Penerapan problem posing pada pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang / Jamaliatul Badriyah

 

Kata Kunci: Problem Posing, Kemampuan Berpikir Kreatif Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika di SMPN 4 Malang, didapatkan bahwa ketrampilan mengerjakan soal matematika pada siswa khususnya kelas VIII-C kurang, sebagian besar dari mereka hanya mampu mengerjakan soal dengan tipe soal seperti yang dicontohkan oleh gurunya, mereka juga kurang lancar dalam mengerjakan suatu soal. Selain itu, hasil observasi tentang kemampuan berpikir kreatif siswa juga menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII-C sangat rendah. Kegiatan pembelajaran di SMPN 4 Malang diisi dengan guru menjelaskan materi, kemudian memberi contoh soal, dan memberi tugas mengerjakan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran problem posing yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang. Kriteria kemampuan beripikir kreatif meliputi ketrampilan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilan berpikir orisinal, ketrampilan memperinci, dan ketrampilan menilai. Pada akhir siklus II presentase kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat dan mencapai 60% serta sudah tidak ada lagi siswa dengan kemampuan berpikir kreatif pada tingkat 1 (tidak kreatif). Ini berarti terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa. Dari hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran problem posing yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa meliputi siswa secara individu membuat soal berdasarkan situasi yang diberikan guru dan menjawab soal yang telah mereka buat sendiri, kemudian mereka berkelompok mendiskusikan pertanyaan dan jawaban yang telah dibuat oleh masing-masing anggota, kemudian mereka menukarkan soal yang telah mereka buat kepada kelompok lain dan mendiskusikannya.

Isolasi asam risinoleat dari minyak jarak (castor oil) dan mempelajari reaksi-reaksinya dengan beberapa oksidator / oleh Parlan

 

Pengaruh waktu aging pada sintesis nanosilika mesoporous hidrofobis terhadap morfologi luas permukaan dan porositas untuk aplikasi oil absorption / Iin Afrianti Mauluddia

 

ABSTRAK Mauluddia, Iin Afrianti. 2016. Pengaruh Waktu Aging pada Sintesis Nanosilika Mesoporous Hidrofobis terhadap Morfologi, Luas Permukaan dan Porositas untuk Aplikasi Oil Absorption. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Abdulloh Fuad, M.Si., (II) Drs. Chusnana Insjaf Yogihati, M.Si. Kata Kunci: absorpsi minyak, nanosilika mesoporous, hidrofobis Polusi minyak di beberapa perairan di Negara Indonesia merupakan salah satu permasalahan yang harus diatasi. Polusi minyak disebabkan oleh berbagai limbah industri seperti industri kimia, tekstil, dan industri makanan. Maka dari itu, penelitian tentang sintesis nanosilika untuk aplikasi absorpsi minyak menjadi salah satu solusi dalam mengatasi polusi minyak. Nanosilika mesoporous dengan sifat yang hidrofobis disintesis menggunakan bahan dasar mineral piropilit dengan metode sol-gel. Nanosilika mesoporous dapat diaplikasikan sebagai penyerap minyak (oil absorption) tanpa harus menyerap air sehingga dapat bersifat hidrofobis. Untuk memperoleh permukaan partikel yang mesoporous maka dilakukan variasi lama waktu aging pada proses sintesis nanosilika. Lama waktu aging dapat mempengaruhi besarnya luas permukaan, porositas, dan ukuran butir partikel nanosilika. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu besar luas permukaan, ukuran pori, dan ukuran partikel. Ketiganya mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya lama waktu aging. Luas permukaan sampel dengan waktu aging 24 jam, 144 jam, dan 168 jam masing-masing sebesar 206,497 m2/g; 185,799 m2/g; dan 92,803 m2/g, sedangkan ukuran porinya masing-masing sebesar 5,8 nm; 5,5 nm; dan 1,4 nm. Ukuran partikel rata-rata pada sampel dengan waktu aging 24 jam, 48 jam, 72 jam, 144 jam, dan 168 jam masing-masing sebesar 55,7 nm; 50,3 nm; 46,8 nm; 47,1 nm; dan 43,4 nm. Lama waktu aging juga mempengaruhi sudut kontak air serta daya serap minyak. Sudut kontak yang dihasilkan pada setiap sampel rata-rata sebesar < 142˚ yang menunjukkan bahwa partikel bersifat hidrofobis. Sudut kontak air yang dihasilkan cenderung meningkat dari setiap sampel. Daya serap minyak yang dihasilkan dari sampel sebelum dan dan setelah dimodifikasi permukaan mengalami penurunan besar absorpsi. Penurunan besarnya daya absorpsi minyak dari nanosilika yang dimodifikasi permukaan sesuai dengan perolehan grafik isotherm adsorpsi nitrogen bahwa partikel dari sampel termasuk partikel yang lemah terhadap absorpsi.

Mutan-mutan dan varian-varian Drosophila (Sophophora) ananassae doleschall di kotamadya Malang / oleh Yunus Effendi

 

Pelaksanaan strategi pemasaran melalui sistem agency pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Kantor Pemasaran Agency Kepanjen / Khoirunnikmah Rizkina

 

ABSTRAK Rizkina, Khoirunnikmah. 2016. Pelaksanaan Strategi Pemasaran melalui Sistem Agency pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Kantor Pemasaran Agency Kepanjen.Tugas Akhir, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Rachmad Hidayat, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Pelaksanaan, Strategi Pemasaran, Sistem Agency Strategi pemasaran memiliki peranan penting dalam kegiatan operasional sebuah perusahaan untuk memaksimalkan penjualan produk. Strategi pemasaran yang digunakan menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan dan keberlangsungan usaha sebuah perusahaan. Penerapan strategi pemasaran melibatkan seluruh komponen dalam organisasi sebuah perusahaan meliputi Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya pendukung lain baik dalam proses perumusan, proses implementasi maupun evaluasi terhadap hasil dari pelaksanaan strategi yang telah dilakukan. Perumusan dan pelaksanaan strategi pemasaran pada perusahaan sebagai faktor kunci keberhasilan sebuah usaha akan selalu dibutuhkan selama usaha tersebut beroperasi. Sistem agency merupakan sistem keagenan yang digunakan sebagai media dalam memasarkan produk asuransi jiwa perorangan melalui agen asuransi sebagai tenaga pemasar pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kantor pemasaran agency Kepanjen. Pelaksanaan pemasaran dengan sistem agency berfokus pada jaringan agen sebagai tenaga pemasar. Proses pemasaran dilaksanakan oleh agen asuransi sebagai tenaga pemasar dengan menggunakan pendekatan personal selling kepada calon nasabah yang ditarget. Kreativitas dan skill agen asuransi dalam memasarkan produk asuransi sangat menentukan penjualan polis asuransi yang maksimal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan strategi pemasaran produk asuransi jiwa perorangan melalui sistem keagenan pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kantor pemasaran agency Kepanjen dan mengidentifikasikan permasalahan yang dihadapi terkait pelaksanaan strategi pemasaran diterapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ratio pencapaian produksi dalam penjualan polis asuransi jiwa selama tahun 2015 masih dibawah target penjualan yang ditetapkan oleh direksi Asuransi Jiwa Bersama (AJB) 1912. Permasalahan dalam pencapaian target penjualan yang masih belum maksimal disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat tentang asuransi jiwa dan beberapa permasalahan dalam sistem keagenan AJB Bumiputera 1912 pada kantor pemasaranagency Kepanjen sehingga pelaksanaan strategi pemasaran oleh agen masih memerlukan evaluasi ulang agar bisa mencapai target penjualan.

Mutan-mutan Drosophila (Sophophora) ananasae doleschall yang ditemukan di 10 pasar kabupaten Tuban / oleh Ade Aprilia

 

Studi penetapan nikel dalam jumlah mikro dengan DMG dalam suasana besi dalam jumlah makro secara spektrofotometri / oleh Mardiyah

 

Penerapan metode quantum teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 9 Malang / Desi Rahmawati

 

Berdasarkan hasil observasi awal pada saat PPL selama dua bulan diketahui bahwa aktivitas dan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang dalam proses belajar mengajar masih rendah. Selain itu, model pembelajaran yang dilakukan masih cenderung ceramah dan cenderung berpedoman kepada buku teks, sehingga siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga aktivitas dan motivasi belajar siswa meningkat. Model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah salah satu metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Proses penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing pada siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang, (2) Deskripsi dan analisis penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang, (3) Deskripsi dan analisis penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang, dan (4) Respon siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang terhadap metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlangsung dalam II siklus, yaitu siklus I menggunakan materi Perdagangan Internasional dan siklus II menggunakan materi valuta asing. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang yang terdiri dari 33 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, angket dan catatan lapangan. Tahap-tahap dalam penelitian ini meliputi tahap pra tindakan penelitian, kegiatan tindakan penelitian dan pelaporan hasil penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan, ditemukan bahwa rata-rata nilai aktivitas belajar kelas dalam metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing menunjukkan peningkatan. Rata-rata nilai aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 58% dan pada siklus II meningkat sebesar 33% menjadi sebesar 91%. Sedangkan motivasi belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan sebesar 0,44 dari siklus I sebesar 3,61 (baik) menjadi 4,05 (baik) pada siklus II, hal ini dapat diketahui bahwa peningkatan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing menunjukkan tingkat yang tidak terlalu signifikan. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penggunaan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing yaitu: (1) Penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang. (2) Aktivitas belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang mengalami peningkatan dengan menggunakan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. (3) Motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 9 Malang meningkat dengan menggunakan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing. (4) Respon siswa terhadap metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing adalah positif. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu: (1) Penerapan metode Quantum Teaching yang dipadukan dengan model pembelajaran Snowball Throwing hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup. (2) Penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya. (3) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan tindakan lebih dari dua siklus. Sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal guna perbaikan pendidikan. (4) Untuk peneliti selanjutnya, hendaknya menggunakan bola yang lebih besar dalam permainan Snowball Throwing agar lebih mudah ditangkap. (5) Penerapan model pembelajaran ini hendaknya dilakukan pada sekolah yang mempunyai komposisi siswa heterogen, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

Pengembangan komik pembelajaran bahasa Jerman untuk siswa kelas XI SMA sebagai media pembelajaran di SMA Negeri 1 Lumajang / Teguh Bayu Bagasworo

 

Kajian tentang penyajian materi tata nama senyawa karbon dalam buku-buku pelajaran kimia SMU kelas 2 / oleh Siti Aminah

 

Penggunaan media pembelajaran program macromedia flash professional 8 pada mata pelajaran IPS sejarah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto 2008/2009 / Novita Restuti

 

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kepada salah satu guru IPS dan beberapa siswa di SMP Negeri 1 Dlanggu dalam pembelajaran IPS, guru masih jarang menggunakan variasi dalam proses pembelajarannya khususnya ruangan audio visual, sehingga berdampak pada prestasi siswa yang kurang optimal karena siswa merasa bosan terhadap model pembelajaran sejarah yang dirasa kurang menarik. Alasan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pebedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 dan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (2) Bagaimana prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (3) Bagaimana perbedaan prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran dan yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (2) Untuk mengetahui prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8 (3) Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran dan yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash Professional 8. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen. Populasinya adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dlanggu Mojokerto semester genap tahun pelajaran 2008/2009. Obyek penelitian adalah 48 orang siswa yaitu kelas VII D sebagai kelas eksperimen dan kelas VII G sebagai kelas kontrol. Pada pelaksanaannya kelas eksperimen diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 dan kelas kontrol diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Data berupa prestasi belajar dikumpulkan melalui tes hasil belajar sebagai instrument untuk pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai kelas eksperimen adalah 77,31 sedangkan kelas kontrol adalah 65,38. Hal ini menunjukkan kelas yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada kelas yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Hasil analisis uji-t terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu thitung adalah 6,739 dan ttabel adalah 2,021 yang berarti thitung  ttabel, yang menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai rata-rata siswa yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8 dengan siswa yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash professional 8. Disarankan bagi peneliti lain terutama mahasiswa Jurusan Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah yang tertarik pada penelitian yang sejenis untuk melakukan pengembangan yaitu memilih tema yang lebih mengarah pada penguasaan siswa terhadap mata pelajaran IPS Sejarah. Disarankan untuk mengambil materi selain penjelajahan samudera, mengambil sampel yang lebih luas, mengembangkan instrument penelitian yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan tes prestasi belajar sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

Studi pengaruh kesadahan air terhadap penentuan besi (II) dalam kompleks besi (II)-O-fenantrolin secara spektrofotometri / oleh Evi Silviana

 

Nilai-nilai Moral Dalam Cerita Rakyat Bugis (telaah Sastra Bugis Klasik Dokumentasi Nur Azizah Syahril) / oleh Syahrul Aman

 

Peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 1 Banyuanyar Probolinggo melalui penerapan model 5R learning cycle dengan strategi self-explanation / Erwinestri Hanidar Nur Afifi

 

Afifi, Erwinestri Hanidar Nur. 2014. Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Banyuanyar Probolinggo Melalui Model 5E Learning Cycle dengan Strategi Self-Explanation. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Parno, M. Si, (II) Sugiyanto, S. Pd, M. Si Kata Kunci: fisika, 5E learning cycle, strategi self-explanation, prestasi belajar Fisika merupakan salah satu mata pelajaran sains yang pokok dan mendasar yang berkaitan dengan penemuan dan pemahaman mendasar hukum-hukum yang menggerakkan untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis dengan sikap, sehingga siswa dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Keberhasilan siswa dalam pembelajaran fisika dapat dilihat dari tingkat pemahaman materi yang disampaikan oleh guru. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan model 5E Learning Cycle dengan strategi Self-Explanation dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 1 Banyuanyar melalui penerapan model 5E Learning Cycle dengan strategi Self-Explanation. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental dengan desain eksperimen nonequivalent control group. Data penelitian ini diperoleh dari hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam bentuk soal pilihan ganda. Untuk uji hipotesis digunakan uji-t. Berdasarkan analisis data yang dilakukan diperoleh hasil thitung = 5.305 > 2.201(t30;.05) terdapat perbedaan prestasi belajar lebih baik antara siswa yang belajar menggunakan model 5E Learning cycle dengan strategi Self-Explanation dibandingkan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional.

Inventarisasi masalah yang dihadapi para pengajar biologi SMU kelas I dalam melaksanakan kurikulum SMU 1994 di SMU Muhammadiyah se Kodya dan Kabupaten Malang / oleh Tatik Hidayah

 

A descriptive analysis of scaffolding instruction in the teaching of writing at SMK Negeri 3 Malang / Mira Kumalasari

 

This study was conducted to describe the scaffolding instruction in the teaching of writing. It aims: to describe (1) the activities done through scaffolding when the teacher teaches writing, (2) the teachers’ and students’ responses towards the scaffolding instruction in the teaching of writing, and (3) the use of scaffolding instruction in the teaching of writing. This study employed a descriptive design because it describes the implementation of scaffolding instruction in the teaching of writing at SMK Negeri 3 Malang, the teachers’ and the students’ responses toward scaffolding instruction, as well as the use of scaffolding instruction in the teaching of writing. The setting of the study was SMK Negeri 3 Malang and the subjects were two classes; the tenth grade classes of Hotel and Restaurant 4 and Fashion 1. The instruments used to obtain the data were observation sheet for field notes, interview guide, and questionnaires. Syllabus, lesson plans, and students’ writings were included to complete the data obtained. Observation was applied in order to know the activities done in the classes. The result of researcher’s observation was also supported by the teachers’ lesson plans and the school syllabus. Interviews were conducted to know the teachers’ responses towards scaffolding instruction and the teaching of writing. For the students, questionnaires were provided for the sake of obtaining the students’ opinions. Moreover, the students’ writings were also included in order to know the result of application of scaffolding instruction in the teaching of writing. The results showed that in the teaching of writing in the two classes, the tenth grade class of Hotel Restaurant 4 and Fashion 1, the teachers applied scaffolding instruction. These classes were in level D of scaffolding which meant the teacher gave verbal explanation and modeling to support the students in learning writing. Both the teachers and the students gave positive responses towards the application of scaffolding instruction in the teaching of writing. The investigation done in the classes showed that the teachers and the students were able to accomplish the writing task well though writing was the most difficult skill to be taught. The students also found that there were no worries to write since the teachers gave guidance and motivated the students to write. Based on the findings, English teachers are suggested to apply scaffolding instruction in the teaching of writing to help students to learn and improve their writing quality. The researcher recommends the following suggestions for the students of SMK. Since one of the scaffolding instruction’s applications is guiding the students to write by such as giving examples to the students and giving verbal explanation, the students should not worry to write. Besides, the practicalii suggestions for further study were given. Other researchers or teachers could examine scaffolding instruction gradually by referring to the level of scaffolding instruction in classroom. Each of the five levels of scaffolding criteria is appropriate for certain students and could improve the students’ writing quality.

Penurunan kadar khrom (VI) dari limbah proses pelapisan logam yang ada di daerah Bangil dengan menggunakan resin penukaran anion sintetik / oleh Nikmatul Adawiyah

 

Pengaruh perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri terhadap kecakapan hidup dan hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Purwosari, Pasuruan / Prihatin Dwi Mahareny

 

Tesis, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. agr. H. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si., (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran Bioteknologi, model pembelajaran inkuiri, kecakapan hidup, hasil belajar. Di SMK khususnya bidang keahlian Pertanian, materi bioteknologi ini sangat diperlukan karena materi ini dapat memberikan bekal kepada siswa agar siap memasuki dunia kerja. Banyak aspek yang dapat dikembangkan sebagai lapangan kerja dibidang bioteknologi walau masih dalam kajian tradisional, misalnya wirausaha di bidang pembuatan tempe, tape, yoghurt, kecap, nata de coco dan lain-lain. Namun demikian untuk mengantisipasi masa depan bahwa bidang biologi adalah biologi molekuler, maka sudah menjadi hal wajar siswa SMK dikenalkan dengan bioteknologi molekuler. Berdasarkan Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan pada Permendiknas no 22 tahun 2006 (BNSP, 2006) bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan siswa untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Untuk itu kurikulum yang ditetapkan sekarang menekankan bahwa salah satu tugas pendidikan adalah mengupayakan peningkatan kecakapan hidup (life skills) dalam pembelajaran. Pendidikan kecakapan hidup meliputi kecakapan pribadi (personal skill), kecakapan berpikir (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan kerja (vocational skill). Matapelajaran biologi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMK berkaitan dengan cara mencari tahu, bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (inkuiri). Pembelajaran sains di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, sehingga dapat mengatasi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Fakta di lapangan (hasil survei pada bulan April 2010, di SMK Negeri Purwosari dan kuesioner analisis kebutuhan) menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Peran guru masih lebih dominan daripada siswa pada kegiatan pembelajaran bioteknologi dan biologi. Sembilan puluh persen guru belum memahami dengan benar tentang pendekatan inkuiri dan strategi pembelajaran kooperatif, sehingga keduanya belum dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dirancang menggunakan quasy experiment (eksperimen semu), dilaksanakan di SMK Negeri 1 Purwosari pada siswa tingkat XII semester ganjil tahun ajaran 2010/2011, dengan kelas XII ATPH1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII ATPH2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, lembar pengamatan tentang kecakapan hidup, tes hasil belajar kognitif, tes hasil belajar afektif, dan lembar pengamatan psikomotor. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Anakova, dilanjutkan dengan uji beda LSD (Least Significant Difference), sedangkan data pelaksanaan kegiatan praktikum dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup dan hasil belajar kognitif, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar afektif. Kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Interaksi antara perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri dan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Rerata nilai ketrampilan psikomotor siswa yang belajar dengan perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibanding siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Terkait kesimpulan tersebut, maka peneliti menyarankan agar guru mengimplementasikan perangkat pembelajaran mata diklat lainnya dipadu dengan model pembelajaran inkuiri agar penguasaan kecakapan hidup, jiwa kewirausahaan, hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa dapat meningkat dan berkembang dengan baik.

Sistem informasi pendidikan berbasis web di SMK Darut Taqwa Pasuruan / M. Ali Erkham

 

Pusat penyampaian informasi sekolah SMK Darut Taqwa masih sangat sederhana dan terbatas, yaitu menggunakan majalah dinding. Penyampaian informasi dengan majalah dinding dinilai kurang efektif, efisien dan kurang universal. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dibangun sistem informasi yang berbasis web, diharapkan penyampaian informasi sekolah kepada siswa bisa lebih cepat dan akurat. Metode penelitian yang digunakan adalah study literature, pembuatan program, implementasi program, pengujian, dan pembuatan laporan serta dokumentasi. Perancangan sistem informasi meliputi pengolahan data guru, data siswa, data kelas, data materi pelajaran, data nilai siswa, dan pemberian hak akses kepada siswa. Sedangkan yang melakukan update data dilakukan oleh Admin. Sistem informasi ini dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL yang terkumpul dalam satu kesatuan program PHPTriad. Kelebihan menggunakan bahasa pemrograman PHP yang paling diandalkan dan signifikan adalah dikarenakan dukungan kepada banyak database. Dengan adanya aplikasi ini, maka sirkulasi informasi sekolah dapat dipublikasikan secara efektif dan efisien, kepala bagian administrasi sekolah dapat mengelola dan mengatur pengarsipan data sekolah mengenai data data guru, data siswa, data kelas, data materi pelajaran, data nilai siswa dengan efektif, guru dapat mengolah nilai siswa dengan mudah dan dapat memantau prestasi siswa yang dibimbingnya, dan juga dengan adanya aplikasi ini maka siswa dapat melihat prestasi yang diraihnya. Aplikasi sistem informasi ini masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi desain tampilan maupun fitur yang dimilikinya. Sistem informasi ini masih belum memiliki fitur pencarian data dan fitur untuk mencetak laporan dari hasil input data. Selain itu, untuk sementara sistem informasi ini belum diposting di Internet, sehingga keinginan pempublikasian sistem informasi yang universal belum terwujud.

Kontribusi produktivitas pekarangan rumah terhadap kondisi ekonomi keluarga di lingkungan Sambirejo Kelurahan Cokromenggalan Kecamatan Ponorogo / Faiz Zuhdan Permana

 

Kontribusi Produktifitas Pekarangan Rumah terhadap Kondisi Ekonomi Keluarga di Lingkungan Sambirejo Kelurahan Cokromenggalan Kecamatan Ponorogo. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: pekarangan, kondisi ekonomi.          Pekarangan rumah adalah tempat yang dapat membantu perekonomian keluarga apabila dimanfaatkan dengan baik. Pemanfaatannya juga dapat dilakukan dengan bermacam-macam seperti beternak dan menanam tanaman. Masyarakat di Lingkungan Sambirejo sudah banyak yang memanfaatkan pekarangan untuk membantu perekonomian keluarga. Tanaman atau hewan dari pekarangan kemudian dijual untuk menambah pendapatan atau membantu perekonomian warga     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kontribusi pekarangan terhadap kondisi ekonomi keluarga di Lingkungan Sambirejo, Kelurahan Cokromenggalan, Kecamatan Ponorogo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara yang dilakukan kepada 100 responden masyarakat di Lingkungan Sambirejo. Data hasil wawancara kemudian dianalisis dengan tabulasi tunggal untuk mengetahui besarnya kontribusi pekarangan terhadap kondisi ekonomi keluarga di Lingkungan Sambirejo.     Dari penelitian diperoleh hasil pekarangan rumah di Lingkungan Sambirejo dimanfaatkan untuk beternak yakni sebanyak 46 responden kemudian menanam tanaman sebanyak 54 responden. Kontribusi pekarangan di Lingkungan Sambirejo digolongkan menjadi lima kriteria yaitu rendah, cukup rendah, sedang, cukup tinggi dan tinggi. Dari kelima kriteria tersebut, sebanyak 43 responden termasuk dalam kriteria cukup rendah yaitu sebesar 21-40% pendapatan pekarangan memberikan kontribusi terhadap kondisi ekonomi, kemudian diikuti sedang yakni sebanyak 40 responden dengan kontribusi 41-60%.          Berdasarkan penelitian tersebut disarankan: (1) warga diharapkan menambah jenis hewan atau tanaman dipekarangannya. Untuk hewan misalnya ikan dan untuk tanaman misalnya anggur atau tanaman lain, (2) pemerintah lebih banyak memberikan sosialisasi tentang pekarangan yang dimanfaatkan akan dapat memberikan kontribusi terhadap ekonomi keluarga. (3) warga diharapkan memanfaatkan kotoran hewan untuk dijadikan pupuk untuk tanamannya. Pupuk dari kotoran hewan memiliki manfaat untuk memperbaiki struktur tanah dan mengandung unsur hara yang lengkap sehingga dapat menyuburkan tanah, yang nantinya akan membuat tanaman menjadi lebih baik.     

Studi tentang ragam motif batik Majapahit berbasis kearifan lokal pada neri batik tulis Kabupaten Mojokerto / Deby Ayu Kusuma

 

ABSTRAK Kusuma, Deby Ayu. 2016.Studi tentang Ragam Motif Batik Majapahit berbasis Kearifan Lokal pada NEGI Batik Tulis Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Idah Hadijah, M.Pd, (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T. Kata Kunci:kearifan lokal, batik produk berbasis kearifan lokal, motif batik Majapahit karya NEGI. NEGI Batik Tulis Majapahit merupakan salah satu label produk batik tulis di Kabupaten Mojokerto. Batik motif Majapahit merupakan cermin dari warisan kearifan lokal yang ada. Fokus penelitian ini yakni mengkaji Ragam Motif Batik Majapahit sebagai Produk berbasis Kearifan Lokal pada NEGI Batik Tulis Kabupaten Mojokerto. Serta melihat dari berbagai perspektif, kearifan lokal yang terkandung pada ragam motif batik produk NEGI Batik Tulis Majapahit terkait kearifan lokal Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan landasan teori tentang kearifan lokal, dan penjelasan makna kearifan lokal menurut Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta ragam hias yang menjadi unsur motif batik Majapahit terkait dengan kearifan lokal Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang bertujuan mendeskriptifkan motif batik NEGI berbasis kearifan lokal Kabupaten Mojokerto.Teknik pengumpulan data yakniFocus Group Discussion, observasi, dan wawancara.Hasil dari FGD digunakan sebagai batasan masalah objek penelitian serta pedoman analisis reduksi data lapangan. Subjek penelitian ini adalah delapan belas motif batik karya NEGI yang sudah didaftarkan di Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur.Hasil FGD batik berbasis kearifan lokal ada enam syarat yakni bermuatan; (1) ragam kearifan lokal Mojokerto, (2) kriteria Majapahit, (3) dasar konsep dan inspirasi, (4) ragam hias dengan unsur Majapahit, (5) tidak memiliki pakem dan (6) penamaan batik harus ada unsur Majapahit. Hasil penelitian menunjukkan ada empat ragam kearifan lokal Majapahit yang menjadi dasar konsep NEGI yakni; lambang Surya Majapahit, candi, buah Maja, dan cerita sejarah. Enam dari delapan belas motif batik yang memenuhi syarat produk batik berbasis kearifan lokal, yaitu; batik Surya Majapahit Mojokerto, batik Prahu LayarMajapahit, batik Buah Mojo Pahit, batik Mojo Pupus, batik Parang Mojo, batik Godong Pupus Mojo, dan batik Wader Segaran Majapahit. Sebelas motif batik karya NEGI yang kurang memenuhi syarat produk berbasis kearifan lokal pada penamaan, antaralain; batik Candi Bajang Ratu Mojokerto, batik Candi Brahu Mojokerto,batik Surya Kahuripan, batik Bajang Ratu, batik Surya Kehidupan, batik Rosan Selo, batik Gajah Mada, batik Kapal Layar, batik Wader Segaran, batik Surya Tabur Kedele, dan ada satu batik motif Majapahit karya NEGI yang tidak memenuhi unsur sebagai produk batik berbasis kearifan lokal yaitu batik Telo Senggreng sebab,tidak memenuhi syarat untuk disebut batik Majapahit, dan tidak ada muatan Majapahit pada batiknya.

Pengambilan ion dikromat dari larutan krom metasit dari larutan krom metasit dengan teknik ekstraksi berkarier / oleh Lilik Indayani

 

Analisis pengaruh kondisi keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode tahun 2004-2006) / Vasi M

 

ABSTRAK Maharani, Vasi. 2009. Analisis Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Opini Audit Tahun Sebelumnya, Debt Default, Dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern ( Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2006). Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sumadi, SE, MM, (II) Triadi Agung S, SE M.Si, Ak. Kata kunci: going concern, kondisi keuangan perusahaan, audit tahun sebelumnya, debt default, pertumbuhan perusahaan, regresi logistik Perusahaan merupakan suatu entitas ekonomi yang berdiri sendiri yang berbeda dari pemiliknya. Entitas ekonomi ini dianggap akan terus beroperasi secara berkesinambungan untuk suatu masa yang tidak tertentu yang melebihi satu periode akuntansi (going concern). Asumsi going concern adalah salah satu asumsi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan. Asumsi ini mengharuskan perusahaan secara operasional memliki kemampuan mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern). Kelangsungan hidup suatu entitas merupakan suatu hal yang diutamakan oleh para pemilik kepentingan. Tanggung jawab seorang auditor tidak hanya mengevaluasi laporan keuangan auditee tetapi juga mengevaluasi kemampuan auditee dalam mempertahankan hidupnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara, kondisi keuangan perusahaan (diproksikan dengan The Revised Altman Model), opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan (diproksikan dengan pertumbuhan penjualan) terhadap kemungkinan penerimaan opini audit going concern. Penelitian ini menggunakan 186 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2004-2006 sebagai sampelnya. Selanjutnya sampel tersebut dikelompokkan dalam dua kategori berdasarkan atas jenis opini audit yang diterimanya, yaitu kategori auditee yang menerima opini audit going concern (GCAO) dan auditee dengan opini audit non going concern (NGCAO). Metode yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi logistik. Hasil pengujian membuktikan bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya saja yang berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Untuk variabel kondisi keuangan perusahaan (diproksikan dengan The Revised Altman Model), debt default dan pertumbuhan perusahaan (diproksikan dengan pertumbuhan penjualan) tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Adapun kelemahan dari penelitian ini adalah dalam pengambilan periode penelitian. Penelitian ini hanya mengambil rentang waktu yang pendek yaitu selama tiga tahun (2004-2006) sehingga daya ujinya rendah. Memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan auditor menerbitkan opini audit going concern. Dari keterbatasan-keterbatasan penelitian ini, maka peneliti yang akan melakukan penelitian dengan topik yang serupa di masa yang akan datang diharapkan memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan auditor menerbitkan opini audit going concern.

Efektivitas pendekatan termodinamika dibandingkan dengan pendekatan konvensional dalam pengajaran biokimia di jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP MALANG / oleh Darsono Sigit

 

Analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan : studi pada PT. British American Tobacco, Tbk / oleh Hanif Usmanto

 

Pengaruh kadar ekstrak bunga cengkeh (Eugenia aromatica) terhadap pertumbuhan jamur Aspergillus flafus / oleh Karomatusyafa'ah

 

Pengujian daya antiseptik enzim papain dari getah pepaya (Carica papaya, L.) terhadap bakteri Escherichia coli / oleh Rida Syamsiah

 

Hubungan motivasi berprestasi dan pengalaman penunjang terhadap kemampuan praktikum otomotif siswa program studi mekanik otomotif STM Muhammadiyah I NGanjuk
oleh Kodori

 

Analisis financial literacy mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Yogi Dwi Satrio

 

Kata Kunci: Financial Literacy, Pendidikan Ekonomi I. PENDAHULUAN Financial literacy atau lebih dikenal dengan pengetahuan dalam pengaturan keuangan adalah salah satu perilaku ekonomi yang berkembang di masyarakat dengan sadar ataupun tidak sadar telah dijalani selama bertahun-tahun. Financial literacy merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang agar terhindar dari masalah keuangan. Financial literacy dapat diartikan sebagai pengetahuan keuangan dengan tujuan mencapai kesejahteraan (Lusardi & Mitchell 2007). Berdasarkan pengertian yang mendasari Australian Securities & Investments Commission (report, 229, March 2011) memahami financial literacy yang juga merupakan pengertian internasional adalah The definition originally developed in the United Kingdom and appearing in the Australian ANZ national adult financial literacy surveys (ANZ surveys) of 2003, 2005 and 2008.6 The definition was also recently adopted by New Zealand: “The ability to make informed judgements and to take effective decisions regarding the use and management of money”. Bukti empiris, Lusardi dan Mitchell (2006, 2008, 2009) menemukan bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam membuat keputusan keuangan, dan laki-laki lebih baik karena memiliki pengetahuan keuangan yang lebih tinggi. Di lain tempat, Ibrahim, Harun dan Isa (2009) menemukan bahwa mayoritas mahasiswa di Malaysia memiliki pengetahuan keuangan (financial literacy) yang kurang tinggi, dan hal ini dapat menyebabkan tidak terarah dengan tepat pada saat membuat keputusan keuangan setiap hari. Orton (2007) memperjelas dengan menyatakan bahwa literasi keuangan menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seseorang karena literasi keuangan merupakan alat yang berguna untuk membuat keputusan keuangan yang terinformasi, namun dari pengalaman-pengalaman di berbagai negara masih menunjukkan relatif kurang tinggi. Byrne (2007) juga menemukan bahwa pengetahuan keuangan yang rendah akan menyebabkan pembuatan rencana keuangan yang salah, dan menyebabkan bias dalam pencapaian kesejahteraan di saat usia tidak produktif lagi. Kesulitan keuangan bukan hanya kurangnya dari pendapatan semata, kesulitan keuangan juga dapat muncul jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan keuangan (miss-management) seperti kesalahan penggunaan kredit, dan tidak adanya perencanaan keuangan. Keterbatasan finansial dapat menyebabkan stress, dan rendahnya kepercayaan diri. Memiliki financial literacy, merupakan hal vital untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera, dan berkualitas. Lebih lanjut dijelaskan bahwa financial literacy bersama-sama dengan lingkungan tempat tinggal, kemampuan membaca keadaan ekonomi merupakan kunci untuk menjadi konsumen yang cerdas. Baik orang kaya atau miskin, pandai atau bodoh, tua atau muda, semua memiliki persamaan kalau sudah sampai pada urusan uang. Kita semua menggunakan uang. Jumlah uang yang dimiliki dan bagaimana cara kita menggunakan uang memang berbeda satu sama lain. Namun, yang pasti di dunia ini kita semua memerlukan uang. Kegiatan mengelola keuangan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari hingga hingga proses persiapan jangka panjang dalam bentuk tabungan juga merupakan bagian dari financial literacy. Fenomena yang ada dalam masyarakat yang ada sekarang adalah Pola hidup konsumtif yang tidak proposional, yang tidak sesuai dengan kemampuan pendapatan dan kondisi keuangan yang akhirnya akan menyebabkan kegagalan finansial. Seperti, kredit macet yang bersumber dari kartu kredit menunjukkan peningkatan, sebagaimana yang tercermin dari NPL (Non Performing Loan ) kartu kredit tahun 2007 sebesar 11, 85% yang meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 8,96%. Fenomena tingginya angka kredit macet ini menunjukkan indikasi rendahnya financial literacy sebagian masyarakat kita, sebagaimana yang dinyatakan pada cetak biru edukasi masyarakat di bidang perbankan (2007) bahwa, “ baseline survey tingkat literacy dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan dan perbankan tahun 2006 memberikan kesimpulan bahwa edukasi kepada masyarakat di bidang keuangan dan perbankan sangat diperlukan”. Fenomena yang ada dikalangan mahasiswa dilingkungan fakultas ekonomi, terutama mahasiswa yang mengatur kebutuhan konsumsinya secara mandiri, dari hasil pendapatan dari orang tua maupun mandiri, mereka menjalani berbagai kegiatan ekonomi yang tidak proporsional. Kecenderungan ini terlihat dari tidak adanya pembentukan skala prioritas atas kegiatan ekonominya, seperti, pola konsumsinya yang kurang terprogram dan tidak ada pertimbangan konsumsi, dan pertimbangan akan kebutuhan lain-lainnya. Terkadang pula, dalam pemenuhan hasratnya akan suatu barang, mereka cenderung untuk mengurangi alokasi atas kebutuhan pokok mereka. Selain itu, keadaan lingkungan pertemanan didukung dengan banyaknya fasilitas-fasilitas hiburan dan wisata kuliner yang menggiurkan sedikit banyak memberi dampak terhadap pengaturan keuangan dan pola konsumsi mahasiswa pada umumnya. Rasa sungkan, dan persaingan dalam pertemanan terkadang juga membuat pola konsumsi yang tidak rasional dan di akhirnya akan mempengaruhi keadaan finansial sendiri. Pertanggung jawaban finansial kepada orang tua yang tidak terpenuhi, disinyalir pula dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam memahami apa pentingnya pengaturan keuangan sendiri. Pendidikan finansial tidak hanya mampu membuat Anda menggunakan uang dengan bijak, namun juga dapat memberi manfaat pada ekonomi. Jadi, konsumen yang memiliki financial litearcy bagus akan mampu menggunakan uang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sehingga ini akan mendorong para produsen untuk membuat produk atau jasa yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen dan mendorong konsumen untuk membelanjakan uangnya sesuai dengan kebutuhan mereka secara rasional. Sebuah penelitian di Australia pernah mengungkapkan bahwa peningkatan pendidikan finansial pada 10% populasi akan berpotensi meningkatkan ekonomi Australia sebesar 6 miliar dollar Australia per tahun dengan cara membuka 16.000 lapangan kerja baru. Itu semua bisa terjadi karena orang sudah semakin sadar akan pentingnya mengatur keuangan dan bagaimana memanfaatkannya untuk masa depan. Karena itulah, seharusnya anak-anak sekolah sudah dibekali dengan pendidikan finansial, agar nantinya mereka bisa punya kontrol atas uang yang mereka miliki. Karakteristik belajar ini menurut Bernard ( 1971), tidak timbul dengan tiba-tiba/spontan, melainkan timbul sebagai akibat dari proses partisipasi, pengalaman, kebiasaan diri waktu belajar dan bekerja, dan sikap-sikap lainnya. Secara individual, motivasi dianggap sebagai suatu yang berhubungan dengan adanya kebutuhan insani. Maksudnya adalah seseorang termotivasi untuk mengatur keuangan kalau hasil aktifitasnya itu memenuhi kebutuhannya. Kriteria pemuas kebutuhan sendiri dijelaskan oleh Maslow (dalam Elliot; et. al, 1996: 334-335; Maslow, 1997) yang dirumuskan sebagai berikut : 1) self actualization 2) self esteem, 3) love and belonging, 4) safety, 5) physiological needs. II METODE A. JENIS DAN SUMBER DATA Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendeketan fenomenologi. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini lebih bersifat natural, deskriptif, dan induktif. Natural bermakna bahwa latar penelitian merupakan sumber data langsung yang alami, sehingga peneliti harus mampu masuk secara langsung ke latar penelitian yaitu mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sifat deskriptif dapat diartikan bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar-gambar, sehingga untuk memberikan dukungan terhadap uraian yang disajikan dalam laporan penelitian, diungkapkan kutipan-kutipan dari data sebagai hasil pengungkapan responden. Pencarian data dalam penelitian ini bukan untuk membuktikan atau menolak hipotesis, melainkan membuat abstraksi ketika fakta-fakta khusus telah terkumpul dan dikelompokkan bersama-sama, yang bermakna bahwa analisis dalam penelitian ini bersifat induktif. Lokasi penelitian ini adalah Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebagai lembaga penyelenggara pendidikan tinggi bidang ekonomi. Sumber data dalam penelitian ini tidak ditentukan jumlahnya melainkan berdasar pada snowball sampling. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang terdaftar pada fakultas ekonomi di jurusan masing-masing dengan alasan bahwa, mahasiswa fakultas ekonomi telah mempelajari segala aspek ekonomi termasuk didalamnya materi tentang ekonomi secara mendalam, akuntansi pengantar, dan pengantar manajemen yang diharapkan lebih dapat mengkombinasikan antara teori dengan praktek dalam kehidupan keseharian, khususnya dalam pengaturan keuangan pribadinya. B. ANALISIS DATA Analisis data pada penelitian kualitatif pada dasarnya telah dimulai pada saat peneliti memasuki latar penelitian bahkan ketika studi pendahuluan dilakukan, tetapi secara umum dimulai ketika menelaah data tersedia. Data yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan, dapat berupa catatan, transkrip rekaman wawancara, dokumen resmi dan dokumen pribadi, yang selanjutnya dipelajari dan ditelaah. Langkah berikutnya mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan cara membuat abstraksi yang berisi rangkuman inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga agar tetap berada dalam konteks penelitian. Berikutnya, data disusun dalam satuan-satuan yang selanjutnya dikategorisasikan. Bersamaan dengan pengkategorisasian data dilakukan pula koding. Tahap selanjutnya, pemeriksaan kebebasan data, kemudian disusul dengan penafsiran dan pemaknaan dari data tersebut. Kemungkinan akan adanya data baru dalam penelitian mengharuskan adanya keterbukaan dalam analisis data. Proses analisis data dilakukan secara terus menerus (cyclical) sejak peneliti memasuki lapangan sampai kegiatan penelitian ini berakhir. Kegiatan penelitian ini tidak terlepas dari empat kegiatan berikut : (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) penyajian data; (4) penyimpulan/ verifikasi. Proses analisis data tersebut dapat digambarkan dalam model berikut : Validasi terhadap penelitian perlu dilakukan dalam upaya memperoleh kredibilitas hasil penelitian antara lain: 1. Perpanjangan waktu pengamatan 2. Triangulasi 3. Member check 4. Audit trail 5. Expert opinion Penelitan ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Tahap pra lapangan • Menyusun rancangan penelitian (proposal dan instrumen penelitian) • Memilih lapangan penelitian • Mengurus perizinan • Menyiapkan perlengkapan penelitian 2. Tahap pekerjaan lapangan • Membatasi latar penelitian • Pengumpulan data • Pengecekan keabsahan data 3. Tahap analisis data • Analisis data • Penyusunan laporan penelitian III HASIL PENELITIAN A. Financial Literacy Mahasiswa Yang Berorientasi Pada Kebutuhan Konsumsi & Produksi Radar diatas menjelaskan bahwa kondisi ideal literasi financial seseorang adalah pada garis hijau, dimana seseorang memiliki literasi financial yang diimbangi oleh kearifan atas keputusannya secara optimal. Mahasiswa dengan financial literacy pada kondisi U = 3; M = 2; dan IJ = 2, memiliki kemampuan terbaik didasarkan pada pengalaman, kegiatan atas pengelolaan dan penggunaan dananya. (M= 2) Keadaan ini responden sudah pada konteks pengelolaan terbilang tinggi karena pola pikir responden lebih condong pada hasratnya untuk meraih segala hal yang dia impi-impikan (berproduksi). (U= 3) dalam penggunaan dananya, mahasiswa cenderung untuk menyiapkan terobosan-terobosan untuk meningkatkan pendapatannya tanpa mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan pentingnya secara individual. Sedangkan pada konteks kearifan (IJ= 2) mahasiswa pada tipe ini sudah memiliki perhatian terhadap lingkungan sekitarnya sebelum membuat keputusan, karena segala keputusan akan berdampak pada lingkungannya. Mahasiswa pada tipe ini, sebenarnya sudah memiliki kesadaran, keaksaran dalam menggunakan dan menggunakan dana, hanya saja kurang memiliki keterampilan dalam pengelolaannya tapi terbilang sudah aman dari resiko-resiko kegagalan pengelolaannya. B. Motif Financial Literacy Mahasiswa Yang Berorientasi Pada Kebutuhan Konsumsi & Produksi Radar diatas menjelaskan bahwa kondisi ideal literasi financial seseorang adalah pada garis hijau, dimana seseorang memiliki literasi financial yang diimbangi oleh kearifan atas keputusannya secara optimal. Mahasiswa dengan financial literacy pada kondisi U = 2; M = 1; dan IJ = 2, memiliki kemampuan sedang didasarkan pada pengalaman, kegiatan atas pengelolaan dan penggunaan dananya. (M= 1) Keadaan ini responden sudah pada konteks pengelolaan terbilang sedang karena pola pikir responden lebih condong pada hasratnya untuk meraih segala hal yang dia impi-impikan dalam bentuk barang konsumsi tanpa memperhatikan cara pendapatannya bisa menjadi pendapatan yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya (pendapatan tambahan) tanpa harus dihadapkan pada pilihan keputusan konsumsi. (U= 2) dalam penggunaan dananya, mahasiswa cenderung teliti dan selektif dalam membuat keputusan konsumsi, yang didasari tingkat kebutuhan dan kebermanfaatan barang konsumsi tersebut. Sedangkan pada konteks kearifan (IJ= 2) mahasiswa pada tipe ini sudah memiliki perhatian terhadap lingkungan sekitarnya sebelum membuat keputusan, karena segala keputusan akan berdampak pada lingkungannya. Mahasiswa pada tipe ini, sebenarnya sudah memiliki kesadaran, keaksaran dalam menggunakan dan menggunakan dana, hanya saja kurang memiliki pertimbangan jangka panjang dan keterampilan dalam pengelolaannya sehingga terbilang terancam resiko-resiko kegagalan pengelolaannya. C. Financial Literacy Mahasiswa Yang Berorientasi Penggunaan Dana Untuk Kebutuhan Konsumsi Radar diatas menjelaskan bahwa kondisi ideal literasi financial seseorang adalah pada garis hijau, dimana seseorang memiliki literasi financial yang diimbangi oleh kearifan atas keputusannya. Mahasiswa dengan financial literacy pada kondisi U = 0; M = 0; dan IJ = 0, memiliki kemampuan terendah didasarkan tipe lainnya. (M= 0) mahasiswa pada tipe ini cenderung tidak pernah memiliki pengalaman dalam pengelolaan keuangan, hal ini disebabkan oleh kurang terbukanya orang tua untuk menerima pertumbuhan anak dengan kemandiriannya, sehingga anak cenderung dimanja dan mendapat perlakuan seperti anak kecil yang dibiasakan dituntun saja. (U= 0) dalam penggunaan dananya, mahasiswa sudah memiliki perhatian dalam benakknya, hanya saja, kurang memiliki kontrol terhadap emosi konsumsinya. Sedangkan pada konteks kearifan (IJ= 0) kalahnya pribadi dengan emosi pada mahasiswa tipe ini membuat responden tidak begitu memperdulikan pendapat orang lain kecuali orang tua, hanya saja ketika dia jauh dari orang tua, mereka cenderung menjalani apa yang sudah dia idam-idamkan tanpa ada pertimbangan apapun.. Mahasiswa pada tipe ini, sebenarnya sudah memiliki kesadaran, keaksaran dalam menggunakan dan menggunakan dana, hanya saja tidak mampu mengalahkan emosi konsumsi dalam penerapannya. D. Lingkaran Motivasi Mengelola Keuangan Keluarga sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya responden. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan bagi pengembangan kepribadian. Selain itu, kondisi lingkungan pertemanan sedikit banyak juga membantu responden untuk mengadobsi perilaku-perilaku ekonomi yang berkembang. Secara internal, kecenderungan ingin mendapat pengakuan kemandirian (motif prestasi) dari khalayak, mendorong responden untuk bertindak progressive mencapai tujuan ekonomi masing-masing. Konteks tujuan ekonomi yang terbentuk dalam masyarakat secara umum adalah tercapainya tata keteraturan ekonomi yang mencapai pada kemakmuran. Di lain pihak, ada pula motif sosial (motif afiliasi) yang secara moril mendorong beberapa responden untuk berbuat lebih baik dalam keuangannya. Perasaan sungkan, kurang nyaman dengan keadaan ekonomi orang lain menggugah responden untuk berkaca dan memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan keuangannya. Selain itu, keterbatasan responden untuk mencapai kepuasan ekonomi, juga disinyalir menjadi faktor pendorong perubahan kondisi financial literacy responden. Seperti yang diungkapkan oleh Mc Clelland dalam teori kebutuhan berprestasi (mendapat pengakuan) dijelaskan bahwa, yaitu : “Need for Achievement is related to the difficulty of tasks people choose to undertake. Those with low N-Ach may choose very easy tasks, in order to minimise risk of failure, or highly difficult tasks, such that a failure would not be embarrassing. Those with high N-Ach tend to choose moderately difficult tasks, feeling that they are challenging, but within reach. People high in N-Ach are characterised by a tendency to seek challenges and a high degree of independence. Their most satisfying reward is the recognition of their achievements. Sources of high N-Ach include: (1)Parents who encouraged independence in childhood, (2) Praise and rewards for success, (3) Association of achievement with positive feelings, (4) Association of achievement with one's own competence and effort, not luck (5)A desire to be effective or challenged, (6) Intrapersonal Strength. ” Harapan responden pencapaian keberhasilan (sesuai tujuan masing-masing) disinyalir menjadi pendorong terbesar untuk mendapat pengakuan atas keberhasilan mengelola keuangan di sisi penanggulangan resiko, efisiensi dan produksi. Di balik itu ada kejadian-kejadian khusus seperti harapan almarhum orang tua untuk melihat kesuksesan anak juga dianggap sebagai salah satu latar belakang yang mendorong responden untuk mencapai tujuan. Dengan kecenderungan yang muncul yaitu : 1. Menetapkan target yang agak sukar (tetapi bukan mustahil) untuk diri mereka sendiri. 2. Mengambil pendekatan yang realistik terhadap risiko. 3. Lebih kepada penganalisis dan menilai masalah. 4. Lebih gemar memikul tanggung jawab pribadi untuk melaksanakan sesuatu tugas. 5. Menyukai imbalan yang tepat dan cepat terhadap prestasi mereka. 6. Pekerja keras 7. Cenderung untuk melakukan sesuatu seorang diri. Dan teori kebutuhan berprestasi (mendapat pengakuan) diatas, responden pada kondisi ini juga ada yang bertipikal suka bersosialisasi (teori afiliasi) yang dijelaskan sebagai berikut : “The Need for affiliation (N-Affil) is a term that was popularized by David McClelland and describes a person's need to feel a sense of involvement and "belonging" within a social group; McClellend's thinking was strongly influenced by the pioneering work of Henry Murray who first identified underlying psychological human needs and motivational processes (1938). It was Murray who set out a taxonomy of needs, including achievement, power and affiliation—and placed these in the context of an integrated motivational model. People with a high need for affiliation require warm interpersonal relationships and approval from those with whom they have regular contact. People who place high emphasis on affiliation tend to be supportive team members, but may be less effective in leadership positions.” Kebutuhan akan afiliasi merefleksikan keinginan untuk berinteraksi secara sosial dengan orang lain. Seseorang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi menempatkan kualitas dari hubungan pribadi sebagai hal yang paling penting, oleh karena itu hubungan sosial lebih didahulakan daripada penyelesaian tugas disinyalir menjadi pendorong terbesar yang menjadikan responden kurang konsisten dalam pelaksanaan strategi berkonsumsinya. Dengan sifat yang muncul sebagai berikut : 1. Berusaha memelihara hubungan sosial yang baik 2. Saling memahami. 3. Peduli tehadap orang lain. 4. Membantu orang dalam kesusahan. 5. Menyenangi hubungan akrab dengan orang lain. E. Kondisi Rasionalitas Ekonomi berdasarkan Financial Literacy Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Tingkat Financial Literacy Konteks Rasionalitas Ekonomi Penanggulangan resiko Strategi dalam berkonsumsi Efisiensi & Optimalisasi sumber daya Tinggi • Masuk dalam prediksi; • Sudah ada penanggulangan terencana (berjaga-jaga); • Menjadi pelajaran agar tak terulang; • Diselesaikan dengan mandiri. • Alokasi sesuai dengan prioritas; • Adanya analisa yang matang atas kegiatan konsumsi; • Perilaku konsumsi tidak merugikan orang lain; • Mengkonversi kebutuhan konsumsi menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan pendapatan (produksi) • Menjalankan kegaitan ekonomi dengan pertimbangan waktu dan ketepatan Sedang • Terprediksi; • Kesalahan sering terulang; • Sumber dana menjadi obyek penanggulangan kegagalan pengelolaan uang • Tergolong labil dalam prioritas & keputusan konsumsi; • Cenderung memuaskan diri sendiri • Cenderung pada efektifitas kegiatan konsumsi. Rendah • Jika gagal mengelola dikembalikan pada orang tua sebagai sumber dana. • Tidak ada analisa tingkat prioritaas yang jelas, cenderung memuaskan diri dan tidak peduli terhadap kebutuhan masa yang akan datang. • Tidak terpikirkan Sumber : pengolahan data oleh peneliti Bagi beberapa responden, keterbatasan dana dan harapan untuk membuat perencanaan konsumsi mendorong responden untuk lebih rasional terhadap kegiatan konsumsinya secara efisien dan mengoptimalkan dana yang diperoleh untuk menghasilkan dana berlebih. Da beberapa responden yang berpandangan lain, bahwa berawal dari pengetahuan rasional atas konsumsi yang mendorong orang untuk membuat pengelolaan uang. Sedikit tersirat bahwa faktor pendidikan, kebudayaan dan pesan moral dari orang tua dalam menggunakan uang yang dimiliki tergolong sebagai faktor yang sebenarnya menjadi pertimbangan oleh responden dalam menganalisa pilihannya atas barang konsumsi. Hal ini tidak dibahas lebih lanjut karena tidak termasuk dalam konteks penelitian yang dilakukan. IV DAFTAR PUSTAKA Bernard; Harold, W. 1971. Principles of guidance: A Basic Text. Sacranton: Pensylvania. Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta. Elliot, S. H; Krarchohwill, T. R., Littlefield, J. F; & Travers, J. F. 1996. Educational Phsycology: Effective Teaching Effective Learning (2¬¬nd ed.). Sydney: Brown & benchmark. Lusardi, A & Mitchell, O. S. 2006. Financial Literacy and Planning: Implications for Retirement Wellbeing. Google.com- Financial Literacy. Diunduh 22 juni 2010. Organisation for Economic Co-operation and Development. 2005. Increasing Financial Literacy, (online), dalam (www.justelsa.com/2009/07/inilah-mengapa-pengetahuan-finansial.html), (diakses pada 21 September 2011) Paul W. Lermitte. 2004. Agar Anak Pandai Mengelola Uang . Jakarta: Gramedia. McClelland, D.C. (Inggris)The Achieving Society, New York: Van Nostrand Rei

Pengaruh latihan senam kesegaran jasmani 1992 terhadap peningkatan kesegaran jasmani siswa putera kelas tinggi (kelas IV,V dan VI) SekolahDasar Negeri Sumbersari IV kotamadya Malang tahun ajaran IV 1993/1994
oleh Sucipto Wiyono

 

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA materi struktur tumbuhan pada siswa kelas IV di SD Islam Nurul Izzah Kota Malang / Heri Hermanto

 

Kata Kunci: model Jigsaw, aktivitas, hasil belajar, struktur tumbuhan, IPA Temuan yang didapat dari observasi di kelas IV SDI Nurul Izzah Kota Malang selama pembelajaran adalah guru terkesan mendominasi pembelajaran melalui kegiatan ceramah dan tanya jawab. Dari hasil wawancara didapat informasi, pada saat belajar dalam bentuk kelompok, siswa yang aktif cenderung hanya ketua kelompoknya saja sehingga kerja dan tanggungjawab antar individu kurang merata. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 25 siswa, hanya 12 siswa yaitu 48% yang termasuk kategori tuntas belajar sedangkan sebanyak 13 siswa yaitu 52 % masih belum tuntas belajar. Salah satu alternatif model pembelajaran yang diyakini dapat mengatasi masalah tersebut adalah dengan model pembelajaran Jigsaw. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah mendeskripsikan: 1) penerapan model Jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada materi struktur tumbuhan, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa pada pembelajaran model Jigsaw materi struktur tumbuhan, 3) mendeskripsikan hasil belajar siswa pada materi struktur tumbuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini siswa kelas IV SDI Nurul Izzah Kota Malang sebanyak 25 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi lembar observasi guru dan siswa, tes, pedoman wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Jigsaw pada materi struktur tumbuhan dapat dilaksanakan dengan baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil penerapan model Jigsaw pada siklus I rata-rata skor yang diperoleh 90,44% dan meningkat pada siklus II menjadi 96,67%. Aktivitas siswa meningkat, siklus I mendapat rata-rata 85,51 meningkat menjadi 90,34 pada siklus II. Nilai evaluasi rata-rata pada siklus I 73,4 meningkat pada siklus II yaitu rata-rata 79,2. Peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh penerapan model Jigsaw yang telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Haris (2010) terhadap siswa kelas V SDN Sidodadi 04 Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi peneliti lain jika mengadakan penelitian tentang aktivitas dan hasil belajar siswa bisa menggunakan model kooperatif yang lain. Peneliti yang akan akan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dalam penelitian sebaiknya menuliskan aspek kedisiplinan dalam lembar observasi aktivitas siswa.

Implementasi orangtua asuh sebagai program komite madrasah (studi kasus di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Malang) / Rike Ismoyowati

 

Kata kunci: Komite Madrasah, Orangtua Asuh Fakta yang ada di masyarakat menyatakan bahwa pendidikan belum mampu dirasakan oleh seluruh warga Indonesia. Faktor penyebabnya di antaranya adalah kemiskinan dan bantuan pemerintah yang belum mampu menjangkau kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan. Agar penyelenggaraan lembaga pendidikan bisa maksimal maka keterlibatan semua pihak baik pemerintah, keluarga, swasta dan masyarakat pada umumnya sangat dibutuhkan oleh sekolah. Disinilah terlihat bahwa ide adanya komite madrasah menjadi sebuah solusi yang tepat, dimana terjadi sebuah kolaborasi antar berbagai unsur (masyarakat madrasah, masyarakat umum dan pemerintah) yang menciptakan sebuah sinergi yang kuat dan strategis. Berbagai program kerja komite madrasah diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dari madrasah, tanpa harus menunggu bantuan dari luar untuk menyelesaikan permasalahan itu. Fokus dari penelitian ini adalah bagaimana profil, pengorganisasian, dan pelaksanaan program orangtua asuh di MIN 2 Malang. Tiap fokus penelitian dibagi menjadi sub fokus. Fokus profil dibagi menjadi latar belakang pembentukan program orangtua asuh dan program orangtua asuh MIN 2 Malang. Fokus pengorganisasian dibagi menjadi kepengurusan program orangtua asuh dan peran masing-masing pihak yang terlibat dalam program orangtua asuh. Fokus pelaksanaan program orangtua asuh dibagi menjadi (1) kerja program orangtua asuh, (2) hubungan timbal balik antara pemberi bantuan dan penerima bantuan, dan (3) faktor pendukung dan faktor penghambat program orangtua asuh. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan ini dipilih agar dapat memperoleh data secara alami dan komprehensif mengenai masalah yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument kunci yang merencanakan, melaksanakan, mengumpulkan data, menganalisis, menafsirkan data dan melaporkan hasil penelitian. Data yang diperoleh melalui (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu saat pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Analisis tersebut melalui langkah-langkah yaitu reduksi data, display data, dan verivikasi data. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah mengadakan pengamatan lebih tekun dan menguji triangulasi. Temuan penelitian ini adalah program orangtua asuh MIN 2 Malang yang merupakan sebuah program komite MIN 2 Malang yang pelaksanaannya bekerjasama dengan MIN 2 Malang. Tujuan program ini adalah untuk mencarikan orangtua asuh sebagai penyumbang dana pendidikan bagi siswa-siswi madrasah yang kesulitan dalam biaya pendidikan. Terbentuknya program ini dilatar belakangi oleh beberapa hal yaitu, masih terbatasnya bantuan yang diberikan oleh pemerintah, banyaknya wali murid yang mengajukan keringanan biaya pendidikan ii kepada madrasah, kepedulian komite madrasah terhadap nasib putra-putri bangsa yang kesulitan biaya untuk menempuh pendidikan. Kepengurusan program orangtua asuh ini di bawah naungan Komite MIN 2 Malang. Pihak-pihak yang ikut berperan dalam program ini meliputi Komite MIN 2 Malang, MIN 2 Malang, orangtua asuh (masyarakat), dan orangtua kandung (masyarakat). MIN 2 Malang memiliki 3 orang anak asuh dan 3 orang orangtua asuh. Siklus penyerahan bantuan dari orangtua asuh kepada anak asuh dilakukan secara sederhana. Pertama, orangtua asuh akan menyerahkan kepada pengurus program orangtua asuh. Langkah selanjutnya pengurus program akan menyerahkannya kepada staff tata usaha MIN 2 Malang untuk segera dibayarkan uang komite anak asuh tersebut. Anak asuh diperoleh dari tindak lanjut pengajuan keringanan wali murid kepada madrasah. Surat pengajuan keringanan yang sudah masuk di madrasah nantinya akan ditindak lanjuti dengan home visit. Aspek yang dilihat oleh madrasah dalam menentukan anak asuh meliputi dua aspek yaitu latar belakang keluarga dan latar belakang perekonomian. Orangtua asuh diperoleh melalui dua cara, yaitu menawari seseorang yang dianggap mampu dan mau untuk menjadi orang tua asuh melalui pendekatan kekeluargaan dan dengan mengajukan proposal kepada lembaga lembaga tertentu yang dipandang mau untuk membantu. Dalam pelaksanaan program terdapat berbagai faktor pendukung dan penghambat. Adapun saran yang dapat diberikan di antaranya: (1) Kepala MIN 2 Malang, diharapkan lebih mendukung kerja dari komite madrasah. Bisa dengan cara menyediakan ruang untuk pengurus komite, sehingga arsip arsip dari komite bisa disimpan di ruangan tersebut, (2) Ketua komite MIN 2 Malang, diharapkan membuat manajemen yang baik dalam setiap melaksanakan program kerja, (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan mengkaji peran komite madrasah yang lain, karena peran komite ini sangat membantu sekali dalam kelancaran pelaksanaan pendidikan, (4) masyarakat, diharapkan agar lebih aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan melalui pemberian ide, saran maupun finansial sebagai upaya meningkatan mutu pendidikan, dan (5) peneliti lain, agar dilakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui bentuk program orangtua asuh pada lembaga-lembaga pendidikan lain.

Efektifitas belajar kooperatif model STAD terhadap hasil pembelajaran persamaan linear dengan dua peubah siswa kelas 2 SLTPN I Banjarmasin / oleh Sumartono

 

Pengembangan Media Belajar Game Simulasi Puzzle untuk pembelajaran pengenalan dan perakitan komputer pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang / Baskoro Singgih Anindito

 

Kata Kunci: pengembangan, media belajar, game simulasi puzzle, pengenalan dan perakitan komputer. Simulasi merupakan suatu model pengambilan keputusan dengan mencontoh atau mempergunakan gambaran sebenarnya dari suatu sistem kehidupan dunia nyata tanpa harus mengalaminya pada keadaan yang sesungguhnya. Dalam perakitan sebuah komputer diperlukan persiapan yang cukup dan peralatan yang akan digunakan. Saat merakit komputer dibutuhkan keahlian serta pemahaman sebelum merakit. Untuk itu perlu adanya suatu tahapan belajar sebelum perakitan berlangsung. Berdasarkan observasi dengan beberapa guru TIK di SMA Negeri 3 Malang, yakni proses pembelajaran pengenalan dan perakitan komputer dilaksanakan dengan menggunakan satu atau dua komputer. Pada intinya, sarana untuk praktikum perakitan komputer kurang memadai, sehingga sebagai penggantinya video tutorial digunakan dalam pembelajaran. Akan tetapi, pada saat ujian praktik perakitan komputer, siswa masih belum memahami materi pengenalan dan perakitan komputer. Berdasarkan paparan di atas, akan dikembangkan suatu media pembelajaran dalam bentuk Game Simulasi Puzzle untuk perakitan komputer yang berfungsi untuk memberikan latihan dasar bagi para siswa SMA kelas X (sepuluh) dalam mensimulasikan cara merakit komputer, serta peringatan untuk mengidentifikasi kesalahan dalam pemasangan komponen dan petunjuk pembenarannya. Game Simulasi Puzzle ini menerapkan model pengembangan Research and Development (R&D) dan metode pengembangan Waterfall. Instrumen yang digunakan adalah angket untuk menilai media sebagai indikator kelayakan Game Simulasi Puzzle. Hasil validasi media Game Simulasi Puzzle pada masing-masing tahapan uji coba, yaitu (1) persentase hasil validasi ahli media sebesar 97,32% dan Game Simulasi Puzzle dinyatakan valid; (2) persentase hasil validasi ahli materi sebesar 97,5% dan Game Simulasi Puzzle dinyatakan valid; dan (3) persentase hasil uji coba pemakaian Game Simulasi Puzzle terhadap siswa sebesar 86,99% dan Game Simulasi Puzzle dinyatakan valid. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan media belajar Game Simulasi Puzzle dapat dibangun dan diujicobakan untuk pembelajaran pengenalan danperakitan komputer pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Pada tahap ujicoba, persentase hasil uji coba pemakaian Game Simulasi Puzzle sebesar 86,99%. Persentase tersebut termasuk kategori sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Game Simulasi Puzzle layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

An Introduction to Ogan Ilir morphology / Slamet Abdullah

 

The Acquisition of avatation teghnical vocabolary of the Students of SBIT TNI AU By Using Individulized Vocabulary Learning / by Romlan Abi Pranoto

 

Developing english course material based on the contextual teaching and learning approach for the first year students of sekolah tinggi energi dan mineral / by Bernadin Maria Noenoek Februati

 

Pembelajaran kooperatif model STAD - problem solving meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika / Erna Yayuk

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Guru Kelas, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D. (II) Dr. Sri Mulyati, M.Pd Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif model STAD, Problem Solving, Kualita s Proses, Hasil Belajar, Matematika. Rendahnya hasil belajar matematika siswa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang mampu mengoptimalkan kemampuan siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan perubahan cara guru dalam mengajar. Dari pembelajaran matematika yang berorientasi pada guru ke pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa. Pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa menekankan siswa sebagai subyek pembelajaran matematika. Sebagai subyek, siswa melakukan berbagai kegiatan untuk dapat memahami suatu konsep maupun algoritma dalam matematika. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Membuat rancangan pembelajaran dan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan Model STAD-Problem Solving dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang, (2) Mendeskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran dengan Model STAD-Problem Solving dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ciri penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian yang bersiklus. Setiap siklus dilakukan pembelajaran dengan strategi pembelajaran kooperatif model STAD-Problem Solving dengan materi pelajaran Bilangan Bulat. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang tahun pelajaran 2011/2012 semester 2. Hasil penelitian ini adalah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD-Problem Solving, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang tahun pelajaran 2011/2012. Adapun rancangan pemelajarannya dapat dijelaskan sebagai berikut: Fase 1. Persiapan, Fase 2. Penyajian Informasi kearah Problem Solving, yang meliputi mempresentasikan pokok-pokok materi dan menyajikan contoh problem dan cara pemecahannya. Fase 3. Bekerja kelompok, Fase 4. Memberikan Tes/kuis tentang Materi Pelajaran yang meliputi; Tes/kuis diberikan secara individu dan tidak diperkenankan untuk saling bekerja sama. Fase 5. Memberikan skor Perkembangan,. Fase 6. Memberikan Penghargaan pada Kelompok, yang meliputi; Penghargaan untuk kelompok bisa berupa tanda mata, pujian, atau status (misalnya, kelompok terbaik, dll.)

Validation on the English entrance test 1976 sub-test vocabulary / Th. Kumala Rini Abukahar

 

The teching of english at sekollah Menengah Pertama Negeri 5 Malang / by I Wayan Sumertha

 

Pembuatan lock-in amplifier / oleh Nunuk Sulistyorini

 

Kinerja guru TK kelas VII semester II dalam penggunaan media pembelajaran di rintisan sekolah menengah pertama bertaraf Internasional 1 Kesamben Blitar / Muslimah Iriawati

 

Kata kunci: Kinerja guru TIK, kinerja guru dalam penggunaan media pembelajaran, media pembelajaran, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan rintisan satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan / atau Negara maju lainnya. Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional juga menerapkan pembelajaran berbasis IT dan tentunya menggunakan berbagai macam media pembelajaran, berdasarkan hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam penyesuaian terhadap pembelajaran berbasis IT yang diselenggarakan oleh RSBI . Oleh karena itu penelitian ini akan meneliti mengenai keefektifan kinerja guru TIK yang dilihat dari hasil belajar siswa kelas VII semester II dan bagaimana gambaran teknik guru dalam penggunaan media pembelajaran di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional 1 Kesamben Blitar agar siswa memenuhi SKM yang telah ditentukan. Untuk mengetahui hal tersebut peneliti menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini sendiri dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama 1 Kesamben, yang merupakan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pertama yang merupakan sekolah Rintisan Bertaraf Internasional dikota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012. Dari hasil penelitian di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 1 Kesamben, ditemukan hasil bahwa Keefektifan kinerja guru TIK yang dilihat dari hasil belajar siswa kelas VII semester 2 yang diajarkan dengan menggunakan media pembelajaran di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraft Internasional 1 Kesamben memiliki kriteria sangat optimal. Dan gambaran keterampilan teknik guru dalam penggunaan media di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional 1 Kesamben sudah maksimal, ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam ketepatan dan kesesuaian menggunakan media pembelajaran terhadap isi materi dan pencapaian tujuan pembelajaran. Dari observasi yang dilakukan memang terlihat bahwa guru sudah dapat menentukan alokasi waktu dalam penggunaan media yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu guru juga mampu mengaplikasikan media sehingga media tersebut dapat memotivasi, mengeksplorasi, serta mengelaborasi siswa kelas VII di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional Kesamben.

Tiwah sebagian upacara adat dalam kehidupan suku bangsa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah / Achyar S. Achmad

 

Hemoglobin and myoglobin studies on different species of Indonesian animals / oleh A.M. Hahn

 

Pengetahuan gizi ibu hubungannya dengan status gizi anak balita di Desa Gendangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung / Nila Darmayanti

 

Kata Kunci: Pengetahuan Gizi Ibu, Status Gizi, Anak Balita Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak balita di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini termasuk penelitian Survey dengan pendekatan Cross Sectional. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh balita berusia 36-60 bulan di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 35 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan wawancara, kuesioner (angket) dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data pengetahuan berhubungan secara signifikan terhadap status gizi, terbukti dengan (sig.) 0,002 < 0,05 dan rhitung (0,505) > rtabel (0,334), sehingga dapat disimpulakan bahwa pengetahuan gizi ibu berhubungan dengan status gizi anak balita di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

Pengaruh variasi temperatur dan waktu pemahanan (holding) pada perlakuan panas aging terhadap tingkat kekerasan logam alumunium / Singgih Arianto

 

Kata Kunci: aluminium, perlakuan panas, temperatur, aging, holding Mengingat permintaan pasar yang terus menuntut bahan aluminium yang lebih kuat dan keras, maka perlu kiranya diadakan penelitian terhadap pengaruh variasi temperatur dan waktu penahanan (holding) pada perlakuan panas aging terhadap tingkat kekerasan aluminium, agar dapat menghasilkan aluminium yang lebih keras dan kuat untuk memenuhi permintaan pasar. Aluminium dengan paduan tembaga (Cu) dapat ditingkatkan kekerasanya dengan menggunakan perlakuan panas aging. Prosedur perlakuan panas meliputi perlakuan pelarutan (solution treatment) dengan temperatur 550C dan waktu penahanan (holding) 1 jam, diikuti dengan pendinginan (quenching) dan penuaan (aging). Variabel dalam penelitian ini adalah variasi temperatur aging, suhu kamar, 150C, dan 250C dan variasi waktu aging 1 jam, 1,5 jam, dan 2 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variasi temperatur dan waktu penahanan berpengaruh terhadap tingkat kekerasan logam aluminium. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diadakan penelitian ini yang dilakukan dengan metode eksperimental. Eksperimen pada penelitian ini dimulai dari mempersiapkan spesimen yang berupa aluminium dengan paduan 0,852% Cu. Setelah itu diberikan perlakuan panas aging & uji kekerasan dengan menggunakan Rockwell B. Setelah data didapat maka data tersebut langsung diuji secara statistik dengan menggunakan program SPSS. Dari penelitian ini diketahui pengaruh variasi temperatur dan waktu penahanan (holding) terhadap nilai kekerasan aluminium. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan panas dengan temperatur aging 250C dan waktu aging 2 jam dapat meningkatkan kekerasan aluminium dari 51,81 HRB (tanpa perlakuan panas) menjadi 74,84 HRB. Kekerasan benda meningkat seiring dengan bertambahnya waktu dan temperatur aging. Hasil kekerasan rata-rata yang didapat dari penelitian ini untuk holding selama 1 jam berturut-turut pada suhu kamar (natural aging), aging 150C, dan aging 250C adalah 61,38 HRB, 69,10 HRB, dan 72,08 HRB. Untuk nilai kekerasan yang mendapat holding selama 1,5 jam pada natural aging memiliki nilai kekerasan 61,82 HRB, aging 150C tingkat kekerasannya adalah 71,84 HRB, dan aging 250C memiliki tingkat kekerasan 73,37 HRB. Pada perlakuan yang mendapat holding selama 2 jam untuk natural aging memiliki nilai kekerasan 61,98 HRB, aging 150C tingkat kekerasannya adalah 72,22 HRB, dan aging 250C memiliki tingkat kekerasan 74,84 HRB. Saran untuk penelitian setelah ini perlu kiranya ada tindak lanjut untuk penelitian berikutnya dengan berbagai variasi temperatur dan variasi waktu penahanan (holding) yang penulis belum lakukan. Misalnya variasi temperatur perlakuan panas aging yang telah mencapai temperatur over aging.

Hambatan yang dihadapi Guru Sekolah Dasar dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial di wilayah Kecamatan Dongko Kanupaten Trenggalek / Purwito Adi

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif student team achevement division (STAD) dipadu think pair share (TPS) dan kemampuan akademik terhadap ketrampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Ternate

 

Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd, (II) Dr. Hedi Sutomo, S.U. Kata Kunci: student team achivement divisions (STAD), think pair share (TPS), dan kemampuan akademik, keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi. Perubahan sistem pendidikan di Indonesia merupakan implikasi dari perubahan paradigma pendidikan, dari paradigma behaviorisme berubah menjadi paradigma konstruktivisme. Perubahan ini terjadi akibat perubahan pemahaman terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Perubahan pada konsep pendidikan tersebut misalnya paradigma sains sebagai suatu proses, belajar berbasis pengetahuan menjadi belajar berbasis kopetensi, pembelajaran instruktif menjadikan pembelajaran sebagai fasilitas, dan penilaian yang konseptual berubah menjadi penilaian yang autentik. Perubahan paradigma tersebut disikapi oleh pemerintah dengan mengubah kurikulum yang sesuai dengan paradigma dan pemahaman konsep masa kini. Hal ini terbukti dengan adanya perubahan kurikulum 1984 menjadi kurikulum 1994 yang diharapkan mampu dapat menghasilkan lulusan yang tidak saja memiliki pengetahuan melainkan keterampilan, khususnya keterampilan berpikir untuk memecahkan masalah dengan menggunakan prinsip dan prosedur sains. Pada kurikulum 1994 sudah nampak terjadinya perubahan paradigma bahwa belajar bukan berbasis pengetahuan, namun berbasis keterampilan. Selanjutnya, paradigma tersebut diperkuat lagi dengan kurikulum Berbasis Kopetensi 2004 dengan konsep pendidikan berorentasi pada kecakapan hidup (life skill). Setelah kurikulum 2004 mengalami uji coba maka dilakukan penyempurnaan dengan keluarnya peraturan Mentri Pendidikan Repoblik Indonesia Nomor 22, 33, dan 24 tahun 2006. Berdasarkan peraturan tersebut maka pengembangan standar kompetnsi dan kompotesi dasar kedalam kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan atau sekarang disebut KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut guru mengubah paradigma pembelajarannya. Berdasrkan hasil observasi di SMP Negeri 4 Ternate guru biologi belum memberdayakan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan keterampilan metakognisi. Berdasarkan observasi tersebut maka peneliti menggunakan strategi pembelejaran kooperatif model Student Team Achivement Divisions (STAD) dipadu Think Pair Share (TPS). Sehingga dalam penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut (1) Apakah ada pengaruh pembelajaran kooperatif STAD dipadu TPS terhadap keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII di SMP Negeri 4 Kota Ternate, (2) Apakah ada pengaruh kemampuan akademik siswa atas dan bawah terhadap keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII di SMP Negeri 4 Kota Ternate, (3) Apakah ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran kooperatif STAD dipadu TPS dengan kemampuan akademik siswa atas dan bawah terhadap keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Ternate. Maka untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi eksperimen) dengan menggunakan kelas VII 3,VII5, dan VII7 sebagai kelas eksperimen. Dari hasil penelitian telah diperoleh menunjukan bahwa strategi pembelajaran STAD, TPS, dan STAD+TPS berpengaruh signifikan terhadap keterampilan metakognisi, sedangkan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap terhadap keterampilan metakognisi siswa, dan Interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap keterampilan metakognisi siswa. Strategi pembelajaran, kemampuan akademi berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis, sedangkan interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis. Strategi pembelajaran, kemampuan akademik, dan interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar koognitif biologi. Dari sembilan hipotesis yang diajukan hanya satu hipotesis yang tidak signifikan, sedangkan delapan hipotesis lainya signifikan. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diajukan oleh peneliti untuk guru dan calon peneliti adalah (1) Bagi guru dalam mengajar perlu adanya variasi strategi pembelajaran yang digunakan salah satunya STAD, TPS, dan STAD+TPS dan dapat juga strategi pembelajaran yang telah digunakan oleh guru dikombinasikan atau dipadukan dengan ketiga strategi diatas, (2) Seluruh siswa berkemampuan akademik atas dan bawah dapat mencapai KKM yang telah ditentukan, oleh karena itu peneliti menyarankan agar guru memiliki peta kemampuan akademik siswa sebagai dasar penyusun kelompok belajar siswa dalam implementasi TPS, STAD+TPS, sehingga proses scaffolding berjalan dengan baik, (3) Perlu dilakukan penelitian yang mengintegrasikan strategi-strategi pembelajaran berbasis konstruktivisme dan student centred selain STAD dan TPS.

Pelestarian nilai- nilai moral melalui tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung / Ayu Yulia Purboningsih

 

Kata kunci : Nilai, Moral, Pelestarian, Upacara Adat Jamasan Kyai Upas, Hambatan, Pemerintah Kabupaten Tulungagung memiliki tradisi budaya berupa JamasanTombak Pusaka Kyai Upas yaitu kegiatan ritual yang digelar rutin setiap bulan Suro ini berlangsung di pendopo Dalem Kanjengan, Kelurahan Kepatihan. Jamasan Tombak Kyai Upas ini merupakan suatu tradisi memandikan pusaka yang dilakukan secara turun menurun dalam waktu tertentu. Nilai-nilai moral dalam Upacara Memandikan pusaka tombak Kyai Upas dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini difokuskan dengan judul “Pelestarian Nilai-Nilai Moral Melalui Tradisi JamasanTombak Pusaka Kyai Upas Di Kabupaten Tulungagung” Tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan pelaksanaan JamasanTombak Pusaka Kyai Oepas di Kabupaten Tulungagung, (2) menjelaskan ragam nilai-nilai moral yang terkandung dalam JamasanTombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung, (3) menjelaskan usaha pelestarian nilai-nilai moral melalui tradisi JamasanTombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung, (4) menjelaskan hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelestarian nilai-nilai moral yang terkandung dalam JamasanJamasanTombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Jalan A.Yani Timur Gang. IV No.7 Kabupaten Tulungagung. Sumber data dalam penelitian ini adalah Ibu Sri Wahyuni, BA dan Bapak Bimo Wijayanto. Temuan penelitian menunjukan bahwa (1) Upacara Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas dalam proses penyelenggaraannya mempunyai dua tahapan yaitu kegiatan yang bersifat persiapan dan kegiatan-kegiatan inti upacara jamasan dimulai. Kegiatan yang bersifat persiapan yaitu kegiatan malam tirakatan dan kegiatan memasak sesaji. Kegiatan yang merupakan inti dari jamasan Kyai Upas terlaksana di pagi harinya. Urutan acara inti jamasan yaitu sambutan ahli waris, pembacaan sejarah Tombak Kyai Upas, sambutan Bupati/Wakil bupati, lalu kegiatan siraman tombak Kyai Upas. malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang; (2) Jamasan tombak pusaka kyai upas mengandung banyak Nilai-nilai moral, nilai-nilai moral tersebut yaitu nilai kebersamaan, nilai ketelitian, nilai kegotongroyongan, dan nilai religius; (3) Pemerintah memberikan kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas dalam berbagai media yaitu melalui media pendidikan formal atau sekolah, melalui media buklet, melalui website, melalui radio, melalui pagelaran seni tari, melalui BPSNT (Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisi); (4) Hambatan yang dialami dalam upaya-upaya pelestarian kebudayaan Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas dalam berbagai media-media tersebut adalah hambatan biaya, hambatan keterbatasan jumlah buklet dan keterbatasan tenaga untuk penyebarannya, hambatan minimnya pendengar radio sehingga informasi yang disiarkan tidak banyak orang yang menerima, hambatan pro dan kontra dalam pagelaran seni tari yang mempermasalahkan bahwa Tombak Kyai Upas tidak boleh dijadikan pertunjukan maupun membuat tiruan dari Tombak Kyai Upas dengan benda yang dibuat mirip, hambatan BPSNT Yogyakarta karena banyaknya budaya-budaya yang harus didokumentasikan oleh pihak BPSNT Yogyakarta sehingga perhatian untuk fokus terhadap Jamasan Kyai Upas ini agak tertunda. Berdasarkan temuan penelitian diatas, saran yang diajukan sebagai berikut : (1) Kepada pemerintah kabupaten Tulungagung agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat memperkuat kebudayaan lokal yang menjadi ciri khas kabupaten tulungagung, (2) Kepada warga masayarakat Kabupaten Tulungagung agar lebih mengenal dan menampilkan sikap positif terhadap kebudayaan-kebudayaan Kabupaten Tulungagung bukan hanya Jamasan Kyai Upas saja, (3) Kepada mahasiswa Hkn, agar melakukan penelitian lebih lanjut tentang kebudayaan-kebudayaaan Tulungagung, karena masih banyak lagi kebudayaan-kebudayaan lain yang masih belum diteleti di Kabupaten Tulungagung maupun daerah lain.

Perbedaan prestasi akademik mahasiswa FIP yang aktif dengan tidak aktif dalam organisasi intra kampus IKIP MALANG
oleh Dino Sudana

 

Perbandingan hasil belajar-mengajar dengan metode deskriptip dan penyajian data eksperimen untuk unit materi kesetimbangan reaksi kimia di SMA / oleh Iskak

 

Pengaruh suhu sintering pada komposit keramik porselen dengan penambahan cullet 15% dan ballclay 2% terhadap konstanta dielektrik, kuat tekan dan mikrostruktur / Titis Yunika Putri

 

Kata kunci: keramik porselen, suhu sintering, konstanta dielektrik, kuat tekan, mikrostruktur Keramik porselen yang tampaknya rapuh sebenarnya memiliki kekuatan bahan yang baik karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Untuk memiliki struktur yang baik, keramik harus disintering dengan suhu diatas 1300°C agar terjadi penggelasan. Tetapi pada penelitian ini, suhu sintering yang digunakan dibawah 1300°C. Untuk membantu proses sintering, diberi penambahan cullet sebagai zat aditif yang berfungsi sebagai flux (pelebur) yang dapat membuat keramik tetap memiliki struktur yang baik tetapi dengan suhu sintering yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu sintering terhadap konstanta dielektrik, kuat tekan, mikrostruktur bahan dan suhu sintering yang tepat digunakan untuk pembuatan keramik porselen dengan penambahan cullet 15% dan ballclay 2%. Metode sintesis bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode solid state reaction (reaksi padatan). Cullet sebagai zat aditif ditambahkan sebanyak 15% dari total berat keseluruhan bahan. Variasi suhu sintering yang digunakan yaitu 1000°C, 1050°C, 1100°C, 1150°C dan 1200°C. Dari hasil sintering dilakukan pengujian lebih lanjut yaitu pengujian konstanta dielektrik dengan menggunakan kapasitansimeter, kuat tekan dengan menggunakan set alat uji kuat tekan dan mikrostruktur dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konstanta dielektrik dan kuat tekan keramik naik seiring dengan pertambahan suhu sampai mencapai suhu 1100°C. Pemanasan diatas suhu 1100°C akan membuat nilai konstanta dielektrik dan kuat tekannya turun. Suhu sintering juga mempengaruhi mikrostruktur bahan. Semakin tinggi suhu sinteringnya maka butiran-butiran akan melebur satu sama lain. Cullet membantu mengisi pori saat proses sintering. Nilai konstanta dielektrik tertinggi terdapat pada suhu 1100°C yaitu sebesar 84,52. Nilai kuat tekan tertinggi terdapat pada suhu 1100°C yaitu sebesar 60,77 MPa. Dapat disimpulkan bahwa suhu sintering berpengaruh pada nilai konstanta dielektrik, kuat tekan dan mikrostruktur bahan. Suhu sintering 1100°C merupakan suhu sintering yang sesuai dalam komposit keramik porselen dengan penambahan cullet sebanyak 15% dan ballclay 2%.

Penelitian kemampuan pemahaman kognitif puisi dalam rangka membaca puisi siswa kelas III SMA Negeri Kotamadya Malang / L. Winarno Adiwardoyo

 

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Pandansari Kota Tulungagung / Wiwik Aryani

 

Kata kunci: Kemampuan Kognitif, Metode Eksperimen, Anak TK Kelompok B Latar belakang masalah adalah penerapan metode yang kurang tepat dan kurang menarik,sehingga ketika anak diminta untuk mencoba, menceritakan suatu kejadian, menunjukkan sebab akibat dan membedakan lebih dari dua buah benda anak mengalami kesulitan. Berdasarkan hal tersebut penelitimen coba menggunakan metode eksperimen dalam kegiatan pembelajaran. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan Pandansari Kota Tulungagung (2) Apakah penerapan metode eksperimen mampu meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan Pandansari Kota Tulungagung. Penelitian yang dilaksanakan peneliti hanya meneliti pada perkembangan kemampuan kognitif untuk kelompok B TK Dharma Wanita Pandansari Kota Tulungagung menggunakan metode eksperimen. Langkah-langkahnya adalah: (1) guru memberi penjelasan, (2) anak melaksanakan percobaan, (3) pengamatan (4) menyimpulkan dengan bercerita, (5) kesimpulan dari guru. Peneliti menggunakan pedoman penilaian unjuk kerja yang dilaksanakan anak dan observasi.Penelitian ini dirancang dengan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tahap tindakannya: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Ditemukan bahwa: (1)Metode eksperimen dapat digunakan dengan baik untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan Pandansari Kota Tulungagung.(2) Kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Pandansari kota Tulungagaumg meningkat setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode eksperimen. Pada siklus I peningkatan mencapai 33,8% dan diperoleh prosentase ketuntasan kelas 73,8% dan siklus II diperoleh prosentase ketuntasan kelas 83,25%. Berdasankan hasil penelitian, disimpulkan bahwa: (1) Penerapan metode eksperimen dapat digunakan dengan baik di TK Dharma Wanita Persatuan Pandansari Kota Tulungagung. (2) Kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Pandansari Kota Tulungagung meningkat. Pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru dengan metode eksperimen ini kegiatan pembelajaran berubah berpusat pada anak. Anak sendiri yang melaksanakan percobaan. Disarankan untuk melaksanakan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan kognitif di dalam kegiatan pembelajaran anak TK.

Pembinaan Kedisiplinan Bagi Siswa: Studi Kasus Di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang Oleh Yusuf Setyawan

 

Dalammencetakkader-kaderbangsayangbermentaltinggidanmemilikirasa tanggungj awab yang tinlgi pula, qipertut

Penerapan hands-on activity melalui inkuiri dalam pembelajaran kontekstual berbasis wilayah industri untuk meningkatkan kativitas motivasi, dan prestasi belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 1 Sidayu Gresik / oleh Fitri Mulyani

 

Pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Tumpang / David Leonardo Hutomo

 

Kata Kunci: keterampilan mengajar guru, motivasi belajar, prestasi belajar. Keterampilan mengajar guru merupakan seperangkat kemampuan atau kecakapan guru dalam melatih atau membimbing aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Sedangkan motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif dari dalam diri sehingga menimbulkan dorongan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan, kebutuhan atau keinginan belajar. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam belajarnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru (X1) dan motivasi belajar (X2), sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar (Y). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA NEGERI 1 Tumpang angkatan 2012 yang berjumlah 157 siswa. Data diperoleh dari hasil kuesioner atau angket. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Secara parsial ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru terhadap prestasi belajar, 2) Secara parsial ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar, 3) Secara simultan ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan adalah: (1) Bagi sekolah, Pihak sekolah khususnya kepala sekolah hendaknya dapat mengikutkan dan menghimbau para guru untuk mengikuti diklat pendidikan atau workshop untuk menambah wawasan dan kemampuan mengajar.(2) Bagi guru akuntansi SMA NEGERI 1 Tumpang, Guru diharapkan untuk lebih memperhatikan kondisi belajar di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Diharapkan dengan terjaganya kondisi belajar dengan baik maka siswa akan lebih termotivasi dalam belajar.(3) Bagi orang tua dan guru, Diharapkan orang tua, guru menggunakan pendekatan yang berbeda dengan memberikan penghargaan bisa berupa pujian atau hadiah kepada siswa ketika mendapat nilai yang baik pada mata pelajaran akuntansi.(4) Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada masalah atau topik yang berkaitan dengan prestasi belajar, hendaknya menambah variabel atau indikator sehingga penelitian dapat lebih bervariasi dan dapat lebih mengkaji hal – hal yang belum tercakup dalam penelitian ini.

Analisis faktor brand equity produk samartphone Samsung (studi padsa mahasiswa Prodi S1 Manajemen Universitas Negeri Malang angkatan 2012) / Ahmad Hamdun

 

Pengaruh leverage keuangan, profitbilitas dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba / Netya Nariswari Nirmalapuspa

 

Kata Kunci: Leverage Keuangan, Profitabilitas Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Manajemen Laba Manajemen dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaan melalui manajemen laba. Agency theory sebagai landasan terjadinya manajemen laba memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan diri mereka sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh leverage keuangan, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method dan menggunakan pool time series sehingga diperoleh sebanyak 48 data observasi. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel leverage keuangan berpengaruh terhadap manajemen laba. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi akan termotivasi untuk melakukan manajemen laba. Sedangkan profitabilitas dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Berdasarkan penelitian ini maka saran yang diberikan pada investor adalah agar lebih teliti dalam menilai laporan keuangan, sedangkan terhadap perusahaan sebaiknya memperkecil praktik manajemen laba agar tidak merugikan untuk berbagai pihak, dan bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan memperbanyak sampel, menambah rentang waktu yang lebih panjang, dan menambah variabel lain.

Pengaruh konsentrasi asam indol asetat terhadap enten tanaman bougainvillea dan acalypha / Sutanaya Adnyana

 

Penerapan pendekatan tim kuis untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Agustina Rokhmawati

 

Kata Kunci: Peningkatan Aktivitas, Hasil Belajar, Tim Kuis, IPS SD. Bedasarkan hasil observasi pada tanggal 15 Desember 2011 di SDN Kedung Banteng I, selama pembelajaran IPS berlangsung seluruh siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan membaca buku pelajaran dan hasilnya nilai ulangan siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang tahun 2011 khususnya pada pembelajaran IPS terdapat kesenjangan nilai, diketahui dari 19 orang siswa sebesar 15,8% (3 orang) yang mendapatkan nilai baik, sedangkan yang mendapatkan nilai cukup yaitu 26,3% (5 orang), dan 57,9% (11 orang ) mendapatkan nilai kurang, hal itu mengacu pada standar ketuntasan minimal yang ditetapkan di SDN Kedung Banteng I adalah 70. Tujuan Penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan penerapan pembelajaran melalui pendekatan tim kuis pada pembelajaran IPS kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang.Pasuruan, (2) mengetahui sejauh mana peningkatan aktifitas siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang Pasuruan setelah diterapkannya pendekatan tim kuis, (3) mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang.Pasuruan setelah diterapkannya pendekatan tim kuis. Pendekatan tim kuis adalah pendekatan pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk berfikir mandiri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Deskriptif Kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) langkah-langkahnya diadopsi dari model Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang Pasuruan sebanyak 19 siswa. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci, lembar observasi, soal test tulis dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan tim kuis dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I. Hal ini terjadi karena guru telah menerapkan pendekatan tim kuis sesuai dengan tahap-tahap dalam pendekatan tersebut. Untuk aktifitas siswa pada siklus I mendapat nilai rata-rata (79,8), sedangkan pada siklus II meningkat menjadi (82,0). Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai dari sebelum dilakukannya tindakan (59,47), kemudian dilakunnya tindakan pada siklus I mendapat nilai rata-rata (75,7), selanjutnya tindakan pada siklus II (78,4). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan pendekatan tim kuis terlaksana dengan baik dan hasilnya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru harus mengetahui dengan jelas seperti apa langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar pembelajaran terlaksana dengan efektif dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Peningkatan kemampuan membaca puisi melalui penggunaan strategi simulasi kreatif siswa kelas V SD Negeri Minasa Upa Makassar / Syekh Adiwijaya Latief

 

Kegiatan pembelajaran membaca puisi berlangsung sebagai rutinitas tanpa suatu pengembangan. Kegiatan pembelajaran membaca puisi masih dimonopoli oleh guru, sementara aktivitas siswa kurang ditonjolkan, variasi guru dalam mengajar membaca puisi sangat terbatas sehingga pembelajaran kurang menarik, pemberian penguatan baik secara verbal maupun non verbal terhadap siswa belum sepenuhnya dilakukan guru, dan materi yang dipergunakan masih terbatas pada buku paket. Dengan demikian, diperlukan suatu strategi yang dapat mengembangkan atau meningkatkan kegiatan pembelajaran membaca puisi, sehingga puisi hadir dan dapat diterima siswa sebagai suatu yang dinikmati dan menyenangkan. Dengan strategi simulasi ini diharapkan pada diri siswa muncul rasa senang dan tertarik pada puisi serta kemudian timbul kelancaran dan kemudahan dalam mendeklamasikan puisi. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan proses penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas V SDN Minasa Upa Makassar dan (2) hasil penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas V SDN Minasa Upa Makassar. Rancangan yang digunakan dalam penilitian ini adalah rancangan penelitian tindakan. Rancangan tindakan dalam penelitian ini berupa rancangan tindakan pembelajaran yang meliputi tujuan, bahan, prosedur, dan evaluasi pembelajaran membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif. Data penelitian ini adalah (1) data proses penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi dengan subjek terteliti dan guru kelas V SD; dan (2) data hasil penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi berupa aktivitas membaca puisi siswa kelas V. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi partisipatoris yang diwujudkan dengan mengamati dan merekam perilaku verbal dan non verbal siswa-guru dalam pembelajaran di kelas dengan instrumen pengumpul data. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan model analisis: pengumpulan data, analisis data, dan refleksi analisis data. Berdasarkan analisis data proses tindakan, dapat disimpulkan bahwa secara umum penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Kegiatan awal pembelajaran membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif dimulai guru dengan melakukan apersepsi-menghubungkan kegiatan sehari-hari siswa dengan tema ajar, membangkitkan semangat belajar siswa dengan mengajak bernyanyi, dan memberikan penjelasan mengenai proses pembelajaran membaca puisi yang akan dilaksanakan. Kegiatan inti dimulai dengan guru memperagakan pembacaan puisi dengan memperhatikan tekanan aspek lafal dan intonasi yang tepat dengan diikuti dengan gerakan penuh penghayatan dan ekspresi. Siswa diarahkan membaca puisi dalam hati, serempak, dan berkelompok, dan memberikan petunjuk cara membaca puisi yang baik dengan memperhatikan aspek lafal dan intonasi (suara, tempo, nada, dan jeda) dalam teks puisi. Guru mensimulasikan gerak tanpa kata dan gerak dengan bersuara diiringi musik dengan memperhatikan aspek penampilan, gerak, ekspresi, dan penghayatan, siswa diarahkan membaca puisi diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh, guru membimbing siswa untuk melakukan latihan simulasi gerak tanpa kata dan gerak dengan bersuara dengan diiringi musik dan latihan membaca puisi, siswa menampilkan atau mendeklamasikan puisi di depan kelas, serta mendiskusikan kesan-kesan mereka terhadap puisi. Pada kegiatan akhir pembelajaran, guru bersama siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan memberikan penguatan dari penampilan siswa dengan pujian dan pemberian hadiah, dan memotivasi siswa untuk terus berlatih meningkatkan kemampuan mendeklamasikan puisi dan menarik kesimpulan tentang cara atau teknik mendeklamasikan puisi yang baik. Secara umum, kemampuan membacakan puisi meningkat pada sebagian besar siswa menunjukkan penampilan/kesiapan fisik dan mental siswa sudah baik (dimunculkan) saat mendeklamasikan puisi, pelafalan dan intonasi (suara, tempo, nada dan jeda) pada saat siswa membacakan puisi sudah baik. Kesungguhan, kesesuaian, keterlibatan, dan cara bergerak sesuai dengan teks isi puisi meningkat dengan baik dalam melakukan simulasi gerak tanpa kata dan gerak dengan bersuara yang diiringi musik, siswa mampu memunculkan ekspresi dan penghayatan saat mendeklamasikan puisi. Sebagian besar siswa memberikan komentar atau masukan serta berbagi pengalaman tentang cara mendeklamasikan puisi pada siswa yang kesulitan mendeklamasikan puisi. Hasil peningkatan kemampuan membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif berdasarkan analisis data kuantitatif per aspek kemampuan membaca puisi menunjukkan bahwa untuk siswa kelompok atas berkualifikasi sangat baik (86%) pada siklus pertama, sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 100% dengan indikator: keseluruhan aspek kemampuan membaca puisi sangat baik. Siswa kelompok tengah berkualifikasi baik (76%) pada siklus pertama, sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 85% dengan kualifikasi sangat baik dengan indikator: aspek penampilan/kesiapan fisik dan mental serta pelafalan dan intonasi sangat baik, sementara gerak tubuh, dan ekspresi/penghayatan baik. Siswa kelompok bawah berkualifikasi sangat kurang (41%) pada siklus pertama, meningkat menjadi 69% dengan kualifikasi cukup pada siklus kedua dengan indikator: aspek penampilan/kesiapan fisik dan mental baik, gerak tubuh, dan ekspresi/penghayatan cukup, sedangkan aspek yang masih kurang adalah pelafalan dan intonasi. Berdasarkan simpulan penelitian, disarankan kepada: (1) guru kelas V SD untuk menggunakan temuan pembelajaran membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif sebagai rujukan operasional dalam merancang pembelajaran membaca puisi dan pembelajaran kemampuan berbahasa Indonesia; serta memanfaatkan prosedur penelitian ini untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas sebagai upaya pengembangan dan peningkatan pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia khususnya kemampuan membaca puisi, (2) dosen atau tim pengajar bahasa Indonesia di PGSD untuk menyelenggarakan perkuliahan pembelajaran membaca puisi agar mahasiswa calon guru SD terampil dan kreatif dalam membaca puisi di SD, dan (3) peneliti lain untuk merancang penelitian sejenis dengan skala lebih luas baik dalam hal aspek kemampuan bersastra, jenjang sekolah, maupun jenjang kelas di SD.

Hubungan efektivitas penggunaan facebook dan motivasi dengan hasil belajar siswa kelas X SMK di Ponorogo / Bayu Widarga

 

ABSTRAK Widarga, Bayu, 2013, Hubungan EfektivitasPenggunaan Facebook dan Motivasi dengan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMK di Ponorogo. Skripsi. S1 Pendidikan Teknik Informatika. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Tri Admatji S.,M.Pd (II) Dr. Hakkun Elmunsyah, S.T, M.T Kata Kunci: Facebook, Motivasi, Hasil Belajar Facebook adalah salah satu jejaring sosial yang banyak digunakan. Berdasarkan pengetahuan penulis, pengguna facebook di Indonesia sebagian besar adalah orang-orang yang masih berada di jenjang sekolah, selain itu pengguna facebook belum memaksimalkan fungsi dari facebook menunjang proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui seberapa tinggi efektivitas penggunaan facebook dan seberapa tinggi motivasi belajar siswa; (2) mengetahui hubungan efektivitas penggunaan facebook dengan hasil belajar; (3) mengetahui hubungan motivasi dengan hasil belajar; dan (4) mengetahui hubungan efektivitas penggunaan facebook dan motivasi dengan hasil belajar. Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMK N 1 Ponorogo dan SMK IT Global Indonesia Ponorogo. Peneliti melakukan penelitian populasi, yaitu menggunakan semua subjek yang ada, hal ini dikarenakan jumlah siswa di setiap jurusan yang kurang dari 100. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan dokumentasi. Analisa data menggunakan analisa regresi sederhana dan analisa regresi ganda, analisa data dilakukan dengan bantuan program SPSS Versi 16 For Windows. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: (1) efektivitas penggunaan facebook (X1)tergolong dalam kategori efektiv, dengan mean sebesar 63, 72; (2) motivasi (X2) tergolong dalam kategori sedang, dengan mean sebesar 58, 09; dan (3) hasil belajar (Y) tergolong dalam kategori sangat baik, dengan nilai rata-rata sebesar 88, 81. Hasil analisa uji hipotesis secara regresi parsial antara efektivitas penggunaan facebook dengan hasil belajar adalah ada hubungan yang signifikan antara efektivitas penggunaan facebook dengan hasil belajar. Hasil analisa uji hipotesis secara regresi parsial antara motivasi dengan hasil belajar adalah ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan hasil belajar. Hasil analisa uji hipotesis secara regresi ganda antara efektivitas penggunaan facebook dan motivasi dengan hasil belajar adalah ada hubungan yang signifikan antara efektivitas penggunaan facebook dan motivasi dengan hasil belajar. Kesimpulan penelitian ini adalah : (1) efektivitas penggunaan facebook siswa kelas X SMK di ponorogo tergolong dalam kategori cukup efektiv, motivasi belajar siswa kelas X SMK di Ponorogo tergolong dalam kategori sedang, sedangkan hasil belajar siswa kelas X SMK di Ponorogo dalam pelajaran perakitan komputer tergolong dalam kategori sangat baik; (2) ada hubungan yang signifikan antara efektivitas penggunaan facebook dengan hasil belajar; (3) ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan hasil belajar; dan (4) ada hubungan yang signifikan antara efektivitas penggunaan facebook dan motivasi dengan hasil belajar.

Kesalahan - kesalahan pemanfaatan media video dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Madyopuro 2 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Gia Rachmat Sulung

 

Kata Kunci: Pemanfaatan video, Kesalahan-Kesalahan, Faktor-faktor Media canggih dapat dideskripsikan sebagai suatu alat yang memang mempunyai kemampuan khusus. Tidak bisa dibuat langsung oleh guru. Dan membutuhkan konsumsi listrik yang cukup besar dan dilengkapi dengan komponen-komponen yang rumit, dan pemahaman guru sangat penting disini sabagai upaya pengoptimalan pembelajaran di kelas. Sehingga pemahaman dalam pemanfaatan media tersebut rentan sekali terjadi kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu. Dalam pemanfaatan media video, dibutuhkan beberapa peralatan seperti komputer/laptop, LCD proyektor, dan sound speaker/pengeras suara. Peran guru juga sangat penting dalam pemanfaatan media ini, guru haruslah memahami bagaimana mengoperasikan alat-alat penunjang video yang tersebut tadi. Pada pelaksanaannya juga guru harus mampu mengoptimalkan pembelajaran dengan cara mampu mengkondisikan situasi dalam kelas, dan menciptakan kondisi siswa agar siap menerima pembelajaran dengan memanfaatkan media ini. Siswa juga harus dapat mengkondisikan dirinya sendiri agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa masih terjadi kesalahan-kesalahan dalam pemanfaatan media video dalam pembelajaran IPS di kelas IV. Dilihat dari pedoman guru dalam merancang RPP dan aktivitas pembelajarannya di kelas, sebenarnya secara umum dalam pembelajaran ini guru sudah dapat melaksanakannya dengan baik, namun dalam praktik di lapangan masih saja terjadi keasalahan-kesalahan baik dari faktor teknis yaitu disebabkan dari faktor alat yang digunakan seperti video tidak tampak pada layar proyektor, atau suara buruk. Dan faktor non-teknis dari segi kemampuan guru dalam memanfaatkan video dalam pembelajarannya, seperti guru yang masih belum maksimal mengkondisikan siswa saat penayangan video berlangsung, sehingga kondisi kelas terkesan ramai. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebaiknya ada pelatihan yang diadakan lembaga pendidikan setempat untuk mensosialisaikan pemahaman dalam memanfaatkan media video. Selain itu kesiapan guru sebelum pembelajaran juga menjadi hal yang tidak bisa dilupakan. Pengecekan alat-alat, data video yang akan ditayangkan dan juga yang terpenting pengkondisisn siswa saat pembelajaran berlangsung, karena tidak dapat dipungkiri pembelajaran ini sangat merangsang siswa untuk aktif berpendapat dan media ini sangat memacu rasa ingin tahu siswa.

Penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Malang / Wildan Akhsana

 

Kata kunci: Media Macromedia Flash Professional 8, IPA, Pembelajaran, Media pembelajaran adalah segala sesuatu alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata atau konkrit dari pengirim pesan kepada penerima sehingga terjadi proses belajar, dengan media proses pemahaman konsep siswa menjadi lebih mudah dan belajar menjadi lebih bermakna. Berdasarkan hasil observasi di SDN Tunjungsekar 1 didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang belum pernah menggunakan media, sehingga siswa kurang aktif. Dari nilai tes menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 60,9 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 36,4 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 67 untuk hasil belajar dan 70% untuk ketuntasan kelas. Penelitian ini merumuskan masalahnya (1) bagaimanakah langkah-langkah guru dalam memanfaatkan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) bagaimankah aktivitas siswa selama pembelajaran dengan media macromedia flash professional 8, (3) bagaimanakah hasil belajar siswa setelah diterapkan media macromedia flash professional 8. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media macromedia flash professional 8, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 dengan kompetensi dasar “mendeskripsikan sistem tata surya dan posisi penyusunan tata surya” dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam penerapan media macromedia flash professional 8. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 82,5 menjadi 86,5 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 78 dengan ketuntasan 84% pada siklus I menjadi rata-rata 82 dengan ketuntasan kelas mencapai 92% pada siklus II. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran macromedia flash professional 8 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan sekolah supaya lebih termotivasi dan lebih semangat dalam memberikan pengajaran yang bermutu, bervariasi dan berinovasi untuk mengadakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.

Hubungan kemampuan menulis dengan prestasi akademik mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP MALANG / oleh Imam Agus Basuki

 

Pengaruh penerapan model pembelajaran numbered heads together (NHT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV di SDN Lesanpuro 3 Kota Malang / Beta Nur Safitri

 

Kata Kunci : Model Numbered Heads Together (NHT), Hasil Belajar, IPS Berdasarkan hasil observasi di SDN Lesanpuro 3 Kota Malang, ditemukan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Ketika guru memberikan pertanyaan, siswa menjawab secara serempak sehingga jawaban yang diberikan siswa tidak dapat didengar dengan jelas dan membuat kelas menjadi gaduh. Hal ini terjadi karena siswa berebut ingin menjawab pertanyaan dari guru. Berdasarkan hasil ulangan formatif pada materi Kegiatan Ekonomi yang Berkaitan dengan Sumber Daya Alam dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai di atas KKM hanya ada 4 siswa (11,11%) sedangkan siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM ada 32 siswa (88,89%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) hasil belajar siswa pada materi pokok Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi dengan menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together di kelas IV SDN Lesanpuro 3 Kota Malang; (2) hasil belajar siswa pada materi pokok Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi tanpa menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together di kelas IV SDN Lesanpuro 3 Kota Malang; (3) pengaruh penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi di kelas IV SDN Lesanpuro 3 Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah adalah Quasy Experimental Design dengan bentuk desain Nonrandomized Control Group Pre Test-Post Test. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Lesanpuro 3 Kota Malang tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 71 siswa. Sedangkan sampel dalam penelitian ini ada 71 siswa yang terbagi menjadi 2 kelas yaitu 38 siswa kelas IVA sebagai kelompok eksperimen dan 33 siswa kelas IVB sebagai kelompok kontrol. Instumen penelitian yang digunakan adalah RPP dan soal tes. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan program SPSS 15.0 for Windows dan Microsoft Excel. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh 3 kesimpulan yang terkait dengan rumusan masalah peneliti. Pertama, hasil belajar siswa kelas IVA (kelompok eksperimen) mengalami peningkatan dengan rata-rata gain score sebesar 22,89. Rata-rata nilai pre test sebesar 58,68 dan rata-rata nilai post test sebesar 81,58. Kedua, hasil belajar siswa kelas IVB (kelompok kontrol) mengalami peningkatan dengan rata-rata gain score sebesar 16,52. Rata-rata nilai pre test sebesar 58,64 dan rata-rata nilai post test sebesar 75,15. Ketiga, ada pengaruh yang positif dan signifikan penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV di SDN Lesanpuro 3 Kota Malang. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan uji-t diperoleh hasil thitung adalah 2,805 dan ttabel adalah 1,994 sedangkan signifikansi p (0,007). Hasil ini menunjukkan bahwa thitung > ttabel (2,805 lebih besar dari 1,994) dan p < 0,05 (0,007 lebih kecil dari 0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar: (1) Guru dapat menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) sebagai salah satu alternatif pilihan dalam menentukan model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa; (2) Penerapan model pembelajaran NHT membutuhkan waktu yang cukup lama, oleh karena itu guru harus dapat mengatur waktu yang digunakan dengan sebaik mungkin agar materi dapat tersampaikan; (3) Sebaiknya guru membuat catatan nomor berapa saja yang sudah dipanggil ketika menerapkan model pembelajaran NHT agar tidak terjadi pengulangan nomor yang dipanggil.

Penerapan strategi pelayanan konsumen dengan kualitas pelayanan yang unggul pada swalayan KUD Pakis / oleh Ira Nuristiyana

 

Kekeliruan-kekeliruan dalam buku penunjang matematika SMP kelas satu pada semester pertama / oleh Sahat Siahaan

 

Pelaksanaan program bantuan biaya pendidikan BIDIKMISI di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang / Dewi Masito

 

ABSTRAK Masito, Dewi. 2016. Pelaksanaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si (2) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum. Kata Kunci: Pelaksanaan program, Bidikmisi, prestasi Program Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional dilaksanakan sejak tahun 2010. Bidikmisi bertujuan memberikan kesempatan belajar di Perguruan Tinggi bagi keluarga kurang mampu dan berpotensi akademik baik guna memutus mata rantai kemiskinan. Mekanisme pencairan dana Bidikmisi seringkali berubah-ubah sehingga dana program tidak tersalurkan dengan lancar kepada mahasiswa Bidikmisi, dengan biaya hidup di Malang yang relatif mahal, kebutuhan penunjang akademik mahasiswa Bidikmisi sulit terpenuhi. Dengan kendala tersebut perlu diketahui perihal Pelaksanaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pelaksanaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Variabel dalam penelitian ini adalah pelaksanaan program Bidikmisi sebagai variabel bebas dan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang sebagai variabel terikat. Adapun permasalahan yang diteliti adalah pelaksaan program Bidikmisi, kendala dan solusi program Bidikmisi, prestasi mahasiswa Bidikmisi, dan efektivitas pelaksanaan program Bidikmisi dalam upaya meningkatkan prestasi mahasiswa Bidikmisi di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Bidikmisi angkatan 2012 Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Teknik pengambilan sampel adalah Sampling jenuh, yakni dengan menggunakan seluruh anggota populasi yang berjumlah 63. Data dikumpulkan dengan instrumen angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif yang kemudian disajikan dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan program Bidikmisi mulai dari prasyarat hingga evaluasi program terlaksana secara tidak efektif, dibuktikan dengan berbagai kendala yang ada. Kendala dalam pelaksanaan program Bidikmisi telah dilaksanakan beberapa solusi akan tetapi belum secara terus menerus. Prestasi Mahasiswa Bidikmisi sebagian besar mencapai angka yang sangat memuaskan dan beberapa diantaranya mencapai angka dengan pujian. Efektivitas Program Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi dalam upaya meningkatka prestasi mahasiswa sudah berjalan efektif.

Hubungan kemampuan awal, motivasi berprestasi dan pengalaman mengajar dengan prestasi belajar mahasiswa penyetaraan D-II guru sekolah dasar DKI Jakarta tahun 1994
oleh Bitman Manullang

 

Pengujian kadar nitrit dalam air sumur di Klaseman dan pemanfaatannya dalam praktikum pengetahuan lingkungan di IKIP MALANG / oleh Sarwono

 

Orientasi komunikatif dalam pengembangan materi pengajaran struktur bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar di SMP IKIP MALANG
oleh Mayong Maman

 

Perbandingan pendidikan di FPTK IKIP M ALANG dan VEDC Arjosari Malang, ditinjau dari segi kurikulum intensif pengajaran dan intensitas praktek / oleh Made Wena

 

Penerapan metode pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MIA 1 Lintas Minat SMA Laboratorium UM / Trieana Wahyuningtyas

 

ABSTRAK Wahyuningtyas, Trieana. 2016. Penerapan Metode Pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) pada Mata Pelajaran Ekonomi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Mia 1 Lintas Minat SMA Laboratorium UM. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mardono, M.Si, (II) Drs. Ir. Yohanes Hadi S, S.Th.,M. Div, M.E. Kata Kunci: Guided Note Taking (GNT), Teams Games Tournament (TGT), Hasil Belajar. Hasil observasi awal di SMA Laboratorium UM kelas X MIA 1, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih di bawah standar sebesar 76. Hal itu disebabkan karena pembelajaran ekonomi di kelas tersebut masih klasikal, sehingga berdampak terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti ingin menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan kooperatif yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Tujuan dari penelitian ini yaitu menjelaskan bagaimana penerapan metode pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran ekonomi dan apakah penerapan metode pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dan apakah model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran ekonomi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sehingga kehadiran dan peran peneliti di lapangan sangat diperlukan. Data yang diteliti yaitu fokus pada hasil belajar siswa. Hasil penelitian dari siklus 1 diperoleh berdasarkan persentase ketuntasan hasil belajar yaitu nilai pre test siklus 1 sebesar 0% dan post test sebesar 22,85% . Pada siklus 2 hasil belajar yang diperoleh berdasarkan persentase ketuntasan hasil belajar menunjukkan peningkatan yaitu nilai pre test sebesar 22,85% dan post test sebesar 77,14%. Dan dari ranah afektif juga mengalami peningkatan dari semula tidak ada siswa yang tergolong dalam kategori sangat baik,19 siswa kategori baik, 13 siswa dalam kategori cukup baik dan 3 siswa dalam kategori kurang baik menjadi 3 siswa dalam kategori sangat baik, 25 siswa kategori baik dan 7 siswa dalam kategori cukup baik. Dan dari ranah psikomotor juga mengalami peningkatan semula terdapat 17 siswa yang masuk ke dalam kategori baik, 13 siswa kategori cukup baik, 5 siswa kategori kurang baik menjadi 27 siswa kategori baik, dan 8 siswa dalam kategori cukup baik. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penerapan metode pembelajaran guided note taking (GNT) dan model pembelajaran teams games tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian ini dapat dibuat saran sebagai berikut: (1) Bagi guru mata pelajaran ekonomi sebaiknya memilih materi yang cocok dengan metode dan model pembelajaran tersebut (2) Bagi peneliti selanjutnya hendaknya mengelola kelas lebih baik lagi sehingga semua tahapan-tahapan dalam metode dan model pembelajaran dapat terlakasana dengan baik dan maksimal.

Pengaruh metode mengajar dan motivasi berprestasi terhadap perolehan belajar ilmu ukur tanah mahasiswa PTB FPTK IKIP MALANG
oleh Kristian

 

Persepsi karyawan pada lingkungan kerja dan pengaruhnya terhadap kepuasan kerja karyawan (studi pada rumah sakit pelengkap Medical Center Jombang) / Neri Setyawan

 

ABSTRAK Setyawan, Neri. 2016. Persepsi Karyawan Pada Lingkungan Kerja dan Pengaruhnya Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan (Studi pada Rumah Sakit Pelengkap Medical Center Jombang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sopiah, M.Pd., M.M (II) Dr. Wahju Wibowo, S.E., M.Si Kata Kunci : Lingkungan Kerja Fisik, Lingkungan Kerja Non Fisik, Kepuasan Kerja Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik terhadap kepuasan kerja karyawan pada Rumah Sakit Pelengkap Medical Center Jombang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 106 orang, sedangkan sampelnya sejumlah 94 orang. Instrument penelitian ini menggunakan skala likert dan teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuisioner kepada responden dan teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda.Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya sendiri terdiri dari lingkungan kerja fisik (X1) dan lingkungan kerja non fisik (X2). Variabel terikatnya kepuasan kerja karyawan (Y). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik secara parsial berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan kerja dengan melihat hasil analisis regresi linear berganda thitung lebih besar dari ttabel dan nilai signifikan yang lebih kecil dari taraf signifikan. Nilai Fhitung yang lebih besar Ftabel dan nilai signifikan lebih kecil dari nilai probabilitas yang ditetapkan, hal tersebut berarti bahwa secara simultan lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan sebesar 52,6% sedangkan sisanya variabel lain di luar variabel yang diteliti. Pada penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan variabel lain karena terdapat beberapa variabel lain yang memiliki hubungan dengan kepuasan kerja karyawan seperti motivasi, gaya kepemimpinan, dan kompensasi.

Prestasi belajar mahasiswa D.II PGSD prajabatan FKIP Universitas Mataram (UNRAM) ditinjau dari motif berprestasi dan pola seleksi masuk / oleh Hariyanto

 

 

Hubungan antara tingkat pendidikan, masa kerja dan prestasi terhadap sistem angka kredit dengan unjuk kerja penyuluhan keluarga berencana di Jawa Timur / oleh Qusyairi

 

Kemampuan reseptif dan produktif terhadap kata-kata pungutan asing dalam bahasa Indonesia mahasiswa S-1 program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia PTS yang berada di wilayah eks-karesidenan Madiun / oleh Mudjiyono

 

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu / Heny Lutfia Eka Bakti

 

Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, keterampilan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis Berdasarkan observasi dan wawancara informal dengan guru ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu mengenai kegiatan pembelajaran di kelas XI IPS 1 diketahui bahwa siswa kurang dapat mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis terhadap suatu masalah. Selain itu, siswa kurang berperan aktif dan jarang untuk bertanya, serta berpendapat mengenai materi pelajaran ekonomi yang telah disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran di kelas, guru ekonomi masih menerapkan model pembelajaran yang konvensional tanpa adanya variasi sehingga pembelajaran menjadi monoton dan siswa merasa jenuh. Oleh sebab itu, maka perlu diterapkan model-model pembelajaran inovatif yang mengedepankan siswa aktif dan dapat mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Salah satunya dengan model pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan: (1) Menganalisis keterampilan memecahkan masalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan sumber-sumber penerimaan dan jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah, (2) Menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan sumber-sumber penerimaan dan jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 yang berjumlah 38 siswa. Prosedur pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan untuk menilai keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu dengan menggunakan persentase siklus I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase skor rata-rata siswa dalam tes keterampilan memecahkan masalah pada siklus I sebesar 65,69% dengan klasifikasi cukup baik menjadi 82,14% pada siklus II dengan klasifikasi baik. Sehingga dalam siklus II terjadi peningkatan sebesar 16,45%. Sedangkan hasil persentase skor rata-rata siswa dalam tes kemampuan berpikir kritis siklus I sebesar 68,42% dengan klasifikasi cukup baik menjadi 78,70% pada siklus II dengan klasifikasi baik. Sehingga dalam siklus II terjadi peningkatan 10,28%. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu. Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti, antara lain: (1) Bagi sekolah (SMA Negeri 2 Batu) diharapkan model pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan terutama pada mata pelajaran ekonomi agar hasil belajar siswa semakin meningkat, (2) Bagi guru mata pelajaran ekonomi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa, (3) Bagi siswa diharapkan untuk aktif dalam proses pembelajaran berbasis masalah dan dapat lebih peka dalam menanggapi permasalahan ekonomi secara nyata yang ada di lingkungan sekitar mereka, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dapat meneruskan penelitian ini untuk diterapkan pada kelas dan sekolah lain dengan materi yang berbeda, serta melakukan tindakan lebih dari dua siklus sehingga hasilnya dapat maksimal.

Beberapa ragam bahasa pilihan pembicara berdasarkan konteks pembicaraan antara pembicara dengan lawan bicara pada masyarakat tutur jawa di kotamadya Surakarta / oleh Siswo Sugiarto

 

Peranan satuan polisi pamong praja dalam menertibkan pedagang kaki lima di wilayah kecamatan Klojen Kota Malang / Budi Siswandi

 

Kata Kunci : Praja, Lima, Peranan.adalah perangkat Pemerintah Daerah yang bertugas membantu Kepala delam pelaksanaan jalannya pemerintahan serta sebagai garda atau barisan terdepan dalam bidang ketentraman ketertiban umum. Hal ini diatur pasal 148 ayat 1) Undang- Undang No. 32 Tahun 2004 berbunyi “untuk menegakkan Peraturan penyelenggaraan umumdan masyarakat dibentuk Praja”. Salah satu tugas Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima banyak berjualan jalan Pasar Besar Alon-alon Sebab sesuai Malang 1 2000 tentang PKL, pedadang dilarang di Alun-alun, trotoar, jalur hijau, maupun fasilitas umum lainnya. usaha kecil dilakukan berpenghasilan rendah gaji kecil) mempunyai modal terbatas. Penelitian berjudul Wailayah Malang, bertujuan untuk, mengetahui peranan waialayah malang, 2) kendala-kendala dihadapi wailayah 3) upaya mengatasi wilayah Pendekatan digunakan penelitian pendekatan kualitatif bersifat deskriptif, yakni dengan melakukan pengamatan, wawancara dokumentasi. Informan anggota ada Hasil dapat disimpulkan memiliki PKL yaitu memberi peringatan secara lisan surat kepada ditempat melanggar Perda Apabila tidak mematuhi dari maka akan dilaksanakan operasi selanjutnya para terjaring operaasi penyidikan apabila terbukti bersalah dikenai penindakan tipiring tindak pidana ringan). sangat penting mengenai bagaimana PKl ilegal tersebut lagi tempat-tempat peraturan ada., Kendala-oleh yaitu, kondisi lapangan, maksudnya berada dijalur keramaian sehingga menyebabkan kemacetan, Keselamatan artinya Kalau sampai menangkap dipertimbangkan keselamatan i

Pengaruh berbagai dosis terramycin terhadap pertumbuhan anak ajam / Made M. Ardhana

 

Tindak bahasa guru dalam mengajar kan struktur (studi kasus di SMA Negeri 2 Jember) / oleh Bambang Wibisono

 

Pengembangan modul pembelajaran matematika konsep pecahan di kelas V / Diyah Puspita Sari

 

Kata Kunci: matematika SD, pecahan, model 4-D, modul pembelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar. Siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti pada pembelajaran matematika di kelas V SDN Kauman 3 Malang pada materi pokok pecahan, diperoleh fakta bahwa pembelajaran matematika pada materi pokok pecahan belum menggunakan media berupa objek konkret. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan media berupa modul pembelajaran sebagai alternatif pemecahan masalah pembelajaran matematika di kelas V. Modul dipilih karena memiliki keuntungan diantaranya siswa dapat belajar dengan mandiri dan disiplin, serta lebih praktis karena materi telah disusun secara sistematis. Tujuan penelitian pengembangan ini untuk menghasilkan modul pembelajaran matematika konsep pecahan di kelas V yang efektif, efisien, dan menarik. Model pengembangan yang digunakan oleh peneliti yaitu model pengembangan 4-D dari Thiagarajan, et all. Peneliti memodifikasi model 4-D menjadi model 3-D tanpa melalui tahap disseminate. Jadi, dalam penelitian pengembangan ini peneliti hanya melaksanakan tiga tahapan diantaranya define, design, dan develop. Modul hasil pengembangan berupa Draf I ini divalidasi oleh ahli isi dan materi dari dua orang dosen matematika SD dan dua guru kelas V. Setelah divalidasi, modul diujicoba dalam dua tahap. Tahap pertama, uji perorangan dengan subjek uji 3 siswa untuk menilai keterbacaan modul dan kesalahan pengetikan. Tahap kedua, uji coba kelompok kecil dengan subjek uji sebanyak 10 siswa kelas untuk menilai kemenarikan dan keterpakaian modul bagi siswa kelas V SD. Berdasarkan uji coba perorangan didapatkan hasil bahwa ada beberapa kesalahan pengetikan sehingga modul harus direvisi. Setelah direvisi modul diujicobakan kepada kelompok kecil. Hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan bahwa 100% subjek uji coba sudah mencapai ketuntasan minimal penggunaan modul. Untuk menilai kemenarikan dan keterpakaian modul menggunakan penilaian angket siswa yang diberikan kepada seluruh subjek uji coba. Hasil dari penilaian angket siswa diperoleh bahwa 100% subjek uji coba menilai modul pembelajaran konsep pecahan sudah cukup menarik. Modul pembelajaran yang dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kajian modul pembelajaran hasil revisi terdiri dari 5 bagian yaitu (1) Bagian I: Petunjuk Pembelajar; (2) Bagian II: Petunjuk Kegiatan Pebelajar; (3) Bagian III: Lembar Kerja Pebelajar; (4) Bagian IV: Lembar Penilaian; (5) Bagian V: Kunci Jawaban. Saran pemanfaatan modul yang dikembangkan sebaiknya menggunakan sumber lain yang relevan untuk mendukung tercapainya indikator dalam modul. Karena dalam pengembangan ini tidak sampai pada tahap disseminate maka sangat disarankan bagi pengembang berikutnya untuk melakukan uji coba sekala besar. Sebaiknya modul ini dikembangkan dengan materi yang lebih lengkap lagi untuk matematika kelas V.

Kode dalam cerita ludruk maling sakti teja sempurna / oleh Maryaeni

 

Pengembangan strategi baju bersih (baca, maju, bermain, kasih) dalam pembelajaran bermain drama siswa kelas VIII SMP / Tedy Niko Jatmiko Saputro

 

Kata kunci: strategi Baju Bersih, pembelajaran bermain drama. Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan bahwa pembelajaran bermain drama mengalami beberapa kendala. Pembelajaran drama di sekolah tersebut masih bersifat teoretis. Guru hanya memberikan teori-teori tentang bermain peran atau bermain drama. Guru menyikapi drama sebagai naskah baca. Naskah drama tidak divisualisasikan ke dalam pementasan dengan alasan waktu yang tidak mencukupi. Selain hambatan pembelajaran terjadi pada guru, hambatan juga terjadi pada siswa. Siswa cenderung malu ketika guru menyuruh siswa ke depan kelas untuk memerankan suatu karakter tokoh dalam naskah drama. Selain itu, sebagian besar siswa kurang tertarik pada karya sastra drama. Hal itu lah yang menyebabkan kemampuan siswa dalam berakting dan berdialog terhambat. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan mental siswa ketika unjuk kerja di kelas. Guru memerlukan strategi pembelajaran yang dapat mengatasi hambatan dan mendukung kelancaran pembelajaran bermain drama. Strategi pembelajaran memegang peranan penting terhadap pembelajaran, karena strategi pembelajaran dapat mempermudah proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai secara optimal. Tujuan pembelajaran bermain drama antara lain (1) melatih siswa dalam menghadapai situasi yang sebenarnya dalam hidup dan kehidupan, (2) melatih praktik lisan secara intensif, dan (3) memberikan kesempatan pengembangan kemampuan berkomunikasi. Beberapa hal tersebut memberi pertimbangan, strategi pembelajaran untuk pembelajaran bermain drama perlu dikembangkan agar pembelajaran tujuan pembelajaran bermain drama dapat dicapai. Penelitian ini menghasilkan produk strategi pembelajaran untuk bermain drama. Strategi pembelajaran tersebut diberi nama strategi Baju Bersih. Strategi Baju Bersih dikembangkan berdasar pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Strategi Baju Bersih memberikan kesempatan bagi siswa dalam mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri untuk menghasilkan produk nyata, yakni pementasan drama kelas. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan deskripsi isi produk, (2) mengembangkan sistematika penyajian produk, (3) mengembangkan penggunaan bahasa produk, dan (4) mengembangkan tampilan produk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan prosedur tersebut, terdapat tujuh tahap prosedur penelitian, yakni (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji ahli dan uji praktisi, (5) revisi hasil uji ahli dan uji praktisi, (6) uji lapangan, (7) penyempurnaan produk akhir. Uji produk dilakukan dengan melibatkan (1) ahli drama (teater), (2) ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, (3) ahli strategi pembelajaran, (4) praktisi, yakni guru Bahasa dan Sastra Indonesia, dan (5) lapangan, yakni siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tumpang. Jenis data penelitian ini adalah data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek uji pada angket penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi yang disampaikan secara lisan ketika wawancara dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsi agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Angket penilaian dan pedoman wawancara bebas digunakan sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan. Uji produk melibatkan ahli drama (teater) menghasilkan rata-rata kelayakan produk sebesar 77,77%, ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 81%, ahli strategi pembelajaran 93,05%, praktisi 89,58%, dan siswa 84,94%. Berdasarkan hasil uji melibatkan ahli drama dan ahli pembelajaran, produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikan. Berdasarkan hasil uji melibatkan ahli strategi pembelajaran dan praktisi, produk tergolong sangat layak dan siap untuk diimplementasikan. Namun, ada beberapa aspek yang perlu direvisi dan ditambahkan berdasarkan komentar dan saran perbaikan dari ahli drama (teater), ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ahli strategi pembelajaran, dan praktisi. Uji lapangan dengan melibatkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tumpang dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa terhadap strategi Baju Bersih yang diterapkan dalam pembelajaran bermain drama. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah strategi Baju Bersih yang dikembangkan berdasar pendekatan pembelajaran berbasis proyek menunjukkan bahwa produk tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran bermain drama. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan untuk menerapakan strategi Baju Bersih dalam pembelajaran bermain drama, sehingga kendala-kendala dalam pembelajaran bermain drama dapat teratasi. Siswa disarankan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermain drama dengan strategi Baju Bersih, karena strategi Baju Bersih dapat membantu menumbuhkembangkan kemampuan mereka dalam hal akting dan dialog. Prosedur penelitian pengembangan strategi pembelajaran ini dapat menjadi pedoman bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa. Pengembang lain disarankan untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini. Langkah tersebut dapat diterapkan pada pengembangan strategi pembelajaran untuk kompetensi lain. Selanjutnya, penyebarluasan produk harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi. Oleh karena itu, agar penyebarluasan produk memenuhi kriteria efektif dan efisien, maka produk dapat diunggah dengan memanfaatkan media internet.

Pengembangan petunjuk praktikum pengomposan menggunakan starter ekstrak wortel busuk pada materi sumber daya usaha budidaya tanaman hias untuk siswa kelas X SMAN 2 Malang / Badriyatur Rahma Fidiya

 

ABSTRAK Fidiya, Badriyatur Rahma. 2016.Pengembangan Petunjuk Praktikum Pengomposan Menggunakan Starter Ekstrak Wortel Busuk Pada Materi Sumber Daya Usaha Budidaya Tanaman Hias Untuk Siswa Kelas X Sman 2 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Susilowati, M. S., (II) Prof. Dr. Mimien Heni Irawati, M. S. Kata Kunci:Petunjuk praktikum, Pengomposan, Sumber Daya Usaha Budidaya Tanaman Hias Permasalahan sampah yang timbul saat ini, kurang diimbangi dengan adanya pengolahan sampah secara tepat. Sampah rumah tangga yang mencapai 50% total sampah Indonesia baru 24, 5%nya ditangani dengan benar yaitu diangkut petugas TPA maupun dikomposkan oleh masyarakat secara individu. Berdasarkan hasil wawancara guru SMA Negeri 2 Malang, SMAN 2 merupakan salah satu sekolah adiwiyata dimana pembelajarannya harus berintegrasi lingkungan. Dalam pembelajaran telah disediakan bahan ajar untuk siswa. Namun, ternyata tidak semua siswa memiliki bahan ajar dan bahan ajar yang diberikan kurang menarik sehingga siswa kurang tertarik dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang betujuan untuk mengembangkan bahan ajar yaitu petunjuk praktikum pengomposan dengan memanfaatkan sampah basah (wortel busuk) pada materi Sumber Daya Usaha Tanaman Hias. Petunjuk praktikum ini dikembangkan dengan mengadaptasi tahap 4D Thiagarajan sehingga hanya menggunakan 3 tahap. Tahapan-tahapan tersebut adalah define, design dan develop. Isi dari petunjuk praktikum dikembangkan berdasarkan hasil penelitian pengaruh konsentrasi starter ekstrak wortel busuk terhadap lama pengomposan. Data yang diperoleh meliputi data validasi dan data uji coba. Data validasi diukur dengan angket oleh ahli materi dan ahli bahan ajar. Sedangkan data uji coba berupa angket yang diisi ahli praktisi lapangan dan siswa, serta hasil belajar kognitif siswa. Hasil analisis data validasi ahli materi didapatkan rata-rata 88,7%. Rata-rata yang diperoleh dari validasi ahli bahan ajar sebesar 94,4%. Sedangkan hasil uji coba pada ahli praktisi lapangan didapatkan rata-rata sebesar 94,4% dan berdasarkan respon dari 27 siswa didapatkan rata-rata sebesar 86,1%. Berdasarkan hasil validasi petunjuk praktikum dapat dikatakan sangat valid, berdasarkan uji coba dapat diperoleh bahwa petunjuk praktikum dapat dikatakan praktis digunakan dalam pembelajaran. Selain itu, dilihat dari hasil belajar kognitif siswa yang memiliki nilai tingkat peningkatan 0,5 (medium) dapat dikatakan petunjuk praktikum ini juga efektif digunakan dalam pembelajaran.

Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pengajaran bahasa Indonesia di SMI kotamadya Bandarlampung / oleh Farida Ariyani

 

Pengembangan materi pembelajaran keterampilan menyimak bahasa Indonesia sebagai bahasa asing / oleh Hasan Busri

 

Penerapan sistem bagi hasil pada bank syariah : studi kasus PT. Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk. Cabang Kota Malang / oleh Safaatul Chusnah

 

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep benda dan sifatnya siswa kelas IV SDN Plososari III Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan / Nurul Ulum

 

ABSTRAK Ulum, Nurul. 2009. Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep benda dan sifatnya Kelas IV SDN Plososari III Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi S1 pendidikan guru sekolah dasar, Jurusan kependidikan sekolah dasar dan prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Sukamti, M.Pd. (2) Drs. H. Syaiful Imam, M.Pd. Kata kunci : Kerja ilmiah, hasil belajar kognitif, siklus belajar, eksperimen. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan pendidikan di masa yang akan dating. Kondisi ini menuntut adanya perbaikan sistem pendidikan nasional. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah menyempurnakan kurikulum. Kurikulum yang disempurnakan saat ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengembangkan satuan pendidikan, potensi sekolah / daerah, karakteristik sekolah / daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Berdasarkan observasi dan dokumentasi siswa kelas IV SDN Plososari III diketahui bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Pembelajaran yang mengaktifkan siswa belum banyak digunakan misalnya eksperimen, hal ini dikarenakan guru khawatir materi yang disampaikan tidak selesai sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Berdasarkan permasalahan diatas maka dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan (Planning), pelaksanaan tindakan(action), pengamatan (observation) dan refleksi(reflection). Subyek dalam penelitian ini siswa kelas IV SDN Plososari III Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Yang berjumlah 24 siswa yang terdiri dari 10 putri dan 14 putra. Hasil penelitian setelah diterapkan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA konsep benda dan sifatnya menunjukkan adanya peningkatan kerja ilmiah siswa dari siklus I dengan rata-rata 67,5% ke siklus II meningkat rata-ratanya menjadi 70%. Sehingga dapat diketahui bahwa ada peningkatan kerja ilmiah sebesar 2,5%. Begitu juga dengan hasil belajar kognitif siswa meningkat dari siklus I dengan rata-rata 71,87 ke siklus II meningkat rata-ratanya menjadi 76,25. persentase ketuntasan kelas pada siklus I adalah 71%, dan pada siklus II meningkat menjadi 93%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan agar di dalam pembelajaran IPA dapat menerapkan metode eksperimen untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa.

Pengembangan modul biologi dengan model POE (Predict-Observe-Explain) pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Laboratorium UM / Dianti Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Dianti. 2016. Pengembangan Modul Biologi dengan Model POE (Predict-Observe-Explain) pada Materi Sistem Ekskresi untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Laboratorium UM. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sunarmi, M.Pd, (II) Drs. Masjhudi, M.Pd. Kata Kunci: modul, POE, Sistem Ekskresi, motivasi, hasil belajar Model POE dapat membangun pengetahuan, memotivasi, dan meningkatkan pemahaman konsep sains siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, SMP Laboratorium UM merupakan sekolah yang menerapkan sistem modul. Namun modul yang digunakan belum dikemas secara menarik dan belum adanya gambar/ilustrasi yang mendukung, sehingga motivasi belajar siswa masih rendah yaitu hanya sebesar 54%. Akibatnya, hasil belajar siswa juga rendah, ditunjukkan dengan hasil belajar pada Sistem Ekskresi yang masih sekitar 29% siswa memiliki nilai di bawah KKM. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa melalui pengembangan modul dengan model POE pada Sistem Ekskresi. Modul ini dikembangkan dengan mengadaptasi 7 tahap pada model pengembangan Borg and Gall. Tahapan-tahapan tersebut adalah penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draft produk awal, uji coba lapangan awal, revisi produk utama, uji coba lapangan utama, dan revisi produk operasional. Data yang diperoleh meliputi data validasi, data uji coba, motivasi dan hasil belajar. Data validasi diukur dengan angket validasi oleh ahli pembelajaran, ahli materi, dan ahli penerapan lapangan. Data uji coba berupa angket yang diisi oleh siswa. Motivasi belajar diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh John Keller, yaitu ARCS. Hasil belajar yang diukur meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil analisis data angket validasi oleh ahli pembelajaran diperoleh rata-rata sebesar 94,1% untuk modul guru dan 95,3% untuk modul siswa. Rata-rata yang diperoleh dari angket validasi oleh ahli materi dan ahli penerapan lapangan adalah 93,6% dan 94,6%. Hasil uji coba pada 34 siswa diperoleh rata-rata 86%. Berdasarkan hasil tersebut, modul dikategorikan sangat valid. Modul yang dikembangkan ini dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Ditunjukkan dengan hasil motivasi belajar siswa yang diperoleh sebelum menggunakan modul sebesar 3,5 dan setelah menggunakan modul sebesar 3,94. Kemudian hasil belajar kognitif ditunjukkan dengan rata-rata nilai pre-test dan post-test sebesar 69,8 dan 79,6. Selain itu ditunjukkan juga dengan hasil belajar psikomotor yang memiliki rata-rata nilai pada praktikum 1 dan 2 sebesar 73, praktikum 3 sebesar 75, dan praktikum 4 sebesar 80. Selanjutnya untuk hasil belajar afektif siswa diperoleh dengan rentangan nilai 58 sampai 92, yaitu 8 siswa dengan kriteria cukup, 25 siswa dengan kriteria baik, dan 1 siswa dengan kriteria amat baik.

Manajemen pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman, dan Jepang) di SMA Negeri 1 Turen Malang / Afri Ferdiyanto Basuki

 

Kata kunci: manajemen pembelajaran, bahasa asing Pendidikan adalah pembelajaran terhadap hidup dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi hidup. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan adanya pendekatan sistem pembelajaran di lembaga pendidikan menjamin terselenggaranya proses pembelajaran yang obyektif, adil dan akuntabel yang dicerminkan dari adanya evaluasi siswa terhadap proses pembelajaran secara berkala dan hasilnya ditindaklanjuti. SMA Negeri 1 Turen Malang merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sistem pembelajaran bahasa asing dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar yang berkelanjutan. Fokus penelitian secara umum adalah manajemen pembelajaran bahasa asing (Arab,Jerman dan Jepang) di SMA, sedangkan fokus khusus mengungkap: (1) perencanaan pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (2) pengorganisasian pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (3) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (4) pengawasan pembalajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (5) faktor pendukung dan penghambat pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; dan (6) strategi dalam menambah motivasi pembelajaran dan mengurangi faktor penghambat pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Turen Malang yang beralamat jalan Panjaitan I no. 65 Turen Malang, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dengan menggunakan teknik-teknik tersebut selanjutnya dianalisis untuk menyusun temuan penelitian yang diperoleh dari beberapa informan yaitu koordinator kurikulum, kepala SMA Negeri 1 Turen Malang, dan guru pengajar. Keabsahan data diuji dan diperiksa dengan teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik/metode. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) perencanaan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu perencanaan awal yang dilakukan dengan cara pengembangan guru ahli bahasa asing; (2) pengorganisasian pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu dengan cara melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan pembinaan terhadap (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) MGMP guru bahasa asing; (3) pelaksanaan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di sekolah ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem pembelajaran secara berkelanjutan; (4) pengawasan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pengawasan intern yang dilakukan oleh kepala sekolah langsung serta pengawasan ekstern yang dilakukan oleh Dispendik; (5) faktor pendukung pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu adanya dukungan dari pihak luar (masyarakat) yang terkait, adanya sarana dan prasarana yang menunjang, sedangkan faktor penghambat yaitu minimnya jam pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) serta rendahnya motivasi siswa; dan (6) strategi yang dilakukan dalam menambah motivasi pembelajaran dan mengurangi faktor penghambat pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pemadatan materi oleh guru, serta pemberian kebebasan terhadap guru untuk mengelola pembelajaran siswa didalam kelas. Berdasarkan kesimpulan hasil temuan penelitian, dikemukakan saran-saran berikut, yaitu: (1) kepala sekolah SMA, agar terus mengembangkan kemampuannya untuk lebih baik dan mengembangkan sekolah terutama dalam pembelajaran bahasa asing, dalam rangka meningkatkan mutu di ssekolah; (2) Waka kurikulum SMA agar terus mengembangkan kemampuan dan kompetensi diri guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang aktif dan menyenangkan untuk menghasilkan output yang bermutu dengan kualitas baik; (3) bagi sekolah lain yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa asing yang sama, untuk lebih mendukung dan menerima program pembelajaran bahasa asing dengan baik; (4) peneliti lainnya, untuk dapat mengembangkan pendekatan lain dan memperdalam fokus penelitian dalam variasi sudut pandang yang berbeda; (5) siswa-siswi, agar dapat menjalankan proses pembelajaran tersebut untuk lebih baik dari sebelumnya dan dapat meningkatkan kemampuan dalam berbahasa asing yang lebih baik.

Implementasi kurikulum 1994 dalam pembeljaran bahasa Indonesia di sekolah dasar kelas tinggi / oleh Muh. Faisal

 

Penerapan kolaborasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan guided inquiry untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (studi pada KD menjelaskan cara membuat surat dinas kelas X APK 1 SMK PGRI 2 Malang) / Ludfi Hardekawati Kusuma Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Ludfi Hardekawati Kusuma, 2016. Penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dan Guided Inquiry Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa (Studi Pada Kompetensi Dasar Cara Membuat Surat Dinas Kelas X Apk1 SMK PGRI 2 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd, M.M , (2) Drs. H. Mohammad Arief, M.Si. Kata Kunci : Problem Based Learning, Guided Inquiry, Aktivitas siswa, Hasil belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, diperoleh gambaran bahwa model pembelajaran ceramah masih dominan digunakan di kelas, Penerapan Kurikulum 2013 belum terlaksana secara maksimal, serta masih banyak siswa yang hasil belajarnya pada mata pelajaran Korespondensi belum memenuhi Kriteria ketuntasan minimal. Untuk mengatasi hal ini peneliti menerapkan variasi dalam proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan aktivitas positif siswa yaitu dengan penerapan model Pembelajaran Problem Based Learning dan Guided Inquiry . Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus melalui pendekatan kualitatif. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X APK 1 SMK PGRI 2 Malang dengan jumlah siswa adalah 35 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, tes, dan catatan lapangan,sedangkan analisis data dilakukan dengan mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Guided Inquiry dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya hasil penelitian bahwa aktivitas siswa pada siklus I 71,91% mengalami peningkatan sebanyak 15,09% menjadi 87% pada siklus II dengan kategori baik. Hasil belajar siswa aspek kognitif siklus I 68,5% meningkat sebesar 25,7% menjadi 94,2% pada siklus II. Hasil belajar siswa pada aspek afektif mengalami kenaikan sebesar 20,2% dari rata-rata siklus I 67% menjadi 87,2% pada siklus II. Hasil belajar aspek psikomotorik juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar 25,64% dari 60,16% pada siklus I menjadi 85,8% pada siklus II. Saran yang disampaikan peneliti adalah Bagi guru mata pelajaran Korespondensi diharapkan dalam proses pembelajaran di kelas dapat menerapkan model Pembelajaran Problem Based Learning dan Guided Inquiry untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, Bagi sekolah pembelajaran Problem Based Learning dan Guided Inquiry bisa digunakan sebagai salah satu referensi untuk mata pelajaran lain, untuk siswa diharapkan dapat lebih ikut berperan aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

Pengajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum 1994 pada kelas IV SD Laboratorium STKIP di Singaraja / oleh Made Pasmidi

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 |