Pengembangan permainan lempar tangkap merah putih pada permainan bola tangan dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan / Gagas Bareb Primadinata

 

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada topik himpunan di SMPN 18 Malang / Nurinda Fahmita Ariyanti

 

Kata kunci: problem based learning, hasil belajar. Berdasarkan observasi awal yang dilaksanakan dengan salah satu guru Matematika SMPN 18 Malang, diperoleh informasi bahwa penyampaian pembelajaran matematika dilakukan dengan metode ceramah. Hal ini berdampak kepada siswa, yaitu kurang aktif bertanya, kurang memperhatikan guru saat menerangkan di depan kelas, jarang melakukan diskusi kelompok sehingga cenderung bersifat individual. Dengan kondisi siswa yang demikian, berpengaruh pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang memperoleh nilai Matematika di bawah SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) atau masih belum mencapai 80% ketuntasan klasikal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning yaitu suatu pendekatan dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses keterlaksanaan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-E di SMPN 18 Malang. Proses pelaksanaan pembelajaran melalui beberapa tahapan yaitu orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, penyelidikan individual dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan data, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian berupa hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes di akhir setiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I, banyaknya siswa yang tuntas belajar sebesar 69,76%. Pada siklus II, banyaknya siswa yang tuntas belajar sebesar 88,37%. Sedangkan untuk aktivitas guru selama kegiatan pembelajaran pada siklus I mendapatkan prosentase skor rata-rata 79,99%, berdasarkan analisis skor rata-rata termasuk dalam kategori baik dan prosentase skor rata-rata pada siklus II adalah 87,49%, termasuk dalam kategori sangat baik. Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran pada siklus I mendapatkan prosentase skor rata-rata 77,28%, termasuk dalam kategori baik dan prosentase skor rata-rata pada siklus II adalah 84,16%, termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan ketuntasan pembelajaran yang diterapkan pada SMPN 18 Malang, yaitu pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil jika jumlah siswa yang mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimum (65) sebanyak 80%, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMPN 18 Malang pada topik Himpunan.

Pengembangan teknik belaan dikombinasikan dengan teknik serangan (serang bela) menggunakan VCD instruksional untuk siswa tingkat sabuk jambon pencak silat Persaudaraan Setiua Hati Terate Cabang Malang / Eko Dani Kristiadi

 

Pembelajaran melalui strategi REACT berbantu Cabri 3D untuk meningkatkan hasil belajar materi dimensi tiga (jarak) siswa kelas X semester genap SMA Negeri 10 Malang / Meisa Yasmita Pradani

 

Kata Kunci: pembelajaran, strategi REACT, Cabri 3D, hasil belajar, jarak. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas X-7 SMA Negeri 10 Malang pada materi dimensi tiga masih rendah dan perlu ditingkatkan. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang dilakukan selama ini masih dilakukan secara konvensional, yaitu guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered). Selain itu, penggambaran benda dimensi tiga masih menggunakan media papan tulis, sehingga siswa sulit membayangkan benda dimensi tiga yang begitu abstrak. Berdasarkan hal tersebut, peneliti berinisiatif menerapkan pembelajaran melalaui strategi REACT berbantuan media Cabri 3D untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas X-7 SMA Negeri 10 Malang. Pembelajaran melalui strategi REACT merupakan salah satu pembelajaran kontekstual yang memiliki lima aspek, yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring. Dalam pembelajaran ini, siswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan sesuatu yang telah diketahui siswa, dengan kegiatan hand-on (mengotak-katik atau memanipulasi) dan sedikit keterangan guru siswa menemukan pengetahuan baru, siswa menerapkan pengetahuannya pada situasi nyata, siswa memecahkan masalah dalam team untuk menguatkan pengetahuan mereka, serta siswa menerapkan yang telah mereka pelajari untuk dilakukan transfer ke situasi baru sesuai konteksnya. Dalam pembelajaran tersebut, juga disisipkan program Cabri 3D sebagai media pembelajaran yang interaktif untuk membantu siswa memvisualisasikan benda-benda dimensi tiga menjadi lebih konkrit. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dari Kemmis & Mc Taggart dengan tahapan; perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilakukan selama dua siklus dengan materi jarak antara dua titik dan jarak antara titik dan garis pada siklus pertama, sedangkan pada siklus kedua pada materi jarak antara titik dengan bidang. Dalam penelitian ini, hasil belajar siswa diukur melalui tes tertulis pada setiap akhir siklus. Analisis dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kauntitatif. Data kualitatif (berupa kata atau kalimat) digunakan untuk mendeskripsikan data secara lengkap. Analisis kuantitatif ditampilkan dalam bentuk angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara perlahan. Peningakatan tersebut terjadi dari nilai awal siswa menuju nilai tes siklus I hingga siklus II. Pada siklus I, hasil belajar siswa meningkat sebesar 17,2% dari nilai awal siswa, dengan ketuntasan klasikal meningkat dari 21,1% menjadi 42,7% yaitu meningkat dari taraf “Sangat Rendah” menjadi “Rendah”. Sedangkan pada siklus II, hasil belajar siswa meningkat sebesar 28% dari nilai awal siswa, dengan ketuntasan klasikal meningkat dari 21,1% menjadi 78,8% , yaitu meningkat dari taraf “Sangat Rendah” menjadi “Baik”. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pembelajaran melalui strategi REACT berbantuan media Cabri 3D meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-7 SMA Negeri 10 Malang.

Penerapan metode bermain "Cakaram Ceria" untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lempar cakram di kelas XII MM3 SMK Negeri 11 Malang / Putra Ardy Sanjaya

 

Kata Kunci: meningkatkan, keaktifan pembelajaran lempar cakram, pendekatan bermain Olahraga Lempar Cakram adalah salah satu nomor lomba dalam atletik yang menggunakan sebuah benda kayu yang berbentuk piring bersabuk besi, atau bahan lain yang bundar pipih yang dilemparkan. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran lempar cakram masih belum optimal. Banyak siswa yang kurang aktif, kurang senang dan kurang tekun dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lempar cakram di kelas XI MM3 SMK Negeri 11 Malang yang belum optimal dengan menggunakan pendekatan bermain. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran lempar cakram dengan menggunakan metode bermain. Melalui permainan ini, siswa melakukan gerak dasar lempar cakram sambil bermain dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting mengingat siswa kelas XI MM3 SMK Negeri 11 Malang belum menunjukkan keaktifan dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran lempar cakram di kelas XI MM3 mengalami peningkatan setelah diberikan metode bermain. Presentase hasil belajar siswa adalah sebagai berikut: (1). Terdapat 9 siswa (26%) dari 32 siswa yang aktif dalam mengikuti pembelajaran, 23 siswa (74%) dari 32 siswa kurang aktif. Kemudian setelah dilakukan tindakan pada siklus 1 terdapat 17 siswa (52%) dari 32 siswa yang aktif, 15 siswa (48%) dari 32 siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian pada siklus 2 terdapat 30 siswa (92%) dari 32 siswa yang aktif, 2 siswa (8%) dari 32 siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Presentase dari indikator aktif diperoleh dengan menjumlah hasil skor yang diperoleh dari indikator aktif kemudian dibagi dengan hasil perkalian antara jumlah siswa dan lima deskriptor dari indikator aktif kemudian dikali 100%. (2). Terdapat 10 Siswa (26%) dari 32 siswa senang dalam mengikuti pembelajaran, 22 siswa (74%) dari 32 siswa kurang senang mengikuti pembelajaran. Kemudian setelah diberikan tindakan pada siklus 1 terdapat 18 siswa (56%) dari 32 siswa senang mengikuti pembelajaran, 14 siswa (44%) dari 32 siswa kurang senang dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian pada siklus 2 terdapat 28 siswa (88%) dari 32 siswa senang dalam mengikuti pembelajaran, 4 siswa (12%) dari 32 siswa kurang senang dalam mengikuti pembelajaran. Presentase dari indikator senang diperoleh dengan menjumlah hasil skor yang diperoleh dari indikator senang kemudian dibagi dengan hasil perkalian antara jumlah siswa dan lima deskriptor dari indikator senang kemudian dikali 100% (3). Terdapat 10 siswa (26%) dari 32 siswa tekun dalam mengikuti pembelajaran, 22 siswa (74%) dari 32 siswa kurang tekun dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian setelah dilakukan tindakan pada siklus 1 terdapat 18 siswa (55%) dari 32 siswa tekun dalam mengikuti pembelajaran, 14 siswa (45%) dari 32 siswa kurang tekun dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan pada siklus 2 terdapat 28 siswa (87%) dari 32 siswa tekun dalam mengikuti pembelajaran, 4 siswa (13%) dari 32 siswa kurang tekun dalam mengikuti pembelajaran. Presentase dari indikator tekun diperoleh dengan menjumlah hasil skor yang diperoleh dari indikator tekun kemudian dibagi dengan hasil perkalian antara jumlah siswa dan lima deskriptor dari indikator tekun kemudian dikali 100%. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah dengan pemberian pendekatan bermain dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lempar cakram di kelas XI MM3 SMK Negeri 11 Malang.

Aplikasi konversi teks menjadi suara dengan menggunakan metode penggal kata Finite State Automata (FSA) / Isrokah

 

Pengembangan media pembelajaran berbasis powerpoint: perspektif dalam menggambar bentuk benda kubistis dan silindris untuk siswa kelas VII SMP / Riza Fatmala

 

Kata Kunci : Media Pembelajaran, Perspektif, Menggambar Bentuk Dalam pembelajaran Seni Budaya, khususnya menggambar bentuk yang mengutamakan adanya kesan jauh dan dekat bagi siswa kelas VII SMP tentu sulit jika mereka tidak mempunyai pengetahuan perspektif.Perkembangan ilmu dan teknologi semakin mendorong usaha-usaha ke arah pembaharuan dalam memanfaatkan hasil-hasil teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran.Maka dari itu perlu adanya media pembelajaransebagai alat bantu bagi guru untuk menyampaikan perspektif, agar siswa lebih mudah memahami dan mampu mengaplikasikan perspektif dalam menggambar bentuk 3D Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis PowerPoint mengenai dasar-dasar perspektif dalam menggambar bentuk benda kubistis dan silindris untuk siswa kelas VII SMP. Model pengembangan yang digunakan adalah model 5D (Pranata,2012), yang terdiri dari lima tahapan yaitu 1) Define; 2)Data; 3)Design; 4) Develop dan 5) Disseminate.Validasi media terdiri dari 2 ahli media dan 2 ahli materi. Sedangkan uji coba lapangan dilakukan di SMPN 01 Batu dengan audien 20 siswa. Berdasarkan hasil validasi dari ahli diperoleh prosentase 85,9% dari ahli media, yang berarti sangat valid. Untuk hasil validasi ahli materi diperoleh prosentase 86,4% sangat valid, dan untuk uji coba lapangan diperoleh prosentase 87.4% yaitu sangat valid. Berdasarkan hasil analisa data dapat disimpulkan bahwa hasil pengembangan dari media pembelajaran ini secara keseluruhan sangat valid dan layak untuk menunjang pembelajaran Seni Budaya di SMP. Spesifikasi produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah :soft file dalam CD, jumlah total 78 slide yang berisi kompetensi, materi, dan evaluasi, menggunakan teknik computerized dengan tampilan full color.Software yang digunakan Microsoft Office PowerPoint 2010. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran gambar perspektif yang dikembangkan ini valid dan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran pendukung pendidikan Seni Budaya di SMP. Disarankan untuk peneliti berikutnya agar mengkaji lebih dalam pada saat pemilihan materi, desain pesan, dan desain tampilan agar dapat menghasilkan media yang layak untuk disajikan sebagai media ajar.Penelitian ini hanya sebatas pengembangan produk, diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan sebuah uji keefektifan dari produk media berbasis PowerPoint untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa.

Analisis faktor-faktor penyebab kemiskinan di Provinsi Jawa Timur dengan metode eksploratori komponen utama / Rina Fitrianita Rizki

 

Kata Kunci: kemiskinan, analisis faktor, eksploratori, komponen utama Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang ada di Indonesia. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang juga tak terlepas dari masalah kemiskinan tersebut. Kemiskinan merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan lingkungannya sehingga seseorang tersebut mengalami kesengsaraan dalam hidupnya. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor utama penyebab kemiskinan di Provinsi Jawa Timur dengan cara mereduksi variabel-variabel awal menjadi faktor. Cara mereduksi variabel-variabel yang menjadi penyebab kemiskinan tersebut adalah dengan menggunakan analisis faktor dengan metode eksploratori komponen utama. Variabel-variabel tersebut antara lain adalah variabel tingkat pendidikan (X_1), buta huruf (X_2), pengangguran (X_3), jenis atap rumah (X_4), jenis dinding rumah (X_5), jenis lantai rumah (X_6), luas rumah (X_7) dan penerangan (X_8). Dari hasil penerapan analisis faktor dengan menggunakan metode eksploratori komponen utama, diperoleh jumlah faktor yang terbentuk adalah 2 faktor, yaitu faktor kelayakan perumahan (F_1) dan faktor ekonomi rendah (F_2). Sedangkan persamaan dari kedua faktor tersebut adalah: F1 = 0,232 X1 - 0,132 X2 - 0,241 X3 + 0,833 X4 + 0,945 X5 + 0,887 X6 + 0,704 X7 dimana semakin tinggi tingkat pendidikan dan semakin layak jenis atap, jenis dinding, jenis lantai dan luas rumah, maka semakin tinggi pula tingkat kelayakan perumahan. Sedangkan semakin tinggi tingkat buta huruf dan pengangguran, maka semakin rendah tingkat kelayakan perumahan, dan sebaliknya. F2 = -0,674 X1 + 0,876 X2 +0,886 X3 - 0,304 X4 - 0,119 X5 - 0,156 X6 - 0,339 X7 dimana semakin tinggi tingkat buta huruf dan pengangguran, maka semakin tinggi pula tingkat masyarakat dengan ekonomi rendah. Sedangkan semakin tinggi tingkat pendidikan dan semakin layak jenis atap, jenis dinding, jenis lantai dan luas rumah, maka semakin rendah tingkat masyarakat dengan ekonomi rendah, dan sebaliknya.

Implementasi masalah pewarnaan graph dengan algoritma tabu search pada penjadwalan kuliah / Ida Suryani

 

Suryani, Ida. 2013. Implementasi Masalah Pewarnaan Graph dengan Algoritma Tabu Search pada Penjadwalan Kuliah. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Mohamad Yasin, S.Kom, M.Kom. Kata Kunci: pewarnaan titik graph, bilangan khromatik, algoritma Tabu Search, penjadwalan kuliah     Salah satu pewarnaan graph yang sering digunakan adalah pewarnaan titik. Pewarnaan titik adalah mewarnai semua titik pada graph , sehingga setiap pasang titik yang terhubung langsung memiliki warna yang berbeda. Banyaknya warna minimum yang digunakan untuk mewarnai disebut dengan bilangan khromatik. Pewarnaan titik banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kegunaannya adalah membantu menyelesaikan masalah penyusunan jadwal kuliah.     Terdapat banyak algoritma yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah pewarnaan graph pada penjadwalan kuliah. Salah satunya adalah algoritma tabu search. Hasil pewarnaan graph dengan menggunakan algoritma tabu search digunakan untuk menyusun jadwal kuliah, sehingga tidak ada jadwal yang bentrok. Artinya, tidak ada dua matakuliah yang diambil oleh seorang mahasiswa yang dilaksanakan pada waktu yang bersamaan. Dengan demikian dapat ditentukan waktu dan ruang untuk melaksanakan perkuliahan sehingga dapat dibuat jadwal kuliah.     Untuk mempermudah menyelesaikan masalah pewarnaan graph dengan algoritma tabu search pada penjadwalan kuliah maka dibuat program dengan memanfaatkan sofware Borland Delphi 7. Data yang diinputkan berupa mata kuliah, dosen dan kelas mahasiswa yang akan direpresentasikan sebagai titik graph. Proses pewarnaan dimulai dari sehingga diperoleh warna yang lebih minimum. Output yang dihasilkan program berupa tabel jadwal kuliah yang telah ditentukan waktu dan ruang.

Implementasi kriptografi dan steganografi menggunakan algoritma RSA dan metode LSB / Rian Arifin

 

Kata Kunci: Kriptografi, Steganografi, RSA, LSB, Pesan Rahasia, File Gambar Bitmap 24 Bit Perkembangan teknologi mempermudah orang berkomunikasi, bentuk komunikasi yang sering digunakan adalah mengirim dan menerima pesan. Seiring berkembangnya teknologi, semakin berkembang juga kejahatan terhadap keamanan pesan yang dikirim. Salah satu cara untuk menjaga keamanan pesan adalah menggunakan teknik steganografi. Steganografi adalah ilmu dan seni menyembunyikan pesan rahasia di dalam pesan lain sehingga keberadaan pesan rahasia tersebut tidak dapat diketahui (Munir, 2006:301). Metode yang digunakan untuk penyembunyian pesan rahasia adalah metode penyisipan pesan LSB (Least Significant Bit). Metode penyisipan LSB adalah menyisipkan pesan dengan cara mengganti bit LSB pada representasi biner file gambar dengan representasi biner pesan rahasia yang akan disembunyikan. Sebelum disisipkan ke dalam file gambar, pesan rahasia disandikan menggunakan teknik kriptografi. Kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan pesan dengan cara menyandikannya ke dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti lagi maknanya (Munir, 2006:2). Algoritma kriptografi yang digunakan adalah algoritma RSA. Huruf RSA pada algoritma RSA berasal dari inisial nama pembuat algoritma RSA, yaitu; Ron (Rivest), Adi (S)hamir dan Leonard (A)dlenan (Munir, 2006:179). Algoritma RSA terdiri dari algoritma enkripsi dan algoritma dekripsi. Algoritma enkripsi RSA untuk menyandikan pesan rahasia menjadi bentuk yang tidak dimengerti maknanya. Algoritma dekripsi RSA untuk mengembalikan hasil penyandian menjadi pesan rahasia yang sebenarnya. Pada skripsi ini, penulis menyandikan pesan rahasia berupa file berekstensi txt menggunakan algoritma enkripsi RSA. Hasil dari enkripsi disembunyikan dalam file gambar bitmap 24 bit dengan menggunakan metode penyisipan pesan LSB. Dari proses penyisipan, diperoleh file gambar bitmap 24 bit yang disebut dengan stegotext. Membaca pesan rahasia dapat dilakukan dengan mengambil bit-bit stegotext yang telah digunakan untuk menyembunyikan pesan rahasia dan menyusun menjadi karakter pesan rahasia. Pesan yang didapatkan berupa sandi yang tidak dapat dimengerti maknanya, sehingga harus dikembalikan ke bentuk pesan aslinya dengan menggunakan algoritma dekripsi RSA.

Penerapan konktete poesie dalam pembelajaran kosakata dan tata bahasa Jerman kelas XI Bahasa SMAN 4 Malang / Minszenti Arnoldus

 

Kata Kunci: Konkrete Poesie, Pembelajaran Kosakata dan Tata Bahasa. Pembelajaran kosakata dan tata bahasa seringkali membuat peserta didik merasa bosan dan memiliki permasalahan, di antaranya harus mempelajari aturan, memahami kosakata, serta melakukan latihan tata bahasa yang sulit. Hal ini menyebabkan peserta didik merasa takut dan kehilangan motivasi untuk mempelajari kosakata dan tata bahasa. Sementara itu, pembelajaran yang monoton membuat peserta didik semakin kehilangan motivasi belajar. Konkrete Poesie adalah salah satu alternatif teks sastra untuk mendukung pembelajaran kosakata dan tata bahasa Jerman. Konkrete Poesie dapat membangkitkan minat peserta didik untuk lebih mudah mempelajari kosakata dan tata bahasa. Peserta didik juga memiliki kesempatan untuk bermain sambil belajar. Dengan demikian ketakutan mereka hilang dan berani untuk belajar, bahkan menjadi kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan konkrete Poesie dalam pembelajaran kosakata dan tata bahasa Jerman di kelas XI Bahasa SMAN 4 Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI Bahasa SMAN 4 Malang tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 9 orang. Penelitian ini menggunakan instrumen observasi dan angket. Berdasarkan hasil observasi dan angket dari para peserta didik pada saat penelitian ini dilaksanakan, diketahui bahwa peserta didik antusias, aktif dan termotivasi saat mengikuti pembelajaran. Sebanyak 89 % peserta didik menyatakan sangat setuju dan 11% menyatakan setuju bahwa penerapan konkrete Poesie dalam pembelajaran kosakata dan tata bahasa membuat mereka senang dan termotivasi, mempermudah mereka memahami kosakata dan tata bahasa, serta menerapkannya.

Perancangan film animasi Kisah Sunan Kalijaga dengan teknik sop motion 3D sebagai medio belajar akan SD / Dia Putra Mahardika

 

Kata Kunci : Perancangan, Film Animasi, Sunan Kalijaga, Stop motion, Walisongo. Karena adanya perkembangan teknologi informasi dan banyaknya film animasi yang masuk, sehingga saat ini tidak banyak anak-anak yang mengenal cerita rakyat dan kisah-kisah rakyat yang bersifat edukatif. Anak-anak lebih suka melihat tayangan film animasi action yang kadangkala tidak memiliki unsur edukasi. Begitu juga dengan media pembelajaran disekolah, anak-anak cenderung hanya disuguhi buku-buku materi dimana kebanyakan anak-anak merasa jenuh untuk membaca dan mempelajarinya. Untuk menghindari hilangnya kisah-kisah atau cerita rakyat yang bersifat edukatif tersebut, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan memperhatikan teori tentang metode belajar anak serta teori tentang prinsip film animasi, perancang membuat sebuah media pembelajaran yang berbentuk film animasi Stop motion 3D. Film animasi Stop motion 3D adalah film yang sering disebut dengan Clay motion yaitu menggunakan Plasticine / Clay sebagai obyek yang digerakkan sedikit demi sedikit kemudian difoto dan disusun secara berurutan. Film animasi Stop motion 3D ini mengambil salah satu kisah dari Walisongo yaitu kisah Sunan Kalijaga. Film animasi yang berdurasi 10 menit yang didalamnya memiliki unsur edukatif tanpa adanya unsur kekerasan ini diharapkan dapat membuat anak-anak tertarik serta mengerti manfaatnya, yaitu untuk menambah pengetahuan, menanamkan moral dan budi pekerti yang baik serta menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Selain itu, film ini juga dapat menjadi rujukan sebagai media pembelajaran di sekolah.

Pengaruh persepsi siswa tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan kondisi bengkel praktikum terhadap pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di bengkel praktikum Jurusan Teknik Sepeda Motor SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang / Tori Adi Surya

 

Surya, Tori Adi. 2013. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Kondisi Bengkel Praktikum terhadap Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Bengkel Praktikum Jurusan Teknik Sepeda Motor SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Solichin, S.T., M.Kes, (2) Drs. Djonni Bangun, M.Pd, Kata Kunci: Persepsi, Kondisi Bengkel, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)     Kecelakaan kerja dapat menyebabkan kerusakan mesin, terhentinya proses produksi, kerusakan lingkungan, dan pengeluaran-pengeluaran biaya kecelakaan kerja. Secara umum kecelakaan kerja terjadi karena dua golongan penyebab yaitu tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan dan kesehatan kerja dan keadaaan lingkungan yang tidak aman. Dunia kerja sekarang ini dipenuhi oleh tenaga kerja lulusan SMK yang terampil. Tenaga kerja mayoritas ini harus memiliki pemahaman yang mendalam terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) agar ketika bekerja mampu meminimalisir kecelakaan kerja. Untuk mengetahui gambaran terhadap hal tersebut diperlukan usaha yang tepat, salah satunya adalah melalui penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang K3 dan kondisi bengkel terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel.     Penelitian ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang. Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh siswa kelas X, XI, dan XII jurusan Teknik Sepeda Motor SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang yang terdaftar di Tahun Ajaran 2012/2013 Semester Genap sejumlah 60 orang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan angket.     Hasil penelitian menunjukan: (1) sebanyak 28 siswa atau 46,7 % siswa memiliki persepsi positif tentang K3 dengan klasifikasi yang sangat tinggi, (2) sebanyak 42 siswa atau 70 % siswa memiliki penilaian positif terhadap kondisi bengkel dengan klasifikasi yang tinggi, (3) sebanyak 44 siswa atau 73,3 % siswa memiliki klasifikaksi pelaksanaan K3 di bengkel yang sangat tinggi, (4) dari uji F tes didapatkan bahwa variabel persepsi dan kondisi bengkel secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja, dengan signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 (tingkat kepercayaan 95%), (5) nilai R square (R2) adalah 0,631, hal ini menunjukan bahwa 63,1 % tingkat pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja dipengaruhi oleh persepsi dan kondisi bengkel, sedangkan sisanya 36,9 % dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, (6) persamaan regresinya adalah Y= 32,609 + 0.248 X1 + 0,630 X2 Kesimpulan: bahwa persepsi maupun kondisi bengkel berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel praktikum jurusan Teknik Sepeda Motor SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang, serta variabel persepsi dan kondisi bengkel secara parsial berpengaruh terhadap pelaksanaan K3 di bengkel. Saran untuk SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang dan para guru agar menanamkan persepsi positif kepada siswa secara mendalam dan memperbaiki serta melengkapi kondisi bengkel praktikum.

Perancangan iklan layanan masyarakat pencegahan dan penaggulangan diare pada balita sebagai media penyuluhan bagi ibu / Nuril Isnainia

 

Isnainia, Nuril. 2013. “Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Pencegahan dan Penanggulangan Diare pada Balita sebagai Media Penyuluhan bagi Ibu”. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd, (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn     Kata Kunci : Perancangan, Iklan Layanan Masyarakat, Diare balita, pola asuh         Saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Balita merupakan kelompok risiko tinggi terserang berbagai penyakit infeksi karena daya tahan tubuh mereka belum kuat dan aktif bekerja. Menurut data WHO sekitar 1,5 juta anak meninggal akibat diare dan ada sekitar 2 milliar kasus setiap tahunnya. Pengetahuan Ibu tentang diare pada balita menunjukkan bahwa masih minimnya pengetahuan ibu akan bahaya dari penyakit diare pada balita. Dari pemaparan permasalahan tersebut, maka solusi pemecahan masalah kebutuhan media melalui karya Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Pencegahan dan Penanggulangan Diare pada Balita sebagai Media Penyuluhan bagi Ibu agar pesan pada sosilaisasi mengenai pencegahan dan penanggulangan diare pada balita dapat tersampaikan dengan baik dan benar pada target audience, yaitu Ibu.    Perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dalam perancangan ini berupa data primer yang didapat dalam wawancara dan data sekunder yang didapat dalam literatur buku, brosur, dan leaflet yang berhubungan dengan perancangan. Kegiatan perancangan ini diawali dengan identifikasi masalah, analisis target audience, penentuan tujuan khusus iklan, tema iklan, anggaran iklan, perencanaan media, penentuan waktu dan frekuensi periklanan, menciptakan pesan iklan dan mengevaluasi ILM.    Perancangan iklan layanan masyarakat ini terbagi menjadi dua tujuan, yaitu (1) tujuan persuasif yaitu poster, x-banner dan media digital spot video, (2) tujuan informatif yaitu infografis, buku penyuluhan, media presentasi dan brosur. Pesan yang disampaikan adalah sosialisasi mengenai masalah kesadaran ibu akan pentingnya kebesihan dan kesehatan pada balita dengan cara penjabaran secara ringkas dan padat serta visual yang menarik dengan bahasa yang sesuai dengan target audience.

Buku ajar perencanaan lilitan motor listrik satu fasa dan tiga fasa berbasis software Delphi untuk mahasiswa Teknik Elektro di Universitas Negeri Malang / Angger Bintari Wulan Purwidiyanti

 

Purwidiyanti, Angger Bintari Wulan. 2013. Buku Ajar Perencanaan Lilitan Motor Listrik 1 Fasa Dan 3 Fasa Berbasis Delphi Untuk Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sujono, M.T. (2) Drs. Hari Putranto. Kata Kunci: Buku Ajar, Motor listrik    Perkembangan teknologi sekarang ini juga mempengaruhi perkembangan industri. Banyak industri menggunakan motor listrik 1 fasa dan 3 fasa untuk mendukung kegiatan produksi. Motor listrik yang digunakan memerlukan perawatan dalam penggunaannya. Untuk melakukan perawatan motor pada industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi tinggi untuk melakukan perawatan pada motor listrik. Oleh karena itu pembelajaran harus lebih ditingkatkan, salah satunya dengan menggunakan buku ajar. Pada penelitian ini penulis mengembangkan modul ajar motor listrik yang berbentuk buku ajar perecanaan lilitan yang berbasis software Delphi. Modul ini digunakan untuk membantu peserta didik memahami materi motor listrik, perawatan dan perbaikannya. Buku ajar ini disesuaikan dengan kurikulum yang dilaksanakan, serta kompetensi yang berlaku.    Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan buku ajar yang memenuhi kriteria mata pelajaran mesin listrik pada pokok bahasan perencanaan lilitan motor jenis lilitan sepusat pada motor kapasitor 1 fasa dan jenis lilitan spiral pada motor induksi 3 fasa dan Menguji buku ajar perencanaan lilitan motor berbasis delphi pada mata pelajaran mesin listrik pada pokok bahasan perencanaan lilitan motor ini layak digunakan media pembelajaran. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah menambah wawasan bagi penulis, mengaplikasikan ilmu elektro yang telah diperoleh untuk dunia pendidikan, bagi mahasiswa, meningkatkan minat belajar pada matapelajaran mesin listrik khususnya pokok bahasan perencanaan lilitan motor, bagi jurusan teknik elektro, meningkatkan kualitas mahasiswa dan bagi dosen, sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan, penggunaan serta pengembangan media pembelajaran.    Metode penelitian pada penelitian pengembangan ini, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (1) bedah kurikulum; (2) identifikasi media; (3) pengembangan naskah; (4) produksi; (5) penyempurnaan; (6) tes/ uji coba; dan (7) revisi. Hasil dari penelitian ini melalui beberapa uji coba, diperoleh skor validasi dari ahli media sebesar 90% ,skor validasi ahli materi sebesar 88% dan skor angket keterlaksanaan sebesar 86,39% sehingga dapat disimpulkan bahwa buku ajar lilitan motor 1 fasa dan 3 fasa untuk Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang telah valid dan layak digunakan sebagai buku ajar.

Kecenderungan unsur intrinsik geguritan siswa kelas X SMA Negeri Plandaan Kabupaten Jombang tahun pelajaran 2011/2012 / Nismahul Azizah

 

Kata Kunci: kecenderunganGeguritan, karya siswa SMA Menulis geguritan merupakan salah satu kompetensi dasar yang terdapat pada kurikulum muatan lokal (mulok) Bahasa Jawa di kelas X SMA Negeri Plandaan Kabupaten Jombang. Geguritanmerupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pemikiran, perasaan, dan merangsang imajinasi dengan mempergunakan kata-kata yang ritmis dan penggunaan bahasa yang indah. Dalam pembelajaran menulis di sekolah, siswa dituntut untuk mampu menulis geguritandengan menggunakan diksi, gaya bahasa, serta tema yang baik dan benar. Dengan demikian, siswa diharuskan mampu memahami cara menulis geguritan dengan unsur-unsur tersebut. Geguritan berperan bagi setiap siswa, khususnya siswa SMA dalam praktik dan terjun langsung ke masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kecenderungandiksi, gaya bahasa, dan tema pada geguritansiswa kelas X SMA Negeri Plandaan Kabupaten Jombang.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Data yang dipaparkan berupa 30 geguritansebagai sampel dari90 geguritan siswa kelas X SMA Negeri Plandaan Kabupaten Jombang. Berdasarkan hasil analisis data, dihasilkan tiga temuan. Temuan pertama, diksi yang digunakan dalam penulisan geguritanterdiri atas(1) perbendaharaan kata yang meliputi interferensi bahasa, kata yang bersifat mbeling, kata yang bersifat protes, dan kata yang bersifat religius.(2) Urutan kata yang meliputi urutan kata yang menimbulkan perasaan sedih, urutan kata yang menimbulkan perasaan kecewa, dan urutan kata yang menempatkan subjek di awal baris. (3) Kaidah penulisan bahasa Jawa, sertaunsur laras bahasa (campuran antara dua bahasa). Temuankedua, karakteristik gaya bahasa pada geguritanyang meliputi majas personifikasi, majas metafora, majas simile, majas hiperbola, dan majas litotes. Temuan ketiga, karakteristik tema pada geguritanyang digunakan dalam penulisan geguritan terdiri atas, percintaan, kasih sayang, persahabatan, serta pesan langsung yang hendak disampaikan penulis kepada pembacanya. Berdasarkan simpulan di atas, disarankan kepada guru Bahasa Jawa untuk lebih memperhatikan diksi dari segi perbendaharaan kata, kaidah penulisannya, serta laras bahasanya.Memberikan manfaat dan masukan kepada guru mata pelajaran Bahasa Jawa untuk memperhatikan penggunaan gaya bahasa/ majas dan tema yang digunakan oleh siswa dalam menulis geguritan.Memberikan manfaat kepada peneliti selanjutnyaagar mampu mengarahkan siswa untuk mengolah emosi dalam bahasa geguritan yang indahdan puitis.

Robot omni directional steering berbasis mikrokontroler / Muchamad Nur Hudi

 

Kata kunci: Remote Kontrol , Mikrokontroler, H-bridge, Motor, Robot Omni merupakan seperangkat sistem mesin yang dapat bergerak ke segala arah sehingga dapat karena selain mempunyai roda primer pada roda tersebut mempunyai roda sekunder yang mempunyai ukuran lebih kecil dengan posisi horizontal/melintang terhadap roda primer yang lebih besar. Efeknya adalah bahwa roda akan memutar dengan kekuatan penuh, tetapi juga akan geser menyamping dengan sangat mudah. Roda ini sering digunakan dalam sistem penggerak holonomic. Tujuan pembuatan Tugas Akhir yang berjudul Robot Omni Directional steering berbasis Mikrokontroller ialah Mengetahui cara komunikasi remote kontrol dengan mikrokontroller ATmega16 dan mengetahui cara mengendalikan Trobot omni dengan mikrokontroller ATmega16. Metode perancangan meliputi: Perancangan sistem, perancangan tiap blok (Hardware), perancangan perangkat lunak (Software), perancangan mekanik alat. Didalam perancangan hardware terdiri dari rangkaian saklar pengarah, pemancar FM, penerima FM, mikrokontroler ATmega16, h-bridge, motor dan roda. Rancangan Robot Omni Directional Steering dapat terealisasi dengan spesifikasi sebagai berikut Ketika Push Button ditekan maka akan mengirimkan pulsa pada IC 14024, osilator akan bekerja dan mengirimkan pulsa tersebut pada frekuensi radio 40 MHz ke penerima kemudian masuk IC 14042 untuk dirubah ke bentuk semula yaitu signal kotak dengan nilai sesuai yang dikirim pemancar. Mikrokontroller bekerja ketika menerima signal dari IC 14042 pada penerima yang kemudian dirubah oleh optocoupler sehingga signalnya berlogika “0”. Motor DC akan bergerak sesuai perintah saat menerima logika low dari IC 293D. Pengontrolan suatu alat dapat dilakukan jarak jauh dengan menggunakan remote control wirelles yang memanfaatkan signal radio sebagai media penyalur data, Robot Omni Directional dapat bergerak ke semua arah dengan kombinasi gerakan roda.

Pengembangan bahan ajar menulis cerpen dengan strategi pemodelan dan media lirik lagu untuk siswa kelas X SMA / Rina Novia Wahyuningtyas

 

Kata kunci: pengembangan bahan ajar, menulis cerpen, pembelajaran menulis cerpen, strategi pemodelan, media lirik lagu Menulis karangan berdasarkan pengalaman orang lain dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar) merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa kelas X SMA. Kegiatan menulis cerpen ini dapat meningkatkan kreativitas siswa untuk dapat menghasilkan cerpen yang baik. Namun, harapan tersebut masih kurang mendapat perhatian. Terbukti dengan adanya beberapa hambatan, antara lain hambatan dari faktor internal yaitu dari diri siswa itu sendiri dan faktor eksternal yaitu pada tersedianya bahan ajar, media, dan strategi yang digunakan oleh guru. Untuk itu diperlukan pengembangan bahan ajar menulis cerpen yang dapat mengatasi hambatan yang ada. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung proses pembelajaran menulis cerpen di SMA. Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya pengembangan bahan ajar, yakni kebutuhan siswa dan tuntutan guru untuk dapat memberikan materi pembelajaran yang berkualitas serta sesuai dengan karakteristik siswa kelas X SMA. Tujuan umum penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan produk bahan ajar menulis cerpen dengan strategi pemodelan dan media lirik lagu untuk siswa kelas X SMA. Tujuan umum tersebut, kemudian dirinci menjadi beberapa tujuan khusus, yaitu menghasilkan materi serta latihan (1) pemilihan ide dan tema cerpen, (2) penokohan cerpen, (3) pemilihan latar cerpen, (4) penentuan sudut pandang cerpen, dan (5) pemilihan dan pengembangan alur cerpen dengan strategi pemodelan dan media lirik lagu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Metode penelitian ini diadaptasi dari model pengembangan pembelajaran Borg and Gall. Berdasarkan model tersebut terdapat 4 tahapan prosedur penelitian pengembangan, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba, dan (4) tahap revisi produk. Produk hasil penelitian ini diuji coba kepada ahli menulis cerpen, ahli pembelajaran menulis cerpen, praktisi (guru bahasa Indonesia), dan kelompok kecil siswa yang beranggotakan 10 siswa dengan membagikan angket. Berdasarkan hasil uji coba dengan ahli menulis cerpen, ahli pembelajaran sastra, dan praktisi, jika dirata-rata memperoleh persentase sebagai berikut. Hasil uji kelayakan sistematika penulisan bahan ajar memperoleh persentase sebesar 91,66%, kesesuaian kompetensi bahan ajar 87,5%, keakuratan dan kedalaman materi pada bahan ajar 80,24%, penggunaan bahasa pada bahan ajar 83,3% dan kelayakan tampilan bahan ajar 85,4%. Selain hasil uji coba tersebut, terdapat hasil uji coba dari kelompok kecil siswa. Menurut hasil uji coba kelompok kecil yang beranggotakan 10 siswa memperoleh persentase kelayakan sistematika penulisan bahan ajar sebesar 100%, isi dan bahasan 90,83%, penggunaan bahasa 91,25%, dan tampilan bahan ajar 94,16%. Bahan ajar yang dihasilkan pada penelitian ini diberi judul Yuk, Menulis Cerpen dari Lirik Lagu. Bahan ajar ini terdiri atas 5 bagian. Bagian 1 memuat materi dan latihan pemilihan tema, bagian 2 memuat materi penokohan, bagian 3 memuat materi pemilihan latar, bagian 4 memuat materi penentuan sudut pandang, dan bagian 5 memuat materi alur dan pengembangan alur. Pada bagian 5 terdapat materi khusus yang memandu siswa untuk menulis cerpen secara utuh. Bahan ajar yang didominasi dengan warna hijau ini, dilengkapi dengan materi singkat tentang cerpen dan contoh cerpen sebagai pendahuluan, serta ruang refleksi dan rubrik penilaian sebagai penutup. Bahan ajar ini memiliki perbedaan dengan bahan ajar lain. Perbedaan ini terletak pada penggunaan strategi pemodelan. Strategi pemodelan memiliki 4 fase, yaitu fase atensi, retensi, reproduksi, dan motivasi. Selain strategi, bahan ajar ini juga memanfaatkan media lirik lagu. Strategi dan media yang digunakan pada bahan ajar ini diaplikasikan secara tidak langsung pada setiap bagian. Sebagai langkah pemanfaatan produk yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini, ada beberapa saran yang ditujukan untuk pihak-pihak yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar menulis cerpen. Untuk guru disarankan agar memanfaatkan bahan ajar menulis cerpen yang dihasilkan pada penelitian ini dengan optimal. Untuk siswa disarankan agar memanfaatkan produk bahan ajar ini dengan mulai membaca dan mempelajari semua tahapan menulis cerpen yang ada.

Studi tentang pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar siswa pada kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan SMK Negeri 1 Doko Blitar / Nur Ardhati Ratnaningtyas

 

Kata kunci: Perpustakaan, Pusat Sumber Belajar, Perpustakaan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan sebuah sekolah kejuruan (SMK). Kelengkapan sarana perpustakaan di sebuah sekolah dijadikan salah satu indikator tentang seberapa jauh keefektifan kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan fasilitas perpustakaan dan kondisi fisik sarana perpustakaan dapat berguna sebagai Pusat Sumber Belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dari buku dan perabot perpustakaan SMK Negeri 1 Doko Blitar, mengingat sekolah ini adalah salah satu sekolah kejuruan yang baru terbentuk. Penelitian difokuskan pada 4 jenis sarana perpustakaan meliputi buku, perabot, media pendidikan, dan perlengkapan lain. Hal-hal tersebut akan dibandingkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008 Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif. Sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah data inventaris buku dan perlengkapan lain perpustakaan yang diketahui dengan cara melakukan observasi dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Penulisan analisis data penelitian ini yaitu menjabarkan apa adanya dari data yang telah diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kondisi buku dengan keadaan baik kondisi fisik lengkap dengan penampilan sampul hanya 68,57%, kondisi fisik kualitas cetakan hanyalah 67,86%, dan kondisi fisik terbitan tahun maksimal 10 tahun yang lalu hanyalah 65,39%. Data peminjaman buku selama semester ganjil 2012/2013 kelas Teknik Kendaraan Ringan mata pelajaran produktif rata-rata tiap buku hanya dipinjam 1 kali oleh siswa. Pada perabot perpustakaan kondisi fisik jumlah/kuantitas perabot mencukupi standar, kualitas perabot baik, dan penampilan perabot baik (cat/pelitur bagus) memiliki persentase 83,33%. Pada media pendidikan persentase kondisi baik jumlah/kuantitas dan kualitas perlengkapan lain adalah 40%. Persentase keadaan baik untuk Perlengkapan lain untuk kondisi 1 adalah 85,71% dan untuk kondisi 2 adalah 100%. Dari hasil penelitian tersebut, dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa sarana yang terdapat dalam perpustakaan SMK Negeri 1 Doko Blitar, masih belum memenuhi standar yang telah ditentukan. Selain dikarenakan beberapa buku atau alat yang belum terdapat di perpustakaan, beberapa buku atau alat mempunyai kondisi fisik yang kurang bagus. Perlu adanya perhatian lebih dari pihak sekolah agar dilakukan penambahan buku atau alat yang kurang agar jumlah atau kondisinya sesuai standar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008.

Penerapan model pembelajaran learning cycle "5E" untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar KKPI pada siswa SMKN 2 Malang kelas X TKJ / Nakitta Tyesna Irdani

 

Kata Kunci : KKPI, AktivitasBelajar, HasilBelajar, Learning Cycle 5E. Berdasarkan hasil observasi di SMKN2 Malang melalui wawancara padatanggal 7-8 Januari 2013 dengan guru KKPI, diketahui bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa rendah. Halyang menjadi penyebab masalah antara lain(1) guru masihmenggunakanmetodeklasikdimanapembelajaranberpusatpada guru,sehinggaaktivitasbelajarsiswamenjadirendah, (2) minat belajardan rasa ingin tahu siswa terhadap mata pelajaran KKPIkurang(3) pemahaman konsep siswa terhadap mata pelajaran KKPI masih rendah. Oleh karena itu, berdasarkan penyebab masalah pembelajaranini maka perlu dilakukan tindakan berupa penelitian. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan model pembelajaranLearning Cycle 5E dalam upaya meningkatkan aktivitas belajardan hasilbelajar KKPI siswa SMKN2 Malang Kelas X TKJ.Learning Cycle 5E merupakan model pembelajaran yang berpusatpadasiswa, terdiri dari 5 tahap yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation.Subjekpenelitianiniadalahsiswakelas X TKJ 3 yang berjumlah 34 siswa.Teknikpengumpulan data aktivitasbelajardanhasilbelajarsiswamelalui (1) lembarobservasiaktivitasbelajarsiswa, (2) lembarobservasiafektifsiswa, (3)posttest, dan(4) lembarpenilaianpsikomotor.Data tersebutdianalisisdenganperhitungan rata-rata danpersentase yang kemudiandianalisissecaradeskriptifkualitatif.Penelitianinidilakukan sebanyak tiga siklus.Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. HasilpenelitianmenunjukkanbahwapenerapanLearning Cycle 5E dapatmeningkatkanaktivitasbelajardanhasilbelajarsiswa.Padasiklus Iaktivitasbelajarsiswatermasukdalamkategoricukupbaik, denganpersentasesebesar 53%, meningkatmenjadi 71% padasiklus II dengankategoribaik, dansiklus III meningkatmenjadi 83% dengankategorisangatbaik. Hasilbelajarsiswameningkatbaikpadaranahkognitif, afektifdanpsikomotor.Padasiklus Ipersentase rata-rata hasilbelajarsiswamencapai 67,6% meningkatmenjadi 70,5% padasiklus II, kemudianpadasiklus III meningkatmenjadi 88,2%. Berdasarkanhasilpenelitiantersebut, disimpulkanbahwaadapeningkatanaktivitasbelajardanhasilbelajarsiswa.Untukitudisarankan agar guru KKPI menggunakanberbagaimacamvariasi model pembelajaranuntukmeningkatkanaktivitasbelajardanhasilbelajarsiswa.Penerapan model pembelajaranLearning Cycle 5Edapatdijadikanalternatifpertimbangandalampenggunaanvariasi model pembelajaran.

Pengaruh penerapan model pembelajaran menggunakan peta pikiran (mind mapping) terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran kewirausahaan pada siswa kelas XI SMKN 6 Malang / Andika Bagus Nur Rahma Putra

 

Putra, Andika Bagus Nur. 2013. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Menggunakan Peta Pikiran (Mind Mapping) Terhadap Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Kewirausahaan Pada Siswa Kelas XI SMKN 6 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd. (II) Drs. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata Kunci: Peta Pikiran, Hasil Belajar, Kewirausahaan.     Kegiatan belajar mengajar hendaknya harus mencerminkan komunikasi instruksi optimal antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa yang lainnya, yang sangat mempengaruhi pada hasil belajar. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat merupakan salah satu kunci utamanya. Metode pembelajaran kooperatif memiliki banyak model, salah satu model yang cukup efisien adalah pembelajaran model peta pikiran (mind mapping). Model pembelajaran dengan menggunakan peta pikiran (mind mapping) diterapkan pada mata pelajaran kewirausahaan.     Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Peta Pikiran (Mind Mapping) dengan kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah.     Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam menguji hipotesis. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional dengan design penelitian menggunakan pots-test only design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Negeri 6 Malang, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 59 siswa, kelas XI TKJ 2 sebanyak 30 siswa dan kelas RPL 5 sebanyak 29 siswa dengan metode pengambilan sampel adalah non-random sampling. Metode pengambilan data yang digunakan adalah uji tes soal pilihan ganda.     Berdasarkan data hasil pengujian, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran peta pikiran (Mind Mapping) dengan kelas kontrol yang tidak menggunakan pembelajaran peta pikiran (Mind Mapping). Dari hasil perhitungan menggunakan spss 16.0 for windows bahwa thitung bernilai 7,634 dengan sig. bernilai 0,000. Nilai sig. yang bernilai lebih kecil daripada α = 0,05 yang berarti keputusan yang diperoleh adalah disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes kemampuan akhir kelas eksperimen dan kontrol. Saran yang dapat disampaikan kepada lembaga pendidikan/sekolah khusunya SMKN 6 Malang sering melakukan pembinaan dan penataran guru-guru pengajar guna kegiatan update dalam metode-metode baru dalam pembelajaran. Kepada guru mata pelajaran kewirausahaan kelas XI SMKN 6 Malang untuk mulai menggunakan model pembelajaran Peta Pikiran (Mind Mapping). Kepada peneliti selanjutnya, untuk menjadikan penelitian ini sebagai referensi yang relevan.

Pengembangan sistem informasi manajemen skripsi dan tugas akhir berbasis WEB di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Iniversitas Negeri Malang / Erviando Merandi Putra

 

Putra, Erviando Merandi. 2012. The Development of Web Based Management Information System for Thesis and Final Project at Electrical Engineering Department Engineering Faculty State University of Malang. Skripsi, S1 Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Wahyu Sakti G.I. M.Kom, (2) Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T. Kata Kunci: sistem informasi, manajemen, skripsi, tugas akhir, web     Pengelolaan Skripsi dan Tugas Akhir yang rapi dan terpadu sangat mendukung lancarnya pembelajaran di Perguruan Tinggi. Di Jurusan Teknik Elektro FT UM, pengelolaan Skripsi dan Tugas Akhir sudah terkomputerisasi namun, masih belum menggunakan sistem informasi yang terintegrasi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesulitan dalam pengambilan data kembali. Penelitian ini bertujuan menghasilkan sistem informasi yang layak untuk mengakomodir pendaftaran topik dan jadwal skripsi serta tugas akhir di Jurusan Teknik Elektro FT UM. Selain itu sebagai sumber referensi mengenai skripsi dan tugas akhir di Jurusan Teknik Elektro FT UM.     Jenis penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (research and development) dengan tujuan untuk merancang, mengembangkan, dan melakukan pengujian sistem informasi manajemen skripsi dan tugas akhir di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Metode pengembangan sistem informasi yang digunakan ialah model pengembangan waterfall dari Sommerville. Model waterfall memiliki 5 tahapan yaitu: requirements definition, system and software design, implementation and unit testing, integration and system testing, dan operation and maintenance. Sistem dikembangkan menggunakan konsep Model View Controller (MVC) dengan memanfaatkan framework CodeIgniter berbasis web. Untuk menguji apakah sistem valid atau tidak, menggunakan metode black box yang fokus pada aspek usabilitas dan fungsionalitas sistem. Validasi yang dilakukan menggunakan aspek usabilitas dan fugsionalitas oleh ahli rekayasa web. Uji coba dilakukan kepada pengguna yang terdiri dari koordinator, operator, dan mahasiswa. Dari hasil validasi, sistem mendapatkan persentase dari aspek usabilitas sebesar 97,85% dan fungsionalitas sebesar 98,8%. Sedangkan hasil uji coba pengguna, sistem mendapatkan persentasi dari aspek usabilitas sebesar 92,5% dan fungsionalitas sebesar 99,2%. Dari hasil yang didapat, disimpulkan bahwa sistem informasi skripsi dan tugas akhir dinyatakan valid.

Pengembangan mobile learning berbasis game pada materi mendeskripsikan archaebacteria dan eubacteria dan peranannya bagi kehidupan manusia untuk siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu / Gress Prettycia Niwinnanda

 

Kata Kunci: media pembelajaran, suplemen, mobile learning Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan tingkat pemahaman dan hafalan yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru Biologi SMA Negeri 1 Batu diperoleh data bahwa, sebanyak 60% siswa masih memperoleh nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan, yaitu 75, pada kompetensi dasar mendeskripsikan Archaebacteria dan Eubacteria dan peranannya bagi kehidupan manusia. Salah satu media yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran suplemen dan membantu siswa dalam memahami materi adalah mobile learning. Memanfaatkan perangkat mobile dengan platform Android yang saat ini sudah dimiliki oleh sebagian besar siswa, diharapkan pengembangan mobile learning berbasis game dapat membantu mengatasi masalah rendahnya prestasi belajar siswa. Pengembangan media pembelajaran suplemen ini menggunakan Metode Penelitian dan Pengembangan Sugiyono yang terdiri dari 10 langkah, yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi masal. Sedangkan analisis data uji validitas menggunakan teknik Akbar Sa’dun dengan menghitung hasil validasi ahli media, ahli materi, uji coba kelompok kecil, dan uji coba kelompok besar. Produk yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan ini adalah Gamebio sebagai game pembelajaran berbasis mobile yang digunakan pada handphone dengan platform Android dan diterapkan pada mata pelajaran Biologi kelas X. Berdasarkan analisis data validasi dan uji coba, didapatkan data akhir sebesar 92,66% untuk ahli media; 90,00% untuk ahli materi; 88,90% untuk uji coba siswa kelompok kecil; dan 86,47% untuk uji coba siswa kelompok besar. Hasil ini menunjukkan bahwa Gamebio sangat valid dan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran yang bersifat suplemen.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer untuk anak keterlambatan belajar (learning disability) di SDLB Bhakti Luhur Malang / Lela Andria Finata

 

Kata Kunci : Media, Pembelajaran Berbantuan Komputer, Learning Disability, Dysgraphia, Dyscalculla Proses pembelajaran di dalam kelas sangat mempengaruhi tingkat ketertarikan siswa dalam menerima materi pelajaran. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SDLB Bhakti Luhur Kelas 2 Dasar C1 Tuna Grahita Ringan disana masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Pada dasarnya guru sudah menggunakan media daam kegiatan pembelajaran berupa kartu kata dan kartu bilangan, akan tetapi mash belum menggunakan fasilitas yang ada yaitu laboratorium komputer. Berdasarkan teori yang ada, anak-anak tuna grahita dapat terbantu dengan media pembelajaran yang berbasis visual. Media pembelajaran di dalam penelitian ini adalah suatu bentuk alat bantu pembelajaran yang digunakan untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan belajar (learning disability) dalam hal menulis dan menghitung atau yang biasa dikenal dengan sebutan dysgraphia dan dyscalculla. Dalam penelitian ini yang dimaksud mengalami kesulitan belajar adalah anak yang mengalami kesulitan belajar (learning disability) dalam hal menulis (dysgraphia) dan anak yang mengalami kesulitan belajar dalam hal menghitung (dyscalculla). Tujuan dikembangkan media pembelajaran berbantuan komputer ini adalah: (1) menghasilkan rancangan media pembelajaran yang dapat membantu anak-anak yang mengalami keterlambatan belajar dalam hal menulis dan berhitung pada matapelajaran matematika, dan (2) mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran berbasis flash. Model pengembangan yang digunakan dalam mengembangkan media pembelajaran yaitu model pengmbangan Sugiyono, yang terdiri dari 10 tahapan, yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi Desain, (5) revisi desain, (6) uji coba Produk, (7) revisi Produk, (8) uji coba Pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi masal. Subjek uji coba dalam media penelitian ini terdiri dari ahli media, ahli materi dan siswa yang dilakukan oleh observer. Instrumen yang digunakan untuk melakukan pengumpulan data berupa kuisioner. Berdasarkan hasil analisis data setelah dilakukan pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer untuk anak keterlambatan belajar (learning disability) di SDLB Bhakti Luhur Malang, didapatkan persentase hasil uji coba oleh ahli media sebesar 86 %, ahli materi sebesar 94,2% untuk ahli materi, 95% untuk uji coba media melalui kelompok kecil, dan 85% untuk uji coba media melalui kelompok besar. Penilaian uji coba kelompok kecil dan kelompok besar dilakukan oleh observer. Rata-rata persentase dari hasil uji coba keseluruhan adalah 90.25%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ini layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Perbedaan model pembelajaran PAIKEM berbasis CTL dengan model pembelajaran PAIKEM berbasis CL terhadap hasil belajar pada kompetensi pengenalan software di MTsN Kota Blitar / Viki Marta Tifani

 

Kata Kunci: PAIKEM berbasis CTL, PAIKEM berbasis CL, hasil belajar Pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional membuat siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Untuk itu, dikembangkan model pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan sehingga siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran PAIKEM berbasis CTL dengan model pembelajaran PAIKEM berbasis CL. Dengan model pembelajaran tersebut akan menjadikan siswa berani dalam menyampaikan pendapat maupun pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan berpengaruh kepada hasil belajar siswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan perbedaan hasil belajar kompetensi pengenalan software dengan menggunakan model pembelajaran PAIKEM berbasis CTL dengan model pembelajaran PAIKEM berbasis CL. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu (quasy experiment design). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di MTsN Kota Blitar tahun pelajaran 2012/2013. Sedangkan sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIIA dan siswa kelas VIIB dengan jumlah masing-masing siswa adalah 29 anak. Pengambilan sampel penelitian ini secara tidak acak dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas pada penelitian ini model pembelajaran PAIKEM berbasis CTL dan model pembelajaran PAIKEM berbasis CL. Variabel terikat adalah hasil belajar. Uji instrumen yang digunakan adalah uji validitas isi, uji validitas butir soal, daya beda dan tingkat kesukaran soal. Pengujian data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan kemampuan siswa dan uji hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata hasil belajar kelas eksperimen adalah 77,4 dengan nilai tertinggi hasil belajar adalah 92,1 sedangkan rata-rata hasil belajar kelas kontrol adalah 76,2 dengan nilai tertinggi hasil belajar adalah 86,5. Hasil dari perhitungan uji-t untuk menentukan hipotesis diperoleh bahwa nilai probabilitas sebesar 0,340 > 0,05. Kesimpulan dari hasil analisis uji-t adalah tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan penerapan model pembelajaran PAIKEM berbasis CTL dengan kelas kontrol dengan penerapan model pembelajaran PAIKEM berbasis CL.

Pengembangan model-model pembelajaran senam lantai sederhana menggunakan VCD untuk siswa kelas 1 sekolah dasar / Fajar Adi Pamungkas

 

Kata Kunci: pengembangan, senam lantai, media pembelajaran Penelitian ini dimulai berdasarkan permasalahan di SDN Sukabumi 7 Kota Probolinggo, yaitu pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang terkait dengan pembelajaran gerakan senam lantai sederhana belum memiliki banyak variasi. Guru pendidikan jasmani SDN Sukabumi 7 Kota Probolinggo menyatakan belum memiliki sumber belajar gerakan senam lantai sederhana menggunakan VCD. Tujuan dari penelitian ini adalah, perlu mengembangkan model-model pembelajaran senam lantai sederhana menggunakan VCD yang sesuai dengan kebutuhan siswa kelas 1 dan guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di SDN Sukabumi 7 Kota Probolinggo. Diharapkan dengan adanya pengembangan model-model pembelajaran menggunakan VCD ini dapat membantu dalam proses belajar mengajar, khususnya pembelajaran gerakan senam lantai sederhana. Prosedur pengembangan model-model pembelajaran senam lantai sederhana menggunakan VCD untuk siswa kelas 1 SD ini melalui beberapa tahap, antara lain: 1) melakukan analisis kebutuhan dengan melakukan riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal. 2) Pembuatan rancangan produk. 3) Evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli media, 1 ahli pembelajaran dan 1 ahli senam. 4) pembuatan produk awal. 5) Uji coba kelompok kecil (a) dan melakukan revisi produk pertama sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli. 6) Uji coba kelompok besar (b) dengan subjek yang lebih banyak dan melakukan revisi produk yang kedua sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli. 7) Produk hasil akhir pengembangan. Model-model pembelajaran senam lantai sederhana ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli. Secara keseluruhan para ahli memberikan masukan yang baik dan setelah merevisi, produk siap untuk diuji cobakan. Hasil analisis data yang diperoleh dari uji coba kelompok kecil (a) adalah 98,3 %, sedangkan uji coba kelompok besar (b) adalah 96,2%. Oleh karena itu, berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh menunjukkan bahwa pengembangan model-model pembelajaran senam lantai sederhana menggunakan VCD untuk siswa kelas 1 Sekolah Dasar dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran dan dapat digunakan sebagai media belajar.

Minat siswa SMK dalam berwirausaha di bidang otomotif / Lalu Moh. Rossyhul Iman

 

Kata Kunci : Minat, Wirausaha, Otomotif. Tingginya angka pengangguran tingkat SMK merupakan latar belakang terlaksananya penelitian ini. Ditambah lagi pola pikir siswa yang masih menganggap bersekolah di SMK kemudian siswa langsung bekerja pada bidangnya masing-masing. Namun disisi lain sulitnya mencari pekerjaan menjadi kendala tersendiri karena disebabkan oleh banyaknya jumlah pencari kerja di Indonesia. Padahal siswa SMK diciptakan tidak hanya untuk mencari kerja pada bidang masing-masing, siswa SMK juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Minat mendorong individu untuk melakukan kegiatan dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Berwirausaha juga termasuk dalam bentuk dari minat seseorang terhadap pilihan pekerjaan. Berwirausaha di bidang otomotif adalah dorongan seorang individu yang memiliki rasa suka, mau, senang dan ingin tahu terhadap usaha di bidang otomotif yang disertai kemauan yang keras, berorientasi jauh ke depan, dengan kesungguhan untuk membuka suatu peluang usaha baru di bidang otomotif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan minat siswa SMK dalam berwirausaha di bidang otomotif. Penelitian ini temasuk dalam penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari satu variabel yaitu minat siswa SMK dalam berwirausaha di bidang otomotif. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK jurusan otomotif kelas XII di Kabupaten Lombok Barat yang berjumlah 379 responden. Sampel dari penelitian ini adalah 20% dari populasi yaitu 75 responden. Instrumen yang digunakan berupa angket. Berdasarkan hasil penelitian ada dua faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha siswa SMK yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari, perasaan, motivasi, cita-cita dan pengalaman. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat, pendidikan/sekolah dan peluang. Masing-masing faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap minat berwirausaha siswa dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa minat siswa SMK dalam berwirausaha di bidang otomotif adalah tinggi dengan prosentase ( 100%). Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah siswa SMK yang memiliki minat berwirausaha yang tinggi agar dapat mulai mewujudkan minatnya dengan cara merintis sebuah usaha di bidang otomotif. Program di SMK terkait dengan kewirausahaan bagi siswa yang telah terlaksana dengan baik agar dapat ditingkatkan lagi dengan melaksanakan pembelajaran yang lebih menekankan pada praktik berwirausaha sehingga mendorong siswanya dalam mewujudkan minat berwirausahanya. Bagi lembaga pendidikan SMK, pemerintahan dan pihak yang terkait lainnya, penelitian ini diharapkan memberi informasi untuk mengambil kebijakan dalam peningkatan minat berwirausaha bagi para siswa.

Peningkatan kemampuan berbicara melalui permainan bola kata untuk anak kelompok B TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung / Fibria Nofi Wahyuni

 

Kata Kunci : kemampuanberbicara, permainanbola kata, anak kelompok B Permasalahan penelitian berdasarkan hasil observasi dilakukan di kelompok B TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung, dan ditemukan masalah dalam kemampuan berbicara yaitu anak belum mampu mendiskripsikan suatu kata menjadi sebuah kalimat dan anak belum bisa berbicara lancar. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat dan suasana belajar yang kurang menyenangkan bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendiskripsikan penerapan permainan bola kata pada anak kelompok B TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung dan; (2) Mendiskripsikan peningkatan kemampuan berbicara melalui permainan bola kata pada anak kelompok B TK Islam At-Taqwa KabupatenTulungagung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dengan 2 kali pertemuan dan siklus 2 dilakukan 1 kali pertemuan. Subjek penelitian adalah anak kelompok B yang berjumlah 10 anak, data dijaring dengan observasi, dokumentasi, dan data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan permainan bola kata pada anak kelompok B dapat berjalan baik sesuai dengan rencana, hal ini dibuktikan dengan hasil observasi aktivitas guru yang sudah terlaksana sesuai dengan langkah-langkah dalam penerapan permainan bola kata dan peningkatan hasil penilaian proses aktivitas anak pada siklus I yang mencapai 90% dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. (2) hasil observasi kemampuan berbicara anak juga menunjukkan peningkatan. Dari analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan permainan bola kata dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok B TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung. Permainan bola kata bisa diterapkan di sekolah untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada anak usia dini karena permainan bola kata ini sesui dengan kemampuan bahasa anak usia 5-6 tahun.

Meningkatkan motorik halus anak dengan bermain meronce manik-manik berwarna anak kelompok A TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung / Lusi Setyoningtyas

 

Kata Kunci : kemampuan motorik halus, meronce manik-manik berwarna, anak kelompok A Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelompok A TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung, dan ditemukan masalah dalam kemampuan motorik halus yaitu anak belum bisa mengkoordinasikan antara mata dan tangan untuk memasukkan manik-manik dalam benang dan ketidaksabaran anak dalam meronce, kegiatan pembelajaran guru juga kurang menyenangkan. Dari hasil evaluasi menunjukkan hanya 2 anak (20%) dari 10 anak kemampuan meroncenya mencapai hasil yang memuaskan, dan 8 anak (80%) dari 10 anak kurang berhasil dalam meronce manik-manik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran meronce manik-manik berwarna untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak dan untuk mendeskripsikan penerapan kemampuan motorik halus anak melalui bermain meronce manik-manik berwarna di Tk Islam At-Taqwa KabupatenTulungagung. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danrefleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dengan2 pertemuan dan siklus 2 dengan 1 pertemuan. Subyek penelitian adalah anak kelompok A yang berjumlah 10 anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik data kualitatif yang meliputi cara reduksi data, penyajian data dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bermain meronce manik-manik berwarna pada anak kelompok A dapat berjalan baik sesuai dengan langkah-langkah, hal ini dibuktikan dengan hasil observasi aktivitas guru, penerapan meronce manik-manik berwarna dan peningkatan hasil penilaian aktivitas anak dengan hasil pekerjaan pada siklus I yang mencapai 90% dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan bermain meronce manik-manik berwarna dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Melihat keberhasilan peningkatan kemampuan motorik halus melalui bermain meronce manik-manik berwarna, disarankan bagi guru agar menerapkan meronce manik-manik berwarna melalui bermain dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak.

Pengembangan bahan ajar berbasis realistic mathematic education untuk membangun kemampuan komunikasi matematis siswa SMP kelas VIII pada materi fungsi / Taufiq Hidayanto

 

Kata kunci: bahan ajar, realistic mathematic education, komunikasi matematis, fungsi Komunikasi matematis merupakan kemampuan penyampaian ide atau ga-ga¬san baik secara lisan, visual, maupun dalam bentuk tertulis dengan menggu¬na-kan istilah matematika dan berbagai representasi yang sesuai serta memperhatikan kaidah-kaidah matematika. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa tergolong masih lemah. Bahan ajar sangatlah diperlukan karena siswa dapat membangun kemampuan komunikasi matematisnya melalui aktivitas-aktivitas di dalam bahan ajar. Namun, bahan ajar yang beredar dipasaran belum memenuhi karakter konstruktivistik dan kurang mendorong siswa dalam membangun kemampuan komunikasi matematisnya. Oleh karena itu, perlu disusun dan dikembangkan bahan ajar yang berkualitas menurut kriteria tertentu. Bahan ajar yang akan dikembangkan menggunakan salah satu pendekatan pembelajaran yang akan menggiring siswa memahami konsep matematika dengan mengkontruksi sendiri melalui pengetahuan sebelumnya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya serta memberi kesempatan siswa untuk membangun kemampuan komunikasi matematisnya. Tujuan penelitian dan pengembangan adalah untuk menghasilkan bahan ajar berbasis Realistic Mathematic Education yang valid dan efektif sehingga dapat digunakan untuk membangun kemampuan komunikasi matematis siswa pada submateri memahami relasi dan fungsi serta menentukan nilai fungsi. Bahan ajar yang dikembangkan berbentuk lembar aktivitas siswa (LKS). Model pengembangan bahan ajar pada penelitian ini mengacu pada model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang telah dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut, 1) penyederhanaan model yang sebelumnya terdapat empat tahap menjadi tiga tahapan saja yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop), hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu serta biaya, 2) tidak semua tahapan pada model 4-D digunakan karena disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan bahan ajar yang berupa LKS. Berdasarkan hasil validasi dan hasil uji coba produk yang telah diuraikan pada bab IV, secara keseluruhan produk bahan ajar yang dikembangkan dinyatakan valid menurut penilaian validator dan berkriteria efektif berdasarkan analisis hasil uji coba kepada siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan untuk membangun kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi fungsi. Disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk mengujicobakan bahan ajar ini kepada siswa dalam kelompok yang lebih besar dan menerapkan tiga prinsip dan lima karakteristik RME dengan memperhatikan karakter siswa lokal sebagai calon pengguna.

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari Zn(NO3)2 dan ZnSO4 dengan ligan 2,2'-bipiridina / Nyrma Yunestha Pramitasari

 

Pramitasari, Nyrma Yunestha. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Zn(NO3)2 dan ZnSO4 dengan Ligan 2,2’-bipiridina. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc., (2) Prof. Effendy, Ph.D. Kata-kata kunci: sintesis, karakterisasi, senyawa kompleks, Zn(NO3)2 dan ZnSO4, 2,2’-bipiridina     Garam-garam dari Zn(II) dapat membentuk senyawa kompleks dengan ligan-ligan nitrogen bidentat. Salah satu ligan bidentat adalah 2,2’-bipiridina (2,2’-bipy, C10H10N2). Zn(NO3)2 dan 2,2’-bipy dengan stoikiometri 1 : 2 membentuk senyawa kompleks [Zn(2,2’-bipy)2(NO3)](NO3) dengan kation kompleks mengadopsi struktur trigonal bipiramidal. Salah satu ion nitrat dalam senyawa tersebut berlaku sebagai ligan sedangkan ion nitrat yang lain berlaku sebagai anion pengimbang. Senyawa kompleks dari Zn(NO3)2 dan 2,2’-bipy pada stoikiometri 1 : 2 dengan dua ion nitrat berlaku sebagai anion pengimbang belum pernah dilaporkan strukturnya. Senyawa kompleks dari ZnSO4 dan 2,2’-bipy dengan stoikiometri 1 : 2 juga belum pernah dilaporkan strukturnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensintesis senyawa-senyawa kompleks dari Zn(NO3)2 dan ZnSO4 dengan 2,2’-bipy pada stoikiometri 1 : 2 serta mengkarakterisasi strukturnya berdasarkan Energi Dispersive X-Ray (EDX) dan energi bebas yang dihitung dengan program Spartan’10. Dalam senyawa kompleks yang berhasil disintesis ion nitrat dan ion sulfat diharapkan berlaku sebagai anion pengimbang.     Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan metode langsung dalam pelarut etanol. Terbentuknya senyawa kompleks didasarkan atas titik lebur senyawa. Rumus empiris beserta kemungkinan senyawa-senyawa kompleks yang mungkin terbentuk didasarkan atas hasil analisis EDX. Struktur senyawa yang memenuhi didasarkan atas harga energi bebas yang terendah. Pengukuran titik lebur menunjukkan bahwa reaksi antara Zn(NO3)2 dan ZnSO4 dengan 2,2’-bipy pada stoikiometri 1 : 2 menghasilkan senyawa-senyawa baru. Hasil analisis dengan EDX menunjukkan bahwa senyawa-senyawa baru tersebut memiliki rumus empiris C20H20N6O6Zn dan C20H20N4O4SZn. Hasil uji DHL menunjukkan bahwa kedua senyawa tersebut merupakan senyawa kompleks ionik. Hasil uji kualitatif menunjukkan adanya ion nitrat atau ion sulfat dalam larutan dari senyawa kompleks yang terbentuk. Anion nitrat dan sulfat tersebut bertindak sebagai anion pengimbang. Rumus kimia senyawa yang memenuhi adalah [Zn(2,2’-bipy)2](NO3)2 dan [Zn(2,2’-bipy)]SO4. Kedua senyawa tersebut memiliki kation komples [Zn(2,2’-bipy)]2+ dengan kemungkinan struktur tetrahedral atau bujur sangkar. Hasil perhitungan energi bebas menggunakan program Spartan’10 menunjukkan bahwa struktur tetrahedral memiliki energi bebas lebih rendah dibandingkan struktur bujur sangkar. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks yang diperoleh adalah [Zn(2,2’-bipy)2](NO3)2 dan [Zn(2,2’-bipy)]SO4 dengan kation kompleks memiliki struktur tetrahedral. Analisis lebih lanjut berdasarkan metode difraksi sinar-X kristal tunggal perlu dilakukan untuk menghasilkan struktur senyawa yang lebih akurat.

The implementation of ability grouping in English classroom in SMK Negeri 1 Singosari / Zurriat Nyndia Rahmawati

 

Key words: ability grouping, English classroom, vocational high school This study was intended to describe the implementation of ability grouping in English classroom in SMKN 1 Singosari in terms of the aims, the practices and the students’ opinion toward its implementation. It is descriptive qualitative research. The subjects of the study were grade XI students and the English teachers. The data were gathered through questionnaires, interviews, document analysis, and observations during February until March 2013. The result of this study showed that: (1) the aim of the ability grouping implementation was to improve the quality of English teaching and learning activities to provision the students with sufficient English skills for national examination, TOEIC, and work field, (2) the placementtest for students’ grouping was in form of writing test which is given in the beginning of the semester, (3) the students’ grouping was divided into four sessions in which each session has five to seven groups represent the level of English skills, (4) the teachers focused on teaching separated skills in which they taught one skill for each meeting, (5) the course design was not adjusted with the need of students in different level, (6) the teaching and learning activities in ability grouping were similarto non- ability grouping classes, yet the teachers give various treatment to match the students’ characteristic in each level, (7)most students gave positive responses to the implementation of ability grouping for their learning results and socialization and they gave some suggestions for better practices. Based on the findings, some suggestions are given as follows: (1) the teachers must be stricter in placement test, provide clear schedule and test result, make curriculum adjustment, and create good learning atmosphere, (2) the principal and curriculum advisor have to support the implementation of ability grouping by conducting evaluation and training to improve the quality of the teaching and teachers, (3) experts from related field should give more attention to the teaching of English for vocational high school, and (4) the future researcher may do more research on the implementation of ability grouping in Indonesia in different level of institution.

Penerapan media pembelajaran proyektif dalam mata pelajaran PKn di SMPN 01 Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang / Miftakus Saadah

 

Kata Kunci: Penerapan Media Pembelajaran Proyektif, Kendala dan Usaha Bekerja sebagai pengajar atau guru itu tidak semata-mata hanya sebagai penyalur antara materi yang dimiliki oleh guru kepada siswa. Guru juga dapat menggunakan media pembelajaran sebagai penyalur materi untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Media pembelajaran proyektif merupakan media yang menggunakan alat bantu seperti elektronik yang bisa digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui rancangan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran proyektif di SMPN 01 Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. (2) Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran proyektif di SMPN 01 Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. (3) Untuk mengetahui kendala yang dialami dalam penerapan media pembelajaran proyektif apabila digunakan dalam mata pelajaran PKn di SMPN 01 Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. (4) Untuk mengetahui usaha dalam mengatasi kendala dalam menerapkan media pembelajaran proyektif di SMPN 01 Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif ini didasarkan bahwa peneliti ingin memahami gambaran tentang penerapan media pembelajaran proyektif pada mata pelajaran PKn di SMPN 01 Poncokusumo. Sumber Data Utama yang dijadikan informan oleh peneliti adalah Guru PKn di SMPN 01 Poncokusumo. Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara yang mendalam dan terbuka, observasi langsung dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, analisis perbandingan, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil temuan penelitian ditemukan bahwa (1) rancangan pembelajaran yang dilakukan oleh Guru PKn di SMPN 01 Poncokusumo dengan menggunakan media pembelajaran proyektif. Indikator yang akan dicapai tidak terlalu banyak sehingga waktu yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik. Pemilihan media pembelajaran yang dilakukan oleh Ibu Sulis dalam penerapan media pembelajaran proyektif dalam proses belajar mengajar ini sesuai dengan materi menampilkan perilaku kemerdekaan mengemukakan pendapat. (2) Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran proyeksi dilakukan di dua tempat yeng berbeda. Pertama dilakukan di ruangan Multimedia pada kelas VII C dan yang kedua dilakukan di kelas IX A untuk proses belajar mengajar kelas VII D. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh Ibu Sulis selaku Guru PKn di SMPN 01 Poncokusumo. (3) kendala yang dihadapi yaitu ada dua, faktor dari Guru dan faktor dari sarana dan prasarana. Fasilitas tidak dipergunakan secara maksimal, sehingga tempat-tempat yang dilengkapi dengan media pembelajaran proyektif hanya sedikit. Selain itu, kurang aktifnya guru dalam mencoba menggunakan media pembelajaran proyektif ini dikarenakan malas ketika proses belajar mengajar berlangsung. (4) Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kendala mengenai fasilitas yang ada di SMPN 01 Poncokusumo yaitu memanfaatkan fasilitas sebaik-baiknya dengan melengkapi LCD setiap masing-masing kelas agar dalam proses belajar mengajar guru dapat memanfaatkan media tersebut dan bisa mengoperasikan tanpa harus disia-siakan keberadaannya. Berdasarkan temuan penelitian ada beberapa rekomendasi yang berhubungan dengan penerapan media pembelajaran proyektif pada mata pelajaran PKn di SMPN 01 Poncokusumo. (1) Seyogyanya Guru di SMPN 01 Poncokusumo yang kurang bisa mengoperasikan media LCD bisa belajar sedikit demi sedikit agar bisa menggunakan media pembelajaran proyektif sebagai inovasi baru dalam proses belajar mengajar. (2) Sebaiknya pihak sekolah yang menangani saran dan prasarana melengkapi media LCD disetiap kelas yang sudah disediakan oleh sekolah agar dapat dimanfaatkan oleh Guru-guru di SMPN 01 Poncokusumo. (3) Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, sebaiknya Guru memanfaatkan fasilitas media LCD secara maksimal.

Kesalahan penggunaan kalimat perfekt oleh mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2011 Universitas Negeri Malang / Anis Nuria Ramadhani

 

Kata Kunci: Kesalahan, Perfekt, Aufsatz 1 Menulis merupakan keterampilan yang bersifat produktif dan sangat kompleks karena membutuhkan keterampilan untuk mengungkapkan ide dengan menggunakan kalimat yang bersifat komunikatif serta tata bahasa/ Grammatik yang selalu tidak pernah lepas dari konteks. Mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman dituntut untuk bisa menulis dengan baik sesuai dengan tata bahasa/ Grammatik namun pada kenyataanya mahasiswa sering menemukan kesulitan , salah satunya dalam membentuk kalimat Perfekt, meskipun telah menempuh matakuliah Struktur und Wortsatz 1. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui kesalahan penggunaan kalimat Perfekt oleh mahasiswa sastra Jerman angkatan 2011 pada matakuliah Aufsatz 1 Universitas Negeri Malang serta memperoleh faktor-faktor penyebab kesalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah karangan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2011 offering AA. Data penelitian berupa tulisan mahasiswa yang mengandung kalimat Perfekt dalam matakuliah Aufsatz 1. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan wawancara. Peneliti dalam penelitian ini bertindak sebagai instrumen kunci, sedangkan instrumen penunjang berupa tabel analisis dan rekorder. Dari hasil analisis data ditemukan beberapa jenis kesalahan pembentukan kalimat Perfekt seperti berikut ini. (1) Kesalahan dalam penggunaan verba bantu haben dan sein. Pada umumnya mahasiswa melakukan kesalahan dalam memilih verba bantu haben dan sein. Kesalahan ini terjadi karena mahasiswa tidak mencantumkan verba bantu haben dan sein yang menjadi ketentuan dalam membentukan kalimat Perfekt. (2) Kesalahan pembentukan Partizip II. Jenis kesalahan ini terjadi karena mahasiswa tidak mencantumkan bentuk Partizip II dari verba yang digunakan. (3) Kesalahan terakhir adalah kesalahan penempatan Worstellung. Pada jenis kesalahan ini, mahasiswa sudah benar dalam membentuk kalimat Perfekt namun dalam menyusun kalimat Perfekt belum sesuai dengan aturan gramatika bahasa Jerman. Dari hasil wawancara diperoleh faktor penyebab mahasiswa melakukan kesalahan yaitu (1) mahasiswa belum paham pembentukan kalimat Perfekt, (2) mahasiswa baru mempelajari bahasa Jerman sehingga belum bisa menguasai materi Perfekt, (3) mahasiswa terkadang tidak meneliti hasil pekerjaan mereka, dan (4) mahasiswa kurang menguasai kosakata.

Pengembangan permainan scrabble berbahasa Arab berbasis Swishmax sebagai media pembelajaran kosakata bahasa Arab / Achmad Fauzi

 

Kata kunci: pengembangan, permainanScrabble Berbahasa Arab, media,kosakatabahasa Arab Bahasa Arab merupakansalahsatumatapelajaran yang patutmendapatkanperhatian yang intensifdari gurupendidik.Untukmenjadikansiswadapatmemahamisertaimemantapkankosakata yang telahdipelajaridiperlukanupaya yang terencana.Salah satuupayauntukmencapainyaadalahdenganmengembangkanpermainanScrabble Arabiysebagai media pembelajaran kosakatabahasa Arab. Penelitianinidilaksanakandengantujuanmenghasilkan dan kemudian mendeskripsikanbeberapahal yang mencakup proses pengembangan media permainanScrabble Arabiy, tampilanproduk media permainanScrabble Arabiy, sertacarapemanfaatan media Scrabble Arabiysebagai media pembelajarankosakatabahasa Arab. Pengembangan media inimelaluibeberapatahapanyaitu: (1) studipendahuluan, (2) desainproduk, (3) pengumpulanbahan, (4) pengembanganproduk, (5) validasi kelayakan produkmeliputiujiahlimateri, media, danujilapangan, dan(6) revisiproduk. Pengembanganmedia permainanScrabble Arabiyinimenghasilkansatu set media permainanScrabble Arabiy berbasis komputerdengandisajikan dalam tampilan yang menarik dan dilengkapi dengan menu pilihan kamus bergambar dan aturan permainan. Penggunaan media inidiawalidengandrillkosakatadenganbantuandaftarkosakata yang disertakanpadamenu kamusdalam permainan Scrabble Arabiy. Hasilujikevalidanmedia permainanScrabble Arabiyolehahli media sebesar80,56% danhasilujikevalidanolehahlimaterisebesar87,50%. Ujilapangandilaksanakan di MAN Malang Ikepadasiswakelas X dan XIdan guru matapelajaranbahasa Arab. Hasilujilapangansebesar91,26%danhasildariguru matapelajaranbahasa Arab sebesar85%. Jadi media permainanScrabble Arabiydinyatakan valid dengan prosentase keseluruhan 86,08%sebagai media pembelajarankosakata bahasa Arab. Berdasarkanhasilpenelitianini,disarankankepada guru matapelajaranbahasa Arab untukmemanfaatkanmedia permainanScrabble Arabiyinisebagaisaranauntukmeningkatkanmotivasibelajarsiswa.Disarankankepadapengembangselanjutnyauntukuntukmengembangkanmedia permainanScrabble Arabiydenganmenyajikanbeberapatambahan agar dapat digunakan ke dalam pembelajaran bahasa dengan empat kemahiran sehingga penggunaan permainan Scrabble Arabiy semakin maksimal.

Improving students' speaking skill through project based learning for second graders of SMPN 1 Kawedanan, Magetan / Sifa Fauziah Permatasari

 

Keywords: Speaking skill, Project Based Learning, Second Graders of SMPN 1 Kawedanan,Magetan. The second graders of SMPN 1 Kawedanan, Magetan had limited skill for speaking. They do not have courage to speak in front of the class. Besides that, the students are also afraid to make mistakes when they are speaking. Those problems appear, because the students had low speaking ability. The last problem is the students do not have specific community which can explore their ability. The main problem is the students’ shyness to speak English.In line with the background of the study, the formulated research problem is “How can Project Based Learning improve the speaking skill of second graders of SMPN 1 Kawedanan, Magetan?” This study was classroom action research with the researcher as the teacher. The action research was implemented for two weeks which have five meetings. It was two cycle action research, because in the first cycle, the researcher had not reached the criterion that had been set for this study. It made the researcher continue to the second cycle. In this cycle, the researcher could reach the criterion that had been set before.The second graders of academic year 2012/2013 with the total number of 27 students were the subjects of this study. During the study, the researcher implemented Project Based Learning to improve the students’ speaking skill. The implementation of Project Based Learning could help the students to improve their speaking skill. It proven by reaching the researcher’s criteria of success for this study which is has oriented on process and product of teaching and learning. From process of teaching and learning, 89% of the students could active participate. The product could be seen from the performance which is 92% of the students reach KKM and the students’ project which is 100% of the students could reach KKM.This achievement could reach by implementing Project Based Learning with some steps: (1) explaining the students about their end product, (2) dividing the students into six groups using Numbered Heads Together and each group hasfour or five members, (3) giving the students’ worksheet, (4) facilitating the students’ during teaching and learning and (5) performing the students’ project in front of the class. From this study, some conclusions were drawn. The procedure implemented in the present study improved the students’ speaking skill. The increasing in students’ participation, students’ performance and students’ project during teaching learning activity were the evidences that Project Based Learning was successful to be implemented. The good response of the students during the implementation Project Based Learning was also as an evidence for the successful of this study.

Pengembangan alat penilaian pada mata pelajaran seni budaya bidang studi seni tari kompetensi ekspresi dengan materi penciptaan tari kreasi untuk kelas XI semester 2 di SMA Negeri 3 Malang / Prasna Paramita

 

Kata Kunci: Pengembangan alat penilaian, penciptaan tari kreasi, penilaian proses, penilaian produk. Dalam kurikulum Seni Budaya, pembelajaran Seni Tari terdiri dari dua Standar Kompetensi, yaitu Standar Kompetensi mengapresiasi karya Seni Tari dan Standar Kompetensi mengekspresikan diri melalui karya Seni Tari. Penilaian pada kompetensi ekspresi, tidak hanya dilakukan pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan aspek psikomotor. Oleh karena itu agar dapat menilai semua aspek yang terdapat pada siswa, diperlukan pengembangan alat penilaian autentik yang bersifat obyektif untuk menghindari penilaian yang subjektif. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan alat penilaian pada mata pelajaran Seni Budaya bidang studi Seni Tari Kompetensi Ekspresi dengan materi penciptaan Tari Kreasi untuk Kelas XI Semester 2 di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan desain research and development. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini adalah: (1) tahap perencanaan yang meliputi studi pustaka dan survey lapangan, (2) tahap pengembangan produk yang meliputi pembuatan RPP, penyusunan kisi-kisi penulisan soal, penyusunan soal, penyusunan rubrik penilaian, (3) tahap uji coba produk. Tahap uji coba produk meliputi uji validasi dan uji coba lapangan. Uji validasi dilakukan oleh 1 ahli evaluasi, 1 ahli pembelajaran seni, dan 1 ahli materi. Uji coba lapangan dilakukan oleh 3 guru Seni Budaya dan 20 Siswa kelas XI, dan (4) tahap revisi dilakukan 2 kali yaitu setelah melakukan uji validasi dan uji coba lapangan. Produk yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan ini adalah alat penilaian proses dan produk yang di dalamnya terdapat: (1) petunjuk penggunaan alat penilaian, (2) rubrik penilaian, dan (3) deskripsi aspek penilaian. Rubrik penilaian terdiri dari 4 macam yaitu: (1) produk A/rubrik penilaian penulisan naskah, (2) produk B/rubrik penilaian proses kreatif, (3) produk C/rubrik penilaian penyajian yang berkaitan dengan garapan tari, dan (4) produk D/rubrik penilaian penyajian yang berkaitan dengan penampilan. Berdasarkan hasil uji validasi pada produk A sebesar 91,1% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk B sebesar 89,4% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk C sebesar 95,5% tergolong valid yang berarti layak digunakan, dan produk D sebesar 96,6% tergolong valid yang berarti layak digunakan. Berdasarkan hasil uji coba lapangan pada guru untuk produk A sebesar 97,7% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk B sebesar 97,7% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk C sebesar 97,7% tergolong valid yang berarti layak digunakan, dan produk D sebesar 97,7% tergolong valid yang berarti layak digunakan. Berdasarkan hasil uji coba lapangan pada siswa untuk produk A sebesar 97,8% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk B sebesar98,7% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk C sebesar 98,7% tergolong valid yang berarti layak digunakan, produk D 97,8% tergolong valid yang berarti layak digunakan. Dalam penelitian dan pengembangan ini disarankan kepada: (1) guru, dapat menggunakan produk alat penilaian ini untuk menilai kemampuan siswa dalam menciptakan sebuah karya Tari Kreasi, (2) peneliti lain, dapat menindak lanjuti produk alat penilaian ini dengan mengembangkan alat penilaian pada mata pelajaran Seni Budaya bidang studi Seni Tari, (3) lembaga Universitas Negeri Malang, dapat menambah dokumentasi topik-topik skripsi Pendidikan Seni Tari dan Musik tentang pengembangan alat penilaian.

Pengaruh tingkat suku bungan SBI, durasi, konveksitas, dan peringkat obligasi terhadap persentase perubahan hara obligasi perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 / Retno Oktafiani

 

Penerapan model pembelajaran learning cycle 6E untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika pada siswa kelas VIII-H SMP Negeri 1 Ngasem Kediri / Dhiah Septiana

 

Kata kunci: Learning Cycle 6E, aktivitas belajar siswa Aktivitas belajar sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP N 1 Ngasem Kediri, diketahui bahwa proses pembelajaran cenderung masih menggunakan metode ceramah dan terpusat pada guru. Guru juga jarang menggunakan model pembelajaran yang berbasis konstruktivistik. Hal ini menyebabkan siswa menjadi pasif dan hanya menggantungkan pengetahuannya dari apa yang disampaikan oleh guru. Dari 40 siswa di kelas VIII-H, hanya 8 siswa yang aktif bertanya dan dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru dengan baik. Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa seperti Learning Cycle 6E. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Ngasem Kediri, dengan subjek siswa kelas VIII-H tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 40 siswa. Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran Learning Cycle 6E yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi lingkaran. Data yang diperoleh merupakan hasil pengamatan aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran menggunakan Learning Cycle 6E. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah model pembelajaran Learning Cycle 6E yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yaitu: (1) fase elicit (identifikasi tujuan), guru menyampaikan tujuan pembelajaran, (2) fase engagement (undangan), guru mengajukan pertanyaan tentang materi sebelumnya yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, (3) fase exploration (eksplorasi), siswa berdiskusi menyelesaikan LKS untuk mengkonstruksi konsep materi, (4) fase explanation (penjelasan), siswa diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya, (5) fase elaboration (penerapan konsep), siswa menerapkan konsep yang telah dipelajari dengan mengerjakan lembar pemantapan, (6) fase evaluation (evaluasi), siswa mengerjakan kuis secara individu untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Persentase siswa yang aktif pada siklus I sebesar 55% atau sebanyak 22 siswa. Sedangkan pada siklus II sebesar 77,5% atau sebanyak 31 siswa  

Studi pelaksanaan praktik kerja industri program studi keahlian teknik komputer dan informatika di SMK Negeri 1 Purwosari / Nova Rachmawati

 

Rachmawati, Nova 2013. Studi Pelaksanaan Praktik Kerja Industri Program Studi Keahlian Teknik Komputer dan Informatika di SMK Negeri 1 Purwosari . Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tri Atmadji, M.Pd, (II) M. Zainal Arifin, S.Si, M.Kom. Kata kunci : SMK, Praktik Kerja Industri, Kecakapan Kejuruan Sekolah Menengah Kejuruan bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja bagi industri sesuai dengan kecakapan kejuruan (vocational skill) yang dimiliki siswa. Untuk menyiapkan tenaga kerja bagi industri, maka pada Sekolah Menengah Kejuruan terdapat program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) melalui Praktek Kerja Industri sebagai bentuk penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program belajar melalui kegiatan bekerj a langsung pada bidang pekerjaan yang relevan, terarah untuk mencapai penguasaan kemampuan tertentu di dunia usaha/ industri. Prakerin sebagai pelaksa naan pembelajaran produktif SMK untuk meningkatkan kecakapan kejuruan (vocational skill) yang menekankan pada pengembangan diri seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks dan kompetitif. Dalam penelitian studi kasus pelak sanaan praktik kerja industri ini menjelaskan kerjasama sekolah dan dunia k erja, prosedural pelaksanaan Prakerin, dan kesesuaian kecakapan kejuruan siswa dengan tugas di dunia kerja. Program produktif berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja yang diimplementasikan pada praktik kerja industri (Prakerin). Dalam pelaksanaan skripsi ini mengguna kan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya adalah studi kasus pada SMK Negeri 1 Purwosari. Sumber data yang berupa orang (person), tempat (place), dan simbol (paper)/ data . Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan catatan di lapangan. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan pengumpulan data, ketekunan pengamatan, dan pemeriksaan sejawat. Hasil penelitian menunjukkan ker jasama sekolah antara lain untuk penyesuaian kurikulum, prakerin dan permintaan tenaga kerja. SMK Negeri 1 Purwosari setiap tahun selalu meningkatkan kerjasama dengan industri. Siswa SMK program keahlian Teknik Komputer dan Informatika siap melaksanakan Prakerin, hal ini didukung oleh tingkat pe ngetahuan siswa melalui pembelajaran produktif, sosialisasi yang dilakukan oleh sekolah, dan kemampuan keterampilan dasar siswa sebelum siswa berangkat. Aktivitas siswa melaksanakan Prakerin telah berjalan dengan baik yang didukung oleh kemampuan siswa beradaptasi di lingkungan industri. Aktivitas guru pembimbing juga sudah baik, hal ini didukung oleh intensitas guru dalam mengunjungi siswa selama prakerin serta motivasi dan dukungan yang diberikan oleh guru kepada para siswa. Aktivitas pembimbing industri prakerin juga dilaksanakan dengan baik terutama dalam membimbing siswa selama prakerin mulai dari pelaks anaan kegiatan terbimbing sampai pada kegiatan mandiri siswa terhadap suatu pekerjaan. Pembimbing industri juga senantiasa memberi pengarahan kepada siswa sebelum melakukan suatu pekerjaan dan memeriksa hasilnya setelah selesai. P enilaian akhir siswa prakerin dilakukan oleh pembimbing dengan memperhatikan kehadiran, kedisiplinan, motivasi, mutu kerja, inisiatif, kreatifitas, perilaku, da n keterampilan kecakapan kejuruan siswa yang dilihat dari hasil laporan siswa dal am bentuk jilid dan uji level. Sebagian siswa mengalami ketidaksesuaian tugas di industri dengan kecakapan kejuruan siswa, tetapi apabila siswa menyenangi pekerjaan tersebut, maka Prakerin siswa tetap dilanjutkan untuk melatih ketramp ilan siswa di bidang yang lain, tetapi apabila siswa tidak menyenangi pekerjaan tersebut, maka guru pembimbing memindahkan Prakerin siswa ke industri yang lain.

Pengaruh waktu pencelupan dan perbandingan garam dengan air pada proses quenching terhadap tingkat kekerasan logam AL-SI / Wahyu Dwi Prasetyo

 

Prasetyo, Wahyu Dwi. 2013. Pengaruh Waktu Pencelupan Dan Perbandingan Garam Dengan Air Pada Proses Quenching Terhadap Tingkat Kekerasan Logam Al-Si. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tuwoso., M.P, (II) Drs. H. Putut Murdanto, S.T., M.T. Kata Kunci: logam Al-Si, quenching, waktu pencelupan, konsentrasi garam Logam non ferrous yang banyak digunakan di segala bidang adalah aluminium. Aluminium digunakan di bidang industri transportasi seperti: bahan bodi pesawat terbang, blok mesin pada mobil /sepeda motor, dan juga velg ban mobil. Untuk dapat meningkatkan kekerasan suatu logam dapat ditempuh dengan cara melakukan perlakuan panas. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil kekerasan dalam perlakuan panas antara lain; komposisi kimia, langkah perlakuan panas, cairan pendingin, temperatur pemanasan, dan lain-lain. Dari sekian faktor yang berpengaruh pada hasil kekerasan perlakuan panas, faktor media pendingin. Logam Al-Si dapat ditingkatkan kekerasanya dengan menggunakan media pendingin air garam akan dibahas lebih mendalam pada penelitian ini. Prosedur perlakuan panas meliputi proses pemanasan dengan temperatur 577C dan waktu penahanan (holding) 1 jam, selanjutnya dilakukan pendinginan quenching dengan media air garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat kekerasan logam Al-Si pada waktu pencelupan selama 5 menit, 10 menit, dan 15 menit; (2) tingkat kekerasan logam Al-Si pada media pendingin air yang dicampur dengan garam sebanyak 10%, 20%, dan 30%; (3) menghasilkan logam yang berkualitas. Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Penelitian ini dimulai dari mempersiapkan spesimen yang berupa logam Al-Si. Setelah itu diberikan perlakuan panas, selanjutnya dilakukan proses quenching & dilakukan uji kekerasan dengan menggunakan Mikro Vickers. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan one way anova. Analisis statistik tersebut digunakan untuk menguji hipotesis. Objek penelitian ini adalah logam Al-Si yang kemudian diberi perlakuan hardening dengan media pendingin yang berbeda. Hasil penelitian rata-rata nilai kekerasan yang diperoleh dari penelitian ini untuk waktu pencelupan selama 5 menit berturut-turut pada perbandingan garam dengan air 10%, 20%, 30% adalah 57,54 HV, 57,61 HV, dan 57,71 HV. Untuk nilai kekerasan yang mendapat waktu pencelupan selama 10 menit berturut-turut pada perbandingan garam dengan air 10%, 20%, 30% adalah 58,01 HV, 58,03 HV, dan 58,18 HV. Nilai kekerasan logam Al-Si pada waktu pencelupan selama 15 menit berturut-turut pada perbandingan garam dengan air 10%, 20%, 30% adalah 58,15 HV, 58,25 HV, dan 58,28 HV. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai kekerasan logam Al-Si sebelum mengalami perlakuan mempunyai nilai 57,4 HV. Tingkat kekerasan logam Al-Si meningkat seiring dengan bertambahnya waktu pencelupan dan bertambahnya kadar garam yang terlarut dalam media pendingin.

Pengaruh variasi suhu carburizing menggunakan media arang tempurung kelapa sawit terhadap persentase peningkatan unsur karbon dan kekerasan pada permukaan baja St 37 / Deni Purwosari

 

Purwosari, Deni.2013. Pengaruh Variasi Suhu Carburizing Menggunakan Media Arang Tempurung Kelapa Sawit Terhadap Persentase Peningkatan Unsur Karbon dan Kekerasan Pada Permukaan Baja St 37. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Univeritas Negeri Malang. Pembimbing (I) Suprayitno, S.T., M.T., (II) Drs. Wahono, S.T., M. Pd., Kata Kunci: Carburizing, Variasi Suhu, Tempurung Kelapa Sawit, Peningkatan Unsur Karbon, Kekerasan.     Carburizing atau dapat disebut karbonasi adalah memanaskan bahan sampai suhu 900oC - 950oC dalam lingkungan yang menyerahkan karbon lalu dibiarkan beberapa waktu lamanya pada suhu tersebut dan kemudian didinginkan (Amanto, 2006 :85). Pada proses carburizing baja yang digunakan adalah baja yang memiliki unsur karbon rendah karena sifatnya yang ulet/lunak akan mudah dibentuk akan tetapi memiliki kekerasan yang rendah. Baja ini tidak dapat dikeraskan dengan cara konvensional karena kadar karbonnya yang rendah, perlu adanya media atau lingkungan sebagai penambah karbon. Tempurung kelapa sawit merupakan limbah dari proses produksi minyak kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan hanya dimanfaatkan sebagian kecil kebutuhan saja, misalnya sebagai bahan untuk membuat arang dan bahan bakar alternatif ketel uap sebagai pengganti batu bara. Agar pemanfaatan tempurung kelapa sawit menjadi optimal perlu adanya penelitian lebih lanjut.     Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pengaruh pengarbonan menggunakan media tempurung kelapa sawit terhadap persentase peningkatan unsur karbon dan kekerasan (2) Perbedaan nilai peningkatan unsur karbon dan kekerasan menggunakan suhu 850 oC, 900 oC dan 950 oC.     Berdasarkan data yang diperoleh penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Sehingga data–data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa angka-angka hasil dari pengujian setelah dilakukan perlakuan. Berdasarkan permasalahan yang diteliti maka penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen, karena penelitian ini berusaha untuk menemukan ada tidaknya pengaruh variasi suhu carburizing menggunakan media arang tempurung kelapa sawit terhadap persentase peningkatan unsur karbon dan kekerasan pada permukaan Baja St 37.     Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) peningkatan unsur karbon pada permukaan baja St 37 pada suhu 850 oC sebesar 0,27%, pada 900 oC sebesar 0,31% dan pada 950 oC sebesar 32%, dan peningkatan kekerasan pada suhu 8500C sebesar HB =396,8, pada suhu 9000C sebesar HB=516 dan pada suhu 9500C sebesar HB= 590. (2) Berdasarkan hasil pengujian kekerasan dan kandungan karbon ketiga spesimen yang dikarburasi menggunakan suhu 850 oC , 900 oC dan 950 oC ternyata nilainya berbeda.

Pengembangan media kalmakh untuk pembelajaran kosakata bahasa Arab kelas VII madrasah tsanawiyah / Anis Nur Laili

 

Kata Kunci: pengembangan, media KalMakh, kosakata bahasa Arab Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat patut untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat khususnya umat Islam. Selain itu bahasa Arab merupakan mata pelajaran yang tidak mudah untuk dikuasai oleh siswa. Agar materi dapat dikuasai oleh siswa, guru perlu menggunakan media pembelajaran. Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab adalah dengan menggunakan media permainan KalMakh. KalMakh merupakan singkatan dari Al-Kalimât Al-Makhbu’ah yang bermakna kata-kata yang tersembunyi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan, hasil pengembangan dan penggunaan media permainan KalMakh sebagai media pembelajaran kosakata Bahasa Arab untuk siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Rancangan pengembangan yang digunakan adalah model Borg & Gall. Pengembangan media permainan KalMakh dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) desain produk, (3) pengumpulan bahan, (4) pengembangan produk, (5) validasi meliputi uji ahli media dan uji ahli materi, (6) uji lapangan dan (7) revisi produk. Pengembangan media permainan KalMakh menghasilkan seperangkat alat permainan. Alat permainan didesain full colour (berwarna) mulai dari papan permainan, kartu perintah, kartu pernyataan, kartu jawaban, dadu, miniatur patung dan buku petunjuk penggunaan. Permainan ini bersifat fleksibel, dalam arti bisa dimainkan oleh 2-4 kelompok atau 2-4 orang. Hasil uji kevalidan media permainan KalMakh oleh ahli media adalah sebesar 64,3% yang berkategori cukup valid. Data hasil uji coba oleh ahli materi sebesar 90% yang berkategori valid. Perpaduan nilai validasi ahli media dan ahli materi sebesar 77,15% dan berkategori valid sebagai media pembelajaran kosakata bahasa Arab bagi siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Uji lapangan dilaksanakan di MTs Raden Paku Trenggalek kepada siswa kelas VII dan guru mata pelajaran bahasa Arab. Hasil uji lapangan terhadap siswa kelas VII sebesar 83,09% dan hasil dari guru mata pelajaran bahasa Arab sebesar 82,5%. Jadi media KalMakh dinyatakan valid sebagai media pembelajaran kosakata bahasa Arab untuk kelas VII MTs. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada (1) para siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah untuk dapat memanfaatkan media permainan KalMakh sebagai alat untuk membantu mereka dalam menambah perbendaharaan kosakata bahasa Arab, (2) para guru bahasa Arab Madrasah Tsanawiyah hendaknya dapat memanfaatkan media ini untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, dan (3) pengembang selanjutnya untuk mengembangkan media pembelajaran bahasa Arab yang lebih bervariasi.

Hubungan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan hasil belajar siswa dalam mata diklat instalasi penerangan dan tenaga (studi kasus siswa kelas X di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen tahun ajaran 2012/2013) / Nevia Nurfitasari

 

Kata Kunci :Perencanaan Pembelajaran, Pelaksanaan Pembelajaran, Hasil Belajar Pembelajaran adalah kegiatan yang sengaja dilakukan oleh seorang guru terhadap siswanya di sebuah lembaga pendidikan. Agar pelajaran yang disampaikan dapat diterima, diserap, dan diimplikasikan dengan sebaik-baiknya, maka seorang guru harus bisa mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang sesuai. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran guru yang baik tentu akan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang juga baik. Tetapi masih dijumpai guru ketika melaksanakan pembelajaran tidak sesuai dengan perencanaan awal yang dibuat sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan tingkat perencanaan pembelajaran (X1), pelaksanaanan pembelajaran (X2), dan hasil belajar siswa (Y); 3) Mengetahui hubungan antara (X1) dengan (Y); 4) Mengetahui hubungan antara (X2) dengan (Y); 5) Mengetahui hubungan X1 dan X2 dengan Y. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X teknik otomasi industri SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif . Subyek penelitian menggunakan populasi, berjumlah 70 siswa dan dijadikan sampel seluruhnya. Analisis diperoleh dengan menggunakan teknik regresi linear ganda, yaitu untuk mengetahui besarnya hubungan X1 dan X2 secara bersama- sama dengan Y. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows versi 17. Dari hasil penelitian disarankan: 1) Untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembelajaran diharapkan bagi guru untuk selalu memperhatikan kesesuaian antara perencanaan pembelajaran yang telah dibuat dengan keadaan siswa; 2) Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran guru hendaknya lebih memperhatikan lagi kesesuaian antara perencanaan yang telah dibuat dengan pelaksanaan pembelajaran yang sebenarnya; 3) Guru harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran agar didapatkan hasil belajar siswa yang lebih baik lagi.

Pengembangan media pembelajaran menyimak dan membaca bahasa Arab berbasis Adobe Flash CS 5 untuk siswa kelas X MAN Wlingi Blitar / Khotimatul Husna

 

Husna, Khotimatul. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Menyimak dan Membaca Bahasa Arab Berbasis Adobe Flash CS5 untuk Siswa Kelas X MAN Wlingi Blitar. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurhidayati, M.Pd, (II) Moh. Ahsanuddin, S.Pd, M.Pd Kata kunci: media pembelajaran, menyimak dan membaca bahasa Arab, adobe flash CS 5 Media pembelajaran merupakan komponen yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa Arab. Salah satu variasi media yang berbasis IT yaitu program adobe flash yang dewasa ini telah banyak digunakan untuk membuat media pembelajaran. Media pembelajaran yang berbasis adobe flash CS 5 ini merupakan salah satu alternatif yang dapat menciptakan pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan tidak membosankan pada kemahiran istima’ dan qira:’ah untuk siswa kelas X MA. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) membuat produk media pembelajaran menyimak dan membaca bahasa Arab berbasis adobe flash CS5 untuk siswa kelas X MAN Wlingi Blitar. (2) menguji kelayakan media pembelajaran menyimak dan membaca bahasa Arab berbasis adobe flash CS5 untuk siswa kelas X MAN Wlingi Blitar. (3) mendeskripsikan langkah penggunaan media pembelajaran menyimak dan membaca bahasa Arab berbasis adobe flash CS5 untuk siswa kelas X MAN Wlingi Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan model prosedural. Adapun model pengembangan yang dipakai dalam media pembelajaran ini adalah model pengembangan yang mengadaptasi dari model pengembangan R & D oleh Borg and Gall. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media pembelajaran menyimak dan membaca bahasa Arab berbasis adobe Flash CS5 untuk siswa kelas X MA. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan angket. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas media pembelajaran yaitu 83,9%, hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 76,9%, uji validasi oleh guru, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 87,5%, dan uji validasi kepada siswa berdasarkan jawaban angket diperoleh 84,5%. Jadi media pembelajaran bahasa Arab ini dinyatakan valid sebagai media pembelajaran menyimak dan membaca bahasa Arab bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah. Dari hasil pengembangan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran kepada pengembang selanjutnya yang akan mengembangkan media pembelajaran seperti ini disarankan untuk mengembangkan media yang mencakup 4 kemahiran sekaligus yaitu istima:’, kala:m, qira:ah dan kita:bah. Selain itu, diharapkan bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan materi dengan menambah jumlah bab (tema). Disarankan bagi guru mata pelajaran bahasa Arab untuk memanfaatkan media pembelajaran bahasa Arab berbasis adobe flah ini sebagai media untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Analisis perlakuan akuntansi aset tetap berwujud pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto / Yolanda Afriyanti

 

Afriyanti, Yolanda. 2013. Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Berwujud Pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto. Tugas Akhir, Jurusan D3 Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Ika Putri Larasati, SE, M. Com. Kata Kunci: Aset Tetap, Perolehan, Pengukuran, Pelaporan, Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)     Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) merupakan lembaga pemerintahan yang melaksanakan pengawasan dan perencanaan dalam perhubungan darat, komunikasi dan informatika yang ditunjang dengan keberadaan aset tetap dalam membantu merealisasikan tugas pokok dinas bersangkutan. Berdasarkan PSAP 07 paragraf 4, aset tetap merupakan aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan, dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarkat umum. Pengelolaan aset tetap meliputi perencanaan, penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pertukaran, pelepasan dan penghapusan (Buletin Teknis SAP 05).     Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyesuaikan perlakuan akuntansi aset tetap yang terjadi pada Dishubkominfo sesuai Standar Akuntansi Pemerintah dengan menggunakan metode pengumpulan data sebagai bahan analisis yang terdiri dari dokumentasi, wawancara dan metode pustaka. Aset tetap yang dimiliki oleh Dishubkominfo pada tahun 2012 terdiri dari tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, aset tetap lainnya. Kelima aset tetap tersebut diperoleh melalui pembelian tunai yang diakui sebesar harga perolehan yaitu harga beli dan PPN. Selama masa manfaat, nilai aset tetap akan mengalami penurunan baik karena pemakaian maupun keusangan/kerusakan. Namun pada Dishubkominfo selama masa manfaat aset tetap, tidak pernah dilakukan penghapusan dan penyusutan atas penurunan nilai manfaat aset tetap tersebut. Pada penyajian laporan keuangan, tanah dinilai berdasarkan Nilai Jual Objek Tanah (NJOP), sedangkan peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan dinilai berdasarkan harga perolehan. Berdasarkan identifikasi pada penelitian ini, permasalahan yang terjadi dalam perlakuan akuntansi aset tetap terdiri dari penentuan biaya perolehan, klasifikasi jenis aset tetap, tidak ada kebijakan penghapusan dan penyusutan aset tetap.     Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan yaitu menentukan biaya-biaya yang menunjang perolehan aset tetap hingga siap digunakan. Biaya perolahan ini merupakan dasar nilai penyusutan. Selain itu, biaya yang terjadi setelah tanggal perolehan dapat dikapitalisasi sebagai biaya perolehan sesuai kebijakan daerah untuk diusulkan pada belanja modal dan belanja pemeliharaan saat penyusunan rencana APBD sehubungan pengadaan aset tetap di masa mendatang. Penyajian aset tetap dalam laporan keuangan dinilai sebesar harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan. Dari hasil analisis diketahui jumlah aset disajikan terlalu tinggi yaitu sebesar 28% pada tahun 2011 dan 30% pada tahun 2012. Setelah penyesuaian, total aset disajikan sebesar Rp5.466.679.273,18 pada tahun 2011 dan Rp 5.929.674.140,99 pada tahun 2012.

Evaluasi kebijakan sistem akuntansi penggajian karyawan tetap sebagai pendukung pengendalian internal pabrik gula Kebon Agung - Malang / Susanti

 

Kata kunci: Kebijakan, Sistem Akuntansi Penggajian, Pengendalian Internal. Sistem akuntansi penggajian merupakan serangkaian proses secara lengkap dan berurutan tentang bagaimana prosedur pembayaran karyawan. Penggajian merupakan salah satu faktor terpenting untuk mendukung dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Dengan demikian diperlukan sistem pengendalian internal yang cukup memadai sehingga dapat mengurangi kesalahsajian laporan keuangan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis penerapan pengendalian internal terhadap kebijakan sistem akuntansi penggajian karyawan tetap pada PG. Kebon Agung-Malang. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh terdapat beberapa masalah sebagai berikut. Pertama, pengisian kartu absensi dan katu lembur dilakukan secara manual. Sehingga dapat menimbulkan kelebihan jam kerja karyawan. Kedua, belum tercantumnya dokumen induk penggajian sebagai salah satu faktor perhitungan gaji karyawan. Hal ini dapat menimbulkan ketidakakuratan atas biaya penggajian. Dan yang ketiga, kurangnya jumlah dokumen penggajian sehingga bagian kasir tidak memiliki dokumen penggajian yang digunakan sebagai arsip. Sesuai dengan permasalahan tersebut, penulis merekomendasikan perbaikan kebijakan sistem akuntansi sebagai berikut. Pertama, diubahnya pengisian absensi dan lembur dari manual menjadi finger print. Kedua, penambahan dokumen induk penggajian sebagai salah satu faktor perhitungan gaji selain daftar absensi dan lembur. Dan yang ketiga, penambahan dokumen penggajian, yaitu daftar gaji dan rekap gaji dari rangkap 1 menjadi rangkap 2.

Pengaruh motivasi karir mengajar, career selg efficacy dan status sosial ekonomi yang dimediasi minat menjadi guru terhadap prestasi akademik mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang / Khasan Setiaji

 

Kata kunci: motivasi karir mengajar, career self-efficacy, status sosial ekonomi, minat menjadi guru, dan prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh motivasi karir mengajar, career self-efficacy dan status sosial ekonomi terhadap prestasi akademik melalui minat menjadi guru. Model mediasi yang digunakan berpijak pada argumen teori, kajian empiris, dan penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi dan Koperasi semester I Tahun Akademik 2012/2013 yang baru mengalami proses aktivitas pilihan karir (career choice prosess and content). Penarikan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Proses pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi, sedangkan analisis data digunakan analisis jalur. Temuan penelitian menunjukan bahwa (1) motivasi karir mengajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES, (2) career self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES, (3) status sosial ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES, (4) minat menjadi guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES, (5) motivasi karir mengajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES melalui minat menjadi guru, (6) career self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES melalui minat menjadi guru, dan (7) status sosial ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi FE UNNES melalui minat menjadi guru. Bertitik tolak dari temuan ini, dapat disarankan bahwa (1) upaya untuk menumbuhkan minat menjadi guru dan prestasi akademik dapat dilakukan dengan meningkatkan motivasi karir, career self-efficacy, dan dukungan orang tua, (2) proses penerimaan atau penyiapan tenaga guru perlu memperhatikan aspek psikologis seperti bakat, minat, motivasi, dan career self-efficacy untuk mendapat input yang berkualitas, (3) menyediakan fasilitas belajar bagi mahasiswa dari keluarga miskin yang menghadapi kesulitan dalam studi di perguruan tinggi.

Penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Kiki Kurniawati

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Make a Match, Keaktifan, Hasil Belajar Pembelajaran model Make a Match dilakukan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Pembelajaran model Make a Match merupakan variasi dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi keaktifan siswa dalam belajar, maka semakin baik hasil belajar mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, (1) Penerapan model Make a Match, (2) Keaktifan belajar siswa setelah diterapkan model Make a Match, (3) Hasil belajar siswa setelah diterapkan model Make a Match, dan (4) Hambatan-hambatan dan solusi pada saat penerapan model Make a Match pada mata pelajaran Kewirausahaan. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, dimana dalam setiap siklus meliputi empat tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subyek penelitian adalah kelas X program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Malang. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, dan catatan lapangan. Teknik analisis dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pembelajaran model Make a Match sangat bermanfaat bagi siswa karena telah terbukti dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, keaktifan belajar siswa yang pada siklus I sebesar 61,9% meningkat pada siklus II sebesar 85,1%, (2) Hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Make a Match mengalami peningkatan dimana diketahui pada nilai awal sebelum penerapan model Make a Match dengan nilai rata-rata 76,95 ke Post Test I 25% dengan nilai rata-rata 78,4, dan meningkat pada nilai Post Test II 35% dengan nilai rata-rata 80,6. Adapun beberapa saran yang diajukan adalah sebagai berikut (1) Guru, hendaknya menggunakan model Make a Match, dan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal dalam kelas, (2) Siswa, hendaknya memperhatikan tahapan-tahapan dalam model pembelajaran Make a Match, (3) Kepala Sekolah, hendaknya memberikan acuan kepada sekolah untuk mencoba menerapkan pada mata pelajaran yang lain, (4) Peneliti selanjutnya, berdasarkan temuan penelitian terjadi perubahan yang mendasar pada aktivitas belajar siswa yang disebabkan oleh faktor teknis yang tidak terkendali, sehingga perlu diteliti pada subyek yang berbeda dan lebih dipersiapkan untuk menghindari keterbatasan waktu dalam melakukan penelitian.

Keefektifan pendekatan konseling naratif untuk meningkatkan keterbukaan diri (self-disclosure) siswa SMK / Abdul Khanan

 

Kata kunci: Konseling Naratif, Self-Disclosure, Keterbukaan diri merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi sosial. Tanpa keterbukaan diri, individu cenderung mendapat penerimaan sosial kurang baik sehingga berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya. Keterbukaan diri dapat membantu seseorang berkomunikasi dengan orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan hubungan menjadi lebih akrab. Berkaitan dengan hal ini, konselor dapat berperan memfasilitasi siswa meningkatkan ketererbukaan diri. Upaya peningkatan keterbukaan diri para siswa dapat dilakukan antara lain melalui konseling baik secara individu maupun kelompok. Salah satu pendekatan yang akan diuji keefektifanya yaitu pendekatan konseling naratif. Dalam penelitian ini, konseling naratif merupakan kegiatan membantu konseli memisahkan diri dari cerita-cerita dominan yang telah diinternalisasi dalam diri mereka dan mengajak konseli menulis kembali cerita baru mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pendekatan konseling naratif untuk meningkatkan keterbukaan diri siswa di Sekolah Menengah Kejuruan. Penelitian ini menggunakan Single Subject model A-B-A’. Observasi yang dilakukan pada fase A atau baseline selama empat sesi menunjukkan adanya keterbukaan diri rendah seperti tidak bisa mengeluarkan pendapat, merasa was-was atau takut jika hendak mengemukakan sesuatu. Berdasarkan kondisi tersebut, treatment berupa konseling naratif dilakukan kepada siswa meningkatkan keterbukaan diri. Penerapan konseling naratif menggunakan prosedur 1) membangun sebuah pendekatan kolaboratif, 2) mencari kisah yang lain dalam kehidupan konseli, 3) menggunakan pertanyaan yang gigih, 4) menghindari diagnosis dan pemberian label, 5) membantu konseli dalam memetakan pengaruh sebuah masalah terhadap kehidupan mereka, dan 6) membantu konseli dalam memisahkan dirinya dari cerita dominan yang telah diinternalisasi sehingga memberikan ruang terbuka bagi penciptaan bahasa yang lebih menyenangkan. Pendekatan konseling naratif dilakukan selama 6 (Enam) sesi. Selanjutnya pemeliharaan fase A’ selama 3 (tiga) sesi. Subyek penelitian ini adalah 3 siswa kelas X SMKN 1 Malang. 2 siswa menunjukkan keterbukaan diri rendah, serta 1 siswa dengan keterbukaan diri sedang. Rendahnya keterbukaan diri siswa antara lain tampak pada hasil pengukuran skala inventori keterbukaan diri, observasi, serta analisa percakapan. Data hasil pengukuran keterbukaan diri pada fase baseline maupun fase treatment dianalis menggunakan time series. Komponen analisis meliputi tingkat stabilitas, kecenderungan trend atau perubahan slope, dan perubahan level. Pada fase baseline tanpa perlakuan menunjukkan bahwa keterbukaan diri ketiga siswa menurun-stabil pada level rendah dan sedang. Pada fase treatment terjadi peningkatan keterbukaan diri ketiga siswa dan terus meningkat-stabil pada fase maintenance. Peningkatan tampak bervariasi pada setiap siswa dengan grafik yang sama-sama menunjukan peningkatan. Berdasar pada peningkatan tersebut maka disimpulkan bahwa konseling naratif efektif meningkatkan keterbukaan diri siswa dari kategori rendah ke kategori sedang dan dari sedang ke kategori tinggi. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konseling naratif dapat meningkatkan keterbukaan diri siswa. Saran yang perlu dipertimbangkan antara lain 1) dalam rangka pengembangan teori dan praktik konseling naratif, perlu adanya penelitian-penelitian dalam rangka menguji keefektifan konseling naratif dalam berbagai seting (tempat, budaya) dan dalam menangani kasus yang berbeda, 2) pendekatan konseling naratif dapat dijadikan salah satu pendekatan pilihan yang perlu dipelajari dan dipraktikkan dalam jenjang pendidikan S1 dan S2 bidang ilmu Bimbingan Konseling ataupun Psikologi, mengingat pendekatan ini relatif aplikatif dan efektif, terutama dalam seting persekolahan, 3) bagi siswa yang mangalami kesulitan berkomunikasi, konseling naratif ini bisa dijadikan alternatif pilihan pemecahan masalah mereka.

Efektivitas metode pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran ekonomi yang dikontrol dengan gaya belajar siswa (studi eksperimen pada siswa kelas X SMA Negeri 9 Banda Aceh) / Yenni Agustina

 

Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, Konvensional, Gaya Belajar Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan permasalahan dalam dunia nyata untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran, melatih berpikir tingkat tinggi termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (metakognitif) dan melatih siswa menjadikan pebelajar mandiri dan self regulated. Pembelajaran berbasis masalah memiliki ciri siswa bekerja sama antara satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan atau berkelompok untuk bersama-sama memecahkan masalah yang dihadapi. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional yang dikontrol dengan gaya belajar visual, (2) perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional yang dikontrol dengan gaya belajar auditorial, (3) perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional yang dikontrol dengan gaya belajar kinestetik,dan (4) interaksi antara pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional dengan gaya belajar terhadap hasil belajar. Untuk menjawab masalah tersebut, penelitian ini mengggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen semu. Rancangan eksperimen semu menggunakan faktorial 2 x3 dengan desain penelitian Pre test –Post test Nonequivalent Control Group Design. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Purposive Sampling, memilih 2 kelas yaitu kelas X-1 dengan jumlah 30 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas X-5 dengan jumlah 30 siswa sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari instrumen perlakuan yaitu RPP, LKS, instrumen penilaian hasil belajar , angket gaya belajar yang hanya digunakan untuk mengelompokkan siswa pada 3 gaya belajar yaitu visual, auditorial dan kinestetik. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa 10 soal pilihan ganda dan 10 soal essai valid dengan reliabilitas 0,771. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan hasil penelitian dan analisis statistik parametrik untuk menguji hipotesis. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis anova two ways pada α 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional yang dikontrol dengan gaya belajar visual dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,050, (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional yang dikontrol dengan gaya belajar auditorial dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,050, (3) tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional yang dikontrol dengan gaya belajar kinestetik dengan taraf signifikansi 0,106 > 0,05 ,dan (4) tidak terdapat interaksi antara pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional dengan gaya belajar terhadap hasil belajar dengan taraf signifikansi 0,144 > 0,05. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah sangat efektif digunakan pada anak yang memiliki gaya belajar visual dan auditorial, sedangkan anak yang memiliki gaya belajar kinestetik tidak efektif menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah telah terbukti lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. untuk itu, kepada para guru ekonomi disarankan untuk menggunakan pembelajaran berbasis masalah dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran khususnya terkait dengan pokok bahasan masalah-masalah yang dihadapi pemerintah dibidang ekonomi. Gaya belajar siswa bervariasi, disarakan kepada para siswa untuk mengenali gaya belajarnya sehingga mempermudah siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Diharapkan dukungan yang besar baik dari kepala sekolah maupun dinas pendidikan dengan menyediakan saran dan prasarana belajar yan memadai agar proses pembelajaran berjalan lancar.

Pengembangan bahan ajar praktikum instalasi tenaga listrik berbasis PLC untuk program keahlian S1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Dwi Cahyo Wibowo Solikin

 

Kata kunci: Pengembangan, Bahan Ajar, PLC PLC merupakan piranti elektronika digital yang menggunakan memori yang bisa diprogram sebagai penyimpan instruksi internal dengan mengimplementasikan fungsi-fungsi tertentu, seperti logika, skuensial, pewaktuan, dan perhitungan, untuk mengendalikan berbagai jenis mesin ataupun proses melalui I/O digital maupun analog. Pada Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang bahan ajar praktikum instalasi tenaga listrik berbasis PLC masih belum ada, sehingga tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menyediakan bahan ajar praktikum pada mata kuliah Instalasi tenaga listrik sub mata kuliah instalasi motor lisrik 3 fasa berbasis PLC di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dan menguji kelayakan bahan ajar praktikum hingga dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Metode penelitian pada penelitian pengembangan ini, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (1) bedah kurikulum; (2) identifikasi media; (3) pengembangan naskah; (4) produksi; (5) penyempurnaan; (6) tes/uji coba; dan (7) revisi. Berdasarkan pada hasil uji coba, diperoleh presentase dari tiap-tiap subyek coba sebagai berikut: (1) skor validasi ahli materi, diperoleh presentase sebesar 87,5%, (2) skor validasi ahli media, diperoleh persentase sebesar 82,2% (3) skor angket keterlaksanaan sebesar 89,8%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar praktikum instalasi tenaga listrik berbasis PLC pada mata kuliah instalasi tenaga listrik di Jurusan Elektro Universitas Negeri Malang dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai bahan ajar.

Pengaruh etika kerja Islam terhadap komitmen organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan Kota Malang / Anisya Aditya

 

Kata Kunci : Etika Kerja Islam, Komitmen Organisasi Etika kerja Islam merupakan orientasi yang membentuk dan mempengaruhi keterlibatan dan partisipasi pekerja, yang dapat dilihat dari usaha, kompetisi, transparasi, dan tanggung jawabnya (Ali, 2001). Komitmen organisasi merupakan suatu ikatan psikologis karyawan pada organisasinya. Komitmen organisasi dapat dilihat dari komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, dan komitmen normatif (Allen dan Meyer, 1990). Beberapa penelitian yang telah dilakukan, mengungkapkan adanya pengaruh Etika Kerja Islam terhadap komitmen organisasi. Karyawan yang menerapkan Etika Kerja Islam dalam bekerja akan menunjukkan komitmen organisasi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Etika Kerja Islam terhadap komitmen organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan sampel penelitian sebanyak 43 PNS yaitu 18 PNS dari Dinas Pendidikan dan 25 PNS dari Dinas Kesehatan kota Malang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Etika Kerja Islam yang terdiri dari 26 item dengan reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,887 dan skala komitmen organisasi yang terdiri dari 22 aitem dengan reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach sebesar 0,870. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa (1) Sebanyak 7 PNS (16,28%) memiliki skor Etika Kerja Islam yang tinggi, 30 PNS (69,77%) masuk dalam kategori sedang, dan 6 PNS (13,95%) masuk dalam kategori rendah untuk Etika Kerja Islam. (2) Sebanyak 3 PNS (6,98%) memiliki skor tinggi pada komitmen organisasi, 31 PNS (72,09%) memiliki komitmen organisasi yang cukup, dan 9 PNS (20,93%) memiliki komitmen organisasi yang rendah. (3)Uji hipotesis menyimpulkan Etika Kerja Islam berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi (sig. 0,00 < 0,05) dan pengaruh Etika Kerja Islam terhadap komitmen organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan kota Malang cukup besar yaitu 50,9% (R square= 0,509). Hal ini dapat diartikan bahwa PNS yang menerapkan Etika Kerja Islam dalam bekerja akan memunculkan komitmen organisasi mereka. Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah (1) bagi karyawan: agar lebih meningkatkan penerapan Etika Kerja Islam dalam bekerja, (2) bagi dinas Pendidikan dan Kesehatan: agar mendukung penerapan Etika Kerja Islam dalam diri PNS sehingga dapat lebih meningkatkan komitmen organisasi PNS.

Penerapan asesmen portofolio untuk mengukur tingkat pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Kertosono / Siti Rofiah

 

Kata Kunci : Asesmen Portofolio, Pemahaman konsep, Kemampuan Berpikir Kritis Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang dihadapi siswa SMA Negeri 1 Kertosono, pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa pada umumnya masih kurang, hal ini diketahui karena selama proses pembelajaran ekonomi siswa masih cenderung pasif dan ketika mengerjakan soal seringkali memperoleh nilai yang kurang maksimal. Pemahaman konsep yang masih kurang ini tentunya akan menyebabkan kurang mampunya siswa berpikir kritis. Hal ini terjadi karena guru masih menggunakan metode konvensional, kurang menerapkan strategi-strategi pembelajaran kooperatif, dan kurang bervariasinya teknik penilaian yang digunakan oleh guru yang dapat merangsang kemampuan siswa dalam hal pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis. Dalam hal ini terlihat bahwa penilaian yang dilakukan memiliki kecenderungan hanya menilai hasil akhir dari kemampuan siswa berupa hasil tes tertulisnya, sedangkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran tidak dapat terekam dalam format penilaian yang selama ini dilakukan. Dengan mengkaji kenyataan yang ditemukan di lapangan, terlihat adanya ketidaksesuaian antara pembelajaran ekonomi di sekolah menengah dengan sistem penilaian yang digunakannya, yaitu proses penilaian yang biasa dilakukan guru selama ini hanya mampu menggambarkan aspek penguasaan konsep siswa, sehingga tujuan kurikuler mata pelajaran ekonomi belum dapat dicapai secara menyeluruh. Maka diperlukan suatu teknik penilaian yang mampu mengungkap aspek produk maupun proses. Sistem penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi tuntutan tersebut salah satunya adalah sistem penilaian portofolio. Penilaian berbentuk asesmen menuntut adanya kompetensi dan kreativitas serta inisiatif yang lebih luas dari diri siswa. Selain itu asesmen juga menyediakan informasi secara komprehensif mengenai kemajuan belajar siswa termasuk kekuatan dan kelemahannya. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan asesmen portofolio dalam pembelajaran ekonomi khususnya materi pendapatan nasional, inflasi dan indeks harga dalam upaya untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMAN 1 Kertosono serta untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan asesmen portofolio. Untuk tujuan penelitian ini dengan mengimplementasikan asesmen portofolio dengan memberikan tugas LDS, LKS, presentasi dan menuliskan jurnal belajar sebagai refleksi diri dan tes formatif. Hasil tugas-tugas digunakan sebagai bukti outentik yang dimasukkan ke dalam map portofolio. Implementasi asesmen portofolio bertujuan untuk mengetahui apakah dengan mengerjakan tugas-tugas yang berupa LDS, LKS, presentasi, tes formatif dan membuat refleksi diri serta mengumpulkannya ke dalam map portofolio ini, kualitas/keefektifan pembelajaran ekonomi dapat meningkat serta untuk mengetahui sejauhmana pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMAN 1 Kertosono. Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan asesmen portofolio dalam pembelajaran ekonomi maka dapat menggambarkan tingkat pemahaman konsep ekonomi dan tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dengan kualifikasi baik, terlihat dari skor untuk indikator pemahaman konsep siswa yaitu skor LKS 4.85 dan tes formatif dengan skor 4,13 serta indikator untuk kemampuan berpikir kritis siswa yaitu dilihat dari skor LDS 4,35 dan skor presentasi 4,2 juga dari hasil analisis skor siswa pada butir soal serta analisis data pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa pada KD 5.1, KD 5.2, KD 5.3 dan KD 5.4. Respon siswa terhadap asesmen portofolio pada pembelajaran ekonomi pada materi pendapatan nasional, inflasi dan indeks harga diperoleh melalui angket menunjukkan respon sangat positif terhadap penggunaan asesmen portofolio dalam pembelajaran ekonomi yaitu terdapat 100% siswa berminat. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan asesmen portofolio dalam pembelajaran ekonomi bisa dilaksanakan. Untuk penelitian lebih lanjut perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan tehnik-tehnik penilaian lain, selain tehnik penilaian portofolio, yaitu tehnik penilaian observasi (pengamatan), hasil kerja (produk), penugasan (proyek), dan kinerja (performance). Perlu dikaji variabel-variabel terikat lainnya yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar ekonomi, yaitu ketrampilan proses, motivasi, aktivitas belajar dan kemandirian belajar. Serta pada penelitian asesmen portofolio perlu keterlibatan siswa dalam menentukan kriteria/nominasi item yang akan dimasukkan dalam portofolio.

Program life skill berbasis batik dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar (studi kasus di Perusahaan Batik "Marely Jaya" Kabupaten Bojonegoro) / Eva Kurniasari

 

Penerapan model pembelajaran SAVI untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang / Achmad Bagus Suprio

 

Kata Kunci: model pembelajaran SAVI, aktivitas, hasil belajar, IPA, SD Berdasarkan observasi awal pada tanggal 10 Januari 2013 di kelas IV SDN Bareng 4 Malang dapat diketahui aktivitas dan hasil belajar siswa secara klasikal mendapatkan hasil 24% siswa. Selama proses pembelajaran aktivtias siswa masih pasif, mendengarkan guru ceramah tanpa adanya praktikum. Hasil belajar siswa mendapatkan rata-rata kelas hanya mencapai 55 dan siswa yang tuntas memenuhi KKM sebanyak 6 siswa (24%) sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 19 siswa (76%) . Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran SAVI, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa dengan diterapkannya model SAVI, (3) peningkatan hasil belajar IPA setelah diterapkannya model SAVI pada siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian PTK yang terdiri dari dua siklus, dan tiap siklusnya dilaksanakan dua kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Bareng 4 Malang dengan subjek penelitian 25 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu pedoman observasi pelaksanaan model SAVI, pedoman observasi aktivitas siswa, pedoman wawancara dan soal evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model SAVI aktivitas belajar IPA siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang pada siklus I, kegiatan praktikum sudah nampak, namun masih ada beberapa siswa yang ramai, nilai rata-rata aktivitas belajar siswa mencapai 69,64. Pada siklus II aktivitas belajar siswa dalam melakukan praktikum sudah tertib dan mencapai nilai aktivitas rata-rata 74,64. Hasil belajar siswa pada observasi pratindakan sebelum menggunakan model SAVI persentase ketuntasan klasikal yang dicapai siswa sebesar 24% dan rata-rata kelasnya 55, setelah diberikan tindakan pada siklus I ketuntasan belajar klasikal siswa menjadi 60% . Pada siklus II keuntasan belajar klasikalnya menjadi 74%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan dengan penerapan model pembelajaran SAVI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang. Disarankan penerapan model pembelajaran SAVI sebaiknya berkoordinasi dengan pihak sekolah, agar pihak sekolah menyesuaikan jadwal sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan sehingga pembelejaran bisa terlaksana dengan tepat waktu. Media perlu dipersiapkan sebelum dilaksanakan pembelajaran sehingga media benar-benar siap digunakan untuk siswa.

Using pop-up pictures through EEC strategy to improve vocabulary mastery of the first graders in elementary school / Inez Faradisha

 

Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization pada mata pelajaran TIK kelas XI SMA 1 Kauman / Galuh Indah Zatadini

 

Zatadini, Galuh Indah. 2013. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa dengan Menerapkan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Asissted Individualization Pada Mata Pelajaran TIK Kelas XI SMA 1 Kauman. Skripsi, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd, (II) Mohammad Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci : Cooperative Learning, Team Asissted Individualization, aktivitas belajar, hasil belajar     Cooperative Learning atau pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dilakukan siswa dalam kelompok sehingga akan membuat siswa lebih banyak belajar dan bekerjasama dibandingkan dengan siswa yang kelasnya dikelola secara tradisional. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK Kelas XI IPA dengan menggunakan metode Team Asissted Individualization yang menggabungkan metode pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individu. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dimana terdapat 3 siklus dengan masing tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang dilakukan langsung dalam kegiatan belajar mengajar siswa.     Data penelian hasil belajar ini diambil ketika proses refleksi yaitu dilakukan test kepada siswa setelah proses belajar mengajar selesai. Sedangkan untuk pengambilan data aktivitas siswa dilakukan ketika proses pelaksanaan, yaitu ketika siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar.     Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Asissted Individualization (TAI) dapat meningkatkan aktivitas kelas XI IPA 5 SMA 1 Kauman, Tulungagung pada standart kompetensi “Menggunakan Perangkat Lunak Pengolah Angka untuk Menghasilkan Informasi” dan kompetensi dasar “Membuat Dokumen Pengolah Angka dengan Variasi Teks, Tabel, Grafik, Gambar dan Diagram”. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase aktivitas siswa dari siklus I,II dan III. Pada siklus I total presentase aktivitas siswa adalah 64.1 % dengan persentase masih kurang. Kemudian dilanjutkan dalam siklus II presentase nya yaitu 78% dan siklus III total presentasenya adalah 89.7%. Selain itu pembelajaran kooperatif tipe Team Asissted Individualization (TAI) juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik dalam ranah afektif, kognitif maupun psikomotorik. Model pembelajaran kooperatif tipe Team Asissted Individualization (TAI) dapat menjadi salah satu model pembelajaran alternatif yang bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Namun dalam penerapannya haruslah sesuai dengan materi maupun tipe kegiatan belajar mengajar yang akan dilakukan. Model pembelajaran Team Asissted Individualization ini hanya cocok untuk kompetensi/pemecahan masalahnya dapat diselesaikan secara individual maupun kelompok.

The reading strategies implemented by successful English learners at SMPN 13 Malang / Asa Susila Pilar

 

Kata kunci : strategi membaca, peserta didik Bahasa Inggris Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi membaca yang diterapkan oleh peserta didik tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang unggul dalam Bahasa Inggris. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti melakukan penelitian yang dikembangkan secara deskriptif. Subjek penelitiannya adalah 8 peserta didik yang unggul dalam Bahasa Inggris yang berasal dari kelas 7 dan 8 di SMPN 13 Malang, tahun akademik 2012/2013.Subjek merupakan peserta didik yang secara konsisten mendapat nilai ulangan di atas 80. Peneliti menggunakan kuesioner dan wawancara untuk memperoleh data. Instrumen tersebut dikembangkan dari “Reading for Meaning” karya Sulistyo (2011). Peneliti menemukan bahwa peserta didik yang unggul dalam Bahasa Inggris menerapkan berbagai strategi dalam kegiatan sebelum membaca seperti (1) mengidentifikasi tujuan membaca (100%); (2) menentukan kata kunci (75%); (3) membuat prediksi awal melalui judul (100%); (4) membaca sepintas untuk memperoleh ide pokok (37.5%); (5) mempelajari gambar, diagram, grafik, dll (100%); menggunakan pemetaan semantic dan pengelompokan (75%); meminjau informasi detail pada teks (87.5%); dan (6) menggunakan pengetahuan umum (62.5%). Selain itu, ada pula strategi yang diterapkan pada saat membaca seperti (1) mencari ide pokok (87.5%); (2) menebak makna kata sulit dari konteks (75%); (3) menebak pembahasan berikutnya (62.5%); (4) menandai kata sulit yang ditemukan (75%); (5) mencari persamaan bahasa (87.5%); (6) menganalisa imbuhan (62.5%); (7) memprediksi makna bagian yang sulit (62.5%); (8) melewatkan kata yang sulit (75%); (9) menghindari terjemahan langsung (75%); (10) membedakan makna tersirat dan tersurat (75%); (11) memperhatikan kata penghubung (50%); (12) menyesuaikan kecepatan membaca (62.5%); (13) melewatkan bagian yang tidak relevan (50%); (14) membaca ulang bagian yang penting (100%); (15) menghubungkan dengan pengetahuan umum (100%). Sementara pada tahap sesudah membaca, strategi yang diterapkan antara lain (1) menarik sebuah kesimpulan (100%); (2) membuat graphic organizer (100%); (3) menceritakan ulang dan merangkum (50%); (4) membayangkan isi teks dalam kehidupan nyata (100%); menjawab pertanyaan terkait isi teks (100%); menulis pemahaman lanjutan tentang teks (100%). Hasil penelitian membuktikan bahwa peserta didik yang unggul dalam Bahasa Inggris menerapkan beberapa strategi membaca dengan frekuensi penggunaan yang beragam. Strategi membaca yang digunakan disebutkan dalam “Reading for Meaning” karya Sulistyo. Dari hasil penelitian tersebut, peneliti memberikan saran kepada beberapa pihak seperti peserta didik lain, guru Bahasa Inggris dan peneliti lain. Saran yang ditujukan untuk peserta didik lain yaitu untuk berusaha menemukan strategi belajar yang sesuai dan efektif untuk proses belajar mereka sendiri.Selain itu, guru Bahasa Inggris disarankan untuk memotivasi peserta didiknya untuk melatih dan menerapkan strategi belajar baik dalam kegiatan belajar di kelas maupun kegiatan belajar mandiri. Ketiga, peneliti menyarankan peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa namun dengan fokus kemampuan yang lain seperti mendengarkan, berbicara dan menulis.

Perancangan buku cerita bergambar legenda gunung Arjuna untuk anak sekolah dasar / Dian Ratri Wijayanti

 

Kata Kunci : Perancangan, Buku Cerita Bergambar, Legenda Gunung Arjuna Legenda Gunung Arjuna merupakan legenda yang berasal dari gunung Arjuna. Legenda ini melibatkan tokoh-tokoh pewayangan Mahabharata. Gunung Arjuna memiliki legenda yang tidak banyak orang tahu asal-usulnya. Dengan menampilkan Legenda Gunung Arjuna melalui buku cerita bergambar, anak-anak lebih mengerti dan memahami cerita tersebut dengan kemasan dan ilustrasi yang menarik. Tujuan dari perancangan buku cerita bergambar Legenda Gunung Arjuna ini adalah untuk mengembangkan minat baca anak, serta agar anak mengetahui tentang legenda dari gunung Arjuna yang merupakan salah satu kekayaan budaya yang terdapat dalam negeri Indonesia ini. Model yang digunakan dalam perancangan buku cerita bergambar berjudul `Legenda Gunung Arjuna` untuk anak anak Sekolah Dasar ini adalah model perancangan prosedural dimana menggunakan langkah-langkah yang sistematis, terstruktur, berurutan dan logis untuk menghasilkan produk. Target audience yang menjadi sasaran adalah anak kelas 1-3 SD, sedangkan target pasar yang menjadi sasaran adalah orang tua berumur 25-40 tahun yang memiliki anak yang duduk di bangku kelas 1-3 SD. Hasil perancangan yang dihasilkan berupa buku cerita bergambar Legenda Gunung Arjuna yang ditampilkan berupa gambar ilustrasi berwarna-warni serta narasi yang menceritakan Legenda Gunung Arjuna tersebut. Disarankan bagi perancangan berikutnya, terutama bagi yang berkaitan dengan buku cerita bergambar anak, agar membuat cerita dan ilustrasi yang menarik dan mudah dimengerti oleh anak serta tetap memasukkan pesan moral dan informasi yang baik bagi perkembangan anak. Selain itu juga disarankan untuk lebih banyak mencari literatur serta sumber data yang akurat untuk menghasilkan produk.

Perbandingan potensi strategi pembelajaran reciprocal teaching dan cooperative script dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, dan retensi pada siswa berkemampuan akademik rendah / Shefa Dwijayanti Ramadani

 

Ramadani, Shefa Dwijayanti. 2013. Perbandingan Potensi Strategi Pembelajaran Reciprocal Teaching dan Cooperative Script dalam Memberdayakan Keterampilan Metakognitif, Hasil Belajar Biologi, dan Retensi pada Siswa Berkemampuan Akademik Rendah. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd., (2) Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd. Kata Kunci: reciprocal teaching, cooperative script, keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, retensi, kemampuan akademik rendah. Adanya pola penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah termasuk di jenjang SMA yang telah menerapkan pola penerimaan siswa baru berbasis MPL UAN telah menyebabkan terjadinya polarisasi antara sekolah yang memiliki siswa dengan kemampuan akademik tinggi dan sekolah yang memiliki siswa dengan kemampuan akademi rendah. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang terpaksa harus menjalani pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah yang kurang bahkan tidak baik karena siswa tersebut tidak dapat diterima pada sekolah yang berkualifikasi baik. Selama keadaan ini terus berlanjut, maka perlu dicari strategi pembelajaran yang berpotensi serta berpeluang lebih besar dalam menolong siswa berkemampuan akademik rendah di tengah-tengah kenyataan bahwa keterampilan metakognitif dan hasil belajar biologi mereka yang rendah, serta di tengah kenyataan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan selama ini belum memperhatikan retensi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perbandingan potensi strategi pembelajaran Reciprocal Teaching (RT) dan Cooperative Script (CS) dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, dan retensi pada siswa berkemampuan akademik rendah. Dengan demikian, akan diketahui strategi mana diantara kedua strategi tersebut yang sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran serta berpeluang besar dalam menolong siswa berkemampuan akademik rendah dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, dan retensi belajarnya. Penelitian ini dilakukan dengan metode quasi eksperiment melalui desain Nonequivalent Pretest-postest Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA kelas X di Malang yang memiliki kemampuan akademik rendah pada tahun ajaran 2012/2013 dan telah diuji kesetaraannya. Sampel yang digunakan yaitu siswa kelas X-7 SMA Laboratorium UM yang diterapkan dengan strategi RT dan siswa kelas X-1 SMA Shalahuddin Malang yang diterapkan dengan strategi CS. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode random sampling, yaitu dengan melakukan pengundian terhadap sejumlah SMA yang telah diuji kesetaraannya untuk diambil dua sekolah yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang diperoleh kemudian diuji statistik dengan menggunakan Anakova. Pengujian hipotesis nol dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran RT dan CS tidak berbeda secara signifikan dalam memberdayakan keterampilan metakonitif, ii hasil belajar biologi, dan retensi yang meliputi retensi keterampilan metakognitif dan retensi hasil belajar kognitif biologi. Berkenaan dengan hasil tersebut, maka peneliti merekomendasikan bahwa baik strategi RT maupun CS sebaiknya digunakan selama pembelajaran di kelas untuk menolong siswa dengan kemampuan akademik rendah dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, dan retensinya. Beberapa saran yang direkomendasikan dalam penelitian ini yaitu (1) guru hendaknya meninggalkan pembelajaran konvensional, dan mulai menerapkan strategi pembelajaran yang berpotensi besar dalam menolong siswa berkemampuan akademik rendah dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, dan retensi belajarnya, yaitu dengan menerapkan strategi RT dan CS; (2) kepada guru-guru atau pun peneliti lainnya yang hendak menerapkan strategi RT agar lebih terampil dalam mengelola waktu pembelajaran. Sementara itu, bagi guru atau penelti lain yang hendak menerapkan strategi CS hendaknya menempatkan siswa secara heterogen dalam kelompok, sehingga manfaat yang diperoleh siswa optimal; serta (3) sebaiknya penelitian yang sejenis perlu terus dikembangkan dengan kombinasi beberapa strategi pembelajaran yang lain pada jenjang pendidikan yang sama atau berbeda untuk mengetahui strategi pembelajaran yang betul-betul berpotensi besar dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar kognitif biologi, dan retensi siswa berkemampuan akademik rendah.

Pengembangan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran KKPI materi pokok sistem operasi berbasis teks di SMK Negeri 11 Malang / Amalia Istiqomah

 

Kata kunci: Media Pembelajaran, Interaktif, KKPI. Materi sistem operasi berbasis teks bisa dikategorikan sebagai materi yang susah untuk dipelajari karena siswa harus memahami seluk-beluk sistem operasi berbasis teks dan juga command atau perintah yang digunakan dalam pengopera-siannya. Dari hasil observasi awal di SMK Negeri 11 Malang pada bulan Oktober 2012 diperoleh data bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran KKPI ma¬teri pokok “Sistem Operasi Berbasi Teks” rendah. Hal ini dibuktikan dengan jum¬lah siswa yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) pada ula¬ngan harian mengenai sistem operasi berbasis teks adalah 127 siswa dari total ke-seluruhan 153 siswa pada kelas X TKJ 1, X TKJ 2, X TKJ 3 dan X RPL atau se-kitar 83%. Tujuan dari pembuatan media pembelajaran interaktif ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran KKPI materi po-kok “Sistem Operasi Berbasis Teks” untuk siswa kelas X SMK serta menilai kela-yakan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran KKPI materi pokok “Sistem Operasi Berbasis Teks” yang dikembangkan. Media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran KKPI dikembangkan dengan metode pengembangan media Research and Development oleh Sugiyono. Teknik pengujian yang digunakan adalah teknik uji coba Sadiman. Desain uji co¬ba disesuaikan pelaksanaannya sesuai dengan Metode Penelitian dan Pengemba¬ngan menurut Sugiyono. Produk media pembelajaran berbasis media pembelaja¬ran interaktif pada mata pelajaran KKPI materi pokok Sistem Operasi Berbasis Teks ini terdiri dari empat kategori pilihan yaitu menu maskot dan help, menu materi, menu praktikum serta menu kuis. Secara keseluruhan dari hasil validasi ahli media, validasi ahli materi, uji coba perseorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan, didapatkan data akhir sebesar 88,75% untuk hasil validasi dari ahli media, 92,5%, untuk hasil validasi dari ahli materi, 80,31%, untuk hasil uji coba perseorangan, 82,3% untuk hasil uji coba kelompok kecil, dan 84,7% untuk hasil uji coba kelompok besar. Hasil rata-rata yang diperoleh dari kelima validator ini adalah sebesar 85,718%, maka secara keseluruhan media pembelajaran interaktif ini dinyatakan valid, layak, dan tidak perlu dilakukan revisi.

Penerapan metode PAIKEM pada pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang / Ike Surachmi

 

Kata Kunci: Metode PAIKEM, Keterampilan Berbicara Pembelajaran bahasa Jerman terdiri dari empat aspek keterampilanberbahasa yakni mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 6 Malang, siswa mengalami kesulitan dalam berbicara bahasa Jerman. Kesulitan tersebut salah satunya dikarenakan kurang efektifnya metode pembelajaran yang diterapkan pada pembelajaran bahasa Jerman. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti menerapkan metode PAIKEM untuk dapat memotivasi siswa kelas X dalam belajar bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode PAIKEM dalam pembelajaran bahasa Jerman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan tiga instrumen penelitian, yaitu pedoman observasi, angket, dan tes. Sedangkan Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X1-X3 SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 31 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode PAIKEM mampu memotivasi siswa dalam belajar bahasa Jerman. Hal ini didukung dengan hasil nilai yang diperoleh siswa yaitu90,1. Hal tersebut berarti siswa dapat memahami materi pelajaran dengan baik, karena skor ketuntasan minimal pelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 6 Malang adalah 75. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan metode PAIKEM pada pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang telah memenuhi standar kelulusan minimal. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan pada pengajar bahasa Jerman hendaknya agar selalu memberikan metode yang bervariasi dan semanarik mungkin agar siswa bisa lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran bahasa Jerman. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menerapkan metode PAIKEM dalam pembelajaran bahasa Jerman untuk keterampilan berbahasa yang lainnya

Peningkatan kualitas keterampilan menari dan minat belajar tari siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Malang dengan menggunakan metode mencontoh dan metode drill / Defi Anggraeni

 

Kata Kunci: Keterampilan Menari, Minat, Mencontoh, Drill, Seni Budaya Berdasarkan hasil observasi awal pada pembelajaran Seni Budaya kelas VII-C di SMP Negeri 1 Malang diketahui bahwa minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Seni Budaya bidang studi Seni Tari rendah. Hal ini terlihat dari kurang antusias dan kurang bersemangat dalam melakukan praktik menari, serta hasil belajar siswa yang sebagian besar masih banyak yang di bawah SKM. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka akan diterapkan Metode Mencontoh dan Metode Drill pada mata pelajaran Seni Budaya bidang studi Seni Tari. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan, (a) penerapan Metode Mencontoh dan Metode Drill dalam pembelajaran Seni Budaya bidang studi Seni Tari kelas VII-C SMP Negeri 1 Malang, (b) peningkatan minat belajar siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Malang melalui penerapan Metode Mencontoh dan Metode Drill dalam mata pelajaran Seni Budaya bidang studi Seni Tari. Penelitian yang digunakan adalah PTK. Pelaksanaan PTK pada penelitian ini dilakukan melalui dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Pada tiap siklus mengacu pada prosedur penelitian oleh Mulyasa meliputi empat tahap yaitu (1) planning, (2) acting, (3) observing, dan (4) reflecting. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan angket. Data dalam penelitian akan dianalisis secara kualitatif yang meliputi 4 tahap yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan dan verifikasi, (4) evaluasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui siklus I dan siklus II, 75,8 % hasil ketuntasan belajar siswa dengan penerapan Metode Mencontoh dan Metode Drill dalam pembelajaran Seni Tari dapat meningkatkan kualitas keterampilan menari. Berdasarkan hasil angket setelah diterapkannya Metode Mencontoh dan Metode Drill, 80% minat belajar siswamelalui penerapan Metode Mencontoh dan Metode Drill dalam mempelajari ragam gerak tari tradisi meningkat. Saran dalam penelitian ini adalah, (1) Bagi Guru Seni Budaya khususnya guru Seni Tari SMP dapat menjadikan Metode Mencontoh dan Metode Drill sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan pada pembelajaran tari tradisional, (2) Bagi Guru Seni Tari di SMP Negeri 1 Malang, dapat menggunakan Metode Mencontoh dan Metode Drill sebagai referensi metode pembelajaran untuk meningkatkan kualitas keterampilan menari dan minat belajar siswa dalam bidang studi Seni Tari, (3) Bagi siswa, dapat menjadikan motivasi belajar untuk mendapat hasil belajar yang maksimal, (4) Bagi mahasiswa pendidikan Seni Tari dan Musik, dapat digunakan sebagai bahan masukan tentang Penelitian Tindakan Kelas dalam penyelesaian tugas akhir, (5) Bagi Universitas Negeri Malang, Digunakan sebagai bahan referensi tentang pemilihan Metode Pembelajaran yang tepat sesuai dengan Kompetensi Dasar yang dipakai, (6) Bagi peneliti lain, diharapkan untuk melakukan penelitian lanjutan terhadap peningkatan kualitas belajar dengan temuan lain yang sejenis.

Kajian hukum terhadap tindak pidana gratifikasi berdasarkan UU RI No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo. UU RI No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi / Dwi Supriatin

 

Kata Kunci: hukum, gratifikasi, tindak pidana, korupsi. Pemberian hadiah sebagai suatu perbuatan atau tindakan seseorang yang memberikan sesuatu (uang atau benda) kepada orang lain tentu saja hal tersebut diperbolehkan. Namun jika pemberian tersebut dengan harapan untuk dapat mempengaruhi keputusan atau kebijakan dari pejabat yang diberi hadiah, maka pemberian itu tidak hanya sekedar ucapan selamat atau tanda terima kasih, akan tetapi sebagai suatu usaha untuk memperoleh keuntungan dari pejabat tersebut. Usaha tersebut untuk mempengaruhi integritas, independensi dan objektivitas dalam suatu pengambilan keputusan, adalah sebagai suatu tindakan yang tidak dibenarkan dan hal ini termasuk dalam pengertian gratifikasi yang diatur dalam Pasal 12B UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Melihat kondisi tersebut yang nyata dalam masyarakat, dan telah menjadi masalah sosial, maka perlu adanya pengaturan tentang gratifikasi, sehingga pembentuk Undang-Undang sepakat untuk memasukkan gratifikasi sebagai salah satu tindak pidana korupsi dalam UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hal ini dikarenakan dalam UU RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pengaturan mengenai gratifikasi belum ada. Permasalahan yang akan diangkat dalam penulisan skripsi ini adalah: (1) Apakah latar belakang pengaturan gratifikasi sebagai salah satu tindak pidana korupsi dalam UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, (2) Bagaimanakah pengaturan gratifikasi dalam UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, (3) Bagaimanakah ketentuan pembuktian terbalik untuk pencegahan dan pemberantasan tindak pidana gratifikasi dalam UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penulisan skripsi ini mengggunakan metode penelitian hukum normatif atau penelitian yuridis normatif yaitu dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research) agar tujuan lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian hukum normatif yang dilakukan pada penulisan skripsi ini dengan meneliti bahan-bahan kepustakaan hukum yang berkaitan dengan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana gratifikasi. Dan juga mengkaji UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 12B UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menjelaskan bahwa “Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara Negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya”. Sedangkan objek gratifikasi telah disebutkan dalam penjelasan Pasal 12B, yaitu pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya, baik yang diterima di dalam maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Tindak pidana korupsi dapat dikategorikan sebagai permasalahan nasional yang harus dihadapi secara sungguh-sungguh melalui keseimbangan langkah-langkah yang tegas dan jelas. Maka dibuatlah ketentuan mengenai pembuktian terbalik atau pembalikan beban pembuktian diatur di dalam Pasal 37 UU RI No. 20 tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga yang melakukan tindak pidana korupsi, baik bejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga dan kroninya, maupun pihak swasta/konglomerat. Dalam hal pembuktian tindak pidana korupsi benar-benar harus dilakukan secara cermat selain itu yang harus diperhatikan adalah perlunya perbaikan-perbaikan dalam upaya penanggulanagn korupsi. Karena korupsi mempunyai implikasi yang luas dan dapat menggangu pembangunan serta menimbulkan kerugian negara yang sangat besar sehingga dapat berdampak pada timbulnya krisis diberbagai bidang, maka untuk upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi perlu semakin ditingkatkan.

Penerapan media dongeng bawang merah dan bawang putih untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas VII dalam mata pelajaran PKn di SMP Negeri 02 Gandusari / Nanik Prihatini

 

Prihatini, Nanik. 2013. Penerapan Media Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas VII dalam Mata Pelajaran PKn di SMP Negeri 02 Gandusari. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si, (II) Siti Awaliyah S.Pd M.Hum. Kata kunci : Pendidikan Kewarganegaraan, Dongeng, Minat Belajar, Prestasi Belajar    Pendidikan Kewarganegaraan adalah ilmu yang berkenaan dengan konsep disusun secara hierarki dan penalaran deduktif yang membutuhkan pemahaman bertahap dan berurutan. Untuk itulah Pendidikan Kewarganegaraan perlu menggunakan model pembelajaran yang inovatif, salah satunya yaitu dengan menggunakan media dongeng. Dengan adanya media yang berbeda dan menyenangkan diharapkan dapat menarik minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dikelas. Dengan media dongeng diharapkan siswa mendapatkan suatu pengimajinasian yang dapat merangsang daya pikir dan daya ingat mereka dalam mendalami suatu materi PKn yang disampaikan oleh pengajar dengan suasana yang lebih menyenangkan. Selain itu dongeng juga bisa mengenalkan mereka terhadap budaya di negeri dan daerah mereka sendiri. Dongeng dapat menjadi media yang menyenangkan dan menarik dalam menyampaikan pesan-pesan moral, sosial-emosional, spirit, konsep diri dan nilai-nilai agama kepada siswa sehingga mereka memilki modal pengetahuan yang banyak apalagi di usia mereka yang akan memasuki usia remaja.    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pembelajaran Pkn dengan menggunaan media dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih dalam pembelajaran HAM di SMP Negeri 02 Gandusari dan untuk mengetahui peningkatan minat dan prestasi belajar PKn dengan menggunakan media dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih dalam pembelajaran HAM di SMP Negeri 02 Gandusari.    Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK). PTK merupakan suatu percermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Penelitian Tindakan Kelas digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dikelas dengan pelaksanaan 2 siklus. Pengukuran peningkatan minat belajar siswa dapat dilihat melalui angket pembelajaran, observasi minat belajar siswa, dan lembar cacatan lapangan yang digunakan untuk melengkapi data yang tidak terekam. Selain dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan observer, keberhasilan Tindakan Kelas ini dilihat dari ada tidaknya peningkatan nilai dari siswa melalui tes evaluasi.    Analisis dalam penelitian ini didasarkan dari data pengisian angket pembelajaran, observasi minat belajar siswa, hasil tes evaluasi dan dari dokumen saat pembelajarn berlangsung.    Dari hasil tersebut dapat diperoleh hasil adanya peningkatan pada setiap siklusnya. Dari pengamatan kegiatan belajar siswa sudah banyak perubahan yang dapat didapatkan, siswa yang semula banyak yang terlihat pasif, sering melamun dan sering membuat gaduh sudah mengalami perubahan, hal ini dapat dilihat dari semangat mereka minggu per minggu yang semakin terlihat antusias dan bersemangat saast mengikuti pelajarn dikelas. Selain itu dapat dilihat dari hasil tes evaluasi tiap siklus. Hasil nilai ulangan harian 11 anak tidak memenuhi kriteria ketuntasan, siklus 1 meningkat hanya 8 anak yang belum tuntas dan siklus 2 hanya 4 siswa yang belum tuntas dengan presentasi ketuntasan 86,21%.    Saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah Kepala SMPN 02 Gandusari dan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan hendaknya bisa menerapkan media dongeng dalam proses belajar-mengajar yang disesuaikan dengan Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar dengan materi yang akan dibahas sehingga dapat mengantarkan pada kualitas pembelajaran yang sesuai agar dapat menarik siswa dalam mengikuti pembelajaran dikelas dan dengan harapan agar siswa dapat memperoleh hasil belajar yang selalu mengalami peningkatan. . Kepada siswa di SMPN 02Gandusari diharapkan tidak ramai ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar dan bisa lebih aktif serta kritis dalam bertanya, berdiskusi dalam kelompoknya dengan atau tanpa menerapkan media dongeng. .

Hubungan komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan (turnover intention) pada karyawan hotel di Kota Malang / Ayu Eristya Permata Sari

 

Kata Kunci: komitmen organisasi, niat berpidah pekerjaan. Sumber daya manusia merupakan unsur utama dalam dunia industri dan organisasi yang akan memiliki peranan penting dalam organisasi. Simamora (dalam Witasari, 2009) menjelaskan bahwa SDM dapat mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi. SDM dapat dijadikan sebagai fokus utama dalam pengembangan perusahaan, karena terkadang persoalan-persoalan dalam perusahaan muncul berkaitan dengan SDM itu sendiri. Persoalan yang seringkali terjadi adalah keinginan untuk berpindah meninggalkan pekerjaannya. Menurut Mobley (1986) keinginan untuk pindah atau beganti pekerjaan (turnover intention) merupakan sinyal awal terjadinya berganti pekerjaan pada karyawan di dalam organisasi. Turnover tersebut banyak terjadi disebabkan kurangnya komitmen pada diri karyawan terhadap organisasi. Blau and Boal (dalam Robbins, 2012) menjelaskan bahwa komitmen organisasi merupakan suatu keadaan di mana seorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional yang bertujuan untuk mengetahui komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan pada karyawan hotel di kota Malang dan hubungan antara komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan pada 40 sampel penelitian yang ditentukan dengan teknik purposif sampling. Alat pengumpulan data menggunakan skala Komitmen Organisasi dan skala Niat Berpindah Pekerjaan. Teknik analisis penelitian menggunakan analisis deskriptif yang menghasilkan rata-rata karyawan hotel di kota Malang memiliki komitmen organisasi pada kategori tinggi, sedangkan untuk niat berpindah pekerjaan pada kategori tinggi pula. Untuk teknik korelasi menggunakan rumus Product Moment dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antar komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan pada karyawan hotel di kota Malang (rxy = -0,676 dan p = 0,000 < 0,05), artinya semakin tinggi komitmen organisasi karyawan maka semakin rendah niat berpindah pekerjaan yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada: (1) perusahaan: sebaiknya lebih memperhatikan karier karyawannya dan melibatkan seluruh karyawan dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, dan (2) penelitian selanjutnya: memperdalam aspek komitmen organisasi sebagi faktor yang mempengaruhi keputusan seorang karyawan melakukan tindakan berpindah pekerjaan.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV semester II mata pelajaran matematika SDN Sentul I Kota Blitar / Rochmad Priyagung Wicaksono

 

Kata Kunci: model pembelajaran STAD, dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Sentul I Kota Blitar didapatkan informasi bahwa pembelajaran di kelas hanya bersifat tradisional saja. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru dimana guru menyampaikan materi pelajaran. Hasil pengamatanpun juga menunjukkan bahwa siswa hanya sesekali diberikan kesempatan oleh guru untuk mengerjakan soal di depan kelas, selebihnya siswa hanya mendengarkan atau melihat serta mencatat apa yang perlu di catat. Saat pembelajaran kelompokpun belum nampak berjalan maksimal, karena hanya beberapa siswa saja yang aktif. Diperlukan pembenahan pada proses pembelajaran tersebut, salah satunya dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD), dalam metode ini siswa dituntut untuk saling bekerjasama dalam tim yang heterogen, dan bersaing dengan kelompok lain untuk menjadi kelompok terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Tipe STAD. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dengan 2 siklus, Pembelajaran setiap siklus masing-masing terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi, wawancara, dan tes tertulis. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SDN Sentul I Kota Blitar dengan jumlah siswa 22 siswa, pada materi pokok pecahan. Hasil refleksi siklus I menemukan kekurangan saat proses pembelajaran, yaitu saat kegiatan kelompok masih ada beberapa siswa yang bermain dan berbicara sendiri, kontribusi antar anggota kelompok masih kurang, siswa masih malu dan kurang aktif saat menyampaikan pendapat, sehingga hanya beberapa saja yang aktif. Dan si akhir pelajaran guru tidak memberikan tugas atau PR untuk siswa. Sehingga dilakukan perbaikan pada siklus II, yaitu pengorganisasian kelas lebih di tingkatkan lagi oleh guru mata pelajaran dengan selalu mendampingi dan mengarahkan siswa saat berdiskusi kelompok, memberikan hadiah bagi kelompok terbaik, serta memberikan PR di akhir pelajaran. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan hasil belajar siswa yang meningkat, yaitu pada siklus I rata-rata pre test 64,5 dan post test 73,4 meningkat menjadi 66,8 pada pre test, dan post test menunnjukkan angka 77,2 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Student Team Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Sentul I Kota Blitar. Dari hasil penelitian ini guru disarankan dapat menerapkan model pembelajaran model STAD di kelas untuk upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

Upaya meningkatkan kemampuan fisik motorik melalui permainan sirkuit kantong ajaib pada kelompok A di TK Pertiwi Bendosari Kabupaten Blitar / Ratna Dwi Puspitasari

 

Kata Kunci : permainan, ptk, sirkuit kantong ajaib, fisik motorik Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelompok A TK Pertiwi Bendosari Kabupaten Blitar, dan ditemukan masalah dalam kemampuan fisik motorik kasar yaitu anak belum dapat melakukan gerakan keseimbangan, kelenturan dan kecepatan. Hasil evaluasi menunjukkan dari 10 siswa 4 anak (40%) belum sempurna dalam hal berjalan melewati papan titian, 3 anak (30%) anak belum sempurna dalam hal keseimbangan dan 3 anak (30%) kelenturan anak masih belum sempurna. Tujuan penelitian ini adalah; (1) mendeskripsikan penerapan permainan sirkuit kantong ajaib anak kelompok A TK Pertiwi Bendosari Kab. Blitar, dan; (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bidang fisik motorik anak melalui Permainan Sirkuit Kantong Ajaib kelompok A TK. Pertiwi Bendosari Kabupaten Blitar. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dengan 2 pertemuan dan siklus 2 dengan 1 pertemuan. Subyek penelitian adalah anak kelompok A dengan jumlah 10 anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi,dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik data kualitatif yang meliputi cara penyajian data dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permainan Sirkuit Kantong Ajaib pada anak kelompok A dapat berjalan baik sesuai dengan rencana, hal ini dibuktikan dengan hasil observasi aktivitas fisik motorik anak yang sudah terlaksana sesuai dengan langkah-langkah dalam penerapan permainan Sirkuit Kantong Ajaib dan hasil penilaian proses aktivitas fisik motorik pertama pada pra siklus persentase ketuntasan anak mencapai 20%, pada siklus I pertemuan pertama ketuntasan anak mencapai 30% dan saat petemuan kedua mencapai 70%. Siklus II ketuntasan anak mencapai100%, maka peneliti mengakhiri penelitian. Disimpulkan bahwa permainan Sirkuit Kantong Ajaib dapat dijadikan pembelajaran untuk meningkatkan fisik motorik anak Taman Kanak-Kanak. Terbukti dengan tuntasnya anak dalam mlakukan pemainan ini. Bagi guru permainan ini juga dapat menjadi referensi bila ada permasalahan yang sama.  

Implementasi pembelajaran homeschooling (studi kasus di komunitas homeschooling Sekolah Dolan Malang) / Ipung Wahyu Setyawan

 

Kata Kunci :Homeschooling, sekolah dolan Pendidikan adalah belajar memahami karakter, belajar memahami bahasa manusia, warna, bentuk benda dan lain sebagainya. Pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi yang terjadi antara murid dan guru. Berdasar program pembelajaran di homeschooling pembelajaran yang berlangsung di Sekolah Dolan Malang adalah home visit, community visit dan e learning. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan pembelajaran, yang mencangkup profil homeschooling Sekolah Dolan Malang, pendaftaran di Sekolah Dolan Malang, proses belajar homeschooling, peran tutor, respon orangtua dalam pembelajaran homeschooling, kelebihan dan kekurangan belajar homeschooling. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengumpulan data menggunakan tehnik observasi, wawancara, dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi, display data, verifikasi data. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi. Dari hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Sekolah Dolan Malang masuk dalam kategori homeschooling komunitas yaitu, home visit, community visit,dan e learning. Proses pendaftaran secara adminintrasi di Sekolah Dolan Malang tergolong praktis karena dapat menggunakan media online (bagi yang berada di luar kota). Pembelajaran di Sekolah Dolan Malang meliputi (a) proses awal perencanaan pembelajaran, (b) proses pembelajaran (c) kurikululum yang digunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, (d) evaluasi belajar berupa soal-soal ada yang dikirim melalui e-mail jejaring social ada yang langsung di sekolah dolan, (e) tugas orangtua terhadap proses belajar si anak, (f) hasil belajar (raport) juga ada yang dikrimkan oleh ketua sekolah dolan via e-mail dalam bentuk format PDF. Berdasarkan kesimpulan yang didapat, beberapa saran yang dapat dikemukakan sebagai implikasi dari hasil penelitian.Kepala Sekolah Dolan Malang disarankan secara terus-menerus melakukan perbaikan dalam penyelenggaraan pembelajaran homeschooling. Pendidik Sekolah Dolan Malang disarankan penambahan jam pembelajaran di sekolah dolan agar pemahaman peserta didik lebih optimal dan tetap konsisten pada pemenuhan kebutuhan siswa sehingga setiap kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di sekolah dolan. . Hasil penelitian homeschooling di Sekolah Dolan Malang ini kedepan untuk para akademisi dan peneliti lanjutan dapat digunakan sebagai tambahan teori dan bahan kajian untuk pengembangan Keilmuan di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, khususnya dalam penerapan implementasi pembelajaran homeschooling.

Hubungan antara kematangan emosi dan kontrol diri dengan stress kerja pada guru SLB di Kota Malang / Feby Asrurun Risna Amiril

 

Kata kunci: kematangan emosi, kontrol diri, stres kerja Kematangan emosi dan kontrol diri yang dimiliki para guru tentu berbeda satu sama lain. Kematangan emosi dan kontrol diri yang berbeda ini akan berdampak pada stres kerja yang dirasakan oleh masing-masing guru. Guru yang memiliki emosi yang matang akan mampu mengontrol dirinya ketika menemui stimulus dan tekanan-tekanan yang muncul dalam pekerjaannya. Sehingga, tekanan tersebut dapat dikontrol agar tidak menimbulkan stres pada dirinya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran (1) kematangan emosi pada guru SLB, (2) kontrol diri pada guru SLB, (3) stres kerja pada guru SLB, (4) hubungan antara kematangan emosi dengan stres kerja pada guru SLB di Kota Malang, (5) hubungan antara kontrol diri dengan stres kerja pada guru SLB di Kota Malang, (6) hubungan antara kematangan emosi dan kontrol diri dengan stres kerja pada guru SLB di Kota Malang. Penelitian ini dilakukan pada guru Sekolah Luar Biasa di Kota Malang dengan jumlah sampel 40 orang, dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel kuota (quota sample). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala kematangan emosi dengan reliabilitas alpha cronbach 0,965 skala kontrol diri dengan reliabilitas alpha cronbach 0,926 dan skala stres kerja dengan reliabilitas alpha cronbach 0,946. Validitas instrumen menggunakan analisis product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat kematangan emosi berada pada kategori tinggi yaitu 13 orang (32,5%) (2) kontrol diri secara umum termasuk dalam kategori rendah yaitu 18 orang (45%) (3) guru SLB di Kota Malang mendapatkan stres kerja tingkat rendah yaitu 55% (4) ada hubungan yang negatif antara kematangan emosi dan stres kerja pada guru SLB (5) ada hubungan yang negatif antara kontrol diri dan stres kerja pada guru SLB (6) ada hubungan yang simultan antara kematangan emosi dan kontrol diri dengan stres dengan nilai R Square sebesar 0,517. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) guru SLB untuk mempertahankan kematangan emosi yang dimilikinya dan meningkatkan kontrol diri yang tinggi agar terhindar dari kemungkinan stres kerja (2) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kontrol diri yang tinggi yang dimiliki para guru tersebut (3) peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah subjek penelitian dan variabel lain untuk mengukur stres kerja.

Perancangan buku cerita bergambar tentang putri Niken Pandansari "Putri Jawi" untuk anak-anak / Novi Kurniawati

 

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari Zn(NO3)2 dengan ligan piridina / Aditya Parrama Putri

 

Kata-kata kunci: sintesis, karakterisasi, senyawa kompleks, Zn(NO3)2, piridina Zn(N3)2 dan piridina (py) membentuk senyawa kompleks dengan stoikiometri 1 : 2, yaitu [Zn(N3)2(py)2], dengan struktur tetrahedral. Zn(BH4)2 dengan ligan yang sama membentuk kompleks dengan stoikiometri 1 : 1, yaitu [Zn(BH4)2py], dengan struktur piramida alas bujursangkar terdistorsi. Senyawa kompleks dari Zn(NO3)2 dengan ligan piridina belum pernah dilaporkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis senyawa kompleks tersebut dan mengkarakterisasi strukturnya berdasarkan hasil analisis EDX dan harga energi bebasnya. Senyawa kompleks disintesis dengan melarutkan Zn(NO3)2 dalam piridina.Terbentuknya senyawa kompleks adalah didasarkan atas titik leburnya. Uji daya hantar listrik digunakan untuk mengetahui apakah senyawa kompleks tersebut merupakan senyawa ionik atau senyawa molekuler. Rumus empirik beserta beberapa struktur yang mungkin terbentuk adalah didasarkan atas hasil analisis EDX. Beberapa struktur yang mungkin tersebut dihitung energi bebasnya dengan program Spartan ’10. Struktur yang dapat diterima adalah didasarkan pada harga energi bebas yang paling rendah. Pengukuran titik lebur menunjukkan bahwa reaksi antara Zn(NO3)2 dan piridina dengan stoikiometri 1 : 2 menghasilkan senyawa baru. Hasil uji daya hantar listrik menunjukkan bahwa senyawa tersebut merupakan senyawa molekuler. Hasil analisis EDX menunjukkan bahwa senyawa baru tersebut memiliki rumus empiris C10H10N4O6Zn. Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka rumus kimia yang memenuhi dari senyawa tersebut adalah [Zn(NO3)2(C5H5N)2] dengan tiga kemungkinan struktur yaitu tetrahedral, bujur sangkar, dan oktahedral. Hasil pengujian menggunakan Spartan ’10 menunjukkan bahwa struktur tetrahedral memiliki energi bebas yang terendah. Dengan demikian senyawa baru tersebut merupakan senyawa kompleks tetrahedral dengan rumus molekul [Zn(ONO2)2(C5H5N)2]. Dalam senyawa tersebut ion nitrat berlaku sebagai ligan monodentat dan tidak membentuk sepit. Analisi lebih lanjut berdasarkan metode difraksi sinar-X kristal tunggal perlu dilakukan untuk menghasilkan struktur senyawa yang lebih tepat.

Harga diri siswa korban bullying pada anak kelas X SMK Negeri 5 Malang / Dedy Reza Sukmana

 

Kata kunci : bullying, harga diri, korban Di latar belakangi munculnya fenomena tindakan bullying yang sering diberitakan dan diperkuat hasil identifikasi pada sebuah sekolah menengah kejuruan di kota Malang, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui harga diri siswa korban tindakan bullying di SMK Negeri 5 Malang. Pada lokasi penelitian ditemukan indikasi tindakan bullying yang dialami oleh beberapa siswa. Dari indikasi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah tema penelitian yang bertujuan untuk mengungkap harga diri siswa korban tindakan bullying. Tujuan penelitian untuk mengetahui tentang karakteristik siswa yang mengalami bullying, jenis bullying yang sering dialami oleh korban bullying, faktor-faktor yang membuat siswa korban bullying sulit untuk melepaskan diri dari bullying, dan mengetahui pengaruh bullying yang sering dialami siswa terhadap harga diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Korban tindakan bullying adalah siswa kelas X pada SMK Negeri 5 Malang yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara pada tiga subjek dan informan yang terkait dan memiliki informasi relevan sesuai dengan tema penelitian. Dari data yang terkumpul diperoleh gambaran mengenai karakteristik siswa yang mengalami bullying. Secara umum karakteristik korban tindakan bullying adalah tipikal individu yang pendiam, kurang percaya diri pencemas dan tertutup. Jenis bullying yang sering dialami oleh korban bullying yaitu tindakan bullying secara langsung dan tindakan bullying secara tidak langsung. Tindakan bullying secara langsung berbentuk verbal sedangkan tindakan bullying secara tidak langsung yaitu perlakuan tidak menyenangkan berupa ekspresi wajah kurang bersahabat. Faktor-faktor yang membuat siswa korban bullying sulit untuk melepaskan diri dari bullying secara umum adalah adanya perbedaan kekuatan dan kurangnya ketrampilan dalam bersosialisasi. Dari data tersebut ditemukan pengaruh bullying yang sering dialami siswa terhadap harga diri, yaitu korban tidak mendapatkan penghargaan yang layak dimana penghargaan merupakan komponen dalam harga diri. Siswa yang mengalami tindakan bullying akan merasakan banyak emosi negatif (sedih, tidak nyaman, terancam) ketika di bully, namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga. Saran penelitian ini khususnya ditujukan untuk konselor, sekolah dan peneliti selanjutnya. Penelitian ini dapat digunakan oleh konselor sebagai informasi awal untuk menindak lanjuti pemberian treatment pada korban tindakan bullying. Selain itu dapat pula dilakukan penelusuran terhadap korban lain yang memiliki masalah serupa untuk diberikan layanan konseling. Bagi Sekolah, agar melakukan identifikasi secara mendalam untuk mengupayakan langkah minimalisasi bahkan pencegahan. Langkah ini dapat ditempuh dengan mencermati perilaku siswa dan mengidentifikasi motif munculnya perilaku tersebut dengan upaya mensinergikan semua komponen sekolah untuk terlibat aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini masih terbatas pada korban tindakan bullying saja. Ada komponen lain yaitu pelaku dan penonton yang dapat dieksplorasi guna melengkapi hasil penelitan ini. Disarankan untuk dapat meneliti mengenai latar belakang perilaku pada pelaku tindakan bullying. Untuk memperkaya wawasan mengenai ke-khas-an tindakan ini sebagai upaya untuk mengurangi efek negatif fenomena tindakan bullying.

Peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa pada standar kompetensi melaksanakan proses administrasi transaksi melalui cooperative learning tipe rounddrobbin brainstorming (studi pada siswa kelas X Tata Niaga di SMK PGRI Turen) / Novita Rifaul Kirom

 

Kata Kunci: keaktifan, hasil belajar siswa, cooperative learning, roundrobbin brainstorming Salah satu indikator yang kurang dalam pembelajaran di kelas adalah hasil belajar siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimum (KKM) dan siswa yang kurang percaya diri sehingga kurang aktif. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran masih bersifat teacher oriented. Solusinya adalah pemilihan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa sehingga hasil belajar siswa juga meningkat. Salah satu model pembelajaran yang efisien dan menarik adalah cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming. Karena model pembelajaran ini menuntut siswa untuk dapat berpendapat dalam kelompok diskusi. Rumusan masalah penelitian: (1) Bagaimanakah penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming? (2) Apakah dengan penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming dapat meningkatkan keaktifan siswa? (3) Apakah dengan penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming dapat meningkatkan hasil belajar siswa? (4) Adakah hambatan-hambatan dalam penerapan model cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming? Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui dua siklus dimana pada setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Tata Niaga SMK PGRI Turen yang berjumlah 29 siswa. Data penelitian ini meliputi nilai siswa sebelum dilakukannya penelitian, soal kuis (post test), lembar observasi aktivitas siswa, lembar interview, angket siswa, dan catatan lapangan selama penelitian. Sedangkan sumber data yang diperoleh dari siswa, guru pengajar standar kompetensi melaksanakan proses administrasi transaksi dan teman sejawat yang berttugas sebagai observer. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan interview, observasi, catatan lapangan, dokumentasi, angket, dan presensi siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming dilaksanakan dalam dua siklus dan terlaksana dengan baik sesuai dengan sintaknya (2) penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming pada standar kompetensi melaksanakan proses administrasi transaksi dapat meningkakan keaktifan, terbukti dengan presentase rata-rata keaktifan siswa pada siklus I 76,5%. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 4% yaitu 80,5% . (3) Presentase ketuntasan hasil belajar siswa aspek kognitif sebelum dilaksanakannya tindakan adalah 14%, setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I ketuntasan dalam tugas kelompok mencapai 79% dan hasil post test mencapai 55%. Sedangkan pada siklus II hasil belajar siswa aspek kognitif mengalami kenaikan yaitu dalam tugas kelompok mencapai 96,6% dan hasil dari post test mencapai 86%. peningkatan presentase tugas kelompok mencapai 17,6% dan hasil post test mencapai 31%. Presentase nilai afektif siswa pada siklus I mencapai 81%, pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 6% yaitu 87%. (4) hambatan dan solusi dalam penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming adalah sebagai berikut: penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming membutuhkan waktu yang lama sehingga solusi yang diberikan yaitu diskusi kelompok dilakukan pada pertemuan ke-2 dari setiap siklus, media pembelajaran kurang mendukung penerapan cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming maka solusi peneliti adalah membuatkan modul untuk dipegang oleh seluruh siswa, sebelum diterapkannya cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming siswa kurang percaya diri untuk mengutarakan pendapatnya tetapi dalam penerapan ini siswa mulai percaya diri karena guru mulai memancing kepercayaan diri siswa dengan memberi pertanyaan, memberi penguatan berupa penambahan nilai atau skor. Paparan hasil data diatas, Peneliti menyarankan: (1) Bagi Guru Standar Kompetensi Melaksanakan Proses Administrasi Transaksi, cooperative learning tipe roundrobbin brainstorming dapat dijadikan alternatif selama proses pembelajaran, (2) Bagi siswa, sebaiknya siswa lebih berkonsentrasi dalam pembelajaran, (3) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi dengan penelitian yang selaras.

Survey teknik wiraga dan wirama siswa kelas X pada mata pelajaran seni budaya materi tari beskalan di SMAN 1 Malang / Luluk Atil Mabruroh

 

Kata Kunci: Teknik Wiraga dan Wirama Tari Beskalan, Siswa Kelas X SMAN 1 Malang. Pendidikan Seni di sekolah khususnya mata pelajaran Seni Budaya bidang seni tari dengan Standart Kompetensi mengekspresikan diri melalui seni tari, mewajibkan pemahaman dan penerapan teknik tari secara wiraga dan wirama. Siswa-siswi yang belajar menari dituntut untuk dapat mempraktekkan teknik wiraga seperti hafalan pada urutan gerak tari dan sikap gerak tari, juga teknik secara wirama yaitu kepekaan secara musikal antara gerak dengan tempo dan musik iringan tari. Dengan latar belakang di atas peneliti ingin mengetahui penerapan teknik wiraga dan wirama pada sekolah yang memiliki integritas favorit. Dimana mayoritas siswa-siswinya memiliki kemampuan intelektual baik khususnya siswa kelas X di SMAN 1 Malang. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui teknik wiraga dan teknik wirama siswa kelas X pada mata pelajaran seni budaya materi tari Beskalan di SMAN 1 Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan simpulan dan kredibilitas. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, teknik wiraga dihadirkan sebagai cara untuk mengkondisikan tubuh agar mencapai tahap keterlatihan gerak, tatanan ketepatan tempo dengan gerak secara musikal yang biasa disebut dengan teknik wirama. (1) Wiraga merupakan segala sesuatu yang erat hubungannya dengan gerak tari seperti a) Hafalan urutan gerak tari Beskalan dari solah I sampai labas I; b) Sikap gerak tari, pengkondisian bentuk kepala, tangan, tubuh dan kaki. (2) Wirama adalah musik pengiring tari yang merupakan unsur pendukung tari baik dari segi tempo gerak, ritme dan suasana tari. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan kepada mahasiswa PSTM melakukan tindak lanjut penelitian pada setiap sekolah khususnya pada pembelajaran Seni Tari, yang memfokuskan permasalahan penelitian pada teknik wiraga dan teknik wirama siswa terhadap pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari. Sehingga peserta didik yang dihasilkan ditiap sekolah tidak hanya peserta didik yang berkwalitas secara kognitifnya namun juga berkwalitas dalam psikomotornya.

Pelaksanaan nilai-nilai gotong royong dalam perayaan kupatan di masyarakat Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek / Linda Yuliati

 

Yuliati, Linda. 2013. Pelaksanaan Nilai-Nilai Gotong Royong Dalam Perayaan Kupatan Di Masyarakat Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaran Progam Studi PPKN, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof.Dr. SukoWiyono, S.H, M.H. Pembimbing: (2) Drs. Suparlan Al Hakim, M. Si Kata Kunci : Kupatan dan Gotong Royong Pelaksanan gotong royong sangat diperlukan bagi semua masyarakat, karena hal yang beratpun bisa menjadi ringan bila dikerjakan bersama-sama. Hal inilah yang selalu dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek, setiap menjelang hari raya kupatan, bahkan keramaiannya melebihi hari raya Idul Fitri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keunikan perayaan ketupat masyarakat Durenan dan nilai gotong royong pada masyarakat Durenan menjelang perayaan ketupat. Kemudian untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam perayaan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Informasi berasal dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda-pemudi dan masyarakat setempat di Kecamatan Durenan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mencatat hasil dilapangan, mengumpulkan data, mencatat dan menelaah seluruh hasil data dan peneliti berfikir untuk menjabarkan makna atau tulisan. Untuk menuju keabsahan temuan data dilakukan ketentuan observasi yang mendalam, dan menggunakan bahan reverensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kupatan di Kecamatan Durenan ini sudah menjadi tradisi masyarakat Durenan dari dulu sampai sekarang bahkan kupatan ini sudah menjadi cirri khas masyarakat Durenan, nilai gotong royongpun tampak pada pelaksanaan perayaan ketupat pada kegiatan (1) bersih desa (2) Ziarah ke makam Mbah Mesir (3) istighosah (4) kegiatan inti yaitu arak-arakan banjari, ketupat. Ini terbukti dengan kerjasama, terlihat kebersamaan masyarkat yang saling mendukung. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pemerintah Trenggalek menginventaris kupatan sebagai warisan dan nilai budaya yang harus dilestarikan serta disalurkan buat generasi muda. Kemudian buat masyarakat Durenan kupatan ini harus dilestarikan namun jangan melupakan antara yang sakral dan yang profan(bersifat keduniawian).

Pengembangan buku penunjang kriya makrame sebagai bahan pengayaan seni budaya di SMP / Ella Agustina

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Kriya Makrame, Buku Penunjang Kriya Makrame merupakan salah satu materi praktik yang terdapat pada mata pelajaran Seni Budaya ditingkat SMP kelas VIII. Kriya makrame dikenal sebagai seni kriya tekstil, dapat diaplikasikan dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Proses pembuatan karya makrame mempunyai beragam teknik. Dalam setiap teknik perlunya pembahasan yang mendetail, runtut dan jelas.Oleh karena itu, guru tidak mungkin menyampaiakan materi tersebut dengan menggunakan metode ceramah. Jika hal itu dilakukan, akan mengakibatkan terjadi pengembangan pengetahuan yang verbalistik dimana siswa mampu menyebutkan pengetahuan yang diperolehnya kembali tanpa memahami maknanya. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan media berbasis buku penunjang. Model pengembangan yang digunakan yaitu menurutmodifikasi tahapan Borg dan Gall (1983), yaitu tahapan pertama mengidentifikasi kebutuhan, membuat draf produk awal, konsultasi draf produk awal, uji coba ahli, revisi dan tahapan terakhir ujicoba kelompok kecil. Validasi media meliputi 2 ahli media dan 2 ahli materi. Uji coba produk menggunakan ujikelompok kecil. Pengumpulan data menggunakan instrumenwawancara dan instrumen angket. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Dari proses pengembangan ini menghasilkan perangkat atau media berupa buku penunjang makrame.Produk telah melalui tahap validasi oleh ahli media dan ahli materi serta telah diuji cobakan kepada siswa kelas VIII SMP Negeri 3Malang. Berdasarkan hasil validasi ahli media, ahli materi dan uji kelompok kecil diperoleh data 67,6% untuk ahli media, 79,9% untuk ahli materi, 96,2% untuk uji kelompok kecil. Revisi yang dilakukan setelah uji validasi yaitu meliputi revisi sampul, layout pada isi buku, ukuran gambar dan tata letak gambar. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, media pembalajaran ini mempunyai kelebihan yaitu materi yang disajikan dalam buku ini mengacu pada kurikulum KTSP 2006, pada materi ditampilkanfoto dan keterangan foto, dilengkapi dengan penugasan soal individu dan kelompok serta uji kompetensi pemahaman dan praktik. Adapun kelemahan dari buku ini adalah bahasa kurang komunikatif dan kurangnya ilustrasi pada buku. Menurut hasil penelitian ini dapat disarankan, agar para pengembang yang tertarik pada pengembangan ini hendaknya menindak lanjuti pada proses uji coba dengan subyek sampel uji coba yang lebih luas serta merevisi buku ini agar buku ini lebih berkualitas.

Manajemen pembelajaran homeschooling (studi kasus di Sekolah Dolan Malang) / Mayasari

 

Kata kunci: homeschooling, manajemen pembelajaran Homeschooling adalah pendidikan alternatif berbasis rumah yang dilaksanakan dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Proses pendidikan anak hampir sepenuhnya dipegang oleh orang tua dengan memilih model atau kurikulum yang sesuai dengan gaya anak belajar. Homeschooling merupakan pendidikan berbasis rumah, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Satu-satunya lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan homeschooling di Malang yaitu Sekolah Dolan yang berada di bawah naungan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) dan mendapat binaan dari Kemendikbud bidang Pendidikan Luar Sekolah. Berdasarkan informasi tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyelenggaraan manajemen pembelajaran homeschooling berorientasi layanan prima dengan fokus dan tujuan penelitian memaparkan tentang (1) perencanaan pembelajaran homeschooling di Sekolah Dolan Malang, (2) pelaksanaan pembelajaran homeschooling di Sekolah Dolan Malang, (3) evaluasi hasil pembelajaran siswa homeschooling di Sekolah Dolan Malang, dan (4) hambatan serta solusi dalam penyelenggaraan pembelajaran homeschooling. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif eksplanatoris, yaitu suatu metode penelitian yang tidak menguji hipotesis melainkan memaparkan dan mengolah data. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi kasus karena penelitian yang akan dilakukan ini menekankan pada pengungkapan fakta secara rinci terhadap subjek penelitian, dalam hal ini manajemen pembelajaran homeschooling yang dilaksanakan sesuai dengan peristiwa yang terjadi di lapangan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan, maka instrumen yang di pakai untuk mengumpulkan data yaitu peneliti sendiri, dengan subjek penelitian yaitu Kepala Sekolah Dolan Malang, tutor, orang tua, dan siswa di Sekolah Dolan Malang yang telah mengimplementasikan model pembelajaran homeschooling. Sumber data dalam penelitian ini yaitu Kepala Sekolah Dolan Malang, 4 orang personil tutor, orang tua, dan siswa di Sekolah Dolan Malang yang telah mengimplementasikan model pembelajaran homeschooling. Sumber data nonmanusia berupa dokumen atau arsip yang terkait dengan fokus penelitian antara lain: perencanaan program pembelajaran homeschooling, laporan evaluasi pembelajaran, data mengenai sejarah pendirian Sekolah Dolan, dan gambar-gambar proses pembelajaran homeschooling. Data yang diperoleh dianalisis selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Saat pengumpulan data, peneliti melakukan pengerjaan dan pengorganisasian data, dan setelah pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu mengklarifikasi data, menyaring data, dan menarik kesimpulan. Penelitian tentang manajemen pembelajaran homeschooling di Sekolah Dolan Malang menghasilkan temuan-temuan penelitian yang dibahas dengan cara triangulasi sumber, triangulasi metode, dan pengecekan anggota. Kesimpulan penelitian tentang manajamen pembelajaran homeschooling yang di lakukan di Sekolah Dolan Malang meliputi (1) perencanaan pembelajaran di Sekolah Dolan yaitu kurikulum yang digunakan di Sekolah Dolan mengacu pada Kemendikbud, karena ujian penyetaraan yang dilakukan oleh pemerintah mengacu pada kurikulum yang berlaku; (2) pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Dolan yaitu proses pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan media yang ada, siswa di Sekolah Dolan diberi kesempatan untuk bereksplorasi secara langsung berkaitan dengan sesuatu yang mereka pelajari; (3) evaluasi hasil pembelajaran siswa homeschooling di Sekolah Dolan yaitu keberhasilan siswa selama mengikuti pembelajaran, untuk kelulusan ditentukan dari nilai ujian kesetaraan. Sedangkan untuk mereka tidak menuntut ijazah, tidak ada kata tidak lulus tapi tuntas atau tidak tuntas; dan (4) hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran homeschooling di Sekolah Dolan Malang yaitu konsistensi anak dan orang tua dalam mengikuti program pembelajaran yang telah disepakati. Berdasarkan kesimpulan yang didapat, beberapa saran yang dapat dikemukakan sebagai implikasi dari hasil penelitian yaitu: (1) Bagi Kepala dan tutor di Sekolah Dolan Malang untuk terus menerus melakukan perbaikan dalam penyelenggaraan pembelajaran homeschooling dan tetap konsisten pada pemenuhan kebutuhan siswa sebagai bentuk layanan prima sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di Sekolah Dolan, (2) Bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dapat memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin tersedianya pendidikan yang bermutu bagi komunitas homeschooling tanpa diskriminasi dengan jalur pendidikan lainnya, agar lulusan homeschooling dapat diakui keberadaannya, (3) Bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan agar menginformasikan hasil penelitian ini kepada mahasiswa lain, sehingga kajian mengenai manajemen pembelajaran homeschooling di Sekolah Dolan Malang dapat menginspirasi dan juga dapat menambah bahan materi tentang manajemen pembelajaran yang lebih dalam khususnya dalam manajemen pembelajaran homeschooling, dan (4) Bagi Peneliti Lain dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian yang sejenis dengan proses penyelenggaraan pembelajaran homeschooling.

Pengembangan e-book tutorial digital painting berbasis paint tool SAI 1.1.0 untuk mata pelajaran seni budaya di SMA / Lukmanul Hakim

 

Hakim, Lukmanul. 2013 . Pengembangan E-Book Tutorial Digital Painting Berbasis Paint Tool Sai 1.1.0 Untuk Mata Pelajaran Seni Budaya di SMA. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Drs A.A.G Arimbawa, M.Sn. Kata Kunci: pengembangan, e-book tutorial, digital painting, paint tool sai 1.1.0. Pembelajaran digital painting merupakan pembelajaran yang jarang dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas.Untuk itu dibutuhkan materi pembelajaran digital painting ke dalam mata pelajaran seni rupa dalam bentuk tutorial yang menarik dan mudah diikuti. Tujuan pengembagan menghasilkan e-book tutorial digital painting untuk digunakan dalam mata pelajaran melukis kurikuler maupun ekstrakurikuler di SMA. Model pengembangan yang digunakan adalah model 5-D (Pranata.) yang dimana model 5-D ialah rangkaian proses kegiatan penelitian dan pengembangan yang terdiri atas 5 tahapan yaitu (1) define (2) data (3) design (4) develop (5) dan disseminate. Validasi media meliputi 2 ah li media dan 2 ahli materi. Uji coba produk meliputi uji coba kelompok besar atau lapangan. Hasil pengembangan e-book tutorial “Digital Painting With Paint Tool Sai 1.1.0” sebagai media penunjang pembelajaran seni budaya memenuhi keriteria valid dengan hasil uji coba ahli media mencapai 70%, ahli materi 67,7% dan uji kelompok besar mencapai 80,4%. Media ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu (1) merupakan alternatif media yang berisi tutorial digital painting untuk mata pelajaran seni budaya, (2) terdapat fasilitas seperti musik, animasi dan sebagainya, (3) materi berupa langkah-langkah sehingga mudah untuk dimegerti, (4) format media “exe” sehingga dapat dibuka tanpa softwaretambahan. Sedangkan kelemahan dari media ini adalah (1) lebih mudah dipahami oleh pengguan tingkat lanjut, (2) masih membutuhkan fasilitas seperti komputer dan laptop Berdasarkan hasil pengebangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa e-book tutorial “Digital Painting With Paint Tool Sai 1.1.0” untuk mata pelajaran seni budaya, layak digunakan. pengembang menyarankan agar pembelajaran digital painting with paint tool sai 1.1.0 ini ditunjang dengan fasilitas yang mendukung.

Pengembangan media pembelajaran interaktif perakitan robot line follower untuk siswa MAN 3 Malang / Riza Wahyu Ardhi

 

Kata kunci: media pembelajaran, simulasi, line follower. Robot line follower merupakan salah satu robot sederhana yang banyak dipelajari oleh siswa sekolah menengah atas atau sederajat. Salah satu hal penting yang dipelajari adalah perakitan robot line follower tersebut. Dalam perakitan robot line follower tersebut diperlukan keterampilan dan pengalaman untuk menghasilkan hasil yang maksimal, akan tetapi apabila siswa melakukan perakitan robot line follower berulang-ulang dengan komponen-komponen penyusun robot yang sebenarnya pasti akan membutuhkan biaya yang banyak. Hal ini menjadikan pembelajaran kurang efisien pada alat dan bahan. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran alternatif berupa simulasi untuk perakitan robot line follower. Media pembelajaran yang dikembangkan pada penelitian ini adalah Simulasi Perakitan Line Follower. Tujuan yang diambil dalam penelitian ini adalah mengimplementasikan dan menguji kelayakan media pembelajaran berbentuk simulasi yang menarik, inovatif, dan sesuai dengan keadaan nyata untuk materi perakitan robot line follower pada ekstrakurikuler Robotika di MAN 3 Malang sebagai alternatif media pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan memudahkan bagi siswa. Pada penelitian ini, pengembangan media pembelajaran mengadopsi teori Sugiyono yang telah dimodifikasi dengan tahapan sebagai berikut: potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, ujicoba produk, dan revisi produk. Pengukuran kelayakan atau kualitas media pembelajaran Perakitan Robot Line Follower yang dikembangkan ini dilakukan dengan subjek penelitian antara lain: Ahli media, Ahli materi, dan Siswa anggota ekstrakurikuler robotika. Dalam hal ini, media dikatakan layak apabila penilaian dari kriteria-kriteria yang diberikan mencapai angka di atas 75,01%. Berdasarkan hasil validasi ahli media, ahli materi, dan ujicoba produk diperoleh data akhir sebesar 96,9% untuk ahli media, 83% untuk ahli materi, dan 90% untuk ujicoba produk. Hasil rata-rata yang diperoleh dari seluruh validator sebesar 89,9%. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa media pembelajaran Simulasi Perakitan Line Follwer ini sudah valid dan layak untuk digunakan.

Analisis proses produksi kerajinan kuningan Cindogo Bondowoso / Mochamad Taufiq Nurrohman

 

Nurrohman, Mochamad Taufiq. 2013. Analisis Proses Produksi Kerajinan Kuningan Cindogo Bondowoso. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra Universitas, Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn (II) Drs. Andi Harisman Kata Kunci : analisis proses produksi, kerajinan kuningan, Cindogo Bondowoso Proses produksi kerajinan kuningan ini merupakan peninggalan nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun dengan proses dari limbah kuningan yang diolah menjadi barang baru yang bernilai seni tinggi. Kerajinan kuningan dalam penciptaannya bertujuan mengangkat rasa berbudaya dan sebagai mata pencaharian serta kebutuhan fungsional sehari-hari. Kerajinan kuningan ini perlu diketahui bagaimana proses produksinya, mulai dari proses awal hingga akhir. Karena dalam proses produksi kerajinan kuningan Cindogo Bondowoso berbeda dengan pembuatan kerajinan kuningan di kota lain dan masih terbilang tradisional. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, tentang proses produksi kerajinan kuningan di Cindogo Bondowoso, mulai dari tahap proses pra produksi sampai proses finishing yang proses produksinya masih tradisional dan sedikit paparan tentang contoh produk dan desain kerajinan kuningan Cindogo Bondowoso. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara observasi, dokumentasi untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Tahap analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, proses pra produksi kerajinan kuningan yang digunakan sebagai awal mula persiapan pembuatan produk kerajinan kuningan, pra produksi kerajinan kuningan ini berawal mula dari pembuatan bentuk desain/pola yang akan dibuat dengan menggunakan lilin malam beserta bahan yang digunakan sebagai proses pra produksi kerajinan kuningan Cindogo Bondowoso. Kedua, proses produksi kerajinan kuningan Cindogo Bondowoso ini mengambil dari limbah-limbah kuningan sebagai proses pembentukan produk kerajinan kuningan yaitu yang disebut sebagai pengecoran kuningan. Ketiga, proses finishing kerajinan kuningan berawal dari pembentukan pola desain ukuran pada produk kerajinan kuningan yang telah selesai dan tinggal dilakukan proses pewarnaan sesuai dengan desain yang akan dibuat. Disarankan dari hasil penelitian ini agar pengrajin terus menggali ide-ide baru untuk menciptakan perkembangan baru dari proses produksi maupun desainnya. Penelitian ini perlu diadakan tindak lanjut lagi dalam penelitian yang serupa tetapi pada sasaran yang berbeda.

Kesalahan penggunaan bestimmter und unbestimmter artikel dalam karangan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada matakuliah aufsatz 1 / Fatia Noor Aisha

 

Kata Kunci: Kesalahan, bestimmter und unbestimmter Artikel, Aufsatz 1 Dalam bahasa Jerman kata sandang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: maskulin, feminin, dan netral. Kata sandang memegang peranan yang sangat penting sebagai penyerta sebuah kata benda. Dalam penggunaannya, kata sandang harus dideklinasikan sesuai dengan Genus, Numerus dan Kasus kata benda yang disertainya. Namun, pada praktiknya masih banyak mahasiswa yang melakukan kesalahan penggunaan bestimmter Artikel (artikel tentu) dan unbestimmter Artikel (artikel tidak tentu) pada mata kuliah Aufsatz 1. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendesripsikan bentuk-bentuk kesalahan penggunaan bestimmter und unbestimmter Artikel dalam karangan mahasiswa pada mata kuliah Aufsatz 1 dan faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah karangan dari 28 mahasiswa Angkatan 2011 Offering AA Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada mata kuliah Aufsatz 1. Adapun data penelitian ini adalah kalimat-kalimat dalam karangan mahasiswa pada matakuliah Aufsatz 1 yang memuat kesalahan penggunaan bestimmter und unbestimmter Artikel. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama, sedangkan instrumen penunjangnya adalah tabel dokumentasi dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang angkatan 2011 yang melakukan kesalahan penggunaan bestimmter und unbestimmter Artikel. Adapun bentuk-bentuk kesalahannya adalah (1) kesalahan deklinasi Artikel berdasarkan Genus, (2) kesalahan deklinasi Artikel berdasarkan Numerus, (3) kesalahan deklinasi Artikel berdasarkan Kasus, (4) kesalahan penggunaan Artikel yang tidak perlu, (5) kesalahan pemilihan Artikel, dan (6) kesalahan peletakkan Artikel dalam kalimat. Sementara itu, faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan adalah (1) mahasiswa merasa kesulitan untuk menghafal Genus kata benda, (2) mahasiswa merasa kesulitan untuk menghafal aturan pendeklinasian Artikel sesuai dengan Genus, Numerus dan Kasus, (3) mahasiswa merasa kesulitan mencari Genus dari kata benda tertentu dikarenakan keterbatasan kosakata dalam kamus yang mereka miliki, (4) mahasiswa kurang teliti saat mendeklinasikan Artikel, dan (5) mahasiswa masih belum paham perbedaan penggunaan bestimmter Artikel dan unbestimmter Artikel.

Penerapan learning cycle 5E dengan bantuan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi segitiga dan segiempat kelas VII di SMP Negeri 1 Blitar / Ayin Ria Yufita

 

Kata Kunci : Learning Cycle 5E, Alat Peraga, Hasil Belajar Berdasarkan observasi pendahuluan serta wawancara kepada guru pengajar matematika di SMP Negeri 1 Blitar diketahui bahwa dalam proses pembelajaran jarang menerapkan metode atau model pembelajaran yang bermacam-macam. Metode ekspositori atau ceramah masih menjadi pilihan utama mereka dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran matematika di dalam kelas yang mengakibatkan siswa cenderung pasif. Metode yang diterapkan di sekolah tersebut masih perlu dikembangkan lagi agar dapat bervariasi. Teknologi yang semakin canggih juga dapat mendorong kualitas pengajaran dalam pendayagunaan media pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan metode belajar yang dapat meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah strategi Learning Cycle 5E dengan bantuan alat peraga. Pendekatan konstruktivisme terdiri dari 5 fase yaitu engagement, exploration, explanation, dan evaluation. Pada fase engagement dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membangkitkan minat siswa pada pelajaran matematika, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur (exploration), memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk menyampaikan ide yang mereka miliki melalui kegiatan diskusi (explanantion), mengajak siswa menerapkan konsep dan ketrampilan dalam mengerjakan soal (elaboration), dan dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi siswa (evaluation). Penelitian ini mendeskripsikan tentang langkah-langkah pembelajaran strategi Learning Cycle 5E yang dapat meningkatkan hasil belajar kelas VII G SMP Negeri 1 Blitar pada materi segitiga dan segiempat. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang berjalan dalam 2 siklus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi : 1) hasil observasi selama proses pembelajaran yang berpedoman pada lembar observasi, 2) hasil catatan lapangan, 3) hasil tes akhir siklus. Hasil observasi menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase siswa yang lulus SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) yang ditetapkan sekolah pada siklus I yakni 71,4 % menjadi 92,8% pada siklus II. Berdasarkan penelitian tersebut, langkah-langkah penerapan strategi Learning Cycle 5E yaitu (1) engagement, guru memberi motivasi kepada siswa, (2) exploration, siswa melakukan kegiatan yang terdapat pada LKS yang akan menuntun siswa dalam menemukan rumus, (3) explanation, siswa membahas hasil diskusi di depan kelas, (4) elaboration, siswa menerapkan konsep atau rumus yang telah ditemukan dalam mengerjakan soal latihan, (5) evaluation, siswa diberikan soal kuis dalam konteks yang baru tetapi masih terkait dengan materi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

Pengembangan permainan sirkuit jagung untuk meningkatkan motorik kasar pada kelompok B di TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Kota Blitar / Reni Sulistina

 

Sulistina, Reni. 2013. Pengembangan Permainan Sirkuit Jagung Untuk Meningkatkan Motorik Kasar Pada Kelompok B Di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Kota Blitar . Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru PAUD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Pramono, S.Pd., M.Or, (II) Drs. Hadi Mustofa, M. Pd. Kata Kunci : Pengembangan permainan, sirkuit jagung, motorik kasar Penelitian ini konteksnya pada hasil pengamatan pada anak kelompok B (usia 5-6 tahun) di Tk ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Kota Blitar perkembangan motorik kasarnya kurang maksimal. Menganalisis penyebab masalahnya dikarenakan pendidik kurang memperh atikan tahapan perkembangan motorik kasar selain itu media pembelajaran yang digunakan untuk menstimulasi motorik kasar anak juga kurang maksimal dan kurang menarik. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah pengembangan permainan sirkuit jagung untuk meningkatkan motorik kasar pada anak kelompok B di Tk ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Kota Blitar. Tujuan penelitian dan pengembangan ini diharapkan mudah dilakukan oleh anak, menyenangkan anak dan tidak membahayakan dilakukan anak serta sebagai salah satu alternatif pembelajaran motorik kasar. Penelitian ini menggunakan prosedur pengembangan. Pengembangan merupakan pendekatan penelitia n untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada. Prosedur pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik 1) Penelitian dan pengumpulan data (wawancara, observasi dan dokumentasi), 2) Perencanaan, 3) Pengembangan draf produk (produk awal), 4) Uji coba lapangan awal (uji coba kelompok kecil), 5) Merivisi hasil uji coba, 6) Uji coba lapangan (uji coba kelompok besar), 7) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan. Hasil pengembangan permainan sirkuit jagung uji coba kelompok kecil adalah 100% mudah melakukan permainan, 100% anak senang melakukan permainan dan 100% anak tidak berbahaya melakukan permainan, sedangkan uji coba kelompok besar adalah 91,42% anak mudah melakukan permainan, 100% anak senang melakukan permainan dan 100% anak tidak berbahaya melakukan permainan. Hasil pengembangan permainan tersebut sudah sesuai dengan harapan peneliti hasil ketuntasan yang dicapai lebih dari 75%. Berdasarkan data hasil pengembangan permainan sirkuit jagung, dapat disimpulkan bahwa permainan sirkuit jagung mudah untuk dilakukan, menyenangkan dan tidak membahayakan anak. Hasil pengembangan ini diharapkan dapat diuji cobakan kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisakan kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana me stinya. Penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya untuk menguji tingkat keefektifan dari produk yang dikembangkan.

Pengaruh model course review hooray terhadap penguasaan kosakata siswa kelas XI Program Pilihan SMA Negeri 8 Malang / Dian Ratnasari

 

Kata Kunci: model pembelajaran, Course Review Hooray, kosakata bahasa Jerman Model pembelajaran merupakan suatu gambaran kegiatan dari awal hingga akhir proses pembelajaran yang disusun sedemikian rupa oleh guru dan memiliki ciri khas tersendiri. Ada beberapa jenis model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru dituntut untuk menggunakan model pembelajaran agar proses pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien. SMA Negeri 8 Malang adalah salah satu SMA yang menerapkan kurikulum tersebut. Namun, penggunaan model pembelajaran masih kurang variatif, sehingga hal ini mempengaruhi prestasi belajar siswa dalam bahasa Jerman. Tujuan penelitian ini antara lain: 1) menjelaskan hasil penerapan model Course Review Hooray pada pembelajaran kosakata bahasa Jerman siswa kelas XI Program Pilihan SMA Negeri 8 Malang dan 2) mengetahui pengaruh penggunaan model Course Review Hooray dalam pembelajaran bahasa Jerman terhadap penguasaan kosakata pada siswa kelas XI Program Pilihan SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan rancangan penelitian kuasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Pilihan SMA Negeri 8 Malang yang mempelajari bahasa Jerman. Sampel dari populasi tersebut adalah siswa kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 4 sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel ini menggunakan metode sampel bertujuan (purposive sampling). Selain itu, data penelitian yang telah diperoleh dari nilai tes awal (pre-test), tes akhir (post-test), serta angket selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik t-test (uji-t). Dari hasil analisis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran Course Review Hooray terhadap penguasaan kosakata pada siswa kelas XI Program Pilihan SMA Negeri 8 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran dapat meningkatkan penguasaan dan pemahaman siswa terhadap kosakata bahasa Jerman.  

Developing supplementary materials on genre-based reading for the eight graders at SMP Negeri 4 Malang / Muhammad Khoirul Anwar

 

Keywords: development, supplementary materials, genre-based reading The intended objective of this research and development is to produce supplementary materials of genre-based reading, specifically for the students in the eighth grade of SMP Negeri 4 Malang. The present study is primarily focused on the development of three types of texts, namely descriptive, recount and narrative. Based on the preliminary study carried out by the researcher, it was found out that the students do not use a particular coursebook for learning English in the classroom. In addition, the teacher also finds difficulties in providing the students with intriguing reading materials that certainly make the students become more interested to read. Accordingly, the product of this study is expected to solve the problems mentioned beforehand by providing various kinds of reading materials which suit the needs of learners. In order to feasibly accomplish the goal of this study, the researcher adapted the model of R&D proposed by Borg & Gall (1983). The originally-made model has been modified as follows: (1) needs analysis; (2) developing materials; (3) expert validation; (4) revision I; (5) try out; (6) revision II; and (7) final product. The overall steps in R&D needed approximately three months to be fully accomplished. To start with, needs analysis was meant to help the researcher identify the initial conditions in the targeted field to be further used as the underlying foundation of the product development. The duration to collect the data from needs analysis was about two weeks. Next, materials were developed based on the existing English curriculum and in line with what has been obtained from needs analysis. This particular phase of R&D was performed in one month. After that, expert validation was carried out to evaluate the product immaculately by judging and giving feedbacks about it. This phase took about a month for the expert to scrutinize the product. Then, the results of the expert validation were subsequently used as the basis to better improve the product before the try-out was conducted. In this case, the researcher needed two weeks to try out the product. The outcome of this study is in the form of supplementary reading materials consisting of three text types: descriptive, recount and narrative. The reason to select these texts is because the texts are the major monologue texts learned by the students in the eighth grade. In addition, those three texts are clearly stipulated on standards of content of Junior High School Grade VIII. Each text is presented in three separate chapters, namely Chapter 1 for descriptive texts, Chapter 2 for recount texts, and Chapter 3 for narrative texts. Then, each chapter contains reading practices, including True/False Questions, WH-Questions, Completion, Arranging Paragraphs and Multiple Choice Items. In addition, the material also includes vocabulary practice in which the students are to determine the meaning of some vocabulary items taken from the text. Besides, a discussion of a particular grammatical item is presented along with its exercise in every chapter. The product of this study has been validated by an expert and revised on the basis of the feedbacks given by the expert. After the revision was finally achieved, the product was tried out in a small scale. Following Borg & Gall’s model of R&D, the product was tried out to ten students of Class VIII-G at SMP Negeri 4 Malang. To select the students, the researcher employed a simple random sampling technique in which ten students were chosen randomly among the forty four classroom participants. In administering the try-out, the researcher distributed the materials to be read by the students at home. The students were given two weeks to complete all the reading tasks. Afterwards, the students were provided with a questionnaire in order that they give comments and suggestions about the materials. The results of the try-out showed that the students mostly like and enjoy reading the materials because they obtain lots of new information from the variety of topics presented in the materials. They also confirm that the materials can help them develop their reading skills. However, the revision of the product is also performed based on the suggestions recommended by the students during the try-out process. Therefore, the supplementary reading materials of the study are expected to deliver a positive impact towards the teaching and learning of reading. In addition, the supplementary reading materials are beneficial to encourage the students for independent learning. Nevertheless, due to the limited focus of the study, it is expected that more advanced studies are carried out, covering both monologue texts and short functional texts for different grades.

Analisis bentuk komunikasi antara atasan dan bawahan dalam rangka mewujudkan efektivitas tujuan perusahaan (studi pada UD. Semangat Pasuruan) / Aegnes Dica Priscilia

 

Kata kunci: Komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas, efektivitas tujuan Pimpinan dan karyawan sebagai sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan memiliki peranan penting untuk mencapai tujuan perusahaan. Upaya pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan akan sangat bergantung pada berperannya pimpinan. Pimpinan mempunyai peranan penting karena besarnya tanggung jawab dalam memimpin dan menjamin kelancaran tugas para karyawan. Pimpinan harus mampu memberikan pembinaan, dorongan dan arahan untuk meningkatkan kemampuan kerja karyawan. Karyawan merupakan aset penting bagi perusahaan. Adanya keterkaitan atasan dan bawahan tersebut diharapkan dapat melahirkan suatu situasi yang harmonis sehingga menimbulkan kerjasama yang baik dalam mencapai tujuan perusahaan. Pemasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk komunikasi antara atasan dan bawahan dalam rangka mewujudkan efektivitas tujuan UD. Semangat Pasuruan dan kendala-kendala bentuk komunikasi antara atasan dan bawahan pada UD. Semangat Pasuruan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan jenis penelitian eksploratif. Untuk memberikan gambaran tentang bentuk komunikasi antara pimpinan dan atasan yang ada pada UD. Semangat Pasuruan, maka dilakukan pendekatan secara kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Peneliti berusaha untuk menggali informasi atau pendapat karyawan UD. Semangat Pasuruan tentang bentuk komunikasi dengan menggunakan wawancara terstruktur. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), tes, catatan lapangan, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian antara lain 1) bentuk komunikasi di UD Semangat Pasuruan adalah bersifat Downward Communication artinya; komunikasi dari atasan kepada bawahan; kedua, bersifat Unward Communication artinya dari bawahan kepada atasan. 1. Bentuk komunikasi dari atas ke bawah adalah mengacu kepada penerapan beberapa fungsi; (a) Fungsi instruksi dari pimpinan kepada bawahan, instruksi merupakan bentuk komunikasi yang sering dilakukan dalam konteks komunikasi dari atasan kepada bawahan dan oleh atasan hanya disampaikan secara lisan. (b) Fungsi briefing (pengarahan) yang berkenaan dengan aturan-aturan perusahaan secara lisan dan hanya terfokus pada tingkat kehadiran karyawan. (c) Pemberian informasi yang berkenaan dengan visi dan misi perusahaan, informasi tentang visi dan misi belum dapat dilakukan oleh atasan, bahkan untuk tujuan pun hanya tujuan jangka pendek saja yang dapat disampaikan kepada karyawan. (d) Evaluasi dan penilaian terhadap kinerja karyawan, secara umum evaluasi dan penilaian terhadap kinerja karyawan belum dilakukan oleh atasan. (e) Fungsi penanaman ideology, pada umumnya atasan memberikan informasi tentang ideology untuk memperkuat loyalitas, moral dan motivasi meskipun dilakukan secara lisan dan berupa nasehat. 2. Bentuk komunikasi dari bawah ke atas adalah mengacu kepada penerapan beberapa fungsi: (a) Laporan prestasi kerja, mereka dapat melakukan pelaporan dengan baik karena tugas-tugas dan tanggung jawab mereka sudah dijelaskan dalam job description dalam struktur organisasi secara jelas, dan merupakan petunjuk dan pedoman bagi setiap bagian untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. (b) Masukan atau saran kepada atasan, karyawan tidak pernah menyampaikan masukan atau saran kepada atasan, dengan berbagai alasan seperti rasa takut pada pimpinan dan karena tidak ada waktu yang tepat untuk bertemu dengan atasan, atau ada sekali saja menyampaikan saran karena sangat terpaksa menghadapi komplain konsumen. (c) Karyawan tidak pernah menyampaikan opini atau pendapat yang bersifat positif atau yang negatif kepada atasan. 3. Kendala-kendala komunikasi pada UD. Semangat Pasuruan adalah mengenai tekanan waktu, penyaringan, keahlian mendengarkan yang kurang baik, serta kerangka acuan yang berbeda. Berdasarkan hasil di atas, maka saran-sarannya adalah: pimpinan atau atasan hendaknya menginformasikan semua kebijakan perusahaan secara tertulis, dan disampaikan secara rutin seperti meeting untuk seluruh karyawan; menetapkan visi dan misi serta tujuan (baik jangka pendek maupun jangka panjang) secara tertulis dan diinformasikan kepada karyawan secara rutin, agar karyawan memahaminya; motivasi hendaknya terus diberikan kepada karyawan dengan memberikan pujian secara langsung kepada karyawan yang berprestasi, atau memberikan motivasi berupa finansial atau uang atas prestasi kerja yang telah dicapai karyawan; atasan memberikan waktu khusus bagi semua karyawan untuk berkomunikasi baik secara individu maupun secara berkelompok; menciptakan komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan, misalnya berusaha untuk menyapa karyawan terlebih dahulu pada saat bertemu, dan menanyakan kabar karyawan maupun keluarganya; meningkatkan intensitas pertemuan antara atasan dan bawahan sehingga komunikasi yang terjalin dapat menjadi lebih baik. Hal ini dapat dilakukan dengan suasana formal maupun informal. Suasana informal dapat dilakukan pada pertemuan khusus seperti saat meeting, sedangkan waktu informal dapat dilakukan pada saat istirahat, atau waktu luang lain yang dapat digunakan untuk berbincang-bincang dengan bawahan

Penerapan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model kooperatif TGT untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi gaya dan pesawat sederhana kelas V MI Mambaul Ulum Malang / Farida Indriani

 

Kata kunci: inkuiri terbimbing, kooperatif TGT, aktivitas belajar, hasil belajar Berdasarkan hasil studi pendahuluan, hasil belajar siswa kelas V MI Mambaul Ulum Malang pada mata pelajaran IPA belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Ulangan pertama rata-rata 69,14 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 38,29% dan ulangan harian kedua rata-rata 67,23 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 25,53%. Aktivitas belajar siswa juga masih rendah. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model kooperatif TGT. Strategi inkuiri terbimbing dengan model kooperatif TGT adalah proses pembelajaran yang diawali dengan presentasi guru, belajar kelompok, presentasi kelompok, permainan/turnamen, dan pemberian penghargaan. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat kali pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2x35 menit dan 3x35 menit. Subyek yang diteliti adalah siswa kelas V MI Mambaul Ulum Malang yang berjumlah 21 siswa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Februari 2013. Aktivitas belajar siswa diketahui dari lembar observasi aktivitas belajar siswa yang terdiri dari 9 indikator. Hasil belajar siswa diketahui dari tes hasil belajar kognitif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa. Dari siklus I ke siklus II, persentase aktivitas belajar meningkat sebesar 15,7%, yakni dari 58% dengan kategori cukup menjadi 74,3% dengan kategori baik. Sedangkan siklus II ke siklus III, persentase aktivitas belajar meningkat sebesar 8,3%, yakni dari 74,3% dengan kategori baik menjadi 82,6% dengan kategori sangat baik. Hasil belajar siswa juga meningkat tajam yang dilihat dari persentase ketuntasan klasikal, yakni 66,6% pada siklus I, 76,1% pada siklus II, dan 90,4% pada siklus III. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dipadu model kooperatif TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V MI Mambaul Ulum Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, disampaikan saran-saran yaitu: (1) pembelajaran inkuiri terbimbing dipadu dengan kooperatif TGT dapat menjadi alternatif pilihan, karena dapat meningkatkan aktivitas siswa dan akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (2) dalam pelaksanaan strategi inkuiri terbimbing dengan model kooperatif TGT, terdapat beberapa kendala yang harus diperhatikan oleh guru di antaranya waktu yang diperlukan selama pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu membuat rancangan pembelajaran secara matang dan mempertimbangkan alokasi waktu sehingga pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan rencana, (3) penerapan strategi inkuiri terbimbing dengan kooperatif TGT dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa sehingga diharapkan guru IPA melaksanakan penelitian lebih lanjut untuk mengukur hasil belajar afektif dan psikomorik, dan (4) materi pelajaran IPA yang dibahas adalah materi gaya magnet pada siklus I , materi gaya gravitasi dan gaya gesek pada siklus II dan materi pesawat sederhana pada siklus III, sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut pada pokok bahasan yang lainnya.

Pengembangan buku ajar pendidikan jasmani bagi siswa kelas VII semester genap di SMPN 22 Malang / Irianto Yosa Perkasa

 

Kata Kunci: Pengembangan, Buku Ajar dan Buku Ajar Pendidikan Jasmani Pembelajaran pendidikan, jasmani dan kesehatan di SMPN 22 Malang kurang maksimal dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan oleh, kurangnya tenaga pendidik, sarana prasarana yang kurang memenuhi kebutuhan pembelajaran dan referensi buku yang digunakan dalam proses pembelajaran hanya terpaku pada satu penerbit saja. Dari analisis kebutuhan diperoleh hasil, 62,5% siswa menyatakan pernah mengetahui adanya bahan ajar berupa buku ajar pendidikan jasmani pada kelas VII semester 2 di sekolah, 30,9% siswa menyatakan sering memperoleh sumber belajar dalam bentuk bahan ajar penjas kelas VII semester genap, 53,6% siswa menyatakan guru jarang mengajar menggunakan buku ajar penjas, 33,9% siswa menyatakan guru perlu menulis buku ajar penjas, 42,9% siswa memerlukan buku ajar pendidikan jasmani sebagai referensi, 73,2% siswa menyatakan satu penerbit jumlah buku bacaan pendidikan jasmani, 59,5% siswa menyatakan dengan adanya buku ajar memudahkan dalam proses belajar, 57,1% siswa menyatakan setuju jika dalam belajar penjas diberikan sumber belajar dengan menggunakan bahan ajar, 54,8% siswa menyatakan jika dalam kegiatan belajar pembelajaran pendidikan jasmani memiliki sumber belajar berupa buku ajar pendidikan jasmani yang tepat dan sesuai dengan sarana dan prasarana di SMPN 22 Malang, 45,2% siswa menyatakan sangat efektif dengan adanya soal-soal latihan didalam buku ajar menunjang dalam belajar penjas dan 83,3% siswa menyatakan sangat bermanfaat dari pengerjaan soal-soal latihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar pendidikan jasmani kelas VII semester genap yang disesuaikan dengan sarana prasarana di sekolah. Penelitian yang dilaksanakan di SMPN 22 Malang ini termasuk jenis penelitian dan pengembangan (research and development). Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development Borg and Gall. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif berupa persentase, yang digunakan untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Berdasarkan uji coba tahap I (kelompok kecil) dengan jumlah 10 siswa, diperoleh persentase dengan rata-rata 59,33%. Dari uji coba tahap II (kelompok besar) dengan jumlah 40 siswa, diperoleh persentase dengan rata-rata 77,80%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, buku ajar pendidikan jasmani kelas VII semester genap ini, memenuhi syarat kelayakan untuk pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan kelas VII semester genap di SMPN 22 Malang. Disarankan dalam penggunaan sebaiknya dilaksanakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada produk pengembangan tersebut. Dengan jumlah subyek yang lebih besar dan waktu yang digunakan sesuai dengan program latihan dalam kegiatan ekstrakurikuler bolabasket di sekolah. Diperlukan sosialisasi pada sekolah-sekolah SMP lainnya sehingga mendapatkan tingkat keefektifan dan efisiensi produk yang diharapkan.

Pengembangan model-model permainan untuk pembelajaran lempar lembing gaya langkah silang (cross step) sebagai latihan pemanasan pada siswa kelas VIII D di SMP Negeri 5 Jombang / Dicke Marita Anggraeni

 

Kata kunci: Pengembangan, model-model permainan, lempar lembing, gaya langkah silang (cross step). Lempar lembing merupakan salah satu olahraga perorangan yang termasuk nomor lempar dalam atletik. Lempar lembing mempunyai 2 gaya yaitu gaya jingkat dan gaya langkah silang (cross step). Jenis olahraga ini sangat berbahaya sehingga penuh perhatian untuk keamanan peraturannya, maka dari itu melalui pola permainan pemanasan yang dikemas dalam permainan-permainan diharapkan akan memberikan solusi yang sesuai dalam pengembangan metode pembelajaran. SMP Negeri 5 Jombang hanya mempunyai satu lapangan basket, maka dari itu guru jarang memberikan pembelajaran lempar lembing karena lapangan tidak memadai. Oleh karena itu, model permainan pemanasan menggunakan peralatan yang mudah dibuat dan digunakan sangat dibutuhkan oleh siswa. Hasil analisis kebutuhan awal dari guru Penjasorkes dan siswa kelas VIII D SMP Negeri 5 Jombang adalah mereka membutuhkan model-model permainan untuk pembelajaran lempar lembing gaya langkah silang (cross step) yang bervariasi. Sehingga peneliti melakukan penelitian dan pengembangan model-model permainan pemanasan untuk pembelajaran lempar lembing gaya langkah silang (cross step). Tujuan penelitian adalah mengembangkan model-model permainan untuk pembelajaran lempar lembing gaya langkah silang (cross step) sebagai latihan pemanasan bagi siswa kelas VIII D di SMP Negeri 5 Jombang. Prosedur pengembangan mengacu pada model pengembangan Borg and Gall dengan memodifikasi dari 10 langkah menjadi 8 langkah, yaitu observasi dan pengumpulan data, mengembangkan produk, evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil, revisi produk, uji coba kelompok besar, revisi produk akhir dan menghasilkan produk akhir. Tempat penelitian di SMP Negeri 5 Jombang, subjek uji coba terdiri (1) Tinjauan ahli dengan 2 pembimbing sebagai justifikator dalam aspek pembelajaran Penjas, atletik, dan permainan, (2) Uji coba kelompok kecil, (3) Uji coba kelompok besar. Hasil evaluasi dan persentase dari 2 pembimbing sebagai justifikator pada aspek pembelajaran Penjas menyatakan 79,5% produk pengembangan baik sehingga dapat digunakan. Pada aspek atletik dinyatakan 80% produk pengembangan baik sekali sehingga dapat digunakan. Sedangkan pada aspek permainan dinyatakan 80,71% produk pengembangan baik sekali sehingga dapat digunakan. Untuk uji coba kelompok kecil mendapatkan persentase 77,25% sehingga produk dinyatakan baik dan dapat digunakan, sedangkan persentase pada uji coba kelompok besar terdapat penilaian sebesar 76,91% sehingga produk juga dinyatakan baik dan dapat digunakan.

Implementing spelling bee game through three phase technique to improve the seventh graders' spelling ability / Rahayu Sekarini

 

Key words: spelling bee, writing, spelling’s aspect Based on the result of preliminary study, it was found that the VII-B students’ writing ability in the aspect of spelling at SMPN 13 Malang was unsatisfactory. Most of the students were not aware of the use of correct spelling in their writing. As a result, the students often made mistakes on their spelling when the teacher gave writing assignment, whereas the misspelled words can irk their writing. Thus, the researcher proposed Spelling Bee game as an alternative game to solve the problems in their spelling. The research problem of this study is how the Spelling Bee game be used to improve the seventh graders’ spelling ability at SMPN 13 Malang. The limitation of the study is focused on the implementation of Spelling Bee game in improving the students’ spelling ability. In this study, the research design was a Classroom Action Research which consisted of two cycles, each of which consisted of three meetings. Each meeting in each cycle consisted of pre-activity, main-activity, and post-activity. The preliminary study was done to identify the students’ problem before conducting the first cycle. The second cycle needed to be done because the result of the students’ spelling in first cycle had not reached the criteria of success since the number of students who used the correct spelling below 75% students. The second cycle was done by doing an improvement on the activity. Each cycle of this study consisted of four steps namely: planning the action, acting on the plan, observing the action, and reflecting on the observation. The subject of the study was the 39 students of VII-B of SMPN 13 Malang in the first semester of 2012/2013 academic year. The instrument used to collect data were observation checklist, field notes, questionnaire, scoring rubrics, interview guide and the students’ writing. The data from the observation, field note, questionnaire and interview were analyzed and the results were reported descriptively. The data gained from scoring rubrics are presented in the form of tables and description. The Spelling Bee game was played individually such as The Hangman game and in group such as Jeopardy game and scrambled words game by using the three phase technique. The games were played in the pre-activity and in the post-activity. The research findings showed that the implementation of Spelling Bee game through the three phase technique effectively improved the students’ spelling ability. In cycle 1, there was 54% of students use the correct spelling on their writing. Before implementing the second cycle, there were some revisions such as set the details rules of the game in terms of the time and replaced the individual game that was the Hangman game with group game that was Scrambled Words game. Thus, in cycle 2, there was significant improvement. The result of students’ writing in cycle 2 showed that 78% of students used the correct spelling on their writing. Besides, it could be evidenced from the students’ positive response to the questionnaire. Based on the result of the questionnaire, there were 56% of students were very interested toward Spelling Bee game and there were 0% of the students who were not interested toward Spelling Bee game. Students found that Spelling Bee game could enhance their spelling ability and enjoyment of the teaching and learning process. Furthermore, it increased their motivation and awareness toward the use of correct spelling in writing. They also learnt new vocabulary through Spelling Bee game. Thus, it can be concluded that the researcher achieved all the criteria of success. In conclusion, the implementation of Spelling Bee game can be used to improve the students’ spelling ability of the VII-B students at SMPN 13 Malang. Therefore, it is suggested to the English teachers to implement the Spelling Bee game in teaching and learning process. The further researchers are also suggested to conduct similar studies by using Spelling Bee game in other skills, such as speaking, listening, and reading.

Implementasi analisis regresi faktor dalam menentukan pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 20 Malang / Ermi Andayani

 

Kata kunci : motivasi belajar, hasil belajar, analisis regresi faktor Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah motivasi. Motivasi belajar adalah dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan suatu kegiatan belajar demi memperoleh ilmu pengetahuan. Motivasi belajar dapat diukur berdasarkan aspek motivasi belajar, meliputi minat, ketekunan, kemandirian, dan kompetisi. Analisis statistik untuk menggambarkan hal di atas adalah analisis regresi faktor. Analisis regresi faktor merupakan suatu analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar Matematika. Regresi faktor merupakan kombinasi antara teknik analisis regresi dengan teknik analisis faktor. Teknik ini digunakan untuk mengatasi masalah multikolinearitas yang terjadi karena antar variabel bebas. Dalam skripsi ini, dideskripsikan langkah-langkah penerapan analisis regresi komponen utama, yaitu (1) Uji KMO dan Barlett’s Test of Sphericity, (2) memfaktorkan variabel yang lulus uji KMO dan Barlett’s Test of Sphericity, (3) melakukan rotasi faktor dengan metode equimax, (4) menentukan skor faktor, (5) menentukan jumlah faktor yang digunakan dalam model dengan pendekatan varian, yaitu nilai komulatif persentase keragaman harus ≥ 75%, (6) meregresikan faktor terpilih dengan variabel Y, (7) uji asumsi regresi (kebebasan sisaan, homogenitas sisaan, normalitas residual), (8) Uji parameter regresi dengan Uji F dan Uji T. Hasil dari penelitian ini adalah (1) besarnya pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar Matematika sebesar 29%, (2) model matematika yang menggambarkan hubungan antara aspek motivasi belajar yang berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 20 Malang, yaitu: Y = 81,3 + 1.01505 X1 + 0,90189 X2 + 0,77126 X3 + 0,36371 X4

Perkembangan perguruan Tamansiswa Blitar (1950-1979) / Winda Septiana

 

Kata Kunci: Perkembangan, Tamansiswa, Blitar Perguruan Tamansiswa merupakan lembaga pendidikan pertama yang ber-sifat nasionalis di Indonesia. Pada era kemerdekaan, yaitu pada tahun 1950 Tamansiswa berdiri di Blitar. Terdapat perbedaan antara Tamansiswa Blitar dengan Tamansiswa Yogjakarta yaitu di Perguruan Tamansiswa Blitar tidak menerapkan sistem asrama seperti yang terdapat di Perguruan Tamansiswa Yogjakarta. Pada kurun waktu tahun 1950-1979 Tamansiswa Blitar telah mengalami berbagai hambatan yang mempengaruhi perkembangannya. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai perkembangan Tamansiswa Blitar tahun 1950-1979. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah yang akan dikaji yaitu (1) Bagaimana latar belakang berdirinya Perguruan Tamansiswa di Blitar, (2) Bagaimana perkembangan Perguruan Tamansiswa di Blitar pada tahun 1950-1979. Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Heuristik yaitu dengan mengumpulkan sumber tertulis (arsip, majalah) dan sumber lisan (wawancara). Kritik sumber terdiri dari kritik ekstern untuk menilai keautentikan sumber yang penulis lakukan dengan melihat latar belakang narasumber dan kritik intern untuk menilai kebenaran isi sumber yang penulis lakukan dengan membandingkan fakta-fakta dari data hasil wawancara yang berbeda. Interpretasi terdiri dari analisis yang penulis lakukan dengan menguraikan fakta yang telah diperoleh dari hasil wawancara dan sintesis yang penulis lakukan dengan menyatukan data yang telah terkumpul dari hasil wawancara yang nantinya akan menghasilkan sebuah fakta. Historiografi penulis lakukan dengan menyusun hasil interpretasi data yang didapat menjadi sebuah cerita sejarah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut, (1) Latar belakang berdirinya Tamansiswa di Blitar adalah masyarakat Blitar menginginkan adanya pendidikan bagi rakyat yang tidak lagi memperhatikan diskriminasi golongan. Tamansiswa dirasa cocok untuk didirikan di Blitar karena Tamansiswa merupakan lembaga pendidikan yang bersifat nasionalis, siapa saja bisa mengenyam pendidikan di Tamansiswa Blitar (2) Perkembangan Tamansiswa Blitar dalam kurun waktu 1950-1979 dipengaruhi oleh adanya peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965 dan Operasi Trisula di Blitar Selatan pada tahun 1968. Kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di Tamansiswa Blitar menjadi berkurang akibat peristiwa tersebut. Tamansiswa Blitar tidak patah semangat tetap mempertahankan eksistensinya walaupun jumlah muridnya sedikit, hal ini dibuktikan dengan dibukannya tingkat pendidikan Taman Madya tahun 1979 di Tamansiswa Blitar.

Lembaga mitra pendukung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tambo Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang / Afif Alfianto

 

Kata kunci: Lembaga Mitra, Pendukung, Pusat Kegiatan belajar Masyarakat. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan lembaga dari, oleh, dan masyarkat. Dengan demikian, peran masyarakat sangat penting dalam mengembangkan PKBM. Namun permasalahan yang dihadapi pada umumnya adalah: (1) Banyaknya PKBM yang on ketika ada program, sedangkan off ketika tidak ada program, (2) Ketergantungan PKBM pada dana hibah dari pemerintah, (3) Rendahnya kemampuan dalam menjalin kemitraan dengan lembaga pemerintah, swasta dan pihak donatur lainnya. Dalam kaitan ini, PKBM Tambo kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang merupakan salah satu PKBM yang mampu dalam menjalin mitra denga baik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lembaga mitra mana saja yang telah bekerjasama dengan PKBM Tambo dan bentuk dukungan seperti apa yang diberikan lembaga mitra terhadap PKBM tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif dan rancangan studi kasus. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Ada 12 lembaga mitra yang bekerjasama dengan PKBM Tambo mulai dari perintisan beridirinya PKBM Tambo sampai sekarang, (2) Setiap lembaga mitra yang bekerjasama dengan PKBM Tambo memberikan dukungan berupa, pemberian bantuan dana, kerjasama penyelenggaraan program, kerjasama pendampingan dan pembinaan lapang, bantuan konsultan, dan pemberian pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan agar (1) Pihak penyelenggara PKBM mempertahankan keberlanjutan kemitraannya serta mengembangkan kerjasama dengan lembaga mitra sehingga dapat meningkatkan kualitas dalam mengelola penyelenggaraan program-program PLS, (2) Lembaga mitra yang terkait dalam menyelenggarakan program-program PLS tidak hanya memberikan pendidikan saja, melainkan program lifeskill, pemberian pelatihan, dan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Studi tentang lukisan pelepah pisang karya Supadji Sahar di Kota Mojokerto / Totok Subiyanto

 

Kata Kunci: lukisan, pelepah pisang, Supadji Sahar , Mojokerto Dalam perkembangan seni lukis banyak material yang memungkinkan untuk diwujudkan sebagai medium rupa sesuai kreativitas dan keterampilan seni-man, demikian halnya dengan karya Supadji Sahar. Supadji Sahar merupakan seniman kreatif yang memanfaatkan pelepah pisang sebagai bahan untuk me-wujudkan ide dalam bentuk lukisan. Karya Supadji mempunyai keunikan, karena mengangkat realita lingkungan sekitar untuk mengungkap suatu keindahan alam, dan perwujudannya timbul seperti relief dan mempunyai warna dan tekstur alami dari bahan pelepah, serat dan bonggol pisang. Untuk itu perlu diungkap lebih lanjut mengenai latar belakang dan tujuan penciptaan, karakteristik, proses pen-ciptaan dan makna yang terkandung pada lukisan pelepah pisang karya Supadji Sahar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan latar belakang dan tujuan penciptaan, karakteristik, proses penciptaan dan makna lukisan pelepah pisang Supadji Sahar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data berupa kata-kata dan tindakan dalam proses berkarya lukis, serta sumber tertulis dari Supadji Sahar. Pengumpulan data di-lakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi, paparan dan penarikan kesimpulan. Kemudian di-lakukan trianggulasi sumber data untuk menjaga keabsahan data. Hasil analisis data tersebut diperoleh latar belakang penciptaan karya Supadji Sahar dipengaruhi oleh bakat, lingkungan, kebudayaan, pengalaman ber-karya seni dan material lukis. Dalam berkarya Supadji Sahar mempunyai tujuan mencari kepuasan batin dan ketenangan jiwa. Karakteristik lukisan Supadji menggambarkan perwujudan objek pemandangan alam. Lukisannya banyak me-nampilkan unsur garis kaligrafi, bentuk seperti relief dengan objek non geometri. Teknik perwujudan lukisan termasuk dalam corak naturalis dengan menggunakan teknik tempel. Warna yang digunakan cenderung terbatas, yaitu berwarna coklat hanya perbedaan gelap terang saja atau value dan mempunyai tekstur nyata yang alami dari pelepah, serat dan bonggol. Proses penciptaan diawali penemuan ide, persiapan alat dan bahan, pembuatan bidang, penempelan, pengeringan, dan finishing. Lukisan Supadji mengandung nilai tentang hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam. Manusia tidak boleh mudah putus asa dalam menghadapi masalah, selalu bersyukur dan senantiasa hidup sederhana. Serta kita harus mencintai dan melestarikan kesenian Wayang kulit yang merupakan kebudayaan bangsa Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan Supadji selalu tetap eksis berkarya dan menghasilkan tema-tema lukisan yang lebih bervariasi lagi. Kepada peneliti selanjutnya digunakan untuk acuan dan perbandingan dan bisa dikem-bangkan lagi.

Pengaruh latihan teratur dan tidak teratur terhadap neutrofil pada tikus putih jenis wistar / Moh. Sultoni Malik

 

Kata Kunci: latihan teratur, kesehatan, sistem imun, neutrofil. Latihan tidak hanya berdampak positif, tetapi dapat berdampak negatif bagi tubuh, namun latihan yang dilakukan dengan baik, benar, teratur dan terukur berdampak positif bagi tubuh, yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan. Selama ini kualitas kesehatan hanya dilihat dari konsep performa fisik atau kinerja fisik saja. Performa fisik yang bagus belum tentu dari aspek kesehatan juga bagus, atas dasar itu maka tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap pengaruh latihan yang dilakukan secara teratur dan tidak teratur terhadap kesehatan dengan konsep imunologi, sebagai indikator neutrofil. Penelitian ini dengan rancangan Random Control Group Post Test-Only Design dengan 3 kelompok perlakuan yang terdiri dari kelompok latihan teratur, latihan tidak teratur dan kelompok kontrol. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih wistar, jenis kelamin jantan, berjumlah 15 ekor , usia 2-3bulan, yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah berupa renang selama 2 bulan, dengan beban latihan yang ditetapkan dari 5% berat badan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil sampel darah melalui ekor tikus, kemudian sampel darah dicampurkan dengan cairan EDTA dan kemudian dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pengaruh antara kelompok latihan teratur, latihan tidak teratur, dan kontrol terhadap jumlah neutrofil total tikus. Berdasarkan hasil analisis statistik penelitian, bahwa ada pengaruh antara latihan teratur atau latihan tidak teratur terhadap jumlah neutrofil, karena setelah dilakukan analisis statistik data neutrofil diperoleh taraf signifikansi P < 0,01.

Hubungan antara komunikasi dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di kelompok bermain al Fadholi Malang / Mahda Satriana

 

Kata Kunci: Komunikasi,dukungan orang tua, pendidikananak, Kelompok Bermain Komunikasi guru dan orang tua menjadi wadah bagi keduanya untuk saling bertukar informasi perkembangan anak. Komunikasi guru dan orang tua akan semakin efektif apabila mendapatkan bantuan dari orang tua. Dengan kata lain, orang tua turut berkontribusi menciptakan keselarasan dan kesinambungan proses pembelajaran yang dialami anak. Maka Penelitian ini membahas tentang Hubungan Antara Komunikasi dan Dukungan Orang Tua terhadap Pendidikan Anak di Kelompok Bermain Al Fadholi – Malang. Penelitian ini bertujuan (1) Menjelaskan pelaksanaan komunikasi guru dan orang tua di kelompok bermain Al-Fadholi Malang; (2)Mendiskripsikan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di kelompok bermain Al-Fadholi Malang; dan (3) Mengetahui hubungan komunikasi dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di kelompok bermain Al-Fadholi Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi korelasi. Subjek dalam penelitian ini adalah 20 siswa kelompok bermain Al-Fadholi Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa butir soal yang berdasarkan kepada indicator komunikasi dan dukungan orang tua, serta pendidikan anak .Untuk menjaga keabsahan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas data. Berdasarkan analisis data diperoleh simpulan terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi dan dukungan orang tua dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di kelompok bermain Al-Fadholi Malang. Dari hasil analisis diperoleh rhitung = 0,565 dan p = 0,000 (p<0,05). Ini berarti rhitung = 0,565 signifikan pada  = 0,05. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan positif yang mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang positif antara komunikasi guru dan orang tua dengan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak di rumah di kelompok bermain Al fadholi Malang. Hal ini menunjukkan apabila semakin baik komunikasi dan dukungan orang tua maka semakin baik pula pendidikan anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan pihak sekolah hendaknya mensosialisasikan pentingnya membangun komunikasi antara guru dan orang tua yang akan sangat berpengaruh pada prestasi belajar dan perkembangan siswa di awal tahun ajaran baru, bila perlu disertai dengan kesepakatan bahwa orang tua bersedia untuk bersikap kooperatifdengan guru dan pihak sekolah.

Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan multikultural di SMA Selamat Pagi Indonesia Batu / Nico Oktario Adytyas

 

Kata kunci: Pembelajaran PKn, Pendekatan Multikultural. Proses pembelajaran merupakan proses yang mendasar dalam aktivitas pendidikan di sekolah. Dari proses pembelajaran tersebut siswa memperoleh hasil belajar yang merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar yaitu mengalami proses membelajarkan siswa. Guru sebagai pendidik melakukan rekayasa pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku, dalam tindakan tersebut guru menggunakan asa pendidikan maupun teori pendidikan. Khususnya pembelajaran PKn yang dilakukan adalah mengenai kewarganegaraan bagaimana untuk membentuk warga negara Indonesia yang lebih baik, bermartabat dan mempunyai moral yang baik, toleransi antar manusia yang tinggi, dapat menghargai semua manusia dan menyangkut semua bagiamana menjadi warga negara yang lebih baik. Pendekatan Multikultural merupakan salah satu cara pembelajaran yang diterapkan pada saat ini, dimana kebutuhan dari inovasi-inovasi pembelajaran semakin dibutuhkan saat ini dengan semakin banyaknya permasalahan yang muncul, seperti halnya pendekatan multikultural muncul seiring banyaknya permasalahan-permasalahan yang muncul menyangkut Suku, Agama, Ras, dan Antar dolongan, pendekatan multikultural diharapkan dapat meminimalisirkan masalah sentimen-sentimen suku yang kerap muncul akhir-akhir ini, dan dapat mengajarkan bagaimana indahnya hidup bersama dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki arti walaupun berbeda-beda tapi tetap satu jua. Penelitian yang dilaksanakan di SMA Selamat Pagi Indonesia bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana perencanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan multikultural di SMA selamat pagi Indonesia Batu, (2) Bagaimana proses pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan multikultural di SMA selamat pagi Indonesia Batu, (3) Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran PKn dengan pendekatan ultikultural di SMA Selamat Pagi Indonesia Batu, (4) mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran PKn dengan pendekatan multikultural Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pada penelitian deskriptif ini, peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana proses pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan multikultural. Melalui jenis penelitian ini data yang telah terkumpul baik berupa , gambar, hasil wawancara atau dokumen lainnya akan disusun secara sistematis, akurat dan faktual dalam penyajian laporan tersebut untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan realita yang ada tanpa adanya rekayasa. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder, dengan tekhnik pengumpulan data menggunakan menggunakan cara wawancara, observasi dan dokumentasi,dengan cara deskriptif kualitatif untuk menganalisis data yang didapatkan. Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa guru PKn SMA Selamat Pagi Indonesia(1) Secara tidak langsung telah menerapkan pendekatan multikultural dalam proses pembelajaran PKn, dengan bukti bahwa dalam masa persiapan pembelajaran terutama dalam membuat RPP walaupun belum sepenuhnya sesuai dengan RPP yang menggunakan pendekatan multikultural, namun guru telah membuat RPP dengan semaksimal mungkin(2) Proses pembelajaran PKn di SMA Selamat Pagi Indonesia secara umum hampir sama dengan pembelajaran pada umumnya, yaitu meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, namun ada sedikit perbedaan dari kegiatan ini yaitu langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan, untuk mengakomodasi keanekaragaman murid-murid yang ada di SMA Selamat Pagi Indonesia, guru PKn disini menggunakan pendekatan multikultural, yang mengedepankan kesadaran kebersamaan dan sadar akan pelestarian kebudayaan Indonesia (3) Kendala yang ditemui dalam proses pembelajaran PKn dengan pendekatan multikultural antara lain, yaitu kurangnya minat beajar siswa, terlalu banyaknya kegiatan enterprenership dari yayasan, guru yang mengajar mata pelajaran bukan lulusan mata pelajaran yang diajarkan, suasana belajar terlalu bebas (4) Untuk menanggulangi hambatan-hambatan tersebut dengan cara : yaitu, menggunakan metode-metode pembelajaran yang lebih inovativ untuk meningkatkan minat belajar siswa, memaksimalkan hari belajar dari Senin sampai Jum’at, guru PKn yang bukan lulusan dari jurusan PKn lebih banyak mempelajari mata pelajaran PKn dari berbagai buku maupun dari orang yang telah berkompeten dalam mata pelajaran PKn. Saran yang dapat peneliti sampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) sekolah harus lebih mengutamakan kegiatan belajar mengajar ketimbang entreprenership (2) guru PKn harus lebih mempelajari lebih banyak berbagai macam metode pembelajaran yang bisa diterapkan didalam kelas (3) guru PKn harus lebih aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan perkumpulan yang diaidakan oleh guru PKn yang sudah lebih berpengalaman

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |