Pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau permukiman sederhana di Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Isa Wijiningtyas

 

Wijiningtyas, Isa. 2013. Pengetahuan dan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Permukiman Sederhana di Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd., M.Pd Kata Kunci: Pengetahuan, partisipasi masyarakat, permukiman sederhana, ruang terbuka hijau. Interaksi manusia dan lingkungan dapat menimbulkan munculnya berbagai masalah.Alih fungsi lahan menjadi permukiman sudah pasti menyebabkan berkurangnya RTH di Kota Malang.Semakin bertambahnya jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan merupakan salah satu penyebab terjadinya alihfungsi lahan terbuka hijau menjadi kawasan permukiman.Begitu pentingnya perananan RTH, menuntut semua warga masyarakat memiliki kepedulian, respon, dan partisipasi yang tinggi terhadap pengelolaan RTH.Respon berupa pengetahuan masyarakat yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam pengelolaan RTH.Partisipasi aktif masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengelolaan RTH. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan RTH permukiman sederhana di Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di permukiman sederhana di Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang Kota Malang .Responden dihitung sebanyak 100 KK yang berasal dari RW 10 dan RW 14, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik samplerandom sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, pengisian instrumen, dan dokumentasi.Data yang sudah didapatkan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Tingkat pengetahuan dan partisipasi masyarakat ada lima, yaitu (1) sangat tinggi, (2) tinggi, (3) sedang, (4) rendah, dan (5) sangat rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68% masyarakat di Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang Kota Malang memiliki pengetahuan yang sangat tinggi dalam pengelolaan RTH dan 63% masyarakat di Kelurahan Sawojajar memiliki partisipasi yang sedang terhadap pengelolaan RTH. Dari hasil penelitian disarankan perlu ditingkatkan sosialisasi dari pemerintah untuk menambah tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan RTH sehingga terbentuk masyarakat yang memiliki kepedulian yang tinggi dalam pengelolaan RTH, perlu ditingkatkan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak pengembang (developer) dalam menciptakan kawasan permukiman sederhana yang mampu mempertahankan RTH, perlu diadakan pemintakan antara tata bangunan dengan ruang terbuka hijau, sehingga tercipta kawasan hunian yang memiliki daya dukung lingkungan yang tinggi.

Analisis pengembangan pertanian apel sebagai agrowisata di Kecamatan Bumiaji Kota Batu / Ricki Cahyo Prastyo

 

Prastyo, Ricki Cahyo. 2013. Analisis Pengembangan Pertanian Apel sebagai Agrowisata di Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Satti Wagistina, S.P, M.Si, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: pertanian apel, agrowisata, Kecamatan Bumiaji Pertanian apel merupakan pertanian yang menjadi ciri khas di Kota Batu. Syarat hidupnya yang sesuai dengan kondisi geografis Kota Batu yakni di Kecamatan Bumiaji menjadi keunggulan komparatif wilayah ini. Seiring berkembangnya Kota Batu menjadi wilayah kunjungan wisata yang berkembang pesat, para petani apel mulai mengembangkan agrowisata petik apel. Daya tarik yang ditawarkan adalah pesona alam saat memetik apel di kebun petani. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, kunjungan wisatawan petik apel terus bertambah,padahallahan yang digunakan untuk kebun wisata petik apel adalah kebun alami yang belum dibentuk sedemikian rupa. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai pengembangan pertanian yang dilakukan oleh para petani apel yang diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan pertanian lainnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa aspek yakni pertanian apel, sumber daya manusia, sarana & prasarana, dan tanggapan wisatawan terhadap agrowisata petik apel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Data penelitian yang berupa hasil wawancara dengan petani apel dan hasil angket dari wisatawan. Sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah sebanyak seratus responden dari wisatawan petik apel. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, dan penyebaran angket. Data dianalisis dengan menggunakan teknik tabulasi tunggal. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pengembangan pertanian apel dilakukan dengan tetap menjaga keasrian alam yakni kebun para petani apel tanpa dilakukan penambahan sarana lain. Hal tersebut dikarenakan keasrian kebun apel merupakan daya tarik utama wisata. Keindahan alam (natural landscape) yang belum dibangun sedemikian rupa adalah daya tarik tersendiri para wisatawan terutama dari daerah perkotaan yang memang ingin merasakan menjadi petani. Pengembangan wisata mengacu pada ekonomi kerakyatan, yakni mengem-bangakan wisata bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat lokal baik itu petani apel maupun penduduk di sekitar wisata. Kedua, tanggapan wisatawan secara keseluruhan menilai cukup baik yakni dengan skor 2172. Skor tersebut diperoleh dari beberapa aspek yaitu dari segi kondisi kebun, kualitas keindahan, fasilitas yang ditawarkan, pelayanan, hingga kualitas apel. Melalui analisis tersebut, diharapkan dapat menjadi masukan kepada kelompok tani apel agar lebih mengembangkan agrowisata petik apel karena masih memiliki beberapa kekurangan. Selain itu, pemerintah melalui Dinas Pariwisata agar lebih mengembangkan potensi pertanian yang lain menjadi agrowisata dan saling terintegrasi, sehingga memberikan atraksi agrowisata yang lebih beragam.

Zonasi Effective Temperature (ET) kawasan industri By Pass Balongbendo-Krian Kabupaten Sidoarjo berdasarkan kajian iklim mikro / Ismi Islamiyah El Hasany

 

Hasany, Ismi Islamiyah EL. 2013. Zonasi Effective Temperature (ET) Kawasan Industri By Pass Balongbendo-Krian, Kabupaten Sidoarjo berdasarkan Kajian Iklim Mikro. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd, M.Si, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: effective temperature, kawasan industri, iklim mikro Kabupaten Sidoarjo memiliki beberapa pusat lokasi kegiatan industri. Beberapa kecamatan yang merupakan pusat lokasi industri yaitu Kecamatan Balongbendo dan Kecamatan Krian. Di dua kecamatan ini terdapat lebih dari 15 industri yang berdiri. Industri bervariasi dari industri berskala kecil sampai industri berskala besar. Adanya industri berpengaruh terhadap iklim mikro di Kabupaten Sidoarjo. Hal tersebut dikarenakan kegiatan industri dapat menghasilkan panas dan polusi udara, baik dikarenakan polusi yang dikeluarkan cerobong asap pabrik ataupun karakteristik bangunan pabrik. Jenis penelitian adalah penelitian survei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasai temperatur udara, variasi kelembaban udara dan zonasi Effective Temperature (ET) Kawasan Industri By Pass Balongbendo-Krian, Kabupaten Sidoarjo berdasarkan kajian iklim mikro. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik sampling area. Data penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer berupa data temperatur dan kelembapan udara, sedangkan data sekunder berupa peta adminstrasi Kabupaten Sidoarjo dan data curah hujan. Kawasan Industri By Pass Balongbendo-Krian, Kabupaten Sidoarjo memiliki temperatur udara bervariasi. Namun, temperatur udara di dominasi dengan kategori agak panas dengan interval (27,1− <29,1)^0C sebesar 75% dari 1,44 km^2, sedangkan sisanya yaitu 25% masuk dalam kategori panas. Kelembapan udara masuk dalam kategori basah dengan persentase 100%. Interval kelembapan udara 84−92. Kawasan Industri By Pass Balongbendo-Krian, Kabupaten Sidoarjo di dominasi zona warm (hangat). Persentase zona warm sebesar 87,5% dari 1,44 km^2. Zona hot (panas) sebesar 7,1 % dari 1,44 km^2, sedangkan zona comfortable (nyaman) sebesar 5,4% dari 1,44 km^2. Berdasarkan hasil tersebut, kawasan industri memberikan pengaruh terhadap pembentukan iklim mikro di Kawasan Industri By Pass Balongbendo-Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Penerapan peer mediated intervention untuk meningkatkan keterampilan sosial pada anak berkesulitan belajar di sekolah dasar inklusif / Marlina

 

Penerapan Peer Mediated Intervention untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial pada Anak Berkesulitan Belajar di Sekolah Dasar Inklusif Marlina Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Malang Email: lina_muluk@yahoo.co.id Abstrak: Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas peer mediated intervention (PMI) untuk meningkatkan keterampilan sosial pada anak berkesulitan belajar di SDN 03 Alai Padang. Penelitian ini menggunakan single subject design dengan model multiple baseline across subject. Lima (5) anak berkesulitan belajar ringan sebagai anak target dan lima (5) peer mediator dipilih dan dilatih untuk menerapkan PMI dalam pelajaran bahasa Indonesia (membaca ulang). Data dikumpulkan dengan format pencatatan frekuensi keterampilan sosial, skala keterampilan sosial, dan self report. Hasil penelitian menunjukkan PMI efektif meningkatkan keterampilan sosial yaitu pada anak target TS rerata baseline 4,73 meningkat menjadi 9,33; anak target KY rerata baseline 4,07 meningkat menjadi 9,05; anak target HL rerata baseline 3,88 meningkat menjadi 8,12; anak target RA rerata baseline 3,36 meningkat menjadi 7,81; dan anak target KA rerata baseline 3,14 meningkat menjadi 7,5. Sebagai instructional effects, PMI juga efektif mengurangi frekuensi kesalahan membaca anak target pada fase baseline sebesar 7,49 menurun menjadi 4,11 selama intervensi. Disarankan guru menerapkan PMI dalam mata pelajaran lain dan berkoordinasi dengan guru pembimbing khusus. Temuan penelitian memberikan sumbangan teoritik tentang strategi pembelajaran keterampilan sosial yang melibatkan teman sebaya pada anak berkesulitan belajar di sekolah dasar inklusif. Kata Kunci: peer mediated intervention, keterampilan sosial, anak berkesulitan belajar.

Perubahan organisasional institusi pendidikan tinggi tenaga kesehatan (studi multisitus pada Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya) / Nang Randu Utama

 

Utama, Nang Randu. 2013. Perubahan Organisasional Institusi Pendidikan Tinggi Tenaga Kesehatan (Studi Multisitus pada Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd., (III) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata kunci: perubahan, perubahan organisasional, politeknik kesehatan Suatu organisasi akan selalu terkait dengan perubahan. Perubahan yang terjadi di dalam organisasi merupakan suatu proses adaptasi lingkungan sehingga organisasi tersebut dapat bertahan bahkan semakin mampu meningkatkan dan mengembangkan potensi yang ada di dalam organisasi itu sendiri. Hal ini berarti bahwa perubahan organisasional merupakan salah satu pokok penting dari proses kehidupan organisasi. Perubahan organisasional tidak hanya terjadi pada tingkat organisasi, namun juga melibatkan aspek individu sebagai anggota dalam organisasi, terutama ketika perubahan bersifat masif terjadi secara menyeluruh. Penelitian ini bermaksud mengungkap lebih mendalam mengenai perubahan organisasional yang terjadi pada institusi pendidikan tinggi tenaga kesehatan dengan sub fokus penelitian yaitu: (a) proses perubahan organisasional, (b) perubahan struktur, (c) perubahan manajemen, (d) perubahan kebijakan ketenagaan, (e) perubahan budaya, (f) makna perubahan organisasional. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan rancangan studi multi situs. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi, pengecekan anggota, perpanjangan waktu pengamatan; transferabilitas; dan konfirmabilitas melalui teknik audit trail. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang, baik melalui analisis dalam situs (individual site analysis) maupun analisis lintas situs (cross-site analysis) untuk menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, proses perubahan organisasional merupakan kebijakan pemerintah pusat yang diawali dengan rencana penggabungan beberapa akademi kesehatan menjadi politeknik kesehatan untuk tujuan efisiensi kelembagaan dan mengantisipasi berbagai tuntutan perkembangan di bidang pendidikan melalui kegiatan sosialisasi secara intensif untuk membangun pemahaman individu terhadap perubahan yang terjadi. Kedua, perubahan struktur organisasi yaitu perubahan hirarki dan posisi dalam organisasi dimana hanya ada satu posisi direktur politeknik, pembantu direktur, ketua jurusan, ketua program studi, serta kepala bagian dan unit penunjang. Perubahan struktur organisasi menyebabkan terjadinya sistem birokrasi menjadi panjang dan berjenjang sehingga komunikasi menjadi terbatas dan koordinasi menjadi tidak optimal terutama bagi kampus daerah. Untuk mengatasi masalah ini dengan: (a) Membangun komunikasi secara intensif melalui pemanfaatan kemajuan teknologi media informasi dan melalui berbagai kegiatan rutin organisasi, (b) Meningkatkan koordinasi secara komprehensif berdasarkan aturan birokrasi yang berlaku sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, (c) Komunikasi dan koordinasi yang dibangun antar individu maupun satuan unit kerja harus dilandasi dasar saling terbuka dan saling menghargai. Ketiga, perubahan dalam manajemen yaitu pengelolaan organisasi dilakukan secara terpusat dan terpadu dimana pengembangan organisasi menjadi lebih baik dan terarah dalam mencapai keberhasilan organisasi yang sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan di masa depan. Keempat, perubahan kebijakan ketenagaan yaitu adanya kebijakan dalam penyediaan, pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia dalam satu lingkup kesatuan organisasi. Perubahan kebijakan ketenagaan ini menyebabkan terjadinya kekurangan tenaga pada unit tertentu sehingga sebagian tenaga yang ada memiliki tugas dan tanggung jawab rangkap. Untuk mengatasi kekurangan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan tenaga dan spesifikasi tugas yang diperlukan maka dilakukan penempatan pegawai lintas unit kerja atau sharing ketenagaan dan kepada pegawai yang memiliki tugas rangkap diberikan pemahaman bahwa semua tugas dan tanggungjawab harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya dengan cara membagi waktu secara bijaksana. Kelima, perubahan budaya yaitu tercipta kebiasaan dan identitas baru organisasi namun tetap memperhatikan ciri khas yang ada. Perubahan organisasional selalu terbentur dengan adanya pola pikir lama yang masih dimiliki individu sehingga memicu perbedaan konsep dan pemahaman terhadap pelaksanaan suatu kegiatan dalam organisasi. Solusinya diatasi dengan upaya menyamakan persepsi melalui berbagai kegiatan bersama yang dilakukan atas dasar saling percaya, transparan dan komitmen serta saling menghargai sebagai sebuah teamwork yang solid. Keenam, perubahan organisasional dimaknai sebagai perubahan yang membawa manfaat, yaitu: (a) penataan institusi pendidikan menjadi semakin jelas dan terarah baik dalam hal pengembangan jenjang karier dosen maupun dalam pengembangan organisasi serta demi eksistensi organisasi di masa depan, (b) terwujudnya efisiensi dalam manajemen organisasi, (3) terwujudnya sumber daya organisasi yang besar. Namun perubahan juga membawa kerugian baik bagi individu maupun organisasi, yaitu: (a) hilangnya jabatan dan posisi tertentu dalam organisasi, (b) peluang untuk menjabat menjadi semakin kecil, (c) kreativitas menjadi terbatas, (d) berkurangnya otonomi dan kewenangan akademi setelah menjadi jurusan maupun program studi. Saran-saran dalam penelitian ini disampaikan kepada: (1) Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumberdaya Kesehatan (Badan PPSDM Kesehatan) agar dapat menjelaskan arah, maksud dan tujuan dari perubahan organisasional sehingga semua pihak dapat lebih memahami dan siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi selanjutnya; dan kemudian menyelenggarakan pertemuan-pertemuan baik dalam skala nasional, regional, maupun lokal untuk membangun kerjasama yang lebih baik, (2) Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Kapusdiknakes) agar dapat melakukan hubungan komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dalam upaya peningkatan kualitas lembaga pendidikan dan kualitas lulusan yang dihasilkan, (3) Pengelola organisasi dalam hal ini Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes RI sebagai pemimpin organisasi dan sekaligus sebagai pengelola tertinggi organisasi agar dapat lebih memperhatikan seluruh staf demi membangun persatuan dan kesatuan segenap individu dalam organisasi dan selalu memberdayakan sumber daya manusia sehingga mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi Politeknik Kesehatan, (4) Peneliti lain juga dapat mengembangkan kajian pada perubahan organisasional misalnya mengenai sistem manajemen terpadu, efektivitas organisasi, manajemen perubahan, atau manajemen konflik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha mahasiwa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2010 / Shella Rizqi Amelia

 

Amelia, Shella Rizqi. 2013. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Minat Berwirausaha Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Angkatan 2010. Tesis, Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hari Wahyono, M. Pd., (2) Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M. M. Kata Kunci: rasionalitas ekonomi, self-efficacy, financial literacy, intensitas nilai kewirausahaaan dan minat berwirausaha Banyaknya penelitian mengenai kewirausahaan dewasa ini menunjukkan bahwa makin tingginya perhatian dari berbagai pihak atas peran kewirausahaan dalam perekonomian suatu negara. Kondisi pengangguran di Indonesia sangat mencemaskan, lebih-lebih mereka umumnya sebagai penduduk usia muda. Fenomena pengangguran sering menyebabkan timbulnya masalah sosial lainnya. Berdasarkan kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih rendahnya minat mahasiswa untuk berwirausaha. Sekarang inilah kesempatan untuk mendorong para pelajar dan mahasiswa untuk mulai mengenali dan membuka usaha atau berwirausaha. Pola pikir dan lingkungan yang selalu berorientasi menjadi karyawan mulai diputar balik menjadi berorientasi untuk mencari karyawan. Dalam upaya untuk tercapainya pola pikir yang demikian perlu diciptakan iklim yang dapat mengubah pola pikir baik mental maupun motivasi orang tua, dosen, dan mahasiswa itu sendiri agar kelak mereka dibiasakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan ketimbang mencari pekerjaan. Fakta di atas menjadi salah satu alasan untuk mengetahui lebih lanjut tentang minat berwirausaha di fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2010. Apakah variabel rasionalitas ekonomi, self efficacy, financial literacy dan intensitas nilai kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha mahasiswa Universitas negeri Malang angkatan 2010. Penelitian ini merupakan jenis penelitian penjelasan atau explanatory research dengan menggunakan teknik analisis Structural Equation Modeling (SEM). Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2010 dengan populasi sebesar 786 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportional random sampling. Sampel yang dihasilkan yaitu sebesar 265 mahasiswa. Dalam penelitian ini data rasionalitas ekonomi, self efficacy, financial literacy, intensitas nilai kewirausahaan dan minat berwirausaha diperoleh dengan menggunakan instrumen berupa angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Rasionalitas ekonomi tidak berpengaruh positif terhadap intensitas nilai kewirausahaan pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang, (2) Self- efficacy tidak berpengaruh positif terhadap intensitas nilai kewirausahaan pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang, (3) Financial literacy tidak berpengaruh positif terhadap intensitas nilai kewirausahaan pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang, (4) Intensitas nilai kewirausahaan tidak berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang, (5) Rasionalitas ekonomi tidak berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang, (6) Self- efficacy berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang, (7) financial literacy berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang. Dalam temuan hasil penelitian hanya ditemukan dua hipotesis yang terbukti memiliki pengaruh positif terhadap minat berwirausaha. Sejalan dengan temuan hasil penelitian tersebut dalam upaya peningkatan intensitas nilai kewirausahaan dan juga minat berwirausaha maka perlu dilakukan inovasi dalam pembelajaran, selain itu dosen berperan untuk dapat menumbuhkan efikasi diri sehingga mahasiswa dapat membentuk mental yang kuat dalam menghadapi kesulitan yang dialami dengan dibekali pengetahuan serta pemahaman rasionalitas ekonomi, financial literacy dan nilai-nilai kewirausahaan. Pada akhirnya mahasiswa akan dapat mengubah pola pikirnya dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan.

Pengaruh kepuasan kerja, modernitas individu, dan komitmen kerja guru terhadap kinerja guru (studi kasus pada guru ekonomi SMA se-kabupaten Jombang tahun 2013) / Budi Susetyo

 

Susetyo, Budi. 2013. Pengaruh Kepuasan Kerja, Modernitas Individu, dan Komitmen Kerja Guru terhadap Kinerja Guru (Studi Kasus pada Guru Ekonomi SMA Se-Kabupaten Jombang). Tesis, Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E (II) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si. Kata Kunci : Kepuasan Kerja, Modernitas Individu, Komitmen Kerja Guru, Kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) pengaruh langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap komitmen kerja guru, (2) pengaruh langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap kinerja guru, (3) pengaruh langsung yang signifikan antara modernitas individu terhadap kinerja guru, (4) pengaruh langsung yang signifikan antara komitmen guru terhadap kinerja guru, dan (5) pengaruh tidak langsung yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap kinerja guru melalui komitmen kerja guru Penelitian ini merupakan penelitian survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kuesioner atau angket. Sedangkan analisis datanya menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur (Path Analysis). Adapun subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah guru ekonomi SMA Se-Kabupaten Jombang dengan populasi sebesar 95 orang dan sampel sebesar 76 orang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa secara umum tingkat kepuasan kerja guru berada pada tingkat kategori sangat tinggi, tingkat modernitas individunya berada pada tingkat kategori sangat tinggi, komitmen gurunya berada pada tingkat kategori tinggi dan kinerja guru berada pada tingkat kategori baik. Hasil uji hipotesis juga memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh langsung positif signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen kerja guru, terdapat pengaruh langsung positif kepuasan kerja terhadap kinerja guru, terdapat pengaruh langsung positif modernitas individu terhadap kinerja guru, terdapat pengaruh langsung positif komitmen guru terhadap kinerja guru, dan terdapat pengaruh tidak langsung kepuasan kerja terhadap kinerja guru melalui komitmen kerja guru. Berdasarkan hasil ada beberapa saran yang diajukan yaitu sebagai berikut: Bagi guru ekonomi: Khususnya di SMA Negeri/Swasta se-Kabupaten Jombang dapat menjadi masukan dalam upaya meningkatkan modernitas individu dan komitmen kerja guru dalam bekerja, karena dengan meningkatkan modernitas individu dan terbangunnya komitmen kerja guru akan meningkatkan kinerja guru tersebut. Bagi Kepala Sekolah: Sebagai acuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kepuasan kerja, terhadap guru, karena dengan meningkatnya kepuasan kerja guru dapat meningkatkan kinerja guru sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bagi peneliti lanjut: Kepada peneliti selanjutnya direkomendasikan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan metode penelitian yang berbeda dengan penelitian ini agar mendapatkan data yang mendalam sehingga diperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Selain itu, diharapkan peneliti mampu mengendalikan sampel penelitian serta disarankan mempertimbangkan beberapa variabel lain yang turut andil dalam peningkatan kinerja guru.

Pengaruh pendidikan kewirausahaan dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha dimediasi sikap wirausaha (studi kasus pada mahasiswa Jurusan Manajemen FE UM) / Hadi Ma'ruf

 

Ma’ruf, Hadi. 2013. Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan dan Lingkungan Keluarga Terhadap Minat Berwirausaha Dimediasi Sikap Wirausaha(studi kasus pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Tahun Ajaran 2012/ 2013). Tesis, Jurusan Pendidikan Ekonomi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, (II) Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M. Keywords: Pendidikan kewirausahaan, Lingkungan Keluarga, Minat Berwirausaha, Sikap wirausaha Pelaku usaha mikro kecil-menengah di berbagai negara telah terbukti memiliki kontribusi yang besar terhadap ketahanan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, faktanya minat berprofesi sebagai wirausaha dikalangan masyarakat khusunya di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah wirausaha per Januari 2012 mencapai 3,75 juta orang atau 1,56 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini masih kalah jauh dibanding negara Asia lain, seperti Cina dan Jepang, yang memiliki wirausaha lebih dari 10 persen jumlah populasi. Di regional Asia Tenggara, Indonesia masih kalah dibanding Malaysia (5%) atau Singapura (7%). Sejauh ini pelaku usaha masih kekurangan dukungan akses pembiayaan dan pasar yang memadai, akses pendanaan UMKM ke perbankan baru 45-55 %. Potensi pendanaan dari perbankan terhambat karena masih banyaknya pelaku yang belum memenuhi syarat perbankan atau tidak bankable. Selain itu, level pendidikan berbanding terbalik dalam hal minat menjadi pengusaha. Lulusan sekolah menengah atas yang berminat 22,63 %, sedangkan lulusan perguruan tinggi hanya 6,14 %. Lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama justru mencapai 32,46 %, kesannya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin rendah minat menjadi seorang enterpreneur (Sumber: Portal Nasional RI, 15 November 2012). Masalah rendahnya minat wirausaha lulusan merupakan sebuah tugas khusus bagi perguruan tinggi untuk ikut berperan serta dalam mencetak lulusan yang lebih berkwalitas, menciptakan pembelajaran yang mampu membentuk lulusan yang memiliki sikap mental wirausaha sehingga setelah lulus akan banyak mahasiswa yang berminat terjun dalam dunia wirausaha. Pendidikan kewirausahaan mengikuti asas pendidikan seumur hidup yang berlangsung kapan dan dimana saja, oleh karena itu pendidikan kewirausahaan harus dimulai sejak anak masih dan berkembang dikeluarga. Pendidikan kewirausahaan di lingkungan keluarga juga berpengaruh terhadap minat berwirausaha. Penelitian ini bertujuan untuk: a) mengetahui pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha melalui sikap wirausaha, b) mengetahui pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha melalui sikap wirausaha. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang sudah menempuh mata kuliah kewirausahaan di tahun ajaran 2012/ 2013. Sampel yang diambil menggunakan rumus Taro Yamane yang diperoleh sebanyak 159 responden yang ditetapkan dengan proposional random sampling. Data penelitian ini didapat dari penyebaran angket kepada responden.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis path. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik. Analisis data termasuk pengujian asumsi dilakukan dengan menggunakan software SPSS versi 18 Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan: 1) Pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif signifikan terhadap sikap wirausaha, ini berarti semakin baik pembelajaran kewirausahaan yang diterima mahasiswa, maka sikap wirausaha yang dimiliki akan semakin baik dan meningkat, 2) Lingkungan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap wirausaha, berarti semakin baik lingkungan keluarga mahasiswa maka akan semakin baik sikap wirausaha yang dimiliki mahasiswa, 3) Pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha, hal ini berarti semakin baik pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, maka akan semakin meningkat pula minat mahasiswa untuk memilih karir sebagai wirausaha 4) Lingkungan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa, ini berarti bahwa variasi lingkungan keluarga mampu menjelaskan variasi pada minat berwirausaha mahasiswa, 5) Pendidikan Kewirausahaan dan Lingkungan keluarga berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap minat berwirausaha melalui sikap wirausaha, hal ini berarti, bahwa semakin kondusif pendidikan dan lingkungan keluarga mahasiswa, maka semakin baik sikap wirausaha mahasiswa, sehingga semakin tinggi pula minat mahasiswa dalam berwirausaha. Dari penelitian ini dapat diajukan saran sebagai berikut: Kepada Dosen pengampu matakuliah kewirausahaan disarankan untuk merancang kurikulum yang mengarah kepada pembentukan karakter/ sikap wirausaha mahasiswa, sehingga output setelah selesai mengikuti mata kuliah kewirausahaan, mahasiswa tidak hanya memperoleh nilai hasil belajar akan tetapi mampu memotivasi mahasiswa untuk berwirausaha. Kepada mahasiswa utamanya yang ingin terjun dibidang wirausaha; sebagai calon wirausahawan perlu membekali diri dengan kemampuan, ketrampilan, keahlian manajemen, adopsi inovasi teknologi, maupun keahlian pemasaran melalui pengalaman langsung dalam dunia usaha. Kepada Lembaga Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Khususnya Jurusan Manajemen bisa lebih memberikan dukungan berupa fasilitas pendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran kewirausahaan. Selama ini di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebagai bentuk dukungan bisnis sudah menyediakan Creative Center yang melayani bimbingan karir, bisnis dan kewirausahaan, seharusnya lembaga bisa lebih mendukunglagi program kerja dari Creative Center dengan mempermudah surat-menyurat dan dukungan dana demi kelancaran program kerja yang sudah direncakan dari Creative Center. Selain itu karena dalam pembelajaran mata kuliah kewirausahaan tidak hanya dilakukan di dalam kelas melainkan juga diadakan kunjungan home industri dan praktek bisnis, sehinggaseharusnya lembaga dapat mempermudah dalam pengurusan surat-menyurat, bantuan dana dan lokasi untuk praktek bisnis mahasiswa.

Transfer pendidikan dan pembelajaran ekonomi di kalangan industri mebel Kota Pasuruan / Sulastri

 

Sulastri. 2013.Transfer Pendidikan dan Pembelajaran Ekonomi di Kalangan Industri Mebel di kota Pasuruan. Tesis.Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Studi S2 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mit Witjaksono, MS.Ed., (II) Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M. Kata-kata kunci: transfer pendidikan, pembelajaran ekonomi, industri mebel. Pencapaian kesuksesansetiap usahawan berbeda-beda antara industri mebel yang satu dengan yang lainya, sehingga memiliki hasil yang berbeda pula.Penelitian ini dilaksanakan untuk melihat bagaiman proses transfer yang terjadi pada industri mebel di Kota Pasuruan. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan proses transfer pada ke tiga pimpinan industri dengan kategori sukses, sedang dan tidak sukses. Penelitian ini mengunakan rancangan deskriptif, dalam hal ini peneliti sebagai instrumen utama. Dalam mengumpulkan data melalui observasi, peneliti mengunakan kamera, audio visual, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Dalam penelitian ini, trianggulasi sumber data, data, teori dan metodologi di terapkan untuk mengecek keabsahan data. Hasil dari penelitihan ini menunjukkan bahwa Kesuksesan seorang pengusaha industri mebel tidak hanya dari pendidikan informal dan non formal tetapi pendidikan formal juga berpengaruh pada kesuksesan seorang pengusaha industri mebel. Beberapa hal yang mempengaruhi kesuksesan usaha pimpinan industri mebel yaitu: 1) pengaruh pengalaman pendidikan formal, non formal dan informal dalam kesuksesan usaha. Semakin tinggi pendidikan formal, maka semakin tinggi tingkat kesuksesan yang di capai, 2) pekerjaan orang tua memiliki pengaruh terhadap proses pembentukan jiwa enterpreneur anak. 3) kesuksesan industri mebel dilalui dengan keberanian untuk memulai usaha sejak dini dan pengalaman yang didapat merupakan sebuah motivasi untuk lebih mandiri. 4) mengevaluasi kondisi usaha dengan memperbaiki sistem produksi, sistem pemasaran, sistem penjualan dan sistem pembukuan, 5) menjalin hubungan kerja sama yang baik kepada pelanggan dan karyawan maupun mitra kerja. 6) kegagalan usaha disebabkan kurangnya kemampuan, pengalaman dan keterampilan dalam manajement keuangan. Temuan terkait tentang proses transfer pada ke tiga pimpinan industri mebel Kota Pasuruan berbeda-beda, pada industri kategori sukses yaitu: UD. Putra Lumayan, membuka usaha industri sendiri tanpa berpangku tangan pada orang tua. Sistem produksi, pemasaran, penjualan dan pembukuan mengunakan komputerisasi. Memberikan fasilitas kepada karyawan, dengan perpadua ilmu yang di dapat dari pendidikan formal, informal dan non formal menjadi pedoman teori untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Industri ini megalami transfer positif karenaknowledge, skill dan attitude yang telah dipelajari berdampak pada kinerja yang lebih baik. Pada industri kategori sedang yaitu: UD. Ibnu Jaya memulai usaha dari uang gaji yang diperoleh selama bekerja pada pamanya. Menjadi pengusaha indusri mebel merupakan keinginan orang tua,Sistem produksi, pemasaran, penjualan dan pembukuan mengunakan sistem manual. Industri ini megalami transfer positif karenaknowledge, skill dan attitude yang telah dipelajari berdampak pada kinerja yang lebih baik. Sedangkan pada industri kategori tidak sukses yaitu: UD. Anwar jaya memulai usaha dari modal pemberian orang tua, Sistem produksi, pemasaran, penjualan dan pembukuan mengunakan sistem tradisional. Industri ini mengalami kegagalan usaha karena mengalami beberapa permasalahan. Dan pembelajaran yang diberikan oleh orang tuanya tidak diimplementasikan kedalam usahasehingga pimpinan industri ini mengalami transfer negatif karenaknowledge, skill dan attitude yang telah dipelajari berdampak pada kinerja yang lebih buruk.

Upaya pembinaan tutor untuk meningkatkan kompetensi dan komitmen kerja tutor pendidikan kesetaraan paket C (studi kasus di PKBM Ngupoyo Ilmu Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi) / Faiz Firdausy

 

Firdausy, Faiz. 2013. Upaya Pembinaan Tutor untuk Meningkatkan Kompetensi dan Komitmen Kerja Tutor Pendidikan Kesetaraan Paket C (Studi Kasus di PKBM Ngupoyo Ilmu Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi). Tesis. Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, (II) Dr. Endang Sri Redjeki, M.S. Kata kunci : pembinaan tutor, kompetensi tutor, komitmen kerja tutor, pendidikan kesetaraan paket C. Pembinaan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kompetensi dan komitmen kerja merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh setiap lembaga pembina. Saat ini belum ada upaya pembinaan yang maksimal untuk peningkatan kompetensi dan komitmen kerja tutor pendidikan kesetaraan paket C, dikarenakan tugas pokok dan fungsi tutor kurang strategis untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya yang diterapkan oleh pengelola pendidikan kesetaraan paket C dalam membina tutor untuk meningkatkan kompetensi pedagogi dan andragogi, sosial, dan profesional. Tujuan penelitian berikutnya adalah mendeskripsikan penerapan upaya membina tutor untuk meningkatkan komitmen kerja dan pemberian penghargaan terhadap tutor pendidikan kesetaraan paket C di PKBM Ngupoyo Ilmu Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi partisipan, dan dokumentasi. Dalam menganalisis data, digunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk mengecek keabsahan temuan penelitian, dilakukan kegiatan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan trianggulasi data. Hasil penelitian menunjukkan, upaya pembinaan tutor yang dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi dan komitmen kerja tutor pendidikan kesetaraan paket C di PKBM Ngupoyo Ilmu Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi menggunakan pendekatan secara langsung. Hal tersebut didukung dengan pemberian penghargaan kepada tutor yang bersifat untuk memotivasi karir mereka. Diantaranya adalah pemberian gaji yang cukup setiap bulannya dan fasilitas yang layak untuk tutor. Pembinaan tutor sangat jarang dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah pergantian ketua PKBM yang baru menggantikan ketua sebelumnya yang telah meninggal masih dalam proses belajar untuk mengelola PKBM Ngupoyo Ilmu Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Selain itu, tutor juga berstatus sebagai pendidik sukarela yang mengajar bukan hanya di program pendidikan kesetaraan paket C, sehingga pembinaan tutor yang dilaksanakan belum terarah dengan baik.

Grammatical errors made by the students at Sumber harta Public Junior High School of Palembang in speaking activities / Ayu Oktaviani

 

Oktaviani, Ayu. 2013. Grammatical Errors Made by the Students at Sumberharta Public Junior High School of Palembang in Speaking Activities. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Johannes A. Prayogo, M.Pd., M.Ed., (2) Dr. Emalia Iragiliati, M.Pd. Kata kunci: grammatical error, speaking activities. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kesalahan tata bahasa yang dibuat oleh siswa-siswi SMPN Sumberharta dalam speaking activities. Fokus penelitian ini adalah untuk menjawab tiga pertanyaan: (1) Apa jenis error yang dibuat oleh siswa SMPN Sumberharta dalam speaking activities?; (2) Apajeniserror yang paling banyakdibuat oleh siswa SMPN Sumberharta dalam speaking activities?; dan (3) Apa faktor yang mempengaruhi error yang dibuat oleh siswa SMPN Sumberharta dalam speaking activities? Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VII, VIII, dan IX SMP N Sumberharta. Di kelas VII sampel yang diambil adalah siswa kelas 7.4 yang terdiri dari 32 siswa. Di kelas VIII sampel yang diambil adalah siswa kelas 8.1 yang terdiri dari 26 siswa dan di kelas IX sampel yang diambil adalah siswa kelas 9.2 yang terdiri dari 26 siswa. Instrumen dari penelitian ini adalah penulis sendiri yang bekerja sebagai pengamat dan pewawancara. Disamping itu peneliti juga menggunakan intrumen tambahan yaitu perekam video, dan panduan wawancara. Data dikumpulkan melalui observasi. Video recorder digunakan untuk merekam aktifitas siswa di dalam kelas speaking. Wawancara digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan yang dibuat oleh siswa. Data dari penelitian ini adalah ucapan-ucapan siswa ketika mereka melakukan kegiatan speaking di dalam kelas. Temuandari penelitian ini menunjukkan bahwa para siswa membuat grammatical errors berdasarkan survey strategy taxonomy yang diklasifikasikan kedalam beberapa jenis yaitu, omission, addition, misformation, dan misordering (Dulay , et al . 1982) . Dari empat jenis kesalahan tata bahasa, kesalahan siswa kelas VII , VII, dan IX yang paling dominan adalah pada omission. Ada 142 frekuensi (48.3%). Kesalahan yang paling dominan yang selanjutnya adalah pada misformation dengan frekuensi 123(41.84%). Alasan siswa membuat beberapa kesalahan tersebut adalah karena mereka tidak belajar dengan nyaman. Alasan siswa yang kedua adalah karena mereka takut dalam membuat kesalahan di depan guru dan teman-temannya yang lain. Temuan ini kemudian mengarah pada beberapa saran. Yang pertama untuk guru bahasa inggris, mereka harus mempertimbangkan grammatical errors yang dibuat oleh siswa karena itu masih dapat dikurangi dengan menggunakan cara-cara tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa latihan menggunakan grammar. Para guru dan siswa perlu berlatih lebih intensif dalam berbicara bahasa Inggris, sehingga kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar 4 fase terhadap motivasi dan hasil belajar matematika / Angga Sulistya Putra

 

Angga Sulistya Putra, 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Siklus Belajar 4 Fase Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Matematika. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Dr.Ipung Yuwono Ms,M.Sc.,(II) Dr. Makbul Muksar M.Si Kata kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Siklus Empat Fase, Motivasi, Hasil Belajar Keberhasilan proses belajar mengajar matematika di sekolah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antara faktor tersebut adalah guru dan siswa. Guru sangat berperan dalam membelajarkan dan mendidik siswa, sedangkan siswa merupakan sasaran pendidikan sekaligus sebagai salah satu barometer dalam penentuan keberhasilan proses pembelajaran. Rendahnya hasil belajar matematika dan motivasi yang dimiliki siswa tersebut diduga karena guru kurang tepat dalam pemilihan model pembelajaran. Pembelajaran yang terkadang masih lebih terpusat pada guru dan siswa tidak terlalu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Kondisi seperti ini membuat siswa menjadi pasif karena siswa hanya mendengarkan apa yang dijelaskan guru. Pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar empat fase adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Dimana dalam pembelajaran ini menggunakan paham konstruktivisme, siswa mendapat penekanan untuk aktif dalam membentuk pengetahuan mereka sendiri. Siklus belajar (learning cycle) 4 fase mempunyai tahapan sebagai berikut: (1) kegiatan awal (eksplorasi) meliputi penggalian pengetahuan awal dan eksplorasi fenomena, (2) kegiatan inti (ekplanasi) meliputi pembentukan konsep materi yang diajarkan dalam matematika, (3) kegiatan pemantapan (ekspansi) meliputi penerapan konsep dan pemantapan konsep dan (4) evaluasi terhadap konsep-konsep dan penguasaan ketrampilan proses. Model pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar 4 fase memfasiltasi siswa agar termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar 4 fase memiliki motivasi dan hasil belajar lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional ? “. Untuk menentukan subyek penelitian dipilih secara acak dari 9 kelas di SMP Negeri 13 Malang dan didapatkan kelas IX -AA sebagai kelas eksperimen dan kelas IX-B sebagai kelas kontrol. Penelitian ini merupakan eksperimen semu (quasy experimental design) dengan rancangan eksperimen yang digunakan adalah Non Random Pre-tes Post-test Control Group untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengumpulan data dari penelitian ini menggunakan angket motivasi siswa dan tes hasil belajar melalui tahap-tahap pre-test dan post-test. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji hipotesis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji independent sample t-test yang digunakan untuk menguji apakah dua sampel yang saling independen berasal dari populasi yang mempunyai mean yang sama. perhitungan dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan (1) Ada perbedaan kemapuan hasil belajar yang signifikan dan konvensional. Dengan Kata lain, penerapan mode; model pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar empat fase lebih baik untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional, (2)Ada perbedaan tingkat motivasi belajar siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar empat fase dan konvensional. Artinya bahwa siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe siklus belajar empat fase memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional.

Perencanaan normalisasi saluran irigasi di Desa Karanggayam Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar / Fendi Pratama

 

Pratama, Fendi. 2013. Perencanaan Normalisasi Saluran Irigasi di Desa Karanggayam Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik UM. Pembimbing Drs. Pribadi, S.T., M.T. Kata kunci: perencanaan, normalisasi, saluran irigasi, Saluran irigasi di Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat ini merupakan hal yang sangat berperan dalam pengelolaan sumber daya pengairan khususnya di wilayah Kecamatan Srengat yang area persawahannya masih cukup luas, di Desa Karanggayam ini luas sawahnya yaitu 82,085 Ha. Berdasarkan fungsi pengelolaan pengairan pada saluran irigasi di Desa Karanggayam ini dinilai masih kurang normal karena masih banyak tumpukan sedimen dan kerusakan dinding saluran yang menyebabkan air yang terdapat pada saluran merembes dengan cepat. Permasalahan yang ditinjau dalam proyek akhir ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana desain perencanaan normalisasi saluran irigasi primer yang normal, Berapa debit rencana yang dapat dialirkan pada kondisi kamarau setelah normalisasi, (2) Apa spesifikasi teknis yang digunakan, (3) Berapa Rencana Anggaran Biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan normalisasi saluran irigasi primer. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan Proyek Akhir ini adalah menggunakan metode investigasi lapangan dan metode analitis. Hasil perencanaan normalisasi saluran irigasi adalah sebagai berikut : (1) desain saluran irigasi Primer ini berbentuk trapesium (P1-P2) dengan tinggi 2 m, lebar bawah 6 m, lebar atas 10 m, tinggi permukaan air 60 cm, tinggi jagaan 80 cm, panjang saluran 1000 m, dan kemiringan saluran 1 : 1, dan debit rencana (Q) setelah saluran dinormalisasi sebesar 6,596 m³/det, dengan kecepatan aliran (V) 1,57 m/det. (2) Spesifikasi teknis pekerjaan normalisasi saluran (a) Pengerukan atau pembuangan sedimen dilakukan dengan menggunakan alat berat excavator volume pekerjaan 2910,85 m³ (b) perbaikan dinding saluran menggunakan pasangan batu kali volume pekerjaan 303,08 m³ dengan menggunakan spesi campuran 1 : 4. (3) Biaya yang diperlukan untuk pekerjaan normalisasi saluran meliputi pekerjaan : (a) mobilitas dan demobilitas alat berat sebesar Rp. 7,000,000.00 (b) pengerukan / pembuangan sedimen sebesar Rp. 245,937,716.00 (c) perbaikan dinding saluran sebesar Rp. 203,153,311.00 (d) pekerjaan finishing sebesar Rp. 923,360.00 Total anggaran biaya normalisasi saluran sebesar Rp. 459,767,811.00 (Empat ratus lima puluh Sembilan juta tujuh ratus enam puluh tujuh ribu delapan ratus sebelas rupiah).

Tepung ketan hitam sebagai bahan dasar dalam pembuatan cookies / Frinentiya Dea Dimitra

 

Dimitra, Frinentiya Dea. 2013. Tepung Ketan Hitam sebagai Bahan Dasar dalam Pembuatan Cookies. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra Mazarina Devi, M.Si (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata Kunci: cookies, ketan hitam, bahan dasar. Cookies adalah salah satu jenis snack berukuran kecil yang digemari dan sering dikonsumsi oleh masyarakat. Cookies pada umumnya berbahan dasar terigu. Tujuan subtitusi terigu dengan ketan hitam dalam pembuatan cookies adalah sebagai sumber antioksidan karena kandungan antosianin dalam ketan hitam. Cookies ketan hitam adalah makanan ringan dengan kualitas rasa yang baik dengan kandungan antioksidan yang baik pula. Uji coba pembuatan cookies ketan hitam dilakukan untuk mengetahui formulasi yang tepat dan tingkat kesukaan panelis terhadap warna, rasa dan tekstur cookies ketan hitam. Panelis yang digunakan dalam uji kesukaan ini sebanyak 60 orang terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif. Hasil uji kesukaan warna cookies ketan hitam (23,33%) panelis menyatakan agak suka, hasil uji kesukaan rasa cookies ketan hitam (61,70%) panelis menyatakan suka, dan hasil uji kesukaan tekstur cookies ketan hitam (50%) panelis menyatakan suka. Saran yang dapat disampaikan, menggunakan tepung ketan hitam sangrai agar rasa cookies lebih matang, santan diganti dengan kelapa parut kering atau kelapa parut sangrai, terigu diganti tepung sagu sangrai agar cookies ketan hitam yang dihasilkan tidak keras dan mudah dipatahkan.

Penggunaan cumi-cumi (Loligo) sebagai bahan utama pembuatan abon / Hesty Rizky Arina

 

Arina, Hesty Rizky. 2013. Penggunaan Cumi-cumi (Loligo) sebagai Bahan Utama Pembuatan Abon. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Titi Mutiara Kiranawati, M.P, (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata Kunci: Penggunaan, Abon, Cumi-cumi Abon merupakan salah satu olahan dengan daya awet tinggi dan merupakan salah satu produk siap konsumsi yang aman bagi konsumen. Cumi-cumi sebagai salah satu sumber protein yang tinggi masih terbatas proses pengawetannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi abon cumi-cumi, mengetahui kesukaan penelis terhadap rasa, warna, dan tekstur abon cumi-cumi. Uji coba pembuatan abon cumi-cumi dilakukan sebanyak dua kali. Uji coba pertama cumi-cumi diolah menggunakan teknik pengolahan panggang dan uji coba kedua digunakan teknik pengolahan cumi-cumi kukus. Berdasarkan hasil uji coba formula abon cumi-cumi diperoleh teknik pengolahan kukus sebagai teknik pengolahan cumi-cumi yang kemudian dilakukan uji kesukaan. Panelis terdiri dari 30 orang panelis agak terlatih, yaitu mahasiswa S1 Tata Boga angkatan 2011. Penelitian terhadap produk dilakukan dengan cara memberikan sampel produk yang diilanjutkan uji kesukaan. Bentuk instrumen analisis uji kesukaan menggunakan analisis deskriptif. Hasil uji hedonik yang dilakukan, persentase tertinggi pada rasa abon cumi-cumi adalah 26,7% panelis menyatakan agak tidak menyukai. Uji kesukaan tertinggi pada warna abon cumi-cumi adalah 36,8% panelis menyatakan agak menyukai. Uji kesukaan tertinggi tekstur abon cumi-cumi adalah 30% panelis menyatakan biasa saja. Formula resep abon yang digunakan yaitu dengan penggunaan gula merah 200 gram, gula putih 100 gram, dan santan 300 ml sehingga menghasilkan produk abon cumi-cumi yang manis. Pada pembuatan abon cumi-cumi disarankan menggunakan gula putih saja dan proses akhir akhir digoreng untuk mendapatkan abon yang kering.

Pengaruh variasi kuat arus pengelasan SMAW 1G terhadap kekuatan tarik dan perubahan struktur mikro baja St 37 dengan pendinginan udara ruang / Abdur Rofiq

 

Rofiq, Abdur. 2013. Studi Pengaruh Variasi Kuat Arus Pengelasan SMAW 1G Terhadap Kekuatan Tarik Dan Perubahan Struktur Mikro Baja St 37 Dengan Pendinginan Udara Ruang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sunomo, M.Pd, (II) Drs. Yuni Sunarto. Kata Kunci: baja St 37, pengelasan, kekuatan tarik dan struktur mikro Kekuatan tarik adalah kemampuan bahan untuk menerima beban tarik tanpa mengalami kerusakan dan dinyatakan sebagai tegangan maksimum sebelum putus. Kekuatan tarik pada suatu baja akan meningkat seiring dengan naiknya kadar karbon dan paduannya. Untuk mengetahui kekuatan tarik suatu baja perlu dilakukan uji tarik, uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu material dengan cara memberikan beban gaya yang berlawanan arah dalam satu garis lurus. Selain menggunakan uji tarik, untuk menentukan kekerasan baja bisa dilihat dari struktur mikronya. Pengamatan struktur mikro dimaksudkan untuk mengetahui bentuk, susunan, dan ukuran butir pada daerah las dan HAZ. Struktur mikro pengelasan ditentukan oleh banyak faktor diantaranya masukan panas, kuat arus, filler dan fluks, kecepatan las, dan laju pendinginan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Nilai kekuatan tarik hasil pengelasan SMAW 1G baja St 37 dengan menggunakan kuat arus 70 A, (2) Nilai kekuatan tarik hasil pengelasan SMAW 1G baja St 37 dengan menggunakan kuat arus 90 A, (3) Nilai kekuatan tarik hasil pengelasan SMAW 1G dengan menggunakan kuat arus 110 A, (4) Perubahan struktur mikro hasil pengelasan SMAW 1G baja St 37 dengan menggunakan kuat arus 70 A, (5) Perubahan struktur mikro hasil pengelasan SMAW 1G baja St 37 dengan menggunakan kuat arus 90 A, (6) Perubahan struktur mikro hasil pengelasan SMAW 1G baja St 37 dengan menggunakan kuat arus 110 A. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Pada pelaksanaannya penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan suatu perlakuan tertentu kemudian dilakukan pengamatan secara langsung akibat dari hasil perlakuan tersebut.Untuk pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan mencatat data hasil penelitian pada lembar observasi kemudian dicari nilai rata-rata dari setiap variabel. Hasil nilai rata – rata kekuatan tarik setelah mengalami perlakuan pengelasan dengan kuat arus 70 A menunjukkan angka sebesar 383.191 MPa, lalu nilai rata – rata kekuatan tarik setelah mengalami perlakuan pengelasan dengan kuat arus 90 A menunjukan angka sebesar 461.414 MPa, dan nilai rata – rata kekuatan tarik setelah mengalami perlakuan pengelasan dengan kuat arus 110 A menunjukan angka sebesar 446.716 MPa. Penggunaan variasi kuat arus pengelasan berpengaruh terhadap nilai kekuatan tarik dari suatu spesimen.

Analisis sifat mekanik baja St 41 akibat proses pengelasan dan pengkorosian oleh senyawa H2SO4 / Ali Sai'in

 

Implementasi penggunaan sumber belajar internet dalam meningkatkan pemahaman dan perhatian siswa (studi kasus kelas X TPM 1 Bidang Studi Menggambar Teknik di SMKN 6 Malang) / Arip Wibowo

 

Pengaruh penambahan tetes tebu terhadap kemampuan kuat tekan paving block / Aziza Audiaramadhani Malik

 

Audiaramadhani M, Aziza. 2013. Pengaruh Penambahan Tetes Tebu Terhadap Kemampuan Kuat Tekan Paving Block. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sonny Wedhanto, M. T., M. T. (II) Drs. Wahyo Hendarto Yoh, M. T. Kata Kunci: Tetes tebu, kuat tekan, paving block. Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwakandungan disakarida pada tetes tebu dapat digunakan sebagai bahan retarder untuk meningkatkan kuat tekan beton. Atas dasar tersebut diduga bahwa tetes tebu juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan paving block. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kuat tekan paving block normal dan paving block yang diberi tambahan tetes tebu. Metode penelitian menggunakan eksperimen semu (quasi experiment). Penelitian menggunakan tambahan tetes tebu sebesar 0%; 1%; 2%; 3%; dan 4%; dari jumlah air yang dipakai. Tiap perlakuan menggunakan 20 benda uji. Hasil penelitian menunjukkan (1) pada nilai signifikansi 99% terdapatperbedaan yang signifikan antara kuat tekan pavingblock tanpa tambahan tetes tebu dengan pavingblock yang diberi tambahan tetes tebu. (2) Penambahan 1% tetes tebu menghasilkan nilai kuat tekan sebesar 12,95 Mpadan merupakan kuat tekan tertinggi. (3) Penambahan tetes tebu 1% dapat meningkatkan kuat tekan paving block sebesar 27%. (4) Jika dilakukan penambahan tetes tebu lebih besar dari 1%, justru akan menurunkan kuat tekan paving block yan diuji.

Implementasi model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ilmu bangunan gedung di SMKN 1 Winongan Kabupaten Pasuruan / Sri Hawati Utami

 

Utami, Sri Hawati. 2013. Implementasi Model Pembelajaran Learning Cycle untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa Kelas X pada Mata Pelajaran Ilmu Bangunan Gedung di SMKN 1 Winongan Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Made Wena, M.Pd.,M.T. (II) Drs. Mujiyono, M.Pd. Kata kunci: Learning Cycle, Ilmu Bangunan Gedung Kualitas proses pembelajaran perlu diperhatikan karena akan berdampak pada hasil belajar siswa. Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa model pembelajaran yang cocok untuk sebuah mata pelajaran. Mengacu pada observasi yang telah peneliti lakukan pada SMKN 1 Winongan, guru masih menggunakan metode ceramah saja. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang aktif dan mudah bosan. Oleh karena itu, perlu diimplementasikan model-model pembelajaran inovatif. Salah satu model pembelajaran yang tepat yaitu model pembelajaran Learning Cycle. Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengkaji implementasi model Learning Cycle, mengetahui peningkatan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar yang terjadi pada mata pelajaran ilmu bangunan gedung dengan model pembelajaran Learning Cycle. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Data penelitian yang diambil ada 3, meliputi: (1) proses pembelajaran guru dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle, data diperoleh dengan teknik observasi, (2) aktivitas siswa, data diperoleh menggunakan teknik observasi, dan (3) hasil belajar, data yang diperoleh dari tes. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: (1) model pembelajaran Learning Cycle pada mata pelajaran ilmu bangunan gedung dapat dilakukan dengan baik, dengan tahapan yang telah sesuai dengan teori. (2) Pada hasil observasi untuk guru siklus II meningkat 17,86% terhadap siklus I. sedangkan siklus III meningkat 7,14% terhadap siklus II, dengan prosentase hasil siklus III sebesar 89,28%. Hasil observasi untuk siswa siklus II meningkat 28,57% terhadap siklus I, sedangkan siklus III meningkat 8,33% terhadap siklus II, dengan prosentase hasil siklus III sebesar 72,61% dan (3) implementasi Learning Cycle pada mata pelajaran ilmu bangunan gedung meningkatkan hasil belajar klasikal dari siklus I ke siklus II meningkat 12,13%, sedangkan siklus II ke siklus III 17,33%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle dapat diterapkan pada mata pelajaran ilmu bangunan gedung, serta dapat meningkatkan ketuntasan belajar dan keaktifan siswa.

Pengaruh penambahan limbah marmer sebagai bahan pengisi (filler) pada campuran aspal beton ditinjau dari parameter Marshall / Arien Mathofani

 

Mathofani, Arien.2013.Pengaruh Penambahan Limbah Marmer Sebagai Bahan Pengisi (Filler) pada Campuran Aspal Beton Ditinjau dari Parameter Marshall.Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. BoediRahardjo, M.Pd., M.T.(II) Pranoto, S.T., M.T. Kata kunci : limbah marmer, bahan pengisi (filler), aspal beton Upaya peningkatan mutu kualitas jalan menjadi salah satu faktor utama yang mampu membuat konstruksi jalan menjadi lebih kuat dan tahan lama, aspal digunakan sebagai bahan pengikat agregat untuk perkerasan jalan, mutu dan jumlah aspal mempunyai andil besar terhadap keawetan jalan raya. Guna peningkatan mutu kualitas aspal diperlukan bahan tambahan alternatif yang mampu membuat kualitas aspal menjadi lebih baik, dalam penelitian ini peneliti menggunakan penambahan fillerlimbah marmer yang digunakan sebagai filler.Alasan peneliti menggunakan filler limbah marmer karena limbah marmer yang terdapat di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung sangat banyak jumlahnya dan selama ini belum termanfaatkan secara makasimal. Sekali produksi volume limbah yang dihasilkan diperkirakan mencapai 5-10%. Jika perusahaan memproduksi 20 ton per hari maka volume limbah yang dihasilkan sekitar 1-2 ton per hari. Selain itu telah diketahui marmer mengandung senyawa kalsium oksida (CaO) yang memiliki sifat penguat (reinforcement) dalam campuan aspal. Tujuan dari peneltian ini adalah :(1) untuk mengetahui karakteristik bahan penyusun aspal beton, (2) untuk mengetahui pengaruh penambahan filler limbah marmer pada campuran beton aspal terhadap paramater marshall. Pengujian karakteristik sifat aspal meliputi pengujian berat jenis, penetrasi, titik lembek, titik nyala dan titik bakar, daktilitas, kehilangan berat. Sedangkan pengujian karakteristik pada agregat meliputi pengujian berat jenis agregat, pengujian abrasi menggunakan mesin Los Angeles, danpenyerapan. Metode penelitian ini mencangkup beberapa tahap yang harus dilakukan. Tahap awal merupakan tahap pemeriksaan bahan, kemudian tahap perencanaan campuran, dalam tahapan ini menggunakan 6 kadar aspal diantaranya 5%; 5,5%; 6%; 6,5%; 7,5%; 7,5% dari hasil pengujian menggunakan alat Marshall akan diketahui nilai KAO yang akan digunakan dalam langkah penelitian selanjutnya. Setelah nilai KAO diketahui tahap selanjutnya yaitu tahap perencanaan campuran KAO dengan penambahan filler limbah marmer dalam penelitian ini menggunakan penambahan filler limbah marmer dengan kadar 4,75%; 5,25%; 5,75%; 6,25%; 6,75%. Langkah terakhir dalam penelitian ini yaitu tahap analisis data yang nantinya akan diketahui bagaimana pengaruh penambahan filler limbah marmer dalam campuran aspal beton Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah marmer sebagai bahan pengisi (filler) pada Kadar Aspal Optimum 5,75% menunjukkan stabilitas, flow, VFB dan Marshall Quotient semakin meningkat sedangkan VIM, VMA semakin menurun.

Identifikasi waktu tempuh dan tundaan perjalanan menggunakan sepeda motor pada jalan kolektor dalam kota di Kota Malang / Desi Dwi Susanti

 

Susanti, Desi Dwi. 2013, Identifikasi Waktu Tempuh dan Tundaan Perjalanan Menggunakan Sepeda Motor pada Jalan Kolektor dalam Kota di Kota Malang. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sugiyanto, S.T., M.T., (II) Drs. Sonny Wedhanto, M.T., M.T. Kata kunci: waktu tempuh, tundaan, Malang. Tujuan penelitian untuk mendapatkan data waktu tempuh perjalanan melalui jalan kolektor, serta lokasi hambatan perjalanan di Kota Malang. Hasil penelitian dapat dipakai sebagai pertimbangan pemakai jalan untuk memilih rute alternative menghindari kemacetan. Disain penelitian menggunakan metode survey, data berupa titik henti sepeda motor tiap selang lima menit dari Kacuk ke Terminal Arjosari dan Terminal Landungsari pergi pulang. Hasil: (1) Potensi kemacetan terjadi pada Jalan Sumbersari, Jalan Tumenggung Suryo dan Jalan S. Supriyadi, (2) Kemacetan pada Jalan Sumbersari jam 07.00-08.00 WIB karena adanya hambatan lampu lalu lintas dan beberapa kampus serta sekolah di sekitar jalan tersebut, (3) Kemacetan pada Jalan Tumenggung Suryo jam 15.30-16.30 WIB karena adanya beberapa sekolah di tepi jalan sehingga banyak kendaraan parkir di badan jalan, (4) Kemacetan pada Jalan S. Supriyadi jam 06.30-07.30 WIB disebabkan oleh pasar Sukun yang tepat berada di tepi jalan, sehingga banyak pedagang maupun pembeli yang parkir di badan jalan, (5) Waktu tempuh perjalanan dari Kacuk ke Terminal Landungsari sekitar 49 menit, sedangkan waktu tempuh dari Kacuk ke terminal Arjosari sekitar 48 menit, (6) Waktu tempuh perjalanan dari Terminal Landungsari ke Kacuk sekitar 52 menit dan dari Terminal Arjosari ke Kacuk sekitar 53 menit, (7) Fluktuatif lalu lintas harian yang terjadi di Jalan Sumbersari sebesar 6319.40 Smp/Jam, di Jalan Tumenggung Suryo sebesar 7675.85 Smp/Jam, dan di Jalan S. Supriyadi sebesar 6479.25 Smp/Jam.

Pengembangan media pembelajaran berbasis game edukasi 3D pada standar kompetensi melakukan instalasi software untuk siswa kelas X SMK Program Keahlian TKJ SMK Negeri 9 Malang / Seprizal Harviyansyah

 

Harviyansyah, Seprizal.2013. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Game Edukasi 3D pada Standar Kompetensi Melakukan Instalasi Software untuk Siswa Kelas X Program Keahlian TKJ SMK Negeri 9 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muladi,S.T,M.T, (2) Didik Dwi Prasetya, S.T, M.T Kata Kunci: Game Edukasi, Animasi 3 Dimensi, Media Pembelajaran, Melakukan Instalasi Software Media pembelajaran berbasis game edukasi yang banyak diminati salah satunya berbentuk animasi 3 dimensi (3D) yang memiliki keunggulan dibanding dengan animasi 2 dimensi (2D) karena objek yang ditampilkan animasi 3D terlihat lebih nyata dibandingkan dengan animasi 2D. Hasil wawancara dengan salah satu guru di SMK Negeri 9 Malang pada standar kompetensi melakukan instalasi software disimpulkan bahwa mengenai pembelajaran tersebut pemilihan media pembelajaran yang digunakan belum tepat sehingga sajian materi kurang menarik. Siswa merasa bosan dan melakukan kegiatan lain seperti bermain game pada saat pembelajaran. Tujuan dari pengembangan media pembelajaran berbasis game edukasi 3D ini yaitu mendukung kegiatan belajar siswa pada pelajaran standar kompetensi melakukan instalasi software. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Model penelitian pengembangan ini berdasarkan model pengembangan yang dinyatakan oleh Sugiyono yang menggunakan 10 tahapan untuk menghasilkan produk media pembelajaran. Metode penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono dipilih untuk mengembangkan produk media pembelajaran game edukasi karena langkah-langkahnya sistematis sesuai dengan kebutuhan, ringkas, jelas, sederhana, dan mudah dipahami sehingga mudah untuk dilakukan. Hasil pengembangan ini diharapkan dapat memenuhi kelayakan untuk digunakan siswa kelas X program keahlian TKJ SMK sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran game edukasi ini divalidasi oleh ahli media dan ahli materi serta telah diujicobakan pada responden. Hasil dari validasi media diperoleh persentase sebesar 100% dan ahli materi mendapatkan persentase sebesar 80,5% . Hasil dari responden menyebutkan bahwa persentase sebesar 81,11% untuk kelompok kecil dan 84,17 % untuk uji coba lapangan. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran secara keseluruhan dinyatakan layak/valid digunakan sebagai pembelajaran pada standar kompetensi melakukan instalasi software.

Pengembangan media pembelajaran pengenalan huruf hijaiyah berbasis animasi dengan penerapan metode taghona untuk siswa TK Roudlotul Hikmah Cukir Jombang / Nasihatud Diniyah

 

Diniyah, Nasihatud.2013. Pengembangan Media Pembelajaran Pengenalan Huruf Hijaiyah Berbasis Animasi dengan Penerapan Metode Taghona untuk Siswa TK Roudlotul Hikmah Cukir Jombang. Skripsi. S1 Pendidikan Teknik Informatika. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom, (2) Mohamad Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci : Media Pembelajaran, Pengenalan, Huruf hijaiyah, Metode Taghona Pengenalan huruf hijaiyah merupakan keterampilan yang diajarkan kepada anak usia prasekolah atau usia taman kanak-kanak untuk mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar. Dengan dikuasainya keterampilan ini, maka akan membantu anak dalam belajar membaca huruf hijaiyah. Namun pada kenyataannya, tidaklah mudah dalam mengajarkan huruf hijaiyah kepada anak usia pra sekolah. Oleh karena itu, demi menunjang pembelajaran membaca untuk anak usia prasekolah, maka dikembangkan media pembelajaran pengenalan huruf hijaiyah berbasis animasi dengan menerapkan Metode Taghona. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran pengenalan huruf hijaiyah berbasis animasi pada siswa taman kanak-kanak yang menarik dan menyenangkan serta untuk menguji kelayakan media pembelajaran pengenalan huruf hijaiyah tersebut. Untuk menguji kelayakan media pembelajaran ini, maka akan dilakukan pengolahan data yang diperoleh dari hasil angket pada tahap analisis data. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Sugiono. Dipilihnya model pengembangan Sugiyono karena adanya kesesuaian langkah-langkah yang terperinci dengan kebutuhan pengembangan media pembelajaran pengenalan huruf hijaiyah. Dengan adanya langkah uji coba dan revisi yang berlapis diharapkan produk yang dihasilkan mampu memenuhi kriteria produk yang valid, sehingga produk rancangan mempunyai standar kelayakan yang tepat. Selain itu demi menunjang isi materi yang disampaikan maka pada media, maka diterapkan metode Taghona, yaitu metode pembelajaran pengenalan huruf hijaiyah yang menggabungkan metode konvensional dengan bernyanyi. Berdasarkan hasil uji kelayakan produk, diperoleh presentase hasil validasi ahli media sebesar 95%, presentase hasil validasi ahli materi sebesar 89,43%, presentase hasil uji coba produk sebesar 93,06%, presentase hasil uji coba pemakaian sebesar 91,67%. Berdasarkan nilai presentase tersebut dapat dikatakan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk siswa TK. Namun untuk pengembangan media selanjutnya tetap diperlukan saran supaya media dapat dikembangkan lagi dengan lebih kreatif untuk menunjang proses pembelajaran.

Pengembangan modul pembelajaran mata pelajaran produktif pada standar kompetensi menggabungkan fotografi digital dalam sajian multimedia kelas X Jurusan Multimedia di SMKN 7 Jember / Nia Witantiningsih

 

Witantiningsih, Nia. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran Mata Pelajaran Produktif Pada Standar Kompetensi Menggabungkan Fotografi Digital ke Dalam Sajian Multimedia Kelas X Jurusan Multimedia di SMKN 7 Jember. Proposal Skripsi. S1 Pendidikan Teknik Informatika. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Sujono, M.T., (2) Triyanna Widyaningtyas, S.T., M.T. Kata Kunci: modul ajar, mata pelajaran produktif, pembelajaran Pada pembelajaran teori di kelas X Jurusan Multimedia SMKN 7 Jember belum pernah menggunakan modul sebagai acuan belajar siswa. Selama ini guru mencari materi dari berbagai sumber yang disesuaikan dengan silabus yang ada, hal tersebut dilakukan karena keterbatasan media pembelajaran pada kelas X Jurusan Multimedia mata pelajaran produktif pada standar kompetensi mengabung¬kan fotografi digital dalam sajian multimedia. Dalam hal ini siswa diharapkan dapat belajar mandiri dengan bantuan suatu media yang sesuai dengan materi yang diajarkan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengembangkan modul pembelajaran dan menguji kelayakan media pembelajaran berupa modul ajar pada mata pelajaran produktif standar kompetensi menggabungkan fotografi digital ke dalam sajian multimedia pada kelas X Jurusan Multimedia di SMKN 7 Jember. Pengembangan modul ini menggunakan Metode Penelitian dan Pengembangan Sugiyono, dengan 10 langkah pengembangan, yaitu (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Revisi Desain, (6) Ujicoba Produk, (7) Revisi Produk, (8) Ujicoba Pemakaian, (9) Revisi Produk, dan (10) Produksi Massal. Untuk analisis data uji validitas menggunakan teknik Akbar Sa’dun dengan menghitung hasil validasi ahli media, ahli materi, ujicoba kelas kecil, dan ujicoba kelas besar. Media pembelajaran yang dikembangkan berupa modul yang terdiri dari dua bagian, yaitu modul guru dan modul siswa, dimana pada masing-masing modul memiliki jobsheet sebagai acuan praktikum siswa. Kunci jawab dan rubrik penilaian hanya terdapat pada modul guru. Dari hasil validasi diperoleh data akhir sebesar 86.85% untuk ahli media, 94.35% untuk ahli materi, 84.05% untuk hasil Uji-coba produk pada siswa, dan 85.62% dari hasil Uji-coba lapangan. Hasil rata-rata yang diperoleh dari keseluruhan 86.96%. dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa modul pembelajaran yang dikembangkan sangat valid (layak dan baik) untuk digunakan.

peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran pada sekolah menengah bermutu di Kota Gerbang Salam (studi multi kasus di MAN Wachid Hasyim, SMAN Pramuka, dan SMKN Kabupaten) / Buna'i

 

Buna’i, 2013. Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pembelajaran pada Sekolah Menengah Bermutu di Kota Gerbang Salam, (Studi Multi Kasus di MAN Wachid Hasyim, SMAN Pramuka, SMKN Kabupaten). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I): Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd, Pembimbing (II): Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., Pembimbing (III): Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd Kata kunci: kompetensi guru, sekolah menengah bermutu Tujuan pendidikan sebagaimana yang tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Sumber daya manusia yang bermutu dapat dihasilkan melalui lembaga pendidikan bermutu yang terdapat suasana pendidikan yang kondusif, proses belajar-mengajarnya yang aktif dan kreatif, kurikulum yang relevan, sumber-sumber belajar yang lengkap, fasilitas belajar yang memadai, serta pengelolaan yang baik terutama tenaga pendidik yang kompeten. Kemampuan kepala sekolah dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh program yang ada di sekolah sangat menentukan terhadap terbentuk sekolah bermutu. Termasuk memprogram peningkatan kompetensi guru. Guru diharapkan menjadi tenaga pendidik yang kompeten sehingga mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai kepada peserta didik dengan baik. Atas dasar hal tersebut kompetensi guru harus selalu ditingkatkan. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan dan menjelaskan program peningkatan kompetensi guru di MAN Wachid Hasyim, SMAN Pramuka, dan SMKN Kabupaten di kota Gerbang Salam, (2) mendeskripsikan dan menjelaskan pola peningkatan kompetensi guru di MAN Wachid Hasyim, SMAN Pramuka, dan SMKN Kabupaten di kota Gerbang Salam, (3) mendeskripsikan dan menjelaskan evaluasi peningkatan kompetensi guru di MAN Wachid Hasyim, SMAN Pramuka, dan SMKN Kabupaten di kota Gerbang Salam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi multi kasus. Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru. Dalam pengumpulan data menggunakan metode wawancara bebas terpimpin, observasi partisipan, dan dokumentasi. Peneliti sebagai instrumen kunci yang digunakan dalam penelitian ini. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif yaitu dimulai dari reduksi data, penyajian data dan tarikan simpulan/verifikasi. Teknik pengecekan keabsahan data menggunakan observasi secara terus-menerus, triangulasi, pengecekan kecukupan referensial, dan pengecekan anggota. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) di tiga lokasi penelitian sudah mempunyai program peningkatan kompetensi guru berupa program pembinaan, pendidikan dan latihan, kegiatan profesi, dan pendidikan lanjut dan terjadwal serta disusun dengan melibatkan semua pihak, (2) di tiga lokasi penelitian, pelaksanaan program peningkatan kompetensi guru secara umum telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Teknik pembinaan yang dilakukan meliputi: pembinaan rutin tiap mingguan, pembinaan rutin bulanan, memanggil guru yang dianggap perlu untuk dibina, melakukan kunjungan kelas, melakukan observasi kelas, pengecekan kelengkapan perangkat pembelajaran, mengutus guru untuk ikut seminar/diklat/workshop, mengadakan diskusi atau sharing dengan sesama guru, dan memotivasi guru untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Para guru merespon baik. Kendala yang dihadapi kepala sekolah yaitu: keterbatasan anggaran yang dimiliki sekolah, keterbatasan sarana/prasarana yang dimiliki sekolah maupun guru, minimnya ketersediaan waktu untuk melakukan pembinaan, dan kemajemukan karakteristik guru. (3) di tiga lokasi penelitian, pelaksanaan evaluasi terhadap kompetensi guru dilakukan oleh tim pada setiap semester. Hasil evaluasi kompetensi guru menunjukkan bahwa kompetensi yang dimikili oleh guru adalah baik. Setelah diketahui hasil evaluasi terhadap kompetensi guru, maka kemudian kepala sekolah menyusun program tindak lanjut, sebagai kelanjutan dari kegiatan evaluasi. Implikasi penelitian, (1) Kepala sekolah mempunyai tanggungjawab untuk selalu memprogram peningkatan kompetensi guru secara menyeluruh pada awal tahun pelajaran, dengan melibatkan dewan guru untuk bersama-sama menyusun program peningkatan kompetensi guru tersebut, sekaligus menjadual kegiatan tersebut. (2) Pelaksanaan program peningkatan kompetensi guru di sekolah, sebaiknya memperhatikan beberapa hal yang dapat mempengaruhi terhadap keberhasilan program peningkatan kompetensi guru tersebut, misalnya; sarana dan prasarana, ketersediaan waktu, dan hasil evaluasi semester sebelumnya. (3) Guru sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas, keberadaan program peningkatan kompetensi guru adalah sebuah keniscayaan dan keharusan. Karena dengan menjadi guru yang kompeten akan mampu mengelola kelas dengan baik dan akan memudahkan pencapaian tujuan yang diinginkan berupa peningkatan prestasi belajar siswa. (4) Peningkatan kompetensi guru di sekolah seyogyanya dibarengi dengan ketersedian fasilitas bagi guru yang memadai, seperti; tersedianya bahan bacaan yang relevan dengan kompetensinya, jaringan internet yang luas, media pembelajaran yang berbasis ICT, dan kelengkapan peralatan laboratorium. Saran kepada (1) kepala sekolah diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam pengambilan kebijakan untuk meningkatkan mutu sekolah, (2) para guru, dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola pembelajaran, (3) kepala Dinas Pendidikan, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, (4) kepala Kantor Kementerian Agama, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, khsususnya yang berkenaan dengan kemajuan madrasah untuk menjadi madrasah yang bermutu baik, dan (5) Direktorat Pembinaan SMA dan Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dapat dijadikan sebagai acuan dalam merencanakan peningkatkan kompetensi guru.

Developing multimedia game to teach reading comprehension for lower secondary school students / Andika Agus Dewantara

 

Dewantara, Andika Agus, 2013. Pengembangan Game Multimedia untuk Mengajar Kemampuan Pemahaman Bacaan bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono. M.Pd., M.A., PhD, (II) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL., M.Pd. Key words: Game Multimedia, Pemahaman Bacaan Bertolak dari tujuan pembelajaran kemampuan membaca yaitu memahami makna dan menggali informasi dalam bacaan, maka siswa perlu dibekali dengan kemampuan dan strategi membaca yang relevan. Dalam hal ini penggunaan game multimedia sangat membantu dalam memberikan siswa pelatihan untuk menerapkan kemampuan membaca. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sebuah permainan multimedia untuk mendukung pembelajaran kemampuan pemahaman bacaan bagi siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan desain penelitian Research dan Development (R&D) (Borg & Gall, 1979), yang terdiri dari tahapan sebagai berikut: analisis kebutuhan, pengembangan produk, validasi produk, dan uji coba produk. Kemudian peneliti mengkombinasikan prosedur penelitian tersebut dengan prosedur pengembangan permainan (Trueblood & Szabo, 1974) sebagai desain utama penelitian yang memuat langkah-langkah sebagai berikut: penentuan tujuan permainan, pengembangan materi permainan, pengembangan seperangkat aturan dan prosedur permainan, pengembangan umpan balik, pengembangan efek tantangan, pengembangan variasi permainan, dan evaluasi permainan. Instrumen penelitian yang digunakan antara lain: lembar observasi, protokol wawancara, lembar validasi, dan angket. Kemudian data yang diperoleh dari instrumen tersebut dianalisis dan dipresentasikan secara qualitative dan quantitative. Hasil dari penelitian ini adalah berupa produk sebagai berikut: sebuah paket aplikasi perangkat lunak pembelajaran yang bernama Reading Comprehension Games (RC Games) berbentuk CD-ROM, cetak biru materi bacaan, dan buku panduan penggunaan produk (bagi guru dan siswa). Hasil analisis yang diperoleh pada tahap validasi dan uji coba produk menunjukan bahwa para ahli validasi, guru, dan siswa sebagai partisipan kegiatan tersebut memberikan respon positif terhadap produk hasil pengembangan penelitian ini, meskipun peneliti masih perlu melakukan beberapa revisi terhadap materi isi dan rancangan antar muka aplikasi untuk meningkatkan kualitas produk tersebut. Kemudian, aktivitas yang dilaksanakan dalam penelitian ini telah dapat mendorong peneliti untuk mencapai tujuan penelitian. Produk penelitian dirancang agar dapat digunakan pada berbagai macam bacaan, sebab aktivitas utama yang dikembangkan dalam produk secara umum berorientasi untuk melatih penerapan strategi dan kemampuan membaca. Dengan harapan dengan menggunakan kemampuan pemahaman bacaan yang telah dikuasai, siswa dapat memahami makna dan menggali informasi dalam bacaan.

Pengembangan bahan ajar membacakan cerpen dengan e-learning / Marista Dwi Rahmayantis

 

Pengaruh kombinasi project based learning dengan explicit instruction, dan kemampuan berpikir logis terhadap prestasi belajar standar kompetensi menggabung teks ke dalam sajian multimedia siswa kelas XI MM SMKN 11 Malang / Rachmawati

 

Rachmawati. 2013. Tesis. Pengaruh Kombinasi Project Based Learning Dan Explicit Intruction, Dan Kemampuan Berpikir Logis Terhadap Prestasi Belajar Menggabung Teks Ke Dalam Sajian Multimedia Siswa Kelas XI MM SMKN 11 Malang. Program Studi Pendidikan Kejuruan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. (2) Dr. Amat Nyoto, M.Pd. Kata Kunci : project based learning, explicit instruction, kemampuan berpikir logis, prestasi belajar, multimedia, SMK. Tujuan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) adalah menyiapkan siswa untuk siap bekerja. Oleh karena itu siswa dilatih agar dapat mengambil inisiatif, berpikir kritis dan cakap memecahkan masalah dalam pembuatan produk. Salah satu mata pelajaran produktif jurusan Multimedia adalah menggabungkan teks ke dalam sajian multimedia. Pada standar kompetensi ini produk nyatanya berupa animasi teks. Dalam pembuatan animasi teks diperlukan cara berpikir logis. Kemampuan berpikir logis yang sangat diperlukan siswa untuk memahami suatu permasalahan matematis, karena terdapat langkah-langkah yang hanya dapat dilakukan dengan logika. Karakteristik siswa Multimedia (MM) belum pernah mendapat pengetahuan bagaimana cara menggabung teks ke dalam sajian multimedia yaitu dengan pembuatan animasi teks, sehingga dengan pemberian pelatihan materi secara langsung siswa dapat memiliki bayangan atau imajinasi tentang animasi teks. Oleh karena itu digunakan kombinasi model pembelajaran PBL diawal kemudian dilanjutkan EI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa antara penerapan kombinasi PBL dilanjutkan EI dengan kombinasi EI dilanjutkan PBL dan mengetahu perbedaan prestasi belajar kemampuan berpikir logis tinggi dan rendah. Selain itu untuk mengetahui interaksi penerapan model pembelajaran dan kemampuan berpikir logis terhadap prestasi belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan pola factorial design 2x2. Populasi adalah seluruh siswa kelas XI SMKN 11 Malang semester ganjil 2013/2014, sedangkan sampel penelitian adalah kelas XI MM1 (eksperimen) dan XI MM2 (kontrol). Instrumen penelitian berupa soal tes (postest dan POFI) dan rubrik observasi. Uji hipotesis menggunakan Two Ways Anova. Hasil Two Ways Anova menunjukkan bahwa (1) Kombinasi model PBL-EI yang diterapkan di kelas eksperimen menunjukkan prestasi belajar lebih tinggi dengan rata-rata 87,29 dibanding kelas kontrol dengan rata-rata 83,76 (2) siswa yang memiliki kemampuan berpikir logis tinggi akan memperoleh prestasi belajar tinggi jika diberi perlakuan PBL – EI sedangkan siswa yang memiliki kemampuan berpikir logis rendah akan memperoleh prestasi belajar tinggi bila diberi perlakuan EI – PBL (3) ada interaksi yang signifikan antara faktor pemberian perlakuan dalam kelompok, dan kemampuan berpikir logis terhadap prestasi belajar menggabungkan teks ke dalam sajian multimedia.

Penerapan pembelajaran problem creating untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas XI IPA.7 SMAN 1 Kota Bima / Abdul Muis

 

Muis, Abdul. 2013. Penerapan Pembelajaran Problem Creating untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Kelas XI IPA.7 SMAN 1 Kota Bima. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Subanji, M.Si, dan (II) Dr. rer. nat I Made Sulandra, M.Si. Kata Kunci: Kreativitas, diferensial, problem creating. Pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika menandakan adanya aktivitas matematis. Untuk memecahkan masalah matematis, diperlukan perilaku dan pemikiran kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan problem creating yang dapat meningkatkan kreativitas siswa kelas XI IPA.7 SMAN 1 Kota Bima. Barlow (2010) menyatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran problem creating dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) identy the mathematical goal (s), (2) decide on a problem context, (3) create the problem, (4) anticipate students’ solution, dan (5) implement and reflect. Kreativitas siswa yang diukur dalam pembelajaran dengan problem creating meliputi aspek: (a) kelancaran (fluency), yaitu kemampuan siswa untuk menghasilkan banyak gagasan, (b) fleksibel (flexibility), yaitu kemampuan siswa menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam menyelesaikan masalah, dan (c) orisinil (novelty), yaitu keaslian gagasan siswa dalam memberikan jawaban yang benar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas. Data yang dikumpulkan meliputi data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui penilaian tes akhir tindakan I (siklus I), dan tes akhir tindakan II. Sedangkan data kualitatif diperoleh dari observasi keterlaksanaan pembelajaran, angket respon siswa, dan catatan lapangan. Triangulasi sumber data, ketekunan pengamatan, dan pengecekan teman sejawat diterapkan untuk mengecek keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klasikal penerapan pembelajaran dengan problem creating mampu meningkatkan kreativitas siswa kelas XI IPA.7 SMAN 1 Kota Bima pada materi diferensial terhadap semua aspek kreativitas yang diukur. Pembelajaran dengan problem creating memungkinkan siswa kreatif mengkonstruksi dan mengembangkankan ide dalam menyelesaikan soal matematis yang diajukan, juga mendorong siswa dari kurang/tidak kreatif berubah menjadi minimal cukup kreatif. Hambatan yang dialami peneliti dalam menerapkan problem creating untuk meningkatkan kreativitas siswa dengan menggunakan soal open ended antara lain adalah kesiapan pengetahuaan prasyarat bagi siswa yang berkemampuan kurang. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru matematika umumnya agar menerapkan pembelajaran dengan problem creating sebagai salah satu model pembelajaran alternatif, sehingga siswa terlatih mengembangkan ide-ide keindividualnya untuk meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah (soal) matematis.

Peran kepala sekolah dalam pembaharuan kurikulum berbasis integrated curriculum (studi multi kasus PAUD dan SD Adiwiyata dan PAUD dan SD Adibudaya di Malang) / Yolla Anita Seqyon

 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini digunakan untuk menjawab daripada fokus penelitian yang diantaranya, adalah: (1) peran kepala sekolah dalam pembaharuan kurikulum berbasis integrated curriculum, (2) proses pembaharuan kurikulum berbasis integrated curriculum dan (3) faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat beserta strategi mengatasi keberhasilan implementasi pembaharuan kurikulum berbasis integrated curriculum. Penelitian ini menggunakan rancangan desktiptif kualitatif dengan desain studi multi kasus. Data penelitian diperoleh melalui hasil wawancara, observasi, dan studi dokumen.Hasil penelitian di kedua sekolah adalah: (1) kepala sekolah harus mampu melaksanakan dan memfokuskan ketiga peran sebagai leader, motivator dan supervisor secara berkesinambungan dan sangat penting dalam menciptakan keberhasilan pembelajaran di sekolah, (2) proses pembaharuan kurikulum berbasis integrated curriculum melalui 4 tahap yakni: merencanakan, merumuskan materi, menetapkan metode, dan evaluasi dan (3) adanya faktor-faktor pendukung, faktor-faktor penghambat beserta strategi yang merupakan penentu keberhasilan dan implementasi pembaharuan kurikulum berbasis integrated curriculum. Kata kunci: peran kepala sekolah, proses pembaharuan kurikulum, integrated curriculum, faktor-faktor pendukung ,faktor-faktor penghambat dan strategi.

Model workshop untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran biologi SMP pada daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kecamatan Krayan Selatan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara / Jemri

 

Jemri. 2013. Model Workshop untuk Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Biologi SMP pada Daerah 3T (Terdepan, Terluar Dan Tertinggal) Perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kecamatan Krayan Selatan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara. Tesis , Program Studi Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd., (2) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc, Ph.D. Kata Kunci: model workshop, kemampuan guru, daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Beberapa permasalahan penyelenggaraan pendidikan, utamanya di daerah 3T antara lain adalah permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu (mismatched). Permasalahan lain dalam penyelenggaraan pendidikan adalah angka putus sekolah juga masih relatif tinggi, sementara angka partisipasi sekolah masih rendah. Kompleksnya permasalahan pendidikan dan rendahnya kompetensi guru-guru di daerah 3T berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan guru yaitu dengan melaksanakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Namun realita yang ada upaya itu belum terlihat dan kurang maksimal. Salah satu indikasinya adalah guru masih membelajarkan siswa secara konvensional dan prosedural tanpa suatu perencanaan yang baik sehingga hasil pembelajaran kurang memuaskan. Oleh karena itu mengatasi permasalah tersebut dibutuhkan peningkatan kualitas guru yang dapat dilakukan dengan memberikan sebuah pelatihan yang terstruktur dan terarah kepada satu fokus yang ingin dikembangkan dengan memberdayakan guru-guru yang ada di daerah 3T dengan melaksanakan kegiatan workshop untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan penelitian ini ialah: 1) merancang suatu model kegiatan workshop efektif yang dapat membantu guru meningkatkan kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran biologi, 2) mengetahui kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran biologi setelah mengikuti kegiatan workshop. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan partisipan berdasarkan model Kemmis & McTaggart yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu: planning (perencanaan), action/observing (tindakan/observasi), dan reflecting (refleksi) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh dari hasil observasi, catatan lapangan, kuesioner, tes, dan wawancara (interview), yang selanjutnya akan dianalisis dengan analisis logik atau kualitatif. Praktisi yang aktif dalam penelitian ini ada sebanyak 17 guru namun yang menjadi fokus penelitian ini hanya tiga orang guru SMP Negeri 3 Krayan Selatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan diadakannya kegiatan workshop secara rutin, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dapat ditingkatkan, dibandingkan dengan kemampuan guru sebelum mengikuti kegiatan workshop. Setelah mengikuti kegiatan workshop secara rutin guru mampu melaksanakan pembelajaran mulai dari merancang pembelajaran, menggunakan model-model pembelajaran, media pembelajaran, dan melaksanakan assessment pembelajaran. Adapun model kegiatan workshop efektif yang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di daerah 3T adalah melalui langkah-langkah sebagai berikut. 1. Mengkaji konsep esensial dan memilih alat bantu belajar sesuai dengan konsep-konsep yang diajarkan. 2. Mengkaji dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan pendidikan mengacu kepada kompetensi guru di daerah 3T. 3. Melaksanakan teknik modeling dalam pembelajaran oleh peneliti. 4. Peer teaching melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disiapkan yang penekanannya pada model pembelajaran melalui eksplorasi, pengenalan konsep, dan pemantapan konsep. 5. Mengkaji hasil Peer teaching sebagai pedoman melaksanakan pembelajaran di kelas. 6. Melaksanakan bimbingan individual. Berdasarkan hasil penelitian Penulis memberikan saran-saran kepada beberapa pihak sebagai berikut. a. Dinas Pendidikan Kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan untuk memberikan pelatihan bagi guru-guru mengacu pada langkah-langkah model Workshop dan dalam melaksanakan kegiatan workshop atau kegiatan pelatihan bagi guru-guru di daerah 3T diharapkan dalam menyajikan materi tidak hanya secara informatif, tetapi lebih kepada pengalaman praktis praktisi. b. Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Kepala sekolah sebagai kunci pengembangan guru di tingkat sekolah seharusnya memberi ruang kepada guru untuk saling bekomunikasi dan mengembangkan hasil pelatihan sehingga menghasilkan guru-guru yang berkualitas. Pengawas Sekolah harus berperan serta membantu sekolah dan membantu guru dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah. Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan, KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah), dan KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) sebaiknya menyelenggarakan peningkatan kapasitas Kepala Sekolah dan Pengawas dalam pembelajaran. c. Sekolah Dalam upaya meningkatkan kinerja guru dan pembelajaran di kelas, secara bertahap sekolah harus memprogramkan upaya peningkatan kualitas guru dalam mengelola pembelajaran di kelas d. Peneliti Lain Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait model workshop yang efektif untuk meningkatkan kemampuan guru-guru di daerah 3T dalam melaksanakan pembelajaran pada komponen dan tingkat pendidikan yang berbeda.

Mixing Malay with English: a case study / Dany Prima Putra

 

Putra, Dany Prima. 2013. Mixing Malay with English: A Case Study. Skripsi. Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: A. Effendi Kadarisman, Ph.D. Kata Kunci: alih kode, Melayu, bahasa lisan Penelitian menjukkan bahwa orang cenderung untuk menjadi bilingual. Bahkan untuk seseorang yang hanya menggunakan satu bahasa, dia akan memiliki kecenderungan untuk menggunakan lebih dari satu gaya bahasa (Brown dan Attardo, 2005: 88). Penelitian ini difokuskan untuk topik alih kode antara bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Alih kode adalah upaya untuk beralih bahasa pada tingkatan tertentu, dan biasanya pada alasan dan situasi tertentu. Cakupan penelitian ini adalah bahasa lisan dari subjek penelitian. Untuk alasan tersebut, peneliti ingin mempelajari cara subjek yang seorang penutur bahasa Melayu beralih kode antara bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Tujuan yang kedua adalah, untuk mengetahui frekuensi penggunaan kata-kata di dalam bahasa Melayu dengan bahasa Inggris. Desain penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data yang digunakan berbentuk rekaman suara yang diambil dari percakapan peneliti dan subjek penelitian. Jenis alih kode yang digunakan adalah jenis alih kode yang diusulkan oleh Hoffman (1991). Peneliti menggunakan fasilitas penghitungan kata di perangkat lunak Microsoft Word untuk menghitung frekuensi kumunculan bahasa Melayu dan bahasa Inggris untuk menjawab rumusan masalah yang kedua. Hasilnya adalah terdapat empat jenis alih kode yang muncul dari data. Dari lima jenis alih kode yang diusulkan oleh Hoffman (1991: 112), hanya empat yang muncul di data yang berisi 159 ujaran. Mereka adalah intra-sentential switching (69%), emblematic switching (12%), inter-sentential switching (11%), dan yang terakhir adalah continuity with previous speaker (8%). Tipe alih kode yang tersisa yang tidak muncul dari data adalah a change of pronunciation (0%). Sebagai tambahan, peneliti menghitung kata-kata dalam bahasa Inggris dan Melayu yang diucapkan oleh subjek penelitian dan membandingkannya dalam bentuk persentase. Hasilnya, dari total 3,149 kata yang dihasilkan oleh subjek, 984 diantaranya diucapkan dalam bahasa Inggris, sebesar 28,8 % kemunculan. Sisanya sebesar 71,2% diucapkan dalam bahasa Melayu. Tak bisa dipungkiri bahwa penutur bahasa Melayu akan banyak menggunakan bahasa Inggris di dalam bahasa mereka karena bahasa Inggris adalah bahasa resmi di Malaysia. Kemungkinan untuk melakukan alih kode antara bahasa Melayu dan bahasa Inggris sangat besar. Namun, penelitian mengenai alih kode antara bahasa Melayu dan bahasa Inggris yang akan datang sangat disarankan untuk melibatkan jumlah subjek yang lebih besar. Sebagai tambahan, subjek dalam penelitian ini tinggal di Malaysia Timur, dan gaya bahasa Melayu di sana berbeda dengan yang ada di Malaysia semenanjung di barat. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi penelitian yang akan datang untuk melibatkan subjek dari daerah tersebut.

Past tense errors in recount texts written by the ninth graders of SMPN 1 Ngoro Mojokerto / Shinta Amalia

 

Amalia, Shinta. 2013. Past Tense Errors in Recount Texts Written by the Ninth Graders of SMPN 1 Ngoro Mojokerto. Undergraduate Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Prof. Dr. Hj.Nur Mukminatien, M.Pd Kata Kunci: kesilapan, past tense, recount text, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe-tipe kesilapan dalam penggunaan past tense pada recount text yang ditulis olehsiswa kelas Sembilan SMPN 1 Ngoro Mojokerto dan untuk mengetahui kemungkinan sebab-sebab terjadinya kesilapan-kesilapan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kuantitatif. Berdasarkan penelitian awal, sekolah tersebut dianggap memiliki siswa yang berpotensi dalam bahasa Inggris karena bahasa Inggris diajarkan secara intensif dan dalam dua bahasa. Ada 8 kelas dari kelas 9, 3 siswa dari masing-masing kelas diambil sebagai sample dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Sumber data pada penelitian ini adalah recount text yang ditulis oleh siswa. Penelitian ini menggunakan writing task, checklist dan panduan wawancara untuk guru dan siswa. Checklist pada penelitian ini didasarkan kepada teory Dulay et al. (1982) tentang Surface strategy taxonomy yang terdiri dari kesilapan omission, addition, misformation, dan misordering, serta didasarkan pada teori Richards (1974) tentang sebab-sebab kesilapan yang terdiri overgeneralization, ignorance of rule restriction, incomplete application of rule dan false concept hypothesized. Ada empat tahap dalam analisis data yaitu mengidentifikasi kesilapan, mengklasifikasikan kesilapan pada tabel checklist, mengevaluasi kesilapan serta tabulasi kesilapan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada 87 kesilapan pada recount text yang dibuat oleh siswa. Frequency kesilapan yang ditemukan adalah 65.51 % misformation errors, 19.54 % omission errors, 14.94 % addition errors. Dari hasil analisis kemungkinan penyebab terjadinya kesilapan ada 66. 66% Ignorance of rule restriction, 18.39 % incomplete application of rule, Ada 12.64% dari false concept hypothesized dan 2.29% over generalization. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru memperhatikan kesulitan yang dihadapi siswa dalam penggunaan past tense dalam bahasa Inggris. Selain itu, guru sebaiknya memberikan penjelasan tentang perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, guru sebaiknya memberikan penjelasan mengenai penggunaan tenses dalam bahasa Inggris dengan mengaitkannya dengan kehidupan sekitar siswa. Guru bisa memberikan latihan-latihan berkelanjutan kepada siswa dan mendiskusikannya agar siswa tidak mengulangi kesilapan yang sama. Disarankan juga kepada siswa agar belajar lebih dalam tentang penggunaan past tense. Siswa sebaiknya meluangkan waktu untuk membaca buku grammar terkait dengan penggunaan verb tenses. Untuk penelitian lanjutan, peneliti disarankan untuk meneliti tipe-tipe kesilapan dan faktor-faktor yang menyebabkan kesilapan yang berbeda dengan menggunakan teknik analisis data yang berbeda pula.

The evaluation of the contextuality of the first semester eleventh grade English student workbook of Saint Joseph Catholic Senior High School Malang / Albertus Bima Bonimas

 

Bima, Albertus, 2010. The Evaluation of the Contextuality of the First Semester Eleventh Grade English Student Workbook of Saint Joseph Catholic Senior High School Malang.Tesis, JurusanSastraInggris, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: Dr. MirjamAnugerahwati, M.A. Kata Kunci: materi-materitambahan, catatandanlatihan grammar, kontekstualitas. Dalam pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris, materi-materi tambahan memiliki peran penting untuk menambah materi dalam buku paket yang bagaimanapun tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan murid secara sempurna. Di SMAK Santo Yoseph Malang, materi-materi tambahan diberikan dalam bentuk catatan dan latihan-latihan grammar, yang disebut sebagai buku kerja Bahasa Inggris siswa. Kontekstualitas merupakan sebuah aspek yang harus dipenuhi dalam setiap materi-materi tambahan yang digunakan Karen aaspek ini memberikan banyak keuntungan dan manfaat untuk murid dalam mempelajari Bahasa Inggris. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengevaluasi kontekstualitas dari buku kerja Bahasa Inggris siswa untuk kelas siswa kelas sebelas semester pertama yang digunakan di SMAK Santo Yoseph Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif untuk mencapai tujuan penelitian di atas. Dalam hal ini, buku kerja yang diteliti merupakan instrument utama.Data penelitian merupakan deskripsi data dari buku kerja siswa yang dilihat dari sudut pandang kontekstualitasnya. Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan pengamatan terhapad buku kerja yang diteliti dan wawancara kepada pengembang utama dari buku kerja yang diteliti. Dalam melakukan pengamantan, peneliti menggunakan elemen-elemen dari latihan grammar yang kontekstual sebagai panduan untuk mengevaluasi kontekstualitas dari buku kerja yang diteliti. Peneliti melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi mengenai proses mengembangkan buku kerja ini. Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan perekam suara dan panduan pertanyaan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa buku kerja yang diteliti konstekstual. Poin yang menunjukkan bahwa buku kerja yang diteliti kontesktual adalah bahwa buku kerja siswa ini telah memenuhi elemen-elemen teoritis dari materi tambahan yang kontekstual.

Penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pelayanan prima (studi pada siswa kelas X Jurusan Pemasaran SMK PGRI 2 Malang) / Dita Martha Salecha

 

Salecha, Dita. M. 2013. Penerapan Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pelayanan prima (studi pada siswa kelas X Jurusan Pemasaran SMK PGRI 2 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, (II) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, M.M. Kata kunci: Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, Model Pembelajaran STAD Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan memperbesar peluang pencapaian keberhasilan belajar siswa. Pemilihan model belajar harus memperhatikan kemampuan siswa yang secara umum tidak sama antara siswa yang satu dengan yang lain. Factor utama adalah intelegensi dan latarbelakang siswa yang beragam. Selain itu daya serap terhadap materi pelajaran antara siswa satu dengan siswa yang lain tidak sama sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Oleh karena itu guru perlu alternative model pembelajaran untuk mengatasi keberagaman karakteristik siswa tersebut. Alternative yang dapat dilakukan guru yaitu melalui penggunaan model pembelajaran STAD, dengan menggunakan pembelajaran model STAD, siswa akan dikelompokkan kedalam kelompok awal yang dibentuk secara heterogen dengan tujuan agar dapat saling bekerjasama dan bertukar informasi antar siswa yang beragam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pembelajaran kooperatif model STAD terhadap aktivitas dan hasil belajar Pelayanan Prima. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari satu kelas, yaitu siswa kelas X Pemasaran SMK PGRI 2 Malang. Instrumen penelitian berupa tes yang terdiri dari post-test. Analisis data untuk aktivitas data dihitung dengan membagi skor tiap descriptor dengan total descriptor kemudian dikali 100. Sedangkan untuk menghitung rata-rata dari hasil belajar dengan membagi jumlah nilai keseluruhan dengan jumlah siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar Pelayanan Prima. Selain itu hasil belajar siswa kelas X Pemasaran juga mengalami peningkatan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa implementasi pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Pelayanan Prima pada kelas X Pemasaran di SMK PGRI 2 Malang. Saran yang diajukan untuk guru bidang studi Pelayanan Prima adalah menjadikan model STAD sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah untuk mengujicobakan model STAD pada materi berbeda dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi, serta mengkombinasikan dengan media pembelajaran yang lebih variatif sehingga tampak pengaruh yang besar terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari model STAD

Pengaruh tingkat inflasi, suku bunga dan kurs rupiah terhadap return saham perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2004-2006 / Ika Vera Susanti

 

Analisis SWOT sebagai dasar penerapan strategi pemasaran jasa pada obyek wana wisata Balekambang di Kabupaten Malang / Puguh Wiranto

 

Wiranto, Puguh. 2013. Analisis SWOT Sebagai Dasar Penerapan Strategi Pemasaran Jasa pada Obyek Wisata Balekambang di Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen Pemasaran. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.M, (II) Handri Dian Wahyudi, S.Pd., S.E, M.Sc. Kata Kunci : Analisis SWOT, Strategi Pemasaran Jasa, Balekambang Usaha dalam bidang jasa mengalami persaingan yang semakin ketat. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat atau merumuskan sebuah strategi pemasaran yang tepat. Perumusan strategi pemasaran jasa didasarkan pada analisis yang menyeluruh terhadap faktor-faktor internal dan faktor-faktor esternal perusahaan sehingga menghasilkan strategi yang tepat sesuai dengan keadaan perusahaan. Analisis SWOT merupakan alat analisis yang kerap digunakan. Dengan menggunakan analisis SWOT, perusahaan dapat mengetahui posisi dan strategi pemasaran jasa yang tepat untuk diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk ,mengetahui faktor apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada Obyek Wisata Balekambang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui posisi Obyek Wisata Balekambang dan saran berupa strategi pemasaran jasa yang dapat diterapkan pada Obyek Wisata Balekambang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif yang diperoleh dari dua sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data menggunakan tehnik trianggulasi dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis SWOT. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan mengadakan konfirmasi data yang diperoleh terhadap subyek penelitian. Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilaksanakan diketahui faktor yang menjadi kekuatan Obyek Wisata Balekambang adalah: lokasi obyek wisata, keindahan alam yang natural, memiliki wahana selain wisata pantai, memiliki potensi budaya, memiliki tempat penginapan dan terdapat lapak pedagang yang beraneka ragam. Kelemahan Obyek Wisata Balekambang adalah: promosi masih kurang, lahan parkir yang belum optimal, listrik belum ada, akses jalan kurang lebar dan kurang rambu-rambu, keamanan pantai masih kurang dan kebersihan obyek wisata masih kurang. Peluang Obyek Wisata Balekambang adalah: Word of mouth, kebutuhan rekreasi, potensi budaya yang dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan bekerja sama dengan pihak swasta. Ancaman Obyek Wisata Balekambang adalah: Sampah yang mengganggu pemandangan obyek wisata, naiknya harga BBM yang mempengaruhi keinginan untuk berwisata, tindak kejahatan yang kemungkinan dan bencana alam. Posisi Obyek Wisata Balekambang berada pada kuadran I dengan skor 1,10 untuk faktor internal dan skor 0,45 untuk faktor eksternal. Adapun strategi yang dapat diterapkan oleh Obyek Wisata Balekambang antara lain pembuatan dan melakukan pemasaran melalui blog, fanspage facebook, akun twitter, melakukan pengembangan diversifikasi produk, memberikan penawaran kerjasama untuk pihak swasta, pemberian merchandise untuk pengunjung yang menginap di penginapan, melakukan pemasaran langsung (jemput bola) kepada masyarakat. Beberapa saran yang dapat diberikan antara lain 1) Pihak pengelola obyek wisata harus mengevaluasi kebersihan, sarana dan prasarana, dan keamanan setiap bulan agar kekuatan dan peluang obyek wisata dapat terjaga atau bahkan mampu bertambah sehingga mampu menambah daya tarik terhadap pengunjung; 2) Melakukan pengecekan kondisi obyek wisata dan evaluasi secara berkala. Pengecekan dan evaluasi ini bisa dilakukan setiap minggu bersama semua staff obyek wisata. 3) Diversifikasi pada Obyek Wisata Balekambang perlu ditingkatkan karena pada saat ini hanya wahana flying fox yang menjadi andalan perluasan lini produk tersebut, padahal Obyek Wisata Balekambang memiliki area pantai yang cukup luas.

Pengaruh leader-member exchange, keadilan prosedural dan keadilan distributif terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan produksi PT. cool Clean Malang) / Dinny Kusuma Prahasti

 

Prahasti, Dinny Kusuma. 2013. Leader-member Exchange, Keadilan Prosedural dan Keadilan Distributif terhadap Komitmen Organisasi melalui Kepuasan Kerja (Studi pada Karyawan Produksi PT. Cool Clean Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed, M.Si, (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.M Kata Kunci: Leader-Member Exchange, keadilan prosedural, keadilan distributif, kepuasan kerja, komitmen organisasi. Tujuan penelitian adalah: (1) mencari pengaruh langsung LMX, keadilan prosedural dan keadilan distributif terhadap kepuasan kerja; (2) mencari pengaruh langsung LMX, keadilan prosedural dan keadilan distributif terhadap komitmen organisasi; (3) mencari pengaruh langsung kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi, (4) mencari pengaruh tidak langsung LMX, keadilan prosedural, dan keadilan distributif terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan di PT. Cool Clean Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah explanatory research dengan pendekatan asosiatif. Populasi adalah seluruh karyawan produksi di PT. Cool Clean Malang berjumlah 134 orang, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 100 responden yang dipilih secara Simple Random Sampling. Skala pengukuran menggunakan Skala Likert dan analisa data path analysis. Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) Leader-Member Exchange (LMX), keadilan prosedural, dan keadilan distributif berpengaruh secara langsung yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan, (2) Leader-Member Exchange (LMX) dan keadilan prosedural berpengaruh secara langsung yang signifikan terhadap komitmen organisasi karyawan, (3) keadilan distributif tidak berpengaruh secara langsung yang signifikan terhadap komitmen organisasi karyawan, (4) kepuasan kerja berpengaruh secara langsung yang signifikan terhadap komitmen organisasi karyawan, dan (5) Leader-member Exchange (LMX), keadilan prosedural, dan keadilan distributif berpengaruh secara tidak langsung terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan di PT. Cool Clean Malang. Berdasarkan hasil di atas, maka sudah seharusnya pihak manajemen PT. Cool Clean Malang lebih mengutamakan keadilan distributif, sehingga semakin memberikan dampak positif dan signifikan terhadap munculnya komitmen organisasi karyawan di perusahaan.

Perkembangan pabrik gula Soekowidi (1895-1944) di Kabupaten Banyuwangi / Siti Munawaroh

 

Munawaroh, Siti. 2013. Perkembangan Pabrik Gula Soekowidi (1895-1944) Di Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ari Sapto, M.Hum (II) Drs. Marsudi, M.Hum. Kata Kunci: industri gula, Banyuwangi, Pabrik Gula Soekowidi, hasil produksi, manajemen kepegawaian. Industri gula sempat “merajai” ekspor Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga tiga dekade awal abad ke-20 sehingga tidak heran jika banyak penulisan yang ilmiah mengenai pabrik gula (PG), namun terdapat satu wilayah yang belum dikaji yaitu Banyuwangi. Di Banyuwangi pernah didirikan tiga PG yaitu Kabat, Rogodjampi, dan Soekowidi. Dari ketiga PG tersebut hanya PG Soekowidi yang dapat ditemukan hingga masa pendudukan Jepang meski pasca depresi ekonomi 1930 keadaan PG Soekowidi ini bagaikan “hidup segan matipun tak mau”. Keadaan inilah yang membuat PG Soekowidi semakin unik untuk dikaji lebih dalam, khususnya mengenai usaha PG ini untuk bertahan walaupun tidak ada kemajuan yang berarti dari usaha yang dilakukannya tersebut. Keunikan inilah yang menarik perhatian peneliti untuk mengetahui lebih dalam mengenai perkembangan PG Soekowidi ini dari awal berdiri hingga kemundurannya. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) bagaimana sejarah berdirinya Pabrik Gula Soekowidi di Kabupaten Banyuwangi, dan (2) bagaimana eksistensi Pabrik Gula Soekowidi (1895-1944) di Kabupaten Banyuwangi?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Pabrik Gula Soekowidi di Kabupaten Banyuwangi dan eksistensi pabrik Gula Soekowidi pada 1895-1944. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode historis yang meliputi heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik), interpretasi (penafsiran) dan historiografi (penulisan). Hasil penelitian ini ialah (1) PG Soekowidi berada dibawah kepemilikan Cultuur Maatschappy de Maas di Rotterdam dan di Hindia Belanda diwakili oleh Firma Anemaet & Co di Surabaya. PG Soekowidi ini didirikan pada tahun 1895 yang juga merupakan tahun penanaman tebu pertamanya. Pendirian PG ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu perkembangan industri gula di Hindia Belanda, lokasi, kehadiran dua PG sebelumnya di Banjoewangi, perkembangan transportasi, dan kepemilikan (2) perkembangan PG Soekowidi pada 1895-1930 dapat dikatakan cukup baik karena hasil produksi per ha tidak jauh berbeda dengan rata-rata produksi pada PG di grup Sitoebondo. Pasca depresi ekonomi 1930 dan masa krisis malaise sampai 1937, PG ini mengalami kesulitan untuk bangkit karena harga gula di pasar internasional turun drastis, banyaknya penyakit tebu, dan ditambah lagi dengan kurang cakapnya manajemen kepegawaiannya. Hal ini terus berlangsung sampai 1944 dan pada 1945 PG ini dialihfungsikan menjadi tempat pengintaian sekaligus markas tentara Jepang. Kesimpulan umum yang dapat ditarik dan digunakan sebagai pembelajaran yang berharga dari keberadaan PG Soekowidi ialah keberlangsungan suatu PG ditentukan oleh banyak faktor dan yang paling utama ialah kemauan dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelolanya. Relevansi perkembangan PG Soekowidi ini dalam bidang pendidikan ialah dapat dimasukkan dalam salah satu bahasan pada materi sejarah kolonial Belanda khususnya sebagai contoh sejarah lokal yaitu di Banyuwangi agar dapat meningkatkan minat peserta didik untuk menjadi interpreneur di masa depan. Saran untuk penelitian selanjutnya ialah pengkajian tentang perkembangan sarana dan prasarana PG Soekowidi dan pengaruh keberadaan PG Soekowidi pada masyarakat disekitar lokasi pabrik

Kompetensi profesional guru mata pelajaran sejarah pasca sertifikasi (studi kasus tiga guru mata pelajaran sejarah SMA Negeri di Kabupaten Trenggalek) / Ferika Artanto

 

Artanto, Ferika. 2013. Kompetensi Profesional Guru Mata Pelajaran Sejarah Pasca Sertifikasi (Studi Kasus Tiga Guru Mata Pelajaran Sejarah SMA Negeri di Kabupaten Trnggalek). Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hariyono, M. Pd, (II) Drs. Mashuri, M. Hum. Kata Kunci: sertifikasi guru, kompetensi profesional guru, guru mata pelajaran sejarah Sertifikasi guru yang bertujuan meningkatkan kualitas guru diharapkan bukan hanya menjadi cara yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengesampingkan peningkatan kompetensi profesional mereka dalam mengajar. Guru harus bisa membuktikan bahwa dengan adanya sertifikasi, guru menjadi lebih baik lagi terlebih lagi guru yang tersertifikasi sekarang menjadi sorotan di masyarakat dengan peningkatan kesejahteraan mereka. Berdasarkan latar belakang masalah yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) kompetensi profesional tiga guru mata pelajaran sejarah SMAN pasca sertifikasi di Kabupaten Trenggalek, (2) hambatan yang dihadapi oleh tiga guru mata pelajaran sejarah SMAN tersertifikasi dalam membangun kompetensi profesional guru sejarah SMA di Kabupaten Trenggalek, (3) pemanfaatan tunjangan sertifikasi yang diterima oleh tiga guru mata pelajaran sejarah SMAN di Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Adapun subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Irwanto, S. Pd, beliau guru sejarah SMAN 1 Trenggalek, Maryono, S. Pd, M. Pd, beliau merupakan guru sejarah SMAN 2 Trenggalek, Muthiatullailiyah, S. Pd, beliau guru sejarah SMAN 1 Karangan. Kegiatan analisis untuk data kualitatif dianalisis dengan menggunakan jawaban dari subyek penelitian yaitu guru. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Komepetensi profesional guru mata pelajaran sejarah pasca sertifikasi adalah sebagai berikut, dalam penguasaan materi guru sudah baik, pemanfaatan buku rujukan yang relevan sangat penting, dalam penguasaan materi tidak hanya dibatasi dari ketersediaan buku dari sekolah ataupun buku penunjang yang ada. Tetapi memanfaatkan juga dari buku-buku lain yang relevan dengan materi. Penggunaan metode pembelajaran di dalam kelas, guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. Hal ini didukung oleh RPP dan pengamatan lapangan, serta angket siswa. Pendayagunaan media belajar cukup beragam untuk menunjang proses belajar mengajar, bisa menggunakan sarana perpustakaan sekolah, fasilitas inhternet sekolah yang bisa memanfaatkan wifi ataupun laboratorium komputer, dan pemanfaatan LCD dalam memperlancar KBM di kelas. Kegiatan refleksi yang dilakukan berupa kegiatan MGMP Sejarah yang dilaksanakan setiap hari Jumat di SMAN 1 Trenggalek. Untuk kegiatan lain berupa workshop, seminar ataupun pelatihan. Hambatan yang dialami oleh guru dalam membangun kompetensi profesional guru terletak pada kegiatan seminar yang merupakan sarana penambah wawasan guru tempat penyelenggaraannya jauh dari Trenggalek. Pemanfaatan dana tunjangan sertifikasi, guru membeli alat yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Seperti halnya laptop yang bisa digunakan untuk mengajar di dalam kelas juga dapat juga digunakan untuk mencari rujukan yang relevan melalui internet. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan juduldisarankan untuk peneliti selanjutnya melakukan penelitian pada kompetensi guru yang lain, seperti kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial, serta dengan subyek penelitian yang lebih banyak sehingga dapat diketahui dampak secara luas dari sertifikasi guru terhadap standar kompetensi profesional guru mata pelajaran sejarah.

Pengaruh penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) melalui media permainan monopoli terhadap hasil belajar sejarah kelas XI SMA Negeri 1 Batu / Anggy Satriyo Anggoro

 

Hubungan kebiasaan belajar dengan hasil belajar pada KD paham-paham baru dan kesadaran kebangsaan Indonesia di kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dongko semester genap 2012/2013 / Retno Anggy Satriyo

 

Wulansari, Retno.2013. Hubungan Kebiasaan Belajar Dengan Hasil Belajar Pada KD Paham-Paham Baru Dan Kesadaran Kebangsaan Indonesia Di Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dongko Semester Genap 2012/2013. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Kasimanuddin Ismain, M. Pd.(II) Aditya Nugroho Widiadi S.pd. M,pd. Kata Kunci: hubungan, kebiasaan belajar, hasil belajar sejarah. Kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Karena kebiasaan belajar berpengaruh pada hasil belajar, maka kebiasaan belajar baik diterapkan agar siswa mamperoleh hasil belajar yang baik pula. Kebiasaan belajar yang dimiliki setiap siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar setiap siswa itu sendiri. Penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Dongko khususnya kelas XI IPS ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitiannya korelasi. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas XI IPS yang berjumlah 92 siswa. Sampel yang diambil secara acak berjumlah 48 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket dan dokumentasi nilai ulangan harian sejarah. Sedangkan analisis data untuk mengetahui normalitas data menggunakan rumus Chi Kuadrat, dan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara kebiasaan belajar dengan hasil belajar sejarah menggunakan korelasi product moment. Dari analisis data tersebut diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, kebiasaan belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dongko 98% sudah cukup baik walaupun 2% masih ada yang memiliki kebiasaan belajar yang kurang baik. Kedua, sesuai dengan kebiasaan baik yang dimiliki siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dongko, maka hasil belajar yang dimiliki siswa juga baik. Hal itu dapat dibuktikan dari dokumentasi nilai ulangan harian sejarah dan tidak adanya siswa yang mengikuti remidi. Ketiga, dari hasil analisis mengenai hubungan kebiasaan belajar baik dan analisis hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dongko dapat diketahui bahwa sebesar 0,59% kebiasaan belajar sangat berhubungan dengan hasil belajar yang diperoleh siswa. Jika siswa memiliki kebiasaan belajar yang baik maka siswa akan memeproleh hasil belajar yang baik pula. Dari keterangan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kebiasaan belajar dengan hasil belajar siswa, guru maupun orang tua siswa juga ikut bertanggung jawab atas keberhasilan siswa dalam belajar.

Sejarah penjarahan lahan wilde occupatie NV. Perkebunan Gambar Desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar tahun 1998-1999 / Hanifitria Ningrum

 

Ningrum, Hanifitria. 2013. Sejarah Penjarahan Lahan Wilde Occupatie NV. Perkebunan Gambar, Desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Tahun 1998- 1999. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdul Latif Bustami, M.Si, (II) Drs. Mashuri, M.Hum. Kata kunci: Lahan Wilde Occupatie, NV. Perkebunan Gambar, Nglegok Kabupaten Blitar Sejarah Agraria merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang dalam kenyataannya tidak akan lepas dari konflik sengketa lahan baik secara horizontal (rakyat dengan rakyat) maupun vertikal (rakyat dengan negara atau pengusaha perkebunan). Tanah Wilde Occupatie banyak bermunculan ketika transisi jaman Belanda dan Jepang hingga nasionalisasi yakni sekitar tahun 1940- 1957an.Wilde Occupatie adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan status tanah atau lahan yang dianggap tidak resmi karena kurang atau tidak memenuhi syarat suatu kepemilikan yang sah atas tanah/ lahan yang diduduki atau digarap. Munculnya lahan ini adalah akibat dari ketidakjelasan kepemilikan lahan sehingga dasar hukum adat dan hukum negara sama- sama berlaku pada saat yang bersamaan sehingga terjadi dualisme hukum. NV Perkebunan Gambar yang berlokasi di Dusun Gambar, Desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar merupakan salah satu perkebunan di Blitar yang menyelesaikan masalah sengketa lahan ini dengan cara non ligitasi melalui kompromi dan mediasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendiskripsikan latar belakang terjadinya aksi penjarahan yang disusul penuntutan lahan perkebunan, kronologis peristiwa sengketa lahan, dan dampaknya bagi masyarakat dan pihak perkebunan di berbagai bidang kehidupan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis melalui empat tahap yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dengan pendekatan deskripsi- analisis- kualitatif. Berdasarkan eviden di lapangan dan analisis oleh penulis diketahui bahwa latar belakang terjadinya aksi penjarahan lahan perkebunan berawal dari ketidakjelasan kepemilikan lahan akibat transisi dari jaman Belanda hingga awal kemerdekaan yang penanganannya sangat lambat sehingga konflik agraria tidak dapat dihindari lagi. Selain itu pemicu- pemicu dari keadaan politik juga mempercepat terjadinya konflik mengingat temporal penelitian ini adalah tahun 1998- 1999. Upaya yang ditempuh dalam penyelesaian konflik tanah adalah non ligitasi melalui cara kompromi dan mediasi yakni telah diadakan pertemuan antara warga masyarakat, pemegang HGU, DPRD Kabupaten Blitar, Pemerintah Kabupaten Blitar dan instansi terkait. Selanjutnya telah diadakan penelitian lapangan terhadap tanah yang pernah digarap warga, seperti yang dijelaskan pada kronologi kejadian. Hasil yang dicapai berdasarkan hasil dengar pendapat antara warga masyarakat, pemegang HGU, Komisi A DPRD, Pemerintah Kabupaten Blitar dan instansi terkait pada pada tanggal 20 Oktober 1999, pihak pemegang HGU berkenan melepaskan sebagian areal Perkebunan Gambar sertifikat HGU No. I/Sumberasri seluas 212 Ha untuk diredistribusikan kepada warga masyarakat. Perubahan sosial, ekonomi dan politik masyarakat sangat dinamis pasca redistribusi lahan perkebunan. Perubahannya bisa dilihat dalam beberapa tahun saja, taraf kesejahteraan masyarakat meningkat dengan bertambahnya jumlah pelayanan kesehatan dan pendidikan serta pembangunan infrastruktur akses jalan walaupun belum aspal. Masyarakat mulai mengelola sendiri lahan milik mereka yang dilengkapi oleh sertifikat tanah dengan semangat yang tinggi sehingga tidak sedikit warga yang mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sengketa pertanahan ini muncul sebagai akibat dari persoalan agraria yang tidak pernah tuntas dalam penyelesaiannya, sehingga masalah politik berimbas pula pada eksistensi hukum, dan penyelesaian konflik dilakukan dengan cara non ligitasi melalui kompromi dan mediasi sebagai bukti toleransi dan penghargaan atas hak asasi manusia

Perkembangan kota kolonial Pasuruan tahun 1918-1934 / Wahyu Wijayanto

 

Wijayanto, Wahyu. 2013. Perkembangan Kota Kolonial Pasuruan Tahun 1918-1934. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Reza Hudiyanto, M.Hum., (2) Aditya N. Widiadi, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: kota, infrastruktur, modernisasi. Setiap kota di Indonesia memiliki karakter unik dan penduduknya akan membentuk gambaran kota tersebut. Gambaran kota akan terbentuk sejak dimulainya perkembangan kota. Perkembangan kota akan lebih cepat jika pemerintahan kota diberi wewenang untuk mengelola kebutuhan dan permasalahannya sendiri. Pada masa kolonial Belanda kewenangan ini diberikan dengan memberikan status gemeente. Ditetapkannya gemeente tentunya mempunyai dampak yang berbeda-beda karena masing-masing pemerintah gemeente diberi kewenangan untuk menyelesaikan permasalahan lokal di daerahnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan faktor yang melatarbelakangi perkembangan kota mencakup keadaaan geografi, potensi alam, demografi, dan keadaan politik Kota Pasuruan pada abad ke-19 dan mendeskripsikan perkembangan Kota Kolonial Pasuruan pada tahun 1918-1934. Penelitian ini merupakan penelitian historis dengan 5 tahapan. Kelima tahapan tersebut adalah (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber atau heuristik, (3) kritik, (4) interpretasi, (5) penulisan atau historiografi. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh simpulan sebagai berikut. Kota Pasuruan mengalami perkembangan akibat dari keadaan geografis dan potensi alam yang menguntungkan. Keadaan demografis dan politik juga ikut berperan serta dalam mendorong perkembangan Kota Pasuruan. Perkembangan Kota Pasuruan sudah mulai mengalami modernisasi pada pada abad ke-19, orang-orang Eropa, khususnya swasta mulai mengelola hasil perkebunan. Campur tangan orang Eropa semakin besar dengan adanya desentralisasi pada tingkat kota dengan penetapan Gemeente Pasuruan pada tahun 1918. Modernisasi ini dapat dilihat pada perkembangan fisik kota, kesehatan, pendidikan, dan perekonomian rakyat. Relevansi penelitian ini terhadap pendidikan adalah digunakan sebagai sumber belajar siswa SMA kelas XI pada kompetensi dasar 4.7 tentang pengaruh imperialisme dan kolonialisme Barat di Indonesia. Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian ini, penulis dapat mengambil hikmah dari peristiwa sejarah yang terjadi. Bahwa orang-orang Belanda berniat untuk tinggal di wilayah Nusantara khususnya kota dengan merubah kondisi kota sesuai dengan yang dikehendaki. Berdasarkan hikmah tersebut, penulis menawarkan saran kepada pemerintah Kota Pasuruan saat ini, supaya memperhatikan sarana dan prasarana kota. Pemerintah juga sebaiknya mengadakan pembangunan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat kota. Kepada peneliti selanjutnya dapat disarankan bahwa ada beberapa aspek yang belum dikaji seperti pembahasan rumah miskin, gelandangan, pengemis, peranan Sarekat Islam (SI), dan Muhammadiyah dalam pendidikan, serta kajian mengenai perbandingan gemeente lain dalam cakupan Residensi Pasuruan.

Partisipasi masyarakat terhadap pelestarian kesenian jaranan (studi pelestarian kebudayaan pada masyarakat Desa Kemlokolegi Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk) / Wiji Erwanto

 

Erwanto, W. 2013. Partisipasi Masyarakat Terhadap Pelestarian Kesenian Jaranan (Studi Pelestarian Kebudayaan pada Masyarakat Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Skripsi. Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Nurhadi, M.Pd, M.Si. (2) Drs. Irawan, M. Hum Kata Kunci: masyarakat, fungsi, kesenian Kesenian Jaranan merupakan salah satu kesenian yang terdapat pada masyarakat Desa Kemlokolegi. Keberadaan kesenian jaranan perlu dilestarikan, karena melestarikan kesenian jaranan berarti membuat kesenian tersebut tetap berkelanjutan dan dapat dinikmati oleh generasi penerus. Untuk melestarikannya banyak mendapat tantangan terutama adanya pengaruh budaya asing yang menggeser kesenian jaranan tersebut. Hal tersebut dikhawatirkan dapat menghilangkan kesenian jaranan, untuk itu kesenian jaranan di Desa Kemlokolegi menarik untuk dikaji secara ilmiah karena belum banyak dipublikasikan sebagai aset budaya daerah. Dalam penelitian ini dirumuskan beberapa masalah yang meliputi (1) bagaimanakah fungsi kesenian tradisional jaranan bagi masyarakat Desa Kemlokolegi, (2) bagaimana faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kelangsungan kesenian jaranan di Desa Kemlokolegi, (3) bagaimanakah kesenian tradisional jaranan masih bertahan hidup di Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendiskripsikan fungsi kesenian tradisional jaranan bagi masyarakat Desa Kemlokolegi, (2) untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kesenian jaranan di Desa Kemlokolegi, (3) untuk mendeskripsikan pelestarian kesenian jaranan di Desa Kemlokolegi, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Deskriptif diartikan sebagai usaha untuk mencatat, melukiskan, memberikan gambaran dari awal sampai akhir guna memperoleh deskripsi mengenai kesenian jaranan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) kesenian jaranan memiliki beberapa fungsi meliputi fungsi komunikasi, hiburan, dan ekonomi. (2) faktor pendukung meliputi dukungan dari masyarakat dan pemerintah, faktor penghambat adalah para pemain yang sangat terbatas serta kurangnya perlengkapan. (3) upaya yang dilakukan masyarakat untuk melestarikan kesenian jaranan dengan cara melakukan latihan dan partisipasi masyarakat dalam upaya melestarikan kesenian ini memberi sumbangan tenaga dan barang. Setelah didapatkan temuan penelitian meliputi fungsi, faktor pendukung dan penghambat, serta usaha pelestarian kesenian jaranan, maka ada beberapa saran untuk kesenian jaranan meliputi (1) masyarakat pendukung kesenian ini hendaknya mendapat dukungan dari pemerintah sekitar, (2) adanya tanggapan positif dari masyarakat khususnya bagi para remaja untuk andil dalam menjaga kelestarian kesenian jaranan.

Pengaruh penerapan model pembelajaran talking stick terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang / Robith Hasby Rahmana

 

Rahmana, Robith Hasby. 2013. Pengaruh Penerapan Model Pembelajran Talking Stick terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd., M.Si. (2) Satti Wagistina, S.P, M.Si. Kata Kunci: Talking Stick, hasil belajar geografi Pembaharuan pembelajaran yang semula berpusat pada guru beralih menjadi berpusat pada murid, mengubah sistem pembelajaran yang awalnya lebih menekankan pada keterampilan proses dan kemampuan siswa dalam menemukan dan memahami materi pembelajaran yang dipelajari. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang adalah dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick. keunggulan model ini adalah menguji kesiapan siswa, melatih siswa untuk mengungkapkan gagasan, meningkatkan kesiapan siswa, dan menjadikan siswa lebih giat belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh penerapan model pembelajaran Talking Stick terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimen) yang dikembangkan dengan pratest-pascatest group design. Subjek penelitian ini adalah kelas X IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IPS 4 sebagai kelas kontrol. Instrumen pada penelitian berupa tes subjektif. Data pada penelitian ini terdiri dari data prates (kemampuan awal siswa), data pascates (kemampuan akhir siswa), dan data gain score hasil belajar. Data gain score diperoleh dari selisih antara skor pascates dan skor prates. Gain score tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan uji-t yang diselesaikan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata gain score kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, yakni 24,79 untuk kelas eksperimen dan 10,73 untuk kelas kontrol. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,000 <  (0,025) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Talking Stick terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan di SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang, disarankan bagi guru geografi untuk menggunakan model pembelajaran Talking Stick sebagai variasi model pembelajaran karena dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain, penelitian ini hanya terbatas pada materi sejarah pembentukan bumi, untuk itu disarankan untuk dilakukan pada materi yang lain.

Analisis tingkat kerusakan lingkungan aktivitas penambangan bahan galian golongan C di Kabupaten Pasuruan / Frenky Dwi Ari P.

 

Ari, FrenkyDwi. AnalisisTingkat KerusakanLingkunganAktivitasPenambanganBahanGalianGolonganC di KabupatenPasuruan. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Ach Amirudin, M.Pd. (2) Purwanto, S.Pd, M.Si. Kata kunci: tingkatkerusakanlingkungan, penambangan, bahan galian golongan C PotensibahangaliangolongansangatbesarmenyebabkanbanyaknyaIzin Usaha Pertambangan yang melakukanaktivitaspertambangan di KabupatenPasuruan. Aktivitaspertambangan di lakukanolehperusahaanmaupunmasyarakatlokalmenggunakanmetodetambangterbuka (open cut mining) denganmemanfaatkanalat-alatmekanis. Kegiatanpenambangantersebutmenyebabkankerusakanlingkungansepertikerusakantubuhtanah, hilangnyavegetasipenutup, berubahnyatopografi, dankerusakanfasilitastransportasiataujalan. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuitingkatkerusakanlingkungansertaarahankonservasi (reklamasi)padaaktivitaspenambanganbahangaliangolongan C padalokasiIzin Usaha Pertambangan (IUP) yang ada di KabupatenPasuruan. Jenis peneltian ini adalah penelitian survey dengan analisis deskriptif. Metode yang digunakan adalah metode pengukuran langsung. ObjekpenelitianadalahIzin Usaha Pertambangan (IUP) di KabupatenPasuruantahun 2013sebanyak 17 lokasi. Lokasi-lokasitersebutterletak di KecamatanNguling, Kejayan, Beji, Pasrepan, GempoldanWinongan. Jenis data berupa data primer dan data sekunder yang dikumpulkan dengan cara observasi, pengukuran, dan dokumentasi. Data mengenai kerusakan lingkungan didapat dari hasil survei kemudian dianalisis menggunakan cara pengharkatan (scoring)berdasarkan kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup nomor : KEP-43/MENLH/10/1996 tahun 1996. Pengharkatan dilakukan pada masing-masing variabel tingkat kerusakan. Variabeltingkatkerusakan yang dimaksudadalahteknikpenambangan, kecepatanpenambangan, kedalamantebinggalian, batastepigalian, luaslubanggalian, perbedaan relief dasar galian, sifat batuan penyusun tebing galian, kemiringan tebing galian, pengelolaan top soil dan overburden, tutupan vegetasi, dan upaya reklamasi. Setelah di ketahuitingkatkerusakanlingkunganpadamasing-masinglokasimaka di identivikasifaktorperusaklingkungansertaarahankonservasi (reklamasi) padalahanbekasgalian. HasildaripenelitianinimenunjukkanbahwaenamlokasiIzin Usaha Pertambangan (IUP) bahangaliangolongan C di KabupatenPasuruanmempunyaitingkatkerusakanlingkungankategorisangatberatdansebelaslokasimempunyaitingkatkerusakanlingkungankategoriberat.Arahankonservasi (reklamasi)untuktujuhbelaslokasiIzin Usaha Pertambangan (IUP) bahangaliangolongan C di KabupatenPasuruanadalahperuntukanlahanpertanian.Pengusahatambangmaupunpemerintahsetempatharusmengetahuikaedahpenambangan yang baikdanbenarberdasarkanKeputusanMenteri Negara LingkunganHidupNomor: KEP-43/MENLH/10/1996 danmengimplementasikannyakedalam proses penambangansehinggadapatmeminimalisirkerusakanlingkungan.

Perbandingan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program kampung sehat di Desa Tlogo Pojok dan Roomo Kabupaten Gresik / Imroatus Sani

 

Sani, Imroatus. 2013. Perbandingan Pengetahuan dan Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Program Kampung Sehat di Desa Tlogo Pojok dan Roomo Kabupaten Gresik. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Satti Wagistina, S.P, M.Si (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Pengetahuan kampung sehat, Partisipasi, Program Kampung Sehat PT. Petrokimia Gresik merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi pupuk terbesar di Indonesia yang berlokasi di Desa Tlogo Pojok Kecamatan Gresik. Sebagai salah satu perusahaan ekstraktif yang memiliki dampak yang tidak sedikit bagi lingkungannya, PT.Petrokimia Gresik menyadari akan pentingnya penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam kinerja perusahaannya. Salah satu bentuk CSR PT. Petrokimia Gresik adalah Program Kampung Sehat yang dilaksanakan di Desa Ring I, yakni Desa Tlogo Pojok dan Roomo. Secara fisik, kondisi lingkungan di beberapa desa sekitar Desa Tlogo Pojok dan Roomo masih tergolong kurang bersih, seperti Desa Sukodono, Desa Kroman, dan Desa Karangturi. Apabila melihat desa lain di sekitar Desa Tlogo Pojok dan Roomo, maka kedua desa ini dapat dijadikan percontohan dikarenakan kondisi lingkungan fisiknya yang lebih bersih. Partisipasi warga dalam pelaksanaan program Kampung Sehat perlu mendapatkan perhatian untuk diketahui bagaimana peran serta warga di Desa Tlogo Pojok dan Roomo sehingga dapat menciptakan lingkungan yang bersih melalui Program Kampung Sehat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat di Desa Tlogo Pojok dan Desa Roomo dalam pelaksanaan Program Kampung Sehat . Pengetahuan masyarakat mengenai kampung sehat tercermin dalam kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini berupa angket. Analisis data menggunakan tabulasi silang. Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan tergolong tinggi, tetapi tingkat partisipasi mereka rendah, yakni lebih dari 40% yang kurang partisipatif. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai kampung sehat di Desa Tlogo Pojok lebih tinggi, tercermin dari rumah yang memenuhi syarat kesehatan lebih banyak di Desa Tlogo Pojok yaitu sebanyak 82% sedangkan di Desa Roomo sebanyak 51%. Bentuk partisipasi di Desa Tlogo Pojok adalah partisipasi mandiri, sedangkan bentuk partisipasi di Desa Roomo adalah partisipasi manipulatif dan fungsional. Pihak PT. Petrokimia Gresik dan aparat desa hendaknya lebih melibatkan masyarakat dalam tahap perencanaan dan evaluasi. Mengingat bahwa kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman berbanding lurus dengan tingkat partisipasi warga, maka seluruh pihak yang berperan harus mampu mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program Kampung Sehat ini.

Perbandingan penggunaan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan Team Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi SMA kelas XI IPS / Wemi Nurcahyani

 

Nurcahyani, Wemi.2013. Perbandingan Penggunaan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan Team Games Tournament (TGT) terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Geografi SMA Kelas XI IPS.Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Achmad Amirudin, M.Pd, (II) Dr. Budijanto, M.Sos Kata Kunci:model pembelajaran STAD, TGT,hasil belajar Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau suatu yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas yang harus dilaksanakan guru agar siswa belajar secara aktif. Untuk mengaktifkan kelas guru harus mempunyai cara kreatif guna membangkitkan semangat siswa. Dalam penelitian ini digunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan Team Games Tournament (TGT). Model pembelajaran STAD dan TGTmerupakan model pembelajaran yang mengedepankan metode pembelajaran kooperatif. Model STAD dan TGT memiliki beberapa persamaan dan perbedaan yang menjadi karakteristik masing-masing model. Model STAD menekankan pada kuis individu, sedangkan model TGT bertumpu pada turnamen. Selain itu, persamaan kedua model ini adalah adanya pembagian kelompok secara heterogen dan pemberian penghargaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandinganhasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran STAD dan TGTpada mata pelajaran geografi kelas XI IPS.Penelitian ini termasuk dalam quasi eksperimen atau eksperimen semu di mana penelitian dilaksanakan di SMA Ar Rahmah Putri “Boarding School” Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan pretest-postest control group design. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Uji Statistik Parametrik dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Instrumen Penelitian ini menggunakan soal objektif yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil dari pre test pada kelas model pembelajaran STAD dan TGT sama, yaitu nilai rata-rata 70,95 untuk kelas model pembelajaran STAD, sementara nilai rata-rata 69,11 untuk kelas model pembelajaran TGT. Setelah dilakukan perlakuan dengan penerapan model STAD rata-rata nilai siswa menjadi 78,32, sedangkan pada kelas yang mendapat perlakuan dengan model TGT nilai rata-rata siswa menjadi 73,78. Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t terhadap hasil belajar geografi didapatkan bahwa nilai signifikansi adalah 0,384. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan Ho diterima atau dengan kata lain berbunyi tidak ada perbedaan yang signifikan antara menggunakan model pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD) dengan model pembelajaranTeam Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi. Saran yang dapat diberikandalam menerapkan model STAD dan TGT diantaranya, yaitu: 1) guru perlu mengatur pengalokasian waktu yang rinci dan tepat pada saat merencanakan pembelajaran; 2) guru harus pandai mengelola kelas supaya siswa dapat mengikuti sintak yang telah direncanakanmenimbulkan kegaduhan; 3) guru harus selalu memotivasi siswa. Sedangkan, saran bagi peneliti lanjut untuk dapat menguji pengaruh model pembelajaran STAD dan TGTterhadap variabel-veriabel lain, misalnya pada minat, motivasi, aktivitas, keaktifan siswa, dsb.

Pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri siswa SMK Negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto / Villy Eriza Putri

 

Eriza Putri, Villy 2013.Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan Praktik Kerja Industri Siswa SMK Negeri 1 Pungging Di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto.Skripsi, Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Arbaiyah Prantiasih, M.Si(II) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H Kata Kunci:Pendidikan Karakter, Praktik Kerja Industri (Prakerin) Kerjasama yang dijalin antara Indonesia dan negara di kawasan ASEAN yaitu AEC membawa dampak persaingan terbuka bagi penduduknya, hal tersebut tentunya perlu persiapan yang matang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu sumber daya manusia yang ada. Salah satunya dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menyiapkan lulusan SMK yang disiapkan untuk mampu bersaing di dunia kerja yang nyata tetapi lulusan yang diharapkan tidak hanya pandai dalam bidang teori, maupun ketrampilan saja namun juga menunjukkan perilaku yang baik. Sehingga salah satu upayanya dengan pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri yang lebih difokuskan yaitu pada siswa SMK Negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) latar belakang pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri siswa SMK negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto, (2) tujuan pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri siswa SMK negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto, (3) pelaksanaan pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri siswa SMK negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto, (4) hambatan pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri siswa SMK negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto, dan (5) upaya mengatasi hambatan pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri siswa SMK negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto. Penelitian yang penelitilakukaninimenggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif.Dalampengumpulan data menggunakanteknikobservasi, wawancara, dandokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untukujikeabsahan data penulismenggunakantekniktriangulasi.Sumberpenelitiannyayaitu Kepala Sekolah, Waka. Kurikulum, Waka. Humas, guru PKn, Pembimbing yang ada di perusahaan dan siswa yang melaksanakan praktik kerja industri. Hasilpenelitianadalah: (1) latar belakangnya ialah karena ketidaksesuaian karakter yang diharapkan sekolah pada siswa yang melaksanakan praktik kerja industri dengan keadaan siswa yang ada di lapangan; (2) tujuan pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik kerja industri ialah siswa mampu menggembangkan karakter yang ada di perusahaan tempat melaksanakan praktik kerja industri seperti tanggung jawab, disiplin, dan kerja keras; (3) pada pelaksanaan praktik kerja industri yang dilaksanakan siswa SMK Negeri 1 Pungging di PT. Sinar Sosro KPB Mojokerto dapat menggembangkan nilai-nilai karakter yang sesuai dan diterapkan di perusahaan tempat siswa melaksanakan kegiatan praktik kerja industri, karakter-karakter tersebut yaitu tanggung jawab, kerja keras dan disiplin dengan observasi langsung dan penilaian sikap di lapangan menunjukkan bahwa siswa yang melaksanakan kegiatan praktik kerja industri melaksanakannya dengan tanggung jawab terhadap pekerjaan maupun tugas yang diberikan kepadanya, siswa juga mempunyai semangat kerja keras yang tinggi dalam kegiatan praktik kerja industri dan juga siswa disiplin terhadap segala peraturan – peraturan yang ada di perusahaan; (4) hambatannya ialah siswa pada minggu awal masih belum bisa menggembangkan karakter yang ada pada dirinya karena masih belum mempunyai kesiapan untuk terjun langsung di perusahaan sedangkan pembimbing kesulitian untuk menerapkan karakter-karakter pada diri siswa; (5) upaya yang dilakukan dengan membiasakan diri dengan keadaan yang ada di perusahaan dan lebih menggembangkan karakter-karakter yang sesuai dengan etos seorang pekerja sedangkan pembimbing mengatasinya dengan memberikan contoh langsung tentang sikap yang harus ada pada seorang pekerja sehingga siswa bisa mengamati dan mencontohnya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dalam pelaksanaan praktik kerja industri sekolah lebih menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai perusahaan dan mampu memberikan bekal serta menanamkan kesiapan kepada siswa untuk terjun dalam dunia industri yang nyata, dan untuk pihak dunia usaha dandunia industri untuk lebih meningkatkan kerjasama serta menunjukkan tanggung jawab pendidikan demi mencetak lulusan yang mampu berkompeten serta berakhlak mulia untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia.

Pengembangan e-komik sebagai media pembelajaran PKn di SMPN 1 Wlingi Kabupaten Blitar / Wahyu Hindiawati

 

Hindiawati, Wahyu. 2013. Pengembangan E-Komik Sebagai Media Pembelajaran PKn di SMPN 1 Wlingi Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M.Pd., MH (2) Siti Awaliyah, S.Pd., M.Hum Kata Kunci: Pengembangan, E-Komik, Media Pembelajaran, PKn E-Komik merupakan suatu cerita bergambar yang terstruktur, dengan di lengkapi teks bacaan dimana dalam pemanfaatannya dengan menggunakan komputer.E-komik tidak hanya dijadikan sebagai bacaan hiburan saja.Dalam dunia pendidikan E-komik bisa dikembangkan dalam bentuk media pembelajaran.E-komik bisa dikembangkan pada semua mata pelajaran.Namun pada penelitian ini peneliti lebih menspesifikasikan pengembangkan E-Komik dalam mata pelajaran PKn sesuai dengan bidang keahlian peneliti. Tujuan penelitian dan pengembangan yang dilakukan adalah untuk menghasilkan E-Komik sebagai media pembelajaran tentang makna proklamasi kemerdekaan yang menarik, efektif dan efisien dalam matapelajaran PKn di SMPN 1 Wlingi Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg and Gall yang bersifat deskriptif yang terdiri dari kegiatan study pendahuluan dan study pengembangan. Study pendahuluan diawali dengan mencari literatur untuk membuat e-komik. Sedangkan Study pengembangan meliputi produksi e-komik, validasi, revisi, uji coba dan produk akhir.Jenis data dalam pengembangan ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan presentase angket ahli media sebesar 98,75%, angket dari ahli materi 87,5% dan dinyatakan valid. Uji coba kepada siswa menghasilkan presentase 87,57 dan dinyatakan valid. Sehingga bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.Revisi dilakukan berdasarkan hasil angket dan masukan dari ahli dan hasil angket yang presentasenya kurang dari 80%.Berdasarkan dari hasil tersebut dinyatakan e-komik yang dihasilkan valid, menarik dan efisien sebagai media pembelajaran untuk siswa SMP kelas VII. Saran untuk pengembangan lebih lanjut adalah melakukan uji coba kembali terhadap E-Komik hasil pengembangan.Hal ini dilakukan untuk mendapatkan E-Komik yang benar-benar berkualitas sebagai media pembelajaran PKn khususnya di SMP.

Pendapat mahasiswa aktivis Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) Universitas Negeri Malang terhadap masuknya perilaku "kumpul kebo" dalam Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) tahun 2013 / Eeng Nana Luthfiana

 

Luthfiana, Eeng Nana. 2013.Pendapat Mahasiswa Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri MalangTerhadap Masuknya Perilaku “Kumpul Kebo” Dalam Rancangan Undang-UndangKitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) Tahun 2013. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I)Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H. M.Hum (II) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H. M.Si Kata Kunci : Pendapat, Mahasiswa Aktivis BEM UM, “Kumpul Kebo”, RUU KUHP “Kumpul kebo”dalam bahasa Belanda disebut samenleven. Istilah “kumpul kebo” berasal dari masyarakat Jawa tradisional (generasi tua). Secara sederhana, pasangan yang belum kawin, tetapi sudah tinggal di bawah satu atap. Perilakunya itu dianggap sama seperti “kebo” atau kerbau karena melakukan hubungan seksual di luar ikatan perkawinan.“Kumpul kebo” terjadi karena berbagai faktor, misalnya pada anak-anak muda yang ingin kawin tetapi masih sekolah ataukuliah dan belum diijinkan oleh orang tua sementara kebutuhan biologis mereka ingin dipenuhi, sehingga terjadi “kumpul kebo” dengan pasangannya. Di Indonesia, “kumpul kebo” merupakan perbuatan yang dianggap tidak benar karena melanggar norma agama, norma kesusilaan, dan norma kesopanan yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu pembuat Undang-Undang memasukkan “kumpul kebo”ke dalam Rancangan Undang Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) tahun 2013. Pokok masalah dalam penelitian ini yaitu (1)pendapat mahasiswa aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang terhadap perilaku “kumpul kebo”, (2) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku “kumpul kebo” dalam masyarakat, (3) pendapat mahasiswa aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang terhadap Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) tahun 2013 yang mengatur tentang perilaku “kumpul kebo”, (4) pendapat mahasiswa aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang tentang perlu tidaknya pasal-pasal RUU KUHP yang mengatur perilaku “kumpul kebo”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Untuk pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan prosedur wawancara. Informan dalam penelitian ini adalahmahasiswa aktivis BEM UM lintas fakultas dan dokumentasi pada sumber tertulis. Analisis data dalam penelitian ini yaitu dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan triangulasi data. Tahap berikutnya yaitu kegiatan analisis data, tahap-tahap pengambilan kesimpulan, dan tahap penulisan laporan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.Pertama, terdapat 3 pendapat tentang “kumpul kebo”menurut mahasiswa BEM UM, (1) “kumpul kebo” yaituapabilaseorang laki-laki dan perempuan tinggal dalam satu rumah,melakukan hubungan seksual, tanpa ikatan perkawinan, dan mereka masih sama-sama lajang. “Kumpul kebo” bukan tindakan perzinahan karena pihak-pihak yang melakukannya sama-sama masih lajang. Kalau perzinahan, salah satu pihak mempunyai ikatan perkawinan, (2) “kumpul kebo” yaitu apabila ada dua orang lawan jenis tinggal dalam satu rumah tanpa ada ikatan perkawinan dan melakukan hubungan seksual. Dalam agama Islam, “kumpul kebo” dianggapsebagai tindakan perzinahan, baik pelaku yang sama-sama lajang atau sudah mempunyai ikatan pekawinan,(3)“kumpul kebo”yaitu apabila seorang laki-lakidan perempuan yang tidak mempunyai hubungan darah atau hubungan saudara, mereka tinggal dalam satu rumah tanpa ada ikatan perkawinan, dan melakukan hubungan seksual. Kedua,faktor-faktor terjadinya perilaku “kumpul kebo”antara lain karena kebutuhan biologis yang ingin dipenuhi, kurangnya pengawasan dari orang tua, kurangnya pemahaman agama, kecanggihan teknologi, pengaruh lingkungan, kurangnya pendidikan seks dari orang tua, banyaknya rumah kontrakan, masuknya budaya Barat ke Indonesia, tersedianya rumah kos yang di dalamnya terdiri dari laki-laki dan perempuan, masyarakat yang tidak peka terhadap lingkungannya, tidak adanya peraturan yang tegas yang mengatur tentang “kumpul kebo”, dan lunturnya norma-norma sosial dalam masyarakat. Dari semua faktor tersebut, kebutuhan biologis adalah faktor utamanya.Ketiga,pendapat mahasiswa aktivis BEM UM terhadapRUU KUHP tahun 2013 yang mengatur tentang perilaku “kumpul kebo” sebagai berikut. (1) tindakan pembuat Undang-Undang mengatur “kumpul kebo” ke dalam RUU KUHP merupakan suatu langkah postif. Akan tetapi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu harus diadakan pengkajian ulang karena di dalam RUU KUHP tersebut masih banyak kelemahan, antara lain mengenai kategori “kumpul kebo”dan sanksinya yang masih berupa sanksi alternatif yaitu penjara bisa digantikan dengan denda(2) sebaiknya sanski denda dihilangkan dan pelaku “kumpul kebo” diberi sanksi penjara, karena sanksi denda tidak membuat jera. Waktu untuk sanksi penjara sebaiknya ditambah, (3) “kumpul kebo”tidak efektif jika diatur oleh negara karena perbuatan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka, jadi sulit untuk menanganinya karena pihak yang berwajib sulit untuk mengetahui jika tidak ada pihak yang melaporkan.“Kumpul kebo” sebaiknya diserahkan kepada masyarakat. Sanksi sosial lebih menimbulkan efek jera. Keempat, pendapat mahasiswa aktivis BEMUM tentang perlu tidaknya pasal-pasal RUU KUHP yang mengatur perilaku “kumpul kebo” sebagai berikut. (1) “kumpul kebo” perlu diatur dalam RUU KUHP karena “kumpul kebo” merupakan perbuatan yang tidak bermoral. Mereka berharap RUU KUHP mengenai larangan “kumpul kebo”disahkan supaya terdapat peraturan resmi yang mengikat masyarakat dan terdapat sanksi yang tegas bagi orang yang melanggar. Akan tetapi, sanksi sosial juga harus tetap diterapkan, (2) “kumpul kebo” perlu diatur dalam RUU KUHP, tetapi sanksinya selain daripihak yang berwajib juga harus mendapat sanksi dari agama masing-masing,(3) “kumpul kebo” tidak perlu diatur dalam RUU KUHP karena “kumpul kebo” dilakukan atas dasar suka sama suka, jadi kalau tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan tidak ada yang melapor kepada pihak yang berwajib, maka sulit untuk menangani kasus “kumpul kebo”. Setiap daerah mempunyai hukum adat masing-masing, jadi pemerintah tidak perlu mengatur masalah “kumpul kebo”. Dari hasil temuan penelitian di atas, maka dapat diajukan saran antara lain: (1) Apabila pembuat Undang-Undang mengatur “kumpul kebo” ke dalam RUU KUHP, hal tersebut merupakan suatu langkah positif. Akan tetapi, sebaiknya dilakukan pengkajian ulang terhadap kategori perbuatan yang bisa dikatakan sebagai perilaku “kumpul kebo”. Selain itu jangan sampai pembuat Undnag-Undang memberikan kemudahan bagi pelaku “kumpul kebo” dengan adanya sanksi alternatif. Sebaiknya sanksi pidana penjara dan denda diterapkan semua supaya menimbulkan efek jera, (2) Sebaiknya masyarakat, terutama anak-anak muda menghindari perilaku “kumpul kebo” karena “kumpul kebo” merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial, (3) Untuk peneliti selanjutnya, perlu adanya penelitian lanjutan terkait dengan penelitian ini, karena sesuai dengan perkembangan zaman pasti akan mengalami perubahan.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan menggunakan model problem posing siswa kelas XI IPA 4 di SMA Negeri 8 Malang / Syindhora Intan Khayateliana

 

Intan K, Syindhora.2013. Peningkatan Aktivitas dan Hasil belajar Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan Menggunakan Model Problem Posing Siswa Kelas XI IPA 4 di SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si, (2) Siti Awaliyah, S.Pd. M.Hum Kata kunci: Aktivitas belajar siswa, Hasil Belajar Siswa, Model Pembelajaran Problem Posing Dalam pembelajaran PKn aktivitas siswa dan prestasi belajar merupakan tolak ukur yang utama untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa. Yang dimaksud hasil belajar dalam pembelajaran PKn adalah aktivitas siswa dan prestasi belajar. Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai sikap, dan keterampilan pada siswa sebagai latihan yang dilaksanakan secara sengaja. Hasil Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan yang berupa perubahan tingkah laku yang dialami oleh subyek belajar di dalam suatu interaksi dengan lingkungan. Guru merupakan aktor yang penting dalam proses pembelajaran, karena guru yang berhadapan langsung dengan siswa. berdasarkan hasil observasi awal keaktifan siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang selama proses pembelajaran masih kurang aktif karena siswa hanya mendengarkan dan mencatat penjelasan guru. Siswa masih kurang aktif dalam bertanya, menjawab, berdiskusi dalam kelompok. Dari hasil observasi tersebut dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran dan yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapakan adalah model pembelajaran Problem Posing. Melalui kegiatan inti dalam pembelajaran ini membuat siswa terbiasa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan penerapan model Problem Posing dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas XI IPA4 SMA Negeri 8 Malang. (2) Mendeskripsikan tentang adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan model pembelajaran Problem Posing di kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini berlangsung selama dua siklus dengan pokok bahasan dampak penyelenggaraan pemerintah yang tidak transparan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang yang berjumlah 34 siswa, selanjutnya siswa tersebut dibagi kedalam 7 kelompok heterogen. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan reduksi data. Hasil penelitian selama dua siklus dan tiga kali pertemuan menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran model Problem Posing yang dilakukan oleh guru pada siklus I belum dapat terlaksana seluruhnya namun pada siklus II keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah berjalan. Untuk aktivitas belajar siswa diketahui terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I keaktifan siswa bertanya 32,35% dan meningkat pada siklus II 47,05%. Keaktifan siswa memperhatikan guru 55,88% dan meningkat pada siklus II 85,29%. Keaktifan siswa mengerjakan soal 73,52% dan meningkat pada siklus II 88,23%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I diperoleh 52,94% siswa yang tuntas KKM dan pada siklus II menjadi 85,29%. Selain itu dari hasil wawancara kepada siswa dan observer tentang penerapan model pembelajara Problem Posing ini, mendapatkan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran Problem Posing yang diterapkan oleh guru. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa (1) Model pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajaran siswa pada matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang, (2) Siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang memberikan respon yang positif terhadap model pembelajaran problem posing pada mata pelajaran PKn. Ada beberapa hal saran dari peneliti berdarkan penelitian yang dilaksanakan, antara lain (1) Bagi siswa, siswa dapat meningkatkan keberaniannya bertanya dalam proses pembelajaran. Siswa juga dapat lebih aktif dalam pembelajaran dengan bertanya, memperhatikan guru dan dalam mengerjakan soal atau tugas, (2) Bagi guru, guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran Problem Posing sebagai alternatif pembelajaran agar siswa lebih aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (3) Bagi peneliti, peneliti harus lebih mengembangkan dan menggunakan pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan model Problem Posing. Dan model ini hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kegiatan inti yang terdapat pada model Problem Posing.

Perwujudan nilai-nilai budaya dalam Batu Flowers Festival di Kota Batu / Diana Rosida Puspitasari

 

Puspitasari, Diana Rosida. 2013. Perwujudan Nilai-nilai Budaya dalam Batu Flowers Festival di Kota Batu. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, pembimbing (1) Drs. Suwarno Winarno, (2) Siti Awaliyah S.Pd, M.Hum Kata Kunci: Batu FlowersFestival, nilai budaya Batu Flowers Festival diselenggarakan sebagai ajang unjuk kreativitas masyarakat Kota Batu dan untuk menguatkan stigma Kota Batu sebagai Kota Pariwisata yang berbasis agribis yang memproduksi hasil bumi, yaitu dengan membudiyakan dan memanfaatkan kekayaan alam yang potensial untuk ditonjolkan yaitu bunga. Dengan sentuhan kreativitas masyarakat Batu, bunga dikreasikan menjadi ornament busana karnaval yang estetis dan eksotis. Acara ini dapat menggali kreativitas masyarakat dalam rangka membentuk insan pariwisata Kota Batu sebagai sentra pariwisata dan juga mampu menarik wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) prosesi penyelenggaraan Batu Flowers Festival di Kota Batu, (2) perwujudan nilai-nilai budaya dalam Batu Flowers Festival, (3) partisipasi dan kreasi masyarakat dalam Batu Flowers Festival, (4) faktor penghambat dan pendorong dalam penyelenggaraan Batu Flowers Festival, dan (5) prospek penyelenggaraan Batu Flowers Festival di Kota Batu. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumen, dan observasi. Subyek penelitian adalah peserta dalam Batu Flowers Festival, Panitia penyelenggara Batu Flowers Festival, masyarakat Kota Batu, dan Ketua bidang promosi dan pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) Batu Flowers Festival (BFF) merupakan even tahunan yang diselenggarakan sejak bulan Oktober tahun 2009 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, gelar BFF yang dipusatkan di stadion Brantas yang akan berparade berkeliling dua kali dalam stadion, melewati Ban Shipper dan kemudian dilanjutkan dengan p awai di jalan.Batu Flowers Festival merupakan acara yang berbentuk festival, sehingga dari parade akan menghasilkan berberapa juara festival dengan model terbaik dari penampilan peserta mobil hias dan model flowers fashion show. (2) perwujudan nilai-nilai dudaya yang terkandung dalam Batu Flowers Festival di Kota Batu ada 7 macam, yaitu: (a) nilai keindahan nampak dalam kostum yang dikenakan oleh para peserta dan mobil hias dan kostum flowers fashion show, (b) nilai ekonomi,merupakan salah satu peluang bagi para pedagang untuk meningkatkan pendapatannya, (c) nilai hiburan dalam BFF ditujukan untuk masyarakat umum sehingga bisa menikmati ragam tampilan yang disuguhkan dengan cara yang yang mampu memberikan kesenangan,(d) nilai kerjasama dalam BFF tampak pembuatan suatu karya seni selalu membutuhkan kerjasama untuk menciptakan suatu karya seni yang menarik, (e) nilai solidaritas terlihat pada panitia penyelenggara dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu yang saling percaya dan komitmen dalam menyelenggarakan acara ini dan juga partisipasi peserta dalam mengikuti acara, (f) nilai Keselarasan (harmoni) dalam penciptaan kostum BFF dengan cara menata dan menyatukan unsur-unsur seni dalam bentuk-bentuk antar komponen yang saling berdekatan, (g) nilai keteraturan terlihat ketika para peserta pawai di dalam stadion menunjukkan kreasinya berurutan sesuai dengan nomer peserta. (3) Dalam acara BFF pada tahun 2012, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu mengundang sejumlah 24 desa/kelurahan di Kota Batu, 21 SMA/MA/SMK, SKPD SKPD di lingkungan pemerintah Kota Batu, hotel, restaurant, objek wisata serta BUMN, BUMD, bank pemerintah/ swasta di Kota Batu. Selain itu juga mengundang peserta dari berbagai daerah kabupaten/kota seluruh jawa timur. Peserta BFFterdiri dari mobil hias, model flower fashion show, penari dan gebyar kesenian daerah. Semua peserta tersebut, mulai dari bentuk hingga pernik-pernik yang menghias mobil, para model, penari, kreator yang berunjuk kreasinya, menggunakan komponen bunga segar. (4) Faktor penghambat dalam penyelenggaraan Batu Flowers Festival ada 3 yaitu: (a) Sumber daya manusia yang berkaitan dengan kreativitas dalam pembuatan karya seni (b) Pendanaan yang disediakan oleh pemeritah kota Batu kurang maksimal (c) waktu, kurangnya manajemen dan pengelolaan waktu yang baik membuat acara tidak sesuai rencana, Sedangkan faktor pendukung diselenggarakannya Batu Flowers Festival yaitu: (a) lingkungan Kota Batu sebagai wilayah agraris dan memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam (b) partisipasi masyarakat dengan antusias menyambut dan ikut serta dalam gelaran Batu Flowers Festival (c) peran pemerintah Kota Batu dengan mempromosikan dan memfasilitasi acara dengan sebaik mungkin. (5) Prospek penyelenggaraan Batu Flowers Festival tetap relevan untuk ditampilkan karena memiliki dampak positif bagi elemen yang terkait di dalamnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan hendaknya dapat dijadikan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya terkait dalam peningkatan kualitas acara, selain itu diharapkan agar kontribusi, kerjasama, dan partisipasi dinas pariwisata dan kebudayaan lebih ditingkatkan lagi dalam menyukseskan acara tersebut (2) Bagi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan hendaknya dapat digunakan sebagai informasi tambahan dan tambahan referensi bagi peneliti di bidang kebudayaan serta dijadikan pembanding untuk penelitian yang serupa (3) Bagi Masyarakathendaknya dapat menumbuhkan kecintaan terhadap hasil pertanian, kebudayaan, dan kesenian Kota Batu serta membangkitkan perasaan memiliki dan bangga terhadap kebudayaan daerah melalui even Batu Flowers Festival (4) Bagi Pengembangan Ilmiahhendaknya dapat digunakan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan baik di bidang teoritis maupun di bidang praktis yang berkaitan dengan perwujudan nilai-nilai budaya dalam Batu Flowers Festival dan dijadikan pembanding bagi penulis lain yang melakukan penelitian sejenis.

Peran pemerintah dan masyarakat dalam upaya melestarikan batik piring di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan / Yuni Harmawati

 

Harmawati, Yuni. 2013. Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam upaya untuk Melestarikan Batik Pring di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwarno Winarno, (II) Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci: Peran, Melestarikan, Batik Pring. Batik Pring merupakan satu-satunya motif batik khas di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan. Motif Pring yang menjadi ciri khas batik Desa Sidomukti adalah Pring Sedapur. Awalnya merupakan upaya kreatif masyarakat yang bernilai ekonomis dan estetis. Peran masyarakat menonjol dalam pertumbuhan dan perkembangan batik. Namun demikian, peran pemerintah diharapkan maksimal. Pada akhir-akhir ini peran pemerintah kurang dalam menjaga kelestarian batik Pring. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian mengenai peran pemerintah dan masyarakat sebagai bentuk melestarikan Batik Pring. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan 5 hal, sebagai berikut: ciri khas Batik Pring, usaha kreatif masyarakat, peran pemerintah, faktor pendukung pelestarian Batik Pring, serta faktor penghambat dan solusi untuk melestarikan Batik Pring di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, pedoman wawancara, dokumentasi foto, video recorder saat wawancara. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap mereduksi data, menyajikan data, dan tahap penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah karakteristik batik Pring Sidomukti terlihat dari motifnya. Motif batik Pring Sidomukti adalah Pring Sedapur, yang artinya bambu bergerombol Kedua, masalah usaha kreatif masyarakat dalam pelestarian batik pring di desa Sidomukti antara lain: (1) membentuk kelompok batik, (2) dibentuknya kelompok seni yang dipimpin oleh ibu bupati, (3) menciptakan motif kreasi baru. Ketiga, masalah peran pemerintah Kabupaten Magetan dalam melestarikan batik Pring, Pemerintah Kabupaten Magetan sudah melakukan banyak hal untuk melestarikan batik Pring, diantaranya: (1) mewajibkan PNS dan jajaran staf di Kabupaten Magetan untuk memakai batik pada hari Jum’at. Batik yang harus dipakai adalah batik khas Sidomukti yaitu batik Pring Sedapur; (2) pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi, Dinas Sosial sering mengadakan pelatihan-pelatihan batik; (3) pemerintah juga berusaha untuk mempromosikan batik Pring melalui jejaring sosial. Keempat, masalah faktor pendukung untuk melestarikan batik Pring meliputi: (1) faktor alam yang berupa sungai dan tanah yang subur, (2) faktor tenaga kerja (3) hak cipta. Kelima, masalah faktor penghambat dalam melestarikan batik pring meliputi: (1) kekurangan tenaga kerja muda; (2) persaingan yang ketat antara Indonesia dan China; (3) kurang luasnya tempat proses pembatikan. Solusi yang tepat untuk mengatasi semua faktor penghambat tersebut adalah (1) menerapkan batik sebagai mata pelajaran muatan lokal di SMK, (2) sering diadakannya pelatihan-pelatihan untuk menambah wawasan pengrajin, (3) mengajukan proposal kepada pemerintah baik untuk memperbaiki maupun untuk memperluas tempat pembatikan. Saran untuk penelitian selanjutnya, khususnya tentang batik masih perlu dilakukan mengingat masih banyak keunikan lain yang belum terungkap. Selain itu diharapkan peran pemerintah lebih maksimal dalam melestarikan seni kerajinan batik.

Pelaksanaan pendidikan moral bagi anak jalanan oleh lembaga pemberdayaana anak jalanan griya baca Kota Malang / Titik Nurhayati

 

ABSTRAK Nurhayati, Titik. 2013.Pelaksanaan Pendidikan Moral bagi Anak Jalanan oleh Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca Kota Malang. Skripsi, Prodi PPKn, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, MPd., M.Si., (II) Drs. H .Moch. Yuhdi Batubara, S.H, M.H Kata Kunci : Pendidikan Moral, Anak jalanan, Griya Baca. Pendidikan moral adalah usaha sadar yang dilakukan dalam rangka menanamkan nilai-nilai moral kepada seseorang. Nilai-nilai moral wajib diajarkan kepada seseorang agar dalam bertingkahlaku sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Pendidikan moral wajib diberikan kepada setiap orang, tidak terkecuali kepada mereka yaitu anak jalanan. Anak jalanan yang setiap harinya menghabiskan waktu di jalan, secara tidak langsung tingkah laku mereka akan terpengaruh dengan lingkungan sekitar dan orang-orang yang hidup di jalanan. Sedangkan kehidupan di jalanan adalah kehidupan dibawah garis keras yang sudah terkontaminasi dengan hal-hal yang negative. Anak jalanan perlu mendapatkan pendidikan moral yang sesuai dengan budi pekerti yang luhur. Banyak langkah-langkah pemerintah dalam menanggulangi masalah anak jalanan, diantaranya dengan membangun yayasan dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca. Melalui LPAJ Griya Baca, anak jalanan akan mendapatkan pendidikan moral melalui program-program kegiatan yang telah dibuat oleh lembaga Griya Baca. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui latar belakang berdirinya Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca kota Malang, (2) mengetahui nilai-nilai moral yang dididikan di Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca kota Malang, (3) mengetahui model pendidikan moral di Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca kota Malang , dan (4) mengetahu hasil pendidikan moral di Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca kota Malang. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan mengambil kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan kreadibilitas dan dependabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang berdirinya Griya Baca bermula dari kepedulian para mahasiswa di berbagai universitas di kota Malang akan nasib anak jalanan, nilai-nilai yang dididikan adalah keimanan, ketaqwaan, sopan santun, kejujuran, keteladanan, kebersihan, ketertiban, kebersamaan dan kepedulian. Model pendidikan moral diajarakan melalui kegiatan program ayo sekolah, pembinaan hari Selasa dan Sabtu, pesantren kilat, bulan berbagi dan pelatihan bakat minat berupa pelatihan tari dan pelatihan musik. Hasil dari pendidikan moral di Griya Baca berupa perubahan pada cara mereka berhubungan dengan Tuhan, cara berbicara, cara bersikap dan cara merawat diri.

Perbedaan hasil belajar dan metakognitif siswa antara model pembelajaran Project Based Learning (PBL) dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing kelas X SMK TKJ / Bety Etikasari

 

Etikasari, Bety. 2013. The Difference of Learning Result and Metacognitive Student Between Project Based Learning Model and Guided Inquiry Learning Modelat TKJ Grade X of SMK. Scription, Study Program of Information Technique, Electrical Engineering Department, Technical Faculty of Malang State University. Supervisor: Drs. Slamet Wibawanto, M.T. Co-Supervisor: Drs. FX. Budi Raharjo, M.Pd. Keywords: Project Based Learning, guided inquiry, metacognitive, learning result. Learning components include: objective, material, method, and evaluation that is connected each other. Those components must be paid attention in choosing and determining learning model. Installing local area network competency has the equipments necessity planning stage, installation and configuration stage, and installation result testing stage. Implementation of learning model that suitable with the competency characters determines the learning result. Project based learning model and guided inquiry learning model can be used as learning model alternative on that competency. Metacognitive strategy is applied to improve metacognitive ability so that the students can manage their cognition well. Research plan using experimental quasy with pretest-posttest control group design uses two classes as the project based learning model in experiment class and the guided inquiry learning model in control class. Data analysis to test hypothesis using t-test because measuring the difference between cognitive, affective, psychomotor, and metacognitive learning result includes knowledge and regulation between two learning models. The research result shows that: 1) project based learning model is more effective to be applied to local area network installing competency than guided inquiry learning model to improve students cognitive and psychomotor; 2) project based learning model and guided inquiry learning model has the same effectiveness to improve students affective; 3) project based learning model and guided inquiry learning model has the same effectiveness to improve students metacognitive knowledge and regulation. On the project based learning model implementation stage, students are more skilled in finishing the project assignments and have better learning experiences with continuously learning control. This is like what Wena said about project based learning model’s characteristics. But project based learning model and guided inquiry learning model has the same effectiveness on improving students affective learning result because of the two learning models have the characteristics to dig students’ starting knowledge with a problem so that the students’ curiosity grow. Those two learning models show the same effectiveness on improving knowledge and regulation metacognitive students because students do the assignments finishing planning and control the process. This is like what Ormrod Jeanne Ellis said about metacognitive.

Studi penerapan strategi metakognitif pada model pembelajaran Project Based Learning (PBL), pengaruhnya terhadap metakognitif dan hasil belajar siswa / Ni'ma Kholila

 

Pengembangan sistem informasi rapor online berbasis web dengan menggunakan framework codeigniter di MAN Tambakberas Jombang / Agung Kurnia Robbi

 

Kajian pelaksanaan Blended Learning pada program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMK Negeri 1 Baureno Bojonegoro / Aries Alfian Prasetyo

 

Prasetyo, Aries Alfian.2013. Kajian Pelaksanaan Blended Learning Pada Program Keahlian Teknik Komputer Jaringan (TKJ) di SMK Negeri 1 Baureno Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Setiadi, C.P.,M.Pd,. M.T., Pembimbing (II) I Made Wirawan, S.T., S.S.T.,M.T. Kata Kunci: blended learning, sarana prasarana, keterampilan guru, materi dan aplikasi, TKJ Blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasikan strategi penyampaian pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online (internet dan mobile learning). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan faktor-faktor pendukung dan penghambat di dalam pelaksanaan blended learning pada siswa program keahlian teknik komputer dan jaringan (TKJ) dan, (2) mendiskripsikan tingkat keterlaksanaan blended learning pada siswa program keahlian TKJ. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan blended learning Program Keahlian TKJ di SMK Negeri 1 Baureno Bojonegoro. Subjek yang akan diteliti meliputi guru, sarana prasarana, materi dan aplikasi dan siswa dalam proses pelaksanaan blended learning. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, angket dan wawancara. Data di analisis menggunakan analisis persentase dan pengklasifikasian untuk membuat keputusan terkait dengan keterlaksanaan blended learning. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan blended learning di SMK Negeri 1 Baureno pada Program Keahlian TKJ telah berjalan dengan tingkat keterlaksanaan sangat baik. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan (1) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan blended learning yang terdiri dari; a) sarana prasarana telah tersedia dan dapat dimanfaatkan dengan kategori tingkat ketersediaan baik, b) keterampilan guru dalam mengelola dan melakukan blended learning dengan kategori tingkat keterampilan guru sangat baik, c) materi dan aplikasi telah tersedia dengan kategori tingkat ketersediaan materi dan aplikasi baik, dan (2) keterlaksanaan blended learning , dari data proses pelaksanaan blended learning yang didapat dari wawancara dengan siswa , pelaksanaan blended learning telah berjalan dengan baik. Sehingga keterlaksanaan blended learning berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa tingkat keterlaksanaan blended learning pada Program Keahlian TKJ di SMK Negeri 1 Baureno telah berjalan dengan sangat baik.

Perbedaan hasil belajar dan metakognitif siswa melalui model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) / Rizky Aprillia Yudhoningrum

 

Yudhoningrum, Rizky Aprillia. 2013. Perbedaan Hasil Belajar dan Metakognitif Siswa Melalui Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS). Skripsi, S1 Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Slamet Wibawanto, M.T., (2) Drs. Fx. Budi Raharjo, M.Pd. Kata Kunci: Metakognitif, Student Team Achievement Division, Think Pair Share Dalam proses pembelajaran guru harus mengaktifkan siswa dan melibatkan siswa pada setiap proses pembelajaran. Pada model pembelajaran STAD, di tahap diskusi kelompok siswa diharuskan aktif. Pada tahap ini guru mendorong siswa supaya aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pada model pembelajaran TPS, guru mendorong siswa supaya aktif pada tahap pair dan share. Metakognitif adalah kemampuan seseorang untuk mengatur proses kognitifnya secara sadar untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui perbedaan hasil belajar dan metakognitif siswa melalui model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy Eksperiment dengan pretest-posttest control group design. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran STAD dan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran TPS. Variabel bebas yaitu model pembelajaran, variabel terikat yaitu hasil belajar dan metakognitif siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X TKJ SMK Negeri 1 Kota Mojokerto. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik sampling pertimbangan (purposive sampling) sehingga diperoleh kelas X TKJ 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X TKJ 2 sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan pada ranah kognitif (tugas), kognitif (tes tulis), dan afektif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Model pembelajaran STAD lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada model pembelajaran STAD siswa lebih antusias karena guru akan memberikan penghargaan pada kelompok yang memiliki nilai tertinggi. Pada hasil metakognitif siswa, tidak terdapat perbedaan metakognitif siswa yang signifikan pada komponen metakognitif knowledge of cognition dan regulation of cognition antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Perbedaan hasil belajar melalui model pembelajaran TPS dan Blended Learning pada mata pelajaran desain grafis siswa kelas XI Program Keahlian Multimedia di SMK Negeri 5 Malang / Mahfuz

 

Mahfuz. 2013. Perbedaan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran TPS dan Blended Learning pada Mata Pelajaran Desain Grafis Siswa Kelas XI Program Keahlian Multimedia di SMK Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Prihanto., S.St., M.Pd, (II) M. Zainal Arifin., S.Si., M.Kom. Kata Kunci: TPS, blended learning, hasil belajar, desain grafis, multimedia. Bidang studi keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kurikulum SMK Negeri 5 Malang program keahlian multimedia menjamin siswa dapat menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi untuk berinovasi, mengeksplorasi secara mandiri, menyelesaikan masalah, menganalisis, dan saling bertukar informasi secara efektif dan efisien. Dalam silabus bidang studi keahlian TIK yang telah disusun untuk kelas XI terdapat standar kompetensi yang harus dikuasai siswa yaitu “menggabungkan fotografi digital dan desain grafis 2D ke dalam sajian multimedia”. Dalam standar kompetensi desain grafis terdapat kompetensi dasar, yaitu: (1) menggunakan kamera digital; (2) menggabungkan foto digital ke dalam rangkaian multimedia; dan (3) menciptakan susunan karya seni foto digital dan grafik 2D. Berdasarkan karakteristik materi bahan ajar yang merupakan pengetahuan yang dapat diajarkan dengan pola berangsur-angsur, maka pemilihan model pembelajaran TPS (Think Pair Share) dan Blended Learning sangat tepat untuk digunakan dalam penelitian guna mencari dan mengetahui perbedaan hasil belajar, mengetahui jenis model yang dianggap mudah dan dapat diterapkan dengan baik oleh siswa dan guru dalam pengaplikasian di kelas. Dari uraian di atas, peneliti ingin mengetahui apakah ada signifikansi perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar dengan model TPS dan siswa yang belajar dengan model Blended Learning. Sehingga dilakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran TPS dan Blended Learning pada Mata Pelajaran Desain Grafis Siswa Kelas XI Program Keahlian Multimedia di SMK Negeri 5 Malang”. Jenis rancangan penelitian adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan metode eksperimen semu (quasy experiment design). Instrumen yang digunakan ada 2, yaitu instrumen pembelajaran dan instrumen pengukuran. Instrumen pembelajaran terdiri dari perangkat pembelajaran, sedangkan instrumen pengukuran adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur kompetensi siswa. Data yang dikumpulkan adalah nilai ¬pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa, data nilai post-test setelah diberikan perlakuan, data nilai rata-rata lembar observasi psikomotorik, dan lembar observasi afektif setelah diberikan perlakuan. Analisis pengujian hipotesis dilakukan langkah-langkah yaitu data yang berupa skor pre-test ¬dan skor post-test baik untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol terlebih dahulu diuji persyaratan analisis yaitu uji normalitas dengan rumus chi-kuadrat dan uji varian atau uji F. Kemudian diadakan uji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji t.

Pengembangan media ajar sistem pembacaan sensor menggunakan sistem Analog to Digital Converter (ADC) dengan kombinasi multiplexer pada robot line follower untuk pembelajaran matakuliah robotika Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Mahfud Jiono

 

Jiono, Mahfud. 2013. Pengembangan Media Ajar Sistem Pembacaan Sensor menggunakan Sistem Analog to Digital Converter (ADC) dengan Kombinasi Multiplexer pada Robot Line Follower untuk Pembelajaran Matakuliah Robotika Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Drs. Suwasono, M.T, (2) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T., M.Pd. Kata kunci : pengembangan, trainer, analog to digital converter (ADC) , multiplexer, pembelajaran robotika Peningkatan pemahaman konsep mahasiswa dalam mata kuliah robotika dapat dibantu dengan adanya media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga seorang pendidik perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil kegiatan observasi dan wawancara, metode yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas yaitu experiment. Sesuai dengan kondisi saat ini Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang kekurangan trainer untuk mendukung kegiatan praktikum robotika sehingga akan lebih efektif dan sesuai dengan metode yang dipakai dalam proses pembelajaran ini jika ada trainer yang dapat digunakan sebagai instrument alternatif yang dapat membantu pemahaman mahasiswa tentang robotika. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menghasilkan trainer Robot Line Follower menggunakan sistem ADC dengan kombinasi Multiplexer untuk pembelajaran Matakuliah Robotika, dan (2) modul ajar sebagai petunjuk penggunaan trainer Robot Line Follower bagi dosen dan mahasiswa. Model pengembangan trainer ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang dikolaborasikan dengan model pengembangan Sugiyono yaitu perlu adanya proses validasi produk dan revisi produk yang terletak pada fase sesudah pengembangan menuju ke fase implementasi media pembelajaran. Model pengembangan trainer ini memiliki tujuh tahap yaitu: (1) analisis kebutuhan media pembelajaran robotika, (2) perancangan media pembelajaran berupa trainer robot line follower, (3) pengembangan, (4) uji validasi, (5) revisi trainer, (6) penerapan, dan (7) evaluasi. Dalam model ini dari setiap prosesnya selalu ada proses evaluasi yang bertujuan untuk kesempurnaan trainer yang dibuat. Berdasarkan hasil uji coba, diperoleh persentase dari tiap-tiap subjek coba sebagai berikut: (1) didapatkan persentase skor keseluruhan dari ahli media sebesar 91.34 %, (2) persentase skor keseluruhan dari ahli materi sebesar 97.00 %, dan (3) persentase skor keseluruhan dari uji coba (mahasiswa) sebesar 91.15 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan trainer sistem pembacaan sensor menggunakan sistem analog to digital converter (ADC) dengan kombinasi multiplexer pada robot line follower bagi mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang ini layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Sistem informasi peta digital Universitas Negeri Malang / Fatra Nonggala Putra

 

Putra, Fatra Nonggala. 2013. Sistem Informasi Peta Digital Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Suwasono, M.T., (2) Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T.. Kata Kunci: sistem informasi, peta, peta digital, Kebutuhan informasi tentang letak lokasi sangat dibutuhkan apalagi bagi orang yang masih asing dengan daerah tertentu. Saat ini, peta kampus yang dimiliki Universitas Negeri Malang masih berupa gambar denah hitam-putih yang kurang membantu bagi publik yang ingin mengetahui lokasi dan diskripsi tentang lokasi-lokasi yang dicarinya. Tujuan dari pengembangan ini adalah tersedianya aplikasi peta yang interaktif dengan dukungan fitur panorama 360 derajat untuk mempermudah publik melakukan pencarian lokasi tempat di Universitas Negeri Malang secara online, terutama bagi peserta ujian, dan calon mahasiswa baru. Selain itu, tujuan dari pengembangan ini juga menguji kelayakan kegunaan produk peta yang telah dibuat untuk digunakan publik. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan sistem informasi peta digital Universitas Negeri Malang ini mengadaptasi metode pengembangan waterfall dalam Sommerville (2011) yang meliputi: (1) penentuan dan analisis spesifikasi; (2) desain sistem dan perangkat; (3) implementasi dan uji coba unit; (4) integrasi dan uji coba sistem; (5) operasi dan pemeliharaan. Produk yang dihasilkan berupa sistem informasi peta digital Universitas Negeri Malang. Subjek uji coba meliputi ahli rekayasa perangkat lunak, mahasiswa aktif UM, calon mahasiswa baru 2013 UM, dan masyarakat umum. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba usabilitas dan fungsionalitas oleh ahli rekayasa perangkat lunak masing-masing diperoleh persentase 95,83% dan 100%. Sedangkan hasil validasi dan uji coba usabilitas dan fungsionalitas kelompok kecil 82,81 % dan 100%. Hasil uji lapangan oleh mahasiswa aktif, calon mahasiswa baru, dan masyarakat umum masing-masing 90,82% dan 100%, 94,53% dan 100%, dan 90,29% dan 100%. Yang berarti aplikasi layak digunakan dan berfungsi dengan baik. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi peta digital Universitas Negeri Malang yang dikembangkan guna tersedianya sistem informasi online dinyatakan valid dan layak digunakan.

Implementasi algoritma pathfinding dengan waypoint navigation dalam game pencarian solusi kombinasi operator dan bilangan aritmatika / Gilang Ridzwanda Esthian Gitarana

 

Gitarana, Gilang R.E. 2013. Implementasi Algoritma Pathfinding dengan Waypoint Navigation dalam Game Pencarian Solusi Kombinasi Operator dan Bilangan Aritmatika. Skripsi, S1 Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom, (2) Muhammad Jauharul Fuady, S.T., M.T. Kata Kunci:Game, Algoritma, Artificial Intelligence,Pathfinding, Waypoint Navigation,Unity3D, Waterfall Model, Performance Testing Pengembangan ini membahas tentang penggunaan algoritma yang diterapkan pada proses pengembangan sebuah game 3D ber-genre multiscreen platformer tentang pencarian solusi kombinasi operator dan bilangan aritmatika. Pada game yang berjudul “Math School Kid Battle” ini terdapat karakter anak sekolah yang saling berlomba untuk menyelesaikan solusi operasi aritmatika. Untuk memungkinkan non-playable character dapat bergerak pada solusi optimal yang telah dikalkulasi secara otomatis, maka diterapkan Artificial Intelligence untuk perilaku pencarian kombinasi solusi yang tersebar pada map menggunakan algoritma pathfinding. Pada game yang berbasis 3D, algoritma pathfinding dapat menghabiskan waktu yang lama dan kapasitas memori yang besar pada proses eksekusi. Hal ini dapat diminimalisir dengan menambahkan waypoint navigation. Metode pengembangan game yang digunakan ialah waterfall model dari Ian Sommerville. Game dikembangkan menggunakan Unity3DGame Enginedengan memanfaatkan javascript language.Pencarian solusi aritmatika dilakukan dengan menggunakan algoritma pencarian Iterative Deepening Search (IDS) yaitu mencari setiap angka dan operator dalam tingkatan iterasi secara berurutan. Pencarian rute dilakukan dengan menggunakan bantuan dari waypoint yang terletak disekitar obstacle. Pengujian pada pengembangan ini dibedakan menjadi dua, yaitu (1) pengujian fungsionalitas algoritma dan (2) aspek performa menggunakan metode pengujian performance testing jenis load testing dan endurance testingdengan menggunakan lembarpengujianuntuk mengumpulkan data yang ber¬hubungan dengan kualitas algoritma. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini ialah statistik deskriptif dengan teknik persentase dan kategori. Uji kelayakan yang dilakukan menggunakan aspek fungsionalitas dan uji performa berupa waktu proses dan daya tahan algoritma oleh pengembang game. Dari hasil pengujian, algoritma mendapatkan persentase dari aspek fungsionalitas sebesar 98,8% dengan waktu proses rata-rata adalah 0,3835236 detik serta daya tahan algoritma mampu mencapai 50 kali proses dengan rata-rata 49,4 jawaban benar per sesi. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah Algoritma Pathfinding dengan Waypoint Navigation dalam Game Pencarian Solusi Kombinasi Operator dan Bilangan Aritmatika telah dirancang dan dikembangkan sehingga mampu membangun solusi pada game dan mampu diterapkan dalam non-playable character.

Hubungan kecakapan sosial dan kemampuan logika dengan keberhasilan dalam PRAKERIN siswa SMK Program Keahlian TKJ di Kota Blitar / Rovana Molikavia

 

Molikavia, Rovana. 2013. Hubungan Kecakapan Sosial dan Kemampuan Logika dengan Keberhasilan dalam Prakerin Siswa SMK Program Keahlian TKJ di Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd, M.T., (II) Triyanna Widiyaningtyas, S.T., M.T. Kata Kunci: kecakapan sosial, kemampuan logika, dan keberhasilan dalam Prakerin Kecakapan sosial (X1) meliputi kemampuan siswa dalam mengkomunika- sikan pengetahuan yang diperoleh secara lisan maupun tertulis serta kerjasama yang diperlukan dalam interaksi. Kemampuan logika (X2) merupakan cara berfikir manusia secara logis dan menggunakan nalar, tujuannya untuk mencapai pengetahuan yang benar dan sedapat mungkin pasti. Keberhasilan dalam prakerin (Y) merupakan kesuksesan yang dicapai siswa saat prakerin. Agar prakerin berhasil maka siswa harus memiliki bekal yang cukup dan sesuai dengan kompetensi keahliannya. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap: (1) signifikansi hubungan antara X1 dengan Y; (2) signifikansi hubungan antara X2 dengan Y; dan (3) signifikansi hubungan antara X1 dan X2 dengan Y. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksploratif menggunakan rancangan penelitian korelasional. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMK program keahlian TKJ di Kota Blitar dengan jumlah populasi sebanyak 302 siswa. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik proporsional random sampling, sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 161 siswa. Pengumpulan data menggunakan instrumen yang berbeda-beda, yaitu: (1) angket tertutup digunakan untuk mengungkap X1, (2) tes logika digunakan untuk mengungkap X2, dan (3) dokumentasi digunakan untuk merekap nilai prakerin siswa. Uji prasyarat analisis data menggunakan uji normalitas, linearitas, homogenitas, multikolinearitas, serta autokorelasi, dan dari kelima uji tersebut telah memenuhi syarat. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis regresi ganda dengan bantuan SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara X1 dengan Y, dimana nilai korelasi parsialnya (sebesar 0,203; (2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara X2 dengan Y, dimana nilai korelasi parsialnya (sebesar 0,216; dan (3) terdapat hubungan positif dan signifikan secara simultan antara X1 dan X2 dengan Y dengan nilai sebesar 0,212, nilai signifikansi 0,000 dan nilai F sebesar 10,862. Sumbangan relatif X1 dengan Y sebesar 47,47% dan sumbangan relatif X2 dengan Y sebesar 52,53%.

Pengembangan e-KPG sebagai sistem informasi penilaian kinerja guru kelas atau guru mata pelajaran berbasis website / Nur Fitriyah Ayu Tunjung Sari

 

Sari, Nur Fitriyah Ayu Tunjung. 2013. Pengembangan E-PKG sebagai Sistem Informasi Penilaian Kinerja Guru Kelas atau Guru Mata Pelajaran Berbasis Website. Skripsi, S1 Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom, (2) Muhammad Jauharul Fuady, S.T., M.T. Kata Kunci:penilaian kinerja guru, sistem informasi, E-PKG, website, The Waterfall Model Penilaian kinerja guru dilakukan agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SMP Negeri 1 Pakis, di tahun 2013 telah dilakukan sosialisasi pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) dari pihak Dinas Pendidikan ke sekolah-sekolah yang ada. Namun untuk pelaksanaannya terdapat sebuah permasalahan, yaitu alat bantu sistem PK Guru di tahun 2013 belum tersedia pada waktu adanya perubahan sistem PK Guru. Dari permasalahan tersebut, maka pengembangan dan penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem informasi penilaian kinerja guru kelas atau mata pelajaran berbasis website yang selanjutnya disebut sebagai E-PKG. E-PKG menyediakan fasilitas penilaian setiap indikator penilaian kinerja guru secara online, menilai diri sendiri oleh guru untuk mengukur nilai kinerja dan angka kreditnya, dan rekapitulasi penilaian kinerja guru. Pengolahan data penilaian dilakukan dengan menggunakan database maka pengolahan data nilai dan proses menampilkan rincian nilai yang diperoleh guru dapat dilakukan secara terpusat. Dengan pengolahan data secara terpusat ini maka konsistensi data nilai antara yang diolah maupun yang ditampilkan menjadi lebih terjamin. Metode pengembangan sistem informasi yang digunakan ialah The Waterfall Model dari Ian Sommerville. Uji coba produk dilakukan dengan menggunakan metode pengujian black boxyang fokus pada aspek usabilitas dan fungsionalitas untuk menguji sistem valid atau tidak. Uji coba dilakukan dengan menyebar angket uji validasi fungsionalitas kepada koordinator supervisor dan angket uji usabilitas kepada pengguna E-PKG yang terdiri dari guru, koordinator supervisor, kepala sekolah, dan TU. Analisis data hasil uji coba menghasilkan: (1) persentase aspek fungsionalitas sebesar 100%; dan (2) persentase rata-rata validasi aspek usabilitas sistem sebesar 85,36%. Kajian skripsi ini menyimpulkan bahwa: (1) E-PKG telah dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna di SMP Negeri 1 Pakis Kabupaten Malang pada tahap awal pengembangan; (2) E-PKG mampu memudahkan penilaian kinerja guru kelas atau mata pelajaran; dan (3) E-PKG memenuhi kebutuhan fungsionalitas dengan keterangan sangat valid dibuktikan dari persentase fungsionalitas yang ada dan E-PKG sangat valid digunakan oleh pengguna berdasarkan persentase rata-rata validasi usabilitas yang dihasilkan.

Hubungan antara pengetahuan kerjasama dan relevansi tempat PKL dengan persepsi terhadap dunia kerja siswa SMK Bidang TKJ di SMK se Kabupaten Jember / Muhammad Candra Wilis Putra

 

Putra, Muhammad Candra Wilis. 2013. Hubungan antara Pengetahuan Kerjasama dan Relevansi Tempat PKL denganPersepsi terhadap Dunia Kerja Siswa SMK Bidang TKJ di SMK se Kabupaten Jember. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M.T., M.Pd., (II) Dyah Lestari, S.T., M.Eng. Kata Kunci:Pengetahuan Kerjasama, Relevansi Tempat PKL, Persepsi terhadap Dunia Kerja Banyak siswa yang khawatir dengan dunia kerja antara lain karena lapangan kerja semakin sedikit dan tuntutan skill. Oleh karena itu siswa harus memiliki persepsi yang positif terhadap dunia kerja supaya lebih siap terjun dalam dunia kerja. Persepsi terhadap dunia kerja diwarnai oleh variabel pengetahuan kerjasama dan relevansi tempat PKL. Tujuan dari penelitian antara lain untuk mengungkap hubungan antara (1) pengetahuan kerjasama (X1) dengan persepsi siswa terhadap dunia kerja (Y), (2) relevansi tempat PKL (X2) dengan persepsi terhadap dunia kerja (Y), (3) pengetahuan kerjasama (X1) dan relevansi tempat PKL (X2) dengan persepsi siswa terhadap dunia kerja (Y). Rancangan penelitian ini adalah eksploratif korelasional. Penelitian dilakukan pada kelas XII SMK bidang TKJ se Kabupaten Jember, Sampel ditentukan dengan metode purposive sampling yang akhirnya diperoleh 250 siswa yang tersebar di lima sekolah.Penelitian menggunakan keusioner tertutup untuk mengambil data pada variabel Y, X1, dan X2. Penelitian telah melewati tahap uji prasyarat analisis antara lain uji normalitas, linearitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas.Analisis korelasi parsial ditentukan untuk mengungkap hubunganX1 dengan Y dan X2 dengan Y. Analisis regresi linier gandauntuk mengungkap hubungan X1 dan X2 secara simultan dengan Y. Alat bantu analisis menggunakan software SPSS 18.0. Analisis data menghasilkan F sebesar 105,208 dengan signifikansi 0,000 dan R Square sebesar 0,460. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif dan signifikan antara (1) X1dengan Y, (2) X2 dengan Y, dan (3) X1dan X2secara simultan dengan Y. Variabel pengetahuan kerjasama memiliki sumbangan relatif sebesar 63,22% dan variabel relevansi tempat PKL sebesar 36,78%terhadap variabel persepsi siswa terhadap dunia kerja. Sumbangan efektif variabel pengetahuan kerjasama sebesar 29,08% dan variabel relevansi tempat PKL sebesar 16,92% terhadap variabel persepsi siswa terhadap dunia kerja.

Pengaruh faktor internal tenaga kerja terhadap produktivitas pekerjaan pasangan bata ringan pada proyek pembangunan gedung pusat kegiatan mahasiswa Polinema Malang / Ayuk Fristanti

 

Fristanti, Ayuk. 2013. Pengaruh Faktor Internal Tenaga Kerja Terhadap Produktivitas Pekerjaan Pasangan Bata Ringan Pada Proyek Pembangunan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa POLINEMA Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Bambang Djatmiko, S.T., M.T., (II) Drs. H. Wasis, M.T. Kata Kunci: Faktor Internal, Produktivitas Sumber Daya Manusia adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam suatu pekerjaan, termasuk dalam pekerjaan kontruksi. Faktor internal adalah faktor dari dalam diri tenaga kerja itu sendiri, antara lain: usia, pendidikan, pengalaman, disiplin, ketrampilan, dan motivasi, yang diduga berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu dalam menganalisa produktivitas tenaga kerja faktor internal tersebut harus dipertimbangkan karena mungkin dapat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat produktivitas tenaga kerja untuk pasangan bata ringan dan faktor internal yang berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja untuk pasangan bata ringan pada proyek Pembangunan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Politeknik Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif analitis, dengan desain studi kasus, yaitu mendeskripsikan faktor internal tenaga kerja dan produktivitasnya untuk pasangan bata ringan serta menganalisis pengaruh faktor internal terhadap produktivitas, dengan mengambil lokasi penelitian pada proyek Pembangunan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Politeknik Negeri Malang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara untuk pengisian kuesioner data faktor internal tenaga kerja, serta teknik observasi dan dokumentasi untuk pengumpulan data produktivitas pasangan bata ringan. Jenis data berupa data primer dan data sekunder. Analisis data menggunakan regresi ganda dengan bantuan program Package for Social Science (SPSS) 17 for Windows dan tabulasi data yang dibantu oleh program Microsoft Office Excel. Analisis regresi ganda menghasilkan koefisien-koefisien, antara lain: (1) usia tenaga kerja adalah -2,095; (2) pendidikan tenaga kerja adalah 0,593; (3) pengalaman tenaga kerja adalah 4,691; (4) ketrampilan tenaga kerja 1,707; (5) disiplin tenaga kerja adalah 1,019; (6) motivasi tenaga kerja adalah -0,293. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan faktor internal tenaga kerja yang paling berpengaruh terhadap produktifitas untuk pekerjaan pasangan bata ringan adalah (1) Pengalaman tenaga kerja, (2) Keterampilan tenaga kerja, (3) Disiplin tenaga kerja, sedangkan variabel (1) Usia tenaga kerja, (2) Pendidikan tenaga kerja, (3) Motivasi tenaga kerja, memiliki pengaruh yang kecil terhadap produktivitas pekerjaan pasangan bata ringan.

Pengembangan modul mata kuliah riset operasi untuk Prodi S1 PTB Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Noer Habiba Oktavia

 

Habiba O, Noer. 2013. Pengembangan Modul Mata Kuliah Riset Operasi untuk Prodi S1 PTB Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Imam Alfianto, S.T., M.T., (II) Drs. H. Suparno, S.T., M.T. Kata Kunci : Pengembangan, Modul, Riset Operasi Riset Operasi merupakan salah satu mata kuliah S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. Dari hasil observasi ditemukan bahwa mahasiswa masih belum bisa memahami materi yang didapatkan dengan baik. Pertama, mahasiswa tidak memiliki panduan untuk belajar. Kedua, proses pembelajaran masih berpusat pada dosen. Ketiga, masih banyaknya mahasiswa yang malas untuk mencatat materi yang diajarkan. Skripsi ini bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran mata kuliah Riset Operasi untuk Prodi S1 PTB Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Research and Development dari Sugiyono yang telah dimodifikasi. Adapun langkah pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) identifikasi masalah dan kebutuhan, (2) pengumpulan data, (3) penyusunan produk, (4) validasi produk, (5) revisi produk, (6) validasi responden, (7) revisi produk dan (8) produk jadi. Validasi dilakukan oleh ahli materi dan ahli media, dari dosen jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Validasi Responden dilakukan kepada mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang yang pernah dan sedang menempuh mata kuliah Riset Operasi dengan menggunakan angket. Angket ini menggunakan 4 (empat) tingkat penilaian menurut skala likert dalam bentuk check list dan dilengkapi komentar dan saran. Dari Hasil pengembangan diperoleh: 1) persentase tingkat kelayakan dari ahli materi adalah 93,42% yang berarti sangat valid; 2) persentase tingkat kelayakan dari ahli media adalah 94,23% yang berarti sangat valid dan 3) persentase tingkat kelayakan dari hasil validasi responden adalah 89,43% yang berarti cukup valid. Berdasarkan hasil pengembangan modul, diajukan beberapa saran yaitu: 1) untuk pemanfaatan produk, sebaiknya dosen pengajar bertindak sebagai fasilitator selama proses pembelajaran materi Riset Operasi dan mahasiswa harus menggunakan modul sesuai dengan petunjuk penggunaannya dan 2) untuk pengembangan disarankan agar materi modul dikembangkan sampai satu semester karena modul ini hanya membahas materi sampai tengah semester

Evaluasi tingkat kepadatan kendaraan bermotor di Jalan Tumenggung Suryo Kecamatan Blimbing Kota Malang / Achmad Tajudin Tolibin

 

Tajudin, Achmad. 2013, Evaluasi Tingkat Kepadatan Kendaraan Bermotor di Jalan Tumenggung Suryo Kecamatan Blimbing Kota Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sugiyanto, S.T., M.T., (II) Ir. Henri Siswanto, M.T. Kata kunci: tingkat kepadatan, kendaraan bermotor, Jalan R. Tumenggung Suryo Malang adalah kota terbesar kedua di Jawa Timur dengan penduduk 820.243 jiwa. Dengan banyaknya gelar yang didapatakan Kota Malang, membuat kota ini semakin padat dengan datangnya pendatang dari luar kota. Imbas dari kemajuan dan banyakya pendatang membuat kota malang mengalami perubahan tata guna lahan, salah satunya di Jalan R. Tumenggung Suryo. Perubahan tata guna lahan tersebut ternyata menimbulkan dampak kemacetan. Tingkat kepadatan dan kemacetan lalu lintas di jalan ini cukup besar karena merupakan salah satu jalur utama sebagai penghubung antar kota. Hal ini merupakan permasalahan yang harus disikapi dengan bijak dan kreatif. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan evaluasi tingkat kepadatan kendaraan bermotor di Jalan R. Tumenggung Suryo. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan data geometri jalan, volume lalu-lintas harian rata-rata, hambatan samping, guna untuk dapat menganalisa kapasitas dan kepadatan jalan. rancangan penelitian ini menggunakan metode survey, data berupa kondisi geometri jalan, volume lalu-lintas harian rata-rata, dan hambatan samping. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut: Pertama, kondisi geometri jalan R. Tumenggung Suryo adalah Jalan Arteri kelas II, tidak ber-median dengan tipe jalan 2/2 U, dan dengan lebar jalur lalu-lintas total 12 meter. Kedua kondisi volume lalu lintas harian sangatlah tinggi yaitu 7761,1 (smp/jam) di titik A, dan 7761,1 (smp/jam) di titik B, di hari Senin pukul 06.30-07.30 pagi hari. Kondisi hambatan samping yang terjadi di Jalan R. Tumenggung Suryo terbilang sedang dengan jumlah 300 – 499 (hambatan samping/jam). Dari hasil analisa perhitungan kapasitas jalan didapat hasil kapasitas dengan kondisi terkritis yaitu 3324,08 (smp/jam). Ketiga dari hasil analisa perhitungan kepadatan, kondisi kepadatan kritis, hasil kategori pelayanan segmen jalan termasuk dalam tingkat pelayanan berkategori F dengan kecepatan perjalanan rata-rata < 16 (km/jam), dengan kecepatan bebas < 33% dan dengan tingkat kejenuhan lalulintas > 1 dengan nilai NVK mencapai 2,3.

Analisis kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Pandaan KM 0.000 - Purwosari KM 15.144 / Isabella

 

Isabella. 2013. Analisis Kecelakaan Lalu Lintas pada Ruas Jalan Pandaan Km 0.000-Purwosari Km 15.144. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I), Drs. H. Bambang Supriyanto, S.T., M.T., Pembimbing (II), Drs. H. Sugiyanto, S.T., M.T. Kata kunci: analisis, kecelakaan lalu lintas, ruas jalan Pandaan-Purwosari Ruas jalan raya Pandaan–Purwosarari merupakan jalan yang menghubungkan kawasan Surabaya–Pasuruan. Menurut data yang telah di dapatkan dari Kasat Lantas Polres Pasuruan angka kecelakaan terus bertambah dalam tiap tahunnya mulai tahun 2008 hingga 2012 pada ruas jalan Pandaan-Purwosari, seringkali kecelakaan terjadi pada lokasi-lokasi tertentu atau black spot area. Kecelakaan lalu lintas dipengaruhi tiga faktor utama yaitu manusia sendiri, faktor kendaraan dan faktor jalan. Penelitian ini dilaksanakan dengan untuk mengetahui: (1) lokasi rawan kecelakaan pada ruas jalan pandaan-purwosari, (2) faktor-faktor penyebab kecelakaan dan (3) upaya-upaya yang dilakukan pihak terkait dalam mereduksi kecelakaan lalu lintas. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dengan data yang diperoleh berupa data sekunder dari Kasat Lantas Polres Pasuruan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 dan data primer berupa volume lalu lintas harian rata-rata (LHR). Selain itu, tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui upaya-upaya yang telah dilakukan pihak terkait dalam mereduksi kecelakaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) lokasi rawan kecelakaan atau black spot area pada ruas jalan Pandaan-Purwosari berada pada daerah Karangjati, Petungasri, Purwosari, Lemahbang, Sengonagung, Suwayuwo, dan Jogosari, (2) selama kurun waktu lima tahun terakhir yaitu mulai 2008 hingga 2012 terdapat 750 kejadian kecelakaan, kejadian kecelakaan lalu lintas terbesar karena pengguna sepeda motor 87,60%, kecelakaan ganda sebesar 69,89%, kondisi korban mengalami luka ringan yaitu sebesar 73,93%, berdasarkan usia pelaku kecelakaan di dominasi usia 16-30, sebagian besar penggemudi memiliki SIM yaitu sebesar 89,59%, waktu terjadinya kecelakaan terbesar yaitu pukul 06.00-07.00, hari terjadinya kecelakaan terbesar adalah hari Minggu sebesar 15,47% dan Senin sebesar 15,07%, dan bulan yang sering terjadi kecelakaan adalah bulan November sebesar 11,07% dan Januari sebesar 9,47%, faktor penyebab kecelakaan terbesar adalah faktor manusia sebesar 53,56% sebanyak 451 kejadian, dengan penyebab jarak rapat antar kendaraan sebesar 36%, dan (3) Cara pihak terkait dalam mereduksi kecelakaan pada daerah black spot area yaitu dengan cara penentuan daerah blackspot area, perbaikan kondisi fisik jalan, penegakan hukum pada pelanggar lalu lintas, perbaikan rambu-rambu lalu lintas, mempromosikan kendaraan umum yang aman, pelebaran jalan dan penanganan oleh petugas lalu lintas.

Analisis kebutuhan lahan parkir pengguna sepeda motor pada RSUD Soedarsono Kota Pasuruan / Luqman Cahyono

 

Cahyono, Luqman. 2013. Analisis Kebutuhan Lahan Parkir Pengguna Sepeda Motor Pada RSUD Soedarsono Kota Pasuruan. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Boedi Rahardjo, M.Pd., M.T, (II) Pranoto, S.T., M.T. Kata Kunci: analisis, kebutuhan lahan parkir, sepeda motor RSUD Soedarsono merupakan satu – satunya rumah sakit dikota Pasuruan, seiring dengan hal tersebut maka menyebabkan meningkatnya jumlah pengunjung khususnya sepeda motor. Beberapa waktu RSUD Soedarsono pernah mengalami kepadatan jumlah kendaraan parkir khususnya sepeda motor. Kepadatan itu ditandai dari parkir sepeda motor tidak pada tempat yang semula dibuatkan pihak rumah sakit, kemudian terjadinya parkir yang menumpuk tanpa mengindahkan jarak satuan ruang parkir antar sepeda motor yakni 0,75 m x 2,00 m. Kebutuhan lahan parkir untuk pengunjung khususnya sepeda motor di RSUD Soedarsono dipengaruhi 2 hal yaitu : 1) Pengguna parkir pengunjung rumah sakit yang memang tujuannya untuk keperluan ke rumah sakit, 2) Pengguna parkir non pengunjung rumah sakit yang datang sengaja menitipkan kendaraannya guna keperluan selain ke rumah sakit, diantaranya : keperluan seperti keluar kota, ke kantor, atau bekerja diperusahaan luar kota pasuruan dll. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik parkir sepeda motor yang ada di RSUD Soedarsono dan untuk mengetahui kebutuhan ruang parkir sepeda motor di RSUD Soedarsono saat ini. Pengambilan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan mencatat plat nomor sepeda motor yang masuk dan keluar beserta waktunya, serta menanyai langsung keperluan pengunjung parkir RSUD Soedarsono. Penelitian ini dilaksanakan selama semingggu, sedangkan pengambilan sampelnya selama sehari 24 jam yaitu mulai pukul 06.00-06.00 WIB. Hasil penelitian ini menunjukan : (1) kondisi parkir Pengunjung di RSUD Soedarsono dari jumlah volume kendaraan masuk sebesar 3353 kendaraan, terdapat sebesar 2917 kendaraan yang merupakan pengguna parkir pengunjung dan sisanya sebesar 436 kendaraan yang merupakan pengguna parkir non pengunjung, (2) volume kendaraan tertinggi pada hari kamis sebesar 613 kendaraan, (3) akumulasi parkir tertinggi pada hari kamis sebesar 340 kendaraan, (4) durasi parkir tertinggi pada kisaran waktu antara 120 – 180 menit, (5) angka pergantian parkir rata-rata sebesar 1,79 kend/petak parkir, (6) indeks parkir rata-rata sebesar 107,54%. Maka disarankan untuk menambah luasan lahan parkir atau membuat lagi 1 tempat parkir baru dengan ukuran 110 m2 , mengingat masih terdapat lahan kosong yang bisa digunakan.

Uji beda hasil belajar penerapan metode Think Talk Write (TTW) dengan metode konvensional pada mata pelajaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) kelas XI TKBBT di SMK Negeri 1 Blitar / Ninuk Suryaningrum

 

Suryaningrum, Ninuk. 2013. Uji Beda Hasil Belajar Penerapan Metode Think Talk Write (TTW) dengan Metode Konvensional pada Mata Pelajaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) Kelas XI TKBBT di SMK Negeri 1 Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Bambang Djamiko, S.T., M.T. (II) Drs. N.Bambang Revantoro, S.T., M. T. Kata Kunci: Metode TTW, Metode Konvensional, Mata Pelajaran RAB. Beberapa penelitian terdahulu menjelaskan bahwa penerapan metode konvensional masing diterapkan di sekolah-sekolah, begitu pula di SMK Negeri 1 Blitar masih menerapkan metode konvensional. Oleh karena itu diadakan penelitian tentang metode TTW yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode pembelajaran TTW adalah metode pembelajaran dimana siswa diberikan kesempatan untuk memulai belajar dengan memahami permasalahan terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok, dan akhirnya menulis dengan bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya. (Hernacky Mike, 1992:179) Metode penelitian menggunakan eksperimen semu (quasi experiment). Rancangan eksperimen semu dilakukan untuk mengetahui ada atau tidak ada perbedaan serta seberapa besar perbedaan hasil belajar siswa menggunakan metode TTW dengan metode konvensional. Rancangan eksperimen ini menggunakan pre-test dan post-test. Pre-test merupakan kemampuan awal siswa sebelum penelitian, sedangkan post-test merupakan kemampuan akhir bagi siswa setelah menerima perlakuan. Teknik analisa data yang digunakan yaitu data berkorelasi (dua kelompok data diambil dari sumber yang sama) dengan menggunakan rumus uji-t (t-test). Dari hasil penelitian nilai rata-rata siswa yang diberi perlakuan menggunakan metode pembelajaran TTW sebesar 92,5 sedangkan nilai rata-rata siswa setelah diberi perlakuan menggunakan metode konvensional sebesar 86,3. Hasil penelitian menyebutkan bahwa penerapan metode TTW memberikan pengaruh positif terhadap belajar siswa dan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode TTW dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan konvensional.

Kinerja pengelolaan praktik industri Prodi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang / Frenty Chandra Adelia

 

Adelia, Frenty Chandra. 2013. Kinerja Pengelolaan Praktik Industri Prodi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Eko Setyawan S.T.,M.T.(II) Pranoto, S.T., M.T. Kata Kunci: evaluasi, praktik industri Upaya yang dilakukan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dalam meningkatkan kompetensi atau kemampuan peserta didik sesuai bidangnya adalah memberikan matakuliah Praktik Industri. Pelaksanaan Praktik Industri pada Prodi S1 Pendidikan Teknik Bangunan ditemukan berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut disebabkan oleh kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia industri di lapangan dan kesanggupan mahasiswa untuk menyelesaikan laporan akhir dari Praktik Industri yang telah dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur efektifitas Praktik Industri berdasarkan tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Praktik Industri. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif. Penyajian data-data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis prosentase. Untuk mengukur efektifitas, data yang telah diperoleh digolongkan sesuai dengan kategori yang telah ditentukan. Dari hasil penelitian terhadap kinerja pengelolaan Praktik Industri dapat disimpulkan: (1) Ditinjau dari tahap persiapan Praktik Industri masuk pada kategori efektif tetapi masih dalam tingkat yang rendah (2) Ditinjau dari tahap pelaksanaan Praktik Industri masuk pada kategori efektif (3) Ditinjau dari tahap evaluasi Praktik Industri masuk pada kategori efektif. Dari ketiga tahap penyelenggaraan Praktik Industri tersebut dapat dinyatakan bahwa keseluruhan tahap pada penyelenggaraan Praktik Industri telah efektif. Artinya tujuan dari sasaran sebelumnya sudah tercapai.

Evaluasi kinerja angkutan umum di Kota Malang pada jalur Joyogrand-Dinoyo-Mergan / Fenetia Maysa Amandatrisela Malta

 

Malta, Fenetia, Maysa, Amandatrisela. 2013. Evaluasi Kinerja Angkutan Umum di Kota Malang Pada Jalur Joyogrand-Dinoyo-Mergan . Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sugiyanto. S.T.,M.T, (II) Ir. Henri Siswanto, M.T. Kata Kunci: Kinerja, Angkutan Umum, Malang, Joyogrand-Dinoyo-Mergan Tingginya potensi yang dimiliki kota Malang sebaiknya didukung dengan peningkatan sarana dan prasarana transportasi. Salah satu sarana transportasi yang menunjang pergerakan masyarakat di kota Malang adalah angkutan umum. Pelayanan angkutan umum diutamakan dalam menunjang kenyamanan dan keamanan penumpang. Angkutan umum di kota Malang terdiri dari 25 rute kendaraan. Salah satu angkutan umum di kota Malang adalah jalur Joyogrand-Dinoyo-Mergan (JDM) yang menempuh jarak 10 km dengan jumlah armada 49 unit, yang melayani penumpang dari APK Vila Bukit Tidar ke APK Mergan dan sebaliknya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kinerja angkutan umum jalur JDM, yang mencakup rata-rata waktu perjalanan, rata-rata waktu henti, waktu sirkulasi, rata-rata jumlah penumpang, rata-rata headway, rata-rata waktu tunggu, rata-rata kecepatan. Penelitian ini meggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian di lakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Jenis data berupa data primer dan data sekunder. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen form survey, alat tulis, penunjuk waktu/ jam dan manusia (surveyor). Analisis data menggunakan alat bantu Microsoft excel. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh: (1) Rata-rata waktu perjalanan dari APK VBT- APK Mergan 1.04.38 jam dan rata-rata waktu perjalanan dari APK Mergan - APK VBT 1.04.51 jam. (2) Rata-rata waktu henti di APK VBT 1.32.05 jam dan rata-rata waktu henti di APK Mergan 1.14.23 jam. (3) Waktu sirkulasi angkutan umum JDM pada arah APK VBT-Mergan yaitu 02.45.19 jam dan pada arah APK Mergan -VBT yaitu 02.31.37 dalam satu putaran. (4) Rata-rata jumlah penumpang dari hasil survei arah APK Vila Bukit Tidar ke Mergan dan sebaliknya pada angkutan JDM yaitu 14 orang. (5) Headway yang diperoleh pada arah APK Mergan ke VBT yaitu headway ideal dengan rata-rata 07.58 menit dan pada arah APK VBT ke Mergan melebihi headway ideal dengan rata-rata 14.15 menit. (6) Waktu tunggu rata-rata dari APK Mergan ke APK Vila Bukit Tidar 03.23 menit maksimum 09.00 menit, dan rata-rata dari APK Vila Bukit Tidar ke APK Mergan 06.36 menit maksimum 14.00 menit. (7) Kecepatan perjalanan rata-rata arah APK Mergan-Vila Bukit Tidar adalah 09.15 km/jam, maks 10.20 km/jam dan arah APK Vila Bukit Tidar- Mergan rata-rata adalah 09.17 km/jam, min 8.34 km/jam, maks 9.13 km/jam. Saran tentang penelitian ini adalah perlunya peningkatan kinerja angkutan umum JDM, pengolahan kembali waktu perjalanan, waktu henti, kecepatan perjalanan, dan penambahan penelitian lanjutan bagi peneliti lain berupa Keamanan, keselamatan, BOK dan analisis pendapatan.

Pengaruh penggunaan serbuk gergaji sebagai bahan pengikat pada pasir cetak terhadap kualitas dan fluiditas hasil pengecoran logam Al-Si / Dedy Sufriansyah

 

Sufriansyah, Dedy. 2013. Pengaruh Penggunaan Serbuk Gergaji Sebagai Bahan Pengikat pada Pasir Cetak Terhadap Kualitas dan Fluiditas Hasil Pengecoran Logam Al-Si. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Drs. H. Putut Murdanto, S.T., M.T., (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T. Ph.D. Kata Kunci: serbuk gergaji, bahan pengikat, kualitas dan fluiditas. Pengecoran (Casting) adalah salah satu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian dituangkan ke dalam rongga cetakan. Cetakan yang lazim digunakan terbuat dari pasir yang mengandung atau telah dicampur dengan bahan pengikat. Penggunaan bahan pengikat yang berbeda-beda akan menghasilkan produk cor dengan tingkat kualitas dan fluiditas yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan serbuk gergaji sebagai bahan pengikat pada pasir cetak terhadap fluiditas hasil pengecoran logam paduan Al-Si. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh serbuk gergaji terhadap kekerasan permukaan dan cacat coran pada logam paduan Al-Si. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang melihat hasil dari sebuah perlakuan terhadap suatu kelompok spesimen. Setelah diberikan perlakuan, spesimen akan dianalisa kecacatannya dan kemampuan alir logam cor (fluiditas). Selain itu dilakukan pula pengujian kekerasan permukaan, dan foto mikro dan foto makro untuk melihat cacat yang terjadi secara lebih detail. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, nilai fluiditas paling tinggi terdapat pada spesimen coran yang menggunakan campuran serbuk gergaji sebesar 1% yaitu 800,38 mm. Sedangkan yang paling rendah terdapat pada spesimen coran yang menggunakan campuran serbuk gergaji sebesar 3% yaitu 651,2 mm . Nilai kekerasan tertinggi juga terdapat pada spesimen coran yang menggunakan campuran serbuk gergaji sebesar 1% dengan rata-rata nilai kekerasan 41,66 HRB. Dari hasil analisa cacat cor secara kasat mata menunjukkan bahwa spesimen coran yang menggunakan campuran serbuk gergaji sebesar 1% memiliki cacat cor yang paling sedikit dan paling kecil bila dibandingkan dengan spesimen lainnya.Adapun data yang diperoleh dari foto mikro dan foto makro menunjukkan bahwa spesimen cor yang menggunakan campuran serbuk gergaji sebesar 5% memiliki ukuran cacat lubang jarum yang paling kecil dan berjumlah ± 6 buah. Akan tetapi cacat struktur butir terbuka semakin banyak, yakni ± 388 buah, sedangkan pada spesimen cor yang menggunakan campuran serbuk gergaji sebesar 1% memiliki cacat struktur butir terbuka berjumlah ± 51 buah.

Dukungan industri terhadap pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK di Malang / Habib Subagio

 

Subagio, Habib. 2013. Dukungan Industri Terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Siswa Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK di Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Siswanto, M.A, (II) Dr. H. Purnomo, S.T., M.Pd. Kata Kunci: Prakerin, Dukungan industri Prakerin merupakan program sekolah menengah kejuruan yang bermaksud untuk mendekatkan kemampuan siswa pada bidang keahliannya. Pelaksanaan prakerin ini melibatkan dua instansi yaitu sekolah dan industri yang dijadikan pasangan kerjasama untuk pelaksanaan prakerin siswa SMK. Dalam pelaksanaan prakerin tidak menutup kemungkinan siswa yang melaksanakan program ini terdapat masalah yang berasal dari siswa atau bahkan industri itu sendiri. Hal ini yang dijadikan alasan penelitian ini dilakukan mengenai dukunga industri terhadap pelaksanaan prakerin siswa SMK pada program keahlian teknik pemesianan. Prakerin adalah realisasi dari bagian pendidikan sistem ganda (PSG) yaitu suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian professional, yang memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dan program industri yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja untuk mencapai suatu tingkat keahlian professional. Dalam hal ini, dukungannya bagi siswa yaitu memberikan pengalaman pada kehidupan kerja sesungguhnya, sehingga siswa mendapatkan nilai tambah dari pengalamannya terjun di dunia kerja yang nyata. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam hal ini, sasaran dari penelitian ini adalah SMKN 6 Malang, SMK PGRI 3 Malang, SMKN 1 Singosari dan beberapa industri yang dijadikan tempat Prakerin siswa. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa persepsi tentang tujuan kegiatan prakerin, perbedaan dukungan yang diberikan kepada siswa di sekolah dan di industri yang dijadikan tempat prakerin. Namun, pada tujuan prakerin hampir semua sama, yaitu mengarahkan kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan industri. Dukungan siswa untuk pelaksanaan prakerin siswa SMKN 6 Malang yaitu dengan memberikan waktu selama 6 bulan di industri dan beberapa kompetensi keahlian sebelum siswa diberangkatkan ke industri. Dukungan siswa SMK PGRI 3 Malang yaitu dengan memberikan waktu selama satu tahun praktik siswa di industri dengan beberapa kompetensi keahlian yang diberikan siswa sebelum berangkat prakerin. Dukungan siswa SMKN 1 Singosari yaitu dengan memberikan waktu selama 4 bulan prakerin pada akhir kelas XI sampai awal kelas XII dan diberikan berbagai kompetensi keahlian yang berikan siswa sebelum berangkat ke industri. Dukungan industri rumahan atau bengkel yang dijadikan tempat prakerin siswa SMK PGRI 3 Malang yaitu memberikan bimbingan pembelajaran praktik dengan baik, akan tetapi pada perlengkapan mesin dan peralatan keselamatan kerja kurang memadai. Dukungan industri kecil yang dijadikan tempat prakerin siswa SMKN 1 Singosari Malang yaitu diberikan bimbingan pekerjaan praktik/pekerjaan permesinan di industri tersebut dengan baik, akan tetapi untuk peralatan mesin dan perlengkapan keselamatan kerja kurang memadai dan seadanya. Dukungan industri sedang yang dijadikan tempat prakerin siswa SMKN 6 Malang terhadap pelaksanaan prakerin yaitu dengan memberikan bimbingan pembelajaran praktik dengan baik, peralatan permesianan dan perlengkapan keselamatan kerja sudah sesuai dengan SOP. Dukungan industri besar yang dijadikan prakerin siswa SMKN 1 Singosari yaitu dengan memberikan pembelajaran praktik/pekerjaan permesinan dengan baik, peralatan mesin dan keselamatan kerja sudah sesuai dengan standar operasional/SOP.

Hubungan pembelajaran mikro dan kecerdasan emosional (EQ) dengan hasil belajar Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang / Hosnol Khotimah

 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) hasil belajar pembelajaran mikro mahasiswa pendidikan teknik mesin Universitas Negeri Malang, (b) kecerdasan emosional mahasiswa pendidikan teknik mesin Universitas Negeri Malang, (c) hasil belajar Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa pendidikan teknik mesin Universitas Negeri Malang, (d) hubungan pembelajaran mikro dengan hasil belajar PPL mahasiswa pendidikan teknik mesin Universitas Negeri Malang, (e) hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar PPL mahasiswa pendidikan teknik mesin Universitas Negeri Malang, (f) hubungan pembelajaran mikro dan kecerdasan emosional dengan hasil belajar PPL mahasiswa pendidikan teknik mesin Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan angket dengan 30 responden dari 86 jumlah populasi dan dianalisis dengan deskriptif korelatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa mahasiswa pendidikan teknik mesin memiliki hasil belajar yang tinggi pada matakuliah pembelajaran mikro, memiliki hasil belajar yang sedang pada matakuliah PPL, dan memiliki kecerdasan emosional yang sedang, terdapat hubungan positif yang signifikan antara pembelajaran mikro dengan hasil belajar PPL sebesar 69,2% dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar PPL sebesar 40,6%, sedangkan korelasi antara pembelajaran mikro dan kecerdasan emosional dengan hasil belajar PPL sebesar 80,4%. Kata kunci : pembelajaran mikro, kecerdasan emosional, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)

Pengaruh penggunaan software circuit wizard terhadap motivasi dan hasil belajar dasar elektronika siswa kelas X Ototronik di SMK Negeri 6 Malang / Arif Setyo Widodo

 

Widodo, Arif Setyo. 2013. Pengaruh Penggunaan Software Circuit Wizard Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Dasar Elektronika Siswa Kelas X Ototronik di SMK Negeri 6 Malang . Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Muda Nauri S.T., M.T (II) Dra. Anny Martiningsih, M.Kes Kata Kunci: Penggunaan software circuit wizard, motivasi belajar, hasil belajar Media pembelajaran merupakan wahana dan penyampaian suatu informasi atau pesan pembelajaran kepada siswa. Dengan adanya media pada proses pembelajaran, diharapkan dalam membantu guru dalam meningkatkan motivasi belajar pada siswa dan siswa dapat memperoleh hasil belajar yang meningkat pula. Salah satu bentuk media pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini adalah media software circuit wizard. Software circuit wizard merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan desain penelitian post-test only control group. Dalam desain ini pengamatan terhadap subjek eksperimen dilakukan sebelum pelaksanaan manipulasi eksperimen. Ini disebut dengan pretest, dan setelah dilaksanakan manipulasi eksperimen dilakukan kembali pengamatan terhadap subjek eksperimen disebut posttest. Skor perbedaan antara pretest dan posttest diasumsikan sebagai efek dari modifikasi atau treatment. Analisis data hasil penelitian menggunakan uji ANAVA dan uji regresi. Berdasarkan data hasil penelitian, terdapat perbedaan dengan penggunaan media software circuit wizard dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar (15,70 %), sedangkan untuk hasil belajar siswa pada mata pelajaran dasar elektronika di SMK Negeri 6 Malang sebesar (18,73 %). Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah (1) sekolah dapat menerapkan media pembelajaran software circuit wizard untuk dapat meningkatkan suasana belajar yang kondusif, menarik dan efektif sehingga siswa mampu menguasai dan memahami pembelajaran dengan baik, (2) menjadi masukan dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam pembelajaran dikelas dengan menggunakan media software circuit wizard pada mata pelajaran dasar elektronika

Pembuatan sus kering dengan substitusi tepung ikan tuna / Titis Selma Safitri

 

Safitri, Titis Selma. 2013. Pembuatan Sus kering dengan Substitusi Tepung Ikan Tuna. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Pembuatan, Sus Kering, Tepung Ikan Tuna Sus kering adalah jenis produk pastry yang terbuat dari adonan choux paste, dengan karakteristik berwarna kecoklatan, berukuran kecil, berongga besar dan tekstur kering, serta rasa gurih dan renyah. Substitusi tepung ikan tuna dalam pembuatan sus kering bertujuan untuk menambah nilai gizi pada sus kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang tepat dalam pembuatan sus kering substitusi tepung ikan tuna serta untuk mengetahui tingkat kesukaan sus kering substitusi tepung ikan tuna. Uji coba untuk mendapatkan formulasi sus kering substitusi tepung ikan tuna yang tepat dilakukan dua kali. Uji coba yang pertama dengan substitusi tepung ikan tuna sebanyak 50%, uji coba yang kedua 25%. Uji kesukaan dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap warna, rasa dan tekstur sus kering dengan 40 panelis. Hasil pengumpulan data uji kesukaan dihitung menggunakan persentase. Formulasi yang tepat untuk pembuatan sus kering substitusi tepung ikan tuna yaitu 25% tepung tuna. Hasil dari uji kesukaan seluruh panelis 45% menyatakan suka terhadap warna sus kering substitusi tepung ikan tuna, 47,5% panelis menyatakan suka terhadap rasa sus kering substitusi tepung ikan tuna, 45% panelis menyatakan suka terhadap tekstur sus kering substitusi tepung ikan tuna. Ikan tuna memiliki kandungan vitamin dan protein yang tinggi. Harga jual sus kering tanpa substitusi tepung ikan tuna Rp. 8.300/100 gr, sedangkan sus kering substitusi tepung ikan tuna Rp. 9.500/100 gr.

Peningkatan nilai gizi cookies dengan memanfaatkan tulang ikan pari sebagai substitusi / Ratih Puspitasari

 

Puspitasari, Ratih. 2013. Peningkatan Nilai Gizi Cookies dengan Memanfaatkan Tulang Ikan Pari sebagai Substitusi. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Aisyah Larasati, S.T., M.T., MIM., Ph.D. (2) Dr. Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P. Kata Kunci: Cookies, tulang ikan pari, uji kesukaan Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan formula yang tepat dalam pembuatan cookies ikan pari, serta untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap warna, rasa dan tekstur produk cookies ikan pari, mengetahui peningkatan gizi cookies ikan pari dan harga jual cookies ikan pari. Uji coba diawali dengan pembuatan tepung tulang ikan pari. Proses yang dilakukan dalam pembuatan tepung tulang ikan pari yaitu perendaman, pengukusan, pemisahan tulang dengan daging ikan pari, pengeringan, penghalusan dan pengayakan. Proses selanjutnya yaitu uji coba formulasi resep yang dilakukan sebanyak 3 kali dengan penambahan tepung tulang ikan pari 50%, 40%, 30%, sehingga dapat menghasilkan formulasi yang tepat. Formulasi yang digunakan dalam pembuatan cookies ikan pari yaitu formulasi resep yang ke 3 dengan subtitusi tepung tulang ikan pari sebanyak 45 gr dan tepung terigu sebanyak 105 gr. Formulasi ini menghasilkan warna kuning keemasan, rasa gurih dan tekstur renyah. Metode yang digunakan dalam perhitungan uji kesukaan yaitu menggunakan metode uji kesukaan menggunakan perhitungan persentase. Hasil uji kesukaan terhadap warna cookies ikan pari yaitu sebanyak 68% panelis menyatakan suka. Hasil kesukaan terhadap rasa cookies ikan pari yaitu sebanyak 44% panelis menyatakan cukup suka. Hasil kesukaan terhadap tekstur cookies ikan pari yaitu sebanyak 68% panelis menyatakan suka. Produk cookies dengan subtitusi tepung tulang ikan pari memiliki kandungan protein sebesar 221,36 kkal sedangkan cookies dengan resep asli hanya memiliki kandungan gizi pada protein sebesar 118,56 kkal sehingga terjadi peningkatan gizi sebesar 102,80 kkal. Harga jual cookies ikan pari per kemasan dengan berat 125 gr adalah Rp 16.350.

Pembuatan nugget kerang kupang (corbula faba) dengan penambahan wortel dan jagung manis / Alfian Hamdan Taufik

 

Taufik Hamdan, Alfian. 2013. Pembuatan Nugget Kerang Kupang (corbula faba) Dengan Penambahan Wortel dan Jagung Manis. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si. , (II) Ir. Issutarti, M.P. Kata Kunci: Nugget, Kerang Kupang, Wortel, Jagung Manis Nugget adalah suatu bentuk produk olahan daging yang terbuat dari daging giling yang dicetak dalam bentuk potongan empat persegi dan dilapisi dengan tepung berbumbu. Nugget merupakan makanan beku siap saji yang banyak digemari oleh masyarakat luas. Produk beku siap saji ini hanya memerlukan waktu penggorengan selama 1 menit pada suhu 150° C. Ketika digoreng, nugget beku setengah matang akan berubah warna menjadi kekuning-kuningan dan mempunyai rasa gurih. Tekstur nugget tergantung dari bahan asalnya. Produk nugget, umumnya dibuat dari daging sapi, ayam dan ikan. Dalam uji coba pembuatan nugget ini yang semula dari daging ayam dicoba digantikan dengan kerang kupang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formula yang tepat dalam pembuatan nugget kerang kupang dengan penambahan wortel dan jagung manis dan mengetahui tingkat kesukaan terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur terhadap nugget kerang kupang. Formula resep uji coba untuk pembuatan nugget kerang kupang dengan penambahan wortel dan jagung manis sebanyak 3 kali, dengan penambahan terigu sebanyak 10% atau 50g dan penambahan adanya 1 butir telur. Hasil penelitian menunjukkan formula yang tepat merupakan formula yang ketiga yang digunakan sebagai pembuatan nugget kerang kupang. Metode yang digunakan dalam perhitungan uji kesukaan yaitu menggunakan metode dengan format deskriptif dan uji kesukaan menggunakan perhitungan persentase. Hasil uji kesukaan terhadap warna nugget kerang kupang yaitu sebanyak 35% dengan katerogi agak suka. Hasil uji kesukaan terhadap rasa nugget kerang kupang sebanyak 35% dengan kategori agak suka, sedangkan untuk hasil uji kesukaan terhadap tekstur nugget kerang kupang sebanyak 50% menyatakan dengan kategori agak suka.

Peningkatan kinerja senam lantai sikap kayang lanjutan backwalkover melalui metode bermain pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo / Andri Ryan Zasmita

 

Zasmita, Andri Ryan. 2013. Peningkatan Pembelajaran Senam Lantai Sikap Kayang Lanjutan Backwalkover Melalui Metode Bermain Pada Siswa Kelas Xi Ips 1 SMA Negeri 3 Probolinggo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Purnami, M.Pd, (II) Drs.Tatok Sugiarto S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Meningkatkan, Keterampilan Senam Lantai Sikap Kayang, Metode Bermain Senam lantai sikap kayang adalah suatu bentuk sikap badan “terlentang” yang membusur, bertumpu pada kedua tangan dan kedua kaki dengan siku-siku dan lutut lurus. Sikap kayang adalah salah satu nomor dari senam lantai yang diajarkan di sekolah menengah atas. Pada siswa kelasXI IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo tahun pelajaran 2013/ 2014 sebagian besar kemampuan melakukan sikap kayang masih kurang atau bahkan tidak bisa sama sekali. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan ketrampilan senam lantai sikap kayang siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 3 Probolinggo belum optimal pada saat sikap awal, gerakan kayang, dan sikap akhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki pembelajaran senam lantai sikap kayang siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 3 Probolinggo yang belum optimal dengan menggunakan metode bermain. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 3 Probolinggo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dan tes. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa melalui pendekatan bermain mampu meningkatkan keterampilan siswa dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan siswa dalam melakukan senam lantai sikap kayang setelah diberikan tindakan dari siklus1 dan siklus 2 hasilnya, pada sikap awal dari 81,82% menjadi 100% pada siklus 1 dan menjadi 100% pada siklus 2 dilakukan siswa dengan kategori baik dan benar. Pada gerakan kayang, dari 18,18% menjadi 63,64% pada siklus 1 dan menjadi 90,91% pada siklus 2 dilakukan siswa dengan kategori baik dan benar. Pada sikap akhir dari 9,09% menjadi 22,73% pada siklus 1 dan menjadi 86,36% pada siklus 2 dilakukan siswa dengan kategori baik dan benar. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah dengan pemberian metode bermain dapat meningkatkan kinerja senam lantai siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 3 Probolinggo.

Pengembangan buku ajar tentang standar kompetensi mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk kelas X semester gasal di SMA Negeri Kalisat / Angga Wahyu Saputra

 

Saputra, Angga Wahyu. 2011. Pengembangan Buku Ajar Tentang Standar Kompetensi “Mempraktikkan Berbagai Keterampilan Permainan Olahraga Dalam Bentuk Sederhana dan Nilai-Nilai Yang Terkandung Di Dalamnya”, Untuk Kelas X Semester Gasal Di Sma Negeri Kalisat. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Heru Widijoto, M. S. (2) Drs. Mu’arifin, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Buku Ajar, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Buku Ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan tentang standar kompetensi “Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya” merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan baik siswa maupun guru kelas X di SMA Negeri Kalisat untuk membantu proses pembelajaran. Buku ajar ini dikembangkan sesuai dengan Silabus yang terdapat pada SMA Negeri Kalisat. Sebelumnya guru pendidikan jasmani, kesehatan dan olahraga kelas X SMA Negeri Kalisat belum pernah mengajarkan model permainan pada pembelajaran permainan dalam olahraga yang dikemas secara sederhana. Sumber belajar yang sesuai dengan Silabus sangat dibutuhkan bagi SMA Negeri Kalisat karena diharapkan dari sumber belajar tersebut siswa terbantu dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan buku ajar tentang standar kompetensi “Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya”, dan sesuai dengan Silabus di SMA Negeri Kalisat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan angket yang ditujukan kepada 1 orang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan SMA Negeri Kalisat dan 7 orang perwakilan dari kelas X 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan 4 ahli isi materi buku ajar, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan tentang standar kompetensi “Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya” untuk kelas X semester gasal. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 7 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 35 orang siswa kelas X SMA Negeri Kalisat buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dinyatakan dapat digunakan. Produk pengembangan berupa buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani dalam memberikan materi pendidikan jasmani.

Upaya meningkatkan efektifitas pembelajaran passing bawah bolavoli (modifikasi) menggunakan metode bermain pada siswa kelas IV SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar / Agung Permana Putra

 

Putra, Agung Permana. 2013. Upaya Peningkatan Efektifitas Pembelajaran Passing Bawah Bolavoli (Modifikasi) Menggunakan Metode Bermain pada Siswa Kelas IV SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Purnami, M.Pd, (II) dr. Moch. Yunus, M. Kes. Kata Kunci: Peningkatan, Efektifitas, Passing Bawah Bolavoli, Modifikasi, Metode Bermain Bolavoli merupakan salah satu materi pembelajaran Penjasorkes yang diajarkan di SD kelas IV. Berdasarkan KD kelas IV semester I yaitu “mempraktikkan gerak dasar permainan bola besar sederhana dengan peraturan yang dimodifikasi, serta nilai kerja sama regu, sportivitas, dan kejujuran”. Teknik passing bawah paling sering digunakan tetapi teknik ini masih sulit dilakukan dan dikuasai oleh siswa. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran Penjasorkes siswa kelas IV SDN Selopuro 05, peneliti menarik kesimpulan bahwa dalam melakukan passing bawah pada permainan bolavoli siswa mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan metode pembelajaran masih belum diaplikasikan secara baik sehingga siswa lebih banyak mendapatkan materi pelajaran yang bersifat teori daripada praktek. Oleh karena itu perlu adanya metode untuk memberikan perubahan hasil belajar siswa yaitu dengan penerapan metode bermain dan bolavoli (modifikasi). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran passing bawah bolavoli (modifikasi) menggunakan metode bermain pada siswa kelas IV SDN Selopuro 05. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar dengan subjek penelitian 39 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus, yang masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Tahapan penelitian setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan passing bawah bolavoli (modifikasi) menggunakan metode bermain pada siswa kelas IV SDN Selopuro 05 mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan. Dari pembelajaran yang telah dilaksanakan, diperoleh data persentase aspek psikomotor. Aspek psikomotor meliputi sikap badan, sikap kaki, sikap tangan, dan perkenaan bola. Hasil belajar siswa pada siklus 1 yaitu pada pertemuan ke- 1 menunjukkan persentase aspek psikomotor, 49,57% benar pada teknik sikap badan, 52,14% benar pada teknik sikap kaki, 55,56% benar pada teknik sikap tangan, dan 47,86% benar pada teknik perkenaan bola. Pada pertemuan ke- 2 menunjukkan persentase aspek psikomotor, 52,99% benar pada teknik sikap badan, 54,70% benar pada teknik sikap kaki, 58,12% benar pada teknik sikap tangan, dan 50,43% benar pada teknik perkenaan bola. Pada pertemuan ke-3 menunjukkan persentase aspek psikomotor, 56,41% benar pada teknik sikap badan, 61,54% benar pada teknik sikap kaki, 64,96% benar pada teknik sikap tangan, dan 52,99% benar pada teknik perkenaan bola pada saat melakukan permainan passing bawah bolavoli. Hasil belajar siswa pada siklus 2 yaitu pada pertemuan ke- 1 menunjukkan persentase aspek psikomotor, 71,79% benar pada teknik sikap badan, 73,50% benar pada teknik sikap kaki, 76,07% benar pada teknik sikap tangan, dan 63,38% benar pada teknik perkenaan bola. Pada pertemuan ke- 2 menunjukkan persentase aspek psikomotor, 76,07% benar pada teknik sikap badan, 78,63% benar pada teknik sikap kaki, 80,34% benar pada teknik sikap tangan, dan 70,09% benar pada teknik perkenaan bola. Pada pertemuan ke-3 menunjukkan persentase aspek psikomotor, 80,34% benar pada teknik sikap badan, 82,05 % benar pada teknik sikap kaki, 84,62% benar pada teknik sikap tangan, dan 76,92% benar pada teknik perkenaan bola pada saat melakukan permainan passing bawah bolavoli. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode bermain menggunakan bolavoli (modifikasi) dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran passing bawah bolavoli pada siswa kelas IV SDN Selopuro 05 Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar.

Peningkatan kinerja passing bawah bolavoli menggunakan metode bermain pada atlit club Bravo Putri Malang / Akbar Prasetyo

 

Prasetyo, Akbar.2013.Peningkatan Kinerja Pasing Bawah Bolavoli pada atlit club Bravo Putri Malang dengan menggunakan metode bermain Skripsi.Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Prof.Dr.M.E.Winarno, M.Pd (2) I Nengah Sudjana,M, Pd. Kata Kunci: Peningkatan Kinerja Pasing Bawah Bolavoli, Metode bermain Passing adalah teknik dasar yang harus dimiliki setiap pemain bolavoli dengan upaya mengoperkan bola yang dimainkan sesama teman yang di lapangan sendiri. Maksudnya dengan melakukan passing akan dengan mudah seorang pemain mengarahkan bola semaunya ke arah yang dikehendakinya pada teman seregunya yang nantinya bola tersebut akan dijadikan sebagai serangan terhadap regu lawan.Untuk melakukan pembelajaran passing bawah diperlukan tahapan-tahapan tertentu. Berdasarkan hasil observasi awal, dari 35 atlit hampir semua atlit belum bisa melakukan passing bawah. pada passing bawah 22 (62,8%) kemudian yang salah, pada passing atas 20 (57,1%) atlit yang salah, pada service 19 (54,2%) atlit yang salah, pada block 14 (40%) atlit yang salah, pada smash 13 (37,1%) atlit yang salah. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan Peningkatan Keterampilan Pasing Bawah Bolavoli pada atlit club Bravo Putri Malang dengan menggunakan metode bermain. Sesuai dengan tujuan dan rumusan masalah maka desain penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas. Setelah dilakukan perlakuan melalui 2 siklus massing-masing 3 kali pertemuan setiap siklusnya, dari 35 atlit hampir semua atlit bisa melakukan passing bawah. Kebenaranan setelah dilakukan tindakan hampir mencapai nilai sempurna yaitu, posisi kaki sebanyak 24 atlit (86,1%) sudah benar, posisi lengan 33 atlit (95) sudah benar, posisi badan 32 atlit (90,3%) sudah benar, perkenaan bola 29 (83%) sudah benar, arah bola 31 atlit (87,6%) sudah benar Setelah melaksanakan pembelajaran pada siklus 2, peneliti dan pelatih melakukan refleksi melalui diskusi pada tanggal 21 Oktoberber 2013 di club Bravo Putri Gor Ken Arok Malang. Secara umum hasil penilaian ketrampilan pada siklus 1 mengalami peningkatan pada siklus 2. Berdasarkan hasil yang diperoleh terjadi peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli pada atlit club Bravo Putri Malang. Hal itu bisa dilihat dari 35 atlit yang tidak memenuhi nilai standart ketuntasan minimal, mengalami peningkatan karena pada siklus 2 atlit yang tidak memenuhi standart ketuntasan minimal hanya berjumlah 5 atlit. Dari hasil data mengenai tingkat keberhasilan atlit dalam melakukan keterampilan passing bawah bolavoli pada club Bravo Putri Malang yang telah diperoleh dari tindakan pada siklus 2, Maka dapat disimpulkan tujuan dari penelitian ini telah tercapai dan tidak perlu diadakan tindak lanjut pada siklus berikutnya.

Upaya peningkatan minat belajar guling depan (forward roll) dan guling belakang (backward roll) menggunakan model permainan bagi siswa kelas X Jurusan Keperawatan (KPR) 1 SMK Negeri 2 Malang / Yuni Fitriyah N.

 

Ningsih, Yuni Fitriyah. 2013. Upaya Peningkatan Minat Belajar Guling Depan (Forward Roll) dan Guling Belakang (Backward Roll) Menggunakan Model Permainan Bagi Siswa Kelas X Jurusan KPR (Keperawatan) 1 SMK Negeri 2 Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Asim, M.Pd, (II) Drs. Agus Tomi, M.Pd. Kata Kunci: Peningkatan, Minat Belajar Senam Lantai Guling Depan dan Belakang, Model Permainan. Senam lantai guling depan adalah gerakan berguling yang halus dengan menggunakan tubuh yang berbeda untuk kontak lain dengan lantai, dimulai dari kedua kaki, kedua lengan, ke tengkuk, lalu ke bahu, ke punggung, pinggang dan pantat, sebelum akhirnya ke kaki kembali. Sedangkan guling belakang adalah suatu gerakan menggulingkan badan ke belakang dengan posisi tubuh menghadap ke belakang dengan menggunakan matras. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa minat belajar senam lantai guling depan dan belakang siswa kelas X Keperawatan 1 SMK Negeri 2 Malang, masih kurang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap pembelajaran senam lantai guling depan dan belakang siswa kelas X Keperawatan 1 SMK Negeri 2 Malang yang Masih Kurang dengan menggunakan model permainan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Keperawatan 1 SMK Negeri 2 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dan tes. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa melalui model permainan guling depan dan guling belakang mampu meningkatkan minat belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2. Hal ini bisa dilihat dari persentase minat belajar siswa pada pembelajaran senam lantai guling depan dan belakang setelah diberikan tindakan dari siklus1 dan siklus 2 hasilnya Sedangkan hasil observasi awal jumlah persentase minat belajar siswa dalam senam lantai guling depan dan belakang yaitu (1) Pada sub variabel keinginan jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang 0% sangat tinggi, 0% tinggi, 21,8% cukup tinggi, dan 78,4% kurang tinggi. (2) Pada sub variabel perasaan senang/rasa suka terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi, (0%) tinggi, 59% cukup tinggi, dan 41% kurang tinggi. (3) Pada sub variabel ketertarikan jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi, 0% tinggi, 43% cukup tinggi, dan 57% kurang tinggi. (4) Pada sub variabel perilaku jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi. Mengalami peningkatan pada akhir siklus 1: (1) Pada sub variabel keinginan jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi, 51,4% tinggi, cukup tinggi 48,6% cukup tinggi, dan 0% kurang tinggi. (2) pada sub variabel perasaan senang/rasa suka terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi, 59% tinggi, 41% cukup tinggi, dan 0% kurang tinggi. (3) Pada sub variabel ketertarikan jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi, 81% tinggi, 19% cukup tinggi, dan 0% siswa kurang tinggi. (4) Pada sub variabel perilaku jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 0% sangat tinggi, 65% tinggi, 35% cukup tinggi, dan 0% kurang tinggi.Dan pada akhir siklus 2 mengalami peningkatan: (1) Pada sub variabel keinginan jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 95% sangat tinggi, 5% tinggi, cukup tinggi 0% cukup tinggi, dan 0% kurang tinggi. (2) pada sub variabel perasaan senang/rasa suka terhadap guling depan dan belakang sebanyak 100% sangat tinggi, 0% tinggi, 0% cukup tinggi, dan 0% kurang tinggi. (3) Pada sub variabel ketertarikan jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 95% sangat tinggi, 5% tinggi, 0% cukup tinggi, dan 0% siswa kurang tinggi. (4) Pada sub variabel perilaku jumlah minat siswa terhadap guling depan dan belakang sebanyak 100% sangat tinggi, 0% tinggi, 0% cukup tinggi, dan 0% kurang tinggi. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah dengan model permainan dapat memperbaiki pembelajaran senam lantai yang belum optimal dan dapat meningkatkan minat belajar senam lantai guling depan dan belakang siswa kelas X Keperawatan 1 SMK Negeri 2 Malang.

Pengembangan materi pembelajaran renang gaya crawl dengan menggunakan multimedia interaktif untuk siswa kelas X SMA Negeri 2 Batu / Galuh Hadi Wijaya

 

Wijaya, Galuh Hadi. 2013. Pengembangan Materi Pembelajaran Renang Gaya Crawl dengan Menggunakan Multimedia Interaktif untuk Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Batu. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mulyani Surendra, M.S., (II) Dra. Sulistyorini, M. Pd. Kata Kunci: Pengembangan, pembelajaran renang gaya crawl, multimedia, pembelajaran interaktif. Materi renang sekarang sudah menjadi materi wajib pada mata pelajaran Penjasorkes di sekolah terutama di tingkat Sekolah Menengah Atas. Mengingat hal tersebut diharapkan guru dapat menguasai materi renang gaya crawl baik dari segi teori maupun praktik sehingga nantinya dapat menyajikan pembelajaran yang lebih baik, tepat dan bervariatif bagi siswa. Semakin variatif media pembelajaran yang digunakan guru maka semakin banyak peran siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang dapat diterapkan adalah media pembelajaran yang berbasis komputer. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan materi pembelajaran renang gaya crawl dengan menggunakan multimedia interaktif untuk siswa kelas X SMA Negeri 2 Batu, sehingga siswa dapat mempelajari materi renang gaya crawl dengan mudah. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan kemudian untuk rancangan penelitian peneliti mengacu pada model pengembangan (research and development) Borg and Gall. Dari sepuluh langkah yang ada oleh peneliti dimodifikasi sesuai kebutuhan. Langkah-langkah yang diambil (1) Analisis kebutuhan dan observasi lapangan, (2) Pembuatan rancangan produk, (3) Produk awal yang selanjutnya dievaluasi oleh ahli pembelajaran, ahli media, pembimbing sebagai justifikator aspek renang dan melakukan revisi produk, (4) Uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 8 subjek, (5) Revisi produk awal, (6) Uji coba kelompok besar dengan menggunakan 40 subjek dan melakukan revisi untuk penyempurnaan produk, (7) Produk akhir berupa multimedia interaktif yang dikemas dalam bentuk compact disk (CD). Hasil pengembangan multimedia interaktif renang gaya crawl untuk siswa kelas X SMA Negeri 2 Batu diperoleh data sebagai berikut: (1) uji ahli pembelajaran (100%), (2) ahli media (92%) dan (3) dosen pembimbing pada aspek renang (100%), (4) uji coba kelompok kecil (88,23%), dan (5) uji coba kelompok besar (79,64%), disimpulkan pembelajaran renang gaya crawl dengan menggunakan multimedia interaktif untuk siswa kelas X SMA Negeri 2 Batu ini bermanfaat, menarik dan sesuai sebagai media pembelajaran pada materi renang gaya crawl. Sebagai upaya penyebarluasan produk yang telah dikembangkan ke sasaran yang lebih luas sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Pengembangan model-model permainan bolavoli untuk siswa kelas V SD Negeri Wotgalih 01 Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang / Muhammad Nurudin

 

Nurudin, Muhammad. 2013. Pengembangan Model-model Permainan Bolavoli Untuk Kelas V SD Wotgalih 01 Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Saichudin, M.Kes, (2) Dr. Roesdiyanto, M.Kes. Kata Kunci: Pengembangan, Model-model, Permainan Bolavoli Pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SD Negeri Wotgalih 01 Lumajang, khususnya materi bolavoli kurang maksimal dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan oleh minat siswa yang kurang dalam menerima mata pelajaran bolavoli yang diberikan oleh guru. Pembelajaran yang dilakukan di SD Negeri Wotgalih 01 yaitu guru hanya memberikan contoh, kemudian siswa memperaktekkannya. Pada penelitian awal peneliti melakukan observasi dan penyebaran angket kepada beberapa guru pendidikan jasmani dikabupaten lumajang, peneliti juga melakukan analisis kebutuhan dalam bentuk angket kepada 30 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 13 siswa kelas V SD Negeri Wotgalih yang telah diberikan pada hari Selasa, 01 Oktober 2013.. Pembelajaran dilakukan tanpa adanya variasi latian ataupun permainan, sehingga siswa memerlukan adanya variasi permainan yang menarik sehingga dapat meningkatkan keterampilan dasar bolavoli. Selanjutnya, Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model-model permainan bolavoli untuk siswa Kelas V SD Negeri Wotgalih 01 Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang dengan harapan dapat meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan keterampilan gerak dasar permainan bolavoli. Penelitian yang dilaksanakan di SD Negeri Wotgalih 01 Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang ini termasuk jenis penelitian dan pengembangan (research and development). Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development Borg dan Gall. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif berupa persentase, yang digunakan untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Produk yang dikembangkan adalah model-model permainan bolavoli, di kemas dalam bentuk buku yang berisi 5 model permainan, yang terdiri dari permainan lempar tangkap bola, bola keranjang dalam dua petak, bola umpan, gerak bom passing, dan permainan kejar bola, dengan spesifikasi sebagai berikut, yang pertama mudah, menarik, menyenangkan dan bermanfaat. Dengan adanya pengembangan model-model permainan bolavoli ini, diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar, keaktifan siswa dan meningkatkan keterampilan gerak dasar bolavoli.

Pengaruh metode latihan umpan lempar shuttlecock terhadap peningkatan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi peserta Klub PB Bima Tumpang / Muhammad Faiz

 

Faiz, Muhammad. 2013. Pengaruh Metode Latihan Umpan Lempar Shuttlecock Terhadap Peningkatan Keterampilan Teknik Dasar Pukulan Backhand Lob Overhead Bulutangkis Bagi Peserta Klub PB Bima Tumpang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FIK Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Setyo Budiwanto, M.Kes., (II) I Nengah Sudjana, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: backhand lob overhead, olahraga bulutangkis, Tumpang. Untuk terampil dalam permainan bulutangkis seorang atlet harus menguasai teknik-teknik dasar dalam bermain bulutangkis. Keterampilan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis adalah yang paling sulit dilakukan, karena jenis pukulan ini dilakukan dari garis belakang ke garis belakang daerah lawan dengan cara melambungkan shuttlecock setinggi-tingginya dan diarahkan sejauh mungkin ke bagian belakang lapangan lawan. Untuk dapat menguasai teknik dasar atau keterampilan dasar bulutangkis yang baik tidak hanya mengandalkan bakat saja tapi latihan yang teratur dan program latihan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode latihan umpan lempar shuttlecock terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi peserta klub PB Bima Tumpang. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan Pra-eksperimental, subyek penelitian dipilih secara random (R) untuk menjadi kelompok penelitian. Selanjutnya dilakukan pengukuran prates lebih dahulu (O1) sebelum dikenai perlakuan, kemudian diberi perlakuan dengan memberi metode latihan umpan lempar shuttlecock (P). setelah diberi perlakuan, dilakukan pengukuran pascates (O2). Rancangan ini disebut the one group pretest-posttest design. Subyek penelitian ini adalah atlet pemula di PB Bima Tumpang yang berjumlah 30 atlet. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diketahui hasil tes awal (pra tes) dan tes akhir (pasca tes) keterampilan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi peserta klub PB Bima Tumpang diperoleh t hitung sebesar -27,107 dengan probabilitas = 0,000. Tanda negatif t dapat diabaikan dan hanya mempertimbangkan nilai absolutnya. Besarnya derajat kebebasan yang berhubungan dengan nilai t tersebut adalah 29. Maka kriteria hasil uji beda signifikan dengan menolak hipotesis nihil (H0) dan menerima hipotesis penelitian. Hasil uji beda menunjukkan bahwa metode latihan umpan lempar shuttlecock berpengaruh nyata terhadap keterampilan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi peserta klub PB Bima Tumpang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode latihan umpan lempar shuttlecock berpengaruh nyata terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis bagi peserta klub PB Bima Tumpang.Metode latihan umpan lempar shuttlecock perlu ditingkatkan dalam latihan karena dapat meningkatkan keterampilan teknik dasar pukulan backhand lob overhead bulutangkis

Meningkatkan latihan keterampilan pukulan dropshoot forehand dengan menggunakan teknik latihan bervariasi pada atlet bulutangkis PB. Nasional Kepanjen Kab. Malang / Galih Ramadhani

 

Ramadhani, Galih. 2013. Meningkatkan Latihan Keterampilan Pukulan Dropshoot Forehand Dengan Menggunakan Teknik Latihan Bervariasi Pada Atlet Bulutangkis PB Nasional Kepanjen Kab. Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Purnami, M.Pd, (II) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes. Kata Kunci: Meningkatkan, Keterampilan Pukulan Dropshoot Forehand, Teknik Latihan Bervariasi Dalam permainan bulutangkis ada beberapa pukulan dasar yang harus di kuasai oleh atlet salah satunya pukulan dropshoot. Pukulan dropshoot dapat dilakukan dari atas kepala, samping badan. baik dengan backhand atau forehand tergantung dengan arah datangnya shuttlecock. Dalam penelitian, ini difokuskan pada teknik forehand dropshoot. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan dropshoot forehand pada atlet PB Nasional Kepanjen, Kabupaten Malang, belum optimal pada saat sikap tangan, posisi raket, perkenaan raket dengan shuttlecock, dan sikap akhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki pelatihan bulutangkis yang belum optimal yang diharapkan bisa meningkatkan keterampilan pukulan dropshoot forehand pada atlet PB Nasional Kepanjen, Kabupaten Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah atlet PB Nasional Kepanjen, Kabupaten Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), tes dan analisis data. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa melalui teknik latihan bervariasi mampu meningkatkan keterampilan atlet dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan atlet dalam melakukan keterampilan dropshoot forehand setelah diberikan tindakan siklus 1 dan siklus 2 hasilnya, dari 8 (80%) atlet menjadi 10 (100%) atlet yang bisa melakukan gerakan sikap badan dengan benar. Dari 3 (30%) atlet menjadi 10 (100%) atlet yang bisa melakukan gerakan sikap tangan dengan benar. Dari 3 (30%) atlet menjadi 10 (100%) atlet yang bisa melakukan gerakan pada posisi raket dengan benar. Dari 2 (20%) atlet menjadi 8 (80%) yang bisa melakukan gerakan pada perkenaan shuttlecock dengan raket dengan benar. Dari 2 (20%) atlet menjadi 9 (90%) yang bisa melakukan gerakan pada sikap akhir dengan benar. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa melalui pelatihan menggunakan teknik latihan bervariasi dapat meningkatkan keterampilan pukulan dropshoot forehand pada atlet PB Nasional Kepanjen, Kabupaten Malang.

Pengaruh latihan shooting dengan sasaran cones terhadap ketepatan tendangan penalty pada pemain SSB Merah Putih Malang / Moch. Abdul Wahid

 

Wahid, Moch Abdul. 2013. Pengaruh Latihan Shooting Dengan Sasaran Cones Terhadap Ketepatan Tendangan Penalty Pada Pemain SSB Merah Putih Malang. Skripsi. Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mahmuud Yunus, M.Kes, (II) Dra. Sri Purnami, M.Pd. Kata Kunci: latihan shooting dengan sasaran cones, ketepatan tendangan penalty, peningkatan ketepatan tendangan penalty. Dari hasil pengamatan peneliti yang dilakukan di SSB Merah Putih Malang, masih sering ditemui pemain-pemain mengalami kesulitan dalam melakukan tendangan penalty dengan baik. Hal ini disebabkan karena kurangnya latihan shooting yang diberikan sehingga menyebabkan rendahnya tingkat kemampuan shooting khususnya tendangan penalty. Padahal untuk mencapai keberhasilan dalam suatu pertandingan, tim dituntut untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun tidak terkecuali tendangan penalty. Oleh sebab itu sebuah tim dituntut memiliki pemain yang mampu melakukan shooting dengan baik. Untuk itu akan dilakukan penelitian yang berjudul “ Pengaruh Latihan Shooting Dengan Sasaran Cones Terhadap Ketepatan Tendangan Penalty Pada Pemain SSB Merah Putih Malang”. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian latihan shooting dengan sasaran cones terhadap ketepatan tendangan penalty pada pemain SSB Merah Putih Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu one-group pretest-posttest design dengan menggunakan langkah-langkah 1) tes awal yaitu tes ketepatan tendangan penalty (pre test) 2) pemberian perlakuan berupa latihan shooting dengan sasaran cones 3) tes akhir yaitu tes ketepatan tendangan penalty (post test). Subyek dalam penelitian ini adalah pemain SSB Merah Putih Malang sebanyak 15 pemain. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Hasil uji-t amatan ulang adalah sebesar 4,703 (2) Latihan shooting dengan sasaran cones berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan tendangan penalty karena terdapat perbedaan mean dimana tes akhir senilai 7,93 > tes awal senilai 5,20. Saran dari hasil penelitian ini adalah: (1) Penelitian ini hedaknya dapat digunakan oleh pelatih, karena memberikan manfaat sebagi bahan rujukan dalam melatih. (2) Diharapkan bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Keolahragaan Program Studi Ilmu Keolahragaan hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini tetapi dengan subyek yang berbeda.

Pengaruh pemberian manipulasi masase pada lengan, tangan, dan jari sebagai tambahan pemanasan terhadap kekuatan lengan pada peserta unit kegiatan mahasiswa olahraga se-Universitas Negeri Malang / Mohammad Riza Jauharuddin Noor

 

Noor, M. Riza Jauharuddin. 2013. Pengaruh Pemberian Manipulasi Masase pada Lengan, Tangan, dan Jari sebagai Tambahan Pemanasan terhadap Kekuatan Lengan pada Peserta Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga Se-Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mulyani Surendra, M.S dan (II) dr. Rias Gesang K., M.Kes. Kata Kunci: masase, pemanasan, kekuatan lengan. Kekuatan mempunyai peranan yang sangat penting pada saat aktivitas sehari-hari maupun aktivitas olahraga, baik itu aktivitas ringan maupun aktivitas berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian manipulasi masase pada lengan, tangan, dan jari sebagai tambahan pemanasan terhadap kekuatan lengan pada 35 peserta Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga se-Universitas Negeri Malang dengan rancangan penelitian eksperimen semu yang berpola “the one group pre-test post-test design”. Sebelum pre-test testee diberi pemanasan konvensional saja selama 3 menit yaitu berupa stretching. Sedangkan sebelum post-test testee diberi manipulasi masase pada lengan, tangan, dan jari selama 13 menit sebagai tambahan pemanasan sebelum pemanasan konvensional berupa stretching. Tes kekuatan lengan dilakukan dengan menggunakan alat pull and push dynamometer. Berdasarkan hasil penghitungan perbedaan rata-rata tes kekuatan lengan pada peserta UKM Olahraga se-Universitas Negeri Malang antara pre-test dan post-test hasil uji-t menunjukkan t-hitung 31,308 sedangkan probabilitas (sig 2-tailed) p = 0,000 dengan taraf signifikansi (p<α = 0,05), yang berarti ada perbedaan yang signifikan. Dalam hai ini manipulasi masase sebagai tambahan pemanasan dapat meningkatkan kekuatan otot mereka, karena manipulasi masase dapat merangsang otot, memperlancar aliran darah, dan menyiapkan kondisi fisik olahragawan sebelum bertanding. Dari hasil penelitian di atas, maka diperoleh kesimpulan bahwa pemberian manipulasi masase pada lengan, tangan, dan jari sebagai tambahan pemanasan berpengaruh meningkatkan kekuatan lengan pada peserta Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga se-Universitas Negeri Malang dibandingkan dengan jika hanya diberi pemanasan konvensional berupa stretching saja. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang lebih baik yang melibatkan lebih banyak subjek dengan kelompok kontrol, agar hasil penelitian bisa lebih baik dan dapat digeneralisasikan.

Pengaruh latihan pull-up terhadap peningkatan jarak lemparan ke dalam pada permainan sepakbola di PS Sinar Mas Putra Turen / Fery Prasetyawan

 

Prasetyawan, Fery. 2013. Pengaruh Latihan Pull-Up Terhadap Peningkatan Jarak Lemparan Ke Dalam Pada Permainan Sepakbola di PS Sinar Mas Putra Turen. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan. Pembimbing: (I) Drs. Mahmud Yunus, M.Kes, (II) Dra. Sri Purnami, M.Pd. Kata Kunci: Sepakbola. Latihan Pull-Up, Lemparan ke Dalam. Dalam permainan sepakbola ada banyak cara untuk menciptakan gol. Mulai dari situasi bola mati, seperti dari tendangan bebas, tendangan penjuru, pinalti. Throw-in digunakan untuk memulai pertandingan setelah bola keluar melewati garis samping lapangan, namun throw-in dapat menjadi senjata yang ampuh dalam rencana serangan sebuah tim bila mampu memaksimalkannya. Otot punggung sebagai salah satu faktor untuk membuat lemparan ke dalam pemain sepakbola bisa jauh maka perlu diberi latihan. Latihan tersebut berupa latihan pull-up. Lemparan ke dalam diharapkan bisa mencapai jarak yang jauh sampai di depan gawang atau daerah pinalti, sehingga memudahkan pemain penyerang untuk mencetak gol tanpa bisa diantisipasi pemain bertahan lawan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya pengaruh latihan pull-up terhadap peningkatan jarak lemparan ke dalam pada permainan sepakbola di PS Sinar Mas Putra Turen. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian eksperimental semu dengan menggunakan rancangan the one group pretest-posttest design. Rancangan penelitian eksperimental semu digunakan untuk mengungkap hubungan sebab-akibat melibatkan satu kelompok eksperimen. Penelitian ini menggunakan subyek penelitian sebesar 16 pemain senior PS Sinar Mas Putra Turen. Tes dilakuakan 2 tahap untuk mengetahui pengaruh latihan pull-up terhadap peningkatan jarak lemparan ke dalam, testi melakukan tes awal kemudian diberikan program latihan pull-up selama delapan minggu, lalu dilakukan tes akhir. Berdasarkam hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai t untuk tes awal dan tes akhir lemparan ke dalam terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai t= 2,746 dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,04. Pada derajat kebebasan (df) = 5 dengan nilai t hitung sebesar 2,746 > t tabel sebesar 2,131 (5%) dan nilai probabilitas (p) sebesar 0,04 kurang dari taraf signifikansi (α) = 0,05. Hasil dari penelitian ini telah dapat membuktikan bahwa dengan latihan pull-up selama delapan minggu akan dapat meningkatkan jarak lemparan ke dalam secara signifikan. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang signifikan latihan pull-up terhadap peningkatan jarak lemparan ke dalam pada permainan sepakbola di PS Sinar Mas Putra Turen. Dan dari hasil penelitian ini penulis menyarankan untuk menggunakan latihan ini sebagai salah satu cara meningkatkan kemampuan melakukan lemparan ke dalam. Diharapkan pihak klub dapat menyediakan sarana dan prasarana penunjang latihan pull-up ini, sehingga atlet dapat melakukan latihan dengan baik.

Translation as a skill and its place in The English Department of IKIP / Murdibjono

 

Pengembangan model-model latihan fisik untuk wasit futsal PSSI Kota Malang / Eko Purnomo

 

Purnomo, Eko. 2013. Pengembangan Model-model Latihan Fisik untuk Wasit Futsal PSSI Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mulyani Surendra, M.S (II) I Nengah Sudjana, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: latihan fisik, wasit futsal Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti dengan wasit futsal PSSI Kota Malang pada tanggal 29 September 2013, latihan fisik yang dilakukan belum efektif dan tidak sesuai dengan yang diharapkan, serta belum adanya panduan yang jelas dalam melaksanakan program latihan fisik. Pada penelitian awal melalui penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) kepada 25 wasit futsal PSSI Kota Malang, dengan hasil sebagai berikut: wasit futsal PSSI Kota Malang membutuhkan panduan dalam melaksanakan latihan dan dikemas dalam bentuk buku saku. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan model-model latihan fisik. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat menjadi solusi dalam latihan, agar wasit futsal PSSI Kota Malang lebih antusias dan bersemangat dalam melaksanakan latihan fisik. Metode penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development dari Borg dan Gall. Sedangkan analisis yang digunakan yaitu kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Hasil pengembangan model-model latihan fisik untuk wasit futsal PSSI Kota Malang diperoleh data sebagai berikut: (1) justifikasi ahli latihan fisik sebesar 92,92% (baik sekali), (2) justifikasi ahli perwasitan futsal sebesar 94,17% (baik sekali), (3) justifikasi ahli media sebesar 75,7% (baik), (4) uji coba tahap I (kelompok kecil) sebesar 88,78% (baik sekali), (5) uji coba tahap II (kelompok besar) sebesar 89,97% (baik sekali). Hasil pengembangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model-model latihan fisik untuk wasit futsal PSSI Kota Malang menarik untuk dilakukan, aman untuk dilakukan, mudah untuk dilakukan, tepat untuk dilakukan, serta bermanfaat untuk wasit futsal PSSI Kota Malang. Produk yang dikembangkan mempunyai kemenarikan dalam produk latihan karena model latihan yang dibuat berbentuk permainan, baik permainan beregu/kelompok atau permaian individu dengan media-media dan sistem kompetisi. Permainan aman dilakukan karena permainan berkonsep setiap regu mempunyai lintasan sendiri-sendiri dan media mencukupi. Permainan mudah untuk dilakukan dengan konsep langkah-langkah yang mudah dipahami. Permainan tepat untuk wasit futsal PSSI Kota Malang karena diadaptasikan dengan ciri-ciri latihan fisik pada umumnya dan latihan wasit futsal khususnya. Kemanfaatan permainan sangat dominan karena untuk mempermudah wasit dalam melaksanakan latihan fisik.

Pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis moodle pada mata kuliah teknologi konstruksi I di Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan / Fazlurrahman

 

Haryadi, Fazlurrahman Muji. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran e-learning berbasis Moodle pada Mata Kuliah Teknologi Konstruksi I Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Imam Alfianto, S. T., M.T., (II) Dr. H. A. Dardiri, M.Pd. Kata Kunci: media pembelajaran, e-learning, teknologi konstruksi I Teknologi Konstruksi I merupakan matakuliah wajib di program studi S-1 Pendidikan Teknik Bangunan, tujuan dari dilaksanakannya matakuliah ini adalah bagaimana mahasiswa mengetahui dan dapat menguasai teknologi konstruksi pelaksanaan bangunan pada pekerjaan sub-struktur yang mencakup teknologi peralatan konstruksi dan perkembangannya yang relevan dengan bidang pelaksanaan struktur bangunan bawah, dari hasil observasi yang dilakukan masih menggunakan metode ceramah dan beberapa praktek lapangan dengan prosentase 75 % dari 16 kali pertemuan. Berangkat dari permasalahan di atas, dicoba atasi dengan menyajikan media pembelajaran online/e-learning. Bertujuan untuk mempermudah penyampaian materi dan kedalaman materi. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan media pada mata kuliah teknologi konstruksi I ini adalah model Reiser dan Mollenda dengan desain pembelajaran berdasarkan model (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate) atau yang disingkat ADDIE adapun langkah pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) Analisys (2) Design (3) Development, (4) Implementation, dan (5) Evaluation. Materi dalam media yang dikembangkan ini sesuai dengan Satuan Acuan Perkuliahan (SAP) 2000 meliputi: (1) Site Investigation (2) Teknologi Konstruksi Drainase (3) Teknologi Konstruksi Turap (4) Teknologi Pondasi Bangunan (5) Teknologi Konstruksi Turap, dan (6) Bangunan Basemen. Validasi untuk pengembangan ini melibatkan 2 orang validator yang terdiri dari 1 orang dosen pengampu mata kuliah teknologi konstruksi I sebagai ahli materi dan 1 orang dosen sebagai ahli media. Subyek sasaran produk adalah 16 orang mahasiswa PTB UM yang bertindak sebagai responden terhadap media pembelajaran yang dikembangkan. Adapun hasil dari validasi yang dilakukan oleh ahli materi didapati presentase 82,6 %, sedangkan hasil validasi oleh ahli media didapati presentase 91%. Dari hasil uji coba terbatas yang dilakukan, didapati presentase 79.89 %, hasil prosentase validasi diatas tergolong kualifikasi baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran e-learning berbasi moodle ini layak digunkan dalam pembelajaran matakulian teknologi konsttruksi I di Program Stusi PTB UM.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |