Manajemen kurikulum kelas bilingual (studi kasus di Sekolah Dasar Negeri Percobaan 1 Malang) / Yuli Ernawati

 

Kata kunci: manajemen kurikulum, kelas bilingual Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Kurikulum adalah seperangkat rencana atau pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Program bilingual yang ada di sekolah merupakan salah satu perkembangan pendidikan dalam hal kurikulum pembelajaran karena dilihat dari segi pembelajarannya pun berbeda dengan pembelajaran biasa, pembelajaran bilingual menggunakan dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Kelas bilingual adalah tempat pembelajaran yang menggunakan bilingual (dua bahasa). SDN Percobaan 1 Malang tiga tahun yang lalu membuka kelas bilingual (dua bahasa) untuk Kelas 1 A dan B yang dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas menggunakan dua bahasa secara bergantian. Kurikulum yang digunakan dalam kelas bilingual yaitu mengadopsi dan mengadaptasi dari KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), dalam hal ini sekolah memfasilitasi program bilingual dengan menyediakan buku, kamus, dan media sebagai penunjang pembelajaran. Guru merencanakan pembelajaran supaya mudah dipahami peserta didik, termasuk teknik pembelajaran, menyediakan media pembelajaran, aktif mengikuti workshop, dan lain-lain Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas tentang manajemen kurikulum dalam kelas bilingual, yaitu bagaimana perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, faktor pendukung dan penghambat, alternatif pemecahan dalam kelas bilingual. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan studi kasus yang pada akhirnya peneliti dapat mendeskripsikan secara rinci manajemen kurikulum kelas bilingual di SDN Percobaan 1 Malang. Pengambilan data menggunakan sumber data manusia dan non manusia. Sumber data manusia adalah kepala sekolah, waka kurikulum, guru bilingual (key informan), wali kelas. Sumber data non manusia adalah sumber tertulis berupa dokumen tentang kelas bilingual, arsip-arsip, foto. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Analisis data menggunakan reduksi data, display data, dan verifikasi data. Tahap penelitian meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan. Temuan penelitian ini yaitu (1) perencanaan kurikulum dari KTSP yang sudah dimodifikasi oleh sekolah dan guru bilingual yang disesuaikan dengan kondisi kelas. Setelah kurikulum selesai disusun selanjutnya membuat silabus dan RPP (Rancangan Program Pembelajaran) yang disusun oleh guru bilingual dibantu dengan waka kurikulum dan juga wali kelas; (2) pelaksanaan kurikulum dalam pembelajaran di kelas bilingual dilakukan di dalam kelas. Dalam pelaksanaan kelas bilingual yaitu 2 jam/mata pelajaran/minggu; (3) pengawasan kurikulum dilaksanakan oleh pihak sekolah dan juga dari pihak dinas pendidikan. Pengawasan oleh sekolah dilakukan kepala sekolah dengan tidak ada jadwal khusus, dan dari rapor bisa dilihat nilai peserta didik. Pengawas dari Dinas Pendidikan Kota Malang tidak terjadwal kapan pengawasan dilakukan hanya saja waktu pengawasan tiap satu tahun sekali; (4) faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan kelas bilingual untuk faktor penghambat dilihat dari beberapa segi, dari segi peserta didik dalam pelafalan vocabulary masih lemah, segi wali murid tidak sedikit wali murid yang dapat membantu putra-putrinya untuk mengerjakan PR, segi ruang kelas memang ukuran kelas besar dengan kapasitas peserta didik yang cukup banyak terkadang membuat suasana kelas tidak kondusif tetapi sejauh ini bisa dikendalikan. Untuk faktor pendukung dari peserta didik antusias dalam pembelajaran di kelas bilingual, dan dari wali murid juga mereka sangat mendukung adanya kelas bilingual di SDN Percobaan 1 Malang; dan (5) alternatif pemecahan masalah untuk peserta didik ketika mendapat PR disarankan di rumah memiliki kamus untuk mengerjakan PR, dan wali murid dapat membantu putra-putri di rumah. Saran yang diberikan terkait dengan hasil penelitian ini yaitu (1) bagi Kepala SDN Percobaan 1 Malang, lebih ditingkatkan lagi dalam melakukan pengawasan dan terjadwal kapan melakukan pengawasan oleh kepala sekolah; (2) bagi guru bilingual, hendaknya secara terus menerus melakukan perbaikan dalam melaksanakan tugas sebagai guru bilingual (pengajaran) agar menjadi lebih baik, dan dapat meningkatkan mutu dari pada kelas bilingual di SDN Percobaan 1 Malang; (3) bagi wali kelas dan guru, saling bekerja sama dalam pelaksanaan kelas bilingual agar dapat berjalan dengan baik; (4) bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, penelitian ini dapat dijadikan bahan literatur dan bahan kepustakaan untuk mahasiswa Administrasi Pendidikan dalam bidang manajemen kurikulum dalam kelas bilingual; dan (5) bagi peneliti lain, hendaknya dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menambah kajian tentang manajemen kurikulum dalam kelas bilingual dengan permasalahan yang serupa.

Pola perubahan jumlah dan klasifikasi sunspot diamati dari laboratorium astronomi jurusan fisika FMIPA UM pada bulan Februari - April 2012 / Desy Hosenainy

 

Kata Kunci: Sunspot, Aktivitas Matahari, Klasifikasi Zurich Aktivitas matahari berulang rata – rata setiap 11 tahun sekali. Saat ini Matahari memasuki siklus 24 yang dimulai sejak Desember 2008. Siklus 24 diprediksi maksimum terjadi tahun 2013. Menurut kondisi perkembangan sunspot selama kala hidupnya dapat diklasifikasikan ke dalam kelas – kelas perkembangan Sunspot Zurich. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas dan klasifikasi sunspot di permukaan matahari yang diperoleh di Laboratorium Astronomi Fisika UM pada bulan Februari - April 2012 dengan melakukan observasi langsung. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, yaitu memaparkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Astronomi Fisika UM dengan menggunakan Teleskop Celestron. Hasil penelitian menunjukkan perbandingkan nilai 10g+f di Laboratorium Astronomi Fisika UM terhadap Kanzelhöhe Solar Observatory (KSO) yang berada di Universitas Karl Franzen, Graz, Austria didapatkan sebesar 1,154 yang merupakan faktor koreksi Laboratorium Astronomi Fisika UM terhadap Kanzelhöhe Solar Observatory (KSO). Aktivitas Matahari tertinggi yang diamati pada bulan Februari – April 2012 terjadi pada bulan Maret 2012 dengan bilangan sunspot sebesar 76,74. Sedangkan Pola perubahan grup sunspot tidak menunjukkan adanya pola perubahan tertentu. Selama perkembangan grup sunspot memperlihatkan perubahan – perubahan struktur atau fisik grup baik kelas grup, jumlah bintik maupun panjang grup. Penelitian terhadap jumlah dan klasifikasi sunspot tiap bulannya harus terus dilakukan, mengingat perubahan yang terus meningkat pada tahun 2012 dan diprediksi puncak aktivitas matahari berada pada tahun 2013.

Nilai-Nilai akhlak mulia dalam kumpulan cerpen orang-orang tercinta dan setegar kupu-kupu dan saran implementasinya untuk pendidikan bekarakter siswa Smp kelas VII melalui pembelajaran apresiasi sastra / Yulia Andi Pratiwi

 

Kata Kunci: Nilai Akhlak Mulia, Pendidikan Karakter, Apresiasi Sastra. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal itu berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pembelajaran apresiasi sastra khususnya cerita fiksi (cerpen) dapat dijadikan sebagai media untuk menanamkan pendidikan karakter. Di samping itu, saran implementasi kumpulan cerpen untuk pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran apresiasi sastra penting untuk diberikan kepada guru/pendidik. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan nilai akhlak mulia kepada Tuhan yang terkandung dalam kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta dan Setegar Kupu-Kupu Tak Bersayap, (2) mendeskripsikan nilai akhlak mulia kepada keluarga yang terkandung dalam kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta dan Setegar Kupu-Kupu Tak Bersayap, (3) mendeskripsikan nilai akhlak mulia kepada masyarakat yang terkandung dalam kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta dan Setegar Kupu-Kupu Tak Bersayap, (4) mendeskripsikan saran implementasi kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta dan Setegar Kupu-Kupu Tak Bersayap untuk pendidikan karakter melalui pembelajaran apresiasi sastra. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kutipan narasi dan dialog antartokoh yang mencerminkan nilai-nilai akhlak mulia kepada Tuhan, keluarga, dan masyarakat yang terdapat dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca sumber data teks cerita pendek, mengidentifikasi dan mengkode data sesuai dengan aspek kajian peneliti, dan mengklasifikasikan data. Dalam menganalisis data, peneliti menyeleksi, menyajikan, dan menyimpulkan data. Temuan penelitian tentang nilai akhlak mulia kepada Tuhan, keluarga, dan masyarakat, serta saran implementasi kumpulan cerpen OOT dan SKTB untuk pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran apresiasi sastra sebagai berikut. Pertama, nilai akhlak mulia kepada Tuhan (NAMKT) yang terkandung dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB, terdiri atas tiga macam, yakni nilai keimanan, nilai ketakwaan, dan nilai kesyukuran. Kedua, nilai akhlak mulia kepada keluarga (NAMKK) yang terkandung dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB, terdiri atas dua macam, yakni nilai akhlak mulia kepada orang tua dan nilai akhlak mulia kepada saudara. Ketiga, nilai akhlak mulia kepada masyarakat (NAMKM) yang terkandung dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB, yakni nilai akhlak mulia kepada teman dan orang lain. Keempat, saran implementasi kumpulan cerpen OOT dan SKTB untuk pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran apresiasi sastra, terdiri atas tiga macam, yakni kultural-edukatif, emotif, dan realita sosial. Kultural-edukatif, yakni menumbuhkan kebiasaan yang baik, menumbuhkan rasa kepedulian, menumbuhkan rasa tanggung-jawab, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. Emotif, yakni menumbuhkan rasa simpati dan menumbuhkan rasa empati. Realita sosial, yakni penggambaran nyata yang dialami anak dalam kehidupannya, tidak bersifat fiktif atau khayal. Dari temuan penelitian tentang akhlak mulia kepada Tuhan, keluarga, dan masyarakat, serta saran implementasi kumpulan cerpen OOT dan SKTB untuk pendidikan karakter melalui pembelajaran apresiasi sastra, disimpulkan bahwa (1) akhlak mulia kepada Tuhan (NAMKT) yang terkandung dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB meliputi tiga jenis, yakni nilai keimanan, nilai ketakwaan, dan nilai kesyukuran. Nilai keimanan, yakni mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Nilai ketakwaan, yakni melakukan kewajiban beribadah, membiasakan berdoa kepada Tuhan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan. Nilai kesyukuran, yakni membiasakan memuji kebesaran Tuhan, (2) nilai akhlak mulia kepada keluarga (NAMKK) yang terkandung dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB, terdiri atas dua macam, yakni nilai akhlak mulia kepada orang tua dan nilai akhlak mulia kepada saudara. Nilai akhlak mulia kepada orang tua, yakni membaktikan diri kepada kedua orang tua dengan membantu dan selalu mendoakan, menjalankan amanah orang tua dengan ikhlas dan bertanggung jawab. Nilai akhlak mulia kepada saudara, yakni menyayangi saudara yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua,(3) nilai akhlak mulia kepada masyarakat (NAMKM) yang terkandung dalam kumpulan cerpen OOT dan SKTB, terdiri atas nilai akhlak mulia kepada teman dan orang lain. Nilai akhlak mulia kepada teman, yakni menyayangi teman, menjalin dan memelihara persahabatan. Nilai akhlak mulia kepada teman atau orang lain, yakni menolong teman atau orang lain yang sedang mengalami kesusahan, (4) saran implementasi kumpulan cerpen OOT dan SKTB untuk pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran apresiasi satra hendaknya terdiri atas tiga kriteria, yakni kultural-edukatif, emotif, dan realita sosial. Berdasarkan simpulan penelitian disampaikan saran, antara lain: (1) guru hendaknya menggunakan cerpen bermuatan nilai akhlak mulia kepada Tuhan, keluarga, dan masyarakat sebagai bahan apresiasi cerita fiksi, (2) siswa hendaknya dapat mengambil hikmah dari cerpen yang bermuatan nilai akhlak mulia kepada Tuhan, keluarga, dan masyarakat, dan (3) peneliti lain hendaknya menggunakan cerpen bermuatan nilai akhlak mulia untuk kumpulan cerpen yang lebih luas sehingga dapat diperoleh data cerpen yang bermuatan nilai akhlak mulia.

Peningkatan kemampuan motorik kasar anak melalui tari kupu-kupu pada kelompok B di TK Pratiwi Pesudukuh Bagor Nganjuk / Eka Wijiastutik

 

Pemetaan resistivitas dengan metode geolistrik flashres 64 61-channel untuk mengidentifikasi deposit bijih emas, titanium dan kalium di Desa Sukorejo Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung / Yunita Agustin

 

Kata kunci: Geolistrik, Deposit , FlashRES64 61-Channel. Batuan sebagai sumber mineral yang berharga merupakan sumber daya alam yang banyak dibutuhkan dan digunakan untuk kehidupan manusia. Desa Sukorejo, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung masih belum memiliki informasi secara detail mengenai potensi deposit sumber daya mineral yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besar deposit dan pola sebaran bijih Emas, Titanium dan Kalium. Hasil uji laboratorium menggunakan XRF menunjukkan bahwa pada lapisan atas di daerah tersebut mengandung bijih Emas (Au) 0,22%, Titanium (Ti) 3,0% dan Kalium (K) 10%. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengungkap besar deposit yang ada di daerah tersebut. Penelitian dilakukan dengan survei lapangan, penentuan line elektroda, pemasangan elektroda, mengalirkan arus melalui elektroda, akuisisi data dengan ZZ Resistivity, pengolahan data dengan software Surfer 9.0, dan prediksi deposit. Jarak line elektroda adalah 11 meter dan jarak spasi elektroda adalah 10 meter dengan kedalaman 100 meter. Dari hasil penelitian, diprediksi volume batuan mineral yang mengandung bijih Emas (Au), Titanium (Ti), dan Kalium (K) adalah 36.575 m3. Tetapi tidak menutup kemungkinan mencapai 419.650 m3.

Pola asuh orang tua berdasarkan pengalaman anak usia dini (studi fenomenologi pada peserta didik PAUD Zam Zam Malang / Faisan Amri Ramadhan

 

Kata Kunci: Pola Asuh, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pola asuh orang tua adalah hal yang paling penting dalam perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum tentang pola asuh orang tua berdasarkan pengalaman anak usia dini di PAUD Zam Zam. Pendekatan dalam penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif studi fenomenologi. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis data fenomenologi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah pola asuh berdasarkan pengalaman anak ada 3 jenis, yaitu pola asuh permisif, demokratis dan otoriter. Dari keenam anak mendapatkan penerapan pola asuh yang berbeda-beda. Itu dikarenakan orang tua mereka mempunyai pandangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Orang tua mereka menginginkan anaknya setipe dengan orang tuanya. Pola asuh yang disukai anak adalah pola asuh demokratis. Dari keenam anak mengatakan pola asuh demokratis yang disukai. Pola asuh demokratis adalah pola asuh salah satu teknik atau cara mendidik dan membimbing anak, dimana orang tua bersikap terbuka terhadap tuntutan dan pendapat yang dikemukakan anak. Pola asuh demokratis yang berparalel dengan prinsip-prinsip andragogi seperti memberikan kebebasan berpendapat untuk anak, mendapatkan pengarahan, dilakukan oleh dua belah pihak dan saling menolong adalah pola asuh yang disukai anak. Alasan anak menyukai pola asuh demokratis adalah anak merasa diperhatikan, diberi pilihan dan diarahkan. Mereka merasa pola asuh demokratis tidak menyuruh-nyuruh, tidak membentak bahkan diberi kebebasan penuh. Hal tersebut berpengaruh bagi teori andragogi yang tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, tetapi dapat pula diterapkan pada anak-anak. Karena anak-anak menyukai pola asuh yang sesuai dengan prinsip andragogi. Dari hasil penelitian, saran yang diajukan peneliti yaitu: (1) bagi praktisi (orang tua dan peserta didik) agar meningkatkan pemahaman tentang pola asuh. Peningkatan pemahaman tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan kepada anak. Diharapkan para praktisi baik orang tua maupun pendidik dapat memahami pola asuh yang sesuai dengan kebutuhan serta keinginan anak, sehingga proses perkembangan anak dapat terjadi secara maksimal bila penyampaian pola asuhnya sesuai dengan yang disukai anak-anak. (2) bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah diharapkan untuk dapat membantu memberikan pendampingan baik kepada pihak orang tua maupun pendidik untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai pola asuh yang tepat kepada anak.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) siswa kelas X SMA Negeri 4 Blitar / Resa Subhan Effendy

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Group Investigation (GI), hasil belajar. Salah satu permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di kelas X SMA Negeri 4 Blitar adalah rendahnya hasil belajar siswa. Dari hasil belajar pra tindakan diketahui bahwa hanya 12 siswa (40%) yang memenuhi SKM, sedangkan 18 siswa (60%) belum memenuhi, dengan rata-rata hasil belajar pra tindakan sebesar 69. Rendahnya hasil belajar ini dikarenakan guru masih menggunakan metode pembelajaran tradisional dan bersifat teacher oriented seperti ceramah. Akibatnya aktivitas dan keterlibatan siswa dalam belajar menjadi berkurang karena guru mendominasi kegiatan pembelajaran. Untuk itu perlu diterapkan model pembelajaran yang banyak melibatkan aktivitas siswa dalam belajar, salah satunya pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Tahap-tahap penerapannya yaitu: 1) pengelompokan, 2) perencanaan, 3) penyelidikan, 4) pengorganisasian, 5) presentasi, dan 6) evaluasi. Rancangan penelitian ini sendiri menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama dua siklus. Dimana pada setiap siklusnya terdiri dari 4 tahapan meliputi: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Data dalam penelitian diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data ini kemudian dianalisis dan diolah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada siklus I menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa adalah 72,5. Sebanyak 17 siswa (56,6%) sudah memenuhi SKM, sedangkan 13 siswa (43,4%) belum memenuhi SKM. Besarnya peningkatan rata-rata hasil belajar siklus I jika dibandingkan dengan hasil belajar pra tindakan sebesar 4%. Pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 79 dengan keterangan 24 siswa (80%) memenuhi SKM, sedangkan 6 siswa (20%) belum memenuhi SKM. Besarnya peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus II sebesar 8,9%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Group Investigation (GI) dapat meningkatkan hasil belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu: 1) penerapan model Group Investigation (GI) dapat digunakan sebagai referensi sekaligus pertimbangan dalam pemanfaatan model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah, 2) guru perlu melakukan persiapan yang matang, rajin memberikan motivasi, dan semangat kepada siswa agar penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dapat berjalan sesuai dengan perencanaan.

Penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang / Ahmad Sanusi

 

Kata kunci: Penerapan Demokrasi, Lingkungan Siswa Demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Tetapi dalam penerapannya dari Indonesia merdeka hingga sekarang selalu ada penyimpangan pada setiap rezim pemerintah yang pernah berkuasa di negeri ini. Angin segar sempat menginggapi penerapan demokrasi di Indonesia ketika runtuhnya rezim otoriter Orde Baru pada tahun 1998. Namun penerapan demokrasi pada zaman reformasi ini di nilai menyimpang. Agar pemahaman terhadap demokrasi tidak menyimpang maka perlu dilakukan pendidikan demokrasi. Lebih khusus, agar pemahaman siswa terhadap demokrasi tidak menyimpang maka pendidikan demokrasi perlu dilakukan. Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk melakukan pendidikan demokrasi, oleh karena itu SMP Negeri 17 Malang sebagai lembaga pendidikan juga melakukan pendidikan tentang penerapan demokrasi. dengan melakukan pendidikan penerapan demokrasi diharapkan siswa-siswi SMP Negeri 17 Malang dapat memahami penerapan demokrasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan latar belakang penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang, yang mencakup tujuan penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang; (2) mendeskripsikan wujud nyata penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang; (3) mendeskripsikan tata cara penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang; (4) mendeskripsikan faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang; (5) mendeskripsikan upaya untuk mengatasi faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan kunci seperti peserta didik, kepala SMP Negeri 17 Malang, guru pengajar, dan guru Pembina OSIS. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (1) latar belakang penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMP Negeri 17 Malang adalah mengacu apa yang telah diamanatkan oleh pancasila sila keempat yang berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” dan pembukaan UUD 1945 alinea pertama hingga alinea keempat. (2) Wujud nyata penerapan demokrasi di lingkungan siswa SMPN 17 Malang adalah dengan adanya pemilihan OSIS, melakukan musyawarah untuk memperoleh kata mufakat serta memberi kebebasan kepada siswa-siswi untuk menyampaikan inspirasinya kepada guru dan kepala sekolah. (3) Tata cara penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang adalah melaksanakan pemilihan OSIS dengan cara seperti pemilihan umum yang secara langsung dan semua siswa dapat memberikan hak suaranya untuk memilih dan dipilih serta melakukan kampenye bagi calon ketua OSIS. (4) Faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang pemahaman siswa-siswi terhadap materi demokrasi atau penerapan demokrasi yang sangat rendah, selain siswa-siswi ketua OSIS nya saja juga tidak paham tentang penerapan demokrasi sehingga sangat menghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang. (5) Upaya untuk mengatasi faktor penghambat penerapan demokrasi di lingkungan SMP Negeri 17 Malang adalah Sering melakukan sosialisasi kepada siswa tentang penerapan demokrasi yang baik dan benar agar siswa paham dan tidak keliru dalam mengartikan demokrasi serta melakukan praktek-praktek yang berkaitan dengan penerapan demokrasi khususnya penerapan demokrasi disekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti mengajukan beberapa saran diantaranya adalah: (1) Guru perlu meningkatkan motivasi agar siswa memiliki semangat untuk belajar,baik belajar tentang materi yang mengenai demokrasi maupun penerapan demokrasi. misalnya dengan cara memakai metode belajar belajar yang menyenangkan, dan sekolah memberikan fasilitas yang lebih memadai. (2) Guru pembina OSIS Lebih sering melakukan sosialisasi kepada siswa-siswi bagaimana cara berdemokrasi yang baik, misalnya dengan cara menempelkan tulisan-tulisan di mading sekolah tentang pentingnya penerapan demokrasi di sekolah.(3) Siswa harus lebih kreatif dalam memperoleh sumber dana sendiri agar tidak terlalu bergantung pada sekolah. Misalnya dengan cara mengelolah koperasi untuk menjual barang-barang keperluan siswa SMPN 17 Malang. (4) Sekolah Perlu menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang kondusif agar siswa lebih nyaman dan tidak merasa takut untuk menyampaikan aspirasinya kepada guru, misalnya dengan mengembangkan sikap sopan santun sesama siswa maupun kepada guru (5) Sebagai tempat pendidikan bagi calon guru PKn perlu melakukan penambahan referensi buku-buku tentang demokrasi di perpustakaan jurusan HKn agar mempermudah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan ilmu khususnya tentang demokrasi, mengingat sangat pentingnya masalah penerapan demokrasi bagi calon pendidik atau bagi masyarakat umum.

Hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial-emosional anak usia dini di PAUD Nurusy Syamsi Tanggung Turen Malang / Ria Novita Ningsih

 

Kata Kunci: Intensitas Pengasuhan Orang Tua, Perkembangan Sosial Emosional, Anak Usia Dini. Intensitas pengasuhan orang tua merupakan bentuk interaksi pengasuhan secara langsung mulai dari perkembangan sosial emosional masing-masing anak yang sangatlah unik. Perkembangan sosial emosional anak timbul dari adanya rasa kasih sayang, marah, senang, iri hati, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui a) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial emosional anak usia dini, b) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial anak usia dini usia dini, c) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek amarah, d) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek takut, e) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosial emosional anak usia dini pada aspek ingin tahu, f) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek iri hati, g) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek gembira, h) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek sedih, i) hubungan intensitas pengasuhan orang tua dengan perkembangan emosional anak usia dini pada aspek kasih sayang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua warga belajar di PAUD Nurusy Syamsi yang berjumlah 125 orang dengan menggunakan teknik simple random sampling karena populasi dianggap homogen dan diperoleh sampel sebanyak 50 orang. Pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah analisis deskriptif dan kualifikasi presentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 50 responden intensitas pengasuhan orang tua termasuk kategori sangat baik sebesar 51,72%, perkembangan sosial anak usia dini termasuk kategori sangat baik sebesar 51,72%, perkembangan emosional anak usia dini dibagi menjadi tujuh aspek, pada aspek amarah termasuk kategori tdak baik sebesar 100%, pada aspek takut termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek ingin tahu termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek iri hati termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek gembira termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek sedih termasuk kategori tidak baik sebesar 100%, pada aspek kasih sayang termasuk kategori tidak baik sebesar 100%. Tetapi pada hasil korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara variabel X dan Y. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas pengasuhan dengan perkembangan sosial emosional anak usia dini di PAUD Nurusy Syamsi Tanggung Turen Malang. Dari hasil penelitian ini juga disarankan agar orang tua lebih mengembangkan intensitas pengasuhan yang diterapkan pada anak usia dini. Bagi jurusan PLS hendaknya lebih mengembangkan lagi parenting khususnya pada intensitas pengasuhan orang tua. Bagi peneliti lanjutan lebih difokuskan pada intensitas pengasuhan anak usia dini dengan perkembangan emosional anak usia dini.

Analisis isi buku teks ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas 4 SD terbitan pusat pembukuan Departemen Pendidikan Nasional / Dani Prasetiyo

 

Kata Kunci: analisis buku teks, Ilmu Pengetahuan Sosial SD Bahan ajar merupakan bahan pembelajaran yang digunakan untuk membantu siswa dalam belajar. Bahan ajar yang dimaksud, bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar tertulis. Buku teks merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan belajar mengajar, terlebih bagi guru yang yang belum mampu membuat bahan ajar sendiri berdasarkan kurikulum yang berlaku. Buku teks yang baik adalah buku teks yang isinya sesuai dengan kurikulum yang berlaku, karena memang buku teks pembuatannya mengacu pada kurikulum yang berlaku pada saat itu. Berdasarkan hasil kajian terhadap buku IPS kelas 4 terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia pada pokok bahasan peta pada minggu ke-3 bulan Desember, ditemukan terdapat indikator yang belum muncul dalam buku teks tersebut. Indikator tersebut yaitu mendeskripsikan jenis-jenis peta, maka ketika siswa membaca buku tersebut pengetahuan yang didapat siswa tidak menyeluruh. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif dalam penelitian ini bermaksud untuk mengetahui presentase kesesuaian indikator yang termuat dalam kurikulum dengan materi yang terdapat dalam buku teks dan kesesuaian buku teks dilihat dari aspek kognitif yang meliputi adanya fakta, konsep, dan generalisasi. Tidak hanya itu, tetapi dilanjutkan dengan mendeskripsikan hasil analisis pada cakupan materi yang ada pada buku teks berdasarkan aspek afektif dan psikomotor, serta mendeskripsikan hasil analisis evaluasi pada buku teks berdasarkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sampel dalam penelitian ini adalah buku teks IPS SD kelas 4 terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia. Sampel pada penelitian ini diambil dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). Berdasarkan hasil analisis terhadap buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia diketahui kesesuaian cakupan yang terangkum dalam buku IPS SD tersebut berdasarkan kurikulum dapat diketahui sangat sesuai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis Kompetensi Dasar 1.1 sampai Kompetensi Dasar 2.4 terdapat 53 materi pokok yang ingin dicapai. Materi pokok yang belum muncul ada 11 materi pokok atau 20,76%, dan yang telah muncul berjumlah 42 materi pokok atau 79,24%. Dalam analisis selanjutnya, diketahui kesesuaian cakupan yang terangkum dalam buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia berdasarkan aspek kognitif yang berupa fakta, konsep, dan generalisasi dapat dikatakan cukup sesuai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis terdapat 78 fakta, 103 konsep, dan 25 generalisasi yang seharusnya dicapai. Dari data tersebut fakta yang belum muncul ada 29 atau 37,18% dan yang telah muncul ada 49 atau 62,82%, konsep yang belum muncul ada 39 atau 37,86% dan yang telah muncul ada 64 atau 62,14%, dan generalisasi yang belum muncul ada 5 atau 20,00% dan yang telah muncul ada 20 atau 80,00%. Selanjutnya dalam analisis buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia terhadap cakupan materi berdasarkan aspek afektif dan aspek psikomotor dapat dikatakan sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari 117 materi pelajaran yang ada pada buku tersebut hanya terdapat 20 materi pelajaran yang terdapat aspek afektif dan 97 materi pelajaran tidak terdapat aspek afektif. Sedangkan untuk aspek psikomotor, dari 117 materi pelajaran yang ada hanya terdapat pada 9 materi pelajaran dan 108 materi pelajaran tidak terdapat aspek psikomotor. Dalam analisis selanjutnya, diketahui soal evaluasi yang terdapat pada buku teks terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia berdasarkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sangat tidak sesuai. Hal ini dapat dilihat dari 310 butir soal evaluasi yang ada pada buku tersebut hanya berada pada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotornya tidak muncul. Dari 310 butir soal kognitif tersebut, 290 butir soal masuk pada C1, 16 butir soal masuk pada C2, dan 4 butir soal masuk pada C3. Saran dalam penelitian ini yaitu, guru sebagai pengajar hendaknya lebih selektif dalam memilih bahan ajar, khususnya buku teks yang sesuai dengan kurikulum yang ada dan juga disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, sehingga materi yang terangkum dalam buku teks dapat dengan mudah dipahami oleh siswa sehingga membantu dalam belajar, dan peneliti menyarankan agar peneliti lain dapat melakukan penelitian yang sejenis namun cakupan analisisnya bisa lebih banyak, misalnya dari aspek bahasa dan media dalam buku teks.

Kegiatan melukis kaca siswa kelas XI IPS 1 pada pembelajaran seni rupa semester 2 (genap) di SMA Negeri 2 Batu / Tiara Astriani

 

Kata Kunci: Melukis kaca, Siswa XI IPS, Pembelajaran Seni Rupa, SMA 2 Batu Kreatifitas siswa SMA yang berkembang memerlukan variasi kegiatan baru dalam pembelajaran seni budaya untuk menambah pengalaman baru bagi siswa. Variasi tersebut yaitu melu¬kis dengan media kaca. Tujuan penelitian ini ada¬lah untuk mengetahui proses pembela¬jar¬an lukis kaca di SMAN 2 Batu, hasil krea¬tifitas siswa, dan fak¬tor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajarannya. Pene¬litian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melakukan obse¬rva¬si, wawancara, dokumentasi dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran melukis kaca pada sis¬wa kelas XI IPS I belum menunjukkan hasil yang maksimal. Hasil dari segi tema kom-posisi, variasi warna yang digunakan masih belum maksimal. Sela¬in itu minat siswa menurun saat melakukan proses pembelajaran. Siswa ma¬sih merasa kesulit¬an dalam men¬cari ide dan melakukan proses pembuatan sket gambar. Dalam pro¬ses pewarnaan, siswa hanya menggunakan bahan seadanya saja tanpa ada usaha un¬¬tuk menampilkan karya yang maksimal. Hal itu disebabkan ka¬rena da¬¬lam pem-belajaranya guru tidak menggunakan metode dan pendekatan yang te¬pat. Terdapat beberapa faktor yang mendukung proses pembelajaran lukis kaca diantaranya yaitu dari pihak sekolah dan orang tua yang mendu¬kung sepenuhnya proses pembe¬lajar¬an lukis kaca. Selain itu biaya yang digunakan ekonomis dan mudah menda¬patka alat dan bahan. Faktor penghambat dalam pembelajaran lukis kaca yaitu ke¬tidak¬siapan guru diantaranya RPP, metode dan pendekatan yang ku¬rang mendu¬kung, waktu dan sarana yang terbatas sehingga proses melukis kaca tidak bisa dikerjakan sepenuhnya disekolah. Dari hasil penelitian disarankan model pembe¬lajar¬an, metode dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dirancang secara mudah dan dapat dicerna oleh siswa. Isi materi pembelajaran sebaiknya mengikuti kurikulum yang berlaku. Pihak sekolah sendiri diharapkan mendukung proses pembelajaran seni dengan menyediakan ruang khusus untuk pembelajaran seni.

Cerita fiksi dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP / Dini Pangestuning Tyas

 

Kata Kunci: cerita fiksi, buku teks bahasa Indonesia SMP. Buku teks yang baik hendaknya menarik dan sesuai dengan kemampuan penggunanya. Buku teks bahasa Indonesia terdapat teks sastra dan nonsastra. Teks yang diteliti dalam penelitian ini adalah teks sastra yang meliputi cerpen dan dongeng. Novel tidak diteliti karena dalam buku teks bahasa Indonesia SMP, novel berupa kutipan sehingga kurang tepat untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Cerita Fiksi dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data penelitian ini adalah paparan kalimat yang berupa kutipan cerita. Sumber data penelitian ini adalah cerpen dan dongeng yang terdapat dalam buku teks bahasa Indonesia SMP kelas VII, VIII, dan IX. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa tabel pengumpul data dan untuk mengenali cerita fiksi, maka digunakan tabel identifikasi cerita. Tahapan analisis data (1) menganalisis tokoh utama, (2) menganalisis sudut pandang, (3) menganalisis penokohan tokoh, (4) menganalisis latar pada cerita, (5) menganalisis alur cerita, (6) menganalisis tema, dan (7) menganalisis kesesuaian cerita fiksi dengan penggunanya. Pengecekan keabsahan data pada penelitian ini dengan tiga cara, yaitu (1) ketekunan pengamatan, (2) kecukupan referensial, dan (3) diskusi kesejawatan. Berdasarkan hasil analisis data diketahui dan disimpulkan bahwa (1) tokoh utama dalam cerita fiksi sebagian besar adalah rakyat biasa dan penokohan dalam cerita fiksi sebagian besar menggunakan teknik dramatik, (2) latar cerpen dan dongeng ditemukan bahwa sebagian besar tempat yang digunakan dalam cerita fiksi tersebut adalah di rumah, (3) alur cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia SMP sebagian besar bersifat kronologis, (4) sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerita fiksi sebagian besar menggunakan sudut pandang orang ketiga, (5) tema yang ditemukan berupa tema sosial dan egoik, (6) kesesuaian cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia SMP dengan aspek psikologi siswa SMP dan latar, sebagian besar sesuai dengan keadaan sekarang. Dari kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu (1) siswa dianjurkan untuk lebih meningkatkan kegemaran membaca karya sastra karena melalui karya sastra, wawasan pengetahuan bisa bertambah luas, (2) guru agar memanfaatkan hasil penelitian ini untuk mengetahui dan memahami karakteristik cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia SMP serta dapat memilih teks sastra yang sesuai untuk siswa, dan (3) peneliti selanjutnya agar dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan cerita fiksi dalam buku teks bahasa Indonesia.

Pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah 1 Malang / Yulistine Dwi Susanti

 

Kata Kunci : Ekstrakurikuler , Melukis, SD (Sekolah Dasar) Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan diluar jam kurikuler, yang ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar akademik. Sehingga dalam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki siswa tersebut. SD Muhammadiyah 1 Malang adalah salah satu sekolah dasar di Malang yang menyediakan beragam kegiatan ektrakurikuler, termasuk kegiatan ekstrakurikuler melukis. Pelaksanaannya merupakan kegiatan wajib yang diikuti oleh siswa kelas 1 dan kelas 2. Sekolah menyediakan fasilitas menunjang untuk kegiatan ekstrakurikuler ini, misalnya krayon dan buku gambar yang diberikan kepada masing-masing siswa. Pelaksanaannya dibimbing oleh pengajar dari LKM (Lembaga Kesenian Malang). Siswa diajarkan untuk mewarnai menggunakan krayon dengan metode pemberian pola. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah I Malang yang berfokus pada bagaimana pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler melukis dan bagaimana pelaksanaan kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler melukis serta bagaimana hasil karya siswa peserta ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah I Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Analisis data dimulai dari tahap reduksi data, sajian data, dan tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut didapatkan beberapa kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut: (1) mengenai pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler melukis, sekolah belum mengalami kendala selama 3 tahun ekstrakurikuler melukis diadakan, hingga saat ini belum tampak hasil atau prestasi yang menonjol yang ditunjukkan oleh siswa peserta ekstrakurikuler melukis; (2) Pelaksanaan ekstrakurikuler melukis di SD Muhammadiyah I Malang merupakan kegiatan yang menekankan kegiatan mewarnai dengan menggunakan metode pemberian pola, bukan merupakan kegiatan menggambar bebas ataupun melukis. Minat sangat berpengaruh dalam kegiatan pembelajaran, kaitannya dengan kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler melukis guru kesulitan mengarahkan dan menertibkan siswa, siswa cenderung menunjukkan sikap kurang perhatian pada pembelajaran, memberontak, bermain-main, enggan atau hanya diam saja dan mengerjakan tugas dari guru, sehingga tujuan pembelajaran sulit dicapai; (3) karya siswa dalam satu kelas cenderung menghasilkan karya yang memiliki kemiripan.

Perilaku seks dan kehamilan pranikah remaja (studi fenomenologi) / Diah Megawati

 

Kata Kunci: perilaku seks, kehamilan pranikah remaja, fenomenologis Masa remaja merupakan masa untuk mencari jati diri. Remaja yang sedang dalam masa pubertas atau yang akan memasuki masa puber lebih dipengaruhi oleh libido atau kematangan seksual yang sedang memuncak. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Bagi sebagian remaja, seks pranikah dianggap suatu hal yang wajar seiring dengan perubahan zaman saat ini, sehingga dipersepsikan sebagai gaya hidup yang dapat dikonsumsi oleh siapa pun. Bagi mereka yang awalnya hanya mencoba-coba melakukan hubungan atau kontak seksual, cenderung ketagihan dan akan melakukan lagi, sebab mereka telah mendapatkan kenikmatan dari hubungan terlarang ini. Hal yang paling menonjol dan nyata dari kasus ini adalah meningkatnya angka kehamilan pranikah yang tidak diinginkan oleh pasangan remaja yang pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan rinci mengenai fenomena di lapangan tentang: (1) pemaknaan perilaku seks pranikah bagi remaja, dan (2) pemaknaan kehamilan pranikah bagi remaja. Fenomena atau kasus tersebut akhir-akhir ini marak terjadi pada kehidupan remaja. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Rancangan atau desain penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah desain penelitian fenomenologis. Pendekatan kualitatif dipilih oleh peneliti untuk memperoleh data mengenai fenomena remaja yang terkait dengan pemaknaan perilaku seks pranikah bagi remaja dan pemaknaan kehamilan pranikah bagi remaja. Sumber data penelitian terdiri dari tiga informan yaitu subyek penelitian sebagai sumber primer, saudara kandung laki-laki subyek penelitian sebagai sumber sekunder, dan teman subyek penelitian sebagai sumber tersier. Sumber data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik bola salju (snowball sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Subyek penelitian dalam kasus ini bernama Mawar. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap Mawar, diperoleh hasil penelitian bahwa kegiatan subyek penelitian pada kesehariannya sering nongkrong dengan pacar dan teman-temannya di alun-alun, berboncengan, dan makan ramai-ramai. Subyek penelitian menyukai kehidupan atau pergaulan yang bebas sehingga dia cenderung mudah terpengaruh oleh ajakan pacar atau teman-temannya. Sedangkan di rumah, orang tua memberikan kebebasan bergaul dengan semua orang kepada subyek penelitian. Orang tua juga tidak menanamkan aturan-aturan yang berlaku di rumah yang dapat membuat pergaulan subyek penelitian menjadi terkontrol. Orang tua kurang perhatian kepada subyek penelitian sehingga membuat dia akhirnya terjerumus ke dalam dunia seks pranikah, bahkan sampai mengalami kehamilan pranikah. Perilaku seksual subyek penelitian berawal dari ciuman yang dilakukan setiap kali bertemu dengan pacar. Hal ini membuat subyek penelitian menjadi terdorong untuk mempraktikkan hubungan seksual pranikah. Selain itu, adanya kesempatan juga turut menjadi faktor pendukung bagi subyek penelitian dan pacarnya dalam melancarkan aksi ini. Sekedar mencoba-coba mempraktikkan, subyek penelitian akhirnya menjadi ketagihan untuk berhubungan badan. Perilaku seks pranikah dimaknai oleh subyek penelitian sebagai wujud rasa cinta kepada pacarnya. Perilaku seks pranikah ini dilakukan atas dasar suka sama suka, sehingga tidak ada unsur paksaan, agar dapat menimbulkan kenikmatan ketika berhubungan badan. Subyek penelitian pernah melakukan making love dengan dua orang laki-laki lain yang berbeda, di waktu yang berbeda pula. Kehamilan pranikah sudah dua kali menimpa subyek penelitian. Subyek penelitian menyesal, takut, dan bingung, sampai membuat subyek penelitian pasrah dengan kehamilan yang menimpa dirinya. Sebab, dia hanya menginginkan adanya tanggung jawab atas janin yang dikandungnya.Kehamilan pranikah yang dialami oleh subyek penelitian dimaknai sebagai ujian hidup yang harus dia terima dan harus dijalani. Berdasarkan temuan penelitian di atas, maka disarankan kepada para remaja agar lebih berhati-hati dalam bergaul. Remaja sebaiknya dapat selektif dalam memilih dan memilah teman. Kepada para orang tua, diharapkan agar orang tua dapat menerapkan aturan yang berlaku di rumah. Aturan ini dapat dijadikan sebagai bentuk kepedulian dan kontrol perilaku terhadap pergaulan anak. Untuk konselor, agar lebih intensif dalam memberikan layanan informasi tentang pendidikan seksualitas yang benar kepada siswa. Upaya pemahaman, pencegahan, dan perbaikan dapat menyelamatkan siswa dari pergaulan yang semakin bebas dan kurang kontrol. Agar lebih menarik, konselor dapat mengemas materi seksualitas dalam bentuk media, misalnya saja menggunakan media buku saku. Selain itu, antara konselor dan pihak sekolah dapat bekerja sama dengan pihak lain dalam rangka menyelenggarakan seminar atau workshop kepada siswa tentang pendidikan seksualitas.

Problematika pembelajaran menulis karangan kelas IV sekolah dasar di gugus 4 Kec. Turen Kab. Malang / Kartika Sari Romadhani

 

Kata Kunci : Problematika, Pembelajaran menulis karangan Menulis pada dasarnya merupakan suatu keterampilan berbahasa berupa kegiatan produktif dan ekspresif yang membutuhkan kesabaran, keuletan, dan kejelian tersendiri. Dibandingkan dengan keterampilan menyimak, membaca, dan berbicara, ketermpilan menulis siswa sekolah dasar masih rendah. Diantaranya kendala yang membuat pembelajaran mengarang menjenuhkan adalah kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan berbagai model pembelajaran, kurangnya pemahaman guru terhadap materi mengarang. Akibatnya pembelajaran mengarang menjadi kegiatan yang menjenuhkan. Tujuan dari penelitian ini antaralain: pertama mengetahui persepsi guru terhadap materi sajian mengarang, kedua mendeskripsikan persepsi guru terhadap perencanaan pembelajaran, ketiga mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan pembelajaran, keempat mengetaui sejauh mana persepsi siswa terhadap materi sajian mengarang, serta kelima mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran mengarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah gugus 4 sekolah dasar di Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik random sampling. Guru sebagai populasi sampel karena jumlahnya hanya 9, sedangkan untuk sampel siswa 20% dari 249 siswa yaitu 50 siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat dipaparkan bahwa 78% guru belum memahami persamaan ide pokok dengan gagasan utama, 89% guru bisa menjelaskan jenis-jenis latar, dalam pelaksanaan pembelajaran informasi materi dan informasi tujuan tidak disampaikan, guru masih menggunakan metode yang monoton, tidak menyimpulkan materi dan refleksi pada pelaksanaan pembelajaran. kurangnya faktor pendukung dalam pembelajaran mengarang seperti buku ajar, alat peraga, serta media pembelajaran. Disarankan kepada guru-guru sekolah dasar agar menguasai materi yang akan disampaikan pada siswa, seperti ide pokok, jenis latar, tanda baca, dan jenis kata sebelum melaksanakan pembelajaran mengarang. Hendaknya guru meyusun sendiri rencana pelaksanaan pembelajaran, serta menggunakan media dan metode dalam pembelajaran mengarang yang bervariasi agar siswa tidak merasa bosan dengan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Hubungan penguasaan kosa kata dengan kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo / Dheny Wahyuningtyas

 

Kata Kunci : penguasaan kosakata, menulis cerita, SD. Penguasaan kosakata adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa Kelas IV di Gugus 02, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo dalam memahami kosakata yang meliputi morfologi, fungsi sintaksis, dan ejaan. Penguasaan kosakata sangat penting dalam menulis cerita pengalaman. Untuk itu diperlukan kemampuan penguasaan kosakata untuk menulis cerita pengalaman tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) tingkat penguasaan kosakata siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo, (2) tingkat kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo, dan (3) ada tidaknya hubungan penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas IV SDN di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo yang berjumlah 60 orang dan semuanya diteliti, sehingga disebut sampel total. Data dikumpulkan menggunakan instrumen soal tes pilihan ganda untuk menghitung tingkat penguasaan kosakata siswa dan uraian untuk menghitung kemampuan menulis cerita pengalaman siswa. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan korelasional yang menggunakan teknik korelasi product moment. Instrumen sebelum digunakan untuk mengumpulkan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil analisis validitas dan reliabilitas semua soal dinyatakan valid dan reliabel. Hasil analisis deskriptif terhadap penguasaan kosakata siswa tergolong baik terbukti dengan sebanyak 76,6% siswa mendapatkan nilai 60 sampai dengan 100. Sedangkan hasil kemampuan menulis cerita pengalaman siswa tergolong baik sekali terbukti dengan hasil analisis yang menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai 61 sampai dengan 100 mencapai 100% yang berarti bahwa semua siswa mempunyai kemampuan dalam menulis cerita. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rhitung lebih besar dari rtabel yaitu 0,637>0,330 pada taraf signifikansi 1%. Jadi dapat dikatakan bahwa ada korelasi yang positif dan signifikan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis cerita pengalaman siswa kelas IV di Gugus 2 Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo.

Perbedaan hasil belajar IPA siswa kelas III yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penganggungan Malang / Choirin Nisa'

 

Kata Kunci: model starter eksperimen, hasil belajar IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia yang diperoleh dari pengalaman melalui metode ilmiah. Dalam pembelajaran IPA, siswa diajak belajar mengungkapkan gejala-gejala alam dengan mengikuti kaidah ilmiah. Pada pembelajaran IPA di SDN Penanggungan Malang, guru belum pernah melaksanakan eksperimen, sehingga siswa belum pernah diajak belajar dengan mempraktekkan prinsip-prinsip metode ilmiah. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi pada mata pelajaran IPA. Model pembelajaran starter eksperimen merupakan salah satu model penerapan pembelajaran kontekstual yang melatih dan mengajarkan siswa untuk belajar konsep IPA sama halnya dengan seorang ilmuwan IPA. Model starter eksperimen mempunyai ciri khusus yaitu mengetengahkan lingkungan alam sebagai penyulut (starter) yang ditunjukkan pada tahap percobaan awal melalui demonstrasi guru, selanjutnya pembelajaran dilakukan dengan mempraktekkan prinsip-prinsip metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, desain percobaan, percobaan pengujian dan laporan hasil penelitian. Siswa belajar aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajaran, dengan demikian siswa akan menemukan sendiri sesuai hasil yang diperoleh selama pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memaparkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi (2) memaparkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter ekaperimen dan (3) memaparkan ada atau tidak adanya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penanggungan Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model penelitian eksperimen semu (quasi experimental). Desain eksperimen yang digunakan adalah desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SDN Penanggungan Kota Malang yang berjumlah 65 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengunpulkan data berupa soal tes hasil belajar. Pada analisis data digunakan rumus Uji-T Independen dengan menggunakan data rata-rata hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model starter eksperimen sebesar 85,53 lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi yang hanya mencapai 78,84. Sesuai tabel analisis uji t, diperoleh thitung sebesar 4,120 sedangkan pada taraf signifikansi 5 % dengan N = 65 diperoleh ttabel sebesar 1,990. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel. Maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA siswa kelas III yang diajar menggunakan model starter eksperimen dengan yang diajar menggunakan metode ceramah bervariasi di SDN Penanggungan materi Gerak Benda. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Guru sebaiknya terampil dalam mengembangkan model-model pembelajaran untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA, khususnya model pembelajaran starter eksperimen. Dengan model starter eksperimen, guru dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas siswa untuk menyusun sendiri konsep-konsep baru dalam struktur kognitifnya melalu metode ilmiah dan (2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lanjut yang ingin meneliti dan mengembangkan penelitian ini pada lingkup subjek penelitian yang lebih besar lagi atau menggunakan rancangan True Experiment.

The implementation of life skills education at public senior high schools in Malang / Dewi Ni'matin

 

Kata kunci: penerapan, pendidikan kecakapan hidup Tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang dalam lampiran Peraturan Menteri Nasional Pendidikan No.22 tahun 2006 adalah untuk mengembangkan potensi siswa sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan, mulia, sehat, berilmu, berkompeten, creative, mandiri, dan demokrasi juga bertanggung jawab. Sekolah seharusnya menjadi miniatur dari kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah memasukkan unsure pendidikan kecakapan hidup dalam proses belajar pembelajaran, sehingga siswa mempunyai modal untuk menghadapi masalahnya dkemudian hari. Metode penelitian ini adalah survey karena tujuan penelitian ini adalah untuk mendeksripsikan penerapan pendidikan kecakapan hidup di SMA Negeri di Malang. Peneliti mengambil tiga sekolah sebagai sampel penelitian melalui beberapa tahapan. Pertama, mendata seluruh SMA Negeri di Malang berdasarkan ranking pada ujian nasional tahun 2010. Kedua, mengelompokkan sekolah tersebut menjadi tiga kelompok; tinggi, sedang, dan rendah. Terakhir, memilih satu sekolah dari masing-masing kelompok untuk dijadikan sampel. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada semua guru bahasa Inggris disekolah sampel. Hasil penelitian akan ini disajikan dalam bentuk paparan setelah diklasifikasikan ke dalam aspek yang terkait. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa guru SMA Negeri di Malang menanggapi penerapan pendidikan kecakapan hidup di SMA sebagai program yang bagus karena bermanfaat untuk siswa dan bisa membantu siswa menghadapi masalah mereka dikemudian hari. Dalam pelaksanaanya, guru-guru telah menerapkan pendidikan kecakapan hidup dalam kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Mereka mengalami beberapa hambatan dalam penerapan kecakapan hidup dalam kelas. Sebagian besar hambatan itu berasal dari siswa yaitu siswa tidak mengerti pentingnya pendidikan kecakapan hidup untuk mereka dan beberapa siswa memang memiliki kelemahan dalam bahasa Inggris. Beberapa saran ditujukan kepada beberapa pihak. Guru disarankan untuk memperbanyak variasi kegiatan pembelajaran di kelas sehingga siswa bisa mengasah kemampuan mereka dengan berbagai cara. Untuk Diknas, disarankan untuk menyelenggerakan seminar tentang pendidikan kecakapan hidup agar guru mendapatkan pemahaman lebih tentang kecakapan hidup (life skills). Untuk mahasiswa Universitas Negeri Malang, disarankan untuk mulai membuat kegiatan pembelajaran yang variatif dan menarik yang bisa diterapkan kepada siswanya nanti. Peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti unsur lain tentang pendidikan kecakapan hidup seperti menganalisis teknik dan materi pendidikan.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran Cooperative model intergrated Reading and Compesition (CIRC) pada siswa kelas V SDN II Kenoireng Kecamatan Besuki Tulungagung / Triaswuri Kartikasari

 

Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), SD Hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas V SDN II Keboireng kecamatan Besuki kabupaten Tulungagung pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membaca pemahaman didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi. Dari hasil pra tindakan diketahui bhwa dari 30 orang sisa hanya 5 orang yang mendapatkan nilai lebih dari KKM yang ditentukan yaitu 65,00. Untuk itu untuk agar dapat meningkatkan kemampan membaca pemahaman siswa , maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran yaitu dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskribsikan peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC. Penelitian ini menggunakan jeni penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN II Keboireng kecamatan Besuki kabupaten Tulungagung. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran CIRC dapat dilaksanakan dengan efektif delam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Terbukti dari tercapainya hampir semua indikator sesai dengan RPP yang telah dibuat dengan baik. Aktivitas pembelajaran tersebut meliputi keaktifan dan kerjasama dalam kelompok. Hasil belajar, aspek-aspek yang ditekankan adalah menjawab pertanyaan, menemukan gagasan utama, menceritakan kembali dan memberikan tanggapan sesuai teks bacaan. Hasil penelitian menunjukkn bahwa penerapan model CIRC untuk materi membaca pemahaman cerita rakyat maupun artikel sangat efektif. Kemampuan membaca pemahaman sisa melipuiti pemahaman literal, inferensial, kritis dan kreatif. Hasil belajar pada siklus I memperoleh rata-rata 56,66 dengan prosesntase ketuntasan belajar sebesar 13,33% dan pada siklus II memperoleh rata-rata nilai ebesar 72,17% dengan prosesntase ketuntasan belajar sebesar 80,00%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana rujukan penelian lebih lanjut dengan memperhatikan dan melakukan persiapan yang matang dalam pembagian tugas kelompok.

Kesulitan guru SD dalam pembelajaran membaca permulaan siswa kelas I Gugus 5 Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Heni Widi Astutik

 

Keyword : Difficulty of teacher in study read start. Membaca merupakan alat bagi siswa untuk mengetahui mata pelajaran yang dipelajarinya di sekolah. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum 2004, diarahkan pada pengajaran terpadu untuk lebih menumbuhkan kemampuan berbahasa Indonesia. Dalam pembelajaran baik lisan maupun tulisan. Dalam pengajaran bahasa indonesia mempunyai berbagai kemampuan berbahasa Indonesia, terdapat empat aspek keterampilan yang dilakukan secara terpadu . Keempat aspek yang di lakukan secara terpadu, adalah (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis (Santoso. 2009:3.29) Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata dan kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru di beri kebebasan untuk memilih dan menerapkan model pembelajaran membaca permulaan agar mencapai hasil yang diharapkan. Pembelajaran permulaan di SD ditekankan pada penguasaan lambang-lambang tulisan dengan tujuan, agar siswa mampu membaca lancar dengan lafal yang tepat, karena dengan kemampuan membaca lancar siswa mudah memahami arti dan maksud sebuah kalimat atau bacaan.

Penerapan teori bruner untuk meningkatkan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang pada siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 Pakis / Rina Hikmatul Mufida

 

Kata Kunci: teori Bruner, penguasaan konsep, SDN Banjarejo 03 Berdasarkan hasil observasi awal, diketahui bahwa siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang banyak yang mengalami kesulitan ketika menentukan keliling dan luas jajaran genjang. Dari hasil tes awal, diketahui bahwa banyak siswa yang masih bingung dalam membedakan konsep keliling dan luas jajaran genjang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan penerapan teori Bruner untuk meningkatkan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang pada siswa kelas IV SDN Banjarejo 03, (2) mendeskripsikan peningkatan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang pada siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan teori Bruner, dan (3) mendeskripsikan kesulitan yang dialami siswa dan guru selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan teori Bruner untuk meningkatkan penguasaan konsep keliling dan luas jajaran genjang di kelas IV SDN Banjarejo 03 Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data tentang proses dan hasil pembelajaran baik sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti meliputi: observasi, wawancara, catatan lapangan, tes, dan dokumentasi. Penelitian ini mengambil sampel siswa kelas IV SDN Banjarejo 03 Pakis Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan teori Bruner dilakukan berdasarkan tiga tahapan yaitu enaktif, ikonik dan simbolik, penerapan teori Bruner dalam pembelajaran Matematika materi keliling dan luas jajaran genjang dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. Hal tersebut terbukti dari hasil evaluasi yang mengalami peningkatan. Pada hasil pretes yang tuntas mendapatkan nilai di atas KKM hanya 9 siswa (42,9%), pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 14 siswa (66,7%), sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan lagi yaitu menjadi 18 siswa (85,7%). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi guru yang akan mengajarkan konsep Matematika dapat menerapkan teori Bruner sebagai model pembelajaran. Bagi peneliti lain, kelemahan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian lanjutan mengenai teori Bruner agar dapat merancang pembelajaran yang efisien sehingga tidak memerlukan banyak waktu dan hendaknya peneliti memperkenalkan langkah-langkah penerapan teori Bruner terlebih dahulu pada materi yang lain, sehingga pada saat pelaksanaan penelitian siswa dan guru tidak merasa canggung dan kesulitan.

Manajemen perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa di SD Negeri Percobaan 1 Malang / Arief Ardiansyah

 

Kata Kunci : Manajemen perpustakaan, pembinaan, minat baca. Sekolah merupakan suatu tempat yang digunakan untuk atktivitas pembelajaran. Aktivitas pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas saja, namun dapat juga dilakukan di luar kelas, salah satunya di perpustakaan. Pemanfaatan layanan perpustakaan bertujuan agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar sebagai penunjang sarana belajar dan media belajar. Karena perpustakaan sekolah merupakan bagian yang integral dan bagian dari manajemen pendidikan yang vital. Membaca adalah masalah yang penting di dalam dunia pendidikan, sebab dengan membaca seseorang dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi yang penting.Upaya pengembangan minat baca siswa erat kaitannya dengan keberadaan perpustakaan sekolah. Membaca merupakan sebuah proses menangkap atau memperoleh konsep-konsep yang dimaksud oleh pengarangya, mengintepretasi, mengevaluasi konsep-konsep pengarang dan merefleksikan atau bertindak seperti yang dimaksud oleh konsep itu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus observasional. Lokasi penelitian di Perpustakaan Sekolah SD Negeri Percobaan 1 Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan fokus penelitian manajemen perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa dengan jabaran sebagai berikut: (1) perencanaan perpustakaan sekolah; (2) pengorganisasian perpustakaan sekolah; (3) layanan perpustakaan sekolah; dan (4) pengawasan perpustakaan sekolah. Pada penelitian ini, peneliti merupakan pengumpul data yang utama. Adapun pengambilan data digunakan melalui teknik: (1) pengamatan/ pengamatan tidak berperan serta; (2) wawancara; (3) dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dilakukan pengecekkan untuk menguji keabsahan data tersebut dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan, trianggulasi, meliputi trianggulasi sumber data dan metode. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) manajemen perpustakaan sekolah dalam pembinaan minat baca siswa adalah dengan memberikan hadiah kepada siswa yang paling sering meminjam buku melalui poin membaca, penambahan koleksi pustaka, pengadaan jam wajib kunjung perpustakaan untuk tiap-tiap kelas, memberikan kebebasan membaca kepada pengunjung, dan memberikan himbauan tentang pentingnya membaca melalui poster-poster atau tulisan-tulisan yang berisikan ajakan-ajakan agar siswa gemar membaca; (2) perencanaan program perpustakaan sekolah dilakukan sesuai tujuan, penambahan bahan pustaka, serta penambahan sarana dan prasarana pendukung perpustakaan yang diperlukan; (3) perpustakaan sekolah ini memiliki struktur organisasi yang memperlihatkan hubungan kerja sama antara bagian-bagian yang ada di dalam organisasi; (4) pelayanan perpustakaan sekolah memilki kegiatan untuk memberikan layanan kepada setiap pengunjung baik berupa layanan sirkulasi maupun referensi; dan (5) pengawasan perpustakaan sekolah dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pihak pembina dan penanggung jawab, petugas memberikan hasil kerjanya dalam bentuk tertulis berisi catatan mengenai data keluar-masuknya buku dan jumlah pengunjung perpustakaandalam tiap semester yang dilaksanakan pada tiap akhir tahun ajaran. Sedangkan untuk meningkatkan profesionalitas kerjanya, petugas perpustakaan mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan perpustakaan.

Karakterisasi mineral magnetik pasir besi di Daerah Pasirian Kabupaten Lumajang untuk pembuatan bahan baku tooner / Ike Yunia Trisdamayanti

 

Kata Kunci: Mineral magnetik, pasir besi, tooner Salah satu sumber deposit pasir besi di Indonesia berada di Pasirian Lumajang. Komposisi sampel didapat dari uji X-Ray Fluorenscene (XRF), dan uji mineral magnetik didapat dari uji suseptibilitas dan dari kestabilan remanen magnetik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui unsur yang mendominasi di dalam sampel dan untuk mengetahui nilai median destructive field (MDF) kedua sampel pasir dan toner. Dengan membandingkan karakteristik kedua sampel, kita dapat menyiapkan senyawa magnetik dari sampel pasir besi sebagai bahan tooner. Komposisi besi dalam sampel berkisar antara 34,4% tanpa ekstasi dan bertambah menjadi 58% setelah ekstrasi. Kemudian setelah penyaringan dengan mesh 200 konsentrasi besi meningkat menjadi 70%. Suseptibilitas dari pasir besi antara 1.5 x 10-4m3kg-1 (tanpa ekstrasi) sampai 1,8 x 10-4m3kg-1 (untuk sampel ekstrasi dan sampel ayak), sementara suseptibilitas toner adalah 2.1 x 10-4m3kg-1 . Sementara itu, nilai MDF toner dan pasir ayak menunjukkan nilai yang hampir sama, yaitu 24 dan 26. Dari data kita dapat menyimpulkan mineral magnetik dari pasir besi dapat dijadikan material toner.

Pengembangan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media kertas untuk siswa kelas 3 Sekolah Dasar Laboratorium Universitas Negeri Malang / Elok Dian Fatmawati

 

Kata kunci: Pengembangan, Gerak Dasar lari, Media Kertas. Sekolah Dasar Laboratorium Universitas Negeri Malang telah menerapkan pembelajaran Pendidikan Jasmani dimana dalam standart kompetensinya terdapat kompetensi gerak dasar, berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan guru belum pernah melaksanakan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan permainan, sehingga siswa kurang tertari dan aktif dalam pembelajaran gerak dasar lari. Maka disusun rancangan produk pengembangan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media kertas. Media kertas yang digunakan berupa kertas yang dibentuk menjadi 3 macam yaitu: (1) baling-baling kertas, (2) spiral kertas, (3) lembaran kertas. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan (research and development) dari Borg dan Gall (1983: 475) yang terdiri dari sepuluh langkah. Namun menurut Ardhana (2002: 9) setiap pengembang tentu saja dapat memilih dan menentukan langkah-langkah yang paling tepat bagi peneliti dengan mempertimbangkan kondisi yang dihadapi dalam proses pengembangan. Maka peneliti melakukan modifikasi untuk menggunakan 7 langkah dari langkah Borg and Gall dengan tidak menggunakan langkah ke delapan hingga kesepuluh. Sehingga prosedur penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah: 1) melakukan penelitian awal (need assesment), 2) melakukan perencanaan, selanjutnya dievaluasi oleh para ahli, 3) mengembangkan produk awal, 4) melakukan uji coba kelompok kecil dengan 6 subyek, 5) melakukan revisi terhadap produk awal, 6) melakukan uji coba lapangan(kelompok besar) denga 33 subyek, 7) melakukan revisi produk. Instrumen yang digunakan adalah berupa angket berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Pembelajaran ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli, yaitu satu orang ahli pembelajaran dan dua orang ahli atletik. Hasil analisis data yang diperoleh adalah 100% siswa mudah dalam melakukan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media dari kertas, 100% siswa senang dalam melakukan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media kertas, pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media dari kertas 100% aman untuk dilakukan siswa. Sehingga diharapkan pengembangan pembelajaran gerak dasar lari menggunakan media dari kertas ini bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran pendidikan jasmani khususnya pada materi gerak dasar lari, agar lebih menarik sehingga siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Isolasi dan karakterisasi bakteri proteolitik, lipolitik, dan amilolitik dari asinan kedelai (Glycine soja) sebagai bahan pembuatan kecap di Probolinggo / Dyah Ayu Aryani

 

Kata kunci: Asinan kedelai, bakteri, indeks hidrolisis, enzim Enzim merupakan biokatalisator yang memegang peranan penting dalam bidang industri. Tiga enzim yang memiliki nilai komersil yang diperdagangkan dalam dasawarsa ini adalah protease, lipase dan amilase. Penelitian tentang isolasi bakteri penghasil enzim banyak dilakukan pada limbah-limbah pembuangan hasil industri makanan sedangkan penelitian mengenai isolasi bakteri penghasil enzim pada makanan masih sedikit dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan, mengetahui indeks hidrolisis, dan mengidentifikasi isolat bakteri proteolitik, lipolitik dan amilolitik indigen dari asinan kedelai yang dibuat secara tradisional di Probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan eksploratif yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA-UM pada bulan Maret-Mei 2011. Sampel penelitian ini adalah asinan kedelai yang diperoleh dari industri kecap yang dibuat secara tradisional yang terletak di Probolinggo. Sampel dihomogenkan dengan medium pengayaan spesifik yaitu medium Skim Milk Agar (SMA) untuk bakteri proteolitik, medium Nutrien Agar + Amilum 1% untuk bakteri amilolitik, dan Nutrien Agar + Olive oil 1% untuk bakteri lipolitik, selanjutnya dipilih 3 isolat untuk masing-masing kelompok bakteri proteolitik, lipolitik, dan amilolitik yang mempunyai kemampuan hidrolisis tertinggi. Penentuan tiga isolat berdasarkan nilai indeks hidrolisis protein, lemak dan amilum tertinggi. Pengamatan dilanjutkan dengan melakukan pengamatan mikrobiologi yang meliputi karakterisasi sifat morfologi koloni bakteri dan karakterisasi sifat sitologi bakteri. Kelengkapan identifikasi hingga tingkat spesies dengan menggunakan Microbact TM GNB 12 A/B/E, 24E Identification Kits. Hasil penelitian menunjukkan ada 6 isolat bakteri proteolitik, 5 isolat bakteri lipolitik, dan 4 isolat bakteri amilolitik asinan kedelai yang ditemukan dan dipilih 3 isolat bakteri yang memiliki indeks hidrolisis terbesar pada masingmasing kelompok bakteri yang bersifat proteolitik, lipolitik, dan amilolitik. Tiga indeks hidrolisis protein tertinggi dengan nilai 2,22 (kode PB), 2,05 (kode PA), dan 1,81 (kode PD), kode tiga isolat yang memiliki indeks hidrolisis lemak tertinggi dengan nilai 1,30 (kode LB), 1,25 (kode LD), dan 0,98 (kode LA) sedangkan indeks hidrolisis amilum tertinggi dengan nilai 2,26 (kode AC), 2,12 (kode AF), dan 2,04 (kode AB). Hasil identifikasi 3 isolat bakteri proteolitik yang memiliki indeks hidrolisis protein tertinggi adalah Bacillus lincheformis, Bacillus subtillis, dan Bacillus thuringiensis, spesies bakteri lipolitik yang ditemukan adalah Serratia liquefaciens, dan Enterobacter gergoviae, sedangkan bakteri amilolitik yang ditemukan adalah Actinomyces spp dan Eubacterium spp.

Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PKN dengan menggunakan penilaian portofolio di kelas VII B SMP Negeri 8 Malang / R. Dewi Kiki Rejeki

 

Kata Kunci : Pembelajaran PKn, Penilaian Portofolio Penilaian portofolio sangat berpengaruh sebagai alat untuk meningkatkan pendidikan bagi peserta didik agar lebih berpartisipasi dalam proses pembelajaran sehingga keaktifan dan hasil belajar siswa juga dapat meningkat. Oleh karena itu, hendaknya dalam pembelajaran PKn perlu dikembangkan sistem penilaian yang dapat menilai siswa secara menyeluruh (proses, hasil, dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dicapai siswa), yaitu dengan menggunakan penilaian portofolio (portofolio based assessment). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) teknik penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di kelas VII B SMP Negeri 8 Malang, (2) bentuk instrumen penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di kelas VII B SMP Negeri 8 Malang, (3) pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PKn dengan menggunakan penilaian portofolio di kelas VII B SMP Negeri 8 Malang, dan (4) persepsi siswa terhadap pelaksanaan penilaian portofolio pada mata pelajaran PKn di SMP Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru PKn kelas VII dan siswa kelas VII B SMP Negeri 8 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan teknik perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di kelas VII B SMP Negeri 8 Malang yaitu menggunakan teknik penilaian tes yang meliputi tes tertulis dan tes lisan, sedangkan teknik penilaian non tes menggunakan portofolio, tes skala sikap dan obervasi atau pengamatan. Bentuk instrumen penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di kelas VII B SMP Negeri 8 Malang yaitu menggunakan tes bentuk uraian, tes bentuk pilihan ganda, dan tes bentuk lisan. Pada pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PKn dengan menggunakan penilaian portofolio ini peneliti menekankan pada tiga kegiatan pokok sebagai berikut: pertama tahap perencanaan yaitu sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar seorang guru diharapkan menyusun perangkat pembelajaran terlebih dahulu, kedua tahap pelaksanaan yaitu sebelum melakukan pembelajaran melalui penilaian portofolio terlebih dahulu guru menjelaskan tentang pengertian portofolio di depan kelas dengan cara membagikan hand out kepada masing-masing kelompok. Portofolio yang sudah terkumpul kemudian dinilai oleh guru. Penilaian dilakukan dengan menggunakan rubrik penilaian yang telah ditetapkan untuk masing-masing bahan portofolio. Kemudian guru

Potensi novel remaja mutakhir (2000-AN) sebagai alternatif sumber belajar apresiasi prosa berbasis pendidikan karakter / Renny Lutviana

 

Kata Kunci: novel remaja, unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, pendidikan karakter, pembelajaran apresiasi prosa. Novel remaja adalah karya fiksi berbentuk prosa yang isinya mencermin-kan kehidupan sosial para remaja. Permasalahan yang diangkat dalam novel remaja tidak jauh dari kehidupan remaja pada kenyataannya, seperti persahabatan dan percintaan. Novel remaja banyak diminati dan layak untuk dijadikan sumber belajar apresiasi prosa. Pengajaran apresiasi sastra, termasuk apresiasi prosa, penting dilakukan untuk mengembangkan potensi siswa dan dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya sastra. Pembelajaran apresiasi prosa, saat ini, dikembangkan menggunakan strategi pembelajaran berbasis pendidikan karakter. Penelitian ini penting dilakukan untuk memudahkan guru memilih novel remaja yang berkualitas yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sekaligus sesuai dengan pendidikan karakter. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan karakteristik unsur intrinsik novel remaja mutakhir (2000-an), (2) mendeskripsi-kan karakteristik unsur ekstrinsik novel remaja mutakhir (2000-an), dan (3) mengetahui potensi novel remaja mutakhir (2000-an) sebagai alternatif sumber belajar apresiasi prosa berbasis pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti berkedudukan sebagai instrumen utama dalam penelitian ini. Sumber data penelitian ini adalah data verbal dan nonverbal dari novel remaja mutakhir (2000-an). Sumber data dipilih dengan cara (1) mencari daftar novel remaja yang terbit pada tahun 2004-2011, (2) mengklasifikasikan novel remaja menurut tahun terbitnya, (3) memilih novel best seller, (4) memilih novel yang memiliki rating tertinggi, (5) memilih novel yang pernah diresensi dan resensi tersebut pernah dipublikasikan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan cara memperpanjang keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan pengecekan sejawat. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa (1) karakteristik unsur intrinsik novel remaja mutakhir (2000-an) yang berupa (a) tema yang banyak muncul adalah impian dan cinta dapat diraih melalui usaha keras, (b) amanat yang banyak muncul adalah berusahalah dengan keras agar impian dan cinta dapat tercapai, (c) tokoh utama dalam novel masih remaja dan tokoh bawahannya adalah tokoh yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti guru, teman, dan orang tua, (d) penokohan digambarkan sesuai dengan usia remaja, (e) seting tempat dan seting waktu berkaitan dengan kehidupan sosial remaja, seperti rumah dan sekolah, (2) karakteristik unsur ekstrinsik novel remaja mutakhir (2000-an) yang berupa (a) biografi pengarang yang dapat membangkitkan motivasi pembaca dan (b) nilai-nilai yang bersifat positif ditemukan dalam semua novel , dan (3) novel yang berjudul Cybercrime Fighters adalah novel yang paling berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berbasis pendidikan karakter karena memiliki nilai pendidikan karakter yang paling banyak daripada novel lainnya, kedua adalah novel Jilbab Funky, ketiga adalah novel Kintaholic, keempat adalah novel Rahasia Bintang, kelima adalah novel Fairish, keenam adalah novel FBI vs CIA, ketujuh adalah novel Dealova, dan terakhir adalah novel Unbelievable. Dari kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu (1) bagi guru Bahasa Indonesia, penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam melaksanakan pembelajaran apresiasi prosa, (2) siswa disarankan menggunakan penelitian ini sebagai sarana menambah wawasan dan pengetahuan mengenai novel remaja mutakhir, dan (3) bagi peneliti lain, disarankan penelitian ini dapat menjadi contoh atau rujukan dalam mengembangkan sumber belajar seputar prosa.

Analisa tingkat kenyamanan celana wanita sistem Soekarno ( pantalon) pada tubuh ukuran S, M, L SNI / Yoanita Martina Sutino

 

Kata kunci: Kenyamanan, Celana Wanita, SNI Celana adalah pakaian luar yang menutupi badan dari pinggang ke mata kaki dalam dua bagian kaki yang terpisah. celana telah dipakai oleh pria dalam bentuk yang satu ke bentuk yang lainnya, sejak zaman dahulu kala. Zaman sekarang wanita suka sekali memakai celana, ini karena praktis. Apalagi wanita yang suka bergerak. Di Indonesia mayoritas penduduknya adalah muslim, dan banyak busana – busana muslim di Indonesia yang terdiri dari dua bagian yaitu blus dan celana, wanita muslimah Indonesia suka memakai celana karena terlihat trendi dan simple. Pola sistem soekarno, pola ini dalam mengambarnya lebih detail karena menggunakan ukuran control, misalnya untuk ukuran bagian pinggang, ukuran bagian paha, ukuran bagian kaki, bagian lutut, letak kantong dan lipit, dan letak kupnat memiliki rumus-rumus yang detail perhitungannya. Dalam metode Soekarno ukuran yang diperlukan dalam pembuatan pola celana antara lain lingkar pinggang, lingkar panggul, lingkar pesak, lingkar paha, lingkar lutut, lingkar kaki, panjang celana. Untuk menentukan besar paha system Soekarno menggunakan rumus tertentu Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Obyek penelitian ini yaitu celana wanita pantalon sistem soekarno. Sampel yang digunakan adalah sample jenuh. Dalam penelitian ini, tidak ada uji instrumen ( uji validitas dan uji reliabilitas) karena dalam menyusun pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner tersebut sudah berdasarkan teori yang ada di buku dan sudah di validasi ketika bimbingan oleh dosen pembimbing yang setara dengan panelis ahli. Melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat hasil jadi celana wanita yang sudah dipas Kemudian data yang diperoleh dicatat dalam lembar pengamatan berupa kuesioner Berdasarkan penilaian titik pas atau fitting factor diketahui frekwensi rata-rata tingkat kenyamanan pola dasar celana wanita pantaloon system Soekarno pada ukuran (S) adalah sebagai berikut. Penilaian dikatakan nyaman memiliki presentase sebanyak 85,71% kurang nyaman sebanyak 14,29% dan tidak nyaman sebesar 0%. pada ukuran (M) adalah sebagai berikut. Penilaian dikatakan nyaman memiliki presentase sebanyak 71,43% kurang nyaman sebanyak 14,29% dan tidak nyaman sebesar 14,28%. pada ukuran (L) adalah sebagai berikut. Penilaian dikatakan nyaman memiliki presentase sebanyak 75% kurang nyaman sebanyak 14,29% dan tidak nyaman sebesar 10,71%.

Faktor-faktor keterlambatan penyelesaian skripsi mahasiswa S1 Pendidikan tata busana input non SMTA angkatan 2007,2008,2009 / Prayogo Widyastoto Waluyo

 

Kata Kunci: Faktor- Faktor Keterlambatan Penyelesaian Skripsi, Faktor Internal, Faktor Eksternal. Skripsi merupakan mata kuliah wajib dengan SKS (Sistem Kredit Semester) sebesar empat SKS dengan kode PTS 448, mahasiswa harus sudah mencapai 80 % dari total SKS yang bertujuan untuk memiliki kemampuan untuk secara mandiri dan terbimbing menyusun karya ilmiah berwujud skripsi. Skripsi digunakan sebagai salah satu prasyarat bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi banyak dari mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Input Non SMTA angkatan 2007,2008, 2009 yang mengalami keterlambatan penyelesaian skripsi dari batas waktu yang telah ditentukan ( tiga semester) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterlambatan penyelesaian skripsi mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Input Non SMTA. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Input Non SMTA angkatan 2007-2009 yang berjumlah 78 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel dengan proportional random sampling sebanyak 40 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan porsentase. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa faktor keterlambatan penyelesaian skripsi mahasiswa terletak lebih besar pada faktor internal mahasiswa itu sendiri yaitu ketersediaan waktu pengerjaan skripsi (42,5%), mahasiswa masih kurang mengintenskan waktunya untuk melakukan proses konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Hal ini terbaca pada data yang menunjukkan bahwa mahasiswa hanya menggunakan waktunya untuk konsultasi sekitar dua sampai tiga kali seminggu. Faktor internal selanjutnya adalah mahasiswa banyak yang mempunyai masalah pribadi cukup serius bersamaan dengan pengerjaan skripsi (42,5%). Banyak mahasiswa yang ternyata mempunyai rasa ketakutan dengan dosen pembimbing saat proses konsultasi skripsi (80,0%). Selain itu, tingkat pengetahuan mahasiswa tentang prosedur penelitian, analisis data dan kosa kata yang mempunyai tingkatan sedang, menjadi faktor keterlambatan penyelesaian skripsi (65%). Faktor eksternal yang menunjukkan angka sedang adalah kualitas bimbingan dosen pembimbing skripsi terhadap mahasiswanya (77,5%). Kurangnya ketersediaan literatur menjadi kendala dalam penulisan skripsi (55%). Dari hasil penelitian ini dapat disarankan (1) mahasiswa harus segera menyadari bahwa skripsi merupakan tugas akhir yang harus segera diselesaikan. Oleh karena itu perlu adanya motivasi, keinginan yang kuat disertai usaha yang kuat pula agar keinginan untuk menyelesaikan skripsinya dapat terwujud. (2) Perlu adanya persamaan persepsi dan komunikasi yang terjalin antara mahasiswa dengan dosen pembimbing skripsi agar proses bimbingan skripsi lancar.

Hubungan kematangan emosi dan locus of control dengan sikap terhadap induced abortion pada mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2009 dan 2010 / Pepita Chriastianda Apriasta

 

Kata kunci: kematangan emosi, locus of control, sikap terhadap induced abortion. Aborsi yang disengaja atau induced abortion marak terjadi di Indonesia dan sekitar 700 ribu pelakunya adalah remaja di bawah 20 tahun. Perilaku ditentukan oleh intensi dan intensi dibentuk salah satunya oleh sikap sehingga menyelidiki sikap remaja terhadap induced abortion menjadi penting untuk mengetahui kemungkinan perilaku remaja berkenaan dengan aborsi yang disengaja di masa mendatang. Sikap terhadap induced abortion dihubungkan dengan variabel lainnya, yakni kematangan emosi yang membuat individu dapat mengekspresikan emosinya dengan cara yang dapat diterima secara sosial dan locus of control yang merupakan keyakinan individu atas sumber kontrol dari peristiwa dalam hidup individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara: 1) kematangan emosi dengan sikap terhadap induced abortion, 2) locus of control dengan sikap terhadap induced abortion, dan 3) kematangan emosi dan locus of control dengan sikap terhadap induced abortion. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional untuk mengetahui hubungan kematangan emosi dan locus of control dengan sikap terhadap induced abortion. Subyek penelitian adalah 48 mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2009 dan 2010 dengan rentang usia 18 sampai 22 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala, yakni skala kematangan emosi (α=0,901), skala locus of control (α=0,776), dan skala sikap terhadap induced abortion (α=0,970). Pengumpulan data diambil dari pilihan jawaban subyek pada ketiga skala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan negatif antara kematangan emosi dengan sikap terhadap induced abortion (r= -0,303; sig.<0,05), semakin tinggi kematangan emosi maka semakin rendah persetujuan terhadap induced abortion, 2) tidak terdapat hubungan antara locus of control dengan sikap terhadap induced abortion (r=0,220; sig.>0,05), dan 3) tidak terdapat hubungan antara variabel kematangan emosi dan locus of control secara bersama-sama dengan sikap terhadap induced abortion. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan subyek dengan karakteristik yang relevan dengan fenomena induced abortion dan dengan jumlah lebih banyak, serta perlu dilakukan penambahan jumlah aitem dalam pengembangan skala locus of control. Saran bagi para remaja akhir adalah untuk mengupayakan pencapaian dan peningkatan kematangan emosi melalui katarsis, sehingga diharapkan dapat turut mengurangi angka aborsi di Indonesia.

Pengaruh gel Aloe vera terhadap kadar caspase-3 pada ginjal Rattus norvegicus model diabetes mellitus / Rista Puji Kaprianti

 

Kata kunci: caspase-3, diabetes mellitus, gel Aloe vera Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan kematian nomor tujuh di dunia. Kadar Reactive Oxygen Species (ROS) akibat hiperglikemia disinyalir menjadi pemicu timbulnya komplikasi DM. Aloe vera yang mengandung antioksidan diprediksi dapat menyeimbangkan peningkatan kadar ROS yang menyebabkan pengaktifan caspase-3 yang memicu apoptosis sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel Aloe vera terhadap kadar caspase-3 pada ginjal Rattus norvegicus model DM. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK). Tikus diukur kadar glukosa tiga hari setelah injeksi dengan Streptozotocyn dalam dosis 60 mg/kg-BB dan dinyatakan diabetes apabila kadar gula puasa >200 mg/dl. Terapi gel Aloe vera dilakukan secara oral kepada 8 kelompok perlakuan yang terdiri atas kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok non DM dengan pemberian Aloe vera (dosis 30 mg, 60 mg, 120 mg), dan kelompok DM dengan pemberian Aloe vera (dosis 30 mg, 60 mg, 120 mg). Setelah diterapi selama dua minggu, diukur kadar caspase-3 dari sampel ginjal tikus dengan metode ELISA dan diperoleh data dalam satuan µg/ml. Data dianalisis secara statistik dengan one way anova dan menunjukkan bahwa gel Aloe vera berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan kadar caspase-3 ginjal Rattus norvegicus model DM, namun tidak berbeda nyata di antara dosis-dosis yang digunakan. Kadar caspase-3 kelompok kontrol positif (tikus model DM) sebesar 2161.78 µg/dl dan kadar caspase-3 dalam keadaan normal (kontrol negatif) adalah 1642.89 µg/dl. Kelompok tikus model DM yang diterapi gel Aloe vera dengan dosis 30 mg/hari memiliki kadar caspase-3 lebih rendah yaitu sebesar 1886.22 µg/dl dibandingkan kelompok tikus model DM yang diterapi gel Aloe vera dengan dosis 60 mg/hari(1922.889 µg/dl) dan dosis 120 mg/hari (1930.67 µg/dl). Kadar caspase-3 tikus non DM normal yang diterapi gel Aloe vera mengalami peningkatan dibandingdingkan kelompok kontrol negatif. Kadar caspase-3 tikus non DM normal yang diterapi gel Aloe vera dosis 120, dosis 60, dan dosis 30 adalah sebagai berikut: 1642.89 µg/dl, 1815.11 µg/dl, 1972.78 µg/dl, 1935.11 µg/dl secara berurutan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gel Aloe vera berpotensi sebagai anti apoptosis melalui penurunan kadar caspase-3 tikus model DM.

Penerapan model bermain tebak warna geometri untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumber Anyar Nguling Pasuruan / Kartini

 

Kata kunci : Peningkatan kemampuan kognitif, bermain tebak warna geometri Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan kognitif anak dalam mengenal warna, bilangan dan bentuk-bentuk geometri pada kelompok A di RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar Nguling Pasuruan. Guru belum menggunakan media yang tepat dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam mengenal warna, bilangan dan bentuk-bentuk geometri. Hasil observasi awal ditemukan bahwa anak belum mampu mencapai kriteria ketuntasan belajar siswa yang ditentukan sekolah yaitu 67% ketuntasan individu. Penelitian ini diidentifikasi dari masalah 1) Bagaimanakah penerapan metode bermain tebak warna geometri untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar? 2) Apakah metode bermain tebak warna geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar?. Penelitian ini dilaksanakan di RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar Nguling Pasuruan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitian anak kelompok A yang berjumlah 20 anak. Instrumen penelitiannya menggunakan lembar observasi, lembar unjuk kerja, lembar wawancara dan dokumentasi. Teknis Analisis data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan penilaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode bermain tebak warna geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak terbukti dari hasil observasi 25% anak yang mencapai ketuntasan individu, pada siklus I rata-rata (64,25) dengan persentase (55%) dan meningkat pada siklus II rata-rata (77,25), dengan persentase (100%) yang terus mengalami peningkatan. Kesimpulannya bahwasannya dengan bermain tebak warna geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Sumberanyar Nguling Pasuruan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu agar dapat menerapkan metode bermain tebak warna geometri dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak dengan pengembangan lain. Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Hubungan nem mata pelajaran IPA dan Matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada mata diklat statika bangunan program keahlian gambar bangunan SMK Canda Bhirawa Pare

 

Kata Kunci : NEM, prestasi belajar Pandangan siswa terhadap matadiklat statika bangunan sebagai matadiklat paling sulit masih banyak didapatkan, hal tersebut mengakibatkan prestasi belajar matadiklat statika bangunan yang belum bisa dikatakan baik. Peneliti akan menghubungkan masalah tersebut dengan mata pelajaran yang bersifat menghitung sewaktu di SMP/MTs yaitu IPA dan matematika, dimana kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai masalah perhitungan. Dengan anggapan siswa yang menguasai mata pelajaran IPA dan matematika dengan baik diharapkan mampu juga untuk mengusai matadiklat statika bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hubungan antara NEM pelajaran IPA SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan program keahlian Gambar Bangunan, (2) hubungan antara NEM pelajaran matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan program keahlian Gambar Bangunan, dan (3) hubungan NEM mata pelajaran IPA dan matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan program keahlian Gambar Bangunan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional yang terdiri dari tiga variabel, yaitu NEM mata pelajaran IPA dan matematika SMP variabel bebas, sedangkan prestasi belajar matadiklat statika bangunan sebagai variabel terikat. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis korelasi product moment dan kolerasi berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 17 for Windows. Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas X program keahlian Gambar Bangunan SMK Canda Bhirawa Pare yang berjumlah 2 kelas dengan siswa sebanyak 70 orang. Sampel yang diambil sebanyak jumlah populasi, yaitu sebanyak 70 siswa. Hasil penelitian: (1) tidak ada hubungan antara NEM mata pelajaran IPA SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan dengan nilai signifikansi p (0,191), (2) tidak ada hubungan antara NEM mata pelajaran matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan dengan nilai signifikansi p (0,782), dan (3) tidak ada hubungan NEM mata pelajaran IPA dan matematika SMP dengan prestasi belajar siswa pada matadiklat statika bangunan dengan nilai signifikansi F (0,424) >  (0, 05). Implikasi dari hasil penelitian ini, bahwa dalam menyeleksi penerimaan siswa baru SMK tidak menggunakan nilai NEM semata, tetapi bisa menggunakan nilai lain seperti: nilai rapor waktu SMP, melakukan interview, dan mengadakan tes terlebih dahulu, bisa berupa tes bakat ataupun minat.

Pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model react terhadap hasil belajar IPA pada materi gaya siswa kelas IV di SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang / Mukhammad Luqman Hakim

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual Model REACT, hasil belajar. Selama ini proses pembelajaran masih menganggap bahwa pengetahuan siswa diperoleh dari menghafal teori dan guru sebagai sumber utama belajar sedangkan siswa hanya bertindak pasif untuk menerima apa yang diberikan oleh guru. Untuk itu perlu diterapkan metode pembelajaran kontekstual model REACT yaitu model pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, penggalian materi dari kehidupan nyata serta menerapkannya serta melatih siswa bekerja kelompok untuk bertukar ilmu pengetahuan kemudian diharapkan siswa mampu menyelesaian permasalahan yang diberikan oleh guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model REACT terhadap hasil belajar pada mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu). Penelitian ini dilakukan di SDN Tanjungrejo 5 Malang. Populasi dan sampel dalam penelitian ini diambil dari 2 kelas yang mempunyai kemampuan yang sama atau setara. Instrumen hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan pretest dan postest. Teknik analisis hasil belajar menggunakan uji t (t-test). Dari hasil analisis hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol diketahui bahwa nilai thitung adalah 5.213 dan probability sebesar 0.000. Karena nilai probability menunjukkan 0.000< 0.005 maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Telah diketahui nilai thitung adalah 5.213 sedangkan nilai ttabel adalah 1.691. Berdasarkan data ini, uji t dilakukan dua sisi dengan daerah penerimaan H0 antara (-1.691) sampai (1.691). Nilai thitung sebesar 5.213 berada pada daerah penolakan ttabel atau daerah penolakan H0 serta nilai thitung > ttabel, maka dapat diketahui H0 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis (H0) yang menyatakan “tidak ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model REACT terhadap hasil belajar mata pelajaran IPA kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang” ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual model REACT terhadap hasil belajar mata pelajaran IPA kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan (1) Sebelum kegiatan belajar mengajar sebaiknya guru mempersiapkan alat dan media yang akan digunakan. (2) Pada saat pelaksanaan kegiatan pembelajaran, sebaiknya guru benar-benar memperhatikan waktu agar tahapan-tahapan dapat terlaksana sesuai alokasi waktu yang tersedia (3) Penelitian ini perlu dikembangkan di kelas-kelas dengan materi yang berbeda pula.

Perkembangan teknologi ala tangkap nelayan Mayangan Probolinggo (2003-2010) / Ullyl Danik Karyani

 

Kata Kunci: Alat tangkap, nelayan Mayangan Probolinggo. Usaha penangkapan ikan merupakan mata pencaharian yang banyak dilakukan di wilayah pesisir Indonesia. Di Indonesia alat tangkap ikan bersifat tradisional kini telah dimodifikasi menggunakan alat bantu mesin sehingga menimbulkan perubahan sosial ekonomi masyarakat. Perubahan ini mendorong penulis untuk mengkaji lebih lanjut tentang kehidupan masyarakat nelayan, khususnya di Mayangan. Karakteristik lokasi Mayangan yang stategis dilihat dari jaraknya strategis terletak di jalur lalu lintas utama Jawa Timur. Alasan pemilihan angka tahun 2003-2010 yang aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan di Pelabuhan Tanjung Tembaga yang telah terorganisir tahun 2003 dengan keberadaan KUD Mina Mayangsari merupakan cikal bakal pendirian Tempat Pelelangan Ikan Mayangan dan berdirinya Paguyuban Putra Samudra. Masalah pokok kajian ini adalah: pertama, Bagaimana perkembangan alat tangkap ikan nelayan Mayangan? kedua, Bagaimana menjelaskan pengaruh alat tangkap ikan terhadap pendapatan nelayan? Dan ketiga, Bagaimana relevansi antara teknologi penangkapan ikan dengan materi bahan ajar sejarah Tingkat SMA? Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif. Langkah-langkah dalam penelitian deskriptif pendekatan kualitatif adalah: Observasi, Wawancara, Studi dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan beberapa hal: pertama, perkembangan alat tangkap tahun 2003 sampai 2010 ikut mempengaruhi armada perikanan antara lain seperti Pukat cincin yang digunakan Purse seine, Payang yang digunakan kapal Jonggrang ,Gill net dan Tramel net yang digunakan motor tempel dan Bubu dan prawe dasar digunakan perahu Jukung. Dominasi kapal yang berkuasa di Pelabuhan Mayangan ialah kapal Jonggrang dan Purse seine karena hasil tangkapan lebih banyak sehingga memunculkan jaringan sosial pada masyarakat Mayangan.Kedua alat tangkap berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Pendapatan nelayan dikategorikan sesuai nelayan Jukung, nelayan Motor tempel, dan kapal Motor menggunakan bagi hasil sistem teloan kesepakatan antara lain Juragan,Tekong,Pandega sehingga banyak timbul patron-klien berpusat pada pemilik modal. Ketiga, relevansi teknologi penangkapan ikan dengan materi sejarah tingkat SMA dapat dikaji dalam kurikulum KTSP kelas VII pada Semester 2 yang menjelaskan asal mula teknologi yang muncul pada Revolusi Industri yang berdampak bagi masyarakat Indonesia. Penelitian tentang perkembangan alat tangkap ini dapat digunakan sebagai acuan sejarah maritim dan sejarah sosial dalam pembelajaran guna menambah pengetahuan tentang penggunaan alat tangkap nelayan di Indonesia.

Implementasi program ekstrakurikuler dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa SMA Negeri 2 Malang / Nefi Ruspitasari

 

Kata Kunci : Program Ekstrakurkuler, Pembentukan Karakter Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wadah yang disediakan oleh satuan pendidikan untuk menyalurkan minat, bakat, hobi, kepribadian, dan kreativitas peserta didik yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi talenta peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler jika didesain secara profesional maka akan menjadi wahana dalam melahirkan bakat terbesar dalam diri anak, membentuk karakter positif pada siswa, dan tempat aktualisasi diri pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang, (2)pelaksanaan program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang, (3)implementasi program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang dapat mewujudkan pembentukan karakter pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa yang mengikuti program ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan teknik perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SMA Negeri 2 Malang terdapat berbagai macam jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dibagi kedalam 6 bidang, diantaranya: (1) bidang olahraga terdiri dari bola basket dan bola voli; (2)Bidang bela negara terdiri dari Paskib dan PMR; ( 3)bidang IPTEK terdiri dari KIR dan Jurnalistik; (4) bidang seni terdiri dari tari tradisional, teater dan breakdance; (5) bidang keagamaan terdiri dari Badan Dakwah Islamdan ru’yah; dan, (6) bidang rekreatif terdiri dari pecinta alam. Jumlah ekstrakurikuler yang ada di SMAN 2 malang keseluruhan berjumlah 11 jenis namun tidak semua ekstrakurikuler tersebut aktif mengadakan latihan. Ekstrakurikuler yang tidak aktif diantaranya tenis meja, bulu tangkis, pramuka serta ru’yah. Ekstrakurikuler yang tidak aktif ini dikarenakan berbagai hal antara lain kurangnya siswa yang berminat, tidak adanya tenaga yang mampu mengoordinasi.Dukungan yang diberikan oleh pihak sekolah untuk semua kegiatan ekstrakurikuler berupa sebagai fasilitator, menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh siswa maupun sebagai motivator yakni mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan oleh ekstrakurikuler tertentu. Adanya program ekstrakurikuler di SMAN 2 Malang diharapkan mampu menjadi wadah dari berbagai bakat yang dimiliki oleh siswa-siswa SMAN 2 Malang. Selain untuk menjadi wadah penyalur bakat siswa SMAN 2 Malang program ekstrakurikuler juga mampu membentuk karakter positif bagi siswa. Karakter yang dapat dibentuk oleh semua jenis ekstrakurikuler diantaranya karakter disiplin, karakter tanggungjawab, karakter tekun.Sementara karakter kerja sama dapat dibentuk melalui kegiatan ekstrakurikuler yang biasanya dilaksanakan secara berkelompok seperti KIR, Bola basket, Bola voli. Karakter percaya diri dapat dibentuk melalui ekstrakurikuler tari tradisional dan teater. Karakter produktif dapat dibentuk melalui ekstrakurikuler jurnalistik. sementara itu melalui BDI diharapkan siswa dapat mengembangkan karakter taqwa. Ekstrakurikuler PMR serta Pecinta alam siswa mampu mengembangkan karakter peduli. Selain dapat mengembangkan karakter peduli PMR juga mampu mengembangan sikap tanggap terhadap keadaan disekitar.Melalui pendidikan karakter seorang siswa akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang diberikan antara lain: Sebagai tempat mencari ilmu dan mengembangkan ilmu, maka perlu adanya penambahan referensi buku mengenai Pembentukan karakter di Perpustakaan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, sehingga mahasiswa yang ingin mengembangkan ilmu yang berhubungan dengan Pembentukan karakter bisa mendapatkan bahan dan tambahan referen mengingat begitu urgennya pembentukan karakter untuk dilaksanakan kepada generasi muda. Pembahasan tentang kajian teori dan kajian lapangan dalam penelitian ini akan menambah referensi tentang keilmuan, khususnya mengenai pembentukan karakter. Sehingga dalam hal ini dapat digunakan untuk pengembangan pembentukan karakter, mulai dari strategi, metode, media dan juga pelaksanaan evaluasinya.Perlu meningkatkan motivasi guru pembina maupun pelatih ekstrakurikuler dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dalam mewujudan karakter siswa SMA Negeri 2 Malang, misalnya dengan memberikan fasilitas pendukung proses pembelajaran dan tambahan insentif.

Pengembangan multimedia pembelajaran mata pelajaran fisika SMA kelas X pokok bahasan arus listrik di SMA Negeri IV Kediri / Miftahudin

 

Kata kunci : pengembangan, multimedia pembelajaran, fisika Multimedia pembelajaran merupakan salah satu media pembelajaran yang saat ini banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Multimedia merupakan perpaduan antara tulisan, gambar, serta suara. Dalam pemanfaatannya yang menggunakan Komputer menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa untuk mempelajari fisika. Berdasarkan observasi di SMA Negeri 4 Kediri, dalam pembelajaran fisika media yang digunakan belum maksimal. Media yang digunakan kurang menarik, Ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajarannya yang selalu memanfaatkan media papan tulis yang hanya bisa menghasilkan gambar statis sehingga siswa lebih banyak membayangkan dalam memahami konsep materi. Kegiatan pembelajarannya masih didominasi oleh guru dengan banyak menjalaskan materi, sehingga siswa lebih pasif dalam menerima materi. Oleh karena itu, multimedia dijadikan pilihan untuk digunakan sebagai media pembelajaran karena dengan multimedia siswa akan lebih memahami materi dengan konkrit dengan bantuan gambar dan animasi. Pengembangan multimedia pembelajaran ini bertujuan menghasilkan multimedia pembelajaran mata pelajaran fisika pokok bahasan arus listrik yang menarik dan bermanfaat bagi siswa. Sedangkan subyek uji coba pengembangan ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Kediri. Pengembangan multimedia pembelajaran ini divalidasi oleh seorang ahli media, dua orang ahli materi, diikuti uji coba individual sebanyak tiga siswa dan uji coba lapangan sebanyak dua puluh siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan multimedia pembelajaran yang dihasilkan dinyatakan valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran fisika pokok bahasan arus listrik. Dalam proses pengembangan yang dilakukan, peneliti melakukan perbaikan sesuai saran dari validator (ahli media dan ahli materi). Perbaikan tersebut meliputi: (1) Pembenahan teknis tata kalimat. (2) pembenahan kualitas video yang terlalu panjang. (3) Pembenahan urutan bahasan materi. (4) Penambahan animasi dalam multimedia yang dikembangkan. Sedangkan hasil analisis angket yang diberikan kepada ahli media menunjukkan 82,50% dan ahli materi 80%.   Multimedia yang dikembangkan juga terbukti menarik dan bermanfaat. Hal ini ditunjukan oleh hasil analisis angket siswa 86,67% untuk uji coba individual, 83,25% untuk uji coba lapangan, selain itu kemanfaatan multimedia ini juga diperkuat oleh tes hasil belajar siswa yang menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 97 dari skor maksimal 100. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada pihak sekolah agar mendorong pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan multimedia pada mata pelajaran yang lainnya karena multimedia sangat berguna untuk memaksimalkan pembelajaran di kelas.

Penerapan model Explicit Instuction untuk meningkatkan kualitasa pembelajaran IPA siswa kelas IV A Sdn Lesanpuro 3 Kota Malang / Ayuk Susilaning Stiyas

 

Kata Kunci: Model Explicit Instruction, Pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi pembelajaran IPA di SDN Lesanpuro 3 Kota Malang, pembelajaran kurang melibatkan siswa secara langsung. Guru mengajar dengan metode ceramah dan juga demonstrasi namun hanya dilakukan oleh guru. Siswa hanya mengamati, mendengarkan penjelasan guru, mencatat, kemudian mengerjakan LKS. Hal ini membuat pembelajaran kurang bermakna bagi siswa, sehingga dari segi proses dan hasil masih belum maksimal. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penerapan model Explicit Instruction dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang pada pembelajaran IPA selama diterapkan model Explicit Instruction, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang pada pembelajaran IPA setelah diterapkan model Explicit Instruction. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 35 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang meliputi empat tahapan yaitu: planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, pemberian tugas mandiri, dan catatan lapangan. Hasil penelitian mencerminkan bahwa penerapan model Explicit Instruction pada siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang dapat berhasil dengan baik. Hal ini terbukti dengan tercapainya keberhasilan penerapan model Explicit Instruction pada siklus I mencapai 87,5%, dan meningkat menjadi 94,65% pada siklus II. Selain itu, aktivitas siswa juga mengalami peningkatan setelah diterapkan model Explicit Instruction. Pada siklus I nilai rata-rata aktivitas siswa mencapai 70,5 dan menjadi 78,5 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 69,7 dengan ketuntasan belajar siswa mencapai 50%, dan menjadi 77,96 dengan ketuntasan belajar siswa mencapai 81,5% pada siklus II. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Explicit Instruction dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang. Pada penelitian ini, disarankan agar guru mempunyai cara untuk memusatkan perhatian siswa terutama setelah kegiatan pelatihan, mengorganisasikan waktu lebih baik lagi serta terus melatih, memotivasi siswa agar mau menanggapi umpan balik yang diberikan, serta menyesuaikan materi yang akan diajarkan.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis learning cycle 5E pada materi laju reaksi untuk kelas XI kompetensi keahlian kimia analisis di SMK Negeri VII / Arum Setyaningsih

 

Kata Kunci: Bahan Ajar, Model Learning Cycle 5E, Laju Reaksi SMKN 7 Malang merupakan SMK di kota Malang yang memiliki jurusan kompetensi keahlian kimia analisis. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas XI SMK Negeri 7 Malang Kompetensi Keahlian Kimia Analisis mengalami kendala, yakni rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi laju reaksi, yakni 86% siswa yang belum mencapai nilai SKM. Oleh sebab itu, guru kimia menyatakan perlu adanya pengembangan bahan ajar dan variasi model pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan kajian teoritis dan faktual yakni model pembelajaran Learning Cycle 5E dirasa tepat digunakan dalam pengorganisasian materi laju reaksi dalam pengembangan bahan ajar kimia di SMKN 7 Malang berupa buku ajar dan RPP. Tujuan dari pengembangan bahan ajar kimia pada materi laju reaksi adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan bahan ajar kimia pada materi laju reaksi berbasis Learning Cycle 5E untuk kelas XI Kompetensi Keahlian Analis Kimia di SMKN 7 Malang. Peneliti mengadopsi metodologi penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Thiagarajan yakni model 4-D (four-D) yang meliputi tahap define, design , develop dan desiminate . Dalam hal ini peneliti menggunakan tahapan penelitian dan pengembangan hingga pada tahap ketiga. Hasil pengembangan produk dilakukan uji coba produk untuk mengetahui kelayakan dan setelah direvisi dilakukan crosscheck kepada guru untuk mengetahui kesesuaian produk. Uji coba produk yang dilakukan meliputi validasi produk oleh dosen, guru dan uji terbatas oleh siswa kelas XI melalui instrumen penelitian yang berupa lembar validasi, dan soal uji kompetensi. Hasil analisis data produk hasil pengembangan bahan ajar laju reaksi menyatakan, buku ajar yang dikembangkan dinyatakan sangat valid dengan tingkat validitas total 3,9 oleh validator dosen dan dinyatakan valid dengan tingkat validasi 3,2 oleh validator guru sehingga buku ajar dapat digunakan. RPP yang dikembangkan dinyatakan valid dengan tingkat validitas 3 sehingga RPP dapat digunakan.Seluruh soal pilihan ganda dan esai yang tertulis dalam uji kompetensi pada buku ajar telah diuji validitas, realibilitas, tingkat kesukaran dan daya beda dinyatakan valid sehingga dapat digunakan. Hasil analisis data dan crosscheck kepada guru kimia dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak dan baik untuk digunakan.

Implementasi pembelajaran tematik kelas 1 semester 2 di SDN Percobaan 01 Malang / Hermin Tri Wahyuni

 

Kata Kunci: Implementasi, Pembelajaran Tematik, SDN Percobaan 01 Malang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SDN Percobaan 01 Malang menunjukkan bahwa di sekolah tersebut telah melaksanakan pembelajaran tematik di kelas rendah yaitu kelas 1 sampai 3. Seperti yang telah diketahui, tematik merupakan pembelajaran untuk anak kelas rendah di sekolah dasar dan bagian dari KTSP yang sedang dikembangkan pada saat ini. Tematik merupakan salah satu bentuk pendekatan dari pembelajaran terpadu yang menjadi hal baru bagi guru karena pembelajaran berdasarkan pada satu tema tertentu. Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah, masih banyak ditemukan kekurangan dan kendala. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, (2) faktor pendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, (3) faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, dan (4) upaya untuk mengatasi hambatan pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan melakukan pengamatan langsung pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas, pencarian data dengan melakukan wawancara, memberikan angket kepada guru, pengumpulan dokumen untuk mengetahui kelemahan pelaksanaan pembelajaran tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 sudah baik dan mencakup semua konsep pembelajaran tematik, mulai dari persiapan pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi yang dilakukan guru. Fakor pendukung yang dikemukakan ditinjau dari beberapa hal yaitu dukungan dari: (1) sekolah, (2) guru, (3) siswa, dan (4) lingkungan sekitar sekolah. faktor penghambat yang ditemukan adalah kesulitan guru dalam : (1) Mencari kaitan antara mata pelajaran satu dengan yang lain dalam satu tema, (2) Merancang pembelajaran yang padu. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan yang ditemukan adalah (1) Menggambarkan terlebih dahulu jaringan tema, sehingga akan mudah dalam mencari kaitannya, (2) Membuat skenario pembelajaran yang disesuaikan dengan jaringan tema dan kaitan antar mata pelajaran yang telah ditemukan untuk menciptakan pembelajaran yang padu, (3) Diskusi dengan guru lain di dalam KKG atau dengan teman sejawat yaitu guru kelas 1B. Beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu : (1) Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan identifikasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tematik di SDN Percobaan 01 Malang, (2) Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas dalam melaksanakan pembelajaran oleh guru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan keluarga penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang / Bejo Apriyanto

 

Kata Kunci: pendapatan, beban tanggungan, umur penambang pasir, curahan waktu, kemiskinan penambang pasir Kemiskinan merupakan suatu masalah yang sejak dulu membelenggu sebagian masyarakat Indonesia. Sejahtera tentu menjadi dambaan setiap orang untuk mencapainya.Khusus untuk daerah perdesaan kemiskinan ditandai dengan semakin menyempitnya lahan pertanian. Sulitnya mencari pekerjaan dan meningkatnya biaya hidup sehingga menyebabkan orang memutar otak untuk mencari pekerjaan alternatif. Salah satu diantaranya adalah dengan menambang pasir karena dengan pekerjaan tersebut peluang untuk bekerja di Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendapatan, jumlah beban tanggungan keluarga, umur penambang pasir, dan curahan waktu terhadap tingkat kemiskinan penambang pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei, yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang telah diperoleh. Populasi penelitian adalah semua penambang pasir yang berada di Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini merupakan penelitian sensus yaitu mengambil semua penambang pasir yang berada di Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang sebanyak 78 responden. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Setelah data terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan tabulasi tunggal, silang dan korelasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada pengaruh tingkat pendapatan, jumlah beban tanggungan keluarga, dan curahan waktu berpengaruh terhadap kemiskinan dan kemiskinan dalam penelitian termasuk bentuk kemiskinan natural yaitu kemiskinan yang menimbulkan seseorang atau sekelompok orang karena yang bersangkutan memang berasal muasal miskin dan tidak memilki sumberdaya manusia yang memadai. Kondisi penduduk yang rentan sekali untuk menjadi sangat miskin apabila terjadi perubahan ekonomi atau permasalahan sosial lainnya. Sedangkan hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa tingkat pendapatan, jumlah beban tanggungan keluarga, curahan waktu berpengaruh terhadap kemiskinan. Saran yang dapat diberikan adalah: 1) Adanya pelayanan serta peningkatan pendidikan bagi masyarakat Desa Bago Kecamatan Pasirian guna meningkatkan sumberdaya manusia sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan menurunkan tingkat kemiskinan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian.2) Perlu adanya kesadaran masyarakat Desa Bago Kecamatan Pasirian akan pentingnya keluarga kecil. 3) Bagi instansi baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten hendaknya dapat memberikan penyuluhan rutin kepada kepala keluarga, serta menyediakan alternatif kesempatan kerja dengan membuka lapangan pekerjaan selain disektor pertambangan pasir.

Studi perbandingan penggunaan dekak-dekak dengan penggunaan potongan batang lidi terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 SDN Gadang IV Kota Malang / Lintang Fajar Kusuma Wardani

 

Kata Kunci: dekak-dekak, potongan batang lidi, hasil belajar, penjumlahan dua bilangan, siswa SD Pada tahapan perkembangan kognitif, siswa sekolah dasar sudah bisa berpikir logis tentang berbagai hal, termasuk hal yang agak rumit, tetapi dengan syarat bahwa hal-hal tersebut disajikan secara konkret. Media merupakan alat yang mampu menyampaikan pesan dari guru kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan guru kelas yang dilakukan oleh peneliti di kelas 1 SDN Gadang 4 Kecamatan Sukun, Kota Malang terdapat beberapa permasalahan yaitu siswa sering mengalami kekeliruan dalam menuliskan urutan bilangan saat menggunakan cara bersusun pendek. Siswa mengalami kesulitan dalam menentukan dimanakah letak satuan dan puluhan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian komparatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V SDN Gadang 4 Kota Malang. Sampel penelitian yaitu kelas 1A sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas 1B sebagai kelas eksperimen 2. Langkah-langkah penelitian ini antara lain yaitu: (1) pemberian pre-test, (2) pemberian perlakuan media dekak-dekak untuk kelas 1A dan pemberian perlakuan batang lidi untuk kelas 1B, (3) pemberian post-test. Analisis data yang digunakan meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pre-test kelas eksperimen 2 yaitu 55 dan kelas eksperimen 1 yaitu 60. Pada pemberian post-test rata-rata kelas kelas eksperimen 2 yaitu 60 sedangkan kelas eksperimen 1 yaitu 66. Berdasarkan hasil uji homogenitas data kelas eksperimen 2 dan kelas eksperimen 1 mempunyai varians hasil belajar (post-test) yang homogen karena nilai probabilitas 0,936 > 0,05 dan F levene Statistic (hitung) 0,006 < Ftabel (4,027). Hasil uji normalitas hasil belajar (post-test) menunjukkan bahwa kelas kontrol dan kelas eksperimen berdistribusi normal. Kelas kontrol 0,137 > 0,05 sedangkan kelas eksperimen 0,147 > 0,05. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signikansi 0,032 < 0,05 pada taraf signifikansi 0,05. Selain itu juga diperoleh nilai thitung > ttabel (2,218 > 2,009). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan media dekak-dekak dengan batang lidi. Saran yang diberikan peneliti yaitu (1) bagi guru hendaknya menggunakan media pembelajaran yang lebih bervariatif untuk meningkatkan semangan belajar siswa. (2) bagi sekolah hendaknya media pembelajaran yang ada disekitar siswa dapat dijadikan sebagai referensi dan penunjang dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menggambar tehnik membatik untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok B RA Nurul Huda Cemandi Kersikan Bangil / Nur Laila

 

Keyword : Demonstration Metod, Drawing of Batik, Technique, Art Ability of Child Group B Ability at child of Group B is 49 % from the ability of child is wanted. Children interest less in the drawing activity, because in draw studying of batik technique, children just are given model without have guidance, so children draw just do it, without valve of art. Based on the experience, so the observer choose the right activity solve the art less by implementation of demonstration method in draw studying of batik technique. This experiment have purpose to make description demonstration method in the draw studying of batik technique to increase children art ability in Group B RA Nurul Huda. The method that used is research of class action, the experiment by two cycle, each cycle are planning stage, action stage, observation stage and reflection stage. The subject are 17 children in Group B RA Nurul Huda. The instrument used are observation and documentation, the analisys technique used is descriptif. The result of this experiment show that the art abiltity of child in pre cycle is 49 % increase become 63 % in cycle I and icrease become 87 % in cycle II. Based on the result of experiment can summed up that implementation demonstration method in the draw studying of child Group B RA Nurul Huda. Based on the experience, child can make expretion by drawing. Some suggested to the teacher it will good to use demonstration method in the draw studying of batik technique to increase the art ability.

Pengaruh strategi pembelajaran kewirausahaan, sosek orang tua, sikap kewirausahaan, minat kewirausahaan terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa PPS di Kota Malang / Sebastianus Gudat

 

Kata Kunci: Pengaruh Strategi Pembelajaran Kewirausahaan, Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Sikap Kewirausahaan Mahasiswa, Minat Kewirausahaan Mahasiswa, dan Kesiapan Kerja Mandiri Mahasiswa. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa dalam memasuki persaingan dunia kerja. Untuk tercapainya kesiapan kerja mandiri mahasiswa yang optimal, diperlukan adanya dukungan: kualitas pembelajaran kewirausahaan, latar belakang sosial ekonomi orang tua, sikap kewirausahaan mahasiswa, minat kewirausahaan mahasiswa. Beberapa masalah yang teridentifikasi di lapangan yakni masih belum tertatanya strategi pembelajaran kewirausahaan yang baik, latar belakang sosial ekonomi orang tua yang kurang mendukung dalam berwirausaha, kurangnya sikap dan minat kewirausahaan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh strategi pembelajaran kewirausahaan, latar belakang sosial ekonomi orang tua, sikap kewirausahaan mahasiswa, minat kewirausahaan mahasiswa dengan kesiapan kerja mandiri mahasiswa PTS di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 8 PTS di Malang dengan total 105 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner, observasi, wawancara dan dokumentasi, serta teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) Strategi pembelajaran kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 0,463. Maknanya adalah strategi pembelajaran kewirausahaan yang semakin baik akan dapat meningkatkan sikap kewirausahaan mahasiswa, 2) Strategi pembelajaran kewirausahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Meskipun tidak berpengaruh secara signifikan antara kedua variabel tersebut, apabila indikator strategi pembelajaran kewirausahaan tersebut diperbaiki dan ditingkatkan, maka akan meningkat pula minat kewirausahaan mahasiswa, 3) Latar belakang sosial ekonomi orang tua tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa. Meskipun tidak berpengaruh secara signifikan antara kedua variabel tersebut, apabila indikator latar belakang sosial ekonomi orang tua tersebut semakin baik, maka akan semakin baik pula terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa, 4) Latar belakang sosial ekonomi orang berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 0,546. Maknanya adalah latar belakang sosial ekonomi orang yang semakin baik akan akan dapat membantu terhadap minat kewirausahaan mahasiswa, 5) Sikap kewirausahaan mahasiswa berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 2,655. Maknanya adalah sikap kewirausahaan mahasiswa yang semakin baik akan memberikan peningkatan dukungan moril pada kesiapan kerja mandiri mahasiswa, dan 6) Minat kewirausahaan mahasiswa berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja mandiri mahasiswa. Koefisien jalur pengaruh langsung kedua variabel adalah 0,493. Maknanya adalah minat kewirausahaan mahasiswa yang semakin meningkat dan baik akan memberikan peningkatan pada kesiapan kerja mandiri mahasiswa Berdasarkan penelitian tersebut, maka disarankan; 1) Melakukan perbaikan dan penataan urutan penyajian isi mata kuliah kewirausahaan, 2) Peningkatan dan perbaikan media pembelajaran kewirausahaan, 3) Penataan penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran kewirausahaan, 4) Peningkatan kemajuan belajar mahasiswa, 5) Peran serta aktif orang tua (tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi yang dimiliki) dalam memberi dukungan dan memotivasi anak didiknya dalam rangka menumbuhkembangkan sikap kewirausahaan mahasiswa dan minat kewirausahaan mahasiswa, 6) Menciptakan keberanian mencoba berwirausaha dan perencanaan yang baik untuk berwirausaha, dan 7) Peningkatan pengetahuan kewirausahaan mahasiswa, melalui; a) pengetahuan kewirausahaan selama di bangku kuliah, b) fasilitas sarana dan prasarana yang cukup memadai selama mengikuti perkuliahan di kampus, c) memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mengatasi kegagalan dalam berwirausaha, d) memiliki pengetahuan manajemen sumber daya manusia yang memadai untuk berwirausaha, e) memiliki pengetahuan manajemen keuangan yang memadai untuk berwirausaha, dan f) mengetahui cara terbaik untuk memulai usaha mandiri.

Penerapan metode pemberian tugas untuk meningkatkan kemampuan seni menggambar anak kelompok A di TK Aba I Gondang Legi Beji Pasuruan / Eni Triana

 

Kata kunci : metode pemberian tugas, kemampuan seni. Pembelajaran menggambar di bidang seni menggambar sangat penting untuk meningkatkan kemampuan seni dan perasaan anak melalui garis-garis, namun keberhasilan pembelajaran seni menggambar anak di TK ABA I Gondanglegi Beji Pasuruan masih rendah. Berdasarkan pengamatan dari 17 peserta didik yang ada di TK ditemukan bahwa 12 anak yang belum mampu menggambar sehingga masih mendapat bintang 1 dan 2 . Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode pemberian tugas untuk meningkatkan kemampuan seni menggambar anak kelompok A, di TK ABA I Gondanglegi Beji Pasuruan, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan seni menggambar anak kelompok A di TK ABA I Gondanglegi Kecamatan Beji Pasuruan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses siklus dari setiap tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan metode pemberian tugas melalui menggambar rumah untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok A TK ABA I, sedangkan yang menjadi subyek penelitian adalah anak didik kelompok A dengan jumlah 17 anak dan 2 orang kolabolator (teman sejawat). Hasil penelitian menunjukan kemampuan seni anak dalam penerapan metode pemberian tugas pada pratindakan meningkat dari 50 % pada siklus 1 kemampuan seni anak mencapai 62 % meningkat menjadi 81% pada siklus ke2 peninggkatan kemampuan seni menggambar anak ditandai dengan perolehan rata–rata pada siklus 1 12% dan siklus ke II 19 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pemberian tugas dalam kemampuan seni menggambar anak dapat ditandai dengan meninggkatnya kemampuan seni dalam memahami penjelasan guru, minat kemandirian, imajinasi, kreatifitas, komposisi dan mengerakkan jari tanganya. Disarankan kepada pendidik PAUD pembelajaran menggambar untuk meningkatkan kemampuan seni anak TK.

Penerapan permainan ular tangga untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok A di TK Ummatul Wahidah Gempeng Bangil / Lilik Mas'udah

 

Kata kunci: Permainan ular tangga, kemampuan berbicara anak. Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan berbicara anak, hal ini disebabkan karena perkembangan anak yang kurang optimal, selain hal tersebut guru dalam menstimulasi berbagai perkembangan anak cara guru cenderung konvensional dimana pembelajaran masih berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbicara anak dengan menggunakan media permainan ular tangga. Dalam penelitian ini bertujuan sebagai berikut : (1) Mendeskripsikan penerapan permainan ular tangga yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak Kelompok A di TK. Ummatul Wahidah Gempeng Bangil, (2) Mendeskripsikan peningkatan pembelajaran dengan penerapan permainan ular tangga untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak Kelompok A di TK Ummatul Wahidah. Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 20 anak dan melibatkan satu guru kolabolator, tempat penelitian di TK Ummatul Wahidah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tehnik observasi terhadap proses pembelajaran kemampuan berbicara. Tehnik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu secara deskriptif baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan ketuntasan belajar minimal secara individu dan klasikal. Hasil penelitian sebagai berikut: kemampuan berbicara pada pra tindakan diperoleh rata-rata 68%. Pada siklus I dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan pada 3 dan 4 April 2012 pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 diperoleh rata-rata 79% dengan kategori B. Pada siklus II dilakukan 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 18 dan 19 April 2012 diperoleh rata-rata 89% terdapat kenaikan skor sebesar 10%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa media permainan ular tangga dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan berbicara: (1) Berbicara dengan teman sebaya tentang rencana dalam bermain (2) menjawab pertanyaan tentang keterangan atau informasi secara sederhana (3) menyebutkan posisi keterangan tempat misal : diluar, didalam, diatas, dll (4) Indikator menjawab pertanyaan tentang keterangan tempat, misal : di dalam, di luar, di atas, dll.Bagi guru TK dalam pembelajaran kemampuan berbicara anak disarankan agar guru memberikan pembelajaran yang menerapkan permainan ular tangga.

Pengembangan program latihan tehnik pukulan forehand overhead clear anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raketn yang dimodifikasi di persatuan bulutangkis Wiratama Lumajang / Agung Prasetyo

 

Kata Kunci: pengembangan, program latihan, anak usia 5-10 tahun, raket yang dimodifikasi Bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Untuk menjadi seorang pebulutangkis yang mempunyai keterampilan teknik yang baik dan bagus, diperlukan pembinaan mulai sejak dini yang dimulai pada kisaran umur 5-10 tahun. Program latihan yang diperuntukkan anak usia 5-10 tahun tidak boleh disamakan dengan program latihan atlet pada umumnya. Raket yang digunakan juga harus dimodifikasi sehingga sesuai dengan kebutuhan anak. Teknik pukulan forehand overhead clear merupakan salah satu teknik dasar bulutangkis yang harus dikuasai para pebulutangkis. Berdasarkan analisis kebutuhan 100 % peserta latihan menjawab perlu adanya modifikasi raket dalam latihan. Berawal dari masalah tersebut maka peneliti mencoba mengembangkan program latihan pukulan forehand overhead clear untuk anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raket modifikasi. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk membuat program latihan teknik pukulan forehand overhead clear yang sesuai dengan anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raket yang dimodifikasi di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang. Penelitian pengembangan ini ini menggunakan teknik analisis data deskriptif persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh melalui instrument yang dibuat peneliti. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, observasi dan wawancara. Produk penelitian adalah berupa program latihan teknik pukulan forehand overhead clear yang sesuai dengan anak usia 5-10 tahun dengan menggunakan raket yang dimodifikasi di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang. Spesifikasi program latihan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang karakteristik produk yang diharapkan dari kegiatan pengembangan yang berisi materi kognitif teknik pukulan forehand overhead clear, dan dilengkapi gambar serta cara melakukan latihan. Materi latihan terdiri dari latihan footwork, shadow, drill dan stroke. Penelitian awal dengan pengumpulan informasi termasuk kajian pustaka dan observasi lapangan. Perencanaan termasuk definisi keahlian melalui menentukan objek-objek masalah dalam satu lingkup masalah dan skala tes kecil yang mungkin terjadi. Pengembangan produk awal meliputi persiapan materi pembelajaran, buku pedoman dan perangkat evaluasi. Persiapan uji kelompok kecil diadakan di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang dengan menggunakan 12 subjek yang diteliti, data wawancara, observasi dan kuesioner dikumpulkan dan dianalisis. Revisi produk seperti yang telah dihasilkan oleh tes persiapan lapangan. Uji kelompok besar menggunakan 30 subjek, data kuantitatif dalam penampilan subjek sebelum dan sesudah tes dikumpulkan. Revisi produk operasional, revisi produk yang telah disarankan oleh hasil tes lapangan utama, Hasil penelitian berdasarkan tinjauan para ahli bulutagkis adalah sebagai berikut. Kesesuaian dan kelengkapan program latihan pukulan forehandover head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 tahun dinyatakan, sangat baik (94%). Kesesuaian dan kelengkapan materi kognitif keseluruhan program latihan pukulan forehand over head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 Tahun dinyatakan Baik (75%). Kesesuaian dan kelengkapan materi footwork dinyatakan sangat baik (100%). Kesesuaian dan kelengkapan materi stroke dinyatakan sangat baik (92%). Kesesuaian dan kelengkapan materi drill dinyatakan sangat baik (100%). Kesesuaian dan kelengkapan keseluruhan program latihan pukulan forehand over head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 tahun dinyatakan sangat baik (94%). Kesesuaian alokasi waktu latihan secara keseluruhan dinyatakan sangat baik (100%). Kesesuaian dan kelengkapan volume latihan secara keseluruhan dinyatakan baik (75%). Kesesuaian dan kelengkapan intensitas latihan secara keseluruhan dinyatakan sangat baik (94%). Kesesuaian dan kelengkapan keseluruhan variasi program latihan pukulan forehand over head clear bulutangkis menggunakan raket yang dimodifikasi untuk anak usia 5-10 tahun dinyatakan sangat baik (100%). Dengan melihat hasil yang diperoleh pada saat penelitian tersebut maka dapat dikatakan bahwa program latihan teknik pukulan forehand overhead clear untuk anak usia 5-10 tahun di Persatuan Bulutangkis Wiratama Lumajang ini efektif. Sehingga program latihan tersebut dapat digunakan untuk latihan di Persatuan Bulutangkis yang lainnya.

Implementasi Model pembelajaran arias (assurance, relevance, interest, assesment, dan Satisfaction) untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika dan kualitas pembelajaran fisika siswa kelas VII-E semester genap tahun Pelajaran 2011/2012 SMP Muhammdiyah 08 Batu / Ervina Vi

 

Kata Kunci: Model pembelajaran ARIAS, Pemahaman konsep, kualitas pembelajaran. Hasil observasi di kelas VII-E SMP Muhammadiyah 08 Batu, menunjukkan kurangnya pemahaman konsep siswa. Hal ini terbukti siswa belum mampu mengaplikasikan konsep fisika dalam kegiatan praktikum, menjelaskan fenomena teknologi di sekitar siswa dengan konsep fisika yang telah dipelajari. Guru sebagai mediator dalam proses pembelajaran telah menerapkan berbagai metode salah satunya inquiri terbimbing untuk membantu siswa dalam praktikum dan metode drama untuk memotivasi siswa. Tetapi kedua metode yang digunakan tidak berjalan maksimal, sehingga kualitas pembelajaran kurang. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kualitas pembelajaran fisika. Kelas VII-E membutuhkan suatu model yang dapat menanamkan rasa percaya diri, menunjukkan hubungan antara materi pelajaran dan kenyataan, selain mampu menarik perhatian juga dapat memelihara perhatian siswa, melakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pembelajaran dan menunjukkan rasa bangga agar siswa termotivasi untuk lebih baik. Maka peneliti menerapkan model pembelajaran ARIAS. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yaitu sebuah penelitian kolaboratif dengan pihak lain seperti guru, siswa, dan pihak sekolah yang lain untuk menciptakan kinerja sekolah yang lebih baik. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan kenyataan di lapangan. Hasil penelitian yang menerapkan model pembelajaran ARIAS menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep dan kualitas belajar fisika. Hal ini ditunjukkan untuk pemahaman konsep pada siklus I mencapai 68.43% mengalami kenaikan 14.16% menjadi 82.59% pada siklus II. Kualitas pembelajaran yang mencakup tiga aspek motivasi belajar siswa, aktivitas siswa dan prestasi belajar. Pada aspek motivasi belajar siswa siklus I mencapai 84.09% mengalami kenaikan sebesar 4.60% menjadi 88.69% pada siklus II. Aspek aktivitas siswa pada siklus I mencapai 79.32% mengalami kenaikan sebesar 8.18% menjadi 87.50% pada siklus II. Prestasi belajar pada siklus I nilai rata-rata mencapai 76.97 dengan ketuntasan siswa sebanyak 23 anak dari 33 anak dengan persentase 69.67%. Pada siklus II mengalami peningkatan nilai rata-rata menjadi 77.27, jumlah siswa yang tuntas sebanyak 25 siswa dari 33 siswa dengan persentse 75.76%.

Aplikasi metode geolistrik resistivitas untuk menentukan letak akumulasi rembesan polutan sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) Rampal Malang / Sulistyo Noviana Rahayu

 

Kata Kunci : Geolistrik, Konfigurasi Wenner, Sounding mapping, Res2dinv. Telah dilakukan penelitian di daerah HUBDAM karena untuk mengidentifikasi adanya rembesan polutan yang mencemari daerah tersebut. Di daerah tersebut rembesan sudah mencemari sungai yang berada 3 meter dari tempat sampah yang berada di area penelitian. Daerah penelitian merupakan dekat daerah pemukiman dan lokasi penelitian tersebut berada di belakang pemukiman tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Wenner. Pengambilan data dilakukan pada dua lintasan. Lintasan pertama pada daerah timur-barat dengan bentangan 93 meter, dan lintasan kedua utara-selatan dengan bentangan 20 meter.Data yang didapat dari lapangan berupa arus dan beda potensial. Hasil invers menggunakan software Res2dinv menunjukkan bahwa nilai resitivitas lapisan bawah tanah pada bentang timur-barat dengan panjang bentangan 93 meter, Lapisan pertama dengan kedalaman 2,55 m pada bentangan 16 m didapatkan harga resistivitas 7,97 Ωm sampai 17,5 Ωm.Lapisan kedua dengan kedalaman 4,98 m pada bentangan 32 m didapatkan harga resistivitas 7,97 Ωm sampai 186 Ωm. Lapisan ketiga dengan kedalaman 7,91 m pada bentangan 48 m di peroleh harga resistivitas seberar 17,7 Ωm sampai 408 Ωm. Lapisan keempat dengan kedalaman 11,5 m pada bentangan 64 m didapatkan harga resistivitas 7,97 Ωm sampai 38,4 Ωm.Lapisan kelima dengan kedalaman 13,5 m pada bentangan 80 m didapatkan harga resistivitas 7,97Ωm sampai 38,4 Ωm. Untuk nilai resitivitas lapisan bawah tanah pada bentang utara-selatan dengan bentang 20 meter, Lapisan pertama dengan kedalaman 1,27 m pada bentangan 5 m didapatkan harga resitivitas 2,96 Ωm sampai 6,21 Ωm. Lapisan kedua dengan kedalaman 2,49 m pada bentangan 10 m didapatkan harga resitivitas 6,21 Ωm sampai 57,2 Ωm.Pada lapisan ketiga dengan kedalaman 3,96 m pada bentangan 15 m didapatkan harga resitivitas 27,3 Ωm sampai 57,2 Ωm. Berdasarkan resitivitas tersebut dapat disimpulkan bahwa resitivitas air tawar fres adalah antara 10-100 Ωm dan air tercemar memiliki resitivitas yang sangat rendah kurang dari 10 Ωm diasosiasikan dengan adanya kontaminan leachate pada lapisan tersebut. Jadi air tanah di sekitar pemukiman di lokasi penelitian tersebut sudah tercemar polutan sampah.

Analisis LKS IPA Kelas IV Semester 1 yang digunakan di Sekolah Dasar segugus 7 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Heni Wulandari

 

Kata Kunci: LKS, IPA, Evaluasi. Lembar Kegiatan Siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa yang berisi petunjuk, mencakup materi pokok secara singkat, soal-soal evaluasi, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas dapat berupa teori dan atau praktik. Dengan menggunakan LKS dalam pengajaran akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian guru bertanggung jawab penuh dalam memantau siswa dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kesesuaian materi dengan kurikulum, kebenaran bahasa, ketersediaan media gambar, kesesuaian isi LKS dengan syarat didaktif, kontruksi dan teknik, serta pertanyaan-pertanyaan berdasarkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor menurut Taksonomi Bloom pada LKS IPA kelas IV semester 1 yang digunakan di Sekolah Dasar Se Gugus 7 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar se gugus 7 Kecamatan Kepanjen yang terdiri dari 8 Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah teknik analisis deskriptif dengan presentase (%). Hasil penelitian analisis LKS IPA kelas IV semester 1 yang digunakan di sekolah dasar Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, menunjukkan bahwa kesesuaian materi dengan kurikulum memperoleh 78,57%, kebenaran bahasa pada ke-4 LKS termasuk dalam kategori sedang, ketersediaan media gambar yang digunakan cukup inovatif, kesesuaian isi dengan syarat didaktif memperoleh 80%, syarat kontruksi memperoleh 70%, dan syarat teknis memperoleh 92,86%, serta pertanyaan-pertanyaan dari ke-4 LKS memperoleh 100% hanya terdapat ranah kognitif. Dari hasil kesimpulan disarankan apabila menggunakan LKS yang sudah ada hendaknya ditelaah terlebih dahulu agar kesalahan yang ada dalam LKS tersebut tidak disajikan dalam pembelajaran. Lebih bagus apabila dalam mengajar seorang guru mampu membuat LKS sendiri sesuai dengan ketentuan ilmiah yang ada dan sesuai kriteria dalam kurikulum yang berlaku.

Pengembangan modul pembelajaran IPS terpadu untuk siswa kelas VIII SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang / Cicilia Dwi Anggria Rizkawati

 

Kata kunci : Pengembangan, Modul, pembelajaran, IPS, IPS terpadu. Pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang tertuang dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa. Modul pembelajaran IPS Terpadu dikembangkan karena media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran terpadu masih terbatas dan belum ada yang sesuai dengan pembelajaran terpadu. Modul pembelajaran IPS Terpadu berisi perpaduan antar berbagai bidang studi IPS yang disatukan dengan tema. Bidang studi yang dipadukan adalah Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Tema yang dijadikan sebagai pemersatu bidang studi yaitu ‘permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’. Adapun tujuan dari pengembangan yaitu menghasilkan produk modul pembelajaran IPS terpadu dengan tema’permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’ untuk siswa kelas VIII semester 2 SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang dan memvalidasi produk modul pembelajaran IPS terpadu dengan tema’permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’ untuk siswa kelas VIII semester 2 SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan desain pengembangan diadaptasi dan dimodfikasi dari Dick and Carrey. Desain pengembangan yang dilakukan dengan 5 tahap yaitu sebagai berikut: (1) tahap analisis situasi awal, (2) tahap kegiatan pengembangan rancangan modul, (3) tahap pengembangan modul, (4) kegiatan penilaian/ validasi, (5) revisi produk. Instrument yang digunakan dalam penilitian ini berupa angket kelayakan untuk ahli materi, ahli media, dan siswa. Jenis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari kritik dan saran dari ahli materi, ahli media dan siswa, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil tes belajar siswa. Modul pembelajaran IPS Terpadu hasil pengembangan terdiri dari pendahuluan, pedoman guru, pedoman siswa, jaringan tema, peta konsep, materi, soal tes formatif dan sumatif, daftar pustaka, silabus IPS Terpadu,. Hasil instrument penilaian oleh evaluator menunjukkan bahwa: hasil uji coba angket ahli materi menilai modul yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (92,5%), ahli media menilai modul yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (98,3%), siswa perseorangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (95%), siswa kelompok kecil menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (94,6%), kelompok besar/ lapangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (93,5%). hasil uji coba tes hasil belajar siswa dari tes hasil formatif perseorangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid dengan prosentase (83,4%), kelompok kecil menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (80%), kelompok besar/ lapangan menilai modul yang dikembangan memenuhi kualifikasi valid/layak dengan prosentase (85,8%). Berdasarkan hasil uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran IPS Terpadu dengan tema’permasalahan penduduk dengan adanya urbanisasi’ untuk siswa kelas VIII semester 2 SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang termasuk dalam kualifikasi valid sehingga layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa Kelas VII pada materi kondisi geografis dan penduduk di SMP Negeri II Laren Kabupaten Lamongan / Kiftirul Afni

 

Kata kunci: Model Pembelajaran TPS, Hasil Belajar Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas VII pada mata pelajaran Geografi, diketahui bahwa pembelajaran di sekolah masih dilakukan dengan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Kemampuan siswa pada ranah kognitif masih rendah yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar siswa di bawah rata-rata. Selain itu dari 26 siswa yang tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru sebesar 100%, ini terlihat dari nilai rata-rata kurang dari 70. Tidak ada siswa yang mendapatkan nilai di atas 7, yang mendapat nilai 50-70 tediri dari 10 siswa dengan persentasi 38,5%, selebihnya memperoleh nilai kurang dari 50 dengan persentase 61,5%. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kabupaten Lamongan melalui model pembelajaran TPS pada Materi Kondisi Geografis dan Penduduk. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tindakan berupa penerapan pembelajaran TPS. Penelitian ini terdiri atas 2 siklus dan tiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan dengan disertai perbaikan tiap siklusnya. Subyek penelitian ini adalah siswa SMP N 2 Laren kelas VII dengan jumlah 26 siswa. Instrumen penelitian berupa tes penilaian hasil belajar siswa, lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran, dan catatan lapangan serta instrumen pembelajaran meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) lengkap dengan LKS, dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan persentase. Penerapan pembelajaran TPS menunjukkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan ini dapat dilihat dari ketuntasan belajar secara keseluruhan pada perbandingan siklus I dengan siklus II. Indikator keberhasilan untuk ranah kognitif terjadi peningkatan belajar sebesar 26,9%. Berdasarkan penelitian dikemukakan beberapa saran: a). Bagi siswa disarankan untuk memperhatikan guru saat menjelaskan, aktif saat pembelajaran, berani mengungkapkan pendapat, dan jangan ramai saat pembelajaran berlangsung b). Guru juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang model TPS kepada siswa dengan jelas sehingga siswa tidak merasa bingung dan guru harus memperhatikan alokasi waktu yang terdapat pada RPP supaya tahap-tahap dalam TPS dapat berjalan dengan baik.c). Bagi peneliti agar dikembangkan lebih lanjut pada materi lain, mata pelajaran lain. dan hendaknya semua aspek yang dapat mengganggu proses pembelajaran dihindari, seperti alokasi waktu yang tepat, membuat LKS dengan bahasa yang lugas dan komunikatif, dan menciptakan suasana yang memberikan kenyamanan bagi siswa untuk belajar.

Pengembangan media interaktif untuk anak usia dini berbasis multiple intelligence di BA Restu 2 Kecamatan Klojen Kota Malang / Afrizal Dihani Prayoga

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Interaktif, Multiple Intelligence. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan jamak atau multiple intelligence di BA Restu 2 minim dilaksanakan setiap harinya anak lebih terfokus pada pengerjaan LKS. Selain itu karena adanya tuntutan dari orang tua maka pembelajaran pada anak terbatas pada calistung. Jika hal tersebut terus dilakukan maka anak akan kehilangan sempatan untuk memaksimalkan potensi kecerdasan lain yang dimilikinya. Maka peneliti merancang sebuah produk yang diberi nama “media interaktif” yaitu media yang didalamnya terdapat permainan-permainan edukatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media interaktif yang diharapkan dapat mempermudah proses pembelajaran, menyenangkan dan tidak membahayakan anak, serta memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada anak sejak dini tentang penggunaan komputer di BA Restu 2 Jalan Pandeglang Malang. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall. Model pengembangan tersebut hanya menggunakan 7 langkah penelitian dan dilaksanakan pada 1 sekolah saja dengan subjek penelitian 36 Anak. Langkah penelitian dimulai dari analisis kebutuhan, rancangan produk, revisi ahli dengan 1 ahli pembelajaran PAUD, 1 ahli materi mutiple intelligence, dan 2 Ahli Media Interaktif, uji coba kecil dilakukan pada 6 subjek penelitian, revisi dilakukan berdasarkan hambatan yang ada di lapangan, dan uji kelompok besar dilakukan terhadap 30 anak dan revisi akhir. Media interaktif untuk anak usia dini berbasis multiple intelligence ini dinyatakan valid. Hal ini dibuktikan bahwa hasil perhitungan statistik dari data ahli media mendapatkan 96,4%, dari ahli materi mendapatkan 98,6%, dari ahli pembelajaran mendapatkan 93%, dari hasil uji coba kelompok kecil berdasarkan kemenarikan 93,3%, efisiensi, 87,5% efektifitas 86,6%. Sedangkan statistik berdasarkan uji kelompok besar berdasarkan kemenarikan 98,6%, efisiensi 95,8%, efektifitas 96,6%. Berdasarkan hasil analisis data tersebut media interaktif untuk anak usia dini berbasis multiple intelligence ini menarik, efisien, efektif dan layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk anak usia dini. Saran-saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan ini yang ditujukan kepada guru untuk memberikan pendampingan ketika pengoprasian media interaktif, dan kepada pengembang lebih lanjut untuk membuat media interaktif yang lebih difokuskan pada salah satu tema pembelajaran yang ada di TK.

Aplikasi model anomali geolistrik anisotropi dar-Zarrouk untuk menentukan reservoir hidrokarbon di Benakat Barat - Sumatera Selatan / M. Yazid Triwansyah

 

Kata Kunci: anisotropi, reservoir, hidrokarbon, resistivitas, well logging. Di Indonesia, studi dan eksplorasi lanjut untuk mencari potensi hidrokarbon dari lapangan minyak tua semakin gencar dilakukan. Lapangan minyak di Benakat Barat- Sumatera Selatan merupakan suatu lapangan minyak tua yang sudah mengalami penurunan laju produksi. Seiring dengan keadaan tersebut, maka dilakukan eksplorasi lanjutan untuk mencari potensi akumulasi hidrokarbon yang memungkinkan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui distribusi resistivitas bawah permukaan dan mendeteksi jenis formasi lapisan batuan yang diperkirakan mengandung hidrokarbon di daerah lapangan minyak Benakat Barat- Sumatera Selatan. Data yang diperoleh pada penelitian ini merupakan data resistivitas semu dengan menggunakan metode Geolistrik Resistivitas dengan tehnik sounding dengan konfigurasi schlumberger. Penelitian ini meliputi panjang lintasan total mencapai 33 Km yang terdiri dari 275 titik sounding dan dikelompokkan dalam 11 lintasan. Panjang bentangan maksimal yang dipergunakan mencapai 1000 meter, sehingga kedalaman yang diperoleh lebih dari 600 meter di bawah permukaan. Adapun pengolahan data lanjutan adalah dengan menggunakan konsep tahanan jenis anisotropi yang menghasilkan parameter dar zarrouk yang meliputi tahanan jenis transversal, tahanan jenis longitudinal, dan tahanan jenis medium. Nilai tahanan jenis medium ini kemudian dikalibrasikan dengan menggunakan data dari sumur logging sehingga nilai resistivitas akhir yang diperoleh mendekati nilai sebenarnya. Hasil dari pengolahan data resitivitas tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat diketahui pola sebaran resistivitas bawah permukaan. Hasil interpretasi tersebut menunjukkan bahwa pada daerah penelitian terdapat 2 lapisan batupasir yang diduga mengandung hidrokarbon.

Pengembangan model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted / Catur Rika Aguspratiwi

 

Kata kunci : Pemahaman kepribadian, permainan kartu kwarted, bimbingan karier. Dewasa ini, seringkali ditemui permasalahan yang ada di sekolah menengah atas maupun di sekolah menengah kejuruan, yaitu banyaknya siswa yang pindah jurusan karena merasa jurusan yang ia pilih, tidak sesuai dengan minatnya. Seperti hasil wawancara dengan salah seorang konselor di SMKN Malang, menjelaskan bahwa dalam setiap tahunnya ada sekitar 2-3 anak pada setiap jurusan yang memutuskan untuk pindah jurusan, dan hasil wawancara dengan siswa SMA 1 Ponorogo yang menyatakan ada 2 temannya yang juga pindah jurusan, hal ini karena jurusan yang dipilih sebelumnya tidak sesuai dengan keinginan anak tersebut. Permasalahan ini menunjukkan bahwa siswa SMP masih belum paham akan kepribadiannya, sehingga tidak dapat memilih sekolah lanjutan maupun jurusan pada sekolah lanjutan yang sesuai dengan minatnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka diperlukan adanya suatu model layanan pemahaman kepribadian untuk membantu siswa dalam memahami kepribadiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted yang dapat berterima baik secara teoritik maupun praktik. Model layanan ini dapat digunakan konselor untuk membantu siswa dalam memahami tipe kepribadiannya sehingga siswa dapat merencanakan kariernya dengan tepat. Selain itu juga, agar mempermudah konselor sekolah dalam membantu konseli memahami kepribadiannya dengan cara yang menyenangkan yaitu melalui permainan kartu kwarted. Design model penelitian dan pengembangan ini mengadaptasi dari design Borg dan Gall. Langkah-langkah yang dilakukan, yaitu ; 1) penelitian awal (need assesment), 2) perencanaan berupa penyusunan langkah-langkah dan rancangan produk, 3) pengembangan produk awal hingga evaluasi dari para ahli, 4) melakukan uji coba kelompok kecil, dan 5) merevisi hasil uji coba. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dengan prosentase. Hasil penilaian dari para ahli, menunjukkan bahwa produk model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted ini dapat berterima baik secara teoritik. Hal ini didukung dengan rata-rata penilaian dari para ahli pada setiap aspek, yaitu sebesar 87% pada aspek kegunaan, 91% pada aspek ketepatan, 85% pada aspek kemudahan, 88% pada aspek kemenarikan, 81% pada aspek keefektifan, dan 86% pada aspek kejelasan. Adapun rata-rata prosentase keseluruhannya yaitu sebesar 86%. Sedangkan hasil penilaian dari uji coba, menunjukkan bahwa produk model layanan pemahaman kepribadian dengan media kartu kwarted ini dapat berterima baik secara praktik. Hal ini didukung dengan rata-rata penilaian dari uji coba kelompok kecil yang mendapatkan prosentase sebesar 81,2%. Kedua penilaian ini menunjukkan bahwa produk pengembangan ini dapat diterima baik secara teori maupun secara praktik. Namun demikian, produk ini tetap melewati penyempurnaan produk (revisi). Setelah melakukan penyempurnaan produk maka model layanan ini dapat dijadikan konselor sebagai salah satu alternatif dalam pemberian layanan pemahaman kepribadian, yang mudah dan menarik serta dapat membuat siswa senang dalam memahami kepribadiannya. Saran yang dapat disampaikan terkait penelitian ini untuk pemanfaatan yaitu, layanan diberikan pada siswa kelas VIII. Saran untuk penyebarluasan yaitu hendaknya dievaluasi kembali, khususnya terkait dengan waktu pelaksanaan. Sedangkan saran untuk pengembangan lebih lanjut, diharapkan dapat melakukan uji coba dengan berbagai prosedur (2 kali pertemuan maupun seluruh siswa bermain kartu kwarted, tanpa ada yang menjadi observer), dalam proses evaluasi yang bisa dilakukan dengan 2 cara, yakni tulis dan lisan, sebaiknya dilakukan dengan cara tulis, yaitu siswa menulis pada lembar evaluasi, melakukan uji kelompok besar dan pengkajian untuk mengetahui keefektifan dengan penelitian tindakan.

Pengembangan mediasi (Compact Disk) pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk Kelas VI di Sekolah Dasar Negeri Jempun 1 Tulung Agung / Chandra Adi Kurnia

 

Pemetaan kampus I Universitas Negeri Malang menggunakan Wolfram Mathematica dan penentuan luasnya berbasis Google Earth / Fani Diaz Zulkarnain

 

Kata Kunci: Pemetaan, Luas, Kampus I UM, Google Earth,Wolfram Mathematica. Geokomputasi merupakan suatu alat/media yang dipergunakan untuk melakukan aktivitas pengolahan dan visualisasi data geografi, baik dari penyimpanan maupun pengolahan data menggunakan bantuan komputer. Pengambilan data, penyajian hasil peta maupun penentuan luas didapat dengan bantuan software. Pengambilan data dilakukan dari Google Earth, pengolahan data dilakukan di Microsoft Excel, dan pemetaan dilakukan oleh Wolfram Mathematica. Dengan metode geokomputasi maka dapat dilakaukan pemetaan dengan akurat dan efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan Kampus I UM dan menentukan luas Kampus I UM berbasis Google Earth dengan Wolfram Mathematica. Pemetaan Kampus I dari Wolfam Mathematica menghasilkan peta digital yang mempunyai fasilitas-fasilitas tambahan agar peta mudah untuk dimengerti. Fasilitas-fasilitas yang tersaji yaitu, perbesaran gambar berguna untuk memperbesar peta hingga empat kali perbesarn, perputaran gambar digunakan untuk memutar sesuai jalan yang dilalui, penunjuk arah menunjukan jlan menuju ke gedung tertentu dari pintu masuk tertentu, dan luas masing-masing gedung. Namun Wolfram Mathematica masih belum mampu menggabungkan dua gambar dengan sudut kemiringan berbeda, sehingga tulisan pada peta akan sulit dibaca jika peta diputar. Luas peta ditentukan dari Google Earth dengan menu Polygon, dan didapat luas Kampus I adalah 453.979 m2. Luas dari Google Earth mempunyai selisih 0.11% dari luas yang didapatkan dari pihak kampus.

Kompetensi profesional guru dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial kelas V di SDN Polehan 2 Malang / Mahendrawan Nugraha Aji Pratama

 

Kata kunci: Kompetensi profesional guru, pembelajaran IPS Dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional maka dibutuhkan peran pendidik yang profesional. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Berbagai kendala yang dihadapi sekolah terutama di daerah luar kota, umumnya mengalami kekurangan guru yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan subjek atau bidang studi yang sesuai dengan latar belakang guru. Permasalahan dalam penelitian ini adalah guru masih belum menggunakan media pembelajaran berbasis IT dalam pembelajarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diambil meliputi : kompetensi profesional guru dalam pembelajaran IPS dan kegiatan pembelajaran IPS kelas V di SDN Polehan 2 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial guru kelas V SDN Polehan 2 Malang, dapat disimpulkan bahwa guru sudah cukup professional. Hal tersebut dibuktikan dengan terlaksananya komponen instrumen penilaian kinerja guru dalam hal penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran, dan penguasaan standard kompetensi, dan kompetensi dasar mata pelajaran, mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif, usaha dalam mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan reflektif. Sedangkan dalam usaha memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri, guru kelas V di SDN Polehan 2 Malang jarang dilakukan dalam proses pembelajaran secara khusus karena keterbatasan kemampuan guru dalam hal teknologi, tetapi secara umum sudah dilakukan. Hal ini disebabkan karena kedua narasumber merupakan guru yang sudah berusia 50 tahun ke atas, dan baru mulai belajar menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi kurang lebih 1 tahun terakhir. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru meningkatkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip penggunaan media, meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media berbasis IT. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti kursus atau workshop dalam meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media, khususnya media untuk pembelajaran berbasis IT.

Simulasi konduksi kalor 2 dimensi dengan variasi suhu awal dan suhu akhir / Septian Nur Karomatun Nisa'

 

Kata Kunci: Konduksi kalor, Konstanta difusivitas, Simulasi. Konduksi kalor merupakan salah satu persoalan fisik yang banyak dijumpai dalam bidang industri maupun rekayasa. Contoh sederhana adalah proses pemanasan atau pendinginan transien. Pada proses ini, analisa dilakukan untuk mendapatkan penyelesaian akhir berupa distribusi suhu bergantung waktu di dalam bahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konstanta difusivitas pada kecepatan perambatan kalor dalam proses pemanasan dan pendinginan transien. Uji coba dilakukan dengan cara mensimulasikan proses konduksi dalam bentuk kontur distribusi suhu dua dimensi. Program dibuat dengan menggunakan metode analitik dan dibantu dengan perangkat lunak Wolfram Mathematica. Hasil uji coba program diperlihatkan untuk nilai konstanta difusivitas 0,001cm2/s dan 0,002cm2/s, dengan rentang waktu 1s sampai 100s. Pada proses pemanasan transien, untuk nilai konstanta difusivitas 0,001cm2/s diperoleh suhu tertinggi sebesar 79,2o, sedangkan untuk nilai kostanta difusivitas 0,002cm2/s diperoleh suhu tertinggi sebesar 97,2o. Pada proses pendinginan transien, untuk nilai konstanta difusivitas 0,001cm2/s diperoleh suhu terendah sebesar 19,2o, sedangkan untuk nilai kostanta difusivitas 0,002cm2/s diperoleh suhu terendah sebesar 2,8o. Berdasarkan hasil uji coba program dapat diketahui bahwa kecepatan perambatan kalor pada bahan berbanding lurus dengan nilai konstanta difusivitas

Pemanfaatan sistem informasi geografis untuk evaluasi tingkat kerawanan penyakit demam berdarah di Kecamatan Klojen Kota Malang / Rosalia Afin Annisakh

 

Kata Kunci:demam berdarah, evaluasi, sistem informasi geografis, tingkat kerawanan Demam berdarahDengue (DBD)merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang.Beberapa jenis KejadianLuarBiasa (KLB) mengalami penurunan seperti, diare, campak dan malaria, tetapi beberapa jenis KLB penyakit lainnya justru semakin meningkat seperti demam berdarah.Diperlukan suatu basis data spasial untuk mengetahui tingkat kerawanan DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat kerawanan penyakit demam berdarah di Kecamatan Klojen Kota Malang. Mengkaji karakteristik wilayah yang terjangkit DBD. Serta untuk mengkaji kesesuaian jumlah penderita dengan tingkat kerawanannya. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan analisis tumpang susun berjenjangyang menghasilkan tingkat kerawanan DBD tentatif/2010, serta melakukan cek lapangan untuk mencocokkan hasil pemetaaan sementara dengan kondisi penggunaaan lahan di lapangan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknikpurposive sampling. Pemilihan teknikpurposive sampling dilakukan pada beberapa titik pengamatan yang dianggap mewakili kondisi kerawanan dan lokasi penderita di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kerawanan DBD pada Kecamatan Klojen dapatdiklasifikasikandalam 4 kategoriyaitu: Tingkat kerawanantinggi seluas 537.7 Ha atau 60,93 %, yang meliputisemua wilayah KecamatanKlojen kecuali kelurahanOro-Oro dowoyaitu128.8 Ha,Penanggungan27.4 Ha, Kasin24.2 Ha, Bareng 44.2 Ha, dan Kidul Dalem 20.2 Ha.Tingkat kerawanan sangat tinggi meliputiseluas 171.7 Ha atau 19.46 % yang meliputi wilayahKelurahanKidul Dalemyaitu5.3 Ha, Rampal Celaket 22.7 ha, Bareng 60.3 Ha, Sukoharjo 29.8 Ha, dan Samaan 53.5 Ha. Kategori sedang seluas 44.3 Ha atau 5.02%, dan Kategori rendah sebanyak 128.8 Ha atau14.59%.Karakteristikdaerah yang memilikitingkatkerawanansangattinggidantinggiditunjukkandengankondisilingkunganpermukimantidakteraturdengansanitasiburuk, sedangkankarateristiktingkatkerawananrendahditunjukkandengankondisilingkunganpermukimanteraturdansanitasi yang baik.Secaraspasialantara tingkat kerawanan memilikihubunganpositifdenganjumlah penderita DBD pada tahun 2010 pada Kecamatan Klojen.

Pengembangan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD Darussalam Blitar / Dian Mardika Siwi

 

Kata Kunci: Permainan Pasir, Fisik Motorik, Anak Usia 4-5 tahun PAUD Darusssalam Blitar memiliki halaman yang luas, sarana bermain cukup banyak, salah satu sarana bermain yang tidak dimanfaatkan yakni arena pasir dan dari analisis kebutuhan yang dilakukan dengan menggunakan angket berupa kuisoner dan wawancara terhadap 2 guru PAUD Darussalam mengalami permasalahan dalam mencari alternatif permainan di luar kelas pada pembelajaran fisik motorik anak. Mencermati kondisi tersebut maka diperlukan pengembangan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan permainan di luar kelas untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik anak usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan permainan pasir pada pembelaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD Darussalam Blitar yang dapat dijadikan alternatif permainan untuk mengembangkan fisik motorik anak usia 4-5 tahun saat bermain di luar kelas khususnya di arena pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan. Adapun langkah-langkah yang dipilih peneliti untuk mengembangkan permainan pasir pada pembelajaran anak usia 4-5 tahun sebagai berikut: 1) Analisis kebutuhan, 2) Pembuatan produk awal berupa draf kasar yang akan dievaluasikan ke para ahli, 3) Revisi tahap I, dari tinjauan para ahli, 4) Uji coba kelompok kecil, 5) Revisi II yaitu hasil uji coba kelompok kecil, 6) Uji coba lapangan, 7) Revisi produk akhir yaitu berdasarkan hasil uji lapangan, hingga diperoleh produk akhir berupa permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun. Subjek penelitian yang digunakan sebagai berikut: 1) Analisis kebutuhan terhadap dua guru, 2) subjek evaluasi yaitu ahli pembelajaran AUD, ahli fisik motorik, ahli media dan ahli bahasa, 3) subjek uji coba kelompok kecil terdiri dari 2 guru dan 6 anak PAUD Darussalam Blitar, 4) subjek uji kelompok besar terdiri 3 guru dan 31 anak PAUD Darussalam Blitar. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dan kuantitatif dengan instrumen pengumpulan data berupa kuisioner, wawancara dan observasi. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk mengunakan tehnik analisis deskriptif kualitatif dan tehnik analisis data kuantitatif. Data kuantitatif tersebut dikelompokkan, dianalisis dan kemudian disimpulkan menggunakan analisis persentase hasil evaluasi subjek uji coba. Berdasarkan pengembangan dan prosedural yang telah dilakukan, diperoleh sembilan permainan pasir. Permainan tersebut yaitu, Ikuti Jejakku dengan persentase 91,1% dari kriteria yang telah ditentukan, Balap Angkut Pasir dengan persentase 87% dari kriteria yang telah ditentukan, Berburu Harta Karun dengan persentase 87,9% dari kriteria yang telah ditentukan, Lompat Tinggi AUD dengan persentase 100% dari kriteria yang telah ditentukan, Membuat Bentuk dengan persentase 93,5% dari kriteria yang telah ditentukan, Menggambar Di Atas Pasir dengan persentase 94,3% dari kriteria yang telah ditentukan, Padempu dengan persentase 94,3% dari kriteria yang telah ditentukan, Gelundung Bola dengan persentase 86,6% dari kriteria yang telah ditentukan, Lompat Jauh AUD dengan persentase 100% dari kriteria yang telah ditentukan. Kesimpulan dari penelitian dan pengembangan ini dihasilkan produk berupa sembilan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun dengan tingkat validitas sangat valid dan dapat digunakan, sehingga sembilan permainan pasir dalam penelitian dan pengembangan ini dapat digunakan pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD Darussalam Blitar. Saran dari hasil penelitian ini, yaitu 1) untuk pemanfaatan produk guru diharapkan membatasi jumlah pemain dalam arena pasir, memperhatikan kondisi dan cuaca karena permainan yang dikembangkan ini merupakan permainan di luar kelas. 2) untuk saran diseminasi sebaiknya produk ini disosialisasikan kepada tiap-tiap PAUD, sehingga nantinya guru PAUD dapat mengetahui, memahami dan melaksanakan sesuai dengan tujuan dari pengembangan permainan pasir pada pembelajaran fisik motorik anak usia 4-5 tahun di PAUD 3) untuk saran pengembangan lebih lanjut sebaiknya melakukan penelitian untuk tingkat efisensi produk dan memodifikasi produk pengembangan ini untuk mengembangkan aspek lainnya.

Dampak implementasi model pembelajaran problem based - learning (PBL) trehadap prestasi belajar optika geometrik mata kuliah fisika dasar II ditinjau dari kerja ilmiah mahasiswa program pendidikan fisika - FMIPA Universitas Negeri Malang angkatan 2011 / Rulisa Qurrata A

 

Kata Kunci: model pembelajaran PBL, prestasi belajar kognitif, kerja ilmiah Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah wajib mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang, yang secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum fisika dasar. Pemisahan mata kuliah teori dan praktikum memiliki kelebihan yaitu sebagai calon guru fisika, menjadi lebih berkonsentrasi pada teori dan kegiatan praktikum dengan tanggung jawab besar karena kuliah materi dan kegiatan praktikum memiliki nilai tersendiri, namun juga memiliki kelemahan yaitu materi yang disajikan pada kuliah teori cenderung berupa informasi, dosen cenderung menuntaskan materi yang ada pada silabi, perkuliahan fisika dasar tidak merupakan proses aktif dari inkuiri dimana dosen dan mahasiswa dapat berpartisipasi, sehingga mahasiswa mengalami kesulitan belajar dalam menguasai konsep fisika dan dalam memecahkan masalah fisika. Model pembelajaran yang mampu merubah cara berfikir mahasiswa adalah model pembelajaran Problem Base-Learning (PBL). Pembelajaran PBL terdiri dari lima tahap yaitu orientasi masalah, organisasi masalah, investigasi mandiri, penyajian hasil karya, dan evaluasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penerapan model tersebut terhadap prestasi belajar ditinjau dari kerja ilmiah mahasiswa pendidikan fisika- FMIPA UM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian eksperimen semu, dengan desain penelitian posttest only control group. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan fisika-FMIPA UM angkatan 2012. Proses penentuan sampel penelitian dengan purposive sampling dan dipilih kelas BB dan CC. Kelas BB dengan jumlah siswa 36 ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas CC dengan jumlah siswa 36 ditetapkan sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen pembelajaran dilakukan dengan model PBL dan kelas kontrol pembelajaran dilakukan dengan pembelajaran konvensional metode ceramah dan tanya jawab. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji ANAVA dua jalur dan uji lanjutan Tukey’s HSD. Berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan, maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar antar kelompok kerja ilmiah tinggi kelas kontrol dan eksperimen tidak memiliki perbedaan, sedangkan prestasi belajar kelompok kerja ilmiah rendah kelas eksperimen lebih baik dari kerja ilmiah rendah kelas kontrol.

Bentuk konsep diri dan kecemasan terhadap kematian pada penderita kanker payudara / Boby Yanuar Arisandi

 

Key word: Self Concept, Anxiety, Mortality, Breast Cancer The Breast Cancer is not only a crucial biological problem, but also there is psychologically which influence the sufferer itself. Breast is the most valuable things for woman. If there is a disorder on this part absolutely it will influence psychologically on self concept. The purpose of this research is to describe some matter, there are self concept, the anxiety of the sufferer toward the mortality, and the behavior from or the thingking process on the breast cancer victim facing the death. This research uses qualitative case- study methods. By using it, the research is done intensively, deeply, detail and comprehensively. The data collection is done by using interview and observation technique. The instrument which used to collect data is the researcher itself. To maintain the validation of the data the researcher conduct triangulation data. The data analysis activity starting by collect the data, data reduction process, and categorization. Based on the data analysis result, the researcher finds two result. Firstly, the subject of the research has positive self concept. The positive self-concept is gained from the parental advisory, interaction among the society surroundings. The subject of the research suffer worry facing the death, depression and isolation phase, and also accepting phase. Secondly, the subject of research has positive self-concept which gained from the interaction between friend, neighbor, and surrounding. The second subject of research does not suffer worry toward the death. The subject of research is worried about the high cost of medicine treatment when she staying in the hospital. The subject of the research does not worry with the breast cancer and also the death. The conclusion of this research is not all of cronically disease such as breast cancer will give worry impact toward the death or mortality to the sufferer. The behavior and thinking process of the breast cancer sufferer toward the death such as, rejecting, isolation, angry , bargaining and acceptance is not always serially and mixed. The next researcher is expected to analyze more subject research which has different background such as unmarried woman. Finnaly, the next research can see the self concept description and the behavior form or thinking process facing the death or mortality.

Penerapan metode demostrasi teknik kolase untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok B di RA Hasan Munadi I Banggle Kecamatan Beji Kabpate Pasuruan / Umi Khabibah

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Guru SMK Tata Busana (Lulusan Teknologi Industri) di Wilayah Malang Raya dalam Berwira Usaha / Christianingrum Nisma

 

Kata Kunci: Faktor, guru SMK Tata Busana, wirausaha. Kewirausahaan merupakan suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan kemungkinan untung atau rugi. Terdapat dua faktor (internal dan eksternal) yang mempengaruhi seseorang berwirausaha. Faktor internal yaitu memanfaatkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan keterampilan, adanya bakat berwirausaha, cita-cita menjadi wirausahawan, pengalaman, menambah pendapatan, dan berwirausaha tidak terikat oleh waktu. Faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) di Wilayah Malang Raya dalam berwirausaha. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) di Wilayah Malang Raya sejumlah 26 responden yang berwirausaha dibidang busana. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Uji coba dilakukan kepada 8 responden Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) diluar Wilayah Malang Raya yang berwirausaha. Uji validitas dan reliabilitas instrumen menggunakan bantuan program SPSS 16.00 for windows. Hasil penelitian diketahui bahwa seluruh indikator dari faktor internal dan faktor eksternal mempengaruhi Guru SMK Tata Busana dalam berwirausaha. Disimpulkan bahwa (1) 89,6% (26 orang) lulusan TI di Wilayah Malang Raya telah berprofesi sebagai guru dan juga berwirausaha. (2) Usaha yang dikelola Guru (lulusan TI) yaitu modiste, usaha jahit busana, kursus menjahit dan usaha pembuatan kebaya. (3) Faktor internal yang mempengaruhi Guru (lulusan TI) dalam berwirausaha antara lain memanfaatkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan keterampilan, bakat, cita-cita, pengalaman, menambah pendapatan, dan berwirausaha tidak terikat waktu. (4) Faktor internal yang dominan yaitu memanfaatkan ilmu pengetahuan, sedangkan faktor terendah adalah bakat. (5) Faktor eksternal yang mempengaruhi Guru (lulusan TI) dalam berwirausaha antara lain lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. (6) Faktor eksternal yang dominan yaitu lingkungan keluarga, sedangkan faktor terendah adalah lingkungan masyarakat. (7) Faktor dominan yang mempengaruhi (lulusan TI) dalam berwirausaha adalah memanfaaatkan ilmu pengetahuan. Hal itu membuktikan bahwa program kewirausahaan yang menjadi ciri khas jurusan TI Universitas Negeri Malang, sangat relevan dengan lulusan yang dihasilkan. Saran yang dapat disampaikan adalah (1) Guru SMK Tata Busana diharapkan tetap fokus utama sebagai guru, sedangkan wirausaha adalah profesi sampingan. (2) Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) yang berwirausaha pintar dalam membagi waktu. (3) Usaha yang dikelola oleh Guru SMK Tata Busana (lulusan TI) dapat dikembangkan menjadi lebih besar dengan menyerap tenaga kerja lulusan SMK Tata Busana atau bekerja sama dengan lulusan TI yang lain.

Hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap tehnik bermain sepak bola peserta ekstrakurikuler sepak bola SMA Negeri 5 Malang / Ari Yuwono Bakti Wibowo

 

Kata kunci: Hubungan, ekstrakurikuler sepakbola,tes dan pengukuran, kekuatan otot tungkai, kelincahan, teknik bermain sepakbola, dan sepakbola. Kegiatan olahraga sepakbola merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMA Negeri 5 Malang yang diselenggarakan pada hari Jum’at mulai dari pukul 15.00 – 17.00 WIB dengan dukungan fasilitas yang cukup memadai. Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan, guru yang membina ekstrakurikuler sepakbola menyatakan setuju untuk melakukan penelitian bagi peserta ekstrakurikuler sepakbola sebagai data dasar guru untuk melihat hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola. Dari penelitian tersebut, pembina ekstrakurikuler sepakbola dapat merencanakan porsi latihan yang memadai dari hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain pada peserta ekstrakurikuler sepakbola di SMA Negeri 5 Malang. Hipotesis penelitian adalah ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasi sedangkan rencana pelaksanaan menggunakan tes dan pengukuran. Instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri dan subyek penelitian adalah 20 peserta ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 5 Malang. Variabel penelitian meliputi variabel bebas yang terdiri dari kekuatan otot tungkai (X1) dan kelincahan (X2), variabel terikat yaitu teknik bermain sepakbola (Y). Hasil penelitian yang telah dilakukan kepada subyek penelitian yang berjumlah 20 peserta ekstrakurikuler sepakbola di SMA Negeri 5 Malang didapatkan korelasi antara kekuatan otot tungkai dengan teknik bermain sepakbola sebesar 0,46 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dengan teknik bermain sepakbola, korelasi antara kelincahan dengan teknik bermain sepakbola sebesar 0,23 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kelincahan dengan teknik bermain sepakbola, dan korelasi antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola sebesar 0,49 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola peserta ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 5 Malang. Kesimpulan, setelah dilakukan penelitian dan diperoleh hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dengan teknik bermain sepakbola, ada hubungan yang berarti antara kelincahan dengan teknik bermain sepakbola dan ada hubungan yang berarti antara kekuatan otot tungkai dan kelincahan terhadap teknik bermain sepakbola peserta ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 5 Malang. Saran dari penelitian ini adalah dengan terujinya kekuatan otot tungkai dengan kelincahan yang memiliki hubungan terhadap teknik bermain sepakbola maka dalam perencanaan latihan sepakbola porsi latihan untuk kekuatan otot tungkai dan kelincahan perlu diperhatikan serta teknik-teknik bermain sepakbola yang perlu diberi porsi latihan yang cukup.

Perbandingan distribusi suhu tunak pada pelat segi empat dengan Metode Analitik, Numerik, dan Acak Menggunnakan Wolfram Mathematica / Meisithoh Niagawati

 

Kata Kunci: distribusi suhu keadaan tunak, pelat segi empat, analitik, numerik, acak, Wolfram Mathematica. Pada suatu pelat segi empat yang suhu keempat dindingnya dipertahankan tetap setiap saat, suhu di setiap titik di dalam pelat dapat diketahui dengan metode analitik, numerik, dan acak. Metode analitik menggunakan solusi persamaan Laplace yag disesuaikan dengan syarat batas, metode numerik menggunakan prinsip rata-rata keempat tetangga, sedangkan metode acak menggunakan prinsip gerak acak. Sri Budhi Utami (2004) telah membuat program tentang persamaan Laplace dengan metode numerik namun tampilannya hanya berupa angka. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengembangan terhadap tampilan program sehingga dibuatlah program yang mampu menghitung distribusi suhu tunak pada pelat segi empat dengan metode analitik, numerik, dan acak sehingga dapat membandingkan hasil dari ketiga metode tersebut. Adapun software yang digunakan adalah Wolfram Mathematica. Menurut rancangan program, ukuran pelat dapat diinputkan oleh pengguna program sedangkan suhu keempat dindingnya dapat dipilih melalui slider. Untuk metode analitik diberikan pilihan jumlah suku sebesar 10, 20, 30, ..., 100, untuk metode numerik diberikan pilihan lebar kisi sebesar 0,5 dan 1, sedangkan untuk metode acak dapat diinputkan titik awal yang ingin diketahui nilai suhunya. Program mampu menampilkan kontur untuk metode analitik dan numerik serta menampilkan gerak acak dari titik yang ditinjau pada metode acak. Berdasarkan hasil program, dapat disimpulkan bahwa program ini mampu menghitung distribusi suhu tunak pada pelat segi empat dengan metode analitik, numerik, dan acak menggunakan Wolfram Mathematica sehingga dapat dibandingkan hasil dari metode analitik, numerik, dan acak. Metode analitik memberikan solusi sebenarnya untuk titik di dalam pelat. Namun, untuk titik dinding pelat nilainya semakin mendekati syarat batas jika jumlah suku yang digunakan semakin banyak. Metode numerik cocok untuk semua titik baik untuk dinding pelat maupun titik di dalam pelat. Pada dinding pelat, nilai yang diperoleh sesuai dengan syarat batas sedangkan pada titik di dalam pelat nilai yang diperoleh mendekati solusi analitik. Metode acak hanya digunakan untuk mengetahui nilai sebuah titik tertentu di dalam pelat dan solusi yang dihasilkan adalah solusi pendekatan. Ditinjau dari segi waktu, metode analitik mempunyai waktu lebih cepat dibanding metode numerik untuk tampilan program berupa angka. Namun, untuk tampilan program berupa kontur, metode numerik lebih cepat dibanding metode analitik. Metode acak membutuhkan jumlah gerak acak yang banyak untuk memperoleh hasil yang akurat. Hal ini menyebabkan metode acak membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding kedua metode lainnya.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi melalui teknik pemodelan siswa kelas IV SDN Pankunden 02 Kota Blitar / Khoiril Azizah

 

Kata kunci: peningkatan kemampuan menulis, karangan narasi, teknik pemodelan. Berdasarkan observasi pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SDN Pakunden II Kota Blitar, diperoleh nilai yang kurang, dari 40 siswa hanya ada 10 siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM, sedangkan 30 siswa lainnya dinyatakan belum tuntas belajar. Hal ini dikarenakan, guru hanya menggunakan metode ceramah, guru tidak memberikan bimbingan yang intensif, dan tidak menggunakan media saat kegiatan pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik pemodelan dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa Kelas IV SDN Pakunden II Kota Blitar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian dengan menerapkan teknik pemodelan menunjukkan adanya peningkatan dalam aktivitas siswa. Pada siklus I, nilai akhir siswa kelas IV dalam pembelajaran menulis karangan narasi dengan menerapkan teknik pemodelan menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 87.2. Persentase ketuntasan belajar siswa adalah sebesar 68.75% atau sebanyak 27 siswa telah tuntas belajar. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM sebesar 31.25% atau sebanyak 13 siswa yang belum tuntas belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa persentase siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar hanya 67.5% dan persentase tersebut masih belum mencapai dari persentase ketuntasan yang ingin dicapai yaitu minimal 85%. Dalam siklus II, penelitian dengan menerapkan teknik pemodelan menunjukkan adanya peningkatan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 82.6. Persentase ketuntasan klasikal satu kelas adalah sebesar 81.25% atau sebanyak 35 siswa telah tuntas belajar. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM sebesar 18.75% atau sebanyak 5 siswa yang belum tuntas belajar. Permasalahan siswa yang tidak tuntas dikarenakan tulisan siswa yang tidak rapid an komponen karangan narasi yang kurang lengkap. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik pemodelan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa. Dengan demikian, hendaknya guru menerapkan teknik pemodelan dalam pembelajaran menulis karangan narasi untuk mempermudah siswa menulis karangan narasi siswa.

Peran kepala sekolah dalam mewujudkan variasi pembelajaran kooperatif (studi kasus di SMP Negeri 2 Pakel Tulungagung) / Puji Rahayu

 

Kata kunci : peran kepala sekolah, pembelajaran kooperatif Kepala sekolah merupakan pemimpin yang bertanggungjawab atas sekolah yang dipimpinnya. Sekolah sebagai tempat belajar-mengajar dibuat menyenangkan agar siswa semangat mengikuti pembelajaran. Peran kepemimpinan kepala sekolah merupakan aspek penting dalam memberikan variasi pembelajaran yang menarik. Kepala sekolah dalam menggunakan variasi pembelajaran kooperatif juga harus menjalankan peran sebaik mungkin. Penerapan peran yang tepat akan membuat pencapaian tujuan dapat maksimal dan berimbas pada peningkatan kualitas lembaga. Sekolah dikatakan berkembang apabila mampu memajukan outputnya melalui prestasi akademik maupun non akademik. Berdasarkan paparan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan peran kepala sekolah dalam mewujudkan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang berlokasi di SMP Negeri 2 Pakel Tulungagung. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara, (2) teknik observasi, dan (3) teknik dokumentasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa catatan lapangan (field notes), dan alat dokumentasi. Informan terdiri dari kepala sekolah, wakasek kurikulum, wakasek kesiswaan, kepala TU, dan guru. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik studi kasus. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini meliputi (1) peran kepala sekolah dalam memotivasi para guru untuk mewujudkan pembelajaran kooperatif yaitu sebagai leader, dimana ia bertindak sebagai pengambil keputusan, sekaligus penanggungjawab keputusan yang telah dibahas dalam rapat sekolah; (2) peran kepala sekolah dalam memotivasi para guru untuk menerapkan pembelajaran kooperatif adalah memberikan kesejahteraan, pemenuhan kebutuhan fasilitas pembelajaran, memberikan bimbingan kepada guru, mengembangkan pedoman pengajaran, dan memotivasi siswa; dan (3) peran kepala sekolah dalam evaluasi kepala sekolah sebagai evaluator dan supervisor, dimana kepala sekolah melakukan pengawasan dan pembinaan kepada guru secara terus-menerus dan melakukan pembinaan sebagai tindak lanjut. Berdasarkan kesimpulan peneliti, maka disarankan (1) kepala sekolah dalam penerapan pembelajaran kooperatif disarankan untuk selalu mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan yang dimiliki sekolah serta menganalisis temuan sebagai bahan evaluasi penerapan pembelajaran kooperatif pada semester berikutnya; (2) bagi Guru dan karyawan SMP Negeri 2 Pakel Tulungagung untuk lebih meningkatkan profesionalisme dan semangat kerja keras serta mempertahankan kedisiplinan yang telah dibina, dan apabila dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif mengalami kesulitan, disarankan untuk mencari literatur yang berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dan apabila tidak bisa mengatasi permasalahan tersebut diharap meminta bantuan kepada kepala sekolah; (3)bagi Ketua Jurusan Administrasi pendidikan hendaknya disarankan untuk memperluas kajian tentang peran kepala sekolah dan pembelajaran kooperatif;( 4)bagi peserta didik Meningkatkan kemampuan peserta didik, meningkatkan pengetahuan dan merangsang keaktifan peserta didik;(5) bagi peneliti lain hasil penelitian ini masih terbatas, sehingga disarankan bagi peneliti lain untuk dapat lebih mengembangkan dan menambah kajian ilmiah yang ada.

Pengembangan karakter tanggungjawab, kejujuran, tekun / gigih dan peningkatan hasil belajar kognitif fisika matematika II melalui keterpaduan sistem, perangkat, dan metode perkuliahan / Umy Hidayatur Rasyidah

 

Kata Kunci: Tanggung jawab, kejujuran, tekun/gigih, hasil belajar kognitif. Datang terlambat pada saat perkuliahan atau ujian, ketidakjujuran dalam mengerjakan tugas, laporan atau ujian, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, mengobrol sendiri ketika perkuliahan berlangsung sering dilakukan oleh mahasiswa. Hal ini disebabkan telah berkurangnya nilai karakter-karakter mulia pada mahasiswa. Apabila contoh-contoh seperti di atas terus dibiarkan berkembang menuju ke arah yang kurang baik maka akan menimbulkan permasalahan yang lain, seperti maraknya tindak kriminal korupsi. Dalam hal ini peneliti menyadari bahwa seharusnya pendidikan tidak hanya mentrasfer ilmu dan pengetahuan, tetapi juga mentrasfer nilai karakter mulia. Di samping itu rata–rata nilai Fisika Matematika II pada bab sebelumnya (Solusi Persamaan Diferensial dengan Deret) adalah antara 29.3 atau masuk kategori tidak lulus. Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan karakter dan meningkatkan hasil belajar Fisika Matematika II melalui keterpaduan sistem, perangkat, dan metode perkuliahan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan 2 siklus dan melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fisika Matematika II offering MG-NH semester genap 2010/2011 jurusan Fisika FMIPA UM. Dalam mengumpulkan data melalui observasi, peneliti menggunakan video recorder, lembar pengamatan, dan catatan lapangan. Kemunculan indikator karakter yang diteliti adalah tanggung jawab, kejujuran dan tekun/gigih. Karakter tanggung jawab pada mahasiswa diamati dengan berada di kelas sesaat sebelum perkuliahan dimulai dan membawa handout ketika perkuliahan berlangsung. Pada siklus I, terdapat 5-10 mahasiswa datang terlambat pada saat perkuliahan dan hampir semua mahasiswa membawa handout. Pada siklus II menunjukkan hanya terdapat 2-3 mahasiswa yang terlambat. Karakter kejujuran diamati dengan mahasiswa mengerjakan sendiri ujian harian dan tidak melihat ke kiri atau ke kanan dengan maksud mendapatkan jawaban teman. Pada siklus I, terdapat sekitar 3-4 mahasiswa yang melakukan kecurangan dalam mengerjakan ujian. Pada siklus II, mahasiswa telah berusaha mengerjakan sendiri ujian harian. Karakter tekun/gigih diamati dengan sikap mahasiswa yang selalu sibuk mengerjakan ujian atau tidak diam saja saat ujian. Hasil penelitian pada peningkatan hasil belajar mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan yaitu dengan melihat rata-rata nilai ujian harian pada siklus I 46,7 dan pada siklus II 59,8. Peningkatan hasil belajar mahasiswa yaitu sekitar 13,1.

Pembuatan busana pesta model long dress dengan penerapan pleatsket / Toni

 

Kata Kunci: Busana Pesta, Long Dress, Pleatsket. Busana berfungsi sebagai pelindung tubuh dari rasa dingin dan sengatan sinar matahari, serta untuk memenuhi adat kesopanan yang berlaku dalam masyarakat, dan menambah penampilan diri seseorang lebih baik dan lebih nyaman apabila dipandang. Busana pesta adalah busana yang dipergunakan untuk menghadiri acara jamuan pesta, baik yang bersifat formal, semi formal atau non formal. Busana pesta mempunyai banyak ragamnya mulai dari busana pesta yang bermodel mini dress, busana pesta cookil dress, bahkan long dress. long dress adalah busana terusan yang membentuk tubuh seseorang dan panjangnya sampai mata kaki. Bahan yang digunakan oleh penulis adalah sifon kasionik dengan penerapan pleatsket pada gaun, yaitu knife pleatsket. Tujuan yang dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir adalah menjelaskan tentang pembuatan busana pesta model long dress dengan knife pleatsket dari bahan sifon kasionik manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir adalah menambah pengetahuan dan inspirasi bagi pembaca dalam pembuatan busana pesta dengan penerapan pleatsket berbahan sifon kasionik. Proses pembuatan yang dilakukkan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing biaya yang dkeluarkan adalah Rp 253.000,00. Saran yang dapat diberikan adalah saat proses pembuatan pleatsket pada long dress diperlukan teknik jelujur, untuk mempermudahkan proses pembuatan pleatsket.

Pengaruh penggunaan media CD interaktif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS peserta didik kelas IV SDN Rejosari 01 Bantur / Puji Astutik

 

Kata kunci: Media CD Interaktif, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar IPS. Upaya untuk menciptakan pembelajaran IPS yang menarik, selain memilih model dan metode juga harus diperhatikan pemilihan media yang tepat. Melalui media pembelajaran materi yang disampaikan akan lebih mudah dan jelas. Berdasarkan hasil pengamatan di SDN Rejosari 01 Bantur di kelas IVB pada tanggal 13,20 September 2011, serta IVA pada tanggal 15, 22 September 2011, ditemukan kenyataan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan tanpa menggunakan media. Aktivitas belajar peserta didik kurang, karena hanya membaca dan mengerjakan latihan di LKS. Hasil wawancara dengan guru kelas dan kepala sekolah, diperoleh keterangan bahwa selama semester ganjil hanya sekali menggunakan media dalam pembelajaran. Belum pernah ada yang memanfaatkan CD interaktif, komputer dan laptop yang ada untuk pembelajaran. Berdasarkan data nilai murni UAS Ganjil tahun pelajaran 2011/2012 nilai IPS kelas IV tergolong rendah. Media CD interaktif adalah media berbantuan komputer yang dikemas dalam CD dengan tujuan aplikasi interaktif di dalamnya. Media CD interaktif tersedia dalam tiga model yaitu model tutorial, drill, dan game. Model CD interaktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah model tutorial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan media CD interaktif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS peserta didik. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (Quasy Experimental Design) dan desain perlakuan Control Group pre-test post-test. Subjek penelitian ini adalah kelas IVA dan IVB SDN Rejosari 01 Bantur. Pengambilan sampel menggunakan teknik dengan pertimbangan (purposive sampling). Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan (RPP), bahan ajar, lembar kerja siswa (LKS)), instrumen pengukuran hasil belajar kognitif (tes tulis) dan instrumen pengukuran aktivitas belajar (lembar pengamatan aktivitas belajar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas IVA (kelompok eksperimen) dan peserta didik kelas IV B (kelompok kontrol). Rata-rata nilai kemampuan akhir (post test) kelompok eksperimen 70,52 lebih tinggi dari pada rata-rata kelompok kontrol 61,22. Rata-rata peningkatan nilai hasil belajar (gain score) kelompok eksperimen 18,30 lebih tinggi dari pada rata-rata kelompok kontrol 8,36. Rata-rata aktivitas kelompok eksperimen 84,80 lebih tinggi dari pada rata-rata kelompok kontrol 69,04. Berdasarkan perbedaan aktivitas dan hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan media CD interaktif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS peserta didik kelas IV SDN Rejosari 01 Bantur.

Sintesis dan karakterisasi nanomaterial Fe3O4 Berlapis karbon berbasis pasir besi tulungagung

 

Kata Kunci : Struktur Kristal, Pelapisan karbon, Kopresipitasi, Nanopartikel Fe3O4. Magnetik Fe3O4 menjadi bahan kajian yang menarik perhatian para peneliti karena memiliki peluang aplikasi yang luas pada berbagai bidang, mulai dari bidang medis, bidang teknologi maupun bidang lingkungan. Diketahui bahwa nanopartikel Fe3O4 kurang stabil terhadap alam seperti suhu tinggi dan asam yang membuat Fe3O4 akan teroksidasi menjadi Fe2O3. Oleh karena itu perlu adanya upaya agar Fe3O4 stabil di alam. Salah satu caranya adalah dengan dilakukan pelapisan karbon (Carbon encapsulated). Penelitian ini bertujuan mensintesis pasir besi Tulungagung sebagai bahan dasar nanomaterial Fe3O4 berlapis karbon. Proses pembentukannya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembentukan nanomaterial Fe3O4 dengan metoda kopresipitasi, selanjutnya dilakukan tahap kedua yaitu proses pembungkusan karbon (Carbon encapsulated) nanomaterial menggunakan metode sonifikasi. Pada penelitian ini, Fe3O4 dilapisi karbon dalam bentuk Fe3O4@C (Variasi molaritas Glukosa 0M-3M). Bahan dasar yang digunakan adalah Pasir Besi, HCl, NH4OH, dan Glukosa sebagai sumber karbon. Karakterisasi struktur kristal dilakukan menggunakan difraktometer sinar-X dan karakterisasi morfologi dan mikrostruktur serta kandungan unsur-unsur lain dikarakterisasi menggunakan SEM EDAX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanomaterial Fe3O4@C telah berhasil disintesis dengan ukuran butir kristal berkisar antara 10 nm sampai 12 nm. Hasil SEM menunjukkan bahwa masih banyak partikel nanomaterial yang teraglomerasi. Hasil karakterisasi sampel Fe3O4@C menggunakan EDAX menunjukkan bahwa seiring dengan pertambahan Molaritas Glukosa, semakin tebal lapisan karbon yang terbentuk, dan hasil uji ketahanan sampel dengan pemberian asam (HCl 1M) menunjukan bahwa Fe3O4@C lebih tahan suasana asam daripada Fe3O4 tanpa karbon.

Pengembangan bahan ajar Fisika pokok bahasan getaran dan gelombang untuk menunjang pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sooko Mojokerto / Iva Sa'id Dwi Febri Anita

 

Kata Kunci : Bahan ajar, pembelajaran berbasis masalah, getaran dan gelombang. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Dengan diberlakukannya KTSP, guru dituntut agar lebih kreatif untuk mengembangkan suatu perangkat pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap bagus dan layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran adalah pembelajaran aktif inovatif kreatif, efektif dan menyenangkan. Metode PAIKEM merupakan metode yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa, maka dari itu banyak hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM salah satunya ialah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah. Berdasarkan hal itulah maka dikembangkan bahan ajar berbasis masalah yang cocok diterapkan didalam metode pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berorientasi pembelajaran berbasis masalah pada materi getaran dan gelombang untuk SMP kelas VIII agar mempermudah siswa dalam mempelajari konsep getaran dan gelombang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan produk dan mengetahui karakteristik produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan dengan langkah-langkah meliputi tahap penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba lapangan awal dan revisi produk akhir. Penelitian ini menggunakan teknik validasi isi yang dilakukan oleh validator yang berasal dari pihak dosen dan guru sebagai ahli serta dilakukan uji coba awal terhadap siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang disertai rubrik. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan Skala Likert dan data kualitatif berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir dari pengembangan bahan ajar ini adalah bahan ajar berorientasi pembelajaran berbasis masalah pada materi getaran dan gelombang. Berdasarkan hasil analisis data, produk akhir yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak dan sudah direvisi pada beberapa bagian berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda dari bahan ajar yang lain, diantaranya: setiap awal materi diawali pembahasan yang memotivasi belajar siswa dan pertanyaan-pertanyaan sederhana, terdapat kata mutiara di setiap halaman, setiap pembahasan diperjelas dengan gambar, pembahasannya sederhana dan mudah dimengerti siswa, terdapat Web Link serta desain isi lebih menarik dan full colour.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materi wujud zat dan perubahannya untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII / Julia Ulfiyah

 

Kata Kunci : bahan ajar, kontekstual, wujud zat dan perubahannya. Dalam mengajarkan mata pelajaran fisika diharapkan dapat memotivasi siswa dan menciptakan suasana yang menyenangkan agar siswa tidak jenuh, sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Proses pembelajaran dengan kondisi yang menyenangkan dan santai akan membantu siswa menyerap materi pelajaran dengan baik. Pembahasan mengenai materi pelajaran tidak bisa terlepas dari yang namanya bahan ajar. Salah satu perangkat pembelajaran yang penting untuk menunjang kesuksesan belajar siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga bahan ajar tersebut tidak hanya memberikan materi secara instan tetapi mampu menggiring siswa kepada kemampuan untuk mengerti konsep yang dipelajari yang pada akhirnya menjadikan belajar siswa menjadi bermakna. Berdasarkan uraian tersebut maka dikembangkan bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materi wujud zat dan perubahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materi wujud zat dan perubahannya untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) kelas VII agar mempermudah siswa dalam mempelajari konsep wujud zat dan perubahnnya. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan dengan langkah-langkah meliputi tahap penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk, uji coba lapangan awal dan revisi produk. Penelitian ini menggunakan teknik validasi isi yang dilakukan oleh validator yang berasal dari pihak dosen dan guru sebagai ahli serta dilakukan uji coba awal terhadap siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang disertai rubrik. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan Skala Likert dan data kualitatif berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir penelitian ini adalah bahan ajar fisika berbasis kontekstual pada materu wujud zat dan perubahannya. Berdasarkan hasil analisis data, produk akhir yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak dan sudah direvisi pada beberapa bagian berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda dari bahan ajar yang lain, diantaranya: setiap awal materi diawali pembahasan yang memotivasi belajar siswa dan pertanyaan-pertanyaan sederhana, setiap pembahasan diperjelas dengan gambar, pembahasannya sederhana dan mudah dimengerti siswa, terdapat jelajah internet dan peta konsep serta desain isi lebih menarik dan full colour.

Penerapan metode bermain kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK KHA Wahid Hasyim Bangil Kabupaten Pasuruan / Nuril Qomariyah

 

Kata kunci: Metode Bermain, Kecerdasan Berbahasa. PAUD Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelompok B TK Wahid Hasyim Bangil Kabupaten Pasuruan, berlatar belakang kurangnya pembendaharaan kata, kelancaran bahasa, pembelajaran guru yang kurang menyenangkan dan terdapat rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana penerapan bermain kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak, 2) Apakah penerapan bermain kartu bergambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) Untuk mendeskripsikan penerapan bermain kartu bergambar dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak, 2) Untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa dengan menggunakan metode bermain kartu bergambar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah anak kelompok B TK Wahid Hasyim Bangil Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 26 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran, wawancara tentang kesan-kesan anak, dokumentasi berupa foto selama pembelajaran dan APKG berupa pengamatan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bermain kartu bergambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B. Penerapan bermain kartu bergambar di TK Wahid Hasyim Bangil dilaksanakan di dalam ruangan. Dalam uji coba kelompok di ikuti oleh 26 anak. Sebelum melaksanakan kegiatan, guru terlebih dahulu mempersiapkan alat yang akan digunakan. Selanjutnya guru mengajak anak bermain bergantian. Permainan ini terdiri atas lima permainan dimana aktifitas pada kelima permainan tersebut antara lain : Melakukan 3-5 perintah secara berurutan dengan benar, menirukan kembali 4-5 urutan kata, menerima pesan sederhana, menyampaikan pesan sederhana, membaca kartu kata bergambar. Berdasarkan lembar Observasi pada siklus I hasil aktivitas pembelajaran pada kemampuan berbahasa dengan nilai 60 %. Pada siklus II hasil observasi pada kemampuan berbahasa meningkat menjadi nilai 90%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan bermain kartu bergambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Oleh karena itu disarankan bagi guru untuk menggunakan metode bermain dalam pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan anak.

Pengembangan pembelajaran senam lantai dalam bentuk multi media interaktif siswa kelas X SMA atau sederajat / Achmad Fariz Sulton Hasan

 

Kata kunci: pengembangan, media pembelajaran, multimedia interaktif, senam lantai. Senam lantai merupakan salah satu ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di Sekolah Menengah Atas yang diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas X di SMA Negeri 3 Lumajang. Dalam kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 3 Lumajang materi senam lantai diberikan dalam ruang lingkup pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan untuk kelas X, materi senam lantai diberikan pada semester ganjil dan genap dengan 3 kali pertemuan pada tiap semester, materi yang diberikan meliputi guling depan, guling belakang, dan meroda, sumber belajar yang digunakan untuk siswa kelas X yaitu buku Lembar Kerja Siswa (LKS), nguru belum pernah memberikan materi senam lantai menggunakan media pembelajaran berupa multimedia interaktif, SMA Negeri 3 Lumajang memiliki ruang multimedia, ruang komputer, dan memiliki LCD dan laptop sebagai penunjang berjalannya pembelajaran. Sedangkan dari hasil penelitian awal yang dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Negeri 3 Lumajang yang berjumlah 42 siswa, diperoleh data sebagai berikut: (1) semua siswa kelas X menerima materi senam lantai pada ruang lingkup pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, (2) 28 siswa (66,67%) menggunakan sumber belajar berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) dan 14 siswa (33,33%) tidak menggunakan sumber belajar apapun sebagai penunjang mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, khususnya materi senam lantai, (3) semua siswa dapat mengoperasikan komputer dengan baik, (4) 34 siswa (80,96%) memiliki komputer atau laptop pribadi dan 8 siswa (19,04%) tidak memiliki komputer ataupun laptop pribadi, (5) semua siswa belum pernah menerima materi senam lantai dengan menggunakan media pembelajaran dalam bentuk multimedia interaktif. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan pembelajaran senam lantai dalam bentuk multimedia interaktif mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diharapkan dapat membantu pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan kelas X SMA atau sederajat Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan dari Borg dan Gall yang diadaptasi menjadi model yang sederhana yaitu hanya melakukan sampai pada langkah ke tujuh yaitu melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assesment) dengan cara memberi kuesioner kepada 1 guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas X dan 42 siswa perwakilan dari siswa kelas X di SMA Negeri 3 Lumajang, melakukan perencanaan pembuatan produk media pembelajaran senam lantai dalam bentuk multimedia interaktif yang berisi tujuan pengembangan dan macam-macam materi yang ada di dalamnya, pengembangan draf produk media pembelajaran senam lantai dalam bentuk multimedia interaktif berupa skrip serta pengevaluasian terhadap para ahli, uji coba produk awal dilakukan di SMA Negeri 3 Lumajang dengan melibatkan 9 subjek uji coba sebagai perwakilan siswa kelas X, merevisi hasil uji coba sesuai dengan saran dan masukan hasil dari uji coba lapangan awal, uji coba produk akhir dilakukan di SMA Negeri 3 dengan melibatkan 35 siswa sebagai perwakilan siswa kelas X, menyempurnakan dan merevisi produk sesuai dengan saran dan masukan dari hasil uji coba produk akhir Berdasarkan evaluasi dari ketiga ahli, tentang pengembangan pembelajaran senam lantai dalam bentuk multimedia interaktif untuk SMA kelas X, maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengoptimalkan potensi media pembelajaran senam lantai sebagai produk sebagai multimedia digital perlu adanya penambahan gerakan slow motion, animasi, dan pemberian pengantar atau penjelasan langsung dari peniliti, selain itu juga perlu adanya penambahan variasi gerakan pada senam lantai, penambahan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dan cara pemberian pertolongan pada senam lantai. Dan hasil uji coba kelompok kecil yang melibatkan 9 siswa kelas X SMA Negeri 3 Lumajang diperoleh presentase 82.46 % yang tergolong kategori baik dan dapat digunakan dan tidak direvisi dan dilanjutkan ke uji kelompok besar yang dilakukan pada siswa kelas X sebanyak 35 siswa. Sedangkan hasil dari uji coba kelompok besar yaitu diperoleh presentase 86.91% yang tergolong kategori baik dan dapat digunakan sebagai bahan ajar tambahan. Produk pengembangan media pembelajaran senam lantai dalam bentuk multimedia interaktif untuk siswa kelas X ini diharapkan dapat dijadikan referensi guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan terkait pembelajaran senam lantai. Produk yang dihasilkan merupakan produk yang ditujukan untuk siswa SMA Negeri 3 Lumajang kelas X, akan tetapi tidak menutup kemungkinan produk ini bisa digunakan oleh sekolah lain terkait pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Dalam penyebarluasan produk pengembangan ini ke sasaran yang lebih luas, sebaiknya memperhatikan saran berikut ini Sebelum disebarluaskan ke ruang lingkup yang lebih luas sebaiknya produk ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan sasaran yang ingin dituju dan disesuaikan dengan kurikulum yang ada pada setiap sekolah maupun instansi yang dituju. Saran pengembangan produk lebih lanjut yaitu sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efektivitas dari produk yang dikembangkan ini, karena hasil dari pengembangan ini masih terbatas sampai tersusun sebuah produk saja dan diharapkan pada penelitian dan pengembangan selanjutnya untuk melakukan langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg dan Gall sampai pada langkah ke-10.

Pembelajaran inquiry berbasis authentic learning untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas X-8 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar tahun ajaran 2011/2012 / Ratika Sekar Ajeng Ananingtyas

 

Kata Kunci : Pembelajaran Inquiry berbasis Authentic Learning, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru Fisika kelas X-8 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar, diperoleh informasi bahwa pembelajaran fisika yang dilak¬sanakan masih menggunakan metode ceramah dan latihan soal. Metode ceramah menyebabkan siswa jenuh dalam pembelajaran, sehingga materi tidak terserap dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran Inquiry berbasis authentic learning dan meningkat¬kan hasil belajar siswa kelas X-8 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar tahun ajaran 2011/2012 melalui penerapan pembelajaran Inquiry berbasis authentic learning. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar dengan subjek penelitian siswa kelas X-8. Data penelitian ini adalah keterlaksanaan pem¬bel¬ajaran dan hasil belajar siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar tes untuk mengukur keterlaksa¬naan pembelajaran dan hasil belajar yang terdiri atas kemampuan psikomotor, afektif, dan kognitif. Data dianalisis dengan mereduksi dan mempersentase data. Tahap terakhir adalah tahap refleksi untuk menentukan lanjut atau tidaknya penelitian. Hasil analisis data pada siklus I dan II menunjukkan bahwa pembelajaran inqury berbasis authentic learning terlaksana dengan baik dan hasil belajar siswa kelas X-8 SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar mengalami peningkatan. Keter-laksanaan pembel¬ajaran pada siklus I sebesar 82,22% dan pada siklus II sebesar 87,78% dengan pening¬katan sebesar 5,56%. Rata- rata kemampuan kognitif siswa sebelum tindakan yaitu 73,33, pada siklus I yaitu 77,84 dengan peningkatan se-besar 4,51, dan pada siklus II yaitu 86,79 dengan peningkatan sebesar 8,95. Rata-rata ke¬mam¬puan psikomotor siswa sebelum tindakan yaitu 77,23 dan setelah tinda¬kan yaitu 83,8 dengan peningkatan sebesar 6,57. Rata-rata kemampuan afektif siswa sebelum tindakan 78,83, pada siklus I yaitu 69,78 dengan selisih 9,05, dan pada siklus II yaitu 80,42 dengan peningkatan sebesar 10,64.

Efek termooptik terhadap kemampuan transmisi daya serat optik jenis plastik step index multimode FD-260-10 / Muh Nur Rohim

 

Kata kunci: Serat Optik Jenis plastik multi-mode, efek pemanasan, termo-optik, rugi daya, laser. Serat optik merupakan piranti yang penting dalam sistem telekomunikasi optik. Kemampuan transmisi informasi menjadi kajian penting untuk diteliti, demikian juga hal yang dapat menurunkan kemampuan transmisinya. Salah satu penyebab penurunan kemampuan transmisi adalah perubahan temperatur lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek peningkatan temperatur pada serat optik multi-mode terhadap sinyal keluaran dari serat optik jenis plastik multi-mode FD-620-10. Sistem telekomunikasi tertutup akan mengalami perubahan jika sistem tersebut dikenai suatu gantuan juga yang berupa panas. Gangguan berupa peningkatan temperatur dapat menimbulkan perubahan daya transmisi sistem tersebut menjadi lemah. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Penelitian ini dilakukan di laboratorium instrumentasi optik ruang 317, Universitas Negeri Malang pada bulan Mei sampai bulan Juni 2011. Jenis serat optik yang digunakan adalah serat optik jenis plastik step index multi-mode FD-620-10. Panas yang dihasilkan dari pemanas digunakan untuk memberikan efek panas pada serat optik. Pemberian perlakuan panas kepada serat optik menyebabkan perubahan pada struktur serat optik. Ketika kabel serat optik diberi panas, kabel menyerap panas tersebut sehingga menyebabkan pemuaian. Pemuaian yang terjadi pada kabel menyebabkan kabel mengalami perubahan struktur dan indek bias. Perubahan struktur di indeks bias pada serat optik menyebabkan transmisi sinyal tidak sempurna. Untuk kasus eksperimen dengan serat optik FD-620-10 semakin temperatur dinaikkan ditemukan, ketika serat optik dipanasi mendekati suhu 700C serat optik mengalami perubahan bentuk sehingga melengkung pada bagian yang dipanasi. Perubahan struktur dari serat optik tersebut sangat berpengaruh terhadap besar sinyal keluaran dari serat optik.

Perbedaan prestasi belajar mahasiswa S1 PTB pada matakuliah matematika teknik, mekanika statis tertentu dan gambar bangunan berdasarkan latar belakang sekolah / Ardian Yosi Kurniawan

 

Kata kunci: Prestasi Belajar, Latar Belakang Sekolah. Input dari penerimaan mahasiswa baru Universitas Negeri Malang tentunya dari berbagai macam latar belakang pendidikan yang berbeda, yaitu dari SMA dan SMK. Dalam hal ini tentunya terdapat perbedaan persepsi mahasiswa tentang matakuliah, khususnya pada matakuliah Matematika teknik, Mekanika Statis Tertentu dan Gambar Bangunan. Perbedaan persepsi tentang matakuliah ini nantinya akan berdampak pada prestasi belajar mahasiswa.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa berdasarkan latar belakang sekolah mahasiswa FT UM. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif nonekperimental dengan pendekatan ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiawa angkatan tahun 2007, 2008, dan 2009 S1 PTB UM sebanyak 158 yang sekaligus menjadi sampel penelitian dengan menggunakan teknik dokumentasi. Untuk menguji hipotesis penelitian ini data dianalisis secara deskriptif. Selain itu data juga dianalisis menggunakan uji analisis One Way Anova dengan menggunakan Stastical Program for Social Caint (SPSS) 16.0 for windows. Berdasarkan hasil penelitian data diketahui bahwa pada matakuliah Matematika Teknik nilai yang lebih tinggi adalah mahasiswa berlatar belakang SMA. Pada matakuliah Mekanika Statis Tertentu nilai yang lebih tinggi adalah mahasiswa berlatar belakang SMA. Pada matakuliah Gambar Bangunan nilai yang lebih tinggi adalah mahasiswa berlatar belakang SMK. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiawa berdasarkan latar belakang sekolah dan terdapat interaksi antara latar belakang sekolah dan matakuliah Matematika Teknik, Mekanika Statis Tertentu, dan Gambar Bangunan terhadap prestasi belajar mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. . Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk mahasiswa yang berlatar belakang SMA lebih meningkatkan prestasi belajar pada matakuliah gambar bangunan, sedangkan untuk mahasiswa yang berlatar belakang SMK diharapkan lebih meningkatkan prestasi belajar pada matakuliah matematika teknik dan mekanika statis tertentu.

Pemetaan dan perhitungan luas wilayah kampus II Universitas Negeri Malang menggunakan wolfram mathematica berbasis global positioning system (GPS) / Lucky Chandra Febriana

 

Kata Kunci: Pemetaan, perhitungan luas, Global Positioning System, Wolfram Mathematica. Perubahan luas lahan menjadi permasalahan yang dapat terjadi pada kurun waktu tertentu. Kampus II Universitas Negeri Malang terletak di Jalan Ki Ageng Gribig 45 Sawojajar, Malang yang memiliki luas wilayah sebesar 29.370 m2 dimungkinkan juga mengalami perubahan luas lahan selama awal pengukuran sampai awal tahun 2012. Peristiwa ini menyebabkan perlunya pengukuran secara periodik untuk informasi terbaru. Saat ini bermunculan teknologi tinggi yang mampu menentukan titik koordinat untuk menghitung luas salah satunya teknologi Global Positioning System (GPS). GPS merupakan sistem satelit navigasi dan penentuan poisisi menggunakan satelit dengan akurasi 5-10 meter. Sistem GPS bekerja dengan menggunakan jumlah satelit yang berada di orbit Bumi yang memancarkan sinyalnya ke Bumi dan ditangkap oleh sebuah alat penerima. GPS memperoleh sinyal dari satelit dengan menggunakan metode triangulasi. GPS menerima sinyal dari satelit berupa gelombang elektromagnetik yang mengandung data pseudorandom, data ephemeris, dan data almanak. Data dari GPS akan divisualisasikan dengan menggunakan Wolfram Mathematica. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan GPS yang menghasilkan data berupa titik koordinat berupa lintang dan bujur. Data yang diperoleh berupa koordinat DMS kemudian diproses menjadi koordinat DD (Decimal Degree) dengan menggunakan Microsoft Excel. Data dalam bentuk koordinat DD divisualisasikan menggunakan Wolfram Mathematica untuk digambarkan dalam bentuk peta. Peta yang dihasilkan Wolfram Mathematica berupa peta digital yang dilengkapi dengan kompas, penunjuk titik koordinat, luas wilayah, batas wilayah Kampus II, skala peta, serta mencetak peta dalam bentuk JPG dan PDF. Luas wilayah yang dihasilkan sebesar 29809,3 m2 dengan simpangan ±14,14 meter.

Pengembahangan bahan ajar fisika berbasis masalah pokok bahasan gerakan untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) kelas VII / Muh Nur Rohim

 

Kata Kunci : bahan ajar, problem based learning, gerak. Pembelajaran fisika seyogyanya dilakukan dengan proses yang menarik dan menyenangkan, mengingat pembelajaran fisika merupakan kegiatan yang mempelajari ilmu pengetahuan tentang gejala alam di sekitar siswa. Umumnya bahan ajar yang sudah ada di pasaran tidak memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih memahami konsep fisika secara baik akan tetapi mendorong siswa untuk menghafal suatu konsep fisika. Model pembelajaran Problem Based Learning diharapkan siswa mendapatkan lebih banyak kecakapan dari pada pengetahuan yang dihafal. Mulai dari kecakapan memecahkan masalah, kecakapan berpikirkritis, kecakapan bekerja dalam kelompok, kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan pencarian dan pengolahan informasi Bahan ajar yang baik disusun dengan bahasa yang mudah dimengerti dan menarik sehingga dengan bahan ajar yang baik akan mempermudah siswa dalam memahami konsep-konsep fisika. Berdasarkan uraian tersebut maka dikembangkan bahan ajar berorientasi Problem Based Learning pada materi gerak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berorientasi Problem Based Learning pada materi gerak untuk SMP kelas VII agar mempermudah siswa dalam mempelajari konsep gerak. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan produk dan mengetahui karakteristik produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan dengan langkah-langkah meliputi tahap penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, uji coba lapangan awal dan revisi produk akhir. Penelitian ini menggunakan teknik validasi isi yang dilakukan oleh validator yang berasal dari pihak dua dosen dan dua guru sebagai ahli serta dilakukan uji coba awal terhadap sepuluh siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang disertai rubrik. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan Skala Likert dan data kualitatif berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir penelitian ini adalah bahan ajar berorientasi Problem based learning pada materi gerak. Berdasarkan hasil analisis data, produk akhir yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak dan sudah direvisi pada beberapa bagian berdasarkan komentar dan saran dari validator. Produk akhir yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda dari bahan ajar yang lain, diantaranya: setiap awal materi diawali pertanyaan-pertanyaan sederhana, terdapat banyak soal diskusi untuk memantapkan konsep, pembahasannya sederhana dan mudah dimengerti siswa, serta desain isi lebih menarik dan full colour.

Karakteristik puisi karya kelas VIII SMP Negeri 8 Malang / Elfitria Kusumawati

 

Kata Kunci: karakteristik puisi, karya siswa SMP Puisi merupakan salah satu bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengosentrasikan kemampuan bahasa, yakni dengan mengosentrasikan unsur fisik dan unsur batinnya. Selain itu, puisi adalah karya sastra yang memiliki estetika kebahasaan yang padat dan dapat menjadi alat mengekspresikan suatu kepribadian. Oleh karena itu, puisi yang dihasilkan setiap orang memiliki bahasa yang khas, yaitu bahasa yang memuat tanda-tanda atau semiotik dalam unsurunsur pembentuknya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karaktersistik bunyi, diksi, tema, dan amanat pada puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Data yang dipaparkan berupa 20 puisi sebagai sampel dari 157 puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa tabel analisis data. Analisis data dilakukan dengan analisis struktural dan semiotik. Selanjutnya, untuk menjaga keabsahan data dilakukan kecermatan, ketekunan, keajegan membaca dan pemeriksaan melalui diskusi dengan dosen dan teman sejawat. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, karakteristik bunyi pada puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang adalah perpaduan asonansi[a],[u], konsonansi [n], rima vokal berupa enklitika [-ku], [-mu], [-nya], rima konsonan [-an], dan mesodiposis pronomina [kau]; Kedua, karakteristik diksi pada puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang terdiri atas lambang dan simbol. Lambang yang digunakan siswa diklasifikasikan menjadi 2, yaitu kata tugas dan kata dasar. Kata tugas berupa konjungsi, sedangkan kata dasar terdiri atas kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Simbol yang digunakan siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang, yaitu blank simbol, natural simbol dan privat simbol.Dari ketiga simbol tersebut yang paling dominan adalah blank simbol, sedangkan yang paling sedikit digunakan adalah privat simbol; Ketiga, karakteristik tema pada puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang terdiri atas cinta, kasih sayang orang tua, kritik sosial, persahabatan, alam, patriotisme, dan tokoh idola. Tema yang dominan dalam puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang adalah tema kasih sayang antarlawan jenis atau cinta dan kasih sayang orang tua; Keempat, karakteristik amanat pada puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang selaras dengan tema yang dominan. Oleh karena itu, amanat yang dominan pada puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang mengajak pembaca untuk menyadari dan menghormati indahnya kasih sayang yang diberikan oleh seorang kekasih dan orang tua. Berdasarkan simpulan di atas, disampaikan saran (1) kepada guru bahasa Indonesia: Berdasarkan kesimpulan di atas, diketahui bahwa puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang kurang variatif dalam penggunaan manipulasi bunyi konsonansi, rima konsonan, rima vokal, kata sifat, dan privat simbol. Oleh karena itu, guru harus menggunakan model atau contoh, materi, dan metode pembelajaran yang juga variatif, khususnya dalam aspek yang kurang, sehingga proses belajar sungguh-sungguh menjadi sarana bagi siswa untuk menggali daya imajinasi dan krativitasnya. Dengan demikian, tema dan amanat pada puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang juga variatif; (2) kepada peneliti lain: Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, diketahui bahwa perlu adanya penelitian lanjutan yang mampu mengarahkan siswa untuk mengolah emosi ke dalam bentuk bahasa puisi yang indah. Selain itu, karena penelitian karakteristik puisi masih dilakukan di tingkat SD dan SMP, maka perlu dilakukan penelitian di tingkat SMA. Dengan demikian, kelengkapan penelitian di semua tingkat pendidikan dapat memperkaya literatur bagi pembelajaran puisi siswa. Namun, peneliti harus mengetahui contoh atau model, materi, dan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran sastra, khususnya dalam menulis puisi.

Penggunaan asesmen autentik berbasis Authentic Learning untuk memonitor hasil belajar fisika siswa kelas X-8 SMA Negeri 1 Talun Blitar / Anggi Lindriyanto

 

Kata Kunci : asesmen autentik, authentic learning, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika SMAN 1 Talun bahwa selama proses pembelajaran fisika di kelas X-8 belum menerapkan asesmen autentik meskipun guru menggunakan pembelajaran kontekstual. Hal ini terlihat dari pelaksanaan pembelajaran, guru mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari di awal pembelajaran. Pembelajaran di kelas guru menggunakan metode ceramah dan latihan soal. Respons siswa cenderung kurang sehingga materi tidak dapat terserap dengan baik, karena pengolaan kelas yang kurang optimal. Inovasi asesmen autentik berbasis authentic learning mengembangkan siswa belajar secara aktif melalui asesmen autentik melalui pemecahan masalah secara nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen bersifat deskriptif dengan model one-shot study case. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-8 SMAN 1 Talun. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama dan tahap kedua. Data yang didapatkan dari penelitian ini adalah hasil asesmen autentik berupa asesmen portofolio, asesmen kinerja, asesmen sikap, nilai tes, nilai akhir, dan respons siswa terhadap asesmen autentik. Instrumen penelitian yang digunakan adalah rubrik penilaian, pedoman wawancara, jurnal belajar, refleksi pembelajaran, kuisioner, dan catatan lapangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil monitor belajar fisika menggunakan asesmen portofolio, asesmen kinerja, dan asesmen sikap. Hal ini terlihat dari asesmen portofolio dengan peningkatan nilai rata-rata pada tahap pertama sampai kedua sebesar 89.8 dan 91.3, dari asesmen kinerja diperoleh peningkatan nilai rata-rata pada pertemuan keenam dan ketujuh sebesar 82.2 dan 84.4, peningkatan nilai rata-rata asesmen sikap pada tahap pertama sampai kedua sebesar 69,78 dan 79,39. Respons siswa terhadap asesmen autentik yang diterapkan oleh guru model di kelas X-8 sangat baik.

Implementasi nilai-nilai demokrasi pada proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) di MAN kota Blitar / Tri Nafisatur Rofi'ah

 

Kata Kunci: Implementasi, nilai-nilai demokrasi, pembelajaran, pendidikan kewarganegaraan Pembelajaran Pkn yang memuat nilai-nilai demokrasi adalah pembelajaran secara sadar dan terencana untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, dan kritis terhadap lingkungan sekitar yakni di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pembelajaran Pkn yang memuat nilai-nilai demokrasi bukan sekedar pembelajaran yang hanya mentransfer pengetahuan (kognitif) namun juga menekankan pada pembentukan karakter (afektif), dan kesadaran moral dalam melakukan tindakan (psikomotorik), terhadap pembelajaran Pkn yang memuat nilai-nilai demokrasi di MAN kota Blitar. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1) bagaimana pengintegrasian nilai-nilai demokrasi ke dalam silabus PKn di MAN kota Blitar, 2) bagaimana penyusunan RPP PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi di MAN kota Blitar, 3) bagaimana pelaksanaan pembelajaran PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi di Man kota Blitar, 4) apa sajakah kendala pada proses pembelajaran PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi di MAN kota Blitar, 5) bagaimana mengatasi kendala dalam proses pembelajaran PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi di MAN kota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan beberapa hal yang mencangkup: (1) pengintegrasian nilai-nilai demokrasi kedalam silabus PKn, (2) penyusunan RPP PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi, (3) pelaksanaan pembelajaran PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi, (4) kendala-kendala pada proses pembelajaran Pkn yang memuat nilai-nilai demokrasi, (5) upaya untuk mengatasi Kendala pada proses pembelajaran Pkn yang memuat nilai-nilai demokrasi Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data utama diperoleh dari kata kata dan tindakan mengenai guru dan siswa, selain itu dari kesiswaan dan tata usaha sebagai data tambahan atau sekunder. Data diperoleh melalui observasi, untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh sisiwa, wawancara untuk mengetahui pengintegrasian nilai demokrasi ke dalam silabus, penyusunan RPP, kendala dalam proses pembelajaran serta upaya untuk mengatasi kendala pada proses pembelajaran, data berupa perangkat pembelajaran dan profil sekolah diperoleh dari studi dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Analisa data yang digunakan adalah (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dan analisis data penelitian implementasi nilai-nilai demokrasi pada proses pembelajaran PKn menunjukkan: (1) prosedur pengintegrasian nilai-nilai demokrasi ke dalam silabus Pkn adalah (a) mengidentifikasi SK dan KD yang akan menjadi pengintegrasian nilai-nilai demokrasi, (b) menambah sumber belajar mengenai pengetahuan umum yang berhubungan dengan materi pembelajaran yang mencermikan nilai-nilai demokrasi, (2) prosedur penyusunan RPP PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi adalah: (a) melihat silabus yang telah ada terlebih dahulu, materi mana yang cocok diintegrasi dengan nilai-nilai demokrasi, (b) menyisipkan nilai-nilai demokrasi pada nilai karakter, (c) menambah sumber belajar yang sesuai dengan materi pembelajaran, (3) pelaksanaan pembelajaran PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi terdiri dri tiga tahap: a) tahap perencanaan, berkaitan dengan perangkat pembelajaran berupa program tahunan, program semester, silabus, dan sistem penilaian, serta rancangan pelaksanaan pembelajaran, b) tahap pelaksanaan, pada tahap ini pembelajaran PKn yang memuat nilai-nilai demokrasi dilakukan dengan menerapkan metode diskusi dan tanya jawab dengan memanfaatkan media yang telah ada, c) tahap evaluasi, berkaitan dengan penilaian, ada dua macam penilaian yaitu penilaian penguasaan konsep atau pemahaman dan penilaian penerapan atau sikap. Penilaian penguasaan konsep atau pemahaman dilakukan dengan ulangan harian, dengan KKM 75, apabila ada siswa di bawah KKM maka diadakan remidi, dan penilaian penerapan dilakukan dengan skala sikap. (4) kendala dalam pores pembelajaran PKn terdiri dari: (a) guru mengalami kesulitan dan kurang teliti dalam menentukan nilai-nilai demokrasi yang sesuai dengan materi PKn, (b) pada pelaksanaan pembelajaran kendala yang dialami guru ada 3 yaitu (a) guru mengalami kendala pada keterbatasan waktu pembelajaran yang tidak sesuai dengan materi yang begitu banyak, (b) kurangnya antusiasme siswa terhadap pembelajaran, (c) sulitnya menentukan media pembelajaran yang cocok. (5) upaya untuk mengatasi kendala adalah (a) pada penyusunan RPP guru harus teliti dan kreatif dalam menentukan nilai-nilai demokrasi yang sesuai dengan materi PKn, (b) pada pelaksanaan pembelajaran ada 3 upaya untuk mengatasi kendala, yaitu (a) dengan keterbatasan waktu pemebelajaran guru sering memberikan tugas pasa siswa, (b) guru melakukan inovasi dengan pengalaman-pengalaman baru dan pintar menarik perhatian siswa, (c) guru melakukan pengembangan media pembelajaran. Dari penelitian di atas maka dikemukakan saran sebagai berikut: 1) didalam penyusunan RPP yang memuat nilai-nilai demokrasi guru sebaiknya cermat dalam menentukan nilai-nilai demokrasi yang sesuai dengan materi pembelajaran, 2) guru harus pandai mengatur waktu pembelajaran agar waktu pembelajaran bisa di manfaatkan dengan baik, 3) pada diskusi kelmpok hendaknya siswa memanfaatkan kesempatan waktu untuk melakukan Tanya jawab, 4) alangkah baiknya guru menambah pengetahuan umum terkait pembelajaran yang memuat nilai-nilai demokrasi, 5) guru harus memiliki kreativitas dalam membangkitkan semangat siswa.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar menggunakan perangkat lunak pengolahan angka untuk menyajikan informasi di SMP Negeri 1 Pace / Mutia Reza Hafizidin

 

Kata Kunci: PTK, model pembelajaran kooperatif tipe TGT, aktivitas belajar, hasil belajar Pelaksanaan KTSP harus menegakkan lima pilar belajar, salah satunya adalah belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif dan menyenangkan. Berdasarkan hasil observasi di kelas VIII-C SMPN 1 Pace diketahui pembelajaran masih berpusat pada guru, siswa malas mengerjakan praktek, kurang aktif mencatat penjelasan guru, serta kurang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru, sehingga aktivitas di kelas kurang. Persentase ketuntasan siswa pada pokok bahasan menggunakan perangkat lunak pengolah angka untuk menyajikan informasi masih kurang. Menurut data yang diperoleh peneliti dari hasil ulangan harian, jumlah siswa yang tuntas dalam pokok bahasan tersebut kurang dari 75% dan banyak siswa yang mendapat nilai dibawah SKM yang ditentukan (SKM yang ditentukan adalah 75) yaitu dari 38 siswa yang mendapat nilai sama dengan atau lebih dari 75 hanya 17 siswa. Untuk mengatasi masalah-masalah diatas, solusi yang ditawarkan adalah mengganti model pembelajaran yang digunakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Jenis penelitian tindakan kelas ini menggunakan model kolaboratif. Penelitian dilakukan di SMPN 1 Pace dengan subjek penelitian kelas VIII-C sebanyak 38 siswa Hasil penelitian ini meliputi (1) keberhasilan tindakan guru dalam melaksanakan tindakan adalah 91,17% dengan kualifikasi sangat baik (A), pada siklus II dan III keberhasilan tindakan guru dalam melaksanakan tindakan adalah 100% dengan kualifikasi sangat baik (A); (2) Aktivitas siswa pada siklus I memiliki persentase total 73,32%, dengan kualifikasi Cukup (C) siklus II mengalami peningkatan menjadi 81,40% dengan kualifikasi Baik (B), dan pada siklus III mengalami peningkatan dibanding siklus II menjadi 88,71% dengan kualifikasi Baik (B); (3) Hasil belajar ranah kognitif siswa mengalami peningkatan dari siklus I, II, dan III. Persentase ketuntasan siswa siklus I adalah 57,89%, dengan rata-rata 74,85, siklus II 78,95% dengan rata-rata 82,82, dan siklus III 86,84% dengan rata-rata 84,06;(4) Hasil belajar ranah afektif siswa mengalami peningkatan dari siklus I, II, dan III pada penerapan model pembelajaran TGT. Persentase ketuntasan siswa siklus I adalah 84,93%, siklus II 89,01%, dan siklus III 92,11%;(5) Hasil belajar ranah psikomotorik siswa mengalami peningkatan dari siklus I, II, dan III pada penerapan model pembelajaran TGT. Persentase ketuntasan siswa siklus I adalah 72,43%, siklus II 85,26%, dan siklus III 95,72%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi menggunakan perangkat lunak pengolah angka untuk menyajikan informasi di SMP Negeri 1 Pace.

Pengaruh startegi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi / Puspani

 

Kata Kunci: STAD, portofolio, kemampuan akademik, pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis. Strategi pembelajaran yang digunakan dan penilaian yang dilakukan oleh guru terhadap siswa dalam pembelajaran merupakan komponen penting yang sebaiknya diperhatikan oleh guru. Guru sebaiknya menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dan asesmen autentik dalam pembelajaran. STAD merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang sederhana dan mudah dipahami dengan sintaks: 1) presentasi kelas, 2) tim, 3) kuis, 4) skor kemajuan individu, dan 5) rekognisi tim. Portofolio merupakan asesmen autentik yang berisi hasil pekerjaan siswa yang menggambarkan taraf pencapaian, kegiatan belajar, kekuatan, dan pekerjaan terbaik siswa. Guru sebaiknya juga memperhatikan perbedaan kemampuan akademik yang dimiliki oleh siswa, sehingga kelas benar-benar heterogen. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) yang bertujuan untuk 1) menguji pengaruh strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi, 2) menguji pengaruh kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi, 3) menguji pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan “pretes-postes non-equivalent control group design” versi faktorial 2x2. Analisis data diawali dengan melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, kemudian dilanjutkan dengan analisis kovarian (anakova) pada taraf signifikansi 0,05 dan uji lanjut LSD. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan sebanyak 9 kelas dengan jumlah berkisar 36-40 siswa setiap kelasnya. Sampel penelitian sebanyak 6 kelas ditentukan dengan teknik cluster random sampling, terdiri dari 3 kelas eksperimen (strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio) dan 3 kelas kontrol (strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional). Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan. Rata-rata nilai terkoreksi pemahaman konsep pada strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio sebesar 48,13 dan rata-rata nilai terkoreksi pemahaman konsep pada strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional sebesar 41,87; rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis pada strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio sebesar 48,28 dan rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis pada strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional sebesar 42,17. 2) ada pengaruh kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan. Rata-rata nilai terkoreksi pemahaman konsep pada kemampuan akademik atas sebesar 50,63 dan rata-rata nilai terkoreksi pemahaman konsep pada kemampuan akademik bawah sebesar 39,37; rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis kemampuan akademik atas sebesar 50,69 dan rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis kemampuan akademik bawah sebesar 39,76. 3) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan. Rata-rata nilai terkoreksi pemahaman konsep interaksi antara strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik dari yang tertinggi ke yang terendah secara berurutan adalah kelompok kombinasi: (1) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik atas sebesar 54,95, (2) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional dan kemampuan akademik atas sebesar 46,31, (3) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik bawah sebesar 41,31, dan (4) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional dan kemampuan akademik bawah sebesar 37,44; dan rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis interaksi antara strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik dari yang tertinggi ke yang terendah secara berurutan adalah kelompok kombinasi: (1) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik atas sebesar 54,79, (2) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional dan kemampuan akademik atas sebesar 46,58, (3) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik bawah sebesar 41,76, (4) strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian konvensional dan kemampuan akademik bawah sebesar 37,75. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) ada pengaruh strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi, 2) ada pengaruh kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi, 3) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio dan kemampuan akademik terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 12 Balikpapan pada pembelajaran biologi. Strategi pembelajaran STAD dengan menggunakan penilaian portofolio meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis, sehingga disarankan guru menggunakannya dalam pembelajaran dengan memperhatikan perbedaan kemampuan akademik yang dimiliki oleh siswa. Selain itu, perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan teknik-teknik penilaian lain selain teknik penilaian portofolio, yaitu teknik penilaian observasi (pengamatan), tes lisan, dan tes penugasan individu atau kelompok.

Pengembangan pembelajaran tolak peluru melalui multimedia interaktif untuk kelas VII SMP/ sederajat / Achmad Zainuri Arif

 

Kata kunci: penelitian pengembangan, pembelajaran, tolak peluru, multimedia interaktif. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu disajikan pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP/sederajat, SMA/sederajat dan Perguruan Tinggi. Salah satu Kompetensi Dasar dalam pembelajaran penjasorkes adalah siswa dituntut untuk mampu mempraktikkan teknik dasar salah satu permainan dan olahraga atletik (tolak peluru) lanjutan dengan koordinasi yang baik. Akan tetapi kondisi riil proses pembelajaran Penjasorkes yang terjadi tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk mendukung pembelajaran Penjasorkes tersebut diperlukan media, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, proses pembelajaran saat ini sangat kaya dengan berbagai macam sumber belajar dan media pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran yang membahas mata pelajaran tersebut, dalam hal ini adalah multimedia maka siswa akan terbantu dalam mengetahui dan memahami materi dengan baik. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 1 Sidayu terhadap 34 siswa kelas VII dan 2 guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan diperoleh data: 34 (100%) siswa mendapatkan materi tolak peluru, 34 (100%) siswa menyatakan pembelajaran tolak peluru diajarkan berupa teori dan praktek, 34 (100%) siswa mendapatkan materi dari buku LKS, 34 (100%) siswa belum pernah mendapatkan materi dari multimedia interaktif, 34 (100%) siswa menyatakan di sekolah mereka terdapat laboratorium komputer, 32 (94%) siswa menyatakan mempunyai komputer dan bisa mengoperasikan komputer. Dari guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan menyatakan: media yang digunakan untuk mengajar materi tolak peluru berupa buku LKS, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan belum pernah menggunakan multimedia interaktif dalam pembelajaran, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan setuju jika dikembangkan pembelajaran tolak peluru melalui multimedia interaktif. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan pembelajaran tolak peluru melalui multimedia interaktif yang bermanfaat, menarik dan efektif bagi siswa kelas VII SMP/sederajat, sehingga media pembelajaran berupa multimedia tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang dapat membantu meningkatkan aspek kognisi siswa yang kemudian diharapkan dapat berpengaruh signifikan terhadap kemampuan psikomotor siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan. Prosedur Penelitian yang dilakukan yaitu pengumpulan data awal/analisis kebutuhan (need assessment), menyusun rancangan produk multimedia interaktif berisi tujuan pengembangan dan macam-macam materi yang ada di dalamnya, mengembangkan rancangan produk multimedia interaktif serta pengevaluasian oleh ahli (dilakukan oleh beberapa ahli), uji coba lapangan awal/uji kelompok kecil, merevisi hasil uji coba (sesuai dengan saran-saran hasil uji lapangan permulaan), uji coba lapangan utama/uji kelompok besar. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa dan Guru Penjasorkes SMP Negeri 1 sidayu serta tiga orang dosen yang ahli dalam bidang media, atletik dan pembelajaran. Jenis data yang diperoleh merupakan data kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari hasil wawancara/interview, observasi, dan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan tinjauan para ahli ada perbaikan pada produk ini. Perbaikan dari ahli media yaitu mengganti video teknik gerakan tolak peluru dengan menggunakan lapangan yang sebenarnya. Ahli atletik memberikan saranuntuk memperbaiki konsep tentang peraturan. Ahli pembelajaran menyarankan agar tampilan pembuka diberi video agar lebih menarik. Dari Hasil uji coba (kelompok kecil) menggunakan 10 siswa diperoleh persentase 82,7% dan tergolong kategori valid, pada uji lapangan (kelompok besar) menggunakan 40 siswa diperoleh persentase 83,6% dan tergolong kategori valid. Dari hasil tinjauan ahli, uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar) tersebut di atas, maka media pembelajaran tolak peluru dalam bentuk multimedia interaktif untuk siswa kelas VII SMP/sederajat dapat digunakan. Saran yang dapat peneliti berikan pada penelitian ini adalah kepada guru Penjasorkes agar lebih kreatif dan inovatif untuk pengembangan media pembelajaran. Pemanfaatan media berupa multimedia interaktif dalam pembelajaran membuat siswa lebih tertarik untuk belajar yang kemudian dapat bermuara pada percepatan proses pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Untuk diseminasi, sebelum disebarluaskan ke ruang lingkup yang lebih luas sebaiknya produk ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan sasaran yang ingin dituju dan disesuaikan dengan kurikulum yang ada.kepada peneliti lain, sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efektivitas dari produk yang dikembangkan ini, karena hasil dari pengembangan ini masih terbatas sampai tersusun sebuah produk saja.

Variasi morfologi umbi tumbuhan suku Araceae yang terdapat di Pasar Kota Malang / Fika Anugeraheni

 

Kata kunci: variasi morfologi, umbi Araceae, pasar Kota Malang. Araceae terdiri dari 106 marga yang meliputi lebih dari 3.300 spesies. Indonesia merupakan kawasan yang memiliki keanekaragaman paling besar, yaitu sekitar 31 marga. Bogor dan Malang terkenal sebagai penghasil kultivar talas yang umbinya memiliki rasa enak. Berdasarkan hasil survei dinyatakan bahwa beberapa jenis umbi anggota suku Araceae yang sering ditemukan di pasar-pasar tradisional Kota Malang yaitu, Amorphophallus paeoniifolius (Dennstedt.) Nicolson., Colocasia esculenta (L.) Schot., Xanthosoma sagittifolium L. , Xanthosoma nigrum (Vell.) Mansfeld. Umbi tumbuhan suku Araceae yang ditemukan berasal dari daerah berbeda dan sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi umbi dan morfologi benda ergastik umbi tumbuhan suku Araceae yang terdapat di pasar Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dan dokumentasi yang mengungkap variasi morfologi umbi tumbuhan suku Araceae dengan obyek penelitian berupa jenis umbi tumbuhan suku Araceae yang ditemukan di pasar Kota Malang. Sampel umbi diambil dari sepuluh pasar di Kota Malang yaitu, pasar Dinoyo, pasar Oro-Oro Dowo, pasar Klojen, pasar Mergan, pasar Kasin, pasar Besar, pasar Sukun, pasar Kebalen, pasar Bunulrejo, dan pasar Blimbing. Penelitian dilakukan di laboratorium Botani jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang selama bulan Oktober 2010 - Desember 2011. Penelitian deskriptif eksploratif ini mendeskripsikan morfologi luar meliputi bentuk umbi, ukuran umbi (berat, panjang, keliling, dan diameter), warna kulit umbi, tebal kulit umbi, warna irisan melintang kulit, warna daging umbi, warna serat umbi, permukaan kulit umbi, buku dan ruas, serta katafil, dan morfologi dalam meliputi jumlah sel, ukuran sel, rongga, serta komponen ergastik padat yang terkandung di dalamnya meliputi butir amilum dan kristal kalsium oksalat. Hasil penelitian diperoleh enam jenis umbi tumbuhan suku Araceae yaitu umbi talas mbothe, talas bentul kuning, talas bentul ungu, talas bentul putih, talas kutil, dan umbi suweg. Enam jenis umbi yang termasuk suku Araceae tersebut berasal dari daerah yang berbeda dan tidak semua ditemukan pada setiap pasar. Umbi tumbuhan suku Araceae selain memiliki perbedaan pada setiap jenisnya juga memiliki persamaan maupun perbedaan pada jenis umbi yang sama. Pada umbi sesama jenis tumbuhan suku Araceae memiliki persamaan morfologi luar, selain itu juga memiliki perbedaan morfologi dalam yaitu ukuran dan jumlah sel, rongga, butir amilum, serta kristal Ca oksalat baik di daerah perifer dan tengah pada umbi bagian pangkal, tengah maupun ujung.

Pengaruh kinerja guru terhadap kedisiplinan peserta didik di SMA kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek / Ria Puspita Sari

 

Kata Kunci: kinerja Guru, kedisiplinan peserta didik Lembaga pendidikan baik negeri atau swasta ada pengaturan tentang kepegawaian, yaitu bagian manajemen sumber daya manusia atau kepegawaian. Dalam suatu organisasi pendidikan perlu memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia, karena akan mempengaruhi seluruh aktivitas atau kegiatan organisasi dalam bidang pendidikan. Salah satunya adalah tentang pelaksanaan kinerja guru dalam rangka memberikan pedoman bagi peserta didik untuk mewujudkan sikap kedisiplinan di bidang pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) seberapa tinggi kinerja guru di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek; (2) seberapa tinggi kedisiplinan peserta didik di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek; (3) faktor-faktor apa yang mempengaruhi kedisiplinan peserta didik di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek; dan (4) apakah ada pengaruh yang signifikan antara kinerja guru dengan kedisiplinan peserta didik di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.Populasi penelitian ini adalah guru dan peserta didik SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek, guru sebanyak 108 dan peserta didik sebanyak 1802. Sedangkan pengambilan sampel dari tabel Kracjie, guru sebanyak 86 dan peserta didik sebanyak 320. Dalam penelitian ini, pengumpulan data menggunakan angket untuk kinerja guru dan kedisiplinan peserta didik. Penelitian ini dianalisis dengan analisis persentase, analisis faktor eksploratori, uji analisis standar deviasi beda mean dan uji perbedaan dua sampel independen. Hasil analisis menunjukkan: (1) guru-guru dalam kinerjanya rata-rata termasuk dalam kategori tinggi dengan 163 orang (51%), sangat tinggi dengan 103 orang(32%), cukup dengan 41 orang(13%), sedangkan kategori rendah dengan 13 orang(4%); (2) pada umumnya kedisiplinan peserta didik dalam kategori tinggi dengan 35 orang (41%), kategori sangat tinggi dengan 23 orang (27%), cukup dengan 15 orang (17%), sedangkan kategori rendah dengan 13 orang (15%); (3) faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan peserta didik meliputi tanggung jawab, sopan santun, rajin dalam sikap, jujur, teliti/ benar, rajin dalam tugas, dan bertindak sopan; dan (4) ada pengaruh yang signifikan antara kinerja guru dengan kedisiplinan peserta didik SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Kesimpulan yang dapat diambil adalah (1) kinerja guru di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek termasuk dalam kategori tinggi, (2) kedisiplinan peserta didik di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek termasuk dalam kategori tinggi, (3) faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan peserta didik di SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek meliputi tanggung jawab, sopan santun, rajin dalam sikap, jujur, teliti/benar, rajin dalam tugas, dan bertindak sopan dalam melaksanakan kewajibannya sebagai peserta didik di sekolah, dan (4) ada pengaruh yang signifikan antara kinerja guru dengan kedisiplinan peserta didik SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Saran dari hasil penelitian ini yaitu: (1)bagi guru-guru SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek untuk;mempertahankan kinerja yang sudah ada dengan lebih baik sesuai dengan kompetensi-kompetensi dan kemampuan yang dimiliki walaupun kinerja guru sudah tinggi, namun akan lebih baik apabila selalu berusaha meningkatkan kinerjanya agar peserta didik dapat berpedoman terhadap kinerja guru dalam hal kedisiplinannya di sekolah; (2)bagi Kepala SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek untuk meningkatkan kinerja guru, yang dimaksudkan disini adalah mendorong guru-guru supaya meningkatkan kinerjanya meskipun sudah mencapai standar kinerja yang telah disesuaikan; (3) bagi peserta didik SMAN Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek untuk meningkatkan kedisiplinan di lingkungan sekolah, dengan berpedoman pada aturan-aturan yang berlaku di sekolah; (4) bagi Jurusan Administrasi Pendidikandapat mengembangkan ilmu manajemen pendidikan yang berhubungan dengan kepegawaian dan sumber daya manusia; dan (5) bagi peneliti diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian ini dengan pendekatan lain/alat pengumpul data yang lebih beragam.

Pengembangan kurikulum muatan lokal kerajinan tangan bubut kayu di SMPN 9 Blitar / Luvita Maymadya

 

Kata Kunci: kurikulum, muatan lokal, bubut kayu Muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan kebutuhan daerah yang wajib dipelajari oleh murid di daerah tersebut. Sedangkan di kota Blitar terdapat usaha kerajinan bubut kayu yang tepat diangkat menjadi muatan lokal. Muatan lokal kerajinan tangan bubut kayu adalah kegiatan kurikuler yang berupa mata pelajaran untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan ciri khas, potensi, prospek pengembangan, dan termasuk keunggulan daerah Blitar. Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran ketrampilan. Dapat diamati pada saat ini masih belum ditemukannya kurikulum muatan lokal yang memberikan pengetahuan tentang ciri khas ataupun potensi suatu daerah. Meskipun sangat disadari bahwa kurikulum muatan lokal yang mengangkat tentang ciri khas atau potensi suatu daerah sangat diperlukan bagi peserta didik untuk lebih mengenal tentang daerah masing-masing. Dengan adanya kecenderungan tersebut membuat hati pengembang untuk mengembangkan kerajinan tangan bubut kayu menjadi kurikulum muatan lokal. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk tetap melestarikan dan mengenalakan salah satu potensi kedaerahan yang ada di Blitar kepada para peserta didik agar peserta didik mampu memahami kondisional yang ada di lingkungannya. Hasil pengembangan kurikulum muatan lokal kerajinan tangan bubut kayu ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan dari ahli materi pengrajin bubut kayu sebesar 91.6%, hasil perhitungan dari ahli kurikulum SMPN 9 Blitar sebesar 93.3%, dan hasil perhitungan dari ahli seni sebesar 91.6%. hal ini menunjukkan bahwa kurikulum muatan lokal kerajinan tangan bubut kayu dapat dikembangkan dan diterapkan pada sekolah-sekolah yang berada di Blitar. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah kurikulum muatan lokal kerajinan tangan bubut kayu yang dikembangkan termasuk valid dan layak untuk diterapkan pada sekolah-sekolah yang berada di Blitar. Berdasarkan hasil penelitian ini saran dari pengembangan ini adalah (1) bagi Diknas, diknas harus lebih dikembangkan potensi dan ciri khas yang ada di daerah kedalam suatu kurikulum muatan lokal yang nantinya dapat dipelajari oleh siswa sebagai suatu pembelajaran yang baru, (2) bagi Sekolah Menengah Pertama Negeri 9 Blitar dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menerapkan kurikulum muatan lokal kerajinan tangan bubut kayu, (3) bagi pengembang selanjutnya, mengkaji lebih dalam pada saat pemilihan isi materi yang akan dikembangkan , sehingga nantinya materi yang akan dikembangkan selanjutnya dapat lebih lengkap dan jelas sesuai dengan kebutuhan masyarakat daerah setempat.

The use of taboo words between main characters seen in conviction movie / Yasa Febrianuswantoro

 

Keywords: taboo words, positive impoliteness, Conviction Movie Communication is an action of delivering message or information which can be done through conversation. There are rules and strategy in communication that people should pay close attention such as politeness strategy proposed by Brown and Levinson (1987). One act that threats the harmony between interlocutors is the use of taboo words. Ekstrom (2008) classified taboo words into five categories which are obscenity, profanity, insult, cursing and epithet. Culpeper (1996) explained that the use of taboo word is included as impoliteness superstrategy. This study will focus on finding the application of positive impoliteness strategy especially taboo words seen in the conversation between main characters of the Conviction movie. The research design of this study is qualitative descriptive. The primary data is the written form or the transcription of the utterances from the main characters dialog. In this study, the categories of taboo words mentioned by Ekstrom (2008) seen in the Conviction movie were analyzed based on the positive politeness strategy of Brown and Levinson (1987) and positive impoliteness superstrategy of Culpeper (1996). The researcher collected 59 data of taboo words which were found in pre-climax part of the movie (44 data) and climax (15 data) of the Conviction movie. From those 44 data in the pre-climax part of the movie, the most frequent type of taboo words which appeared was Obscenity: fuck, shit (45.45%), and the second was Profanity: God, Christ sakes, Jesus Christ (18.18%), the third was Epithet: goddamn, bitch, damn (15.9%), fourth was Insults: you fuckers, you bitch (13.63%), and the last is Cursing: fuck you, damn you (6.81%). From 15 data in the climax part, the most frequent type of taboo words which appeared was Epithet: goddamn, bitch, damn (53.3%), and the second was Obscenity: fuck, shit (26.6%), the third were Insults: you fuckers, you bitch, Epithet: goddamn, bitch, damn and Cursing: fuck you, fuck her which shared the same percentage (6.6%). The result of the study showed that there was shift of functions of taboo words especially for obscenity words which functioned as expression of swearing and intensifier device in introduction and climax parts into more complex functions in pre-climax part with additional function as positive politeness strategies when used in compliments. The result also showed that not all taboo words functioned as positive impoliteness superstrategy. The discussion of taboo words in this study was related to the impoliteness superstrategy. The use of taboo words by main characters showed that not all taboo words were the implementation of impoliteness superstrategy. Some of the uses of taboo words indicate the intimacy between main characters which sometimes appeared as an intensifier. However the scope of this study is limited to the source where the data were taken from, which is a movie. Therefore this study still requires improvement from Linguistic students who can conduct studies to analyze the phenomenon of taboo words in real situation.

Penerapan model pembelajaran kooperatif numbered head together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Kesatrian 2 Malang / M Nafik Ul Akbar

 

Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT), hasil belajar. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di kelas IV SDN Kesatrian 2 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika, hasil belajar siswa rendah, guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Ditunjukkan dari nilai hasil belajar siswa sebelum tindakan (pra siklus) yaitu siswa yang tuntas belajar sebanyak 17 siswa dari 45 siswa, skor rata-rata kelas sebesar 62,35 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 37,8% (SKM = 70). Tujuan penelitian ini Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika siswa kelas kelas IV SDN Kesatrian 2 Malang. Penelitian ini menerapkan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, satu siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Alokasi waktu selama 2 jam pelajaran setiap pertemuan, setiap jam pelajaran berdurasi 35 menit. Tindakan yang dilakukan yaitu menerapkan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT). langkah-langkah pembelajarannya adalah: kegiatan. Pertama, siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa. Setiap anggota kelompok diberi satu nomor 1-6 ( sesuai dengan anggota kelompok). Kedua, guru menyampaikan pertanyaan yang berupa LKS. Ketiga, berfikir bersama, siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu. Keempat,guru menyebut salah satu nomor 1-6 dan siswa dengan nomor yang bersangkutan yang harus menjawab.. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu catatan lapangan, tes tiap akhir siklus, dokumentasi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) melalui Penelitian Tindakan Kelas dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kesatrian 2 Malang pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan pecahan. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil belajar siswa terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari rata-rata pada siklus I sebesar 65,78 dan menigkat menjadi 92,67 pada Siklus II. Adapun saran yang disampaikan peneliti yaitu penerapan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) supaya terus diupayakan berguna untuk meningkatkan hasil belajar, dan dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Perbandingan kadar besi batu penggajawa berdasarkan pigmen warna menggunakan metode AAS dan Gravimetri-Edax / Furjiansyah H. Mbelo

 

Kata-kata kunci: batu penggajawa, pigmen anorganik, logam transisi. Batu Penggajawa memiliki warna yang bervariasi (hijau, kuning, dan coklat), permukaan yang halus, dan warna yang cerah. Hal ini mengindikasikan terdapat logam dalam komposisi berbeda pada batuan tersebut. Penelitian tentang kadar logam batu Penggajawa belum pernah dilakukan. Batuan Penggajawa terdapat di kecamatan Nangapanda, kabupaten Ende, NTT. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis zat-zat yang terkandung dalam batu Penggajawa dan mengidenti¬fikasi hubungan antara komposisi zat-zat penyusun batu Penggajawa dengan jenis warna yang tampak pada batuan. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian survei eksploratif eksperimental. Sampel dalam bentuk batu diambil dari pantai Penggajawa dengan menggunakan metode sampling pada tiga titik sepanjang 200 meter. Sampel diuji dengan XRF untuk mendapatkan informasi kandungan logam transisi dengan kadar tertinggi. Untuk mengisolasi unsur dilakukan beberapa tahap yaitu (1) menghancurkan batu menjadi bentuk bubuk (powder), (2) pendestruksian batu dengan pelarut HF dan HNO3 pekat dengan perbandingan 1:4, dan (3) sampel dibagi menjadi dua bagian untuk (i) pengukuran kadar besi pada sampel dengan AAS dan (ii) peng¬endapan logam besi dari larutan dengan metode gravimetri dan dilanjutkan dengan pengukuran kadar logam besi dengan SEM-EDAX. Hasil penelitian adalah (1) terdapat perbedaan unsur besi yang terkandung pada batu Penggajawa dengan warna bervariasi, hasil analisis dengan metode XRF (batuan coklat 15.1%, batuan kuning 12%, dan batuan putih 5,52%), metode AAS (batuan coklat 0,0573%, batuan kuning 0,0407%, dan batuan putih 0,349%), dan hasil gravimetri yang dilanjutkan dengan SEM-EDAX (batuan coklat 2,86%, batuan kuning 0,62 %, dan batuan putih 0.60%); (2) ada keterkaitan antara pigmen warna dengan kadar unsur besi dalam batu Penggajawa semakin gelap warna batuan maka akan semakin banyak unsur besi dalam batu Penggajawa tersebut.

Kecenderungan lama studi dan prestasi belajar mata kuliah bidang utama ketekniksipilan mahasiswa PTB UM jalur reguler dan non-reguler / Dwi Samekto

 

Kata kunci: kecenderungan, lama studi, prestasi belajar. Di Universitas Negeri Malang jurusan Teknik Sipil program studi Pendidikan Teknik Bangunan penyeleksian penerimaan mahasiswa melalui dua jalur yaitu reguler dan non reguler. Adanya perbedaan jalur penerimaan mahasiswa baru diduga akan berdampak pada adanya perbedaan kecenderungan lama belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Lama studi merupakan waktu yang dibutuhkan seorang mahasiswa untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Prestasi belajar merupakan hasil belajar mahasiswa yang telah diukur dan dinyatakan dalam bentuk nilai. Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) mengetahui rata-rata lama studi mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang jalur reguler dan non reguler angkatan tahun 2006/2007, (2) mengetahui rata-rata prestasi belajar mata kuliah bidang utama ketekniksipilan yang diungkapkan dengan nilai Kartu Hasil Studi (KHS) mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang jalur reguler dan non reguler angkatan tahun 2006/2007, dan (3) mengetahui apakah masa studi mahasiswa regular lebih pendek dari pada masa studi mahasiswa non-reguler, (4) mengetahui tinggi prestasi belajar mata kuliah bidang utama ketekniksipilan mahasiswa regular dibanding dengan mahasiswa non-reguler. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan studi komparatif dengan rancangan ex post facto, sedangkan untuk pengumpulan datanya menggunakan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan angkatan 2006/2007, dengan sampel yang berjumlah 40 mahasiswa. Untuk analisis data digunakan uji t dua sampel (indepent sampel t-test) dengan menggunakan program SPSS 16.00 for windows. Hasil penelitian: Pertama, Ada kencederungan lebih pendek lama studi yang signifikan mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang antara jalur reguler dengan jalur non-reguler. Kedua, Ada kencenderungan lebih tinggi prestasi belajar mata kuliah bidang utama ketekniksipilan yang signifikan mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang antara jalur reguler dengan jalur non-reguler. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi mahasiswa diharapkan lebih meningkatkan motivasi belajar dalam menempuh studi, dan dapat mencapai kelulusan secara optimal, tidak menambah semester, dan dapat lulus tepat waktu. Sehingga ada kenderungan masa studi yang sama cepat dan ada kencenderungan prestasi belajar yang sama tinggi antara mahasiswa reguler dengan mahasiswa

Pengembangan paket IPA terpadu tema energi berbasis kemampuan berfikir kritis untuk siswa SMP/MTs kelas VIII / Fina Mutoharoh

 

Kata kunci: paket IPA terpadu, kemampuan berpikir kritis, tema energi. Pembelajaran IPA Terpadu mencoba memadukan beberapa pokok bahasan dengan menggunakan tema yang relevan dan masih dalam ruang lingkup kajian IPA. Bahan ajar memiliki peranan penting dalam pembelajaran terpadu. Pembelajaran IPA Terpadu diharapkan dapat memungkinkan siswa menemukan konsep serta prinsip secara menyeluruh (holistik), bermakna, dan otentik serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dan pengembangan dengan tujuan untuk mengembangkan dan mengetahui kelayakan paket IPA Terpadu tema energi berbasis kemampuan berpikir kritis untuk siswa SMP/MTs kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan desain penelitian yang memodifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, yaitu (1) studi pendahuluan yang terdiri dari kajian kurikulum dan survei lapangan, (2) perencanaan yang terdiri dari kajian kompetensi dasar yang akan dipadukan, pemilihan/penetapan tema pemersatu, pembuatan matrik/bagan hubungan Kompetensi Dasar dengan tema pemersatu, dan pengembangan isi materi pelajaran, (3) pengembangan draft produk, (4) uji kelayakan, dan (5) revisi draft produk akhir. Penelitian ini menggunakan uji kelayakan (validasi) isi oleh 1 orang dosen Biologi, 1 orang dosen Fisika dan 2 orang guru IPA. Sedangkan uji coba terbatas dilakukan oleh 6 orang siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dengan disertai rubrik. Jenis data penelitian terdiri dari data kuantitatif berupa penilaian dari validator dan data kualitatif berupa komentar dan saran dari validator. Produk akhir penelitian ini adalah paket IPA Terpadu berbasis kemampuan berpikir kritis tema energi yang terdiri dari bahan ajar IPA Terpadu dan panduan guru dalam mengajar IPA Terpadu. Secara keseluruhan produk akhir yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak. Berdasarkan analisis data kualitatif dari validator, terdapat beberapa bagian produk yang harus direvisi. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan pengembangan paket IPA Terpadu tema energi berbasis kemampuan berpikir kritis untuk siswa SMP/MTs kelas VIII.

Grammatical accurary in the promotion media of tourism in Batu-East Java / Mukhamad Bayu Permadi

 

Keywords: Grammatical Accuracy, Promotion Media, Tourism Grammatical Accuracy is the level of accuracy of any products of writings on the basis of grammatical well-formed sentences. This study is aimed at knowing the level of accuracy in the Promotion Media of Tourism in Batu – East Java as well as classifying the grammatical inaccuracy based on the surface strategy taxonomy, linguistic category taxonomy, and miscellaneous mistakes. The research design of this study is descriptive qualitative research. To collect the data, the researcher first chose the sentences containing some grammatical inaccuracy either grammatical errors or mistakes. After finishing collecting the data, the researcher analyzed them using some steps, they are: (1) coding the grammatical inaccuracy based on the surface strategy taxonomy, the lexical category taxonomy and other miscellaneous errors, (2) classifying the data to find out the percentages of the grammatical accuracy, inaccuracy, each type of errors, and (3) discussing and summarizing the findings. The researcher revealed that the level of grammatical accuracy in the brochure was only 58.10% based on 251 out of 432 sentences. Therefore, the grammatical inaccuracy found in this brochure was 41.90%. The writer found out 284 types of errors on 181 error sentences. The writer of the brochure made the highest level of error in surface strategy taxonomy which was 225 errors or 79.23% of the total occurrences. This was divided into omission with 100 errors (35.22%), misinformation with 86 errors (30.28%), addition with 29 errors (10.21%), and misordering with 10 errors (3.52%). The second type of errors which the writer made was error in the linguistic category taxonomy. The writer made 53 errors or 18.66% of the total occurrences. This was divided into semantics with 32 errors (11.27%), discourse/style with 15 errors (5.28%) and spelling with 6 errors (2.11%). The last type was miscellaneous mistakes distributing 6 mistakes or 2.11% of the total occurrences. This was divided into improper punctuation and double typing which occurred 4 mistakes (1.41%) and 2 mistakes (0.70%) respectively. These errors may be caused by the incomplete application of rules, first language interference, translation, and lack of attention. The researcher hopes that the result of this study is able to contribute some inputs in producing a qualified promotion media. Furthermore, this study can give theoretical and practical contributions in the area of teaching and learning process. For future researchers, it is suggested that they are able to conduct the same issue in other fields of study, e.g. culinary, science, etc.

Developing multimedia for descriptive paragraph writing using scaffolding technique / Alfi Susci Dirgantari

 

Keywords: program multimedia, paragraf deskripsi, pembelajaran mandiri, scaffolding. Paragraf deskriptif adalah salah satu jenis paragraf/teks yang pertama kali dikenalkan dan diajarkan kepada siswa kelas tujuh. Belajar tentang cara menulis paragraf deskripsi yang baik sangatlah penting bagi para siswa karena jenis paragraf ini dapat ditemukan di hampir semua jenis teks. Penelitian di lapangan dalam bentuk hasil tulisan paragraf deskripsi siswa menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan dalam menuangkan ideide mereka ke dalam paragraf deskripsi yang baik. Oleh karena itu, untuk membantu para siswa yang membutuhkan bantuan dalam menulis, terutama ketika menulis di luar kegiatan belajar-mengajar di kelas, materi pembelajaran yang dilengkapi dengan instruksi-instruksi untuk membantu para siswa sangatlah diperlukan. Salah satu jenis media belajar yang dapat digunakan adalah program pembelajaran multimedia yang dapat digunakan untuk pembelajaran mandiri dalam menulis paragraf deskripsi. Agar program multimedia ini dapat mendukung siswa dalam pembelajaran mandiri, digunakanlah teknik scaffolding. Teknik scaffolding yang digunakan dalam program ini terdiri dari empat tipe, yaitu procedural, conceptual, strategic, and meta-cognitive scaffoldings. Selain itu, metode Controlled-Guided-Free juga dipakai dalam mengembangkan isi materi produk. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi multimedia pembelajaran mandiri dengan menggunakan teknik scaffolding untuk membantu meningkatkan kemampuan siswa SMP dalam menulis paragraf deskripsi secara mandiri. Jenis data penelitian ini adalah data kualitatif berbentuk komentarkomentar, kritikan, dan saran-saran dari tim ahli pada kegiatan validasi produk dan dari para siswa dalam kegiatan validasi empiris atau tryout. Setelah data dikumpulkan, data tersebut kemudian dipilah menjadi dua bagian: bagian isi dan kualitas. Data tersebut dipaparkan dalam bentuk tabel supaya kegiatan analisis data menjadi lebih mudah. Hasil dari analisis data digunakan sebagai dasar revisi produk. Metode pengembangan dalam penelitian ini adalah ADDIE, yang meripakan singkatan dari Analyse (Menganalisa), Design (Merancang), Develop (Mengembangkan), Implement (Mengimplementasi), and Evaluate (Mengevaluasi). Prosedur pengembangan dalam penelitian pengembangan ini adalah (1) melakukan penelitian awal mengenai kebutuhan siswa (need analysis), (2) menentukan tim partisipasi, (3) membuat kisi-kisi materi, (4) membuat storyboard, (5) menentukan tampilan program multimedia, (6) mengembangkan program multimedia, (7) melakukan validasi yang terdiri dari validasi tim ahli dan validasi empiris, (8) merevisi produk, (9) menyelesaikan produk akhir. Berdasarkan data dari validasi tim ahli dan validasi empiris, pendapat umum yang diberikan kepada produk ini sebagian besar positif. Namun, ada beberapa bagian produk yang membutuhkan revisi lebih lanjut. Pada bagian isi dari produk multimedia, bagian-bagian yang terdapat pada isi seperti tema, kegiatan-kegiatan, cara menyampaikan materi, penjelasan-penjelasan dan pengayaan-pengayaan tertentu perlu direvisi agar produk menjadi lebih baik. Untuk kualitas multimedia, background dan musik juga perlu dipertimbangkan untuk direvisi. Tidak hanya kedua aspek di atas, komponen-komponen dalam latihan pengayaan seperti instruksi, batas waktu pengerjaan, ukuran huruf, dan kunci jawaban juga perlu direvisi. Seperti produk-produk pembelajaran pada umumnya, program multimedia untuk penulisan paragraf deskripsi belum sempurna. Produk ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihan produk berdasarkan data adalah mudah penggunaannya; memiliki ukuran yang relatif kecil (hanya sekitar 43MB); memiliki tampilan menarik dan menggunakan kegiatan-kegiatan interaktif untuk latihan pengayaan; bertujuan untuk mendukung kegiatan pembelajaran mandiri; membuat siswa dapat belajar banyak hal hanya dengan menggunakan satu jenis program saja; langkah-langkah dalam menulis paragraf deskripsi mudah diikuti dan dimengerti; dan program mudah dimodifikasi. Kekurangan-kekurangan produk ini adalah masih belum dapat membuat program latihan yang dapat mendukung kegiatan untuk “critical elaboration of ideas”; masih memerlukan pensil dan kertas untuk pengerjaan unit tertentu; tidak memfasilitasi adanya musik atau video; dan siswa masih mudah untuk melakukan kecurangan dalam pengerjaan latihan.

Using music vedeos to improve in writing narrative texts of the eleventh grades in SMA Negeri 4 Malang / Febriyanti Nurcahyasari

 

Keywords: music videos, writing ability, narrative text, senior high school Writing is considered to be the most difficult macro skill to master. Different from oral communication, writing requires an author’s understanding to write so the text she/he produces could be comprehended on its own. It can be more difficult for EFL learners since they should learn both the language and the way to write a good text. Based on the preliminary study, it was found that in SMA Negeri 4 Malang, the ability of XI Science 2 students in writing narrative texts has not been satisfactory yet since there were only 10 out of 28 students passing Minimum Learning Mastery or Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). It was also revealed that the problems faced by the students not only lied upon the lingustic feature, but also difficulty in generating idea and organizing those ideas to be conveyed in a text. This means that the difficulty of students in writing narrative texts was particularly in the stage of prewriting when the students started to write. In addition, the media provided by the school had not been optimized in the teaching and learning activity. Realizing those problems, the researcher used music videos which were selected to be implemented in the teaching and learning process. The design of the study study was Classroom Action Research conducted in one cycle consisting of four stages. They are planning, implementation, observation, and reflection. The subjects of this study were 28 students of XI Science 2 program in SMA Negeri 4 Malang. In this study, two collaborators were involved to assist the researcher. In addition, there were four research instruments utilized in order to collect the data, consisting of observation checklists, field notes, scoring rubric, and questionnaires. During the teaching and learning process using music videos, the researcher implemented process genre approach in which the teaching and learning writing focuses on the process and purpose of writing based on genre. Four stages of this approach were Building Knowledge of Field (BKoF), Modeling of Text (MoT), Joint Construction of Text (JCoT), Independent Construction of Text (ICoT). During the stage of BkoF, the students discussed the narrative texts given while in the stage of MoT, they received the model of narrative text constructed based on the music video displayed. The students were assigned to compose narrative texts in pairs in the stage of JCoT. Meanwhile, during the stage of ICoT, the students composed another narrative text individually. After the implementation of action which was conducted for four meetings, the study showed successful result both in terms of students’ participation and students’ ability in writing narrative texts. The criteria of success in the present study required at least 82% of students (23 out of 28 students) participated in the teaching and learning process and 75% of students (21 out of 28 students) passed the Minimum Learning Mastery (KKM) required by the school. According to the findings, the percentage of students actively participated during teaching and learning process was 92% (26 out of 28 students). Meanwhile, after the implementation of action, there were also 26 students whose scores passed the KKM . Those findings showed that music videos can be utilized to facilitate students in improving their ability in writing narrative texts. In accordance with the findings of this study, there were some suggestions provided for English teachers, school principals, and future researchers. It was suggested for English teachers to utilize music video as the instructional media to facilitate students in learning writing or the other skills. Before using music videos, the teachers were recommended to carefully select the music videos and adjust them to the students as well as considering the teaching techniques to implement the music videos. For school principals, it was suggested to provide facilities to support the implementation of music videos, such as an LCD screen, an LCD projector, a computer/laptop, and a loud speaker. Meanwhile, for the future researchers who are interested in conducting further studies in the similar field, it was recommended to develop the application of music videos and explore further pertaining to the teaching and learning by using these media.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 |