ruang terbuka secara keseluruhan masih kurang, (3) Indek kebugaran secara keseluruhan termasuk dalam kategori cukup, (4) Indek SDM secara keseluruhan dalam kategori kurang, dan (5) Indek SDI secara keseluruhan dalam kategori kurang.Saran untuk meningkatkan Indeks SDI perlu dilakukan peningkatan partisipasi masyarakat, ruang terbuka, kebugaran, dan SDM bidang keolahragaan secara simultan dan komprehensif.

Studi kasus batik tulis gedog produksi industri batik "warna jaya" di desa margorejo kecamatan kerek kabupaten tuban / Ahmad Abdurrohman Wahid SR

 

Wahid, Ahmad Abdurrohman. 2012. Studi Kasus Batik Tulis Gedog Produksi Industri Warna Jaya di Desa Margorejo Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mistaram, M.Pd, Ph.D. (II) Ike Ratnawati, S.Pd, M. Pd. Kata Kunci: Batik Gedog, Motif Batik Tulis, Warna Batik, Tuban Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki ragam kebudayaan, salah satu produk seni khas Indonesia adalah batik tulis. Batik merupakan warisan budaya dari nenek moyang Bangsa Indonesia. Batik tulis Gedog sekarang ini perkembangannya sudah semakin pesat tentunya didaerah kotaTuban sendiri, pelestarian batik tulis Gedog ini sendiri menjadi kebanggaan bagi masyarakat kotaTuban khususnya di Desa Margorejo Kecamatan Kerek dikarenakan membatik sudah menjadi bagian dari pekerjaan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif, berupa paparan data mengenai macam-macam motif batik tulis Gedog, warna yang digunakan dan proses pembuatan batik tulis. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis mengalir (Flow Model Analisis). Terkait dengan visualisasi motif batik tulis Gedog di industri “Warna Jaya” ditemukan beberapa jenis motif lama dan motif baru, antara lain adalah motif flora, fauna, benda alam dan manusia. Pembuatan motif baru bersumber pada lingkungan sekitar, wawasan luas dalam segala bidang, dan kreatifitas perajin. Hampir secara keseluruhan motif-motif di industri batik tulis Gedog ”Warna Jaya” adalah non geometris.     Warna pada batik tulis Gedog identik dengan warna biru yang berasal dari pewarna alam Indigofera Guatematensis. Batik tulis Gedog memiliki warna dasar yang diperuntunkan oleh kalangan tertentu dengan makna tertentu, yaitu Bangrod, Pipitan, Putihan, Irengan.Tetapi terkadang warna bisa berubah tergantung pesanan konsumen.     Proses pembuatan batik tulis Gedog, perajin menggunakan bahan kain yaitu kain Gedog dan kain mori, malam batik, pewarna naptol dan remasol ada juga bahan pewarna alam. Proses pembuatannya dikerjakan melalui tahapan yang cukup panjang dan memerlukan bantuan seseorang untuk lebih cepat dalam proses pembuatannya. Saran untuk penelitian ini supaya industri Warna Jaya lebih mengembangkan lagi dalam segi penciptaan motif-motif baru, dan lebih mengekplorasikan lagi dalam hal pewarnaan, sehingga tidak kalah dengan industri-industri lain yang berkembang saat ini.

Upaya meningkatkan hasil belajar gerak dasar lari dengan menggunakan alat bantu tali, pipa, dan lonceng siswa tuna netra di panti rehabilitasi sosial "budi mulya" malang / Dedi Sulistyono

 

Kata Kunci: Meningkatkan, Hasil Belajar Gerak Dasar Lari Dengan Menggunakan Alat bantu Pipa, Tali Dan Lonceng Lari sprit adalah lari jarak pendek kearah lurus kedepan. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan gerak dasar lari siswa kelas kejuruan panti rehabilitasi “Budi Mulya” Malang, diketahui bahwa dalam melakukan gerakan lari dilapangan belum optimal, adalah pada saat sikap awal, sikap saat berlari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan kesalahan keterampilan gerak dasar lari siswa kelas kejuruan dipanti rehabilitasi “Budi Mulya” Malang yang belum optimal dengan menggunakan alat bantu pipa, tali dan lonceng. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, lembar observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran gerak dasar lari dengan alat bantu pipa, tali dan lonceng. Melalui permainan ini, siswa melakukan gerak dasar lari dengan alat bantu dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting mengingat siswa Panti Rehabilitasi “Budi Mulya” Malang mengalami kekurangan dalam gerak dasar. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 2 siklus. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan melakukan gerak dasar lari kelas kejuruan Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra “Budi Mulya” Malang mengalami persentase penurunan kesalahan. Persentase hasil belajar siswa dari siklus 1 dan siklus 2 mengalami penurunan persentase kesalahan dari awalan, sikap badan, ayunan tangan dan tumpuan kaki sebagai berikut: (1). Kesalahan sikap awal, 62,05% menjadi 37,5 % pada siklus 1 dan menjadi 18,75% pada siklus 2 dilakukan siswa dengan kategori baik. (2). Kesalahan sikap badan, 43,75% menjadi 37,5% pada siklus 1 dan menjadi 12,5% pada siklus 2, dengan kategori baik. (3). Kesalahan sikap ayunan lengan, 31,25% menjadi 18,75% pada siklus 1 dan menjadi 12,5% pada siklus 2. (4). Kesalahan sikap tumpuan kaki, 43,75% menjadi 25% pada siklus 1 dan menjadi 0% pada siklus 2 dengan kategori baik. Kesimpulan yang dapat peneliti kemukakan adalah dengan pemberian alat bantu lari dengan menggunakan paralon, tali dan lonceng dapat memperbaiki pembelajaran lari yang belum optimal dan dapat meningkatkan keterampilan lari untuk sisiwa Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra “Budi Mulya” Malang.

Pengembangan permainan pada pembelajaran lompat jauh kelas VI dan V SD negeri Sukosewu 07 kecamatan Gandungsari kabupaten Blitar / Andi Hebri Saputra

 

Kata Kunci: Pengembangan, Permainan, Lompat Jauh Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran lompat jauh gaya jongkok pada tanggal 5 Oktober 2011 di SD Negeri Sukosewu 07 Kabupaten Blitar kelas IV dan V untuk pendidikan jasamani menggambarkan bahwa kegiatan pembelajaran lompat jauh masih dengan pola untuk melakukan lompatan saja yaitu siswa dibuat kelompok yang kemudian siswa melakukan gerakan lompat jauh secara bergantian di lapangan sekolah. Guru pendidikan jasmani hanya memberikan contoh gerakan yang kemudian siswa disuruh mempraktikan. Untuk mewujudkan tujuan pedidikan jasmani, peranan guru sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Pencapaian tujuan pembelajaran guru pendidikan jasmani di SD Negeri Sukosewu 07 Kabupaten Blitar mengalami masalah seperti: (a)kurangnya inovasi metode mengajar, sehingga siswa tidak bisa memahami dan menerima materi dengan baik, (b) metode pengajar yang monoton dalam artian materi yang diajarkan saja, sehingga siswa merasa tidak senang karena kegiatan pendidikan jasmani yang menjemukkan dan berakibat melelahkan. Hasilnya siswa tidak memahami pembelajaran yang diajarkan oleh guru pendidikan jasmani dengan maksimal Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan permainan yang menarik bagi siswa kelas IV dan V SD Negeri Sukosewu 07, sehingga permainan tersebut dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Penelitian yang dilaksanakan di SD Negeri Sukosewu 07 ini termasuk penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Produk awal telah di justifikasi oleh ahli pendidikan jasmani, ahli atletik dan ahli permainan yang hasil akhirnya menunjukkan bahwa 5 permainan yang telah dimodivikasi untuk pembelajaran lompat jauh dapat digunakan. Ahli pendidikan jasmani secara keseluruhan diperoleh persentase 93,40%, ahli atletik secara keseluruhan diperoleh persentase 80,64% dan ahli permainan secara keseluruhan diperoleh persentase 80%Dari hasil evaluasi uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 12 siswa diperoleh persentase 79,09% , dan pada uji kelompok besar dengan menggunakan 30 siswa diperoleh persentase 78.18% sehingga model permainan pada pembelajaran lompat jauh kelas IV dan V SD Negeri Sukosewu 07 dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan di antaranya: sebelum disebarluaskan sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Pengaruh pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi keuangan dan kecerdasan emosional terhadap sikap etis mahasiswa / Mohammad Ghofirin

 

Pembelajaran reportase berita di kelas IX SMP Negeri 3 Malang tahun ajaran 2012-2013 / Laila Ayuningtyas

 

Meningkatkan aspek afektif dalam pembelajaran gerak dasar atletik dengan pendekatan permainan pada siswa kelas V SDN sentul 1 pasuruan / Darmansyah

 

Kata Kunci: Meningkatkan Pembelajaran, Gerak dasar Atletik, Metode Permainan Aspek afektif sangat mempengaruhi kemampuan belajar siswa baik secara kognitif maupun psikomotor, terutama dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. pembelajaran pendididkan jasmani hendaknya dapat mengakomodir dari ketiga aspek tersebut akan tetapi pada pelaksanaanya pembelajaran yang dilakukan hanya mengarah pada aspek psikomotor saja, oleh karena itu perlu melibatkan aspek afektif. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SDN Sentul I Pasuruan aspek afektif siswa belum maksimal karena beberapa faktor terutama metode yang digunakan dalam PBM. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aspek afektf melalui pendekatan permainan. Penelitian yang dilakukan ialah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui 2 siklus, 1 siklus 2 kali pertemuan dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah 45 siswa kelas V SDN Sentul I Pasuruan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan) dan tes. Melalui pendekatan Permainan diharapkan dapat meningkatkan aspek afektif siswa. Hal ini bisa dilihat dari persentase rata-rata afektif siswa pada siklus I dan siklus II hasilnya, hasil afektif siswa dalam pembelajaran dari siklus I pertemuan 1 dan 2 sebesar 70.7% dengan katagori cukup dan pada siklus II pertemuan 1 dan 2 mengalami peningkatan 86% yang tergolong dalam katagori baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah dengan pendekatan permainan yang dilakukan dapat meningkatkan aspek afektif terutama pada pembelajaran gerak dasar atletik. Adapun saran yang diberikan dari hasil penelitian ini, guru dapat memberikan pembelajaran gerak dasar atletik dengan pendekatan permainan karena dapat memaksimalkan pembelajaran terutama aspek afektif.

Karakteristik geguritan karya siswa kelas IX SMP negeri 1 jetis kabupaten mojokerto / Abdul Aziz Eka Putra

 

Kata kunci: karakteristik, geguritan karya siswa Geguritan merupakan sebuah karya sastra yang mengadaptasi kehidupan modern. Pengarang bebas berekspresi menuangkan karyanya karena di dalam geguritan tidak ada aturan-aturan yang harus dipegang. Puisi Jawa modern atau geguritan sering kali disebut ‘puisi bebas’ karena puisi Jawa modern mencerminkan kebebasan dan tidak terikat oleh pola khusus seperti guru gatra, guru wilangan,dan guru lagu. Pembelajaran bahasa Jawa memiliki ruang lingkup yang mencakup empat aspek keterampilan, yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Keterampilan menulis bahasa Jawa di tingkat SMP meliputi menulis pengalaman pribadi, poster, iklan, karangan, dialog, keterampilan hidup, laporan kunjungan, surat undangan, geguritan, cerkak, teks pidato, dan huruf Jawa. Pembelajaran menulis geguritan dihadapkan pada berbagai kendala dalam pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan siswa dalam menulis geguritan adalah penggunaan unsur intrinsik puisi (geguritan) yang terdiri dari aspek tema, rima, majas, diksi, dan amanat. Pemilihan karakteristik geguritan tersebut didasarkan sejauh apa penggunaan aspek-aspek tersebut dalam menulis geguritan. Pembelajaran menulis geguritan merupakan salah satu kompetensi dasar yang terdapat pada kurikulum muatan lokal bahasa Jawa pada jenjang SMP kelas IX semester genap. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan (1) karakteristik geguritan dari aspek tema, (2) karakteristik geguritan dari aspek rima, (3) karakteristik geguritan dari aspek majas, (4) karakteristik geguritan dari aspek diksi,dan (5) karakteristik geguritan dari aspek amanat dalam karya siswa kelas IX SMP Negeri 1 Jetis Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena berkaitan dengan suatu gejala kebahasaan yang sifatnya alamiah. Pendekatan yang sesuai dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif. Data dalam penelitian ini tentang hasil karya geguritan siswa. Sumber data dikumpulkan dengan memberi tugas menulis geguritan dengan tema bebas. Peneliti sendiri yang bertindak sebagai pelaksana penelitian. Peneliti yang mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam geguritan karya siswa kelas IX SMP Negeri 1 Jetis Kabupaten Mojokerto. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada siswa. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap identifikasi data, klasifikasi data, kodifikasi data, dan penarikan simpulan atau penyajian data. Pengecekan keabsahan temuan dimulai dari menganalisis geguritan, membaca intensif secara teliti seluruh teks wacana yang terdapat dalam korpus data, diskusi dengan teman sejawat atau para ahli. Penelitian ini dilakukan tiga tahap penelitian, yakni (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) penyelesaian. Hasil penelitian karakteristik geguritan karya siswa kelas IX SMP Negeri 1 Jetis Kabupaten Mojokerto meliputi (1) karakteristik geguritan dari aspek tema, ditemukan penggunaan tema percintaan berisi tentang masalah kehidupan remaja seperti putus cinta, perpisahan, kedukaan hati karena cinta, kesetiaan, dan kebimbangan, (2) karakteristik geguritan dari aspek rima, ditemukan rima berpola awal dan akhir baris, rima berpola akhir, rima vokal (asonansi), dan rima tidak berpola awal dan akhir baris, (3) karakteristik geguritan dari aspek majas, ditemukan penggunaan majas pleonasme dan tautologi, majas hiperbola, majas personifikasi, majas repetisi, majas epitet, majas antitesis, majas alegori, tembung garba, dan tembung dasanama. Penggunaan majas bervaiasi di setiap geguritan yang ditulis oleh siswa, (4) karakteristik geguritan dari aspek diksi, ditemukan kata konkret berupa kata benda ditemukan pilihan kata (diksi) paling banyak menggunakan makna denotatif, makna umum, dan tidak ditemukan penggunaan kata abstrak. Kata konkret berupa kata kerja ditemukan pilihan kata (diksi) berimbang antara makna denotatif dan konotatif, terdapat makna khusus dan makna umum, dan penggunaan kata abstrak. Kata konkret berupa kata sifat ditemukan pilihan kata (diksi) paling banyak menggunakan makna konotatif, makna khusus, dan banyak penggunaan kata abstrak. Simbol ditemukan simbol atau lambang untuk suatu hal yang bersifat nasional atau identitas negara dan kedaerahan. Citraan ditemukan kecenderungan menggunakan atau menggambarkan satu citraan, yakni citraan penglihatan, (5) karakteristik geguritan dari aspek amanat, ditemukan tentang nasihat, berbakti kepada orang tua, dan percintaan. Berdasarkan hasil penelitian saran ditujukan kepada ilmuwan atau peneliti bahasa Jawa untuk meningkatkan pengetahuan mengenai geguritan khususnya dalam karya siswa kelas IX SMP. Untuk ke depannya pengetahuan mengenai menulis geguritan dapat digunakan sebagai referensi tambahan guna membantu proses penelitian. Bagi guru SMP untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan menambah pemahaman tentang unsur intrinsik geguritan yang nantinya dapat diajarkan dan dikembangkan kepada peserta didik di sekolah sehingga kemampuan menulis bahasa Jawa para siswa dapat ditingkatkan lagi dalam pembelajaran geguritan.

Problematika guru PKN dalam mengimplementasikan nila-nilai pendidikan karakter dalam mata pelajaran PKN di MAN Malang II kota Batu / Dhany Dwi Aspoto

 

Kata Kunci : Problematika, Guru PKn, Nilai Pendidikan Karakter Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran wajib di semua jenjang sehingga setiap proses aktivitasnya harus bernuansa pengembangan karakter. Studi eksplorasi menyebutkan bahwa perangkat pembelajaran mata pelajaran PKn MAN Malang II Kota Batu belum mengandung nilai pendidikan karakter. Sehingga pada saat proses pembelajaran di kelas, cenderung hanya membekali pengetahuan mengenai nilai-nilai melalui materi/substansi mata pelajaran sehingga berorientasi pada tataran kognitif saja. Budaya asing yang menonjolkan materialistik mempengaruhi gaya hidup siswa, sistem evaluasi yang menyebabkan siswa berpikir pragmatis dan mengabaikan proses sehingga siswa bersikap apatis terhadap sikap, nilai dan ketrampilan turut menyumbang lumpuhnya jati diri bangsa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Penyusunan rancangan perangkat pembelajaran guru PKn dalam mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam mata pelajaran PKn MAN II Kota Batu; (2) Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru PKn dalam mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam mata pelajaran PKn di MAN II Kota Batu; (3) Problematika guru PKn dalam mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam mata pelajaran PKn di MAN II Kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskripstif kualitatif. Lokasi penelitian di MAN Malang II Kota Batu dengan sumber data dari manusia dan dokumen. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan analisis isi dokumen, observasi partisipatif, wawancara mendalam serta dokumentasi. Kegiatan analisis data dilakukan dengan menggunakan interactive model. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan perpanjangan pengamatan, triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penyusunan rancangan perangkat pembelajaran guru PKn dalam silabus dengan cara: (a) menganalisis SK/KD, (b) membuat metode yang variatif, (c) evaluasi masih bisa mengukur ranah kognitif. Sedangkan RPP dilakukan dengan cara: (a) menganalisis SK/KD, (b) membuat indikator yang sesuai dengan SK/KD, (c) membuat tujuan pembelajaran yang sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi, (d) membuat materi pembelajaran, (e) merancang metode yang variatif, (f) merancang langkah pembelajaran yang operasional, (g) merancang evaluasi tetapi masih ranah kognitif. Walaupun demikian, guru PKn di MAN MAlang II Kota Batu masih menggunakan perangkat pembelajaran tahun lalu yang belum di revisi sesuai dengan panduan pengintegrasian nilai pendidikan karakter; (2) Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dengan mengimplementasikan nilai pendidikan karakter belum optimal karena metode yang digunakan kurang sesuai dengan karakteristik siswa, siswa masih ada yang tidak mengerjakan tugas, serta pengelolaan kelas kurang berhasil; (3) Problematikan guru dalam mengimplementasikan nilai pendidikan karakter berasal sari siswa, guru, keluarga dan sekolah. Kendala dari siswa meliputi: (a) kurang disiplin datang ke sekolah, (b) jika siswa salah memilih teman bergaul, akan terpengaruh pada kegiatan yang kurang baik seperti merokok, begadang dan lupa belajar, (c) siswa banyak yangbermasalah, (d) nilai siswa sebagian besar dibawah KKM. Kendala dari guru meliputi: (a) jam mengajar guru banyak, (b) materi terlalu banyak, (c) alokasi waktu tidak sesuai denganbanyaknya materi, (d) guru hanya mengejar ketercapaian KKM, (e) guru masih menggunakan perangkat tahun lalu tanpa direvisi, (f) metode yang digunakan kadang tidak sesuai dengan karakteristik siswa. Kendala dari keluarga yaitu: (a) kurang adanya kontribusi dari wali murid, (b) keluarga terkesan kurang memperhatikan perkembangan belajar anaknya, (c) kurangnya teladan dari keluarga untuk anak. Kendala dari sekolah yaitu sekolah jauh dari keramaian kota sehingga siswa kesulitan mendapatkan kendaraan umum ke sekolah. Upaya yang dilakukan oleh sekolah dan guru untuk meminimalkan kendala dilakukan oleh sekolah dan guru. Upaya dari sekolah meliputi: (a) memasifkan kegiatan keagamaan seperti sholat dhuhur berjamah, (b) mengadakan kegiatan rutin yaitu pentas seni setiap hari sabtu, (c) menjalin komunikasi dengan siswa yang bermasalah, (d) menjalin komunikasi dengan orang tua murid, (e) memaksimalkan peran BK. Sedangkan upaya dari sekolah yaitu: (a) menjadi teladan yang baik untuk siswa, (b) memulai dengan kedisiplinan yang sederhana seperti datang ke kelas tepat waktu, dan memakai seragam, (c) membantu siswa untuk meluruskan niat bahwa belajar adalah ibadah, (d) mengingatkan dan memotivasi siswa yang bermasalah, (e) harus menentukan target dan skala prioritas. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan yaitu: (a) kepada Kepala Sekolah, untuk memberi kesempatan kepada guru agar mengikuti seminar maupun pelatihan tentang pembelajaran; (b) kepada guru PKn, diharapkan guru mampu mengintegrasikan nilai pendidikan karakter dengan lebih baik dan menarik. Guru juga harus secara kreatif merancang pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan kondisi siswa namun tetap relevan untuk mengimplemtasikan nilai karakter kepada siswa; (c) kepada siswa, agar bisa aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn dan bisa menerapkan nilai pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari; (d) kepada peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan dan alasan untuk mengadakan penelitian selanjutnya.

Uji kuat tekan beton dengan campuran pasir hasil penambangan di kabupaten Nganjuk

 

Kata kunci: Kuat Tekan Beton, Pasir, dan Kabupaten Nganjuk. Pasir merupakan bahan yang penting untuk campuran beton sebagai bahan pengisi karena pada umumnya penggunaan agregat dalam adukan mencapai jumlah kurang lebih 70% - 75% dari seluruh volume massa padat beton. Sedangkan di daerah kabupaten Nganjuk terdapat banyak tempat penambangan pasir yang tidak diketahui dengan pasti kualitasnya. Berkaitan dengan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai pasir di daerah kabupaten Nganjuk sebagai campuran beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat tekan beton dengan campuran pasir dari wilayah penambangan di Kabupaten Nganjuk dan untuk mengetahui perbedaan kuat tekan beton yang bahan agregat halusnya (pasir) berasal dari desa kelutan, desa tanjung, desa kuncir, dan desa ngrajek Kabupaten Nganjuk. Dalam penelitian ini benda uji yang digunakan adalah silinder beton dengan ukuran 15 x 30 cm. Masing-masing campuran beton menggunakan pasir yang sesuai dengan wilayah asal penambangan dan dibuatkan sampel sebanyak (10) buah, sedangkan di kabupaten Nganjuk terdapat 4 wilayah penambangan sehingga jumlah total sampel sebanyak (40) buah. Dari hasil uji kuat tekan beton dengan campuran 4 jenis pasir yang berbeda yaitu a) Pasir gali menghasilkan fc’ yang dicapai setelah 14 hari : 132.03 kg/cm2, setelah dikonversi 28 hari : 150.03 kg/cm2, b) Pasir tanjung menghasilkan fc’ yang dicapai setelah 14 hari : 102.03 kg/cm2, setelah dikonversi 28 hari : 115.94 kg/cm2, c) Pasir kuncir menghasilkan fc’ yang dicapai setelah 14 hari : 89 kg/cm2, setelah dikonversi 28 hari : 101.14 kg/cm2, d) Pasir widas menghasilkan fc’ yang dicapai setelah 14 hari : 118.45 kg/cm2, setelah dikonversi 28 hari : 134.59 kg/cm2. Hasil perhitungan dari Microsoft Office Excel dan dianalisis secara diskriptif terdapat perbedaan. Untuk beton yang memenuhi fc’ yang disyaratkan : 125 kg/cm2 dan fcr yang disyaratkan : 195 kg/cm2 ada 2 beton yaitu 1) beton dengan campuran pasir gali fc’ : 150.03 kg/cm2, fcr : 220.03 kg/cm2 dan beton dengan campuran pasir widas fc’ : 134.59 kg/cm2, fcr : 204.59 kg/cm2. Untuk beton dengan campuran pasir tanjung dengan fc’ : 115.94 kg/cm2, fcr : 185.94 kg/cm2, dan beton dengan campuran pasir kuncir dengan fc’ : 101.14 kg/cm2, fcr : 171.14 kg/cm2, tidak memenuhi syarat. Berdasarkan data dan analisis uji beda kuat tekan beton, penggunaan pasir tanjung dan pasir kuncir tidak perlu diggunakan sebagai campuran beton untuk wilayah kabupaten nganjuk. Karena kuat tekan beton yang dihasilkan oleh campuran pasir tanjung dan pasir kuncir tidak memenuhi mutu beton yang telah direncanakan, dan sebaiknya menggunakan pasir gali atau pasir widas dengan kuat tekan beton yang dihasilkan lebih memenuhi mutu beton yang direncanakan.

Peningkatan kemampuan membacakan berita menggunakan teknik pemodelan berjenjang siswa kelas VIIIB SMP negeri satu atap merjosari malang tahun pelajaran 2011/2012 / Alfian Faisal Ma'ruf

 

Kata Kunci : pembelajaran membaca, membacakan berita, teknik pemodelan berjenjang Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membacakan berita siswa kelas VIIIB SMPN Satu Atap Merjosari Malang menggunakan teknik pemodelan berjenjang; (2) mendeskripsikan peningkatan proses pembelajaran membacakan berita kelas VIIIB SMPN Satu Atap Merjosari Malang menggunakan teknik pemodelan berjenjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data hasil dalam penelitian ini berupa skor dan data deskriptif kualitatif. Data kualitatif tersebut berupa respon siswa dan penilaian aspek afektif selama proses pembelajaran membacakan berita. Penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini mencakup empat komponen yaitu, (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing) dan (4) refleksi (reflecting). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik pembelajaran Pemodelan Berjenjang dapat meningkatkan kemampuan membacakan berita kelas VIII B SMPN Satu Atap Merjosari Malang. Kemampuan siswa mengalami peningkatan secara bertahap dan mencapai hasil yang optimal pada siklus II. Peningkatan tersebut berupa peningkatan proses dan hasil. Peningkatan proses dapat dilihat dari bagaimana siswa mencoba menerapkan aspek-aspek membacakan berita. Dari aspek intonasi, pada tahap pratindakan siswa sangat kurang, meningkat pada siklus I, dengan adanya model siswa belajar meniru model yang ditampilkan secara langsung dan meningkat lagi pada siklus II, sebagian siswa sudah bisa memvariasikan intonasi lebih dari model yang ditampilkan. Dari aspek penjedaan, pada tahap pratindakan kemampuan awal siswa hanya mengerti arti simbol meningkat pada siklus I, siswa belajar menggunakan tanda jeda ke dalam kalimat berita, hasilnya pada siklus II mengalami peningkatan secara keseluruhan mampu menggunakan tanda jeda. Dari aspek pelafalan, pada tahap pratindakan kemampuan awal siswa sebagian besar cukup mampu, meningkat pada siklus I, siswa mampu melafalkan kata yang sulit meskipun hanya sedikit dan pada siklus II kemampuan siswa meningkat, sebelum membacakan siswa berlatih membacakan kata-kata sulit sehingga mereka mampu membacakan dengan lancar. Dari aspek mimik, pada tahap pratindakan kemampuan awal siswa sangat kurang, karena mimik paling sulit dipelajari meningkat pada siklus I, siswa mulai meniru mimik model pembaca berita dan meningkat lagi pada siklus II, siswa sebagian besar membacakan berita dengan percaya diri, dan mengiterpretasikan mimik dengan gayanya sendiri. Dari aspek kelancaran, pada tahap pratindakan kemampuan awal siswa cukup mampu, tetapi terlalu cepat membacanya dan hasilnya meningkat pada siklus I, siswa berlatih membaca berulang-ulang teks berita sehingga tampak lancar meningkat lagi pada siklus II, siswa berlatih membacakan dengan pelan kata-kata sulit secara berulang-ulang sehingga lancar dan temponya bervariasi. Selain dilihat dari deskripsi aspek-aspek membacakan berita, peningkatan juga dapat dilihat dari penilaian afektif, yaitu keaktifan, perhatian, dan kerjasama siswa. Dari segi keaktifan, pada tahap pratindakan siswa belum sepenuhnya aktif bertanya atau berkomentar. Pada siklus I, siswa sudah cukup mampu berkomentar meskipun singkat. Pada siklus II, siswa aktif memberikan komentar, disertai alasan yang jelas. Dari segi perhatian, pada tahap pratindakan siswa tidak antusias memperhatikan jalannya pembelajaran. Pada siklus I, siswa mulai tampak antusias memperhatikan saat guru memberikan contoh model, dan saat siswa lain membacakan berita. Pada siklus II, siswa memperhatikan dan mampu menanggapi penampilan siswa lain saat membacakan berita. Dari segi kerjasama, pada tahap pratindakan siswa sangat kurang dalam hal kerjasama selama pembelajaran dan belum bisa bekerja sama dalam kelompok. Pada siklus I, siswa mulai bisa bekerja sama dengan siswa maupun guru saat pembelajaran berlangsung. Pada siklus II, siswa sebagian besar sudah mampu bekerja sama dengan kelompok maupun saat pembelajaran membacakan berita berlangsung. Peningkatan hasil dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa sejak studi pendahuluan. Nilai rata-rata siswa siswa pada studi pendahuluan adalah 58,75% dan termasuk kualifikasi kurang. Nilai rata-rata siswa pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 15,45 poin, yaitu 74,20% dan termasuk kualifikasi cukup. Nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan yang optimal, sebesar 16,05 poin, yaitu 90,25% dan termasuk kualifikasi sangat baik. Kemampuan siswa membacakan berita di siklus II sudah mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan, yakni sebesar 75% sehingga dapat dikatakan bahwa siswa SMPN Satu Atap Merjosari sudah mampu membacakan berita dengan artikulasi dan intonasi yang tepat.

Mengembangkan Motif candi badut dalam penciptaan karya lukis gaya pribadi / Indra Lukmana

 

Kata Kunci: Mengembangkan, Motif Candi Badut, Penciptaan Lukisan, Gaya Pribadi. Lukisan merupakan media fisik wujud dari rangkuman ide gagasan yang dibulatkan menjadi konsep penciptanya. Merupakan tebaran pigmen atau warna cair pada permukaan bidang datar (kanvas, papan kayu, hardboard, kertas) untuk menghasilkan sensasi atau ilusi keruangan, gerak, tekstur, bentuk sama baiknya dengan tekanan yang dihasilkan kombinasi unsur-unsur tersebut. Mengembangkan yang dimaksud disini adalah mengolah motif Candi Badut menjadi objek lukisan. Motif Candi Badut merupakan bahan mentah yang dikembangkan menjadi salah satu objek dalam penciptaan karya lukis. pengembangan motif ini dilakukan sesuai dengan keinginan dan kesesuaian ide pencipta. Motif yang dikembangkan antara lain motif karamakala, motif kalanaga, dan motif manusia. Gaya pribadi merupakan karakteristik karya yang diciptakan oleh pencipta dan memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakan karya pencipta dengan karya orang lain, baik dari segi teknik penciptaan maupun non teknik. Yang termasuk dalam teknik penciptaan gaya pribadi antara lain teknik lelehan, teknik cipratan, penggunaan warna gelap, detail karya. Yang mencakup non teknis antara lain, konsep karya, penggunaan objek ikan arwana/koi yang menjadi ciri khas pencipta, latar belakang kehidupan pencipta, dan lingkungan hidup pencipta. Hasil dari pengembangan motif Candi Badut ini adalah visualisasi objek (motif Candi) dengan kombinasi gaya pribadi pencipta. Dalam penciptaan karya lukis ini menampilkan 7 karya lukis dengan media estetik berupa garis, warna, tekstur, bentuk dan ruang sebagai simbolisasi dari konsep, media fisik berupa kanvas, triplek, dan hardboard, cat acrylic, pigmen warna serta alat yang variatif. Menggunakan tiga teknik yaitu teknik leleh, cipratan, dan detail garis untuk cahaya, gelap terang, dan penegasan bentuk. Proses penciptaan ini diawali dengan pencarian ide gagasan, menentukan konsep, perancangan awal berupa sketsa, proses berkarya dengan teknik dan gaya pribadi pencipta, finishing karya dan pameran. Berdasarkan hasil penciptaan diharapkan dapat memberikan pengalaman baik berupa wujud, proses maupun kreatifitas melalui pemikiran pencipta dalam berkarya seni dan dapat memberikan stimulus pada pengamat.

Pengembangan inventori kematangan bagi siswa SMA negeri di kota Malang / Setyorini

 

Kata Kunci: Pengembangan, Inventori, Kematangan Karir Pengukuran kematangan karir merupakan langkah awal bagi konselor untuk menentukan jenis layanan atau bantuan yang akan diberikan kepada siswa . Data yang diperoleh melalui alat pengukuran kematangan karir sebaiknya juga di uji apakah data itu memang layak dijadikan dasar untuk memahami diri siswa. Lebih tepat bila dikatakan alat pengukur kematangan karir yang sudah melewati proses validasi instrumen khususnya validitas dan reliabilitas akan menghasilkan data yang lebih akurat. Selama ini belum pernah dikembangkan inventori kematangan karir yang dapat digunakan konselor sebagai alat pengukuran kematangan karir bagi siswa sekolah menengah. Inventori kematangan karir merupakan instrumen yang bermanfaat bagi siswa untuk mengetahui kematangan karirnya sendiri, praktis, dan mudah digunakan. Masalah penelitian ini berfokus pada perlunya pengembangan inventori kematangan karir yang memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai dan dapat digunakan konselor untuk mengukur kematangan karir siswa secara praktis dan sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inventori kematangan karir khususnya kematangan karir bagi siswa Sekolah Menengah Atas yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang memadai , serta menetapkan norma yang dapat dipergunakan sebagai pedoman. Inventori dikembangkan berdasarkan konstruk kematangan karir Super (1981) yang terdiri dari 4 aspek yaitu perencanaan karir (career planning), eksplorasi karir (career exploration), pembuatan keputusan (decision making), informasi dunia kerja (world of work information). Dalam penelitian ini digunakan rancangan penelitian dan pengembangan atau R&D (Research dan Development), untuk mengembangkan dan memvalidasi alat ukur psikologis sebagai salah satu produk penelitian. Model pengembangan ini terdiri dari atas siklus pengembangan yang lebih terurai dan sistematis. Sampel penelitian sebanyak 620 siswa SMA Negeri di Kota malang. Pemilihan sampel menggunakan teknik cluster random sampling Inventori kematangan karir dikembangkan mula-mula 160 item, dianalisis dengan analisis faktor eksploratori dihasilkan 54 item yang dinyatakan valid dengan loading factor ≥0,5 yaitu berkisar 0,565 sampai dengan 0,911 dan besar Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO-MSA) 0,729 pada signifikansi 0,00. Uji reliabilitas dengan menggunakan Cronbach Alpha memiliki tingkat reliabilitas α= 0,951. Hal ini berarti bahwa inventori kematangan karir hasil pengembangan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi. . Dari hasil penelitian ini disusun norma yang mengacu pada percentile. Norma ini merupakan norma lokal yang hanya dapat digunakan bagi Sekolah Menengah Atas Negeri dikota Malang. Jika akan digunakan pada siswa di luar populasi norma, maka harus diadaptasi lagi sesuai dengan karakteristik sekolah tersebut. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini disarankan (1) Inventori ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui kematangan karir siswa dengan di dukung alat pengumpulan data lain seperti observasi, wawancara mendalam dan lain sebagainya.(2) Pengukuran kematangan karir merupakan langkah awal bagi konselor sebelum menentukan layanan bantuan yang diberikan kepada siswa. Pemanfaatan hasil inventori kematangan karir ini sangat berguna bagi konselor untuk memahami pribadi siswa, melakukan diagnosa dan merencanakan kegiatan dan layanan.(3) Bagi peneliti yang berminat untuk mengembangkan inventori kematangan karir ini lebih lanjut, dapat mengembangkan inventori kematangan karir untuk siswa tingkat SLTP atau tingkat SD maupun untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi. (4) Pengujian validitas untuk penelitian berikutnya dapat digunakan pendekatan analisis faktor confirmatory yang menguji hipotesis, apakah konstruk kematangan karir yang dikembangkan berkorelasi tinggi dengan alat ukur lain yang dinyatakan valid. (5) Penetapan norma yang akan diterapkan /digunakan oleh daerah lain perlu menggunakan norma tersendiri sesuai populasi daerah dengan jumlah populasi yang lebih baik.

Studi komparatif tingkat kebugaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun pada SD Full Day dan SD Non Full Day di Kabupaten Probolinggo / Nasihuddin

 

Kata Kunci: Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa Putra Usia 10-12 Tahun Pada SD Full Day Dan Non Full Day. Kebugaran jasmani merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk menjaga ketahanan tubuh demi kelangsungan hidup, begitu pula dalam pendidikan jasmani, kebugaran jasmani sangatlah dibutuhkan sebagai penunjang di dalam proses belajar siswa. Aktivitas yang berhubungan dengan fisik dan pola hidup dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani siswa. Apabila aktivitas yang berhubungan dengan fisik dibatasi maka tingkat kebugaran jasmani akan terganggu. Berkaitan dengan masalah tingkat kebugaran jasmani terutama pada siswa putra usia 10-12 tahun pada SD Full Day dan Non Full Day dimana pada sekolah Full Day proses belajar mengajar di mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 15.30 sehingga waktu istirahat/waktu luang untuk beraktifitas di rumah sangat sedikit di banding sekolah Non Full Day. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat kebugaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun pada Sekolah Dasar Full Day dan Sekolah Dasar Non Full Day. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian survei. Penelitian survei adalah suatu penelitian yang dilakukan tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian, sehingga sering disebut penelitian noneksperimen. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok siswa putra usia 10-12 tahun yang dijadikan sampel mewakili kelompok anak usia 10-12 tahun, dan penelitian ini dilakukan dengan satukali tes pada waktu yang relative sama. Dari hasil penghitungan Uji One-Way Anova menggunakan program SPSS, pada siswa putra usia 10-12 di SD Full Day dan di SD Non Full Day. Tabel ANOVA menunjukkan nilai sig (0,00) < 0,05, maka H0 ditolak, yang berarti H1 diterima, maka terdapat perbedaan tingkat kebugaran jasmani siswa putra usia 10-12 pada SD Full Day dan SD Non Full Day. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai signifikansi kurang dari α=0,05, artinya H0 : tidak terdapat pebedaan tingkat kebugaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun pada SD Full Day dan SD Non full Day ditolak. jadi terdapat perbedaan tingkat kebugaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun pada SD Full Day dan SD Non full Day. Setelah mendapatkan gambaran tentang tingkat kebugaran jasmani siswa diharapkan kepada guru pendidikan jasmani pada SD Full Day agar memberikan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan tingkat kebugaran jasmani siswa. Bagi guru pendidikan jasmani pada SD Non Full Day diharapkan dapat menjaga dan mengembangkan tingkat kebugaran jasmani siswa agar menjadi lebih baik.

Pembelajaran teorema phytagoras dengan pendekatan inquiry untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada kelas VIII SMP semester 1 / Nina Ocktaiana

 

Kata Kunci: Pendekatan Inkuiri, Aktivitas, dan Hasil belajar Penelitian ini didasari rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep matematika khususnya pada materi Teorema Phytagoras. Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran masih terpusat pada guru, sehingga hasil belajar siswa belum memenuhi ketuntasan belajar di sekolah yaitu siswa yang memperoleh nilai 65 masih kurang dari 80%. Adapun data tentang ketuntasan hasil belajar siswa materi Teorema Phytagoras untuk tahun 2007/2008 adalah 74% dan tahun 2008/2009 adalah 66%. Berdasarkan temuan permasalahan tersebut direncanakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan inkuiri. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran Teorema Phytagoras; (2) untuk meningkatkan aktivitas siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1; (3) untuk meningkatkan hasil belajar siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1 sehingga dapat mencapai nilai dengan ketuntasan 80%. Penelitian ini mencoba untuk mengatasi permasalahan berikut: (1) bagaimana penerapan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran Teorema Phytagoras pada siswa kelas VIII semester 1? (2) bagaimana meningkatkan aktivitas siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1? (3) bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa setelah menggunakan pendekatan inkuiri pada materi Teorema Phytagoras kelas VIII semester 1? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana tiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Jabung Satu Atap tahun ajaran 2009/2010, yang terdiri dari 33 siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: (1) penerapan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri dilakukan 6 tahap kegiatan yaitu orientasi, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesi, dan membuat kesimpulan; (2) penerapan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa; (3) respon siswa pada pembelajaran dengan pendekatan inkuiri materi Teorema Phytagoras sangat positif.

Meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui strategi pembelajaran kooperatif tipe tutor sebaya untuk siswa kelas VII-F SMP Negeri 7 Malang / Umar Wirahadi Kusuma

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif tipe Tutor Sebaya, hasil belajar. Pembelajaran secara konvensional yang sering diterapkan oleh guru di sekolah mengakibatkan siswa tampak pasif selama proses pembelajaran berlangsung. Dan hal ini akan berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah. Salah Satu metode yang mampu mendorong siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif tipe tutor sebaya. Dalam pembelajaran kooperatif tipe tutor sebaya, mengutamakan model kerjasama antara siswa dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang akan dibimbing oleh teman sebaya yang berprestasi baik, siswa yang pandai mengajari yang lemah dan yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Sehingga tercipta pola interaksi tertentu diantara anggota kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran kooperatif tipe tutor sebaya yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII-F SMP Negeri 7 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 7 Malang pada bulan Oktober sampai dengan November 2012 dalam 2 tahap, yaitu pra tindakan dan tahap tindakan. Tahap tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri dari 3 pertemuan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-F SMP Negeri 7 Malang adalah diawali adanya presentasi kelas oleh guru, pembentukan kelompok secara heterogen, setiap kelompok dipimpin oleh tutor sebaya, guru mengontrol saat diskusi berlangsung, memberi waktu kepada siswa untuk presentasi kelas, dan diakhiri dengan membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang dipelajari. Sedangkan peningkatan ketuntasan belajar siswa dari hasil tes siklus I dan hasil tes siklus II sebesar 14,63%. Hal tersebut diperkuat dengan hasil observasi aktivitas siswa masuk dalam kategori “Baik” dan hasil observasi aktivitas guru masuk dalam kategori “Sangat Baik” pada siklus I dan II.

Pengaruh penguasaan mata diklat produktif dan minat siswa terhadap keberhasilan praktek kerja industri pada siswa pemesinan SMK Negeri Widang Tuban / Depit Krisbianto

 

Kata Kunci: Penguasaan Mata Diklat Produktif, Minat Siswa, Keberhasilan Praktik Kerja Industri. Praktik kerja industri merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang dilakukan oleh sekolah-sekolah kejuruan. Keberhasilan praktik kerja industri dalam DU/DI yang dibuktikan dengan meningkatnya prestasi praktik kerja industri siswa yang tercermin pada nilai sertifikat yang baik. Keberhasilan tersebut diperoleh dengan perpaduan dari faktor afektif, kognitif dan psikomotorik di setiap siswa. Faktor kognitif dalam penguasaan pengetahuan yang diperoleh siswa diimplikasikan kedalam faktor psikomotorik dalam praktik kerja industri dan didorong oleh minat atau keinginan atau kesadaran atau perasaan senang siswa dalam mengikuti praktik kerja industri sangat berpengaruh dalam keberhasilan praktik kerja industri dalam program PSG di SMK N Widang Tuban. Tujuan utama penelitian adalah Untuk mengetahui pengaruh minat siswa terhadap keberhasilan praktik kerja industri pada siswa kelas XII Program Keahlian Pemesinan di SMK Negeri Widang Tuban. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanasi. Penelitian ini dilakukan di SMKN Widang Tuban. Responden dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XII progam keahlian teknik pemesinan yang sudah melakukan praktik kerja industri berjumlah 36 anak. Teknik pengumpulan data data menggunakan angket dan dokumentasi, sedangkan analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik (uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas), regresi berganda, dan pengujian hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara penguasaan mata diklat produktif dan minat siswa terhadap keberhasilan praktik kerja industri. Hal ini berdasarkan analisis data persamaan regresi yaitu Y = 5,988 + 0,620 X1 + 0,403 X2, dengan uji simultan diperoleh Fhitung sebesar 29,793 dengan probabilitas 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu sebesar 0,05 (5%). Secara parsial dengan menggunakan uji t diperoleh thitung untuk variabel penguasaan mata diklat produktif (X1) sebesar 2,510 dengan probabilitas 0,017 < 0,05. Sedangkan thitung untuk variabel minat siswa (X2) sebesar 3,252 dengan probabilitas 0,003 < 0,05. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah siswa sebelum melakukan praktik industri diharapkan lebih mampu menguasai mata diklat produktif dengan menambah jam teorih dan memperbanyak praktik karena penguasaan mata diklat produktif berpengaruh sebersar 27,73% terdahap keberhasilan praktik kerja industri. Dalam penjaringan siswa baru diharapkan melakukan tes bakat teknik dan minat terhadap teknik mesin dan memantau terus proses belajar pada mata diklat produktif, supaya mengetahui minat siswa terhadap teknik mesin dan meningkatkan minat tehradap praktik kerja industry juga, karena minat siswa berpengaruh sebesar 37,04% terdahap keberhasilan praktik kerja industri.

Hubungan kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman oleh guru di sekolah / Asri Rahayu

 

Kata kunci: kematangan emosi, hukuman di sekolah Kematangan emosi merupakan kemampuan yang dimiliki untuk mengontrol emosi sehingga individu dapat bertingkah sesuai dengan situasi di lingkungan dan mampu mengendalikan emosi ketika berada dalam situasi sosial tertentu. Perilaku pemberian hukuman di sekolah merupakan tindakan guru dalam menghadapi pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, tindakan untuk menghukum siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman di sekolah. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Subyek penelitian ini adalah guru yang mengajar di SMP Negeri di Kecamatan Wates Kediri sebanyak 80 guru. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala kematangan emosi dan skala perilaku pemberian hukuman. Skala kematangan emosi terdiri dari 33 aitem dengan reliabilitas 0,908 dan skala perilaku pemberian hukuman terdiri dari 36 aitem dengan reliabilitas 0,897. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan emosi guru SMP Negeri di Kecamatan Wates sebagian besar dalam kategori cukup matang dengan persentase sebesar 46,25% dan perilaku pemberian hukuman oleh guru SMP Negeri di Kecamatan Wates sebagian besar dalam kategori cukup efektif dengan persentase sebesar 53,75%. Uji hipotesis menyimpulkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman di sekolah pada guru SMP Negeri di Kecamatan Wates (rxy=0,226; p=0,044< 0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku pemberian hukuman oleh guru di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan: (1) Guru diharapkan dapat mempertahankan serta meningkatkan kematangan emosi yang dimiliki, dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kematangan emosi guru, dan diharapkan menggunakan hukuman sebagai solusi terakhir, dalam memberikan hukuman guru diharapkan dapat memberikan hukuman yang efektif bagi para siswanya. (2) Sekolah diharapkan agar ikut berperan serta untuk mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kematangan emosi guru berupa pelatihan kematangan emosi dan dapat membuat kebijakan dan training tentang bagaimana cara memberi hukuman yang baik dan efektif. (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi untuk mengembangkan penelitian tentang kematangan emosi dan perilaku pemberian hukuman dan variabel lain yang berkaitan dengan kematangan emosi dan perilaku pemberian hukuman oleh guru di sekolah.

Pengaruh model pembelajan Formulate Share Listen Create ( FSLC ) terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VII MTs An Nur Bululawang / Romli Shodikin

 

Kata kunci: Formulate-share-listen-create, kemampuan berpikir kreatif, prestasi belajar Fisika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam yang memiliki fakta-fakta menarik untuk dipelajari, namun masih memiliki kendala pada proses pengajarannya. Kondisi ini disebabkan oleh kecenderungan guru untuk mengkomunikasikan fisika dengan cara menyampaikan informasi pada siswa serta cara pandang yang kurang tepat tentang kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis (1) pengaruh model pembelajaran FSLC terhadap prestasi belajar siswa ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif; (2) ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran yang digunakan dan kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar; (3) perbedaan prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan berpikir kreatif tinggi, jika belajar dengan model pembelajaran FSLC dibandingkan yang belajar dengan konvensional; (4) perbedaan hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan berpikir kreatif rendah, jika belajar dengan model pembelajaran FSLC dibandingkan dengan konvensional. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif kuasi eksperimen. Desain penelitian yang digunakan yaitu “ two groups postest design” eksperimen yang dilakukan pada dua kelompok dengan satu kelompok pembanding. Data penelitian berupa hasil tes prestasi dan tes kemampuan berpikir kreatif diperoleh dari siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis variasi dua jalur yang diambil dari tes prestasi belajar serta kemampuan berpikir kreatif siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran FSLC sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi cenderung mendapatkan prestasi lebih tinggi pula jika belajar dengan menggunakan model pembelajaran FSLC. Hal ini yang menjadi salah satu solusi bagi guru mata pelajaran ketika menyampaikan materi pembelajaran. Guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi namun harus memperhatikan metode yang digunakan. Karena metode sangat berpengaruh bagi penguasaan materi oleh siswa.

Kajian struktural populasi dan tingkah laku ekologis monyet ekor panjang (Macaca fascicularis, Raffles, 1821) di Pantai Bama Taman Nasional Baluran Kabupaten Situbondo / Milasa Nofitasari

 

Kata kunci: monyet ekor panjang, struktur populasi, tingkah laku ekologis. Pantai Bama merupakan salah satu kawasan yang berfungsi sebagai habitat monyet serta hewan darat dan air lainnya. Selain itu, Pantai Bama ini telah dikembangkan sebagai objek wisata karena pantainya yang indah dengan ombak yang tenang dan lokasinya yang sangat terjangkau. Dijadikannya Pantai Bama sebagai obyek wisata, kehidupan monyet ekor panjang di kawasan pantai ini perlu mendapat perhatian khusus karena jika kelestariaanya terganggu akan mengancam keberadaannya terutama jumlah populasi serta tingkah laku ekologisnya. Permasalahan dalam menjaga kelestariaanya adalah perlunya pengetahuan tentang struktur populasi, habitat, dan tingkah laku bagi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis, Raffles) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dengan menggunakan metode line transek, petak sampling, focal animal sampling, dan instantaneous sampling. Berdasarkan analisis data diketahui kondisi ekologis habitat monyet ekor panjang berada di kawasan hutan pantai dengan suhu udara 29,0⁰C- 31,3⁰C, kelembapan udara antara 44,0%-65,1%, dan kecepatan angin antara 0,0 ft/min-275,5 ft/min. Struktur populasi monyet ekor panjang di Pantai Bama memiliki struktur populasi yang lengkap terdiri dari jantan dewasa, betina dewasa, jantan remaja, betina remaja, dan anakan. Tingkah laku ekologis monyet ekor panjang di kawasan Pantai Bama meliputi tingkah laku makan, berpindah, grooming, beristirahat, dan kawin. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa kondisi ekologis dan struktur populasi berkaitan dengan tingkah laku ekologis monyet ekor panjang.

Pengaruh Project Based Learning terhadap motivasi belajar, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan kognitif siswa kelas X mata pelajaran Biologi di SMAN 1 Batu / Dewi Insyasiska

 

Kata Kunci: Project Based Learning, motivasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kemampuan kognitif. Pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran yang bersifat kontekstual karena diharapkan dapat merubah cara belajar siswa secara mandiri dengan meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kreativitas siswa dalam berkarya, memunculkan ide-ide kreatif serta melatih berpikir kritis, dalam menyikapi suatu masalah yang dihadapi di dunia nyata. Belajar tidak hanya sekedar tahu namun mampu memecahkan permasalahan, secara relevan dan kontekstual, kooperatif, dan dapat berkolaborasi untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan “The Non Equivalent Pretest-posttest Control Group Design”, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran project based learning terhadap peningkatan motivasi belajar, kreativitas siswa, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan kognitif siswa kelas X pada mata pelajaran Biologi di SMAN 1 Batu. Rancangan penelitian ini menggunakan pretest-posttes control group design. Data dianalisis dengan ANACOVA pada taraf signifikansi 0,05. Jika menunjukkan nilai Fhitung signifikan maka perlu dilanjutkan dengan uji homogenitas. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMAN 1 Batu dengan 12 kelas. Sampel penelitian dilakuan dengan teknik random sampling dengan 1 kelas kontrol yaitu kelas X-9 yang diberi pembelajaran secara konvensional, dan 1 kelas eksperimen yaitu kelas X-8 yang diberi pembelajaran berbasis proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa 1) terdapat pengaruh pembelajaran project based learning terhadap motivasi belajar siswa, berdasarkan hasil uji lanjut LSD rata-rata nilai terkoreksi motivasi belajar pada siswa yang mendapat pembelajaran proyek lebih tinggi 14,5% dari pada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional 2) Ada pengaruh pembelajaran project based learning terhadap kreativitas siswa, berdasarkan hasil uji lanjut LSD rata-rata nilai terkoreksi kreativitas pada siswa yang mendapat pembelajaran proyek lebih tinggi 31,1% dari pada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. 3) pembelajaran project based learning berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis yang ditunjukkan dari hasil uji lanjut LSD rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis pada siswa yang mendapat pembelajaran proyek lebih tinggi 34% dari pada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. 4) terdapat pengaruh pembelajaran project based learning terhadap kemampuan kognitif, berdasarkan hasil uji lanjut LSD rata-rata nilai terkoreksi kemampuan kognitif pada siswa yang mendapat pembelajaran proyek lebih tinggi 28,9% dari pada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Kesimpulannya project based learning dapat meningkatkan motivasi belajar, melatih kreativitas siswa dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kognitif siswa. Dengan pembelajaran berbasis proyek dapat memunculkan kemandirian siswa dalam belajar, memotivasi dan melatih siswa dalam bekerjasama dalam tim yang memunculkan ide-ide kreatif, yang pada akhir dari proyek ini siswa menghasilkan produk yang dapat menunjukkan pemikiran mereka secara kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada di sekitarnya yang berkaitan dengan materi biologi seperti permasalahan yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Dengan demikian maka pembelajaran secara kontekstual melalui pembelajaran proyek ini dapat membantu pemahaman siswa dan meningkatkan kemampuan kognitif siswa mulai dari menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan mencipta. Berdasarkan hasil penelitian ini sehingga pembelajaran berbasis proyek direkomendasikan untuk diterapkan oleh guru pada pelajaran biologi. Pembelajaran proyek dapat meningkatkan kuaitas pembelajaran tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, sehingga diperlukan manajemen waktu dan persiapan yang cukup bagi guru dalam melaksanakan PjBL.

Pengembangan Website berbahasa Inggris pada pelajaran Biologi berbasis Blended Learning materi sistem reproduksi manusia di SMA Negeri 5 Malang / Rifqi Hardiana Pragaswati

 

Kata kunci: pengembangan, website, blended learning, sistem reproduksi manusia Salah satu cara peningkatan layanan yang dapat dilakukan guru pada abad pengetahuan adalah dengan mengembangkan pembelajaran berbasis blended learning. Blended learning adalah pembelajaran yang memadukan pembelajaran tatap muka, offline, dan online. Salah satu cara melakukan pembelajaran secara online adalah dengan menggunakan website. Berdasarkan observasi di SMA Negeri 5 Malang, proses pembelajaran Biologi yang dilakukan telah melakukan pembelajaran berbasis blended learning dengan memanfaatkan website, tetapi pemanfaatannya kurang interaktif dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Ketuntasan klasikal sebelum penerapan website interaktif yang dilihat dari nilai ulangan harian materi Sistem Reproduksi Manusia tahun 2011 adalah sebesar 72,7%, padahal ketuntasan klasikal yang diharapkan adalah ≥ 85%. Oleh karena itu diperlukan media pembelajaran online yang bersifat interaktif, sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan website berbahasa Inggris pada pembelajaran biologi berbasis blended learning dan mengetahui tingkat kelayakannya pada materi Sistem Reproduksi Manusia untuk SMA kelas XI. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Thiagarajan (4D) yang terdiri dari: define, design, develop, dan dissiminate, tetapi tanpa tahap dissiminate. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, ahli pendidikan, ahli penerapan lapangan, dan siswa. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Sampel uji coba terbatas diambil dari peserta didik SMA Negeri 5 Malang. Hasil validasi website dari ahli materi menyatakan tingkat kelayakan dengan persentase 93%, ahli media 83,3%, ahli pendidikan 98,9%, ahli penerapan lapangan 84,9%, dan uji coba terbatas 87,4%. Dapat disimpulkan bahwa website yang dikembangkan dapat diterapkan pada siswa RSBI tingkat SMA.

Pengembangan media praktikum Smart Relay menggunakan Software Zeliosoft pada mata pelajaran PLC untuk SMK / Intan Renaningtyas

 

Kata kunci: Media, PLC, smart relay, zeliosoft Berdasarkan kajian kurikulum SMK secara umum terdapat kesenjangan antara pemahaman siswa dengan standar kompetensi khususnya pada mata pelajaran PLC. Untuk itu dalam penelitian ini diupayakan untuk mengembangkan media praktikum smart relay menggunakan software zeliosoft pada mata pelajaran PLC. Pengembangan media ini menggunakan model pengembangan Sugiyono atau Research and Development (R&D), atau disebut juga pengembangan produk baru. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai beberapa guru sekaligus beberapa siswa SMK PGRI 3 Malang sebagai studi kasus. Tujuannya untuk memperoleh gambaran solusi atas potensi dan masalah yang muncul, kebutuhan siswa terhadap media belajar yang praktis, efektif dan efisien. Validasi media yang sedang dikembangkan ini dilakukan oleh tim ahli media dan ahli materi. Media ini telah memenuhi kriteria tes validitas atau kelayakan. Media ini berhasil memperoleh rekomendasi dari ahli media dan materi masing-masing sebesar 86,11% dan 92,5%. Berdasarkan hasil uji coba pada calon pengguna (siswa) diperoleh persentase sebesar 87,1% menyatakan menarik, mudah, dan jelas.

Pengembangan blog pembelajaran mata pelajaran TIK pokok bahasan mengolah objek di Coreldraw kelas V semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 di SD My Little Island Malang / De Gaut Argadia Pradana

 

Kata Kunci: Pengembangan, Blog, TIK Perkembangan teknologi dan informasi beberapa tahun terakhir ini sangat pesat, sehingga mengubah paradigma masyarakat khususnya siswa dalam mencari dan mendapatkan informasi pembelajaran yang tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Dengan media pembelajaran berbasis komputer memungkinkan pembelajaran yang terkoneksi dengan jaringan Internet. Blog sebagai pembelajaran yang dapat dilakukan dengan bantuan jaringan Internet sehingga proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas dan pada waktu tertentu. Tujuan dari pengembangan ini adalah mengembangkan blog pembelajaran pelajaran TIK pokok bahasan mengolah objek di Coreldraw kelas V semester ganjil di SD Nasional Plus My Little Island Malang dan mengetahui efektifitas blog pembelajaran yang dihasilkan dari pengembangan ini. Metode pengembangan yang digunakan adalah model pembelajaran berbasis web Davidson-Shivers & Rasmussen dengan melaksanakan 6 tahapan pengembangan yang terdiri dari: (1) Analisis, (2) Rancangan Evaluasi, (3) Desain, (4) Pengembangan, (5) Uji Coba Implementasi Terbatas, (6) Evaluasi Formatif. Pengembanganmedia pembelajaran ini diujicobakan kepada siswa kelas V SD Nasional Plus My Little Island. Jenis data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif.Teknik pengumpulan data dalam pengembangan ini menggunakan instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes hasil belajar. Teknik analisis data yang digunakan antara lain: tanggapan ahli media, tanggapan ahli materi dan siswa dengan menggunakan kriteria kevalidan/kelayakan media pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan menggunakan tes hasil belajar untuk mengetahui apakah blog pembelajaranini dapat digunakan sebagai alternatif pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil pengembangan blog pembelajaran yang telah divalidasikan kepada ahli media, ahli materi. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh hasil sebesar 80,0%, ahli materi diperoleh hasil sebesar 83,3%. Serta diujicobakan kepada 3 siswa diperoleh hasil sebesar 83.3%, 16 siswa diperoleh hasil sebesar 80.3%. Maka dapat disimpulkan bahwa blog pembelajaran yang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid untuk digunakan di SD Nasional Plus My Little Island. Dengan ketuntasan klasikal minimal 80% dari 16 siswa, hasil tes hasil belajar siswa yang telah mencapai SKM 70 sebanyak 14 siswa (87,5%) dan yang belum mencapai sebanyak 2 siswa (12,5%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketuntasan klasikal minimal telah tercapai dan pengembangan blog pembelajaran efektif digunakan pada proses pembelajaran. Saran yang diajukan untuk pengembang berikutnya yaitu hendaknya lebih memperhatikan kompetensi guru dalam mengelola online learning, Sarana dan prasarana/ Teknologi dan materinya lebih singkat dan jelas.

Pembuatan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran pengolahan usaha jasa boga di SMK 1 Batu / Rizqi Dwi Amalia

 

Kata kunci: pembuatan, media pembelajaran interaktif, pengelolaan usaha jasa boga Media pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar saat ini lebih bersifat konvensional. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru lebih sering menggunakan media ajar berupa buku, modul, papan tulis penyajian materi kurang menarik untuk siswa. Oleh karena itu perlu dikembangkan media pembelajara interaktif sehingga kelemahan dalam media ajar berbentuk cetak dapat diatasi. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan media pembelajaran yang memiliki tingkat kemenarikan, kemudahan, keefektifan dan efisiensi yang memadai sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Pengelolaan Usaha Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu Langkah-langkah dalam pembuatan media pembelajaran interaktif, yakni (1) analisis kebutuhan, (2) rancangan media pembelajaran, (3) membuat media pembelajaran, (4) uji kelayakan, (5) revisi produk, (6) uji coba produk, (7) produk akhir. Validasi media pembelajaran interaktif dilakukan pada ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. Uji coba perorangan dilakukan kepada siswa kelas XII jasa boga di SMK Negeri 1 Batu. Jenis data pada penelitian ini adalah data deskriptif persentase berupa skor penilaian hasil penilaian media pembelajaran interaktif. Diperoleh tingkat kemenarikan media pembelajaran interaktif dengan nilai rata-rata persentase sebesar 90%, tingkat kemudahan diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 83,36%, tingkat keefektifan diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 83,75% dan tingkat efisiensi diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 85,4%, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembuatan media pembelajaran interaktif dinyatakan valid dan tidak perlu direvisi. Dari hasil persentase yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran interaktif yang dibuat memiliki tingkat kemenarikan, kemudahan, keefektifan dan efisiensi yang emadai sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Pengelolaan Usaha Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Role Playing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata diklat memberikan pelayanan kepada pelanggan (Studi pada kelas XI program keahlian administrasi perkantoran di SMK Negeri 1 Boyolangu Kabupaten Tulungagun

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Role Playing, Aktivitas, Hasil Belajar Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) penerapan model Role Playing pada mata diklat Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan, (2) aktivitas belajar siswa pada saat diterapkan model Role Playing pada mata diklat Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model Role Playing pada mata diklat Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan, (4) hambatan-hambatan dan solusi pada saat penerapan model Role Playing pada mata diklat Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian tindakan kelas atau PTK. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran 4 di SMKN 1 Boyolangu Kab, Tulungagung yang berjumlah 32 siswa. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu, menyusun rancangan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, catatan lapangan, angket, dokumentasi, dan tes. Analisis data penelitian meliputi tiga hal: (1) reduksi data dimulai pada saat observasi sebelum membuat latar belakang penelitian, dilanjutkan saat pelaksanaan penelitian dan setelah penelitian dilakukan; (2) penyajian data dilakukan setelah melakukan pengamatan yaitu setelah melakukan observasi dan pada saat pelaksanaan penelitian; dan (3) penarikan kesimpulan dilakukan pada saat awal sampai akhir pelaksanaan penelitian. Hasil penelitian ini diperoleh, aktivitas belajar bermain peran dengan nilai rata-rata 87,5 % mengalami peningkatan sebesar 8,34 %. Aktivitas belajar siswa dinilai pada setiap pertemuan, siklus ke-1 pertemuan pertama dan pertemuan kedua dengan nilai rata-rata sebesar 86,54 % mengalami peningkatan 0,18 %. Siklus ke-2 pertemuan pertama dan pertemuan kedua dengan nilai rata-rata 84,19 % mengalami penurunan 3,31 % dikarenakan siswa kurang begitu semangat pada saat diskusi kelompok, hanya beberapa siswa yang aktif mengerjakan. Aspek kognitif dinilai dari nilai pre test dan post test, untuk siklus ke-1 mengalami peningkatan pada pre test dan post test 1 sebesar 8,44 dengan nilai rata-rata pada pre test 77,25 menjadi 85,69. Siklus ke-2 mengalami penurunan antara post test 1 dan post test 2 sebesar 2,16 dengan nilai rata-rata 83,53 Kriteria Ketuntasan Minimal di SMKN 1 Boyolangu 75. Aspek afektif dari siklus ke-1 ke siklus ke-2 mengalami peningkatan sebesar 7,5 % untuk rata-rata nilai siklus ke-1 81,67 % dan siklus ke-2 89,17%. Aspek psikomotor dari siklus ke-1 ke siklus ke-2 mengalami peningkatan 8,36 %, nilai rata-rata siklus ke-1 75 % dan siklus ke-2 83,36 %. Beberapa saran yang dapat diberikan antara lain: (1) bagi sekolah dapat memberikan acuan kepada sekolah untuk mencoba menerapkan pada mata pelajaran lain yang memiliki kemiripan teori atau praktik, dan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal; (2) guru, dapat menggunakan model Role Playing dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal dalam kelas dan sekolah; (3) siswa, melatih berpikir kritis pada saat berdiskusi di dalam memecahkan suatu permasalahan, berani mengungkapkan pendapat pada saat berdiskusi, dapat meningkatkan aktivitasnya ketika proses pembelajaran berlangsung; dan 4) peneliti berikutnya, lebih memahami model Role Playing sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif yang efektif untuk meningkatkan aktivitas siswa, serta dapat mengkolaborasikan model pembelajaran Role Playing dengan model pembelajaran lainnya yang sesuai dengan kondisi siswa.

Profil guru ekonomi SMA di kota Malang / Syahrul Munir

 

Kata Kunci: Komitmen, Pengembangan diri, Kesejahteraan, Kompetensi Guru Pendidikan ekonomi pada dasarnya merupakan suatu bidang kajian tentang bagaimana menyiapkan individu manusia agar memiliki wawasan dan sikap (melek) ekonomi, sesuai tuntutan perkembangan zaman. Hal tersebut senanda dengan yang diungkapkan oleh Santomero (2003) di dalam konferensi tahunan Pennsylvania Economic Association di West Chester University of Pennsylvania, Amerika Serikat, bahwa Pendidikan ekonomi sangat penting bagi masa depan ekonomi bangsa, karena dengan pendidikan ekonomi masyarakat bisa lebih paham terhadap masalah ekonomi, keuangan serta peristiwa ekonomi yang akan mempengaruhi masa depan masyarakat. Pentingnya pendidikan Ekonomi menjadikan peran seorang pendidik ekonomi menjadi sangat penting, karena untuk mewujudkan SDM (pelaku ekonomi) yang bermutu, yang memiliki wawasan dan sikap (melek) ekonomi, sesuai tuntutan perkembangan zaman, dibutuhkan pendidik (guru) ekonomi yang benar-benar berkualitas (profesional). Dengan keprofesionalannya diharapkan guru ekonomi dapat mengajarkan ilmu ekonomi dengan baik, sehingga dapat menghasilkan insan/pelaku ekonomi yang benar-benar sesuai dengan tuntutan zaman. Begitu sangat strategisnya kedudukan guru sebagai tenaga professional dan pentingnya pendidikan ekonomi membuat peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian terkait dengan profil guru Ekonomi, agar kita tahu bagaimana sebenarnya keadaan guru Ekonomi yang ada di lapangan dalam menjalani profesi keguruannya, sehingga nantinya bisa dijadikan sebagai rujukan untuk melihat kualitas guru Ekonomi dan sebagai langkah lebih lanjut untuk melakukan upaya peningkatan guru Ekonomi. Dilakukannnya penelitian ini di kota malang, karena dari informasi yang diperoleh peneliti dikatakan bahwa guru-guru Ekonomi SMA di kota Malang meraih nilai yang cukup memuaskan dalam uji kompetensi Guru (UKA) secara nasional yang diselenggarakan bulan februari 2012 oleh Kemendikbud. Nilai yang diperoleh berada di atas rata-rata nasional yaitu 42,25. (kompas,2012/03/16). Hal inilah yang menjadi alasan kuat bagi peneliti untuk melihat gambaran profil dari guru Ekonomi SMA yang ada di kota Malang, yang nantinya juga bisa dijadikan sebagai cermin bagi guru-guru Ekonomi di daerah lain yang dalam uji kompetensi Guru (UKA) memperoleh nilai kurang memuaskan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkap profil dari guru Ekonomi di kota Malang yang berkaitan dengan kompetensi guru ekonomi, komitmen guru ekonomi terhadap profesi, upaya pengembangan diri guru ekonomi, dan kondisi status sosial ekonomi/kesejahteraan guru ekonomi. Sesuai dengan bentuk pendekatan penelitian Kualitatif dan sumber data yang akan digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan analisis dokumen, observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan bahwa (1) Baik guru yang pada awalnya sudah berkeinginan atau tidak untuk menjadi guru, sama-sama memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya sebagai guru. Nilai-nilai komitmen guru terhadap profesi itu sangat penting dalam menjalankan tugas-tugas sebagai guru, sehingga jika guru memiliki komitmen terhadap profesi maka mereka akan dapat meningkatkan performance kerja para guru; (2) Upaya pengembangan diri guru dilakukan dengan mengikuti pelatihan, workshop, diklat, seminar, pembinaan bahkan guru juga ada yang mengikuti kursus bahasa Inggris & IT (Ilmu dan Teknologi) untuk menunjang profesinya sebagai seorang guru. Upaya pengembangan diri guru, dapat menjadikan guru ekonomi menjadi seorang profesional dalam menjalankan tugas-tugas keguruan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas; (3) Guru-guru Ekonomi di kota Malang dapat dikatakan telah mampu mencapai tingkat kesejahteraan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, oleh karena penghasilannya cukup untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membiayai pendidikan anak, bahkan untuk anggaran peningkatan kualitas diri; (4) Guru Ekonomi di kota Malang telah mampu menguasai kompetensi pedagogik, Kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut diperoleh dan dikembangkan dari banyaknya pengalaman mengajar dan upaya pengembangan diri guru baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini adalah untuk peneliti selanjutnya, agar bisa menambah informan guru dari guru Ekonomi Madrasah Aliah (MA) agar bisa menggambarkan keadaan Guru Ekonomi secara menyeluruh di kota Malang, untuk pembaca khususnya guru Ekonomi agar lebih termotivasi untuk meningkatkan lagi kualitas diri, dan kemampuan dalam profesi keguruannya, untuk Universitas Negeri Malang diharapkan bisa memberikan tambahan pengetahuan kepada calon-calon pendidik terkait dengan gambaran guru Ekonomi di kota Malang.

Pembelajaran PKN dengan menggunakan media VCD interaktif (BSE) sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMPN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung / Sabrina Peggysari

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Media, VCD Interaktif (BSE), PKn, Upaya, Meningkatkan Hasil Belajar. Sebagai suatu sistem, pembelajaran melibatkan berbagai komponen proses pembelajaran yang semakin kompleks. Salah satu komponen tersebut adalah media. Media pembelajaran merupakan penyampai informasi dari guru kepada siswa. Media merupakan komponen integral dalam proses pembelajaran. VCD interaktif merupakan sebuah media yang berisikan format multimedia didalam satu rangkaian sistematis didalam hardwere berupa CD (Compac Disk) dengan tujuan interaktif didalamnya. Salah satu jenis VCD interaktif ini adalah Buku Sekolah Elektronik (BSE). Buku sekolah elektronik ini berisi materi, animasi, gambar dan musik. Fungsi dari media adalah menekan angka noise (gangguan tak terencana dalam komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain dari komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya) dan Barries (penafsiran yang kurang berhasil atau yang tidak berhasil atau gagal disebabkan oleh adanya kekurang berhasilan atau kegagalan dalam memahami segala sesuatu yang didengar, dibaca, dilihat dan diamati), menciptakan situasi belajar yang kondusif dan memberikan motivasi kepada siswa agar lebih tertarik dengan pembelajaran PKn. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal, yang mencakup kesesuaian Kompetensi Dasar dan Indikator, langkah-langkah pemggunaan media VCD interaktif (BSE), pelaksanaan pembelajaran PKn menggunakan VCD Interaktif (BSE), penggunaan media VCD Interaktif (BSE) dapat meningkatkan hasil belajar, kendala yang dihadapi saat menggunakan media VCD Interaktif (BSE), upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam penggunaan media VCD Interaktif (BSE) pada kelas IX SMPN 1 Pucanglaban. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif untuk menjawab pertanyaan diatas. Dalam hal ini peneliti adalah instrumen utama. Data penelitian ini adalah berupa penjelasan dan pemaparan oleh guru mata pelajaran PKn dan siswa kelas IX di SMPN 1 Pucanglaban. Pengumpulan data dilaksanakan dengan dokumentasi, pedoman wawancara dan catatan lapangan. Dalam penelitian ini triangulasi sumber data, teori dan metodologi digunakan untuk mengecek keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pembelajarn, kompetensi dasar dan indikator yang disusun dalam Silabus dan RPP kurang ditaati, namun pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan media VCD Interaktif (BSE) berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan nilai siswa dari nilai sebelum menggunakan media VCD Interaktif (BSE) sampai nilai siswa setelah menggunakan media VCD Interaktif (BSE) mengalami peningkatan yang i siknifikan. Pembelajaran menggunakan media VCD interaktif (BSE) di SMPN 1 Pucanglaban memiliki kendala teknis dan nonteknis. Kendala teknis ini adalah kendala sarana dan prasarana yang belum memadai. Seperti kelas yang belum memiliki aliran listrik sehingga kelas harus dipindahkan ke laboratorium biologi. Ketersediaan LCD yang hanya berjumlah 2 unit, menuntut guru untuk bergantian menggunkan multimedia. Upaya yang telah dilakukan sekolah adalah meminta bantuan kepada DIKNAS dan Kepada Komite sekolah. Pemerataan dalam hal sarana dan prasarana menjadi satu tugas penting bagi pemerintah. Agar penyelenggaraan pembelajaran berbasis IT dapat terselenggarakan dengan maksimal. Selain sarana dan prasarana hendaknya guru sebagai motivator, manager dan fasilitator selalu belajar dan mengembangan dirinya. Agar pembelajaran bisa lebih menarik dan selalu menyenangkan.

Kepaduan dan keruntunan hubungan antar kalimat dalam paragraf deskripsi siswa kelas X.1 SMA Brawijaya Smart School Malang / Arahman Alfan Subarkah

 

Kata Kunci : kemampuan menulis, paragraf deskripsi. Pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia di SMA memiliki tujuan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Untuk dapat menguasai kemampuan berkomunikasi, mata pelajaran bahasa indonesia dibagi menjadi empat aspek keterampilan. Empat aspek kersebut adalah membaca, menulis, mendengar atau menyimak, dan berbicara. Di antara empat aspek keterampilan bahasa Indonesia, terdapat dua aspek keterampilan yang bersifat aktif. Dua aspek tersebut adalah membaca dan menulis. Karena dengan menguasai dua aspek tersebut, siswa dapat mengembangkan keterampilan yang bermanfaat bagi masa depannya. Pembelajaran menulis memiliki bermacam-macam jenis. Salah satu jenis kegiatan menulis yang diajarkan di SMA kelas X adalah menulis paragraf deskripsi. Deskripsi adalah suatu bentuk wacana yang menggambarkan ata mendeskripsokan sesuatu. Kemampuan menulis paragraf deskripsi perlu dikuasai agar siswa terlatih untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam mengamati, memahami serta menggambarkan suatu objek dengan terperinci. Tujuan penelitian yaitu (1) Keruntutan hubungan antarkalimat dalam paragraf deskripsi (2) Kepaduan hubungan antarkalimat dalam paragraf deskripsi. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif karena peneliti mendeskripsikan atau menggambarkan dengan kata-kata secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pargraf deskripsi siswa belum menunjukkan keruntutan antar kalimat. Hal ini di tandai dengan belum sesuai pola urutan tempat. Dalam kepaduan hubungan antar kalimat paragraf deskripsi ditemukan banyaknya kesalahan dalam penggunaan kata ganti dan kata penghubung.

Analisis perbedaan kinerja guru akutansi yang belum dan yang sudah tersertefikasi di SMA Negeri se-kota Malang / Agustiningsih

 

Kata Kunci: Kinerja Guru, Belum Tersertifikasi, Sudah Tersertifikasi Peran dan tugas yang diemban oleh guru sangat berat, maka kinerja guru yang berkualitas sangat dibutuhkan sebagai proses pembelajaran untuk memperoleh hasil yang optimal. Untuk mengetahui meningkatnya kualitas kinerja guru tidak mudah, dengan adanya sertifikasi diharapkan kinerja guru akan meningkat. Oleh karena itu perlu diketahui perbedaan kinerja guru yang sudah tersertifikasi dengan kinerja guru yang belum tersertifikasi. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru, yang bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional serta meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan. Kinerja guru yang dimaksud adalah prestasi kerja, hasil kerja dan pencapaian kerja guru dalam menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Penelitian ini dilakukan di seluruh SMA Negeri di Malang, dimana populasi dalam penelitian ini adalah semua guru akuntansi yang berjumlah 16 orang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang meliputi analisis frekuensi, prosentase, mean, grafik dan uji T-Test. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kompetensi pedagogik guru yang sudah tersertifikasi lebih baik dari kompetensi pedagogik guru yang belum tersertifikasi dengan perbedaan mean sebesar 0,4149, p = 0,296 > 0,05; (2) Kompetensi kepribadian guru yang sudah tersertifikasi lebih baik dari kompetensi kepribadian guru yang belum tersertifikasi dengan perbedaan mean sebesar 0,6677, p = 0,164 > 0,05; (3) Kompetensi sosial guru yang sudah bersertifikasi lebih baik dari kompetensi sosial guru yang belum tersertifikasi dengan perbedaan mean sebesar 0,69124, p = 0,714 < 0,05; (4) Kompetensi profesional guru yang belum tersertifikasi lebih baik dari kompetensi profesional guru yang sudah tersertifikasi dengan perbedaan mean sebesar 0,4580, p = 0,389 > 0,05; dan (5) kinerja guru yang sudah tersertifikasi lebih baik dari kinerja guru yang belum tersertifikasi dengan perbedaan mean sebesar 5457 p = 0,243 < 0,05. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada pihak sekolah terutama kepala sekolah agar lebih memperhatikan kinerja guru yang belum tersertifikasi, sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan para peserta didik serta membawa dampak yang baik pula pada sekolah.

Evaluasi diri menggunakan analisis swot di klub perpani "Hardha Dhedhali" Pengcab kota Batu / Pembayun Pandam Asmara

 

Kata Kunci : Evaluasi Diri, Klub PERPANI, Analisis SWOT Dalam membentuk suatu atlet yang berkompeten tinggi, sebuah klub tidak hanya harus memiliki tujuan dan program-program latihan yang sistematis untuk atletnya, namun juga harus diimbangi dengan sistem organisasai dan manajemen yang baik pula. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan dari pembinaan atlet yang berkualitas seperti yang terpapar di atas, dibutuhkan sebuah wadah atau suatu organisasi untuk melaksanakan program-program latihan yang sistematis dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu berdasarkan analisis SWOT (Kekuatan/Kelebihan, Kelemahan/Kekurangan, Ancaman dan Peluang). Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan diskriprif kuantitatif dengan analisis data SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Teknik pengumpulan data menggunakan angket terbuka dan angket tertutup, serta dokumentasi. Faktor-faktor pendukung Strengths (Kekuatan) Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota adalah (a) visi, misi dan tujuan yang dimiliki klub memiliki kejelasan dan kerealistisan visi, misi, dan tujuan, (b) tersetrukturnya tata kelola, (c) tata kelola memenuhi tiga aspek dari lima aspek penting dari organisasi yaitu sistematis, tersetruktur, transparan, bertanggung jawab dan adil, (d) kepemimpinan yang dimiliki, berdasarkan responden seluruh anggota klub tergolong demokratis dan transparan, (e) pelatih yang berkompeten dan berkualitas dalam bidangnnya khususnya dalam cabang olahraga panahan, (f) cukup menghasilkan atlet yang berprestasi, (g) program-program latihan yang bervariatif, (h) kesesuaian strategi latihan yang dipimpin oleh pelatih, i) kemampuan atlet memahami materi yang diberikan oleh pelatih tergolong mampu memahami dan menjalankan materi, dan j) kerjasama yang terjadi diantara seluruh anggota klub. Kemudian faktor-faktor penyebab Weaknesses (Kelemahan), Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota adalah (a) kurangnya terealisasinya visi, misi dan tujuan klub, (b) kefektifan proses pencapaian visi, misi dan tujuan awal klub klub perpani “hardha dhedhali” pengcab kota batu ini, (c) terdapat peran ganda dalam susunan tugas kerja tata kelola, (d) gaya kepemimpinan yang demokratis memiliki kelemahan yaitu dalam mencapaian mufakat dalam setiap musyawarah, pengambilan keputusan tidak dapat diambil secara cepat, (e) masih tergong cukupnya bakat atlet yang dimiliki, (f) pemenuhan target perekrutan atlet yang tergolong cukup memenuhi, (g) tidak adanya kurikulum yang secara langsung menjadi landasan proses latihan klub berdampak kurang terarahnya ii tujuan latihan, (h) kurang memadainya sarana dan prasarana latihan. hal ini dikarenakan sarana dan prasarana untuk cabang olahraga panahan membutuhkan pendanaan yang besar, dan (i) kurang baiknya kerjasama yang terjadi antara klub dengan pihak luar yang bersangkutan. Selanjutnya dalah faktor-faktor pendukung adanya Opportunities (Peluang) bagi Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu adalah (a) dengan adanya kejelasan visi, misi maupun tujuan klub, memberikan pemahaman terhadap seluruh anggota klub dan memberikan peluang pencapaian oleh setiap anggota klub dikarenakan visi, misi dan tujuan klub realistis, (b) dukungan yang diberikan oleh tata kelola klub akan mempermudah klub dalam pencapaian visi, misi dan tujuan klub, (c) meskipun belum terlaksana, regenerasi kepengurusan yang akan diadakan setiap masa jabatan, akan menjadi peluang munculnya ide-ide atau kebijakan-kebijakan baru, (d) kepemimpinan demokratis dan transparan akan menghasilkan kesepakaran dan keputusan yang tepat karena dilakukan secara musyawarah antar seluruh anggota klub, (e) latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh pelatih hanya tergolong cukup mendukung, (f) program-program latihan yang bervariatif dapat sedikit menghindari permasalahan sarana dan prasarana, (g) cukup efektifnya pelaksanaan program-program latihan, (h) kesesuaian program-program latihan dengan minimnya sarana dan prasarana panahan yang dimiliki menimbulkan peluang bagi atlet untuk mengembangkan bakatnya,( i) kerjasama yang terjadi diantara seluruh anggota klub, dan (j) kerjasama dengan masyarakat sekitar akan membantu klub dalam mengembangkan klub dalam hal jumlah atlet dan lebih tersetruktrurnya kepengurusan. Dan yang terakhir adalah faktor-faktor penyebab Threats (Ancaman) Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu adalah (a) kurangnya memadainya sarana dan prasarana klub, (b) proses kerjasama dengan pihak luar kurang baik dalam segi pendanaan, mengancam kurang efektifnya pencapaian visi, misi dan tujuan klub, (c) adanya beberapa tugas ganda yang dikerjakan oleh satu orang akan menghambat kinerjanya, (d) ancaman yang akan dihadapi oleh klub perpani “hardha dhedhali” pengcab kota batu yang memiliki sistem kepemimpinan demokratis adalah jika terjadi suatu keadaan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat, (e) kurang ketatnya proses perekrutan atlet, (f) dengan tidak adanya kurikulum tertulis dan secara langsung mengatur jalannya pelaksanaan latihan, akan mempersulit pelatih untuk menyampaikan setiap materi latihan, (g) kurang memadainya sarana dan prasarana latihan akan menjadi ancaman bagi atlet dan klub dalam menghasilkan atlet yang berkualitas dan berkompeten dan pencapaian visi, misi dan tujuan bagi klub, dan (h) kurang baiknya kerjasama yang terjadi antara klub dengan pihak luar yang bersangkutan akan berakibat kurang maksimalnya pemenuhan kebutuhan klub dalam hal pendanaan klub dan pemenuhan sarana dan prasarana klub yang masih tergolong kurang menunjang. Dari hasil persentase perhitungan frekuensi jawaban seluruh responden terbanyak di setiap butir pertanyaan yang diberikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Klub PERPANI “Hardha Dhedhali” Pengcab Kota Batu memiliki organisasi yang Cukup Baik dengan persentase perhitungan 60,99%.

Multiple depot vehicle routimh problem with backhauls menggunakan algoritma clark and wright dengan 2-OPT dan penerapannya

 

Kata Kunci : Vehicle Routing Problem(VRP),Multiple Depot Vehicle Routing Problem With Backhauls(MDVRPB), Algoritma Clark and Wright, 2-Opt. Permasalahan penyediaan barang atau jasa dari depot (pusat distribusi) ke customer yang letaknya tersebar di berbagai tempat atau lokasi merupakan salah satu contoh dari permasalahan distribusi. Letak customer yang tersebar di berbagai tempat seringkali menyebabkan kendaraan menempuh jarak yang jauh, sehingga hal tersebut kurang efisien. Salah satu konsep pada teori graph yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah ini yaitu VRP, sedangkan salah satu pengembangan dari permasalahan VRP yaitu MDVRPB yang merupakan pengembangan dari VRP dengan penambahan kendala dengan kondisi depot sebagai pusat distribusi barang terdapat lebih dari satu dan customer dapat melakukan permintaan berupa pengiriman barang atau berupa pengambilan barang. Permasalahan MDVRPB yang dibahas diselesaikan dengan menggunakan Algoritma Clark and Wright dengan 2-Opt digambarkan dengan suatu graph. Gambar graph tersebut dianggap sebagai peta yang menjelaskan kemungkinan jalur yang dapat dilewati dengan setiap titik mewakili depot dan customer, setiap sisi menunjukkan jalan yang menghubungkan antar titik dan setiap bobot pada sisi mewakili jarak antara kedua titik tersebut. Algoritma Clark and Wright yang digunakan yaitu berbasis saving. Secara umum, nilai saving didefinisikan sebagai ( ) ( ) ( ) ( ), dimana ( ) adalah jarak dari depot ke customer dan ( ) adalah jarak dari customer ke customer . Pembentukan rute kendaraan dimulai dari customer dan yang memiliki nilai saving terbesar. Setelah diperoleh rute maka akan ada perbaikan tiap rute dengan menggunakan algoritma 2-Opt.Sedangkan penentuan depot yang melayani customer berdasarkan pada perbandingan nilai jarak customer pada depot dan nilai saving terkecil yang mungkin terbentuk pada keseluruhan depot. Berdasarkan empat contoh yang telah dibahas diketahui bahwa Algoritma Clark and Wright dengan 2-Opt yang digunakan menghasilkan jarak tempuh dan rute kendaraan yang minimum karena terdapat perbaikan rute sehingga menghasilkan rute yang optimal.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa VII-G SMPN 07 Malang pada materi pertidaksamaan linear satu variabel / Herlina Binti Marthin

 

Kata Kunci : pembelajaran kooperatif tipe STAD, pertidaksamaan linear satu variabel. Matematika dianggap pelajaran yang sulit oleh kebanyakan siswa. Salah satu hal yang berpengaruh terhadap hasil pembelajaran matematika adalah metode pembelajaran matematika. Metode pembelajaran matematika yang lebih mengutamakan hafalan daripada pengertian menyebabkan pemahaman konsep siswa kurang. Penerapan model pembelajaran yang tepat akan menentukan efektifitas proses belajar mengajar. Pembelajaran kooperatif model STAD merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki potensi lebih dalam meningkatkan prestasi belajar siswa serta merupakan model yang paling sederhana dan dapat diterapkan pada hampir semua materi pelajaran yang menekankan pemahaman konsep. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa SMPN 07 Malang dengan menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi : 1) hasil tes/kuis, 2) hasil pengamatan lapangan (siswa dan guru), 3) hasil catatan lapangan. Pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pertidaksamaan linear satu variabel memiliki empat komponen, yaitu (1) presentasi kelas: menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang dipelajari secara garis besar, (2)kerja kelompok: terdiri dari 4-5 orang untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi, (3) Kuis/tes secara individu: kuis diberikan pada setiap siswa dan siswa tidak diperkenankan untuk bekerja sama. (4) Penghargaan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada siklus I prosentase siswa yang mendapat nilai kuis ≥ 75 sebesar 68,4% pada pertemuan pertama dan 73,68% pada pertemuan kedua, sedangkan pada pada siklus II prosentase siswa yang mendapat nilai kuis ≥ 75 sebesar 78,5% pada pertemuan pertama dan 85,37% pada pertemuan kedua. Peningkatan juga dapat dilihat pada prosentase nilai aktivitas siswa terlihat pada siklus I prosentase siswa yang mendapat nilai aktivitas siswa ≥ 75 sebesar 65,79% pada pertemuan pertama dan 76,92% pada pertemuan kedua, sedangkan pada pada siklus II prosentase siswa yang mendapat nilai aktivitas siswa ≥ 75 sebesar 90,24 % pada pertemuan pertama dan 92,68% pada pertemuan kedua. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti menyarankan kepada guru matematika untuk menerapkan model pembelajaran STAD pada materi pertidaksamaan linear satu variabel.

Persepsi siswa tentang kompetensi guru bidang studi produktif keahlian teknik pemesinan di SMK RSBI se-malang Raya sebagai salah satu alat evaluasi mutu sekolah / Danang Yugo Pratomo

 

Kata kunci: persepsi siswa, kompetensi guru, evaluasi, SMK. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pendidikan kejuruan tingkat menengah yang disediakan Pemerintah dalam rangka menyiapkan tenaga kerja menengah siap pakai. Sehubungan dengan hal itu, hendaknya pendidikan dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dapat dilakukan dengan monitoring dan evaluasi. Karena guru dianggap faktor terpenting dalam keberhasilan pendidikan di sekolah, maka guru tak lepas dari monitoring dan evaluasi oleh sekolah. Pada dasarnya proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di mana guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses pembelajaran di dalam kelas. Dengan adanya evaluasi akan memberi gambaran dan tindak lanjut yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemajuan sekolah sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, kepentingan akuntabilitas publik, memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan, dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMK RSBI se-Malang Raya. Responden dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X dan XI Jurusan Teknik Pemesinan pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 200 siswa. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kompetensi guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas menurut persepsi siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan teknik dokumentasi, sedangkan analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru bidang studi produktif keahlian teknik pemesinan di SMK RSBI se-Malang Raya termasuk dalam kriteria baik dengan persentase 70,63%, dan persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru bidang studi produktif keahlian teknik pemesinan di SMK RSBI se-Malang Raya termasuk dalam kriteria baik dengan persentase 67,27%. Kompetensi profesional (70,63%) dan kompetensi pedagogik (67,77%) guru bidang studi produktif keahlian teknik pemesinan di SMK RSBI se-Malang Raya dalam kriteria baik ini sudah sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005, penjelasan pasal 28 ayat 3, butir (a) dan (c) tentang kompetensi pedagogik dan profesional. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah merekomendasikan pihak sekolah untuk secara aktif dan berkala selalu memonitoring proses pembelajaran dengan evaluasi melalui studi dokumentasi, kuesioner (angket), pengamatan dan wawancara serta penilaian portofolio. Hasil evaluasi akan memberikan gambaran mengenai kinerja dan keadaan sekolah, khususnya keadaan tenaga pendidik. Menugaskan guru untuk menuntaskan terlebih dahulu jenjang pendidikan strata satu (S1) bagi guru yang belum lulus dan yang belum memiliki akta mengajar, menugaskan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kompetensinya seperti diklat-diklat keguruan dan keahlian, mengikuti program strata dua (S2) melalui jalur beasiswa, dan aktif dalam kegiatan MGMP. Saran kepada guru bidang studi produktif keahlian teknik pemesinan merekomendasikan agar membuat membuat RPP yang baik, logis dan sistematis sesuai dengan tujuan belajar yang akan dicapai. Menerapkan metode dan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan bervariasi. Dapat menerapkan penilaian hasil belajar yang tepat sasaran, sesuai dengan tujuan belajar dalam RPP. Memperbaiki dan melatih performanya yang dinilai kurang baik dalam mengajar.

Penerapan Student Team Achievement Division (STAD) yang dipadu dengan mind mapping untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IA 2 di SMA Negeri 7 Malang / Hanif

 

Kata kunci: STAD, Mind Mapping, Motivasi Belajar, Hasil Belajar STAD (Student Team Achievement Divisions) merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang memiliki beberapa kelebihan, antara lain: dapat melatih kerjasama siswa dengan baik. Mind Mapping merupakan teknik mengingat yang sangat efektif dalam memahami konsep. Perpaduan STAD dan Mind Mapping diberikan agar siswa memiliki rasa tanggung jawab kelompok, dan lebih antusias dalam memperhatikan serta merangkum penjelasan guru saat di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan STAD yang dipadu dengan mind mapping dalam pembelajaran Biologi pada siswa kelas XI di SMA Negeri 7 Malang; (2) mendeskripsikan pelaksanaan STAD yang dipadu dengan mind mapping dalam pembelajaran Biologi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI di SMA Negeri 7 Malang; (3) mengetahui respons siswa mengenai penggunaan Mind Mapping dalam pembelajaran Biologi di SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbasis Lesson Study (LS) dengan menggunakan dua siklus. Hasil penelitian tindakan menunjukkan: 1) penerapan STAD dipadu Mind Map memiliki keterlaksanaan pembelajaran sangat baik dengan tahap (Plan, Do, See) dalam LS yang digunakan dalam perbaikan pada setiap pertemuan, 2) penerapan STAD dipadu Mind Map berhasil meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Selanjutnya penerapan STAD Mind Map ini membutuhkan instruksi yang jelas, dan pengelolaan waktu yang baik.

Peningkatan hasil belajar kognitif dan afektif dengan menggunakan metode syndicate group di SMKN 1 Bondowoso (pada mata pelajaran mengelola kartu piutang) / Aning Retno Susanti

 

Kata kunci: Metode Syndicate Group, Sekolah Menengah Kejuruan, Mata Pelajaran Mengelola Kartu Piutang. Tujuan akhir pendidikan nasional sangat erat hubungannya dengan program pengembangan aspek afektif, tetapi pada kenyataan dilapangan tidak melakukan penilaian afektif secara sistematis, hanya melakukan penilaian pada aspek kognitif saja. Hal ini juga terjadi pada pembelajaran akuntansi khususnya pada kelas XI SMKN 1 Bondowoso masih saja menggunakan metode konvensional yang hanya mengacu pada penilaian kognitif saja dengan menyuruh siswa untuk mendengar dan membaca saja tanpa dibekali dengan kecakapan untuk memecahkan masalah. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengadakan penelitian Peningkatan Hasil Belajar Afektif dan Kognitif dengan Menggunakan Metode Syndicate Group di SMKN 1 Bondowoso (Pada Mata Pelajaran Mengelola Kartu Piutang). Penelitian ini dirancang dengan penelitian tindakan kelas (PTK) terhadap siswa kelas XI SMKN 1 Bondowoso yang terdiri dari 2 siklus. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat meningkatkan capaian hasil belajar kognitif maupun afektif dari siswa kelas XI SMKN 1 Bondowoso dengan menggunakan Metode Syndicate Group, dan adanya keterkaitan capaian hasil belajar kognitif dengan kemampuan afektif. Metode Pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan metode tes yang dilaksanakan setelah pelaksanaan tiap-tiap siklus dalam bentuk tes formatif. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI SMKN 1 Bondowoso yang berjumlah 18 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode Syndicate Group dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan ketuntasan belajar afektif awal 55,56% menjadi ketuntasan belajar afektif akhir 94,44% dan juga ketuntasan belajar kognitif awal 66,67% menjadi 94,44%. Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan afektif dengan hasil belajar kognitif siswa akselerasi. Artinya jika kemampuan kognitif siswa tinggi maka kemampuan afektifnya juga tinggi. Pada siklus I capaian hasil belajar kognitif dengan afektif berkorelasi secara signifikan (p = 0,017) dengan besarnya koefisien korelasi sebesar 0,533 artinya antara kedua capaian berkorelasi sebesar 53,3%. Pada siklus II capaian hasil belajar kognitif dengan afektif berkorelasi secara signifikan (p = 0,002) dengan besarnya koefisien korelasi sebesar 0,689 artinya antara kedua capaian berkorelasi sebesar 68,9%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka peneliti dapat memberikan saran yaitu: 1) Dalam menggunakan metode Syndicate Group guru hendaknya memperhatikan ketersediaan sumber belajar yang relevan agar tidak menghambat proses penugasan siswa. Guru juga harus memperhatikan alokasi waktu dengan baik.; 2) Metode Syndicate Group dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik afektif maupun kognitif siswa kelas XI SMK Negeri 1 Bondowoso, maka hendaknya metode tersebut dapat digunakan sebagai metode alternatif dalam pembelajaran akuntansi terutama untuk pokok bahasan yang bersangkutan, seperti pada bab Mengelola Kartu Persediaan; 3) Guru hendaknya dapat memberikan penilaian berupa afektif secara langsung tidak hanya penilaian kognitif, dan menghindari subjektifitas dalam melakukan penilaian afektif agar nilai yang diperoleh merupakan nilai siswa yang sesungguhnya..

Evaluasi buku mata pelajaran IPS terpadu kelas reguler dan kelas bilingual (studi kasus pada buku IPS terpadu SMP kelas VII) / Aziz Ulil Anhar

 

Kata Kunci: Evaluasi, Buku Mata Pelajaran, IPS Terpadu, Reguler, Bilingual. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar yang penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah baik bagi siswa maupun bagi guru. Bagi siswa, buku teks berguna untuk memperoleh berbagai pengetahuan dan informasi dalam mendukung proses belajar. Bagi guru buku teks berfungsi sebagai sumber materi ajar untuk guru yang tidak mampu atau siap membuat bahan ajar sendiri berdasarkan kompetensi dalam kurikulum yang berlaku. Buku teks yang baik harus memiliki cakupan materi yang luas dan mendalam, menyajikan konsep yang benar, sesuai dengan kaidah bahasa yang baku, dan penyajian media haruslah sesuai dan mendukung dengan materi yang disajikan. Seiring dengan maraknya RSBI (Rancangan Sekolah Berstandar Internasional) untuk menuju SBI (Sekolah Berstandar Internasional) buku teks IPS kelas VII yang digunakan pun berbeda dengan buku kelas reguler. Akan tetapi baik buku kelas reguler ataupun bilingual menggunakan acuan yang sama yaitu BSNP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi kualitas antar buku yang digunakan berdasarkan saran TIM MGMP IPS Kota Blitar yang meliputi (1) bagaimana cakupan materi baik keluasan dan kedalaman materi, (2) bagaimana kebenaran konsep yang disajikan (3) bagaimana kebenaran bahasa yang digunakan dan (4) bagaimana kebenaran media yang digunakan dalam buku-buku tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi (content analysis) untuk menarik kesimpulan yang valid dari sebuah buku atau dokumen secara objektif, sistematis, dan komunikatif menggunakan seperangkat prosedur. Berdasarkan hasil wawancara dengan TIM MGMP IPS SMP Kota Blitar buku yang disarankan digunakan di SMP Kelas VII sekaligus dijadikan sebagai objek penelitian untuk kelas reguler yaitu terbitan Depdiknas meliputi Buku Sekolah Elektonik (BSE) karangan Muh. Nurdin, dkk. dan karangan Nurhadi, dkk., buku terbitan Erlangga karangan K. Wardiyatmoko, karangan B.V. Sundari, dkk., dan buku terbitan Yudhistira karangan Anwar Kurnia, dan buku teks untuk kelas bilingual yaitu buku terbitan Yrama Widya yang dikarang oleh Noviyanti Awaliyah dan R. Yudhi Kurnia Hidayat dan juga buku teks terbitan Tiga Serangkai karangan Suroso dan Rendro Adi Widigdo. Hasil penelitian menunjukkan dengan rerata skor maksimal sempurna 4 buku yang memiliki kualitas paling bagus adalah terbitan Erlangga karangan K.Wardiyatmoko dengan rerata skor 3,625. Kekurangan terdapat dalam kebenaran bahasa yaitu penyusunan kalimat dan paragraf. Buku terbitan Yudhistira karangan Anwar Kurnia dengan rerata skor 3,25. Kekurangan terdapat dalam cakupan materi kurang mendalam dan kurang meluas pada KD 6.3., dan terdapat dalam kebenaran bahasa Buku terbitan Tiga Serangkai karangan Suroso dan Rendro Adi Widigdo rerata skornya 3. Kekurangan terdapat dalam cakupan materi kurang mendalam dan kurang meluas pada KD 6.4., dan terdapat banyak kesalahan dalam penggunaan structure dalam kalimat. Rerata skor 3 buku terbitan Yrama Widya karangan Noviyanti Awaliyah dan R. Yudhi Kurnia Hidayat. Kekurangan terdapat dalam cakupan materi kurang mendalam dan kurang meluas pada KD 3.1 dan 6.4., dan terdapat banyak kesalahan dalam penggunaan structure dalam kalimat. Buku terbitan Erlangga karangan B.V. Sundari, dkk. rerata skor 2,375. Kekurangan terdapat dalam cakupan materi kurang mendalam dan kurang meluas pada KD 3.1, 6.3, dan 6.4., terdapat dalam kebenaran bahasa, dan hanya terdapat dua media yang disajikan. Buku terbitan Depdiknas karangan Nurhadi, dkk., rerata skor 2,25. Kekurangan terdapat dalam cakupan materi kurang mendalam dan kurang meluas pada KD 3.1, 6.3, dan 6.4., terdapat dalam kebenaran bahasa masih sangat kurang, dan terdapat banyak media yang tidak berfungsi. Dengan skor 1,5 buku terbitan Depdiknas karangan karangan Muh. Nurdin, dkk. kekurangan terdapat dalam cakupan materi kurang mendalam dan kurang meluas pada KD 3.1 dan 6.4., terdapat banyak konsep yang salah, kebenaran bahasa masih sangat kurang, dan terdapat banyak media yang tidak berfungsi. Berdasarkan hasil evaluasi buku, disarankan bagi guru bidang studi IPS Ekonomi, sebaiknya sebelum menggunakan buku teks, haruslah ditelaah terlebih dahulu mengenai penyajian cakupan materi, konsep-konsep yang tersaji dalam buku, kebenaran bahasa, dan kebenaran dari media. Dan bagi peneliti lain, agar meneliti komponen kelayakan yang belum tersaji dalam penelitian ini dan dapat melakukan penelitian terhadap buku mata pelajaran lain yang belum dijadikan objek dalam penelitian ini.

Peran guru dan orang tua dalam mendukung siswa memahami Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) (studi kasus di SMP Negeri 4 Madiun) / Reny Yuhana

 

Kata-kata kunci: peran guru, peran orangtua dan memahami IPS IPS merupakan mata pelajaran interdisipliner yang kurang disenangi anak, ataupun jika anak merasa senang tetapi pemahaman anak terhadap IPS kurang. Dampaknya terlihat pada nilai belajar anak berada dibawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Siswa dalam memahami IPS memerlukan pengalaman nyata. Hal-hal yang abstrak dalam IPS perlu divisualkan karena anak belum mencapai tahap pemikiran intelektual yang matang. Untuk menuju pada tahap pemikiran yang matang, sangat diperlukan bimbingan dan arahan baik dari guru dan orangtua. Keluarga dalam hal ini orang tua merupakan faktor penting dalam perkembangan individu, mengingat waktu anak dirumah lebih banyak dari waktu disekolah. Dukungan dari guru juga tidak kalah pentingnya karena merupakan penentu keberhasilan pembelajaran disekolah, walaupun disadari bahwa guru bukan satu-satunya penentu keberhasilan pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan deskripsi mendalam tentang kondisi siswa dikelas dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran guru yang mendukung pemahaman siswa tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memahami IPS di SMP Negeri 4 Kota Madiun. Berdasarkan pemikiran tersebut maka fokus penelitian ini dijabarkan dalam rumusan masalah sebagai berikut (1) bagaimanakah pemahaman siswa tentang IPS di SMP Negeri 4 Madiun, (2) bagaimana peran guru dalam mendukung pemahaman siswa tentang IPS di SMP Negeri 4 Madiun dan (3) bagaimana peran orangtua dalam mendukung pemahaman siswa tentang IPS di SMP Negeri 4 Madiun. Peneliti memilih pendekatan diskriptif-kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Dalam hal ini, peneliti sebagai instrument utama. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi partisipan dan dokumentasi. Teknik purposif sampling digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan informan yang menghasilkan jenis data yang dijaring oleh peneliti yang berupa data primer dan data sekunder. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) siswa dapat dikatakan faham terhadap IPS apabila siswa dapat hidup di masyarakat dengan baik dan dapat menyelesaikan masalah-masalah pribadi maupun masalah-masalah sosial. Untuk itu siswa perlu menguasai pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), sikap dan nilai (attitudes and values), dan juga bagaimana siswa harus bertindak atau berperilaku (action), (2) Guru SMP Negeri 4 Madiun aktif dalam usaha membantu siswa memahami IPS. dan (3) keterlibatan orangtua dalam mendukung keberhasilan anak memahami IPS, ditemukan lima bentuk dukungan yaitu pengharapan orangtua terhadap pendidikan anaknya, dukungan psikologis, dukungan biaya, membantu anak mengatur waktu, dan menjalin komunikasi dengan guru yang berdampak pada pemahaman anak terhadap IPS. Saran yang perlu disampaikan demi kemajuan pendidikan adalah (1) orangtua, sudah waktunya pihak sekolah lebih memberdayakan orangtua untuk meningkatkan pengetahuan dan tindakan yang harus diambil orangtua dalam membantu anak memahami IPS pada khususnya dan mata pelajaran lain (2) guru, lebih memberdayakan guru untuk merubah paradigma pembelajarannya, dari paradigma yang meneruskan informasi menjadi proses pembelajaran yang lebih mendidik dan lebih bermakna bagi siswa dalam kehidupannya dan (3) orangtua dan guru, peningkatan kerjasama yang baik antara orangtua dan guru, membuat orangtua lebih mengerti keperluan anak disekolah, sehingga dapat membantu anak memahami IPS pada khususnya atau mata pelajaran lain pada umunya.

Pengaruh penerapan model pembelajaran learning cycle 5 fase terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu tahun ajaran 2012/2013 pada materi stoikiometri / Shabrina Eronika

 

Pengembangan media pembelajaran interaktif pengenalan hiragana dan katakana mata pelajaran bahasa Jepang kelas X semester ganjil SMK Negeri 12 Malang / Vittaliyah Agustin

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media Interaktif, Pembelajaran Bahasa Jepang Media interaktif ini masih terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihan dari media ini adalah (1) dapat digunakan secara individu (2) dalam menggunkan media ini tidak memakan banyak waktu (3) bahan ajar media bersifar interaktif sehingga peserta didik akan langsung mendapatkan feedback (balikan) dari media ini. Sedangkan kekurangan pada media ini masih terbatas pada pokok materi pengenalan huruf hiragana dan katakana. Selain itu selama ini strategi pembelajaran cenderung hanya menggunakan buku teks yang ada, pola pembelajaran tradisonal yang hanya mengandalkan pedidik dan buku teks sebagai pedoman sebagai satu-satunya sumber informasi sehingga dengan digunakannya media interaktif akan memberikan nuansa belajar yang menyenangkan. Media merupakan suatu penghatar pesan dalam menyampaikan informasi, makna informasi disini bisa diartikan sebagai materi pada proses pembelajaran. Sedangkan media interaktif adalah media yang dapat menyampaikan informasi yang langsung secara dua arah, yang berarti terjadi interaksi secara langsung dengan pebelajar. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media interaktif yang telah melalui proses validasi pada mata pelajaran Bahasa Jepang kelas X di SMK Negeri 12 Malang. Data pengembangan media pembelajaran interaktif ini menggunakan instrument berbentuk angket kepada ahli media, ahli materi, dan audiens (peserta didik). Data tersebut diolah untuk dianalisis dan disimpulkan tingkat kevalidan dan efektivitasnya. Metodologi yang digunakan dengan menggunakan ADDIE yang pada tahapannya hanya dilakukan beberapa tahapan saja, antara lain (1) Analisis, (2) Design, dan (3) Development. Untuk tahapan Implementasi dan Evaluasi tidak dilakukan dikarenakan produk yang dibuat masih prototime bukan produk akhir. Media pembelajaran interaktif ini diujikan kepada ahli media sebanyak 1 orang. ahli materi sebanyak 1 orang, dan 40 peserta dididk SMK Negeri 12 Malang sebagai audiens. Sehingga didapatkan hasil pengembangan media pembelajaran interaktif ini dikemukakan sebagai berikut. Ujicoba ahli media didapat presentase 85% berdasarkan kriteria hasil kelayakan, media pembelajaran ini termasuk kualifikasi Uji coba ahli materi didapat presentasi 80% berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualisifikasi valid, uji coba peserta didik perorangan didapat presentasi 87% kesimpulan berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid, uji coba peserta didik kelompok kecil didapat persentase 84% berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid, uji coba peserta didik kelompok besar didapat persentase 83% berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Media Pembelajaan Interaktif Pelajaran Bahasa Jepang untuk SMK Negeri 12 Malang kelas X valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran yang dikembangkan untuk digunakan pada proses pembelajaran dikelas.

Peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) kelas V SDN Dilem 01 Kepanjen Kabupaten Malang / Sri Mas'ulah

 

Kata kunci : model pembelajaran TGT, keaktifan dan hasil belajar, IPS SD Hasil observasi awal yang dilakukan di kelas V SDN Dilem 01 Kepanjen, bahwa pembelajaran IPS kurang diminati siswa. Hal itu disebabkan karena siswa merasa materi IPS banyak dan sulit. Selain itu, guru menyampaikan pembelajaran secara monoton, yaitu siswa mendengarkan penjelasan guru, kemudian mengerjakan soal dan dilakukan pembahasan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Teams games Tournament (TGT) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran Teams games Tournament (TGT) adalah model pembelajaran yang memberikan permainan dan kompetisi belajar setiap tim. Kelebihan dari model pembelajaran ini adalah siswa dapat terlibat secara langsung serta banyak mengalami interaksi dengan banyak teman. Sedangkan kelemahan dari model pembelajaran ini adalah membutuhkan waktu yang banyak dan pengaturan tempat duduk yang sulit. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan MC Taggart yang terdiri dari 2 siklus dengan 2 kali pertemuan pada setiap siklusnya. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V SDN Dilem 01 Kepanjen. Tahap dalam penelitian ini (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi dan Penilaian, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) wawancara, (2) pedoman observasi guru dan siswa, (3) soal tes, dan (4) dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TGT dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Keaktifan belajar siswa meningkat pada siklus I pertemuan 1 mencapai 76% dan pertemuan 2 meningkat menjadai 80%. Sedangkan pada siklus II pertemuan 1 meningkat lagi menjadi 83%, dan pertemuan 2 meningkat hingga 90%. Hasil belajar juga mengalami peningkatan rata-rata kelas dari pra tindakan rata-rata kelas 58,4 mengalami kenaikan pada siklus I pertemuan 1 menjadi 68,5 dan pertemuan 2 mencapai 79,6. Sedangkan pada siklus II rata-rata kelas lebih meningkat lagi pertemuan 1 menapai 87,8 dan pertemuan 2 hingga mencapai 91,9. Dalam pembelajaran IPS, sebaiknya guru selalu menerapkan model pembelajaran agar pembelajaran menarik dan bermakna bagi siswa sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan. Hendaknya guru menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Perancangan county profile "Ekowisata Mangrove Bedul" Banyuwangi / Dimas Haryo

 

Kata Kunci: Perancangan, County Profile, Ekowisata Mangrove Bedul Banyuwangi Ekowisata Mangrove Bedul adalah kawasan wisata berbasis konservasi yang menjadi percontohan tingkat nasional dalam pengelolaan dan pembelajaran tentang pengembangan ekowisata dalam mendukung pelestarian alam dengan pengelolaan berbasis masyarakat mandiri. Kurangnya media untuk memperkenalkan sebuah konsep wisata yang baru yaitu ekowisata menjadi alasan mengapa perancangan county profile ini dibuat. Perancangan county profile disusun dengan metode perancangan prosedural yang bersifat deskriptif. Hal ini dipilih berdasarkan keefektifan metode ini dalam merangkum proses perancangan yang dilakukan. Model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Metode perancangan ini diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari observasi dan studi pustaka atau dokumentasi. Perancangan county profile Ekowisata Mangrove Bedul menghasilkan media komunikasi berupa buku county profile dan video profile sebagai media untuk memperkenalkan Ekowisata Mangrove Bedul yang berisikan tentang potensi, informasi dan visualisasi tentang Ekowisata Mangrove Bedul Banyuwangi serta media pendukung yang terdiri dari poster, x-banner dan brosur. Diharapkan dengan adanya media county profile ini dapat dijadikan sebagai media untuk memperkenalkan Ekowisata Mangrove Bedul sehingga membuka wawasan bagi masyarakat tentang bentuk-bentuk wisata lain, seperti konsep ekowisata yang ada di mangrove Bedul, sehingga nantinya timbul kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan konservasi alam serta peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan wisata.

Studi komparatif perkembangan kecepatan lari 30 meter anak usia 7-9 tahun berdasarkan status gizi di Kota dan Kabupaten Malang / Edwinsyah Wahyu Romadani Kurniawan

 

Kata Kunci: Perkembangan Gerak Lari Cepat 30 Meter Anak Usia 7-9 Tahun Berdasarkan Status Gizi. Faktor gizi penting untuk memacu pembangunan, khusunya yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia berkualitas. Kualitas asupan gizi yang baik tentunya akan berpengaruh terhadap status gizi setiap idividu. Status gizi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keaktifan para peserta didik. Hal ini di karenakan status gizi merupakan gambaran keadaan keseimbangan antara tinggi rendahnya asupan gizi seseorang. Semakin tinggi asupan gizi seseorang tentu akan berbanding lurus dengan tingginya status gizi seseorang. Hal ini akan mempengaruhi terhadap tingkat perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak. Dengan demikian status gizi anak berpengaruh terhadap tingkat perkembangan gerak lari anak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak usia 7-9 tahun berdasarkan status gizi di Kota dan Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok anak usia 7-9 tahun yang dijadikan sampel mewakili kelompok anak usia 7-9 tahun, dan penelitian ini dilakukuan pada waktu yang relative sama dengan satu kali tes tanpa ada tes lanjutan. Berdasarkan hasil perhitungan anak status gizi baik menggunakan uji Anova menggunakan program SPSS menjelaskan bahwa nilai signifikansi 0,000 kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak. Begitu juga anak status gizi kurang menggunakan uji Anova mengunakan program SPSS menjelaskan bahwa nilai signifikansi 0,000 kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak usia 7, 8, dan 9 tahun yang memiliki status gizi baik. Sedangkan pada anak yang memiliki status gizi kurang disimpulkan terdapat perbedan perkembangan gerak lari cepat 30 meter anak usia 7, 8, dan 9 tahun. Diharapkan kepada semua guru pendidikan jasmani dan orang tua baik yang memiliki status gizi baik maupun yang memiliki status gizi kurang agar mengetahui tingkat perkembangan gerak lari cepat para peserta didik, supaya bisa dikembangkan ke arah prestasi. Diharapkan setelah penelitian ini para guru pendidikan jasmani dan kesehatan mengetahui tingkat perkembangan gerak lari cepat anak didiknya selanjutnya agar bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi.

Pengaruh substitusi tepung tempe dengan lama fermentasi tempe terhadap sifat fisik, kadar protein, dan organoleptik produk stick tempe / Ainiati Gamma Ridhi

 

Kata Kunci: stick tempe, tepung tempe, lama fermentasi, kadar protein Stick adalah jenis makanan ringan yang digoreng dengan rasa yang asin/gurih, teksturnya renyah, berbentuk panjang dan mengembang dengan warna kuning keemasan. Tujuan dilakukan penelitian produk stick tempe adalah untuk penganekaragaman produk tempe yang banyak terdapat didaerah penghasil tempe, dan untuk menghasilkan produk makanan ringan gurih yang terbuat dari tempe selain keripik tempe. Masalah yang dihadapi adalah belum diketahui jumlah substitusi tepung tempe dan lama fermentasi yang optimal agar dihasilkan makanan ringan dengan kualitas yang baik dan diterima oleh konsumen. Rancangan percobaan yang dilakukan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah persentase substitusi tepung tempe 10%, 20%, dan 30%. Faktor II adalah lama fermentasi tempe 24 jam dan 48 jam sehingga banyaknya kombinasi dalam penelitian adalah 6 perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Data uji hedonik dianalisis menggunakan ANOVA dengan uji jarak duncan (UJD) atau DMRT. Data hasil laboratorium dianalisis dengan Uji One Way Anova and Uji T-Test Sample Independen. Penilaian terbaik parameter uji hedonik rasa stick tempe yang paling disukai oleh panelis terdapat pada stick tempe dengan perlakuan yang disubstitusi tepung tempe 20% dan lama fermentasi tempe 48 jam. Warna stick tempe yang paling disukai oleh panelis terdapat pada stick tempe dengan perlakuan yang disubstitusi tepung tempe 10% dan lama fermentasi tempe 24 jam. Tekstur stick tempe yang paling disukai oleh panelis terdapat pada stick tempe dengan perlakuan yang disubstitusi tepung tempe 10% dan lama fermentasi tempe 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi yang nyata antar perlakuan substitusi tepung tempe dan lama fermentasi tempe terhadap stick tempe. Perlakuan substitusi tepung tempe berpengaruh berbeda nyata terhadap warna L (Kecerahan), a+ (Kemerahan), b+ (Kekuningan), tekstur, dan kadar protein. Sedangkan perlakuan lama fermentasi tempe berpengaruh berbeda nyata pada warna L (Kecerahan), a+ (Kemerahan), b+ (Kekuningan).

Pengembangan modul pembelajaran fisika inti berbasis multimedia dengan Swishmax sebagai media belajar mandiri mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Aulia Rahmatika Dewi

 

Kata kunci: modul, multimedia SWiSHmax, fisikainti, belajar mandiri. Media sebagai perantara untuk menyampaikan informasi dari orang yang satu ke orang yang lainnya mempunyai peran yang sangat penting.Hal ini tak lain bertujuan untuk mempermudah seseorangdalam memberikan informasi kepada orang lain. Pemerolehanhasilbelajarmelaluiinderapandangberkisar 75%, melaluiinderadengar 13% danmelaluiinderalainnyasekitar 12%.Pada teori atom, tidak mungkin pesertadidik dapat melakukan percobaan untuk mengetahui atau melihat gejala atom sesungguhnya. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan media pembelajaran. Tujuanpengembanganprodukiniuntuk merancang modul pembelajaran animasi fisika inti bagi mahasiswaJurusan Fisika Universitas Negeri Malangserta mengetahui tingkat kelayakan modul pembelajaran animasi fisika inti bagimahasiswaJurusan Fisika Universitas Negeri Malang.Model pengembangan yang digunakanmerujuk pada CAI (Computer Assisted Instruction), dimanamahasiswa secara langsung berhadapan dengan komputer, sehingga materi yang disajikan pada multimedia tersebut dapat diterima langsung oleh mahasiswa.Melaluilangkah-langkah berikut: analisiskebutuhan, desain flow chart dan storyboard, pengumpulanbahandan software pendukung, produksi, serta finishing. Produkberupamodulanimasiinidivalidasiolehdosenahli media danahlimateri yang aktifmengajar di JurusanFisika UM.Hasilvalidasimenunjukkanpersentasekelayakanahli media sebesar 81,25% danahlimaterisebesar 82,39% yang menunjukkankriteriapersentaselayak. Berdasarkanhasiltersebut, modulberbasis multimedia yang dikembangkanlayakuntukdigunakansebagai media pembelajaranfisikainti.

Pengembangan media animasi kemagnetan dan induksi elektromagnetik dengan program Swishmax sebagai sarana belajar siswa SMP/MTs kelas IX / Meylina Husnia

 

Kata Kunci: pengembangan, media, fisika, magnet. Kemagnetan dan induksi elektromagnetik termasuk salah satu pokok bahasan yang di dalamnya terdapat konsep fisika yang bersifat abstrak. Oleh karenanya pengembang ingin membuat suatu media animasi fisika yang dapat menampilkan konsep fisika yang abstrak menjadi lebih nyata dan menarik sehingga menambah motivasi siswa untuk mempelajarinya. Hasil pengembangan dikemas dalam bentuk CD yang hanya bisa dijalankan dengan komputer. Desain pengembangan media animasi ini menggunakan modifikasi dari langkah-langkah pengembangan yang dikemukakan Dick dan Carey yang t erdiri dari persiapan, pembuatan media animasi, pengecekan kesalahan dan penelaahan, validasi, revisi, dan produksi. Pada pengembangan ini hanya dilakukan sampai pada validasi. Pengambilan data validasi media animasi menggunakan instrumen berupa angket kepada ahli media dan ahli materi. Dari hasil analisis data validasi diketahui tingkat persentase kelayakan sebesar 81,25% menurut ahli media dan 92,55% menurut ahli materi, sehingga mendapat kriteria kelayakan produk layak. Berdasarkan analisis data validasi diperoleh kesimpulan bahwa secara keseluruhan media animasi yang dikembangkan dinyatakan baik dan dapat digunakan untuk belajar siswa. Dari analisis per-item berdasarkan validasi ke ahli materi, materi sifat magnet memiliki persentase kelayakan kedalaman materi paling rendah sebesar 62,5%.

Pemanfaatan kacang hijau sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kwetiau / M. Fuad Hasan

 

Kata kunci: Kacang hijau, kwetiau, uji kesukaan Kacang hijau (Phaseolus radiatus L) berasal dari famili Leguminosease atau polong-polongan. Biji kacang hijau terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kulit biji 10%, kotiledon 88%, dan sisanya adalah lembaga 2%. Karbohidrat merupakan komponen terbesar kacang hijau yaitu 58%. Karbohidrat yang terdapat pada kacang hijau adalah pati, gula, dan serat, karena kacang hijau mengandung karbohidrat dan protein yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan kwetiau. Kwetiau termasuk salah satu makanan yang dapat digunakan sebagai pengganti nasi. Kwetiau memiliki bentuk seperti mie yang warnanya putih bening dengan bentuk pipih dan lebar dan terbuat dari tepung beras, tapioka, dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang tepat dalam pembuatan kwetiau dengan penambahan puree kacang hijau, serta untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap warna, tekstur, dan warna, dan mengetahui harga jual kwetiau dengan penambahan puree kacang hijau. Formulasi resep yang tepat untuk kwetiau dengan penambahan puree kacang hijau adalah uji coba resep yang kedua yaitu dengan penambahan puree kacang hijau sebanyak 180 g. Formulasi resep tersebut menghasilkan kwetiau yang berwarna putih kekuningan, tekstur kenyal dan elastis, serta rasa yang gurih. Hasil dari uji kesukaan terhadap kwetiau dengan penambahan kacang hijau yaitu panelis yang menyatakan biasa saja atau netral sebesar 42,5% terhadap warna kwetiau dengan penambahan puree kacang hijau yang berwarna putih kekuningan, 47,5% panelis menyatakan biasa saja atau netral terhadap tekstur kwetiau dengan penambahan puree kacang hijau yang kenyal dan elastis, dan 45% panelis menyatakan agak suka terhadap kwetiau dengan penambahan puree kacang hijau yang rasanya gurih. Harga kwetiau yang telah ditambah kacang hijau yaitu sebesar Rp. 5.570,00 per 150 g.

Pengaruh modernitas individu, perilaku sosial dan pemanfaatan fasilitas sekolah terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Talun Blitar / Muchyi

 

Kata Kunci: modernitas individu, perilaku sosial, fasilitas sekolah, hasil belajar Berbagai aspek kehidupan yang mengalami kemajuan dalam era modernisasi yakni bidang pendidikan. Secara umum diketahui bahwa sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak kemajuan untuk menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Di samping itu, kemauan masyarakat itu sendiri untuk menjadi modern berdampak pada cara berperilaku sosial yang dilakukan dalam menjalani kehidupan. Sehingga turut mempengaruhi individu-individu tersebut dalam menerima segala perubahan yang terjadi. Siswa sebagai bagian dari masyarakat seharusnya dapat bersikap modern dan memiliki perilaku sosial yang lebih difokuskan untuk meningkatkan hasil belajar. Faktor yang harus diperhatikan untuk mendukung modernitas tersebut salah satunya yakni fasilitas atau sarana dan prasarana pendidikan. Fasilitas ini secara langsung dan tidak langsung mendukung individu dalam mencapai tujuan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan kualitas adalah tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik. Adanya faktor-faktor tersebut dapat berdampak pada peningkatan hasil belajar apabila dilakukan secara optimal. Penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi pengaruh modernitas individu, perilaku individu, dan pemanfaatan fasilitas sekolah terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA N 1 Talun, Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian ini bersifat eksplanasi (explanatory research) dengan menggunakan analisis jalur (Path Analysis). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI Program IPS di SMA N 1 Talun Tahun Ajaran 2012/2013 yang berjumlah 89 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yakni menggunakan metode sensus, yaitu mengambil semua populasi sebagai sampel (penelitian populasi). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengaruh langsung modernitas individu (X1) terhadap hasil belajar (Y) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,179, yang berarti > 0,05. (2) pengaruh langsung perilaku sosial (X2) terhadap hasil belajar (Y) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,124, yang berarti > 0,05. (3) pengaruh langsung fasilitas sekolah (X3) terhadap hasil belajar (Y) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,041, yang berarti < 0,05. (4) pengaruh langsung modernitas individu (X1) terhadap perilaku sosial (X2) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,001, yang berarti < 0,05. (5) pengaruh tidak langsung modernitas individu (X1) terhadap hasil belajar (Y) melalui perilaku sosial (X2) diperoleh besaran pengaruh total sebesar 0,304, yang berarti < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini yakni: (1) tidak ada pengaruh langsung modernitas individu (X1) terhadap hasil belajar (Y). (2) tidak ada pengaruh langsung perilaku sosial (X2) terhadap hasil belajar (Y). (3) ada pengaruh langsung modernitas individu (X1) terhadap perilaku sosial (X2). (4) ada pengaruh langsung fasilitas sekolah (X3) terhadap hasil belajar (Y). (5) tidak ada pengaruh tidak langsung modernitas individu terhadap hasil belajar melalui perilaku sosial siswa kelas XI IPS SMA N 1 Talun. Saran yang dapat diajukan yaitu: (1) bagi sekolah, melakukan pengembangan yang mendukung pembelajaran di sekolah, khususnya untuk meningkatkan fasilitas/sarana dan prasarana sehingga dapat mendukung siswa dalam proses pembelajaran. (2) bagi guru maupun orang tua, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai kontrol guru dan orang tua untuk anak didiknya agar menyeleksi penyerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mana saja yang dapat meningkatkan kemampuan/hasil belajar di sekolah. (3) bagi praktisi akademis, dapat memperbaiki kekurangan dalam penelitian ini untuk penelitian selanjutnya. Dapat dilakukan dengan menambah atau mengurangi variabel bebas maupun terikat, menggunakan teknik sampel yang berbeda, lokasi penelitian yang berbeda, dsb.

Pengembangan lembar kerja siswa untuk pembelajaran permutasi dan kombinasi dengan pendekatan kontekstual untuk siswa SMA kelas XI / Devy Retnosari Dewi

 

Kata Kunci : Lembar Kerja Siswa, kontekstual, permutasi dan kombinasi Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan pada beberapa siswa yang telah mempelajari materi permutasi dan kombinasi, mereka menganggap bahwa dalam kehidupan nyata kurang nampak adanya penerapan dari materi permutasi dan kombinasi. Untuk itu, diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari materi permutasi dan kombinasi. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan kontekstual, karena dengan pendekatan kontekstual menyajikan suatu permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari- hari peserta didik. Selain itu, salah satu bahan ajar yang dapat digunakan untuk memperlancar proses pembelajaran adalah Lembar Kerja Siswa, karena LKS memiliki kelebihan yang mendukung proses pembelajaran peserta didik dengan memberikan soal-soal yang dapat digunakan sebagai latihan serta untuk memahami suatu konsep materi yang sedang dipelajari. Tujuan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan LKS pembelajaran permutasi dan kombinasi dengan pendekatan kontekstual yang valid, praktis dan efektif. Berdasarkan hasil penilaian validator pada setiap aspek lembar validasi dapat disimpulkan bahwa LKS yang dikembangkan menunjukkan skor berada pada selang 75%-100% yang termasuk kriteria valid atau sangat valid. Sementara itu, hasil uji coba pada kelompok kecil diperoleh kesimpulan bahwa LKS yang dikembangkan menarik dan peserta didik dapat mengerjakan LKS pada bagian Uji Kompetensi serta memenuhi Standar Ketuntasan Minimal yang ditentukan. Oleh karena itu LKS pembelajaran permutasi dan kombinasi dengan pendekatan kontekstual pada pengembangan ini dapat disimpulkan valid, praktis dan efektif.

Pembuatan bakpia dengan substitusi bekatul / Daniel Sagita

 

Kata Kunci: Bekatul, bakpia. Bekatul merupakan hasil sampingan penggilingan atau penumbukan gabah yang berasal dari berbagai varietas. Bekatul banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak terutama unggas. Bekatul memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, sehingga berpotensi untuk dijadikan bahan pangan fungsional. Tujuan penggunaan bekatul pada pembuatan bakpia adalah menambah variasi penggunaan bekatul sebagai bahan pangan kaya gizi dan menambah variasi pembuatan bakpia. Bakpia merupakan jajanan tradisional yang berasal dari daerah Jawa Tengah khususnya Jogjakarta. Bakpia sebenarnya berasal dari negeri Cina, aslinya bernama Tou Luk Pia, yang artinya adalah kue dengan isi kacang hijau. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui formulasi resep yang tepat dalam pembuatan bakpia bekatul, kesukaan masyarakat atau responden terhadap warna, rasa dan tekstur bakpia bekatul. Formulasi resep yang tepat untuk bakpia bekatul adalah dengan mensubstitusi bekatul sebanyak 5% dan menghasilkan bakpia yang bertekstur renyah, kulit berlapis dan rasa manis. Penelitian ini menggunakan uji hedonik. Uji hedonik dilakukan dengan menggunakan 30 responden. Hasil uji kesukaan warna bakpia bekatul menyatakan bahwa sebanyak 66,67% responden agak suka dengan warna cokelat tua keabu-abuan. Hasil uji kesukaan rasa bakpia bekatul menyatakan bahwa sebanyak 36,67% responden agak suka dengan rasa manis. Hasil uji kesukaan tekstur menyatakan sebanyak 70% responden agak suka dengan tekstur renyah bakpia bekatul. Produk bakpia bekatul sebagai produk yang berasal dari bekatul dapat dijadikan salah satu alternatif wirausaha di bidang boga

Pengaruh current ratio dan debt to total asset ratio terhadap rentabilitas modal sendiri (ROE) melalui perputaran modal kerja pada koperasi serba usaha di Kota Malang tahun 2010 / Mutimah Faidah

 

Kata kunci: Current Ratio, Debt To Total Asset Ratio, Perputaran Modal kerja, Rentabilitas Modal Sendiri dan Koperasi Koperasi serba usaha merupakan koperasi yang memiliki unit usaha yang berbagai macam, di mana usaha yang dijalankan cakupannya lebih luas yang secara tidak langsung akan dapat menumbuhkan jiwa entrepeneur (kewirausahaan) bagi para pengelolanya yakni anggota koperasi. Usaha koperasi bukanlah hanya berorientasi pada laba, sebab laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan menghitung rentabilitasnya. Salah satu caranya yaitu dengan menghitung rentabilitas modal sendiri (ROE) pada koperasi. Beberapa variabel yang dapat mempengaruhi ROE yaitu Current Ratio, Debt to Total Asset Ratio, dan perputaran modal kerja yang dapat mempengaruhi net operating assets serta assets turnovernya yang pada akhirnya akan mempengaruhi perolehan laba yang diterima dan hal itu sekaligus berpengaruh terhadap tinggi rendahnya rentabilitas modal sendiri. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui kondisi Current Ratio, Debt to Total Asset Ratio, perputaran modal kerja, dan rentabilitas modal sendiri (ROE) pada koperasi serba usaha di kota Malang tahun 2010. (2) Untuk menguji pengaruh Current Ratio terhadap rentabilitas modal sendiri (ROE) melalui perputaran modal kerja pada koperasi serba usaha di kota Malang tahun 2010. (3) Untuk menguji pengaruh Debt to Total Asset Ratio terhadap rentabilitas modal sendiri (ROE) melalui perputaran modal kerja pada Koperasi serba usaha di kota Malang tahun 2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausalitas melalui pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan adalah keseluruhan jumlah KSU yang masih aktif di kota Malang tahun buku 2010, yaitu sebanyak 173 koperasi. Sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih koperasi serba usaha yang memiliki kelengkapan data tahun buku 2010, yaitu terdapat 30 KSU. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi. Pada penelitian ini menggunakan path analisis dalam menguji menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda dimana variabel bebasnya Current Ratio dan Debt to Total Asset Ratio mempengaruhi variabel terikatnya yakni rentabilitas modal sendiri (ROE) baik secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui perputaran modal kerja. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel Current Ratio dan Debt to Total Asset Ratio terhadap rentabilitas modal sendiri (ROE) melalui perputaran modal kerja. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu adanya variabel-variabel lain diluar variabel bebas yang digunakan tersebut dapat berpengaruh terhadap rentabilitas modal sendiri. Setiap KSU pasti memiliki struktur aset maupun hutang dengan proporsi yang berbeda-beda. Pengurus KSU atau manajemen koperasi memiliki cara sendiri-sendiri agar dapat mengalokasikannya dengan seefisien mungkin agar dapat mencapai hasil yang optimal, utamanya dalam pengalokasian atau pengelolaan current ratio, debt to total asset ratio, dan perputaran modal kerja yang dimiliki. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi pengelola koperasi agar dapat memahami dan menelaah lebih jauh variabel lain yang dapat berpegaruh terhadap perolehan ROE koperasi. Para pengelola koperasi harus dapat lebih memaksimalkan pengelolaan operasional usahanya, guna memperoleh tingkat ROE yang optimal.

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA melalui penerapan model pembelajaran guide inquiry di kelas IV SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Sri Budiarti

 

Kata Kunci: Pembelajaran, IPA, Guide Inquiry. Peran guru pada pembelajaran IPA di kelas IV SD Negeri Pogar III Bangil Kabupaten Pasuruan pada materi energi alternatif dan penggunaannya, sangat dominan dan masih menggunakan penerapan model konvensional. Guru tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran, penggunaan metode ceramah dan pemilihan model pembelajaran terkesan membosankan sehingga hasil belajar siswa kurang optimal. Berdasarkan pengamatan hasil belajar pada materi energi alternatif dan penggunaannya, dari 35 siswa hanya 11 siswa yang mendapatkan nilai memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan dalam pembelajaran IPA yaitu 70,00 sedangkan sisanya masih di bawah KKM. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pembelajaran dengan model pembelajaran guide inquiry dalam meningkatkan pembelajaran IPA, mendeskripsikan aktivitas belajar siswa, dan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Pogar III Bangil Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Pogar III Bangil Kabupaten Pasuruan sebanyak 2 siklus, di setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian sebanyak 35 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), metode pengolahan data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan model guide inquiry dalam pembelajaran IPA telah berhasil meningkat pada tiap siklusnya, di akhir siklus I persentase keberhasilan penerapan model adalah 62,5% dan di akhir siklus II adalah 89,06%. Sehingga dapat dikatakan telah terjadi peningkatan persentase keberhasilan penerapan model yaitu 26,56%. Dengan kata lain, penerapan model guide inquiry telah berhasil meningkatkan pembelajaran IPA di kelas IV SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Meningkatnya aktivitas belajar siswa dibuktikan dengan adanya peningkatan indikator pencapaian pada tiap siklusnya, sebagai berikut; mengajukan pertanyaan 37%, menjawab pertanyaan 15%, antusias dalam mengikuti pembelajaran 15%, menanggapi presentasi 29%, tepat waktu dalam mengerjakan tugas 34%, tertib dalam prosedur kerja 34%, mengembalikan dengan rapi semua peralatan 18%, tidak melakukan aktivitas lain di luar kegiatan pembelajaran 29%, bekerja sama dalam kinerja kelompok 21%, mau mendengarkan pendapat anggota kelompok 9%, berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok 29%, bertanggung jawab dalam menyelesaikan ketuntasan tugas-tugas 50%. Dengan kata lain, penerapan model guide inquiry telah berhasil meningkatkan aktivitas siswa SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri Pogar III Bangil kabupaten Pasuruan pada siklus 1 nilai rata-ratanya adalah 60,86 di siklus II menjadi 70,29, mengalami keningkatan sebesar 9,43. Sesuai dengan indikator keberhasilan dikatakan berhasil jika telah mencapai skor 70,00. Dengan kata lain, telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan setelah penerapan model guide inquiry. Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan mengguna-kan model pembelajaran guide inquiry dapat meningkatkan pembelajaran IPA dalam materi energi alternatif dan penggunaannya. Saran yang perlu disampaikan kaitannya dengan hasil penelitian ini adalah model guide inquiry dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran IPA dalam materi energi alternatif dan penggunaannya.

Persepsi mahasiswa Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Malang tentang soft skill dalam praktik industri / Pipit Ritudina

 

Kata kunci: Persepsi Mahasiswa, Soft Skill, Praktik Industri. Persaingan dunia kerja yang semakin ketat menuntut semua orang yang akan memasuki dunia kerja agar memiliki kemampuan lebih dari pesaingnya, tidak hanya dalam segi akademik saja tetapi juga kemampuan soft skill. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan persepsi mahasiswa tentang soft skill saat praktik industri di DU/DI; (2) mengetahui kualifikasi soft skill intrapersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI; (3) mengetahui kualifikasi soft skill interpersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah S1 Pendidikan Tata Boga yang telah menempuh Praktik Industri, dengan sampel sebanyak 103 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan (1) persepsi mahasiswa tentang soft skill saat praktik industri di DU/DI sangat baik (93,2%) atau sebanyak 96 responden; (2) soft skill intrapersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI sangat baik ( 79,6%). Indikator yang paling menonjol bersemangat, berargumen logis, dapat meringkas, berpikir kritis, dan manajemen diri; (3) soft skill interpersonal yang dimiliki mahasiswa saat praktik industri di DU/DI sangat baik (89,8%). Indikator yang sering muncul adalah motivasi, kemampuan analisis, komunikasi lisan maupun tulisan, kerja dalam tim, dan menyelesaikan persoalan. Berdasarkan hasil penelitian yang ada hendaknya menerapkan soft skill pada setiap perkuliahan, sebagai bekal bagi mahasiswa untuk memasuki dunia usaha dan industri.

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Rantepao I Kabupaten Toraja Utara / Benyamin Salu

 

Kata Kunci: strategi pembelajaran penemuan terbimbing, motivasi belajar, hasil belajar Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan berperan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Hal ini memerlukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, selain penguasaan bahan atau materi ajar, juga diperlukan pengetahuan tentang pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkan dan tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Adakah pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap motivasi belajar siswa, dan 2) Adakah pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah desain eksperimen kuasi (quasi experimental design) dengan rancangan kelompok nonekuivalencontrol group. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Rantepao I Kabupaten Toraja Utara yang terdiri dari dua kelas yaitu kelas IVA 38 siswa dan kelas IVB 37 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, angket, dan tes. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Pengujian hipotesis menggunakan teknik Analisis Covariance (Anacova) Hasil penelitian pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing terhadap motivasi dan hasil belajar siswa adalah: 1) Ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap motivasi belajar siswa. Motivasi belajar lebih tinggi 7,3% (hasil angket) dan 7,18% (hasil observasi) pada strategi pembelajaran penemuan terbimbing dibanding dengan strategi pembelajaran konvensional, 2) Ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada strategi pembelajaran penemuan terbimbing lebih tinggi 4,79% dibanding dengan hasil belajar pada pembelajaran konvensional. Respon siswa terhadap strategi pembelajaran penemuan terbimbing adalah 34,21% menyukai dan 65,79% sangat menyukai. Beberapa saran terkait dengan hasil penelitian ini adalah: 1) Bagi para guru, strategi pembelajaran penemuan terbimbing dapat dipilih sebagai salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, 2) Bagi sekolah atau lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu dasar dalam mengambil keputusan dalam peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa, dan 3) Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan motivasi dan hasil belajar.

Peningkatan kemampuan menulis paragraf eksposisi siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 9 Malang tahun 2011/2012 dengan strategi lipirtup ( lihat, pilih, renungan, tuangan dan publikasikan) / Sripit Widiastuti

 

Kata kunci : kemampuan menulis, paragraf ekpsosisi, strategi Lipirtup Kemampuan menulis paragraf eksposisi merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA. Menulis paragraf eksposisi merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas XI Program Bahasa. Kompetensi dasar tersebut adalah menyusun beberapa paragraf ekspositif tentang hasil pengamatan (penelitian). Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Bahasa Indonesia kelas XI Bahasa SMAN 9 Malang dan hasil tulisan paragraf ekposisi siswa, diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis paragraf eksposisi masih rendah. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa masih di bawah KKM yang ditetapkan, yaitu 75. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis paragraf eksposisi pada aspek isi, struktur paragraf, dan penggunaan bahasa siswa kelas XI Bahasa SMAN 9 Malang dengan strategi Lipirtup. Strategi Lipirtup diharapkan mampu meningkatkan keaktifan dan semangat siswa dalam pembelajaran menulis paragraf eksposisi sehingga hasil tulisan siswa mampu memenuhi aspek isi yang meliputi subaspek kedalaman dan keakuratan informasi, struktur paragraf yang meliputi subaspek kelengkapan, kepaduan, dan kesatuan paragraf, serta mampu memenuhi aspek penggunaan bahasa yang meliputi subaspek keefektifan kalimat, pilihan kata, ejaan, dan tanda baca. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Data penelitian bersumber dari hasil penelitian siklus I dan siklus II, meliputi data proses dan data hasil. Data hasil adalah data hasil karya tulis siswa dan data proses berupa aktivitas guru dan siswa yang terekam dalam lembar observasi. Hasil analisis data kemampuan menulis paragraf eksposisi siswa dari siklus I ke siklus II menunjukkan peningkatan kemampuan menulis paragraf eksposisi pada aspek isi, struktur paragraf, dan penggunaan bahasa. Kemampuan rata-rata siswa dalam menulis paragraf eksposisi pada aspek isi dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebanyak 17,1 poin dari 65,80 menjadi 82,90. Kemampuan rata-rata siswa dalam menulis paragraf eksposisi pada aspek struktur paragraf dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebanyak 30,3 poin dari 56,3 menjadi 86,6. Kemampuan rata-rata siswa dalam menulis paragraf eksposisi pada aspek penggunaan bahasa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebanyak 19, 4 poin dari 69,3 menjadi 88,7. Sehubungan dengan hasil penelitian ini, disarankan pada guru untuk menggunakan strategi Lipirtup untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf eksposisi. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan strategi pembelajaran pada kompetensi berbahasa yang lain.

Pengembangan VCD latihan Teknik Minangkabau tingkat calon keluarga Perguruan Silat Perisai Diri cabang Malang / Fitri Nuril Laili

 

Kata kunci: latihan, teknik minangkabau, vcd, siswa tingkat calon keluarga Pada penelitian awal melalui penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) mendapatkan hasil dari 10 siswa tingkat calon keluarga yang menyatakan 70% materi minangkabau yang diberikan oleh pelatih kurang mudah dan sulit dilakukan. Sementara itu 80% siswa menyatakan membutuhkan panduan untuk materi minangkabau dalam bentuk yang menarik, mudah dipelajari dan mudah dipahami. Dan 100% siswa menginginkan VCD materi sebagai media dalam materi minangkabau. Hal ini mendapat dukungan dari pelatih Perisai Diri yang menyatakan sangat perlu pengembangan panduan materi minangkabau. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada, yaitu dengan mengembangkan latihan teknik minangkabau yang menarik, mudah dipelajari dan mudah dipahami untuk proses latihan pada tingkat calon keluarga perguruan silat Perisai Diri. Diharapkan, pengembangan ini dapat membantu pelatih dalam proses latihan dengan cara yang mudah dan menarik. Metode yang digunakan penelitian ini adalah pengembangan Borg dan Gall yang diadaptasi menjadi lebih sederhana yaitu: (1) mengumpulkan informasi: (a) mengkaji bahan pustaka, (b) analisis kebutuhan; (2) mendesain produk; (3) validasi desain; (4) revisi I; (5) uji coba tahap I (8 siswa) ; (6) revisi II; (7) uji coba tahap II (30 siswa); (8) produk akhir. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari hasil evaluasi ahli pencak silat diperoleh presentase 83,3% ahli pencak silat, ahli latihan 87,5%, ahli media 75% dan uji tahap I (8 siswa) diperoleh persentase 88,5% , dan pada uji tahap II (30 siswa) diperoleh persentase 90,4% sehingga pengembangan latihan teknik minangkabau menggunakan VCD tingkat calon keluarga perguruan silat Perisai Diri cabang Malang dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan diantaranya: Bagi cabang Malang: Sebaiknya VCD latihan teknik minangkabau ini digunakan untuk menambah sumber belajar siswa, khususnya pada siswa tingkat calon keluarga, sehingga dapat membantu proses latihan. Bagi pelatih Perisai Diri: dalam menggunakan produk ini sebaiknya dilaksanakan seperti apa yang ada dalam isi, kemudian dilakukan evaluasi terhadap kegiatan latihan yang dilakukan.Bagi siswa tingkat calon keluarga: sebaiknya siswa mempelajari dan mempraktikkan isi dalam VCD ini, sehingga keterampilan siswa dalam teknik minangkabau meningkat.. Selain itu, untuk subjek penelitian diharapkan lebih luas, tidak hanya di cabang Malang, tapi juga di cabang-cabang yang lain. Hasil pengembangan ini hanya sampai tersusun sebuah produk, belum sampai pada tingkat efektivitas produk yang dikembangkan jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektivitas produk yang dikembangkan.

Pembuatan manisan terung (Solanum melongena L.) / oleh Erna Rahmawati

 

Evaluasi program penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif kelas X dan kelas XI Keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri 1 Kediri / Novi Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Novi. 2016. Evaluasi Program Penilaian Hasil Belajar Pada Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Produktif Pada Kelas X dan Kelas XI Keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri 1 Kediri. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sutrisno, S.T, M.Pd., (II) Drs. Made Wena, M.Pd, M.T. Kata Kunci: evaluasi, program penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013, mata pelajaran produktif. Penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 merupakan salah satu elemen yang penting dalam kurikulum 2013. Penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 yang baik dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan serta keberhasilan siswa, dalam pencapaian tujuanpembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan program penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif, meliputi: input, proses, dan produk program penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif. Data penelitian digali dengan menggunakan angket pada siswa kelas X dan siswa kelas XI paket keahlian Teknik Konstruksi Kayu di SMK Negeri 1 Kediri. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif evaluatif dengan pendekatan stake. Populasi dalam penelitian ini adalah program penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif pada kelas X dan kelas XI keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri 1 Kediri.Mata pelajaran produktif pada kelas X dan kelas XI terdiri dari 9 macam mata pelajaran. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sensus, sehingga diperoleh sampel sebanyak 9 mata pelajaran. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dengan skala likert. Teknik analisis data menggunakan deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat diperoleh tiga kesimpulan sebagai berikut: (1) Input program penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif pada kelas X dan kelas XI keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri 1 Kediri dilihat dari kesiapan guru, dan saranapenilaian hasil belajar pada kurikulum 2013termasuk kategori cukup,(2) Prosesprogram penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif pada kelas X dan kelas XI keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri 1 Kediri dilihat dari langkah-langkah pelaksanaan penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 oleh guru termasuk kategori cukup, sedangkan macam-macam penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 oleh guru termasuk kategori kurang,(3) Produkprogram penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 mata pelajaran produktif pada kelas X dan kelas XI keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri 1 Kediri dilihat dari kualitas penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 termasuk kategori kurang,sedangkan ketercapaian penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 termasuk kategori cukup.

Penggunaan campuran HN3-H2SO4 sebagai digestorpada penentuan kadar Cu dalam kulit dan daging ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) / Muhammad Yahya

 

Kata Kunci : Digesti, Tembaga (Cu), ikan Sapu-sapu, HNO3-H2SO4. Ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) merupakan salah satu ikan yang dapat hidup dalam kondisi yang ekstrim dan tingkat pencemarannya tinggi. Tingkat pencemaran tinggi menunjukkan kualitas air yang rendah. Salah satu pencemar yang sangat berpengaruh dalam penentuan kualitas air sungai adalah logam berat. Logam berat terakumulasi di dalam sedimen sungai ataupun jaringan tubuh makhluk hidup karena dapat berikatan dengan senyawa organik maupun anorganik. Logam berat dalam sampel organik maupun anorganik dapat ditentukan menggunakan AAS. Sampel-sampel tersebut perlu didigesti terlebih dahulu sebelum dianalisis. Tujuan penelitian adalah menentukan perbandingan optimum campuran HNO3-H2SO4 sebagai digestor pada penentuan kadar Cu dalam kulit dan daging ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) serta mengetahui kadar Cu dalam kulit dan daging ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratoris untuk penetapan kadar Cu dalam kulit dan daging ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) yang diambil dari Bendungan Lengkong Baru dan sungai daerah Jembatan Sepanjang, Surabaya. Metode yang digunakan adalah digesti berbasis HNO3-H2SO4 dengan melakukan variasi volume HNO3 dan H2SO4. Pengukuran kadar Cu hasil digesti menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) pada panjang gelombang (λ) 324,8 nm. Hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kulit dan daging ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) dari Bendungan Lengkong Baru adalah 2.4291 ppm dan 4,3571 ppm tembaga (Cu). Sedangkan untuk kulit dan daging ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) dari Sungai daerah Sepanjang, Surabaya adalah 2.5477 ppm dan 5,5736 ppm. Digesti dengan HNO3-H2SO4 untuk kulit optimum pada perbandingan 20:20 (v/v), sedangkan untuk daging 25:15 (v/v). Kadar Cu dalam daging ikan lebih banyak daripada kadar Cu dalam kulit ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis).

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |