Pengaruh bakat mekanik dan gaya belajar siswa kelas X Program Keahlian Teknik Pemesinan terhadap prestasi belajar mata pelajaran membaca gambar teknik di SMK PGRI 3 Malang / Ade Setyo Wahyu Utomo

 

Kata Kunci: Bakat Mekanik, Gaya Belajar, Prestasi Belajar Membaca Gambar Teknik Sejalan dengan pemberlakuan kurikulum SMK edisi 2004 dan kurikulum spektrum 2009 yang dikembangkan menjadi KTSP serta dalam rangka meningkatkan mutu pengetahuan kejuruan, prestasi belajar adalah sebagai indikator mutlak. Secara garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu terdiri dari faktor internal dan eksternal. Bakat mekanik dan gaya belajar adalah salah satu dari kedua faktor yang mungkin dapat mempengaruhi prestasi belajar mata pelajaran membaca gambar teknik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam menguji hipotesis. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 43 siswa kelas X Program Keahlian Tekik Pemesinan dengan metode pengambilan sampel adalah proporsional random sampling. Metode pengambilan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Berdasarkan data hasil pengujian, dapat diketahui bahwa bakat mekanik berpengaruh terhadap prestasi belajar membaca teknik. Hal ini berarti jika bakat mekaniknya rendah maka prestasinyapun juga akan rendah begitu juga sebaliknya. Sedangkan gaya belajar tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar membaca teknik hal. Hasil pengujian berikutnya yaitu semua variabel bebas, bakat mekanik dan gaya belajar secara simultan berpengaruh terhadap prestasi belajar membaca teknik siswa kelas X Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK PGRI 3 Malang. Jadi dapat disimpulkan bahwa bakat mekanik berpengaruh secara partial dan secara simultan dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar membaca gambar teknik. Hasil ini didapat dari analisis uji t dan F menggunakan spss 16.0 for windows dan juga didukung oleh teori-teori serta penelitian terdahulu. Saran yang dapat disampaikan setelah melakukan penelitian ini adalah agar Kepala SMK PGRI 3 Malang mengadakan tes bakat mekanik ketika pendaftaran siswa baru, kepada Guru gambar teknik agar tidak membeda-bedakan gaya belajar siswa, hal ini untuk meningkatkan prestasi belajar membaca gambar teknik siswa. Kepada peneliti selanjutnya agar menambahkan variabel prediktor lain yang diduga juga berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran membaca gambar teknik.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran berbasis masalah bagi siswa kelas V SDN Benowo I Surabaya / Rini Ismawati

 

Hasil pengamatan di SDN Benowo I Surabaya kelas V pada mata pelajaran PKn diketahui siswa belum memenuhi ketuntasan belajar. Dari 41 siswa, yang tuntas hanya 8 siswa. Hal ini disebabkan guru kurang menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. Sehingga siswa bosan, ramai, tingkah laku kurang baik misalnya ketika guru menjelaskan siswa banyak yang ngomong sendiri. Dengan ini maka perlu perbaikan melalui model pembelajaran yang lebih bervariasi. Dalam hal ini peneliti menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan tujuan, (1) Mendiskripsikan pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Benowo I Surabaya, (2) Mendiskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Benowo I Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan rancangan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana atau guru kelas. Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini diperoleh persentase ketuntasan hasil belajar pada kegiatan pra tindakan 19,5 % dan pada siklus I pertemuan pertama 26,82 % sehingga naik 7,32 %. Pada siklus I pertemuan kedua menjadi 41,46 yang sebelumnya pada siklus I pertemuan pertama 26,82 % sehingga mengalami peningkatan 14,64 %. Pada siklus II pertemuan pertama menjadi 78,05 yang sebelumnya pada siklus I pertemuan kedua 41,46 sehingga mengalami peningkatan 36,59 %. Serta pada siklus II pertemuan kedua 95,12 % yang sebelunya pada siklus II pertemuan pertama 78,05 dan mengalami peningkatan sebanyak 17,07 %. Dari jumlah siswa 41 yang belum tuntas sebanyak 2 siswa, disebabkan karena siswa tersebut memang lambat belajar dan sering tidak focus dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas siswa dari pra tindakan antara lain mendengarkan penjelasan guru dilanjutkan dengan tes evaluasi. Sedangkan aktivitas siswa pada siklus I pertemuan pertama diperoleh persentase sebanyak 54% dan pertemuan kedua naik menjadi 57%. Aktivitas siswa pada siklus II pertemuan pertama diperoleh persentase sebanyak 75,4% dan pertemuan kedua naik menjadi 79,2%. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis masalah pada kelas V SDN Benowo I Surabaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.

Pengaruh volume angker bambu terhadap kapasitas gaya geser sambungan balok dan kolom beton bertulangan bambu / Dian Luthfianto

 

Kata Kunci: Tulangan Bambu, Gaya Geser, Pemasangan Angker Bambu pada Sambungan Balok dan Kolom Beton Bertulangan Bambu. Bambu merupakan sumber bahan bangunan yang sering kita jumpai dan dapat diperbaharui serta hampir tersedia diseluruh wilayah Indonesia. Bambu digunakan sebagai tulangan beton pada struktur/bangunan sederhana satu lantai tahan gempa dengan bentang maksimum dibawah 5 meter sebagai bahan pengganti/alternatif tulangan baja pada beton bertulang, sebab bambu ori mempunyai kuat tarik sebesar 417 Mpa pada bagian kulit dan 164 Mpa pada bagian dalam (Morisco dan Marjono, 1999 dalam Ernawati, dkk, 2004), menyamai kuat tarik baja tulangan yang berkisar antara 240 Mpa hingga lebih dari 400 MPa. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui besar beban maksimum dan simpangan maksimum pada kondisi dorong kanan dan dorong kiri sambungan balok kolom tulangan bambu (2) untuk mengetahui pola retak pada sambungan balok kolom tulangan bambu (3) untuk mengetahui grafik hysteresis loop hubungan antara gaya geser dengan simpangan yang terjadi akibat pembebanan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen. Data yang diperoleh dari hasil pengujian kemudian dideskripsikan. Data diperoleh dari hasil pengujian 4 buah model sambungan balok kolom bertulangan bambu. Untuk mendeskripsikan data hasil pengujian, parameter yang digunakan adalah pembacaan beban horisontal dorong kanan dan beban horisontal dorong kiri, pembacaan besar simpangan yang terjadi akibat pemberian beban tersebut, serta beban maksimum yang mampu diterima oleh sambungan balok kolom bertulangan bambu. Dari hasil pengujian ini didapat besar beban maksimum sebesar 1656 kg saat kondisi dorong kanan dan 552 kg dorong kiri pada benda uji dengan angker panjang 43 cm, dan 1058 kg saat kondisi dorong kanan dan 442 kg saat kondisi dorong kiri pada benda uji tanpa angker. Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa pengekangan dengan penambahan angker dengan panjang 43 cm pada sisi dalam sambungan balok kolom mampu meningkatkan kekuatan menahan beban maksimum yang dapat diterima oleh sambungan balok kolom tersebut dibandingkan dengan sambungan balok kolom bertulangan bambu dengan angker panjang 28,5 cm, angker panjang 30,5 cm dan tanpa angker. Dan untuk pola retak, terlihat sambungan balok kolom tulangan bambu tanpa angker mengalami retak paling lebar yaitu 8 mm mengelilingi daerah sambungan, sedangkan pada sambungan balok kolom bertulangan bambu dengan angker panjang 43 cm hanya mengalami retak selebar 1 mm pada jarak 4 cm dan 20 cm diatas sambungan.

Pengaruh media pembelajaran terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Kediri / Yenita Arif Rachma

 

Kata kunci : Motivasi Belajar, Hasil Belajar Media pembelajaran lembar kerja siswa (LKS) yang mempunyai banyak manfaat untuk menunjang guru mempermudah mengajar hanya dimanfaatkan sebagai tugas memperbaiki nilai ulangan semester atau remidi. Fasilitas media pembelajaran yang lain seperti laptop dan Liquid Crystal Display (LCD) tidak dimanfaatkan untuk mempermudah dalam menyampaikan materi. Guru hanya mengandalkan papan tulis sebagai media saat menyampaikan materi. Hal ini tidak efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Fenomena tersebut memunculkan bahwa penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) pengaruh media pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa, (2) pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode analisis Quasi Experimental Design. Populasi penelitian ini seluruh keas XI IPS SMA Negeri 5 Kediri. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPS 2 dan XI IPS 3, XI IPS 2 menjadi kelas kontrol dan XI IPS 3 menjadi kelas eksperimen, masing-masing kelas terdapat 34 siswa. Pemilihan sampel dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes untuk hasil belajar dan angket untuk motivasi belajar. Hasil penelitian uji t menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh media pembelajaran terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dapat diketahui adanya peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar di kelas yang menggunakan media pembelajaran dengan rata-rata sebesar 80,91 dan 69,35. Kesimpulan penelitian adanya pengaruh media pembelajaran terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas XI IPS. Keterbatasan Penilaian hasil belajar hanya di ukur melalui ranah kognitif belum ada yang mengukur ranah afektif dan psikomotorik. Kriteria sampel yang dijadikan penelitian dipilih melalui nilai ulangan harian 1 yang dimiliki kelas XI IPS 2 dan XI IPS 3. Beberapa kelas yang lain belum memiliki nilai ulangan harian 1 karena materi yang diberikan belum selesai dan belum melakukan ulangan harian 1. Saran yang dapat diberikan untuk sekolah agar menyediakan alat Bantu media dan program media pembelajaran. Pada guru agar memanfaatkan dan menggunakan media pembelajaran dalam kegiatan belajar. Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variabel dalam pengukurannya dan dapat mempertimbangkan media lain yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah melalui pembelajaran problem creating materi perbandingan siswa kelas VII SMP Negeri 3 Tulungagung / Endro Purwanto

 

Kata kunci: Pemecahan Masalah, Pembelajaran Problem Creating,Perbandingan. Berdasarkan hasil observasi awal di SMP Negeri 3 Tulungagung diperoleh informasi bahwa selama ini belum ada upaya khusus untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah melalui pembelajaran problem creating pada siswa. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan beberapa guru matematika diperoleh bahwa materi perbandingan merupakan salah satu materi yang masih sulit dipahami siswa. Dengan demikian peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran problem creating pada materi perbandingan yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving) pada siswa. Pembelajaran problem creating dilakukan dalam lima tahap yaitu (a) menentukan tujuan pembelajaran matematika (b) menentukan masalah (c) menciptakan masalah (d) mengantisipasi jawaban siswa (e) menerapkan dan merefleksi masalah. Melalui tahap-tahap tersebut, pembelajaran problem creating berpotensi untuk dapat meningkatkan pemecahan masalah (problem solving) dan dapat memecahkan masalah perbandingan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti sebagai pengajar dan guru matematika serta teman sejawat sebagai pengamat. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VII-9 yang berjumlah 29 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui: (1) pelaksanaan pembelajaran, (2) observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, (3) observasi terhadap kegiatan guru selama melaksanakan pembelajaran problem creating, (4) analisis terhadap hasil kerja siswa berdasarkan jawaban pada LKS, (5) tes hasil belajar. Dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa melalui langkah-langkah pembelajaran problem creating siswa dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi perbandingan yang pada tahap awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran, pada tahap selanjutnya guru menentukan konteks masalah dengan mengaitkan antara materi yang akan dipelajari dengan materi prasyarat, selanjutnya guru menciptakan masalah yang mengarahkan siswa sehingga mampu memecahkan masalah, pada tahap antisipasi jawaban siswa guru merancang masalah yang tingkat kesulitannya semakin meningkat, pada tahap akhir dari langkah pembelajaran problem creating guru merefleksikan masalah yang telah diciptakan kemudian mengimplementasikan pada soal selanjutnya. Dalam pembelajaran problem creating agar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving) pada siswa, peneliti menyarankan kepada para guru untuk: mengalokasikan waktu secara cermat dalam merancang perangkat pembelajaran dan mengelola pembelajaran, mengatur, mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa agar dalam kerja kelompok dapat berjalan dengan optimal. Langkah-langkah pembelajaran problem creating harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur tahapannya agar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, oleh karena itu pembelajaran problem creating dapat dijadikan pertimbangan guru dalam menerapkan materi selain perbandingan pada pelajaran matematika.

Meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI MA Muhammadiyah 1 Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) / Rio Febrianto Arifendi

 

Kata kunci : motivasi belajar siswa, matematika, kooperatif tipe TAI. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat pembelajaran berlangsung di dalam kelas, sebagian besar siswa kurang memperhatikan guru pada saat proses pembelajaran matematika. Selain itu, adanya kelompok – kelompok homogen sehingga sebagian besar siswa berteman dengan kelompoknya sendiri – sendiri. Kemudian pada saat pembelajaran berlangsung banyak siswa yang pasif, malas, dan tidak mau bertanya apabila ada kesulitan. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan guru pada saat mengajar lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga membuat siswa mudah jenuh dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Pada pembelajaran TAI siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen yang mempunyai perbedaan karakter dan tingkat kepandaian. Pembelajaran tipe TAI dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa semaksimal mungkin, karena siswa secara aktif belajar sendiri di dalam kelompok, melakukan diskusi, dan pengecekan dengan teman satu kelompoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) yang dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas XI MA Muhammadiyah 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan PTK yang terdiri dari siklus I dan siklus II. Instrumen yang digunakan untuk mengukur motivasi adalah angket motivasi belajar siswa. Data tersebut dianalisis selanjutnya dibahas dan pada akhirnya ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberi tindakan terdapat 63.6% siswa yang memiliki motivasi rendah, tetapi setelah diberi tindakan terdapat 72.7% siswa yang memiliki motivasi cukup. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar siswa kelas XI Bahasa MA Muhammadiyah 1 Malang. Adapun tahap pelaksanaan tindakan yang dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TAI untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu Placement Test, Teams, Teaching Group, Student Creative, Team Study, Whole Class Units, Fact Test, dan Team Score And Team Recognition. Pada tahap Teams pembentukan kelompok memperhatikan komposisi jumlah perempuan dan laki – laki sehingga siswa tidak canggung berdiskusi dengan teman lawan jenisnya. Pada tahap Student Creative, bahasa dan petunjuk yang digunakan pada LKS lebih komunikatif sehingga mudah dipahami siswa. Pada akhir siklus, tahap Team Score And Team Recognition, peneliti juga memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan skor tertinggi sehingga siswa lebih semangat dan termotivasi untuk belajar matematika. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan TAI adalah jumlah observer, manajemen waktu yang tepat, dan pengendalian kelas yang bijaksana.

Perencanaan pelapisan tambahan (overlay) ruas jalan Desa Kanigoro sampai Desa Tumpang Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Rezha Aditya Rizkyawan

 

Kata Kunci: pelapisan tambahan (overlay), metode analisa komponen. Jalan Desa Kanigoro sampai Desa Tumpang ini memiliki peran penting dalam proses perekonomian dan transportasi di Kecamatan Kanigoro. Dikarenakan jalan ini merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Kota Blitar ke Kota Malang sehingga setiap harinya jalur ini selalu dilewati banyak kendaraan. Karena pentingnya jalan ini dan sekarang jalan ini sudah mengalami banyak kerusakan pada lapis permukaannya, sehingga sangat memprihatinkan jika jalan ini tidak segera diperbaiki karena dapat mengganggu pengendara yang melewati jalan ini. Maka dari itu tugas akhir saya ini mengambil judul mendesain ulang lapis permukaan ruas jalan Desa Kanigoro sampai Desa Tumpang. Tujuannya untuk memperbaiki lapis permukaannya, dengan cara mencari berapa besar tebal lapisan tambahan (overlay) pada ruas jalan Desa Kanigoro sampai Desa Tumpang, dan mencari besar biaya yang digunakan saat pelaksanaan penambahan ketebalan lapis permukaan pada ruas jalan Desa Kanigoro sampai Desa Tumpang. Jalan Desa Kanigoro sampai Desa Tumpang ini direncanakan dengan panjang 3400 m dan lebar 7.5 m. Lapis Permukaan akan menggunakan Bahan Laston (Lapisan Aspal Beton), sedangkan untuk perhitungan struktur perkerasan menggunakan Metode Analisa Komponen yang bersumber dari Buku “Pedoman Penentuan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya, 1983” dan beberapa peraturan lain. Hasil dari perhitungan tebal lapisan permukaan yang menggunakan Metode Analisa Komponen diperoleh ketebalannya adalah 5 cm. Sedangkan Hasil dari perhitungan biaya pelaksanaan yang harga upah dan bahan bersumber dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Blitar Tahun 2012 membutuhkan biaya sebesar Rp. 3,697,460,000 (Tiga Milyar Enam Ratus Sembilan Puluh Tujuh Juta Empat Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah).

Pengaruh listing time, financial leverage, dan persentase penawaran saham terhadap underpricing pada penawaran saham perdana (di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011) / Mochamad Andi Hakim

 

Kata kunci: Listing Time, Financial Leverage, dan Persentase Penawaran Saham. Setiap perusahaan tentunya memiliki keinginan untuk terus dapat berkembang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara ekspansi. Bagaimanapun, ekspansi usaha membutuhkan dana yang besar. Perusahaan yang mengalami masalah kekurangan dana bisa mendapatkannya melalui salah satu alternatif pendanaan, yaitu dengan menjual saham baru kepada masyarakat. Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya atau yang dinamakan Initial Public Offering sering mengalami underpricing. Beberapa penelitian menunjuk-kan bahwa fenomena tersebut sudah umum terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh listing time, financial leverage, dan persentase penawaran saham terhadap tingkat underpricing pada penawaran saham perdana (di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif kuantitatif. Populasi yang digunakan adalah perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2009-2011. Dari keseluruhan 61 perusahaan diambil 44 perusahaan berdasar teknik purposive sampling. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis secara parsial diketahui bahwa variabel listing time berpengaruh secara signifikan negatif terhadap underpricing. Variabel financial leverage tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat underpricing. Sementara persentase penawaran saham berpengaruh secara signifikan positif terhadap underpricing. Sedangkan hasil analisis secara simultan menunjukkan bahwa variabel bebas yang terdiri dari listing time, financial leverage, dan persentase penawaran saham secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing pada saat penawaran saham perdana (IPO). Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Bagi perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana sebaiknya mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing agar mampu mengurangi kerugian yang terjadi akibat underpricing pada saat IPO. (2) Bagi investor sebaiknya sebelum menginvestasikan modal yang dimilikinya di pasar perdana membuat acuan/ bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi agar mampu mendapatkan return yang maksimal. (3) Bagi penelitian selanjutnya diharapkan mampu meneliti variabel-variabel lain yang mempengaruhi underpricing pada saat IPO, seperti reputasi underwriter, reputasi auditor, ROA, umur perusahaan, dan disertai dengan tahun penelitian yang lebih panjang.

Pengembangan perangkat pembelajaran integratif dengan setting buzz group pada materi pokok barisan dan deret aritmatika di kelas XI SMK PGRI 2 Kediri / Moh. Andi Widodo

 

Peningkatan pemahaman siswa pada materi garis singgung lingkaran melalui model kooperatif TPS dengan pendekatan inquiry siswa kelas VIII SMPN 3 Tulungagung / Ariyani

 

Kata Kunci: Pemahaman, Think Pair Share, Inquiry, Garis Singgung Lingkaran. Geometri merupakan cabang matematika yang menempati posisi penting untuk dipelajari, karena geometri banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan garis singgung lingkaran merupakan materi yang masuk dalam ruang lingkup geometri. Berdasarkan diskusi dengan teman sejawat di SMPN3 Tulungagung, didapatkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi garis singgung lingkaran. kemampuan siswa masih terbatas pada menghafal rumus. Sehingga jika soal yang diberikan sedikit dimodifikasi, siswa mengalami kesulitan dalam memahami permasalahan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran Model Kooperatif-TPS dengan pendekatan inquiry yang dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VIII pada pokok bahasan garis singgung lingkaran. Pembelajaran TPS ini mempunyai tiga tahapan sesuai dengan namanya yaitu : think, pair dan share. Pada tahapan think, siswa diberi kesempatan untuk berpikir secara individu dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan, guru hanya mengarahkan jalan berpikir siswa agar tidak keluar dari materi yang dipelajari. Berikutnya adalah tahap pair, siswa dapat berdiskusi dengan kelompoknya untuk menemukan kesepakatan penyelesaian dari permasalahan yang diberikan dan guru hanya sebagai mediator. Tahap yang terakhir adalah share, disini siswa menjelaskan/memaparkan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Selain itu siswa menerima saran/masukan dari kelompok lain. Strategi inquiry merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah. Dalam pembelajaran matematika, strategi inquiry memiliki tiga karakteristik, yaitu : partisipasi, investigasi dan konstruksi pengetahuan. Partisipasi menekankan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Investigasi merupakan proses penyelidikan yang dilakukan siswa terhadap masalah matematika. Adapun konstruksi pengetahuan merupakan kegiatan menganalisis masalah dengan melakukan diskusi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat 11 langkah pembelajaran think pair share dengan pendekatan inquiry pada materi garis singgung lingkaran, yaitu: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran, (2) memberikan pertanyaan kepada siswa untuk menggali pengetahuan awal yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas, yang sudah diperoleh siswa pada pertemuan sebelumnya, (3) memberikan penjelasan tentang strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan, (4) siswa diajak berfikir untuk mendukung hipotesa guru, (5) dengan menggunakan LKS, guru memberikan permasalahan yang dapat mengarahkan siswa untuk memahami materi yang diberikan, (6) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan menjawab permasalahan di LKS secara individu, (7) siswa berkelompok untuk mendiskusikan permasalahan pada LKS dengan tujuan saling melengkapi dan menguatkan hasil yang telah diperoleh, (8) memberikan kesempatan kepada perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, (9) bersama siswa membuat kesimpulan, (10) meminta siswa untuk tidak berkelompok, lalu siswa diberikan soal tes yang dikerjakan siswa secara individu, (11) menutup pelajaran yang didahului dengan menyampaikan materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan data hasil penelitian menyatakan bahwa prosentase hasil tes secara klasikal yang mendapatkan skor ≥ 77 meningkat yaitu 81,25% pada siklus 1 dan 91% pada siklus 2, prosentase hasil observasi aktivitas guru meningkat dari 83% pada siklus 1 menjadi 91,5% pada siklus 2, prosentase hasil observasi aktivitas siswa meningkat dari 85% pada siklus 1 menjadi 91,65% pada siklus 2, prosentase hasil angket meningkat dari 81,86% pada siklus 1 menjadi 90,64% pada siklus 2, dan hasil wawancara yang dilakukan pada 3 (tiga) obyek juga meningkat dari 2 siswa pada siklus 1 menjadi 3 siswa pada siklus 2 yang memahami materi garis singgung lingkaran ,meskipun dengan pemberian bantuan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebelas langkah pembelajaran think pair share dengan pendekatan inquiry yang digunakan dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VIII SMPN3 Tulungagung pada materi garis singgung lingkaran. Sedangkan saran yang diperkirakan dapat memperbaiki pembelajaran adalah seyogyanya para pendidik lebih aktif dalam mendesign dan membuat LKS yang dapat mengarahkan anak didik dalam memahami suatu materi.

Perencanaan upper structure jembatan beton precast di Desa Kendal Bulur Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung / Dwi Wiyono

 

Kata-kata kunci: Jembatan Precast, Upper Structure, Beton Prategang. Desa Kendalbulur dan Desa Kedungsoko merupakan bagian dari dua Kecamatan yang berbeda di Kabupaten Tulungagung. Desa tersebut dipisahkan oleh sungai dengan lebar 50 m. Pada sungai tersebut, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Jembatan tersebut terbuat dari jembatan gantung dengan lebar 1,5 m yang bisa dilewati sepeda motor dan sepeda Sedangkan untuk kendaraan roda empat tidak bisa lewat jembatan tersebut sehingga warga sebelumnya harus melalui jalan memutar sekitar 2 km untuk menuju ke Desa Kedungsoko. Jembatan ini menjadi peran penting mengingat banyak warga yang memiliki lahan persawahan di desa tersebut. Jembatan tersebut juga merupakan jalur alternatif untuk menuju kabupaten Trenggalek dan sebaliknya. Seiring berkembangnya waktu semakin banyak kendaraan besar yang melintas juga intensitas kendaraan yang lewat juga semakin padat. Berdasarkan informasi yang diperoleh jembatan tersebut rencananya akan dibangun jembatan yang bisa dilewati kendaraan besar disebelah jembatan lama. Ini bertujuan supaya kendaraan besar bisa lewat dengan baik dan lancar juga untuk keamanan pengguna jalan dan jembatan. Dari kondisi tersebut perencanaan jembatan precast dapat digunakan sebagai alternatif pilihan jembatan. Permasalahan yang ditinjau dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana menentukan spesifikasi balok struktur jembatan menggunakan beton precast di Desa Kendalbulur, (2) Bagaimana menganalisa perhitungan kekuatan komponen jembatan precast terhadap gaya dalamnya, (3) Bagaimana hasil analisa perhitungan ke dalam bentuk gambar teknik. Hasil dari perencanaan adalah jembatan panjang bentang 50 m, lebar total 7.20 m, tebal slab 0.20 m, untuk tulangan positif negatif dengan tulangan D16 – 200 dan tulangan bagi D12 – 130, dengan dimensi tiang sandaran 15 cm x 15 cm jumlah 2 D12 dengan tulangan geser  6 – 150, penulangan bagian trotoar menggunakan tulangan dengan D16 – 200 dan tulangan bagi D12 – 130, balok gelaga induk beton precast bentuk I dengan tinggi 2.00 m berjumlah 5 buah dengan jarak 1.25 m antar balok gelagar. Jumlah tendon yang digunakan 4 dengan 3 tendon berisi 19 strands dan 1 tendon berisi 12 strands, jenis strands yang digunakan Uncoated 7 wire super strands ASTM A-416 grade 270, dengan tulangan arah memanjang balok menggunakan besi D12 dengan jumlah bagian atas 10, bagian bawah 12 dan bagian tengah/badan 12 tulangan geser menggunakan D12. Dari hasil perhitungan, gaya-gaya dalam yang terjadi telah memenuhi syarat SNI-T-12-2004.

Pengembangan media CD interaktif untuk pembelajaran bryophyta kelas X di SMAN 2 Malang / Ely Suryani

 

Analisis butir soal ulangan akhir semester I kelas IV SD tahun ajaran 2012/2013 mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang / Aninda Devi Putri

 

Kata Kunci: soal UAS IPS, analisis butir soal, tingkat kesukaran, daya beda, dan variasi distribusi pola jawaban. Kualitas butir soal memegang posisi yang sangat penting dalam keseluruhan tes sehingga perlu diketahui kualitasnya sebelum digunakan sebagai instrumen pengukur hasil belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, diperoleh informasi bahwa soal UAS IPS di Kecamatan Sumber Pucung yang dibuat oleh tim kabupaten belum dianalisis sehingga tidak diketahui tingkat kesukaran, daya beda, maupun variasi distribusi pola jawabannya. Sehingga belum dapat diketahui kualitasnya sebagai alat pengukur keberhasilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas tes dengan: mendeskripsikan tingkat kesukaran, daya beda, dan variasi distribusi pola jawaban soal UAS SD kelas IV semester I tahun ajaran 2012/2013 mata pelajaran IPS di Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten Malang. Evaluation research ini menggunakan populasi soal UAS yang disebarkan pada 847 siswa. Sampel persebaran siswa pengguna 212 (25%). Data yang digali melalui instrumen dokumentasi diolah dengan teknik analisis Ms. Excel 2010. Sedangkan studi pendahuluan menggunakan teknik wawancara. Analisis TK menunjukkan kualifikasi sulit 1 soal (3%), sedang 19 soal (54%), dan mudah 15 soal (43%) sehingga terlihat proporsi dan kriteria soal belum memenuhi syarat perbandingan 3-4-3 ataupun 3-5-2. Ditinjau dari daya beda, diperoleh tidak ada soal dengan kategori baik sekali (0%), kategori baik 2 soal (6%), cukup 18 soal (51%), jelek 14 soal (40%), dan jelek sekali 1 soal (3%). Sedangkan variasi distribusi pola jawaban yang ada pada soal UAS IPS kurang baik. Omit tergolong baik (tidak melebihi batas maksimal omit yaitu 5% dari jumlah pemilih). Kesimpulan penelitian yang dilakukan, yaitu: secara keseluruhan tingkat kesukaran soal pembagian kualifikasi sulit, sedang, dan mudah masih belum sesuai dengan ketentuan. Daya beda soal memiliki kualifikasi cukup dengan persentase paling besar sehingga tergolong baik. Sedangkan variasi distribusi pola jawaban yang ada pada soal belum terdistribusi sesuai ketentuan. Dari hasil penelitian, diajukan beberapa saran yaitu: naskah UAS sebaiknya diujicobakan dan dianalisis terlebih dahulu sebelum digunakan; soal dengan analisis tingkat kesukaran, daya beda, dan variasi distribusi pola jawaban yang baik dapat disimpan dan dijadikan acuan untuk membuat soal selanjutnya; dan peneliti lain dapat mengembangkan penelitan ini dengan penelitian yang lebih luas.

Pengaruh kepribadian, kualitas kehidupan kerja, dan komitmen organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) (studi pada perawat Rumah Sakit Islam Gondanglegi) / Lita Nursanti

 

Kata Kunci: Kepribadian, Kualitas Kehidupan Kerja, dan Komitmen Organisasi dan Organizational Citizenship Behavior Kepribadian adalah sebuah karakteristik didalam diri individu yang relatif menetap, bertahan yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Kepribadian perawat akan sangat penting diketahui karena kepribadian perawat akan mempengaruhi perilaku-perilaku perawat tersebut. Salah satu cara mensukseskan organisasi adalah dengan menumbuhkan komitmen perawat untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu dengan adanya kualitas kehidupan kerja yang baik. Selain komitmen organisasi perilaku positif perawat yang lainnya yang dapat memberikan kontribusi terhadap Rumah Sakit adalah perilaku OCB. Perilaku OCB perawat merupakan perilaku perawat yang bekerja melebihi diskripsi kerja formal yang di berikan Rumah Sakit dengan sukarela dan memberi kontribusi pada keefektifan dan efisiensi fungsi orgnisasi serta secara tidak langsung dihargai oleh Rumah Sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel Kepribadian (X1) dan Kualitas Kehidupan Kerja (X2) sebagai variabel bebas, Komitmen Organisasi (Z) sebagai Variabel intervening. dan Organizational Citizenship Behavior (Y) sebagai variable terikatnya. Populasi dalam Penelitian ini berjumlah 116 perawat dengan jumlah sampel yang di ambil sebagai responden sebanyak 90 perawat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar angket dan wawancara, data di uji menggunakan pengujian validitas dan reliabilitas di tambah dengan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Sedangkan analisis menggunakan analisis jalur yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa (1) Terdapat pengaruh secara langsung dan signifikan baik secara simultan maupun parsial variabel kepribadian terhadap variabel Komitmen Organisasi, (2) Terdapat pengaruh secara langsung dan signifikan baik secara simultan maupun parsial variabel Kualitas Kehidupan Kerja terhadap variabel Komitmen Organisasi, (3) Terdapat pengaruh secara langsung dengan signifikansi kurang dari 10% variabel Kepribadian terhadap OCB, (4) Terdapat pengaruh secara langsung dan tidak signifikan variabel Kualitas Kehidupan Kerja terhadap variabel OCB, (5) Terdapat pengaruh langsung dan signifikan variabel Komitmen Organisasi terhadap OCB, (6) Variabel Kepribadian berpengaruh secara tidak langsung melalui Komitmen Organisasi terhadap variabel OCB, (7) Variabel Kualitas Kehidupan Kerja berpengaruh secara tidak langsung melalui Komitmen Organisasi terhadap variabel OCB. Saran yang bisa di berikan hendaknya hasil penelitian ini digunakan sebagai alternatif bagi pihak manajemen Rumah Sakit Islam Gondanglegi untuk memperhatikan kepribadian perawat dan juga kualitas kehidupan kerja yang ada di Rumah Sakit, serta menjaga komitmen organisasi perawat agar dapat mempertahankan tingkat OCB perawat terhadap Rumah Sakit agar tetap tinggi.

Pengaruh ukuran perusahaan, debt to equity ratio, ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP). dan laba perusahaan terhadap ketetapan waktu penyampaian laporan keuangan (Studi pada perusahaan manufaktur yang lsiting di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 sampai dengan tahun 2010) /

 

Kata Kunci: Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan, Ukuran Perusahaan, Debt to Equity Ratio, Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP), Laba Perusahaan. Laporan keuangan merupakan informasi yang berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan. Laporan keuangan adalah hasil utama dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data dan aktivitas perusahaan tersebut. Laporan keuangan harus memenuhi karakteristik kualitatif yang merupakan ciri khas yang membuat informasi laporan keuangan berguna bagi para pemakai. Karakteristik tersebut adalah relevan, keandalan, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris tentang pengaruh ukuran perusahaan, debt to equity ratio, ukuran kantor akuntan publik dan laba perusahaan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 20 perusahaan sampel periode 2008-2010. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi berganda pada tingkat signifikansi 0.05%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. Variabel debt to equity ratio, ukuran kantor akuntan publik , laba perusahaan berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. Keterbatasan penelitian berpengaruh bersama-sama variabel ukuran perusahaan, debt to equity ratio,ukuran kantor akuntan publik dan laba perusahaan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan yang hanya memberikan kontribusi Adjusted R Square sebesar 0.151, salah satu sampel yang hanya memperoleh laba perusahaan. Saran yang dapat diberikan bagi investor yang akan melakukan investasi pada perusahaan yang Go Publik yang mengalami ketidaktepatan waktu penyampaian laporan keuangan harus lebih berhati-hati karena perusahaan yang tidak tepat waktu dapat disebabkan oleh independen lain, bagi penelitian selanjutnya dapat menambah variabel lain seperti kerugian perusahaan sebagai pembanding.

Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) pada materi peluang kejadian sederhana di kelas IX SMP Negeri 3 Tulungagung / Katiasri

 

Kata Kunci: Pembelajaran berdasarkan masalah, hasil belajar, dan keefektifan pembelajaran. Berawal dari rendahnya persentase jumlah siswa untuk mencapai tuntas belajar pada pembelajaran matematika khususnya materi peluang kejadian sederhana. Terdapat satu kegiatan pembelajaran berdasarkan masalah. Fungsi kegiatan tersebut sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) membandingkan rata-rata skor hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok dan rata-rata skor hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah secara klasikal pada materi peluang kejadian sederhana, serta 2) untuk mengetahui apakah pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok efektif untuk mengajar materi peluang kejadian sederhana di kelas IX SMP Negeri 3 Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen (eksperimen semu). Rancangan penelitian ini adalah rancangan statis dengan pengacakan (The Randomized Static Group Comparison Design). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 3 Tulungagung. Jumlah populasi 246 siswa. Jumlah sampel 62 siswa. Kelas eksperimen terdiri dari 31 siswa. Jumlah siswa kelas kontrol 31.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan metode dokumentasi. Sebelum digunakan, perangkat pembelajaran divalidasi oleh validator. Setelah divalidasi, hasilnya menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran bisa digunakan untuk penelitian. Perangkat pembelajaran tersebut adalah 1) RPP, 2) LKS, 3) tes. Soal tes sebanyak 6 butir. Uji validitas instrumen tes menunjukkan, 6 butir soal dapat digunakan untuk penelitian. Uji reliabilitas tes menujukkan bahwa tes reliabel. Pengujian hipotesis menggunakan uji hipotesis satu sisi (one-side atau one –tailed test) untuk sisi atas (upper tailed) dan taraf signifikansi α=0,05. P-value = 0,0275 lebih kecil dari α=0,05 maka maka Ho: μ_1≤μ_2 ditolak, sehingga rata-rata skor siswa-siswa yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor dari siswa-siswa yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran berdasarkan masalah secara klasikal. Analisis penelitian menunjukkan, persentase ketuntasan hasil belajar siswa dengan pembelajaran berdasakan masalah secara kelompok = 87,1%. Sehingga pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok efektif. Kesimpulan penelitian: 1) Rata-rata skor hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran berdasarkan masalah secara klasikal untuk materi peluang kejadian sederhana di kelas IX SMP Negeri 3 Tulungagung, 2) Pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok efektif untuk mengajar materi peluang kejadian sederhana di kelas IX SMP. Hal ini ditunjukkan oleh hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah secara kelompok mampu membantu mencapai ketuntasan belajar siswa secara klasikal.

Pembelajaran menggunakan metakognisi dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kecepatan pikir siswa kelas X-3 SMA Negeri 3 Kota Blitar pada materi persamaan kuadrat / Rudolf Utoro

 

Kata Kunci : Metakognisi dan label d. Pembelajaran persamaan kuadrat dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan cara pemfaktoran, melengkapi kuadrat dan rumus abc membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan Pembelajaran menggunakan metakognisi tampaknya dapat meningkatkan pemahaman dan waktu yang dibutuhkan dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat lebih singkat. Dengan diawali pemikiran “Bagaimanakah pelaksanaan Pembelajaran menggunakan Metakognisi dapat meningkatkan pemahaman dan kecepatan pikir siswa kelas X-3 SMAN 3 dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan batasan koefisien-koefisien serta konstanta pada persamaan kuadrat adalah bilangan bulat“. Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas adalah mendapatkan Desain Pelaksanaan pembelajaran menggunakan metakognisi. Menurut Flavell sebagaimana dikutip oleh Livingston (1977) menyatakan bahwa metakonisi terdiri dari pengetahuan kognitif (metacognitive knowledge) dan pengalaman atau regulasi metakognisi( metacognitive experiences of regulation). Menurut Asrori (2008) Kaidah metakognisi terdiri atas Pelabelan, Prosedur, Demonstrasi, Aplikasi dan Refleksi. Pengetahuan kognitif terdiri atas pelabelan dan prosedur dan pengalaman kognitif terdiri atas demonstrasi, aplikasi dan aplikasi. Sebelum desain pelaksanaan pembelajaran menggunakan metakognisi diberikan kepada siswa uji pre-tes dan hasilnya diperoleh data bahwa persentase skor rata-rata uji pre-tes dari 32 orang siswa adalah 44,84 %, sedangkan rata-rata waktu yang dibutuhkan siswa adalah 44,87 menit, waktu yang diberikan oleh peneliti yaitu 45 menit. Setelah siswa diberikan desain pelaksanaan pembelajaran menggunakan metakognisi, dengan memahami ciri unik yaitu label d dalam Pembelajaran menggunakan metakognisi , siswa mampu menguraikan apa yang tersembunyi dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat yang selama ini menjadi kesulitan siswa yaitu faktorisasi d,prosedur (misal p dan q faktor d maka berlaku p+q=d, p×q=b) . Hasil uji post-tes dengan peserta 29 orang siswa, persentase uji post-tes diperoleh 85,69 % dan waktu yang dibutuhkan dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat adalah 27 menit. Ditinjau dari segi pemahaman ada peningkatan 40,85 % dan segi kecepatan pikir siswa meningkat 17,87 menit. Desain pelaksanaan pembelajaran menggunakan metakognisi dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kecepatan pikir siswa kelas X-3 dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran materi persamaan kuadrat dalam menentukan akar-akar persamaan kuadrat.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVA SDN Bareng I Kecamatan Klojen Kota Malang / Briyan Hatta

 

Kata Kunci: pembelajaran IPS, model pembelajaran Jigsaw, aktivitas belajar, hasil belajar. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang kajiannya mengintegrasikan bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan bahwa secara individu, sebanyak 70,8% hasil belajar siswa kelas IVA SDN Bareng I Kecamatan Klojen Kota Malang belum mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran IPS yaitu 70. Hal ini terbukti dari nilai Ujian Akhir Semester (UAS) tahun ajaran 2012/2013 dengan nilai rata-rata kelas 69. Permasalahan yang terjadi di kelas IVA adalah rendahnya aktivitas maupun hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Jigsaw yaitu model pembelajaran kooperatif yang mengajarkan siswa untuk bekerja sama dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah, menginformasikan serta saling berbagi materi yang didapatkan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IVA SDN Bareng I sebanyak 23 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi. Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas siswa dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Aktivitas belajar siswa dalam penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan persentase ketuntasan klasikal yaitu 15%. Pada siklus I mencapai nilai rata-rata klasikal 80,1 dengan persentase ketuntasan klasikal 75%, meningkat pada siklus II mendapat nilai rata-rata klasikal 87,2 dengan persentase ketuntasan klasikal 90%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Jigsaw dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil tes siswa mulai dari pra tindakan (69) dengan persentase ketuntasan klasikal (29,2%), meningkat pada siklus I nilai rata-rata klasikal (72,8) dengan persentase ketuntasan klasikal (65%), dan meningkat lagi pada siklus II nilai rata-rata klasikal (84,4) dengan persentase ketuntasan klasikal (85%). Peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal dari pra tindakan ke siklus I mencapai 35,8% sedangkan siklus I ke siklus II mencapai 20%. Kesimpulan penelitian ini adalah model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVA SDN Bareng I Kecamatan Klojen Kota Malang. Saran kepada guru yaitu agar dapat memberikan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan bagi siswa.

Penerapan pembelajaran problem creating untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah teorema Pythagoras siswa kelas VIIID SMP Negeri 2 Blitar / Suwarno

 

Kata Kunci: Pembelajaran Problem Creating, Kemampuan Berpikir Kreatif, Menyelesaikan Masalah, Teorema Pythagoras Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah dapat mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi, dan dugaan serta mencoba-coba dan mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah. Kenyataannya banyak dari sekolah-sekolah yang masih kurang memberikan penekanan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Berdasarkan hasil observasi awal di SMP Negeri 2 Blitar diperoleh informasi bahwa selama ini belum ada upaya khusus untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan beberapa guru matematika diperoleh bahwa materi Teorema Pythagoras merupakan salah satu materi yang masih sulit dipahami siswa. Dengan demikian peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Problem Creating pada materi Teorema Pythagoras yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Pembelajaran Problem Creating merupakan strategi pembelajaran yang terdiri dari lima tahap yaitu (a) menentukan tujuan pembelajaran matematika (b) menentukan konteks masalah (c) menciptakan masalah (d) mengantisipasi jawaban siswa (e) menerapkan dan merefleksi masalah. Melalui tahap-tahap tersebut, pembelajaran Problem Creating berpotensi untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan dapat menyelesaikan masalah Teorema Pythagoras. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti sebagai pengajar dan guru matematika serta teman sejawat sebagai pengamat. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VIIID sebanyak 28 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui: (1) pelaksanaan pembelajaran, (2) observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, (3) observasi terhadap kegiatan guru selama melaksanakan pembelajaran Problem Creating, (4) analisis terhadap hasil kerja siswa berdasarkan jawaban pada LKS, (5) tes tertulis berupa uji kemampuan berpikir kreatif, (6) wawancara dengan 4 orang siswa yang dipilih berdasarkan hasil uji kemampuan berpikir kreatif, satu orang siswa kategori baik, satu orang kategori cukup baik, satu orang kategori kurang baik dan satu orang kategori tidak baik. Pada penelitian ini, disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran problem creating untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah Teorema Pythagoras siswa kelas VIIID SMP Negeri 2 Blitar adalah (1) menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu siswa menuliskan rumus Teorema Pytagoras, menentukan panjang sisi segitiga siku-siku serta menerapkan rumus Teorema Pythagoras untuk menyelesaikan soal cerita, (2) menentukan konteks masalah yaitu menyampaikan masalah dengan menghitung luas persegi pada sisi segitiga siku-siku, (3) menciptakan masalah, masalah yang dibuat peneliti diawali dengan soal sederhana yaitu dengan mencari hubungan banyaknya luas persegi pada sisi-sisi segitiga siku-siku sampai pada tahap lebih rumit yaitu mencari pemecahan masalah sehari-hari yang akan meningkatkan siswa untuk berfikir kreatif, (4) mengantisipasi jawaban siswa, dengan jawaban yang dituliskan siswa peneliti mengantisipasi dengan menciptakan soal berikutnya yang tingkat kesulitannya lebih tinggi, (5) penerapan dan refleksi masalah yaitu dengan menerapkan kegiatan pembelajaran problem creating untuk pembelajaran selanjutnya. Selanjutnya pembelajaran problem creating dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah teorema Pythagoras. Dalam mempelajari materi Teorema Pytagoras dengan pembelajaran problem creating agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru untuk: 1) Mempertimbangkan kemampuan materi prasyarat siswa sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan, 2) Mengadakan penelitian lebih lanjut tentang penerapan pembelajaran problem creating pada siswa dan sekolah yang berbeda.

Pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan hasil belajar materi pemfaktoran bentuk aljabar siswa kelas VIII B SMPN 1 Kesamben Blitar / Ratna Puspaning Yuniarti

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif tipe TGT, hasil belajar. Observasi awal yang dilakukan menunjukkan adanya permasalahan pembelajaran matematika di SMP N 1 Kesamben Blitar antara lain masih adanya kecenderungan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) dan rendahnya hasil belajar matematika siswa. Berdasarkan kondisi tersebut perlu adanya peningkatan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT) merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan hasil belajar materi pemfaktoran siswa kelas VIII B SMPN 1 Kesamben Blitar. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini dilaksanakan di kelas VIII B tahun Pelajaran 2012/2013 SMP N 1 Kesamben dengan jumlah siswa 23 orang. Pelaksanaan tindakan terbagi menjadi dua siklus. Tes esai terstruktur digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dengan meningkatnya ketuntasan klasikal 21,8% dan peningkatan rata-rata kelas sebesar 6,12. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT yang digunakan peneliti dengan melakukan modifikasi dari teori Slavin, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun tahapan yang digunakan oleh peneliti adalah tahap penyajian kelas, tahap belajar tim, tahap permainan, tahap turnamen dan tahap penghargaan. Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian adalah: (1) mengelola waktu dengan cermat agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan terutama pada tahap penyajian kelas dan turnamen. (2) memberikan pemahaman kepada siswa tentang aturan permainan dalam turnamen agar setiap pemain dapat melaksanakan tugas sesuai perannya dan sesuai waktu yang direncanakan. (3) membuat alat ukur untuk mengetahui hasil belajar siswa pada masing-masing materi dengan tingkat kesulitan/kompleksitas yang relatif sama. (4) menyiapkan perangkat dan sarana sebagai penunjang dalam kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan lebih matang. (5) memberikan perangkat kegiatan kepada siswa dengan mempertimbangkan jenis kegiatan dan jumlah siswa agar keterlibatan siswa dalam kelompok merata.

Diagnosa kesulitan siswa kelas XA SMA Negeri 1 Garum dan pemberian scaffolding dalam menyelesaikan masalah dimensi tiga / Wiwin Dwi Setiyaningsih

 

Kata kunci: tingkat kesulitan, scaffolding. Tugas seorang guru dalam dunia pendidikan diantaranya memberikan pengetahuan aktual, meningkatkan motivasi (sebagai motivator), memberikan kemudahan pada siswa untuk menanamkan konsep (sebagai fasilitator), menciptakan suasana kelas yang hidup (sebagai dinamisator), bertindak sebagai media (mediator), menilai kemajuan para siswa (evaluator), memberikan tugas-tugas kepada siswa (sebagai instruktur), memiliki kepemimpinan yang tinggi (manager) untuk mencapai tujuan pembelajaran. Apabila seluruh peran guru mencakup definisi di atas maka akan mendorong siswa berkembang secara maksimal dalam zone of proximal development (zona perkembangan terdekat). Menurut Vygotsky, Zona of proximal development adalah perbedaan antara tingkat perkembangan aktual dengan tingkat perkembangan potensial. Dalam hal ini, perkembangan kognitif siswa ditandai dengan membandingkan kemampuan siswa mengerjakan soal-soal yang lebih rumit dengan cara siswa mendapat bantuan, bimbingan, dorongan maupun motivasi (scaffolding) dengan perkembangan kognitif siswa yang mengerjakan soal tanpa adanya bimbingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendeskripsikan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa dalam menyelesaikan suatu masalah matematika dengan pemberian scaffolding oleh guru. Kesulitan siswa diamati dengan mencermati (mengkaji) hasil kerja siswa dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi. Menurut Polya(1973) tingkat kesulitan siswa dapat dikategorikan ke dalam 4 tingkatan yaitu (1) memahami masalah (2) memilih strategi, (3) menerapkan strategi dan (4) memeriksa jawaban. Kesulitan dalam memilih strategi dialami oleh semua Subjek. Kesulitan dalam menerapkan strategi dialami oleh Subjek kelompok bawah. Sedangkan kesulitan dalam memeriksa jawaban dialami oleh semua Subjek. Adapun bentuk yang diberikan berupa : (1) mengingatkan kembali konsep pembelajaran yang telah lalu (2) memberikan contoh perumpamaan yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa (3)menuntun siswa untuk berfikir kembali struktur penyelesaian masalah.(4)melakukan pengecekan terhadap jawaban pada setiap langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan oleh siswa. Sebagai tindak lanjut bagi penelitian sejenis maka disarankan 1) peneliti khususnya dan guru pada umumnya perlu untuk memahami kesulitan siswa dalam pemecahan masalah, sehingga dapat memberikan bantuan yang diperlukan siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah. 2) kajian kesulitan siswa dalam penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya penelitian dengan kajian yang lain yaitu mengenai masalah sudut pada dimensi tiga.

Muhassinat lafsziyyah dalam surat as-sajdah, al-fath dan al-mulk / Susinta Lik Ana

 

Kata Kunci: Jinas, Saja’, dan Muwazanah. Al-Qur’an merupakan Mu’jizat Allah yang diberikan kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril dengan jalan mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya. Al-Qur’an adalah kitab yang dijaga Allah dan diturunkan terakhir kalinya setelah kitab Taurat, Zabur dan Injil. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendiskripsikan beberapa hal, yang mencakup ragam Jinas, ragam Saja’ dan Muwazanah dalam surat As-Sajdah, Al-Fath, dan Al-Mulk dan fungsi masing-masing ragamnya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa Jinas, Saja’ dan Muwazanah yang ada dalam surat As-Sajdah, Al-Fath, dan Al-Mulk. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Dalam penelitian ini, peneliti sebagai instrument utama (human instrumen) dan dibantu dengan pedoman analisis dokumen. Langkah-langkah yang dilakukan oleh penulis adalah: (1) membaca surat As-Sajdah, Al-Fath, dan Al-Mulk (2) menandai data (3) mengelompokkan data Jinas, Saja’, dan Muwazanah (4) mengklasifikasikan data ke dalam ragam Jinas, ragam Saja’, dan Muwazanah. Untuk menjaga keabsahan data ini, telah dilakukan, 1) telaah dokumen secara terus menerus 2) memanfaatkan sumber di luar data yang dianalisis 3) pemeriksaan sejawat melalui diskusi 4) memeriksa kembali data penelitian dan catatan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga macam Muhassinât Lafdziyyah dalam surat As-Sajdah, Al-Fath, dan Al-Mulk, ketiga macam Muhassinât Lafdziyyah yaitu Jinas, Saja’, dan Muwazanah, dengan rincian Jinas Ghairu Tam sebanyak 2 data. Saja’ sebanyak 24 (15 Saja’ Mutharraf , 1 Saja’ murashsha’ dan 8 Saja’ Mutawazi). Sedangkan Muwazanah sebanyak 4 data. Penggunaan Jinas, Saja’, dan Muwazanah dalam Al-Qur’an surat As-Sajdah, Al-Fath, dan Al-Mulk berfungsi untuk menjadikan lafazh terdengar merdu, mudah dibaca, dan menyebabkan perasaaan pembaca atau pendengar bersatu dengan obyeknya. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada beberapa pihak antara lain: (1) pengajar balâghah, hendaknya menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu alternatif rujukan dalam pengajaran sastra di lembaga pendidikan (2) peneliti selanjutnya, hendaknya penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan untuk mengadakan penelitian lanjutan tentang Jinas, Saja’ dan Muwazanah.

Perbedaan efikasi diri, motivasi berprestasi, dan hasil belajar IPS menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan media video (studi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kraksaan) / Triyani Suprihatin

 

Kata Kunci: PembelajaranBerbasisMasalahdengan media video,Efikasidiri, MotivasiBerprestasi, danHasilBelajar Mata pelajaran IPS di SMP menekankanpadapemberianpengalamanbelajarsecaralangsungdenganlingkungan. PembelajaranBerbasisMasalahadalahsalahsatu model pembelajaran yang dapatditerapkandalampembelajaranIPSdanditambahkandengan media video inidiharapkansiswasemakinpahamdanmudahuntukmengertimateri yang disampaikan.Salah satufaktor yang mempengaruhihasilbelajarsiswaadalahefikasidiridanmotivasiberprestasi. Siswadenganefikasidirirendahmungkinakanmenghindaripelajaran yang banyaktugasnyasedangkansiswa yang mempunyaiefikasidiritinggilebihpercayadiridalammengerjakantugas-tugasnya. Siswa yang memilikimotivasiberprestasitinggitidakmudahmenyerahdalammenghadapikesulitan. Siswa yang mengalamimotivasiberprestasirendahakanberdampakpadahasilbelajarnya. Tujuanpenelitianini: 1) MengetahuikeadaanEfikasidiri, Motivasiberprestasi, danHasilbelajarsiswa yang diajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media videodantanpa media video, 2) Mengetahuiperbedaanefikasidirisiswa yang belajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video,3) Mengetahuiperbedaanmotivasiberprestasisiswa yang belajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video, 4) Mengetahuiperbedaanhasilbelajarsiswa yang belajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video. Rancanganpenelitianiniadalaheksperimensemudanmenggunakanpendekatankuantitatifdengan model Nonequivalent Control Group. Desainpenelitianiniakanmengkajiduavariabelyaituvariabelbebasdanvariabelterikat. SebagaivariabelbebasnyaadalahPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video danvariabelterikatnyaadalahefikasidiri, motivasiberprestasidanhasilbelajar. PopulasipenelitianadalahsiswakelasVIII SMP Negeri I Kraksaantahunajaran 2012-1213. Sampel yang digunakanberjumlah 56 siswa (2 kelas).Instrumen yangdigunakanadalahtesangket yang berbentukskalaLikert (Tesangketefikasidiridanmotivasiberprestasi)dantestulisberbentukpilihangandayaitu pre teshasilbelajardilakukanpadaawalpenelitian.Sedangkanpadaakhirpenelitian, yaituposteshasilbelajar.Sebeluminstrumentersebutdigunakandilakukanujivaliditas, ujireliabilitas, ujitingkatkesukaransoal, danujidayabedasoal. Hipotesispenelitianinidianalisismenggunakananalisis Paired Sample t-tesdenganbantuan SPSS for Windows versi 16.0. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa (1) KeadaanEfikasidiri, Motivasiberprestasi, danHasilbelajarsiswa yang diajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media videolebihtinggidaripadaPembelajaranBerbasisMasalahtanpa media video; (2)Efikasidirisiswayang belajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video lebihtinggidaripadasiswa yang belajardenganPembelajaranBerbasisMasalahtanpa media video; (3) Motivasiberprestasisiswa yang belajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video lebihtinggidaripadasiswa yang belajardenganPembelajaranBerbasisMasalahtanpamedia video; (4) Hasilbelajarsiswa yang belajarmenggunakanPembelajaranBerbasisMasalahdengan media video lebihtinggidaripadasiswa yang belajardenganPembelajaranBerbasisMasalahtanpa media video.Perludilakukanpenelitianlebihlanjutdengancakupanpopulasilebihluas, misalseluruhsiswaSMP se-kabupaten/kotaolehcalonpeneliti yang akandatang agar data yang diperolehlebih valid sehinggahasilpenelitiannyalebihakuratjikadigeneralisasi.

Perbedaan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI IPS Billingual dengan reguler pada mata pelajaran eko9nomi di MAN Malang II Kota Batu / Melina Bekti Apriatin

 

Kata kunci: Motivasi Belajar, Prestasi Belajar, Kelas Bilingual, Kelas Reguler. Peningkatan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh peserta didik yang menjadi subjek dan objek dalam pendidikan. Salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam peningkatan mutu pendidikan adalah prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa merupakan hasil yang dicapai seseorang setelah melakukan kegiatan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain faktor endogen dan faktor eksogen. Salah satu faktor endogen dalam prestasi belajar adalah motivasi belajar pada diri siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah motivasi belajar siswa kelas XI IPS bilingual dengan reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu, (2) Bagaimanakah prestasi belajar siswa kelas XI IPS bilingual dengan reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu, (3) Apakah terdapat perbedaan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI IPS bilingual dengan reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menemukan perbedaan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa kelas XI IPS bilingual dengan reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jumlah sampel pada kelas XI IPS bilingual adalah 33 dan jumlah sampel pada kelas XI IPS reguler sebesar 33. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan kesetaraan prestasi siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrument angket dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah metode statistik deskriptif dan uji-t (T TEST). Sedangkan untuk pengolahan data serta pengujian hipotesis menggunakan bantuan program komputer SPSS for windows release 16. Hasil penelitiannya dapat dilihat dari hasil uji-t bahwa: (1) tingkat motivasi belajar siswa kelas XI IPS bilingual pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu termasuk dalam kategori sangat baik, (2) tingkat motivasi belajar siswa kelas XI IPS reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu termasuk dalam kategori baik, (3) tingkat prestasi belajar siswa kelas XI IPS bilingual pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu termasuk dalam kategori cukup tinggi, (4) tingkat prestasi belajar siswa kelas XI IPS reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu termasuk dalam kategori cukup tinggi, (5) ada perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar siswa kelas XI IPS siswa kelas XI IPS bilingual dengan reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu, (6) tidak ada perbedaan yang signifikan antara prestasi siswa kelas XI IPS bilingual dengan reguler pada mata pelajaran ekonomi di MAN Malang II Kota Batu. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penulis memberikan saran sebagai berikut (1) bagi kepala sekolah diharapkan dapat dijadikan masukan untuk mengarahkan guru mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada seluruh kelas, dengan memberikan pengarahan penggunaan strategi belajar yang tepat dan peningkatan profesionalitas guru. Sehingga peningkatan mutu pendidikan khususnya di MAN Malang II Kota Batu dapat dilakukan secara merata, (2) bagi guru mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS diharapkan dapat dijadikan tolak ukur dan masukan untuk senantiasa meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa dengan strategi belajar yang tepat pada mata pelajaran ekonomi serta terus mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhinya, (3) bagi siswa kelas kelas XI IPS dapat dijadikan refleksi bagi siswa kelas XI IPS untuk dapat terus meningkatkan motivasi dan prestasi belajarnya, sehingga peningkatan mutu dapat dimaksimalkan, dan (4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menambah variabel lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, mengingat faktor yang mempengaruhi belajar sangat banyak. Sehingga penelitian selanjutnya dapat memberikan hasil yang valid dan akurat.

Gaya mengajar guru, gaya belajar siswa dan prestasi belajar akuntansi siswa pada kelas khusus dan kelas reguler SMA Negeri 1 Blitar / Novaria Setyorini

 

Kata kunci: Gaya mengajar guru, gaya belajar siswa, prestasi belajar, pendidikan Akuntansi. Program pendidikan reguler adalah program pendidikan nasional yang penyelenggaraan pendidikannya bersifat massal yang berorientasi pada kuantitas untuk dapat melayani sebanyak mungkin siswa usia sekolah. Karena program reguler tidak dapat melayani semua kebutuhan individual siswa terutama siswa dengan kecerdasan dan intelegensia yang tinggi, maka dibentuklah program khusus untuk menampung siswa berbakat tersebut. Kedua kelas memiliki karakteristik yang berbeda, dan dalam penelitian ini akan dibahas mengenai gaya mengajar guru, gaya belajar siswa dan prestasi belajar Akuntansi pada kelas khusus dan kelas reguler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) gaya mengajar guru pada kelas khusus dan kelas reguler, (2) gaya belajar siswa pada kelas khusus dan reguler, (3) perbedaan prestasi belajar siswa pada kelas khusus dan kelas reguler, dan (4) perbedaan prestasi belajar siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik pada kelas khusus dan kelas reguler. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner (angket). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII dengan jumlah sampel 78 siswa. Analisa data menggunakan statistika deskriptif dan uji beda independent sample t test. Dari hasil analisis statistik deskriptif diperoleh: (1) gaya mengajar guru pada kelas khusus memiliki kecenderungan gaya mengajar learner centered demikian juga pada kelas reguler gaya mengajar guru memiliki kecenderungan learner centered (2) gaya belajar yang dimiliki siswa kelas khusus 57% adalah gaya belajar kinestetik sedangkan pada kelas reguler 53% siswa memiliki gaya belajar visual. Dari hasil uji beda diperoleh: (1) terdapat perbedaan prestasi belajar siswa pada kelas khusus dan kelas reguler dan (2) terdapat perbedaan prestasi belajar siswa dengan gaya belajar kinestetik pada kelas khusus dan kelas reguler, namun tidak ada perbedaan prestasi belajar pada siswa dengan gaya belajar visual dan auditori. Disarankan agar guru lebih banyak menggunakan variasi gaya mengajar agar semua siswa dapat mengoptimalkan prestasi belajarnya dan kepada siswa SMAN 1 Blitar agar lebih mengetahui gaya belajarnya sehingga dapat menyesuaikan cara belajarnya dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Perbandingan pengaruh latihan push-up dan pull-up terhadap kecepatan sprint arung jeram 50 meter di Noars Rafting Team Probolinggo / Rio Trendy Oktaringga

 

Kata Kunci: Latihan push-up dan pull-up, sprint arung jeram Kemampuan berarung jeram termasuk kemampuan khusus. Sampai sejauh ini sumber daya manusia yang mampu dan menguasai teknis berarung jeram masih bisa dihitung sedangkan referensi buku sebagai bahan belajar pun tergolong minim, sehingga diperlukan adanya pelatihan-pelatihan khusus untuk menguasai kemampuan berarung jeram. Dalam segi prestasi arung jeram Indonesia masih biasa-biasa saja alias masih jago kandang. Untuk meningkatkan prestasi dan memperbaiki kualitas dibidang ini perlu adanya usaha dari penggiat arung jeram demi terciptanya prestasi dibidang ini. Maka disusunlah program latihan untuk membandingkan keefektifan program latihan push-up dan pull-up untuk meningkatkan kecepatan sprint arung jeram. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Subjek penelitian ini adalah pendayung Noars Rafting Team yang berjumlah 30 orang, kemudian subjek dibagi menjadi dua kelompok dengan cara matching berdasarkan pretest sprint arung jeram 50 meter. Kelompok pertama ditugaskan untuk melakukan latihan push-up dan kelompok kedua ditugaskan untuk melakukan latihan pull-up. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah stopwatch untuk mengukur kecepatan sprint arum jeram 50 meter. Dari hasil penghitungan pretest dan posttest kecepatan sprint arung jeram 50 meter kelompok push-up maupun pull-up sama-sama diperoleh nilai Sig < 0,05. Atas dasar temuan tersebut hipotesis alternatif (Ha) diterima, yang menyatakan terdapat perbedaan kecepatan sprint arung jeram 50 meter antara pretest dan posttest kelompok push-up maupun pull-up pada taraf signifikansi α = 0,05, selanjutnya perhitungan posttest kelompok push-up dan pull-up diperoleh nilai Sig < 0,05. Atas dasar temuan tersebut hipotesis alternatif (Ha) diterima, yang menyatakan terdapat perbedaan kecepatan sprint arung jeram 50 meter antara posttest kelompok push-up dan pull-up pada taraf signifikansi α = 0,05, dengan nilai rata-rata kecepatan sprint 122 detik untuk kelompok push-up dan 116 detik untuk kelompok pull-up. Atas dasar temuan tersebut dapat disimpulkan latihan pull-up memiliki pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan latihan push-up. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan pada penggiat arung jeram bahwa untuk dapat meningkatkan kecepatan sprint arung jeram dapat menggunakan latihan push-up sebagai variasi latihan saja, sedangkan untuk inti dari latihan sebaiknya menggunakan latihan pull-up yang mempunyai pengaruh lebih baik terhadap kecepatan sprint arung jeram.

Proses berpikir siswa kelas IX-G SMP Negeri 1 Wlingi dalam memecahkan masalah persamaan garis lurus dengan scaffolding / Anik Supiyani

 

Kata kunci: proses berpikir,memecahkan masalah, persamaan garis lurus, scaffolding. Memecahkan masalah penting dalam matematika, sehingga siswa perlu dibangun kemampuannya untuk memperoleh pengalaman yang cukup dalam memecahkan masalah. Menurut Vygotsky, setiap anak mempunyai apa yang disebut Zone of Proximal Development (ZPD) yang didefinisikan sebagai “jarak” antara tingkat perkembangan aktual yaitu tingkat yang ditandai dengan kemampuan si anak untuk menyelesaikan soal-soal tertentu secara independen, dengan tingkat perkembangan potensial yang lebih tinggi, yang bisa dicapai oleh si anak jika ia mendapat bimbingan atau bantuan (scaffolding) dari seseorang yang lebih dewasa atau lebih kompeten. Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah persamaan garis lurus menggunakan satu soal yang berkaitan dua garis sejajar dan satu soal yang berkaitan dengan dua garis yang saling tegak lurus. Adapun pemberian scaffolding dalam penelitian ini mengacu level-level scaffolding yang dikemukakan Anghileri (2006). Perkembangan proses berpikir siswa dalam memecahan masalah persamaan garis lurus difokuskan pada kesulitan yang dialami oleh siswa pada empat langkah pemecahan masalah, yaitu kesulitan dalam hal: (1) pemahaman masalah; (2) menentukan konsep matematika yang sesuai dan telah dipelajari; (3) menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya; dan (4) memeriksa kembali hasil perhitungan dengan tepat. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses berpikir setiap siswa dalam pemecahan masalah itu unik dan menarik. Masing-masing siswa memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah dan secara umum proses berpikir tersebut dapat berkembang dengan pemberian scaffolding. 90% siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya. Seluruh siswa mengalami kesulitan dalam operasi pada bilangan bulat maupun pecahan. Adapun dalam memahami masalah kesulitan dialami oleh siswa yang kemampuan matematikanya rendah dan 50% siswa yang kemampuan matematikanya sedang. Sedangkan kesulitan menentukan konsep-konsep yang telah dipelajari dialami oleh siswa yang kemampuan matematikanya sedang. Scaffolding yang diberikan bervariasi sesuai kebutuhan masing-masing siswa untuk mengembangkan proses berpikirnya. Dengan scaffolding untuk masalah nomor 1 proses berpikir semua siswa berkembang sesuai struktur masalah. Sedangkan untuk masalah nomor 2 ada siswa proses berpikirnya tidak berkembang sesuai struktur masalah. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan pada guru untuk memahami proses berpikir siswa, agar dapat memberikan scaffolding sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga kemampuan berpikirnya dapat berkembang. Kajian tentang proses berpikir siswa dalam penelitian ini merupakan studi kasus sehingga hanya terbatas pada masalah persamaan garis lurus di kelas IX-G, untuk itu perlu kajian lagi dengan subjek yang berbeda.

Kondisi lingkungan penambangan feldspar di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek / Nikmatul Istikhomah

 

Kata Kunci : Kondisi lingkungan, feldspar,erosi, Karangan, Suruh, Trenggalek Pertambangan feldspar merupakan salah satu pertambangan yang cukup melimpah di Trenggalek. Keterbatasan informasi tentang feldspar dan kondisi kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan khususnya penambangan feldspar merupakan kendala bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk melakukan upaya antisipasi degradasi lingkungan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana kondisi lingkungan pertambangan feldspar dan seberapa besar kerusakan yang telah terjadi sehingga kerusakan yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi aktivitas penambangan feldspar di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek serta mengetahui dampak penambangan feldspar terhadap kondisi lingkungan di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif kuantitatif dengan metode survei. Data penelitian berupa data primer dan sekunder yang diambil dari 5 sampel lokasi penelitian . Data primer meliputi (1) aktivitas penambangan meliputi intensitas penambangan, pelaku penambang dan pcara penambangan. (2) kondisi lingkungan meliputi topografi, tanah, vegetasi, ketersediaan air serta kualitas udara. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan pengukuran. Instrumen penelitian yang dibutuhkan adalah alat-alat pengukuran lapangan dan berbagai jenis peta yang mendukung penelitian. Pengolahan data aktivitas penambangan dan pengolahan data kondisi lingkungan yang selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan analisis diskriptif untuk aktivitas penambangan dan pengharkatan (scoring) untuk mengetahui kondisi lingkungan serta rumus USLE untuk menentukan tingkat erosi. Berdasarkan pembahasan diperoleh lima kesimpulan yaitu : (1) aktivitas pertambangan feldspar di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek berada di lokasi perbukitan yang tidak jauh dari pemukiman masyarakat dan memiliki tanggul alam berupa pepohonan, (2) penggunaan lahan di lokasi penelitian sebelum penambangan mayoritas adalah tegalan, semak belukar dan hutan negara, (3) intensitas penambangan dan pekerja lapangan penambangan feldspar di Kecamatan Karangan lebih besar daripada di Kecamatan Suruh, (4) aktivitas pertambangan feldspar di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek sudah dikelola oleh badan usaha (pengelola), namun terkait administrasi pengelolaan penambangan feldspar belum tertib, (5) dampak penambangan feldspar terhadap kondisi lingkungan di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek signifikan. Semakin besar intensitas penambangan feldspar, kondisi lingkungan semakin buruk. Saran yang diberikan penulis sebagai berikut, (1) masyarakat dan pihak pengelola disarankan agar melakukan pengendalian lingkungan dengan melakukan pengembalian tanah, pemanfaatan bekas lahan, dan reboisasi, (2) perubahan kondisi lingkungan yang memburuk harus segera ditanggapi secara terpadu dibawah tanggungjawab Dinas Lingkungan Hidup, (3) kegiatan penambangan tidak perlu ditutup, namun perlu dilakukan pengelolaan lingkungan,(4) perlu adanya studi lanjutan terkait penambangan feldspar dan pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan.

Pemanfaatan lingkungan literasi dalam menumbuhkan minat baca siswa SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Kurnia Lilin Pintanie Arty

 

Kata Kunci: lingkungan literasi, minat baca, sekolah dasar Pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi menjadi literate. Untuk menciptakan pelajar Sekolah Dasar yang literate diperlukan lingkungan literasi yang menunjang dalam mewujudkannya. Dalam lingkungan literasi kondisi belajar siswa diatur menjadi kondisi yang penuh dengan literatur sehingga kemampuan membaca siswa akan semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui profil lingkungan literasi di SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, 2) minat baca siswa di SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, 3) pemanfaatan lingkungan literasi dalam menumbuhkan minat baca siswa di SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara yang mendalam, kuosioner, dokumentasi, dan observasi. Kemudian analisis data dilakukan dengan melakukan reduksi data (reduction data), penyajian data (display data), dan verifikasi data (conclution drawing). Sedangkan untuk menjaga keabsahan data dilakukan perpanjangan pengamatan dan triangulasi. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa: 1) Lingkungan literasi SDN Semen 5 memiliki aspek kelengkapan perpustakaan yaitu: a) tujuan penyelenggaraan lingkungan literasi, b) sarana dan prasarana lingkungan literasi, c) struktur organisasi, d) program dan pendanaan yang dilakukan lingkungan literasi SDN Semen 5, 2) Minat baca siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi faktor intern dan ekstern yang meliputi motivasi, sarana dan prasarana untuk menunjang minat siswa, 3) Pemanfaatan lingkungan literasi dalam menumbuhkan kegemaran minat baca siswa SDN Semen 5 yaitu: a) sebagai sarana untuk meningkatkan kegemaran dan kemampuan membaca, b) sebagai sarana untuk melatih siswa belajar mandiri, c) siswa dapat menyelesaikan tugas-tugas melalui bahan pustaka yang tersedia di lingkungan literasi, d) Sarana untuk mengembangkan informasi dan pengetahuan siswa, e) sebagai sarana rekreasi. Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah Bagi kepala sekolah SDN Semen 5 yaitu perlu adanya upaya untuk meningkatkan pengembangan lingkungan literasi. Terutama dalam pengadaan dan pendanaan fasilitas. Bagi pengelola lingkungan literasi SDN Semen 5 yaitu perlu adanya perencanaan dan pelaksanaan program perpustakaan yang lebih baik dan variatif. Sehingga lingkungan literasi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh siswa. ABSTRACT Arty, Kurnia Lilin Pintanie. 2013. The Utilization of Literate Environment in Developing Reading Interests of Students of SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Thesis, Department of Education and Pre-School, Faculty of Education, State University of Malang. Advisors: (1) Drs. H. Thoha AR, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Sudarsini, M.Pd Key Words: literate environment, reading interest, elementary school Education is a conscious and deliberate effort to create an atmosphere of learning and learning process that facilitates learners to develop their potentials to be literate. To create literate elementary school students, it is necessary to create literate environment that support its realization. In literate environment, in which students 'learning conditions are equipped with rich literary materials, students' reading abilities will increase. This research aims to: 1) describe the profile of literate environment in SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, 2) describe reading interests of students of SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar 3) describe the utilization of literate environment in developing students’ reading interests in SDN Semen 5 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. The design of this study is descriptive-qualitative research. The data was collected from in-depth interview, questionnaire, documentation and observation. The data analysis was done through data reduction, data display, and drawing conclusions. To ensure the validity of the data, extension of observation and triangulation were done. Based on the results of data analysis, some conclusions are drawn as follow: 1) Literate environment of SDN Semen 5 fulfils all aspects of complete library: a) objectives of literate environment, b) facilities and infrastructure of literate environment, c) organizational structure, d) programs and fund, 2) Students’ reading interests are influenced by internal and external factors which include motivation, facilities and infrastructure that support students’ reading hobbies, 3) The utilization of literate environment to develop students’ reading interests in SDN Semen 5 serves: a) as a facility to develop students’ reading interests and abilities, b) as a facility to develop students’ autonomous learning, c) students to be able to accomplish their tasks with the available literary materials, d) as a facility to broaden students’ knowledge and information, e) as a recreational facility. The results of this study suggest the headmaster of SDN Semen 5 to improve the quality of current literate environment, particularly in procurement and funding of facilities. For the administrations of literate environment in SDN Semen 5, it is suggested to have better and more varied programs so that the literate environment can be used optimally by the students.

Pengembangan media berupa modul pembelajaran matakuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada mahasiswa S1 Pendidikan Teknik El;ektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Rarasinta Mutiara Putri

 

Pengembangan bahan ajar matematika pokok bahasan fungsi kuadrat bercirikan problem based learning untuk siswa kelas X SMA RSBI / Umdatun Nafiah

 

Kata Kunci : Pengembangan, Workbook, Problem Based Learning, Fungsi Kuadrat Penelitian pengembangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahan ajar fungsi kuadrat yang digunakan di SMAN 3 Madiun memberikan materi yang sudah jadi tanpa adanya aktivitas membangun konsep yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Bahan ajar yang digunakan juga jauh dari menyediakan aktivitas- aktivitas pemecahan masalah seperti yang diharapkan oleh kurikulum matematika SMA/MA. Oleh karena itu perlu dikembangkan bahan ajar yang melibatkan siswa dalam membangun pemahaman konsep dan membiasakan siswa dalam aktivitas-aktivitas pemecahan masalah pada materi fungsi kuadrat. Bahan ajar yang dikembangkan berupa workbook yang bercirikan problem based learning dan berbahasa Inggris karena RSBI menerapkan pembelajaran bilingual. Penelitian pengembangan dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah pengembangan ADDIE. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa workbook memperoleh skor kevalidan 2,39 dari ahli materi dan praktisi, sedangkan dari ahli bahasa diperoleh skor 2, 83 yang berarti bahwa workbook tersebut valid. Pada pengamatan aktivitas guru dan siswa diperoleh skor berturut-turut 2,31 dan 2,60. Tanggapan guru menunjukkan bahwa workbook dapat diterapkan dan mudah digunakan oleh guru dan siswa. Hal ini berarti workbook telah memenuhi kriteria kepraktisan. Hasil dari angket respon siswa menunjukkan skor 1,95 yang berarti siswa memberikan repon positif. Nilai akhir siswa setelah pembelajaran fungsi kuadrat yang menggunakan workbook yang telah dikembangkan menunjukkan 81,48 % siswa tuntas dengan KKM 75. Sedangkan wawancara menunjukkan bahwa MNK merupakan siswa dengan kemampuan tinggi, YP merupakan siswa dengan kemampuan sedang, dan AH merupakan siswa dengan kemampuan rendah. Hal ini berarti bahwa hasil wawancara sesuai dengan hasil nilai akhir siswa setelah pembelajaran. Berdasarkan hasil angket respon siswa, nilai akhir setelah pembelajaran, dan wawancara dapat disimpulkan bahwa workbook telah memenuhi kriteria efektif. Dengan demikian workbook yang telah dikembangkan dapat dianggap sebagai bahan ajar yang valid, praktis, dan efektif. Untuk mendukung workbook hendaknya juga dikembangkan workbook edisi guru sehingga guru mempunyai gambaran terhadap solusi-solusi dari masalah dan tugas yang diberikan. Workbook juga memerlukan perbaikan-perbaikan ataupun dikembangkan ulang demi sempurnanya workbook.

Pengembangan modul yang berseting pembelajaran kooperatif tipe STAD materi kaidah pencacahan di SMA kelas XI IPS / Bhinti Khoiriyah

 

Kata Kunci: Pengembangan Modul, Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Kaidah Pencacahan. Dari pengalaman selama mengajar di lapangan, diperoleh data mengenai situasi dan kondisi pembelajaran matematika di obyek penelitian yaitu di SMA Negeri 1 Ponggok Blitar. Data yang ditemukan adalah mengenai kurangnya sumber belajar yang dimiliki oleh siswa maupun perpustakaan sekolah. Metode mengajar yang diterapkan juga masih berpusat pada guru, yaitu guru menjelaskan materi, memberikan contoh, kemudian siswa diberikan soal latihan. Pembelajaran kooperatif yang menekankan kerja kelompok masih jarang dilakukan, sehingga pengalaman belajar siswa sangat rendah. Untuk mengatasi keterbatasan sumber belajar maka peneliti mengembangkan modul pembelajaran, dan untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa peneliti memilih tipe STAD karena sangat sederhana dan mudah diterapkan khususnya bagi siswa kelas XI IPS 1 yang memiliki karakteristik seperti diatas. Dengan adanya modul sebagai salah satu alternatif sumber belajar dan diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman materi Kaidah Pencacahan pada siswa kelas XI IPS 1. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah: ”Menghasilkan modul yang berseting pembelajaran kooperatif tipe STAD materi Kaidah Pencacahan di SMA kelas XI IPS yang valid, praktis, dan efisien”. Model pengembangan yang dipilih untuk menghasilkan modul pembelajaran ini adalah menggunakan model pengembangan Four-D yang dikemukakan oleh Thiagarajan, dkk (1974). Model ini terdiri atas 4 tahap, yaitu: (1) Define, (2) Design, (3) Develop, dan (4) Disseminate. Tahap penyebaran (Disseminate ) dalam penelitian ini tidak dilakukan, karena hasil pengembangan modul ini tidak bertujuan untuk disebarluaskan. Produk pengembangan yang berupa modul pembelajaran selanjutnya dievaluasi melalui beberapa tahap, yakni : (1) penilaian oleh ahli, dan (2) uji coba lapangan. Data hasil evaluasi yang berupa saran, tanggapan dan komentar dari ahli dan hasil uji coba lapangan digunakan untuk merevisi dan menyempurnakan modul pembelajaran. Analisis data dari penilaian ahli terhadap modul pembelajaran diperoleh rata-rata persentase ketiga validator adalah 89,2 %. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka modul pembelajaran ini memenuhi kriteria valid, tetapi masih perlu revisi pada beberapa bagian. Selanjutnya modul pembelajaran direvisi sebelum diujicobakan di lapangan. Dari uji coba lapangan diperoleh hasil bahwa modul pembelajaran telah memenuhi kriteria praktis dan efektif. Kriteria praktis dapat dilihat dari: (1) hasil observasi aktivitas guru menunjukkan rata-rata persentase dalam 4 kali pertemuan adalah 93,4%, yang berarti masuk kategori sangat baik, dan (2) hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan rata-rata persentase dalam 4 kali pertemuan adalah 87,3%, yang berarti masuk kategori baik. Sedangkan kriteria efektif dapat dilihat dari nilai akhir siswa menunjukkan bahwa lebih dari 85% dari seluruh subyek uji coba telah memperoleh nilai di atas 70, artinya secara klasikal ketuntasan belajar siswa telah terpenuhi. Dari serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan modul ini, dapat disimpulkan bahwa pengembangan sumber belajar sebenarnya dapat dilakukan oleh semua guru/pengajar. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain; (1) butuh meluangkan waktu yang cukup banyak, (2) butuh konsentrasi dalam berpikir, dan (3) banyak membaca referensi. Sedang kelebihan yang diperoleh adalah kepuasan batin yang tidak ternilai harganya. Saran untuk pengembang selanjutnya adalah sebaiknya dikembangkan dengan materi lain terutama materi yang ada di kelas XI IPS, sehingga modul pembelajaran akan lengkap yang meliputi seluruh materi. Model apapun yang digunakan dalam pengembangan modul pembelajaran, hendaknya pengembang mengikuti langkah-langkah pengembangan secara cermat dan konsisten.

Lampiran tesis pemahaman konsep fungsi siswa SMA negeri program A1 di Kotamadya Yogyakarta / Agustina Sri Purnami

 

Studi wayang topeng Malang lakon lahire Panji Karya Mochammad Soleh Adi Pramono dari padepokan seni Mangun Dharmo Tumpang - Malang / Aswin Pratama

 

Kata Kunci : wayang topeng, Lahire Panji, M. Soleh, Mangun Dharmo, Malang Wayang Topeng Malang Lakon Lahire Panji merupakan salah satu karya seni warisan leluhur yang mengandung kompleksitas dalam penyajiannya. Peneliti ingin mengkaji wayang topeng tersebut karena di dalamnya terdapat nilai moral dan nilai estetik yang menjadi pangkal pengalaman estetik yang berguna bagi manusia dalam mengaktualisasikan dirinya dalam hubungan sosial bermasyarakat. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan latar belakang penciptaan dan nilai estetik yang terkandung pada Wayang Topeng Malang Lakon Lahire Panji karya Mochammad Soleh Adi Pramono dari Padepokan Seni Mangun Dharmo, Tumpang, Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan trianggulasi data. Tahap analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, lewat Lakon Lahire Panji Mochammad Soleh Adi Pramono ingin berupaya memberi sumbangsih dalam hal ajaran-ajaran moral kepada masyarakat, terutama generasi muda yang mulai larut dalam era kekinian yang perlahan menghapus rasa kepemilikan atas budaya bangsa sendiri. Kedua, nilai-nilai estetika tercermin pada beberapa atribut pertunjukan yang dalam hal ini adalah topeng malang dalam Lakon Lahire Panji. Nilai estetik tersebut dapat ditangkap pada adanya pengorganisasian media estetik yang meliputi garis; bentuk dan ruang; warna; dan tekstur, di mana kesemua media estetik tersebut terepresentasi ke dalam hasil tatah dan sunggingan, serta bentuk keseluruhan topeng. Kaidah visualisasi estetik guna mendapatkan kualitas estetik juga diterapkan dalam topeng tersebut. Atribut kualitas estetik seperti kesatuan, keteraturan, dan keberagaman dapat dicapai diantaranya dengan menciptakan keseimbangan, keselarasan, kesebandingan, irama, dan kevariasian lewat penataan media estetik tersebut. Disarankan dari hasil penelitian ini agar pembuat topeng di Padepokan Seni Mangun Dharmo khususnya, serta komunitas Wayang Topeng Malang lain pada umumnya agar terus menggali ide-ide yang bersumber dari nilai estetik tersebut di atas. Nilai estetik tersebut nantinya diharapkan juga memberi pengaruh besar bagi pemerhati dan pelaku seni pertunjukan tradisional untuk terus berkarya guna mempertahankan kelangsungan hidup budaya bangsa Indonesia.

Pengaruh informasi laporan arus kas dan laba bersih terhadap actual return saham pada perusahaan yang termasuk dalam LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) / Elly Geva

 

Persepsi pengelola industri garmen tentang kompetensi siswa prakerin SMK Program Keahlian Tata Busana / Titis Wulandari

 

Implementasi program kemitraan PT Semen Gresik (Persero) Tbk. dalam pengembangan sumber daya manusia dan bisnis bagi pengusaha kecil / Siti Maro'ah

 

Kata Kunci: program kemitraan, sumber daya manusia, kinerja bisnis, pengusaha kecil, PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Kebijakan pemerintah Indonesia mewajibkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melaksanakan Program Kemitraan dan program Bina Lingkungan (PKBL) dilandasi peraturan Menteri BUMN Nomor (PER-05/MBU/2007). Melalui PKBL diharapkan mampu mewujudkan tiga pilar utama pembangunan yaitu (1) pengurangan jumlah pengangguran; (2) pengurangan jumlah penduduk miskin; dan (3) peningkatan pertumbuhan ekonomi. PK-BUMN dengan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) merupakan program pemberdayaan ekonomi masyarakat agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Penyaluran dana bagi UKM digunakan untuk membiayai modal kerja dan atau pembelian aktiva tetap untuk meningkatkan produksi dan penjualan, serta membiayai pendidikan/pelatihan (diklat), magang, dan promosi/pameran produk Penelitian ini bertujuan mengetahui, menganalisis, mendeskripsikan dan memahami makna implementasi PKPT Semen Gresik dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan bisnis bagi UKM. Sehingga akan ditemukan makna kegiatan pembinaan melalui diklat/magang dan promosi/pameran untuk mengembangkan potensi SDM dan meningkatkan pemasaran produk. Selain itu juga untuk mengungkap makna penyaluran dana pinjaman untuk meningkatkan kinerja bisnis UKM mitra binaan. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi yang berupaya mengungkap dan memahami makna (noumena) yang ada di balik fenomena tindakan dari masing-masing individu. Lokasi penelitian di kabupaten Gresik, Lamongan, dan Tuban, dengan subyek penelitian adalah biro PK-SG, UKM mitra binaan, masyarakat umum dan pejabat pamong desa di lingkungan perusahaan. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: program kemitraan BUMN dengan UKM merupakan suatu bentuk implementasi tanggung jawab sosial dimana BUMN sebagai fasilitator pemberdayaan potensi usaha masyarakat dan peningkatan kemampuan UKM dalam mengelola usahanya sehingga makin maju dan berkembang. Program kemitraan merupakan bagian dari CSR yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi stakeholder, khususnya memberi solusi bagi UKM dalam memenuhi kebutuhan modal kerja untuk mengembangkan usahanya. Dampak berikutnya adalah makin terjaminnya operasi kegiatan perusahaan sehingga meningkatkan reputasi korporasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa sosialisasi program kemitraan melalui “gethok tular” berdampak pada kurang berkembangnya potensi usaha masyarakat secara luas. Motivasi pengusaha kecil menjadi mitra binaan adalah untuk mendapat tambahan modal dengan bunga ringan, persyaratan yang tidak rumit sehingga dapat mengembangkan usaha yang dikelola. Meskipun ada persyaratan harus mempersiapkan agunan atas pinjaman modal, namun tidak menyurutkan minat mereka untuk menjadi mitra binaan. Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa program kemitraan memfasilitasi penyelenggaraan diklat dengan materi yang menunjang kreatifitas dan keterampilan UKM dalam mengelola usaha. Melalui diklat, minat dan motivasi masyarakat untuk menjalankan kegiatan bisnis dapat ditumbuhkan. Selain itu kegiatan magang sebagai proses pembelajaran mampu meningkatkan kreatifitas UKM untuk mengembangkan kualitas produk. Temuan lainnya menunjukkan bahwa pameran produk sebagai proses pembelajaran UKM memberi inspirasi peningkatan kualitas produk dan memperluas jaringan pemasaran. Dana pinjaman untuk modal kerja memacu untuk bekerja lebih keras dan menginspirasi melakukan diversifikasi produk untuk meningkatkan perolehan keuntungan bisnis. Selain itu dana pinjaman yang disalurkan melalui program kemitraan membantu pembiayaan modal kerja dan menunjang pembelian peralatan untuk mempercepat proses produksi. Proposisi Penelitian: 1) Jika perusahaan mengelola usaha tidak hanya mengutamakan kepentingan sendiri dan berupaya menciptakan keselarasan dengan kepentingan masyarakat yang pelaksanaannya diaplikasikan sebagai tanggung jawab sosial maka reputasi perusahaan akan meningkat; 2) Jika pemberdayaan potensi UKM dilaksanakan BUMN dengan basis strategi, maka akan meningkatkan kemajuan bisnis UKM dan BUMN diuntungkan juga dalam jangka panjang karena kelancaran operasional perusahaan terjamin. 3) Jika peran aktif UKM disertai daya tanggap yang tinggi dalam pendidikan/pelatihan/magang maka akan meningkatkan kreatifitasnya dalam mengembangkan bisnis; 4) Jika peran aktif UKM disertai daya tanggap yang tinggi dalam event promosi/pameran produk maka akan terinspirasi untuk meningkatkan kualitas produk, kemampuan bersaing, dan jaringan pemasaran UKM; 5) Pemanfaatan dana pinjaman sebagai modal kerja akan memacu kerja keras dan motivasi melakukan diversifikasi produk sehingga akan meningkatkan profitabilitas UKM. Implikasi teoritis: temuan penelitian ini berimplikasi teoritis pada teori Stakeholder, teori Legitimasi, teori Human Capital, konsep Community Empowering, dan pendidikan ekonomi. Selanjutnya secara praktis temuan penelitian ini berimplikasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat pebisnis untuk tidak semata-mata mengutamakan kepentingannya sendiri; berbisnis yang berwawasan lingkungan; disiplin dalam mengembangkan kemampuan diri; dan bertanggung jawab melunasi hutang-hutang dan kewajiban lainnya dalam berbisnis.

Kompetensi kewirausahaan kepala sekolah dalam mengelola unit produksi hotel pendidikan (studi multi kasus pada SMKN 3 Malang, SMKN 2 Malang, dan SMKN 1 Buduran Sidoarjo) / Sitti Roskina Mas

 

Kata kunci: kepala sekolah,kompetensi kewirausahaan, unit produksi, hotel pendidikan. Kepala sekolah merupakan jabatan stratejik dan kunci utama dalam mengembangkan inovasi di sekolah. Salah satu kompetensi utama yang dipersyaratkan menjadi kepala sekolah adalah kompetensi kewirausahaan. Kompetensi kewirausahaan dimaknai sebagai proses mentransformasi, mengorganisasikan dan mensinerjikan sumber-sumber usaha untuk mendirikan usaha atau program-program baru memajukan atau mengembangkan usaha sekolah sebagai sumber belajar. SMK dituntut memiliki usaha unit produksi yang berfungsi sebagaiincorporated-entrepreneur yang memerlukan pengelolaan secara profesional. Untuk itu kepala SMK dituntut memiliki karakteristik inovatif, pekerja keras, motivasi yang kuat, pantang menyerah, kreatif dan terampil mencari solusi terbaik dalam mengelola unit produksi sekolah baik sebagai sumber pendapatan sekolah maupun sebagai sumber belajar peserta didik. Berdasarkan konteks penelitian di atas dirumuskan fokus penelitian sebagai berikut: (1) penerapan nilai-nilai kewirausahaan kepala sekolah dalam mengelola unit produksi hotel pendidikan yang terdiri dari kreatifitas dan keinovasian, bekerja keras, mencari solusi, dan memotivasi, (2) keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola hotel pendidikan, dan (3) pendukung keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola hotel pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan multikasus.Penelitian dilakukan pada SMKN 3 Malang, SMKN 2 Malang, dan SMKN 1 Buduran.Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode komparatif konstan. Untuk mencegah pembiasan penafsiran data saat pelaksanaan penelitian dilakukan pengujian krediabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil penelitian ini menemukan bahwa (1)penerapan nilai-nilai kewirausahaan kepala sekolah dalam mengelola unit produksi hotel pendidikan yang terdiri dari:(a)kreatifitas dan keinovasian dilakukan melalui upaya: menampilkan fisik edotel lebih menarik, menyatukan edotel dengan fasilitas penunjang, merubah sistem manajemen edotel dari desentralisasi ke sentralisasi, merampingkan personal edotel, memberikan layanan inovatif, melakukan kerjasama dengan pihak luar mengembangkan edotel menjadi business center sekolah kejuruan Kota Malang,serta memproduksi air hexagonal;(b) bekerja keras melalui upaya: memperbaiki manajemen UP dengan menggunakan konsultan, mengalihkan fungsi hotel dari hotel lansia ke hotel umum, melengkapi peralatan, mempromosikan, dari hasil kerja keras diperoleh sertfikat ISO untuk9001: 2008 oleh TUV Rheinland, penghargaan ikon/percontohan tahun 2010 dan 2011 se provinsi Jawa Timur, penghargaan lima edotel terbaik seluruh Indonesia, serta memperoleh kejuaraan pada bidang lomba bidang keahlian APH ditingkat provinsi dan nasional; (c) mencari solusi melalui upaya: menambah fasilitas kamar, memberdayakan guru, alumni sebagai karyawan tetap dan siswa, menggunakan praktisi dari hotel, mengalihkan guru produktif boga menjadi guru produktif APH; (d) memotivasi dilakukan melalui upaya: mendorong tim pengelola dan pelaksana memberikan layanan terbaik sesuai visi,misi, motto dan janji edotel, memberikan konpensasi kepada tim, memberikan seragam edotel kepada siswa APH, (2) keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola hotel pendidikan sebagai sumber belajar siswa adalah: mengembangkan edotel sebagai sarana pra OJT, OJT, uji kompetensi, rujukan dan studi banding sekolah kejuruan serta sebagai outlet yang menyiapkan siswa prakerin luar negeri, dan keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola hotel pendidikan sebagai sumber pendapatan adalah: setiap tahun pendapatan edotel meningkat sehingga dapatmendukung pembiayaan operasional, pemeliharaan dan perawatan, melunasi pinjaman pembelian peralatan,memberi kesejahteraan kepada tim, warga sekolah serta membantu biaya pendidikan siswa terutama yang tidak mampu; (4) pendukung keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola hotel pendidikan adalah (a) personal internal yang terdiri dari guru, karyawan, dan siswa. Dukungan guru adalah sebagai direktur UP pusat, tim manajemen yang beperan sebagai manager/koordinator sedangkan dukungan karyawan dan siswa sebagai tim pelaksana yang bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab, tim keamanan, (b) personal eksternal antara lain: pemerintah, komite sekolah, DU-DI, dan masyarakat. Dukungan pemerintah adalah menggagas, mendanai pembangunan fisik, memberikan ijin bangunan, memberikan peralatan, menggunakan fasilitas serta mempromosikan. Dukungan komite adalah memberikan dana pendamping, pengadaan fasilitas penunjang,mengawasi, memberikan pertimbangan pendapat, menggunakan fasilitas serta turut mempromosikan, dukungan DU-DI adalah: sebagai penguji kompetensi, menjadikan edotel sebagai anggota PHRI,mitra usaha yang menyediakan layanan transportasi, loundry, aneka kerajinan, mempromosikan, menggunakan fasilitas, dan dukungan masyarakat adalah: menggunakan fasilitas, mentaati peraturan yang berlaku, memberikan masukan, dan mengisi guest comment. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) bagi SMKN 3 Malang, SMKN 2 Malang, dan SMKN 1 Buduran perlu lebih mengoptimalkan pemanfaatan edotel agar dapat membentuk SDM perhotelan yang lebih profesional, (2) bagi Dinas Pendidikan Kota Malang dan Kabupaten Sidoarjo harus senantiasa memberikan dukungan dalam bentuk pemberian dana pendamping untuk pengembangan fasilitas yang lebih memadai, (3) bagi SMK penyelenggara edotel lebih meningkatkan kerjasama melalui JHTD agar terjadi percepatan dalam pengembangannya,dan (4) bagi Direktorat Pengembangan SMK melakukan monitoring guna melakukan verifikasi terhadap keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai kemudian dari keunggulan-keunggulan yang dimiliki dapat menerbitkan “best practise”sebagai panduan dalam pengelolaan edotel di seluruh Indonesia.

Hubungan antara kecerdasan emosional dan inisiasi seksual pada karyawati PT. Mutiara Citra Sentosa / Chandra Kisuluh W.U.

 

Kata Kunci : kecerdasan emosional, inisiasi seksual. Inisiasi seksual memainkan peranan yang cukup penting dalam pernikahan. Humphreys dan Newby (2007) menjelaskan bahwa menjaga inisiasi seksual merupakan hal yang penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Data yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, tingkat perceraian pada tahun 2011, sekitar 32% dari jumlah yang tercatat merupakan perceraian yang disebabkan oleh ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Tingginya angka perceraian akibat ketidakharmonisan tersebut menjadi bukti pentingnya mengulas mengenai seksualitas dalam rumah tangga. Penilitian ini bertujuan untuk (1) memberikan gambaran mengenai kecerdasan emosional (2) memberikan gambaran mengenai inisiasi seksual (3) mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan inisiasi seksual. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif dan korelasional. Pengambilan subyek sebanyak 40 orang karyawati PT. Mutiara Citra Sentosa dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan kriteria wanita yang terikat pernikahan dan berada di rentang usia 20 – 30. Data diperoleh dengan menggunakan Skala Kecerdasan Emosional yang disusun oleh peneliti serta Skala Inisiasi Seksual yang diadaptasi dari Sexual Initiation Scale (Gossmann, 2004). Validitas instrumen menggunakan validitas korelasi antar aitem menggunakan korelasi product moment dengan taraf signifikasi 5%. Instrumen yang digunakan berupa: Skala Kecerdasan Emosional (α=0,948) dan Skala Inisiasi Seksual (0,894). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebesar 20% subyek memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, 62,5% subyek memiliki kecerdasan emosional sedang, dan 17,5% subyek memiliki kecerdasan emosional rendah, (2) sebesar 12,5% memiliki inisiasi seksual tinggi, 70% memiliki inisiasi seksual sedang, dan 17,5 subyek memiliki inisiasi seksual rendah, (3) ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan inisiasi seksual. Hubungan yang positif ditunjukkan dengan nilai rxy sebesar 0,924. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah (1) bagi wanita dewasa awal yang terikat dalam pernikahan, diharapkan untuk memahami kecerdasan emosionalnya sebagai bahan evaluasi inisiasi seksual dan bahan konseling pernikahan (2) bagi penelitian yang lebih lanjut disarankan untuk melakukan penelitian dengan metode yang sama pada kelompok subyek yang berbeda serta melakukan analisis kualitatif untuk mengulas faktor sosial dan perkembangan yang mungkin terkait secara mendalam.  

Pengaruh pola asus orang tua terhadap prestasi belajar IPS melalui disiplin dan motivasi (Studi pada siswa kelas X dan XI SMKN 1 Banyuwangi) / Yudi Wahyu Prabasangka

 

Using pictures information gap games to improve the speaking ability of the Xth graders of SMAN 2 Madiun / R. Ferry Sunu Cahyanto

 

Key words: gambar, partisipasi, berbicara, kemampuan, Information Gap Games Berbicara dipandang sebagai kemampuan dasar dalam mempelajari bahasa Inggris. Siswa Indonesia juga menganggab bahwa menguasai kompetensi berbicara bahasa Inggris merupakan yang paling sulit. Kesulitan dalam belajar berbicara bahasa Inggris juga ditemui di SMAN 2 Madiun. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap siswa kelas X, diketahui bahwa hanya 31.25 % siswa yang tuntas. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan pictures Information Gap Games. Ada 3 jenis aktivitas dari pictures Information Gap Games, yaitu: a) Describe and draw, b) Find the difference, and c) Complete it. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas Kolaborasi dimana peneliti berperan sebagai pengajar sedangkan guru pengajar bahasa Inggris menjadi kolaborator. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan terdiri dari enam pertemuan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari di semester ke dua Tahun Ajaran 2012/2013 di SMAN 2 Madiun untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Subjek dari penelitian ini adalah kelas XA yang terdiri dari dua puluh siswi dan dua belas siswa. Subjek penelitian ini dipilih berdasarkan hasil dari penelitian pendahuluan yang menyatakan bahwa siswa mempunyai nilai berbicara yang rendah. Instrumen untuk mengumpulkan data adalahobservasi, catatan lapangan, kuisioner, dan wawancara dan test lisan. Penerapan dari gambar Information Gap Games meliputi beberapa posedur seperti: 1) Pra-ajar dan latihan kosakata dan tata bahasa untuk tugas tertentu, 2) Menjelaskan prosedur bermain dari Information Gap Games dengan cara memberikan contoh melalui sukarelawan di kelas, 3) Membagi kelompok dengan 2-4 siswa per kelompok kemudian mengatur kelompok itu untuk mendapatkan partner, 4) Membagikan material kepada masing-masing kelompok, 5) Meminta siswa berbicara berdasarkan materi yang telah didapatkan siswa dan memimta mereka untuk tidak menunjukkan materi kepada partner mereka, 6) Mempresentasikan materi kelompok mereka setelah mereka menyelesaikan tugasnya. Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan dalam 2 siklus, kesimpulan yang didapatkan adalah menggunakan mampu meningkatkan kemampuan berbicara dari siswa kelas X SMAN 2 Madiun karena penggunaan pictures Information Gap Games dalam proses belajar mengajar efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara dan peran aktif siswa dalam kegiatan berbicara, khususnya ketika siswa bekerja dalam kelompok sebab mereka biasanya bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa prestasi siswa di hasil penelitian awal ke siklus ke dua berangsur-angsur meningkat. Ada pengaruh positif dari penggunaan gambar Information Gap Games terhadap peningkatan kemampuan berbicara siswa. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa di penelitian pendahuluan adalah 66.15, dengan10 siswa yang tuntas dan 22 siswa tidak tuntas. Setelah diterapkannya pictures Information Gap Games di siklus 1, peneliti menemukan rata-rata nilai siswa menjadi 79.86 dengan 28 siswa tuntas sedangkan 4 siswa tidak tuntas. Pada siklus 2, peneliti mendapatkan rata-rata nilai siswa adalah 85.24 dan semua siswa tuntas. Sejalan dengan hasil temuan sebelumnya, peneliti menyampaikan saran kepada guru bahasa Inggris, sekolah dan peneliti yang lain. Untuk guru bahasa Inggris, disarankan untuk menerapkan strategi pictures Information Gap Games dalam pembelajaran berbicara. Guru dapat menerapkannnya tidak terbatas untuk teks narasi tetapi juga untuk jenis teks yang lain. Terlebih lagi, guru dapat mencairkan kebosanan siswa menggunakan permainan pictures Information Gap Games. Selain itu Peneliti juga menyarankan kepada guru mata pelajaran yang lain karena permainan pictures Information Gap Games juga sesuai untuk digunakan untuk mata pelajaran lain. Untuk sekolah, peneliti menyarankan sekolah dapat mendorong guru-guru untuk menggunakan berbagai macam strategi yang berbeda menggunakan permainan. Untuk peneliti lainnya, diharapkan dapat mengadakan penelitian untuk jenis kemampuan yang berbeda dalam seting yang berbeda pula. Selain itu, hasilnya bisa memberikan manfaat untuk sekolah bagi peningkatan nilai berbicara bahasa Inggris yang akan berpengaruh pada nilai rata-rata sebagai salah satu persyaratan akreditasi sekolah. Peneliti juga mengaharapkan sekolah dapat memberikan fasilitas kepada para guru demi peningkatan strategi mengajar. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mengadakan penelitian untuk jenis kemampuan yang sama ataupun berbeda seperti membaca, mendengarkan dan menulis dalam seting yang berbeda. Peneliti juga menyarankan untuk peneliti selanjutnya untuk mengadakan penelitian untuk menjawab pertanyaan kenapa akurasi memiliki nilai terendah diantara apek-aspek yang lain.

Pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS melalui disiplin dan motivasi (Studi pada siswa kelas X dan XI SMKN 1 Banyuwangi) / Yudi Wahytu Prabasangka

 

Kata kunci: pola asuh orang tua, disiplin, motivasi, prestasi belajar IPS Peningkatan mutu pendidikan selalu diupayakan agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berguna bagi pembangunan. Tolok ukur keberhasilan siswa di dunia pendidikan yang sering digunakan adalah prestasi belajar. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bagian dari kurikulum sekolah yang bertanggungjawab membantu peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai dalam bermasyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan sekolah khususnya pada Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Banyuwangi guna meningkatkan prestasi belajar IPS dengan ditunjang dengan fasilitas dan tenaga pendidik yang memadai. Namun meskipun demikian masih terjadi penurunan prestasi belajar IPS. Penelitian ini mengamati faktor kemungkinan yang mempengaruhi nilai prestasi belajar IPS yaitu tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS melalui disiplin dan motivasi. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui pengaruh langsung pola asuh orang tua terhadap disiplin belajar; 2) mengetahui pengaruh langsung pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS; 3) mengetahui pengaruh langsung pola asuh orang tua terhadap motivasi belajar; 4) mengetahui pengaruh langsung disiplin belajar prestasi belajar IPS; 5) mengetahui pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPS; 6) mengetahui pengaruh tidak langsung pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS melalui disiplin belajar; 7) mengetahui pengaruh tidak langsung pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS melalui motivasi belajar. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan obyek penelitian siswa kelas X dan XI SMKN 1 Banyuwangi. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan Proportionate Stratified Random Sampling. Berdasarkan tekhnik ini diperoleh 278 sampel yang proporsional sehingga dapat mewakili seluruh program keahlian di kelas tersebut. Tekhnik pengambilan data menggunakan instrumen kuesioner dan dokumen. Pengambilan data pola asuh orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar menggunakan instrumen kuesioner yang telah lulus uji validitas dan uji reliabel. Data prestasi belajar IPS diperoleh dari instrumen dokumen berupa buku raport atau buku induk. Analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif dan analisis jalur. Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk menginterpretasikan data yang diperoleh. Analisis jalur bertujuan untuk mengetahui jalur yang paling efektif untuk mencapai tujuan akhir yaitu prestasi belajar IPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh langsung secara signifikan antara pola asuh orang tua terhadap disiplin belajar siswa. Hal ini berarti jika pola asuh orang tua makin baik maka disiplin belajar siswa juga baik; 2) tidak ada pengaruh langsung pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa. Hal ini berarti meskipun makin baik pola asuh orang tua tidak akan mempengaruhi pada peningkatan prestasi belajar IPS siswa. Hal ini disebabkan banyak faktor kemungkinan seperti yang dijabarkan pada bab pembahasan dan akan diteliti lebih lanjut pada penelitian berikutnya; 3) ada pengaruh langsung secara signifikan antara pola asuh orang tua terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini dapat disimpulkan jika pola asuh orang tua makin baik maka motivasi belajar siswa juga semakin baik; 4) ada pengaruh langsung secara signifikan antara disiplin belajar terhadap prestasi belajar IPS. Hal ini berarti jika disiplin belajar siswa baik atau meningkat maka prestasi belajar IPS juga baik atau meningkat; 5) tidak ada pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPS. Hal ini berarti meskipun motivasi belajar siswa makin baik tidak akan mempengaruhi prestasi belajar IPS menjadi baik, maka dari perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan faktor-faktor penyebabnya; 6) ada pengaruh tidak langsung secara signifikan antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa melalui disiplin belajar. Hal ini berarti jika pola asuh meningkat maka disiplin belajar juga meningkat, yang pada akhirnya juga berdampak meningkatkan prestasi belajar IPS siswa; 7) tidak ada pengaruh secara tidak langsung antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS melalui motivasi belajar. Pola asuh orang tua makin baik akan berdampak baik hanya pada motivasi belajar, tidak berdampak pada prestasi belajar IPS. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan beberapa saran antara lain: 1) melalui kerja sama sekolah, orang tua sebaiknya meningkatkan pola asuhnya agar terbentuk disiplin belajar yang baik dan pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar IPS; 2) pihak sekolah agar lebih proaktif dalam menjalin kerja sama dengan orang tua atau wali murid dalam meningkatkan pola asuh dan menciptakan kondisi sekolah yang berbudaya disiplin sehingga akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar terutama IPS; 3) guru bidang studi IPS sebaiknya meningkatkan disiplin belajar siswa dengan segala kreativitas yang dimiliki agar prestasi belajar IPS siswa meningkat; 4) upaya peningkatan prestasi belajar IPS hendaknya terus digalakkan dari berbagai faktor, misalnya kepada guru IPS agar selalu berinovasi dan berorientasi pada metode pembelajaran yang tepat, efektif dan disukai siswa; 5) upaya peningkatan prestasi belajar IPS hendaknya juga didukung sekolah sepenuhnya seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sarana pembelajaran; 6) peneliti selanjutnya atau pihak manapun terutama yang berkepentingan supaya menindaklanjuti dengan penelitian lanjutan terkait dengan hasil temuan yang menyimpang dari kajian teori sehingga ditemukan penyebabnya secara obyektif dan ilmiah; 7) temuan penelitian yang diperoleh diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang sebagai bahan pelengkap referensi guna menunjang penelitian terkait.

Pengembangan bahan ajar kimia materi dan perubahannya berdasarkan pendekatan inkuiri terbimbing untuk siswa kelas X Program Keahlian Teknik Batu dan Beton / Endang Suwarni

 

Kata-kata kunci: bahan ajar kimia, materi dan perubahannya, inkuiri terbimbing Ada tiga masalah mendasar pada pembelajaran kimia di SMK. Pertama, tidak dikaitkannya materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif, sehingga konsep-konsep dasar kimia yang dipelajari siswa cenderung tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pada mata pelajaran produktif. Kedua, pembelajaran kimia cenderung bersifat informatif dan tidak membuat siswa aktif sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Ketiga, tidak tersedianya bahan ajar yang mengkaitkan materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif yang dapat memotivasi siswa untuk belajar kimia secara aktif. Dampak dari masalah-masalah tersebut adalah sulitnya siswa memahami konsep-konsep dasar kimia dengan tepat. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya pencapaian hasil belajar siswa. Permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi apabila tersedia bahan ajar yang memenuhi persyaratan, yaitu materinya berkaitan dengan mata pelajaran produktif dan dapat memotivasi siswa untuk belajar secara aktif. Siswa akan belajar secara aktif apabila mereka menemukan konsep-konsep yang dipelajari dengan bantuan guru. Hal ini dapat dilakukan dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengembangkan bahan ajar kimia SMK yang disusun berdasarkan pendekatan inkuiri terbimbing untuk topik Materi dan Perubahannya yang memiliki keterkaitan dengan mata pelajaran kompetensi kejuruan Program Keahlian Teknik Batu dan Beton, dan (2) mengidentifikasi kelayakan dari bahan ajar yang dikembangkan dan keefektifannya berdasarkan hasil belajar siswa yang meliputi hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, hasil belajar psikomotorik, dan motivasi belajar siswa. Pengembangan bahan ajar kimia dilakukan dengan menggunakan model 4-D Thiagarajan yang terdiri dari 4 langkah, yaitu (1) pendefinisian (define), (2) perancangan (design), (3) pengembangan (develop), dan (4) desiminasi (disseminate). Data penelitian terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa saran perbaikan bahan ajar yang diberikan oleh dosen kimia, guru kimia dan guru teknik bangunan. Data ini dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (KTSP-SMK). Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, hasil belajar psikomotor, dan motivasi belajar siswa. Hasil belajar kognitif siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 30 soal dengan validitas isi 97,4% dan koefisien realibitas, dihitung dengan rumus Kuder-Richardson (K 21), sebesar 0,74. Hasil belajar afektif dan psikomotor dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleh guru kimia dan guru Teknik Batu dan Beton pada saat pembelajaran menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Motivasi belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan angket. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari 3 kegiatan belajar yang tertuang dalam 59 halaman. Hasil validasi ahli menunjukkan kelayakan isi 88,2%, kelayakan penyajian 84,3%, kelayakan bahasa 84,7%, dan kelayakan kegrafikaan 91,1%. Revisi bahan ajar dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh dosen kimia, guru kimia, dan guru teknik bangunan. Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dapat dianggap layak digunakan dalam pembelajaran kimia untuk siswa SMK Kelas X Program Keahlian Teknik Batu dan Beton. Hasil belajar kognitif menunjukkan 80,8 % siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil belajar afektif menunjukkan bahwa 84,9% siswa aktif dan komunikatif dalam penemuan konsep kimia, serta jujur dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas. Hasil belajar psikomotorik menunjukkan bahwa 92,7% siswa mampu melaksanakan langkah-langkah kegiatan laboratorium menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Motivasi siswa dalam belajar kimia cenderung meningkat dengan menggunakkan bahan ajar hasil pengembangan. Berdasarkan hasil-hasil belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar hasil pengembangan adalah efektif untuk digunakan dalam pembelajaran kimia pada siswa SMK Kelas X Program Keahlian Teknik Batu dan Beton. Uji coba tentang kelayakan dan keefektifan bahan ajar yang telah dikembangkan dengan menggunakan sampel yang lebih luas perlu dilakukan untuk diseminasi bahan ajar secara lebih luas.

Evaluasi tingkat ranah dan kualitas soal yang dibuat oleh guru SMK PGRI 1 Lamongan / Annisa' Carina

 

Kata kunci: tingkat ranah, kualitas soal, guru Guru sebagai tenaga profesional dibidang pendidikan hendaknya mampu menyusun soal dengan baik sebagai proses evaluasi belajar peserta didiknya. Kemampuan guru dalam membuat soal akan berdampak pada prestasi belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) penyebaran tingkat ranah soal yang dibuat oleh guru SMK PGRI 1 Lamongan, (2) kualitas soal yang dibuat oleh guru SMK PGRI 1 Lamongan. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian deskriptif, dengan data yang diperoleh berupa dokumen soal buatan guru di SMK PGRI 1 Lamongan untuk mata pelajaran program keahlian teknik bangunan dan jawaban peserta didik dari soal tersebut. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: pertama, ranah kognitif soal yang dibuat oleh guru pada tingkatan aspek pemahaman dan tingkatan aspek aplikasi hampir memenuhi kriteria ideal. Tingkatan aspek pengetahuan terlalu banyak dari kriteria ideal. Tingkatan aspek analisis dan tingkatan aspek sintesis terlalu kecil dari kriteria ideal. Sedangkan tingkatan aspek evaluasi tidak tersedia. Kedua, kualitas soal yang dibuat oleh guru menghasilkan validitas soal sangat jelek dan reliabilitas soal tingkat sedang. Indeks kesukaran didominasi soal yang mudah yaitu sebesar 67,19% dan daya beda yang jelek yaitu sebesar 55,84%. Adapun saran yang dapat diberikan diantaranya: (1) guru diharapkan dapat membuat soal sesuai ketentuan yang berlaku sehingga evaluasi melalui penilaian dengan menggunakan tes benar-benar dapat mengukur sejauh mana peserta didik menangkap materi yang telah diajarkan guru, (2) hendaknya pihak jurusan lebih memantapkan perkuliahan terkait penyusunan butir soal, sehingga ketika mahasiswa telah lulus bisa membuat soal dengan kualitas yang baik, (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini bisa dilanjutkan pada populasi yang lebih luas untuk mengetahui kualitas guru dalam menyusun soal secara luas.

Pengembangan modul pembelajaran matematika dengan pendekatan PBL pada materi segitiga dan jajarangen jang kelas IV SD / Kenys Fadhilah Zamzam

 

Kata Kunci: pengembangan modul, PBL , segitiga jajargenjang. Pengembangan modul dalam kegiatan pembelajaran dapat memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Penerapan modul juga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Latar belakang penelitian pengembangan ini karena adanya masalah yang dihadapi oleh siswa kelas IV SDN 1 Wonodadi. Mereka merasa kesulitan dalam memahami materi matematika khususnya materi segitiga dan jajargenjang, karena mereka menganggap bahwa proses pembelajaran yang kurang begitu menarik bagi mereka. Oleh karena itu diperlukan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada permasalahan kehidupan nyata yang mendorong berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tujuan penelitian ini adalah mengembangan modul pembelajaran matematika dengan pendekatan PBL pada materi segitiga dan jajargenjang yang valid, praktis, dan efektif serta dilaksanakan di SDN 1 Wonodadi dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 1 Wonodadi. Pengumpulan data dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar validasi, lembar keterlaksanaan modul, lembar observasi aktivitas siswa, angket respon dan tes terhadap siswa. Pengembangan modul matematika dengan pendekatan PBL pada materi segitiga dan jajargenjang memiliki beberapa tahapan sebagai berikut: (1) orientasi siswa pada masalah; (2) mengorganisasikan siswa dalam belajar; (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Hasil penelitian ini menunjukkan modul siswa telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran serta guru matematika. Setelah dilakukan revisi maka diuji cobakan pada siswa kelas IV SDN 1 Wonodadi. Berdasarkan hasil uji coba tingkat keterlaksanaan modul pada tiap pertemuan berada dalam kategori tinggi yaitu pada skor 3.33 sehingga modul yang dikembangkan dikatakan praktis. Sementara untuk indikator aktivitas siswa, berdasarkan perhitungan persentase skor rata-rata diperoleh 89% dimana menunjukkan aktivitas siswa dalam mengerjakan modul sangat aktif. Respon siswa juga menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap modul segitiga dan jajargenjang. Selain itu untuk indikator ketuntasan belajar, berdasarkan hasil perhitungan dari 26 siswa, 21 siswa (84.6%) mendapat nilai minimal 75 dan 4 orang siswa (15.4%) yang mendapat nilai kurang dari 75. Dengan demikian kriteria kepraktisan dan keefektifan modul siswa telah memenuhi apa yang ditetapkan.

Peningkatan kemampuan mengenal bilangan 1-10 dengan menggunakan media loker cerdas pada anak kelompok A di TK Muslimat NU 17 Kebonsari / Any Maisaroh

 

Kata Kunci: Anak Kelompok A, Kemampuan Membilang 1-10, Media Loker Cerdas. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan: dalam menstimulasi kemampuan kognitif, guru dalam memberikan pembelajaran menekankan pada lembar kerja siswa dan tanya jawab. Metode yang digunakan menjadi monoton, karena menekankan pada latihan-latihan dengan mengerjakan lembar kerja siswa dalam mengenalkan lambang bilangan pada anak. Dalam penyelesaian masalah maka peneliti menggunakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Media Loker Cerdas. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimana penerapan Media Loker Cerdas dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan anak kelompok A dalam mengenal angka 1-10 di TK Muslimat NU 17 Kebonsari Malang (2) Apakah dengan penggunaan Media Loker Cerdas dapat meningkatkan kemampuan anak kelompok A dalam mengenal bilangan 1-10 di TK Muslimat NU 17 Kebonsari Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A di TK Muslimat NU 17 Kebonsari Malang yang berjumlah 15 anak. Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dihitung menggunakan rumus prosentase untuk setiap komponen penilaiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan Media Loker Cerdas yang dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan perkembangan anak dapat meningkatkan kemampuan kognitif dengan langkah-langkah permainan yaitu, anak mengambil dadu, mendapat angka, kemudian memasangkan angka dengan gambar pada loker cerdas. Terdapat peningkatan pada siklus I kemampuan kognitif mencapai 65%, pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 84,44 %. Peningkatan rata-rata kemampuan kognitif mencapai 19,44%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan Media Loker Cerdas dapat meningkatkan kemampuan membilang 1-10 pada anak kelompok A di TK Muslimat NU 17 Kebonsari Malang. Bertitik tolak dari kesimpulan beberapa saran yang dikemukakan: (1)Lembaga Taman kanak-kanak, penelitian ini mampu untuk menciptakan variasi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak dalam dunia pendidikan (2) bagi guru, Jika guru menginginkan dapat meningkatkan mengenal membilang 1-10, maka dapat menggunakan Media Loker Cerdas dalam pembelajaran di kelas.

Penerapan model Talking Stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas IV SDB Karangtgondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar / Levy Priambodo

 

Priambodo, Levy. 2013. Penerapan Model Talking Stick Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Kelas IV SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.Sy, S.Pd, M.Pd. (2) Dra. Hj. Murtiningsih, M.Pd. Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, IPS, model Talking Stick     Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di SDN Karanggondang 01 diketahui bahwa siswa kurang begitu semangat saat mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas, hal itu berdampak pada hasil belajar siswa yang rata-rata masih belum tuntas. Kondisi tersebut disebabkan oleh pemilihan model yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model model Talking Stick terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar.     Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada Kemmis dan Mc.Taggart. Langkah-langkahnya yaitu: rencana pelaksanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi, serta rencana perbaikan. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar dengan jumlah 24 orang siswa.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Talking Stick pada mata pelajaran IPS kelas IV mampu meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa kelas IV. Pada siklus 1 persentase aktivitas siswa sebesar 58,5% kemudian meningkat di siklus 2 mencapai 77,6%. Ketuntasan hasil belajar siswa juga meningkat, pada pra tindakan persentase keberhasilan belajar hanya mencapai 46%, kemudian pada siklus 1 persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 58,3%. Pada siklus 2 persentase keberhasilan belajar meningkat menjadi 83,3%.     Pembahasan pada penelitian ini yaitu membahas mengenai aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV. Aktivitas siswa kelas IV mengalami peningkatan secara bertahap, hal ini didukung oleh pemakaian media pembelajaran yang interaktif, dan pengggunaan metode yang bervariasi.Sedangkan hasil belajar siswa kelas IV juga mengalami peningkatan yang sangat baik, hal tersebut dukung oleh pemanfaat media pembelajaran yang baik, serta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.     Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Karanggondang 01 Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar. Disarankan agar guru kelas IV untuk menggunakan model pembelajaran saat kegiatan belajar-mengajar, dengan tujuan agar aktivitas serta hasil belajar siswa dapat meningkat dengan baik.

Pengembangan perangkat pembelajaran bercirikan learning cycle untuk meningkatkan pemahaman pada materi persamaan garis lurus / Saudah

 

Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Learning Cycle, Persamaan Garis Lurus Learning Cycle merupakan model belajar bersiklus dengan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. (Lee,2007) Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dan bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) bercirikan Learning Cycle untuk meningkatkan pemahaman materi persamaan garis lurus. Pengembangan perangkat pembelajaran ini menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), dikembangkan oleh Reiser dan Molienda (1990-an), dan Dick and Carry (1996) yang terdiri dari lima tahap sesuai dengan namanya yaitu: analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Untuk mendukung pengembangan perangkat pembelajaran ini maka dikembangkan pula instrumen. Instrumen terdiri dari: (1) lembar validasi RPP, (2) lembar validasi LKS, (3) lembar validasi Tes Penguasaan Bahan Ajar (TPBA), (4) lembar observasi aktivitas guru, (5) lembar observasi akivitas siswa, (6) Lembar Tes Penguasaan Bahan Ajar (TPBA), (7) rubrik penilaian unjuk kerja siswa (8) angket respon siswa. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan harus memenuhi kriteria: valid, praktis, dan efektif Prototipe berupa RPP, LKS, dan Instrumen Tes Penguasaan Bahan Ajar TPBA) divalidasi oleh tiga validator ahli. Sedangkan Instrumen tidak divalidasi tetapi sebelum digunakan dikonsultasikan dengan dosen pembimbing melalui beberapa kali revisi. Menurut pengujian tingkat reliabilitas data hasil validasi dan data hasil observasi dinyatakan reliabel. Subyek uji coba dalam penelitian pengembangan ini adalah siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Blitar Tahun pelajaran 2012/2013. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri dari RPP dan LKS yang bercirikan Learning Cycle 5 fase atau LC 5E (Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, and Evaluation) (Lorsbach, 2002) pada materi persamaan garis lurus yaitu Identifikasi dan menggambar garis y=ax dan y=ax+c, gradien, dan menentukan persamaan garis. Menurut rekapitulasi data validasi RPP, LKS dan TPBA masing-masing mendapat rata-rata VR: 3,564; 3,565, dan 3,61, berdasarkan kriteria kevalidan RPP, LKS dan TPBA memenuhi kriteria validitas. Uji coba bertujuan untuk mengukur kepraktisan dan keefektifan Produk. Kepraktisan perangkat pembelajaran ditentukan oleh keterlaksanaan RPP dalam pembelajaran yang diperoleh dari analisis data observasi aktivitas guru dan Keefektifan perangkat ditentukan oleh empat indikator yaitu 1) aktivitas siswa dalam kategori tinggi, 2) mencapai ketuntasan klasikal, 3) kemampuan siswa dalam 5E tinggi dan 5) mendapat respon positif. Hasil pengujian tingkat reliabilitas data hasil observasi sangat tinggi. Berdasarkan hasil analisis data observasi menunjukkan kategori kepraktisan dan keefektifan perangkat dikategorikan sangat tinggi.

Pengembangan pembelajaran teknis dasar dribbling sepakbola berbasis multimedia interaktif untuk siswa kelas X di SMA Negeri 2 Batu / Dimas Agung Prasetyawan

 

Kata Kunci: pembelajaran, teknik dasar dribbling sepakbola, multimedia interaktif, SMA Negeri 2 Batu Dribbling (menggiring) adalah keterampilan dasar dalam sepakbola karena semua pemain harus mampu menguasai bola saat sedang bergerak, berdiri, atau bersiap ,melakukan operan atau tembakan. Siswa SMAN 2 Batu merupakan siswa yang sangat aktif dan mempunyai rasa ingin tahu yang lebih, sehingga sering kali guru harus mempunyai alat atau media pembelajaran yang lebih kreatif. Namun guru pendidikan jasmani di SMAN 2 Batu sering menggunakan metode ceramah. Oleh karena itu perlu dikembangkan Pembelajaran Teknik Dasar Dribbling Sepakbola Berbasis Multimedia Interaktif Untuk Kelas X di SMAN 2 Batu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan Pembelajaran Teknik Dasar Dribbling Sepakbola Berbasis Multimedia Interaktif untuk siswa kelas X SMAN 2 Batu. Model penelitian yang digunakan adalah model penelitian pengembangan Borg & Gall. Dari 10 langkah pengembangan yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, pada penelitian ini dilakukan modifikasi dengan hanya menggunakan 7 langkah pengembangan karena penelitian ini dilakukan pada satu sekolah. Oleh karena itu pengembangan produk hanya dilakukan sampai uji kelompok besar. Evaluasi ahli produk ini dilakukan oleh 1 ahli media, 1 ahli sepakbola dan 1 ahli pembelajaran; uji coba kelompok kecil oleh 16 siswa; dan uji coba kelompok besar oleh 40 siswa kelas X SMAN 2 Batu. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner dengan skala likert. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa saran, masukan, dan evaluasi dari ahli sedangkan data kuantitatif berupa penilaian dari kuisioner. Kedua data tersebut digunakan sebagai dasar untuk merevisi produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis rata-rata. Hasil pengembangan berupa pembelajaran teknik dasar dribbling sepakbola berbasis multimedia interaktif. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh nilai 87,5% dengan keterangan baik sekali; oleh ahli sepakbola diperoleh nilai 86,5% dengan keterangan baik sekali; oleh ahli pembelajaran diperoleh nilai 88,4% dengan keterangan baik sekali; dari uji coba kelompok kecil diperoleh nilai 90% dengan keterangan baik sekali; dan dari uji coba kelompok besar diperoleh nilai 96% dengan keterangan baik sekali. Hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran teknik dasar dribbling sepakbola berbasis multimedia interaktif yang dikembangkan sudah layak disebarkan untuk penggunaan yang lebih luas.

Pengembangan pedoman praktikum IPA materi sifat-sifat benda untuk siswa kelas IV SDN Saw2ojajar 5 Malang / Stefani Mahesa Jelita

 

Kata Kunci: pengembangan, pedoman praktikum, materi sifat-sifat benda IPA tidak dapat dipisahkan dari praktikum. Salah satu materi penting dalam pembelajaran IPA yang membutuhkan pratikum dalam penguasaan konsepnya adalah materi sifat-sifat benda. Di SDN Sawojajar 5 Malang, guru memang terbiasa mengajak siswa melakukan praktikum pada materi sifat-sifat benda. Namun dalam melakukan praktikum guru tidak menggunakan pedoman praktikum melainkan menggunakan buku cetak IPA. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk mengembangkan Pedoman Praktikum IPA Materi Sifat-Sifat Benda untuk Siswa Kelas IV di SDN Sawojajar 5 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan pedoman praktikum yang layak menurut ahli (dosen), pengguna (guru), dan uji coba (siswa) sehingga pedoman praktikum IPA materi sifat-sifat benda dapat digunakan. Model penelitian yang digunakan merupakan model penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall. Tahap pengembangan hanya dilakukan hingga tahap kelima karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Oleh karena itu validasi dilakukan hanya sebatas pada validasi empiris secara terbatas. Validasi pedoman praktikum dilakukan oleh 2 orang dosen KSDP yang berpengalaman mengajar praktikum IPA, 1 guru kelas IV SD, dan uji coba skala terbatas pada 10 siswa kelas IV SDN Sawojajar 5 Malang. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket dengan skala likert dan rubrik penilaian. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa skor penilaian dari angket dan rubrik penilaian, sedangkan data kualitatif diperoleh dari masukan dari validator. Kedua data tersebut digunakan sebagai dasar untuk merevisi produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis rata-rata dan presentase. Hasil pengembangan berupa pedoman praktikum IPA materi sifat-sifat benda. Hasil validasi oleh ahli (dosen) diperoleh nilai sebesar 3,49 dengan kriteria sangat valid. Hasil validasi oleh pengguna (guru) diperoleh nilai sebesar 3,58 dengan kriteria sangat valid. Hasil uji coba skala terbatas terhadap pedoman praktikum materi sifat-sifat benda oleh siswa diperoleh nilai sebesar 94,93% dengan kriteria sangat valid. Hasil validasi tersebut menunjukkan bahwa pedoman praktikum yang dikembangkan sudah layak menurut ahli (dosen), pengguna (guru), dan uji coba skala terbatas (siswa). Saran dari penelitian ini agar dikembangkan pedoman praktikum dengan memperhatikan aspek-aspek penilaian. Selain itu pedoman praktikum ini agar digunakan siswa untuk menemukan konsep IPA dan meningkatkan keterampilan. Serta pedoman praktikum ini agar diuji coba untuk skala yang lebih luas dan agar dikembangkan untuk seluruh materi pada semester 1 atau semester 2 di jenjang kelas lainnya.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis pemecahan masalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMK bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi / Iin Ernawati

 

Kata Kunci: bahan ajar Fisika berbasis pemecahan masalah, prestasi belajar, SMK, bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. Pengembangan bahan ajar harus memiliki pola spesifik yang dapat meningkatkan prestasi belajar. Keterlaksanaan pembelajaran konstruktivisme diperlukan bahan ajar berbasis penyelesaian masalah yang menyajikan masalah-masalah Fisika kontekstual. Bahan ajar ini harus dapat memenuhi tuntutan kurikulum dan kebutuhan karakteristik SMK. Lulusan SMK diharapkan memiliki kompetensi keahlian dan kompetensi dalam bahasa Inggris, agar lulusan SMK mampu bersaing di era globalisasi. Hal ini menuntut mereka untuk berlatih membaca dan mendapatkan informasi dalam bahasa Inggris khususnya untuk siswa SMK bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. Latihan tersebut dapat diterapkan melalui bahan ajar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas dan keterlaksanaan penggunaan bahan ajar fisika berbasis pemecahan masalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMK. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Research and Development (R&D) yang mengacu pada prosedur R&D Borg and Gall yang disederhanakan menjadi 3 tahapan, yaitu tahap studi pendahuluan, pengembangan dan pengujian. Hasil pengembangan berupa produk bahan ajar Fisika berbasis pemecahan masalah. Sebelum bahan ajar diujicobakan dilakukan validasi ahli dan uji keterbacaan pada guru dan siswa. Selanjutnya dilakukan uji coba penggunaan bahan ajar pada siswa kelas X semester 2 program studi keahlian teknik telekomunikasi, kompetensi keahlian teknik suitsing SMK Negeri 4 Bondowoso. Subjek uji coba adalah 2 kelas yang diambil secara acak (simple random sampling) sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang menggunakan bahan ajar produk hasil pengembangan sedangkan kelas kontrol tidak menggunakan bahan ajar produk hasil pengembangan. Selanjutnya kedua kelas diberi tes prestasi belajar dan diperoleh data berupa nilai prestasi belajar dari kedua kelas. Data prestasi belajar dianalisis dengan uji perbedaan yaitu uji-t (Independen sample t-test). Berdasarkan hasil pengujian nilai t=2,03 pada signifikansi p=0,04, yang menunjukkan ada perbedan yang berarti (pada taraf signifikansi 0,05) antara prestasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perbedaan juga dilihat dari rerata nilai prestasi belajar kelas eksperimen 72,63, yang lebih tinggi dari rerata nilai prestasi belajar kelas kontrol 68,75. Hasil ini menunjukkan bahwa produk bahan ajar berbasis pemecahan masalah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Trainer sistem steering pada robot beroda untuk pembelajaran mata kuliah robotika Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Hari Wahyudiono

 

Kata Kunci: Sistem Steering, trainer, robot Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang merupakan salah satu universitas yang menyajikan matakuliah robotika. Pada matakuliah robotika terdapat beberapa pokok bahasan yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Mahasiswa dituntut memahami semua pokok bahasan yang disajikan disetiap semesternya. Akan tetapi, masih banyak mahasiswa yang belum bisa memahami matakuliah tersebut. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa tidak mendapatkan pengalaman secara langsung memahami materi yang diberikan khususnya pada bab sistem steering. Berdasarkan hasil wawancara dan angket penelitian pendahuluan yang diperoleh dari mahasiswa yang sudah menempuh matakuliah robotika khususnya pada pokok bahasan sistem steering, pembelajaran yang dilakukan masih menggunakan metode ceramah yang disertai contoh pada keadaan sebenarnya menggunakan media audio visual. Dalam kasus seperti ini perlu dikembangkan trainer robotika khususnya untuk bab sistem steering untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar mahasiswa lebih memahami materi yang diberikan. Dengan trainer robot sistem steering mahasiswa akan mendapatkan pengalaman langsung sehingga mahasiswa dapat lebih mudah memahami isi materi, selain itu mahasiswa akan lebih ter¬motivasi untuk belajar karena dapat belajar dengan media yang interaktif. Berdasarkan teori dan kenyataan yang telah diungkapkan diatas, maka perlu dirancang dan dikembangkan trainer robot dengan bahasan sistem steering agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang berlangsung aktif bagi mahasiswa, bermanfaat, mempunyai pemahaman yang baik dan sulit dilupakan oleh mahasiswa sehingga meningkatkan motivasi, kemamuan mahasiswa secara maksimal. Model yang digunakan untuk trainer system steering robot beroda ini mengguna¬kan model pengembangan Borg & Gall yang telah di modifikasi , yang terdiri dari 8 tahap utama, yaitu: (1) Analisis Kebutuhan; (2) Perencanaan Media; (3) Pengembangan Produk; (4) Uji Coba Perseorangan; (5) Uji Coba Kelompok Kecil; (6) Revisi; (7) Laporan Berdasarkan pada hasil uji coba, diperoleh presentase dari tiap-tiap subyek coba sebagai berikut: (1) Pada ahli media, diperoleh presentase sebesar 96%, (2) Pada ahli materi, diperoleh presentase sebesar 96,66%, (3) Pada kelompok kecil, dipe-ro¬¬¬leh presentase sebesar 86,50%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Trainer Sistem Steering pada Robot Beroda untuk mahasiswa jurusan teknik elektro ini layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Penerapan media gambar dengan power point untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Bunulrejo 5 Kota Malang / Kadarno

 

Kata kunci: Media Gambar, Power Point, Aktivitas, Hasil Belajar IPS Berdasarkan pengamatan secara sederhana proses pembelajaran yang dilakukan guru masih secara komunikasi searah, sehinga siswa pasif, keberanian bertanya, menjawab, menyapaikan pendapat dan berdiskusi tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Sehingga hasil belajar belum sesuai dengan KKM yang telah ditentukan sekolah. Salah satu pembelajaran yang bisa diterapkan dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah penerapan media gambar dengan power point dalam pembelajaran IPS. Media power point merupakan media yang bisa menampilkan gambar, tulisan, animasi sesuai aslinya. Proses penilaian diantaranya hasil tes akhir evaluasi dan aktivitas siswa dalam berdiskusi dan mempresentasikan hasil diskusi. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Bunulrejo 5 Kota Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang pelaksanaanya meliputi dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa di kelas V SDN Bunulrejo 5 Kota Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi berupa catatan lapangan dan data hasil belajar dari penilaian aktivitas siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, diskusi kelompok, dan menyampaikan hasil diskusi. Hasil penelitian dengan penerapan media gambar dengan power point di kelas V SDN Bunulrejo 5 menunjukan peningkatan dari aktivitas belajar siswa lebih aktif bertanya, menjawab dan diskusi kelompok. Pada siklus I skor rata-rata yang diperoleh siswa pada aktivitas belajar siswa yang mencapai ketuntasan 60% dengan nilai rata-rata 68.75. sedangkan pada siklus II siswa yang mencapai ketuntasan 77.50% dengan skor rata-rata 76.28. Batas nilai ketuntasan adalah 70 untuk ketuntasan individu sedangkan 80 % untuk ketuntasan klasikal. Dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa juga meningkatkan hasil belajar siswa. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pembelajaran dengan penerapan media gambar dengan power point dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, karena siswa dapat memahami dan menguasai materi keragaman kenampakan alam dan buatan. Dari hasil penelitian ini disarankan guru dalam pembelajaran IPS menggunakan media gambar dengan power point dalam proses pembelajaran. Dilakukan penilaian setiap aktivitas belajar yang dilakukan siswa untuk meningkatkan keaktifan siswa, sedangkan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di kelas guru harus memberi motivasi kepada seluruh siswa.

Kajian pelaksanaan praktik kerja industri pada kompetensi keahlian teknik komputer dan jaringan SMK Negeri 1 Nganjuk / Ragil Tri Astuti

 

Kata kunci: parktik kerja industri, perencanaan, proses, evaluasi Praktik Kerja Industri (prakerin) adalah salah satu pola pendidikan sistem ganda (PSG), yakni pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama–sama antara SMK dengan industri/asosiasi profesi. Prakerin sangat mempengaruhi mutu lulusan pendidikan SMK, jadi dalam pelaksanaanya perlu diperhatikan mulai tahap persiapan, tahap proses pelaksanaan, sampai tahap evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tahap perencanaan, proses, dan evaluasi, serta mengungkapkan hambatan prakerin pada Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Nganjuk. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan meliputi: 1) wawancara; 2) observasi; 3) dokumentasi; dan 4) angket siswa. Sumber data yang dipilih adalah: wakil kepala sekolah bidang humas, ketua kompetensi keahlian TKJ, beberapa pembimbing prakerin di industri, dan siswa. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji dengan trianggulasi sumber. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa tahap prakerin yang dilaksanakan adalah: 1) kegiatan perencanaan, meliputi: a) pembekalan kompetensi siswa; b) pengarahan pengisian perangkat; c) pengiriman siswa ke industri; 2) kegiatan proses, meliputi: a) pelaksanaan kegiatan prakerin di industri selama 2 (dua) bulan; b) pembekalan materi, perkenalan organisasi, dan aturan industri, serta bimbingan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja; c) mencatat kegiatan yang dilaksanakan; d) kegiatan siswa dibimbing pihak industri dan dipantau oleh pihak sekolah dengan melakukan monitoring; 3) kegiatan evaluasi, meliputi: a) penyusunan laporan; b) presentasi. Hambatan yang terjadi: a) proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dilaksanakan dalam waktu yang pendek; b) kurangnya dana; c) hanya ada 3 (tiga) guru produktif, d) penilaian tidak bisa selesai tepat waktu; e) kurangnya etos kerja siswa; f) siswa kesulitan menyesuaikan materi; g) siswa kesulitan melengkapi berbagai perangkat prakerin. Dari hasil yang diperoleh disarankan: 1) pihak sekolah: a) melakukan perencanaan inventarisasi dan penjajagan tempat prakerin; b) meningkatkan kompetensi siswa; c) melakukan koordinasi yang baik dengan pihak industri dan semua pihak dalam sekolah yang terlibat; d) melakukan monitoring secara berkala dan sama rata pada semua industri; e) melaksanakan kegiatan evaluasi dengan maksimal; f) melaksanakan kegiatan evaluasi dengan kriteria penilaian yang telah disusun; 2) pihak industri: a) meningkatkan rasa tanggungjawab membimbing siswa; b) memberikan berbagai pengalaman baru pada siswa; c) melakukan monitoring kegiatan siswa secara berkala; 3) siswa: a) meningkatkan kompetensi; b) bersungguh–sungguh dalam mengerjakan berbagai tugas prakerin agar tidak hanya memperoleh peningkatan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap.

Prototype alat lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo / Habib Mahindra

 

Kata Kunci: Prototype, gerak dasar, lempar lembing, lembing paralon. Minimnya sarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut seorang guru pendidikan jasmani untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan sarana yang ada. Seorang guru pendidikan jasmani yang kreatif akan mampu menciptakan sesuatu yang baru, atau memodifikasi yang sudah ada tetapi disajikan dengan cara yang semenarik mungkin, sehingga anak didik akan merasa senang mengikuti pelajaran penjas yang diberikan. Seperti halnya halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan sebagainya yang ada dilingkungan sekolah, sebenarnya dapat direkayasa dan dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani. Berdasarkan observasi dan wawancara pada tanggal 14 Nopember 2012 terhadap guru pendidikan jasmani SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo diperoleh data sebagai berikut:pembelajaran gerak dasar lempar lembing masih belum dilaksanakan dengan baik dikarenakan faktor alat yang kurang memadai untuk pembelajaran tersebut, alat yang digunakan adalah lembing standar sedangkan pada anak usia 9-10 tahun secara fisik belum dapat menggunakan lembing yang standart. Berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan melalui pengisian kuisioner yang diisi oleh 40 siswa kelas IV menunjukkan bahwa 33 siswa kurang antusias terhadap pembelajaran gerak dasar lempar lembing. Salah satu alasan siswa tersebut adalah lembing yang digunakan adalah lembing standar yang terasa sangat berat sehingga siswa sulit untuk mempelajari gerak dasar lempar lembing. Penelitian dan pengambangan ini bertujuan untuk menghasilkan prototype alat lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dalam pengembangan prototype alat lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo ini menggunakan model pengembangan Research & Development (R & D) dari Borg and Gall yang dimodifikasi (1989), yaitu hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang yang dimodifikasi, karena bukan merupakan langkah-langkah baku yang harus diikuti.Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media lembing berbahan paralon untuk pembelajaran gerak dasar lempar lembing pada siswa kelas IV di SDN 1 Jatibanteng Kabupaten Situbondo.

The development of wordless picture books for the teaching of narratives writing for the eleventh graders of SAMAN 1 Pandaan / Desy Dwiana Rahayu

 

Kata Kunci: Wordless Picture Books, narative, menulis. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan Wordless Picture Books untuk memfasilitasi/media pelajaran menulis, terutama teks naratif, seperti fairy tales, fable, mitos, biografi, fiksi ilmiah, fiksi horor, dan cerita anak. Media yang sesuai untuk siswa Sekolah Menengah Atas terutama kelas XI SMAN 1 Pandaan. Media tersebut sebaiknya dapat meningkatkan dan memajukan pembelajaran serta mendukung instruksi guru. Pengembangan media pembelajaran untuk keterampilan menulis dalam bentuk Wordless Picture Books untuk memandu guru Bahasa Inggris dalam pembelajaran yang sesuai untuk memudahkan pelajaran menulis yang sesuai dengan kebutuhan siswa tetapi juga untuk memberi wewenang kepada para guru untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Borg dan Gall. Terdapat satu siklus yang terdiri dari enam langkah, antara lain: identifikasi masalah, tujuan pembelajaran, pengembangan materi, validasi ahli, uji coba, produk akhir. Data dari penelitian ini didapatkan dari kwesener, wawancara, dan observasi. Data yang paling penting untuk pengembangan media ini didapatkan dari validasi ahli. Ahli-ahli yang memvalidasi media adalah ahli dalam pengembangan media dan urusan bidang study, dalam hal ini bidang study Bahasa Inggris. Hasil penelitian data permulaan menunjukkan bahwa siswa memiliki beberapa kesulitan untuk memulai menulis. Siswa dan guru Bahasa Inggris memerlukan media untuk mempermudah pelajaran menulis, karena tidak tersedia media yang disajikan di buku pegangan siswa oleh penerbit. Berdasarkan pada analisa data yang di kumpulkan dari siswa dan guru Bahasa Inggris, beberapa dasar/asas pengembangan media di rumuskan. Antara lain berhubungan dengan media yang menarik, kejelasan media, media yang sesuai, dan kegunaan dan manfaat media. Ahli menyatakan bahwa media ini telah memenuhi kriteria sebagai media yang bagus. Siswa terlihat tertarik untuk menggunakan media dalam pelajaran menulis, mereka terlihat menikmati aktivitas selama pelajaran, dan aktivitas tersebut dapat melibatkan siswa untuk belajar. Produk akhir media di desain secara menarik dengan menyajikan gambar yang menarik minat siswa. Media tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa untuk menuangkan ide-ide mereka menjadi tulisan. Media ini relevan dengan silabus terkini sehingga media yang dikembangkan bisa digunakan sebagai media tambahan untuk membantu pengajaran menulis naratif. Penggunaan media yang terfokus pada keterampilan menulis dapat diintegrasikan dengan keterampilan lain selama proses belajar mengajar.

Pengaruh penggunaan jurnal belajar dalam pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar dan kemampuan metakognitif siswa pada materi sifat koligatif larutan / Latiful Atfiyah

 

Kata-kata kunci: jurnal belajar, inkuiri terbimbing, hasil belajar, kemampuan metakognitif Sifat Koligatif Larutan merupakan salah satu pokok bahasan dalam pelajaran kimia SMA kelas XII IPA yang meliputi penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik. Selama ini pembelajaran sifat koligatif larutan cenderung ditekankan pada aspek matematis dan siswa cenderung menghafalkan rumus-rumus yang ada kemudian menerapkannya dalam penyelesaian soal-soal. Hal ini menyebabkan siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal konseptual. Pembelajaran sifat koligatif larutan seharusnya dilakukan agar siswa mampu memahami konsep secara tepat dan tidak sekedar menghafalkan rumus. Hal ini tampaknya bisa dilakukan dengan cara siswa menemukan sendiri konsep-konsep baru. Salah satu pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri konsep-konsep adalah pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu: (1) eksplorasi, (2) penemuan, dan (3) aplikasi konsep. Pembelajaran ini dapat dipadu dengan jurnal belajar yang dapat membantu siswa untuk menemukan dan memahami konsep baru serta membantu siswa untuk mengontrol pembelajaran yang dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan: (1) apakah hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, (2) apakah kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar lebih tinggi daripada kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, dan (3) apakah hasil belajar siswa dengan kemampuan metakognitif tinggi lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa dengan kemampuan metakognitif rendah? Penelitian ini menggunakan posttest only control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo pada tahun ajaran 2012 – 2013 yang terdiri dari dua kelas homogen. Satu kelas, yang terdiri dari 33 siswa, dilibatkan dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar, sedangkan kelas yang lain, yang terdiri dari 34 siswa, dilibatkan dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar. Data penelitian adalah skor hasil belajar dan skor kemampuan metakognitif. Hasil belajar diukur dengan dengan tes pilihan ganda yang terdiri dari 35 butir soal dengan validitas isi 94,0% dan koefisien reliabilitas, diukur dengan persamaan Alpha Cronbach, sebesar 0,71. Kemampuan metakognitif diukur dengan instrumen inventori kemampuan metakognitif yang terdiri dari 52 butir pertanyaan dengan validitas isi 92,7% dan koefisien reliabilitas, diukur dengan persamaan Alpha Cronbach, sebesar 0,72. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik uji-t. Hasil-hasil penelitian adalah: (1) hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar adalah lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, (2) kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan jurnal belajar adalah lebih tinggi dibandingkan kemampuan metakognitif siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing tanpa jurnal belajar, dan (3) hasil belajar siswa dengan kemampuan metakognitif tinggi adalah lebih tinggi dibandingkan hasi belajar siswa dengan kemampuan metakognitif rendah

Peningkatan keterampilan teknik dasar lompat jauh gaya jongkok dengan model bermain di taman rintangan pada pembelajaran pendidikan jasmani olah raga dan kesehatan di kelas X UPW SMK Negeri 1 Malang / Isak Eliswam Salenussa

 

Kata Kunci: Peningkatan, Keterampilan, Lompat Jauh Gaya Jongkok, Dengan Model Bermain Di Taman Rintangan. Pada kompetensi dasar kelas X semester 1 yaitu mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi sarta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat dan, percaya diri. Pada observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan teknik dasar lompat jauh gaya jongkok siswa kelas X UPW SMK Negeri 1 Malang, dari ke empat teknik dasar yang di amati tingkat kegagalan pada teknik awalan dengan jumlah presentase 15%, tumpuan 55%, melayang 57,5%, mendara 22,5% . Oleh karena itu perlu adanya perbaikan atau pembaharuan model penyampaian materi yaitu dengan menggunakan model permainan untuk menghindari kebosanan pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan peningkatan keterampilan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas X UPW SMK Negeri 1 Malang dengan menggunakan model permainan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitaf dan kualitatif. Pelaksanaan tidakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X UPW SMK Negeri 1 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus 1 terjadi peningkatan yaitu pada teknik awalan tingkat keberhasilan siswa dari 80% menjadi 87,5%, teknik tumpuan dari 60% menjadi 77,5%, teknik melayang dari 45% menjadi 65%, teknik mendarat dari 42,5% menjadi 85%. Siklus 2 pada teknik awalan siswa dari 92,5% tetap, teknik tumpuan dari 90% menjadi 92,5%, teknik melayang dari 80% menjadi 92,5%, teknik mendarat dari 87,5% menjadi 92,5% . Selain aspek psikomotor didapat juga peningkatan mengenai aspek kognitif dan afektif siswa. Setelah dua siklus didapatkan data tentang peningkatan ketrampilan lompat jauh gaya jongkok, sikap siswa, dan pengetahuan siswa. Selain itu didapatkan juga data tentang kinerja guru, dan suasana akademik. Kesimpulan penelitian ini, bahwa penggunaan permainan dapat meningkatkan keterampilan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas X UPW SMK Negeri 1 Malang. Selain itu dapat juga meningkatkan sikap dan pengetahuan siswa. Saran bagi guru pendidikan jasmani dapat menggunakan permainan untuk meningkatkan keterampilan lompat jauh. Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian yang sama, diharapkan dapat menyempurnakan dan mengembangkan lagi permainan-permainan olahraga untuk diterapkan pada pembelajaran pendidikan jasmani.

Penerapan model pembelajaran example non example untuk meningkatkan penguasaan konsep perkembangan teknologi siswa kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar / Caesar Aan Anggraini

 

Kata kunci: model pembelajaran Example Non Example, penguasaan konsep, IPS Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar pada saat pembelajaran IPS menunjukkan bahwa penguasaan konsep siswa terhadap materi masih rendah. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa hanya ada 6 siswa (30%) yang mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditentukan yaitu 70,00, sedangkan 14 siswa (70%) belum tuntas belajar. Dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif dan kurang bersemangat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model pembelajaran Example Non Example pada pembelajaran IPS dan (2) penguasaan konsep siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Example Non Example. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar sebanyak 20 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan model pembelajaran Example Non Example, lembar observasi aktivitas siswa, lembar wawancara dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I tingkat penguasaan konsep siswa terhadap materi masih kurang. Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok juga sangat kurang. Beberapa siswa terlihat bermain sendiri pada saat kegiatan diskusi. Nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 66,35. Pada siklus II penguasaan konsep siswa mengalami peningkatan dan mencapai ketuntasan klasikal sebesar 80% pada pertemuan 1 dan 85% pada pertemuan 2. Pada saat diskusi kelompok, siswa terlihat aktif dalam kegiatan diskusi. Selain itu, siswa sudah mulai berani mengemukakan pendapatnya. Nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,5 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Example Non Example dapat meningkatkan penguasaan konsep perkembangan teknologi siswa kelas IV SDN Kebonduren 02 Ponggok Blitar. Melalui penelitian ini disarankan hendaknya pembentukan kelompok dilakukan di luar jam pelajaran karena memakan waktu yang cukup lama. Guru hendaknya membagi kelompok secara heterogen agar kegiatan pembelajaran lebih optimal. Agar pada saat diskusi kelompok siswa terlibat secara aktif, guru hendaknya membimbing siswa dalam melakukan diskusi kelompok.

Analisis keindahan makna dalam novel Al- Ajnihah al Mutakassirah sebagai pendalaman materi al muhassinat al ma'nawiyyah pada mata kuliah balagah II / Siti Mu'alifah

 

Pengembangan model penjaminan mutu akademik internal Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Apartur Pemerintah pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Timur / Saiful Rachman

 

Penerapan model pembelajaran team assisted individualization untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Candirenggo IV Singosari Malang / Rijfa Hadita

 

Kata Kunci: pembelajaran model TAI, aktivitas, hasil belajar, PKn SD Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa SDN Candirenggo IV Singosari Malang tanggal 7 Desember 2012, diketahui bahwa; (1) sebagian besar proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru dan siswa cenderung pasif (2) metode yang digunakan guru masih bersivat konvensional (3) pengelompokan siswa berdasarkan pilihan sendiri (4) aktivitas siswa hanya didominasi 8 siswa yang aktif saja, sedangkan yang lain mengerjakan hal lain (5) kurangnya pemanfaatan media dan hasil belajar PKn pada semester ganjil hanya 10 siswa yang mampu mencapai SKM dari 21 siswa di kelas. Dengan mengacu pada tujuan penelitian yaitu: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran TAI (2) peningkatan hasil belajar siswa (3) peningkatan hasil belajar siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dengan dua siklusdengan menggunakan siklus yang dikembangkan oleh kemmis dan Taggart. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Candirenggo IV Singosari Malang pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 21 siswa. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) telah terlaksana dengan baik, hal ini terbukti dari hasil penelitian berupa keberhasilan tindakan guru pada siklus I sebesar 85,5% dan keberhasilan menyusun RPP sebesar 80% pada siklus II meningkat untuk keberhasilan tindakan guru menjadi 96% dan keberhasilan guru menyusun RPP menjadi 94%. Aktivitas siswa pada siklus I 66,76% meningkat pada siklus II menjadi 83,61%. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 63,35% meningkat pada siklus II menjadi 87,38%. Berdasarkan pembahasan bahwa keberhasilan dalam penerapan model pembelajaran TAI telah diimbangi dengan teori yang ada. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan proses pembelajaran dikelas, aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan simpulan penelitian dikemukakan beberapa saran yaitu hendaknya guru menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dalam proses pembelajaran yang disesuaikan dengan materi pembelajaran agar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pengembangan modul pembelajaran bilangan bulat dengan pendekatan CTL (Contextual Teaching ang Learning) untuk siswa kelas IV SD / Raddin Nur Shinta

 

Kata Kunci: Pengembangan Modul, CTL, Bilangan Bulat Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, semakin bervariasi pula bahan ajar yang dapat diberikan kepada siswa, salah satunya yaitu modul. Berdasarkan survey dilapangan ternyata sebagian besar SDN yang ada di kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, salah satunya yaitu SDN 4 Malasan masih menggunakan buku paket dari pemerintah dan LKS yang masih bersifat drill soal. Dengan penggunaan bahan ajar tersebut kemampuan berfikir kreatif dan kritis serta kemandirian setiap siswa juga tidak dapat berkembang secara optimal sehingga kurang efektif digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan tes awal yang diberikan kepada 17 siswa SDN 4 Malasan, beberapa siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat. Berdasarkan latar belakang tersebut sehingga dirasa perlu untuk mengembangkan modul bilangan bulat yang valid, praktis, dan efektif. Modul pembelajaran bilangan bulat ini dikembangkan dengan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) dimana dari beberapa penelitian sebelumnya, pendekatan ini mampu mengatasi masalah yang terkait dengan operasi pada bilangan bulat. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model pengembangan dari Plomp yang terbagi menjadi lima fase yaitu; (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi/konstruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, (5) fase implementasi. Rancangan pengembangan modul ini akan mengadopsi sampai pada fase keempat. Instrumen penelitian yang disusun pada penelitian ini terdiri dari; (1) angket respon ahli dan praktisi, (2) angket siswa, (3) lembar dan angket observasi, (4) lembar tes. Produk pengembangan ini telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Ketercapaian kriteria valid tercermin dari angket validasi dari ahli dan praktisi dengan prosentase kevalidan yaitu 90, 46%. Untuk data ketercapaian kriteria efektifitas modul diperoleh melalui skor uji kompetensi siswa dan ulangan harian serta ditentukan dari hasil aktivitas dan respon siswa. Skor setiap siswa pada uji kompetensi 1 dan 2 telah mencapai nilai 75 dengan ada satu siswa yang mendapat skor jauh di bawah 75 sehingga tidak dimasukkan dalam analisis data. Sedangkan prosentase ketuntasan ulangan harian yaitu 82, 35% dan prosentase respon siswa yaitu 87, 5%. Analisis data kepraktisan modul dilihat dari kekonsistenan skor pengisian angket dari validator dan observer. Skor rata-rata hasil validasi yaitu 3, 6 (kriteria tinggi) dan skor pengisian angket dari observer yaitu 3, 5 (kriteria tinggi). Karena sama-sama memiliki kriteria tinggi maka dapat disimpulkan bahwa modul hasil pengembangan ini praktis.

Penerapan strategi peta pikiran (mind mapping) untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan berbahasa Arab siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Malang / Fadlilatul Azimah

 

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS melalui penerapan model numbered heads together di kelas V SDN Bareng 1 Kota Malang / Reza Edwijaya

 

Edwijaya, Reza. 2013. Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS melalui Penerapan Model Numbered Heads Together di Kelas V SDN Bareng 1 Kota Malang. Skripsi, Prodi S-1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Rumidjan, M.Pd, (II) Muchtar, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: aktivitas dan hasil belajar IPS, model Numbered Heads Together Akar permasalahan yang berhasil diidentifikasi melalui kegiatan observasi yaitu aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas V SDN Bareng 1 Kota Malang tergolong sangat rendah. Peneliti bersama guru bersepakat untuk memecahkan masalah tersebut melalui penerapan model Numbered Heads Together. Model ini merupakan salah satu jenis model pembelajaran kooperatif yang memiliki langka-langkah, terdiri dari: pemberian nomor, pengajuan pertanyaan, berpikir bersama, dan penyajian jawaban. Model ini melibatkan siswa secara aktif dalam meninjau ulang pengetahuan yang diperolehnya dan dapat mendorong siswa untuk memaknai pengetahuan yang dibangunnya sendiri     Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Berdasarkan model PTK Kemmis dan Taggart, maka penelitian dilaksanakan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan dan observasi, serta refleksi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu keterlaksanaan penerapan model Numbered Heads Together dalam pembelajaran IPS serta aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Penelitian dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru kelas.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa, persentase ketuntasan aktivitas belajar siswa secara klasikal yang dicapai pada pra siklus sebesar 36,7%, pada siklus I meningkat menjadi 66,7%, dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal yang dicapai pada pra siklus sebesar 30%, pada siklus I meningkat menjadi 73,4%, dan pada siklus II meningkat menjadi 93,3%.     Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dapat ditingkatkan melalui penerapan model Numbered Heads Together di kelas V SDN Bareng 1 Kota Malang. Guru disarankan untuk lebih teliti dalam melaksanakan setiap tahapan pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together agar aktivitas dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan sesuai yang diharapkan, selain itu disarankan agar model ini digunakan untuk materi pembelajaran IPS lainnya.

Proses berpikir siswa kelas VIII B SMPN 2 Blitard dalam pemecahan nasalah himpunan dengan pemberian scaffolding / Prasis Indahwati

 

Kata kunci: proses berpikir, pemecahan masalah, himpunan dan pemberian scaffolding. Pemecahan masalah menjadi inti pembelajaran matematika, tetapi kemampuan siswa dalam pemecahan masalah masih rendah. Khususnya siswa SMPN 2 cenderung mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal himpunan yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Menurut Vygotsky, siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi ketika mendapat bimbingan (scaffolding) dari seorang yang lebih ahli untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu penelitian ini mengkaji proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah ketika mendapat bimbingan (scaffolding). Soal yang disajikan dalam penelitian ini ada dua soal, yaitu soal yang melibatkan dua himpunan dan soal lainnya yang melibatkan tiga himpunan. Pemberian scaffolding dalam penelitian ini mengacu pada tingkatan scaffolding yang dikemukakan Anghileri (2006). Selanjutnya dikaji perkembangan proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah dengan berfokus pada kesulitan yang dialami oleh siswa pada empat langkah pemecahan masalah, yaitu kesulitan dalam hal: (1) memahami masalah; (2) menyatakan fakta dalam kalimat matematika; (3) menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya; dan (4) memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kelompok siswa berkemampuan matematika rendah mengalami kesulitan pada langkah pemahaman masalah, menyatakan fakta dalam kalimat matematika, menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya dan memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Kelompok siswa berkemampuan matematika sedang mengalami kesulitan pada langkah menyatakan fakta dalam kalimat matematika, menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya dan memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Kelompok siswa yang berkemampuan matematika rendah dan sedang tidak menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya secara lengkap dalam menyelesaikan masalah nomor 1 dan nomor 2. Kelompok siswa berkemampuan matematika baik mengalami kesulitan pada langkah memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Scaffolding yang diberikan pada masing-masing individu tidak sama. Setelah mendapatkan scaffolding, untuk masalah nomor 1 proses berpikir mereka dapat berkembang hingga struktur berpikirnya sesuai dengan struktur masalah. Sedangkan untuk masalah nomor 2, ada seorang siswa yang proses berpikirnya tidak dapat berkembang sehingga struktur berpikirnya tidak sesuai dengan struktur masalah setelah mendapatkan scaffolding sesuai dengan kemampuan berpikir masing-masing. Berdasarkan temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru dalam memberi scaffolding perlu memperhatikan proses berpikir siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Kajian proses berpikir siswa dalam penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya penelitian dengan kajian yang lebih mendalam dengan masalah yang lain.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada matakuliah elektronika dasar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Agus Suyetno

 

Penerapan model TSTS dan Carousel feedback untuk meningkatkan efikasi diri dan prestasi akademik siswa (studi pada mata pelajaran IPS di kelas V B SDI Tenda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT) / Mikael Nardi

 

Kata kunci: efikasi diri siswa, prestasi akademik siswa, model TSTS dan carousel feedback. Berdasarkan observasi pendahuluan di SDI Tenda Ruteng ditemukan bahwa proses pembelajaran masih konvensional. Metode pembelajaran yang sering digunakan adalah ceramah dan tanya jawab, kadang-kadang menggunakan diskusi di mana guru menyampaikan materi lalu siswa berdiskusi mengenai materi yang dijelaskan oleh guru. Proses pembelajaran seperti ini tidak membuat siswa aktif, berani, dan mudah mencapai hasil belajar. Dalam kegiatan pembelajaran sebagian siswa diam, ragu-ragu, merasa sulit mengerjakan tugas, dan gemetar bahkan berkeringat ketika berbicara. Di samping itu, sebagian siswa juga sulit mencapai prestasi akademik yang diharapkan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan oleh sekolah. Gejala ini menunjukkan bahwa sebagian siswa memiliki masalah efikasi diri dan prestasi akademik. Untuk itu, diperlukan upaya perbaikan, salah satunya adalah dengan menerapkan model TSTS dan carousel feedback. Penelitian ini bertujuan meningkatkan efikasi diri dan prestasi akademik siswa melalui penerapan model TSTS dan carousel feedback dalam pembelajaran IPS. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar bertujuan membekali siswa dengan sejumlah pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi warga masyarakat yang dapat berpartisipasi secara efektif. Efikasi diri dan prestasi akademik merupakan bagian dari tujuan pembelajaran IPS terutama berkaitan dengan aspek afektif dan kognitif. Keduanya sangat penting untuk dicapai karena saling mempengaruhi satu sama lain. Iklim pembelajaran yang diciptakan oleh guru IPS dapat membantu pengembangan efikasi diri dan pencapaian prestasi akademik siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V B SDI Tenda yang berjumlah 20 orang, terdiri atas 11 perempuan dan 9 laki-laki. Data yang dikumpulkan adalah pelaksanaan model TSTS dan carousel feedback dalam pembelajaran IPS, efikasi diri siswa, prestasi akademik siswa, dan tanggapan siswa terhadap penerapan model TSTS dan carousel feedback dalam pembelajaran IPS. Data-data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, angket, dan FGD. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan flow model dari Miles dan Huberman dengan tujuan mengetahui apakah penerapan model TSTS dan carousel feedback dapat meningkatkan efikasi diri dan prestasi akademik siswa. Sedangkan prosedur penelitian berbentuk siklus dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmish dan McTaggart yang terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri atas dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat pertemuan, dua pertemuan menggunakan model TSTS dan dua pertemuan lainnya menggunakan model carousel feedback. Berdasarkan data yang dikumpulkan, persentase penerapan model TSTS dan carousel feedback mengalami peningkatan, yakni dari 83,25% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II untuk model TSTS dan 85% pada siklus I menjadi 90,25% pada siklus II untuk model carousel feedback. Ditemukan pula adanya peningkatan efikasi diri siswa yang dapat dilihat dari persentase siswa yang mencapai tingkat efikasi diri dengan kategori tinggi dan sangat tinggi, yakni 65% pada siklus I (mengalami peningkatan sebesar 30%) dan 85% pada siklus II (mengalami peningkatan sebesar 20%). Prestasi akademik siswa juga meningkat tajam yang dilihat dari persentase ketuntasan klasikal, yakni 73,68% pada siklus I (meningkat sebesar 18,68%) dan 89,47% pada siklus II (meningkat sebesar 15,79%). Demikian pula persentase tanggapan siswa terhadap penerapan model TSTS dan carousel feedback meningkat dari 80% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II untuk kategori baik dan sangat baik. Siswa memberikan tanggapan positif terhadap model TSTS dan carousel feedback sebagai model yang menarik, memudahkan, lebih baik, dan dapat dilanjutkan dalam pembelajaran IPS dan mata pelajaran lain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model TSTS dan carousel feedback dapat meningkatkan efikasi diri dan prestasi akademik siswa dalam pembelajaran IPS. Oleh karena itu, disarankan agar para guru menerapkan model TSTS dan carousel feedback dalam pembelajaran IPS agar dapat meningkatkan efikasi diri dan prestasi akademik siswa. Para guru diberi pelatihan yang intensif dan berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menerapkan model-model pembelajaran kooperatif pada umumnya dan model TSTS dan carousel feedback khususnya. Dalam menerapkan kedua model tersebut hendaknya guru menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan memberikan peran yang cukup bagi siswa yang tampak kurang aktif dalam pembelajaran sehingga tertantang untuk mengembangkan kemampuannya. Akhirnya, disarankan pula agar para peneliti selanjutnya dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk keperluan penelitian yang relevan.  

Pengaruh kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa terhadap prestasi belajar mata p[elajaran akuntansi siswa jurusan IPS SMA Negeri 5 Malang / Arif Effendy

 

Kata Kunci : Kecerdasan intelektual, Kecerdasan emosional, Kecerdasan spiritual, Prestasi belajar mata pelajaran akuntansi Perkembangan ilmu pendidikan saat ini telah memberikan banyak kontribusi yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan indonesia. Terutama hal-hal yang bertujuan untuk membuat siswa tidak hanya berhasil di sekolah saja namun juga mendidik siswa agar menjadi orang yang berhasil ketika mereka bekerja. Salah satu kontribusi ilmu tentang pendidikan itu antara lain teori tentang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan tersebut secara bersama-sama mampu meningkatkan prestasi seorang siswa baik ketika siswa tersebut di sekolah maupun ketika siswa tersebut telah terjun ke masyarakat maupun dunia kerja. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang bertujuan untuk menguji hubungan antar variabel. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 5 Malang dengan populasi seluruh siswa ilmu sosial SMAN 5 Malang dengan jumlah siswa 187 siswa dan sampel yang digunakan adalah seluruh kelas XI dengan asumsi bahwa tingkatan awal siswa dalam mengenal pelajaran akuntansi adalah sama dengan nol. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kecerdasan inteletual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual baik secara parsial maupun secara simultan berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi siswa ilmu sosial SMAN 5 Malang. Secara parsial dapat diketahui dari uji t bahwa secara berurutan mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdsan emosional dan kecerdasan spiritual memiliki nilai Thitung > Ttabel (2.486 >1.986), Thitung > Ttabel (5,099>1,986), dan Thitung > Ttabel (2,300 > 1,986). Sedangkan secara simultan dapat diketahui dari nilai nilai Fhitung > Ftabel (20,027 > 2.71). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa ketiga variabel baik secara simultan maupun parsial ternyata berpengaruh terhadap prestasi belajar akuntansi. Saran Bagi sekolah diharapkan agar memperhatikan fasilitas-fasilitas pendukung seperti ruang labolatorium, ruang perpustakaan, buku-buku perpustakaan, dan sarana-sarana lain dalam proses belajar-mengajar disekolah. Sedangkan bagi guru khususnya pada pelajaran akuntansi diharapkan agar tetap memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Bimbingan-bimbingan baik akademis maupun psikologis siswa sangat membantu dalam proses siswa mencapai prestasi. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk melihat faktor EQ dan SQ diharapkan agar meneliti hasil-hasil lain selain dari segi kognitif siswa karena penilaian EQ dan juga SQ tidak cukup jika dibandingkan hanya dengan nilai dari segi kognitif.

Penerapan model Problem Based Learning-Snowball Throwing untuk meningkatkan hasil; belajar geografi pokok bahasan sumber vdaya alam pada sisw2a kelas XI IPS SMA Taman Siswa Malang / Della Dinni slami Z.

 

Kata Kunci: Problem Based Learning-Snowball Throwing, dan hasil belajar Hasil observasi dalam pembelajaran geografi di Kelas XI IPS SMA Taman siswa Malang. Guru masih menggunakan metode konvensional yang kegiatannya cenderung menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi dan guru sebagai pemberi informasi. Metode pembelajaran tersebut dapat meminimalkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar. Atas dasar tersebut peneliti mencoba menerapkan model Problem Based Learning-Snowball Throwing untuk memberikan kesempatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) pelaksanaan model problem based learning-snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Taman Siswa Malang, dan; (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Taman Siswa Malang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan MC.Taggart, dengan pendekatan penelitiannya adalah kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IX IPS SMA Taman Siswa Malang. Tahap dalam penelitian ini (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan dan (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar terbukti pada siklus 1 persentase ketuntasan kelas mencapai 70,96% dan perj sentase meningkat 96,77 % pada siklus 2. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penggunaan model problem based learning-snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar geografi pada siswa kelas XI IPS SMA Taman Siswa Malang pokok bahasan sumber daya alam. Saran yang dapat diberikan dari peneliti ini adalah 1) Guru harus memperhatikan tujuan pembelajaran untuk menyesuaikan dengan model pembelajaran dan memperhatikan waktu sebelum menerapkannya; 2) Perlu adanya kepercayaan dan penghargaan guru kepada siswa untuk melaksanakan kegiatan diskusi dengan baik serta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya .

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pelajaran eko9nomi kelas X SMA Taman Siswa Malang / Wiwit Agustin

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, hasil belajar Hasil observasi dalam pembelajaran ekonomi di Kelas X-C SMA Tamanasiswa (Madya) Malang. Guru masih menggunakan metode konvensional yang kegiatannya berpusat pada guru, dengan metode tersebut maka, sebagian besar siswa belum berinteraksi secara aktif dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar rendah. Analisis hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X semester genap secara dokumentatif menunnjukan hanya 6 siswa (35,29%) yang mencapai SKM, SKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu 75. Atas dasar masalah tersebut peneliti ingin menerapkan satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe Jigsaw . Tujuannya agar ada peningkatan hasil belajar siswa. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif dengan jumlah anggota kelompok 4-6 orang, dimana masing-masing anggota kelompok bertugas sebagai ahli untuk menguasai suatu sub topik yang yang dipelajari bersama kelompok ahli dan harus mampu mengajarkan sub topik pada kelompok asal. Sebelum dilakukan penelitian tindakan, peneliti mensosialisasikan kepada guru, sehingga guru memahami betul tahapan dan hal- hal yang harus disiapkan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw . Lokasi penelitian ini di SMA Tamansiswa (Madya) Malang dengan mengambil subyek penelitian siswa kelas X-C jumlah siswa sebanyak 6 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan selama 2 siklus dengan masing-masing siklus memiliki tahapan: (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Analisis dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dan test. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa siklus I tidak berhasil, karena masih terdapat beberapa kekurangan yaitu (1) aktivitas guru pada tahap proses, saat pembagian kelompok pengelolaan kelas kurang terkondusif, alokasi waktu yang ditentukan untuk diskusi tidak sesuai dan guru terlalu cepat dalam menyimpulkan hasil diskusi (2) aktivitas kelompok pada tahap proses, beberapa siswa kurang memperhatikan apa yang disampaikan guru, minimnya siswa yang aktif dan berani berpendapat. (3) tahap hasil, hasil belajar siswa meningkat 23,53%, dari sebelum adanya tindakan sebesar 6 siswa (35,29%) menjadi 10 siswa (58,82%),tetapi masih terdapat 7 siswa yang belum memenuhi SKM. Adapun perbaikan yang dilakukan pada siklus II yaitu (1) aktivitas guru pada tahap proses, pengelolahan kelas lebih dikondusifkan, agar pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, alokasi waktu yang digunakan harus diperketat agar pembelajaran berjalan efektif, guru dalam menyimpulkan hasil diskusi harus secara runtun, menghubungkan isi materi satu dengan isi materi yang lain dan menyediakan waktu yang memadahi. (2) aktivitas kelompok pada tahap proses, memotivasi siswa supaya lebih memperhatikan apa yang disampaikan guru, memotivasi siswa untuk berani bertanya baik pada teman ataupun pada guru, menegur siswa yang kurang aktif serta memberikan pujian kepada siswa yang aktif. Perbaikan pada siklus II menunjukan bahwa tindakan penelitian yang dilakukan berhasil, hal ini ditandai dengan (1) aktivitas guru dan kelompok pada tahap proses, semua aspek yang ada pada lembar observasi guru sudah terlaksana dengan baik. (2) tahap hasil, hasil belajar siswa yang memenuhi SKM meningkat dari siklus I berjumlah 10 siswa (58,82%) menjadi 14 siswa (82,35%) pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X, Serta penelitian tindakan kelas ini dapat dikatakan berhasil.

Penerapan model pembelajaran TAI (Team Accelerated Instruction) untuk meningkatrkan hasil; belajar siswa (Studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas XI APK di SMK Kosgoro 1 Lawang) / Yunita Ratna Artanti

 

Yanti, Dama. 2014. Penerapan Model Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa Membuka Usaha Ritel (studi pada siswa kelas X Jurusan Pemasaran SMK PGRI 3 Blitar). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, M.M. (II) Hj. Madziatul Churiyah S.Pd, M,M. Kata kunci: Aktivitas, Hasil, Model Pembelajaran TAI Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan memperbesar peluang pencapaian keberhasilan belajar siswa. Factor utama adalah intelegensi dan latarbelakang siswa yang beragam. Oleh karena itu guru perlu alternative model pembelajaran untuk mengatasi keberagaman karakteristik siswa tersebut. Alternative yang dapat dilakukan guru yaitu melalui penggunaan model pembelajaran TAI, dengan menggunakan pembelajaran model TAI, siswa akan dikelompokkan kedalam kelompok awal yang dibentuk secara heterogen dengan tujuan agar dapat saling bekerjasama dan bertukar informasi antar siswa yang beragam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pembelajaran kooperatif model TAI terhadap aktivitas dan hasil belajar Membuka Usaha Ritel. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari satu kelas, yaitu siswa kelas X Pemasaran SMK PGRI 3 Blitar. Instrumen penelitian berupa tes yang terdiri dari post-test. Analisis data untuk aktivitas data dihitung dengan membagi skor tiap descriptor dengan total descriptor kemudian dikali 100. Sedangkan untuk menghitung rata-rata dari hasil belajar dengan membagi jumlah nilai keseluruhan dengan jumlah siswa. Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif model TAI dilihat dari tercapainya kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan. Aktivitas siswa pada siklus I, pada pertemuan I sebesar 53,25% sedangkan pertemuan II sebesar 55.69% dalam kategori “Cukup”. Dan aktivitas siswa pada siklus II, pertemuan III sebesar 61.25% sedangkan pertemuan ke IV sebesar 71% dengan taraf keberhasilan “Baik”. Hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran TAI pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh adalah 75,89% dan pada siklus II telah mengalami peningkatan sebasar 4.14% dengan nilai rata-rata 80.03% Saran yang diajukan untuk guru bidang studi Membuka Usaha Ritel adalah menjadikan model TAI sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah untuk mengujicobakan model TAI pada materi berbeda dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi, serta mengkombinasikan dengan media pembelajaran yang lebih variatif sehingga tampak pengaruh yang besar terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari model TAI.

Pengaruh informasi arus kas dan laba bersih terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) / Galih Prakosa

 

Kata kunci: Laba bersih, Arus kas aktivitas operasi, arus kas aktivitas investasi, arus kas pendanaan, harga saham, Jakarta Islamic Index. Penyebaran pasar modal syariah diseluruh dunia, menunjukkan negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim juga memiliki sistem keuangan dengan basis syariah. Perubahan harga saham dalam pasar modal syariah dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah faktor fundamanental seperti kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan dapat dilihat dari informasi laba bersih dan arus kas yang dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetehui pengaruh antara laba bersih, arus kas aktivitas operasi, arus kas aktivitas investasi, arus kas aktivitas pedanaan terhadap harga saham perusahaan di JII. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di JII selama periode 2010-2011 yang berjumlah 60 perusahaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan sampel berupa laporan keuangan tahunan dan harga saham. Harga saham yang digunakan adalah harga penutupan. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda sebagai alat untuk menganalisis variabel diatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial laba bersih dan arus kas aktivitas operasi berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan di JII. Hal tersebut dikarenakan investor melihat informasi dari laba bersih dan arus kas operasi lebih dijadikan dasar pengambilan keputusan investasi di banding arus kas aktivitas investasi dan arus kas aktivitas pendanaan. Berdasarkan hasil penelitian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu: (1) Nilai koefisien determinasi sebesar 46,1 menunjukkan bahwa informasi laba bersih, informasi arus kas aktivitas operasi, arus kas aktivitas investasi, arus kas aktivitas pendanaan bukan penentu utama harga saham.perusahaan di JII. Bagi penelitian selanjutnya saran yang diberikan adalah (1) peneliti selanjutnya, diharapkan menambah informasi independen seperti inflasi, tingkat suku bunga dan analisis rasio hutang dengan periode penelitian yang lebih panjang Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menambah informasi independen seperti inflasi, tingkat suku bunga dan analisis rasio hutang dengan periode penelitian yang lebih panjang karena informasi laba bersih dan informasi arus kas perusahaan bukan penentu utama harga saham perusahaan di JII, (2) Bagi investor, dalam pengambilan keputusan investasi, memperhatikan informasi dari laba bersih dan arus kas, namun juga memperhatikan informasi (3) Bagi emiten, dalam penerapan strategi agar harga saham sesuai dengan target, agar memperhatikan informasi laba bersih dan arus kas yang dipublikasikan sehinga dapat menarik perhatian investor, namun tidak mengesampingkan faktor lain seperti tingkat suku bunga dan inflasi.

Peningkatan kemampuan berbicara anak kelompok A melalui permainan tebak cerita berkomunikata di PAUD terpadu Pelita Hati, Malang / Noor Herdia Tri Augustien

 

Kata Kunci:kemampuan berbicara, permainan tebak cerita berkomunikata, anak kelompok A Berbicara adalah suatu bentuk komunikasi dimana pikiran dan perasaan manusia disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti atau maksud kepada orang lain. Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa kelompok A1 di PAUD Terpadu Pelita Hati kota Malang, ditemukan bahwa 13 dari 24 anak (56%) kemampuan berbicaranya rendah. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa:(1) anak merasa kesulitan dalam menjawab pertanyaan dengan kata Tanya “siapa dan dimana” dari guru, (2) anak pasif dalam kegiatan berbahasa, (3) anak kurang tertarik ketika guru bercerita, sehingga anak cepat merasa bosan, dan (4) anak kurang antusias dalam kegiatan di dalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan, yang mencakup penerapan permainan tebak cerita berkomunikata di PAUD Terpadu Pelita Hati kota Malang dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbicara anak Kelompok A di PAUD Terpadu Pelita Hati kota Malang. Rencana Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini direncanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan penelitian, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A1 PAUD terpadu Pelita Hati kota Malang yang berjumlah 24 anak. Analisis penelitian data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Kegiatan analisis data menggunakan lembar observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian pada penerapan permainan Tebak Cerita Berkomunikata untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak TK.. Pada siklus I peneliti telah menerapkan permainan Tebak Cerita Berkomunikata, sehingga persentase kemampuan berbicara mengalami peningkatan yaitu70%. Pada siklus II kemampuan berbicara anak mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 87% melebihi batas minimal yang ditetapkan 75%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dengan permainan Tebak Cerita Berkomunikata dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak. Sehingga dalam penelitian tindakan kelas ini disarankan untuk pihak sekolah hendaknya untuk mengembangkan kemampuan berbicara melalui permainan tebak cerita berkomunikata dengan lebih menarik dan bervariasi.

Pengembangan modul pembelajaran IPA standar kompetensi penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya untuk kelas IV SDN Bareng 03 Malang / Kiki Niken Saputri

 

Kata Kunci: Pengembangan, Modul pembelajaran, IPA Modul merupakan media bahan ajar cetak yang disusun lengkap dan sistematis yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik serta mempermudah mereka untuk belajar sendiri sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing siswa. Hasil observasi di SDN Bareng 03 Malang didapatkan bahwa pada pembelajaran IPA, media yang digunakan guru hanya terbatas pada buku teks dan LKS. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul pembelajaran IPA. Tujuan penelitian ini yaitu menghasilkan produk modul pembelajaran IPA standar kompetensi penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya untuk siswa kelas IV SD yang layak menurut ahli materi, ahli media, ahli pembelajaran IPA SD, dan siswa sehingga pengembangan modul pembelajaran IPA dapat digunakan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pengembangan. Rancangan penelitian mengadaptasi prosedur pengembangan yang ditulis oleh Sugiyono (2010:409). Prosedur pengembangan modul pembelajaran standar kompetensi penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya menggunakan 7 tahap prosedur penelitian, yakni (1) analisis masalah dan potensi yang akan dikembangkan, (2) pengumpulan informasi, (3) Desain Produk, (4) Validasi ahli, (5) Revisi desain, (6) Uji coba produk terbatas, (7) Revisi produk akhir. Hasil penelitian ini berupa produk pengembangan modul pembelajaran standar kompetensi penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya yang telah divalidasi oleh 3 ahli dan diuji cobakan pada uji coba kelompok terbatas sebanyak 12 siswa kelas IV SDN Bareng 03 Malang. Hasil uji coba oleh ahli materi menunjukkan rata-rata 93,75%, dari ahli media menunjukkan rata-rata 89,77%, dari ahli pembelajaran IPA SD menunjukkan rata-rata 93,75%,dan dari uji coba kelompok terbatas mendapatkan rata-rata 90%. Keempat hasil uji tersebut dapat disimpulka bahwa media tergolong sangat valid dan dapat diimplementasikan, namun tetap ada revisi yang dilakukan sesuai dengan kritik dan saran dari para ahli. Saran kepada pengembang lainnya yaitu melakukan penelitian efektivitas penggunaan modul pembelajaran dengan cangkupan yang lebih luas. Penerapan penggunaan modul disarankan kepada guru untuk tetap melakukan bimbingan kepada siswa, sesuai dengan tingkat perkembangannya yang belum dapat dilepas secara langsung.  

Pengembangan bahan ajar IPA berbasis aktivitas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan karakter siswa kelas VI semester I / Ika Dian Rahmawati

 

Rahmawati, Ika Dian. 2013. Pengembangan Bahan Ajar IPA Berbasis Aktivitas untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Karakter Siswa Kelas VI Semester I. Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Agr. H. Moh. Amin, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Lia Yuliati, M.Pd Kata kunci: bahan ajar IPA berbasis aktivitas, berpikir kritis, karakter     Pembelajaran IPA di SDN Ngoro 2 Jombang terbatas pada aspek produk. Pembelajaran yang terbatas pada aspek produk menyebabkan pembelajaran berbasis isi. Keberhasilan pembelajaran berbasis isi diukur dari banyaknya konsep yang berhasil dihafalkan oleh siswa, akibatnya kemampuan berpikir kritis dan karakter siswa belum berkembang. Salah satu solusi mengatasi permasalahan tersebut adalah mengembangkan bahan ajar berbasis aktivitas. Bahan ajar berbasis aktivitas dapat melatih kemampuan berpikir kritis karena siswa dapat melakukan kegiatan, dan pengetahuan yang menunjang berpikir kritis, sedangkan guru dapat merencanakan pembelajaran yang sistematis dengan melibatkan keterampilan yang melatih berpikir kritis selama pembelajaran. Selain itu bahan ajar berbasis aktivitas mengarahkan siswa untuk melakukan pendidikan karakter melalui aktivitas belajar yang bermuatan karakter.     Tujuan penelitian adalah (1) mengembangkan bahan ajar IPA berbasis aktivitas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan karakter siswa , (2) menganalisis kelayakan bahan ajar hasil pengembangan sehingga bahan ajar tersebut layak digunakan oleh guru dan siswa di sekolah, dan (3) menguji efektivitas bahan ajar terhadap kemampuan berpikir kritis dan karakter siswa SD Kelas VI di SDN Ngoro 2 Jombang.     Tahap pengembangan menggunakan model 4D dengan prosedur penelitian meliputi define, design, develop, dan disseminate. Validator ahli bahan ajar terdiri dari dua orang dosen Universitas Negeri Malang dan satu orang guru IPA. Validator keterbacaan terdiri dari 10 orang siswa. Hasil validasi pengembangan bahan ajar terdiri dari hasil validasi materi, penyajian, dan bahasa. Hasil penilaian validator materi sebesar 80,05% menyatakan valid. Hasil penilaian validator penyajian sebesar 76,16% menyatakan valid dan hasil penilaian validator bahasa sebesar 82,38% yang berarti valid, sedangkan hasil uji keterbacaan oleh siswa juga diperoleh hasil yang valid,     Uji keefektifan bahan ajar menggunakan rancangan pretes-postes non equivalent control group design. Sampel penelitian berasal dari siswa kelas VI SDN Ngoro 2 Jombang sebanyak 48 siswa. Kemampuan berpikir kritis diukur menggunakan tes esai sedangkan karakter diukur melalui observasi. Analisis data menggunakan uji t, sebelum menggunakan uji t dilakukan uji asumsi normalitas Kolmogorov Smirnov dan uji homogenitas menggunakan uji Levene’s. Hasil pengembangan menunjukkan bahan ajar andal dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan karakter. Hasil eksperimen sebagai berikut. (1) bahan ajar berbasis aktivitas berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan karakter. (2) terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis dan karakter sebelum menggunakan bahan ajar dengan setelah menggunakan bahan ajar. Saran produk pengembangan masih perlu disempurnakan sebelum disebarkan lebih luas

Pengaruh penggunaan media video terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA kelas IV SDN polehan 3 Malang / Rina Sulistyaningsih

 

Kata Kunci : Media Video Pembelajaran, Hasil Belajar Pembelajaran IPA di SDN Polehan 3 Malang selama ini masih menggunakan metode konvensional dan masih mengandalkan buku teks dalam pembelajaran. Guru menyajikan materi pembelajaran dengan metode ceramah, siswa dipaksa mendengarkan guru yang ceramah didepan sehingga kegiatan belajar mengajar terasa membosankan, tidak menarik siswa, dan hasil belajar siswa rendah. Salah satu cara untuk memberikan solusi dari permasalahan tersebut yaitu dengan menghadirkan media dalam pembelajaran. Ada berbagai jenis media pembelajaran, diantaranya video pembelajaran. Media video pembelajaran merupakan media audio visual yang dapat digunakan untuk menjelaskan materi nyata. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa IPA antara pembelajaran yang menggunakan media video pembelajaran dengan yang tidak menggunakan media video pembelajaran di kelas IV SDN Polehan 3 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas IV B sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan berupa penggunaan media video pembelajaran dan kelas IV A sebagai kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar berupa pretes dan postest. Teknik analisis yang digunakan adalah pengujian satu jalur (One Way Anova) yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis hipotesis pada taraf signifikansi 0,05 diperoleh nilai probabilitas (sig) adalah 0,000 < 0,05 dengan Fhitung = 17,929 > Ftabel = 1,68. Sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak berarti ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan media video pembelajaran daur hidup hewan dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan media video pembelajaran daur hidup hewan dalam pembelajaran IPA kelas IV SDN Polehan 3 Malang. Saran yang diajukan untuk guru bidang studi IPA agar mengoptimalkan penggunaan media video dalam menyajikan materi pelajaran IPA sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi kepala sekolah diharapkan bisa menjadikan media video pembelajaran sebagai pertimbangan atau alternatif media yang digunakan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Analisis soal UAS mata pelajaran IPA kelas V semester gasal tahun ajaran 2012/2013 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Puri Selfi Cholifah

 

Cholifah, Puri, Selfi. 2013. Analisis Soal UAS Mata Pelajaran IPA Kelas V Semester Gasal Tahun Ajaran 2012/2013 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Estu Winahyu, M.Pd., (II) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum. Kata Kunci: analisis soal, UAS, IPA UAS merupakan salah satu bentuk tes sumatif yang dilakukan pada akhir semester untuk mengetahui hasil belajar peserta didik. Tes digunakan untuk mempermudah pelaksanaan evaluasi. Prasyarat tes yang baik sebagai alat pengukur harus memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Sebuah soal tes juga dikatakan baik jika memenuhi taraf kesukaran, daya pembeda, dan pola jawaban siswa yang beragam. Soal UAS yang baik juga diharapkan memenuhi semua karakteristik dan prasyarat tersebut. Penelitian ini diperlukan untuk menguji produk berupa soal UAS pada semester gasal yang digunakan di kelas V sekolah dasar di Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian ini berjumlah 301 lembar jawaban soal UAS dengan taraf signifikansi 5%. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu quota sampling. Dokumen dalam penelitian ini berupa daftar nilai siswa kelas V mata pelajaran IPA, soal, salinan jawaban, dan kunci jawaban UAS IPA kelas V semester gasal di Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa UAS IPA kelas V semester gasal di Kecamatan Kedung Kandang memiliki koefisien korelasi sebesar 0,637 dengan taraf signifikansi 0,01. Hal tersebut menunjukkan bahwa soal UAS IPA dinyatakan valid. Soal tersebut dinyatakan reliabel berdasarkan hasil analisis reliabilitas yang menunjukkan angka 0,820. Perbandingan tingkat kesukaran soal objektif kategori mudah: sedang: sukar yaitu 4:5:1, dan perbandingan tingkat kesukaran soal subjektif yaitu 3:6:1. Soal bentuk objektif memiliki daya beda yang kurang baik dengan kategori buruk mencapai 29%, sedangkan soal bentuk subjektif memiliki daya beda sangat baik yang mencapai 80%. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa soal UAS IPA kelas V di Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang termasuk memiliki kriteria validitas secara empiris, reliabel, daya beda soal yang cukup, namun tingkat kesukaran soal tidak proporsional dan distruktor pada soal pilihannya kurang berfungsi. Saran bagi Diknas Kota Malang untuk lebih meningkatkan kualitas soal yang dibuat di masa mendatang dengan melakukan uji coba dan pengadaan pelatihan pembuatan soal yang baik bagi guru-guru di Kota Malang. Penelitian ini belum melakukan uji validitas logis berupa validitas kurikuler dan validitas permukaan. Oleh sebab itu, saran bagi peneliti lain untuk meneliti hal tersebut.

Keefektifan gambar statis, gambar dinamis ball-and-stick, dan model molekul sederhana dibuat dari jarum pentul pada pembelajaran bentuk dan kepolaran molekul / Muhammad Ardiansyah

 

Kata kunci: gambar statis, gambar dinamis, model molekul jarum pentul, bentuk molekul, kepolaran molekul. Materi bentuk dan kepolaran molekul merupakan materi prasyarat untuk mempelajari materi lain seperti gaya antar molekul, asam-basa, dan sifat koligatif larutan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa materi bentuk dan kepolaran molekul adalah sulit dipelajari oleh siswa. Hasil penemuan beberapa peneliti menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami oleh siswa disebabkan karena mereka menganggap bahwa bentuk molekul ditentukan oleh gaya tolak antar molekul, bentuk molekul adalah sama dengan struktur Lewis, dan pasangan elektron bebas pada atom pusat tidak mempengaruhi sudut ikatan. Penggunaan gambar statis, gambar dinamis ball-and-stick, dan model molekul sederhana dari jarum pentul diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi bentuk dan kepolaran molekul yang bersifat abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan gambar statis, gambar dinamis ball-and-stick, dan model molekul sederhana dari jarum pentul ditinjau dari hasil belajar kognitif siswa pada pembelajaran bentuk dan kepolaran molekul. Penelitian ini menggunakan rancangan post-test only comparative group design. Subyek penelitian adalah 99 siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pandaan yang terbagi dalam tiga kelas. Kelas pertama terdiri dari 33 siswa yang belajar dengan menggunakan gambar statis. Kelas kedua terdiri dari 33 siswa yang belajar dengan menggunakan gambar dinamis ball-and-stick. kelas ketiga terdiri dari 33 siswa yang belajar dengan menggunakan model molekul sederhana dari jarum pentul. Data penelitian adalah skor hasil belajar kognitif siswa yang dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 35 item dengan validitas isi tes sebesar 87,6%, dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan rumus KR-21, sebesar 0,90. Data penelitian dianalisis menggunakan statistik uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor hasil belajar kognitif siswa yang diperoleh dari pembelajaran bentuk dan kepolaran molekul dengan menggunakan model molekul sederhana dari jarum pentul lebih tinggi daripada menggunakan gambar dinamis ball-and-stick. Skor hasil belajar kognitif siswa yang diperoleh dari pembelajaran bentuk dan kepolaran molekul dengan menggunakan gambar dinamis ball-and-stick lebih tinggi daripada menggunakan gambar statis. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa model molekul sederhana dari jarum pentul adalah model yang paling efektif pada pembelajaran bentuk dan kepolaran molekul.

Penerapan permainan kubus huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Negeri Pembina 1 Kota Malang / Novia Dias Sulistyani

 

Kata Kunci: Permainan Kubus Huruf, Kemampuan Membaca Permulaan, Anak Taman Kanak-Kanak Kemampuan bahasa dalam hal membaca permulaan anak kelompok B TK Negeri Pembina 1 Kota Malang masih tergolong kurang. Terdapat 48,27% (14 dari 29 anak) yang mampu membaca dengan lancar dan 51,73% (15 dari 29 anak) mengalami kesulitan membaca. Keadaan ini disebabkan oleh kegiatan pembelajaran yang kurang menarik bagi anak yaitu tanpa adanya inovasi dalam permainan, menggunakan metode sederhana, dan hanya mengandalkan LKS sehingga anak merasa bosan, dan untuk itu perlu dirancang permainan Kubus Huruf agar kemampuan membaca permulaan anak meningkat. Rumusan masalah dalam penelitian ini : 1) Bagaimanakah penerapan permainan Kubus Huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Negeri Pembina 1 Kota Malang 2) Apakah penerapan permainan Kubus Huruf dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Negeri Pembina 1 Kota Malang Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dan setiap siklusnya dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaa, pengamatan, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B2 TK Negeri Pembina 1 Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi kegiatan anak dan dokumentasi berupa foto. Analisis data yang dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan anak yaitu pada pratindakan hanya 48,27% meningkat 17,24% pada siklus I mencapai 65,51% dengan kategori belum berhasil, sehingga diadakan perbaikan-perbaikan pada siklus II. Hasil penelitian pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 20,69 % sehingga keberhasilan kemampuan membaca permulaan anak mencapai 86,20% dengan kategori sangat berhasil. Kepada guru TK disarankan untuk menerapkan permainan Kubus Huruf sebagai alternatif pembelajaran dengan menerapkan prinsip belajar melalui bermain yang menyenangkan bagi anak, bagi lembaga TK sebagai peningkatan mutu pendidikan dan upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan, dan kepada peneliti selanjutnya untuk menyempurnakan permainan Kubus Huruf baik media maupun teknik pembelajaran sehingga pembelajaran permainan Kubus Huruf menjadi lebih inovatif.

Pengaruh model pembelajaran group investigation terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran geografi kelas X di SMA Negeri 1 Batu / Candra Nuri Megawati

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Group Investigation, Kemampuan Berpikir Kreatif Salah satu kemampuan penting dalam pembelajaran geografi adalah kemampuan berpikir kreatif. Namun dalam praktek di sekolah, kemampuan berpikir kreatif siswa kurang mendapat perhatian. Proses pembelajaran didominasi oleh guru dan kurang melibatkan siswa untuk berkembang secara mandiri melalui proses berpikirnya. Siswa hanya mendengarkan dan memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini menyebabkan kurang termotivasinya siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif . Salah satu model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif adalah Group Investigation (GI) . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran GI terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran geografi kelas X SMA Negeri 1 Batu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dikembangkan dengan pretest -post test control group design. Subjek penelitian yaitu kelas X-6 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-4 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa soal tes esai untuk pretes dan postes. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t 2 sampel tidak berpasangan dengan menggunakan SPSS 16.00 for Windows . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dari kemampuan berpikir kreatif siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran GI dengan siswa yang hanya belajar dengan model pembelajaran klasikal. Rata-rata kemampuan berpikir kreatif (gain score) siswa kelas eksperimen adalah 23,6 sedangkan rata-rata kemampuan berpikir kreatif siswa kelas kontrol adalah 14,44 dengan nilai sig sebesar 0,001 < 0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang mendapatkan perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran GI dan siswa yang mendapatkan materi dengan model pembelajaran klasikal. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru geografi untuk menggunakan model pembelajaran GI sebagai variasi model karena dapat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Untuk peneliti selanjutnya, dalam pelaksanaan model pembelajaran GI perlu adanya perencanaan waktu yang ada dalam RPP dengan cermat agar dapat terlaksana dengan baik.

Penerapan pembelajaran model mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas V SDN Sumberjo 3 Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang / Desi Ratna Triwulan Sari

 

Kata kunci : Model Mind Mapping, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS. Latar belakang penelitian ini yaitu aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPS rendah sehingga rata-rata hasil belajar IPS hanya mencapai 46,8. Nilai tersebut masih dibawah KKM mata pelajaran IPS yang ditetapkan yaitu sebesar 65. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran model Mind Mappinguntuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS,peningkatan aktivitassiswa pada pembelajaran IPS melalui penerapan pembelajaran model Mind Mapping, dan peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan pembelajaran modelMind Mappingpada siswa kelas V SDN Sumberjo 3. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas, dan rancangan penelitian dilakukan bersiklus dengan tahapan dari Kemmis dan Mc. Taggart. Penelitian ini dilakukan di SDN Sumberjo 3 Kecamatan Wonosalam kabupaten Jombang pada semester II tahun pelajaran 2012/2013 dengan subyek berjumlah 11 siswa selama II siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Mind Mapping dapat dilakukan dengan baik hal ini dapat dilihat dari semua langkah-langkah model Mind Mappingtelah dilakukan oleh guru.Aktivitas siswa pada siklus I pertemuan I mencapai persentase ketuntasan klasikal sebesar 27%, meningkat pada siklus I pertemuan II dengan persentase ketuntasan klasikal 54% dan meningkat lagi pada siklus II dengan persentase ketuntasan klasikal 91%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I pertemuan I terdapat 5 siswa yang tuntas belajar, dan pada siklus I pertemuan II meningkat yaitu terdapat 8 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu terdapat 11 siswa yang tuntas belajar. Kesimpulan penelitian ini yaitu: secara keseluruhan model pembelajaran Mind Mapping telah berhasil dilaksanakan, penerapan pembelajaran model MindMapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS. Disarankan bagi guru yang ingin meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS dapat menerapkanmodel pembelajaranMind Mapping. Bagi pihak sekolah, disarankan untuk memberikan fasilitas yang mendukung pembelajaran dan model pembelajaran Mind Mapping kepada guru. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian dengan topik yang sama namun sub yang berbeda disarankan untuk mencoba meneliti penerapan model Mind Mapping dalam upaya untuk meningkatkan aspek afektif siswa.

Kesalahan bentukan dan pilihan kata bahasa Indonesia dalam kalimat pada karangan mahasiswa tingkat pemula program Critical Language Scholarship 2012 BIPA UM / Fersita Felicia Facette

 

Penggunaan media key word card untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas I SDN Gongseng I Megaluh Jombang / Yuniar Ayu Widhayati

 

Kata kunci : media key word card, aktivitas, hasil belajar, rumah sehat, IPS. Hasil tes pra tindakan pada materi rumah sehat yang diujikan kepada siswa kelas I SDN Gongseng I Megaluh Jombang, menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menjawab dan memahami materi rumah sehat masih rendah. Hanya 2 siswa yang memperoleh nilai antara 85 dan 100, 12 siswa dengan nilai antara 70 dan 84 dan 2 siswa dengan nilai antara 55 dan 69. Terdapat 5 siswa dengan nilai antara 40 dan 54. Peneliti melakukan upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS tersebut dengan menggunakan media key word card. Media key word card adalah media yang terdiri dari kartu gambar dan kartu kata kunci. Pada satu gambar terdapat beberapa kartu kata kunci yang harus dipasangkan oleh siswa. Sehingga terbentuk suatu pemahaman yang lengkap mengenai gambar tersebut. Tujuan penelitian ini: (1) mendeskripsikan penggunaan media Key Word Card dalam pembelajaran IPS materi rumah sehat di kelas I SDN Gongseng I Megaluh Jombang (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPS materi rumah sehat dengan menggunakan media Key Word Card di kelas I SDN Gongseng I Megaluh Jombang (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS materi rumah sehat dengan menggunakan media Key Word Card di kelas I SDN Gongseng I Megaluh Jombang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pen- dekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Gongseng I Megaluh Jombang. Prosedur penelitiannya: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal tes (2) lembar observasi pelak- sanaan pembelajaran, dan (3) lembar observasi aktivitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran meng- gunakan media key word card pada materi rumah sehat dilaksanakan dengan sangat baik, (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan dari siklus I dengan presentase 68,95% ke siklus II dengan presentase 85,70%, dan (3) hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan 58,50, siklus I 69,52 dan siklus II83,33. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa penggunaan media key word card dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Sehingga disarankan untuk menggunakan media key word card sebagai salah satu pembelajaran alternatif khusunya pada materi rumah sehat. Namun, perlu dipertimbangkan juga mengenai manajemen waktu dan pengelolaan kelas yang baik.

Pengembangan modul bercirikan work-based learning untuk meningkatkan prestasi siswa SMK pada materi matematika keuangan / Mujiati

 

Kata kunci: Pengembangan, modul pembelajaran, Work-based Learning, Matematika Keuangan. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah merupakan suatu bentuk penyelenggaraan Pendidikan Profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan disekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja yang terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesioanal tertentu. Pada Sekolah menengah Kejuruan (SMK) pendidikan sistem ganda adalah merupakan program pembelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Adapun pelaksanaan programnya bisa dilakukan dengan 3 cara, antara lain: 1). Hours Release, 2). Days Release, 3). Blocks Release. Implementasi Pendidikan Sistem Ganda di SMK Negeri 2 Blitar adalah dengan adanya program praktek kerja industri yang harus diikuti oleh siswa kelas XI selama 6 bulan yang terbagi menjadi 2 tahap (tiap tahap selama 3 bulan) untuk menambah kompetensi/ketrampilan siswa dan sebagai penerapan mata pelajaran produktif di dunia kerja. Dikarenakan konsep sistem ganda adalah merupakan proses pendidikan yang melaksanakan pembelajaran di dua tempat, maka selama melaksanaan program Prakerin diharapkan proses pembelajaran tetap bisa disampaikan kepada siswa baik mata pelajaran Normatif maupun Adaptif. Agar proses pembelajaran tetap berjalan dan selama melaksanakan prakerin siswa tetap menerima pelajaran khususnya matematika sehingga prestasi/kompetensi siswa bisa lebih kompeten/meningkat maka penulis mengembangkan program pembelajaran untuk siswa yang sedang melaksanakan prakerin yaitu dengan membuat modul. Work-Based Learning adalah merupakan ciri model pembelajaran yang sangat relevan untuk digunakan kepada siswa SMK yang sedang melaksanakan Prakerin. Hal ini disebabkan karena pada saat siswa sedang prakerin diharapkan mata pelajaran matematika, yang merupakan bagian mata pelajaran Adaptif tetap bisa disampaikan (Belajar sambil Bekerja). Analisis yang telah dilakukan oleh penulis agar siswa yang sedang melaksanakan prakerin di SMK Negeri 2 Blitar tetap menerima pelajaran antara lain adalah: 1) Keberadaan siswa pada program keahlian tertentu, 2) Tempat prakerin dan bidang pekerjaan yang akan dipelajari siswa, 3) menganalisis kurikulum dan silabus, 4) menentukan materi yang relevan dengan bidang pekerjaan, 5) merancang bahan ajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul yang bercirikan Work-Based Learning untuk meningkatkan prestasi siswa yang sedang melaksanalan prakerin. Model pengembangan yang digunakan dalam pembuatan modul pembelajaran ini adalah dengan model ADDIE. Pemilihan model ini didasarkan atas pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara sistematis berdasarkan landasan teoritis desain pembelajaran. Model ini di susun secara terprogram dengan urutan-urutan kegiatan yang sistematis dalam upaya memecahkan masalah pembelajaran, khususnya masalah ketersediaan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa yang sedang melaksanakan prakerin di dunia kerja. Untuk mendukung pengembangan modul ini maka dikembangkan pula instrument-instrumen yang terdiri dari : (1) Lembar validasi modul yang dilengkapi dengan silabus dan RPP untuk mengetahui kevalidan modul, (2) Lembar validasi keterlaksanaan modul untuk melihat kepraktisan modul, (3), Angket respon peserta didik sebagai subyek uji coba lapangan, selanjutnya sebelum diuji cobakan dilakukan validasi terlebih dahulu, yakni : (1) review oleh ahli isi (materi modul), (2) review oleh ahli rancangan pembelajaran, (3) review oleh guru mata pelajaran, dan (4) uji coba lapangan yaitu siswa kelas XI AK-4 yang sedang melaksanakan prakerin di dunia kerja. Data hasil evaluasi tersebut berupa saran, tanggapan dan penilaian dari subyek uji coba digunakan sebagai masukan untuk merevisi dan menyempurnakan modul pembelajaran. Modul yang dikembangkan harus memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Berdasarkan analisis data dari validator terhadap produk pengembangan berupa modul pembelajaran, hasil dari uji ahli rancangan pembelajaran terhadap modul pembelajaran terdapat 90%. semua persentase tersebut berada pada kualifikasi valid namun perlu ada direvisi kecil. Berdasarkan presentase nilai dari uji ahli isi mata pelajaran modul pembelajaran ini terdapat 93.3% berada pada kualifikasi efektif dan perlu adanya revisi kecil. Dari hasil uji coba perorangan di lapangan yang menggunakan angket terdapat 84,27%, dengan diperoleh prosentase tersebut modul tersebut pada kualifikasi praktis. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran dengan menggunakan modul dapat meningkatkan kompetensi/prestasi siswa dalam mempelajari bunga tunggal. Berdasarkan hasil dari serangkaian uji coba yang dilakukan dapat diketahui kelebihan dan keterbatasan dari pengembangan modul pembelajaran (1) Pengembangan modul pembelajaran matematika ini dirancang/didesain berdasarkan karakteristik dan kebutuhan siswa yang sedang melaksanakan praktek kerja industri, (2) Pengembangan ini hanya pada lingkup SMK Negeri 2 blitar yang dikembangkan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan belajar siswa yang sedang melaksanakan praktek kerja industri, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa pada mata pelajaran Matematika kususnya pada materi bunga tunggal yang ada relevansinya dengan bidang pekerjaan, (3) Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini hanya sesuai untuk penelitian ini saja.(4) sebaiknya dikembangkan lebih lanjut pada materi-materi lain dan Bila perlu guru-guru yang mengajar di SMK Negeri 2 Blitar dapat mengembangkan modul untuk semua materi pelajaran baik normatif maupun Produktif terutama yang mengajar siswa di kelas XI yang sedang melaksanakan prakerin di dunia kerja sehingga dalam penyampaian pelajaran tidak terputus karena siswa ada di dunia kerja.

Kohesi dan keherensi karangan eksposisi siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 1 Kota Kediri tahun pelajaran 2012/2013 / Ajeng Ayu Resista

 

Implementasi pembelajaran kewirausahaan di SMK Negeri 1 Banyuwangi / Sehani Asri Miningsih

 

Kata kunci : pembelajaran kewirausahaan Arah kebijakan pemerintah memberikan pembelajaran kewirausahaan adalah agar peserta didik dapat meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup serta dapat mengaktualisasikan diri dalam perilaku wirausaha. Kompetensi kewirausahaan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (a) Memahami dunia usaha dalam kehidupan sehari-hari (b) Berwirausaha dalam bidangnya, (c) Menerapkan perilaku kerja prestatif, (d) Mengaktualisasikan sikap dan perilaku wirausaha. Standard kompetensi yang harus dikuasai peserta didik adalah dapat mengaktualisasikan sikap dan perilaku wirausaha, menerapkan jiwa kepemimpinan, merencanakan usaha kecil dan mengelola usaha kecil. Pembelajaran kewirausahaan memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang serius agar mencapai tujuan. Oleh karena itu peneliti meneliti implementasi pembelajaran kewirausahaan dengan melihat persepsi guru, RPP dan pelaksanaan proses pembelajaran, agar dapat memberikan rekomendasi perbaikan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan tujuan agar dapat memperoleh pemahaman dan interpretasi mendalam tentang makna dari fenomena yang ada di lapangan. Sedangkan sifat atau kategori dalam penelitian ini merupakan penelitian evaluasi menggunakan metodologi studi kasus (case studies). Dalam penelitian ini beberapa tahapan proses pengumpulan data yaitu: (a) Survey/ observasi awal, (b) Penyebaran kuesioner, (c) Wawancara (d) Dokumentasi dan (e) Pengamatan. Persepsi guru terhadap pembelajaran kewirausahaan dengan latar belakang yang berbeda bervariasi, akan tetapi memiliki makna yang sama, pemahaman tentang pembelajaran kewirausahaan pada dimensi proses pengetahuan mengenal, memahami dan menerapkan. Dimensi pengetahuan dalam pembelajaran mengarah pada dimensi pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural. Demikian pula implementasi dalam RPP. Pelaksanaan pembelajaran di kelas dilaksanakan sesuai dengan RPP meskipun masih terdapat tujuan pembelajaran yang belum tercapai dan kegiatan yang tidak terlaksana serta alokasi waktu yang tidak tepat. Implementasi pembelajaran dilakukan sesuai dengan arahan kebijakan pemerintah, persepsi guru, dan RPP. Tujuan pembelajaran belum dapat diimplementasikan secara menyeluruh dalam pembelajaran di kelas. Oleh karena itu pembelajaran kewirausahaan tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tapi juga dilaksanakan dalam bentuk praktik di unit produksi di sekolah, penjualan produk di masyarakat dan usaha mandiri. Dengan demikian pembelajaran kewirausahaan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan pada domain kognitif, afektif dan psikomotor.

Penerapan permainan tata angka untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK ABA 10 Malang / Nunuk Kurniawati

 

Kata Kunci: Kelompok A, Kemampuan Kognitif, Permainan Tata Angka Anak kelompok A mempunyai kemampuan kognitif yang masih belum terstimulasi. Dari hasil observasi pada anak kelompok A di TK ABA 10 Malang ditemukan bahwa kemampuan berhitung anak masih belum maksimal. Hal tersebut diperkuat dari 15 anak terdapat 9 anak yang belum mampu memahami deret angka. Rumusan masalah dalam penelitian adalah: (1) Bagaimanakah penerapan permainan Tata Angka untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK ABA 10 Malang, (2) Apakah dengan Penerapan permainan Tata Angka dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK ABA 10 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi,dan refleksi. Subyek penelitian yaitu kelompok A TK ABA 10 Malang sebanyak 15 anak. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi kemampuan kognitif anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi dan teknik dokumentasi. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: permainan Tata Angka dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan kognitif. Anak dapat memperoleh jawaban melalui permainan Tata Angka. Pada siklus I persentase rata-rata kemampuan kognitif mencapai 72,22%. Pada siklus II Kemampuan kognitif anak mengalami peningkatan dengan persentase rata-rata 86,67% dengan melakukan perbaikan sebagai berikut: penyampaian permainan lebih menarik, alat permainannya diperbesar, metode permainan dibuat game, metode pengajaran dapat terkontrol, guru memberikan semangat kepada anak. Disimpulkan bahwa Permainan Tata Angka dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak Kelompok A di TK ABA 10 Malang dari siklus I ke siklus II sebesar 14%. Saran yang dikemukakan peneliti adalah:1) Secara Umum, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diharapkan pada setiap pembelajaran hendaknya dilakukan dengan penerapan kegiatan-kegiatan yang aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga anak tidak cepat merasa jenuh serta dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang sesuai dengan kemampuan anak, 2) Secara Khusus yaitu: a) Bagi Sekolah, Penelitian Ini diharapkan menjadi panduan dalam mengembangkan media dan metode pembelaran dalam meningkatkan mutu pembelajaran, b) Bagi Guru, Penelitian ini diharapkan mampu menjadi inspirasi untuk lebih terampil dengan menggunakan media dan metode pembelajaran agar anak tidak jenuh dalam mengikuti proses belajar.

Pengaruh media kartu huruf terhadap kemampuan membaca permulaan anak kelompok B TK Negeri Pembina II Malang / Ike Mayasari

 

Kata kunci: Media kartu huruf, membaca permulaan, taman kanak-kanak Dalam pembelajaran membaca permulaan di TK kelompok B peranan media amatlah besar mengingat anak-anak usia TK, masih amat senang bermain sambil belajar. Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, di TK Negeri Pembina II Malang bahwa dalam proses pembelajaran membaca, selama ini cenderung (1) anak kurang berani membaca, (2) kosa kata masih sangatlah kurang saat disuruh membaca, (3) guru hanya menggunakan media ala kadarnya. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui hasil kemampuan membaca permulaan dengan menggunakan kartu huruf pada anak kelompok B di TK Negeri II Pembina Malang, (2) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kemampuan membaca permulaan dengan menggunakan media kartu huruf anak kelompok B di TK Negeri II Pembina Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelompok B TK Negeri II Malang yang berjumlah 28 anak. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 siswa dengan rincian kelompok B1 berjumlah 14 siswa dan kelompok B2 berjumlah 14 siswa. Berdasarkan analisis data penelitian dengan uji-t gian score , pengujian hipotesis yang didapat adalah sebagai berikut. Hasil thitung adalah 3,197, sedangkan ttabel (26) dengan taraf signifikansi 0,05 sebesar 2,056. Dari data tersebut diketahui t hitung lebih besar daripada t tabel (3,197 > 2,056). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan penggunaan media kartu huruf terhadap kemampuan membaca permulaan anak kelompok B TK Negeri II Pembina Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan saran sebagai berikut: Bagi peneliti penelitian ini digunakan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan kemampuan profesinya sebagai calon pendidik. Bagi pendidik penelitian ini dapat menerapkannya dalam pelajaran bahasa yaitu meningkatkan kemampuan membaca anak, serta sebagai bahan masukan yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Bagi Kepala Sekolah hasil penelitian ini dijadikan acuan untuk menentukan kebijakan sekolah dalam menggunakan media kartu huruf terhadap kemampuan membaca permulaan anak.

Mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa kelas IV SD Negeri 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung dengan menggunakan media papan flanel / Priska Anggraeni

 

Kata kunci: kesulitan menulis, aksara Jawa, media papan flanel Berdasarkan Kurikulum Bahasa Jawa (KBJ) tahun 2007 daerah Jawa Timur, keterampilan menulis aksara Jawa diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga SMP. Siswa SD/MI hingga SMP/MTs diharapkan memiliki keterampilan menulis aksara Jawa dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai keperluan. Pembelajaran menulis aksara Jawa bertujuan untuk melestarikan aksara Jawa agar tidak punah walaupun sudah tidak digunakan lagi dalam komunikasi tulis sehari-hari. Walaupun pembelajaran menulis aksara Jawa di kelas IV SDN 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung telah dilaksanakan, masih banyak siswa yang kesulitan menulis aksara Jawa. Kesulitan yang dialami siswa dalam menulis aksara Jawa, meliputi (1) kesulitan menulis aksara Jawa legena, (2) menulis aksara Jawa sesuai dengan ejaan bahasa Jawa, (3) menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan swara, dan (4) menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda siswa. Untuk mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa, peneliti bekerja sama dengan guru Bahasa Jawa kelas IV SD Negeri 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung untuk memberikan tindakan yang berupa media papan flanel melalui penelitian dengan pendekatan kualitatif dan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tindakan mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa SD Negeri 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung setelah menggunakan media papan flanel, baik pada aspek penulisan aksara Jawa legena, ejaan bahasa Jawa, sandhangan swara, maupun sandhangan panyigeg wanda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – November 2012 di SDN 03 Batangsaren Kabupaten Tulungagung dengan subjek penelitian siswa kelas IV. Penelitian ini difokuskan untuk mengatasi kesulitan siwa untuk menulis aksara Jawa dalam bentuk frasa dan atau kalimat pendek. Data utama dalam penelitian ini adalah data kualitatif, namun penelitian ini juga didukung dengan data kuantitatif. Data kualitatif pada penelitian ini meliputi deskripsi kegiatan mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa menggunakan media papan flanel, serta informasi berbentuk kalimat yang memberikan gambaran ekspresi peserta didik terkait dengan tingkat pemahaman, sikap, aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, perhatian, antusias, dalam belajar, kepercayaan diri, motivasi belajar, interaksi antara siswa dengan guru, dan interaksi antar siswa. Data kuantitatif dalam penelitian ini meliputi penilaian hasil (1) menulis aksara Jawa legena, (2) aksara Jawa sesuai ejaan bahasa Jawa, (3) aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan swara, dan (4) aksara Jawa dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda siswa. Instrumen penelitian ini terdiri atas instrumen utama dan instrumen pendukung. Instrumen utama adalah peneliti, sedangkan instrumen pendukung dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, lembar observasi, catatan lapangan, dan tes menulis aksara Jawa. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa kemampuan menulis aksara Jawa siswa mulai dapat diatasi setelah siswa diberi tindakan berupa media papan flanel. Tindakan yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa dengan menggunakan media papan flanel, meliputi (1) koreksi penulisan aksara Jawa legena siswa, (2) penulisan aksara Jawa sesuai dengan ejaan bahasa Jawa siswa, (3) penulisan aksara Jawa menggunakan sandhangan swara, dan (4) penulisan aksara Jawa menggunakan sandhangan panyigeg wanda. Pada siklus I, siswa masih mengalami pola-pola kesulitan seperti pada prasiklus. Walaupun demikian, jumlah siswa yang mengalami kesulitan pada siklus I sudah mulai menurun dibandingkan dengan prasiklus. Karena penelitian pada siklus I belum mencapai standar keberhasilan, yaitu siswa yang mendapatkan nilai ≥70 masih kurang dari 80%, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II. Siklus II dilaksanakan dengan pembenahan pada rencana perbaikan pembelajaran menulis aksara Jawa siklus I. Pembenahan yang dilakukan meliputi penambahan alokasi waktu penggunaan media papan flanel dan penambahan ruang lingkup soal latihan menulis dengan media papan flanel. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tulisan dan penilaian hasil menulis aksara Jawa siswa pada siklus II, diketahui bahwa jumlah siswa yang mengalami kesulitan menulis aksara Jawa semakin berkurang. Hal tersebut membuktikan bahwa media papan flanel tepat digunakan untuk mengatasi kesulitan menulis aksara Jawa siswa. Beberapa saran terhadap pelaksanaan pembelajaran menulis aksara Jawa dengan menggunakan media papan flanel yang dapat dijadikan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran, meliputi: (1) pengembangan media pembelajaran yang atraktif dan bervariasi untuk membangkitkan minat, motivasi, serta konsentrasi siswa; (2) penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa di kelas; dan (3) pengembangan sarana pembelajaran yang berupa fasilitas elektronik di kelas, alat peraga, referensi bahasa Jawa untuk guru dan siswa agar pembelajaran bahasa Jawa dapat berlangsung dengan baik.

Profil pembelajaran IPS kelas V SDN Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang / Sunia Ulfa

 

Kata Kunci: profil, pembelajaran, IPS Mata pelajaran IPS yang diajarkan di SD merupakan perpaduan mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Dalam menyampaikan materi pembelajaran diperlukan adanya suatu metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai profil pembelajaran IPS, khususnya kelas V yang ada di SDN Oro-oro Dowo Kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan profil pembelajaran IPS Kelas V di SDN Oro-oro Dowo Kota Malang, kendala-kendala yang dialami oleh guru dan siswa dalam pembelajaran IPS khususnya pada SK 2, KD 2.1 dan KD 2.2. adapun batasan dalam penelitian ini yaitu: (1) Subjek penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SDN Oro-oro Dowo Kota Malang tahun pelajaran 2012/2013, (2)Materi ajar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu SK 2 KD 2.1 dan 2.2., (3)Tindakan yang dilakukan berupa pengamatan dalam pembelajaran IPS materi Perjuangan Melawan Penjajahan dan Perjuangan Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia SK 2 KD 2.1 dan 2.2. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus. Data penelitian yang berupa paparan data diperoleh dari hasil observasi pada pembelajaran IPS, wawancara dengan guru dan siswa, catatan lapangan, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap data reduction (mereduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing/ verification (menarik kesimpulan). Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Pembelajaran IPS pada SK 2 KD 2.1 dan KD 2.2 di SDN Oro-oro Dowo dilakukan selama 8 (delapan) kali pertemuan. Dalam setiap pertemuannya guru selalu mengawali pembelajaran dengan membaca buku paket, baik secara individu maupun secara klasikal dengan membaca bergiliran dan berulang-ulang. Metode yang digunakan oleh guru pun sama dalam setiap pertemuannya yaitu kerja kelompok dan pemberian tugas. RPP yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran IPS dibuat dengan memodifikasi RPP yang sudah ada. Perumusan tujuan pembelajaran oleh guru tidak mengandung unsur A, B, C, D (A= Audience, B= Behaviour, C= Condition, D= Degree). Kedua, ada beberapa kendala yang dialami oleh guru dalam pembelajaran IPS, khususnya pada SK 2 KD 2.1 dan KD 2.2 yaitu, kurangnya minat membaca siswa sehingga menyulitkan guru dalam menyampaikan materi, terbatasnya buku paket yang menjadi bahan ajar utama, guru merasa kesulitan dalam menyediakan media, dan penggunaan model maupun metode pembelajaran yang bervariasi. Ketiga, dalam pembelajaran IPS di kelas V tidak hanya guru saja yang mengalami kendala, siswa juga mengalami beberapa kendala dalam belajar IPS, khususnya pada SK 2 KD 2.1 dan KD 2.2 yaitu, banyak siswa yang tidak suka membaca, materi yang terlalu banyak menghafal membuat siswa kurang tertarik untuk mempelajarinya, ketersediaan fasilitas buku yang terbatas sehingga siswa harus bergantian dalam membaca materi yang ada di buku, dan cara penyampaian guru dalam mengajar yang tidak mengimbangi siswa menjadikan siswa kurang memahami apa yang diajarkan. Adapun saran yang diberikan dalam penelitian ini yaitu: Pertama, pembelajaran IPS sebaiknya dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, penggunaan media harus dihadirkan dalam pembelajaran, dan penyusunan RPP seharusnya dilakukan secara mandiri oleh guru dengan berpedoman pada kurikulum yang sudah ada. Kedua, kendala-kendala yang dialami oleh guru hendaknya diatasi dengan peningkatan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Selain itu, dengan adanya komunikasi antara siswa dengan guru dalam merencanakan suatu pembelajaran akan berdampak pada pembelajaran yang berkualitas dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Ketiga, kendala-kendala yang dialami oleh siswa hendaknya dapat diminimalkan dengan cara memupuk kesadaran siswa untuk membiasakan membaca yang menyenangkan, misalnya membaca di luar kelas. Kesulitan siswa dalam menghafal nama-nama tokoh dapat diatasi dengan menggunakan peta konsep pada setiap materi. Selain itu, keterbatasan buku paket dapat diatasi dengan membebaskan siswa untuk mencari bahan ajar sendiri agar pengetahuan yang didapat antar siswa juga bervariasi.

Pengembangan bahan ajar interaktif dengan pendekatan inkuiri terbimbing untuk SMK RSBI kelas X Program Keahlian Tata Bola SMK Negeri 2 Bondowoso pada mata pelajaran kimia bahan makanan / Devi Ariyani Kartika

 

Kata Kunci: bahan ajar, kimia SMK, program keahlian tata boga, pembelajaran konstruktivistik, inkuiri terbimbing. Kimia merupakan mata pelajaran adaptif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan termasuk bagian dari ilmu pengetahuan alam. Di SMK, kimia berfungsi memberikan dasar pengetahuan dalam memahami mata pelajaran produktif. Dalam program keahlian Tata Boga, kimia diperlukan dalam mata pelajaran kimia bahan makanan. Ada tiga masalah mendasar pada pembelajaran kimia di SMK. Pertama, tidak dikaitkannya materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif, sehingga konsep-konsep dasar kimia yang dipelajari siswa cenderung tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pada mata pelajaran produktif. Kedua, keterbatasan alokasi waktu pembelajaran. Ketiga, tidak tersedianya bahan ajar yang mengkaitkan materi ilmu kimia dengan mata pelajaran produktif yang dapat memotivasi siswa untuk belajar kimia secara aktif. Dampak dari masalah-masalah tersebut adalah sulitnya siswa memahami konsep-konsep dasar kimia dengan tepat. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya pencapaian hasil belajar siswa. Permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi apabila tersedia bahan ajar yang memenuhi persyaratan, yaitu materinya berkaitan dengan mata pelajaran produktif dan dapat memotivasi siswa untuk belajar secara aktif. Selain itu, dengan dikembangkannya bahan ajar interaktif berbasis multimedia dalam hal ini macromedia flash proses belajar mengajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga hubungan antara siswa dan guru bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dengan adanya bahan ajar dalam bentuk macromedia flash diharapkan pembelajaran modern khususnya di SMK dapat mengarahkan kepada penggalian makna yang lebih dikenal dengan pembelajaran konstruktivistik. Salah satu pendekatan pembelajaran konstriktivistik yang digunakan adalah pendekatan inkuiri terbimbing. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk: (1) menghasilkan bahan ajar interaktif dalam bentuk macromedia flash berbasis inkuiri terbimbing sebagai pembelajaran kimia untuk siswa SMK RSBI kelas X program keahlian Tata Boga, (2) mengetahui kelayakan bahan ajar interaktif dalam bentuk macromedia flash berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan menurut kriteria kelayakan isi, penyajian dalam hal ini media, dan kebahasaan, (3) mengetahui keefektifan bahan ajar dalam bentuk macromedia flash berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan terhadap pencapaian hasil belajar siswa pada materi Zat Aditif Makanan. Pengembangan bahan ajar kimia ini didasarkan pada model Plomp yang terdisi dari 5 fase, yaitu: (1) fase investigasi (2 ) fase desain, (3) fase realisasi/konstruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5 ) fase implementasi. Kelayakan bahan ajar yang dikembangkan dinilai oleh beberapa pakar yang terdiri dari dua dosen kimia, satu guru kimia, dan satu guru bahasa inggris. Penilaian didasarkan pada kelayakan isi, media, dan bahasa. Efektifitas bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa kelas X program keahlian Tata Boga SMKN 2 Bondowoso dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dan saran yang diberikan oleh para ahli untuk perbaikan bahan ajar yang dikembangkan. Data kuantitatif terdiri dari skor hasil belajar siswa dan skor hasil validasi bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan standar instrumen validasi yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil kognitif yang terdiri dari 20 item dengan validitas 86,7%. Persepsi siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari media pembelajaran dalam bentuk macromedia flash dengan menggunakan bahasa inggris yang mudah dipahami oleh siswa. Hasil penilaian ahli untuk kelayakan isi memiliki nilai 92,3%, kelayakan media memiliki nilai 88,3%, dan kelayakan bahasa memiliki nilai 81,3%. Berdasarkan hasil penilaian ahli isi, ahli media, dan ahli bahasa, bahan ajar yang sudah direvisi dianggap layak untuk digunakan dalam proses belajar kimia. Hasil belajar siswa dengan menggunakan bahan ajar yang dikembangkan menunjukkan bahwa 90,9% dari siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75 dengan skor rata-rata 80,5. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas, dapat dianggap bahwa bahan ajar kimia yang sudah dikembangkan berdasarkan metode inkuiri terbimbing dan model plomp adalah layak untuk digunakan dalam pembelajaran pada siswa kelas X program keahlian Tata Boga. Evaluasi lebih lanjut terhadap kelayakan dan keefektifan bahan ajar yang dikembangkan sebaiknya dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Pengaruh good corporate governance terhadap kinerja perusahaan publik (studi kasus pada perusahaan perbankan yang termasuk peringkat 10 besar CGPI tahun 2009-2011) / Han Rio Permadi

 

Kata Kunci: Good Corporate Governance, Kinerja Perusahaan, Return on Equity (ROE), CGPI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara Good Corporate Governance (GCG) terhadap kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini GCG diukur dengan menggunakan skor CGPI yang dikeluarkan oleh IICG, sedangkan kinerja perusahaan diproksikan dengan salah satu rasio profitabilitas yaitu Return on Equity (ROE). GCG adalah segala hal yang dilakukan oleh perusahaan sebagai usaha untuk meningkatkan atau memberikan nilai tambah bagi perusahaan secara berkesinambungan dengan tidak mengesampingkan kepentingan dari para stakeholder dan juga tetap mematuhi peraturan perundangan dan norma yang berlaku. Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Hipotesis dalam penelitian ini adalah GCG berpengaruh signifikan terhadap ROE. Populasi penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI 2009-2011. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan mengambil perusahaan perbankan yang termasuk dalam peringkat 10 besar CGPI 2009-2011. Hasilnya sampel yang diperoleh sebanyak 9 perusahaan. Penelitian ini menggunakan analisis data regresi linear sederhana sebagai alat untuk menganalisis hubungan antara variabel-variabel diatas. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa GCG berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan yang diproksi oleh ROE. Hal ini mengindikasikan bahwa GCG perusahaan dengan ROE mempunyai hubungan yang berbanding lurus, yakni semakin tinggi atau semakin bagus GCG perusahaan, maka ROE yang dihasilkan perusahaan akan semakin tinggi pula. Hal ini menggambarkan bahwa manajemen perusahaan menyadari manfaat jangka panjang dari penerapan GCG yaitu adanya dampak keuangan secara langsung seperti peningkatan laba bersih perusahaan dan akan menjadikan perusahaan tersebut menjadi perusahaan yang sehat. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka saran yang diberikan adalah (1) Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengakses data sampel yang lebih luas. Sampel penelitian dapat mencakup semua perusahaan yang bersedia dinilai praktek GCGnya oleh IICG, dan membedakan pengaruh skor GCG terhadap kinerja perusahaan untuk perusahaan-perusahaan dengan skor GCG tinggi, sedang dan rendah (2) Penelitian selanjutnya diharapkan menambah proksi untuk kinerja perusahaan misalnya return saham, profit margin atau yang lainnya.

Pengembangan e-modul hidrokarbon berbasis inkuiri terbimbing / Eva Early Nur Hidayati

 

Keywords: e-modul, hidrokarbon, inkuiri terbimbing. Menurut Permendiknas No. 78 Tahun 2009, proses pembelajaran di R-SMA-BI dituntut harus berbasis TIK, melibatkan unsur PAIKEM, kontekstual, dan berbahasa Inggris. Agar siswa dapat menguasai kompetensi dasar pada KTSP yang mengadaptasi kurikulum IGCSE sebagai salah satu kurikulum yang dapat diadaptasi dari negara-negara maju, siswa harus memiliki sikap kemandirian belajar yang tinggi. Salah satu bahan ajar yang dapat membantu siswa belajar secara mandiri adalah modul, sementara pembelajaran berbasis TIK telah menjadi tuntutan, sehingga muncullah ide pengembangan bahan ajar modul elektronik atau disingkat e-modul. Tujuan mata pelajaran kimia dicapai oleh siswa melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah. Sejalan dengan tujuan tersebut maka pendekatan inkuiri dinilai efektif membantu siswa mempelajari materi Hidrokarbon. Pendekatan inkuiri terbimbing versi Julie K. Abrahamson dilatarbelakangi oleh penelitian Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) yang mengindikasikan adanya pembelajaran kimia organik yang belum berpusat pada siswa, belum terbentuk komunitas yang interaktif antara guru dan siswa, dan siswa belum dapat mengkonstruk pemahamannya sendiri. Sementara itu, Mark Windschitl, Jessica Thompson, dan Melissa Braaten dalam bukunya tentang Model-Based Inquiry as a New Paradigm of Preference for School Science Investigations memuat tentang pengayaan konsep dan penjelasan fenomena pematangan buah lokal sebagai pembelajaran berbasis inkuiri melalui Critical Thinking Question (CTQ), investigasi dan Exercises. Melalui tahapan inkuiri terbimbing merumuskan masalah, merumuskan hipotesis sebagai konsepsi awal, pengumpulan data, analisis data dan membuat kesimpulan diharapkan permasalahan materi Hidrokarbon pada pembelajaran kimia dapat diminimalkan.Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) menghasilkan (2) mengetahui kelayakan (3) menguji efektivitas e-modul Hidrokarbon berbasis inkuiri terbimbing versi Abrahamson J. dan Windschitl M. untuk R-SMA-BI. Untuk menghasilkan e-modul, penelitian pengembangan ini mengacu pada model Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate (ADDIE), karena sifatnya yang lebih generik dibanding model lainnya. Untuk mengetahui kelayakannya, dilakukan uji validitas. Validitas ditentukan oleh ahli isi, ahli media, ahli bahasa, penilaian rekan sebaya, dan uji coba kelompok kecil, E-modul diujicobakan pada lapangan terbatas di SMAN 1 Kraksaan sebagai salah satu R-SMA-BI di Jawa Timur setelah divalidasi dan direvisi. Untuk menguji efektivitas e-modul, digunakan desain uji coba kuasi eksperimen. Setelah diperoleh dua jenis data, dilakukanlah analisis terhadap data deskriptif data kuantitatif tersebut. Analisis data deskriptif dipergunakan untuk menilai atau mengetahui kelayakan isi, desain dan bahasa yang digunakan, sedangkan analisis data kuantitatif dipergunakan untuk menguji efektivitas penggunaan e-modul. E-modul merupakan hasil adaptasi materi Hidrokarbon dari KTSP dan kurikulum Cambridge (IGCSE). Untuk mengaksesnya siswa dapat mengunjungi http://localhost/emodul/ tanpa koneksi dengan internet. Untuk tujuan itu, Personal Computer atau laptop yang digunakan harus ter-install software MOODLE terlebih dahulu. Berdasarkan penilaian standar kelayakan dari BSNP, komponen isi/materi, penyajian/media, dan kebahasaan di dalam e-modul hasil pengembangan dinyatakan dengan kriteria “layak”, dan dari hasil revisi dinyatakan baik oleh siswa saat uji coba kelompok kecil. Selanjutnya dalam uji lapangan terbatas, e-modul hasil pengembangan dinyatakan baik. Rata-rata nilai hasil belajar Hidrokarbon untuk kelas eksperimen yang mengalami pembelajaran dengan e-modul adalah 81,0. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang tidak mengalami pembelajaran dengan e-modul yang rata-rata nilainya 78,7. Persentase ketercapaian ketuntasan belajar untuk kelas eksperimen sebesar 93,7%, lebih baik dari kelas kontrol yaitu 84,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa e-modul Hidrokarbon hasil pengembangan terbukti efektif untuk pembelajaran pada R-SMA-BI.

Pengaruh persepsi wajib pajak orang pribadi atas penerapan e-tax dan kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak (studi pada KPP Pratama Kediri) / M. Candra Gunawan

 

Kata Kunci: Persepsi Wajib Pajak Atas Penerapan E-Tax, Kesadaran Wajib Pajak, Kepatuhan Wajib Pajak. Pemerintah dalam hal peningkatan penerimaan pajak dari wajib pajak selalu melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam sistem perpajakannya. Dirjen Pajak sudah memfasilitasi wajib pajak dengan adanya e-tax. Jadi, wajib pajak sekarang sudah bisa melaporkan kewajiban perpajakannya dengan menggunakan media elektronik atau secara online. Selain pemberian fasilitas e-tax yang diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak, masyarakat seharusnya mempunyai kesadaran terhadap pajak itu sendiri. Jadi, semakin tinggi kesadaran pajak yang dimiliki maka semakin banyak pula wajib pajak yang patuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari persepsi wajib pajak mengenai e-tax terhadap kepatuhan wajib pajak dan mengetahui pengaruh dari kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh wajib pajak orang pribadi yang terdaftar pada KPP Pratama Kediri. Sampel yang digunakan adalah random sampling yaitu menyebarkan kuesioner kepada wajib pajak orang pribadi yang datang ke KPP Pratama Kediri. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, persepsi wajib pajak atas penerapan fasilitas e-tax memberikan pengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan kesadaran wajib pajak juga memberikan pengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Persepsi wajib pajak atas penerapan e-tax dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak karena kemudahan dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, sedangkan kesadaran wajib pajak akan menciptakan kepatuhan sukarela pada wajib pajak orang pribadi di Kota Kediri untuk melaksanakan kewajiban perpajakan. Keterbatasan penelitian ini yaitu: (1) Mengambil sampel secara acak tidak mengetahui apakah wajib pajak tersebut menggunakan atau mengerti tentang e-tax. (2) Angket yang disebarkan hanya kepada wajib pajak yang datang ke KPP Pratama Kediri saja. Bagi peneliti selanjutnya, yang akan meneliti tentang e-tax sebaiknya, (1) Memahami terlebih dahulu mengerti subjek yang akan diteliti apakah sudah menggunakan atau mengetahui tentang e-tax, (2) teknik yang digunakan sebaiknya purposive sampling, (3) Menggunakan variabel-variabel yang tidak digunakan dalam penelitian ini, hal ini dapat dilakukan karena nilai koefisien determinasi dalam penelitian ini masih dapat ditingkatkan dengan adanya penambahan variabel bebas.

Analisis isi buku teks Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS) kelas III Seoklah Dasar Negeri se-Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro / Nafsul Muthmainah

 

Kata kunci: analisis, buku teks, IPS, kelas III Buku teks merupakan salah satu sumber belajar yang tercetak yang digunakan di sekolah. Buku teks mata pelajaran IPS yang digunakan di sekolah saat ini yaitu buku yang dapat diperoleh dengan cara mengunduh dari internet yang dinamakan buku elektronik (e-book) dan kemudian disebut Buku Sekolah Elektronik (BSE). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat ke-sesuaian isi buku dengan kurikulum, mengidentifikasi kesesuaian cakupan materi berdasarkan aspek kognitif berupa fakta, konsep, dan generalisasi, serta kesesuai-an media gambar dalam buku teks. Penelitian ini dilakukan di 34 Sekolah Dasar Negeri se-kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro. Berdasarkan hasil wawancara di 34 sekolah tersebut ditemukan bahwa buku teks yang paling banyak digunakan adalah Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang ditulis oleh Muhammad Nursa’ban dan Rusmawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Instrumen dalam pe-nelitian ini yaitu tabel kesesuaian isi buku teks dengan kurikulum, tabel kesesuai-an cakupan materi berdasarkan aspek kognitif yang berupa fakta, konsep, dan generalisasi, dan tabel kesesuaian media gambar dalam buku teks. Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dokumentasi dan wawancara tidak terstruktur. Analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil pe-nelitian berdasarkan buku yang ditulis Muhammad Nursa’ban dan Rusmawan yaitu sebagai berikut. Pertama, materi pokok yang terdapat pada buku teks dapat dikatakan baik. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan materi pokok yang mencapai angka 65,8%. Kedua, fakta yang terdapat pada buku tersebut dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan fakta yang mencapai angka 55,5%. Konsep yang terdapat pada buku tersebut dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan konsep yang mencapai 57,3%. Generalisasi yang terdapat pada buku tersebut dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan konsep yang mencapai 59,5%. Ketiga, kesesuaian media gambar dalam buku teks tersebut dapat di-kategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan persentase kemunculan media gambar hanya mencapai 48,3%. Berdasarkan kesimpulan tersebut, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut. Jika dilihat dari kemunculan materi pokok, pembaca dapat menggunakan buku teks ini. Jika dilihat dari kemunculan fakta, konsep, dan generalisasi, pem-baca tidak menggunakan buku teks ini sebagai buku utama. Jika dilihat dari kemunculan media gambar, pembaca tidak menggunakan buku teks ini sebagai buku utama.

Perbedaan motivasi dan prestasi belajar mata pelajaran biologi siswa kelas RSBI dan siswa kelas reguler SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2010/2011 / Candra Hermawan

 

Kata Kunci: motivasi belajar, prestasi belajar, kelas RSBI, kelas reguler Diadakannya sekolah dengan kelas RSBI bertujuan untuk meningkatkan daya saing lulusan agar mampu bersaing di pasar kerja Internasional sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Masih sulit melihat perbedaan motivasi dan prestasi antara kelas RSBI dan kelas Reguler tanpa melalui sebuah penelitian. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian mengenai perbedaan motivasi dan prestasi antara kelas RSBI dan kelas Reguler. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup proses pembelajaran kelas RSBI, proses pembelajaran kelas Reguler, motivasi belajar kelas RSBI dan kelas Reguler, dan prestasi belajar kelas RSBI dan kelas Reguler pada mata pelajaran Biologi di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Tahun Ajaran 2010/2011.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh empat buah simpulan peniltian. Pertama, proses pembelajaran kelas RSBI belum sesuai dengan penjaminan mutu proses pembelajaran. Hal itu dapat dilihat dari tidak terlaksananya 4 indikator proses pembelajaran, yatu: proses pembelajaran semua mata pelajaran jadi teladan bagi sekolah lain dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti, kepribadian, kepemimpinan, jiwa enterpreanur, dan jiwa inovator; pembelajaran berbasis TIK; pembelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya kecuali Bahasa Inggris menggunakan bahasa Indonesia; dan indikator menambahkan materi tambahan dari salah satu negara OECD. Kedua, proses pembelajaran kelas Reguler belum sesuai dengan penjaminan mutu proses pembelajaran. Hal terlihat dari tidak terlaksananya 3 indikator proses pembelajaran, yaitu: guru menyediakan jadwal untuk konsultasi mata pelajaran, pembelajaran berbasis TIK, dan setiap proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis. Ketiga, tidak ada perbedaan motivasi kelas RSBI dan kelas Reguler. Dilihat dari angket, motivasi kelas RSBI sebesar 73,16% dan motivasi kelas Reguler sebesar 71,21% sedangkan dilihat dari modus hasil pengamatan, motivasi siswa kelas RSBI dan kelas Reguler sama dalam kategori Baik. Keempat, prestasi kelas Reguler lebih baik dibandingkan prestasi kelas RSBI. Dilihat dari nilai pretest, kelas Reguler mendapat rerata nilai 48,81 dan kelas RSBI 37,25 sedangkan rerata nilai postest kelas Reguler 72,19 dan kelas RSBI sebesar 67,48.

Penerapan pendidikan karakter di kelas V semester II SDN Jerukgulung 2 Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun / Septina Wahyu Adi

 

Kata kunci: Pendidikan Karakter, Pembelajaran PKn, Sekolah Dasar. Pendidikan karakter adalah sebuah usaha mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurun waktu terakhir, tidak jarang kita menemukan anak yang tidak lagi memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai pendidikan karakter. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan: 1) penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn. 2) kendala yang dihadapi dalam menerapkan pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn kelas 5 semester 2 di SDN Jerukgulung 2 Kec. Balerejo Kab. Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data penelitian yang diperoleh berupa paparan penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn yang meliputi tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran serta kendala yang dihadapi dalam penerapan pendidikan karakter. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi yang berupa foto dan menganalisis dokumen/arsip sekolah. Instrument yang digunakan meliputi: pedoman wawancara untuk kepala sekolah dan guru, lembar observasi, serta catatan lapangan. Peneliti bertindak sebagai key instrumen (peneliti utama). Untuk menjaga keabsahan data peneliti melakukan triangulasi, yaitu membandingkan data hasil wawancara dengan hasil observasi di lapangan dan data dokumen/arsip sekolah. Sedangkan analisis data dilakukan dengan pengorganisasian, pengklasifikasian, dan penginterpretasian data. Data yang peroleh selama penelitian berupa: 1) gambaran umum SDN Jerukgulung 2 yang meliputi sejarah berdiri, tujuan, sarana dan prasarana, kesiswaan, dan kepegawaian. 2) penerapan pendidikan karakter. 3) kendala yang dihadapi dalam penerapan pendidikan karakter. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan hasil penelitian, yaitu: 1) Penerapan pendidikan karakter dilaksanakan dengan menanamkan nilai karakter dalam kegaiatan pembelajaran. 2) Kendala yang dihadapi dapat digolongkan menjadi 2, yaitu: faktor internal (keterbatasan waktu guru untuk menyusun silabus dan RPP) dan faktor eksternal (pengaruh lingkungan yang kurang mendukung penanaman nilai karakter pada siswa). Diperlukan pertemuan antara pihak sekolah dan orangtua, untuk menyamakan persepsi mengenai penanaman nilai karakter pada anak. Dengan adanya kerjasama yang baik, maka penanaman nilai karakter pada anak akan berjalan dengan maksimal dan terbuka jalan yang lebih lebar untuk menuju masyarakat Indonesia yang berkarakter dan bermartabat.

Penerapan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS kelas IV SDN Jatimulyo 5 Kota Malang / Riska Yuni Puspitasari

 

Kata Kunci: Model Cooperative Script, Aktivitas Belajar, dan Hasil Belajar. Aktivitas belajar peserta didik sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran karena belajar hanya mungkin terjadi apabila peserta didik aktif mengalami sendiri. Dengan demikian, diperlukan sebuah pembelajaran yang mampu mengaktifkan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Script dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Jatimulyo 5 Kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar peserta didik kelas IV SDN Jatimulyo 5 Malang dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script, dan (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar peserta didik kelas IV SDN Jatimulyo 5 Malang dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SDN Jatimulyo 5 Kota Malang yang berjumlah 29 peserta didik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, catatan lapangan, tes, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data dalam penelitian ini berpedoman pada langkah-langkah analisis data secara kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa model pembelajaran Cooperative Script dapat dilakukan dengan baik hal ini dapat dilihat dari semua langkah-langkah Cooperative Script telah dilakukan oleh guru. Aktivitas belajar peserta didik mengalami peningkatan sebesar 20% yaitu pada siklus I dengan persentase sebesar 64% sedangkan pada siklus II dengan persentase sebesar 84%. Hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan yaitu pada siklus I terdapat 13 orang peserta didik yang tuntas belajar sedangkan pada siklus II meningkat yaitu terdapat 22 orang peserta didik yang tuntas belajar. Rata-rata hasil belajar peserta didik juga mengalami peningkatan sebesar 13,4 yaitu pada siklus I rata-rata sebesar 65,5 sedangkan pada siklus II memperoleh rata-rata sebesar 78,9. Kesimpulan penelitian yang dilakukan, yaitu: secara keseluruhan model Pembelajaran Cooperative Script telah berhasil dilaksanakan, dan penerapan model pembelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Dari hasil penelitian, disarankan untuk guru dapat menerapkan model pembelajaran Cooperative Script sesuai dengan langkah-langkahnya, dan untuk peneliti lain disarankan dapat meningkatkan hasil yang lebih baik lagi dari penelitian ini, sehingga penelitian tentang penerapan model Cooperative Script dapat lebih disempurnakan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 |