Penerapan pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement divisions (stad) pada materi menghitung luas trapesium dan layang-layang untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V MI Nahdlatul Ulama kabupaten Malang / Muhammad Jufri

 

Kata Kunci: Kooperatif, Student Teams Achievement Divisions(STAD), Prestasi belajar Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan menyiapkan siswa agar memiliki hubungan sosial yang sehat akhir-akhir ini banyak dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif. Salah satunya adalah Kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions(STAD), Sejumlah studi tentang Kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions(STAD), ini telah konsisten menemukan bahwa siswa yang belajar dengan cara ini dapat belajar dan mengedapankan materi lebih banyak dari pada siswa yang membuat ringkasannya sendiri atau mereka yang hanya sekedar membaca materi pelajaran itu. Tujuan dari penelitian ini tidak lain untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V MI Nahdlatul Ulama' Kademangan Pagelaran Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap- tahap penelitian tindakan berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) pemberian tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi, yang membentuk siklus demi siklus sampai penelitian tuntas, sehingga diperoleh data yang dapat dikumpulkan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini akan dilakukan 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan Prestasi belajar siswa kelas V MI Nahdlatul Ulama' Kademangan Pagelaran Kabupaten Malang. Nilai sebelumnya pada materi yang sama dengan nilai rata-rata 6,00. Setelah diterapkan pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions(STAD), terjadi peningkatan pada prestasi belajar dengan nilai rata-rata 75,39 pada siklus I menjadi 82,76 pada siklus II dan ini sudah berada di atas Standar Kelulusan Sekolah yaitu 70. Terdapat peningkatan pada tingkat ketuntasan siswa dari sebelum tindakan ke siklus I kemudian ke siklus II adalah dari 55% menjadi 70,77% kemudian menjadi 81,58% siswa yang tuntas belajar. Hasil ini telah memenuhi persentase ketuntasan belajar siswa di MI Nahdlatul Ulama' Kabupaten Malang yang hanya 70%. Diharapkan pada penelitian selanjutnya pembelajaran dapat menggunakan Kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions(STAD), terhadap hasil belajar.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTS Mambaul Ulum Banjarejo / Husnul Fathoni

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, STAD, Hasil belajar Berdasarkan hasil try out yang dilaksanakan oleh KKM MTsN Malang III sebanyak 5 kali pada tahun pelajaran 2011/2012, siswa MTs Mambaul Ulum Banjarejo yang lulus rata-rata 9 % dari 79 siswa. Standar kelulusan minimal yang harus dicapai siswa setiap mata pelajaran adalah 5,50. Oleh karena itu, diperlukan deskripsi penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIII MTs Mambaul Ulum Banjarejo. Instrumen pengumpulan data adalah tes, pedoman wawancara dan lembar observasi. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui beberapa tahapan. Yaitu (a) pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam, mempresensi siswa, dan menyampaikan tujuan pembelajaran tentang gradien dan persamaan garis lurus, memotivasi siswa dengan menampilkan gambar menara pisa dan memberikan beberapa bertanyaan berkaitan dengan menara pisa, dan membahas materi prasyarat serta memberikan soal dengan metode penemuan terbimbing, (b) Siswa dibagi menjadi 6 kelompok berdasarkan nilai pretes. Setiap kelompok diberi LKS sebanyak 2 untuk didiskusikan dengan anggota kelompok. 1 LKS dikumpulkan dan 1 LKS arsip kelompok. (c) postes, siswa mengerjakan postes berdasarkan kemampuannya. dan (d) pemberian penghargaan kepada kelompok berdasarkan poin peningkatan setiap kelompok. Pemberian penghargaan kepada siswa berupa sertifikat yang dibuat oleh guru.

Pengaruh penerapan media pembelajaran berbasis weblog untuk mata diklat sistem suspensi terhadap hasil belajar siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi / Syaiful Anwar

 

Kata Kunci : Media weblog, media gambar, hasil belajar Penggunaan media pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal, (Anurrahman, 2009:140). Materi sistem suspensi adalah salah satu materi yang membutuhkan penalaran yang tinggi dari siswa itu sendiri, karena di dalam materi tersebut terdapat rangkaian dan macam-macam komponen yang sukar dipahami tanpa hadirnya sebuah media yang efektif, dan guru yang harus bisa menentukan media mana yang diniliai efektif. Media weblog adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan pada sebuah halaman web umum. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa kelas XII di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi , antara kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan media gambar dan kelompok siswa yang diajar dengan mengunakan media weblog. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design). Desain dalam penelitian ini menggunakan Posttest – Only Control Group Design. Terdapat 34 subjek kelompok eksperimen (KE) dan 37 subjek kelompok kontrol (KK) yang dipilih secara acak klaster (cluster sample). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata skor hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media gambar yakni 69,59 (tinggi), Rata-rata skor hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media weblog yakni 79.74 (tinggi). Perbedaan antara dua kelompok perlakuan dianalisis menggunakan analisis Independent-Samples T Test, dengan α = 0,05. Dari perhitungan dengan Software SPSS 15.0 for Windows Evaluation Version didapatkan Probabilitas (Sig.) = 0,000. Berarti Ada perbedaan hasil belajar siswa kelas XII di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, antara kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan media gambar dan kelompok siswa yang diajar dengan mengunakan media weblog. Penggunaan media weblog berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil belajar materi sistem suspensi. Media weblog sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi pembelajaran khususnya materi tentang sistem suspensi. Media weblog mampu membantu siswa dalam mengembangkan daya nalar mereka terhadap penjelasan fungsi komponen serta cara kerja sistem suspensi sehingga siswa lebih cepat mencerna maksud dari weblog yang ditampilkan. Saran dari hasil penelitian ini adalah penggunaan weblog sebagai alternatif media pembelajaran. Bagi peneliti lain disarankan menggunakan media ini pada kompetensi yang berbeda dengan jumlah subjek yang lebih besar lagi

Analisis faktor-faktor pembentuk retailling mix pada toko Avia di kota Malang / Rr. Ayu Dewayani

 

Kata Kunci: Retailing Mix (Merchandise, Price, Promosi, Retail Service, Lokasi,dan Atmosphere) Usaha retail atau eceran (retailing) dapat di pahami sebagai keseluruhan aktivitas bisnis yang terkait dengan penjualan dan pemberian pelayanan kepada konsumen untuk penggunaan yang sifatnya individu sebagai pribadi atau keluarga. Agar berhasil dalam pasar retail yang kompetitif, peritel harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan harga yang tepat, pada tempat yang tepat, dan waktu yang tepat. Oleh karena itu, pemahaman peritel terhadap karakteristik target pasar atau konsumen yang akan dilayani merupakan hal yang sangat penting. Toko Avia merupakan salah satu pelaku bisnis retail di Malang. Untuk mampu menghadapi persaingan Toko Avia harus menjalankan retailing mix dengan baik dari waktu ke waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor yang membentuk dan dominan pada retailing mix yang variabelnya terdiri dari merchandise (X1), harga (X2), promosi (X3), layanan (X4), lokasi (X5), atmosfer toko (X6) pada Toko Avia Malang. Penelitian ini menggunakan rumus dari Daniel dan Terrel, diperoleh sampel sebanyak 100 responden. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah accidental sampling penelitian ini menggunakan teknik analisis faktor. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Toko Avia Malang menerapkan strategi harga yang terjangkau untuk meningkatkan volume penjualannya serta memilih beroperasi di lokasi strategis di tepi jalan raya. Sedangkan 6 faktor yang membentuk retailing mix yakni faktor merchandise meliputi menyediakan beragam jenis produk, persediaan barang lengkap tersedia ragamnya, barang yang dijual selalu up to date, dan menyediakan berbagai jenis produk dengan bermacam-macam merek. Faktor promosi meliputi efektifitas pemilihan media promosi di radio, koran efektifitas pemilihan bauran promosi berupa periklanan, pelayanan pelanggan, memberikan potongan harga, dan efektifitas pemilihan media promosi berupa brosur. Faktor layanan meliputi jam buka yang panjang, pelayanan pegawai yang baik, dan fasilitas toko memadai. Faktor atmosphere meliputi label harga dan promo tertulis jelas, barang dagangan dikelompokkan sesuai jenisnya, desain interior dan eksterior yang menarik, dan pengaturan gang dalam toko. Faktor harga meliputi harga lebih murah dibanding toko lain, harga barang sering didiskon, harga sesuai dengan kualitas barang, dan harga sesuai dengan merek barang. Faktor lokasi meliputi letak toko strategis, lalulintas kendaraan, lokasi mudah dijangkau, dan sarana parkir luas dan aman. Dari faktor-faktor tersebut faktor yang paling dominan di Toko Avia tersebut adalah faktor merchandise. Dari hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran untuk Toko Avia yaitu diharapkan Toko Avia Malang dapat selalu memperbanyak jenis dan merek produk secara lengkap dan menyediakan jenis dan merek produk terbaru demi mencapai kepuasan pelanggan dan mampu bersaing dengan peretail lainnya.

Uji antibakteri dan daya inhibisi ekstrak kulit kacang tanah terhadap aktivitas enzim xantin oksidase / Listiyana Candra Dewi

 

Kata Kunci : Antibakteri, inhibisi xantin oksidase, ekstrak kulit kacang tanah. Kulit kacang tanah, baik kulit ari maupun kulit luar, memiliki kandungan senyawa fenolik yang diduga mampu berperan sebagai antibakteri dan inhibitor enzim xantin oksidase. Enzim xantin oksidase berperan dalam pembentukan asam urat di dalam tubuh. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan mengetahui jenis senyawa metabolit sekunder, kemampuan antibakteri relatif terhadap antibiotik, dan daya inhibisi ekstrak etanol kulit kacang tanah terhadap aktivitas enzim xantin oksidase relatif terhadap Allopurinol. Penelitian dilakukan dalam 4 tahap yaitu penentuan kadar air, ekstraksi, dan uji fitokimia ekstrak kulit kacang tanah; uji antibakteri ekstrak kulit kacang tanah terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus; isolasi dan uji aktivitas enzim xantin oksidase dari 250 mL susu sapi segar, dan uji daya inhibisi ekstrak kulit kacang tanah terhadap aktivitas xantin oksidase dibandingkan dengan allopurinol. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% dan uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Isolasi enzim xantin oksidase dilakukan dengan cara pengendapan menggunakan (NH4)2SO4 pada kejenuhan 40%, sedangkan uji aktivitas dan uji inhibisi xantin oksidase dilakukan dengan mengukur absorbansi produk asam urat pada panjang gelombang 290 nm. Berdasarkan uji fitokimia, ekstrak kulit ari mengandung senyawa metabolit sekunder golongan tanin, polifenol, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid, sedangkan ekstrak kulit luar kacang tanah mengandung senyawa metabolit sekunder golongan polifenol, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Pada konsentrasi yang sama, ekstrak kulit kacang tanah memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli lebih rendah dibandingkan aktivitas antibakteri Tetracycline , Ampicillin dan Amoxicillin . Aktivitas antibakteri ekstrak kulit kacang tanah terhadap S.aureus berada di bawah kemampuan aktivitas antibakteri Tetracycline , Ampicillin dan Amoxicillin sedangkan ekstrak kulit luar kacang tanah yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus hampir setara dengan Amoxicillin. Daya inhibisi ekstrak kulit ari dan kulit luar kacang tanah 100 ppm masing-masing sebesar 45,45 % dan 54,54% setara dengan 12,5 ppm Allopurinol untuk kulit ari dan 15 ppm Allopurinol untuk kulit luar kacang tanah

Unsur kepercayaan Jawa, Tibet, dan Voodoo dalam novel pintu : kajian strukturalisme genetik / Zakaria Sulistiawan

 

Kata Kunci: kepercayaan Jawa, kepercayaan Tibet, kepercayaan Voodoo, strukturalisme genetik. Novel Pintu karya Fira Basuki adalah novel tentang kehidupan seorang lelaki Jawa yang bernama Bowo yang dilatarbelakangi kepercayaan Jawa, Tibet, dan Voodoo. Ketiga kepercayaan tersebut tidak sepenuhnya berbeda. Adanya ketiga kepercayaan di dalam satu cerita mungkin merupakan usaha Fira untuk menarik pembaca dan untuk melihat lebih dalam kepercayaan-kepercayaan tersebut. Kehidupan Fira tidak jauh berbeda dengan cerita. Fira menggunakan kehidupan, pengalaman, dan pengetahuan yang ia miliki atau kumpulkan untuk menulis novel ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan strukturalisme genetik. Peneliti menggunakan strukturalisme genetik untuk menganalisis kepercayaan-kepercayaan yaitu dengan melihat latar belakang pengarang. Pengarang adalah bagian dari masyarakat dan keadaan sosial budaya di sekitarnya. Pandangan dunia pengarang di dalam novel mewakili keadaan masyarakat. Pandangan dunia menghubungkan antara pengarang dan masyarakat. Penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Penelitian kajian pustaka ini menganalisis novel Pintu yaitu unsur kepercayaan Jawa, Tibet, dan Voodoo di dalam novel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) unsur kepercayaan Jawa, (2) unsur kepercayaan Tibet, dan (3) unsur kepercayaan Voodoo di dalam novel Pintu. Peneliti menganalisis unsur kepercayaan di novel yang telah diklasifikasi. Pendekatan strukturalisme genetik dapat digunakan untuk mengkaji karya sastra dengan melihat latar belakang pengarang. Penelitian-penelitian karya sastra akan menjadi baik apabila para penelitinya memahami pendekatan-pendekatan selain pendekatan strukturalisme genetik. Mungkin peneliti lain dapat menemukan atau menciptakan sebuah pendekatan yang baru.

Analisis isi, keterbacaan, penyajian materi dan pendukung materi dalam buku teks biologi SMA kelas XI / Maya Fatmawati

 

Kata Kunci: buku teks, keterbacaan, konsep, sistem organ Berubahnya paradigma pendidikan yang bergeser dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered) menuntut peran aktif siswa untuk lebih mandiri mencari informasi dari sumber lain selain guru. Buku teks pelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dinilai kelayakanpakaiannya terlebih dahulu oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebelum digunakan oleh pendidik dan/atau peserta didik sebagai sumber belajar di satuan pendidikan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di SMA Negeri 1 Lawang menyatakan untuk mata pelajaran biologi kelas XI, guru membebaskan kepada siswa untuk memakai buku biologi apapun dalam kegiatan belajar. Adanya pembebasan bagi peserta didik dalam memilih buku teks biologi dapat menyebabkan siswa tanpa sengaja memilih buku yang mungkin memuat beberapa kesalahan karena belum semua buku yang beredar di pasaran telah dinilai layak oleh BSNP. Hasil observasi di beberapa toko buku di Malang (Gramedia Matos, Gramedia Pusat Asri Media, Toga Mas Dieng, Dian Ilmu, serta toko-toko buku di kawasan Wilis) diketahui bahwa buku biologi kelas XI yang paling banyak terjual dan belum dinilai layak oleh BSNP adalah buku terbitan Yrama Widya, Esis, Erlangga (Istamar Syamsuri), dan Erlangga (D. A. Pratiwi). Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan analisis terhadap isi buku dalam hal kesesuaian dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), tingkat keterbacaan, penyajian materi (konsep, prinsip, dan ilustrasi materi), dan pendukung materi dalam buku teks biologi kelas XI pada materi sistem organ. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan aspek kesesuain isi buku dengan (SK) dan (KD), mengukur tingkat keterbacaan, menemukan kesalahan penyajian materi (konsep, prinsip, dan ilustrasi materi), dan mendeskripsikan penyajian pendukung materi dalam buku teks biologi kelas XI pada materi sistem organ. Hasil analisis menyatakan bahwa semua buku pada materi sistem organ memiliki kesesuaian dengan SK dan KD; buku terbitan Yrama Widya dan Erlangga (D. A. Pratiwi) memiliki tingkat keterbacaan yang sesuai dengan kelas XI; pada semua buku terdapat beberapa kesalahan konsep, prinsip, dan penyajian; semua buku menyajikan aspek pendukung materi seperti gambar, ringkasan, glosarium, informasi tambahan, lembar aktivitas, evaluasi, dan kalimat-kalimat interaktif, dengan frekuensi dan macam yang berbeda.

Perpaduan penerapan model pembelajaran mind mapping dengan picture and picture untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS terpadu kelas VIII negeri 7 Malang / Febrila Ghofliana

 

Kata kunci: Mind mapping, picture and picture, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar. Proses pembelajaran pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII. C SMP Negeri 7 Malang sering dilakukan dengan metode ceramah, dimana pembelajaran didominasi oleh guru. Siswa cenderung pasif dan bosan. Hal ini berdampak pada rendahnya pemahaman siswa tentang materi yang menyebabkan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, dengan hal itu sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menurun. Selain itu juga karena pelajaran IPS Terpadu ini cenderung hafalan, maka penulis ingin melatih siswa untuk tidak hanya menghafal tetapi juga memahami konsep yang ada, sehingga siswa akan tetap mengingatnya dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat, menarik dan menyenangkan yang dapat membantu siswa mengasah kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan perpaduan model pembelajaran mind mapping dengan picture and picture. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran mind mapping dengan picture and picture untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS terpadu kelas VIII. C SMP Negeri 7 Malang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan jumlah subyek penelitian adalah 35 siswa kelas VIII. C SMP Negeri 7 Malang yang terdiri dari 10 siswa laki – laki dan 25 siswa perempuan. Data yang digunakan dalam kemampuan berpikir kritis menggunakan data dari penilaian ranah afektif , sedangkan untuk hasil belajar menggunakan data dari penilaian ranah kognitif dan afektif. Instrumen yang digunakan adalah soal tes, lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil yang didapat adalah terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Persentase kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I sebesar 68,39% dan pada siklus II sebesar 77,85%,sedangkan ketuntasan hasil belajar aspek kognitif pada siklus I sebesar 83,16% dan pada siklus II sebesar 87,37% dan hasil belajar ranah afektif mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 91,90% dan pada siklus II sebesar 95,23%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perpaduan penerapan pembelajaran mind mapping dengan picture and picture dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII.C SMP Negeri 7 Malang. Guru mata pelajaran IPS terpadu dapat menerapkan pembelajaran ini untuk alternatif pembelajaran dikelas.

Peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe quiz-quiz trade (pada kelas VII E SMP Negeri Kraksaan mata pelajaran manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan) / Fitria Puji Les

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Quiz-quiz Trade, Hasil Belajar dan Keaktifan Belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Memecahkan Masalah keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe Quiz-quiz Trade pada siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Kraksaan mata pelajaran Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan tahun 2012/2013 (2) Menjelaskan bagaimana penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Quiz-quiz Trade dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Kraksaan mata pelajaran IPS tahun 2012/2013 (3) Menjelaskan bagaimana penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Quiz-quiz Trade dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas VII E Negeri 1 Kraksaan mata pelajaran Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan tahun 2012/2013. Dengan menggunakan Desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research guru dapat mengetahui apa yang terjadi di dalam kelas dan memecahkan masalah yang terjadi yaitu tentang keaktifan dan hasil belajar siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kraksaan yang berjumlah 30 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan, dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2012 sampai 09 November 2012. Hasil penelitian menunjukkan Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Quiz-quiz Trade secara keseluruhan telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik, meskipun terdapat beberapa masalah pada siklus I, dimana pada siklus I terdapat siswa yang terlmbat masuk kelas, siswa canggung untuk melakukan pembelajaran tipe Quiz-quiz Trade, suasana kelas yang kurang kondusif, tetapi masalah ini segera diperbaiki pada siklus II sehingga proses pembelajaran bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Quiz-quiz Trade dapat meningkatkan hasil belajar, hal ini terlihat pada peningkatan rata-rata nilai kelas pada siklus I sebesar 76 atau dengan prosentase sebesar 56,67%. Terjadi peningkatan pada siklus II sebesar 40% yaitu dengan rata-rata kelas sebesar 94,73 atau dengan prosentase 96,67%. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Quiz-quiz Trade dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, hal ini terlihat pada siklus I sebesar 84,22% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 95,06% dengan peningkatan sebesar 10,84%. Penelitian ini membuktikan dengan pembelajaran model kooperatif tipe Quiz-quiz Trade terjadi peningkatan terhadap keaktifan siswa dan hasil belajar siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Kraksaan pada mata pelajaran IPS materi tentag manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan. Sehingga penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi guru bidang studi IPS atau guru bidang studi yang lain, yang ingin melakukan penelitian tindakan kelas atau untuk meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar siswa dalam proses belajar di kelas, akan tetapi harus disesuaikan karakteristik materi dengan pembelajaran Quiz-quiz Trade.

Pengaruh jumlah uang beredar (JUB), tingkat suku bunga di rate, dan nilai tukar rupiah dolars-AS terhadap laju inflasi di Indonesia tahun 2007-2011 / Yuniar Ardila

 

Kata Kunci: Inflasi, Jumlah Uang Beredar, Suku Bunga BI rate, Nilai Tukar Rupiah. Inflasi merupakan permasalahan ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena inflasi dapat menimbulkan dampak yang sangat luas seperti terjadinya pengangguran, menurunnya ekspor, dan masih banyak dampak lainnya yang diakibatkan dengan adanya inflasi. Oleh karena itu inflasi sering menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bisa menimbulkan ketidakstabilan pada perekonomian. Pada suatu negara kestabilan ekonomi merupakan salah satu kondisi yang harus terpenuhi dalam berlangsungnya pembangunan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah uang beredar, tingkat suku bunga BI rate, dan nilai tukar rupiah dolar AS terhadap laju inflasi di Indonesia. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, dokumen yang digunakan adalah laporan keuangan dari Bank Indonesia (BI) dalam bentuk Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI). Selanjutnya data yang digunakan merupakan data skunder (time series). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda (multiple regression analysis model ) atau persamaan kuadrat terkecil (Ordinary least Square). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah uang beredar berpengaruh positif terhadap laju inflasi yaitu jika jumlah uang beredar semakin tinggi maka laju inflasi di Indonesia juga akan semakin tinggi. Tingkat suku bunga BI rate mempunyai pengaruh yang positif terhadap laju inflasi yaitu jika suku bunga BI ratesemakin tinggi maka laju inflasi di Indonesia juga akan semakin tinggi. Sedangkan nilai tukar rupiah dolar-As menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kurs dollar AS dengan laju inflasi di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa jumlah uang beredar, dan tingkat suku bunga BI rate berpengaruh terhadap laju inflasi di Indonesia, sedangkan nilai tukar rupiah dolar-AS tidak berpengaruh terhadap laju inflasi di Indonesia pada periode yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter sebaiknya tidak meningkatkan suku bunga dalam upaya menekan laju inflasi di Indonesia karena jika suku bunga ditingkatkan justru hal tersebut akan meningkatkan inflasi. Dalam menaikan JUB, sebaiknya BI melakukannya sesuai dengan permintaan agregat agar tidak menimbulkan inflasi.

Penerapan perpaduan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan example non example untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar IPS terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang / Zeny Nurliana

 

Kata Kunci: model pembelajaran Numbered Heads Together, model pembelajaran Example Non Example, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar. Pembelajaran IPS Terpadu yang dilakukan di SMP Negeri 2 malang memiliki standar ketuntasan Minimal (SKM) 75. Berdasarkan hasil observasi dengan guru IPS Terpadu SMP Negeri 2 Malang, metode yang digunakan dalam pengajaran IPS Terpadu adalah metode ceramah. Salah satu solusi yang dapat dipergunakan dalam mengatasi masalah permasalahan ini adalah menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Example Non Example. Jenis penelitian yang digunakan ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classrom Action Research dengan pendekatan kualitatif, yaitu untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sebagaimana terjadi secara alami, melalui pengumpulan data dan data alami. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran itu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I sebesar 47% dan pada siklus II meningkat menjadi 78%. Sedangkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 75% dan pada siklus II meningkat menjadi 87,5%. Dari hasil penelitian ini, disarankan bagi guru IPS Terpadu dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran dengan pengelolaan kelas yang baik agar menjadi lebih kondusif. Selain diharapkan bisa memanajemenkan waktu dan kesiapan untuk proses pembelajaran. Untuk penelitian lanjutan model ini perlu diterapkan pada kelas, sekolah dan materi yang berbeda untuk dapat meningkatkan hasil belajar.

Studi tentang pengelolaan event karnaval pada Jember Fashion Carnaval (JFC) / Vita Prastiana

 

Kata kunci: pengelolaan, event, jember fashion carnaval (jfc) Jember Fashion Carnaval merupakan fashion carnaval pertama di Indonesia yang diselenggarakan di kota Jember. Tema yang digunakan oleh JFC setiap tahunnya selalu berbeda-beda dengan melihat perkembangan yang terjadi pada saat tema dibuat, para peserta JFC diberi berbagai pelatihan tanpa dipungut biaya kecuali untuk mendanai sendiri kostum yang dipakai pada saat showtime, pembuatan kostum tidak hanya menggunakan bahan baru tapi juga dapat memanfaatkan bahan bekas yang dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga menjadi barang yang bermanfaat dan indah. Fokus penelitian meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan Jember Fashion Carnaval (JFC). Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perencanaan JFC, mendeskripsikan pengorganisasian JFC, mendeskripsikan pelaksanaan JFC dan mendeskripsikan evaluasi kegiatan JFC. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif tingkat sederhana tanpa menggunakan pendekatan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumen dan pelaksanaan Fokus Group Discution (FGD) dengan beberapa informan. Lokasi penelitian di Dynand Fariz International High Fashion Center yang merupakan kantor dari Jember Fashion Carnaval Center yang terletak di Gunung Batu Permai A1.B Jember, Jawa Timur. Paparan hasil penelitian ini hasil dari pengambilan data di lokasi penelitian, pengelolaan fashion carnaval ini diawali dengan perencanaan yang beruntun, mulai dari penentuan tema yang selalu berubah-ubah, berbagai pelatihan yang nantinya dikompetisikan/olimpiade, presentasi kostum dan penilaian kostum serta performance pada saat grand jury. Pengorganisasian Jember Fashion Carnaval keanggotaanya setiap tahun selalu berubah karena sering keluar masuknya para anggota JFC. Kepanitiaan JFC juga terdiri dari peserta JFC yang sudah pernah mengikuti JFC sebelumnya atau peserta JFC senior dan pernah mendapatkan juara di setiap kompetisi. Pelaksanaan JFC diselenggarakan sehari sebelum showtime yaitu press conference yang diselenggarakan di Dynand Fariz Center yang dilanjutkan dengan general rehearsal di central park dan diakhiri dengan renungan malam. Pada hari H, peserta JFC melakukan preparation showtime dengan melakukan make up dan prepare kostum hingga waktu showtime tiba. Seminggu setelah berakhirnya showtime JFC, diselenggarakan JFC Awarding yang merupakan penghargaan bagi peserta yang berprestasi. Kegiatan terakhir dari pengelolaan JFC adalah pengevaluasian kegiatan yang telah dilaksanakan. Pengevaluasian di JFC dibagi menjadi 2 evaluasi yaitu, evaluasi per sesi dan evaluasi akhir yang dilaksanakan setelah kegiatan JFC Awarding.

Hubungan antara motivasi akademik, kerentanan terhadap kebosanan dasn prokrastinasi akademik penulis skripsi pada mahasiswa di faluktas pendidikan psikolog Universitas Negeri Malang / Anne Merry L.

 

Kata kunci: motivasi akademik, kerentanan terhadap kebosanan, prokrastinasi akademik, penulisan skripsi Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara motivasi akademik, kerentanan terhadap kebosanan, dan prokrastinasi akademik penulisan skripsi. Prokrastinasi akademik dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya motivasi dan kerentanan terhadap kebosanan. Motivasi akademik terdiri atas motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik dan amotivasi (Vallerand, dkk., 1992). Lima faktor konstruk skala kerentanan terhadap kebosanan (Boredom Proneness Scale) oleh Vodanovich & Kass (1999), yaitu stimulasi eksternal, stimulasi internal, respon afeksi, persepsi waktu, dan keterpaksaan. Rancangan penelitian ialah deskriptif korelasional. Penelitian dilakukan pada 40 orang mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang yang mengerjakan skripsi, dengan teknik sampel purposif. Instrumen penelitian menggunakan skala Likert 5 poin untuk motivasi akademik, skala kerentanan terhadap kebosanan, dan skala prokrastinasi akademik penulisan skripsi. Skala motivasi akademik terdiri atas 28 aitem dengan reliabilitas 0,914, skala kerentanan terhadap kebosanan terdiri 29 aitem dengan reliabilitas 0,895 dan prokrastinasi akademik penulisan skripsi sebanyak 45 aitem dengan reliabilitas 0,956. Teknik analisis terdiri dua tahap, yaitu korelasi parsial dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan: 1) motivasi akademik mahasiswa berada pada kategori tinggi, 2) kerentanan terhadap kebosanan sedang, 3) prokrastinasi akademik penulisan skripsi sedang, 4) hubungan antara motivasi akademik dan prokrastinasi akademik tidak signifikan, 5) hubungan kerentanan terhadap kebosanan dan prokrastinasi akademik memiliki hubungan yang signifikan dan searah, dan 6) hubungan bersama antara motivasi akademik dan kerentanan terhadap kebosanan dengan prokrastinasi akademik penulisan skripsi menunjukkan hubungan yang signifikan. Saran berdasarkan hasil penelitian: 1) Bagi Mahasiswa, dengan membuat skala prioritas dan jadwal akademik, sehingga dapat lebih berfokus pada pengerjaan skripsi, 2) Bagi Fakultas, dengan mengumpulkan para mahasiswa yang belum menyelesaikan skripsinya sehingga dapat diberikan dorongan dan dukungan lebih bagi mereka; juga dengan menambah jumlah literatur dan buku-buku untuk menunjang mahasiswa dalam mengerjakan skripsi mereka, 4) Bagi Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperbaiki hal-hal yang masih kurang dari penelitian ini, khususnya persoalan teknis penelitian, agar didapatkan hasil penelitian yang lebih baik lagi.

Hambatan belajar siswa dalam menempuh mata diklat engine kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan kelas IX SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi / Yoga Kurniawan

 

Kata Kunci: Hambatan belajar siswa. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi belajar siswa, dari kenyataan tersebut menarik keinginan peneliti untuk melakukan kajian tentang faktor apa yang mempengaruhi hambatan belajar siswa. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini yaitu faktor internal kesehatan, faktor internal minat, faktor internal kebiasaan belajar, faktor eksternal hubungan antar siswa, faktor eksternal sarana dan fasilitas, hubungan anggota keluarga, keadaan ekonomi keluarga, suasana rumah, teman bergaul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi tahun pelajaran 20111/2012. Jumlah sampel sebanyak 100 siswa yang diambil dari jumlah populasi sebanyak 275 siswa. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu faktor yang mempengaruhi belajar siswa. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Uji validitas dan reabilitas perlu dilakukan untuk mengetahui apakah nilai dari setiap item tersebut sudah valid dan reliabel, setelah semua data sudah valid dan reliabel, angket dibagikan kesampel yang sebenarnya. Setelah semua data terkumpul lalu diolah dengan program computer SPSS 16.0, kemudian menentukan rentang skornya, menentukan panjang kelas interval, menentukan banyaknya presentase dan dari hasil setiap presentase tersebut di deskripsikan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa masing-masing faktor memiliki jumlah penilaian yang berbeda-beda dari responden. Faktor internal jasmaniah memiliki nilai terbesar pada faktor kesehatan dengan kriteria tidak pernah atau tidak mempengaruhi belajar siswa. Faktor internal psikologi memiliki nilai terbesar pada faktor minat dengan kriteria selalu atau sangat mempengaruhi belajar siswa.Faktor eksternal sekolah memiliki nilai terbesar pada faktor hubungan antar siwa dengan kriteria selalu atau sanngat mempengaruhi belajar siswa. Faktor eksternal keluarga memiliki nilai terbesar pada faktor keadaan ekonomi keluarga dengan kriteria tidak pernah atau tidak mempengaruhi belajar siswa. Dan yang terakhir faktor eksternal masyarakat memiliki nilai terbesar pada faktor teman bergaul dengan kriteria sering atau mempengaruhi belajar siswa. Masing-masing faktor memiliki pengaruh dalam belajar siswa, dengan presentase yang berbeda-beda. Akan tetapi faktor yang paling dominan yang mempengaruhi belajar pada mata diklat engine siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi adalah faktor eksternal hubungan antar siswa, dimana siswa akrab dengan teman sekelas, belajar kelompok, dan teman sekelas membantu ketika mengalami kesulitan belajar. Selain itu siswa juga mendapat informasi dari teman ii sekelas yang berhubungan dengan sekolah, sedangkan faktor yang terendah adalah faktor eksternal hubungan anggota keluarga. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Hendaknya guru SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi utamanya guru mata Diklat Engine, selalu memperhatikan perkembangan pendidikan anak didiknya dengan cara lebih memperhatikan perkembangan dan mempertahankan minat belajar peserta didik terutama pada mata Diklat Engine. (2) siswa yang kurang mampu menguasai materi hendaknya menggali lagi minat terhadap bahan bacaan dengan memanfaatkan perpustakaan yang ada di sekolah. Fasilitas yang ada di sekolah seharusnya dimanfaatkan lebih maksimal lagi oleh siswa.

Hubungan bentuk hukum dan sikap terhadap bentuk hukuman dengan minat belajar siswa kelas VIII dan IX SMPN 1 Boyolangu-Tulungagung

 

Kata kunci: bentuk hukuman, sikap terhadap bentuk hukuman, minat belajar. Bentuk hukuman yang diberikan kepada siswa sangat bervariasi, sikap siswa terhadap bentuk hukuman juga berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain. Bentuk hukuman yang muncul bisa menjadi pemicu menguatnya minat siswa untuk belajar karena pengganggu belajar sudah dikurangi, namun bisa juga karena hukuuan terlalu sering muncul justru mengurangi minat siswa dalam belajar karena siswa lebih sering dipertemukan dengan aktifitas dihukum daripada belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :1.) bentuk hukuman yang paling banyak diberikan kepada siswa, 2.) sikap siswa terhadap bentuk hukuman, 3.) minat belajar siswa, 4.) hubungan antara bentuk hukuman dengan minat belajar siswa, 5.) hubungan antara sikap terhadap bentuk hukuman dengan minat belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Penelitian deskriptif untuk mendeskripsikan bentuk hukuman, sikap siswa terhadap bentuk hukuman dan minat belajar siswa. Penelitian korelasional untuk mengetahui hubungan bentuk hukuman dengan minat belajar siswa , serta hubungan antara sikap terhadap bentuk hukuman dengan minat belajar siswa. Subjek penelitian adalah 82 siswa kelas VIII dan IX di SMP Negeri 1 Boyolangu-Tulungagung. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala sikap terhadap bentuk hukuman, skala minat belajar dan kuesioner untuk mengukur bentuk hukuman di sekolah. Sumber data adalah sebjek penelitian dan data yang terkumpul dianalisis dengan prosentase dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1.) bentuk hukuman yang paling banyak diberikan kepada siswa adalah bentuk hukuman peringatan dengan prosentase 47%, 2.) sebagian besar subjek (48,54 %) bersikap positif terhadap bentuk-bentuk hukuman yang ada di sekolah, 3.) sebagian besar subjek ( 52,44%) memiliki minat belajar tinggi, 4.) tidak ada hubungan yang signifikan antara bentuk hukuman dengan minat belajar(r= -0,115, sig = 0,304>0,05), 5.) tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap bentuk hukuman dengan minat belajar (r=0,153, sig=0,170>0,05). Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan subjek yang lebih banyak serta dilaksanakan di beberapa sekolah untuk mendapatkan hasil yang bervariasi. Instrumen yang digunakan untuk mengukur minat belajar bisa ditambah dengan skala ARCS (attention, relevance, confidence, satisfaction) yang dibuat oleh John Keller 1987, untuk mengukur minat, dan pada bentuk hukuman ditambahkan dengan wawancara untuk mempertajam pengambilan data.

Pengaruh motivasi berprestasi dan lingkungan belajar di sekolah terhadap kesiapan belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang tahun 2012 / Agung Prasetyo Utomo

 

Kata Kunci: Motivasi Berprestasi, Lingkungan Belajar di Sekolah, Kesiapan Belajar Siswa. Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di setiap jenjang pendidikan yang ada. Arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yakni yang tidak hanya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat, namun bisa melestarikan dan mengembangkan masyarakat. Kemampuan dan kualitas lulusan tersebut dapat ditunjukkan dengan prestasi belajar yang telah dicapai. Untuk mencapai prestasi belajar yang baik, diperlukan tingkat kesiapan belajar yang baik pula. Dan tingkat kesiapan belajar siswa sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain motivasi berprestasi dan lingkungan belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara motivasi berprestasi dan lingkungan belajar di sekolah terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Malang, baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluru h siswa kelas XI IPS dengan jumlah 158 siswa dan jumlah sampel sebanyak 61 siswa yang diambil dengan metode proportional random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Analisa data menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, motivasi berprestasi berpengaruh terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Malang, variabel lingkungan belajar siswa di sekolah berpengaruh terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Malang. Sedangkan secara simultan, motivasi berprestasi dan lingkungan belajar siswa di sekolah secara bersama-sama berpengaruh terhadap kesiapan belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang direkomendasikan adalah pihak sekolah harus lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan belajar siswa. Guru dan pihak sekolah juga harus memperhatikan tingkat motivasi berprestasi dari siswa agar siswa senantiasa termotivasi dalam belajar. Serta seluruh warga sekolah harus selalu menjaga suasana lingkungan belajar yang aman dan nyaman sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif.

Hubungan antara efikasi diri dan motivasi belajar mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa Universitas Negeri Malang / Rica Kusdwiningtiyas

 

Kata Kunci: efikasi diri, motivasi belajar, paduan suara mahasiswa Fenomena mahasiswa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa yang menempuh masa kuliah melebihi masa perkuliahan normal, yaitu 3 tahun masa perkuliahan untuk jenjang Diploma 3 dan 4 tahun masa perkuliahan untuk jenjang Strata 1. Hal tersebut oleh peneliti dikaitan dengan bagaimana sebenarnya efikasi diri dan motivasi belajar dari mahasiswa itu sendiri, serta hubungan antara keduanya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan metode penskalaan likert dengan empat pilihan respon. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis korelasional dengan populasi mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa berjumlah 134 dan sampel yang diambil peneliti berjumlah 50 subjek. Setelah dilakukan penyebaran skala didapati bahwa dari 50 skala yang disebarkan hanya kembali 44 skala, namun 44 skala yang kembali telah mencukupi untuk dilakukan analisis secara deskriptif maupun koresional. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki efikasi diri yang sedang dan motivasi belajar mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki motivasi belajar yang sedang. Hasil analisis korelasional diperoleh r = 0,547 dengan p = 0,000 dan disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara efikasi diri dan motivasi belajar. Berdasarkan hasil tersebut adapun saran yang diajukan oleh peneliti, antara lain: (1) meningkatkan efikasi diri pengurus dengan mengadakan evaluasi berkala kegiatan dalam kurun waktu tertentu untuk dapat menyelesaikan masalah yang belum terpecahkan secara bersama dengan harapan dapat berusaha lebih keras dalam menjalankan perannya sebagai pelaku organisasi tanpa melupakan perannya sebagai mahasiswa, (2)membuat kelompok kecil dalam keanggotaan untuk menumbuhkan motivasi belajar dan kebiasaan belajar, serta (3)untuk menumbuhkan persaingan yang sehat di dalam kelompok paduan suara itu sendiri maupun di kelas kuliah, (4)perlunya dukungan dari senior kepada junior dalam hal kuliah maupun paduan suara, (5)kepada peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian sejenis dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda

Hubungan antara pengetahuan mengenai kesetaraan gender dan motivasi kerja pada polwan / Rizki Hayu Kuncorowati

 

Kata kunci: pengetahuan kesetaraan gender, motivasi kerja. Pengetahuan kesetaraan gender adalah pemahaman mengenai hak-hak yang dimiliki kaum perempuan untuk menjalankan peran non-biologisnya di bidang politik, ekonomi, keluarga, pendidikan dan sosial budaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) arti dari pengetahuan kesetaraan gender, (2) motivasi kerja, (3) hubungan pengetahuan kesetaraan gender dan motivasi kerja pada polwan. Hipotesis yang dirumuskan adalah ada hubungan positif antara pengetahuan kesetaraan gender dan motivasi kerja pada polwan. Desain yang digunakan adalah korelasional dengan subyek sebanyak 50 polwan yang diambil dengan teknik Insidental Sampling. Data pengetahuan kesetaraan gender dikumpulkan dengan skala pengetahuan kesetaraan gender, dan data motivasi kerja dikumpulkan dengan skala motivasi kerja (koefisien reliabilitas pengetahuan kesetaraan gender 0.963 dan motivasi kerja 0.984), kemudian hasilnya diolah menggunakan teknik Korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan kesetaraan gender dan motivasi kerja. Deskripsi data menunjukkan sebanyak 18 orang (36%) termasuk kategori pengetahuan tinggi, 32 orang (64%) termasuk kategori sedang, dan tidak ada yang termasuk dalam kategori rendah; dan polwan yang mempunyai tingkat motivasi kerja tinggi sebanyak 13 orang (26%), 29 orang (58,14 %) kategori sedang, dan 8 orang (16%) kategori rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi polwan diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa peran dapat dibagi secara adil dan tidak bersifat mutlak ( dapat dipertukarkan) sehingga laki-laki dapat mengambil peran yang menjadi peran wanita ataupun sebaliknya. Agar wanita memiliki sikap positif terhadap kesetaraan gender dan motivasi kerja. Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kesetaraan gender dengan cara mencari informasi baik informasi melalui media cetak maupun elektronik, sedangkan motivasi kerja diperoleh melalui proses belajar dengan aktif dan disiplin mengerjakan tugas yang dibebankan pada dirinya.

Perbandingan keefektifan teknik klarifikasi nilai dan metode dialog socrates dalam meningkatkan pengampunan terhadap orang lain pada siswa madrasah tsanawiyah (MTs) / Julianne Kamelia Riza

 

Kata kunci: teknik klarifikasi nilai, metode dialog socrates, pengampunan terhadap orang lain Transgresi adalah pelanggaran interpersonal yang menyebabkan munculnya pengalaman kurang menyenangkan, hal ini bisa disebabkan oleh orang lain maupun oleh diri sendiri. Peristiwa transgresif ini dapat menimbulkan emosi negatif dalam diri individu, seperti marah, sedih, benci, sakit hati, merasa dihina, cemburu, dendam, dan lain sebagainya. Pada remaja khususnya siswa, kondisi ini bisa menyebabkan banyak hal; mulai dari malas belajar, bolos sekolah, terganggunya hubungan interpersonal, depresi, sampai menjadi pemicu dari beberapa perilaku agresif di kalangan remaja. Salah satu cara untuk mengatasi peristiwa transgresif adalah dengan memberikan pengampunan. Pengampunan terhadap orang lain adalah perubahan motivasi yang dialami oleh seseorang yang mengalami peristiwa tidak menyenangkan yang disebabkan oleh orang lain. Perubahan yang terjadi yaitu dari motivasi untuk melakukan balas dendam menjadi motivasi positif untuk mengembangkan kasih sayang, kemurahan hati, dan cinta terhadap pelaku peristiwa transgresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keefektifan antara teknik klarifikasi nilai dan metode dialog socrates dalam meningkatkan pengampunan terhadap orang lain pada siswa MTs. rancangan penelitian yang digunakan yaitu single subject research dengan desain multiple baseline dan multiple treatment. subyek penelitiannya adalah 8 siswa mts yang memiliki tingkat pengampunan rendah. Instrumen yang digunakan adalah skala pengampunan, dan rubrik pengampunan, dan panduan pelatihan pengampunan. Analisis datanya dilakukan secara visual dengan memperhatikan trend, level, dan variabilitas yang terjadi pada setiap subyek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi dengan teknik klarifikasi nilai lebih efektif dibandingkan dengan metode dialog socrates dalam meningkatkan pengampunan siswa madrasah tsanawiyah. Saran dalam penelitian ini adalah; (1) untuk konselor, supaya bisa menjadi model bagi subyek dalam mengupayakan keterbukaan dan partisipasi aktif dalam kegiatan dialog, (2), untuk madrasah/pesantren, lebih memperhatikan kegiatan BK yang sejatinya sangat dibutuhkan oleh siswa, terutama karena dinamika kehidupan pesantren yang lebih kompleks, (3) untuk peneliti berikutnya, mengkaji tentang aspek lain dari pengampunan, yaitu pengampunan terhadap diri sendiri; dan untuk menerapkan metode dialog socrates pada setting selain pesantren, dalam rangka menemukan tempat yang lebih tepat dan hasil yang maksimal. i

Hubungan antara pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri, dan sikap terhadap kesetaraan gender / Roma Pintauli Sagala

 

Kata Kunci : pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri, sikap terhadap kesetaraan gender Sikap terhadap kesetaraan gender adalah kecenderungan individu untuk memberikan respon secara kognitif, afektif dan konatif terhadap persamaan peran dan hak antara laki-laki dan perempuan dalam bidang sosial budaya, politik, pendidikan, ekonomi dan keluarga serta bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender. Perbedaan sikap terhadap kesetaraan gender bervariasi, faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah pengetahuan tentang kesetaraan gender dan peran wanita sebagai istri. Pengetahuan merupakan hasil pemahaman yang sebelum tidak tahu akhirnya tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang dalam status tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengetahuan tentang kesetaraan gender pada ibu rumah tangga, (2) mengetahui peran wanita sebagai istri, (3) mengetahui sikap terhadap kesetaraan gender pada ibu rumah tangga, (4) mengetahui hubungan pengetahuan tentang kesetaraan gender dengan sikap terhadap kesetaraan gender, (5) mengetahui hubungan antara peran sebagai istri dengan sikap terhadap kesetaraan gender dan (6) mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri, dan sikap terhadap kesetaraan gender. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampel. Subjek penelitian dalam penelitian ini ibu rumah tangga berjumlah 118 orang dengan karakteristik: wanita usia 25-45 tahun, menikah dan memiliki anak, tinggal seatap dengan suami. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pengetahuan tentang kesetaraan gender, skala peran sebagai istri dan skala sikap terhadap kesetaraan gender yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pengetahuan tentang kesetaraan gender tergolong sedang, (2) peran sebagai istri tergolong sedang, (3) sikap terhadap kesetaraan gender termasuk sedang, (4) ada hubungan hubungan positif antara pengetahuan tentang kesetaraan gender dengan sikap terhadap kesetaraan gender, (5) ada hubungan negatif antara peran sebagai istri dengan sikap terhadap kesetaraan gender dan (6) ada hubungan antara pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri dan sikap terhadap kesetaraan gender. Disarankan (1) bagi wanita, diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa peran dapat dibagi secara adil dan tidak bersifat mutlak (dapat dipetukarkan) sehingga perempuan dapat mengambil peran yang menjadi peran pria dan sebaliknya. Agar wanita memiliki sikap positif terhadap kesetaraan gender perlu meningkatkan pengetahuan mengenai kesetaraan gender dan peran dalam keluarga. Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kesetaraan gender dengan cara mencari informasi baik melalui media cetak maupun elektronik, sedangkan peran sebagai istri diperoleh melalui proses belajar didukung dengan wawasan yang baik mengenai pembagian tugas yang adil untuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga, (2) bagi peneliti selanjutnya untuk mencari teori yang lebih mendalam dan komprehensif mengenai permasalahan gender dan peran sebagai istri.  

Analisis perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan dengan metode Eagles sebelum dan susudah go public tahun 2003-2008 / Agdi Ginanjar Sasongko

 

Kata kunci: EAGLES, Kinerja Keuangan, Go Public Kemampuan perusahaan perbankan diukur melalui kinerja keuangannya. Pada penelitian ini kinerja keuangan diukur menggunakan analisis EAGLES yang terdiri dari enam aspek penelitian kinerja keuangan yaitu earning ability, asset quality, growth rate, liquidity, equity, dan strategic management. Analisis EAGLES adalah sebuah aspek penilaian kinerja keuangan bank yang dipelopori oleh John Vong (1995), sebagai pendekatan yang disarankan untuk mengukur dan membandingkan kinerja bank secara lebih tepat, objektif, dan konsiten. Dengan melakukan go public di harapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan perbankan. Melalui penawaran umum perdana saham (Go Public) sebuah perusahaan dapat menjual saham atau efeknya kepada masyarakat. Dari segi perusahaan, dana yang masuk dari masyarakat ke perusahaan akan memperkuat posisi permodalan, khususnya utang berbanding modal. Dana dapat digunakan untuk ekspansi, diversifikasi produk atau mengurangi utang. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan Earning Ability untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public (2) Perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan Asset Quality untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public (3) Perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan Growth untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public (4) Perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan Liquidity untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public (5) Perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan Equity untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public (6) Perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan berdasarkan Strategy Management untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public (7) Untuk mengetahui bagaimanakah kinerja keuangan ditinjau dari aspek EAGLES (Earning Ability, Asset Quality, Growth, Liquidity, Equity, dan Strategy Management) sebelum dan sesudah go public pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003-2008 Populasi yang digunakan yaitu sebelas perusahaan perbankan sebelum dan sesudah go public tahun 2003-2008. Sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan tersedianya laporan keuangan dan data yang memadai untuk menghitung rasio EAGLES untuk 1 tahun sebelum dan sesudah go public. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa, laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Perpusatakaan Bank Indonesia dan Website Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penelitian secara garis besar terbukti pada pengujian hipotesis yang ke 1,2,3,4 dan 5 bahwa ada perbedaan yang signifikan berdasarkan analisis EAGLES 1 tahun sebelum dan sesudah go public pada tahun 2003-2008. Adapun terdapat perbedaan kinerja keuangan berdasarkan analisis EAGLES 1 tahun sebelum dan sesudah go public pada tahun 2003-2008 diukur oleh earning (return on asset dan return on equity), asset quality, interpretasi growth rate (deposite growth rate dan loan gowth rate), liquidity, dan equity (capital adequacy ratio). Hal ini disebabkan karena perusahaan perbankan sudah mampu mengelola aktivitasnya dengan baik sehingga dapat meningkatkan laba setelah terjadi go public. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi perusahaan yang go public agar mempertahankan kinerjanya dan meningkatkan lebih baik lagi terutama dalam pengelolaan dana secara efektif dan efisien sehingga menarik investor untuk menanamkan modalnya. Dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan faktor-faktor internal perusahaan seperti kinerja manajemen perusahaan dan faktor-faktor eksternal yang mungkin akan berpengaruh tehadap kinerja perusahaan.

Makna semantis kata an-nur dan azh-zhulumat dalam al-qur'an menurut tafsir al-ibriz dan implikasi pemaknaannya dalam pembelajaran semantik bahasa arab / Ainul Farida

 

Kata kunci:makna semantis, an-nur, azh-zhulumat. Semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Arab, sering kali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata. Baik hubungan bersifat kesamaan makna atau hubungan kebalikan makna. Kata an-nur dan azh-zhulumat merupakan dua kata di dalam al-Qur’an yang mempunyai hubungan kebalikan makna. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sebaran kata an-nur dan azh-zhulumat di dalam al-Qur’an, makna kata an-nur dan azh-zhulumat menurut tafsir al-Ibriz ditinjau menurut kajian semantik, dan implikasi pemaknaannya dalam pembelajaran semantik bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Data penelitian ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung kata an-nur dan azh-zhulumat. Instrumen penelitian ini adalah human instrument. Untuk memperoleh data, digunakan teknik pengumpulan data yaitu mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung kata an-nur dan azh-zhulumat, mengidentifikasi makna yang terkandung dalam kata an-nur dan azh-zhulumat dengan mengacu pada kitab tafsir al-Ibriz. Hasil penelitian ini adalah kata an-nur dan azh-zhulumat terdapat pada 40 ayat dan 21 surat. Kata an-nur mempunyai 5 makna yaitu (1) pepadang dan cahya, (2) al-Qur’an, (3) agama Islam, (4) syari’at, dan (5) cahya pituduh. Makna-makna tersebut masuk pada jenis makna denotatif, konotatif, leksikal, konseptual, referensial, dan asosiatif dalam kajian semantik. Kata azh-zhulumat mempunyai 6 makna yaitu (1) peteng dan peteng dedet, (2) kufur, (3) jero lemah, (4) ari-ari, telanaan, weteng, (5) jero wetenge iwak, dan (6) bebaya. Makna-makna tersebut masuk pada jenis makna denotatif, konotatif, leksikal, konseptual, referensial, dan asosiatif dalam kajian semantik. Gabungan kata an-nur dan azh-zhulumat mempunyai 2 makna yaitu (1) padang-peteng dedet dan (2) iman-kufur. makna-makna tersebut masuk pada jenis makna denotatif, konotatif, leksikal, konseptual, referensial, dan asosiatif dalam kajian semantik. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) Bagi peneliti selanjutnya untuk dapat mengkaji dan mengembangkan penelitian dari sudut pandang yang lain. (2) Bagi pembaca diharapkan pembaca dapat mengambil manfaat dari hasil penelitian ini dalam memperdalam pemahaman terhadap pemaknaan suatu kata di dalam al-Qur’an maupun kosa kata bahasa Arab menurut kajian semantik dari aspek lain.

Pengaruh kinerja keuangan berdasarkan analisis Camels terhadap return saham (studi kasus pada perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008) / Dyah Ayu Kelana Paramithanaya

 

Kata kunci: kinerja keuangan analisis CAMELS dan return saham Dalam dunia usaha, salah satu cara untuk mendapatkan dana adalah dengan cara menerbitkan saham. Dengan bertambahnya jumlah dana perusahaan, maka akan menunjang kegiatan perusahaan, sehingga keuntungan yang diperoleh akan semakin besar. Hal tersebut berpengaruh terhadap para investor yang telah menginvestasikan dananya pada perusahaan dengan memperoleh suatu pengharapan pengembalian yang lebih besar dari dana yang diinvestasikan, oleh karena itu perusahaan berkewajiban untuk mengelola dana dengan efektif dan efisien, sehingga mampu menghasilkan laba dengan baik agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya terhadap perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan perusahaan perbankan yang terdiri atas CAMELS (Capital, Assets Quality, Management, Earning, dan Liquidity) periode 2006-2008. (2) Untuk mengetahui kondisi return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia pada periode 2006-2008.(3) Untuk menguji pengaruh Capital terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (4) Untuk menguji pengaruh Asset Quality terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (5) Untuk menguji pengaruh Management terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (6) Untuk menguji pengaruh Return on Asset (ROA) terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (7) Untuk menguji pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (8) Untuk menguji pengaruh Operating Efficiency Ratio (OER) terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (9) Untuk menguji pengaruh Liquidity terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (10) Untuk menguji pengaruh Sensitivity to Market Risk terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. (11) Untuk menguji pengaruh simultan kinerja keuangan yang terdiri atas CAMELS (Capital Adequacy, Assets Quality, Management, Earning, Liquidity, dan Sensitivity to Market Risk) terhadap return saham perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Penelitian ini menggunakan analisis rasio CAMELS dan Return Saham dimana rasio keuangan terdiri atas: capital (capital adequacy ratio), asset quality (kualitas aktiva produktif), management (net profit margin), earning (return on asset, return on equity, dan operating efficiency ratio), liqudity (loans to deposit ratio), sensitivity to market risk (interest rate risk ratio). Sedangkan populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih perusahaan perbankan yang listing terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang aktif dalam memperdagangkan sahamnya serta membagikan dividend selama periode 2006-2008. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Perpusatakaan Bank Indonesia dan Website Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penelitian terbukti bahwa kinerja keuangan berdasarkan analisis CAMELS berpengaruh terhadap return saham. Terdapat pengaruh kinerja keuangan berdasarkan analisis CAMELS terhadap return saham yang hanya diukur oleh capital (capital adequacy ratio), management (net profit margin), earning (return on asset, operating efficiency ratio), sensitivity to market risk (interest rate risk ratio). Hal ini disebabkan karena kadang kala investor dalam berinvestasi pada saham-saham perbankan menggunakan analisis teknikal, yaitu bahwa harga pasar saham sebagai komoditas perdagangan yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran pasar, dan pada gilirannya permintaan dan penawaran merupakan manivestasi dari kondisi psikologis pemodal. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi perusahaan agar dapat meningkatkan kinerjanya terutama dalam pengelolaan dana secara efektif dan efisien sehingga menarik investor untuk menanamkan modalnya. Serta dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan faktor-faktor internal perusahaan seperti kinerja manajemen perusahaan dan faktor-faktor eksternal (kondisi ekonomi makro) yang akan berpengaruh terhadap pembentukan harga saham dan pada akhirnya pencapaian return saham oleh investor.

Hubungan antara harga diri dengan konformitas pada aktivis dakwah kampus di universitas negeri malang / Syam Arom Nashihin

 

Kata kunci: harga diri, konformitas, aktivis dakwah kampus. Manusia dituntut untuk berperilaku konform terhadap norma yang berlaku dalam interaksi-interaksi sosial agar aktivitas sosial berjalan dengan harmonis. Dakwah kampus merupakan salah satu aktivitas sosial yang menuntut adanya konformitas aktivis dakwah kampus terhadap norma-norma lembaga dakwah kampus agar agenda dakwah berjalan dengan baik. Harga diri adalah salah satu karakter kepribadian yang mempengaruhi perilaku konformitas. Individu dengan harga diri tinggi cenderung untuk menolak konformitas dan independen. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk menggambarkan harga diri pada aktivis dakwah kampus Universitas Negeri Malang, (2) untuk menggambarkan konformitas pada aktivis dakwah kampus Universitas Negeri Malang, (3) untuk mengetahui hubungan antara harga diri dengan konformitas kelompok pada aktivis dakwah kampus di Universitas Negeri Malang. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara harga diri dengan konformitas kelompok pada aktivis dakwah kampus di Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah subyek 70 mahasiswa aktivis dakwah kampus di Universitas Negeri Malang. Teknik pengambilan data menggunakan skala harga diri yang diadaptasi dari Coopersmith Self-Esteem Inventory dan skala konformitas model Likert. Analisis korelasional dihitung dengan menggunakan teknik statistik product moment dari Pearson dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivis dakwah kampus di Universitas Negeri Malang memiliki harga diri yang sangat tinggi sebanyak 9 orang (12,85%), tinggi sebanyak 9 orang (12,85%), sedang sebanyak 32 orang (45,7%), rendah sebanyak 16 orang (22,85%), dan sangat rendah sebanyak 4 orang (5,7%). Sedangkan konformitas yang sangat tinggi sebanyak 5 orang (7,14%), tinggi sebanyak 20 orang (28,57%), sedang sebanyak 23 orang (32,85%), rendah sebanyak 16 orang (22,85%), dan sangat rendah sebanyak 6 orang (8,57%). Analisis korelasional menunjukkan hasil r xy = 0,417 dengan signifikansi = 0,000 (p < 0,001), hal tersebut berarti bahwa ada hubungan positif antara harga diri dan konformitas pada aktivis dakwah kampus di Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil di atas, diharapkan peneliti selanjutnya mampu mengembangkan penelitian ini dengan rancangan penelitian yang lebih bervariasi, misalnya dengan metode wawancara. Dan bagi aktivis dakwah kampus agar berusaha untuk terus mengembangkan dirinya dengan sikap positif pada diri sendiri dan mengintegrasikannya dengan perilaku sosial yang sehat demi kemajuan dakwah Islam di lingkup kampus.

Pengaruh suasana lingkungan toko (store atmosphere) terhadap keputusan pembelian (studi pada konsumen toko Restu Blitar) / Riky Andriawan

 

Kata Kunci: Atmosfer Toko, Keputusan Pembelian. Persaingan yang terjadi dalam dunia perekonomian di Indonesia dewasa ini menjadi semakin sangat ketat terutama dalam bidang ritel. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya usaha di bidang ritel yang berdiri dan berkembang. Seperti yang terjadi pada saat ini industri ritel di Indonesia dimana perkembangannya terus bertambah secara pesat terbukti dengan semakin banyaknya swalayan, supermarket, hypermarket dan usaha ritel sejenis yang muncul di pusat-pusat kota. Hal ini memaksa para pelaku usaha agar selalu berinovasi dengan melakukan berbagai macam strategi pemasaran yang efektif untuk membuat usaha ritelnya semakin berkembang. Salah satunya adalah penciptaan atmosfer toko. Atmosfer Toko yang menyenangkan dan nyaman akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam mengunjungi sebuah toko, hal ini akan mempengaruhi pelanggan dalam mengambil keputusan apakah ia mau melakukan pembelian atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Atmosfer Toko (X) yang terdiri dari Faktor Sosial (X1), Faktor Desain (X2), dan Faktor Ambien (X3) secara parsial dan simultan terhadap Keputusan pembelian. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan. Dikarenakan populasi penelitian ini merupakan populasi tak terhingga maka teknik pengambilan sampel menggunakan rumus infinite population Daniel & Terrel. Mengacu pada rumus tersebut maka jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 86 responden. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan lima opsi pilihan jawaban. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara pengamatan, kuesioner, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini melalui proses pengolahan data di peroleh: (1) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara Faktor Sosial (X1) terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Restu Blitar. (2) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara Faktor Desain (X2) terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Restu Blitar. (3) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara Faktor Ambien (X3) terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Restu Blitar. (4) secara simultan Atmosfer Toko (X) yang terdiri dari Faktor Sosial (X1), Faktor Desain (X2), dan Faktor Ambien (X3) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen di Toko Restu Blitar. Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubung dengan hasil penelitian yang telah diperoleh kepada pihak Toko Restu Blitar yaitu agar lebih meningkatkan kualitas Atmosfer Toko yang terdiri dari faktor sosial, faktor desain, dan faktor ambien. Sedangkan saran untuk peneliti selanjutnya adalah ii peneliti dapat menambah dan memperluas variabel- variabel Atmosfer Toko yang ada sehingga dapat menjadikan temuan-temuan baru yang berkontribusi untuk mengembangkan keilmuan manajemen pemasaran. Di samping itu penelitian berikutnya diharapkan memperluas tempat penelitian karena setiap peritel memiliki karakteristik atmosfer yang berbeda-beda sehingga respons konsumen terhadap atmosfer yang diciptakan juga berbeda.

Pengaruh model pembelajaran pemecahan masalah berbasis konsep dan kemampuan analisis terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas Xl SMA Brawijaya Smart School Malang / Alesa Martin

 

Kata kunci: Pemecahan masalah berbasis konsep, kemampuan ansalisis, prestasi belajar. Penelitian ini di latarbelakangi hasil studi observasi di salah satu SMA swasta di kota Malang yang menunjukkan kemampuan analisis siswa masih kurang dengan indikasi rendahnya nilai ulangan harian akibat kurang terlatih dalam mengembangkan kemampuan bernalar dan analisis untuk memecahkan permasalahan. Untuk minimalkan hal yang ditemukan oleh peneliti saat observasi, diperlukan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan kemampuan analisis. Salah satu alternatif yang digunakan adalah model pembelajaran pemecahan masalah berbasis konsep. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar pengaruh kemampuan analisis terhadap prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah berbasis konsep. Desain penelitian ini adalah eksperimental semu dengan rancangan penelitian Pretest-Postest Nonequivalent Control Group Design. Penelitian ini dilakukan di SMA Brawijaya Smart School Malang pada bulan Oktober-November 2012 dengan menggunakan 2 kelas, kelas XI IPA3 sebagai kelas yang belajar dengan pembelajaran pemecahan masalah berbasis konsep dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan untuk penelitian mencakup perangkat observasi kelas, tes prestasi belaj¬ar, tes kemampuan analisis, skenario pembelajaran, lembar kerja siswa, dan lembar kerja pemecahan masalah. Data penelitian ini berupa data prestasi belajar dan data kemampuan analisis siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi terhadap data prestasi belajar dan data kemampuan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan analisis siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah berbasis konsep lebih baik dari kemampuan analisis siswa yang belajar secara konvensional. Besar pengaruh yang menunjukkan sumbangan efektif kemampuan analisis kelas eksperimen terhadap prestasi belajar siswa adalah 49,6% dan sumbangan efektif kemampuan analisis terhadap prestasi belajar siswa pada kelas kontrol 20,4%.

Profil kinerja wasit sepak bola dalam perspektif faktor pemicu kerusuhan suporter Persikmania / Fandhi Tri Nugroho

 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil kinerja wasit sepak bola dalam perspektif faktor pemicu kerusuhan suporter persikmania dengan menggunakan metode deskriptif eksploratif yaitu menggambarkan keadaan atau fenomena secara sistematis dan akurat. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kuesioner terhadap suporter persikmania, wawancara dan dokumenter dengan beberapa praktisi olahraga. Subjek penelitian ini adalah 90 orang suporter persikmania yang telah mengisi kuesioner, dan melakukan wawancara sekaligus dokumenter dengan praktisi olahraga (wasit sepak bola, pengurus PSSI Kediri, pengurus YSP Kediri). Berdasarkan hasil penelitian terhadap 90 orang persikmania menyatakan 19% berpendapat kinerja wasit yang kurang memuaskan (tidak fair), 50% prosentase tertinggi penyebab kerusuhan suporter disebabkan oleh kekurangdewasaan suporter dalam menerima hasil pertandingan dan fanatisme kedaerahan yang berlebihan, sedangkan 31% berpendapat kurang maksimalnya panitia pelaksana dalam mempersiapkan pertandingan, kondisi stadion yang kurang baik, dan tindakan pengamanan yang kurang maksimal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa profil kinerja wasit sepak bola merupakan salah satu penyebab kerusuhan suporter persikmania, namun bukan merupakan penyebab utama. Penyebab utama faktor pemicu kerusuhan suporter persikmania adalah kekurangdewasaan suporter dalam menerima hasil pertandingan dan fanatisme kedaerahan yang berlebihan. Kata kunci: sepak bola, kerusuhan suporter, kinerja wasit

Pengembangan multimedia interaktif dengan metode klasikal untuk pembelajaran ipa materi pokok sifat dan perubahan wujud benda kelas VI di SD My Little Island Malang / Choironi Firmansyah

 

Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia Interaktif, Pembelajaran IPA Penggunaan multimedia berbasis komputer adalah tren baru yang banyak digunakan pada sekolah berstandart nasional. Mata pelajaran IPA adalah salah satu yang paling banyak disajikan menggunakan multimedia interaktif. Karena banyak materi dalam mata pelajaran IPA yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, baik karena berbahaya, proses yang lama, dan tidak terlihat oleh mata. Proses penguapan, mengembun dan menyublim adalah sebagai contohnya. Tetapi dari banyaknya CD multimedia yang beredar di pasaran belum sepenuhnya sesuai dengan kurikulum yang digunakan SD Nasional Plus My Little Island Malang. Berkaitan dengan itu maka diperlukan pengembangan multimedia interaktif mata pelajaran IPA materi pokok Sifat dan perubahan wujud benda. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berupa multimedia interaktif yang dikemas dalam bentuk CD untuk pembelajaran individual. Tetapi dalam pelaksanaannya terpaksa dilakukan secara klasikal dikarenakan ruang komputer sedang dipakai untuk kegiatan lain dan terbatasnya jam pelajaran yang disediakan untuk membahas materi pokok Sifat dan Perubahan Wujud Benda. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan dengan desain pengembangan menggunakan model Sadiman (2011). Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilakukan guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah: (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusan tujuan; (3) pengembangan materi; (4) pengembangan alat evaluasi; (5) menyusun sketsa/storyboard; (6) produksi; (7) tes/ uji coba; (8) revisi; (9) Produk siap dimanfaatkan. Hasil pengembangan multimedia interaktif ini memenuhi kriteria valid/ layak yakni, ahli media 91,25%, ahli materi 80%, siswa secara perorangan 80,4%, dan kelompok siswa yang memenuhi SKM meningkat 40%. Sedangkan untuk hasil uji coba lapangan menunjukkan bahwa, terjadi peningkatan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah penggunaan multimedia interaktif, ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memenuhi SKM 60% pada uji coba lapangan. Dengan demikian, multimedia interaktif ini bisa dikatakan efektif, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Saran untuk pengembang selanjutnya, disarankan agar mempertimbang-kan prosedur pengembangan atau alur kerja media komputer yang dikembangkan agar media yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dengan metode dalam pembelajaran yang direncanakan yaitu benar-benar dimanfaatkan sebagai media pembelajaran individual.

Perancangan buku portrait tentang tokoh-tokoh kesenian bantengan berbasis fotografi / Febrianto Wihanda Putra

 

Peningkatan kemampuan menulis pengalaman pribadi siswa kelas V SD Negeri Kauman 03 Malang melalui model masyarakat belajar (learning community) / Achmad Taufiq

 

Kata kunci: peningkatan, menulis, pengalaman, siswa, learning community. Padahakekatnya tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah untuk mengembangkan keterampilan berbahasa secara lisan maupun tertulis. Keterampilan berbahasa yang dimaksud yakni: (1) keterampilan menyimak atau (listening); (2) keterampilan berbicara (speaking); (3) keterampilan membaca (reading); (4) keterampilan menulis (writing).Pembelajaran menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, menulis dibutuhkan penguasaan materi dasar, mulai dari penguasaan kosa kata, diksi, penyusunan kalimat, pembentukan paragraf, penguasaan ejaan, dan tanda baca. Salah satu bentuk menulis adalah menulis pengalaman pribadi dalam bentuk narasi. Hal ini sengaja dipilih dalam penelitian ini karena menulis pengalaman pribadi merupakan pengalaman nyata yang dapat dituangkan secara tertulis dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang peristiwa atau pengalaman yang dialami. Namun, kenyataannya menunjukkan keterampilan menulis pengalaman pribadi siswa belum mencapai Standar Kemampuan Minimal (SKM) yaitu 70. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai keterampilan menulis pengalaman pribadi siswa kelas V SD Negeri Kauman 03 Malang menunjukkan hanya 17 siswa yang mencapai ketuntasan belajar dengan tingkat keberhasilan baik dari 40 siswa. Dalam penelitian ini untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan model masyarakat belajar (learning community) untuk meningkatkan keterampilan menulis pengalaman pribadi siswa kelas V SD Negeri Kauman 03 Malang yang difokuskan pada masalah (1) bagaimanakahmeningkatkan proses pembelajaran kemampuan menulis pengalaman pribadi siswa kelas V SD Negeri Kauman 03 Malang melalui model masyarakatbelajar (learning community) dan (2) bagaimanakah meningkatkan hasil kemampuan menulis pengalaman pribadi siswa kelas V SD Negeri Kauman 03 Malang melalui model masyarakat belajar (learningcommunity). Penelitian ini menggunakan rancanganpendekatan tindakan kelas yang difokuskan pada 40 orang siswa melalui dua siklus terkait kompetensi dasar menulis karangan pengalaman pribadi dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan melalui proses tahapan pra menulis, menulis dan pasca menulis. Setiap siklus dilakukan dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x35 menit (4 jam pelajaran). .Berdasarkan hasil analisis data penelitian, diketahui bahwa proses pembelajaranmelalui model masyarakatbelajar (learning community)dapat meningkatkan keterampilan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan secara keseluruhan hasil yang dicapai siswa atau kelompok yang terteliti dalam pembelajaran menulis pengalaman pribadi menunjukkan peningkatan dengan melampaui standar kemampuan minimal (SKM) yaitu 70 sehingga model masyarakat belajar (learning community) dapat diterapkan di semua mata pelajaran sebagai alternatif model pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar model ini dapat dijadikan solusi efektif bagi guru dan lembaga sebagai alternatif model pembelajaran, bagi siswa untuk mengatasi kesulitan menulis karangan dan meningkatkan prestasi siswa, disamping itu dapat dijadikan sebagai rujukan untuk penelitian lebih lanjut.

Analisis penerapan pendidikan karakter pada mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 7 Malang / Khoimatun Tira Mita Sari

 

Kata kunci:Penerapan, Pendidikan Karakter, Mata Pelajaran Ekonomi Pada tahun 2010, pemerintah telah mensosialisasikan pendidikan karakter di setiap jenjang pendidikan. Namun pengintegrasian pendidikan karakter mulai diterapkan pada tahun 2011/2012. Kebijakan ini dilaksanakan oleh semua sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan perguruan tinggi. Pendidikan karakter adalah mengintegrasikan nilai karakter dan menerapkannya pada setiap mata pelajaran. Tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu tetapi juga menerapkan pendidikan karakter. Penerapan pendidikan karakter mulai dari memasukkan nilai-nilai karakter dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dan kemudian menerapkan nilai-nilai tersebut melalui kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan pendidikan karakter, faktor pendukung dan faktor penghambatnya, serta hasil penerapan pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dan termasuk jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memahami fenomena yang sedang dikaji. Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Negeri 7 Malang untuk memberikan hasil penelitian yang luas dan lengkap. Penelitian ini mengambil subyek guru ekonomi SMA Negeri 7 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Guru ekonomi SMA Negeri 7 Malang sudah memahami penerapan pendidikan karakter, dan sudah menerapkan pendidikan karakter dalam perangkat pembelajaran yaitu silabus dan RPP yang telah dibuat oleh guru ekonomi, serta dalam pembelajaran di kelas. Sedangkan persepsi guru ekonomi tentang penerapan pendidikan karakter bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan, karena dengan adanya penerapan pendidikan karakter dapat menunjukkan kemampuan hakiki peserta didik. Kedua, pelaksanaan pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomis ecara teoretis sudah dilaksanakan. Tetapi dalam pelaksanaannya masih belum terlaksana dengan maksimal. Hal itu bisa dilihat ketika guru menerapkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran di kelas yaitu melalui model pembelajaran yang digunakan. Guru belum menerapkan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan materi pembelajaran. Nilai-nilai tersebut belum ditanamkan secara maksimal. Ketiga, faktor pendukung penerapan pendidikan karakter adalah semua pihak sekolah, pemerintah serta KTSP. Pihak sekolah memberikan dukungan berupa penyediaan fasilitas yang berupa pelatihan-pelatihan penerapan pendidikan karakter, workshop pendidikan karakter, dan seminar pendidikan karakter yang mendukung ketercapaiannya pendidikan karakter di sekolah. Dari pemerintah memberikan sosialisasi pendidikan karakter dengan mengedarkan buku pedoman yang dapat dijadikan pedoman peserta didik untuk melaksankan pendidikan karakter. KTSP dapat mendukung ketercapain pendidikan karakter yaitu KTSP diimplementasikan dalam silabus dan silabus diimplementasikan dalam RPP yang dibuat oleh guru untuk perencanaan proses pembelajaran, sehingga nilai-nilai karakter yang dicantumkan dalam silabus dan RPP dapat di sampaikan dan sesuai dengan perencanaan. Faktor penghambat pendidikan karakter adalah lingkungan yang kurang mendukung dan kurangnya kesadaran peserta didik akan pentingnya pendidikan karakter. Keempat, SMA Negeri 7 Malang belum memiliki indikator yang dijadikan sebagai pedoman untuk penilaian pendidikan karakter, sehingga untuk penilaiannya masih belum maksimal. Penilaiannya berupa angka dan huruf. Padahal dari pemerintah sudah mensosialisasikan penilaiannya dinyatakan dalam pernyataan kualitatif dan memiliki makna terjadinya proses pembangunan.

Pembelajaran berbantuan media saku gantung dan sedotan untuk memahamkan teknik menyimpan dan meminjam dalam operasi bilangan cacah pada siswa kelas ll Sekolah Dasar / Mufarrahatus syarifah

 

Hubungan motivasi berprestasi dengan prokastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang / Dellawaty Supraba

 

Kata Kunci : motivasi berprestasi, prokrastinasi akademik. Motivasi berprestasi merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar dan berusaha untuk mendapatkan keberhasilan. Prokrastinasi akademik adalah suatu bentuk perilaku penundaan tugas akademik yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan pengerjaan tugas-tugas akademik. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui motivasi berprestasi mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang; (2) mengetahui prokrastinasi akademik mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang; (3) mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan prokrastinasi akademik mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang . Jenis Penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Subjek penelitian ini adalah karyawan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang yang berjumlah 52 orang. Data diambil dengan menggunakan Skala Motivasi Berprestasi dan Skala Prokrastinasi Akademik. Teknik analisis data untuk melihat gambaran motivasi berprestasi dan prokrastinasi akademik adalah analisis deskriptif, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik adalah dengan analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang (rxy = -0,353, sig.= 0,010 < 0,05). Artinya semakin tinggi motivasi berprestasi mahasiswa tingkat akhir maka semakin rendah prokrastinasi akademiknya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang cenderung memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Sedangkan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang memiliki tingkat prokrastinasi akademik yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada : (1) mahasiswa: memanfaatkan waktu dengan baik dan mengembangkan tanggung jawab pribadi karena berkaitan erat dengan motivasi berprestasi (2) universitas: menyelenggarakan program yang dapat menumbuhkan motivasi berprestasi seperti seminar mengenai bagaimana cara mengembangkan motivasi berprestasi dan memberi beasiswa kepada mahasiswa (3) peneliti selanjutnya: dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan faktor lain yang memiliki pengaruh sama dan lebih memperluas populasi penelitian yang digunakan.

Evaluasi perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru mata pelajaran IPS Terpadu (Ekonomi) Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Sidoarjo / Deffy Novasisca

 

Kata kunci: evaluasi, perangkat pembelajaran, pelaksanaan mengajar, guru ekonomi Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas perangkat pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui evaluasi. Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Melalui evaluasi bisa mengetahui perkembangan kualitas perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru, dengan cara menganalisis dan memberi penilaian terhadap masalah yang ditemukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas perangkat pembelajaran guru mata pelajaran ekonomi, kualitas pelaksanaan pembelajaran guru mata pelajaran ekonomi, kesesuaian perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru mata pelajaran IPS terpadu (ekonomi) sekolah menengah pertama di Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian evaluatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu pedoman wawancara, lembar observasi, dan dokumen perangkat pembelajaran. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kualitas perangkat pembelajaran sekolah menengah pertama di kabupaten Sidoarjo yang paling baik yaitu dari guru ekonomi SMPN 3 Porong (SG) dan yang kurang yaitu dari guru ekonomi SMPN 1 Sidoarjo (HR). Kedua, kualitas pelaksanaan pembelajaran sekolah menengah pertama di Kabupaten Sidoarjo dari guru ekonomi SMPN 3 Porong (SG) dengan persentase sebesar 95% lebih baik daripada guru ekonomi SMPN 1 Sidoarjo (HR) persentase sebesar 87,5%, guru ekonomi SMPN 1 Porong (PN) sebesar 80% dan guru ekonomi MTs Al-Fudhola Porong (IS) sebesar 77,5%. Ketiga, kesesuaian perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru ekonomi sekolah menengah pertama di kabupaten Sidoarjo yang terdiri dari guru ekonomi SMPN 1 Sidoarjo (HR), guru ekonomi SMPN 1 Porong (PN), guru ekonomi SMPN 3 Porong (SG), dan guru ekonomi MTs Al-Fudhola Porong (IS) setiap melakukan pembelajaran di dalam kelas tidak bisa selalu sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Berdasarkan hasil penelitian maka penulis mengajukan saran: (1) Bagi sekolah diharapkan mempunyai standar dalam pembuatan perangkat pembelajaran, (2) Bagi guru dapat menyusun perangkat pembelajaran yang terlebih dahulu dimulai dengan pengalokasian waktu kemudian membuat Program Tahunan, Program Semester, SILABUS, dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dalam pelaksanaan pembelajaran diharapkan mengacu pada perangkat pembelajaran yang telah disusun agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal, (3) Bagi Kepala Sekolah diharapkan untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dalam penyusunan perangkat pembelajaran, (4) Bagi peniliti lain diharapkan bisa mengembangkan penelitian sebelumnya, (5) Bagi Universitas Negeri Malang (UM) diharapkan bisa lebih meningkatkan kriteria atau standar pendidikan untuk mempersiapkan calon guru profesional, terutama guru pada mata pelajaran ekonomi.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray kolaborasi dengan picture and picture terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran kelas x SMAN 3 Malang / Arisanti Widyaning Rahayu

 

Kata kunci: Pembelajarn Kooperatif, Two Sty Two Stray, Picture and Picture, Hasil Belajar. Pendidikan sebagai upaya manusia merupakan aspek dan hasil budaya terbaik yang mampu disediakan setiap generasi manusia untuk kepentingan generasi muda agar melanjutkan dan cara hidup mereka dalam konteks sosio budaya. Permasalahan dalam pendidikan sangatlah komplek. Permasalah yang biasa muncul adalah siswa yang tidak bergairah dalam belajar, pembelajaran terpusat oleh guru yang membuat mereka bosan. Untuk itu pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray kolaborasi dengan Picture and Picture tepat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. Karena dengan pembelajaran tipe Two Stay Two Stray peserta didik dapat terlibat aktif untuk menggali materi yang dipelajari. Berdasarkan studi pendahuluan, pembelajaran ini tepat diterapkan di kelas X-4 SMAN 3 Malang. Karakteristik siswa kelas X-4 SMAN 3 Malang dalam pembelajaran adalah lebih menyukai model pembelajaran yang dapat mengikutsertakan siswa dan membuat siswa untuk ikut aktif, dengan begitu mereka akan merasa dihargai dan dapat memahami materi dengan baik. Berdasarkan uraian diatas peneliti mengambil judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Kolaborasi dengan Picture and Picture Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X SMAN 3 Malang”. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan siklus II berupa penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Two Stay Two Stray kolaborasi dengan Picture and Picture. Hasil belajar siswa yang diukur adalah ranah kognitif dan menggunakan instrument berupa tes tulis dalam bentuk soal subyektif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa model pembelajaran kooperatif Tipe Two Stay Two Stray kolaborasi dengan Picture and Picture dapat diterapkan pada mata pelajaran ekonomi materi pasar input dan pasar output di SMA Negeri 3 Malang. Nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa pada ranah kognitif meningkat yaitu 87,71 pada siklus I dan 88,22 pada siklus II.

Pengaruh modernitas individu dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran Ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kademangan Blitar / Riky Andriawan

 

Partisipasi wali murid dalam forum paguyuban kelas dalam meningkatkan mutu pembelajaran (Studi kasus di SDN Kebonsari 2 Malang) / Ardhika Teguh Widhi Hasworo

 

Kata Kunci : partisipasi, paguyuban kelas, pembelajaran Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan untuk lebih dapat menyesuaikan dengan perkembangan tersebut. Untuk mencapai target tersebut lembaga pendidikan harus lebih meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mencetak lulusan yang berkualitas dan dapat diterima oleh masyarakat. Keberhasilan dalam pendidikan tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pihak sekolah, juga masyarakat Wali murid dapat berpartisipasi di dalam pendidikan, maka SDN Kebonsari 2 Malang mendirikan paguyuban kelas, yang mana paguyuban tersebut adalah kumpulan-kumpulan walimurid untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang sudah ditentukan oleh sekolah, terbentuknya paguyuban supaya walimurid lebih peduli akan pendidikan untuk anaknya dan membantu kerja dari walikelas atau komite sekolah. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan alasan yang melatarbelakangi paguyuban kelas terbentuk; (2) untuk mendeskripsikan perencanaan mengenai program yang akan dilaksanakan oleh paguyuban kelas; (3) mendeskripsikan upaya Kepala Sekolah dalam mengaktifkan paguyuban kelas di SDN Kebonsari 2 Malang; (4) mendeskripsikan bentuk partisipasi paguyuban kelas dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SDN Kebonsari 2 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi partisipasi, wawancara dan analisis dokumentasi. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan triangulasi. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa paguyuban kelas dibentuk oleh Kepala SDN Kebonsari 2 Malang yang tujuannya untuk membantu tugas dari komite sekolah dan wali kelas dalam mengelola kelas. Paguyuban kelas terbentuk dari tim pengembang sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan mutu sekolah. Tim pengembang sekolah terdiri dari guru, kepala sekolah dan komite sekolah, dan tim sub pengembang sekolah yaitu tokoh masyarakat dan walimurid. Dalam merencanakan program paguyuban kelas dilakukan setelah terbentuknya struktur kepengurusan paguyuban kelas, dan dilaksanakan pada saat awal tahun ajaran ii baru. Program yang akan direncanakan terlebih dahulu dirundingkan antara paguyuban kelas dan wali kelas, kemudian disampaikan pada saat rapat. Program paguyuban kelas mendapat persetujuan dari kepala sekolah dan komite sekolah. Upaya kepala sekolah agar paguyuban kelas tetap aktif yaitu dengan mengadakan kegiatan lomba kebersihan antar kelas. Tujuannya yaitu untuk mengajak walimurid peduli terhadap kebersihan kelas, memberikan kelengkapan alat kebersihan, menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak dalam belajar di dalam kelas. Tujuan yang lain yaitu memberikan contoh kepada siswa agar terbiasa hidup sehat. Paguyuban kelas juga berperan dalam mengaktifkan mutu pembelajaran di SDN Kebonsari 2 Malang. Bentuk partisipasi dalam paguyuban kelas untuk meningkatkan mutu pembelajaran dalam bentuk: dana yaitu dengan cara menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang menunjang dalam kegiatan pembelajaran, melakukan perawatan atau perbaikan terhadap sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembelajaran, dan juga kegiatan parenting day yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi walimurid dan peduli terhadap pendidikan di sekolah tersebut. Saran penelitian ini adalah: (1) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan penelitian ini akan menambah bahan mengenai hubungan sekolah dengan masyarakat terutama paguyuban kelas;(2) Kepala Sekolah diharapkan penelitian ini akan lebih memberi motivasi bagi guru dan walimurid dalam pelaksanaan kegiatan paguyuban kelas dan meningkatkan kinerja dari walimurid dan guru; (3) Guru Kelas diharapkan dapat memotivasi guru supaya saling bekerja sama dalam kegiatan paguyuban kelas untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran.; (4) Anggota Paguyuban Kelas diharapkan penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi walimurid untuk lebih aktif dalam kegiatan paguyuban kelas; (5) Ketua Komite Sekolah diharapkan akan membuat komite sekolah lebih sering untuk berhubungan dengan paguyuban kelas dan memusyawarahkan kegiatan yang akan dilaksanakan; (6) Peneliti Lain diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk mengembangkan penelitian sejenis dalam bidang manajemen hubungan sekolah dan masyarakat.

Uji kotoran organik, kadar lumpur, gradasi pasir yang dipasarkan sebagai bahan campuran beton di Kabupaten Nganjuk / Sony Sugiharto

 

Kata Kunci : Pasir, Nganjuk, Campuran Beton. Pasir mempunyai peran penting dalam menentukan kekuatan dan mutu beton, untuk menghasilkan kualiatas beton yang baik pemilihan bahan pasir menjadi syarat utama. Dalam hal penggunaan pasir untuk bahan beton potensi deposit pasir di Kabupaten Nganjuk sangat besar, akan tetapi sampai saat ini belum diketahui mutu pasir yang digunakan itu. Dalam hal ini mutu yang dimaksud adalah kotoran organik, dan kadar lumpur yang terkandung, serta gradasi pasir yang dipasarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kotoran organik, kadar lumpur, dan gradasi pasir yang dipasarkan sebagai bahan campuran beton di Kabupaten Nganjuk. Rancangan menggunakan penelitian diskrptif; pengambilan sampel dilakukan pada empat tempat penambangan pasir di perbatasan Kabupaten Nganjuk. Sebelah Utara dari Sungai Widas, Selatan dari Sungai Brantas, Timur dari pasir gali, dan Barat dari Sungai Tanjung. Pengolahan data menggunakan persyaratan pasir sebagai campuran beton yang ada di Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971(PBI-1971). Hasil penelitian dari empat wilayah yang sudah diteliti adalah: (1) Pasir Sungai Brantas yang tidak memenuhi standar kotoran organik, (2) Pasir Sungai Brantas dan Sungai Tanjung memiliki kadar lumpur yang lebih dari 5%, (3) Pasir yang diteliti masuk zona 2; untuk pasir Sungai Brantas dan Sungai Tanjung memiliki butiran yang relatif lebih besar dari Sungai Widas dan pasir gali. Berdasarkan peneletian yang dilakukan, disarankan: (1) Pasir Sungai Brantas yang tidak memenuhi standar kotoran organik, pasir Sungai Brantas dan Sungai Tanjung memiliki kadar lumpur yang lebih dari 5% tidak cocok untuk digunakan sebagai bahan campuran beton, karena kotoran organik dan kadar lumpur yang banyak pada pasir dapat menurukan mutu beton, (2) Pasir yang diteliti masuk zona 2; untuk pasir Sungai Brantas dan Sungai Tanjung memiliki butiran yang relatif lebih besar dari Sungai Widas dan pasir gali tidak cocok untuk digunakan sebagai bahan campuran beton, karena akan berakibat tidak maksimalnya proses pemadatan, serta terjadinya rongga-rongga udara atau sarang kerikil (honeycomb).

Keefektifan bantuan teman sebaya dengan cognitif behavioral stress managemen (CBSM) siswa Madrasa Aliyah / Khoirul bariyyah o

 

Kata kunci: Bantuan Teman Sebaya, Cognitive-Behavioral Stres Management (CBSM), Stres Akademik. Stres akademik merupakan respon siswa terhadap berbagai tuntutan akademik meliputi (1) tuntutan untuk naik kelas, (2) menyelesaikan banyak tugas, (3) mendapat nilai ulangan yang tinggi, (4) keputusan menentukan jurusan, (6) kecemasan menghadapi ujian, dan (5) tuntutan untuk dapat mengelola waktu belajar. Ketika mengalami masalah, sebagian besar siswa lebih sering membicarakan masalah mereka dengan teman sebaya daripada bercerita kepada orang tua, konselor, atau guru di sekolah termasuk ketika mereka mengalami stres akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bantuan teman sebaya dengan cognitive behavioral stres management (CBSM) untuk menurunkan stres akademik siswa Madrasah Aliyah baik secara kelompok maupun individu. Penelitian menggunakan rancangan Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A. Subyek penelitian siswa kelas XI MAN 3 yang menunjukkan gejala stres akademik tinggi. Instrumen yang digunakan adalah skala stres akademik, lembar refleksi diri, skala keterampilan CBSM, pedoman observasi dan lembar tugas siswa. Data dianalisis dengan teknik visual grafis dan Wilcoxon Matched Pairs Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan (1) bantuan teman sebaya dengan Cognitive-Behavioral Stres Management (CBSM) efektif untuk menurunkan stres akademik siswa Madrasah Aliyah secara kelompok, (2) bantuan teman sebaya dengan Cognitive-Behavioral Stres Management (CBSM) efektif untuk menurunkan stres akademik siswa Madrasah Aliyah secara individu. Saran: (1) untuk konselor, perlu memberikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi teman sebaya yang membantu, (2) pihak madrasah, agar menyediakan fasilitas yang memadai sehingga pelayanan yang diberikan oleh teman sebaya dapat berjalan optimal serta hendaknya menerapkan strategi pembelajaran tambahan untuk mata pelajaran matematika, kimia, fisika, dan bahasa arab guna membantu siswa mengurangi tingkat stres akademik terhadap mata pelajaran tersebut dan (3) bagi peneliti lanjut, agar dapat lebih memperdalam dam memperluas topik penelitian untuk mambantu permasalahan siswa lainnya tidak terbatas stres akademik.

Pembuatan ledre dengan penambahan tepung kacang hijau (Phaseolus radiates L) sebagai makanan tradisional yang tinggi protein / Umi Hanik

 

Kata Kunci: ledre, kacang hijau, uji kesukaan Kacang hijau (Phaseolus radiates L) memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Kandungan gizi yang dimiliki kacang hijau antara lain protein (22,2 g/100 g), lemak (1,2 g/100 g), karbohidrat (62,9 g/100 g), kalsium (125 mg/100 g), fosfor (320 mg/100 g), zat besi (6,7 mg/100 g), vitamin A (10 mg/100 g), vitamin C (6,0 mg/100 g), vitamin B1 (0,64 mg/100 g), air (10 mg/100 g). kacang hijau dapat dijadikan bahan pangan karena kandungan karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Uji coba pembuatan ledre dengan penambahan tepung kacang hijau telah dilakukan, masalah yang terjadi selama uji coba adalah tekstur ledre cepat layu. Hal tersebut disebabkan adonan terlalu encer serta formulasi resep kurang tepat. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang tepat dalam pembuatan ledre dengan penambahan tepung kacang hijau, serta untuk mengetahui uji kesukaan konsumen terhadap warna, rasa, tekstur, dan aroma, serta menghitung jumlah protein dan harga jual ledre dengan penambahan tepung kacang hijau. Uji coba diawali dengan pembuatan tepung kacang hijau, proses yang dilakukan pencucian, pengeringan, penggilingan, dan pengayakan. Proses selanjutnya uji coba formulasi resep yang dilakukan 2 kali hingga didapatkan hasil formulasi yang tepat. Formulasi ke 2 dengan penambahan tepung kacang hijau sebanyak 100 g menghasilkan warna kuning kecokelatan, rasa manis dan gurih, tekstur renyah, dan aroma kacang hijau. Hasil dari uji kesukaan terhadap ledre dengan penambahan kacang hijau yaitu lebih dari setengah responden (56%) menyatakan agak suka dengan warna ledre kacang hijau, kurang dari setengah responden (42%) menyatakan suka dengan rasa ledre kacang hijau, lebih dari setengah responden (54%) menyatakan agak suka dengan tekstur ledre kacang hijau, sedangkan kurang dari setengah responden (48%) menyatakan agak suka dengan aroma ledre kacang hijau. Kandungan protein ledre kacang hijau sebanyak 36,085 g, sedangkan harga jual ledre kacang hijau Rp 4.300,- per kemasan dengan berat 100 g.

Studi komparatif minat siswa SMKN RSBI dan SMAN RSBI di Kabupaten Pamekasan terhadap pembelajaran DIKJASORKES / Nofa Risman Hidayat

 

Kata kunci: minat siswa, dikjasorkes, SMKN, SMAN, RSBI. Dikjasorkes merupakan bagian integral dari proses pendidikan secara keseluruhan sehingga Dikjasorkes tidak dapat dipisahkan dari pendidikan umum lainnya. Dikjasorkes lebih mengutamakan aktifitas jasmani sebagai upaya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kabupaten Pamekasan memiliki satu sekolah menengah kejuruan RSBI dan satu sekolah menengah atas RSBI. Masing-masing sekolah tersebut mempunyai keunggulan yang lebih seperti sarana dan prasarana pembelajaran dalam berbagai bidang khususnya Dikjasorkes serta guru yang berkompeten. Siswa SMK lebih banyak mendapatkan pelajaran bersifat praktik sehingga membiasakan siswa bergerak aktif, sedangkan siswa SMA lebih banyak belajar di kelas sehingga membatasi siswa untuk bergerak. Proses belajar siswa dipengaruhi oleh minat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat siswa SMK Negeri RSBI, minat siswa SMA Negeri RSBI dan mengetahui apakah ada perbedaan antara minat siswa SMK Negeri RSBI dan SMA Negeri RSBI di Kabupaten Pamekasan terhadap pelajaran Dikjasorkes. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif dengan rancangan survei, Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Negeri 3 Pamekasan dan seluruh siswa SMA Negeri 1 Pamekasan. Sampel diambil 10% dari 902 menjadi 90 siswa dari SMK Negeri 3 Pamekasan, dan 10% dari 741 menjadi 74 siswa dari SMA Negeri 1 Pamekasan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata minat siswa di SMK Negeri RSBI Kabupaten Pamekasan terhadap pembelajaran Dikjasorkes adalah 114 berada pada rentang skor 93,6 – 115,1 yang menyatakan minat siswa terhadap pembelajaran Dikjasorkes di SMK Negeri RSBI Kabupaten Pamekasan termasuk dalam kategori sedang. Rata-rata minat siswa di SMA Negeri RSBI Kabupaten Pamekasan terhadap pembelajaran Dikjasorkes adalah 108,6 berada pada rentang skor 93,6 – 115,1 yang menyatakan minat siswa terhadap pembelajaran Dikjasorkes di SMK Negeri RSBI Kabupaten Pamekasan termasuk dalam kategori sedang. Hasil uji-t menunjukkan nilai Sig. (0,009) < 0,05, dengan demikian H0 ditolak yang berarti terdapat perbedaan minat siswa terhadap pelajaran Dikjasorkes antara siswa SMK Negeri RSBI dan SMA Negeri RSBI di Kabupaten Pamekasan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah minat siswa SMK Negeri RSBI lebih tinggi dari pada siswa SMA Negeri RSBI terhadap pelajaran Dikjasorkes. Diharapkan kepada guru Dikjasorkes diharapkan berusaha untuk menumbuhkan minat dalam diri siswa, dengan cara merubah gaya mengajar agar tidak menoton, membuat variasi pembelajaran yang menarik dan memodifikasi media pembelajaran yang digunakan sehingga dapat meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran Dikjasorkes.

Pengaruh strategi pembelajaran (ekspositori, pengajuan masalah, dan pemecahan masalah) dan kemampuan awal terhadap hasil belajar kalkulus dan keterampilan berpikir kreatif pada mahasiswa pendidikan matematika / Rita Yuliastuti

 

Kata kunci : ekspositori,pengajuan masalah, pemecahan masalah, kemampuan awal, hasil belajar kalkulus, berpikir kreatif. Penelitian ini dilatarbelakangi penurunan kualitas proses, dan hasil belajar kalkulus dan keterampilan berpikir kreatif. Kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya diarahkan untuk memahami konsep-konsep kalkulus, dan dapat secara kreatif menerapkannya untuk menyelesaikan masalah-masalahterkait. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel bebas strategi pembelajaran (ekspositori, pengajuan masalah, dan pemecahan masalah) dan kemampuan awal (tinggi dan rendah) terhadap variabel terikat hasil belajar kalkulus dan keterampilan berpikir kreatif, dan untuk menguji pengaruh interaksi variabel bebas strategi pembelajaran dengan kemampuan awal terhadap variabel terikat hasil belajar kalkulus dan keterampilan berpikir kreatif, bagi mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment faktorial 2x3, yang dilakukan di Unirow Tuban pada semester 2 tahun akademik 2011/2012. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Matematika Unirow Tuban yang mengikuti kuliah Kalkulus II, terdiri dari 38 mahasiswa kelas B, dibelajarkan dengan strategi pembelajaran pengajuan masalah, 36 mahasiswa kelas C, dibelajarkan dengan strategi pembelajaran pemecahan masalah, dan 35 mahasiswa kelas E dibelajarkan dengan strategi pembelajaran ekspositori. Untuk keperluan analisis data, dipilih 20 mahasiswa pada setiap kelas, yang terdiri dari 10 mahasiswa berkemampuan awal rendah, dan 10 mahasiswa berkemampuan awal tinggi. Sehingga total subjek sebanyak 60 mahasiswa. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 1) ada pengaruh yang signifikanstrategi pembelajaran (ekspositori, pengajuan masalah, dan pemecahan masalah) terhadap hasil belajar kalkulus, rata-rata hasil belajar kalkulus adalah (72,65; 69,4; dan 78,5), 2)ada pengaruh yang signifikan kemampuan awalmahasiswa terhadap hasil belajar kalkulus, rata-rata skor hasil belajar kalkulus mahasiswa berkemampuan awal rendah dan tinggi adalah (68,467dan 78,567), 3) ada pengaruh interaksi yang signifikan antarastrategi pembelajaran(ekspositori, pengajuan masalah, dan pemecahan masalah)dan kemampuan awal terhadap hasil belajar kalkulus, rata-rata skor hasil belajar kalkulus mahasiswa berkemampuan awal rendah (72,300; 57,500; 76,800), yang berkemampuan awal tinggi (73,0; 81,300; 75,600), 4)ada pengaruh yang signifikanstrategi pembelajaran (ekspositori, pengajuan masalah, dan pemecahan masalah) terhadap keterampilan berpikir kreatif, rata-rata skorketerampilan berpikir kreatif(24,45;24,45;28,75), 5) adapengaruh yang signifikan kemampuan awalmahasiswa terhadap keterampilan berpikir kreatif, rata-rata skorketerampilan berpikir kreatif (24,45; 24,45; 28,75), 6) ada pengaruh interaksi yang signifikan strategi pembelajaran (ekspositori, pengajuan masalah, dan pemecahan masalah) dan kemampuan awal terhadap keterampilan berpikir kreatif, rata-rata keterampilan berpikir kreatif mahasiswa berkemampuan awal rendah (23,400; 18,700; 27,100). Sedangkan mahasiswa berkemampuan awal tinggi (25,500; 30,200; 30,400). Berdasarkan temuan penelitian disarankan sebagai berikut1) jika tujuan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar kalkulus dan keterampilan berpikir kreatif, disarankan untuk menggunakan strategi pembelajaran pemecahan masalah, 2)dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya memperhatikan tingkat kemampuan awal peserta didik dalam memilih strategi pembelajaran,3) agar pembelajaran efektif, maka sebelum pembelajaran, sebaiknya dipersiapkan skenario pembelajaran, danperangkat pembelajaran, 4) perlu dilakukan penelitan lanjutan di tiap jenjang pendidikan, dengan menyertakan variabel lain yang relevan, misalnya kemampuan berpikir kritis, motivasi berprestasi, sikap kreatif, tugas rumah, dan nilai karakter bangsa. Tidak hanya pada aspek kognitif saja, tetapi dapat dikembangkan pada aspek afektif dan psikomotorik.  

Peranan koperasi sekolah sebagai laboratorium praktek berkoperasi bagi siswa SMAN 1 Kepanjen / susy janang prawita

 

Kata Kunci: Koperasi Sekolah, Laboratorium Praktek Berkoperasi, Siswa SMAN 1 Kepanjen Koperasi sekolah adalah koperasi yang didirikan di lingkungan sekolah yang anggotanya terdiri atas siswa sekolah tersebut. Pendirian koperasi sekolah selain sebagai penyedia barang kebutuhan siswa juga sebagai laboratorium praktek berkoperasi bagi siswa. Pengertian laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melatih siswa dalam hal keterampilan melakukan praktek, demonstrasi, percobaan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Koperasi sekolah dapat dikatakan sebagai laboratorium praktek berkoperasi bagi siswa apabila mampu menjadi wadah atau tempat bagi siswa untuk belajar ilmu koperasi tidak hanya sekedar teori namun juga praktek nyata. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui bagaimana peranan koperasi sekolah sebagai laboratorium praktek berkoperasi bagi siswa, apakah keberadaan koperasi sekolah mampu mendidik dan melatih siswa berkoperasi serta menjadikan koperasi sekolah sebagai laboratorium praktek berkoperasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini antara lain Kepala Sekolah, guru Pembina koperasi sekolah, guru ekonomi, karyawan koperasi dan siswa. Prosedur pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan bersifat induktif. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/ keajegan pengamatan, dan triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat program jual beli barang kebutuhan siswa, program jadwal piket dan program Rapat Anggota Tahunan(RAT). Program ini mengalami hambatan yang pertama pengurus kurang mengoptimalkan kinerjanya, hal ini dapat diatasi dengan Syahrun sebagai ketua koperasi sekolah yang selalu mengingatkan pengurus untuk aktif berkoperasi selain itu guru pembina koperasi meningkatkan kerjasamanya dengan pengurus sehingga pengelolaan koperasi dapat berjalan secara lancar dan tertib. Hambatan yang kedua yaitu kondisi koperasi sekolah yang sempit sehingga siswa kelas XII IPS tidak bisa praktek pada saat muatan lokal akuntansi koperasi, hal ini dapat diatasi dengan menjadikan koperasi sekolah sebagai laboratorium data bagi siswa kelas XII IPS sehingga mereka bisa praktek pembukuan. Kesimpulannya koperasi sekolah berperan sebagai laboratorium praktek berkoperasi bagi siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa: 1). Pengurus lebih meningkatkan keaktifanya dalam kegiatan berkoperasi 2). Ruangan koperasi sekolah diperluas 3). Guru Pembina koperasi lebih meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang baik dengan pengurus, pengawas dan PK (Perwakilan Kelas).

Subtitusi tepung kacang merah dalam pembuatan kue semprong / Dyah Ayu Wijayanti

 

Penggunaan media bangun geometri untuk menanamkan konsep penjumlahan pecahan / Nanik Ulfa

 

Kata Kunci: Media, Bangun Geometri, Konsep, Penjumlahan Pecahan Berdasarkan hasil observasi awal di SDN 02 Kedungpedaringan Kepanjen pada 5 Oktober 2012 diperoleh kesimpulan bahwa siswa masih belum memahami konsep penjumlahan pecahan, selain itu kegiatan pembelajaran selama ini masih berfokus kepada guru. Oleh karena itu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana menanakan penggunaan media bangun geometri untuk menanamkan konsep penjumlahan pecahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah sistematis penggunaan media bangun geometri dalam menanamkan konsep penjumlahan pecahan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti sebagai pengajar, dan guru matematika serta teman sejawat sebagai pengamat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah sistematis penggunaan media bangun geometri dalam menanamkan konsep penjumlahan pecahan. subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN 02 Kedungpedaringan Kepanjen Malang sebanyak 19 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui: (1) pelaksanaan pembelajaran, (2) observasi aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung, (3) tes akhir tindakan. Adapun tindakan dalam penelitian ini adalah memberi situasi pembelajaran yang menyenangkan dan mengajak siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga siswa memahami konsep pecahan dengan pengalaman yang telah dialami. Agar siswa mendapat pengalaman belajar secara langsung maka dalam pembelajaran digunakan media bangun geoemetri untuk membantu siswa dalam mengkonkritkan pecahan. bangun geometri yang dipilih adalah bangun geometri datar berupa persegi, persegi panjang, dan lingkaran. Ada tiga tahapan yang dilakukan dalam pembelajaran ini, yaitu: 1) tahap awal, dimana guru mengecek pengetahuan prasyarat siswa dengan melakukan tanya jawab, 2) tahap inti, dalam tahap ini siswa mengerjakan LKS, 3) tahap penutup, guru dan siswa mengambil kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam penelitian ini digunakan media bangun geometri datar yang terangkum dalam Lembar Kerja Siswa. Lembar Kerja siswa disusun sesuai dengan langkah permainan Dienes, mengingat usia anak sekolah dasar masih dalam tahap permainan. Langkah-langkah permainan dalam permainan Dienes yaitu: (1) Permainan Bebas, (2) Permainan tersusun (3) Permainan Kesamaan Sifat, (4) Permainan Penyajian, (5) Permainan Penyimbulan, (6) Permainan Formalisasi. Dalam setiap tahap permainan tersebut siswa melakukan langkah-langkah sesuai dengan perintah dalam LKS. Hasil yang diharapkan adalah siswa tidak hanya menghafal bagaimana cara mengerjakan penjumlahan pecahan, namun siswa mendapat pengalaman secara langsung dalam memahami konsep penjumlahan pecahan, sehingga konsep tersebut akan tertanam dengan sendirinya dalam ingatan siswa. Dari penelitian ini diperoleh hasil yaitu rata-rata persentase keterlaksanaan aktivitas siswa diperoleh sebesar 95,8% dan kegiatan guru sebesar 90,4%. Berdasarkan hasil tes akhir tindakan diperoleh bahwa ketuntasan belajar mencapai 89% dari 19 siswa yang mengikuti tes mencapai ketuntasan. Dari penelitian yang sudah dilakukan oleh penulis, ada beberapa hal yang dapat ditindaklanjuti ke depannya dari penelitian ini diantaranya: 1. Perlu adanya penelitian yang lebih mendalam tentang penanaman konsep penjumlahan pecahan dengan metode lain 2. Pemilihan media yang lebih dikenal dan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari siswa 3. Penyusunan LKS yang dapat menyajikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari siswa. 4. Jika memungkinkan dalam pembelajaran juga dapat dilakukan diskusi, dengan diskusi diharapkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dan bisa bekerjasama dengan kelompok. 5. Kegiatan presentasi juga dapat dilakukan dalam pembelajaran, hal ini bertujuan untuk melatih keberanian siswa dalam meyampaikan pendapat atau pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran yang telah dilakukan.

Pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi (studi pada karyawan PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung) / Tomy Arief Wicaksono

 

Kata kunci : kepuasan kerja, komitmen organisasi Salah satu sasaran penting dalam pengelolaan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan adalah terciptanya kepuasan kerja karyawan yang lebih lanjut akan meningkatkan komitmen organisasi. Semakin tinggi kepuasan kerja, maka semakin tinggi komitmen organisasional. Seseorang yang telah terpenuhi semua kebutuhan dan keinginan oleh organisasi (puas), dengan penuh kesadaran mereka akan meningkatkan tingkat komitmen yang ada adalam dirinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :(1) deskripsi kepuasan kerja karyawan (gaji, pekerjaan itu sendiri, rekan kerja, promosi pekerjaan, kepenyeliaan (supervise) ) dan komitmen organisasi di PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung, (2) pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi secara parsial , (3) pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi secara simultan, dan (4) pengaruh dominan sub variabel kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah karyawan PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung sebanyak 141 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proporsional random sampling dengan sampel sebanyak 104 responden. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Berdasarkan analisis deskriptif, kondisi kepuasan kerja karyawan di PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung adalah cukup puas dan komitmen karyawan adalah tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1). Terdapat pengaruh positif secara langsung yang signifikan antara kepuasan kerja karyawan terhadap komitmen organisasi secara parsial PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung, (2). Terdapat pengaruh positif secara langsung yang signifikan antara kepuasan kerja karyawan terhadap komitmen organisasi secara simultan PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung, (3).Terdapat pengaruh dominan yang signifikan antara kepuasan kerja (gaji, pekerjaan itu sendiri, rekan kerja, promosi pekerjaan, kepenyeliaan (supervise) ) terhadap komitmen organisasi karyawan PT. Lestari Agro Kencana Tulungagung. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat disarankan hendaknya utuk dipertahankan kepuasan karyawan atas rekan kerja, dengan cara pelatihan, outbond maupun rekreasi supaya rasa kebersamaan sesama rekan kerja tetap terjaga. Aspek lain yang perlu ditingkatkan adalah variasi pekerjaan dan kesesuaian tunjangan.

Aplikasi sistem informasi geografi (SIG) untuk alternatif jalur bus trans Malang / Randhiki Gusti Perdana

 

Kata kunci: SIG, pemodelan, jalur bus, Trans Malang Saat ini kota Malang membutuhkan moda transportasi baru. Dimana transportasi tersebut mampu memenuhi kebutuhan pengguna jasa transportasi umum. Moda transportasi baru yang dapat menghubungkan antara daerah luar kota dengan pusat kota, dan dari segi pelayanan diharapkan lebih baik dari angkutan kota yang ada saat ini. Salah satu solusinya adalah Bus Trans Malang. Untuk mengetahui jalur yang akan dilalui oleh masing-masing koridor Bus Trans Malang perlu diadakannya suatu pemodelan, diharapkan dari pemodelan tersebut menjadi salah satu alternatif penanganan permasalahan dan keluhan masyarakat pengguna jasa transportasi umum. Sehingga tuntutan masyarakat akan transportasi umum yang cepat, aman, nyaman dan terjangkau dapat terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemodelan jalur Bus Trans Malang dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografi (SIG). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling. Analisis yang digunakan yaitu menggunakan software ArcGis. Unsur-unsur yang dianalisis adalah jaringan jalan, titik kemacetan lalu lintas dan penggunaan lahan. Kegiatan ini produk intinya berupa peta alternatif Jalur Bus Trans Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jalur dan halte bus trans Malang dilihat dari tarikan dan bangkitan pergerakan, penggunaan lahan, kelas jalan dan fungsi dari jalan. Pembuatan alternatif jalur bus Trans Malang dibagi menjadi tiga, yaitu jalur tengah, jalur barat dan jalur timur. Aplikasi SIG ini berperan dalam pengolahan data primer dan sekunder, subsistem masukan data pada SIG sebagai upaya mengumpulkan dan mengolah data spasial dari sumber peta dan basis data lainnya.

Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) dan Loan To Deposit Ratio (LDR) terhadap harga saham bank pemerintah di Indonesia (periode 2004-2011) / Ferik Vidyatama

 

Kata kunci: Harga Saham, Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Loan to Deposit Ratio (LDR). Peranan bank dalam perekonomian sangat vital. Kegiatan bank sendiri adalah menghimpun dana dan menyalurkan dana. Para ekonom biasanya melihat bank sebagai perantara yang berfungsi menyalurkan dana dari investor individual untuk perusahaan dengan peluang produktivitas investasi. Investasi juga dikenal dengan penanaman modal. Konsep penanaman modal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk yang sering dikampanyekan oleh pemerintah dalam rangka menarik minat investor baik domestik maupun internasional. Dengan kinerja bank yang baik maka banyak investor yang akan membeli saham pada bank tersebut dan fungsi intermediasi bank akan semakin baik karena keberlanjutan bank juga akan terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap harga saham bank pemerintah di Indonesia periode 2004 - 2011. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, dokumen yang digunakan adalah laporan keuangan dari Bank Indonesia (BI) dan daftar harga saham dari Dunia Investasi. Selanjutnya data yang digunakan merupakan data panel. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi data panel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Return On Asset (ROA) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham dikarenakan pengelolaan aset bank tersebut baik. Implikasinya yaitu jika ROA semakin tinggi maka harga saham juga akan semakin tinggi. Dan Loan to Deposit Ratio (LDR) mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap harga saham dikarenakan bank melakukan ekspansi kredit yang besar-besaran dan hasil dari kredit tersebut menghasilkan laba yang digunakan untuk menarik investor. Implikasinya yaitu jika LDR semakin tinggi (dalam batas sehat) maka harga saham juga akan semakin tinggi. Sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) menunjukkan Ho diterima yang berarti bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara CAR dengan harga saham dikarenakan kemungkinan likuidasi bank pemerintah sangat kecil. Dan implikasinya adalah investor tidak melihat rasio CAR sebagai rasio yang mempengaruhi pergerakan harga saham. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak investor dan perbankan untuk melihat dari rasio keuangan solvabilitas, rentabilitas maupun likuiditas untuk kelangsungan usahanya. Dan untuk peneliti selanjutnya agar meneliti diluar variabel yang diteliti oleh peneliti yaitu CAR, ROA dan LDR agar memperluas penelitian yang ada.

Pengembangan bahan ajar berbasis Ebook pada mata pelajaran ekonomi kelas Vlll SMP Negeri 1 Singosari / Aditya Dewantari

 

Kata Kunci: bahan ajar, ekonomi, ebook Dalam dunia pendidikan, peran guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah relatif tinggi. Peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. Apabila siswa menganggap bahan ajar yang disediakan terlalu sukar, atau tidak cocok dengan karakteristik siswa maka tugas guru adalah membuat bahan ajar tersebut menjadi mudah untuk dipahami oleh siswa dan menyesuaikan agar bahan ajar tersebut sesuai dengan karakteristik siswa. Menurut Centre for Competency Based Training (dalam Prastowo, 2012:16), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran dikelas. Dalam hal ini guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar yang beragam,dan menarik yang dapat membantu siswa untuk memahami materi yang disampaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) Mengemas materi pembelajaran pada pokok bahasan “Pasar” menjadi lebih menarik, agar siswa juga tertarik untuk mempelajarinya (b) Mengembangkan bahan ajar yang bisa digunakan oleh guru sebagai alternatif bahan pembelajaran ekonomi di kelas (c) Inovasi dalam pembelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa (d) Mengetahui efektifitas bahan ajar yang dikembangkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bahan ajar berbasis ebook. Model yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar ini adalah model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Setelah mengikuti prosedural yang ada untuk mengembangkan sebuah bahan ajar berupa BSE menjadi sebuah bahan ajar berbasis ebook kemudian hasil produk akan diuji validitasnya oleh dua orang ahli materi dan dua orang ahli media untuk mengetahui kelayakan dari bahan ajar yang telah dikembangkan tersebut. Kemudian produk juga akan diuji cobakan kepada siswa kelas VIII D di SMP Negeri 1 Singosari untuk mengetahui keefektifannya. Hasil penelitian ini adalah: (1) dari hasil validasi oleh para ahli materi dan para ahli media, baik isi maupun tampilan bahan ajar ini sudah layak. Namun untuk lebih menyempurnakannya lagi penyusun masih perlu melakukan perbaikan-perbaikan di beberapa bagian dari bahan ajar ini, (2) hasil dari uji oba didapatkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima, artinya terdapat perbedaan nilai ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE dan sesudah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook. Untuk rata-rata (mean) pada ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE adalah 87,10 dan rata-rata ulangan harian siswa kelas VIII D setelah pembelajaran meggunakan bahan ajar berbasis ebook adalah 89,41. Artinya, bahwa rata-rata ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Singosari setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook lebih tinggi dari nilai rata-rata ulangan harian ekonomi setelah pembelajaran menggunakan BSE. Perbedan rata-rata ilai ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan BSE dan setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook (mean differece) sebesar 2,31 (hasil selisih dari 89,41 – 87,10) dan perbedaan berkisar 5,281 sampai 0,660 jika dilihat dari lower dan upper. Namun, jika di analisis satu per satu satu dan mengacu pada Kriteria Ketuntsan Minimal (KKM), pada ulangan harian ekonomi setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE terdapat dua siswa yang belum mencapai KKM, sementara pada ulangan harian ekonomi setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook, nilai semua siswa kelas VIII D sudah mencapai KKM. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa bahan ajar berbasis ebook ini cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Singosari. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: produk hasil pengembangan bahan ajar berbasis ebook ini sudah layak untuk diterapkan dalam pembelajaran dari segi isi maupun tampilannya, didukung oleh data validasi dari dua orang subyek ahli materi dan dua orang subyek ahli media dan bahan ajar berbasis ebook ini efektif meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII D SMP Negeri 1 Singosari, didukung oleh data hasil ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis ebook lebih tinggi dari pada hasil nilai ulangan harian ekonomi siswa kelas VIII D setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar BSE.

Pembelajaran passing bawah bolavoli dengan metode bermain kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Malang / Harvian Ade Putra Priyatama

 

Kata Kunci: Pembelajaran, PassingBawahBolavoli, MetodeBermain Passingbawahmerupakanteknikdasardalampermainanbolavoli yang harusdikuasaibenar-benardenganbaik, tanpamenguasaiteknikpassingbawahdenganbenar, permainanbolavolitidakakanberjalandenganlancar, teknik-tekniklainnyatidakakandapatdigunakandengansempurnasehinggapermainanmenjadikurangmenarik. Berdasarkanhasilpengamatandanpengalaman yang diperolehpenelitiketikamelaksanakanPraktikPengalamanLapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Malang tahunajaran 2011/2012 daripermainanbolavoli, siswaseringmelakukankesalahandalammelakukanteknikdasarpassingbawahbolavoli yang meliputiposisi kaki, posisitangan, posisibadan, impact bola, danarah bola hasilayunantangan. Tingkat kegagalan yang memilikipersentase paling tinggipadaaspekimpactatauperkenaan bola denganpersentase 65%. Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmemperbaikidanmeningkatkanketerampilantentangteknikdasarpassingbawahbolavolidenganmetodebermain. Permainaninimenggunakan 10 model permainan yang secaraumumbertujuanuntukmemperbaikiimpact passingbawahbolavoli yang menjaditingkatkegagalantertinggidalampenelitianini.Penggunaanmetodebermainbertujuan agar siswalebihtertarikdanlebihaktif, sehinggasiswatidakmerasabosandalammengikutipembelajaranpendidikanjasmani, khususnyapadamateripassingbawahbolavoli.Penelitidanguru pendidikanjasmaniberkolaborasidalammenyusun RPP pembelajaran.Subjekdalampenelitianiniadalahsiswakelas XI IPA 4SMA Negeri 1 Malangtahunajaran 2012/2013. Jenispenelitianiniadalahpenelitiantindakankelas.Teknikpengumpulan data yang dilakukanadalahdenganmenggunakaninstrumenlembarobservasi yang berupakolomuntukmemberikanpenilaiandenganmemberikanangka 1 untukgerakan yang benardan 0 untukgerakan yang salahdantidakdilakukan, catatanlapangan, danhasildokumentasisehinggamempermudahdalam proses pengambilan data. Penelitianiniterdiridari 2 siklus, masing-masingsiklusterdiridari 3 pertemuan.Hasilpenelitianiniadalahterjadiperbaikandanpeningkatanpadaaspekimpactatauperkenaan bola setelahpemberianmetodebermainpada proses pembelajaran. Hasilsiklus 1 menunjukkantingkatkeberhasilanpadaaspekimpactatauperkenaan bola sampaipadapertemuan ke-3 mencapai 71,25% danhasilsiklus 2 sampaipadapertemuanterakhirmengalamipeningkatansebesar 20% yaitumencapai91,25%. Disarankanpenguasaandaribeberapaindikatorketerampilangerakanpassingbawahbolavolidiantaranyaposisi kaki, posisitangan, posisibadan, impact bola, danarah bola dapatdilatihmenggunakanberbagaimacampolalatihan yang bervariasidalamkegiatanpembelajaransehinggaketerampilangerakanpassingbawahbolavolidapatdilakukandengansebaikmungkin. Model permainan yang digunakanolehpenelitimampumemperbaikidanmeningkatkanketerampilanpassingbawahbolavoli, sehinggapermainantersebutdapatdijadikanacuanataureferensibagi guru pendidikanjasmanipadasiswa yang kesulitandalammelakukanpassingbawahbolavoli, khususnyapadaimpactatauperkenaan bola.Pembelajaranpendidikanjasmanidisarankandilakukansecarabervariasidanmenarik, sehinggasiswadapatmengikutikegiatanpembelajarandenganbersemangatdanantusiasuntukmendapatkanhasilpembelajaran yang maksimalsertasesuaidenganapa yang diharapkan.  

Pengembangan alat penaga sumber daya alam pada kelas Xl mata pelajaran geografi topik sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui / Abd Rahman Halim

 

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian (studi pada pembeli fashion di New Golden Turen Malang) / Erwin Wahyudi

 

Kata Kunci: keadaan ekonomi, jabatan, kebudayaan, kelas sosial, sikap, dan keputusan pembelian Pemilik bisnis retail, terutama yang berbasis toko (store based retailing), harus mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pasar dan dengan tanggap mengadaptasinya pada bisnis mereka sehingga selalu sesuai dengan gaya hidup (life stile). Bentuk dan konsep-konsep baru serta ide-ide kreatif mengenai bagaimana berbelanja dengan lebih nyaman dan menyenangkan dengan lokasi mudah dicapai serta poin lebih bagi konsumen yang juga perlu dipertimbangkan. Bentuk desain yang unik akan membantu para pemilik untuk dapat secara kreatif menciptakan suasana toko yang nyaman bagi pengunjung. Mengingat semakin banyaknya pesaing maka New Golden terus berbenah. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen dalam pembelian suatu produk tidak saja dipengaruhi oleh stimulus bauran pemasaran, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial seperti kultur rujukan, keluarga, peran dan status sosial, personal seperti usia, tahap daur hidup, jabatan, keadaan ekomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri, dan faktor psikologis seperti motivasi dan persepsi seseorang. Dengan demikian keempat faktor tersebut yaitu faktor kebudayaan, sosial, personal dan faktor psikologis harus diperhatikan produsen untuk memotivasi konsumennya dalam mengambil keputusan membeli suatu produk. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu faktor-Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pembelian di distro New Golden? dan faktor manakah yang mempunyai pengaruh dalam mengambil keputusan pembelian di distro New Golden Turen? Sampel yang digunakan berjumlah 73 konsumen. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis faktor dengan menggunakan program SPSS 15 for Windows. Faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian di Distro New Golden Turen semula didasarkan pada 18 faktor yang dikelompokkan ke dalam 5 faktor yaitu : keadaan ekonomi, jabatan, kebudayaan, kelas sosial, dan sikap. Faktor yang dominan dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian di Distro New Golden Turen yaitu keadaan ekonomi, hal ini menunjukkan bahwa seseorang dengan keadaan ekonomi tinggi akan memiliki kecenderungan membeli barang-barang yang mahal, membeli pada toko yang berkualitas dan lengkap, konservatif dalam konsumsinya. Sedangkan seseorang yang mempunyai keadaan ekonomi rendah cenderung membeli barang dengan mementingkan kuantitas daripada kualitasnya.

Penerapan model pembelajaran Problem Posing untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-5 SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL Malang pada pokok bahasan GLB dan GLBB / Sri Astutik Ningtiyas

 

Kata kunci: problem posing, kemampuan komunikasi, prestasi belajar Hasil pengamatan dan wawancara menunjukkan bahwa pada umumnya proses pembelajaran fisika di kelas X-5 SMA Brawijaya Smart School Malang menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Kemampuan komunikasi siswa masih rendah, hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa masih banyak siswa yang kurang memperhatikan saat temannya sedang presentasi, tidak memberikan pendapat dan tanggapan. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata afektif yang masih rendah, salah satunya adalah bab besaran dan satuan nilai rata-rata afektif sebesar 62. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, hanya 38,5% siswa pada mata pelajaran fisika bab besaran dan satuan yang memperoleh nilai sesuai dengan KKM yang telah ditentukan sekolah yaitu sebesar 75. Salah satu upaya untuk memecahkan permasalahan tersebut diterapkan suatu pembelajaran berbasis konstruktivisme yaitu pembelajaran model problem posing. Selain dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, model ini juga dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa. Tahapan dalam problem posing adalah melatih siswa untuk lebih berani menyampaikan pikiran dan perasaan, melatih siswa untuk bisa memahami dan memberi dukungan kepada orang lain dan melatih siswa untuk mampu mengungkapkan diri. Oleh karena itu, diharapkan model pembelajaran problem posing dapat terlaksana dengan baik dan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini berlangsung dalam dua siklus pada kelas X-5 SMA BSS Malang yang berjumlah 26 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan catatan lapangan, lembar observasi, dan tes. Analisis data dalam penelitian ini bersifat kualitatif (berupa kata atau kalimat) dan kuantitatif (berupa angka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proses keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I sebesar 73,3% (dalam kriteria cukup) mejadi 96,7% (dalam kriteria sangat baik) pada siklus II. Untuk kemampuan komunikasi siswa juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I sebesar 72,1% dengan kriteria cukup, dan meningkat pada siklus II menjadi 85,6% dengan kriteria baik. Sementara untuk prestasi belajar fisika juga mengalami peningkatan, pada siklus I rata-rata nilai sebesar 74,0 dan pada siklus II naik menjadi 91,2. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran problem posing dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-5 SMA BSS Malang.

Pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program lenear siswa X TKR 1 SMKN 1 Doko

 

Kata Kunci : pembelajaran berbantuan multimedia, teori beban kognitif, program linear Program linear merupakan salah satu materi matematika yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan siswa menyelesaikan masalah program linear masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan adanya beban kognitif yang dialami siswa selama pembelajaran. Teori beban kognitif (Cognitive Load Theory atau CLT) mengidentifikasi bahwa belajar terganggu ketika jumlah persyaratan pengolahan melebihi kapasitas dari memori kerja manusia. Beban kognitif terdiri dari beban kognitif intrinsik, beban kognitif erat, dan beban kognitif asing. Kemampuan siswa menyelesaikan masalah program linear dapat ditingkatkan antara lain dengan pembelajaran efektif yaitu dengan mengelola beban kognitif intrinsik, meningkatkan beban kognitif erat, dan mengurangi beban kognitif asing. Seiring perkembangan teknologi maka pembelajaran efektif diwujudkan melalui pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program linear siswa X Teknik Kendaraan Ringan (TKR) 1 SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas karena dilaksanakan oleh guru sebagai peneliti dengan mengumpulkan informasi tentang bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X TKR 1 SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar sebanyak 30 siswa. Subjek wawancara adalah 4 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah yang dipilih berdasarkan hasil tes materi prasyarat dan pertimbangan bahwa siswa-siswa tersebut mudah diajak berkomunikasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program linear siswa X TKR 1 SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar terbagi dalam tiga tahap pembelajaran, yaitu (1) tahap awal meliputi penyampaian tujuan pembelajaran menggunakan media PowerPoint, (2) tahap inti meliputi demonstrasi pengetahuan menggunakan media PowerPoint dan Kertas Berpetak, latihan terbimbing menggunakan LKS yang dilakukan secara berkelompok dengan bantuan software GeoGebra, dan presentasi hasil diskusi kelompok dengan bantuan Kertas Berpetak, dan (3) tahap akhir meliputi umpan balik dengan bantuan Kertas Berpetak dan software GeoGebra serta latihan pemantapan dan tranfer pengetahuan menggunakan lembar tes. Respon siswa terhadap pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif sangat positif. Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disarankan bagi peneliti lain yang berminat mengadakan penelitian serupa dapat melakukan pada sekolah lain untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai efektifitas pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif pada materi program linear.

Hubungan antara bakat mekanik dan hubungan interpersonal antar mahasiswa dengan hasil belajar mata kuliah sistem Chasis, Suspensi, Kemudi mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Dedi Siswanto

 

Kata kunci : Bakat mekanik, hubungan interpersonal,hasil belajar Bakat mekanik dan hubungan interpersonal merupakan salah satu diantara faktor-faktor yang berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar mata kuliah chasis, suspensi, kemudi Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Dengan bakat mekanik yang dimiliki mahasiswa dan hubungan interpersonal yang baik dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Penelitian ini adalah penelitian populasi, dimana jumlah populasinya adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif 2008 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksplanasi dengan tujuan untuk menguji hipotesis yaitu menguji korelasi variabel bebas yang terdiri dari bakat mekanik (X1) dan hubungan interpersonal antar mahasiswa (X2) dengan variabel terikat yaitu hasil belajar mata kuliah chasis, suspense, kemudi (Y). Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner (angket) kepada responden, dengan kuesioner jawaban tertutup berskala empat model Likert yang dimodifikasi. Teknik tersebut didukung dengan dokumentasi guna melengkapi data yang tidak terakomodasi oleh instrumen kuesioner. Adapun indikator yang dijadikan ukuran untuk variabel X1 yaitu kemampuan umum, kreativitas, dan pengikatan diri untuk variabel X2 yaitu pembentukan hubungan interpersonal, peneguhan hubungan interpersonal, dan pemutusan hubungan interpersonal pembentukan hubungan interpersonal, peneguhan hubungan interpersonal, dan pemutusan hubungan interpersonal. Sedangkan untuk variabel Y adalah hasil belajar mata kuliah chasis, suspense, kemudi. Dari hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh secara simultan antara variabel bakat mekanik dan hubungan interpersonal antar mahasiswa dengan hasil belajar mata kuliah sistem chasis, suspensi, kemudi mahasiswa program studi pendidikan teknik otomotif. Hal ini terbukti dengan diperolehnya R Square sebesar 69,6 % yaitu kontribusi efektif dari kedua variabel bebas yaitu variabel bakat mekanik dengan hubungan interpersonal antar mahasiswa dan sisanya sebesar 30,4% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dengan kontribusi sebesar 69,6% bakat mekanik dan hubungan interpersonal telah dapat mewakili variabel yang ditetapkan untuk meneliti hal-hal apa saja yang mempengaruhi hasil belajar mata kuliah sistem chasis, suspensi, kemudi mahasiswa program studi pendidikan teknik otomotif.

Pengembangan aplikasi Monitoring Presensi Berbasis WEB jurusan teknik elektro Universitas Negeri Malang / Dwi Setia Nursanti

 

Nursanti, Dwi Setia. 2012. Pengembangan Aplikasi Monitoring Presensi Berbasis Web di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T., (II) Muhammad Ashar, S.T., M.T. Kata kunci : MySQL, PHP, Presensi Presensi merupakan hal pokok yang dilakukan di dalam dunia pendidikan. Presensi adalah pencatatan proses kehadiran seseorang yang kemudian dimuat dalam suatu laporan tertulis. Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang merupakan salah satu instansi pendidikan yang menggunakan sistem presensi untuk memonitor tingkat kehadiran mahasiswa. Untuk mengurangi kendala dalam memonitor presensi mahasiswa, maka dibuatlah suatu aplikasi monitoring presensi mahasiswa berbasis web yang dapat menutupi kekurangan dalam presensi yang masih menggunakan sistem manual, selain itu dapat dilakukan proses rekapitulasi secara otomatis. Pada tugas akhir ini, akan dirancang aplikasi monitoring presensi berbasis web yang berfungsi untuk monitoring data presensi dan melakukan rekapitulasi presensi secara otomatis. Metode perancangan dari pengembangan aplikasi monitoring presensi ini memiliki beberapa tahap yaitu pembuatan desain site map, Data Flow Diagram (DFD), Entity Relationship Diagram (ERD) , database, desain interface, prosedur pengujian, hasil pengujian dan analisis. Pada pengembangan aplikasi monitoring presensi ini, menggunakan database MySQL dalam penyimpanan data presensi dan aplikasi dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP dan web server XAMPP. Kesimpulan dari penulisan tugas akhir ini adalah aplikasi berbasis web ini dapat mengambil dan mengolah data presensi dari data yang sudah ada menjadi data yang dapat ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram statistik sehingga dapat membantu ketua jurusan dalam melakukan monitoring kehadiran mahasiswa.

Pengembangan buku panduan renang untung siswa ekstrakulikuler renang di SMA laboratorium Universitas Negeri Malang / Faris Pratama Anggriawan

 

Kata kunci : pengembangan, buku panduan, ektrakurikuler renang. Renang adalah suatu olahraga yang dilakukan di air, yang dilakukan dengan cara menggerakan anggota badan, mengapung di air, dan seluruh anggota badan bergerak dengan bebas. SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah SMA yang terdapat di Kota Malang, tidak menutup kemungkinan mata pelajaran renang serta ekstrakurikuler renang akan diberikan oleh sekolah, dengan adanya pemberian materi dan praktik renang diharapkan siswa menguasai tehnik dasar dalam berenang dan mampu mengembangkan bakat serta minat dalam bidang renang. Untuk melengkapi komponen dalam kegiatan ekstrakurikuler renang, sudah seharusnya memanfaatkan buku panduan yang mampu mendukung pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler secara efektif dan efesien. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kelayakan pengembangan buku panduan renang yang akan digunakan untuk siswa ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Buku panduan latihan renang ini yang nantinya dapat membantu siswa untuk memperoleh informasi tentang renang dan mempercepat proses pemahaman dalam mempelajari dasar-dasar tehnik berenang. Selanjutnya buku panduan yang dikembangkan diharapkan juga dapat menjadi bahan bacaan yang menarik bagi siswa, sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar renang. Desain pengembangan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket kuesioner. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan produk buku panduan yang dilakukan dalam penelitian ini hanya sampai pada uji kelompok kecil dan uji kelompok kecil dan uji lapangan. Hal ini karena keterbatasan waktu untuk melakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Dalam penelitian dan pengembangan ini ditetapkan jika hasil evaluasi uji coba terbatas mencapai 60% maka buku panduan ini secara keseluruhan dinyatakan layak. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar), maka diperoleh bahwa produk pengembangan buku panduan renang untuk siswa ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%, sehingga dapat digunakan. Hasil penelitian dan pengembangan ini berupa buku panduan yang mengemas metode latihan renang 4 gaya yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kegiatan ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan. Dalam pengembangan yang lebih lanjut, peneliti memberi saran sebagai berikut: Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efektivitas dari produk yang dikembangkan ini, karena hasil dari pengembangan ini masih terbatas sampai tersusun sebuah produk saja.

Hubungan penerapan hukuman yang tidak efektif diSekolah dengan inferioritas pada siswa SD / FEntostan Widoyoko Tunggal

 

Kata kunci: penerapan hukuman yang tidak efektif, inferioritas, siswa SD Siswa SD mengalami perubahan lingkungan anak rumah menjadi anak sekolahan. Adanya perubahan ini membuat siswa mengembangkan standarstandar baru dalam menilai dirinya. Standar-standar baru didapat dari interaksi siswa dengan orang lain, terutama guru. Adanya hukuman yang diberikan oleh guru saat proses belajar mengajar mengakibatkan adanya penilaian yang negatif siswa terhadap dirinya. Hal ini yang membuat siswa mengalami perasaan inferioritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah dengan inferioritas pada siswa SD. Rancangan penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitian ini sebanyak 108 siswa SD, dengan rincian 12 siswa kelas 4, 12 siswa kelas 5, dan 12 siswa kelas 6 di SDN Pujon Lor 1, SDN Pujon Lor 2, dan SDN Pujon Lor 3. Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket penerapan hukuman tidak efektif di sekolah dan skala inferioritas. Angket penerapan hukuman tidak efektif di sekolah terdiri dari 36 aitem dengan reliabilitas 0,854 dan skala inferioritas terdiri dari 35 aitem dengan reliabilitas 0,874. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik prosentase analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah pada subjek penelitian sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 78 % dan gambaran kondisi inferioritas pada subjek penelitian sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 71 %. Uji hipotesis menyimpulkan tidak terdapat hubungan antara penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah dengan pada siswa SD (rxy = 0,093; p = 0,340> 0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) Bagi Sekolah, hukuman di sekolah yang dilakukan oleh guru sebaiknya menggunakan hukuman yang efektif; (2) Bagi orang tua, diharapkan tidak menggunakan pola asuh gaya hidup dimanja dan pola asuh gaya hidup tertolak karena dapat menyebabkan perasaan inferioritas pada anak; (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, diharapkan mengembangkan penelitian dengan cara menambah populasi dan memasukkan faktor lain yang berhubungan dengan penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah dan inferioritas pada siswa SD sebagai variabel.

Penerapan strategi sales promotion yang efektif pada laboratorium minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Heru Yuni Sulistiyono

 

Kata kunci : penerapan strategi, sales promotion Sales promotion merupakan salah satu jenis komunikasi yang sering dipakai pemasar, yaitu upaya pemasaran yang bersifat media dan non media untuk merangsang coba-coba konsumen, meningkatkan permintaan konsumen atau untuk memperbaiki kualitas produk. Melalui promosi penjualan perusahaan dapat menarik pelanggan baru, mempengaruhi pelanggannya untuk mencoba produk baru, mendorong pelanggan membeli lebih banyak, menyerang aktivitas promosi pesaing, meningkatkan impulse buying (pembelian tanpa rencana sebelumnya), atau mengupayakan kerjasama yang lebih erat dengan para pengecer. Sebagai salah satu bauran promosi, sales promotion merupakan salah satu unsur penting dalam promosi produk. Praktikum Manajemen Pemasaran III ini dilaksanakan di Laboratorium Minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, selama sepuluh minggu yaitu mulai tanggal 1 Maret 2004 sampai tanggal 7 Mei 2004. Penggunaan sales promotion pada Laboratorium Minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang hanya sedikit. Sales promotion bagi konsumen akhir adalah berupa diskon atau potongan harga. Sedangkan pelaksanaan sales promotion bagi penjual kembal (reseller) adalah berupa point of purchasing (POP), karena kedua tipe sales promotion tersebut dirasa paling efektif. Hasil penelitian penerapan sales promotion pada Laboratorium Minimarket Sigma Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang ternyata dapat meningkatkan omzet penjualan terutama pada penerapan diskon atau potongan harga. Berdasarkan penulisan ini disarankan agar penggunaan sales promotion lebih dikembangkan dan tidak hanya terpaku pada salah satu jenis sales promotion saja. Sehingga apa yang menjadi tujuan sales promotion tersebut dapat tercapai.

Perbedaan minat musik punk petinjau dari kepribadian optimistik-pesimistik pada siswa kelas Xl di SMAK Frateran Malang / Alluicius Andre

 

Kata Kunci: kepribadian optimistik-pesimistik, minat musik punk Penelitian ini berfokus pada salah satu jenis musik, yaitu musik punk. Keyakinan bahwa musik kesukaan dapat memberikan informasi psikologi secara akurat telah didukung oleh banyak penelitian-penelitian (Perkins, 2008). Dari berbagai macam tipe kepribadian yang ada, maka penulis memilih untuk mengkaji lebih lanjut tentang kepribadian optimistik-pesimistik. Penelitian lebih lanjut dilaksanakan di SMAK Frateran Malang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam penelitian komparatif. Dengan menggunakan populasi yang berjumlah 84 orang. jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis independent sample T-Test menggunakan program SPSS for windows seri 16.0. Hasil penelitiannya adalah: (1) Sebagian besar murid SMAK Frateran memiliki kepribadian pesimistik yaitu 43 orang, sedangkan hanya 27 orang yang memiliki kepribadian optimistik. (2) Dari 70 murid kelas XI SMAK Frateran, yang memiliki minat musik punk tinggi yaitu 51%, sedangkan yang memiliki minat musik punk rendah yaitu 49%. (3) Nilai probabilitas (Sig. 2-tailed) sebesar 0,613 dengan signifikansi 0,05 dengan demikian hasilnya maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan minat musik punk ditinjau dari kepribadian optimistik-pesimistik pada siswa kelas XI di SMAK Frateran Malang, ditolak. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) Hanya sebagian kecil, yaitu 39% siswa-siswi kelas XI SMAK Frateran berkepribadian optimis. Dari hasil analisa pada penelitian ini diketahui bahwa 51% memiliki minat musik punk yang tinggi, hanya 18 murid saja yang berkepribadian optimis. (2) Sebagian besar, yaitu 61% siswa-siswi kelas XI SMAK Frateran berkepribadian pesimis. Dari 36 peminat musik punk, sebanyak 50% yang berkepribadian pesimis. (3) Tidak terdapat perbedaan minat musik punk antara kepribadian optimistik dan pesimistik. Karena jumlah siswa yang memiliki minat musik punk yang tinggi memiliki kepribadian optimistik dan pesimistik dengan tingka presentase yang sama yaitu 50%. Saran yang dapat peneliti berikan adalah (1) Bagi Siswa-siswi SMAK Frateran Malang, agar para siswa mampu memilah-milah yang baik ataupun yang buruk dalam pergaulan, mengingat bahwa musik punk memiliki image negative di masyarakat. (2) Bagi peneliti selanjutnya agar meneliti hubungan antara kepribadian optimistik dan pesimistik dengan minat musik secara lebih mendalam, dengan cara menambah item serta mampu memperluas ruang lingkup tidak hanya di SMAK Frateran saja.

Perancangan game dua dimensi tentang tenses dalam bahasa inggris untuk siswa kelas satu sekolah menengah pertama / Hasli Rais

 

Kata Kunci: Game, Tenses, Bahasa, Inggris. Saat ini Bahasa Iggris merupakan bahasa penunjang yang penting dalam dunia pendidikan. Belajar Bahasa Inggris bisa dimulai ketika masih berada di sekolah dasar ataupun di tingkat perguruan tinggi. Salah satu materi Bahasa Inggris yang penting dipelajari adalah materi tentang tenses. Oleh karena itu, penulis merancang sebuah game dua dimensi tentang tenses Bahasa Inggris yang ditujukan kepada siswa sekolah menengah pertama kelas satu. Game dua dimensi ini dirancang untuk memberikan materi pendukung belajar tentang tenses Bahasa Inggris yang saat ini masih jarang ditemukan materi tenses Bahasa Inggris dalam bentuk game. Materi tenses yang dibahas meliputi sembilan macam tenses yang dikelompokkan menjadi tiga bagian dan level antara lain Simple Tense, Continuous Tense, Perfect Tense. Setiap levelnya terbagi lagi dalam kelompok past, present dan future. Game-nya disajikan dalam soal-soal pilihan ganda yang pilihan jawabannya dianimasikan berjalan dari bawah ke atas serta terdapat bantuan rumus tenses yang bersangkutan. Perancangan game dua dimensi menggunakan software dua dimensi yaitu Adobe Flash CS 3 dengan basic pemograman Action Script 2.0, dan game ini merupakan game yang dimainkan melalui PC/ komputer. Pemilihan materi tenses Bahasa inggris ditujukan kepada siswa Sekolah Menengah Pertama kelas satu dan juga untuk khalayak umum yang membutuhkan materi pendukung tentang tenses Bahasa inggris dimana memahami tentang materi tenses Bahasa Inggris adalah salah satu aspek yang penting ketika belajar Bahasa Inggris. Diharapkan perancangan game dua dimensi tentang tenses Bahasa Inggris ini dapat memberikan manfaat yang positif bagi siapa saja yang membutuhkan khususnya kepada siswa Sekolah Menengah Pertama kelas satu, karena masih jarang ditemukan media belajar tenses Bahasa Inggris dalam media serupa. iv

Evaluasi pelaksanaan program praktk industri mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM bedasarkan model CIPP / Esin Sintawati

 

Sintawati, Esin, 2012. Evaluasi Pelaksanaan Praktik Industri (PI) Mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM Berdasarkan Model CIPP. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd (II) Drs. H. Andoko, S.T., M.T Kata kunci: praktik industri, model CIPP. Prodi Tata Busana Penelitian bertujuan mendeskripsikan latar belakang program PI mahasiswa; mendeskripsikan pelaksanaan program PI mahasiswa; mendeskripsikan efektivitas pelaksanaan PI mahasiswa ditinjau dari aspek latar belakang (context), maukan (input), prose (process), dan hasil (product); dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan PI mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan campuran dari kedua jenis pendekatan kualitatif dan kuantitatif, yang dikenal dengan istilah mixed methods, yang digunakan secara berurutan/sekuensial. Pada metode campuran ini, penelitian kulitatif digunakan untuk memfasilitasi penelitian kuantitatif. Subyek/informan penelitian berjumlah 60 dan merupakan sampel populasi, terdiri dari: mahasiswa Prodi Tata Busana angkatan 2008 yang telah melaksanakan PI, pengelola PI Prodi Tata Busana, dosen pembimbing PI, dan industri. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara dan angket. Pengumpulan data latar belakang program PI dilakukan dengan teknik wawancara dan studi dokumentasi untuk menjaring data awal dan sebagai pedoman dalam penyusunan angket instrumen survey. Data latar belakang program PI dan pelaksanaan PI dianalisis secara kualitatif, dengan mendiskripsikan obyek yang diteliti melalui data sampel populasi sebagaimana adanya. Sedangkan data efektivitas pelaksanaan PI dianalisis secara kuantitatif. Pengukuran difokuskan pada data dalam bentuk angka-angka dengan menggunakan T-Skor, yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Untuk tingkat efektivitas pelaksanaan PI dilakukan analisis terhadap aspek latar belakang, masukan, proses, dan hasil melalui analisis kuadran Glickman. Hasil penetitian menunjukkan bahwa: (1) latar belakang (context) Program Praktik Industri (PI) Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM telah dirumuskan dan dilandasi dengan landasan filosofis, landasan fungsional, landasan kultural dan landasan introspektif. (2) pelaksanaan program PI Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM dinilai cukup bagus; dilihat dari aspek input, aspek proses, dan aspek hasil; (3) berdasarkan evaluasi CIPP (context, input, process, dan product), pelaksanaan program PI Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM sangat efektif; dan (4) dalam pelaksanaan program PI masih terdapat faktor-faktor yang belum efektif dan menjadi kendala dalam pelaksanaan PI mahasiswa Prodi Tata Busana Jurusan TI FT UM. Program PI bagi mahasiswa Prodi Tata busana Jurusan TI FT UM masih diperlukan dan program yang sudah berjalan dapat dilanjutkan untuk memaksimalkan pencapaian kompetensi mahasiswa. Agar pelaksanaan program PI dapat efektif, perlu dilakukan perbaikan dan penyempurnaan pada aspek-aspek perencanaan program PI, keterlibatan DUDI dalam program PI, pembimbingan dan monitoring PI, dan pembimbingan/monitoring. Bagi peneliti lain dapat menindaklanjuti temuan penelitian guna peningkatan efektivitas program PI dalam lingkup yang lebih luas dan memiliki signifikansi pada industri maupun program PI mahasiswa.

Pengaruh latihan permainan gobak sodor terhadap kelincahan siswa Tuna Rungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri (SDLBN) Kedungkandang kota Malang / Septian Hermawan Putranto

 

Kata kunci: Tuna Rungu, Latihan Permainan Gobak Sodor, Kelincahan. Gangguan pendengaran merupakan hambatan yang sangat berarti untuk melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Salah satu dari faktor gangguan pendengaran tersebut adalah kelincahan. Kelincahan merupakan bagian dari tujuan pendidikan jasmani yang perlu dilatih untuk ditingkatkan kemampuanya. Hal ini mengingat kelincahan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengkoordinasi gerakan-gerakan. Dalam upaya meningkatkan kelincahan tidak sedikit masalah yang dihadapi oleh guru olahraga siswa tuna rungu. Dikarenakan anak tuna rungu cenderung melakukan aktivitasnya sendiri tanpa tujuan yang guru harapkan. Siswa merasa pelajaran pendidikan jasmani melelahkan, tegang dan membosankan, sehingga menyebabkan malas untuk berolahraga. Pada siswa tuna rungu, faktor kelincahan sangatlah kurang. Salah satu alternatif pendekatan yang digunakan adalah dengan memakai metode permainan seperti membentuk permainan tradisional yang dirancang oleh guru untuk mengarahkan siswa lebih kreatif bergerak dan menarik agar siswa itu berkeinginan dari dalam dirinya untuk mengikuti olahraga dengan merasa senang tanpa merasa terpaksa oleh gurunya. Melalui permainan gobak sodor bila kita analisa dari pelaksanaan permainan dan gerakan pemain, mencantumkan unsur-unsur kondisi fisik yang dapat ditingkatkan melalui permainan gobak sodor adalah (1) Endurance atau daya tahan, (2) Speed atau kecepatan, (3) Agility atau kelincahan (4) Flexibility atau kelentukan , (5) Kecepatan reaksi, (6) Balance atau keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kelincahan. Penelitian ini menggunakan penelitian pra-experimental dengan rancangan one group Pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November 2011. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa Tuna rungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 16 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Uji t- amatan ulangan. Berdasarkan hasil penghitungan terhadap hasil tes lari bolak balik (uji signifikansi) diperoleh t hitung(1 - 0,05) 5,47 detik yang memiliki nilai lebih besar dari t tabel(1-0,05) sebesar 2,13 (t hitung (0,95) = 5,47 > t tabel (0.95) = 2,13) dengan derajat kebebasan = 16 – 1 = 15. Karena t hitung lebih besar dari t tabel pada taraf signifikan 0,05% atau taraf kepercayaan 0.95% yang tercatat sebesar 2,13 menunjukan bahwa t- hitung masih lebih besar dari t-tabel. Dengan demikian perhitungan uji-t adalah sangat signifikan maka H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulannya, terdapat pengaruh yang signifikan antara hasil tes lari bolak balik sebelum dengan sesudah perlakuan latihan permainan gobak sodor. Dengan kata lain, latihan permainana gobak sodor dapat meningkatkan kelincahan pada siswa tuna rungu di SDLBN Kedungkandang Kota Malang. Bedasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya mengurangi keterbatasan penelitian seperti, perlu diadakannya penelitian yang serupa dengan tambahan pemberian latihan permainan tradisional lainnya didalam perlakuan yang dilakukan. Selain itu, juga dapat disarankan untuk melakukan penelitian yang serupa dengan subjek penelitian yang berbeda.

Penerapan model problem based learning pada materi konflik sosial untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa kelas Xl IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang / Elvyn Bahterawati

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Problem Based Learning, Berpikir Kritis. Penelitian ini didasarkan adanya permasalahan di kelas dimana dalam pandangan siswa ada kecenderungan bahwa sosiologi tidak perlu dipelajari karena semuanya berkaitan dengan pengalaman sehari-hari. Selain itu, siswa juga beranggapan bahwa belajar sosiologi hanya menekankan pada kemampuan hafalan saja tidak terlalu menuntut kemamuan berpikir logis dan selama ini proses pembelajaran di kelas tidak menarik bagi siswa. Karena itu, perlu dilakukan tindakan yang menekankan pemberian pengalaman belajar secara langsung, dengan kata lain metode pembelajaran dengan teacher-centered harus diubah menjadi student-centered. Tujuannya agar siswa mampu berpikir kritis serta lebih peka menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL). Dalam KTSP ditekankan bahwa pembelajaran sosiologi di sekolah harus mampu mengarahkan siswa untuk berpikir dan diterapkan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry). Adapun permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: (1) apakah penerapan model PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa?, (2) bagaimana penerapan model PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa? dan (3) bagaimana respon siswa terhadap penerapan model PBL dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang? Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pelaksanaann penelitian ini dimulai bulan September sampai dengan Desember 2012. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang diperoleh melalui (1) tes tulis, (2) observasi, dan (3) kuesioner. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang pada saat keseluruhan tahapan dalam PBL dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru dan siswa. Keterlaksanaan PBL pada siklus I adalah 73,33% dan hasil tes essay berpikir kritis siswa dengan level kognitif C2, C3 dan C4 saat pratindakan adalah 73:76:78 dan meningkat di akhir siklus menjadi 80:76:84. Sementara itu pada siklus II, keterlaksanaan PBL mencapai 93,3%. Dalam penelitian tindakan ini untuk mengukur kemampuan berpikir siswa kelas XI IPS 1 dilakukan melalui tes esai berpikir kritis dan pengamatan. Hasil tes esai menunjukkan peningkatan dari 5 siswa (16,1%) dengan kategori sangat kritis di siklus I menjadi 16 siswa (51,6%) di siklus II. Hasil tes esai berpikir kritis dengan level kognitif C2, C3, C4 dan C5 pada pratindakan adalah 71:79:73:84 meningkat di akhir siklus II menjadi 79:82:84:86. Peningkatan kemampuan berpikir siswa dapat dilihat pada peningkatan nilai tes pada level kognitif C4, karena berdasarkan taksonomi Bloom, indikator berpikir kritis dapat diukur dengan tes yang mengarah pada level kognitif C4, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 2 Lumajang mengalami peningkatan. Pada saat observasi, jumlah skor rata-rata pada siklus I adalah 20,5 dengan kategori baik meningkat menjadi 23,4 (sangat baik) pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir siswa selama proses pembelajaran sebesar 2,9. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat diberikan saran, yaitu (1) bagi guru bidang studi sosiologi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini pada materi dengan karakteristik yang berhubungan langsung dengan lingkungan nyata sehingga siswa leih mudah menerimanya, (2) Model PBL bisa diterapkan pada beberapa materi yang ada semester 1 kelas XI program IPS misalnya pada level kognitif dasar mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan dan menganalisis hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial, (3) Pemberian masalah pada penelitian ini menggunakan artikel dan gambar-gambar, siswa diminta untuk membawa artikel sendiri dan membacanya di luar jam pelajaran untuk menghemat waktu sehingga diharapkan peneliti lain yang ingin menggunakan pembelajaran yang sama hendaknya menampilkan masalah dari pengamatan secara langsung, dengan penugasan di luar jam pelajaran, dan (4) Pembentukan kelompok yang heterogen berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan sebaiknya dilakukan pada tahap awal tindakan. Pembentukan kelompok oleh guru di awal pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam proses pemecahan masalah dari awal sehingga siswa dapat berbagi tugas dengan anggota kelompok lain dalam proses membangun kemampuan berpikir mereka.

Penyelesain Multiple Depot Vehicle Routing Problem (MDVRP) menggunakan metode insertion heuristic / Dima Prihatinie

 

Kata Kunci: Graph, Vehicle Routing Problem (VRP), Multiple Depot Vehicle Routing Problem (MDVRP), Metode Insertion Heuristic. Permasalahan MDVRP merupakan permasalahan VRP dengan kondisi dimana depot yang digunakan sebagai pusat distribusi barang lebih dari satu. Tujuan dari permasalahan MDVRP adalah membentuk rute pendistribusian pada masing-masing depot sehingga diperoleh jarak tempuh yang minimum, dimana setiap customer hanya dikunjungi satu kali oleh tepat satu kendaraan dengan setiap rute berawal dan berakhir di depot yang sama, dan total permintaan dari customer dalam satu rute tidak boleh melebihi kapasitas angkut kendaraan. Penyelesaian MDVRP dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya menggunakan metode Insertion Heuristic. Pencarian solusi dimulai dengan mengelompokkan customer pada depot terdekat, kemudian pembentukan rute kendaraan dilakukan secara terpisah untuk masing-masing depot menggunakan metode Insertion Heuristic. Langkah terakhir yaitu pengurutan rute pada tiap depot sehingga diperoleh jarak tempuh yang minimum. Terdapat 4 contoh permasalahan MDVRP yang dibahas dalam skripsi ini. Pada contoh 1, 2, dan 3 dengan 2 depot menghasilkan 3 rute. Pada contoh 4 dengan 3 depot menghasilkan 6 rute. Jadi, permasalahan MDVRP dengan 2 depot atau lebih akan menghasilkan rute kendaraan yang tidak dapat dipastikan banyaknya. Hal tersebut tergantung pada banyaknya customer, jumlah permintaan tiap customer, dan kapasitas angkut kendaraan. Berdasarkan pembahasan pada skripsi ini, terlihat bahwa permasalahan MDVRP yang diselesaikan menggunakan metode Insertion Heuristic memiliki hasil yang sama atau lebih optimal bila dibandingkan dengan penyelesaian menggunakan algoritma Clark and Wright pada skripsi Anissa Masruroh. Hal ini disebabkan karena metode Insertion Heuristic melakukan penyisipan pada sisi yang bernilai minimum. Dengan kata lain, urutan dalam melayani customer diperhatikan. Sedangkan pada algoritma Clark and Wright, perluasan rute dilakukan dengan menggabungkan rute yang telah terbentuk tanpa memperhatikan urutan dalam mengunjungi customer.

Hubungan pengetahuan tentang moral seksual,pengetahuan agama (kristen), dan perilaku seksual siswa SMA / Enny Simanungkalit

 

Kata Kunci: pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), perilaku seksual. Perilaku seksual adalah segala aktivitas seksual yang dilakukan seseorang, baik yang dapat diamati maupun tidak dapat diamati, yang dilakukan sendiri atau bersama orang lain karena didorong oleh hasrat seksual. Perilaku seksual berbeda-beda faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama. Pengetahuan moral seksual adalah kepemilikan informasi seseorang tentang bagaimana berperilaku seksual yang tidak melanggar ketentuan yang berlaku di masyarakat. Pengetahuan Agama (Kristen) adalah kepemilikan informasi yang dimiliki seseorang mengenai ajaran-ajaran dalam agama. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat pengetahuan tentang moral seksual pada siswa SMA 2) mengetahui tingkat pengetahuan agama (Kristen) pada siswa SMA, (3) mengetahui tingkat perilaku seksual pada siswa SMA, (4) mengetahui hubungan pengetahuan tentang moral seksual dengan perilaku seksual, (5) mengetahui hubungan pengetahuan agama (Kristen) dengan perilaku seksual, dan (6) mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), dan perilaku seksual pada siswa SMA. Jenis penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif korelasional, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik penelitian populasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 52 orang yang berusia 15-19 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pengetahuan tentang moral seksual, angket tentang pengetahuan agama Kristen, dan skala perilaku seksual yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pengetahuan tentang moral seksual berada pada klasifikasi tinggi (60%), (2) pengetahuan agama (Kristen) berada pada klasifikasi tinggi (50%), (3)perilaku seksual berada pada klasifikasi rendah (50%), (4) ada hubungan negatif pengetahuan tentang moral seksual dan perilaku seksual, (5) ada hubungan negatif antara pengetahuan agama (Kristen) dan perilaku seksual dan (6) ada hubungan antara pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), dan perilaku seksual siswa SMA. Disarankan (1) bagi remaja, disarankan untuk mempertahankan pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama yang dimiliki melalui moral yang berlaku di masyarakat dan ajaran agama. Remaja juga disarankan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan seperti kebaktian pemuda. (2) bagi orang tua, disarankan agar mempertahankan dan memberikan pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama sebagai kontrol dari perilaku seksual. Selain itu orang tua juga harus memberi penjelasan kepada anak bahaya dan dampak perilaku seksual sebelum menikah. (3) bagi sekolah, diharapkan untuk rutin melibatkan siswa dalam hal kegiatan keagamaan, menyediakan ekstrakurikuler yang postif yang menarik minat siswa (4) bagi peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah sampel dan mencermati faktor-faktor lain yang mempunyai keterkaitan dengan perilaku seksual.

Perancangan softbook tentang nama binatang berdasarkan huruf vokal untuk anak usia dini / Bunga Fefiana Mustikasari

 

Kata Kunci : softbook, buku nama binatang, anak usia dini. Binatang merupakan salah satu makhluk hidup selain tumbuhan yang perlu dikenali semenjak dini. Berbagai macam binatang tersebar disekitar kita, namun dengan adanya pembangunan gedung-gedung bertingkat, kini mulai jarang ditemukannya binatang-binatang kecuali di daerah pedesaan. Diperlukan media untuk pengenalan binatang kepada anak. Skripsi ini bertujuan untuk merancang media berupa softbook tentang nama binatang dengan bahan dasar yang aman yaitu kain flanel. Perancangan ini menggunakan metode perancangan milik J. Christoper Jones. Perancangan diawali dengan merumuskan latar belakang masalah, menetapkan tujuan perancangan, pengumpulan data, identifikasi dan analisis data, sintesis, menetapkan konsep perancangan media dilanjutkan dengan tahap perencanaan media dan perencanaan kreatif, kemudian menghasilkan sebuah desain akhir. Analisis data menggunakan analisis USP, dimana memaparkan keunikan dari media softbook ini. Keunikan tersebut diangkat menjadi sebuah USP dari media softbook. Media yang dihasilkan dalam perancangan ini adalah softbook tentang nama binatang berdasarkan huruf vokal. Media softbook berisikan huruf vokal, nama-nama binatang beserta ilustrasi dari setiap binatang. Produk didesain menggunakan ilustrasi binatang dengan gambar besar, sederhana, dan menggunakan warna ceria. Desain ini disesuaikan dengan target audience yaitu anak usia usia dini. Untuk mendukung hasil perancangan, juga dihasilkan pula media-media promosi pendukung seperti buku mewarnai, balok binatang, papan tempel binatang, poster, pamflet, backdrop dan banner.

Penerapan pembelajaran teknik mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS (Ekonomi) siswa kelas VII-G SMP Negeri 9 Malang / Sukma Oktaviani

 

Kata kunci: Mind Mapping, aktivitas, dan hasil belajar. Observasi awal dalam penelitian ini dilakukan pada saat peneliti melakukan kegiatan PPL, diketahui pembelajaran IPS (Ekonomi) di SMP Negeri 9 Malang belum sepenuhnya menggunakan metode kooperatif yang melibatkan siswa secara aktif. Selama ini pembelajaran di SMP Negeri 9 Malang masih menggunakan metode konvensional. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, peserta didik dianggap sudah belajar apabila mereka sudah menghafal materi yang telah diajarkan. Kebiasaan menghafal tersebut membawa dampak buruk pada peserta didik, mereka tidak dapat memahami makna pembelajaran yang sesungguhnya. Untuk mengatasi hal ini di perlukan suatu pembelajaran yang tepat, menarik dan menyenangkan yaitu pembelajaran Penerapan Pembelajaran Teknik Mind Mapping yang diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-G SMP Negeri 9 Malang dengan jumlah 39 siswa yang terdiri atas 18 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan tahun ajaran 2012-2013. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar dari ranah kognitif dan afektif yang di ambil dari penerapan pembelajaran Penerapan Pembelajaran Metode Kooperatif Teknik Mind Mapping. Instrument yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi, angket, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas VIII-G. Hal ini ditunjukkan dengan adanya persentase aktivitas siswa siklus I yang meningkat sebesar 83,33% dari siklus I sebesar 46,15% dan pada siklus II sebesar 96,07%. Ketuntasan hasil belajar aspek kognitif juga mengalami peningkatan sebesar 6,09% dari siklus I sebesar 82% dan pada siklus II sebesar 87%, sedangkan hasil belajar ranah afektif siswa meningkat sebesar 96,07% dari siklus I sebesar 51% meningkat pada siklus II sebesar 100%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penerapan Pembelajaran Penerapan Pembelajaran Teknik Mind Mapping berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII-G SMP Negeri 9 Malang. Guru mata pelajaran IPS disarankan menerapkan Penerapan Pembelajaran Metode Kooperatif Teknik Mind Mapping sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Evaluasi pelaksanaan KTSP dikjasorkes menggunakan countenace stake di SD se-Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember tahun ajaran 2012/2013 / Dinanda Delphin Samara

 

Kata kunci: Kurikulum, Pendidikan Jasmani, Evaluasi, Countenance Stake BSNP (2006:5) ”kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan Kurikulum yang digunakan oleh setiap sekolah di seluruh Indonesia saat ini diberbagai strata termasuk Sekolah Dasar (SD). Dikjasorkes merupakan bagian integral didalam KTSP. Kurikulum sangat erat hubungannya dengan upaya pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan oleh karena itu kurikulum menjadi bagian penting dalam proses pendidikan secara menyeluruh Pelaksanaan KTSP sangat dipengaruhi oleh karakteristik dan potensi sekolah masing masing yang sangat berbeda, hal ini disebabkan karena KTSP bersifat desentralisasi. Dengan kebijakan tersebut maka setiap sekolah memiliki perbedaan dalam menerapkan KTSP khususnya Pendidikan jasmani dan Kesehatan. KTSP disusun dengan harapan mempermudah guru dalam merencanakan dan melaksanakan kurikulum demi mencapai tujuan yang telah di tentukan, namun pada praktiknya masih ada kendala yang ditemui oleh guru selaku pelaksana KTSP. Berawal dari permasalahan tersebut penulis mencoba untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan KTSP di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode penelitian evaluasi dengan persentase dan model evaluasi Countenance Stake. Peneliti menggunakan model Countenance Stake dengan pertimbangan, bahwa peneliti memiliki keinginan untuk mengadakan evaluasi secara menyeluruh terkait dengan pelaksanaan KTSP ditinjau dari segi guru dengan variabel sebagai berikut: antecedents (matriks deskripsi), transactions (matriks transaksi), dan outcomes (matriks hasil). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dengan menggunakan model evaluasi Countenance Stake. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: secara statistika perolehan matriks Antecedents adalah 59,75% yang artinya cukup, secara keseluruhan pada matriks antecedents ada satu variabel intent antecedents yang memperoleh hasil 52,92% yang artinya bahwa pada kenyataannya masih ada kekurangan pada aspek ketersediaan sumber daya yang belum sesuai dengan pembelajarannya. Matriks transaction 69,16% yang artinya cukup, secara evaluatif pada matriks transaksi diperoleh temuan sebagian besar guru mengalami kesulitan dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran dikarenakan keterbatasan ketrampilan mengoperasikan komputer. Sedangkan pada matriks outcomes 93,75% yang artinya baik, secara evaluatif diperoleh hasil semua guru mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan mengajar dikarenakan merasa kurang memiliki macam-macam model pembelajaran yang bisa digunakan dalam RPP dan keterbatasan multimedia yang dimiliki. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dengan menggunakan model evaluasi Countenance Stake di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember adalah cukup dengan skor 74,22% dengan beberapa catatan terkait dengan variabel transaksi dan hasil yang rata-rata cukup. Saran berdasarkan hasil evaluasi ini, maka diharapkan sekolah tidah hanya menjadikan perencanaan KTSP sebagai tolak ukur kualitas dan hasil belajar siswa, sehingga perlu adanya kontrol kualitas proses pembelajaran dan model evaluasi guru untuk mendapatkan hasil belajar siswa. Kurangnya fasilitas olahraga hendaknya menjadi sorotan utama tiap sekolah karena fasilitas olahraga memiliki peranan myang cukup penting dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan (studi kasus pada siswa pemasaran kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Dyah

 

Kata Kunci: Numbered Head Together (NHT), Problem Based Learning (PBL), dan Hasil Belajar. Pendidikan merupakan komponen terpenting dalam pembangunan bangsa dan negara, kegiatan pendidikan berupa proses belajar mengajar/proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting, sebab keberhasilan sebuah pendidikan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pelaksanaan pembelajaran. Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sangat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: siswa, kurikulum, tenaga pendidik, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas XI Pemasaran di SMK Muhammadiyah 2 Malang, (2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI Pemasaran pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 2 Malang, (3) Untuk mendeskripsikan respon siswa terhadap penerapan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Alat pengumpulan data menggunakan soal tes, lembar observasi, lembar catatan lapangan, angket, dan pedoman wawancara. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2011/2012. Hasil belajar pada siklus I menunjukkan rata-rata skor tes siswa sebelum diterapkan kolaborasi pembelajaran kooperatif model NHT dengan PBL sebesar 60 dengan skor tertinggi 80 dan skor terendah 40, dapat diketahui bahwa sebelum pemberian tindakan nilai pre test siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 4 siswa (10%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 34 siswa (90%). Setelah pemberian tindakan nilai post test siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 18 siswa (45%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 22 siswa (55%). Artinya terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum dan sesudah pemberian tindakan siklus I sebesar 35%. Sedangkan pada siklus II rata-rata skor tes siswa sebelum diterapkan kolaborasi model NHT dengan PBL adalah 69,52 dengan skor tertinggi 85 dan dapat diketahui bahwa sebelum pemberian tindakan nilai pre test siklus II jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 15 siswa (37,4%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 2 siswa (5%). Setelah pemberian tindakan, nilai post test siklus II mengalami peningkatan , ini terbukti dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 38 siswa (95%) dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 2 siswa (5%). Artinya terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum dan sesudah pemberian tindakan siklus II sebesar 57,6%. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Malang dan seluruh guru, khususnya guru mata diklat kewirausahaan, untuk mencoba menerapkan pembelajaran model Numbered Head Together (NHT) dan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini disarankan untuk menerapkan metode pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada mata diklat yang berbeda.

Hubungan antara perilaku identifikasi terhadap tokoh idola dan perilaku konsumtif remaja / Mutia kintan Devisafitri

 

Kata Kunci: Perilaku konsumtif, Perilaku Identifikasi, Tokoh Idola Selama ini masyarakat banyak melakukan tindakan konsumtif yang sudah tidak terkendali. Tidak hanya pada orang dewasa, ternyata remaja justru lebih aktif dalam berperilaku konsumtif dalam keseharianya. Hal itu dikarenakan beberapa faktor. Perilaku identifikasi adalah perilaku untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain. Hampir setiap orang memiliki sosok yang yang diidolakan. Kondisi tersebut wajar terjadi mengingat dalam kesehariannya, individu hampir tidak lepas dari media cetak dan elektronik yang menyuguhkan informasi aktifitas sehari-hari para idola tersebut, mulai dari kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, gaya hidup, sampai menyoroti barang-barang pribadi idola tersebut. gaya hidup tokoh idola yang identik dengan kemewahan tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia diduga dapat mempengaruhi perilaku sesorang yang melihatnya melalui proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran remaja yang mengidentifikasi tokoh idola. (2) memperoleh gambaran mengenai perilaku konsumtif pada remaja (3) mengetahui hubungan antara identifikasi terhadap tokoh idola dengan perilaku konsumtif remaja. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskripsi korelasional. Subjek penelitian sebanyak 175 siswa pada SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang dengan tehnik pengambilan sampel Random sampling. Instrument yang digunakan yaitu kuesioner perilaku konsumtif remaja dan kuesioner perilaku identifikasi terhadap tokoh idola. Dalam penelitian ini perhitungan reliabilitas menggunakan menggunakan rumus Alpha cronbach dan validitas item menggunakan validitas konsistensi internal dengan tehnik korelasi Pearson. Perhitungan menggunakan bantuan SPSS. 17.0 for windows. Hasil pada kuesioner perilaku konsumtif remaja didapatkan reliabilitas sebesar 0,769. Pada kuesioner perilaku identifikasi terhadap tokoh idola didapatkan reliabilitas sebesar 0,738. Hasil dari penelitian ini diperoleh (1) Perilaku identifikasi terhadap tokoh idola berada dalam kualifikasi tinggi (2%), Sedang (48%) dan Rendah (50%), (2) perilaku konsumtif remaja berada dalam kualifikasi tinggi (1%) pada kualifikasi sedang (66%) sedangkan pada kualifikasi rendah (33%) dan (3) dengan menggunakan korelasi pearson antara perilaku identifikasi terhadap tokoh idola dan perilaku konsumtif remaja memiliki rxy = 0,270 dengan signifikansi (0,000 < 0,05) hal ini menunjukan adanya hubungan positif antara perilaku identifikasi terhadap tokoh idola dan perilaku konsumtif remaja. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) Bagi remaja hendaknya lebih mengenali tokoh idola dengan tidak melakukan perilaku identifikasi secara asal-asalan. Lebih mengenali produk yang akan dikonsumsi sehingga tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian. Lebih dapat melakukan pengendalian diri agar tidak mudah terpengaruh referensi group dalam hal tokoh idola yang menjadi model iklan suatu produk atau jasa (2) Bagi orang tua hendaknya lebih dapat menjadi panutan yang baik bagi anak dengan mengajarkan memanajemen keuangan dengan baik (3) Bagi Peneliti selanjutnya diharapkan menggali lebih dalam mengenai bentuk identifikasi material, identifikasi idealist atau identifikasi formal yang menjadi penyebab terbesar perilaku konsumtif remaja.

Hubungan komunikasi interpersonal terhadap kepuasan perkawinan istri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun / Mardika Aisyiyah

 

Kata Kunci : komunikasi interpersonal, kepuasan perkawinan. Komunikasi interpersonal merupakan salah satu faktor penentu kepuasan perkawinan. Usia perkawinan kurang dari 5 tahun rentan dengan konflik, hal ini dikarenakan kurangnya penyesuaian dan pengalaman hubungan interpersonal yang belum banyak. Komunikasi merupakan faktor utama yang rentan menyebabkan konflik dalam perkawinan selain penghasilan, anak, orang ketiga, seks, kenyakinan, mertua dan ragam perbedaan. Setiap pasangan suami isteri yang usia perkawinannya kurang dari 5 tahun pasti mendambakan kepuasan dalam perkawinannya, ini dapat tercapai jika komunikasi interpersonal mereka berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersoal terhadap kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Untuk mengetahui Komunikasi Interpersonal isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. 2) Untuk mengetahui Kepuasan Perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. 3) Mengetahui hubungan komunikasi interpersonal terhadap kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling(sampel bertujuan) degan menggunakan 40 orang sampel. Teknik pengumpulan data menggunakan skala komunikasi interpersonal dan skala kepuasan perkawinan dengan metode Likert. Analisis korelasional menggunakan analisis product momentdengan menggunakan program SPSS for windows16.0 (Statistic for Social Science). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun pada kategori rendah dengan persentase 40%. Sedangkan kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun juga berada pada kategori rendah dengan persentase 40%. Hasil analisis r=0,780 dengan Sig 0,000 < 0,050, menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal mempunyai hubungan positif dengan kepuasan perkawinan isteri pada usia perkawinan kurang dari 5 tahun. Sehingga bila komunikasi interpersonal tinggi maka kepuasan perkawinan juga tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pengetahuan bagi isteri yang usia perkawinannya kurang dari 5 tahun agar mampu meningkatkan komunikasi iterpersonalnya terhadap suaminya sehingga diperoleh kepuasan perkawinan yang tinggi.Selain itu diharapkan bagi peneliti lain, agar dapat memperluas penelitian ini dengan menggunakan rancangan penelitian yang berbeda, seperti eksperimen dan untuk meneliti dengan variabel lain yang dapat berpengaruh pada kepuasan perkawinan.

Pengembangan LKS teorema pythagoras bercirikan RME untuk RSMPBI Pacitan / Siti Muawwanah

 

Kata Kunci : LKS, RME, Teorema Pythagoras. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan cara pengajarannya. Matematika merupakan hal yang menyenangkan, mudah dipahami, tidak menakutkan, dan banyak kegunaannya. Hal ini dapat dirasakan melalui pembelajaran matematika realistik (Realistic Mathematics Education). Bahan ajar khususnya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang ada selama ini kebanyakan hanya sebatas kumpulan soal-soal, dan sedikit uraian materi di dalamnya. Siswa hanya terpaku pada uraian dalam LKS tanpa menganalisis suatu problem atau masalah. Hal ini kurang meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Berdasar fakta yang terjadi di SMPN 1 Pacitan, untuk materi teorema Pythagoras, siswa-siswa sudah pernah mendapatkannya di jenjang pendidikan sebelumnya, namun kebanyakan siswa belum paham akan konsepnya. Selain itu, mereka juga tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Hal di atas yang mendasari dikembangkannya LKS bercirikan Realistic Mathematics Education (RME) untuk Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional (RSMPBI) Pacitan. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan LKS Teorema Pythagoras bercirikan RME untuk Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional Pacitan yang valid, praktis dan efektif. LKS ini dikembangkan berdasarkan four-D model sebagai acuan. Model ini disarankan oleh Thiagarajan, Semmel & Semmel. Model ini mempunyai empat tahap pengembangan, yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Dalam penelitian ini dilakukan modifikasi, yakni penelitian dilakukan hanya sampai tahap Develop. Tahap Disseminate tidak dilakukan karena tahap ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam. Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan, koreksi, dan saran dari lembar angket dan lembar validasi. Data kuantitatif berupa skor validasi, skor angket, dan skor peserta didik dalam mengerjakan tes akhir. Instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi LKS untuk mengukur tingkat kevalidan LKS, soal tes kemampuan siswa dan angket respon siswa untuk mengukur tingkat keefektifan LKS, dan angket kepraktisan LKS untuk guru sebagai alat ukur tingkat kepraktisan LKS. LKS Teorema Pythagoras bercirikan RME untuk RSMPBI ini sudah divalidasi oleh tiga validator, dengan skor akhir 88,33 dan memenuhi kriteria sangat valid. Setelah dilakukan validasi, LKS ini diujicobakan perseorangan untuk uji keterbacaan. Dari uji keterbacaan ini diketahui beberapa kesalahan cetak dan kata-kata yang dirasa sulit oleh siswa. Setelah dilakukan revisi sesuai masukan dari uji keterbacaan, akhirnya dilakukan uji coba lapangan. Dari uji coba lapangan ini diperoleh hasil bahwa LKS yang dikembangkan praktis dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket respon guru dengan skor akhir 87,5 dan memenuhi kriteria sangat praktis. Dari hasil tes akhir materi Teorema Pythagoras, diperoleh ketuntasan belajar klasikal 85,71% . Dari hasil angket respon siswa diperoleh skor akhir 76,64 dan memenuhi kriteria efektif.

Efektivitas pengendalian internal terhadap sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas PT Telkom Kandatel Blimbing-Malang / Asri Pratiwi

 

Kata kunci: Pengendalian internal dan sistem akuntansi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT Telkom) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang pelayanan jasa informasi dan telekomunikasi yang merupakan perusahaan milik publik di Indonesia. Banyaknya aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas menyebabkan rentan terjadinya kesalahan yang dapat bersifat material maupun tidak material, baik kesalahaan tidak disengaja karena kekeliruan (error) atau kesalahaan yang disengaja karena kecurangan (fraud). Untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan perusahaan dan menjaga aktiva perusahaan diperlukan suatu pengendalian internal yang efektif dimana prosedur disusun guna menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, terutama prosedur dalam pengelolaan kas. Salah satu pengendalian internal yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mencapai profitabilitasnya adalah pengendalian internal terhadap sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui efektivitas system pengendalian internal pada system akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas PT Telkom Kandatel Blimbing Malang. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara (interview) dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada unit financial service area Malang, baik officer cash and bank, officer 2 verification and tax, maupun Asman PT Telkom Kandatel Blimbing Malang. Berdasarkan hasil analisis dari wawancara dan dokumentasi diketahui bahwa sistem pengendalian internal pada sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas efektif, meskipun terdapat beberapa kelemahan. Dalam menginput data peneriman pendapatan tunai sering terjadi kesalahan dalam penulisan angka, penjurnalan, maupun pengklasifikasian akun yang dilakukan oleh unit customer care karena human error. Vendor yang melakukan tagihan pembayaran atas beban-beban yang dilakukan PT Telkom kandatel Blimbing- Malang sering terlambat dalam menyerahkan data maupun dokumen. Keterlambatan tersebut dapat menyebabkan kelambanan dalam penginputan data maupun adanya dokumen yang hilang saat melakukan dropping karena vendor belum menyerahkan dokumen, padahal dokumen yang telah didroppng akan diarsip sebagai bukti otentik. Untuk mengatasi masalah diatas maka saran yang dapat diberikan, antara lain: pengawasan yang ketat terhadap data yang di entry ke dalam komputer serta memberi batas waktu terhadap keterlambatan pengiriman data atau dokumen.Tetapi, PT Telkom tetap memberikan kinerja yang baik meskipun terdapat beberapa kendala yang ada.

Racial bias of pictures in English BSE coursebook of junior high school grade Vlll / Ahmad Khoirul Shaleh Prawiranegara

 

Kata kunci: bias, BSE, gambar Buku pelajaran merupakan salah satubagian penting dari proses pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia. Buku digunakan sebagai panduan guru dan sumber belajar siswa. Sekarang buku telah mengalami perubahan, dari bentuk cetak menjadi dijital, salah satunya bernama BSE (Buku Sekolah Elektronik) yang diterbitkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Dengan adanya BSE, guru dan siswa diharapkan dapat memperoleh buku sekolah dengan mudah. Melalui isi buku sekolah, khusunya gambar, siswa mempelajari identitas budaya dan pembentukan karakter. Menurut Cunningsworth (1995), materi buku Bahasa Inggris harus mewakili semua jenis kelamin, asal etnis, pekerjaan, usia, kelas social, dan kecacatan. Para siswa harus memahami identitas budayanya sebelum memasuki kompetisi global. Penelitian ini terfokus pada evaluasi buku pelajaran dilihat dari sudut pandang konten budayanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberagaman ras ditampilkan pada gambar-gambar di buku pelajaran. Dengan meneliti cara kelompok ras ditampilkan pda gambar-gambar, peneliti menemukan kelompok ras yang paling sering muncul. Peneliti menggunakan metode analisis konten dalam penelitian ini. Penelitian ini difokuskan pada gambar berwarna karena gambar-gambar tersebut mudah dikenali dan menarik bagi siswa. Gambar-gambar tersebut juga memperlihatkan ciri-ciri dari setiap ras dengan baik. Selain itu, setiap karakter dipilih untuk diamati untuk melihat kemunculan setiap ras dalam satu bingkai gambar. Semua gambar di pilih berdasarkan kategori rasnya, yaitu: Mongoloid, Negroid, Caucasoid, dan ‘Yang Lain’. Disamping itu, penelitian ini juga meneliti kombinasi penampilan setiap ras dalam gambar-gambar. Temuan menunjukkan bahwa perbandingan antara gambar berwarna dan tak berwarna adalah 83,6% (61 gambar) dan 16,4% (12 gambar) dari total 100% (73 gambar). Dari 61 gambar berwarna, 29,5% (18 gambar) merupakan foto sedangkan sisanya, 70,5% (43 gambar) merupakan kartun. Dalam hal kombinasi dari ras-ras tersebut, Caucasoidmuncul disetiap gambar. Secara tunggal, Caucasoidjuga paling banyak muncul (17 gambar) dibandingkan dengan yang lain. Selain itu, Caucasoidjuga mendominasi jumlah karakter denga 46,8% (127 karakter), Mongoloid21,4% (58 karakter), Negroid16,6% (45 karakter), dan ‘Yang Lain’ 15,2% (41 karakter) dari total keseluruhan 271 karakter.Berdasarkan hasil pada Temuan, buku pelajaran ini mencerminkan inferior complexpada gambar-gambarnya dan menunjukkan superioritas barat terhadap ras-ras lainnya. Buku pelajaran ini kurang menampilkan nilai-nilai local dan nasional. Paham ‘Orientalism’banyak mempengaruhi isi buku ini.

Proses berfikir siswa dalam memecahkan masalah program linier dengan pemberian scaffolding / Nunung Romatul Hidayati

 

Kata kunci: proses berpikir, memecahkan masalah program linier, pemberian scaffolding. Kemampuan siswa memecahkan masalah berkaitan erat dengan proses berpikir mereka. Apabila siswa belum mampu memecahkan masalah, dapat dibantu, salah satunya dengan pemberian scaffolding. Carol (2004:3) menyatakan bahwa scaffolding adalah bantuan yang bersifat sementara, bantuan ini diberikan secara bertahap dan akhirnya dilepas ketika sudah dapat menyelesaikan tugas dengan kemampuan sendiri. Dalam penelitian ini scaffolding diberikan guna mengkaji proses berpikir siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah program linier. Siswa diberi dua masalah program linier. Pemberian scaffolding dalam penelitian ini mengacu pada strategi scaffolding yang dikemukakan Coggins, dkk (2007) dan Stuyf (2002). Selanjutnya dikaji proses berpikir siswa ketika menyelesaikan masalah program linier dengan berfokus pada proses dalam memecahkan masalah program linier yang dikemukakan John W Coburn (2010), yaitu (1) mengidentifikasi tujuan utama dan menetapkan variabel yang dicari, (2) menuliskan rumus fungsi obyektif atau fungsi sasaran, (3) mengorganisasikan semua informasi ke dalam tabel, (4) menulis kendala pertidaksamaan, (5) menggambar grafik kendala pertidaksamaan dan menentukan daerah selesaian, (6) mengidentifikasi titik-titik sudut semua daerah selesaian dan menguji titik-titik ke dalam fungsi obyektif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses berpikir siswa sebelum diberikan scaffolding berbeda dengan proses berpikir dalam memecahkan masalah program linier. Hal ini tampak dari struktur berpikir siswa yang berbeda dengan struktur masalah. Perbedaan tersebut antara lain: mengidentifikasi tujuan utama dan menetapkan variabel, penentuan fungsi kendala, penentuan daerah selesaian dan penentuan nilai optimum. Hal ini terjadi karena siswa menjadikan tujuan fungsi sasaran sebagai dasar penentuan tanda pertidaksamaan pada kendala, kesalahan penentuan daerah selesaian yang mengakibatkan salahnya penentuan nilai optimum dan siswa tidak membaca lagi apa yang diinginkan soal. Selama diberikan scaffolding, proses berpikir siswa sama dengan proses berpikir dalam memecahkan masalah program linier. Hal ini tampak dari struktur berpikir siswa yang sama dengan struktur masalah. Setelah mengalami asimilasi dan akomodasi, subjek dapat menyelesaikan masalah dengan sedikit scaffolding. Dengan dasar temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru pada umumnya untuk memahami proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah program linier, sehingga dapat memberikan bantuan yang diperlukan siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah. Kajian proses berpikir siswa dalam penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya penelitian dengan kajian yang lebih mendalam dengan masalah yang lain

Pelabelan super Graceful pada graph Pmonk 1 / Griselda Afrian Yudiantika

 

Modularisasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Dasar kelas IV Semester Gasal / Suhartono

 

Kata kunci: Modularisasi, Pembelajaran IPA, Model Pembelajaran PAB Konstruktivistik menghendaki adanya pembelajaran yang memberikan peluang kepada siswa untuk belajar individual maupun belajar kelompok. Pembe-lajaran IPA sekolah dasar selama ini belum pernah menyelenggarakan proses pembelajaran yang melaksanakan aktivitas belajar individual dan aktivitas belajar kelompok pada topik, waktu, dan kelas yang sama. Model pembelajaran pilihan aktivitas belajar (PAB) belum pernah ada, oleh karenanya perlu dilaksanakan pe-nelitian & pengembangan modularisasi pembelajaran IPA SD ini. Tujuan pene-litian & pengembangan ini adalah diproduksinya (1) model pembelajaran PAB melalui proses modularisasi berbasis konstruktivistik, (2) pedoman pengguna mo-del pembelajaran PAB yang tervalidasi, dan (3) model melalui video pembela-jaran yang menerapkan model pembelajaran PAB. Penelitian & pengembangan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni: (1) tahap perancangan dengan model Dick & Carey yang menghasilkan draft awal model pembelajaran PAB yang tertuang dalam pedoman pengguna, (2) tahap evaluasi dan revisi yang melibatkan aktivitas reviu konsultan ahli matapelajaran IPA dan ahli pembelajaran, dan (3) tahap uji coba lapangan dan revisi untuk menghasilkan prototipe model pembelajaran PAB dalam bentuk Pedoman Pengguna, contoh RPP, dan model melalui video model pembelajaran PAB yang sudah tervalidasi. Tahapan penelitian & pengembangan yang dilaksanakan melalui modularisasi IPA SD kelas IV semester gasal, menghasilkan prototipe model pembelajaran yang mempunyai karakteristik berikut. (1) Model Pembelajaran Pilihan Aktivitas Belajar (PAB) adalah suatu proses pembelajaran yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran dengan sintaks tertentu, (2) mempunyai metode pembelajaran tertentu pada aktivitas belajar individual (ABI), aktivitas belajar kelompok (ABK), dan aktivitas belajar kalsikal (ABKl), (3) memanfaatkan lembar kerja siswa individual (LKI) dan lembar kerja siswa kelompok (LKK), dan (4) mempunyai tujuan pengiring pembentukan karakter siswa. Hasil evaluasi formatif perencanaan model pembelajaran PAB dalam bentuk panduan pengguna model pembelajaran PAB, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran beserta LKI, LKK, dan lembar penilaian dinyatakan sangat valid oleh Ahli Matapelajaran, Ahli Pembelajaran, dan Guru pengguna. Hasil uji t terhadap pretes dan posttes, diperoleh keputusan berikut: (1) ada perbedaan yang signifikan antara skor posttes siswa yang memilih ABI dengan skor posttes siswa yang memilih ABK, dan (2) ada perbedaan signifikan antara skor pretes dengan skor posttes siswa yang belajar melalui model pembelajaran PAB. Dihasilkan video permodelan pelaksanaan model pembelajaran PAB yang dinyatakan valid oleh guru kolega, guru pelaksana, dan siswa. Ditemukan adanya perbedaan konsepsi aktivitas belajar klasikal antara peneliti dan guru pengguna.

Nilai karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek / Candra Rahma Wijaya Putra

 

Putra, Candra Rahma Wijaya. 2012. Nilai Karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M. Pd., (II) Dwi Sulistyorini S.S., M.Hum. Kata Kunci: tembang dolanan, nilai karakter, pendidikan karakter, folklor     Tembang dolanan merupakan salah satu bentuk folklor lisan. Tembang dolanan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Sesuai dengan ciri dari folklor yaitu mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif, tembang dolanan ini tentunya juga mempunyai kegunaan. Pada zaman dahulu tembang dolanan digunakan sebagai media dalam menyebarkan ajaran agama Islam sekaligus sebagai penyampaian dakwah. Oleh karena itu, di dalam tembang dolanan tentunya terdapat pesan-pesan kebaikan secara tersurat dan tersirat.     Tembang dolanan termasuk dalam kategori nyanyian rakyat yang berfungsi. Nyanyian rakyat yang berfungsi (functional songs) adalah nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama penting. Disebut berfungsi karena baik lirik maupun lagunya cocok dengan irama aktivitas khusus dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pada zaman dahulu tembang dolanan ini mudah diterima masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, tembang dolanan semakin dilupakan oleh masyarakat. Namun, beberapa tembang dolanan masih ada yang dikenal oleh masyarakat meskipun mereka tidak memahami makna yang terkandung dalam tembang.     Nilai Karakter dalam Tembang Dolanan di Kabupaten Trenggalek ini merupakan penelitian yang berupaya untuk menjabarkan nilai karakter yang terkandung dalam tembang dolanan. Nilai karakter tersebut dorientasikan pada pendidikan karakter. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan desain deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Dalam pendekatan ini, peneliti fokus terhadap tembang dolanan (karya sastra). Konteks budaya digunakan oleh peneliti hanya untuk memberi makna lirik tembang. Pada penelitian ini, yang dikaji adalah makna dari kata-kata atau lirik tembang dolanan. Makna dari tembang dikaitkan dengan nilai karakter bangsa sehingga dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan. Sumber data dalam penelitian ini adalah tembang dolanan yang pernah dikenal oleh masyarakat Trenggalek. Tembang-tembang tersebut diperoleh dari hasil wawancara beberapa masyarakat Trenggalek dan studi dokumen dari buku kumpulan tembang “Laras” yang disusun oleh Yayasan Pendidikan Mardi Utomo Kabupaten Trenggalek. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua puluh tembang dolanan. Pemilihan tembang tersebut dilakukan dengan kriteria (1) tembang dolanan yang dikenal oleh masyarakat Trenggalek, (2) tembang dolanan yang menggunakan bahasa Jawa, dan (3) tembang dolanan yang bermuatan nilai karakter.     Secara garis besar, tembang dolanan mengungkapkan masalah permainan anak-anak yang berkaitan dengan (1) alam (flora, fauna, lingkungan), (2) raksasa, (3) tokoh sejarah, (4) dunia anak-anak, dan (5) keadaan lalu lintas dan alat-alat permainan sehingga tembang dolanan ini menghibur dan menggembirakan anak-anak serta menjadikan anak-anak dinami. Di samping menghibur, pada tembang dolanan juga terdapat pendidikan karakter. Nilai karakter bangsa yang telah dijelaskan oleh Kemendiknas pada tahun 2010 adalah nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh suku-suku di Indonesia. Nilai karakter tersebut antara lain, nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut ditemukan dalam dua puluh tembang dolanan, yaitu Lintang, Kupu Kuwi, Gambang Suling, Sopir Becak, Becik Ketitik Ala Ketara, Sluku-sluku Bathok, Nyata Kowe Wasis, Jamuran, Welingku, Kartini, Ijo-ijo, Abang Putih, Trontong-trontong, Bocah-bocah Dolanan, Putra Putri Indonesia, Cublak-cublak Suweng, Aku Nandur Kembang, Rambutan, Gundul Pacul, dan Aja Dhemen Saguh Aja Wedi Saguh.

Upaya Kepolisian Sektor Selorejo dalam menangani tindak pidana perjudian toto gelap (togel) di wilayah Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar / Kukuh Iman Fahrudin

 

Penggunaan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 7F SMPN 10 Malang / Stephanie Illona Diaz

 

Kata Kunci: model pembelajaran, metode cooperative integrated reading and composition (circ), bahasa Inggris Keempat aspek kebahasaan pembelajaran Bahasa Inggris kelas 7F SMPN 10 Malang belum maksimal. Dalam mengatasi permasalahan ini sangatlah dibutuhkan model pembelajaran yang menarik minat siswa sekaligus membuatnya menjadi belajar bermakna. Dalam hal ini model CIRC cukup memadai untuk menyelesaikan permasalahan belajar bahasa Inggris karena model ini menekankan pemahaman materi yang berintegrasi dengan kegiatan bekerja sama dengan teman sejawat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian PTK dengan data yang dideskripsikan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes, observasi (hasilnya diskorkan), wawancara, umpan balik, dan dokumentasi. Ada dua teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan penelitian berupa model CIRC terbukti dapat meningkatkan pemahaman isi bacaan materi short functional text, hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus 1 sampai siklus 2.

Pengembangan modul pembelajaran Kimia Fuels For Light Vehicle System dengan pendekatan kontekstual untuk siswa RSMKBI kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan / Titis Eswindro

 

Hubungan antara fasilitas pengajaran dan kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar PKn Siswa Kelas SMP Negeri 1 Batu / Lita Novita

 

, 2013. Relationship Between Teaching Facilities and Professional Competence of Teacher Novita, Lita toward the Learning Achievement in Civics of Seventh Grade Students, SMPN 1 Batu. Thesis, Department of Law and Civics, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisors: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si, (II) Siti Awaliyah, S.Pd, M. Hum. Keywords: Facilities Teaching, Professional Competence of Teacher, Learning Achievement Teaching facilities or infrastructure of provided by schools with the teachers professionalism on student learning outcomes are closely linked, as a teacher and the school have a huge responsibility for the development and the results to be obtained by the students at SMPN 1 Batu. The purposes of this research were: (1) to identify the learning facilities are used for teaching Civics at SMPN 1 Batu, (2) to identify the professional competence of Civics teacher at SMPN 1 Batu, (3) to identify the student achievement in Civics subject in SMPN 1 Batu, (4) to identify the relationship between teaching facility and academic achievement, (5) to identify the relationship of the professional competence of teachers toward the students’ learning achievement. This research was conducted at SMPN 1 Batu. The study design employed was Descriptive Correlational. The population of this research reached 229 students from the whole VII A-VII H classes of SMPN 1 Batu class for academic year 2011/2012. The sampling techniques used was proportional random sampling technique engaged through part of whole population of 169 students with a sample number reached 55 students of class VII A-VII F. Meanwhile, the data collection techniques used were questionnaires and documentation. The data analysis employed was descriptive analysis to describe the teaching facilities, professional competence of teachers and student achievement. In other hand, multiple regression analysis used to determine the relationship between teaching facilities and professional competence of teachers toward student achievement in Civics subject. The results obtained through descriptive analysis of yielded the research results as follows: (a) the teaching facilities variable is in good condition, proved by the 40% of respondents said good, 34.50% said excellent, 20% of respondents stated they were quite good, while 5.50% of respondents said poor, (B) the teacher professional competence variable is good, proved by the 44% of respondents said good, 40% said excellent, 14% of respondents stated they were quite good, while 2% said poor, (C) the academic achievement variable is declared finished well, proved by the 53% of the students, 29 out of 55 respondents, exceed the examination score of 75-90 which classified as good, 47% means 26 students from 55 respondents significantly to the value of 60 -74 classified as quite good. Meanwhile, using the multiple linear analysis level 5% known that there is a significant positive relationship between teaching facilities and professional competence of teachers toward the student achievement in Civics, with r count is equal to 0.555 with a significance of 0.000. Since r count values is greater than r table (0.555> 0.266) or the significance value is less than alpha (0.000 <0.050), it tells that X1 and X2 variables related significantly to the achievement of learning result either partially or simultaneously. From the data above, it can be concluded that the hypothesis of there is a relationship between the school teaching facilities and the student achievement in Civics Education subjects class VII SMPN 1 Batu. Also, the hypothesis of the professional competence of teachers has a relationship with student achievement in Civics Education subjects class VII SMPN 1 Batu Based on the results of this study, then it can be suggested that SMPN 1 Batu, the principal in particular is expected to improve the teaching facilities and to add the facilities of the learning process and eventually maximize the use of facilities in an optimal teaching so that students do not feel bored upon the subject material given in class. For teachers particularly the Civics education teachers are expected to optimize the teaching and learning in their classroom so that students will be able to receive lessons easier. Based on research, told that there is a relationship between the teacher competences particularly the Civics Education teachers toward the learning achievement, hence to improve the professional competence of teachers in the teaching and learning should be done by conducting trainings or seminars related to professional competence of teachers. As well as the active participation of all relevant institutions, especially the schools itself, its superintendents and the government in encouraging, motivating, facilitating teachers to educate and train students of SMPN 1 Batu in order to improve their students’ learning achievement.

Peran guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Batu / Firman Arief Setyawan

 

Arief S., Firman. 2012. Peran Guru Mata Pelajaran PKn dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum Siswa terhadap Tata Tertib Sekolah di SMP Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Sukowiyono, SH, MH, (II) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd, MH. Kata Kunci: kesadaran hukum, peran guru PKn, tata tertib Kesadaran hukum merupakan kesadaran dari dalam diri manusia untuk mematuhi peraturan-peraturan hukum yang telah dibuat bersama. Selain mengajarkan mata pelajaran PKn seorang guru PKn merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa. Guru mata pelajaran PKn memiliki tanggung jawab meningkatkan kesadaran hukum siswa. Dengan mengajak siswa untuk selalu sadar dan taat terhadap hukum maka sejak saat itu guru meletakkaan pondasi kepada siswa dalam membangun bangsa yang berakhlak mulia, bertanggung jawab dan melek hukum yang berguna bagi nusa dan bangsa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, dan untuk mengetahui bagaimana peran guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP negeri 1 Batu. Penelitian ini di lakukan di SMP Negeri 1 Batu dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif ini digunakan untuk mendeskripsikan tentang Peran Guru Mata Pelajaran Pkn Dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Batu. Dimana penelitian tersebut dilakukan terhadap suatu objek yaitu peranan guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib di SMPN 1 Batu dan dilakukan secara menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam sumber data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, kesadaran hukum siswa SMP Negeri 1 Batu terhadap tata tertib yang ada di sekolah sudah baik, mayoritas siswa SMP Negeri 1 Batu melaksanakan apa yang diharuskan dalam tata tertib dan tidak melanggarnya. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu antara lain sebagai berikut: (1) tentang peraturan hukum. Peraturan-peraturan hukum yang berlaku di SMP Negeri 1 Batu tersebar luas melalui student handbook yang dibagikan ke seluruh siswa SMP Negeri 1 Batu yang didalamnya tercantum tata tertib sekolah, selain itu melalui pengarahan tentang tata tertib oleh guru, (2) Pemahaman terhadap peraturan hukum. Pemahaman siswa terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, artinya siswa SMP Negeri 1 Batu mengetahui isi dan juga kegunaan dari tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu. Pemahaman siswa terhadap peraturan atau tata tertib yang ada disekolah dapat diindikasikan dari jumlah pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa baik yang terekam di student hand book maupun jurnal harian bidang budaya dan lingkungan. (3) Penghargaan terhadap peraturan hukum. Sikap penghargaan terhadap tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu ditunjukkan oleh siswa dengan mematuhi tata tertib tersebut. (4) Penataan atau kepatuhan terhadap peraturan hukum. Penyebab anggapan kepatuhan hukum di SMP Negeri 1 Batu salah satunya karena adanya rasa takut pada sanksi. Hal tersebut yang menjadi tujuan siswa SMP Negeri 1 Batu dalam mematuhi tata tertib sekolah, yaitu menghindari sanksi yang ada, sanksi yang berupa pemanggilan orang tua dan atau diserahkan kepada orang tua. Ketiga, peran guru mata pelajaran PKn dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Batu adalah sebagai berikut: (1) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai pembimbing siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, seorang guru PKn membimbing dengan memberikan sosialisasi tentang tata tertib selama menjadi siswa SMP Negeri 1 Batu, selalu memeberikan pengarahan atau nasihat kepada siswa agar tidak melanggar tata tertib, dan jika siswanya melanggar tata tertib yang ada selalu menasihati dan mengingatkannya atau memberi hukuman ringan seperti menyapu, menghapus papan tulis ketika pergantian pelajaran, atau mengambil alat-alat sekolah dikantor yang bertujuan memberikan rasa jera untuk tidak mengulangi pelanggaran lagi, (2) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai pengawas siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, selama jam pelajaran berlangsung para guru PKn selalu mencatat kejadian yang ada di dalam kelas ke dalam buku jurnal guru, maupun ketika siswa beraktivitas di luar kelas hingga diluar lingkungan sekolah, (3) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai motivator siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, guru-guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu memotivasi siswa-siswanya melalui nasihat-nasihat di kelas atau nasihat personal dengan siswa dan selalu mengingatkan siswa untuk mematuhi tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu setiap harinya, (4) guru mata pelajaran PKn SMP Negeri 1 Batu sebagai contoh peranan atau model bagi siswa dalam mematuhi peraturan atau tata tertib yang ada di SMP Negeri 1 Batu, para guru mata pelajaran PKn di SMP Negeri 1 Batu memberi contoh peran dengan selalu berpenampilan sopan dan tidak berlebihan pada saat mengajar, tidak membawa HP pada waktu mengajar, dan lain sebagainya.

Implementasi pendidikan karakter di SD Negeri Ngunut 6 Tulungagung / Layli Hidayah

 

Hidayah, Layli. 2012. Implementasi Pendidikan Karakter Di SDN Ngunut 6 Tulungagung. Tesis, Progam Studi S2 Pendidikan Dasar Guru Kelas, Progam Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M. Pd, (II) Prof. Dr. Hariyono, M. Pd. Kata Kunci: Implementasi Pendidikan Karakter    Seiring dengan perubahan zaman maka berubah pula tingkah pola manusia di Indonesia dalam hal berpakaian, berbahasa, kegemaran dan lain sebagainya. Namun, dari aspek-aspek tersebut justru dijumpai beberapa fakta yang mengindikasikan menurunnya karakter masyarakat, berdasarkan pandangan Lickona (1992) seperti penggunaan bahasa kotor, kekerasan, melanggar aturan, dan sebagainya. Sehubungan dengan karakter bangsa yang mengalami kemunduran tersebut, maka pemerintah mencanangkan pendidikan karakter yang diimplementasikan di seluruh lembaga sekolah, namun banyak sekolah yang kurang tepat dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Hal ini dibuktikan dengan karakter hanya tulisan di rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) saja tanpa diimplementasikan dengan baik serta semua mata pelajaran memiliki karakter yang sama padahal setiap pelajaran memiliki karakter yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini yakni menyajikan bagaimana implementasi pendidikan karakter di SD negeri yang nantinya dapat dijadikan rujukan dalam mengembangkan pendidikan karakter dan dapat dijadikan contoh implementasi pendidikan karakter yang tepat di lembaga pendidikan/sekolah lainnya, terutama SD negeri.    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus di SD Negeri Ngunut 6 Tulungagung. Hasil temuan penerapan pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar yakni siswa memiliki motto tentang cinta kebersihan serta perangkat pembelajaran telah terintegrasi dengan karakter. Budaya yang dikembangkan di SD Negeri Ngunut 6 yakni terdapat tata tertib “DISIPLIN” untuk guru dan “Malu” untuk siswa, semua warga sekolah harus melaksanakan 3S (Salam, senyum, sapa), membuang dan memilah sampah pada tempatnya dan Jumat bersih. Ekstrakurikuler yang dikembangkan yakni Pramuka, tari dan computer. Masyarakat melalui paguyuban siswa, tokoh masyarakat dan lembaga luar sekolah sangat ikut berpartisipasi dalam semua rencana sekolah hal ini diwujudkan dengan kelas dikelola oleh orang tua siswa melalui program swadaya pengelolaan ruang kelas dan halaman sekolah. Adapun perilaku yang tampak pada siswa selama penelitian berlangsung yakni siswa memiliki kebiasaan yang disiplin tinggi, terutama ketepatan waktu.    Saran berdasarkan penelitian ini sebagai upaya optimalisasi implementasI pendidikan karakter yakni (1) dalam proses pembelajaran perlu adanya model pembelajaran yang lebih kooperatif; (2) jenis ekstrakurikuler ditambah untuk mengembangkan bakat dan minat siswa yang beragam; (3) kantin kejujuran hendaknya juga dikelola oleh paguyuban; serta (4) pajangan yang ada di sekolah hendaknya diganti secara berkala.

Pengaruh pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif siswa SMA Negeri 1 Malang / Agnes Yuni Pujiastuti

 

Kata Kunci: Inkuiri pengalaman sains terstruktur,strategi metakognitif, prestasi belajar, kemampuan berpikir kreatif. Proses pembelajaran fisika yang dilakukan oleh guru pada umumnya bersifat konvensional. Guru cenderung mendistribusikan pengetahuan (transfer konsep) sehingga guru sebagai pusat kegiatan belajar (teacher centered) dan pembelajaran text book oriented sehingga siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep fisika. Melalui pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif, siswa dapat mencapai tingkatpembelajaran yang bermakna. Berpikir kreatif pada strategi metakognitif dalam pembelajaran adalah mempersiapkan siswa agar siswa menjadi pemecah masalah yang tangguh, pembuat keputusan yang matang, dan siswa tidak pernah berhenti belajar. Tujuan penelitian ini adalah menguji: 1) perbedaan prestasi belajar fisika siswa yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional; 2) perbedaan prestasi belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi dan rendah yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional; 3) interaksi antara pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif dan kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar fisika kelas XI. Rancangan penelitian yang digunakan adalah faktorial 2x2 dengan teknik pengambilan sampel adalah random sampling. Populasipenelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Malang semester gasal tahun pelajaran 2011/2012. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perlakuan: lesson plan, lembar kerja siswa, dan pengukuran, rubrik penilaian berpikir kreatif dan naskah soal. Teknik pengumpulan data adalah tes. Teknik analisisdata yang digunakan adalah anava dua jalan dan uji Tukey. Hasil penelitian adalah: 1) prestasi belajar fisikasiswa yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional; 2) prestasi belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi dan rendah yang belajar dengan pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional; dan 3) ada interaksi antara pembelajaran inkuiri pengalaman sains terstruktur dengan strategi metakognitif dan kemampuan berpikir kreatif terhadap prestasi belajar fisika kelas XI.

Pengaruh metode Blended Learning dan Self Regulated Learning terhadap hasil belajar IPS di SMK Negeri 3 Malang / Ratna Novitayati

 

Kata Kunci: blended learning, self regulated learning, hasil belajar Kurikulum SMK meliputi pembelajaran praktik dan teori. Salah satu kegiatan praktek yaitu kegiatan Praktek Kerja Industri pada dunia industri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi berakibat pada metode pembelajaran. Blended learning merupakan perpaduan e-learning dengan pembelajaran tatap muka di dalam kelas. Disisi lain, self regulated learning menempatkan pentingnya seseorang untuk belajar disiplin mengatur dan mengendalikan diri sendiri, terutama bila menghadapi tugas-tugas yang sulit. Blended learning perlu dilakukan untuk jenjang SMK karena pada jenjang SMK terdapat kegiatan Praktek Kerja Industri. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang diajar dengan metode blended learning dengan kelompok siswa yang diajar dengan metode tradisional berbasis internet; 2) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok siswa yang memiliki self regulated learning tinggi dengan siswa yang memiliki self regulated learning rendah; dan 3) Apakah terdapat interaksi antara metode blended learning dan self regulated learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen dengan desain faktorial 2x2. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 3 Malang. Subyek penelitian terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen kelas XI TB1 terdiri dari 32 siswa dan kelompok kontrol kelas XI TB2 yang terdiri dari 31 siswa. Pengumpulan data self regulated learning dengan menggunakan angket tertutup yang diberikan kepada siswa sedangkan hasil belajar dengan menggunakan melaksanakan tes berupa soal pilihan ganda. Uji item dan reabilitas dengan menggunakan SPSS 19.0 for windows. Uji prasyarat analisis data mengunakan One-Sample Kolmogorov Smirnov Test untuk uji normalitas data, dan uji Levene’s Test of Equality of Variance untuk uji homogenitas varian. Analisis data dengan menggunakan ANOVA. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan ANOVA menunjukkan (1) terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan blended learning dan face to face learning dengan nilai F sebesar 4,104 dengan signifikansi 0,047; (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang mempunyai iself regulated learning tinggi dan rendah dengan nilai F sebesar 14,437 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000; dan (3) terdapat interaksi antara blended learning dan self regulated learning dalam mempengaruhi hasil belajar dengan nilai F sebesar 6,318 dengan signifikansi sebesar 0,015. ii Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara metode blended learning dan self regulated learning dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Metode blended learning dapat meningkatkan self regulated siswa dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa yang mempunyai self regulated learning tinggi akan mempunyai hasil belajar yang tinggi dan sebaliknya. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah 1) hasil belajar dapat ditingkatkan dengan mengkombinasikan metode blended learning dan self regulated learning; 2) penelitian ini dapat digunakan untuk jenjang SMK yang memungkinkan terjadinya pembelajaran jarak jauh; dan 3) bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis diharapkan hasil belajar siswa tidak hanya dari arah kognitif saja akan tetapi ditambah dengan ranah afektif serta menambah variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap hasil belajar seperti motivasi berprestasi, sarana dan prasarana maupun keterampilan berkomputer.

Pengelolaan kelas sebagai upaya guru PKn menciptakan pembelajaran PAIKEM di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu / Aditya Wisnu Wardhana

 

Wardhana, Aditya Wisnu. 2012. Pengelolaan Kelas Sebagai Upaya Guru PKn Menciptakan Pembelajaran PAIKEM di Kelas VIII SMP Negeri 1 Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas I lmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwarno Winarno, (II) Hj. Yuni Astuti, S.H., M.Pd Kata kunci: Pengelolaan kelas, PAIKEM, Pendidikan Kewarganegaraan Meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, diperlukan peningkatan kualitas proses belajar mengajaran secara operasional yang berlangsung di dalam kelas. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengelolaan kelas yang baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pengelolaan kelas merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dengan memberdayakan seluruh potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk menciptakan suasana atau kondisi kelas yang menunjang program pengajaran, agar siswa ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Di samping itu, proses belajar mengajar dapat terwujud dengan baik apabila terdapat interaksi yang komunikatif antara guru dan sisw, sesama siswa ataupun dengan sumber belajar lainnya. Dalam pengelolaan kelas, guru sebagai pemeran utama yang sangat menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan kegiatan membuka pelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM pada mata pelajaran PKn di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (2) Mendiskripsikan kegiatan inti yang dilakukan oleh guru dalam pengelelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM pada mata pelajaran PKn di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (3) mendiskripsikan kegiatan penutup yang di lakukan oleh guru dalam pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM di kelas VIII SPM Negeri 1 Batu, (4) mendiskripsikan faktor penunjang pelaksanaan pengelolaan kela pada strategi PAIKEM di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (5) mendiskripsikan kendala-kendala dalam pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM di kelas VIII SMP Negeri 1 Batu, (6) mendeskripsikan upaya mengatasi kendala pengelolaan kelas pada penerapan strategi PAIKEM di kelas VIIISMP Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini (1) kegiatan membuka pelajaran yang dilakukan oleh guru PKn adalah dengan menanyakan terlebih dahulu materi pada pertemuan sebelumnya. (2) Kegiatan inti yang dilakukan oleh guru termasuk pembelajaran ii (a) aktif yaitu terlihat ketika guru menyuruh siswa membentuk kelompok untuk mendiskusikan tugas, (b) inovatif yaitu terlihat ketika secara langsung guru membuat pertanyaan dan munculnya berbagai jawaban atau pendapat dari siswa, (c) kreatif yaitu tampak guru menyampaikan materi dalam bentuk power point yang diberi dengan gambar – gambar yang menarik, (d) efektif yaitu tampak pada saat guru dalam mengatur waktu penyampaian materi yang direncanakan sudah terlaksanakan tepat waktu, (e) menyenangkan yaitu terlihat pada saat siswa berani untuk menjawab pertanyaan dari guru, siswa berinteraksi dengan teman kelompoknya dan siswa mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang sedang presentasi.(3) Pada Kegiatan menutup pelajaran yang dilakukan guru termasuk pembelajaran (a) aktif yaitu terlihat ketika siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan, (b) menyenangkan yaitu terlihat pada saat siswa mendapatkan kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan. (4) Faktor penunjang dalam pengelolaan kelas pada strategi PAIKEM adalah (a) guru bisa memaparkan materi dalam bentuk power point dan guru bisa membuat beragam evaluasi. (b) SMP Negeri 1 Batu memiliki ruang media yang dilengkapi LCD dan buah sound system, di perpustakaan juga mempunyai koleksi buku penunjang pelajaran yang cukup banyak.(5) Kendala dalam pengelolaan kelas pada strategi PAIKEM adalah (a) ada siswa yang kurang bisa berkomunikatif dengan temannya dan ada siswa yang ramai saat diskusi. (b) kurangnya jumlah LCD yang digunakan oleh guru untuk memaparkan materi dalam bentuk power point.(6) Upaya untuk mengatasi kendala dalam pengelolaan kelas pada strategi PAIKEM adalah (a) guru memberi perhatian lebih kepada siswa dan bagi siswa yang ramai guru langsung menghampirinya untuk dikondisikan. (b) guru harus memesan LCD di bagian perlengkapan sebelumnya sehingga mengetahui apakah akan menggunakan ruang media atau membawa LCD ke ruang kelas. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut, peneliti memberi beberapa saran kepada guru PKn sebagai berikut: (1) agar tercipta suasana yang menyenangkan dari awal pelajaran sebaiknya guru PKn memberi motivasi dengan diselingi cerita saat membuka pelajaran agar siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran, (2) agar siswa tidak jenuh dalam pelajaran sebaiknyanya guru PKn lebih kreatif dan inovatif dalam merancang metode dan media pembelajaran, (3) untuk dapat mengatasi siswa yang kurang bisa komunikatif dengan temannya dan mengatasi siswa yang ramai sebaiknyanya guru mempelajari psikologi pendidikan agar pembelajaran berlangsung secara maksimal, (4) guru PKn sebaiknya menstimulus dan member pancingan kepada siswa dalam diskusi agar mereka aktif bertanya dan menanggapi sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik, (5) guru PKn sebaiknya lebih sering memberi semangat dan tidak memarahi siswa sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan ketika mengikuti proses pembelajaran, (6) pihak sekolah sebaiknya bisa melengkap kebutuhan sarana dan prasarana yang kurang di sekolah sehingga guru bisa lebih berinovasi dalam pembelajaran.

Survei pengetahuan pemain sepakbola PS.Putra Nepa Kabupaten Sampang tentang peraturan pelanggaran dan kelakuan tidak sopan (pasal 12) / Nurussobah

 

Kata kunci: peraturan permainan sepakbola, peraturan 12, sepakbola. Pelanggaran dan kelakuan tidak sopan adalah peraturan 12 dari 17 peraturan permainan sepakbola. Pelanggaran dan kelakuan tidak sopan hampir selalu terjadi dalam setiap pertandingan, peraturan ini harus dipahami oleh pemain sebagai pelaku permainan, untuk mewujudkan permainan yang sportif dan fair play. Pemain sebagai pelaku pertandingan di lapangan diharapkan mampu memahami peraturan permainan sepakbola khususnya peraturan 12 tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan agar pertandingan di lapangan bisa berjalan dengan baik. Sebenarnya dalam peraturan permainan sepakbola telah disebutkan bahwa “Persyaratan dasar dari suatu pelanggaran harus dalam kondisi penyerangan agar dapat dianggap sebagai suatu pelanggaran”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman pemain Ps. Putra Nepa terhadap peraturan permainan sepakbola dari FIFA (pasal12) tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan. Penelitian ini adalah penelitian survei, penelitian survei yaitu penelitian yang mengambil satu sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesoner sebagai alat mengumpul data yang pokok. Langkah penelitian sebagai berikut: (1) Tahap persiapan pengumpulan data, (2) Tahap pelaksanaan. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah pemain Ps. Putra Nepa yang berjumlah sebanyak 26 pemain. Berdasarkan hasil analisis persentase hasil tes tulis, jumlah pemain yang menjawab benar adalah 74,99% pemain dan yang menjawab salah 25,01%. Dapat disimpulkan bahwa pemain sepakbola Ps. Putra Nepa mempunyai pemahaman yang cukup baik terhadap Peraturan Permainan sepakbola dari FIFA (pasal 12) tentang Pelanggaran dan Kelakuan Tidak Sopan. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan meningkatkan persentase pemahaman pemain terhadap peraturan permainan sepakbola dari FIFA (pasal 12) tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan. Maka diharapkan semua pengurus yang berada di tim Ps. Putra Nepa diberikan materi tentang peraturan permainan sepakbola dan pemain lebih sering membaca peraturan permainan sepakbola khususnya (pasal 12).

Korelasi kualitas pembelajaran geografi dan hasil belajar dengan sikap peduli lingkungan siswa kelas XII IPS SMA Negeri l Ponorogo / Novia Kresnawati

 

Pengaruh model pembelajaran search, solve, create dan share (SSCS) dengan strategi metakognitif terhadap kemampuan siswa menyelesaikan masalah dan berfikir kritis fisika di SMA Negeri 1 Blitar / Nia Suciati

 

Pengaruh Midified Peer-Led Team Learning (MPLTL) terhadap kemampuan berpikir kristis dan hasil belajar kognitif IPA siswa kelas VIII SMPN 1 Kraksaan / A'irin Nurwidyastuty

 

Nurwidyastuty, A’irin. 2012. Pengaruh Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Kognitif IPA Siswa Kelas VIII SMPN 1 Kraksaan. Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar IPA Terpadu Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Markus Diantoro, M.Si (II) Dr. Sentot Kusairi, M.Si. Kata kunci: modified peer-led team learning, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya masalah yang dihadapi pendidikan di Indonesia pada umumnya dan khususnya pada IPA dengan masalah kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif masih belum optimal. Proses pembelajaran yang dilakukan belum sepenuhnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, seperti halnya memahami makna yang dipelajari dan menggunakan konsep untuk memecahkan masalah sehari-hari. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, Peer-Led Team Learning (PLTL) pada siswa mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif. Tujuan penelitian secara rinci adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif antara siswa yang belajar melalui strategi Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) dan strategi konvensional siswa kelas VIII di SMPN 1 Kraksaan. Penelitian ini tergolong quasi experiment. Variabel bebas pada penelitian ini adalah strategi pembelajaran. Variabel terikat meliputi kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIII SMPN 1 Kraksaan pada semester 1 tahun akademik 2012/2013. Jumlah siswa yang terlibat adalah 56 siswa, yang terdiri atas 28 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) dan 28 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah MANOVA. Keseluruhan analisis data dilakukan dengan program SPSS 16.0. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu ada perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif antara siswa yang belajar melalui strategi Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) dan strategi konvensional. Beberapa saran yang direkomendasikan yaitu (1) guru hendaknya mulai menerapkan strategi pembelajaran kooperatif; (2) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk meneliti aspek afektif dan psikomotor; (3) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk materi pembelajaran yang lain, untuk memperoleh informasi lebih luas pada pokok bahasan lainnya. Nurwidyastuty, A’irin. 2012. Pengaruh Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Kognitif IPA Siswa Kelas VIII SMPN 1 Kraksaan. Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar IPA Terpadu Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Markus Diantoro, M.Si (II) Dr. Sentot Kusairi, M.Si. Kata kunci: modified peer-led team learning, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya masalah yang dihadapi pendidikan di Indonesia pada umumnya dan khususnya pada IPA dengan masalah kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif masih belum optimal. Proses pembelajaran yang dilakukan belum sepenuhnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, seperti halnya memahami makna yang dipelajari dan menggunakan konsep untuk memecahkan masalah sehari-hari. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, Peer-Led Team Learning (PLTL) pada siswa mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif. Tujuan penelitian secara rinci adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif antara siswa yang belajar melalui strategi Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) dan strategi konvensional siswa kelas VIII di SMPN 1 Kraksaan. Penelitian ini tergolong quasi experiment. Variabel bebas pada penelitian ini adalah strategi pembelajaran. Variabel terikat meliputi kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIII SMPN 1 Kraksaan pada semester 1 tahun akademik 2012/2013. Jumlah siswa yang terlibat adalah 56 siswa, yang terdiri atas 28 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) dan 28 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah MANOVA. Keseluruhan analisis data dilakukan dengan program SPSS 16.0. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu ada perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif antara siswa yang belajar melalui strategi Modified Peer-Led Team Learning (MPLTL) dan strategi konvensional. Beberapa saran yang direkomendasikan yaitu (1) guru hendaknya mulai menerapkan strategi pembelajaran kooperatif; (2) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk meneliti aspek afektif dan psikomotor; (3) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk materi pembelajaran yang lain, untuk memperoleh informasi lebih luas pada pokok bahasan lainnya.

Efektivitas fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Tulungagung (Studi kasus di Desa Gesikan, Desa Pucung Kidul, Desa Jatimulyo) / Viky Zulkarnain

 

Kata Kunci : Fungsi, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) , Pemerintahan Desa Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga legislatif desa mempunyai fungsi – fungsi yang harus dilaksanakan. Fungsi – fungsi tersebut adalah fungsi menampung dan menyalurkan aspirasi kemudian fungsi menetapkan peraturan desa atau fungsi legislasi. Namun demikian apakah dalam pelaksanaan fungsi – fungsi tersebut sudah berjalan dengan efektif atau belum. Karena dikhawatirkan masih ada dominasi dari kepala desa dalam pembuatan kebijakan maupun peraturan desa dan mengesampingkan aspirasi masyarakat yang disampaikan oleh BPD kepada pemerintah desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pelaksanaan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. (2) Efektifitas pelaksanaan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. (3) Faktor yang menghambat pelaksanaan fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Tulungagung. (4) Upaya yang telah dilakukan untuk mengefektifkan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumen, dan observasi. Subyek penelitian ini adalah ketua BPD, Kepala Desa, tokoh masyarakat desa Gesikan, Desa Pucung Kidul, Desa Jatimulyo kabupaten Tulungagung dan kepala bagian pemerintahan Setda Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) pelaksanaan fungsi BPD dalam pemerintahan desa di Kabupaten tulungagung, untuk melaksanakan fungsi – fungsi BPD diperlukan beberapa cara ataupun strategi yang harus dilakukan. Cara – cara yang telah dilakukan oleh BPD di Kabupaten Tulungagung dalam menjalankan fungsi menyerap dan menyalurkan aspirasi antara lain yaitu: memanfaatkan acara yasinan atau tahlilan untuk menampung aspirasi masyarakat, memanfaatkan acara takziah untuk menampung aspirasi masyarakat, dan juga acara pengajian di lingkungan sekitar juga dimanfaatkan utuk menyerap aspirasi masyarakat. Kemudian sarana yang digunakan untuk menyerap aspirasi antara lain dengan menggunakan telepon seluler atau HP dan kotak saran yan g ditempatkan disetiap pos kamling. Aspirasi masyarakat yang sering disampaikan kepada BPD adalah mengenai pembangunan prasarana lingkungan seperti pemavingan jalan, perbaikan irigasi dan lain - lain. Selain itu masyarakat juga menyampaikan aspirasinya mengenai adanya salah satu perangkat desa yang sering tidak masuk kantor dan malah mengerjakan pekerjaan lain diluar tugasnya sebagai perangkat desa. Setelah aspirasi masyarakat ditampung oleh BPD selanjutnya aspirasi tersebut dibahas dalam sidang internal BPD dan dipilih mana aspirasi yang mempunyai skala prioritas paling tinggi dengan mengutamakan aspirasi masyarakat yang paling banyak disampaikan. Kemudian setelah terpilih aspirasi yang mempunyai skala prioritas paling tinggi selanjutnya aspirasi tersebut disampaikan kepada pemerintah desa untuk selanjutnya dituangkan kedalam draft rencana peraturan desa (perdes). Dalam menjalankan fungsi legislasi atau penetapan peraturan desa, hal – hal yang dilakukan oleh BPD di Kabupaten Tulungagung ada yang tiga tahapan dan ada juga yang 4 kali pertemuan yang lakukan BPD dengan pemerintah desa. Adapun yang tiga tahapan yaitu pertama pemerintah desa menerima aspirasi dari masyarakat yang disampaikan melalui BPD maupun melalui RT/RW. Kedua setelah aspirasi diterima maka aspirasi – aspirasi tersebut selanjutnya dituangkan kedalam draf rencana perdes dan kemudian draf rencana perdes tersebut selanjutnya diberikan kepada BPD untuk dipelajari. Kemudian pertemuan yang ke tiga pemerintah desa membahas draf peraturan desa bersama BPD dan selanjutnya apabila sudah disepakati maka draf disahkan menjadi peraturan desa. Sedangkan yang 4 tahapan yaitu pertemuan pertama BPD menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah desa. Kemudian pertemuan kedua BPD diberikan hasil draft peraturan desa yang telah dirancang oleh pemerintah desa yang selanjutnya diterima dan kemudian dipelajari setelah itu dilakukan sidang internal BPD untuk membahas draft peraturan desa (perdes). Pertemuan ketiga membahas draft tersebut bersama dengan pemerintah desa kemudian jika ada hal yang kurang sesuai maka BPD meminta pemerintah desa untuk merevisi apabila ada bagian yang kurang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Pertemuan keempat merupakan rapat pleno untuk menyampaikan hasil revisi dan juga pengesahan Peraturan Desa (perdes). (2) Dari hasil penelitian yang dilakukan, pelaksanaan fungsi – fungsi BPD di Kabupaten Tulungagung sudah berjalan efektif. Efektifitas pelaksanaan fungsi – fungsi tersebut berdasarkan fungsi – fungsi yang sudah dilaksankan oleh BPD. Dalam hal menampung dan menyerap aspirasi fungsi tersebut sudah berjalan dengan baik. BPD sudah menyerap dan menampung aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat. Fungsi BPD dalam hal penyerapan aspirasi sudah efektif berjalan dengan baik. Hal tersebut terlihat dari aspirasi – aspirasi masyarakat sudah ditampung oleh BPD dan selanjutnya dilaporkan oleh BPD untuk ditindak lanjuti oleh pemerintah desa. Dan aspirasi – aspirasi masyarakat juga dilaksanakan oleh pemerintah desa. Dari penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa fungsi BPD dalam hal legislasi juga sudah berjalan efektif. Hal tersebut dibuktikan bahwa BPD sudah menjalankan kewajibanya dalam hal legislasi yaitu pertama, dalam pembahasan peraturan desa bersama dengan Pemerintah desa, apabila ada hal – hal yang kurang sesuai dengan aspirasi masyarakat BPD memperjuangkan semaksimal mungkin agar sesuia denganaspirasi masyarakat. Kedua, dalam satu tahun BPD telah membahas minimal satu perdes yaitu perdes tetang APBDes. Ketiga, dalam satu masa jabatan BPD telah membahas RPJMDes bersama dengan pemerintah desa. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan fungsi BPD di Kabupaten Tulungagung sudah berjalan efektif. (3) Faktor – faktor yang menjadi hambatan bagi BPD dalam menjalankan fungsi, (a) kurangnya anggaran yang diterima oleh BPD yaitu sekitar 5% dari ADD atau sekitar Rp. 3.000.000,- setiap tahunya dan jumlah tersebut sangat kurang sekali, (b) tidak adanya ruang rapat khusus bagi BPD, dalam setiap rapat – rapat BPD harus mencari tempat atau bergantian dengan pemerintah desa. (c) tingginya ego masyarakat, keinginan masyarakat yang sangat tinggi untuk mendahulukan daerahnya dalam rencana pembangunan desa menjadi hambatan bagi BPD karena para anggota BPD menjadi mendapat tekanan yang tinggi dari masyarakat. (4) upaya yang dilakukan untuk mengefektifkan fungsi BPD yaitu: (a) dalam setiap rapat anggota BPD iuran Rp.10.000,- untuk memenuhi kekurangan anggaran yang ada, Pemerintah desa menganggarkan sebagian anggaran desa untuk menambah anggaran BPD, (b) BPD mengadakan rapat secara bergaintian dirumah anggota BPD. (c) anggota BPD menjelaskan kepada masyarakat bahwa untuk merealisasikan aspirasi masyarakat disesuaikan keadaan keuangan desa dan harus sesuai dengan RPJMDes yang telah ada. Dari penelitian ini saran – saran yang diajukan yaitu (1) Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung hendaknya lebih memperhatikan lagi penyelenggaraan pemerintahan desa terutama mengenai anggaran bagi BPD. Karena anggaran yang ada selama ini dirasa masih sangat kurang dan perlu ditambah lagi untuk kedepanya. (2) Bagi pemerintah desa hendaknya lebih memperhatikan lagi keberadaan BPD terutama dalam hal sarana dan prasarana. Karena sarana – prasarana yang diberikan kepada BPD selama ini masih kurang terutama mengenai tempat atau ruang khusus bagi BPD. Maka dari itu kedepanya supaya disediakan runag khusus bagi BPD agar kinerja BPD lebih maksimal lagi. (3) Bagi anggota BPD,hendaknya dalam menjalankan fungsi – fungsinya lebih dimaksimalkan lagi. Terutama dalam hal penyerapan aspirasi karena mungkin masih banyak aspirasi masyarakat yang belum tertampung. Dan meskipun dalam pelaksanaan fungsi – fungsi BPD masih banyak hambatan namun demikian hambatan tersebut bisa dijadikan pelecut semangat untuk semakin memaksimalkan kinerjanya. (4) Bagi masyarakat hendaknya bisa bekerja sama dengan anggota BPD dalam penyaluran aspirasi. Dan egoisme masyarakat untuk mendahulukan daerahnya agar bisa lebih di minimalisir karena memang dalam realisasi program pembangunan lebih mengutamakan prinsip pemerataan dengan daerah lain.

Pemanfaatan majalah dinding sebagai wadah pembelajaran menulis dan publikasi siswa SMP/MTs / Agus Arif Alfajar

 

Alfajar, Agus Arif. 2012. Pemanfaatan Majalah Dinding sebagai Wadah Pembelajaran Menulis dan Publikasi Siswa SMP/MTs. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Suyono, M.Pd, (II) Moch. Syahri, S.Sos., M.Si. Kata kunci: pemanfaatan majalah dinding, pembelajaran menulis, publikasi Majalah dinding menjadi salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana di lingkungan sekolah. Disebut majalah dinding karena prinsip majalah terasa dominan di dalamnya, sementara itu penyajiannya diletakkan pada dinding atau yang sejenisnya. Prinsip majalah tercermin melalui penyajiannya, baik berupa tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya. Selain menjadi media massa di lingkungan sekolah, majalah dinding juga berfungsi sebagai salah satu wadah yang mendukung kegiatan siswa dalam mengekspresikan gagasan tertulis yang bersifat informasi, opini, dan rekreasi. Dalam mendukung kegiatan tersebut, aspek tampilan dan tata letak, isi, dan pengelolaan dan penerbitan dari majalah dinding perlu ditingkatkan kualitasnya. Tujuan penelitian ini secara umum adalah mendeskripsikan pemanfaatan majalah dinding sebagai wadah pembelajaran menulis dan publikasi karya siswa SMP/MTs. Penelitian ini secara khusus mendeskripsikan tentang potret keberadaan majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit dan baru terbit dalam ruang lingkup SMP/MTs, dampak pemanfaatan majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit dan baru terbit sebagai wadah pembelajaran menulis terhadap iklim belajar siswa jenjang SMP/MTs, permasalahan dan solusi dalam memanfaatkan majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit dan baru terbit sebagai wadah pembelajaran menulis siswa SMP/MTs dan pengorganisasian bentuk ideal majalah dinding sebagai wadah publikasi hasil karya siswa. Rancangan penelitian ini tergolong jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah guru, siswa, pembina majalah dinding, dan majalah dinding. Lokasi penelitian didasarkan pada sekolah yang memiliki karakteristik majalah dinding rutin terbit, tidak rutin terbit, dan baru terbit. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan lembar angket. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahapan mereduksi data, tahapan yang dilakukan yaitu mengklasifikasikan data berdasarkan lokasi penelitian dan merangkum data untuk memilih hal-hal pokok yang difokuskan pada tujuan penelitian dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. Pada tahap penyajian data, yaitu menyusun data ke dalam bentuk tabel karakteristik majalah dinding sehingga, akan memungkinkan adanya penarikan kesimpulan. Pada penarikan kesimpulan yaitu memverifikasi data dengan menerapkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan potret keberadaan majalah dinding di SMP/MTs belum mendapatkan perhatian serius yang ditunjukkan dengan belum adanya tampilan yang menarik, organisasi pembinaan majalah dinding yang belum terstruktur, keragaman isi yang kurang bervariatif, dan fungsi yang belum ii berkembang. Dampak majalah dinding terhadap iklim belajar siswa ditunjukkan dengan adanya minat dan motivasi belajar siswa untuk menghasilkan karya. Namun, hal tersebut belum terlaksana sepenuhnya. Respon positif siswa terhadap keberadaan majalah dinding dan keinginan karya siswa untuk dipublikasikan dalam majalah dinding, belum diikuti oleh langkah-langkah nyata siswa dengan mengirimkan karyanya agar dicantumkan dalam majalah dinding. Oleh sebab itu, guru berperan penting dalam menjaga, mewujudkan, dan meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dalam bentuk sebuah hasil karya siswa secara nyata. Langkah-langkah yang bisa ditempuh oleh guru, antara lain: (1) menggairahkan siswa dengan memberikan hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan, (2) memberikan apresiasi atas keberhasilannya, dan (3) mengarahkan perilaku siswa dengan menunjukkan hal-hal secara benar dan meminta mereka melakukannya dengan baik. Permasalahan yang dihadapi dalam memanfaatkan majalah dinding telah diiringi dengan adanya solusi-solusi nyata agar majalah dinding tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa majalah dinding dianggap penting keberadaanya di sekolah. Untuk itu, solusi-solusi yang sudah dan atau sedang dilakukan agar dievaluasi keefektifitasannya sehingga, akan tercipta majalah dinding yang berkualitas dan mendukung pembelajaran menulis siswa. Bentuk ideal majalah dinding pada aspek tampilan harus menarik yang disertai perpaduan hiasan dan warna. Aspek tata letak tidak hanya mencakup letak majalah dinding itu sendiri di tempat yang strategis, tetapi juga aspek tata letak penyajian materi majalah dinding yang beragam secara proporsional, seimbang dan utuh. Pengelolaan harus terlaksana dalam sebuah sistem yang berjalan sesuai dengan fungsinya sehingga, majalah dinding memiliki keteraturan terbit sesuai dengan perencanaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disampaikan saran sebagai berikut. Pembina majalah dinding disarankan agar lebih memperhatikan majalah dinding sebagai wadah penyalur kreativitas dan sarana informasi siswa dengan memperbaiki tampilan dan susunan materi majalah dinding, serta menjaga kontinuitas penerbitannya. Guru disarankan agar memberikan motivasi disertai langkah-langkah nyata yang lebih optimal agar siswa lebih produktif dalam menghasilkan karya tulis dan layak dipublikasikan melalui majalah dinding. Guru dan pembina majalah majalah dinding disarankan agar mengevaluasi langkahlangkah yang telah ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan dalam memanfaatkan majalah dinding sehingga, wadah tersebut bisa berfungsi secara baik. Jajaran redaksi yang mengelola majalah dinding disarankan untuk mengelola majalah dinding berdasarkan bentuk ideal dalam segi tampilan, isi, pengelolaan dan penerbitan.

Penerapan model TOK (Tiru Olah Kembangkan) dalam pembejaran menulis karangan siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM Malang / Yulia Tirta Ensa Yasa Koten

 

Kata kunci : Keterampilan menulis, karangan, model pembelajaran TOK Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu keterampilan bahasa yang perlu diperhatikan siswa adalah keterampilan menulis karena keterampilan menulis dapat disebut juga sebagai keterampilan yang relatif sulit jika dibandingkan dengan keterampilan yang lain. Siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM Malang mengalami kesulitan dalam menulis. Oleh karena itu peneliti menggunakan model pembelajaran TOK untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran TOK untuk pembelajaran keterampilan menulis karangan dalam bahasa Jerman. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan 3 instrumen penelitian, yaitu pedoman observasi, lembar dokumentasi, dan kuesioner. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 24 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model TOK dapat menumbuhkan semangat siswa untuk ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mempermudah siswa dalam menulis karangan. Dari hasil skoring akumulasi diketahui bahwa skor rata-rata kelas yang diperoleh siswa adalah 87,16. Hal tersebut berarti siswa telah memahami materi pembelajaran dengan baik karena skor ketuntasan minimal pelajaran bahasa Jerman di SMA Laboratorium UM Malang adalah 75. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan model TOK berjalan dengan baik. Seluruh siswa dapat bekerja sama dalam kelompok dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kearsipan (studi pada siswa kelas XI APK 2 SMK N 1 Bojonegoro) / Eva Mirza Syafitri

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS), proses belajar, hasil belajar Dalam pembelajaran konvensional guru masih mendominasi dalam proses pembelajaran. Keaktifan kelas juga masih sering didominasi oleh beberapa siswa saja, dan siswa masih sulit bekerjasama dengan siswa yang lain sehingga keaktifan siswapun tidak menyeluruh. Agar siswa lebih termotivasi dan dapat bekerjasama dengan baik dengan siswa yang lain maka perlu dilakukan tindakan oleh Guru untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam belajar yaitu salah satunya dapat dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TSTS. Penelitian ini bertujuan meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kearsipan dengan kompetensi dasar Menentukan Sistem Kearsipan dengan menerapkan model pembelajaran TSTS. Upaya peneliti dalam mencapai tujuan tersebut, maka peneliti merancang penilitian dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2012. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI APK 2 SMKN 1 Bojonegoro yang berjumlah 29 siswa. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui lembar observasi, wawancara, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setelah penerapan pembelajaran dengan model TSTS, proses dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan presentase keberhasilan proses meningkat dari 62,87% pada siklus I meningkat pada siklus II menjadi 89,12%. Sedangkan hasil belajar siswa pada mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II baik pada bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada aspek kognitif mengalami peningkatan sebesar 10,34% , dimana pada siklus I rata-rata nilai postes siswa adalah sebesar 85,52 meningkat menjadi 95,86 pada siklus II, pada hasil belajar afektif terjadi peningkatan sebesar 28% dari siklus I ke siklus II dari rata-rata nilai 66 menjadi 94 pada siklus II dan terjadi pula peningkatan nilai bidang psikomotorik sebesar 24% dari siklus I ke siklus II yaitu rata-rata nilai psikomotorik siswa pada siklus I sebesar 66 menjadi 90 pada siklus II. Berdasarkan data diatas model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kearsipan. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat menerapkan model pembelajaran kontekstual yang menarik lainnya yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka.

Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance dan struktur kepemilikan terhadap integritas laporan keuangan pada badan usaha milik Negara (BUMN) / Intan Yulanda Ayu

 

Kata kunci: Integritas Laporan Keuangan, Corporate Governance, Struktur Kepemilikan Integritas laporan keuangan didefinisikan sebagai sejauh mana laporan keuangan yang disajikan menunjukkan informasi yang benar dan jujur. Pada kenyataannya saat ini banyak terjadi kasus-kasus hukum yang menunjukkan suatu bentuk kegagalan integritas laporan keuangan dalam memenuhi kebutuhan infomasi pengguna laporan keuangan. Tata kelola perusahaan yang baik dan pengawasan dari investor institusional diharapkan dapat memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan masalah integritas laporan keuangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh mekanisme good corporate governance dan struktur kepemilikan terhadap integritas laporan keuangan pada BUMN di Indonesia. Elemen dari mekanisme good corporate governance yang dianalisis pengaruhnya terhadap integritas laporan keuangan antara lain dewan direksi, dewan komisaris, dan komite audit. Struktur kepemilikan yang mempengaruhi dilihat dari segi kepemilikan pemerintah. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif terhadap laporan tahunan dan laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada periode 2009 dan 2010. Total sampel penelitian adalah 17 perusahaan yang ditentukan melalui metode purposive proportional sampling. Metode pengujian hipotesis menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan tidak semua mekanisme corporate governance berpengaruh signifikan terhadap integritas laporan keuangan. Namun demikian, dewan direksi terbukti mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap meningkatnya integritas laporan keuangan. Struktur kepemilikan juga tidak terbukti berhubungan secara signifikan dengan integritas laporan keuangan. Saran dalam penelitian ini untuk penelitian selanjutnya adalah memperpanjang rentang periode agar dapat melihat perkembangan integritas laporan keuangan pertahun seiring perbaikan-perbaikan yang terus ditingkatkan oleh pihak BUMN serta dapat memasukkan faktor-faktor yang mepengaruhi integritas laporan keuangan lainnya sebagai variabel tambahan.

Studi kasus pola kelekatan pada wanita dengan HIV/AIDS di Rumah Singgah Red Line Kota Malang / Yenika Putri Cahyandari

 

Kata Kunci : pola kelekatan, wanita, HIV/AIDS. Pola kelekatan merupakan ikatan emosional yang terjadi antara ibu dan anak di masa kecil. Kegagalan membentuk kelekatan dengan ibu diyakini akan mengganggu perkembangan sosial di masa dewasa. Semakin bertambah dewasa individu memiliki tugas perkembangan yaitu menjalin hubungan yang lebih lekat kepada pasangan maupun sahabatnya, pola kelekatannya berubah karena faktor usia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti menggunakan metode pengambilan data wawancara, observasi dan analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) dengan pendekatan intra dan inter subyek serta triangulasi teknik dan sumber digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subyek dalam penelitian ini berjumah 4 orang yang merupakan wanita yang terinfeksi HIV/AIDS. Temuan dalam penelitian ini, yakni setiap wanita dalam penelitian ini memiliki pola kelekatan yang berbeda antara satu subyek dengan subyek yang lain. Satu subyek masuk dalam kategori pola kelekatan takut- menghindar, satu subyek masuk dalam kategori pola kelekatan menolak, dan dua subyek dengan pola kelekatan aman. Terdapat dua subyek dengan pola kelekatan yang berubah, dari masa kecil ke masa dewasanya. Satu subyek mampu mengubah pola kelekatannya yang buruk menjadi lebih baik ketika dewasa sedangkan subyek yang satu justru pola kelekatan yang baik ketika masih kecil cenderung berubah menjadi buruk ketika menginjak masa dewasa. Adapun saran yang dapat diajukan terkait dengan temuan dalam penelitian ini adalah subyek diharapkan mampu dan bisa mendorong dirinya sendiri untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik meskipun memiliki masa lalu yang traumatis. Peneliti lain diharapkan meneliti tentang pola kelekatan dengan subyek yang luas dan berbeda budaya agar mendapatkan hasil yang lebih bermanfaat dan menambah khasanah ilmu.

Studi tentang kompetensi profesional mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) S1 Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) semester genap tahun 2011/2012 (pada program keahlian CNC kelas XI TPM di SMK Negeri 1 Singosari) / Agus Dwi Purwadi

 

Kata kunci: Mahasiswa PPL, Kompetensi Profesional, Program keahlian CNC Mahasiswa jurusan kependidikan merupakan calon guru yang harus memiliki kemampuan dalam menguasai proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Untuk itu banyak hal yang harus dipersiapkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Salah satu bentuk kegiatan yang wajib dipenuhi khususnya di Universitas Negeri Malang dalam mempersiapkan mahasiswa sebagai calon guru adalah kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Praktik pengalaman lapangan keguruan merupakan kegiatan praktik mengajar yang dilaksanakan oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) di sekolah negeri maupun swasta.Tujuan praktik pengalaman lapangan yaitu agar mahasiswa dapat menjadi tenaga pendidik yang profesional yang dapat menyusun perangkat pembelajaran, melaksanakan kegiatan praktik mengajar di kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kompetensi profesional mahasiswa PPL semester genap 2011/2012 ditinjau dari; (1) Penguasaan bahan pada program keahlian; (2) mengelola program pembelajar-an; (3) Mengelola media pembelajaran, pada program keahlian CNC kelas XI TPM di SMK Negeri 1 Singosari. Dan mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung kompetensi profesional. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian yaitu mahasiswa PPL Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) semester genap 2011/2012 yang mengajar program keahlian CNC kelas XI TPM di SMK Negeri 1 Singosari. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan, triangulasi sumber data. Kesimpulan berdasarkan analisis data hasil penelitian, diantaranya: (1) Kompetensi profesional mahasiswa PPL UM semester genap 2011/2012 dalam menguasai bahan pembelajaran mengalami kendala diantaranya; sedikitnya materi yang tersedia, kurangnya pemahaman terhadap perangkat pembelajaran yang ada, mahasiswa PPL belum terbiasa dengan kode-kode yang digunakan pada mesin CNC yang ada, motivasi yang kurang dari mahasiswa PPL, kemampuan yang belum dikuasai secara mendalam mahasiswa PPL tentang bahan pembelajaran program keahlian CNC; (2) Kompetensi profesional mahasiswa PPL UM semester genap 2011/2012 dalam pengelolaan program pembelajaran, mahasiswa PPL terdapat kendala yang disebabkan antara lain; belum mempunyai kemampuan yang cukup memadai untuk mengelola program keahlian CNC, tidak adanya tugas yang terstruktur dari guru pamong terkait program pembelajaran, beban tugas lain yang terlalu banyak, beban jam mengajar mahasiswa PPL yang juga banyak sehingga berdampak pada rendahnya kemauan mahasiswa untuk mengelola program pembelajaran; (3) Kompetensi profesional mahasiswa PPL UM semester genap 2011/2012 dalam mengelola media pembelajaran, mahasiswa PPL mengalami kendala dalam melakukan perbaikan secara menyeluruh mengenai relevansi, efektifitas, dan evisiensi dari media program keahlian CNC yang dikembangkan mahasiswa PPL. Ada beberapa hal yang menyebabkan kendala dalam mengelola media pembelajaran terjadi antara lain; minimnya literatur pendukung terkait dengan materi program keahlian CNC, kurangnya penguasaan mahasiswa PPL dalam mengembangkan media pembelajaran, dan kurangnya penguasaan mahasiswa mengevaluasi media pembelajaran; (4) Faktor pendukung kompetensi profesional yaitu: Telah dilakukan pembekalan kepada mahasiswa PPL sebelum terjun langsung dalam proses belajar pembelajaran yang sebenarnya di sekolah, Kerjasama yang baik dengan beberapa perangkat sekolah, Tersedianya alat bantu atau media yang memadai untuk menyampaikan materi pembelajaran, Kerjasama yang baik antar sasama mahasiswa PPL yang mengajar program keahlian CNC kelas XI. Faktor penghambatnya yaitu: Kemampuan bersosialisasi yang masih belum baik dengan lingkungan sekolah, belum menguasai keterampilan mahasiswa PPL dalam memahami materi pembelajaran, mahasiswa PPL belum mampu mengembangkan perangkat pembelajaran, mahasiswa PPL tidak melakukan evaluasi terhadap program pembelajaran dan media pembelajaran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 |