Prestasi belajar matematika antara metode ceramah dan metode Stad pada pokok bahasan oeprasi aljabar kelas XI SMPN 6 Pamekasan / oleh Mohammad Ali Hariyanto

 

Siswa SMK Negeri 9 Malang masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang menghafal rumus dan susah untuk dipahami. Sehingga ketika menjumpai permasalahan baru mereka tidak tahu bagaimana langkah yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Guru juga belum pernah menggunakan variasi model pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru dan kurang upaya membangkitkan kepekaan siswa dalam menanamkan konsep dalam belajar. Hal tersebut berakibat pada prestasi belajar matematika siswa masih rendah yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata prestasi ranah kognitif siswa yang belum mencapai nilai SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yaitu 68 yang ditetapkan di SMK Negeri 9 Malang dan prosentase siswa yang tuntas belajar belum mencapai 75%. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk melihat prestasi belajar matematika siswa kelas X di SMK Negeri 9 Malang. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Proses pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini dilaksanakan melalui 7 tahap , yaitu kooperatif (penjelasan tujuan pembelajaran (Present golds and set), pengenalan pokok bahasan (Present information) Penjelasan pelaksanaan diskusi dan membentuk kelompok diskusi (Organize students into learning teams)), membaca, diskusi kelompok ahli, laporan kelompok, tes individu, perhargaan kelompok, dan refleksi. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas dari prestasi ranah kognitif pada siklus I adalah 68,95 dan ranah afektif dan psikomotorik mencapai 42,77 dengan kriteria ”Sangat Baik”, sedangkan nilai rata-rata kelas dari prestasi ranah kognitif pada siklus II adalah 78,56 dan ranah afektif dan psikomotorik mencapai43,39 dengan kriteria ”Sangat Baik”. Sedangkan prosentase jumlah siswa yang tuntas belajar ranah kognitif pada siklus I mencapai 53,13% dan pada siklus II mencapai 93,75%. Nilai rata-rata kelas dari prestasi ranah kognitif meningkat sebesar 9,61 dan prosentase jumlah siswa yang tuntas belajar ranah kognitif sebesar 40,62%. Menurut ketuntasan pembelajaran yang telah ditetapkan SMK Negeri 9 Malang yaitu pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil atau tuntas apabila nilai rata-rata kelas dari prestasi ranah kognitif lebih dari atau sama dengan 68 dengan prestasi ranah afektif dan psikomotorik mencapai kriteria “Baik”, prosentase jumlah siswa yang tuntas belajar ranah kognitif mencapai 75%, dan nilai rata-rata kelas dari prestasi ranah kognitif meningkat sehingga dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan Jigsaw berhasil. Dalam penelitian ini langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu pada tahap kooperatif, siswa diberikan penjelasan tujuan pembelajaran, motivasi dan apersepsi dalam kehidupan sehri-hari, kemudian pengenalan pokok bahasan dan penjelasan pelaksanaan pembelajaran serta pembentukan kelompok asal yang heterogen yang beranggotakan 5-6 siswa dengan perbedaan nilai prestasi ranah kognitif sebelumnya. Pada tahap membaca, siswa memperoleh topik-topik ahli permasalahan pada Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk dibaca sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut. Tahap diskusi kelompok ahli, siswa yang telah mendapatkan topik ahli yang sama pada Lembar Kerja Siswa (LKS) bertemu dalam satu kelompok ahli untuk mendiskusikan topik ahli tersebut. Tahap laporan kelompok, siswa ahli kembali ke kelompok asal mereka masing-masing untuk memberikan infomasi dan menjelaskan hasil diskusi dari kelompok ahli kepada anggota kelompok asal. Tahap tes individu, siswa diberikan kuis dengan soal singkat dan tes yang mencakup semua topik permasalahan. Tahap perhargaan kelompok, kelompok asal diberikan penghargaan berdasarkan perolehan jumlah skor tertinggi dari masing-masing kelompok asal. Tahap yang terakhir adalah tahap refleksi, siswa diberi kesempatan pengalaman ketika proses pembelajaran.

Pengembangan bahan ajar kimia materi dan perubahannya berdasarkan pendekatan inkuiri terbimbing untuk siswa kelas X Program Keahlian Teknik Batu dan Beton / Endang Suwarni

 

Kata-kata kunci: bahan ajar kimia, materi dan perubahannya, inkuiri terbimbing Ada tiga masalah mendasar pada pembelajaran kimia di SMK. Pertama, tidak dikaitkannya materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif, sehingga konsep-konsep dasar kimia yang dipelajari siswa cenderung tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pada mata pelajaran produktif. Kedua, pembelajaran kimia cenderung bersifat informatif dan tidak membuat siswa aktif sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Ketiga, tidak tersedianya bahan ajar yang mengkaitkan materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif yang dapat memotivasi siswa untuk belajar kimia secara aktif. Dampak dari masalah-masalah tersebut adalah sulitnya siswa memahami konsep-konsep dasar kimia dengan tepat. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya pencapaian hasil belajar siswa. Permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi apabila tersedia bahan ajar yang memenuhi persyaratan, yaitu materinya berkaitan dengan mata pelajaran produktif dan dapat memotivasi siswa untuk belajar secara aktif. Siswa akan belajar secara aktif apabila mereka menemukan konsep-konsep yang dipelajari dengan bantuan guru. Hal ini dapat dilakukan dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengembangkan bahan ajar kimia SMK yang disusun berdasarkan pendekatan inkuiri terbimbing untuk topik Materi dan Perubahannya yang memiliki keterkaitan dengan mata pelajaran kompetensi kejuruan Program Keahlian Teknik Batu dan Beton, dan (2) mengidentifikasi kelayakan dari bahan ajar yang dikembangkan dan keefektifannya berdasarkan hasil belajar siswa yang meliputi hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, hasil belajar psikomotorik, dan motivasi belajar siswa. Pengembangan bahan ajar kimia dilakukan dengan menggunakan model 4-D Thiagarajan yang terdiri dari 4 langkah, yaitu (1) pendefinisian (define), (2) perancangan (design), (3) pengembangan (develop), dan (4) desiminasi (disseminate). Data penelitian terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa saran perbaikan bahan ajar yang diberikan oleh dosen kimia, guru kimia dan guru teknik bangunan. Data ini dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (KTSP-SMK). Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, hasil belajar psikomotor, dan motivasi belajar siswa. Hasil belajar kognitif siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 30 soal dengan validitas isi 97,4% dan koefisien realibitas, dihitung dengan rumus Kuder-Richardson (K 21), sebesar 0,74. Hasil belajar afektif dan psikomotor dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleh guru kimia dan guru Teknik Batu dan Beton pada saat pembelajaran menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Motivasi belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan angket. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari 3 kegiatan belajar yang tertuang dalam 59 halaman. Hasil validasi ahli menunjukkan kelayakan isi 88,2%, kelayakan penyajian 84,3%, kelayakan bahasa 84,7%, dan kelayakan kegrafikaan 91,1%. Revisi bahan ajar dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh dosen kimia, guru kimia, dan guru teknik bangunan. Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dapat dianggap layak digunakan dalam pembelajaran kimia untuk siswa SMK Kelas X Program Keahlian Teknik Batu dan Beton. Hasil belajar kognitif menunjukkan 80,8 % siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil belajar afektif menunjukkan bahwa 84,9% siswa aktif dan komunikatif dalam penemuan konsep kimia, serta jujur dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas. Hasil belajar psikomotorik menunjukkan bahwa 92,7% siswa mampu melaksanakan langkah-langkah kegiatan laboratorium menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Motivasi siswa dalam belajar kimia cenderung meningkat dengan menggunakkan bahan ajar hasil pengembangan. Berdasarkan hasil-hasil belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar hasil pengembangan adalah efektif untuk digunakan dalam pembelajaran kimia pada siswa SMK Kelas X Program Keahlian Teknik Batu dan Beton. Uji coba tentang kelayakan dan keefektifan bahan ajar yang telah dikembangkan dengan menggunakan sampel yang lebih luas perlu dilakukan untuk diseminasi bahan ajar secara lebih luas.

Pengaruh kadar air terhadap nilai kalor bakar batubara bituminus / oleh Muhsinah Annisa

 

Evaluasi tingkat ranah dan kualitas soal yang dibuat oleh guru SMK PGRI 1 Lamongan / Annisa' Carina

 

Kata kunci: tingkat ranah, kualitas soal, guru Guru sebagai tenaga profesional dibidang pendidikan hendaknya mampu menyusun soal dengan baik sebagai proses evaluasi belajar peserta didiknya. Kemampuan guru dalam membuat soal akan berdampak pada prestasi belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) penyebaran tingkat ranah soal yang dibuat oleh guru SMK PGRI 1 Lamongan, (2) kualitas soal yang dibuat oleh guru SMK PGRI 1 Lamongan. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian deskriptif, dengan data yang diperoleh berupa dokumen soal buatan guru di SMK PGRI 1 Lamongan untuk mata pelajaran program keahlian teknik bangunan dan jawaban peserta didik dari soal tersebut. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: pertama, ranah kognitif soal yang dibuat oleh guru pada tingkatan aspek pemahaman dan tingkatan aspek aplikasi hampir memenuhi kriteria ideal. Tingkatan aspek pengetahuan terlalu banyak dari kriteria ideal. Tingkatan aspek analisis dan tingkatan aspek sintesis terlalu kecil dari kriteria ideal. Sedangkan tingkatan aspek evaluasi tidak tersedia. Kedua, kualitas soal yang dibuat oleh guru menghasilkan validitas soal sangat jelek dan reliabilitas soal tingkat sedang. Indeks kesukaran didominasi soal yang mudah yaitu sebesar 67,19% dan daya beda yang jelek yaitu sebesar 55,84%. Adapun saran yang dapat diberikan diantaranya: (1) guru diharapkan dapat membuat soal sesuai ketentuan yang berlaku sehingga evaluasi melalui penilaian dengan menggunakan tes benar-benar dapat mengukur sejauh mana peserta didik menangkap materi yang telah diajarkan guru, (2) hendaknya pihak jurusan lebih memantapkan perkuliahan terkait penyusunan butir soal, sehingga ketika mahasiswa telah lulus bisa membuat soal dengan kualitas yang baik, (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini bisa dilanjutkan pada populasi yang lebih luas untuk mengetahui kualitas guru dalam menyusun soal secara luas.

Penerapan model inkuiri dengan siklus belajar dalam pembelajaran biologi untuk meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar kognitif siswa kelas XII IPA 3 SMAN 1 Purwosari / oleh Patmawati

 

Pengembangan modul pembelajaran matematika dengan pendekatan PBL pada materi segitiga dan jajarangen jang kelas IV SD / Kenys Fadhilah Zamzam

 

Kata Kunci: pengembangan modul, PBL , segitiga jajargenjang. Pengembangan modul dalam kegiatan pembelajaran dapat memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Penerapan modul juga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Latar belakang penelitian pengembangan ini karena adanya masalah yang dihadapi oleh siswa kelas IV SDN 1 Wonodadi. Mereka merasa kesulitan dalam memahami materi matematika khususnya materi segitiga dan jajargenjang, karena mereka menganggap bahwa proses pembelajaran yang kurang begitu menarik bagi mereka. Oleh karena itu diperlukan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada permasalahan kehidupan nyata yang mendorong berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tujuan penelitian ini adalah mengembangan modul pembelajaran matematika dengan pendekatan PBL pada materi segitiga dan jajargenjang yang valid, praktis, dan efektif serta dilaksanakan di SDN 1 Wonodadi dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 1 Wonodadi. Pengumpulan data dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar validasi, lembar keterlaksanaan modul, lembar observasi aktivitas siswa, angket respon dan tes terhadap siswa. Pengembangan modul matematika dengan pendekatan PBL pada materi segitiga dan jajargenjang memiliki beberapa tahapan sebagai berikut: (1) orientasi siswa pada masalah; (2) mengorganisasikan siswa dalam belajar; (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Hasil penelitian ini menunjukkan modul siswa telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran serta guru matematika. Setelah dilakukan revisi maka diuji cobakan pada siswa kelas IV SDN 1 Wonodadi. Berdasarkan hasil uji coba tingkat keterlaksanaan modul pada tiap pertemuan berada dalam kategori tinggi yaitu pada skor 3.33 sehingga modul yang dikembangkan dikatakan praktis. Sementara untuk indikator aktivitas siswa, berdasarkan perhitungan persentase skor rata-rata diperoleh 89% dimana menunjukkan aktivitas siswa dalam mengerjakan modul sangat aktif. Respon siswa juga menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap modul segitiga dan jajargenjang. Selain itu untuk indikator ketuntasan belajar, berdasarkan hasil perhitungan dari 26 siswa, 21 siswa (84.6%) mendapat nilai minimal 75 dan 4 orang siswa (15.4%) yang mendapat nilai kurang dari 75. Dengan demikian kriteria kepraktisan dan keefektifan modul siswa telah memenuhi apa yang ditetapkan.

Pengaruh perasan daun sambiloto (Andrographis paniculata) terhadap lama waktu kematian mencit (Mus musculus) akibat bisa ular kobra jawa (Naja Sputatrix) / oleh Muhammad Hasanuddin

 

Penerapan model Talking Stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas IV SDB Karangtgondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar / Levy Priambodo

 

Priambodo, Levy. 2013. Penerapan Model Talking Stick Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Kelas IV SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.Sy, S.Pd, M.Pd. (2) Dra. Hj. Murtiningsih, M.Pd. Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, IPS, model Talking Stick     Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di SDN Karanggondang 01 diketahui bahwa siswa kurang begitu semangat saat mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas, hal itu berdampak pada hasil belajar siswa yang rata-rata masih belum tuntas. Kondisi tersebut disebabkan oleh pemilihan model yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model model Talking Stick terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar.     Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada Kemmis dan Mc.Taggart. Langkah-langkahnya yaitu: rencana pelaksanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi, serta rencana perbaikan. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar dengan jumlah 24 orang siswa.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Talking Stick pada mata pelajaran IPS kelas IV mampu meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa kelas IV. Pada siklus 1 persentase aktivitas siswa sebesar 58,5% kemudian meningkat di siklus 2 mencapai 77,6%. Ketuntasan hasil belajar siswa juga meningkat, pada pra tindakan persentase keberhasilan belajar hanya mencapai 46%, kemudian pada siklus 1 persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 58,3%. Pada siklus 2 persentase keberhasilan belajar meningkat menjadi 83,3%.     Pembahasan pada penelitian ini yaitu membahas mengenai aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV. Aktivitas siswa kelas IV mengalami peningkatan secara bertahap, hal ini didukung oleh pemakaian media pembelajaran yang interaktif, dan pengggunaan metode yang bervariasi.Sedangkan hasil belajar siswa kelas IV juga mengalami peningkatan yang sangat baik, hal tersebut dukung oleh pemanfaat media pembelajaran yang baik, serta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.     Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar. Disarankan agar guru kelas IV untuk menggunakan model pembelajaran saat kegiatan belajar-mengajar, dengan tujuan agar aktivitas serta hasil belajar siswa dapat meningkat dengan baik.

Penjadwalan Job Shop statis dengan algoritma Simulated Annealing / oleh Ulfah Istiqomah

 

Pelaksanaan prinsip-prinsip perencanaan dalam pendidikan sistem ganda di SMK Negeri 4 Malang / oleh Syamsul Arifin

 

Pengembangan pedoman praktikum IPA materi sifat-sifat benda untuk siswa kelas IV SDN Saw2ojajar 5 Malang / Stefani Mahesa Jelita

 

Kata Kunci: pengembangan, pedoman praktikum, materi sifat-sifat benda IPA tidak dapat dipisahkan dari praktikum. Salah satu materi penting dalam pembelajaran IPA yang membutuhkan pratikum dalam penguasaan konsepnya adalah materi sifat-sifat benda. Di SDN Sawojajar 5 Malang, guru memang terbiasa mengajak siswa melakukan praktikum pada materi sifat-sifat benda. Namun dalam melakukan praktikum guru tidak menggunakan pedoman praktikum melainkan menggunakan buku cetak IPA. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk mengembangkan Pedoman Praktikum IPA Materi Sifat-Sifat Benda untuk Siswa Kelas IV di SDN Sawojajar 5 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan pedoman praktikum yang layak menurut ahli (dosen), pengguna (guru), dan uji coba (siswa) sehingga pedoman praktikum IPA materi sifat-sifat benda dapat digunakan. Model penelitian yang digunakan merupakan model penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall. Tahap pengembangan hanya dilakukan hingga tahap kelima karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Oleh karena itu validasi dilakukan hanya sebatas pada validasi empiris secara terbatas. Validasi pedoman praktikum dilakukan oleh 2 orang dosen KSDP yang berpengalaman mengajar praktikum IPA, 1 guru kelas IV SD, dan uji coba skala terbatas pada 10 siswa kelas IV SDN Sawojajar 5 Malang. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket dengan skala likert dan rubrik penilaian. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa skor penilaian dari angket dan rubrik penilaian, sedangkan data kualitatif diperoleh dari masukan dari validator. Kedua data tersebut digunakan sebagai dasar untuk merevisi produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis rata-rata dan presentase. Hasil pengembangan berupa pedoman praktikum IPA materi sifat-sifat benda. Hasil validasi oleh ahli (dosen) diperoleh nilai sebesar 3,49 dengan kriteria sangat valid. Hasil validasi oleh pengguna (guru) diperoleh nilai sebesar 3,58 dengan kriteria sangat valid. Hasil uji coba skala terbatas terhadap pedoman praktikum materi sifat-sifat benda oleh siswa diperoleh nilai sebesar 94,93% dengan kriteria sangat valid. Hasil validasi tersebut menunjukkan bahwa pedoman praktikum yang dikembangkan sudah layak menurut ahli (dosen), pengguna (guru), dan uji coba skala terbatas (siswa). Saran dari penelitian ini agar dikembangkan pedoman praktikum dengan memperhatikan aspek-aspek penilaian. Selain itu pedoman praktikum ini agar digunakan siswa untuk menemukan konsep IPA dan meningkatkan keterampilan. Serta pedoman praktikum ini agar diuji coba untuk skala yang lebih luas dan agar dikembangkan untuk seluruh materi pada semester 1 atau semester 2 di jenjang kelas lainnya.

Pengaruh Nilai Ujian Nasional (NUN) SLTP dan motivasi memilih Jurusan terhadap prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Malang / oleh Janatun Naimah

 

Upaya ikhwanul muslimin Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina 1967-1987 / Pujo Ardianto Hidayat

 

Kata Kunci: upaya, Ikhwanul Muslimin, Palestina Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan organisasi Islam terbesar di dunia pada abad ke-20. Organisasi ini didirikan pada tahun 1928 di Isma’iliyah, Mesir oleh Hasan al-Banna. Organisasi ini kemudian dengan cepat menyebar ke berbagai kota di Mesir dan seluruh dunia Arab. IM termasuk salah satu gerakan politik di dunia Arab yang pertama kali memberikan perhatian ketika terjadi gejolak di Palestina akibat jatuhnya Palestina ke tangan Inggris dan migrasi yang dilakukan oleh bangsa Yahudi dari Eropa ke kawasan ini. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan upaya IM Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Penelitian ini memunculkan beberapa permasalahan, yaitu (1) Bagaimana kondisi Palestina sebelum tahun 1967 dan proses masuknya Ikhwanul Muslimin ke daerah tersebut? (2) Bagaimana perjuangan Ikhwanul Muslimin Palestina pada tahun 1967-1987? (3) Mengapa Ikhwanul Muslimin Palestina menarik diri dari arena politik dan militer dan beralih ke bidang sosial dan pendidikan? Penelitian mengenai perjuangan IM Palestina ini mengacu pada penelitian pustaka dengan menggunakan pendekatan sejarah, karena peneliti menganalisis sumber-sumber berupa buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan masalah penelitian. Langkah pertama adalah pemilihan topik, lalu heuristik yaitu mencari serta mengumpulkan sumber data penelitian, kemudian data tersebut peneliti kritik, serta melakukan interpretasi. Setelah langkah tersebut dilakukan, peneliti melakukan penulisan sejarah (historiografi). Ada empat fase perjuangan yang dilakukan oleh IM Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Fase Pertama adalah Mempersiapkan Tiang Penyangga Perjuangan. Fase Kedua adalah Mendirikan Yayasan-yayasan dan Memperluas Gerakan. Fase Ketiga adalah Penyempurnaan Proses Persiapan dan Awal Perubahan Untuk Kembali ke Arah Gerakan Perlawanan. Fase Keempat adalah Perlawanan Terhadap Zionis Israel. Berdasarkan hasil penelitian ini, setidaknya dapat diajukan dua saran. Pertama, hendaknya historiografi atau penelitian tentang IM tidak hanya dipusatkan pada IM yang ada di Mesir, karena masih banyak cabang-cabang IM yang ada di berbagai negara yang layak diangkat sebagai tema penelitian. Kedua, meskipun Palestina adalah negara yang sedang dilanda perang, penelitian tentang Palestina perlu dan harus dapat dilakukan. Hal ini berguna agar para peneliti dan juga masyarakat awam dapat memandang masalah Palestina secara utuh dan mendalam, tidak apatis, pesimis, atau berpandangan negatif terhadap konflikkonflik yang terjadi di Palestina.

Perancangan media komunikasi visual kawasan wisata Goa Selomangleng di Kota Kediri / oleh Imamah Nudyatamma

 

Media komunikasi visual merupakan sarana media promosi yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan produk barang atau jasa kepada masyarakat. Penggunaan media komunikasi visual ini merupakan bagian dalam strategi periklanan. Kawasan wisata Goa selomangleng ini, merupakan suatu kawasan wisata yang menawarkan beberapa pilihan wisata, yaitu wisata Alam, wisata sejarah, wisata air dan taman bermain anak. Kawasan wisata Goa Selomangleng ini, menjadi program dari pemerintah kediri yaitu sebagai wisata unggulan kota Kediri. Dengan adanya program tersebut maka diperlukan media komunikasi visual untuk mengkomunikasikannya. Perancangan ini adalah Perancangan media komunikasi visual sebagai Komunikasi Visual Kawasan wisata Goa Selomangleng untuk dapat meningkatkan dan menjadikan kawasan wisata ini sebagai wisata Unggulan kota Kediri. Dalam penelitian ini dikhususkan pada (1) media komunikasi visual yang sesuai dengan kawasan wisata Goa selomangleng dan (2) proses perancangannya media komunikasi visual yang sesuai dengan kawasan wisata Goa selomangleng. Perancangan ini menggunakan model prosedural yang bersifat deskriptif, yang dilakukan di Kawasan wisata Goa Selomangleng di kota kediri. Metode pengumpulan data (1) wawancara mendalam (2) observasi (3) Studi dokumentasi (4) kuesioner . Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT, Analisis Pasar dan analisis konsumen. Perancangan ini mengahasilkan beberapa media komunikasi visual, yaitu poster, billboard, brosur, umbul-umbul,spanduk, mini banner, stiker, pin, tiket masuk, cover ban, stationery set dan kaos. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media komunikasi visual di di kawasan Wisata Goa Selomangleng di kota Kediri yang sesuai dengan kawasan wisata ini, baik mengenai warna, ilustrasi dan fotografi, tipografi, dan lokasi penempatan media komunikasi visual, sebagai sarana informasi dari pihak kawasan wisata Goa selomangleng ini. Saran yang dapat diajukan adalah: (1) Hasil dari perancangan ini dapat dijadikan masukan dan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Analisis kepribadian tokoh utama dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu tinjuan berdasarkan psikologi analitik C.G. Jung / oleh Nurul Hikmah

 

Penerapan media gambar dengan power point untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Bunulrejo 5 Kota Malang / Kadarno

 

Kata kunci: Media Gambar, Power Point, Aktivitas, Hasil Belajar IPS Berdasarkan pengamatan secara sederhana proses pembelajaran yang dilakukan guru masih secara komunikasi searah, sehinga siswa pasif, keberanian bertanya, menjawab, menyapaikan pendapat dan berdiskusi tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Sehingga hasil belajar belum sesuai dengan KKM yang telah ditentukan sekolah. Salah satu pembelajaran yang bisa diterapkan dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah penerapan media gambar dengan power point dalam pembelajaran IPS. Media power point merupakan media yang bisa menampilkan gambar, tulisan, animasi sesuai aslinya. Proses penilaian diantaranya hasil tes akhir evaluasi dan aktivitas siswa dalam berdiskusi dan mempresentasikan hasil diskusi. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Bunulrejo 5 Kota Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang pelaksanaanya meliputi dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa di kelas V SDN Bunulrejo 5 Kota Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi berupa catatan lapangan dan data hasil belajar dari penilaian aktivitas siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, diskusi kelompok, dan menyampaikan hasil diskusi. Hasil penelitian dengan penerapan media gambar dengan power point di kelas V SDN Bunulrejo 5 menunjukan peningkatan dari aktivitas belajar siswa lebih aktif bertanya, menjawab dan diskusi kelompok. Pada siklus I skor rata-rata yang diperoleh siswa pada aktivitas belajar siswa yang mencapai ketuntasan 60% dengan nilai rata-rata 68.75. sedangkan pada siklus II siswa yang mencapai ketuntasan 77.50% dengan skor rata-rata 76.28. Batas nilai ketuntasan adalah 70 untuk ketuntasan individu sedangkan 80 % untuk ketuntasan klasikal. Dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa juga meningkatkan hasil belajar siswa. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pembelajaran dengan penerapan media gambar dengan power point dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, karena siswa dapat memahami dan menguasai materi keragaman kenampakan alam dan buatan. Dari hasil penelitian ini disarankan guru dalam pembelajaran IPS menggunakan media gambar dengan power point dalam proses pembelajaran. Dilakukan penilaian setiap aktivitas belajar yang dilakukan siswa untuk meningkatkan keaktifan siswa, sedangkan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di kelas guru harus memberi motivasi kepada seluruh siswa.

Analisis tentang proses produksi storyline iklan televisi Colorful Gallery Pacific Paint / oleh Stefani Made Ayu A.K.

 

Kajian pelaksanaan praktik kerja industri pada kompetensi keahlian teknik komputer dan jaringan SMK Negeri 1 Nganjuk / Ragil Tri Astuti

 

Kata kunci: parktik kerja industri, perencanaan, proses, evaluasi Praktik Kerja Industri (prakerin) adalah salah satu pola pendidikan sistem ganda (PSG), yakni pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama–sama antara SMK dengan industri/asosiasi profesi. Prakerin sangat mempengaruhi mutu lulusan pendidikan SMK, jadi dalam pelaksanaanya perlu diperhatikan mulai tahap persiapan, tahap proses pelaksanaan, sampai tahap evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tahap perencanaan, proses, dan evaluasi, serta mengungkapkan hambatan prakerin pada Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Nganjuk. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan meliputi: 1) wawancara; 2) observasi; 3) dokumentasi; dan 4) angket siswa. Sumber data yang dipilih adalah: wakil kepala sekolah bidang humas, ketua kompetensi keahlian TKJ, beberapa pembimbing prakerin di industri, dan siswa. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji dengan trianggulasi sumber. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa tahap prakerin yang dilaksanakan adalah: 1) kegiatan perencanaan, meliputi: a) pembekalan kompetensi siswa; b) pengarahan pengisian perangkat; c) pengiriman siswa ke industri; 2) kegiatan proses, meliputi: a) pelaksanaan kegiatan prakerin di industri selama 2 (dua) bulan; b) pembekalan materi, perkenalan organisasi, dan aturan industri, serta bimbingan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja; c) mencatat kegiatan yang dilaksanakan; d) kegiatan siswa dibimbing pihak industri dan dipantau oleh pihak sekolah dengan melakukan monitoring; 3) kegiatan evaluasi, meliputi: a) penyusunan laporan; b) presentasi. Hambatan yang terjadi: a) proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dilaksanakan dalam waktu yang pendek; b) kurangnya dana; c) hanya ada 3 (tiga) guru produktif, d) penilaian tidak bisa selesai tepat waktu; e) kurangnya etos kerja siswa; f) siswa kesulitan menyesuaikan materi; g) siswa kesulitan melengkapi berbagai perangkat prakerin. Dari hasil yang diperoleh disarankan: 1) pihak sekolah: a) melakukan perencanaan inventarisasi dan penjajagan tempat prakerin; b) meningkatkan kompetensi siswa; c) melakukan koordinasi yang baik dengan pihak industri dan semua pihak dalam sekolah yang terlibat; d) melakukan monitoring secara berkala dan sama rata pada semua industri; e) melaksanakan kegiatan evaluasi dengan maksimal; f) melaksanakan kegiatan evaluasi dengan kriteria penilaian yang telah disusun; 2) pihak industri: a) meningkatkan rasa tanggungjawab membimbing siswa; b) memberikan berbagai pengalaman baru pada siswa; c) melakukan monitoring kegiatan siswa secara berkala; 3) siswa: a) meningkatkan kompetensi; b) bersungguh–sungguh dalam mengerjakan berbagai tugas prakerin agar tidak hanya memperoleh peningkatan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap.

Representasi tanda dalam iklan cetak A Mild versi bukan basa basi yang beredar pada tahun 1989-2005 / oleh Dian Arifatul Faizah

 

Prototype alat lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo / Habib Mahindra

 

Kata Kunci: Prototype, gerak dasar, lempar lembing, lembing paralon. Minimnya sarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut seorang guru pendidikan jasmani untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan sarana yang ada. Seorang guru pendidikan jasmani yang kreatif akan mampu menciptakan sesuatu yang baru, atau memodifikasi yang sudah ada tetapi disajikan dengan cara yang semenarik mungkin, sehingga anak didik akan merasa senang mengikuti pelajaran penjas yang diberikan. Seperti halnya halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan sebagainya yang ada dilingkungan sekolah, sebenarnya dapat direkayasa dan dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani. Berdasarkan observasi dan wawancara pada tanggal 14 Nopember 2012 terhadap guru pendidikan jasmani SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo diperoleh data sebagai berikut:pembelajaran gerak dasar lempar lembing masih belum dilaksanakan dengan baik dikarenakan faktor alat yang kurang memadai untuk pembelajaran tersebut, alat yang digunakan adalah lembing standar sedangkan pada anak usia 9-10 tahun secara fisik belum dapat menggunakan lembing yang standart. Berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan melalui pengisian kuisioner yang diisi oleh 40 siswa kelas IV menunjukkan bahwa 33 siswa kurang antusias terhadap pembelajaran gerak dasar lempar lembing. Salah satu alasan siswa tersebut adalah lembing yang digunakan adalah lembing standar yang terasa sangat berat sehingga siswa sulit untuk mempelajari gerak dasar lempar lembing. Penelitian dan pengambangan ini bertujuan untuk menghasilkan prototype alat lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dalam pengembangan prototype alat lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo ini menggunakan model pengembangan Research & Development (R & D) dari Borg and Gall yang dimodifikasi (1989), yaitu hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang yang dimodifikasi, karena bukan merupakan langkah-langkah baku yang harus diikuti.Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo.

Kritik terhadap lukisan karya Sugiyo dari Tulungagung yang berobjek punakawan periode 2005-2006 / oleh Oktia Dian Susanthi

 

The development of wordless picture books for the teaching of narratives writing for the eleventh graders of SAMAN 1 Pandaan / Desy Dwiana Rahayu

 

Kata Kunci: Wordless Picture Books, narative, menulis. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan Wordless Picture Books untuk memfasilitasi/media pelajaran menulis, terutama teks naratif, seperti fairy tales, fable, mitos, biografi, fiksi ilmiah, fiksi horor, dan cerita anak. Media yang sesuai untuk siswa Sekolah Menengah Atas terutama kelas XI SMAN 1 Pandaan. Media tersebut sebaiknya dapat meningkatkan dan memajukan pembelajaran serta mendukung instruksi guru. Pengembangan media pembelajaran untuk keterampilan menulis dalam bentuk Wordless Picture Books untuk memandu guru Bahasa Inggris dalam pembelajaran yang sesuai untuk memudahkan pelajaran menulis yang sesuai dengan kebutuhan siswa tetapi juga untuk memberi wewenang kepada para guru untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Borg dan Gall. Terdapat satu siklus yang terdiri dari enam langkah, antara lain: identifikasi masalah, tujuan pembelajaran, pengembangan materi, validasi ahli, uji coba, produk akhir. Data dari penelitian ini didapatkan dari kwesener, wawancara, dan observasi. Data yang paling penting untuk pengembangan media ini didapatkan dari validasi ahli. Ahli-ahli yang memvalidasi media adalah ahli dalam pengembangan media dan urusan bidang study, dalam hal ini bidang study Bahasa Inggris. Hasil penelitian data permulaan menunjukkan bahwa siswa memiliki beberapa kesulitan untuk memulai menulis. Siswa dan guru Bahasa Inggris memerlukan media untuk mempermudah pelajaran menulis, karena tidak tersedia media yang disajikan di buku pegangan siswa oleh penerbit. Berdasarkan pada analisa data yang di kumpulkan dari siswa dan guru Bahasa Inggris, beberapa dasar/asas pengembangan media di rumuskan. Antara lain berhubungan dengan media yang menarik, kejelasan media, media yang sesuai, dan kegunaan dan manfaat media. Ahli menyatakan bahwa media ini telah memenuhi kriteria sebagai media yang bagus. Siswa terlihat tertarik untuk menggunakan media dalam pelajaran menulis, mereka terlihat menikmati aktivitas selama pelajaran, dan aktivitas tersebut dapat melibatkan siswa untuk belajar. Produk akhir media di desain secara menarik dengan menyajikan gambar yang menarik minat siswa. Media tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa untuk menuangkan ide-ide mereka menjadi tulisan. Media ini relevan dengan silabus terkini sehingga media yang dikembangkan bisa digunakan sebagai media tambahan untuk membantu pengajaran menulis naratif. Penggunaan media yang terfokus pada keterampilan menulis dapat diintegrasikan dengan keterampilan lain selama proses belajar mengajar.

Perancangan Company Profile Yayasan Persatuan Sepakbola Arema Malang sebagai media komunikasi / oleh Achmad Rizal Taufani

 

Pengaruh penggunaan jurnal belajar dalam pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar dan kemampuan metakognitif siswa pada materi sifat koligatif larutan / Latiful Atfiyah

 

Kata-kata kunci: jurnal belajar, inkuiri terbimbing, hasil belajar, kemampuan metakognitif Sifat Koligatif Larutan merupakan salah satu pokok bahasan dalam pelajaran kimia SMA kelas XII IPA yang meliputi penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik. Selama ini pembelajaran sifat koligatif larutan cenderung ditekankan pada aspek matematis dan siswa cenderung menghafalkan rumus-rumus yang ada kemudian menerapkannya dalam penyelesaian soal-soal. Hal ini menyebabkan siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal konseptual. Pembelajaran sifat koligatif larutan seharusnya dilakukan agar siswa mampu memahami konsep secara tepat dan tidak sekedar menghafalkan rumus. Hal ini tampaknya bisa dilakukan dengan cara siswa menemukan sendiri konsep-konsep baru. Salah satu pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri konsep-konsep adalah pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu: (1) eksplorasi, (2) penemuan, dan (3) aplikasi konsep. Pembelajaran ini dapat dipadu dengan jurnal belajar yang dapat membantu siswa untuk menemukan dan memahami konsep baru serta membantu siswa untuk mengontrol pembelajaran yang dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan: (1) apakah hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, (2) apakah kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar lebih tinggi daripada kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, dan (3) apakah hasil belajar siswa dengan kemampuan metakognitif tinggi lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa dengan kemampuan metakognitif rendah? Penelitian ini menggunakan posttest only control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo pada tahun ajaran 2012 – 2013 yang terdiri dari dua kelas homogen. Satu kelas, yang terdiri dari 33 siswa, dilibatkan dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar, sedangkan kelas yang lain, yang terdiri dari 34 siswa, dilibatkan dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar. Data penelitian adalah skor hasil belajar dan skor kemampuan metakognitif. Hasil belajar diukur dengan dengan tes pilihan ganda yang terdiri dari 35 butir soal dengan validitas isi 94,0% dan koefisien reliabilitas, diukur dengan persamaan Alpha Cronbach, sebesar 0,71. Kemampuan metakognitif diukur dengan instrumen inventori kemampuan metakognitif yang terdiri dari 52 butir pertanyaan dengan validitas isi 92,7% dan koefisien reliabilitas, diukur dengan persamaan Alpha Cronbach, sebesar 0,72. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik uji-t. Hasil-hasil penelitian adalah: (1) hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar adalah lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, (2) kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar adalah lebih tinggi dibandingkan kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, dan (3) hasil belajar siswa dengan kemampuan metakognitif tinggi adalah lebih tinggi dibandingkan hasi belajar siswa dengan kemampuan metakognitif rendah

Analisis selisih biaya untuk pengendalian biaya produksi pada PT. Rothmans of Pall Mall Indonesia - Malang / oleh Marlia Rosita Hanoum

 

Hubungan kecerdasan intelektual terhadap kecerdasan emosional pada guru SMPN 1 Malang dan SMPN 3 Malang / Inna Purnamasari

 

Kata Kunci: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional Sumber Daya Manusia yang berkualitas dapat dilihat dari tingkat kecerdasan. Adapun kecerdasan yang harus dimiliki adalah kecerdasan intelektual yang bagus. Kecerdasan intelektual adalah persepsi responden dalam kemampuan berpikir secara bermakna untuk memecahkan suatu masalah melalui tindakan yang terarah. Seiring dengan perkembangan jaman, muncul kecerdasan lain sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional adalah persepsi responden dalam kemampuan mengatur emosinya melalui ketrampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial. Penelitian ini diadakan di SMPN 1 Malang dan SMPN 3 Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang: (1) kondisi kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional pada guru di SMPN 1 Malang dan SMPN 3 Malang, dan (2) hubungan kecerdasan intelektual terhadap kecerdasan emosional pada guru SMPN 1 Malang dan SMPN 3 Malang. Populasi penelitian ini adalah sebesar 102 guru yang kemudian diambil sampel sebesar 50 guru. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel random. Data ini diambil dari hasil kuesioner yang telah di undi. Hasil penghitungan dari penelitian ini diperoleh dengan menggunakan dua metode analisis data, yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 (0,000 ≤ 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti bahwa kecerdasan intektual berhubungan positif secara signifikan terhadap kecerdasan emosional. Terdapat dua kesimpulan utama yang dapat ditarik dalam penelitian ini yaitu 1) berdasarkan analisis deskripstif kondisi kecerdasan intelektual dan emosional pada guru di SMPN 1 Malang dan SMPN 3 Malang berada pada tingkat cerdas, dan 2) hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan intektual dengan kecerdasan emosional. Saran dalam penilitian ini bagi guru SMPN 1 dan SMPN 3 Malang diharapkan bisa meningkatkan aspek kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional yang masih dianggap kurang. Peneliti mengharapkan untuk peneliti selanjutnya hendaknya mampu menggali lebih dalam terkait hubungan dengan aspek kecerdasan lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini, yakni kecerdasan spiritual. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan mampu mengaitkan variabel kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual dengan variabel-variabel yang lain.

Penerapan model pembelajaran example non example untuk meningkatkan penguasaan konsep perkembangan teknologi siswa kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar / Caesar Aan Anggraini

 

Kata kunci: model pembelajaran Example Non Example, penguasaan konsep, IPS Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar pada saat pembelajaran IPS menunjukkan bahwa penguasaan konsep siswa terhadap materi masih rendah. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa hanya ada 6 siswa (30%) yang mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditentukan yaitu 70,00, sedangkan 14 siswa (70%) belum tuntas belajar. Dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif dan kurang bersemangat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model pembelajaran Example Non Example pada pembelajaran IPS dan (2) penguasaan konsep siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Example Non Example. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar sebanyak 20 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan model pembelajaran Example Non Example, lembar observasi aktivitas siswa, lembar wawancara dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I tingkat penguasaan konsep siswa terhadap materi masih kurang. Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok juga sangat kurang. Beberapa siswa terlihat bermain sendiri pada saat kegiatan diskusi. Nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 66,35. Pada siklus II penguasaan konsep siswa mengalami peningkatan dan mencapai ketuntasan klasikal sebesar 80% pada pertemuan 1 dan 85% pada pertemuan 2. Pada saat diskusi kelompok, siswa terlihat aktif dalam kegiatan diskusi. Selain itu, siswa sudah mulai berani mengemukakan pendapatnya. Nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,5 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Example Non Example dapat meningkatkan penguasaan konsep perkembangan teknologi siswa kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar. Melalui penelitian ini disarankan hendaknya pembentukan kelompok dilakukan di luar jam pelajaran karena memakan waktu yang cukup lama. Guru hendaknya membagi kelompok secara heterogen agar kegiatan pembelajaran lebih optimal. Agar pada saat diskusi kelompok siswa terlibat secara aktif, guru hendaknya membimbing siswa dalam melakukan diskusi kelompok.

Pengaruh Brand Image (citra merek) terhadap keputusan konsumen dalam membeli pelembab Pond's White Beauty : studi kasus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / oleh Luluk Fitrianing Tyas

 

Permasalahan yang melatari penelitian ini adalah bahwa tidak semua kala pada masa Siŋhasāri memiliki ciri khusus yang sama. Selain itu dimungkinkan adanya gaya tersendiri pada kala masa Siŋhasāri ini seperti halnya arca dan bangunan percandiannya yang juga memiliki gaya tersendiri yakni gaya Siŋhasāri. Masalah yang diteliti bertalian dengan, (A) perian gaya kala pada candi-candi masa Siŋhasāri, terkait dengan ciri-ciri umum dan khusus kala pada bangunan percandian masa Siŋhasāri, (B) perbandingan penggambaran gaya kala pada beberapa situs Hindu-Budha masa Siŋhasāri, dan (C) perkembangan penggambaran gaya kala pada situs Hindu-Budha masa Siŋhasāri. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji gaya kala pada situs Hindu-Budha masa Siŋhasāri adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif berusaha mengungkapkan perian gaya kala secara menyeluruh dan sesuai dengan konteks yang menghasilkan data deskriptif. Penelitian ini bersifat analitis yang memerlukan observasi untuk pengumpulan data dan komparasi untuk analisis data. Objek terteliti keseluruhan adalah kala pada situs Hindu-Budha masa Siŋhasāri sesuai dengan lingkup area penelitian. Metode observasi digunakan untuk jenis penelitian deskriptif-arkeologi ini. Hasil penelitian ini meliputi beberapa hal sebagai berikut. Pertama, ciri-ciri umum pada kala terteliti yang muncul secara konsisten dan dapat digunakan sebagai penanda dari kala masa Siŋhasāri. Ciri-ciri khusus kala tampak pada detail perwajahannya yang berbeda-beda. Kedua, perbandingan gaya kala pada beberapa situs Hindu-Budha masa Siŋhasāri menampakkan jumlah yang bervariasi dan membuktikan adanya kekhasan yang dimiliki oleh masing-masing kala pada tiap situs Hindu-Budha masa Siŋhasāri. Ketiga, melalui perbandingan gaya kala seperti yang sudah diuraikan sebelumnya menampakkan adanya suatu perkembangan gaya seni pemahatan kala pada masa Siŋhasāri. Berdasar hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut berkenaan dengan bidang ilmu Sejarah Kesenian. Penelitian lebih lanjut mengenai perkembangan gaya khususnya ragam hias kala dapat dilanjutkan pada situs-situs lainnya yang tersebar di Indonesia.

Meningkatkan efektivitas pembeajaran tolak peluru gaya membelakangi dengan pendekatan bermain dan berlomba siswa kelas VIII C di SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar / Dwi Catur Andy Saputro

 

Kata Kunci: efektivitas pembelajaran, gaya membelakangi, bermain, berlomba Olahraga atletik diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMA/MA. Tolak peluru gaya membelakangi adalah salah satu nomer lempar dari cabang atletik. Melalui pembelajaran tolak peluru gaya membelakangi, diharapkan siswa lebih senang, aktif, paham terhadap materi dan terampil dalam penguasaan. Berdasarkan observasi awal, diketahui bahwa efektivitas pembelajaran tolak peluru gaya membelakangi di SMP Negeri 1 Wlingi masih kurang optimal. Siswa masih banyak yang tidak senang, tidak memperhatikan dan tidak aktif di dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan efektivitas pembelajaran tolak peluru setelah melakukan bermain dan berlomba. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, lembar observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran tolak peluru gaya membelakangi dengan pendekatan bermain dan berlomba. Melalui bermain dan berlomba ini, siswa melakukan tolak peluru sambil bermain dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting mengingat tidak semua siswa menyenangi olahraga tolak peluru. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 3 siklus. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan melakukan teknik tolak peluru gaya membelakangi siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Wlingi mengalami peningkatan. Hasil tindakan siklus 1 dari penguasaan gerak dalam pembelajaran sebesar 55,58%, 2) keaktifan dalam pembelajaran sebesar 46,32%, 3) orientasi belajar dari pada bermain sebesar 47,58%, 4) senang/enjoy dalam pembelajaran sebesar 50,73%, 5) pemahaman materi dalam pembelajaran sebesar 67,64%. Hasil tindakan siklus 2 dari penguasaan gerak dalam pembelajaran sebesar 74,26%, 2) keaktifan dalam pembelajaran sebesar 67,64%, 3) orientasi belajar dari pada bermain sebesar 63,97%, 4) senang/enjoy dalam pembelajaran sebesar 67,64%, 5) pemahaman materi dalam pembelajaran sebesar 88,23%. Hasil tindakan siklus 3 dari penguasaan gerak dalam pembelajaran sebesar 85,29%, 2) keaktifan dalam pembelajaran sebesar 84,55%, 3) orientasi belajar dari pada bermain sebesar 82,37%, 4) senang dalam pembelajaran sebesar 87,5%, 5) pemahaman materi dalam pembelajaran sebesar 100%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tolak peluru gaya membelakangi dengan pendekatan bermain dan berlomba dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran siswa kelas VIII C SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar.

Pengaruh perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan terhadap rentabilitas perusahaan tekstil dan garment yang listing di BEJ tahun 2003-2005 / oleh Nofa Kurniawati

 

Perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan merupakan bagian dari aktiva lancar yang berpengaruh terhadap rentabilitas terutama rentabilitas ekonomi. Naiknya rentabilitas ekonomi perusahaan secara otomatis akan menaikkan rentabilitas modal sendiri perusahaan yang bersangkutan. Adapun tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui pengaruh perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan secara signifikan terhadap rentabilitas pada Perusahaan Tekstil dan Garmen yang listing di BEJ baik secara parsial maupun secara simultan. Instrumen penelitian yang digunakan berupa dokumentasi laporan keuangan masing-masing perusahaan yang diperoleh dari pojok BEJ Universitas Brawijaya Malang. Sedangkan indikator yang digunakan adalah perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan sebagai variabel bebas dan rentabilitas ekonomi sebagai variabel terikatnya. Rumusan hipotesis penelitian adalah ada pengaruh yang signifikan antara perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan terhadap rentabilitas baik secara parsial maupun simultan. Berdasarkan hipotesis penelitian tersebut dan sesuai rancangan penelitian yang dibuat, maka dilakukan pengujian hipotesis. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis linier beganda dengan bantuan program komputer SPSS for Windows 11.0. Berdasarkan perhitungan pada tiga elemen aktiva lancar tersebut diketahui bahwa : 1) rata—rata perputaran kas mulai tahun 2003—2005 sebesar 61.69 kali. Hal ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan modalnya yang tertanam dalam kas secara efektif dan efisien sebab berada diatas rata-rata industri yaitu sebesar 20.21 kali. 2) rata—rata perputaran piutang mulai tahun 2003 sampai dengan 2005 sebesar 7.98 kali. Hal ini menggambarkan ketidakmampuan perusahaan dalam menggunakan modalnya yang tertanam dalam piutang secara efektif dan efisien sebab berada di bawah rata—rata industri yaitu sebesar 10.4 kali. 3) rata—rata perputaran persediaan mulai tahun 2003 sampai dengan 2005 sebesar 1.49 kali. Hal ini menggambarkan ketidakmampuan perusahaan dalam menggunakan modalnya yang tertanam dalam persediaan secara efektif dan efisien sebab berada dibawah rata-rata industri yaitu sebesar 4.00 kali. 4) rata—rata rentabilitas ekonomi perusahaan mulai tahun 2003 sampai dengan 2005 sebesar 39%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata rentabilitas ekonomi perusahaan sampel selama tiga tahun adalah baik. Sebab berada diatas rata-rata industri yaitu 17.2%. Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa : 1) perputaran kas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas yang dapat dilihat dari taraf signifikan sebesar 0.020 berada di bawah taraf signifikan yang ditolerir yaitu sebesar 0.05. 2) perputaran piutang juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas yang dapat dilihat dari taraf signifikan sebesar 0.013 berada di bawah taraf signifikan yang ditolerir yaitu sebesar 0.05. 3) perputaran persediaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas yang dapat dilihat dari taraf signifikan sebesar 0.023 berada di bawah taraf signifikan yang ditolerir yaitu sebesar 0.05. 4) perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikansi sebesar 0.000 berada dibawah taraf signifikansi yang ditolerir yaitu sebesar 0.05 Akhirnya disarankan bagi perusahaan untuk meningkatkan lagi perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaanya guna mencapai laba/tingkat rentabilitas semaksimal mungkin. Adapun cara yang dapat diambil adalah dengan menekan biaya-biaya yang tidak menambah nilai bagi perusahaan seminimal mungkin, meningkatkan jumlah produk yang dijual dan pemberian potongan tunai kepada para pelanggan dengan tujuan agar pelanggan lebih bergairah lagi. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya disarankan menambah variabelnya supaya diperoleh hasil yang lebih variatif.

Perencanaan modifikasi sistem pengapian konvensional menjadi capacitor discharge ignition (CDI) pada Toyota Kijang 4K
oleh Hamzah

 

Penerapan algoritma hierarcial chinese postman problem untuk memperoleh tour euler minimal / Nur Shofiyati

 

Kata Kunci: Algoritma Hierarcial Chinese Postman Problem, Matching Minimum Sempurna, Lintasan Terpendek Teori graph merupakan salah satu kajian yang ada dalam matematika. Graph digunakan untuk menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari. Dengan cara memodelkan masalah yang ada dalam bentuk graph akan lebih mudah dianalisa. Penerapan Graph dalam kehidupan sehari – hari diantaranya adalah menentukan jarak tempuh minimum dari tukang pos yang melewati semua jalan yang ada dan kembali ke tempat semula, yang dikenal dengan Hierarcial Chinese Postman Problem (HCPP). HCPP adalah masalah jarak tempuh minimal tukang pos dengan terdapat beberapa sisi yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Pada skripsi ini dibahas penerapan algoritma Hierarcial Chinese Postman Problem untuk memperoleh tour minimal. Graph awal yang diberikan berupa graph sederhana dengan bobot bisa berupa jarak atau waktu, beberapa sisi dapat digolongkan dalam prioritas-prioritas. Kemudian graph tersebut ditransformasi menjadi graph dan ditentukan minimum perfect matching pada titik berderajat ganjil untuk mengisi bobot sisi-sisi graph , ditentukan lintasan terpendek pada . Dan akhirnya ditentukan hubungan sisi graph pada lintasan terpendek dengan graph . Misalkan diketahui pada graph dengan 6 titik, yaitu , , , d, , dan . dimana terdapat sisi , , , , , , , , , . Dengan order linier , , dan Maka dengan menerapkan algortima HCPP diperoleh tour minimal dengan total bobot 67 melalui .

Identifikasi prinsip-rpinsip perancangan visual pada media komunikasi visual Universitas Negeri Malang (Printed Media) / oleh Aditya Permadi

 

Pengaruh kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa terhadap prestasi belajar mata p[elajaran akuntansi siswa jurusan IPS SMA Negeri 5 Malang / Arif Effendy

 

Kata Kunci : Kecerdasan intelektual, Kecerdasan emosional, Kecerdasan spiritual, Prestasi belajar mata pelajaran akuntansi Perkembangan ilmu pendidikan saat ini telah memberikan banyak kontribusi yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan indonesia. Terutama hal-hal yang bertujuan untuk membuat siswa tidak hanya berhasil di sekolah saja namun juga mendidik siswa agar menjadi orang yang berhasil ketika mereka bekerja. Salah satu kontribusi ilmu tentang pendidikan itu antara lain teori tentang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan tersebut secara bersama-sama mampu meningkatkan prestasi seorang siswa baik ketika siswa tersebut di sekolah maupun ketika siswa tersebut telah terjun ke masyarakat maupun dunia kerja. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang bertujuan untuk menguji hubungan antar variabel. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 5 Malang dengan populasi seluruh siswa ilmu sosial SMAN 5 Malang dengan jumlah siswa 187 siswa dan sampel yang digunakan adalah seluruh kelas XI dengan asumsi bahwa tingkatan awal siswa dalam mengenal pelajaran akuntansi adalah sama dengan nol. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kecerdasan inteletual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual baik secara parsial maupun secara simultan berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi siswa ilmu sosial SMAN 5 Malang. Secara parsial dapat diketahui dari uji t bahwa secara berurutan mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdsan emosional dan kecerdasan spiritual memiliki nilai Thitung > Ttabel (2.486 >1.986), Thitung > Ttabel (5,099>1,986), dan Thitung > Ttabel (2,300 > 1,986). Sedangkan secara simultan dapat diketahui dari nilai nilai Fhitung > Ftabel (20,027 > 2.71). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa ketiga variabel baik secara simultan maupun parsial ternyata berpengaruh terhadap prestasi belajar akuntansi. Saran Bagi sekolah diharapkan agar memperhatikan fasilitas-fasilitas pendukung seperti ruang labolatorium, ruang perpustakaan, buku-buku perpustakaan, dan sarana-sarana lain dalam proses belajar-mengajar disekolah. Sedangkan bagi guru khususnya pada pelajaran akuntansi diharapkan agar tetap memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Bimbingan-bimbingan baik akademis maupun psikologis siswa sangat membantu dalam proses siswa mencapai prestasi. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk melihat faktor EQ dan SQ diharapkan agar meneliti hasil-hasil lain selain dari segi kognitif siswa karena penilaian EQ dan juga SQ tidak cukup jika dibandingkan hanya dengan nilai dari segi kognitif.

Pengaruh gaya belajar (Learning style) dan fasilitas belajar siswa terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Kepanjen / Yoga Pramono Putro

 

Kata Kunci: gaya belajar (learning style), fasilitas belajar siswa, dan prestasi belajar. Gaya belajar (learning style) merupakan kombinasi bagaimana seorang siswa menyerap, menerima, mengatur, dan mengolah informasi (pesan pembelajaran) yang diterimanya. Gaya belajar menurut modalitasnya terdiri dari gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik, setiap siswa mampu belajar secara cukup efektif dengan cara visual, auditorial dan kinestetik sehingga tidak membutuhkan perhatian khusus dalam belajar, dan ada Pula beberapa siswa lebih menonjol menggunakan salah satu gaya belajar dari tiga tipe gaya belajar, sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam belajar. Siswa yang mengetahui gaya belajarnya, maka akan mempermudah siswa tersebut dalam menyerap, menerima, mengatur, dan mengolah informasi (pesan pembelajaran), sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Fasilitas belajar yang memadai akan dapat menumbuhkan daya imajinasi siswa untuk berkreasi dan membuat proses pembelajarn akan berjalan dengan lancer, teratur dan nyaman, serta dapat menghadapi perkembangan teknologi. Dengan adanya fasilitas belajar yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa, maka dapat mencari konsep, memunbuhkan, dan meningkatkan kemampuannya serta kecakapan hidup. Tentunya siswa harus memanfaatkan fasilitas belajar yang ada di rumah, sekolah dan masyarakat dengan baik agar dapat membantu meningkatkan hasil belajarnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Populasinya adalah siswa kelas XI IPS SMA Islam Kepanjen yang berjumlah 114, dalam penelitian ini diambil sampel sebanyak 53 siswa, tehnik pengambilan sampel adalah proportional random sampling. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket/kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa gaya belajar mempunyai pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Kepanjen sebesar 21,9%. Hal ini dapat dilihat dari thitung 2,138 lebih besar dari ttabel 2,000. Fasilitas belajar siswa mempunyai pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Kepanjen sebesar 32,5%. Hal ini dapat dilihat dari thitung 3,042 lebih besar dari ttabel 2,000. Secara simultan gaya belajar (learning style) dan fasilitas belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar sebesar 54,5% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai Fhitung 29,975 lebih besar dari Ftabel 1,63.

Perancangan media komunikasi Candi Penataran / oleh Muh. Ariffudin Islam

 

Teknik persuasi belantik dalam tindak bisnis / oleh Muhammad Sholehuddin

 

Penerapan model pembelajaran TAI (Team Accelerated Instruction) untuk meningkatrkan hasil; belajar siswa (Studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas XI APK di SMK Kosgoro 1 Lawang) / Yunita Ratna Artanti

 

Yanti, Dama. 2014. Penerapan Model Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa Membuka Usaha Ritel (studi pada siswa kelas X Jurusan Pemasaran SMK PGRI 3 Blitar). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, M.M. (II) Hj. Madziatul Churiyah S.Pd, M,M. Kata kunci: Aktivitas, Hasil, Model Pembelajaran TAI Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan memperbesar peluang pencapaian keberhasilan belajar siswa. Factor utama adalah intelegensi dan latarbelakang siswa yang beragam. Oleh karena itu guru perlu alternative model pembelajaran untuk mengatasi keberagaman karakteristik siswa tersebut. Alternative yang dapat dilakukan guru yaitu melalui penggunaan model pembelajaran TAI, dengan menggunakan pembelajaran model TAI, siswa akan dikelompokkan kedalam kelompok awal yang dibentuk secara heterogen dengan tujuan agar dapat saling bekerjasama dan bertukar informasi antar siswa yang beragam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pembelajaran kooperatif model TAI terhadap aktivitas dan hasil belajar Membuka Usaha Ritel. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari satu kelas, yaitu siswa kelas X Pemasaran SMK PGRI 3 Blitar. Instrumen penelitian berupa tes yang terdiri dari post-test. Analisis data untuk aktivitas data dihitung dengan membagi skor tiap descriptor dengan total descriptor kemudian dikali 100. Sedangkan untuk menghitung rata-rata dari hasil belajar dengan membagi jumlah nilai keseluruhan dengan jumlah siswa. Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif model TAI dilihat dari tercapainya kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan. Aktivitas siswa pada siklus I, pada pertemuan I sebesar 53,25% sedangkan pertemuan II sebesar 55.69% dalam kategori “Cukup”. Dan aktivitas siswa pada siklus II, pertemuan III sebesar 61.25% sedangkan pertemuan ke IV sebesar 71% dengan taraf keberhasilan “Baik”. Hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran TAI pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh adalah 75,89% dan pada siklus II telah mengalami peningkatan sebasar 4.14% dengan nilai rata-rata 80.03% Saran yang diajukan untuk guru bidang studi Membuka Usaha Ritel adalah menjadikan model TAI sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah untuk mengujicobakan model TAI pada materi berbeda dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi, serta mengkombinasikan dengan media pembelajaran yang lebih variatif sehingga tampak pengaruh yang besar terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari model TAI.

Studi lapangan perbandingan kekuatan bekisting konvensional dengan bekisting sistem peri vario pada pekerjaan konstruksi beton bertulang Proyek Pembangunan Gedung Science Technology Universitas Islam Negeri (UIN) Malang / oleh Henny Daryanti

 

Dewasa ini perkembangan di bidang perekayasaan konstruksi telah berkembang dengan pesat. Telah banyak tercipta hal-hal baru dan penyempurnaan terhadap metode pelaksanaan konstruksi bangunan seperti halnya pada pekerjaan bekisting dimana saat ini telah ada bekisting yang dibuat di pabrik / pabrikasi. Oleh karena itu untuk mendapatkan beton yang kuat, stabil dan berkualitas perlunya pemilihan jenis bekisting yang tepat, kapan kita menggunakan bekisting konvensional dan kapan pula menggunakan bekisting sistem semua itu harus disesuaikan dengan kondisi proyek. Walaupun bekisting adalah konstruksi yang bersifat sementara namun dari segi kekuatan juga perlu diperhitungkan sebab bekisting yang kurang kuat secara tidak langsung juga mempengaruhi hasil beton yang dicetaknya. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan dan pelaksanaan bekisting sistem Peri Vario pada proyek pembangunan gedung science technology Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, yang kemudian dijadikan sebagai bahan pembanding dalam merencanakan bekisting konvensional. Terutama mengenai spesifikasi bahan, peralatan dan kekuatannya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi Dari hasil penelitian bahwa pada dasarnya secara perhitungan/analisis berbedaan kekuatan keduanya tidak terlalu signifikan, sebab bahan dan ukuran yang digunakan umumnya sama sehingga hasil kekuatan yang diperoleh juga tidak jauh berbeda kecuali untuk beberapa bagian saja yang diganti maupun ditambah dengan bahan atau alat yang bersifat pabrikasi seperti pada pelaksanaan bekisting sistem Peri Vario, dan bahan yang dipergunakan tersebut telah memenuhi standart Mmax yang direncanakan, kontrol tegangan (σ) < 75 Kg/cm2 dan kontrol lendutan (ƒ) < ƒˉmax . Oleh karena itu perlunya diperhatikan saat perencanaan awal tentang bagaimana memilih jenis bekisting yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dilapangan yaitu bekisting yang kuat, stabil, praktis, awet dan berkualitas. Berdasarkan studi lapangan ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan efektifitas dan efisiensi pemakaian bekisting konvensional dengan bekisting sistem Peri Vario dengan lebih spesifik lagi, yang nantinya diharapkan bisa memberikan sumbangan ilmu pengetahuan untuk kemajuan dunia konstruksi pada umumnya dan dunia pendidikan pada khususnya.

Pengaruh informasi arus kas dan laba bersih terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) / Galih Prakosa

 

Kata kunci: Laba bersih, Arus kas aktivitas operasi, arus kas aktivitas investasi, arus kas pendanaan, harga saham, Jakarta Islamic Index. Penyebaran pasar modal syariah diseluruh dunia, menunjukkan negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim juga memiliki sistem keuangan dengan basis syariah. Perubahan harga saham dalam pasar modal syariah dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah faktor fundamanental seperti kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan dapat dilihat dari informasi laba bersih dan arus kas yang dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetehui pengaruh antara laba bersih, arus kas aktivitas operasi, arus kas aktivitas investasi, arus kas aktivitas pedanaan terhadap harga saham perusahaan di JII. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di JII selama periode 2010-2011 yang berjumlah 60 perusahaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan sampel berupa laporan keuangan tahunan dan harga saham. Harga saham yang digunakan adalah harga penutupan. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda sebagai alat untuk menganalisis variabel diatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial laba bersih dan arus kas aktivitas operasi berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan di JII. Hal tersebut dikarenakan investor melihat informasi dari laba bersih dan arus kas operasi lebih dijadikan dasar pengambilan keputusan investasi di banding arus kas aktivitas investasi dan arus kas aktivitas pendanaan. Berdasarkan hasil penelitian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu: (1) Nilai koefisien determinasi sebesar 46,1 menunjukkan bahwa informasi laba bersih, informasi arus kas aktivitas operasi, arus kas aktivitas investasi, arus kas aktivitas pendanaan bukan penentu utama harga saham.perusahaan di JII. Bagi penelitian selanjutnya saran yang diberikan adalah (1) peneliti selanjutnya, diharapkan menambah informasi independen seperti inflasi, tingkat suku bunga dan analisis rasio hutang dengan periode penelitian yang lebih panjang Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menambah informasi independen seperti inflasi, tingkat suku bunga dan analisis rasio hutang dengan periode penelitian yang lebih panjang karena informasi laba bersih dan informasi arus kas perusahaan bukan penentu utama harga saham perusahaan di JII, (2) Bagi investor, dalam pengambilan keputusan investasi, memperhatikan informasi dari laba bersih dan arus kas, namun juga memperhatikan informasi (3) Bagi emiten, dalam penerapan strategi agar harga saham sesuai dengan target, agar memperhatikan informasi laba bersih dan arus kas yang dipublikasikan sehinga dapat menarik perhatian investor, namun tidak mengesampingkan faktor lain seperti tingkat suku bunga dan inflasi.

Implementasi pendidikan anti korupsi melalui pendidikan kewarganegaraan di SMPN 8 Malang / Any Setyo Rahayu

 

Kata Kunci: implementasi, pendidikan anti korupsi, pendidikan kewarganegaraan Pendidikan Anti Korupsi adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar-mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti korupsi. Dalam proses tersebut, Pendidikan Anti Korupsi bukan sekedar media bagi transfer pengetahuan (kognitif), namun juga menekankan pada upaya pembentukan karakter (afektif), dan kesadaran moral dalam melakukan perlawanan (psikomotorik), terhadap perilaku korupsi. SMPN 8 Malang merupakan salah satu sekolah yang menerapkan Pendidikan Anti Korupsi melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang implementasi Pendidikan Anti Korupsi melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup: (1) pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus PKn, (2) penyusunan RPP yang memuat Pendidikan Anti Korupsi, (3) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn, (4) kendala-kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui mata pelajaran PKn, dan (5) upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui mata pelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian di SMPN 8 Malang yang terletak di Jl. Arjuno No. 19 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan (orang), peristiwa, dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Prosedur analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa:(1) prosedur pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus PKn adalah: (a) mengidentifikasi SK dan KD yang akan menjadi materi pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi, (b) menambah indikator tentang korupsi pada kolom indikator, (c) menambah materi pokok tentang korupsi pada kolom materi pokok sesuai dengan indikatornya, (d) menyisipkan instrumen yang berkaitan dengan korupsi untuk mengevaluasi Pendidikan Anti Korupsi, dan (e) menambah sumber belajar tentang korupsi, (2) prosedur dalam menyusun RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi adalah: (a) menyisipkan indikator materi Pendidikan Anti Korupsi, (b) menyisipkan materi Pendidikan Anti Korupsi pada tujuan pembelajaran, (c) menguraikan indikator materi Pendidikan Anti Korupsi pada materi pembelajaran, (d) merencanakan pemberian materi Pendidikan Anti Korupsi dalam langkah-langkah pembelajaran, (e) menambahkan sumber belajar, dan (f) menyisipkan instrumen tentang materi Pendidikan Anti Korupsi dalam penilaian pelajaran PKn, (3) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn menggunakan media gambar, artikel, dan media massa serta menggunakan metode ceramah, role playing, tanya jawab, penugasan, dan diskusi kelompok. Untuk mengevaluasi Pendidikan Anti Korupsi mengikuti dengan evaluasi PKn, (4) kendala-kendala dalam pembelajaran PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi terdiri dari dua kendala yaitu kendala internal dan eksternal. Kendala internalnya meliputi: (a) guru mengalami kesulitan dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn karena kekurangtelitian dalam mengidentifikasi SK dan, (b) guru mengalami kesulitan dalam penyusunan silabus dan RPP PKn yang memuat materi Pendidikan Anti Korupsi karena sebelum membuat silabus dan RPP guru harus memikirkan materi Pendidikan Anti Korupsi apa yang dimasukkan dalam silabus dan RPP serta banyaknya komponen yang harus memuat materi Pendidikan Anti Korupsi mulai dari indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar dan evaluasinya, dan (c) guru mengalami kesulitan dalam pembagian waktu pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi karena materi PKn sudah penuh dan alokasi waktu pembelajaran PKn yang sedikit. Sedangkan kendala eksternalnya adalah faktor lingkungan yang melihat korupsi sebagai hal yang biasa atau membudaya sehingga berakibat rusaknya tatanan hidup di Indonesia, dan (5) upaya mengatasi kendala-kendala internal adalah: (a) upaya mengatasi kendala dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi dengan cara sering mempelajari SK dan KD yang menjadi materi pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi serta harus teliti, (b) upaya mengatasi kendala dalam penyusunan silabus dan RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi dengan cara harus teliti dan kreatif agar semua materi bisa tersampaikan dan memiliki banyak referensi, dan (c) upaya mengatasi kendala alokasi waktu yang sedikit dengan cara banyak memberikan tugas dan juga guru harus pandai dalam memilih metode pembelajaran yang bisa menyampaikan seluruh materi baik materi PKn maupun materi Pendidikan Anti Korupsi. Sedangkan upaya mengatasi kendala eksternal karena faktor lingkungan dengan cara selalu memberi nasihat dan memberi contoh kongkrit kepada siswa dengan membiasakan bersikap dan berperilaku anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak menganggap korupsi sebagai hal yang biasa. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan saran-saran: (1) kepada kepala SMPN 8 Malang, sekolah harus lebih memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti seminar maupun pelatihan tentang pembelajaran agar guru memiliki pengetahuan yang luas dan juga segera membuka kantin kejujuran, (2) kepada guru, guru lebih sering mempelajari Pendidikan Anti Korupsi agar mengalami kemudahan dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus maupun RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi. Guru sebaiknya juga harus pandai memanfaatkan waktu secara efektif dengan menggunakan metode pembelajaran yang bisa mencakup semua materi baik materi PKn maupun materi Pendidikan Anti Korupsi, (3) kepada siswa, siswa sebaiknya bisa aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn dan bisa menerapkan hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) kepada bangsa Indonesia, pemerintah sebaiknya mensosialisasikan Pendidikan Anti Korupsi kepada seluruh elemen masyarakat agar tujuan Pendidikan Anti Korupsi bisa terlaksana secara maksimal dan tidak hanya siswa saja yang bersikap dan berperilaku anti korupsi tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Pengaruh Me-Too Product terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk agar-agar : studi pada konsumen Bentar Dipayana Swalayan Blitar / oleh Anny Kusumawati

 

Kemasan merupakan alat pemasaran yang potensial bagi suatu produk. Kemasan yang terancang dengan baik dapat memberikan nilai kenyamanan bagi konsumen dan nilai promosi bagi produsen. Kemasan yang menarik dapat merangsang keputusan pembelian konsumen untuk mencoba menggunakan produk tersebut. Me-too products merupakan suatu konsep yang membuat kemasan mirip dengan kemasan produk pesaing. Konsep ini sering digunakan oleh para pesaing yang berusaha membuat kemiripan dengan produk pemimpin pasar. Hal ini terjadi karena banyaknya perusahaan yang menawarkan produk dengan jenis yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh me-too products yang meliputi warna kemasan, bentuk kemasan, simbol kemasan, logo kemasan, dan ukuran kemasan terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk Agar-Agar pada Bentar Dipayana Swalayan Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan Bentar Dipayana swalayan Blitar dengan jumlah sampel 100 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket tertutup yang telah menyadiakan alternatif-alternatif jawaban. Tehnik pengambilan sampel dengan menggunakan rumus Slovin. Analisis data dilakukan menggunakan bantuan program SPSS for windows release 11.0. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis data regresi berganda maka dapat diketahui hasil penelitian yang menyatakan: (1)Warna kemasan produk Agar-Agar berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian (sig. t = 0,000), (2) Bentuk kemasan produk Agar-Agar berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian (sig. t = 0,020), (3) Simbol kemasan produk Agar-Agar berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian (sig. t = 0,001), (4) Logo kemasan produk Agar-Agar berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian (sig. t = 0,002), (5) Ukuran kemasan produk Agar-Agar berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian (sig. t = 0,001) Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada pengaruh yang signifikan antara warna kemasan (X1), bentuk kemasan (X2), simbol kemasan (X3), logo kemasan (X4) dan ukuran kemasan (X5) secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian konsumen telah terbukti. Saran yang dapat disimpulkan penulis setelah melakukan penelitian ini adalah: (1) Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 variabel me-too products dinyatakan signifikan. Hal ini berarti bahwa konsumen Bentar Dipayana Swalayan loyal terhadap suatu merek tertentu. Oleh karena itu Bentar Dipayana Swalayan harus lebih memperhatikan merek yang mereka jual. (2) Meskipun loyal terhadap merek yang dibeli, hendaknya diperhatikan masa kadaluarsanya dan semua infomasi yang tertera pada kemasan produk yang dibeli.

Penerapan model pembelajaran react disertai dengan penilaian portofolio untuk meningkatkan kemajuan belajar dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang / Annafiyah

 

Kata Kunci : Model pembelajaran REACT, kemajuan belajar, prestasi belajar. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII-C diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran menggunakan metode demonstrasi, ceramah, tanya jawab, dan beberapa latihan soal. Pemberian tugas masih kurang efektif. Pada jam pelajaran guru lebih dominan menggunakan metode ceramah. Metode ceramah dapat memberikan dampak yang negatif karena siswa cenderung pasif, menjadi bosan dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan juga diketahui bahwa penilaian yang dilakukan guru selama ini masih menekankan pada PR dan tes yang diberikan diakhir pokok bahasan tanpa adanya umpan balik dari guru. Dengan metode pembelajaran dan penilaian tersebut, kemajuan belajar serta prestasi belajar yang dicapai siswa belum memuaskan. Hal ini terlihat pada nilai UTS hanya 24 siswa dari 36 siswa yang memenuhi SKBM. Saat dilakukan diskusi, hanya 10 siswa yang aktif sedangkan yang lain hanya berbicara sendiri dan ramai. Salah satu pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif adalah penilaian portofolio dan model pembelajaran REACT yang terdiri dari 5 tahapan yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transfering. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan portofolio dengan menggunakan model pembelajaran REACT dapat meningkatkan kemajuan belajar dan prestasi belajar siswa kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Malang dengan subjek penelitian kelas VIII-C. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah keterlaksanaan pembelajaran REACT, kemajuan belajar dan prestasi belajar. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu portofolio dan pedoman observasi. Ketercapaian pembelajaran REACT, kemajuan belajar dan hasil prestasi belajar siswa dianalisis dengan menggunakan prosentase. Penerapan penilaian portofolio pada pembelajaran REACT dapat meningkatkan kemajuan belajar fisika siswa ditinjau dari LKS, jurnal dan PR siswa. Peningkatan 10,16 untuk LKS sebelum direvisi dan 6,48 setelah direvisi. Sedangkan untuk jurnal belajar, peningkatan untuk jurnal sebelum direvisi adalah 2,63 dan 4,97 setelah direvisi. Kemudian peningkatan untuk nilai rata-rata PR sebelum direvisi adalah 2,53 dan 4,02 setelah direvisi. Peningkatan prestasi belajar siswa dari sebelum tindakan ke Siklus I sebesar 5,6. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 4,4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model pembelajaran REACT dapat meningkatkan prestasi belajar dan kemajuan belajar siswa.

Penerapan prinsip andragoni dalam proses pembelajaran Kejar Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar Kalisari Malang : studi kasus Sanggar Kegiatan Kalisari Kota Malang / oleh Silviana Franela WP

 

Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Luar Sekolah mempunyai kedudukan yang sama dengan pendidikan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Maka Ditjen Diklusepora menyelenggarakan pendidikan lanjutan bagi masyarakat yang telah menyelesaikan pendidikan SLTP atau sederajat, yaitu Kejar Paket C setara SMU. SKB Kalisari adalah Sanggar Kegiatan Belajar yang menyelenggarakan salah satu program kejar paket C (SMA). Dimana dalam penyelenggaraannya banyak diikuti oleh peserta/warga belajar yang belum sempat mengenyam pendidikan SMA atau DO SMA, yang notabene mereka adalah orang dewasa. Pengetahuan yang diberikan pada kelompok belajar sama dengan mata pelajaran di SMA tapi dalam pelaksanaannya tidak seformal persekolahan dan waktu belajar pun fleksibel. Untuk itu perlu pendekatan yang efektif dan efisien. Apalagi yang dibelajarkan adalah orang dewasa (remaja, pra-dewasa dan dewasa) dengan segala karakteristiknya. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan prinsip andragogi dalam proses pembelajaran diterapkan di kejar paket C SKB Kalisari Malang. Dalam hal penerapan andragogi pamong belajar dan pelaksanaan warga belajar tentang proses pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik penggalian data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan mengambil kesimpulan atau verikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa prinsip andragogi sudah cukup diterapkan oleh pamong belajar dalam proses pembelajaran hal ini tampak dalam metode belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran, pemberian motivasi untuk meningkatkan semangat belajar dan dalam pemberian evaluasi hasil belajar sedangkan dari warga belajar sendiri prinsip andragogi keaktifan dalam proses pembelajaran belum nampak dikarenakan adanya hambatan yang dirasakan warga belajar seperti kondisi fisik warga belajar yang mulai menurun akibat padatnya kegiatan lain sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada waktu pembelajaran warga belajar merasa kelelahan. Saran dalam penelitian ini, adalah diharapkan pamong belajar tetap memberikan dukungan semangat belajar yang lebih besar agar prestasi yang warga belajar capai tidak menurun. Saat kegiatan belajar mengajar di kelas, tutor perlu memperhatikan kondisi masing-masing warga belajar termasuk motivasi belajar yang dimiliki. Bagi pengembangan keilmuan PLS diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pengembangan Pendidikan Luar Sekolah di masyarakat, dan sebagai tambahan wawasan pengetahuan dan pengalaman serta sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Bagi peneliti lebih lanjut dapat dijadikan bahan kajian dalam mengadakan penelitian serupa yang ditinjau dari aspek atau dengan pendekatan yang lain.

Pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap loyalitas anggota di Koperasi Primkopad Blitar / oleh Zenty Yussardi

 

Menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat serta dalam menghadapi era globalisasi yang mengandung perubahan cepat dalam segala hal, maka perlulah bagi pelaku bisnis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Untuk itu suatu koperasi yang masuk dalam suatu persaingan hendaknya mampu memberikan kualitas pelayanan yang baik dan bahkan yang paling baik dengan harapan akan dapat meningkatan loyalitas anggota serta dapat menjaring anggota-anggota yang lebih banyak. Koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar sebagai salah satu koperasi pegawai negeri harus mampu menjaga loyalitas anggotanya. Karena loyalitas anggota sangat menentukan kelangsungan dan keberhasilan koperasi. Sebuah koperasi yang berorientasi pada keinginan, permintaan dan kebutuhan nasabah, memiliki potensi besar untuk berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap loyalitas anggota di koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Yang mana dengan rancangan tersebut akan dapat diketahui apakah ada pengaruh antara dimensi kulitas jasa terhadap loyalitas anggota. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna bagi perkembangan dan kemajuan koperasi. Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebas (dimensi kualitas jasa yang terdiri dari lima sub variabel yaitu bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati). Sedangkan variabel terikatnya adalah loyalitas anggota. Populasi penelitian ini adalah seluruh anggota di koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi non partisipatori dan kuesioner tertutup. Teknik pengambilan sampel dengan aksidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 87 responden. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 11.0. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : 1) Ada pengaruh yang signifikan antara bukti langsung (fasilitas fisik) terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar, 2) Ada pengaruh yang signifikan antara keandalan terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar, 3) Ada pengaruh yang signifikan antara daya tanggap terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar, 4) Ada pengaruh yang signifikan antara jaminan terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar, 5) Ada pengaruh yang signifikan antara empati terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar. Empati merupakan salah satu dimensi kualitas jasa yang mempunyai pengaruh yang dominan terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar, 6) Ada pengaruh yang signifikan antara bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, empati secara simultan terhadap loyalitas anggota koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan ke koperasi adalah : 1) Kualitas jasa yang telah disajikan kepada anggota hendaknya terus dijaga dan ditingkatkan,agar loyalitas anggota terhadap jasa semakin meningkat, 2) Melakukan perbaikan atas fasilitas fisik atau bukti langsung yang telah ada, agar para anggota lebih terkesan untuk melakukan transaksi di koperasi PRIMKOPAD Kodim 0808 Blitar, 3) Perlu adanya pengembangan SDM untuk para karyawan, agar SDM yang ada lebih potensial dalam menghadapi persaingan dan tantangan jaman yang selalu berubah, 4) Perlu membentuk suatu sistem informasi anggota dalam suatu koperasi data agar upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan anggota mudah tercapai.

Profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan fisika dasar di Universitas Jember / Yanuar Primajaya

 

Kata kunci : Sikap Ilmiah, Prestasi Belajar, Fisika Dasar Mata kuliah Fisika Dasar merupakan landasan untuk memahami mata kuliah selanjutnya. Narendra (dalam Rachmawati, 2003) pembelajaran fisika yang hanya menekankan aspek produk dan kurang memperhatikan proses kurang menumbuhkan sikap ilmiah mahasiswa. Perwujudan awal dari sikap ilmiah ditunjukkan oleh keinginan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan melalui pengamatan langsung, melakukan percobaan, menguji suatu hipotesis. Mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah yang baik akan selalu terdorong untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Oleh sebab itu perlu diketahui profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan Fisika Dasar di Universitas Jember. Subyek pada penelitian ini adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika offering A dan offering B yang berjumlah 100 mahasiswa. Variabel penelitian yang diamati adalah perkuliahan Fisika Dasar, sikap ilmiah, prestasi belajar, dan kesulitan-kesulitan yang dialami mahasiswa dalam perkuliahan Fisika Dasar. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi perkuliahan Fisika Dasar, tes prestasi belajar, lembar wawancara, dan inventori sikap ilmiah. Didapatkan Cronbach’s Alpha untuk instrumen prestasi belajar sebesar 0,734, sedangkan untuk sikap ilmiah sebesar 0,832 hasil ini dapat dikatakan memiliki reliabel sangat tinggi. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah pengamatan, wawancara, dan tes. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu rata-rata, persentase, dan standar deviasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik perkuliahan Fisika Dasar dapat dikatakan cukup baik, begitu juga sikap ilmiah pada perkuliahan Fisika Dasar dapat dikatakan baik. Akan tetapi sikap ilmiah dan karakteristik perkuliahan yang baik masih belum berdampak positif terhadap prestasi belajar mahasiswa yang masih kurang baik dalam perkuliahan Fisika Dasar. Hasil prestasi belajar terendah berada pada topik gelombang. Hasil ini sejalan dengan hasil wawancara dengan 2 dosen yang menyatakan sekitar 40%-60% mahasiswa masih mengalami kesulitan. Sepuluh mahasiswa (100%) menyatakan mengalami kesulitan dalam perkuliahan Fisika Dasar. Dosen telah memberikan bantuan berupa tugas yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Langkah yang dilakukan dosen untuk mengatasi kesulitan yang dialami mahasiswa dengan cara mengubah strategi pembelajaran, yaitu dengan cara memperdalam materi secara kontekstual.

Penerapan model Project Based Learning (PjBL) one man one tree untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa guna mendukung sekolah adiwiyata di SMAN 1 Torjun kelas XI-6 / Risnani

 

Risnani. 2016. Penerapan Model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree untuk Meningkatkan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa Guna Mendukung Sekolah Adiwiyata di SMAN I Torjun Kelas XI-6. Tesis. Program Studi Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., (II) Drs. I Komang Astina, M.S., Ph.D. Kata Kunci: Project Based Learning, One Man One Tree, Pengetahuan, Sikap, Perilaku Berdasarkan hasil observasi kelas di XI-6 SMAN I Torjun tentang pengetahuan, perilaku dan sikap terhadap lingkungan masih rendah. Kegiatan pembelajaran selama ini belum melibatkan siswa sehingga kurang memunculkan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa tentang kesadaran terhadap lingkungan. Berdasarkan latar belakang tersebut perlu ada model pembelajaran yang mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa. Salah satu alternatif pemecahan masalah yaitu dengan penerapan model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree. Penelitian lain mengungkapkan bahwa model ini mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa terhadap lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kolaboratif dengan melibatkan guru dan peneliti. PTK dilaksanakan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Peneliti bertindak sebagai perencana tindakan, guru pengajar, pengamat data dan sebagai pelapor penelitian. Data penelitian dikumpulkan dari instrumen tes pengetahuan, skala sikap, manifestasi perilaku, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran guru dan siswa, lembar penilaian antar siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI-6 SMAN I Torjun tahun ajaran 2015/2016, berjumlah 22 siswa (4 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis dengan menggunakan gain score termonalisasi siklus I diperoleh skor postes pengetahuan sebesar 69,8 dengan gain score 0,6 tergolong sedang. Skor skala sikap sebesar 86 dengan gain score 0,8 tergolong tinggi. Skor manifestasi perilaku sebesar 69 dengan gain score 0,6 tergolong sedang. Siklus II diperoleh skor postes pengetahuan sebesar 88,1 dengan gain score 0,8 tergolong tinggi. Skor skala sikap sebesar 93,2 dengan gain score 0,9 tergolong tinggi. Skor manifestasi perilaku sebesar 90,4 dengan gain score 0,9 tergolong tinggi. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku setelah pembelajaran dengan model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree. Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa kelas XI-6 di SMAN I Torjun. Disarankan model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran. Perlu dilakukan education action research model Project Based Learning (PjBL) One Man One Tree, dalam peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa dalam menjaga lingkungan yang tepat baik di rumah, sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

The implementation of self-correction method in essay writing class / Ratna Wahyuningsih

 

Wahyuningsih, Ratna. 2016. Penerapan Metode Koreksi-Mandiri di Kelas Menulis Essay. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Arwijati Murdibjono, M.Pd, Dip.TESL (2) Drs. Andi Muhtar, M.A. Keywords: Koreksi-mandiri, menulis, persepsi. Dalam proses koreksi konvensional, guru selalu memberikan koreksi terhadap hasil tulisan para siswa karena guru dipandang sebagai seseorang yang berwenang dan juga sumber dari ilmu di kelas. Dalam hal ini, siswa bertindak sebagai penerima pasif dalam sebuah proses koreksi. Telah dipercaya sera luas bahwa siswa-siswa yang pasif tidak memperhatikan feedback yang diberikan oleh guru. Banyak peneliti yang mengusulkan metode evaluasi yang akan melibatkan siswa-siswa agar mereka mendapatkan dampak dari proses pembelajaran, contohnya metode koreksi mandiri. Dengan mempertimbangkan hal ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode koreksi mandiri di kelas menulis. Penelitian ini melibatkan 25 mahasiswa dan seorang dosen jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang. Setelah proses menulis essay, siswa melalui proses koreksi mandiri berdasarkan guideline sheet, di mana mereka harus mengkoreksi essay mereka sendiri secara individu. Seperangkat kuisioner disebarkan kepada siswa setelah penerapan metode koreksi-mandiri untuk mengumpulkan data seputar penerapan metode koreksi mandiri dari sudut pandang siswa. Selanjutnya, wawancara dilakukan dengan dosen pengajar kelas tersebut untuk mendukung data dari kuisioner. Data dari wawancara meliputi data seputar penerapan metode koreksi-mandiri dari sudut pandang pengajar. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa meski hampir semua siswa memiliki pengalaman yang kurang dalam melakukan metode koreksi-mandiri, mereka mempunyai pandangan positif terhadap metode yang memerlukan kemandirian dan tanggungjawab yang besar ini. Menurut mereka, metode ini sangat berguna. Mereka senang bahwa nilai mereka mengalami peningkatan. Bukan hanya itu, akurasi grammar mereka juga meningkat. Mereka juga membuat peningkatan dalam hal organisasi text. Di samping fakta bahwa metode koreksi-mandiri dianggap berguna bagi hampir semua siswa, masih ada seorang siswa yang merasa malas melakukan metode ini. Hal ini kemungkinan dikarenakan siswa terbiasa tergantung dengan feedback yang diberikan oleh guru. Dari hasil penelitian ini, disarankan agar metode ini diterapkan dengan lebih intensif di kelas writing dan juga untuk diteliti lebih mendalam lagi.

Pengaruh faktor eksternal terhadap keputusan pembelian konsumen : studi terhadap produk-produk Distribution Store (Distro) pada Anthem Distro / oleh Deddy Irawan

 

Kaum muda merupakan salah satu elemen masyarakat yang mempunyai respon konsumsi yang cukup tinggi terutama untuk produk-produk yang terkategori sebagai shooping goods, sehingga para pemasar banyak yang menjadikan kaum muda sebagai segmen pasar sasaran dari produk-produk mereka. Dikota-kota besar kemudian mulai muncul Factory Outlet, Butik, dan Departement Store yang menawarkan produk shooping goods. Namun karena tingginya tingkat produksi yang dihasilkan oleh para pemasar untuk suatu produk tertentu menyebabkan banyak kesamaan dari produk yang dihasilkan tersebut sehingga menyebabkan kejenuhan pasar. Hal ini yang kemudian menyebabkan munculnya outlet sajian baru yang dikenal dengan Distribution Store atau Distro. Respon yang antusias dari kawula muda menyebabkan pertumbuhan Distro di kota-kota besar menunjukkan kisaran angka yang cukup tinggi, hal ini disebabkan karena produk yang ditawarkan Distro berbeda. Perbedaan itu adalah produk yang ditawarkan jumlahnya sangat terbatas dalam setiap itemnya sehingga terkesan produk yang eksklusif dan harga yang ditawarkan cukup terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Bagaimana pengaruh budaya terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang, (2) Bagaimana pengaruh kelas sosial terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang, (3) Bagaimana pengaruh kelompok acuan terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang, (4) Bagaimana pengaruh budaya, kelas sosial, dan kelompok acuan secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang,(5) Pengaruh apakah yang paling dominan dalam faktor eksternal terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang. Populasi dari penelitian ini adalah semua orang yang melakukan pembelian pada Anthem distro pada saat penelitian ini berlangsung sehingga sampel yang digunakan peneliti adalah accidental sampling yaitu memberikan kuisioner kepada responden yang secara kebetulan dijumpai peneliti. Untuk analisis data digunakan persentase dan uji-t dengan taraf signifikansi 0,05 (5%), untuk mengetahui perbedaan variabel dengan dibantu komputer Program SPSS 12 for Windows Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor budaya berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang dengan thitung=2,231. Untuk Kelas sosial berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang dengan nilai thitung=3,549. Untuk Kelompok acuan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang dengan nilai thitung=3,678. Dari ketiga faktor tersebut ternyata berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk Distro di Kota Malang dengan nilai Fhitung =24,660. dan untuk faktor yang paling berpengaruh adalah kelompok acuan dengan nilai  = 0,517 dan tingkat signifikansi 0,000 Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan kepada pihak Anthem Distro untuk terus meningkatkan rangsangan pemasaran yaitu melalui marketing mix yang disesuaikan dengan yang diminta konsumen, selain itu sebaiknya terus memantau perkembangan trend yang terjadi dan senantiasa berubah di lingkungan anak muda dan lingkungan indie dan pihak Anthem harus terus menggali potensi-potensi kreativitas indie yang ada dalam berbagai komunitas indie untuk kemudian bekerja sama dalam bentuk penyaluran produk serta melakukan paten terhadap merk demi terjaga keaslian produk

Pengembangan modul bercirikan work-based learning untuk meningkatkan prestasi siswa SMK pada materi matematika keuangan / Mujiati

 

Kata kunci: Pengembangan, modul pembelajaran, Work-based Learning, Matematika Keuangan. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah merupakan suatu bentuk penyelenggaraan Pendidikan Profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan disekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja yang terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesioanal tertentu. Pada Sekolah menengah Kejuruan (SMK) pendidikan sistem ganda adalah merupakan program pembelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Adapun pelaksanaan programnya bisa dilakukan dengan 3 cara, antara lain: 1). Hours Release, 2). Days Release, 3). Blocks Release. Implementasi Pendidikan Sistem Ganda di SMK Negeri 2 Blitar adalah dengan adanya program praktek kerja industri yang harus diikuti oleh siswa kelas XI selama 6 bulan yang terbagi menjadi 2 tahap (tiap tahap selama 3 bulan) untuk menambah kompetensi/ketrampilan siswa dan sebagai penerapan mata pelajaran produktif di dunia kerja. Dikarenakan konsep sistem ganda adalah merupakan proses pendidikan yang melaksanakan pembelajaran di dua tempat, maka selama melaksanaan program Prakerin diharapkan proses pembelajaran tetap bisa disampaikan kepada siswa baik mata pelajaran Normatif maupun Adaptif. Agar proses pembelajaran tetap berjalan dan selama melaksanakan prakerin siswa tetap menerima pelajaran khususnya matematika sehingga prestasi/kompetensi siswa bisa lebih kompeten/meningkat maka penulis mengembangkan program pembelajaran untuk siswa yang sedang melaksanakan prakerin yaitu dengan membuat modul. Work-Based Learning adalah merupakan ciri model pembelajaran yang sangat relevan untuk digunakan kepada siswa SMK yang sedang melaksanakan Prakerin. Hal ini disebabkan karena pada saat siswa sedang prakerin diharapkan mata pelajaran matematika, yang merupakan bagian mata pelajaran Adaptif tetap bisa disampaikan (Belajar sambil Bekerja). Analisis yang telah dilakukan oleh penulis agar siswa yang sedang melaksanakan prakerin di SMK Negeri 2 Blitar tetap menerima pelajaran antara lain adalah: 1) Keberadaan siswa pada program keahlian tertentu, 2) Tempat prakerin dan bidang pekerjaan yang akan dipelajari siswa, 3) menganalisis kurikulum dan silabus, 4) menentukan materi yang relevan dengan bidang pekerjaan, 5) merancang bahan ajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul yang bercirikan Work-Based Learning untuk meningkatkan prestasi siswa yang sedang melaksanalan prakerin. Model pengembangan yang digunakan dalam pembuatan modul pembelajaran ini adalah dengan model ADDIE. Pemilihan model ini didasarkan atas pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara sistematis berdasarkan landasan teoritis desain pembelajaran. Model ini di susun secara terprogram dengan urutan-urutan kegiatan yang sistematis dalam upaya memecahkan masalah pembelajaran, khususnya masalah ketersediaan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa yang sedang melaksanakan prakerin di dunia kerja. Untuk mendukung pengembangan modul ini maka dikembangkan pula instrument-instrumen yang terdiri dari : (1) Lembar validasi modul yang dilengkapi dengan silabus dan RPP untuk mengetahui kevalidan modul, (2) Lembar validasi keterlaksanaan modul untuk melihat kepraktisan modul, (3), Angket respon peserta didik sebagai subyek uji coba lapangan, selanjutnya sebelum diuji cobakan dilakukan validasi terlebih dahulu, yakni : (1) review oleh ahli isi (materi modul), (2) review oleh ahli rancangan pembelajaran, (3) review oleh guru mata pelajaran, dan (4) uji coba lapangan yaitu siswa kelas XI AK-4 yang sedang melaksanakan prakerin di dunia kerja. Data hasil evaluasi tersebut berupa saran, tanggapan dan penilaian dari subyek uji coba digunakan sebagai masukan untuk merevisi dan menyempurnakan modul pembelajaran. Modul yang dikembangkan harus memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Berdasarkan analisis data dari validator terhadap produk pengembangan berupa modul pembelajaran, hasil dari uji ahli rancangan pembelajaran terhadap modul pembelajaran terdapat 90%. semua persentase tersebut berada pada kualifikasi valid namun perlu ada direvisi kecil. Berdasarkan presentase nilai dari uji ahli isi mata pelajaran modul pembelajaran ini terdapat 93.3% berada pada kualifikasi efektif dan perlu adanya revisi kecil. Dari hasil uji coba perorangan di lapangan yang menggunakan angket terdapat 84,27%, dengan diperoleh prosentase tersebut modul tersebut pada kualifikasi praktis. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran dengan menggunakan modul dapat meningkatkan kompetensi/prestasi siswa dalam mempelajari bunga tunggal. Berdasarkan hasil dari serangkaian uji coba yang dilakukan dapat diketahui kelebihan dan keterbatasan dari pengembangan modul pembelajaran (1) Pengembangan modul pembelajaran matematika ini dirancang/didesain berdasarkan karakteristik dan kebutuhan siswa yang sedang melaksanakan praktek kerja industri, (2) Pengembangan ini hanya pada lingkup SMK Negeri 2 blitar yang dikembangkan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan belajar siswa yang sedang melaksanakan praktek kerja industri, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa pada mata pelajaran Matematika kususnya pada materi bunga tunggal yang ada relevansinya dengan bidang pekerjaan, (3) Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini hanya sesuai untuk penelitian ini saja.(4) sebaiknya dikembangkan lebih lanjut pada materi-materi lain dan Bila perlu guru-guru yang mengajar di SMK Negeri 2 Blitar dapat mengembangkan modul untuk semua materi pelajaran baik normatif maupun Produktif terutama yang mengajar siswa di kelas XI yang sedang melaksanakan prakerin di dunia kerja sehingga dalam penyampaian pelajaran tidak terputus karena siswa ada di dunia kerja.

Bentuk dan pemanfaatan "LKS" sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya kelas VIII semester 1 di SMP Negeri 6 Malang / M. Ajib Maulana

 

Kata Kunci : Bentuk, Pemanfaatan, Media LKS, Seni budaya, SMP Media LKS merupakan lembar kerja bagi siswa baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler yang difungsikan untuk mempermudah pemahaman terhadap materi pelajaran yang didapat. Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik apabila tersedia suatu media yang baik dan efektif serta dapat difungsikan secara optimal oleh penggunanya. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk dan pemanfaatan media pembelajaran pada kegiatan pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya dengan menggunakan media LKS di SMP Negeri 6 Malang pada tahun ajaran 2010/2011, sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut ; 1) Untuk mengetahui bagaimana bentuk LKS dalam pembelajaran pada mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 6 Malang, 2) Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan media LKS dalam pembelajaran pada mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 6 Malang. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Dalam pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII, pengambilan sampel dilakukan secara purposive sample (sampel pertimbangan) pada kelas VIII SMP Negeri 6 Malang yang berjumlah 8 kelas, selanjutnya dilakukan sampel kelas dengan cara random sampling (secara acak) dengan mengambil sebagian siswa. Teknik analisis datanya dengan teknik triangulasi data. Hasil penelitian tentang bentuk dan pemanfaatan “LKS” sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya kelas VIII semeter 1 di SMP Negeri 6 Malang adalah ; bentuk media LKS sebagai media pembelajaran seni rupa, dari semua indikator-indikator yang sudah disebutkan di silabus seni budaya, kesemuanya sudah dijabarkan dalam bentuk materi dan soal-soal dalam LKS. Berdasarkan pada analisis data dapat diambil kesimpulan bahwa media LKS ini masih kurang efektif jika digunakan sebagai madia pembelajaran seni budaya secara keseluruhan, karena bentuk dan pemanfaatannya masih kurang optimal. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan hendaknya dalam pembuatan LKS lebih menarik bagi siswa dan dalam pemanfaatannya hendaknya para siswa lebih mandiri dalam menggunakan LKS. Dengan cara seperti itu madia tersebut akan lebih efektif karena siswa akan lebih berinteraksi denngan media LKS, dan media ini bisa menjadi media pembelajaran yang baik.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui pemanfaatan media lingkungan sekolah kelas IV SDN Plumpungrejo 02 Kabupaten Blitar / Mar'atin Solikah

 

ABSTRAK Solikah, Mar’atin. 2016. Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi Melalui Pemanfaatan Media Lingkungan Sekolah Kelas IV SDN Plumpungrejo 02 Kademangan Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Univesitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Dr. H. Alif Mudiono, M.Pd, (2) Dra. Sutansi, M, Pd. Kata kunci : keterampilan menulis, menulis deskripsi, media lingkungan sekolah Berdasarkan observasi yang dilakukan penelitian pada kelas IV SDN Plumpungrejo 02 Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar diketahui bahwa (1) siswa kesulitan dan tidak percaya diri dalam mengungkapkan idea tau gagasannya dalam bentuk tulisan, (2) siswa kurang teliti dalam menulis paragraf, atau siswa kurang dalam mendiskripsikan objek (3) rendahnya minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran menulis deskripsi. Hal tersebut mengakibatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi rendah sehingga perlu diadakannya penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan media lingkungan sekolah dalam menulis deskripsi dan mendeskripsikan penerapan media lingkungan sekolah dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas IV SDN Plumpungrejo 02 Kademangan Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II yang masing-masing terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, catatan lapangan, tes, dan dokumentasi. Analisis data diawali dengan pengumpulan data, menyajikan, dan mendeskripsikan data kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh peningkatan aktivitas guru dan siswa serta hasil menulis deskripsi siswa, pada siklus I rata-rata persentase aktivitas guru sebesar 86%, persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 66% dan rata-rata menulis deskripsi siswa sebesar 65 dengan ketuntasan klasikal sebesar 38%. Pada siklus II aktivitas guru dan siswa serta hasil menulis deskripsi siswa mengalami peningkatan yakni persentase aktivitas guru sebesar 97%, persentase klasikal aktivitas siswa sebesar 90% dan rata-rata nilai menulis deskripsi siswa 78 dengan ketuntasan sebesar 100%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan media lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi yang ditunjukkan pada hasil menulis deskripsi dan aktivitas siswa kelas IV SDN Plumpungrejo 02 Kademangan Blitar. Oleh karena itu, disarankan agar guru hendaknya memanfaatkan media lingkungan sekolah dalam kegiatan menulis deskripsi dan menggunakan metode serta media yang menarik agar tujuan pembelajaran tercapai.

A study of some aspects of management and the behaviour of dairy cows uncer certain tropical conditions in Java / by Garnadi Prawirosudirdjo

 

Ketersediaan akses bagi masyarakat yang kurang mampu untuk memperoleh pendidikan di SMPN 18 Kota Malang / Lucy Rosminingrum

 

Kata Kunci: akses, pendidikan, masyarakat yang kurang mampu Pada masyarakat yang kurang mampu, mendapatkan akses untuk memperoleh pendidikan sangat penting. Akses tersebut akan membantu masyarakat yang kurang mampu sehingga dapat melanjutkan pendidikan tanpa dibebani masalah biaya. Sekolah sebagai tempat menimba ilmu wajib menerima setiap masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan baik masyarakat yang mampu maupun masyarakat yang kurang mampu. Sehingga bagi masyarakat yang kurang mampu tetap bisa bersekolah dengan tersedianya akses yang ada di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kebijakan SMPN 18 Malang untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dalam memperoleh pendidikan, (2) bentuk akses yang ada di SMPN 18 Malang dalam membantu masyarakat yang kurang mampu, (3) realisasi SMPN 18 Malang guna membantu masyarakat yang kurang mampu terhadap akses pendidikan, (4) kendala yang dihadapi SMPN 18 Malang dalam mnyediakan akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu, dan (5) cara mengatasi yang dilakukan SMPN 18 Malang terhadap kendala yang ada. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tahapan pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumen, dan observasi. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) kebijakan SMPN 18 Malang untuk membantu siswa yang kurang mampu, yaitu: a) menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa yang kurang mampu melalui BOS, b) Pemberian Beasiswa, c) Pembebasan SBPP, dan d) BASIS untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah bagi siswa yang kurang mampu. (2) bentuk akses dalam memperoleh pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu di SMP Negeri 18 Malang terdapat 4 macam, yaitu: a) menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa yang kurang mampu melalui BOS, b) Pemberian Beasiswa, c) Pembebasan Sumbangan Pengembangan Pendidikan, d) Bantuan Siswa. (3) empat macam bentuk akses yang dimiliki SMP Negeri 18 Malang terbukti dapat membantu masyarakat yang kurang mampu untuk melanjutkan sekolah dan tetap memperoleh pendidikan walaupun mereka tidak mampu dalam membayar biaya pendidikan. (4) kendala yang dialami SMP Negeri 18 Malang dalam menyediakan akses tersebut yaitu: a) sekolah suka terlambat dalam mendapatkan dana BOS, b) beasiswa tidak rutin ada, c) pengembangan pendidikan di sekolah menjadi terhambat, dan d) sekolah sedikit kesulitan dalam mengetahui masyarakat mana yang tergolong mampu dan masyarakat mana yang tergolong kurang mampu. (5) Kemudian solusi untuk mengatasi kendala yang ada, yaitu: a) bendahara sekolah akan lebih tepat waktu dalam membuat laporan untuk mencairkan dana BOS, b) sekolah akan menggunakan akses lain walaupun tidak ada beasiswa sehingga siswa tetap etrbantu, c) dana yang dimiliki sekolah lebih diutamakan dikeluarkan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu, d) sekolah melakukan home visit agar tidak mengalami kecurigaan. Dari hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi Pemerintah hendaknya lebih mengoptimalkan kebijakan mengenai akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu. (2) Bagi Dinas Pendidikan hendaknya lebih memperhatikan kepada masyarakat yang kurang mampu agar mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan dengan cara mendukun akses-akses yang ada di sekolah. (3) Bagi sekolah hendaknya tetap memberikan akses bagi masyarakat yang kurang mampu untuk memperoleh pendidikan dan tidak mengeluarkan masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pendidikan. (4) Bagi masyarakat hendaknya menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting sehingga akan berkurangnya jumlah anak yang putus sekolah.

Pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap loyalitas nasabah : studi pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Blitar / oleh Susiana

 

Dengan persaingan yang begitu ketat saat ini, kualitas jasa mempunyai peranan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan jasa perbankan. Mempertahankan pelanggan menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan jasa khususnya perbankan yang bergerak dalam consumer banking. Kunci sukses di pasar persaingan perbankan bukan terletak pada bunga (harga) akan tetapi terletak pada distribusi pelayanan untuk menciptakan nasabah yang loyal dengan meretensi nasabahnya. Membuat nasabah tetap loyal adalah senjata utama yang harus dilakukan oleh suatu bank, bank harus bisa menciptakan loyalty tidak cukup hanya satisfaction, karena kepuasan bukanlah tujuan akhir. Perusahaan sebaiknya tidak boleh berhenti apabila telah memberikan kepuasan kepada nasabahnya, tetapi terus berupaya bagaimana menciptakan agar nasabah tersebut tidak berpindah ke bank lain dan nasabah menjadi semakin loyal. Penerapan Kualitas jasa yang baik akan dapat memuaskan nasabah dan pada akhirnya akan membuat nasabah loyal. Memiliki nasabah yang loyal merupakan aset dan kunci sukses sebuah bank karena dapat meningkatkan laba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh positif yang signifikan secara simultan dan parsial antara variabel bebas, yaitu dimensi kualitas jasa yang terdiri dari bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5) terhadap variabel terikat, yaitu loyalitas nasabah (Y) pada PT. Bank rakyat Indonesia (Persero) tbk Kantor Cabang Blitar. Populasi pada penelitian ini adalah nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) tbk kantor Cabang Blitar periode tahun 2005 yaitu bulan Januari 2005 sampai dengan bulan Desember 2005 yang berjumlah 8700 nasabah. Selanjutnya dengan menggunakan rumus Slovin dihasilkan jumlah sample 100 responden. Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah accidental sampling dimana responden secara kebetulan bertemu dengan peneliti pada waktu melakukan transaksi di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) tbk kantor Cabang Blitar. Pengambilan data dilakukan dengan tehnik kuesioner. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang berarti koefisien regresi signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Secara simultan ada pengaruh positif yang signifikan antara bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati dengan loyalitas nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) tbk kantor Cabang Blitar. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sig F = 0,000. (2). Secara parsial ada pengaruh positif yang signifikan antara bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati dengan loyalitas nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) tbk kantor Cabang Blitar. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sig t bkti langsung = 0,000, keandalan = 0,001, daya tanggap = 0,000, jaminan = 0,029, dan empati = 0,000. (3). Dimensi kualitas jasa mempunyai pengaruh terhadap loyalitas sebesar 55,4 % sedangkan 44,6 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini (4). Variabel yang paling kuat mempengaruhi loyalitas nasabah pada PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero) tbk Kantor Cabang Blitar adalah empati yang ditunjukkan dengan nilai sumbangan efektif =16,2 %. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut: (1) Secara simultan kelima dimensi kualitas jasa yang diberikan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Blitar berpengaruh terhadap loyalitas nasabah. Oleh karena itu, BRI Cabang Blitar hendaknya terus meningkatkan kualitas jasa yang dimiliki agar loyalitas nasabah semakin tinggi, misalnya dalam hal bukti langsung dengan menambah fasilitas penyediaan ATM di pusat belanja dan tempat umum, terus meningkatkan perbaikan-perbaikan terhadap fasilitas fisik dengan cara mengatur tata ruang dan jalur antrian yang lebih baik agar nasabah dan karyawan tidak jenuh. (2) Untuk menghadapi persaingan perbankan yang semakin tinggi, BRI Cabang Blitar harus terus melakukan pengembangan SDM melalui training ESQ, melakukan studi banding pelayanan pada bidang jasa lain. Selain itu juga harus diadakan pengawasan dan penilaian kinerja karyawan secara berkala sehingga karyawan lebih profesional dalam hal menangani nasabah. (3) Untuk menghadapi persaingan dan tantangan jaman yang selalu berubah BRI Cabang Blitar harus senantiasa peka terhadap keinginan dan keluhan nasabah, hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan kotak saran dan keluhan nasabah. (4) Kepada peneliti berikutnya disarankan mengkaji variabel kualitas jasa secara lebih detail dengan sampel dan analisis yang lebih luasa dan dalam.

Mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa kelas IV SD Negeri 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung dengan menggunakan media papan flanel / Priska Anggraeni

 

Kata kunci: kesulitan menulis, aksara Jawa, media papan flanel Berdasarkan Kurikulum Bahasa Jawa (KBJ) tahun 2007 daerah Jawa Timur, keterampilan menulis aksara Jawa diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga SMP. Siswa SD/MI hingga SMP/MTs diharapkan memiliki keterampilan menulis aksara Jawa dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai keperluan. Pembelajaran menulis aksara Jawa bertujuan untuk melestarikan aksara Jawa agar tidak punah walaupun sudah tidak digunakan lagi dalam komunikasi tulis sehari-hari. Walaupun pembelajaran menulis aksara Jawa di kelas IV SDN 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung telah dilaksanakan, masih banyak siswa yang kesulitan menulis aksara Jawa. Kesulitan yang dialami siswa dalam menulis aksara Jawa, meliputi (1) kesulitan menulis aksara Jawa legena, (2) menulis aksara Jawa sesuai dengan ejaan bahasa Jawa, (3) menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan swara, dan (4) menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda siswa. Untuk mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa, peneliti bekerja sama dengan guru Bahasa Jawa kelas IV SD Negeri 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung untuk memberikan tindakan yang berupa media papan flanel melalui penelitian dengan pendekatan kualitatif dan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tindakan mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa SD Negeri 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung setelah menggunakan media papan flanel, baik pada aspek penulisan aksara Jawa legena, ejaan bahasa Jawa, sandhangan swara, maupun sandhangan panyigeg wanda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – November 2012 di SDN 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung dengan subjek penelitian siswa kelas IV. Penelitian ini difokuskan untuk mengatasi kesulitan siwa untuk menulis aksara Jawa dalam bentuk frasa dan atau kalimat pendek. Data utama dalam penelitian ini adalah data kualitatif, namun penelitian ini juga didukung dengan data kuantitatif. Data kualitatif pada penelitian ini meliputi deskripsi kegiatan mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa menggunakan media papan flanel, serta informasi berbentuk kalimat yang memberikan gambaran ekspresi peserta didik terkait dengan tingkat pemahaman, sikap, aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, perhatian, antusias, dalam belajar, kepercayaan diri, motivasi belajar, interaksi antara siswa dengan guru, dan interaksi antar siswa. Data kuantitatif dalam penelitian ini meliputi penilaian hasil (1) menulis aksara Jawa legena, (2) aksara Jawa sesuai ejaan bahasa Jawa, (3) aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan swara, dan (4) aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda siswa. Instrumen penelitian ini terdiri atas instrumen utama dan instrumen pendukung. Instrumen utama adalah peneliti, sedangkan instrumen pendukung dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, lembar observasi, catatan lapangan, dan tes menulis aksara Jawa. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa kemampuan menulis aksara Jawa siswa mulai dapat diatasi setelah siswa diberi tindakan berupa media papan flanel. Tindakan yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa dengan menggunakan media papan flanel, meliputi (1) koreksi penulisan aksara Jawa legena siswa, (2) penulisan aksara Jawa sesuai dengan ejaan bahasa Jawa siswa, (3) penulisan aksara Jawa menggunakan sandhangan swara, dan (4) penulisan aksara Jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda. Pada siklus I, siswa masih mengalami pola-pola kesulitan seperti pada prasiklus. Walaupun demikian, jumlah siswa yang mengalami kesulitan pada siklus I sudah mulai menurun dibandingkan dengan prasiklus. Karena penelitian pada siklus I belum mencapai standar keberhasilan, yaitu siswa yang mendapatkan nilai ≥70 masih kurang dari 80%, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II. Siklus II dilaksanakan dengan pembenahan pada rencana perbaikan pembelajaran menulis aksara Jawa siklus I. Pembenahan yang dilakukan meliputi penambahan alokasi waktu penggunaan media papan flanel dan penambahan ruang lingkup soal latihan menulis dengan media papan flanel. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tulisan dan penilaian hasil menulis aksara Jawa siswa pada siklus II, diketahui bahwa jumlah siswa yang mengalami kesulitan menulis aksara Jawa semakin berkurang. Hal tersebut membuktikan bahwa media papan flanel tepat digunakan untuk mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa. Beberapa saran terhadap pelaksanaan pembelajaran menulis aksara Jawa dengan menggunakan media papan flanel yang dapat dijadikan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran, meliputi: (1) pengembangan media pembelajaran yang atraktif dan bervariasi untuk membangkitkan minat, motivasi, serta konsentrasi siswa; (2) penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa di kelas; dan (3) pengembangan sarana pembelajaran yang berupa fasilitas elektronik di kelas, alat peraga, referensi bahasa Jawa untuk guru dan siswa agar pembelajaran bahasa Jawa dapat berlangsung dengan baik.

Analisis dampak Stock Split terhadap Trading Volume Activity dan Bid-Ask Spread : studi pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2005 / oleh Rohma Yuli Madyawati

 

Stock split merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh para manajer perusahaan dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham sesuai dengan split factor. Peristiwa stock split masih merupakan fenomena bagi para analis keuangan. Hasil dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan ada yang mendukung teori stock split yaitu trading range theory yang menyatakan bahwa stock split akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan signaling theory yang menyatakan bahwa stock split memberikan informasi kepada publik tentang prospek masa depan yang baik perusahaan yang melakukan stock split tersebut. Tetapi ada pula yang menunjukkan bahwa stock split tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diteliti. Perbedaan pendapat ini masih menjadi kontroversi dan teka-teki yang belum terpecahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana trading volume activity dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2005, apakah terdapat perbedaan trading volume activity dan bid-ask spread yang signifikan antara sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2005. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan melakukan stock split selama tahun 2003–2005 sebanyak 33 perusahaan. Sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 10 perusahaan yang diambil secara purposive judgement sampling yaitu perusahaan yang melakukan kebijakan stock split sebanyak satu kali selama periode pengamatan dan tidak melakukan corporate action lainnya, periode jendela yang digunakan selama 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah peristiwa stock split. Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan trading volume activity dan bid-ask spread yang signifikan antara sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2005, sehingga dapat disimpulkan bahwa investor menganggap peristiwa stock split tidak bersifat informatif dan beranggapan bahwa peristiwa stock split hanya sebagai kosmetik saham yang dilakukan perusahaan agar kelihatan lebih menarik. Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian ini, yaitu: (1) untuk perusahaan yang menerbitkan saham (emiten) sebaiknya dalam mengambil keputusan melakukan stock split memilih waktu yang tepat dalam melaksanakan kebijakan stock split. (2) untuk investor sebaiknya dalam memutuskan untuk melakukan transaksi saham harus selalu mewaspadai setiap informasi yang ada. (3) untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan penggolongan sampel berdasarkan industri dan dilakukan perbandingan trading volume activity dan bid-ask spread antara perusahaan yang melakukan stock split dengan yang tidak melakukan stock split.

Profil pembelajaran IPS kelas V SDN Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang / Sunia Ulfa

 

Kata Kunci: profil, pembelajaran, IPS Mata pelajaran IPS yang diajarkan di SD merupakan perpaduan mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Dalam menyampaikan materi pembelajaran diperlukan adanya suatu metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai profil pembelajaran IPS, khususnya kelas V yang ada di SDN Oro-oro Dowo Kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan profil pembelajaran IPS Kelas V di SDN Oro-oro Dowo Kota Malang, kendala-kendala yang dialami oleh guru dan siswa dalam pembelajaran IPS khususnya pada SK 2, KD 2.1 dan KD 2.2. adapun batasan dalam penelitian ini yaitu: (1) Subjek penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SDN Oro-oro Dowo Kota Malang tahun pelajaran 2012/2013, (2)Materi ajar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu SK 2 KD 2.1 dan 2.2., (3)Tindakan yang dilakukan berupa pengamatan dalam pembelajaran IPS materi Perjuangan Melawan Penjajahan dan Perjuangan Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia SK 2 KD 2.1 dan 2.2. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus. Data penelitian yang berupa paparan data diperoleh dari hasil observasi pada pembelajaran IPS, wawancara dengan guru dan siswa, catatan lapangan, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap data reduction (mereduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing/ verification (menarik kesimpulan). Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Pembelajaran IPS pada SK 2 KD 2.1 dan KD 2.2 di SDN Oro-oro Dowo dilakukan selama 8 (delapan) kali pertemuan. Dalam setiap pertemuannya guru selalu mengawali pembelajaran dengan membaca buku paket, baik secara individu maupun secara klasikal dengan membaca bergiliran dan berulang-ulang. Metode yang digunakan oleh guru pun sama dalam setiap pertemuannya yaitu kerja kelompok dan pemberian tugas. RPP yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran IPS dibuat dengan memodifikasi RPP yang sudah ada. Perumusan tujuan pembelajaran oleh guru tidak mengandung unsur A, B, C, D (A= Audience, B= Behaviour, C= Condition, D= Degree). Kedua, ada beberapa kendala yang dialami oleh guru dalam pembelajaran IPS, khususnya pada SK 2 KD 2.1 dan KD 2.2 yaitu, kurangnya minat membaca siswa sehingga menyulitkan guru dalam menyampaikan materi, terbatasnya buku paket yang menjadi bahan ajar utama, guru merasa kesulitan dalam menyediakan media, dan penggunaan model maupun metode pembelajaran yang bervariasi. Ketiga, dalam pembelajaran IPS di kelas V tidak hanya guru saja yang mengalami kendala, siswa juga mengalami beberapa kendala dalam belajar IPS, khususnya pada SK 2 KD 2.1 dan KD 2.2 yaitu, banyak siswa yang tidak suka membaca, materi yang terlalu banyak menghafal membuat siswa kurang tertarik untuk mempelajarinya, ketersediaan fasilitas buku yang terbatas sehingga siswa harus bergantian dalam membaca materi yang ada di buku, dan cara penyampaian guru dalam mengajar yang tidak mengimbangi siswa menjadikan siswa kurang memahami apa yang diajarkan. Adapun saran yang diberikan dalam penelitian ini yaitu: Pertama, pembelajaran IPS sebaiknya dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, penggunaan media harus dihadirkan dalam pembelajaran, dan penyusunan RPP seharusnya dilakukan secara mandiri oleh guru dengan berpedoman pada kurikulum yang sudah ada. Kedua, kendala-kendala yang dialami oleh guru hendaknya diatasi dengan peningkatan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Selain itu, dengan adanya komunikasi antara siswa dengan guru dalam merencanakan suatu pembelajaran akan berdampak pada pembelajaran yang berkualitas dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Ketiga, kendala-kendala yang dialami oleh siswa hendaknya dapat diminimalkan dengan cara memupuk kesadaran siswa untuk membiasakan membaca yang menyenangkan, misalnya membaca di luar kelas. Kesulitan siswa dalam menghafal nama-nama tokoh dapat diatasi dengan menggunakan peta konsep pada setiap materi. Selain itu, keterbatasan buku paket dapat diatasi dengan membebaskan siswa untuk mencari bahan ajar sendiri agar pengetahuan yang didapat antar siswa juga bervariasi.

Pengaruh penggunaan metode pembelajaran siklus (Learning Cycle) terhadap prestasi belajar akuntansi di Madrasah Aliyah Negeri Tulungagung 1 / oleh Herman Susilo

 

Metode pembelajaran siklus (learning cycle) merupakan salah satu model pembelajaran yang mengacu pada teori konstruktivisme. Pembelajaran dengan metode sikus (learning cycle)dapat mengmbangkan atau memperkaya konsep-konsep yang telah dimiliki siswa sebagai bekal awal kognisinya. Belajar dengan metode pembelajaran siklus (learning cycle) juga dapat membuat siswa lebih aktif karena memungkinkan siswa belajar secara mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran siklus (learning cyce) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di MAN Tulungagung 1 dan juga menguji apakah metode pembelajaran siklus (learning cycle) dapat diterapkan pada ilmu sosial khususnya pada pelajaran akuntansi ` Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS MAN Tulungagung 1 yang diambil dua kelas yaitu kelas XI IPS 3 sebagai kelompok eksperimen yaitu siswa yang mendapatkan perlakuan atau pembelajaran dengan menggunakan metode silus (learning cycle) dan kelas XI IPS 1 sebagai kelompok kontrol yaitu siswa yang mendapatkan pengajaran dengan metode konvensional (ceramah dan Tanya jawab) Analisis yang dilakukan dengan uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode siklus (learning cycle) dapat meningkatkan prestasi iswa. Sehingga patut kiranya metode pembelajaran siklus (learning cycle) dapat diterapkan pada mata pelajaran akuntansi sebagai alternative dari metode yang biasa dipakai dalam pembelajaran akuntansi Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang signifikan penerapan metode pembelajaran siklus (learning cycle) terhadap prestasi belajar belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi.

Pengembangan bahan ajar interaktif dengan pendekatan inkuiri terbimbing untuk SMK RSBI kelas X Program Keahlian Tata Bola SMK Negeri 2 Bondowoso pada mata pelajaran kimia bahan makanan / Devi Ariyani Kartika

 

Kata Kunci: bahan ajar, kimia SMK, program keahlian tata boga, pembelajaran konstruktivistik, inkuiri terbimbing. Kimia merupakan mata pelajaran adaptif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan termasuk bagian dari ilmu pengetahuan alam. Di SMK, kimia berfungsi memberikan dasar pengetahuan dalam memahami mata pelajaran produktif. Dalam program keahlian Tata Boga, kimia diperlukan dalam mata pelajaran kimia bahan makanan. Ada tiga masalah mendasar pada pembelajaran kimia di SMK. Pertama, tidak dikaitkannya materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif, sehingga konsep-konsep dasar kimia yang dipelajari siswa cenderung tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pada mata pelajaran produktif. Kedua, keterbatasan alokasi waktu pembelajaran. Ketiga, tidak tersedianya bahan ajar yang mengkaitkan materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif yang dapat memotivasi siswa untuk belajar kimia secara aktif. Dampak dari masalah-masalah tersebut adalah sulitnya siswa memahami konsep-konsep dasar kimia dengan tepat. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya pencapaian hasil belajar siswa. Permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi apabila tersedia bahan ajar yang memenuhi persyaratan, yaitu materinya berkaitan dengan mata pelajaran produktif dan dapat memotivasi siswa untuk belajar secara aktif. Selain itu, dengan dikembangkannya bahan ajar interaktif berbasis multimedia dalam hal ini macromedia flash proses belajar mengajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga hubungan antara siswa dan guru bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dengan adanya bahan ajar dalam bentuk macromedia flash diharapkan pembelajaran modern khususnya di SMK dapat mengarahkan kepada penggalian makna yang lebih dikenal dengan pembelajaran konstruktivistik. Salah satu pendekatan pembelajaran konstriktivistik yang digunakan adalah pendekatan inkuiri terbimbing. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk: (1) menghasilkan bahan ajar interaktif dalam bentuk macromedia flash berbasis inkuiri terbimbing sebagai pembelajaran kimia untuk siswa SMK RSBI kelas X program keahlian Tata Boga, (2) mengetahui kelayakan bahan ajar interaktif dalam bentuk macromedia flash berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan menurut kriteria kelayakan isi, penyajian dalam hal ini media, dan kebahasaan, (3) mengetahui keefektifan bahan ajar dalam bentuk macromedia flash berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan terhadap pencapaian hasil belajar siswa pada materi Zat Aditif Makanan. Pengembangan bahan ajar kimia ini didasarkan pada model Plomp yang terdisi dari 5 fase, yaitu: (1) fase investigasi (2 ) fase desain, (3) fase realisasi/konstruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5 ) fase implementasi. Kelayakan bahan ajar yang dikembangkan dinilai oleh beberapa pakar yang terdiri dari dua dosen kimia, satu guru kimia, dan satu guru bahasa inggris. Penilaian didasarkan pada kelayakan isi, media, dan bahasa. Efektifitas bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa kelas X program keahlian Tata Boga SMKN 2 Bondowoso dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dan saran yang diberikan oleh para ahli untuk perbaikan bahan ajar yang dikembangkan. Data kuantitatif terdiri dari skor hasil belajar siswa dan skor hasil validasi bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan standar instrumen validasi yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil kognitif yang terdiri dari 20 item dengan validitas 86,7%. Persepsi siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari media pembelajaran dalam bentuk macromedia flash dengan menggunakan bahasa inggris yang mudah dipahami oleh siswa. Hasil penilaian ahli untuk kelayakan isi memiliki nilai 92,3%, kelayakan media memiliki nilai 88,3%, dan kelayakan bahasa memiliki nilai 81,3%. Berdasarkan hasil penilaian ahli isi, ahli media, dan ahli bahasa, bahan ajar yang sudah direvisi dianggap layak untuk digunakan dalam proses belajar kimia. Hasil belajar siswa dengan menggunakan bahan ajar yang dikembangkan menunjukkan bahwa 90,9% dari siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75 dengan skor rata-rata 80,5. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas, dapat dianggap bahwa bahan ajar kimia yang sudah dikembangkan berdasarkan metode inkuiri terbimbing dan model plomp adalah layak untuk digunakan dalam pembelajaran pada siswa kelas X program keahlian Tata Boga. Evaluasi lebih lanjut terhadap kelayakan dan keefektifan bahan ajar yang dikembangkan sebaiknya dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Pengaruh bauran promosi terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor Honda : studi pada Dealer Marga Kartika Motor Wlingi / oleh Evi Fachrida

 

Seiring dengan pekembangan zaman dimana persaingan dalam dunia bisnis semakin ketat dan kompetitif, hal ini mengakibatkan perusahaan terus berusaha agar tetap dapat bertahan di dunia bisnisnnya. Pada situasi seperti ini peran pamasaran sangat penting bagi perusahaan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Dalam konsep pemasaran, perusahaan tidak cukup hanya dengan memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dan bermutu tetapi hal penting yang harus dilakukan perusahaan adalah bagaimana mengkomunikasikan produknya agar diketahui dan menarik minat konsumen untuk membelinya, maka Dealer Marga Kartika Motor Wlingi melaksanakan bauran promosi yang meliputi periklanan, promosi pennjualan, penjualan perseorangan, hubungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh bauran promosi terhadap keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor Honda. Topik dalam penelitian ini bauran promosi dan keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor Honda dengan studi pada pembeli sepeda motor Honda pada Dealer Marga Kartika Motor Wlingi. Penelitian ini mempunyai dua variabel bebas (X) sedangkan variabel terikat (Y) dimana variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah periklanan (X1) promosi penjualan (X2), penjualan perseorangan (X3) dan hubungan masyarakat (X4). Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah keputusan penbelian. Populasi penelitian ini adalah konsumen yang membeli sepeda motor Honda yang membeli pada Marga Kartika Motor Wlingi, pada periode bulan Mei sampai Nopember Tahun 2006, yang berjumlah 2558 orang. Penelitian ini mengunakan sampel random dengan jumlah sampel 100 responden dan teknik pengambilan sempel accidental sampling. Setelah melalui proses pengelolaan data dan dengan menggunakan analisis regresi berganda maka dapat diketahui hasil penelitian yang menyatakan : (1) nilai b1 = 0,422; nilai thitung = 5,105, dan nilai ttabel = 1,98 dengan signifikansi t sebesar 0,000. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara periklanan (X1) dengan keputusan pembelian sepeda motor Honda. (2) nilai b2 = 0,244; nilai thitung = 4,798, dan nilai ttabel = 1,98, dengan signifikansi t = 0,000 membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penjualan pribadi (X2) dengan keputusan pembelian sepada motor Honda. (3) nilai b3 = 0,275; nilai t hitung= 3,195 dan nilai ttabel = 1,98, dengan signifikansi t = 0,002 membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara promosi penjualan (X3) dengan keputusan pembelian sepeda motor Honda. (4) nilai b4 = 0,357; nilai t hitung =3,990 dan nilai ttabel = 1,98,dengan signifikansi t = 0,000 membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara hubungan masyarakat (X4) dengan keputusan pembelian sepeda motor Honda. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada pengaruh yang signifikan antara bauran promosi baik secara simultan terhadap keputusan pembelian telah terbukti. Sedangkan saran : (1) Periklanan merupakan faktor paling dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Sehingga perusahaan harus tetap mempertahankan dan Meningkatkan kegiatan tersebut karena periklanan merupakan alat yang efektif untuk mendongkrak penjualan. (2) Kegiatan Promosi penjualan yang dilakukan oleh Dealer Marga Kartika Motor Wlingi sudah cukup baik. Tetapi akan lebih baik lagi jika perusahaan harus tetap mempertahankan dan lebih ditingkatkan lagi kegiatan tersebut. (3) Untuk mendukung keberhasilan kegiatan personal selling lebih ditingkatkan kualitas layanan tenaga penjual dengan memberikan pengetahuan lewat pelatihan karyawan agar lebih terampil, mahir berkomunikasi, kepribadian menarik sehingga mampu melayani daya tarik konsumen. (4) Mengadakan kegiatan bersama seperti touring dengan klub-klub sepeda motor Honda dan mengadakan bakti sosial. Hal ini akan lebih mempererat hubungan antara perusahaan dengan konsumennya. (5) Perlu adanya koran dan majalah bagi pelanggan agar saat antrian panjang, sehingga mengurangi rasa kebosanan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata diklat ekonomi di SMK Ardjuna 01 Malang / oleh Yuli Rahmawati Arfiani

 

Pengembangan e-modul hidrokarbon berbasis inkuiri terbimbing / Eva Early Nur Hidayati

 

Keywords: e-modul, hidrokarbon, inkuiri terbimbing. Menurut Permendiknas No. 78 Tahun 2009, proses pembelajaran di R-SMA-BI dituntut harus berbasis TIK, melibatkan unsur PAIKEM, kontekstual, dan berbahasa Inggris. Agar siswa dapat menguasai kompetensi dasar pada KTSP yang mengadaptasi kurikulum IGCSE sebagai salah satu kurikulum yang dapat diadaptasi dari negara-negara maju, siswa harus memiliki sikap kemandirian belajar yang tinggi. Salah satu bahan ajar yang dapat membantu siswa belajar secara mandiri adalah modul, sementara pembelajaran berbasis TIK telah menjadi tuntutan, sehingga muncullah ide pengembangan bahan ajar modul elektronik atau disingkat e-modul. Tujuan mata pelajaran kimia dicapai oleh siswa melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah. Sejalan dengan tujuan tersebut maka pendekatan inkuiri dinilai efektif membantu siswa mempelajari materi Hidrokarbon. Pendekatan inkuiri terbimbing versi Julie K. Abrahamson dilatarbelakangi oleh penelitian Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) yang mengindikasikan adanya pembelajaran kimia organik yang belum berpusat pada siswa, belum terbentuk komunitas yang interaktif antara guru dan siswa, dan siswa belum dapat mengkonstruk pemahamannya sendiri. Sementara itu, Mark Windschitl, Jessica Thompson, dan Melissa Braaten dalam bukunya tentang Model-Based Inquiry as a New Paradigm of Preference for School Science Investigations memuat tentang pengayaan konsep dan penjelasan fenomena pematangan buah lokal sebagai pembelajaran berbasis inkuiri melalui Critical Thinking Question (CTQ), investigasi dan Exercises. Melalui tahapan inkuiri terbimbing merumuskan masalah, merumuskan hipotesis sebagai konsepsi awal, pengumpulan data, analisis data dan membuat kesimpulan diharapkan permasalahan materi Hidrokarbon pada pembelajaran kimia dapat diminimalkan.Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) menghasilkan (2) mengetahui kelayakan (3) menguji efektivitas e-modul Hidrokarbon berbasis inkuiri terbimbing versi Abrahamson J. dan Windschitl M. untuk R-SMA-BI. Untuk menghasilkan e-modul, penelitian pengembangan ini mengacu pada model Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate (ADDIE), karena sifatnya yang lebih generik dibanding model lainnya. Untuk mengetahui kelayakannya, dilakukan uji validitas. Validitas ditentukan oleh ahli isi, ahli media, ahli bahasa, penilaian rekan sebaya, dan uji coba kelompok kecil, E-modul diujicobakan pada lapangan terbatas di SMAN 1 Kraksaan sebagai salah satu R-SMA-BI di Jawa Timur setelah divalidasi dan direvisi. Untuk menguji efektivitas e-modul, digunakan desain uji coba kuasi eksperimen. Setelah diperoleh dua jenis data, dilakukanlah analisis terhadap data deskriptif data kuantitatif tersebut. Analisis data deskriptif dipergunakan untuk menilai atau mengetahui kelayakan isi, desain dan bahasa yang digunakan, sedangkan analisis data kuantitatif dipergunakan untuk menguji efektivitas penggunaan e-modul. E-modul merupakan hasil adaptasi materi Hidrokarbon dari KTSP dan kurikulum Cambridge (IGCSE). Untuk mengaksesnya siswa dapat mengunjungi http://localhost/emodul/ tanpa koneksi dengan internet. Untuk tujuan itu, Personal Computer atau laptop yang digunakan harus ter-install software MOODLE terlebih dahulu. Berdasarkan penilaian standar kelayakan dari BSNP, komponen isi/materi, penyajian/media, dan kebahasaan di dalam e-modul hasil pengembangan dinyatakan dengan kriteria “layak”, dan dari hasil revisi dinyatakan baik oleh siswa saat uji coba kelompok kecil. Selanjutnya dalam uji lapangan terbatas, e-modul hasil pengembangan dinyatakan baik. Rata-rata nilai hasil belajar Hidrokarbon untuk kelas eksperimen yang mengalami pembelajaran dengan e-modul adalah 81,0. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang tidak mengalami pembelajaran dengan e-modul yang rata-rata nilainya 78,7. Persentase ketercapaian ketuntasan belajar untuk kelas eksperimen sebesar 93,7%, lebih baik dari kelas kontrol yaitu 84,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa e-modul Hidrokarbon hasil pengembangan terbukti efektif untuk pembelajaran pada R-SMA-BI.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia interaktif pada materi lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP / Rima Anisa Widyaningrum

 

Kata kunci: Pengembangan, media pembelajaran, multimedia interaktif, lingkaran. Pengembangan ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi peneliti, diperoleh data mengenai situasi dan kondisi pembelajaran matematika di SMP Negeri 9 Malang. Temuan yang didapatkan penulis adalah minat dan motivasi siswa kurang untuk belajar menggunakan buku paket pembelajaran, khususnya mata pelajaran matematika kelas VIII, serta pembelajaran yang diterapkan masih konvensional. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan media pembelajaran untuk siswa tentang materi lingkaran. Materi ini dirasa sulit oleh siswa dan selama ini pembelajaran matematika belum pernah menggunakan media berbasis multimedia interaktif. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) mendiskripsikan proses perancangan dan pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia interaktif pada materi lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP yang valid dan praktis, (2) mendiskripsikan cara pengujian media pembelajaran matematika berbasis multimedia interaktif pada materi lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP yang valid dan praktis. Model pengembangan yang digunakan menurut Stephen M. Alessi dan Stanley R.Trollip yaitu menentukan tujuan dan kebutuhan, mengumpulkan bahan acuan, mempelajari isi materi, membangkitkan ide, mendesain pembelajaran, membuat flowchart materi, membuat story board pada kertas, memprogram materi, membuat materi pendukung, evaluasi, dan revisi. Media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini telah diuji kevalidannya dan kepraktisannya. Subjek uji coba dalam pengembangan media terdiri dari lima orang validator (ahli materi dan ahli Teknologi Informasi) dan lima belas siswa sebagai pengguna saat uji coba produk. Dari data kuantitatif hasil analisis data hasil validasi Ahli Materi dan Ahli Teknologi Informasi didapatkan persentase validasi adalah 93,35% dan 77,06% dengan kriteria sangat valid. Sedangkan dari data kuantitatif hasil analisis data hasil uji kepraktisan oleh pengguna didapat presentase kepraktisan adalah 90,41%, dengan kriteria sangat praktis. Data kualitatif yang berupa saran dan komentar dari validator dan pengguna akan dijadikan pertimbangan peneliti dalam revisi media. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengharapkan kepada peneliti lainnya untuk melaksanakan penelitian sejenis dengan materi dan permasalahan yang berbeda.

Peningkatan kemampuan mengenal huruf melalui permainan mencari pasangan pada kelompok A PAUD Laboratorium UM Kota Blitar / Dian Novitasari

 

ABSTRAK Novitasari, Dian. 2016. Peningkatan Kemampuan Mengenal Huruf melalui Permainan Mencari Pasangan pada Kelompok A PAUD Laboratorium UM Kota Blitar. Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutansi, M.Pd., (II) Suminah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: kemampuan mengenal huruf, permainan mencari pasangan, kelompok A Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan di PAUD Laboratorium UM Kota Blitar pada kelompok A kelas A2 ditemukan bahwa guru belum menerapkan metode pembelajaran yang tepat untuk mengenalkan huruf. Selain itu, diperoleh data yang menunjukkan bahwa 8 dari 12 anak atau 67% masih belum tuntas dalam mengenal huruf. Sebagian besar anak hanya mampu menyebutkan nama huruf tanpa mengetahui lambang huruf yang sesuai. Penelitian ini mengembangkan permainan Mencari Pasangan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan permainan Mencari Pasangan pada kelompok A dan meningkatkan kemampuan mengenal huruf pada kelompok A melalui penerapan permainan Mencari Pasangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, penugasan, catatan lapangan, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A kelas A2 PAUD Laboratorium UM Kota Blitar yang berjumlah 12 anak terdiri dari 7 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Peneliti berperan sebagai pengamat dan guru kelas sebagai pelaksana tindakan. Hasil penelitian diperoleh data skor aktivitas guru pada siklus I sebesar 70% dan meningkat pada siklus II menjadi 97%. Skor aktivitas anak pada siklus I sebesar 59% dan meningkat pada siklus II menjadi 91%. Skor hasil belajar kemampuan mengenal huruf anak pada pratindakan sebesar 33%. Setelah dilaksanakan siklus I, skor hasil belajar kemampuan mengenal huruf anak meningkat menjadi 67%. Selanjutnya pada siklus II, skor hasil belajar kemampuan mengenal huruf anak meningkat menjadi 83%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan permainan Mencari Pasangan pada kelompok A sudah baik, berjalan dengan lancar, dan sesuai dengan konsep permainan Mencari Pasangan. Kemampuan mengenal huruf anak meningkat setelah diterapkan permainan Mencari Pasangan. Sebaiknya guru menerapkan metode bermain dalam proses pembelajaran tetapi juga harus memilih metode yang tepat dalam pembelajaran agar hasil belajar anak lebih optimal. Hendaknya guru juga menggunakan media pembelajaran yang menarik untuk membuat anak lebih antusias dalam belajar.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan kelompok pertanian, kehutanan, dan perikanan yang go publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ) / oleh Annas Misbachul Munir

 

Salah satu tujuan dasar perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan guna meningkatkan kemakmuran atau kesejahteraan para pemilik perusahaan. Nilai perusahaan dapat dilihat dari harga saham dan jumlah saham yang beredar pada akhir periode. Semakin besar harga saham maka akan memperbesar nilai perusahaan. Perusahaan yang bertahan dan terus berkembang mempunyai nilai yang tinggi di mata investor yang ditandai dengan naiknya harga saham dan turut berpengaruh juga terhadap jumlah lembar saham yang beredar. Demikian juga sebaliknya apabila perusahaan itu tidak mampu bertahan akan mengalami kerugian yang imbasnya harga saham turun dan jumlah saham yang beredar juga dipastikan akan mengalami penurunan. Jika yang terjadi demikian, maka investor tidak akan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi nilai perusahaan, dividen payout ratio, leverage ratio, DER, ROI, dan ROE serta menganalisis baik secara parsial maupun secara simultan pengaruh dividen payout ratio, leverage ratio, DER, ROI dan ROE terhadap nilai perusahaan pada perusahaan kelompok perusahaan pertanian, kehutanan, dan perikanan yang go publik di BEJ periode 2001-2005. Pengumpulan data ini menggunakan metode dokumentasi, yaitu mencatat data-data yang sesuai dengan penelitian. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, dengan populasi adalah seluruh perusahaan kelompok pertanian, kehutanan, dan perikanan yang go publik di BEJ pada periode 2001-2005. Sampel akhir dalam penelitian ini sebanyak enam perusahaan. Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Kondisi variabel-variabel yang diteliti adalah sebagai berikut: (a) Kondisi nilai perusahaan memiliki trend yang meningkat. Kenaikan disebabkan rata-rata jumlah saham beredar tiap tahunnya mengalami kenaikan, meskipun hal itu tidak diikuti dengan kenaikan harga saham yang signifikan. (b) Kondisi dividen payout ratio perusahaan pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2002 dan 2005 mengalami penurunan, sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 mengalami kenaikan. (c) Kondisi leverage ratio perusahaan pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2001-2005 terus mengalami penurunan. (d) Kondisi DER perusahaan pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2002 mengalami kenaikan. Sedangkan pada tahun 2003, 2004 dan 2005 terus mengalami penurunan. (e) Kondisi ROI perusahaan pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2002 dan 2005 mengalami kenaikan. Sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 mengalami penurunan. (f) Kondisi ROE perusahaan pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2002 mengalami kenaikan. Sedangkan pada tahun 2003, 2004 dan 2005 terus mengalami penurunan. Dari analisis yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Secara parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara dividen payout ratio (X1) terhadap nilai perusahaan (Y). Sumbangan efektif dividen payout ratio terhadap nilai perusahaan sebesar 11,90%. (b) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara leverage ratio (X2) terhadap nilai perusahaan (Y). Sumbangan efektif leverage ratio terhadap nilai perusahaan sebesar 40,19%. (c) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara DER (X3) terhadap nilai perusahaan (Y). Sumbangan efektif DER terhadap nilai perusahaan sebesar 29,81%. (d) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara ROI (X4) terhadap nilai perusahaan (Y). Sumbangan efektif ROI terhadap nilai perusahaan sebesar 51,69%. (d) Secara parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara ROE (X5) terhadap nilai perusahaan (Y). Sumbangan efektif ROE terhadap nilai perusahaan sebesar 0,86%. (e) Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara dividen payout ratio, leverage ratio, DER, ROI, dan ROE terhadap nilai perusahaan, terbukti dari nilai koefisien determinasi sebesar 0,609 yang berarti seluruh variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikatnya sebesar 60,9%, sedangkan sisanya 39,1% dijelaskan variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada beberapa pihak yang berkepentingan yaitu: (a) Bagi manajemen perusahaan. Dalam mengukur nilai perusahaan yang berkaitan dengan harga saham dan jumlah saham yang beredar, perusahaan dapat mempertimbangkan kebijakan hutang (leverage) dan ROI. Hutang bagi manajemen diharapkan dapat mengendalikan free cash flow untuk menghindari investasi yang sia-sia. Di sisi lain, hutang yang tinggi menyebabkan perusahaan memiliki risiko tinggi. Sementara ROI yang rendah mengindikasikan tingkat pengembalian yang rendah terhadap investasi yang telah dikeluarkan sehingga perusahaan tidak memperoleh laba yang optimal. (b) Bagi investor. Dalam melakukan investasi, investor dapat memperhatikan nilai ROE. ROE yang tinggi mengindikasikan tingkat pengembalian yang tinggi terhadap modal sendiri yang telah dikeluarkan sehingga sangat menarik minat investor untuk berinvestasi. (c) Bagi pemerintah. Diharapkan pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan difokuskan untuk menggairahkan iklim investasi di Indonesia, khususnya dalam industri pertanian, kehutanan dan perikanan. (d) Bagi peneliti lebih lanjut, dapat disarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan sampel industri yang lain seperti industri rokok, real estate, bank, dan sebagainya. Disarankan juga untuk menggunakan teknik analisa yang lain, misalnya teknik analisa Structural Equation Modelling (SEM) serta variabel yang diteliti juga perlu ditambah supaya hasilnya lebih tepat dan akurat.

Pengaruh Capital Adequacy Ration (CAR), Loan Deposite Ratio (LDR), Return On Assets (ROA), Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO), dan Return On Equity (ROE) terhadap perubahan laba pada Lembaga Perbankan yang lsiting di BEJ tahun 2003-2005 /

 

Dalam rangka mempercepat pemulihan perekonomian nasional pemerintah menciptakan berbagai alternatif investasi bagi investor. Disisi lain perusahaan pencari dana harus saling bersaing dalam mendapatkan dana dari investor. Secara teoritis investor akan menanamkan uangnya pada perusahaan yang dapat memberikan return yang tinggi. Adapun return yang tinggi pada umumnya dapat dipenuhi oleh perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik. Jadi investor akan menanamkan usahanya pada perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik, yang dideskripsikan dalam bentuk financial report yang berisi informasi keuangan yang dapat digunakan oleh semua pihak yang berkepentingan untuk membuat keputusan ekonomi. Salah satu bidang yang menjadi prioritas pemerintah adalah perbankan, dimana pemerintah melakukan optimalisasi kinerja bank sesuai aturan BI yaitu berdasarkan CAMELS yang berunsurkan variabel capital, asset quality, manajemen, earning, likuiditas, dan sensitivity to market risk. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah capital, likuiditas, dan rentabilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel capital, likuiditas, dan rentabilitas terhadap perubahan laba pada lembaga perbankan yang listing di BEJ. Jenis penelitian ini adalah kausalitas dan pengambilan sampelnya adalah purposive sampling sedangkan metode yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari analisis CAMELS yang terdiri dari aspek capital secara umum kondisi kinerja keuangan lembaga perbankan yang listing di BEJ sudah memiliki kemampuan yang cukup baik dalam memenuhi semua kewajiban jangka pendeknya. Dari segi likuiditas secara umum kinerja keuangan belum sepenuhnnya baik. Dari aspek rentabilitas secara umum kinerja perbankan sudah mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam mengendalikan biaya, sedangkan dari segi perubahan laba kinerja keuangan sudah mengalami peningkatan walaupun tidak fluktuatif. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai rasio CAMELS ditinjau dari segi capital, likuiditas, dan rentabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan laba baik secara parsial maupun simultan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan untuk penelitian yang sama dimasa mendatang diharapkan dapat meperbaiki penggunaan rasio CAMELS yang melibatkan aspek asset, manajemen, dan sensitivity to market risk agar diperoleh kinerja keuangan yang relevan. Serta sebaiknya sample dan periode pengamatan yang digunakan ditambahkan agar penelitian lebih akurat. Serta faktor inflasi sebaiknya dipertimbangkan dalam memprediksi perubahan laba dimasa mendatang.

Analisis isi buku teks Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS) kelas III Seoklah Dasar Negeri se-Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro / Nafsul Muthmainah

 

Kata kunci: analisis, buku teks, IPS, kelas III Buku teks merupakan salah satu sumber belajar yang tercetak yang digunakan di sekolah. Buku teks mata pelajaran IPS yang digunakan di sekolah saat ini yaitu buku yang dapat diperoleh dengan cara mengunduh dari internet yang dinamakan buku elektronik (e-book) dan kemudian disebut Buku Sekolah Elektronik (BSE). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat ke-sesuaian isi buku dengan kurikulum, mengidentifikasi kesesuaian cakupan materi berdasarkan aspek kognitif berupa fakta, konsep, dan generalisasi, serta kesesuai-an media gambar dalam buku teks. Penelitian ini dilakukan di 34 Sekolah Dasar Negeri se-kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro. Berdasarkan hasil wawancara di 34 sekolah tersebut ditemukan bahwa buku teks yang paling banyak digunakan adalah Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang ditulis oleh Muhammad Nursa’ban dan Rusmawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Instrumen dalam pe-nelitian ini yaitu tabel kesesuaian isi buku teks dengan kurikulum, tabel kesesuai-an cakupan materi berdasarkan aspek kognitif yang berupa fakta, konsep, dan generalisasi, dan tabel kesesuaian media gambar dalam buku teks. Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dokumentasi dan wawancara tidak terstruktur. Analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil pe-nelitian berdasarkan buku yang ditulis Muhammad Nursa’ban dan Rusmawan yaitu sebagai berikut. Pertama, materi pokok yang terdapat pada buku teks dapat dikatakan baik. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan materi pokok yang mencapai angka 65,8%. Kedua, fakta yang terdapat pada buku tersebut dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan fakta yang mencapai angka 55,5%. Konsep yang terdapat pada buku tersebut dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan konsep yang mencapai 57,3%. Generalisasi yang terdapat pada buku tersebut dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan konsep yang mencapai 59,5%. Ketiga, kesesuaian media gambar dalam buku teks tersebut dapat di-kategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan media gambar hanya mencapai 48,3%. Berdasarkan kesimpulan tersebut, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut. Jika dilihat dari kemunculan materi pokok, pembaca dapat menggunakan buku teks ini. Jika dilihat dari kemunculan fakta, konsep, dan generalisasi, pem-baca tidak menggunakan buku teks ini sebagai buku utama. Jika dilihat dari kemunculan media gambar, pembaca tidak menggunakan buku teks ini sebagai buku utama.

Penerapan model pembelajaran rotating trio exchange untuk meningkaytkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Norma Rumbaru

 

Kata Kunci: Pembelajaran IPS, rotating trio exchange, aktivitas dan hasil belajar. Pembelajaran IPS sebetulnya merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena materi yang ada pada mata pelajaran IPS merupakan dasar untuk diterapkan dalam kehidupan dilingkungan sosialnya. Sementara pada observasi yang dilakukan peneliti di SDN Lesanpuro I Kec Kedungkandang Kota Malang, ditemukan bahwa proses pembelajaran yang di lakukan oleh guru masih minim atau bersifat konvensional, kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah sehingga membuat siswa berbicara dengan teman ketika guru menjelaskan materi, guru tidak menggunakan media/alat peraga, guru lebih cenderung menggunakan buku LKS yang di miliki oleh setiap siswa. Sehingga hasil belajar yang diperoleh siswapun masih belum mencapai KKM yang ditentukan. Berdarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah: (1) menerapkan model pembelajaran Rotating Trio Exchange pada mata pelajaran IPS, (2) meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, (3) meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Jenis rancangan penelitian ini adalah PTK model Kemmis dan Taggart dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang sebanyak 46 siswa. Teknik pengumpulan data ini menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Hal ini dibuktikan pada nilai aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 54,21, dan siklus II sebesar 59,51. Sementara untuk hasil belajar siswa, ketuntasan pada pra tindakan sebesar 66,9 (kurang), siklus I sebesar 74,13 (cukup), dan siklus II sebesar 82,17 (baik). Dapat dinyatakan bahwa terdapat 39 dari 46 siswa yang telah mencapai KKM yang ditetapkan oleh sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kec Kedungkandang Kota Malang. Dan saran yang dapat diberikan yaitu agar dalam proses belajar mengajar hendaknya guru menggunakan model pembelajaran khususnya model Rotating Trio Exchange untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Analisis makna leksikal dan makna kontekstual dalam lagu Herbert Gronemeyer album Mensch / Krisna Aji Kusuma

 

Model solusi dan panduan pembelajaran transformatif untuk program pendampingan anak jalanan / Tiara Rahmania Martharini

 

ABSTRAK Rahmania M, Tiara. 2016. Model Solusi dan Buku Panduan Pembelajaran Transformatif untuk Program Pendampingan Anak Jalanan. Tesis. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ach. Rasyad, M.Pd., (II) Dr. M. Djauzi Moedzakir, M.A Kata kunci:Pendidikan Luar Sekolah, Pendidikan Informal, Pembelajaran Transformatif, Anak Jalanan. Di Indonesia banyak ditemukan anak jalanan yang telah mengikuti program pendampingan, tetapi tetap kembali ke jalanan. Menurut Wahyuni (2009:174) “pendampingan anak jalanan akan memperoleh keberhasilan apabila mampu mengubah dan menyentuh mindset anak jalanan disamping mementingkan hal yang bersifat hard skill ”. Sehingga konsekuensi pendampingan yang ideal adalah memiliki konsep perubahan keyakinan atau pembelajaran yang transformatif. Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk yang layak digunakan, berupa model solusi dan buku panduan pelaksanaan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran transformatif untuk program pendampingan anak jalanan. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan dengan tahap: (1) Penelitian pendahuluan; (2) Perencanaan dan pengembangan produk; (3) Validasi ahli dan revisi: (4) Validasi pengguna lapangan terbatas dan revisi; (5)Validasi pengguna lapangan luas dan revisi;(6) Pelaporan. Validasi produk dilakukan oleh masing-masing dua orang ahli bidang PLS dan ahli media pembelajaran, sementaravalidasipengguna lapangan dilakukan oleh dua kelompok pengguna. Kelompok pertama adalah pendamping dari Sanggar Alang-Alang Surabaya. Kelompok kedua adalah pendamping dari komunitas Save Street Child Malang. Hasil dari penelitian ini adalah buku panduan pembelajaran yang didalamnya memuat model solusi dan panduan pelaksanaan pembelajaran transformatif untuk program pendampingan anak jalanan. Pada model solusiberdasarkan permasalahan dan dianalisis sesuai kebutuhan, daya dukung, landasan konseptual, dan landasan prosedural. Semua landasan pengembangan buku dan penjelasan tentang pembelajaran transformatif untuk pengembangan anak jalanan dijelaskan secara praktis pada bab 1, 2 dan 3. Bab 4 adalah panduan pelaksanaan yang bisa dilaksanakan langsung di lapangan.Hasil pengembangan buku panduan ini berdasarkan tanggapan dari ahli bidang PLS masing-masing sebesar 75% dengan interpretasi cukup layak digunakan dan ahli media pembelajaran menyatakan media ini cukup layak dengan jumlah tanggapan sebesar 89,28% dan 64,28%. Tanggapan dari10 pengguna terbatas dan 20 pengguna luas adalahbuku panduanini memiliki kualifikasi dan interpretasi cukup valid dengan revisi kecil sehingga layak digunakan. Buku panduan dalam penelitian ini diproduksi untuk pendamping, sehingga efektivitas buku panduan terhadap anak jalanan tidak diteliti. Disarankan untuk dilakukan penelitian terkait efektivitas buku panduan yang digunakan pendamping kepada anak jalanan, serta penelitian tindakan masalah anak jalanan dengan menggunakan buku panduan ini.

Hubungan kemampuan verbal dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar matematika siswa SMU Negeri di Kodya Malang / oleh A H Kaluge

 

Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap keputusan peserta didik dalam memilih lembaga pendidikan / Achmad Nurhidayat

 

Technological pedagogical content knowledge dan kemampuan menyusun perangkat pembelajaran calon guru fisika melalui model pembelajaran post-pack di Universitas Negeri Malang / Mar'atus Sholihah

 

ABSTRAK Sholihah, Mar’atus. 2016. Technological Pedagogical Content Knowledge dan Kemampuan Menyusun Perangkat Pembelajaran Calon Guru Fisika melalui Model Pembelajaran POST-PACK di Universitas Negeri Malang. Tesis. Jurusan Pendidikan Fisika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Lia Yuliati, M.Pd., (II) Dr.Wartono, M.Pd Kata Kunci: Technological Pedagogical Content Knowledge, perangkat pembelajaran, model pembelajaran Project Problem Solving TPACK (POST-PACK), calon guru fisika Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dan kemampuan menyusun perangkat pembelajaran memiliki keterkaitan dan penting bagi calon guru fisika. TPACK adalah pengetahuan yang kompleks karena merupakan hasil irisan dari pengetahuan konten materi, pedagogi, dan teknologi. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui TPACK dan kemampuan menyusun perangkat pembelajaran calon guru fisika, serta menganalisis korelasi antara TPACK terhadap kemampuan menyusun perangkat pembelajaran. Penelitian ini menggunakan model penelitian mixed method embedded experimental model. Subjek penelitian adalah sembilan belas calon guru fisika yang sedang menempuh mata kuliah Pengembangan Program Pembelajaran Fisika (P3F) pada semester genap tahun ajaran 2015/2016 di UM yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran POST-PACK. Model pembelajaran POST-PACK terdiri atas enam fase yaitu focus on the problem, describe the physics with mind map and CoRe, design lesson plan based on the problem, peer assessment and progress of the project, implementation of lesson plan dan, reflection and evaluation. Instrumen penelitian terdiri atas SAP dan LKM yang sesuai dengan sintaks model pembelajaran POST-PACK, instrumen tes TPACK, soal penilaian diri TK dan TPK, rubrik penilaian mind map, CoRe, perangkat pembelajaran, dan lembar keterlaksanaan perkuliahan P3F. Analisis untuk mengetahui peningkatan TPACK dan pengaruh dianalisis dengan uji N-Gain dan uji effect size. Hasil analisis perangkat pembelajaran dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Di sisi lain, uji statistik non parametris Spearman Rank digunakan untuk menganalisis korelasi TPACK terhadap kemampuan menyusun perangkat pembelajaran. Selain itu, analisis secara kualitatif dilakukan dengan cara pengkodean, yang diinterprestasikan ke dalam bentuk grafik dan tabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa TPACK calon guru fisika mengalami peningkatan. Hasil analisis perangkat pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan kemampuan calon guru fisika dalam menyusun RPP dan LKS mulai dari kerja berkelompok sampai pada kerja mandiri. Komponen kemampuan menyusun perangkat pembelajaran yang masih harus ditingkatkan lagi adalah kemampuan merencanakan kegiatan pembelajaran, menyusun penilaian, memilih sumber belajar dan teknologi, serta merencanakan aktivitas dan pertanyaan diskusi di LKS.

Analisis fungsi tata hubungan motif gerak pada struktur tari jaran dor Krida Budhaya desa Krebek Kota Batu / oleh Nurul Wahyuningsih

 

Tari Jaran Dor Krida Budhaya di desa Klerek kota Batu, merupakan tari tradisional kerakyatan yang menggunakan motif gerak dengan hubungan memiliki fungsi-fungsi tersendiri dan geraknya ditekankan pada instrumen jidor. Selain geraknya, tari jaran Dor memiliki karakteristik pada kostum, yaitu dengan memakai kostum dari bahan goni. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dokumen yang relatif lengkap tentang tari tradisional yang berkembang di desa Klerek yaitu analisis fungsi motif gerak dan dan tata hubungan pada struktur tari jaran Dor Krida Budaya di desa Klerek kota Batu. Penelitin dilakukan di desa Klerek, kota Batu dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah alat tulis, tape recorder, kamera, dengan metode wawancara dan metode observasi yang mana sumber data berasal dari seniman tari jaran Dor Krida Budhaya yaitu pelatih gerak dan penabuh instrumen musik. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Tari jaran Dor Krida Budhaya adalah tari yang diciptakan oleh bapak Kastu sekitar tahun 1979 dengan menggunakan motif gerak pada ketangkasan kaki sebagai dasar gerak tari jaran Dor Krida Budhaya. 2. Struktur gerak tari Jaran Dor Krida Budhaya yang terdiri dari 3 gugus, 9 kalimat gerak dengan jumlah pengulangan 12 kali, 13 fase gerak dengan jumlah pengulangan 15 kali, dan 23 motif gerak dengan pengulangan 15 kali. 3. Fungsi tata hubungan motif gerak pada tari Jaran Dor adalah sebagai gerak pembuka, sebagai gerak penghubung antara motif yang satu dengan motif berikutnya, sebagai penyampaian informasi kepada penonton bahwa awal gerak dibuka dan ditutup, serta ditutup sebagai gerak simbolik dengan penggambaran kuda sedang berjalan, berlari menghindar dan lainnya.

Penggunaan topik berkelanjutan dalam wacana percakapan mahasiswa pondokan / oleh Fatatul Azimah

 

Pembelajaran think pair share untuk memahamkan konsep garis singgung persekutuan dua lingkaran pada siswa kelas VIII di SMPN 2 Blitar / Malikah Nurul Hidayah

 

Kata Kunci: Pemahaman, Think Pair Share, Garis Singgung Persekutuan dua Lingkaran. Materi garis singgung persekutuan dua lingkaran diperlukan dalam kehidupan .Tetapi kenyataannya penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi ini di SMPN 2 Blitar ini masih kurang karena pembelajaran cenderung menggunakan model teacher centered.Akibatnya prestasi belajar siswa juga kurang maksimal. Berdasarkan data tersebut maka digunakan model pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share), yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara individu, berkelompok dan juga menyampaikan pendapatnya. Untuk menjawab permasalahan di atas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan dampak strategi pembelajaran think pair share dalam membelajarkan materi garis singgung persekutuan dua lingkaran pada siswa kelas VIII SMPN 2 Blitar. Penelitian ini dilaksanakan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu (1) menyusun tindakan, (2) melakukan tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Pembelajaran think pair share ini mempunyai tiga tahapan yaitu: think, pair, dan share . Pada tahapan think, siswa mempunyai kesempatan untuk berpikir secara individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang telah diberikan dalam LKS. Pada tahap pair, siswa dapat berdiskusi untuk menemukan kesepakatan penyelesaian permasalahan dengan teman kelompoknya dan guru hanya sebagai mediator. Sedangkan pada tahap share, siswa dapat menyampaikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Selain itu siswa dapat menerima masukan/saran dari kelompok lain. Pada penelitian ini ditemukan adanya peningkatan prestasi belajar yang dapat dilihat dengan membandingkan hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2. Instrumen yang digunakan adalah tes, lembar observasi (aktivitas guru dan siswa), lembar wawancara. Berdasarkan data hasil penelitian menyatakan bahwa prosentase hasil tes secara klasikal yang mendapatkan nilai minimal 80 meningkat dari 21 siswa pada siklus 1 menjadi 27 siswa pada siklus 2. Hasil wawancara dengan tiga siswa berkemampuan rendah, sedang dan tinggi menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif dalam mengikuti pembelajaran think pair share. Hasil LKS menunjukkan bahwa siswa sudah dapat menentukan rumus panjang garis singgung persekutuan dua lingkaran sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Think Pair Share dapat memahamkan konsep dan meningkatkan hasil belajar siswa SMPN 2 Blitar pada materi garis singgung persekutuan dua lingkaran. Oleh karena itu, pembelajaran think pair share dapat dijadikan sebagai suatu pembelajaran alternatif yang layak dipertimbangkan dalam pembelajaran garis singgung persekutuan dua lingkaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing pada konsep animalia dan ekosistem untuk meningkatkan proses, hasil belajar , sikap, dan respons siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006 / oleh Mustamin Lila

 

Paradigma pembelajaran telah berubah, seiring dengan disosialisasikannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), maka proses pembelajaran ikut berubah dari teacher centered menjadi student centered, di mana proses pembelajaran menjadi lebih aktif serta menambah pengalaman belajar bagi siswa. Guru sebagai mediator dan fasilitator merupakan perantara untuk menyediakan kondisi supaya proses pembelajaran dapat berlangsung seperti yang diharapkan, yakni memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Pembelajaran Biologi menurut Depdiknas (2003b), menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Pemahaman ini bermanfaat bagi siswa agar dapat menanggapi isu lokal, nasional, kawasan, dunia, sosial, ekonomi, lingkungan, dan etika. Salah satu strategi pembelajaran yang berorientasi pada pandangan konstruktivis yang dapat mengatasi permasalahan di atas adalah belajar secara kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing. Menurut Lie (1999) model Jigsaw memiliki banyak kelebihan yaitu: meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan meningkatkan keahlian dalam penyampaian ide-ide, meningkatkan kemampuan bekerjasama dan menjalin kebersamaan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghargai perbedaan, meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, memberikan pengalaman untuk saling mengajar antar siswa dalam suatu kelompok, atau antara perwakilan kelompok satu dengan kelompok lainnya, menumbuhkan sikap sosial, motivasi, harga diri dan sikap sportif, serta meningkatkan proses dan hasil belajar dengan prestasi akademik yang tinggi. Sedangkan Problem Posing merupakan pendekatan pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan siswa, dan dalam proses pembelajarannya membangun struktur kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa untuk lebih berpikir kritis dan kreatif. Hal tersebut dilakukan siswa dengan mengaitkan kemampuan yang dimilikinya untuk dipergunakan dalam merumuskan soal dan jawaban (Najoan, 1999). Masalah yang diangkat dalam penelitian ini mencakup (1) Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing pada konsep Animalia dan Ekosistem dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006? (2) Bagaimana sikap siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006 terhadap konsep Animalia dan Ekosistem melalui penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing? (3) Bagaimana respons siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006 terhadap penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing pada konsep Animalia dan Ekosistem? Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action research (CAR) yang bersifat partisipatoris-kolaboratif. Penelitian ini dilaksanakan 3 siklus dengan desain mengacu pada model Kemmis dan Taggart (dalam Depdiknas, 1999), yang terdiri atas 4 tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan/observasi, evaluasi, dan refleksi. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas X (23 siswa) yang memiliki nilai rata-rata ulangan semester (UUS) I terendah di SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Proses belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke II dan ke III, yaitu (a) keaktifan siswa: nilai rata-rata kelas meningkat dari 40,9% menjadi 59,5% dan 67,7% (b) keterampilan kooperatif: nilai rata-rata meningkat dari 3,0 menjadi 3,5 dan 3,8; (2) Hasil belajar mengalami peningkatan dari siklus I ke II dan ke III, yaitu (a) keterampilan berpikir kritis merumuskan soal dan merumuskan jawaban, nilai rata-rata meningkat dari 3,0 menjadi 3,5 dan 4,1 (b) kemampuan kognitif, nilai rata-rata meningkat dari 53,9 menjadi 65,3 dan 71,8; (3) Skor sikap siswa terhadap materi pelajaran meningkat dari 67,9 menjadi 72,6 dan 78,4 dan (4) Respons siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran: nilai rata-rata siswa menunjukkan respons positif atau setuju (77,1%). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing pada konsep Animalia dan Ekosistem dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006; (2) Skor sikap siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006 terhadap konsep Animalia dan Ekosistem meningkat melalui penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing; dan (3) penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu Problem Posing pada konsep Animalia dan Ekosistem mendapat respons positif dari siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang tahun ajaran 2005/2006.

Pengaruh kompetensi personal, profesional, dan sosial dosen terhadap keefektivan proses belajar mengajar di UIN Malang / oleh Bustanul Arifin

 

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan keefektivan proses belajar mengajar di perguruan tinggi, termasuk di UIN Malang, adalah kompetensi dosen. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi yang diperlukan seorang dosen agar proses belajar mengajar berjalan efektif yaitu: kompetensi personal, profesional dan sosial. Kompetensi yang dimiliki oleh seorang dosen harus terus ditingkatkan dan diupayakan oleh pimpinan universitas maupun oleh dosen yang bersangkutan. Karena dengan kompetensi yang tinggilah maka seorang dosen dapat melakukan tugasnya melaksanakan pengajaran dengan baik yaitu mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Peneliti memilih UIN Malang sebagai lokasi penelitian karena UIN Malang adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang mempunyai geliat pengembangan terutama pada aspek tenaga pendidik (dosen). Hal ini terlihat dari berbagai program yang dicanangkannya, peneliti juga memilih aspek tenaga pendidik (dosen) sebagai subyek penelitian karena dosen dapat secara “langsung“ mempengaruhi keefektivan proses belajar mengajar. Kompetensi dianggap mampu mempengaruhi proses belajar mengajar. Untuk membuktikan hal tersebut maka peneliti mengangkat beberapa masalah pada penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakah tingkat kompetensi personal dosen UIN Malang? (2) Bagaimanakah tingkat kompetensi profesional dosen UIN Malang? (3) Bagaimanakah tingkat kompetensi sosial dosen UIN Malang? (4) Apakah ada pengaruh signifikan kompetensi personal dosen terhadap keefektivan proses belajar mengajar di UIN Malang? (5) Apakah ada pengaruh signifikan kompetensi profesional dosen terhadap keefektivan proses belajar mengajar di UIN Malang? (6)Apakah ada pengaruh signifikan kompetensi sosial dosen terhadap keefektivan proses belajar mengajar di UIN Malang? (7) Apakah ada pengaruh signifikan kompetensi personal, profesional dan sosial dosen terhadap keefektivan proses belajar mengajar di UIN Malang? Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantiatif. Penentuan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling, Data diperoleh dari 218 populasi dengan sampel sebesar 139. Pengumpulan data dilakukan dengan angket tertutup yang terdiri dari angket keefektifan proses belajar mengajar, kompetensi personal, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, korelasi parsial dan regresi ganda maka peneliti menarik beberapa kesimpulan, yaitu: (1) Tingkat kompetensi personal dosen UIN Malang tergolong dalam ketegori efektif. (2) Tingkat kompetensi profesional dosen UIN Malang tergolong dalam kategori efektif. (3) Kompetensi sosial dosen UIN Malang tergolong dalam kategori sangat efektif. (4) Terdapat pengaruh signifikan kompetensi personal dosen UIN terhadap keefektivan proses belajar mengajar. (5) Terdapat pengaruh signifikan kompetensi profesional dosen UIN terhadap keefektivan proses belajar mengajar. (6) Terdapat pengaruh signifikan kompetensi sosial dosen UIN terhadap keefektivan proses belajar mengajar. (7) Terdapat pengaruh signifikan kompetensi personal, profesional dan sosial dosen UIN terhadap keefektivan proses belajar mengajar. Berdasarkan kesimpulan, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut: (1) Kepada pimpinan dan dosen UIN Malang hendaknya meningkatkan Kompetensi personal, profesional, dan sosialnya untuk dapat meningkatkan keefektivan proses belajar mengajar di UIN Malang. (2) Kepada pimpinan UIN Malang bahwa penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang berkaitan dengan kompetensi personal, profesional dan sosial dosen UIN Malang. (3) Bagi peneliti lain di waktu mendatang, dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan perbandingan terhadap variabel yang sama dengan menggunakan pendekatan penelitian yang berbeda. (4) Bagi pembaca hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memperkaya khasanah keilmuan tentang kompetensi dosen dan keefektivan proses belajar mengajar.

Penerapan pembelajaran fisika kerja laboratorium disertai peta konsep untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-C semester I MAN I Malang / Maulidi Rahmat

 

Kata Kunci : Pembelajaran Fisika, Kerja Laboratorium, Peta konsep. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di MAN 1 Malang, ditemukan bahwa ceramah merupakan metode yang paling sering digunakan guru selama proses pembelajaran fisika. Siswa terlihat kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti hanya mencatat, mengerjakan tugas. Siswa jarang sekali bertanya atau menyampaikan argumen. Siswa juga mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal pretes, dengan nilai rata-rata 70,3. Siswa kurang memperoleh pengalaman secara langsung karena jarang sekali diajak melakukan penyelidikan dalam eksperimen. Akibatnya prestasi belajar siswa seperti nilai ujian masih rendah. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-C MAN 1 Malang tahun pelajaran 20011/2012 dengan penerapan pembelajaran fisika metode kerja laboratorium disertai peta konsep. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan pada penelitian ini berupa penerapan pembelajaran fisika kerja laboratorium disertai peta konsep. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, siklus pertama dilaksanakan dalam lima kali pertemuan dan siklus kedua dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas X-C MAN 1 Malang tahun pelajaran 2011/2012 yang terdiri atas 33 siswa, yaitu 16 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Materi yang digunakan adalah besaran, satuan serta pengukuran dan hukum Newton. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar keterlaksanaan metode kerja laboratorium disertai peta konsep dan catatan lapangan. Instrumen tindakan yang digunakan meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja siswa (LKS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran fisika metode kerja laboratorium disertai peta konsep dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-C MAN 1 Malang. Prestasi belajar siswa pada siklus satu dengan nilai rata-rata 71,52 dan persentase siswa yang sudah memenuhi KKM menjadi 81,82%, sedangkan pada siklus kedua dengan nilai rata-rata 80,30 dengan persentase siswa yang sudah memenuhi KKM sebesar 93,93%. Sehingga dikatakan penerapan metode tersebut telah mengalami peningkatan persentase yang sangat baik dari siklus pertama ke siklus kedua yakni sebesar 12,11%.

Implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 8 Malang / Nurul Devianti

 

Kata Kunci: implementasi, pendidikan kecakapan hidup, pembelajaran Bahasa Indonesia Kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan masih diwarnai dengan praktik-praktik yang justru menghambat proses peningkatan potensi siswa, sehingga siswa tidak mengetahui manfaat yang dipelajari dan menggunakan materi yang telah dipelajari di sekolah untuk kehidupan sehari-hari yang dihadapinya. Pendidikan harus mampu memberikan bekal kecakapan hidup bagi siswa. Kecakapan hidup bukanlah mata pelajaran tetapi dapat berupa muatan mata pelajaran. Mata pelajaran dipahami sebagai alat untuk mengembangkan potensi siswa yang diberikan dengan mengintegrasikannya pada berbagai mata pelajaran. Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki kontribusi dalam memberikan pendidikan kecakapan hidup bagi siswa. Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memerlukan pemahaman guru sebagai pelaksana kurikulum, fasilitator, dan motivator bagi siswa melalui kegiatan pembelajaran di sekolah sehingga siswa memiliki bekal kompetensi untuk menghadapi dan memecahkan masalah di kehidupan nyata. Dengan demikian, diperlukan kajian yang mempelajari dan menerangkan apakah pendidikan kecakapan hidup telah benar-benar diimplementasikan ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia oleh pelaksana kurikulum (guru) sesuai tuntutan kurikulum yang dilaksanakan. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sejauh mana implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 8 Malang. Penelitian juga bertujuan mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan jenis penelitian deskriptif evaluatif. Jenis data dalam penelitian merupakan data kualitatif berupa deskripsi tentang implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta kendala dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Prosedur pengumpulan data dengan menggunakan studi dokumen, teknik observasi, dan wawancara. Data dianalisis secara kontinyu dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi. Berdasarkan analisis data, implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam perencanaan pembelajaran terwujud dalam: (1) perumusan indikator secara autentik telah memuat kecakapan hidup yakni kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional dasar, sesuai kecakapan yang dituntut dalam kompetensi dasar yang ingin dicapai, terukur, bersifat operasional dan khusus, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda, (2) pemilihan materi tidak dijelaskan secara mendalam dan rinci sehingga tidak mendukung pendidikan kecakapan hidup yang dituntut dalam kompetensi dasar (3) penentuan sumber dan media pembelajaran sesuai dengan pendidikan kecakapan hidup yang dituntut dalam kompetensi yang ingin dicapai (4) penyusunan langkah-langkah pembelajaran terdapat kesesuaian setiap langkah pembelajaran yang menumbuhkan kecakapan hidup sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, (5) penyusunan strategi atau metode pembelajaran menumbuhkan pendidikan kecakapan hidup sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai tetapi kurang variatif, dan (6) penyusunan perencanaan evaluasi dicantumkan dengan prosedur dan jenis penilaian untuk mengukur kecakapan hidup berdasarkan tuntutan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam pelaksanaan pembelajaran terwujud pada tahap awal pembelajaran, implementasi pembelajaran kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan dan membelajarkan siswa dalam pengelolaan diri sebagai bentuk pendidikan kecakapan hidup yang terwujud dalam bentuk tindakan guru dengan menunjukkan keberterimaan siswa di dalam kelas dan mempersiapkan siswa untuk belajar tentang kompetensi. Pada tahap inti pembelajaran, ditemukan dalam: (1) menjelaskan materi yang melatihkan keterampilan personal, sosial, dan akademik, (2) menggunakan strategi pembelajaran yang aktif mendukung pendidikan kecakapan hidup yang dituntut dalam kompetensi dasar, (3) membantu menggali kecakapan berpikir, (4) mengarahkan siswa untuk bekerja sama, (5) mengarahkan siswa untuk menguasai ketreampilan/kompetensi yang diajarkan sesuai dengan prosedur, dan (6) mengarahkan siswa untuk memiliki pengetahuan. Pada kegiatan penutup, kegiatan yang mengarahkan siswa untuk mempersiapkan materi untuk pertemuan yang akan datang sebagai wujud pengelolaan diri yang baik. Implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam evaluasi pembelajaran terwujud dalam penggunaan berbagai bentuk dan teknik penilaian yang autentik menunjukkan kepada guru berbagai kecakapan hidup yang telah diimplementasikan kemudian dikuasai siswa yang terwujud dalam: (1) kesesuaian butir tes dengan kecakapan hidup yang dituntut dalam kompetensi dasar, (2) variasi alat tes yang digunakan untuk mengukur kecakapan hidup yang telah dikuasai siswa sesuai kompetensi yang diajarkan, (3) mengajukan pertanyaan yang menggali kemampuan berpikir dan relevan dengan kompetensi yang akan dicapai, (4) melaksanakan penilaian yang tidak menekankan pentingnya menilai pemahaman materi tetapi juga pemahaman tentang kaidah, cara berpikir, keterampilan, serta sikap, dan (5) memeriksa jawaban siswa untuk mengetahui informasi mengenai dampak aktivitas pembelajaran terhadap daya serap siswa terhadap kecakapan hidup yang telah diimplementasikan. Kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan kecakapan hidup adalah pemahaman tentang konsep kecakapan hidup dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Perlu disadari bahwa meskipun dapat dipilah, kecakapan hidup merupakan satu keutuhan dan setiap kompetensi yang dituntut dalam kurikulum memerlukan berbagai kecakapan, tetapi hanya satu kecakapan yang menonjol.

Pemberdayaan masyatakat Bantaran Sungai Lematang dalam menurunkan kekeruhan air dengan biji kelor (Moringa oliefera Lam.) sebagai upaya pengembangan proses penjernihan air / oleh Saleh Hidayat

 

Pengaruh modal kerja (konsep kualitatif) terhadap rentabilitas pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEJ tahun 2003-2005 / oleh Ratna Ismawati

 

Didirikannya suatu perusahaan bertujuan untuk mendapatkan laba semaksimal mungkin. Modal dan laba yang besar pada dasarnya belum menggambarkan suatu perusahaan dalam mencapai rentabilitas yang tinggi pula. Modal kerja memegang peranan yang penting dalam suatu perusahaan dan dijalankan untuk menjalankan kegiatan operasi. Besar kecilnya modal kerja tergantung pada jenis usaha perusahaan. Modal kerja dibutuhkan oleh perusahaan untuk membiayai operasi perusahaannya. Kelebihan modal kerja mengakibatkan adanya modal kerja yang menganggur, sedangkan kekurangan modal kerja akan mengakibatkan kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya menjadi lancar. Untuk mencapai tingkat rentabilitas yang tinggi maka perusahaan perlu mengelola modal kerjanya secara efisien. Persaingan yang ketat diantara industri-industri yang ada mengharuskan pimpinan perusahaan untuk mengelola faktor-faktor produksi yang dimilikinya seefektif mungkin agar perusahaan yang beroperasi dapat mencapai laba yang optimal dengan tingkat rentabilitas yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalaha untuk (1) Mengetahui kondisi modal kerja dengan melihat rata-rata modal kerja yang terjadi tiap tahunnya; (2) Mengetahui kondisi tingkat rentabilitas (3) Mengetahui pengaruh modal kerja terhadap rentabilitas pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEJ selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2005. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis rasio keuangan untuk rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri serta analisis regresi dengan menggunakan SPSS for Windows. Variable bebas (X) dalam penelitian ini adalah modal kerja, sedangkan variabel terikat (Y) adalah rentabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Modal kerja dan kinerja operasi perusahaan adalah baik. Hal ini dapat terlihat dari semakin meningkatnya rata-rata modal kerja selama tahun 2003-2005. Dari perhitungan diperoleh hasil data pada tahun 2003 rata-rata modal kerja sebesar 74.545.000; pada tahun 2004 sebesar 96.988.000; dan untuk tahun 2005 sebesar 99.456.000. Dengan demikian perusahaan banyak mengeluarkan modal untuk setiap operasi usahanya sehingga dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam pencapaian tingkat renbilitas. (2) Tingkat rentabilitas ekonomi selama tahun 2003 sampai tahun 2005 mengalami fluktuasi yang tidak stabil. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata rentabilitas ekonomi dari tahun 2003-2005 adalah sebesar 63.35%. Pada tahun 2003 sebesar 86.24%; pada tahun 2004 sebesar 92.77%; dan untuk tahun 2005 adalah sebesar 25.29%. Dengan demikian diketahui bahwa perusahaan dengan modal usaha yang sebesar tersebut diatas tidak mampu mencapai laba usaha yang maksimal untuk pencapaian tingkat rentabilitas perusahaan. (3) Tingkat rentabilitas modal sendiri selama tahun 2003 sampai tahun 2005 terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata rentabilitas modal sendiri dari tahun 2003-2005 adalah sebesar 82.96%; pada tahun 2003 adalah sebesar 21.12%; pada tahun 2004 sebesr 59.93%; dan untuk tahun 2005 mencapai peningkatan yang ekstrim yaitu sebesar 136.58%. Dengan demikian perusahaan mampu mencapai tingkat rentabilitas karena perusahaan lebih banyak mengunakan modal sendiri atau modal dari para pemilik saham. (4) Pada penggunaan modal kerja perusahaan dari tahun 2003-2005 tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi. (5) Pada penggunaan modal kerja perusahaan dari tahun 2003-2005 juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas modal sendiri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan bagi perusahaan Makanan dan Minuman yang listing di BEJ untuk meningkatkan tingkat rentabilitas. Cara yang dapat diambil adalah dengan meningkatkan laba usahanya (net operating income) yang ditentukan oleh omzet penjualan (net sales).

Pengaruh pengumuman rencana kompensasi BBM bidang kesehatan terhadap return, abnormal return dan trading volume activity saham Perusahaan Farmasi di BEJ / oleh Hebron Barkah Adi

 

Pengembangan bahan ajar boost converter pada mata kuliah praktikum elektronika daya di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Arga Tri Agung Hermawan

 

Kata kunci: Pengembangan, Bahan Ajar, Konverter Boost Konverter Boost banyak digunakan pada bidang industri, kesehatan, pendidikan maupun dalam alat-alat elektronik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.Cara pengontrolan tegangan output pada Konverter Boost menggunakan PWM (Pulse Width Modulation) dimana yang dikontrol adalah lebar pulsa (duty cycle). Pengontrolan PWM yang menggunakan sistem digital karena lebih mudah dan range pengontrolan yang lebih besar sehingga dapat menghasilkan data yang lebih akurat. Pada Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang trainer Konverter Boost masih menggunakan sistem analog, sehingga tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menyediakan bahan ajar praktikum pada mata kuliah Praktikum Elektronika Daya sub mata kuliah Konverter Boost di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dan menguji kelayakan bahan ajarKonverter Boosthingga dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Metode penelitian pada penelitian pengembangan ini, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (1) bedah kurikulum; (2) identifikasi media; (3) pengembangan naskah; (4) produksi; (5) penyempurnaan; (6) tes/uji coba; dan (7) revisi. Berdasarkan pada hasil uji coba, diperoleh presentase dari tiap-tiap subyek coba sebagai berikut: (1) skor validasi ahli media, diperoleh presentase sebesar 87%, (2) skor validasi ahli materi, diperoleh persentase sebesar 78,8%, dan didapatkan rata-rata skor validasi sebesar 82,9% (3) skor angket keterlaksanaan sebesar 86%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar praktikum Konverter Boost pada mata kuliah Elektronika Daya di Jurusan Elektro Universitas Negeri Malang dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai bahan ajar.

Gaya arsitektur gereja Kyai Sadrach di Purworejo Jawa Tengah : tinjauan inkulturasi budaya / oleh Agus Ratnaningrum

 

ABSTRAK Ratnaningrum, Agus. 2007. Gaya Arsitektur Gereja Kyai Sadrach di Purworejo Jawa Tengah (Tinjauan Inkulturasi Budaya). Skripsi. Program Pendidikan Sejarah. Jurusan Sejarah. Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Blasius Suprapta M.Hum, (II) Drs. A.J Purwanto M.Pd. Kata kunci: arsitektur islam, gereja, kyai sadrach Gereja Kyai Sadrach merupakan bangunan Gereja Kristen Jawa tertua di Jawa Tengah yang memiliki keunikan. Adanya unsur-unsur gaya arsitektur Islam yang terdapat di Indonesia yaitu pola bangunan masjid tradisional di Jawa yang bernuansa joglo, menjadikan gereja ini memiliki keragaman budaya sebagai latar belakang gaya arsitekturnya. Bangunan Gereja Kyai Sadrach adalah bangunan gereja yang pada dasarnya menyerupai pola bangunan masjid tetapi bukan seperti pada umumnya bentuk bangunan masjid yang disertai dengan kubah. Dalam hal ini khususnya bangunan masjid tradisional di Jawa yang mengikuti gaya arsitektur rumah tradisional Jawa yaitu bentuk joglo, dimana gereja ini memiliki ruangan yang berbentuk bujursangkar dilengkapi empat tiang induk yang disebut juga dengan istilah saka guru. Selain itu, dijumpai pula pada bangunan gereja ini yaitu atap susun yang disebut dengan tumpang dengan jumlah ganjil Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana korelasi antara gaya arsitektur dengan karakteristik wujud inkulturasi (pembudayaan) yang melatarbelakanginya terkait juga pada tokoh Kyai Sadrach selaku pendiri gereja. Penelitian ini merupakan penelitian arkeologi budaya dengan pendekatan kualitatif dan lebih dispesifikasikan pada jenis penelitian kualitatif deskriptif. Menggunakan pendekatan kualitatif karena dapat mendeskripsikan hasil temuan data dalam penelitian secara mendalam untuk selanjutnya dilakukan interpretasi. Penelitian ini mencakup tinjauan proses inkulturasi (pembudayaan) berkenaan adanya budaya Islam-Jawa dan Kristen pada arsitektur Gereja Kyai Sadrach. Untuk mengungkapkan gaya arsitektur pada Gereja Kyai Sadrach dilakukan analisis morfologi pada arsitektur gereja tersebut yaitu adanya unsur-unsur arsitektur rumah tradisional Jawa bentuk Joglo, unsur-unsur arsitektur masjid tradisional di Jawa dan unsur-unsur arsitektur Gereja Kristen Jawa yaitu adanya ruangan khusus yang mengidentikkan ciri dari bangunan Gereja Kristen Jawa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara pendirian bangunan Gereja Kyai Sadrach dan pengaruh proses inkulturasi (pembudayaan) pada gaya arsitektur terdapat hubungan yang erat, yaitu keterkaitan antara latar belakang budaya pada gaya arsitektur Gereja Kyai Sadrach dan tokoh pendiri gereja yaitu Kyai Sadrach dimana hal tersebut menunjukkan bahwa gaya arsitektur semasa hidup Kyai Sadrach di daerah penelitian dilandasi oleh pengaruh adanya proses inkulturasi (pembudayaan). Jika pengaruh proses inkulturasi seperti itu tidak ada sama sekali, maka pada gaya arsitektur gereja ini pun tidak akan memiliki kekhasan tersendiri. Dapat pula bila dikaitkan dengan tokoh Kyai Sadrach sebagai pendiri gereja yang memiliki latar belakang budaya Islam-Jawa dan Kristen-Jawa, 1 dimana jika tidak ada peran individu ataupun masyarakat tertentu didalamnya maka proses inkulturasi pun tidak dapat berlangsung. Melihat korelasinya yang demikian erat, hal itu menunjukkan bahwa proses inkulturasi (pembudayaan) merupakan suatu pengaruh yang besar untuk disadari dan diperhatikan. Terlebih lagi, bersifat menentukan dalam pengambilan keputusan mengenai keragaman budaya yang dianut baik oleh individu ataupun masyarakat tertentu yang melatarbelakangi gaya arsitektur keagamaan pada suatu ruang dan waktu tertentu.

Korelasi antara prestasi harian dengan prestasi akhir siswa kelas I cawu 2 mata pelajaran akuntansi SMU Wahidiyah Kediri tahun pelajaran 1997/1998 / oleh Juwito

 

Penerapan penugasan portofolio untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar geografi siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Waru Pamekasan / Rinik Listin Oktavia

 

Kata Kunci: Penugasan Portofolio, Aktivitas, Hasil Belajar Geografi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 6 September 2011 di kelas X-I SMA Negeri I Waru Pamekasan diketahui guru yang mengajar geografi itu menggunakan metode ceramah, siswa terlihat kurang aktif di dalam kegiatan pembelajaran. Membuat artikel dan makalah sangat digemari oleh siswa kelas X-I ini. Hal ini tidak lepas dari sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah. Apabila ada tugas membuat artikel atau makalah, guru hanya menyuruh membuat dan mengumpulkan tanpa ada diskusi untuk membahas tugas siswa. Akses internet dan hotspot bisa digunakan siswa tanpa batasan waktu untuk membuat tugas, sarana internet bisa digunakan pada saat pelajaran komputer sedangkan akses hotspot bisa digunakan melalui sarana laptop. Peluang inilah yang dimanfaatkan untuk melakukan penelitian penugasan portofolio. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Clasrom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan, Setiap siklus terdiri atas 3 kali pertemuan selama 1 jam pelajaran. Subyek penelitian yang digunakan adalah dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI-IA2 semester genap tahun ajaran 2011-2012 SMA Negeri I Waru Pamekasan yang berjumlah 34 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah data mengerjakan tugas dari guru ( membuat artikel dimana dikumpulkan dan dinilai dalam bentuk penugasan), aktivitas diskusi, dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa diukur menggunakan lembar observasi, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih tes pada siklus I dengan tes pada siklus II. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode penugasan portofolio dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pembelajaran geografi dengan menggunakan metode penugasan portofolio dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, pada siklus I rata-rata aktivitas belajar siswa 54% sedangkan pada pada siklus II meningkat menjadi 84% sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode penugasan portofolio dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa sebesar 30%. Sedangkan pada hasil belajar siswa, pada siklus I nilai rata-rata 63,2 pada siklus II meningkat menjadi 80,4 sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode penugasan portofolio dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 17,2. Penelitian ini menyarankan untuk menggunakan metode penugasan portofolio dalam kegiatan pembelajaran geografi, kerena membuat siswa lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru dan termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Siswa dapat menilai sendiri sejauh mana mereka memahami materi yang telah dipelajari dan seberapa besar usaha mereka untuk memperbaiki kekurangan dari setiap tugas yang dikerjakan.

Semiotic analysis on T.S. Eliot's the Waste Land / by Muzakki Afifuddin

 

In literary communication, especially poetry, author communicates what he means through certain symbols which mostly are not easy to interpret. The problem mostly occurs in the classes of poetry interpretation. The theory that will help the students and teachers to cope the problem is the theory of semiotics. The students need the theory of semiotics to be able to give explanation about their thought. They need the theory of semiotics also to understand the references of the symbols, the author, the message, and themselves as readers. Thus, the importance of understanding semiotics and the way it works in analyzing poetic symbols in literature especially poetry becomes the focus of this study. The researcher believes that the study of semiotics will help him, other literature teachers, students, and readers to cope with the problem of subjectivity and lack of reasons in interpretation. By using poetry as the object of the study, he believes that he will be able to apply the theory of semiotics to other genres better. By understanding semiotics, the researcher believes that he will be able to share the knowledge with others and teach poetry in a better platform. The researcher uses one of T.S. Eliot’s poems, The Waste Land as a representative of the poetry genre. The researcher sees that T.S. Eliot represents the modern poets. The poem is one of the poems that use poetic symbols as a system of signs. The poem itself is also an entity built on significations of conventional symbols. The poetic symbols used in the poem are the archetype of mythologies, legends, religions, other genres of literary texts, and the works of other authors. However, the juxtaposed symbols of the poem also develop into multi-meaning, incidental, and private symbols. The researcher believes that semiotics will help him to reveal the use of the symbols in the point of view of the forms and the functions. Through the research, the researcher analyzes the way semiotics works in the symbol analysis of the poem. The researcher analyzes the system of signs in the poem, which is built on the referential relationship among each symbol internally and between symbols and their convention. Then, the researcher analyzes the characteristics of the symbols in terms of iconicity, indixecality, and symbolism, and at the same time, interprets the meaning of the symbol intertextually and juxtapositionally. Then, the researcher searches for some strategies to interpret the message of the poem. The result of the research is that the poem’s system of sign is the use of juxtapositional and intertextual relationship by understanding the characters of iconicity, indexicality, and symbolism of the poetic symbols. The poem is built on the combination of symbols and develops new symbols that support the main theme of emptiness of life and the initiation for a better life.

Manajemen kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik, studi multi kasus pada TKK, SDK Mardi Wiyata 2 Malang dan TKK, SDK Marsudisiwi Malang / IR. Agustinus Hermino Superma Putra

 

Kata Kunci: manajemen kurikulum, pendidikan karakter, sekolah Katolik. Dewasa ini arah, kebijakan dan prioritas pendidikan ditegaskan pada pentingnya pendidikan karakter. Semangat karya kerasulan awam dari gereja dalam pendidikan bertolak dari dokumen Konsili Vatikan II mengenai pendidikan Kristen, yaitu Gravissium Educationis (GE) yang berarti sangat pentingnya pendidikan. Bertumpu dari hal tersebut, pendidikan pada sekolah Katolik tidak hanya mengajar secara akademis, melainkan juga menanamkan dan membentuk siswa-siswanya melalui pembelajaran pendidikan karakter dalam nuansa kasih. Manajemen kurikulum saat ini semakin mendapat perhatian dalam pelaksanaan pendidikan karakter, sehingga setiap sekolah memiliki kurikulum yang relevan. Penelitian ini bermaksud mengungkap perihal manajemen kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik, mulai dari perencanaan hingga kontrol kurikulum, pada: (1) TKK Mardiwiyata Malang, (2) TKK Marsudisiwi Malang, (3) SDK Mardi Wiyata 2 Malang, dan (4) SDK Mardusisiwi Malang. Fokus utama penelitian ini meliputi: (1) perencanaan kurikulum, (2) pengorganisasian kurikulum, (3) pelaksanaan kurikulum, (4) pengontrolan kurikulum, dan (5) faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kurikulum berbasis karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus, dimana peneliti berusaha memahami makna peristiwa serta interaksi orang dalam situasi pada saat penelitian sehingga peneliti dapat memahami konsep-konsep, pandangan-pandangan, nilai-nilai, pada pelaksanaan manajemen kurikulum berbasis karakter yang terdapat pada sekolah Katolik yang diteliti. Teknik pengumpulan data meliputi: (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipan, dan (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsir, dan analisis secara mendalam, baik melalui analisis dalam kasus maupun lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Kredibilitas data dicek dengan prosedur triangulasi, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat. Sedangkan dependabilitas dan konfirmabilitas dilakukan kepada para pembimbing sebagai dependent auditor. Temuan penelitian secara keseluruhan adalah sebagai berikut: Pertama, karakteristik perencanaan kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik meliputi: a) keterlibatan semua guru; b) melibatkan ketua yayasan persekolahan; c) melibatkan ahli pendidikan dalam sosialisasi perencanaan kurikulum; d) mengedepankan “experience and concept learning”; dan e) menyesuaikan kemampuan yayasan persekolahan. Kedua, karakteristik pegorganisasian kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik meliputi: a) pendelegasian tugas dan tanggung jawab dari yayasan persekolahan kepada kepala sekolah; b) hubungan koordinasi antara sekolah dengan gereja setempat; c) mata pelajaran disusun dengan mengintegrasikan pada: 1) pengetahuan (knowledge), 2) pemahaman (understanding), 3) kemampuan (skill), 4) nilai (value), 5) sikap (attitude), 6) minat (interest); d) pembelajaran disampaikan melalui internalisasi nilai dan etika dasar Kristiani; dan e) pengorganisasian pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ketiga, karakteristik pelaksanaan kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik meliputi: a) kepala sekolah sebagai leader dan manager; b) ketua yayasan sebagai supporting leader; c) guru sebagai center person ;d) siswa sebagai target point; e) penanaman nilai cinta kasih Kristiani, f) pembinaan iman; dan g) nilai perilaku siswa berpengaruh pada kenaikan kelas siswa. Keempat, karakteristik kontrol kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik meliputi: a) kontrrol kepala sekolah terhadap proses; b) kontrol ketua yayasan dalam hal keuangan dan internalisasi kekhasan kongregasi; c) kontrol dari Dinas Pendidikan pada pengesahan dokumen kurikulum; dan d) buku penghubung sebagai kontrol dari orangtua siswa kepada putera/puterinya. Kelima, karakteristik faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kurikulum berbasis karakter pada sekolah Katolik meliputi: 1) faktor pendukung yaitu: a) dukungan dari yayasan, b) kerja sama yang baik dari kepala sekolah kepada semua guru, c) hubungan yang baik dari kepala sekolah kepada Dinas Pendidikan setempat, dan d) kerja sama yang baik dengan pihak donator melalui gereja setempat atau beberapa alumni sekolah; 2) faktor penghambat yaitu: a) lambatnya tanggapan buku penghubung, b) alumni sekolah belum terdata dengan baik, dan c) Komite Sekolah kurang berfungsi dengan maksimal. Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan saran sebagai berikut: 1) kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, meliputi: a) perlu adanya dokumen panduan penyusunan kurikulum berbasis karakter, b) perlu dilakukan sosialisasi kepada seluruh kepala dinas pendidikan propinsi di Indonesia sehubungan dengan dokumen panduan penyusunan kurikulum berbasis karakter; c) perlu dilakukan pelatihan kepada tim kurikulum dari dinas pendidikan propinsi tentang penyusunan kurikulum berbasis karakter, yang selanjutnya dapat dikembangkan di masing-masing daerahnya; 2) kepada para staf sekolah, meliputi: a) peningkatkan potensi guru dalam kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengembangan karier dan pengetahuan tentang kependidikan; b) peningkatkan partisipasi dan keterlibatan orang tua siswa dalam pendidikan di rumah; c) keteladanan dari guru terhadap pengembangan nilai-nilai karakter pada para siswa; d) penyiapan RPP berkarakter; e) mengaktifkan buku penghubung dari sekolah kepada orangtua siswa; 3) kepada para ahli pendidikan hendaknya terus mencari formulasi pengelolaan pendidikan yang sesuai dengan potensi dan kondisi bangsa Indonesia sehingga dapat dilakukan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia; dan 4) kepada peneliti lain dapat mengembangkan dan menggali lebih dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan “The Hidden Curriculum dan Pembentukan Karakter”, dengan memperhatikan tiga unsur yaitu: 1) iklim sekolah (school climate), 2) pendidikan nilai (education value), dan 3) hubungan sekolah dengan masyarakat (school-community relation).

Penggunaan "Two-tier test" untuk mengevaluasi pemahaman konsep kesetimbangan siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Batu / Yuli Ainun Rosidam

 

Kata-kata kunci: pemahaman konsep, two-tier, konsep alternatif, kesetimbangan kimia Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari materi dan perubahannya. Sebagian besar konsep dalam ilmu kimia merupakan konsep yang abstrak sehingga sulit untuk dipahami oleh siswa. Menurut penelitian kesulitan dalam mempelajari konsep kimia dapat menyebabkan munculnya konsep alternatif. Salah satu konsep kimia yang dianggap sulit adalah konsep kesetimbangan yang merupakan dasar untuk mempelajari konsep lain yang lebih kompleks seperti sifat asam basa, buffer, dan hidrolisis. Oleh karena itu, pemahaman siswa terhadap konsep kesetimbangan penting untuk diketahui. Salah satu cara untuk mengetahui pemahaman siswa adalah dengan memberikan tes diagnostik two-tier, yakni tes pilihan ganda dengan dua tahap pemilihan jawaban. Tahap pertama merupakan pilihan jawaban dari suatu pertanyaan atau pernyataan dan tahap kedua merupakan alasan yang mungkin dari jawaban pada tahap pertama. Tes jenis ini mampu mengidentifikasi pemahaman siswa lebih baik dibandingkan dengan tes pilihan ganda biasa karena two-tier test mengharuskan siswa untuk menjawab dalam dua tahapan, pertama memilih jawaban dari pertanyaan, kemudian memilih alasan dari pemilihan jawaban pada tahap kedua. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Batu tahun ajaran 2011/2012. Pengambilan data dilakukan dengan tes tertulis menggunakan instrumen two-tier yang terdiri dari 15 soal masing-masing dengan 3 pilihan jawaban dan 5 pilihan alasan. Sebelum digunakan, dilakukan uji coba terlebih dahulu untuk mengetahui validitas butir soal, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya beda soal. Uji coba terhadap instrumen menunjukkan bahwa instrumen valid dengan reliabilitas sebesar 0,805. Analisis data menggunakan teknik analisis data deskriptif yang meliputi analisis persentase siswa yang memahami konsep kesetimbangan dengan baik dan persentase konsep-konsep alternatif yang dimiliki siswa. Hasil penelitian menunjukkan persentase siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Batu tahun ajaran 2011/2012 yang memahami konsep kesetimbangan dengan baik antara 11,9%-83,6%. Selain itu, juga ditemukan sebelas konsep alternatif yang dimiliki siswa untuk topik (1) keadaan setimbang, (2) penerapan prinsip Le Chatelier, (3) nilai konstanta kesetimbangan, (4) kesetimbangan heterogen, (5) pengaruh katalis, dan (6) penggunaan mol dan molaritas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman subjek penelitian pada konsep kesetimbangan masih kurang, disebabkan subjek mengalami miskonsepsi pada topik tertentu. Untuk mengurangi terjadinya konsep alternatif pada siswa, sebaiknya dilakukan studi literatur tentang miskonsepsi agar bisa dipersiapkan strategi belajar yang baik.

Penerapan permainan tebak kata untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran sejarah kelas X MM 3 SMKN 12 Malang / Erlinda Fajar Diana

 

ABSTRAK Diana, Erlinda Fajar. 2016. Penerapan Permainan Tebak Kata untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sejarah Kelas X MM 3 SMKN 12 Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mashuri, M. Hum, (II) Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M. Hum. Kata Kunci: permainan tebak kata, motivasi belajar Pembelajaran sejarah di kelas X MM 3 SMKN 12 Malang menunjukkan rendahnya motivasi belajar. Berdasarkan hasil observasi kegiatan di kelas, guru merasa kesulitan dalam mengarahkan siswa untuk berpartisipasi aktif dan siswa kurang tertarik dalam pembelajaran sejarah. Sebagian besar siswa sering melamun saat proses pembelajaran sehingga tidak memperhatikan penjelasan guru. Upaya untuk meningkatkan motivasi belajar dengan memilih strategi pembelajaran yang baik, salah satunya permainan tebak kata. Karena permainan tersebut dapat melatih siswa agar bekerja sama antarsiswa dalam bertindak serta melatih kreativitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X MM 3 SMKN 12 Malang dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan permainan tebak kata. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian yang dilakukan di kelas sebagai proses investigasi terkendali untuk menemukan dan memecahkan masalah pembelajaran yang ada di kelas. Penelitian ini dilakukan dengan dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Motivasi belajar siswa ditinjau dari empat aspek, yaitu minat, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Keempat aspek tersebut diamati melalui lembar observasi pengamatan oleh observer selama tindakan. Pada akhir tindakan kelas siklus kedua diberikan angket motivasi kepada siswa untuk memastikan adanya peningkatan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa dengan diterapkannya permainan tebak kata siswa dapat turut aktif dalam bekerja sama antarsiswa dan bertanggungjawab. Siswa juga akan mempunyai kekayaan bahasa atau kata-kata. Hal tersebut memudahkan siswa dalam menanamkan konsep pembelajaran dalam ingatan siswa. Sehingga dalam pelaksanaan permainan tebak kata ini diharapkan guna untuk memberikan dorongan siswa agar berminat dalam pembelajaran sejarah dan meningkatnya motivasi belajar. Permainan tebak kata pada penelitian tindakan kelas ini menggunakan materi mengenai sejarah yang terdiri dari 20 soal pada setiap siklus, dan diberikan oleh peneliti kepada 34 siswa. Permainan tebak kata pada siklus I menunjukkan bahwa terdapat 7 siswa yang aktif dan 20 siswa yang tidak aktif. Pada siklus II terdapat 19 siswa yang terlibat aktif dan 10 siswa yang tidak aktif. Berdasarkan hasil penelitian melalui permainan tebak kata ini terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dari persentase 44% sebelum pemberian tindakan, meningkat menjadi 67% pada siklus I dan meningkat lagi hingga 82% pada siklus II. Jadi dapat disimpulkan bahwa permainan tebak kata dapat meningkatkan motivasi belajar.

Hubungan antara kualitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pelaksanaan pembelajaran pengetahuan sosial berdasarkan kurikulum 2004 di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur semester II tahun ajaran 2005/2006 / oleh Sarikah

 

Dunia pendidikan di Indonesiadewasa ini menghadapi perubahan masyarakat yang semakin cepat dan kompleks,sebagai dampak dari globalisasi dan perubahan tatanan kehidupan di Indonesia sejak krisis ekonomi sampai reformasi.Perubahan tersebut selain bersifat positif,juga berdampak negatif khususnya dalam kehidupan masyarakat .Kehidupan di lingkungan sekolah atau di lingkungan siswa selalu dapat ditemukan berbagai permasalahan sosial,ekonomidan budaya. Mata pelajaran Pengetahuan Sosial dalam kurikulum 2004 SD/MI diharapkan dapat menanamkan pemahaman dan upaya pemecahan masalah berbagai permasalahan di masyarakat. Akan tetapi harapan itu belum mampu diwujudkan dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD. Pembelajaran masil konvensional, meskipun sudah diterapkan Kurikulum 2004 yang menekankan pada pencapaian kompetisi dan belajar siswa. Masalah yang diteliti adalah: (1) Bagaimana kualitas RPP Pengetahuan Sosial berdasarkan Kurikulum 2004 yang dibuat guru pada semester II-2005/2006 di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur. (2) Bagaimana kualitas pelaksanaan pembelajaran Pengetahuan Sosial berdasarkan Kurikulum 2004 yang dilaksanakan guru pada semester II-2005/2006 di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur. (3) Bagaimana hubungan antara kualitas RPP dengan pelaksanaan pembelajaran Pengetahuan Sosial dalam rangka mencapai efektifitas pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2004 pada semester II-2005/2006 di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur.Tujuan penelitian ini ialah ingin mengetahui kenyataan ketiga permasalahan yang dikemukakan di atas. Rancangan penelitian ini ialah deskriptif kuantitatif dan korelasional.Populasi penelitian berjumlah 17 orang guru Pengetahuan Sosial SD Yayasan Pupuk Kaltim,serta sampel prestasi belajar siswa dari kelas 3 dan kelas 5 dalam mata pelajaran Pengetahuan Sosial .Instrumen penelitian adalah kuesioner, observasi dan dokumenter, Penelitian dilaksanakan di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur pada semester II – 2005/2006.Data dianalisis korelasi Product Moment.. Hasil penelitian menunjukkan RPP yang telah disusun oleh guru Pengetahuan Sosial di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur tergolong sudah sangat baik, sebagian besar guru mampu membuat RPP dengan lengkap.Hal tersebut didukung oleh indikator-indikakor: format RPP lengkap, menyesuaikan materi dengan kurikulum 2004, membuat langkah pembelajaran terdiri dari tahap awal, Inti dan Hasil analisis RPP rata-rata guru membuat secara lengkap dan cukup lengkap. Pelaksanaan pembelajaran pengetahuan sosial di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur berdasarkan angket sudah baik 82,4% guru menanyakan materi sebelumnya. Pada tahap inti sudah baik guru membuat siswa semangat dalam belajar. Hal tersebut dibuktikan dengan 70,6 % guru menggunakan media yang bisa membuat siswa menjadi lebih semangat belajar. Pada tahap akhir 52,9 % menunjukkan memberi tugas remedial dan pengayaan Sedangkah dari hasil observasi menunjukkan guru telah melakukan pembelajaran pengetahua sosial sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Dari hasil pengolahan data hubungan antara RPP dengan pelaksanaan pembelajaran, ditunjukkan dengan perhitungan r hitung (0,518) > r tabel (0,482) ada hubungan korelasi yang signifikan antara kualitas RPP dengan pelaksanaan pembelajaran pengetahuan sosial di SD Yayasan Pupuk Bontang Kalimantan Timur. Hasil persiapan mengajar yang baik dan pelaksanaan pembelajaran yang baik, terlihat juga dari hasil prestasi siswa. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kelas III adalah 8,43 berarti sangat baik dan rata-rata nilai kelas V yaitu 7,81 berarti baik. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan kualitas RPP tergolong snagat baik dan kualitas pelaksanaan pembelajaran pengetahuan sosial tergolong baik, prestasi siswa juga baik, yang berarti pelaksanaan pembelajaran telah berlangsung efektif. Saran yang dapat diberikan adalah (1) guru pengetahuan sosial di SD Yayasan Pupuk Kalimantan Timur perlu membuat RPP dengan melampirkan berbagai ragam bahan ajar, seperti LKS, modul, berbagai instrumen observasi dan instrumen penilaian. Orientasi pembelajaran agar lebih diarahkan pada belajar individu dan kelompok dan mengurangi kalsikal; (2) Sekolah atau Tim guru memprakarsai pembuatan bernbagai lampiran RPP yang tersebut di atas. Untuk kepentingan itu gruu-guru dapat disertakan dalam forum-forum pengembangan media/sumber belajar. (3) Bagi peneliti lain, berdasarkan hasil penelitian diharapkan ada peneliti lain yang meneliti mengapa korelasinya agak rendah antara RPP dengan pelaksanaan pembelajaran.

Pengaruh pembelajaran berbantuan media video mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN Bangoan 1 Tulungagung / Syaifur Rizal

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran eksperimen Media video pembelajaran, Metode Pembelajaran Konvensional (Ceramah), Hasil Belajar Siswa Menghadapi masa depan yang sudah pasti diisi dengan arus globalisasi dan keterbukaan serta kemajuan dunia informasi dan komunikasi, pendidikan akan semakin dihadapkan pada berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih kompleks dari pada masa sekarang atau sebelumnya. Dunia pendidikan nasional perlu adanya inovasi dalam pengajarannya agar mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang memiliki keunggulan pada era globalisasi dan keterbukaan arus informasi dan kemajuan alat komunikasi yang luar biasa. Saat ini pengajaran yang digunakan dalam sekolah – sekolah yang ada cenderung konvensional, sehingga membosankan dan tidak menarik bagi siswa, siswa dipaksa mendengarkan guru yang ceramah di depan. Padahal setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda – beda menurut tipe individu siswa, tidak hanya gaya belajar reading yang bisa belajar dengan membaca, tetapi ada lagi gaya belajar visual, knestetik, audiotorik yang sesuai dengan karakteristik setiap individu. Seperti halnya dalam proses pembelajaran di SDN Bagoan 1 Tulungagung juga masih lebih mengandalkan media buku teks dalam pembelajaran. Oleh karena itu peneliti mencoba memperkenalkan dan mengukur keberhasilan prestasi belajar siswa setelah menggunakan media video pembelajaran. Penelitian ini bertujuan (1) mengkaji pengaruh penggunaan media video pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. (2) mengkaji apakah hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan media video pembelajaran lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan tanpa menggunakan media video pembelajaran pada mata pelajaran IPA bahasan Energi Bunyi kelas IV SDN Bangoan 1 Tulungagung. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka jenis penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan membagi 2 kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelompok siswa yang menggunakan media video pembelajaran, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menggunakan media video pembelajaran. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent Control Group Design dengan pre tes dan pos tes, serta membagi sasaran penelitian menjadi 2 kelompok sampel, yaitu kelas eksperimen (IV B) dan kelas kontrol (IV A) dengan cara purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis hipotesis yang dirumuskan dapat disimpulkan bahwa “Terdapat perbedaan signifikan hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan media video pembelajaran, dengan kelas kontrol yang diajar dengan metode konvensional (ceramah)”.Atau dengan kata lain bahwa rata-rata gainscore hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan media video pembelajaran lebih besar daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan metode pembelajaran konvensional (ceramah) dengan nilai probabilitas (signifikan) adalah 0,000 < 0,05 dengan t hitung = 6,694 > t tabel = 1,708. Nilai rata – rata gain score kelas experimen 19,7200 dan kelas kontrol adalah 6,1600. Sehingga terdapat perbedaan nilai rata – rata gain score antara kelas experimen dan kelas kontrol sebesar 13,56. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan saran: (1) guru seharusnya menyajikan materi pembelajaran menggunakan media yang sesuai dengan karakterisrik siswa sehingga dapat memberikan hasil belajar yang optimal. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan media video pembelajaran, (2) guru di sekolah SDN Bagoan 1 Tulungagung hendaknya lebih memanfaatkan sarana multimedia yang sudah ada dan dikolaborasikan dengan media video pembelajaran supaya dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, (3) peneliti lain dapat memperluas dan memperdalam kajian pengaruh media video pembelajaran dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar.

Implementasi pembelajaran inovatif (Inovative learning) talking stick pada mata pelajaran akuntanasi untuk menngkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS di SMAN 10 Malang / Rendra Arief Hidayat

 

Kesiapan DU/DI dalam pelakasanaan prakerin siswa SMK Program Studi Keahlian Teknik Otomotif di Kabupaten Bojonegoro / Shandy Prima Agustian

 

ABSTRAK Agustian, Shandy Prima. 2016. Kesiapan DU/DI dalam Pelaksanaan Prakerin Siswa SMK Program Studi Keahlian Teknik Otomotif di Kabupaten Bojonegoro. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M., (II) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata Kunci: Kesiapan DU/DI, prakerin, teknik otomotif. Pendidikan sistem ganda (PSG) pada SMK diimplementasikan melalui prakerin di DU/DI yang relevan dengan program keahlian yang ditempuh, sehingga ketercapaian tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kesiapan DU/DI sebagai institusi pasangan dalam pelaksanaan PSG. Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk mengungkap tingkat kesiapan pelaksanaan prakerin, sehingga tingkat kesiapan DU/DI dalam pelaksanaan prakerin SMK program studi keahlian teknik otomotif di Bojonegoro ditinjau dari aspek administrasi, sumber daya manusia, sarana prasarana yang dimiliki, dan program prakerin yang diberikan dapat diketahui. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari beberapa DU/DI mitra pelaksana prakerin SMK di Kabupaten Bojonegoro dengan menggunakan angket dan observasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif secara persentase sederhana, kemudian dilakukan interpretasi data dan disimpulkan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis, menghasilkan temuan sebagai berikut: (1) tingkat kesiapan DU/DI dalam pelaksanaan prakerin ditinjau dari administrasi yang diterapkan tergolong dalam kategori kesiapan rendah (61,62%). Masih adanya DU/DI yang belum memenuhi keseluruhan persyaratan administrasi prakerin, seperti mengadakan MoU dengan sekolah, memberikan tata tertib pelaksanaan prakerin, memberikan dan mengawasi presensi kehadiran beserta jurnal siswa, hingga menerbitkan sertifikat prakerin; (2) tingkat kesiapan DU/DI dalam pelaksanaan prakerin ditinjau dari SDM yang dimiliki tergolong dalam kategori kesiapan cukup (67,69%). Masih ditemukannya instruktur prakerin yang memiliki latar belakang yang kurang relevan dengan bidang pekerjaan, pengalaman kerja yang kurang, minimnya pengalaman pelatihan, minimnya pengalaman jabatan, minimnya kepedulian terhadap penerapan K3 beserta proses pembimbingan kepada peserta prakerin; (3) tingkat kesiapan DU/DI dalam pelaksanaan prakerin ditinjau dari sarana dan prasarana yang dimiliki tergolong kategori kesiapan rendah (59,99%). Hal tersebut dikarenakan adanya DU/DI yang belum memiliki kelengkapan peralatan, fasilitas yang kurang memadai, kondisi DU/DI yang masih jauh dari standar kelayakan bengkel, dan belum diperhatikannya aspek pengorganisasian sarana prasarana; dan (4) tingkat kesiapan DU/DI dalam pelaksanaan prakerin ditinjau dari program prakerin yang diberikan tergolong dalam kategori kesiapan rendah (55,42%). Prakerin dilaksanakan tanpa adanya rencana kerja yang terarah dan sesuai dengan kurikulum, pemberian target kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta, hingga belum seluruhnya DU/DI melaksanakan uji kompetensi sebagai bentuk evaluasi terhadap peserta prakerin sebagai proses evaluasi prakerin. Berdasarkan temuan tersebut, diberikan saran sebagai berikut: (1) pokja PSG beserta pihak SMK diharapkan mengadakan MoU dengan industri, memberikan pembekalan terhadap pembimbing prakerin tentang keseluruhan aspek yang harus dipenuhi dalam prakerin, mengarahkan pembimbing internal untuk melakukan monitoring secara intensif terhadap peserta prakerin, memilih DU/DI yang memiliki tingkat kesiapan tinggi untuk melaksanakan prakerin, meningkatkan kompetensi siswa sebelum melaksanakan prakerin, dan secara bersama-sama dengan industri untuk menyusun program prakerin; (2) hendaknya pihak DU/DI meningkatkan kualitas pembimbingan, meningkatkan kepedulian terhadap peserta prakerin, dan melengkapi sarana dan prasarana; (3) disarankan mencari DU/DI untuk melaksanakan prakerin di luar Kabupaten Bojonegoro, karena berdasarkan penelitian ditemukan sebesar 60,71% DU/DI memiliki tingkat kesiapan yang tergolong rendah dalam pelaksanaan prakerin.

Pengaruh penerapan model pembelajaran training within industry (pelatihan dalam industri) terhadap hasil belajar praktek motor bensin siswa kelas XI SMK Nasional Malang / Muhammad Miftakhul Huda

 

Huda, Muhammad Miftakhul. 2014. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Training Within Industry (Pelatihan Dalam Industri) Terhadap Hasil Belajar Praktek Motor Bensin Siswa Kelas XI SMK Nasional Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd. (II) Drs. Imam Muda Nauri, S.T., M.T. Kata Kunci: Training Within Industry (TWI), Hasil Belajar, Praktek Motor Bensin          Kehidupan Pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidup manusia, baik di dalam jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Pentingnya proses mempelajari, berlatih dan menerapkan ilmu yang diperoleh menjadikan guru sebagai fasilitator pembelajaran untuk dapat mengoptimalkan peningkatan kemampuan siswa. Pemilihan metode pembelajaran merupakan salah satu kunci pokok tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan dalam rangka pengoptimalan peningkatan kemampuan siswa tersebut. Metode pembelajaran ranah psikomotorik terutama metode Training Within Industry merupakan salah satu metode yang tepat untuk diaplikasikan pada mata pelajaran praktek pada umumnya dan praktek motor bensin khusunya.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan menggunakan metode Training Within Industry (TWI), dengan kelas kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran praktik kejuruan berbasis proyek.     Peneitian ini merupakan penelitian kuantitatif, yang mana rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dengan post-test only design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas program studi Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMK Nasional Malang. Sampel pada penelitian ini sejumlah 71 siswa, kelas XI TO/TKR 1 sebanyak 36 siswa dan kelas XI TO/TKR 2 sebanyak 35 siswa dengan metode pengambilan sampelnya yaitu non-random sampling. Metode pengambilan data post-test yang digunakan adalah penilaian tes unjuk kerja dengan menggunakan alat tes skala penilaian (ranting-scale).     Dari data hasil pengujian dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows, didapatkan perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas eksperimen yang dibelajarkan menggunakan metode Training Within Industry (TWI) dengan kelas kontrol yang tidak dibelajarkan menggunakan metode Training Within Industry (TWI). Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan harga t = 3,259 dengan sig.2-tailed senilai 0,002. Nilai signifikasi tersebut lebih kecil dari α = 0,05 yang berarti dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil tes kemampuan akhir antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.     Saran yang dapat disampaikan kepada lembaga pendidikan/sekolah khususnya SMK Nasional Malang adalah untuk selalu membina guru-guru mata pelajaran praktek untuk selalu update tentang metode pembelajaran yang terbaru khususnya metode pembelajaran ranah psikomotorik. Kepada guru mata pelajaran praktek SMK Nasional Malang diharapkan untuk mulai mencoba dan menerapkan metode Training Within Industry (TWI). Kepada peneliti-peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi yang relevan.

Pengaruh Pemahaman ekonomi dan gaya hidup siswa terhadap perilaku
konsumsinya (Studi kasus siswa SMA Negeri 6 Malang) / Fitrias Putri Yusika

 

Kata Kunci: Pemahaman Ekonomi, Gaya Hidup Siswa, Perilaku Konsumsi Siswa Pendidikan ekonomi merupakan proses pembelajaran dalam membentuk jiwa ekonomi manusia. Salah satu proses pembelajaran ekonomi dilaksanakan disekolah, dimana siswa diberikan pembelajaran dasar-dasar ekonomi oleh guru dengan tujuan agar siswa dapat berperilaku konsumsi dalam setiap tindakan ekonominya sehari-hari terutama dalam pengambilan keputusan secara rasional. Pembentukan perilaku konsumsi siswa tidak hanya di dapat dari ilmu ekonomi dari sekolah, melainkan juga dari gaya hidup siswa itu sendiri. Misalnya dari lingkungan sekitar, baik pengaruh teman, media cetak atau elektronik. Rumusan masalahdalam penelitian ini yaitu: (1) Apakah terdapat pengaruh antara pemahaman ekonomi terhadap perilaku konsumsi siswa SMA Negeri 6 Malang; (2) Apakah terdapat pengaruh antara gaya hidup siswa terhadap perilaku konsumsi siswa SMA Negeri 6 Malang; (3) Apakah terdapat pengaruh antara pemahaman ekonomi dan gaya hidup siswa terhadap perilaku konsumsi siswa SMA Negeri 6 Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemahaman ekonomi (X1) dan gaya hidup siswa (X2), variabel terikatnya adalah perilaku konsumsi siswa (Y). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif dengan menggunakan analisis data regresi berganda. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1-5 SMAN 6 Malang yang berjumlah 189 siswa dan diperoleh sampel 65 siswa menggunakan rumus Slovin. Pengambilan sampling dengan teknik proportional random sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket. Berdasarkan analisis data dan pembahasan menunjukkan bahwa: (1) pengaruh antara pemahaman ekonomi terhadap perilaku konsumsi siswa SMA Negeri 6 Malang signifikan dan bersifat negatif sebesar 45,9%; (2) pengaruh antara gaya hidup terhadap perilaku konsumsi siswa SMA Negeri 6 Malang signifikan dan bersifat positif, sebesar 36,7%; (3) pengaruh antara pemahaman ekonomi dan gaya hidup siswa terhadap perilaku konsumsi siswa SMA Negeri 6 Malang signifikan dan bersifat positif, sebesar 82,7%. Saran yang dapat disumbangkan dalam penelitian ini adalah: (1) bagi guru pelajaran ekonomi, lebih membimbing siswa-siswi disekolah agar lebih memahami ilmu ekonomi, bukan hanya sekedar menghafal, akan tetapi dapat menerapkannya dalam tindakan-tindakan ekonomi sehari-hari; (2) bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan untuk menambah wawasan keilmuan dan informasi sekaligus sebagai salah satu rujukan, terutama bagi mereka yang akan meneliti masalah yang sama.

Makna kebahagiaan pada remaja punk broken home (divorce) di Kota Lumajang / Dimas Setiawan Santoso

 

ABSTRAK Santoso, D.S., 2016. MaknaKebahagiaanPadaRemajaPunk Broken Home (Divorce) Di Kota Lumajang.Skripsi, JurusanPsikologi, FakultasPendidikanPsikologi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si., (II) Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci: maknakebahagiaan, remajapunk, broken home (divorce) Penelitian ini berfokus pada bagaimana remaja punk menemukan makna kebahagiaan mereka pada kondisi keluarga yang telah bercerai. Jenis pendekatan penelitianyang digunakan adalah kualitatiffenomenologi. Partisipanadalahtigaremajapunklaki-lakiyangmerupakankorbanperceraian. Pengumpulan data dilakukandenganobservasidengan setting natural danwawancaratidakterstruktursehinggasubyekdapatmemberiinformasisecarabenartanpaadanyamanipulasi. Teknikanalisis data menggunakantigajenisanalisiskualitatifyaituanalisisfenomenologi,triangulasi datadantriangulasimetodeyaitudenganmembandingkanantarainformasisatudengan yang lainnyadandenganmembandingkanduametodepengumpulan datasehinggadapat di tentukankeabsahan data yang di dapatdaritingkatkejenuhaninformasi yang didapatkan. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwamaknakebahagiaanpadaremajapunk broken home (divorce) di kotaLumajangadalahkebersamaan, kemandirian, dukungan, danhubunganbaik yang merekajalindenganpunker lain yang membuatmerekabertahanpadapilihanhidupnyameskipunberasaldarikeluarga yang bercerai, kondisidankegiatanyang dilakukanbersama-samaadalahsebagaipenguatbagimereka. Saran bagi Orang TuaPunker adalahagar memberikanperhatianlebihkarenadaripenelitianinimenunjukkanbahwaperhatiandandukungandari orang tua yang turutberkontribusiterhadapkebahagiaananak. Bagipenelitiselanjutnyadiharapkanlebihmemperbanyakteori yang relevandariliteraturdanmengembangkanmetodepenelitian yang lebihbisamemaparkanlebihdalam. Bagimasyarakatagar lebihmemahamijikapunker jalananmemilikikebahagiaantersendiriterhadappilihanhidupnya. Untukpunkerjalananagar lebihmenyatudanterlibatdalamkegiatanbermasyarakatsehinggamasyarakatdapatmemberikanpenilaianpositifterhadapkelompokpunk.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 |