Implementasi pendidikan karakter pada kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SDN Oro-oro Dowo Kota Malang / Mochamad Asfihani

 

Perhitungan kinerja jalan dan tebal perkerasan ruas jalan jurusan Mojoagung-Ngoro STA. 0+000-15+000 Kabupaten Jombang / Dimas Wanda Pranata

 

Kata Kunci: kinerja jalan, kapasitas jalan, tebal perkerasan Jalan Mojoagung-Ngoro merupakan jalan penghubung dari arah Surabaya ke Kediri dan Malang, juga akses untuk menuju makan KH. Abdul Rahmanwahid. Awalnya jalan Mojoagung-Ngoro tidak terlalu ramai dan padat, tetapi seiring dengan bertambahnya para pengguna kendaraan jalan ruas jalan tersebut menjadi padat. Tugas Akhir ini saya desain ulang dengan mempelebar jalan, dengan tujuan untuk menambah kapasitas ruas jalan Mojoagung-Ngoro dengan analisa perhitungan menggunakan “Manual Kapasitas Jalan Indonesia, MKJI 1997”. Jalan Mojoagung-Ngoro memiliki lebar jalan yang berbeda pada sta 0+000-4+000 lebar jalan 7 meter dan untuk lebar jalan sta 4+000-15+000 lebar jalan 4,5 meter. Untuk merencanakan kapasitas jalan Mojoagung-Ngoro sepuluh tahun yang akan datang perlu mengetahui kondisi saat ini dan faktor-faktor yang menjadi penghambat kelancaran kendaraan. Hasil dari perencanaan ruas jalan Mojoagung-Ngoro pada sta 0+000-4+000 dengan lebar 7 meter untuk kondisi saat ini dan 10 tahun yang akan datang pada jam puncak masih lancar, sedangkan untuk Km 4+000-15+000 dengan lebar jalan 4,5 m kondisi saat ini pada jam puncak macet dan 10 tahun yang akan datang macet dengan DS > 0,75. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya perubahan untuk menyetarakan lebar jalan sesuai sta 0+000-4+000 dengan lebar jalan 7 meter. Untuk lapisan perkerasaan jalan saat ini banyak terjadi kerusakan seperti retak buaya, retak pinggir dan berlubang karena banyak truk yang membawa muatan melebihi yang disyaratkan Dinas Perhubungan, oleh sebab itu perlu dilakukan survey berat kendaraan di lapangan agar dapat merencanakan perkerasan yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Dari hasil perhitungan tebal lapisan permukaan perkerasaan adalah 7,5 cm, tebal lapisan pondasi atas dengan menggunakan batu pecah (CBR 60) adalah 25 cm dan tebal lapisan pondasi bawah menggunakan sirtu (CBR 50) adalah 33 cm.

Pengembangan media pembelajaran berbasis game pada mata pelajaran matematika semester gasal untuk siswa kelas II SDN 1 Karangan Trenggalek / Wahyu Tri Wulansari

 

Kata kunci : Media Pembelajaran, Game, Matematika. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Dalam pembelajaran Matematika di SDN 1 Karangan Trenggalek,media yang sering digunakan oleh guru adalah papan tulis dan buku. Guru jarang menggunakan media gambar atau media lain dalam penyampaian materi sehingga apabila guru terlalu lama menjelaskan materi di depan kelas siswa akan sibuk bermain sendiri dengan teman sebangkunya dan tidak memperhatikan. Hal demikian yang mengakibatkan 10 dari 20 siswa kurang memahami pelajaran Matematika dan mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis game pada mata pelajaran Matematika semester gasal untuk siswa kelas II SD. Model yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model Sugiyono. Model pengembangan Sugiyono menyebutkan bahwa dalam penelitian dan pengembangan terdiri dari 10 langkah sebagai berikut: (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Revisi Desain, (6) Uji-coba Produk, (7) Revisi Produk, (8)Uji-coba Pemakaian, (9) Revisi Produk, dan (10) Produksi Massal. Model pengembangan Sugiyono ini dipilih karena adanya kesesuaian langkah pengembangan dengan kebutuhan pengembangan media pembelajaran berbasis game ini. Pengujian media pembelajaran bernasis game ini dilakukan oleh ahli media, ahli materi dan siswa kelas II SDN 1 Karangan Trenggalek sebagai pengguna media pembelajaran. Berdasarkan pada hasil uji coba yang dilakukan oleh ahli media, ahli materi, kelompok kecil, dan uji coba pemakai maka diperoleh persentase dari tiaptiap subyek coba sebagai berikut: (1) Pada ahli media, diperoleh persentase sebesar 88,00%, (2) Pada ahli materi, diperoleh persentase sebesar 90,00%, (3) Pada uji coba produk kelompok kecil, diperoleh persentase sebesar 92,85%, (4) Pada uji coba pemakai, diperoleh persentase sebesar 88,57%. Rata-rata hasil uji coba seluruhnya sebesar 89,85% sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis game ini layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Pengembangan media pembelajaran berbasis visualisasi 3D sebagai suplemen pendukung pembelajaran biologi pada kompetensi dasar sistem gerak manusia untuk siswa kelas XI SMK Jurusan Keperawatan / Rizki Isfandri Wijaya

 

Kata Kunci : media pembelajaran, visualisasi 3D, sistem gerak manusia Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu jenjang pendidikan menengah dengan khusus mempersiapkan lulusannya untuk siap bekerja. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu. Salah satu bidang keahlian di SMK adalah kesehatan yang terdapat kompetensi keahlian keperawatan. Pada kompetensi keperawatan ini, siswa dituntut untuk menguasai dasar-dasar anatomi, fisiologi, patologi tubuh secara umum. Salah satu pelajaran yang memuat dasar-dasar tersebut adalah biologi. Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang diminati siswa. Mata pelajaran ini dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Seperti halnya pada siswa SMK Negeri 11 Jurusan Keperawatan. Berdasarkan observasi yang dilakukan, ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan untuk memahami pelajaran biologi. Salah satu materi yang sulit untuk dipahami siswa adalah sistem gerak manusia. Menurut data yang diperoleh dari arsip ulangan harian, untuk kelas XI Keperawatan 2 (XI KPR 2) terdapat 71% siswa yang belum memenuhi harapan. Umumnya, faktor penyebab kesulitan pemahaman siswa adalah karena kurangnya visualisasi objek nyata dari materi yang disampaikan. Berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan perangkat lunak berbasis visualisasi 3D yang dapat digunakan oleh guru dan siswa SMK Jurusan Keperawatan untuk mempelajari sistem gerak manusia yang telah diuji coba dengan para ahli media dan materi. Pengembangan media pembelajaran berbasis visualisasi 3D ini mengadaptasi metode pengembangan media Sugiyono dengan tahapan antara lain: (1) Analisis Kebutuhan, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain Produk, (5) Revisi Desain Produk, (6) Uji Coba Produk, (7) Revisi Produk, (8) Uji Coba Pemakaian, (9) Revisi Produk, dan (10) Produksi Massal. Sedangkan analisis data hasil uji coba menggunakan teknik yang diadaptasi dari Sa’dun Akbar. Berdasarkan hasil validasi didapatkan persentase untuk ahli media sebesar 95,31%, ahli materi sebesar 87,08%, dan uji coba kepada siswa SMK Negeri 11 Malang kelas XI Jurusan Keperawatan sebesar 88,50%, maka rata-rata yang diperoleh dari hasil uji coba adalah 90,30% dimana mengindikasikan bahwa suplemen media pembelajaran berbasis visualisasi 3D pada penelitian ini adalah valid dan layak digunakan.

Penggunaan media jurnal untuk peningkatan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas IV SDN Tanjyngrejo 2 Malang / Rakyan Paranimmita Sappurisa Kamanitra

 

Kata Kunci: jurnal pribadi, peningkatan kemampuan menulis, karangan narasi, SD Pembelajaran menulis merupakan hal yang paling kompleks dipelajari siswa dan paling sulit diajarkan oleh guru, karena untuk dapat menulis, seseorang dituntut memiliki pengalaman, kemampuan, kesempatan, dan keterampilan khusus, yakni menyusun gagasan secara logis, mengekspresikan secara jelas, dan menata secara menarik. Proses pembelajaran di SDN Tanjungrejo 2 masih bersifat tradisional, yaitu dengan menggunakan ceramah dan penugasan. Pada pembelajaran menulis karangan, guru hanya memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengarang. Pada saat kegiatan tersebut berlangsung guru mengerjakan pekerjaan lain, yaitu mengoreksi ulangan/tugas siswa. Melihat kenyataan yang terjadi di lapangan dan berdasarkan hasil penelitian terdahulu, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan pembelajaran menulis karangan narasi menggunakan jurnal pribadi dan (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis karangan narasi jurnal pribadi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan dengan model siklus. Masing-masing siklus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Peneliti menjadi partisipan penuh dan guru kelas IV SDN Tanjungrejo 2 bertindak sebagai observer. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Tanjungrejo 2 Kota Malang. Data yang didapat dari kegiatan observasi, wawacara, dokumentasi, dan tes. Dalam pelaksanaannya kegiatan menulis jurnal dapat dilakukan melalui tiga tahapan. Ketiga tahapan itu adalah (1) tahap pendahuluan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media jurnal pribadi dapat meningkatkan: (1) aktivitas guru dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami kenaikan, (2) kemampuan menulis karangan narasi pada siklus II meningkat hingga mencapai 90% dari siswa kelas IV memperoleh nilai di atas KKM. Pelaksanaan kegiatan menulis jurnal pribadi didasarkan pada pengalaman pribadi siswa yang terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu tahap pendahuluan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Dengan menggunakan media jurnal pribadi, kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi dapat meningkat. Mengingat pentingnya peningkatan kemampuan menulis karangan, maka disarankan bagi guru, siswa, dan pihak sekolah untuk saling bekerja sama dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia demi tercapainya suatu tujuan pembelajaran.

Problematika pemanfaatan media peta dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN se-gugus 5 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Suci Lestari

 

Kata kunci: Problematika, Pemanfatan Media Peta, IPS SD. Berdasarkan observasi awal, pembelajaran IPS dengan pemanfataan media peta di kelas IV SDN Se-gugus 5 Kec. Kedung Kandang Kota Malang ditemukan fakta masalah: (1) masih adanya penggunaan buku paket dan LKS sebagai sumber belajar, (2) pemanfaatan media peta hanya sebagai pajangan kelas, (3) kurang optimalnya keterampilan guru dalam pengadaan dan penguasaan tentang peman-faatan media peta. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mendeskripsikan pemanfa-atan media peta dalam pembelajaran IPS, (2) Untuk mendeskripsikan problemati-ka dalam pemanfaatan media peta pembelajaran IPS, (3) Untuk mendeskripsikan upaya mengatasi problematika dalam pemanfaatan media peta pembelajaranIPS di kelas IV SDN Se-gugus 5 Kec. Kedung kandang Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif rancangannya stu-di kasus Dengan landasan teori fenomenologis. Subyek yang diteliti adalah guru kelas IV di SDN Se-gugus 5 Kec. Kedung kandang Kota Malang sebanyak 6 orang. Pengumpulan data menggunakan tehnik angket, wawancara, dan observasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Dengan tehnik analisis data: data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian secara umum: (1) guru memanfaatkan media peta, globe dan gambar dalam pembelajaran IPS dengan baik (83,3%), dalam pemanfaatannya guru telah menyesuaikan pemanfaatan media dengan tujuan pembelajaran (83,3%), yang berarti pemanfaatan media peta dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Se-gugus 5 kec. Kedung Kandang Kota Malang telah sesuai dengan langkah-langkah pemanfaatan media peta dengan baik, (2) guru jarang (16,7%) menemui problematika pada saat proses pembelajaran namun masih mengalami problematika dalam pengadaan media peta dan atlas yaitu, keterbatasan jumlah media peta dan atlas, (3) guru cukup aktif dalam pengadaan media peta jika media peta tidak tersedia di sekolah. Dapat disimpulkan: (1) media yang tersedia dan sering digunakan dalam pembelajaran IPS oleh guru kelas IV yaitu, peta, globe, dan gambar, 2) pemanfa-atan media peta sudah sesuai dengan karakteristik media pembelajaran, 3) dan sebagian kecil guru mengalami problematika dalam pemanfaatan media peta. Upaya untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran IPS diantaranya: guru membuat sendiri media peta atau dengan memanfaatkan sarana lain di sekolah untuk mengadakan media peta, Dengan demikian, dapat disarankan (1) media pembelajaran haruslah selalu dihadirkan dalam kegiatan pembelajaran, (2) Pemanfaatan media peta dapat efektif melalui pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, (3) Apabila mengalami kendala hendaklah guru segera berinisiatif mencari solusi.

Peningkatan hasil belajar kompetensi membuat busana wanita (materi pembuatan saku) pada siswa kelas X Busana Butik 2 SMK Negeri 1 Turen melalui penerapan model pembelajaran cooperative script / Liling Dyah Mumpuni

 

Kata Kunci: Pembelajaran Model Cooperative scrip, Hasil Belajar Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Busana Butik 2 SMK Negeri 1 Turen melalui penerapan model pembelajaran kooperatif model Cooperative Script. Berdasarkan observasi awal kelas yang diteliti, dapat diketahui bahwa pembelajaran membuat busana wanita di SMK Negeri 1 Turen secara umum masih mengacu pada model pembelajaran dimana guru menerangkan sementara siswa mendengarkan kemudian mengerajkan tugas menjahit dan mengumpulkannya. Dalam hal ini, hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran kurang maksimal karena kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru yang menjadi sumber informasi utama. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Busana Butik 2 SMK Negeri 1 Turen semester ganjil 2011/2012 pada kompetensi membuat busana wanita dengan materi macam-macam teknik penyelesaian busana wanita. Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data penelitian menggunakan pedoman penilaian aspek afektif dan psikomotorik serta angket respon siswa. Analisis hasil penelitian dideskripsikan dengan menggunakan teknik rata-rata hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Cooperative Script pada siswa kelas X Busana Butik 2 SMK Negeri 1 Turen dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran membuat busana wanita. Rata-rata hasil belajar aspek psikomotorik yang meliputi aspek kesesuaian mode busana dan tingkat kerapihan hasil menjahit siswa juga meningkat dari 78,97 pada siklus I menjadi 85 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru lebih memperhatikan pengelolaan waktu dan memantau kegiatan siswa terutama pada saat siswa berpasangan, selain itu perlu memperhatikan aspek kognitif siswa karena dapat mempengaruhi hasil belajar secara keseluruhan melalui pengembangan penelitian berikutnya.

Penggunaan media manik "POS NEG" untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Tanjungsekar 1 Malang / Riski Novita Sari

 

Kata Kunci: media, aktivitas, hasil belajar, matematika, SD Hasil pre tes menunjukkan bahwa 66,67% siswa belum mampu mengerjakan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan baik. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk membantu kesulitan yang dialami siswa yaitu dengan menggunakan media konkret berupa media manik “pos neg” yang dapat dimanipulasi secara langsung oleh siswa. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan penggunaan media manik “pos neg” untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Tunjungsekar 1 Malang; (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan media manik “pos neg”; dan (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa setelah pembelajaran matematika dengan menggunakan media manik “pos neg”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan tiap siklus dilaksanakan dua kali pertemuan. Subyek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IVC SDN Tunjungsekar 1 Malang semester 2 tahun ajaran 2012/2013. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pedoman observasi aktivitas guru dan siswa, pedoman wawancara, soal tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang tuntas belajar pada pre tes 33,33% meningkat menjadi 40% pada siklus I dan meningkat menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui penggunaan media manik “pos neg” dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Penggunaan media manik “pos neg” juga meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar matematika. Oleh karena itu disarankan bagi guru hendaknya dalam mempersiapkan pembelajaran mempertimbangkan tahapan perkembangan berpikir siswa yaitu: enaktif, ikonik, dan simbolik. Bagi pihak sekolah hendaknya menyediakan media pembelajaran matematika yang memadai guna mempermudah guru dalam membantu belajar siswa. Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis hendaknya menggembangkan media pembelajaran lain untuk materi di jenjang berikutnya.

Peningkatan keterampilan berbicara siswa melalui media big book di kelas II SDN Jabung 3 Kabupaten Malang / Dwi Tri Febriani

 

Kata Kunci: Peningkatan keterampilan berbicara, media big book, Kelas II SD Keterampilan berbicara bukanlah keterampilan yang bisa langsung dikuasai oleh seseorang. Keterampilan berbicara memerlukan latihan dan pengarahan yang intensif agar kualitas berbicara seseorang semakin meningkat. Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa siswa kelas II di SDN Jabung 3 Kabupaten Malang kurang terampil dalam berbicara. Upaya untuk memperbaiki masalah tersebut yaitu dengan bercerita menggunakan media big book. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan media big book; dan (2) peningkatan keterampilan berbicara siswa dengan menerapkan media big book. Pendekatan yang dilakukan yaitu pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan yaitu PTK. Subyek penelitian merupakan siswa kelas II SDN Jabung 3 Kabupaten Malang sebanyak 23 siswa. Penelitain ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, dimana prosedur setiap siklusnya terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, dokumentasi, dan tes keterampilan berbicara. Melatih keterampilan berbicara dengan menggunakan big book harus mencakup tujuan berbicara. tujuan kemudahan berbicara terlihat saat siswa dapat bercerita setelah membaca big book. Tujuan kejelasan terlihat saat siswa bercertia dengan lafal dan intonasi yang tepat serta suara yang nyaring dan lancar. Tujuan bertanggungjawab terlihat saat siswa menuliskan unsur-unsur cerita dan meringkas cerita. Tujuan membentuk pendengaran yang kritis terlihat pada saat siswa harus mendengarkan teman yang sedang bercerita secara lisan. Tujuan membentuk kebiasaan berbicara yang baik dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung Dari hasil penilaian yang dilakukan, dapat disimpulkan terjadi peningkatan keterampilan berbicara siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus I, rata-rata siswa mencapai 64. Pada siklus II, rata-rata siswa meningkat menjadi 84. Penguasaan keterampilan berbicara pada siklus I sebesar 30,4% dan pada siklus II meningkat menjadi 87%. Hal ini menandakan bahwa terjadi peningkatan penguasaan keterampilan berbicara siswa sebesar 57%. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan saat melatih keterampilan berbicara siswa, big book yang digunakan untuk setiap kelompok berbeda ceritanya. Dengan demikian siswa akan lebih memperhatikan teman saat bercerita. Keterampilan berbicara perlu dilatih pada mata pelajaran selain bahasa Indonesia, yaitu matematika, IPA, IPS, dan PKn.

Penerapan model Group Investigation untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada materi sifat-sifat cahaya di kelas V SDN Gadingkulon 01 Malang / Achmad Rifai

 

Kata kunci: Model Group Investigation, aktivitas, hasil belajar IPA Model Group Investigation merupakan model pembelajaran yang menekan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk menemukan sendiri konsep/materi dalam bentuk kelompok. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan sebelum melaksanakan penelitian diperoleh informasi bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di kelas V masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan siswa belum terlatih menemukan sendiri konsep-konsep baru. Akibatnya hasil belajar siswa menjadi rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi rata-ratanya hanya 63, sedangkan kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai yaitu 65. Untuk mengatasi hal itu maka peneliti menerapkan model Group Investigation untuk meningkatkan pembelajaran IPA. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan model Group Investigation pada pembelajaran IPA di kelas V; (2) Peningkatan aktivitas siswa selama penerapan model Group Investigation; (3) Peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model Group Investigation. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan selama dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pengumpulan data penerapan model Group Investigation dan aktivitas siswa dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, dan dokumentasi, serta tes untuk memperoleh data hasil belajar siswa. Data penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Penerapan model Group Investigation telah dilaksanakan guru sesuai dengan tahap-tahap model Group Investigation; (2) Peningkatan aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran IPA, hal ini dapat dilihat rata-rata perolehan persentase keberhasilan aktivitas siswa pada siklus I yaitu 69% meningkat pada siklus II yaitu 85%; (3) Peningkatan hasil belajar siswa siklus I rata-rata persentase ketuntasan belajar yaitu 87% meningkat rata-ratanya pada siklus II menjadi 94%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Group Investigation dapat meningkatkan pembelajaran IPA yang ditandai dengan peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Oleh sebab itu disarankan agar guru menerapkan model Group Investigation utamanya pada materi tentang sifat-sifat cahaya dan sebaiknya dilaksanakan pada siswa kelas tinggi, karena penguasaan kelasnya akan lebih mudah. Selain itu pembelajaran dengan model ini juga membutuhkan waktu yang cukup banyak dan lama, sehingga perencanaan pembelajaran perlu adanya pembagian waktu yang efisien.

Pengembangan media CD interaktif IPA materi sistem peredaran darah manusia untuk siswa kelas V SDN Jatimulyo 5 Malang / Nastiti Rahajeng

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media CD Interaktif, Materi Sistem Peredaran Darah Manusia, Siswa Kelas V SD. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), muncul media berbasis komputer yaitu multimedia interaktif melibatkan siswa secara langsung dalam pengoperasiannya melalui tombol pengendali komputer. Media ini menggabungkan suara, teks, grafik, video, gambar, animasi, dan data yang dikemas dalam satu software pembelajaran dan diproduksi dalam bentuk Compact Disc (CD). Media interaktif cukup efektif untuk mengajarkan materi yang bersifat aplikatif, berproses, dan sulit dijangkau. Salah satu materi IPA yang sifatnya berproses yaitu sistem peredaran darah manusia. Guru mengaku kesulitan mengajarkan materi ini karena keterbatasan media. Siswa juga kurang tertarik mempelajarinya karena membosankan dan konsepnya sulit dibayangkan. Berpijak dari hal tersebut, maka perlu dikembangkan suatu media CD interaktif IPA materi sistem peredaran darah manusia untuk siswa kelas V SD. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan media CD interaktif IPA yang layak menurut ahli materi, ahli media, ahli lapangan (guru), dan uji coba (siswa) sehingga media CD interaktif IPA materi sistem peredaran darah dapat digunakan. Model yang digunakan merupakan adaptasi dari model penelitian pengembangan Borg dan Gall. Tahap pengembangan hanya dilakukan hingga tahap uji coba kelompok kecil. Validasi media dilakukan oleh 1 orang dosen IPA KSDP, 1 orang dosen TEP, 2 orang guru SD serta uji coba kelompok kecil pada 10 siswa kelas V SDN Jatimulyo 5 Malang. Instrumen pengumpulan datanya adalah angket dengan format rating scale dan soal pre-test post-test. Data yang diperoleh berupa data numerik dan verbal. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis rata-rata dan persentase. Hasil pengembangan berupa media CD interaktif IPA materi sistem peredaran darah manusia. Validasi oleh ahli materi IPA mendapat hasil sebesar 91%, 97,15% oleh ahli media, 89,90% oleh ahli lapangan (guru). Uji coba kelompok kecil terhadap 10 siswa kelas V SD mendapat hasil sebesar 91,91%. Keseluruhan rata-rata hasil uji kelayakan adalah sebesar 92,49%. Kelayakan dari siswa juga didukung dengan hasil pre-test sebesar 37,3% dan post-test sebesar 75,6%. Kenaikan persentase rata-rata hasil belajar seluruh siswa ini semakin memperkuat data bahwa media CD interaktif IPA yang dikembangkan termasuk dalam kualifikasi sangat layak dan siap diimplementasikan. Media CD Interaktif IPA yang telah dikembangkan dapat meningkatkan kemandirian, antusiasme, dan keingintahuan siswa untuk mempelajari materi sistem peredaran darah manusia. Maka dari itu, disarankan kepada guru dan siswa untuk menggunakannya dalam pembelajaran sehingga diharapkan dapat tercetak generasi penerus bangsa yang kompeten, handal, dan melek teknologi.

Desain chopper DC untuk pengaturan kecepatan motor induksi satu fasa menggunakan metode PWM / Bustanul Arifin

 

Rancang bangun mesin pengayak pasir dengan gerakan berputar yang lebih efektif dan efisian / Achmad Ari Wibowo; Ahmad Fahmi Thoriq

 

Pengembangan media domino pintar pada pembelajaran IPS materi peranan tokoh perjuangan dalam memproklamasikan kemerdekaan di kelas V SDN Psangcandi 4 Kota Malang / Firman Lubis

 

Lubis, Firman. 2012. Pengembangan Media Domino Pintar Pada Pembelajaran IPS Materi Peranan Tokoh Perjuangan dalam Memproklamasikan Kemerdekaan di Kelas V SDN Pisangcandi 4 Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumanto, M.Pd, (II) Dra. Sri Sugiharti, M.Pd. Kata Kunci : pengembangan, media domino pintar, IPS SD Kemampuan siswa menjelaskan peranan tokoh perjuangan dalam memproklamasikan kemerdekaan sangat terbatas dan anak merasa sulit belajar hanya dengan menggunakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Fakta menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas V SDN Pisangcandi 4 Kota Malang terhadap peranan tokoh perjuangan kemerdekaan masih kurang . Perlu adanya media yang bisa membantu siswa mengingat, menceritakan dan menjelaskan peranan tokoh perjuangan kemerdekaan serta memudahkan siswa untuk belajar (stimulus). Tujuan penelitian pengembangan ini, (1) menghasilkan produk media domino pintar untuk pembelajaran IPS materi peranan tokoh perjuangan dalam memproklamasikan kemerdekaan yang valid menurut teori (ahli), (2) menghasilkan produk media domino pintar untuk pembelajaran IPS materi peranan tokoh perjuangan dalam memproklamasikan kemerdekaan yang valid menurut uji coba terhadap siswa. Metodologi penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan Borg and Gall dengan modifikasi yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, perumusan materi, perancangan media, Prototype media validasi prototype media oleh uji ahli, revisi produk, uji coba pengguna (siswa), revisi produk, dan produk akhir.Hasil penelitian menunjukkan bahwa media telah dinyatakan sangat valid oleh ahli media, ahli materi 1, dan ahli materi 2 (guru) dengan persentase perolehan skor masing-masing 89,6%, 92,8%, dan 88,8%., tingkat validitas ini didasarkan pada kriteria skor validitas yang dikonversikan menggunakan skala rating scale. Setelah dilakukan uji coba dengan subyek coba 12 siswa kelas V didapatkan bahwa media juga dinyatakan sangat valid dengan persentase perolehan skor 83,17%, serta dinyatakan sangat valid berdasarkan hasil evaluasi siswa, yaitu persensate skor 87,75%.     Hasil akhirnya adalah produk media domino pintar, adaptasi dari media kartu domino, namun dimodivikasi dengan memasukkan materi IPS tentang peranan tokoh perjuangan proklamasi. Satu perangkat domino pintar terdiri dari 30 kartu, setiap kartu berukuran 7 cmx 14cm, selain itu media juga dilengkapi perangkat lain yaitu profil media, petunjuk penggunaan bagi siswa, guru, dan RPP domino pintar. Pemanfaatan media domino pintar ini perlu diadakan uji coba lapangan dalam skala luas agar media benar-benar dapat dimanfaatkan dengan baik. Validasi ahli perlu dilakukan lebih dari satu orang ahli agar lebih valid dan sempurna

Dinamika politik pada Pemilu 1955 di Kediri / Muhammad Sulthon Fatawi

 

Kata kunci: dinamika, politik, pemilu 1955, Kediri. Pemilihan umum 1955 merupakan pemilu pertama dalam sejarah nasional Indonesia. Konstelasi partai politik yang memanas dikancah nasional pada masa itu baik langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada dinamika politik lokal khususnya di Kediri, persaingan antar partai dan organisasi underbouw-nya untuk mencari dukungan dari rakyat di daerah gencar dilakukan. Pada awal tahun 1950-an masyarakat Kediri terpolarisasi menjadi empat kelompok besar, pengelompokan tersebut sesuai aliran politik yang mereka anut. Dari hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti seperti apa dinamika politik pada pemilu 1955 di Kediri. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keadaan Kediri menjelang pemilu 1955, (2) bagaimana dinamika politik di Kediri pada pemilu 1955, (3) bagaimana pelaksanaan dan hasil pemilu 1955 di Kediri. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan keadaan Kediri menjelang pemilu 1955, (2) mendeskripsikan dan menganalisis dinamika politik pada pemilu 1955 di Kediri, (3) mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan serta hasil pemilu 1955 di Kediri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi lima tahap, yaitu: (1) Pemilihan topik, (2) Heuristik (pengumpulan sumber), (3) Verifikasi (kritik intern dan kritik ekstern), (4) Interpretasi (analisis dan sintesis), (5) Historiografi atau penulisan. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Kediri menjelang pemilu 1955 merupakan daerah yang mempunyai tingkat polarisasi politik yang tinggi khususnya antara empat partai besar berskala nasional yaitu PKI, PNI, NU, dan Masyumi. Partai-partai tersebut dapat mewakili struktur sosial politik masyarakat yang ada di Kediri. (2) Persaingan antar partai dan underbouw di Kediri cukup sengit walaupun berjalan kurang seimbang, karena PKI bisa dikatakan lebih sukses dalam pengorganisasian buruh gula, petani, dan buruh perkebunan di bandingkan partai lainnya. PKI di Kediri selain menggunakan sistem pengorganisasian modern PKI juga memanfaatkan kepemimpinan para dukun di desa untuk menarik simpati dari rakyat. PNI banyak didukung oleh para birokrat yang berpandangan nasionalis dan dari rakyat pendukung Soekarno. NU belum menggunakan sistem pengorganisasian modern, pendekatan NU lebih kepada aspek keagamaan. Program NU-nisasi di Kediri berjalan baik, dimana menjelang i pemilu 1955 pejabat KUA dari kabupaten sampai dengan para modin di desa dijabat oleh orang-orang NU dengan menyingkirkan orang-orang Muhammadiyah. Masyumi di Kediri dijalankan oleh orang Muhammadiyah dengan menggunakan sistem pengorganisasian yang modern, Banyak kader-kader Masyumi yang mempunyai keahlian dalam politik. Masyumi banyak diikuti oleh para pedagang muslim yang umumnya tinggal di kota. (3) Pelaksanaan pemilu 1955 di Kediri berjalan cukup aman dan kondusif. Dari pemilu tersebut diketahui hasil sebagai berikut; pemilihan anggota DPR daerah pemilihan Kabupaten Kediri PKI 143.789 suara, NU 92.551 suara, PNI 90.766 suara, Masyumi 54.400 suara. Hasil pemilihan anggota DPR daerah pemilihan Kota Kediri; PKI 23.252 suara, PNI 14.998 suara, NU 11.803 suara, Masyumi 4.521 suara. Hasil pemilihan anggota Konstituante daerah pemilihan Kabupaten Kediri PKI 13.0877 suara, PNI 94.480 suara, NU 89.809 suara, Masyumi 55.237 suara. Hasil pemilihan anggota Konstituante daerah pemilihan Kota Kediri PKI 21.440 suara, PNI 15.897 suara, NU 11.841 suara, dan Masyumi 3.032 suara. Bertolak dari penelitian ini diharapkan dapat membuka penelitian selanjutnya tentang pemilihan umum. Kepada penulis lain yang juga tertarik untuk mengangkat sejarah pemilihan umum sebagai tema skripsi, jangan takut untuk kehabisan topik pembahasan. Masih banyak ruang yang tersisa dengan fokus dan batasan waktu tertentu yang bisa dikaji.

Pengaruh aktifitas berorganisasi terhadap indeks prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang / Moch. Nur Rofiq

 

Kata kunci: aktifitas berorganisasi, indeks prestasi belajar, mahasiswa jurusan KSDP Universitas Negeri Malang. Pendidikan adalah salah satu kunci untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Di dalam kehidupan perguruan tinggi, seorang mahasiswa dituntut untuk hidup mandiri, baik dalam hal akademiknya (intrakurikuler) dan non akademiknya (ekstrakurikuler). Idealnya seorang mahasiswa harus mampu menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan kegiatan non akademik tersebut, sehingga seorang mahasiswa diharapkan unggul dalam prestasi belajar dan kemampuannya (hardskill dan softskill). Kemampuan tersebut terakomodasi salah satunya melalui aktifitas-aktifitas berorganisasi di lingkungan perguruan tinggi. Dalam penelitian ini, masalah yang dikaji adalah tentang aktifitas berorganisasi dan indeks prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan, serta pengaruh antara aktifitas berorganisasi terhadap indeks prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan aktifitas berorganisasi mahasiswa jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang; (2) mendeskripsikan indeks prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan; dan (3) menjelaskan pengaruh aktifitas berorganisasi terhadap indeks prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif assosiatif kausal. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang ikut dalam organisasi kemahasiswaan lingkup fakultas periode 2012 angkatan tahun 2009, 2010, dan 2011 yang berjumlah 153 mahasiswa, karena populasi dari penelitian ini lebih dari 100 orang sehingga digunakan metode sampel yaitu teknik proporsional stratified random sampling. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik angket dan teknik dokumentasi. Sedangkan analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, uji normalitas, analisis korelasional, uji linearitas, analisis regresi linear sederhana, dan pengujian hipotesis (uji t). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara aktifitas berorganisasi terhadap prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Hal ini ditandai dari tingkat keeratan hubungan antar variabel sebesar 0,540 (kuat) dan tingkat pengaruh atau koefisien determinasinya sebesar 29,2 %. Sedangkan, pada pengujian hipotesis dilihat dari taraf signifikansi diketahui bahwa nilai probabilitasnya sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari alpha (0,05) dan pada pengujian hipotesis 2 sisi diketahui thitung = 4,975 dan ttabel= 2,000 sehingga thitung > ttabel. Oleh karena itu, berdasarkan dari 2 pengujian hipotesis tersebut sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Jadi kesimpulannya, ada pengaruh yang signifikan dan positif dari aktifitas berorganisasi terhadap indeks prestasi belajar mahasiswa jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang, yang berarti semakin tinggi (aktif) akitifitas berorganisasi mahasiswa tersebut, maka akan semakin tinggi (baik) pula indeks prestasi belajarnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti antara lain, yaitu diharapakan mahasiswa jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang (pada khususnya) agar lebih aktif dan menyeimbangkan dalam kegiatan perkuliahan (akademik) dan kegiatan organisasi kemahasiswaan (non akademik), agar dapat berjalan secara seimbang dan tidak saling merugikan sehingga tujuan untuk menjadi mahasiswa seutuhnya dapat tercapai. Selain itu, diharapkan hasil penelitian ini berguna untuk dijadikan bahan kajian dalam mengembangkan tema penelitian yang serupa bagi peneliti selanjutnya.

Evaluasi program kerja Cabang Olah Raga Angkat Besi tahun 2012 di Kota Malang dengan menggunakan pendekatan evaluasi model CIPP / Faisal Kusuma Hadi

 

Kata Kunci: evaluasi, program kerja,angkatbesi, CIPP. Program kerjadapatdiartikansebagaisuaturencanakegiatanyang akandijalankandarisuatuorganisasi yang terarah, terpadudansistematis yang dibuatuntukrentangwaktu yang telahditentukanolehsuatuorganisasi. Program kerjaakanmenjadipedomanbagisuatuorganisasidalammelakukankegiatanoperasional. Kegiatan yang telahdilaksanakantersebutbelumdapatmencapaitahapan yang baikjikatidakdilaksanakanevaluasi. Berkaitandenganhaltersebut, makadiperlukanevaluasimengenai program kerja yang telahdisusuntersebut. Penelitianinidilaksanakandengantujuanuntukmengevaluasi program kerjacabangolahragaangkatbesitahun 2012 denganmenggunakan model evaluasi CIPP(context, input, process, product)sertamenghasilkanrekomendasiuntukmengambilsebuahkeputusanuntukmelanjutkanprogram, merevisi, menyebarluaskanataumengehentikan program kerjatersebut. Penelitianevaluasiinimenggunakanteknikanalisisstatistikdeskriptifdenganpersentase. Pengumpulan data dilakukandenganwawancaradanobservasi. Instrumen yang digunakanuntukmengumpulkan data berupaangket. Kemudian data tersebutdianalisissesuaidenganmodelevaluasiCIPP yang terdiridari(1) context, (2) input, (3) process, dan(4)product. Berdasarkanhasilanalisis data tersebut, empatkesimpulanhasilpenelitiansebagaiberikut. Pertama, padavariabelcontextyang berhubungandengankebutuhan program kerjamemperolehketercapaian60% yang tergolongdalamkategoricukupbaik. Kedua, padavariabelinputyang mencakupsumberdayamanusia (atlet, pelatih, pengurus), saranadanprasarana, pendanaanmemperolehketercapaian 82,3% yang tergolongdalamkategoribaik. Ketiga, padavariabelprocessyang berhubungandenganpelaksanaanatlet, pelatihdanpengurusmemperolehketercapaian 63, 3% yang tergolongdalamkategoribaik. Keempat, padavariabelproduct yang berhubungandenganketercapaianprestasimemperolehketercapaian 29% yang tergolongdalamkategorikurangbaik. Pada data hasilkeseluruhanvariabelcontext, input, process, productmemperolehketercapaian 64,8% yang tergolongdalamkategoribaik. Darihasil data tersebut, makadapatdisimpulkanbahwasecarakeseluruhan program kerjacabangolahragaangkatbesi Kota Malang tergolongpadakategoribaik. Saranberdasarkanhasilpenelitianiniadalahmelanjutkan program yang sudahadaakantetapiadabeberapahal yang harusdirevisiKONI Kota Malang yaitu(1) perludiselenggarakansosialisasipembuatanprogramkerja yang sesuaidenganstandar KONIKotaMalang (2) sebelummembuatprogramkerja , sebaiknyaharusdidasaridenganrencanaimplementasi yang jelas, sedangkansaranbagiindukcabangorganisasiangkatbesiKotaMalangyaitu (1) diharapkanpenguruslebihmemperhatikandalamhalpembukuanataupencatatandana yang telahdigunakan (2) diharapkanpenguruslebihmemperhatikanpemberianpenghargaankepadaatlet dan pelatih agar dapatdijadikanmotivasiekstrinsik(3) pada tahappenyusunanprogramkerja, diharapkanpengurusmemperhatikanpenyelenggaraaneven yang akandiikuti agar hasil yang dicapaisesuaidenganrencana (4) dalamaspekmanajemensudahmendekatikondisi yang baikatausudahsesuaidenganprosedur yang telahditetapkantetapimasihada yang perludiperbaikiantara lain pengevaluasiankegiatan yang telahdilaksanakan.

Peningkatan hasil belajar IPS menggunakan model pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share) pada siswa kelas IV SDN Jenggolo 2 Kepanjen Kabupaten Malang / Ardianti Ila Oli V.

 

Kajian model pembelajaran menulis lintas kurikulum / Srining Wulansari

 

Kata kunci: kurikulum, keterampilan menulis, pembelajaran menulis lintas kurikulum Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Dalam kegiatannya, menulis adalah menuangkan ide-ide melalui simbol-simbol grafik. Simbol-simbol grafik tersebut diolah dan dirangkai menjadi kesatuan kalimat yang utuh serta bermakna. Menulis juga dapat membangun pola pikir kritis dan efektif. Pembelajaran menulis tidak hanya dipelajari dalam pelajaran bahasa, melainkan bisa diberbagai pelajaran, yakni pelajaran Ilmu Sains, Ilmu Sosial, dan Matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan model-model pembelajaran menulis lintas kurikulum yang pernah diterapkan di luar negeri. Dari model-model yang ditemukan dianalisis apa konteks yang mendasari, bagaimana prinsip-prinsipnya, bagaimana wujud pembelajarannya, dan manfaat dari pembelajaran menulis lintas kurikulum. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka yang didukung dengan matriks analisis. Matriks analisis yang dibuat oleh peneliti berfungsi sebagai instrumen untuk memasukkan dan menganalisis data.Tahapan analisis data yang dilakukan peneliti meliputi (1) langkah persiapan, (2) langkah penganalisisan, dan (3) langkah penyimpulan. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ditemukan empat konteks yang mendasari pentingnya model pembelajaran menulis lintas kurikulum, yakni (1) diterapkannya model pembelajaran MLK memungkinkan materi pelajaran dapat lebih dipahami oleh siswa, (2) diterapkannya model pembelajaran MLK memungkinkan siswa dapat berpikir kritis, (3) diterapkannya model pembelajaran MLK memungkinkan siswa dapat lebih terampil dalam komunikasi tulis, dan (4) diterapkannya model pembelajaran MLK memungkinkan siswa dapat lebih terampil dalam menulis, khususnya bagi siswa yang memiliki bakat dalam menulis. Kedua, ditemukan tiga prinsip yang mendasari praktik pembelajaran menulis lintas kurikulum, yakni (1) prinsip membangun siswa aktif dan kritis berpikir, (2) prinsip mengondisikan sebuah proses dalam pembelajaran, dan (3) prinsip membangun kreativitas siswa dalam berekspresi. Ketiga, ditemukan tiga wujud model pembelajaran MLK, yakni(1) model pembelajaran berbasis digital tool yang terbagi lagi menjadi empat model, yaitu (a) From Blog to Video, (b) Collaboration with Laptop, (c) Newsaper Public Share, dan (d) Working with Website, (2) model pembelajaran MTDP (Model Text Deconstruction Process), (3) model pembelajaran CRAFTS (Context-Role-Audiences-Formats-Topics-Strong of Verb). Keempat, ditemukan empat manfaat pembelajaran menulis lintas kurikulum, yakni (1)melalui pembelajaran MLK, keterampilan menulis siswa menjadi meningkat, (2) pembelajaran MLK bermanfaat untuk meningkatkan pola berpikir kritis siswa sekaligus berdampak pada pembelajaran yang aktif, (3) pembelajaran MLK meningkatkan pemahaman siswa terhadap masing-masing mata pelajaran, (4)pembelajaran MLK menjadikan siswa lebih terampil dalam berkomunikasi tulis, khususnya dalam dunia kerja.

Kalimat dalam karangan mahasiswa program Critical Language Scholarship di Fakultas Sastra UM tahun 2012 / Azza Aulia Ramadhani

 

Kata Kunci: bentuk kalimat, struktur kalimat, pola kalimat, BIPA Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar resmi lembaga pendidikan, bahasa resmi perhubungan pada tingkat nasional, dan bahasa media massa. Sebagai salah satu bahasa dunia, bahasa Indonesia telah berkembang pesat pada abad ke-20. Perkembangan bahasa Indonesia tersebut dibuktikan dengan penggunaannya yang meluas, tidak hanya warga negara Indonesia, bahkan warga negara asing mulai banyak yang mempelajari bahasa Indonesia. Ketertarikan orang asing untuk mempelajari lebih dalam tentang Indonesia dan bahasanya, akan membuka peluang pembelajaran bahasa Indonesia secara intensif baik di dalam maupun di luar negeri. BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) adalah program pengajaran bahasa Indonesia yang ditujukan untuk orang asing. Pembelajaran BIPA di Indonesia tidak hanya dimaksudkan untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada penutur asing, melainkan juga memperkenalkan bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa komunikasi praktis untuk berbagai kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk kalimat yang terdapat dalam karangan mahasiswa program CLS 2012, (2) struktur kalimat yang terdapat dalam karangan mahasiswa program CLS 2010, dan (3) pola kalimat yang terdapat dalam karangan mahasiswa program CLS 2012. Penelitian ini mengenai kalimat dalam karangan mahasiswa asing ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif-deskriptif. Sumber data dalam penelitian berupa hasil tulisan mahasiswa asing berbentuk karangan selama mengikuti program CLS 2012, yaitu karangan mahasiswa pada saat ujian tengah semester and ujian akhir semester. Data penelitian berwujud kalimat dalam karangan yang ditulis oleh mahasiswa program CLS 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk kalimat dalam karangan mahasiswa program CLS 2012, adalah (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat imperatif, dan (3) kalimat interogatif. Tidak ditemukan kalimat eksklamatif dalam karangan mahasiswa program CLS 2012. Dalam karangan mahasiswa Intermediate 1, ditemukan kalimat deklaratif dalam karangan deskripsi dan karangan narasi. Sedangkan dalam karangan mahasiswa Intermediate 2, ditemukan kalimat deklaratif dan interogatif dalam karangan argumentasi, serta ditemukan kalimat imperatif dalam karangan persuasi. Sedangkan dalam karangan mahasiswa Intermediate 3, ditemukan kalimat deklaratif dalam karangan narasi dan narasi-argumentasi. ii Dalam karangan mahasiswa tingkat Intermediate 1, 2, dan 3 ditemukan kalimat yang berstruktur tunggal, majemuk setara, majemuk bertingkat, dan majemuk campuran. Berdasarkan temuan tersebut dapat diketahui bahwa pada tingkat Intermediate mahasiswa asing mampu menyusun kalimat yang berstruktur sederhana seperti kalimat tunggal dan kalimat yang berstruktur kompleks seperti kalimat majemuk, baik itu kalimat majemuk setara, majemuk bertingkat, maupun majemuk campuran. Pola kalimat yang sering dijumpai dalam karangan mahasiswa, antara lain (1) S-P, (2) S-P-Pel, (3) S-P-Ket, (4) S-P-Pel-Ket, (5) Ket-S-P, (6) P-S, (7) Ket-S-P-Ket, (8) Ket-S-P-Pel, dan (9) S-P1-P2. Dalam karangan mahasiswa Intermediate 1 ditemukan kalimat yang berpola sederhana seperti S-P, S-P-Pel, S-P-K, S-P-Pel-K, K-S-P-K, K-S-P-O-K, S-P1-P2, S-P-S-P, dan sebagainya. Hingga kalimat yang berpola kompleks seperti S-P-Pel-S-P-O, S-P-S-P-Pel-P-O, S-P-S-P-O-S-P-O, Ket Ket Pel Ket S-P-S-P-O-Ket.waktu-Ket.cara, S-P-S-Ket-P-Pel-Ket, dan sebagainya. Sama halnya Pel Ket dengan mahasiswa program CLS tingkat Intermediate 1. Dalam karangan, mahasiswa program CLS tingkat Intermediate 2 ditemukan kalimat yang berpola sederhana seperti S-P, S-Ket, S-P-Pel, S-P-Ket, S-P-O-Ket, S-P-Pel-Ket, S-P-Ket-O, Ket-S-P-Pel, dan lain-lain, hingga kalimat kompleks seperti S-P-S-P-Ket, S-P-S-P-Pel, S-P-O- Ket Pel Ket Ket-S-P-O, S-P-S-P-Ket-S-P-Ket, dan sebagainya. Bahkan, ditemukan kalimat yang Pel Ket berpola susun balik atau inversi dalam karangan mahasiswa program CLS 2012 tingkat Intermediate 2. Dalam karangan mahasiswa Intermediate 3 juga dapat ditemukan kalimat yang berpola sederhana hingga kalimat yang berpola kompleks. Kalimat-kalimat berpola sederhana yang terdapat dalam karangan mahasiswa program CLS 2012 tingkat Intermediate 3, yaitu S-P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-Ket, S-P-Pel-Ket, Ket-S-P, Ket-S-P-O, Ket-S-P-Pel, dan sebagainya. Sedangkan kalimat-kalimat berpola rumit yang ditemukan dalam karangan mahasiswa program CLS 2012 tingkat Intermediate 3, antara lain S-P-O-S-P-Pel, S-P-Pel-Ket-S-P-Pel-Ket, S-P-Ket-S-P-Ket, S- P-S-P-O, S-P-S-P-Ket, S-P-S-P-Pel, S-P-S-P-Pel, S-P-Pel-Ket-S-P, Ket Ket Ket Ket Ket S-P-S-P-S-P, S-P-S-P-Pel-Ket, S-P-Pel-S-P-Pel, S-P-O-S-P-Pel, S-P-O-Ket-S-P-O- Pel Pel Ket Ket Ket Ket, S-P-S-P-Ket-P-Ket, S-P-S-P-Ket-S-P-Ket, dan sebagainya. Sama halnya dengan Ket Pel karangan mahasiswa tingkat Intermediate 2, ditemukan pula kalimat yang berpola susun balik atau inversi dalam karangan mahasiswa tingkat Intermediate 3.

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan kecerdasan interpersonal anak di TK Alhidayah X Kauman Kota Blitar / Siti Khodijah

 

Kata kunci: Pola Asuh Orangtua, Kecerdasan Interpersonal Anak, Anak TK Pola asuh orang tua merupakan bentuk interaksi antara orang tua kepada anaknya untuk mendidik, membimbing dan merawat serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yaitu: (1) bagaimana pola asuh orang tua di TK Al-Hidayah X Kauman Kota Blitar, (2) bagaimana perkembangan kecerdasan interpersonal anak di TK Al-Hidayah X Kauman Kota Blitar, (3) apakah terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan kecerdasan interpersonal anak di TK Al-Hidayah X Kauman Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Pengumpulan data menggunakan instrumen angket/ kuesioner. Sampel penelitian ini adalah sampel total (110 anak). Validitas instumen diuji menggunakan rumus Product Moment Pearson dan reliabilitasnya diuji menggunakan rumus koefisien Alpha. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis korelasi Product Moment Pearson dan analisis persamaan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orangtua anak di TK Al-Hidayah X Kauman Kota Blitar pada umumnya berpola asuh demokratis. Kecerdasan interpersonal anak di TK Al-Hidayah X Kauman Kota Blitar pada umumnya memiliki kecerdasan interpersonal dengan tingkatan matang. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan perkembangan kecerdasan interpersonal anak di TK Al-Hidayah X Kauman Kota Blitar. Pola asuh orang tua memberikan sumbangan sebesar 52.5% dan sisanya 47.5% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian ini, diantaranya faktor lingkungan di masyarakat maupun tayangan televisi yang tidak mendidik. Saran-saran yang dapat disampaikan hendaknya orang tua dalam mendidik anak dapat membatu meningkatkan kemampuan anak untuk dapat bersopan santun yang baik dan memiliki tata krama, karena kecerdasan interpersonal sangat diperlukan anak untuk dapat hidup berdampingan di masyarakat. Apabila ada peneliti mengambil judl yang sama hendaknya hasil peneliti ini ditindak lanjuti dengan memperluas populasi sehingga aplikasinya lebih luas.

Pengembangan instrumen asesmen menulis kreatif cerpen dan naskah drama SMP terintegrasi karakter / Giati Anisah

 

Anisah, Giati. 2012. Pengembangan Instrumen Asesmen Menulis Kreatif Cerpen dan Naskah Drama SMP Terintegrasi Karakter. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Malang. Pembimbing: (I) Dr. Titik Hasiati, M.Pd., (II) Dr. Nurhadi, M.Pd. Kata kunci: instrumen asesmen, menulis kreatif cerpen, menulis kreatif naskah drama, penilaian karakter. Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh penilaian kemampuan menulis kreatif bidang kesastraan khususnya cerpen dan naskah drama di SMP memiliki banyak kekurangan. Kekurangan tersebut terdiri dari empat hal, yakni (1) instrumen asesmen kurang memiliki validitas yang baik, (2) instrumen asesmen kurang reliabel sehingga porsi subjektivitas guru tinggi, (3) tugas kurang praktis sehingga tidak semua siswa mengumpulkan tugas pada batas waktu yang ditentukan, dan (4) kriteria penilaian proses kurang jelas. Kekurangan yang ada di lapangan tersebut perlu segera ditanggulangi. Membiarkan keadaan ini berlarut-larut akan menghambat kegiatan evaluasi yang valid. Penelitian ini akan menghasilkan seperangkat instrumen asesmen menulis kreatif cerpen dan naskah drama SMP terintegrasi kararkter. Instrumen asesmen terdiri dari tiga produk, yaitu (1) instrumen asesmen menulis kreatif cerpen bertolak dari peristiwa yang pernah dialami, (2) menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memerhatikan keaslian ide, dan (3) menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata. Setiap produk terdiri dari tugas menulis kreatif, rubrik observasi proses, dan rubrik penilaian hasil. Produk dikemas dalam sebuah buku berisi wujud instrumen yang dilengkapi karakteristik dan petunjuk penggunaan yang diselipkan di saku buku tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan instrumen asesmen menulis kreatif cerpen dan naskah drama SMP terintegrasi karakter. Produk yang dikembangkan memperhatikan syarat-syarat instrumen asesmen yang baik yakni memiliki validitas, kepraktisan, dan reliabilitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan instrumen Djaali dan Muljono (2008:60—62). Berdasarkan prosedur tersebut, terdapat dua belas tahap pengembangan instrumen asesmen, yakni (1) merumuskan konstruk, (2) mengembangkan dimensi dan indikator, (3) membuat kisi-kisi, (4) menentukan besaran kontinum, (5) menulis butir instrumen, (6) melakukan uji ahli, (7) merevisi berdasarkan hasil uji ahli, (8) penggandaan, (9) uji coba di lapangan, (10) perbaikan atau pengeluaran butir yang tidak valid, (11) penghitungan reliabilitas, dan (12) perakitan kembali butir yang valid. Penelitian ini memiliki dua jenis data, yaitu data numerik dan verbal. Data numerik didapat dari skor yang dituliskan ahli pada angket validasi. Data verbal dibedakan menjadi data verbal tertulis dan data verbal tidak tertulis. Data verbal tertulis berupa catatan, komentar, kritik, dan saran perbaikan mengenai validitas dan kepraktisan produk yang dituliskan subjek uji pada angket validasi. Data verbal tidak tertulis berupa informasi lisan yang diperoleh ketika wawancara. Instrumen asesmen menulis kreatif cerpen dan naskah drama SMP terintegrasi karakter yang dihasilkan penelitian ini dibutuhkan guru dan siswa. Instrumen tersebut telah memenuhi syarat-syarat instrumen yang baik, yakni validitas, kepraktisan, dan reliabilitas. Berdasarkan simpulan tersebut disarankan tiga hal, yakni (1) guru disarankan menggunakan instrumen untuk menilai keterampilan menulis kreatif cerpen dan naskah drama di SMP dengan mengintegrasikan pendidikan karakter, (2) diseminasi produk ini disarankan melalui internet. Jika memungkinkan produk akan diterbitkan, dan (3) hasil pengembangan dapat dipelajari dan diterapkan oleh guru dalam mengajarkan kompetensi menulis kreatif cerpen dan naskah drama. Dengan demikian, peneliti akan memperoleh tanggapan berupa komentar dan saran yang dapat menjadi pertimbangan bagi peneliti untuk mengembangkan instrumen asesmen yang lebih baik.

Implementasi metode inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains anak usia dini (Penelitian tindakan pada kelompok B TK ABA 24 Malang) / Olviani Cipta Ningsi Tarinje

 

Tarinje, Olviani Cipta Ningsi, 2013. Implementasi Metode Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Anak Usia Dini. Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, (II) Dr. H. Sulton, M.Pd Kata kunci: metode inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains, anak usia dini Pembelajaran anak usia dini hendaknya mementingkan proses saat anak belajar dari pada hasil karya anak. Hal ini menjadi dasar mengapa keterampilan proses sains anak perlu dikembangkan. Hasil observasi awal di lapangan ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat keterampilan proses sains anak adalah metode pembelajaran yang kurang tepat, dimana pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga anak kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk membantu mengembangkan keterampilan proses sains anak adalah metode inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan proses sains anak usia dini melalui implementasi metode inkuiri terbimbing. Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok B1 TK ABA 24 Malang dengan jumlah 26 anak yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains anak usia dini melalui metode inkuiri terbimbing. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Implementasi metode inkuiri terbimbing telah dilaksanakan dengan rata-rata persentase penerapan sebesar 81,31% pada siklus I dan 93,56% pada siklus II. Persentase penerapannya dilihat dari lembar penilaian observasi kegiatan guru yang diisi oleh observer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan proses sains anak dapat meningkat melalui implementasi metode inkuiri terbimbing. Pada siklus I, ratarata persentase keterampilan proses sains anak adalah 68,67% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 20% menjadi 88,67%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan proses sains anak usia dini dapat meningkat melalui metode inkuiri terbimbing. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan agar para guru perlu dilatih untuk memiliki pengetahuan lebih tentang model pembelajaran yang cocok bagi anak usia dini yang dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Selain itu, peneliti juga menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini yaitu tidak hanya meningkatkan keterampilan proses sains tetapi juga keterampilan produk dan sikap sains anak.

Pengaruh pendinginan hasil las MIG (Metal Inert Gas) dengan berbagai media pendingin terhadap kekerasan jalur las dan sekitarnya / Akhmad Khoirur Rizal

 

Kata Kunci: Baja St 41, las MIG, logam las, daerah HAZ, media pendingin, kekerasan. Pengelasan MIG merupakan proses penyambungan dua material logam atau lebih menjadi satu melalui proses pencairan setempat, dengan menggunakan elektroda gulungan (filler metal) yang sama dengan logam dasarnya (base metal) dan menggunakan gas pelindung (inert gas ). Las MIG (Metal Inert Gas) merupakan las busur gas yang menggunakan kawat las sekaligus sebagai elektroda. Elektroda tersebut berupa gulungan kawat ( rol ) yang gerakannya diatur oleh motor listrik. Daerah las-lasan terdiri dari tiga bagian yaitu: daerah logam las, daerah pengaruh panas atau heat affected zone disingkat menjadi HAZ dan logam induk yang tak terpengaruhi panas. Daerah logam las adalah bagian dari logam yang pada waktu pengelasan mencair dan kemudian membeku. Komposisi logam las terdiri dari komponen logam induk dan bahan tambah dari elektroda. Daerah pengaruh panas atau heat affected zone (HAZ) adalah logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang selama proses pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan pendinginan cepat sehingga daerah ini yang paling kritis dari sambungan las. Logam induk adalah bagian logam dasar di mana panas dan suhu pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dan sifat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Nilai kekerasan hasil pengelasan MIG dengan media pendingin air PDAM pada baja St 41 di jalur las dan sekitarnya, (2) Nilai kekerasan hasil pengelasan MIG dengan media pendingin air garam pada baja St 41 di jalur las dan sekitarnya, (3) Nilai kekerasan hasil pengelasan MIG dengan media pendingin Oli pada baja St 41 di jalur las dan sekitarnya, dan (4) Apakah terdapat perbedaan nilai kekerasan hasil pengelasan MIG dengan media pendingin air PDAM, air garam dan oli pada baja St 41 di jalur las dan sekitarnya. Penelitan ini menggunakan teknik analisis anava data hasil uji normal lalu dengan uji regresi. Hasil penelitian rata-rata nilai kekerasan tertinggi pada media pendingin yang berbeda, yakni pada media air garam mencapai 79,802 HRB kemudian media air PDAM 78,923 HRB, lalu media oli 75,128 HRB yang semakin rendah. Laju pendinginan berpengaruh terhadap nilai kekerasan dalam pengelasan baja St 41, semakin cepat laju pendinginan nilai kekerasan semakin tinggi.

Keefektifan healing stories untuk meningkatkan kemampuan mengelola stroke positif siswa SMP / Keyna Laras Arivantoro

 

Kata kunci: healing stories, kemampuan mengelola stroke positif Kemampuan mengelola stroke positif merupakan kemampuan memberi atau menerima perhatian atau pujian secara positif kepada sesama, yang saat ini sulit ditemukan dalam diri seseorang. Hal ini karena seiring dengan era globalisasi dan teknologi yang canggih membuat siswa terlena dan membuat siswa menjadi makhluk individual. Berkurangnya kemampuan mengelola stroke positif yang ditunjukkan siswa di lingkungan sekolah antara lain kebiasaan mengejek atau mengolok-olok teman-temannya, menertawakan suatu kecorobohan atau musibah yang dialami temannya yang kadang dapat memicu perkelahian. Bimbingan dan konseling berperan penting dalam mengatasi permasalahan ini melalui salah satu metode bimbingan dan konseling yaitu healing stories. Healing stories merupakan salah satu metode pemberian cerita yang inspriratif yang dipakai sebagai alat atau model dalam mengubah sikap atau perilaku sesuai yang diharapkan. Healing stories yang digunakan adalah film pendek yang disesuaikan dengan kategori kemampuan mengelola stroke positif. Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui keefektifan healing stories untuk meningkatkan kemampuan mengelola stroke positif siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre experimental design dengan jenis One Group Pretest and Posttest design. Eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok tanpa kelompok pembanding. Pelaksanaan rancangan penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan perlakuan kepada sekelompok individu berupa pretest, treatment berupa film, dan posttest. Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 2 Probolinggo kelas VIII B yang memiliki kemampuan mengelola stroke positif rendah dan berjumlah 10 orang siswa. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan uji beda wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa healing stories efektif untuk meningkatkan kemampuan mengelola stroke positif siswa SMP. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan skor kemampuan mengelola stroke positif kelompok eksperimen setelah diberikan treatment dengan nilai z = -2.805a dan Asymp. Sig. (2-tailed) 0,005 pada derajat signifikan <0,05. Dasar pengambilan keputusan adalah jika probabilitas <0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada perbedaan skor empati sebelum dan sesudah treatment. Dari hasil penelitian disarankan: 1) konselor dalam menggunakan healing stories untuk meningkatkan kemampuan mengelola stroke positif perlu memperhatikan beberapa hal seperti: tema film, durasi film, adegan, bahasa, kesiapan siswa, kesiapan konselor sendiri dan ketersediaan waktu dan 2) bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding, sehingga hasil yang diperoleh akan lebih meyakinkan.

Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi melalui media video pada siswa kelas IV SDN Ternyang 4 Kecamatan Sumberpucung / Rina Amalia

 

Penerapan metode drama untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas V SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Rika Alfiana

 

Keefektifan teknik desensitisasi sistematis untuk mengurangi kecemasan siswa terhadap pelajaran matematika di SMPN 4 Malang / Hernika Desviliana

 

Kata Kunci: Desensitisasi sistematis, kecemasan, matematika Kecemasan acapkali dialami oleh setiap manusia, hal ini terjadi karena reaksi ketakutan yang terkondisikan sehingga timbullah bentuk perilaku berupa penghindaran agar dirinya merasa aman. Bentuk dari penghindaran kecemasan yang dialami siswa adalah mencontek atau menghindari dengan cara berpura-pura mengerjakan tugas agar tidak ditunjuk oleh guru. Dengan demikian peran bimbingan dan konseling sangat membantu siswa yang mengalami kecemasan terhadap pelajaran matematika. Dalam hal ini teknik desensitisasi merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika di SMPN 4 Malang. Tujuan dilaksanakannya penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan teknik desensitisasi sistematis dalam mengurangi kecemasan siswa terhadap pelajran matematika di SMPN 4 Malang. Penelitian ini juga dapat memberikan masukan kepada para pembaca termasuk masukan untuk konselor di SMP mengenai salah satu bentuk layanan konseling individu yang efektif untuk mengurangi kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre experimental design dengan jenis One Group Pretest and Posttest design. Eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok tanpa kelompok pembanding. Pelaksanaan rancangan penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest kepada sekelompok individu berupa skala kecemasan , treatment berupa konseling individu dengan teknik desensitisasi sistematis, dan posttest berupa skala kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik teknik desensitisasi sistematis efektif untuk mengurangi kecemasan siswa terhadap pelajaran matematika di SMPN 4 Malang. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan skor skala kecemasan kelompok eksperimen setelah diberikan treatment dengan menghasilkan nilai wilcoxon sebesar (z = -2.023a) dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,045 pada derajat signifikan <0,05. Dasar pengambilan keputusan adalah jika p <0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada perbedaan skor kecemasan sebelum dan sesudah treatment. Dari hasil penelitian maka dapat disarankan agar: 1) konselor memperhatikan lingkungan sekitar/ suasana ketika pelaksanaan konseling dengan teknik desensitisasi sitematis, 2) bagi sekolah dapat menyediakan fasilitas untuk relaksasi yaitu berupa kursi relaksasi, dan 3) bagi peneliti selanjutnya hendaknya memperhatikan setiap kata dalam pembuatan instrumen agar memperoleh data yang valid.

Implementasi pendidikan karakter dalam program inovatif one day discovery (Studi kasus di SD Ma'arif Jogosari Pandaan) / Zakky Imawan

 

Kata Kunci: Implementasi, Pendidikan Karakter, One Day Discovery, SD. Pendidikan karakter saat ini sangat dibutuhakan karena degradasi moral yang terus menerus terjadi pada generasi bangsa dan nyaris membawa bangsa ini pada kehancuran, karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang, di Program One Day Discovery mengajarkan pembentukan karakter melalui kegiatan yang dialami siswa secara langsung yang melibatkan aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengali dan mendeskripsikan mengenai implementasi pendidikan karakter melalui program One Day Discovery di SD Ma’arif Jogosari Pandaan. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dan jenis penelitian ini, yaitu studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini berupa situasi alamiah, wajar (tanpa rekayasa), proses pengumpulan data dilakukan dengan cara yaitu (1) Wawancara, (2) Obeservasi (3) sumber data berupa dokumen milik sekolah, foto dan hasil dokumentasi lain yang menunjang penelitian. Proses analisis yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini SD Ma’arif Jogosari Pandaan dalam perencanaan sudah menyisipkan ke 18 nilai karakter, dalam pelaksanaannya sudah sesuai dengan harapan perencanaan, namun nilai karakter belum sepenuhnya nampak. Dalam pelaksanaanya kegiatan One Day Discovery juga mempunyai faktor pendukung ialah dari fasilitas dan pendidik yang berkompeten dibidangnya. Penghambat dari kegiatan ini ialah dari sifat dasar anak yaitu: suka tak acuh ketika mengikuti pembelajaran dan siswa kadang lupa ketika membawa barang dan masih malu-malu. Namun SD Maarif jogosari Pandaan berupaya penuh dalam pembentukan karakter siswa-siswinya. Pembahasan penelitian ini adalah pelaksanaan pembentukan karakter di SD Ma’arif Jogosari Pandaan sudah terlaksana dengan baik terlihat dari perencananya, pelaksaannya, dan kegiatan evaluasi. Dalam pelaksanaan kegiatanya menunjukkan banyak karakter yang telah ditanamkan. Faktor-faktor pendukung dan penghambat sebagai kunci untuk ningkatkan lagi kegiatan One Day Discovery. Kesimpulan penelitian dalam pelaksanaan pembentukan karakter sudah berjalan dengan baik yang didalamnya meliputi perecanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembetukan karakter di program One Day Discovery sudah terencana dan tersusun dengan baik, saran dari penelitian ini adalah Sebagai titik tolak dalam perkembangan penelitian mengenai pendidikan karakter yang akan dilakukan selajutnya, dengan mempertimbangkan penanaman karakter melalui program One Day Discovery.

Penerapan model pembelajaran quis team untuk meningkatkan kualitas pembelajarn IPA kelas IVA SDN Ketawanggede Kota Malang / Dian Fatmawati

 

Penerapan model role playing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen Kota Malang / Aries Noerfitha Ramadhan

 

Kata kunci: Role playing, aktivitas, hasil belajar, IPS SD. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa di kelas III SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen Kota Malang, pembelajarannya masih berpusat pada guru. Selain itu, siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal tersebut berdampak pada perolehan rata-rata nilai dan ketuntasan belajar. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan model role playing dalam pembelajarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) proses pembelajaran dengan menggunakan model role playing pada mata pelajaran IPS di SDN Bareng 1 siswa kelas III Kecamatan Klojen Kota Malang, (2) aktivitas belajar siswa saat pembelajaran dengan menggunakan model role playing pada mata pelajaran IPS di SDN Bareng 1 siswa kelas III Kecamatan Klojen Kota Malang, (3) hasil belajar siswa saat pembelajaran dengan menggunakan model role playing pada mata pelajaran IPS di SDN Bareng 1 siswa kelas III Kecamatan Klojen Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis & Taggart. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen Kota Malang dengan jumlah 28 suswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi dan dokumentasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Setiap siklus terdiri dari tahap planning, acting, observing dan reflecting, dari hasil perefleksian ini kemudian dipergunakan untuk memperbaiki perencanaan (revise plan) berikutnya. Dari hasil penelitian menunjukkan penerapan model role playing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata aktivitas belajar siswa secara klasikal sebesar 69,92 pada siklus 1 pertemuan 1, sebesar 77,37 pada siklus 1 pertemuan 2 dan sebesar 81,54 pada siklus 2. Sedangkan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 69,82 pada siklus 1 pertemuan 1, sebesar 76,96 pada siklus 1 pertemuan 2 dan sebesar 81,96 pada siklus 2. Berdasarkan analisis data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model role playing dapat berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa setelah pembelajaran dilakukan. Saran dari penelitian ini yaitu guru dapat menggunakan role playing agar proses pembelajaran, aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat.

Pengembangan permainan sirkuit sehat lima warna untuk mengembangkan aspek fisik motorik anak kelompok B-1 di TK Negeri Pembina II Malang / Rindia Sera Krisdiana

 

Krisdiana, Rindia Sera. 2013. Pengembangan Permainan Sirkuit Sehat Lima Warna untuk Mengembangkan Aspek Fisik Motorik Anak Kelompok B-1 di TK Negeri Pembina II Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Sutama, M. Pd, (II) Pramono, S. Pd, M. Or Kata Kunci : Permainan Sirkuit Sehat Lima Warna, Fisik Motorik , Anak kelompok TK-B Sirkuit sehat lima warna merupakan permainan yang terdiri dari beberapa pos yang dilakukan secara berkesinambungan dari pos pertama hingga terakhir yang memberi kesempatan pada anak untuk melatih keseimbangan, kekuatan, kelincahan, dan kelentukan. Permainan ini menggunakan alat/bahan dengan 5 warna, yaitu merah, kuning, biru, hijau, orens, sesuai dengan namanya. Permainan ini dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu. Berdasarkan hasil penelitian dengan cara observasi terhadap anak kelompok B-1 di TK Negeri Pembina II Malang, pembelajaran fisik motorik melalui permainan sirkuit sehat lima warna belum pernah dilaksanakan dan merasa perlu untuk dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan permainan sirkuit sehat lima warna yang valid dan relevan, dan diharapkan mudah, menyenangkan, dan aman dilakukan oleh anak. Prosedur pengembangan permainan sirkuit sehat lima warna adalah: (1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi; (2) melakukan perencanaan; (3) mengembangkan bentuk produk awal; (4) melakukan uji coba kelompok kecil kepada 6 anak kelompok B; (5) melakukan revisi terhadap produk awal; (6) melakukan uji lapangan/kelompok besar kepada seluruh anak kelompok B TK Negeri Pembina II Malang sebanyak 27 anak. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket kepada dua ahli pendidikan anak usia dini, dua ahli media pembelajaran anak usia dini, dan dua ahli kemampuan fisik motorik anak usia dini yang berisi rancangan produk. Sedangkan untuk teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuatitatif berupa persentase. Hasil pengembangan permainan sirkuit sehat lima warna adalah 95% anak mudah, 100% anak senang, 100% anak aman dalam melakukan permainan sirkuit sehat lima warna, dan berdasarkan hasil uji ahli media dinyatakan layak. Berdasarkan data hasil pengembangan permainan sirkuit sehat lima warna, dapat diambil kesimpulan bahwa permainan sirkuit sehat lima warna valid dan relevan, serta mudah, menyenangkan dan aman, serta layak digunakan oleh anak TK kelompok B. Saran pemanfaatan produk berupa buku panduan, video, dan media sirkuit sehat lima warna perlu mempertimbangkan situasi, usia, dan tingkat keterampilan anak. Produk digunakan sesuai materi pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan ketrampilan metakognitif dan hasil belajar IPS (studi pada siswa kelas IX C SMP Negeri 1 Kota Blitar) / Sangit Pambudi

 

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A1 di TK PKK Karangsari Kota Blitar / Siti Shofiyah

 

Kata kunci: Metode eksperimen, Kemampuan Kognitif, Anak Kelompok A Peningkatan kemampuan kognitif anak di TK PKK Karangsari Kota Blitar masih sangat rendah. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang bervariasi. Suasana belajar yang monoton juga menyebabkan anak merasa bosan dan cenderung tidak memperhatikan guru. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode eksperimen terutama dalam hal mencoba dan menceritakan suatu kejadian dan mengelompokkan benda-benda. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kognitif anak dan (2) apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak TK kelompok A1 di TK PKK Karangsari Kota Blitar. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang digunakan adalah anak-anak kelompok A1 sebanyak 24 anak pada semester II tahun pelajaran 2012/2013 di TK PKK Karangsari Kota Blitar. Teknik analisis data digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu dengan menggunakan nilai prosentase ketuntasan dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tindakan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kualitas pembelajaran. Pada pra tindakan sering terjadi anak merasa bosan ketika pembelajaran. Hal ini disebabkan metode yang guru terapkan kurang menarik bagi anak. Setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran melalui metode eksperimen, anak sangat senang dan antusias. Selain itu, hasil belajar anak dalam kemampuan kognitif dinyatakan sangat baik dan meningkat. Pada siklus I prosentase ketuntasan kelas mencapai 70,8% dan pada siklus II meningkat 29,2% menjadi 100%. Saran yang diajukan dari peneliti bagi kepala sekolah dan guru supaya menerapkan pembelajaran dengan metode eksperimen untuk meningkatkan kognitif dalam kegiatan pembelajaran anak di taman kanak-kanak. Selain itu, bagi peneliti lanjutan supaya menerapkan metode eksperimen dalam pembelajaran tidak hanya bidang kemampuan kognitif saja, melainkan semua bidang kemampuan anak.

Implementing matching exercises technique to improve the reading comprehension of the ninth graders of MTS Negeri Jambewangi Blitar / Arina Hidayati

 

Hidayati, Arina.2012. Penggunaan“Matching Exercises Technique” untuk Meningkatkan Pemahaman Membaca Kelas 9 MTs Negeri Jambewangi Blitar. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Mohammad Adnan Latief, Ph.D. (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata Kunci: pemahaman membaca, Matching Exercises Technique. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi pemahaman membaca siswa kelas 9 MTsN Jambewangi. Teknik Matching Exercises dipilih untuk menyelesaikan masalah pemahaman membaca teks. Tekhnik ini membantu siswa dapat menjawab secara benar dan otomatis terhadap pertanyaan yang menggunakan pertanyaan WH atau Yes/No. Siswa memperoleh informasi tentang teks sebagai konsep pengetahuan mereka melalui kegiatan Matching Exercises. Lebih jauh, kosa kata siswa secara konteks dapat meningkat oleh sebab mereka harus menyimpan dalam pikiran informasi yang mereka dapatkan dari kegiatan menjodohkan (matching). Langkah-langkah untuk melakukan teknik Matching Exercises adalah sebagai berikut. Pertama, guru harus mempersiapkan lembar matching exercises dan cloze-tests dari text yang akan dibahas. Kedua, lembar matching exercises dibagi ke siswa dan guru memandu membaca lantang diikuti oleh mereka kemudian mengedrill beberapa kosa kata penting. Berikutnya guru membimbing untuk menjodohkan latihan dan mengingatkan mereka untuk meningat-ingat kosa kata baru dan informasi yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut. Ke-empat, lembar matching exercises disingkirkan atau dikembalikan ke guru lalu siswa diberi pertanyaan secara lisan. Ke-lima, lembar cloze test dari teks dibagi ke siswa untuk dilengkapi. Guru menulis sekitar 10 sampai 15 kata di papan tulis dan meminta siswa untuk mencari padanan kata-kata tersebut pada teks. Setelah itu, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan kandunga teks secara lebih detil. Terakhir, guru mendorong dan membimbing siswa untuk menyimpulkan kandungan teks, Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada kelas 9G tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian dilakukan dengan dua siklus yang terdiri dari 8 pertemuan. Data yang dikumpulkan pada siklus pertama ada dua yaitu nilai melengkapi cloze test dan data nilai tes reading. Sementara itu pada siklus ke dua data yang diambil ada tiga yaitu nilai melengkapi cloze test, menemukan sinonim dan antonym kata-kata dan nilai tes reading. Hal ini dilakukan sebagai revisi siklus pertama karena temuan-temuan pada siklus tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Matching Exercise Technique terbukti efektif meningkatkan prestasi pemahaman membaca kelas 9 MTsN Jambewangi. Pada siklus pertama nilai rata-rata melengkapi cloze test meningkat dari 85,37 pada pertemuan pertama meningkat menjadi 93,18 pada pertemuan terakhir. Jumlah siswa yang bisa mencapai nilai puncak 100 untuk melengkapi cloze test meningkat dari hanya dua siswa pada pertemuan pertama menjadi 12 siswa pada pertemuan terakhir. Nilai rata-rata untuk tes reading pada siklus pertama adalah 72.57. Namun ini belum mencapai target sukses karena beberapa siswa masih gagal dalam meningkatkan capaian gain point. Pada siklus ke dua, nilai rata-rata siswa untuk melengkapi cloze test mencapai 95,00 pada pertemuan pertama dan meningkat menjadi 96,71 pada pertemuan terakhir. Jumlah siswa yang mencapai nilai puncak 100 meningkat, dari 11 siswa pada pertemuan pertama menjadi 22 siswa pada pertemuan terakhir. Nilai rata-rata siswa untuk menentukan sinonim dan antonym meningkat dari 65,37 pada pertemuan pertama meningkat menjadi 79,07 pada pertemuan terakhir. Untuk tes reading prestasi siswa juga menunjukkan peningkatan. Nilai rata-rata tes reading siswa mencapai 75,21. Semua gain score siswa pada siklus ini meningkat meski masih terdapat 11 siswa (30.57%) yang nilainya masih di bawah KKM. Prestasi tes reading siswa pada siklus ke dua sukses mencapai nilai yang telah ditargetkan.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi dengan penerapan model pembelajaran picture and pivture pada pembelajaran bahasa Indonesia kelas IVB SDN Oro-oro Dowo Kota Malang / Agung Hermawan

 

Kata Kunci: Menulis, Karangan Narasi, Model Pembelajaran Picture and Picture, Sekolah Dasar Picture and Picture adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan gambar yang dipasangkan atau diurutkan secara logis. Berdasarkan observasi awal di SDN Oro-Oro Kota Malang, diketahui bahwa kemampuan menulis karangan siswa kelas IVB masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan menulis karangan dari 27 siswa yang ada, 14,8% mendapatkan nilai A (baik sekali), 22,2% mendapat nilai B (baik), 14,8% mendapat nilai C (cukup), 33,3% mendapat nilai D (kurang), dan 14,8% mendapat nilai E (gagal) dengan tingkat ketuntasan klasikal 51,8%. Kemampuan menulis karangan yang masih rendah ini disebabkan guru yang tidak menggunakan media pada waktu pembelajaran, minat baca dan daya imajinasi anak yang tergolong rendah, serta tidak tertariknya para siswa pada dunia tulis-menulis. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model picture and picture, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran picture and picture (3) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelejaran picture and picture. Berdasarkan latar belakang yang disusun, maka dapat dipaparkan kajian pustaka yang disusun meliputi: ketrampilan menulis, karangan narasi, pembelajaran menulis di SD, model pembelajaran picture and picture, dan penggunaan model pembelajaran picture and picture dalam pembelajaran menulis karangan narasi. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 skilus dengan subjek penelitian siswa SDN kelas IVB SDN Oro-Oro Dowo kota Malang. Standar Kompetensi “Melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model picture and picture dapat meningkatkan: (1) aktivitas guru dari siklus I ke siklus II mempunyai rata-rata sama baik yaitu 95%, (2) aktivitas siswa pada siklus I rata-rata 79,43 meningkat menjadi 84,36 pada siklus II, (3) hasil belajar siswa mulai dari pratindakan sampai dengan siklus II meliputi: siswa yang mendapatkan nilai A (baik sekali) pada pratindakan sebesar 14,8% meningkat menjadi 33,33% pada siklus I dan 44,44% pada siklus II. Siswa yang mendapatkan nilai B (baik) pada pratindakan sebesar 22,2% tetap 22,2% pada siklus I dan meningkat menjadi ii 29,63% pada siklus II. Siswa yang mendapatkan nilai C (cukup) pada pratindakan 14,8% meningkat menjadi 25,93% pada siklus I dan menurun pada siklus II menjadi 22,22%. Siswa yang mendapatkan nilai D (kurang) pada pratindakan sebesar 33,3% menurun menjadi 11,11% pada siklus I dan semakin menurun menjadi 3,71% pada siklus II. Siswa yang mendapat nilai E (gagal) pada pratindakan sebesar 14,8% menurun menjadi 7,41% pada siklus I dan 0% pada siklus II. Tingkat ketuntasan klasikal telah mencapai tingkat batas ketuntasan minimal 85% dari jumlah siswa dengan peningkatan yang semula pada pratindakan 51,85% menjadi 81,5% pada siklus I dan 96,29% pada siklus II. Berdasarkan paparan yang telah disampaikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa penerapan model picture and picture dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa. Peneliti juga menyarankan hendaknya guru mengatur alokasi waktu yang tersedia dengan baik.

Upaya meningkatkan efektifitas pembelajaran lari sprint melalui pendekatan bermain pada sisw kelas X EI-2 SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang tahun pelajaran 2012/2013 / Indra Cahya Widodo

 

Manajemen kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang / Liya Mayasari

 

Kata kunci: kurikulum, tauhid, manajemen kurikulum Pendidikan yang diberikan di sekolah harus bisa mengikuti perubahan dan perkembangan jaman serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap memperhatikan pendidikan akhlak dalam rangka pembentukan sikap dan kepribadian serta budi pekerti peserta didik yang lebih baik. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ar Rohmah Putri Boarding School Malang merupakan salah satu sekolah yang menggunakan konsep pendidikan yang sedikit berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya, yakni pendidikan berbasis tauhid. Melalui visi berdakwah dalam Islam maka pendidikan berbasis tauhid dipilih untuk landasan pendidikan di sekolah ini termasuk dalam pelaksanaan kurikulumnya. Fokus penelitian ini secara umum yaitu Manajemen Kurikulum Berbasis Tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, yang kemudian diuraikan menjadi beberapa sub-fokus sebagai berikut: (1) perencanaan kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, (2) pelaksanaan kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, (3) penilaian kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, (4) faktor pendukung dalam manajemen kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, (5) faktor penghambat dalam manajemen kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, dan (6) upaya mengatasi hambatan dalam manajemen kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar RohmahPutri Boarding School Malang. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi penelitian berada di Jalan Raya Jambu Nomor 01 Semanding, Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Teknik pangumpulan data yang digunakan yaitu: (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) dokumentasi. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: (1) reduksi data, (2) display data, dan (3) penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, dan (3) triangulasi. Tahapan-tahapan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap penulisan laporan. Kesimpilan yang dapat di temukan dari penelitian ini yaitu: (1) perencanaan kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang yang dilakukan oleh departemen pendidikan dan menghasilkan dua jenis kurikulum, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berasal dari dinas pendidikan dan Kurikulum Dinniyah yang berasal dari sekolah dengan berpedoman pada pendidikan berbasis tauhid; (2) pelaksanaan kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang dilakukan ii dengan menekankan sistem pendidikan pesantren dengan dua waktu yang berbeda pada KTSP dan kurikulum dinniyah; (3) penilaian kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian adab yang mengacu pada pendidikan berbasis tauhid; (4) faktor pendukung dalam manajemen kurikulum berbasis tauhid di SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang berasal dari dalam dan dari luar sekolah; (5) faktor penghambat dalam manajemen kurikulum berbasis tauhid di sekolah ini sebagian besar berasal dari dalam sekolah sendiri dan terletak pada sumber daya manusia yang ada; dan (6) upaya mengatasi hambatan dalam manajemen kurikulum berbasis tauhid dilakukan dengan melakukan pembinaan, supervisi, koordinasi, pemberian motivasi, contoh, serta dukungan dalam melaksanakan kurikulum berbasis tauhid. Berdasarkan kesimpulan, ada beberapa saran yang diberikan oleh peneliti, antara lain: (1) Kepala SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, hendaknya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan cara menambah waktu untuk pembinaan dan memperbanyak referensi mengenai pendidikan berbasis tauhid; (2) Tenaga Pendidik SMP Ar Rohmah Putri Boarding School Malang, hendaknya seluruh tenaga pendidik di sekolah tersebut khususnya bagi guru-guru mampu mengembangkan kegiatan belajar-mengajar serta merealisasikan konsep pendidikan berbasis tauhid sehingga dapat mencapai visi tauhid secara utuh. ; (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya di Jurusan Administrasi Pendidikan dikembangkan mata kuliah manajemen kurikulum yang lebih mendalam dan luas cakupannya, misalnya problematika dalam manajemen kurikulum dan solusinya. Sehingga mampu membahas tentang pengembangan dan pembaharuan kurikulum dalam dunia pendidikan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun instansi-instansi pendidikan terkait; dan (4) Peneliti lain, hendaknya hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang manajemen kurikulum sehingga dapat melakukan penelitian pada substansi yang sama tetapi dalam tinjauan yang lain.

Peran serta orang tua dalam pendidikan karakter di Sekolah Dasar Muhammadiyah Terpadu Ponorogo / Nova Pravitasari

 

Kata kunci: pendidikan karakter, peran serta orang tua. Penyelenggaraan sekolah dengan model Islamic Full Day School sangat diminati di kalangan masyarakat modern yang mempunyai kesibukan di luar rumah yang sangat tinggi, sehingga perhatian terhadap anggota keluarga khususnya dalam pendidikan agama anak-anak sangat kurang. Orang tua sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak, sebab merupakan guru pertama dan utama bagi anak. Secara langsung orang tua juga sebagai kunci utama keberhasilan dalam pendidikan. Sekolah Dasar Muhammadiyah Terpadu (SDMT) Ponorogo menerapkan pendidikan karakter pada anak, dengan adanya kegiatan pendidikan yang didesain full activities untuk membentuk karakter peserta didik yang bertauhid dan ‘berakhlaqul karimah’ atau memiliki dasar-dasar life skill yang memadai serta sebagai upaya memupuk kecintaan anak kepada sekolah melalui kegiatan belajar yang pada akhirnya kecintaan pada budaya belajar. Fokus penelitian ini adalah: (1) program hubungan sekolah dengan orang tua, (2) faktor lingkungan yang mempengaruhi anak dalam pendidikan karakter, (3) peran serta orang tua dalam pendidikan karakter, (4) faktor penunjang peran serta orang tua dalam pendidikan karakter, (5) hambatan peran serta orang tua dalam pendidikan karakter, dan (6) strategi peran serta orang tua dalam pendidikan karakter di SDMT Ponorogo. Penelitian ini dilakukan di SDMT Ponorogo dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus karena terdapat satu kasus pada suatu objek penelitian, yaitu SDMT Ponorogo. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) dokumentasi. Analisis data menggunakan (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi dan ketekunan pengamatan. Kesimpulan penelitian menunjukkan: (1) program hubungan sekolah dan orang tua adalah adanya penyelenggaraan Panggung Ekspresi, orang tua ikut dalam kegiatan out bound, ikut dalam kegiatan menanam padi di sawah, dan memperingati hari Ibu, pertemuan dalam rapat komite sekolah, kegiatan pertemuan pada akhir semester yang membahas kebutuhan peserta didik, dan orang tua dapat menyampaikan masalah yang dialami peserta didik dengan berkunjung ke sekolah, (2) faktor lingkungan yang mempengaruhi pendidikan karakter di SDMT Ponorogo, yaitu faktor lingkungan SDMT yang didesain full day school, faktor lingkungan keluarga atau suasana keluarga, dan faktor lingkungan bermain anak, (3) peran serta orang tua dalam pendidikan karakter di SDMT Ponorogo meliputi orang tua berperan dalam suasana keluarga, orang tua dalam pembinaan iman dan moral, orang tua dalam pelaksanaan pembelajaran di SDMT, dan berperan dalam kegiatan ektra kurikuler, (4) faktor penunjang peran serta orang tua dalam pendidikan karakter di SDMT Ponorogo adalah adanya budaya sekolah, lokasi rumah yang berdekatan dengan masjid, keikutsertaan anggota keluarga lain dalam mendidik anak, orang tua yang selalu membiasakan anak, dan adanya teladan dari orang tua, (5) hambatan peran serta orang tua dalam pendidikan karakter di SDMT Ponorogo yaitu adanya orang tua yang kurang memiliki waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah, orang tua yang kurang menanggapi masukan dari guru kelas, keinginan anak susah ditebak, pengaruh lingkungan bermain atau pergaulan pertemanan, dan pengaruh adanya bermacam-macam tipe guru, dan (6) orang tua mendampingi anak dalam belajar di rumah, membiasakan anak untuk melaksanakan sholat di rumah maupun di masjid, sebagai bentuk kesamaan pola antara pembiasaan di sekolah dan di rumah, ikut dalam kegiatan program Teaching and Learing (mengajar dan belajar), membantu anak dalam membuat bunga anak sebagai bentuk hari Ibu, selain itu untuk melatih anak bersosialisasi, dan membiasakan hidup hemat, dengan cara membatasi uang saku anak sebesar Rp. 2.000,00 per hari. Saran-saran yang diajukan peneliti kepada: (1) Kepala SDMT Ponorogo, diharapkan lebih meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) ustadz dan ustadzah dengan mendelegasikan pengajar untuk mengikuti seminar atau kegiatan yang terkait dengan pendidikan karakter, serta konsistensi dalam penggunaan istilah siswa, murid, dan peserta didik, (2) Ustadz dan Ustadzah SDMT Ponorogo, diharapkan senantiasa menjalin komunikasi yang sinergi antara sesama guru dan orang tua dalam memantau perkembangan anak di sekolah maupun di rumah, dan menambah pengetahuan terkait pendidikan karakter untuk anak, (3) orang tua, diharapkan lebih meningkatkan perhatian dan kerjasamanya dengan pihak sekolah dalam memantau perkembangan anak, dan diharapkan lebih memperhatikan lingkungan yang mempengaruhi anak dalam kehidupan sehari-hari, (4) peserta didik, diharakan lebih dapat memperbaiki perilakunya melalui pendidikan karakter yang dibiasakan di sekolah, (5) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, pentingnya pendidikan karakter saat ini diharapkan menjadi pertimbangan bagi pihak Jurusan Administrasi Pendidikan agar mengkaji permasalahan pendidikan karakter untuk memperkaya ilmu dan sebagai wujud pendalaman ilmu manajemen pendidikan, (6) Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapakan lebih banyak memperhatikan dan menambah bahan rujukan sebagai pengetahuan untuk memahami pendidikan karakter yang sangat penting untuk dunia pendidikan saat ini, dan (7) peneliti lain, dapat dijadikan bahan referensi dan melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain yang bermanfaat.

Penerapan research training model untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas VA SDN Ketawanggede Kota Malang / Indah Kusuma Budiarti

 

Kata kunci: Pembelajaran, IPA, research training model Berdasarkan observasi awal di SDN Ketawanggede Kota Malang, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas VA masih relatif rendah yakni 72,72% memiliki nilai dibawah KKM. Guru hanya menggunakan satu model pembelajaran saja dalam mengajarkan IPA. Selain itu adanya kesulitan siswa dalam menganalisa masalah dalam penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsiksn beberapa hal, yang mencakup penerapan Research Training Modelpada pembelajaran IPA, aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan Research Training Model, dan hasil belajar IPA setelah menerapkan Research Training Modeldi kelas VA SDN Ketawanggede Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Rata-rata penerapan Research Training Modelsiklus I mencapai 73,33% sedangkan siklus II mencapai 90%. Rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesr 44,48 sedangkan siklus II sebesar 53,41. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 76,88sedangkan siklus II sebesar 74,63. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan Research Training Modeldapat meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas VA SDN Ketawanggede Kota Malang. Adapun saran untuk perbaikan pembelajaran ini yaitu guru diharapkan membiasakan siswa belajar IPA dengan cara mengajak siswa menjadi peneliti, sehingga siswa menjadi terbiasa menyelesaikan masalah dalam penelitian dengan mudah.

Keefektifan teknik self instruction untuk menurunkan kecemasan menghadapi ujian siswa kelas VII sekolah menengah pertama / Bagas David Prasetyo

 

Penerapan media teka-teki silang untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS di SDN Jatimulyo 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Suprapti

 

Kata Kunci: Penerapan Media Teka-Teki Silang, Partisipasi Belajar , Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil studi pendahuluan terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) siswa kelas IV di SDN Jatimulyo 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, ditemukan fakta bahwa guru masih mengajar secara konvensional, pembelajaran lebih terpusat pada guru. Partisipasi siswa selama pembelajaran juga kurang. Saat pembelajaran berlangsung, terdapat beberapa siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, siswa ada yang berbicara sendiri, menggambar dan bermain kertas dengan temannya. Sedangkan dari hasil dokumentasi sekolah ditemukan fakta bahwa dari jumlah keseluruhan siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang yaitu 15 siswa, hanya 5 siswa atau 33,3% yang hasil ulangannya mencapai atau lebih dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (≥68), sedangkan 10 siswa lainnya atau 66,7% siswa, nilainya kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (<68). Pendapat guru tentang hal-hal yang melatarbelakangi rendahnya hasil belajar siswa tersebut adalah: (1) beban materi IPS yang sangat berat, materinya sangat padat jika dibandingkan dengan alokasi waktunya, selain itu ruang lingkup materi IPS juga sangat luas; (2) rendahnya minat baca siswa terhadap materi atau sumber belajar IPS. Selain itu guru juga mengakui bahwa media yang digunakan dalam pembelajaran IPS sangat terbatas. Dari hasil observasi dan wawancara di atas, peneliti menemukan permasalahan yaitu masih rendahnya partisipasi dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang pada pembelajaran IPS. Salah satu penyebab timbulnya permasalahan tersebut diduga karena penerapan media pembelajaran oleh guru yang terbatas, sehingga peneliti memberikan solusi untuk permasalahan tersebut dengan penerapan media Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran IPS. Penerapan Teka-Teki Silang (TTS) sebagai media pembelajaran selain menarik perhatian siswa juga dapat digunakan menciptakan suasana bersaing dalam kelas sehingga siswa akan berpartisipasi aktif di kelas dan meningkatnya partisipasi belajar siswa tersebut dapat berdampak meningkatnya hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab 3 rumusan masalah yaitu: (1) Bagaimanakah penerapan media Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran dengan kompetensi dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang?; (2) Apakah penerapan media Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran dengan kompetensi dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang?; (3) Apakah penerapan media Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran dengan kompetensi dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang? Penelitian yang dilakukan peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirancang dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan acuan model siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart (dalam Akbar, 2010: 30). Tahapan yang dilalui dalam setiap siklus yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan tindakan dan Observasi, (3) Refleksi dan (4) Revisi. Berdasarkan analisis data yang dilakukan peneliti, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penerapan media Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran dengan Kompetensi Dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) Media Teka-Teki Silang sebaiknya dibuat sendiri oleh guru supaya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (b) model pembelajaran yang digunakan bervariasi, disesuaikan dengan materi dan kondisi siswa, (c) Peran guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran, (d) Aturan dalam pembelajaran dibuat secara bersama-sama antar siswa dan guru atau siswa diberikan ruang untuk menyumbangkan idenya berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Kedua, penerapan Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV Jatimulyo 1 Malang dengan kompetensi dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” terbukti dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa, semula partisipasi siswa pada pra tindakan kurang, namun pada siklus I partisipasi belajar siswa mendapat nilai 60 dengan kategori cukup dan pada siklus II mendapat nilai 78 dengan kategori baik. Ketiga, penerapan Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV Jatimulyo 1 Malang dengan Kompetensi Dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, semula hasil belajar pada pra tindakan rata-rata kelasnya adalah 60 dengan kriteria kurang, sedangkan pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa mendapat nilai 71 dengan kriteria cukup dan pada siklus II meningkat lagi yaitu 83. Ketuntasan belajarnyapun dari pra tindakan menuju siklus I sampai ke siklus II menunjukkan peningkatan. Ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan 40%, sedangkan pada siklus I meningkat 60% dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 87%. Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan media Teka-Teki Silang (TTS) dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV Jatimulyo 1 Malang dengan kompetensi dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat” merupakan upaya yang tepat untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 pada mata pelajaran IPS. Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menyarankan supaya guru mata pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) di SDN Jatimulyo 1 menerapkan media Teka-Teki Silang (TTS) untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS, khususnya pada kompetensi dasar “mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat”

Pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan yang dimediasi oleh kebijakan hutang perusahaan (studi empiris pada perusahaan real estate and property di BEI periode 2006-2009) / Ahmad Priyono

 

Kata Kunci: Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Manajerial, Kebijakan Hutang, nilai Perusahaan, Teori Agency Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh kepemilikan manajerial dan institusional terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan hutang dalamperspektif agency teori. Penelitian ini didasari dan dikembangkan dari hasil penelitian Wahidahwati (2001) yang menemukan hasil bahwa kepemilikan manajerial dan institusional berpengaruh terhadap kebijakan hutang perusahaan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menguji kepemilikan manajerial dan institusional terhadapnilai perusahaan melalui kebijakan hutang perusahaan. Penelitian ini mengambil sampel perusahaan real estate and property yang terdaftar di BEI periode 2006-2009. Data dikumpulkan dengan metode pooling data dan dihasilkan 32 perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode regresi linear berganda dan analisis jalur. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, penelitian ini menemukan bukti bahwa: 1) Kepemilikan manajerial dan institusional berpengaruh terhadap kebijakan hutang secara negatif. Hal ini mencerminkan bahwa kepemilikan manajerial dan institusional dapat menggantikan peanan hutang dalam meminimalkan masalah keagenan. 2) Kebijakan hutang tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. 3) Kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Ini mencerminkan bahwa faktor non keuangan terutama kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Akan tetapi 4) Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini mencerminkan bahwa salah satu faktor non keuangan selain kepemilikan institusional yaitu kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan analisis jalur, penelitian ini menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan hutang perusahaan. Hasil ini mencerminkan bahwa kepemilikan manajerian dan institusional serta kebijakan hutang dapat meminimalkan konflik antara agen dan prinsipal sehingga dapat meingkatkan nilai perusahaan.

Evaluasi pelaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 periode kepengurusan 2010-2012 dengan pendekatan evaluasi model CIPP (Context, Input, Process, Product) / Deny Tri Susilo

 

Kata Kunci: evaluasi, program kerja, PGSI Kota Malang Telah tercantum dalam Surat keputusan Binpres No. 14 KONI Kota Malang tahun 2012 yang berisi tentang evaluasi kegiatan akhir tahun program kerja yang disusun oleh semua cabang olahraga di bawah naungan KONI Kota Malang. Evaluasi program merupakan penelitian evaluatif yang bertujuan untuk mengetahui akhir dari sebuah program kebijakan. Evaluasi program digunakan untuk mengetahui hasil akhir dari adanya kebijakan dalam rangka menentukan rekomendasi atas kebijakan suatu program. Jadi dengan dilakukan evaluasi terhadap keterlaksanaan program kerja pada cabang olahraga gulat tahun 2012, maka dapat diketahui hasil yang telah dicapai dari rencana yang telah terprogram apakah sudah memenuhi target sesuai tujuan yang telah direncanakan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 periode kepengurusan 2010-2012 dengan pendekatan evaluasi model CIPP yang mencakup tentang bidang kesekretariatan, bidang organisasi, bidang pembinaan prestasi. Penelitian ini menggunakan model CIPP (Context, Input, process, product). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data menggunakan rumus persentase yang diperoleh dari jawaban responden dibagi dengan jumlah jawaban responden kemudian dikalikan 100%. Berdasarkan analiasis data tersebut, maka diperoleh kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pada variabel context atau konteks dalam pelaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 terkait dengan kebutuhan dan tujuan dalam pelaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 dikategorikan baik sekali. Kedua, pada variabel input atau masukan terkait dengan pengolahraga, tenaga keolahragaan, pengorangisasian, pendanaan, sarana dan prasarana, penghargaan keolahragaan dalam pelaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 adalah dikategorikan baik. Ketiga, pada variabel process atau proses terkait dengan pengolahraga, tenaga keolahragaan, pengorangisasian, pendanaan, sarana dan prasarana, penghargaan keolahragaan dalam pelaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 dikategorikan cukup. Keempat pada variabel produk terkait dengan output dan outcomes dalam pelaksanaan program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 dikaptegorikan kurang. Program kerja PGSI Kota Malang tahun 2012 belum terealisasi sepenuhnya, terdapat beberapa yang masih belum memenuhi target dan hasil yang ingin dicapai dari bidang kesekretariatan, bidang organisasi, bidang pembinaan prestasi dan bidang sarana dan prasarana yang berhubungan dalam pencapaian prestasi yang diraih oleh atlet gulat Kota Malang. Dalam pelaksanaan program kerja yang telah disusun diperlukan suatu pengoptimalisasian kinerja, kerjasama dan hubungan yang baik dari semua pengurus, atlet dan pelatih. Masih terdapat aspek program kerja pada bidang kesekretariatan, bidang organisasi, bidang pembinaan prestasi dan bidang sarana dan prasarana belum tercapai dan kurang sesuai dengan harapan dalam pencapaian prestasi, “maka perlu merevisi program kerja tahun 2012 yang telah disusun dan melanjutkan program kerja ditahun berikutnya”.

Penerapan model pembelajaran Predict, Observe, and Explain (POE) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA kelas V SDN Pisangcandi 4 Malang / Winda Ayu Ningtyas

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model POE Model POE merupakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa melalui tahap predict, observe, dan explain. Hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam membuat prediksi, melakukan percobaan, dan menjelaskan hasil percobaan masih belum dikembangkan. Hal ini akibat dari pembelajaran yang belum memberikan kesempatan pada siswa untuk memprediksi, belum memotivasi untuk mengumpulkan data percobaan yang sesuai, dan belum membimbing untuk menjelaskan data hasil percobaan. Dampak dari pembelajaran tersebut, siswa yang tuntas hasil belajarnya hanya mencapai 40% atau sebanyak 10 siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) penerapan model POE pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa saat diterapkan model POE, dan (3) hasil belajar siswa melalui penerapan model POE. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Pisangcandi 4 yakni 11 perempuan dan 14 laki-laki. Rancangan penelitian ini adalah PTK bentuk kolaboratif partisipatoris dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi di setiap pertemuannya. Hasil dari penelitian tersebut dapat dilihat dari penilaian aktivitas belajar siswa. Rata-rata nilai aktivitas belajar siswa di siklus I mencapai 66,12 meningkat menjadi 76,24 di siklus II. Hasil belajar siswa setelah penerapan model POE juga mengalami peningkatan. Jumlah siswa yang tuntas hasil belajarnya di siklus I dengan KKM 70 mencapai 68% meningkat menjadi 80% di siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya peningkatan pembelajaran, aktivitas dan hasil belajar siswa setelah penerapan model POE. Penerapan model POE terbukti dapat mengaktifkan siswa dalam membuat prediksi, mengumpulkan data yang sesuai dengan kegiatan percobaan, dan menjelaskan hasil percobaan yang dilakukan. Peningkatan aktivitas saat penerapan model POE berkaitan juga dengan peningkatan keterampilan proses memprediksi, mengobservasi, dan menjelaskan pada diri siswa. Hal tersebut akhirnya juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Saran yang terkait dengan penelitian ini adalah dibutuhkannya pertanyaan-pertanyaan pengarah yang nantinya dapat membantu siswa dalam membuat prediksi pada tahap predict. Perlu disiapkan juga pertanyaan-pertanyaan penggali dan beberapa buku sumber untuk membimbing siswa dalam tahap explain. Pada tahap predict sebaiknya siswa diberikan kesempatan untuk membuat prediksinya masing-masing.

Faktor-faktor penyebab dan upaya guru mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran IPS (peta) siswa kelas IV SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Arlis Isnaini Darojat

 

Kata Kunci: kesulitan belajar, pembelajaran peta, pembelajaran IPS. Pembelajaran IPS memiliki tujuan salah satunya yaitu mengenalkan siswa pada lingkungan sekitarnya. Melalui pembelajaran peta siswa dapat mengenal lingkungannya dengan baik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti pada siswa kelas IV sekolah di gugus II Kecamatan Kedungkandang terdapat masalah dalam pembelajaran peta. Permasalahan pendidikan muncul dapat disebabkan faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun dari luar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan faktor- faktor penyebab kesulitan siswa dalam pembelajaran peta dan mendeskripsikan cara guru untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran peta di kelas IV SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dan sampel penelitian adalah kelas IV di SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Subyek penelitian adalah 6 Sekolah Dasar (SD) yang terdiri dari 246 siswa dan 6 orang guru kelas. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif, dengan jenis penelitian statistik deskriptif yang dihitung dengan persentase (%). Hasil penelitian ini diketahui (1) terdapat 125 siswa (50,574%) dari 246 siswa keseluruhan mengalami kesulitan dalam pembelajaran membaca dan menggambar peta. Kesulitan terbesar disebabkan karena faktor dari dalam diri siswa yaitu ketidakmampuan dalam penggunaan skala. (2) Mengenai cara guru mengatasi siswa dalam pembelajaran membaca dan menggambar peta terdapat 93,582% menyetujui alternatif mengatasi masalah siswa dalam pembelajaran peta yang diberikan penulis. Kesimpulan penelitian menunjukkan 50,574% siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran membaca dan menggambar peta dengan faktor terbesar dari dalam diri siswa berupa menggunakan skala. Alternatif pemecahan masalah disetujui oleh guru sebesar 93,582%. . Alternatif tersebut meliputi langkah- langkah pembelajaran yang mengedepankan pengalaman siswa dalam menggunakan peta di dalam kehidupannya sehari-hari dengan tahapan: 1: membaca peta dengan bantuan seluruh komponen yang ada pada peta, 2: menafsirkan peta, 3: menggambar peta. Saran yang diberikan penulis berkenaan dengan faktor-faktor kesulitan belajar membaca dan menggambar peta diharapkan guru dapat mengikuti alternatif langkah pembelajaran peta yang telah diberikan peneliti dan mengedepankan penggunaan lingkungan sekitar dalam pembelajaran.

Pengembangan media interaktif berbasis ceria untuk pembelajaran bercerita SMP kelas VII / Emy Zuroidah

 

Pengembangan modul praktikum kimia materi larutan kimia kelas X berbasis multimedia komputer / Feri Hardianto

 

Kata Kunci: kimia, modul praktikum, multimedia komputer Proses pembelajaran merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam suatu pendidikan. Mewujudkan pembelajaran yang baik dan efektif, diperlukan media pembelajaran yang interaktif dan beragam, yang dapat membantu guru dalam memberikan dan menjelaskan materi, serta membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran pada mata pelajaran yang sulit dipahami, salah satunya mata pelajaran kimia. Media pembelajaran yang sering digunakan di SMA Negeri 1 Batu adalah media pembelajaran menggunakan slide powerpoint, sedangkan media pembelajaran interaktif lain belum pernah digunakan. Materi pembelajaran dalam mata pelajaran kimia sebagian besar membutuhkan tingkat pemahaman dan hafalan yang cukup banyak, salah satunya materi larutan elektrolit dan non-elektrolit. Setelah guru memberi materi pembelajaran, siswa dituntut dapat melaksanakan praktikum sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu, siswa harus dapat memahami hasil kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan, agar pelaksanaan kegiatan praktikum dapat berjalan sesuai tujuan dan pemahaman siswa terhadap materi dapat maksimal. Pengembangan modul praktikum kimia ini menggunakan Metode Penelitian dan Pengembangan Sugiyono. Sedangkan analisis data uji validitas menggunakan teknik Akbar Sa’dun dengan menghitung hasil validasi ahli media, ahli materi, ujicoba kelas kecil, dan ujicoba kelas besar. Produk yang dihasilkan berupa modul praktikum kimia materi larutan kimia kelas X berbasis multimedia komputer. Media yang dikembangkan memiliki tiga menu utama, yaitu materi pembelajaran, worksheet, dan assessment. Berdasarkan analisis data validasi dan ujicoba, didapatkan data akhir sebesar 89.79% untuk ahli media, 82.99% untuk ahli materi, 90.31% untuk siswa kelas kecil, dan 84.81% untuk siswa kelas besar. Sedangkan hasil analisis berdasarkan perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dihitung menggunakan Uji t (t test), diperoleh nilai thitung = 1,774 pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan db 28 diperoleh ttabel = 1,701, sehingga nilai thitung > ttabel. Hasil ini menunjukkan bahwa media pembelajaran modul praktikum kimia berbasis multimedia komputer ini sangat valid dan layak untuk digunakan serta tidak dibutuhkan revisi.

Perbedaan hasil belajar dan metakognitif siswa antara model Project Based Learning (PBL) dengan menerapkan tutor sebaya dan model Project Based Learning (PBL) pada mata pelajaran mulok desain grafis / Dian Nurmala Sari

 

Kata kunci: hasil belajar, metakognitif, project based learning, tutor sebaya, desain grafis. Pada mata pelajaran mulok Desain Grafis, siswa dituntut untuk lebih terampil dan aktif selama kegiatan belajar mengajar dan dapat mengembangkan keterampilan tersebut. Bentuk-bentuk keterampilan dalam Desain Grafis bersifat kompleks, maka penerapan strategi pembelajaran yang bersifat dasar saja tidak cukup. Salah satu model pembelajaran yang mampu mengatasi permasalahan tersebut adalah model pembelajaran Project Based Learning (PBL). Dalam penelitian ini model pembelajaran PBL akan diintegrasi dengan model tutor sebaya dan strategi metakognitif. Pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, membuat siswa lebih aktif, meningkatkan keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi, serta dapat mendorong siswa mengkonstruk pengetahuan kognitif yang disebut metakognitif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi adanya perbedaan hasil belajar dan metakognitif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran PBL dengan Tutor Sebaya dan strategi metakognitif. Kelas kontrol tanpa menggunakan Tutor Sebaya. Model eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretest - posttest control group design . Variabel bebas yaitu model pembelajaran, variabel terikat yaitu hasil belajar dan metakognitif siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X TKJ SMK Negeri 2 Malang. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling pertimbangan (purposive sampling) dan ditetapkan kelas X TKJ 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X TKJ 2 sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dan metakognitif yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini dikarenakan model pengelompokan Tutor Sebaya mengoptimalkan kemampuan siswa yang memiliki prestasi belajar yang lebih dalam satu kelas untuk membantu temannya dalam melaksanakan suatu kegiatan dan memahami suatu konsep sehingga siswa saling bekerja sama dalam menyelesaikan proyek. Interaksi antara tutor dengan siswa yang tidak menjadi tutor berlangsung pada tingkat metakognitif, yaitu tingkatan berpikir yang menekankan pada pembentukan keterampilan “learning how to learn” atau “think how to think” (mengapa demikian, bagaimana hal itu bisa terjadi, dan sebagainya).

Pengembangan trainer pergerakan line follower berbasis PID untuk pembelajaran sistem kendali Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang dengan bahasan kontrol PID / Arisandi

 

Upaya orang tua dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dsini di PAUD Nurusy Syamsi Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Erfina Rully Septianingrum

 

Kata Kunci: Upaya Orang Tua, Mengembangkan Kemampuan Bahasa, Anak Usia Dini Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya, apabila anak telah masuk sekolah, orang tua sebagai mitra kerja yang utama bagi pendidik anaknya. Kemampuan bahasa adalah suatu bentuk komunikasi, baik berupa ujaran, tulisan atau tanda-tanda yang didasarkan pada suatu sistem simbol. Bahasa merupakan sistem komunikasi yang meliputi aspek kemampuan mendengarkan dan aspek kemampuan berbicara. Penelitian ini bertujuan mengetahui a) Untuk mendeskripsikan hubungan upaya orang tua dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini pada aspek mendengarkan, b) Untuk mendeskripsikan hubungan upaya orang tua dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini pada aspek berbicara, c) Untuk mendeskripsikan hubungan upaya orang tua dengan mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua warga belajar di PAUD Nurusy Syamsi yang berjumlah 36 orang dengan menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan kualifikasi presentase. Selanjutnya, teknik analisa yang digunakan teknik analisa product moment pearson, dan analisis korelasi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 36 subyek upaya orang tua dalam melatih kemampuan mendengarkan dan berbicara dengan sigifikan 1% pada taraf signifikan (0,000 < 0,01), artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara upaya orang tua dengan melatih kemampuan mendengarkan dan berbicara, kemudian korelasi berganda diperoleh dengan hasil taraf signifikasi 5% diperoleh hasil yaitu 0,897 > 0,329 dan terbukti ada hubungan yang signifikan antara upaya orang tua dan mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara upaya orang tua dengan mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini di PAUD Nurusy Syamsi Tanggung Turen Malang. Dari hasil penelitian ini disarankan orang tua untuk mengembangkan bahasa anak. Bagi jurusan PLS berkerjasama dengan pemerintah untuk melaksanakan pelatihan dan program bagi orang tua tentang Pendidikan Anak Usia Dini, terutama dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak. Bagi peneliti lanjutan diharapkan lebih difokuskan pada upaya orang tua dengan mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini.

Penerapan model pembelajaran PBL (Project Based Learning) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar kompetensi keahlian multimedia standar kompetensi membuat gambar kunci animasi siswa kelas XII di SMK Negeri 1 Tapen / Siti Mudtrikatul Umayrah

 

Perbedaan metakognitif dan hasil belajar siswa SMK melalui model pembelajaran think pair share dengan menerapkan jurnal belajar dan model pembelajaran think pair share mata pelajaran kompetensi kejuruan di SMKN 2 Malang / Tri Maryati

 

Kualitas soal yang dibuat oleh guru kompetensi keahlian teknik gambar bangunan di SMK PGRI 1 Lamongan / Menik Ariyanti

 

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar pada materi atmosfer untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MA Darunnajah Nganjuk / Dewi Mas'ula

 

Kata Kunci : pembelajaran berbasis masalah, lingkungan sekitar, hasil belajar Guru merupakan salah satu unsur penunjang keberhasilan proses pembelajaran, maka seharusnya guru memiliki kemampuan dalam memilih model pembelajaran yang dapat merubah perilaku siswa yang berpengaruh pada hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar adalah model pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman materi secara mendalam dan melatih siswa untuk belajar secara aktif dan kooperatif untuk menyelesaikan masalah. Dalam pelaksanaan model pembelajaran ini bisa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar untuk mencari informasi yang belum ada terkait permasalahan yang harus dipecahkan oleh siswa. Sumber belajar ini membuat siswa lebih semangat belajar karena pembelajaran dirasa tidak membosankan lagi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MA Darunnajah dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Penelitian ini terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X MA Darunnajah Nganjuk. Dalam penelitian ini menggunakan enam prosedur pengumpulan data yang terdiri dari observasi, tes, catatan lapangan, wawancara, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar mulai dari pra tindakan sampai siklus II. Berdasarkan hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada guru agar menjelaskan tahap demi tahap pembelajaran yang akan dilaksanakan secara jelas, membuat bahan observasi dan diskusi yang mudah dipahami siswa, menegur siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan pengaturan waktu yang tepat. Bagi pihak sekolah disarankan untuk menyarankan kepada mata pelajaran lain untuk menerapkan model pembelajaran yang bisa melatih siswa berfikir aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi siswa disarankan untuk mengikuti segala proses pembelajaran dengan baik dan menumbuhkan rasa saling menghargai dan bagi peneliti selanjutnya disarankan agar dapat mengetahui karakteristik siswa yang akan diteliti dengan baik.

Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berbasis lesson study untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di SMK Negeri 4 Malang serta keterampilan mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA UM memanfaatkan media pembelajaran / Siti Hidayati

 

Pengaruh jiwa kewirausahaan terhadap pengembangan karis distributor multi level marketing (Studi pada Dostributor MLM Oriflame Member Group Sevenblast Malang) / Amalia Istiqomah

 

Kata Kunci: Jiwa Kewirausahaan, Pengembangan Karir, Multi Level Marketing. Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia pada tahun 1997 tidak saja melumpuhkan dunia usaha tetapi juga menggoyahkan sendi-sendi kesejahteraan masyarakat luas dan kondisi ini diperparah dengan adanya krisis global pada tahun 2008. Penciptaan lapangan kerja yang tak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru menyebabkan angka pengangguran meningkat. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah pengangguran adalah melalui sektor informal yaitu kewirausahaan. Menjadi distributor Multi Level Marketing (MLM) merupakan salah satu bentuk intrapreneurship (kewirausahaan organisasi) yang dapat menjawab permasalahan pengangguran terdidik. Konsep MLM merupakan salah satu metode pemasaran dengan membuat jaringan (network). Berbeda dengan sistem pengembangan karir yang ada dalam instansi pemerintahan yang menganut sistem tradisional atau senioritas yaitu hanya pegawai yang telah lama bekerja yang dapat naik jabatan, dalam bisnis MLM seorang distributor mempunyai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang tidak kecil bahkan melebihi pendapatan seorang PNS serta mencapai posisi puncak dalam karir tanpa melihat senioritas melainkan prestasi kerjanya. Semakin besar jiwa kewirausahaan yang dimiliki seorang distributor MLM maka semakin tinggi pula kesempatannya untuk menduduki posisi puncak jenjang karir dalam bisnis MLM. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian penjelasan (explanatory research). Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengaruh jiwa kewirausahaan yang terdiri dari kreatif (X1), inovatif (X2), percaya diri (X3), berorientasi tugas dan hasil (X4), berorientasi masa depan (X5) terhadap pengembangan karir (Y) distributor MLM baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah distributor aktif MLM Oriflame member grup Sevenblast Malang yang berjumlah 255 distributor. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden. Sampel diambil dengan menggunakan metode Nonproportional Stratified Random Sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Secara parsial terdapat pengaruh positif dan signifikan jiwa kewirausahaan (kreatif, percaya diri, berorientasi tugas dan hasil, berorientasi masa depan) terhadap pengembangan karir distributor MLM Oriflame member grup Sevenblast Malang, sedangkan variabel inovatif tidak berpengaruh terhadap pengembangan karir distributor MLM Oriflame member grup Sevenblast Malang (2) Terdapat pengaruh positif dan signifikan jiwa kewirausahaan (kreatif, inovatif, percaya diri, berorientasi tugas dan hasil, berorientasi masa depan) secara simultan terhadap pengembangan karir distributor MLM Oriflame member grup Sevenblast Malang. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah (1) Perusahaan MLM Oriflame i hendaknya sering memberikan training, seminar, dan pelatihan kepada para upline untuk semakin meningkatkan jiwa kewirausahaan mereka yang nantinya juga akan berdampak pada down line. Sedangkan para upline sebaiknya sering mengadakan group meeting untuk mempresentasikan hasil yang dia dapat dari seminar yang dia hadiri kepada down line agar para down line juga dapat belajar meningkatkan jiwa kewirausahaannya yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan jenjang karir mereka dalam MLM Oriflame (2) Bagi penelitian yang akan datang perlu dilakukan penelitian secara kualitatif untuk mendapatkan data yang lebih mendalam dan spesifik karena beberapa faktor seperti perbedaan perusahaan MLM yang satu dengan yang lain agar dapat dianalisis secara menyeluruh, perbedaan jenjang karir yang diperoleh setiap distributor dan lamanya menjadi distributor MLM.

Penggunaan media games jigsaw untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Dharma Wanita Kecamatan Dampit Kabupaten Malang / Sindy Anugerah Wati

 

Pengembangan tari permainan simpai pda pembelajaran motorik dasar di TK Mutiara Hati Kabupaten Nganjuk / Christina Fuji Ayuning Tias

 

Pelaksanaan Pendidikan & Pelatihan (Diklat) Pengelola Rumah Pintar (Rumpin) (Studi kasus pada Seksi Fasilitas Sumber Daya BP-PAUDNI Regional II Surabaya) / Lailatul Fitria

 

Pengembangan bahan ajar tematik "Kegiatan Sosial" dengan pendekatan kontekstual konstruktivistik untuk siswa kelas III SDIT At-Taqwa Wiyung Surabaya / Aminah Nudiya Lissholati

 

Kata kunci: bahan ajar, tematik “kegiatan sosial”, kontekstual, konstruktvistik Pembelajaran tematik erat kaitannya dengan kontekstualisasi materi dan kegiatan yang bersifat konstruktif. Berdasarkan analisis kebutuhan, 94% siswa merasa tema “Kegiatan Sosial” menarik, dan 100% guru setuju dikembangkan bahan ajar tematik, karena belum tersedianya bahan ajar seperti yang dibutuhkan. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar tematik “Kegiatan Sosial” sesuai konsep tematik murni yang teruji valid secara teoretik oleh ahli, valid secara praktik oleh pengguna, dan efektif mencapai tujuan pembelajaran. Kajian pustaka meliputi pembahasan tentang penelitian terdahulu, konsep pembelajaran tematik, pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivistik, pengembangan bahan ajar. Berdasarkan kajian penelitian terdahulu, penelitian pengembangan adalah metode penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2009:297). Metode yang digunakan penelitian ini adalah pengembangan Borg dan Gall yang diadaptasi sesuai kebutuhan pengembangan, yaitu: (1) Melakukan analisis produk yang akan dikembangkan, (2) Mengembangkan produk awal, (3) Validasi ahli dan revisi serta uji validitas soal pre-tes pos-tes, (4) Uji coba per orangan dan revisi produk, (5) Uji coba lapangan dan revisi produk akhir. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dari hasil penyebaran angket untuk menilai validitas, dan analisis uji beda untuk mengetahui tingkat keefektifan produk. Setelah melalui tahapan penelitian, diperoleh hasil validasi ahli dan revisinya, hasil validasi pengguna, hasil uji coba per orangan dan uji coba lapangan serta revisinya. Berdasarkan validasi ahli dan pengguna diperoleh hasil valid, masing-masing mencapai 90% dan 80,3% dan penilaian pre-tes dan pos-tes menunjukkan adanya perbedaan rata-rata nilai pos-tes antara kelas yang diberi produk dan kelas kontrol; dari nilai t-hitung>t-tabel (2,899>1,999). Selain itu teramati juga keaktifan siswa saat uji coba pembelajaran. Produk dikaji kesesuaiannya dengan konsep pembelajaran tematik, pembelajaran kontekstual, dan pengembangan bahan ajar yang baik. Dilakukan kajian analitik kekurangan dan kelebihan produk berdasarkan kondisi sebenarnya yang diperoleh selama penelitian. Kajian didasarkan pada teori yang terdapat pada kajian pustaka, disertakan pula deskripsi produk yang dihasilkan secara umum. Berdasarkan uji coba, disimpulkan bahwa bahan ajar termasuk kategori sangat valid secara teoretik dan praktik. Diperoleh pula perbedaan yang signifikan rata-rata nilai kelas uji dan kelas kontrol. Dapat disimpulkan bahan ajar efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Diharapkan ada penelitian selanjutnya yang melakukan diseminasi produk, dengan pengembangan yang lebih baik misalnya menemukan validator ahli dengan kualifikasi di bidangnya.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi kasus-kasus korupsi dan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas VIII SMPN 1 Watulimo Margomulyo Trengg

 

Pembelajaran konsep luas segitiga dengan metode penemuan terbimbing (Guide Discovery) untuk meningkatkan alih belajar siswa kelas IV SDN 2 Ngadirenggo Kabupaten Trenggalek / Novia Anjarwati

 

Kata Kunci: pembelajaran, luas segitiga, metode penemuan terbimbing, alih belajar. Berdasarkan wawancara dan observasi, ternyata masih banyak siswa yang kesulitan memahami konsep luas segitiga. Siswa sekedar menghafal rumus luas segitiga dan tidak dapat menjelaskan darimana rumus diperoleh. Siswa bisa mengerjakan soal tentang luas segitiga siku-siku, tetapi saat mengerjakan luas segitiga lancip dan tumpul siswa mengalami kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran konsep luas segitiga dengan metode penemuan terbimbing, (2) peningkatan alih belajar siswa, dan (3) hasil-hasil belajar atau dampak dari metode penemuan terbimbing ketika pembelajaran. Sesuai kurikulum 1994 suplemen 1999, pembelajaran luas segitiga disarankan menggunakan metode penemuan melalui peragaan. Dengan metode penemuan, siswa tidak sekedar menghafal rumus luas segitiga tetapi aktif terlibat secara fisik dan mental untuk menemukan rumus. Metode yang digunakan adalah metode penemuan terbimbing. Penerapan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran luas segitiga mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut diantaranya pengetahuan yang diperoleh siswa dapat bertahan lama dan hasil belajar mempunyai efek transfer yang lebih baik. Alih belajar adalah pemanfaatan kecakapan individu untuk diterapkan dalam mempelajari kecakapan selanjutnya. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus, meliputi (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran konsep luas segitiga dengan metode penemuan terbimbing membuat siswa aktif dan antusias saat melakukan penemuan. Selain itu, pemahaman siswa terhadap materi sangat baik dan alih belajar siswa juga meningkat ketika mengerjakan soal-soal tentang bangun layang-layang, trapesium, jajargenjang, dan belah ketupat. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil persentase ketercapaian peningkatan alih belajar siswa dari 76,44 % menjadi 75,96 %. Dengan rincian siswa yang berhasil mengerjakan soal tentang layang-layang sebanyak 22 siswa, soal tentang jajargenjang dan trapesium 17 siswa, dan soal tentang belah ketupat sebanyak 23 siswa. Saran yang diberikan kepada guru, yang menerapkan metode penemuan terbimbing sebaiknya menyediakan lembar kerja siswa dan alat peraga yang dapat membimbing siswa saat melakukan penemuan. Bagi peneliti lain, penerapan metode penemuan terbimbing masih memerlukan perencanaan waktu yang cermat dan sebaiknya menggunakan kertak berpetak saat melakukan peragaan.

Hubungan antara atribusi dengan sikap terhadap kesetaraan gender pada pegawai negeri sipil wanita di Kota Malang / Ristia Ningsih

 

Kata Kunci : atribusi, sikap terhadap kesetaraan gender Sikap terhadap kesetaraan gender adalah kecenderungan untuk memberikan respon kognitif, afektif dan konatif mengenai gender dalam keluarga, pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya. Perbedaan sikap terhadap kesetaraan gender berbeda-beda, salah satunya adalah atribusi seseorang terhadap pencapaian posisi atau prestasi kerja tertentu. Atribusi adalah cara seseorang menyimpulkan alasan dan sebab-sebab pencapaian yang diraihnya apakah disebabkan oleh faktor-faktor internal atau eksternal, stabil atau tidak serta dapat dikontrol atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran atribusi pada Pegawai Negeri Sipil wanita, (2) mengetahui sikap terhadap kesetaraan gender pada Pegawai Negeri Sipil wanita, dan (3) mengetahui hubungan antara atribusi dengan sikap terhadap kesetaraan gender pada Pegawai Negeri Sipil wanita. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampel, subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 40 Pegawai Negeri Sipil wanita berusia 35-50 tahun. Instrumen penelitian menggunakan Revised Causal Dimention Scale (CDSII) milik McAuley dan kawan-kawan yang dikembangkan oleh peneliti begitu pula dengan instrumen skala sikap terhadap kesetaraan gender. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan (1)Sebagian besar subjek penelitian mengatribusikan pencapaian kerja pada faktor-faktor internal, menetap dan dapat dikontrol. (2)Sebagian besar subjek penelitian memiliki sikap mendukung terhadap kesetaraan gender. (3)Ada hubungan antara atribusi pencapaian kerja dengan sikap terhadap kesetaraan gender pada wanita dengan nilai r = 0.813 dengan p = 0.000 < 0.05 artinya semakin positif atribusi kesuksesan (dipengaruhi faktor internal, stabil dan terkontrol), maka semakin positif sikap terhadap kesetaraan gender. Disarankan (1) Bagi wanita, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai kesetaraan gender dimulai dari dirinya sendiri dengan cara memberikan penghargaan terhadap potensi dan kemampuannya. (2) Bagi lembaga penelitian khususnya Pusat Studi Wanita, diharapkan dapat menambah referensi penelitian mengenai gender. (3) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan agar mengembangkan penelitian dengan memperhatikan aspek-aspek lain yang belum dikaji dalam penelitian ini dengan memakai pendekatan kualitatif.

Pengaruh penggunaan media pembelajaran berbasis free web blog terhadap hasil belajar kompetensi memperbaiki sistem starter dan pengisian siswa kelas XI SMK Negeri 1 Kediri / Adi Wibowo

 

Kata Kunci: media pembelajaran, free web blog, sistem starter dan pengisian, hasil belajar Pembelajaran yang menarik, efektif dan efisien merupakan tujuan pembelajaran yang menekankan pada penguasaan secara cepat dan tuntas. Adanya media pada proses belajar mengajar, diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan hasil belajar. Salah satu bentuk media pembelajaran yang akan digunakan pada penelitian kali ini adalah media pembelajaran berbasis free web blog. Dengan menggunakan media pembelajaran ini, guru diharapkan dapat menyampaikan informasi dengan lebih mudah dan siswa dapat menangkap informasi pembelajaran secara maksimal. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasi experiment). Penelitian ini menggunakan desain penelitian post-test design. Dalam desain ini, dilakukan pre-test untuk mendapatkan data kemampuan awal dari subyek penelitian sebelum pelaksanaan eksperimen. Setelah dilaksanakan eksperimen dilakukan kembali pengamatan terhadap subjek eksperimen menggunakan post-test. Dengan diterapkannya penggunaan media pembelajaran berbasis free web blog hasil belajar siswa kelas XI TKR 4 SMK Negeri 1 Kediri terdapat peningkatan. Nilai rata-rata pre-test kelas XI TKR 4 (eksperimen) yang awalnya 49 setelah mengikuti pembelajaran meningkat 15% menjadi 64 namun tidak berbeda secara signifikan dengan nilai rata-rata nilai siswa kelas XI TKR 3 (kontrol) yang diajar dengan pembelajaran konvensional yang awalnya 52 hanya meningkat 13% menjadi 65. Berdasarkan data hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis free web blog lebih menarik, namun belum signifikan meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi memperbaiki sistem starter dan pengisian di SMK Negeri 1 Kediri. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini agar media ini dikembangkan lebih lanjut sehingga bisa dijadikan pertimbangan untuk dijadikan media pembelajaran alternatif yang dapat meningkatkan hasil belajar.

Perbedaan kinerja keuangan (metode camels) dan return saham perbankan yang lsiting di BEI sebelum dan right issue (periode 2007-2009) / Yunita Dwi Pertiwi

 

Analsis kesalahan ejaan dalam karangan deskripsi siswa kelas V SDN Gugus I Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto / Rodiyah

 

Kata Kunci: analisis kesalahan, ejaan yang disempurnakan, karangan deskripsi, siswa kelas V SD Kesalahan siswa dalam belajar bahasa baik bahasa lisan maupun tulisan merupakan suatu kesalahan yang biasa dilakukan oleh siswa, apabila dibiarkan akan menjadi kebiasaan yang kurang baik dan cenderung akan terulang kembali dilakukan siswa. Kesalahan berbahasa siswa khususnya bahasa tulis harus dihindari. Hal ini dapat dilakukan apabila guru mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa dalam hal penggunaan ejaan pada hasil tulisan siswa. Penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam penggunaan ejaan pada karangan deskripsi siswa SDN gugus I Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan ejaan yang difokuskan pada (1) penulisan huruf kapital, (2) penulisan kata, dan (3) penulisan tanda baca dalam karangan deskripsi siswa kelas V SDN Gugus I Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan metode penelitian deskriptif yang bersifat kuantitatif (kuantitatif deskripsi). Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN gugus I Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto yang terdiri dari 5 SDN yakni SDN Trawas I, SDN Trawas II, SDN Sukosari, SDN Jatijejer, dan SDN Sugeng. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik tes, dan analisis data yang digunakan adalah dengan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data dari hasil karangan siswa kelas V SDN gugus I Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto diperoleh hasil bahwa (1) kesalahan penulisan huruf kapital pada karangan deskripsi mencapai 447 kesalahan dari 899 penulisan huruf besar yang benar atau 49,72% termasuk kategori sedang, (2) kesalahan penulisan kata pada karangan deskripsi mencapai 284 kesalahan dari 4125 penulisan kata yang benar atau 6,88% termasuk kategori sedikit, (3) kesalahan penulisan tanda baca pada karangan deskripsi 258 kesalahan dari 958 penulisan tanda baca yang benar atau 26,93% termasuk kategori sedang. Kesalahan yang dilakukan oleh siswa merupakan bentuk kecerobohan dan ketidaktahuan siswa mengenai penggunaan ejaan yang benar. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada guru di SDN Gugus I Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penggunaan ejaan dengan pembelajaran bahasa yang baik sesuai kaidah bahasa. Bagi peneliti lebih lanjut disarankan untuk melakukan penelitian beberapa kali dengan memperluas subyek penelitian dan dilakukan cross cek dengan guru kelas.

Analisis kecelakaan lalu lintas pengguna sepeda motor pada ruas jalan Kota Jombang/KM 0.000 - Mojokerto/KM 17.200 / Meilia

 

Kata kunci: analisis, kecelakaan lalu lintas, sepeda motor Jombang merupakan kabupaten yang strategis karena berada di persimpangan jalur lintas Selatan Pulau Jawa. Seiring dengan bertambahnya penduduk di Kabupaten Jombang tiap tahunnya menyebabkan kebutuhan transportasi juga semakin meningkat, khususnya pengguna sepeda motor. Bertambahnya sepeda motor tersebut, secara tidak langsung akan memperbesar resiko bertambahnya permasalahan lalu lintas yaitu berhubungan dengan kapasitas jalan, sehingga terjadi kemacetan dan kecelakaan, yang akan berdampak pada turunnya kinerja pelayanan jalan. Kecelakaan lalu lintas merupakan suatu kejadian di jalan yang tidak dapat disangka dan diduga kapan terjadinya dan dimana lokasi kejadiannya yang menyebabkan kerugian materiil berupa harta benda dan non materiil yaitu korban jiwa. Faktor-faktor penyebab kecelakaan terdiri dari: (1) pengemudi (kurang berhati-hati, mengantuk, mabuk, ugal-ugalan, lengah, penglihatan, kurang memperhatikan, dan melanggar rambu-rambu lalu lintas), (2) lingkungan dan jalan (pejalan kaki, material yang ada di jalan, dan kondisi jalan yang berlubang/rusak), dan (3) kendaraan (rem rusak, ban bocor/halus, dan lampu kendaraan). Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dengan data yang diperoleh berupa data sekunder dari buku register di Satlantas dari bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Desember 2012 dan data primer berupa volume lalu lintas harian rata-rata (LHR), kondisi ruas jalan pada daerah rawan kecelakaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: pertama, faktor penyebab kecelakaan lalu lintas yang paling tinggi adalah faktor pengemudi (66%), yang kedua faktor lingkungan dan jalan (22%), dan yang ketiga faktor kendaraan (7%), dan faktor lain-lain (5%). Kondisi ruas jalan yang kurang baik juga mempengaruhi tingkat jumlah kecelakaan lalu lintas pada daerah rawan kecelakaan seperti permukaan jalan yang rusak, rambu-rambu yang tidak berfungsi, tidak adanya penerangan jalan, perilaku pengguna sepeda motor yang masih sering melanggar peraturan yang ada.

Pengembangan trainer aplikasi kendali level air untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan mahasiswa dalam praktikum sistem kendali di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / L. Endah Cahya Ningrum

 

Riyadhu fi riwayati banati li Rajai ats tsani (dirosati tahliliyati ijtimaiyah) / Risna Rianti Sari

 

Kata kunci: Banat Ar-Riyadh, Raja As-Shani, Sosiologi Sastra Adanya hubungan antara masyarakat di dunia nyata dengan masyarakat imajiner dalam suatu novel menjadi dasar dari penelitian ini. Penelitian ini memberikan pengetahuan tentang kajian sosiologi sastra khususnya tentang masyarakat Riyadh yang tergambar dalam novel banat ar-Riyadh karya Raja As-Shani. Tujuan umum dari penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat di kota Riyadh dalam novel banat ar-Riyadh, yaitu gambaran tentang (1) Kebudayaan dan tradisi masyarakat Riyadh, (2) Masalah-masalah dalam masyarakat Riyadh, dan (3) Interaksi antara laki-laki dan perempuan di Riyadh. Selain tersebut diatas, terdapat pula gambaran tentang sejarah Riyadh, yaitu tentang kejadian-kejadian di Riyadh sekitar tahun 2000-2005, tahun ditulisnya novel ini. Penelitian ini juga membahas tentang hubungan antara kehidupan sosial masyarakat di novel dengan kehidupan nyata di Riyadh. Rancangan penelitian yang dipakai sebagai metode dari penelitian ini adalah rancangan deskriptif, dan pendekatan analisisnya menggunakan analisis sosiologi. Data-data dalam penelitian ini diambil dari teks-teks (monolog maupun dialog) dalam novel yaitu berupa kutipan-kutipan yang mengandung gambaran Riyadh. Sumber penelitian adalah novel banat ar-Riyadh dan instrumen penelitian adalah peneliti sendiri atau disebut human instrument. Hasil penelitian ini berupa gambaran tentang kehidupan masyarakat Riyadh baik dalam segi kebudayaan, tradisi, masalah-masalah yang mereka hadapi, serta interaksi antara laki-laki dan perempuan di Riyadh, sehingga dapat ditemukan hubungan antara kehidupan masyarakat dalam novel dengan kehidupan masyarakat nyata di kota Riyadh. Kenyataan dalam novel tidak seratus persen sama dengan kenyataan sebenarnya, karena penulis memberikan gambaran masyarakat Riyadh sesuai dengan pengamatannya, berupa kejadian didalam masyarakat tersebut dan disekitarnya dan juga sebagian digambarkan penulis berdasarkan ide-idenya atau pandangannya dalam perkembangan masyarakat. Tidak semua gambaran sesuai dengan kenyataan akan tetapi tidak sedikit dari gambaran tersebut penulis ungkapkan melalui sudut pandangnya sebagai salah satu anggota masyarakat Riyadh.

Distribusi temporal populasi harian wereng hijau (Empoasca sp.) dan laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L.O.K.) klon TRI 2025 di kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Siti Hidayati

 

Kata Kunci: Distribusi Temporal Populasi Harian, Wereng Hijau (Empoasca sp.), Laba-laba BermataTajam (Oxyopes sp.), Tanaman Teh (Camellia sinensis L.O.K). Wereng hijau merupakan salah satu hama yang terdapat pada Kebun TehWonosari, Singosari Kabupaten Malang. Laba-laba bermata tajam merupakan salah satu jenis predator yang terdapat di kebun teh dan berperan penting dalam agroekosistem kebun teh sebagai pengendali hama. Maka perlu kajian tentang distribusi temporal populasi harian wereng hijau dan laba-laba bermata tajam serta hubungan kedua populasi tersebut, serta faktor abiotik yang paling menentukan distribusi temporal populasi harian wereng hijau dan laba-laba bermata tajam. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan di Kebun TehWonosari, Singosari Kabupaten Malang pada bulan Mei 2011. Tempat pencuplikan sampel wereng hijau dan laba-laba bermata tajam pada tanaman teh klon TRI 2025, penentuan titik cuplikan dengan cara menentukan titik tepi dan membuat garis transek secara sistematis sebanyak 13 titik pencuplikan dengan mengikuti garis transek diagonal di area tanaman teh klon TRI 2025. Faktor abiotik yang diukur meliputi suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin. Cara mengetahui perbedaan distribusi temporal populasi harian wereng hijau dan laba-laba bermata tajam dianalisis secara deskriptif dan digambarkan dengan grafik sedangkan untuk mengetahui hubungan antara wereng hijau dan laba-laba bermata tajam dianalisis dengan analisis korelasi bivariat. Faktor lingkungan yang paling menentukan kepadatan harian wereng hijau dan laba-laba bermata tajam dianalisis dengan analis regresi ganda bertahap (stepwise multiple regression). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi temporal populasi harian wereng hijau paling banyak ditemukan pada pagi hari, sedangkan pada laba-laba bermata tajam paling banyak ditemukan pada siang hari. Tidak terdapat hubungan yang signifikan distribusi temporal antara wereng hijau dengan laba-laba bermata tajam, hal ini ditunjukkan dengan analisis korelasi bivariat. Hasil uji statistik dengan regresi ganda bertahap menunjukkan bahwa faktor abiotik yang paling menentukan distribusi temporal populasi harian wereng hijau dan laba-laba bermata tajam adalah suhu, kelembaban udara, angin dan cahaya.

Profil pelaksanaan pendidikan karakter di SDK Santo Yusuf Kota Madiun / Adi Nugroho

 

Kata Kunci: Pendidikan karakter, profil, SDK Santo Yusuf. Pendidikan karakter merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam UU Sisdiknas tahun 2003. Alasan yang mendasari diadakannya pendidikan karakter adalah supaya peserta didik tidak hanya unggul dari segi kecerdasan, tetapi juga karakter. Karena apabila kecerdasan yang dimiliki tidak diikuti dengan karakter yang baik akan melahirkan perilaku negatif pada peserta didik. Penelitian ini dilaksanakan di SDK Santo Yusuf, karena selain sekolah bercirikan agama dan telah melaksanakan pendidikan karakter, SDK Santo Yusuf merupakan salah satu sekolah dasar unggulan di Madiun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter; (2) Faktor-faktor penunjang; (3) Faktor-faktor penghambat; dan (4) Karakter yang tampak pada peserta didik dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini meliputi: (1) Pelaksanaan pendidikan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, pengembangan budaya sekolah yang meliputi kegiatan rutin, terprogram, spontan, pengkondisian, dan keteladanan. Kegiatan ekstrakurikuler yang terdiri dari ekstrakurikuler olahraga, kesenian, pramuka, english club, dan sempoa. Pemantauan perkembangan peserta didik di rumah yang dilakukan dengan menyediakan waktu khusus untuk pertemuan orang tua dengan pihak sekolah; (2) Faktor-faktor yang menunjang yaitu sarana dan prasarana yang memadai, pelaksanaan yang berkelanjutan, kesadaran dan peran serta dari guru; (3) Faktor-faktor yang menghambat yaitu kurangnya sikap dan kesadaran orang tua, dan sikap peserta didik ketika pertama kali masuk sekolah; (4) Dari beberapa karakter yang tampak pada peserta didik, salah satu yang paling tampak adalah religius. Berdasarkan temuan penelitian, pelaksanaan pendidikan karakter telah dilaksanakan secara optimal. Saran yang dapat diberikan adalah dengan mengkondisikan lorong-lorong kelas yang kurang begitu tampak dengan kata-kata bijak atau mutiara dan ayat-ayat Alkitab yang dapat dibuat poster dan ditempelkan di luar kelas.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achiement Divisions (STAD) dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA pada siswa kelas V semester 2 SDN Jenggolo 2 Kepanjen / Dwi Nurma Yunita

 

Kata Kunci: model pembelajaran STAD, keaktifan, dan hasil belajar siswa. Berdasarkan observasi awal ditemukan permasalahan yang berkaitan dengan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SDN Jenggolo 2. Aktivitas siswa menunjukkan minat siswa belajar kelompok masih rendah. Pada umumnya siswa cenderung pasif, hanya menerima apa yang di sampaikan guru tanpa bisa mengeluarkan pendapat, bertanya, serta menjawab pertanyaan. Diperlukan pembenahan pada proses pembelajaran tersebut yang salah satunya dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD), dalam metode ini siswa dituntut untuk saling bekerjasama dalam tim yang heterogen, dan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V di SDN Jenggolo 2 Kepanjen dalam mengikuti proses pembelajaran pada pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran Tipe STAD. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dengan 2 siklus, setiap siklusnya terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi, wawancara, dan tes tertulis. Penelitian dilaksanakan di kelas V SDN Jenggolo 2 Kepanjen dengan jumlah siswa 30 siswa, pada materi pokok Struktur Bumi dan Matahari. Hasil refleksi siklus I menemukan kelemahan dan kekurangan saat proses pembelajaran yang menghambat pelaksanaan metode STAD, yaitu suara guru kurang jelas ketika menerangkan materi kepada siswa, pengorganisasian waktu yang kurang tepat, siswa yang berpendapat dalam diskusi kelompok masih kurang, siswa masih belum terbiasa dengan proses pembelajaran STAD. Sehingga dilakukan perbaikan pada siklus II, yaitu suara guru lebih diperjelas lagi ketika menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa, memperbaiki cara berkelompok dengan memberikan tanggung jawab pada masing-masing siswa dalam kelompok, pengarahan kembali cara berdiskusi yang benar, pengorganisasian waktu yang lebih tepat, serta membacakan aturan pembelajaran STAD secara berulang-ulang kepada siswa. Hasil penelitian tindakan kelas menunjukkan untuk keaktifan siswa pada siklus I 59,75% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 82,5%, untuk hasil belajar siswa yang meningkat, yaitu pada siklus I rata-rata pre test 59,42 dan post test 72,75, pada siklus II meningkat menjadi 60,58 untuk pre test, dan post test menunjukkan angka 82,83. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar struktur bumi dan matahari siswa kelas V SDN Jenggolo 2 Kepanjen. Dari hasil penelitian ini guru disarankan dapat menerapkan model pembelajaran tipe STAD di kelas untuk upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

Penggunaan boneka tongkat untuk meningkatkan kemampuan menyimak dongeng kelas II SDN Dawung 2 Kediri / Yunia Bintarti

 

Kata kunci: boneka tongkat, menyimak dongeng, SD. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan terpenting sebelum melakukan kegiatan berbahasa karena keterampilan ini digunakan pertama kali oleh siswa dalam proses pembelajaran. Hasil observasi awal pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi menyimak dongeng di kelas II SDN Dawung 02 Kediri diperoleh informasi bahwa hasil belajar menyimak dongeng tidak memuaskan dengan nilai rata-rata hasil belajar 68,6 dan ketuntasan belajar 32% sehingga belum mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditetapkan yaitu 75,00. Pada saat pembelajaran guru belum menggunakan media yang sesuai sedangkan media yang digunakan berupa buku teks dan LKS sehingga siswa tidak tertarik dan bersemangat dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penggunaan media boneka tongkat yang dapat meningkatkan kemampuan menyimak dongeng. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas II SDN Dawung 2 Kediri. Peneliti berperan sebagai praktikan sedangkan guru kelas melakukan pengamatan terhadap aktivitras guru dan siswa. Tahap-tahap dalam penelitian ini terdiri dari: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan dan observasi , (3) refleksi, (4) revisi. Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan boneka tongkat telah dilaksanakan secara efektif dalam 2 siklus. Hal tersebut terbukti karena seluruh indikator di setiap siklusnya berhasil tercapai dengan baik sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Aktivitas pembelajaran dalam penelitian ini meliputi kegiatan menyimak dongeng, tanya jawab, dan pengerjaan soal evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan boneka tongkat mampu meningkatkan kemampuan menyimak dongeng. Kemampuan menyimak dongeng siswa meliputi pemahaman literal, reorgansisai, dan inferensial. Hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai tes tahap pra-tindakan yaitu 68,6 dengan ketuntasan belajar 32%, pada siklus I meningkat menjadi 73,5 dengan ketuntasan belajar 48%, pada siklus II meningkat menjadi 82,76 dengan ketuntasan belajar 80%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa boneka tongkat dapat digunakan dalam peningkatan pembelajaran menyimak dongeng di kelas II. Saran peneliti yaitu bagi peneliti lain yang akan melanjutkan penelitian ini agar melakukan perencanaan yang matang dengan memilih cerita dongeng yang memiliki tingkat kesukaran yang sama, menjahit boneka tongkat lebih kuat agar tidak mudah rusak, dan berlatih teknik mendongeng.

Pengembangan media pembelajaran berbasis E-learning pada matapelajaran pemrograman visual berbasis desktop untuk siswa kelas X Rekayasa Perangkat Lunak SMK Negeri 1 Banyuwangi / Deviana Harstuti

 

Harstuti, Deviana.2013. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis e-Learning pada Mata Pelajaran Pemrograman Visual Berbasis Desktop Untuk Siswa Kelas X Rekayasaa Perangkat Lunak di SMK Negeri 1 Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Dwi Prihanto, S,S.T, M.Pd, (II) M. Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci : Media, e-Learning, Website, video     Rekayasa perangkat lunak merupakan salah satu program keahlian yang ada di sekolah kejuruan (SMK) yang memiliki basic programer. Salah satu matapelajaran yang diajarkan adalah pemrograman visual berbasis desktop. Cara pengajarannya masih terkesan konvensional. Terutama saat praktik, guru hanya menerangkan source code tanpa memandu siswanya. Sehingga pemahaman siswa terhadap materi kurang maksimal.dikarenakan guru hanya terpaku pada materi tanpa memberikan ilustrasi dengan menggunakan media yang nyata, yang dapat memberikan motivasi keinginan belajar siswa.      Siswa sekarang menuntut lebih banyak waktu yang berkualitas untuk bisa berdiskusi dan membantu pemahaman dalam kegiatan belajar. Tatap muka di kelas menjadi tidak cukup untuk memenuhi waktu yang berkualitas itu. Karena selama ini pembelajaran di sekolah masih belum maksimal, masih ada guru yang tidak hadir di dalam kelas dan tidak meninggalkan tugas untuk siswanya. Salah satu alternatif adalah dikembangkannya sistem e-learning yang bisa memberi lebih banyak waktu dan kesempatan kepada siswa untuk bisa berdiskusi. Sistem e-learning yang dikembangkan adalah berbasis website sehingga sistem e-learning ini disebut Internet Enabled Learning.      Model peneltian dan pengembangan yang digunakan adalah R&D milik Sugiyono yang terdiri dari; (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk, (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi masal.      Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, didapat presentase hasil validasi oleh ahli media sebesar 85%, hasil validasi ahli materi sebesar 89%, hasil uji coba kelompok kecil 88,3%, dan hasil uji coba lapangan sebesar 87,6%. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa media ini secara keseluruhan dinyatakan layak/valid. Media dapat digunakan sebagai media pembelajaran mandiri siswa.

Hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan emosi anak usia dini di PAUD Nurusy Syamsi Turen Kabupaten Malang / Ira Widya Bulan

 

Kata Kunci : Perkembangan Emosi, Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua adalah suatu interaksi orang tua kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor yag mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan emosi anak timbul dalam bentuk reaksi marah, takut, sedih, gembira, keingintahuan, dan kasih sayang. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan emosi yang ada di PAUD Nurusy Syamsi, untuk menggambarkan pola asuh orang tua di PAUD Nurusy Syamsi dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan emosi di PAUD Nurusy Syamsi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif korelasional. Data penelitian didapat dari penyebaran angket kepada 36 respoden pada tiap-tiap variabel yang kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perkembangan emosi yang ada di PAUD Nurusy Syamsi masih rendah, (2) pola asuh orang tua yang sering digunakan adalah pola asuh demokratis, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosi. Kesimpulan penelitian ini adalah perkembangan emosi di PAUD Nurusy Syamsi masih rendah, pola asuh orang tua yang sering digunakan adalah pola asuh demokratis dan pola asuh orang tua demokratis memiliki tingkat signifikansi yang paling kuat sehingga pola asuh ini apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengembangkan perkembangan emosi anak dengan baik. Dari hasil penelitian ini juga disarankan agar orang tua lebih memahami pola asuh yang baik untuk diterapkan di keluarganya. Bagi lembaga PAUD Nurusy Syamsi perlu meningkatkan program parenting edication dengan tema pola asuh yang baik untuk diterapkan di keluarga. Bagi jurusan PLS sebaiknya lebih mengembangkan lagi program parenting education khususnya dalam hal mengembangkan perkembangan emosi anak.

Penerapan model group investigation untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Polowijen 3 Malang / Marlia Rachmah

 

Pelaksanaan ekstrakurikuler pada pembelajaran fullday school di SD Muhammadiyah Ponorogo / Dian Ika Kusumaningtyas

 

Penggunaan alat musik sederhana untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok A TK PGRI 01 Dampit Kabupaten Malang / Yunia Ervi Anisa

 

Penerapan model Problem Based Instruction (PBI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA kelas V SDN Mangliawan 01 Kabupaten Malang / Siti Aisah

 

Perbedaan hasil belajar dan metakognitif siswa antara model pembelajaran ARIAS dan model pembelajaran learning cycle 5E pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kelas XI SMA Negeri 1 Gresik / Putri Aisyiyah Rakhma Devi

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Metakognitif, Model Pembelajaran ARIAS, Model Pembelajaran Learning Cycle 5E. Model pembelajaran ARIAS memiliki ciri khas khususnya pada tahap interest dan satisfaction. Pada tahap interest, guru harus mampu menarik minat/perhatian siswa dan tetap memelihara minat/perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk tahap satisfaction, memberikan kepada siswa menggunakan hasil belajar yang telah diperolehnya untuk membantu siswa lain. Sementara itu model pembelajaran Learning Cycle 5E memiliki tahapa unggulan yakni exploration dan explanation. Pada tahap exploration, guru memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil dan tahap pada explanation, guru mendorong siswa untuk dapat menjelaskan materi yang telah didapat dengan kalimatnya sendiri. Metakognitif merupakan sebuah pengaturan proses kognitif yang terjadi secara sadar untuk pencapaian tujuan dan maksud tertentu dan strategi untuk meningkatkan hasil belajar siswa supaya lebih optimal dan sesuai yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar dan metakognitif siswa melalui model pembelajaran ARIAS dan model pembelajaran Learning Cycle 5E pada mata pelajaran TIK kelas XI SMA Negeri 1 Gresik. Rancangan penelitian yang digunakan pretest-posttest control group design. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran ARIAS dan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Variabel bebas yaitu model pembelajaran, variabel terikat yaitu hasil belajar dan metakognitif siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gresik. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik sampling pertimbangan (purposive sampling) sehingga diperoleh kelas XI IS 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IS 2 sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar dan metakognitif yang sigfnifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, tahap interest siswa berlomba dalam pengerjaan tugas yang diberikan. Sementara itu pada tahap satisfaction siswa yang sudah menguasai kompeternsi dasar membantu temannya yang belum menguasai. Pada Learning Cycle 5E tahap exploration dan explanation adalah tahapan yang mirip dengan tahap interest dan satisfaction pada kelas eksperimen, Namun kelas model ARIAS terbukti lebih efektif dibandingkan model Learning Cycle 5E dari fakta bahwa selain rata-rata kelas ARIAS lebih tinggi dan dari siswa yang tidak mencapai KKM kelas ARIAS sekitar 10% dan kelas Learning Cycle 5E sekitar 15%.

Penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS SDN Sumberpetung 01 Kabupaten Malang / Dior Ali Etha Nalynda

 

Kata kunci : Model Student Team Achivement Division, Aktivitas, Hasil Belajar IPS. Model Student Team Achivement Division merupakan model pembelajaran yang menciptakan partisipasi dan aktivitas siswa untuk menemukan sendiri konsep/materi dalam bentuk kelompok. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan sebelum melaksanakan penelitian diperoleh informasi bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan siswa belum terlatih menemukan sendiri konsep-konsep baru. Akibatnya hasil belajar siswa menjadi rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi rata-ratanya hanya 63, sedangkan kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai yaitu 70. Untuk mengatasi hal itu maka peneliti menerapkan model Student Team Achivement Division (STAD) untuk meningkatkan pembelajaran IPS. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan model Student Team Achivement Division pada pembelajaran IPS di kelas IV; (2) Peningkatan aktivitas siswa selama penerapan model Student Team Achivement Division ; (3) Peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model Student Team Achivement Division (STAD). Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan selama dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pengumpulan data penerapan model Student Team Achivement Division (STAD) dan aktivitas siswa dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta tes untuk memperoleh data hasil belajar siswa. Data penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif dan data berupa angka sebagai pendukung. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Penerapan model Student Team Achivement Division telah dilaksanakan guru sesuai dengan tahap-tahap model Student Team Achivement Division (2) Peningkatan aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran IPS, hal ini dapat dilihat rata-rata perolehan persentase keberhasilan aktivitas siswa pada siklus I yaitu 42% meningkat pada siklus II yaitu 59%. (3) Peningkatan hasil belajar siswa siklus I rata-rata persentase ketuntasan belajar yaitu 59% meningkat rata-ratanya pada siklus II menjadi 67%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Student Team Achivement Division dapat meningkatkan pembelajaran IPS yang ditandai dengan peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Oleh sebab itu disarankan agar guru menerapkan model Student Team Achivement Division utamanya pada materi tentang perkembangan teknologi perlu ditindak lanjuti oleh guru SDN Sumberpetung 01 Kabupaten Malang karena model Student Team Achivement Division (STAD) mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Penerapan model tari bambu pada pembelajaran berbicara untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa kelas V SDN 2 Pringapus Kabupaten Trenggalek / Kardiana Metha Rozhana

 

Rozhana, Kardiana Metha. 2013. Penerapan Model Tari Bambu Pada Pembelajaran Berbicara untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa Kelas V SDN 2 Pringapus Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd, (2) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata Kunci : Model Tari Bambu, Pembelajaran Berbicara, Kemampuan Berfikir Kreatif Permasalahan yang terjadi di SDN 2 Pringapus Kabupaten Trenggalek yaitu siswa kurang maksimal dalam pembelajaran hal ini dikarenakan guru dalam proses belajar belum menggunakan RPP, belum menggunakan media, masih menggunakan metode ceramah atau dekte, dan siswa mengerjakan LKS sebagai penilaian, selain itu guru tidak pernah memberikan soal sebab akibat serta penyelesaian suatu masalah. Permasalahan tersebut mengakibatkan kurang berkembangnya konsep berfikir. Guru kelas masih menyampingkan pembelajaran berbicara. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan penerapan model tari bambu pada pembelajaran berbicara, dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan berfikir kreatif setelah diterapkan model tari bambu pada pembelajaran berbicara siswa kelas V SDN 2 Pringapus Kabupaten Trenggalek. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian diskriptif kualitatif dengan jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus, yaitu siklus-1 dan siklus-2 dengan subjek penelitian siswa kelas V SDN 2 Pringapus yang berjumlah 18 siswa. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama yaitu sebagai pelaksana, pewawancara, dan pengumpul data. Peneliti juga bertindak sebagai perencana tindakan yaitu membuat rancangan pembelajaran dan pelaksana kegiatan pembelajaran. Penerapan siklus-1 dan siklus-2 melalui 4 tahap yaitu (1) penjelasan topik; (2) pengerjaan kerangka berfikir; (3) penerapan model tari bambu; (4) secara bergantian siswa menjelaskan informasi yang diperoleh dari penerapan model. Penilaian berfikir kreatif yaitu: (1) kelancaran berbicara; (2) variasi jawaban; (3) orisinalitas; (4) elaborasi. Hasil kemampuan berfikir kreatif pada pembelajaran berbicara menunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model tari bambu mengalami peningkatan, pada siklus-1 dengan ketuntasan siswa 44,44% dan pada siklus-2 ketuntasan siswa 88,88%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model tari bambu pada pembelajaran berbicara untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa kelas V SDN 2 Pringapus Kabupaten Trenggalek mengalami peningkatan, dan dikatakan berhasil. Namun, sebaiknya guru lebih kreatif dan inovatif untuk melaksanakan pembelajaran agar lebih baik dan dapat mengaktifkan siswa.

Penerapan model guided inquiry untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA di kelas V SDN Gampingan 01 Kecamatan Pagak Kabupaten Malang / Atmisalis Candrawati

 

Pengaruh persentase penawaran saham, nilai penawaran saham, dan umur perusahaan terhadap return perusahaan yang melaksanakan Initial Public Offering (IPO) periode 2007-2011 / Brianita Sari Setianingrum

 

Profil pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Kiduldalem 2 Kota Malang / Fadillah Dewi Ajeng Pratiwi

 

Penerapan permainan puzzle geometri untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A1 TK Negeri Pembina Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk / Linda Dwiyanti

 

Pengembangan LKS IPA berbasis eksperimen di kelas IV SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Tyka Trisna

 

Kata Kunci: LKS, IPA, Berbasis Eksperimen LKS IPA Berbasis Eksperimen merupakan perpaduan antara pemanfaatan LKS sebagai alat bantu mengajar dengan menggunakan metode eksperimen. Manfaat LKS IPA Berbasis Eksperimen dalam dunia pendidikan yaitu dapat membantu guru mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerjanya, juga dapat mengembangkan keterampilan proses, mengembangkan sikap ilmiah serta membangkitkan minat siswa terhadap alam sekitarnya. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan produk alat bantu belajar berupa LKS IPA Berbasis Eksperimen yang layak menurut ahli teori, menurut pengguna dan menurut siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari Borg dan Gall. Data penelitian berupa hasil validasi, diperoleh dari ahli materi, guru kelas IV dan siswa kelas IV SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Kegiatan analisis data dimulai dari (1) observasi dan pengumpulan informasi awal (research and information collecting), (2) perencanaan (planning), (3) pengembangan draf produk (develop preliminary form of product) (4) validasi ahli, (5) revisi draf produk yang telah diujicobakan kepada ahli, (6) validasi perorangan (guru) (7) revisi draf yang telah diuji cobakan kepada praktikan (guru), (8) produk diujicobakan kepada kelompok terbatas/kecil (siswa), (9) revisi produk akhir, (10) Produk jadi. Metedo pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pemberian angket kepada validasi ahli, validasi perorangan, validasi terbatas, dan dari kelompok terbatas. Alat bantu belajar berupa LKS IPA berbasis Eksperimen ini dinyatakan layak untuk digunakan sebagai alat bantu mengajar IPA dengan materi energi di SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan statistik yaitu dari ahli materi didapatkan skor 91,6%,darim validasi perorangan mendapatkan skor 96,4% sedangkan dari siswa didapatkan skor persentase sebesar 87,3%. Hal ini menunjukkan bahwa LKS IPA Berbasis Eksperimen khususnya materi energi kelas IV di SDN Jatimulyo 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ini termasuk kualifikasi sangat layak untuk digunakan sebagai alat bantu belajar. Disarankan bagi pengambang berikutnya untuk mengatasi keterbatasan LKS IPA Berbasis Eksperimen ini dapat membuat LKS IPA Berbasis Eksperimen yang lebih sempurna, baik dari segi tampilan, gambar, maupun kegiatan percobaan yang digunakan agar dapat berfungsi lebih maksimal.

Penerapan media lembar balik untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Lowokwaru 5 Kota Malang / Selviana Dea Panary

 

Panary, Selviana Dea. 2013. Penerapan Media Lembar Balik untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas IV SDN Lowokwaru 5 Kota Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Hj. Ruminiati, M.Si. (II) Drs. Imam Nawawi, M.Si Kata kunci: Media Lembar Balik, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar,PKn SD     Berdasarkan hasil observasi dilakukan pada kelas IV SDN Lowokwaru 5 Kota Malang, pada waktu pembelajaran PKn nampak aktivitas siswa masih terbatas pada membaca buku dan mengerjakan soal, tidak ada penggunaan media untuk membantu penyampaian materi. Akibatnya hasil belajar siswa masih rendah. Diperoleh data rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 57,38 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 41%, sedangkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan adalah 65.      Agar dapat meningkatkan pembelajaran PKn perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan media pembelajaran lembar balik. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan media lembar balik pada pembelajaran PKn, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran PKn dengan media lembar balik, (3) hasil belajar PKn siswa setelah diterapkan media lembar balik.     Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu modifikasi APKG 1, modifikasi APKG 2, lembar observasi aktivitas siswa, dan soal tes.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media lembar balik untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Lowokwaru 5 dapat dilaksanakan sesuai harapan peneliti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan guru dalam penerapan media. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 53% dan pada siklus II menjadi 66%. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 61,9 pada siklus I menjadi rata-rata 68,28.      Peningkatan tersebut terjadi dikarenakan guru telah mampu memfokuskan perhatian siswa pada materi dengan menggunakan media lembar balik. Siswa menjadi lebih terfokus memperhatikan materi yang diberikan dan antusias, terbukti dari banyak siswa yang mengangkat tangan menjawab pertanyaan. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penggunaan media lembar balik dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa kelas IV di SDN Lowokwaru 5. Berdasarkan hasil penelitian maka diberikan saran agar media lembar balik dapat dijadikan sebagai salah satu media alternatif bagi guru dalam memperlancar pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran PKn di SD.

Pengembangan modul pembelajaran IPA standar kompetensi memahami daur hidup beragam jenis makhluk hidup untuk kelas IV SD / Dwi Mitasari

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif Teams Games Tournaments bermedia CD pembelajaran terhadap keterampilan kooperatif, motivasi, dan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Turen / Siti Nurwaqidah

 

Kata Kunci : pembelajaran kooperatif,TGT, CD pembelajaran, keterampilan kooperatif, motivasi, hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif. Metode pembelajaran yang menarik memiliki peranan penting bagi terciptanya tujuan pembelajaran yang lebih bermakna. Metode pembelajaran yang menarik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan proses pembelajaran terhadap mata pelajaran IPA khususnya biologi. Untuk meningkatkan proses pembelajaran dibutuhkan suatu metode yang dapat dipadukan dengan media pembelajaran. Media yang ditawarkan adalah CD pembelajaran yang dipadukan dengan pembelajaran kooperatif TGT. Pembelajaran kooperatif TGT merupakan suatu pembelajaran yang terdiri atas pembentukan kelompok, permainan, dan pertandingan akademik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif TGT dipadukan dengan CD pembelajaran terhadap keterampilan kooperatif, motivasi, dan hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia dan sistem pertahanan tubuh. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian pre test-pos test nonequivalent group design yang dilakukan pada kelas XI-AI sebagai kelas ekperimen dan XI-A3 sebagai kelas kontrol di SMA Negeri 1 Turen. Kelas ekperimen diberi pembelajaran kooperatif TGT bermedia CD pembelajaran dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Data keterampilan kooperatif, motivasi, dan hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes awal dan tes akhir dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik Anakova (Analisis Kovarian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat perbedaan keterampilan kooperatif yang signifikan, hal ini ditunjukkan dengan nilai probabilitas 0,007 dengan kenaikan sebesar 4,61%; 2) terdapat perbedaan motivasi belajar yang tidak signifikan, hal ini ditunjukkan dari nilai probabilitas 0,868 dengan kenaikan sebesar 1,61%; 3) terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan, hal ini ditunjukkan dengan nilai probabilitas 0,000 dengan kenaikan sebesar 100,1%; dan 4) terdapat perbedaan hasil belajar afektif yang tidak signifikan, hal ini ditunjukkan dari nilai probabilitas 0,906 dengan kenaikan sebesar 3,46%.

Pengaruh penerapan model make a match terhadap hasil belajar membaca aksara Jawa siswa kelas IV SDN Sekarpuro Kabupaten Malang / Windy Kusuma Wardani

 

Kata Kunci: membaca aksara jawa, model make a match, kelas IV SD Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan di sekolah formal tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah. Dalam pembelajaran bahasa Jawa, ketrampilan membaca dapat dikategorikan menjadi 2 macam. Pertama, ketrampilan membaca bacaan berbahasa Jawa dengan huruf alphabet (latin). Kedua, adalah ketrampilan membaca kalimat berbahasa Jawa dengan aksara Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui hasil belajar membaca aksara Jawa siswa tanpa menerapkan model make a match, (2) mengetahui hasil belajar membaca aksara Jawa siswa dengan menerapkan model make a match, dan (3) mengetahui pengaruh penerapan model make a match terhadap hasil belajar membaca aksara Jawa siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasy eksperimental). Desain penelitian eksperimental semu ini adalah “Nonequivalent Control Group Design”. Penelitian ini dilakukan di kelas IV SDN Sekarpuro Kabupaten Malang. Subjek penelitian terdiri dari 24 siswa kelas IVB sebagai kelas kontrol dan 24 siswa kelas IVA sebagai kelas eksperimen. Sebelum penelitian instrument tes diuji cobakan terlebih dahulu. Kemudian untuk menganlisa data diuji prasyarat dengan menggunakan uji homogenitas dan normalitas. Jika data sudah homogen dan berdistribusi normal maka dilakukan uji hipotesis dengan uji gain score dan uji-t. Hasil penelitian diperoleh nilai indeks gain pada kelas eksperimen sebesar 0,36 jika diintepretasikan ke dalam kriteria tergolong sedang. Sedangkan pada kelas kontrol nilai indeks gain sebesar 0,17 dan tergolong dalam kriteria rendah. Pada uji-t diperoleh hasil yaitu nilai Sig. (0,038) < 0,05 dan t hitung (2,142) > ttabel (2,012). Berdasarkan hipotesis dalam penelitian ini jika Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima atau terdapat pengaruh hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari uraian hasil analisa data di atas dapat disimpulkan bahwa temuan peneliti yaitu penerapan model make a match berpengaruh terhadap hasil belajar membaca aksara Jawa siswa kelas IV SDN Sekarpuro kabupaten Malang. Saran yang diberikan hendaknya dalam pembelajaran guru menggunakan model-model pembelajaran yang bervariasi tetapi tetap disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.

Pengaruh penerapan software circuit wizard dalam model project based learning untuk meningkatkan prestasi belajar elektronika analog dan digital dasar siswa kelas X di SMK Negeri 3 Jombang / Bagus Prasetyo

 

Kata Kunci : Software Circuit Wizard, Project Based Learning, Prestasi Belajar Dalam era modern seperti saat ini guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif, yakni hendaknya selalu bertindak dengan penuh kelancaran, fleksibilitas sehingga dapat menunjang prestasi siswa – siswinya. Untuk itu guru harus mempunyai kompetensi dalam bidangnya serta mampu mempengaruhi siswa untuk belajar baik dari ranah kognitif, psikomotor maupun afektif. Pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi siswa dan lebih utama adalah perubahan perilaku siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi Expermental design atau experimen semu tipe Nonequivalent Control Group Design. Penelitian ini mengambil sampel dari populasinya yaitu 2 Kelas, X TKJ A dan X TKJ B yang berjumlah keseluruhan 56 Siswa. Perlakuan yang diberikan adalah penerapan software circuit wizard dalam model project based learning untuk kelompok A (eksperimen) sedangkan untuk kelompok B (kontrol) menggunakan metode ceramah bermakna dan penugasan. Untuk mengetahui keadaan awal masing – masing kelompok maka peneliti memberikan test awal (pre test). Setelah diketahui nilai awalnya, kelompok eksperimen diajar dengan model pembelajaran Project based learning dengan software circuit wizard (P1), sedangkan kelompok kontrol diajar dengan metode pembelajaran ceramah bermakna dan penugasan oleh peneliti (P2). Setelah perlakuan (P) diberikan, kemudian masing-masing kelompok diberi test akhir (post test) untuk mengetahui adakah perbedaan antara kelompok Hasil penelitian yang dilakukan dengan SPSS 19 membuktikan dengan adanya perolehan rerata prestasi belajar siswa kelas eksperimen (X TKJ A) sebesar 87,11. Sedangkan kelas kontrol (X TKJ B) sebesar 73,87. Dari uji-t dua pihak yang dilakukan, diperoleh thitung (-13,638) lebih besar dari ttabel (2,052) jadi H0 ditolak. Siswa yang tuntas belajar pada kelas eksperimen jumlahnya lebih banyak dari pada kelas kontrol yaitu 96% untuk kelas eksperimen, 11% untuk kelas kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan software circuit wizard dalam model pembelajaran berbasis proyek memiliki perbedaan yang signifikan dibanding dengan pembelajaran menggunakan metode ceramah bermakna dan penugasan.

Transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang / Desi Widiasari

 

Widiasari, Desi. 2013. Transformasi Budaya Disiplin Peserta Didik di SMK PGRI 3 Malang. Skripsi Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing (I) Dra. Djum Djum Noor Benty, M. Pd, Dosen Pembimbing (II) Dr. H. Ahmad Yusuf Sobri, S. Sos, M. Pd. Kata kunci: transformasi budaya, budaya disiplin peserta didik Pendidikan di sekolah penting untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh anak, yaitu kemampuan akademik dan non akademik. Selain itu pendidikan sekolah juga mampu memperkuat disiplin anak, memperkenalkan tanggung jawab, membangun jiwa sosial dan jaringan pertemanan, sebagai identias diri, dan sebagai sarana mengembangkan diri dan berkreativitas. Budaya sekolah akan menjadi karakteristik sebuah sekolah. Perencanaannya harus diukur dari kemampuan warga sekolahnya. Pelaksanaan budaya sekolah dilakukan melalui sebuah komitmen yang jelas dan tegas, yang akan dipatuhi oleh warga sekolah. Pengembangan budaya sekolah senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Salah satu budaya sekolah yang penting untuk dilakukan transformasi kepada peserta didik adalah budaya disiplin. Oleh karena itu budaya disiplin harus ditanamkan secara terus-menerus kepada peserta didik. Fokus penelitian ini adalah: (1) perencanaan transformasi budaya disiplin peserta didik; (2) pelaksanaan transformasi budaya disiplin peserta didik; (3) pengawasan transformasi budaya disiplin peserta didik; (4) penilaian transformasi budaya disiplin peserta didik; (5) faktor-faktor penunjang dalam transformasi budaya disiplin peserta didik; (6) hambatan dalam transformasi budaya disiplin peserta didik; (7) upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam transformasi budaya disiplin peserta didik; (8) peran serta warga sekolah dalam transformasi budaya disiplin di SMK PGRI 3 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini dilakukan di SMK PGRI 3 Malang. Untuk mengumpulkan data terkait fokus penelitian, penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi sumber dan teknik. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) perencanaan transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang berdasarkan peraturan sekolah, peraturan tersebut dibuat oleh Kabid Kesiswaan dengan dibantu oleh 2 staf bidang kesiswaan, setelah peraturan dibuat kemudian dirapatkan dan dikritisi oleh semua pihak (kepala sekolah, management representative, kabid, komite sekolah), dan disahkan oleh kepala sekolah, peraturan akan ditinjau kembali dan disesuaikan dengan kondisi setiap tahun; (2) pelaksanaan transformasi budaya disiplin di SMK PGRI 3 Malang dilakukan dengan beberapa cara berikut: keteladanan guru, komitmen mematuhi peraturan, penerapan tegas tapi mendidik dan bersumber pada peraturan, koordinasi dengan orang tua peserta didik; (3) pengawasan adalah tugas bidang kesiswaan, tapi dalam pelaksanaannya semua pihak ikut ii membantu. Pengawasan dilakukan setiap hari melalui salam-salaman di pagi hari dan pihak kesiswaan berkeliling di area sekolah. Pengawasan yang dilakukan berkala adalah inspeksi mendadak ke luar lingkungan sekolah dan yang dilakukan di dalam area sekolah tetapi bekerjasama dengan pihak kepolisian; (4) tidak ada prosedur khusus untuk melakukan penilaian terhadap transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang. Hal tersebut dinilai dari jumlah pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik, adanya perubahan dalam diri peserta didik, animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMK PGRI 3 Malang, dan alumni yang banyak terserap dunia kerja; (5) faktor-faktor penunjang dalam transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang adalah adanya peraturan yang jelas, teladan dari guru, faslitas yang mendukung, dan TI (Teknologi dan Informasi) yang dimiliki SMK PGRI 3 Malang sudah maju; (6) hambatan-hambatan dalam transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang tersebut adalah: orang tua yang belum memahami visi sekolah dan kurang mengetahui variabel kenakalan anaknya, kurangnya kesadaran beberapa peserta didik terhadap budaya disiplin; (7) upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang adalah: memaksimalkan koordinasi dengan orang tua peserta didik dan memaksimalkan fungsi guru wali untuk melaksanakan fungsinya yaitu memberikan konseling; (8) peran warga sekolah dalam transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang adalah adanya komitmen dari warga sekolah untuk mematuhi peraturan, guru yang memberikan teladan, guru wali yang memberikan konseling, orang tua menjadi kendali untuk anaknya ketika di rumah. Saran untuk penelitian ini adalah kepada : (1) Kepala SMK PGRI 3 Malang disarankan tetap menjadi aktor dan tetap menjadi teladan disiplin untuk peserta didik, kepala sekolah harus memberikan perhatian yang lebih kepada peserta didik baru karena kadang-kadang masih membawa budaya tidak disiplin dari jenjang pendidikan sebelumnya. Hal ini menyebabkan kesadaran peserta didik terhadap budaya disiplin masih kurang, dan untuk lebih memperlancar peningkatkan kedisiplinan peserta didik di sekolah ini perlu adanya guru BK (Bimbingan dan Konseling); (2) kabid kesiswaan, agar menggunakan penelitian ini sebagai bahan referensi untuk memperbaiki penerapan transformasi budaya disiplin peserta didik di SMK PGRI 3 Malang, sehingga mampu memperbaiki penerapan transformasi budaya disiplin yang lebih baik dari sebelumnya; (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, hasil penelitian ini hendaknya menjadi bahan informasi untuk mengembangkan Ilmu Manajemen Pendidikan dan dapat digunakan sebagai referensi dan tambahan pengetahuan terkait dengan budaya disiplin peserta didik. Mengingat salah satu substansi Manajemen Pendidikan adalah manajemen peserta didik, dan disiplin peserta didik adalah bagian dari manajemen peserta didik; (4) Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan, sebagai bahan referensi dan tambahan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa yang berhubungan dengan budaya disiplin peserta didik; (5) peneliti lain, sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian yang serupa atau penelitian lanjutan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan budaya disiplin peserta didik.

Pengembangan media interaktif dalam pembelajaran mengapresiasi pementasan drama kelas VIII semester gasal di SMP Negeri 3 Grogol Kabupaten Kediri / Galih Pandu Prasetya

 

Pemanfaatan internet untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Kedungkandang 1 Kota Malang / Tri Wahyu Retnanie

 

Meningkatkan kemampuan menggunakan huruf kapital dengan model Think Talk Write (TTW) di kelas III SDIT Global School Kecamatan Sukun Kota Malang / Enis Syafa'ati

 

Mengatasi kesulitan siswa pada operasi pembagian bersusun bilangan cacah di kelas III Sekolah Dasar Negeri Percobaan Kotamadya Malang / oleh Monawati

 

Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Pagelaran 02 Kab. Malang / S. Evita Kumalasari

 

Kumalasari, S. Evita. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Pagelaran 02 Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Estu Winahyu, M.Pd. (II) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd. Kata Kunci: Problem Based Learning, keterampilan berpikir kritis, hasil belajar.    Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Berdasarkan hasil observasi pembelajaran yang dilakukan di kelas IV, siswa hanya bertanya atau menjawab pertanyaan apabila ditunjuk oleh guru atau ketika dijanjikan sebuah reward berupa nilai saja. Partisipasi siswa belum terlihat secara spesifik. Siswa belum terbiasa mengungkapkan pertanyaan, saran, kritik, dan pendapat yang mereka punya selama pembelajaran. Hasil belajar siswa masih berada di bawah KKM yaitu 65. Untuk memecahkan permasalahan tersebut maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran IPA di kelas IV dengan penerapan model Problem Based Learning.    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Pagelaran 02 melalui penerapan model Problem Based Learning. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Pagelaran 02 yang berjumlah 41 siswa yang terdiri dari 23 siswa putri dan 18 siswa putra. Data dalam penelitian ini berupa hasil observasi kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari pengambilan data berupa hasil tes tulis akhir siklus terhadap siswa pada siklus I dan siklus II.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning pada pembelajaran IPA khususnya materi pencegahan kerusakan lingkungan fisik bumi dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV SDN Pagelaran 02 pada siklus I dengan rata-rata nilai 61 dan pada siklus II meningkat menjadi 71,25. Hal ini diikuti dengan kenaikan hasil belajar siswa pada siklus I dengan rata-rata nilai 60 meningkat menjadi 72 pada siklus II.    Dengan demikian dapat disimpulkan penerapan Problem Based Learning dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA khususnya pada materi pencegahan kerusakan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi guru untuk menerapkan model Problem Based Learning di dalam pembelajaran di kelas agar dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA siswa.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 |