Pengembangan media pembelajaran membaca dan berhitung untuk anak usia dini di Taman Kanak-kanak Kertika IV-27 Trenggalek / Halla Puspaning Palupi

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Membaca, Berhitung. Pada dasarnya anak usia dini memiliki karakteristik dalam perkembangan dan belajarnya, serta memiliki potensi untuk belajar. Di mana anak lebih menyukai pembelajaran visual seperti guru memutarkan video dan menunjukkan gambar-gambar bergerak (animasi)sehingga anak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Dengan harapan, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai. Dengan demikian, agar dalam penyampaian materi pelajaran membaca dan permainan berhitung lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa serta meningkatkan konsentrasi siswa khususnya pada pelajaran membaca dan permainan berhitung, maka materi pembelajaran dikemas secara menarik dalam bentuk multimedia berbasis macromedia flash yang bersifat mendidik bagi anak-anak TK. Pengembangan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan media pembelajaran membaca dan berhitung pada anak usia dini di Taman Kanak-kanak Kartika IV-27 Trenggalek, sehingga layak digunakan. Metode pengembangan yang digunakan adalah metode pengembangan Sugiyono, dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) potensi dan masalah; (2) pengumpulan data; (3) desain Produk; (4) validasi desain; (5) revisi desain; (6) uji coba produk; (7) revisi produk 1; (8) uji coba pemakaian; (9) produk masal. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, persentase hasil validasi ahli media sebesar 95.4%, hasil validasi ahli materi sebesar 95.4%, hasil uji coba kelompok kecil sebesar 94%, dan hasil uji coba lapangan sebesar 97%. Hal ini mengidentifikasi bahwa media membaca dan berhitung layak digunakan dalam pembelajaran. Adapun saran dari ahli media yaitu, untuk menerapkan media pertama kali kepada anak usia dini perlu adanya bimbingan dari guru. Sedangkan saran dari ahli materi yaitu, gambar atau animasi yang disajikan dalam media pembelajaran membaca dan berhitung sudah cukup jelas, akan tetapi dalam media (halaman menghitung gambar) bisa ditambahkan dengan disertai angkanya dengan tujuan siswa juga akan mudah menghafal angkanya selain dengan melihat dari gambar.

Pengembangan pembelajaran permainan passing atas bolavoli di SMA Brawijaya Smart School Malang / Zusron Ari Wahyudi

 

Studi tentang persepsi siswa terhadap kompetensi guru Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Pendidikan Jasmani Universitas Negeri Malang (UM) di SMP Negeri se Kecamatan Klojen Malang / Andung Sukoco

 

Kata kunci: persepsi, pedagogik, kepribadian, sosial, profesional. Guru PPL merupakan guru yang baru melaksanakan praktek dalam menjadi guru pengajar di sekolah. Setiap tahun Fakultas Ilmu Keolahragaan mengirimkan mahasiswa jurusan pendidikan jasmani dan kesehatan (PJK) untuk mengikuti PPL ke sekolah-sekolah. Berdasarkan pengalaman peneliti pada waktu PPL, siswa cenderung tidak memperhatikan guru PPL pendidikan jasmani ketika diajar. Siswa sering tidak mau mengikuti intruksi dari guru PPL ketika diajar. Tetapi pada saat guru pendidikan jasmani mengawasi proses belajar mengajar siswa menjadi patuh dan mengikuti intruksi dari guru PPL. Melihat kenyataan yang ada timbul pertanyaan besar bagi peneliti mengapa siswa SMP cenderung meremehkan guru PPL pendidikan jasmani. Maka permasalahannya adalah apa sebenarnya persepsi siswa terhadap kompetensi guru PPL Pendidikan Jasmani, dilihat dari 4 kompetensi dasar mengajar guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa terhadap kompetensi Guru PPL Pendidikan Jasmani UM di SMP Negeri se-Kecamatan Klojen Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2012 di sekolah yang di tempati PPL Mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan semester genap tahun 2011-2012 yaitu SMP 5, SMP 9, SMP 19 Klojen Malang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen angket dan analisis data yang digunakan adalah teknik analisis persentase. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP se-Kecamatan Klojen Malang dengan jumlah 100 responden. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap kompetensi guru PPL Pendidikan Jasmani untuk aspek pedagogik adalah 77%, kepribadian 81%, sosial 69%, profesional 60%. Kompetensi guru PPL Penjaskes di SMPN 5 Malang untuk aspek pedagogik adalah 69%, kepribadian 74%, sosial 66%, profesional 57%. SMPN 9 Malang untuk aspek pedagogik adalah 83%, kepribadian 84%, sosial 74%, profesional 67%. SMPN 19 Malang untuk aspek pedagogik adalah 78%, kepribadian 83%, sosial 66%, profesional 57%. SMPN 5, SMPN 9, SMPN 19 untuk aspek pedagogik adalah 70%, 83%, 78%, kepribadian 74%, 84%, 83%, sosial 57%, 64%, 57%, profesional 49%, 57%, 49%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kompetensi yang dimiliki guru PPL Penjaskes UM cukup baik, hanya saja perlu sedikit tambahan seperti guru PPL penjaskes agar mempersiapkan diri sebelum melaksanakan proses belajar mengajar dan lebih memahami tentang kompetensi mengajar.

Studi kasus pola asuh keluarga tunawisma yang orang tuanya mengalami broken home / Endang Dewi Galih Nur Rima

 

Kata Kunci: pola asuh, tunawisma Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak. Gelandangan adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal juga secara yuridis formal orang tersebut tidak memiliki domisili secara sah dan teratur. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pola asuh dalam keluarga tunawisma yang orang tuanya mengalami broken home. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen dalam pengumpulan data adalah peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dari tahap persiapan, tahap pengerjaan, dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, tipe pola asuh pada subjek A dan subjek D adalah tipe pola asuh ambigu. Hal ini dikarenakan subjek A dan subjek D memang membiarkan anak melakukan apa yang anak inginkan dan memperhatikan kebutuhan anak, namun masih menerapkan adanya hukuman pada anak. Kedua, tipe pola asuh pada subjek B dan subjek C adalah tipe pola asuh permasif. Hal ini dikarenakan subjek B dan subjek C membiarkan anak melakukan apa yang anak inginkan dan masih memperhatikan kebutuhan anak. Ketiga, tipe pola asuh yang ada pada pola pengasuhan keempat subjek dipengaruhi oleh trauma masa lalu, yaitu keluarga yang broken home dan sering dipukul apabila melakukan kesalahan. Saran bagi subjek dalam penelitian adalah masa lalu tidak dijadikan sebagai patokan hidup. Dan bagi peneliti selanjutnya harap meneliti tentang kebiasaan gelandangan yang suka berganti-ganti pasangan, mengkonsumsi alkohol atau minuman keras dan obat-obatan dalam dosis yang berlebihan atau tidak sesuai dengan petunjuk penggunaan obat, serta melakukan hubungan seks bebas tanpa menggunakan pengaman atau memikirkan resiko yang akan dihadapi dari seks bebas itu sendiri.

Pengembangan media pembelajaran materi teknik dasar bola basket dengan menggunakan multimedia interaktif untuk siswa sekolah menengah pertama / Khoirul Anam

 

Kata Kunci: Pengembangan, materi teknik dasar bolabasket, multimedia interaktif. Bolabasket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim yang beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukan bola ke dalam keranjang lawan. Berdasarkan penelitian berupa analisis kebutuhan yang dilakukan melalui angket di SMP Negeri 17 Malang dan SMP Taman Siswa yang dilakukan oleh 20 siswa SMP Negeri 17 Malang dan 20 SMP Taman Siswa di peroleh informasi bahwa 92,5% siswa suka mata pelajaran pendidikan jasmani, 75% siswa belum pernah membaca atau mempelajari tentang teknik dasar permainan bolabasket, 92,5% siswa belum pernah mendapatkan pembelajaran penjas dengan mengguanakan media interaktif, 97,5% siswa belum mengetahui tentang media pembelajaran yang yang berbentuk media interaktif, dan 87,5% siswa membutuhkan pembelajaran yang berbentuk Multimedia Interaktif. Dan juga Sekolah setuju jika dikembangkan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dalam pembelajaran materi teknik dasar bolabasket untuk siswa SMP. Tujuan penelitian adalah mengembangkan media pembelajaran materi bolabasket melalui multimedia interaktif untuk siswa SMP Negeri 17 dan siswa SMP Taman Siswa agar mempermudah siswa dalam proses belajar. Tahap prosedur pengembangan mengacu pada model pengembangan Borg and Gall dengan mengambil 8 langkah dari 10 langkah yang ada, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan pembuatan rancangan produk, evaluasi ahli, pembuatan produk awal, uji kelompok kecil dan revisi produk, uji kelompok besar dan revisi produk, produk akhir, hasil produk.. Hasil evaluasi dan persentase dari 1 ahli pembelajaran bolabasket menyatakan 92,55% produk pengembangan sangat baik sehingga dapat digunakan. Kemudian dari 1 ahli media menyatakan 85,59% produk pengembangan sangat baik sehingga dapat digunakan, dari hasil uji coba kelompok kecil terdapat persentase sebesar 84,84% produk dinyatakan sangat baik sehingga dapat digunakan, sedangkan persentase dari uji coba kelompok besar terdapat penilaian sebesar 83,22% sehingga produk dinyatakan sangat baik dan dapat digunakan. Sebelum produk pengembangan ini disebar ke lingkup yang lebih luas, sebaiknya produk ini disusun dan di evaluasi kembali sesuai dengan sasaran yang ingin dituju dan disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku.

Penerapan model ECOLA (Extending Concept throigh Languiage Activities) dalam pembelajaran keterampilan membaca bahasa Jerman siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Malang / Eva Nurohmah

 

Kata kunci: model ECOLA, keterampilan membaca Keterampilan membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Berdasarkan pengamatan peneliti selama program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Malang, siswa menemui kesulitan dalam pembelajaran keterampilan membaca. Dalam pembelajaran keterampilan membaca sebaiknya guru menggunakan banyak variasi mengajar. Salah satu model yang bisa digunakan sebagai variasi pembelajaran adalah ECOLA (Extending Concept through Language Activities). Melalui model tersebut siswa mampu mengembangkan keterampilan membacanya, selain itu siswa juga bisa mengembangkan kemampuan berbahasa lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model ECOLA dalam pembelajaran keterampilan membaca bahasa Jerman siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Malang, dan mengetahui hasil dari penerapan model ECOLA. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan jenis penelitian kualitatif yang didukung juga dengan data kuantitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah guru bahasa Jerman dan sembilan siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Malang pada semester genap tahun ajaran 2012/2013. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti, sedangkan instrumen lain seperti lembar observasi, pedoman wawancara, dan lembar tes berfungsi sebagai instrumen pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model ECOLA dalam pembelajaran membaca bahasa Jerman pada kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Malang berjalan baik dan efektif, karena dapat membantu siswa dalam memahami bacaan.

Pengembangan pembelajaran materi narkoba dengan media interaktif untuk siswa SMA kelas X / Adi Budi Wiranata

 

Keywords : Interactive learning media, drug material. Drug is the medicine or substance that can calm nerve, resulting unconsciousness, or anesthesia, made disappear painful and sick, causing sleepy or stimulate, it can cause stupor’s effect, adiksi or addicted. The using of drug can make negative’s impact towards physical or psicological, because of that the information of drug or the material about drug’s danger must be given for each school. It has the purpose in order to student or educate’s participant can comprehend that drug is very dangereous. If the educate’s participant can comprehend it, they can dodge the drug as a wish. In the material’s presentation of drug, teachers have to use the learning media that can attract the interesting of student. Based on the result of observation and interview, 78,75% student choose e-book or computer’s software as the media that interests student and the teachers of physical education have no the learning media, yet. Based on it, this observation has the purpose to develop the material learning about drug with using interactive’s media wished that it can attract and increase especially, the interesting for student about drug. This learning media also has the purpose to make the student easier in comprehending the material that presented by teacher. The form of development in this observation using the form of research’s development and development from Bord and Gall that have been modified by the researcher. Observation’s procedure and the development in this observation as the following : (1) an analysis of the requirement through interview and the spread of poll. (2) the making of product’s program based on the result of interview and the spread poll. (3) the begining’s product ( it consists the media of interactive’s learning about drug) and then, it’s evaluated by one’s expert, one’s learning expert, one’s healthy expert and then revision of product. (4) the experiment towards small group with 16 subject. (5) the product’s revision appropriates with the analysis towards the experiment of small group. (6) the experiment of big group that’s done towards 35 subject. (7) doing revision to perfecting the last product. Based on the data collection using instrument in form of quizioner, it’s gotten the result as the following : (1) the result of media’s expert evaluation get the point as big as 100% in order to it’s declared that it’s good and suitable to be used, the learning’s expert state that 100% is good and suitable to be used, and the healthy’s expert state that 90% is claimed well and suitable to be used. (2) the result of small group’s experiment get 79,23% and it’s stated good and suitable to be used. (3) the result of big group’s experiment get the point 81,43% and it’s stated good and suitable to be used. The result of the development’s product is inetractive’s learning media consisting the concepts of material about drug. This product will be formed in CD (compact disc) and it’s completed with the guide’s book. Product that’s developed in computer software form has the advantage as the following : 1) the student is more enthusiastic and interested in learning processing, it’s caused the product that is used by teacher interest the student, because the presentation uses music’s background, animation, video and picture that can interact with the user in order to the user can control and choose what becomes the user want. 2) it’s easier to be learned, because this learning media uses menu’s buttons in each its display in order to the user can choose the material that will be learned is appropriate with the user want. 3) this product is very simple and effisien to be used, because the file size is relative small and it’s very easy to education’s importance, especially in physical education learning.

Perbedaan pola pikir kewirausahaan dan adversity quotient pada mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang yang berorientasi terhadap pencipta lapangan kerja dan pencari kerja / Rovi Andriyanto Romli

 

Penerapan kolaborasi pembelajaran kooperatif model Student Teams Achiement Division (STAD) dan model Pair Check untuk meningikatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas X akuntansi 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari / Rizki Putri Alfiarti

 

Alfiarti, Rizki Putri. 2013. Penerapan Kolaborasi Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) dan Model Pair Check untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Kelas X Akuntansi 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si., Ak., (II) Triadi Agung Sudarto, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci : model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD), model pembelajaran Pair Check, motivasi belajar, hasil belajar.     Hasil belajar siswa kelas X Ak 2 SMK Muhammadiyah 3 Singosari dalam proses belajar mengajar akuntansi masih rendah dibuktikan dengan ketuntasan belajar klasikal yang belum tuntas (45%). Keaktifan dan motivasi belajar siswa juga masih kurang. Hal tersebut ditandai dengan: (1) keterlibatan peserta didik masih rendah, (2) interaksi guru dan siswa hanya satu arah dan didominasi oleh guru, (3) tidak semua siswa mendapat bimbingan penuh dari guru karena waktu belajar terbatas dan guru hanya menjelaskan, (4) tidak jarang ada siswa yang terlihat berbicara sendiri dengan temannya dan tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar. Berdasarkan fenomena yang terjadi pada saat observasi awal, ada gagasan untuk perbaikan proses pembelajaran yaitu dengan penerapan pembelajaran yang lebih variatif agar dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.     Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti memutuskan menerapkan kolaborasi pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) dan model Pair Check. Model pembelajaran STAD adalah salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Pair Check merupakan model pembelajaran yang bertujuan untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama, dan kemampuan memberi penilaian. Model Pair Check melatih kesiapan siswa menerima pertanyaan dan saling memberikan pengetahuan. Rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimanakah motivasi belajar akuntansi siswa kelas X Ak 2 SMK Muhammadiyah 3 Singosari setelah penerapan kolaborasi pembelajaran kooperatif model STAD dengan Pair Check dan (2) Bagaimanakah hasil belajar akuntansi siswa kelas X Ak 2 SMK Muhammadiyah 3 Singosari setelah penerapan kolaborasi pembelajaran kooperatif model STAD dengan Pair Check.     Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlangsung dalam 2 siklus, subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Ak 2 SMK Muhammadiyah 3 Singosari yang terdiri dari 38 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dilihat dari aktivitas guru dan siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Aktivitas guru meningkat sebesar 23,34%, yaitu sebesar 72% pada siklus I dan sebesar 95,24% pada siklus II, sedangkan motivasi belajar siswa meningkat sebesar 13,3% yang pada siklus I 67,19% menjadi 80,49% pada siklus II. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari ketuntasan belajar secara klasikal meningkat sebesar 36,85% dari 55,26% (21 siswa) menjadi 92,11% (35 siswa).     Saran yang diberikan dari penelitian ini adalah: 1) bagi guru mata pelajaran diharapkan untuk menerapkan kolaborasi pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Pair Check supaya pembelajaran lebih bervariasi dan bermakna serta pebelajar dilibatkan aktif dalam proses pembelajaran, 2) bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan motivasi dalam pembelajaran, karena motivasi belajar siswa sangat penting dalam pembelajaran akuntansi, 3) bagi sekolah SMK Muhammadiyah 3 Singosari diharapkan lebih memperhatikan media belajar seperti laptop dan LCD untuk membantu penyampaian materi oleh guru pada saat tahap presentasi kelas dan membuat siswa lebih tertarik dalam belajar sehingga motivasi dan hasil belajar dapat meningkat, dan 4) bagi peneliti selanjutnya untuk menerapkan kolaborasi pembelajaran ini dengan kelas, sekolah, dan materi yang berbeda.

Pengembangan buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas X semester genap di SMK Muhammadiyah 3 Singosari / Windy Triono

 

Kata Kunci: Pengembangan, Buku Ajar, Pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran yang tercantum dalam isi kurikulum pendidikan. Seperti mata pelajaran yang lain, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan juga memerlukan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk menunjang proses pembelajaran. Kondisi di lingkungan SMK Muhammadiyah 3 Singosari dengan kondisi sarana dan prasarana yang masih belum memadai, maka perlu suatu media pembelajaran yang cocok untuk dikembangkan di sekolah, media tersebut berbentuk praktis, mudah digunakan tanpa perlu memerlukan peralatan khusus seperti komputer atau laptop, media yang dimaksud adalah buku ajar, dengan buku ajar siswa dapat belajar secara praktis tanpa memerlukan peralatan khusus, dengan adanya buku ajar tersebut siswa diharapkan dapat aktif mengikuti proses belajar mengajar dengan tekun dan memperoleh pengetahuan dari isi buku ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar pendidikan jasmani kelas X semester genap yang disesuaikan dengan sarana prasarana di sekolah. Penelitian yang dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari ini termasuk jenis penelitian dan pengembangan (research and development). Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development Borg and Gall. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif berupa persentase, yang digunakan untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 12 orang siswa diperoleh persentase 83,9% dan uji coba kelompok besar terhadap 35 orang siswa diperoleh persentase 81,9% , dari hasil persentase uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar maka pengembangan Buku Ajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk Kelas X Semester Genap di SMK Muhammadiyah 3 Singosari layak untuk digunakan. Sehingga, tidak diperlukan revisi dari uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini berupa Buku Ajar pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Peneliti berharap dapat membantu meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan pada semester genap kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Selain itu, peneliti juga berharap Buku Ajar ini dapat disebarluaskan pada sekolah lain yang memiliki KTSP yang sama.

Pengembangan media bergambar (komik) untuk meningkatkan asertivitas siswa dalam memilih sekolah lanjutan di SMPN 1 Wonorejo Pasuruan / Veno Dwi Krisnanda

 

Kata Kunci: Panduan, Media Bergambar (komik), Asertif, Sekolah Lanjutan Penelitian pengembangan panduan media bergambar ini untuk meningkatkan asertivitas siswa kelas IX dalam memilih sekolah lanjutan di SMP Negeri 1 wonorejo Pasuruan yang dilatarbelakangi oleh kesalahpahaman antara pemilihan jurusan siswa dengan yang diinginkan oleh orang tua. Disebabkan karena adanya kurangnya asertivitas siswa dalam mengungkapkan keinginan untuk memilih sekolah lanjutan sehingga diperlukan media untuk meningkatkan asertivitas siswa dalam pemilihan jurusan. Tujuan Penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan panduan media bergambar (komik) untuk meningkatkan asertivitas siswa kelas IX SMP Negeri 1 Wonorejo Pasuruan sebagai salah satu teknik yang dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan bimbingan pribadi-sosial yang berterima secara teoritis dan praktis. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan model Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan Sebagai berikut: 1) tahap I perencanaan, 2) tahap II pengembangan produk, 3) tahap III uji coba produk. Isi dari produk yang dihasilkan yakni berupa buku panduan media bergambar dalam bentuk komik untuk meningkatkan asertivitas siswa dalam memilih sekolah lanjutan. Dalam buku ini adalah media untuk membantu siswa dalam memilih sekolahlanjutan, disertai dengan panduan bersikap asertif, cara cara dan sikap asertif dan gambar-gambar yang berhubungan dengan materi agar menambah kemenarikan buku panduan. Berdasarkan hasil analisis data penilaian para ahli dan calon pengguna produk serta revisi-revisi yang yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan terhadap buku panduan media bergambar (komik) untuk meningkatkan asertivitas siswa kelas IX dalam memilih sekolah lanjutan di SMP Negeri 1 Wonorejo. dapat disimpulkan bahwa panduan untuk konselor sangat layak, sangat jelas, sangat berguna, sangat mudah, sangat tepat, sangat menarik secara teoritis. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar pengembangan panduan media bergambar (komik) untuk meningkatkan asertivitas siswa kelas IX dalam memilih sekolah lanjutan di SMP Negeri 1 Wonorejo, sekolah dapat memfasilitasi agar dijadikan referensi dalam MGBK, sehingga sekolah lain dapat menerapkannya dengan menyesuaikan karakteristik siswa masing-masing sekolah, Pengguna produk benar-benar memahami dan mempelajari panduan media bergambar ini agar dapat diaplikasikan dalam membantu siswa dalam meningkatkan asertivitas siswa dalam memilih sekolah lanjutan dengan menggunakan media bergambar secara efektif untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling.

Perbedaan antara konsep doro remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua yang seagama di Kota Malang / Jenny Novitasari Gerrits

 

Kata kunci: konsep diri, remaja, orang tua beda agama Remaja yang berasal dari keluarga dengan ayah dan ibu berbeda agama mengalami ketimpangan dalam menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan dan nilai agama untuk membentuk sifat, karakter, dan konsep diri. Nilai-nilai agama sangat berperan ketika anak tengah memasuki masa pembentukan dan perkembangan kepribadian. Kegagalan dalam memahami dirinya, peran-perannya, dan makna hidup beragama yang dialami remaja akan menimbulkan kebingungan yang berdampak kurang baik bagi pembentukan konsep diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua seagama. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif komparatif. Subjek penelitian sebanyak 80 remaja. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling kuota. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala konsep diri yang terdiri dari 45 aitem. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan antara konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua yang seagama (p = 0,015 < 0,05). Konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama lebih tinggi (65%) daripada konsep diri remaja yang memiliki orang tua seagama (42,5%). Dalam penelitian ini, remaja yang memiliki orang tua beda agama berhasil melewati situasi kebingungan, karena orang tua, keluarga, maupun lingkungan remaja mendukung remaja untuk dapat menjalani tugas perkembangan hidupnya dengan baik, sehingga konsep diri yang terbentuk cenderung positif. Sedangkan, remaja yang memiliki orang tua seagama, sekalipun tidak mengalami krisis pemilihan agama, namun ada krisis-krisis lain yang dialami. Pengambilan keputusan untuk mengatasi krisis tersebut perlu mendapat dukungan dari lingkungan remaja. Pilihan-pilihan yang kurang memadai, mendorong remaja untuk mengikuti pola yang sudah diakui, sehingga remaja kurang mempunyai perasaan identitas dan individualitas Disarankan kepada orang tua agar tetap menjaga komunikasi antar pribadi, menjaga kehidupan demokratis dan harmonis. Bagi remaja, agama apapun yang dipilih harus benar-benar diyakini dan hendaknya melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan yang dapat mempekuat keimanan dan ketakwaan. Bagi pihak sekolah disarankan dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensinya dan tetap menerapkan pola pendidikan yang adil dan tidak bias terhadap agama apapun yang dianut. Bagi calon pasangan suami istri beda agama hendaknya mempertimbangkan kembali ketika ingin memutuskan untuk menikah beda agama. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan metode observasi dan wawancara agar hasil yang didapat lebih mendalam dan sempurna, terkait dengan temuan yang menunjukkan bahwa remaja yang memiliki orang tua beda agama lebih tinggi konsep dirinya.

Pengembangan paket pelatihan keterampilan dasar wawancara dalam Peer Counselingf yntuk siswa SMAN 1 Durenan Trenggalek / Tiara Putri Kusumadewi

 

Kusumadewi, Tiara Putri. 2013. Pengembangan Paket Pelatihan Keterampilan Dasar Wawancara dalam Peer Counseling untuk Siswa SMA N 1 Durenan Trenggalek. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M.Ramli, M.A., (II) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd. Kata Kunci: Paket pelatihan, keterampilan dasar wawancara, peer counseling Masa remaja adalah masa seseorang mencari jati dirinya. Hal ini tidak terlepas dari masalah yang timbul dalam kehidupan remaja. Sering remaja enggan meminta pertolongan kepada orang dewasa untuk pemecahan masalahnya, sehingga masalah tersebut dapat menjadi beban hidup bahkan akan mempengaruhi perkembangan kehidupan selanjutnya. Untuk itu perlu adanya fasilitator sebaya yang mampu membantu remaja yang tidak lain adalah teman sebaya mereka sendiri. Untuk itu perlu ada pelatihan tentang keterampilan dasar menolong teman sebaya atau yang biasa disebut peer counseling. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengadaptasi model pengembangan dari Borg dan Gall (dalam Sukmadinata, 2009:169). Model pengembangan tersebut adalah sebagai berikut: penelitian dan pengumpulan informasi awal, perencanaan, pengembangan draf produk, uji coba ahli, revisi draf produk yang telah diujicobakan kepada ahli, uji calon pengguna produk (konselor), revisi draf produk yang telah diujicobakan kepada praktikan, uji coba kelompok terbatas/kecil (siswa), revisi produk, dan yang terakhir sampai pada produk jadi. Pengembangan paket pelatihan keterampilan dasar wawancara dalam peer counseling menunjukkan hasil sebagai berikut: (1) ahli materi BK menilai bahwa paket pelatihan ini sangat layak dari segi bentuk maupun isi karena paket pelatihan ini tepat, sangat berguna, menarik, dan mudah digunakan untuk melatih keterampilan dasar wawancara dalam peer counseling ini kepada siswa SMA N 1 Durenan Trenggalek; (2) ahli media menilai bahwa paket pelatihan ini sangat layak dari segi bentuk maupun isi karena paket pelatihan ini tepat, sangat berguna, sangat menarik dan sangat mudah digunakan untuk melatih keterampilan dasar wawancara dalam peer counseling ini kepada siswa SMA N 1 Durenan Trenggalek; (3) calon pengguna produk yaitu ketiga konselor menilai paket pelatihan ini sangat layak dari segi bentuk maupun isi karena paket pelatihan ini sangat tepat, sangat berguna, menarik dan sangat mudah digunakan untuk melatih keterampilan dasar wawancara dalam peer counseling ini kepada siswa SMA N 1 Durenan Trenggalek; (4) kelompok kecil siswa SMA N 1 Durenan Trenggalek menilai bahwa paket pelatihan ini sangat layak dari segi bentuk maupun isi karena paket pelatihan ini sangat tepat, sangat berguna, menarik, dan sangat mudah untuk mereka gunakan dalam berlatih keterampilan dasar wawancara dalam peer counseling. Berdasarkan hasil pengembangan diperoleh saran sebagai berikut: (1) pelaksanaan pelatihan hanya bisa dilakukan dalam seting kelompok supaya proses pelatihan berjalan dengan kondusif. (2) perlu adanya rancangan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan penggunaan paket pelatihan keterampilan dasar wawancara dalam peer counseling ini.

Perbedaan tingkat stres pada remaja berdasarkan tipe kepribadian somatotype Sheldon / Sri W. Polinggapo

 

Pengembangan media pembelajaran multimedia interaktif pada mata pelajaran biologi pokok materi peredaran darah untuk siswa kelas XI SMA N I Giri Kabupaten Banyuwangi / Angga Achmad Cholid

 

Kata kunci : Biologi, Media, Peredaran Darah Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru mata pelajaran Biologi kelas XI SMA N I GIRI, didapatkan bahwa media yang ada kurang dapat memberikan gambaran yang jelas, salah satunya pada materi peredaran darah. Oleh karena itu dipilih kompetensi dasar yang menjelaskan keterkaitan antara struktur fungsi dan serta kelainan yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah. Karena pada kompetensi dasar ini meliputi materi tentang peredaran darah yang membutuhkan media tambahan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, pengembangan media pembelajaran multimedia pada mata pelajaran Biologi pokok materi peredaran untuk siswa kelas XI ini merupakan salah satu upaya untuk membuat pembelajaran lebih efektif, efisien, menarik dan menyenangkan, serta meningkatkan minat siswa untuk belajar khususnya pada mata pelajaran sistem peredaran darah. Pengembangan media ini menggunakan model pengembangan Sugiyono atau Research and Development (R&D), atau disebut juga pengembangan produk baru. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai beberapa guru sekaligus beberapa siswa SMA N 1 Giri sebagai studi kasus. Tujuannya untuk memperoleh gambaran solusi atas potensi dan masalah yang muncul, kebutuhan siswa terhadap media belajar yang praktis, efektif dan efisien. Validasi media yang sedang dikembangkan ini dilakukan oleh tim ahli media dan ahli materi. Media ini telah divalidasi untuk diuji kelayakannya, didapatkan hasil dari dosen Teknik Elektro sebagai ahli media dengan presentase 92% dan guru SMA N 1 Giri sebagai ahli materi dengan presentase 95%, untuk hasil dari kelompok kecil dengan presentase 88% dan untuk uji coba pada calon pengguna (siswa) diperoleh persentase sebesar 84%. Hal ini berarti bahwa media pembelajaran sistem peredaran darah telah memenuhi kriteria tes validitas atau kelayakan dan dapat digunakan pada kegiatan pembelajaran.

Pengaruh manajemen stres terhadap penurunan tingkat stres pada narapidana wanita di Lapas Wanita Kelas IIA Malang / Rizky Dianita Segarahayu

 

M.Si (II) Ninik Setiyowati S.Psi, M.Psi. Kata kunci : Stres, Manajemen Stres, Narapidana Wanita Ketika harus tinggal di Lembaga Pemasyarakatan, ruang gerak narapidana dibatasi dan mereka terisolasi dari masyarakat. Keadaan terbatasi dan terisolasi dapat menjadi stressor yang menyebabkan stres pada narapidana. Namun stres dapat ditangani dengan beberapa cara, salah satunya dengan menggunakan manajemen stres untuk mengurangi tingkat stress. Melalui manajemen stres individu dapat mengelola stres yang dimiliki sehingga dampak dari stres tersebut dapat diminimalisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen stres untuk menurunkan tingkat stres narapidana wanita di LPW Kelas IIA Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah The One-Group Pretest-Posstest Design. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala stres. Subyek penelitian ini adalah narapidana wanita dengan rentang usia 20-30 tahun dengan total subyek 4 orang dengan kriteria: memiliki skor stres tinggi, narapidana baru pertama kali masuk penjara, dan telah menjalani masa tahanan min. 1 tahun, dimana subyek penelitian diberi treatment berupa manajemen stres selama 5 kali dengan teknik relaksasi dan affirmasi positif selama kurang lebih 2 jam. Analisis yang digunakan adalah uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan pemberian manajemen stres terhadap penurunan stres (diperoleh Asymp.Sign sebesar 0.068 dimana 0,068 > 0,05 = tidak signifikan). Kekurangan dalam penelitian ini adalah peneliti tidak dapat mengontrol waktu pemberian treatmen dan peneliti tidak dapat mengontrol subjek yang dropout. Disarankan untuk peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji permasalahan yang sama yaitu tentang stres untuk menyempurnakan teknik yang digunakan atau memilih salah satu teknik sehingga dapat lebih fokus.

Urgensi penggunaan media pembelajaran berbasis hasil karya guru untuk meningkatkan perkembangan anak usia dini (Studi kasus di Pos PAUD Mentari Lowokwaru Malang) / Agustina Dwi Susanti

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Hasil Karya Guru, Pos PAUD. Dewasa ini di setiap kecamatan se-Kota Malang telah terdapat Pos PAUD, namun masih ada Pos PAUD yang tidak memiliki media pembelajaran yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai macam media pembelajaran hasil karya guru, mengetahui cara guru dalam membuat media pembelajaran untuk anak usia dini, mengetahui penggunaan media pembelajaran hasil karya guru, serta mengetahui kelebihan dan kekurangan penggunaan media pembelajaran hasil karya guru. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus, karena pada saat penelitian penulis menemukan kasus kurangnya media pembelajaran di Pos PAUD Mentari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Teknik analisis data pada penelitian dengan menggunakan reduksi data, display data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Temuan penelitian ini adalah media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru yang terbagi dalam tiga bagian, antara lain adalah media pembelajaran yang dirancang, dibuat, serta dirancang dan dibuat oleh guru PAUD. Adapun media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru PAUD sebagai berikut media pembelajaran kartu bergambar, media art, media balok bersusun, media anyaman, dan media pembelajaran ronce sedotan. Untuk menghasilkan media pembelajaran guru membuat rancangan media pembelajaran terlebih dahulu dengan langkah-langkah sebagai berikut menganalisis kebutuhan peserta didik dan membuat desain media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Media pembelajaran yang dihasilkan guru dapat meningkatkan perkembangan anak usia dini. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar Pos PAUD Mentari Lowokwaru Malang memperbanyak penyediaan media pembelajaran untuk peserta didik dan berupaya agar dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan hendaknya lebih sering menggunakan media pembelajaran hasil karya guru, karena itu setiap guru harus mampu membuat semua jenis media pembelajaran yang dibutuhkan oleh peserta didik sesuai dengan perkembangan mereka.  

Hubungan antara kepuasan kerja dan konsep diri dengan burn-out pada terapis anak berkebutuhan khusus / Annisa Ridha Fadhillah

 

Hubungan antara Kepuasan Kerja dan Konsep Diri dengan Burn-out pada Terapis Anak Berkebutuhan Khusus

Penerapan model pembelajaran Picture and Picture untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas 3 di SDN Tumpang 02 Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang / Ida Nurdiana

 

Kata Kunci: IPS, model pembelajaran picture and picture, aktivitas belajar, hasil belajar. Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat yang dinamis. Pada observasi awal diketahui bahwa pembelejaran IPS masih berpusat pada guru. Hal tersebut terlihat ketika pada pembelajaran siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru, maka dari itu diperlukan perbaikan dalam pembelajaran IPS. Perbaikan tersebut dapat berupa penggunaan model-model pembelajaran yang inovatif, seperti model Picture and Picture. Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu model belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis. Dengan penggunaan model pembelajaran ini, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 3 pada mata pelajaran IPS. Tujuan penelitian secara rinci adalah (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Picture and Picture dalam kompetensi dasar “mengenal jenis-jenis pekerjaan” pada siswa kelas 3 SDN Tumpang 02 Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang, (2) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Picture and Picture dalam kompetensi dasar “mengenal jenis-jenis pekerjaan” pada siswa kelas 3 SDN Tumpang 02 Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang, (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Picture and Picture dalam kompetensi dasar “mengenal jenis-jenis pekerjaan” pada siswa kelas 3 SDN Tumpang 02 Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas atau PTK. Model penelitian tindakan di kemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2012:16) yang mempunyai tahapan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Rangkaian aktivitas dari planing, acting, observing, dan reflecting itulah yang disebut satu siklus.Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Peningkatan penerapan model pembelajaran Picture and Picture pada siklus I memperoleh keberhasilan tindakan sebesar 88%. Sedangkan pada siklus II juga mengalami peningkatan, yaitu mencapai keberhasilan tindakan sebesar 100%. Persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I sudah cukup baik dengan prosentase sebesar 75%. Pada siklus II terjadi peningkatan aktivitas sebesar 7% , yaitu menjadi 82%. Sedangkan peningkatan aktivitas belajar pada siklus I terdapat 30 (79%) siswa tuntas belajar. Terdapat peningkatan pada siklus II dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus I terdapat 30 (79%)siswa yang tuntas belajar, tetapi pada siklus II terdapat 35 (92%)siswa tuntas belajar. Dari data yang dari siklus I dan data yang di peroleh dari siklus II mengenai ketuntasan belajar terlihat peningkatan sebesar 13%.

Hubungan antara tendensi gaya kelekatan dengan penyesuaian sosial pada siswa SMP Islam Paiton yang tinggal di pesantren / Lailatul Fitriyah

 

Kata kunci: Gaya Kelekatan Aman (Secure), Penyesuaian Sosial. Gaya kelekatan yang dibangun sejak lahir dapat berlaku sebagai fungsi adaptif bagi remaja untuk menguasai lingkungan-lingkungan baru. Relasi yang baik dengan pengasuh akan menjadikan seorang anak memiliki secure attachment dan mengembangkan interaksi yang baik dengan orang lain dan memiliki penyesuaian sosial yang baik. Gaya kelekatan pada masa remaja dapat membantu kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial remaja sebagaimana tercermin dalam ciri-ciri seperti self esteem, penyesuaian sosial, dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara gaya kelekatan aman (secure) dengan penyesuaian sosial pada remaja awal yang tinggal di pesantren. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP Islam Paiton yang tinggal di pesantren sebanyak 100 orang. Teknik pengambilan sampel adalah staratified sampling. Instrument penelitian yang digunakan adalah angket gaya kelekatan dan skala penyesuaian sosial. Angket gaya kelekatan terdiri dari 33 aitem dengan reliabilias 0,878 dan skala penyesuaian sosial terdiri dari 28 aitem dengan reliabilitas 0,837. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskripstif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kelekatan aman pada remaja awal yang tinggal di pesantren sebagian besar dalam kategori sedang dengan prosentase sebesar (76%) dan penyesuaian sosial pada remaja awal yang tinggal di pesantren sebagian besar dalam ketegori sedang dengan prosentase (59%). Uji hipotesis menyimpulkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan anatara gaya kelekatan dan penyesuaian sosial pada remaja awal yang tinggal di pesantren (rxy = 0,281; p = 0,005 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1). Bagi orang tua Orang tua diharapkan mampu mengontrol rutinitas hubungan resiprokal dalam perkembangan gaya kelekatan. (2). Remaja diharapkan mampu dalam menghilangkan kebiasaan bergantung pada figure attachmentnya. (3). Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperhatikan faktor-faktor lain diluar attachment yang dapat turut mempengaruhi bentuk penyesuaian sosial.

Perbedaan antara penggunaan media audio dan visual dalam pembelajaran terhadap motivasi belajar dan kecerdasan emosional anak di PAUD Tunas Harapan Kabupaten Pasuruan / Kadek Novita Dewi

 

Kata Kunci: media audio, media visual, motivasi belajar dan kecerdasan emosional. Penggunaan media audio dan media visual dalam pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar dan kecerdasan emosional anak usia dini di PAUD. Penelitian ini memiliki tujuan (1) mendeskripsikan perbedaan antara penggunaan media audio dan media visual dalam pembelajaran terhadap motivasi belajar dan kecerdasan emosional, (2) mendeskripsikan perbedaan antara penggunaan media audio dan media visual dalam pembelajaran terhadap kecerdasan emosional, (3) mendeskrispsikan perbedaan antara penggunaan media audio dan media visual dalam pembelajaran terhadap motivasi belajar dan kecerdasan emosional. Rancangan penelitian ini bersifat deskriptif komparatif dengan menggunakan pengukuran frekuensi uji beda. Populasi dalam penelitian ini seluruhnya berjumlah 47 responden. Sampel diambil seluruhnya dari jumlah populasi sebanyak 47 responden sehingga sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskrisptif dengan menggunakan persentase dan analisis uji beda dengan menggunakan independent samples test. Hasil analisis uji beda menyatakan bahwa t hitung lebih kecil daripada t tabel (0.401 < 1.671). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Ho diterima dan H1 ditolak sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan media audio dan visual dalam pembelajaran terhadap motivasi belajar dan kecerdasan emosional anak. Dari penelitian ini dapat diberikan saran hendaknya Lembaga PAUD hendaknya memberikan pemahaman kepada pendidik bahwa dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini harus ada keseimbangan antara penggunaan media audio dan media visual. Pendidik PAUD hendaknya lebih menggunakan media audio dan media visual secara seimbang atau beriringan sehingga penggunaannya dalam kegiatan pembelajaran anak tidak ada yang saling menonjol dan dapat sama-sama memberikan fungsi dalam perkembangan anak. Hendaknya mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) khususnya konsentrasi PAUD harus dapat menyamaratakan antara penggunaan media audio dan media visual. Dan peneliti selanjutnya hendaknya dalam meneliti media pembelajaran khususnya media audio dan media visual ataupun media yang lainnya lebih difokuskan lagi fungsinya untuk kegiatan pembelajaran anak usia dini sehingga terjadi keseimbangan antar media dalam kegiatan pembelajaran.

Hubungan antara iklim organisasi dan organizational citizens behavioral (OCB) pada perawat Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang / Dharing Meylandani

 

Kata Kunci : iklim organisasi, organizational citizens behavioral (OCB), Perawat merupakan ujung tombak baik tidaknya pelayanan kesehatan yang diberikan kepada konsumen kesehatan. Hal ini tidak terlepas dari iklim organisasi yang tumbuh pada rumah sakit. iklim organisasi adalah suatu kondisi, keadaan maupun situasi yang dipersepsikan oleh individu secara sadar atau tidak sadar mengenai kondisi lingkungan internal organisasi. bahwa karyawan yang mempersepsi iklim organisasi kondusif cenderung berbicara secara positif tentang organisasi, membantu individu lain, dan melebihi harapan normal dalam pekerjaan mereka dengan kata lain karyawan tersebut menunjukan perilaku organisasi yang mampu memberi kinerja melebihi harapan normal organisasi yang sering disebut dengan organizational citizens behavioral (OCB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan iklim organisasi dan OCB pada perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskripsi korelasional. Sampel penelitian ini sebanyak 35 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala iklim organisasi yang terdiri dari 38 item dengan reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,912, dan skala OCB yang terdiri dari 31 item dengan reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,894. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa (1)Perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen mempersepsikan bahwa iklim organisasi di RSUD Kanjuruhan Kepanjen kondusif dengan persentase sebesar 54,28%. (2)Perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen memiliki OCB pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 52,47%. (3)Ada hubungan positif dan signifikan antara iklim organisasi dan OCB pada perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen (rxy = 0,791; p = 0,000 < 0,05).Hal ini dapat diartikan bahwa jika karyawan mempersepsikan iklim organisasi di tempatnya bekerja kondusif (tinggi), maka OCB karyawan juga tinggi, sebaliknya jika iklim organisasi dipersepsikan kurang kondusif (rendah), maka tingkat OCB karyawan juga rendah. Saran yang dapat diberikan oleh penelitian ini adalah (1)bagi instansi rumah sakit lebih meningkatkan kondisi iklim organisasi pada RSUD Kanjuruhan Kepanjen melalui kesinkronan dan kesesuaian antara nilai-nilai dan tuntutan organisasi dan perilaku pemimpin dengan kebutuhan dan tuntutan karyawan, seperti membina saling percaya antar karyawan, saling mendukung antara anggota organisasi, adanya komunikasi yang sehat antar anggota organisasi sehingga senantiasa akan terjaga iklim organisasi yang kondusif dan menumbuhkan OCB karyawan yang lebih baik lagi.

Aanalsisi buku teks PKn SD berperspektif gender pada kelas rendah Sekolah dasar se-Gugus 6 Kecamatan Sukun Kota Malang / Mega Wening Pangastuti

 

Kata Kunci: Analisis Buku Teks, Berperspektif Gender, PKn SD Berdasarkan Undang-Undang No. 20 pasal 5 ayat 1Tahun 2003 pendidikan dan pengajaran harus memperhatikan masalah kesetaraan gender. Dengan demikian perlu adanya buku ajar berkualitas / berperspektif gender yang memperhatikan konsep pengarustamaan gender demi tercapainya tujuan pembelajaran. Buku yang berperspektif gender merupakan buku yang sensitif terhadap isu gender, menggambarkan kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan serta meninggalkan stereotipe gender yang keliru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesetaraan gender pada buku ajar Pkn Kelas Rendah yang digunakan di Gugus 6 Kecamatan Sukun Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dan rancangan penelitian analisis buku atau dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, dokumentasi, dan menganalisis isi buku teks berdasarkan kesesuaian isi materi, kesesuaian ilustrasi gambar dan kesesuaian soal evaluasi dengan data kesesuaian. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian yaitu kesesuaian isi materi yang tergolong setara gender (berperspektif gender) adalah cukup pada kelas I, kelas II, kelas III. Kemudian kesesuaian ilustrasi gambar tergolong setara gender dengan kriteria tinggi, selanjutnya kesesuaian soal evaluasi pada tingkat kesetaraan tergolong tinggi. Dari hasil temuan dan pembahasan mengenai buku Pkn SD kelas 1,2, dan 3 yang paling banyak di gunakan di Gugus 6 Kecamatan Sukun Kota Malang yang di analisis dilihat dari 3 variabel yaitu: kesesuaian Isi materi berdasarkan Pedoman Bahan Ajar Berwawasan gender yang memperoleh presentase kesetaraan sebesar 64.15 % dan digolongkan ke kategori cukup, Kesesuaian Ilustrasi gambar berdasarkan Pedoman Bahan Ajar Berwaawasan Gender memperoleh presentase kesetaraan sebesar 87,81% dan digolongkan ke kategori tinggi, serta kesesuaian soal evaluasi berdasarkan taksonomi Bloom memperoleh presentase kesetaraan sebesar 90,83 % dan digolongkan ke kategori tinggi. Disarankan Pertama-tama, kepada penulis buku diharapkan untuk lebih sensitif terhadap pengembangan materi yang berwawasan gender khususnya pada aspek materi, gambar dan soal. Kedua, disarankan kepada para guru yang mengunakan buku ajar Pkn sebaiknya memilih secara selektif buku yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Yang terakhir ditujukan bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber rujukan yang bermanfaat.

Pengembangan model latihan sepak sila untuk pemula berupa VCD di ekstrakurikuler sepaktakraw SMP Negeri 12 Malang / Roni Hartanto

 

Pengembangan Model Latihan Sepak Sila untuk Pemula berupa VCD di Ekstrakurikuler Sepaktakraw SMP Negeri 12 Malang.

Pengembangan media pembelajaran interaktif materi bulutangkis untuk siswa kelas XI semester gasal SMA Negeri 1 Ponggok Kabupaten Blitar / Lukman Wahyuono

 

Kata kunci: Pengembangan, Bulutangkis, Media Pembelajaran Interaktif. Bulutangkis merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang atau lebih menggunakan raket sebagai alat untuk memukul dan shuttlecock digunakan sebagai obyek untuk dipukul. Bulutangkis adalah salah satu permainan yang diajarkan di sekolah menengah atas. Pembelajaran bulutangkis yang diterapkan oleh sekolah menengah atas ini mempunyai jam tatap muka yang tidak banyak. Sehingga guru mata pelajaran pendidikan jasmani dituntut bagaimana caranya agar dengan jam tatap muka yang sedikit tersebut materi yang di ajarkan dapat tersampaikan secara maksimal. Pemanfaatan media pembelajaran serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah sangatlah diperlukan, karena dapat membantu guru dalam penyampaian materi pembelajaran. Berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa dalam menyampaikan materi khususnya bulutangkis diperlukan sebuah media pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Dan media pembelajaran yang lebih diminati siswa adalah media pembelajaran berbasis komputer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif materi bulutangkis untuk siswa kelas XI semester gasal SMA Negeri 1 Ponggok Kabupaten Blitar yang layak digunakan untuk meningkatkan aspek kognitif siswa sehingga pengetahuan siswa terhadap materi bulutangkis dapat bertambah. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian model pengembangan prosedural. Adapun bentuk dari metode pengembangannya adalah sebagai berikut; (1) pengumpulan informasi dalam menganalisis kebutuhan dengan cara melakukan observasi dan analisis kebutuhan di SMA Negeri 1 Ponggok (2) Perencanaan pengembangan (menentukan tujuan, ruang lingkup, dan rencana uji coba (3) pengembangan produk (dievaluasi ahli bulutangkis dan ahli media) (4) Uji coba kelompok kecil 10-12 subyek (5) revisi produk berdasarkan uji coba kelompok kecil (6) uji coba kelompok besar (7) melakukan revisi hasil akhir produk media pembelajaran interaktif untuk pembelajaran materi bulutangkis siswa kelas XI semester gasal SMA Negeri 1 Ponggok Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil diperoleh persentase 80.06% termasuk dalam kriteria baik serta hasil analisis data uji coba kelompok besar diperoleh persentase 84,52% juga termasuk dalam kriteria baik, sehingga produk ini layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran.

Pemanfaatan hasil belajar calistung dalam dunia kerja oleh warga belajar program keaksaraan fungsuinal (Studi kasus di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat "Prakarsa") / Antika Primaningrum

 

Primaningrum, Antika. 2013. Pemanfaatan Hasil Belajar Calistung dalam Dunia Kerja oleh Warga Belajar Program Keaksaraan Fungsional (Studi Kasus Di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat “Prakarsa”). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, (II) Drs. H. Sucipto, M.S. Kata Kunci : pemanfaatan hasil belajar, keaksaraan fungsional, PKBM Prakarsa, Pendidikan Luar Sekolah     Penyelenggaraan program keaksaraan fungsional di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Prakarsa Desa Selorejo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang pada tahun 2010 diikuti oleh warga belajar yang berusia lebih dari 30 tahun. Melalui minat belajar yang masih dimiliki, tentunya akan mendapatkan hasil belajar yang dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh warga belajar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil belajar keaksaraan fungsional apa saja yang dimanfaatkan dalam dunia kerja oleh warga belajar di PKBM Prakarsa     Oleh karena itu, digunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan sumber data manusia sebagai informan dan dokumen-dokumen yang mendukung. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman yaitu dengan mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan keseluruhan data dari hasil penelitian.     PKBM Prakarsa sebagai satuan pendidikan non formal memfasilitasi program keaksaraan fungsional pada tahun 2010 yang berperan mengentaskan masyarakat dari buta huruf. Masyarakat yang menjadi warga belajar pada program ini adalah wanita yang berusia lebih dari 30 tahun, berasal dari tingkat ekonomi rendah yang mengalami buta huruf karena drop out atau putus sekolah dari pendidikan formal dengan memberikan keterampilan berupa kemampuan Calistung. Pemanfaatan hasil belajar Calistung dalam dunia kerja oleh warga belajar KF ini adalah dengan kegiatan wirausaha baik berupa usaha jasa dan perdagangan. Dalam kegiatan wirausaha ini, keterampilan Calistung yang dimanfaatkan misalnya untuk pencatatan pengeluaran dan pemasukan dalam kegiatan penjualannya, mencatat jenis barang yang dijual, dan menghitung uang jasa menjahit.     Disarankan bagi pengelola dan tutor program KF di PKBM sebagai berikut: (1) Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada PKBM Prakarsa pelaksanaan program KF tahun 2010 berperan untuk memberdayakan masyarakat dengan pendidikan keaksaraan, sehingga disarankan agar pengelola KF dalam mengelola program selanjutnya menjadikan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk mengembangkan program KF yang disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar sehingga hasil belajar dapat bermanfaat bagi warga belajar. (2) Pemanfaatan hasil belajar yang dilakukan oleh warga belajar berupa pengaplikasian kemampuan membaca, menulis, dan berhitung ke dalam kegiatan pekerjaan, sebagai contoh mencatat pemasukan dan pengeluaran hasil penjualan nasi pecel, toko pracangan, penjualan sayur-sayuran, dan jasa menjahit pada buku kas harian. Disarankan kepada tutor KF agar terus membina kegiatan pemanfaatan hasil belajar Calistung dalam kehidupan warga belajar sesuai kegiatannya masing-masing. Dalam pembelajaran program KF selanjutnya tutor dapat menggunakan bentuk pemanfaatan hasil belajar Calistung dari warga belajar sebagai sumber dan bahan belajar, serta warga belajar dapat menjadi contoh untuk menarik warga lainnya mengikuti KF. Kemudian tutor KF dapat melakukan penguatan kepada warga belajar untuk terus memanfaatkan keterampilan Calistungnya dan membantu mempromosikan produk kepada masyarakat luas pemanfaatan hasil belajar dari warga belajar, contoh: tas batik, usaha sambal pecel dan rempeyek.

Hubungan antara konflik peran ganda dan penilaian diri tentang produktivitas kerja teerhadap stres kerja pada wanita karir / Firdausi Nuzula

 

Nuzula, Firdausi. 2013. Hubungan antara Konflik Peran Ganda dan Penilaian Diri Tentang Produktivitas Kerja terhadap Stres Kerja pada Wanita Karir. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anies Syafitri, S.Psi.,M.Psi. Psikolog dan (2) Indah Y Suhanti, S. Psi, M, Psi. Kata Kunci: konflik peran ganda, penilaian diri tentang produktivitas kerja, stres kerja Perkembangan Industri yang terjadi telah membawa pergeseran yang sangat pesat dalam peran wanita. Pada masa lalu, tugas wanita hanya di rumah mengurus rumah tangga. Pada saat ini peran tersebut sudah bergeser. Kondisi perekonomian keluarga yang belum optimal, memaksa para wanita khususnya yang sudah berkeluarga untuk bekerja. Kondisi ini memunculkan fenomena wanita berperan ganda. Hal ini berpotensi memunculkan konflik pada wanita, karena setiap peran menuntut tanggung jawab yang berbeda. Hal tersebut memungkinkan terjadinya stres pada wanita yang memicu terjadinya masalah dalam perusahaan yang dapat menurunkan penilaian diri tentang produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui konflik peran ganda, (2) mengetahui penilaian diri tentang produktivitas kerja, (3) mengetahui stres kerja, (4) mengetahui hubungan antara konflik peran ganda terhadap stres kerja pada wanita karir, (5) mengetahui hubungan antara penilaian diri tentang produktivitas kerja terhadap stres kerja pada wanita karir, serta (6) mengetahui hubungan antara konflik peran ganda dan penilaian diri tentang produktivitas kerja terhadap stres kerja pada wanita karir. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 wanita karir di PT. Yamaha Musical Products Indonesia (PT. YMPI). Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa skala, yaitu skala konflik peran ganda (α=0,962), skala penilaian diri tentang produktivitas kerja (α=0,968) dan skala stres kerja (α=0,964). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) sebanyak 51 subjek memiliki konflik peran ganda tinggi, (2) sebanyak 45 subjek memiliki penilaian diri tentang produktivitas kerja tinggi, (3) sebanyak 55 subjek memiliki stres kerja tinggi, (4) Terdapat hubungan searah yang signifikan antara konflik peran ganda terhadap stres kerja pada wanita karir (r=0,598;sig=0,00000046), (5) Penilaian diri tentang produktivitas kerja dan stres kerja pada wanita karir memiliki hubungan positif dan signifikan (r = 0,605;sig = 0,00000031), (6) Konflik peran ganda dan penilaian diri tentang produktivitas kerja memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap stres kerja pada wanita karir (R = 0,742;sig = 0,0000000001). Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: (1) Bagi wanita karir, mampu mengolah manajemen waktu, manajemen keluarga, manajemen pekerjaan, manajemen diri, (2 )bagi perusahaan, mengadakan training, rotasi, promosi terhadap karyawannya, (3) bagi peneliti selanjutnya, lebih memfokuskan data demografi yang ada dengan pemilihan sampel yang sesuai, perlu mengkaji self-management pada wanita karir, serta mengkaji konflik peran ganda pada laki-laki yang berperan ganda sebagai kepala rumah tangga dan sebagai karyawan.

Penerapan permainan engklek untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan 02 Kendalpayak Kabupaten Malang / Siti Ulfa Azizah

 

Kata Kunci: permainan engklek, pengembangan motorik kasar Kemampuan motorik kasar anak kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Kendalpayak Kabupaten Malang masih belum maksimal. Berdasarkan observasi terlihat jelas pembelajaran motorik kasar hanya menggunakan senam setiap hari tanpa adanya variasi dalam kegiatan pembelajarannya, sehingga menyebabkan anak kurang bersemangat pada saat pembelajaran fisik motorik kasar. Berdasarkan rencana perbaikan kemampuan motorik kasar anak, permainan engklek diperkirakan paling tepat untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Kendalpayak. Rumusan masalahnya adalah: (1) Bagaimana Penerapan permainan engklek untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar pada anak kelompok A. (2) Apakah penerapan permainan engklek dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar pada anak kelompok A. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi melalui lembar penilaian kemampuan motorik kasar anak dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan rumus prosentase. Langkah-langkah permainan engklek : (1) anak berbaris sesuai dengan nomor absen (2) anak melompat dengan satu kaki (engklek) pada kotak 1, 2, 3, 6, 7, 8, 1, 2, 3 sambil kedua tangan direntangkan (pesawat terbang). (3) anak melompat dan mendaratkan kaki pada kotak 4, 5, 9, 10. (4) anak harus sampai pada kotak 4 (terakhir). Berdasarkan hasil penelitian tindakan menunjukkan pelaksanaan permainan engklek dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok A. Berdasarkan observasi pra tindakan anak kurang bersemangat dalam pembelajaran. Setelah diadakan tindakan perbaikan menggunakan permainan engklek anak lebih bersemangat pada pembelajaran. Hasil ketuntasan klasikal anak pada siklus I 71,4% dan meningkat menjadi 83% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan permainan engklek dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan 02 Kendalpayak Kabupaten Malang. Sehingga disarankan kepada kepala sekolah untuk menambah variasi model permainan engklek sehingga dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar anak di Taman Kanak-kanak.

Pengembangan media pembelajaran interaktif tentang materi baha seks bebas untuk siswa SMP kelas VIII / Vidra Dwi Saputro

 

Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja di Islamic Boarding School SMPIT Daarul Hikmah Bontang / Rizka Amalia Nurhadi

 

Kata kunci : konsep diri, penyesuaian diri, remaja, boarding school Konsep diri adalah penilaian individu tentang diri sendiri yang berkembang dari pengalaman-pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan. Penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk berinteraksi dengan situasi di dalam diri sendiri maupun dalam lingkungan sosial sesuai dengan norma-norma yang ada tanpa menimbulkan konflik bagi dirinya maupun lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan konsep diri remaja. (2) mendeskripsikan penyesuaian diri remaja. (3) mengetahui hubungan antara konsep diri dan penyesuaian diri remaja. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Penelitian ini menggunakan metode random sampling dengan sampel penelitian sebanyak 111 siswa di Islamic Boarding School SMPIT DAARUL HIKMAH Bontang. Instrumen yang digunakan yaitu skala konsep diri dan skala penyesuaian diri. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment Karl Pearson. Hasil dari penelitian ini adalah masih banyak remaja yang memiliki konsep diri negatif dan sangat negatif (55%). Masih banyak remaja yang memiliki penyesuaian diri buruk dan sangat buruk (51%). Ada hubungan positif signifikan antara konsep diri dan penyesuaian diri remaja. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan : (1) Bagi remaja sebaiknya dapat membentuk konsep diri positif dengan cara selalu berpikir dan menilai diri secara positif, bersikap proaktif dengan masalah yang sedang dialami, mau mengembangkan diri dan yakin dengan kemampuan yang dimiliki, serta meningkatkan kemampuan penyesuaian diri dengan cara belajar untuk menciptakan interaksi sosial yang saling terbuka, saling mempercayai, saling memperhatikan kebutuhan teman, dan saling mendukung. (2) Bagi orang tua hendaknya membantu remaja untuk membentuk konsep diri positif dengan cara selalu menanamkan aspek-aspek positif dalam diri anak (3) Bagi pihak sekolah diharapkan dapat membantu dan memfasilitasi kebutuhan remaja dalam membentuk konsep diri yang positif dengan memberikan pelajaran tentang character building, mengaplikasikan stategi self management untuk meningkatkan penyesuaian diri siswa, serta memberikan hukuman bagi siswa yang melanggar tata tertib (4) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggali lebih dalam mengenai faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri.

Propfil dan m otif peserta didik kursus bahasa Inggris dari luar daerah di perkampungan kursus Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri / Anisa Rizki Riyandini

 

Pengembangan latihan beban bagian dada melalui VCD untuk member Sanggar Kebugaran Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Andri Irawan

 

Kata kunci: pengembangan, panduan, latihan beban bagian dada, Sanggar Kebugaran Ilmu Keolahragaan UM. Latihan beban adalah jenis umum latihan kekuatan untuk mengembangkan kekuatan dan ukuran otot rangka, selain itu biasa membuat tubuh menjadi sehat dan ideal. Latihan beban yang baik dan benar juga ada kiat-kiat yang mendukung selain intruksi dari instruktur alangkah baiknya juga ada media yang dicontohkan kepada member seperti pemodelan via video instruksional dalam bentuk Video Compact Disc (VCD). Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti ingin menemukan alternative pemecahan masalah dengan mengembangkan media pelatihan yang berisi latiahan beban bagian dada melaluia vedio compact disc untuk SKIK UM. Tujuan peneliti dapat membantu instruktur dlm menyampaikan materi latihan beban bagian dada dengan membuat produk latihan beban bagian dada supaya member di Sanggar Kebugaran Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang dapat menerima dengan mudah informasi dan menguasai gerakan latihan beban bagian dada. Peneliti menggunakan model pengembangan Borg dan Gall yang dimodifikasi menjadi model yang lebih sederhana yaitu: (1) melakukan penelitian dan pengumpulan data informasi dengan memberikan instrumen analisis kebutuhan kepada member dan instruktur di SKIK UM; (2) Pembuatan rancangan produk awal panduan latihan beban bagian dada melalui video dengan meminta evaluasi para ahli dengan kualifikasi yaitu, 1 ahli media, 1 ahli kebugaran dan 1 ahli latihan beban lalu melakukan revisi produk pertama (sesuai dengan saran- saran dari evaluasi para ahli); (3) uji coba kelompok kecil; (4) revisi produk kedua; (5) uji coba lapangan (kelompok besar) dengan mengujicobakan hasil revisi produk kedua; (6) revisi produk akhir (apabila ada masukan atau saran dari dan uji coba lapangan); (7) hasil akhir produk pengembangan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Berdasarkan hasil persentase uji coba kelompok kecil adalah 86,60% dan hasil persentase uji coba kelompok besar adalah 80.61% . Hasil persentase tersebut menyatakan bahwa produk ini dapat digunakan untuk member di SKIK UM. Hasil dari para ahli adalah masukan dan saran-saran untuk produk VCD. Karena penelitian ini hanya terbatas pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan ini.

Identifikasi penguasaan kompetensi konselor SMA Negeri di Kota Malang / Binti Qurrotul A'yunin

 

A’yunin, Binti Q. 2014. Identifikasi Penguasaan Kompetensi Konselor SMA Negeri di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Andi Mappiare AT, M.Pd. (II) Drs. Widada, M.Si. Kata Kunci: Identifikasi, Penguasaan Kompetensi, Konselor     Penguasaan kompetensi merujuk pada kemampuan melaksanakan tugas-tugas dan pada bagaimana seharusnya seseorang berperilaku untuk menjalankan peran tertentu secara kompeten dalam suatu bidang kerja. Kompetensi yang dimaksud penelitian ini telah tertera dalam Permendiknas No. 27 Tahun 2008, yaitu: 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi sosial, dan 4) kompetensi profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran responden dalam hal penguasaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.     Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini yaitu 27 konselor SMA Negeri di Kota Malang yang ditentukan dengan salah satu jenis dari teknik pengambilan sampel nonprobability sampling yaitu teknik incidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat pengumpulan data yaitu angket atau kuesioner. Teknik analisis data dilakukan secara manual dengan bantuan microsoft excel untuk penghitungan persentase frekuensi responden.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kompetensi pedagogik, hanya sebagian kecil konselor SMA Negeri di Kota Malang yang telah menguasai kompetensi tersebut dengan sepenuhnya. Kemampuan yang paling dikuasai oleh konselor dalam kompetensi pedagogik yaitu membaca dan menerapkan teori tentang ilmu bimbingan dan konseling dalam ranah pendidikan. Untuk kompetensi kepribadian, sebagian besar konselor telah menguasai kompetensi tersebut dengan sepenuhnya terutama pada kemampuan dalam menerapkan sikap saling menghormati terhadap seluruh personil sekolah. Untuk kompetensi sosial, sebagian kecil konselor telah menguasai dengan sepenuhnya terutama pada kemampuan dalam mengaplikasikan teori-teori BK sesuai dengan Kode Etik Profesi BK. Begitu juga dengan kompetensi profesional, sebagian kecil saja yang telah memiliki penguasaan sepenuhnya. Dapat diketahui bahwa kemampuan yang menonjol dari kompetensi profesional yaitu pada kemampuan mempraktikkan penyusunan rencana pelaksanaan program BK; menunjukkan keterbukaan terhadap siswa untuk memfasilitasi perkembangan akademik, karier, pribadi, dan sosial siswa; serta mengaplikasikan asas kerahasiaan dalam praktik BK.     Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan antara lain: 1) diharapkan bagi para konselor untuk mengambil tindakan meningkatkan penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, dan profesional dan mempertahankan penguasaan kompetensi kepribadian yang telah dimiliki, 2) diharapkan peneliti selanjutnya dapat memperluas ruang lingkup penelitian dan mengembangkan alat evaluasi untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi konselor secara detail.

Hubungan antara pola asuh orang tua dan tipe kepribadian dengan perilaku bullying di sekolah pada siswa SMP / Fitri Yuniartiningtyas

 

Kata Kunci: pola asuh orang tua, tipe kepribadian, perilaku bullying di sekolah. Perilaku bullying adalah segala perilaku agresi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang mengandung tiga karakteristik yakni pelaku cenderung untuk menyakiti seseorang, seringkali target bullying adalah orang yang sama, pelaku memilih korban yang dianggapnya rentan. Perilaku bullying dipengaruhi oleh faktor pola asuh orang tua dan tipe kepribadian. Pola asuh orang tua adalah perlakuan orang tua terhadap anak dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan, dan mendidik anak agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi individu-individu yang dewasa secara sosial. Kepribadian adalah apa yang menentukan individu untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sesuai dengan situasi yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pola asuh orang tua siswa di sekolah, (2) mengetahui tipe kepribadian siswa di sekolah, (3) mengetahui perilaku bullying di sekolah, (4) mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku bullying di sekolah, (5) mengetahui hubungan antara tipe kepribadian siswa dan perilaku bullying di sekolah, dan (6) mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan tipe kepribadian siswa terhadap perilaku bullying di sekolah. Jenis penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif korelasional, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 87siswa kelas VIII. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pola asuh orang tua, angket tipe kepribadian, dan skala perilaku bullying yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pola asuh orang tua pada klasifikasi pola asuh permisif (69%), (2) tipe kepribadian berada pada klasifikasi tipe kepribadian sanguinis (39%), (3) perilaku bullying berada pada klasifikasi rendah (62%), (4) ada hubungan negatif pola asuh orang tua dan perilaku bullying, (5) ada hubungan negatif antara tipe kepribadian dan perilaku bullying dan (6) ada hubungan antara pola asuh orang tua, tipe kepribadian, dan perilaku bullying. Disarankan (1) bagi siswa, disarankan untuk tetap mudah bergaul dengan teman maupun adik kelas, karena hal tesebut dapat menambah pergaulan. (2) bagi orang tua, orang tua sebaiknya menerapkan pola asuh permisif atau pola asuh demokratis (2) bagi sekolah, para guru tidak perlu menggunakan kekerasan dalam menegakkan peraturan di sekolah, (3) bagi peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah sampel dan mencermati faktor-faktor lain yang mempunyai keterkaitan dengan perilaku bullying.

Pengembangan model latihan finishing pada permainan sepakbola di Persatuan Sepakbola TAruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang / Khoirul Dwi M.

 

Kata kunci: pengembangan, model latihan, finishing dalam permainan sepakbola. Kemampuan finishing ke gawang lawan diperlukan dalam permainan sepakbola, karena merupakan komponen penting bagi seorang pemain agar bisa mencetak gol. Salah satu tujuan permainan sepakbola yaitu memenangkan pertandingan dengan cara memasukkan bola ke gawang tim lawan. Pelatih harus secara sadar menyisihkan cukup banyak waktu setiap hari untuk secara khusus menangani pemain dalam mencetak gol serta diharapkan mempunyai wawasan dan pengalaman yang banyak tentang suatu model latihan khususnya tentang latihan finishing, sehingga latihan yang akan diterapkan dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kenyataan yang ada di lapangan khususnya pada Persatuan Sepakbola Taruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang, pemain merasa kesulitan dalam mencetak gol atau penyelesaian akhir (finishing) dikarenakan model latihan finishing yang dilakukan kurang variasi dan kurang sistematis. Untuk itu peneliti akan mengembangkan model latihan finishing pada permainan sepakbola dalam bentuk video latihan berupa VCD. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan terhadap 20 pemain di Persatuan Sepakbola Taruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang, diperoleh data bahwa pelatih belum pernah memberikan tayangan video sepakbola tentang latihan finishing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model latihan finishing pada permainan sepakbola di Persatuan Sepakbola Taruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang dalam bentuk video latihan berupa VCD yang dapat digunakan untuk membantu mengasah kemampuan pemain dalam mencetak gol atau finishing pada pelaksanaan latihan. Prosedur pengembangan model latihan finishing pada permainan sepakbola melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) melakukan penelitian dan pengumpulan data informasi awal termasuk kajian pustaka dan analisis kebutuhan, (2) mengembangkan bentuk produk awal (berupa model latihan menembak dalam sepakbola), (3) evaluasi dari para ahli dengan menggunakan 2 ahli kepelatihan di bidang sepakbola dan 1 ahli media, (4) uji coba kelompok kecil, (5) Revisi produk pertama, revisi produk berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil), (6) uji coba lapangan (kelompok besar), dengan mengujicobakan hasil revisi produk awal, (7) revisi produk akhir dari uji lapangan dan menyempurnakan menjadi hasil produk akhir. Penelitian dilakukan di lapangan sepakbola Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 3 orang ahli yaitu 2 ahli kepelatihan sepakbola dan 1 ahli media (2) uji coba (kelompok kecil) adalah menggunakan 10 orang pemain, dan (3) uji lapangan (kelompok besar) yang terdiri dari 25 orang pemain sepakbola Persatuan Sepakbola Taruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang. Hasil dari evaluasi ahli kepelatihan sepakbola I dengan hasil persentase 89,71%, evaluasi ahli kepelatihan sepakbola II dengan hasil persentase 85,29% dan evaluasi ahli media dengan hasil persentase 83,33%. Dari ketiga evaluasi ahli menyatakan produk layak dan baik (digunakan), uji coba (kelompok kecil) 85,15% menyatakan baik (digunakan), uji lapangan (kelompok besar) 84,17% menyatakan baik (digunakan). Produk pengembangan model latihan finishing pada permainan sepakbola dalam bentuk VCD di Persatuan Sepakbola Taruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana pendukung dan menjadi pegangan pelatih dalam pelaksanaan latihan khususnya untuk latihan finishing. Produk yang dihasilkan merupakan produk yang ditujukan untuk pemain sepakbola di Persatuan Sepakbola Taruna Putra Klakah Kabupaten Lumajang, akan tetapi tidak menutup kemungkinan produk ini bisa digunakan oleh tim atau klub-klub sepakbola lain. Dalam penyebarluasan produk pengembangan ini ke sasaran yang lebih luas sebaiknya produk ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan sasaran yang ingin dituju dan disesuaikan dengan pelaksanaan latihan yang ada. Pengembangan model latihan finishing pada permainan sepakbola dalam bentuk VCD ini dapat digunakan pada kancah yang lebih besar perlu dilakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Pengaruh metode bermain peran tehadap peningkatan perilaku prososial anak TK A Lab. Um Kota Blitar / Widhadirane T.K.N.

 

Evaluasi program kerja PRSI Pengurus Kota Malang tahun 2012 / Branita Destrila Gati

 

Kata Kunci: evaluasi, program kerja, PRSI Pengkot Malang Program kerja merupakan jabaran dari suatu kebijakan organisasi (PRSI) dalam mencapai visi dan menjalankan misinya, yang terangkai dari beberapa kegiatan, baik yang diselenggarakan secara bertahap maupun langsung, singkat atau lama, yang bermuara pada tujuan program yang telah ditetapkan organisasi (PRSI) tersebut. Informasi tercapai atau tidaknya informasi ini bisa dilakukan melalui evaluasi dan pengamatan. Hasil pengamatan itu yang kemudian dianalisis dan dihasilkannya rekomendasi-rekomendasi terkait hasil ketercapaian atau kemajuan program. Evaluasi diharapkan akan menjadi umpan balik untuk program yang telah dijalankan dan memberikan informasi yang diperlukan untuk perbaikan dan menjalankan program di masa yang akan datang. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian evaluasi yang menggunakan model CIPP (Context evaluation, Input evaluation, Process evaluation, Product evaluation). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program kerja PRSI Pengkot Malang tahun 2012, subyek penelitian ini adalah 15 atlet, 11 pelatih, 2 wasit dan 7 pengurus PRSI Pengkot Malang Tahun 2012 terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, bidang humas dan bidang komisi teknik. Pengumpulan data ini menggunakan kombinasi angket terbuka dan tertutup, wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Hasil penelitian ditemukan bahwa variabel konteks yang terdiri dari tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam program kerja yang direncanakan oleh PRSI Pengkot Malang pada tahun 2012 cukup efektif, hal tersebut dapat dilihat dari adanya program kerja dan RAB walaupun belum terdapat visi misi yang jelas, karena masih mulai penataan organisasi setelah vakum. Variabel input yang terdiri dari pengurus, atlet, pelatih dan wasit/juri dalam program kerja yang direncanakan oleh PRSI Pengkot Malang pada tahun 2012 cukup efektif, hal tersebut dapat dilihat dari lisensi pelatih dan lisensi wasit/juri, penyusunan pengurus dan keaktifan atlet. Variabel proses yang terdiri dari pelaksanaan kegiatan dalam program kerja yang dijalankan oleh PRSI Pengkot Malang pada tahun 2012 belum efektif, dikarenakan hanya program rapat evaluasi dan keikutsertaan kejuaraan yang terlaksana dari program kerja yang sudah disusun. Variabel produk yang terdiri dari prestasi atlet, penlatih, pengurus dan wasit/juri dalam program kerja yang dijalankan oleh PRSI Pengkot Malang pada tahun 2012 belum efektif, hal tersebut dapat dilihat dari prestasi atlet saja yang ada peningkatan prestasi, sedangkan untuk pengurus belum maksimal menjalankan program, pelatih tidak mengalami peningkatan lisensi dan wasit/juri yang aktif di kejuaraan renang masih sangat kurang sekali. Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti dapat memberikan rekomendasi untuk program kerja PRSI Pengkot Malang yaitu sebagai berikut, rekomendasi untuk variabel konteks adalah PRSI Pengkot Malang diharapkan untuk mempunyai visi dan misi sehingga lebih jelas tujuan program kerja yang akan disusun. Untuk program kerja diharapkan disusun sesuai dengan kapasitas dan kemampuan PRSI untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Rekomendasi untuk variabel input adalah PRSI Pengkot Malang diharapkan mengadakan perlombaan renang berjenjang mulai dari SD, SMP, dan SMA untuk menjaring atlet renang dan menetapkan Standar Operasi Pelaksanaan (SOP) untuk seleksi atlet yang akan mewakili Kota Malang di kejuaraan renang. Selain itu pelatih diharapkan lebih aktif untuk meregenerasi bibi-bibit pelatih dan dapat bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang untuk perekrutan pelatih renang. Rekomendasi untuk variabel proses adalah (1) untuk PRSI Pengkot Malang dapat mengaktifkan dan mengefektifkan kepengurusan yaitu dengan cara menempatkan orang-orang yang sesuai dengan kemampuannya dalam kepengurusan, (2) menjalin kerja sama dengan pihak sponsor, yang diharapkan sponsor dapat membantu kebutuhan atlet dan pelaksanaan program kerja tersebut, (3) diharapkan PRSI Pengkot Malang kedepannya mempunyai kolam renang sendiri, (4) PRSI Pengkot Malang diharapkan lebih meningkatkan penghargaan terhadap atlet dan pelatih, (5) Dispora dan Depdikbud disarankan untuk ikut memperhatikan pembinaan prestasi olahraga khususnya olahraga renang, (6) KONI Kota Malang sebaiknya mengadakan pengawasan dan pengevaluasian secara berkala kepada setiap organisasi yang bernaung di bawah KONI Kota Malang dan memperhatikan wasit/juri renang Kota Malang. Rekomendasi untuk variabel produk yaitu (1) untuk atlet lebih giat berlatih untuk meningkatkan prestasi, (2) untuk pelatih meningkatkan ilmu kepelatihan dan kompetensi sebagai pelatih, (3) untuk pengurus PRSI Pengkot Malang lebih kompak dalam menjalankan program kerja maupun latihan, (4) untuk wasit/juri diharapkan untuk meningkatkan lisensi dan lebih aktif dalam perwasitan tingkat daerah, regional maupun nasional.

Pengembangan E-module materi pelatihan teknik analisis potensi wilayah dan agroekosisten berorientasi agribisnis di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Songgoriti Kota Batu / Ayu Dwi Wahyu Saputri

 

Dwi Wahyu Saputri, Ayu. 2012. Pengembangan E-Module Materi Pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah dan Agroekosisten Berorientasi Agribisnis di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Songgoriti Kota Batu. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Henry Praherdiono, S. Si, M.Pd, (II) Arafah Husna, S. Pd., M.Med.Kom. Kata kunci: E-modul, Pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah dan Agroekosisten Berorientasi Agribisnis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan menghasilkan e-module pada mata pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah dan Agroekosisten Berorientasi Agribisnis di Balai Besar Pelatihan peternakan (BBPP) Songgoriti Kota Batu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan/kevalidan e-module sebagai media pembelajaran, mengetahui respon siswa terhadap media ini, dan mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media dibandingkan dengan yang tidak menggunakannya. Model Pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ADDIE (Reiser, Robert A & John V. Dempsey, 2002:18). Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilakukan guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut antara lain: (1) Analisis/Analysis; (2) Desain/Design; (3) Pengembangan/ Development; (4)Implementasi/Implementation; (5)Evaluasi/Evaluation. Hasil Pengembangan e-module ini memenuhi kriteria valid/layak yakni, ahli media 85,71%, ahli materi 95%, hasil uji coba perseorangan 72,91%, hasil uji coba kelompok kecil 84,72% dan hasil uji coba lapangan 82,7 %. Sedangkan untuk tes hasil belajar siswa peserta diklat terdapat 18 orang (90%) yang berhasil mencapai ketuntasan dalam belajar, dan nilai mencapai SKM (Standar Ketuntasan Minimum). Dengan demikian, e-module ini bisa dikatakan valid, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Saran yang diajukan kepada widyaiswara pengajar mata pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah adalah, hendaknya e-module ini ditindak lanjuti sampai pada tahap pemanfaatan sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan untuk pengembang selanjutnya, disarankan agar mempertimbangkan aspek alur kerja media pembelajaran yang dikembangkan agar media yang dihasilkan dapat dimanfaatkan pada strategi pembelajaran yang direncanakan.

Penerapan permainan bisik berantai untuk meningkatkan kemampuan berhasa pada anak kelompok B di TK Pertiwi Kecamatan Sananwetan Kota Blitar / Susi Grihanwanti

 

Kata Kunci :kemampuanbahasa, permainanbisikberantai Penelitianinidilatarbelakangiolehhasilobservasi yang penelitilakukan di kelompok B TK Pertiwi Kota Blitar, dan ditemukan masalah dalam kemampuan bahasa yaitukemampuanmenjawabpertanyaandanpenyusunanstrukturkalimatdalamberbicaradanmenyimakanakmasihbelumberkembangdenganbaikterbuktipadawaktu guru menjelaskandidepan, anakbanyak yang tidakmemperhatikan, salingberbicaradenganteman-temannya, ketika guru memintaanakuntukberceritadidepan, anakberceritadenganbahasa yang tidakterstruktur, danketikadiberipertanyaan, menjawabdengankalimat yang kurangkompleks. Hal tersebut disebabkan olehpembelajaran yang dilakukanoleh guru secaraklasikalsehinggaanakkurangmemperhatikandanpenggunakanmetodepembelajaran yang kurangtepatsehinggasuasanabelajar yang kurangmenyenangkan Penelitianinimenggunakanrumusanmasalahsebagaiberikut ini: (1) Mendiskripsikan penerapan permainan bisikberantaiuntukmeningkatkankemampuanberbahasa anak kelompok B di TK Pertiwi Kota Blitar dan, (2) Mendiskripsikan peningkatan kemampuan bahasa melalui permainanbisikberantai pada anak kelompok B TK Pertiwi Kota Blitar. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danrefleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dengan 2pertemuandansiklus 2 dengan 1 pertemuan.Subyek penelitian adalah anak kelompok B TK Pertiwi Kota Blitar, yang berjumlah 22 anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dandokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik data kualitatif yang meliputi cara reduksi data, penyajian data dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan permainan bisik berantaipadaanakkelompok B dapatberjalanbaiksesuaidenganrencana. Hasilpenelitiandibuktikandenganhasilobservasiaktivitas guru yang sudahterlaksanasesuaidengan 8 langkah-langkah dalam penerapan permainan bisikberantai. (2) Hasilpenelitianobservasi kemampuan bahasa anak menunjukkan peningkatan, pada siklus I persentase anak tuntas mencapai63,6%, padasiklus IImeningkatmenjadi 95,4%. Berdasarkananalisis data tersebutdapatdisimpulkanbahwapenerapanpermainanbisikberantaidapatmeningkatkankemampuanbahasaanakkelompok B TK PertiwiKecamatanSananwetan Kota Blitar. Saran daripeneliti,diharapkan agar guru mencobamenerapkanpermainaniniuntukmembantumengatasikesulitananakpadapembelajaranbahasa, dan disarankanpenelitilainnya agar menerapkan permainan bisikberantai dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasadankemampuanlainnyaseperti: kognitif, fisikmotorik, sosialemosionaldan moral agama.

Analisis pengintegrasian pendidikan karakter dalam buiku teks pelajaran PKn kelas II sekolah dasar / Lukhi R.D.S.

 

Pengembangan media interaktif pendidikan seks untuk siswa SMP / Sisca Erlia Puspitarini

 

Puspitarini, Sisca Erlia. 2013. Pengembangan Media Interaktif Pendidikan Seks untuk Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Elia Flurentin, M.Pd, (II) Arbin Janu Setiyowati, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: media interaktif, pendidikan seks, siswa SMP     Seks bebas dan seks pranikah kian marak dilakukan oleh remaja Indonesia. Saat ini remaja sangat terpengaruh oleh perkembangan zaman yang lebih terbuka menerima ide-ide baru dan lebih intensif mempergunakan teknologi. Hal ini berakibat pada kehidupan remaja yang semakin bebas dalam pergaulan. Kurangnya informasi tentang pendidikan seks dapat menimbulkan penyimpangan-penyimpangan seksual pada remaja. Berdasarkan data BKKBN tahun 2011, 51 dari 100 remaja di beberapa kota besar Indonesia telah melakukan seks pranikah. Hasil survei dan penelitian lainnya menunjukkan banyaknya remaja yang tidak perawan di kalangan siswa SMP dan SMA. Pemberian layanan informasi pendidikan seks di sekolah dengan cara lama kurang menarik sehingga perlu adanya inovasi dengan memanfaatkan teknologi yaitu menggunakan media interaktif.     Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan sebuah produk media interaktif pendidikan seks untuk siswa SMP yang berguna, layak, tepat, dan menarik. Media interaktif diharapkan dapat membantu siswa membentuk sikap emosional dan perilaku yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kesehatan seksualnya. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah Media Interaktif Pendidikan Seks dengan materi perubahan fisik dan psikis pada masa remaja, perkembangan individu baru, seks bebas dan perilaku seks menyimpang, serta dampak seks bebas dan perilaku seks menyimpang, yang dilengkapi dengan buku panduan untuk konselor.     Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengadaptasi langkah-langkah pengembangan dari Borg & Gall yang terdiri atas tahap pengumpulan data, perencanaan, tahap pengembangan produk, uji coba, dan revisi hasil uji coba. Subjek uji ahli adalah satu orang ahli bimbingan dan konseling dan satu orang ahli media pembelajaran. Subjek uji calon pengguna produk adalah dua orang konselor dan 10 orang siswa kelas VIII SMP N 4 Malang. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif berupa angka dan kualitatif berupa kalimat saran.     Berdasarkan hasil uji ahli BK menunjukkan rerata 3.1 yang berarti produk berguna, layak, tepat dan menarik untuk digunakan dalam menyampaikan layanan informasi pendidikan seks. Hasil penilaian ahli media pembelajaran menunjukkan rerata 3.18 yang berarti produk berguna, layak, tepat dan menarik untuk dijadikan media dalam menyampaikan layanan informasi. Hasil uji calon pengguna produk (konselor) menunjukkan hasil 87.75 % yang berarti produk sangat diterima sebagai media dalam menyampaikan layanan informasi pendidikan seks. Hasil uji calon pengguna produk (siswa) diperoleh hasil 89.58 % yang berarti produk sangat diterima oleh siswa karena kemudahan dalam pemahaman materi dan kemenarikan produk. Berdasarkan hasil uji ahli dan calon pengguna produk tersebut, dapat disimpulkan bahwa media interaktif pendidikan seks yang dikembangkan untuk siswa SMP telah memenuhi syarat tampilan media dan dapat digunakan untuk memberikan layanan informasi pendidikan seks.     Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diberikan adalah: (1) konselor sebaiknya lebih kreatif dan inovatif dalam hal pemanfaatan media bimbingan, (2) untuk penelitian selanjutnya, dapat melakukan uji efektivitas dan kelayakan penerapan media interaktif pendidikan seks pada sasaran.

Penggunaan media papan Flanel untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Mergosono 5 Malang / Ernawati

 

Kata Kunci: Media papanflanel , aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Pembelajaran IPS kelas IV di SDN Mergosono 5 Malang masih belum optimal. Hal ini berdasarkan dari hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas IV diketahui bahwa terdapat permasalahan pada rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa penyebabnya kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru dan kurang memanfaatkan media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan penggunaan media papan flanel dalam pembelajaran IPS kelas IV materi pokok perkembangan teknologi transportasi di SDN Mergosono 5 Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa selama pembelajaran IPS dengan menggunakan papan flanel materi pokok perkembangan teknologi transportasi di SDN Mergosono 5 Malang, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS materi pokok perkembangan teknologi transportasi dengan menggunakan media papan flanel di SDN Mergosono 5 Malang. Rancangan Penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus setiap siklus terdiri 2 kali pertemuan. Setiap siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan dan observasi, refleksi dan revisi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV Semester II tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 30 siswa, terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media papan flanel dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam berdiskusi,bekerjasama dalam kelompok, dapat melibatkan secara secara aktif dalam memasang gambar dan menjelaskan didepan kelas menggunakan media papan flanel, pada pembelajaran IPS ini aktivitas siswa siklus I dan siklus II meningkat dari meningkat dari rata- rata aktivitas siswa 62,26 dengan prosentase siswa mendapat nilai >65 (53,34%) menjadi 70,02 dengan prosentase siswa mendapat nilai >65 (76,67%) sedangkan rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I dan II juga mengalami peningkatan dari 68,08 (56,66%) menjadi 77,37 (86,66%) siswa mencapai ketuntasan belajar klasikal. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan media papan flanel pada materi pokok perkembangan teknologi transportasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Mergosono 5 Malang. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti untuk guru sebaiknya dalam pembelajaran menggunakan media papan flanel agar aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat,untuk sekolah sebagai masukan menggunakan media papan flanel untuk pembelajaran.Peneliti lain sebagai referensi untuk melakukan penelitian lanjutan yang lebih signifikan.

Pembelajaran pecahan pada siswa kelas 4 SDN Bareng 4 Kota Malang dengan menekankan Self Development Models (SDM) siswa / Septian Adi Nugroho

 

Proposed english lesson plans for elementary schools in Kodya Kediri / by Diani Nurhajati

 

Pengembangan multimedia pembelajaran interaktif mata pelajaran ilmu pengetahuan alam pokok bahasan sistem transportasi pada makhluk hidup kelas VIII di SMP Negeri 25 Malang / Moh Imam Muklis

 

ABSTRAK Muklis, Moh Imam. 2015. Pengembangan Multimedia Pembelajaran InteraktifMata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Pokok bahasanSistem Transportasi Makhluk Hidup Kelas VIII Di SMP Negeri 25 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sihkabuden, M.Pd, (II) Dr. Agus Wedi, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Multimedia Pembelajaran, Ilmu Pengetahuan Alam , Sistem Transportasi Makhluk hidup, Kelas VIII Pemanfaatan laboratorium komputer sebagai media pembelajaran berbasis komputer dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran yang memerlukan visualisasi dalam pemahaman konsepnya. Salah satu jenis media pembelajaran berbasis komputer adalah multimedia pembelajaran, di mana materi yang disampaikan berupa kombinasi antara teks, gambar, suara, animasi, dan video yang dapat dikendalikan sendiri oleh siswa melalui perangkat komputer. Berdasarkan analisis kebutuhan yang dilaksanakan di SMP Negeri 25 Malang, (a) diperlukan media yang dapat membantu siswa memahami konsep dan proses yang terjadi pada materi sistem transportasi makhluk hidup, (b) tersedianya laboratorium komputer yang dapat digunakan dalam pembelajaran siswa, (c) tingginya motivasi guru dalam menerapkan kurikulum 2013 yang menempatkan siswa pada posisi utama dalam pembelajaran sedangkan guru hanya sebagai fasilitator pembelajaran. Berkaitan dengan itu, diperlukan multimedia pembelajaran yang dapat mempermudah siswa memahami konsep dan proses yang terjadi mengenai materi geometri transformasi di SMP Negeri 25 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk multimedia dan mengetahui tingkat validitas produk pengembangan multimedia untuk mata pelajaran IPA materi sistem transportasi makhluk hidup kelas VIII SMP Negeri 25 Malang. Multimedia pembelajaran yang dikembangkan menggunakan model pengembangan William W. Lee dan Diana L. Owens yang terdiri dari (1) Analisis Kebutuhan, (2) Analisis Awal-Akhir, (3), Desain, (4) Pengembangan, (5) Implementasi, (6) Evaluasi. Hasil validasi oleh ahli media memberikan penilaian 92,5% dengan kriteria valid, ahli materi memberikan penilaian 81,25% dengan kriteria valid, uji coba siswa perseorangan menghasilkan penilaian 90,00% dengan kriteria valid, uji coba kelompok kecil menghasilkan penilaian 78,75% dengan kriteria cukup valid, dan uji coba lapangan menghasilkan penilaian 86,3% dengan krteria valid. Seluruh hasil uji coba menyatakan bahwa media telah layak digunakan dalam pembelajaran.Pada hasil tes belajar siswa uji coba lapangan setelah menggunakan multimedia memperoleh persentase (77,4%) siswa yang mencapai KKM, hal ini menunjukan bahwa multimedia pembelajaran ini efektif dan memberikan dampak yang positif dalam pembelajaran mata pelajaran IPA materi sistem transportasi makhluk hidup.

Pengembangan bahan ajar matakuliah pengembangan media audio/radio untuk mahasiswa S1 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Susilaningsih

 

Kata kunci: Pengembangan, bahan ajar, Pengembangan media audio/radio Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah mengidentifikasi dan memecahkan masalah proses dan sumber belajar. Pemecahan masalah tersebut amat penting karena berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan adanya proses dan sumber belajar dalam pembelajaran yang berkualitas akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas juga. Salah satu sumbangan nyata yang dapat ditunjukkan bidang teknologi pembelajaran adalah penyediaan sumber belajar melalui kegiatan pengembangan (development). Pengembangan ini bertujuan untuk menjawab masalah yang muncul dalam pembelajaran yaitu mahasiswa kesulitan dalam mendapatkan referensi yang relevan untuk membuat rancangan program media audio/radio, hal ini disebabkan buku ajar yang ada kurang sesuai dengan karakteristik mahasiswa dan karakteristik mata kuliah khususnya dalam membuat format media audio/radio pembelajaran maupun format media audio non pembelajaran. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar mata kuliah Pengembangan Media Audio/Radio yang dilengkapi dengan panduan dosen dan panduan mahasiswa dikembangkan untuk mahasiswa Teknologi Pendidikan jenjang S1 di Universitas Negeri malang. Dalam mengembangkan rancangan pembelajaran diperlukan suatu model pengembangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik isi yang dikembangkan. Pengembangan bahan ajar mata kuliah Pengembangan Media audio/Radio ini menggunakan model rancangan Dick and Carey yang dipandang sesuai dengan karakteristik matakuliah dan mengacu pada pembelajaran prosedural dan hararki. Hasil pengembangan divalidasi melalui evaluasi formatif yang terdiri dari penilaian ahli dan uji coba. Pemilaian ahli meliputi: 1) ahli isi/materi pembelajaran, 2) ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran. hasil tinjauan para ahli dijadikan dasar dalam perbaikan produk yang selanjutnya dapat dilakukan uji coba untuk mendapatkan masukan dari para pengguna. Uji coba tersebut meliputi 1) uji coba perorangan bagi empat orang mahasiswa, 2) uji kelompok kecil bagi delapan mahasiswa dan 3) uji kelompok besar/lapangan bagi 38 mahasiswa. Hasil penilaian ahli materi pembelajaran terhadap bahan ajar yang dikembangkan79% termasuk dalam kualifikasi sangat layak dan tidak perlu direvisi, hasil penilaian ahli desain pembelajaran terhadap bahan ajar 78,5% termasuk dalam kualifikasi sangat layak dan tidak perlu direvisi dan hasil penilaian ahli media pembelajaran 100% termasuk kualifikasi sangat layak dan tidak perlu direvisi. Hasil uji coba perorangan bahan ajar 77,73% termasuk dalam kualifikasi sangat layak dan tidak perlu direvisi, hasil uji coba kelompok kecil bahan ajar 80,46% termasuk kualifikasi sangat layak tidak perlu direvisi, hasil uji coba lapangan 73,77% termasuk dalam kualifikasi layak dan tidak perlu direvisi. Berdasarkan hasil evaluasi formatif yang telah dilakukan terhadap bahan ajar mata kuliah Pengembangan Media Audio/Radio dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan ini dinilai layak digunakan sebagai sumber belajar mata kuliah Pengembangan Media Audio/Radio dan dapat memudahkan mahasiswa Teknologi Pendidikan jenjang S1 di Universitas Negeri Malang dalam pembelajaran.

Pengembangan media pembelajaran interaktif untuk membangun pemahaman konsep garis singgung persekutuan dua lingkaran / Vivin Nur Afidah

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran Interaktif, Garis singgung, Lingkaran Media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen pembelajaran. Salah satu jenis media pembelajaran adalah media pembelajaran interaktif. Dalam menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan garis singgung persekutuan dua lingkaran, siswa masih kesulitan dan cenderung menghafal rumus. Salah satu penyebab siswa belum memahami konsep garis singgung persekutuan dua lingkaran adalah pembelajaran garis singgung persekutuan dua lingkaran di SMPN 1 Lumajang belum menggunakan media pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu perlu dikembangkan media pembelajaran yang membangun pemahaman siswa. Media pembelajaran interaktif yang dikembangkan adalah media pembelajaran interaktif yang dirancang berdasarkan karakteristik pembelajaran dengan bantuan komputer / Computer Assisted Instruction (CAI) tipe tutorial. Selain itu dirancang berdasarkan teori beban kognitif yaitu meminimalkan pemrosesan beban kognitif extraneous, mengatur pemrosesan beban kognitif intrinsic, dan mengembangkan pemrosesan beban kognitif germane. Media pembelajaran interaktif berisi materi garis singgung persekutuan dua lingkaran, latihan soal beserta umpan balik (feedback), pembahasan dan penilaian. Media pembelajaran dikemas dalam bentuk software dengan menggunakan Macromedia Flash. Penyampaian materi garis singgung persekutuan dua lingkaran dalam bentuk animasi gambar yang disertai narasi. Dalam penggunaannya ada interaksi antara pengguna dengan materi dalam media pembelajaran. Penelitian pengembangan ini mengikuti model pengembangan 4D yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebarluasan) Hasil pengembangan menunjukkan bahwa dari hasil validasi ahli dan praktisi, media pembelajaran interaktif memperoleh skor rata-rata semua aspek sebesar 3,26 dan dapat disimpulkan media pembelajaran interaktif valid. Validator juga memberikan saran untuk menambahkan soal yang menantang, soal open ended, dan soal problem possing, menampakkan tampilan garis serta menyederhanakan kalimat pada media pembelajaran. Hasil pengamatan aktivitas guru dan siswa diperoleh skor rata-rata semua aspek yaitu 3,42 dan 3,43 maka dapat disimpulkan media pembelajaran interaktif memenuhi kriteria kepraktisan yaitu praktis. Dari hasil kuis menunjukkan 96, 3% siswa mencapai tingkat pemahaman minimal tinggi. Hasil tes penguasaan bahan ajar menunjukkan 96, 3% siswa mencapai tingkat penguasaan minimal tinggi. Sedangkan dari hasil angket respon siswa diperoleh skor rata-rata angket respon siswa yaitu 3,31. Berdasarkan hasil kuis dan tes penguasaan bahan ajar serta angket respon siswa dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran interaktif telah memenuhi kriteria efektif. yang ditetapkan yaitu pemahaman dan penguasaan materi garis singgung persekutuan dua lingkaran memenuhi kategori minimal tinggi serta respon siswa terhadap penggunaan media pembelajaran interaktif menunjukkan respon positif. Dengan demikian media pembelajaran interaktif yang telah dikembangkan merupakan media pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif. Untuk pengembangan lebih lanjut, media pembelajaran interaktif ini perlu dikombinasikan dengan program penyimpan data (misalnya program database) sehingga hasil aktivitas siswa dapat terekam. Selain itu perlu dikembangkan dengan memasukkan aktivitas memanipulasi gambar-gambar sehingga media ini dikatakan sebagai “virtual manipulative”.

Analisis butir soal evaluasi sumatif semester 1 kelas IV mata pelajaran PKn SD se-Gugus 1 Kecamatan Junrejo Kota batu / Moh. Muslih

 

Kata Kunci : analisis butir soal, evaluasi sumatif, PKn SD Evaluasi sumatif merupakan penilaian hasil belajar yang dilakukan pada akhir program dengan cakupan materi yang luas yang dilakukan pada setiap akhir semester atau 6 bulan sekali. Untuk memperoleh hasil belajar yang baik dipengaruhi dengan kualitas alat penilaian berupa butir soal evaluasi yang berkualitas baik pula. Butir soal evaluasi yang berkualitas baik artinya harus mempunyai validitas yang tinggi, reliabilitas yang baik, mempunyai tingkat kesukaran dan daya beda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan keshahihan isi atau validitas isi materi butir soal evaluasi sumatif semester 1 kelas IV mata pelajaran PKn SD se-gugus 1 Kecamatan Junrejo Kota Batu tahun pelajaran 2012/2013 dengan kurikulum. Untuk mencari tingkat kesukaran dan mencari daya beda butir soal evaluasi sumatif semester 1 kelas IV mata pelajaran PKn SD se-gugus 1 Kecamatan Junrejo Kota Batu. Untuk mencari reliabilitas atau tidak butir soal evaluasi sumatif semester 1 kelas IV mata pelajaran PKn SD se-gugus 1 Kecamatan Junrejo Kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini berupa lembar jawaban evaluasi sumatif semester 1 kelas IV mata pelajaran PKn SD se-gugus 1 Kecamatan Junrejo Kota Batu tahun pelajaran 2012/2013. Teknik pengumpulan datanya berupa wawancara dan dokumentasi. Populasi penelitian ini sebanyak 318 lembar jawaban dengan sampel 25% dari populasi, sehingga menjadi 55 lembar jawaban. Analisis data menggunakan statistik dengan bantuan program microsoft office excel 2007. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini bervariasi. Hasil analisis keshahihan isi atau validitas isi secara keseluruhan sesuai dengan kurikulum dengan pencapaian 94%. Kualitas tingkat kesukaran butir soal sebagian besar berkategori sedang dengan prosentase 66%. Hasil dari analisis kualitas daya beda soal menunjukkan sangat baik, karena butir soal dengan kategori sangat baik mencapai 50%. Untuk reliabilitas butir soal sudah menunjukkan reliabel dengan ditunjukkan rhitung lebih besar dari pada rtabel, sehingga soal bisa ajeg. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa kualitas butir soal evaluasi sumatif semester 1 kelas IV mata pelajaran PKn SD adalah baik dan layak untuk digunakan. Karena mempunyai keshahihan isi sesuai dengan kurikulum, tingkat kesukaran dan daya beda yang baik, serta soal juga reliabel. Saran dari hasil penelitian, bahwa sebaiknya soal evaluasi yang akan dipakai harus diuji coba terlebih dahulu. Evaluasi sumatif harus berdasarkan kriteria kualitas soal yang baik yaitu memilki validitas, tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitas.

Pengembangan model pembelajaran akuntansi melalui penggunaan snowball asking card untuk siswa kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Siti Ismaiyah

 

Kata-kata Kunci : pengembangan, model pembelajaran, snowball asking card. Model pembelajaran merupakan salah satu dari kompetensi guru profesional dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang dimaksud adalah interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. Model yang dikembangkan saat ini adalah model pembelajaran Snowball Asking Card yang mengacu pada pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran snowball asking card adalah pengembangan dari model pembelajaran Snowball Throwing di sertai penggunaan kartu. Model pembelajaran ini dirasa cocok untuk pembelajaran akuntansi karena menuntut siswa lebih aktif, berani berpendapat, dan dapat lebih paham dalam mempelajari akuntansi Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang, guru masih cenderung menyampaikan pelajaran di dalam kelas dengan menggunakan metode ceramah dan pengerjaan soal dalam modul yang diberikan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan model pembelajaran Snowball Asking Card untuk membuat variasi dalam pembelajaran. Adapun tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah: (1) Menghasilkan model pembelajaran yang dapat mengatasi kelemahan model pembelajaran sebelumnya dan (2) Menghasilkan model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai salah satu cara pembelajaran pada bidang studi akuntansi yang telah melalui proses validasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model Borg and Gall yang telah dimodifikasi menjadi delapan langkah pengembangan yang meliputi: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk, dan (8) produk akhir. Validasi model pembelajaran Snowball Asking Card dilakukan oleh tiga subyek, yaitu dua ahli pembelajaran dan siswa yang mendapat rata-rata skor sebesar 78,95%. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Snowball Asking Card layak digunakan dalam pembelajaran akuntansi. Selain itu, model pembelajaran ini juga diujicobakan pengaruhnya melalui desain penelitian one group pre-post. Analisis yang digunakan adalah uji Paired Sample T-Test melalui SPSS 19 yang menunjukkan bahwa sig. (2-tail) sebesar 0,00 (< 0,05) sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Dengan demikian model pembelajaran Snowball Asking Card terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada guru khususnya, untuk memanfaatkan model pembelajaran Snowball Asking Card dalam proses pembelajaran, serta adanya penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan model pembelajaran Snowball Asking Card di sekolah lainnya yang mempunyai karakteristik siswa dan materi yang sama.

Penerapan model investigasi kelompok untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang / Irfan Efendi

 

Kata kunci: model investigasi kelompok, Aktivitas, hasil belajar. Suatu upaya yang dapat dilakukan oleh guru, guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial yaitu dengan menerapkan model investigasi kelompok. Melalui kegiatan pembelajaran investigasi kelompok siswa dituntut untuk mengivestigasi/menemukan sendiri data, fakta, dan informasi dari berbagai sumber, hal ini bertujuan agar dapat memberikan pengalaman kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi masalah melalui pemberian soal pada siswa kelas V yang dilakukan di SDN Wonokoyo 2 Malang masih banyak siswa yang salah dalam menjawab soal tentang materi Kenampakan Alam di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pemahaman siswa tentang konsep dan jenis kenampakan yang rendah dan penggunaan media pembelajaran yang kurang optimal. Sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang masih kurang dari kriteria ketuntasan minimal individu 65 dan nilai ketuntasan klasikal 80%. Sementara siswa tuntas 4 (33%) siswa dari jumlah 12 siswa dan 8 (67%) siswa belum tuntas dari jumlah 12 siswa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan proses pembelajaran IPS menggunakan model model investigasi kelompok, mendeskripsikan peningkatan aktivitas siwa serta mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang dengan penerapan pembelajaran model investigasi kelompok. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) model Kemmis & Taggart. Tindakan tersebut diberikan oleh guru ataupun dilakukan oleh peserta didik dengan arahan dari guru. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan yang signifikan, baik dari segi aktifitas maupun hasil. Pada siklus I hasil tes individu didapatkan hasil belajar siswa tentang kenampakan alam sudah baik, pada siklus I siswa cukup antusias dalam kelompok investigasi dalam pembelajaran dengan menggunakan model investigasi walaupun masih ada beberapa siswa yang kurang aktif. Sedangkan hasil penelitian pada siklus II menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mempelajari tentang kenampakan alam di Indonesia mengalami peningkatan. Pada siklus II kegiatan pembelajaran juga makin menyenangkan, siswa lebih antusias dengan adanya model investigasi kelompok. Kesimpulan bahwa dengan menerapkan model investigasi kelompok pada pembelajarn IPS maeteri kenampakan alam Indonsia dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa Kelas V SDN Wonokoyo 2 Kota Malang. Disarankan kepada setiap guru hendaknya menerapakan model-model pembelajaran yang baik mata pelajarn IPS mapun mata pelajaran yang lainnya Sehingga pada akhirnya akan menambah referensi bagi guru dalam memfasilitasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Analisis harga luar negeri dan nilai tukar terhadap ekspor kopi Indonesia tahun 1982-2011 / Arizcha Bagus Dhetama

 

Kata Kunci : Harga Luar Negeri, Nilai Tukar, Ekspor Kopi Bagi Negera Indonesia komoditas kopi merupakan salah satu sub sektor pertanian yang mempunyai andil cukup penting penghasil devisa ketiga terbesar setelah kayu dan karet. Perkembangan produksi kopi Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Kopi Indonesia juga memiliki pangsa ekspor tinggi di Eropa, AS, Jepang, Korea, dan Aljazair. Bahkan, Sebuah waralaba penjual kopi terkenal di Amerika Serikat, Starbuck, juga menggunakan kopi yang diimpor dari Indonesia. Perkembangan harga kopi dunia dapat dilihat di tabel.1.2 Harga kopi dunia dan harga kopi Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun 1982 – 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Harga Kopi Luar Negeri Terhadap Ekspor Kopi Indonesia, mengetahui dan menganalisis Pengaruh Nilai Tukar terhadap Ekspor Kopi Indonesia serta mengetahui Pengaruh Harga Kopi Luar Negeri dan Nilai Tukar secara simultan terhadap Ekspor Kopi Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Dengan mendeskripsikan dan menginterpretasikan perkembangan ekspor kopi. Data yang digunakan adalah sekunder yang diperoleh secara langsung dari keterangan pihak-pihak yang berkompeten atau terkait dengan masalah yang ada dalam penelitian ini. yaitu United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), ICO, Statistik Keuangan Indonesia dan Statistik Bank Indonesia. Teknik analisis data menggunakan Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian diketahui bahwa Terdapat pengaruh yang signifikan Harga Kopi Dunia terhadap Ekspor Kopi Indonesia. Tidak Terdapat pengaruh yang signifikan Nilai Tukar US Dolar terhadap Rupiah terhadap ekpsor kopi Indonesia. Harga Kopi Luar Negeri dan Nilai Tukar Dolar US terhadap Rupiah secara simultan berpengaruh terhadap Ekspor Kopi Indonesia Berdasarkan kesimpulan tersebut saran yang dapat diberikan pada pemerintah dan instansi terkait antara lain : mampu menjaga dan mempertahankan pasar yang telah ada dengan cara selalu menjaga hubungan perdagangan dengan berbagai negara pengimpor kopi. Perlu adanya kerjasama antara pemerintah dengan pengusaha atau instansi terkait dalam mempromosikan kopi Indonesia di pasar luar negeri serta perlunya dukungan kebijakan pemerintah yang dapat saling menguntungkan terhadap pihak-pihak yang terkait dalam industri perkopian. Kestabilan perekonomian maupun politik dalam negeri agar tetap dijaga agar memberikan kepercayaan bagi pihak luar negeri untuk tetap bersedia bekerja sama dalam perdagangan, investasi dalam industri kopi maupun tetap mempercayakan impor kopi dari Indonesia

Implementasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran di kelas rendah SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar / Gondo Marsudi Setyoaji

 

Kata kunci : Pendidikan Karakter, Kelas Rendah, Karakter Siswa. Kabupaten Blitar membutuhkan generasi muda yang mampu bersaing dan memiliki karakter baik. Siswa SD yang memiliki karakter baik dapat menjadi cikal bakal mewujudkan harapan kabupaten Blitar tersebut. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas rendah (kelas 1 sampai dengan kelas 3) SDN Selopuro 05, peneliti menemukan perilaku siswa menujukkan karakter baik. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti memfokuskan penelitian pada:1. Deskripsi pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas rendah SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar ; 2. Deskripsi karakter siswa kelas rendah yang tampak di SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di SDN Selopuro 05, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar. Sumber data penelitian ini adalah manusia, peristiwa, dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Prosedur analisis data terdiri dari reduksi data, kategorisasi, sintesisasi. Temuan penelitian menunjukkan pendidikan karakter yang dilaksanakan guru kelas rendah pada proses pembelajaran meliputi, kegitan rutin, persiapan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Kegiatan rutin dilaksanakan guru dengan baik. Persiapan pembelajaran dilakukan guru kelas rendah meliputi pembuatan RPP dan desain kelas. RPP guru kelas rendah sudah dapat dikategorikan RPP berkarakter,tetapi membutuhkan penyempurnaan agar sesuai dengan format RPP karakter. Pajangan memotivasi siswa melaksanakan tanya jawab. Proses penataan bangku dilakukan dengan mengaktifkan siswa, tetapi tatanan bangku belum menunjang pendidikan karakter. Sumber belajar guru bervariasi, efektif dan mengacu pada lingkungan sekitar siswa. Kegiatan pembelajaran guru meliputi penerapan metode, dan model pembelajaran. metode, dan model pembelajaran guru sudah menunjukkan adanya pendidikan karakter. Berdasarkan penelitian di atas, saran yang diajukan sebagai berikut: 1. Guru kelas rendah SDN Selopuro 05 perlu membuat RPP yang lebih baik lagi dan lebih mengacu pada pendidikan karakter; 2. Guru kelas rendah SDN Selopuro 05 lebih memperhatikan tata bangku siswa yang lebih evektif, guna meningkatkan karakter bekerjasama siswa dalam pembelajaran.

Model pembelajaran membaca dan menulis lintas kurikulum / Ika Dyah Ayu Septiani

 

Kata Kunci: membaca-menulis, model pembelajaran membaca-menulis lintas kurikulum (MMLK), lintas kurikulum Membaca-menulis merupakan aktivitas yang saling berhubungan untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi melalui proses belajar aktif yang bermakna. Secara bersamaan tiga kegiatan tersebut akan melatih siswa untuk mencari, menemukan, mengolah, memanfaatkan informasi data, pengetahuan dan ilmu. Membaca-menulis sangat berperan penting dalam berbagai segi kehidupan baik di sekolah, lingkungan, dan karir. Penerapan pembelajaran membaca-menulis di sekolah perlu diintegrasikan oleh semua guru mata pelajaran, bukan hanya guru pengampu mata pelajaran bahasa. Model pembelajaran membaca-menulis lintas kurikulum akan memudahkan para guru untuk menerapkan pembelajaran membaca-menulis dalam setiap proses pengajaran. Membaca-menulis lintas kurikulum merupakan suatu keadaan pembelajaran bahasa yang dipadukan dengan pembelajaran bidang studi non-bahasa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kajian pustaka. Secara umum rancangan penelitian ini meliputi tiga hal: 1) teknik analisis yang digunakan yaitu teknik pengumpulan data, dari berbagai sumber meliputi jurnal ilmiah, artikel, dan buku-buku mengenai model-model pembelajaran membaca-menulis lintas kurikulum, 2) analisis data dari berbagai sumber untuk menunjukkan konteks, prinsip, karakteristik, dan manfaat setiap model pembelajaran membaca–menulis lintas kurikulum untuk mata pelajaran Sains, Matematika, Ilmu Sosial, dan Bahasa., dan 3) penyimpulan pada masing-masing rumusan masalah. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan lima konteks pentingnya pembelajaran membaca-menulis lintas kurikulum. Pertama, membaca-menulis berperan penting dalam semua segi kehidupan baik pendidikan maupun hubungan sosial masyarakat. Membaca-menulis lintas kurikulum berperan untuk membantu siswa menguasai substansi berbagai materi mata pelajaran. Kedua, keterampilan membaca-menulis sangat berpengaruh bagi semua orang karena meliputi kemampuan untuk memahami, berpikir, menerapkan, dan berkomunikasi secara efektif untuk mencapai tujuan pribadi dan karir. Ketiga, kemampuan siswa dalam membaca-menulis merupakan kunci keberhasilan dari semua kegiatan pembelajaran. Keempat, membaca-menulis merupakan pusat dari pelajaran, sebelum pelajaran yang lain seperti Sejarah, Bahasa, Matematika, Ilmu Sosial, Pemerintah, Psikologi, dan Biologi. Kelima, membaca-menulis lintas kurikulum merupakan pengajaran membaca dan menulis dalam berbagai teks (seperti: Bahasa, Sains, Sosial, dan Matematika). Berdasarkan hasil analisis, ditemukan empat model pembelajaran membaca-menulis lintas kurikulum: (1) model PWIM (Picture-Word Inductive Model), (2) model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), (3) model pembelajaran Penemuan Konsep (Concept Attainment Model), dan (4) model pembelajaran Sinektik (Synectic). Model-model tersebut dapat dan telah banyak digunakan baik di dalam maupun di luar negeri. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan prinsip-prinsip setiap model pembelajaran, ciri, dan manfaat masing-masing model pembelajaran tersebut untuk berbagai bidang mata pelajaran. Dengan adanya temuan mengenai prinsip, ciri, dan manfaat setiap model ini diharapkan dapat menjadi referensi yang tepat bagi semua guru mata pelajaran untuk menerapkan pembelajaran membaca-menulis dalam setiap proses pembelajaran.

Penerapan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual (SAVI) melalui pembelajaran kooperatif model Grouyp nvestigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di kelas X AK SMK PGRI 2 Malang / Erma Sulistia Ningsih

 

Kata Kunci: Pendekatan SAVI, Group Investigation, dan hasil belajar Guru memiliki peran sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran. Hal ini menuntut guru untuk melakukan perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi kegiatan Lesson Study dan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Akuntansi di kelas X Ak SMK PGRI 2 Malang, diperoleh fakta bahwa saat proses kegiatan belajar mengajar sebagian besar siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Sebagian besar siswa hanya mendengarkan dan kurang berani untuk bertanya atau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, sehingga siswa kurang berpikir kritis dalam memahami konsep-konsep akuntansi dan cenderung ragu dalam menjawab pertanyaan guru, dan guru juga kurang memperhatikan gaya belajar masing-masing siswa yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Atas dasar tersebut peneliti mencoba menerapkan pendekatan SAVI melalui pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) untuk memberikan kesempatan siswa aktif dalam pembelajaran sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan SAVI melalui pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) di kelas X Ak SMK PGRI 2 Malang pada mata pelajaran akuntansi, dan; (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Ak SMK PGRI 2 Malang setelah diterapkan pendekatan SAVI melalui pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas, dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X Ak SMK PGRI 2 Malang. Tahap dalam penelitian ini (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan dan (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi, (3) pedoman wawancara, (4) lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar terbukti pada pre test persentase ketuntasan kelas mencapai 11,36% meningkat pada post test siklus I persentase ketuntasan kelas menjadi 47,73% dan persentase meningkat 88,84% pada siklus II. Disarankan: (1) Bagi guru yang ingin menerapkan pembelajaran dengan pendekatan SAVI, hendaknya agar lebih memperhatikan aktivitas siswa dan gaya belajar siswa yang paling dominan digunakan dalam belajar, (2) Tidak semua materi dapat diterapkan dengan menggunakan pembelajaran dengan pendekatan SAVI SAVI melalui model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI), sehingga guru harus jeli dalam memilih materi yang sesuai dengan model pembelajaran ini, (3) untuk mengoptimalkan tiap aspek pada pendekatan SAVI guru hendaknya merancang pembelajaran yang menuntut siswa berpikir kritis, lebih aktif dan menarik.

A review of an English E-book entitled English in focus for grade IX Junior Hiogh School / Yuliana Elly Rahayu

 

Kata Kunci: analisis isi, buku teks elektronik bahasa Inggris, kriteria buku teks yang baik Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa buku teks elektronik yang berjudul English in Focus for Grade IX Junior High School yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional dalam hal keterampilan bahasa, komponen bahasa, isi buku teks, kegiatan pembelajaran dalam buku teks,dan konsiderasi praktis berdasarkan pada kriteria yang diambil dari BSNP (2006), Garinger (2002), dan Litz (2001). Penelitian ini menggunakan metode descriptive evaluative yang berfokus pada desain content analysis. Peneliti menggunakan checklist sebagai instrumen utama untuk mengumpulkan dan menganalisa data. Setelah menganalisa data yang berdasarkan pada modifikasi kriteria dari BSNP dan dua ahli, peneliti dapat menjelaskan kriteria yang mana yang telah dipenuhi oleh buku teks. Kemudian, data diinterpretasikan menggunakan evaluasi skala rating dan angka. Buku teks ini dikategorikan sebagai buku yang baik dengan skor sebesar 74.21. Skor tersebut mengindikasikan bahwa buku teks ini dapat digunakan sebagai materi belajar dan pembelajaran untuk siswa kelas IX SMP. Buku teks ini memperoleh skor sebesar 90 dalam hal tujuan pemebelajaran yang ada dalam buku teks. Buku teks ini memperoleh skor sebesar 76.6 dalam hal keterampilan bahasa. Buku teks ini memperoleh skor sebesar 80 dalam hal komponen bahasa. Buku teks ini memperoleh skor sebesar 72.5 dalam hal isi buku teks. Buku teks ini memperoleh skor sebesar 70 dalam hal kegiatan pembelajaran dalam buku teks. Dan aspek terakhir, yaitu konsiderasi praktis, buku teks ini memperoleh skor sebesar 65. Rata-rata skor didapatkan dengan membagi skor yang didapat oleh buku teks dengan keseluruhan skor dari kriteria. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bahwa guru Bahasa Inggris harus selektif dan kreatif dalam menggunakan buku teks ini dengan menambah atau menghilangkan beberapa materi. Selanjutnya, penulis buku mungkin dapat meningkatkan beberapa bagian di dalam buku teks ini dalam hal keterampilan bahasa yang terintegrasi, materi pembelajaran yang cyclical, ilustrasi dan gambar, dan kelengkapan buku teks. Bagi peneliti lain yang mungkin melakukan penelitian pada topik yang sama, disarankan bahwa mereka harus lebih hati-hati dan selektif dalam membuat atau mengadaptasi kriteria untuk analisis buku teks. Kriteria harus sesuai dengan apa yang akan mereka analisa agar mendapatkan hasil analisis yang akurat.

Pengembangan media game berbasis android untuk pembelajaran kosakata pada keterampilan menulis bahasa Jerman SMA Negeri 1 Kepanjen / Susmanita Ayudia Puspita

 

Kata Kunci: pengembangan, media, kosakata, bahasa Jerman Game adalah salah satu media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mempelajari, menguasai sebuah materi, dan memotivasi siswa untuk belajar. Berdasarkan observasi yang dilakukan sebelum pengembangan, diketahui bahwa proses belajar mengajar di SMA Negeri Kepanjen masih konvensional dan berpusat kepada guru. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi salah satu penyebab permasalahan terbatasnya penguasaan kosakata pada pembelajaran menulis di sekolah tersebut. Pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran dalam bentuk game berbasis android “Word Search für mich”. Dengan adanya produk ini diharapkan dapat membantu pembelajaran kosakata untuk keterampilan menulis bahasa Jerman pada tema Alltagsleben di kelas XI SMA Negeri 1 Kepanjen. Pengembangan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan model pengembangan hasil adaptasi dari model desain pembelajaran Sugiyono. Prosedur dilakukan melalui tujuh langkah, yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, dan revisi produk. Sumber data yang digunakan adalah hasil angket dari ahli media, ahli materi, guru, dan siswa kelas XI IPA 4 yang berjumlah 32 siswa. Hasil angket validasi dan angket uji coba disajikan dalam prosentase. Menurut ahli media, media game berbasis android “Word Search für mich” sudah valid dengan prosentasi 80,56%, sementara itu ahli materi berpendapat bahwa media valid dengan prosentase sebesar 92,50%. Guru mata pelajaran menyatakan bahwa media cukup valid dengan prosentase sebesar 75%. Siswa berpendapat bahwa media valid dengan prosentase 86,88%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Jerman dengan revisi.

Pengaruh ukuran perusahaan struktur modal, leverage, likuiditas, perputaran piutang dan perputaran total aset terhadap rentabilitas BUMN di Indonesia periode 2007-2009 / Sri Umi

 

Kata Kunci: Rentabilitas, Struktur Modal, Modal Kerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan kesejahteran masyarakat Indonesia. Mengingat pentingnya amanah yang diemban, serta keberadaannya yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia, maka BUMN harus dikelola dengan baik. Kegiatan operasional BUMN harus efektif dan efisien. Salah satu indikator efisiensi Perusahaan adalah rentabilitas, yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Terdapat beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap rentabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan, struktur modal, leverage, likuiditas, perputaran piutang, dan perputaran total aset terhadap rentabilitas BUMN di Indonesia periode 2007-2009. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan BUMN tahun 2007-2009, dengan total populasi sebanyak 137 BUMN. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 67 BUMN. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari Laporan Kinerja BUMN Tahun 2007-2009. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan Uji t untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial, dan Uji F untuk mengetahui pengaruh secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; ukuran perusahaan (Size) dan struktur modal (LDER) berpengaruh positif signifikan terhadap rentabilitas (ROE), sedangkan leverage, likuiditas, perputaran piutang, dan perputaran total aset tidak berpengaruh signifikan terhadap retabilitas (ROE) BUMN di Indonesia periode 2007-2009. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah; (1) ) periode pengamatan sebaiknya diperpanjang dan menggunakan tahun-tahun dengan kondisi ekonomi normal; (2) sebaiknya mengkaji faktor-faktor lain, misalnya penerapan Corporate Social Responsibility (CSR), penerapan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang konvergensi dengan International Financial Reporting Standard (IFRS), privatisasi BUMN, dan penerapan Good Corporate Governance (GCG); (3) penelitian juga dapat dikembangkan dengan mengkaji perbandingan pengaruh pada kondisi ekonomi normal dengan kondisi ekonomi krisis, atau sebelum dan sesudah dilakukan privatisasi BUMN, (4) sebaiknya menggunakan sampel dengan suatu jenis atau klasifikasi BUMN tertentu. Misalnya, BUMN dengan jenis usaha jasa perbankan atau non perbankan, BUMN dengan ukuran perusahaan kecil, menengah, atau besar, dan dapat juga menggunakan klasifikasi sampel BUMN yang listing di Bursa Efek Indonesia.

Pengaruh motivasi terhadap minat mahasiswa akuntasi dalam bekerja di Kantor Akuntan Publik (Studi pada mahasiswa Jurusan S1 Akuntasi Universitas Negeri Malang) / Wendha Prasetyo

 

Prasetyo, Wendha. 2012. Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Dalam Bekerja di Kantor Akuntan Publik (Studi Pada Mahasiswa Jurusan S1 Akuntansi Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1.) Dr. Eka Ananta Sidharta, S. E., M. M. Ak., 2.) Sawitri Dwi Prastiti, S. E., M. Si. Ak. Kata Kunci: Motivasi, Minat, Karir (bekerja), Kantor Akuntan Publik (KAP) Motivasi dan minat merupakan hal mendasar untuk mahasiswa yang nantinya akan mereka pergunakan dalam meniti karir atau bekerja. Motivasi mereka akan mempengaruhi minat mereka dalam mencari pekerjaan, misalnya yang sesuai dengan latar belakang pendidikan, dalam hal ini yakni akuntansi. Salah satunya adalah menjadi akuntan atau auditor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi baik secara simultan maupun secara parsial terhadap minat mahasiswaakuntansi dalam bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP). Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap minat mahasiswa akuntansi dalam bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sampel penelitian berdasar rumus Slovin sebesar 70 responden dengan kriteria mahasiswa S1 Akuntansi ≥ semester 7 karena sedang menempuh atau bahkan sudah menempuh mata kuliah pokok akuntansi terutama Auditing, Sistem Informasi Akuntansi, Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen, Perpajakan, dan Manajemen Keuangan. Data yang dikumpulkan berupa data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuisioner atau angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan motivasi (motivasi karir, motivasi kualitas, motivasi ekonomi, dan motivasi prestasi) terhadap mahasiswa akuntansi dalam bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP). Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis signifikansi F sebesar 0,000 < 0,05. Sedangkan secara parsial, motivasi karir, motivasi kualitas, motivasi ekonomi, dan motivasi prestasi berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi dalam bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP). Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil signifikansi t untuk masing-masing sub-variabel sebesar 0,033 untuk motivasi karir, 0,046 untuk motivasi kualitas, 0,037 untuk motivasi ekonomi, dan 0,046 untuk motivasi prestasi. Hasil tersebut lebih kecil dari nilai α = 0,05. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah motivasi berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi dalam bekerja di Kantor Akuntan Publik. Motivasi ini mempengaruhi minat mahasiswa baik secara simultan maupun secara parsial.

A content evaluation on printed materials "UM Lab Junior High School Module VII" / Ayu Srikhandi Pramudya Septia Adistie

 

Kata Kunci: buku pelajaran bahasa Inggris, SMP, analisa buku Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis seberapa banyak buku bahasa Inggris berjudul UM LAB Junior High School English Module VII yang digunakan dan diterbitkan oleh SMP LAB UM memenuhi persyaratan dari standar isi BSNP dan kriteria buku bahasa Inggris yang baik. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis buku dari segi (1) standar kompetensi dan kompetensi dasar (2) tata letak, (3) isi kebahasaan, (4) kemampuan bahasa, (5) topik, (6) kepraktisan buku Penelitian ini terfokus pada desain analisa buku dengan tujuan menganalisa buku pelajaran Bahasa Inggris yang sedang digunakan SMP LAB UM kelas VII. Sumber data buku Bahasa Inggris adalah UM LAB Junior High School Module VII. Instrumen yang digunkan dalam penelitian ini adalah checklist dan wawancara. Hasil penelitian ini menemukan bahwa buku tersebut dikategorikan sesuai dengan standar is BSNP dengan prosentase 62.5%. Selanjutnya, dari criteria buku buku bahasa Ingris yang baik, pertama, dari segi tata letak, buku ini dikategorikan sesuai. Kedua, dari segi isi kebahasaan, kemampuan bahasa, dan kepraktian buku, buku tersebut dikategorikan cukup sesuai. Terakhir, dari segi topic, buku tersebut dikategorikan hampir sesuai. Oleh karena itu, secara umum, buku bahasa Inggris UM LAB Junior High School English Module VII dikatakan cukup sesuai untuk digunakan dalam proses belajar dan pembelajaran karena rata-ratanya telah memenuhi 66% kesesuaian dengan criteria buku EFL yang baik. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyarankan pada penulis buku untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu, listening skill, speaking skill, grammar, dan materi untuk pronunciation. Penerbit juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas penampilan buku karena buku tersebebut tidak berwarna. Para guru, khususnya guru pengajar kelas VII juga disarankan untuk menemukan dan menyiapkan materi belajar sebagai bahan ajar tambahan untuk melanjutkan proses belajar dan mengajar. Untuk peneliti yang akan datang, dengan topik yang sama, penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dan disarankan untuk membuat pertimbangan yang seksama dalam memilih kriteria untuk mengevaluasi buku bahasa Inggris untuk dapat menemukan hasil yang lebih baik.

Developing supplementary writing materials by using moodle in teaching descriptive text for seventh graders of Junior High School / Sonya Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Sonya. 2013. Pengembangan Tambahan Bahan Ajar Menulis Menggunakan Moodle untuk Pengajaran Teks Deskriptif untuk Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Kelas Tujuh. Skripsi, Jurusan Sastra, Universitas Negeri Malang. Advisor: Dr. Enny Irawati, M. Pd. Kata Kunci: Materi tambahan menulis, MOODLE, teks deskriptif     Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan tambahan bahan ajar menulis dengan menggunakan MOODLE (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Produk pengembangan berupa web yang digunakan untuk pengajaran menulis teks deskriptif untuk peserta didik sekolah menengah pertama kelas tujuh. Bahan ajar yang dihasilkan merupakan hasil dari analisis kebutuhan yang telah dilaksanakan di sekolah. Berdasarkan hasil dari analisis kebutuhan, para peserta didik lebih tertarik untuk memanfaatkan media internet. Terlebih lagi, kegiatan menulis juga dilaksanakan secara monoton. Maka dari itu, dibutuhkan adanya pengembangan bahan ajar dan kegiatan tambahan dalam pengajaran menulis teks deskriptif.     Dalam penelitian ini, peneliti mengadaptasi model pengembangan dari Borg dan Gall (1983). Prosedur pengembangan Borg dan Gall adalah sebagai berikut (1) analisis kebutuhan (2) pengembangan bahan ajar menulis (3) validasi ahli (4) revisi I (5) uji coba (6) revisi II and (7) produk jadi. Produk jadi dari penelitian ini mencakup tiga topic yakni things around us, family life, and professions.     Setelah memperoleh informasi dari tahap analisis kebutuhan, peneliti melanjutkan pada tahap validasi ahli. Berdasarkan hasil validasi ahli, hasil produk penelitian memperoleh 87 poin yang telah menunjukkan valid. Akan tetapi, peneliti merevisi beberapa bagian berdasarkan saran dan komentar dari ahli. Setelah menyelesaikan tahap revisi, peneliti selanjutnya menguji joba produk di SMPN 3 Malang.     Berdasarkan dari hasil uji coba, produk penelitian sudah sesuai dan dapat diterapkan untuk peserta didik sekolah menengah pertama kelas tujuh. Akan tetapi, seperti produk pada umumnya, produk dari penelitian ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan produk ini adalah peserta didik tidak membutuhkan paper and pen untuk mengerjakan kegiatan, peserta didik dapat mengakses web dalam area yang luas. Produk penelitian ini juga memungkinkan untuk menekan angka kecurangan peserta didik dalam mengerjakan soal. Selain itu, guru juga dapat mengetahui keaktifan siswa melalui web dan dapat menggunakan web tersebut untuk tambahan bahan ajar menulis. Sedangkan kelemahan produk yakni berhubungan dengan teknologi seperti masalah loading lama komputer/laptop, masalah kelistrikan, atau masalah wireless connections.     Maka dari itu, peneliti-peneliti yang akan datang dapat mengembangkan web yang lebih baik dan produk dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk para guru dan peserta didik.

Parts of speech in advertisement slogans and readers' attitudes / Almas Adibah

 

Adibah, Almas. 2013. Parts of Speech in Advertisement Slogans and Readers’ Attitudes. Skripsi, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Evynurul Laily Zen, M.A. Kata kunci: parts of speech, slogans, readers’ attitudes Slogan merupakan satu dari sekian banyak elemen yang menyusun iklan. Secara umum, slogan merupakan kumpulan beberapa kata atau frase yang digunakan untuk menarik perhatian pembaca sehingga slogan sekaligus iklan yang dipublikasikan melekat dalam benak pembaca. Kata-kata kreatif yang dipilih untuk membentuk slogan memiliki sifat dan memberikan efek yang berbeda-beda kepada pembaca karena kata-kata tersebut termasuk dalam kelas kata (parts of speech) yang berbeda yang tentu saja mengusung sifat dan fungsi yang tidak sama antara satu dan lainnya. Penelitian ini membahas tentang parts of speech yang digunakan oleh advertisers di 18 slogan yang berbeda dari majalah internasional Harper’s Bazaar Indonesia edisi Desember 2012 – Januari 2013 serta sikap pembaca terhadap parts of speech tersebut. Penelitian ini menerapkan model penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan diambil dari 18 slogan yang terdapat di Harper’s Bazaar Indonesia edisi Desember 2012 – Januari 2013 dan juga responden, yaitu mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang angkatan 2009 dan 2010 yang diarahkan untuk melakukan pengisian kuesioner guna mengetahui sikap atau preferensi mereka terhadap parts of speech yang digunakan oleh pembuat iklan serta faktor-faktor yang memengaruhi sikap mereka. Pengidentifikasian parts of speech dilakukan berdasarkan teori dari Aarts dan Aarts (1982), sedangkan analisa sikap pembaca didasarkan pada teori Sternberg dan Sternberg (2009) dan Wang dan Ruhe (2007). Hasil penelitian menunjukkan dari 11 parts of speech berdasarkan teori Aarts dan Aarts (1982), 8 diantaranya digunakan dalam 18 slogan tersebut. Parts of speech tersebut jika diurutkan dari prosentase penggunaan tertinggi hingga terendah adalah nouns (37,5%), adjectives (16,7%), verbs (12,5%), prepositions (11,1%), pronouns (6,94%), articles (6,94%), adverbs (5,55%), conjunctions (2,77%), serta interjections, numerals dan quantifiers yang tidak digunakan sama sekali (0%). Pembaca yang berperan sebagai responden memberikan sikap positif dan preferensinya kepada 5 parts of speech, yaitu nouns, adjectives, verbs, adverbs, dan pronouns dengan prosentase pemilih yang berbeda-beda di tiap slogan. Secara teori, pembaca harus melewati setidaknya 2 tahap untuk dapat menentukan sikap atau pereferensi mereka, yaitu dengan reading untuk menganalisis pilihan yang ada serta decision making sebagai tahap terpenting. Dalam menentukan preferensinya, mayoritas pembaca menggunakan strategi pengambilan keputusan yang tercakup dalam kategori intuitive, rational-static, dan empirical. Pembahasan hasil penelitian menyajikan elaborasi antara hasil penelitian dan teori-teori yang mendasari analisisnya, sehingga deskripsi hasil menjadi lebih lengkap dan jelas. Berdasarkan hasil yang penelitian saat ini, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan teori yang lebih anyar dalam pengidentifikasian parts of speech dengan catatan teori tersebut sama atau lebih detail dari teori yang digunakan dalam penelitian ini. Disamping itu, peneliti selanjutnya yang menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian disarankan untuk menyusun instruksi sejelas mungkin guna meminimalisir kesalahpahaman responden dalam pengisian kuesioner. Peneliti selanjutnya juga disarankan untuk mencoba instrumen lain ketika melibatkan responden, misalnya interview yang dapat menghasilkan data yang lebih akurat karena ruang interaksi antara peneliti dan responden lebih luas jika dibandingkan dengan kuesioner walaupun interview akan memakan lebih banyak waktu.

Twisting linguistic ambiguity in written verbal humor: collegehumor.com / Ines Faradina

 

Kata kunci: humor, written verbal humor in collegehumor.com, twisting linguistic ambiguity. Menurut Bill Cosby, humor merupakansesuatu yang bisamengubahkesakitanmenjaditawa, serta humor adalahhal yang dapatditemuidimanasaja. Dari perkataantersebutsudahjelasbahwamanusiatidakakanbisalepasdari humor dantawa. Masyarakatjugaberpendapatbahwa humor layaknyasebuahtempat yang bisadikunjungikapanpunkitamerasalelahatausedih.Kita jugasependapatbahwatawadapatmembuatsejenakmelupakanmasalahkita.Setiap orang pastinyamenciptakan humor dalamkehidupansehari-harinya; humor jugabisamunculpadasaat orang-orang bercengkramakarena humor merupakansuatubentukkreativitas yang sebenarnyatidakmuncultiba-tiba.Humor bisadalambentuklisanatautulis, humor jugabisadikategorikandalam verbal dan non-verbal. Salah satucarauntukmenciptakan humor adalahdenganmelakukantwisting linguistic ambiguity atauplesetan. Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasitipeplesetan yang digunakan, menghitungfrekuensidaritiaptipe, danmenganalisiskemungkinanalasan yang menyebabkanperbedaanangkapadafrekuensitersebut. Data dikumpulkandengancaramengambilartikel yang adapadacollegehumor.com. DatadiambildaribagianHumor Us edisibulanJuli 2012 sampaimaret 2013. Data yang dianalisisdalambentukkalimat yang mengandungplesetandidalamnya.Setelah dilakukan analisis data, hasilnyamenunjukkanbahwa, padakolomHumor Us penulisseringmenggunakanplesetanpada level leksikal (43%). Kemudiantempatkeduadiisiolehplesetanpada level morfologi (21, 1%), diikutiolehplesetanpada level pragmatic (16%), posisikeempatadalahplesetanpada level fonologi (11, 99%), dandiikutiolehpenemuan lain yaitu 5, 3%, dan yang terakhiradalahplesetanpada level sintaksis (2, 6%). Dari hasil tersebut, disarankan untuk para dosen dan mahasiswa linguistik bahwa mereka harus juga teliti pada fenomena ini karena ini merupakan juga bagian dari bidang linguistik. Humor juga bisa menjadi media sosialisasi bagi masyarakat, dan penggunaan ‘plesetan’ bisa menjadi salah satu cara untuk menciptakan humor. Sementara untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat menggali lebih jauh obyek penelitian lainnya seperti video, dan atau yang lainnya.

The portrait of masculinity in Roald Dahl's the BFG / Hening Ciptaningrum

 

Kata kunci: The BFG, The BFG, maskulinitas, laki-laki, peran gender, stereotip gender The BFG sebagai sebuah sastra anak-anak diperuntukkan untuk para pembaca terutama anak-anak sebagai media hiburan dan pembelajaran. Buku ini menyediakan sebuah dunia khayalan dan secara bersamaan memberi kita sebuah pandangan tentang lingkungan sekitar kita. Dari sekian banyak tema dalam sastra anak-anak, gender telah menjadi topik yang banyak dibicarakan di berbagai bidang studi. Sayangnya, orang cenderung menerima gender begitu saja padahal peran gender dan stereotip telah menyempitkan pandangan kita tentang gender. Sebenarnya studi tentang pria dan maskulinitas tidak mendapatkan banyak perhatian sebagaimana wanita dan feminisme. Biasanya, pria diposisikan dalam sistem patriarki di mana mereka memegang kekuasaan dan dominasi atas wanita. Hal ini semakin diperburuk oleh fakta bahwa sebagian besar sastra anak-anak didominasi oleh karakter laki-laki (anak laki-laki dan pria dewasa). Kaum feminis juga berpendapat bahwa selama ini wanita telah ditindas oleh kaum pria. Akibatnya, tanpa sadar kita berpikir bahwa tidak ada gunanya untuk mempertanyakan pria dan maskulinitas karena keberadaan mereka sudah diterima apa adanya. Dalam novel ini, karakter perempuan digambarkan sebagai orang yang cerdas dan juga memegang otoritas tertinggi dalam masyarakat. Di sini posisi laki-laki dipertanyakan tentang bagaimana mereka bereaksi dalam posisi yang berlawanan, bersama dengan peran gender dan stereotip maskulinitas yang diarahkan kepada mereka dalam cerita. Untuk mengetahui bagaimana maskulinitas digambarkan, teori maskulinitas Connell (2005) akan menjadi dasar untuk melihat maskulinitas dari sisi yang berbeda. Melalui peran karakter, tindakan, dan institusi, potret maskulinitas akan diungkap. Isu mengenai dominasi dan kekerasan memberikan dua efek kepada potret maskulinitas. Pertama, karakter laki-laki dapat mengontrol kekuasaan dan produksi, juga menyelesaikan sebagian besar aksi. Kedua, karena maskulinitas, laki-laki menjadi korban dan ditempatkan di sisi buruk sebagai penjahat. Karena gender itu relasional, maka potret maskulinitas bergantung pada peran lawan jenis (wanita dan femininitas) dan juga institusi. Penerimaan praktek maskulinitas yang berbeda meskipun melibatkan beberapa konflik terlihat melalui kerjasama antara subjek gender untuk membawa perdamaian dunia. Hasil analisis menunjukkan maskulinitas itu bervariasi, berubah, dan relasional. Namun, maskulinitas masih tetap ditujukan untuk pria dan sebagian besar dilakukan oleh pria. Orang-orang masih percaya bahwa praktek dan performa maskulinitas oleh pria adalah lebih baik dan menjadi standar untuk tipe maskulinitas lain. Bagaimanapun juga semua itu tergantung dari perspektif mana kita melihat sebuah fenomena gender dalam sastra anak-anak: dari pandangan peran seks, sosial, atau yang lain. Hal ini juga berarti bahwa akan menjadi pekerjaan yang sulit untuk memutuskan sebuah konsep tetap tentang maskulinitas.

Pengaruh hasil belajar dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan bisnis dan minat terhadap pemahaman akuntansi mahasiswa dikategorikan berdasarkan gaya belajar (studi pada Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha) / M. Rudi Irwansyah

 

Kata kunci: hasil belajar, dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan bisnis, minat, gaya belajar, pemahaman akuntansi Seseorang yang memiliki pemahaman akuntansi adalah orang yang menguasai akuntansi sebagai informasi bisnis, mampu menginterpretasi serta mampu mengembangkan informasi sehingga dapat dikembangkan. Pemahaman akuntansi yang dimiliki seseorang merupakan hasil dari proses beajar akuntansi. Secara teoritis hasil belajar dipengaruhi oleh pengetahuan awal yaitu dasar-dasar akuntansi dan pengetahuan matematika. Selain itu, hasil belajar juga dipengaruhi oleh keinginan dari dalam diri pebelajar untuk belajar akuntansi yaitu minat yang dimiliki. Perbedaan karakteristik gaya belajar mahasiswa diduga ikut berpengaruh dalam proses belajar yang dilakukan, sehingga pengaruh hasil belajar dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan minat terhadap pemahaman akuntansi akan dibedakan berdasarkan karakteristik gaya belajar. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh hasil belajar dasar-dasar akuntansi terhadap pemahaman akuntansi; 2)mengetahuipengaruhhasil belajar matematika ekonomi dan bisnis terhadap pemahaman akuntansi; 3) mengetahui pengaruh minat terhadap pemahaman akuntansi; dan 4) mengetahui pengaruh hasil belajar dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan bisnis dan minat terhadap pemahaman akuntansi dikategorikan berdasarkan gaya belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha angkatan tahun 2009-2012 dengan jumlah 156 orang. Sampel yang digunakan sebanyak 110 responden yang ditetapkan dengan purposive sampling. Data penelitian ini didapat dari hasil belajar dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan bisnis, akuntansi keuangan menengah I dan tes untuk minat dan gaya belajar. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis regresi dan analisis Chow Test. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis. Analisis data termasuk pengujian asumsi dilakukan dengan menggunakan software SPSS versi 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar dasar-dasar akuntansi berpengaruh positif terhadap pemahaman (2) hasil belajar matematika ekonomi dan bisnis berpengaruh positif terhadap pemahaman akuntansi; (3) minat berpengaruh positif terhadap terhadap pemahaman akuntansi; dan (4) tidak ada perbedaan pengaruh hasil belajar dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan bisnis dan minat terhadap pemahaman akuntansi dikategorikan berdasarkan gaya belajar. Dari penelitian ini dapat diajukan saran sebagai berikut: dalam proses pengelompokan mahasiswa ke dalam Prodi Pendidikan Akuntansi dapat melakukan seleksi dengan menggunakan hasil belajar dasar-dasar akuntansi, matematika ekonomi dan bisnis dan minat. Dan untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan pengembangan dengan menggunakan instrumen untuk mengukur pemahaman akuntansi, sehingga hasil yang diperoleh lebih representatif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu Kalimantan Barat / Andri

 

Kata kunci: faktor-faktor, minat masyarakat, desa Tiong Keranjik, SMP negeri 3 Belimbing Hulu Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal untuk masyarakat. Status sekolah di Indonesia terdiri dari sekolah negeri dan sekolah swasta. Sekolah negeri merupakan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah sedangkan sekolah swasta umumnya diselenggarakan oleh suatu yayasan. Sepanjang tahun di berbagai daerah sekolah negeri merupakan tujuan utama masyarakat dalam memilih sekolah, dengan kata lain sekolah yang berstatus negeri peminatnya tinggi. Tapi, tidak untuk SMP Negeri 3 Belimbing Hulu yang berada di Desa Tiong Keranjik Kecamatan Belimbing Hulu Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat sangat kekurangan siswa dan minat masyarakat Desa Tiong Keranjik sangat rendah terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu. Sekolah tanpa partisipasi dan dukungan dari masayarakat tidak akan berjalan dengan baik. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini digunakan untuk mencari faktor-faktor apa yang mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu. Tujuan Penelitian ini yaitu: (1) untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu, dan (2) untuk mengetahui faktor apa yang paling dominan mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, analisis data menggunakan analisis faktor eksploratori dan analisis deskritif. Analisis faktor eksploratori digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu dan faktor yang paling dominan mempangaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu. Sedangkan, analisis deskritif digunakan untuk mendeskripsikan faktor-faktor sebagai konsep baru yang mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu. Hasil temuan dari 66 item pertanyaan yang telah valid dan reliabel, setelah dilakukan pengumpulan data dan dianalisis dengan analisis faktor ekploratori ditemukan 60 item pertanyaan dengan persentase variance 51,603% yang memenuhi syarat untuk di extrak, selanjutnya dirotasi dengan analisis faktor, hasil extrak dan rotasi faktor diperoleh 5 faktor yang mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu. Kelima faktor tersebut yaitu: (1) faktor keadaan sekolah, terwakili 23 item pertanyaan dengan persentase variancenya 19,109%, (2) Faktor kepala sekolah, terwakili 11 item pertanyaan dengan persentase variancenya 9,648%, (3) Faktor perhatian, terwakili 13 item pertanyaan dengan persentase variancenya 9,172%, (4) Faktor letak sekolah, terwakili 8 item pertanyaan dengan persentase variancenya 7,256%, dan (5) Faktor kedisiplinan, terwakili 5 item pertanyaan dengan persentase variancenya 6,418%. Faktor yang paling dominan mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing Hulu dilihat dari persentase variance yang tertinggi. Faktor yang memiliki persentase variance tertinggi adalah faktor keadaan sekolah yaitu sebesar 19,109 %. Jadi faktor keadaan sekolah adalah faktor yang paling dominan mempengaruhi kurangnya minat masyarakat Desa Tiong Keranjik terhadap SMP Negeri 3 Belimbing hulu. Beberapa saran untuk: 1) SMP Negeri 3 Belimbing Hulu, Bagi kepala sekolah, guru dan staf sekolah SMP Negeri 3 Belimbing Hulu, perlu memperhatikan keadaan sekolah dengan mengelola, merawat, merapikan, mengatur dan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan, memberi perhatian terhadap siswa dan masyarakat, disiplin terhadap tugas dan tanggung jawab, serta melibatkan masyarakat dalam menyusun dan menjalankan program sekolah. 2) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Melawi, Bagi pengawas sekolah diharapkan selalu memberi pembinaan dan perhatian terhadap kepala sekolah, guru dan staf sekolah agar dapat mengelola keadaan sekolah dengan baik dan benar, kepemimpinan kepala sekolah yang lebih baik, selalu disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta megelola letak sekolah menjadi lebih aman dan menarik untuk dilihat dan dikunjungi. 3) Masyarakat Desa Tiong Keranjik, Bagi masyarakat desa Tiong Keranjik terutama komite sekolah, diharapkan selalu aktif dan berpartisipasi dalam megelola keadaan sekolah, mengingatkan kepala sekolah, guru dan staf sekolah apabila tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai prosedur dan peraturan yang ada serta melibatkan diri dalam menyusun dan menjalankan program-program sekolah. Bagi orang tua siswa diharapkan menyekolahkan anak-anaknya di SMP Negeri 3 Belimbing Hulu agar sekolah tetap ada dan dapat menjalankan program sekolah dengan baik dan benar. 4) Peneliti Lain, Bagi penelitian lain, diharapkan penelitian ini dapat digunakan untuk dasar dan refrensi bagi para peneliti lain yang hendak mengetahui faktor-faktor rendahnya minat masyarakat terhadap suatu sekolah. Akan lebih baik apabila ingin mengkaji ulang hasil penelitian ini atau mengembangkan penelitian ini ditempat yang sama atau tempat lain untuk menambah serta memperkaya ilmu pengetahuan terutama untuk bidang pendidikan.

Dinamika kepribadian tokoh utama novel Hubbu karya Mashuri berdasarkan perspektif Jung / Dian Lufia Rahmawati

 

Dian Lufia Rahmawati. 2013. Dinamika Kepribadian Tokoh Utama Novel Hubbu Karya Mashuri Berdasarkan Perspektif Jung. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M. Pd, (2) Dr. Yuni Pratiwi, M. Pd. Kata kunci : kepribadian, dinamika kepribadian, psikologi analitis Jung     Sastra adalah sebuah karya imajinatif yang berkaitan erat dengan seluruh aspek kehidupan dan bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung. Untuk menggali maknanya diperlukan pengkajian mendalam, di antaranya adalah aspek psikologis. Kajian aspek psikologis pada penelitian ini dilakukan dengan memandang karya sastra sebagai entitas otonom, difokuskan pada unsur-unsur kejiwaan sebagai gambaran dari kepribadian tokoh fiksional yang terkandung dalam karya. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologis dengan mengacu pada teori psikologi analitis Jung yang menekankan pentingnya aspek ketidaksadaran, di samping kesadaran, dalam membentuk pribadi yang utuh. Teori ini relevan dengan kondisi kepribadian tokoh utama yang didominasi aspek ketidaksadaran yaitu munculnya ingatan masa lalu, fantasi dan mimpi-mimpi teleologis. Untuk memperdalam analisis digunakan teori-teori penunjang yaitu psikologi eksistensial, psikologi agama, dan psikologi Jawa.     Fokus penelitian ini adalah (1) faktor-faktor internal apa saja yang menjadi pendorong dinamika kepribadian tokoh utama, (2) faktor-faktor eksternal apa saja yang menjadi pendorong dinamika kepribadian tokoh utama, (3) bagaimana progresi kepribadian tokoh utama, dan (4) bagaimana regresi kepribadian tokoh utama.     Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan metode hermeneutika. Analisis data secara keseluruhan memanfaatkan penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, yaitu bertindak sebagai perencana, pelaksana pengumpul data, penganalisis dan penafsir data, sekaligus pelapor hasil penelitian. Sumber datanya adalah novel Hubbu karya Mashuri yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama: Agustus 2007. Data penelitian berupa unit-unit teks yang terdapat di dalam novel tersebut.     Dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa faktor internal yang menjadi pendorong dinamika kepribadian tokoh utama adalah energi psikis (libido) berupa dorongan (drive) dan kemauan (will) yang bersifat dinamis dan bekerja secara simultan menuju keutuhan pribadi. Dorongan meliputi (1) dorongan ingin tahu yang menimbulkan hasrat mencari ilmu dan membentuk kepribadian yang berpengetahuan luas dan rendah hati, (2) dorongan cinta yang menimbulkan hasrat untuk mencintai berupa cinta seks, eros, philia, dan agape dan membentuk kepribadian yang penuh cinta kasih dan kepedulian, dan (3) dorongan keberagamaan yang menimbulkan hasrat untuk mengabdi pada Tuhan dan membentuk kepribadian yang memiliki rasa keberagamaan mendalam, sedangkan kemauan berupa kehendak menjadi diri sendiri yang memunculkan obsesi dan cita-cita dan membentuk kepribadian yang penuh motivasi pada tujuan hidup.     Faktor eksternal yang menjadi pendorong dinamika kepribadian tokoh utama adalah (1) lingkungan sosial di pesantren yang meliputi (a) figur keluarga dan kondisi sosial budaya pesantren, dan (2) lingkungan sosial di luar pesantren yang meliputi budaya Jawa (kejawen) dan budaya modern. Figur keluarga membentuk kepribadian tokoh utama yang cenderung keras pada diri sendiri, menghidupkan sosok kakek dalam diri, dan lebih tenang dalam menghadapi masalah. Kondisi sosial budaya pesantren meliputi (1) sistem pendidikan madrasah yang keras sebagai peletak dasar pendidikan agama, dan (2) tradisi pesantren yang menimbulkan konflik batin karena adanya harapan sebagai penerus dan pandangan anti kejawen yang bertentangan dengan kemauan tokoh utama. Budaya Jawa atau kejawen mengakibatkan kepribadian tokoh utama yang terpengaruh mistisisme Jawa dan terobsesi untuk membangun harmonisasi Islam dan Jawa, sedangkan budaya modern menjadi tantangan untuk mengukur kemampuan diri.     Progresi kepribadian tokoh utama menampilkan dua tipe kepribadian yang dominan pada diri tokoh utama, yaitu perasa ekstraver dan perasa introver. Tipe perasa ekstraver terlihat pada (1) terbuka terhadap ilmu yang dipengaruhi oleh dorongan ingin tahu dan kemauan menjadi diri sendiri dan (2) pergaulan yang luas karena adanya dorongan cinta agape, sedangkan tipe perasa introver terlihat pada (1) sikap membatasi diri dalam berinteraksi sosial di pesantren yang dipengaruhi oleh kemauan menjadi diri sendiri dan (2) sikap selektif terhadap budaya modern yang dipengaruhi dorongan keberagamaan.     Regresi kepribadian tokoh utama tampak dari aktifnya ketidaksadaran personal berupa kompleks yang berisi ingatan masa lalu dan ketidaksadaran kolektif berupa manifestasi dari arketipe dalam bentuk fantasi dan mimpi teleologis. Ingatan masa lalu menimbulkan konflik batin sekaligus berfungsi sebagai sarana introspeksi diri. Fantasi tokoh utama berfungsi sebagai (1) cara melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya, yaitu pelepasan tekanan seksual, dan (2) usaha menjangkau ke depan, yaitu obsesi pada kejawen dan kemauan untuk bebas menjadi diri sendiri. Mimpi teleologis meliputi (1) pesan sandi tentang tanda-tanda datangnya ajal seseorang, dan (2) berisi arketipe wise old man yang menjadi isyarat bagi jalan hidup yang akan ditempuh, pedoman untuk memantapkan langkah menjadi diri sendiri, solusi bagi berbagai masalah yang dihadapi, dan sebagai batu pijakan untuk menemukan kembali jati diri.     Berdasarkan hasil penelitian disarankan antara lain (1) hasil penelitian tentang dinamika kepribadian tokoh fiksional dalam karya sastra dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan untuk membuka wawasan para pelaku pendidikan berbasis karakter dalam rangka memahami kepribadian individu yang khas dan dinamis, dan (2) pengkajian aspek psikologis terhadap karya sastra Indonesia perlu mempertimbangkan referensi teori-teori asli Indonesia atau teori-teori yang relevan dengan tradisi “Timur” sehingga dapat memberi warna khas dalam kancah sastra dunia.

Hubungan antara kohesivitas kelompok dan motivasi kerja karyawan BRI Kantor Cabang Malang Martadinata / Muniroh

 

Muniroh. 2013. Hubungan Antara Kohesivitas Kelompok dan Motivasi Kerja Karyawan BRI Kantor Cabang Malang Martadinata. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed. (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si. Kata Kunci: kohesivitas kelompok, motivasi kerja.     Karyawan dipandang sebagai sumber daya yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian khusus, karena karyawan adalah sebagai salah satu penunjang suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Motivasi kerja adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual. Dalam dunia industri dan organisasi karyawan dituntut untuk dapat bekerja dalam tim, dan untuk kelancaran kerja tim itu sendiri tidak terlepas dari adanya kohesivitas terhadap kelompok. Kohesivitas kelompok adalah tingkat dimana para anggota kelompok saling tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap tinggal di dalam kelompok tersebut.     Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional dengan sampel berjumlah 34 karyawan BRI kantor cabang Malang Martadinata yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala kohesivitas kelompok dan skala motivasi kerja. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis product moment Pearson.     Hasil deskriptif menunjukkan bahwa karyawan BRI kantor cabang Malang Martadinata mempunyai kohesivitas kelompok yang rendah, hal ini dilihat dari hasil analisis deskriptif dengan menggunakan skor-T. Sedangkan untuk motivasi kerja karyawan BRI kantor cabang Malang Martadinata mempunyai motivasi kerja yang rendah, hal ini dilihat dari hasil analisis deskriptif dengan menggunakan skor-T. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kohesivitas kelompok dengan motivasi kerja pada karyawan BRI kantor cabang Malang Martadinata (= 0,775 dan p= 0,000 < 0,05), artinya semakin tinggi kohesivitas kelompok maka semakin tinggi pula motivasi kerja yang dimiliki dan sebaliknya, semakin rendah kohesivitas kelompok maka semakin rendah pula motivasi kerja.     Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada: (1) karyawan: lebih mempererat hubungan antar karyawan, (2) perusahaan: memberikan team building training, menerapkan brainstorming, dan melakukan recruitment karyawan sesuai kemampuan, (3) penelitian selanjutnya: dapat membahas variabel lain yang berhubungan dengan motivasi kerja, selain kohesivitas kelompok.

Ketertarikan interpersonal lawan jenis lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang / Lintang Dwi Maharini

 

Kata kunci : ketertarikan interpersonal, cinta, jenis cinta, lansia, aspek sosioemosional. Lansia lekat sekali dengan banyaknya penurunan fungsi fisik dan sosioemosional serta kehilangan yang mewarnai kehidupannya. Lansia yang telah hidup sendiri di Panti membuat mereka kembali bertemu dengan rekan sebaya yang mampu untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya akan cinta. Mereka yang secara psikologis merasa sepi dengan kesendirian tanpa anak maupun cucu pasti membutuhkan kenyamanan dan perhatian sebagaimana ketika mereka tinggal di rumahnya. Oleh karena itu maka mereka membentuk relasi baru dengan lawan jenis yang tinggal di Panti untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya akan cinta. Fokus penelitian ini adalah bagaimana dinamika ketertarikan interpersonal lansia kepada lawan jenis, mengapa lansia memiliki ketertarikan interpersonal, apa indikator ketertarikan interpersonal lansia, bagaimana jenis cinta lansia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif fenomenologis. Dengan penelitian fenomenologis, maka pengambilan data dilakukan secara mendalam. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Pengecekkan keabsahan data berjenis interpretif yakni dengan menanyakan kembali hasil dari kesimpulan peneliti kepada subjek penelitian. Kegiatan analisis data dimulai dari pengumpulan data, tahap reduksi data dan kategorisasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh temuan penelitian bahwa ketiga pasangan subjek penelitian menunjukkan adanya ketertarikan interpersonal lawan jenis yang memenuhi syarat berdasarkan faktor penyebab ketertarikan interpersonal. Jenis cintanya yakni dua pasangan lansia menunjukkan Companionate Love karena memang tampak komponen keintiman dan komitmen, sedangkan satu pasangan lansia menunjukkan Empty Love karena memang hanya menunjukkan komponen komitmen yang lebih mendominasi daripada keintiman dan gairah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses ketertarikan interpersonal dimulai dari adanya faktor kedekatan fisik, keadaan afeksi, motivasi afiliasi, dan karakteristik yang dapat diamati. Kemudian jika menemukan banyak kesamaan barulah masing-masing pasangan dapat mengekspresikan rasa sukanya. Keberadaan stimulus sama yang berulang dapat menimbulkan afek positif. Dengan afek yang positif dapat menimbulkan ketertarikan interpersonal yang dimulai dari pertemanan, menjadi lebih akrab dan akhirnya timbullah cinta. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk mengambil subjek penelitian yang lebih banyak dan tidak hanya terbatas pada ruang lingkup Panti saja.

Pengembangan panduan pelatihan moral awareness untuk siswa SMP / Farida Herna Astuti

 

Kata kunci: pengembangan, panduanpelatihan, moral awareness. Masaremajaadalahmasa yang pentingdalamperkembangan moral, dimanamerekadihadapkandengankontradiksiantarakonsep moral yang telahmerekaterimadenganapa yang merekaalami di lingkungankeluargadantetangga. Penelitianpengembanganinibertujuanuntukmenyusunpanduanpelatihankesadaran moral bagisiswa SMP sebagaisalahsatu media bimbingandankonseling yang memenuhikriteriaakseptabilitas (kegunaan, kelayakan, ketepatandankepatutan), danmenghasilkanpanduanpelatihanmoral awareness yang efektifmeningkatkanmoral awarenesssiswa SMP.Produkpengembanganinimenggunakankonstrukteorimoral awarenessdariBorba. Model pengembanganmenggunakan model Borg dan Gall yang dimodifikasimenjaditigatahapan, yaituprapengembangan, pengembangandanpascapengembangan. Kegiatanpadatahapprapengembanganadalahmelakukanneed assessmentdanstudiliteratur; kegiatanprapengembanganadalahmenyusundrafpanduan, merumuskantujuanumum, tujuankhusus, mengembangkanalatevaluasisertamenentukanstrategipelatihandanmenghasilkanprototypepanduanpelatihanmoral awarenessberupapanduankonselordanpanduansiswa,padapascapengembanganterdiridariujidua orang ahlibimbingandankonseling, ujidua orang konselordanujikelompokterbataspadadelapansiswa. Hasilpenilaianahlidankonselormenunjukkanbahwapanduanpelatihanmoral awarenessuntuksiswa SMP telahmemenuhikriteriaakseptabilitas.Sedangkanhasilujikelompokterbatasmenunjukkantidakadanyapeningkatankesadaran moral subjeksecarasignifikanpadasebelumdansesudahpelatihan. Produkpanduanpelatihankesadaran moral inimenjadi media bimbinganbagikonseloruntukmembantusiswapadaaspekpribadisosial, khususnyaaspekperilaku moral.BerdasarkanhasilujiLevene test diketahuibahwaperbedaanvarianantardistribusiskorpretestdanposttesttidaksignifikan. Sehinggadapatdisimpulkanbahwa data pretestdanpostestadalahhomegen.Setelah data dipastikanhomogen (lulus ujihomogenitas) maka, dilakukananalisisujibedadengan formula Wilcoxon. Berdasarkanhasilanalisisdiketahuibahwa H0diterimadan H0ditolak, yang berartitidakadaperbedaanskor rata-rata kesadaran moral siswa yang signifikansetelahdiberipelatihankesadaran moral denganstrategivalue clarification technique.Hasilinididukungdenganbesarnyakoefisien Z sebesar -1,153 dengansignifikansisebesar 0,249.

Keefektifan teknik psikodrama untuk meningkatkan rasa percaya diri anak negara di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar / Hevie Dianita

 

Kata Kunci: percaya diri, psikodrama Percaya diri, yaitu suatu sikap positif seseorang terhadap dirinya, memiliki keyakinan-keyakinan dalam diri, mengenali dan memahami setiap kekurangan dan kelebihan serta mampu beradaptasi dengan lingkungan atau situasi yang sedang dihadapi sehingga memberi keyakinan yang kuat atas kemampuan pada diri untuk melakukan tindakan dalam mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Psikodrama digunakan untuk mengeksploitasi diri melalui tindakan nyata dimana kita hidup, baik internal maupun eksternal. Hal ini memungkinkan untuk mengekspresikan perasaan aman yang kuat, perspektif yang lebih luas pada masalah-masalah individu, sosial, dan juga kesempatan untuk mencoba perilaku yang diinginkan. Anak Negara adalah anak yang berdasarkan putusan pengadilan diasuh oleh negara untuk dididik dan di tempatkan di Lapas Anak paling lama sampai berusia 18 tahun yang dikarenakan pada saat sidang pengadilan tidak didampingi oleh anggota keluarga. Penulisan ini bertujuan untuk menguji keefektifan permainan peran teknik psikodrama melalui bimbingan kelompok untuk meningkatkan rasa percaya diri Anak Negara di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan menggunakan pre-post test single design. Kelompok eksperimen adalah Anak Negara yang memiliki rasa percaya diri rendah yang diukur dengan menggunakan inventori rasa percaya diri. Permainan peran psikodrama dilakukan sebanyak delapan kali treatment dengan tema yang berbeda-beda. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Uji Wilcoxon dengan bantuan SPSS for Windows Versi 16.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan peran psikodrama efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri Anak Negara Di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest yang telah diberikan. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran: kepada guru BK di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) bahwa teknik psikodrama perlu digunakan dalam kegiatan bimbingan untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri anak binaan LPA. Bagi peneliti selanjutnya dapat mencoba penggunaan teknik psikodrama dengan menggunakan kelompok kontrol, agar dapat diketahui secara jelas perbedaan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol sehingga keefektifan teknik psikodrama akan lebih tampak.

Keefektifan teknik bercerita untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas Olimpiade Sains Nasional (OSN) di SMA / Diah Rakhmania Putri

 

Putri, Diah Rakhmania. 2013. Keefektifan Teknik Bercerita untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Kelas Olimpiade Sains Nasional (OSN) di SMA. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci : teknik bercerita, keterampilan sosial, OSN      Keterampilan sosial merupakan kemahiran individu berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial dengan cara-cara khusus yang dapat di terima oleh lingkungan dan pada saat bersamaan dapat menguntungkan individu, atau bersifat menguntungkan orang lain. Teknik bercerita merupakan suatu cara yang dilakukan oleh guru/pembimbing untuk menyampaikan pesan atau materi bimbingan yang disesuaikan dengan tujuan bimbingan dan kondisi anak didik. Dengan menggunakan teknik bercerita, keterampilan sosial yang ditingkatkan meliputi keterampilan yang dimiliki individu yang memiliki aspek keterampilan sosial yang meliputi persahabatan dan solidaritas kelompok, kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang lain.      Kelas OSN merupakan kelas yang mengikuti kurikulum sesuai standard SBI dengan penambahan materi-materi olimpiade yang terdiri dari siswa yang memiliki minat khusus di bidang Kimia, Fisika, dan Biologi.      Penulisan ini bertujuan untuk menguji keefekifan teknik bercerita untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas OSN di SMA.      Rancangan penulisan yang digunakan adalah eksperimen semu dengan menggunakan one-group pre-post test design. Kelompok eksperimen adalah siswa kelas OSN di SMA yang memiliki kriteria keterampilan sosial rendah melalui inventori keterampilan sosial. Pemberian cerita dilakukan sebanyak empat kali pertemuan dengan tema yang berbeda-beda. Data penulisan dianalisis dengan teknik analisis Wilcoxon dan Sign.      Hasil penulisan menunjukkan bahwa teknik bercerita efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas OSN di SMA yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre test dan post test yang telah diberikan.      Berdasarkan hasil penulisan diajukan beberapa saran: kepada guru BK sekolah tempat penelitian diharapkan memperhatikan semua aspek siswa, khususnya pada kelas OSN, tidak hanya memperhatikan pada aspek kognitif saja namun guru BK juga diharapakan memperhatikan aspek sosial siswa kelas OSN yakni berketerampilan sosial dalam hal mampu bersahabat dan solidaritas, kemampuan berkomunikasi, kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain, serta mampu mengahargai diri dan oranglain untuk mencapai perkembangan optimal. Teknik bercerita bisa digunakan oleh guru BK sebagai perangkat untuk membantu siswa kelas OSN meningkatkan keterampilan sosial tapi dengan catatan waktu yang digunakan harus diperhatikan karena teknik bercerita membutuhkan waktu yang panjang, jika satu jam pelajaran sekolah 30 menit, maka teknik bercerita membutuhkan waktu selama 60 menit. Teknik bercerita harus di uji ahli kan kepada ahli bahasa agar hasil dari pelaksanaan teknik tersebut mendapatkan kenaikan yang signifikan dan agar teknik bercerita bisa lebih menarik bagi siswa, diharapkan mengemas skenario bercerita tiap pertemuan secara variatif supaya siswa tidak jenuh. Bagi peneliti selanjutnya dapat mencoba penggunaan teknik bercerita ini sebagai perangkat untuk membantu remaja/siswa menyelesaikan kurangnya keterampilan sosial yang rendah, dengan variabel terikat dan subyek dalam skala yang lebih luas untuk lebih mengetahui keefektifan teknik bercerita.

Pengembangan paket pelatihan penegasan konsep diri sosial siswa SMA / Ophirda Anisya Aprilianti

 

Aprilianti, Ophirda Anisya. 2013. Pengembangan Paket Pelatihan Penegasan Konsep Diri Sosial Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Andi Mappiare-AT, M.Pd, (II) Dr. Muslihati, S.Ag, M.Pd. Kata kunci: Paket Pelatihan, Konsep Diri, Diri Sosial.     Penelitian pengembangan ini dilatar belakangi oleh adanya kasus siswa kelas X merasa ia dipandang tidak menarik diajak berteman karena ia diejek teman-temannya sebagai penakut dan tidak jantan setelah ia menolak ajakan merokok dari temannya. Hal ini mengindikasikan adanya konsep diri sosial negatif dengan ia merasa tidak memiliki kemampuan yang sama dengan temannya sehingga dibutuhkan penegasan pada konsep diri sosial yang ia miliki. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan deskripsi keterterimaan isi dan bentuk media yang dianggap layak dari aspek kegunaan, ketepatan, dan kemudahan untuk penegasan konsep diri sosial dari penilaian pemakai.     Penelitian pengembangan ini menggunakan model Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan. Sebagai berikut: 1) tahap pertama perencanaan: melakukan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan konselor; 2) tahap kedua pengembangan produk: merancang media paket pelatihan, menyusun media, dan menyusun instrumen penilaian; 3) tahap ketiga uji coba produk: uji ahli (uji ahli bk dan uji ahli media); revisi produk hasil penilaian uji ahli; uji calon pengguna produk; produk akhir paket pelatihan penegasan konsep diri sosial siswa SMA. Produk yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini adalah 1) panduan paket pelatihan penegasan konsep diri sosial siswa SMA, dan 2) paket pelatihan penegasan konsep diri sosial bagi siswa.     Deskripsi keterterimaan isi paket dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan dengan deskripsi sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, serta sangat menarik diperoleh dari penilaian ahli BK dan satu calon pengguna produk sedangkan yang diterima dengan deskripsi berguna, tepat, mudah, dan menarik diperoleh dari penilaian satu calon pengguna produk. Untuk deskripsi keterterimaan bentuk paket dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan dengan penilaian sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, dan sangat menarik diperoleh dari penilaian ahli media dan satu calon pengguna produk sedangkan yang diterima dengan penilaian berguna, tepat, mudah, dan menarik diperoleh dari penilaian satu calon pengguna produk. Hasil penilaian ini menguatkan bahwa paket pelatihan untuk penegasan konsep diri sosial ini dapat digunakan sebagai salah satu media bimbingan di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini untuk meningkatkan kualitas produk dapat diuji di lapangan dan menguji keefektifan produk ini melalui riset eksperimen. Untuk lebih menyempurnakan produk pengembangan ini maka dikembangkan lebih lanjut hingga tahap ke-10 Borg and Gall (1983).

Keterlaksanaan program pembinaan keluarga sakinah (studi kasus pada program pembinaan keluarga sakibah di wilayah kerja Kantor Kemenag Kota Batu) / Nadiya Kharisma Imani

 

Imani, Nadiya Kharisma. 2013. Keterlaksanaan Program Pembinaan Keluarga Sakinah (Studi Kasus pada Program Pembinaan Keluarga Sakinah di Wilayah Kerja Kantor Kemenag Kota Batu). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. M. Ishaq M.Pd, (2) Drs. H. Lasi Purwito, M.S. Kata Kunci: PLS, keluarga sakinah, pembinaan, pembelajaran orang dewasa     Pendidikan luar sekolah adalah pendidikan di luar sistem persekolahan dengan menyajikan berbagai variasi program di dalamnya, salah satunya adalah pembinaan keluarga sakinah. Keluarga sakinah merupakan keluarga yang masing-masing anggotanya merasa aman dan tenteram. Tujuan program pembinaan kelu-arga sakinah adalah untuk membina keluarga binaan menuju keluarga sakinah ser-ta meminimalisasi angka perceraian terutama di Kota Batu.     Penelitian ini bertujuan menjabarkan dinamika keterlaksanaan program pembinaan keluarga sakinah oleh Kantor Kemenag Kota Batu dan KUA se Kota Batu. Selain itu mendeskripsikan pendekatan pembelajaran keluarga binaan oleh penyuluhh/pembina serta hambatan dalam pelaksannan program pembinaan kelu-arga sakinah.     Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Data pene-litian berupa wawancara, pengamatan, dokumen pelaksanaan program pembinaan keluarga sakinah khususnya di wilayah kerja Kantor Kemenag Kota Batu. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan obser-vasi serta studi dokumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman wawancara berisi garis besar petunjuk pertanyaan dan observasi yang dilakukan oleh penulis. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan dengan memperpanjang keikutsertaan, menjaga ketekunan pengamatan, triangulasi, ana-lisis kasus negatif, penggunaan bahan referensi seperti foto dan video, serta member check.     Dari penelitian mengenai pembinaan keluarga sakinah diperoleh beberapa hasil penelitian. Pertama, dinamika pelaksanaan pembinaan keluarga sakinah meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu: (1) kegiatan perencanaan, (2) kegiatan pelak-sanaan, serta (3) kegiatan evaluasi dan monitoring. Pembinaan keluarga sakinah dilaksanakan dengan tahap awal yakni suscaten (kursus calon manten) atau pem-binaan pranikah dan pembinaan pada keluarga sakinah di wilayah kerja Kantor Kemenag Kota Batu. Kedua, pendekatan pembelajaran kepada keluarga binaan yang digunakan oleh penyuluh/pembina adalah pendekatan berdasarkan penga-laman keluarga binaan dalam menghadapi permasalahan dengan anggota keluarga. Ketiga, hambatan dalam pelaksanaan pembinaan keluarga sakinah dise-babkan oleh berbagai hal, di antaranya: kurang terkoordinasinya program pembi-naan keluarga sakinah di seluruh KUA di Kota Batu, terbatasnya anggaran dan dana program pembinaan keluarga sakinah, serta kurangnya inovasi di dalam pen-dekatan pembelajatan keluarga binaan yang digunakan oleh penyuluh/pembina.               Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa program pembinaa keluarga sakinah di Kota Batu belum dapat diselenggarakan secara maksimal. Kantor Kemenag Kota Batu perlu bekerjasama dengan pihak lain dalam menyelenggara-kan program pembinaan keluarga sakinah serta menambah jumlah staf di tiga KUA di Kota Batu agar program pembinaan keluarga sakinah dapat berlangsung dan tidak terbengkelai. Selain itu, penyuluh dan pembina program pembinaan keluarga sakinah perlu menerapkan pendekatan-pendekatan pembelajaran bagi keluarga binaan yang lebih atraktif dan interaktif.

Keaksaraan fungsional sebagai upaya pemberdayaan perempuan (studi kasus di kelompok muslimat Dusun Klaseman, Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang) / Yunita Anggraini Wijaya

 

Wijaya, Yunita Anggraini. 2013. Kekasaraan fungsional sebagai Upaya pemberdayaan Perempuan (Studi Kasus di Kelompok Muslimat Dusun Klaseman, Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang). Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. pembimbing: (1) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, (2) Drs. H. Lasi Purwito, M.S. Kata kunci: keaksaran fungsional, pemberdayaan perempuan     Keaksaraan fungsional adalah bentuk pelaksanaan program Pendidikan Luar Sekolah yang merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan ketrampilan menulis, membaca dan berhitung serta bisa berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya. Keaksaraan fungsional merupakan program yang ditawarkan sebagai upaya untuk pemberdayaan perempuan. Pada dasarnya peran perempuan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena merupakan salah satu upaya untuk mendorong terwujudnya perempuan yang berkualitas yang pada gilirannya diharapkan menjadi mitra yang sejajar dengan laki-laki dalam sektor pembangunan bangsa.     Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan program pembelajaran keaksaraan fungsional dasar sebagai upaya pemberdayaan perempuan dan mendeskripsikan manfaat mengikuti program pembelajaran keaksaraan fungsional dasar bagi warga belajar dengan menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus. Subyek penelitiannya adalah warga belajar dengan informan pengelola, tutor dan warga belajar. Data diambil dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi dianalisis dengan menggunakan tiga tahap atau jalur kegiatan yaitu dengan mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan keseluruhan data dari hasil penelitian.     Hasil penelitian menjelaskan bahwa program pembelajaran keaksaraan fungsional dasar dilakukan berdasarkan kebutuhan belajar warga belajar. Karena dengan adanya kebutuhan belajar tersebut timbul masalah yang harus dipecahkan. Sehingga program pembelajaran dikembangkan atas dasar masalah dan menuntut warga belajar untuk bisa mengatasi dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dengan memberikan solusi yang baik. Pembelajaran yang dilakukan dalam keaksaraan fungsional ini tidak hanya terpaku dengan metode pembelajaran calistung saja tetapi pembelajaran yang dilakukan juga dengan memanfaatkan lingkungan sekitar yang kaya akan hasil bumi. Karena aplikasi pembelajaran keaksaraan fungsional dasar ini nantinya akan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan manfaat mengikuti bagi warga belajar dapat dilihat dari segi kognitif warga belajar mendapatkan tambahan pengetahuan tentang membaca, menulis, dan berhitung, segi afektif warga belajar merasa percaya diri setelah mengikuti pembelajaran keaksaraan fungsional, segi psikomotorik warga belajar mendapatkan ketrampilan untuk membekali dirinya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan segi sosial warga belajar mendapatkan keluarga dan kelompok baru yang bisa memberikan pengaruh yang positif. Dengan adanya program keaksaraan fungsional, kualitas perempuan yang ada menjadi lebih baik serta bisa lebih mandiri untuk dapat meningkatkan kualitas generasi yang akan datang.     Berdasarkan hasil temuan penelitian, disarankan kepada kelompok Muslimat selaku penyelenggara program untuk lebih memperbanyak akses belajar warga masyarakat dengan lebih memfasilitasi mereka untuk mendapatkan kesempatan dalam memenuhi kebutuhan belajarnya, warga belajar untuk lebih meningkatkan motivasi belajarnya dan tidak perlu merasa malu untuk terus belajar karena hal tersebut guna memenuhi kebutuhan belajar mereka, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah untuk lebih memperbanyak program-program bagi masyarakat Desa Kucur sebagai Labsite PLS agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang baik. Selain itu, untuk lebih rutin dalam memberikan kesempatan belajar bagi warga masyarakat agar dapat terpenuhi kebutuhan belajarnya dan untuk peneliti lanjut disarankan untuk bisa lebih mengkaji lebih mengenai hambatan-hambatan pelaksanaan program keaksaraan fungsional yang masih belum di jabarkan dalam penelitian ini.

Hubungan penggunaan permainan bingo dengan kemampuan bahasa anak kelompok B di TA Ar-Ridlo Malang / Uswatun Khasanah

 

Khasanah, Uswatun. 2013. Hubungan Penggunaan Permainan Bingo Dengan Kemampuan Bahasa Kelompok B di TA Ar-Ridlo Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ach. Rasyad, M. Pd, (II) Drs. Lasi Purwito, M. S. Kata kunci: Permainan Bingo, Kemampuan Bahasa. Permainan bingo merupakan permainan yang efektif untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak, permainan ini termasuk permainan yang banyak digemari oleh peserta didik. Bahasa anak usia dini merupakan kalimat yang terdiri dari elemen terkecil seperti kata dan suara, kedua hal tersebut bisa dikombinasikan menjadi suatu ucapan. Kemampuan bahasa anak usia dini terbagi menjadi empat ketrampilan, yaitu: (1) ketrampilan mendengar, (2) ketrampilan berbicara, (3) ketrampilan menulis, dan (4) ketrampilan membaca. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan penggunaan permainan bingo dan kemampuan bahasa di TA Ar-Ridlo Malang, serta untuk mengetahui hubungan penggunaan permainan bingo dengan kemampuan bahasa kelompok B di TA Ar-Ridlo Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif dan korelasional. Dimana analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran penggunaan permainan bingo serta kemampuan bahasa anak. Analisis korelasional menggunakan rumus product moment person, untuk mengetahui hubungan antar variabel. Subjek penelitian adalah peserta didik kelompok B di TA Ar-Ridlo Malang, dengan jumlah 64 anak. Hasil analisis deskriptif pada penelitian ini untuk penggunaan permainan bingo sudah dalam kategori sangat baik. Analisis korelasi antara penggunaan permainan bingo dengan ketrampilan mendengar r hitung adalah 0,599 dan r tabel 0,244. Karena r hitung ≥ r tabel, dan nilai signifikan ≤ 0,05, maka H0 ditolak. Ketrampilan berbicara mempunyai r hitung 0,393 dan r tabel 0,244 . Karena r hitung ≥ r tabel, dan nilai signifikan ≤ 0,05, maka H0 ditolak. Ketrampilan menulis mempunyai r hitung 0,443 dan r tabel 0,244. Karena r hitung ≥ r tabel, dan nilai signifikan ≤ 0,05, maka H0 ditolak. Ketrampilan membaca mempunyai r hitung 0,614 dan r tabel 0,244 . Karena r hitung ≥ r tabel, dan nilai signifikan ≤ 0,05, maka H0 ditolak. Kesimpulan peneliti bahwa (1) peserta didik kelompok B di TA Ar-Ridlo Malang telah sering memanfaatkan permainan bingo sebagai media pembelajaran yang diperuntukkan untuk mengembangkan kemampuan bahasa mereka, (2) kemampuan dalam menggunakan permainan bingo sudah sangat baik, (3) kemampuan bahasa mengalami kemajuan yang baik dengan diterapkannya permainan bingo, (4) ada hubungan antara penggunaan permainan bingo dengan ketrampilan mendengar anak, (5) Ada hubungan antara penggunaan permainan bingo dengan ketrampilan berbicara anak, (6) ada hubungan antara penggunaan permainan bingo dengan ketrampilan menulis anak, (7) ada hubungan antara penggunaan permainan bingo dengan ketrampilan membaca anak. Peneliti menyarankan untuk (1) jurusan pendidikan luar sekolah agar menambah referensi mengenai tahapan kecerdasan anak usia dini dan media pembelajaran untuk anak usia dini, (2) untuk lembaga agar bisa mengembangkan permainan bingo, (3) untuk pendidik anak usia dini agar lebih banyak menerapkan permainan educatif untuk mengembangkan kemampuan anak, (4) untuk peneliti selanjutnya agar melakukan pengkajian lebih lanjut mengenai alat permainan educatif yang dapat mengembangkan kemampuan anak usia dini.

Hubungan belajar sambil bermain anak usia dini dengan perkembangan motorik anak di TK Siti Chodidjah Desa Kendalpayak Kec. Pakisaji / Rofiatul Isnania

 

Isnania, Rofiatul. 2013. Hubungan Belajar Sambil Bermain Anak Usia Dini Dengan Perkembangan Motorik Anak Di TK. Siti Chodidjah Desa Kendalpayak Kec. Pakisaji. Pembimbing: (1) Dr. Ach. Rasyad M.Pd, (2) Dr. Zulkarnain M.Pd. Kata Kunci: belajar sambil bermain, perkembangan motorik, anak usia dini     Proses belajar anak usia dini tidak sama dengan orang dewasa karena keterbatasan cara berpikir dan perkembangan mental anak. Usia dini yaitu 0-6 tahun merupakan masa emas bagi perkembangan anak. untuk itu dibutuhkan cara yang tepat agar dapat mengoptimalkannya. Salah satu cara yang tepat adalah belajar sambil bermain. Anak usia dini cenderung bermain sambil belajar, karena dengan bermain anak belajar berbagai pengetahuan, keterampilan dan berbagai persoalan lainnya. Oleh karena itu pembinaan dan perangsangan tumbuh kembang anak sebaiknya dilakukan dengan kegiatan bermain agar kemampuan motoriknya berkembang optimal.     Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan belajar sambil bermain anak usia dini, mendeskripsikan kemampuan motorik anak usia dini, dan untuk mengetahui hubungan antara belajar sambil bermain anak usia dini dengan perkembangan motorik anak usia dini.     Metode penelitian ini menggunakan analisis data kuantitatif. Pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan proses belajar sambil bermain anak usia dini dan kemampuan motorik anak usia dini. Sedangkan analisis data korelasional digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara belajar sambil bermain anak usia dini dengan perkembangan motorik anak usia dini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan dokumentasi. Instrumen yang dgunakan untuk mengumpulkan data berupa angket adalah orangtua murid dan peneliti. Untuk analisis data tujuan 1 dan 2 menggunakan deskriptif persentase dan tujuan 3 menggunakan korelasi product moment.     Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, belajar sambil bermain telah dilakukan murid TK Siti Chodidjah setiap kegiatan belajar maupun bermain anak. Kedua, Mayoritas perkembangan motorik anak di TK Siti Chodidjah berkembang dengan baik. Ketiga, ada hubungan antara belajar sambil bermain anak usia dini dengan perkembangan motorik anak.     Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan pengkajian dan penelitian yang lebih lanjut mengenai hubungan antara bermain sambil belajar anak usia dini dengan perkembangan motorik anak dengan menggunakan beberapa kategori lain yang dapat diambil dari belajar sambil bermain anak usia dini dan perkembangan motorik menjadi beberapa kategori untuk diteliti lebih lanjut serta membandingkan dengan pendekatan yang lain sehingga dapat dijadikan rujukan selanjutnya.

Profil dan kebutuhan belajar jamaah pengajian rutin ahad pagi masjid At-Taqwa Batu / Rossa Aisyah

 

Kata Kunci: kebutuhan belajar, pengajian rutin ahad pagi, pendidikan luar sekolah Masjid At-Taqwa Batu, selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat muslim juga merupakan tempat pembelajaran masyarakat sekitar masjid untuk menimba ilmu agama salah satunya Pengajian Rutin Ahad Pagi. Pengajian termasuk dalam penerapan pendidikan nonformal dan informal karena merupakan kegiatan pendidikan di luar sistem persekolahan yang diselenggarakan secara terorganisir bertujuan untuk melayani kebutuhan belajar khusus (ilmu agama) para peserta didik (jamaah). Jamaah akan berpartisipasi aktif jika penyelenggara mengangkat topik pengajian yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Masalah yang diteliti yaitu (1) Bagaimana profil atau karakteristik pribadi jamaah dalam pengajian rutin ahad pagi Masjid At-Taqwa Batu, (2) Apa alasan jamaah menghadiri pengajian, (3) Bagaimana gambaran keaktifan dan konsentrasi jamaah, (4) Kebutuhan belajar apa yang ingin mereka penuhi dengan hadir dalam pengajian rutin ahad pagi Masjid At-Taqwa Batu. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, pemilihan pendekatan kuantitatif deskriptif dikarenakan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan temuan yang ada. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, kemudian temuan yang ada dianalisis dengan menggunakan teknik analisis persentase. Diketahui bahwa Profil/karakteristik pribadi jamaah 76% berusia lebih dari 35 tahun, 61% perempuan, 30% bekerja sebagai pedagang atau pewiraswasta, 71% telah menikah, 44% pendidikan terakhir SMA, 64% berkemampuan sedang dalam membaca Al-Quran, 59% berkemampuan sedang dalam menghafal Al-Quran, dan 37% tingkat rutinitas membaca Al-Quran rendah. Alasan jamaah menghadiri pengajian yang dominan adalah berdasar pada aspek religius dan psikologis, dengan tingkat keaktifan dan konsentrasi yang tinggi saat mengikuti pengajian. Selain itu penelitian ini menghasilkan analisis prioritas kebutuhan belajar jamaah pengajian. Berdasarkan hasil analisis temuan penelitian diharapkan: bagi penyeleng-gara, metode yang digunakan dalam penyampaian materi atau topik pengajian yang tepat yaitu metode pendidikan orang dewasa, keaktifan jamaah yang rendah pada pemberian umpan balik saat sesi tanya jawab dapat di antisipasi dengan memberikan reward atau hadiah kepada jamaah yang bertanya. Bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan atau literatur tambahan dalam pengembangan materi mata kuliah ‘Identifikasi Kebutuhan dan Sumber Belajar Masyarakat’, serta bagi peneliti lanjutan Penelitian ini akan lebih menarik dan memperoleh makna yang dalam apabila dilanjutkan dengan penelitian dengan desain kualitatif.

Pengaruh penggunaan model pembelajaran problem based learning berbantuan mind mapping terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 02 Batu / I'in Sufiya

 

Sufiya, I’in. 2014. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Mind Mapping terhadap Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas X SMA Negeri 02 Batu. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sutarman, M.Pd, (2) Sugiyanto, S.Pd, M.Si Kata kunci: model pembelajaran Problem Based Learning, mind mapping, prestasi belajar fisika.     Pemilihan metode pembelajaran yang tepat sangat dibutuhkan pada pembelajaran fisika karena rancangan strategi pembelajaran perlu memperhatikan cara siswa mendapatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran. Siswa mampu merasakan kebermaknaan dalam pembelajaran saat mereka dapat menyelesaikan berbagai variasi masalah dengan baik. Model pembelajaran Problem Based Learning ( PBL) dapat mengembangkan prestasi belajar siswa. Mind mapping yang dibuat siswa berperan penting dalam proses pemecahan masalah, lebih menata pola pikir siswa dan lebih memudahkan dalam proses pembelajaran sehingga akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan mind mapping terhadap prestasi belajar fisika siswa.     Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experiment) dan desain yang digunakan adalah pretest-posttest control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 02 Batu yang berjumlah 8 kelas (276 siswa). Pengambilan sampel dilakukan dengan pertimbangan tertentu (sampling purposive) dan diperoleh satu kelas sebagai kelas eksperimen yang belajar menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan mind mapping dan satu kelas sebagai kelas kontrol yang belajar menggunakan model pembelajaran konvesional (Direct Instruction). Instrumen perlakuan terdiri atas RPP dan LKS, sedangkan instrumen pengukuran terdiri atas instrumen lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan soal tes prestasi belajar fisika materi suhu-kalor. Uji prasyarat analisis dilakukan sebelum menguji hipotesis, uji prasarat analisis meliputi uji normalitas data dan uji homogenitas varian. Pengujian hipotesis menggunakan uji t-Test.     Hasil penelitian ini membuktikan bahwa prestasi belajar fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan mind mapping lebih baik dari pada prestasi belajar fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh rerata prestasi belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan mind mapping sebesar 75,00 dan rerata prestasi belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional sebesar 65,24.

Studi komparasi tentang inovasi pembelajaran lembaga kursus bahasa Inggris antara Basic English Course (BEC) Pare dengan Indocita Foundation Malang / Bela Pratiwi Widodo

 

Kata Kunci : Inovasi Pembelajaran, Kursus Bahasa Inggris Pendidikan luar sekolah memiliki beberapa satuan diantaranya kursus. Kasusnya saat ini bahwa terdapat tempat yang bernama kampung Inggris di Pare yang tekenal sebagai pusat kursus bahasa khususnya bahasa Inggris. Salah satu lembaga yang menonjol diantara lembaga kursus lainnya yaitu BEC (Basic English Course). BEC memiliki sebuah inovasi dibidang pendidikan sehingga peneliti membandingkan dengan lembaga kursus di Malang yaitu Indocita Foundation. Tujuan penelitian ini yakni (1) mendeskripsikan inovasi pembelajaran bagi calon pendidik di lembaga kursus bahasa Inggris BEC (Basic English Course) dan Indocita Foundation; (2) mengetahui perbedaan inovasi pembelajaran bagi calon pendidik dalam hal model pembelajaran di kedua lembaga; (3) mengetahui perbedaan inovasi pembelajaran bagi calon pendidik dalam hal media atau alat yang digunakan di kedua lembaga; dan (4) mengetahui perbedaan inovasi pembelajaran bagi calon pendidik dalam hal desain ruangan di kedua lembaga Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif berjenis dekriptif komparatif. Rancangan secara deskriptif untuk memaparkan inovasi pembelajaran kursus bahasa Inggris di BEC (Basic English Course) dan Indocita Foundation. Sedangkan komparatif dirancang untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan inovasi pembelajaran kursus bahasa Inggris di kedua lembaga tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yakni membuktikan bahwa (1) ada perbedaan model pembelajaran antara lembaga kursus bahasa Inggris Basic English Course dan Indocita Foundation sehingga dapat menarik minat peserta didik untuk kursus di suatu lembaga yang menurut mereka tidak menjenuhkann dan membosankan, serta hasil yang didapat akan maksimal; (2) ada perbedaan media pembelajaran antara kedua lembaga sehingga mengakibatkan tercapainya tujuan pembelajaran dengan mudah. Seperti dalam kursus bahasa Inggris, media visual yang biasa digunakan sebelumnya akan kurang efektif jika tidak menggunakan media audio dalam pembelajaran listening yaitu mendengarkan dalam bahasa Inggris; dan (3) ada perbedaan desain ruangan kelas antara kedua lembaga sehingga kedua lembaga menginovasi pembelajaran yang dulunya dilakukan hanya dikelas, saat ini pembelajaran pun bisa dilakukan diluar kelas bahkan di alam terbuka. Ini dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh dari peserta didik. Dan pembelajaran bahasa Inggris di BEC (Basic English Course) dengan melakukan pembicaraan langsung terhadap turis yang ada di tempat wisata yang cenderung berbasis dengan alam atau sesuai realita. Penelitian ini mengajukan saran sebagai berikut: (1) lembaga perlu memperhatikan kualitas dan kenyamanan siswa yang ingin kursus bahasa Inggris; (2) model pembelajaran perlu ditingkatkan sehingga psikologi siswa tidak menjadi hal yang menghambat dirinya untuk mampu belajar dengan baik; dan (3) dapat melanjutkan penelitian ini sehingga dapat memahami perbedaan-perbedaan dalam berbagai hal lainnya.

Penyelenggaraan pelatihan dengan sistem asrama (boarding school) (studi kasus di UPT Pelayanan Sosial Remaja Terlantar Bojonegoro) / Kurnia Marta Komsani Romadhona

 

Kata Kunci : penyelenggaraan, pelatihan, sistem asrama Penyelenggaraan program pelatihan merupakan upaya pemberian bekal yang berguna untuk peningkatan keterampilan peserta didik. Program pelatihan merupakan salah satu program Pendidikan Luar Sekolah yang memiliki makna sebagai serangkaian aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap dan perilaku sebagai anggota masyarakat dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Remaja Terlantar Bojonegoro merupakan program pendidikan bagi peserta didik yang terlantar dalam mendapatkan layanan pendidikan. Yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah bagaimana penyelenggaraan pelatihan dengan sistem asrama (boarding school). Tujuannya yaitu (1) mendiskripsikan pelaksanaan pelatihan dengan sistem asrama (boarding school) (2) mengetahui manfaat pelaksanaan pelatihan dengan sistem asrama (boarding school) (3) mengetahui kendala pelaksanaan pelatihan dengan sistem asrama (boarding school). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain Studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan dengan kegiatan triangulasi sumber dan teknik Dari penelitian ini diperoleh tiga kesimpulan sebagai berikut. (1) Kegiatan pelatihan yang diselenggarakan di UPT PSRT Bojonegoro berdasarkan identifikasi kebutuhan peserta didik. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tahapan yakni tahapan persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi, selama mengikuti kegiatan pelatihan peserta didik berada di asrama sehingga kegiatan yang diberikan tidak hanya pelatihan keterampilan saja, tetapi terdapat pembinaan, pengawasan yang intensif dan pendampingan, (2) Manfaat pelaksanaan pelatihan dengan sistem asrama (boarding school) adalah memperoleh pengetahuan di bidang keahlian untuk meningkatkan kinerja, memiliki sikap disiplin bekerja keras untuk berwirausaha karena sudah diberikan bekal pelatihan, bahkan penguatan mental, sosial, agar memiliki kepribadian yang baik dan bisa hidup mandiri di masyarakat (3) Kendala pelatihan dengan sistem asrama (boarding school). Dalam kegiatan pelatihan dengan sistem asrama di UPT PSRT Bojonegoro ada kendala dalam pelaksanaannya yaitu pada kegiatan pelatihan keterampilan otomotif dan elektro, bahan pembelajaran yang digunakan untuk belajar banyak yang mengalami kerusakan serta pada keseriusan Penelitian ini mengajukan saran sebagai berikut: (1) bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, sebagai wahana untuk menambah wawasan pengetahuan tentang program kegiatan pelatihan PLS dan mahasiswa PLS juga dapat memberikan sumbangan atau kontribusi kepada lembaga UPT mengenai penyelenggaraan program pelatihan yang sesuai dengan keinginan dan harapan peserta didik (2) bagi lembaga UPT PSRT Bojonegoro, dapat memberikan informasi sehingga bisa menyiapkan program yang lebih matang lagi, baik itu dari pelaksanaan yaitu untuk meningkatkan kerjasama dengan lembaga lain agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik (3) bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut kepada kegiatan program pelatihan mengenai keefektifan penyelenggaraan program pelatihan yang diselenggarakan di UPT PSRT Bojonegoro.

Pengembangan media permainan monopoli untuk pembelajaran bahasa Inggris siswa kelas IV SDN Jajar I Wates Kabupaten Kediri / Hendra Sasworo

 

Sasworo, Hendra. 2013.Pengembangan Media Permainan Monopoli Untuk Pembelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas IV SDN Jajar I Wates Kabupaten Kediri. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Imu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. A.J.E. Toenlioe, M.Pd., (II) Drs. H. Zainul Abidin, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan Media Permainan Monopoli, Bahasa Inggris Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian anak-anak yang masih duduk di bangku kelas IV di SDN Jajar I dalam mengikuti mata pelajaran bahasa Inggris, minat belajarnya masih lemah. Hal itu dikarenakan antara lain strategi pembelajaran guru yang terlalu monoton. Untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas IV SD, guru dapat menggunakan teknik bermain. Dengan menggunakan teknik bermain, diharapkan dapat memunculkan minat dan keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas IV SD dalam penyampaian materi dengan media yang sesuai. Salah satunya adalah media permainan monopoli dalam pembelajaran. Tujuan penelitian pengembangan media monopoli ini menghasilkan media monopoli yang layak, kualitas teknis memadai yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam mengembangkan media monopoli, pengembang menggunakan model Sadiman dan Sugiyono yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan materi, (4) perumusan alat pengukuran keberhasilan, (5) perancangan desain media monopoli, (6) produksi, (7) validasi, (8) revisi (9) produksi siap dimanfaatkan. Hasil produk dari kegiatan pengembangan ini berupa seperangkat permainan monopoli yang terdiri dari, (1) buku pemanfaatan, (2) lembar permainan, (3) buku aturan permainan, (4) dadu, (5) pion, (6) kartu ingin tahu, (7) kartu point. Hasil uji coba pengembangan media permainan monopoli pada ahli media sebesar 82,14% kriteria valid. Pada ahli materi sebesar 82,5% kriteria valid. Sedangkan, data hasil uji coba audiens perorangan sebesar 87,5% kriteria valid. Uji coba audiens kelompok sebesar 85,3% kriteria valid. Uji coba audiens lapangan sebesar 91,13% kriteria valid. Rata-rata hasil belajar siswa meningkat sebesar 18%. Dengan demikian secara keseluruhan berdasarkan kriteria kelayakan produk dan peningkatan hasil belajar siswa, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran tersebut masuk dalam kriteria valid, sehingga layak digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa kelas IV SD. Saran untuk pengembang berikutnya pada saat pengembangan ukuran media betul-betul disesuaikan dengan pengguna secara berkelompok agar tidak mengalami kesulitan pada saat pemanfaatan. Dalam pemanfaatan media monopoli untuk guru dan siswa, sebelum bermain hendaknya membaca/mendengarkan aturan-aturan sehingga lancar dalam memainkan media monopoli tersebut. Sebagai tindak lanjut, kepala sekolah dapat menggunakan media monopoli sebagai salah satu pengadaan dan pengelolaan sumber belajar.

Pengembangan video pembelajaran ilmu pengetahuan alam kelas V SDN Merjosari 2 Malang / Yudho Setyo Nugroho

 

Nugroho, Yudho Setyo. 2013. Pengembangan Video Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kelas V SDN Merjosari 2 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Program Studi Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Sulton, M.Pd, (II) Eka Pramono Adi, S.I.P., M.Si. Kata Kunci : Media Video, Gaya dan Pemanfaatannya     Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar. Penggunaan media pembelajaran yang sesuai dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas V di SDN Merjosari 2 Malang, pengembang mendapatkan informasi dari wali kelas V bahwa siswa kurang menguasai materi pelajaran khususnya mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Bahan pembelajaran yang digunakan selama ini dipandang kurang efektif karena bahan pembelajaran yang digunakan sebagai referensi pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam materi gaya dan pemanfaatannya hanya sebatas buku paket ilmu pengetahuan alam kelas V. Siswa saat melakukan percobaan atau eksperimen mata pelajaran ilmu pengetahuan alam selalu mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, oleh karena itu perlu dikembangkan media video pembelajaran ilmu pengetahuan alam materi gaya dan pemanfaatannya untuk mempermudah siswa dalam belajar dan memahami materi gaya dan pemanfaatannya, serta meningkatkan motivasi belajar siswa.     Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk media video pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang layak. Sedangkan isi dalam pengembangan video pembelajaran ini adalah mengenai materi gaya dan pemanfaatannya.     Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan dengan model Arief S. Sadiman. Kegiatan pengembangan produk ini divalidasi oleh ahli materi, ahli media, dan audiens/ siswa secara perorangan, kelompok kecil, dan uji lapangan. Sedangkan efektifitas media video ini dilakukan melalui test uji hasil belajar.     Berdasarkan perhitungan yang diperoleh dari ahli media menunjukkan presentase sebanyak 90% yang berarti media video valid dan layak digunakan untuk pembelajaran, dari ahli materi 86,25% yang berarti media video valid dan layak digunakan, dari audiens/ siswa perorangan sebanyak 3 siswa 91,7% yang berarti media video valid dan layak digunakan, dari audiens/ siswa kelompok kecil sebanyak 10 siswa 90,25% yang berarti media video valid dan layak digunakan, dan dari data uji lapangan diperoleh hasil sebesar 92,2% yang berarti media video valid dan layak digunakan.     Sedangkan tes hasil belajar dari audiens/ siswa perorangan sebanyak 3 siswa jumlah skor pada pre-test adalah 150 sedangkan jumlah skor pada post-test adalah 260 sehingga terjadi peningkatan skor sebesar 110 dengan presentase 36,6%, dari audiens/ siswa kelompok kecil sebanyak 10 siswa jumlah skor pada pre-test adalah 460 sedangkan jumlah skor pada post-test adalah 780 sehingga terjadi peningkatan skor sebesar 320 dengan presentase 32%, dan dari data uji lapangan sebanyak 24 siswa jumlah skor pada pre-test adalah 980 sedangkan jumlah skor pada post-test adalah 2040 sehingga terjadi peningkatan skor sebesar 1060 dengan presentase 44,2%. Sehingga dari data tersebut menunjukkan bahwa media video pembelajaran ini efektif digunakan dalam proses belajar mengajar.     Saran yang diajukan, melalui kebijakan kepala sekolah hendaknya produk media video pembelajaran yang telah dikembangkan ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran bagi guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk saran pemanfaatan, media video ini sebaiknya digunakan guru dalam menyampaikan mata pelajaran ilmu pengetahuan alam materi gaya dan pemanfaatannya sehingga dapat meningkatkan motivasi serta kemampuan belajar siswa. Sedangkan saran bagi pengembang berikutnya, agar mengembangkan video pembelajaran untuk mata pelajaran lainnya.

Pengembangan media WEB berbasis Content Management System (CMS) pelatihan bidang pemberdayaan aparatur di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang / Dinda Aya Sofia

 

Pengembangan Media Web Berbasis Content Management System (CMS) Pelatihan Bidang Pemberdayaan Aparatur di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang.

Implementasi pendidikan karakter melalui kegiatan pembiasaan di SDN Percobaan 1 Malang / Dyah Khomsa Nur Adha

 

Adha, Dyah Khomsa Nur.2013. “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Pembiasaan di SDN Percobaan 1 Malang”. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M. Pd, (2) Drs. Sutarno, M.Pd. Kata Kunci: pendidikan karakter, pembiasaan, SDN Percobaan 1 Malang     Salah satu krisis multidimensi yang terjadi di negeri ini adalah krisis karakter yang ditandai dengan maraknya tawuran antar pelajar, bentrokan antar suku, kericuhan antar kelompok masyarakat, korupsi, kecurangan birokrasi, jual beli hukum, dan berbagai tindakan tercela yang sering menjadi headline di media massa saat ini. Untuk menangani hal ini diperlukan usaha preventif sejak dini khususnya di sekolah dasar, salah satunya melalui pembiasaan kegiatan yang ada di sekolah dalam bentuk kegiatan rutin, spontan dan terprogram.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan karakter melalui pembiasaan yang diwujudkan melalui kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan kegiatan terprogram dengan memfokuskan pada karakter yang tampak dari kegiatan pembiasaan yang dilakukan serta kendala yang yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan karakter melalui kegiatan pembiasaan di SDN Percobaan 1 Malang.     Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis penelitian studi kasus di SDN Percobaan 1 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga metode yakni observasi, dokumentasi, serta wawancara. Untuk mengecek keabsahan data, peneliti menggunakan metode triangulasi data.     Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan rutin yang dilaksanakan dalam mengembangkan karakter siswa meliputi datang sekolah tepat waktu, jabat tangan dengan guru, berdo’a, membaca asmaul husna, menyanyi lagu nasional, menyebutkan visi misi sekolah, piket kelas, dan moving class. Selain kegiatan rutin, ada pula kegiatan spontan yang bertujuan untuk memberi penguatan pada karakter yang siswa dalam bentuk antri di berbagai tempat, memilah dan membuang sampah sesuai jenis dan tempatnya, berbagi dengan sesama, mengumumkan barang temuan, meminta maaf jika berbuat salah, serta mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Adapun kegiatan yang terprogram di SDN Percobaan 1 Malang meliputi upacara setiap hari senin, PHBN dan PHBA, kegiatan Jum’at bersih, infaq setiap hari Jum’at, pondok ramadhan, sholat dhuha, ekstra mengaji untuk kelas 1-3 setiap hari Jum’at, pengadaan kantin kejujuran, pengadaan stan barang temuan, outing atau outbond, base camp untuk kelas 6, serta pengadaan pokja yang melibatkan siswa sebagai anggotanya.     Dari pembiasaan tersebut, beberapa karakter yang mulai tampak pada siswa antara lain: religius, sopan dan ramah, jujur, disiplin, kerja keras, peduli sosial, peduli lingkungan, serta tanggung jawab. Terbentuknya karakter siswa juga didukung oleh pemantauan orang tua selama di rumah, pengkondisian lingkungan dan sarana prasarana sekolah, serta teladan dari guru. Sedangkan kendala yang dihadapi sekolah dalam mengembangkan karakter melalui pembiasaan adalah kurangnya pemantauan guru pada setiap karakter yang dimunculkan siswa sehingga tidak bisa langsung memberikan tindak lanjut.     Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian antara lain: (1) Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dijadikan rujukan untuk sekolah-sekolah lain yang belum melaksanakannya, seperti kegiatan menyebutkan visi misi sekolah setiap pagi yang dapat memudahkan sekolah mewujudkan visi misinya terutama yang berkaitan dengan pengembangan karakter, pengadaan magic box yang berisi reward pada setiap kelas yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja keras agar menjadi yang terbaik di kelasnya, (2) Kegiatan base camp sebaiknya juga diprogramkan untuk semua kelas dengan jadwal tertentu, (3) Untuk karakter yang belum muncul pada siswa, hendaknya sekolah membuat program yang dapat menumbuhkan karakter tersebut seperti misalnya pada karakter gemar membaca, sekolah dapat membuat program wajib baca atau wajib kunjungan ke perpustakaan, (4) Untuk mengatasi kurangnya pemantauan guru terhadap setiap karakter yang dimunculkan, sekolah dapat melibatkan siswa untuk membantu memantau karakter sesama teman melalui satgas karakter yang bertugas melaporkan karakter yang ditunjukkan temannya. Hal ini sekaligus dapat mengembangkan karakter tanggung jawab dan jujur .     

Perbedaan hasil belajar IPS kelas V yang diajar menggunakan model Team Games Tournament dan model Student Team Achievement Division di SDN Percobaan 1 Malang / Rabihah Hayati

 

Kata kunci: Hasil Belajar, Model Team Games Tournament, Model Student Team Achievement Division Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan hasil belajar IPS materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan siswa kelas V SDN Percobaan 1 Malang antara pembelajaran menggunakan model TGT dan model STAD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan bentuk rancangan Quasi Experimental. Bentuk desain Quasi Experimental yang digunakan yaitu Non equivalent Group Design. Populasi dalam penelitian ini yaitu kelas V SDN Percobaan 1 Kota Malang. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VA dan VB SDN Percobaan 1 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa tes tulis. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa tentang penguasaan materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Tes diberikan sebelum perlakuan (pre test) dan sesudah perlakuan (post test). Bentuk soal yang digunakan yaitu soal objektif dengan jumlah 20 soal yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Tekhnik analisa data yang digunakan yaitu uji t untuk sampel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan hasil belajar materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan siswa kelas V SDN Percobaan 1 Malang antara pembelajaran menggunakan model TGT dengan model STAD. Perbedaan yang ada pada kedua kelompok tersebut dapat diketahui melalui pengujian hipotesis yang menghasilkan nilai Asymp. Sign 2-tiled pada nilai gain score pada kedua kelas. Nilai Asymp. Sign 2-tiled 0,037 < 0,05 sehingga Ha diterima. Pembahasan menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model STAD lebih baik daripada pembelajaran menggunakan model TGT sehingga ada perbedaan signifikan hasil belajar materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan siswa kelas V SDN Percobaan 1 Malang antara pembelajaran menggunakan model TGT dengan model STAD. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian, yaitu: Hasil belajar siswa kelas eksperimen model team games tournament diperoleh data pre test memiliki nilai rata-rata sebesar 44,63. Setelah mendapat perlakuan diperoleh data post test dengan nilai rata-rata 72,2. Rata-rata gain score sebesar 27,56. (2) Hasil belajar siswa kelas kontrol model student team achievement division diperoleh data pre test memiliki nilai rata-rata sebesar 41,1. Setelah mendapat perlakuan diperoleh data post test dengan nilai rata-rata 74,1. Rata-rata gain score sebesar 33,04. (3) Ada perbedaan hasil belajar IPS siswa kelas 5 yang diajar menggunakan model Team Games Tournament dengan model Student Team Achievement Division di SDN Percobaan 1 Malang. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil uji T untuk sampel independen yaitu nilai Asymp. Sign 2-taililed sebesar 0,037< 0,05. Saran yang dapat disampaikan antara lain: (1) Sekolah, apabila guru akan menggunakan model team games tournament dalam pembelajaran IPS hendaknya dapat menyesuaikan dengan waktu yang disediakan. (2) Guru kelas V, dapat menggunakann model STAD pada pelajaran IPS sebagai alternative model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. (3) Peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian yang sama namun pada skala populasi yang lebih luas dan dengan menggunakan desain eksperimen murni.

Perbedaan hasil belajar menggunakan model mencari pasangan dengan model bertukar pasangan materi pengukuran kecepatan mata pelajaran matematika kelas 5 SDN Penanggungan Kota Malang / Moch. Hamdani Al-Qodri

 

Penerapan kegiatan bermain apotek hidup untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan naturalis anak kelompok B di TK Darussalam Kabupaten Malang / Miftakhul Jannah

 

Jannah, Miftakhul, 2013 Penerapan Kegiatan Bermain Apotek Hidup untuk Meningkatkan Kemampuan Kecerdasan Naturalis Anak Kelompok B TK Darussalam Kabupaten Malang. Skripsi, Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang Pembimbing: (1) Ir Endro Wahyuno, M.Si, (2) Pramono, S. Pd, M.Pd Kata Kunci : Bermain Apotek Hidup, kemampuan kecerdasan naturalis Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan kecerdasan naturalis npadaanakkelompok B TK Darussalam. Hal ini disebabkan karena anak masih aktif dengan dunia bermainnya sehingga sulit untuk berkosentrasi, anak belum memahami penjelasan materi yang disampaikan oleh guru, serta kurangnya media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Dari jumlah 18 anak yang dapat meningkatkan kecerdasan naturalis hanya ada 2 anak dan yang belum 16 anak. Penelitian ini bertujuan sebagai berikut: (1) mendeskripsikan penerapan kegiatan bermain apotek hidup untuk meningkatkan kecerdasan naturalis anak pada kelompok B TK Darussalam Kabupaten Malang (2) mendeskripsikanpeningkatan kecerdasan naturalis pada penerapan kegiatan bermain apotek hidup anak pada kelompok B TK Darussalam Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan di TK Darussalam Kabupaten Malang pada bulan April 2013. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi anak dan penilaian anak. Langkah-langkah permainan apotekhidup: (1) anak berbaris sesuai dengan nomor absen; (2) anakmemasangkanumbitanaman toga dengankartubergambar); (3) anakmembuattopipaktani; (4) anak menanamtanaman toga kedalampolybag; (4) anakmengurutkantinggirendahtanamandenganmemberikartuangkapadatanaman. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan bermain apotek hidup, hasil yang diperoleh pada persentase nilai rata- rata anak pra tindakan sebesar 57,2 dengan keberhasilan klasikal 11% pada siklus I persentase nilai rata – rata anak 70,5 dengan keberhasilan klasikal 50 % dan siklus II nilai rata rata anak 80,2 dengan keberhasilan klasikal 88,8 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan kegiatan bermain apotek hidup dapat meningkatkan kemampuan kecerdasan naturalis anak kelompok TK B TK Darussalam Kabupaten Malang. Hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan permainan ini untuk membantu mengatasi kesulitan anak pada pembelajaran kecerdasan naturalis, sedangkan untuk peneliti lain diharapakan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Persepsi masyarakat terhadap status wilayah gunung Kelud (studi pada masyarakat di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri) / Meirina Ayu Patriyani

 

Kata kunci: Persepsi, Masyarakat, Status Wilayah, Gunung Kelud Kawasan wisata Gunung Kelud yang terletak di wilayah Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri, saat ini makin dimanjakan dengan berbagai alternatif sasaran dan permainan wisata. Namun, sejak direnovasi dengan berbagai infrastruktur dan sarana prasarana yang memadai pada kawasan wisata Gunung Kelud oleh Pemerintah Kabupaten Kediri, muncul masalah atau konflik perselisihan untuk memperebutkan status wilayah Gunung Kelud yang sebenarnya. Hal tersebut mendapat protes dari Kabupaten Blitar terkait keberadaan Gunung Kelud saat ini. Tindakan Kabupaten Kediri membangun kawasan wisata ini mendapat protes dari Kabupaten Blitar yang menganggap bahwa wilayah puncak Kelud masuk dalam wilayah Kabupaten Blitar. Kabupaten Kediri dianggap menguasai wilayah Gunung Kelud tanpa berbagi dengan Kabupaten Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal yaitu, (1) Mendiskripsikan kronologis masalah menurut masyarakat Desa Sugihwaras tentang status wilayah Gunung Kelud, (2) Mendiskripsikan persepsi masyarakat Desa Sugihwaras terhadap status wilayah Gunung Kelud, (3) Upaya yang di lakukan masyarakat Desa Sugihwaras dalam mempertahankan wilayah Gunung Kelud agar tetap menjadi milik Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif jenis penelitian deskriptif. Dimana data penelitian di kumpulkan dari hasil observasi peneliti di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri dan wawancara dengan informan. Teknik yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara dengan berbagai informan, dan dokumentasi pada sumber tertulis dan foto yang ada di lokasi penelitian. Analisis data dalam penelitian ini yaitu dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Instrumen yang di gunakan peneliti dalam mengumpulkan data yaitu peneliti sendiri, untuk menjaga keabsahan data akan dilakukan kegiatan ketekunan pengamatan, dan triangulasi data. Selanjutnya yaitu kegiatan analisis data, tahap- tahap pengambilan kesimpulan, dan tahap penulisan laporan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, di peroleh tiga kesimpulan yaitu: Pertama, Kronologis masalah menurut masyarakat Desa Sugihwaras tentang status wilayah Gunung Kelud berawal dari perselisihan batas wilayah antara Kabupaten Kediri dengan Kabupaten Blitar. Dimana warga dari Kabupaten Blitar membuat jalan tembus atau jalan alternatif untuk menuju Gunung Kelud dengan tanpa ijin. Pembuatan jalan tersebut di nilai merusak hutan lindung milik Dinas Perhutani Kabupaten Kediri. Masalah tersebut menjadi rumit dan berlanjut hingga ke Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri bahkan hingga Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur. Dari adanya masalah tersebut kemudian muncul klaim dari Pemerintah Kabupaten Blitar bahwa Gunung Kelud merupakan bagian dari wilayah Blitar. Pada akhirnya, di tetapkanlah Surat Keputusan oleh Gubernur Jawa Timur Nomor. 188/113/KPTS/013/2012 tentang Penyelesaian Perselisihan Batas Daerah Antara Kabupaten Blitar Dengan Kabupaten Kediri yang Terletak Pada Kawasan Gunung Kelud di Provinsi Jawa Timur, yang menyatakan bahwa kawasan puncak Gunung Kelud di tetapkan dalam wilayah dari Kabupaten Kediri. Namun, dengan adanya keputusan tersebut pihak dari Pemerintah Kabupaten Blitar merasa tidak terima dan Permasalahan tersebut sempat ramai sampai masyarakat dari Kabupaten Blitar mengadakan demo ke kantor Gubernur. Kemudian Pemerintah Kabupaten Blitar mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jawa Timur. Kedua, persepsi masyarakat Desa Sugihwaras terhadap status wilayah Gunung Kelud adalah masyarakat tetap meyakini dan sepakat Gunung Kelud sejak dulu milik Kabupaten Kediri. Menurut masyarakat Desa Sugihwaras secara de facto dan de yure dan sesuai sejarah wilayah Gunung Kelud berada di Kabupaten Kediri. Selain itu, masyarakat tidak menunjukkan gejolak apapun terkait adanya masalah tersebut. Dan Ketiga , upaya masyarakat Desa Sugihwaras dalam mempertahankan wilayah Gunung Kelud yaitu dengan mempercayakan segala urusan dan ketentuan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri. Masyarakat hanya mendukung segala kinerja yang dilakukan oleh Pemerintah dalam mempertahankan wilayah Gunung Kelud agar tetap menjadi milik Kabupaten Kediri. Selain itu masyarakat juga akan tetap mempertahankan status wilayah Gunung Kelud agar tetap menjadi milik Kabupaten Kediri. Karena Gunung Kelud merupakan aset wisata bagi Kabupaten Kediri yang harus di pertahankan dan di lestarikan oleh masyarakat yang berada di sekitarnya. Saran dari hasil penelitian ditujukan kepada Universitas Negeri Malang, penelitian ini di harapkan dapat membantu untuk di jadikan bahan riset dan dapat ditindak lanjuti sebagai riset-riset berikutnya. Kepada Pemerintah Desa dan masyarakat Desa Sugihwaras; penelitian ini di harapkan dapat membantu Pemerintah Desa dalam memberi penguatan kepada masyarakat dalam mempertahankan status wilayah Gunung Kelud di Kabupaten Kediri. Kepada Masyarakat Desa Sugihwaras, Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan agar masyarakat tetap kondusif dalam mempertahankan status wilayah Gunung Kelud sebagai bagian dari wilayah dalam Kabupaten Kediri. Dan juga diharapkan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dengan adanya berita-berita yang kurang bertanggungjawab. Jadi adanya permasalahan ini antara kedua belah pihak Pemerintah Daerah tersebut dipertemukan dalam musyawarah yang diwadahi oleh Pemerintah Daerah Provinsi untuk menetapkan keputusan. Dan jika keputusan tersebut sudah ditetapkan kedua belah pihak Pemerintah Daerah harus menerima dengan lapang dada.

Pengembangan nilai-nilai nasionalisme melalui mata pelajaran PKn di kelas VIII A SMP Negeri 1 Malang / Muhammad Rohmatul Adib

 

Kata Kunci: pengembangan nilai-nilai, nasionalisme, mata pelajaran PKn Peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki peserta didik agar mampu menjalankan tugas, peran, fungsi, tujuan hidup dan kehidupan sebagai manusia, baik manusia sebagai individual maupun sebagai anggota masyarakat, bangsa dan warga negara. Usaha sadar untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana, terarah dan sistematik guna mencapai tujuan. Tujuan itu harus sejalan dengan nilai- nilai yang berakar pada kebudayaan bangsanya. Untuk itulah pendidikan formal (sekolah) di perlukan. Fungsi utama sekolah adalah meneruskan, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan sejalan dengan dinamika jaman. Dapat disimpulkan bahwa isi pendidikan adalah kebudayaan. Tugas sekolah tidak berhenti pada mencerdaskan bangsa, tapi juga “nation and character building.” Karena itulah nilai-nilai nasionalisme tidak hanya penting, mendesak melainkan strategis “fundamental”. Secara tegas itu terumus dalam sila Persatuan Indonesia. Nilai-nilai substansial nasionalisme, bagaimana mengembangkannya secara khusus di SMP merupakan pokok hal penting dalam pembentukan watak bangsa. Dalam upaya mengkaji hal pokok itu maka memerlukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan strategi pengembangan nilai-nilai nasionalisme di kelas VIII A SMP Negeri 1 Malang, (2) mendiskripsikan metode pembelajaran nilai nasionalisme di kelas VIII A SMP Negeri 1 Malang, (3) mendiskripsikan apa saja kendala-kendala yang di hadapi dalam pengembangan nilia-nilai nasionalisme di kelas VIII A SMP Negeri 1 Malang, (4) mendiskripsikan upaya mengatasi kendala-kendala yang ada dalam pengembangan nilai-nilai nasionalisme di kelas VIII A SMP Negeri 1 Malang, (5) mendiskripsikan prospektif pengembangan nilai nasionalisme di SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini bersifat kualitatif, berusaha mendapatkan informasi selengkap mungkin mengenai pengembangan nilai-nilai nasionalime melalui mata pelajaran Pkn di kelas VIII A SMP N 1 Malang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif diskriptif. sedangkan prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa pengembangan nilai-nilai nasionalisme melalui mata pelajaran PKn yaitu pada perencanaan stategi pembelajaran dan metode pembelajaran. Langkah-langkah Pemilihan Strategi pengembangan nilai-nilai nasionalisme di kelas VIII A SMP Negeri 1 Malang yaitu melalui perencanaan pembelajaran yang terdiri dari menentukan strategi pembelajaran, menyesuaikan materi dengan waktu pembelajaran dan merencanakan indikator pencapaian kompetensi, setelah itu baru menyusun RPP sesuai dengan strategi yang telah dipilih. Selanjutnya cara menyisipkan nilai-nilai nasionalisme dalam proses belajar adalah dengan pemahaman siswa dibawa kepada contoh-contoh yang mencerminkan nilai-nilai nasionalisme Metode pembelajaran yang digunakan dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai nasionalisme di SMPN 1 Malang adalah menggunakan metode pembelajaran sosio drama, diskusi dan proplem solving. Prospektif pengembangan nilai-nilai nasionalisme di SMP Negeri 1 Malang ini sudah tercermin di dalam visi sekolah. Selain menerapkan metode-metode pembelajaran di dalam kelas, SMP Negeri 1 Malang ini juga memiliki kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang juga mampu meningkatkan nilai-nilai nasionalisme pada diri siswa seperti ekstrakulikuler karawitan. Ekstrakulikuler karawitan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai nasionalisme lewat melestarikan budaya bangsa. Ada juga ekstrakulikuler PMR, Pramuka, PASKIBRA yang lansung berhubungan dengan upacara bendara. Ada juga ekstrakulikuler paduan suara yang juga mampu menanamkan nilai nasionalisme siswa lewat kegiatannya menyayikan lagu-lagu wajib nasional.

Pembinaan nilai-nilai kebudayaan Jawa melalui Lembaga Pendidikan Pranatacara Permadani di Kabupaten Tulungagung / Sabrina Siqtaliya

 

Kata kunci: pranatacara, nilai-nilai kebudayaan Jawa, Tulungagung Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak di bidang kebudayaan yang berpusat di Semarang. Permadani di Kabupaten Tulungagung merupakan cabang dari Permadani pusat yang menyelenggarakan pendidikan pranatacara di Kabupaten Tulungagung. Pranatacara merupakan pembawa acara dalam upacara adat Jawa seperti acara pernikahan yang tugas pokoknya menghantarkan,memandu atau melaporkan jalannya suatu acara yang telah dirancang sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pembinaan nilai-nilai kebudayaan Jawa melalui lembaga pendidikan pranatacara di Permadani yang meliputi (1) program yang diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran di Permadani; (2) metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran; (3) media yang digunakan dalam membentuk seorang pranatacara; (4) kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran; (5) upaya dalam mengatasi kendala. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan jenis penelitiannya berupa studi kasus, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari guru dan murid di Permadani Kabupaten Tulungagung. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara: Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data sebagai berikut: perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan, triangulasi, analisis kasus negatif. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama program yang diterapkan dalam proses pembelajaran di Permadani yaitu diberikan materi yang meliputi kepermadian (hal ikhwal tentang Permadani), budi pekerti dan tata krama, bahasa dan sastra Jawa, kepanatacaraan, renggeping wicara, adat tata cara Jawa, sekar lan gendhing, ngedi busana lan ngadi sarira, pandhuwungan, sekar setaman, gladhen, muatan lokal. Kedua, metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran yaitu: (1) metode ceramah bervariatif yaitu metode dimana seorang guru menyampaikan materi dengan ceramah dan adanya tanya jawab dan siswa antara guru; (2) metode praktik. Ketiga, media yang digunakan dalam proses pembelajaran bertujuan untuk mempermudah menyampaikan materi meliputi: (1) buku; (2) laptop dan LCD; (3) sound system; (4) busana lengkap adat Jawa. Keempat, kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran berlangsung yaitu kendala yang dialami oleh guru meliputi: (1) tidak mengerti mengenai bahasa Kawi; (2) cara mengucapkan kata oleh siswa masih banyak yang salah; (3) banyak siswa yang tidak masuk pada saat materi yang disampaikan dirasa cukup berat. Serta kendala yang dihadapi siswa meliputi: (1) Sulit memahami bahasa Kawi; (2) menghafalkan teks; (3) pengaturan kecepatan berbicara sesuai dengan gendhing yang mengiringi. Kelima, upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala yaitu: (1) seorang guru menerangkan arti per kata dari bahasa kawi yang tidak dimengerti oleh siswa; (2) guru memberikan support atau motivasi kepada siswa; (3) guru langsung membenarkan kata yang salah diucapkan oleh siswa ketika materi renggeping wicara; (4) saling berdiskusi dan bertukar pikiran antar guru; (5) adanya penataran untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dapat disarankan bahwa haruslah ada dukungan atau perhatian dari pemerintah Kabupaten Tulungagung terhadap Permadani, pembinaan nilai-nilai kebudayaan Jawa melalui lembaga pendidikan Pranatacara akan tetap dilaksanakan karena salah satu cara melestarikan kebudayaan Jawa serta sebagai wadah para generasi muda untuk mempelajari adat Jawa melalui kegiatan tersebut

Tradisi nyadran sebagai wujud pelestarian nilai gotong-royong para petani di dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek / Tahes Ike Nurjanah

 

Nurjanah, Tahes Ike.2013. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwarno Winarno, (II) Ibu Yuniastuti, S.H M.Pd. Kata kunci: Tradisi Nyadran, pelestarian, gotong royong     Upacara tradisi nyadran merupakan salah satu bagian dari adat istiadat yang ada di masyarakat Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya serta ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia. Dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru, khususnya para petani yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong.     Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan cara melestarikan nilai gotong royong masyarakat khususnya petani di Kelurahan Ngantru yang meliputi (1) latar belakang tradisi nyadran di Dam Bagong; (2) bentuk ritual atau tata cara tradisi nyadran di Dam Bagong; (3) hakikat gotong royong dalam tradisi nyadran; (4) persepsi masyarakat tentang tradisi nyadran; (5) prospektif tradisi nyadran bagi masyarakat di masa depan.     Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data dari informan. Adapun informan dari penelitian ini terdiri dari kepala desa, juru kunci Makam Bagong dan 5 (lima) tokoh masyarakat Kelurahan Ngantru. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara: Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data sebagai berikut: kredibilitas bahwa hasil penelitian ini dapat diterima atau dipercaya; transferabilitas bahwa hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain; dependability bahwa hasil penelitian mengacu pada tingkat konsistensi peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan; dan konfirmabilitas bahwa hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan.     Hasil dari penelitian ini menyatakan: (1) latar belakang dari upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru berawal dari perjuangan Adipati Menak Sopal untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek dengan membangun Dam Bagong karena mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani; (2) dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran ada beberapa ritual yang harus dilakukan dan beberapa perlengkapan yang harus dipersiapkan; (3) hakikat gotong royong dalam pelaksanaan tradisi nyadran ini yaitu mempererat tali silaturahmi antar warga masyarakat khususnya masyarakat Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Pogalan; (4) persepsi masyarakat Kelurahan Ngantru, Kabupaten Trenggalek terhadap upacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu mayoritas masyarakat setuju dengan adanya upacara tradisi nyadran di Dam Bagong; (5) prospektif tradisi nyadran bagi masyarakat di masa depan yaitu masyarakat akan tetap memperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas perjuangan Adipati Menak Sopal. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dapat disarankan bahwa upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru harus dijaga kelestariannya karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kebupaten Trenggalek. Dalam pelaksanakan upacara tradisi nyadran ini harus sesuai dengan tata cara yang sudah ditetapkan dan tidak merubah inti dari upacara tersebut. Karena upacara tradisi nyadran di Dam Bagong ini merupakan kebudayaan lama dan asli dari Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek. Sehingga dapat digunakan sebagai pendukung kebudayaan daerah

Pelaksanaan program pengembangan diri sebagai upaya menumbuhkan jiwa nasionalisme di SMA Negeri 1 Lawang / Restisa Indah Septiani

 

Septiani, Restisa Indah. 2013. Pelaksanaan Program Pengembangan Diri sebagai Upaya Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme di SMA Negeri 1 Lawang . Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H A Rosyid Al Atok M.Pd MH. (2) Rusdianto Umar SH.M.Hum. Kata Kunci: Pengembangan diri, Nasionalisme.     Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai  bagian integral dari kurikulum sekolah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling  berkenaan dengan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan seiring dengan semakin kompleksnya permasalahan yang sedang dihadapi saat ini, terlihat rasa nasionalisme khususnya di kalangan siswa semakin memudar. Sehingga penulis tertarik untuk menjadikan SMA Negeri 1 Lawang sebagai objek penelitian mengenai ”Pelaksanaan Program Pengembangan Diri sebagai Upaya Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme di SMA Negeri 1 Lawang”.     Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui: (1) Program pengembangan diri yang dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme di SMA Negeri I Lawang, (2) Pelaksanaan program pengembangan diri sebagai upaya menumbuhkan jiwa nasionalisme di SMA Negeri I Lawang, (3) Faktor pendukung dalam pelaksanaan program pengembangan diri sebagai upaya menumbuhkan jiwa nasionalisme di SMA Negeri I Lawang, (4) Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pengembangan diri sebagai upaya menumbuhkan jiwa nasionalisme di SMA Negeri I Lawang, (5) Upaya yang dilakukan dari pihak sekolah dalam mengatasi kendala guna menumbuhkan jiwa nasionalisme di SMA Negeri I Lawang.     Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian yang dipilih adalah di SMA Negeri 1 Lawang. Sumber data dalam penelitian ini adalah wakil kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan model analisis interaktif.     Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh lima simpulan sebagai berikut: (1) Program pengembangan diri yang dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme adalah kegiatan terprogram dan kegiatan tidak terprogram. Kegiatan terprogram melalui beberapa kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan kegiatan tidak terprogram melalui kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan kegiatan keteladanan; (2) Pelaksanaan program pengembangan diri yang dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme salah satunya adalah pada pelaksanaan kegiatan terprogram melalui beberapa kegiatan ekstrakurikuler yaitu: Paskibra, Pramuka, PMR, Kesenian, Keolahragaan yang dilaksanakan pada setiap hari Sabtu dan wajib diikuti oleh semua siswa kelas X dan kelas XI; (3) Faktor pendukung dalam pelaksanaan program pengembangan diri berasal pada kegiatan terprogram dan kegiatan tidak terprogram. Faktor pendukung pada kegiatan terprogram yaitu: (a) adanya kesadaran dari dalam diri siswa, (b) adanya motivasi dari pembimbing ekstrakurikuler, (c) adanya sarana dan prasarana yang memadai pada beberapa bidang ekstrakurikuler, Sedangkan faktor pendukung dalam kegiatan tidak terprogram yaitu (a) adanya kesadaran siswa, (b) adanya motivasi guru, (c) adanya aturan yang tegas; (4) Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pengembangan diri ada pada kegiatan terprogram dan kegiatan tidak terprogram. Kendala pada kegiatan terprogram yaitu: (a) keterbatasan tempat pada beberapa pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, (b) keterbatasan dana, (c) kurangnya motivasi dari orang tua, (d) pada beberapa guru kurang bisa memotivasi siswa. Sedangkan kendala kegiatan tidak terprogram yaitu: (a) adanya pengaruh pergaulan siswa yang kurang baik, (b) kurangnya kesadaran dari beberapa siswa; (5) Upaya sekolah yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan program pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan terprogram dan kegiatan tidak terprogram. Upaya yang diberikan pada kegiatan terprogram adalah (a) adanya suatu bimbingan khusus dari pihak sekolah untuk mengarahkan siswa, (b) sekolah berusaha untuk memberikan dana secara rutin kepada setiap kegiatan ekstrakurikuler, (c) pihak sekolah telah berupaya untuk memberikan sosialisasi kepada orang tua siswa. Sedangkan upaya sekolah dalam kegiatan tidak terprogram, yaitu (a) adanya pembuatan aturan, tata tertib, penghargaan (reward) dan hukuman (punishment), (b) guru senantiasa memberikan contoh dan tauladan serta memberikan motivasi yang baik kepada siwanya, (c) adanya bimbingan khusus dari guru BK.     Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan yaitu: (a) disarankan kepada Kepala Sekolah untuk selalu memberikan motivasi dan dukungan baik dalam segi material maupun non material kepada semua warga sekolah demi kelancaran dalam pelaksanaan program pengembangan diri guna menumbuhkan jiwa nasionalisme siswa, (b) disarankan kepada Guru untuk mampu mengintegrasikan dan bisa memotivasi siswanya akan begitu pentingnya keikutkesrtaan siswa dalam pengembangan diri, (c) disarankan kepada siswa, untuk selalu mengembangkan dan mengindahkan sikap nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang telah didapat siswa dalam pelaksanaan program pengembangan diri di sekolah, (d) disarankan kepada pihak orang tua, agar bisa mendorong dan memotivasi siswa untuk mengembangkan jiwa nasionalisme melalui program pengembangan diri, (e) disarankan pada mahasiswa jurusan Hkn untuk meneliti lebih lanjut atau lebih dalam mengenai pengaruh pelaksanaan program pengembangan diri bagi siswa.

Upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA di Kota Blitar / Isrov Noviyanti

 

Kata kunci : Perpustakaan Bung Karno, Nilai-Nilai Kepahlawanan dan Nasionalisme Pada phase “revolusi” merebut kemerdekaan nilai-nilai nasionalisme berkobar-kobar sampai dekade 80an, nasionalisme masih menyala-nyala berupa nilai-nilai ’45. Setelah dekade tahun 90an, generasi muda mengalami erosi nasionalisme penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman remaja tentang nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme. Salah satu faktor penyebab utamanya adalah faktor pendidikan di sekolah juga mempengaruhi, dimana generasi muda baik siswa SD, SMP, dan SMA kurang menerima pendidikan sejarah tentang nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pendidikan perjuangan bangsa. Hal tersebut tentu tidak boleh terjadi berkepanjangan. Pemerintah kota Blitar melakukan upaya sadar sistematis terprogram dengan mendirikan perpustakaan Bung Karno sebagai sumber belajar yang dipersiapakan dan diperuntukkan semua kalangan terutama siswa SMP dan SMA. Melalui membaca generasi muda diharapkan memiliki kebiasaan membaca guna meningkatkan kualiatas idealisme sebagai pribadi dan anak bangsa. Pribadi yang cerdas dan berkarakter. Untuk itulah penelitian ini dilakukan dalam mencermati erosi nasionalisme, patriotisme dan heroisme pada siswa SMP dan SMA di kota Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Proses sejarah berdirinya perpustakaan Bung Karno, 2) Wujud nilai-nilai yang digunakan perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA, 3) Persepsi siswa SMP dan SMA terhadap upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme, 4) Persepsi guru terhadap upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA, 5) Kendala yang dihadapai perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA, 6) Upaya perpustakaan Bung Karno untuk mengatasi kendala dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari informan (orang), peristiwa dan dokumentasi. Data yang diperoleh melalui observasi untuk mengetahui upaya perpustakaan dalam melestarikan nilai-nilai kepahlwanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA di Kota Blitar, wawancara dengan Bapak I Purwodarsono selaku kepala bagian pelayanan informasi dan kerjasama perpustakaan Bung Karno dan untuk mengetahui persepsi dari Karina dan Ilham siswa SMP dan Nofa, Apriliani dan Devi siswa SMA. Dan juga persepsi Bapak Zaenal dan Ibu Anis selaku guru PKn tentang upaya perpustakaan dalam melestarikan nilai-nilai kepalawanan dan nasionalisme, kendala yang dihadapi upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme, cara mengatasi kendala yang dihadapi upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme, data berupa atensi, frekuensi kunjungan dan profil perpustakaan Bung Karno yang diperoleh dari rekam dokumentasi. Instrument dalam penelitian berupa pedoman wawancara mendalam, lembar observasi (catatan), rekaman peristiwa (dokumentasi) sebagai data yang didiskripsikan sesuai dengan masalah yang diteliti. Analisa data yang digunakan adalah (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) proses sejarah berdirinya perpustakaan Bung Karno dilatarbelakingi oleh tiga aspek yaitu aspek historis kota Blitar, aspek ideologi dari pemikiran Bung Karno, dan aspek empiris, 2) wujud nilai-nilai yang digunakan perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA adalah nilai kepahlawanan, nilai nasionalisme dan nilai ideologi yang tampak pada upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme dengan partisipasi siswa memperingati hari Lahirnya Pancasila dan mengikuti kegiatan seminar di perpustakaan Bung Karno. 3) persepsi siswa SMP dan SMA meliputi atensi dan frekuensi kunjungan siswa SMP dan SMA di perpustakaan Bung Karno, 4) persepsi guru terhadap upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme tampak berupa respon positif terhadap upaya yang dilakukan perpustakaan Bung Karno, 5) kendala yang dihadapi perpustakaan Bung Karno adalah masih kurangnya kesadaran membaca, keterbatasan kerjasama dan sosialisasi, 6) upaya perpustakaan Bung Karno untuk mengatasi kendala dengan meningkatkan kesadaran membaca di perpustakaan dan melakukan kerjsama dengan lembaga tinggi tentang kajian yang sama dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme pada siswa SMP dan SMA. Semua hasil penelitian tentang upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme, maka diajukan saran sebagai berikut : (a) perpustakaan sebagai pusat studi terpadu dapat meningkatkan pembinaan pendidikan dan kebudayaan siswa SMP dan SMA, (b) dengan menekankan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme meningkatkan pengetahuan kesadaran siswa tentang hukum dan kewarganegaraan sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, (c) sebagai wahana untuk mengkaji secara ilmiah mengenai upaya perpustakaan Bung Karno dalam melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme, (d) siswa dapat mengembangkan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme tidak hanya melalui mata pelajaran namun dengan memperkaya sumber belajar lain yang diakomodasi di perpustakaan Bung Karno di Kota Blitar.

Menelisik nilai-nilai tradisi ngebrok dalam sistem perkawinan masyarakat Samin di Dusun Jepang Desa Margomulyo Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro / Dita Sekarlangit

 

Kinerja guru pendidikan kewarganegaraan bersertifikasi di SMPN Kota Malang / Dwi Irawati

 

Irawati, Dwi. 2013. “Kinerja Guru Pendidikan Kewarganegaraan Bersertifikasi Di SMPN Kota Malang”. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Untari, M.Si (II) Rusdianto Umar, SH M.Hum Kata kunci: Sertifikasi, Kompetensi Profesional     Guru memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Guru memegang kunci dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah. Guru adalah pihak yang paling dekat berhubungan dengan siswa dalam pelaksanaan pendidikan sehari-hari.Guru yang profesional adalah guru yang mempunyai sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial maupun kompetensi profesional. Kompetensi profesional merupakan salah satu jenis kompetensi yang mutlak perlu dikuasai guru. Kompetensi profesional pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam menguasai struktur dan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi profesional merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya. Namun guru Pendidikan Kewarganegaraan yang telah bersertifikasi di SMPN Kota Malang belum memenuhi sebagai guru profesional. Untuk mengetahui fokus dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana kompetensi profesional yang dimiliki guru Pendidikan Kewarganegaraan yang telah berstatus sertifikasi di SMPN Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kompetensi profesional guru Pendidikan Kewarganegaraan yang telah berstatus sertifikasi di SMPN Kota Malang.     Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Penelitian ini berusaha menggambarkan Kinerja Guru Pendidikan Kewarganegaraan Bersertifikasi Di SMPN Kota Malang secara persentase. Populasi dalam penelitian ini adalah Guru Pendidikan Kewarganegaraan yang berstatus sertifikasi di SMPN Kota Malang berjumlah 53 responden. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 9 responden meliputi SMPN 2 Malang, SMPN 17 Malang, SMPN 19 Malang, SMPN 20 Malang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik stratified proporsional random sampling. Pengambilan jumlah sampel tersebut karena keterbatasan peneliti dalam hal waktu dan luasnya ruang lingkup penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data menggunakan persentase.     Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi profesional guru Pendidikan Kewarganegaraan yang berstatus sertifikasi di SMPN Kota Malang sebagian besar belum memenuhi sebagai guru profesional. Saran yang dapat di ajukan adalah (1) Universitas Negeri Malang sebaiknya lebih meningkatkan kualitas guru dan dapat mengarahkan guru yang lebih profesional, serta dapat mencetak calon guru yang berkompeten di bidangnya. (2) Guru Pendidikan Kewarganegaraan yang telah berstatus sertifikasi sebaiknya guru Pendidikan Kewarganegaraan yang bersertifikasi lebih meningkatkan kompetensi yang dimiliki terutama kompetensi profesional, karena guru yang menguasai mengelola pembelajaran, bahan ajar, dan mengelola kelas dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. (3) Bagi Lembaga Pelaksanaan Program Sertifikasi sebaiknya lebih selektif dalam penanganan dan penjaringan guru Pendidikan Kewarganegaraan yang sertifikasi agar mendapatkan input guru yang lebih berkualitas.

Partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pemecahan masalah pembangunan di Kelurahan Surodikraman Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo / Alif Fabyyan Ardhinata

 

Kata kuci : partisipasi masyarakat, proses perencanaan pembangunan, pemecahan masalah pembangunan. Penelitian ini bertujan untuk (1) Mengetahui proses perencanaan pembangunan (2) Mengetahui masalah apa saja dalam pelaksanaan perencanaan dan proses pembangunan (3) Mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah – masalah tersebut (4) Mengetahui partisipasi masysrakat dalam proses perencanaan dan pemecahan masalah pembangunan Penelitian ini rnenggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Kelurahan Surodikraman. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian (1) partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pemecahan masalah pembangunan di Kelurahan Surodikraman Kecamataan Ponorogo Kabupaten Ponorogo dibagi menjadi tiga tahap yaitu pada proses perencanaan, pelaksanaan, dan Evaluasi. (2) Masalah yang dihadapi masyarakat Kelurahan Surodikraman Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo dalam proses pembangunan ada tiga hal yaitu keterbatasaan waktu, kekurang tepatan pendataan, dan keterbatasan dana. (3) Solusi atau cara untuk mengatasi masalah dalam proses pembangunan di Kelurahan Surodikraman Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo adalah dengan mengandalkan semangat gotong royong dan swasembada dalam proses pembanggunan tersebut. Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil tindakan selanjutnaya yaitu untuk lebih mempererat kegotong royongan pada masyarakat dan pemerintah juga dapat mulai menerapkan iuran daerah agar kelurahan memiliki kas untuk pembangunan dan pengembangan kesejahteraan daerah.

Pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar geogragi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang / Nurul Siti Masholekhatin

 

Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang.

Pengaruh model pembelajaran learning cycle "5E" terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS SMA Darul Ulum 1 Peterongan Jombang / Oktavia Nurma Sari

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Learning Cycle ”5E”, kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis penting dikembangkan pada diri siswa. Seseorang yang berpikir kritis tidak mudah puas dengan informasi yang diterima. Mereka akan mencari tahu kebenaran akan informasi tersebut berdasarkan fakta-fakta dan pengetahuan yang logis dengan begitu secara tidak langsung akan mendorong mereka untuk terus belajar. Dibutuhkan suatu pembelajaran yang dapat membantu dan memfasilitasi siswa melatihkan aspek-aspek kemampuan berpikir kritisnya. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif terutama dalam aktifitas mental merupakan salah satu faktor yang dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar adalah pembelajaran konstruktivistik. Learning Cycle “5E” merupakan salah satu model pembelajaran yang berbasis konstruktivistik. Learning Cycle “5E” merupakan model pembelajaran yang menuntun siswa untuk membangun pengetahuan mereka sendiri melalui lima tahapan kegiatan pembelajaran dimulai dari Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration, dan Evaluation. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengoptimalkan daya nalar atau kemampuan berpikir mereka melalui setiap tahap-tahap pembelajarannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran model Learning Cycle ”5E” terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS SMA Darul Ulum 1 Peterongan Jombang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Subjek peneilitian berjumlah 66 siswa yang terbagi dalam dua kelas yaitu kelas XI IPS 2 sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPS 3 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa tes esai untuk mengukur kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan berdasarkan ranah kognitif C4 terdiri dari pretest dan postest. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t tidak berpasangan (independent Samples t-Tets) dengan bantuan SPPS 16.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji statistik yang diterapkan diperoleh nilai signifikasi 0,000. Nilai signifikasi menunjukkan bahwa 0,000<0,05, dengan nilai rata-rata Gain Score kelas eksperimen lebih tinggi yaitu sebesar 36 dibandingkan dengan kelas kontrol yaitu sebesar 22, maka Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh pembelajaran model Learning Cycle ”5E” terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS SMA Darul Ulum 1 Peterongan Jombang. Saran untuk guru geografi yaitu model pembelajaran Learning Cycle ”5E” dapat digunakan oleh guru sebagai pertimbangan pembelajaran yang tepat pada materi pembelajaran geografi untuk menigkatkan kemamuan berpikir kritis siswa. Bagi sekolah hasil yang dicapai dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan model pembelajaran disekolah sebagai upaya untuk menigkatkan kualitas baik dari segi pengajar maupun siswa sehingga terciptanya suatu pendidikan yang bermutu. Bagi peneliti selanjutnya disarankan dapat mengembangkan model pembelajaran Learning Cycle ”5E” dengan lebih baik.

Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar geografi siswa kelas XI B di SMA Islam Watulimo Kabupaten Trenggalek / Dian Ratnasari

 

Kata kunci: keaktifan belajar, hasil belajar, model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) Perubahan orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru sekarang berpusat pada siswa dengan tujuan memperbaiki mutu pendidikan. Namun, kenyataannya belum sesuai dengan usaha tersebut, seperti di kelas XI-B SMA Islam Watulimo. Berdasarkan observasi ditemukan data rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa. Faktor penyebabnya antara lain adalah rendahnya keaktifan siswa serta model dan metode pembelajaran guru yang membosankan. Alternatif yang dapat dilakukan guru yaitu menggunakan model pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran individu dan kelompok secara terprogram seperti model pembelajaran TAI, karena TAI dirancang untuk mengkombinasikan pembelajaran individu dan kooperatif. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tujuan mengetahui apakah TAI dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar. Subjek penelitian adalah 31 siswa kelas XI-B. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan tes. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif tabulasi tunggal keaktifan dan hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar. Keaktifan dan hasil belajar secara klasikal pada pra tindakan, siklus 1, dan siklus 2 adalah 60, 75, dan 86, serta 65, 74, dan 83. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa TAI dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Saran yang diajukan untuk kepala sekolah adalah perlunya penyediaan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektifitas pembelajaran. Sedangkan bagi guru disarankan untuk menggunakan TAI sebagai model pembelajaran alternatif.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |