Pengembangan bahan ajar berbasis Ebook pada mata pelajaran ekonomi kelas Vlll SMP Negeri 1 Singosari / Aditya Dewantari

 

Kata Kunci: bahan ajar, ekonomi, ebook Dalam dunia pendidikan, peran guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah relatif tinggi. Peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. Apabila siswa menganggap bahan ajar yang disediakan terlalu sukar, atau tidak cocok dengan karakteristik siswa maka tugas guru adalah membuat bahan ajar tersebut menjadi mudah untuk dipahami oleh siswa dan menyesuaikan agar bahan ajar tersebut sesuai dengan karakteristik siswa. Menurut Centre for Competency Based Training (dalam Prastowo, 2012:16), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran dikelas. Dalam hal ini guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar yang beragam,dan menarik yang dapat membantu siswa untuk memahami materi yang disampaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) Mengemas materi pembelajaran pada pokok bahasan “Pasar” menjadi lebih menarik, agar siswa juga tertarik untuk mempelajarinya (b) Mengembangkan bahan ajar yang bisa digunakan oleh guru sebagai alternatif bahan pembelajaran ekonomi di kelas (c) Inovasi dalam pembelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa (d) Mengetahui efektifitas bahan ajar yang dikembangkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bahan ajar berbasis ebook. Model yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar ini adalah model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Setelah mengikuti prosedural yang ada untuk mengembangkan sebuah bahan ajar berupa BSE menjadi sebuah bahan ajar berbasis ebook kemudian hasil produk akan diuji validitasnya oleh dua orang ahli materi dan dua orang ahli media untuk mengetahui kelayakan dari bahan ajar yang telah dikembangkan tersebut. Kemudian produk juga akan diuji cobakan kepada siswa kelas VIII D di SMP Negeri 1 Singosari untuk mengetahui keefektifannya. Hasil penelitian ini adalah: (1) dari hasil validasi oleh para ahli materi dan para ahli media, baik isi maupun tampilan bahan ajar ini sudah layak. Namun untuk lebih menyempurnakannya lagi penyusun masih perlu melakukan perbaikan-perbaikan di beberapa bagian dari bahan ajar ini, (2) hasil dari uji oba didapatkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima, artinya terdapat perbedaan nilai ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE dan sesudah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook. Untuk rata-rata (mean) pada ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE adalah 87,10 dan rata-rata ulangan harian siswa kelas VIII D setelah pembelajaran meggunakan bahan ajar berbasis ebook adalah 89,41. Artinya, bahwa rata-rata ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Singosari setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook lebih tinggi dari nilai rata-rata ulangan harian ekonomi setelah pembelajaran menggunakan BSE. Perbedan rata-rata ilai ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan BSE dan setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook (mean differece) sebesar 2,31 (hasil selisih dari 89,41 – 87,10) dan perbedaan berkisar 5,281 sampai 0,660 jika dilihat dari lower dan upper. Namun, jika di analisis satu per satu satu dan mengacu pada Kriteria Ketuntsan Minimal (KKM), pada ulangan harian ekonomi setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE terdapat dua siswa yang belum mencapai KKM, sementara pada ulangan harian ekonomi setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook, nilai semua siswa kelas VIII D sudah mencapai KKM. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa bahan ajar berbasis ebook ini cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Singosari. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: produk hasil pengembangan bahan ajar berbasis ebook ini sudah layak untuk diterapkan dalam pembelajaran dari segi isi maupun tampilannya, didukung oleh data validasi dari dua orang subyek ahli materi dan dua orang subyek ahli media dan bahan ajar berbasis ebook ini efektif meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII D SMP Negeri 1 Singosari, didukung oleh data hasil ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook lebih tinggi dari pada hasil nilai ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE.

Pembelajaran passing bawah bolavoli dengan metode bermain kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Malang / Harvian Ade Putra Priyatama

 

Kata Kunci: Pembelajaran, PassingBawahBolavoli, MetodeBermain Passingbawahmerupakanteknikdasardalampermainanbolavoli yang harusdikuasaibenar-benardenganbaik, tanpamenguasaiteknikpassingbawahdenganbenar, permainanbolavolitidakakanberjalandenganlancar, teknik-tekniklainnyatidakakandapatdigunakandengansempurnasehinggapermainanmenjadikurangmenarik. Berdasarkanhasilpengamatandanpengalaman yang diperolehpenelitiketikamelaksanakanPraktikPengalamanLapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Malang tahunajaran 2011/2012 daripermainanbolavoli, siswaseringmelakukankesalahandalammelakukanteknikdasarpassingbawahbolavoli yang meliputiposisi kaki, posisitangan, posisibadan, impact bola, danarah bola hasilayunantangan. Tingkat kegagalan yang memilikipersentase paling tinggipadaaspekimpactatauperkenaan bola denganpersentase 65%. Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmemperbaikidanmeningkatkanketerampilantentangteknikdasarpassingbawahbolavolidenganmetodebermain. Permainaninimenggunakan 10 model permainan yang secaraumumbertujuanuntukmemperbaikiimpact passingbawahbolavoli yang menjaditingkatkegagalantertinggidalampenelitianini.Penggunaanmetodebermainbertujuan agar siswalebihtertarikdanlebihaktif, sehinggasiswatidakmerasabosandalammengikutipembelajaranpendidikanjasmani, khususnyapadamateripassingbawahbolavoli.Penelitidanguru pendidikanjasmaniberkolaborasidalammenyusun RPP pembelajaran.Subjekdalampenelitianiniadalahsiswakelas XI IPA 4SMA Negeri 1 Malangtahunajaran 2012/2013. Jenispenelitianiniadalahpenelitiantindakankelas.Teknikpengumpulan data yang dilakukanadalahdenganmenggunakaninstrumenlembarobservasi yang berupakolomuntukmemberikanpenilaiandenganmemberikanangka 1 untukgerakan yang benardan 0 untukgerakan yang salahdantidakdilakukan, catatanlapangan, danhasildokumentasisehinggamempermudahdalam proses pengambilan data. Penelitianiniterdiridari 2 siklus, masing-masingsiklusterdiridari 3 pertemuan.Hasilpenelitianiniadalahterjadiperbaikandanpeningkatanpadaaspekimpactatauperkenaan bola setelahpemberianmetodebermainpada proses pembelajaran. Hasilsiklus 1 menunjukkantingkatkeberhasilanpadaaspekimpactatauperkenaan bola sampaipadapertemuan ke-3 mencapai 71,25% danhasilsiklus 2 sampaipadapertemuanterakhirmengalamipeningkatansebesar 20% yaitumencapai91,25%. Disarankanpenguasaandaribeberapaindikatorketerampilangerakanpassingbawahbolavolidiantaranyaposisi kaki, posisitangan, posisibadan, impact bola, danarah bola dapatdilatihmenggunakanberbagaimacampolalatihan yang bervariasidalamkegiatanpembelajaransehinggaketerampilangerakanpassingbawahbolavolidapatdilakukandengansebaikmungkin. Model permainan yang digunakanolehpenelitimampumemperbaikidanmeningkatkanketerampilanpassingbawahbolavoli, sehinggapermainantersebutdapatdijadikanacuanataureferensibagi guru pendidikanjasmanipadasiswa yang kesulitandalammelakukanpassingbawahbolavoli, khususnyapadaimpactatauperkenaan bola.Pembelajaranpendidikanjasmanidisarankandilakukansecarabervariasidanmenarik, sehinggasiswadapatmengikutikegiatanpembelajarandenganbersemangatdanantusiasuntukmendapatkanhasilpembelajaran yang maksimalsertasesuaidenganapa yang diharapkan.  

Pengembangan alat penaga sumber daya alam pada kelas Xl mata pelajaran geografi topik sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui / Abd Rahman Halim

 

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian (studi pada pembeli fashion di New Golden Turen Malang) / Erwin Wahyudi

 

Kata Kunci: keadaan ekonomi, jabatan, kebudayaan, kelas sosial, sikap, dan keputusan pembelian Pemilik bisnis retail, terutama yang berbasis toko (store based retailing), harus mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pasar dan dengan tanggap mengadaptasinya pada bisnis mereka sehingga selalu sesuai dengan gaya hidup (life stile). Bentuk dan konsep-konsep baru serta ide-ide kreatif mengenai bagaimana berbelanja dengan lebih nyaman dan menyenangkan dengan lokasi mudah dicapai serta poin lebih bagi konsumen yang juga perlu dipertimbangkan. Bentuk desain yang unik akan membantu para pemilik untuk dapat secara kreatif menciptakan suasana toko yang nyaman bagi pengunjung. Mengingat semakin banyaknya pesaing maka New Golden terus berbenah. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen dalam pembelian suatu produk tidak saja dipengaruhi oleh stimulus bauran pemasaran, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial seperti kultur rujukan, keluarga, peran dan status sosial, personal seperti usia, tahap daur hidup, jabatan, keadaan ekomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri, dan faktor psikologis seperti motivasi dan persepsi seseorang. Dengan demikian keempat faktor tersebut yaitu faktor kebudayaan, sosial, personal dan faktor psikologis harus diperhatikan produsen untuk memotivasi konsumennya dalam mengambil keputusan membeli suatu produk. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu faktor-Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pembelian di distro New Golden? dan faktor manakah yang mempunyai pengaruh dalam mengambil keputusan pembelian di distro New Golden Turen? Sampel yang digunakan berjumlah 73 konsumen. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis faktor dengan menggunakan program SPSS 15 for Windows. Faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian di Distro New Golden Turen semula didasarkan pada 18 faktor yang dikelompokkan ke dalam 5 faktor yaitu : keadaan ekonomi, jabatan, kebudayaan, kelas sosial, dan sikap. Faktor yang dominan dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian di Distro New Golden Turen yaitu keadaan ekonomi, hal ini menunjukkan bahwa seseorang dengan keadaan ekonomi tinggi akan memiliki kecenderungan membeli barang-barang yang mahal, membeli pada toko yang berkualitas dan lengkap, konservatif dalam konsumsinya. Sedangkan seseorang yang mempunyai keadaan ekonomi rendah cenderung membeli barang dengan mementingkan kuantitas daripada kualitasnya.

Penerapan model pembelajaran Problem Posing untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-5 SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL Malang pada pokok bahasan GLB dan GLBB / Sri Astutik Ningtiyas

 

Kata kunci: problem posing, kemampuan komunikasi, prestasi belajar Hasil pengamatan dan wawancara menunjukkan bahwa pada umumnya proses pembelajaran fisika di kelas X-5 SMA Brawijaya Smart School Malang menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Kemampuan komunikasi siswa masih rendah, hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa masih banyak siswa yang kurang memperhatikan saat temannya sedang presentasi, tidak memberikan pendapat dan tanggapan. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata afektif yang masih rendah, salah satunya adalah bab besaran dan satuan nilai rata-rata afektif sebesar 62. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, hanya 38,5% siswa pada mata pelajaran fisika bab besaran dan satuan yang memperoleh nilai sesuai dengan KKM yang telah ditentukan sekolah yaitu sebesar 75. Salah satu upaya untuk memecahkan permasalahan tersebut diterapkan suatu pembelajaran berbasis konstruktivisme yaitu pembelajaran model problem posing. Selain dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, model ini juga dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa. Tahapan dalam problem posing adalah melatih siswa untuk lebih berani menyampaikan pikiran dan perasaan, melatih siswa untuk bisa memahami dan memberi dukungan kepada orang lain dan melatih siswa untuk mampu mengungkapkan diri. Oleh karena itu, diharapkan model pembelajaran problem posing dapat terlaksana dengan baik dan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini berlangsung dalam dua siklus pada kelas X-5 SMA BSS Malang yang berjumlah 26 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan catatan lapangan, lembar observasi, dan tes. Analisis data dalam penelitian ini bersifat kualitatif (berupa kata atau kalimat) dan kuantitatif (berupa angka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proses keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I sebesar 73,3% (dalam kriteria cukup) mejadi 96,7% (dalam kriteria sangat baik) pada siklus II. Untuk kemampuan komunikasi siswa juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I sebesar 72,1% dengan kriteria cukup, dan meningkat pada siklus II menjadi 85,6% dengan kriteria baik. Sementara untuk prestasi belajar fisika juga mengalami peningkatan, pada siklus I rata-rata nilai sebesar 74,0 dan pada siklus II naik menjadi 91,2. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran problem posing dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-5 SMA BSS Malang.

Pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program lenear siswa X TKR 1 SMKN 1 Doko

 

Kata Kunci : pembelajaran berbantuan multimedia, teori beban kognitif, program linear Program linear merupakan salah satu materi matematika yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan siswa menyelesaikan masalah program linear masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan adanya beban kognitif yang dialami siswa selama pembelajaran. Teori beban kognitif (Cognitive Load Theory atau CLT) mengidentifikasi bahwa belajar terganggu ketika jumlah persyaratan pengolahan melebihi kapasitas dari memori kerja manusia. Beban kognitif terdiri dari beban kognitif intrinsik, beban kognitif erat, dan beban kognitif asing. Kemampuan siswa menyelesaikan masalah program linear dapat ditingkatkan antara lain dengan pembelajaran efektif yaitu dengan mengelola beban kognitif intrinsik, meningkatkan beban kognitif erat, dan mengurangi beban kognitif asing. Seiring perkembangan teknologi maka pembelajaran efektif diwujudkan melalui pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program linear siswa X Teknik Kendaraan Ringan (TKR) 1 SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas karena dilaksanakan oleh guru sebagai peneliti dengan mengumpulkan informasi tentang bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X TKR 1 SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar sebanyak 30 siswa. Subjek wawancara adalah 4 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah yang dipilih berdasarkan hasil tes materi prasyarat dan pertimbangan bahwa siswa-siswa tersebut mudah diajak berkomunikasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program linear siswa X TKR 1 SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar terbagi dalam tiga tahap pembelajaran, yaitu (1) tahap awal meliputi penyampaian tujuan pembelajaran menggunakan media PowerPoint, (2) tahap inti meliputi demonstrasi pengetahuan menggunakan media PowerPoint dan Kertas Berpetak, latihan terbimbing menggunakan LKS yang dilakukan secara berkelompok dengan bantuan software GeoGebra, dan presentasi hasil diskusi kelompok dengan bantuan Kertas Berpetak, dan (3) tahap akhir meliputi umpan balik dengan bantuan Kertas Berpetak dan software GeoGebra serta latihan pemantapan dan tranfer pengetahuan menggunakan lembar tes. Respon siswa terhadap pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif sangat positif. Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disarankan bagi peneliti lain yang berminat mengadakan penelitian serupa dapat melakukan pada sekolah lain untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai efektifitas pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif pada materi program linear.

Hubungan antara bakat mekanik dan hubungan interpersonal antar mahasiswa dengan hasil belajar mata kuliah sistem Chasis, Suspensi, Kemudi mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Dedi Siswanto

 

Kata kunci : Bakat mekanik, hubungan interpersonal,hasil belajar Bakat mekanik dan hubungan interpersonal merupakan salah satu diantara faktor-faktor yang berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar mata kuliah chasis, suspensi, kemudi Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Dengan bakat mekanik yang dimiliki mahasiswa dan hubungan interpersonal yang baik dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Penelitian ini adalah penelitian populasi, dimana jumlah populasinya adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksplanasi dengan tujuan untuk menguji hipotesis yaitu menguji korelasi variabel bebas yang terdiri dari bakat mekanik (X1) dan hubungan interpersonal antar mahasiswa (X2) dengan variabel terikat yaitu hasil belajar mata kuliah chasis, suspense, kemudi (Y). Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner (angket) kepada responden, dengan kuesioner jawaban tertutup berskala empat model Likert yang dimodifikasi. Teknik tersebut didukung dengan dokumentasi guna melengkapi data yang tidak terakomodasi oleh instrumen kuesioner. Adapun indikator yang dijadikan ukuran untuk variabel X1 yaitu kemampuan umum, kreativitas, dan pengikatan diri untuk variabel X2 yaitu pembentukan hubungan interpersonal, peneguhan hubungan interpersonal, dan pemutusan hubungan interpersonal pembentukan hubungan interpersonal, peneguhan hubungan interpersonal, dan pemutusan hubungan interpersonal. Sedangkan untuk variabel Y adalah hasil belajar mata kuliah chasis, suspense, kemudi. Dari hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh secara simultan antara variabel bakat mekanik dan hubungan interpersonal antar mahasiswa dengan hasil belajar mata kuliah sistem chasis, suspensi, kemudi mahasiswa program studi pendidikan teknik otomotif. Hal ini terbukti dengan diperolehnya R Square sebesar 69,6 % yaitu kontribusi efektif dari kedua variabel bebas yaitu variabel bakat mekanik dengan hubungan interpersonal antar mahasiswa dan sisanya sebesar 30,4% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dengan kontribusi sebesar 69,6% bakat mekanik dan hubungan interpersonal telah dapat mewakili variabel yang ditetapkan untuk meneliti hal-hal apa saja yang mempengaruhi hasil belajar mata kuliah sistem chasis, suspensi, kemudi mahasiswa program studi pendidikan teknik otomotif.

Pengembangan aplikasi Monitoring Presensi Berbasis WEB jurusan teknik elektro Universitas Negeri Malang / Dwi Setia Nursanti

 

Nursanti, Dwi Setia. 2012. Pengembangan Aplikasi Monitoring Presensi Berbasis Web di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T., (II) Muhammad Ashar, S.T., M.T. Kata kunci : MySQL, PHP, Presensi Presensi merupakan hal pokok yang dilakukan di dalam dunia pendidikan. Presensi adalah pencatatan proses kehadiran seseorang yang kemudian dimuat dalam suatu laporan tertulis. Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang merupakan salah satu instansi pendidikan yang menggunakan sistem presensi untuk memonitor tingkat kehadiran mahasiswa. Untuk mengurangi kendala dalam memonitor presensi mahasiswa, maka dibuatlah suatu aplikasi monitoring presensi mahasiswa berbasis web yang dapat menutupi kekurangan dalam presensi yang masih menggunakan sistem manual, selain itu dapat dilakukan proses rekapitulasi secara otomatis. Pada tugas akhir ini, akan dirancang aplikasi monitoring presensi berbasis web yang berfungsi untuk monitoring data presensi dan melakukan rekapitulasi presensi secara otomatis. Metode perancangan dari pengembangan aplikasi monitoring presensi ini memiliki beberapa tahap yaitu pembuatan desain site map, Data Flow Diagram (DFD), Entity Relationship Diagram (ERD) , database, desain interface, prosedur pengujian, hasil pengujian dan analisis. Pada pengembangan aplikasi monitoring presensi ini, menggunakan database MySQL dalam penyimpanan data presensi dan aplikasi dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP dan web server XAMPP. Kesimpulan dari penulisan tugas akhir ini adalah aplikasi berbasis web ini dapat mengambil dan mengolah data presensi dari data yang sudah ada menjadi data yang dapat ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram statistik sehingga dapat membantu ketua jurusan dalam melakukan monitoring kehadiran mahasiswa.

Pengembangan buku panduan renang untung siswa ekstrakulikuler renang di SMA laboratorium Universitas Negeri Malang / Faris Pratama Anggriawan

 

Kata kunci : pengembangan, buku panduan, ektrakurikuler renang. Renang adalah suatu olahraga yang dilakukan di air, yang dilakukan dengan cara menggerakan anggota badan, mengapung di air, dan seluruh anggota badan bergerak dengan bebas. SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah SMA yang terdapat di Kota Malang, tidak menutup kemungkinan mata pelajaran renang serta ekstrakurikuler renang akan diberikan oleh sekolah, dengan adanya pemberian materi dan praktik renang diharapkan siswa menguasai tehnik dasar dalam berenang dan mampu mengembangkan bakat serta minat dalam bidang renang. Untuk melengkapi komponen dalam kegiatan ekstrakurikuler renang, sudah seharusnya memanfaatkan buku panduan yang mampu mendukung pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler secara efektif dan efesien. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kelayakan pengembangan buku panduan renang yang akan digunakan untuk siswa ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Buku panduan latihan renang ini yang nantinya dapat membantu siswa untuk memperoleh informasi tentang renang dan mempercepat proses pemahaman dalam mempelajari dasar-dasar tehnik berenang. Selanjutnya buku panduan yang dikembangkan diharapkan juga dapat menjadi bahan bacaan yang menarik bagi siswa, sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar renang. Desain pengembangan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket kuesioner. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan produk buku panduan yang dilakukan dalam penelitian ini hanya sampai pada uji kelompok kecil dan uji kelompok kecil dan uji lapangan. Hal ini karena keterbatasan waktu untuk melakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Dalam penelitian dan pengembangan ini ditetapkan jika hasil evaluasi uji coba terbatas mencapai 60% maka buku panduan ini secara keseluruhan dinyatakan layak. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar), maka diperoleh bahwa produk pengembangan buku panduan renang untuk siswa ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%, sehingga dapat digunakan. Hasil penelitian dan pengembangan ini berupa buku panduan yang mengemas metode latihan renang 4 gaya yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kegiatan ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan. Dalam pengembangan yang lebih lanjut, peneliti memberi saran sebagai berikut: Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efektivitas dari produk yang dikembangkan ini, karena hasil dari pengembangan ini masih terbatas sampai tersusun sebuah produk saja.

Hubungan penerapan hukuman yang tidak efektif diSekolah dengan inferioritas pada siswa SD / FEntostan Widoyoko Tunggal

 

Kata kunci: penerapan hukuman yang tidak efektif, inferioritas, siswa SD Siswa SD mengalami perubahan lingkungan anak rumah menjadi anak sekolahan. Adanya perubahan ini membuat siswa mengembangkan standarstandar baru dalam menilai dirinya. Standar-standar baru didapat dari interaksi siswa dengan orang lain, terutama guru. Adanya hukuman yang diberikan oleh guru saat proses belajar mengajar mengakibatkan adanya penilaian yang negatif siswa terhadap dirinya. Hal ini yang membuat siswa mengalami perasaan inferioritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah dengan inferioritas pada siswa SD. Rancangan penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitian ini sebanyak 108 siswa SD, dengan rincian 12 siswa kelas 4, 12 siswa kelas 5, dan 12 siswa kelas 6 di SDN Pujon Lor 1, SDN Pujon Lor 2, dan SDN Pujon Lor 3. Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket penerapan hukuman tidak efektif di sekolah dan skala inferioritas. Angket penerapan hukuman tidak efektif di sekolah terdiri dari 36 aitem dengan reliabilitas 0,854 dan skala inferioritas terdiri dari 35 aitem dengan reliabilitas 0,874. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik prosentase analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah pada subjek penelitian sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 78 % dan gambaran kondisi inferioritas pada subjek penelitian sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 71 %. Uji hipotesis menyimpulkan tidak terdapat hubungan antara penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah dengan pada siswa SD (rxy = 0,093; p = 0,340> 0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) Bagi Sekolah, hukuman di sekolah yang dilakukan oleh guru sebaiknya menggunakan hukuman yang efektif; (2) Bagi orang tua, diharapkan tidak menggunakan pola asuh gaya hidup dimanja dan pola asuh gaya hidup tertolak karena dapat menyebabkan perasaan inferioritas pada anak; (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, diharapkan mengembangkan penelitian dengan cara menambah populasi dan memasukkan faktor lain yang berhubungan dengan penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah dan inferioritas pada siswa SD sebagai variabel.

Penerapan strategi sales promotion yang efektif pada laboratorium minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Heru Yuni Sulistiyono

 

Kata kunci : penerapan strategi, sales promotion Sales promotion merupakan salah satu jenis komunikasi yang sering dipakai pemasar, yaitu upaya pemasaran yang bersifat media dan non media untuk merangsang coba-coba konsumen, meningkatkan permintaan konsumen atau untuk memperbaiki kualitas produk. Melalui promosi penjualan perusahaan dapat menarik pelanggan baru, mempengaruhi pelanggannya untuk mencoba produk baru, mendorong pelanggan membeli lebih banyak, menyerang aktivitas promosi pesaing, meningkatkan impulse buying (pembelian tanpa rencana sebelumnya), atau mengupayakan kerjasama yang lebih erat dengan para pengecer. Sebagai salah satu bauran promosi, sales promotion merupakan salah satu unsur penting dalam promosi produk. Praktikum Manajemen Pemasaran III ini dilaksanakan di Laboratorium Minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, selama sepuluh minggu yaitu mulai tanggal 1 Maret 2004 sampai tanggal 7 Mei 2004. Penggunaan sales promotion pada Laboratorium Minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang hanya sedikit. Sales promotion bagi konsumen akhir adalah berupa diskon atau potongan harga. Sedangkan pelaksanaan sales promotion bagi penjual kembal (reseller) adalah berupa point of purchasing (POP), karena kedua tipe sales promotion tersebut dirasa paling efektif. Hasil penelitian penerapan sales promotion pada Laboratorium Minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang ternyata dapat meningkatkan omzet penjualan terutama pada penerapan diskon atau potongan harga. Berdasarkan penulisan ini disarankan agar penggunaan sales promotion lebih dikembangkan dan tidak hanya terpaku pada salah satu jenis sales promotion saja. Sehingga apa yang menjadi tujuan sales promotion tersebut dapat tercapai.

Perbedaan minat musik punk petinjau dari kepribadian optimistik-pesimistik pada siswa kelas Xl di SMAK Frateran Malang / Alluicius Andre

 

Kata Kunci: kepribadian optimistik-pesimistik, minat musik punk Penelitian ini berfokus pada salah satu jenis musik, yaitu musik punk. Keyakinan bahwa musik kesukaan dapat memberikan informasi psikologi secara akurat telah didukung oleh banyak penelitian-penelitian (Perkins, 2008). Dari berbagai macam tipe kepribadian yang ada, maka penulis memilih untuk mengkaji lebih lanjut tentang kepribadian optimistik-pesimistik. Penelitian lebih lanjut dilaksanakan di SMAK Frateran Malang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam penelitian komparatif. Dengan menggunakan populasi yang berjumlah 84 orang. jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis independent sample T-Test menggunakan program SPSS for windows seri 16.0. Hasil penelitiannya adalah: (1) Sebagian besar murid SMAK Frateran memiliki kepribadian pesimistik yaitu 43 orang, sedangkan hanya 27 orang yang memiliki kepribadian optimistik. (2) Dari 70 murid kelas XI SMAK Frateran, yang memiliki minat musik punk tinggi yaitu 51%, sedangkan yang memiliki minat musik punk rendah yaitu 49%. (3) Nilai probabilitas (Sig. 2-tailed) sebesar 0,613 dengan signifikansi 0,05 dengan demikian hasilnya maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan minat musik punk ditinjau dari kepribadian optimistik-pesimistik pada siswa kelas XI di SMAK Frateran Malang, ditolak. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) Hanya sebagian kecil, yaitu 39% siswa-siswi kelas XI SMAK Frateran berkepribadian optimis. Dari hasil analisa pada penelitian ini diketahui bahwa 51% memiliki minat musik punk yang tinggi, hanya 18 murid saja yang berkepribadian optimis. (2) Sebagian besar, yaitu 61% siswa-siswi kelas XI SMAK Frateran berkepribadian pesimis. Dari 36 peminat musik punk, sebanyak 50% yang berkepribadian pesimis. (3) Tidak terdapat perbedaan minat musik punk antara kepribadian optimistik dan pesimistik. Karena jumlah siswa yang memiliki minat musik punk yang tinggi memiliki kepribadian optimistik dan pesimistik dengan tingka presentase yang sama yaitu 50%. Saran yang dapat peneliti berikan adalah (1) Bagi Siswa-siswi SMAK Frateran Malang, agar para siswa mampu memilah-milah yang baik ataupun yang buruk dalam pergaulan, mengingat bahwa musik punk memiliki image negative di masyarakat. (2) Bagi peneliti selanjutnya agar meneliti hubungan antara kepribadian optimistik dan pesimistik dengan minat musik secara lebih mendalam, dengan cara menambah item serta mampu memperluas ruang lingkup tidak hanya di SMAK Frateran saja.

Perancangan game dua dimensi tentang tenses dalam bahasa inggris untuk siswa kelas satu sekolah menengah pertama / Hasli Rais

 

Kata Kunci: Game, Tenses, Bahasa, Inggris. Saat ini Bahasa Iggris merupakan bahasa penunjang yang penting dalam dunia pendidikan. Belajar Bahasa Inggris bisa dimulai ketika masih berada di sekolah dasar ataupun di tingkat perguruan tinggi. Salah satu materi Bahasa Inggris yang penting dipelajari adalah materi tentang tenses. Oleh karena itu, penulis merancang sebuah game dua dimensi tentang tenses Bahasa Inggris yang ditujukan kepada siswa sekolah menengah pertama kelas satu. Game dua dimensi ini dirancang untuk memberikan materi pendukung belajar tentang tenses Bahasa Inggris yang saat ini masih jarang ditemukan materi tenses Bahasa Inggris dalam bentuk game. Materi tenses yang dibahas meliputi sembilan macam tenses yang dikelompokkan menjadi tiga bagian dan level antara lain Simple Tense, Continuous Tense, Perfect Tense. Setiap levelnya terbagi lagi dalam kelompok past, present dan future. Game-nya disajikan dalam soal-soal pilihan ganda yang pilihan jawabannya dianimasikan berjalan dari bawah ke atas serta terdapat bantuan rumus tenses yang bersangkutan. Perancangan game dua dimensi menggunakan software dua dimensi yaitu Adobe Flash CS 3 dengan basic pemograman Action Script 2.0, dan game ini merupakan game yang dimainkan melalui PC/ komputer. Pemilihan materi tenses Bahasa inggris ditujukan kepada siswa Sekolah Menengah Pertama kelas satu dan juga untuk khalayak umum yang membutuhkan materi pendukung tentang tenses Bahasa inggris dimana memahami tentang materi tenses Bahasa Inggris adalah salah satu aspek yang penting ketika belajar Bahasa Inggris. Diharapkan perancangan game dua dimensi tentang tenses Bahasa Inggris ini dapat memberikan manfaat yang positif bagi siapa saja yang membutuhkan khususnya kepada siswa Sekolah Menengah Pertama kelas satu, karena masih jarang ditemukan media belajar tenses Bahasa Inggris dalam media serupa. iv

Evaluasi pelaksanaan program praktk industri mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM bedasarkan model CIPP / Esin Sintawati

 

Sintawati, Esin, 2012. Evaluasi Pelaksanaan Praktik Industri (PI) Mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM Berdasarkan Model CIPP. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd (II) Drs. H. Andoko, S.T., M.T Kata kunci: praktik industri, model CIPP. Prodi Tata Busana Penelitian bertujuan mendeskripsikan latar belakang program PI mahasiswa; mendeskripsikan pelaksanaan program PI mahasiswa; mendeskripsikan efektivitas pelaksanaan PI mahasiswa ditinjau dari aspek latar belakang (context), maukan (input), prose (process), dan hasil (product); dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan PI mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan campuran dari kedua jenis pendekatan kualitatif dan kuantitatif, yang dikenal dengan istilah mixed methods, yang digunakan secara berurutan/sekuensial. Pada metode campuran ini, penelitian kulitatif digunakan untuk memfasilitasi penelitian kuantitatif. Subyek/informan penelitian berjumlah 60 dan merupakan sampel populasi, terdiri dari: mahasiswa Prodi Tata Busana angkatan 2008 yang telah melaksanakan PI, pengelola PI Prodi Tata Busana, dosen pembimbing PI, dan industri. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara dan angket. Pengumpulan data latar belakang program PI dilakukan dengan teknik wawancara dan studi dokumentasi untuk menjaring data awal dan sebagai pedoman dalam penyusunan angket instrumen survey. Data latar belakang program PI dan pelaksanaan PI dianalisis secara kualitatif, dengan mendiskripsikan obyek yang diteliti melalui data sampel populasi sebagaimana adanya. Sedangkan data efektivitas pelaksanaan PI dianalisis secara kuantitatif. Pengukuran difokuskan pada data dalam bentuk angka-angka dengan menggunakan T-Skor, yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Untuk tingkat efektivitas pelaksanaan PI dilakukan analisis terhadap aspek latar belakang, masukan, proses, dan hasil melalui analisis kuadran Glickman. Hasil penetitian menunjukkan bahwa: (1) latar belakang (context) Program Praktik Industri (PI) Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM telah dirumuskan dan dilandasi dengan landasan filosofis, landasan fungsional, landasan kultural dan landasan introspektif. (2) pelaksanaan program PI Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM dinilai cukup bagus; dilihat dari aspek input, aspek proses, dan aspek hasil; (3) berdasarkan evaluasi CIPP (context, input, process, dan product), pelaksanaan program PI Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM sangat efektif; dan (4) dalam pelaksanaan program PI masih terdapat faktor-faktor yang belum efektif dan menjadi kendala dalam pelaksanaan PI mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM. Program PI bagi mahasiswa Prodi Tata busana Jurusan TI FT UM masih diperlukan dan program yang sudah berjalan dapat dilanjutkan untuk memaksimalkan pencapaian kompetensi mahasiswa. Agar pelaksanaan program PI dapat efektif, perlu dilakukan perbaikan dan penyempurnaan pada aspek-aspek perencanaan program PI, keterlibatan DUDI dalam program PI, pembimbingan dan monitoring PI, dan pembimbingan/monitoring. Bagi peneliti lain dapat menindaklanjuti temuan penelitian guna peningkatan efektivitas program PI dalam lingkup yang lebih luas dan memiliki signifikansi pada industri maupun program PI mahasiswa.

Pengaruh latihan permainan gobak sodor terhadap kelincahan siswa Tuna Rungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri (SDLBN) Kedungkandang kota Malang / Septian Hermawan Putranto

 

Kata kunci: Tuna Rungu, Latihan Permainan Gobak Sodor, Kelincahan. Gangguan pendengaran merupakan hambatan yang sangat berarti untuk melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Salah satu dari faktor gangguan pendengaran tersebut adalah kelincahan. Kelincahan merupakan bagian dari tujuan pendidikan jasmani yang perlu dilatih untuk ditingkatkan kemampuanya. Hal ini mengingat kelincahan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengkoordinasi gerakan-gerakan. Dalam upaya meningkatkan kelincahan tidak sedikit masalah yang dihadapi oleh guru olahraga siswa tuna rungu. Dikarenakan anak tuna rungu cenderung melakukan aktivitasnya sendiri tanpa tujuan yang guru harapkan. Siswa merasa pelajaran pendidikan jasmani melelahkan, tegang dan membosankan, sehingga menyebabkan malas untuk berolahraga. Pada siswa tuna rungu, faktor kelincahan sangatlah kurang. Salah satu alternatif pendekatan yang digunakan adalah dengan memakai metode permainan seperti membentuk permainan tradisional yang dirancang oleh guru untuk mengarahkan siswa lebih kreatif bergerak dan menarik agar siswa itu berkeinginan dari dalam dirinya untuk mengikuti olahraga dengan merasa senang tanpa merasa terpaksa oleh gurunya. Melalui permainan gobak sodor bila kita analisa dari pelaksanaan permainan dan gerakan pemain, mencantumkan unsur-unsur kondisi fisik yang dapat ditingkatkan melalui permainan gobak sodor adalah (1) Endurance atau daya tahan, (2) Speed atau kecepatan, (3) Agility atau kelincahan (4) Flexibility atau kelentukan , (5) Kecepatan reaksi, (6) Balance atau keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kelincahan. Penelitian ini menggunakan penelitian pra-experimental dengan rancangan one group Pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November 2011. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa Tuna rungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 16 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Uji t- amatan ulangan. Berdasarkan hasil penghitungan terhadap hasil tes lari bolak balik (uji signifikansi) diperoleh t hitung(1 - 0,05) 5,47 detik yang memiliki nilai lebih besar dari t tabel(1-0,05) sebesar 2,13 (t hitung (0,95) = 5,47 > t tabel (0.95) = 2,13) dengan derajat kebebasan = 16 – 1 = 15. Karena t hitung lebih besar dari t tabel pada taraf signifikan 0,05% atau taraf kepercayaan 0.95% yang tercatat sebesar 2,13 menunjukan bahwa t- hitung masih lebih besar dari t-tabel. Dengan demikian perhitungan uji-t adalah sangat signifikan maka H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulannya, terdapat pengaruh yang signifikan antara hasil tes lari bolak balik sebelum dengan sesudah perlakuan latihan permainan gobak sodor. Dengan kata lain, latihan permainana gobak sodor dapat meningkatkan kelincahan pada siswa tuna rungu di SDLBN Kedungkandang Kota Malang. Bedasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya mengurangi keterbatasan penelitian seperti, perlu diadakannya penelitian yang serupa dengan tambahan pemberian latihan permainan tradisional lainnya didalam perlakuan yang dilakukan. Selain itu, juga dapat disarankan untuk melakukan penelitian yang serupa dengan subjek penelitian yang berbeda.

Penerapan model problem based learning pada materi konflik sosial untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa kelas Xl IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang / Elvyn Bahterawati

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Problem Based Learning, Berpikir Kritis. Penelitian ini didasarkan adanya permasalahan di kelas dimana dalam pandangan siswa ada kecenderungan bahwa sosiologi tidak perlu dipelajari karena semuanya berkaitan dengan pengalaman sehari-hari. Selain itu, siswa juga beranggapan bahwa belajar sosiologi hanya menekankan pada kemampuan hafalan saja tidak terlalu menuntut kemamuan berpikir logis dan selama ini proses pembelajaran di kelas tidak menarik bagi siswa. Karena itu, perlu dilakukan tindakan yang menekankan pemberian pengalaman belajar secara langsung, dengan kata lain metode pembelajaran dengan teacher-centered harus diubah menjadi student-centered. Tujuannya agar siswa mampu berpikir kritis serta lebih peka menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL). Dalam KTSP ditekankan bahwa pembelajaran sosiologi di sekolah harus mampu mengarahkan siswa untuk berpikir dan diterapkan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry). Adapun permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: (1) apakah penerapan model PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa?, (2) bagaimana penerapan model PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa? dan (3) bagaimana respon siswa terhadap penerapan model PBL dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang? Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pelaksanaann penelitian ini dimulai bulan September sampai dengan Desember 2012. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang diperoleh melalui (1) tes tulis, (2) observasi, dan (3) kuesioner. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang pada saat keseluruhan tahapan dalam PBL dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru dan siswa. Keterlaksanaan PBL pada siklus I adalah 73,33% dan hasil tes essay berpikir kritis siswa dengan level kognitif C2, C3 dan C4 saat pratindakan adalah 73:76:78 dan meningkat di akhir siklus menjadi 80:76:84. Sementara itu pada siklus II, keterlaksanaan PBL mencapai 93,3%. Dalam penelitian tindakan ini untuk mengukur kemampuan berpikir siswa kelas XI IPS 1 dilakukan melalui tes esai berpikir kritis dan pengamatan. Hasil tes esai menunjukkan peningkatan dari 5 siswa (16,1%) dengan kategori sangat kritis di siklus I menjadi 16 siswa (51,6%) di siklus II. Hasil tes esai berpikir kritis dengan level kognitif C2, C3, C4 dan C5 pada pratindakan adalah 71:79:73:84 meningkat di akhir siklus II menjadi 79:82:84:86. Peningkatan kemampuan berpikir siswa dapat dilihat pada peningkatan nilai tes pada level kognitif C4, karena berdasarkan taksonomi Bloom, indikator berpikir kritis dapat diukur dengan tes yang mengarah pada level kognitif C4, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang mengalami peningkatan. Pada saat observasi, jumlah skor rata-rata pada siklus I adalah 20,5 dengan kategori baik meningkat menjadi 23,4 (sangat baik) pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir siswa selama proses pembelajaran sebesar 2,9. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat diberikan saran, yaitu (1) bagi guru bidang studi sosiologi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini pada materi dengan karakteristik yang berhubungan langsung dengan lingkungan nyata sehingga siswa leih mudah menerimanya, (2) Model PBL bisa diterapkan pada beberapa materi yang ada semester 1 kelas XI program IPS misalnya pada level kognitif dasar mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan dan menganalisis hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial, (3) Pemberian masalah pada penelitian ini menggunakan artikel dan gambar-gambar, siswa diminta untuk membawa artikel sendiri dan membacanya di luar jam pelajaran untuk menghemat waktu sehingga diharapkan peneliti lain yang ingin menggunakan pembelajaran yang sama hendaknya menampilkan masalah dari pengamatan secara langsung, dengan penugasan di luar jam pelajaran, dan (4) Pembentukan kelompok yang heterogen berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan sebaiknya dilakukan pada tahap awal tindakan. Pembentukan kelompok oleh guru di awal pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam proses pemecahan masalah dari awal sehingga siswa dapat berbagi tugas dengan anggota kelompok lain dalam proses membangun kemampuan berpikir mereka.

Penyelesain Multiple Depot Vehicle Routing Problem (MDVRP) menggunakan metode insertion heuristic / Dima Prihatinie

 

Kata Kunci: Graph, Vehicle Routing Problem (VRP), Multiple Depot Vehicle Routing Problem (MDVRP), Metode Insertion Heuristic. Permasalahan MDVRP merupakan permasalahan VRP dengan kondisi dimana depot yang digunakan sebagai pusat distribusi barang lebih dari satu. Tujuan dari permasalahan MDVRP adalah membentuk rute pendistribusian pada masing-masing depot sehingga diperoleh jarak tempuh yang minimum, dimana setiap customer hanya dikunjungi satu kali oleh tepat satu kendaraan dengan setiap rute berawal dan berakhir di depot yang sama, dan total permintaan dari customer dalam satu rute tidak boleh melebihi kapasitas angkut kendaraan. Penyelesaian MDVRP dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya menggunakan metode Insertion Heuristic. Pencarian solusi dimulai dengan mengelompokkan customer pada depot terdekat, kemudian pembentukan rute kendaraan dilakukan secara terpisah untuk masing-masing depot menggunakan metode Insertion Heuristic. Langkah terakhir yaitu pengurutan rute pada tiap depot sehingga diperoleh jarak tempuh yang minimum. Terdapat 4 contoh permasalahan MDVRP yang dibahas dalam skripsi ini. Pada contoh 1, 2, dan 3 dengan 2 depot menghasilkan 3 rute. Pada contoh 4 dengan 3 depot menghasilkan 6 rute. Jadi, permasalahan MDVRP dengan 2 depot atau lebih akan menghasilkan rute kendaraan yang tidak dapat dipastikan banyaknya. Hal tersebut tergantung pada banyaknya customer, jumlah permintaan tiap customer, dan kapasitas angkut kendaraan. Berdasarkan pembahasan pada skripsi ini, terlihat bahwa permasalahan MDVRP yang diselesaikan menggunakan metode Insertion Heuristic memiliki hasil yang sama atau lebih optimal bila dibandingkan dengan penyelesaian menggunakan algoritma Clark and Wright pada skripsi Anissa Masruroh. Hal ini disebabkan karena metode Insertion Heuristic melakukan penyisipan pada sisi yang bernilai minimum. Dengan kata lain, urutan dalam melayani customer diperhatikan. Sedangkan pada algoritma Clark and Wright, perluasan rute dilakukan dengan menggabungkan rute yang telah terbentuk tanpa memperhatikan urutan dalam mengunjungi customer.

Hubungan pengetahuan tentang moral seksual,pengetahuan agama (kristen), dan perilaku seksual siswa SMA / Enny Simanungkalit

 

Kata Kunci: pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), perilaku seksual. Perilaku seksual adalah segala aktivitas seksual yang dilakukan seseorang, baik yang dapat diamati maupun tidak dapat diamati, yang dilakukan sendiri atau bersama orang lain karena didorong oleh hasrat seksual. Perilaku seksual berbeda-beda faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama. Pengetahuan moral seksual adalah kepemilikan informasi seseorang tentang bagaimana berperilaku seksual yang tidak melanggar ketentuan yang berlaku di masyarakat. Pengetahuan Agama (Kristen) adalah kepemilikan informasi yang dimiliki seseorang mengenai ajaran-ajaran dalam agama. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat pengetahuan tentang moral seksual pada siswa SMA 2) mengetahui tingkat pengetahuan agama (Kristen) pada siswa SMA, (3) mengetahui tingkat perilaku seksual pada siswa SMA, (4) mengetahui hubungan pengetahuan tentang moral seksual dengan perilaku seksual, (5) mengetahui hubungan pengetahuan agama (Kristen) dengan perilaku seksual, dan (6) mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), dan perilaku seksual pada siswa SMA. Jenis penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif korelasional, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik penelitian populasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 52 orang yang berusia 15-19 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pengetahuan tentang moral seksual, angket tentang pengetahuan agama Kristen, dan skala perilaku seksual yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pengetahuan tentang moral seksual berada pada klasifikasi tinggi (60%), (2) pengetahuan agama (Kristen) berada pada klasifikasi tinggi (50%), (3)perilaku seksual berada pada klasifikasi rendah (50%), (4) ada hubungan negatif pengetahuan tentang moral seksual dan perilaku seksual, (5) ada hubungan negatif antara pengetahuan agama (Kristen) dan perilaku seksual dan (6) ada hubungan antara pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), dan perilaku seksual siswa SMA. Disarankan (1) bagi remaja, disarankan untuk mempertahankan pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama yang dimiliki melalui moral yang berlaku di masyarakat dan ajaran agama. Remaja juga disarankan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan seperti kebaktian pemuda. (2) bagi orang tua, disarankan agar mempertahankan dan memberikan pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama sebagai kontrol dari perilaku seksual. Selain itu orang tua juga harus memberi penjelasan kepada anak bahaya dan dampak perilaku seksual sebelum menikah. (3) bagi sekolah, diharapkan untuk rutin melibatkan siswa dalam hal kegiatan keagamaan, menyediakan ekstrakurikuler yang postif yang menarik minat siswa (4) bagi peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah sampel dan mencermati faktor-faktor lain yang mempunyai keterkaitan dengan perilaku seksual.

Perancangan softbook tentang nama binatang berdasarkan huruf vokal untuk anak usia dini / Bunga Fefiana Mustikasari

 

Kata Kunci : softbook, buku nama binatang, anak usia dini. Binatang merupakan salah satu makhluk hidup selain tumbuhan yang perlu dikenali semenjak dini. Berbagai macam binatang tersebar disekitar kita, namun dengan adanya pembangunan gedung-gedung bertingkat, kini mulai jarang ditemukannya binatang-binatang kecuali di daerah pedesaan. Diperlukan media untuk pengenalan binatang kepada anak. Skripsi ini bertujuan untuk merancang media berupa softbook tentang nama binatang dengan bahan dasar yang aman yaitu kain flanel. Perancangan ini menggunakan metode perancangan milik J. Christoper Jones. Perancangan diawali dengan merumuskan latar belakang masalah, menetapkan tujuan perancangan, pengumpulan data, identifikasi dan analisis data, sintesis, menetapkan konsep perancangan media dilanjutkan dengan tahap perencanaan media dan perencanaan kreatif, kemudian menghasilkan sebuah desain akhir. Analisis data menggunakan analisis USP, dimana memaparkan keunikan dari media softbook ini. Keunikan tersebut diangkat menjadi sebuah USP dari media softbook. Media yang dihasilkan dalam perancangan ini adalah softbook tentang nama binatang berdasarkan huruf vokal. Media softbook berisikan huruf vokal, nama-nama binatang beserta ilustrasi dari setiap binatang. Produk didesain menggunakan ilustrasi binatang dengan gambar besar, sederhana, dan menggunakan warna ceria. Desain ini disesuaikan dengan target audience yaitu anak usia usia dini. Untuk mendukung hasil perancangan, juga dihasilkan pula media-media promosi pendukung seperti buku mewarnai, balok binatang, papan tempel binatang, poster, pamflet, backdrop dan banner.

Penerapan pembelajaran teknik mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS (Ekonomi) siswa kelas VII-G SMP Negeri 9 Malang / Sukma Oktaviani

 

Kata kunci: Mind Mapping, aktivitas, dan hasil belajar. Observasi awal dalam penelitian ini dilakukan pada saat peneliti melakukan kegiatan PPL, diketahui pembelajaran IPS (Ekonomi) di SMP Negeri 9 Malang belum sepenuhnya menggunakan metode kooperatif yang melibatkan siswa secara aktif. Selama ini pembelajaran di SMP Negeri 9 Malang masih menggunakan metode konvensional. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, peserta didik dianggap sudah belajar apabila mereka sudah menghafal materi yang telah diajarkan. Kebiasaan menghafal tersebut membawa dampak buruk pada peserta didik, mereka tidak dapat memahami makna pembelajaran yang sesungguhnya. Untuk mengatasi hal ini di perlukan suatu pembelajaran yang tepat, menarik dan menyenangkan yaitu pembelajaran Penerapan Pembelajaran Teknik Mind Mapping yang diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-G SMP Negeri 9 Malang dengan jumlah 39 siswa yang terdiri atas 18 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan tahun ajaran 2012-2013. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar dari ranah kognitif dan afektif yang di ambil dari penerapan pembelajaran Penerapan Pembelajaran Metode Kooperatif Teknik Mind Mapping. Instrument yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi, angket, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas VIII-G. Hal ini ditunjukkan dengan adanya persentase aktivitas siswa siklus I yang meningkat sebesar 83,33% dari siklus I sebesar 46,15% dan pada siklus II sebesar 96,07%. Ketuntasan hasil belajar aspek kognitif juga mengalami peningkatan sebesar 6,09% dari siklus I sebesar 82% dan pada siklus II sebesar 87%, sedangkan hasil belajar ranah afektif siswa meningkat sebesar 96,07% dari siklus I sebesar 51% meningkat pada siklus II sebesar 100%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penerapan Pembelajaran Penerapan Pembelajaran Teknik Mind Mapping berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII-G SMP Negeri 9 Malang. Guru mata pelajaran IPS disarankan menerapkan Penerapan Pembelajaran Metode Kooperatif Teknik Mind Mapping sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Evaluasi pelaksanaan KTSP dikjasorkes menggunakan countenace stake di SD se-Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember tahun ajaran 2012/2013 / Dinanda Delphin Samara

 

Kata kunci: Kurikulum, Pendidikan Jasmani, Evaluasi, Countenance Stake BSNP (2006:5) ”kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan Kurikulum yang digunakan oleh setiap sekolah di seluruh Indonesia saat ini diberbagai strata termasuk Sekolah Dasar (SD). Dikjasorkes merupakan bagian integral didalam KTSP. Kurikulum sangat erat hubungannya dengan upaya pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan oleh karena itu kurikulum menjadi bagian penting dalam proses pendidikan secara menyeluruh Pelaksanaan KTSP sangat dipengaruhi oleh karakteristik dan potensi sekolah masing masing yang sangat berbeda, hal ini disebabkan karena KTSP bersifat desentralisasi. Dengan kebijakan tersebut maka setiap sekolah memiliki perbedaan dalam menerapkan KTSP khususnya Pendidikan jasmani dan Kesehatan. KTSP disusun dengan harapan mempermudah guru dalam merencanakan dan melaksanakan kurikulum demi mencapai tujuan yang telah di tentukan, namun pada praktiknya masih ada kendala yang ditemui oleh guru selaku pelaksana KTSP. Berawal dari permasalahan tersebut penulis mencoba untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan KTSP di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode penelitian evaluasi dengan persentase dan model evaluasi Countenance Stake. Peneliti menggunakan model Countenance Stake dengan pertimbangan, bahwa peneliti memiliki keinginan untuk mengadakan evaluasi secara menyeluruh terkait dengan pelaksanaan KTSP ditinjau dari segi guru dengan variabel sebagai berikut: antecedents (matriks deskripsi), transactions (matriks transaksi), dan outcomes (matriks hasil). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dengan menggunakan model evaluasi Countenance Stake. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: secara statistika perolehan matriks Antecedents adalah 59,75% yang artinya cukup, secara keseluruhan pada matriks antecedents ada satu variabel intent antecedents yang memperoleh hasil 52,92% yang artinya bahwa pada kenyataannya masih ada kekurangan pada aspek ketersediaan sumber daya yang belum sesuai dengan pembelajarannya. Matriks transaction 69,16% yang artinya cukup, secara evaluatif pada matriks transaksi diperoleh temuan sebagian besar guru mengalami kesulitan dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran dikarenakan keterbatasan ketrampilan mengoperasikan komputer. Sedangkan pada matriks outcomes 93,75% yang artinya baik, secara evaluatif diperoleh hasil semua guru mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan mengajar dikarenakan merasa kurang memiliki macam-macam model pembelajaran yang bisa digunakan dalam RPP dan keterbatasan multimedia yang dimiliki. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dengan menggunakan model evaluasi Countenance Stake di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember adalah cukup dengan skor 74,22% dengan beberapa catatan terkait dengan variabel transaksi dan hasil yang rata-rata cukup. Saran berdasarkan hasil evaluasi ini, maka diharapkan sekolah tidah hanya menjadikan perencanaan KTSP sebagai tolak ukur kualitas dan hasil belajar siswa, sehingga perlu adanya kontrol kualitas proses pembelajaran dan model evaluasi guru untuk mendapatkan hasil belajar siswa. Kurangnya fasilitas olahraga hendaknya menjadi sorotan utama tiap sekolah karena fasilitas olahraga memiliki peranan myang cukup penting dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan (studi kasus pada siswa pemasaran kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Dyah

 

Kata Kunci: Numbered Head Together (NHT), Problem Based Learning (PBL), dan Hasil Belajar. Pendidikan merupakan komponen terpenting dalam pembangunan bangsa dan negara, kegiatan pendidikan berupa proses belajar mengajar/proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting, sebab keberhasilan sebuah pendidikan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pelaksanaan pembelajaran. Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sangat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: siswa, kurikulum, tenaga pendidik, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas XI Pemasaran di SMK Muhammadiyah 2 Malang, (2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI Pemasaran pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 2 Malang, (3) Untuk mendeskripsikan respon siswa terhadap penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Alat pengumpulan data menggunakan soal tes, lembar observasi, lembar catatan lapangan, angket, dan pedoman wawancara. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2011/2012. Hasil belajar pada siklus I menunjukkan rata-rata skor tes siswa sebelum diterapkan kolaborasi pembelajaran kooperatif model NHT dengan PBL sebesar 60 dengan skor tertinggi 80 dan skor terendah 40, dapat diketahui bahwa sebelum pemberian tindakan nilai pre test siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 4 siswa (10%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 34 siswa (90%). Setelah pemberian tindakan nilai post test siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 18 siswa (45%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 22 siswa (55%). Artinya terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum dan sesudah pemberian tindakan siklus I sebesar 35%. Sedangkan pada siklus II rata-rata skor tes siswa sebelum diterapkan kolaborasi model NHT dengan PBL adalah 69,52 dengan skor tertinggi 85 dan dapat diketahui bahwa sebelum pemberian tindakan nilai pre test siklus II jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 15 siswa (37,4%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 2 siswa (5%). Setelah pemberian tindakan, nilai post test siklus II mengalami peningkatan , ini terbukti dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 38 siswa (95%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 2 siswa (5%). Artinya terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum dan sesudah pemberian tindakan siklus II sebesar 57,6%. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Malang dan seluruh guru, khususnya guru mata diklat kewirausahaan, untuk mencoba menerapkan pembelajaran model Numbered Head Together (NHT) dan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini disarankan untuk menerapkan metode pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada mata diklat yang berbeda.

Hubungan antara perilaku identifikasi terhadap tokoh idola dan perilaku konsumtif remaja / Mutia kintan Devisafitri

 

Kata Kunci: Perilaku konsumtif, Perilaku Identifikasi, Tokoh Idola Selama ini masyarakat banyak melakukan tindakan konsumtif yang sudah tidak terkendali. Tidak hanya pada orang dewasa, ternyata remaja justru lebih aktif dalam berperilaku konsumtif dalam keseharianya. Hal itu dikarenakan beberapa faktor. Perilaku identifikasi adalah perilaku untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain. Hampir setiap orang memiliki sosok yang yang diidolakan. Kondisi tersebut wajar terjadi mengingat dalam kesehariannya, individu hampir tidak lepas dari media cetak dan elektronik yang menyuguhkan informasi aktifitas sehari-hari para idola tersebut, mulai dari kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, gaya hidup, sampai menyoroti barang-barang pribadi idola tersebut. gaya hidup tokoh idola yang identik dengan kemewahan tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia diduga dapat mempengaruhi perilaku sesorang yang melihatnya melalui proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran remaja yang mengidentifikasi tokoh idola. (2) memperoleh gambaran mengenai perilaku konsumtif pada remaja (3) mengetahui hubungan antara identifikasi terhadap tokoh idola dengan perilaku konsumtif remaja. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskripsi korelasional. Subjek penelitian sebanyak 175 siswa pada SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang dengan tehnik pengambilan sampel Random sampling. Instrument yang digunakan yaitu kuesioner perilaku konsumtif remaja dan kuesioner perilaku identifikasi terhadap tokoh idola. Dalam penelitian ini perhitungan reliabilitas menggunakan menggunakan rumus Alpha cronbach dan validitas item menggunakan validitas konsistensi internal dengan tehnik korelasi Pearson. Perhitungan menggunakan bantuan SPSS. 17.0 for windows. Hasil pada kuesioner perilaku konsumtif remaja didapatkan reliabilitas sebesar 0,769. Pada kuesioner perilaku identifikasi terhadap tokoh idola didapatkan reliabilitas sebesar 0,738. Hasil dari penelitian ini diperoleh (1) Perilaku identifikasi terhadap tokoh idola berada dalam kualifikasi tinggi (2%), Sedang (48%) dan Rendah (50%), (2) perilaku konsumtif remaja berada dalam kualifikasi tinggi (1%) pada kualifikasi sedang (66%) sedangkan pada kualifikasi rendah (33%) dan (3) dengan menggunakan korelasi pearson antara perilaku identifikasi terhadap tokoh idola dan perilaku konsumtif remaja memiliki rxy = 0,270 dengan signifikansi (0,000 < 0,05) hal ini menunjukan adanya hubungan positif antara perilaku identifikasi terhadap tokoh idola dan perilaku konsumtif remaja. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) Bagi remaja hendaknya lebih mengenali tokoh idola dengan tidak melakukan perilaku identifikasi secara asal-asalan. Lebih mengenali produk yang akan dikonsumsi sehingga tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian. Lebih dapat melakukan pengendalian diri agar tidak mudah terpengaruh referensi group dalam hal tokoh idola yang menjadi model iklan suatu produk atau jasa (2) Bagi orang tua hendaknya lebih dapat menjadi panutan yang baik bagi anak dengan mengajarkan memanajemen keuangan dengan baik (3) Bagi Peneliti selanjutnya diharapkan menggali lebih dalam mengenai bentuk identifikasi material, identifikasi idealist atau identifikasi formal yang menjadi penyebab terbesar perilaku konsumtif remaja.

Hubungan komunikasi interpersonal terhadap kepuasan perkawinan istri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun / Mardika Aisyiyah

 

Kata Kunci : komunikasi interpersonal, kepuasan perkawinan. Komunikasi interpersonal merupakan salah satu faktor penentu kepuasan perkawinan. Usia perkawinan kurang dari 5 tahun rentan dengan konflik, hal ini dikarenakan kurangnya penyesuaian dan pengalaman hubungan interpersonal yang belum banyak. Komunikasi merupakan faktor utama yang rentan menyebabkan konflik dalam perkawinan selain penghasilan, anak, orang ketiga, seks, kenyakinan, mertua dan ragam perbedaan. Setiap pasangan suami isteri yang usia perkawinannya kurang dari 5 tahun pasti mendambakan kepuasan dalam perkawinannya, ini dapat tercapai jika komunikasi interpersonal mereka berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersoal terhadap kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Untuk mengetahui Komunikasi Interpersonal isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. 2) Untuk mengetahui Kepuasan Perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. 3) Mengetahui hubungan komunikasi interpersonal terhadap kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling(sampel bertujuan) degan menggunakan 40 orang sampel. Teknik pengumpulan data menggunakan skala komunikasi interpersonal dan skala kepuasan perkawinan dengan metode Likert. Analisis korelasional menggunakan analisis product momentdengan menggunakan program SPSS for windows16.0 (Statistic for Social Science). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun pada kategori rendah dengan persentase 40%. Sedangkan kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun juga berada pada kategori rendah dengan persentase 40%. Hasil analisis r=0,780 dengan Sig 0,000 < 0,050, menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal mempunyai hubungan positif dengan kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. Sehingga bila komunikasi interpersonal tinggi maka kepuasan perkawinan juga tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pengetahuan bagi isteri yang usia perkawinannya kurang dari 5 tahun agar mampu meningkatkan komunikasi iterpersonalnya terhadap suaminya sehingga diperoleh kepuasan perkawinan yang tinggi.Selain itu diharapkan bagi peneliti lain, agar dapat memperluas penelitian ini dengan menggunakan rancangan penelitian yang berbeda, seperti eksperimen dan untuk meneliti dengan variabel lain yang dapat berpengaruh pada kepuasan perkawinan.

Pengembangan LKS teorema pythagoras bercirikan RME untuk RSMPBI Pacitan / Siti Muawwanah

 

Kata Kunci : LKS, RME, Teorema Pythagoras. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan cara pengajarannya. Matematika merupakan hal yang menyenangkan, mudah dipahami, tidak menakutkan, dan banyak kegunaannya. Hal ini dapat dirasakan melalui pembelajaran matematika realistik (Realistic Mathematics Education). Bahan ajar khususnya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang ada selama ini kebanyakan hanya sebatas kumpulan soal-soal, dan sedikit uraian materi di dalamnya. Siswa hanya terpaku pada uraian dalam LKS tanpa menganalisis suatu problem atau masalah. Hal ini kurang meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Berdasar fakta yang terjadi di SMPN 1 Pacitan, untuk materi teorema Pythagoras, siswa-siswa sudah pernah mendapatkannya di jenjang pendidikan sebelumnya, namun kebanyakan siswa belum paham akan konsepnya. Selain itu, mereka juga tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Hal di atas yang mendasari dikembangkannya LKS bercirikan Realistic Mathematics Education (RME) untuk Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (RSMPBI) Pacitan. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan LKS Teorema Pythagoras bercirikan RME untuk Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional Pacitan yang valid, praktis dan efektif. LKS ini dikembangkan berdasarkan four-D model sebagai acuan. Model ini disarankan oleh Thiagarajan, Semmel & Semmel. Model ini mempunyai empat tahap pengembangan, yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Dalam penelitian ini dilakukan modifikasi, yakni penelitian dilakukan hanya sampai tahap Develop. Tahap Disseminate tidak dilakukan karena tahap ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam. Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan, koreksi, dan saran dari lembar angket dan lembar validasi. Data kuantitatif berupa skor validasi, skor angket, dan skor peserta didik dalam mengerjakan tes akhir. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi LKS untuk mengukur tingkat kevalidan LKS, soal tes kemampuan siswa dan angket respon siswa untuk mengukur tingkat keefektifan LKS, dan angket kepraktisan LKS untuk guru sebagai alat ukur tingkat kepraktisan LKS. LKS Teorema Pythagoras bercirikan RME untuk RSMPBI ini sudah divalidasi oleh tiga validator, dengan skor akhir 88,33 dan memenuhi kriteria sangat valid. Setelah dilakukan validasi, LKS ini diujicobakan perseorangan untuk uji keterbacaan. Dari uji keterbacaan ini diketahui beberapa kesalahan cetak dan kata-kata yang dirasa sulit oleh siswa. Setelah dilakukan revisi sesuai masukan dari uji keterbacaan, akhirnya dilakukan uji coba lapangan. Dari uji coba lapangan ini diperoleh hasil bahwa LKS yang dikembangkan praktis dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket respon guru dengan skor akhir 87,5 dan memenuhi kriteria sangat praktis. Dari hasil tes akhir materi Teorema Pythagoras, diperoleh ketuntasan belajar klasikal 85,71% . Dari hasil angket respon siswa diperoleh skor akhir 76,64 dan memenuhi kriteria efektif.

Efektivitas pengendalian internal terhadap sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas PT Telkom Kandatel Blimbing-Malang / Asri Pratiwi

 

Kata kunci: Pengendalian internal dan sistem akuntansi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT Telkom) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang pelayanan jasa informasi dan telekomunikasi yang merupakan perusahaan milik publik di Indonesia. Banyaknya aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas menyebabkan rentan terjadinya kesalahan yang dapat bersifat material maupun tidak material, baik kesalahaan tidak disengaja karena kekeliruan (error) atau kesalahaan yang disengaja karena kecurangan (fraud). Untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan perusahaan dan menjaga aktiva perusahaan diperlukan suatu pengendalian internal yang efektif dimana prosedur disusun guna menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, terutama prosedur dalam pengelolaan kas. Salah satu pengendalian internal yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mencapai profitabilitasnya adalah pengendalian internal terhadap sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui efektivitas system pengendalian internal pada system akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas PT Telkom Kandatel Blimbing Malang. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara (interview) dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada unit financial service area Malang, baik officer cash and bank, officer 2 verification and tax, maupun Asman PT Telkom Kandatel Blimbing Malang. Berdasarkan hasil analisis dari wawancara dan dokumentasi diketahui bahwa sistem pengendalian internal pada sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas efektif, meskipun terdapat beberapa kelemahan. Dalam menginput data peneriman pendapatan tunai sering terjadi kesalahan dalam penulisan angka, penjurnalan, maupun pengklasifikasian akun yang dilakukan oleh unit customer care karena human error. Vendor yang melakukan tagihan pembayaran atas beban-beban yang dilakukan PT Telkom kandatel Blimbing- Malang sering terlambat dalam menyerahkan data maupun dokumen. Keterlambatan tersebut dapat menyebabkan kelambanan dalam penginputan data maupun adanya dokumen yang hilang saat melakukan dropping karena vendor belum menyerahkan dokumen, padahal dokumen yang telah didroppng akan diarsip sebagai bukti otentik. Untuk mengatasi masalah diatas maka saran yang dapat diberikan, antara lain: pengawasan yang ketat terhadap data yang di entry ke dalam komputer serta memberi batas waktu terhadap keterlambatan pengiriman data atau dokumen.Tetapi, PT Telkom tetap memberikan kinerja yang baik meskipun terdapat beberapa kendala yang ada.

Racial bias of pictures in English BSE coursebook of junior high school grade Vlll / Ahmad Khoirul Shaleh Prawiranegara

 

Kata kunci: bias, BSE, gambar Buku pelajaran merupakan salah satubagian penting dari proses pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia. Buku digunakan sebagai panduan guru dan sumber belajar siswa. Sekarang buku telah mengalami perubahan, dari bentuk cetak menjadi dijital, salah satunya bernama BSE (Buku Sekolah Elektronik) yang diterbitkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Dengan adanya BSE, guru dan siswa diharapkan dapat memperoleh buku sekolah dengan mudah. Melalui isi buku sekolah, khusunya gambar, siswa mempelajari identitas budaya dan pembentukan karakter. Menurut Cunningsworth (1995), materi buku Bahasa Inggris harus mewakili semua jenis kelamin, asal etnis, pekerjaan, usia, kelas social, dan kecacatan. Para siswa harus memahami identitas budayanya sebelum memasuki kompetisi global. Penelitian ini terfokus pada evaluasi buku pelajaran dilihat dari sudut pandang konten budayanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberagaman ras ditampilkan pada gambar-gambar di buku pelajaran. Dengan meneliti cara kelompok ras ditampilkan pda gambar-gambar, peneliti menemukan kelompok ras yang paling sering muncul. Peneliti menggunakan metode analisis konten dalam penelitian ini. Penelitian ini difokuskan pada gambar berwarna karena gambar-gambar tersebut mudah dikenali dan menarik bagi siswa. Gambar-gambar tersebut juga memperlihatkan ciri-ciri dari setiap ras dengan baik. Selain itu, setiap karakter dipilih untuk diamati untuk melihat kemunculan setiap ras dalam satu bingkai gambar. Semua gambar di pilih berdasarkan kategori rasnya, yaitu: Mongoloid, Negroid, Caucasoid, dan ‘Yang Lain’. Disamping itu, penelitian ini juga meneliti kombinasi penampilan setiap ras dalam gambar-gambar. Temuan menunjukkan bahwa perbandingan antara gambar berwarna dan tak berwarna adalah 83,6% (61 gambar) dan 16,4% (12 gambar) dari total 100% (73 gambar). Dari 61 gambar berwarna, 29,5% (18 gambar) merupakan foto sedangkan sisanya, 70,5% (43 gambar) merupakan kartun. Dalam hal kombinasi dari ras-ras tersebut, Caucasoidmuncul disetiap gambar. Secara tunggal, Caucasoidjuga paling banyak muncul (17 gambar) dibandingkan dengan yang lain. Selain itu, Caucasoidjuga mendominasi jumlah karakter denga 46,8% (127 karakter), Mongoloid21,4% (58 karakter), Negroid16,6% (45 karakter), dan ‘Yang Lain’ 15,2% (41 karakter) dari total keseluruhan 271 karakter.Berdasarkan hasil pada Temuan, buku pelajaran ini mencerminkan inferior complexpada gambar-gambarnya dan menunjukkan superioritas barat terhadap ras-ras lainnya. Buku pelajaran ini kurang menampilkan nilai-nilai local dan nasional. Paham ‘Orientalism’banyak mempengaruhi isi buku ini.

Proses berfikir siswa dalam memecahkan masalah program linier dengan pemberian scaffolding / Nunung Romatul Hidayati

 

Kata kunci: proses berpikir, memecahkan masalah program linier, pemberian scaffolding. Kemampuan siswa memecahkan masalah berkaitan erat dengan proses berpikir mereka. Apabila siswa belum mampu memecahkan masalah, dapat dibantu, salah satunya dengan pemberian scaffolding. Carol (2004:3) menyatakan bahwa scaffolding adalah bantuan yang bersifat sementara, bantuan ini diberikan secara bertahap dan akhirnya dilepas ketika sudah dapat menyelesaikan tugas dengan kemampuan sendiri. Dalam penelitian ini scaffolding diberikan guna mengkaji proses berpikir siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah program linier. Siswa diberi dua masalah program linier. Pemberian scaffolding dalam penelitian ini mengacu pada strategi scaffolding yang dikemukakan Coggins, dkk (2007) dan Stuyf (2002). Selanjutnya dikaji proses berpikir siswa ketika menyelesaikan masalah program linier dengan berfokus pada proses dalam memecahkan masalah program linier yang dikemukakan John W Coburn (2010), yaitu (1) mengidentifikasi tujuan utama dan menetapkan variabel yang dicari, (2) menuliskan rumus fungsi obyektif atau fungsi sasaran, (3) mengorganisasikan semua informasi ke dalam tabel, (4) menulis kendala pertidaksamaan, (5) menggambar grafik kendala pertidaksamaan dan menentukan daerah selesaian, (6) mengidentifikasi titik-titik sudut semua daerah selesaian dan menguji titik-titik ke dalam fungsi obyektif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses berpikir siswa sebelum diberikan scaffolding berbeda dengan proses berpikir dalam memecahkan masalah program linier. Hal ini tampak dari struktur berpikir siswa yang berbeda dengan struktur masalah. Perbedaan tersebut antara lain: mengidentifikasi tujuan utama dan menetapkan variabel, penentuan fungsi kendala, penentuan daerah selesaian dan penentuan nilai optimum. Hal ini terjadi karena siswa menjadikan tujuan fungsi sasaran sebagai dasar penentuan tanda pertidaksamaan pada kendala, kesalahan penentuan daerah selesaian yang mengakibatkan salahnya penentuan nilai optimum dan siswa tidak membaca lagi apa yang diinginkan soal. Selama diberikan scaffolding, proses berpikir siswa sama dengan proses berpikir dalam memecahkan masalah program linier. Hal ini tampak dari struktur berpikir siswa yang sama dengan struktur masalah. Setelah mengalami asimilasi dan akomodasi, subjek dapat menyelesaikan masalah dengan sedikit scaffolding. Dengan dasar temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru pada umumnya untuk memahami proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah program linier, sehingga dapat memberikan bantuan yang diperlukan siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah. Kajian proses berpikir siswa dalam penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya penelitian dengan kajian yang lebih mendalam dengan masalah yang lain

Pelabelan super Graceful pada graph Pmonk 1 / Griselda Afrian Yudiantika

 

Modularisasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Dasar kelas IV Semester Gasal / Suhartono

 

Kata kunci: Modularisasi, Pembelajaran IPA, Model Pembelajaran PAB Konstruktivistik menghendaki adanya pembelajaran yang memberikan peluang kepada siswa untuk belajar individual maupun belajar kelompok. Pembe-lajaran IPA sekolah dasar selama ini belum pernah menyelenggarakan proses pembelajaran yang melaksanakan aktivitas belajar individual dan aktivitas belajar kelompok pada topik, waktu, dan kelas yang sama. Model pembelajaran pilihan aktivitas belajar (PAB) belum pernah ada, oleh karenanya perlu dilaksanakan pe-nelitian & pengembangan modularisasi pembelajaran IPA SD ini. Tujuan pene-litian & pengembangan ini adalah diproduksinya (1) model pembelajaran PAB melalui proses modularisasi berbasis konstruktivistik, (2) pedoman pengguna mo-del pembelajaran PAB yang tervalidasi, dan (3) model melalui video pembela-jaran yang menerapkan model pembelajaran PAB. Penelitian & pengembangan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni: (1) tahap perancangan dengan model Dick & Carey yang menghasilkan draft awal model pembelajaran PAB yang tertuang dalam pedoman pengguna, (2) tahap evaluasi dan revisi yang melibatkan aktivitas reviu konsultan ahli matapelajaran IPA dan ahli pembelajaran, dan (3) tahap uji coba lapangan dan revisi untuk menghasilkan prototipe model pembelajaran PAB dalam bentuk Pedoman Pengguna, contoh RPP, dan model melalui video model pembelajaran PAB yang sudah tervalidasi. Tahapan penelitian & pengembangan yang dilaksanakan melalui modularisasi IPA SD kelas IV semester gasal, menghasilkan prototipe model pembelajaran yang mempunyai karakteristik berikut. (1) Model Pembelajaran Pilihan Aktivitas Belajar (PAB) adalah suatu proses pembelajaran yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran dengan sintaks tertentu, (2) mempunyai metode pembelajaran tertentu pada aktivitas belajar individual (ABI), aktivitas belajar kelompok (ABK), dan aktivitas belajar kalsikal (ABKl), (3) memanfaatkan lembar kerja siswa individual (LKI) dan lembar kerja siswa kelompok (LKK), dan (4) mempunyai tujuan pengiring pembentukan karakter siswa. Hasil evaluasi formatif perencanaan model pembelajaran PAB dalam bentuk panduan pengguna model pembelajaran PAB, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran beserta LKI, LKK, dan lembar penilaian dinyatakan sangat valid oleh Ahli Matapelajaran, Ahli Pembelajaran, dan Guru pengguna. Hasil uji t terhadap pretes dan posttes, diperoleh keputusan berikut: (1) ada perbedaan yang signifikan antara skor posttes siswa yang memilih ABI dengan skor posttes siswa yang memilih ABK, dan (2) ada perbedaan signifikan antara skor pretes dengan skor posttes siswa yang belajar melalui model pembelajaran PAB. Dihasilkan video permodelan pelaksanaan model pembelajaran PAB yang dinyatakan valid oleh guru kolega, guru pelaksana, dan siswa. Ditemukan adanya perbedaan konsepsi aktivitas belajar klasikal antara peneliti dan guru pengguna.

Nilai karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek / Candra Rahma Wijaya Putra

 

Putra, Candra Rahma Wijaya. 2012. Nilai Karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M. Pd., (II) Dwi Sulistyorini S.S., M.Hum. Kata Kunci: tembang dolanan, nilai karakter, pendidikan karakter, folklor     Tembang dolanan merupakan salah satu bentuk folklor lisan. Tembang dolanan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Sesuai dengan ciri dari folklor yaitu mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif, tembang dolanan ini tentunya juga mempunyai kegunaan. Pada zaman dahulu tembang dolanan digunakan sebagai media dalam menyebarkan ajaran agama Islam sekaligus sebagai penyampaian dakwah. Oleh karena itu, di dalam tembang dolanan tentunya terdapat pesan-pesan kebaikan secara tersurat dan tersirat.     Tembang dolanan termasuk dalam kategori nyanyian rakyat yang berfungsi. Nyanyian rakyat yang berfungsi (functional songs) adalah nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama penting. Disebut berfungsi karena baik lirik maupun lagunya cocok dengan irama aktivitas khusus dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pada zaman dahulu tembang dolanan ini mudah diterima masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, tembang dolanan semakin dilupakan oleh masyarakat. Namun, beberapa tembang dolanan masih ada yang dikenal oleh masyarakat meskipun mereka tidak memahami makna yang terkandung dalam tembang.     Nilai Karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek ini merupakan penelitian yang berupaya untuk menjabarkan nilai karakter yang terkandung dalam tembang dolanan. Nilai karakter tersebut dorientasikan pada pendidikan karakter. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan desain deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Dalam pendekatan ini, peneliti fokus terhadap tembang dolanan (karya sastra). Konteks budaya digunakan oleh peneliti hanya untuk memberi makna lirik tembang. Pada penelitian ini, yang dikaji adalah makna dari kata-kata atau lirik tembang dolanan. Makna dari tembang dikaitkan dengan nilai karakter bangsa sehingga dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan. Sumber data dalam penelitian ini adalah tembang dolanan yang pernah dikenal oleh masyarakat Trenggalek. Tembang-tembang tersebut diperoleh dari hasil wawancara beberapa masyarakat Trenggalek dan studi dokumen dari buku kumpulan tembang “Laras” yang disusun oleh Yayasan Pendidikan Mardi Utomo Kabupaten Trenggalek. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua puluh tembang dolanan. Pemilihan tembang tersebut dilakukan dengan kriteria (1) tembang dolanan yang dikenal oleh masyarakat Trenggalek, (2) tembang dolanan yang menggunakan bahasa Jawa, dan (3) tembang dolanan yang bermuatan nilai karakter.     Secara garis besar, tembang dolanan mengungkapkan masalah permainan anak-anak yang berkaitan dengan (1) alam (flora, fauna, lingkungan), (2) raksasa, (3) tokoh sejarah, (4) dunia anak-anak, dan (5) keadaan lalu lintas dan alat-alat permainan sehingga tembang dolanan ini menghibur dan menggembirakan anak-anak serta menjadikan anak-anak dinami. Di samping menghibur, pada tembang dolanan juga terdapat pendidikan karakter. Nilai karakter bangsa yang telah dijelaskan oleh Kemendiknas pada tahun 2010 adalah nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh suku-suku di Indonesia. Nilai karakter tersebut antara lain, nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut ditemukan dalam dua puluh tembang dolanan, yaitu Lintang, Kupu Kuwi, Gambang Suling, Sopir Becak, Becik Ketitik Ala Ketara, Sluku-sluku Bathok, Nyata Kowe Wasis, Jamuran, Welingku, Kartini, Ijo-ijo, Abang Putih, Trontong-trontong, Bocah-bocah Dolanan, Putra Putri Indonesia, Cublak-cublak Suweng, Aku Nandur Kembang, Rambutan, Gundul Pacul, dan Aja Dhemen Saguh Aja Wedi Saguh.

Pengembangan modul pembelajaran Kimia Fuels For Light Vehicle System dengan pendekatan kontekstual untuk siswa RSMKBI kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan / Titis Eswindro

 

Hubungan antara fasilitas pengajaran dan kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar PKn Siswa Kelas SMP Negeri 1 Batu / Lita Novita

 

, 2013. Relationship Between Teaching Facilities and Professional Competence of Teacher Novita, Lita toward the Learning Achievement in Civics of Seventh Grade Students, SMPN 1 Batu. Thesis, Department of Law and Civics, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisors: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si, (II) Siti Awaliyah, S.Pd, M. Hum. Keywords: Facilities Teaching, Professional Competence of Teacher, Learning Achievement Teaching facilities or infrastructure of provided by schools with the teachers professionalism on student learning outcomes are closely linked, as a teacher and the school have a huge responsibility for the development and the results to be obtained by the students at SMPN 1 Batu. The purposes of this research were: (1) to identify the learning facilities are used for teaching Civics at SMPN 1 Batu, (2) to identify the professional competence of Civics teacher at SMPN 1 Batu, (3) to identify the student achievement in Civics subject in SMPN 1 Batu, (4) to identify the relationship between teaching facility and academic achievement, (5) to identify the relationship of the professional competence of teachers toward the students’ learning achievement. This research was conducted at SMPN 1 Batu. The study design employed was Descriptive Correlational. The population of this research reached 229 students from the whole VII A-VII H classes of SMPN 1 Batu class for academic year 2011/2012. The sampling techniques used was proportional random sampling technique engaged through part of whole population of 169 students with a sample number reached 55 students of class VII A-VII F. Meanwhile, the data collection techniques used were questionnaires and documentation. The data analysis employed was descriptive analysis to describe the teaching facilities, professional competence of teachers and student achievement. In other hand, multiple regression analysis used to determine the relationship between teaching facilities and professional competence of teachers toward student achievement in Civics subject. The results obtained through descriptive analysis of yielded the research results as follows: (a) the teaching facilities variable is in good condition, proved by the 40% of respondents said good, 34.50% said excellent, 20% of respondents stated they were quite good, while 5.50% of respondents said poor, (B) the teacher professional competence variable is good, proved by the 44% of respondents said good, 40% said excellent, 14% of respondents stated they were quite good, while 2% said poor, (C) the academic achievement variable is declared finished well, proved by the 53% of the students, 29 out of 55 respondents, exceed the examination score of 75-90 which classified as good, 47% means 26 students from 55 respondents significantly to the value of 60 -74 classified as quite good. Meanwhile, using the multiple linear analysis level 5% known that there is a significant positive relationship between teaching facilities and professional competence of teachers toward the student achievement in Civics, with r count is equal to 0.555 with a significance of 0.000. Since r count values is greater than r table (0.555> 0.266) or the significance value is less than alpha (0.000 <0.050), it tells that X1 and X2 variables related significantly to the achievement of learning result either partially or simultaneously. From the data above, it can be concluded that the hypothesis of there is a relationship between the school teaching facilities and the student achievement in Civics Education subjects class VII SMPN 1 Batu. Also, the hypothesis of the professional competence of teachers has a relationship with student achievement in Civics Education subjects class VII SMPN 1 Batu Based on the results of this study, then it can be suggested that SMPN 1 Batu, the principal in particular is expected to improve the teaching facilities and to add the facilities of the learning process and eventually maximize the use of facilities in an optimal teaching so that students do not feel bored upon the subject material given in class. For teachers particularly the Civics education teachers are expected to optimize the teaching and learning in their classroom so that students will be able to receive lessons easier. Based on research, told that there is a relationship between the teacher competences particularly the Civics Education teachers toward the learning achievement, hence to improve the professional competence of teachers in the teaching and learning should be done by conducting trainings or seminars related to professional competence of teachers. As well as the active participation of all relevant institutions, especially the schools itself, its superintendents and the government in encouraging, motivating, facilitating teachers to educate and train students of SMPN 1 Batu in order to improve their students’ learning achievement.

Peran guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Batu / Firman Arief Setyawan

 

Arief S., Firman. 2012. Peran Guru Mata Pelajaran PKn dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum Siswa terhadap Tata Tertib Sekolah di SMP Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Sukowiyono, SH, MH, (II) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd, MH. Kata Kunci: kesadaran hukum, peran guru PKn, tata tertib Kesadaran hukum merupakan kesadaran dari dalam diri manusia untuk mematuhi peraturan-peraturan hukum yang telah dibuat bersama. Selain mengajarkan mata pelajaran PKn seorang guru PKn merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa. Guru mata pelajaran PKn memiliki tanggung jawab meningkatkan kesadaran hukum siswa. Dengan mengajak siswa untuk selalu sadar dan taat terhadap hukum maka sejak saat itu guru meletakkaan pondasi kepada siswa dalam membangun bangsa yang berakhlak mulia, bertanggung jawab dan melek hukum yang berguna bagi nusa dan bangsa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, dan untuk mengetahui bagaimana peran guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP negeri 1 Batu. Penelitian ini di lakukan di SMP Negeri 1 Batu dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif ini digunakan untuk mendeskripsikan tentang Peran Guru Mata Pelajaran Pkn Dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Batu. Dimana penelitian tersebut dilakukan terhadap suatu objek yaitu peranan guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib di SMPN 1 Batu dan dilakukan secara menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam sumber data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, kesadaran hukum siswa SMP Negeri 1 Batu terhadap tata tertib yang ada di sekolah sudah baik, mayoritas siswa SMP Negeri 1 Batu melaksanakan apa yang diharuskan dalam tata tertib dan tidak melanggarnya. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu antara lain sebagai berikut: (1) tentang peraturan hukum. Peraturan-peraturan hukum yang berlaku di SMP Negeri 1 Batu tersebar luas melalui student handbook yang dibagikan ke seluruh siswa SMP Negeri 1 Batu yang didalamnya tercantum tata tertib sekolah, selain itu melalui pengarahan tentang tata tertib oleh guru, (2) Pemahaman terhadap peraturan hukum. Pemahaman siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, artinya siswa SMP Negeri 1 Batu mengetahui isi dan juga kegunaan dari tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu. Pemahaman siswa terhadap peraturan atau tata tertib yang ada disekolah dapat diindikasikan dari jumlah pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa baik yang terekam di student hand book maupun jurnal harian bidang budaya dan lingkungan. (3) Penghargaan terhadap peraturan hukum. Sikap penghargaan terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu ditunjukkan oleh siswa dengan mematuhi tata tertib tersebut. (4) Penataan atau kepatuhan terhadap peraturan hukum. Penyebab anggapan kepatuhan hukum di SMP Negeri 1 Batu salah satunya karena adanya rasa takut pada sanksi. Hal tersebut yang menjadi tujuan siswa SMP Negeri 1 Batu dalam mematuhi tata tertib sekolah, yaitu menghindari sanksi yang ada, sanksi yang berupa pemanggilan orang tua dan atau diserahkan kepada orang tua. Ketiga, peran guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Batu adalah sebagai berikut: (1) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai pembimbing siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, seorang guru PKn membimbing dengan memberikan sosialisasi tentang tata tertib selama menjadi siswa SMP Negeri 1 Batu, selalu memeberikan pengarahan atau nasihat kepada siswa agar tidak melanggar tata tertib, dan jika siswanya melanggar tata tertib yang ada selalu menasihati dan mengingatkannya atau memberi hukuman ringan seperti menyapu, menghapus papan tulis ketika pergantian pelajaran, atau mengambil alat-alat sekolah dikantor yang bertujuan memberikan rasa jera untuk tidak mengulangi pelanggaran lagi, (2) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai pengawas siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, selama jam pelajaran berlangsung para guru PKn selalu mencatat kejadian yang ada di dalam kelas ke dalam buku jurnal guru, maupun ketika siswa beraktivitas di luar kelas hingga diluar lingkungan sekolah, (3) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai motivator siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, guru-guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu memotivasi siswa-siswanya melalui nasihat-nasihat di kelas atau nasihat personal dengan siswa dan selalu mengingatkan siswa untuk mematuhi tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu setiap harinya, (4) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai contoh peranan atau model bagi siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, para guru mata pelajaran PKn di SMP Negeri 1 Batu memberi contoh peran dengan selalu berpenampilan sopan dan tidak berlebihan pada saat mengajar, tidak membawa HP pada waktu mengajar, dan lain sebagainya.

Implementasi pendidikan karakter di SD Negeri Ngunut 6 Tulungagung / Layli Hidayah

 

Hidayah, Layli. 2012. Implementasi Pendidikan Karakter Di SDN Ngunut 6 Tulungagung. Tesis, Progam Studi S2 Pendidikan Dasar Guru Kelas, Progam Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M. Pd, (II) Prof. Dr. Hariyono, M. Pd. Kata Kunci: Implementasi Pendidikan Karakter    Seiring dengan perubahan zaman maka berubah pula tingkah pola manusia di Indonesia dalam hal berpakaian, berbahasa, kegemaran dan lain sebagainya. Namun, dari aspek-aspek tersebut justru dijumpai beberapa fakta yang mengindikasikan menurunnya karakter masyarakat, berdasarkan pandangan Lickona (1992) seperti penggunaan bahasa kotor, kekerasan, melanggar aturan, dan sebagainya. Sehubungan dengan karakter bangsa yang mengalami kemunduran tersebut, maka pemerintah mencanangkan pendidikan karakter yang diimplementasikan di seluruh lembaga sekolah, namun banyak sekolah yang kurang tepat dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Hal ini dibuktikan dengan karakter hanya tulisan di rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) saja tanpa diimplementasikan dengan baik serta semua mata pelajaran memiliki karakter yang sama padahal setiap pelajaran memiliki karakter yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini yakni menyajikan bagaimana implementasi pendidikan karakter di SD negeri yang nantinya dapat dijadikan rujukan dalam mengembangkan pendidikan karakter dan dapat dijadikan contoh implementasi pendidikan karakter yang tepat di lembaga pendidikan/sekolah lainnya, terutama SD negeri.    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus di SD Negeri Ngunut 6 Tulungagung. Hasil temuan penerapan pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar yakni siswa memiliki motto tentang cinta kebersihan serta perangkat pembelajaran telah terintegrasi dengan karakter. Budaya yang dikembangkan di SD Negeri Ngunut 6 yakni terdapat tata tertib “DISIPLIN” untuk guru dan “Malu” untuk siswa, semua warga sekolah harus melaksanakan 3S (Salam, senyum, sapa), membuang dan memilah sampah pada tempatnya dan Jumat bersih. Ekstrakurikuler yang dikembangkan yakni Pramuka, tari dan computer. Masyarakat melalui paguyuban siswa, tokoh masyarakat dan lembaga luar sekolah sangat ikut berpartisipasi dalam semua rencana sekolah hal ini diwujudkan dengan kelas dikelola oleh orang tua siswa melalui program swadaya pengelolaan ruang kelas dan halaman sekolah. Adapun perilaku yang tampak pada siswa selama penelitian berlangsung yakni siswa memiliki kebiasaan yang disiplin tinggi, terutama ketepatan waktu.    Saran berdasarkan penelitian ini sebagai upaya optimalisasi implementasI pendidikan karakter yakni (1) dalam proses pembelajaran perlu adanya model pembelajaran yang lebih kooperatif; (2) jenis ekstrakurikuler ditambah untuk mengembangkan bakat dan minat siswa yang beragam; (3) kantin kejujuran hendaknya juga dikelola oleh paguyuban; serta (4) pajangan yang ada di sekolah hendaknya diganti secara berkala.

Pengaruh pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif siswa SMA Negeri 1 Malang / Agnes Yuni Pujiastuti

 

Kata Kunci: Inkuiri pengalaman sains terstruktur,strategi metakognitif, prestasi belajar, kemampuan berpikir kreatif. Proses pembelajaran fisika yang dilakukan oleh guru pada umumnya bersifat konvensional. Guru cenderung mendistribusikan pengetahuan (transfer konsep) sehingga guru sebagai pusat kegiatan belajar (teacher centered) dan pembelajaran text book oriented sehingga siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep fisika. Melalui pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif, siswa dapat mencapai tingkatpembelajaran yang bermakna. Berpikir kreatif pada strategi metakognitif dalam pembelajaran adalah mempersiapkan siswa agar siswa menjadi pemecah masalah yang tangguh, pembuat keputusan yang matang, dan siswa tidak pernah berhenti belajar. Tujuan penelitian ini adalah menguji: 1) perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional; 2) perbedaan prestasi belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi dan rendah yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional; 3) interaksi antara pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif dan kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar fisika kelas XI. Rancangan penelitian yang digunakan adalah faktorial 2x2 dengan teknik pengambilan sampel adalah random sampling. Populasipenelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Malang semester gasal tahun pelajaran 2011/2012. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perlakuan: lesson plan, lembar kerja siswa, dan pengukuran, rubrik penilaian berpikir kreatif dan naskah soal. Teknik pengumpulan data adalah tes. Teknik analisisdata yang digunakan adalah anava dua jalan dan uji Tukey. Hasil penelitian adalah: 1) prestasi belajar fisikasiswa yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional; 2) prestasi belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi dan rendah yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional; dan 3) ada interaksi antara pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif dan kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar fisika kelas XI.

Pengaruh metode Blended Learning dan Self Regulated Learning terhadap hasil belajar IPS di SMK Negeri 3 Malang / Ratna Novitayati

 

Kata Kunci: blended learning, self regulated learning, hasil belajar Kurikulum SMK meliputi pembelajaran praktik dan teori. Salah satu kegiatan praktek yaitu kegiatan Praktek Kerja Industri pada dunia industri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi berakibat pada metode pembelajaran. Blended learning merupakan perpaduan e-learning dengan pembelajaran tatap muka di dalam kelas. Disisi lain, self regulated learning menempatkan pentingnya seseorang untuk belajar disiplin mengatur dan mengendalikan diri sendiri, terutama bila menghadapi tugas-tugas yang sulit. Blended learning perlu dilakukan untuk jenjang SMK karena pada jenjang SMK terdapat kegiatan Praktek Kerja Industri. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang diajar dengan metode blended learning dengan kelompok siswa yang diajar dengan metode tradisional berbasis internet; 2) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok siswa yang memiliki self regulated learning tinggi dengan siswa yang memiliki self regulated learning rendah; dan 3) Apakah terdapat interaksi antara metode blended learning dan self regulated learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen dengan desain faktorial 2x2. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 3 Malang. Subyek penelitian terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen kelas XI TB1 terdiri dari 32 siswa dan kelompok kontrol kelas XI TB2 yang terdiri dari 31 siswa. Pengumpulan data self regulated learning dengan menggunakan angket tertutup yang diberikan kepada siswa sedangkan hasil belajar dengan menggunakan melaksanakan tes berupa soal pilihan ganda. Uji item dan reabilitas dengan menggunakan SPSS 19.0 for windows. Uji prasyarat analisis data mengunakan One-Sample Kolmogorov Smirnov Test untuk uji normalitas data, dan uji Levene’s Test of Equality of Variance untuk uji homogenitas varian. Analisis data dengan menggunakan ANOVA. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan ANOVA menunjukkan (1) terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan blended learning dan face to face learning dengan nilai F sebesar 4,104 dengan signifikansi 0,047; (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang mempunyai iself regulated learning tinggi dan rendah dengan nilai F sebesar 14,437 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000; dan (3) terdapat interaksi antara blended learning dan self regulated learning dalam mempengaruhi hasil belajar dengan nilai F sebesar 6,318 dengan signifikansi sebesar 0,015. ii Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara metode blended learning dan self regulated learning dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Metode blended learning dapat meningkatkan self regulated siswa dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa yang mempunyai self regulated learning tinggi akan mempunyai hasil belajar yang tinggi dan sebaliknya. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah 1) hasil belajar dapat ditingkatkan dengan mengkombinasikan metode blended learning dan self regulated learning; 2) penelitian ini dapat digunakan untuk jenjang SMK yang memungkinkan terjadinya pembelajaran jarak jauh; dan 3) bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis diharapkan hasil belajar siswa tidak hanya dari arah kognitif saja akan tetapi ditambah dengan ranah afektif serta menambah variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap hasil belajar seperti motivasi berprestasi, sarana dan prasarana maupun keterampilan berkomputer.

Pengelolaan kelas sebagai upaya guru PKn menciptakan pembelajaran PAIKEM di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu / Aditya Wisnu Wardhana

 

Wardhana, Aditya Wisnu. 2012. Pengelolaan Kelas Sebagai Upaya Guru PKn Menciptakan Pembelajaran PAIKEM di Kelas VIII SMP Negeri 1 Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas I lmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwarno Winarno, (II) Hj. Yuni Astuti, S.H., M.Pd Kata kunci: Pengelolaan kelas, PAIKEM, Pendidikan Kewarganegaraan Meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, diperlukan peningkatan kualitas proses belajar mengajaran secara operasional yang berlangsung di dalam kelas. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengelolaan kelas yang baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pengelolaan kelas merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dengan memberdayakan seluruh potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk menciptakan suasana atau kondisi kelas yang menunjang program pengajaran, agar siswa ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Di samping itu, proses belajar mengajar dapat terwujud dengan baik apabila terdapat interaksi yang komunikatif antara guru dan sisw, sesama siswa ataupun dengan sumber belajar lainnya. Dalam pengelolaan kelas, guru sebagai pemeran utama yang sangat menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan kegiatan membuka pelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM pada mata pelajaran PKn di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (2) Mendiskripsikan kegiatan inti yang dilakukan oleh guru dalam pengelelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM pada mata pelajaran PKn di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (3) mendiskripsikan kegiatan penutup yang di lakukan oleh guru dalam pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM di kelas VIII SPM Negeri 1 Batu, (4) mendiskripsikan faktor penunjang pelaksanaan pengelolaan kela pada strategi PAIKEM di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (5) mendiskripsikan kendala-kendala dalam pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (6) mendeskripsikan upaya mengatasi kendala pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM di kelas VIIISMP Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini (1) kegiatan membuka pelajaran yang dilakukan oleh guru PKn adalah dengan menanyakan terlebih dahulu materi pada pertemuan sebelumnya. (2) Kegiatan inti yang dilakukan oleh guru termasuk pembelajaran ii (a) aktif yaitu terlihat ketika guru menyuruh siswa membentuk kelompok untuk mendiskusikan tugas, (b) inovatif yaitu terlihat ketika secara langsung guru membuat pertanyaan dan munculnya berbagai jawaban atau pendapat dari siswa, (c) kreatif yaitu tampak guru menyampaikan materi dalam bentuk power point yang diberi dengan gambar – gambar yang menarik, (d) efektif yaitu tampak pada saat guru dalam mengatur waktu penyampaian materi yang direncanakan sudah terlaksanakan tepat waktu, (e) menyenangkan yaitu terlihat pada saat siswa berani untuk menjawab pertanyaan dari guru, siswa berinteraksi dengan teman kelompoknya dan siswa mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang sedang presentasi.(3) Pada Kegiatan menutup pelajaran yang dilakukan guru termasuk pembelajaran (a) aktif yaitu terlihat ketika siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan, (b) menyenangkan yaitu terlihat pada saat siswa mendapatkan kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan. (4) Faktor penunjang dalam pengelolaan kelas pada strategi PAIKEM adalah (a) guru bisa memaparkan materi dalam bentuk power point dan guru bisa membuat beragam evaluasi. (b) SMP Negeri 1 Batu memiliki ruang media yang dilengkapi LCD dan buah sound system, di perpustakaan juga mempunyai koleksi buku penunjang pelajaran yang cukup banyak.(5) Kendala dalam pengelolaan kelas pada strategi PAIKEM adalah (a) ada siswa yang kurang bisa berkomunikatif dengan temannya dan ada siswa yang ramai saat diskusi. (b) kurangnya jumlah LCD yang digunakan oleh guru untuk memaparkan materi dalam bentuk power point.(6) Upaya untuk mengatasi kendala dalam pengelolaan kelas pada strategi PAIKEM adalah (a) guru memberi perhatian lebih kepada siswa dan bagi siswa yang ramai guru langsung menghampirinya untuk dikondisikan. (b) guru harus memesan LCD di bagian perlengkapan sebelumnya sehingga mengetahui apakah akan menggunakan ruang media atau membawa LCD ke ruang kelas. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut, peneliti memberi beberapa saran kepada guru PKn sebagai berikut: (1) agar tercipta suasana yang menyenangkan dari awal pelajaran sebaiknya guru PKn memberi motivasi dengan diselingi cerita saat membuka pelajaran agar siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran, (2) agar siswa tidak jenuh dalam pelajaran sebaiknyanya guru PKn lebih kreatif dan inovatif dalam merancang metode dan media pembelajaran, (3) untuk dapat mengatasi siswa yang kurang bisa komunikatif dengan temannya dan mengatasi siswa yang ramai sebaiknyanya guru mempelajari psikologi pendidikan agar pembelajaran berlangsung secara maksimal, (4) guru PKn sebaiknya menstimulus dan member pancingan kepada siswa dalam diskusi agar mereka aktif bertanya dan menanggapi sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik, (5) guru PKn sebaiknya lebih sering memberi semangat dan tidak memarahi siswa sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan ketika mengikuti proses pembelajaran, (6) pihak sekolah sebaiknya bisa melengkap kebutuhan sarana dan prasarana yang kurang di sekolah sehingga guru bisa lebih berinovasi dalam pembelajaran.

Survei pengetahuan pemain sepakbola PS.Putra Nepa Kabupaten Sampang tentang peraturan pelanggaran dan kelakuan tidak sopan (pasal 12) / Nurussobah

 

Kata kunci: peraturan permainan sepakbola, peraturan 12, sepakbola. Pelanggaran dan kelakuan tidak sopan adalah peraturan 12 dari 17 peraturan permainan sepakbola. Pelanggaran dan kelakuan tidak sopan hampir selalu terjadi dalam setiap pertandingan, peraturan ini harus dipahami oleh pemain sebagai pelaku permainan, untuk mewujudkan permainan yang sportif dan fair play. Pemain sebagai pelaku pertandingan di lapangan diharapkan mampu memahami peraturan permainan sepakbola khususnya peraturan 12 tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan agar pertandingan di lapangan bisa berjalan dengan baik. Sebenarnya dalam peraturan permainan sepakbola telah disebutkan bahwa “Persyaratan dasar dari suatu pelanggaran harus dalam kondisi penyerangan agar dapat dianggap sebagai suatu pelanggaran”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman pemain Ps. Putra Nepa terhadap peraturan permainan sepakbola dari FIFA (pasal12) tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan. Penelitian ini adalah penelitian survei, penelitian survei yaitu penelitian yang mengambil satu sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesoner sebagai alat mengumpul data yang pokok. Langkah penelitian sebagai berikut: (1) Tahap persiapan pengumpulan data, (2) Tahap pelaksanaan. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah pemain Ps. Putra Nepa yang berjumlah sebanyak 26 pemain. Berdasarkan hasil analisis persentase hasil tes tulis, jumlah pemain yang menjawab benar adalah 74,99% pemain dan yang menjawab salah 25,01%. Dapat disimpulkan bahwa pemain sepakbola Ps. Putra Nepa mempunyai pemahaman yang cukup baik terhadap Peraturan Permainan sepakbola dari FIFA (pasal 12) tentang Pelanggaran dan Kelakuan Tidak Sopan. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan meningkatkan persentase pemahaman pemain terhadap peraturan permainan sepakbola dari FIFA (pasal 12) tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan. Maka diharapkan semua pengurus yang berada di tim Ps. Putra Nepa diberikan materi tentang peraturan permainan sepakbola dan pemain lebih sering membaca peraturan permainan sepakbola khususnya (pasal 12).

Korelasi kualitas pembelajaran geografi dan hasil belajar dengan sikap peduli lingkungan siswa kelas XII IPS SMA Negeri l Ponorogo / Novia Kresnawati

 

Pengaruh model pembelajaran search, solve, create dan share (SSCS) dengan strategi metakognitif terhadap kemampuan siswa menyelesaikan masalah dan berfikir kritis fisika di SMA Negeri 1 Blitar / Nia Suciati

 

Efektivitas fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Tulungagung (Studi kasus di Desa Gesikan, Desa Pucung Kidul, Desa Jatimulyo) / Viky Zulkarnain

 

Kata Kunci : Fungsi, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) , Pemerintahan Desa Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga legislatif desa mempunyai fungsi – fungsi yang harus dilaksanakan. Fungsi – fungsi tersebut adalah fungsi menampung dan menyalurkan aspirasi kemudian fungsi menetapkan peraturan desa atau fungsi legislasi. Namun demikian apakah dalam pelaksanaan fungsi – fungsi tersebut sudah berjalan dengan efektif atau belum. Karena dikhawatirkan masih ada dominasi dari kepala desa dalam pembuatan kebijakan maupun peraturan desa dan mengesampingkan aspirasi masyarakat yang disampaikan oleh BPD kepada pemerintah desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pelaksanaan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. (2) Efektifitas pelaksanaan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. (3) Faktor yang menghambat pelaksanaan fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Tulungagung. (4) Upaya yang telah dilakukan untuk mengefektifkan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumen, dan observasi. Subyek penelitian ini adalah ketua BPD, Kepala Desa, tokoh masyarakat desa Gesikan, Desa Pucung Kidul, Desa Jatimulyo kabupaten Tulungagung dan kepala bagian pemerintahan Setda Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) pelaksanaan fungsi BPD dalam pemerintahan desa di Kabupaten tulungagung, untuk melaksanakan fungsi – fungsi BPD diperlukan beberapa cara ataupun strategi yang harus dilakukan. Cara – cara yang telah dilakukan oleh BPD di Kabupaten Tulungagung dalam menjalankan fungsi menyerap dan menyalurkan aspirasi antara lain yaitu: memanfaatkan acara yasinan atau tahlilan untuk menampung aspirasi masyarakat, memanfaatkan acara takziah untuk menampung aspirasi masyarakat, dan juga acara pengajian di lingkungan sekitar juga dimanfaatkan utuk menyerap aspirasi masyarakat. Kemudian sarana yang digunakan untuk menyerap aspirasi antara lain dengan menggunakan telepon seluler atau HP dan kotak saran yan g ditempatkan disetiap pos kamling. Aspirasi masyarakat yang sering disampaikan kepada BPD adalah mengenai pembangunan prasarana lingkungan seperti pemavingan jalan, perbaikan irigasi dan lain - lain. Selain itu masyarakat juga menyampaikan aspirasinya mengenai adanya salah satu perangkat desa yang sering tidak masuk kantor dan malah mengerjakan pekerjaan lain diluar tugasnya sebagai perangkat desa. Setelah aspirasi masyarakat ditampung oleh BPD selanjutnya aspirasi tersebut dibahas dalam sidang internal BPD dan dipilih mana aspirasi yang mempunyai skala prioritas paling tinggi dengan mengutamakan aspirasi masyarakat yang paling banyak disampaikan. Kemudian setelah terpilih aspirasi yang mempunyai skala prioritas paling tinggi selanjutnya aspirasi tersebut disampaikan kepada pemerintah desa untuk selanjutnya dituangkan kedalam draft rencana peraturan desa (perdes). Dalam menjalankan fungsi legislasi atau penetapan peraturan desa, hal – hal yang dilakukan oleh BPD di Kabupaten Tulungagung ada yang tiga tahapan dan ada juga yang 4 kali pertemuan yang lakukan BPD dengan pemerintah desa. Adapun yang tiga tahapan yaitu pertama pemerintah desa menerima aspirasi dari masyarakat yang disampaikan melalui BPD maupun melalui RT/RW. Kedua setelah aspirasi diterima maka aspirasi – aspirasi tersebut selanjutnya dituangkan kedalam draf rencana perdes dan kemudian draf rencana perdes tersebut selanjutnya diberikan kepada BPD untuk dipelajari. Kemudian pertemuan yang ke tiga pemerintah desa membahas draf peraturan desa bersama BPD dan selanjutnya apabila sudah disepakati maka draf disahkan menjadi peraturan desa. Sedangkan yang 4 tahapan yaitu pertemuan pertama BPD menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah desa. Kemudian pertemuan kedua BPD diberikan hasil draft peraturan desa yang telah dirancang oleh pemerintah desa yang selanjutnya diterima dan kemudian dipelajari setelah itu dilakukan sidang internal BPD untuk membahas draft peraturan desa (perdes). Pertemuan ketiga membahas draft tersebut bersama dengan pemerintah desa kemudian jika ada hal yang kurang sesuai maka BPD meminta pemerintah desa untuk merevisi apabila ada bagian yang kurang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Pertemuan keempat merupakan rapat pleno untuk menyampaikan hasil revisi dan juga pengesahan Peraturan Desa (perdes). (2) Dari hasil penelitian yang dilakukan, pelaksanaan fungsi – fungsi BPD di Kabupaten Tulungagung sudah berjalan efektif. Efektifitas pelaksanaan fungsi – fungsi tersebut berdasarkan fungsi – fungsi yang sudah dilaksankan oleh BPD. Dalam hal menampung dan menyerap aspirasi fungsi tersebut sudah berjalan dengan baik. BPD sudah menyerap dan menampung aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat. Fungsi BPD dalam hal penyerapan aspirasi sudah efektif berjalan dengan baik. Hal tersebut terlihat dari aspirasi – aspirasi masyarakat sudah ditampung oleh BPD dan selanjutnya dilaporkan oleh BPD untuk ditindak lanjuti oleh pemerintah desa. Dan aspirasi – aspirasi masyarakat juga dilaksanakan oleh pemerintah desa. Dari penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa fungsi BPD dalam hal legislasi juga sudah berjalan efektif. Hal tersebut dibuktikan bahwa BPD sudah menjalankan kewajibanya dalam hal legislasi yaitu pertama, dalam pembahasan peraturan desa bersama dengan Pemerintah desa, apabila ada hal – hal yang kurang sesuai dengan aspirasi masyarakat BPD memperjuangkan semaksimal mungkin agar sesuia denganaspirasi masyarakat. Kedua, dalam satu tahun BPD telah membahas minimal satu perdes yaitu perdes tetang APBDes. Ketiga, dalam satu masa jabatan BPD telah membahas RPJMDes bersama dengan pemerintah desa. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan fungsi BPD di Kabupaten Tulungagung sudah berjalan efektif. (3) Faktor – faktor yang menjadi hambatan bagi BPD dalam menjalankan fungsi, (a) kurangnya anggaran yang diterima oleh BPD yaitu sekitar 5% dari ADD atau sekitar Rp. 3.000.000,- setiap tahunya dan jumlah tersebut sangat kurang sekali, (b) tidak adanya ruang rapat khusus bagi BPD, dalam setiap rapat – rapat BPD harus mencari tempat atau bergantian dengan pemerintah desa. (c) tingginya ego masyarakat, keinginan masyarakat yang sangat tinggi untuk mendahulukan daerahnya dalam rencana pembangunan desa menjadi hambatan bagi BPD karena para anggota BPD menjadi mendapat tekanan yang tinggi dari masyarakat. (4) upaya yang dilakukan untuk mengefektifkan fungsi BPD yaitu: (a) dalam setiap rapat anggota BPD iuran Rp.10.000,- untuk memenuhi kekurangan anggaran yang ada, Pemerintah desa menganggarkan sebagian anggaran desa untuk menambah anggaran BPD, (b) BPD mengadakan rapat secara bergaintian dirumah anggota BPD. (c) anggota BPD menjelaskan kepada masyarakat bahwa untuk merealisasikan aspirasi masyarakat disesuaikan keadaan keuangan desa dan harus sesuai dengan RPJMDes yang telah ada. Dari penelitian ini saran – saran yang diajukan yaitu (1) Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung hendaknya lebih memperhatikan lagi penyelenggaraan pemerintahan desa terutama mengenai anggaran bagi BPD. Karena anggaran yang ada selama ini dirasa masih sangat kurang dan perlu ditambah lagi untuk kedepanya. (2) Bagi pemerintah desa hendaknya lebih memperhatikan lagi keberadaan BPD terutama dalam hal sarana dan prasarana. Karena sarana – prasarana yang diberikan kepada BPD selama ini masih kurang terutama mengenai tempat atau ruang khusus bagi BPD. Maka dari itu kedepanya supaya disediakan runag khusus bagi BPD agar kinerja BPD lebih maksimal lagi. (3) Bagi anggota BPD,hendaknya dalam menjalankan fungsi – fungsinya lebih dimaksimalkan lagi. Terutama dalam hal penyerapan aspirasi karena mungkin masih banyak aspirasi masyarakat yang belum tertampung. Dan meskipun dalam pelaksanaan fungsi – fungsi BPD masih banyak hambatan namun demikian hambatan tersebut bisa dijadikan pelecut semangat untuk semakin memaksimalkan kinerjanya. (4) Bagi masyarakat hendaknya bisa bekerja sama dengan anggota BPD dalam penyaluran aspirasi. Dan egoisme masyarakat untuk mendahulukan daerahnya agar bisa lebih di minimalisir karena memang dalam realisasi program pembangunan lebih mengutamakan prinsip pemerataan dengan daerah lain.

Pemanfaatan majalah dinding sebagai wadah pembelajaran menulis dan publikasi siswa SMP/MTs / Agus Arif Alfajar

 

Alfajar, Agus Arif. 2012. Pemanfaatan Majalah Dinding sebagai Wadah Pembelajaran Menulis dan Publikasi Siswa SMP/MTs. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Suyono, M.Pd, (II) Moch. Syahri, S.Sos., M.Si. Kata kunci: pemanfaatan majalah dinding, pembelajaran menulis, publikasi Majalah dinding menjadi salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana di lingkungan sekolah. Disebut majalah dinding karena prinsip majalah terasa dominan di dalamnya, sementara itu penyajiannya diletakkan pada dinding atau yang sejenisnya. Prinsip majalah tercermin melalui penyajiannya, baik berupa tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya. Selain menjadi media massa di lingkungan sekolah, majalah dinding juga berfungsi sebagai salah satu wadah yang mendukung kegiatan siswa dalam mengekspresikan gagasan tertulis yang bersifat informasi, opini, dan rekreasi. Dalam mendukung kegiatan tersebut, aspek tampilan dan tata letak, isi, dan pengelolaan dan penerbitan dari majalah dinding perlu ditingkatkan kualitasnya. Tujuan penelitian ini secara umum adalah mendeskripsikan pemanfaatan majalah dinding sebagai wadah pembelajaran menulis dan publikasi karya siswa SMP/MTs. Penelitian ini secara khusus mendeskripsikan tentang potret keberadaan majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit dan baru terbit dalam ruang lingkup SMP/MTs, dampak pemanfaatan majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit dan baru terbit sebagai wadah pembelajaran menulis terhadap iklim belajar siswa jenjang SMP/MTs, permasalahan dan solusi dalam memanfaatkan majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit dan baru terbit sebagai wadah pembelajaran menulis siswa SMP/MTs dan pengorganisasian bentuk ideal majalah dinding sebagai wadah publikasi hasil karya siswa. Rancangan penelitian ini tergolong jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah guru, siswa, pembina majalah dinding, dan majalah dinding. Lokasi penelitian didasarkan pada sekolah yang memiliki karakteristik majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit, dan baru terbit. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan lembar angket. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahapan mereduksi data, tahapan yang dilakukan yaitu mengklasifikasikan data berdasarkan lokasi penelitian dan merangkum data untuk memilih hal-hal pokok yang difokuskan pada tujuan penelitian dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. Pada tahap penyajian data, yaitu menyusun data ke dalam bentuk tabel karakteristik majalah dinding sehingga, akan memungkinkan adanya penarikan kesimpulan. Pada penarikan kesimpulan yaitu memverifikasi data dengan menerapkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan potret keberadaan majalah dinding di SMP/MTs belum mendapatkan perhatian serius yang ditunjukkan dengan belum adanya tampilan yang menarik, organisasi pembinaan majalah dinding yang belum terstruktur, keragaman isi yang kurang bervariatif, dan fungsi yang belum ii berkembang. Dampak majalah dinding terhadap iklim belajar siswa ditunjukkan dengan adanya minat dan motivasi belajar siswa untuk menghasilkan karya. Namun, hal tersebut belum terlaksana sepenuhnya. Respon positif siswa terhadap keberadaan majalah dinding dan keinginan karya siswa untuk dipublikasikan dalam majalah dinding, belum diikuti oleh langkah-langkah nyata siswa dengan mengirimkan karyanya agar dicantumkan dalam majalah dinding. Oleh sebab itu, guru berperan penting dalam menjaga, mewujudkan, dan meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dalam bentuk sebuah hasil karya siswa secara nyata. Langkah-langkah yang bisa ditempuh oleh guru, antara lain: (1) menggairahkan siswa dengan memberikan hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan, (2) memberikan apresiasi atas keberhasilannya, dan (3) mengarahkan perilaku siswa dengan menunjukkan hal-hal secara benar dan meminta mereka melakukannya dengan baik. Permasalahan yang dihadapi dalam memanfaatkan majalah dinding telah diiringi dengan adanya solusi-solusi nyata agar majalah dinding tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa majalah dinding dianggap penting keberadaanya di sekolah. Untuk itu, solusi-solusi yang sudah dan atau sedang dilakukan agar dievaluasi keefektifitasannya sehingga, akan tercipta majalah dinding yang berkualitas dan mendukung pembelajaran menulis siswa. Bentuk ideal majalah dinding pada aspek tampilan harus menarik yang disertai perpaduan hiasan dan warna. Aspek tata letak tidak hanya mencakup letak majalah dinding itu sendiri di tempat yang strategis, tetapi juga aspek tata letak penyajian materi majalah dinding yang beragam secara proporsional, seimbang dan utuh. Pengelolaan harus terlaksana dalam sebuah sistem yang berjalan sesuai dengan fungsinya sehingga, majalah dinding memiliki keteraturan terbit sesuai dengan perencanaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disampaikan saran sebagai berikut. Pembina majalah dinding disarankan agar lebih memperhatikan majalah dinding sebagai wadah penyalur kreativitas dan sarana informasi siswa dengan memperbaiki tampilan dan susunan materi majalah dinding, serta menjaga kontinuitas penerbitannya. Guru disarankan agar memberikan motivasi disertai langkah-langkah nyata yang lebih optimal agar siswa lebih produktif dalam menghasilkan karya tulis dan layak dipublikasikan melalui majalah dinding. Guru dan pembina majalah majalah dinding disarankan agar mengevaluasi langkahlangkah yang telah ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan dalam memanfaatkan majalah dinding sehingga, wadah tersebut bisa berfungsi secara baik. Jajaran redaksi yang mengelola majalah dinding disarankan untuk mengelola majalah dinding berdasarkan bentuk ideal dalam segi tampilan, isi, pengelolaan dan penerbitan.

Penerapan model TOK (Tiru Olah Kembangkan) dalam pembejaran menulis karangan siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM Malang / Yulia Tirta Ensa Yasa Koten

 

Kata kunci : Keterampilan menulis, karangan, model pembelajaran TOK Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu keterampilan bahasa yang perlu diperhatikan siswa adalah keterampilan menulis karena keterampilan menulis dapat disebut juga sebagai keterampilan yang relatif sulit jika dibandingkan dengan keterampilan yang lain. Siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM Malang mengalami kesulitan dalam menulis. Oleh karena itu peneliti menggunakan model pembelajaran TOK untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran TOK untuk pembelajaran keterampilan menulis karangan dalam bahasa Jerman. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan 3 instrumen penelitian, yaitu pedoman observasi, lembar dokumentasi, dan kuesioner. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 24 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model TOK dapat menumbuhkan semangat siswa untuk ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mempermudah siswa dalam menulis karangan. Dari hasil skoring akumulasi diketahui bahwa skor rata-rata kelas yang diperoleh siswa adalah 87,16. Hal tersebut berarti siswa telah memahami materi pembelajaran dengan baik karena skor ketuntasan minimal pelajaran bahasa Jerman di SMA Laboratorium UM Malang adalah 75. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan model TOK berjalan dengan baik. Seluruh siswa dapat bekerja sama dalam kelompok dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kearsipan (studi pada siswa kelas XI APK 2 SMK N 1 Bojonegoro) / Eva Mirza Syafitri

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS), proses belajar, hasil belajar Dalam pembelajaran konvensional guru masih mendominasi dalam proses pembelajaran. Keaktifan kelas juga masih sering didominasi oleh beberapa siswa saja, dan siswa masih sulit bekerjasama dengan siswa yang lain sehingga keaktifan siswapun tidak menyeluruh. Agar siswa lebih termotivasi dan dapat bekerjasama dengan baik dengan siswa yang lain maka perlu dilakukan tindakan oleh Guru untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam belajar yaitu salah satunya dapat dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TSTS. Penelitian ini bertujuan meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kearsipan dengan kompetensi dasar Menentukan Sistem Kearsipan dengan menerapkan model pembelajaran TSTS. Upaya peneliti dalam mencapai tujuan tersebut, maka peneliti merancang penilitian dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2012. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI APK 2 SMKN 1 Bojonegoro yang berjumlah 29 siswa. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui lembar observasi, wawancara, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setelah penerapan pembelajaran dengan model TSTS, proses dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan presentase keberhasilan proses meningkat dari 62,87% pada siklus I meningkat pada siklus II menjadi 89,12%. Sedangkan hasil belajar siswa pada mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II baik pada bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada aspek kognitif mengalami peningkatan sebesar 10,34% , dimana pada siklus I rata-rata nilai postes siswa adalah sebesar 85,52 meningkat menjadi 95,86 pada siklus II, pada hasil belajar afektif terjadi peningkatan sebesar 28% dari siklus I ke siklus II dari rata-rata nilai 66 menjadi 94 pada siklus II dan terjadi pula peningkatan nilai bidang psikomotorik sebesar 24% dari siklus I ke siklus II yaitu rata-rata nilai psikomotorik siswa pada siklus I sebesar 66 menjadi 90 pada siklus II. Berdasarkan data diatas model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kearsipan. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat menerapkan model pembelajaran kontekstual yang menarik lainnya yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka.

Studi kasus pola kelekatan pada wanita dengan HIV/AIDS di Rumah Singgah Red Line Kota Malang / Yenika Putri Cahyandari

 

Kata Kunci : pola kelekatan, wanita, HIV/AIDS. Pola kelekatan merupakan ikatan emosional yang terjadi antara ibu dan anak di masa kecil. Kegagalan membentuk kelekatan dengan ibu diyakini akan mengganggu perkembangan sosial di masa dewasa. Semakin bertambah dewasa individu memiliki tugas perkembangan yaitu menjalin hubungan yang lebih lekat kepada pasangan maupun sahabatnya, pola kelekatannya berubah karena faktor usia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti menggunakan metode pengambilan data wawancara, observasi dan analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) dengan pendekatan intra dan inter subyek serta triangulasi teknik dan sumber digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subyek dalam penelitian ini berjumah 4 orang yang merupakan wanita yang terinfeksi HIV/AIDS. Temuan dalam penelitian ini, yakni setiap wanita dalam penelitian ini memiliki pola kelekatan yang berbeda antara satu subyek dengan subyek yang lain. Satu subyek masuk dalam kategori pola kelekatan takut- menghindar, satu subyek masuk dalam kategori pola kelekatan menolak, dan dua subyek dengan pola kelekatan aman. Terdapat dua subyek dengan pola kelekatan yang berubah, dari masa kecil ke masa dewasanya. Satu subyek mampu mengubah pola kelekatannya yang buruk menjadi lebih baik ketika dewasa sedangkan subyek yang satu justru pola kelekatan yang baik ketika masih kecil cenderung berubah menjadi buruk ketika menginjak masa dewasa. Adapun saran yang dapat diajukan terkait dengan temuan dalam penelitian ini adalah subyek diharapkan mampu dan bisa mendorong dirinya sendiri untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik meskipun memiliki masa lalu yang traumatis. Peneliti lain diharapkan meneliti tentang pola kelekatan dengan subyek yang luas dan berbeda budaya agar mendapatkan hasil yang lebih bermanfaat dan menambah khasanah ilmu.

Studi tentang kompetensi profesional mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) S1 Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) semester genap tahun 2011/2012 (pada program keahlian CNC kelas XI TPM di SMK Negeri 1 Singosari) / Agus Dwi Purwadi

 

Kata kunci: Mahasiswa PPL, Kompetensi Profesional, Program keahlian CNC Mahasiswa jurusan kependidikan merupakan calon guru yang harus memiliki kemampuan dalam menguasai proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Untuk itu banyak hal yang harus dipersiapkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Salah satu bentuk kegiatan yang wajib dipenuhi khususnya di Universitas Negeri Malang dalam mempersiapkan mahasiswa sebagai calon guru adalah kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Praktik pengalaman lapangan keguruan merupakan kegiatan praktik mengajar yang dilaksanakan oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) di sekolah negeri maupun swasta.Tujuan praktik pengalaman lapangan yaitu agar mahasiswa dapat menjadi tenaga pendidik yang profesional yang dapat menyusun perangkat pembelajaran, melaksanakan kegiatan praktik mengajar di kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kompetensi profesional mahasiswa PPL semester genap 2011/2012 ditinjau dari; (1) Penguasaan bahan pada program keahlian; (2) mengelola program pembelajar-an; (3) Mengelola media pembelajaran, pada program keahlian CNC kelas XI TPM di SMK Negeri 1 Singosari. Dan mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung kompetensi profesional. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian yaitu mahasiswa PPL Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) semester genap 2011/2012 yang mengajar program keahlian CNC kelas XI TPM di SMK Negeri 1 Singosari. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan, triangulasi sumber data. Kesimpulan berdasarkan analisis data hasil penelitian, diantaranya: (1) Kompetensi profesional mahasiswa PPL UM semester genap 2011/2012 dalam menguasai bahan pembelajaran mengalami kendala diantaranya; sedikitnya materi yang tersedia, kurangnya pemahaman terhadap perangkat pembelajaran yang ada, mahasiswa PPL belum terbiasa dengan kode-kode yang digunakan pada mesin CNC yang ada, motivasi yang kurang dari mahasiswa PPL, kemampuan yang belum dikuasai secara mendalam mahasiswa PPL tentang bahan pembelajaran program keahlian CNC; (2) Kompetensi profesional mahasiswa PPL UM semester genap 2011/2012 dalam pengelolaan program pembelajaran, mahasiswa PPL terdapat kendala yang disebabkan antara lain; belum mempunyai kemampuan yang cukup memadai untuk mengelola program keahlian CNC, tidak adanya tugas yang terstruktur dari guru pamong terkait program pembelajaran, beban tugas lain yang terlalu banyak, beban jam mengajar mahasiswa PPL yang juga banyak sehingga berdampak pada rendahnya kemauan mahasiswa untuk mengelola program pembelajaran; (3) Kompetensi profesional mahasiswa PPL UM semester genap 2011/2012 dalam mengelola media pembelajaran, mahasiswa PPL mengalami kendala dalam melakukan perbaikan secara menyeluruh mengenai relevansi, efektifitas, dan evisiensi dari media program keahlian CNC yang dikembangkan mahasiswa PPL. Ada beberapa hal yang menyebabkan kendala dalam mengelola media pembelajaran terjadi antara lain; minimnya literatur pendukung terkait dengan materi program keahlian CNC, kurangnya penguasaan mahasiswa PPL dalam mengembangkan media pembelajaran, dan kurangnya penguasaan mahasiswa mengevaluasi media pembelajaran; (4) Faktor pendukung kompetensi profesional yaitu: Telah dilakukan pembekalan kepada mahasiswa PPL sebelum terjun langsung dalam proses belajar pembelajaran yang sebenarnya di sekolah, Kerjasama yang baik dengan beberapa perangkat sekolah, Tersedianya alat bantu atau media yang memadai untuk menyampaikan materi pembelajaran, Kerjasama yang baik antar sasama mahasiswa PPL yang mengajar program keahlian CNC kelas XI. Faktor penghambatnya yaitu: Kemampuan bersosialisasi yang masih belum baik dengan lingkungan sekolah, belum menguasai keterampilan mahasiswa PPL dalam memahami materi pembelajaran, mahasiswa PPL belum mampu mengembangkan perangkat pembelajaran, mahasiswa PPL tidak melakukan evaluasi terhadap program pembelajaran dan media pembelajaran.

Pengembangan model latihan endurace balap sepeda nomor road race pada ekstrakurikuler balap sepeda di SMP Negeri 3 Lumajang / Ilham Nur Alam Syah

 

Kata kunci: Pengembangan, model latihan endurance, balap sepeda road race. Balap sepeda road race adalah sebuah perlombaan balap sepeda yang pesertanya banyak dan bersaing langsung satu sama lain sebagai tim dan perorangan dengan jarak tertentu sesuai standar pembalap dan kategori lomba yang menggunakan lintasan jalanan. Berdasarkan pengamatan, terdapat beberapa permasalahan antara lain peserta ekstrakurikuler balap sepeda di SMP Negeri 3 Lumajang yang waktu pelaksanaan dan variasi latihannya dianggap kurang cukup. Sedangkan dari hasil analisis kebutuhan peneliti mendapatkan hasil yaitu, pelatih dan peserta ekstrakurikuler balap sepeda di SMP Negeri 3 Lumajang membutuhkan model latihan balap sepeda yang bervariatif. Sehingga peneliti melakukan penelitian dan pengembangan model latihan balap sepeda. Tujuan penelitian adalah mengembangkan model latihan endurance balap sepeda nomor road race pada ekstrakurikuler balap sepeda di SMP Negeri 3 Lumajang. Tahap prosedur pengembangan mengacu pada model pengembangan Borg and Gall dengan mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada, yaitu penelitian dan pengumpulan data, mengembangkan produk, evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil, revisi produk, uji coba kelompok besar, revisi produk akhir dengan menghasilkan produk akhir. Tempat penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Lumajang, subjek uji coba terdiri (1) Tinjauan ahli dengan 2 ahli balap sepeda, (2) uji coba kelompok kecil, (3) Uji coba kelompok besar. Hasil evaluasi dan persentase dari 2 ahli balap sepeda menyatakan 87,5% produk pengembangan valid sehingga dapat digunakan. Kemudian dari hasil uji kelompok kecil terdapat persentase sebesar 82,2% sehingga produk dapat digunakan, sedangkan persentase dari uji coba kelompok besar terdapat penilaian sebesar 83,6% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan.

Keefektifan strategi Self-Management untuk mengurangi stres dalam belajar siswa kelas XI SMK N 5 Malang / Egi Ika Febriana

 

Kata Kunci: self-management, stres, siswa SMK Stres secara umum merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia, bahkan stres merupakan bagian dari kehidupan. Orang harus tergesa-gesa bangun, membereskan PR, lupa atau tidak sempat untuk sarapan, berlari untuk mengejar kendaraan umum, sekolah atau aktifitas, berkonflik dengan teman atau orang lain, dan lain-lain. Stres dapat terjadi dimanapun dan pada siapapun, juga pada siswa. Mengatasi masalah tersebut diperlukan bantuan yang efektif untuk mengurangi stres dalam belajar siswa kelas XI SMK Negeri 5 Malang. Salah satu upayanya ialah penerapan strategi self-management. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keefektivan strategi self-management untuk mengurangi stres dalam belajar siswa SMK N 5 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi-Exsperimental Research) tanpa kelas kontrol. Penelitian menggunakan jenis desain eksperimen kasus tunggal (Single-Case Experimental Design). Dalam SCED meliputi 3 fase, yaitu fase A, fase B (treatment), dan fase A’. Dengan subjek siswa kelas XI SMK N 5 Malang dengan jumlah 5 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan skala stres dalam belajar, tugas harian self-management, dan self-report. Untuk menganalisis data menggunakan hasil dari visual inspection pada saat sebelum perlakuan, perlakuan, dan sesudah perlakuan.. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa self-management berpengaruh terhadap pengurangan stres dalam belajar siswa. Hal ini tampak dari masing-masing subjek menunjukkan adanya penurunan tingkah laku stres dalam belajarnya dari fase A ke fase A’. Dari 5 subjek memilki peningkatan persentase penurunan stres di atas 50%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar: 1) konselor dapat membantu siswa untuk mengurangi stres dalam belajar menggunakan strategi self-management. Konselor dapat memberikan strategi self-management ini tidak hanya pada 5 siswa tetapi pada seluruh siswa XI RPL I yang sudah diketahui karakteristiknya, dan 2) peneliti selanjutnya hendaknya jika akan menguji self-management untuk mengurangi stres dengan melakukan penelitian menggunakan kelompok kontrol.

Penerapan strategi self-regulated learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar (SD) / Dinny Budiavianti

 

Kata kunci: Penerapan, Strategi Self-Regulated Learning, hasil belajar. Self-regulated learning atau pengaturan diri dalam belajar memiliki peranan penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, terutama dalam menentukan keberhasilan proses belajar, karena dalam pengaturan diri (SRL) mereka mampu mengatur dan mengarahkan dirinya sendiri, mampu menyesuaikan dan mengendalikan diri, terutama bila menghadapi tugas-tugas belajar yang sulit. Perilaku ini dapat dikembangkan pada siswa mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran pada tanggal 19-27 September 2012 pada mata pelajaran matematika, di kelas IV SD Kristen Petra Malang, siswa menunjukkan perilaku SRL yang rendah seperti, kurang aktif berpartisipasi dalam proses belajar di kelas, tidak memperhatikan dan tidak menjawab pertanyaan guru yang diajukan, melakukan kegiatan diluar kegiatan belajar seperti menggambar, bicara dengan teman, tidak menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan tuntas, hasil belajar tidak optimal, tidak mencatat kegiatan belajarnya dan prestasi belajar di bawah Kriteria Ketuntasan Minimun. Peneliti juga mengamati kinerja guru diantaranya, mengajukan beberapa arahan yang ambigu dan membingungkan siswa, sibuk mengerjakan perangkat kelas, jarang beranjak dari kursi untuk memperhatikan pekerjaan siswa, sehingga diperlukan tindakan untuk menangani masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan strategi SRL untuk meningkatkan hasil belajar siswa Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari Kemmis & Taggart dengan menerapkan 14 strategi SRL dalam rancangan pembelajaran dalam 2 siklus 8 pertemuan. Analisis data dilakukan pada waktu data terkumpul dengan mendeskripsikan temuan-temuan kinerja guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan penerapan strategi SRL, meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil itu terlihat dengan adanya perubahan perilaku siswa, diantaranya, belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada, terdorong untuk berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, mampu mengatur lingkungan belajarnya. Saran Penelitian yaitu: (1) untuk guru: penerapan strategi SRL dalam rancangan pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada perubahan perilaku siswa mengatur diri dalam belajarnya; guru kelas perlu mengembangkan diri dengan pengetahuan metode pembelajaran dari berbagai sumber, dan (2) untuk peneliti selanjutnya: perlu ditindak lanjuti dengan penelitian serupa yang lebih mendalam, dengan menggunakan suatu pendekatan model pembelajaran tertentu baik dari tahapannya maupun jumlah pertemuan yang dilakukan.

Analisis surat pribadi berbahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang tahun pelajaran 2012/2013 / Lailiyatus Sa'diyah

 

Kata Kunci: analisis surat pribadi, tulisan siswa Keterampilan menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa, penting dikuasai. Dengan menulis, seseorang dapat menyampaikan ide, pesan, perasaan, dan kemauan kepada orang lain. Salah satu bentuk pembelajaran menulis dalam mata pelajaran bahasa Jawa adalah menulis surat. Dengan menulis surat, siswa diajarkan berkomunikasi dengan baik secara tertulis. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam menulis surat pribadi, dilakukan analisis surat pribadi berbahasa Jawa tulisan siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang pada aspek sistematika, kesesuaian isi dengan tujuan, dan penggunaan bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif.Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah peneliti, sedangkan alat bantu yang digunakan berupa panduan analisis.Data penelitian ini berupa teks surat pribadi tulisan siswa kelas VIII. Data-data tersebut kemudian dianalisis untuk memperoleh deskripsi tentang sistematika, kesesuaian isi dengan tujuan, dan penggunaan bahasa.Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang tahun pelajaran 2012/2013. Berdasarkan analisis data, diperoleh tiga hasil penelitian. Pertama, sistematika surat pribadi, yang meliputi: (1) satata basa (alamate layang bisa katulis pojok tengen utawa kiwa ing dhuwur), (2) adangiyah (tembung pamuji rahayu), (3) purwaka (kabar keslametan kang kirim layang lan pangarep-arep supaya kang dikirimi uga slamet), (4) surasa basa (isine layang, kekarepane layang), (5) wasana basa (pungkasaning layang), (6) titi mangsa (nelakake wektu panulisaning layang), (7) peprenah (asale layang saka sapa), (8) tapak asta (tanda tangan), lan (9) asma terang (nama terang). Kedua, kesesuaian isi dengan tujuan. Ketiga, penggunaan bahasa, yang meliputi: penggunaan unggah-ungguh basa, pilihan kata, dan ejaan dan tanda baca. Berdasarkan hasil analisis sistematika surat pribadi berbahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang, Sistematika penyusunan tepat sebanyak sebanyak 17 siswa (55%), kurang tepat sebanyak 10 siswa (32%), dan tidak tepat sebanyak 4 siswa (13%). Berdasarkan hasil analisis kesesuaian isi dengan tujuan dalam surat pribadi berbahasa Jawa tulisan siswa SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang ketepatan isi dengan tujuan penyusunan tepat sebanyak 24 siswa (80%), kurang tepat sebanyak 4 siswa (13%), dan tidak tepat sebanyak 2 siswa (7%). Berdasarkan hasil penggunaan bahasa dalam surat pribadi berbahasa jawa tulisan siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang. Pertama penggunaan unggah-ungguh basa dengan tepat sebanyak 3 siswa (10%), kurang tepat sebanyak 27 siswa (90%) dan tidak tepat sebanyak (0%). Kedua pilihan kata kategori tepat sebanyak 6 siswa (19%), kurang tepat sebanyak 23 siswa (74%), dan tidak tepat sebanyak 2 siswa (7%). Ketiga penggunaan ejaan dan tanda baca kategori tepat sebanyak 4 siswa (13%), kurang tepat sebanyak 21 siswa (70%), tidak tepat sebanyak 5 siswa (17%). Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan tiga saran. Pertama, bagi guru, disarankan melakukan perbaikan pembelajaran menulis surat pribadi berbahasa Jawa agar siswa lebih terampil menulis surat pribadi. Kedua, bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian pada aspek lain terkait dengan surat pribadi, misalnya pengembangan bahan ajar menulis surat pribadi berbahasa Jawa. Ketiga, bagi siswa, disarankan agar lebih giat belajar dan berlatih untuk menulis surat pribadi berbahasa Jawa dengan baik dan benar.

Perbedaan kinerja keuangan dengan menggunakan metode Du Pont sebelum dan sesudah akuisisi pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2002-2010 / Toni Dimas Agustina

 

Kata Kunci: Akuisisi, Kinerja Keuangan, Metode Du Pont. Akuisisi dimaksudkan untuk lebih menunjang kegiatan bisnis sehingga keuntungan yang diperoleh juga lebih besar serta tidak diperlukan membangun pangsa pasar baru. Akusisi merupakan bentuk dari ekspansi eksternal untuk mempertahankan hidup serta pengembangan perusahaan. Dengan akuisisi diharapakan kinerja keuangan perusahaan yang telah bergabung menjadi semakin sehat dan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan kinerja keuangan metode Du Pont sebelum dan sesudah akuisisi pada perusahaan di BEI selama periode 2002-2010. Penelitian ini dilakukan terhadap 29 perusahaan sampel yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel adalah return on invesment, return on equity, profit margin, total assets turnover serta total assets to equity. Pengujian terhadap hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan uji beda 2 rata-rata berpasangan (paired sampel test). Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dilakukan uji normalitas data dengan kolmogorov-smirnov test. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang dilakukan, penelitian ini tidak berhasil menemukan perbedaan yang signifikan kinerja keuangan sebelum dan sesudah akuisisi baik dari return on invesment, return on equity, profit margin, total assets turnover ataupun total assets to equity. Saran yang dapat diberikan peneliti berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan antara lain: (1) Bagi perusahaan dalam melakukan akuisisi hendaknya dipertimbangkan secara seksama motif dan tujuan, kondisi perusahaan, jangka waktu yang direncanakan, serta kondisi ekonomi makro pada saat sekitaran terjadinya akuisisi. (2) Bagi investor hendaknya lebih selektif dalam memilih investasi serta lebih jeli dalam menilai adanya tindakan akuisisi apakah akan berdampak baik bagi perusahaan atau tidak. (3) Bagi penelitian selanjutnya sebaiknya menambahkan jangka waktu pengamatan sesudah terjadinya akuisisi agar dapat dipastikan dalam jangka panjang apakah terdapat sinergi dari adanya akuisisi, serta memperdalam motif akuisisi dan kaitan ekonomi makro dengan kinerja keuangan pada sekitaran kejadian akuisisi.

Analisis pertumbuhan uang kartal,uang giral dan uang kuasi di Indonesia periode 2011-2015 / Gumilar Anggalih Redisastra

 

Eksplorasi dan identifikasi bakteri termofilik lokal penghasil amilase, lipase dan protoase termostabil dari sumber air panas kawah ijen sebagai sumber belajar Biologi SMA / Wiwik Hariyatik

 

Kata Kunci: eksplorasi, identifikasi, bakteri termofilik, termostabil, sumber belajar Kawah Ijen merupakan salah satu kawasan yang memiliki keanekaragamanan mikroorganisme penghasil enzim termostabil. Pengeksplorasian bakteri termofilik penghasil amilase, lipase, dan protease di kawah Ijen merupakan langkah untuk penyediaan enzim termostabil khas wilayah Indonesia yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah menengah atas. Tujuan dalam penelitian ini, antara lain 1) Mengidentifikasi keragaman bakteri termofilik dari sumber air panas kawah Ijen Kabupaten Bondowoso Jawa Timur; 2) Menganalisis aktivitas amilase oleh isolat bakteri termofilik dari sumber air panas kawah Ijen Kabupaten Bondowoso Jawa Timur; 3) Menganalisis aktivitas lipase oleh isolat bakteri termofilik dari sumber air panas kawah Ijen Kabupaten Bondowoso Jawa Timur; 4) Menganalisis aktivitas protease oleh isolat bakteri termofilik dari sumber air panas kawah Ijen Kabupaten Bondowoso Jawa Timur; dan 5)Menghasilkan bahan ajar berdasarkan hasil penelitian dalam bentuk modul yang telah memenuhi kelayakan dan tervalidasi pada pelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Tenggarang. Penelitian tahap pertama menggunakan penelitian eksploratiflaboratorik, yaitu: mengidentifikasikeragaman jenis isolat bakteri termofilik dari sumber air panas Kawah Ijen dan menganalisis aktivitas amilase, lipase, dan protease dalam menghidrolis substrat. Untuk mengetahui perbedaan aktivitas amilase, lipase, dan protease dari 3 isolat unggulsecara kuantitatif, data dianalisis dengan menggunakan ANAVA (uji F) satu jalur dengan taraf signifikant 5% yang dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Penelitian tahap kedua adalah penelitian pengembangan yaitu penyusunan modul Biologi untuk siswa SMA kelas X. Pada tahap ini diperoleh data hasil validasi ahli Mikrobiologi (94,68%), ahli Pendidikan (81,25%), dan respon keterbacaan pengguna untuk guru (94,53%) dan siswa (92,13%), berarti modul yang disusun layak dijadikan sebagai bahan ajar tambahan atau alternatif bagi siswa SMA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: ditemukan 12 isolat bakteri termofilik, masing-masing terdapat 3 isolat bakteri termofilik amilolitik, lipolitik dan proteolitik unggul. Bakteri termofilik amilolitik unggul adalah Pseudomonas stutzeri, Bacillus firmus, dan Pseudomonas flurescens. Bakteri termofilik lipolitik unggul adalah Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas flurescens, dan Pseudomonas stutzeri sedangkan bakteri termofilik proteolitik unggul adalah Bacillus firmus, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus. Setiap isolat memiliki karakteristik makroskopis, mikroskopis, dan fisiologis yang berbeda satu dengan yang lain. Aktivitas amilase, lipase, dan protease termostabil secara kuantitatif dari ketiga isolat bakteri termofilik amilolitik, lipolitik, dan proteolitik unggul berbeda. Bakteri termofilik amilolitik yang potensial menghidrolisis amilum adalah Bacillus firmus dan Pseudomonas flurescens. Bakteri termofilik lipolitik yang paling potensial menghidrolisis lemak adalah Pseudomonas stutzeri sedangkan bakteri termofilik proteolitik yang paling potensial menghidrolisis protein adalah Pseudomonas aeruginosa. Hasil penelitian tentang bakteri termofilik lokal penghasil enzim amilase, lipase, dan protease termostabil dari sumber air panas kawah Ijen dapat digunakan sebagaisumber belajar dalam menyusun modul Biologi SMAyang layak digunakan di SMA Negeri 1 Tenggarang. Berdasarkan hasil temuan dan kesimpulan dari penelitian ini, disarankan: 1) Bagi siswa, hendaknya termotivasi untuk belajar Biologi terutama tentang bakteri termofilik penghasil enzim termostabil sebab Kabupaten Bondowoso memiliki sumber daya alam lokal yang mendukung pengetahuan tentang bakteri termofilik penghasil enzim termostabil. Harapannya siswa menjadi generasi bangsa yang tahu akan potensi daerahnya, sehingga di masa depan dapat mengolahnya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia; 2) Bagi guru, meningkatkan motivasi untuk melakukan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar terutama lingkungan yang berpotensi mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan pembelajaran; 3) Bagi pemerintah, perlu dilakukan penelitian sejenis dengan metode lain sehingga eksplorasi bakteri termofilik penghasil enzim termostabil dari sumber air panas kawah Ijen lebih maksimal sehingga enzim termostabil yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung industri enzim termostabil dan bioteknologi; dan 4) Bagi peneliti lain, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengisolasi bakteri termofilik dari sumber air panas kawah Ijen melalui metode yang lain dan pengidentifikasian dengan menggunakan gen 16S rRNA, perlu dilakukan penelitian mengenai aktivitas enzim ekstraseluler amilase, lipase, dan protease berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas kerja enzim, perlu dilakukan tahap eksperimen lapangan terhadap sumber belajar yang telah disusun dalam proses belajar mengajar, dan penelitin ini bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan diantaranya sebagai upaya memperkaya konsep ilmu Mikrobiologi terutama tentang bakteri termofilik penghasil enzim termostabil lokal untuk waktu yang akan datang diharapkan dapat dipakai sebagai acuan dalam penyediaan enzim termostabil di Indoensia.

Perancangan game edukasi mengingat isi dan tempat guna meningkatkan daya ingat untuk anak usia Sekolah Dasar / Muhammad Ta'yinul Karim

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model Inside-Outside Circle (IOC) untuk meningkatkan hasil belajar apresiasi dongeng siswa kelas VIIC MTSN Juwet Ngronggot Nganjuk / M.A. Yusuf Ali Azhary

 

Kata-kata kunci: Model Pembelajaran Inside-Outside Circle, hasil belajar, pembelajaran apresiasi dongeng. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan peneliti di MTsN Juwet Ngronggot Nganjuk, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII C, terutama dalam materi apresiasi dongeng pengajar menggunakan model pembelajaran ceramah dan diskusi. Model pembelajaran ceramah ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan. Berdasarkan pengamatan tersebut maka peneliti berusaha mencarikan model pembelajaran lain, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan lebih berkualitas. Model pembelajaran yang akan peneliti coba untuk melakukannya adalah model pembelajaran kooperatif Outside-Inside Circle. Model pembelajaran kooperatif Inside-Outside Circle dipilih karena dalam pembelajaran kooperatif Inside-Outside Circle setiap siswa dituntut untuk menguasai materi secara individu dan berpasangan. Jadi dengan dilakukan pembelajaran tersebut, siswa lebih mempunyai rasa tanggung jawab baik itu tanggung jawab individu maupun tanggung jawab kelompok. Jenis penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia. Ciri penelitian tindakan kelas adalah dengan menggunakan tahapan siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari empat tahap yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIC MTsN Juwet Ngronggot Nganjuk Tahun 2012/2013 dengan jumlah siswa 24 siswa. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) lembar observasi, (2) catatan lapangan dan (3) rubrik penilaian yang digunakan untuk menilai hasil belajar apresiasi siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara tes, dokumentasi, wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yakni data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif teknik analisis yang digunakan yaitu: (1) reduksi data, berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting, (2) penyajian data berupa uraian singkat, dan (3) kesimpulan dan verifikasi. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif yakni dicari nilai rata-rata dan persentasenya. Proses penerapan model pembelajaran kooperatif model Inside-Outside Circle untuk meningkatkan hasil belajar apresiasi dongeng dilakukan dengan cara pembentukan dua kelompok besar, siswa diatur dalam lingkaran luar lingkaran dalam dan saling berhadapan, anggota lingkaran luar bergerak berlawanan arah dengan anggota kelompok lingkaran dalam hingga siswa bertemu dengan pasangan asal. Dari kegiatan ini siswa mendapat pengetahuan secara komprehensif tentang isi dongeng yang sudah didengarnya. Model pembelajaran IOC dapat menjadikan siswa yang kurang aktif menjadi aktif. Peningkatan kualitas proses pembelajaran apresiasi dongeng dengan penerapan model pembelajaran IOC dapat dilihat dari peningkatan persentase pada tiap-tiap indikator penilaian aktivitas siswa. Peningkatan keaktifan bertanya siswa dari siklus I ke siklus II adalah 50,33% pengamat satu dan dua yaitu dari 20,83% dari siklus I menjadi 70,83% pada siklus II. Peningkatan persentase keaktifan menjawab siswa dari siklus I ke siklus II adalah 41,67% pengamat satu dan 45,84% pengamat dua dari 33,33% siklus I menjadi 75% pada siklus II. Peningkatan persentase keseriusan siswa dalam pembelajaran dari siklus I ke siklus II adalah 37,5% pengamat satu dan 21.17 pengamat dua dari 62,5% siklus I menjadi 100% pada siklus II. Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar 100% siklusI dan siklusII. Keantusiasan dalam belajar 100% siklus I dan siklus II. Hasil penerapan pembelajaran kooperatif Outside-Inside Circle dapat meningkatkan hasil belajar apresiasi dongeng siswa pada aspek menghubungkan (1) pokok persoalan yang dihadapi tokoh, (2) peristiwa yang dialami tokoh, (3) tempat kejadian dalam dongeng, dan (4) pesan dongeng dengan situasi sekarang. Peningkatan tertinggi terdapat pada aspek menghubungkan peristiwa yang dialami tokoh, yaitu 25%, peningkatan tersebut terlihat pada hasil yang diperoleh dari 62,5% (siklus I) menjadi 87,5% (siklus II). Peningkatan berikutnya terdapat pada aspek menghubungkan pesan dongeng, yaitu 16,7%, peningkatan tersebut terlihat pada hasil yang diperoleh dari 58,3% (siklus I) menjadi 75% (siklus II). Peningkatan terendah terdapat pada aspek menghubungkan tempat kejadian dalam dongeng, yaitu 16,7%, peningkatan tersebut terlihat pada hasil yang diperoleh dari 95,83% (siklus I) menjadi 100% (siklus II). Aspek yang tidak mengalami peningkatan adalah menghubungkan pokok persoalan yang dihadapi tokoh, baik siklus I maupun siklus II sebesar 91.6%. Berdasarkan temuan tersebut disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Model Inside-Outside Circle dapat meningkatkan hasil belajar apresiasi dongeng. Peningkatan tersebut dikarenakan dalam pembelajaran kooperatif Inside-Outside Circle bisa meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Untuk itu disarankan kepada guru agar menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran apresiasi dongeng supaya kualitas pembelajaran dapat meningkat dan untuk peneliti lain hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai refrensi untuk penelitian sejenisnya.

Penerapan sistem Moving Class untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar mata pelajaran IPS Ekonomi pada siswa kelas VII di SMP Negeri 5 Malang / Nuril Lailia

 

Kata Kunci: Sistem Moving Class, Motivasi, Hasil Belajar Pelaksanaan program RSBI merupakan tantangan yang tidak mudah yang harus dihadapi oleh SMP Negeri 5 Malang. Model pembelajaran Moving Class merupakan salah satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi RSBI. Sistem Moving Class menuntut siswa harus berpindah atau bergerak menuju kelas berbeda-beda sesuai jadwal pelajaran dan jam pelajaran. Melalui Sistem Moving Class, diharapkan akan berpengaruh positif terhadap perilaku siswa, yang nampak dalam meningkatnya motivasi belajar dan hasil belajar siswa secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar mata pelajaran IPS Ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Malang melalui penerapan Sistem Moving Class. Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas 7 RSBI 2 di SMP Negeri 5 Malang yang berjumlah 28 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, hasil tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: penerapan Sistem Moving Class dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dari Siklus I ke Siklus II. Untuk itu, maka disarankan bagi sekolah yang bertaraf internasional pada khususnya dan sekolah lain pada umumnya untuk menerapkan Sistem Moving Class. Penerapan Sistem Moving Class membuat siswa tidak mudah merasa bosan dengan suasana di dalam kelas karena siswa selalu berpindah disetiap pergantian jam pelajaran, tetapi Sistem Moving Class ini membuat jam pelajaran berkurang karena proses perpindahan dari kelas yang satu ke kelas berikutnya.

Hubungan adversity quotient dengan intensi turnover pada karyawan BRI kantor cabang Malang Martadinata / Gunawan Sutanto

 

Kata Kunci: adversity quotient, intensi turnover. Manusia adalah urat nadi dan aset terpenting yang dimiliki suatu organisasi dalam keberlangsungan usaha dan pengembangan suatu organisasi. Menurut Cascio (1987) sumber daya manusia adalah sumber daya yang sangat penting dalam bidang psikologi industri dan organisasi, oleh karena itu pengelolaan sember daya mencakup penyediaan tenaga kerja yang bermutu, mempertahankan kualitas dan mengendalikan biaya ketenagakerjaan. oleh karena itu mempertahankan keberadaan sumber daya manusia yang berpengalaman sangat penting bagi perusahaan. Berhentinya hubungan kerja secara permanen antara perusahaan dan karyawannya didefinisikan Cascio (1987) sebagai turnover. Mobley,dkk (1978) menyimpulkan bahwa intensi turnover merupakan tanda awal terjadinya turnover, karena terdapat hubungan yang signifikan antara intensi turnover dan turnover yang terjadi. Banyak turnover yang terjadi disebabbkan karyawan tidak mampu menyelesaikan permasalahan di tempat kerjanya. Suatu kemampuan yang berguna untuk mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan penyelesaian masalah menurut Stoltz (2000), disebut sebagai adversity quotient. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional dengan sampel berjumlah 35 karyawan yang ditentukan dengan teknik purposif sampling. Hasil uji validitas item skala adversity quotient memperoleh nilai validitas sebesar 0,273 sampai 0,717 dengan koefisien alpha Cronbach sebesar 0,941. Sedangkan untuk skala intensi turnover memperoleh nilai validitas sebesar 0,281 sampai 0,822 deangan koefisien alpha Cronbach sebesar 0,907. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antar adversity quotient dengan intensi turnover pada karyawan BRI Kantor Cabang Malang Martadinata (rxy = -0,515 dan p = 0,002 < 0,05.). artinya semakin baik adversity quotient karyawan maka semakin rendah tingkat intensi turnover yang dimiliki. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa Karyawan BRI Kantor Cabang Malang Martadinata, 17% memiliki adversity quotient tinggi, 66% berada pada kategori adversity quotient sedang dan 17% karyawan memiliki tingkat adversity quotient yang rendah. Sedangkan untuk intensi turnover terdapat 15% karyawan dengan intensi turnover tinggi, 68% berintensi turnover sedang, dan 17% berintensi turnover rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada: (1) siswa: dapat meningkatkan kemampuan dalam mengendalikan, membuat batasan, dan bertahan dalam mengatasi masalah (2) perusahaan: mempertimbangkan untuk memberikan pelatihan guna mengembangkan adversity quotient yang dimiliki karyawan (3) penelitian selanjutnya: memperdalam aspek keberanian mengambil resiko dan memilih subyek yang lebih variatif.

Penerapan model pembelajaran Course Review Horay (CRH) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar geografi siswa kelas X-5 SMA Negeri 1 Batu / Aksarina Shanti

 

Shanti, Aksarina. 2012. Penerapan Model pembelajaran Course Review Horay (CRH) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas X-5 SMA Negeri 1 Batu . Skripsi. Jurusan Geografi Program Studi Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Timotius Suwarna, M.Pd, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si, Kata Kunci : model pembelajaran Course Review Horay (CRH), aktivitas belajar, hasil belajar Masalah yang sering muncul sebagai salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan adalah penerapan model pembelajaran yang belum mampu mengembangkan aktivitas belajar siswa. Permasalahan tersebut dapat mengakibatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas X-5 SMAN 1 Batu diketahui bahwa rata-rata skor aktivitas siswa saat observasi awal sebesar 17,09. Rendahnya aktivitas siswa juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Rata-rata nilai hasil belajar siswa pada observasi awal sebesar 51,69. Sehingga, diperlukan suatu perubahan proses pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menerapkan model pembelajaran Course Review Horay (CRH).Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-5 SMAN 1 Batu pada mata pelajaran geografi. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari lembar observasi dan soal tes. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, tes tulis dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan membandingkan nilai hasil belajar dan skor aktivitas siswa pada observasi awal, siklus I dan siklus II, dst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata aktivitas belajar siswa pada observasi awal 17,09. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I rata-rata aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 4,19 pada siklus I dan mengalami peningkatan sebesar 3,15 pada siklus II. Penerapan model pembelajaran Course Review Horay (CRH) tidak hanya meningkatkan aktivitas belajar siswa, juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rata-rata nilai hasil belajar siswa pada observasi awal 51,62. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I rata-rata nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 24,19 dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 9,25. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Course Review Horay (CRH) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Disarankan kepada guru Geografi di SMAN 1 Batu, bahwa model pembelajaran Course Review Horay (CRH) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, agar kualitas pembelajaran semakin meningkat.

Manajemen kurikulum hidup dan kehidupan di Tarbiyatul Mu'allimien Al-Islamitah (TMI) (studi kasus pada Pondok Pesantren Mu'adalh TMI Al-Amien di Prenduan Sumenep Madura) / Siti Aisyah

 

Aisyah, Siti. 2015. Manajemen Kurikulum Hidup dan Kehidupan di Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) (Studi Kasus di Pondok Pesantren Mu’adalah TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura). Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Achmad Supriyanto, M.Pd, M.Si, (II) Wildan Zulkarnain, S. Pd, M. Pd Kata Kunci: kurikulum, hidup dan kehidupan, mu’adalah Kurikulum Hidup dan Kehidupan adalah kurikulum yang digunakan di Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan sebagai salah satu pondok pesantren mu’adalah. Pendidikan pondok pesantren yang tidak mengikuti standar kurikulum Kementrian Agama Republik Indonesia maupun Kementrian Pendidikan Nasional di kalangan pondok pesantren disebut dengan pendidikan pondok pesantren mu’adalah. Sebagai satuan pendidikan, sebagaimana berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 93 yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan ini dapat memperoleh pengakuan dari pemerintah atas rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan didasarkan pada penilaian khusus. Pendidikan pondok pesantren tersebut disetarakan dengan madrasah aliyah melalui SK Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI dan oleh SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional untuk yang disetarakan dengan SMA. Adapun fokus dalam penelitian ini adalah: (1) Perencanaan kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, (2) Pelaksanaan kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, (3) Evaluasi kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al- Amien Prenduan Sumenep Madura, (4) Faktor-Faktor pendukung, penghambat, dan solusi kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan faktor-faktor pendukung, penghambat, dan solusi kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Selain itu, untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan beberapa teknik pengecekan keabsahan data, yaitu triangulasi sumber dan teknik kecukupan referensial, pengecekan keanggotaan, dan perpanjangan keikutsertaan. Setelah data terkumpul, diperlukan kegiatan analisis data yang dilakukan dengan cara reduksi data, display data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh empat temuan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, perencanaan kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al-Amien Prenduan direncanakan berdasarkan prinsip-prinsip dasar kurikulum pondok sebagai institusi pendidikan dengan kurikulum mandiri tanpa mengacu pada kurikulum pemerintah yang tidak bisa diotak-atik hanya dikembangkan dan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Kedua, Pelaksanaan kurikulum hidup dan kehidupan di TMI Al-Amien dilaksanakan secara terpadu selama 24 jam dalam bentuk “Integrated Curriculum” yang tidak bisa dipilah-pilah. Ketiga, Pelaksanaan evaluasi, harian, mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan pada masing-masing program baik intra kurikuler ko kurikuler dan ekstra kurikuler. Hasil akhir dari kurikulum Hidup dan Kehidupan di TMI Al-Amien Prenduan berdasarkan kiprah dan kualitas para Alumni di masyarakat dengan Kemampuan output untuk menjadi ulama’dan cendikiawan dengan bekal-bekal kemampuan kepemimpinan, dan bekal-bekal untuk menjadi guru (keguruan). Keempat, Faktor pendukung keberhasilan adalah faktor kemandirian yaitu kurikulum yang digunakan berdasarkan kurikulum yang sudah ditetapkan oleh para pendiri pondok terdahulu tanpa mengacu pada kurikulum pemerintah dan kurikulum tersebut yang terus mengalami inovasi, perubahan dan perkembangan sampai saat ini. Faktor Penghambat keberhasilan adalah faktor sumber daya manusia disiplin tenaga pendidik kesiapan guru dalam penguasaan bidang edukasi tertentu. Solusi atas berbagai hambatan yang ada dengan mengasah kemampuan para tenaga pendidik secara berkesinambungan untuk menguasai bidang masing-masing melalui pelatihan khusus yang dilakukan oleh para guru master setiap minggu salah satunya adalah pelatihan mengenai metode mengajar yang baik. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada beberapa pihak antara lain: (1) Kepada badan pengelola/ pengasuh hendaknya terus meningkatkan manajemen kurikulum secara profesional mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi agar tujuan pendidikan di TMI Al-Amien Prenduan dapat tercapai secara efektif dan efisien. (2) Kepada badan pengelola/ pengasuh untuk meningkatkan dukungan stakeholders dalam pengembangan dan implementasi kurikulum di TMI Al-Amien Prenduan, lembaga perlu secara proaktif mengundang dan menghadirkan stakeholders dalam forum diskusi atau dalam kegiatan open house.(3) Kepada para guru TMI Al-Amien Prenduan kompetensi guru lebih ditingkatkan dan disiapkan agar pelaksanaan kurikulum dapat terlaksana secara optimal. (4) Kepada Kementrian Agama lebih meningkatkan perhatiannya terhadap perkembangan kualitas pendidikan, khususnya dalam hal ini pada pondok pesantren mu’adalah dengan memberikan pengarahan baik dalam bentuk petunjuk teknis secara tertulis, maupun secara lisan seperti halnya pelatihan seminar dan workshop. (5) Kepada Jurusan Administrasi Pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan refrensi mengenai manajemen kurikulum sebagai disiplin ilmu yang berorientasi pada efektivitas dan efisiensi organisasi pendidikan. (6) Bagi peneliti lain hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi untuk mengembangkan penelitian yang sejenis dalam bidang manajemen pendidikan khususnya dalam hal ini pada manajemen kurikulum dan dapat dijadikan bahan informasi untuk menindaklanjuti penelitian dengan kasus yang berbeda di lembaga pendidikan yang sama.

Perbedaan resiliensi remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh di SMA Negeri Kota Malang / Gracillia Putri Jauhari

 

Kata kunci: resiliensi, remaja, keluarga bercerai, keluarga utuh Resiliensi adalah kemampuan untuk menghadapi, mengatasi, meminimalkan, bangkit kembali dan mengurangi atau menghilangkan dampak-dampak negatif atau resiko dari masalah yang dihadapi serta memungkinkan pula untuk merubah pandangan atas masalah yang terjadi menjadi hal yang memang wajar untuk diatasi. Namun kualitas resiliensi setiap individu tidaklah sama, terdapat aspek-aspek penting yang membentuk resiliensi. Keadaan keluarga adalah suatu kondisi yang menunjukkan bagaimana susunan suatu keluarga baik secara struktur dan interaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi antara remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh dan apakah terdapat perbedaan resiliensi antara remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Sampel penelitian adalah remaja kelas X dan XI di SMAN 1, 3, 4, 7, dan 9 Malang dengan total subyek 80 siswa. Pengambilan subyek adalah subyek dalam populasi pada remaja dalam keluarga bercerai dan random sampling pada remaja dalam keluarga utuh. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket keadaan keluarga dan skala resiliensi Skala resiliensi terdiri atas 42 aitem valid (r = 0.234-0.645) dan reliabilitas 0,879. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis komparatif dengan uji beda independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja dalam keluarga bercerai jika dibandingkan dengan remaja dalam keluarga utuh menunjukkan tingkat resiliensi tinggi. Uji hipotesis menyimpulkan tidak ada perbedaan resiliensi antara remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh dengan signifikansi 0.511 (sig. > 0.05). Disarankan kepada: (1) pihak sekolah untuk mengadakan class discussion grup terkait dengan perceraian dan dampaknya. (2) pihak orang tua untuk meningkatkan komunikasi dengan anak, seperti mengajaknya berdiskusi tentang masalah-masalah remaja. (3) pihak remaja untuk memperbanyak kegiatan berkelompok, seperti ekstrakulikuler sekolah yang melibatkan banyak interaksi antar teman untuk meningkatkan rasa optimis, kontrol emosi, dan tidak membatasi kemampuan diri. (4) pihak peneliti selanjutnya untuk lebih cermat dalam mengambil sampel serta mengikutsertakan faktor-faktor lain ke dalam penelitian, seperti keterampilan sosial, otonomi, keterampilan menyelesaikan masalah, kesempatan untuk bisa berpartisipasi dalam kelompok, hubungan yang hangat dengan lingkungan, dan harapan yang tinggi dari lingkungan yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini.

Pengembangan modul pembelajaran teori outdoor education pada mata pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan siswa kelas V semester II SDN Duren 01 Klakah Kabupaten Malang / Mokhammad Rofiq

 

Kata Kunci: modul, penjelajahan di lingkungan sekitar sekolah Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Penjelajahan merupakan isi materi dari pendidikan luar kelas yang ada pada pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Penjelajahan adalah salah satu kegiatan di alam terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketegangan dan bahkan melupakan sejenak kejenuhan belajar, sehingga tenaga dan pikiran menjadi pulih kembali. Penelitian awal dilakukan pada 1 guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan 22 siswa kelas V SDN Duren 01 Klakah Kabupaten Lumajang. Pada penelitian awal melalui wawancara dan penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) dapat disimpulkan bahwa (1) Guru sudah pernah memberikan materi mengenai penjelajahan tetapi dalam aplikasinya siswa belum pernah diberikan praktik penjelajahan di lingkungan sekitar sekolah, (2) Guru belum mempunyai buku panduan tentang penjelajahan, (3) Guru membutuhkan buku panduan yang berupa modul tentang penjelajahan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan modul penjelajahan di lingkungan sekitar sekolah. Diharapkan, hasil pengembangan ini dapat membantu guru maupun siswa untuk melaksanakan praktik penjelajahan di lingkungan sekitar sekolah. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket dan wawancara. Produk awal telah dijustifikasi oleh ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan ahli penjelajahan yang hasil akhirnya menunjukkan bahwa “Modul Pembelajaran Outdoor Education pada Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Siswa Kelas V Semester II SDN Duren 01 Klakah Kabupaten Lumajang” dapat diuji cobakan. Dari hasil evaluasi uji coba kelompok kecil dengan subjek 12 siswa kelas V diperoleh persentase 85.56% dan dari hasil evaluasi uji coba kelompok besar dengan subjek 22 siswa kelas V diperoleh persentase 86.82% maka Pengembangan Modul Pembelajaran Teori Outdoor Education pada Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Siswa Kelas V Semester II SDN Duren 01 Klakah Kabupaten Lumajang layak digunakan di SDN Duren 01 Klakah Kabupaten Lumajang.

Pengaruh tingkat inflasi dan liquiditas terhadap profitabilitas pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) tbk. periode 2009-2011 / Hanum Fariqoh

 

Kata Kunci: Likuiditas, Profitabilitas, Inflasi, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Profitabilitas merupakan merupakan salah satu faktor penting dalam perusahaan seperti bank karena dapat memberikan informasi tentang keadaan perusahaan. Profitabilitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor dari luar seperti inflasi dan faktor dari dalam seperti likuiditas. Pada saat krisis seperti saat ini pastinya antara inflasi dan likuiditas akan mempengaruhi profitabilitas pada bank. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah tingkat inflasi berpengaruh terhadap profitabilitas pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. periode 2009-2011?, Apakah likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. periode 2009-2011?, Dan apakah tingkat inflasi dan likuiditas secara simultan berpengaruh terhadap profitabilitas pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. periode 2009-2011? Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Data yang digunakan diperoleh dari website Bank Indonesia. Data yang digunakan yaitu : tingkat inflasi, likuiditas (LDR) dan profitabilitas (ROA) perbulan selama tiga tahun dari Januari tahun 2009 sampai dengan Desember tahun 2011. Hasil data penelitian menunjukakan data berdistribusi normal setelah dilakukan uji asumsi klasik multikolinieritas, heterokedastisitas, autokorelasi dan normalitas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan (1) Inflasi tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, dengan nilai probabilitas sebesar 0,332 (2) Likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas, dengan nilai probabilitas sebesar 0,021 dan (3) Secara simultan inflasi dan likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas, dengan nilai probabilitas sebesar 0,031. Sehingga disarankan bagi para investor untuk melihat kondisi perbankan dalam melakukan investasi. Dan untuk kondisi perekonomian karena tidak berpengaruh tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Analisis pengaruh BI Rate, nilai kurs Us Dollar dan jumlah uang beredar terhadap laju inflasi di Indonesia periode 2004-2011 / Agung Wicaksono

 

Kata kunci: Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate), Kurs US Dollar, Jumlah Uang Beredar, Inflasi. Inflasi merupakan suatu fenomena ekonomi yang mencerminkan kenaikan tingkat harga secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu yang diikuti dengan penurunan nilai uang. Inflasi yang tinggi berpengaruh luas pada berbagai sektor kehidupan. Menurut teori kuantitas, jumlah uang beredar adalah sebab utama naiknya tingkat inflasi. Maka digunakan instrumen kebijakan moneter berupa suku bunga untuk mengendalikan tingkat inflasi. Selain itu, inflasi juga dapat ditimbulkan karena tekanan nilai tukar. Nilai tukar yang melemah juga dapat menaikkan laju inflasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), kurs US Dollar dan jumlah uang beredar terhadap inflasi di Indonesia periode 2004-2011. Penelitian dirancang menggunakan metode kuantitatif dan termasuk dalam jenis penelitian korelasional. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder tentang suku bunga Bank Indonesia, kurs UD Dollar, jumlah uang beredar dan inflasi dan diperoleh dari Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. Data yang terkumpul dengan cara dokumentasi dan dianalisis secara matematis dengan teknik regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku bunga Bank Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap inflasi, kurs US Dollar tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap inflasi, jumlah uang beredar tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap inflasi. Secara simultan suku bunga Bank Indonesia, kurs US Dollar dan jumlah uang beredar berpengaruh signifikan terhadap inflasi di Indonesia. Saran penulis bahwa lembaga Universitas Negeri Malang hendaknya hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi, kepustakaan dan diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi kepentingan atau perkembangan lembaga terutama dalam bidang kajian permasalahan ekonomi perbankan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan acuan kepada penelitian selanjutnya misalnya penelitian tentang inflasi pasca kenaikan BBM atau pengaruh implementasi kebijakan moneter terhadap inflasi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan juga rujukan bahan pertimbangan saat terjadi fluktuasi inflasi di Indonesia.

Pengaruh cash, retained earning, dan sales terhadap capital expenditure (studi empiris pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2009-2011) / Miranti

 

Kata kunci : cash, retained earning, sales, capital expenditure, pecking order theory. Capital expenditure merupakan salah satu bagian dari investasi yang sangat penting bagi perusahaan serta sering dikaitkan dengan kinerja perusahaan. Perusahaan mengharapkan semakin tinggi capital expenditure maka semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan. Dana untuk capital expenditure berasal dari berbagai sumber baik internal maupun eksternal sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan cash, retained earning, dan sales dapat mempengaruhi capital expenditure. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi karena disesuaikan dengan rumusan hipotesis yang menduga bahwa cash, retained earning, sales berpengaruh terhadap capital expenditure. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang merupakan data sekunder berupa jumlah cash,retained earning, dan hasil dari net sales. Subjek penelitian ini adalah seluruh perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2011 sebanyak 30 perusahaan dan sampel yang digunakan adalah sebanyak 15 perusahaan. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan pengujian hipotesis secara parsial dan simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan variabel cash, retained earning, sales terhadap capital expenditure, baik secara parsial maupun secara simultan. Koefisien determinasi sebesar 66,5% menunjukkan bahwa jumlah cash, retained earning, sales sebagai sumber pembiayaan internal dapat dijadikan prioritas dalam melakukan pendanaan internal sebelum melakukan pendanaan yang berasal dari luar perusahaan. Cash, retained earning dan sales terbukti berpengaruh terhadap capital expenditure baik secara parsial dan simultan. Selain itu penelitian ini tidak terlepas dari berbagai keterbatasan diantaranya penelitian ini hanya berfokus pada perusahaan pertambangan, hanya membahas mengenai beberapa faktor yang berasal dari internal perusahaan serta tidak memperhatikan sumber aset yang dimiliki perusahaan. Berdasarkan keterbatasan tersebut maka peneliti selanjutnya disarankan agar meneliti perusahaan lain seperti manufaktur, membahas faktor internal lain seperti internal cash flow, profitability, dan depreciation serta memperhatikan sumber kepemilikan aset perusahaan dengan menambahkan keterangan penjelas mengenai sumber aset. Sementara bagi investor disarankan agar memperhatikan semua faktor yang dapat mempengaruhi capital expenditure dalam berinvestasi dan bagi perusahaan disarankan agar lebih memperhatikan sumber pendanaan internal terlebih dulu dalam melakukan capital expenditure.

Pengembangan buku ajar pendidikan jasmani untuk siswa kelas 3 di SD Negeri 2 Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek berbasis lingkungan daerah pegunungan / Havid Luke Kristianto

 

Kata Kunci: Pengembangan, buku ajar, pembelajaran, pendidikan jasmani, Kelas 3, SD Negeri, lingkungan daerah pegunungan. Pendidikan di Indonsia merupakan suatu kewajiban yang harus di jalankan bagi warga negaranya. Pendidikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dalam pembukaan yang diamalkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan berdasarkan pancasila. Selanjutnya dalam batang tubuh Unang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 31 ayat 1 dikatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Sedangkan dalam Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP, 2006:512) menyatakan bahwa: Pendidikan Jasmani olahraga dan kesehatan merupakan bagian dari integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keteramilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasioanal. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan dengan menggunakan angket berupa kuesioner kepada guru pendidikan jasmani di SD Negeri 2 Gamping diperoleh keterangan bahwa guru SD tersebut mengalami permasalahan dalam proses pembelajaran yaitu terkait refrensi buku pembelajaran penjas anak Kelas 3 di daerah pegunungan yang selama ini belum ada dan sangat dibutuhkan sebagai panduan saat proses belajar di SD Negeri 2 Gamping. Mencermati kondisi tersebut maka diperlukan Pengembangan Buku Ajar Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Siswa Kelas 3 di SD Negeri 2 Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek Berbasis Lingkungan Daerah Pegunungan yang dapat digunakan sebagai acuan dan refrensi guru SD Negeri 2 Gamping pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tujuan dari peneliti ini adalah untuk mengembangkan Buku Ajar Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Siswa Kelas 3 di SD Negeri 2 Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek Berbasis Lingkungan Daerah Pegunungan untuk siswa Kelas 3 sekolah dasar yang dapat digunakan sebagai acuan dan refrensi guru SD Negeri 2 Gamping saat proses pembelajaran berlangsung. Lokasi penelitian dilakukan di SD Negeri 2 Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. Subyek uji coba terdiri dari (1) analisis kebutuhan, (2) tinjauan ahli, terdiri dari 2 orang ahli yaitu 1 ahli media, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, (3) uji coba kelompok kecil menggunakana 1 guru dan 6 siswa (perwakilan dari kelas 3), (4) uji coba kelompok besar atau uji lapangan yang terdiri dari 1 guru dan 19 siswa SD Negeri 2 Gamping. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model pengembangan Borg and Gall (1983:775. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1) Analisi kebutuhan, 2) pembuatan produk awal, 3) Revisi tahan I dari hasil tinjauan ahli-ahli, 4) Uji coba kelompok kecil (uji coba produk awal), 5) Revisi tahap II yaitu dari hasil uji coba kelompok kecil, 6) Uji coba lapangan (uji coba kelompok besar), 7) Revisi produk akhir yaitu berdasarkan hasil uji coba lapangan, hingga diperoleh produk akhir berupa Buku Ajar Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Siswa Kelas 3 di SD Negeri Berbasis Lingkungan Daerah Pegunungan. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil buku Ajar Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Siswa Kelas 3 di SD Negeri Gamping 2 Berbasis Lingkungan Daerah Pegunungan dan buku ini dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada guru SD/MI yang mengajar di sekolah daerah pegunungan khususnya di SD Negeri 2 Gamping, agar dapat sebagai tambahan pengetahuan tentang pembelajaran anak Kelas 3 di lingkungan sekolah daerah pegunungan.

Pengaruh perputaran modal kerja terhadap sisa hasil usaha pada KUD di Kabupaten Malang tahun 2009-2011 / Mega Hariyanti

 

Kata Kunci: Pengaruh Perputaran Modal Kerja, Sisa Hasil Usaha, KUD. Koperasi merupakan badan usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya yaitu melalui SHU yang dibagikan. Sisa Hasil Usaha (SHU) merupakan laba yang dihasilkan oleh koperasi. Peningkatan laba yang dihasilkan oleh koperasi dapat dilihat dari efisiensi modal kerja yang digunakan dalam menghasilkan laba tersebut. Efisiensi penggunaan modal kerja dalam menghasilkan laba dapat dilihat tingkat perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan, dan perputaran modal kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan pengaruh perputaran modal kerja terhadap Sisa Hasil Usaha KUD di Kabupaten Malang. Penelitian ini termasuk penelitian asosiatif kausalitas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh KUD di Kabupaten Malang, dengan teknik purposive sampling diperoleh sampel sebesar 10 KUD. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan teknik analisis linier berganda. Penelitian ini mengambil data yang telah ada kemudian menguji pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dari penelitian ini terdiri dari perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2), perputaran persediaan (X3), dan perputaran modal kerja (X). Sedangkan variabel terikatnya adalah Sisa Hasil Usaha (Y). Hasil analisis data menunjukkan bahwa perputaran kas dengan angka sig. t (0,015) < α (0,05) berpengaruh signifikan terhadap SHU, sedangkan perputaran piutang dengan angka sig. t (0,947) > α (0,05), dan perputaran persediaan dengan angka sig. t (0,747) > α (0,05), berpengaruh tidak signifikan terhadap SHU. Perputaran modal kerja dengan angka sig. t (0,008) < α (0,05) berpengaruh signifikan terhadap SHU. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi SHU sebagian besar berklasifikasi rendah. Kondisi perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan, dan perputaran modal kerja KUD sebagian besar berklasifikasi sangat rendah. Pada KUD disarankan untuk memberikan perhatian terhadap pengelolaan modal kerja sehingga laba atau SHU yang diperoleh dapat lebih maksimal. Bagi peneliti selanjutnya untuk lebih mengembangkan faktor-faktor lain yang berpengaruh seperti total asset turnover, current ratio, quick ratio, dan debt to equity ratio.

Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal tata boga di SMP Muhammadiyah 1 Jombang / Nining Nur Amalah

 

v ABSTRAK Amalah, Nining Nur. 2013. Pelaksanaan Pembelajaran Muatan Lokal Tata Boga di SMA Muhammadiyah 1 Jombang. Skripsi Jurusan teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Amat Nyoto, M. Pd., (2) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. Kata kunci: Muatan lokal, Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal tata boga di SMA Muhammadiyah 1 Jombang bertujuan agar peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang makanan dan minuman, serta mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan pembelajaran muatan lokal tata boga, pelaksanaannya dalam kegiatan pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran muatan lokal tata boga. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah pelaksanaan muatan lokal tata boga di SMA Muhammdiyah 1 Jombang. Sub variabel terdiri dari: (1) Perencanaan Pembelajaran; (2) Pelaksanaan Pembelajaran; (3) Evaluasi. Penelitian dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Jombang. Subyek penelitian guru pengajar muatan lokal tata boga. Instrumen penelitian menggunakan pedoman dokumentasi, observasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) Silabus yang dibuat guru pengajar muatan lokal tata boga termasuk dalam kualifikasi baik, namun standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam silabus tidak sesuai dengan potensi daerah yang ada; (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru pengajar muatan lokal tata boga termasuk dalam kualifikasi baik; (3) Pelaksanaan Pembelajaran teori dan praktik muatan lokal tata boga termasuk dalam kualifikasi sangat baik; (4) Pelaksanaan muatan lokal tata boga masih tidak sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat; (5) Kelemahan dari pelaksanaan pembelajaran yang ditetapkan adalah sarana untuk menunjang kegiatan pembelajaran muatan lokal tata boga masih belum maksimal; (6) Evaluasi pembelajaran siswa melalui nilai muatan lokal tata boga dari hasil pembelajaran teori lebih dari setengah (69%) responden mendapat predikat lulus amat baik, dan pembelajaran praktik sebagian besar (66%) responden mendapat predikat lulus cukup. Kesimpulan penelitian bahwa pelaksanaan pembelajaran muatan lokal tata boga dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi pembelajaran termasuk dalam kualifikasi sangat baik dan pembelajaran berjalan dengan baik.

Peningkatan keterampilan passing bawah bola voli mini menggunakan pendekatan bermain (studi tindakan pada kelas VIIA SMPN 9 Malang) / Supriono

 

Kata Kunci: Peningkatan passing bawah,Bolavoli Mini,pendekatanbermain Passing adalah teknik dasar yang harus dimiliki setiap pemain bolavoli dengan upaya mengoperkan bola yang dimainkan sesama teman yang di lapangan sendiri. Maksudnya dengan melakukan passing akan dengan mudah seorang pemain mengarahkan bola semaunya ke arah yang dikehendakinya pada teman seregunya yang nantinya bola tersebut akan dijadikan sebagai serangan terhadap regu lawan.Untuk melakukan pembelajaran passing bawah diperlukan tahapan-tahapan tertentu. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli mini pada siswa kelas VIIA SMPN 9 Malang menggunakan pendekatan bermain. Sesuai dengan tujuan dan rumusan masalah maka desain penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas. Berdasarkanhasilobservasiawal, dari 40siswahampirsemuasiswabelumbiasamelakukan passing bawah. Kesalahan yang paling banyakadalah: diperkenaan bola terjadi 36 (90%) siswa yang salah, posisi kaki 26 (65%) siswa yang salah, badan 31 (77,5%) siswa yang salah, posisilengan 33 (82,5%) siswa yang salah, arah bola 34 (85%). Setelahdilakukanperlakuanmelalaui 2 siklus massing-masing 3 kali pertemuansetiapsiklusnya, dari 42siswahampirsemuasiswabiasamelakukan passing bawah. Kebenaranansetelahdilakukantindakanhampirmencapainilaisempurnayaitu, posisi kaki sebanyak 37 siswa (88,1%) sudahbenar, posisilengan 34 siswa (80,5) sudahbenar, posisibadan 35 siswa (83,3%) sudahbenar, perkenaan bola 36 (85,7%) sudahbenar, arah bola 41 siswa (97,6%) sudahbenar Setelah melaksanakan pembelajaran pada siklus 2, peneliti dan guru melakukan refleksi melalui diskusi pada tanggal 11Desember 2012 di SMPN 9 Malang. Secara umum hasil penilaian ketrampilan pada siklus 1 mengalami peningkatan pada siklus 2. Berdasarkan hasil yang diperoleh terjadi peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli mini pada siswa kelas VIIA SMPN 9 Malang. Hal itu bisa dilihat dari 42 siswa yang tidak memenuhi nilai standart ketuntasan minimal, mengalami peningkatan karena pada siklus 2 siswa yang tidak memenuhi standart ketuntasan minimal hanya berjumlah 3 orang. Dari hasil data mengenai tingkat keberhasilan siswa dalam melakukan keterampilan passing bawah bolavoli mini pada siswa kelas VIIA SMPN 9 Malang yang telah diperoleh dari tindakan pada siklus 2, Maka dapat disimpulkan tujuan dari penelitian ini telah tercapai dan tidak perlu diadakan tindak lanjut pada siklus berikutnya.

Penerapan metode Outdoor Activity untuk peningkatan motivasi dan hasil belajar menulis puisi siswa kelas X MA Plus Al-Amien Sabrang Ambulu Jember / Muhammad Muhtarom

 

Kata Kunci: metode Outdoor Activity, menulis puisi, motivasi belajar. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 ayat I tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam belajar, tampaknya belum sepenuhnya terlaksana. Hal ini diketahui dari fakta di lapangan saat peneliti melakukan observasi di MA Plus Al-Amien Sabrang Ambulu Jember. Pada observasi itu peneliti mencatat bahwa pembelajaran menulis puisi di kelas X MA Plus Al-Amien selama ini, hanya dilakukan di dalam kelas dengan menggunakan metode ceramah. Pembelajaran seperti itu dirasa monoton dan menjenuhkan bagi siswa. Kejenuhan siswa bisa dilihat dari aktivitas siswa yang tidak terfokus pada materi pelajaran yang disampaikan guru. Dampak dari rasa jenuh memengaruhi turunnya motivasi belajar siswa, dan turunnya motivasi siswa memengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dari perolehan nilai menulis puisi siswa kelas X MA Plus Al-Amien yang hanya mencapai 59% mencapai nilai KKM yakni 75. Berangkat dari permasalahan hasil catatan lapangan di MA Plus Al-Amien Sabrang Ambulu Jember, maka peneliti mengadakan PTK untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar menulis puisi siswa kelas X MA Plus Al-Amien dengan cara memperbaiki praktik pembelajaran. Tahapan dalam penelitian ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Perencanaan, pada tahap ini direncanakan menyusun RPP, dan mempersiapkan instrumen yang dibutuhkan. Pelaksanaan, pada tahap ini dilaksanakan penerapan metode Outdoor Activity untuk peningkatan motivasi dan hasil belajar menulis puisi. Pengamatan, dilakukan oleh observer (guru bidang studi), terhadap guru untuk mengontrol keterlaksanaan tindakan dan mencatat aktivitas siswa dan guru. Refleksi, dalam refleksi diidentifikasi rencana tindakan yang terlaksana dan yang tidak terlaksana, motivasi siswa, serta hasil belajar siswa dalam menulis puisi . Teknik analisis data yang yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yakni data kualitatif dan data kuantitatif. Untuk data kualitatif teknik analisis yang digunakan yaitu: (1) reduksi data, berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting; (2) penyajian data, dapat berupa uraian singkat; (3) kesimpulan dan verifikasi. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif yakni dicari nilai rata-rata dan persentasenya. Metode yang digunakan dalam PTK ini adalah metode Outdoor Activity. Metode Outdoor Activity adalah pembelajaran yang mengajak siswa keluar kelas untuk belajar di alam terbuka. Penerapan pembelajaran Outdoor Activity dilaksanakan dalam tiga tahap. Pada tahap awal guru melakukan pendalaman materi puisi, menjelaskan cara menulis puisi yang mudah, dan menyampaikan kalau pembelajaran menulis puisi akan dilakukan di luar kelas serta menyampaikan tata tertib pembelajaran Outdoor Activity. Tahap kedua (inti), pada tahap ini siswa diajak keluar kelas menuju lokasi pembelajaran yang sejuk hijau, dan indah. Di lokasi pembelajaran siswa diminta untuk menulis puisi berdasarkan pikiran, perasaan, dan pengalaman dengan cara menulis ide dalam bentuk narasi, mengubah narasi menjadi baris bait puisi, dan menyuntingnya hingga menjadi puisi yang baik. Berdasarkan hasil analisis, pembelajaran menggunakan metode Outdoor Actvity mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi ditunjukkan dari perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran, keberanian siswa dalam menjawab pertanyaan, serta terselesaikannya semua tugas menulis puisi siswa dengan baik. Selain itu peningkatan motivasi juga tampak dari perolehan skor angket motivasi yang di siswa. Pada siklus I perolehan skor angket secara klasikal yang mendapat 69,17%, dan pada siklus II mendapat 69,55% masuk kategori baik. Selain meningkatkan motivasi belajar siswa, metode Outdoor Avtivity juga mampu meningkatkan hasil menulis puisi siswa kelas X MA Plus Al Amien Sabrang Ambulu Jember. Peningkatan hasil menulis puisi ditunjukkan dari perolehan nilai pembelajaran yang pada pra tindakan nilai rata-rata siswa adalah 72,34% dengan persentase ketuntasan 59%,. Pada siklus I, nilai siswa meningkat menjadi 81,88% dengan ketuntasan 84,375dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 87,334% dengan ketuntasan 93,375%. Peningkatan hasil belajar menulis penyebabnya antara lain: materi yang diberikan guru kepada siswa sesuai dengan kebutuhan siswa yaitu cara menulis puisi yang mudah, metode yang digunakan cocok dengan materi menulis puisi, karena dengan Outdoor Activity objek pembelajaran siswa banyak dan konkrit sehingga dapat membantu siswa dalam menemukan idenya.

Sintesis dan karakterisasi partikel Nano La1-xSrxCo03 dengan metode kopresipitasi / Muhammad Arifin

 

Kata Kunci: partikel nano, La1-xSrxCoO3, dielektrisitas, konduktivitas listrik Salah satu material yang mempunyai banyak kegunaan dan memiliki potensi yang besar pada masa yang akan datang yaitu material La1-xSrxCoO3. Senyawa La1-xSrxCoO3 atau sering dinamakan LSCO merupakan salah satu material yang menarik. Salah satu kegunanaan dan potensi aplikasinya yaitu sebagai material termoelektrik. Material termoelektrik dapat diapliksikan sebagai pendingin (refrigrator) dan generator termoelektrik yang sangat berguna untuk masa mendatang. Dalam struktur nano, material termoelektrik dapat digunakan untuk mengkonversi energi dengan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan material bulk. Material LSCO akan mempunyai sifat termoelektrik dengan efisiensi yang lebih tinggi dibanding sebelumnya jika dibentuk dalam ukuran nano karena bentuk struktur nano dari material LSCO mengakibatkan munculnya efek pembatasan gerak dari pembawa muatan listrik pada skala mikroskopik atau yang dikenal sebagai efek kuantum (quantum confinement) yang dapat meningkatkan nilai koefisien Seebeck dan konduktivitas listrik. Dalam penelitian ini, LaCoO3 didoping dengan Sr dalam bentuk La1-xSrxCoO3 (0 ≤ x ≤ 0,4). Bahan dasar yang digunakan adalah La(NO3)3.6H2O ( p.a. 99,9%), Sr(NO3)2 ( p.a. 99,9%), Co(NO3)2.6H2O ( p.a. 99,9%), dan NH4OH (p.a. 99,9%). Metode sintesis yang digunakan adalah metode kopresipitasi. Karakterisasi komposisi menggunakan XRF, struktur kristal menggunakan XRD, dielektrisitas menggunakan kapasintansi meter dan konduktivitas listrik menggunakan metode 4-point probe. Fase dan struktur kristal dianalisis dengan software Celref, ukuran butir kristal dihitung melalui persamaan Scherrer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase La1-xSrxCoO3 yang terbentuk masih relatif kecil karena adanya fase lain yang muncul yaitu La2O3 dan Co3O4. Meskipun masih ada impuritas, partikel nano La1-xSrxCoO3 telah berhasil disintesis dengan ukuran butir kristal berkisar antara 11,55 nm hingga 14,66 nm. Hasil analisis dengan program Celref menunjukkan bahwa peningkatan komposisi doping Sr2+ juga meningkatkan volume kristal senyawa partikel nano La1-xSrxCoO3. Hal ini disebabkan oleh jari-jari Sr2+ yang lebih besar menggantikan posisi La3+ yang mempunyai jari-jari yang lebih kecil. Sedangkan konstanta dielektrik yang diperoleh masih acak dan belum berpola. Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu adanya perubahan keadaan spin kobalt yaitu dari Low Spin ke Intermediate Spin. Untuk konduktivitas listrik cenderung naik dan sesuai dengan teori kecuali pada x = 0,1. Ini disebakan karena pada x = 0,1 masih didominasi oleh senyawa Co3O4.

Senior High School Teachers' Assessment on Students' Writing Skill / Hartono

 

Key words: assessment, writing assessment, writing instruction Penilaian ketrampilan menulis berperan penting dalam proses belajar-mengajar karena hasil penilaian: (1) menginformasikan kepada guru maupun siswa tentang seberapa banyak materi yang tidak atau belum dikuasai siswa; (2) membantu guru membuat keputusan tentang tujuan pembelajaran; (3) mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa untuk merencanakan kegiatan remedial; dan (4) mengetahui apakah siswa memiliki kemampuan yang cukup untuk menyelesaikan ujian. Disamping itu, tanpa penilaian, sulit untuk: (1) mengidentifikasi kebutuhan belajar individu maupun kelompok siswa; (2) mereview ketepatan tujuan maupun isi kurikulum; (3) mengidentifikasi siswa yang berkebutuhan khusus; (4) mengevaluasi kualitas pembelajaran. Disamping itu, penelitian awal tentang penilaian ketrampilan menulis menunjukkan bahwa penilaian ketrampilan menulis siswa di sekolah-sekolah menengah umum (SMU) di Kota Malang berbeda-beda. Oleh kerena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana guru SMU menilai ketrampilan menulis siswa. Penelitian ini bersifat deskriptif dan kualitatif. Data tersebut dikumpulkan melalui: (1) wawancara mendalam, dengan guru SMU yang terpilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang penilaian menulis mereka; (2) observasi kelas untuk melengkapi dan memverifikasi data yang diperoleh dari wawancara; dan (3) analisis dokumen dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan berbagai jenis penilaian yang dilakukan guru dalam ketrampilan menulis siswa. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan prosedur analisis Miles dan Huberman yang melibatkan tiga tahap: (1) reduksi data yang dilakukan dengan menyeleksi, menyederhanakan, meringkas, memilah, dan/atau mengelompokkan tema; (2) analisis dan klasifikasi data dengan menggunakan kategori-kategori yang didasarkan pada fokus masalah; dan (3) kesimpulan yang dirumuskan secara berkelanjutan sepanjang proses penelitian. Hasil analisis data menunjukkan bahwa, pertama, cara guru SMU mendifinisikan ketrampilan menulis siswa yang perlu dinilai berpijak pada pemahaman mereka terhadap konsep (construct) tentang apa yang dipahami sebagai tulisan yang baik. Tulisan yang baik: (1) adalah tulisan yang pada umumnya mengekspresikan gagasan siswa dalam diskurus tulis pendek secara terorganisir dengan menggunakan bahasa yang baik; (2) tidak hanya berkaitan dengan tulisan yang benar tettapi juga dengan apa yang diharapkan oleh pembacanya; (3) mencakup jenis tulisan yang berbeda-beda; (4) memiliki beragam bentuk. Secara lebih spesifik, tulisan yang baik: (1) memiliki tujuan yang jelas; (2) memiliki gagasan yang jelas, dan mendukung gagasan tersebut dengan informasi spesifik; (3) berisi gagasan yang menarik, penting, dan terorganisir dengan baik; (4) menggunakan kalimat-kalimat yang jelas, ringkas, dan benar; (5) mencerminkan organisasi gagasan yang logis dan efektif; dan (6) mengikuti konvensi yang benar dan komunikatif. Kedua, guru SMU menggunakan berbagai metode/teknik penilaian ketrampilan menulis siswa seperti penilaian (ketrampilan) menulis langsung, penilaian (ketrampilan) menulis tak-langsung, penilaian menulis semi-terpandu, penilaian berdasar portofolio, dan penilaian sehari-hari. Agar dapat menggunakan metode/teknik penilaian yang tepat, mereka terlebih dahulu menentukan apakah semua komponen perlu dinilai atau apakah beberapa komponen kurang penting dan tidak perlu dinilai. Ketika menerapkan metode penilaian langsung, mereka menggunakan teknik penskoran holistic dan analitik. Disamping menggunakan teknik penskoran holisitik dan analitik, mereka menggunakan cara penilaian lain yaitu memberikan umpan balik kepada siswa agar mereka dapat belajar dan melakukan perbaikan pada tulisan mereka. Terakhir, guru SMU mengkaitkan kegiatan penilaian mereka dengan proses belajar mengajar dalam beberapa cara. Pertama, mereka secara berkelanjutan melakukan penilaian kebutuhan siswa dan pembelajaran untuk memenuhi kebutuan siswa tersebut. Dalam hal ini, mereka melaksanakan penilaian untuk pembelajaran guna mengumpulkan informasi tentang kelebihan dan kekurangan siswa agar dapat memberikan umpan balik dan dukungan untuk membantu pembelajaran. Cara lainnya terlihat ketika mereka menerapkan kriteria untuk ketrampilan menulis siswa. Mereka menggunkan kriteria penskoran sebagai alat pengajaran yang bermanfaat, yang tidak hanya untuk membantu siswa memahami ketrampilan menulis secara obyektif, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Akhirnya, guru SMU memanfaatkan protofolio ketrampilan menulis siswa sebagai bagaian dari pengajaran menulis untuk menunjukkan perkembangan kemampuan menulis siswa, proses menulis siswa, dan hasil tulisan siswa, serta untuk menghimpun tulisan-tulisan siswa yang penting. Hasilnya, siswa menjadi sadar bahwa mereka diharapkan untuk memenuhi kriteria tertentu dalam semua tugas menulis mereka. Ringkasnya, penilaian ketrampilan menulis merupakan faktor penggerak penting pada apa dan bagaimana siswa belajar karena bilamana penilaian ketrampilan menulis dipadukan dengan proses belajar mengajar, siswa cenderung lebih mampu mencapai hasil belajar yang diharapkan dan diperkaya oleh pengalaman belajar mereka. Berdasarkan hasil penelitian, guru SMU disarankan untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai macam penilian menulis. Kedua, guru perlu menilai berbagai ketrampilan menulis siswa dan memberi tugas menulis dengan panjang-pendek tulisan yang berbeda-beda karena satu tugas saja tidak menggambarkan kemampuan secara utuh. Ketiga, guru perlu melibatkan siswa dalam penilaian ketrampilan menulis mereka. Keempat, guru perlu memberi umpan balik untuk mengetahui apakah siswa sudah atau belum mampu menulis dengan baik. Kelima, guru perlu memanfaatkan hasil penilaian untuk berbagai tujuan yang tepat di dalam maupun di luar kelas, misalnya: memberi bantuan kepada siswa, memberi nilai, mengevaluasi program pembelajaran.

Pengaruh tingkat inflasi,tingkat suku bunga, jumlah uang beredar (M2) terhadap nilai tukar rupiah pada dollar Amerika periode 2007-2011 / Awalludin Fajar Brata Wijaya

 

Kata Kunci : Nilai Tukar, Inflasi, Suku Bunga Tabungan, Jumlah Uang Beredar (M2). Nilai tukar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan ekonomi suatu negara. Inflasi, suku bunga, dan jumlah uang beredar mempengaruhi nilai tukar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi inflasi, suku bunga, jumlah uang beredar, dan nilai tukar rupiah serta menguji seberapa besar pengaruh inflasi, suku bunga, dan jumlah uang beredar terhadap nilai tukar selama periode 2007-2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang meliputi inflasi, suku bunga, jumlah uang beredar, dan nilai tukar rupiah periode 2007-2011. Teknik analisis penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren nilai tukar rupiah mengalami kenaikan tipis, tingkat inflasi dan suku bunga mengalami tren penurunan, jumlah uang beredar mengalami tren kenaikan. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan inflasi, suku bunga, dan jumlah uang beredar tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar. Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang dikemukakan adalah sebaiknya pemerintah perlu untuk melindungi nilai tukar dalam negeri dari pengaruh ekonomi global yang cenderung negatif. Perusahaan hendaknya melakukan hedging dalam melakukan transaksi valas. Investor perlu untuk melakukan diversifikasi investasi karena fundamental perekonomian yang tidak menentu yang dapat mempengaruhi surat berharga. Bagi peneliti lanjut menambahkan variabel lainnya untuk penelitiannya, terutama variabel dari surat berharga.

Analisis penerapan SAP ERP (System Application and Product Enterprise Resources Planning) pada PT. PLN (Persero) Area Madiun / LLana Aristya Mustika Huda

 

Penerapan pembelejaran akuntansi dengan pendekatan PEKEM (Pembelajarn, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi (studi pada siswa kelas XI-IPS 2 SMA Negeri 9 Malang) / Nur Rahmi Yuanita

 

Kata Kunci : PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), prestasi belajar. Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar peserta didik di sekolah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan seorang guru adalah memilih pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisispasi secara aktif sehingga dapat memahami materi yang dipelajari dan menguasai keterampilan yang diperlukan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang tepat adalah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan PAKEM dengan materi Persamaan dasar akuntansi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa PAKEM merupakan pembelajaran yang melibatkan keaktifan seluruh siswa sehingga siswa lebih kreatif dan proses belajar mengajar dapat berlangsung efektif dan menyenangkan yang memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kreatif selama proses belajar mengajar dan saling bekerjasama dengan teman. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan metode kualitatif yang dilakukan dalam 2 siklus yaitu pada bulan Juni 2010. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung dari subyek penelitian yaitu siswa kelas XI-IPS 2 SMA Negeri 9 Malang sebanyak 40 siswa. Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Persamaan Dasar Akuntansi dan Laporan Keuangan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara tidak terstruktur, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa PAKEM dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa, menjadikan pembelajaran efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar siswa meningkat pada siklus I dan siklus II yaitu nilai rata-rata hasil penelitian ranah kognitif sebesar 30% sedangkan siklus II menjadi 90%. Rata-rata hasil penelitian afektif pada siklus I sebesar 72,1% dan pada siklus II sebesar 88,3%, sedangkan rata-rata hasil penilaian ranah psikomotorik pada siklus I sebesar 70% dan pada siklus II menjadi 85,8%. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan PAKEM dapat meningkatkan keaktifan dan kreatifitas siswa, menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga meningkatkan prestasi belajar siswa

Pembelajaran Guided Inquiry untuk mengembangkan kecakapan hidup, hasil belajar dan partisipasi melalui pelajarn biologi di SMP Surakarta / Sri Widoretno

 

Kata kunci: Kecakapan hidup, guided inquiry, kemampuan akademik, Kecakapan hidup adalah serangkaian keterampilan yang diperlukan untuk hidup di masyarakat. Kecakapan hidup dapat diperoleh dari lingkungan, sekolah formal dan non formal. Keterampilan yang termasuk dalam kecakapan hidup ada-lah: (1) personal, (2) berpikir rasional yang meliputi: menggali, menemukan, mengolah informasi dan mengambil keputusan serta memecahkan masalah, (3) sosial meliputi: keterampilan lisan, tulisan, kerjasama dan mengelola konflik/me-ngendalikan emosi, (4) akademik meliputi: keterampilan mengobservasi, meran-cang kegiatan, menyusun hipotesis, mengkoleksi data, (5) keterampilan vokasi-onal meliputi: keterampilan melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan pengeta-huan yang dipelajari dan keterampilan membuat produk. Hasil belajar terdiri dari tes kognitif dan metakognitif, sedangkan partisipasi terdiri dari partisipasi sebe-lum, saat dan paska kegiatan. Proses pembelajaran guided inquiry teridentifikasi melatihkan sejumlah keterampilan serta meningkatkan hasil belajar dan partisipasi di setiap fasenya. Pembelajaran guided inquiry merupakan jembatan antara kete-rampilan yang diperlukan di era pengetahuan dengan hasil pendidikkan yang di-butuhkan, khususnya keterampilan yang diharapkan oleh masyarakat. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan dan eksperimen yang mem-punyai tujuan: (1) menghasilkan perangkat pembelajaran guided inquiry sebagai usaha mengembangkan keterampilan dalam kecakapan hidup, hasil belajar dan partisipasi. (2) Mengkaji pengaruh pembelajaran guided inquiry pada pebelajaran Biologi terhadap kecakapan hidup, hasil belajar dan partisipasi. (3) mengkaji pengaruh kemampuan akademik terhadap kecakapan hidup, hasil belajar dan par-tisipasi. (4) Mengkaji pengaruh interaksi antara kemampuan akademik dengan pembelajaran guided inquiry terhadap kecakapan hidup, hasil belajar dan parti-sipasi. Pengembangan perangkat menggunakan model analisis Kemp, Morrison & Ross, yang dilakukan dengan menggunakan Lesson Study (LS) yang melibatkan 35 guru Biologi SMPN Surakarta. Rancangan eksperimen menggunakan kuasi eksperimen pretes-postes non equivalent control group design. Variabel bebas adalah kemampuan akademik dan pembelajaran. Variabel terikat adalah keca-kapan hidup, hasil belajar dan partisipasi. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN di Surakarta. Penentuan sampel menggunakan acak random sampling untuk menetapkan 2 sampel sekolah. Setiap sekolah diambil 2 kelas se-cara acak. Sampel penelitian sebanyak 120 yang terdiri dari 60 pebelajar ber-kemampuan akademik atas dan 60 berkemampuan akademik bawah. Kecakapan hidup dan partisipasi diukur menggunakan assesment performance, hasil belajar kognitif diukur dengan tes pilihan ganda, metakognitif diukur dengan merefleksi pengetahuan yang telah dipelajari. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan Anakova yang dilanjutkan uji LSD. Uji prasyarat normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji homogenitas menggunakan uji Levene’s, yang teknis pelaksanaannya menggunakan program SPSS versi 16,0 pada taraf signifikansi 0,05 (P < 0,05). Hasil pengembangan perangkat menunjukkan perangkat pembelajaran guided inquiry dapat dipergunakan untuk meningkatkan kecakapan hidup, hasil belajar dan partisipasi. Hasil penelitian eksperimen adalah: (1) Pembelajaran guided inquiry pada pelajaran Biologi berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup dan partisipasi, namun tidak berpengaruh signifikan pada hasil belajar tes kognitif. (2) Kemampuan akademik berpengaruh terhadap kecakapan hidup, hasil belajar dan partisipasi. Skor terkoreksi terbesar pada semua variabel terikat di-temukan pada kelompok yang mempunyai kemampuan akademik atas, namun persentase peningkatan skor lebih banyak ditemukan pada kelompok kemampuan akademik bawah. (3) Interaksi antara kemampuan akademik dengan pembelajaran guided inquiry berpengaruh terhadap kecakapan hidup dan partisipasi. (4) Inter-aksi antara kemampuan akademik dengan pembelajaran guided inquiry berpeng-aruh tidak signifikan pada tes kognitif dan metakognitif. Secara umum pembelajaran guided inquiry dapat meningkatkan potensi keterampilan yang dimiliki individu yang belajar, khususnya pada kelompok yang mempunyai kemampuan akademik bawah. Keuntungan pengelompokan akademik homogen dapat menjadi dasar pemetaan untuk prioritas pengembangan keprofe-sionalan guru dalam pembelajaran yang dapat mempengaruhi berkembangnya potensi keterampilan dalam kecakapan hidup pada pebelajar. Dasar untuk mem-perbaiki pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kecakapan hidup, hasil belajar dan partisipasi pada mata pelajaran Biologi dapat dilakukan dengan cara: (1) Membangun komitmen antara kepala sekolah dan semua guru serta adminis-trasinya, untuk secara bersama menyusun perangkat pembelajaran guided inquiry. (2) Kerjasama antara guru di lingkungan sekolah dan guru sebidang melalui MGMP untuk mengembangkan pembelajaran guided iquiry. (3) Guru memahami setiap langkah yang mendasari tujuan yang akan dicapai dari setiap keterampilan yang ditunjukkan melalui RPP. (4) Mengusahakan kontekstual pada setiap topik yang dipelajari. (5) Memahami setiap fase dan tahapan pembelajaran guided inquiry. (6) Kerjasama dengan LPTK sebagai penghasil guru dilakukan lebih re-alitis dan operasional yang bermanfaat untuk memperbaiki masa depan pendidik-an khususnya dalam hal pembelajaran.

Tingkat pemahaman kompetensi pada guru sebagai pendidik anak usia dini di pos paud wilayah Kota Malang / Ceria Justitia

 

Kata Kunci: tingkat pemahaman, kompetensi guru, pendidik anak usia dini Pendidikan anak usia dini memerlukan penanganan yang khas dibandingkan dengan pendidikan lainnya, karena anak usia dini memiliki karakteristik perkembangan dan cara belajar yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih tua, sehingga diperlukan bimbingan yang khas pula agar anak dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik anak usia dini dituntut untuk memiliki kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Mengingat sebagian besar layanan pendidikan anak usia dini dilakukan oleh tenaga pendidik dengan kemampuan dasar yang bervariasi dengan berbagai latar belakang pendidikan yang tidak sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman guru terhadap kompetensi yang harus dimiliki sebagai pendidik anak usia dini di POS PAUD wilayah Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitaif yang bersifat deskriptif dengan teknik penelitian cluster random sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah POS PAUD di wilayah Kota Malang dengan mengambil 34 guru sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Untuk teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif yang meliputi analisis frekuensi, persentase, dan rerata. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan pemahaman guru terhadap kompetensi pedagogik yang termasuk dalam kualifikasi sangat baik adalah mengembangkan kemampuan peserta didik. Pada kompetensi kepribadian menunjukkan pemahaman guru yang sangat baik adalah untuk indikator memiliki kepribadian yang mantap dan stabil. Untuk kompetensi sosial, pemahaman guru yang termasuk dalam kualifikasi sangat baik adalah berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat. Sedangkan untuk kompetensi profesional menunjukkan bahwa pemahaman guru yang termasuk dalam kualifikasi sangat baik adalah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri. Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dalam menjalin hubungan dengan guru POS PAUD di wilayah Kota Malang, diharapkan dapat saling menambah pengetahuan dalam mengembangkan kemampuan peserta didik. Memanfaatkan teknologi informasi berupa media cetak dan elektronik dalam mengembangkan kemampuan dan pengetahuan mengenai pendidikan anak usia dini.

Pemanfaatan media boneka tangan untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas VII A MTs NU Pakis Malang / Nasai

 

Kata Kunci: bercerita, media boneka tangan, pembelajaran bercerita. Bercerita merupakan kemampuan mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan untuk kehidupan bersama dan kemajuan bersama. Suatu hasil dapat dikatakan tinggi mutunya apabila kemampuan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki para lulusan berguna bagi perkembangan bagi selanjutnya baik di lembaga sekolahnya atau dimasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana siswadapat berbicara atau bercerita. Penelitian ini membahas bagaimana cara memanfaatkan boneka sebagai media bercerita. Berbicara khususnya bercerita akhir-akhir ini jarang didengar, yang terdengar hanya pada acara televisi saja yaitu lomba bercerita. Hal ini juga terjadi pada sekolah-sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mencari solusi atau model-model pembelajaran yang variatif dan kreatif agar siswa dapat bercerita dengan baik. Dengan kreatifitas guru, siswa dapat meningkatkan berbicaranya atau dalam hal ini adalah bercerita. Kreatif yang dimaksud adalah dengan media boneka tangan. Media ini digunakan untuk memudahkan siswa dalam bercerita. Dengan media boneka siswa dapat mengeluarkan gagasan-gagasan atau ide-idenya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara atau bercerita siswa melalui boneka tangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Yang dilaksanakan dalam dua siklus. Data proses dalam penelitian ini berupa hasil wawancara, observasi, foto-foto dan rekaman cerita. Data hasil dalam penelitian ini berupa peningkatan kemampuan bercerita dengan media boneka tangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan bercerita siswa MTs NU Pakis Malang. Tahap-tahap yang dilakukan adalah menyiapkan boneka, menyusun pokok-pokok cerita, dan bercerita. Keaktifan siswa selama pembelajaran keterampilan berbicara khususnya bercerita dengan menggunakan boneka tangan meningkat. Siklus I meningkat 52,3% dan siklus II meningkat 63,5%. Hasil belajar juga meningkat dari siklus I mencapai rata-rata 45,8% dan pada silkus II mencapai 64,1%.

Studi kasus motif batik produksi industri batik " Nakatatimico" di kota Probolinggo / Endri Eko Wicaksono

 

Kata kunci: batik, motif batik probolinggo di Nakatimico, perkembangan motif batik produksi Nakatimico Batik adalah salah satu warisan budaya nenek moyang bagi bangsa Indonesia. Karena itulah, seyogyanya Pemerintah dan masyarakat saling bahu-membahu untuk melestarikan warisan budaya ini. Batik kemudian diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. Sebagai salah satu kota di Provinsi Jawa Timur, kota Probolinggo saat ini sedang mengembangkan kerajinan Batik. Batik khas Probolinggo merupakan hal baru yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pemerintah, masyarakat, dan para pengrajin batik di Probolinggo. Meskipun tergolong baru, namun batik Probolinggo sudah mempunyai banyak prestasi. Nakatimico Batik adalah salah satu penyumbang prestasi tersebut. Yaitu sebuah UKM (Usaha Kecil Menengah) sekaligus sekolah pelatihan batik bagi para remaja-remaja putus sekolah. Tujuan penelitian secara rinci adalah (1) Mengidentifikasi motif batik Probolinggo produksi Nakatimico, dan (2) Mengetahui perkembangan motif batik produksi Nakatimico. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tulisan hasil wawancara dan gambar visual berupa aktifitas dan hasil karya batik Nakatimico. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, motif-motif batik Probolinggo karya Nakatimico merupakan batik modern. Dan jika dilihat dari ragam corak dan warna yang digunakan merupakan batik pesisiran. Dari segi bentuk motifnya, motif-motif pada batik karya Nakatimico adalah motif-motif non-geometris. Dikarenakan tidak ada unsur bentuk atau bangun di dalam motifnya. Kedua, Nakatimico dalam pengembangan motifnya selalu melakukan inovasi setiap bulannya. Dari bulan Februari sampai bulan Desember, motif batik karya perajinnya semakin rumit. Saat ini para perajin sedang belajar membuat motif batik gunung bromo. Bentuk-bentuk pada motif semakin detail dan bervariasi. Selain pengembangan motif, Nakatimico juga mempelajari ilmu desain batik.

Pengaruh DCMR, ICMR, acquring cost, overhead cost, dan NPF terhadap pendapatan margin murabahah pada Bank Syariah di Indonesia tahun 2012 / Akhmad Faris Jazuli

 

Kata Kunci: DCMR, ICMR, acquiring cost, overhead cost, NPF, pendapatan margin murabahah. Perbankan syariah di Indonesia semakin berkembang pesat dan menunjukkan eksistensinya, yang dibuktikan dengan jumlah profitabilitas bank syariah yang semakin meningkat. Ada beberapa jenis pembiayaan di bank syariah, salah satunya adalah murabahah. Pembiayaan murabahah sering kali menjadi pilihan nasabah sehingga kontribusinya terhadap pendapatan juga besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh DCMR (Direct Competitor Market Rate), ICMR (Indirect Competitor Market Rate), acquiring cost, overhead cost, NPF (Non Performing Finance) terhadap besarnya pendapatan margin murabahah bank syariah pada periode bulan Januari-Mei tahun 2012. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi yaitu deskriptif dan kausalitas. Populasi penelitian ini adalah bank syariah yang terdiri dari bank umum syariah dan unit usaha syariah di Indonesia. Sampel penelitian ada 8 bank umum syariah yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Sedangkan teknis analisis data menggunakan teknik analisis regresi. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa: (1) DCMR berpengaruh negatif signifikan terhadap pendapatan margin murabahah bank syariah; (2) overhead cost berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan margin murabahah bank syariah; (3) ICMR, acquiring cost, dan NPF tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan margin murabahah bank syariah pada periode bulan Januari-Mei tahun 2012. Berdasarkan hasil analisis dan temuan dalam penelitian ini, penulis menyarankan: (1) bagi nasabah hendaknya selektif dalam memilih jenis pembiayaan di bank syariah maupun kredit di bank konvensional, hendaknya seorang nasabah tidak hanya memburu keuntungan semata tetapi juga harus memperhatikan ketentuan syariat Islam; (2) bagi bank syariah yang akan memberikan pembiayaan murabahah dan akan melakukan ekspansi perusahaan hendaknya mempertimbangkan beberapa faktor yaitu ICMR, acquiring cost, dan NPF agar nantinya bisa mendapatkan profitabiltas yang maksimal; (3) bagi peneliti selanjutnya sebaiknya dalam penelitian menggunakan periode tahunan, bukan bulanan agar hasilnya lebih valid, dan juga harus benar-benar memperhatikan indikator setiap variabel yang akan diteliti.

Pengembangan media pembelajaran audiovisual untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada standar kompetensi melakukan prosedur keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja (studi pada siswa kelas X administrasi perkantoran SMK PGRI 3Blitar) / Rusi Widiyanti

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Audiovisual, Motivasi dan Hasil Belajar Media pembelajaran audiovisual digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Siswa belajar dengan menyenangkan sehingga dapat mengetahui dan memahami ilmu yang ditransformasikan oleh guru. Pengembangan media audiovisual pada standar kompetensi Melakukan Prosedur Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Materi pembelajaran yang sebagian besar bersifat teori perlu diimbangi dengan adanya contoh-contoh secara visualisasi untuk mengurangi kejenuhan siswa. Sarana dan prasarana sekolah yang mendukung dalam pengembangan media pembelajaran audiovisual sehingga dapat meningkatkan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, pengembangan ini mengangkat judul Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Pada Standar Kompetensi Melakukan Prosedur Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Studi Pada Siswa kelas X Administasi Perkantoran di SMK PGRI 3 Blitar). Adapun tujuan pengembangan adalah untuk menghasilkan bentuk pengembangan media pembelajaran audiovisual yang baik dan menarik untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada standar kompetensi Melakukan Prosedur Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Selain itu, untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa X AP 1 di SMK PGRI 3 Blitar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan media audiovisual yang mengadopsi dari model Dick and Carey dengan tahapan (1) Analisis Kebutuhan, (2) Analisis Pembelajaran, (3) Analisis Karakteristik Siswa dan Lingkungan, (4) Merumuskan Tujuan Khusus, (5) Mengembangkan Instrumen Penelitian, (6) Mengembangkan Strategi Pembelajaran, (7) Mengembangkan Materi Pembelajaran, (8) Merancang dan Mengembangkan Evaluasi Formatif, dan (9) Revisi Pembelajaran. Hasil validasi ahli materi mencapai 83,65% yang menyatakan media valid/dapat digunakan dan untuk hasil validasi ahli media mencapai 82,69% yang menyatakan media valid/dapat digunakan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah media audiovisual mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi dapat dilihat dari hasil angket dimana 80% siswa menjawab bahwa media pembelajaran audiovisual mampu meningkatkan motivasi belajar. Hasil belajar siswa dari hasil posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen melalui t-test independent sample yang memperoleh nilai signifikan 0.000 < 0.05, dimana H0 ditolak sehingga menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Saran kepada guru khususnya, untuk menggunakan media audiovisual sebagai alternatif dalam mengatasi masalah belajar siswa khususnya dalam standar kompetensi Melakukan Prosedur Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, tetapi untuk penerapan di sekolah perlu memperhatikan karakteristik siswa dan sekolah yang bersangkutan. Selain itu, dalam penggunaan media audiovisual hendaknya guru menggunakan sound yang baik agar suara dapat diterima dengan baik oleh siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Regulasi apoptosis pada sel hela oleh gen cWNT5A / Anggraeni Widyaningsih

 

Kata kunci: Sel HeLa, cWNT5A, Apoptosis Sel kanker memiliki perbedaan karakteristik fisiologis dibandingkan dengan sel normal, salah satunya adalah mencegah kematian sel terprogram (apoptosis). Kanker serviks dikenal sebagai kanker dengan prevalensi tertinggi kedua pada wanita di seluruh dunia setelah kanker payudara. Infeksi HPV dilaporkan menyebabkan 99,7% dari kanker serviks dengan menghambat beberapa protein supressor tumor. Up regulasi gen WNT5A dilaporkan terjadi pada sel HeLa, yang merupakan model sel kanker serviks. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran gen WNT5A dalam apoptosis sel HeLa. Dalam penelitian ini ditransfeksikan virus RCAS pembawa cWNT5A ke sel HeLa sebagai kelompok perlakuan RCAS pembawa EGFP sebagai kontrol possitive, dan sel HeLa tanpa perlakuan sebagai kontrol negatif. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol negatif dan possitive (p <0,05) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kontrol positif dan negatif. Relevansi antara waktu transfeksi (x) dan Rasio Apoptosis (Y) dapat dijelaskan oleh persamaan Y = - 0,001 x2 + 0,104 x + 0,07. Meningkatnya tingkat apoptosis diperkirakan disebabkan oleh efek cWNT5A. Hubungan non linier antara waktu transfeksi dan tingkat apoptosis mungkin disebabkan oleh sel yang ditanam overplating dan kurang optimalnya bloking pada imunositokimia.

Pengembangan objek wisata pantai Tambakrejo kabupaten Blitar berdasarkan kajian geografis / Mustika Yeti Puspito

 

Kata kunci : wisata pantai, strategi pengembangan, kajian geografis Kabupaten Blitar bagian Selatan merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, oleh sebab itu salah satu potensi yang dimiliki oleh Kabupeten Blitar adalah potensi pariwisata pantai. Pariwisata pantai merupakan salah satu kegiatan wisata alam yang memanfaatkan daerah pesisir pantai untuk kegiatan wisata. Pantai Tambakrejo merupakan salah satu objek wisata pantai unggulan yang telah dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Blitar, melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata. Untuk menjadi sebuah objek wisata yang mampu bersaing dengan objek wisata lainnya, khususnya objek wisata di Kota Blitar, maka potensi yang cukup besar ini seharusnya dapat dikelola dan dikembangkan dengan strategi yang tepat dan sesuai dengan keragaman baik faktor internal maupun eksternal yang dimiliki berdasarkan kajian geografisnya, baik fisik maupun non fisiknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan kondisi fisik objek wisata Pantai Tambakrejo dalam mendukung usaha pengembangan Pantai Tambakrejo, (2) mengetahui usaha pengembangan yang telah dilakukan di objek wisata Pantai Tambakrejo, dan (3) mengetahui arahan pengembangan yang tepat untuk pengembangan objek wisata Pantai Tambakrejo. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini terbagi dalam tiga tahapan, tahap pertama adalah tahap observasi awal untuk memperoleh data awal mengenai kondisi terkini objek penelitian, tahap kedua merupakan tahap pengumpulan data, tahap terakhir adalah analisis data dengan menggunakan teknik scorring, tabulasi tunggal, dan SWOT. Hasil dari penelitian ini adalah (1) kondisi fisik objek wisata pantai Tambakrejo sangat sesuai dan mendukung pengembangan Pantai Tambakrejo menjadi sebuah objek wisata, (2) usaha pengembangan yang telah dilakukan oleh pengelola objek wisata Pantai Tambakrejo sudah cukup baik, namun masih ada beberapa usaha yang masih perlu ditingkatkan terutama dalam hal kebersihan, keamanan dan pemeliharaan fasilitas (3) pengembangan yang tepat untuk dilakukan adalah dengan memaksimalkan potensi yang ada, baik kondisi fisik maupun unsur pengembangan yang telah ada untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, arahan strategi yang dapat dilakukan adalah memberdayakan utamanya masyarakat sekitar untuk bersama-sama memelihara dan melestarikan sumberdaya wisata Pantai Tambakrejo, dan membuka peluang pada pihak luar atau investor untuk menanamkan modalnya, terutama untuk pengadaan sarana dan prasarana pendukung objek wisata. Saran yang dapat diberikan adalah (1) untuk Pemerintah Daerah terutama pengelola objek wisata Pemerintah daerah terutama pengelola objek wisata hendaknya lebih meningkatkan kinerjanya terhadap upaya pengembangan yang dilakukan. Selain peningkatan kinerja secara internal, pemerintah juga dapat melibatkan masyarakat sekitar dalam proses pengembangan objek wisata Pantai Tambakrejo karena langsung maupun tidak masyarakat merupakan pihak yang juga mendapatkan keuntungan dari dikembangkannya Pantai Tambakrejo, (2) untuk masyarakat sekitar diharapkan ikut berpartisipasi dalam pengembangan dan pelestarian objek wisata Pantai Tambakrejo, (3) selain pemerintah dan masyarakat sebagai pihak pengelola, pengunjung juga diharapkan ikut berpartisipasi dalam pengembangan objek wisata Pantai Tambakrejo, seperti dalam hal menjaga kebersihan dan penyebaran informasi.

Penerapan model pembelajaran mind mapping dalam meningkatkan kreativitas dan penguasaan materi pada mata pelajaran IPS terpadu siswa kelas VIII-F SMP negeri 8 kota Malang / Sinta Wijaya Sari

 

Kata Kunci: Mind Mapping, kreativitas dan penguasaan materi. Berdasarkan hasil observasi bahwa yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 22 Oktober 2012 dengan guru IPS Terpadu SMP Negeri 8 Malang diketahui bahwa siswa cenderung malas untuk mencatat, hal ini dikarenakan pembelajaran yang dilakukan masih bersifat teacher oriented dimana keadaan ini dapat menjadikan permasalahan di dalam kelas. Keadaan seperti itu menjadikan siswa cenderung bosan, dan pasif. Untuk mengatasi hal ini diperlukan suatu pembelajaran yang tepat, menarik dan menyenangkan yaitu model pembelajaran Mind Mapping yang diharapkan dapat membantu siswa untuk mengasah cara berpikir mereka terhadap suatu konsep secara kreatif dalam berpikir dan meningkatkan penguasaan materi siswa yang terlihat dari pencapaian hasil belajar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan penguasaan materi siswa. penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-F SMP Negeri 8 Malang dengan jumlah 40 siswa yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan tahun ajaran 2012-2013. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa kemampuan kreativitas dan hasil belajar ranah kognitif dan afektif dalam mengetahui penguasaan materi siswa. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan penguasaan materi siswa kelas VIII-F. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya persentase hasil penguasaan materi siswa siklus I yang meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 40,7% . Peningkatan penguasaan materi siswa dapat terlihat dari hasil ketuntasan hasil belajar siswa ranah kognitif. Dan selain nilai kognitif yang diteliti, kreativitas siswa juga merupakan bagian dari penilaian dalam mengetahui peningkatan dalam penelitian yang dilakukan guru, peningkatan kreativitas menunjukkan 33,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan kreativitas dan penguasaan materi siswa kelas VIII-F SMP Negeri 8 Malang. Untuk guru mata pelajaran IPS Terpadu disarankan bahwa model ini dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan kreativitas dan penguasaan materi siswa.

Komunikasi simbolik pada wanita dewasa awal tipe cinta pragma / Deas Adam Pradana

 

Kata Kunci: Komunikasi Simbolik, Wanita Dewasa Awal, Tipe Cinta Pragma Pada dasarnya, pria dan wanita memiliki cara komunikasi yang cenderung berbeda. Alan dan Barbara (2005) menjelaskan bahwa telah ditemukan perbedaan mendasar pada otak pria dan wanita yang menyebabkan perbedaan pada cara kerjanya sehingga wanita cenderung memiliki kosa kata yang lebih kaya dari pada pria. Hal tersebut secara tidak langsung berimbas pada saat berkomunikasi dan menyebabkan wanita berkomunikasi dengan orientasi makna secara simbolik. Pada tipe cinta pragma dari teori tipe cinta yang dikemukakan Lee (dalam Hendrick dan Hendrick, 1986) secara garis besar mendeskripsikan bahwa cinta dipandang sebagai sebuah hubungan yang praktis, dimana di dalamnya terdapat sebuah kerja sama dan timbal balik antar individu yang dirasa dapat membuat kehidupan mereka satu sama lain menjadi lebih baik. Dengan demikian, para pecinta tipe pragma lebih memiliki kecenderungan besar untuk membina sebuah hubungan yang serius, dikarenakan mereka lebih menekankan dasar timbal balik pada suatu hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan lebih lanjut mengenai bentuk komunikasi simbolik pada tipe cinta pragma wanita dewasa awal, yaitu bagaimana proses terjadinya interaksi dan komunikasi dari wanita ketika memberikan isyarat-isyarat atau simbol-simbol ketertarikan pada lawan jenis, sehingga kedekatan hubungan dapat terjalin dengan baik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif studi kasus. Dengan penelitian studi kasus, maka penelaahannya dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrument manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai pengumpulan data, tahap reduksi data dan kategorisasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan, pertama, ketika subjek mulai merasa tertarik kepada seseorang, bentuk komunikasi simbolik yang pertama adalah subjek akan semakin sering mengajak orang tersebut berbicara saling bertukar pikiran dan pandangan. Selain itu, pada saat proses perbincangan berlangsung, subjek juga akan lebih cenderung memperlihatkan tanda penerimaan baik secara verbal maupun non verbal. Kedua, ketika subjek menunjukan tanda penolakan, subjek akan cenderung untuk menghindari perbincangan dengan seseorang. Tanda penolakan juga ditunjukkan secara verbal maupun non verbal. Pada verbal, penolakan ditunjukan pada pemilihan kata yang cenderung singkat dan tajam serta mengarahkan untuk segera mengakhiri pembicaraan sesegera mungkin. Pada non verbal, ditunjukkan dengan gerak tubuh yang cenderung menjauh dari orang tersebut untuk menghindari terjadinya pembicaraan.

Penerapan model pembelajaran investigasi kelompok untuk meningkatkan hasil belajar dan efikasi diri siswa kelas V SD / Nury Yuniansih

 

Kata kunci: model pembelajaran investigasi kelompok, hasil belajar, efikasi diri, dan IPA SD Pembelajaran IPA di sekolah dasar bukan sekedar menentukan penguasaan materi, tetapi minat siswa memiliki peranan penting. Siswa yang berminat akan merasakan bahwa pembelajaran IPA itu menyenangkan sehingga siswa akan antusias dalam pembelajaran. Berdasarkan observasi di SDN Bandungrejosari 3 Malang, siswa terlihat pasif karena pembelajaran terpusat pada guru. Siswa mendengarkan penjelasan guru, mencatat apa yang disampaikan dan mengerjakan tugas yang diberikan. Hal ini menyebabkan siswa hanya menghafal materi, menurunnya keaktifan siswa, dan kurangnya motivasi siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok pada mata pelajaran IPA kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang; (2) hasil belajar siswa setelah menerapkan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok; (3) efikasi diri siswa selama menerapkan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 33 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK yang meliputi empat tahap yaitu: 1) planning, 2) acting, 3) observing dan 4) reflecting. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini meliputi: wawancara, observasi, angket, pretest dan postest, perangkat pembelajaran, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran investigasi kelompok sesuai untuk diterapkan pada pembelajaran IPA. Hal ini dibuktikan dengan meningkatkan hasil belajar dan efikasi diri siswa kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang. Diketahui dari hasil belajar kognitif siswa siklus I yaitu 62,75 meningkat pada siklus II yaitu 75,18. Hasil belajar afektif, pada siklus I yaitu 67,42% terjadi peningkatan pada siklus II yaitu 83,18%. Selain itu, hasil observasi efikasi diri siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I yaitu 60,75% meningkat menjadi 85,35% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran investigasi kelompok sesuai untuk diterapkan pada pembelajaran IPA kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang. Disarankan agar guru memilih model pembelajaran Investigasi kelompok ini dalam pembelajaran IPA atau pembelajaran lain yang sesuai. Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan model investigasi kelompok, sebaiknya dilakukan perencanaan yang matang agar tidak terjadi kesalahan di kelas. Selain itu, guru juga harus menyiapkan sumber belajar yang tepat dan fasilitas yang dibutuhkan siswa.

The narative formula of superhero stories; a genre analysis / Venni Rani Effendi

 

Kata kunci: Cerita Superhero, Semiotik, formula naratif Banyak orang yang melihat cerita superhero sebagai hiburan yang sangat menarik, entah karena teknologinya, jalan ceritanya, atau karakter-karakternya. Dengan membawa label pahlawan dan penjahat, cerita superhero ini berhasil membawa masyarakat untuk melihat apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap jahat. Akan tetapi, apabila digali lebih lanjut, akan kita temukan pesan-pesan yang tersembunyi di dalam label itu. Hal ini tidak hanya terdapat pada satu genre cerita superhero saja, tetapi bermacam-macam cerita superhero termasuk termasuk cerita dari Dragon Age: Dawn of the Seeker, Harry Potter, Iron Man, Kung Fu Panda, dan Thor. Dalam studi ini, penulis mempelajari studi tentang cerita superhero menggunakan kacamata Semiotik yang bertumpu pada nilai ‘baik’ dan ‘jahat’ dan bagaimana naratif tersebut menggambarkan ideologi penguasa. Studi ini akan difokuskan pada penjabaran kesamaan di balik nilai-nilai dan karakter lewat representasi tokoh dan alur cerita dari film yang berbeda genre seperti Dragon Age: Dawn of the Seeker, Harry Potter, Iron Man, Kung Fu Panda, dan Thor. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pola dari cerita-cerita superhero tersebut dan menemukan apa yang sebenarnya dibela oleh superhero apabila label baik dan jahat itu dihilangkan. Hasil studi ini menunjukkan menjelaskan formula atau pola dari cerita-cerita superhero tersebut lewat karakternya; pahlawan ada orang berkemampuan yang menjaga tradisi lama, penjahan adalah kaum minoritas yang menawarkan sistem baru kepada masyarakat. Teks ini memang membawa ideologi dari kelas penguasa. Jadi, melihat cerita superhero dari sudut pandang Semiotik merupakan cara baru yang lebih kritis untuk mengkaji nilai baik dan buruk dalam cerita superhero karena nilai-nilai tersebut terkonstruksi lewat karakter utamanya; pahlawan dan penjahat.

Analysis of hedging expressions used in the discussion section of graduate students' thesis / Intan Zakiyah

 

Kata Kunci: Ekspresi Pembatasan (Hedging), Bab Pembahasan, Tesis Mahasiswa Pasca Sarjana Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan ekspresi pembatasan (hedging) pada bab pembahasan dari tesis mahasiswa pasca sarjana. Terdapat dua rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimanakah maksim-maksim dibatasi dalam bab pembahasan pada tesis mahasiswa pasca sarjana? (2) Mengapa ekspresi pembatasan (hedging) terjadi dalam bab pembahasan pada tesis mahasiswa pasca sarjana? Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hal ini dikarenakan seluruh kumpulan data ada dalam bentuk kata-kata. Sumber data dalam penelitian ini adalah ucapan/ungkapan yang ditemukan dalam bab pembahasan pada tesis mahasiswa pasca sarjana. Bab pembahasan menyajikan beberapa ungkapan atau pernyataan peneliti yang merupakan bagian terpenting dalam penelitian yang menggabungkan teori, pendapat, analisis dan hasil. Data yang digunakan adalah bab pembahasan pada tesis mahasiswa pasca sarjana dari tahun akademik 2007 sampai 2010. Ada empat kategori tesis yang digunakan sebagai data; data tersebut dilengkapi menggunakan desain Penelitian Tindak Kelas, Penelitian dan Pengembangan, Kualitatif, serta Eksperimental. Dari masing-masing desain hanya diambil tiga tesis. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi terjadinya pembatasan (hedging) ada pada desain Eksperimental; terdapat 402 (37.12%) ekspresi pembatasan (hedging) yang ditemukan pada desain Eksperimental. Kemudian di urutan kedua ada pada desain Kualitatif; ada 319 (29.46%) ekspresi pembatasan (hedging) yang terjadi pada desain Kualitatif. Selanjutnya ada pada desain Penelitian dan Pengembangan; terdapat 190 (17.54%) ekspresi pembatasan (hedging) yang terjadi pada desain Penelitian dan Pengembangan. Dan yang terakhir ada pada desain Penelitian Tindak Kelas; ada 172 (15.88%) ekspresi pembatasan (hedging) yang terjadi pada desain Penelitian Tindak Kelas. Desain yang paling banyak memuat ekspresi pembatasan (hedging) adalah desain Eksperimental dan Kualitatif. Hal ini dapat dikarenakan oleh prosedur dari penelitian Eksperimental dan Kualitatif itu sendiri. Para penulis harus menguraikan pembahasan mereka secara kualitatif, yang memberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat mereka sebanyak mungkin. Sedangkan desain Penelitian dan Pengembangan serta Penelitian Tindak Kelas cenderung menjabarkan hasil penelitian pada bab pembahasan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh. Ekspresi-ekspresi pembatasan (hedging) tersebut digunakan untuk menunjukkan kurangnya kepercayaan diri mereka akan kebenaran dari pernyataannya, untuk menunjukkan bahwa komitmen terhadap pernyataannya terbatas, serta untuk mengurangi resiko konfrontasi. Hasilnya juga menunjukkan bahwa maksim kualitas dibatasi ketika informasi atau pernyataan penulis mungkin tidak berdasarkan fakta seperti yang diharapkan. Hal ini berarti bahwa penulis tidak bertanggung jawab penuh atas kebenaran dari pernyataannya. Maksim kuantitas dibatasi ketika informasi yang disampaikan terbatas. Maksim hubungan dibatasi ketika kontribusi yang disampaikan tidak relevan seperti yang seharusnya. Sebuah indikasi dari pembatasan (hedging) maksim hubungan adalah terjadinya perubahan topik dalam suatu pernyataan. Sementara itu, pembatasan (hedging) maksim tuturan yang menunjukkan ketidakjelasan ungkapan tidak dibahas dalam penelitian ini karena tidak ditemukan data yang mengandung pembatasan (hedging) maksim tuturan. Hal ini mungkin dikarenakan pada kadar formalitas yang digunakan dalam karya akademik. Pernyataan yang tidak jelas tidak diterima dalam karya akademik formal. Yang terpenting mengenai batasan-batasan (hedges) maksim ini adalah tidak ada satupun diantara batasan tersebut yang menambah nilai kebenaran pada ungkapan yang diberikan. Dalam hal sebab terjadinya pembatasan (hedging), frekuensi tertinggi dari sebab-sebab yang mendasari adalah untuk mengurangi tingkat kepastian dari kebenaran atas pernyataannya. Hal ini terjadi 463 kali (42.75%). Kemudian di urutan kedua adalah untuk menunjukkan kerendahan hati atas kesuksesan dan kesopanan terhadap masyarakat. Hal ini terjadi 224 kali (20.68%). Di urutan ketiga adalah untuk menghindari keterlibatan pribadi. Hal ini terjadi 168 kali (15.51%). Di urutan selanjutnya adalah untuk menciptakan ketidakjelasan dan kesamaran yang berarti (strategi untuk memperkecil ancaman). Hal ini terjadi 144 kali (13.30%). Dan di urutan terakhir adalah untuk mengungkapkan kesementaraan dan fleksibilitas. Hal ini terjadi 84 kali (7.76%). Ekspresi pembatasan (hedging) membantu penulis untuk menunjukkan keragu-raguan atau kebimbangan mereka mengenai interpretasi dari temuan-temuan dan memberi kesempatan untuk interpretasi lebih lanjut. Pembatasan (hedging) sebagai kategori fungsional membantu para peneliti untuk melakukan pendekatan yang hati-hati dalam mengajukan pendapat mereka terhadap penelitian lain. Sebagai implikasi pedagogi, penelitian ini mengungkap pentingnya meningkatkan kesadaran para siswa tentang bagaimana penulis akademik mengatur karyanya. Bahasa Inggris sebagai bahasa dominan dari karya ilmiah dan akademik di dunia memberikan dasar bagi para penulisnya untuk mengikuti kaidah penulisan akademik. Oleh karena itu, mengenalkan para siswa pada aturan dan norma penulisan akademik dapat membantu mereka mengembangkan pemahaman tentang batasan-batasan (hedges) pada komunitas discourse akademik mereka sendiri. Penelitian ini menyarankan para dosen Bahasa Inggris untuk memperhatikan pentingnya pembatasan (hedging) maksim-maksim pada segala jenis komunikasi untuk meningkatkan pengetahuan para siswa mengenai bagian-bagian dari discourse, terutama prinsip-prinsip kerja sama (cooperative principles). Dalam hal ini, diharapkan bahwa para siswa akan memahami dengan jelas seluruh jenis maksim dan menggunakannya dengan benar. Disarankan juga bagi peneliti selanjutnya untuk mengadakan dan mengembangkan penelitian yang mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan pembatasan (hedging), dari semantik hingga pragmatik. Diharapkan pula agar mereka bereksplorasi dan menyelidiki beberapa fenomena lain tentang ekspresi pembatasan (hedging) pada komunitas bahasa lainnya untuk mengungkap beberapa jenis dan sebab lain untuk terjadinya pembatasan (hedging).

Penerapan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran persamaan garis lurus untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMP wahid hasyim Malang / Darwin Nurdin

 

Kata Kunci: Penerapan Metode Penemuan Terbimbing, Persamaan Garis Lurus Persamaan garis lurus mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang matematika ataupun bidang ilmu yang lainnya. oleh sebab itu, penguasaan terhadap materi persamaan garis lurus perlu mendapatkan perhatian yang serius sejak awal. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap materi persamaan garis lurus masih rendah. Siswa cenderung menghafal rumus-rumus persamaan garis lurus secara umum, namun untuk membuat suatu persamaan dari grafik umunya mereka sangat kesulitan. Hal ini disebabkan pembelajaran tidak meberikan kesempatan kepada pebelajar untuk memperolehnya . untuk itu ada usaha yang sungguh-sungguh dalam membangun penguasaan siswa terhadap persamaan garis lurus dengan penerapan metode penemuan terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan rancangan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Wahid Hasyim Malang. Penelitian yang dilakukan oleh Pa’is (2009) menyatakan bahwa pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berkelompok dapat meningkatkan penguasaan volume bangun ruang dan respon siswa sangat positif. Selanjutnya Pujiono (2011) mengatakan bahwa respon siswa terhadap pembelajaran penemuan terbimbing berkelompok positif, dan pada umumnya siswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran, karena siswa dapat menemukan sendiri pola atau bentuk umum barisan dan deret arematika, serta dapat meningkatkan kopetensi siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa, hasil kerja siswa dalam LKS setiap pertemuan, dan tes hasil belajar. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil belajar dikatakan meningkat jika a) minimal 65% siswa mampu menyelesaikan dengan benar masalah penemuan yang diberikan dalam LKS selama pertemuan,b) presentase rata-rata skor aktivitas siswa selama proses pembelajaran tidak kurang dari 70% atau berada pada kategori baik atau sangat baik, dan c) presentase nilai minimal 70 pada tes akhir atau minimal 80% dari jumlah siswa dalam kelas (subyek). Hasil penilitian menunjukkan bahwa penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-C SMP Wahid Hasyim Malang. Penerapan metode penemuan terbimbing terbagi dalam 6 tahap, yaitu (1) stimulus, (2) problem statement, (3) data collection, (4) data processing, (5) verification, dan (6) generalization. Bagi peneliti lain yang berminat mengadakan penelitian serupa hendaknya melakukan penelitian pada sekolah lain sehingga akan memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai efektifitas penerapan metode penemua terbimbing pada materi persamaan garis lurus.

Peningkatan kemampuan menulis makalah mahasiswa jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon dengan strategi pemodelan / Nur Apriani Nukuhaly

 

Kata Kunci: peningkatan kemampuan, menulis makalah, strategi pemodelan. Kemampuan menulis makalah merupakan hal yang penting dikuasai pembelajar, khususnya mahasiswa karena budaya menulis makalah adalah budaya orang terpelajar dan intelek. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa membudayakan menulis makalah bagi mahasiswa adalah dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia yang ada di perguruan tinggi. Ada lima aspek penting yang harus diperhatikan oleh seorang penulis makalah yaitu judul, pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar rujukan bahkan kelima aspek tersebut sudah mencakup isi dan bahasa. Aspek isi meliputi kemenarikan, kesesuaian, keruntutan, kelengkapan, dan aspek bahasa meliputi ejaan, tanda baca, pilihan kata/diksi, keefektifan kalimat, dan kepaduan paragraf. Kompleksitas aspek menulis tersebut yang membuat kesulitan dosen untuk menjelaskan kepada mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) meningkatkan kemampuan menulis makalah mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon pada aspek penulisan judul dengan strategi pemodelan; (2) meningkatkan kemampuan menulis makalah mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon pada aspek penulisan pendahuluan dengan strategi pemodelan; (3) meningkatkan kemampuan menulis makalah mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon pada aspek penulisan pembahasan dengan strategi pemodelan; (4) meningkatkan kemampuan menulis makalah mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon pada aspek penulisan penutup dengan strategi pemodelan; (5) meningkatkan kemampuan menulis makalah mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon pada aspek penulisan daftar rujukan dengan strategi pemodelan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK/classroom action research). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan untuk memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik. Data penelitian ini terdiri atas produk (hasil). Data hasil berupa data hasil observasi dan pada saat pengamatan pendahuluan serta setiap hasil akhir siklus. Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi studi observasi/pengamatan, dokumentasi, dan tugas. Pengumpulan data tersebut berpedoman pada pedoman observasi, dan rubrik penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum dengan strategi pemodelan kemampuan menulis makalah mahasiswa meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari pencapaian ketuntasan setiap subaspek menulis makalah pada setiap siklus. Pada aspek judul subaspek kemenarikan (74% menjadi 79%), kesesuaian (69% menjadi 70%), ejaan ( 70% menjadi 71%) dan pilihan kata ( 67% menjadi 77%). Pada aspek pendahuluan subaspek kesesuaian (67% menjadi 71%) keruntutan (72% menjadi 74%), kelengkapan (74% menjadi 75%), ejaan (72% menjadi 80%), tanda baca (66% menjadi 69%), pilihan kata/diksi (74% menjadi 75%), keefektifan kalimat (74% menjadi 76%), dan kepaduan paragraf (69% menjadi 71%). Pada aspek pembahasan subaspek kesesuaian (70% menjadi 75%), keruntutan (74% menjadi 80%), kelengkapan (75% menjadi 77%), ejaan (67% menjadi 70%), tanda baca (72% menjadi 76%), pilihan kata/diksi (72% menjadi 74%), keefektifan kalimat (71% menjadi 75%), dan kepaduan paragraf (72% menjadi 74%). Pada aspek penutup subaspek kesesuaian (71% menjadi 72%), kelengkapan (72% menjadi 74%), ejaan (70% menjadi 75%), tanda baca (70% menjadi 72%), pilihan kata/diksi (70% menjadi 71%), keefektifan kalimat (72% menjadi 74%), dan kepaduan paragraf (72% menjadi 74%). Pada aspek daftar rujukan subaspek ejaan (70% menjadi 74%), tanda baca (70% menjadi 72%), kesesuaian (71% menjadi 72%), dan kelengkapan (69% menjadi 72%) Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dalam penelitian penulisan makalah dengan menggunakan strategi pemodelan, maka dapat disimpulkan bahwa “terjadi peningkatan pada kemampuan menulis makalah mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon dengan menerapkan strategi pemodelan”. Peningkatan tersebut terlihat pada meningkat dan bertambahnya nilai rata-rata keberhasilan aspek penulisan judul, aspek penulisan pendahuluan, aspek penulisan pembahasan, aspek penulisan penutup, dan aspek penulisan daftar rujukan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kemampuan menulis makalah mahasiswa dapat ditingkatkan melalui strategi pemodelan. Kemampuan menulis makalah mahasiswa yang meningkat adalah aspek isi dan bahasa yang meliputi judul, pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar rujukan. Saran bagi dosen, hendaknya (1) doesen menerapkan strategi pemodelan pada materi yang berhubungan dengan menulis makalah dan (2) dosen menerapkan strategi pemodelan dengan menggunakan sarana pembelajaran dengan baik. Bagi peneliti lain, disarankan untuk mengembangkan kajian penelitian ini pada jurusan, perguruan tinggi, dan jenjang pendidikan yang berbeda serta komponen bahasa yang lain, atau mata pelajaran lain yang memiliki karakter sama dengan bahasa Indonesia.

Pengaruh Return on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR) terhadap return saham pada perusahaan manufacture yang listing di BEI periode 2006-2008 / Fista Ayu Windyartha

 

Kata Kunci: Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), dan Return Saham. Dalam mengambil keputusan investasi, para investor membutuhkan informasi untuk menghasilkan return suatu perusahaan yang diinginkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kinerja perusahaan yang baik yang dihitung menggunakan rasio keuangan. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini diambil lima faktor yang berpengaruh terhadap return saham yaitu Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR). Return saham merupakan tingkat pengembalian yang diperoleh atas investasi saham. ROE mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi perusahaannya dengan menggunakan seluruh modal sendiri (equity). EPS digunakan untuk menghitung laba perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham per lembar saham yang beredar. PER digunakan untuk mengukur antara harga saham dengan laba per lembar saham. DER mengukur perbandingan antara dana pemilik dengan dana yang disediakan oleh kreditor. CR menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang lancar dengan aktiva lancar yang tersedia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara ROE, EPS, PER, DER, dan CR, terhadap return saham. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufacture yang listing di BEI periode 2006-2008, sedangkan sampel yang diambil sebanyak 36 perusahaan dengan teknik purposive sampling, di mana teknik pengumpulan datanya adalah dengan teknik dokumentasi sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil uji statistik regresi linear berganda menunjukkan bahwa secara parsial EPS, PER, DER berpengaruh signifikan terhadap return saham sedangkan ROE dan CR tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Secara simultan seluruh variabel bebas yaitu ROE, EPS, PER, DER, dan CR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk penulisan selanjutnya dapat menambah variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel return saham. Disarankan juga untuk menambah periode observasi, dan jumlah sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

Analisis kontribusi peran industri kecil terhadap perekonomian lokal (studi kasus industri tikar dan tampar Mendong Kabupaten Malang di Desa Blayu Kecamatan Wajak / Mohamad Khoirul Anam

 

Anam, Mohamad Khoirul. 2012. Analisis Kontribusi Peran Industri Kecil Terhadap Perekonoman Lokal (Studi Kasus Industri Tikar dan Tampar Mendong Kabupaten Malang di Desa Blayu Kecamatan Wajak). Skripsi, Prodi S1 Ekonomi dan Studi Pembangunan, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Farida Rahmawati, S.E,M.E, (II) Drs. Prih Hardinto, M.Si. Kata kunci:Kontribusi, Peran Industri Kecil, Perekonomian Lokal Dalam pembangunan sebuah perekonomian yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat selalu terbentur dengan permasalahan pengangguran yang menjadikan masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dalam perkembangan perekonomian di Indonesia UMKM mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, terbukti pada waktu bangsa Indonesia mengalami krisis yang terjadi beberapa waktu lalu, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lebih tangguh dalam menghadapi realita tersebut, sedangkan usaha yang berskala besar mengalami stagnasi bahkan berhenti aktivitasnya. Untuk mengkaji seberapa besar kontribusi itu maka penelitian ini menganalisis kontribusi peran industri kecil terhadap perekonoman lokal dengan studi kasus industri tikar dan tampar mendong Kabupaten Malang di Desa Blayu Kecamatan Wajak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan data secara objektif terhadap kondisi yang ada, yang mana penelitian ini berfokus pada peran modal, peran unit usaha dan peran produksi dalam penyerapan tenaga kerja pada UMKM. Metode kualitatif yang diproses dalam penelitian ini dimulai dengan displaydata, melakukan reduksi data dan membuat rangkuman inti serta tahap terakhir disajikan secara deskriptif mengenai fakta-fakta yang ada di lapangan dengan melakukan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja pada UMKM dipengaruhi oleh beberapa hal yakni modal, unit usaha dan produksi dari ketiga hal tersebut saling terkait satu sama lain akan tetapi peran modal dan unit usaha cenderung lebih mendominasi dalam mempengaruhi penyediaan lapangan kerja pada UMKM . Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan ketenagakerjaan pada UMKM sehingga peranan strategis UMKM dalam perekonomian Indonesia dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengatasi pengangguran.

Studi kemelimpahan Fitoplankton sebagai dasar pertimbangan budidaya perikanan laut sistem tambak di muara sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan Jawa Timur / Apolonia Bui

 

Kata Kunci: Fitoplankton, Muara Sungai, Tambak, Kerapatan, Kemelimpahan Produktivitas fitoplankton akan optimal pada tempat-tempat yang kaya akan bahan-bahan organik. Fitoplankton merupakan sumber makanan alami bagi ikan dan udang yang hidup di perairan. Ketersediaan fitoplankton sangat mempengaruhi kesuburan suatu ekosistem muara sungai. Dalam pengelolaan tambak payau di kawasan muara, petani tambak selalu mengganti air tambak pada saat air pasang, sehingga secara langsung petani tambak bergantung pada ketersediaan fitoplankton yang ada. Permasalahan penelitian ini meliputi tingkat kerapatan dan kemelimpahan fitoplankton, serta sistem pengelolaan tambak yang baik berdasarkan ketersediaan plankton yang ada. Jumlah spesies di muara pada umumnya jauh lebih sedikit daripada yang mendiami habitat air tawar atau air laut di dekatnya. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan organisme air tawar mentolerir kenaikan salinitas dan organisme air laut mentolerir penurunan salinitas estuaria. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengamatan dan penghitungan fitoplankton pada cawan sedwick dibawah mikroskop. Kelimpahan dihitung dengan menggunakan rumus indeks dominansi Meanhinick dalam Ludwick dan Reynold. Populasi penelitian berupa semua jenis fitoplankton yang ada di aliran muara sungai Rejoso Pasuruan. Sampel penelitian adalah semua jenis fitoplankton yang terambil dalam jaring plankton. Waktu penelitian adalah waktu pengambilan sampel yaitu pada tanggal 17 April 2011 pada saat pasang purnama. Dari hasil pengamatan dan penghitungan fitoplankton diketahui terdapat 24 spesies yang tersebar dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 15. Tingkat kerapatan fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun ke 3 yang berlokasi dekat dengan laut sebanyak 440,56 individu/liter. Untuk kerapatan terendah terdapat pada stasiun 15 sebanyak 111,48 individu/liter pada stasiun 15 yang terletak jauh dari laut. Jenis fitoplankton yang melimpah di muara Sungai Rejoso Pasuruan pada saat pasang maksimal adalah spesies yang memiliki indeks dominansi lebih dari 10 % untuk tiap stasiun baik pada bagian permukaan, tengah maupun dasar adalah Gyrosygma sp1, Pleurosigma sp1, Coscinodiscus sp1, dan Skeletonema sp dan masing-masing spesies mendominansi pada stasiun tertentu. Faktor lingkungan/abiotik yang mempengaruhi kerapatan fitoplankton pada bagian permukaan, tengah dan dasar perairan muara sungai Rejoso Pasuruan adalah salinitas, suhu, turbiditas dan intensitas cahaya.

Hubungan antara prestasi belajar mata pelajaran Dasar Teknik Mesin (DTM) dengan kemampuan praktik kerja mesin siswa kelas XI Teknik Pemesinan SMKN 1 Singosari / Dwi Hardita

 

Hedging in political discourse: Barack Obama's 2012 Presidential press conferences / Wahyu Kresnanto

 

Kata kunci: Hedges, Hedging, Wacana Politik, Retorika Hedging dideskripsikan sebagai strategi retorika untuk menyelamatkan muka politikus. Para ahli berpendapat bahwa strategi tersebut mampu melindungi seorang politisi dari kemungkinan adanya sangkalan dari pihak lain. Karena retorika dipandang sebagai senjata untuk menang atau kalah, para politikus tidak akan pernah mau mengambil resiko untuk melakukan tindakan spontan saat situasi dan kondisi rentan dan rawan. Mereka peduli atas konsekuensi dari kesalahan dalam komunikasi publik. Dalam konteks tersebut, hedges berperan sebagai media untuk menjaga prinsip kehati-hatian dalam beretorika. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan investigasi terhadap penggunaan hedges Barack Obama dalam konferensi pers kepresidenan tahun 2012. Fokus dari penelitian yaitu untuk menganalisa strategi dan maksud hedges Obama dalam konteks mencolok dan tersembunyi. Taksonomi hedging yang diusulkan Bruce (2010) merupakan pijakan dasar untuk menganalisa fenomena bahasa dari hedges. Untuk mewujudkan temuan yang reliabel, metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif sebagaimana umumnya digunakan dalam penelitian bahasa. Hasil temuan menunjukkan Obama menggunakan sebanyak 840 hedges mencolok dan 37 secara tersembunyi. Dalam hal hedges mencolok, Obama cenderung menggunakan strategi modality sebagai hedges. Strategi tersebut jauh mengungguli strategi hedging lainnya (frekuensi: 382; persentase: 46.93%). Studi yang lebih mendalam menunjukkan Obama terlihat samar-samar, tentatif, dan tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap proposisi. Mengenai strategi hedging secara tersembunyi, Obama banyak terdeteksi melakukan penghindaran terhadap isu-isu sensitif dengan menggunakan strategi pengalihan topik, generalisasi, dan pengabaian serta strategi pendelegasian jawaban pada pihak lain. Kesimpulannya, hedging dalam wacana politik utamanya digunakan sebagai strategi penghindaran untuk menyelamatkan muka politikus. Hedges merupakan strategi retorika untuk membentengi politikus dari berbagai kesalahan retorika. Hedges juga merepresentasikan media penyampaian pesan tidak langsung sebagai media pengejawantahan derajat kesopanan. Saran dari peneliti untuk studi di masa depan: penelitian lintas linguistik di mana hedges digunakan dalam berbagai jenis wacana−lintas bahasa dan budaya−sangat menantang dan layak untuk dieksplorasi lebih mendalam.

Pengaruh penghalusan intake manifold dan penggunaan turbocyclone terhadap emsi gas buang (CO dan HC) pada motor bensin 4 tak / Mukhamad Suhermanto

 

Kata Kunci : Penghalusan Intake Manifold, Turbocyclone, Gas Buang, Karbonmonoksida, Hidrokarbon Melalui Permen LH No. 4 Th. 2009 Tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Perpres No. 61 Th. 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), pemerintah indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca di Indonesia sebesar 26% di tahun 2020. Di pihak lain. Berdasarkan data PDDA 2011, jumlah kendaraan yang membebani penggunaan bahan bakar minyak di tanah air pada tahun 2011, dari berbagai jenis tercatat sebesar 89.395.835 unit dengan persentase peningkatan rerata 5 tahun terakhir sebesar 14,88% per tahun. Dan jumlah motor yang hampir mencapai 73% dari seluruh kendaraan merupakan konsumen energi sebesar 32,5%. Kondisi yang kontradiktif ini pasti membutuhkan solusi, salah satunya pengurangan emisi gas buang kendaraan bermotor. Salah satu upaya alternatif untuk memaksimalkan pembakaran adalah dengan membuat aliran putar turbulen pada fluida kerja (swirl) sehingga mengoptimalkan pencampuran udara dengan bahan bakar salah satunya dengan turbocyclone. Akan tetapi, selama ini penggunaan turbocyclone hanya diupayakan untuk menambah tenaga semata. Sedangkan penelitian yang terkait dengan penggunaan alat ini terhadap emisi (CO dan HC) gas buang masih belum ada. Adapun penghalusan intake manifold ditujukan untuk mengurangi faktor friksi yang diasumsikan akan membantu proses pemasukan fluida kerja dan swirl aliran dapat dicapai. Penelitian ini ditujukan untuk menemukan adanya perbedaan antara motor 4 tak kontrol (tanpa menggunakan turbocyclone dan intake manifold standar) dengan: 1) motor 4 tak menggunakan turbocyclone dan intake standar, 2) motor 4 tak tanpa turbocyclone dan intake manifold dihaluskan, dan 3) motor 4 tak menggunakan turbocyclone dan intake manifold dihaluskan. Jenis penelitian merupakan penelitian eksperimen yang bertempat di BLKI Singosari dan Bengkel Otomotif TM UM dengan teknik analisis data menggunakan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA), terlebih dahulu dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan Homogenitas Levene. Hasil yang didapat pada penelitian tersebut ialah, selisih emisi gas buang CO antara motor kontrol dengan motor menggunakan turbocyclone dan intake manifold standar pada putaran 1500 rpm, 3000 rpm, dan 5000 rpm secara berurutan ialah sebesar 0,18875%, 0,32125%, dan 1,5075%. Sedangkan selisih HC-nya pada putaran 1500 rpm, 3000 rpm, dan 5000 rpm sebesar 390 ppm, 38,125 ppm, dan 46,875 ppm. Selisih kekasaran permukaan intake manifold tanpa proses penghalusan dengan intake manifold dengan proses penghalusan: 1) Ra1 sebesar 6,30 m, dan 2) Ra2 sebesar 3,68 m. Selisih emisi gas buang CO pada motor kontrol dengan motor tanpa turbocyclone dan intake manifold dihaluskan pada putaran 1500 rpm, 3000 rpm, dan 5000 rpm sebesar 0,1475%, 0,25125%, dan 1,995%. Sedangkan, emisi gas buang HC-nya pada putaran 1500 rpm, 3000 rpm, dan 5000 sebesar 367,375 ppm, 33,25 ppm, dan 35,5 ppm. Selisih emisi gas buang CO antara motor kontrol dengan motor yang menggunakan turbocyclone dan intake manifold dihaluskan pada putaran 1500 rpm, 3000 rpm dan 5000 rpm sebesar 0,11375%, 0,25375%, dan 1,2825%. Sedangkan selisih HC-nya pada putaran 1500 rpm, 3000 rpm, dan 5000 rpm sebesar 530 ppm, -24 ppm, dan 35,875 ppm.

Peningkatan aktivitas ketertiban dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan melalui model practice style dikelas XI.IPA.1 SMAN 1 Bumiayu Kabupaten Brebes Jawa Tengah / Tri Hani

 

Kata Kunci : ketertiban, model practice style. Proses belajar mengajar dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (penjasorkes) dapat berjalan dengan lancar, apabila ketertiban dalam bentuk ketepatan waktu masuk kelas atau lapangan, penggunaan pakaian seragam, serta kehadiran dalam pembelajaran penjasorkes dapat diterapkan. Ketertiban siswa dilatih dengan tujuan membiasakan diri agar menahan diri supaya tidak melanggar peraturan yang ditetapkan. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti, di SMAN 1 Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kelas XI.IPA.1 yang berjumlah 32 siswa, diketahui sebanyak 68,96% siswa belum tertib. Lemahnya ketertiban siswa perlu diatasi agar tidak menjadi penghambat dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut yakni dengan menerapkan model practice style dalam pembelajaran ketertiban. Keunggulan model practice style, yaitu menyesuaikan karakteristik tiap siswa sehingga siswa mampu menentukan dan mengevaluasi setiap kesalahan serta mampu memperbaiki kesalahan sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki proses belajar mengajar penjasorkes agar masalah ketertiban dapat meningkat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang melalui siklus tindakan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI.IPA.1 SMAN 1 Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah yang berjumlah 32 siswa, tahun ajaran 2011/2012 semester genap. Hasil penelitian menunjukkan: (1) dalam siklus I (pertemuan ketiga) didapati beberapa pelanggaran ketertiban sebanyak 53,2% dari 32 siswa. (2) dalam siklus II (pertemuan ketiga) menunjukkan siswa yang melakukan pelanggaran ketertiban berkurang menjadi sebanyak 3,12% dari 32 siswa. Pada siklus II sudah banyak yang memperbaiki diri dan tidak melakukan pelanggaran ketertiban. Kondisi pembelajaran yang pada awalnya tidak tertib berubah menjadi sangat tertib. Kesimpulan bahwa pembelajaran penjasorkes khususnya ketertiban dengan model practice style dapat memperbaiki ketertiban siswa karena model pembelajaran tersebut telah terbukti dapat memperbaiki ketertiban yang lebih intensif. Model ini dapat dimanfaatkan oleh guru penjasorkes sebagai bagian dari strategi pembelajaran sehingga ketertiban dapat ditegakkan untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Saran yang dapat disampaikan berdasarkan kesimpulan tersebut yakni guru penjasorkes disarankan menggunakan model practice style untuk menegakkan ketertiban dalam pembelajaran. Ketertiban siswa akan membantu guru dalam menciptakan situasi dan kondisi pembelajaran yang kondusif sehingga prestasi pembelajaran dapat dikembangkan secara optimal.

Pengembangan multimedia interaktif pembelajaran analisis unsur intrinsik Drama untuk siswa SMA kelas XI / Kristin Septiningtyas

 

Kata kunci: pengembangan multimedia, multimedia interaktif, unsur intrinsik drama Pembelajaran drama memerlukan dukungan perangkat media sebagai sarana pembantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun, dari hasil penelitian yang diperoleh di lapangan, kenyataannya guru masih kesulitan dalam memilih, menciptakan, maupun menerapkan media pembelajaran yang inovatif. Apabila pembelajaran drama tidak diimbangi dengan adanya inovasi dalam media pembelajaran, dapat dipastikan pada setiap pembelajaran yang berlangsung akan membuat siswa menjadi kurang tertarik. Melihat kondisi pembelajaran drama yang demikian, salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut, yakni melalui multimedia interaktif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan yang merupakan dasar untuk mengembangkan produk yang akan dihasilkan. Model penelitian pengembangan ini merupakan model Borg and Gall. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini menghasilkan data deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data deskriptif kualitatif yang diperoleh peneliti berupa data verbal (saran-saran), sedangkan data kuantitatif menghasilkan data numeral diperoleh dari hasil uji coba kepada dosen ahli, praktisi dan siswa melalui pengisian angket. Sumber data diperoleh dari subjek uji coba yang terdiri dari (a) dosen ahli, (b) praktisi, (c) serta siswa kelas XI-8. Penelitian yang telah dilakukan uji coba ini memeroleh beberapa hasil berupa data verbal dan skor dari pengisian angket. Hasil analisis uji coba pertama diperoleh dari tiga dosen ahli yang memiliki keahlian sebagai ahli materi drama, ahli pembelajaran drama, dan ahli media (Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang) terhadap produk media diperoleh skor 72,7%. Uji coba yang kedua dilakukan oleh praktisi (guru kelas XI-8 di SMAN 1 Kademangan Blitar) diperoleh skor 98,2%. Uji coba yang terakhir diperoleh dari pengisian angket siswa diperoleh skor 85,3%. Total keseluruhan skor terakhir setelah dijumlahkan diperoleh skor 80,3%. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran drama berbasis multimedia interaktif ini memenuhi kriteria 80-100%, sehingga media ini dapat digunakan di SMAN 1 Kademangan untuk siswa kelas XI. Pelaksanaan revisi dalam penelitian ini dilakukan dalam satu tahap, yakni setelah dilakukan uji produk melalui para tiga dosen ahli dan uji praktisi. Hasil dari revisi ini menghasilkan produk media pembelajaran drama untuk kemudian diterapkan pada siswa kelas XI SMA. Media pembelajaran yang dikembangkan menggunakan program Microsoft Office PowerPoint 2007. Media ini berisi teori, contoh, dan latihan yang dikemas dengan tampilan yang menarik karena disertai dengan gambar, teks, musik, animasi, dan video pementasan drama. Diharapkan dengan adanya media ini siswa menjadi tertarik dan lebih termotivasi dalam mempelajari kompetensi yang ada dalam media. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan penelitian yang lebih mendalam dan dilakukan uji coba pada subjek yang lebih besar. Untuk penyebarluasan multimedia interaktif pembelajaran analisis unsur intrinsik drama ini agar diketahui oleh pihak yang lebih luas, dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada guru bahasa dan sastra Indonesia di sekolah lain.

Fungsi tradisi undhuh-undhuh gereja kristen jawi wetan jemaat Sumberpucung Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang dan relevasi nilai budayanya terhadap pengembangan pendidikan karakter / Primita Yanuar Prastika Putri

 

Kata Kunci : fungsi, undhuh-undhuh, nilai budaya, pendidikan karakter Penyebaran Agama Kristen di Indonesia dimulai sejak zaman kedatangan bangsa Eropa yakni Spanyol dan Portugis yang lebih dikenal dengan semboyan 3 G (Gold, Glory, Gospel) membawa pengaruh besar bagi bangsa Indonesia khususnya dalam bidang penyebaran agama Kristen. Penyebaran agama Kristen di Pulau Jawa menggunakan cara Emde berupa cara penginjilan yang murni tidak terpengaruh oleh adat istiadat Jawa dan cara Coolen yang mengabarkan Injil dengan gaya Jawa. Untuk memajukan pekabaran Injil di Pulau Jawa maka upacara gerejani, nyanyian-nyanyian, tata gereja perlu disesuaikan dengan pola kebudayaan Jawa. Salah satu bentuk penyelarasan upacara gerejani dengan pola kebudayaan Jawa adalah “Tradisi Undhuh-undhuh” yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Gereja Kristen Jawa sampai pada saat ini salah satunya tradisi Undhuh-undhuh yang dilaksanakan di GKJW Jemaat Sumberpucung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan dan fungsi Undhuh-undhuh di GKJW Jemaat Sumberpucung guna mengetahui relevansi nilai budayanya terhadap pengembangan pendidikan karakter. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber yaitu, hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Penelitian dilakukan di GKJW Jemaat Sumberpucung dan rumah warga GKJW Jemaat Sumberpucung yang dipilih sebagai informan. Pendekatan sosiologi antropologi dalam penelitian ini digunakan untuk melihat proses pelaksanaan tradisi Undhuh-undhuh dan peran serta warga gereja di dalamnya serta mengetahui fungsi dari Undhuh-undhuh yang mempunyai relevansi dengan pengembangan pendidikan karakter bagi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Undhuh-undhuh merupakan tradisi ucapan syukur warga GKJW Jemaat Sumberpucung atas segala berkat yang diberikan oleh Tuhan selama hidup mereka. Pelaksanaan Undhuh-undhuh di GKJW Jemaat Sumberpucung berlangsung 2 kali yaitu Undhuh-undhuh natura berupa hasil alam yang dilaksanakan sekitar bulan Maret-Mei dan Undhuh-undhuh berupa uang yang dilaksanakan sekitar bulan September-November. Undhuh-undhuh yang dilaksanakan di GKJW Jemaat Sumberpucung memiliki beberapa fungsi antara lain fungsi spiritual, fungsi sosial, fungsi, ekonomi, fungsi pendidikan dan fungsi pelestarian budaya. Undhuh-undhuh yang dilaksanakan di GKJW Jemaat Sumberpucung juga memiliki banyak kandungan nilai-nilai seperti nilai sejarah, nilai solidaritas sosial, nilai gotong royong, nilai pendidikan, dan nilai pelestarian budaya yang kesemuanya itu berguna bagi pengembangan kepribadian warga gereja serta masyarakat pada umumnya.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 |