Pengaruh opini audit BPK terhadap tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia / Septyan Wildhatama

 

ABSTRAK Wildhatama, Septyan. 2016. Pengaruh Opini Audit BPK Terhadap Tingkat Korupsi Pemerintah Daerah di Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si., Ak, CA., (II) Dr. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak, CA. Kata Kunci: opini audit BPK , tingkat korupsi, pemerintah daerah Korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Korupsi dipahami sebagai perilaku pejabat-pejabat sektor publik - politisi, pegawai negeri yang memakai kekuasaan dan wewenang sosial untuk memperkaya diri sendiri atau bersama. Penyebab korupsi adalah tidak diterapkannya prinsip good governance dengan baik dan menyeluruh. Korupsi yang tidak segera ditangani akan menyebabkan tingginya kesenjangan sosial, kemiskinan dan rendahnya pelayanan publik. Prinsip akuntabilitas diyakini dapat mencegah terjadinya perilaku korupsi di pemerintah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan keberlakuan prinsip good governance khususnya prinsip akuntabilitas dalam mencegah tindakan korupsi. Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia pada tahun 2010. Dari populasi tersebut digunakan teknik purposive sampling untuk memilih sampel dan diperoleh sampel 39 laporan keuangan pemerintah daerah yang mempunyai indeks persepsi korupsi dari Tranparency International dan telah diaudit oleh BPK pada tahun 2010. Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opini audit tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi. Hal tersebut disebabkan opini audit BPK tidak bisa merefleksikan prinsip akuntabilitas sepenuhnya. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah menggunakan Ikhtisar Laporan Pencapaian Kinerja Keuangan Pemerintah, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), E-Government dan Laporan Hasil Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah sebagai pertimbangan untuk mengukur akuntabilitas pemerintah daerah.

Sejarah kereta api jalur Kediri-Jombang (Lintas Pare) tahun 1897-1984 / Erwi Kurniasari

 

ABSTRAK Kurniasari, Erwi. 2015.Sejarah Jalur Kereta Api Kediri-Jombang (lintas Pare) Tahun 1897-1984.Skripsi, Jurusan Sejarah,Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing:(I) Nur Hadi, Drs., M.Pd., M.Si (II) Aditya Nugroho Widiadi, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci:sejarahkereta api, transportasi,dampak sosial ekonomi Kereta api adalah sarana transportasi massal yang sangat vital pada masa kini. Sejarah panjang kereta api di Indonesia telah bermula sejak lebih dari satu abad yang lalu. Ketika pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan kebijakan Undang-undang Agraria pada tahun 1870, ternyata memiliki berbagai dampak yang besar. Mulai dari dibukanya peluang penanaman modal asing di Hindia-Belanda, dibukanya berbagai pelabuhan, masuknya pekerja dan orang Eropa di Hindia-Belanda, hingga perkembangan sarana dan prasarana transportasi modern. Salah satu sarana transportasi massal yang lahir pada masa itu adalah kereta api. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan perkembangan transportasi kereta api jalur Kediri-Jombang (lintas Pare) Tahun 1897-1984, (2) mendeskripsikan dan menganalisis dampak sosial ekonomi dari pembangunan transportasi kereta api jalur Kediri-Jombang (lintas Pare) Tahun 1897-1984. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan tahapan pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pengumpulan sumber dari penelitian dibagi menjadi dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Tahap kritik juga dilakukan dengan dua tahap yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Tahapan selanjutnya adalah melakukan intrepertasi untuk mendukung fakta dan data yang peneliti peroleh, sehingga diperoleh fakta yang kuat. Tahapan terakhir adalah historiografi yaitu melakukan penulisan sejarah berdasarkan hasil interpretasi dari sumber-sumber yang diperoleh. Berdasarkan analisis data yang peneliti lakukan diperoleh beberapa hasil. Pertama,Jalur kereta api Kediri-Jombang (lintas Pare) mulai diresmikan pada tanggal 7 Januari 1897. Namun, jalur ini hanya beroperasi selama 87 tahun, karena tahun 1984 pemerintah telah resmi menutup jalur kereta api Kediri-Jombang (lintas Pare). Hal ini dikarenakan bagi pemerintah jalur ini tidak menguntungkan dan pendapatan yang diperoleh tidak sesuai dengan anggaran yang dikeluarkan. Kedua, semenjak jalur ini ditutup ada banyak dampak yang ditimbulkan, namun ternyata dampak itu diterima baik oleh masyarakat. Dulu masyarakat yang hanya tergantung pada stasiun-stasiun kecil yang dilintasi kereta api jalur Kediri-Jombang menjadi mandiri bahkan kehidupan sosial ekonomi tambah meningkat. Masyarakat yang tinggal di daerah sekitar stasiun maupun sekitar lintasan kereta api dapat memanfaatkan lahan yang kosong untuk berjualan ataupun berwirausaha. Saran untuk masyarakat agar lebih menjaga kelestarian atau cagar budaya dari transportasi kereta api dan agar lebih mengetahui sejarah dari transportasi kereta api. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya diharapkan ada penelitian yang dikhususkan pada ranah pendidikan yang dikaitkan dengan perkereta apian, yang dikenalkan pada murid-murid sekolah.

Tanggapan konsumen terhadap atribut rumah makan mie Djogja Cabang Malang berdasarkan karakteristik konsumen / Ike Maria Fitriyani

 

ABSTRAK Fitriyani, Ike M. 2009.Tanggapan Konsumen Terhadap Rumah Makan Mie Djogja Cabang Malang Berdasarkan karakteristik Konsumen. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Industri, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Amat Nyoto, M. Pd., (II) Dra. Anti Asta Viani, M. Pd. Kata Kunci: Tanggapan, Atribut Rumah Makan, Karakteristik Konsumen. Malang cukup dikenal dengan berbagai kuliner yang mengugah selera, Mie Djogja adalah salah satunya Rumah Makan Mie Djogja didaerah Malang sangat disukai oleh konsumen karena pengolahan bahan dan bumbu yang sangat diperhatikan kualitasnya, brand nya pun berbeda dari rumah makan yang lain. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data empirik tentang bagaimana tanggapan konsumen terhadap atribut Rumah Makan Mie Djogja milik Bapak Puspo yang merupakan master franchaise berdasarkan karakteristik (usia dan pekerjaan) konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah Kuantitatif Deskriptif dengan menggunakan pendekatan Deskriptif Presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada karakteristik usia menyatakan setuju akan produk atau dapat dikatakan baik (positif), untuk pelayanan sebagian besar responden menyatakan hal yang positif (baik) melalui pernyataan yang diberikan yaitu menyatakan setuju dengan aspek pelayanan yang ada di Rumah akan Mie Djogja, sedangkan harga yang ada di Rumah Makan Mie Djogja sebagian besar responden menyatakan setuju atau menyatakan hal yang positif, dan sebagian besar responden setuju akan lokasi yang digunakan untuk tempat berdirinya Rumah Makan Mie Djogja. Untuk karakteristik pekerjaan dapat disimpulkan sebagian besar responden menyatakan hal yang positif (baik) pada atribut produk, pada pelayanan sebagian besar responden menyatakan setuju akan keseluruhan pelayanan yang diberikan, pada harga sebagian besar responden menyatakan hal yang positif (setuju), dan pada lokasi atau tempat terdapat pernyataan dari responden yang menyatakan hal yang baik (setuju).

Pengembangan multimedia pembelajaran interaktif tentang materi pesawat sederhana pada mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar Negeri Kasin Malang / Tiara Widya Sari

 

Sari, Tiara Widya. 2014. Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif pada Mata Pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar Negeri Kasin Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Dr. Sihkabuden, M.Pd, (II) Dr. Agus Wedi, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia, Multimedia Pembelajaran Interaktif, IPA, Pesawat Sederhana Multimedia pembelajaran interaktif adalah sebuah multimedia yang dalam penggunaannya dapat dikontrol dan dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih mana yang akan dipelajari terlebih dahulu. Pengembangan multimedia ini dilatarbelakangi oleh masih kurangnya penggunaan media terutama pada pembelajaran IPA kelas V pada materi tentang pesawat sederhana. Selain itu, masih kurangnya nilai hasil belajar siswa yang ditandai dengan masih ada siswa yang tidak mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yaitu sebanyak 25,93%. Tujuan dari pengembangan ini adalah (1) untuk menghasilkan produk yaitu multimedia pembelajaran interaktif yang layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran untuk membantu guru dalam menyampaikan materi di kelas. (2) menguji tingkat keefektifan multimedia pembelajaran interaktif jika diterapkan dalam pembelajaran. Pengembangan multimedia pembelajaran ini menggunakan model pengembangan William W. Lee dan Diana L. Owens (2004). Tahap dari model Lee dan Owens adalah sebagai berikut: (1) tahap analisis, (2) tahap desain, (3) tahap pengembangan, (4) tahap implementasi, dan (5) tahap evaluasi. Pada tahap analisis terdapat 2 tahap yaitu analisis kebutuhan (Need assesment) dan analisis awal dan akhir (front-end analysis). Multimedia pembelajaran ini divalidasi oleh ahli media, ahli materi dan audiens/siswa. Persentase hasil validasi ahli media sebanyak 91,67%, persentase ahli materi sebanyak 96,67%, presentasi uji coba audiens/siswa kelompok kecil sebanyak 96,67%, uji coba klasikal sebanyak 89,28%. Dari data analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif ini layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Sedangkan untuk tes hasil belajar siswa, terdapat 27 siswa atau seluruh siswa berhasil mencapai ketuntasan dalam belajar dan mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif untuk mata pelajaran IPA pokok Bahasan pesawat sederhana kelas V efektif digunakan dalam proses pembelajaran.

Implementasi algoritma bayesian network pada sistem informasi pelacakan alumni (Tracer Study) di SMAN 1 Pesanggaran Banyuwangi / Achmad Alfiyan Faqih

 

ABSTRAK Faqih, Achmad Alfiyan. 2016. Implementasi Algoritma Bayesian Network pada Sistem Informasi Pelacakan Alumni (Tracer Study) di SMAN 1 Pesanggaran Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T., (II) M. Zainal Arifin, S.Si., M.Kom. Kata Kunci:Sistem Informasi, Pelacakan Alumni, Bayesian Network, SMA Sebuah institusi pendidikan memiliki kewajiban untuk melaksanakan akreditasi secara berkala. Tidak terkecuali jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam hal ini adalah SMAN 1 Pesanggaran Banyuwangi. Salah satu kriteria penilaian akreditasi SMA/MA berdasarkan Permendiknas Nomor 52 Tahun 2008 berkaitan erat dengan alumni.Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan Sistem Informasi Pelacakan Alumni (Tracer Study) berbasis web di SMAN 1 Pesanggaran Banyuwangi.Fasilitas sistem ini mempermudah alumni untuk melakukan pengisian angket alumni secara online, sehingga bisa diakses dimanapun tanpa harus datang ke sekolah. Sistem informasi ini juga dapat dipakai sebagai tempat membagikan informasi terkait informasi lowongan pekerjaan, beasiswa,dan pengumuman antar alumni. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah modelwaterfallyang meliputi: (1) communication, (2) planning, (3) modeling, (4)construction, dan (5) deployment.Teknik pengujian yang digunakan adalahblack box, yakni untuk menguji fungsionalitas sistem dan dari segi usabilitas sistem. Serta terdapat sebuah algoritma Bayesian Network untuk menampilkan persentase alumni yang berkuliah atau tidak berdasarkan beberapa kriteria. Hasilpengujian oleh ahli rekayasa perangkat lunak memperoleh persentase sebesar 100%.Hasil uji coba kepada admin memperoleh persentase sebesar 100%,hasil uji coba terhadap20alumni SMAN 1 Pesanggaran Banyuwangi lulusan tahun 2014 memperoleh persentase sebesar 100%, dan hasil uji coba kepada Badan Konseling (BK) memperoleh persentase sebesar 100%. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi pelacakan alumni yang dikembangkan layak digunakan.

Analisis faktor-faktor penghambat dan pendukung implementasi kurikulum 2013 untuk mata pelajaran ekonomi di SMA se-kota Pasuruan / Bima Wahyu Pradanar

 

Pradanar, Bima Wahyu. 2014. Analisis Faktor-Faktor Penghambat Dan Pendukung Implementasi Kurikulum 2013 Untuk Mata Pelajaran Ekonomi Di Sma Se-Kota Pasuruan. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hari Wahyono, M.Pd (2) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata kunci: Faktor Penghambat, Faktor Pendukung, Implementasi Kurikulum 2013, Ekonomi     Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Untuk mendukung pendidikan yang bermutu maka dibutuhkan kurikulum 2013. Kurikulum ini berusaha mengakomodinir kepentingan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor penghambat dan pendukung implementasi kurikulum 2013. Ada 4 hal yang dideskripsikan implementasi kurikulum 2013, yaitu (1) presepsi guru ekonomi mengenai kurikulum 2013, (2) implementasi kurikulum 2013 pada pembelajaran ekonomi, (3) faktor penghambat implementasi kurikulum 2013, dan (4) faktor pendukung kurikulum 2013. Dengan lokasi penelitian yang dipilih adalah SMAN 1 Pasuruan, SMAN 4 Pasuruan dan SMA Muhammadiyah Pasuruan.     Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang digunakan berasal dari data primer dan sekunder. Data primer berasal dari pengamatan (observasi) dan wawancara kepada guru ekonomi. Data sekunder berasal dari dokumen perangkat pembelajaran. Analisis data dengan cara membandingkan dengan benchmark dan analis content.     Hasil penelitian menunjukan bahwa presepsi dan pemahaman guru mata pelajaran ekonomi di SMA se-Kota Pasuruan masih kurang sesuai dengan kurikulum 2013 sedangkan hal-hal yang bersifat khusus tidak bisa dijelaskan secara rinci. Sedangkan dalam proses penerapan kurikulum masih belum optimal, Hal ini dikarenakan guru merasa kurikulum ini masi baru sehingga perlu ada penyesuaian untuk dapat menerapkan secara maksimal. Guru juga masih kesulitan mendapatkan sumber informasi terkait penerapannya.     Faktor penghambat dalam implementasi kurikulum 2013 adalah ketidaksiapan kurikulum 2013 hal ini ditunjukan seperti belum adanya buku penunjang yang sesuai, sarana dan prasarana yang belum memadai di setiap sekolah, kesulitan guru mendapatkan informasi lengkap terkait penerapan 2013 dan mengubah cara belajar siswa yang memerlukan adaptasi yang sesuai dengan kurikulum ini.     Faktor pendukung implementasi kurikulum 2013 adalah cukup tersedianya sarana dan prasarana dalam mendukung proses pembelajaran serta aktifitas siswa itu sendiri juga menjadi faktor pendukung bilamana kegiatan tersebut dikemas dengan tepat sesuai dengan tujuan kurikulum dan juga memprioritaskan pembentukan karakter siswa.     Dari hasil penelitian ini guru sebaiknya bersikap pro aktif terhadap program-program yang berkaitan dengan implementasi kurikulum seperti lebih sering lagi mengikuti seminar dan pelatihan tentang kurikulum 2013. Seminar dan pelatihan ini diharapkan berisi sosialisasi dan praktik secara langsung mengenai kurikulum 2013 bukan hanya secara umum tetapi juga mencangkup hal-hal yang khusus juga. Disisi lain sosialisasi harus diikuti dengan seminar dan pelatihan guru mengenai peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis informasi dan teknologi, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang efektif.     Sebaiknya guru lebih berani untuk menerapkan metode media dan sumber belajar yang bervariasi meskipun karateristik siswa masih terbiasa dengan cara metode belajar ceramah 1 arah. Bila hal ini dilakukan terus menerus akan mengubah kebiasaan dan karateristik siswa untuk lebh siap dengan model pembelajaran pada kurikulum 2013. Sekolah sebaiknya memfasilitasi baik dari segi sarana dan prasarana maupun pengembangan sumberdaya manusia tenaga akademik agar mampu mendukung penerapan kurikulum 2013 secara optimal.

Pengembangan buku panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja menggunakan metode structured learning approach (SLA) bagi siswa SMK / Leny Latifah

 

ABSTRAK Latifah, Leny. 2016. Pengembangan Buku Panduan Pelatihan Penyesuaian Diri di Lingkungan Kerja Menggunakan Metode Structured Learning Approach (SLA) Bagi Siswa SMK. Tesis. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Adi Atmoko, M.Si., (II) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed. Kata kunci: Panduan pelatihan, penyesuaian diri di lingkungan kerja, Structured Learning Approach (SLA) Tuntutan organisasi terhadap tenaga kerja yang semakin hari semakin tinggi membuat siswa SMK harus menyesuaikan diri terhadap situasi perubahan. Tujuan penelitian pengembangan ini menghasilkan buku panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja bagi konselor dan siswa. Penelitian mengadaptasi rancangan pengembangan Borg & Gall (1983) dan Dick & Carey (1990) yang meliputi; (1) análisis kebutuhan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) perancangan dan pelaksanaan evaluasi formatif, serta (5) revisi produk akhir. Sedangkan uji efektifitas dilakukan dengan one group pretest posttest. Subjek penelitian yaitu 11 siswa SMK PGRI Pakisaji Malang kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran. Instrumen menggunakan skala penyesuaian diri di lingkungan kerja dengan validitas butir ≥ 0,3 dan reliabilitas alpha Cronbach 0,882. Hasil penelitian (1) buku panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja yang dikembangkan telah memenuhi kriteria akseptabilitas dari uji ahli, dan (2) telah efektif meningkatkan penyesuaian diri siswa di lingkungan kerja. Saran; (1) konselor perlu memberikan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja terhadap siswa sebagai layanan responsif dan preventif, dengan melakukan evaluasi serta supervisi, (2) pihak sekolah perlu mendukung program pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja dengan menyediakan fasilitas yang memadai, dan (3) peneliti selanjutnya dapat memperluas subjek penelitian terhadap siswa SMA, karena terdapat siswa SMA yang memilih bekerja setelah lulus.

Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial di sekolah dasar Negeri Sumbersari Kota Malang / oleh Rosmalah

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi audit report Lag pada perusahaan LQ45 di bursa efek Indonesia perode tahun 2012-2014 / Vyolante Librinandya Balkis

 

ABSTRAK Balkis, Vyolante Librinandya. 2016. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit Report Lag Pada Perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012-2014, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Bambang Sugeng, S.E., M.A., M.M.Ak. (II) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci : umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, profitabilitas, audit report lag, signaling theory Semakin banyaknya jumlah investor di Indonesia berimplikasi terhadap meningkatnya permintaan laporan keuangan yang relevan dan andal. Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi audit report lag, diharapkan auditor lebih efisien dan efektif dan merencanakan dan melaksanakan kegiatan audit agar laporan keuangan yang andal yang diharapkan oleh investor dapat segera dipublikasikan dengan tetap menjunjung profesionalitas mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi audit report lag pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi audit report lag dalam penelitian ini terdiri dari umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, dan profitabilitas. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan jumlah sampel sebanyak 16 perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014. Pemilihan sampel dalam penelian ini dilakukan berdasarkan pooled-data sehingga n data berjumlah 48 perusahaan. Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari laporan tahunan yang dipubliksikan oleh Bursa Efek Indonesia. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda, uji asumsi klasik, uji F, dan uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap audit report lag. Diperkirakan karena adanya peraturan BAPEPAM yang mewajibkan setiap perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk melaporkan laporan keuangan tahunannya selambat-lambatnya 90 hari setelah tanggal neraca. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar peneliti selanjutnya untuk menambah periode penelitian dan menggunakan variabel yang lebih variatif yang diduga memiliki pengaruh terhadap audit report lag.

Studi eksplorasi kualifikasi dan kompetensi guru bidang studi biologi SMP-SMA sebagai basis program peningkatan kualitas pendidikan Kabupaten Teluk Bintuni - Papua Barat / Marten Masoka

 

ABSTRAK Masoka Marten, 2016. Studi Eksplorasi Kualifikasi dan Kompetensi Guru Bidang Studi Biologi SMP-SMA Sebagai Basis Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat.Tesis.Program Studi Pendidikan Biologi, PasacasarjanaUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. Ibrohim, M.Si, (II) Dr. Hj. Sri EndahIndriwati, M.Pd. Kata Kunci :kualifikasi, kompetensi profesional, kompetenipedagogik Kualifikasi Akademik baik guru SMP/MTs maupun SMA/MA harus memiliki kualifikasi akademik minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Guru juga dituntut untuk menguasai kompetensiprofesionaldan kompetensi pedagogik. DataHuman Development Index (HDI) menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat 40% guru SLTP dan SMA 43%guru dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu menurut Uus Toharudin 2007 bahwa 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Hasil uji kompetensi guru (UKG) tahun 2012 secara online yang dilakukan terhadap guru setelah memperoleh sertifikat profesional, diperoleh nilai rata-rata nasional sebesar 45,82 untuk skala nilai 0-100 masih dibawah angka 50, atau kurang dari separuh angka ideal. Nilai tertinggi adalah 96,25 dan nilai terendah adalah 0,0. Jumlah guru terbanyak, sekitar 60-70 ribu orang berada pada interval nilai 42-43.Penelitian ini bertujuan untuk untuk(1) mendeskripsikan kualifikasi guru bidang studi IPA/biologi pada tingkat SMP/SMA di Kabupaten Teluk Bintuni. (2) mendeskripsikan kompetensi profesional dan pedagogik guru IPA/BiologiSMP/SMA. (3) mendeskripsikan permasalahan dan kebutuhan guru IPA/Biologi untuk mengembangkan komptensi guru SMP/SMA di Kabupaten Teluk Bintuni. Metode penelitian ini merupakan jenispenelitian deskriptif kualitatif.Subyek penelitian ini adalah 21 sampel guru dari 51 guru bidang studi IPA/Biologi pada satuan pendidikan SMP/SMA di Kabupaten Teluk Bintuni.Objek penelitian ini adalah kualifikasi, kompetensi profesional, dan kompetensi pedagogik serta kebutuhan guru bidang studi IPA/Biologi. Data tentang kualifikasi, kompetensi dan kebutuhan guru dianalisissecara deskriptif kualitatif, yakni dengan menjumlah, merata-rata (persentase). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualifikasi pendidikan guru IPA/biologi secara keseluruhan pada tingkat SMPdan SMA adalah 95,2% berkualifikasi strata satu (S1) dan 4,8% berkualifikasi diploma (D3)dari jumlah sampel 21 guru.Kesesuaian antara kualifikasi akademik dengan bidang studi IPA/biologi yang diajarkan pada satuan pendidikan SMP dan SMA adalah 71% sementara yang tidak sesuai (mismatched) 29%. Selanjutnya guru IPA/Biologi pada tingkat SMPdan SMA yang menguasai kompetensi profesional 44,5% dan yang menguasai kompetensi pedagogik 30,7%.

Pengembangan perangkat pembelajaran ekosistem berbasis inkuiri terbimbing dan potensi sungai wajageseng untuk meningkatkan penguasaan konsep keterampilan dan sikap ilmiah siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kopang / Dedy Hariyadi

 

ABSTRAK Hariyadi, Dedy. 2016. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Ekosistem Berbasis Inkuiri Terbimbing dan Potensi Sungai Wajageseng untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep, Keterampilan dan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Kopang. Pembimbing: (I) Dr. Ibrohim, M. Si., (II) Prof. Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D. Kata Kunci: Perangkat pembelajaran, Ekosistem, Inkuiri Terbimbing, Penguasaan Konsep, Keterampilan Ilmiah, Sikap Ilmiah. Tujuan pembelajaran IPA di SMP salah satunya adalah agar siswa menguasai konsep dan prinsip IPA serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan perencanaan pembelajaran yang tepat. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk: 1) menghasilkan perangkat pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing dan potensi sungai Wajageseng yang layak untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran IPA di kelas; 2) mengetahui efektifitas perangkat pembelajaran hasil penelitian dan pengembangan dalam meningkatkan penguasaan konsep, keterampilan dan sikap ilmiah siswa. Pengembangan perangkat dilakukan dengan menggunakan model 4DThiagarajan (1974) yang terdiri dari empat tahap pengembangan yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate). Pengembangan perangkat pada penelitian ini dilakukan sampai pada tahap develop.Instrumen yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan yaitu lembar validasi, lembar observasi, tes, dan angket. Instrumen tes terdiri dari: 1) tes penguasaan konsep dengan r11 = 0,79 untuk materi ekosistem dan r11 = 0,81 untuk materi pencemaran; 2) tes keterampilan ilmiah dengan r11 = 0,66 untuk materi ekosistem dan r11 = 0,67 untuk materi pencemaran.Angket sikap ilmiah siswa dengan nilai r11 = 0,84 untuk materi ekosistem dan r11 = 0,88 untuk materi pencemaran digunakan untuk mengukur sikap ilmiah siswa. Analisis data pada penelitian dan pengembangan ini menggunakan analisis deskriptif untuk data kelayakan perangkat hasil pengembangan, dan analisis statistik inferensial untuk menganalisis data keefektifan perangkat pembelajaran hasil pengembangan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa keseluruhan komponen perangkat pembelajaran yang dikembangkan memiliki kualifikasi sangat layak dan tidak perlu direvisi.Analisis statistik inferensial menunjukkan hasil yaitu ada perbedaan penguasaan konsep, keterampilan ilmiah, dan sikap ilmiah antara siswa yang dibelajarkan menggunakan perangkat pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing dan potensi sungai Wajageseng dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan perangkat pembelajaran konvensional.Hasil ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan penguasaan konsep, keterampilan ilmiah, dan sikap ilmiah siswa.Berdasarkan hasil penelitian ini maka perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, dan dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan perangkat pembelajaran lebih lanjut.

Pengaruh penerapan good corporate governance dan corporate social responsibility terhadap kinerja perusahaan (studi kasus pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2012-2014) / Anggraini Nur Kusuma

 

ABSTRAK Kusuma, AnggrainiNur. 2016. PengaruhPenerapan Good Corporate Governance dan Corporate Social Responsibility terhadapKinerja Perusahaan (StudiKasuspada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEIPeriode 2012-2014). Skripsi, JurusanAkuntansi, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Sulastri, S.Pd.,M.SA, (II) Dr. CiptoWardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak, CA. Kata Kunci: Good Corporate Governance, Corporate Social Responsibility, Kinerja Perusahaan Kinerjaperusahaanadalahkemampuanperusahaandalammengelolabisnisnyadandigunakansebagaiukurankeberhasilandalammencapaitujuanperusahaan. Untukmeningkatkankinerjaperusahaanadabeberapafaktor non keuangan yang harusdiperhatikan. Faktor non keuanganiniterdiridarigood corporate governancedan corporate social responsibility. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipengaruhgood corporate governance dancorporate social responsibility terhadapkinerjaperusahaan. Penelitianinimenggunakanmetodepurposive sampling sehinggahasilpenelitiantidakdapatdigeneralisasidanhanyaberlakupadaperusahaan yang menjadisampelpenelitian. Sampeldaripenelitianiniadalah 31 perusahaanpertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014 danmemenuhikriteria yang telahditentukan. Pengujianvariabeldalampenelitianinimenggunakan model analisisregresi linier bergandadengantingkatsignifikansisebesar 5%. Data yang digunakanmerupakan data sekunder yang diperolehdarilaporankeuangantahunanperusahaan yang diterbitkansecarakonsistenselamaperiode 2012-2014. Hasilujistatistikmenunjukkanbahwa (1) kepemilikaninstitusionaltidakberpengaruhterhadapkinerjaperusahaan, (2) komite audit tidakberpengaruhterhadapkinerjaperusahaan, dan (3) corporate social responsibility berpengaruhpositifsignifikanterhadapkinerjaperusahaan. Saran yang dapatdiberikan (1) bagi investor perusahaanpertambanganagar memperhatikanaspek GCG danpengungkapan CSR sebagaipertimbangandalammelakukaninvestasi, (2) bagiperusahaannantinyamampumelaksanakanprinsip GCG secarakonsistensehinggadiharapkandapatmenghasilkansuatukepercayaanpublikdanmampumeningkatkankinerjaperusahaan, (3) penelitian selanjutnya diharapkandapat menambah variabel lain yang juga menunjang implementasi good corporate governance, menggunakan periode penelitianyang lebih panjang, menambah proksi jenis rasio profitabilitasuntukmengukurkinerjaperusahaan, sertamemperluassektorperusahaan, sehinggamampumenghasilkanpenelitian yang lebihakuratdandapatmemberikankontribusipenelitianbagiseluruhperusahaan.

Pengukuran produktivitas pekerja bangunan terkait dengan biaya proyek pada pekerjaan pondasi di proyek perumahan Permata Jingga Malang / Rahmad Malik Junaidy

 

ABSTRAK Junaidy, RahmadMalik. 2016. Pengukuran produktivitas pekerja bangunan terkait dengan biaya proyek pada pekerjaan pondasi di proyek Perumahan Permata Jingga, Malang.TugasAkhir, JurusanTeknikSipil, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: Drs. Suparno S.T., M.T. Kata Kunci: produktivitas pekerja, biaya proyek, pondasi Pondasipelatsetempatdanbatu kali merupakan 2 jenispondasi yang digunakandalamkonstruksirumah 2 lantai di PerumahanPermataJingga, Kota Malang. Pekerjaan ini memerlukanproduktivitaspekerja yang baik agar memperolehkeuntunganbiayaproyek yang maksimal. Akan tetapi terdapat permasalahan yaknibelumterpublikasinyastandarnilaiproduktivitaspekerjabangunan di Indonesia, terutamadalampekerjaanpondasitersebut. Kondisi ini mengakibatkan nilaibiayaproyek yang berkorelasidengannilaiproduktivitaspekerjabelumdapatdimaksimalkanperolehankeuntungannya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas pekerja pada pekerjaan pondasi beserta rasio kelompok pekerja di lapangan,metode pelaksanaan yang digunakan dan biaya proyek yang difokuskan pada upah kerja dimana terkait dengan produktivitas pekerja. Metodepengumpulan data yang digunakandalam penelitian ini adalah metode observasi dimana untuk produktivitas pekerja dianalisa dengan menggunakan dua metode perhitungan yakni metode field rating dan parsial. Untuk mengetahui rasio kelompok pekerja dan metode pelaksanaan yang terkait prdouktivitas digunakan pula dan wawancara. Sedangkan, untuk mengetahui selisih biaya proyek maka dihitung dengan cara membandingkan biaya proyek berdasarkan standar kota Malang dan real cost yang dihasilkan berdasarkan produktivitas pekerja. Hasil yang diperoleh terkait produktivitas pekerja dalam pekerjaan pondasi pelat setempat yang meliputi tiga sub pekerjaan yakni produktivitas pekerja pada pekerjaan pembesian pondasi sebesar 10,458 kg/jam/orang, pada pekerjaan bekisting kolom pendek adalah sebesar 1,298 m2/jam/orang, dan pada pekerjaan pengecoran pondasi adalah sebesar 0,059 m3/jam/orang. Sedangkan, untuk produktivitas pekerja pada pekerjaan pasangan pondasi batu kali adalah sebesar 0,185 m3/jam/orang.Rasio kelompok pekerja untuk pekerjaan pekerjaan pembesian pondasi pelat setempat adalah 1 tukang : 2 pekerja. Untuk pekerjaan bekisting kolom pendek pondasi pelat setempat adalah 1 tukang : 1 pekerja. Untuk pekerjaan pengecoran pondasi pelat setempat adalah 2 tukang : 4 pekerja. Sedangkan, rasio kelompok pekerja pada pekerjaan pondasi batu kali adalah 3 tukang : 5 pekerja. Metode pelaksanaan yang digunakan di lapangan pada proyek yang diteliti untuk pekerjaan pondasi pelat setempat dan batu kali dilaksanakan secara borongan dengan alat bantu molen (mixer).Real cost upah kerja untuk pekerjaan pondasi pelat setempat dan batu kali lebih efisien dibandingkan dengan biaya standar kota Malang dengan persentase efisiensi sebesar 1,77% untuk pekerjaan pembesian pondasi pelat setempat, 26,50% untuk pekerjaan bekisting kolom pendek pondasi pelat setempat, 48,99% untuk pekerjaan pengecoran pondasi pelat setempat, dan 32,05% untuk pekerjaan pasangan pondasi batu kali.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif pelajaran bahasa inggris di kelas V semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 di SDLB Pertiwi Ponorogo / Tonang Baskoro

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media, CD interaktif, Bahasa Inggris Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran dan pelatihan, menempati posisi yang penting dan akan turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Dari hasil observasi yang dilakukan di SDLB Pertiwi Ponorogo pembelajaran yang di gunakan selama ini terbilang konservatif yaitu masih dengan tatap muka dan penggunaan media papan dengan metode SIBI. Dengan media pembelajaran maka pembelajaran dan pelatihan akan berjalan lebih efektif dan efisien. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru mengalami kesulitan untuk menyampaikan materi tentang mendengarkan. Selama ini siswa hanya diminta untuk membaca, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan belum tercapai dengan baik dan pembelajaran menjadi menjenuhkan bagi siswa. Untuk itu pengembang membuat alternatif pemecahan masalah melalui upaya merancang dan membuat produk sajian dalam bentuk CD interaktif pembelajaran, sedangkan materi yang tertuang dalam CD interaktif pembelajaran yang dikembangkan ini adalah materi tentang pelajaran Bahasa Inggris pada SDLB kelas V. Pengembangan dilaksanakan di SDLB Pertiwi Ponorogo. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens, serta uji hasil belajar untuk subyek penelitian. Metode pengembangan yang digunakan adalah Model Sadiman dengan prosedur pengembangan terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis yang tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi. Berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran CD Interaktif pelajaran Bahasa Inggris diuji cobakan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh hasil sebesar 93,75%, ahli materi diperoleh hasil sebesar 95%, siswa dalam uji coba perseorangan diperoleh hasil sebesar 94%, hasil uji coba lapangan dengan nilai rata-rata 80,8 sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran CD Interaktif yang dikembangkan efektif dan termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya produk CD interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media alternatif kebutuhan sumber belajar bagi SDLB Pertiwi Ponorogo. Dapat dijadikan media pembelajaran individu bagi siswa ataupun sebagai media presentasi bagi guru pengajar dalam proses pembelajaran di ruang kelas. Bagi pengembang berikutnya diharapkan dapat terus mengupdate materi yang ada dalam CD interaktif pembelajaran tersebut.

Pengembangan model latihan pukulan backhand smash untuk peserta ekstrakulikuler tenis meja di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar / Rama Candra Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Rama Candra. 2016. “Pengembangan Model Latihan Pukulan Backhand Smash untuk Peserta Ekstrakurikuler Tenis Meja Di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sapto Adi, M.Kes., (II) Dr. Supriyadi, M.Kes. Kata Kunci: latihan pukulan, backhand smash, pukulan tenis meja Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada siswa ekstrakurikuler tenis meja di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar, siswa menyatakan bahwa latihan pukulan backhand smash kurang bervariasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan siswa dengan menyebarkan angket kepada 32 siswa ekstrakurikuler tenis meja di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar, dengan hasil sebagai berikut: siswa membutuhkan variasi latihan pukulan backhand smash tenis meja, membutuhkan sebuah panduan latihan pukulan backhand smash tenis meja berupa buku. Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan model latihan pukulan backhand smash tenis meja. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat menjadi solusi dalam latihan, agar siswa tidak bosan dengan latihan pukulan backhand smash tenis meja yang nantinya bisa meningkatkan kemampuan melakukan gerakan dasar pukulan backhand smash tenis meja. Metode penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development dari Borg dan Gall tahun 1983. Sedangkan analisis yang digunakan yaitu kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil, dan kelompok besar. Hasil pengembangan model latihan pukulan backhand smash untuk peserta ekstrakurikuler tenis meja di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar diperoleh data sebagai berikut: (1) uji coba tahap I (uji coba kelompok kecil) dilakukan dengan 8 peserta ekstrakurikuler tenis meja hasilnya sebesar 83,2% (sangat baik), (2) uji coba tahap II (uji coba kelompok besar) dilakukan dengan 30 peserta ekstrakurikuler tenis meja hasilnya sebesar 84,7% (sangat baik). Hasil pengembangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model latihan pukulan backhand smash untuk peserta ekstrakurikuler tenis meja di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar menarik untuk dilakukan, mudah untuk dilakukan, jelas untuk dilakukan, serta bermanfaat untuk siswa ekstrakurikuler tenis meja di SMP Negeri 2 Sutojayan Kabupaten Blitar. Dengan model sebagai berikut: (1) produk pengembangan model latihan backhand smash tenis meja dikemas dalam bentuk buku panduan, (2) produk pengembangan model latihan backhand smash tenis meja ini memaparkan penjelasan tentang pukulan backhand smash, tahap-tahap pelaksanaan pukulan backhand smash, tujuan, materi, sarana dan prasarana, langkah-langkah kegiatan, metode, dan gambar-gambar yang menggambarkan kegiatan dan menarik minat peserta ekstrakurikuler untuk mempelajari buku panduan tersebut, (3) produk pengembangan model latihan backhand smash tenis meja ini terdiri dari beberapa model latihan yaitu latihan shadow, footwork, kombinasi shadow dan footwork, mandiri, dan multiball. Saran penelitian: (1) agar bentuk latihan backhand smash dapat digunakan oleh club atau peserta ekstrakurikuler tenis meja yang lebih banyak, (2) dalam penyajian modelnya lebih divariasi lagi guna dalam kegiatannya peserta dapat lebih termotivasi dan lebih aktif, (3) untuk lebih memperjelas dan mempermudah dalam pelaksanaanya sebaiknya membuat buku model latihan yang lebih detail agar dapat dimengerti dengan menjelaskan pelakasaan dalam tiap-tiap tahapan.

Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Kandat / Wahyuni

 

Kata Kunci: Implementasi, Kurikulum, IPS Terpadu, KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing. KTSP sebagai inovasi terbaru dalam rangka peningkatan kualitas kurikulum tidaklah mudah diterapkan secara universal dan instant, bahkan Kementrian Pendidikan Nasional menargetkan paling lambat tahun 2010/2011 semua sekolah telah melaksanakan KTSP secara menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Kandat? (2) kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam mengimplementasikan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Kandat? Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif pasif (passive participation), wawancara mendalam (in dept interview), studi dokumentasi. Menguji objektivitas dan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaksi (interactive analysis models) Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) dalam kegiatan pembelajaran guru IPS Terpadu telah menyusun program-program sesuai dengan acuan dalam KTSP, program tersebut seperti program tahunan, program semester, program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program pengembangan diri. (2) pengembangan silabus oleh guru IPS Terpadu masih mengadopsi model silabus dari Kemendiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah (3) dalam penyusunan silabus guru IPS Terpadu tidak mengalami hambatan yang berarti karena dalam penyusunannya dikerjakan secara bersama-sama dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah (4) dalam hal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru IPS Terpadu diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik (5) penyusunan RPP oleh guru IPS Terpadu dilakukan secara sekaligus untuk beberapa pertemuan, hal ini disebabkan adanya kesibukan (6) pada awal pembelajaran guru IPS Terpadu melakukan kegiatan apersepsi, namun tidak pernah mengadakan pre-test, guru masih sering menggunakan metode ceramah, namun hanya untuk membantu siswa dalam memahami (7) dalam pembelajaran guru telah menerapkan berbagai metode dan media yang variatif ii (8) evaluasi hasil belajar dilakukan guru melalui (10) penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam aspek penguasaan konsep dan penerapan konsep. Guru telah menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas dengan mengadakan program remidi dan program pengayaan. Kendala dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Kandat antara lain lemahnya kemampuan guru dalam melakukan penilaian secara mandiri, terbatasnya waktu, biaya serta tenaga dalam penggunaan metode-metode pembelajaran, terjadinya integrasi (penggabungan) pada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi IPS terpadu, kurangnya kesiapan siswa untuk belajar mandiri. Dari hasil penelitian tersebut maka disarankan (1) guru yang belum menguasai materi yang bukan bidangnya harus belajar kepada guru lain yang sesuai dengan bidangnya agar mampu menyampaikan semua materi yang terintregasi dalam IPS Terpadu (2) guru hendaknya dapat mengembangkan kreatifitasnya sendiri dalam menyusun silabus dengan menyesuaikan kondisi dan potensi sekolah (3) guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam penggunaan metode pembelajaran (4) bagi pihak sekolah hendaknya secara berkala mengadakan kegiatan seminar, workshop serta rapat kerja mengenai KTSP, sehingga pemahaman guru tentang KTSP akan semakin meningkat.

Emloyed words by senior high school students in writing expository essay through corpus software / Dodi Erwin Prasetyo

 

ABSTRAK Prasetyo, Dodi Erwin. 2016. Penggunaan Kata – Kata oleh Siswa SMAN Kutorejo di dalam Penulisan Esai Ekspositori, Program Sarjana Pandidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd, M.Ed Kata Kunci: Menulis, esai ekspositori, korpus, antcont, frekuensi kata Menulis merupakan keahlian yang sangat penting di dalam bahasa Inggris. Jadi, siswa harus belajar menulis untuk meningkatkan kemampuan mereka di dalam belajar bahasa Inggris. Di dalam menulis, siswa akan diajarkan berbagai macam jenis teks. Salah satunya adalah ekspositori teks. Teks ini bertujuan untuk menyediakan dan mengekspos informasi kepada pembaca. Kata – kata yang digunakan dalam menulis mengambil peranan yang sangat penting. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk meneiliti kata – kata yang muncul dalam penulisan ekspositori siswa, frekuensi kata – kata yang digunakan siswa di dalam penulisan ekspositori mereka dan jenis – jenis kata yang muncul dalam penulisan ekspositori siswa. Penelitian ini mengambil sampel di SMAN 1 Kutorejo. Subjek penelitian adalah siswa kelas 12 sebanyak 60 siswa. Ada beberapa langkah dalam pengumpulan data. Pertama, siswa diberikan tes menulis ekspositori esai. Kedua, 20 esai dipilih dengan skor tertinggi sebagai sampel. Ketiga, peneliti mengubah data dari esai tulisan tangan menjadi txt file. Langkah terakhir adalah menganalisis data di dalam programantcont. Hasil akhir tersebut terkumpul 1314 kata dari 20 esai. Hasil penelitian ini terbagi menjadi 3 kategori. (a) berdasarkan hasil penelitian tentang penggunaan kata, hasilnya menunjukkan tidak ada kata yang berawalan dengan huruf X dan Z. Untuk huruf lain, penggunaan katanya bervariasi. Sebagai contoh huruf A penggunaan katanya seperti abandon, aberration;untuk huruf B penggunaaan katanya sepertiback, background;untuk huruf C, penggunaan katanya seperticacao, calendar, dst. (b) berdasarkan penelitian tentang frekuensi kata, kata yg pling sering diggunakan adalah the dengan frekuensi 410 lalu kata of dengan frekuensi 155. (c) berdasarkan penelitian tentang jenis kata, jenis kata yang paling sering muncul adalah perposisi of setelah itu kata hubungand. Hal ini dapat disimpulkan bahawa siswa menggunakan berbagai macam kata dalam penulisan ekspositori mereka dengan frekuensi dan jenis katanya Peneliti akhirnya memberikan saran untuk para guru dan para peneliti yang akan datang. Saran untuk guru, guru dapat mengajarkan kepada siswa tentang vocabulary yang berkaitan dengan penulisan ekspositori esai. Oleh karena itu, siswa akan mempunyai kemampuan kosa kata lebih yang berkaitan dengan penulisan ekspositori esai. Dampak lebih jauhnya adalah peningkatan kemampuan siswa di dalam penulisan ekspositori esai. Saran untuk para peneliti kedepannya, mereka direkomendasikan mengeksplor lebih jauh tentang penelitian korpus dan penggunaan program korpus di dalam kegiatan belajar, misalnya mengintegrasikan antcont di dalam kegaiatan belajar untuk menganilisis penggunaan kolokasi di dalam penulisan siswa. Jadi para peneliti dapat memperbaiki kesalahan kolokasi di penulisan siswa. Tapi sebelum itu, para peneliti harus menyesuaikan topic untuk menyesuaikan dengan level siswa di dalam penelitian tersebut.

Kritik terhadap lukisan kaligrafi karya M. Sattar periode 2005 / oleh Heti Indah Rahayu

 

Pengembangan bahan ajar multimedia pada mata kuliah kimia organik I dan efektivitasnya dalam meningkatkan hasil belajar / Mohammad Arfi Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Mohammad Arfi. 2016. PengembanganBahan Ajar Multimedia pada Mata Kuliah Kimia OrganikIdan EfektivitasnyadalamMeningkatkanHasilBelajar.Tesis.Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Pascasarjana,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata kunci: Bahan ajar, multimedia, kimia organik, hasil belajar, efektivitas. Ilmu kimia merupakan cabang dari sains yang mempelajari tentang struktur, sifat, dan perubahan materi serta energi yang menyertainya. Materi yang dipelajari dalam ilmu kimia secara umum berhubungan dengan struktur senyawa dan konsep-konsep yang abstrak. Pembelajaran kimia membutuhkan penggunaanrepresentasitingkatmakroskopis, submikroskopis,dansimbolik. Ketigarepresentasitersebuttidakbisaditampilkansecaramaksimal dalam bahan ajar cetak.Kekurangantersebutdapatdiatasidenganmemasukkan media penunjangsepertianimasidan videokedalambahan ajar.Tujuandaripenelitian iniadalahuntukmenghasilkanbahan ajar multimedia yang layakdanefektifuntukdiaplikasikanpadamatakuliah Kimia Organik I khususnya untukmaterianalisis unsur penyusunsenyawaorganik, ikatandanstruktur Lewis, resonansi, danstruktursenyawaorganik. Penelitianinimerupakanpenelitianpengembangan yangdilaksanakan di Jurusan Kimia, FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, UniversitasNegeri Malang.Rancanganpengembangan yang digunakanpadapenelitianiniadalah model Huangyang membagi tahap pengembangan menjadi lima, yaitu (1) tahapUnderstanding, (2) tahapDesign,(3) tahapBuild, (4) tahapTest, dan (5) tahapImprove.Produk pengembangan divalidasi pada tahap Build. Desainpenelitian untuk menguji efektivitasberupaeksperimensemudengan 60 mahasiswasebagaisampel.Data penelitiandianalisisdenganmembandingkanhasilbelajarkelaseksperimendankontrolmenggunakanuji t.Instrumen penelitian berupa soal tes pemahaman dan angket persepsi mahasiswa terhadap bahan ajar multimedia. Reliabilitas instrumen soal dan angket persepsi berturut-turut sebesar 0,626 dan 0,881. Hasilpenelitian pengembanganadalah bahan ajar multimedia dengantipe file .exeyang sesuai dengan karakteristik pembelajaran level mahasiswa. Pembelajaran yang dapat menggunakan bahan ajar ini adalah pembelajaran dengan metode ceramah. Hasil validasi dan uji efektivitas menunjukkanbahwa (1)bahan ajar multimedia hasil pengembangan layak untuk digunakan dalam pembelajaran, (2)bahan ajar multimedia efektif meningkatkan hasil belajar, (3) mahasiswa memberikan persepsi yang positif terhadap bahan ajar multimedia hasil pengembangan diantaranya, memotivasiuntukbelajar, meningkatkanpemahamanmateri, danmembuatpembelajaranlebihmenarik.

Pengontrol alat pemanas listrik yang dapat diprogram / Reymond Bayu Widhiarsa

 

ABSTRAK Widhiarsa, Reymond Bayu. 2009. Pengontrol Alat Pemanas Listrik Yang Dapat Diprogram. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwasono, M.T., dan (II) Drs. Slamet Wibawanto, M.T. Kata kunci: heater, sensor suhu, mikrokontroler AT89S51. Kontrol otomatis saat ini memberikan peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia, baik untuk rumah tangga maupun industri. Beberapa di antaranya adalah robot, pengaturan suhu sebuah tangki, pengaturan kelembaban udara dalam sebuah ruangan, tekanan udara dalam suatu pipa tertutup yang dijaga tetap, dan lain-lain. Penguasaan sistem kontrol baik dalam hal teori maupun praktek akan menghasilkan suatu sistem dengan respon yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satu sistem kontrol yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah sistem kontrol pemanas. Pada umumnya masyarakat memakai oven konvensional untuk membuat roti. Oven konvensional yang dimaksud adalah oven yang terbuat dari aluminium yang menggunakan kompor minyak tanah sebagai pemanas oven. Harga minyak tanah saat ini relatif mahal, yang menyebabkan produksi roti sedikit menurun. Perencanaan pengontrol alat pemanas listrik yang dapat diprogram ini menggunakan unit kontrol sistem (AT89S51), unit pendeteksi suhu (sensor suhu), unit pengkonversi analog ke digital (ADC), unit penginformasi huruf atau angka (LCD), dan unit system pemanas (oven dan heater). Sensor suhu yang digunakan adalah thermocouple. Sistem ini bekerja pada saat alat dinyalakan. Kita tentukan set point, yaitu berapa suhu yang diinginkan menggunakan keypad. Kemudian mikrokontroler akan membandingkan set point dengan suhu yang dideteksi oleh sensor yang digunakan untuk mengatur PWM pada proses pemanasan elemen. Jika suhu yang dideteksi sensor kurang dari set point maka PWM bekerja terus secara penuh (99%). Jika suhu yang dideteksi sensor lebih dari set point maka mikrokontroler akan mengurangi 1 data PWM tiap 5 detik hingga suhu sensor sama dengan set point. Blower akan menyala saat suhu sensor lebih dari set point dan akan berhenti saat suhu sensor kurang dari atau sama dengan set point. Hasil dari pembacaan suhu akan ditampilkan oleh LCD. Pengujian pada unit pendeteksi suhu (Thermocouple), sensor dapat berfungsi dengan baik walaupun masih terdapat kesalahan dalam menerjemahkan suhu pemanas. Pengujian pada unit pengubah sinyal analog ke digital (ADC) mampu mengubah masukan dari sensor menjadi keluaran biner. LCD mampu menampilkan data berupa hasil pengukuran dari sensor. Operasi keseluruhan alat bekerja sesuai dengan perencanaan walaupun masih banyak kesalahan dalam pembacaan suhu pemanas. Kesimpulan dari perancangan pengontrol alat pemanas litrik yang dapat diprogram ini adalah: (1) sistem ini mampu mengontrol suhu pemanas dari 70º C sampai 157º C. (2) LCD mampu menginformasikan data dari hasil pengukuran sensor.

Pengembangan buku teks IPA kelas IV SDN 4 Bagik Payung berbasis inkuiri terbimbing pada materi sumber daya alam / Hamzan

 

ABSTRAK Hamzan. 2016. PengembanganBukuTeks IPA Kelas IV SDN 4 BagikPayungBerbasisInkuiriTerbimbingPadaMateriSumberDayaAlam. Tesis, Program StudiPendidikanDasar, Pascasarjana, UniversitasNegeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Umie Lestari, M.Si, (II) Dr. DediKuswanadi, M. Pd. Kata Kunci:Bukuteks IPA, inkuiriTerbimbing, Sumberdayaalam IlmuPengetahuanAlam (IPA) merupakansuatumatapelajaran yang berhubungandengancaramencaritahutentangalamsecarasistematis. IPA bukanhanyaberupaprodukpengetahuansaja (fakta, teori, konsep, prinsip, danprosedur), melainkanjuga proses dansikap. Pembelajaran IPA akanmenjadibermaknaapabila proses pembelajaranmemberikesempatanpadasiswauntukbereksperimen, bereksplorasi, menemukansendiri, menyelesaikanmasalah, danbelajarmenerapkankonsepdalamkehidupansehari-hari. Hasilobservasidananalisiskebutuhan yang dilaksanakandi SDN 4 BagikPayungmenunjukkankesenjanganantarakondisipembelajaransertabahan ajar yang digunakandengankondisi ideal. Bahan ajar yang digunakanbelummampumemfasilitasisiswauntukmelakukanaktivitasilmiahsepertiinkuirisehingga proses pembelajaranIPAtidakberjalandengan optimal. Olehsebabitupenelitimelakukanpenelitiandanpengembangan yang bertujuanuntukmenghasilkanbahan ajar berupabukuteksIPA berbasisinkuiriterbimbing. Model PenelitiandanpengembanganmenggunakanDick, Carrey and Carreyyang terdiridaritahapananalisis, desain, pengembangan, implementasi, danevaluasi.SubjekujicobapenelitianadalahsiswaSDN 4 BagikPayungyang terdiriatas 6 siswadalamujicobakelompokkecil. Pengumpulan data penelitianmenggunakanangketresponssiswadan guru. Analisis data penelitianmenggunakanmetodeperhitunganpersentaseuntuk data angket. Tanggapandan saran respondenpadaangketdigunakansebagaiacuanperbaikanproduk yang dikembangkan. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaprodukpengembanganberupabukuteks IPA berbasisinkuiriterbimbingpadamaterisumberdayaalamtelahmemenuhiaspekkelayakanbukuditinjaudarihasilvalidasiolehahlimaterisebesar 84,32%, ahlidesainbahan ajar 77,17%, bahasadanresponssiswa 84,16%.Berdasarkanpaparan data tersebut, buku teks IPA berbasisinkuirilayakdigunakankarenatelahdikategorikansangat valid, efektifdalammeningkatkanhasilbelajarsiswa, sertapraktisdigunakandalam proses pembelajaran IPA padakelas IVdi SDN 4 bagik payung. Dibutuhkankomitmendarisemuapihak, baik guru, siswa, sekolah, dan orang tuauntukmenggunakanbahan ajar inisesuaidenganpetunjuk yang ada agar hasillebih optimal. Untukpenelitianselanjutnyadiharapkanada proses ujicobadalamskala yang lebihluaskemudianbahan ajar tersebutdapatdisebarluaskan (diseminasi).

Evaluasi subtansi dan sistematika kurikulum bahasa Arab serta perangkat pendukungnya di Madrasah Aliyah Negeri Wlingi Blitar / Danti Masruroh

 

Kata Kunci : evaluasi, substansi, sistematika, kurikulum Evaluasi kurikulum sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data secara sistematis, yang bertujuan untuk membantu pendidik memahami dan menilai kurikulum, serta memperbaiki metode pendidikan. Penelitian ini mendeskripsikan substansi dan sistematika penyusunan isi dari Silabus, RPP, Prota dan Promes bahasa Arab yang digunakan di MAN Wlingi Blitar, serta kelayakan kurikulum yang digunakan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berbentuk paparan data yang mendeskripsikan isi dari kurikulum yang digunakan dan perangkat pendukung di dalamnya yang meliputi Silabus, RPP, Prota dan Promes. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara, pengamatan, dan analisis data. Pada penelitian ini, terdapat lima langkah dalam menganalisis data yaitu pertama pengumpulan data. Dalam kegiatan ini, peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya dari hasil wawancara dengan pengajar. Kedua Reduksi data merupakan kegiatan memilih data yang tepat. Langkah ketiga adalah penyajian data, keempat penjelasan data, dan langkah kelima adalah kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan MAN Wlingi Blitar adalah kurikulum dari Kanwil yang berbentuk silabus kemudian dikembangkan oleh masing-masing guru mata pelajaran. Selanjutnya penyusunan silabus bahasa Arab dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran bahasa Arab. Silabus bahasa Arab yang digunakan di MAN Wlingi Blitar, substansi atau isi silabus tersebut beberapa komponen di dalamnya tidak sesuai dengan empat kemahiran dalam bahasa. Kurikulum yang digunakan saat ini. Ketidaksesuaian tersebut terdapat pada komponen materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, dan penilaian. Seperti halnya silabus, RPP bahasa Arab yang digunakan MAN Wlingi Blitar juga terdapat beberapa komponen di dalamnya yang kurang sesuai empat kemahiran bahasa. Selain itu isi dari beberapa komponen di dalamnya tidak sesuai dengan jenis kemahiran yang dicantumkan dalam RPP. Berdasarkan hasil wawancara, MAN Wlingi telah memiliki Prota dan Promes bahasa Arab. Akan tetapi, peneliti tidak menemukan adanya Promes bahasa Arab. Dengan kata lain MAN Wlingi Blitar tidak memiliki Promes bahasa Arab. Penentuan tingkat kelayakan suatu kurikulum didasarkan atas dua faktor, yakni faktor manusiawi dan faktor material. Berdasarkan faktor manusiawi dan faktor material kurikulum di MAN Wlingi Blitar masih layak digunakan walaupun salah satu faktor material yaitu media instruksional belum terpenuhi secara maksimal. Pada penelitian ini saran ditujukan untuk pihak-pihak yang terkait yaitu Waka Kurikulum MAN Wlingi, guru mata pelajaran bahasa Arab MAN Wlingi, dan peneliti mendatang. Bagi Waka Kurikulum, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk memperbarui kekurangan yang ada pada perangkat pendukung kurikulum MAN Wlingi. Selanjutnya bagi guru mata pelajaran, informasi yang didapatkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memperbaiki isi dari silabus, RPP, Prota serta Promes bahasa Arab berkaitan dengan ketidaksesuaian beberapa komponen di dalamnya dengan SKKD yang ada. Saran yang terakhir ditujukan kepada peneliti mendatang, hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai data mendasar apabila akan mengembangkan penelitian ini pada skala yang lebih besar lagi.

Pengembangan asesmen formatif dan remediasi berbasis komputer pada pokok bahasan suhu dan kalor kelas VII SMP / Nurul Kamar

 

ABSTRAK Kamar, N. 2016. Pengembangan Asesmen Formatif dan Remediasi Berbasis Komputer pada Pokok Bahasan Suhu dan Kalor kelas VII SMP. Tesis. Jurusan Pendidikan Dasar IPA, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sentot Kusairi, M.Si., (II) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd. Kata kunci: Asesmen Formatif, Remediasi, Balikan, scaffolding, Ketuntasan Belajar, Hasil Belajar Kognitif Salah satu tugas penting guru dalam pembelajaran yaitu melaksanakan asesmen formatif dan remediasi. Di sisi lain, tugas tersebut seringkali terabaikan karena masalah keterbatasan waktu, beban mengajar perminggu yang cukup tinggi, jumlah peserta didik yang sangat banyak dalam satu kelas, serta masalah kesulitan guru dalam menganalisis hasil tes. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan produk asesmen formatif dan remediasi berbasis komputeryang dapat membantuguru dalam melaksanakan tes formatif, menyediakan balikan langsung, mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik, serta menyediakan fasilitas remediasi mandiri sebagai bentuk scaffolding bagi peserta didik; dan (2) menguji efektivitasatau dampak penggunaan produk pengembangan terhadap hasil belajar kognitif peserta didik. Model rancangan penelitian dan pengembangan yang digunakan diadaptasi dari model rancangan penelitian dan pengembangan Dick & Carey (2001)yang terdiri dari sepuluh langkah.Kesepuluh langkah tersebut dikelompokkan menjadi 4 tahapan umum yaitu studi pendahuluan, persiapan, pengembangan dan uji efektifitas.Uji kelayakan produk melibatkan 3 orang ahli materi, 3 orang ahli asesmen, 1 orang ahli media, serta 9 orang guru dan 20 orang peserta didik sebagai subjek uji coba. Uji efektivitas dilakukan di SMP Negeri 2 Poto Tano dan melibatkan kelas VIIA sebagai kelompok eksperimen dan VIIB sebagai kelompok kontrol. Jenis datayang diperoleh ada dua yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatifberupakomentarserta saran dari validator dan subjek uji coba. Sedangkan datakuantitatifdiperolehdariskorpenilaian validator, angket respon peserta didik dan guru sertadatahasilpretest-posttest. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan rumus persentase dan statistik parametrikberbantuan IBM Statistics SPSS 23. Hasil penelitian dan pengembangan pada penelitian ini berupa aplikasi pembelajaran yang dinamakan ASFORDIASI BEKOM. Produk tersebut sudah dinilai layak baik dari sisi konstruksi, manfaat, maupun bahasa. Fitur-fitur yang tersedia juga dinilai lengkap dan memadai. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hasil ini dibuktikan dengan nilai signifikansi (2-tailed) lebih kecil dari 0,050 yaitu sebesar 0,049. Hal ini berarti Ha diterima dan Ho ditolak.Dari sisi skor rata-rata peningkatan hasil belajar, kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan hasil dalam kategori sedang.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika siswa VII SMP Aisyiyah Muhammadiyah Malang / Diana Akhlaqul Karimah

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Jigsaw, Hasil Belajar berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa siswa kelas vii SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang, lebih dari 50% siswa dari 26 orang belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditentukan oleh sekolah, yaitu 60 ketuntasan individu. hal ini terlihat dari nilai-nilai ujian yang masih rendah. Permasalahan yang terjadi pada kelas vii adalah rendahnya hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secerea heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggungjawab secara mandiri. Pnelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), subyak penelitian ini adalah siswa kelas vii SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang sebanyak 26 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitaf. Hasil analisis data setelah penerapan model jigsaw menunjukkan bahwa 1) jumlah siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah 16 anak, dengan prosentase 62% dan jumlah siswa yang cukup aktif ada 10 anak dengan prosentase 38%, tidak ada satupun siswa yang tidak aktif dengan prosentase 0%. 2) Hasil belajar siswa mencapai rata-rata 68,07 dengan prosentase 88% siswa tuntas. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan model pembelajaran jigsaw dapat dijadikan alternatif model pembelajaran dalam kegiatan pembelajajaran matematika kelas vii SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media interaktif untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPS kelas IV SDN Blabak 1 Kandat Kediri / Moh Adnan Khohar

 

ABSTRAK Khohar, Moh Adnan. 2016. Penerapan Team Games Tournament (TGT) Berbantuan MediaInteraktifuntuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Kelas IV SDN Blabak 1 Kandat Kediri.Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Ruminiati, M.Si., (2) Dr. Munzil, M.Si. Kata kunci: penerapan TGT, media interaktif, aktivitas belajar siswa. Darihasilstudipendahuluantentang nilai hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Blabak 1 Kandat Kediri pada tahun 2015/2016,ditemukan bahwa nilai hasil belajar siswa masih rendah. Ketuntasan belajar hanya mencapai 25,3%. Dalam proses pembelajaran guru menggunakan model dan metode pembelajaran ceramah dan penugasan. Media pembelajaran hanya sebatas gambar yang terdapat pada buku siswa, sehingga siswa cenderung mengalami kebosanan. PenelitianinimenggunakanjenisPenelitianTindakanKelas (PTK). Subjekpenelitianadalahsiswakelas IV SDN Blabak 1 Kandat Kediri yang berjumlah 29 siswa. Instrument yang digunakandalampenelitianinimeliputi: 1) lembarobservasi, 2) catatanlapangan 3) Tes, 4) dokumentasi. Tahapandalamalurpenelitianberupasiklusdengan 3 tahapan, antara lain: 1) perencanaan, 2) tindakandanpengamatan, 3) refleksidantindaklanjut.Pembelajarankooperatifberbantuan media interaktifmemilikilangkah-langkahpembelajaran meliputi:1) Penyajiankelas, 2) Belajardalamkelompokdenganmemanfaatkan media interaktif, 3) permainan (game), 4) pertandingan (tournament), 5) penghargaankelompok (recognize team). Pembelajarankooperatif TGT berbantuan media interaktifmenekankanpadapemkasimalansiswamemperolehpemahamanmateriuntukmencapaitujuanpembelajaranuntukmengatasimasalahaktivitasdanhasilbelajarsiswa yang rendah. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa keterlaksanaan pembelajaran TGT berbantuan media interaktif oleh guru maupun siswa telah terlaksana dengan sangat baik. Pada siklus I skor keterlaksanaan pembelajaran kooperatif TGT berbantuan media interaktif oleh guru sebesar 75,51, sedangkan oleh siswa sebesar 75,41. Skor keterlaksanaan penerapan TGT berbantuan media interaktifolehguru padasiklus II sebesar 83,3, dan oleh siswa mencapai84,96.Hasilobservasi aktivitas belajarsiklus I sebesar 71,15, dan siklus IIsebesar 81,61.Hasil belajarpengetahuanpada siklus I mencapai 72,23%, kemudianSiklus IImencapai 82,75%. Hasil belajar sikap siklus I dan siklus II diperoleh skor mencapai 73,26, siklus II mencapai 80,17. Ketercapaian ketrampilan belajar siswa siklus I mencapai 74,33 dan siklus II mencapai 80,38. Berdasarkan analisis data observasi aktivitas guru dan siswa, observasiaktivitas belajar, hasiltesdanobservasihasilbelajar, hasilcatatanlapangan, danhasilwawancarabahwamelaluipenerapan TGT berbantuan media interaktif mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS.

Pengembangan panduan cooperative learning berbasis video untuk tenaga pengajar sekolah dasar / Yudho Setyo Nugroho

 

ABSTRAK Nugroho, Yudho Setyo. 2016. Pengembangan Panduan Cooperative Learning Berbasis Video Untuk Tenaga Pengajar Sekolah Dasar. Tesis, Program Studi S2 Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Dr. Sihkabuden, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan Video, Cooperative Learning. Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar. Penggunaan media pembelajaran yang sesuai dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran. Terutama dalam membantu guru untuk menerapkan suatu model pembelajaran. Media yang akan digunakan oleh guru dalam menerapkan suatu model pembelajaran adalah media berupa video pembelajaran cooperative learning. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada kepala sekolah dan guru kelas IV, V, VI di SDN 1 Padangan Tulungagung, SDN 2 Padangan Tulungagung, dan SDN 3 Padangan Tulungagung. Kurangnya pemahaman guru tentang berbagai tipe model cooperative learning menjadi salah satu sebabnya. Sehingga dalam proses kegiatan pembelajaran guru pada umumnya menggunakan metode ceramah. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan panduan cooperative learning berbasis video berisi tipe number head together, think pair share, think talk write, dan two stay two stray untuk tenaga pengajar sekolah dasar yang dapat dioperasikan dengan menggunakan komputer atau laptop dan mengetahui tingkat validitas serta tingkat keefektifan dari media yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Sadiman. Adapun tahapan-tahapan tersebut yaitu (1) Identifikasi kebutuhan, (2) Perumusan tujuan, (3) Pengembangan materi, (4) Pengembangan alat evaluasi, (5) Penyusunan naskah dan storyboard, (6) Produksi, (7) Validasi, (8) Revisi, (9) Media siap pakai. Hasil yang diperoleh dari rubrik penilaian penerapan model cooperative learning tipe number heads together memperoleh presentase 94%, tipe think pair share memperoleh presentase 96%, tipe think talk write memperoleh presentase 95%,tipe two stay two stray memperoleh presentase 95% dari keempat model pembelajaran dapat dikatakan bahwa tenaga pengajar mampu melaksanakan. Sedangkan hasil yang diperoleh dari seluruh siswa yang memenuhi KKM untuk model number head together diperoleh presentase 72%, sedangkan untuk model think pair share diperoleh presentase 83%, untuk model think talk write diperoleh presentase 86%, dan untuk model two stay two stray diperoleh presentase 83% sehingga dari keempat model cooperative learning yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dikatakan efektif.

Pengembangan model peregangan dinamis (dynamic stretching) untuk siswa ekstrakulikuler sepakbola SMA Negeri 2 Genteng Kabupaten Banyuwangi / Faizal Fitriadi

 

ABSTRAK Fitriadi, Faizal 2016. Pengembangan Model Peregangan Dinamis (Dynamic Stretching) untuk Siswa Ekstrakurikuler Sepakbola SMA Negeri 2 Genteng Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Eko Hariyanto, M.Pd (II) Fahrial Amiq, S.Or, M.Pd Kata Kunci: pengembangan model, peregangan dinamis (dynamic stretching), .............sepakbola Sepakbola merupakan permainan olahraga yang gerakannya terjadi secara tiba-tiba, sehingga menuntut pemain untuk memiliki kekuatan otot yang baik untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang cepat. Peregangan dinamis sangat efektif dilakukan sebagai pemanasan, karena gerakan peregangan dinamis dapat dilakukan dengan gerakan sepakbola. Hasil observasi diketahui bahwa dalam ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 2 Genteng Kabupaten Banyuwangi belum menggunakan peregangan dinamis (dynamic stretching), hal ini diperkuat dengan hasil analisis kebutuhan diketahui: rata-rata 83,33% kurang mengetahui tentang peregangan dinamis (dynamic stretching), 63,33% setuju dan 36,66% sangat setuju bila dikembangkan model peregangan dinamis (dynamic stretching), 80% setuju dan 16,66% sangat setuju bila peregangan dinamis (dynamic stretching) dikembangkan dalam bentuk video. Tujuan dari penelitian pengembangan ini sendiri adalah mengembangkan sebuah produk berupa model peregangan dinamis (dynamic stretching) untuk siswa ekstrakurikuler sepakbola SMA Negeri 2 Genteng Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan yang mengacu pada teori (Research and Development) Borg dan Gall yang telah dimodifikasi mengacu pada teori Ardhana. Dari yang semula 10 langkah yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, peneliti sederhanakan menjadi 7 langkah karena keterbatasan waktu, tenaga, serta biaya. Pada desain uji coba mengalami beberapa tahap yaitu tahap evaluasi ahli dengan melibatkan 1 ahli sepakbola, 1 ahli kepelatihan sepakbola dan 1 ahli media dan dengan uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen berupa angket. Hasil evaluasi ahli diperoleh ahli sepakbola sebesar 94% (Sangat Valid), ahli kepelatihan adalah 90,2% (Sangat Valid), ahli media adalah 77,6% (Cukup Valid), sehingga siap untuk diujicobakan. Untuk uji coba kelompok kecil sendiri diperoleh persentase sebesar 78,5% (Cukup Valid) dapat digunakan dengan revisi kecil. Adapun saran yang perlu untuk direvisi adalah perbaikan suara (audio) pada model melingkar gerakan ke sembilan. Untuk uji coba kelompok besar diperoleh persentase sebesar 88,96%. Dari data hasil uji coba kelompok besar mengenai pengembangan model peregangan dinamis (dynamic stretching) dalam bentuk video tidak ditemukan saran dan masukan.

Style - shift in Harry Potter series / Meilia Hardianti

 

Keywords: Language, Style-shifting, Conversational Discourse, Types of Sentence Language utilized in a novel series entitled Harry Potter seems to shift along with the advance of the stories. The question that appears afterwards is “how does the language in Harry Potter shift?” This question is tried to be answered by using the theory of Stylistics accompanied by its variation the so called style-shifting. Style-shifting in Harry Potter series is scrutinized through the conversational discourse, which is the representation of what others have said (“reported speech”) as dialogue (“direct speech” or “direct quotation”) rather than third-person report (“indirect speech”), and that “direct speech” is more vivid, more effective, utilized by Harry Potter and the types of sentence employed in Harry’s direct speech in the stories. The result of this study shows that the language in Harry Potter novel indeed shifts along with the development of the series. It is seen from the use of conversational discourse and the types of sentence deployed in Harry’s direct speeches. In conversational discourse, the development can be viewed from the use of indirect discourse that progressively changes to direct discourse. It can be seen through the percentage of the conversational discourse utilized. It portrays that Harry’s chances to speak get bigger and bigger along with the advance of the series. In the types of sentence utilized, Harry uses simple sentences in the very beginning of the series; this deployment then shifts to the more complex sentence structures, which are compound and complex sentences, and then to the most complex one that is compound-complex sentence. These shifts are affected by the change of Harry’s experience and environmental factors along with his growth in the story and can be seen through the percentage presented. This study highlights the style shifting of language deployed by the main character in a novel series entitled Harry Potter seen in the utilization of Harry Potter’s conversational discourse and types of sentence Harry uses in his direct speeches. This study has not been perfect. There are still mistakes and errors that need improving. As a consequence, other studies are still necessary to improve the results of this study and the finding about language development in other novels or series so that the knowledge about the issues scrutinized here is improved and updated.

Pengembangan multimedia interaktif berbasis inkuiri muatan IPA tema organ tubuh manusia dan hewan kelas V sekolah dasar / Nanik Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Nanik. 2016. Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Inkuiri Muatan IPA Tema Organ Tubuh Manusia dan Hewan Kelas V Sekolah Dasar. Tesis, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Siti Malikhah Towaf, M.A., Ph.D. (2) Dr. Munzil, M.Si. Kata Kunci: multimedia interaktif, inkuiri Sekolah sebagai lembaga formal secara sitematis melaksanakan bimbingan, pengajaran dan pelatihan kepada siswa untuk mengembangkan kompetensinya secara maksimal. Kompetensi yang dicapai tercantum dalam struktur kurikulum pada mata pelajaran tertentu. Salah satu mata pelajaran yang yang tercantum adalah IPA. Pada kurikulum 2013 muatan IPA terdapat kompetensi yang harus dicapai yaitu mampu menunjukkan sikap ilmiah, melakukan pengamatan terhadap objek IPA, menjelaskan konsep dan prinsip IPA. Berdasarkan deskripsi kompetensi tersebut maka pembelajaran di sekolah dasar diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami konsep IPA melalui pengamatan terhadap objek IPA agar dapat bersikap ilmiah. Hasil analisis dilapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran belum sepenuhnya mengarah pada tuntutan kurikulum. Siswa belum menunjukkan sikap ilmiah dalam pembelajaran karena terbatasnya objek IPA untuk diamati yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep IPA. Oleh karena itu diperlukan objek berupa media dan strategi yang dapat membantu kesulitan siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dikembangkan multimedia interaktif berbasis inkuiri. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan multimedia interaktif berbasis inkuiri muatan IPA tema organ tubuh manusia dan hewan kelas V Sekolah Dasar yang layak memenuhi kriteria valid, praktis, menarik dan efektif. Model penelitian dan pengembangan Lee dan Owens (2004) digunakan sebagai acuan pengembangan multimedia interaktif berbasis inkuiri ini. Model pengembangan tersebut terdiri dari (a) analisis kebutuhandan (b) Analisis menyeluruh; (2) Desain; (3) Pengembangan; (4) Penerapan; dan (5) Evaluasi. Karena keterbatasan waktu dan biaya multimedia interaktif ini hanya sampai pada tahap evaluasi formatif. Hasil penelitian dan pengembangan ini berupa multimedia interaktif berbasis inkuiri yang dikemas dalam bentuk file. Uji kelayakan terhadap multimedia interaktif berbasis inkuiri ini oleh validator menunjukkan hasil sebesar 99% dengan kriteria sangat layak, uji kelayakan aspek kepraktisan sebesar 93%, untuk kemenarikan sebesar 94% dan untuk keefektifan sebesar 98%. Pengembangan multimedia interaktif berbasis inkuiri ini terbatas pada tema enam subtema dua khususnya pembelajaran 1, pembelajaran 2 dan pembelajaran 5, sehingga perlu pengembangan lebih lanjut pada materi lain.

Pengembangan bahan ajar menulis surat dinas untuk Siswa SMP kelas VIII / Ririn Anggara Setiawati

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, menulis surat dinas Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Banyak orang yang menganggap bahwa kompetensi dasar menulis surat dinas merupakan salah satu materi yang mudah untuk dipelajari. Dari anggapan tersebut, kegiatan pembelajaran menulis surat dinas menjadi tidak maksimal dan cenderung disepelekan. Oleh karena itu, kemampuan siswa dalam menulis surat dinas masih kurang. Guru dituntut mampu menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa agar proses pembelajaran menulis surat dinas dapat berlangsung dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan. Pemilihan bahan ajar menulis surat dinas sesuai dengan siswa SMP karena bahan ajar menyajikan materi dan contoh secara nyata dan lengkap sesuai dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan deskripsi isi bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII, (2) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan sistematika penyajian bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII, (3) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan penggunaan bahasa bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII dan (4) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan tampilan dan tata letak bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Model pengembangan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model pengembangan 4-D. Model pengembangan ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Dessiminate atau diadaptasikan menjadi model 4-P, yaitu Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran. Model pengembangan ini dipilih karena semua kegiatan dalam penelitian diamati, dianalisis, dan direvisi setiap saat sehingga dapat menghasilkan produk bahan ajar menulis surat dinas yang layak dan sesuai dengan kebutuhan. Produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui tiga kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli materi menulis surat dinas dan ahli pembelajaran menulis surat dinas (2) uji praktisi yakni guru kelas VIII SMP Negeri 1 Badegan, dan (3) uji kelompok kecil siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Badegan yang terdiri dari 15 siswa. Hasil pengembangan dari isi bahan ajar diperoleh dari uji coba dengan dengan ahli materi bermain peran, ahli pembelajaran menulis surat dinas, praktisi, dan siswa. Berdasarkan uji coba dengan ahli materi diperoleh skor 91,6%, uji coba dengan ahli pembelajaran menulis diperoleh skor 66,7%, uji coba dengan praktisi diperoleh diperoleh skor 91,6%, dan uji coba dengan siswa diperoleh skor 91,2%. Berdasarkan analisis data di atas, disimpulkan bahwa dari segi isi bahan ajar tergolong layak dan dapat digunakan dengan melakukan revisi kecil.

Struktur tari dan makna simbolis ragam gerak Tari Klana Sewandana di Sanggar Aglar Dance Company Kabupaten Ponorogo / Anis Dyah Susilowati

 

ABSTRAK Susilowati, Anis Dyah. 2016. Struktur Tari dan Makna Simbolis Ragam Gerak Tari Klana Sewandana, di Kabupaten Ponorogo Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Endang Wara Suprihatin D., M.Pd. (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Sn. Kata kunci: Struktur, makna simbolis, ragam gerak, Tari Klana Sewandana Tari Klana Sewandana merupakan tari tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Pentingnya mengetahui makna simbolis ragam gerak tari Klana Sewandana dikarenakan adanya motivasi yang dibangun penari untuk melakukan setiap gerak sehingga penari dapat memaknai sendiri simbol-simbol yang ada di dalamnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan: 1) struktur tari Klana Sewandana di Sanggar Aglar Dance Company Kabupaten Ponorogo; dan 2) makna simbolis ragam gerak Tari Klana Sewandana di Sanggar Aglar Dance Company Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif karena peneliti memperoleh data secara langsung dimana hasil penelitian di deskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data dimulai dari tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap kesimpulan yang digambarkan dan diverivikasikan. Pengecekan keabsahan data dengan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian tentang 1) struktur tari Klana Sewandana terdiri dari : a) struktur tari awal : isen-isen, ulap-ulap, besut, dan gagah lumaksana, b) struktur tari isi : tanjak sabetan, trecet ulap-ulap, hoyogan, besut, tranjal ulap-ulap, itung-itung, kiprah, banteng gambul, ulap-ulap, ukelan, miwir rekmo bara samir, capengan, tumpang tali, gandrungan dan srisik, c) struktur tari akhir : capengan dan sembah bumi. 2) Makna simbolis dalam setiap ragam geraknya yang terdiri dari makna simbolis pada bagian awal adalah gerak persiapan seorang Raja, pada bagian isi menggambarkan tentang Klana Sewandana yang tergila-gila dan mabuk cinta kepada Dewi Sanggalangit, kemudian pada bagian akhir menggambarkan penghormatan pada langit dan bumi. Penelitian ini diharapkan berguna untuk pelestarian tari tradisional. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis menyarankan kepada seluruh pihak terutama anggota sanggar Aglar Dance Company dan generasi muda untuk mengajar dan belajar menari disertai pemaknaannya.

Hasil belajar IPA peserta didik SMP kelas VIII pada pembelajaran level of inquiry tingkat inquiry lesson / Yeni Hariningsih

 

ABSTRAK Hariningsih, Y. 2016. Hasil Belajar IPA Peserta Didik SMP Kelas VIII Pada Pembelajaran Level of Inquiry Tingkat Inquiry Lesson. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar konsentrasi IPA, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Lia Yuliati, M. Pd. (II) Dr. Ibrohim, M. Si. Kata kunci: hasil belajar, level of inquiry Level of inquiry (Loi) salah satu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan inkuiri yang bersifat hirarki. Pembelajaran model level of inquiry dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik secara bertahap. Peningkatan pengalaman intelektual peserta didik dam proses pembelajaran pada level of inquiry dimulai dari level discovery learning sampai dengan level hypothetical inquiry, semakin tinggi level yang dicapai semakin tinggi pula pengalaman intelektual yang didapat peserta didik. Penelitian in bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran level of inquiry. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method) dengan desain embedded. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII SMPN 1 Srengat dengan jumlah peserta didik 36 orang. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini terdiri dari instrumen pembelajaran dan instrumen pengukuran. Instrumen pembelajaran meliputi Silabus dan RPP. Instrumen pengukuran terdiri dari tes kemampuan aspek pengetahuan, lembar observasi aspek sikap, lembar observasi aspek keterampilan, lembar angket respon peserta didik terhadap pembelajaran, dan pedoman wawancara. Data penelitian terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif didapat dari mendiskripsikan data hasil belajar peserta didik pada proses pembelajaran model level of inquiry. Data kuantitatif yang berupa nilai pretes dan postes dianalisis dengan menggunakan N-gain dan effect size. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) hasil belajar aspek pengetahuan peserta didik mengalami peningkatan setelah dilakukan pembelajaran model level of inquiry, 2) hasil belajar aspek sikap peserta didik mengalami peningkatan pada setiap pertemuan setelah dilakukan pembelajaran model level of inquiry, 3) hasil belajar aspek keterampilan peserta didik meningkat dalam setiap pertemuan setelah mendapatkan pembelajaran model level of inquiry. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model level of inquiry tingkat inquiry lesson, dapat meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik.

Penggunaan media lingkungan untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat berita transitif bahasa Indonesia di kelas II SDN Arjosari 1 Malang / Siti Amzah

 

M.Pd. Kata kunci : Media Lingkungan, Keterampilan Menulis, Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Pembelajaran adalah proses mengontruksi pengetahuan pada diri siswa, kontruksi dalam pembelajaran adalah sesuatu yang sangat kontributif. Pada proses pembelajaran yang aktif, siswa dipandang sebagai subyek bukan sebagai obyek dan kegiatan belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Selain itu siswa berpartisipasi ikut mencoba dan melakukannya sendiri apa yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, fungsi guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal. Salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah media lingkungan, dimana lingkungan yang dimaksud adalah sekitar tempat siswa belajar. Media ini memberikan gambaran yang nyata dan kongkrit dalam proses belajar bagi siswa, sehingga memudahkan bagi mereka untuk memahami konsep-konsep dari mata pelajaran yang sedang dipelajari Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penggunaan media lingkungan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis kalimat berita transitif di kelas II SDN Arjosari I Kota Malang, (2) Mendeskripsikan keterampilan siswa dalam menulis kalimat berita transitif melalui penggunaan media lingkungan di kelas II SDN Arjosari I Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media lingkungan dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat berita transitif siswa kelas II SDN Arjosari I Kecamatan Blimbing Kota Malang Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan tahapan-tahapan adalah: (1) melakukan persiapan bahan, peralatan, petunjuk, dan aturan-aturannya, (2) pelaksanaan dengan menghindari kejadian-kejadian yang dapat mengganggu ketenangan, (3) tindak lanjut dilaksanakan dengan diskusi materi pelajaran, melakukan tes untuk melatih keterampilan, menulis laporan dan memberikan balikan terkait materi. Penggunaan Media Lingkungan dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan siswa menulis kalimat berita transitif siklus I dan II pada siswa kelas II SDN Arjosari I Kecamatan Blimbing Kota Malang Tahun Pelajaran 2010/2011. Peningkatan prestasi ditunjukkan dari nilai rata-rata pada siklus I sebesar 67,03 meningkat pada siklus II dengan rata-rata 85,36. Berdasarkan hal tersebut maka pembelajaran dengan menggunakan Media Lingkungan dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II.

Sekolah minggu sebagai pendidikan alternatif penanaman karakter (studi kasus Gereja Betlehem Oesapa Barat Kupang Nusa Tenggara Timur) / Rebeka Filda Hawali

 

ABSTRAK Hawali, Rebeka 2016. SekolahMingguSebagaiPendidikanAlternatifPenanamanKrakter (StudiKasus di GerejaBetlehemOesapa Barat Kupang Nusa Tenggara Timur). Tesis, Program StudiPendidikanLuarSekolah. PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H.M. Saleh Marzuki, M.Ed. (II) Dr. UmiDayati, M.Pd Kata Kunci: sekolahminggu, pendidikankarakter. UU No 20 tahun 2003 tentangsistempendidikannasional, menyatakanadanyatigajalurpendidikanyaknipendidikan formal, informal dan non formal. Sekolahminggutermasukdalampendidikan non formal yang dikhususkanterhadappendidikankeagamaan. Sekolahminggudikhususkanbagianak-anak Kristen denganrentanusia 1-15 tahun, berdasarkanpadaAlkitab, denganmengikutisemua yang diteladankanolehYesusKristussebagaiTuhandanJuruslamat. Akan tetapianak-anak yang mengikutisekolahminggutidakmenunjukkankarakterseperti yang tertulisdalamAlkitabyaitupenuhkasih, lemahlembut, sabar, pemaaf, dan lain sebagainya. Berdasarkanmasalahtersebut, yang menjadifokusdalampenelitianiniialahbagaimanasekolahminggusebagaipendidikanalternatifpenanamankarakter, menanamkankarakterpadaanakdanremajagereja. Metode yang di gunakanuntukmencarijawabandarimasalahtersebutyaknimetodeobservasi, wawancaradanstudidokumentasi. Sedangkancarapengecekankeabsahan data dilakukandengantekniktriangulasi. Adapuntriangulasi yang digunakanadalahtriangulasisumber, triangulasiwaktudantriangulasimetode. Hasil yang diperolehdaripengumpulan data yaitupenanamankarakterpadaanakdanremajadilakukandengancara: keteladanan, ceramah, diskusidanpembiasaan. Keteladananbelumberjalandenganbaik, halinikarenamasihadapengajar yang belummengetahuisecarabaiktentangtugasdantanggungjawabnyasebagaiseorangpengajar, sehinggamasihadapengajar yang bersikapsesuaikeinginannyasendiridanbukansesuaiapa yang tertulisdalamAlkitab. Begitupunjugadenganpenanamankaraktermelaluiceramah. masihadaanak yang merasabosanketikapengajarhanyaterusberceritaselama proses belajarhinggaakhir. Sedangkanpenanamanmelaluipembiasaandandiskusidianggapberjalancukupbaikkarenaanakmerasasenangketikadiajakberdiskusi, sertapadacarapembiasaananak-anakterusmenunjukkanperkembangan. Berdasarkanhasil yang diperoleh, saran yang dapatdiberikanyaitupengajardapatterusmengasahkemampuannyadalammelaksanakankegiatanpembelajarandenganterusmembacadanmerenungkanfirmanTuhan, mengikutiberbagaipelatihanataupun seminar yang dilakukanolehgerejamaupunlembagalainnya. Sedangkanuntukpihakgereja agar merekrutpengajartidakberdasarkankerelaanmelayani, tetapijugasesuaidenganstandar yang adadalamAlkitab.

Pengembangan modul mata pelajaran komputer terapan jaringan untuk siswa SMK Nasional Malang program keahlian teknik komputer dan jaringan / Intan Solikhatul Mabruro

 

ABSTRAK Mabruro, Intan Solikhatul. 2016. PengembanganModulMata PelajaranKomputerTerapanJaringanUntukSiswa SMK Nasional Malang Program KeahlianTeknikKomputerdanJaringanKelas XI. Skripsi, JurusanTeknikElektroUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Ir. H. SyaadPatmanthara, M.Pd. (2) M. ZainalArifin, S.Si.,M.Kom. Kata Kunci: SumberBelajar, Pengembangan, Modul, KomputerTerapan. Penggunaanbahan ajar di SMK Nasional Malang dalampembelajaran di bidangTeknikKomputerdanJaringanmatapelajarankomputerterapanjaringan, yaituberupapresentasipowerpoint. Selainitu model pembelajaran yang dilakukanmasihterpusatpada guru. Berdasarkanhasilobservasidanwawancaradengan guru SMK Nasional Malang ditemukanmasalahdalampembelajaranpadamatapelajaranteknikkomputerjaringanyaitubelumtersedianyasumberbelajar yang dapatmemotivasisiswadalambelajar. Permasalahaninidapatdisimpulkanbahwadiperlukansebuahsumberbelajar yang digunakansebagaialatbantuuntukmembantu guru menjelaskanmaterikepadasiswadandigunakansiswauntukbelajarsecaramandiridenganmembuatmodul ajar. Penelitianinimenggunakan modelpenelitianArifSadiman (2012). Langkah-langkahpengembanganmenurutArifSadiman (2012), yaitu: (1) Identifikasikebutuhan, (2) Perumusantujuan, (3) Perumusanbutir-butirmateri, (4) Perumusanpengukurkeberhasilan, (5) Penulisannaskah media, (6) Tes/Ujicoba, (7) Revisi,dan (8) SiapProduksi.Subjekujicobadalampengembanganmodulyaituahli media danahlimaterisertasiswa SMK Nasional Malang jurusanteknikkomputerdanjaringandenganmenggunakaninstrumenpengumpulan data berupakuesionerrating scale yang kemudiandiolahdalambentukpersentasemenggunakanrumuspersentasemenurut Akbar. HasilsecarakeseluruhandaripengembanganmodulKomputerTerapanJaringanuntukkelas XI di SMK Nasional Malang di dapatpresentase rata-rata tingkatkelayakan 89,5% dandinyatakansangat valid. Keseluruhanhasil yang didapatadalahberdasarkan data kuantitatifdankualitatifdarivalidasiahlidanujicobakelayakansiswakelas XI (sebelas). Hasilvalidasiahlimateri di dapattingkatkelayakan 90,9% dandinyatakansangat valid.Hasilvalidasiahli media di dapattingkatkelayakan 95% dandinyatakansangat valid. Hasilujicobakelompokkecil di dapattingkatkelayakan 85,8% dandinyatakansangat valid. Hasilujicobalapangan di dapattingkatkelayakan 86,2% dandinyatakansangat valid.Merujukpadakriteriavaliditasanalisispersentasemenurut Akbar, makadapatdiketahuibahwamodulsangat valid sehinggamoduldikatakanlayakdandapatdigunakan.

Defragmenting struktur berpikir pseudo siswa melalui pemetaan kognitif dalam menyelesaikan masalah pertidaksamaan kuadrat / Dwi Susanti

 

ABSTRAK Susanti,Dwi.2016. Defragmenting Struktur Berpikir Pseudo Siswa melalui Pemetaan Kognitif dalam Menyelesaikan Masalah Pertidaksamaan Kuadrat. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, PascasarjanaUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (2) Dr. Erry Hidayanto,M.Si. Kata Kunci : Defragmenting, Berpikir Pseudo, Pertidaksamaan Kuadrat. Dalam menyelesaikan masalah, terkadang proses berpikir siswa tidak sesuai dengan jawaban yang diperolehnya atau dapat dikatakan siswa mengalami berpikir pseudo. Berpikir pseudo juga dapat disebabkan karena tidak adanya refleksi yang dilakukan siswa terhadap jawabannya, sehingga siswa memiliki jawaban yang salah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan terjadi struktur berpikir pseudo-salah siswa dalam menyelesaikan masalah pertidaksamaan kuadrat dan defragmenting yang dilakukan melalui pemetaan kognitif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA yang sudah mempelajari materi pertidaksamaan kuadrat. Pengambilan data dilakukan dengan metode think out-loud(TOL). Dalam metode TOL, siswa diminta untuk mengungkapkan dengan keras apa yang sedang dipikirkan ketika mengerjakan masalah yang diberikan. Subjek diberi dua masalah pertidaksamaan kuadrat. Masalah pertama bertujuan untuk mengetahui terjadinya struktur berpikir pseudo-salah siswa, dan masalah kedua untuk mengetahui efektifitas defragmenting. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadinya struktur berpikir pseudo-salah siswa dalam menyelesaikan masalah pertidaksamaan kuadrat 1) diawali dengan kesalahan siswa dalam membuat asumsi pada saat memahami masalah, 2) ketidaklengkapan substruktur berpikir siswa pada saat memahami masalah, dan 3) ketidaklengkapan substruktur berpikir siswa dalam merencanakan cara penyelesaian. Melalui temuan tersebut, peneliti melakukan defragmenting dengan meminta siswa 1)memahami kembali masalah pertidaksamaan kuadrat yang diberikan dan mengaitkan apa yang diketahui dan ditanyakan 2) mengingat dan menjelaskan model matematika yang diperoleh dari keterkaitan sisi pada kotak dengan volume kotak 3) mengaitkan konsep dan menjelaskan arti dari nilai suatu pertidaksamaan 4) mengingat dan menjelaskan strategi yang digunakan untuk menetukan himpunan selesaian yang memenuhi pertidaksamaan kuadrat 5) mengaitkan dan menjelaskan hubungan himpunan selesaian yang diperoleh dengan yang ditanyakan pada masalah 6)mengingat dan menjelaskan konsep yang berkaitan dengan ukuran panjang. Efektivitas defragmenting yang dilakukan peneliti dapat ditunjukkan dengan siswa mampu 1) mengingat, menjelaskan, dan memahami konsep-konsep yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah pertidaksamaan kuadrat, 2) membuat hubungan setiap konsep-konsep yang diperlukan terkait dengan penyelesaian masalah pertidaksamaan kuadrat, 3) memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan memperoleh jawaban yang benar dalam menyelesaikan masalah pertidaksamaan kuadrat.Defragmentingselain dapat memperbaiki struktur berpikir pseudo-salah siswa juga dapat merestrukturisasi struktur berpikir siswa menjadi struktur berpikir yang benar.  

Penerapan pembelajaran melalui pendekatan ilmiah untuk meningkatkan sikap, pengetahuan dan keterampilan proses peserta didik kelas X MIA SMAN 3 Malang pada materi kingdom animalia / Lailatul Qomariah

 

Qomariah, Lailatul. 2014. Penerapan Pembelajaran Melalui Pendekatan Ilmiah untuk Meningkatkan Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan Proses Peserta Didik Kelas X MIA 4 SMAN 3 Malang Pada Materi Kingdom Animalia. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd., (2) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S Kata Kunci: Pendekatan Ilmiah, Sikap, Pengetahuan, Keterampilan Proses. Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas X MIA 4 SMAN 3 Malang, diketahui bahwa guru telah menggunakan Kurikulum 2013, namun pada pelaksanaannya belum dapat sepenuhnya dikatakan sesuai. Berdasarkan hasil observasi juga diketahui bahwa sebagian besar peserta didik belum memenuhi tuntutan kompetensi sesuai dengan Kurikulum 2013. Kompetensi yang dirasa kurang adalah pada ranah sikap dan keterampilan proses peserta didik, sehingga berdampak pula pada ranah pengetahuan peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran melalui pendekatan ilmiah yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembe¬lajaran melalui pendekatan ilmiah dalam meningkatkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan proses peserta didik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Tahap penelitian tindakan kelas adalah perenca¬naan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan pada materi Animalia selama 2 siklus pene¬litian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi dan tes. Ranah sikap peserta didik diukur menggunakan lembar observasi sikap. Ranah pengetahuan peserta didik diukur menggunakan tes yang dilak¬sanakan setiap akhir siklus. Keterampilan proses peserta didik diukur menggunakan lembar observasi keterampilan proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan proses mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi ranah sikap pada siklus I sebesar 71,52% mengalami peningkatan menjadi sebesar 86,96% pada siklus II. Hasil ranah pengetahuan peserta didik pada siklus I sebesar 70,27% meningkat menjadi sebesar 86,49% pada siklus II. Ranah keterampilan proses peserta didik juga mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 77,03% menjadi sebesar 90,23% pada siklus II. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan pembelajaran melalui pendekatan ilmiah dapat meningkatkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan proses peserta didik kelas X MIA 4 SMAN 3 Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diberikan saran diantaranya: 1) dalam pembuatan indikator ranah sikap harus disesuaikan dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik; 2) pengelolaan waktu dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik, terutama dalam kegiatan mengamati dan mencoba; dan 3) indikator yang digunakan dalam keterampilan proses harus jelas dan dapat dibedakan dengan indikator sikap.

Analisis tingkat suku bunga kredit dan jangka waktu pemberian kredit terhadap jumlah pemberian kredit : studi kasus pada Koperasi Simpan Pinjam KAN Jabung Di Kabupaten Malang) / oleh Dede Yusuf Maulana

 

Hubungan antara pengalaman mengajar dan kegiatan In-Service Training (IST) dengan penguasaan pengetahuan media instruksional guru SMK di Kota Malang /oleh Dinis Sutik'ani

 

The reading attitudes and practices of the tenth grade students at SMAN 1 Puri Mojokerto / Dani Safitri

 

ABSTRAK Safitri, Dani. 2016. Sikap dan Praktik Membaca Pada Siswa Kelas Sepuluh SMAN 1 Puri Mojokerto. Program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd. (2) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd Kata Kunci: Sikap membaca, praktik Belajar membaca adalah proses seumur hidup. Hal ini dimulai saat interaksi awal dengan keluarga dan masyarakat. Melalui tindakan yang dicontohkan oleh orang lain, kita belajar kesenangan dan tujuan dari karya tulis. Proses ini terlibat dalam membentuk satu keyakinan dan perasaan terhadap bacaan yang dikenal sebagai sikap membaca. Siswa EFL di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam membaca, diyakini hal pertama yang harus mereka bangun adalah sikap positif terhadap membaca .Namun, tidak banyak yang diketahui tentang sikap mereka dalam membaca dan praktik yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sikap membaca dan apa praktik yang dilakukan oleh mahasiswa dengan sikap positif membaca Penelitian ini adalah penelitian studi kasus yang memberi perhatian pada sikap dan praktik siswa dalam membaca. Seorang guru, dua puluh sembilan siswa dari SMAN 1 Puri Mojokerto, dan tiga orang tua dari siswa dengan sikap membaca positif berpartisipasi dalam penelitian ini. Kuesioner di distribusikan dan wawancara dan observasi dilakukan. Dua puluh sembilan siswa dari kelas X di kelas bahasa diberi kuesioner sikap membaca dan tiga siswa yang dipilih diwawancarai dan diamati. Seorang guru, dan orang tua siswa juga diwawancarai dan diamati. Tiga siswa ini dipilih berdasarkan skor hasil kuesioner sikap membaca, yaitu siswa yang memiliki skor tinggi dalam kuesioner, dan juga didasarkan pada rekomendasi guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dipandang memiliki sikap moderat terhadap membaca yaitu 59%. Terdapat siswa yang memiliki sikap positif membaca, tapi relatif kecil yaitu 17%. Berdasarkan wawancara dari tiga siswa yang dipilih terungkap bahwa pengalaman literasi di rumah dan sekolah memiliki peran dalam pembentukan sikap membaca. literasi awal di lingkungan rumah tampaknya membekas pada sikap mereka terhadap membaca dan praktik ketika mereka dewasa. Pengalaman literasi siswa di sekolah, seperti praktik dan ketersediaan bahan bacaan juga memberikan efek pada perkembangan sikap siswa. Dari pengamatan, instruksi yang di berikan di kelas X tampak menggunakan kerja kelompok di sebagian besar kegiatan dalam rangka mengembangkan membaca mandiri siswa. Oleh karena itu, berdasarkan fakta ini orang tua dan guru dianjurkan untuk menjadi model eksplisit membaca untuk siswa. Guru sebagai salah satu pemegang peranan penting dalam penggembangam sikap siswa terhadap membaca, terutama bahasa Inggris, harus mempertimbangkan praktik terbaik untuk siswa. Kepala sekolah dan pustakawan harus mendukung minat baca siswa dengan menyediakan berbagai macam buku dan kegiatan membaca.

Peningkatan keterampilan membaca permulaan dengan teknik scaffolding berbasis cerita bergambar di kelas 1 SDN Purwantoro 6 Kota Malang / Mety Toding Bua

 

ABSTRAK Bua, Mety Toding. 2016. Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan dengan Teknik Scaffolding Berbasis Cerita Bergambar di Kelas I SDN Purwantoro 6 Kota Malang. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Guru Kelas, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (2) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Kata Kunci: Keterampilan membaca permulaan, Teknik scaffolding, Media cerita bergambar Membaca permulaan merupakan tahap awal/dasar dalam suatu proses untuk mengembangkan salah satu keterampilan berbahasa bagi siswa kelas rendah yang akan mendukung kemajuan siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SDN Purwantoro 6 Kota Malang, diketahui separuh dari 32 siswa kelas I tidak dapat membaca dengan lancar. Penyebabnya adalah (1) penggunaan teknik/metode, dan (2) pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan membaca siswa secara homogen yang belum mendukung tercapainya tujuan belajar membaca. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan teknik dan media untuk meningkatkan proses dan keterampilan membaca permulaan yakni teknik scaffolding berbasis cerita bergambar Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart. Alur PTK meliputi: (1) merencanakan, (2) melaksanakan dan observasi, dan (3) merefleksikan tindakan. Data penelitian ini terdiri dari data proses dan hasil pembelajaran membaca permulaan. Data proses diperoleh dari aktivitas belajar siswa dan data hasil diperoleh dari hasil membaca siswa. Pengumpulan data penelitian menggunakan instrumen pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, kartu baca, dokumentasi dan rubrik penilaian membaca permulaan. Pembelajaran membaca permulaan dengan teknik scaffolding berbasis cerita bergambar meliputi tiga tahap kegiatan, yaitu tahap pendahuluan, tahap inti, dan tahap penutup. Tahap pendahuluan meliputi: (1) salam dan doa, (2) melakukan apersepsi dan (3) menyampaikan tujuan pembelajaran. Tahap inti meliputi: (1) membaca secara klasikal dengan bantuan guru, (2) membaca secara berkelompok, (3) membaca secara berpasangan dan (4) membaca secara individu. Tahap penutup meliputi: (1) pemberian pujian atau reward , (2) penyampaian kesan pembelajaran, (3) penyimpulan materi, (4) pemberian motivasi untuk membaca dan (5) doa. Peningkatan proses pembelajaran terlihat dari respon, antusiasme dan kerjasama siswa: (1) aspek respon meningkat dari cukup pada Siklus I (68,23%), menjadi baik pada Siklus II (82,81%), dan menjadi sangat baik pada Siklus III (89,32%); (2) aspek antuasiasme meningkat dari cukup pada Siklus I (59,11%), menjadi baik pada Siklus II (71,88%), dan menjadi sangat baik pada Siklus III (85,42%); dan (3) aspek kerja sama meningkat dari kurang pada Siklus I (53,13%), menjadi cukup pada Siklus II (63,26%), dan menjadi baik Siklus III (72,66%). Peningkatan keterampilan membaca permulaan dengan teknik scaffolding BCB pada siswa kelas I SDN Purwantoro 6 Kota Malang terlihat pada indikator: (1) pengucapan yang jelas meningkat dari kurang pada Siklus I (54,95%), menjadi baik pada Siklus II (77,22%), dan Siklus III (79,43%); (2) intonasi yang wajar meningkat dari cukup pada Siklus I (65,63%), menjadi baik pada Siklus II (74,48%) dan Siklus III (78,39% ); (3) kelancaran meningkat dari kurang pada Siklus I (50,52%) dan Siklus II (62,24%) menjadi baik pada Siklus III (72,92%); serta (4) kejelasan suara meningkat dari kurang pada Siklus I (50,52%) dan Siklus II (52,34%) menjadi cukup pada Siklus III (65,36 %). Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bawa penggunaan teknik scaffolding BCB dapat meningkatkan proses dan keterampilan membaca permulaan siswa kelas I SDN Purwantoro 6 Kota Malang. Oleh karena itu disarankan kepada: (1) kepala sekolah untuk menyediakan fasilitas buku-buku cerita bergambar untuk mendukung pembelajaran membaca permulaan dengan teknik scaffolding berbasis cerita bergambar, (2) guru untuk menggunakan teknik scaffolding dan buku cerita bergambar sebagai alternatif solusi dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD, (3) peneliti lain untuk merancang penelitian baru dengan menerapkan teknik scaffolding BCB dengan indikator yang berbeda dan variasi yang berbeda pula untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa SD.

Tathwiru mawadil kitabati al-Arabiyyati bina'an 'ala an mathi al-jumali lil fashl ats tsani bil madrasati ats tsanawiyyati ad-diniyyati / Dzatu Ulum Nafi'ah

 

ABSTRAK Nafi’ah, DzatuUlum. 2015. PengembanganMateriMenulis Bahasa Arab BerdasarkanPolaKalimatuntukKelas XI Madrasah Aliyah. Skripsi. Jurusan Bahasa Arab, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Muhaiban., (II) Ali Ma’sum,S.Pd., MA. Kata Kunci: materi, menulis Arab, polakalimatbahasa Arab LatihanmenulisArab merupakanbagian yang tidakbisadipisahkandarilatihankebahasaan, karenamenulismemuattigaaspekketrampilanbahasalainnya, disertaidenganmengaplikasikanapa yang didengarmelaluipelajaranistima’, apa yang diucapkanpadapelajarankalam, sertaapa yang dipahamimelaluipelajaranqira’ah.Siswakelas XI Aliyah harusmampumemahamikosa kata, polakalimat, sertasusunankalimatbahasa Arab. Padatingkatankelas XI merekamengambilkeahliankhusus program bahasa yang diminati. Guru Bahasa Arab mengalamikendalabahan ajar untukkemahiranmenulissiswa. Olehkarenaitubukuini di tujukanagar merekamemahamibetultentangmenulis yang baikdanbenar, sehinggamaterimenulis Bahasa Arab berdasarkanpolakalimatmenjadialternatif yang cocokbagipembelajardalammenulisBahasa arabuntukpemula. Tujuanpenelitiandanpengembanganiniadalahuntukmenghasilkanprodukbahan ajar berupamoduldengancarapengembanganmaterimenulisbahasa Arab berdasarkanpolakalimatuntukkelas XI Aliyah, danmendeskripsikankualitasmaterimenulisbahasa Arab berdasarkanpolakalimatuntukkelas XI Aliyah.Penelitianinitermasukmetodepenelitiandanpengembangan yang digunakanuntukmenghasilkanprodukdanujicobaterpadu. Prosedurpenelitiannyameliputi: (1) analisismasalahdankebutuhan, (2) desainproduk, (3) pengembanganmateri, (4) validasiahli, (5) ujilapangan, (6) revisiproduk, (7) Produkakhir. Teknikanalisis datamenggunakanpersentasehasildaninstrumenpengumpulandatanyamenggunakanangket. Hasilpenelitiandanpengembanganiniberupaprodukbahan ajar dengancarapengembanganmaterimenulisbahasa Arab berdasarkanpolakalimatuntukkelas XI Aliyah. Modulinimemuatduabelasteksbahasa Arab. Penelitimemaparkanempatpuluhempatpolakalimat. Kemudianpolatersebutdikembangkanmenjadilatihan-latihankemahiranmenulis. Latihannyameliputimelengkapikalimatrumpang,menyusun kata acakmenjadikalimatsempurna, menjawabpertanyaansesuaigambar, sertalatihanmembuatparagraf.Kualitasmodulpengembanganiniditerima, sedangkanhasilpersentasesecarakeseluruhanmenunjukkanskorakhir (3,4) atau 84%. Penelitidapatmenyimpulkanprodukinibisadigunakansebagaialternatif guru dalammengajarkanketrampilanmenulisbahasa Arab untukkelas XI Aliyah. Setelahselesainyapengembanganinidiharapkankepadapeneliti lain untukmelakukanujilapanganlanjutansertamengembangkanmateribahan ajar lainnyasebagai media lain dalampembelajaranbahasa Arab. Bagipengajardanpebelajarbahasa Arab untukmenggunakanmodulinidalampembelajarandanpengajaranbahasa Arab agar tumbuhkecintaandalammenulis Arab.

Materi pembelajaran ketermpilan membaca dalam buku sekolah elektronik bahasa indonesia untuk siswa SMP kelas VIII / Ahsin Nosafia Rini

 

Kata kunci: keterampilan membaca, Buku Sekolah Elektronik, materi, penggunaan bahasa Penelitian mengenai materi pembelajaran keterampilan membaca dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE) bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII ini bertujuan mendeskripsikan isi materi tersebut dari segi kesesuaian dengan KD dalam kurikulum serta keakuratan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahasa dalam materi pembelajaran keterampilan membaca dari segi kekomunikatifan dan pemakaian bahasa yang memenuhi syarat keruntutan dan keterpaduan alur berpikir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini meliputi skor isi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dan skor penggunaan bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia tersebut. Sumber data penelitian ini ialah materi pembelajaran keterampilan membaca yang diambil dari BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Depdiknas dan diunduh melalui situs Depdiknas http://bse.depdiknas.go.id/. Instrumen penelitian yang digunakan berupa panduan penskoran sebagai landasan penentuan skor isi materi keterampilan membaca dalam BSE Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII serta penggunaan bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan memberi skor terhadap isi materi dan penggunaan bahasa sesuai dengan pedoman penskoran. Analisis data dilakukan dengan menghitung skor kumulatif hasil penskoran data yang telah dikelompokkan berdasarkan kompetensi dasar dan butir instrumen. Hasil penghitungan skor secara keseluruhan pada masing-masing aspek ialah sebagai berikut. Dari segi keluasan materi, materi yang dikategorikan luas berjumlah 40.00%, materi yang kurang luas berjumlah 50.00%, sedangkan materi yang sempit berjumlah 10.00%. Secara umum keluasan isi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (76.67%). Dari segi kedalaman materi, penjelasan uraian materi yang telah memadai berjumlah 20.00%, penjelasan yang kurang memadai berjumlah 70.00%, sedangkan penjelasan yang tidak memadai berjumlah 10.00%. Secara umum kedalaman materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (70.00%). Dari segi akurasi prosedur, uraian prosedur yang dikategorikan akurat sebanyak 60.00%, sedangkan yang dikategorikan tidak akurat berjumlah 40.00%. Secara umum akurasi prosedur isi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (80.00%). Dari segi akurasi contoh/ilustrasi, uraian contoh/ilustrasi yang akurat berjumlah (90.00%), sedangkan yang tidak akurat berjumlah (10.00 %). Secara umum akurasi contoh/ilustrasi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (90.00 %). Dari segi keterbacaan pesan, penggunaan bahasa yang memenuhi kriteria keterbacaan pesan sebanyak 80.00%, sedangkan yang tidak memenuhi kriteria sebanyak 20.00%. Secara umum keterbacaan pesan dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan baik (90.00%). Dari segi ketepatan kaidah bahasa, penggunaan bahasa yang memenuhi kriteria ketepatan kaidah bahasa berjumlah 70.00%, sedangkan penggunaan bahasa yang belum memenuhi kriteria berjumlah 30.00%. Secara umum ketepatan kaidah bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan baik (85.00%). Dari segi keruntutan dan keterpaduan antarparagraf, penggunaan bahasa yang memenuhi kriteria keruntutan dan keterpaduan antarparagraf sebanyak 85.00%, sedangkan penggunaan bahasa yang belum memenuhi kriteria berjumlah 15.00%. Secara umum keruntutan dan keterpaduan antarparagraf dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan baik (93.33%). Dari segi keruntutan dan keterpaduan antarkalimat, penggunaan bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII seluruhnya telah memenuhi kriteria keruntutan dan keterpaduan antarkalimat, sehingga dapat dikategorikan baik (100%). Berdasarkan penelitian ini, saran yang disampaikan penulis di antaranya adalah sebagai berikut. (1) Guru mata pelajaran bahasa Indonesia dapat menggunakan BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII sebagai sarana pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran membaca. (2) Penulis perlu meningkatkan kualitas buku teksnya agar diperoleh hasil yang lebih baik jika digunakan dalam pembelajaran. (3) Peneliti selanjutnya perlu mengadakan penelitian dengan fokus yang berbeda, misalnya mengenai keterampilan berbahasa lainnya (menyimak, berbicara, dan menulis), bersastra, atau jenjang yang lain.

Analisis sensitivitas kebutuhan gizi harian dengan biaya minimum / Izza Nur Hayati

 

Kata Kunci: analisis sensitivitas, zat gizi, kebutuhan gizi harian, WinQSB Manusia membutuhkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bagi tubuhnya. Kecukupan zat gizi menjadi hal yang sulit didapat oleh sebagian orang karena masalah ekonomi. Konsumsi makanan juga perlu dibatasi sehingga tidak berlebihan dan mengakibatkan gangguan kesehatan. Berawal dari permasalahan tersebut, tujuan dari penulisan ini adalah untuk menyelesaikan permasalahan kombinasi bahan makanan yang memenuhi syarat kecukupan gizi dengan biaya minimum. Data primer dan sekunder yang didapatkan diformulasikan menjadi variabel keputusan, fungsi tujuan dan fungsi kendala. Variabel-variabel ini menjadi masukan (input) ke dalam software WinQSB untuk mendapatkan kombinasi bahan makanan yang memenuhi syarat kecukupan gizi. Penentuan kombinasi makanan dengan program WinQSB dapat memberikan penyelesaian dalam menentukan menu makanan yang sesuai dengan kecukupan gizi dan menghasilkan biaya yang minimum. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dengan menu yang sama, pria membutuhkan biaya lebih banyak dari pada wanita. Pada menu pertama, pria memerlukan biaya sebesar Rp 10.987,00 sedangkan wanita memerlukan biaya Rp 9.400,00. Pada menu kedua, pria memerlukan biaya sebesar Rp 11.000,00 sedangkan wanita memerlukan biaya Rp 9.400,00. Pada menu ketiga, pria memerlukan biaya sebesar Rp 13.200,00 sedangkan wanita memerlukan biaya Rp 12.000,00. Dari hasil analisis sensitivitas, dapat diketahui kisaran harga untuk masing-masing jenis bahan makanan.

Analisis perbandingan kinerja keuangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional / Jevi Eko Purnomo

 

Pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar geografi siswa kelas VIII di SMP Negeri 8 Malang / oleh Tina Novianti

 

Pengaruh pembelajaran kontekstual dan gaya berpikir terhadap hasil belajar sosiologi siswa SMA Negeri 1 Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat / Izak Jakobis Makulua

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan strategi pembelajaran CTL dan srategi pembelajaran konvensional, 2) hasil belajar sosiologi siswa yang memiliki gaya berfikir divergen dan hasil belajar sosiologi siswa yang memiliki gaya berfikir konvergen. 3) ada tidak interaksi dalam strategi pembelajaran dengan gaya berfikir siswa terhadap hasil belajar sosiologi siswa. Hipotesis dalam penelitian ini adalah; 1) terdapat perbedaan hasil belajar sosiologi siswa, yang diajarkan dengan strategi pembelajaran kontekstual dan siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional, 2) terdapat perbedaan hasil belajar sosiologi siswa yang memiliki gaya berfikir divergen dengan hasil belajar sosiologi siswa yang memiliki gaya berfikir konvergen 3) terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya berfikir terhadap hasil belajar sosiologi siswa. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas XI IPS dengan teknik pengambilan sampel dengan bengunakan random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-eksperimen dengan desain penelitian 2 X 2 dengan teknik analisis varians (Anava). Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1) hasil belajar sosiologi yang diajarkan dengan strategi pembelajaran kontekstual (CTL) lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran konvensional, 2) hasil belajar siswa yang memiliki gaya berfikir divergen lebih baik dari hasil belajar siswa yang memiliki gaya berfikir konvergen, 3) terdapat interaksi dalam strategi pembelajaran degan gaya berfikir terhadap hasil belajar sosiologi siswa. Dalam hal ini hasil belajar sosiologi siswa yang memiliki gaya berfikir divergen lebih baik jika diajarkan dengan strategi pembelajaran kontekstual daripada mengunakan strategi pembelajaran konvergen. Tetapi hasil belajar sosiologi siswa yang memiliki gaya berfikir divergen lebih unggul jika diajar dengan strategi pembelajaran konvensional, terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya berfikir divergen maupun konvergen dalam memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa, Kesimpulan ini memberikan makna bahwa; hasil belajar sosiologi siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran kontekstual dan strategi pembelajaran konvensional memiliki keunggulan masing-masing. Saran yang diajukan dalam penelitian ini;bagi siswa khususnya siswa diharapkan memahami gaya berfikir yang dimiliki, sehingga dapat menentukan langkah yang tepat dalam belajar sebagai usaha meningkatkan hasil belajar yang baik, Kata Kunci: Kontekstual (CTL), Gaya Berfikir, dan Hasil Belajar.

Pengaruh scientific approach terhadap pengetahuan kebencanaan siswa pada mata pelajaran geografi kelas X SMA Negeri 1 Gondanglegi / Nur Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah , Nur. 2015. Pengaruh Scientific Approach Terhadap Pengetahuan Kebencanaan Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas X SMAN 1 Gondanglegi. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Geografi ,Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Marhadi Slamet K. M.Si, (II) Drs. Budi Handoyo, M.Si. Kata kunci: Scientific Aprroach, Pengetahuan Pendekatan scientific memiliki keunggulan dalam meningkatkan hasil belajar diberbagai mata pelajaran. Pada mata pelajaran geografi pendekatan tersebut belum terbukti dapat meningkatkan pengetahuan kebencanaan siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh scientific approach terhadap pengetahuan geografi siswa kelas X SMAN 1 Gondanglegi. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Gondanglegi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasiexperiment dengan menggunakan pretest-posttest control group design". Subjek penelitian ini adalah kelas X yang terdiri dari dua kelas eksperimen. Kelas X –IPS 1 dijadikan sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas X-IPS 2 sebagai kelas kontrol. Data diperoleh dengan pemberian pretest dan posttes tuntuk mengukur pengetahuan siswa. Data yang diuji dalam penelitian ini yaitu gain score hasil belajar, yang dianalisis menggunakan independent sample t-test dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh penerapan pembelajaran Scientific Approach terhadap pengetahuan kebencanaan siswa pada mata pelajaran Geografi kelas X IPS SMA Negeri 1 Gondanglegi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil uji hipotesis dan rata-rata hasil belajar geografi kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.

Pengaruh varietas anggur (Vitis sp) dan macam gula terhadap kualitas nata berdasarkan berat, tebal, dan kadar serat sebagai bahan ajar biologi di SMA / Endah Sudarwati

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, dan Pembimbing (II) Prof. Dr. Hj.Mimien Henie Irawati, M.S. Kata Kunci : varietas anggur, macam gula, berat lapisan, tebal lapisan, kadar serat, bahan ajar biologi. Anggur ( Vitis vinifera) adalah jenis buah local di Indonesia dan merupakan produk unggulan kota Probolinggo serta salah satu bahan makanan berserat yang dianjurkan untuk dikonsumsi. Serat yang terkandung dalam buah sangat penting bagi tubuh, karena berpengaruh terhadap penurunan resiko penyakit kanker, melancarkan pencernaan, dan menjaga atau meningkatkan daya tahan tubuh. Masyarakat pada umumnya memanfaatkan tanaman anggur hanya sebagai buah meja, kismis, sari buah (juice), dan sirup minuman. Salah satu cara pemanfaatan anggur yang melimpah untuk diversifikasi pangan yaitu sari buah anggur dapat diolah sebagai bahan untuk pembuatan nata dengan bantuan mikroorganisme, yaitu dapat memperpanjang masa simpan (lebih awet), lebih menarik, juga dapat meningkatkan harga jualnya dan dapat membuka lapangan kerja serta digunakan dalam penerapan konsep life skill di sekolah yaitu kecakapan hidup yang perlu diberikan pada peserta didk sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) perbedaan kualitas nata antara anggur varietas Probolinggo 81 dan anggur varietas BS 11 terhadap berat, tebal, dan kadar serat nata, (2) perbedaan kualitas nata berdasarkan macam gula antara gula tebu, gula aren serta campuran gula tebu dan gula aren terhadap berat, tebal, dan kadar serat nata, dan (3) menganalisis pengaruh interaksi antara varietas anggur dan macam gula terhadap kualitas nata dari anggur berdasarkan berat, tebal, dan kadar serat nata, serta (4) menyusun hasil penelitian tentang Pengaruh Varietas Anggur dan Macam Gula terhadap Kualitas Nata dari Anggur Berdasarkan Berat, Tebal, dan Kadar Serat Nata menjadi bahan ajar Biologi di SMA. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2011 sampai dengan Januari 2012, di laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pendekatan faktorial 2 X 3 variabel bebas berupa varietas anggur, yaitu varietas Probolinggo 81 dan varietas BS, variabel moderator berupa macam gula, yaitu gula tebu, gula aren, serta campuran gula tebu dan gula aren, masing-masing perlakuan diulang lima kali. Data dalam penelitian ini adalah berat, tebal dan kadar serat lapisan nata. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Analisis Varians dua arah, apabila F hitung lebih besar daripada F 0,05 maka dilanjutkan dengan uji DMRT 0,05. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) ada perbedaan varietas anggur Probolinggo 81 dan varietas anggur BS 11 terhadap kualitas nata berdasarkan berat lapisan nata; (2) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan BS 11 memberikan hasil dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan tebal lapisan nata.; (3) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan BS 11 memberikan hasil dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan kadar serat lapisan nata; (4) ada perbedaan penambahan gula tebu, gula aren, serta campuran antara gula tebu dan gula aren terhadap kualitas nata berdasarkan berat lapisan nata; (5) ada perbedaan penambahan gula tebu, gula aren, serta campuran antara gula tebu dan gula aren terhadap kualitas nata berdasarkan tebal lapisan nata; (6) ada perbedaan penambahan gula tebu,gula aren, serta campuran antara gula tebu dan gula aren terhadap kualitas nata berdasarkan kadar serat lapisan nata; (7) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan BS 11 memberikan pengaruh hasil interaksi antara varietas anggur dan macam gula dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan berat lapisan nata; (8) ada perbedaan interaksi antara varietas anggur dan macam gula terhadap kualitas nata berdasarkan tebal lapisan nata; (9) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan varietas anggur BS 11 memberikan hasil interaksi antara varietas anggur dan macam gula dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan kadar serat lapisan nata.

Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Net Interst Margin (NIM) terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Umum Swasta Nasional yang listing di BEI tahun 2011-2014 / Maharani Galuh Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Maharani G. 2016. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan To Deposit Ratio (LDR) dan Net Interest Margin (NIM) terhadap Return On Asset (ROA) Pada Bank Umum Swasta yang Listing di BEI Tahun 2011- 2014. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.M., (II) Hj. Fadia Zen, S.E.,M.M. Kata Kunci: Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan To Deposit Ratio (LDR) dan Net Interest Margin (NIM), Return On Asset (ROA). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi Return On Asset (ROA), Loan To Deposit Ratio (LDR) dan Net Interest Margin (NIM) Pada Bank Umum Swasta yang Listing di BEI Tahun 2011- 2014 serta untuk mengetahui pengaruh parsial Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan To Deposit Ratio (LDR) dan Net Interest Margin (NIM) terhadap Return On Asset (ROA). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari laporan keuangan. Populasi penelitian ini adalah bank umum swasta nasional yang listing di BEI Tahun 2011- 2014 serta sampel penelitian ini 17 bank yang diambil dengan teknik purposive sampling atau judgement sampling berdasar pertimbangan tertentu seperti bank yang menerbitkan laporan keuangan lengkap periode 2011 sampai 2014 dan bank yang masih beroperasi pada periode 2011 sampai 2014. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ROA mengalami trend menurun, kondisi CAR mengalami trend menurun namun masih berada pada batas yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia. Kemudian kondisi LDR mengalami trend naik, dan kondisi NIM mengalami trend menurun serta berada di bawah batas yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa CAR berpengaruh positif signifikan terhadap ROA, kemudian LDR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, dan NIM tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Saran untuk manajemen perbankan lebih memperhatikan aspek-aspek yang dapat mempengaruhi ROA seperti nilai dari rasio-rasio Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Net Interset Margin (NIM) agar sesuai dengan ketetapan Bank Indonesia dan tidak terjadi risiko kerugian serta meningkatkan kepercayaan masyarakat dan untuk peneliti selanjutnya sebaiknya menambahkan jumlah sampel yang tidak hanya terbatas pada bank umum swasta nasional saja. Selain, itu diharapkan untuk peneliti selanjutnya tidak hanya menggunakan data per tahun melainkan kuartal agar hasil yang diperoleh lebih akurat, dan menambahkan variabel-variabel bebas lainnya yang dapat mempengaruhi ROA seperti BOPO, NPL, LAR, Institutional Ownership, dan lain-lain.

Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sambung melalui pendekatan Play and Games siswa kelas VI SD Negeri Watulumbung III Kecamatan Lumbang / Adi Wiyarso

 

Kata kunci: Metode play and games, siswa aktif, pembelajaran lari sambung Lari sambung merupakan salah satu cabang atletik yang diajarkan di sekolah dasar. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di SD Negeri Watulumbung III Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan masih sering menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi dan modelling untuk memberikan contoh kepada siswa. Peneliti menyadari adanya perbedaan tingkat pemahaman dan tingkat penerapan informasi pada setiap siswa yang nantinya akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran dengan menggunakan metode play and games. Salah satu ciri pembelajaran dengan menggunakan metode play and games adalah siswa senang dan banyak bergerak. Dengan proses pembelajaran tersebut siswa diharapkan dapat lebih aktif dalam pembelajaran lari sambung sehingga hasil belajar meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran lari sambung kelas VI SD Negeri Watulumbung III Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan menggunakan metode play and games. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan 4 tahap yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, ahli pembelajaran Pendidikan Jasmani, guru Pendidikan Jasmani lain dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus 1, persentase siswa yang tidak tekun dalam pembelajaran sangat tinggi yaitu 41,16%. Pada siklus 2 siswa yang tidak tekun turun menjadi 12,5%, sehingga siswa mengalami peningkatan dalam aspek ketekunan yaitu dari 58,33% pada siklus 1 meningkat menjadi 87,5% pada siklus 2. Secara umum keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sambung pada siklus 1 meningkat pada sikus 2, dari 64,58% meningkat menjadi 94,79%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa metode play and games dan variasi pembelajaran yang diberikan oleh guru dalam penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sambung kelas VI SD Negeri watulumbung III Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan.

Kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Malang yang tercermin dalam kemampuan membaca kritis teks diskusi / Evid Nur Irkham Rohmy

 

ABSTRAK Rohmy, Evid. 2016. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII SMPN 15 Malang yang Tercermin dalam Kemampuan Membaca Kritis. Skripsi, Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurhadi, M.Pd, (II) Dr. Martutik, M.Pd. Kata Kunci: berpikir kritis, membaca, teks diskusi, kelas VIII. Berpikir kritis adalah kegiatan berpikir secara terus-menerus dan teliti mengenai sebuah pengetahuan yang dipandang berdasarkan alasan yang mendukungnya dan kesimpulan yang menjadi kecenderungannya untuk memecahkan suatu masalah. Indikator berpikir kritis meliputi kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Penguasaan kemampuan berpikir kritis juga menjadi salah satu tujuan dari pembelajaran bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Tujuan berpikir kritis dalam konteks pendidikan adalah untuk membentuk sifat terarah, tekontrol, korektif, dan tolerir dalam menghadapi suatu permasalahan. Kemampuan berpikir kritis seseorang dapat diukur melalui kemampuan membaca. Teks diskusi adalah salah satu teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang sekolah menengah pertama kelas VIII yang memancing pembacanya untuk berpikir kritis. Unsur yang ada dalam setiap teks pembelajaran bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 meliputi isi, struktur, dan penggunaan bahasa. Oleh karena itu aspek berpikir kritis yang diteliti dalam penelitian ini adalah aspek berpikir kritis dalam unsur teks tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP. Teknik analsisi data yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik statistika yang menghasilkan data baru berupa persentase. Teknik tersebut dipilih untuk mempermudahkan klasifikasi kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP. Klasifikasi kemampuan berpikir kritis siswa yang digunakan peneliti adalah adaptasi dari kriteria persentase keterlakasanaan tes kemampuan berpikir kritis Arikunto. Hasil analisis data akan disajikan dalam bentuk deskripsi. Oleh sebab itu, berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII di SMPN 15 Malang. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 55 dari jumlah populasi sebanyak 286 orang siswa. Hasil analisis data tingkat kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 15 Malang secara umum diperoleh persentase sebesar 60,73%, sehingga siswa dikategorikan cukup kritis. Indikator berpikir kritis yang paling dikuasai oleh siswa adalah kemampuan berkreasi dengan mendapatkan persentase sebesar 68,69% yang menandakan mereka masuk dalam kategori kritis. Pada indikator mengevaluasi dan menganalisis siswa termasuk kategori cukup kritis, dengan memperoleh persentase sebesar 58,90%, dan 58,67%. Aspek yang perlu diperhatikan dalam kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 15 Malang adalah aspek menganalisis dan mengevaluasi isi teks diskusi. Karena hasil tes kemampuan siswa pada aspek tersebut termasuk dalam kategori kurang kritis dan hanya mampu mendapatkan persentase sebesar 49,09% dan 46,67%. Pada tiga aspek lain siswa sudah mampu mencapai kategori cukup kritis yaitu pada aspek, menganalisis penggunaan bahasa (62,72%), mengevaluasi struktur (65,45%), dan mengevaluasi penggunaan bahasa (55,45%). Kategori kritis pada siswa berhasil didapatkan pada aspek menganalisis struktur (66, 06%), berkreasi isi (67,27%), berkreasi struktur (66,06%), dan berkreasi penggunan bahasa (72,72 %).  

Identifikasi kondisi sosial dan faktor produksi yang berhubungan dengan hasil produksi pande besi Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung / Laily Fauziyah Dwi Purwaningtyas

 

Kata Kunci: kondisi sosial, faktor produksi, hasil produksi, pande besi. Industri kerajinan pande besi adalah industri kecil yang merupakan suatu usaha produktif dan kreatif di luar sektor pertanian, usaha ini tumbuh dan berkembang atas dorongan naluri masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, maupun atas dasar dasar dorongan akyualisasi diri untuk menciptakan karya dan karsa di dalam hidupnya. Berkembangnya industri kecil ini memiliki peranan penting terutama di daerah pedesaan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. Pengembangan dan pembinaan terhadap masyarakat berkaitan dengan industri kerajinan pande besi diharapkan mampu meningkatkan peluang usaha, kesempatan kerja yang lebih luas serta mendorong laju pertumbuhan ekonomi di suatu daerah. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan keterkaitan antara kondisi sosial dengan hasil produksi pande besi Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung, 2) mendeskripsikan keterkaitan antara faktor produksi dengan hasil produksi pande besi Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian sensus. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan kondisi yang ada di daerah penelitian. Populasi penelitian adalah 34 pande besi di Kecamatan Gondang yang datanya direkam menggunakan pedoman wawancara. Data mentah yang terkumpul dimasukkan dalam tabulasi tunggal kemudian dianalisis menggunakan teknik tabulasi silang. Hasil analisis tabulasi silang untuk keterkaitan antara kondisi sosial dengan hasil produksi menunjukkan bahwa 1) ada keterkaitan antara kodisi sosial khususnya tingkat pendidikan dan lama kerja. 2) ada keterkaitan antara faktor produksi dengan hasil produksi. Semakin besar faktor produksi maka semakin banyak hasil produksi.

Penggunaan metode role playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas III SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Rulasmini Khotimah

 

ABSTRAK Khotimah, Rulasmini. 2009. Penggunaan Metode Role Playing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn Kelas III SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi SI PGSD, Jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Ahmad Samawi, M. Hum, (II) Drs. Sumanto, M.Pd. Kata Kunci : Metode, Role Playing, hasil belajar, PKn, SD. Role Playing atau bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan (educational games) yang dipakai untuk menjelaskan perasaan, sudut pandangan, dan cara berpikir orang lain (membayangkan diri sendiri seperti dalam keadaan orang lain). Berdasarkan pengamatan peneliti pada siswa kelas III SDN Benerwojo diketahui bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn pada materi “Peraturan di Keluarga” masih rendah, hanya mencapai rata-rata 56,92. Nilai ini masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) ditetapkan yaitu 75. Dalam pembelajaran guru kurang melibatkan siswa secara langsung. Guru sering menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan materi, sehingga pembelajaran hanya berpusat pada guru. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing pada materi “ Peraturan di Masyarakat” mata pelajaran PKn kelas III SDN Benerwojo kecamatan Kejayan kabupaten Pasuruan. Mendiskripsikan peningkatan hasil belajar materi “Peraturan di Masyarakat” mata pelajaran Pkn dengan menggunakan metode Role Playing di kelas III SDN Benerwojo. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model siklus yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Kurt Lewin yang setiap siklusnya terdiri dari beberapa tahap, yaitu: Perencanaan, Tindakan dan Observasi, dan Refleksi. Penelitian dilakukan di kelas III SDN Benerwojo kecamatan Kejayan, kabupaten Pasuruan, pada mata pelajaran PKn. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Semester I Tahun Pelajaran 2009/2010 yang dilakukan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PKn mengalami peningkatan. Pada siklus I guru mengalami kesulitan dalam menerapkan metode Role Playing kemudian pada siklus II guru menjadi lebih terampil dalam pembelajaran. Ini terbukti dari hasil perolehan skor aktivitas guru dalam pembelajaran pada siklus I mencapai skor 75 yang mengalami peningkatan pada siklus II yang mencapai skor 85 dengan kriteria baik. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I taraf keberhasilan peningkatan aktivitas belajar siswa mencapai 66,67 dengan kriteria cukup, kemudian meningkat menjadi 83,33 pada siklus II dengan kriteria baik. Hasil belajar siswa aspek kognitif dan afektif juga mengalami peningkatan. Hasil belajar aspek kognitif pada siklus I mencapai prosentase keberhasilan 70 dengan kriteria cukup. Pada siklus II mengalami peningkatan dengan prosentase keberhasilan 94,44 dengan kriteria sangat baik. Peningkatan ini juga diikuti hasil belajar siswa aspek afektif, yang pada siklus I mencapai prosentase keberhasilan 70,55 dengan kriteria cukup, dan pada siklus II mencapai taraf keberhasilan 81,67 dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa: 1) pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PKn materi “Peraturan di Masyarakat” dengan menggunakan metode Role Playing dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, 2) hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan metode Role Playing.. Maka dari itu saran yang dapat diberikan adalah guru hendaknya dapat menerapkan metode Role Playing pada mata pelajaran PKn dengan memberikan skenario pemeranan 2 hari sebelum pelaksanaan pembelajaran disertai penggunaan kostum sesuai tokoh peran pada waktu pemeranan. Bagi Kepala Sekolah, hendaknya memberikan bimbingan dan pembinaan kepada guru di lingkungan SDN Benerwojo kecamatan Kejayan, terutama berkenaan dengan penggunaan metode Role Playing dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain agar meneliti penggunaan metode Role Playing pada materi yang berbeda dengan yang telah diteliti oleh peneliti saat ini.

Penggunaan aspek kebahasaan dalam surat pribadi siswa kelas I SMP Negeri 4 Sumenep tahun ajaran 2005-2006/ oleh Yuli Wulandari

 

Pengembangan bahan ajar penunjang pembelajaran teks cerita bermuatan nilai-nilai kewirausahaan / Nursila Dwi Nugraha

 

ABSTRAK Nugraha, Nursila Dwi. 2016. Pengembangan Teks Genre Cerita Bermuatan Nilai-Nilai Kewirausahaan. Tesis, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd, (II) Dr. Martutik, M.Pd Kata Kunci: pengembangan teks, genre cerita, kewirausahaan Penelitian dan pengembangan ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk membantu guru mengembangkan bahan pembelajaran penunjang yang berkaitan dengan teks genre cerita. Hal tersebut dikarenakan buku teks yang diedarkan pemerintah belum bisa maksimal untuk digunakan dalam pembelajaran. Teks-teks yang terdapat dalam buku teks tersebut masih perlu direvisi. Beberapa istilah asing dan itu belum dipahami oleh guru sehingga menghambat pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar penunjang bagi guru untuk memperlancar pembelajaran. Pembelajaran berbasis teks diterapkan pada kurikulum 2013. Pembelajaran ini dititikberatkan pada materi-materi berbasis teks. Pembelajaran tersebut diharpkan tidak hanya membahas mengenai kaidah, struktur, dan karakteristik teks tertentu sesuai dengan rancangan pembelajaran. Siswa juga perlu diarahkan untuk menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks tertentu. Kelas XI SMA/sederajat terdapat beberapa teks yang dapat digunakan untuk mengarahkan siswa menghayati nilai-nilai positif. Teks cerita ulang, biografi, dan eksemplum digolongkan ke dalam genre cerita. Genre ini dapat digunakan untuk mendidikan dan menghibur siswa. Ketiga teks di atas dijadikan alat untuk mengarahkan siswa agar memiliki dan melakukan nilai-nilai positif dalam cerita. Nilai-nilai tersebut berupa berani, cermat, disiplin, pantang menyerah, optimis, tanggung jawab, beretika dan bermoral. Semua nilai-nilai tersebut dikelompokkan ke dalam teks-teks yang berisi kewirausahaan. Untuk mewujudkan harapan di atas, penelitian dan pengembangan ini menghasilkan bahan ajar berjenis penunjang untuk guru. Buku penunjang tersebut berjudul “Teks Genre Cerita Bermuatan Nilai-Nilai Kewirausahaan”. Pemilihan nilai-nilai tersebut dipandang penting karena semakin hari peluang lowongan pekerjaan semakin menurun. Buku penunjang guru ini memiliki posisi penting untuk (1) menunjang bahan pembelajaran yang digunakan oleh guru dan (2) memotivasi siswa melalui beragam teks yang bermuatan nilai-nilai kewirausahaan. Bahan ajar penunjang bagi guru berisi lima bagian utama. Kelima bagian tersebut adalah (1) pembelajaran berbasis teks, (2) teks genre cerita, (3) teks biografi, (4) teks cerita ulang, dan (5) teks eksemplum. Bahan ajar penunjang ini dikembangkan dan diadaptasi berdasarkan modal ADDIE. Prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini dibagi dalam enam tahap, yakni (1) menganalisis, (2) mendesain, (3) mengembangkan, (4) menerapkan, (5) menerapkan, dan (6) menguji keefektifan. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik diperoleh dari hasil penilaian validator terhadap buku ajar penunjang yang dikembangkan. Data verbal dibagi menjadi dua, yakni data verbal lisan dan tulis. data verbal lisan berupa informasi lisan yang diperoleh pada saat berkonsultasi dengan validator. Data verbal tulis diperoleh dari catatan yang terdapat pada lembar instrument penilaian. Data yang telah dihimpun kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data verbal dilakukan secara kualitatif, yakni (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasi data verbal tulis dan hasil transkrip verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan: revisi atau implementasi. Analisis data numerik dilakukan secara kuantitatif. Cara kuantitatif dilakukan dengan membandingkan hasil pretes dan postes. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba, bahan penunjang yang dikembangkan dapat dinyatakan layak untuk diimplementasikan karena hasil validasi aspek kelayakan isi, bahasa, dan grafika adalah 81,25%, 77,77%, dan 77,08%. Rata-rata hasil akhir tersebut dapat diartikan bahwa bahan ajar penunjang yang dikembangkan layak diimplementasikan tetapi perlu revisi pada bagian-bagian tertentu. Hasil uji keefektifan diperoleh dari hasil pretes dan postes dua subjek. Skor pretes dari dua subjek dibandingkan dengan skor postes. Hasil perbandingan pretes dan postes digunakan untuk mengetahui hasil uji keefektifan produk. Skor pretes subjek 1 sebesar 40 dan subjek 2 sebesar 50. Skor postes subjek 1 sebesar 90 dan subjek 2 sebesar 80. Jika kedua hasil tes tersebut dibandingkan, maka terdapat peningkatkan skor yang diperoleh guru. Oleh karena itu, bahan ajar penunjang yang dikembangkan efektif digunakan oleh guru. Langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan adalah bahan ajar penunjang dapat menambah pengetahuan guru berkaitan dengan teks genre cerita. Selain itu, buku ini juga membantu guru untuk menemukan beragam teks yang bermuatan nilai-nilai kewirausahaan. Hasil penelitian dan pengembangan dapat didiseminasikan dalam jurnal ilmiah, baik tercetak maupun online. Hasil penelitian dan pengembangan juga direkomendasikan untuk ditindaklanjuti dengan cara diinformasikan kepada guru dalam forum MGMP.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer pada materi elastisitas untuk siswa SMA kelas X / Hasanah Nurwidya

 

ABSTRAK Hasanah, Nurwidya. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer pada Materi Elastisitas untuk Siswa SMA Kelas X. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Winarto, M.Pd (2) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd. Kata Kunci: Media, Pembelajaran Berbantuan Komputer, Elastisitas Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh banyak siswa SMA. Pernyataan ini di dukung dari hasil wawancara dan angket yang diberikan kepada siswa kelas X IPA 7 SMAN 8 Malang. Dari hasil wawancara didapatkan 90% siswa mengatakan bahwa mereka merasa bosan karena metode belajar dikelas monoton, sehingga siswa juga menginginkan media pembelajaran fisika yang terdapat gambar, animasi serta video. Pembelajaran yang menyangkut hal-hal di sekitarnya atau permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari dapat membuat materi lebih mudah dimengerti dan lebih menyenangkan. Tujuan penelitian ini adalah (1) menghasilkan media pembelajaran berbantuan komputer pada materi elastisitas untuk siswa SMA kelas X (2) validasi media pembelajaran berbantuan komputer untuk mengetahui tingkat kelayakan media. Desain penelitian pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer ini menggunakan model Borg & Gall yang dimodifikasi menjadi lima tahap, yakni tahap pendahuluan, perencanaan, pengembangan, evaluasi, dan uji coba terbatas. Produk dikemas dalam bentuk CD yang dapat dijalankan di dalam komputer atau laptop. Pengambilan data uji coba terbatas dilakukan pada 20 siswa kelas X IPA 7 SMAN 8 Malang dan penilaian oleh 3 validator. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Hasil uji kelayakan media diperoleh persentase rerata 81% dan hasil uji kelayakan materi diperoleh 84%. Media yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria layak dan secara keseluruhan dinyatakan baik serta dapat digunakan dalam pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran mind mapping berkolaborasi Student Facilitator and Explaining (SFAE) untuk meningkatkan hasil belajar siswa X APK 4 di SMKN 2 Kediri / Ayu Noviasari

 

ABSTRAK Noviasari, Ayu. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping Berkolaborasi Student Facilitator and Explaining (SFAE) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Wahju Wibowo, A.Md., S.E., M.Si. (II) Drs. H. Mohammad Arief, M.Si. Kata Kunci: Mind Mapping, Student Facilitator and Explaining (SFAE), Hasil Belajar. Penelitian tindakan kelas secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar bagi siswa X APK 4 SMKN 2 Kediri tahun ajaran 2015/2016 pada mata pelajaran Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran. Secara khusus bertujuan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru selama mengajar, memperbaiki kualitas pembelajaran, membentuk karakter siswa menjadi lebih baik, dan membuat siswa tertarik untuk belajar. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dan observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan aktivitas siswa yang diamati melalui penilaian afektif. Prosedur penelitian dilakukan selama 2 siklus dimana 1 siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Masing-masing siklus memiliki 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi-evaluasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Model pembelajaran Mind Mapping berkolaborasi dengan SFAE mampu meningkatkan hasil belajar siswa dengan metode permainan sumpit. Hal ini dikarenakan siswa di setiap siklus menunjukkan adanya perubahan. 2) Hasil belajar siklus I untuk nilai rata-rata post-test adalah 80 dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 26 siswa (74,29%) dan pada siklus II nilai rata-rata post-test adalah 85 dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 31 siswa (93,94%) dengan perolehan nilai tertinggi mencapai angka 100 sebanyak 5 siswa. Nilai afektif siswa terdiri dari kehadiran siswa, keaktifan siswa, kejujuran siswa, disiplin dan tanggung jawab siswa. 3) Nilai rata-rata afektif siswa pada siklus I mencapai 82,67 dengan predikat B (baik) dan meningkat menjadi 85,11 dengan predikat A (sangat baik). 4) Hasil penilaian pembuatan Mind Mapping pada siklus I rata-rata kelas adalah 77 dan meningkat pada siklus II menjadi 86. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu penerapan model pembelajaran Mind Mapping berkolaborasi dengan SFAE dapat mengatasi permasalahan yang terjadi pada kelas X APK 4 SMKN 2 Kediri. Proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan membuat siswa mudah memahami materi, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Saran terhadap penelitian ini diharapkan guru dapat menerapkan model pembelajaran ini dengan sebaik mungkin agar siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran dan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan model pembelajaran kooperatif ini pada materi lainnya.

Peningkatan keterampilan senam lantai guling ke belakang melalui penerapan part - whole methods pada siswa kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang / Aditya Bangun Septiohadi

 

Kata kunci: Peningkatan keterampilan, senam lantai guling ke belakang, part-whole methods dan KKM. Senam lantai merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang diberlakukan di Sekolah Menengah Pertama. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dengan guru pendidikan jasmani saat pembelajaran senam lantai guling ke belakang yang dilakukan terhadap siswa kelas IX-F di SMP Negeri 10 Malang, didapatkan hasil penguasaan senam lantai guling ke belakang kurang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang diberlakukan di sekolah tersebut. Hal itu tentunya menuntut peningkatan keterampilan lebih ditingkatkan lagi, untuk memenuhi hasil belajar yang lebih baik lagi diterapkan part-whole methods. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan senam lantai guling ke belakang melalui penerapan part-whole methods pada siswa kelas IX-F di SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Peneliti berkolaborasi dengan Bapak Suyono selaku guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang mengajar di kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui penerapan part-whole methods pada siswa kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang terjadi peningkatan hasil pada keterampilan guling ke belakang. Hasil observasi awal dari sikap awal dengan tingkat kesalahan 15,63%, posisi tangan dengan tingkat kesalahan 59,37%, posisi tungkai dengan tingkat kesalahan 34,37%, dan sikap akhir dengan tingkat kesalahan 18,75%. Hasil tindakan siklus 1 dari sikap awal dengan tingkat kesalahan 6,25%, posisi tangan dengan tingkat kesalahan 12,5%, posisi tungkai dengan tingkat kesalahan 9,37%, dan sikap akhir dengan tingkat kesalahan 0%. Hasil tindakan siklus 2 dari sikap awal tingkat kesalahannya 0%, posisi tangan dengan tingkat kesalahan 3,13%, posisi tungkai dengan tingkat kesalahan 3,13%, dan sikap akhir tingkat kesalahannya 0%. Simpulan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas melalui penerapan part-whole methods di SMP Negeri 10 Malang pada siswa kelas IX-F dapat meningkatkan keterampilan senam lantai guling ke belakang. Saran dari penelitian ini adalah metode bagian-keseluruhan (part-whole methods) sebaiknya diterapkan juga dalam pembelajaran yang lain.

Developing audio-visual media of fables and folktales for classroom speaking activities of junior high students of SMPN 1 Deket Lamongan / Zahrah Zakiya Ahda

 

ABSTRAK Ahda, Zahrah Zakiya. 2016. Pengembangan Media Audio-Visual Tentang Fabel dan Dongeng untuk Kegiatan Berbicara pada Siswa SMPN 1 Deket Lamongan, Thesis, Jurusan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M. Pd., M.A., Ph.D., (II) Prof. Dr. Gunadi Harry Sulistyo, M.A. Kata kunci: media audio-visual, fable, dongeng, berbicara Kemampuan berbicara sebagai salah satu kemampuan produktif digunakan sebagai indikator untuk mengukur kemampuan seseorang dalam menguasai suatu bahasa. Akan tetapi, permasalahan yang muncul adalah, banyak dari siswa di Indonesia yang hanya mempelajarai bahasa Inggris melalui buku teks dan penjelasan guru saja. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, ada beberapa sekolah, terutama yang terletak di daerah pinggiran, yang hanya mengenalkan buku teks dan penjelasan guru sebagai sumber belajar. Guru sangat jarang memfasilitasi input belajar dalam bentuk audio-visual atau film ,padahal input dari media tersebut sangat bagus untuk siswa, dikarenakan jumlah siswa siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas dan terbatasnya alokasi waktu. Oleh sebab itu, sebagai solusi, sebuah media yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan akan membantu para guru untuk menciptakan kegiatan berbicara yang menarik dan menyenangkan akan dikembangkan. Media ini dikhususkan untuk meningkatkan antusiasme siswa dan juga membantu guru agar bisa menciptakan suasana yang menyenangkan dalam melaksanakan kegiatan berbicara. Oleh karena penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan materi speaking yang digabungkan dengan multimedia dan dikemas dalam bentuk program Flash Media, desain yang sesuai dan dapat mendukung penelitian ini adalah desain yang digagas oleh Borg dan Gall (1996). Penelitian ini menggunakan bentuk penyederhanaan dari tahap-tahap yang digunakan oleh Borg dan Gall. Terdapat Sembilan tahapan yang kesemuanya merupakan adaptasi dari Borg dan Gall, tahap-tahap tersebut adalah: Analisa Kebutuhan, Perencanaan dan Pengembangan Bentuk Media, Uji Coba Awal, Revisi , Validasi Guru dan Ahli, Revisi I, Uji Coba, Revisi II, dan Penyempurnaan Produk Akhir. Sebanyak tiga kelas, 7B, 8A, dan 9B, digunakan sebagai subjek uji coba untuk mengetahui keefektifan dari media. Untuk memperoleh data, checklist digunakan oleh ahli materi, ahli media, dan guru-guru bahasa Inggris. Sedangkan siswa juga diharuskan mengisi checklist ketika dalam tahap uji coba media. Media yang dikembangkan ini berupa program Flash Media (SWF) yang dapat dipergunakan di semua komputer yang telah difasilitasi dengan flash media program. Terdapat dua animasi sederhana dan dua cerita bernarasi yang diangkat dari fable dan dongeng di Asia. Di setiap cerita terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan cerita sebagai penuntun awal untuk melaksanakan diskusi kelompok. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media yang dikembangkan diterima dengan baik dan disukai oleh para murid. Akan tetapi, berdasarkan dari data uji coba, media ini akan sangat sesuai jika digunakan pada kelas 8 dan 9. Untuk kelas 7, karena mereka baru saja masuk SMP, mendapatkan media yang kemudian mengharuskan mereka melakukan kelompok diskusi merupakan hal yang cukup sulit. Sebagai saran, guru dapat memodifikasi penggunaan media agar sesuai dengan kebutuhan siswa.

Penggunaan rumput laut sebagai stabilizer terhadap kualitas produk es krim susu sari kedelai / Aviani Violisa

 

Kata kunci: es krim, susu sari kedelai, stabilizer, rumput laut. Permasalahan utama dari produk es krim, yang merupakan produk olahan dari lemak susu atau krim hewani atau nabati, adalah kecepatan leleh yang relatif cepat, sehingga perlu penambahan bahan penstabil untuk menjaga kondisi es krim agar tidak cepat meleleh. Salah satu jenis penstabil yang dapat digunakan adalah rumput laut yang berdaya guna tinggi namun masih jarang dimanfaatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat kimia, fisik, dan organoleptik dari es krim susu sari kedelai dengan rumput laut sebagai stabilizer. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini digunakan rumput laut sebagai stabilizer pada es krim berbahan susu sari kedelai dengan konsentrasi 0,3%, 0,4% dan 0,5% dengan pengujian dilakukan sebanyak dua kali pengulangan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan ANOVA, jika terdapat perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut berkonsentrasi 0,5% memiliki kadar lemak tertinggi (1,97%), kadar protein tertinggi ( 5,909%), viskositas tertinggi (7,5 d pass), dan waktu kecepatan meleleh yang paling lama (8.765 menit/10 g), dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. Es krim susu kedelai dengan total padatan tertinggi (51.932%) diperoleh dari stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0.4%. Overrun tertinggi (27.39%) terdapat pada es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0,3%. Untuk nilai parameter mutu hedonik, es krim dengan stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0,5% menghasilkan rata-rata aroma tertinggi (3,6/tidak langu) dan rata-rata tekstur paling lembut (3,24), sedangkan es krim dengan stabilizer 0,3% rumput laut rata-rata rasa tertinggi (3,56/sangat manis). Untuk parameter hedonik yang lain, es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut pada konsentrasi 0,4% memiliki kesukaan aroma tertinggi (2,92/suka) dan kesukaan rasa tertinggi yaitu (3/suka), sedangkan untuk kesukaan tekstur tertinggi (2,96/suka) didapat dari es krim susu keledai dengan stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0,4% dan 0,5%.Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa penggunaan rumput laut sebagai stabilizer menghasilkan perbedaan terhadap sifat kimia (kadar lemak dan total padatan), sifat fisik (viskositas, overrun dan kecepatan meleleh) dan sifat organoleptik (mutu hedonik aroma, mutu hedonik tekstur) pada es krim susu sari kedelai. Namun penggunaan rumput laut sebagai stabilizer tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap kadar protein, mutu hedonik rasa, kesukaan aroma, kesukaan rasa dan kesukaan tekstur pada es krim susu sari kedelai.

Penerapan model pembelajaran group investigation untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar materi plantae pada siswa kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Gurah Kabupaten Kediri / Shabrina Hibatul Wafi

 

ABSTRAK Wafi, Shabrina Hibatul. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Materi Plantae pada Siswa Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Gurah Kabupaten Kediri. Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sunarmi, M.Pd, (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata Kunci: group investigation, motivasi, hasil belajar. Group Investigation adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa mulai perencanaan sampai dengan evaluasi. Keterlibatan siswa dalam setiap tahapan model Group Investigation akan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi dan hasil belajar materi Plantae Siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran Group Investigation. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan motivasi dan hasil belajar materi Plantae X MIA 1 SMA Negeri 1 Gurah Kabupaten Kediri. Motivasi belajar yang diteliti mencakup 4 indikator, yaitu Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction. Hasil belajar yang diteliti mencakup dua ranah, yaitu ranah kognitif dan psikomotor. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas mengacu pada model Kemmis & Mc. Taggart dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian, yaitu siswa X MIA 1 SMA Negeri 1 Gurah yang berjumlah 37 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, catatan lapangan, kuesioner motivasi, lembar investigasi siswa, soal tes akhir siklus, dan dokumentasi. Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 3 siklus pada Desember 2015-14 Maret 2016. Data dianalisis dengan teknik triangulasi data yang meliputi 3 tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Motivasi belajar Biologi siswa X MIA 1 dengan model pembelajaran Group Investigation mengalami peningkatan dari siklus I, II, dan III. Model Group Investigation menarik perhatian dan kepuasan siswa karena siswa diberikan kesempatan merancang kegiatan belajarnya sehingga motivasi belajar Biologi siswa meningkat. Hasil belajar materi Plantae ranah kognitif siswa X MIA 1 dengan model pembelajaran Group Investigation mengalami peningkatan dari siklus I, II, dan III. Model Group Investigation memberikan kesempatan kepada siswa menuangkan pemikiran dan idenya. Hasil belajar materi Plantae ranah psikomotor siswa X MIA 1 dengan model pembelajaran Group Investigation mengalami peningkatan dari siklus I, II, dan III. Peningkatan hasil belajar Biologi ranah psikomotor, karena siswa terbiasa dengan kegiatan presentasi. Saran bagi peneliti berikutnya adalah: (1) bimbingan guru selama pelaksanaan pembelajaran dengan model Group Investigation diperlukan agar siswa dapat bekerja mandiri bersama kelompoknya, (2) kondisi kelas harus nyaman saat pelaksanaan pembelajaran dengan model Group Investigation, (3) pelaksanaan model Group Investigation dengan jangka waktu lama sebaiknya dipadukan dengan media pembelajaran interaktif untuk mengurangi kebosanan siswa dalam pembelajaran.

Perancangan dan imlpementasi program pengolahan data siswa SLTP Negeri 6 Bojonegoro / oleh Luthfi Kurniawan

 

Peranan Majelis Islam 'Ala Indonesia (MIAI) pada masa pendudukan bala tentara Jepang di Indonesia tahun 1942-1945 / oleh Suwarno Muhammad Chitro Sudarmo

 

Pengaruh insider ownership, profitabilitas, dan leverage terhadap kebijakan dividen (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012) / Yuan Ayu Sagelo

 

Sagelo, Yuan Ayu. 2013. Pengaruh Insider Ownership, Profitabilitas, dan Leverage Terhadap Kebijakan Dividen (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2010-2012). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, M.Si., Ak, (II) Dr. H. Eka Ananta Sidharta, S.E., M.M., Ak. Kata kunci : insider ownership, profitabilitas, leverage, kebijakan dividen. Kebijakan dividen adalah keputusan untuk menentukan besarnya bagian pendapatan (earning) yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dan bagian yang ditahan di perusahaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan pembayaran dividen kepada pemegang saham. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menjelaskan adanya pengaruh parsial variabel insider ownership, profitabilitas, dan leverage terhadap kebijakan dividen; (2) Menjelaskan adanya pengaruh simultan variabel insider ownership, profitabilitas, dan leverage terhadap kebijakan dividen. Populasi dalam penelitian ini perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2010-2012. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan didapat 14 perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitian. Data diperoleh dari Laporan Keuangan Tahunan (Annual Report) yang disediakan dalam website IDX. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dan uji hipotesis menggunakan uji-t untuk menguji koefisien regresi parsial serta uji-F untuk menguji secara simultan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insider ownership berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Pengujian secara simultan menunjukkan bahwa ketiga variabel independen dapat mempengaruhi kebijakan dividen secara bersama-sama. Saran yang diajukan untuk penelitian selanjutnya yakni menambah periode dalam pengamatan sehingga dapat menghasilkan data yang lebih valid. Para peneliti selanjutnya juga diharapkan menggunakan proksi variabel-variabel yang lebih luas dan lebih variatif.

Hubungan kerapatan trikoma daun kedelai dan preferensi Bemisia tabaci terhadap ketahanan berbagai galur harapan kedelai tahan CpMMV (Cowpea Mild Mottle Virus) dan pemanfaatannya sebagai modul pembelajaran / Rimbi Paulina Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Rimbi Paulina. 2016. Hubungan Kerapatan Trikoma dan Preferensi Bemisia tabaci terhadap Ketahanan Berbagai Galur Harapan Kedelai Tahan CpMMV (Cowpea Mild Mottle Virus) Dan Pemanfaatannya Sebagai Modul Pembelajaran. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fatchur Rohman, M.Si, (II) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd Kata kunci: ketahanan, CpMMV, Bemisia tabaci, trikoma Pengembangan bahan ajar dalam proses pembelajaran salah satunya berupa modul. Sumber belajar dalam modul bisa dikembangkan dari kajian teoritis maupun kajian di lapangan. Modul merupakan salah satu bahan ajar yang sering digunakan oleh pendidik untuk menyampaikan materi yang akan dipelajari siswa. Pada materi pengendalian hama, pengetahuan yang diperoleh siswa masih berdasar dari konsep musuh alami sedangkan keberhasilan perlindungan tanaman juga memperhatikan adanya bibit yang unggul. Bibit unggul bisa diupayakan dengan proses pemuliaan tanaman dan rekayasa genetik sehingga dapat diperoleh bibit atau galur-galur sesuai harapan yang unggul dan tahan terhadap serangan hama. Materi mengenai penyiapan galur unggulan belum banyak disampaikan. Terkait dengan materi di SMk jurusan pertanian perlu disusun modul yang bersumber dari penelitian di lapangan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan kerapatan trikoma dan preferensi B. tabaci antar 10 galur dan 2 varietas kedelai, hubungan preferensi B.tabaci dengan karakater ketahanan CpMMV antar 10 galur dan 2 varietas kedelai, dan hubungan kerapatan trikoma dan preferensi B.tabaci terhadap karakater ketahanan CpMMV antar 10 galur dan 2 varietas kedelai. Data yang diperoleh di uji dengan menggunakan korelasi pearson product moment. Rancangan yang digunakan adalah prediktor dan kriterium dengan variabel korelasi kerapatan trikoma, preferensi Bemisia tabaci dan ketahanan tanaman kedelai. Prediktor dan kriterium diamati dengan 10 galur harapan (UM.4-1, UM.7-2, UM.2-4, UM.7-6, UM.6-2, UM.6-3, UM.3-2, UM.6-1, UM.7-3, UM.3-4) dan 2 varietas pembanding (Gumitir dan Wilis). Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Jambegede Jl. Pertanian No.6, Kepanjen, Malang, Jawa Timur. Kegiatan penanaman, pemeliharaan, dan pengumpulan data berlangsung di kebun percobaan Jambegede Malang. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2016. Hasil penelitian menunjukkan analisis hubungan kerapatan trikoma daun kedelai dengan preferensi B. tabaci ada kecenderungan preferensi B. tabaci akan lebih banyak ditemukan apabila kerapatan trikoma semakin rapat dan sebaliknya preferensi B.tabaci akan lebih sedikit ditemukan apabila kerapatan trikoma semakin renggang dengan tingkat signifikansi rendah. Hubungan preferensi B. tabaci dengan karakter ketahanan CpMMV ada kecenderungan karakter ketahanan terhadap CpMMV akan lebih baik bila preferensi B. tabaci rendah dan sebaliknya karakter ketahanan terhadap CpMMV akan lebih rendah bila preferensi B. tabaci tinggi. Kerapatan trikoma dan preferensi B.tabaci berkorelasi terhadap karakter ketahanan namun preferensi B.tabaci berkontribusi lebih besar terhadap karakter ketahanan. Dalam penelitian ini, hasil penelitian juga dimanfaatkan sebagai modul pembelajaran Perlindungan Tanaman yang telah divalidasi oleh ahli materi, ahli bahan ajar, dan praktisi dengan nilai validasi sebesar 86,75% yang berarti bahwa modul pembelajaran biologi yang dikembangkan dengan judul perlindungan tanaman sangat valid dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran biologi di SMK kelas X pada materi pengendalian hama.

Pengaruh kepemilikan institusional dan leverage terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan dividen (study pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2010) / Diah Norma Fitriana

 

Kata kunci: Kepemilikan Institusional, Leverage, Nilai Perusahaan, Kebijakan Dividen. Tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan melalui peningkatan kesejahteraan pemilik melalui keputusan investasi, keputusan pendanaan dan keputusan dividen yang tercermin dalam pasal modal. Manajer dalam menjalankan perusahaan, sering kali tindakannya bukan memaksimumkan kesejahteraan pemilik, melainkan demi kesejahteraannya sendiri sehingga menimbulkan masalah keagenaan. Kebijakan dividen adalah salah satu penyebab masalah keagenan. Pemegang saham cenderung menyukai pembagian dividen yang tinggi, di sisi lain pembagian dividen yang tinggi tidak disukai manajer karena dana tersebut tidak dapat digunakan untuk pengembangan perusahaan. Guna meminimumkan biaya yang disebabkan oleh masalah keagenan, dilakukan pendistribusian saham pada investor institusional. Adanya kepemilikan oleh institusi akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.Cara lainnya adalah dengan meningkatkan hutang atau leverage. Semakin besar hutang maka perusahaan harus mencadangkan lebih banyak kas untuk membayar bunga serta pokok pinjaman sehingga memperkecil dana yang menganggur. Peningkatan leverage dapat meningkatkan pengawasan terhadap manajer karena pihak ketiga yang meminjamkan dana akan melakukan pengawasan terhadap manajemen agar pinjaman tidak disalahgunakan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh signifikan kepemilikan institusional dan leverage terhadap kebijakan dividen.Untuk mengetahui pengaruh signifikan kepemilikan institusional, leverage, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan. Untuk mengetahui pengaruh signifikan kepemilikan institusional dan leverage terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan dividen. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kepemilikan institusional dan leverage berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, kepemilikan institusional dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, kebijakan dividen berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, terdapat pengaruh signifikan secara tidak langsung antara kepemilikan institusional dan leverage terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan dividen. Disarankan agar pemegang saham memperhatikan proporsi kepemilikan saham institusional dan leverage sebagai pertimbangan investasi, bagi perusahaan supaya meminimumkan masalah agensi demi menciptakan stabilitas atas kegiatan usahanya serta peningkatan harga sahamnya, bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan dan dividen, serta menghitung nilai perusahaan berdasarkan kemampuan menghasilkan laba atau return perusahaan.

Pengembangan buku geografi SMA/MA pada kompetensi dasar menganalisis pola persebaran dan interaksi spasial desa dan kota / Akhmad Munaya Rahman

 

ABSTRAK Rahman, Akhmad Munaya 2016. Pengembangan Buku Teks Geografi SMA/MA Pada Kompetensi Dasar Menganalisis Pola Persebaran Dan Interaksi Spasial Desa Dan Kota. Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos dan (II) Dr. Singgih Susilo, M.S., M.Si. Kata Kunci: Buku Teks Geografi, Pola Persebaran, Interaksi Spasial. Buku teks yang digunakan sekolah masih mengacu pada kurikulum KTSP, sehingga kurang relevan dengan kurikulum 2013. Hanya sebagian besar siswa mampu mencapai nilai KKM dan beberapa siswa lainnya mendapat nilai di bawah KKM. Analisis kebutuhan bahan ajar yang sesuai untuk materi pola persebaran dan interaksi spasial desa dan kota berupa buku teks. Kelemahan buku teks terdapat pada penjelasan materi masih bersifat umum, pemberian ilustrasi yang berbeda dengan kondisi lingkungan siswa, tidak adanya pemberian contoh gambar tentang konsep kongkrit, dan beberapa kesalahan pada komponen kebahasaan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) mengembangkan buku teks geografi pada kompetensi dasar menganalisis pola persebaran dan interaksi spasial desa dan kota, (2) mengetahui keefektifan buku teks yang dikembangkan, dan (3) mengetahui kelayakan buku teks geografi di SMA/MA. Metode penelitian ini didesain dengan pendekatan penelitian pengembangan yang menggunakan model Dick & Carey (2009) dan diadaptasi menjadi lima tahap. Tahap metode tersebut mencakup: (1) studi pendahuluan, (2) menganalisis materi pembelajaran, (3) pengembangan dan penyusunan buku teks geografi, (4) validasi ahli dan uji coba produk, dan (5) revisi produk buku teks geografi. Uji coba produk hasil pengembangan meliputi: (1) ahli materi, (2) ahli bahasa, (3) ahli desain pembelajaran, (4) guru, (5) uji coba kelompok kecil, dan (6) uji lapangan. Subjek uji coba kelompok kecil produk terdiri dari 10 siswa MAN 1 Amuntai dan uji lapangan 15 siswa MAS Bustanul Ulum. Berdasarkan hasil validasi, uji coba kelompok kecil dan uji lapangan terhadap komponen buku teks, jumlah skor yang didapat yakni: (a) ahli materi adalah 89,4%, (b) ahli bahasa adalah 75%, (c) ahli desain pembelajaran adalah 68%, (d) tanggapan guru adalah 88,2%, (e) uji coba kelompok kecil adalah 78,1% dan (f) uji lapangan adalah 80,2% dari yang diharapkan (100%). Nilai rata-rata hasil validasi, uji coba kelompok kecil, dan uji lapangan, buku teks geografi yang dikembangkan mendapatkan tingkat persentase 79,8%. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa buku teks yang dikembangkan layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Saran bagi pengembangan lebih lanjut, karena penelitian pengembangan yang dilakukan hanya terbatas pada beberapa aspek, seperti lokasi uji coba dan kajian materi, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan buku teks dengan kajian materi yang lebih lengkap dan luas.

Pengelompokan kabupaten/kota di Jawa Timur berdasarkan indikator kesehatan tahun 2010 dengan metode K-Means dan K-Median / Syaifudin Ghozali

 

Kata kunci : K-Means, K-median, indikator kesehatan, nilai rasio rata-rata simpangan baku dalam kelompok dan antar kelompok. Kesehatan adalah hak dasar manusia dan merupakan salah satu aspek kualitas sumber daya manusia yang penting untuk dicermati. Banyak sekali yang menjadi indikator kesehatan sehingga belum bisa dipastikan indikator yang sesuai untuk indikator kesehatan. Di dalam buku SUSENAS (Survei Sosial dan Ekonomi Nasional) tahun 2010 yang terdapat pada BPS Kota Malang, ada beberapa indikator kesehatan. Dalam hal ini penulis menggunakan indikator kesehatan di atas sebagai variabel dalam menganalisis kesehatan. Metode yang digunakan adalah analisis kelompok yaitu suatu teknik statistika yang bertujuan untuk mengelompokkan objek ke dalam suatu kelompok sehingga objek-objek tersebut akan memilki kesamaan yang tinggi dibanding objek di kelompok lain. Metode analisis kelompok diantaranya adalah k-means dan k-median. Dan jarak yang digunakan adalah jarak euclid dan jarak mahalanobis. Sementara itu kelompok yang ingin dibentuk adalah 3 kelompok. Validitas yang digunakan untuk mengetahui kelompok yang optimum yaitu nilai rasio rata-rata simpangan baku dalam antar kelompok dan dalam kelompok. Berdasarkan nilai rasionya yang terkecil, diperoleh metode k-median dengan jarak euclid yang memilki rasio terkecil. Namun metode yang terbaik adalah metode k-means dengan jarak euclid. Ini dikarenakan data yang digunakan adalah data kontinu. Untuk kelompok 1 sebanyak 28 kabupaten atau kota adalah daerah dengan tingkat kesehatannya tinggi, kelompok 2 sebanyak 6 kabupaten adalah daerah dengan tingkat kesehatannya sedang dan kelompok 3 sebanyak 4 kabupaten adalah daerah dengan tingkat kesehatannya rendah.

Pengasuhan anak usia dini pada sosiokultur Madura (studi kasus masyarakat migran Madura di Kampung Sombo Surabaya) / Gunarti Dwi Lestari

 

ABSTRAK Lestari, GunartiDwi. 2016. PengasuhanAnakUsia Dini Sosiokultur Madura: Studi Kasus Masyarakat Migran Madura di Kampung Sombo Surabaya. Disertasi.Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Program PascasarjanaUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd., (II) Prof. Dr. S. Mundzir, M.Pd (III) Dr. Ach Rasyad.M.Pd. Kata Kunci: SosiokulturMigran Madura, Pengasuhan, AnakUsiaDini, Pola pengasuhan orang tua kepadaanakusiadinisangatpentingkarena anak mendapat pengalaman pertama dari keluarga. Masyarakat migranMadura di kampungSombodikenal memegang kuat ajaranIslam, memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Merekasangattaat, tunduk, dan pasrah kepada orang tuadanguru, sangat menghargai martabat dan harga diri etniknya.Kekhasansosiokulturtersebutdapatmempengaruhipolapengasuhananakusiadinimereka. Penelitianinibertujuanuntukmenganalisis: (1)sosiokulturmigran Madura; (2) polapengasuhan anak usia dini; (3) konstruksi makna model pengasuhan anak usia dini yang dipandang sebagai kekhasan; dan (4)konstruksi makna keberhasilan dan kegagalan pengasuhan anak usia dini pada sosiokultur migran Madura di Kampung Sombo Kelurahan Sidotopo Kecamatan Semampir Kota Surabaya. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifjenisstudikasus.Data dikumpulkandenganwawancara, observasi, dandokumentasi.Subjekpenelitianadalahibu-ibumigran Madura telahlebih 10 tahuntinggal di Sombodanmemilikianakusiadini, penentuannyadengantekniksnowball. Data dianalisismengguakantahapanYin(2011), meliputi: (1) pengumpulan data; (2) interpretasi data; (3) menyusunkembali data; (4) penafsiran data; dan (5) penarikankesimpulan. Temuanpenelitianmenunjukkanbahwasosiokulturmigran Madura di KampungSomboadalah: (1)masyarakat yang taatmenjalankanajaran Islam; (2) sangattaat, tunduk, dan pasrah secara hierarkis kepadaBuppa,’(ayah), Babbu (ibu), guru atauKyai, danRato (pemimpinpemerintahan); (3)kuatdalammemeliharakekerabatan; (4) yang dilakukan denganpengajian,tiba’an,danarisan; (5)pribadiyang mudah tersinggung, keras, temperamental, pendendam, mudah marah, danmudahmenaruh curiga kepada orang lain; (6) bermigrasiuntukmempertahankansurvivalitasdanhargadiri; (7)bekerjaapasajaasalkan halal; (8) berdomisili di kamar-kamarkontrakan, lingkunganpadatpenduduk,kumuh, dansulitmendapatair bersih; (9)memilikikeberanian, keuletan, dan rasa percaya diriuntukbertahanhidup; (10) memilikiketerbukaandanjujur; (11) tuturbahasanyalugasdankasar; dan (12) jikamenerima hinaan hampirpastimarah. Polapengasuhankepadaanakusiadinimerekacenderungotoriter, ditandai: (1) ketatnyadalammemberipengawasan; (2) keharusananaktaatkepada orang tua; (3) memberihukumanfisik; (4) anakharussekolah, termasukke PPT PAUD; (5) anakperludiajarimengaji; dan (6) dibericontohberperilaku yang baiksesuaiajaran Islam.Meskipunpemberianasupangizidanpengobatananakkurangmemenuhistandarhidupsehat, namunadaupayamelatihkemandiriandankehidupansosialanak. Kekhasanpolaasuhanakusiadinimerekaterletakpadapandangannyatentanganak,bahwaanakadalahanakjimat,anakratoh,dananakebestohkarenaberanikepada orang tuaataudurhaka.Kekhawatiranmerekaanaknyamenjadidurhakamendorongpolapengasuhanmerekaotoriter. Konstruksimaknakeunggulanpolaasuh: pengawasanketat;perluhukumanpisikagaranakpatuh,keharusananakdiberipelajaran agama.Konstruksimaknakekurangannyabelumdapat:menyediakanasupangizidanpengobatan yang sehat,menyediakantempattinggal yang sehat, mendidikanaksesuaianjuranguru danUstadz, danmembericontohberperilakubaikkarenakeduanyasibukbekerja. Sebagai saran: (1) kepadaibu-ibumigran Madura di kampungSombo yang memilikianakusiadiniseyogyanya: (a)meningkatkanpengetahuandanketerampilanyadalammengasuhanakmerekadenganberbagaipolabesertakelebihandankelemahansetiappola; (b) memahamijenismakanandanminumansehatuntukanak; (c) meningkatkankerjasamadenganBunda PAUD setempatdalammeningkatkankualitaspendidikananakusiadinimereka; (2) seyogyanyapolapengasuhandemokratisperludicoba, dilatih, dandibiasakankepadaanakusiadinimereka; (3) Bagisuamiibu-ibumigran Madura dikampungSombo yang memilikianakusiadiniseyogyanya: (a) meningkatkankepeduliannyadalamturutmengasuhanak; (b) meningkatkanpengetahuannyadalammengasuhanak; (c) meningkatkankomunikasiedukatifnyakepadaanak; dan (d) membericontohberkatasertaberbuat yang baikkepadaanak.

Pengaruh status sosial ekonomi, minat pada pelajaran ekonomi, dan literasi ekonomi terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se Kabupaten Blitar / Dian Eka Prasastianta

 

ABSTRAK Prasastianta, Dian Eka. 2016. Pengaruh Status Sosial Ekonomi, Minat pada Pelajaran Ekonomi, dan Literasi Ekonomi terhadap Perilaku Ekonomi Siswa MAN se-Kabupaten Blitar . Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Agung Haryono. S.E., M.P.Ak (II) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. Kata Kunci : Perilaku Ekonomi Siswa MAN, Literasi Ekonomi, Minat Pada Pelajaran Ekonomi, Status Sosial Ekonomi Orang Tua Perilaku ekonomi siswa dalam hal rasioanalitas ekonomi sebagai tindakan yang mencerminkan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi pada dasarnya telah dikenal oleh siswa sejak mereka berada di lingkungan keluarga maupun masyarakat tempat dimana dia tinggal. Pemahaman berikutnya melalui pendidikan di sekolah formal mulai Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Siswa merupakan pelaku ekonomi dalam hal ini bertindak sebagai konsumen. Seorang konsumen dalam melakukan tindakan konsumsi selalu bersikap rasional, karena manusia adalah homoeconomicus. Rasionalitas konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pengetahuan dasar ekonomi dan status sosial ekonomi seseorang, minat pada pelajaran ekonomi. Meskipun demikian perilaku yang dilihat dari rasionalitas ekonomi siswa masih kurang nampak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis (1) pengaruh status sosial ekonomi orangtua terhadap terhadap literasi ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar, (2) pengaruh status sosial ekonomi orangtua terhadap terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar, (3) pengaruh minat siswa pada pelajaran ekonomi terhadap literasi ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar (4) pengaruh minat siswa pada pelajaran ekonomi terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar (5) pengaruh literasi ekonomi siswa terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar, (6) pengaruh tidak langsung status sosial ekonomi orangtua terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar melalui literasi ekonomi, dan (7) pengaruh tidak langsung minat siswa pada pelajaran ekonomi, terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar melalui literasi ekonomi. Penelitian ini adalah penelitian eksplanatori yang bertujuan menjelaskan dan menganalisis variabel tertentu secara obyektif kondisi empiris yang akan dijelaskan dan dianalisis adalah pengaruh variabel independen dan variabel dependen. penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individual, karena semua variabel diukur dari subjek penelitian sebagai individu. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional, dimana penelitian ini untuk memperoleh data dari responden pada periode waktu yang tertentu (data are gathered just once). Dilihat dari hubungan antar variabel ada empat variabel yang diposisikan sebagai variabel eksogen dan dua variabel yang diposisikan sebagai variabel endogen. Sampel berjumlah 150 siswa, pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket dan tes. Teknik angket dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang status sosial ekonomi, minat pada pelajaran ekonomi dan perilaku ekonomi siswa. Sementara teknik tes dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang literasi ekonomi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis jalur dan hubungan variabelnya distrukturkan berdasar SEM (Structural Equation Modeling). Analisis dilakukan dengan menggunakan program aplikasi LISREL 8.80 for Windows. Hasil-hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya memberikan beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut: (1) status sosial ekonomi orangtua tidak berpengaruh terhadap terhadap literasi ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar, (2) status sosial ekonomi orangtua tidak berpengaruh terhadap terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar, (3) minat siswa pada pelajaran ekonomi berpengaruh terhadap literasi ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar (4) minat siswa pada pelajaran ekonomi berpengaruh terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar (5) pengaruh literasi ekonomi siswa berpengaruh terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar, (6) status sosial ekonomi orangtua tidak berpengaruh terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar melalui literasi ekonomi), dan (7) minat siswa pada pelajaran ekonomi berpengaruh terhadap perilaku ekonomi siswa MAN se-Kabupaten Blitar melalui literasi ekonomi. Saran dan rekomendasi bagi guru sebagai bahan masukan untuk memperbaiki proses pembelajaran, sehingga pembelajaran ekonomi di sekolah lebih diorientasikan untuk membangun moral dan perilaku ekonomi bagi siswa. Meningkatkan kegiatan pembelajaranyang dapat menarik minat siswa dalam menumbuhkan serta mendorong siswa untuk meningkatkan kompetensi dalam hal penguasaan materi maupun ketrampilan dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai.

Prototype automatic scoring futsal display berbasis arduino / Silviah Candra Kusuma Wati

 

ABSTRAK Kusumawati, Silviah Candra. 2016. Prototype Automatic Scoring Futsal DisplayBerbasis Arduino.Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:Drs. Suwasono, M.T. Kata Kunci: Photodiode, Arduino, dan Aplikasi “Automatic Scoring Futsal Display”. Beberapa tahun belakangan ini, bisnis persewaan lapangan Futsal di Indonesia sangat pesat seiring dengan semakin diminatinya olahraga Futsal. Futsal merupakan salah satu cabang olahraga sejenis Sepak Bola, untuk memasukkan bola ke dalam gawang lawan. Pada saat ini, penentuan goal dibuat berdasarkan kemampuan pancaindra mata dalam melihat setiap pergerakan bola. Sehingga, dinilai kurang akurat dan efektif apabila dalam memutuskan sah tidaknya bola masuk ke dalam gawang. Oleh karena itu, agar penteksian goal lebih akurat dan efektif diperlukan Line Goal Technology (LGT) pada gawang Futsal yang dapat dikembangkan dengan pembuatan “Prototype Automatic Scoring Futsal Display Berbasis Arduino”. Pembuatan produk Tugas Akhir ini bertujuan mengembangkan sistem scoring Futsal yang dapat bekerja secara otomatis dalam input data berupa bola masuk ke gawang dengan memanfaatkan photodiode sebagai sensor pendeteksi bola. Kemudian updatescore dan data pertandingan lainnya seperti nama Tim, play time, tanggal, dan jam akan ditampilkan secara interaktif menggunakan aplikasi “Automatic Scoring Futsal Display”. Selain itu, aplikasi ini juga terhubung dengan database, sehingga dapat menyimpan data hasil pertandingan seperti tanggal, jam, nama Tim, dan score.Dengan adanya alat ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pertandingan Futsal dengan memanfaatkan teknologi. Perancangansistem prototype automatic scoring Futsal displayberbasis Arduino dan Delphi yang digunakan terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1) Studi Pustaka; (2) Proses Perancangan; (3) Pembuatan Alat; (4) Pengujian Komponen; (5) Pengujian Sistem Keseluruhan; (6) Hasil Pengujian; dan (7) Pembahasan Hasil.Berdasarkan hasil pengujian kinerja rancangan diketahui bahwa: (a) Rangkaian Sensor Photodiode; (b) Modul Arduino Nano; (c) Aplikasi “Automatic Scoring Futsal Display”; (d) Program Arduino Nano; dan (e) Keseluruhan Sistem Prototype Automatic Scoring Futsal Display berbasis Arduino dapat bekerja dengan baik dan sesuai rancangan.

Proses pembelajaran lompat jauh gaya jongkok yang menarik dan mudah dilakukan siswa kelas 3-B SMP Negeri 8 Malang semester gasal tahun ajaran 2005/2006 / oleh Muhammad Alfin

 

Pengaruh media film anak terhadap hasil belajar menulis cerita pada siswa kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang / Berlian Karna Rosalia

 

Kata kunci: Film Anak, hasil belajar, menulis cerita. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan. Belajar bahasa Indonesia dibagi dalam empat aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pelaksanaan pembelajaran tingkat Sekolah Dasar keempat aspek tersebut berjalan saling berkaitan dan beriringan. Dalam pengembangan ketrampilan berbahasa harus ada salah satu aspek ketrampilan kebahasaan yang diutamakan dan ketrampilan yang lain adalah salah satu ketrampilan pendukung. Keterampilan menulis merupakan aspek keterampilan bahasa yang penting. Oleh karena itu, dibutuhkan media untuk memudahkan siswa dalam menulis. Salah satu media pembelajaran yang dapat dipergunakan adalah film anak. Penelitian ini mempunyai rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana hasil belajar menulis cerita yang dibelajarkan menggunakan cerita guru, (2) Bagaimana hasil belajar menulis cerita yang dibelajarkan menggunakan media film anak, dan (3) Pengaruh penggunaan film anak terhadap hasil belajar menulis cerita siswa kelas IV SDN. Tanjungrejo 5 Kota Malnag. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasi eksperimen). Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas IV Kecamatan Sukun, Kota Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan sampel penelitian adalah siswa kelas IV A dan IV B SDN. Tanjungrejo 5. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (terdiri dari silabus, RPP, LKS, dan media film anak). Instrumen pengukuran penelitian yaitu intrumen hasil belajar pre-tes dan post-tes. Analisis data dilakukan dengan uji t pada signifikansi = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) rata-rata hasil belajar kognitif siswa pada kelas kontrol sebesar 66,14 dengan persen ketuntasan 70,58%, (2) rata-rata hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen adalah sebesar 77,05 dengan persen ketuntasan 91, 17%, (3) hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol (thitung (6,053) > ttabel(1,996)). Dari paparan data di atas disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan hasil belajar menulis cerita, siswa kelas IV SDN. Tanjungrejo 5 yang dibelajarkan menggunakan media pembelajaran film anak dengan yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran cerita guru pada materi pokok menulis cerita. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini yaitu, media pembelajaran film anak baik digunakan untuk membelajarkan materi menulis cerita dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pengaruh latihan pliometrik terhadap power otot lengan atlet bolavoli putra Gajayana Kota Malang / Titis Inti Purbasari

 

ABSTRAK Inti, TitisPurbasari.2016. PengaruhLatihanPliometrikTerhadapPower OtotLenganAtletBolavoli Putra GajayanaKota Malang.Skripsi, PendidikanJasmanidanKesehatan, FakultasIlmuKeolahragaan,UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hariyoko, M.Pd, (II)UsmanWahyudi, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: latihanpliometrikdenganbantuanteman, latihanpliometriksecaraindividu, power ototlengan Latihanpliometrikmerupakanlatihan yang membutuhkankecepatanreaksisehinggareflekberbandinglurusdenganperegangan.Pliometrikdianggapsebagailatihan yang dapatmeningkatkanpowerotot.Sebagianberanggapanbahwapliometriklebihefisiendalammeningkatkanpowerotot.Namunmetodepelatihanpliometrik yang berbedamemberikankontribusipowerotot yang berbeda pula.Titiktumpuansebagaiobyekmekanismekontraksiototdenganmenggunakankecepatanreaksilebihbergunadalammeningkatkanpowerotot. TujuanpenelitiandalampenelitianiniadalahuntukmengetahuipengaruhantarametotelatihanpliometrikdenganbantuantemandanpliometriksecaraindividutehadappeningkatanpowerototlenganatletbolavoliputraGajayana Kota Malang. Penelitianinimenggunakanrancanganpenelitianeksperimendenganrancanganmatching pre-test control grup design. Sampel yang digunakan adalah atletbolavoliputraGajayana Malang denganjumlah 20 Orang.Kemudian Sampel penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen latihan pliometrikdenganbantuantemanberjumlah 10 orang dan kelompok latihanpliometriksecaraindividuberjumlah 10 orang.frekuensilatihan 3 kaliseminggu selama 6minggu.Analisis data dari penelitian ini yaitu berupa teknik analisis varians satu jalur. Dari hasil pengujian Hipotesis dengan menggunakan uji F pada taraf signifikasi 0,05, diperoleh F hitung sebesar 10,9> F tabel 4,38 untuk latihanpliometrikdenganbantuanteman, untuk kelompok latihan pliometriksecaraindividudiperoleh F hitung sebesar 8,69> F tabel 4,38, dan selisih masing-masing kelompok latihan diperoleh F hitung 3,58< F tabel 4,38. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulanyaknitidakterdapatperbedaan yang signifikanantaralatihanpliometrikdenganbantuantemandenganlatihanpliometriksecaraindividuterhadappowerototlengan, tetapiberdasarkan rata-rata terdapatadanyakecenderungan. Saran yang dapat diberikan kepada pelatih KlubBolavoliGajayana Kota Malang sebaiknya menggunakan latihan pliometrikdenganbantuantemansebagai bentuk latihan untuk meningkatkan powerototlengan, karena perolehan hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata latihan pliometrikdenganbantuantemanmemberikan pengaruh yang lebih baik daripada latihan pliometriksecaraindividu terhadap powerototlenganatletbolavoliputraGajayana Kota Malang.

Sistem penetapan PBB sektor pedesaan sebagai alat pengendalian intern pada KPP pratama Blitar / Dian Wahyuningrum

 

ABSTRAK Wahyuningrum, Dian. 2009. Sistem Penetapan PBB Sektor Pedesaan dan Perkotaan sebagai Alat Pengendalian Intern pada KPP Pratama Blitar. Tugas akhir. Jurusan D3 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Helianti Utami, S.E, M.Si, Ak. Kata kunci: Sistem penetapan PBB, pengendalian intern. PBB merupakan pajak pemerintah pusat yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada daerah yang sebagian besar hasilnya adalah pendapatan daerah dan hasilnya digunakan untuk pembangunan maupun penggerak kegiatan perekonomian. PBB berperan penting terhadap kegiatan perekonomian dan sebagai salah satu sumber penerimaan negara dari aspek pajak selain ekspor minyak gas dan bumi maupun devisa negara. Adapun tujuan penulisan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian yaitu untuk mengetahui sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahapan pemecahan masalah adalah menjelaskan sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan serta mencari kelemahan-kelemahan yang ada dan memberikan rekomendasi atas kelemahan-kelemahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima tahapan sistem penetapan PBB sektor pedesaan dan perkotaan yaitu pelaksanaan pendaftaran, pelaksanaan pendataan, pelaksanaan penilaian, pelaksanaan penetapan PBB dan pengendalian penetapan PBB. Pada ke lima tahapan tersebut masih terdapat beberapa kelemahan seperti, pada tahap 1. Pelaksanaan pendaftaran yaitu kelalaian Wajib Pajak, dalam mengisi SPOP tidak jelas, tidak benar dan tidak lengkap, 2. Pelaksanaan pendataan yaitu tidak mengembalikan SPOP, 3. Pelaksanaan penilaian yaitu tidak tersedianya data jual beli atau harga sewa yang wajar untuk penentuan NJOP bumi dan bangunan, 4. Pelaksanaan penetapan PBB yaitu tidak dilampirkannya peta pesanggrahan dan keadaan obyek pajak menurut nilai jual, 5. Pengendalian penetapan PBB yaitu kurangnya pengawasan atas hasil penetapan PBB. Berdasarkan hasil penelitian disarankan KPP Pratama meningkatkan kerja sama dan sosialisasi peraturan perpajakan terhadap pihak-pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan PBB, menambah SDM maupun peralatan seperti komputer, faximile, mesin ketik, dan sarana lain yang nenunjang dan mempermudah kegiatan penetapan dan pengendalian PBB serta meningkatkan mutu kinerja manajemen operasional maupun manajemen keuangan atas pendapatan negara.

Pengembangan i-invertebrata sebagai media untuk mengidentifikasi jenis mollusca, arthropoda, dan echinodermata di zona pasang surut pantai Gatra Kabupaten Malang serta pengaruhnya terhadap motivasi belajar mahasiswa / Arindra Trisna Widiansyah

 

ABSTRAK Widiansyah Arindra T. 2016. Pengembangan I-Invertebrata Sebagai Media Untuk Mengidentifikasi Jenis Mollusca, Arthropoda, dan Echinodermata di Zona Pasang Surut Pantai Gatra Kabupaten Malang Serta Pengaruhnya Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd., (2) Dr Munzil M.Si Kata kunci: Pengembangan I-Invertebrata, Media Untuk Mengidentifikasi, Pantai Gatra, Motivasi Belajar Mahasiswa. Biologi merupakan cabang ilmu sains yang mempelajari tentang seluk beluk makhluk hidup. Objek pembelajarannya meliputi seluruh organisme, tidak terkecuali invertebrata. Proses identifikasi hewan invertebrata dapat dilakukan dengan berbagai metode dan media. Tetapi fakta dilapangan masih banyak ditemukan kendala. Oleh karena itu perlu memanfaatkan media pembelajaran berbasis android. Tujuan penelitian adalah menghasilkan media I-Invertebrta untuk mengidentifikasi jenis Mollusca, Arthropoda, dan Echinodermata di zona pasang surut pantai Gatra Kabupaten Malang. Serta mengetahui adanya pengaruh media I-Invertebrata terhadap motivasi mahasiswa pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan menggunakan model pengembangan research and development (R&D) yang dikembangkan oleh Borg and Gall (1983) yang terdiri dari 10 tahapan yaitu penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan produk pendahuluan, uji coba pendahuluan, perbaikan produk utama, uji coba utama, perbaikan produk operasional, uji coba operasional, perbaikan produk ahkir, dan diseminasi. Hasil validasi ahli materi, media dan respon mahasiswa menunjukkan media i-invertebrata sudah layak digunakan dalam pembelajaran. Sedangkan saran secara umum adalah gambar dibuat berwarna, perlu ditambahkan petunjuk penggunaan media, perlu ditambahkan gambar penjelas pada setiap kunci determinasi, menu perlu ditampilkan di halaman utama, diperlukan menu sharing, perlu dipertimbangkan. Selanjutnya hasil penelitian quasi eksperimen menunjukkan adanya pengaruh penerapan media i-invertebrata terhadap motivasi belajar mahasiswa. Hal ini berdasarkan hasil 1) selisih rata-rata skor pretes dan postes motivasi secara umum mahasiswa pada kelas eksperimen adalah 2; 2) hasil selisih dari total rata-rata skor pretes dan postes ARCS pada kelas eksperimen Attention (perhatian) adalah 1, Confidence (percaya diri) adalah 2; 3) skor rata-rata lembar observasi motivasi belajar pada kelas eksperimen adalah 74% dengan kriteria baik; 4) serta hasil uji anakova dapat diketahui bahwa F hitung yang dihasilkan adalah sebesar 5,567 dengan signifikansi 0,022. Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05.

Studi pelaksanaan mata kuliah mengelola usaha busana butik program studi S-1 pendidikan mata busana angkatan 2008 / Meylisa Endah Porwanti

 

Kata kunci: Pelaksanaan, Matakuliah Mengelola Usaha Busana Butik Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pembentukan jiwa kewirausahaan mahasiswa. Salah satu cara menumbuhkan jiwa kewirausahaan di perguruan tinggi adalah dengan memasukkan materi kewirausahaan / mata kuliah di dalam kurikulum. Matakuliah Mengelola Usaha Busana Butik (MUB) Butik merupakan mata kuliah yang memberikan pengalaman mengelola usaha busana melalui praktik pengelolaan usaha butik sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen usaha busana. Matakuliah mengelola usaha busana butik merupakan salah satu program yang dapat ditempuh oleh mahasiswa untuk membekali diri dalam bidang kewirausahaan. Kewirausahaan menjadi penting ketika pelaksanaanya sesuai dengan konsep kewirausahaan tetapi kesenjangan kenyataan di lapangan mengakibatkan kewirausahaan belum berjalan sepenuhnya.Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan matakuliah mengelola usaha busana butik yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 pendidikan Tata Busana angkatan 2008 yang terdiri dari 46 mahasiswa. Instrumen penelitian berupa angket dengan kombinasi pertanyaan terbuka dan tertutup dan dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif dengan persentase (%). Berdasarkan hasil analisis data: (1) Ditinjau dari perencanaan a) Dari segi pengajaran, bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh dosen adalah mengelola usaha busana butik tidak sesuai dengan rencana usaha yang disusun mahasiswa yaitu mengelola usaha busana modiste b) Dari segi rencana usaha, sudah berjalan dengan optimal sebagian besar mahasiswa merencanakan usaha yang meliputi aspek pemasaran, SDM, produksi, dan keuangan (2) Ditinjau dari segi pelaksanaan kegiatan a) Pemasaran belum berjalan optimal, dikarenakan pengguna produk sebagian besar adalah diri sendiri b) Pada bagian SDM belum berjalan optimal, dikarenakan sebagian besar mahasiswa melakukan pekerjaan rangkap c) Pada bagian produksi belum berjalan optimal, dikarenakan hasil produk mahasiswa adalah produk modiste, tidak sesuai dengan rancangan produk yang dibuat oleh dosen yaitu produk butik d) Pada bagian keuangan sudah berjalan dengan optimal karena sebagian besar mahasiswa sudah merencanakan keuangan (3) Hasil evaluasi menunjukkan kegiatan mengelola usaha busana butik a) Pemasaran belum berjalan optimal dikarenakan pengguna produk yang sebagian besar diri sendiri b) SDM belum berjalan optimal dikarenakan sebagian besar mahasiswa melaksanakan pekerjaan tugas rangkap ii c) Produksi belum berjalan optimal dikarenakan adanya ketidaksesuaian antara produk yang dihasilkan mahasiswa yaitu produk modiste sedangkan rancangan perkuliahan adalah produk butik d) Keuangan sudah berjalan dengan optimal (4) Kendala-kendala dalam pelaksanaan matakuliah mengelola usaha busana butik adalah adanya target omzet yang tinggi, waktu pelaksanaan matakuliah MUB Butik yang pendek. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagi Jurusan Teknologi Industri, Mengelola Usaha Busana Butik merupakan matakuliah pilihan, seyogyanya mahasiswa diberi kebebasan di dalam memilih/ memprogram matakuliah yang diinginkan. Jika terdapat syarat di dalam memilih/ memprogram matakuliah pilihan, maka sebaiknya jurusan mengeluarkan buku pedoman 2) Sebaiknya dalam menyajikan matakuliah pilihan, jurusan membuat kode yang berbeda untuk membedakan matakuliah mengelola usaha busana butik atau matakuliah mengelola usaha busana modiste, sehingga mahasiswa tidak kesulitan didalam memprogram dan dapat memilih sesuai dengan minat dan kemampuan 3) Diharapkan pada perkuliahan mengelola usaha busana butik atau matakuliah mengelola usaha busana modiste yang akan datang, dosen mengetahui matakuliah yang diprogram/ ditempuh oleh mahasiswa. Sehingga matakuliah pilihan yang diprogram sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mengelola usaha busana butik atau rencana pelaksanaan pembelajaran mengelola usaha busana modiste 4) Bagi Mahasiswa diharapkan pada perkuliahan matakuliah mengelola usaha busana butik yang akan datang, rencana kegiatan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dilakukan agar ketika pelaksanaan matakuliah mengelola usaha butik, tidak terjadi perubahan produk sehingga mahasiswa dapat mencapai omzet yang telah ditentukan dan dapat memanfaatkan waktu perkuliahan dengan sebaik-baiknya 5) Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan mampu menemukan variabel-variabel yang lebih luas dan variatif sehingga dapat menambah hasil-hasil penelitian tentang pelaksanaan matakuliah mengelola usaha busana khususnya mengelola usaha busana butik.

Efektivitas metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan kemampuan mengasosiasikan soal cerita "peluang" pada mata pelajaran matematika siswa tunanetra kelas XI IPS SMALB PTN Lawang / Evita Gadis Permatasari

 

ABSTRAK Gadis, Evita Permatasari. Efektivitas Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Mengasosiasikan Soal Cerita “Perluang” pada Matapelajaran Matematika Siswa Tunanetra Kelas XI IPS SMALB PTN Lawang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ir. Endro Wahyuni, M.Si, (II) Eka Pramono Adi, S.IP, M.Si Kata kunci: metode penemuan terbimbing, kemampuan mengasosiasi, matematika, tunanetra Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) efektifitas metode penemuan terbimbing dalam bentuk buku panduan mengerjakan (2) peningkatan kemampuan siswa dalam mendeskripsikan soal cerita ke dalam bahasa matematika (3) perbedaan kemampuan mengasosiasikan soal cerita “Peluang” sebelum dan sesudah diterapkannya metode penemuan terbimbing. Pada Penelitian ini digunaka metode Single Subject Research (SSR) dengan menggunakan desain A-B-A-B. Kondisi baseline-1 (A-1) untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum dilakukan intervensi dengan skor sebesar 18%. Kondisi Intervensi-1 (B-1) pelaksanaan treatment yang telah terbagi menjadi beberapa 5 sesi dengan skor rata-rata 80,4%. Kondisi baseline-2 (A-2) pelaksanaan untuk mengetahui kemampuan siswa sesudah dilakukan intervensi dengan skor sebesar 66%. Kondisi Intervensi-2 (B-2) pelaksanaan setelah dilakukan analisa kesalahan mengerjakan pada kondisi A-2 dengan perolehan skor sebesar 87%. Hasil penelitian berdasarkan desain A-B-A-B dengan penerapan metode penemuan terbimbing dalam bentuk modul panduan mengerjakan dapat dikatakan efektif karena terjadi peningkatan kemampuan mengasosiasikan soal cerita “Peluang” yang ditandai dengan perubahan skor sesudah dan sebelum dilaksanakan kondisi B-1. Kesimpulan bahwa penerapan metode penemuan terbimbing yang disusun dalam bentuk modul panduan mengerjakan yang dituliskan dalam bentuk braille memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan mengasosiasikan soal cerita “Peluang” pada siswa tunanetra kelas XI SMALB PTN Lawang.

Pengaruh perkembangan wisata religi makam Sunan Drajat terhadap perubahan masyarakat (lingkungan, sosial, ekonomi) Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan tahun 1994-2014 / Luqman Al Hakim

 

ABSTRAK Al Hakim, Luqman. 2016. Pengaruh Perkembangan Wisata Religi Makam Sunan Drajat Terhadap Perubahan Masyarakat (Lingkungan, Sosial, Ekonomi) Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Tahun 1994 – 2014. Skripsi, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Joko Sayono, M.Pd., M.Hum. Kata Kunci: Perkembangan Pariwisata, Makam, Wisata Religi, Dampak Lingkungan-Sosial-Ekonomi. Pembangunan pariwisata merupakan aspek dari program pengembangan potensi sumber daya yang ada di setiap daerah. Sumber daya yang memiliki potensi untuk dikunjungi banyak orang berhak untuk dikembangakan sebagai objek wisata. Di Indonesia banyak objek yang bisa dijadikan sebagai wisata salah satunya adalah wisata religi. Makam Sunan Drajat merupakan salah satu objek yang memiliki potensi untuk dikunjungi banyak orang sebagai tempat ziarah karena makam Sunan Drajat memiliki nuansa historis yang berpengaruh besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Oleh sebab itu makam Sunan Drajat dapat dikategorikan sebagai objek wisata religi. Pembangunan dan pengembangan pariwisata akan memacu pertumbuhan sosial dan ekonomi pada gilirannya akan mempengaruhi kehidupan masyarakat, tingkat kesejahteraan masyarakat, kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat. Dengan adanya wisata religi Makam Sunan Drajat menjadikan tempat tersebut banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang datang untuk berziarah. Hal ini menyebabkan adanya peluang bagi masyarakat setempat untuk memanfaatkan kesempatan membuka lapangan pekerjaan di lingkungan daerah wisata religi Makam Sunan Drajat yaitu misalnya dengan berdagang, menawarkan jasa-jasa serta usaha-usaha lain yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan dampak-dampak sosial lainnya. Rumusan masalah dalam penelitian yaitu: (1) Bagaimanakah latar belakang terjadinya renovasi wisata religi makam Sunan Drajat di Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimanakah perkembangan wisata religi Makam Sunan Drajat dari tahun 1994 – 2014? (3) Bagaimanakah dampak renovasi wisata religi Makam Sunan Drajat terhadap perubahan lingkungan, sosial, dan perkembangan ekonomi masyarakat sekitar? Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) observasi, (2) wawancara dengan teknik snow ball, dokumentasi dan study pustaka. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Kemudian pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah perpanjangan keikutsertaan, ketekunan atau keajegan pengamatan. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) pembangunan komplek wisata religi makam Sunan Drajat dimulai pada tahun 1992 dan selesai pada tahun 2005. Pembangunan ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan yang bekerja sama dengan Pemerintah Desa Drajat yang bertujuan untuk mengembangankan dan melestarikan situs warisan budaya serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Drajat. Sebelum dibangun dan dikembangkan, kondisi wisata masih tidak beraturan, kios-kios yang berserakan, dan area parkir yang sangat sempit sehingga menyebabkan proses kegiatan ziarah menjadi tidak kondusif. (2) Perkembangan wisata religi makam Sunan Drajat mengalami perubahan yang sangat pesat. Perkembangan dilakukan karena adanya kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Lamongan dengan Pemerintah Desa Drajat memanfaatkan potensi makam Sunan Drajat menjadi wisata religi dan meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Drajat. (3) Kegiatan perkembangan wisata makam Sunan Drajat mengakibatkan munculnya berbagai lapangan pekerjaan baru dan sampingan. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Drajat mengalami perubahan peningkatan yang sangat pesat, banyaknya pembangunan infrastruktur di Desa Drajat yang dilakukan oleh Pemerintah Desa seperti pembangunan jalan beraspal, perbaikan Lapangan Sepak Bola, perbaikan Lapangan Volly, pembangunan PAM/PDAM, dan pembukaan lahan baru sebagai tempat bangunan perumahan Desa Drajat. Disarankan (1) kepada masyarakat dan seluruh jajaran masyarakat penduduk Desa Drajat agar turut serta menjaga keamanan dan kenyamanan para zahirin. Serta menjaga kebersihan dan ketertiban bagi para pedagang di kompleks wisata religi makam Sunan Drajat. (2) kepada Pemerintah Daerah selaku pemilik aset tertinggi wisata religi diharapkan untuk lebih memperhatikan sarana pendukung yang kurang layak seperti: akses transportasi jalur Sukodadi - Banjaranyar. (3) Diharapkan mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan Sejarah agar mampu memahami ruang lingkupnya karena situs makam Sunan Drajat merupakan peninggalan salah satu Cagar Budaya bernuansa historis yang perlu dikembangkan dan dipelajari oleh mahasiswa jurusan Sejarah. (4) Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema ini tentunya lebih mengembangkan pada keberlanjutan atau pelaksanaan dari kebijaksanaan yang diambil dan diputuskan oleh pemerintah desa dan pemerintah daerah serta memahami perilaku peziarah yang datang di komplek wisata makam Sunan Drajat.

Pengembangan panduan motivasi diri dengan media wayang untuk siswa SMP / Puji Maulana

 

ABSTRAK Maulana, Puji. 2016. Pengembangan Panduan Motivasi Diri Dengan Media Wayang Untuk Siswa SMP.Tesis. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Dr. Marthen Pali. M. Psi. (II) Dr. Dany. M. Handarini, MA. Kata Kunci : Motivasi diri, Media wayang, Kebutuhan berkompetensi dan Kebutuhan berkompetisi. Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia maupun peranannya sering kali tidak terlalu jelas. Konselor bisa membantu pengembangan diri siswa di sekolah. Untuk mencapai hal itu diperlukan motivasi diri yang tinggi pada diri siswa, dengan motivasi diri yang tinggi diharapkan siswa akan memiliki prestasi akademik yang tinggi juga. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memudahkan dalam proses bimbingan kelompok adalah dengan membuat buku panduan pelatihan motivasi diri dengan media wayang untuk siswa SMP. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan panduan yang akseptabel, memenuhi kriteria ketepatan, kegunaan dan keterlaksanaan. Uji coba produk dilakukan oleh ahli Bimbingan dan Konseling, ahli ilmu pendidikan, ahli pendidikan bahasa dan pengguna produk (konselor). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan antara lain : (1) Persiapan, meliputi: asesmen kebutuhan, penentuan tujuan; (2) Pelaksanaan, meliputi : penyusunan draf produk; (3) uji coba produk, meliputi : uji ahli dan uji calon pengguna produk (konselor). Hasil penelitian adalah (1) Secara umum berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif uji ahli dan calon pengguna produk menunjukan bahwa panduan pelatihan motivasi diri dengan media wayang telah memenuhi aspek keberterimaan. (2) Berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif pengguna produk menunjukkan bahwa panduan pelatihan motivasi diri dengan media wayang telah memenuhi aspek keberterimaan. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan maka saran yang dapat diberikan adalah : (1) Konselor dapat menggunakan panduan pelatihan motivasi diri dengan media wayang ini kepada siswa melalui tindakan bimbingan dan menyesuaikan dengan kondisi kelas, (2) Peneliti selanjutnya perlu menguji cobakan produk pada subjek pengguna produk (siswa), dan (3) Peneliti selanjutnya dapat menguji keefektifan panduan pelatihan motivasi diri dengan media wayang ini dengan rancangan penelitian eksperimen.

Penerapan model pembelajaran Relating Experiencing, Applaying, Cooperating, and Transferring (REACT) un tuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS 5 SMA Laboratorium UM / Nurullah

 

Pengembangan variasi model latihan teknik dasar passing dan shooting dalam permainan futsal peserta ekstrakurikuler di SD Negeri Bareng 3 Malang / Fanggik Iman Prasetyayoko

 

ABSTRAK Prasetyayoko, Fanggik Iman. 2015. Pengembangan Variasi Model Latihan Teknik Dasar Passing dan Shooting dalam permainan futsal Peserta Ekstrakurikuler Di SD Negeri Bareng 3 Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Agus Gatot S. M, Kes., (II) I Nengah Sudjana, S.Pd, M. Pd. Kata Kunci: latihan teknik dasar passing dan shooting, peserta ekstrakurikuler Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti kepada peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang pada tanggal 1 April 2015, latihan passing dan shooting yang dilakukan tidak efektif dan tidak sesuai dengan yang diharapkan, serta belum ada panduan yang jelas dan pasti dalam melaksanakan program latihan teknik dasar passing dan shooting. Pada penelitian awal melalui penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) kepada 30 peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang, dengan hasil sebagai berikut: peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang menjawab sangat perlu dikembangkannya latihan teknik dasar passing dan shooting dan membutuhkan variasi model latihan teknik dasar passing dan shooting, peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang juga membutuhkan panduan dalam melaksanakan latihan teknik dasar passing dan shooting dan dikemas dalam bentuk buku panduan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan variasi model latihan teknik dasar passing dan shooting dalam permainan futsal peserta ekstrakurikuler SD Negeri Bareng 3 Malang. Dengan adanya model latihan teknik dasar passing dan shooting dapat meningkatkan kemampuan passing dan shooting dan dapat menjadi solusi dalam setiap sesi latihan. Metode penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development (R&D) dari Borg dan Gall. Dan Langkah-langkah dalam penelitian dan pengembangan ini mengacu pada konsep dari Ardhana, yaitu bahwa setiap pengembang berhak memilih langkah-langkah yang paling tepat untuk penelitiannya berdasar kondisi yang dihadapi. Sedangkan analisis yang digunakan yaitu kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli bidang, uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Hasil pengembangan variasi model latihan teknik dasar passing dan shooting dalam permainan futsal peserta ekstrakurikuler di SD Negeri Bareng 3 Malang diperoleh data sebagai berikut: (1) justifikasi ahli kepelatihan sebesar 79,95% (sangat valid), (2) justifikasi ahli bidang futsal sebesar 80,76% (sangat valid), (3) justifikasi ahli media sebesar 96,6% (sangat valid), (4) uji coba kelompok kecil sebesar 84,40% (sangat valid), (5) uji coba tahap kelompok besar sebesar 81,63% (sangat valid). Hasil pengembangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa variasi model latihan teknik dasar passing dan shooting dalam permainan futsal peserta ekstrakurikuler di SD Negeri Bareng 3 Malang menarik untuk dilakukan, aman untuk dilakukan, mudah untuk dilakukan, tepat untuk dilakukan, serta bermanfaat untuk peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang. Produk yang dikembangkan berupa model latihan yang baru, dan mengutamakan waktu latihan yang efektif dengan cara menambahkan repetisi dan jarak dalam setiap latihan. Latihan aman dilakukan karena setiap model latihan dilakukan bergantian. Latihan mudah untuk dilakukan dengan konsep langkah-langkah yang mudah dipahami. Latihan tepat untuk peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang karena diadaptasikan dengan ciri-ciri latihan pada umumnya dan latihan passing dan shooting dalam permainan futsal khususnya. Kemanfaatan latihan sangat dominan karena untuk mempermudah peserta ekstrakurikuler futsal di SD Negeri Bareng 3 Malang dalam melaksanakan latihan passing dan shooting. Pengembangan variasi model latihan teknik dasar passing dan shooting dalam permainan futsal peserta ekstrakurikuler di SD Negeri Bareng 3 Malang ini dapat membantu peserta ekstrakurikuler futsal lebih semangat dan antusias dalam mengikuti latihan. Kajian dan Saran, produk awal dari penelitian ini merupakan 10 model latihan yang menekankan pada latihan teknik dasar passing dan shooting dalampermainan futsal peserta ekstrakurikuler di SD Negeri Bareng 3 Malang.Yang terdiri dari 5 variasi model latihan teknik dasar passing dan 5 teknik dasar shooting. Sistematika penulisan produk yang dikembangkan adalah sebagai berikut. (1) bagian awal ( Cover ), (2) kata pengantar, (3) daftar Isi, (4) daftar gambar, (5) isi produk, (6) daftar rujukan, (7) tentang penulis. Saran yang dikemukakan meliputi saran pemanfaatan, (1) dalam menggunakan produk ini sebaiknya dilakukan seperti yang sudah direncanakan, kemudian dilakukan evaluasi. Saran diseminasi, (2) bahwa sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan kondisi sasaran yang ingin dituju baik isi maupun kemasan. Saran pengembangan lebih lanjut, (3) Untuk subjek penelitian diharapkan lebih luas dan sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektifitas produk yang dikembangkan.

Peningkatan kemampuan komunikasi sosial anak dengan bermain peran pada kelompok B1 di PAUD Al Quran Kabupaten Malang / Aisyah Nur Atika

 

ABSTRAK Atika, Aisyah Nur. 2016. Peningkatkan Kemampuan Komunikasi Sosial Anak dengan Bermain Peran pada Kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang. Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Kependidikan Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum, (II) Eny Nur Aisyah, S.Pd, I. M.Pd Kata Kunci:bermain peran, komunikasi sosial, anak Kelompok B Penelitian ini dilakukan berdasarkan temuan masalah yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi sosial anak kelompok B1 di PAUD AL-QURAN yang ditunjukkan dengan belum dapat berbicara dengan sopan, mau memohon dan memberi maaf, serta menyapa teman, sehingga sebagian anak cenderung kurang dapat menjalani hubungan baik dan menyenangkan dengan teman sebayanya. Hal tersebut menjadi alasan yang mendasari rumusan masalah, yaitu (1) bagaimana penerapan metode bermain peran dalam meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang, (2) apakah bermain peran dapat meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah anak kelompok B1 PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang berjumlah 14 anak. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi. Teknik pengumpulan data untuk mendukung penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan terhadap kemampuan komunikasi sosial anak dan kegiatan bermain peran lebih menyenangkan.bermain peran dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok B1 PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang terbukti ketuntasan kelas pada siklus I pertemuan pertama 36% atau 5 anak yang sudah berkembang, pada siklus I pertemua kedua 50% atau 7 anak yang sudah berkembang, pada siklus II pertemuan pertama 71% atau 10 anak yang sudah berkembang, dan pada siklus II pertemuan kedua 93% atau 13 anak yang sudah berkembang Bermain peran diterapkan dengan cara anak-anak memerankan suatu tokoh dan memerankan sesuai dengan perannya dengan cerita yang sudah ditentukan oleh guru. Kegiatan bermain peran dalam pembelajaran sosial emosional terbukti dapat meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak karena sudah mencapai target yang ditentukan yaitu ≥ 75%. Bagi guru anak usia dini disarankan memanfaatkan kegiatan bermain peran ini karena dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak.

Masalah peningkatan hasil produksi susu perusahaan susu Lactasari di Malang / oleh Sri Kustini

 

Gaya kepemimpinan kepala perpustakaan terkait pengembangan pustakawan di Perpustakaan Politeknik Negeri Malang / Larasati Nur Sabrina

 

ABSTRAK Sabrina, Larasati Nur. 2016. Gaya Kepemimpinan Kepala Perpustakaan terkait Pengembangan Pustakawan di Politeknik Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd, (II) Dwi Novita Ernaningsih, M.Hum Kata Kunci: gaya kepemimpinan, pengembangan pustakawan. Gaya kepemimpinan mempengaruhi suatu keberhasilan pemimpin dalam memimpin bawahannya dan mempengaruhi tingkah laku bawahannya. Kepemimpinan pada dasarnya adalah mengenai penciptaan cara bagi orang untuk berkontribusi dalam mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Seorang kepala akan memiliki jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Gaya kepemimpinan yang cocok akan digunakan untuk memimpin bawahannya demi kemajuan perpustakaan dan memberikan motivasi positif yang akan membangun pustakawan sebagai bawahannya menuju kinerja yang lebih baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup gaya kepemimpinan kepala perpustakaan terkait pengembangan pustakawan dilihat dari cara mengambil keputusan, hasil keputusan dan tindak lanjut hasil keputusan di Perpustakaan Politeknik Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan gaya kepemimpinan kepala perpustakaan. Pengumpulan data di lakukan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Instrumen yang diguanakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan reduksi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Cara Kepala Perpustakaan Politeknik Negeri Malang mengambil keputusan terkait pengembangan pustakawan senantiasa berdiskusi dengan bawahan. Wakil kepala perpustakaan menjadi orang yang paling sering diajak berdiskusi. Kepala perpustakaan berkomunikasi dengan bawahannya melalui aplikasi whatsapp. Komunikasi yang dilakukan tidak hanya sebatas intruksi kerja saja. Hal ini dapat menggambarkan bahwa kepala perpustakaan memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, kepala perpustakaan tidak memaksakan kehendak pada bawahan. Permasalahan yang dihadapi adalah ketidakhadiran kepala perpustakaan pada kegiatan perpustakaan. Kepala perpustakaan lebih fokus pada kegiatan mengajar sebagai dosen teknik. Pengaruh dari ketidakhadiran kepala perpustakaan adalah keputusan diambil dari pendapat bawahan, sehingga kepala perpustakaan tidak mengetahui masalah sebenarnya yang terjadi di Perpustakaan Politeknik Negeri Malang. Kedua, hasil keputusan kepala perpustakaan terkait pengembangan pustakawan adalah pendelegasian tugas. Kepala perpustakaan beserta staf membuat rencana strategis yang terdapat point tentang pengembangan pustakawan. Pengembagan pustakawan yang dilakukan melalui beberapa cara yaitu menugaskan pustakawan untuk mengikuti kegiatan seminar, pelatihan, workshop, dan lokakarya. Pustakawan diajarkan untuk membuat laporan penelitian dan pengabdian masyarakat. Kepala Perpustakaan Politeknik Negeri Malang selalu memberikan izin ketika pustakawan ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Gaya kepemimpinan yang dimiliki kepala perpustakaan dalam hal ini adalah demokratis, kepala perpustakaan dapat mempengaruhi pustakawan untuk mengembangkan diri dengan cara komunikasi yang baik. Masalah yang dihadapi adalah ketidakhadiran kepala perpustakaan sehingga tidak terjadi kontrol dalam hasil keputusan yang ada. Ketiga, tindak lanjut hasil keputusan Kepala Perpustakaan Politeknik Negeri Malang terkait pengembang pustakawan telah berjalan dengan baik. Permasalahan yang dihadapi berasal dari pihak pimpinan yang dalam hal ini adalah pembantu direktur 1. Pengembangan pustakawan yang telah direncanakan terkadang tidak mendapat dukungan dari pembantu direktur 1 yang mengakibatkan pengembangan perpustakaan tidak berjalan sesuai rencana yang telah disusun.

Analisis pertumbuhan jumlah angkatan kerja, kesempatan kerja, dan kebutuhan lapangan kerja di Kabupaten Pasuruan tahun 2016-2020 / Wisnu Khijir Ismail

 

ABSTRAK Ismail, Wisnu Khijir. 2016. Analisis Pertumbuhan Jumlah Angkatan Kerja, Kesempatan Kerja, dan Kebutuhan Lapangan Kerja di Kabupaten Pasuruan Tahun 2016-2020. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistyanto, M.Si Kata Kunci: analisis pertumbuhan, angkatan kerja, kesempatan kerja, kebutuhan lapangan kerja Selama tahun 2010 hingga tahun 2014 jumlah angkatan kerja di Kabupaten Pasuruan telah bertambah sebanyak hampir 150.000 jiwa. Peningkatan jumlah angkatan kerja harus disertai dengan peningkatan kesempatan kerja. Sebab, memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak adalah hak asasi setiap warga negara Indonesia yang telah diatur dalam Undang-Undang. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Pasuruan sebagai penyelenggara pembangunan ekonomi wajib menciptakan lapangan kerja yang layak bagi seluruh warganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah lapangan kerja yang harus diciptakan pada tahun 2016-2020 sesuai dengan pertumbuhan jumlah angkatan kerja dan pertumbuhan kesempatan kerja di Kabupaten Pasuruan. Pelaksanaan penelitian ini menggunakan analisis data tahun 2010 hingga tahun 2014. Dengan menggunakan laju pertumbuhan angkatan kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pasuruan sebagai dasar perhitungan, dapat diprediksikan jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja kerja yang tersedia pada tahun 2016-2020. Sementara itu, untuk mengetahui jumlah kebutuhan lapangan kerja menggunakan metode Supplay and Demand. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan jumlah Angkatan Kerja di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2016 hingga tahun 2020 mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah angkatan kerja disebabkan oleh Kabupaten Pasuruan pada tahun 2015 masuk dalam fase Bonus Demografi. Peningkatan jumlah angkatan kerja menuntut peningkatan jumlah kesempatan kerja. Jumlah Kesempatan Kerja di pada tahun 2016 hingga tahun 2020 juga mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah kesempatan kerja disebabkan oleh peningkatan kondisi ekonomi yang terus membaik. Peningkatan jumlah kesempatan kerja tidak sebanding dengan peningkatan jumlah angkatan kerja sehingga kebutuhan lapangan kerja semakin banyak. Pemerintah Kabupaten Pasuruan harus terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar kesempatan kerja yang tersedia semakin banyak. Selain itu pemerintah Kabupaten Pasuruan harus menurunkan laju pertumbuhan angkatan kerja. Penurunan pertumbuhan angkatan kerja dapat dilakukan dengan cara meningkatkan partsipasi sekolah penduduk usia muda.

Pemanfaatan repositori digital di UPT Perpustakaan Universitas Jember / Rimadhianora Azyiza Putri

 

ABSTRAK Putri, Rimadhianora Azyiza. Pemanfaatan Repositori Digital di UPT Perpustakaan Universitas Jember. Tugas Akhir, Jurusan Sastra Indonesia, Program Studi D3 Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd., (2) Drs. Dwi Sugianto, M.Pd. Kata Kunci: perpustakaan perguruan tinggi dan pemanfaatan repositori digital. Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di dalam lingkup perguruan tinggi yang bertujuan untuk membantu perguruan tinggi dalam mencapai tujuan. Lingkup perpustakaan perguruan tinggi ialah pusat, fakultas, jurusan, dan program studi. UPT Perpustaaan Universitas Jember merupakan fasilitas yang menunjang civitas akademika dalam belajar. Peran UPT Perpustakaan Universitas Jember melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tinggi. Repositori digital ialah satu tempat untuk menyimpan, mengolah, melestarikan dan menyebarluaskan informasi karya ilmiah dalam bentuk elektronik. Karya ilmiah dihasilkan oleh civitas akademika Universitas Jember. Karya ilmiah yang diunggah tidak hanya berisi karya ilmiah berupa skripsi, tesis, laporan dan disertasi, tetapi juga berisi semua publikasi ilmiah yang dihasilkan civitas akademika. Adanya repositori digital dapat mengurangi adanya plagiasi dalam karya ilmiah. Perlu diadakan suatu analisis tentang tingkat pemanfaatan repositori digital di UPT Perpustakaan Universitas Jember oleh mahasiswa. Tujuannya adalah sebagai alat ukur tingkat pemanfaatan repositori digital oleh mahasiswa. Analisis tingkat pemanfaatan repositori digital di UPT Perpustakaan Universitas Jember oleh mahasiswa dilakukan dengan penelitian kuesioner. Hasil penelitian 96 responden menunjukkan rata-rata mahasiswa banyak memanfaatkannya. Hal tersebut dapat dilihat bahwa 38% responden sering memakai repositori digital. Mahasiswa yang belum mengetahui repositori digital, lebih memilih datang langsung ke perpustakaan. Selain itu, mahasiswa banyak menggunakan mesin pencari (google) karena lebih mudah dan hasil pencarian lebih banyak sertabervariatif. Mahasiswa yang biasa menggunakan repositori digital rata-rata mahasiswa diatas semester 4 karena sebagai bahan tugas bahkan sebagai bahan rujukan tugas akhir dan skripsi. Saran bagi pemustaka, mengikuti pendidikan pemakai yang diselenggarakan oleh perpustakaan. Pemustaka harus menyesuaikan dengan perkembangan TI di perpustakaan sebagai penunjang tugas. Bagi pustakawan, Memberikan layanan informasi mengenai repositori. Jika ada pemustaka yang bertanya mengenai repositori, pustakawan harus selalu siap menjawab dan membantu pemustaka dan layanan lainnya. Bagi UPT Perpustakaan Universitas Jember, selalu diadakan sosialisasi repositori digital pada setiap acara pendidikan pemustaka. Selain pemustaka dapat mengetahui adanya repositori digital, pemustaka juga bisa memanfaatkan repositori digital sebagi rujukan.

Pengembangan sistem informasi perpustakaan berbasis web di Perpustakaan SDN Watukosek Kabupaten Pasuruan / Bachrul Ilmi

 

ABSTRAK Ilmi, Bachrul. 2016. Pengembangan Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Web Di Perpustakaan SDN Watukosek Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd., (2) Moh.Safii, S.Kom., M.Hum. Kata Kunci: sistem informasi perpustakaan, web, perpustakaan sekolah, pusat sumber belajar. Perpustakaan sekolah memiliki peran sebagai pusat sumber belajar yang menyediakan bahan penunjang pembelajaran yang relevan. Namun dalam pelaksanaannya, perpustakaan sekolah masih kurang diminati untuk kegiatan pembelajaran. Supaya dapat mewujudkan peran tersebut, maka perlu adanya kolaborasi yang baik antara pustakawan dan guru. Guru sebagai pengajar perlu mengevaluasi tingkat kejenuhan siswa dalam belajar dikelas, kemudian menginformasikannya pada pustakawan. Melalui kerjasama yang demikian, pustakawan dapat mengidentifikasi kekurangan perpustakaan, sehingga muncul inovasi sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Salah satu inovasi tersebut adalah mengembangkan suatu sistem informasi pada perpustakaan yang dapat menyediakan materi beserta pendukungnya berupa video, dan dokumen dari guru, kemudian diolah pustakawan dan dilayankan ke siswa, sehingga dapat meningkatkan ketertarikan siswa ke perpustakaan untuk belajar serta mempercepat pemahaman terhadap materi secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan sistem informasi perpustakaan berbasis web, dan menghasilkan panduan operasional sistem informasi perpustakaan berbasis web. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan Analysis, Design, Development, Implement, Evaluation (ADDIE) yang dikembangkan oleh Branch (2009). Tahap penelitian ini yaitu analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Produk sistem informasi perpustakaan berbasis web yang telah jadi kemudian divalidasi oleh ahli teknologi informasi bidang web, praktisi (guru), dan praktisi (pustakawan). Produk yang telah divalidasi selanjutnya di uji cobakan pada siswa kelas 5 SDN Watukosek yang berjumlah 36 anak. Hasil penelitian menunjukkan penilaian dari ahli teknologi informasi bidang web memberikan kriteria “Sangat Valid”, praktisi (guru dan pustakawan) memberikan kriteria “Sangat Valid”, dan hasil uji coba lapangan terhadap siswa memberikan kriteria “Sangat Baik”. Selain memberikan penilaian, validator juga memberikan saran perbaikan produk. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi perpustakaan berbasis web yang dikembangkan setelah direvisi menunjukkan kriteria “Sangat Valid” sehingga sistem informasi perpustakaan berbasis web layak digunakan.

Peningkatan motivasi belajar fisika dan keterampilan proses siswa SLTP Laboratorium Universitas Negeri Malang melalui pembelajaran konstruktivis / oleh Sofa Ismaida

 

pembelajaran konstruktivis merupakan suatu pembelajaran yang menekankan bahwa pengetahuan siswa adalah konstruksi atau bentukan siswa itu sendiri. Pengetahuan dibentuk oleh siswa secara aktif, bukan hanya diterima secara pasif dari guru mereka.

Pengaruh risiko kredit terhadap pendapatan bank umum di Indonesia periode tahun 2003-2006 / R. Moh. Omar Syarif Amir Sulthon

 

Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan amat penting dalam perekonomian suatu negara. Fungsi utama perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan menjadi begitu penting apabila fungsi ini tidak dijalankan dengan baik dan benar, maka hampir dipastikan bahwa problema yang kompleks telah menanti kehidupan perekonomian suatu negara (Sipahutan, 2007:32). Menurut Sutojo (1997:14), hingga saat ini kegiatan usaha yang menjadi tulang punggung utama perbankan antara lain sebagai berikut: a) menghimpun dana dari masyarakat; b) menyalurkan kredit; c) menunjang kelancaran mekanisme pembayaran di masyarakat; d) menyediakan jasa penunjang kegiatan perdagangan internasional; e) menyediakan jasa penitipan barang berharga dan surat berharga. Dikeluarkannya PAKTO ‘88 yang memberi kemudahan dalam persyaratan pendirian Bank membuat jumlah Bank di Indonesia meningkat cukup drastis dari 111 Bank pada tahun 1988 menjadi sekitar 240 Bank pada akhir 1994. Kebijakan ini lebih berdampak pada peningkatan kuantitas daripada kualitas Bank - Bank. Sebagai salah satu langkah untuk menciptakan sistem perbankan yang sehat, pemerintah telah melakukan 2 pembekuan kegiatan usaha Bank yang tidak memiliki prospek dan penggabungan usaha beberapa Bank untuk menciptakan sinergi. Semakin membaiknya kondisi perbankan telah mendorong sisi penyaluran dana, khususnya pada penyaluran kredit perbankan. Melalui kegiatan perkreditan, Bank berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat bagi kelancaran usahanya. Setiap Bank berlomba memberikan kemudahan dalam pengambilan kredit dan kredit yang diberikan tidak terbatas untuk satu sektor saja, melainkan untuk berbagai sektor perekonomian antara lain pertanian, pertambangan, perdagangan, perindustrian, jasa, dan sektor-sektor lain. Kredit merupakan sumber pendapatan dan keuntungan Bank yang terbesar. Di samping itu kredit juga merupakan jenis kegiatan menanamkan dana yang sering menjadi penyebab utama Bank menghadapi masalah besar. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa stabilitas usaha Bank sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam mengelola kredit. Usaha Bank yang berhasil mengelola kreditnya akan berkembang, sedangkan usaha Bank yang selalu dirongrong kredit bermasalah akan mundur. Bank tidak luput dari adanya resiko. Dimana resiko berhubungan dengan produk-produk yang dimiliki, untuk menciptakan keunggulan bersaing dan memberikan nilai bagi Bank (Gozali, 2007:35). Resiko yang timbul jika tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak pada kinerja yang memburuk dan akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Bank akan kehilangan fungsi utamanya sebagai lembaga penghimpun dana 3 dari masyarakat, dan pada akhirnya Bank tidak dapat melakukan aktivitas usahanya sehingga perekonomian menjadi terhambat. Bank sebagai lembaga intermediasi keuangan dalam kegiatannya dituntut untuk selalu menjaga ketahanan dalam menyerap berbagai resiko yang ada. Resiko usaha Bank merupakan tingkat ketidakpastian mengenai suatu hasil yang diperkirakan atau diharapkan akan diterima, hasil dalam hal ini merupakan keuntungan Bank (Siamat, 1995:58). Seperti diketahui krisis moneter ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 / 1998 di Indonesia menyebabkan perbankan dihadapkan dengan situasi buruk. Kondisi ini tercermin di dalam pernyataan BI sebagai berikut: Dalam tahun laporan, perbankan nasional mengalami krisis yang berat sebagai dampak negatif dari bergejolaknya nilai tukar rupiah dan menurunnya kepercayaan masyarakat. Melemahnya nilai tukar rupiah telah menimbulkan kesulitan likuiditas yang besar pada perbankan. Situasi tersebut kemudian diperberat oleh melemahnya kondisi internal sektor perbankan, terutama sebagai dampak dari lemahnya manajemen, konsentrasi kredit yang berlebihan, terbatas dan kurang transparannya informasi kondisi keuangan baik, dan belum efektifnya pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Menurut Bank Indonesia, perbankan banyak melakukan pelanggaran di dalam prinsip kehati-hatian atas penanaman dananya, sehingga banyak aktiva Bank yang berada dalam resiko tinggi. Faktor yang dianggap menjadi penyebab utama dari buruknya kinerja Bank adalah kurang profesionalnya pihak manajemen maupun tidak independennya hubungan antara pihak pemilik dan pihak manajemen sehingga berakibat pada kurang tepatnya pengambilan keputusan, yang menyebabkan sering tidak terantisipasinya resiko dengan baik. Banyaknya pelanggaran prinsip kehati-hatian dalam 4 manajemen resiko, mendorong Bank Indonesia pada tahun 2005 mulai menerapkan sertifikasi manajemen resiko untuk meningkatkan kualitas operasional perbankan terhadap pengurus dan pejabat Bank. Dari hasil sertifikasi tersebut 73% mendapat tingkat kelulusan yang memadai, dan dengan kata lain masih terdapat 27% yang beresiko tinggi di dalam penerapan prinsip kehati-hatian. Terkait dengan peningkatan kualitas manajemen resiko, dalam laporan perekonomian Indonesia tahun 2006, Bank Indonesia memberikan pernyataan sebagai berikut: Di sisi pendapatan, pertumbuhan penyaluran kredit, penanaman dana perbankan pada surat – surat berharga yang beresiko rendah, serta selisih suku bunga pinjaman dan simpanan yang besar mengakibatkan meningkatnya pendapatan bunga. Dari sisi pengeluaran, restrukturisasi kredit yang dilakukan dalam rangka memperbaiki kualitas kredit, mampu menurunkan biaya penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP). Perkembangan tersebut meningkatkan profitabilitas Bank. Dalam pernyataan Bank Indonesia tersebut, dapat diartikan bahwa semakin beresiko suatu usaha akan memberikan ekspektasi tingkat profitabilitas Bank. Dengan demikian penurunan resiko berdampak pada peningkatan pendapatan Bank, maka timbul pernyataan, apakah masih relevan pengaruh tingkat resiko yang didapat berbanding lurus terhadap tingkat pendapatan, dalam artian bahwa apakah sebuah Bank yang selalu berpedoman pada prinsip kehati-hatian akan mengambil tingkat resiko yang lebih tinggi dengan harapan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi. Dapat dipahami bahwa semakin beresiko suatu usaha akan memberikan ekspektasi tingkat profitabilitas yang lebih jika dibandingkan dengan usaha yang kurang beresiko. Demikian pula halnya dengan Bank dalam kegiatan 5 penanaman dananya. Dalam sektor kredit misalnya, penyaluran kredit oleh Bank menjadi kegiatan utama dan merupakan kegiatan yang paling besar resikonya. Penyaluran kredit tidak terlepas dari adanya ketidakpastian hasil yang diperoleh oleh Bank yang biasa disebut dengan resiko kredit. Resiko kredit timbul karena adanya penyimpangan kinerja portofolio kredit dari hasil yang diharapkan (Tampubolon, 2004:49). Pada tahun 1998, kredit macet mencapai 300 triliun atau sekitar 60% dari total portofolio kredit. Memburuknya kualitas kredit terutama disebabkan oleh manajemen perbankan itu sendiri yang lebih banyak resiko kredit ini salah satunya bisa diakibatkan oleh. Kegagalan manajemen resiko yaitu dalam pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BPMK). Dengan masih terbatasnya fungsi intermediasi perbankan yang tercermin di dalam LDR (Loan to Deposit Ratio) yang menjadi alat ukur terhadap ekspansifitas perbankan dalam mengalihkan kredit, maka Bank menempatkan kelebihan dananya ke dalam pasar keuangan yang dapat berupa Sertifikat Bank Indonesia, surat berharga pemerintah, surat berharga korporasi maupun penanaman dana ke dalam pasar uang antar Bank sama halnya dalam sektor kredit, tujuan Bank dalam berinvestasi adalah untuk memperoleh keuntungan atas investasinya yang berupa bunga maupun capital gain, yaitu selisih antara harga jual dengan harga beli. Selama tahun 1999 hingga tahun 2006, Bank Indonesia melaporkan bahwa tindak kecurangan yang dialami Bank (bank fraud) 30% atau secara mayoritas terjadi pada kelompok perkreditan. Tindak kecurangan tersebut 6 dapat berupa debitur fiktif, swap loan maupun berupa rekayasa untuk menghindari Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). (Sipahutan, 2007:88). Ketika krisis mulai terjadi, masalah mulai menghampiri. Masalahnya adalah pinjaman yang diberikan kepada beberapa Bank melalui pasar uang antar Bank tidak bisa ditagih karena Bank lain juga mengalami kesulitan likuiditas akibat krisis. Pada kenyataannya resiko kredit secara tidak langsung juga dapat berdampak pada kegiatan operasional antar Bank. Apabila dalam kegiatan Bank, menjadi bermasalah karena Bank tidak melakukan pengawasan maupun perhitungan resiko dengan baik, dengan kata lain dalam menilai investasi secara baik, maka kerugian tersebut pada akhirnya menurunkan kinerja keuangan Bank dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan khususnya Bank. Dengan demikian judul yang diambil dalam penelitian ini adalah ”Pengaruh Resiko Kredit terhadap Pendapatan Bank Umum di Indonesia Periode Tahun 2003 - 2006”.

Pengembangan masase olahraga untuk pemanasan bagi atlet pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang / Mega Anggraini

 

Anggraini, Mega. 2014. Pengembangan Masase Olahraga untuk Pemanasan bagi Atlet Pencak Silat PSHT Cabang Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mulyani Surendra, M.S (II) Kurniati Rahayuni, S.Psi, M.Psi Kata Kunci: masase olahraga, pemanasan, pencak silat Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan peneliti kepada 20 atlet dan 2 orang pelatih pencak silat PSHT Cabang Malang pada tanggal 12 Februari 2014, melalui penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) didapatkan hasil sebagai berikut: atlet pencak silat PSHT Cabang Malang menyatakan sebelum berlatih selalu melakukan pemanasan, atlet dan pelatih pencak silat PSHT setuju dikembangkan masase olahraga untuk pemanasan pencak silat, atlet pencak silat PSHT Cabang Malang juga membutuhkan panduan dalam melaksanakan masase olahraga untuk pemanasan pencak silat dan dikemas dalam bentuk buku panduan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan masase olahraga untuk pemanasan pada olahraga pencak silat dalam bentuk yang berbeda dari yang biasa dilakukan untuk membantu menyiapkan kondisi fisik sebelum latihan atau bertanding yaitu dengan mengembangkan masase olahraga untuk pemanasan atlet pencak silat. Diharapkan hasil pengembangan ini bermanfaat untuk atlet pencak silat PSHT Cabang Malang. Metode penelitian ini mengacu pada model pengembangan research and development (R&D) dari Borg dan Gall. Sedangkan analisis yang digunakan yaitu kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari penelitian awal (analisis kebutuhan), evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Hasil pengembangan masase olahraga untuk pemanasan atlet pencak silat PSHT Cabang Malang diperoleh data sebagai berikut: (1) hasil justifikasi ahli masase sebesar 75-100% (sangat baik), (2) hasil justifikasi ahli pencak silat sebesar 75-100% (sangat baik), (3) justifikasi ahli media sebesar 74,16% (sangat baik), (4) uji coba kelompok kecil sebesar 83% (sangat baik), (5) uji coba kelompok besar sebesar 85% (sangat baik). Hasil pengembangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa masase olahraga untuk pemanasan bagi atlet pencak silat PSHT Cabang Malang menarik untuk dipelajari, mudah untuk dipahami, mudah untuk dilakukan, tepat untuk dilakukan pada olahraga pencak silat, serta bermanfaat untuk atlet pencak silat PSHT Cabang Malang. Produk yang dikembangkan berupa masase olahraga yang khusus dilakukan untuk olahraga pencak silat, pelaksanaan masase ini disesuaikan dengan karakteristik olah gerak tubuh pada pencak silat yang lebih banyak menguras tenaga pada otot-otot panjang terutama otot tungkai dan lengan. Pengembangan masase olahraga untuk pemanasan bagi atlet pencak silat PSHT Cabang Malang ini diharapkan dapat dijadikan alternatif pemanasan sebelum berlatih serta dapat membantu atlet pencak silat dalam melakukan persiapan fisik terutama untuk memanaskan badan sebelum latihan atau pertandingan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada siswa kelas V SDN Turi 01 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar / Ahmad Serfuy

 

Serfuy, Ahmad. 2014. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Pada Siswa Kelas V SDN Turi 01 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Drs. H. Hadi Mustofa, M.Pd, (2) Dra. Widayati, M.H Kata Kunci : Hasil Belajar, Model Think Pair Share    Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas V pada waktu pembelajaran IPS terdapat, (1) guru menggunakan metode ceramah yang dominan sehingga siswa kurang aktif. (2) siswa kurang berkonsentrasi dalam belajar, hal ini terbukti saat pembelajaran ada sebagian siswa yang bermain sendiri, dan mengantuk saat guru menjelaskan materi. (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran. (4) selama pembelajaran siswa tidak belajar secara kelompok, melainkan belajar secara individu. Pada pembelajaran IPS, KKM yang ditentukan yaitu 70. Ada 24 siswa dari jumlah keseluruhan 32 siswa yang hasil belajarnya di bawah KKM sehingga belum mencapai ketuntasan belajar.    Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran think pair share pada IPS kelas V sudah baik. Hal ini didukung dengan meningkatnya hasil belajar siswa pada model think pair share. Hasil belajar siswa meliputi aspek aktivitas belajar siswa dan nilai akhir siswa. Persentase aktivitas belajar siswa pada tahap pra tindakan mencapai 52,5%, persentase aktivitas siswa pada siklus I pertemuan ke-1 mencapai 52,06%, pertemuan ke-2 mencapai 64,46%, sehingga dari pra tindakan sampai siklus I pertemuan ke-2 sebesar 11,96%. Pada siklus II pertemuan ke-1 presentase aktivitas siswa mencapai 71,15%, pertemuan ke-2 mencapai 81,75%. Sehingga terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 17,29%. Secara keseluruhan terjadi peningkatan dari pratindakan sampai siklus II sebesar 29,25%.    Pada aspek nilai akhir siswa pada tahap pra tindakan mencapai 57,65%, siklus I pertemuan ke-1 mencapai 63,03%, pertemuan ke-2 mencapai 71,15%. Sehingga dari pra tindakan sampai sikus I mengalami peningkatan sebesar 14,5%. Pada siklus II pertemuan ke-1 mencapai 71,09%, pertemuan ke-2 mencapai 80,96%. Hal ini menunjukan peningkatan dari siklus I ke siklusII sebesar 8,81 %. Sehingga terjadi peningkatan dari pra tindakan samapi siklus II sebesar 23,31%.    Berdasarkan hasil kesimpulan, disarankan kepada guru kelas V SDN Turi 01 Kecamatan Sukorejo Kota Blitar untuk menggunkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share. Hal ini dikarenakan model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang berbasis pada diskusi kelas dengan kelompok berpasangan. Diharapkan dengan model pembelajaran think pair share ini siswa dapat mengembangkan kerja sama, berani mengungkapkan gagasan, dan berlatih untuk berfikir kritis dalam menanggapi suatu permasalahan.

Penerapan metode pembelajaran make a-match untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi siswa kelas X program keahlian jasa boga mata pelajaran kewirausahaan di SMK Kartika IV-1 Malang) / Rizqi Maulana

 

Kata Kunci: Make A Match , Hasil Belajar Metode pembelajaran Make A Match merupakan metode pembelajaran kooperatif dengan mencocokan kartu. melalui model Mencari Pasangan (Make A Match) muncul keaktifan siswa yang terdata dari ide yang ada dalam pemecahan jawaban yang tepat diharapkan dapat dapat terpenuhi dengan baik. Dalam penelitian ini permasalahan yang akan di bahas meliputi. (1) Bagaimanakah penerapan metode Pembelajaran Make A Match pada siswa kelas X , (2) Apakah Metode Pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X , (3) Apa saja faktor pendukung dan kendala penerapan Metode Pembelajaran Make A Match ,dan (4) Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran Make A Match. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif terdiridari dua siklus. Masing – masing siklus terdiri dari empat tahapan antara lain perencanaan , pelaksanaan , pengamatan , dan refleksi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Jasa Boga pada mata pelajaran kewirausahaan. Teknik pengumpukan data yang dilakukan adalah observasi (aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran), wawancara, tes , catatan lapangan, angket , dan dokumentasi. Analisanya adalah melalui 3 tahap yaitu reduksi data, paparan data , dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini telah terbukti dengan penerapan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada aspek kognitif siklus I menunjukan 62,05% sedangkan pada siklus II menunjukan 70,25% hal tersebut menjelaskan adanya peningkatan persentase sebesar 8,2%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Jasa Boga SMK Kartika IV -1 Malang. Saran yang disampaikan oleh peneliti antara lain : (1) bagi sekolah untuk memberikan fasilitas yang sama dalam mendukung pembelajaran yang inovatif dalam kelas. (2) disarankan bagi guru untuk menerapkan model pembelajaran yang inovatif dalam melaksanakan pembelajaranya. (3) bagi siswa untuk lebih sering melatih kemampuan berbicara dalam kelas serta mengungkapkan gagasan dalam diskusi. (4) Bagi peneliti lain disarankan untuk menggunkan metode Make A Match untuk mata pelajaran lain.

Pengaruh praktik pengalaman lapangan (PPL) keguruan dan nilai matakuliah kependidikan terhadap penguatan minat menjadi guru mahasiswa pendidikan akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Yudha Surya Prapanca

 

Kata Kunci : PPL keguruan, nilai matakuliah kependidikan, penguatan minat menjadi guru Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan merupakan suatu program dari Universitas Negeri Malang yang memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan profesional keguruan. Dengan adanya program tersebut diharapkan lulusan FE UM khususnya prodi pendidikan akuntansi dapat menerapkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan pada akhirnya akan mendapatkan pengalaman mengajar sebelum mereka benar-benar menjadi guru. Bukan hanya dalam hal penguasaan materi saja, seorang mahasiswa praktikan PPL Keguruan juga harus menguasai kemampuan mengajar yang telah dipelajari di perkuliahan pada matakuliah kependidikan. Matakuliah kependidikan merupakan matakuliah yang mempunyai kajian dan pelajaran yang bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang untuk berprofesi pada bidang kependidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) pengaruh PPL keguruan terhadap penguatan minat menjadi guru mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang, (2) pengaruh nilai matakuliah kependidikan terhadap penguatan minat menjadi guru mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang, (3) pengaruh PPL keguruan dan nilai matakuliah kependidikan terhadap penguatan minat menjadi guru mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian jenis penelitian eksplanasi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 78 responden berasal dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan kuesioner Data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif, analisis statistik inferensial dengan analisis regresi linear berganda, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis dengan uji t dan uji F. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan secara parsial PPL keguruan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penguatan minat menjadi guru. Nilai matakuliah kependidikan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penguatan minat menjadi guru. Sedangkan secara simultan, PPL keguruan dan nilai matakuliah kependidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penguatan minat menjadi guru. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data untuk variabel PPL keguruan dan penguatan minat menjadi guru hanya dilakukan dengan penyebaran angket, populasi hanya berasal dari mahasiswa pendidikan akuntansi Universitas Negeri Malang, PPL keguruan dan nilai matakuliah kependidikan hanya berkontribusi 30,7 %, sedang sisanya dipengaruhi faktor lain. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah: (1) Bagi Mahasiswa, diharapkan agar mahasiswa jurusan kependidikan untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan PPL keguruan serta dalam menempuh mata kuliah kependidikan. (2) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti selanjutnya menambah teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui wawancara pada siswa kelas V SDN Tanggung 2 Kota Blitar /Roberth Wedly Tunjanan

 

Tunjanan Roberth. Peningkatan Keterampilan Berbicara melalui Teknik Wawancara Pada Siswa Kelas V SDN Tanggung 2 Kota Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sutansi, M.Pd, (2) Drs Suhel Madyono, M.Pd. Kata Kunci : Keterampilan berbicara, teknik wawancara      Permasalahan dalam penelitian yang dilakukan di SDN Tanggung 2 kota Blitar adalah guru lebih sering menekankan pembelajaran menulis dan membaca. Oleh sebab itu guru juga harus mengingatkan siswa bahwa kemampuan berbicara berhubungan erat dengan kemampuan berbahasa yang lainnya misalnya menyimak,membaca dan menulis.      Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan wawancara dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Tanggung 2 Kota Blitar dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara melalui teknik wawancara pada siswa kelas V SDN Tanggung 2 Kota Blitar.      Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Untuk menyaring data diperoleh dengan observasi, tes, dokumentasi, wawancara.Teknik analisis data dengan analisis kualitatif.       Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan peningkatkan keterampilan berbicara siswa. Pada masing-masing siklus terjadi peningkatan hasil belajar pada aspek berbicara dalam pembelajaran siswa. Hal ini terbukti dengan peningkatan hasil belajara siswa pada nilai hasil siklus I dan siklus II. Pada siklus I, prosentase ketuntasan belajar siswa adalah 72,34 % dan pada siklus II, belajaran persentase ketuntasan belajar adalah 84% . Hasil ini berarti telah terjadi peningkatan hasil belajaran siswa dalam berbicara melalui wawancara.       Dari hasil PTK ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan wawancara dengan peningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Tanggung 2 Kota Blitar dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang memaksimalkan potensi siswa untuk berbicara/berkomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti berdialog, berdiskusi, tanya jawab, mengungkapkan pendapat/sanggahan. Peningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Tanggung 2 Kota Blitar.

Pengembangan bahan ajar fisika berbantuan komputer dengan program swishmax 3 pada pokok bahasan listrik dinamis untuk siswa SMA / Adela Yunita Angelina

 

Kata Kunci: bahan ajar, listrik dinamis, swishmax Listrik Dinamis merupakan salah satu pokok bahasan fisika yang sulit untuk dipelajari oleh siswa, karena mengandung konsep yang bersifat abstrak. Suatu alat bantu pembelajaran diperlukan untuk menggambarkan pokok bahasan tersebut dengan jelas dan menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Alat bantu pembelajaran tersebut adalah berupa bahan ajar berbantuan komputer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar Fisika berbantuan komputer pada pokok bahasan Listrik Dinamis dan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar tersebut. Metode penelitian yang digunakan memodifikasi model prosedural pengembangan media yang dikemukakan oleh Setyosari, yaitu meliputi: identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, pengembangan materi, penulisan alat ukur keberhasilan, pengembangan bahan ajar, validasi, revisi (jika diperlukan) dan produksi. Validasi dilakukan oleh ahli materi dan media yang berasal dari guru dan dosen. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan angket kepada ahli materi dan ahli media. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator yang dianalisis dengan menggunakan teknik persentase untuk mengetahui kelayakan produk serta data kualitatif berupa kritik dan saran yang diberikan oleh validator. Produk pengembangan bahan ajar ini secara keseluruhan dinilai valid oleh kedua kelompok ahli, yaitu ahli materi dan ahli media. Hasil analisis data menunjukkan bahwa validitas produk dari aspek materi adalah 83,82% dengan kriteria valid (layak) dan dari aspek media adalah 85,29% dengan kriteria valid (layak). Sehingga produk bahan ajar fisika berbantuan komputer dengan program SwishMax 3 pada pokok bahasan listrik dinamis ini layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

Pengembangan media audio pembelajaran mata pelajaran shiatsu untuk tunanetra kelas dasar di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra Budi Mulya Malang / Dewi Wahyuning Hikmah

 

Media audio pembelajaran merupakan salah satu bentuk media pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar. Media audio pembelajaran mampu menyajikan pesan pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menarik bagi siswa Tunanetra. Berdasarkan hasil observasi di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra Budi Mulya Malang dalam pembelajaran Shiatsu selama ini menggunakan metode ceramah. Untuk itu pengembang membuat alternatif pemecahan masalah melalui upaya pengembangan media audio rekaman sebagai media pembelajaran. Pengembangan media audio pembelajaran bertujuan: 1) mengatasi kesulitan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran secara jelas/konkrit, 2) memudahkan siswa tunanetra dalam menerima dan menangkap materi pelajaran Shiatsu secara jelas/konkrit dan mempertahankan daya ingatannya, 3) membantu guru dalam proses belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Kegiatan pengembangan meliputi validasi ahli media, ahli materi, responden siswa dan subyek uji coba pengembangan media audio pembelajaran Shiatsu dengan menggunakan siswa Panti Rehabilitasi Cacat Netra Budi Mulya Malang Kelas Dasar Semester 2. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli media, ahli materi dan responden. Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar siswa menggunakan perbedaan mean dengan uji t (t-test) Hasil validasi media audio pembelajaran menunjukkan ahli media memenuhi kriteria valid, ahli materi memenuhi kriteria valid, dan audien memenuhi kriteria valid. Sedangkan uji t (t-test) perseorangan menghasilkan thitung (6,99) > ttabel (4,30), kelompok kecil menghasilkan thitung (6,39) > ttabel (2,78), kelompok klasikal menghasilkan thitung (5,44) > ttabel (2,11). Hasil ini menunjukkan ada kemajuan prestasi belajar siswa sebelum menggunakan media audio pembelajaran dan sesudah menggunakan media audio pembelajaran. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media audio pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan materi dengan jelas/konkrit, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Perbedaan hasil belajar geografi siswa yang menggunakan media gambar gerak CD pembelajaran interaktif dan media gambar diam pada siswa SMAN 01 Batu / Heni Puja Astuti

 

Astuti, Heni Puja. 2013. Perbedaan Hasil Belajar Geografi Siswa yang Menggunakan Media Gambar Gerak CD Pembelajaran Interaktif dan Media Gambar Diam pada Siswa SMAN 01 Batu. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Budi Handoyo, M. Si, (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si. Kata Kunci: media gambar gerak, media gambar diam, hasil belajar Pembelajaran geografi di sekolah masih memiliki berbagai kelemahan, salah satunya adalah penggunaan media masih relatif terbatas. Penggunaan media visual merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Media visual yang banyak ditemui dan mudah digunakan adalah media gambar. Berdasarkan jenisnya, media gambar dapat dibedakan menjadi gambar gerak dan gambar diam. Gambar gerak (animasi) merupakan media yang saat ini banyak digemari kalangan aktivis pendidikan, namun gambar diam dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya masih menjadi media yang paling banyak diminati. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedan hasil belajar siswa antara yang menggunakan media gambar gerak dan gambar diam pada siswa SMAN 01 Batu. Data penelitian ini dikumpulkan dengan memberikan pre test dan post test. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Independent Sample T Test dengan bantuan program SPSS 16,00 for windows. Hasil analisis data menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang disajikan dengan menggunakan media gambar gerak CD pembelajaran interaktif dengan hasil belajar siswa yang disajikan dengan menggunakan media gambar diam. Penelitian ini juga menunjukkan kelas yang diberi perlakuan dengan media gambar diam memperoleh hasil belajar yang lebih baik yaitu dari pada siswa yang diberi perlakuan dengan media gambar gerak. Hal ini dapat dilihat melalui rata-rata hasil belajar dimana kelas yang diberi perlakuan dengan media gambar gerak memiliki rata-rata 10,16 dan kelas yang diberi perlakuan dengan media gambar diam memiliki rata-rata 14,83. Saran dalam penelitian ini adalah guru dianjurkan untuk menggunakan media gambar gerak dalam menyampaian materi yang sifatnya abstrak dan menggunakan gambar diam untuk menyampaikan materi yang menunjukkan suatu proses. Peneliti lanjut sebaiknya menggunakan soal uraian sehingga kemampuan siswa dalam memahami suatu proses dapat terukur.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |