Politik pendidikan pada kesenian reyog di Kabupaten Ponorogo tahun 2009/2011 / Intan Cahyaning Handoyo

 

Kata Kunci : Politik,Pendidikan, Reyog Pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar kebudayaan Indonesia tetap bertahan kelestariannya. Agar potensi kekayaan alam dan budaya yang ada tidak rusak atau musnah, perlu diupayakan pelestariannya melalui upaya pendidikan, khususnya melalui sekolah formal. Berbagai upaya dari pihak sekolah-sekolah untuk menerapkan program-program yang berdasar kepada pelestarian kebudayaan daerah. Pada bidang pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mengharuskan setiap sekolah di Ponorogo memiliki kegiatan ekstrakurikuler kesenian reyog. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui politik pendidikan pada kesenian reyog di kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dang termasuk dalam penelitian historis. Asal-usul kesenian Reyog Ponorogo diciptakan oleh Ki Ageng Suryongalam, seorang pejabat di istana Majapahit yang memilih meninggalkan istana sebagai bentuk protes kepada Raja Brawijaya V yang dianggap tidak bisa memerintah karena terlalu dipengaruhi permaisurinya. Pada Pemerintahan Belanda, Reyog pernah dilarang dipentaskan karena sering menimbulkan keributan. Pada masa pemerintahan Jepang Dapat dikatakan kesenian ini lenyap sama sekali karena semua unit Reyog terkena wajib militer yang digerakkan oleh pemerintah Jepang. Pada masa orde baru, reyog mulai menjadi alat politik. Pada masa kini reyog telah mengalami berbagai perubahan. Salah satunya reyog mini menjadi pengembangan diri di setiap SMP di kabupaten Ponorogo. Kebijakan kesenian reyog mini tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan pihak tertentu. Pemerintah kabupaten Ponorogo berharap dengan adanya kegiatan kebudayaan ini dapat lebih menarik minat para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke Ponorogo. Sehingga dengan langkah ini pendapatan daerah dapat meningkat. Dinas pendidikan kabupaten Pononogo juga memiliki maksud tertentu dalam pelaksanaan kebijakan tentang reyog mini ini. Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo berharap mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat, sehingga Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mudah mendapatkan bantuan dana pendidikan. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak. Pada festival reyog mini, hendaknya panitia lebih bersikap tegas dalam pengaturan kebijakan festival. Pihak sekolah seharusnya lebih aktif dalam pembinaan siswa-siswi yang mengikuti kegiatan pengembangan diri kesenian reyog.

Penerpan model insed-outside circle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada standar kompetensi melalui pemasaran barang dan jasa (Studi pada siswa kelas X Prodi Pemasaran SMKN 1 Doko Kab. Blitar) / Lina Afifah

 

Pengembangan model permainan dalam pembelajaran lari sprint 50 meter kelas VII SMP Negeri 1 Mantup Kabupaten Lamongan / Fitri Surya Utama

 

Kata kunci: Pengembangan, Model Permainan, Pembelajaran, Lari Sprint 50 Meter. Model Permainan Dalam Pembelajaran Lari Sprint 50 Meter merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan baik siswa maupun guru kelas VII di SMP Negeri 1 Mantup untuk membantu proses pembelajaran atletik. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan model permainan dalam pembelajaran lari sprint 50 meter untuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Mantup, yang diharapkan dapat membantu pembelajaran atletik yang ada di SMP Negeri 1 Mantup. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku model permainan kecepatan reaksi adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan angket yang ditujukan kepada 2 orang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan SMP Negeri 1 Mantup. 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 2 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan 1 ahli permainan, dan 1 ahli atletik, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa buku model permainan dalam pembelajaran lari sprint 50 meter untuk siswa kelas VII. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 8 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 40 orang siswa kelas VII SMP Negeri 1 Mantup buku model permainan dalam pembelajaran lari sprint 50 meter dinyatakan dapat digunakan. Produk pengembangan berupa buku model permainan dalam pembelajaran lari sprint 50 meter diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani dalam memberikan materi atletik di SMP Negeri 1 Mantup.

Identifikasi kesulitan dalam memahami materi ikatan kimia pada siswa kelas X SMAN 1 Purwosari / Muhammad Hermanto

 

Kata Kunci: kesulitan, ikatan kimia. Sebagian besar konsep dalam kimia bersifat abstrak dan merupakan konsep yang berjenjang dari yang sederhana ke konsep yang lebih tinggi tingkatannya. Dengan demikian untuk memahami konsep yang lebih tinggi tingkatannya diperlukan pemahaman yang benar terhadap konsep dasar yang membangun konsep tersebut. Siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami suatu konsep, kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep yang berhubungan. Konsep dasar yang bersifat abstrak ada dalam materi ikatan kimia, meliputi konsep kestabilan unsur, struktur lewis, ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, senyawa kovalen polar dan non polar dan ikatan logam, yang dipelajari di kelas X semester I. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Purwosari dengan tujuan untuk mengidentifikasi kesulitan yang dialami siswa dalam memahami materi ikatan kimia. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian meliputi siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari yang terdiri dari 9 kelas dan sampel penelitian adalah siswa kelas X.8 sebanyak 40 siswa dan kelas X.9 sebanyak 38 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak kelompok melalui undian kelas. Instrumen pada penelitian berupa tes objektif sebanyak 37 butir soal. Dari hasil uji coba instrumen indeks kesukaran diperoleh 1 soal mudah, 23 soal sedang dan 13 soal sukar. Daya beda soal diperoleh 5 soal jelek, 24 soal cukup dan 8 soal baik. Reliabilitas tes diperoleh α = 0,81 dan 32 soal yang valid. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif melalui persentase siswa yang mengalami kesulitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Persentase siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari yang mengalami kesulitan dalam memahami (1) kestabilan unsur adalah 44,8% yang berarti cukup besar, (2) struktur lewis adalah 54,3% yang berarti cukup besar, (3) ikatan ion adalah 55,6% yang berarti cukup besar, (4) ikatan kovalen adalah 39,9% yang berarti kecil, (5) ikatan kovalen koordinasi adalah 41,8% yang berarti cukup besar, (6) senyawa kovalen polar dan non polar adalah 64,9% yang berarti besar, (7) ikatan logam adalah 43,6% yang berarti cukup besar. Kesulitan terbesar yang dihadapi siswa dalam memahami ikatan kimia adalah pada sub materi mendefinisikan senyawa kovalen polar dan non polar (64,9%). Selain itu siswa juga mengalami kesulitan pada sub materi ikatan ion (55,6%), struktur lewis (54,3%), kesetabilan unsur (44,8%), ikatan logam (43,6%) dan ikatan kovalen koordinasi (41,8%).

Pengaruh kinerja keuangan terhadap jumlah penyaluran pembiayaan BMT Sidogiri periode 2010 / Fatichatur Rachmaniyah

 

Sifat organoleptik taro noodlesnack dengan penambahan tepung udang rebon / Yulistiana

 

ABSTRAK Yulistiana. 2008. Sifat Organoleptik Taro Noodle Snack dengan Penambahan Tepung Udang Rebon. Tugas Akhir Program Studi DIII Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Teti Setiawati, M.Pd (II) Dra. Nunung Nurjanah M.kes. Kata kunci: Tepung Udang Rebon, Taro Noodle Snack, Penambahan, Organoleptik Salah satu jenis udang yang terdapat di perairan Indonesia adalah udang rebon. Udang rebon dapat dimanfaatkan menjadi suatu produk. Untuk menambah variasi produk dan diversifikasi produk dari udang rebon, maka dibuat tepung udang rebon yang dapat diaplikasikan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan taro noodle snack. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu membuat taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 5%, 10% dan 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik dan kesukaan taro noodle snack yang ditambah dengan tepung udang rebon yang meliputi rasa, warna, aroma dan tekstur melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali pengulangan. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik dan kesukaan oleh panelis. Panelis diambil dari Mahasiswa Tata Boga Angkatan 2005-2006 secara acak. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam dan apabila terjadi perbedaan dari masing-masing perlakuan maka analisis dilanjutkan dengan uji lanjutan berupa analisis Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada rasa, warna, aroma dan tekstur taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 5%, 10% dan 15% dari total bahan. Hasil uji mutu hedonik taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon menunjukkan bahwa taro noodle snack dengan rasa gurih mempunyai skor (3,2) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 15%, warna kuning taro noodle snack mempunyai skor (3,9) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 5%, aroma tajam taro noodle snack mempunyai skor (3,57) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 15%, dan tekstur renyah taro noodle snack mempunyai skor (3,63) yaitu dengan penambahan tepung udang rebon 5%. Dari uji hedonik diperoleh hasil rasa, warna, aroma taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 10% yang disukai panelis, sedangkan untuk tekstur taro noodle snack dengan penambahan tepung udang rebon 5% yang disukai panelis. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung udang rebon 10% yang disukai oleh panelis. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat dikemukakan kepada peneliti selanjutnya yaitu perlu dilakukan kontrol terhadap taro noodle snack pada saat penggorengan untuk menghasilkan warna yang sama.

Pengaruh kemandirian belajar dan kecerdasan intelektual (IQ) terhadap prestasi belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII SMP 18 Malang tahun ajaran 2012/2013 / Yusa Zakarya

 

Zakarya, Yusa. 2013. “Pengaruh Kemandirian Belajar dan Kecerdasan Intelektual (IQ) Terhadap Prestasi Belajar IPS Terpadu Pada Siswa Kelas VIII SMPN 18 Malang Tahun Ajaran 2012/ 2013”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Lisa Rokhmani, M.Si (2) Drs. Achmad Ali Wafa, M.Pd. Kata Kunci: kemandirian belajar, kecerdasan intelektual (IQ), prestasi belajar Kemandirian belajar merupakan cara belajar yang berasal dari kemauan diri sendiri. Kemandirian belajar ini ada pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Hasil pengamatan peneliti menemukan kondisi siswa SMPN 18 Malang saat KBM dilaksanakan terlihat kemandirian belajar yang heterogen, ada siswa yang serius mengerjakan tugas kelompok ada juga yang hanya titip nama selain itu ada juga yang berinisiatif untuk mencatat keterangan dari guru ada yang hanya mendengarkan ataupun tidak sama sekali mendengarkan dan saat pengumpulkan tugas rumah, ada yang sempurna pengerjaannya sesuai ketentuan bahkan ada yang tidak mengumpulkan dengan berbagai alasan. SMPN 18 Malang mempunyai hasil IQ siswa yang heterogen dan ada teori yang menyatakan bahwa IQ ada pengaruh terhadap prestasi belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh antara kemandirian belajar terhadap prestasi belajar IPS Terpadu, bagaimana pengaruh antara IQ terhadap prestasi belajar IPS Terpadu dan bagaimana pengaruh kemandirian belajar dan kecerdasan intelektual (IQ) terhadap prestasi belajar IPS Terpadu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Responden penelitian ini siswa kelas VIII SMPN 18 Malang, sampel yang diambil sebanyak 182 siswa dari 333 siswa, teknik pengambilan sampel menggunakan propotional random sampling. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis statistik regresi linear ganda dan uji hipotesis dianalisis dengan teknik statistik parametrik uji t (parsial) dan F (simultan) dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh yang signifikan positif antara kemandirian belajar terhadap prestasi belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII SMPN 18 Malang. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi atau semakin optimal kemandirian belajar akan semakin tinggi pula prestasi belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII SMPN 18 Malang. Kedua, ada pengaruh yang signifikan positif antara kecerdasan intelektual (IQ) terhadap prestasi belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII SMPN 18 Malang. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan intelektual (IQ) akan semakin tinggi pula prestasi belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII SMPN 18 Malang. Ketiga, ada pengaruh yang signifikan positif antara kemandirian belajar dan kecerdasan intelektual (IQ) terhadap prestasi belajar IPS Terpadu pada siswa kelas VIII SMPN 18 Malang.

Using story-telling technique wiyh picture series to amprove the English speaking ability of th eigth graders of SMPN kota Ternate

 

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Arwijati Wahyudi, M.Pd, Dipl. TESL., (II) Dr. Johannes A.Prayogo, M.Pd, M.Ed Kata Kunci: Tehnik Bercerita dengan Gambar Berseri, Meningkatkan, Kemampuan Berbicara Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan SMPN 4 Kota Ternate, ditemukan dua permasalahan. Pertama, keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat rendah. Kedua, kemampuan berbicara mereka belum memuaskan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kosakata, kurangnya tata bahasa dan tidak adanya metode dan media pengajaran yang tepat untuk diterapkan di dalam kelas. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menggunakan tehnik bercerita dengan gambar. Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan berbicara siswa SMPN 4 Kota Ternate dengan menggunakan tehnik bercerita denggan menggunakan gambar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana peneliti dan kolaborator bekerjasama: peneliti bertindak sebagai pengajar sementara kolaborator melakukan observasi selama pelaksanaan strategi. Penelitian ini dilakukan dalam satu siklus yg terdiri dari empat pertemuan dengan menggunakan prosedur sebagai berikut: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan penghayatan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan catatan lapangan. Subjek penelitian ini adalah 30 siswa semester 2 kelas A SMP N 4 Kota Ternate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur yang baik di dalam menggunakan tehnik bercerita dengan menggunakan gambar dalam pengajaran Speaking terbagi dalam beberapa tahapan utama, tahap pertama kegiatan warm-up : (1) membangkitkan motivasi siswa, dengan memperlihatkan gambar melalui slide (2) meminta siswa untuk berpikir menegnai apa saja yang ada hubungannya dengan (3) menulis jawan siswa di papan tulis. Tahapan kedua adalah kegiatan pre-speaking : (4) menjelaskan bentuk text narratif dengan memberikan contoh (5) jelaskan struktur text dari text narratif dengan meminta siswa mencari strukturnya di dalam text yang diberikan (6) meminta siswa untuk membuat text narratif secara lisan. (7) meminta mereka untuk mencari struktur text narratif di dalam cerita mereka sendiri. Tahapan ketiga adalah whilst-speaking : ada dua kegiatan dalam tahapan ini; modeling dan practicing, dalam kegiatan modeling (8) menunjukkan gambar yang berbeda dengan gambar di kegiatan warm-up (9) menceritakan cerita yang ada dalam setiap gambar sebagai model (10) memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengecek latar blekang pengetahuan mereka tentang gambar yang akan diceitakan. Dalam kegiatan practicing (11) membagi siswa menjadi 9 grup (12) menunjukkan tiga atau empat gambar berseri dengan menggunakan LCD pada setiap kelompok, gambar berseri yang diberikan berdasarkan topic (13) memberikan waktu untuk siswa mempersiapkan cerita berdasarkan gambar berseri yang diberikan (14) memberikan beberapa pertanyaan berdasarkan gambar yang diberikan (15) memberikan 5-10 kosa kata yang berhubungan dengan gambar berseri yang diberikan (16) meminta siswa mengucapkan kosakata dengan mengukuti cara pengucapan yang deberikan oleh guru (17) menunjukkan sekali lagi gambar yang akan diceritakan (18) meminta siswa untuk bercerita berdasrkan gambar berseri yang diberikan melalui LCD (19) memperbaiki kesalahan grammar dan vocabulary yang dibuat siswa ketika bercerita. Tahapan ketiga adalah post-speaking (20) memberikan feedback kepada siswa (21) memberikan follow-up. Lebih lanjut, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tehnik bercerita dengan menggunakan gambar telah berhasil meningkatkan keterlibatan aktif siswa dan juga meningkatkan kemampuan berbicara mereka. Peningkatan keterlibatan aktif siswa dapat dilihat dari meningkatnya jumlah siswa yang termasuk dalam kategori aktif sebanyak 50% atau 15 siswa dari 30 siswa. Peningkatan kemampuan bercerita dapat dilihat dari jumlah siswa yang pada penelitian awalnya hanya 10 siswa (33%) dari 30 siswa yang mendapat nilai 60 meningkat menjadi 21 siswa (70%) dari 30 siswa yang mendapat nilai 60. Maka dari itu, disarankan kepada guru bahasa Inggris untuk menerapkan tehnik bercerita dengan menggunakan gambar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara bahasa inggris mereka. Hal ini juga disarankan kepada kepala sekolah untuk menjadikan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk membuat kebijakan bahwa pengajaran speaking di sekolah ini sebaiknya menggunakan tehnik bercerita dengan menggunakan gambar. Disarankan juga kepada siswa agar penelitian ini dapat membantu memberikan kemudahan kepada mereka untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Dan kepada para peneliti berikutnya hasil temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi yang baik untuk melakukan penelitian yang sama

Pembuatan mini sackdress dan poncho transparan dengan aplikasi motif "geometri" sebagai busana pesta / Siswandari Rosyida

 

Pembutan kostum drama dengan hiasan hand painting / Novia Ira Maulana

 

Secara garis besar pengertian kostum adalah “pakaian khusus (dapat pula merupakan pakaian seragam) bagi perseorangan, regu olah raga, rombongan, kesatuan diupacara, pertunjukan …. “ (Alwi dkk, 2000:597). Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani) yang artinya suatu cerita yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan (http://www.google.co.id/search?hl=id&q=macammacam drama, 5 Juli 2008). Berdasarkan pengertian dari kostum adalah pakaian khusus dan drama adalah suatu cerita yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan, maka dapat disimpulkan bahwa kostum drama adalah pakaian khusus untuk memainkan suatu cerita yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Kostum drama merupakan salah satu bagian dari pakaian panggung, hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa “….pakaian panggung yang lebih dikhususkan ke kostum drama….” (Ahmad, 2000).

Sifat organoleptik noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi yang berbeda / Nurceria Putri Mentari

 

ABSTRAK Mentari, Nurceria Putri. 2008. Sifat Organoleptik Noodle Snack Dengan Jumlah Penambahan Ikan Teri Nasi yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Wiwik Wahyuni, M. Pd., (2) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. Kata Kunci: Noodle, snack, ikan teri nasi, organoleptik. Noodle snack adalah produk makanan ringan yang terbuat dari terigu dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain. Kandungan gizi noodle snack sangat bervariasi tergantung dari jenis, jumlah, dan kualitas bahan penyusunnya, serta cara pembuatan dan penyimpanannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi yang berbeda sebanyak 20 gram, 50 gram dan 80 gr. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan warna, rasa, aroma dan tekstur noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri sebanyak 20 gram, 50 gram dan 80 gram. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis meliputi warna, rasa, aroma dan tesktur. Analisis data yang digunakan adalah analisis Sidik Ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada warna, rasa, aroma dan tesktur noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi sebanyak 20 gram, 50 gram dan 80 gram. Skor tertinggi warna noodle snack terdapat pada jumlah penambahan 20 gram dengan warna krem kurang abu-abu (3,56), skor tertinggi rasa noodle snack terdapat pada jumlah penambahan 80 gram dengan rasa gurih (3,31), skor tertinggi aroma noodle snack terdapat pada jumlah penambahan 80 gram dengan aroma ikan teri nasi tajam (3,38), dan skor tertinggi tekstur noodle snack terdapat pada persentase 5% dengan tekstur renyah (3,6). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa warna noodle snack yang paling disuka panelis adalah noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 20 gram (43,3%), rasa noodle snack yang disuka panelis adalah noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 80 gram (41,67%), aroma noodle snack yang disuka panelis adalah aroma noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 80 gram (53,33%) dan tekstur noodle snack yang disukai panelis adalah tekstur noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi 20 gram (61,67%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa warna noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi sebanyak 20 gram menghasilkan warna dan tekstur yang lebih baik yaitu krem cukup abu-abu dan renyah. Sedangkan rasa, aroma yang dianggap baik terdapat pada noodle snack dengan jumlah penambahan ikan teri nasi sebanyak 80 gram yaitu rasa gurih dan aroma ikan teri tajam.

Pengaruh total aset turnover, debt to asset ratio, dan working capital turnover rentabilitas ekonomi pada koperasi karyawan periode 2008-2010 di kota Malang / Gita Kinanti Rahmawati

 

Kata Kunci :Total Asset Turnover, Debt To Asset Ratio, Working Capital Turnover dan Rentabilitas Ekonomi (ROA) Koperasi merupakan badan usaha yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian bangsa. Walaupun koperasi bukan badan usaha yang mementingkan keuntungan (profit oriented), namun laba penting bagi keberlanjutan hidup sebuah koperasi. Di sisi lain laba yang tinggi bukanlah jaminan bahwa koperasi sudah bekerja secara efisien. Sehingga tingkat efisiensi dapat dilihat dengan membandingkan laba yang diperolehnya dengan total asset yang dimiliki, atau dengan kata lain dengan menghitung rentabilitas ekonominya (return on asset). Selain itu, terdapat variabel yang dapat digunakan untuk mengukur rentabilitas ekonomi itu sendiri antara lain, total asset turnover, debt to asset ratio, dan working capital ratio. Tujuan dari penelitian ini sendiri adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dari variabel total asset turnover, debt to asset ratio, dan working capital ratio terhadap rentabilitas ekonomi, serta untuk mengetahui kondisi masing – masing variabel pada koperasi karyawan di Kota Malang periode 2008-2010. Penelitian ini tergolong jenis penelitian asosiatif kausalitas. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuntitatif yang bersifat expost facto. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah variabel bebas yang meliputi Total Asset Turnover (X1), Debt to Asset Ratio(X2), dan Working Capital Turnover (X3) sedangkan variabel terikatnya adalah Rentabilitas ekonomi (Y). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 11 koperasi karyawan yang berada di Kota Malang dengan periode penelitian 3 tahun yakni mulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh total asset turnover, debt to asset ratio dan working capital turnover terhadap rentabilitas ekonomi (return on asset) diketahui bahwa total asset turnover dan working capital turnover memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset. Debt to asset ratio memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap return on asset. Secara simultan total asset turnover, debt to asset ratio dan working capital turnover diperoleh hasil yang signifikan. Peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain, misalnya current ratio, debt to equity ratio,net profit margin dan lain-lain yang potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel ROA. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel koperasi karyawan lainnya dan menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih signifikan.

Analisis deskriptif pembuatan fish finger kuniran (Upeneus Shulphureus) dengan teknik Steaming, Pre-Fry, dan baking sebelum proses pembekuan / Dafila Tanico

 

ABSTRAK Tanico, Dafila. 2008. Analisis Deskriptif Pembuatan Fish Finger Kuniran (Upeneus sulphureus) dengan Teknik Steaming, Pre-fry, dan Baking Sebelum Proses Pembekuan. Tugas Akhir Program Studi Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes (II) Laili Hidayati, S.Pd. Kata Kunci: Fish finger, ikan kuniran, steaming, pre-fry, baking, deskriptif Fish finger adalah makanan yang dibuat dari daging ikan segar yang dihaluskan dan dilapisi dengan tepung roti. Ikan kuniran merupakan jenis ikan domersal kecil berasal dari famili mullidae (Goatfish), ordo perciformes, spesies Upeneus sulphureus. Dijual dipasaran dalam bentuk ikan segar, berwarna putih kemerahan, berukuran sedang. Pemanfaatan ikan kuniran sebagai produk makanan beku yaitu diolah menjadi fish finger. Fish finger merupakan jenis produk frozen food, maka dalam proses pengolahannya menjadi produk makanan beku terdapat teknik awal yaitu dimasak setengah matang. teknik awal yang digunakan sebelum proses pembekuan adalah steaming, pre-fry dan baking. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tekstur, rasa, warna, dan aroma serta tingkat kesukaan terhadap fish finger kuniran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2008 di Labortorium Tata Boga Gedung H4 Universitas Negeri Malang. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik dan kesukaan oleh panelis. Panelis yaitu dari Mahasiswa Tata Boga angkatan 2005 yang dipilih secara acak. Analisis data menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk memaparkan hasil penelitian. Uji mutu hedonik menunjukkan bahwa tekstur fish finger kuniran dengan teknik steaming kenyal (dinyatakan 55% panelis), teknik pre-fry tekstur agak kenyal (dinyatakan 52% panelis), sedangkan tekstur fish finger dengan teknik baking cukup kenyal (dinyatakan 58% panelis). Rasa fish finger kuniran dengan teknik steaming agak gurih (dinyatakan 48% panelis), teknik pre-fry rasa gurih (dinyatakan 60% panelis), sedangkan rasa fish finger dengan teknik baking agak gurih (dinyatakan 55% panelis). Warna fish finger kuniran dengan teknik steaming putih agak gelap (dinyatakan 42% panelis), teknik pre-fry warna putih cukup gelap (dinyatakan 57% panelis), sedangkan warna fish finger dengan teknik baking putih cukup gelap (dinyatakan 55% panelis). Aroma fish finger kuniran dengan teknik steaming kurang kuat (dinyatakan 53% panelis), teknik pre-fry aroma agak kuat (dinyatakan 48% panelis), sedangkan aroma fish finger dengan teknik baking cukup kuat (dinyatakan 53% panelis). Uji hedonik menunjukkan bahwa tekstur fish finger kuniran dengan teknik steaming sangat suka (dinyatakan 45% panelis), teknik pre-fry tekstur agak suka (dinyatakan 52% panelis), sedangkan tekstur fish finger dengan teknik baking suka (dinyatakan 32% panelis). Rasa fish finger kuniran dengan teknik steaming agak suka (dinyatakan 50% panelis), teknik pre-fry rasa suka (dinyatakan 52% panelis), sedangkan rasa fish finger dengan teknik baking agak suka (dinyatakan 55% panelis). Warna fish finger kuniran dengan teknik steaming suka (dinyatakan 50% panelis), teknik pre-fry warna putih cukup suka (dinyatakan 53% panelis), sedangkan warna fish finger dengan teknik baking cukup suka (dinyatakan 55% panelis). Aroma fish finger kuniran dengan teknik steaming sangat suka (dinyatakan 38% panelis), teknik pre-fry aroma suka (dinyatakan 50% panelis), sedangkan aroma fish finger dengan teknik baking cukup suka (dinyatakan 45% panelis). Berdasarkan hasil penelitian uji mutu hedonik yang telah dilaksanakan diperoleh hasil teknik awal steaming menghasilkan tekstur kenyal, rasa agak gurih, warna putih agak gelap, dan aroma kurang kuat. Teknik awal pre-fry menghasilkan tekstur agak kenyal, rasa gurih, warna putih cukup gelap dan aroma agak kuat. Teknik awal baking menghasilkan tekstur cukup kenyal, rasa agak gurih, warna putih cukup gelap, dan aroma cukup kuat. Sedangkan hasil penelitian uji hedonik yang telah dilaksanakan diperoleh hasil teknik awal steaming tekstur dan aroma menyatakan sangat suka sedangkan rasa dan warna suka. Teknik awal pre-fry tekstur agak suka sedangkan rasa, aroma, dan warna menyatakan suka. Teknik awal baking tekstur menyatakan suka, rasa agak suka sedangkan warna dan aroma cukup suka. Berdasarkan hasil penelitian, saran dalam penelitian ini adalah fish finger dapat dijadikan salah satu peluang usaha bagi masyarakat, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti daya simpan fish finger kuniran serta penggunan ikan kuniran untuk diaplikasikan pada produk lain

Perancangan transformator arus / Miftachul Jannah

 

Transformator dilihat dari jenisnya, terdiri dari transformator tegangan dan transformator arus. Sedangkan transformator arus dapat dilihat dari fungsinya terdiri dari transformator arus sebagai proteksi dan transformator arus sebagai pengukuran (instrumentasi). Trafo arus digunakan untuk mengukur arus yang besarnya lebih dari 5 A dan arus yang mengalir dalam jaringan tegangan tinggi. Disamping untuk pengukuran arus, trafo arus juga dibutuhkan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi. Kumparan primer trafo arus dihubungkan seri dengan jaringan atau peralatan yang akan diukur arusnya, sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau rele proteksi. Pada umumnya peralatan ukur dan rele membutuhkan arus 1 A atau 5 A. Kawasan kerja trafo arus yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,05 sampai 1,2 kali arus yang akan diukur. Trafo arus untuk tujuan proteksi biasanya harus mampu bekerja lebih dari 10 kali arus pengenalnya. Dalam tugas akhir ini, pembuatan transformator arus terfokus pada transformator arus sebagai pengukuran. Kapasitas transformator arus diperoleh dengan cara pembebanan kumparan primer sebesar 5 lilitan dan kumparan sekunder sebesar 100 lilitan. Melalui percobaan pembebanan, diperoleh hasil untuk tahanan burden yang besar maka E2 ≅ V2. Kapasitas transformator arus maksimal untuk masing-masing inti, diperoleh tahanan burden yang berbeda. Berdasarkan kapasitas transformator arus untuk masing-masing inti kemudian ditentukan jumlah lilitan sekunder. Untuk mendapatkan tegangan 1 volt, transformator arus inti toroid-hijau muda 2 memerlukan 7 lilitan, inti toroid-biru 10 lilitan. Inti model E untuk mendapatkan tegangan sekunder 0,0025 volt, memerlukan 16 lilitan. Pengujian pembebanan menunjukkan bahwa tegangan output (sekunder) linear terhadap arus primer. Untuk I2 = 5 A, tegangan yang dihasilkan pada kumparan sekunder sebagai berikut : 1). Inti toroid hijau muda 2 = 1 volt, 2). Inti toroid biru = 1 volt, dan 3). Inti model E = 0,0025 volt.

Analisis faktor penghambat pelaksanaan praktek industri pada mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Mesin, Lembaga Pendidikan Universitas Negeri Malang, dan industri / Moch Farid Riza

 

Riza, Farid M. 2013. Analisis Faktor Penghambat Pelaksanaan Praktek Industri Pada Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Mesin, Lembaga Pendidikan Universitas Negeri Malang, dan Industri. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Suwarno, H., Drs., M.Pd. (II) Yuni Sunarto, Drs. Kata Kunci: Faktor Penghambat, Pelaksanaan Praktek Industri, Teknik Mesin Universitas Negeri Malang Praktek industi adalah suatu sistem pembelajaran yang dilakukan diluar proses belajar mengajar dan dilaksanakan pada perusahaan, industri atau instansi yang relevan. Secara umum pelaksanaan program praktek industri ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dibidang teknologi, penyesuaian diri dengan situasi yang sebenarnya, mengumpulkan informasi dan menulis laporan berkaitan langsung dengan tujuan khusus. Ada beberapa kendala pada pelaksanaan praktek industri yang menyebabkan pelaksanaan praktek industri menjadi terhambat. Hal ini sering menimbulkan salah paham antara pihak lembaga dan mahasiswa baik dari segi surat-menyurat, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk itu perlu adanya analisis faktor penghambat pada pelaksanaan praktek industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan praktek industri pada Mahasiswa, Lembaga Pendidikan Universitas Negeri Malang, dan Industri. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis data deskriptif kuantitatif dan analisis tabulasi silang. Rancangan penelitian ini berdasarkan tujuannya digolongkan sebagai jenis penelitian deskriptif kuantitatif yang bersifat expost facto, yaitu mengumpulkan data sebanyak-banyaknya mengenai faktor-faktor penghambat yang ada dalam penelitian dan berusaha untuk mendeskripsikan penghambat pelaksanaan praktek industri pada Mahasiswa, Lembaga Pendidikan Universitas Negeri Malang, dan Industri agar tidak mengalami hambatan atau kesulitan. Hasil dari penelitian ini adalah dapat mengetahui hambatan yang terjadi pada mahasiswa dalam persiapan, meliputi pengurusan surat menyurat pada lembaga pendidikan dan industri yang membutuhkan jangka waktu > 3 minggu, waktu pelaksanaan praktek industri. Dalam hal pelaksanaan praktek industri hambatannya terdapat pada kinerja mahasiswa sebagai pengamat yang sangat bertolak belakang dengan indikator keberhasilan pedoman praktek industri Universitas Negeri Malang. Hambatan pelaksanaan praktek industri pada Lembaga Pendidikan Universitas Negeri Malang. Terdapat hambatan pada saat persiapan yaitu dalam indikator pengajuan proposal. Membutuhkan waktu > 6 hari. Hambatan pelaksanaan praktek industri pada industri, Terdapat hambatan dalam persiapan praktek industri yaitu, waktu balasan surat ijin rata-rata memerlukan waktu > 3 minggu.

Pembuatan gaun pesta remaja dengan hiasan painting / Lia Agustina

 

Perencanaan peta interaktif kawasan Gunung Bromo Jawa Timur berbasis multimedia sebagai sarana informasi wisata bagi pengunjung / Royan Kharis Abdillah

 

Kata Kunci: Perancangan, Peta interaktif, Kawasan Gunung Bromo, Informasi, Pariwisata Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan lembaga pemerintah dibawah Departemen Kehutanan yang bertanggung jawab penuh terhadap wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) salah satunya adalah dalam kegiatan pariwisata/ekowisata berupa penyediaan media informasi. Kawasan wisata Gunung Bromo merupakan salah satu kawasan TNBTS yang menjadi tujuan destinasi utama bagi wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan luar negeri. Kawasan wisata Gunung Bromo memiliki fasilitas penyediaan informasi untuk keperluan pengunjung dalam berwisata. Akan tetapi, penyediaan informasi yang ada belum berjalan secara maksimal. Seiring berkembangnya zaman, dibutuhkan media informasi alternatif yang menarik dan praktis untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Perancangan peta interaktif kawasan wisata Gunung Bromo bertujuan untuk mendukung media informasi yang telah ada, sehingga pengunjung mendapatkan salah satu sumber media informasi alternatif. Informasi yang disajikan dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan pengunjung dalam berwisata sekaligus menambah wawasan tentang Gunung Bromo yang dikemas secara menarik dalam bentuk multimedia sehingga pengunjung dapat lebih mudah memahami informasi yang disampaikan. Jenis perancangan Peta interaktif ini merupakan perancangan yang bersifat deskriptif. Di mana perancang melakukan langkah-langkah yang ditempuh meliputi riset pasar dan perancangan desain. Sistematika perancangan ini menggunakan prosedur yang menyesuaikan permasalahan pada objek di lapangan dengan kebutuhan desain. Produk tersebut ditujukan kepada pengunjung kawasan wisata Gunung Bromo. Berdasarkan teoritis, hasil perancangan ini telah melewati beberapa langkah prosedur yang terencana. Walaupun perancangan ini masih membutuhkan riset yang lebih dalam lagi dan uji coba lapangan. Peta interaktif multimedia dipilih sebagai media informasi merupakan penyesuaian dan sikap yang ditempuh agar media yang dirancang bisa memberikan informasi kepada pengguna secara efektif dan komprehensif. Diharapkan perancangan peta interaktif ini bermanfaat dan dapat dikembangkan lagi sesuai dengan kebutuhan.

Pelaksanaan pemeriksaan pajak Surat Pemberiyahuan Lebih Bayar (SPT LB) untuk wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Malang Selatan (tinjauan berdasarkan faktor kepuasan kerja) / Firsta Christina Widhi Hastuti

 

Hastuti, Firsta Christina Widhi. 2014. Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak Surat Pemberitahuan Lebih Bayar (SPT LB) Untuk Wajib Pajak Badan Di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Malang Selatan. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si.,Ak. (II) Sriyani Mentari, S.Pd., MM. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Pekerjaan Itu Sendiri Pemeriksa pajak merupakan alat pemerintah untuk membantu meningkatkan pendapatan negara dalam sektor perpajakan melalui pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang melanggar kewajiban perpajakannya. Peran penting pemeriksa pajak dalam pemeriksaan Surat Pemberitahuan (SPT) Wajib Pajak tentu menjadi penentu bagaimana pelaksanaan pemeriksaan tersebut dapat berjalan sesuai dengan prosedur pemeriksaan yang ada. Apabila pemeriksa pajak memiliki kepuasan dengan pekerjaannya maka diduga akan mendukung berjalannya proses pemeriksaan yang dijalankan sesuai dengan prosedur dan jangka waktu yang ditetapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan faktor kepuasan kerja dalam pelaksanaan pemeriksaan pajak SPT lebih bayar untuk wajib pajak badan di KPP Pratama Malang Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena peneliti ingin menelaah dan menjelaskan aspek kepuasan kerja pemeriksa pajak terkait dengan pekerjaan itu sendiri melalui wawancara dengan pemeriksa pajak di KPP Pratama Malang Selatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi melalui data sekunder berupa laporan penyelesaian pemeriksaan (ALPP). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yakni mendeskripsikan atau menjelaskan hasil penelaahan terhadap kepuasan kerja pemeriksa pajak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja pemeriksa pajak di KPP Pratama Malang Selatan ditinjau dari aspek pekerjaan itu sendiri yang terbagi dalam 5 dimensi yang meliputi skill variety, task identity, task significance, autonomy, dan feedback sudah terpenuhi sehingga dapat memicu kreativitas pemeriksa pajak dalam mengelola dan mempertimbangkan prosedur serta teknik pemeriksaan yang akan diterapkan untuk menyelesaikan kasus pemeriksaan SPT LB Wajib Pajak Badan di KPP Pratama Malang Selatan. Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan bisa melengkapi informasi mengenai aspek lain yang mendukung terjadinya kepuasan kerja pemeriksa pajak. Bagi pihak KPP diharapkan untuk menambah jumlah tenaga kerja pemeriksa pajak supaya kasus pemeriksaan pajak dapat diselesaikan tepat waktu. Bagi pihak pemeriksa pajak diharapkan bisa selektif dalam memilah SP2 supaya tidak terjadi penunggakan pekerjaan.

Pembuatan gaun dan bolero dengan teknik jahit kerut (Smock) dari bahan dasar kain kaos / Nunik

 

Pengaruh aniling pada sintesis partikel nano Fe3O4 terhadap struktur kristal dan magnetodielektrisitasnya / Galis Wintri Rolirida

 

Kata kunci: Aniling, Fe3O4, partikel nano, pasir besi, struktur kristal, magnetodielektrik. Salah satu partikel nano yang terkenal saat ini adalah kristal nano magnetik (Fe3O4) yang menjadi kajian menarik karena potensi aplikasinya yang sangat besar dalam berbagai bidang seperti ferrofluids, katalis, pigmen warna, dan diagnosa medis. Dalam rangka mengembangkan metode fabrikasi bahan, dalam penelitian ini menggunakan metode kopresipitasi yang dapat dilakukan pada suhu rendah yaitu 70oC-90oC dengan proses yang relatif mudah dan cepat. Pada metode ini, material-material dasar diendapkan bersama secara stoikiometris dengan reaktan yang tepat. Bahan dasar yang digunakan adalah pasir besi Lumajang, HCL (12M) dan NH4OH(6,5M). Pada Fe3O4 hasil dari kopresipitasi diberi perlakuan panas dengan variasi aniling dari suhu 100 oC sampai 1000 oC. Karakterisasi struktur kristal dilakukan menggunakan XRD dan dielektrisitas menggunakan kapasitansi digital tipe AD 5822. Fasa yang terbentuk dianalisis dengan program Cellref. Ukuran butir kristal dihitung menggunakan persamaan Scherrer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partikel nano Fe3O4 telah berhasil disintesis. Diketahui adanya transisi fase akibat perlakuan panas pada suhu yang berbeda. Sampel yang dipanaskan pada suhu 100 °C, 200 °C, dan 400 °C menunjukkan kesamaan pola difraksi secara utuh. Hasil ini mengindikasikan adanya kesamaan fasa yang terbentuk. Pada ketiga suhu pemanasan tersebut sampel mengkristal pada struktur spinel kubik inversi yang dimiliki oleh Fe3O4 tanpa kehadiran fasa lain. Sedangkan pada sampel yang dipanaskan suhu 800 °C dan 1000 °C menunjukkan pola difraksi yang sangat signifikan dengan ketiga suhu sebelumnya. Pola ini mengindikasikan perbedaan fasa dan struktur kristal. Pada suhu 800 °C, sampel seutuhnya mengkristal dengan struktur heksagonal hematite Fe2O3. Sedangkan pada suhu 1000 °C, disamping mengkristal dengan struktur heksagonal hematite Fe2O3, juga ditemukan adanya fasa FeO. Semakin besar suhu aniling, semakin kecil magnetodielektrisitas senyawa Fe3O4. Hal ini disebabkan berkurangnya displacement listrik pada bahan.

Optimalisasi keberadaan objek wisata terhadap eksternalitas dalam pembangunan daerah serta peningkatan pendapatan daerah (studi kasus objek wisata Wendit Waterpark, Kabupaten Malang) / Octavia Arif Citra Dewi

 

Dewi, Octavia Arif Citra.2014. Optimalisasi Keberadaan Objek Wisata Terhadap Eksternalitas Dalam Pembangunan Daerah Serta Peningkatan Pendapatan Daerah (Studi Kasus Objek Wisata Wendit Waterpark, Kabupaten Malang). Skripsi, Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Lisa Rokhmani, M.Si. (II) Dr. Hadi Sumarsono, S.T., M.Si Kata Kunci: Optimalisasi Objek Wisata, Eksternalitas, Pendapatan Asli Daerah. Pembangunan Daerah Wendit Waterpark merupakan objek wisata andalan yang dapat dikatakan sebagai lumbung pendapatan daerah oleh sebab itu pada tahun 2006 pemerintah daerah melakukan renovasi guna pengembangan objek wisata. Hal tersebut tentu menimbulkan eksternalitas ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Sehingga dampak dari adanya objek wisata tersebut diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli daerah (PAD) serta pembangunan daerah. Namun pada tahun-tahun terakhir terjadi penurunan penerimaan dari target yang diperkirakan oleh pemerintah. Sehingga perlu adanya optimalisasi agar pengelolaan Wendit Waterpark lebih efektif dan efesien. Berpijak dari permasalahan tersebut tujuan penelitian adalah untuk: (1) mengetahui faktor pendukung dan penghambat optimalisasi objek wisata Wendit Waterpark terhadap pembangunan daerah serta peningkatan pendapatan daerah, (2) mengetahui optimalisasi keberadaan objek wisata Wendit Waterpark dalam meningkatkan pembangunan daerah dan pendapatan daerah, serta (3) mengetahui eksternalitas objek wisata Wendit Waterpark terhadap pembangunan daerah dan peningkatan pendapatan daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kuantitatif. Sumber data yang Penulis gunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara, Observasi dan dokumentasi. Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan oleh narasumber Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas Daerah) Wendit Waterpark serta masyarakat sekitar. Sedangkan analisis yang digunakan Penulis yaitu analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities dan Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendukung dan penghambat dalam matrik SWOT yakni adalah kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang. Sedangkan dalam upaya pengoptimalisasian keberadaan objek wisata meliputi pelaksanaan PERDA dengan tepat, kembangkan potensi yang belum tergali, menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, memperluas promosi, memaksimalkan sarana dan prasarana.serta memberikan citra positif terhadap masyarakat. Dari optimalisasi objek wisata dapat menimbulkan eksternalitas positif bagi masyarakat sekitar khususnya pada peningkatan kesejahteraan ekonominya.

Sifat organoleptik nugget kelinci dengan bahan perekat yang berbeda / Ade Febri Juwitasari

 

Pola gaya bahasa dalam teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang tahun pelajaran 2012/2013 / Dianti Setia Dharma

 

Dharma, Dianti Setia. 2013. Pola Gaya Bahasa dalam Teks Pidato Siswa Kelas X SMA Maarif Lawang Tahun Pelajaran 2012/2013. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumadi, M.Pd. (II) Dr. Titik Harsiati, M.Pd. Kata Kunci: gaya bahasa, teks pidato siswa Setiap orang menggunakan bahasa dengan cara dan kekhasannya masing-masing. Bentuk khas penggunaan bahasa oleh penggunanya disebut gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang khas dan bisa memperlihatkan karakter penulisnya. Bahasa dapat dinyatakan dalam bentuk lisan maupun tulisan, demikian pula dengan gaya bahasa. Menyatakan bahasa dalam bentuk tulisan disebut kegiatan menulis. Salah satu kompetensi dasar keterampilan menulis yang harus dikuasai oleh siswa SMA adalah menulis teks pidato. Pidato merupakan salah satu bentuk retorika. Retorika adalah seni kemampuan menyatakan pendapat, mengemukakan gagasan, menyampaikan informasi kepada orang lain secara efektif dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Gaya bahasa digunakan dalam teks pidato secara sadar sebagai teknik dan alat untuk mencapai tujuan pidato dan juga sebagai perwujudan dari keterampilan berbahasa secara khusus. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan yakni, mendeskripsikan pola gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dalam teks pidato siswa, mendeskripsikan pola gaya bahasa berdasarkan nada dalam teks pidato siswa, mendeskripsikan pola gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dalam teks pidato siswa, dan mendeskripsikan pola gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dalam teks pidato siswa SMA Maarif Lawang kelas X tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti dan alat bantu berupa panduan kodifikasi dan panduan analisis. Data penelitian ini berwujud data verbal yang berupa gaya bahasa dalam teks pidato siswa. Sumber data penelitian ini adalah teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 30 teks. Kegiatan analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan teknik triangulasi pakar, yaitu konsultasi pada dosen pembimbing. Berdasarkan analisis data pada teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang diperoleh empat hasil penelitian. Pertama, pola gaya bahasa berdasarkan pilihan kata yang digunakan dalam teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang terdiri atas pola gaya bahasa resmi, pola gaya bahasa tak resmi, dan pola gaya bahasa percakapan. Pola gaya bahasa tak resmi paling banyak digunakan siswa daripada pola gaya bahasa resmi dan pola gaya bahasa percakapan. Kedua, pola gaya bahasa berdasarkan nada yang digunakan dalam teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang terdiri atas pola gaya sederhana, pola gaya mulia dan bertenaga, dan pola gaya menengah. Pola gaya mulia dan bertenaga paling banyak digunakan siswa daripada pola gaya bahasa sederhana dan pola gaya bahasa menengah. Ketiga, pola gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yang digunakan dalam teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang terdiri atas pola gaya bahasa klimaks, pola gaya bahasa paralelisme, pola gaya bahasa repetisi, dan pola gaya bahasa antitesis. Pola gaya bahasa repetisi lebih banyak digunakan dibandingkan dengan ketiga pola gaya bahasa lainnya. Keempat, pola gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang digunakan dalam teks pidato siswa kelas X SMA Maarif Lawang terdiri atas pola gaya bahasa retoris dan pola gaya bahasa kiasan. Pola gaya bahasa retoris lebih banyak digunakan oleh siswa daripada pola gaya bahasa kiasan. Pola gaya bahasa retoris yang digunakan siswa terdiri atas aliterasi, apostrof, asindenton, polisindenton, eufimismus, litotes, prolipsis, eroteris, hiperbol, dan aksimoron. Pola gaya bahasa kiasan yang digunakan siswa terdiri atas simile, personifikasi, dan sinekdoke. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat saran yang ditujukan kepada guru Bahasa Indonesia dan peneliti lanjutan. Pertama, guru Bahasa Indonesia untuk memberikan contoh pola gaya bahasa yang lebih variatif dalam pembelajaran menulis. Selain itu, guru diharapkan untuk memberikan instruksi yang jelas dalam pemberian tugas dan memberikan penjelasan tujuan dari penugasan menulis pidato sehingga siswa dapat menggunakan pola gaya bahasa dan bahan yang sesuai dengan tujuan pidato. Kedua, peneliti lanjutan diharapkan untuk meneliti hal lain mengenai pembelajaran menulis pidato yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini, yaitu mengenai pola penugasan dalam pembelajaran menulis teks pidato.

Pembuatan gaun dengan Lipit dan Ruffles / Putri Wulandari

 

Studi pelaksanaan balok beton pada proyek penbangunan ruko dan rukan Panorama Square Jl. Ahmad Yani Utara No.99 Malang / Deni Firsta Wahyu Verdiansyah

 

STUDI PELAKSANAAN BALOK BETON PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUKO DAN RUKAN PANORAMA SQUARE JL. AHMAD YANI NO. 99 MALANG Oleh: Deni Firsta Wahyu Verdiansyah1 Ir. B. Sri Umniati, M.T.2 Abstrak : Pelaksanaan pekerjaan balok di lapangan sering kali menyimpang dari apa yang telah distandartkan dalam peraturan konstruksi. Penyimpangan ini dapat terjadi pada pelaksanaan pekerjaan bekisting, pekerjaan penulangan, pekerjaan pengecoran, pekerjaan pembongkaran bekisting, pekerjaan perawatan setelah pengecoran. Studi ini bertujuan mencocokkan pelaksanaan pekerjaan balok di lapangan sesuai dengan kajian teori, sebagai pedoman yaitu PBI dan SK-SNI-T15-1991-03 diantaranya pekerjaan bekisting, pekerjaan penulangan, pekerjaan pengecoran, pekerjaan pembongkaran bekisting dan perawatan beton setelah pengecoran. Studi ini dilakukan di proyek Pembangunan Ruko dan Rukan Panorama Square yang terletak di Jalan Ahmad Yani Utara no. 99 Malang yang dimulai dari awal maret sampai dengan akhir Juli 2008. Pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan deskriptif. Hasil studi antara lain: pekerjaan bekisting, pekerjaan pengecoran, dan pekerjaan pembongkaran yang kurang sesuai dengan standart yang ditentukan serta perawatan setelah pengecoran. Pada pekerjaan bekisting pemakaian papan multiplek dengan tebal 8 mm dan balok dukung yang terbuat dari kayu meranti dengan ukuran 5/7 dilakukan penggantian bahan-bahan material yang sudah aus. Proses pembuatan bekisting telah sesuai dengan standart yang ada. Bahan yang digunakan untuk pembuatan bekisting yaitu papan multipleks mempunyai ukuran yang sangat tipis, sehinggga rawan terjadi lendutan atau patahan pada saat terjadi proses pengecoran. Akan tetapi pada saat bekisting menjelang pengecoran, bahan pelumas yang digunakan berupa air, sehingga tidak sesuai dengan standart yang telah ditentukan. Selain itu untuk menghasilkan tebal selimut beton tidak semuanya menggunakan beton tahu, hal ini disebabkan karena beton tahu yang digunakan tidak mencukupi, sehingga diganti dengan bahan batu kerikil yang memiliki ukuran yang hampir sama. Pekerjaan pengecoran ini menggunakan beton ready mix yang dipesan dari PT. Merak Beton, sehingga pelaksanaanya berlangsung dengan cepat, karena menggunakan bantuan berupa concrete pump atau pompa beton. Untuk proses pemadatannya menggunakan vibrator. Pembongkaran bekisting di sini dilakukan setelah umur beton mencapai 1 minggu. Proses pembongkaran pertama kali dilakukan pada perancah bagian tengah, kemudian dilanjutkan dengan ke tepi kiri dan samping kanan secara berturut-berturut hingga menuju ke tumpuan balok. Kata kunci: pelaksanaan pekerjaan, balok beton.

Pembuatan busana pesta "Knitted Butterfly" / Ike Yuniarti

 

Peningkatan efisiensi leptin pada lemak viseral tikus (Rattus novergicus) obesitas dengan menbggunakan ekstrak kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.) / M. Fitri Atho'illah

 

Pembuatan busana pria dengan ornamen fiberglass / Dyah Ratri Purba

 

Implementasi pembelajaran kontekstual dalam bidang studi IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sumberkembar 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar / Devi Afidin

 

Hubungan kecerdasan intelektual (IQ) dengan kemampuan membaca kritis siswa kelas X SMAN 5 Malang tahun ajaran 2013/2014 / Faiziya Zulfa

 

Zulfa, Faiziya. 2014. Hubungan Kecerdasan Intelektual (IQ) dengan Kemampuan Membaca Kritis Siswa Kelas X SMAN 5 Malang Tahun Pelajaran 2013/2014. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd, (II) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. Kata Kunci: kecerdasan intelektual (IQ), kemampuan membaca kritis, pembelajaran membaca Kecerdasan intelektual adalah kemampuan otak dalam berpikir secara bermakna untuk memecahkan suatu masalah. Kecerdasan intelektual mencakup kemampuan mengolah angka, penguasaan kata, arti verbal, memori, bernalar, ruang/jarak, dan kecepatan perseptual. Kecerdasan intelektual atau Intelegence Quotient (IQ) seseorang dapat diketahui melalui tes psikologi. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik diduga mudah untuk mencerna informasi, informasi yang diterima dapat disimpan dan diolah pada waktu yang tepat, dan pada saat yang dibutuhkan dapat diolah dan diinformasikan kembali. Dalam kegiatan membaca tentu terdapat proses berpikir. Salah satu jenis membaca adalah membaca kritis, membaca kritis adalah kegiatan membaca yang melibatkan proses analisis dan evaluasi serta menuntut pembelajar memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap kualitas isi dan style teks yang dibaca berdasarkan kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini tentu kecerdasan intelektual berpengaruh terhadap kegiatan membaca kritis ini. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kecerdasan intelektual (IQ) siswa kelas X, kemampuan membaca kritis siswa kelas X, dan mendeskripsikan hubungan kecerdasan intelektual dengan kemampuan membaca kritis siswa kelas X. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Terdapat dua jenis data dalam penelitian ini yaitu data berupa skor IQ siswa dan nilai kemampuan membaca kritis siswa. Skor IQ diperoleh dari hasil Tes Psikologi yang telah dilakukan oleh siswa kelas X. Sedangkan, nilai kemampuan membaca kritis siswa diperoleh dari hasil tes tulis yang dilakukan pada siswa kelas X SMAN 5 Malang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 320 siswa, sedangkan sampelnya berjumlah 30 siswa. Analisis hasil penelitian menggunakan rumus Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan intelektual (IQ) dengan kemampuan membaca kritis. Koefisien korelasi dibandingkan dengan nilai rtabel. Jumlah sampel adalah 30 maka nilai rtabel sebesar 0,361. Koefisien korelasi 0,423 > 0,361. Koefisien korelasi lebih besar dari rtabel maka terdapat hubungan yang signifikan antara IQ dengan kemampuan memaca kritis. Membaca kritis merupakan salah satu kegiatan membaca yang mestinya ditingkatkan di sekolah, karena siswa yang kemampuan membaca kritisnya baik akan mudah mengikuti pelajaran yang lain. Kepada guru Bahasa Indonesia hendaknya jika membuat soal membaca kritis tidak hanya menyajikan soal yang hanya sampai tataran literal saja melainkan terdapat kegiatan menganalisis dan mengevaluasi, karena kedua keterampilan tersebut sebagai keterampilan inti yang diuji pada kegiatan membaca kritis.

Penggunaan media audio visual untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan 1 kecamatan Sukun kota Malang / Eni Arifatun Ni'mah

 

Kata Kunci: media audio visual, proses belajar, hasil belajar, IPS SD. Hakikat belajar adalah proses komunikasi menyampaikan pesan dari sumber pesan melalui perantara ke penerima pesan dalam kegiatan belajar. Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dibutuhkan alat bantu mengajar berupa media audio visual. Berdasarkan observasi pra tindakan mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan I, menunjukkan bahwa proses belajar siswa kurang aktif, minat terhadap materi pelajaran kurang dan guru minim menggunakan media pembelajaran. Permasalahan tersebut menyebabkan hasil belajar siswa rendah yaitu terdapat 15 anak (35%) mencapai KKM dan 28 anak (65%) di bawah KKM dari Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan 60. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan media audio visual dalam proses dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan I Kecamatan Sukun Kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatkan proses belajar, (3) mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif rancangan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian siswa kelas V SDN Bakalan Krajan I Kecamatan Sukun Kota Malang. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, tes dan catatan lapangan. Sumber data yaitu siswa, guru, proses dan hasil belajar. Prosedur penelitian mulai dari pra tindakan, siklus I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan media audio visual proses belajar siswa lebih efektif dan menyenangkan. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata aspek pengamatan proses belajar pra tindakan 57,56 menjadi 79,36 dan 95,35. Sedangkan hasil belajar siswa dari nilai rata-rata pra tindakan 48,14 menjadi 63,49 dan 80,93 pada siklus I, II. Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat peningkatan proses belajar sebanyak 21,80 pada siklus I dan 15,99 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa sebanyak 15,35 pada siklus I dan 17,44 pada siklus II. Jadi penerapan penggunaan media audio visual dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan I Kecamatan Sukun Kota Malang. Saran peneliti kepada kepala sekolah adalah mendukung guru yang mempunyai inovasi pembelajaran. Guru diharapkan mampu menggunakan media audio visual pada mata pelajaran lain, serta bagi peneliti lain melakukan penelitian lebih lanjut terhadap siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.

Analisis perbandingan efisiensi kinerja bank konvensional dan bank syariah dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA) tahun 2012-2014 / Irmaniar Astuti Ansori

 

ABSTRAK Ansori, Irmaniar. 2016. Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Konvensional dan Bank Syariah dengan Metode Data Envelopment Analysis(DEA)Periode 2012—2014. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Hj. Fadia Zen, S.E, M.M, (II) Lulu Nurul Istanti, S.E, M.M, Akt. Kata kunci: kinerja efisiensi, bank konvensional, bank syariah, Data Envelopment Analysis (DEA). Industri perbankan memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan perekonomian yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi dalam kegiatan perekonomian, sebagai lembaga moneter, sebagai lembaga penyelenggara sistem pembayaran dan sebagai lembaga pendorong perekonomian nasional. Oleh karena itu, penilaian kinerja efisiensi perbankan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan parametrik untuk mengukur kinerja efisiensi bank, yaitu dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Penelitian ini menggunakan variabel input total simpanan, aset tetap, biaya tenaga kerja; dan menggunakan variabel output total kredit/pembiayaan dan pendapatan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi kinerja efisiensi bank konvensional dan bank syariah di Indonesia, serta untuk mengetahui perbedaan kinerja efisiensi bank konvensional dan bank syraiah dengan menggunkan Data Envelopment Analysis (DEA) pada tahun 2012—2014. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalan 22 bank yang terdiri dari 15 bank konvensional dan 7 bank syariah. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengukur kinerja efisiensi menggunakan metode Data Envelompent Analysis, kemudian melakukan uji normalitas dan selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji beda independent t-testsample. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja efisiensi pada bank konvensional dan bank syariah melalui metode Data Envelopment Analysis (DEA). Tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan antara bank konvensional dan bank syariah adalah karena bank merupakan lembaga yang memiliki peraturan yang ketat sehingga seluruh kegiatan operasionalnya harus sesuai dengan regulasi yang sudah ditetapkan. Pada bank konvensional dan bank syariah terdapat beberapa regulasi yang sama sehingga menyebabkan kinerja efisiensi bank konvensional dan bank syariah tidak memiliki perbedaan. Akan tetapi, perbankan harus tetap mengoptimalkan input dan outpunya supaya memiliki kinerja efisiensi yang maksimal, dalam hal ini pemerintah dapat mendukungnya dengan membuat arah kebijakan yang berfokus pada peningkatan kegiatan operasional perbankan. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan sampel yang lebih banyak supaya mampu menggambarkan kinerja efisiensi perbankan nasional dan menggunakan BUKU (Bank Umum Kelompok Usaha) sebagai kriteria dalam penentuan sampel.

Pengembangan blended learning pada mata kuliah kewirausahaan di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Nugroho Susanto

 

Susanto, Nugroho; 2013. Pengembangan Blended Learning pada Mata Kuliah Kewirausahaan di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Tesis, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si., (II) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si. Kata kunci: blended learning, kewirausahaan, tatap muka, online Tantangan pedagogis pendidikan kewirausahaan adalah kompetensi kewirausahaan lebih holistik dan berorientasi psikologis daripada sekedar penguasaan materi dan keterampilan. Oleh karena itu pendidikan kewirausahaan memerlukan blended learning yang memiliki dua dimensi, yaitu dimensi metode penyampaian dan dimensi metode pembelajaran. Dimensi metode penyampaian terdiri dari pembelajaran tatap muka dan online, sedangkan dimensi metode pembelajaran terdiri dari metode tradisional dan eksperimental. Metode pembelajaran tradisional dan eksperimental telah dilaksanakan pada kelas yang diteliti yang meliputi ceramah, tanya jawab, diskusi, problem-based learning, project-based learning, kuliah tamu, dan studi lapangan. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan blended learning pada dimensi metode penyampaian yang dibatasi pada pengembangan situs web sebagai sarana pembelajaran online untuk mendukung pembelajaran tatap muka. Produk yang dihasilkan berupa (1) situs web yang memiliki fasilitas forum, chat, pesan, blog, tugas, dan tautan, serta (2) petunjuk pemanfaatan untuk dosen dan mahasiswa. Prosedur pengembangan terdiri dari 6 tahap, yaitu: (1) identifikasi masalah, (2) kajian teori dan empiris, (3) pengembangan blended learning, (4) uji validasi ahli, (5) revisi, dan (6) uji coba lapangan. Produk yang dihasilkan berupa (1) situs web sebagai bagian dari blended learning pada mata kuliah kewirausahaan dan (2) petunjuk pemanfaatan untuk dosen dan mahasiswa. Produk ini telah diujicobakan pada mata kuliah kewirausahaan Program Studi Pendidikan Administrasi dan Perkantoran di Jurusan Manajemen Universitas Negeri Malang pada semester genap tahun perkuliahan 2011-2012 dan memperoleh kualifikasi baik dengan persentase 77,1%. Sebelum diujicobakan, produk ini telah diuji validasi oleh ahli dan mendapat kualifikasi baik. Dari uji validasi oleh ahli teknologi dan media diperoleh persentase 80,3%, sedangkan dari ahli materi dan pembelajaran diperoleh persentase 83,4%. Uji coba produk ini masih dilakukan secara terbatas. Pemanfaatannya memerlukan beberapa kajian, yaitu: (1) kajian terhadap karakteristik mahasiswa, sampai sejauh mana kesiapan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran online, (2) kajian terhadap sumber daya manusia, dalam hal ini adalah kesiapan dosen pengampu dan pengelola web, dan (3) kajian terhadap ketersediaan perangkat penunjang yang berupa fasilitas internet di kampus, komputer, dan perangkat lainnya.

Improving the ability in writing hortatory exposition of the students of SMAN 12 Malang through outlining / Ana Maria

 

ABSTRACT Maria, Ana. 2008. Improving the Ability in Writing Hortatory Exposition of SMAN 12 Malang through Outlining. Thesis, Malang: English Language Education Program, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D.. Key words: writing, outlining, hortatory exposition Assisting students with written work continues to be a challenging task for today’s teachers. What to write about often becomes the first problem of a student upon hearing that he or she must submit an essay to his or her teacher. The result of the preliminary study showed that the writing score of second graders in SMAN 12 Malang were in poor level. They did not make any plan while making a composition. Moreover, the English teacher taught writing by simply assigning students to complete the missing part of a text or giving a homework to create a text based on a certain topic and then submit it in the following meeting. This implies that the teacher just emphasizes the students’ final product. This does not suit the idea of writing as a process which recognizes the importance of generating, formulating, and refining one’s ideas. Among several the widely used techniques for generating and organizing ideas before writing, implementing outlining strategy in prewriting phase can be done to overcome barriers to writing and then improve the quality of students’ writing. Thus, the research problem was formulated as follows: “How can outlining improve students’ ability in writing hortatory exposition texts in SMAN 12 Malang?” This study which was attempted to improve the ability in writing of the students of SMAN 12 Malang in generating and organizing ideas through outlining was an action research with two cycles. Each cycle consisted of planning the action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. This action research was conducted at SMAN 12 Malang which was located at Jl. Pahlawan Balearjosari. The XI-IPA 2 students of SMAN 12 Malang were chosen to be the researcher subjects because the researcher had been teaching them as a PPL teacher. Besides, they were rarely absent from school. The data of the students’ progress were taken from pretest writing, students’ writing products in Cycles 1 and 2 which were in the form of hortatory exposition texts. The students’ texts were all scored by a rater chosen by the researcher. The rater himself did not have any connection with the students. There were some procedures to be followed in implementing the outlining strategy. First, the students were introduced to the outlining strategy. Second, they were guided to brainstorm any details about a certain topic. Third, they were assigned to make outline the topic of which was based on their personal interest. Fourth, they were asked to revise their draft based on notes from the researcher or their peer. Fifth, they underwent final editing before publishing their writings. The results of this study showed that outlining strategy was effectively improving the students’ writing ability. The improvement of the students’ writing ability could be seen from the result of the students’ writing which showed that they were able to create a hortatory exposition text which had sufficient details and strong arguments that supported the thesis statements, and most of the students’ writing well served the generic structure of a hortatory exposition text. Based on the findings, it can be concluded that through the implementation of outlining strategy, the writing ability of the second grade students in SMAN 12 Malang improved. It was indicated by the fact that most of the students could achieved the “good to average” level in writing based on the scoring rubric used in this study. The mean score in terms of content improved from 2.68 (Cycle 1) to 3.39 (Cycle 2) and in terms of organization the mean score improved from 2.55 (Cycle 1) to 3.21 (Cycle 2). Both were in the interval score of 1 as the lowest and 4 as the best writing performance. In brief, the writing ability of the second graders in SMAN 12 Malang has improved, especially in content and organization. It is suggested for teachers and students to continue the use of outlining strategy in writing. For further researcher it is recommended to implement outlining strategy in teaching other types of text.

Peningkatan pembelajaran matematika melalui model open-ended siswa kelas IV SDN 1 Penjor Kabupaten Tulung agung / Yenni Ramayanti

 

Kata kunci: peningkatan, pembelajaran, model open-ended Kenyataan di lapangan, siswa kelas IV SDN 1 Penjor Kabupaten Tulungagung masih memiliki pemahaman konsep yang perkalian dan pembagian yang rendah sehingga hasil belajar matematika untuk materi KPK dan FPB masih kurang dari KKM. Dari kenyataan tersebut, maka diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagimanakah pelaksanaan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran open-ended siswa kelas IV SDN 1 Penjor Kabupaten Tulungagung?, dan (2) Apakah model pembelajaran open ended dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 1 Penjor Kabupaten Tulungagung? Metode penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif sedangkan jenis penelitian yang dipergunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawncara, tes, angket, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data yang dilakukan meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran KPK dan FPB dengan menggunakan model pembelajaran open-ended dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN 1 Penjor Kabupaten Tulungagung. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar pada pratindakan 50, siklus I 66, dan siklus II 77 . Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran KPK dan FPB melalui model pembelajaran open-ended dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN 1 Penjor Kabupaten Tulungagung, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan dan memahami model pembelajaran tersebut.

Profil pilihan karier siswa SMA Negeri 1 Tongas / Riski Putranto

 

Putranto, Riski. 2014. Profil Pilihan Karier Siswa SMA Negeri 1 Tongas. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd (II) Dr. Hj. Muslihati, S.Ag, M,Pd Kata Kunci: Pilihan Karier, Tipe Kepribadian     Penelitian profil pilihan karier ini diadakan karena peneliti menemukan fakta bahwa anak di daerah Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo dan sekitarnya belum memiliki pandangan tentang arah kariernya ke depan. Mereka masih bingung ketika ditanya mengenai kehidupan kariernya setelah lulus sekolah nantinya. Kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan-pekerjaan yang dianggap bagus atau favorit di lingkungan mereka.     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pilihan karier siswa SMA Negeri 1 Tongas. Seperti apa gambaran pilihan karier siswa SMA Negeri 1 Tongas, dilihat dari tipe kepribadiannya. Penelitian ini hanya berusaha untuk mendeskripsikan pilihan karier siswa SMA Negeri 1 Tongas.     Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian yang berusaha mendeskripsikan fakta ke dalam skala kuantitatif. Populasi dalam penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Tongas, yaitu sebanyak 258 siswa. Jumlah sampel yang akan diambil dihitung menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael. Jumlah responden adalah 133 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportional Stratified Random Sampling. Sehingga kelas yang menjadi sampel adalah kelas XA, XB, XC, XI IA 1, XI IA 2, XI IS 1, XI IS 2. Instrumen yang digunakan adalah inventori tipe kepribadian dan angket pilihan karier yang dikembangkan dari teori Holland. Teknik analisisnya menggunakan teknik analisis persentase.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe konvensional dipilih oleh siswa terbanyak yaitu pada tipe kepribadian (62 siswa) dan pilihan karier (40 siswa). Pekerjaan dengan peminat terbanyak adalah pengusaha, yaitu sebanyak 125 siswa. Tiga dari lima pekerjaan yang paling diminati adalah pekerjaan yang termasuk ke dalam tipe konvensional, yaitu pegawai kantor, pegawai bank, dan sekretaris. Tiga pekerjaan yang disebutkan di atas masuk ke dalam tipe konvensional yang artinya bahwa pilihan siswa SMA Negeri berkutat pada tipe konvensional. Sebagian besar siswa yang memiliki tipe kepribadian konvensional memilih pekerjaan tipe konvensional, meskipun ada beberapa siswa yang memilih pekerjaan pada tipe lainnya.     Dari hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi konselor dan sekolah. Bagi konselor diharapkan akan menjadi informasi yang berguna bagi pengembangan program BK di sekolah. Dengan tujuan untuk membantu siswa mengenali dirinya dan juga pekerjaan yang diminatinya. Sehingga siswa mudah dalam menentukan pilihan kariernya. Bagi sekolah diharapkan dapat menjadi sumber informasi atau data yang dapat digunakan untuk pengembangan program sekolah. Sekolah juga dapat membantu konselor dalam kaitannya dengan penyusunan program bimbingan karier. Sekolah hendaknya menjadi fasilitator dengan menyediakan berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam penyusunan program dan pelaksanaan program. Sehingga tujuan dari pelaksanaan program dapat tercapai.

Robot otomatis pemindahan kotak berbasis mikrokontroler AT89C51 / oleh Ahmad Burhan Noviaris dan Dhega Febiharsa

 

Persepsi sosial gay terhadap pelacur pria / Abdiyana Ihsan

 

ABSTRAK Ihsan, Abdiyana., 2016. Persepsi Sosial Gay terhadap Pelacur Pria. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed., (II) Drs. H. Mohammad Bisri, M. Si Kata Kunci: persepsi sosial, gay, pelacur pria Persepsi sosial merupakan kecakapan memproses pengetahuan serta proses memahami diri sendiri dan orang lain dalam upaya menetapkan, memungkinkan, meramalkan, dan mampu mengelola dunia sosialnya yang memiliki aspek kognitif dan dipengaruhi oleh faktor penerima (the perceiver), situasi (the situation) dan objek sasaran (the target). Setiap orang memiliki persepsi sosial tak terkecuali dengan Gay. Gay adalah lelaki yang mempunyai orientasi seksual terhadap sesama lelaki. Terdapat faktor situasi seksual yang sulit dibedakan oleh masyarakat antara gay dengan pelacur pria, yaitu orientasi seksual pada jenis kelamin yang sama. Pelacur pria merupakan sebuah usaha memperjual-belikan kegiatan seks di luar nikah dengan imbalan materi yang dilakukan oleh pelacur pria terhadap orang baik dari lawan jenis maupun sesama jenis. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap secara mendalam terkait persepsi sosial gay terhadap pelacur pria. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan model penelitian studi kasus fenomenologi. Peneliti melakukan observasi bertindak sebagai peneliti. Partisipan pada penelitian ini adalah lima pria gay di Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kualitatif jenis wawancara terpimpin, observasi, catatan lapangan, dan menggunakan kuisioner kualitatif. Teknik analisis data menggunakan analisis fenomenologi, yang diuraikan menggunakan tehnik inter subjek dan antar subjek. Validasi data menggunakan pengecekan anggota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi sosial gay terhadap pelacur pria adalah seorangpria yang melakukan praktik layanan hubungan seksual kepada pria dan wanita dengan orientasi uang dan kesenangan yang berasal dari latar belakang yang mapan, menjajakan diri di media sosial dan tempat tertentu, rentan terpapar penyakit seksual.

"Penggunaan buku Qira'ati dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an di TPQ Sunan Kalijaga Poncokusumo Malang" / Vivi Nur Maulidia

 

ABSTRAK Maulidia, Vivi Nur. 2008. Penggunaan Buku Qira´ati dalam Pembelajaran Membaca Al-Quran di TPQ Sunan Kalijaga Poncokusumo Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Hanik Mahliatussikah, S. Ag, M. Hum., (II) Ahmad Munjin Nasih, S. Pd, M. Ag. Kata kunci: buku Qira´ati, membaca Al-Quran, TPQ. Perkembangan pembelajaran membaca Al-Quran saat ini tidak sejalan dengan perolehan hasil survey yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia yang kurang mampu membaca Al-Quran semakin meningkat. Berbagai strategi pengajaran membaca Al-Quran terus diuji terapkan, begitu pula penggunaan berbagai buku panduan, seperti Qira´ati untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran tersebut, khususnya di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pengajaran buku Qira´ati dalam pembelajaran membaca Al-Quran disertai metode penyampaian dan pelaksanaan penilaian, dan (2) problematika dalam pembelajaran membaca Al-Quran dan upaya untuk mengatasi problematika tersebut. Penelitian ini dilakukan di TPQ Sunan Kalijaga Poncokusumo Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif. Latar penelitian ini adalah TPQ Sunan Kalijaga Poncokusumo Malang. Data dalam penelitian ini berupa fenomena pembelajaran membaca Al-Quran di TPQ dengan penggunaan buku teks Qira´ati. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumenter, observasi partisipasi pasif, dan wawancara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman wawancara dan dokumen. Analisis datanya dilakukan dengan cara: (1) identifikasi data, (2) klasifikasi dan penyaringan data, dan (3) penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan pengajaran membaca Al-Quran di TPQ Sunan Kalijaga Poncokusumo Malang dengan menggunakan buku Qira´ati disesuaikan dengan petunjuk yang ada. Untuk pelaksanaan jilid I, pembelajarannya lebih banyak memanfaatkan media peraga. Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah metode Shautiyah dengan bentuk individu dan klasikal. Standar kenaikan halaman pada buku teks Qira´ati disesuaikan dengan kebutuhan setiap materinya dan dilakukan oleh guru kelas serta dicatat dalam kartu prestasi. Untuk ujian kenaikan jilid, guru memprioritaskan beberapa poin yang harus dipenuhi oleh peserta ujian. Standar kenaikan jilid ditentukan oleh seorang guru penguji yang telah ditunjuk dan dicatat pada buku rekap besar. (2) beberapa problematika yang muncul dalam pembelajaran membaca Al-Quran di TPQ ini yaitu: (a) tidak banyaknya waktu siswa untuk mengikuti pembelajaran yang ada di TPQ, (b) keterbatasan pengajar, (c) keterbatasan sarana dan prasarana, dan (d) kurangnya kesadaran dari para orang tua murid dalam membayar syahriyah pada tiap bulannya. Sedangkan untuk upaya mengatasi hal tersebut, maka diperoleh solusi adalah (a) peningkatan kedisiplinan murid, (b) penambahan jumlah pengajar, (c) perencanaan iii penambahan gedung TPQ dan pembagian waktu pembelajaran, (d) pengadaan surat edaran pembayaran syahriyah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan: (1) pihak TPQ perlu meningkatkan pengadaan media pembelajaran, (2) pihak TPQ perlu meningkatkan kerja sama dengan pihak sekolah (SD/MI dan MTs/SMP) dan orang tua siswa untuk mengatasi kendala-kendala yang dapat menghambat proses pembelajaran di TPQ, dan (3) penelitian ini dapat dilanjutkan oleh peneliti lain dengan cara memperluas aspek kajian tentang pembelajaran membaca Al-Quran seperti kajian tentang keefektivitasan penggunaan buku Qira´ati, atau tentang perbandingan antara penggunaan buku Qira´ati dengan buku panduan pembelajaran membaca Al-Quran yang lain.

Hubungan persepsi diri dan persepsi teman mengenai bentuk tubuh dengan intensitas senam pada wanita / Norma Wijayanti

 

Kata Kunci: persepsi diri, persepsi teman, intensitas senam, wanita Wanita semakin peduli dengan penampilannya dimana tubuh yang ideal menjadi dambaan bagi para wanita. Saat ini aspek dari fisik yang paling mendapat perhatian adalah tubuh yang langsing. Keinginan untuk mengurangi berat badan terjadi tidak hanya dalam kelompok wanita yang memiliki kelebihan berat badan , tetapi juga kalangan perempuan yang berat badannya normal. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui tingkat persepsi diri dan persepsi teman mengenai bentuk tubuh serta intensitas senam pada wanita. 2) Mengetahui hubungan persepsi diri dan persepsi teman mengenai bentuk tubuh dengan intensitas pada wanita. Karakteristik populasi dalam hal ini wanita yang menjadi anggota sanggar senam, berusia 18-40 tahun dan memiliki keeratan hubungan pertemanan dengan sesama dengan anggota senam, sehingga teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Sampel penelitian ini anggota sanggar senam Khusus Wanita yang berada di Jalan Bendungan Sutami Ruko Kav I Malang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan dua skala yaitu Skala Persepsi Diri dan Persepsi Teman serta satu data presensi keikutsertaan senam selama 3 bulan. Skala persepsi teman akan diisi oleh 5 orang subjek penelitian. Teknik analisis data untuk mengungkapkan gambaran persepsi diri dan persepsi teman mengenai bentuk tubuh serta intensitas senam adalah Analisis Deskriptif, untuk mengetahui hubungan antara persepsi diri dengan intensitas senam, persepsi teman dengan intensitas senam adalah dengan analisis korelasi Product Moment, sedangkan untuk mengetahui hubungan ketiganya adalah dengan analisis korelasi Multiple Linier Regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) persepsi diri mengenai bentuk tubuh dan intensitas senam berada pada tingkatan yang sama 50% tinggi dan 50% rendah, sedangkan persepsi teman berada pada klasifikasi positif 2) Analisis korelasional Product Moment menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara pesepsi diri dan intensitas senam (rxy = -.497, p = .001<.05) dan hubungan yang negatif antara persepsi teman dengan intensitas (rxy = -.395, p = .014<.05) 3)Analisis korelasional Multiple Linier Regression menunjukkan persepsi diri mempunyai signifikansi .021 <.05 dan persepsi teman mempunyai signifikansi .235 >.05 sehingga regresi X1 dan X2 terhadap Y ternyata tidak signifikan karena α (alpha) dari X2 tidak signifikan. Penelitian ini menunjukkan persepsi teman mengenai bentuk tubuh bukan variabel independen tetapi variabel katalisator atau memperkuat hubungan antara persepsi diri mengenai bentuk tubuh dengan intensitas senam. Berdasar hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu: 1) Bagi wanita untuk tidak terpaku pada bentuk tubuh saja sebagai aspek yang diperhatikan tetapi kompetensi yang lain. 2) Bagi peneliti selanjutnya lebih memperbanyak sampel dan mengembangkan variabel. 3) Bagi sanggar senam memberikan pengarahan akan pentingnya intensitas dalam latihan senam.

Developing the syllabus for english course of industrial engineering Departement Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya / Arfan Fahmi

 

Analisis tokoh Semar wayang kulit purwa ditinjau dari asal usul dan makna simboliknya / Buntas Pradoto

 

Pradoto, Buntas. 2013. Analisis Tokoh Semar Wayang Kulit Purwa Ditinjau dari Asal-Usul dan Makna Simboliknya. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M.Sn (II) Drs. Didiek Rahmanadji Kata Kunci: tokoh Semar, asal-usul, makna simbolik.      Penelitian ini didasarkan pada pemahaman tokoh Semar tidak terdapat di dalam epos Ramayana dan Mahabarata dari India.      Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang asal-usul tokoh Semar wayang kulit purwa dan makna simbolik tokoh Semar wayang kulit purwa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subyek penelitian adalah tokoh wayang Semar. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi dan wawancara.      Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menghasilkan asal-usul tokoh Semar wayang kulit purwa yang berdasarkan dari empat aspek, yaitu asal-usul berdasarkan aspek cerita pewayangan (Naskah Purwacarita) Semar adalah putra dari Sang Hyang Tunggal dan Dewi Wiranti yang diturunkan ke bumi , asal usul berdasarkan aspek arkeologis Semar terdapat dalam Sudamala di Candi Sukuh dan Tegalwangi, asal-usul berdasarkan aspek mitologis Semar adalah penjaga pulau Jawa, asal-usul berdasarkan aspek filosofis Semar adalah pamong. Serta makna simbolik tokoh Semar wayang kulit purwa yang dijabarkan sebagai berikut (1) Makna simbolik bentuk anatomi tokoh Semar yang terdiri dari: Bentuk rambut kuncung bermakna kekanak-kanakan, mata berbentuk rembesan bermakna suka dan duka, hidung berbentuk nemlik bermakna tanggap, mulut berbentuk cablek bermakna mengajarkan kebaikan, tubuh berbentuk bulat bermakna bumi, tangan kanan berbentuk nuding dengan keroncong binggel bermakna menunjukan kebenaran, tangan kiri berbentuk merdeka dengan keroncong binggel bermakna terbuka, kaki berbentuk janma tanpa keroncong binggel bermakna manunggalnya bawahan dan atasan. (2) Makna simbolik bentuk atribut tokoh Semar yang terdiri dari: Bentuk anting srunen kembang dilengkapi mas mas pucuk inten, kalung srunen kembang tanjung, gelang binggel, uncal wastra, sabuk rangkap, dan dodot bermotif kawung. Berdasarkan hasil analisis tokoh Semar wayang kulit purwa ditinjau dari asal-usul dan makna simboliknya. Disarankan kepada: Kepada penulis, diharapkan penelitian ini memberikan pengalaman yang bermanfaat kepada penulis sehingga ketika terdapat suatu masalah yang sejenis peneliti dapat melakukan penelitian sesuai dengan prosedur serta memberikan pengetahuan kepada penulis bahwa wayang bukan hanya memiliki unsur seni, namun juga memiliki makna simbolik. Peneliti lain, diadakan lagi penelitian yang sejenis dengan objek yang berbeda, apabila ingin melakukan penelitian yang sejenis dengan objek atau subjek yang berbeda, skripsi ini bisa digunakan sebagai referensi dan perbandingan yang nantinya dapat dikembangkan lagi untuk lebih baik.

Hubungan partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) dan prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA di SMA Negeri se-kota Malang / Heni Setyawati Indahsari

 

ABSTRAK Indahsari, Heni Setyawati. 2008. Hubungan Antara Partisipasi Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPA di SMA Negeri Se-Kota Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Mursyid Widjanarko., (2) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd. Kata Kunci: Partisipasi dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR), Prestasi Belajar Siswa Partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler KIR sangat penting untuk kemajuan kegiatan tersebut, disamping itu kegiatan Ekstrakurikuler KIR juga sangat bermanfaat bagi siswa dalam mengembangkan daya pikir yang dimiliki terutama dalam bidang IPA. Akan tetapi kita juga harus memperhatikan bagaimana prestasi belajar siswa ketika mereka aktif dalam suatu kegiatan. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan, yaitu untuk mengetahui tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan tingkat prestasi belajar siswa dalam bidang IPA pada SMA Negeri Se-Kota Malang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:(1) seberapa tinggi tingkat partisipasi siswa kelas XI IPA dalam kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di SMA Negeri Se-Kota Malang, (2) seberapa tinggi tingkat prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR di SMA Negeri Se-Kota Malang, (3) adakah hubungan antara partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler KIR dan prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA di SMA Negeri Se-Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tinggi tingkat partisipasi siswa kelas XI IPA dalam kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di SMA Negeri Se-Kota Malang, (2) tingkat prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR di SMA Negeri Se-Kota Malang, (3) hubungan antara partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler KIR dan prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA di SMA Negeri Se-Kota Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan dua variabel, yaitu variabel bebas partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler karya ilmiah remaja(KIR) (X) dan variabel terikat prestasi belajar siswa bidang IPA (Y). Populasi dalam penelitian ini berjumlah 289 (dua ratus delapan puluh sembilan) orang dan jumlah sampelnya 168 (seratus enam puluh delapan) orang. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan propotional random sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif dan teknik analisis korelasi product moment pearson. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer yaitu program SPSS 12.00 for windows. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu (1) tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di SMA Negeri Se-Kota Malang termasuk pada kualifikasi tinggi, (2) tingkat prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA di SMA Negeri Se-Kota Malang termasuk pada kualifikasi tinggi, (3) terdapat hubungan antara partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) dan prestasi belajar bidang IPA siswa kelas XI IPA di SMA Negeri Se-Kota Malang dengan r sebesar 0,438 (nol koma empat ratus tiga puluh delapan). Dari kesimpulan tersebut disarankan kepada pihak sekolah agar tetap memperhatikan partisipasi siswa dalam kegiatan KIR kalau perlu menjadikan ekstrakurikuler KIR sebagai kegiatan wajib yang harus diikuti dan pihak sekolah harus tetap memjantau prestasi belajar siswa. Bagi siswa sebaiknya siswa dapat memilih kegiatan yang bermanfaat bagi kemajuan belajarnya dan siswa juga harus tetap memperhatikan prestasi belajarnya agar keduanya dapart berjalan seimbang.

Perkembangan kerajinan kursi bambu di Desa Mojogebang Mojokerto 1992-2012 / Ilmi Mufidah Ovi Nurjanah

 

Nurjanah, Ilmi. M. O. 2014. Perkembangan Kerajinan Kursi Bambu di Desa Mojogebang Mojokerto 1992-2012. Skripsi. Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1. Drs. Nur Hadi, M.Pd, M.Si, 2. Drs. Marsudi, M.Hum Kata Kunci: Kelompok Usaha Kursi Bambu “Madona Bambu”, Masyarakat Desa Mojogebang Mojokerto    Dusun Gebangperut merupakan tempat berkembangnya kelompok usaha kursi bambu “Madona Bambu”. Awal mulainya yaitu tahun 1992. Usaha yang berkembang puluhan tahun ini telah berhasil memberikan banyak keuntungan kepada pemilik maupun pengrajin kursi bambu. Penulis tertarik meneliti kelompok usaha kursi bambu ini karena memiliki peranan penting dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun sosial bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Mojogebang.    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana sejarah berdirinya kerajinan kursi bambu Dusun Gebangperut Desa Mojogebang 1992. (2) bagaimanakah perkembangan kelompok usaha “Madona Bambu” Dusun Gebangperut Desa Mojogebang Mojokerto 1992-2012. (3) bagaimanakah dampak yang diberikan kelompok usaha “Madona Bambu” terhadap masyarakat Desa Mojogebang.    Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah terdiri dari lima tahap yaitu (1) pemilihan topik (2) heuristik yaitu tahapan untuk pengumpulan data baik primer maupun sekunder, (3) kritik sumber atau verifikasi tahapan untuk menguji keabsahan sumber yang diperoleh, (4) Interpretasi merupakan penggambaran data dan informasi yang sudah diolah agar mudah dipahami, (5) Historiografi tahapan dalam penyajian data penelitian secara sistematis.    Hasil penelitian ini adalah (1) pencetus ide untuk membuat kursi dengan bahan baku bambu adalah Bapak Anam, sedangkan keluarga pertama yang memiliki usaha ini adalah Keluarga Bapak Hamzah yang dibuka tahun 1992. Usaha yang dilakukan oleh Bapak Hamzah pada awalnya mengalami kesulitan pada bahan utamanya, karena bambu yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kursi tidak tersedia di Desa Mojogebang, bambu bisanya didapatkan di Kediri, Mojoagung. Pada saat itu Bapak Hamzah melakukan pemasaran dengan cara mengelilingi desa membawa contoh kursi bambu.    (2) Perkembangan kerajinan kursi bambu ini bermula dari Bapak Subekan, Bapak Kemal, Bapak Sugio dan Ibu Nasiatin. Adanya krisis moneter pada tahun 1998 menyebabkan proses produksi kursi bambu mengalami kemacetan, hingga mereka membentuk kelompok usaha kursi bambu “Madona Bambu”. Mereka melakukan produksi dengan menggunakan modal sendiri. Pada tahun 2008 kelompok usaha ini mendapatkan bantuan modal dari Bank BRI. Pada tahun 2009 bantuan tersebut ditarik kembali karena dianggap sudah bisa mengembangkan usahanya sendiri. Tahun 2011 kelompok usaha ini sudah mulai mengikuti pameran kerajinan mebel di GOR A. Yani Mojokerto untuk mengenalkan kerajinan mereka kepada masyarakat. Sehingga penjualan kursi bambu mengalami peningkatan.    (3) Dampak yang diberikan kelompok usaha kursi bambu “Madona Bambu” adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Selain dalam bidang ekonomi, usaha kursi bambu ini juga memberikan dampak dalam bidang pendidikan. Dengan adanya kelompok usaha ini para pemilik bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.    Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat membahas mengenai usaha kelompok kursi bambu yang lainnya di Kabupaten Mojokerto. Usaha kelompok kursi bambu tersebut di Mojotamping Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto.

Pengaruh variasi doping alumunium dan suhu pemanasan terhadap dielektrisitas dan kekerasan ilmenit alam dengan metode high energy milling (HEM) / Akhmad Athar Lutfi

 

Kata Kunci : HEM , dielektrisitas, kekerasan, suhu pemanasan, ilmenit Ilmenit adalah besi titananat yang memiliki komposisi FeO.TiO2 dengan formula FeTiO3. Kristal ilmenit pertama kali diteliti di pegunungan Ilmen di negara Rusia, dan dari istilah nama ilmenit diperoleh. Titanium merupakan peringkat ke 9 dari mineral yang melimpah di bumi, Ilmenit termasuk dalam klas: oxide dan hydroxide, grup: hematite, subgrup: ilmenite. Hematit, ilmenit, and corundum memiliki struktur yang sama dan termasuk di dalam grup hematite dengan rumus umum A2O3. Secara teori ilmenit mengandung 31.6% titanium (setara dengan 52.67% TiO2), 36.8% besi dan oksigen yang seimbang. Magnesium, seng, dan mangan dapat menggantikan posisi Fe dalam struktur ilmenit. Ilmenit adalah salah satu mineral yang digunakan untuk bijih titanium dan besi. Titanium yang dihasilkan dari ilmenit digunakan untuk industri logam, baja, logam campuran, rangka mobil dan pesawat. Telah disintesis material ilmenit alam dari Bangka menggunakan metode HEM yang didoping dengan logam Aluminium. HEM yang digunakan mempunyai putaran 1200 rpm dan frekuensi 40.8 Hz. Komposisi kandungan Aluminium yang digunakan adalah 3%, 5%, dan 7%. Lama waktu penggerusan HEM selama 5 jam dengan variasi suhu pemanasan 600, 800, 1000 oC. Sampel yang analisis berbentuk pelet yang dikompaksi dengan tekanan 90 kgf. Uji keras yang digunakan adalah Vickers Hardness Testing dengan ujung indenter berbentuk piramida, beban yang digunakan 0.2 kg. Dari hasil uji keras diperoleh hasil bahwa pada suhu 600 oC nilai kekerasan mengalami kenaikan mulai dari komposisi 3% sampai 7%. Pada suhu 800 oC nilai kekerasan mengalami peningkatan. Tetapi pada suhu 1000 oC, komposisi 3% memiliki nilai kekerasan tertinggi dari suhu yang lain dan pada komposisi 5% dan 7% mengalami penurunan. Dielektriritas ilmenit yang didoping Al mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya komposisi doping Al. Analisis fase menggunakan High Score Plus menunjukan bahwa setelah digerus menggunakan HEM banyak fase baru yang muncul. HEM dapat memecah fase ilmenit menjadi paling sedikit 5 fase baru.

Students' opinions toward the application of peer response method / Fatimatuzzahroh

 

ABSTRACT Fatimatuzzahroh, 2008. Students’ Opinions toward the Application of Peer Response Method. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: (I) Dra. Utami Widiati M.A., Ph.D., (II) Dra. Sri Widayati M.Ed. Keywords: teaching writing, process approach, peer response method. The teaching of writing, which was once concerned with the final product of writing, has shifted the concern into the writers’ composing process (Hairston in Furaidah, 1997: 66). Before the process approach emerged, writing was centered on students’ final product and the grade was based on how much students’ product imitate the given model. Meanwhile, the process approach views writing as a process. The process itself is divided into 4 stages; prewriting, writing, rewriting, and post writing. On the rewriting process, students rewrite or revise their initial writing on the base of feedback from their peers. One of the most celebrated methods of revising is peer response method. Peer response method is a method of revising a composition, in which students share their writing and then take and give feedback to one another to improve their writing, so before students’ writing is submitted and graded, students can work in pairs or in groups revising each others’ work. This study was conducted to describe students’ opinions toward the application of peer response method in writing class at the English Department of State University of Malang. There were two variables included in this study, namely students’ opinions toward the application of peer response method in improving their writing, and students’ expectation from the method to improve the quality of their writing class. The subjects of this study were the students of English Department, State University of Malang who were taking Writing I, with 19 students majoring in English Education, academic year of 2007/2008. This study employed a descriptive-qualitative design. The questionnaires were the instrument used to collect the data needed. The data were then classified by using the concept of simple percentage to gain students’ opinions concerning the two variables stated above. The findings of this study are as follows. The data show that most of the students agree that peer response method helps them improve their writing in terms of language use (vocabulary and grammar), organization, and content. It is also found that students favor the method and suggest that peer response method is applied to all writing classes. The positive tendency gained from this study implied that there is a growing appreciation toward the application of peer response method. Therefore, it is recommended to the teachers of writing and students enrolling writing to apply the method.

Pengembangan media pembelajaran dengan menggunakan program Adobe Flash pada mata pelajaran akuntansi pokok bahasan penilaian persediaan dan perhitungan harga pokok penjualan untuk siswa SMA / Egar Tri Hanggarayana

 

Hanggarayana, Egar Tri. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran dengan Menggunakan Program Adobe Flash pada Mata Pelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Penilaian Persediaan dan Perhitungan Harga Pokok Penjualan Untuk Siswa SMA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Tuhardjo, SE, M.Si, Ak, Pembimbing (II) Triadi Agung Sudarto, SE, M.Si, Ak. Kata Kunci: Media Pembelajaran, Adobe Flash, Persediaan, Harga Pokok Penjualan Guru sering dihadapkan pada situasi dimana siswa merasa jenuh atau kurang termotivasi mengikuti kegiatan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran akuntansi materi penilaian persediaan dan perhitungan harga pokok penjualan, sehingga siswa akan kesulitan untuk menerima materi yang di sampaikan guru. Dari observasi yang dilakukan penulis atau pengembang media di SMAN 1 Sambelia, siswa lebih tertarik atau termotivasi pada media yang menampilkan visualisasi yang menarik. Pada materi penilaian persediaan dan perhitingan harga pokok penjualan dibuat dalam bentuk satu media pembelajaran yang dapat menampilkan visualisasi mengunakan program Adobe Flash. Pengembangan media Adobe Flash ini diharapkan proses pembelajaran akan lebih menarik, efektif, dan efisien. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran Adobe Flash untuk mata pelajaran akuntansi pokok bahasan penilaian persediaan dan penghitungan harga pokok penjualan. Pengembangan ini menggunakan model Pengembangan Sadiman dengan tahapan-tahapan meliputi: 1) tahap analisis materi; 2) tahap pengembangan sinopsis; 3) tahap penyusunan naskah; 4) tahap produksi media; 5) tahap validasi media; 6) tahap test/uji coba; 7)tahap evaluasi dan revisi media; 8) tahap akhir. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli media, ahli materi dan responden uji coba. Sedangkan metode analisis data menggunakan metode deskriptif prosentase dengan mengubah data kuantitatif menjadi persentase. Hasil pengembangan secara keseluruhan, hasil validasi ahli materi memiliki sekor 26 dengan tingkat kelayakan 86% sehingga berdasarkan kriteria kelayakan, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yang di kembangkan layhak/tidak revisi. Hasil validasi ahli media memiliki sekor 23 dengan tingkat kelayakan 76% sehingga berdasarkan keriteria kelayakan sapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan layak/tidak revisi. Hasil uji coba media memiliki sekor 1274 dengan tingkat kelayakan 87% sehingga berdasarkan criteria kelayakan prodak dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yang di kembangkan layak/tidak revisi dan tidak dilakukan uji coba ulang. Revisi yang di lakukan yaitu perbaikan tombol yang tidak berfungsi, penulisan kata yang masih salah, perbaikan materi dan suara/audio.

English as a medium of instruction used by mathematics and science teachers at a pre-international standart Senior High School / Reli Handayani

 

Tesis Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd and (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo , M.A., M.Pd Key words: English as a medium of instruction, Mathematics and Science teaching, SMAN 3 Malang. In the implementation of International Standard School Program, many criticisms and problems occur related to the use of English as a medium of instruction (EMI). This study is then focused on describing the use of English as a medium of instruction at Pre-International Standard Senior High School 3 Malang. It includes the proportion of English used, pedagogical purposes of English used, and bilingualism features. The study is a descriptive case study with a qualitative research design. The subjects of the study are Mathematics and Science teachers of SMAN 3 Malang. Observation is the technique of data collection applied in this study. The data of this study are in the form of English words, phrases, and sentences produced by Mathematics and Science (Biology, Physics, and Chemistry) teachers. The first finding of the study shows that the proportion of English used as a medium of instruction in SMAN 3 has not fulfilled the main characteristics of Pre-International Standard Senior High. It happens since SMAN 3 in its fifth year of the program implementation has not applied 100 % English as a medium of instruction. The average percentage of English used by the Mathematics, Biology, Chemistry, and Physics teacher is 54.7 %, 43.53 %, 33.42 %, and 26.33 %. There are some factors that determine the proportion of English used by each teacher. They are level of topic difficulty, students’ background of English, class size, teacher’s confidence, and length of teaching experience. The second finding of this study is that Mathematics, Biology and Chemistry teacher employ English for all pedagogical purposes. They are: organization, interrogation, explanation, and interaction that can be further categorized into giving instruction, sequencing, supervision, asking question, replying to question, metalanguage, reference, affective attitudes, and social ritual. Meanwhile, Physics teacher uses English for all pedagogical purposes, except, supervision and affective attitudes. The third finding related to bilingualism features is that interference, borrowing, mixing, and code switching are found in Mathematics and Science teachers’ language. From this research, some suggestions can be given to Mathematics and Science teachers in Pre-International Standard School in Indonesia, school management and policy makers of Pre-International Standard School Program, and the future researchers in the same field of study. First, Mathematics and Science teachers in Pre-International Standard School should aware of the effective teachers’ classroom instruction and improve their delivery skill in the classroom by joining practical and intensive English training in local, regional and international level. Second, policy makers of Pre-International Standard maker should create policies and incentives to attract and encourage the teachers in developing the skills required. Third, for school management of Pre-International Standard School, it is suggested to hold periodically bilingual teaching experience sharing session and support the policy makers in terms of developing teachers’ performance. Fourth, the future researchers may enlarge the investigation to broader areas with survey design or relate the effectiveness of teachers’ instruction and interactional norms in bilingual classroom with the level of students’ achievement with correlation design. In short, the suggested future research is significant to find out whether RSBI program which involves two kinds of instructions is effective to improve the quality of Indonesian’ school graduates or not.

Pengaruh penggunaan busi iridium terhadap kadar emisi gas buang Co dan Hc pada mesin 4 tak / M. Firmandiansyah

 

ABSTRAK Firmandiansyah, Mochammad. 2008. Pengaruh Penggunaan Busi Iridium Terhadap Kadar Emisi Gas Buang CO Dan HC Pada Mesin 4 Tak . Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.H. Agus Sholah, M.Pd.. (II) Sukarni, S.T., M.T. Kata Kunci: pengaruh busi iridium, emisi gas buang, mesin 4 tak. Busi merupakan salah satu bagian dalam sistem pengapian mesin. Busi berfungsi sebagai pemercik bunga api di ruang bakar. Percikan bunga api membakar campuran udara bahan bakar dalam silinder. Percikan bunga api dan campuran udara bahan bakar dapat mempengaruhi kadar emisi gas buang. Busi iridium dipilih karena memiliki 3 keunggulan yaitu ultra-fine electrode, U-Groove technology, dan tapered cut. Ketiga teknologi pada busi iridium tersebut mempengaruhi dalam proses pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh penggunaan busi standart dan busi iridium yang signifikan pada mesin 4 tak dalam menghasilkan kadar emisi gas buang CO dan HC dengan variasi putaran mesin 1500, 4000, dan 7000 rpm. (2) Mengetahui ada interaksi yang signifikan antara busi standart, busi iridium, dan variasi putaran mesin 1500, 4000, dan 7000 rpm terhadap kadar emisi gas buang CO dan HC pada mesin 4 tak. Busi yang digunakan adalah busi standart Honda yaitu Denso U22FSU dan busi iridium Denso IUF22 untuk mesin 4 tak 100 cc. Perbedaan yang utama dari keduanya adalah inti elektroda tengah dan bentuk elektroda netral. Sedangkan putaran mesin yang digunakan adalah untuk putaran rendah diwakili oleh putaran 1500 rpm, untuk putaran menengah diwakili oleh putaran 4000 rpm, dan untuk putaran tinggi diwakili oleh putaran 7000 rpm. Penelitian untuk kadar emisi gas buang dilaksanakan di laboratorium Suzuki Universitas Negeri Malang, Jl. Surabaya No 6 Malang, pada tanggal 22 Mei 2008. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah Anava dua jalan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh penggunaan busi standart dan busi iridium yang signifikan pada mesin 4 tak dalam menghasilkan kadar emisi gas buang CO dan HC dengan variasi putaran mesin 1500, 4000, dan 7000 rpm. (2) Terdapat interaksi yang signifikan antara busi standart dan busi iridium dengan putaran mesin 1500 rpm, 4000 rpm, dan 7000 rpm terhadap produksi gas CO dan HC pada mesin 4 tak. Pada penggunaannya, pada putaran 4000 dan 7000 rpm busi iridium menghasilkan kadar gas CO dapat yang lebih rendah dari busi standart. Sedangkan untuk gas HC busi standart dapat menghasilkan kadar yang lebih rendah dari busi iridium pada putaran 4000 rpm dan 7000 rpm. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan cc sepeda mesin yang berbeda dan putaran mesin yang digunakan lebih bervariasi agar mengetahui perbedaan emisi gas buang yang dihasilkan pada sepeda motor.

Pengaruh sikap tentang profesi guru, kesejahteraan guru, pengembangan diri berkelanjutan dan kepuasan kerja terhadap kinerja guru SMK (studi pada guru SMK Negeri Bisnis dan Manajemen pasca sertifikasi di eks Karesidenan Surakarta) / Tri Murwaningsih

 

Murwaningsih, Tri, 2013. Pengaruh Sikap tentang Profesi guru, Kesejahteraan Guru, Pengembangan Diri Berkelanjutan dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Guru SMK. (Studi Pada Guru SMK Negeri Bisnis dan Manajemen Pasca Sertifikasi Di Eks. Karesidenan Surakarta. Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahjoedi M.E. (2) Dr. Hari Wahyono, MPd., (3) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto MSi., M.Ed. Kata Kunci: sikap tentang profesi guru, kesejahteraan guru, pengembangan diri berkelanjutan, kepuasan kerja dan kinerja guru. Dalam menghadapi era globalisasi yang semakin kompetitif, semua sektor ditantang untuk menyelenggarakan kegiatan yang bermutu, termasuk sektor pendidikan. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan khususnya di Indonesia, antara lain mutu pendidikan yang belum maksimal. Dalam penyelenggaraan pendidikan, faktor guru menjadi faktor penting karena peran yang dilaksanakan berhubungan langsung dengan kualitas lulusan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk lebih meningkatkan peran guru, salah satunya adalah dengan program sertifikasi dengan tujuan meningkatkan kinerja guru. Beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja, antara lain kepuasan kerja, pengembangan diri berkelanjutan, kesejahteraan guru dan sikap tentang profesi guru. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh antar faktor-faktor kinerja guru, baik pengaruh langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional, jumlah populasi 222 guru, jumlah sampel 155 orang dengan teknik pengambilan sampel Stratified and proportional random sampling. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan teknik analisis dengan Structural Equation Model (SEM) Hasil penelitian menemukan, 1). Sikap tentang profesi guru berpengaruh langsung dan signifikan terhadap kesejahteraan guru dan tidak berpengaruh terhadap pengembangan diri berkelanjutan, kepuasan kerja dan kinerja. Namun sikap tentang profesi guru berpengaruh tidak langsung terhadap kepuasan kerja guru dengan mediasi kesejahteraan guru dan sikap tentang profesi guru berpengaruh tidak langsung terhadap pengembangan diri berkelanjutan dengan mediasi kesejahteraan guru, 2). Kesejahteraan guru berpengaruh langsung dan signifikan terhadap pengembangan diri berkelanjutan dan kepuasan kerja guru. Namun kesejahteraan guru berpengaruh tidak langsung terhadap kinerja guru dimediasi pengembangan diri berkelanjutan, 3). Pengembangan diri berkelanjutan berpengaruh langsung dan signifikan terhadap kinerja guru dan tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja 4). Kepuasan kerja guru tidak berpengaruh terhadap kinerja guru. Saran dalam penelitian ini, pertama diharapkan pemerintah membuat dan melaksanakan model pengembangan kompetensi guru yang sesuai dengan kondisi guru yang ada sekarang ini karena kinerja guru ternyata dipengaruhi oleh pengembangan diri berkelanjutan. Kedua, pemerintah daerah, diharapkan dapat membuat pemetaan pengembangan diri bagi guru dan melaksanakan kegiatan- kegiatan yang aplikatif untuk peningkatan kinerja guru. Ketiga, bagi LPTK, diharapkan dapat meningkatkan softskills dan hardskills bagi mahasiswa melalui proses pembelajaran yang dilakukan. Keempat, bagi kepala sekolah, dapat membuat jadwal pembelajaran dengan memberi kesempatan bagi guru untuk melaksanakan pengembangan diri. Kelima, bagi guru, guru harus melakukan pengembangan diri berkelanjutan melalui keikutsertaannya dalam kegiatan diklat, kegiatan kolektif guru dan kegiatan ilmiah agar kompetensinya lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kinerja. Adapun rekomendasi dalam penelitian adalah penelitian ini hanya terbatas pada kinerja guru Produktif Bidang Bisnis dan Manajemen SMK yang dipengaruhi oleh sikap tentang profesi guru, kesejahteraan guru, pengembangan diri berkelanjutan dan kepuasan kerja. Untuk peneliti selanjutnya dapat dilakukan penelitian untuk guru-guru Sekolah Menengah Atas bahkan untuk dosen di Perguruan Tinggi dengan memfokuskan pengaruh kinerja dengan hasil belajar siswa/mahasiswa atau pengaruh perilaku guru/dosen setelah mendapatkan tunjangan profesi. Penelitian lanjut juga dapat dilakukan dengan menggunakan variabel yang berbeda, yaitu kepemimpinan, lingkungan kerja dan beban kerja guru.

Pengembangan media pembelajaran dalam bentuk trainer praktikum elektronika analog di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Andi Lukito

 

Lukito, Andi. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Dalam Bentuk Trainer Praktikum Elektronika Analog Di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwasono, M.T. (II) Drs. Puger Honggowiyono, M.T. Kata kunci: trainer praktikum, projectboard, elektronika analog Elektronika analog merupakan mata kuliah yang membelajarkan dasar dari sistem analog yang berhubungan komponen-komponen aktif dioda, transistor yang terdiri dari BJT (Bipolar Junction Transistor) dan UJT (Unipolar Junction Transistor), dan Operasional Amplifier. Tujuan pengembangan media pembelajaran elektronika analog berupa trainer praktikum untuk menguatkan konsep dasar pada pembelajaran teori yang didasarkan pada satuan acara perkuliahan elektronika analog sehingga penerapan teori menuju praktikum dapat terlaksana. Model pengembangan media pembelajaran berupa trainer praktikum mengunakan modifikasi dari model pengembangan Borg & Gall yang disesuaikan dengan kondisi pengalaman lapangan. Langkah-langkah penelitian media pembelajaran. Mengembangan media yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan katalog Jurusan Teknik Elektro. Melakukan validasi produk pada ahli media dan ahli materi untuk mengetahui kelayakan dari desain dan produk. Melakukan uji coba produk pada mahasiswa Jurusan teknik Elektro dengan uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar untuk mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran praktikum elektronika analog. Berdasarkan hasil validasi nilai yang diberikan oleh ahli materi dan ahli media serta uji coba yang dilakukan pada subyek coba yaitu mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, diperoleh presentase dari tiap-tiap subyek coba. Pada ahli media, diperoleh presentase sebesar 90,17%. Pada ahli materi, diperoleh presentase sebesar 85,83%. Pada kelompok kecil, diperoleh presentase sebesar 88,86%. Pada kelompok besar, diperoleh presentase sebesar 91,13%. Kesimpulan yang dapat ditarik dari nilai validasi dan uji coba pengembangan modul ajar elektronika analog untuk mahasiswa jurusan teknik elektro ini layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran TGT (Team game tournament) untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi kelipatan persekutuan terkecil dan faktor persekutuan terbesar pada siswa kelas IV SD Tambakrejo 02 Kabupaten Blitar / Angga Rendi Eva Permana

 

Kata kunci : Hasil Belajar, KPK dan FPB, TGT Proses pembelajaran matematika di SDN Tambakrejo 02 yang selama ini digunakan oleh guru adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif dan tidak bisa menyampaikan gagasannya, (2) guru tidak menggunakan media dalam pembelajaran., (3) siswa yang ramai di dalam kelas masih cukup banyak dan kurang mendapat perhatian dari guru, (4) siswa sangat jarang bertanya pada guru mengenai materi yang belum mereka pahami, dan (5) guru kurang memberikan bimbingan pada siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model TGT pada materi KPK dan FPB kelas IV SDN Tambakrejo 02 Kabupaten Blitar dan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika dengan menerapkan pembelajaran Model TGT pada materi penyelesaian masalah KPK dan FPB Kelas IV SDN Tambakrejo 02 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Tambakrejo 02 dengan jumlah siswa 30 anak. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : (1) observasi,(2) angket, (3) domentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model TGT (Team Game Tournament) pada mata pelajaran matematika tentang penyelesaian masalah yang berkaitan dengan FPB dan KPK pada siswa kelas IV SDN Tambak Rejo 02 dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata setiap siklusnya mengalami peningkatan. Presentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan sebesar 36,7 %. pada siklus I 65 % dan siklus II adalah 70 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan model TGT terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran matematika. Serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Matematika. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah kepada guru kelasIV SDN Tambak Rejo 02 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar untuk menggunakan pembelajaran kooperatif model TGT dalam pembelajaran Matematika khususnya pada materi KPK dan FPB agar hasil belajar siswa meningkat dan lebih optimal.

Analisis penggunaan piranti kohesi pada karangan argumentasi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang / Dwi Fatmalasari

 

Fatmalasari, Dwi. 2013. Analisis Penggunaan Piranti Kohesi pada Karangan Argumentasi Siswa Kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo Hs, M.Pd, (II) Dr. Sunaryo HS., S.H., M.Hum. Kata Kunci: Analisis piranti kohesi, karangan argumentasi Menulis merupakan salah satu cara berkomunikasi untuk menyampaikan informasi, gagasan, dan pesan dari penulis kepada pembaca. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi dibandingkan berbicara, menyimak, dan membaca. Hal tersebut dikarenakan perlunya pengorganisasian gagasan yang baik untuk memperoleh keterpautan antarkalimat dan paragraf dalam kesatuan wacana. Keterpautan dan kesatuan tersebut dapat diamati dari penggunaan piranti kohesi dalam wacana. Salah satu wacana yang dapat menunjukkan penggunaan piranti kohesi dalam komposisinya adalah karangan argumentatif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk piranti kohesi yang digunakan dalam karangan argumentasi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang. Jenis penelitin ini adalah kualitatif deskriptif. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan penelitian. Sumber data dalam penelitian berasal dari 30 karangan argumentasi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menjelaskan fokus penelitian dan menjawab rumusan masalah penelitian. Fokus penelitian adalah penggunaan piranti kohesi pada karangan argumentasi, sedangkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja bentuk, jenis, dan ketepatan penggunaan piranti kohesi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang. Bentuk piranti kohesi yang digunakan dalam karangan argumentasi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang, yaitu gramatikal dan leksikal. Bentuk piranti kohesi gramatikal pada karangan argumentasi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang menunjukkan penggunaan jenis referensi endofora, elipsis, subtitusi, dan konjungsi. Pertama, referensi endofora tersebut dibedakan berdasarkan jarak acu antesedennya, sehingga menunjukkan penggunaan referensi endofora anafora dan katafora. Lebih lanjut, referensi endofora anafora menunjukkan penggunaan pronomina persona, demonstrativa, dan komparatif, sedangkan referensi endofora katafora menunjukkan penggunaan pronomina demonstrativa dan komparatif. Kedua, elipsis pada karangan argumentasi siswa ditemukan pelesapan pada subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Ketiga, subtitusi yang ditemukan, yaitu penyulihan dengan demonstrativa dan bilangan lanjutan. Keempat, konjungsi dibedakan penggunaannya pada intrakalimat dan antarkalimat, sehingga ditemukan penggunaan 19 konjungsi intrakalimat dan 15 konjungsi antarkalimat yang dibedakan berdasarkan fungsi dan posisinya dalam karangan argumentasi siswa kelas X-2 SMA Negeri 4 Malang. Selanjutnya, bentuk piranti kohesi leksikal yang digunakan siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang adalah jenis reiterasi. Jenis reiterasi dalam karangan argumentasi siswa dibedakan lagi berdasarkan bentuknya dalam wacana, yaitu repetisi penuh, repetisi dengan pengimbuhan, dan repetisi dengan penggantian. Masing-masing jenis piranti kohesi gramatikal dan leksikal dianalisis ketepatan penggunaannya untuk menjawab rumusan masalah ketiga dalam penelitian ini. Digunakan indikator ketepatan untuk menentukan ketepatan penggunaan jenis piranti kohesi gramatikal dan leksikal yang ditemukan dalam karangan argumentasi siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang. Setiap jenis piranti kohesi gramatikal dan leksikal tersebut memunyai indikator yang dilihat dari fungsi, posisi, aturan, dan konteks penggunaan. Bentuk piranti kohesi gramatikal ditemukan ketidaktepatan pada jenis referensi endofora anafora dan katafora, subtitusi, dan konjungsi. Namun, pada elipsis tidak ditentukan ketidaktepatannya dikarenakan elipsis adalah kepekaan pembaca untuk mengetahui konteks dan tindak komunikatif siswa kelas X-2 di SMA Negeri 4 Malang dalam karangan argumentasinya. Selanjutnya, jenis piranti kohesi leksikal juga menunjukkan ketidaktepatan penggunaan pada reiterasi dengan penggantian. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat saran yang ditujukan kepada dua pihak. Pertama, peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti penggunaan piranti kohesi pada jenis karangan yang lain, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan persuasif. Peneliti selanjutnya juga perlu memfokuskan penelitian pada satu penggunaan bentuk piranti kohesi untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal. Kedua, diharapkan siswa dapat menulis argumentasi dengan memperhatikan kriteria karangan argumentasi yang baik dan memperhatikan penggunaan piranti kohesi dalam karangan. Hal tersebut penting diperhatikan untuk memperoleh keberkualitasan karangan argumentasi.  

Perbandingan regresi linier sederhana dan garis resisten pada data yang mengandung pencilan / Noer Fadjeriyah

 

ABSTRAK Fadjeriyah, Noer. 2008. Perbandingan Regresi Linier Sederhana dan Garis Resisten Pada Data Yang Mengandung Pencilan. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: I. Ir. Hendro Permadi, M.Si , II. Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si. Kata kunci: pencilan, regresi linier sederhana, garis resisten. Pencilan merupakan suatu keganjilan dan menandakan suatu titik data yang sama sekali tidak mengikuti pola data dibandingkan data lainnya. Oleh karena itu suatu pencilan patut diperiksa seksama, barangkali ada alasan dibalik keganjilan itu dapat diketahui. Akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencilan adalah sisaan yang jauh dari rata-ratanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model terbaik dari dua tehnik regresi yaitu regresi linier sederhana dan garis resisten pada data yang mengandung pencilan. Setelah diuji dengan asumsi kenormalan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk data yang mengandung pencilan untuk model terbaik menggunakan persamaan garis resisten dengan persamaan adalah Y = 129,644 - 0.6441X dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 100%. Dan untuk persamaan yang kedua adalah Y = 169.4322 - 0.8475X dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 100%.

English instructional materials for post harverst technology in the first semester in SMK Negeri 1 Purwosari at Pasuruan Regency / Evin Nurmaida

 

Nurmaida, Evin. 2013. English Instructional Materials for Post Harvest Technology in the First Semester in SMK Negeri 1 Purwosari at Pasuruan Regency. Unpublished Thesis, State University of Malang, Graduate Program in English Language Teaching. Advisors: (1) Prof. H. Ali Saukah, M.A., Ph.D, (2) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd.,M.A., Ph.D. Key words: Instructional Materials,Materials Development, Post Harvest Technology Program. This research is aimed at developing instructional materials for the tenth grade students of Post Harvest Technology Program in SMK Negeri 1 Purwosari, Pasuruan Regency. This is done due to the fact that the available books used by English teachers in SMK Negeri 1 Purwosari are not relevant to Post Harvest Technology Program, and the books for that particular program are not available in bookstores, yet. Therefore, the goal of this research is to develop a set of instructional materials that meet the needs of the students in Post Harvest Technology Program. The design of this research is Research and Development (R&D) involving the tenth grade students of Post Harvest Technology Program, English teachers, and an expert. The study was conducted following the procedure: needs assessment, materials development, expert validation, and try-out. The instruments used were questionnaires and observation checklist. The analysis of the data gathered from the needs assessment through questionnaires and observations checklist showed that the existing materials were not suitable with the needs of students in Post Harvest Technology Program. Therefore, the new set of instructional materials that is relevant for the students needs to be developed. The result of the expert validation showed that some revisions need to be done considering the instructions in the book so that the students can understand them easier. After the product was revised, the try-out was conducted in X Post Harvest Technology Program. During the try out, the students were given an observation checklist and the result stated that the materials were attractive for them. The try-out was preceded by a pre-test and ended by a post-test. The result of the pre- and post-tests showed that there was a significant difference of the students’ achievement after they learn English using the materials developed by the researcher. From the data analysis of the research, it can be concluded that the new instructional materials were needed for students in Grade X Post Harvest Technology Program. The materials were then proved to be attractive and effective for the teaching and learning process. It can be seen from the result of the pre- and post-test during the try-out. For the school, this research is advantageous since it provided materials that are relevant to the students’ need. Whereas for materials developers and other researchers, the result of this study can be used as a model to develop materials other programs which fulfill the students’ needs.

Penerapan media audio pada pembelajaran materi minyak bumi dalam upaya meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang tahun 2007/2008 / Amrullah Fatahuddin

 

ABSTRAK Fatahuddin, Amrullah. 2008. Penerapan Media Audio Visual Pada Pembelajaran Materi Minyak Bumi Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Proses dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Drs. Muhadi. Kata kunci: pembelajaran kontekstual, media pembelajaran, mutu proses belajar, hasil belajar Ilmu kimia sering dianggap sebagai ilmu yang sulit sehingga banyak nilai siswa yang kurang memuaskan untuk pelajaran kimia. Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab adalah kemampuan awal siswa, kompetensi guru, bahan ajar serta sarana dan prasarana yang mendukung. Salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut adalah penggunaan pembelajaran kontekstual menggunakan media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah media audio visual. Dalam penelitian ini, dikembangkan media audio visual untuk materi minyak bumi. Media audio visual tersebut selanjutnya diterapkan dalam pembelajaran kimia menggunakan model Learning Cycle 5E. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui keaktifan siswa yang diajar menggunakan media audio visual dan keaktifan siswa yang diajar menggunakan media konvensional (handout) , 2) Mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan media audio visual dalam pembelajaran, 3) Mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan media audio visual dengan siswa yang diajar menggunakan media konvensional (handout). Hipotesis yang diajukan adalah, ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media audio visual dengan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media konvensional (handout). Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan ganda, yaitu rancangan eksperimen semu dan deskriptif. Variabel dari penelitian ini adalah varibel bebas (media audio visual), variabel terikat (mutu proses pembelajaran), dan variabel kontrol (model LC 5E). Populasi penelitian adalah seluruh kelas X SMAN 2 Malang, dengan X-1 sebagai kelas eksperimen dan X-7 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang dipakai terdiri dari instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan meliputi silabus, RPP, LKS, handout, dan media audio visual. Instrumen pengukuran terdiri dari soal tes akhir yang sebelumnya di uji coba, lembar observasi keaktifan siswa beserta kisi-kisinya, dan angket persepsi terhadap penggunaan media audio visual. Data hasil belajar yang diperoleh sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji t dua pihak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mutu proses pembelajaran yang dilakukan pada kelas eksperimen jika ditinjau dari segi guru sudah baik. Berdasarkan data keaktifan siswa pada keseluruhan proses pembelajaran diperoleh hasil bahwa pada kelas eksperimen sebesar 15% siswa dikategorikan sangat aktif, 79% siswa aktif, 6% siswa kurang aktif, dan 0% siswa yang tidak aktif, sedangkan pada kelas kontrol sebanyak 3% siswa dikategorikan sangat aktif, 91% siswa aktif, 6% siswa kurang aktif, dan 0% siswa yang tidak aktif. Mayoritas siswa memberikan persepsi yang sangat positif terhadap pelaksanaan pembelajaran kontekstual menggunakan media audio visual. Dari pengujian hipotesis diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media audio visual dengan siswa yang diajar menggunakan media handout. Perbedaan tersebut diperkuat oleh data rata-rata hasil ulangan harian siswa kelas eksperimen ( = 55,31) yang lebih baik daripada rata-rata hasil ulangan harian siswa kelas kontrol ( = 45,12) pada materi minyak bumi.

Kajian matematika sekolah versus metamatika luar sekolah / Khurun'in

 

ABSTRAK Khurun’in. 2008. Kajian Matematika Sekolah Versus Matematika Luar Sekolah. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, S.Pd, M.Si, (II) Drs. Askury, M.Pd. Kata kunci: matematika sekolah, matematika luar sekolah. Bertahun-tahun para pendidik dan peneliti pendidikan matematika berfokus pada kegiatan di kelas sebagai setting utama dalam pembelajaran matematika. Namun pada kenyataannya banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pengetahuan matematika banyak diperoleh di luar sekolah. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil observasi, bahwa kemampuan berhitung yang dimiliki pedagang melijo bukan berasal dari sekolah melainkan dari pengalaman mereka sehari-hari dan penerapan matematika yang dilakukannyapun kadang berbeda dengan matematika yang diajarkan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan matematika yang ada pada pedagang melijo, dan kesesuaian antara matematika yang diterapkan pedagang melijo dan matematika yang diajarkan di sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif-eksploratif. Subjek penelitian ini adalah tiga pedagang melijo yang mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat rendah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan pengamatan langsung melalui cara berperanserta, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi, penyajian data, pemberian kesimpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum matematika sekolah dengan matematika luar sekolah yang digunakan pedagang melijo mempunyai prinsip dasar yang sama, hanya saja dalam penerapannya pedagang melijo mempunyai cara mereka sendiri yang menurut mereka lebih mudah dan praktis. Pada penerapan matematika tersebut terdapat teknik berhitung yang unik yang tentunya berbeda dengan cara berhitung yang diajarkan di sekolah, yaitu pada pengurangan bilangan cacah, teknik pengurangan yang dilakukan seorang pedagang melijo adalah dengan menggunakan pemahamannya tentang penaksiran, namun ada juga yang menggunakan pemahaman tentang penjumlahan dengan alasan pengurangan merupakan kebalikan dari penjumlahan. Dari hasil penelitian ini terdapat beberapa teknik berhitung pedagang melijo yang dapat diadopsi untuk matematika sekolah karena sifatnya yang lebih sederhana dan mudah dilakukan yaitu: (1) untuk menyelesaikan masalah penghitungan seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian, siswa bisa diajarkan untuk memulai dengan melakukan penaksiran hasil operasi hitung tersebut, (2) untuk menyelesaikan masalah penjumlahan pecahan campuran, siswa bisa diajarkan untuk menyelesaikannya dengan cara menjumlahkan dengan mengelompokkan berdasar jenis bilangannya.

Pengembangan bahan ajar akuntansi berbasis multiple intelligences untuk siswa kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Alief Suci Stevani

 

Stevani, Alief Suci. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi Berbasis Multiple Intelligences untuk Siswa Kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M, (II) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E, M.Si., Ak Kata Kunci: Pengembangan, Bahan Ajar, Berbasis Multiple Intelligences     Multiple intelligences adalah berbagai ketrampilan dan bakat yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam pembelajaran. Hal inilah yang sering diabaikan oleh guru dalam pembelajaran yang merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar. Guru sebagai pendidik harus benar-benar memahami karakteristik peserta didiknya agar transfer ilmu dapat terlaksana dengan baik. Demikian juga dengan bahan ajar, dalam hal ini buku sebagai salah satu sumber belajar yang bisa jadi kurang bermanfaat ketika isi yang disajikan di dalamnya kurang cocok untuk kebutuhan siswa atau tidak dirancang khusus untuk mereka.     SMA Laboratorium UM pernah menerapkan pembagian kelas berdasarkan jenis kecerdasan siswa, namun tidak berlangsung lama dikarenakan adanya penurunan hasil belajar siswa pada salah satu jenis kecerdasan. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaktersediaannya bahan ajar berbasis multiple intelligences. Pada observasi awal yang dilakukan oleh peneliti diketahui bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran akuntansi adalah modul yang dibuat sendiri oleh guru akuntansi di sekolah tersebut. Oleh karena itu diperlukan pengembangan bahan ajar yang memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan keberagaman jenis kecerdasannya dan membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.     Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar akuntansi berbasis multiple intelligence berupa buku siswa dan buku panduan guru serta untuk mengetahui efektivitas bahan ajar tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model Borg and Gall yang telah dimodifikasi menjadi tujuh langkah pengembangan yang telah disesuaikan dengan kondisi peneliti.     Adapun hasil uji coba lapangan awal adalah rata-rata penilaian ahli materi, ahli desain bahan ajar, ahli multiple intelligences dan enam orang siswa terhadap buku siswa sebasar 89,24%. Sedangkan buku panduan guru memperoleh penilaian rata-rata sebesar 89,25%, dengan begitu produk yang dibuat telah valid dan layak digunakan. Pada uji coba lapangan utama ditemukan penilaian siswa terhadap bahan ajar sebesar 85,97% dan peningkatan hasil belajar siswa sebesar 48%. Sedangkan hasil analisis uji paired sample test memperoleh nilai signifikansi 0,000 (<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahan ajar yang dikembangkan telah layak digunakan dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Kelemahan penelitian ini adalah tidak adanya kelas kontrol sebagai pembanding saat dilakukan uji coba lapangan utama, maka disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan kelas ekperimen dan kontrol sehingga keefektivitasan dari bahan ajar yang dibuat dapat lebih dipercaya.

Pengawetan kayu pinus (Pinus Merkusii) rehadap serangan rayap menggunakan filtrat daun sirsak dengan sistem perendaman dingin / Renita Guntoro

 

ABSTRAK Guntoro, Renita. 2008. Pengawetan Kayu Pinus (Pinus Merkusii) terhadap Serangan Rayap menggunakan Filtrat Daun Sirsak dengan Sistem Perendaman Dingin. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Karyadi, S. Pd., M.P., M.T., (II) Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T. Kata kunci : pengawetan, kayu pinus, filtrat daun sirsak, rayap, perendaman dingin. Pengawetan kayu perlu diadakan agar keawetan kayu dapat bertambah sehingga memperpanjang usia pakai kayu. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati yaitu daun sirsak. Pada konsentrasi tertentu, senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai anti-feedent, sehingga serangga terutama rayap tidak lagi berminat untuk memakan bagian tanaman yang disukainya . Untuk mengetahui apakah dengan filtrat daun sirsak dapat digunakan sebagai bahan pengawet nabati, maka penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut: (1) Berapa berat kayu pinus merkusii yang dimakan rayap pada konsentrasi yang telah ditentukan? (2) Berapa berat bahan pengawet yang masuk (retensi) pada konsentrasi yang telah ditentukan? dan (3) Berapa jumlah rata-rata permukaan kayu pinus merkusii yang dimakan rayap pada konsentrasi yang telah ditentukan. Tujuan dari penelitian ini adalah : ( 1) Untuk mengetahui berat kayu pinus yang dimakan rayap pada konsentrasi yang telah ditentukan. (2) Untuk mengetahui berat bahan pengawet yang masuk (retensi) pada konsentrasi yang telah ditentukan. (3) Untuk mengetahui jumlah rata-rata permukaan kayu pinus yang dimakan rayap pada konsentrasi yang telah ditentukan. Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang diberi perlakuan diawetkan dengan filtrat daun sirsak pada konsentrasi 6%, 12% dan 18%. Dan untuk mengetahui perbedaan berat antar perlakuan digunakan analisis varian satu jalur (anava) dilanjutkan dengan uji t ( t-test) Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Berat kayu pinus yang dimakan rayap paling sedikit pada 12% yaitu sebesar 16,06% dan yang paling banyak dimakan rayap pada konsentrasi 6% sebesar 25,04%. (2) Retensi filtrat daun sirsak yang masuk ke dalam kayu pinus paling sedikit pada konsentrasi 6% sebesar 0,53 g/cm3 dan paling banyak pada konsentrasi 12% sebesar 0,61 g/cm3. (3) Jumlah rata-rata permukaan kayu pinus yang dimakan rayap paling sedikit pada pada 12% sebesar 2,8 % dan paling banyak pada konsentrasi 6% sebesar 5,2 %. (4) Tidak ada perbedaan kehilangan berat yang dimakan rayap pada kayu pinus yang diawetkan dan kayu pinus yang tidak diawetkan pada konsentrasi 0%, 6 %, 12 %. (5) Tidak ada perbedaan retensi kayu pinus pada konsentrasi 0%, 6 %, 12 % . Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa filtrat daun sirsak tidak dapat digunakan sebagai bahan pengawet kayu pada konsentrasi ini. Disarankan untuk penelitian selanjutnya agar membuat konsentrasi yang lebih tinggi dan menggunakan sistem vakum tekan untuk proses pengawetannya .

Pengaruh dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik tarif rumah tangga pada PT. PLN (Pesero)-Up Dinoyo Malang / Fangky Adhiyos Benz

 

ABSTRAK Benz, Fangky Adhiyos. 2008. Pengaruh Dimensi Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Rekening Listrik Tarif Rumah Tangga Pada PT PLN (Persero)-UP Dinoyo Malang. Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si; (II) Drs. Agus Hermawan, M.Si., M.Bus Kata Kunci : Dimensi Kualitas Layanan, Kepuasan Pelanggan Kepuasan pelanggan adalah harapan utama PT PLN (Persero) Area Pelayanan Malang yang sedang menjalankan usahanya dalam jasa penerangan di bidang kelistrikan, termasuk Unit Pelayanan Dinoyo. Pelanggan merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam berdirinya suatu perusahaan, maka keberadaannya harus diperhatikan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam perusahaan adalah bagaimana memahami kebutuhan (needs) dan keingginan (wants) dari setiap pelanggan. Sehingga hal ini, merupakan suatu bentuk tuntutan bagi para manajer dalam memahami karakteristik perilaku pelanggannya, kepuasan pelanggan bukan hal yang mudah dicapai, karena setiap pelanggan memiliki penilaian masing-masing tentang kepuasan. Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, seperti dimensi kualitas layanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi (1) pengaruh dimensi kualitas layanan yaitu, (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik/langsung) secara parsial terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan dinoyo, (2) pengaruh dimensi kualitas layanan yaitu, (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik/langsung) secara simultan terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan dinoyo, (3) Dimensi kualitas layanan apakah yang dominan pengaruhnya terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan dinoyo. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan rekening listrik tarif rumah tangga yang mempunyai daya 450-900 watt yang terdaftar di PT PLN (Persero)-UP Dinoyo Malang per 31 Mei 2008 sebanyak 35.420 pelanggan rekening listrik. Penyebaran kuisionernya menggunakan teknik accidental. Jumlah sampel yang telah ditentukan 100 pelanggan rekening listrik, jumlah ini diperoleh dengan menghitung berdasarkan rumus Slovin. Peneliti ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel X adalah Dimensi kualitas layanan yang merupakan variabel independen, yang terdiri dari Keandalan (X1), Daya tanggap (X2), Jaminan (X3), Empaty (X4), Bukti fisik/ langsung (X5). Sedangkan variabel Y adalah Kepuasan pelanggan rekening listrik yang merupakan variabel dependen. Data diperoleh dari responden dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa angket tertutup. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis regresi berganda, diperoleh temuan: (1) bahwa terdapat pengaruh signifikan secara parsial antara keandalan, jaminan, dan bukti fisik/ langsung terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan dinoyo, dan terdapat pengaruh tidak signifikan secara parsial antara daya tanggap dan empati terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan dinoyo. Adapun kontribusi besarnya pengaruh setiap variabel dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit dinoyo dimulai dari yang dominan adalah koefisien beta standart untuk variabel keandalan β1= 0,426, variabel daya tanggap β2=-0,030, variabel jaminan β3= 0,062, variabel empati β4= 0.023 dan variabel bukti fisik/ langsung β5= 0,542; (2) Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan dinoyo, dengan hasil analisis regresi yang menunjukkan nilai bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,965, yang dapat diartikan bahwa variabel keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik/ langsung dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan rekening listrik adalah sebesar 96,5% dan sisanya sebesar 3,5% dipengaruhi hal-hal lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Pernyataan ini diperkuat dengan nilai Sig. Fhitung sebesar 0,000; nilai F sebesar 544,569 (signifikansi F<0,05). Berdasarkan hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang berkualitas didalam melakukan pembayaran rekening listrik diloket dapat menumbuhkan kepuasan yang maksimal. Sementara disarankan kepada PT PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanannya dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) Penambahan fasilitas ruang tunggu seperti, fasilitas kursi yang kurang pada ruang tunggu diloket pembayaran; (2) Menambahkan fasilitas berupa electrical queue numbering yang berfungsi sebagai nomor urut atrian; (3) Diharapkan para petugas bagian penagihan di loket pembayaran rekening listrik lebih profesional, yaitu pemberlakuan yang sama antara pelanggan yang satu dengan pelanggan yang lain, sehingga nantinya akan membentuk suatu kesan positif daripada pelanggan rekening listrik itu sendiri.

Hubungan antara konsep diri dan perilaku agresi pada siswa kelas X SMK Al Huda Kota Kediri / Figur Prasetya

 

ABSTRAK Prasetya, Figur. 2008. Hubungan Antara Konsep Diri Dan Perilaku Agresi Pada Siswa Kelas X SMK Al Huda Kota Kediri. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si Kata kunci : konsep diri, perilaku agresi, remaja. Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan yang terus-menerus dan terdiferensiasi. Konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Perilaku agresi adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan sengaja kepada individu lain baik itu secara langsung atau tidak langsung, secara verbal atau fisik, pasif maupun aktif, sehingga menyebabkan individu lain merasa tersakiti baik fisik atau psikis pada individu yang tidak menginginkan datangnya perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dan perilaku agresi pada siswa kelas X SMK Al Huda Kota Kediri. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis korelasi product moment Pearson dengan bantuan program SPSS 13.0 for windows dalam melakukan analisisa data supaya lebih cepat dan akurat untuk mengetahui hasil penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja siswa kelas X SMK Al Huda Kota Kediri, dengan sampel berjumlah 100 siswa yang memiliki rentang usia 16-18 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala konsep diri dan skala perilaku agresi yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan skala tersebut telah diuji coba pada siswa SMK Ma’arif Batu yang menjadi sampel untuk mengetahui apakah skala tersebut sudah valid dan reliabel. Teknik yang digunakan peneliti dalam melakukan pengkategorian konsep diri dan perilaku agresi menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah adalah dengan menggunakan mean dan standar deviasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsep diri siswa kelas X SMK Al Huda Kota Kediri tergolong sedang, yaitu sekitar 62 siswa dari 100 siswa. Sedangkan pada perilaku agresi siswa kelas X SMK Al Huda Kota Kediri tergolong sedang yang cenderung mengarah cukup tinggi, yaitu sekitar 69 siswa dari 100 siswa. hipotesis dalam penelitian ini diterima, yaitu ada korelasi negatif antara konsep diri (sebagai variabel bebas) dan perilaku agresi (sebagai variabel terikat) pada siswa kelas X SMK Al Huda. Adanya korelasi negatif antara kedua variabel yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kedua variabel. Hal ini bahwa semakin tinggi konsep diri pada siswa kelas X SMK Al Huda maka semakin rendah perilaku agresinya, dan begitu juga sebaliknya semakin rendah konsep diri pada siswa kelas X SMK Al Huda maka semakin tinggi perilaku agresi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada semua pihak yang terkait dalam pembentukan konsep diri remaja agar memahami lebih jauh aspek-aspek yang dapat mempengaruhinya, untuk mengurangi kecenderungan perilaku agresi remaja. Dalam perkembangan dan pembentukan pribadi remaja yang sehat dan memiliki konsep diri yang baik perlu adanya kualitas hubungan interpersonal yang baik, khususnya dengan pihak keluarga (orang tua).

Asesmen kebutuhan dan perencanaan untuk revitalisasi sekolah dasar swasta (studi multisitus di Sekolah Dasar Kristen Aletheia Jember dan Sekolah Dasar Kristen Aletheia Lumajang) / Bayu Sudi Gunawan

 

Gunawan, Bayu Sudi. 2013. Asesmen Kebutuhan dan Perencanaan untuk Revitalisasi Sekolah Dasar Swasta (Studi Multi Situs di Sekolah Dasar Kristen Aletheia Lumajang dan Sekolah Dasar Kristen Aletheia Jember). Tesis. Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Prof. Ahmad Sonhadji K H, P.hD. Kata kunci: asesmen kebutuhan, perencanaan, revitalisasi, Sekolah Dasar swasta      Asesmen kebutuhan dan perencanaan sangat diperlukan dalam upaya pengembangan sekolah guna menjaga eksistensi sekolah dalam konteks persaingan dengan sekolah-sekolah lain dan upaya peningkatan mutu sekolah itu sendiri. Kebutuhan dan tuntutan akan asesmen kebutuhan dan perencanaan semakin dirasakan manakala satuan pendidikan sedang berada dalam masalah dan pengelola sekolah ingin melakukan revitalisasi sekolahnya. Mengacu pada fakta tersebut, tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi untuk merevitalisasi sekolah; 2) mendeskripsikan proses asesmen kebutuhan; 3) mendeskripsikan bagaimana pengelola sekolah menyusun program-program untuk merevitalisasi sekolah; 4) mendeskripsikan implementasi program; dan 5) mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapi pengelola sekolah dalam melakukan revitalisasi.      Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disebutkan sebelumnya. Dalam penelitian ini, instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri. Data utama penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan lisan yang disampaikan oleh informan utama, dalam hal ini, siswa, guru, Kepala Sekolah, Koordinator Pendidikan, anggota Badan Pelaksana Pendidikan, dan orangtua siswa. Disamping itu, data tambahan adalah data yang dikumpulkan peneliti dari pengamatan, studi dokumentasi dan analisis jawaban angket dari orangtua siswa. Instrumen yang dipergunakan dalam pengumpulan data adalah alat perekam pembicaraan, kisi-kisi pertanyaan wawancara, angket, lembar pengamatan dan catatan lapangan. Untuk mengecek keabsahan data, digunakan triangulasi sumber data, data dan teori. Hasil penelitian menunjukkan, dalam hal kebutuhan, ada dua jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan personal dan kebutuhan organisasi. Kebutuhan personal berkaitan dengan kebutuhan peningkatan profesionalisme dan kreatifitas guru dalam menjalankan tugasnya. Kebutuhan organisasi berkaitan dengan hubungan antara sekolah dengan orangtua dalam bentuk lembaga seperti Komite Sekolah, pendanaan, tim kerja (teamwork), perolehan siswa baru, promosi sekolah, pembenahan manajemen, dan kepastian kelanjutan revitalisasi sekolah pasca pergantian Ketua Sinode Gereja Kristus Tuhan. Dalam hal asesmen kebutuhan, metode yang dipergunakan adalah metode empiris—berdasarkan pengalaman Kepala Sekolah. Berkenaan dengan program, di sekolah terdapat dua jenis program, yaitu program sekolah secara umum dan program unit. Perencanaan program didasarkan pada hal-hal apa saja yang bisa dilakukan saat ini atau progam jangka pendek. Untuk progam jangka menengah dan panjang disesusikan dengan ketersediaan dana untuk membiayai implementasi program. Oleh karena itu, kedua sekolah ini tidak memiliki Renstra (Rencana Strategis). Implementasi program dilakukan di bawah pimpinan Kepala Sekolah, diawasi oleh Koordinator Pendidikan dan selanjutnya dipertanggungjawabkan kepada Badan Pelaksana Pendidikan dan Departemen Pendidikan Kristen Aletheia dalam rapat bulanan. Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses revitalisasi adalah 1) budaya dan iklim organisasi yang diindikasikan dalam tingginya tingkat masuk-keluar guru, kepala sekolah, koordinator, pola hubungan kerja atasan-bawahan yang diterapkan secara kaku dengan mengacu pada pola hubungan kerja antara majikan-buruh di lingkup bisnis toko, tidak berimbangnya rasio guru perempuan dan laki-laki dan 2) tidak adanya anggota Badan Pelaksana Pendidikan yang berlatar belakang dan berkompetensi untuk mengelola pendidikan secara benar.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan remidi dengan memperhatikan modalitas belajar siswa pada materi senyawa hidrokarbon kelas X MAN Malang 1 tahun pelajaran 2007/2008 / Arikatul Luthfiyah

 

Pengaruh faktor atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk minuman Mizone (Studi kasus pada masiswa strata-1 Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang) / Suntaoro Ardyo Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Suntoro Ardyo. 2008. Pengaruh Faktor Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Produk Minuman Mizone (Studi Kasus Pada Mahasiswa Strata-1 Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si.,M.Bus. (II) Dr. Ludi Wishnu W.,S.T.,S.E.,S.Pd.,M.M. Kata kunci: atribut produk, keputusan pembelian Persaingan di dunia bisnis barang dan jasa saat ini semakin kompetitif. Salah satu persaingan terjadi pada produk minuman kesehatan, banyak produk baru yang beredar di pasar seperti: Mizone, Vitazone, Pocari Sweat dan lain-lain. Untuk itu setiap produsen harus memberikan nilai yang lebih kepada konsumen dengan memberikan produk atau jasa yang berkualitas dan harga bersaing. Kualitas produk yang diminati oleh konsumen mungkin berdasarkan merek, warna, desain, rasa dan atribut produk lainnya. Dengan demikian atribut produk dianggap sebagai unsur terpenting dalam proses pemasaran. PT. Tirta Investama merupakan salah satu produsen minuman isotonik, yaitu minuman Mizone. Kelebihan minuman ini adalah memberikan profil rasa manis buah dan sensasi asam yang menyegarkan buah yang membuat tubuh kita terasa lebih fresh setelah meminumnya dan kadar osmolarita produk Mizone hampir serupa dengan osmolaritas darah manusia, sehingga tingkat penyerapan gizi dapat lebih optimal. Populasi pada penelitian ini adalah Mahasiswa Strata-1 Tahun Ajaran 2007-2008 Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang yang menggunakan produk minuman Mizone sebanyak 498 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode simple random sampling yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian produk minuman Mizone. Variabel yang berkaitan dengan penelitian ini adalah Variabel bebas, dalam penelitian ini adalah atribut produk yang terdiri dari merek (X1), label (X2), kemasan (X3), dan kualitas (X4). Variabel terikat, dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian produk minuman Mizone. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara merek terhadap keputusan pembelian produk minuman Mizone pada mahasiswa strata-1 Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara label terhadap keputusan pembelian produk minuman Mizone pada mahasiswa Strata-1 Jurursan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kemasan terhadap keputusan pembelian produk minuman Mizone pada mahasiswa Strata-1 Jurursan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas terhadap keputusan pembelian produk minuman Mizone pada mahasiswa strata-1 Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang dan terdapat pengaruh yang signifikan antara merek, label, kemasan, kualitas secara bersama–sama terhadap keputusan pembelian produk minuman Mizone pada mahasiswa Strata-1 Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran untuk perusahaan yaitu, sebaiknya perusahaan memperhatikan label dalam produk minuman Mizone dan sebaiknya perusahaan memberikan sesuatu yang berbeda dalam bentuk kemasan produk minuman Mizone sehingga kualitas yang diinginkan oleh konsumen dapat terpenuhi.

Proses perencanaan dan pelaksanaan produksi cafe warna jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (Studi kasus pada mahasiswa D3 Program studi tata boga angkatan 2007) / Like Citra Nurbaya

 

ABSTRAK Nurbaya, Like Citra. 2010. Proses Perencanaan dan Produksi Café Warna Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Boga, FT Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd, (II) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si. Kata kunci: café warna 07, perencanaan, implementasi. Salah satu misi Prodi Tata Boga FT UM adalah menjadi pusat informasi kwirausahaan berbasis teknologi tata boga. Café Warna sebagai laboratorium Tata Boga FT UM untuk mengimplementasikan teori pengelolaan usaha boga pada matakuliah manajemen usaha boga (MUB) cafetaria, salah satunya perencanaan produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola perencanaan produksi Café Warna 07, aspek perencanaan produksi, implementasi aspek perencanaan produksi dan kendala implementasi aspek perencanaan produksi. Pola perencanaan yang digunakan oleh Café Warna 07, yaitu pola perencanaan terintegrasi. Perencanaan disusun saling berkaitan antar bagian yang ada di Café Warna 07. Aspek perencanaan produksi yang digunakan yaitu (a) desain produk atau jasa, berkaitan dengan perencanaan menu dan pelayanan; (b) analisis break event point, bertujuan untuk mengetahui banyaknya produk yang harus terjual dalam 1 hari agar café tidak mengalami kerugian, BEP (porsi) dalam agar tidak merugi maka café harus memproduksi 82 porsi/hari, target penjualan dengan besar keuntungan yang diinginkan Rp 200.000,00 adalah sebanyak 229 porsi/hari dan (c) proses produksi berkaitan dengan pengadaan dan penyimpanan bahan baku serta standar prosedur operasional café. Implementasi aspek perencanaan produksi Café Warna 07 baik yang tertulis dan tidak tertulis, pada umumnya dapat diimplementasikan. Perubahan selama operasional café disesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung, seperti perubahan menu setelah café beroperasi selama 2 bulan, hal tersebut dikarenakan kurngnya minat konsumen; proses pengolahan yang kurang praktis dan resiko kerusakan bahan setengah jadi yang relatif tinggi. Aspek perencanaan yang kurang sesuai dengan pelaksanaannya adalah prediksi biaya fixed cost, hal ini dikarenakan pembengkakan biaya pemasaran dan biaya bagian pelayanan yang diakibatkan oleh kenaikan harga bagi komponen tersebut selama operasional café. Aspek perencanaan yang tidak dapat terlaksanakan adalah pencapaian target penjualan, karena keuntungan yang diharapkan terlalu tinggi dan tidak disesuaikan dengan pangsa pasar Café Warna 07, mayoritas mahasiswa. Kendala yang dialami pengelola Café Warna 07 berupa ketidaksesuaian perhitungan fixed cost antara perencanaan dan pelaksanaan; prediksi pendapatan penjualan; kenaikan harga bahan baku; keterbatasan tempat produksi pengolahan makanan; prediksi jumlah tamu dan keterbatasan tempat penyimpanan. Jurusan Teknologi Industri FT UM dapat memperbanyak referensi yang berkaitan dengan perencanaan agar mahasiswa lebih matang dalam menyusun perencanaan pengelolaan usaha boga. Pembinaan lebih dalam mengenai standarisasi resep dilakukan sebelum operasional café. Keterbatasan tempat pengolahan makanan dapat disiasati dengan cara penyekatan ruangan. Bagi mahasiswa pengelola Café Warna selanjutnya diharapkan lebih cermat dan selektif mengenai pentuan aspek-aspek yang akan dicantumkan pada perencanaan. Prediksi kenaikan harga bahan baku perlu diperhatikan pada saat menyusun perencanaan. Pengetahuan mengenai bahan baku sangat diperlukan, sehingga dapat merencanakan dengan baik mengenai tempat penyimapanan sesuai karakteristik bahan baku. Prediksi jumlah konsumen dapat dilakukan dengan cara melihat catatan rekapan menu yang yang terjual pada hari sebelumnya. Diharapkan temuan hasil penelitian ini oleh peneliti selanjutnya dapat diteliti lebih spesifik lagi tentang proses perencanaan dan pelaksanaan produksi. Penelitian mengenai proses perencanaan dapat dilakukan mulai dari awal penyusunan rencana, agar data lebih akurat.

Peranan stelsel pengawasan dalam produksi tegel, beton dan sanitair pada industri Himalaya" di Malang / oleh Imam Mahdi"

 

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pada wahana tour & travel Malang / Sumardian Adi Priyanto

 

Kemampuan menulis teks berita siswa kelas VIII-B SMP Kristen 1 YPK Malang tahun ajaran 2013/2014 / Rahman Surey

 

Surey, Rahman. 2014. Kemampuan Menulis Teks Berita Siswa SMP Kristen 1 YPK Malang. Skripsi, Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Suyono, M.Pd     Kata Kunci: kemampuan menulis, teks berita     Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa selain mendengarkan, berbicara dan membaca. Keterampilan menulis digunakan dengan tujuan agar siswa mempunyai kemampuan dalam menuangkan ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pandangan dengan benar. Sebagai suatu keterampilan, kegiatan menulis haruslah dilatih secara benar dan terus menerus (Romli, 2003:52). Hal ini disebabkan menulis membutukan waktu yang cukup dan harus dilakukan secara berkesinambungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis teks berita dilihat dari aspek judul berita, teras berita, tubuh berita, dan bahasa.     Data dalam penelitian berupa skor kemampuan menulis teks berita siswa kelas VIII-B SMP Kristen 1 YPK Malang. Instrumen penelitian yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah tes tulis dan panduan penilaian menulis teks berita Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah berikut: (1) persiapan, (2) pengkodean, dan (3) penilaian.     Hasil analisis pada aspek judul berita menunjukkan bahwa semua siswa (100%) berhasil mencapai/melewati SKM. Secara rinci, sebanyak 7 siswa (50%) tergolong kualifikasi Sangat Mampu, 5 siswa (36%) tergolong kualifikasi Mampu, dan 2 siswa (14%) tergolong kualifikasi Cukup. Pada aspek teras berita, siswa yang nilainya berada di bawah SKM lebih banyak daripada yang di atas SKM yakni 8 siswa (57%) yang masih tergolong kualifikasi Belum Mampu. Sedangkan yang berada di atas SKM berjumlah 6 siswa (43%) yang terdiri atas 1 siswa (7%) mencapai kualifikasi Sangat Mampu, 1 siswa (7%) mencapai kualifikasi Mampu, dan 4 siswa (29%) mencapai kualifikasi Cukup. Pada aspek tubuh berita, semua siswa (100%) berhasil melewati SKM dengan rincian 9 siswa (64%) pada kualifikasi Sangat Mampu, 4 siswa (29%) pada kualifikasi Mampu, dan 1 siswa (7%) pada kualifikasi Cukup. Pada aspek bahasa, 13 siswa (93%) berhasil melewati SKM dengan rincian 4 siswa (29%) mencapai kualifikasi Mampu dan 9 siswa (64%) mencapai kualifikasi Cukup. Sementara itu, 1 siswa lainnya (7%) masih berada di bawah SKM tepatnya pada kualifikasi Belum Mampu.     Secara umum, siswa sudah mampu menulis teks berita. Hanya saja, masih ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Pertama, sebagian besar siswa belum mampu membedakan antara judul berita dan teras berita. Kedua, pada aspek bahasa, masih banyak kesalahan yang dilakukan siswa baik pada pengunaan kalimat efektif, ejaan, maupun pengembangan paragraf.     Berdasarkan kenyataan tersebut, guru Bahasa Indonesia dan pihak sekolah disarankan untuk lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Saran untuk peneliti selanjutnya, memperluas temuan dengan menambah kajian penemuan yang lebih akurat mengenai kemampuan siswa dalam menulis teks berita.

Pengembangan modul matakuliah evaluasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan model pengembangan sistem / oleh Sri Wahyuni

 

Penerapan pembelajaran modul pencemaran lingkungan dengan model siklus belajar 4E (The 4E Learning Cycle) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X MAN Malang I / Nuning Merduwati

 

Pengaruh kepimpinan terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja (Studi pada keryawan kantor administrasi PT. Garam (Persero) - Surabaya / Robin Kristian Mahendra

 

Uji sifat fisik dan kuat lentur papan partikel dengan bahan tambahan ampas tebu sebagai elemen konstruksi bangunan / Titan Christalin

 

ABSTRAK Christalin, Titan. 2008. Uji Sifat Fisik dan Kuat Lentur Papan Partikel dengan Bahan Tambahan Ampas Tebu sebagai Elemen Konstruksi Bangunan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. B. Sri Umniati, M.T, (II) Hanni Elitasari Mahaputri, S.T, M.T. Kata kunci: papan partikel, ampas tebu, uji sifat fisik, uji kuat lentur Kayu memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keperluan sederhana sebagai bahan bakar, perkakas rumah tinggal sampai kebutuhan yang sangat besar seperti pembuatan alat transportasi air, bahan konstruksi bangunan dan lain sebagainya. Bahkan kayu dapat dialihkan bentuk sebagai kayu lapis, papan serat sehingga kayu menjadi bahan bangunan yang penting. Sebagian besar limbah yang berupa limbah gergajian dibuang sebagai bahan timbunan dan pemanfaatannya masih belum optimal. Untuk industri besar, limbah serbuk gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial. Namun untuk industri penggergajian kayu skala industri kecil yang jumlahnya mencapai ribuan unit di Indonesia ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sesuai dengan limbah yang dihasilkan, dapat dimungkinkan dilakukan suatu usaha produktif pengolahan limbah menjadi bahan olahan jenis baru yang berbasis pada bahan kayu, salah satunya seperti partikel board. Papan partikel ini terbuat dari serbuk gergajian kayu pinus yang didapatkan dari daerah Junrejo Kota Batu-Jawa Timur dan ampas tebu yang digunakan berasal dari limbah Pabrik Gula Kebon Agung-Malang dengan campuran lem Urea formaldehida dan NH4Cl. Eksperimen ini difokuskan pada usaha untuk membandingkan berbagai komposisi campuran papan partikel dengan penambahan ampas tebu. Untuk itu perlu dilakukan uji fisik papan partikel yang meliputi kerapatan, kadar air dan daya serap papan partikel serta uji kuat lentur papan partikel. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, menurut standar FAO, hasil pengujian kerapatan nilainya termasuk termasuk dalam tipe sedang yaitu antara 0,40-0,80 gr/cm³, pada pengujian kadar air dinyatakan bahwa papan partikel ini termasuk dalam mutu B hal ini mengacu pada Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia yang menyebutkan bahwa kadar lengas udara kayu < 30% termasuk dalam kayu mutu B. Sedangkan pada pengujian daya serap air, daya serapnya antara 134,324-166,239%, jadi melebihi dari standar FAO untuk daya serap air papan partikel tipe sedang adalah 20-75%. Kuat lentur yang masuk dalam standar FAO adalah papan partikel tipe A (55:30:15), papan partikel tipe B (50:35:15), papan partikel tipe C (45:40:15), papan partikel tipe D (40:45:15). Ditinjau dari standar FAO, keteguhan lentur papan partikel untuk tipe sedang adalah antara 100-500 kg/cm2. Dari hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan dengan komposisi campuran antara serbuk gergajian kayu Pinus, ampas tebu dan perekat yang optimum.

Kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru studi multi kasus pada dua SMU di Kota Malang / oleh Kusmintardjo

 

Pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan melalui komitmen organisasi (Studi pada karyawan bagian paabrikasi PT. Rajawali Nusantara Indonesia 1 Unit PG. Krebet Baru Bululawang-Malang) / Okto Dharmasunu

 

ABSTRAK Dharmasunu, Okto. 2008. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja melalui Komitmen Organisasi. Skripsi, Jurusan Manajemen S1 Universitas Negeri Malang, Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia. Pembimbing: (1) Drs. I Nyoman Suputra, M. Si., (II) Drs. Muhammad Arief, M. Si. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Kinerja Karyawan Perkembangan dalam dunia usaha saat ini semakin cepat dan pesat berakibat pada perusahaan. Organisasi dituntut untuk mempunyai karyawan yang mampubekerja dengan maksimal untuk perusahaannya. Perubahan lingkungan berakibat pada perusahaan. Bagaimana karyawan berperilaku dan apa yang seharusnya mereka lakukan banyak dipengaruhi oleh sifat dasar dari manusia. Kepuasan kerja yaitu sikap umum individu terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja berhubungan erat dengan komitmen organisasi. Kesuksesan sebuah organisasi tidak hanya didukung oleh kepuasan kerja saja tetapi juga bagaimana organisasi tersebut menumbuhkan komitmen bagi karyawan untuk mencapai tujuan. Kepuasan kerja dipandang sebagai variable independent yang mempengaruhi karyawan guna meningkatkan kierja. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Rajawali Nusantara Indonesia 1 Unit PG. Krebet Baru Bululawang-Malang pada Bulan Mei 2008. Sampel dalam penelitian ini adalah karyawa bagian pabrikasi berjumlah 54 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Proportional Random Sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk menjabarkan kondisi deskriptif kepuasan kerja, komitmen organisasi dan kinerja karyawan pada PG. Krebet Baru Bululawang-Malang, (2) Untuk menjabarkan pengaruh langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi pada PG. Krebet Baru Bululawang-Malang, (3) Untuk menjabarkan pengaruh langsung yang signifikan antara komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan pada PG. Krebet Baru Bululawang-Malang, (4) Untuk menjabarkan pengaruh langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan, (5) Untuk menjabarkan pengaruh tidak langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan melalui komitmen organisasi pada PG. Krebet Baru Bululawang-Malang. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas adalah Kepuasan Kerja (X), variabel intervening adalah Komitmen Organisasi (Z) dan variabel terikat adalah Kinerja Karyawan (Y). Data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: angket/kuesioner, wawancara/interview, dokumentasi dan observasi. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga uji coba kuesioner untuk menguji instrumen tidak perlu dilakukan. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Berdasarkan teknik analisis deskriptif diketahui bahwa sebanyak 59,3% atau 32 orang menyatakan bahwa kepuasan kerja yang dirasakan di PG. Krebet Baru Bululawang-Malang adalah cukup memuas, sebanyak 59,3% atau 32 orang menyatakan bahwa Komitmen Organisasi yang dirasa karyawan PG. Krebet Baru Bululawang-Malang adalah sedang, sementara sekitar 44,4% atau 24 orang menyatakan bahwa karyawan pabrikasi PG. Krebet Baru Bululawang-Malang mempunyai kinerja yang tinggi. Sedangkan berdasarkan teknik analisis inferensial atau analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5% secara parsial dapat diketahui: variabel Kepuasan Kerja (X) mempunyai nilai t sig α (0,000<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Kepuasan Kerja (X) berpengaruh secara signifikan terhadap Komitmen Organisasi (Z) secara langsung. Variabel Komitmen Organisasi (Z) mempunyai nilai t sig α (0,020<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Komitmen Organisasi (Z) berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Karyawan (Y) secara langsung. Variabel Kepuasan Kerja (X) mempunyai nilai t sig α (0,048<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Kepuasan Kerja (X) berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Karyawan (Y) secara langsung. Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara Kepuasan Kerja terhadap Kinerja melalui variabel Komitmen Organisasi sebesar 0,350. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti kepada PG. Krebet Baru Bululawang-Malang adalah pihak perusahaan/pimpinan/manajamen hendaknya lebih meningkatkan lagi perhatian terhadap tingkat kepuasan karyawan. Dengan jalan memperhatikan hubungan antar karyawan, dan hubungan antar karyawan dengan pimpinan. Cara-cara yang telah diterapkan perusahaan dalam mengukur komitmen karyawan terhadap perusahaan harus dipertahankan dan ditingkatkan lagi, agar karyawan tidak akan berpikir macam-macam untuk meninggalkan perusahaan selain itu perusahaan dapat mempertimbangkan untuk memberikan kepercayaan dan tanggungjawab kepada karyawan untuk mengelola tugasnya secara mandiri, sehingga karyawan merasa tertantang oleh pekerjaan meraka. Perusahaan sebaiknya mengetahui seberapa jauh jumlah petunjuk, pengarahan, dan hubungan sosioemosional yang ia berikan serta tingkat kematangan yang ada pada karyawan dalam melaksanakan tugas agar mencapai hasil yang diharapkan.

Pengembangan komik cerita rakyat Putry Kilaswara untuk pembelajaran membaca cepat kelas 5 SD Negeri Sentul kota Blitar semester 1 tahun ajaran 2011/2012 / Septantris Wijayanti

 

Kata kunci: Pengembangan, Komik, Cerita Rakyat, Membaca Cepat. Secara bahasa komik yang berasal dari bahasa Yunani “comique” adalah cerita bergambar berbentuk dua dimensi yang bercerita bermacam-macam bahkan hal yang dianggap mustahil untuk terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dalam bahasa Inggris “comic” yang berarti segala sesuatu yang lucu serta bersifat menghibur. Pada awalnya, sebutan komik ditujukan untuk serangkaian gambar yang berurutan dan memiliki keterkaitan antara gambar yang satu dengan lainnya, terkadang dibantu dengan tulisan yang berfungsi untuk memperkuat gagasan yang ingin disampaikan. Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri Sentul 1 Kota Blitar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, guru mengalami kesulitan untuk menyampaikan materi tentang membaca cepat. Selama ini siswa hanya diminta untuk membaca buku teks dalam pembelajaran membaca cepat agar siswa benar-benar mampu memahami materi. Buku teks adalah media yang selama ini selalu dipakai dalam berbagai macam materi dalam berbagai mata pelajaran. Tentunya siswa merasa bosan dan jenuh dalam proses pembelajaran. Untuk itu pengembang membuat alternatif pemecahan masalah melalui upaya pengembangan komik cerita rakyat dalam pembelajaran membaca cepat dengan judul “Putri Kilaswara” untuk SD Negeri sentul 1 Kota Blitar kelas V semester I. Pengembangan media komik pembelajaran ini bertujuan: (1) Menghasilkan komik cerita rakyat yang menarik bagi siswa sehingga dapat meningkatkan keterlibatan dan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran membaca cepat dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya, (2) Menghasilkan komik cerita rakyat yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah pembelajaran terkait dengan kurangnya ketertarikan siswa terhadap buku paket sebagai media utama yang selama ini digunakan. Komik cerita rakyat dapat digunakan sebagai alternatif media, karena media komik mempermudah penyajian materi dan membuat suasana dalam kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan. Media komik pembelajaran ini mempunyai kelebihan dan kelemahan yaitu, (1) Siswa lebih mudah dalam menghafal pelajaran, (2) Dapat menumbuhkan minat baca siswa, (3) Lebih menarik perhatian dan mudah dicerna dibandingkan dengan media tulisan lain, (3) Mudah dibawa dan disebarluaskan, (4) Membantu anak dalam memecahkan masalahnya sendiri dengan memberikan kesempatan yang baik kepada anak untuk mendapatkan wawasan mengenai masalah pribadi dan sosialnyamelalui identifikasi karakter dan cerita di dalam komik, (5) Menarik imajinasi dan rasa ingin tahu anak, (6) Menarik imajinasi dan rasa ingin tahu anak. Sedangkan kelemahan dari media ini adalah (1) Lebih bersifat individual, (2) Membutuhkan biaya produksi dan penggandaan yang tidak sedikit, (3) Anak yang kurang mampu membaca tidak akan berusaha membaca teks. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validas dan tes hasil belajar, pengembangan media komik kepada ahli media, ahli desain dan ahli materi, kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan media komik pembelajaran membaca cepat. Hasil pengembangan media komik cerita rakyat untuk pembelajaran membaca cepat untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri sentul 1 Kota Blitar ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 85%, ahli desain mencapai tingkat kevalidan 87,5%, dan ahli materi mencapai tingkat kevalidan 97,5%, dan uji responden (siswa) perseorangan mencapai tingkat kevalidan 87,5%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media komik cerita rakyat untuk pembelajaran membaca cepat dengan judul “Putri Kilaswara” untuk kelas V Semester I SD Negeri Sentul 1 Kota Blitar semester 1, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Hubungan kecerdasan adversitas dengan kecepatan studi mahasiswa program studi bimbingan dan konseling Universitas Negeri Malang / Tri Murni Setiyawati

 

Masa depan dengan berbagai kesulitan yang mengiringi merupakan tantangan yang mengkondisikan individu agar mampu bertahan dalam hidup. Keberhasilan individu tetap dapat bertahan pada kondisi sulit ditentukan oleh cara individu tersebut merespon kesulitan, yaitu mengembangkan kecerdasan adversitas. Di sisi lain, kecenderungan rendahnya kemampuan mahasiswa dalam mengatasi kesulitan menjadi alasan pentingnya mahasiswa untuk berhasil dalam studinya, guna mempersiapkan masa depan. Masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimana distribusi tingkat kecerdasan adversitas mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang? (2) Bagaimana distribusi tingkat kecepatan studi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang? (3) Apakah ada hubungan antara kecerdasan adversitas dengan kecepatan studi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang?. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008 sejumlah 744 orang. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang yang memenuhi kriteria yaitu sudah lulus dan telah mengikuti yudisium, untuk angkatan tahun 2003 sebanyak 45 orang dan 2004 sebanyak 10 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan dokumentasi. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif, dan analisis statistik korelasi nonparametris dari Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan: (1) cukup banyak (45,5%) mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling yang memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang tinggi., (2) banyak (56,4%) mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling yang lambat dalam menyelesaikan studi, (3) ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan adversitas dengan kecepatan studi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai r = -0,614 dengan nilai p = 0,000:p<0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, semakin tinggi tingkat kecerdasan adversitas, maka semakin cepat masa studi mahasiswa. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian adalah: (1) Program studi Bimbingan dan Konseling hendaknya tidak hanya memperhatikan kecerdasan dari segi akademik mahasiswa, namun juga kecerdasan yang mampu memberikan daya tahan kepada mahasiswa terhadap kesulitan atau hambatan yang muncul ketika menempuh studi melalui pemberian training atau pelatihan yang berkenaan dengan hal tersebut, (2) Hendaknya mahasiswa memiliki kemampuan berpikir, mengelola dan mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola-pola tanggapan kognitif dan perilaku atas stimulus peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan dalam menempuh studinya, sehinggga tujuan yang telah disusun untuk menyelesaikan studi tepat pada waktunya bisa terwujud, (3) Penelitian ini dilaksanakan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Oleh karena itu, bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang tertarik dengan permasalahan yang sama, bisa diusahakan untuk mengkaji masalah ini dengan jangkauan yang lebiih luas dengan menambah atau mengembangkan variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.

Pengaruh kupon obligasi, dan Yield Obligasi terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate (FR) periode 2005-2007 / Eirene Mardika Ekawati

 

ABSTRAK Mardika Ekawati, Eirene. 2008. Pengaruh Kupon Obligasi, Maturitas Obligasi dan Yield Obligasi Terhadap Harga Obligasi Pemerintah Seri Fixed Rate (FR) Periode 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Manajemen Keuangan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I), Drs. Mugianto, S.E., M.Si., (II) Subagyo, S.E.,S.H.,M.M. Kata kunci : kupon obligasi, maturitas obligasi, yield obligasi,fixed rate Investasi merupakan suatu kata yang tidak terlepas dari kehidupan kita. Alternatif investasi dapat dilakukan pada real assets ataupun pada finansial assets. Pada real assets, investasi dapat dilakukan dengan membeli tanah, bangunan dan sebagainya. Sedangkan investasi pada finansial assets dapat dilakukan di pasar modal. Pasar modal merupakan pasar tempat diperjualbelikan instrumen keuangan jangka panjang, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri. Di pasar modal, pihak yang kekurangan dana dapat mengeluarkan surat kepemilikan modal (saham) ataupun surat hutang (obligasi). Dalam melakukan investasi, investor harus mempertimbangkan berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah risiko obligasi, kupon obligasi, likuiditas obligasi, maturitas obligasi, yield obligasi, rating obligasi dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut perlu dipertimbangkan karena akan sangat berpengaruh terhadap harga obligasi. Namun dalam penelitian ini, yang akan dibahas lebih lanjut adalah pengaruh kupon obligasi, maturitas obligasi, yield obligasi terhadap harga obligasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh kupon obligasi, maturitas obligasi, yield obligasi secara parsial terhadap harga obligasi (2) pengaruh kupon obligasi, maturitas obligasi dan yield obligasi secara simultan terhadap harga obligasi. Data penelitian dianalisis melalui analisis regresi linier berganda. Penelitian ini adalah penelitian populasi. Jumlah obligasi pemerintah seri fixed rate (FR) pada tahun 2005-2007 berjumlah 22 obligasi, namun karena keterbatasan peneliti maka populasi yang diteliti dalam penelitian ini berjumlah 21 obligasi pemerintah seri fixed rate (FR). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara kupon obligasi, maturitas obligasi, dan yield obligasi secara parsial terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate (FR) periode 2005-2007. Pengaruh tersebut ada yang mempunyai hubungan positif dan adapula yang mempunyai hubungan negatif. Pada kupon obligasi dan harga obligasi terdapat pengaruh yang positif. Hal ini berarti jika kupon obligasi tinggi, maka harga obligasi akan tinggi, begitu juga sebaliknya. Pada maturitas obligasi dan harga obligasi terdapat pengaruh negatif. Hal ini berarti, jika maturitas obligasi panjang, maka harga obligasi akan murah, begitu pula sebaliknya. Pada yield obligasi dan harga obligasi terdapat pengaruh yang negatif. Artinya bahwa jika investor mengharapkan yield yang tinggi maka investor tersebut harus membeli obligasi tersebut dengan harga yang rendah/ lebih murah dari yang ditawarkan. Berdasarkan hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara kupon obligasi, maturitas obligasi, dan yield obligasi secara simultan terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate (FR) periode 2005-2007. Berdasarkan temuan di atas, saran yang dapat diberikan bagi pihak investor hendaknya memperhatikan kupon, maturitas dan yield obligasi ketika akan membeli obligasi. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti selanjutnya dapat menggali variabel-variabel baru selain kupon obligasi, maturitas obligasi dan yield obligasi, misalnya variabel rating obligasi, risiko obligasi, suku bunga bank dan beberapa variabel lain yang dapat dijadikan temuan baru dalam penelitian selanjutnya. Peneliti yang akan datang juga diharapkan lebih selektif dalam memilih teknik pengambilan data, apakah menggunakan teknik data populasi (population regression function) atau menggunakan data sampel (sample regression function).

Penerapan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar pada pokok bahasan konsumsi dan tabungan siswa kelas X SMA Negeri 1 Tarik / Syahrul Halim

 

Halim, Syahrul. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Hasil Belajar Pada Pokok Bahasan Fungsi Konsumsi dan Tabungan Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tarik. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Nasikh, S.E, M.P, M.Pd. (II) Ro’ufah Inayati, S.Pd. M.Pd. Kata Kunci: Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), Pemahaman Konsep, Hasil Belajar.     Pada pelaksanaan sebuah pembelajaran seorang guru harus memikirkan hal yang akan dilakukan pada proses belajar mengajar, guru harus memikirkan bagaimana merancang kegiatan yang akan dilaksanakan, sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan lancar dan dapat mencapai hasil yang optimal. Tingkat pemahaman konsep dan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Tarik masih tergolong rendah yang ditunjukkan pada nilai UTS semester genap bahwa sebanyak 29 siswa dari 36 siswa yang nilainya di bawah KKM (75). Hal ini dipengaruhi oleh cara guru dalam melaksanakan kegiatan mengajar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu strategi dan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dan hasil belajar. Salah satu strategi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).     Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, dengan tahap 2 siklus. Setiap siklus melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Setiap siklus terdiri dari 4 kali pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tulis, tes lisan, observasi, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Tarik Kelas X-5 pada semester genap tahun ajaran 2012-2013. Jumlah siswa sebanyak 36 siswa terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan terhitung sejak 25 Maret 2013 sampai dengan 24 April 2013. Pemahaman konsep siswa meningkat sebesar 15%, dari siklus I persentase pemahaman 80% menjadi 95% pada siklus II. Hasil belajar pada penilaian kognitif juga mengalam peningkatan sebesar 25%, dari siklus I tingkat ketuntasan sebesar 61% menjadi 86% pada siklus II. Tingkat pemahaman konsep dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran. Semakin baik model pembelajaran yang diterapkan semakin baik pula tingkat pemahaman dan hasil belajar siswa.

Studi pelaksanaan pondasi telapak setempat pada proyek pembangunan tower smart di desa Sukoanyar Kecamatan Selorejo Batu / Maria Ulfa

 

ABSTRAK Ulfa, Maria, 2008. Studi Pelaksanaan Pondasi Telapak Setempat pada Proyek Pembangunan Tower Smart di Desa Sukoanyar Kecamatan Selorejo Batu. Proyek Akhir, Program Studi Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Adjib Karjanto., S.T, M.T. Kata kunci: pelaksanaan, pondasi, telapak setempat Di jaman yang serba maju dan cepat ini manusia di tuntut untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan di dunia seluler semakin berkembang dengan munculnya berbagai macam operator guna memperluas jaringan tersebut, untuk itu diperlukan pembangunan tower ke berbagai daerah termasuk diwilayah Sukoanyar. Salah satu bagian yang menunjang dari tower tersebut adalah pondasi yang merupakan bagian bangunan yang menghubungkan bangunan dengan tanah, menjamin kestabilan bangunan terhadap muatan atau beban yang meliputi: berat sendiri, beban berguna, dan gaya-gaya luar terhadap bangunan seperti berat bangunan, tekanan angin, gempa bumi dan lain-lain. Studi pelaksanaan ini untuk mengetahui bagaimana metode pelaksanaan galian pondasi, urugan tanah, lantai kerja, penulangan, pembuatan bekisting, pengecoran, dan perawatan beton pada proyek pembangunan tower Smart di desa Sukoanyar kecamatan Selorejo Batu. Bila terjadi ketidaksesuaian antara teori di buku dengan yang ada dilapangan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui teknik observasi, teknik tanya jawab, dan dokumentasi foto dilapangan. Data pelaksanaan dilapangan dibandingkan dengan beberapa pedoman yang ada. Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk dapat mengetahui dan menyikapi permasalahan-permasalahan yang ada dilapangan. Hasil studi pelaksanaan dilapangan tentang pondasi telapak setempat telah sesuai dengan metode-metode yang telah ada dalam Susanta (2007). Pelaksanaan pekerjaan galian, urugan pasir dengan ketebalan 5 cm telah sesuai dengan Renggo (2006), lantai kerja sesuai dengan PBI N.1.-2-1971 yaitu menggunakan perbandingan spesi 1 pc : 3 Ps : 5 kr tetapi mengggunakan perbandingan 1 pc : 2 ps : 5 kr tetapi dengan ketebalan yang sama 5 cm. pada pekerjaan penulangan sesuai dengan pendapat (Soemardi, Istimawan dan Kusuma). Seperti pemotongan dilakukan dengan menggunakan cutting bar, pembengkokan tulangan dilakukan dengan menggunakan alat pembengkok dengan sudut 90°, pengikatan kawat rangkap/dobel. Setelah tulangan dirangkai dilapangan kemudian dipasang bekisting, metode pemasangannya telah sesuai dengan buku pedoman Wigbout dan Kusuma.selanjutnya proses pengecoran sesuai dengan Astanto yaitu setelah beton dituangkan kemudian dipadatkan dengan vibrator. Beton yang digunakan dalam pengecoran adalah K-225 menggunakan beton ready mix. Perawatan beton sudah sesuai dengan pendapat Soeharno bahwa beton harus disiram air sekurang-kurangnya selama 2 minggu. Berdasarkan studi lapangan ini disarankan bahwa sebaiknya para pekerja lebih memperhatikan K3 demi keselamatan masing-masing pekerja, seperti penggunaan helm dan sepatu boot kurang diperhatikan

Penerapan model pembelajaran learning cycle 5 face dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi segitiga di kelas VII SMP Negeri 21 Malang / Heny Fitri Yunita

 

ABSTRAK Yunita, Heny Fitri. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Segitiga di Kelas VII SMP Negeri 21 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Askury, M.Pd, (II) Drs. Susiswo, M.Si. Kata kunci: model pembelajaran Learning Cycle 5 fase, hasil belajar, segitiga. Dalam kehidupan sehari-hari segitiga sering digunakan misalnya: rambu-rambu lalu lintas, jam dinding, dll, Oleh karenanya pemahaman konsep terhadap materi segitiga sangatlah penting. Kenyataannnya, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi segitiga. Kesulitan yang dialami mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa pada materi segitiga. Kesulitan siswa dalam memahami materi segitiga diduga karena kurang tepatnya strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Kurang tepatnya pemilihan strategi pembelajaran akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi segitiga di kelas VII SMP Negeri 21 Malang dilakukan dengan mengadakan penelitian menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration/extention, evaluation. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi segitiga di kelas VII SMP Negeri 21 Malang. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk melaksanakan tindakan ini disusunlah rencara tindakan melalui 2 siklus. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1) hasil observasi aktivitas guru siklus I dengan persentase 87% yang mempunyai kategori sangat baik dan siklus II dengan persentase 91,33% yang mempunyai kategori sangat baik, sehingga terjadi peningkatan aktivitas guru, 2) hasil observasi aktivitas siswa siklus I dengan persentase 78,53% yang mempunyai kategori baik dan siklus II dengan persentase 84,71% yang mempunyai kategori baik, sehingga terjadi peningkatan aktivitas siswa. Keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa, 3) hasil belajar siswa meningkat hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata tes siswa pada setiap akhir siklus yaitu dari 82,14 menjadi 86,98. Karena itu dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran matematika model Learning Cycle 5 fase, hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 21 Malang mengalami peningkatan dengan skor peningkatan nilai rata-rata tes 4,84.

Kemacetan penyelenggaraan program Pos Pendidikan Anak Usia Dini (Pos PAUD) (studi kasus di Kelurahan Gempeng Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan) / Ritsa Rohmatus Sa'idah

 

Sa’idah, Ritsa Rohmatus. 2011. Kemacetan Penyelenggaraan Program Pos Pendidikan Anak Usia Dini (Pos PAUD) Studi Kasus di Kelurahan Gempeng Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Djauzi Mudzakir, M.A, (II) Drs. Ahmad Mutadzakir, M.Pd. Kata Kunci: Kemacetan penyelenggaraan program, Pos Pendidikan Anak Usia Dini      Perkembangan jumlah Pos PAUD semakin lama semakin meningkat, seiring dengan berkembangnya penduduk, sehingga pelayanan penyelenggaraan program semakin meningkat. Tentunya hal ini perlu diimbangi dengan peran serta masyarakat dalam upaya pengembangan Pos PAUD ke depan. Peningkatan jumlah Pos PAUD ini tidak terjadi di kelurahan Gempeng kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Secara lebih rinci penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyelenggaraan program PAUD yang pernah berlangsung di kelurahan Gempeng, mendiskripsikan faktor-faktor penyebab kemacetan penyelenggaraan program PAUD kelurahan Gempeng, dan potensi masyarakat untuk mengembangkan kembali program PAUD kelurahan Gempeng.      Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang mendalam/mendetail tentang kemacetan program PAUD di Kelurahan Gempeng Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Oleh karena itu, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Subjek penelitian ini adalah bidan desa, kader posyandu dan aparat kelurahan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan studi dokumentasi.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan program pendidikan anak usia dini kelurahan Gempeng Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen pendidikan diantaranya, (1) Perencanaan program yang telah dilaksanakan, sesuai dengan perencanaan yang telah disusun, (2) Terdapat komponen dalam pengorganisasian, dimana komponen tersebut saling berinteraksi dan berkomunikasi sehingga terbentuk suatu kerjasama yang dapat meningkatkan kualitas suatu lembaga, (3) Dalam pelaksanaan PAUD ini terdapat faktor penentu yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor proses pelaksanaan pembelajaran dan faktor substansi program PAUD, (4) Pengawasan dan evaluasi selalu dilakukan oleh pihak pengelola. Faktor-faktor penyebab kemacetan penyelenggaraan program pendidikan anak usia dini (PAUD) kelurahan Gempeng kecamatan Bangil Pasuruan yaitu, pergantian pengelola, minimnya latar belakang pengetahuan pendidik tentang pendidikan anak usia dini dan minimnya keuangan di Pos PAUD kelurahan Gempeng kecamatan Bangil Pasuruan. Potensi masyarakat untuk mengatasi kemacetan penyelenggaraan program PAUD di kelurahan Gempeng ini meliputi: (1) Kekuatan (strength) yang meliputi respon positif dari aparat kelurahan dan respon masyarakat yang menginginkan anaknya mendapat pendidikan sambil memeriksakan kesehatannya di Posyandu, (2) Kelemahan (weakness) yang meliputi lemahnya komitmen pengelola dan skill pendidik yang rendah, (3) Peluang (opportunity), adanya program alokasi dana DAU dari PNPM, (4) Ancaman (threat) yang meliputi program mutasi bidan desa dan munculnya PAUD baru yang dikelola secara profesional. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka secara garis besar dapat dikemukakan beberapa saran yang dapat dijadikan pertimbangan. Adapun saran-saran tersebut antara lain: (1) Untuk Pos PAUD kelurahan Gempeng: (a) Hendaknya pengelola Pos PAUD kelurahan Gempeng memperbaiki kinerjanya dalam mengelola Pos PAUD sehingga Pos PAUD bisa terselenggara kembali dengan baik, (b) Hendaknya pendidik Pos PAUD kelurahan Gempeng lebih meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan untuk pendidik PAUD, (c) Pengelola dan pendidik Pos PAUD kelurahan Gempeng dapat menyelenggarakan kembali Pos PAUD dengan memberdayakan potensi yang ada di masyarakat, (2) Hendaknya Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Jurusan Pendidikan Luar Sekolah mengadakan pelatihan-pelatihan untuk pendidik dan tenaga kependidikan PAUD, (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk melengkapi kekurangan yang ada untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang PAUD khususnya tentang penyelenggaraan program PAUD dan dapat digunakan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

Belajar kooperatif model jigsaw untuk memahami sistem persamaan linear di STMIK Pradnya Paramita Malang / Timbul Yuwono

 

Sistem Persamaan Linear merupakan salah satu topik penting dalam mata kuliah Aljabar Linear. Topik ini merupakan materi mendasar untuk mempelajari topik-topik selanjutnya. Pemahaman sistem persamaan linear akan membantu mahasiswa memahami topik-topik berikutnya dalam mata kuliah Aljabar Linear. Berdasarkan Pengamatan dan pengalaman peneliti mata kuliah Aljabar Linear masih dianggap sulit. Anggapan ini akan berdampak pada rendahnya motivasi belajar mahasiswa terhadap mata kuliah Aljabar Linear. Persepsi tersebut juga akan berdampak terhadap prestasi akademik mahasiswa. Salah satu topik mata kuliah Aljabar Linear adalah Sistem Persamaan Linear. Pada saat Pembelajaran Sistem Persamaan Linear di STMIK Pradnya Paramita Malang aktifitas mahasiswa cenderung pasif. Hal ini dikarenakan mahasiswa menunggu apa yang akan diajarkan dan diintruksikan pengajar. Pada saat ada ada pertanyaan mereka umumnya diam. Mereka tidak aktif dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan peran dan aktifitas mahasiswa dalam pembelajaran, sehingga diharapkan pemahaman mahasiswa dalam bidang Sistem Persamaan linear akan meningkat. Untuk mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami Sistem Persamaan Linear perlu diciptakan suatu kondisi pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berpartisipasi aktif, sehingga diharapkan dapat memahami materi dengan baik. Cara yang dianggap tepat adalah dengan belajar kooperatif model jigsaw. Pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah suatu model belajar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar aktif dan saling membantu dalam menguasai materi Sistem Persamaan Linear untuk mencapai prestasi yang maksimal. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan belajar kooperatif model jigsaw untuk memahami Sistem Persamaan Linear, mendeskripsikan kerjasama mahasiswa dalam pembelajaran Sistem Persamaan Linear dengan belajar kooperatif model jigsaw dan mendeskripsikan respon mahasiswa terhadap belajar kooperatif model jigsaw dalam pembelajaran Sistem Persamaan Linear. Data dikumpulkan melalui (1) tes, (2) Observasi, (3) wawancara, (4) catatan lapangan, dan (5) angket. Subyek penelitian adalah satu kelas dan untuk keperluan wawancara dipilih satu kelompok sebagai subsubjek. Hasil Penelitian diperoleh bahwa (1) Mahasiswa dapat memahami Sistem Persamaan Linear dengan kooperatif model jigsaw. (2) Kerjasama mahasiswa dalam pembelajaran Sistem Persamaan Linear Sangat Baik, (3) Respon mahasiswa terhadap pembelajaran Sistem Persamaan Linear dengan model jigsaw sangat positif. Temuan dalam penelitian ini antara lain (1) Pemahaman maha siswa dipengaruhi lingkup lembar kegiatan belajar yang dibuat oleh pengajar. (2) Kerjasama mahasiswa dalam kegiatan belajar kelompok sangat baik, karena mereka termotivasi dengan komitmen dalam kepentingan bersama, hasil bersama untuk mencapai tujuan bersama (3) Respon mahasiswa terhadap pembelajaran Sistem Persamaan Linear dengan belajar kooperatif model Jigsaw sangat positif Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain (1) Untuk efektifitas pembelajaran harus memperhatikan kemampuan akademis mahasiswa, untuk mahasiswa dengan rata-rata kemampuan tinggi sebaiknya dibuat empat kelompok ahli, untuk mahasiswa dengan kemampuan heterogen sebaiknya dibuat dua kelompok ahli (2) Materi yang disusun berupa lembar kegiatan belajar atau modul sebaiknya diberikan sebelum pelaksanaan pembelajaran (3) Aktifitas diskusi mahasiswa akan meningkat bila diberi penghargaan berupa tambahan nilai mata kuliah.

Pengawetan kayu pinus (Pinus Merkusii) menggunakan filtrat umbi gadung dengan sistem perendaman dingin terhadap serangan rayap / Waendyah Fufu

 

ABSTRAK Fufu, Waendyah. 2008. Pengawetan Kayu Pinus (pinus merkusii) menggunakan Filtrat Umbi Gadung dengan Sistem Perendaman Dingin terhadap Serangan Rayap . Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Karyadi, S.Pd., M.P., M.T., (II) Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T. Kata kunci: pengawetan kayu Pengawetan kayu yang selama ini dilakukan adalah dengan menggunakan bahan-bahan pengawet kimia. Namun dari pemakaian bahan pengawet kimia tersebut mengakibatkan pencemaran lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut maka dalam penelitian ini dipakai bahan pengawet yang berbahan alami sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahan alami yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari filtrat umbi gadung. Kayu yang diawetkan adalah kayu pinus merkusii. Diharapkan pengawetan kayu ini dapat meminimalisir kerusakan kayu akibat serangan rayap. Tujuan dari penelitian pengawetan kayu dengan filtrat umbi gadung ini (1)untuk mengetahui perbedaan persentase berat kayu yang dimakan rayap antara kayu pinus yang tidak diawetkan dengan kayu pinus yang diawetkan menggunakan filtrat umbi gadung konsentrasi 2,5 %, 5 %, dan 7,5 %, (2) untuk mengetahui perbedaan jumlah retensi antara kayu pinus yang diawetkan menggunakan filtrat umbi gadung konsentrasi 2,5 %, 5 %, dan 7,5 %, (3) untuk mengetahui perbedaan jumlah permukaan yang dimakan rayap pada kayu pinus yang diawetkan dari bahan pengawet kayu filtrat umbi gadung dengan konsentrasi 0 %, 2,5 %, 5 %, dan 7,5 %. Untuk mengetahui perbedaan persentase berat kayu pinus yang hilang dimakan rayap serta perbedaan retensi pada masing-masing kelompok yang dikenai perlakuan, maka analisa yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah menggunakan analisa varian (anava) satu jalur dan dilanjutkan dengan uji t test. Hasil dari penelitian ini terdiri dari tiga, yaitu: (1) tidak ada pengaruh pemakaian filtrat umbi gadung dengan konsentrasi 2,5 %, 5 % dan 7,5 % pada penelitian ini terhadap serangan rayap pada kayu pinus, (2) tidak ada perbedaan jumlah bahan pengawet yang masuk ke dalam kayu (retensi) antara kayu pinus yang diawetkan menggunakan filtrat umbi gadung konsentrasi 2,5 %, 5 % dan 7,5 %, (3) tidak ada perbedaan yang signifikan jumlah permukaan kayu pinus yang dimakan rayap antara kayu pinus yang diawetkan menggunakan filtrat umbi gadung pada konsentrasi 0 %, 2,5 %, 5 % dan 7,5 %.

Analisis upaya pengurangan risiko kredit macet pembiayaan konsumen (consumer financing) (studi kasus pada PT Sasana Artha Finance (SAF) Cabang Malang) / Listilasa Gaby Edelweis

 

Edelweis, Listilasa Gaby. 2013. Analisis Upaya Pengurangan Risiko Kredit Macet Pembiayaan Konsumen (Consumer Financing) Studi Kasus Pada PT Sasana Artha Finance (SAF) Cabang Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Suparti, MP (2) Sulastri, S.Pd., M. SA. Kata Kunci: Pembiayaan Konsumen, Analisis risiko kredit macet Perusahaan pembiayaan konsumen adalah perusahaan yang mengutamakan asas kepercayaan kepada nasabahnya dalam pemberian pembiayaan. Penyediaan dana bagi nasabahnya dengan cara pelunasan berkala hanya didasarkan pada surat perjanjian dan jaminan membuat perusahaan pembiayaan rentan terhadap risiko gagal bayar dikemudian hari. Semakin luasnya fenomena risiko gagal bayar dikemudian hari yang dialami perusahaan pembiayaan, maka dilakukan analisis kredit yang dijadikan pedoman persetujuan permohonan kredit. Analisis kredit tersebut berpedoman pada dasar perbankan yang melakukan studi kelayakan calon nasabahnya. Studi kelayakan ini dimaksudkan untuk menjadi dasar penilaian kemampuan keuangan maupun non keuangan seseorang yang menjadikan jaminan kecilnya kemungkinan piutang tak tertagih. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis adanya kemungkinan risiko kredit macet di kemudian hari dengan melakukan penerapan analisis kredit. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan mengaplikasikan metode penelitian deskriptif dengan data-data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara sehingga diperoleh data yang tidak bias. Lokasi penelitian adalah PT Sasana Artha Finance (SAF) yang berlokasi di jalan Jendral Basuki Rakhmad 58 Malang. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara tatap muka yang dilakukan secara tertutup kepada kepala cabang, remedial, surveyor dan 4 orang nasabah yang mengalami wanprestasi, serta dilakukan pula observasi langsung. Hasil penelitian ini disebutkan bahwa pengajuan kredit dilakukan dengan beberapa tahapan dimulai dari pemilihan barang, pengisian form aplikasi yang dilampirkan dokumen pendukung serta dilakukan perjanjian jaminan dan fidusia. PT Sasana Artha Finance (SAF) telah melakukan analisis kredit terhadap calon nasabahnya meliputi character dan capital sebelum pengajuan dan dilakukan analisis kredit collateral setelah terjadi persetujuan pengajuan kredit. Dan yang terakhir apabila debitur dinyatakan wanprestasi atau mengalami gagal bayar maka diberikan surat peringatan (SOMASI) hingga dilakukan eksekusi jaminan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar PT Sasana Artha Finance (SAF) melakukan analisis kredit tidak hanya pada character, capital, dan collateral tetapi juga pada capacity dan condition of economic pada calon nasabahnya.

Hambatan-hambatan belajar siswa dalam menempuh mata diklat gambar bangunan pada program keahlian teknik gambar bangunan di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung / Rulie Hermadiyono

 

ABSTRAK Hermadiyono, Rulie. 2008. Hambatan-hambatan Belajar Siswa dalam Menempuh Mata Diklat Gambar Bangunan pada Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sutrisno, S. T., M.Pd, (2) Drs. H. Tri Kuncoro, S.T., M. Pd. Kata kunci: hambatan belajar, gambar bangunan Pendidikan merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat, oleh karena itu pendidikan harus dirancang dan dilaksanakan dalam kaitan yang harmonis, selaras dengan aspirasi kehidupan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, sehingga hasilnya akan benar-benar sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah meningkatkan SDM khususnya pada siswa dengan mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi siswa selama dalam proses belajar mengajar. Penelitian sangat perlu dilakukan untuk mengetahui berbagai macam hambatan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan-hambatan belajar secara akademis yang dialami siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar pada mata diklat gambar bangunan dan untuk mengetahui hambatan-hambatan belajar secara non akademis yang dialami siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar pada mata diklat gambar bangunan di SMKN 3 Boyolangu Tulungagung. Penelitian ini dilakukan di SMKN 3 Boyolangu khususnya pada Mata Diklat Gambar Bangunan Pada Program Keahlian Teknik Bangunan. Sampel penelitian 94 siswa yang terdiri dari 63 siswa kelas 1 dan 31 siswa kelas 2. Pengambilan data menggunakan angket dan observasi. Data analisis dengan deskriptif yang meliputi analisa frekuensi, persentase dan diagram. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami hambatan belajar baik dari dalam (intern) maupun dari luar (ekstern). Hambatan dari dalam meliputi penguasaan materi, minat siswa, bakat siswa, pengaturan waktu belajar, kesehatan dan cacat. Hambatan dari luar meliputi metode pembelajaran, kurikulum, sarana dan prasarana, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, kegiatan siswa dalam masyarakat dan teman bergaul. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan (1) siswa lebih memperhatikan hambatan/kesulitan yang dapat mempengaruhi belajar dengan cara mengidentifikasi dan memahami semua hambatan belajar, (2) Apabila siswa mengalami hambatan dalam belajar, diharapkan secara aktif selalu berkonsultsai dengan guru bimbingan konseling (BK) supaya hambatan bisa dipecahkan dan dapat terselesaikan dengan baik, (3) Guru harus menciptakan proses belajar yang baik dengan cara membangkitkan dorongan/motivasi dan merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan siswa dan mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya, (4) Orang tua diharapkan berperan serta dalam mengatasi hambatan belajar dengan cara mengawasi, memotivasi, memberi dorongan dan membantu kesulitan belajar yang dialami anak (siswa

Pengaruh kebiasaan belajar dan perhatian orang tua terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS (ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang / Zainul Muharam Rusdiyanto

 

ABSTRAK Rusdiyanto, Zainul Muharam. 2013. Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Perhatian Orang Tua terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS (Ekonomi) Siswa Kelas VIII SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr H Sugeng Hadi Utomo. M.Sc, (II) Drs. H Achmad Ali Wafa M.Pd. Kata kunci: Kebiasaan Belajar, Perhatian Orang Tua, Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS (Ekonomi). Pada saat ini siswa cenderung dalam proses belajarnya hanya dilakukan di sekolah. Cukup banyak siswa yang di rumahnya tidak belajar sendiri. Hal ini dikarenakan siswa tersebut tidak mempunyai waktu belajar yang rutin. Siswa akan belajar ketika menghadapi ujian atau terdapat tugas di rumah. Masalah seperti ini merupakan masalah tentang kebiasaan belajar siswa. Setiap siswa memiliki kebiasaan belajar yang berbeda-beda, ada yang memiliki kebiasaan belajar yang baik dan tidak baik. Sehingga nantinya akan berpengaruh pada hasil belajar siswa. Selain itu siswa dalam proses belajar memerlukan dukungan dari pihak lain terutama peran orang tua. Peran orang tua dapat dilakukan dengan cara memberikan perhatian pada anaknya khususnya pada proses belajar. Namun yang terjadi terdapat orang tua yang tidak perhatian pada anaknya. Orang tua terkesan lupa dengan anaknya, karena orang tua sibuk dengan pekerjaan dan sebagainya. Sehingga anak tidak diperhatikan dalam proses belajarnya, apakah telah belajar dengan baik atau tidak. Dan akhirnya akan berpengaruh pada hasil belajar anak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh secara parsial dan simultan dari pengaruh kebiasaan belajar (X1), perhatian orang tua (X2) dan hasil belajar (Y) pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang. Subyek dalam penelitian ini seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 333 siswa sebagai populasi. Sedangkan untuk jumlah sampel sebesar 182 siswa yang dihitung dengan menggunakan rumus Slovin, kemudian untuk teknik pengambilan sampel ialah proportional random sampling. Metode analisis data penelitian ini menggunakan adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, uji t dan uji F. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 16 dengan taraf signifikansi 5 %. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan diperoleh beberapa simpulan. Pertama, kebiasaan belajar mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII di SMP Negeri 18 Malang. Kedua, perhatian orang tua mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII di SMP Negeri 18 Malang. Ketiga, secara simultan kebiasaan belajar dan perhatian orang tua berpengaruh terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII di SMP Negeri 18 Malang. Dimana sumbangan pengaruh kebiasaan belajar sebesar 3,7% dan perhatian orang tua menyumbang sebesar 4,8%. iii Saran dalam penelitian ini ialah (1) guru mata pelajaran ekonomi hendaknya membangun kerjasama dengan orang tua siswa berupa pertemuan rutin untuk membahas masalah yang dihadapi oleh siswa dalam proses belajar. (2) Bagi guru mata pelajaran ekonomi dan orang tua hendaknya memperhatikan dan menghimbau siswa untuk mempunyai kebiasaan belajar yang baik terutama pada pengaturan jadwal belajar rutin di rumah. (3). Orang tua hendaknya memberikan perhatian yang cukup pada anaknya khususnya perhatian terhadap dunia pendidikan. Perhatian yang cukup dapat berupa pengawasan dan dorongan belajar pada anak. (4) Untuk peneliti selanjutnya hendaknya menambah variabel pemanfaatan fasilitas belajar baik dirumah maupun di sekolah dan pengumpulan data dapat ditambah dengan wawancara maupun observasi. Sehingga penelitian ini dapat dikembangkan lagi untuk menjadi yang lebih baik.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap pelajaran sejarah di SMP 06 Malang kelas VIII.2 / Nova Dewi Anggraeni

 

Studi lapangan penggunakan baja tulangan sistem jaring kawat baja las (Wire Mesh) pada pekerjaan penulangan struktur pelat lantai proyek pembangunan struktur gedung Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya Malang Jl. Veteran Malang 65145 / Mochammad Nurch

 

Analisis kinerja dalam perspektif balanced scorecard pada badan pelayanan kesehatan rumah sakit daerah Mardi Waluyo Blitar / Citra Marianto

 

ABSTRAK Marianto, Citra. 2008. Analisis Kinerja Dalam Perspektif Balanced Scorecard Pada BPK RSD Mardi Waluyo Blitar. Tugas Akhir, Program Studi D-III Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Puji Handayati, SE, M.Si, Ak Kata Kunci: balanced scorecard, dan pengukuran kinerja Intensitas persaingan usaha yang meningkat secara cepat dewasa ini, mendorong perubahan dalam lingkungan dunia usaha dan pergeseran tujuan perusahaan. Untuk itu, badan usaha memerlukan tolok ukur baru, yang dapat menyeimbangkan antara aspek finansial dan non finansial dan berisi tidak hanya indikator- indikator finansial yang bersifat kuantitatif namun juga berisi indikator non finansial. Tolok ukur ini disebut Balanced Scorecard. Melalui Balanced Scorecard, fokus perusahaan tidak hanya dititikberatkan pada perspektif keuangan, namun manajer juga dituntut untuk memperhatikan perspektif lainnya dalam rangka mencapai tujuan jangka panjang perusahaan. Penelitian ini mempunyai tujuan mendasar, yakni mengetahui bagaimana tingkat kinerja RSD Mardi Waluyo Blitar berdasarkan analisis Balanced Scorecard. Data-data yang diperlukan dikumpulkan dengan metode interview, observasi, dokumentasi, serta dengan membagikan sejumlah kuesioner atau angket kepada para pelanggan maupun karyawan RSD Mardi Waluyo Blitar untuk mengetahui tingkat kepuasan dari pelanggan maupun karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan Perspektif Keuangan laba yang diperoleh rumah sakit meningkat, dari Rp. 5.497.247.656 pada periode 2004/2005 menjadi Rp. 7.421.137.994 periode 2005/2006. Penerapan Perspektif Pelanggan juga berhasil meningkatkan jumlah pasien pada Poliklinik, IRD, dan IRNA rata-rata 7 % untuk tahun 2004 sampai tahun 2006. Sedangkan Perspektif Bisnis Internal menghasilkan kenaikan jumlah pasien pada Instalasi Pavilliun dari 1.242 tahun 2004/2005 menjadi 1.412 pada tahun 2005/2006. Berdasarkan kesimpulan di atas, memperlihatkan pengukuran kinerja rumah sakit dengan pendekatan Balanced Scorecard mampu memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja semua komponen dalam rumah sakit, sekaligus dapat memberikan umpan balik ke depan demi perbaikan rumah sakit. Untuk itu dalam usaha menerapkan Balanced Scorecard di rumah sakit diperlukan dukungan dan komitmen bersama dari manajemen serta para karyawan dengan menjalankan tugas serta peranannya masing-masing dengan penuh rasa tanggung jawab dan selalu memberikan pelayanan yang terbaik sehingga mampu memenuhi harapan konsumen.

Pemetaan kompetensi guru sebagai metode analisis kebutuhan diklat (studi kasus di PPPPTK BOE/VEDC Malang) / Frandika Faqih Aditama

 

ABSTRAK Aditama, F. A. 2015. Pemetaan Kompetensi Guru sebagai Metode Analisis Kebutuhan Diklat (Studi Kasus di PPPPTK BOE/VEDC Malang). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing (1) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, (2) Dr. Mustiningsih, M.Pd. Kata kunci: diklat, pemetaan kompetens guru, analisis kebutuhan Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru adalah pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat). Sebagai upaya dalam mengantisipasi dan membenahi beberapa permasalahan pelaksanaan diklat, PPPPTK BOE (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika) atau lebih dikenal VEDC (Vocation Education Development Center) Malang selaku lembaga diklat melaksanakan pemetaan kompetensi sebagai metode analisis kebutuhan diklat guru yang didasarkan pada standar kompetensi guru. Kegiatan pemetaan kompetensi dimaksudkan untuk mengetahui kesenjangan antara kompetensi guru yang sebenarnya dengan standar kompetensi guru yang seharusnya dimiliki seorang guru. Kesenjangan kompetensi yang muncul tersebut akan direduksi dengan diklat-diklat sesuai kebutuhan. Penelitian ini memiliki fokus yaitu: (1) perencanaan pemetaan kompetensi guru sebagai metode analisis kebutuhan diklat di PPPPTK BOE/VEDC Malang, meliputi memetakan kompetensi, menyusun instrumen Evaluasi Diri Guru (EDG), sosialisasi software mapping kompetensi guru; (2) pelaksanaan pemetaan kompetensi guru sebagai metode analisis kebutuhan diklat di PPPPTK BOE/VEDC Malang, meliputi: proses mendapatkan peserta diklat menggunakan software mapping kompetensi, media yang digunakan untuk mendapatkan peserta diklat, kendala dalam penggunaan software mapping kompetensi; (3) Tindaklanjut pasca pelaksanaan pemetaan kompetensi guru sebagai metode analisis kebutuhan diklat di PPPPTK BOE/VEDC Malang, meliputi: pengusulan peserta diklat, penyusunan program diklat kompetensi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) Observasi; (2) wawancara; dan (3) dokumentasi. Adapun analisis data yang dilakukan dengan: (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) verifikasi data. Penelitian ini menggunakan teknik pengecekan keabsahan data trianggulasi. Triangulasi adalah teknik pengumpulan data untuk menguji kredibilitas data, dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Kemudian untuk memperoleh triangulasi sumber informasi, peneliti menanyakan kebenaran tentang informasi kepada beberapa orang yang terlibat dalam implementasi pemetaan kompetensi guru. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu: (1) Perencanaan pemetaan kompetensi di PPPPTK BOE/VEDC Malang meliputi penyusunan program diklat, menyusun instrumen evaluasi diri guru, dan merencanakan sosialisasi software mapping kompetensi guru. Program diklat disusun dengan berlandaskan standar i ii kompetensi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hasil dari pemetaan kompetensi guru sebagai analisis kebutuhan diklat adalah peta kompetensi guru yang akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan diklat kompetensi. Hal tersebut untuk menciptakan program diklat yang didasarkan atau disusun berdasarkan analisis kebutuhan peserta diklat. Selanjutnya berdasarkan pemetaan standar kompetensi guru dibuat instrumen EDG yang kemudian di integrasikan dalam software mapping kompetensi guru. Penggunaan software mapping kompetensi guru tersebut akan disosialisasi ke 20 sekolah tiap tahunnya. Perencaan tersebut melibatkan semua widyaswara di masing-masing departemen atau program keahlian. (2) Pelaksanaan diawali dengan sosialisasi software mapping kompetensi guru ke sekolah kejuruan di Indonesia. Software mapping kompetensi guru digunakan untuk memperoleh data yang empiris atau nyata mengenai kompetensi guru. Data tersebut berupa hasil perbandingan antara kompetensi guru yang seharusnya atau standar kompetensi dengan kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru. Hasil dari perbandingan tersebut adalah kesenjangan berupa peta kompetensi dari seorang guru yang akan menjadi landasan dalam pelaksanaan diklat. Selain menggunakan software dilakukan pula pemanggilan guru agar melakukan evaluasi diri. Hal tersebut memiliki tujuan untuk mengembangkan database pemetaan kompetensi guru sebagai kebutuhan diklat. (3) Tindak lanjut pasca pelaksanaan pemetaan kompetensi adalah pengusulan peserta diklat. Pengusulan tersebut mempertimbangkan beberapa hal antara lain quota dan anggaran masing-masing peserta diklat dalam 1 kelas. Selain itu juga dipertimbangkan mengenai komposisi asal/penyebaran peserta diklat, agar diklat dilaksanakan secara merata. Selanjutnya peserta tersebut akan ditindaklanjuti dengan diklat kompetesi yang disusun untuk memenuhi kompetensi yang diperlukan atau dibutuhkan peserta diklat. Diklat kompetensi juga disusun secara berjenjang untuk mengetahui tingkat kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru. Saran yang bisa disampaikan dari hasil penelitian ini adalah (1) Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, hendaknya hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui peta kompetensi guru SMK di Kota Malang. Kemudian guru yang belum melakukan evaluasi diri guru segera dianjurkan untuk melakukan evaluasi diri guru, sehingga diketahui peta kompetensinya. Peta kompetensi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui diklat kompetensi di PPPPTK BOE/VEDC Malang. (2) Kepala PPPPTK BOE/VEDC Malang, hendaknya hasil dari penelitian ini digunakan sebagai quality improvement dalam pengelolaan pemetaan kompetensi guru sebagai metode analisis kebutuhan diklat. Agar pengelolaan pemetaan kompetensi guru di PPPPTK BOE/VEDC Malang dapat dikelola lebih efektif dan efisien. (3) Para akademisi Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya hasil penelitian ini digunakan untuk mengembangkan Ilmu Manajemen Diklat di dalam Jurusan Administrasi Pendidikan yang nantinya semakin bertambahnya substansi manajemen yaitu matakuliah Pengembangan Profesi Pendidikan dan Pelatihan. (4) Peneliti lain, agar hasil penelitian ini dijadikan referensi untuk mengembangkan penelitian dalam bidang pengelolaan pendidikan dan pelatihan (diklat), namun dalam ruang lingkup dan latar belakang yang berbeda.

Penerapan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dengan metode kooperatif model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-6 SMA Negeri 5 Malang / Haris Wirawan

 

Mutu organoleptik sosis ikan lele dumbo (Clarias Garipienus) dengan penggunaan jenis tepung yang berbeda / Riski Brahmantio

 

Sosis adalah makanan yang dibuat dari daging yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu, kemudian dimasukkan kedalam pembungkus yang berbentuk bulat panjang yang berupa usus hewan atau pembungkus buatan. Ikan lele dumbo adalah sejenis ikan yang mempunyai sifat unggul dibandingkan jenis ikan lainnya, yaitu pada ukurannya. Meskipun potensi produksi lele cukup besar, namun pemanfaatan hasil produksinya belum maksimal, hal ini disebabkan oleh ukurannya yang besar dan rasa yang kurang gurih dari ikan tersebut kurang diminati masyarakat, sehingga dengan demikian perlu adanya alternatif dan penyajian yang lebih dalam bentuk produk seperti Sosis Lele. Salah satu bahan dasar yang sangat berpengaruh terhadap tekstur dalam pembuatan sosis ikan lele adalah tepung. Tepung yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis tepung yang memiliki sifat yang tidak mudah larut, memiliki karakteristik halus, lembut dan transparan. Jenis tepung yang memiliki karakteristik tersebut di atas antara lain tepung maizena, tepung tapioka dan tepung tang mien. Untuk mengetahui perbedaan antara tekstur, rasa, warna, dan aroma amis yang ditimbulkan, maka di dalam penelitian ini dilakukan uji mutu hedonik dan uji hedonik terhadap sifat organoleptik yang ditimbulkan dari penggunaan tepung yang berbeda. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Sidik Ragam dan apabila terdapat perbedaan yang signifikan maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa untuk mutu organoleptik tekstur, rasa, warna dan aroma amis terdapat perbedaan yang nyata dari ketiga perlakuan dengan menggunakan tepung maizena, tapioka dan tang mien. Kesimpulan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata pada sosis ikan lele dengan penggunaan tepung maizena, tapioka dan tang mien. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saran yang diajukan untuk mendapatkan sosis ikan lele dengan kriteria rasa gurih, tekstur padat dan putih dengan penggunaan tepung maizena adalah penambahan pada bumbu. Serta sebaiknya dilakukan analisa financial terhadap produk sosis ikan lele pada masyarakat agar dapat bersaing di pasaran.

Kemampuan membaca bahasa Inggris tenaga edukatif non-bahasa Inggris di Universitas Riau / oleh Danifil

 

Pengembangan bahan ajar menulis naskah drama dengan memanfaatkan media cerita rakyat sebagai sumber ide pada siswa SMP kelas VIII / Elyanoor Oktaviana

 

Kata kunci: naskah drama, cerita rakyat, pembelajaran menulis naskah drama. Pembelajaran menulis sastra khususnya menulis naskah drama sebenarnya bertujuan untuk lebih dapat mempelajari budaya bangsa serta memacu kreativitas peserta didik. Namun ada juga hal yang lebih penting yaitu pembelajaran sastra dan menulis naskah drama bertujuan untuk menanamkan budi pekerti siswa melalui apresiasi terhadap karya sastra. Selain itu siswa juga diajak untuk dapat menuangkan kreativitasnya melalui karya sastra yang mereka buat. Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar menulis nasakh drama dengan memanfaatkan cerita rakyat sebagai sumber ide untuk pembelajaran menulis naskah drama. Dalam hal ini, peneliti ingin membuat strategi dalam pembelajaran menulis naskah drama serta memperbaiki apabila terdapat beberapa kesalahan dalam strategi pembelajaran ini melalui proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode mengembangkan metode pemanfaatan cerita rakyat. Cerita rakyat dipilih karena dianggap sebagai media yang mampu memancing kretivitas siswa dalam mengembangkan ide-ide dalam menulis naskah drama. Adapun beberapa langkah pengembangan yang harus dilakukan oleh siswa adalah (1) mengidentifikasi unsur tokoh dan watak tokoh dalam cerita rakyat yang telah dibaca, (2) mengidentifikasi unsur alur serta setting dalam cerita rakyat yang telah dibaca, (3) merumuskan tema berdasarkan hasil identifikasi unsur-unsur dalam cerita rakyat yang telah dibaca. Hal ini dilakukan agar siswa memahami unsur-unsur mana yang sama dengan naskah drama dan nantinya akan dikembangkan menjadi kerangka naskah drama. Setelah mengidentifikasi unsur, tahap selanjutnya adalah mengembangkan setiap unsur tersebut menjadi kerangka naskah drama yakni, (1) mengaitkan tema dengan tokoh, (2) mengaitkan unsur tema, tokoh, dengan alur dan setting, (3) membuat kerangka cerita, (4) mengembangkan kerangka cerita menjadi peristiwa utuh, (5) berlatih membuat dialog yang mampu menggambarkan unsur terpenting dalam drama, hingga (6) membuat naskah drama dengan memanfaatkan cerita rakyat sebagai sumber ide. Siswa dibagi lima kelompok dalam proses maupun tahap menulis naskah drama. Ketika diuji cobakan, ternyata bahan ajar yang dikembangkan peneliti mempunyai kelebihan dan kelemahan. Adapun kelebihan dari strategi ini adalah bahwa perintah-perintah dalam bahan ajar yang menggambarkan strategi ini sudah dapat dipahami dan dilaksanakan siswa serta mampu memancing kreativitas siswa dalam menuangkan ide.

Perbandingan minat siswa Sekolah dasr kelas 5 Malang wilayah pedesaan dan perkotaan terhadap seni tari / Wahyu Elis Setyowati

 

Analisis balanced scorecard terhadap penilaian kinerja pada PT. Kimia Farma Tbk. Plant Watudakon Jombang / Maharani Dewi Jayanti

 

Kata Kunci: Penilaian Kinerja, Balanced Scorecard, Keempat Perspektif. Dalam suatu dunia bisnis pasti ada persaingan antara perusahaan satu dengan yang lain, akan tetapi kebutuhan penilaian kinerja dalam suatu perusahaan semakin komplek seiring dengan ketatnya persaingan tersebut. Persaingan tersebut yang mendorong perusahaan untuk melakukan kinerja pada semua aspek, karena selama ini penilaian kinerja hanya berdasarkan aspek keuangan saja, padahal aspek non keuangan seperti pelanggan, proses internal bisnis, pembelajaran dan pertumbuhan itu juga sangat penting bagi kemajuan suatu perusahaan. Maka dari itu diperlukan sistem penilaian kinerja yang baru untuk melakukan penilaian kinerja yang lebih baik lagi yang disebut Balanced Scorecard. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan obat-obatan PT KIMIA FARMA (Persero) Tbk. sudah cukup baik, penilaian tersebut menggunakan metode Balanced Scorecard. Penulis melakukan penelitian tentang metode Balanced Scorecard karena selama ini PT KIMIA FARMA (Persero) Tbk. dalam menilai kinerja menggunakan empat perspektif ini tetapi tidak kompleks, padahal saat ini perusahaan tidak dapat hanya mengukur kinerja seperti itu tetapi perlu melakukan penilaian secara optimal dengan cara yang kompleks untuk kemajuan perusahaan. Oleh karena itu penulis ingin menganalisis kinerja perusahaan dengan menggunakan metode Balanced Scorecard yang mencakup keempat perspektif yang kompleks yaitu keuangan, pelanggan, proses internal bisnis, pembelajaran dan pertumbuhan untuk dapat menilai sejauh mana perusahaan dapat dikatakan baik kinerjanya. Analisis berdasarkan Balanced Scorecard terhadap PT KIMIA FARMA (Persero) Tbk. ini menghasilkan penilaian berupa: berdasarkan perspektif keuangan perusahaan menunjukkan kinerja yang baik, walaupun pada tahun 2010 dari segi keuangan menurun, perspektif pelanggan juga menunjukkan kinerja yang cukup baik. Pada perspektif proses internal bisnis menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, terlihat dari pengendalian stok yang berhasil dan kegagalan produksi yang berkurang di tahun 2010. Sedangkan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan kinerja perusahaan cukup baik dilihat dari penanggapan atas klaim gaji karyawan yang berkurang setiap tahun. PT KIMIA FARMA (Persero) Tbk. hendaknya mempertimbangkan menggunakan metode Balanced Scorecard yang lebih kompleks sebagai alat penilaian kinerja perusahaan, sehingga memberikan gambaran dan informasi yang menyeluruh dari keempat perspektif. Dengan adanya perbaikan kinerja, dan kepedulian terhadap karyawan, diharapkan perusahaan dapat lebih memahami kebutuhan pelanggan dan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan, sehingga pelanggan memberikan kepercayaan kepada perusahaan. Untuk tercapai keberhasilan tersebut hendaknya diikuti kerjasama dan dukungan serta komitmen yang tinggi dari semua pihak di dalam perusahaan untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan agar tercapai semua target yang telah ditentukan bersama.

Keefektifan model Aggression Replacement Training (ART) untuk mereduksi tingkat agresivitas siswa madrasah aliyah / Ali Murtadho

 

Murtadho, Ali. 2014. Keefektifan Model Aggression Replacement Training (ART) untuk Mereduksi Tingkat Agresivitas Siswa Madrasah Aliyah. Disertasi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Budi Wiyono, M.Pd., (II) Dr. H. Triyono, M.Pd., (III) Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd. Kata kunci: agresivitas, aggression replacement training (ART), siswa madrasah aliyah.     Agresivitas merupakan permasalahan yang kompleks dan masih eksis hingga saat ini. Agresivitas dapat terjadi di manapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Agresivitas bisa dilakukan di rumah maupun di sekolah, dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, melibatkan siswa bahkan guru. Perilaku ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tapi sekaligus mengganggu prestasi akademik. Upaya yang selama ini dilakukan untuk mereduksi agresivitas belum optimal hasilnya. Menyikapi keadaan tesebut perlu dilakukan upaya ilmiah merumuskan cara mereduksinya. Salah satu faktor internal yang menyebabkan terjadinya agresivitas berkaitan dengan kepribadian. ART merupakan desain intervensi multimodal dalam psikoedukasi untuk menangani masalah agresivitas bagi anak muda dan merupakan salah satu program yang ada dalam Cognitive Behavioral Therapy. ART memandang agresivitas berdasarkan pada teori belajar di mana agresivitas adalah perilaku yang dapat dipelajari; dipelajari melalui observasi, imitasi, pengalaman langsung, dan pengulangan. Oleh karenanya salah satu hal yang dapat diupayakan untuk mereduksi agresivitas adalah menggunakan ART. Pokok permasalahan dalam penelitian adalah apakah ART efektif dalam mereduksi tingkat agresivitas siswa?      Penelitian ini menggunakan true-experimental designs dengan randomized pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI Madrasah Aliyah Negeri Kendal sejumlah 42 orang siswa, 21 orang untuk kelompok eksperimen dan 21 orang untuk kelompok kontrol. Pengumpulan data agresivitas dengan menggunakan kuesioner agresivitas Buss & Perry (BPAQ) yang sudah dikembangkan dengan validitas isi 1,00; validitas item 0,312 sampai 0,668; muatan faktor 0,629 sampai 0,873; dan reliabilitasnya 0,909. Bahan perlakuan digunakan panduan Aggression Replacement Training (ART) validitas isi 0,850. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan t-test.     Hasil penelitian mengungkapkan: ART yang bernuansa budaya dan agama Islam efektif untuk mereduksi tingkat agresivitas siswa kelompok eksperimen dengan memperbandingkan antara mean prates dan pascates dengan nilai t sebesar 5.777 dan taraf signifikansi 0.000, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat agresivitas siswa menurun setelah mendapatkan perlakuan. Memperbandingkan mean pascates kelompok eksperimen sebesar 112,4762 dan kelompok kontrol sebesar 135,8095 menunjukkan hasil yang berbeda pula. Mean setelah mendapatkan perlakuan ART pada kelompok eksperimen lebih kecil daripada kelompok kontrol.     Berdasarkan hasil penelitian ini dinyatakan bahwa ART yang bernuansa budaya dan Agama Islam efektif untuk mereduksi tingkat agresivitas siswa Madrasah Aliyah. Untuk itu diajukan saran agar ART ini digunakan sebagai salah satu upaya untuk mereduksi tingkat agresivitas siswa Madrasah Aliyah.

Penggunaan metode diskusi untuk meningkatkan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial pokok bahasan zaman pendudukan Jepang siswa kelas V SDN Karangjatianyar Kecamatan Wonorejo Kabupaten Pasuruan tahun pelajaran 2004/2005 / oleh Andi Siswanto

 

Pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, laba bersih, dan tingkat perlindungan pajak terhadap kebijakan hutang pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI tahun 2005-2010 / Uswatun Chasanah

 

Kata Kunci: Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Laba Bersih, Tingkat Perlindungan Pajak, Kebijakan Hutang Kebijakan hutang adalah kebijakan yang diambil oleh pihak manajemen dalam rangka memperoleh sumber pembiayaan bagi perusahaan sehingga dapat digunakan untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan hutang diantaranya kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, laba bersih, dan tingkat perlindungan pajak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji adanya pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, laba bersih, tingkat perlindungan pajak terhadap kebijakan hutang perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan food and beverages yang listing di BEI selama periode 2005-2010 dan terklasifikasi dalam Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan kriteria yang ada, maka didapat 5 perusahaan yang menjadi sampel penelitian dengan periode 2005-2010. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda, sebelumnya terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik. Kesimpulan penelitian ini adalah secara parsial variabel kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kebijakan hutang. Sedangkan variabel kepemilikan institusional, laba bersih, dan tingkat perlindungan pajak tidak berpengaruh terhadap kebijakan hutang. Disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat memasukkan variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap kebijakan hutang. Bagi perusahaan hendaknya lebih berhati-hati dalam menggunakan kebijakan hutangnya karena penggunaan hutang akan meningkatkan risiko kebangkrutan. Bagi investor hendaknya menanamkan modalnya pada perusahaan dan mengawasi kebijakan hutang perusahaan. Bagi kreditor disarankan dalam memberikan dana pinjaman hendaknya selalu memperhatikan kemampuan perusahaan dalam melunasi hutangnya.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |