Peningkatan penguasaan materi grafik fungsi trigonometri melalui pembelajaran MMP berbantuan software geogebra pada siswa bilingual kelas X-5 SMAN 10 Malang / Supriatin

 

Supriatin. 2013. Peningkatan Penguasaan Materi Grafik Fungsi Trigonometri Melalui Pembelajaran MMP Berbantuan Software GeoGebra Pada Siswa Bilingual Kelas X-5 SMAN 10 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A Kata Kunci: penguasaan materi, grafik fungsi trigonometri, Missouri Mathematics Project, Software GeoGebra Kesulitan siswa dalam menguasai materi grafik fungsi trigonometri berhubungan dengan kesulitan merepresentasikan bentuk aljabar dari fungsi trigonometri ke dalam bentuk geometri dan sebaliknya. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan penerapan model pembelajaran yang sesuai dan penggunaan media pembelajaran yang dapat menjembatani kesulitan tersebut. Salah satu model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan adalah model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dan salah satu media yang dapat menjembatani kesulitan tersebut adalah media Software GeoGebra. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi penerapan pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) berbantuan Software GeoGebra yang dapat meningkatkan penguasaan materi grafik fungsi trigonometri pada siswa bilingual kelas X-5 di SMAN 10 Malang.     Missouri Mathematics Project (MMP) merupakan model pembelajaran matematika yang memuat lima langkah dalam pembelajarannya yaitu pendahuluan atau review, pengembangan, latihan dengan bimbingan guru, kerja mandiri, dan penutup. Sedangkan Software GeoGebra merupakan perangkat lunak yang dapat menggabungkan kemudahan penggunaan perangkat lunak geometri dinamis dengan fitur sistem aljabar komputer. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif yang dirancang dalam suatu penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMAN 10 Malang pada siswa bilingual kelas X-5 yang terdiri atas 32 siswa. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, dan pembuat laporan hasil penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan antara lain lembar validasi, lembar observasi, student worksheet, tes hasil belajar, dan angket respon siswa serta dilengkapi lesson plan sebagai perangkat pembelajaran. Analisis data terdiri atas analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) berbantuan Software GeoGebra dapat meningkatkan penguasaan materi grafik fungsi trigonometri pada siswa bilingual kelas X-5 SMAN 10 Malang dalam dua siklus. Hal itu ditunjukkan dengan hasil ketuntasan belajar siswa pada siklus 2 sebesar 93,75%. Adapun keterlaksanaan penerapan pembelajaran model Missouri Mathematics Project (MMP) berbantuan Software GeoGebra telah mencapai taraf terlaksana dengan baik yang ditunjukkan dengan aktivitas guru dalam kategori baik (3,64 dari skor maksimum 4), aktivitas siswa

Studi komposisi, morfologi bulir dan suseptibilitas magnetik abu ringan (fly ash) sisa pembakaran batu bara pada PLTU PT Ipmoni Paiton dan Pasuruan / Nono Agus Santoso

 

STUDI KOMPOSISI , MORFOLOGI BULIR DAN SUSEPTIBILITAS MINERAL MAGNETIK ABU RINGAN (FLY ASH) SISA PEMBAKARAN BATU BARA PADA PLTU PT IPMOMI PAITON DAN PASARAN    Nono Agus Santoso, Siti Zulaikah, Nandang Mufti Jurusan Fisika, Universitas Negeri Malang      ABSTRAK    Pembakaran batu bara menghasilkan dua jenis limbah yaitu abu ringan (Fly Ash) dan abu berat (Bottom Ash). Fly Ash adalah limbah padat hasil dari proses pembakaran pada PLTU yang kemudian terbawa keluar oleh aliran gas pembakaran serta di tangkap dengan mengunakan elektrostatik precipitator. Di penelitian ini peneliti mengunakan metode kuantitatif eksperimental. Penelitian dimulai dengan preparasi sampel, karakteristik komposisi sampel Fly Ash dengan XRF, karakteristik morfologi sampel dengan SEM, identifikasi macam-macam mineral magnetik dengan XRD, dan mengukur sifat magnetik dengan Susceptibilitymeter.      Hasil penelitian menunjukkan, Fly Ash PT IPMOMI mengandung unsur Fe (42.3%), Ca (37%), Si (9.5%) dan unsur lainnya. Fly Ash Pasaran mengandung Fe (41.92%), Ca (16.1%), Si (24.2%) dan unsur lainnya. Sedangkan jenis mineral magnetiknya adalah magnetite dan hematite yang mempunyai bentuk bulat dengan ukuran bulir berkisar antara 4.489 – 66.88µm untuk mineral magnetik Fly Ash PT IPMOMI dan berkisar antara 5.324 – 119.9 µm untuk mineral magnetik Fly Ash Pasaran. Hasil uji sifat magnetik secara keseluruhan nilai suseptibilitas Fly Ash PT IPMOMI pada frekuensi rendah memiliki rata-rata sebesar 2963.82 x 10-8 m3/kg dan frekuensi tinggi memiliki rata-rata sebesar 2890.74 x 10-8 m3/kg. Sedangkan , nilai Suseptibilitas Fly Ash Pasaran secara keseluruhan pada frekuensi rendah memiliki rata-rata sebesar 3149.58 x 10-8 m3/kg dan frekuensi tinggi rata-rata sebesar 3098.8 x 10-8 m3/kg. Kata Kunci: Fly Ash, Komposisi, Morfologi dan Suseptibilitas

Efektivitas pendidikan moral di rumah kasih sayang kampung idiot Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo / Puji Ningrum

 

Ningrum, Puji.2013. Efektivitas Pendidikan Moral di Rumah Kasih Sayang Kampung Idiot Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono M.Pd, M.Si (II) Siti Awaliyah S.Pd, M.hum Kata kunci: Efektivitas, pendidikan moral, Rumah Kasih Sayang      Pendidikan moral menjadi kebutuhan penting bagi seseorang untuk bisa menjadikan manusia itu sebagai manusia yang beradab, namun akan berbeda penerapannya jika pendidikan moral ini diberikan atau diajarkan kepada orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental. Hal ini terjadi di Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo yang mana banyak warganya yang mengalami keterbelakangan mental, salah satu penyebab adanya keterbelakangan mental di desa ini dikarenakan adanya hubungan sedarah yang terjadi pada warga, hubungan sedarah ini salah satunya terjadi karena kurangnya pengetahuan warga akan moral. Melihat kenyataan ini maka dari Kementerian Sosial mendirikan sanggar bagi para ODK dengan nama Rumah Kasih Sayang. Di Rumah Kasih Sayang inilah dibentuk beberapa program yang salah satu programnya adalah pemberian pendidikan moral terhadap ODK itu sendiri maupun kepada keluarga ODK yang normal, dengan adanya pendidikan moral ini diharapkan warga akan paham serta mengerti batasan-batasan sikap dengan saudara kandung sehingga tidak akan terjadi kembali hubungan sedarah antar warga.      Rumah Kasih Sayang merupakan sanggar bagi para ODK yang didirikan oleh Kementerian Sosial, Rumah Kasih Sayang ini dikelola oleh warga dari Desa Krebet, di Rumah Kasih Sayang sendiri, terdapat beberapa program yang memang sengaja dibentuk menambah pengetahuan ODK maupun keluarga ODK yang normal, Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui jenis nilai moral apa yang sesuai ditanamkan pada masyarakat di Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo (2) Mengetahui cara pemberian pendidikan moral di Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo (3) Mengetahui keefektivitasan pemberian pendidikan moral di Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.      Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitan studi kasus. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Kecamatan Jambon. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan.      Hasil penelitian (1) jenis nilai moral yang ditanamkan pada masyarakat Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo adalah harga-menghargai, hormat-menghormati, sayang-menyayangi juga sikap toleransi. (2) Cara pemberian pendidikan moral terhadap masyarakat Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo yaitu dengan dua cara yakni melalui Rumah Kasih Sayang dan dengan cara mendatangi beberapa rumah penduduk yang keluarganya ada yang mengalami keterbelakangan mental maupun kecacatan fisik. (3) Keefektivitasan pemberian pendidikan moral terhadap masyarakat Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo berdasarkan hasil penelitian, pemberian pendidikan ini lebih efektif diberikan di Rumah Kasih Sayang jika dibandingkan dengan pemberian pendidikan dengan cara datang kerumah-rumah yang terdapat ODK nya.      Mengenai hasil penelitian terbukti bahwa pendidikan moral terhadap warga di Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo sangat dibutuhkan untuk bisa mengurangi adanya hubungan sedarah yang menjadi salah satu sebab terjadinya masyarakat Desa Krebet banyak yang mengalamai keterbelakangan mental dan kecacatan fisik, dan pemberian pendidikan ini lebih efektif diberikan di Rumah Kasih Sayang dari pada diberikan dengan datang kerumah-rumah ODK.

Pengaruh penerapan model pembelajaran Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang / Anida Shofiatul Widad

 

Widad, Anida Shofiatul. 2013. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XI IPS SMAN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si, (II) Satti Wagistina, SP., M.Si. Kata Kunci : Model Pembelajaran REACT, Hasil Belajar.     Guru seringkali tidak menyadari bahwa masih banyak pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan justru menghambat aktivitas dan kreativitas siswa yang berdampak pada hasil belajar siswa. Untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas serta memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran, guru bisa menggunakan model pembelajaran untuk dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi, aktif, dan kreatif. Salah satunya adalah model REACT (Relating, Experiencing, Appliying, Cooperating, and Transferring). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran REACT terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi kelas XI IPS di SMAN 5 Malang pada semester genap tahun ajaran 2012/2013.     Penelitian ini tergolong penelitian eksperimen semu (quasy experimental design) dengan menggunakan pre test-post test control group design. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPS di SMAN 5 Malang dengan kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dan XI IPS 3 sebagai kelas kontrol. Analisis data yang digunakan adalah uji-t tidak berpasangan (Independent sample t test) Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata tes kemampuan awal (pre test) kelas eksperimen sebesar 57,70 dan setelah diberi perlakuan berupa penerapan model REACT nilai rata-rata tes kemampuan akhir (post test) mengalami peningkatan menjadi 79,93 dengan selisih ( gain score) sebesar 22,22. Sedangkan nilai rata-rata tes kemampuan awal (pre test) kelas kontrol sebesar 59,50 dan setelah mendapat perlakuan nilai rata-rata tes kemampuan akhir (post test) menjadi 74,67 dengan selisih (gain score) sebesar 15,17. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji-t tidak berpasangan (Independent sample t test) dengan bantuan SPSS 16,00 For Windows diperoleh hasil belajar (gainscore) dengan sig. (2-tailed) sebesar 0,002 ˂ 0,025 yang berarti bahwa model pembelajaran REACT berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi kelas XI IPS di SMAN 5 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar model pembelajaran REACT ini dapat diterapkan untuk semua matapelajaran yang lain yang materinya sesuai dengan sintaks model pembelajaran REACT sehingga siswa mudah dalam memahami materi dan baik untuk meningkatkan hasil belajar. Pengelolaan waktu dan kelas perlu direncanakan secara matang agar bisa terlaksana dengan baik.

Pengukuran magnitudo semu jupiter dengan analisis berbantuan software iris di Laboratorium Astronomi Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang / Aprillya Ivandaru Retnosari

 

Kritik pada karya lukis seniman Soegiono / M. Hafizh Mas'udzi

 

Kata Kunci: Latar belakang kehidupan seniman, karya lukis, kritik seni Beberapa bulan lalu ketika peneliti berkunjung ke rumah pelukis Kota Batu yaitu Soegiono, peneliti dikejutkan dengan lukisan-lukisan yang beraliran realis dengan detail yang sangat sempurna. Peneliti juga terpana dengan nuansa warna yang tercipta begitu hangat dan menyenangkan, khususnya pada lukisan “Pulang Membawa Hasil”, “Senyummu Membawa Hasil”, dan “Segenggam Emas Sekeranjang Harapan”. Ketiga lukisan ini memberikan kesan emphati yang luar biasa pada peneliti. Oleh sebab itu penelitian ini dirasa sangat perlu untuk dilakukan, agar dapat menemukan nilai-nilai dari karya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan Soegiono, karya lukis seniman Soegiono dan interpretasi karya lukis yang berjudul “Pulang Membawa Hasil” (2009), “Senyummu Membawa Hasil” (2010), “Segenggam Emas Sekeranjang Harapan” (2010), dan hubungan latar belakang kehidupan seniman Soegiono, karya lukis seniman Soegiono, dan interpretasi terhadap karya lukis seniman Soegiono (sintesa), sehingga akan ditemukan nilai-nilai dari karya tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan kritik holistik, dengan lokasi penelitian di rumah Soegiono di Jl. Dewi Sartika 3J/B3B Temas, Batu. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk menyaring data adalah pedoman wawancara dan lembar observasi. Selain itu juga ditunjang dengan analisis terhadap data dokumen yang ada pada katalog pameran Soegiono dan data-data pustaka yang berkaitan dengan kritik seni. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang kehidupan Soegiono yang religius, sederhana, disiplin, tidak mudah putus asa, dan seseorang yang mempunyai kepedulian sosial tinggi sangat mempengaruhi proses kreatifnya dalam menghasilkan karya lukis. Tujuan Soegiono berkarya lukis adalah untuk menyalurkan hobi, uneg-uneg sekaligus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lukisan yang berjudul “Pulang Membawa Hasil” (2009), “Senyummu Membawa Hasil” (2010), “Segenggam Emas Sekeranjang Harapan” (2010) bertemakan kehidupan sosial kaum pinggiran (marjinal). Pada tiga lukisan ini nampak Soegiono berupaya menanamkan nilai-nilai seperti nilai tentang kerja keras, rasa syukur, kesederhanaan, dan tidak mudah putus asa, serta pentingnya sikap kepedulian antar sesama. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai nilai yang terdapat dalam lukisan karya-karya Soegiono yang lain. Karena karya seni merupakan media komunikasi pada masyarakat.

Pengaruh konsentrasi ethyl cellulose dan terpineol terhadap mikrostruktur dan koefisien gesek statis pasta nanopartikel tembaga berbasis batuan malachite Tulungagung / Nurul Lathifah

 

Lathifah, Nurul. 2013. Pengaruh Konsentrasi Ethyl Cellulose dan Terpineol terhadap Mikrostruktur dan Koefisien Gesek Statis Pasta Nanopartikel Tembaga Berbasis Batuan Malachite Tulungagung. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Markus Diantoro, M.Si., (II) Nandang Mufti, S.Si, M.T, Ph.D. Kata Kunci: Terpineol, Ethyl Cellulose, Mikrostruktur, Koefisien Gesek Statis, Nanopartikel Tembaga, Pasta Nano¬partikel Tembaga. Pasta tembaga merupakan salah satu material yang banyak diteliti dalam berbagai bidang dan dapat digunakan untuk berbagai aplikasi seperti sebagai pelumas padat, pelumas konduktif atau bagian penghubung komponen-komponen elektronik dan electroplating. Dalam aplikasi mekanik, kemurnian dan ukuran partikel menjadi parameter penting, dimana pasta tembaga dengan struktur nano memiliki nilai koefisien gesek statis yang lebih kecil daripada dalam orde mikro, sehingga hal ini mendorong berkembangnya sintesis pasta tembaga dalam skala nanometer. Pada penelitian ini sumber tembaga menggunakan batuan mineral (malachite) asal Tulungagung dengan presentase Cu sebesar 69,08%. Selain berpotensi sebagai bahan dasar sintesis pasta nanopartikel tembaga, penggunaan batuan alam malachite Tulungagung mampu meningkatkan nilai ekonomis dan daya guna batuan alam yang selama ini masih banyak digunakan tanpa pengolahan sebelumnya. Pada penelitian ini, digunakan variasi zat pelarut terpineol dan zat pengikat ethyl cellulose untuk mengetahui pengaruhnya terhadap mikrostruktur dan koefisien gesek statis pasta nanopartikel tembaga. Besar variasi terpineol yang digunakan sebesar 0,53 ml, 0,83 ml dan 1,14 ml, sedangkan variasi ethyl cellulose sebesar 0,02 g, 0,043 g dan 0,082 g. Proses awal yang dilakukan adalah pengeringan lumpur malachite, penggerusan batuan, sintesis CuSO4, sintesis nanopartikel tembaga meng¬gunakan metode elektrolisis dengan elektroda Zn, kemudian dilanjutkan dengan sintesis pasta nanopartikel tembaga dengan cara melarutkan ethyl cellulose denganterpineol pada suhu 600C, memasukkan Cu logam sedikit demi sedikit ke dalam reaktor dan diturunkan suhunya sampai suhu ruang dengan lama stirer 23 jam. Karakterisasi pasta nanopartikel tembaga dilakukan dengan analisis komposisi unsur menggunakan XRF dan AAS, analisis fase menggunakan XRD, analisis morfologi menggunakan SEM EDX dan karakterisasi gaya gesek menggunkan set peralatan gesek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi terpineol dan ethyl cellulose tidak mempengaruhi struktur kristal pasta nanopartikel tembaga. Hasil SEM menunjukkanadanyaaglomerasi yang disebabkan tidak adanya capping moleculesaat sintesis nanopartikel tembaga. Kondisi yang berbeda ditunjukkan pada pengaruh terpineol dan ethyl cellulose terhadap koefisien gesek statis pasta nanopartikel tembaga. Semakin banyak kadar terpineol menjadikan nilai koefisien gesek statis antara logam dengan bidang permukaan gesek semakin kecil yaitu dari 0,089 menjadi 0,065, sedangkan semakin banyak kadar ethyl cellulose menjadikan nilai koefisien gesek statis semakin besar yaitu dari 0,089 menjadi 0,107.

Pengembangan multimedia interaktif bahaya penyalahgunaan NAPZA sebagai media layanan informasi bagi siswa jelas VIII SMP Negeri 2 Malang / Jayanti Arum Sari

 

Sari, Jayanti Arum. 2013. Pengembangan Multimedia Interaktif Bahaya Penyalahgunaan NAPZA sebagai Media Layanan Informasi bagi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ella Faridati Zen, M. Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: Multimedia Interaktif, Layanan Informasi, Bahaya Penyalahgunaan NAPZA.     Penelitian ini dilatarbelakangi semakin merebaknya masalah penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) di kalangan remaja. Masa remaja adalah masa transisi, dimana pada masa ini mempunyai kesempatan untuk mencoba bertingkah laku yang baru dan identik dengan masa pencarian jati diri. Namun sering kali dalam pencarian jati diri ini remaja cenderung salah dalam bergaul sehingga banyak melakukan hal yang menyimpang seperti penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif). Selain itu di SMP Negeri 2 Malang belum mempunyai media yang memberikan informasi secara lengkap tentang bahaya penyalahgunaan NAPZA. Sehingga diperlukan suatu media yang dapat memberikan informasi dan pemahaman akan bahaya penyalahgunaan NAPZA bagi siswa. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa multimedia interaktif sebagai media layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZA di SMP Negeri 2 Malang dan sebagai salah satu media yang dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZA yang memiliki syarat akseptabilitas dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (development research) yang mengadaptasi model pengembangan Borg and Gall (1983: 775). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan meliputi (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusaan tujuan bimbingan (tujuan umum dan tujuan khusus); (3) penyusunan bentuk produk awal; (4) uji coba produk (ahli media, materi, calon pengguna produk, dan kelompok kecil; (5) revisi produk; dan (6) produk akhir. Analisis data kebutuhan siswa menggunakan teknik analisis data persentase. Sedangkan analisis data uji ahli, calon pengguna produk dan uji kelompok kecil menggunakan teknik analisis statistik deskriptif yaitu rata-rata (mean).     Hasil produk pengembangan ini berupa multimedia interaktif bahaya penyalahgunaan NAPZA sebagai media layanan informasi bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang dan buku panduan penggunaan atau manual book untuk konselor. Berdasarkan hasil analisis data penilaian para ahli, calon pengguna produk, dan uji kelompok kecil serta revisi-revisi yang yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan menunjukkan bahwa multimedia interaktif bahaya penyalahgunaan NAPZA sebagai media layanan informasi bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang memenuhi syarat akseptabilitas dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Saran pemanfaatan yang diberikan untuk konselor adalah (1) konselor disarankan untuk mendampingi siswa dalam penerapannya di laboratorium komputer sebagai fasilitator; (2) konselor disarankan dapat memuat media layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZA dalam website sekolah untuk memperluas penggunaannya. Sedangkan saran untuk pengembangan produk lebih lanjut adalah (1) peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan lebih lanjut materi dalam multimedia menjadi paket pelatihan maupun pengembangan dengan jenis lainnya; (2) disarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas penggunaan media layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZA terhadap pemahaman siswa atau penelitian tindakan dalam bimbingan.

Pengembangan buku kerja topik aproksimasi kesalahan untuk Program Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) kelas X / Firda Arifianti

 

Arifianti, Firda. 2013. Pengembangan Buku Kerja Topik Aproksimasi Kesalahan untuk Program Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) Kelas X, Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Mulyati, M.Pd, (II) Dr. rer. nat. I Made Sulandra, M.Si. Kata Kunci: buku kerja, program keahlian TPHP, aproksimasi kesalahan. Pengembangan bahan ajar berupa buku kerja dengan topik aproksimasi kesalahan untuk program keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) kelas X ini didasarkan kenyataan bahwa di SMK Negeri 1 Purwosari belum ada bahan ajar yang disesuaikan dengan program keahlian siswa. Hasil pengembangan ini diharapkan dapat memenuhi tersedianya bahan ajar yang dapat memberi kemampuan pada siswa untuk menerapkan Matematika di program keahliannya. Buku kerja ini dikembangkan dengan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), yang bertujuan untuk mengintegrasikan ide matematika ke dalam konteks kehidupan nyata (program keahlian siswa) dengan harapan siswa dapat memahami apa yang dipelajari dengan baik dan mudah. Untuk mencapai tujuan tersebut, model yang digunakan dalam pengembangan buku kerja topik aproksimasi kesalahan ini adalah model Dick, Carey & Carey (2001). Model ini memaparkan sembilan langkah yang diawali dengan analisis dan berakhir dengan penilaian dan revisi rancangan sistem pembelajaran secara prosedural. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa buku kerja topik aproksimasi kesalahan ini sudah divalidasi oleh tiga validator, dengan tingkat kevalidan 83,33% dan memenuhi kriteria valid. Setelah dilakukan validasi, buku kerja ini diujicobakan perseorangan untuk uji keterbacaan. Dari uji keterbacaan ini diketahui kesulitan siswa dalam memahami isi buku kerja. Setelah dilakukan revisi sesuai masukan dari uji keterbacaan, akhirnya dilakukan uji coba lapangan. Dari uji coba lapangan ini diperoleh hasil bahwa buku kerja yang dikembangkan praktis dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket respon guru dengan tingkat kepraktisan 89,29% dan memenuhi kriteria praktis. Dari hasil tes akhir materi aproksimasi kesalahan, diperoleh ketuntasan belajar klasikal 88,24%. Dari hasil angket respon siswa diperoleh tingkat pencapaian respon positif 88,97% dan memenuhi kriteria efektif. Dengan demikian buku kerja yang telah dikembangkan dapat dianggap sebagai bahan ajar yang valid, praktis, dan efektif. Buku kerja ini juga memerlukan perbaikan-perbaikan ataupun dikembangkan ulang demi sempurnanya suatu bentuk bahan ajar. Untuk pengembangan buku kerja selanjutnya, analisa pemahaman konsep siswa hendaknya tidak hanya berdasarkan hasil kerja siswa secara tertulis, tetapi perlu dilakukan wawancara dengan siswa secara mendalam.

Diagnosis kesulitan siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang menyelesaikan masalah pada materi lingkaran berdasarkan teori Van Hiele / Nilam Triayunda

 

Triayunda, Nilam. 2013. Diagnosis Kesulitan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 18 Malang Menyelesaikan Masalah pada Materi Lingkaran Berdasarkan Teori van Hiele. Skripsi, Program studi pendidikan matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. M. Shohibul Kahfi, M.Pd. Kata kunci: Diagnosis Kesulitan, Lingkaran, van Hiele. Dalam matematika, geometri merupakan salah satu materi yang banyak penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu geometri sangat penting untuk dipelajari. Menurut salah satu guru matematika di SMP Negeri 18 Malang, prestasi belajar matematika siswa yang dilihat dari nilainya masih banyak yang di bawah Standar Kelulusan Minimal, terutama pada materi lingkaran. Hal ini ditunjukkan dengan nilai ulangan harian siswa kelas VIII pada tahun ajaran 2011/2012, banyak nilai siswa belum memenuhi standar ketuntasan minimum. Kesulitan yang sering timbul dalam menyelesaikan masalah geometri materi lingkaran antara lain (i) siswa kesulitan dalam menentukan luas juring dengan besar sudut pusat juring dan luas lingkaran diketahui, (ii) siswa kesulitan menentukan panjang garis singgung lingkaran sera panjang garis singgung persekutuan dua lingkaran. Kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah geometri dikarenakan rendahnya penguasaan geometri adalah kemampuan intelektual siswa. Untuk melihat kemampuan intelektual siswa dalam menyelesaikan masalah geometri diperlukan penulusuran terhadap tahap berpikirnya. Salah satu teori perkembangan berpikir geometri adalah teori perkembangan berpikir geometri van Hiele. Dalam berpikir menyelesaikan masalah geometri melalui beberapa tahapan yaitu: (1) Tingkat 0: Visualisasi, (2) Tingkat 1: Analisis, (3) Tingkat 2: Deduksi informal, (4) Tingkat 3: Deduksi, (5) Tingkat 4: Rigor (Walle, 2006:151). Pada penelitian ini, diagnosis kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika perlu dilakukan guna perbaikan proses belajar dan pembelajaran ke depan. Oleh karena itu, peneliti melakukan diagnosis kesulitan siswa menyelesaikan masalah matematika pada materi lingkaran yang diberikan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan memberikan tes tertulis untuk mendiagnosis. Soal tes diagnosis yang diberikan disesuaikan dengan indikatorindikator pencapaian Kompetensi Dasar, sedangkan analisis kesalahan siswa untuk mendiagnosa kesulitan menggunakan indikator-indikator tahap berpikir van Hiele.

Identifikasi zona lemah pada area pengembangan gedung Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang dengan Ground Penetrating Radar (GPR) / Golberina Qorik Nurera

 

Pengukuran kedalaman lembah dan diameter kawah aliacensis pada fase last quarter di permukaan bulan dengan menggunakan software Microsoft Visio Premium 2010 yang diamati dari Laboratorium Astronomi Fisika Universitas Negeri Malang / Ni'matullayli Eka Sari

 

Pengembangan modul pembelajaran perangkat lunak presentasi untuk guru di SDN Lowokwaru 3 Malang / Sisilia Luciana

 

Kata Kunci: pengembangan, modul, pembelajaran, dan perangkat lunak presentasi Proses belajar sangat penting untuk meningkatkan kemampuan pembelajar. Pada pembelajaran diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih aktif. Guru dalam pembelajaran dikelas belum bisa menggunakan fasilitas yang ada contohnya komputer / laptop dikarenakan kemampuan guru untuk membuat media presentasi masih sangat rendah. Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dalam kegiatan belajar. Modul pembelajaran perangkat lunak presentasi ini membantu guru dalam menggunakan media komputer sebagai media yang membantu dalam proses mengajar dikelas. Produk modul pembelajaran ini dikembangkan dan diuji coba di SDN Lowokwaru 3 Malang. Tujuan penelitian ini adalah : menghasilkan produk modul pembelajaran yang layak untuk pembelajaran bagi guru dan agar guru bisa langsung menerapkannya dalam pembelajaran didalam kelas. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Borg dan Gall yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan : (1) Research and information collecting, (2) Planning, (3) Develop preliminary form of product, (4) Preliminary field testing, (5) Main product revision, (6) Main field testing, (7) Operational product revision, (8) Operational field testing, (9) Final product revision. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada satu ahli media, satu ahli materi, uji kelopok kecil dan uji lapangan dengan 10 orang guru. Hasil validasi isi terhadap kelayakan modul pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 83,3%, validasi ahli materi 90%, uji coba perorangan 88,3%, dan uji coba kelompok kecil 96%, uji lapangan (95 %). Hasil pengembangan modul pembelajaran telah direvisi meliputi : (1) background cover lebih dispesifik, (2) menambahkan nama lembaga pada cover modul, (3) mengubah tulisan judul sub bab materi warna hijau diganti dengan warna hitam. Saran pengembangan dikembangkan dengan materi-materi lain sesuai karakteristik bidang studinya dan mengikuti prosedur pengembang.

Perbedaan personal distress pada mahasiswa baru FPPsi Universitas Negeri Malang yang bertempat tinggal di rumah kost ditinjau dari jenis kelamin dan status identitas / Dian Sudiono Putri

 

Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks zink(II) sulfat dengan ligan etilenatiourea / Ratna Wulandari Aji Saputri

 

intesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks Zink(II) Sulfat dengan Ligan Etilenatiourea

Komunikasi kepala madrasah dalam meningkatkan motivasi berprestasi guru (Multi situs di MTsN Jambewangi dan MTs Miftahun Najah Tegalrejo Selopuro Blitar) / Eka Ratnawati

 

Kata kunci: komunikasi kepala madrasah, motivasi berprestasi Setiap aktivitas manusia memerlukan komunikasi dan diupayakan agar prosesnya terjadi dengan baik sehingga dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Komunikasi yang lancar akan membantu pelaksanaan tugas secara efektif dan efisien. Pada saat ini, bisa dikatakan bahwa komunikasi merupakan hal yang terpenting bagi manusia. Kepala madrasah sebagai pemimpin formal memiliki peranan penting, terutama dalam menjamin terlaksananya program sekolah dengan sebaik-baiknya. Untuk mengembangkan kemampuan pemimpin perlu dilakukan melalui proses interaksi baik langsung maupun tidak langsung dengan sumber belajar. Peranan komunikasi bukan hanya sebagai sarana atau alat bagi kepala madrasah dalam menyampaikan informasi. Hal tersebut dikarenakan tidak ada satupun organisasi yang dapat melaksanakan fungsinya tanpa komunikasi dan bahkan lebih dari itu organisasi tidak dapat berdiri tanpa komunikasi. Fokus dari penelitian adalah (1) proses komunikasi kepala madrasah tsanawiyah dalam meningkatkan motivasi berprestasi guru; (2) bentuk komunikasi yang digunakan kepala madrasah tsanawiyah dalam meningkatkan motivasi berprestasi guru; (3) cara komunikasi kepala madrasah tsanawiyah dalam meningkatkan motivasi berprestasi guru; (4) kendala dan pendukung dalam komunikasi kepala madrasah tsanawiyah dalam meningkatkan motivasi berprestasi guru. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang tidak menguji hipotesis melainkan memaparkan dan mengolah data. Jenis penelitian ini adalah multi situs karena terdapat satu kasus pada dua objek penelitian, yaitu MTsN Jambewangi dan MTs Miftahun Najah Tegalrejo. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, observasi, dan dokumentasi yang berkaitan dengan komunikasi kepala madrasah. Data yang diperoleh dianalisis selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Data yang telah dianalisis kemudian dicek keabsahannya dengan triangulasi, yaitu triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Temuan-temuan meliputi: (1) proses komunikasi, terdiri dari (a) komunikasi tatap muka; (b) secara kondisional; (c) sesuai kebutuhan; (d) sktruktural, (2) bentuk komunikasi, terdiri dari (a) komunikasi antarpersonal; dan (b) komunikasi kelompok, (3) cara komunikasi, terdiri dari (a) pesan verbal: lisan dan tulisan; (b) nonverbal: tindakan; dan (4) kendala dan faktor komunikasi, terdiri dari (1) kendala: guru sulit meninggalkan kebiasaan lama, guru jarang memberikan masukan kepada kepala madrasah, rasa sungkan, tenaga guru kurang ulet/semangat; (2) faktor pendukung: status jabatan, keterbukaan kepala madrasah, rasa kekeluargaan, dan kepercayaan kemampuan antara kepala madrasah dan guru. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi (1) Kepala MTsN Jambewangi pendekatan yang sudah berhasil dengan tidak membatasi diri antara guru dan kepala madrasah serta bersikap familiar, dan juga keuletan rasa patuh terhadap perubahan undang-undang tentang pendidikan hendaknya dipertahankan, dan lebih mengembangkan interaksi sosial kepada komponen sekolah untuk membina hubungan baik; (2) Kepala MTs Miftahun Najah Tegalrejo sifat kritis dan ciri khas pada penggunaan bahasa positif dan santun pada setiap berinteraksi hendaknya dipertahankan guna menjalin silaturahmi dengan anggota sekolah dan sebagai memperkokoh kekuatan sekolah; (3) Kementerian Agama Kabupaten Blitar disarankan agar menginformasikan hasil penelitian ini supaya dapat menginspirasi madrasah negeri dan swasta yang lain, dan tetap menjalin hubungan yang baik dengan kepala madrasah madrasah negeri maupun swasta; (4) Jurusan Administrasi Pendidikan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan jurusan, dalam hal ini untuk pengayaan materi perkulihan tentang kepemimpinan, khususnya tentang komunikasi kepala madrasah dalam meningkatkan motivasi berprestasi guru; (5) peneliti lain dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain dan tempat lain yang bermanfaat dari pendekatan kepala madrasah dalam keterampilan komunikasi yang dilakukan kepala madrasah untuk meningkatkan motivasi berprestasi guru.

Pengaruh pendekatan floor time terhadap kemampuan berbahasa pada anak autistik / Vidya Pangestika

 

Pengaruh Pendekatan Floor Time Terhadap Kemampuan Berbahasa Pada Anak Autistik

Pengaruh metode dongeng interaktif untuk meningkatkan moral judgement padan anak usia 5-6 tahun / Ribut Krisfida

 

Kata Kunci: dongeng interaktif, moral judgement, anak usia 5-6 tahun. Pada masa ini anak-anak belum memiliki pandangan pertimbangan-pertimbangan tentang perbuatan benar dan salah. Anak-anak perlu dibimbing dan didampangi dalam mengembangkan konsep tentang pertimbangan moralnya. Dongeng sebagai media pembelajaran moral sangat sesuai dengan dunia anak yang bebas dan penuh imaginasi. Dongeng dapat menambah pengalaman anak untuk belajar moral dari cerita yang didongengkan. Berkaitan hal itu, maka diperlukan penelitian tentang dongeng interaktif untuk meningkatkan moral judgement tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh metode dongeng interaktif untuk meningkatkan moral judegment pada anak usia 5-6 tahun. Subjek penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian nonrandomized pretest-posttest control group design. Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah berupa wawancara semi terstruktur dengan cerita dilema-dilema moral. Penelitian ini adalah penelitian nonparametrik dengan subjek penelitian yaitu 20 subjek. Analisis data dilakukan dua kali yaitu dengan analisis statistik deskriptif dan analisis uji hipotesa. Analisis uji hipotesa menggunakan formula wilcoxon signed rank test dan uji eta. Hasil uji wilcoxon signed rank test pada kelompok kontrol didapatkan nilai dengan signifikansi .088. Oleh karena itu signifikansi thitung lebih dari 0,05 (sig >0,05), maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari mean skor pretest dan posttest pada kelompok kontrol. Sementara itu, hasil uji wilcoxon signed rank test pada kelompok eksperimen didapatkan nilai dengan signifikansi 0,028. Oleh karena itu signifikansi thitung kurang dari 0,05 (sig <0,05), maka dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari mean skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen. Namun setelah melakukan uji eta yaitu melakukan perhitungan terhadap selisih skor pretest-posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan signifikansi sebesar 0,202. Signifikansi thitung kurang dari 0,01 sehingga dapat dikatakan tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap metode dongeng interaktif untuk meningkatkan moral judgement pada anak usia 5-6 tahun. Saran yang dapat peneliti berikan adalah bagi pendidik dalam hal ini guru untuk dapat menstimulasi pengalaman moral anak dengan menceritakan kisah-kisah seperti dalam dongeng. Orang tua juga dapat menerapkan nilai moral dari cerita dongeng sebagai teladan anak dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan keterbatasan-keterbatasan yang ada, untuk itu bagi peneliti lanjutan disarankan untuk menentukan metode penelitian yang lebih efektif yakni dengan melakukan kontrol terhadap ketetapan interviewer atau hal-hal lain yang dapat mempengaruhi penelitian.

Optimasi produksi bioetanol dari buah tomat (Solanum lycopersicum L. var commune) / Thutug Rahardiant Primadi

 

Kata Kunci : optimasi, bioetanol, tomat (Solanum lycopersicum L.) Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan melalui proses fermentasi biomassa yang mengandung glukosa. Selama fermentasi glukosa diubah menjadi etanol oleh mikroba tertentu seperti Saccharomyces cerevisiae. Kandungan terbesar dalam buah tomat setelah air adalah glukosa yaitu sebesar 3,5%, sehingga buah tomat dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah Saccharomyces cerevisiae dan waktu optimum fermentasi serta rendemen bioetanol yang dihasilkan dari buah tomat kualitas super dibandingkan dengan buah tomat apkir, dan karakteristik bioetanol tersebut. Penelitian ini bersifat laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Penelitian Kimia FMIPA UM. Buah tomat yang digunakan buah tomat varietas commune yang diperoleh dari Mantung Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Tahapan dari penelitian ini meliputi: (1) pembuatan kurva pertumbuhan Saccharomcyes cerevisiae, (2) preparasi buah tomat menjadi sari buah tomat, (3) penentuan jumlah Saccharomyces cerevisiae dan waktu fermentasi optimum, (4) produksi bioetanol dari buah tomat kualitas super dan buah tomat apkir, dan (5) identifikasi bioetanol yang dihasilkan. Pemurnian bioetanol pada penelitian ini menggunakan destilasi fraksional. Destilat yang diperoleh kemudian diukur kadar alkoholnya dengan alkoholmeter. Rendemen bioetanol merupakan jumlah etanol yang diperoleh perkilogram buah tomat. Hasil penelitian menunjukkan fermentasi 300 mL sari buah tomat menjadi bioetanol membutuhkan biakan Saccharomyces cerevisiae (pada akhir fase log) sebanyak 20% (v/v) atau 21,6 x 108 sel dan waktu fermentasi selama 12 jam dengan menghasilkan rendemen bioetanol sebesar 6,076 mL/kg. Rendemen bioetanol yang dihasilkan dari buah tomat kualitas super dan apkir berturut-turut sebesar 6,076 mL/kg dan 2,292 mL/kg. Bioetanol yang dihasilkan dari buah tomat mengandung alkohol primer karena positif terhadap uji CAN, negatif terhadap uji FeCl3, dan negatif terhadap uji Lucas, memiliki kadar etanol antara 13-18% dengan nilai densitas sebesar 0,9831 g/cm3 dan nilai indeks bias sebesar 1,333.  

Perancangan buku cerita bergambar pengenalan aksara Jawa untuk anak usia 6-8 tahunn / Arif Winarno

 

Makna keikutsertaan peserta didik lanjut usia mengikuti kursus bahasa Mandarin "Persahabatan" di Klenteng Eng An Kiong Malang / Della Rosanti

 

Kata kunci: kursus bahasa Mandarin, peserta didik lansia, pendidikan luar sekolah Kursus bahasa Mandarin “Persahabatan” di Klenteng Eng An Kiong Malang merupakan kursus bahasa Mandarin pertama di Malang. Salah satu hal menarik lainnya dalam keberadaan kursus tersebut adalah dengan adanya peserta didik lanjut usia. Menurut data yang telah diperoleh pada bulan Februari 2013 menunjukkan adanya empat peserta didik lanjut usia, tiga di antaranya yang masih aktif. Menarik untuk mengkaji kondisi kursus, profil, dan makna keikutsertaan peserta didik lanjut usia sebagai tujuan penelitian. Apabila biasanya belajar untuk masa depan, lantas apakah yang melatarbelakangi mereka mengikuti kursus. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut digunakan pendekatan kualitatif, dengan desain fenomenologi. Tiga peserta didik lanjut usia, tiga peserta didik dewasa, satu orang pembimbing, dan satu orang pimpinan kursus sebagai subyek penelitian. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data di analisis dengan empat tahap yaitu: (1) membaca transkrip berulang-ulang, (2) memberikan tema sekaligus pengkodean, (3) mengelompokkan komentar ke dalam tema yang sama, (4) mencari kesamaan pola pemaknaan dari keseluruhan subyek penelitian. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Kursus Bahasa Mandarin “Persahabatan” letaknya mudah dijangkau, berada di dalam area klenteng menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik yang baru memasukinya. Fasilitas yang dimiliki sudah cukup dalam melayani peserta didiknya, pembimbing di kursus tersebut juga sangat kompeten. Sumber belajar yang digunakan berupa buku yang berasal dari RRT, sampai sekarang kursus tersebut sudah mampu mencetak peserta didiknya menjadi guru bahasa Mandarin di beberapa sekolah yang berada di Malang; (2) Profil peserta didik maupun pembimbing belum diarsipkan/didokumentasikan, padahal peserta didik merupakan salah satu faktor terpenting dalam sistem pendidikan. Orang dewasa bukanlah seperti anak-anak yang perlu di ajar, tetapi orang dewasa lebih tepat dikatakan dibimbing untuk belajar. Dengan begitu dalam menyampaikan materi merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Kursus Bahasa Mandarin “Persahabatan”, terutama dengan adanya peserta didik lanjut usianya; dan (3) Makna keikutsertaan peserta didik lanjut usia mengikuti Kursus Bahasa Mandarin “Persahabatan” adalah sebagai upaya untuk mencegah kepikunan dan sarana bergaul dengan teman-temannya. Di samping itu, aktivitas belajarnya di “Persahabatan” juga untuk mengisi waktu luangnya di masa tua, agar tidak kesepian, dan sebagai perwujudan untuk belajar seumur hidup.

Pengenalan konsep bilangan dengan menggunakan permainan domitung di TK Dewi Asiyah Kemulan Turen Malang / Veriantini

 

Kata kunci: pengenalan konsep bilangan, permainan domitung. Pengenalan konsep bilangan merupakan sebuah proses atau cara yang menarik atau menyenangkan untuk memahami dan mengetahui lambang bilangan serta tentang penambahan (menggabungkan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda). Dengan adanya permainan domitung, anak diajak belajar sambil bermain untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya dalam pengenalan konsep bilangan, menyebutkan hasil penambahan (menggabungkan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda) dengan menghubungkan atau memasangkan benda atau gambar dengan lambang bilangan yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) mengetahui profil lembaga, (2) mengetahui proses pengenalan konsep bilangan, (3) mengetahui pengenalan konsep bilangan dengan menggunakan permainan domitung, (4) mengetahui kelebihan dan kekurangan pengenalan konsep bilangan dengan menggunakan permainan domitung di TK Dewi Asiyah Kemulan Turen Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan berdasarkan analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini: TK Dewi Asiyah berupaya meningkatkan kualitas anak dalam ilmu pengetahuan, teknologi, iman, dan taqwa. Dengan cara melaksanakan proses pembelajaran secara terpadu, menanamkan sikap dan perilaku sesuai dengan Pancasila, dan menanamkan pada anak untuk berbuat amar ma’ruf nahi munkar. Proses pengenalan konsep bilangan dilaksanakan melalui sebuah permainan, agar dapat mempermudah anak dalam memahami konsep bilangan. Dalam pengenalan konsep bilangan dengan menggunakan permainan domitung anak diminta menyebutkan hasil penambahan (menggabungkan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda) yang ada pada kartu domitung, setiap anak harus menyebutkan hasil penambahan (menggabungkan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda) sebanyak enam kartu, membilang lambang bilangan dalam kartu tersebut serta menghubungkan atau memasangkan lambang bilangan yang ada di salah satu ujung kartu dengan ujung kartu lain yang sesuai. Permainan domitung ini dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak tentang konsep bilangan. Dalam proses permainan domitung guru harus selalu mengawasi jalannya permainan, agar tidak terjadi kesalahan dalam bermain. Dari hasil penelitian ini disarankan: (1) bagi pengelola TK : (a) dalam pengelolaan administrasi diupayakan agar dijalankan sesuai dengan ketentuan yang ada, dan (b) dalam pengenalan konsep bilangan dengan menggunakan permainan domitung diupayakan agar bentuk pertanyaan operasi penambahan dan pengurangan yang terdapat di dalam permainan domitung tersebut setiap semester harus beda, agar bentuk pertanyaan yang terdapat di dalam permainan domitung itu tidak monoton, sehingga peserta didik bisa lebih dalam mempelajari konsep bilangan tentang penambahan (menggabungkan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda). (2) bagi guru TK: (a) dalam proses pembelajaran diupayakan agar sesekali waktu dilaksanakan di luar kelas supaya suasana pembelajaran tidak monoton hanya di dalam kelas, dan (b) dalam menerapkan permainan domitung harus ada guru pembantu lainnya, agar permainan domitung ini bisa berjalan efektif dan efisien.

Perbedaan tingkat kebahagiaan narapidana ditinjau dari kelompok pembinaan keterampilan kerja di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Malang / Cince Rochmawati

 

Pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis powerpoint batik Sidoarjo sebagai media pembelajaran kajian seni rupa terapan nusantara untuk SMP kelas VIII / Thoriq Afif

 

Afif, Thoriq. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis PowerPoint® Batik Sidoarjo Sebagai Media Pembelajaran Kajian Seni Rupa Terapan Nusantara Untuk Smp Kelas VIII. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd., (II) Drs. Andi Harisman Kata Kunci: Pengembangan Media pembelajaran, Seni Rupa Trapan Nusantara PowerPoint Batik Sidoarjo. Perkembangan teknologi yang sangat pesat perlahan-lahan mengubah pola pembelajaran di sekolah. Infiltrasi teknologi secara tidak langsung menuntut guru untuk menguasai dan menggunakan media komputer untuk proses belajar mengajar disekolah. Namun, kenyataannya masih banyak guru yang kurang menguasai teknologi sehingga masih menggunakan media konvensional. Seorang guru tentunya dapat menyusun materi dengan baik, tetapi belum tentu dapat membuat media yang membelajarkan. Pengembangan ini bertujuan untuk membuat media pembelajaran dengan Microsoft Office PowerPoint sebagai dasar aplikasinya, dalam membantu guru menyusun media pembelajaran yang optimal. Model pengembangan ini menggunakan five-D dari Pranata M. (2012) yaitu Define, data, design, develop dan disseminate. Hasil produk dilakukan validasi oleh 2 orang ahli media, 2 orang ahli materi dan uji kelompok kecil yang menggunakan teknik analisis instrumen kuesioner. Secara garis besar hasil validasi dan uji coba menunjukkan positif dengan akumulasi nilai validasi ahli media, ahli materi, serta uji coba pada poin applicability yaitu 85.9%, usability 84.09%, dan adjustability senilai 83.6%. Dari ketiganya, dapat disimpulkan dengan kriteria ”baik sekali” yang berarti sangat layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Hasil revisi media cenderung mengarah kepada desain animasi yang terdapat pada media. Menurut ahli media, media yang dibuat sudah bagus, akan tetapi beberapa animasi pada slide mengganggu spesifikasi produk. Dan dari hasil revisi ahli materi menyatakan untuk kata-kata yang terdapat pada point lebih jelas lagi, agar siswa tidak salah paham untuk memahami materi. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar para pengembang yang tertarik pada produk yang sama hendaknya menindaklanjuti proses uji coba dengan jangka waktu yang lebih lama, subyek sampel yang lebih besar, dan merevisi buku petunjuk media agar daya guna produk dapat meningkat.

Alternatif perencanaan jembatan menggunakan konstruksi beton precast di Desa Gambiran Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi / Prayitno

 

Prayitno. 2013. Alternatif Perencanaan Jembatan Menggunakan Konstruksi Beton Precast Di Desa Gambiran Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Adjib Karjanto, S.T., M.T. Kata-kata kunci: Jembatan Precast, Upper Structure, Beton Prategang. Desa Gambiran dan Desa Curahketangi terletak di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Desa tersebut dipisahkan oleh sungai Setail dengan lebar 20 m. Pada sungai Setail, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Jembatan ini terbuat dari jembatan beton konvensional dengan lebar 9.5 m yang bisa dilewati kendaraan dengan kelas jalan IIIC. Jembatan ini mempunyai peran penting mengingat banyak warga yang memiliki lahan persawahan di desa tersebut. Jembatan Setail merupakan jalur alternatif untuk menuju desa Dasri Kecamatan Tegalsari dan sebaliknya. Seiring bergulirnya waktu Jembatan Setail semakin ramai dilalui oleh kendaraan yang akan menuju ke Kecamatan Genteng dan Kecamatan Tegalsari. Berdasarkan informasi yang diperoleh Jembatan Setail rencananya akan dibangun jembatan baru yang bisa dilewati kendaraan besar yang letaknya di sebelah jembatan lama. Hal ini bertujuan supaya kendaraan besar bisa lewat dengan baik dan lancar serta aman bagi pengguna jalan dan jembatan. Berdasarkan kondisi tersebut perencanaan jembatan precast dapat digunakan sebagai alternatif pilihan jembatan. Permasalahan yang ditinjau dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana menentukan spesifikasi balok struktur jembatan menggunakan beton precast di Desa Gambiran, (2) Bagaimana menghitung kekuatan komponen jembatan precast terhadap gaya dalamnya, (3) Bagaimana menggambar hasil perhitungan ke dalam bentuk gambar teknik. Hasil dari perencanaan adalah jembatan dengan panjang bentang 20 m, lebar total 9.50 m, tebal slab 0.25 m, untuk tulangan positif negatif dengan tulangan D16 – 200 dan tulangan bagi D13 – 130, dengan dimensi tiang sandaran 15 cm x 15 cm jumlah 4 D13 dengan tulangan geser  6 – 150, penulangan bagian trotoar menggunakan tulangan dengan D16 – 200 dan tulangan bagi D13 – 130, balok gelagar induk beton precast bentuk I dengan tinggi 1.00 m berjumlah 5 buah dengan jarak 1.75 m antar balok gelagar. Jumlah tendon yang digunakan 2 dengan 1 tendon berisi 15 strands dan 1 tendon berisi 14 strands, jenis strands yang digunakan Uncoated 7 wire super strands ASTM A-416 grade 270, dengan tulangan arah memanjang balok menggunakan besi D13 dengan jumlah bagian atas 10, bagian bawah 12 dan bagian tengah/badan 12 tulangan geser menggunakan D13. Dari hasil perhitungan, gaya-gaya dalam yang terjadi telah memenuhi syarat SNI-T-12-2004.

Pengembangan latihan teknik dasar sikap pasang dan jatuhan pencak silat untuk ekstrakurikuler Perguruan satria Tunggal di SMA Negeri 1 dan 2 Lamongan melalui buku panduan latihan / Denox Rochmawati

 

Kata kunci: Pengembangan, teknik dasar Sikap Pasang dan Jatuhan pencak silat, ekstra kurikuler Perguruan Satria Tunggal, Buku Panduan Latihan. Pada latihan ekstrakurikuler pencak silat di SMA Negeri 1 dan 2 Lamongan ini masih sangat kurang media pembelajarannya, bahkan belum pernah menggunakan media pembelajaran untuk latihan, dan dipilihnya Buku Panduan Latihan karena fasilitas dari sekolahan tidak menyediakan alat-alat elektronik misalnya: laptop, LCD, proyektor, dan lain sebagainya Dengan adanya pengembangan Buku Panduan Latihan ini bertujuan agar peserta ekstrakurikuler lebih tertarik dan bersemangat baik dari segi isi Buku Panduan Latihan ataupun cara berlatih karena pelatih lebih bisa bervariasi dalam dalam menyampaikan teori, sehingga mempermudah dan mempercepat peserta untuk memahami teknik dasar sikap pasang dan jatuhan pencak silat. Metodelogi penelitian mengacu pada pengembangan research and development dari Borg dan Gall (1983:775), tetapi pada pengembangan ini peneliti hanya mengembangkan 8 langkah yaitu (1) observasi awal, (2) rancamgan produk, (3) evaluasi oleh ahli, (4) uji coba kelompok kecil 10 peserta, (5) revisi produk pertama, (6) uji coba kelompok besar 30 peserta, (7) revisi produk kedua, (8) hasil akhir produk. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa semua pelatih (3 orang) menyatakan bahwa yang penting dikembangkan adalah Sikap Pasang daripada teknik yang lain dan mereka memerlukan media pembelajaran dalam bentuk Buku Panduan Latihan. Sedangkan peserta ekstrakurikuler 37,5% memilih Jatuhan sebagai materi yang ingin dipelajari dan 40% peserta memilih Buku Panduan Latihan pada media pembelajarannya. Sehingga peneliti mengembangkan Teknik Dasar Sikap Pasang dan Jatuhan Pencak Silat dalam bentuk media pembelajaran Buku Panduan Latihan. Poduk awal yang telah dijustifikasi oleh Dosen Pembimbing 1 dan 2, pada aspek Teknik Dasar Sikap Pasang diperoleh persentase 80,14% sedangkan dari ahli pencak silat diperoleh persentase 83,61% dan pada aspek Teknik Dasar Jatuhan diperoleh persentase 79,33% sedangkan dari ahli pencak silat diperoleh persentase 91,95% dengan hasil akhir menunjukkan bahwa pengembangan tersebut dapat diuji cobakan di ekstrakurikuler pencak silat Perguruan Satria Tunggal SMA Negeri 1 dan 2 Lamongan. Dari hasil uji coba kelompok kecil dengan jumlah 10 peserta diperoleh persentase 94,74%, dan pada uji coba kelompok besar dengan jumlah siswa 30 peserta diperoleh persentase 99,16, sehingga Buku Panduan Latihan Teknik Dasar Sikap Pasang dan Jatuhan ini digunakan di ekstrakurikuler pencak silat Perguruan Satria Tunggal SMA Negeri 1 dan 2 Lamongan.

Developing supplementary listening materials for the seventh graders / Isna Rakhmawati

 

Keywords: Supplementary listening materials, short functional texts, audio recording, learners of the seventh graders The purpose of this study was to develop supplementary listening materials for students of junior high school in the seventh grade to be used for self-study materials. The materials were developed on the basis of the analysis of 2006 Standard of Content and 2013 English Curriculum syllabus, preliminary study and students’ needs analysis from the English teachers’ point of view. Based on the result of the analysis, there were several reasons why the materials were developed: (1) the adequacy of listening materials particularly on oral short functional texts in the students’ textbook was not yet fulfilling the Standard of Content of 2.2 and (2) the students’ needs of appealing and motivating listening materials was not yet provided. This study adapted the research and development (R&D) design by Smaldino, Lowther and Russell (2005), which covers the following stages: Analyze learners, State objectives, Select methods, Utilize media and materials, Require learners’ participation & Evaluate and revise (ASSURE). The procedures of the materials development include: (1) Analyze the learners’ needs, (2) Develop the listening materials, (3) Obtain the expert validation, (4) Revise the materials, (5) Utilize the materials, (6) Evaluate and revise the materials and (7) Finalize the product. The subject of the product try-out was the seventh grade students of SMP Negeri 1 Gempol. The data were gathered using the interview guide, expert validation checklist and students’ questionnaires. The final product of this study was presented in the form of paper-based materials and the audio recording was attached inside CD/DVD. The listening materials were developed in three packages. Package A focused on oral short functional text type, namely: shopping lists (Shopping at the Grocery Store). Package B focused on greeting cards (Celebrating the New Year). Package C covered announcements (Traveling to some Islands in Indonesia). The answer key and tape script were inserted to each of the packages to allow the learners to do self-reflection. The result of the expert validation showed that the materials still needed further revision because the content of the materials did not conform to the Standard of Content of 2006. However, the materials reflected the 2013 English Curriculum because the content of materials combined transactional and functional conversations. According to the students when they gave feedback after the product try-out the materials, all of them (100%) believed that the materials were interesting in terms of the lay-out and topics and the materials were able to motivate the students to learn listening.  

Pengembangan model latihan pertahanan (deffence) menggunakan pola 2-2 pada kegiatan ekstrakurikuler futsal berupa video di SMP Laboratorium Malang / Debby Arieangga Pratama

 

Kata Kunci: penelitian pengembangan, latihan, bertahan, futsal Teknik dasar futsal harus dikuasai oleh pemain futsal, selain teknik dasar futsal tersebut, seorang pemain futsal harus memiliki suatu strategi dalam pertandingan, strategi tersebut tidak hanya menyerang tetapi juga bertahan. Akan tetapi, strategi bertahan ini kurang mendapatkan perhatian dalam latihan. Di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang, model latihan pertahanan (deffence) memang sudah ada, hal ini diketahui oleh peneliti pada saat melaksanakan observasi dan wawancara di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang, akan tetapi model latihan bertahan (deffence) yang diberikan pada siswa kurang bervariatif (monoton). Hal ini membuat siswa merasa bosan dengan model latihan bertahan (deffence) tersebut, bahkan siswa tidak tahu model latihan berthan yang diberikan oleh pelatihnya. Dengan melakukan penelitian awal yang menggunakan analisis kebutuhan siswa dan pelatih, peneliti dapat menyimpulkan bahwa di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang perlu adanya pengembangan model latihan bertahan (deffence). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan model latihan bertahan (deffence) menggunakan pola 2-2 di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang, dan diharapkan dapat meningkatkan semangat untuk berlatih dan menjadi tambahan variasi model latihan bertahan (deffence) di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang. Prosedur pengembangan model latihan bertahan (deffence) pada futsal di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang ini melalui beberapa tahap, antara lain: 1) melakukan analisis kebutuhan dengan melakukan riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal. 2) Pembuatan rancangan produk. 3) Evaluasi para ahli dengan menggunakan 2 ahli permainan futsal, 1 ahli media. 4) pembuatan produk awal. 5) Uji coba kelompok kecil (a) dan melakukan revisi produk pertama sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli. 6) Uji coba kelompok kecil (b) dengan subjek yang lebih banyak dan melakukan revisi produk yang kedua sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli. 7) Produk hasil akhir pengembangan. Model latihan bertahan (deffence) ini dikembangkan melalui saran dan evaluasi para ahli, secara keseluruhan para ahli memberikan masukan yang baik dan setelah merevisi produk awal maka para ahli setuju dan produk yang sudah jadi siap untuk diuji cobakan di Ekstrakurikuler Futsal SMP Laboratorium Malang. Hasil analisis data yang diperoleh dari uji coba kelompok kecil adalah 88,9% hasilnya valid, sedangkan uji coba kelompok besar adalah 94,3% hasilnya i adalah valid, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model latihan tersebut dapat diterapkan di Eksrtakurikuler futsal SMP Laboratorium Malang.

Perencanaan normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek / Nuswantoro Wahyu Raharjo

 

Wahyu Raharjo, Nuswantoro. 2013. Perencanaan Normalisasi Saluran Irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik UM. Pembimbing Drs. H. Bambang Widarta, M.T. Kata kunci: perencanaan normalisasi, saluran irigasi, Pada saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek tidak normal, disebabkan karena terdapat sedimen dan kerusakan pasangan batu kali pada dinding saluran. Tujuan dari Proyek Akhir ini adalah: (1) membuat desain normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek, (2) menghitung besarnya debit yang dapat dialirkan pada saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek, (3) menentukan spesifikasi teknis pekerjaan normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek, (4) menghitung rencana anggaran biaya untuk normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan Proyek Akhir ini adalah empiris dan analitis dengan menggunakan pedoman Kriteria Perencanaan Bagian Perencanaan Saluran Irigasi (KP-03) yang diterbitkan oleh Dirjen Pengairan Kementerian Pekerjaan Umum tahun 1986. Hasil dari perencanaan normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek adalah sebagai berikut: (1) desain saluran P0-P1 penampang berbentuk persegi dengan tinggi 0,70 m, lebar 0,70 m, panjang 50 m, dan saluran P2-P11 penampang berbentuk trapesium dengan tinggi 0,50 m, lebar atas 1,70 m, lebar bawah 0,70 m, panjang 450 m, (2) debit rencana saluran P0-P3 setelah dinormalisasi sebesar= 0,37 m3/det, kemiringan saluran= 0,006 dengan kecepatan aliran= 1,07 m/det dan debit rencana saluran P4-P11 setelah dinormalisasi sebesar = 0,15 m3/det, kemiringan saluran= 0,002 dengan kecepatan aliran= 0,527 m/det, (3) spesifikasi teknis pekerjaan normalisasi saluran (a) pengerukan sedimen sebanyak 60,11 m3 dengan cara manual memakai peralatan sederhana berupa cangkul atau sekop, (b) perbaikan dinding saluran menggunakan pasangan batu kali sebanyak 113,25 m3 dengan menggunakan spesi campuran 1 zak PC:4 pasir, (4) biaya yang diperlukan untuk pekerjaan normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek meliputi pekerjaan: (a) persiapan sebesar Rp 2.743.225,00, (b) pengerukan sedimen sebesar Rp 1.871.043,97, (c) perbaikan dinding saluran sebesar Rp 74.869.575,00. Total anggaran biaya normalisasi saluran irigasi Dam Induk Bagong di Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek sebesar Rp 79,483,843.97 (tujuh puluh sembilan juta empat ratus delapan puluh tiga ribu delapan ratus empat puluh tiga rupiah).

Kompetensi kepribadian guru pendidikan kewarganegaraan yang menjadi suri teladan menurut siswa kelas XI di SMA Negeri 02 Batu / Debby Arieangga Gerry

 

Gerry, Novika. 2013. Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Kewarganegaraan Yang Menjadi Suri Teladan Menurut Siswa Kelas XI di SMA Negeri 02 Kota Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs. H. Suparman AW, SH. M. Hum., (II) Dra. Sri Untari, M.Si Kata Kunci: Kompetensi Kepribadian, Guru Pendidikan Kewarganegaraan.     Seorang guru hendaknya memiliki kompetensi kepribadian yang baik karena guru memiliki andil besar dalam proses pendidikan. Guru yang memiliki kompetensi kepribadian baik akan banyak berpengaruh baik terhadap perkembangan siswa, terutama mental dan spiritualnya. Apalagi jika menjadi seorang Guru Pendidikan Kewarganegaraan maka harus dapat memanfaatkan fungsinya sebagai penuntun moral, sikap, serta memberi dorongan kearah yang lebih baik agar dapat menjadi teladan bagi peserta didik.     Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan pendapat siswa mengenai kompetensi kepribadian yang dimiliki oleh Guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 02 Batu. (2) Mendeskripsikan kompetensi kepribadian guru Pendidikan Kewarganegaraan yang diteladani oleh siswa kelas XI di SMA Negeri 02 Batu. (3) Mendeskripsikan penerapan kompetensi kepribadian guru Pendidikan Kewarganegaraan yang diteladani oleh siswa kelas XI di SMA Negeri 02 Batu.     Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrument manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.     Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) Berdasarkan pendapat siswa kelas XI, kompetensi kepribadian yang dimiliki oleh Guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 02 Batu yakni kepribadian disiplin, demokratis, penyabar, tenggang rasa, dan berwawasan luas. (2) Kompetensi kepribadian Guru Pendidikan Kewarganegaraan yang diteladani oleh siswa kelas XI di SMA Negeri 02 Batu yaitu disiplin dalam menjalankan kesepakatan yang telah diatur bersama, demokratis ketika proses belajar mengajar, sikap penyabar dalam membimbing siswa, tenggang rasa dalam membina hubungan antara guru dan siswa, serta guru yang wawasan luas di luar materi pelajaran. (3) Penerapan kompetensi kepribadian guru Pendidikan Kewarganegaraan yang diteladani oleh siswa kelas XI di SMA Negeri 02 Batu meliputi kepribadian disiplin dengan cara datang tepat waktu ketika kegiatan ekstrakurikuler, demokratis dalam forum di kelas, penyabar dalam mengerjakan soal-soal ulangan, tenggang rasa dengan sesama teman, dan berwawasan luas dengan cara menjadi tentor dalam kegiatan les privat.     Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan peneliti maka ada beberapa rekomendasi yang berhubungan dengan kompetensi kepribadian Guru Pendidikan Kewarganegaraan yang menjadi suri teladan bagi siswa. (1) Dalam kegiatan belajar mengajar dikelas, Guru Pendidikan Kewarganegaraan seyogyanya mengimplementasikan beberapa indikator kompetensi kepribadian guru yang masih belum terlihat oleh siswa dalam pengelihatannya. Indikator tersebut meliputi beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi masyarakat, secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri. (2) Guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 02 Batu seyogyanya mempertahankan kompetensi kepribadiannya yang terdapat pada indikator kompetensi kepribadian yakni kepribadian disiplin, kepribadian demokratis, kepribadian penyabar, kepribadian tenggang rasa dan kepribadian berwawasan luas, yang telah diteladani oleh siswa. (3) Guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 02 Batu seyogyanya senantiasa berusaha meningkatkan kompetensi kepribadiannya yang telah diteladani oleh siswa, kearah indikator kompetensi kepribadian yang belum diteladani oleh siswa. Sehingga dengan demikian seorang Guru Pendidikan Kewarganegaraan akan memiliki ciri khas yang membedakan dengan guru mata pelajaran lain bahkan akan membedakannya dengan profesi lain diluar guru.

Karakteristik permukiman kumuh di sempadan rel kereta api sari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kota Baru Kota Malang / Ainun Zahroul Abidah

 

Abidah, Ainun Zahroul. 2013. Karakteristik Permukiman Kumuh di Sempadan Rel Kereta Api dari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kotabaru Kota Malang. Skripsi. Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si, (II) Drs. M. Yusuf Idris. Kata Kunci: permukiman kumuh, sempadan rel Tumbuhnya permukiman kumuh di kawasan sempadan rel cukup banyak, seperti di Kelurahan Kotalama dan Jodipan Kota Malang. Kawasan yang seharusnya sebagai lahan terbuka, kini berubah menjadi permukiman penduduk yang sangat padat. Untuk itu perlu diungkap mengenai kondisi sebenarnya tentang penduduk yang bermukim pada kawasan sempadan rel kereta api. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status legalitas, kondisi lokasi, kondisi kependudukan, kondisi bangunan, kondisi sarana dan prasarana dasar, serta kondisi sosial ekonomi terhadap alasan mendirikan bangunan pada kawasan sempadan rel kereta api dari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kotabaru Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengguanakan metode survey. Populasi pada penelitian ini adalah kepala keluarga yang bermukim di kawasan sempadan rel kereta api dari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kotabaru Kota Malang yang berjumlah 998 kepala keluarga. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik keruangan dengan membagi kedalam 2 kriteria yaitu permukiman padat dan permukiman tidak padat. Sampel responden diambil sebanyak 100 responden di sepanjang kawasan sempadan rel kereta api dari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kotabaru Kota Malang. Data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan menggunakan analisis data tabulasi tunggal dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik permukiman kumuh di sempadan rel kereta api dari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kotabaru antara lain: (1) seluruh permukiman dikatakan ilegal karena tidak memiliki status legalitas yang jelas, (2) kondisi lokasi terhadap kerentanan bahaya bencana cukup kecil hanya sebagian kecil wilayah yang terkena banjir, (3) jumlah anggota keluarga terbanyak antara 4-6 dalam 1KK tiap rumah, (4) kondisi bangunan yang semuanya permanen tetapi kurang memenuhi dengan besarnya jumlah anggota, (5) kondisi sarana dan prasarana dasar yang sudah terpenuhi dengan baik, dan (6) tingkat perekonomian yang cukup rendah dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah pula. Saran yang dapat diberikan berupa keasadaran masing-masing penduduk untuk tidak mendirikan bangunan di kawasan ilegal sehingga perlahan-lahan permukiman yang berada di sempadan rel kereta api dari Stasiun Kotalama hingga Stasiun Kotabaru semakin berkurang.

Pemanfaatan limbah batu bata bangunan sebagai bahan pengisi aspal beton ditinjau dari parameter Marshall / Novi Krisnawati

 

Krisnawati, Novi. 2012. Pemanfaatan Limbah Batu Bata Bangunan Sebagai Bahan Pengisi Aspal Beton Ditinjau dari Parameter Marshall. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Henri Siswanto, M.T., (II) Drs. H. Sugiyanto, S.T., M.T. Kata Kunci: limbah batu bata, bahan pengisi, aspal beton, parameter Marshall. Jalan adalah salah satu dari prasarana transportasi darat yang sangatlah penting keberadaannya bagi proses pergerakan manusia. Salah satu perkerasan jalan yang biasa dipakai adalah lapisan aspal beton, dalam campuran aspal beton dibutuhkan suatu bahan pengisi (filler) untuk mendukung kekuatan, kelenturan plastis, jumlah rongga udara, ketahanan terhadap gaya luar, dan cuaca. Penggunaan bahan pengisi tersebut cenderung membutuhkan harga yang relatif mahal, maka dari itu peneliti ingin mencoba untuk menggunakan bahan alternatif lain sebagai bahan pengisi pada campuran aspal beton yang lebih murah. Bahan alternatif tersebut adalah batu bata limbah bangunan. Karena banyaknya pembongkaran bangunan seperti yang ada di Universitas Negeri Malang maka banyak sekali limbah bongkaran bangunan yang tidak terpakai. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik aspal beton tanpa penggunaan limbah batu bata sebagai bahan pengisi ditinjau dari parameter Marshall dan mengetahui karakteristik aspal beton dengan penggunaan limbah batu bata sebagai bahan pengisi dengan kadar 25%, 50%, 75%, dan 100% ditinjau dari parameter Marshall. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) hasil dari pengujian benda uji tanpa menggunakan limbah batu bata sebagai bahan pengisi aspal beton ditinjau dari parameter Marshall, pada kadar aspal optimum 5,91% yaitu (a) stabilitas diperoleh nilai 919,11 kg, (b) flow diperoleh nilai 3,32 mm, (c) Marshall Quotient diperoleh nilai 277,99 kg/mm, (d) VIM diperoleh nilai 3,69%, (e) VMA diperoleh nilai 16,77%, (2) stabilitas Marshall dengan penggunaan bahan pengisi limbah batu bata diperoleh nilai maksimumnya sebesar 926,53 kg pada persentase batu bata 25% dan nilai stabilitas terendah sebesar 734,07 kg pada persentase batu bata 100%. Nilai stabilitas mengalami penurunan pada persentase 50%-100%, (3) nilai flow, Marshall Quotient, dan VMA dengan penggunaan bahan pengisi limbah batu bata memenuhi syarat spesifikasi minimum, (4) nilai VIM dengan penggunaan bahan pengisi limbah batu bata yang memenuhi syarat spesifikasi minimum yaitu pada persentase batu bata 0%-25%.

Pelaksanaan pembelajaran tematik kelas I semester 2 (studi kasus di SD Anak Saleh Kota Malang) / Fika Santi Pratiwi

 

Kata kunci: pembelajaran tematik, kelas I SD Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) perencanaan pembelajaran tematik di kelas I semester 2 SD Anak Saleh, (2) pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas I semester 2 SD Anak Saleh, (3) penilaian pembelajaran tematik di kelas I semester 2 SD Anak Saleh, (4) kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran tematik di kelas I semester 2 SD Anak Saleh, dan (5) upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala pembelajaran tematik di kelas I semester 2 SD Anak Saleh. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data penelitian ini berupa observasi, wawancara, dokumentasi untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran tematik kelas I Semester 2 di SD Anak Saleh. Hasil penelitian diperoleh lima simpulan sebagai berikut: (1) persiapan pembelajaran tematik kelas I semester 2 di SD Anak Saleh dibuat untuk mewakili kelas I. Model pembelajaran terpadu yang digunakan guru yaitu model jaring laba-laba (webbed model). Belum ada kesepakatan antar guru dalam format penyusunan RPP. RPP tematik disusun terpadu untuk empat kali pertemuan dalam seminggu; (2) pelaksanaan pembelajaran tematik kelas I semester 2 di SD Anak Saleh bervariasi di tiap-tiap kelas. Walaupun RPP tematik hanya dibuat untuk hari senin- kamis, tetapi guru juga mengajar secara terpadu pada hari jumat dan sabtu. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara team teaching. Mata pelajaran yang tidak dipadukan diajarkan secara tersendiri; (3) penilaian pembelajaran tematik kelas I semester 2 di SD Anak Saleh, berdasarkan mata pelajaran berupa tes, kinerja, portofolio, produk, dan penugasan; (4) kendala pembelajaran tematik kelas I semester 2 di SD Anak Saleh meliputi: belum ada kesepakatan guru tim tentang format pengembangan RPP, pengumpulan RPP level oleh tim guru, guru belum menguasai metode pembelajaran sesuai tuntutan tematik, pengaturan lembaga sekolah yang menerapkan jadwal dan buku secara per-mata pelajaran, dan pengembangan instrumen penilaian tematik; dan (5) upaya mengatasi kendala yang dilakukan oleh guru meliputi: (a) pembuatan perangkat pembelajaran kelas, mengajar menggunakan indikator pada jaringan tema; (b) pertemuan tim guru level maupun seluruh guru sekolah setiap seminggu sekali; dan (c) pelatihan yang diadakan oleh sekolah, gugus sekolah, maupun diknas. Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan: (1) tim koordinator, sebaiknya tema dikembangkan menjadi beberapa subtema; (2) bagi guru, hendaknya juga membuat RPP kelas; (3) Bagi Kepala Sekolah SD Anak Saleh. Pihak sekolah menentukan kebijakan tentang sumber belajar siswa berupa buku-buku pendamping tematik, bukan per mata pelajaran, karena pada dasarnya pembelajaran tematik dilaksanakan secara terpadu.

Hubungan antara efikasi diri dan dukungan sosial dengan kebermaknaan hidup pada ODHA / Diah Prasetyawati

 

Peningkatan keterampilan lay up bolabasket menggunakan metode circuit pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang / Nade Trinopiansyah

 

Peningkatan Keterampilan Lay Up Bolabasket Mengunakan Metode Circuit pada Siswa KelasVIII A SMP Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang.

Penerapan pembelajaran matematika berbantuan media poerpoint setting kooperatif STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi lingkaran di kelas VIII-C SMP Negeri 13 Malang / Rina Kristia Rini

 

Keefektifan metode cinemaeducation based on true story (CBTS) pada pelatihan keterampilan pengambilan keputusan pribadi siswa SMA / Henny Christine Mamahit

 

Kata kunci: metode cinemaeducation based on true story (CBTS), keterampilan pengambilan keputusan pribadi (KPKP) Urgensi pengambilan keputusan pada usia remaja semakin meningkat disertai dengan pilihan yang semakin beragam, khususnya yang berkaitan dengan keputusan pribadi. Remaja perlu menguasai keterampilan tersebut sebagai salah satu life skill. Keterampilan pengambilan keputusan pribadi merupakan kecakapan individu berperilaku dalam proses pembuatan keputusan. Keterampilan ini dipengaruhi oleh faktor logic, empirical-data, normative, dan afeksi. Untuk memperoleh keputusan yang benar, individu melewati lima tahap, yakni menetapkan tujuan, mengumpulkan informasi, menyusun pilihan, mengidentifikasi dan mengevaluasi kemungkinan serta konsekuensi, dan tahap terakhir yaitu membuat keputusan. Dalam rangka mengajarkan KPKP digunakan metode cinemaeducation based on true story (CBTS). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan metode CBTS pada pelatihan keterampilan pengambilan keputusan pribadi siswa SMA. Penelitian ini menggunakan multiple treatments-Single Subject Design, menggunakan repeated measures. Subyek penelitiannya adalah 9 siswa SMA kelas X. Instrumen penelitian yang digunakan adalah rubrik observasi KPKP, action task, lembar refleksi, dan skala KPKP. Analisis data menggunakan analisis visual dengan memperhatikan perubahan level dan trend dalam dan antar kondisi dari masing-masing subyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua subyek meningkat secara level dari fase baseline ke fase intervensi dengan metode CBTS, kemudian dari fase intervensi dengan gambar ke fase intervensi dengan metode CBTS tahap kedua. Setiap perubahan level tersebut diikuti dengan kenaikan trend yang cukup tajam. 3 subyek yang berada pada kategori rendah mengalami peningkatan menjadi kategori tinggi setelah diberikan intervensi. Tiga subyek pada kategori sedang, mengalami peningkatan menjadi kategori tinggi. Tiga subyek pada kategori tetap berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan metode CBTS efektif dalam proses pelatihan KPKP. Saran dalam penelitian ini adalah: 1) untuk konselor, dapat memanfaatkan metode cinemaeducation dan mengumpulkan film-film yang dapat digunakan untuk bidang bimbingan kelompok, serta disertai layanan follow up; 2) bagi pihak sekolah, dapat mendukung program BK dengan memfasilitasi kegiatan dan media yang menunjang metode cinemaeducation; 3) untuk lembaga LPTK penghasil tenaga konselor, dapat membekali calon konselor dengan pembelajaran pengembangan metode cinemaeducation dalam praktek psikoedukasi yang tepat, sesuai dengan karakteristik siswa; dan 4) untuk peneliti berikutnya, dapat memfokuskan pada kesulitan siswa dalam mengambil keputusan melalui konseling individual ataupun kelompok.

Penerapan model cooperatif learning tipe circ untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi himpunan kelas VII SMP Negeri 13 Malang / Atik Yuliana

 

Yuliana, Atik. 2013. Penerapan Model Cooperative Learning Tipe CIRC untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Materi Himpunan Kelas VII SMP Negeri 13 Malang. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Sukoriyanto, M.Si. Kata kunci: Cooperative Learning, CIRC, Keterampilan, Penyelesaian Soal Cerita         Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan di SMP Negeri 13 Malang diketahui bahwa keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita masih rendah. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami soal yang terlihat dari kesalahan siswa saat mengubah bahasa soal menjadi bahasa matematika. Dalam setiap pembelajaran, siswa hanya mengerjakan soal-soal di buku paket yang langsung melibatkan bilangan, jarang berupa soal cerita. Rendahnya keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita ini ditunjukkan dari hasil ulangan harian siswa. Berdasarkan hasil ulangan harian diketahui bahwa 10 siswa mendapatkan nilai ≥ 75 (KKM), sedangkan 29 siswa mendapat nilai di bawah KKM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu model Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition).     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran CIRC dalam meningkatkan keterampilan siswa menyelesaikan soal cerita kelas VII-B SMP Negeri 13 Malang pada materi himpunan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus mencakup empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes dan observasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2013 dengan subyek penelitian adalah siswa kelas VII-B SMP Negeri 13 Malang yang berjumlah 38 dari 39 siswa.     Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil penelitian mengenai penerapan pembelajaran model Cooperative Learning tipe CIRC yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita, yaitu siswa dibagi dalam kelompok kecil secara heterogen kemudian guru membagikan soal cerita yang dimuat dalam LKS. Siswa berdiskusi bersama kelompok untuk membaca soal, menafsirkan isi soal, membuat rencana penyelesaian, menuliskan penyelesaian dan mengecek hasil penyelesaian apakah sudah sesuai dengan soal. Selanjutnya, guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas sekaligus bersama siswa melakukan evaluasi dan membuat kesimpulan. Setelah itu, diadakan kuis/ tes untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita setelah pembelajaran. Hasil tes menunjukkan bahwa keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita meningkat.

Pemberdayaan narapidana melalui life skill (studi kasus pada program keterampilan handy craft di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang) / Fitriani Evika Dewi

 

Dewi, Fitriani Evika. 2013. Pemberdayaan Narapidana Melalui Life skill (Studi Kasus pada Program Keterampilan Handy craft di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing(1) Prof. Dr. H. S Mundzir, M.Pd (2) Dr. Hardika, M.Pd Kata Kunci: pemberdayaan narapidana, life skill Narapidana adalah orang yang telah melanggar norma kehidupan, sebagia besar dari mereka di penjara dikarenakan mereka tidak tahan dan tidak kuat menghadapi situasi dan kondisi kehidupan yang serba sulit sehingga menimbulkan sikap kriminal. Dewasa ini narapidana tidak lagi dipandang sebagai objek namun dipandang sebagai subjek yang dihormati dan dihargai oleh sesamanya. Karena pada dasarnya yang harus diberantas adalah faktor penyebab tindak pidana, bukan pelaku tindak pidana. Oleh karena itu Lembaga Pemasyarakatan dituntut berperan aktif untuk membina narapidana agar kembali ke jalan yang benar dan diterima oleh masyarakat, sehingga mereka tidak mengulangi kejahatan. Untuk mengantarkan narapidana ke jalan yang benar, maka pembekalan keterampilan merupakan unsur yang memegang peranan penting dan menentukan agar terbentuknya pribadi yang mampu mengembangkan kecakapan hidupnya sebagai modal dalam upaya mengawali hidup baru ditengah masyarakat. Pengembangan pendidikan kecakapan hidup merupakan tugas dan wewenang pendidikan luar sekolah sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia yang didasarkan kepada keterampilan atau kecakapan hidup, pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi,wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan data yang satu dengan yang lainya, analisi berikutnya dilakukan saat penulis membuat catatan hasil temuan di lokasi penelitian. Pengecekan keabsahan data dengan cara membandingkan data atau informasi yang diperoleh dari satu metode dengan metode lainya dan menggunakan beberapa informan tambahan untuk mengecek kebenaran data informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program keterampilan handy craft merupakan salah satu upaya Lapas dalam memberdayakan narapidana. Bentuk dari pemberdayaan pada program handy craft adalah pembelajaran yang meliputi 3 tahapan, yaitu tahap perencanaan,pelaksanaan,dan evaluasi. Pada tahap perencanaan meliputi perekrutan warga binaan yang dilaksanakan pada masa mapenaling dan persiapan sarana prasarana dengan biaya operasional melalui pengajuan proposal. Pelaksanaan program keterampilan handy craft dilaksanakan setiap hari senin-sabtu dengan metode demonstrasi dimana warga binaan saling belajar dengan memperagakan keahlian keterampilan masing-masing terhadap warga binaan yang lain. Partisipasi warga binaan dalam pelaksanaan program sangat antusias, warga binaan mayoritas hadir setiap pembelajaran berlangsung. Untuk kesempurnaan hasil kerja maka pembina mengadakan evaluasi pada hasil kerja warga binaan setiap waktu. Evaluasi dilakukan setiap pembelajaran berlangsung dengan memantau proses kerja warga binaan dan memberi penilaian pada hasil kerja secara langsung. Dalam kontek narapidana, Penerapan pendidikan life skill dengan memilih kecakapan kejuruan berupa keterampilan handy craft dan dengan dijiwai kecakapan berwirausaha dapat diaplikasikan jika narapidana memiliki kesadaran akan potensi dirinya untuk berkembang serta bermanfaat bagi kelangsungan kehidupannya, artinya narapidana sadar akan butuh ilmu ketrampilan yang akan digunakan kelak untuk berwirausaha. Keberhasilan pemberdayaan narapidana melalui keterampilan handy craft di Lapas Klas I Malang yaitu narapidana telah mampu memanfaatkan life skill yang diperoleh untuk berwira usaha meskipun masih berada dalam masa hukuman. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan kepada pihak lembaga pemasyarakatan mendatangkan pengrajin ahli sebagai tutor untuk memberikan inovasi terhadap kerajinan dan hendaknya lembaga mengadakan mitra kerja untuk perolehan bahan dan pemasaran hasil kerja yang diperoleh warga binaan.peneliti lanjutan hendaknya menjadikan hasil penelitian untuk melakukan penelitian serupa dengan studi kasus berbeda sehingga dapat membangun kualitas program keterampilan di Lapas klas I Malang.

Studi pengaruh perlakuan panas pada hasil pengelasan baja St. 60 ditinjau dari kekuatan tarik bahan, kekerasan, dan struktur mikro / Moh. Farid Abdurozaq

 

Pengembangan media pembelajaran pada mata pelajaran IPA standar kompetensi mengidentifikasi cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk kelas V SDN Blimbing III Malang / Yulina Dwi Ratna Sari

 

Kata kunci : Metode pembelajaran, Metode pengembangan ADDIE, Hasil uji kelayakan SDN Blimbing III Malang adalah salah satu sekolah dasar negeri yang berada di Kota Malang. Proses pembelajaran yang digunakan oleh guru SDN Blimbing III Malang tidak menggunakan media pembelajaran berbasis komputer. Metode yang biasa dilakukan oleh pengajar yaitu memberi materi melalui ceramah dan praktikum pada materi yang sesuai dan memungkinkan dilakukan praktikum, Suplemen untuk membantu pengajaran ini hanya buku. Namun pada Mata Pelajaran IPA, selain ceramah juga menggunakan media praktik/alat bantu praktik agar siswa lebih mengerti dan tidak hanya membayangkan saja. Tapi tidak semua media bisa digunakan untuk mempraktikan materi ini. Misalnya saja ketika guru ingin menjelaskan mengenai penyesuaian diri mengenai unta, tidak mungkin guru akan membawa hewan unta didalam kelas agar siswa lebih mengerti. Sekolah ini memiliki fasilitas yang sangat mendukung dalam proses pembelajaran, misalnya saja di dalam laboratorium komputer terdapat kurang lebih 30 komputer yang dapat digunakan siswa untuk belajar mandiri. Masing-masing pengajar memiliki laptop sehingga sangat memungkinkan untuk membuat media pembelajarn berbasis komputer untuk pengajaran. Sekolah memiliki LCD yang bisa digunakan mengajar untuk menyampaikan pelajaran dan komputer sebagai bantuannya. Pada pengembangan model, pengembang mengadopsi ADDIE. Tahapan model ADDIE yaitu: analisys, design, development, implementation, dan evaluation. Pengembang menggunakan model pengembangan ADDIE karena menurut langkah-langkah perkembangan produk, model pengembangan ini lebih rasional, sederhana namun lengkap. Model ini dapat digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti strategi pembelajaran, metode pembelajaran, media dan bahan ajar. Pada uji validasi kelayakan media, untuk data kuantitatif pengembang menggunakan angket. Setelah dilakukan uji coba secara keseluruhan, uji kelayakan media pembelajaran ini mendapatkan 96,74% untuk ahli materi, 87,90% untuk ahli media dan 90,32% untuk siswa.Jika di rata-rata presentasenya mendapatkan presentase 91,65% sehingga media dinyatakan layak untuk digunakan dan tidak perlu revisi.

Pendapat lansia tentang penyuluhan kesehatan di posyandu lansia Srikandi wilayah Pilang Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Churia Jihan Quameyla

 

Quameyla, Churia Jihan. 2013. Pendapat Lansia tentang Penyuluhan Kesehatan di Posyandu Lansia Wilayah Pilang Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Drs. Prawoto M.Pd, (II) Drs. Urib Urbianto, M.Pd Kata Kunci: Pendapat Lansia, Penyuluhan Kesehatan Pendapat lansia merupakan hal penting dan berfungsi sebagai upaya peningkatan dan sebagai bahan perbaikan dalam pelaksanaan penyuluhan kesehatan. Lokasi penyuluhan kesehatan adalah Posyandu Lansia “Srikandi” di Wilayah Pilang Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Penyuluhan kesehatan dilaksanakan oleh petugas kesehatan dari puskesmas maupun dari akademi keperawatan Kota Malang bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan lansia terhadap kesehatan. Rumusan masalah penelitian; (1) bagaimana pendapat lansia tentang metode yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan, (2) bagaimana pendapat lansia tentang media yang digunakan dalam penyuluha kesehatan, (3) bagaimana pendapat lansia tentang waktu yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan, (4) bagaimana pendapat lansia tentang siapa saja yang terlibat dalam penyuluhan kesehatan, (5) bagaimana pendapat lansia tentang materi yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan, (6) bagaimana pendapat lansia tentang sarana dan prasarana yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan. Rancangan penelitian yaitu penelitian deskriptif satu variabel yaitu pendapat lansia tentang penyuluhan kesehatan. Sampel berjumlah 41 orang, diambil berdasarkan total sampling. Metode dalam penggalian data yaitu wawancara terstruktur. Teknik analisanya yaitu analisis statistik deskriptif untuk memberikan gambaran umum tentang data yang telah diperoleh dari variabel. Hasil penelitian menunjukan pendapat lansia bahwa pemahaman lansia dipengaruhi oleh metode yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan, pemahaman materi yang disampaikan dipengaruhi oleh media penyuluhan kesehatan, penyampaian materi melalui media yang tidak dimengerti oleh lansia sebaiknya di perbaiki dan diganti dengan media yang mudah dimengerti oleh lansia, kehadiran lansia tergantung pada kesibukan lansia, orang-orang yang terlibat dalam penyuluhan sangat berperan penting dalam berlangsungnya penyuluhan kesehatan, materi adalah hal yang paling penting dalam penyuluhan kesehatan, karena dari materi lansia mendapatkan pesan-pesan seputar kesehatan, Sarana dan prasarana juga merupakan poin terpenting untuk berlangsungnya penyuluhan kesehatan, lokasi yang dijadikan penyuluhan kesehatan nyaman dan dapat menunjang berlangsungnya penyuluhan kesehatan. Saran penelitian ini; (1) kader posyandu dapat meningkatkan metode yang telah banyak dimengerti oleh lansia, (2) sebagian peserta posyandu lansia mengerti dengan media yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan, sebaiknya para kader meningkatkan media yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan supaya menambah kenyamanan peserta posyandu lansia dalam mengikuti penyuluhan kesehatan, (3) sebaiknya waktu penyuluhan benar-benar disesuaikan dengan waktu lansia supaya tetap tidak mengganggu aktivitas peserta posyandu lansia, (4) petugas kesehatan dapat meningkatkan pelayanan yang ramah kepada peserta posyandu lansia supaya peserta posyandu lansia merasa nyaman dalam bertukar pendapat seputar kesehatan kepada petugas kesehatan, (5) interaksi antara penyuluh dengan peserta posyandu lansia lebih ditingkatkan lagi supaya peserta penyuluhan kesehatan lebih terbuka mengkonsultasikan keluhan kesehatannya, (6) sarana yang sudah cukup rusak lebih baik diganti supaya tetap mendukung berlangsungnya penyuluhan kesehatan maupun kegiatan posyandu lansia.

Pengembangan bahan ajar IPA berbasis lingkungan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan keterampilan kerja ilmiah siswa kelas 5 semester 1 SDN Girimoyo 03 / Farida Nur Kumala

 

Kumala, Farida Nur. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Lingkungan untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir dan Kerja Ilmiah Siswa Kelas V Semester 1 SDN Girimoyo 03. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana, Universitas Malang. Pembimbing: 1). Prof Dr.agr. Moh. Amin. S.Pd, MSi 2). Dr. Lia Yuliati M.Pd Kata kunci: bahan ajar berbasis lingkungan, kemampuan berpikir, kerja ilmiah          IPA terdiri dari aspek produk dan proses. Pembelajaran IPA di SDN Girimoyo 03 sebagian besar terbatas pada aspek produk. Hal ini disebabkan bahan ajar yang digunakan berisi rangkuman materi dan latihan soal. Karakteristik bahan ajar seperti ini menyebabkan kegiatan pembelajaran bersifat hafalan, akibatnya kemampuan berpikir dan keterampilan kerja ilmiah siswa tidak terbiasa digunakan. Solusi mengatasi permasalahan tersebut adalah mengembangkan bahan ajar berbasis lingkungan. Bahan ajar berbasis lingkungan dapat melatihkan kemampuan berpikir karena siswa dapat menghubungkan antara materi yang dipelajari dengan keadaan lingkungan sekitar siswa, selain itu bahan ajar berbasis lingkungan mengarahkan siswa untuk melaksanakan aspek kerja ilmiah terhadap bahan-bahan yang ada di sekitar siswa.     Tujuan penelitian adalah (1) mengembangkan bahan ajar IPA kelas 5 semester 1 berbasis lingkungan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja ilmiah siswa (2) menganalisis kelayakan bahan ajar hasil pengembangan sehingga bahan ajar tersebut layak digunakan oleh guru dan siswa di sekolah, (3) menguji efektifitas bahan ajar terhadap kemampuan berpikir dan kerja ilmiah siswa SD Kelas V di SDN Girimoyo 03.     Tahap pengembangan menggunakan model 4D dengan prosedur penelitian meliputi tahap Define, Design, Develop dan Disseminate. Pada penelitian ini hanya sampai pada tahap Develop. Validator ahli bahan ajar terdiri dari dua orang dosen Universitas Negeri Malang dan satu orang guru IPA. Validator keterbacaan terdiri dari delapan orang siswa. Hasil validasi pengembangan bahan ajar terdiri dari hasil validasi materi, penyajian dan bahasa. Uji keefektifan bahan ajar menggunakan rancangan pretest-postest non equivalent control group design. Variabel bebas adalah penggunaan bahan ajar berbasis lingkungan. Variabel terikat adalah kemampuan berpikir dan kerja ilmiah. Sampel penelitian berasal dari siswa kelas 5 SDN Girimoyo 02 dan 03 sebanyak 62 siswa. Kemampuan berpikir diukur menggunakan tes esai sedangkan kerja ilmiah diukur melalui observasi. Analisis data menggunakan uji t, sebelum menggunakan uji t dilakukan uji asumsi normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas menggunakan uji Levene’s. Hasil pada tahap define diketahui bahwa bahan ajar yang digunakan berupa rangkuman dan latihan soal, kemampuan kognitif awal diketahui siswa 30% mendapat nilai diatas 80, konsep pada materi IPA kelas 5 semester 1 dijadikan suatu peta konsep sehingga dapat dirumuskan suatu tujuan pembelajaran selama satu semseter. Pada tahap design dihasilkan tes yang disajikan pada akhir bab dalam bahan ajar, format yang digunakan adalah strategi pembelajaran berbasis masalah lingkungan dengan setting kooperatif. Hasil pada tahap develop menunjukkan penilaian oleh ahli materi sebesar 87,5% yang berarti valid. Hasil penilaian validator tampilan sebesar 91,6 % menyatakan valid dan hasil penilaian validator bahasa sebesar 95,8% yang berarti valid, sedangkan hasil uji keterbacaan oleh siswa juga diperoleh hasil yang valid, artinya siswa tidak mengalami kesulitan dalam membaca bahan ajar. Hasil uji keefektifan menunjukkan bahan ajar dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja ilmiah. Saran produk pengembangan masih perlu disempurnakan sebelum disebarkan lebih luas

Identifikasi potensi gerakan tanah di sekitar kawasan semburan lumpur Lapindo berdasarkan pengukuran resistivitas menggunakan flashres64 61-channel / Tiara Intan Cahyaningtyas

 

Kata Kunci : FlashRES64 61-Channel, Gerakan Tanah, Resistivitas, Software Surfer 9.0. Penelitian ini untuk mengidentifikasi potensi gerakan tanah di Sekitar Kawasan Semburan Lumpur Lapindo dengan FlashRES64 61-Channel. FlashRES64 61-Channel adalah perangkat geolistrik terdiri dari 61-channel, konfigurasi bebas, multi-elektroda dan dapat melakukan pengumpulan data berupa gelombang elektrik penuh dan sistem inverse . Hasil yang didapakan alat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan alat lain dalam hal banyaknya data yang diperoleh dan waktu pengumpulan data. Pada lintasan 1 dilakukan dengan membentangkan elektroda sepanjang 640 meter di Desa Mindi, dengan spasi 10 meter diharapkan dapat menjangkau kedalaman 100 meter. Pada lintasan 2 dan 3 dilakukan dengan membentang elektroda sepanjang 320 meter dengan jangkauan kedalaman 50 meter. Akuisisi data dengan ZZ Resistivity, pengolahan data dengan software Surfer 9.0. Hasil penelitian pada lintasan 1 dan 3 yaitu lapisan tanah tersusun atas tanah lempung dan lempung. Resistivitas kurang dari 10 Ωm pada kedalaman kurang dari 100 meter untuk lintasan 1 dan 50 meter untuk lintasan 3. Pada lintasan 2 ditemukan resistivitas mencapai 100,41 Ωm yang diduga terdapat batu pasir lanauan,air tanah, dan air permukaan pada kisaran kedalaman kurang dari 50 meter. Ketiga lintasan jenis batuan penyusunnya didominasi oleh tanah lempung dan lempung sehingga dapat disimpulkan bahwa 3 desa tempat penelitian tidak stabil. Kondisi ketidakstabilan tanah ini berpotensi terjadi gerakan tanah dalam arah vertikal. Pendugaan ini sesuai dengan hasil data pengamatan GPS yang menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan lapisan tanah tiap tahunnya.

Zonasi karakteristik pola konsumsi dan aktivitas mahasiswa Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang / Yuni Purwanti

 

EFektivitas pendampingan kegiatan menggambar (dengan modifikasi art therapy) sebagai media katarsis terhadap agresivitas narapidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Blitar / Alfatikha Dwi Imami

 

Imami, Alfathika Dwi. 2013. Efektivitas Pendampingan Kegiatan Menggambar (Dengan Modifikasi Art Therapy) sebagai Media Katarsis terhadap Agresivitas Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Blitar. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi., (II) Ninik Setiyowati, S. Psi., M.Psi. Kata kunci: menggambar, modifikasi art therapy, katarsis, agresivitas Kecenderungan perilaku agresi kerap terjadi antar narapidana di lembaga pemasyarakatan.Meskipun yang mereka lakukan jarang sekali berupa perilaku agresi fisik, tetapi mereka sering sekali melakukan perilaku agresi verbal. Perilaku agresi merupakan perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Salah satu terobosan dalam pengendalian agresi ialah menggunakan modifikasi art therapy berupa kegiatan menggambar. Penerapan kegiatan menggambar dengan modifikasi metode art therapy yang dilakukan pada narapidana diharapkan dapat dijadikan sebagai media katarsis un-tuk menyalurkan atau bahkan mengurangi agresi yang dilakukan oleh narapi-dana.Melalui kegiatan menggambar, narapidana juga mendapatkan setidaknya wadah untuk menyalurkan pikiran serta emosinya dan jugadapat meningkatkan kreativitas narapidana. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain eksperimen pretest-posttest non-equivalen control group design.Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria subjek merupakan narapidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Blitar yang mengikuti program sekolah. Dari 30 orang yang diukur tingkat agresivitasnya melalui skala agresi, didapatkan 7 orang dengan agresi sangat tinggi, 8 orang dengan agresi tinggi, 9 orang dengan agresi rendah, dan 6 orang dengan agresi sangat rendah. Peneliti mengambil sampel pada orang-orang yang termasuk dalam kategori agresivitas sangat tinggi dan tinggi dengan jumlah 15 orang. Kemudian sampel dibagi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sedangkan untuk kategori agresi rendah dan sangat rendah tidak digu-nakan dalam penelitian ini. Treatment kemudian diberikan dengan modifikasi art therapy, yaitu peneliti memberikan kegiatan menggambar hanya sebatas pemberian media katarsis bagi narapidana. Tema yang digunakan dalam pemberian perlakuan ini sesuai dengan teori dari art therapy. Kesesuaian pemilihan tema pada perlakuan ini dinilai oleh professional judgement. Treatment dilakukan selama 6 hari beturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan kegiatan meng-gam-bar (dengan metode art therapy) tidak efektif sebagai media katarsis terhadap pe-nurunan tingkat agresivitas. Hal ini dikarenakan adanya varibel sekunder (terlalu banyak intervensi yang dilakukan oleh pihak LAPAS kepada peneliti maupun na-rapidana saat proses eksperimen berlangsung) yang tidak dapat dikontrol oleh pe-neliti. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan treatment dilakukan oleh tenaga professional agar hasil lebih maksimal, memperbanyak subjek dan lebih ketat dalam mengontrol variabel sekunder yang mungkin muncul.

Manajemen konflik interpersonal di sekolah (studi multi kasus di SMA Negeri 1 Kefamenanu dan SMAK Warta Bakti Kefamenanu, Timor, NTT) / Wilibrordus Cornelis Usboko

 

Usboko Cornelis, Wilibrordus. 2013. Manajemen Konflik Interpersonal di Sekolah (Studi Multi Kasus di SMA Negeri 1 Kefamenanu dan SMAK Warta Bakti Kefamenanu, Timor, NTT). Tesis. Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Studi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd., (II) Dr. Achmad Supriyanto, M.Pd., M.Si. Keywords: konflik, konflik interpersonal, manajemen konflik interpersonal. Konflik interpersonal adalah suatu pertentangan dan ketidaksesuaian kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam situasi formal, sosial, dan psikologis, sehingga menjadi antagonis, ambivalen, dan secara emosional antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Manajemen konflik interpersonal sebagaimana memiliki proses manajemen konflik yang meliputi 1) pengetahuan akan jenis dan penyebab konflik, 2) penentuan strategi manajemen konflik, 3) pengorganisasian dalam manajemen konflik, dan 4) prosedur dalam manajemen konflik. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti manajemen konflik interpersonal yang terjadi di lembaga pendidikan tingkat sekolah menengah baik negeri maupun swasta. Fokus penelitian ini adalah 1) pihak-pihak dan penyebab konflik interpersonal, 2) strategi manajemen konflik interpersonal, 3) pengorganisasian dalam manajemen konflik interpersonal, dan 4) prosedur dalam manajemen konflik interpersonal. Penelitian ini menggunakan rancangan desktiptif kualitatif dengan desain studi multi kasus. Peneliti sebagai instrumen utama. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data menggunakan analisis model air dan induktif konseptual. Pengumpulan data melalui observasi dilakukan dengan menggunakan handycam, pedoman wawancara, dan lembar pengamatan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, member check, dan kecukupan referensi. Temuan menunjukkan bahwa pada sekolah menengah di Kefamenanu ditemukan adanya manajemen konflik interpersonal sebagai berikut. Pertama, konflik interpersonal melibatkan siswa dan siswa, siswa dan pihak luar, siswa dan pegawai, siswa dan guru, siswa dan kepala sekolah, guru dan orang tua, guru dan pegawai, guru dan guru, dan kepala sekolah dan guru/pegawai. Penyebab konflik yang ditemukan adalah 1) adanya perasaan tersinggung, 2) merasa diri hebat, 3) merasa diri lebih tinggi, 4) perasaan cemburu, 5) perbedaan pendapat, 6) perbedaan pemahaman, 7) ego yang tinggi, 8) ungkapan kata yang keras/kotor, 9) masalah dari dalam dibawa ke luar lingkungan sekolah, 10) masalah dari luar dibawa ke dalam lingkungan sekolah, 11) terlambat mengembalikan buku perpustakaan, 12) terlambat membayar uang SPP/komite, 13) ketidakjujuran siswa mengambil buku perpustakaan, 14) guru mengajar siswa tidak mengerti, 15) guru memberikan penjelasan yang tidak benar, 16) guru tidak menguasai materi pelajaran, 17) materi ajar tidak lengkap, 18) siswa melanggar tata tertib sekolah, 19) siswa lalai mengerjakan tugas, 20) siswa tidak memiliki motivasi belajar, 21) ketidakhadiran siswa dalam proses pembelajaran, 22) ketidakjujuran siswa ketika 2 ditanya oleh guru, 23) sikap ketidaksenangan guru terhadap siswa, 24) perbuatan siswa yang langsung dilihat oleh kepala sekolah seperti telambat masuk sekolah, pengrusakan pintu, dan mencoret tembok sekolah, 25) bentuk sanksi yang memberatkan siswa, 26) beban belajar yang memberatkan siswa, 27) ketidakberhasilan siswa dalam pembelajaran, 28) adanya perasaan tidak suka dalam pergaulan, 29) kecemburuan mengenai besarnya honor yang diterima, 30) keterbatasan buku perpustakaan khususnya mengenai buku pegangan siswa dan buku penunjang pembelajaran, 31) keterlambatan membayar gaji, honor, dan tunjangan kesejahteraan, 32) ketidakpuasan terhadap kebijakan atau keputusan kepala sekolah, 33) ketidakberesan penyelesaian tugas di kantor, dan 34) keterlambatan memasukan RPP, silabus, dan materi ajar kepada kepala sekolah. Kedua, strategi manajemen konflik yang digunakan pada sekolah menengah di Kefamenanu menggunakan dua pendekatan yaitu 1) pendekatan preventif: sosialisasi tata tertib sekolah, pelatihan guru lewat in house training, penetapan tugas tambahan mengajar guru berdasarkan keahlian, pengaturan pembagian tugas mengajar dan tugas tambahan guru, kerja sama, pemenuhan kebutuhan, penyadaran kepada siswa, adanya pengontrolan dari pegawai, sosialisasi aturan setiap bidang, penyisihan uang untuk pembayaran honor guru komite, pelayanan yang baik, sosialisasi besarnya gaji, honor, dan tunjangan kesejahteraan, pengadaan kartu kontrol kelas, dan pengamanan mesin fotokopi ke ruang kepala sekolah; 2) pendekatan kuratif: penekanan pada tata tertib sekolah dan nilai moral, pendekatan face to face, pendekatan persuasif, pemanggilan orang tua, penekanan pada kepentingan bersama, perundingan, menghindari konflik, pengefektifan komunikasi, keterbukaan untuk saling memaafkan, otoritas pribadi, kunjungan keluarga, penyertaan guru senior dan pastor, dan penekanan pada kesepakatan bersama mengenai besarnya gaji, honor atau tunjangan kesejahteraan. Ketiga, pengorganisasian dalam manajemen konflik yang dibuat pada sekolah menengah di Kefamenanu adalah bahwa 1) pengorganisasian manajemen konflik terdiri atas dua hal yakni penentuan pihak-pihak yang menyelesaikan konflik dan tugas yang akan dilaksanakan dan penetapan kualitas konflik; 2) penetapan kualitas konflik dilihat berdasarkan kategori/klasifikasi pelanggaran yang dibuat dalam rapat forum guru, mengetahui komite sekolah, dan diketahui oleh dinas pendidikan pemuda dan olah raga. Kategori atau klasifikasi konflik dibuat dalam tiga kategori/klasifikasi yaitu kategori pelanggaran ringan/klasifikasi pertama, kategori pelanggaran semi berat/klasifikasi kedua, dan kategori pelanggaran berat/klasifikasi ketiga; 3) pengorganisasian manajemen konflik interpersonal secara umum lebih melihat pada konflik interpersonal yang dibuat oleh siswa, sedangkan oleh guru tidak tersurat dalam aturan tertulis namun prinsip pengorganisasiannya sama, perbedaannya ada pada penentuan kualitas konflik di mana yang disebabkan oleh siswa dilihat berdasarkan kategori atau klasifikasi pelanggaran yang ada dalam panduan tatat tertib sekolah, sedangkan yang disebabkan oleh guru atau pegawai selain berdasarkan tata tertib sekolah juga berdasarkan nilai-nilai yang berhubungan dengan profesi seorang guru dan nilainilai moral kristiani; dan 4) pengorganisasian manajemen konflik interpersonal sifatnya bertahap yakni dengan melihat dari mana konflik tersebut harus diselesaikan. Tidak setiap pihak di dalam sekolah menyelesaikannya sendirisendiri, tetapi berjenjang mulai dari tingkatan yang paling bawah dengan bentuk 3 sanksi yang bertahap dan dilihat dari tingkat keseringan dan dapat pula pada kasus tertentu diselesaikan oleh pihak yang langsung merasakan adanya konflik. Keempat, temuan kasus mengenai prosedur manajemen konflik interpersonal pada sekolah menengah di Kefamenanu mencakup empat tahap yaitu 1) tahap kesadaran adanya konflik dapat dilihat atas dua hal yaitu stimulasi konflik dan konflik yang muncul secara terang-terangan. Stimulasi konflik berupa percakapan waktu briefing setelah upacara bendera, percakapan di meja piket, wawancara atau interogasi guru terhadap siswa, dan berbaur bersama siswa dalam pergaulan. Konflik juga diketahui secara terang-terangan lewat ungkapan ketidakpuasan di dalam rapat atau pertemuan-pertemuan resmi, laporan dari siswa atau orang tua, munculnya sikap atau reaksi tidak suka dalam pergaulan; 2) tahap penentuan strategi didasarkan pada siapa, apa penyebab, bentuk konflik, dan dampak konflik yang dapat terjadi; 3) tahap penyelesaian konflik berupa implementasi strategi yang dipilih dan adanya pihak yang berwenang dalam menyelesaikan konflik; dan 4) tahap hasil yang dicapai yakni terbinanya persaudaraan, saling menghormati, mematuhi tata tertib sekolah, mematuhi aturan yang dibuat oleh setiap bidang, kerja sama, adanya pemahaman yang benar akan suatu aturan atau konflik yang terjadi, meningkatnya profesionalisme guru, motivasi belajar meningkat, siswa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, guru menguasai dan memperbaiki metode pembelajaran, ada ketidakpuasan pribadi baik dalam diri siswa maupun guru, tidak merusak atau mencoret tembok sekolah, perubahan kepribadian ke arah yang baik, adanya pemahaman yang benar akan situasi belajar siswa, dan taat pada kesepakatan bersama.

Perbedaan hasil belajar geografi siswa yang menggunakan media gambar gerak CD pembelajaran interaktif dan media gambar diam pada siswa SMAN 01 Batu / Heni Puja Astuti

 

Astuti, Heni Puja. 2013. Perbedaan Hasil Belajar Geografi Siswa yang Menggunakan Media Gambar Gerak CD Pembelajaran Interaktif dan Media Gambar Diam pada Siswa SMAN 01 Batu. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Budi Handoyo, M. Si, (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si. Kata Kunci: media gambar gerak, media gambar diam, hasil belajar Pembelajaran geografi di sekolah masih memiliki berbagai kelemahan, salah satunya adalah penggunaan media masih relatif terbatas. Penggunaan media visual merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Media visual yang banyak ditemui dan mudah digunakan adalah media gambar. Berdasarkan jenisnya, media gambar dapat dibedakan menjadi gambar gerak dan gambar diam. Gambar gerak (animasi) merupakan media yang saat ini banyak digemari kalangan aktivis pendidikan, namun gambar diam dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya masih menjadi media yang paling banyak diminati. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedan hasil belajar siswa antara yang menggunakan media gambar gerak dan gambar diam pada siswa SMAN 01 Batu. Data penelitian ini dikumpulkan dengan memberikan pre test dan post test. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Independent Sample T Test dengan bantuan program SPSS 16,00 for windows. Hasil analisis data menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang disajikan dengan menggunakan media gambar gerak CD pembelajaran interaktif dengan hasil belajar siswa yang disajikan dengan menggunakan media gambar diam. Penelitian ini juga menunjukkan kelas yang diberi perlakuan dengan media gambar diam memperoleh hasil belajar yang lebih baik yaitu dari pada siswa yang diberi perlakuan dengan media gambar gerak. Hal ini dapat dilihat melalui rata-rata hasil belajar dimana kelas yang diberi perlakuan dengan media gambar gerak memiliki rata-rata 10,16 dan kelas yang diberi perlakuan dengan media gambar diam memiliki rata-rata 14,83. Saran dalam penelitian ini adalah guru dianjurkan untuk menggunakan media gambar gerak dalam menyampaian materi yang sifatnya abstrak dan menggunakan gambar diam untuk menyampaikan materi yang menunjukkan suatu proses. Peneliti lanjut sebaiknya menggunakan soal uraian sehingga kemampuan siswa dalam memahami suatu proses dapat terukur.

Hubungan kemampuan komunikasi widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat perkoperasian dasar di UPT Diklat Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur / Irham Yudha Permana

 

Permana, Irham Yudha. 2013. Hubungan Kemampuan Komunikasi Widyaiswara dengan Prestasi Belajar Peserta Diklat Perkoperasian Dasar di UPT Diklat Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. M. Ishom Ihsan, M.Pd, (II) Dr. Zulkarnaen Nasution, M.Pd Kata Kunci : kemampuan komunikasi, widyaiswara, prestasi belajar Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam diklat merupakan salah satu bentuk dari proses komunikasi. Widyaiswara memiliki tanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga widyaiswara dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, data evaluasi kepada fasilitator/widyaiswara pada pelaksanaan Diklat Perkoperasian Dasar Tahun 2012, fasilitator dengan nilai tertinggi mendapatkan nilai delapan puluh tiga koma sembilan dan terendah mendapatkan nilai delapan puluh tiga koma enam. Dari penilaian terhadap lima orang widyaiswara, didapat nilai rata-rata delapan puluh tiga koma tujuh. Sedangkan dari data evaluasi terhadap peserta melalui post-test didapat data nilai rata-rata pos- test enam puluh tiga koma tujuh belas dengan nilai tertinggi tujuh puluh tujuh koma lima. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi widyaiswara, prestasi belajar peserta diklat perkoperasian dasar, dan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan kemampuan komunikasi widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat perkoperasian dasar. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan angket. Analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, koding, tabulasi data, mendeskripsikan data, melakukan analisis deskriptif, dan melakukan analisis korelasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kemampuan komunikasi widyaiswara pada pelaksanaan diklat perkoperasian dasar yang dinilai dari kredibilitas, daya tarik, dan kekuatan widyaiswara diperoleh kesimpulan bahwa widyaiswara memenuhi syarat sebagai pendidik. Kedua, prestasi belajar peserta diklat perkoperasian dasar mengalami peningkatan yang signifikan. Ketiga, terdapat hubungan yang positif antara kemampuan komunikasi widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat perkoperasian dasar. Berdasarkan temuan penelitian, disampaikan beberapa saran sebagai berikut: (1) Bagi UPT Diklat Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur hendaknya mempertahankan atau bahkan meningkatkan kemampuan komunikasi widyaiswara. (2) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah hendaknya mengembangkan program-program pelatihan keterampilan berkomunikasi bagi tenaga pendidik atau pengajar.

Pengaruh variasi kecepatan potong dan media pendingin (coolant) pada mesin bubut terhadap tingkat kekasaran permukaan benda kerja / Sari Gunawan

 

Gunawan, Sari. 2013. Pengaruh Variasi Kecepatan Potong dan Media Pendingin (Coolant) pada Mesin Bubut Terhadap Tingkat Kekasaran Permukaan Benda Kerja. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Maftuchin Romlie, M.Pd, (II) Drs. H. Abdul Qolik, M.M, M.Pd. Kata Kunci: kecepatan potong, media pendingin (coolant), kekasaran permukaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan tingkat kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan pada variasi kecepatan potong mesin bubut, (2) perbedaan tingkat kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan pada variasi pendingin (coolant) mesin bubut, dan (3) perbedaan tingkat kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan pada variasi kecepatan potong dan media pendingin (coolant) mesin bubut. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimental yang melibatkan beberapa variabel. Variabel tersebut diantaranya adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah (a) variasi kecepatan potong dan (b) media pendingin (coolant), sedangkan variabel terikat merupakan hasil kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan rata. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan: (1) kecepatan potong berpengaruh terhadap hasil kualitas permukaan benda kerja. Semakin tinggi kecepatan potong yang digunakan maka hasil kualitas semakin baik. Kecepatan potong yang tinggi mengakibatkan menurunnya gaya potong dan luas penampang bidang geser. Pada saat putaran spindel tinggi maka kecepatan potong akan sejalan semakin tinggi dan mengakibatkan luas penampang semakin sempit, penyempitan luas penampang yang dihasilkan akan berpengaruh semakin baik hasil kualitas permukaan, (2) pada media pendingin yang digunakan tidak ada perbedaan tingkat kekasaran permukaan benda kerja. Tidak berpengaruhnya media pendingin terhadap tingkat kekasaran permukaan benda kerja ini diakibatkan karena pencampuran media pendingin yang digunakan masih dalam tingkat kosentrasi kekentalan yang sama, (3) dalam gabungan antara kecepatan potong dan media pendingin ditemukan bahwa hasil kekasaran yang paling baik (paling halus) adalah kecepatan putar 2000 rpm pada kecepatan potong 170 m/menit dan perbandingan media pendingin 1:2. Semakin tinggi kecepatan potong dan perbandingan media pendinginya lebih pekat maka nilai hasil kekasaran yang dihasilkan akan semakin rendah (halus).

Proportion of language skills in English textbook English On Sky 1 / Andri Wibisono

 

Kata kunci: proporsi keterampilan bahasa Inggris, buku pelajaran bahasa Inggris, keseimbangan penyajian Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa buku bahasa Inggris English on Sky 1 yang diterbitkan oleh Erlangga. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengalanisa proporsi dari penyajian keterampilan dalam berbahasa Inggris yang terdapat pada sebuah buku teks yang ditunjukkan oleh kegiatan-kegiatan yang ada pada buku teks. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahqualitative evaluative yang mana penulis akan melakukan evaluasi dan dan menjabarkannya secara deskriptif. Penulis mengevaluasi setiap unit yang ada pada buku tersebut untuk mengumpulkan informasi tentang proporsi penyajian keterampilan berbahasa Inggris. Data dikumpulkan dan dianalisa dengan menggunakan checklist sebagai instrumennya.Checklist tersebut berisi seluruh kegiatan yang ada di dalam buku dan dikembangkan sendiri oleh penulis. Checklist yang digunakan juga telah divalidasi oleh pembimbing penelitian ini. Kemudian, data yang didapat diinterpretasikan dengan menggunakan persentase. Buku teks Bahasa Inggris, English On Sky 1, memiliki tujuh unit. Setiap unit memiliki dua bagian utama, Lets listen and talk dan Let’s read and write. Setiap bagian dibagi kembali menjadi empat bagian yang berbeda, Let’s build the field, Let’s learn the model, Let’s learn to construct text, dan Let’s construct text. setiap ketrampilan yang disajikan pada setiap kegiatan ditentukan oleh jenis dari latihan yang terdapat pada setiap kegiatan. Setiap kegiatan mempunyai kemungkinan untuk menyajikan lebih dari satu ketrampilan Secara keseluruhan, buku teks English on Sky 1 menyajikan keterampilan menulis (writing) dengan persentase sebesar 29%, diikuti dengan keterampilan berbicara (speaking) dengan persentase 26%, mendengarkan (listening) dengan 25%, dan membaca (reading) 20%. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan yang ada lebih menonjolkan keterampian menulis. Namun, keterampilan berbicara dan mendengarkan masih memiliki porsi yang besar yang dapat membuat peserta didik menjadi komunikatif. Keterampilan membaca memiliki porsi paling sedikit karena masih sedikitnya jenis teks yang diperkenalkan kepada peserta didik. Berdasarkan hasil yang ada, buku teks tersebut bagus untu para peserta didik, karena buku tersebut dibuat berdasarkan standar yang diberikan oleh pemerintah. Buku ini juga memiliki banyak kegiatan yang menintegrasikan ketrampilan berbahasa Inggris. Pada sebuah kegiatan memungkinan untuk para peserta didik belajar berbicara dan membaca. Tujuan penulis dalam memberikan proporsi yang besar kepada ketrampilan menulis adalah untuk meminimalisasi kesalahan dan meningkatkan rasa percaya diri para peserta didik. Kelemahan dari buku ini adala porsi ketrampilan membaca yang rendah. Berdasarkan kesimpulan, penulis buku teks disarankan untuk meningkatkan kualitas buku dengan menambahkan lebih banyak kegiatan yang menyajikan keterampilan membaca, yang dapat dipadukan dengan keterampilan berbicara. Penulis dari buku juga disarankan untuk menambahkan jenis teks yang ada, karena saat ujian nasional para peserta didik akan dihadapkan dengan banyak bacaan. Terlebih lagi, untuk para guru disarankan untuk mengambil contoh teks diluar buku teks yang dapat dipadukan dengan materi yang ada pada buku itu sendiri untuk menutupi kekurangan teks yang ada..

Penggunaan media audio visual gerak dalam pembelajaran demokrasi sebagai upaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan pada siswa kelas VIII MTs Persiapan Bendunganjati Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto / Ninda Andriwati

 

Andriwati, Ninda. 2013. Penggunaan Media Audio Visual Gerak Dalam Pembelajaran Demokrasi Sebagai Upaya Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan Pada Siswa Kelas VIII A MTs Persiapan Bendunganjati Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M. Pd, M. H (II) Drs. KT. Diara Astawa, S. H, M. Si Kata kunci: Media Audio Visual Gerak, Pembelajaran Demokrasi, Pembelajaran yang Menyenangkan. Lembaga pendidikan berusaha meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Usaha dalam meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain dengan mengembangakan media pembelajaran, menerapkan media pembelajaran serta memilih dan menetapkan jenis media pembelajaran yang digunakan. Media audio visual gerak adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi), meliputi media yang dapat dilihat, didengar dan yang dapat dilihat dan didengar. Penekanan utama dalam pengajaran dengan menggunakan media audio visual gerak adalah agar siswa merasa aman, nyaman dan gembira pada saat proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah media audio visual gerak mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan pada siswa serta penerapannya pada materi demokrasi mata pelajaran PKn siswa kelas VIII A MTs Persiapan Bendunganjati. Penelitian ini dilakukan di MTs Persiapan Bendunganjati, Jln Tirto Wening KM 4, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Penelitian yang peneliti lakukan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Urutan kegiatan penelitian mencakup: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi (4) refleksi. Dalam pengumpulan data menggunakan teknik observasi, catatan lapangan, wawancara, soal tes dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Untuk uji keabsahan data penulis menggunakan dua teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media audio visual gerak pada mata pelajaran PKn dengan materi demokrasi mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan pada siswa kelas VIII A MTs Persiapan Bendunganjati. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil observasi selama proses pembelajaran yang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil observasi aktivitas guru pada siklus II bernilai sebesar 51 yang termasuk dalam rentang baik sekali, hal ini mengalami kenaikan dibandingkan pada siklus I yang hanya bernilai sebesar 47, sedangkan aktivitas siswa pada siklus II yaitu sebesar 68 yang juga termasuk dalam rentang baik sekali, hal ini juga mengalami kenaikan dibandingkan dengan siklus I yang hanya memperoleh nilai sebesar 58. Selain itu dari hasil tes siswa ii yang dilakukan setelah pelaksanaan siklus II rata-rata nilai siswa adalah 88,79 dengan presentase ketuntasan belajar siswa 91,17% sedangkan rata-rata nilai tes siklus I adalah 82,17 dan persentase ketuntasan belajar siswa 70,6%. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa ada peningkatan penggunaan media audio visual gerak dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan pada siswa kelas VIII A MTs Persiapan Bendunganjati dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar pembelajaran menggunakan media audio visual gerak dapat dijadikan salah satu alternatif pilihan bagi guru bidang studi PKn atau guru bidang studi lainnya untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, dan juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, untuk menerapkan dan mengembangkan media audio visual gerak ini pada materi yang lain dan mata pelajaran lain.

Dapur kowi efisien bahan bakar dilengkapi burner dengan bahan bakar penambah oli bekas / Hermantinu Pambudi, Lukman Fachruddin

 

Pambudi, Hermantinu & Fachruddin, Lukman. 2013. Dapur Kowi Efisien Bahan Bakar Dilengkapi Burner Dengan Bahan Bakar Penambah Oli Bekas. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Putut Murdanto, S.T., M.T., (II) Dr. Tuwoso, M.Pd. Kata Kunci: Dapur pelebur, Oli bekas, Blower, Alumunium Salah satu proses pendaur ulangan logam khususnya alumunium adalah melalui proses pengecoran. Dalam pengecoran logam diperlukan dapur pelebur sebagai sarana untuk melebur logam. Pembakaran yang dilakukan untuk peleburan logam non-ferro khususnya alumunium, pada umumnya menggunakan burner dengan bahan bakar minyak. Melonjaknya harga minyak mendorong industri peleburan logam skala kecil dan lembaga pendidikan mengganti burner berbahan bakar minyak dengan burner berbahan bakar gas (LPG). Konversi bahan bakar minyak menjadi gas tersebut, dirasa perancang masih kurang efisien, karena dalam sekali peleburan alumunium dengan kapasitas ± 8 kg memerlukan gas LPG 12 kg. Selain itu, waktu yang diperlukan dalam peleburan alumunium hingga mencapai titik cair memerlukan waktu lebih dari 2 jam. Waktu yang begitu lama tersebut akan mengurangi produktivitas dan keefisienan pada pengecoran. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk sekali pengecoran untuk bahan bakar gas LPG adalah Rp75.000,00, untuk bahan bakar minyak tanah adalah diatas Rp100.000,00. Dari hasil observasi yang dilakuakan di industri-industri dan lembaga pendidikan tersebut, data-data di atas merupakan suatu kendala yang signikan untuk diperbaharui. Untuk itu dibuat dapur kowi efisien bahan bakar dilengkapi burner dengan bahan bakar penambah oli bekas. Dapur ini selain efisien terhadap waktu, juga efisien bahan bakar, karena kowi terbuat dari besi stainless steel dan menggunakan bahan bakar LPG dan oli bekas. Tujuan dari pembuatan dapur ini adalah sebagai solusi untuk pengecoran yang lebih efisien. Selain itu, juga sebagai sarana pemanfaatan bahan b3 yaitu oli bekas. Dapur ini sangat bermanfaat bagi masyarakat karena dapat meningkatkan kegiatan produksi dibidang pengecoran dengan biaya yang relatif kecil, sebagai bukti berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dapat memanfaatkan bahan b3 sebagai bahan bakar. Dapur peleburan ini dibuat dari semen tahan api yang rekatkan (cor) pada dinding, atap, dan dasar dapur. Dapur lebur mempunyai tinggi 50 cm, diameter luar 39 cm, dan diameter dalam 28 cm. Prinsip kerja dapur peleburan ini, yaitu dengan mengalirkan gas LPG sebagai bahan bakar untuk pemanasan ruang bakar yang didukung dengan tekanan udara dari blower yang digerakan oleh tenaga listrik. Setelah ruang bakar panas (memerah) oli bekas dikabutkan untuk melebur alumunium. Peleburan 15 kg alumunium menggunakan bahan bakar oli bekas diperlukan 5,5 liter (biaya Rp. 11.000,00), dan memerlukan waktu peleburan 83 menit. Dapur kowi efisien bahan bakar dilengkapi burner ini, dalam pengoperasianya sebaiknya mengikuti panduan prosedur pengoperasian, agar dalam proses pengecoran logam berjalan dengan baik.

Identifikasi persepsi konsep sukar dan kesalahan konsep energi ikatan pada siswa kelas XI SMAN 10 Malang tahun ajaran 2012/2013 / Unsa Wuriana Safitri

 

Kata Kunci: persepsi konsep sukar, kesalahan konsep, energi ikatan Persepsi konsep sukar merupakan persepsi siswa terhadap konsep yang dianggap sukar dan diukur oleh soal diagnostik dengan persentase jawaban salah siswa (PJS) lebih besar atau sama dengan 61%. Oleh karena itu harus segera diatasi. Persepsi konsep sukar yang tidak segera diatasi dapat menimbulkan kesalahan konsep. Kesalahan konsep adalah kesalahan yang terjadi secara terus-menerus serta menunjukkan kesalahan dengan sumber-sumber tertentu. Persepsi konsep sukar dan kesalahan konsep dapat terjadi pada konsep-konsep kimia, salah satunya adalah energi ikatan. Energi ikatan merupakan salah satu konsep dalam termokimia yang berkaitan dengan konsep-konsep sebelumnya, seperti konsep mol dan struktur Lewis. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi: (a) Persepsi konsep sukar yang dimiliki siswa SMAN 10 Malang kelas XI pada konsep energi ikatan berdasarkan persentase jawaban salah; (b) Persentase siswa yang mengalami kesalahan konsep berdasarkan kekonsistenan jawaban salah siswa; dan (c) Penyebab kesalahan siswa pada konsep energi ikatan. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 10 Malang tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari 59 siswa. Instrumen penelitian adalah tes diagnostik berbentuk pilihan ganda disertai dengan kolom alasan pemilihan jawaban siswa. Soal diagnostik disusun berdasarkan peta konsep dan indikator dalam kisi-kisi soal yang berpedoman pada KTSP 2006. Validitas dan reliabilitas soal diagnostik berturut-turut yaitu 77,8% dan 0,779 yang berarti bahwa soal layak digunakan dalam penelitian. Analisis data menggunakan korelasi biserial (Rbis). Penelitian didukung dengan wawancara untuk memperkuat alasan pemilihan jawaban kepada siswa yang diduga mengalami persepsi konsep sukar dan kesalahan konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Persepsi konsep sukar yang dialami siswa berdasarkan persentase jawaban salah (PJS) adalah konsep: mendefinisikan struktur Lewis yang benar sebesar 84,75%, menggambarkan struktur Lewis dengan benar sebanyak 66,10%, jumlah ikatan sebesar 77,97%, pemutusan dan pembentukan ikatan sebesar 69,49%, energi ikatan rata-rata sebesar 76,27%, dan energi disosiasi sebesar 64,41%. (2) Persentase siswa yang mengalami kesalahan konsep berdasarkan kekonsistenan jawaban salah siswa (PK) adalah: siswa tidak menentukan atom pusat dengan benar sebesar 38,98%, siswa tidak dapat menentukan elektron valensi dengan tepat sejumlah 76,27%, siswa menganggap jumlah ikatan antara dua atom baik yang sama atau berbeda dalam suatu senyawa dihitung satu ikatan adalah 15,29%, siswa tidak menyetarakan persamaan reaksi sejumlah 5,08%, siswa tidak menuliskan persamaan reaksi pembentukan dengan benar sebesar 5,08%, siswa tidak memahami satuan konversi sejumlah 6,78%. (3) Penyebab kesalahan adalah siswa mengalami kesukaran: (a) memahami konsep-konsep sebanyak 6,78%; (b) angka dan memahami istilah sebesar 1,69%; (c) angka dan memahami konsep sebanyak 10,17%; (d) memahami istilah dan konsep sejumlah 27,12%; serta (e) angka, memahami istilah, dan konsep sebesar 54,24%.

Penerapan model pembelajaran TTW (Think Talk Write) untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VIII-A pokok bahasan garis singgung lingkaran MTs Thoriqul Ulum Mojokerto / Suharni Nurrohmah Ihsaniwati

 

Kata Kunci: TTW (Think Talk Write), pemecahan masalah Berdasarkan observasi awal dan wawancara informal yang dilakukan pada tanggal 21 Februari 2013 dengan guru Matematika kelas VIII-A MTs Thoriqul Ulum diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi guru dan siswa masih kesulitan dalam pemecahan masalah. Dari 30 siswa hanya sekitar tujuh siswa saja yang bisa menuliskan langkah pemecahan masalah dengan benar, yaitu menuliskan apa yang diketahui dan ditanya. Tapi mereka masih belum bisa memberikan kesimpulan. Sedangkan siswa yang lain dalam penyelesaian masalah matematika mengerjakan dengan tanpa menuliskan apa yang diketahui, ditanyakan, sehingga menyebabkan siswa seringkali salah persepsi dan tidak menjawab apa yang ditanyakan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang sesuai yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yaitu model pembelajaran TTW (Think Talk Write). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model TTW (Think Talk Write) yang dapat meningkatkan pemecahan masalah siswa kelas VIII-A MTs Thoriqul Ulum pokok bahasan garis singgung lingkaran. Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VIII-A MTs Thoriqul Ulum pokok bahasan garis singgung lingkaran menggunakan model pembelajaran TTW (Think Talk Write). Penelitian ini dilaksanakan di MTs Thoriqul Ulum, Ketapan Rame, Trawas, Mojokerto dengan subjek siswa kelas VIII-A dengan siswa berjumlah 30 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuis, dan hasil pengamatan. Pada penelitian ini, inti dari langkah- langkah pembelajaran dengan model TTW (Think Talk Write) adalah membaca permasalahan secara individu, berdiskusi dengan kelompok, dan menuliskan hasil diskusi secara individu. Dan hasil dari pembelajaran tersebut adalah kemampuan pemecahan siswa meningkat dari siklus I yang hanya mencapai 65,64% atau 19 siswa memperoleh kategori baik dan sangat baik, menjadi 76,7% atau 23 siswa memperoleh kategori baik dan sangat baik pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran TTW (Think Talk Write) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VIII-A MTs Thoriqul Ulum.

Pemanfaatan teknologi mesin pipil kapasitas 150kg/jam sebagai sarana pengefektifan hasil panen jagung / Daniel Arisang Setia Kusuma, Irfan Syah Adi Putra

 

Kata Kunci : mesin pipil jagung Tugas Akhir Mesin Pipil Jagung yang memiliki panjang 800 mm, lebar 330 mm, tinggi 750 mm, daya motor 3/4 HP, kapasitas mesin 2,5 kg/menit. Tujuan alat ini adalah alat yang digunakan untuk memipil jagung yang memisahkan biji jagung dengan tongkolnya. Dalam pengoprasiannya mesin pipil tersebut menggunakan pisau berbentuk silinder yang diputar dengan motor, prosesnya jagung didorong dan akan rontok ketika mengenai pisau yang berputar. Metode pengembangan alat ini adalah dapat diproduksi secara masal, dan dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar dengan daya yang sama. Hasil uji coba menunjukkan biji jagung dapat terpisah dari tongkol dengan baik, yaitu tidak terjadi pecah pada biji jagung. Sedangkan tongkol jagung juga utuh sehingga bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar pengganti minyak. Kesimpulan: Mesin pipil jagung kapasitas 150 kg/jam dengan daya ¾ PK dapat dipergunakan oleh petani maupun UKM (Usaha Kecil Menengah) makanan ringan, dengan harga yang relatif murah, dan ukuran yang tidak terlalu besar mesin pipil ini bisa dimiliki oleh perseorangan atau kelompok.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray untuk meningkatkan komunikasi matematis tertulis siswa kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari Pasuruan / Dian Mayasari

 

Mayasari, Dian. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Komunikasi Matematis Tertulis Siswa Kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari Pasuruan. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sri Mulyati, M.Pd Kata Kunci: komunikasi matematis tertulis, two stay two stray.     Berdasarkan wawancara dengan guru matematika kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari, selama beliau mengajar fungsi komposisi dan inversnya di kelas XI IPA terindikasi siswa mengalami kesulitan dalam mengkomunikasikan ide matematisnya secara tertulis. Terlebih di kelas XI IPA 5 siswa terlihat kesulitan dalam menuliskan ide matematisnya yang tertuang pada hasil ulangan harian. Hal ini menimbulkan keprihatinan guru dan peneliti untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa khususnya pada materi fungsi. Apalagi menurut NCTM (2003) komunikasi matematis merupakan skill yang harus dimiliki siswa. Oleh karena itu diperlukan suatu prosedur pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas XI IPA 5.     Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis tertulis siswa kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Data diperoleh dari hasil tes kemampuan komunikasi matematis siswa dan lembar observasi aktivitas guru. Data tersebut dianalisis lalu dibahas dan pada akhirnya dapat diambil suatu kesimpulan. Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan oleh dua validator diperoleh instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran telah valid. Sedangkan berdasarkan lembar observasi kegiatan guru, guru selalu memberi bimbingan saat siswa berkelompok dan arahan melalui pertanyaan pancingan. Pada siklus pertama, rata-rata nilai siswa 69,79 dan hanya 50% siswa mendapat nilai minimal 75. Pada siklus kedua, rata-rata nilai siswa 79,625 dan 77,8% siswa mendapat nilai minimal 75 sehingga penelitian dikatakan berhasil. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa prosedur pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray yang dapat meningkatkan komunikasi matematis tertulis siswa kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari adalah: (1) siswa berkelompok secara heterogen; (2) siswa berdiskusi dengan kelompok asal mengerjakan LKS; (3) dua orang dari masing-masing kelompok bertamu ke dua kelompok yang berbeda; (4) tamu kembali ke kelompok asal untuk menyampaikan hasil temuan dari kelompok yang didatanginya; (5) diskusi kelas. Dengan dasar temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan agar penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray untuk dikembangkan lebih lanjut pada topik lain dalam upaya meningkatkan komunikasi matematis tertulis siswa dan dapat dikombinasikan dengan teknik lain misalkan dengan teknik talking stick, snowball throwing, dan sebagainya.

Ekstraksi TiO2 berbasis pasir Kabupaten Tulungagung melalui proses magnetic separation dan leaching H2SO4 serta karakterisasi konstanta dielektrik / Lingga Adistya Mukti

 

Ekstraksi TiO2 Berbasis Pasir Kabupaten Tulungagung melalui Proses Magnetic Separation dan Leaching H2SO4 serta Karakterisasi Konstanta Dielektrik

Jinas dan qafiyah dalam qasidah hadrah Basaudan karya Syaikh 'Abdullah bin Ahmad BAsaudan / Nur Laila Sa'idah

 

Penerapan Contextual Teaching ang Learning (DTL) dengan Group Investigation untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS Siswa (Penelitian Tindakan Kelas pada siswa kelas VIIIB SMP Negeri IV Borong) / Heronimus Emilianus Arjono Wejang

 

Wejang, Heronimus Emilianus Arjono. 2013. Penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Group Invesigation untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Siswa (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas VIII B SMP Negeri IV Borong). Tesis. Jurusan Pendidikan Dasar, PascasarjanaUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si., (II) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. Kata kunci: aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa, pendekatan Contextual Teaching and Learning,model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Pembelajaran IPS di sekolah diarahkan agar siswa menjadi warga negara yang cerdas, demokratis, mempunyai keterampilan sosial, keterampilan belajar dan kebiasaan bekerja dalam kelompok. Karena itu, pembelajaran IPS yang efektif adalah pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas belajar siswa serta tercapainya hasil belajar IPS yang memenuhi standar. Hasil observasi pelaksanaan pembelajaran IPS pada siswa kelas VIII B SMP Negeri IV Borong memperlihatkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru sedangkan siswa cenderung pasif. Selain itu, hasil belajar IPS siswa juga belum maksimal yang ditandai dengan rendahnya persentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam belajar. Untuk itu, perlu dirancang sebuah pembelajaran yang dapat mendorong keterlibatan aktif siswa serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan untuk mendorong aktivitas belajar serta meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII B SMP Negeri IV Borong yang berjumlah 35 orang siswa yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Data yang dikumpulkan adalah data keterlaksanaan pembelajaran, data aktivitas belajar siswa, data hasil belajar siswa serta data tanggapan siswa terhadap penerapan CTL dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI dalam pembelajaran IPS. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan angket. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat pertemuan tatap muka di kelas dan satu kali kegiatan investigasi kelompok yang dilaksanakan di luar jam pelajaran di sekolah. Persentase keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I mencapai 88,5 % dan pada siklus II mencapai 95,25%. Persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 68,6% dan pada siklus II menjadi 85,71%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan yang dapat dilihat pada persentase ketuntasan klasikal yaitu pada siklus I mencapai 88,57% dan pada siklus II mencapai 100% . Selain itu, penerapan Contextual Teaching and Learning dengan Group Investigation mendapat tanggapan yang positif dari siswa. Pada siklus I, 17,14% siswa yang memberikan tanggapan dengan kategori sangat baik dan 82,86% siswa memberikan tanggapan dengan kategori baik. Pada siklus II, 57,14% siswa yang memberikan tanggapan dengan kategori sangat baik dan 42,86% siswa memberikan tanggapan dengan kategori baik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan Contextual Teaching and Learning dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII B SMP Negeri IV Borong. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar para guru meningkatkan keterampilannya dalam menerapkan berbagai pendekatan dan model pembelajaran antara lain pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Kepada pihak sekolah disarankan agar mendorong para gurunya serta menciptakan lingkungan akademik yang kondusif bagi guru dan siswa dalam menerapkan berbagai pendekatan dan model pembelajaran pada umumnya, pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada khususnya. Akhirnya, peneliti juga menyarankan kepada peneliti selanjutnya agar menggunakan hasil penelitian ini untuk keperluan penelitian yang relevan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran mencari kata (word square) siswa kelas V SDN Ponggok 03 Kabupaten Blitar / Fitri Aida

 

Kata Kunci: ips, word square, hasil belajar Dari hasil observasi di lapangan diketahui bahwa proses pembelajaran masih belum berjalan optimal, siswa kurang begitu antusias dalam menerima pelajaran, hal tersebut disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan guru masih menggunakan model konvensional yang kurang bervariasi yaitu hanya berpusat pada guru, dimana guru hanya menerangkan, kemudian siswa mencatat, dan diberikan soal pada buku paket untuk dikerjakan. Sehingga dari 18 siswa hanya 5 siswa (27.78%) yang nilainya diatas KKM yaitu 70, itupun nilainya kurang memuaskan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran word square dan mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas V SDN Ponggok 03 Kabupaten Blitar Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas V SDN Ponggok 03 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2011/2012. Data yang diperoleh berupa hasil soal evaluasi, lembar observasi kegiatan belajar mengajar (aktivitas guru dan siswa di dalam kegiatan pembelajaran). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran word square di dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas siswa dimana hasil dari hasil observasi diketahui bahwa pada pada siklus I pertemuan I mencapai nilai rata-rata kelas 66.67% untuk aspek ketepatan, sedangkan aspek kerjasamanya70.33% dan aspek keberaniannya 75.88%. Pada pertemuan II ketiga aspek mengalami kenaikan meskipun sedikit yaitu pada aspek ketepatan nilai rata-rata kelasnya adalah 75.94%, aspek kerjasama 75.94% dan keberanian 79.61%. Pada siklus II pertemuan I mencapai nilai rata-rata kelas 83% untuk aspek ketepatan, sedangkan aspek kerjasamanya79% dan aspek keberaniannya 78%. pada pertemuan II ketiga aspek mengalami kenaikan meskipun sedikit yaitu pada aspek ketepatan nilai rata-rata kelasnya adalah 92%, aspek kerjasama 85% dan keberanian 83%. Sedangkan hasil belajar siswapun mengalami ketuntasan baik secara perorangan maupun klasikal.Terbukti dengan pra siklus 65.22%, siklus I menjadi 70.97%, siklus II menjadi 88.89%. Penerapan model pembelajaran word square pada pembelajaran IPS kelas V SDN Ponggok 03 Kabupaten Blitar dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ini dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa.

Strategi hubungan masyarakat untuk menarik minat orang tua dalam menyekolahkan anaknya di SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Kota Malang / Safrilia Ayu Nani

 

Nani, Safrilia Ayu. 2013. Strategi Hubungan masyarakat untuk Menarik Minat Orangtua dalam Menyekolahkan Anaknya di SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Malang. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd. Kata Kunci: strategi humas, minat orangtua Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan yang didirikan oleh dan untuk masyarakat, karena pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Untuk itu harus ada kerjasama antara sekolah dengan masyarakat dalam membangun sekolah agar dapat mencapai tujuan sekolah. Hubungan masyarakat (humas) di sekolah satu atap harus mendapat perhatian yang lebih karena kondisi lingkungan geografis yang terpencil dan kondisi sosial ekonomi yang masih dibawah rata-rata. Jadi harus ada strategi hubungan sekolah dengan masyarakat (humas) yaitu bagaimana pihak sekolah untuk menarik minat orangtua agar menyekolahkan anaknya di sekolah satu atap minimal 9 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) gambaran umum dan profil SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Kota Malang; (2) kondisi lingkungan geografis dan lingkungan sosial budaya masyarakat di Desa Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang; (3) minat orangtua dalam menyekolahkan anaknya di SMPN Satap Lesanpuro 2 Kota Malang; (4) strategi humas yang dilakukan SMP Negeri Satu Atap Lesanpuro 2 Kota Malang dalam menarik minat orangtua dalam menyekolahkan anaknya di SMP Negeri Satu Atap Lesanpuro 2 Kota Malang; (5) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan strategi humas untuk menarik minat orangtua dalam menyekolahkan anaknya di SMP Negeri Satu Atap Lesanpuro 2 Kota Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis dan rancangan studi kasus. Data yang diperoleh berupa informasi yang terkait dengan fokus penelitian yang diperoleh dari metode pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif dengan cara (1) reduksi data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan/penyajian data, (4) penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan (1) mengadakan pengamatan secara terus-menerus, (2) mengadakan trianggulasi, dan (3) menggunakan bahan referensi. Temuan penelitian ini adalah: (1) gambaran dan profil SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Kota Malang ini diantaranya meliputi lokasi sekolah, visi dan misi, kondisi peserta didik, kondisi guru, KBM dan kurikulum, ekstrakurikuler, dan sarana prasarana sekolah; (2) kondisi lingkungan geografis Desa Lesanpuro yaitu terletak di daerah pegunungan, jarak tempuh ke sekolah cukup jauh, kondisi ekonomi, sosial dan budayanya masih rendah, (3) minat orangtua dalam menyekolahkan anaknya juga masih kurang karena kondisi sosial ekonomi kurang mendukung, yaitu latar belakang pendidikan yang rendah dan ekonomi orangtua yang tergolong prasejahtera, (4) strategi humas untuk menarik minat orangtua dalam menyekolahkan anaknya yaitu bekerjasama dengan komite sekolah dan orangtua peserta didik, kerjasama dengan SD-SD terdekat, kerjasama antar personil sekolah dalam mengembangkan sekolah sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat, (5) faktor pendukungnya adalah karena sekolah ini gratis, kerjasama yang baik dengan masyarakat sekitar, dan kekompakan para guru sedangkan faktor penghambatnya karena kondisi ekonomi, sosial, budaya masyarakat.     Dari hasil temuan disarankan sebagai berikut: (1) Bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, hasil penelitian ini menemukan bahwa SMPN Satap Lesanpuro 2 Kota Malang ini dapat dikatakan mempunyai kriteria bagus yaitu dari segi sarana dan prasarana yang sudah memadai, jumlah peserta didik yang sudah banyak untuk itu sudah sewajarnya SMPN Satap Lesanpuro 2 ini untuk dijadikan SMP regular. (2) Bagi Kepala Sekolah SMPN Satu Atap Lesanpuro 2, diharapkan terus meningkatkan hubungan masyarakat diantaranya dalam menjalin hubungan kerjasama dengan para guru dan masyarakat sekitar. Karena dukungan dan kerjasama para guru dan masyarakat dapat membawa sekolah mencapai tujuan yang diinginkan. (3) Bagi Waka Humas SMPN Satu Atap Lesanpuro 2, diharapkan dapat membina hubungan baik dengan para guru dan masyarakat sekitar. Membuat strategi-strategi lain salah satu satunya yaitu dengan memanfaatkan perkumpulan tahlilan sebagai media untuk mempromosikan dan mensosialisasikan sekolah, agar semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya di SMPN Satu Atap Lesanpuro 2. (4) Bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan ilmu Administrasi Pendidikan khususnya di disiplin ilmu Manajemen Humas. (5) Bagi Masyarakat, diharapkan dapat sadar terhadap pendidikan, karena pendidikan itu sangat penting bagi anak-anak. Lebih-lebih sekolah ini adalah sekolah gratis. Jadi selagi ada kesempatan untuk bersekolah, orangtua diharapkan agar memotivasi putra-putrinya agar giat untuk bersekolah. (6) Bagi Peneliti Lain, diharapkan untuk dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan penelitian sejenis, terutama tentang strategi humas sehingga memiliki referensi yang lebih banyak secara Ilmiah.

Meningkatkan hasil belajar serta partisipasi siswa melalui pendekatan tutor sebaya dengan model PBL (Problem Based Learning) pada pembelajaran TIK di kelas X-1 SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang / Oktario Dwi Indrawan

 

Kata Kunci: Metode Belajar, Problem Based Learning, Tutor Sebaya, Hasil Belajar, Partisipasi Siswa, TIK SMA. Gelombang konstruktivisme telah membawa pergeseran paradigma berfikir mengenai proses belajar di kelas. Pergeseran ini juga membawa perubahan metode-metode yang dikembangkan dalam proses belajar mengajar. Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dianggap sesuai dan mulai banyak dikembangkan. Berdasarkan data hasil belajar TIK siswa dapat diketahui bahwa kualitas partisipasi siswa dan hasil belajar pembelajaran TIK yang ada di SMA Negeri 1 Tumpang masih kurang dari harapan guru-guru TIK. Masalah pembelajaran TIK diamati dari nilai rata-rata ujian tengah semester pada semester I tahun pelajaran 2011/2012 untuk kelas X-1 sampai X-9 sebesar 53. Skor tersebut mengindikasikan bahwa pemahaman siswa kelas X masih mengalami kesulitan untuk memahami dan menerima materi. Guru juga menyadari mungkin dari kesalahan menerapkan metode pembelajaran yang masih menggunakan ceramah dan hanya menggunakan simulasi dari contoh gambar saja, maka sebagian besar siswa masih pasif dan pembelajaran yang didapatkan hanya terpusat dari guru. Berdasarkan hasil diskusi dan refleksi terhadap masalah tersebut disepakati bahwa pemecahan masalah akan dilakukan dengan menggunakan model-model siklus belajar kooperatif. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar TIK siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang melalui implementasi metode Problem Based Learning dan pendekatan tutor sebaya yang dilaksanakan secara kolaborasi antara peneliti dan guru TIK yang mengajar dikelas tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua sampai tiga siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subyek penelitian menggunakan siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Tumpang kabupaten Malang (33 orang siswa).

Pembangunan sistem informasi bimbingan dan konseling di SMKN 2 Malang / Dwi Sagita Tjipta

 

Kata Kunci : Sistem informasi, bimbingan dan konseling, SMK. Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok. Pada kenyataan di lapangan beban kinerja bimbingan konseling tidak hanya terpaku pada bidang pelayanan pada siswa, namun bidang pelayanan bimbingan konseling lebih luas dari itu. Seperti pada bimbingan konseling yang menjadi objek penelitian pengembangan ini yaitu bimbingan konseling pada SMKN 2 Malang memiliki tugas tambahan yaitu melakukan rekap ulang banyak administrasi yang berhubungan dengan siswa. Kondisi yang seharusnya terjadi adalah bagian bimbingan konseling harus memiliki sebuah sistem informasi yang mampu mencakup informasi dari tugas bimbingan konseling. Tujuan pembangunan sistem informasi bimbingan konseling adalah untuk meningkatkan efektifitas kerja, mempersingkat waktu, dan menghemat energi dari anggota bimbingan konseling SMKN 2 Malang. Tujuan untuk pihak sekolah adalah pelaporan yang lebih terstruktur untuk pengembangan sekolah, pengambilan keputusan, atau pemecahan masalah. Tujuan untuk pihak orang tua adalah untuk melibatkan orang tua dalam pengawasan kedisiplinan siswa dan pemecahan masalah siswa. Model pengembangan yang digunakan dalam sistem informasi bimbingan konseling ini adalah model SDLC yang telah digabungkan dengan metode prototipe. Sistem informasi bimbingan konseling dikembangkan dengan berbasis web. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah PHP dan MySQL untuk basis data pada bagian server-side. Pada bagian client-side digunakan bahasa pemrograman HTML, Javascript, Ajax, dan Jquery. Hasil pengembangan ini adalah sebuah sistem informasi yang telah mendukung kenyamanan kerja pada pengguna, informasi terstruktur yang mudah untuk dibaca dan dilaporkan, dan pembaharuan data yang mudah untuk dilakukan. Sistem informasi ini telah dilengkapi dengan teknologi yang memberikan kenyamanan pada pengguna berupa animasi, transisi, dan komunikasi dengan pengguna.

Sistem monitoring akhlak mulia dan kepribadian siswa di SMA Negeri 1 Genteng / Alif Akbar Fitrawan

 

Evaluasi program kerja Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Malang tahun 2012 dengan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) / Aminurrohman Rinuji Kusuma Wardhani.

 

Kata Kunci: program kerja, PASI Kota Malang, evaluasi, CIPP Pengertian program adalahsuatu unit ataukesatuankegiatan yang merupakanrelisasiatauimplementasidarisuatukebijakan, berlangsungdalam proses berkesinambungandanterjadidalamsuatuorganisasi yang melibatkansekelompok orang.Program kerjaadalahsuatukegiatan yang dilakukansecaraberkesinambungan yang bertujuanmengendalikandanmengontrolkegiatan yang dilakukanoleh orang yang terlibatdalamkegiatantersebut agar semuakegiatanbisaberjalandenganbaik. PASI Kota Malang merupakansalahsatuindukcabangolahragayanberada di bawahnaungan KONI Kota Malang yang melakukanpembinaanprestasipadacabangolahragaatletik.Kantor PASI Kota Malang berada di StadionGajayanaPintuTimur Jl. TangkubanPerahu No. 2 Malang.Kegiatandari PASI yang utamaadalahmelatihatlet-atletuntukberprestasi.Pelatihannyadilakukansejakusiadini. Sehingganantinyapadasaatusiaremajasudahmemilikikonseplatihan yang baikdan yang dilakukansecaraberkesinambungansesuaidengan program latihandaripelatih. Sampaisaatinibelumpernahdiadakanevaluasioleh KONI Kota Malang terkait program kerjadarimasing-masingcabangolahraga yang berada di bawahnaungan KONI Kota Malang khususnya PASI Kota Malang yang merupakanorganisasianggota yang beradadalamnaungan KONI Kota Malang. Penelitianinidilaksanakandengantujuanuntukmengevaluasiserangkaiankegiatan program kerja PASI Kota Malang selamatahun 2012.Model penelitian yang digunakanadalah model penelitian CIPP (Context, Input, Process, Product) sertamenghasilkanrekomendasibagiparapengambilkeputusanuntukmenidaklanjuti program kerja PASI Kota Malang tahun 2012 yang telahberjalantersebut. Penelitianevaluasi program kerja PASI Kota Malang tahun 2012 inidilakukandenganmenggunakanmetodepenelitiankualitatifdankuantitatif.Instrumenpengumpulan data dalampenelitianinimenggunakan instrument wawancaraterstruktur, dokumentasi, dankuisioner. Hasilpenelitian yang diperolehmenunjukkanbahwa variable context yang dimiliki PASI Kota Malang diperolehpersentasesebesar 100% dandikateorikanbaiksekali.Diantaranyamempunyaipengurus, atlet, danpelatih, kegiatanoperasionalsaranadanprasarana, danpendanaan. Variabelinput yang dimiliki PASI Kota Malang diperolehpersentasesebesar 77,5% dandikategorikanbaik. Mempunyaiatlet, pelatihdanpengurus yang untukmenjalankankegiatan yang telahdirencnakandalam program kerja PASI Kota Malang tahun 2012. Variabelprocess yang dimiliki PASI Kota Malang diperolehpersentasesebesar 71,7% dandikategorikanbaik. Hasiltersebutdiperolehdaripelaksanaanatlet 71,3%, pelaksanaanpelatih 71,4%, pelaksanaanpengurusbidangkesekretariatan 75%, pelaksanaanpengurusbidangpembinaanprestasi 100%, danbidangsaranadanprasarana 70%. Variabelproduct, berdasarkanhasilpenelitiandiperolehhasil 64% yang dikategorikanbaik.Hasiltersebutdiperolehdaripelaksanaan program kerja yang dilakukanolehatlet, pelatihndanpengurus PASI Kota Malang selamatahun 2012.Berdasarkanhasildaricontext, input, process,produk di atasdiperolehkesimpulanpersentasehasilyaitu 75% yang termasukdalamkategoribaik. Rekomendasiberdasarkanhasilpenelitianiniadalahmelanjutkan program kerjapadatahun 2012 denganpembenahanmenurut variable masing-masingyaitu: Context a) Perludiadakannyasosialisasimengenaipembuatanprogramkerjabagiseluruhpengurus PASI KotaMalang agar semuapengurusmengetahuipastirencanakegiatan yang akandijalankanuntuktahunberikutnya. b)Dalampembuatanprogramkerjahendaknyalebihdiperincimengenaiwaktu dan kegiatanapa saja yang direncanakanselamasatutahun. Terutamajadwalkejuaraanlebihdiperjelaslagikejuaraanapa yang harusdiikutiselamasatutahunolehatlet.UntukvariabelInput a) Perluadanyakriteria-kriteriakhususdalamperekrutanatletsehinggauntukpembinaanjangkapanjangbisaberjalanlebihbaikdanhasil yang dicapaibisalebihmaksimaldari yang sebelum-sebelumnya. b) Dalamperkrutanpengurushendaknyabenar-benar yang bersediadengan loyal untukmengembangkan PASI Kota Malang agar dalampelaksanaansetiapkegiatanbisalebihlebihbaikdalampembagiantugas. Untuk variable Processa) Pengurus yang sudahterdaftardanditunjukpadatiapbidang yang ada di PASI Kota Malang hendaknyalebihbertanggungjawabpadatugasnya agar pembagiantugasbisalebihmeratadantidakhanyadidominasioleh orang-orang tertentu yang benar-benaraktifsaja. b)Pengurusjugaharuslebihrajindalammendataprestasiatletselamamengikutikejuaraan agar data-data tersebutjikasuatusaatdiperlukanakanlebihmudahuntukmengetahuihasilkejuaraantersebut. c) Hasillatihanatlethendaknyadicatatdandibuatdaftarhasillatihandenganbaik agar lebihmudahmemilihatlet yang akanmengikutikejuaraandanapabilasuatusaat data itudibutuhkanolehatlet, pelatihataupunpihak lain yang membutuhkanbisalebihmudahdalammemperolehhasillatihantersebut. d) Pengurus PASI Kota Malang hendaknyamengevaluasisetiap program yang sudahdilaksanakansehinggadapatdiketahui program tersebutterlaksanadenganbaikatautidak. Untuk variable ProductadalahPembinaanpadaatletlebihditingkatkanlagi agar perolehanprestasiuntukatlet PASI Kota Malang bisalebihmeratasehinggatidakdidominasiolehatlettertentu yang seringmenyumbangkanmedaliuntuk PASI Kota Malang.

Sebab-sebab orang tua tidak memanfaatkan Lembaga PAUD sebagai pendidikan anak usia dini di Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar / Ella Dyah Puspita

 

Kata Kunci: Pendidikan Anak Usia Dini, Tidak Memanfaatkan. Pendidikan sangat penting bagi setiap manusia dan merupakan hak seseorang untuk mengenyam sebuah pendidikan, tetapi pada kenyataan yang ada di masyarakat banyak anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan yang selayaknya dikarenakan banyak hal, salah satunya adalah peran orang tua yang tidak memberikan pendidikan anak usia dini di lembaga PAUD. Karena hal tersebut maka penulis ingin mengetahui mengapa orang tua tidak memberikan pendidikan di lembaga PAUD tetapi langsung pada lembaga Taman Kanak-kanak (TK) yang kita ketahui bahwa TK adalah bentuk sekolah formal untuk anak, walau sama sama untuk anak tetapi pada lembaga PAUD dengan TK sangatlah berbeda, ini bisa dilihat dari umur peserta didik PAUD yang berkisar antara2-4 tahun sedangkan TK berumur 5-6 tahun. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Kuantitatif deskriptif. responden dalam penelitian ini adalah orang tua yang tidak memberikan pendidikan anak usia dini untuk putri maupun putranya di Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sebab-sebab apa saja yang mendorong orang tua tidak memberikan pendidikan anak usia dini di lembaga PAUD. Waktu pelaksanaan dari penelitian ini sudah diawali sejak peneliti melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan di salah satu lembaga PAUD di kecamatan ini, selanjutnya dilakukan penelitian lanjutan pada bulan Febuari-Maret tahun 2013. Untuk mengumpulkan data yang relevan untuk penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data seperti angket dan juga tes, yang diuji dengan menggunakan uji normalitas, uji validitas, dan uji reliabilitas. Setelah itu angket dan tes dianalisis menggunakan rumus persentase untuk menghitung persentase dari setiap jawaban yang diperoleh dari responden. Hasil penelitian menunjukkan yaitu: 1) tingkat pendidikan orang tua, 2) tingkat pengetahuan orang tua terhadap tumbuh kembang anak, 3) pembiayaan di lembaga PAUD, 4) waktu pembelajaran di lembaga PAUD, sebagai sesbab-sebab orang tua tidak memberikan pendidikan anak usia dini di lembaga PAUD. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada pengelola PAUD bahwa dalam proses belajar pembelajaran sangat perlu diperhatikan variabel-variabel atau sebab-sebab tersebut diatas, karena dengan lembaga PAUD memperhatikan faktor-faktor mengapa orang tua tidak memanfaatkan lembaga PAUD untuk pendidikan anak usia dini ini diharapkan lembaga PAUD dapat membuat kebijakan yang hasilnya kelak dapat membuat seluruh anak menikmati pendidikan anak usia dini di lembaga PAUD, selain itu dengan adanya lembaga PAUD dapat menumbuhkan atau menciptakan pendidikan untuk orang tua atau melaksanakan program perenting dengan baik sehingga orang tua dapat mengetahhui tumbuh kembang anak dengan baik misalnya.

Evaluasi pelaksanaan program kerja Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PERTINA) Kota Malang tahun 2012 / Yudha Abrianto

 

Kata Kunci: evaluasi, program kerja, PERTINA. Evaluasiadalahkegiatanuntukmengumpulkaninformasitentangbekerjanyasesuatu, yang selanjutnyainformasitersebutdigunakanuntukmenentukanalternatif yang tepatdalammengambilkeputusan. Penelitianevaluasipelaksanaan program kerjaPersatuanTinjuAmatir Indonesia (PERTINA) Kota Malang, PERTINA merupakanindukorganisasiolahraga yang bertugasuntukmembinaatlet-atlettinjuamatir.PERTINAtermasukindukorganisasi yang beradadibawahnaungan KONI. Sebelumnyabelumpernahadaevaluasi program kerjasetiapcabor yang diadakan KONI Kota Malang Khususnya PERTINA yang merupakancabangunggulan di Kota Malang. Penelitihaninibertujuanuntukmengevaluasipelaksanaan program kerja PERTINA Kota Malang denganmetode CIPP (Context, Input, Process, Product) danakanmenghasilkankeputusanuntukmelanjutkan program, merevisi, menyebarluaskanataumenghentikan program kerjaPERTINA Kota Malangsertamenghasilkanrekomendasidaripeneliti. Penelitianevaluasipelaksanaan program kerjaPERTINA Kota Malang inimenggunakanpengumpulan data melaluiwawancaradanobservasisertateknikanalisisstatistikdeskriptifdenganpersentasedandianalisidenganmetode CIPP yang hasilnyasebagaiberikut: context60% yang berarticukupbaik, input86,7% yang berartibaiksekali, process 84,2% yang berartibaiksekali,product 78,6% yang berartibaik. Dari keseluruhan CIPP (context, input, process dan, product) adalah82,8% yang berartibaiksekali. Berdasarkanhasilpenelitian yang dijabarkandiataspenelitimerekonmendasikan Program kerja PERTINA Kota Malang dapatdilanjutkandenganbeberapaaspek yang harusdibenahisehinggapadatahun-tahunberikutnyapelaksanaan program kerjadapatberikutnyadapatberjalanlebihbaiklagi. Di setiapvariabelterdapataspek-aspek yang harusdibenahidiantarannyapadavariabelContextadalah (1) perluadanyaimplementasidansosialisasidalampelaksanaan program kerjasebagaimanamestinya; variable Input (1)perluadanyakriteria-kriteriakhususdalamperekrutanatlet, pelatihdanpengurussehinggasumberdayamanusia yang berada di PERTINA Kota Malang mampumencapaihasil yang memuaskan (2)diharapkan PERTINA Kota Malang dalamperekrutanpelatih, merekrutpelatih yang memilikilisensikepelatihansehingga proses latihanberjalansebagaimanamestinya, Processadalah (1) atletharusmelaksanakanlatihansesuai program latihan yang disusunolehpelatih (2) pelatihharusmembuat program latihansesuaidengankeadaanatlet, (3)pengurus PERTINA Kota Malan harusmengevaluasisetiap program yang sudahdilaksanakansehinggadapatdiketahui program tersebutterlaksanadenganbaikatautidak;variabelProductadalah (1) diharapkansetiapatletdapatikutsertadalamsetiap even-even yang samasehinggapengalamanbertandingsetiapatletmenjadilebihbanyakih member danmerata. (2)lebihmemberikesempatanbertandingkepadaatlet-atlet yang masihmudasehinggaatlet-atlettersebutmemiliki jam terbang yang banyak.

Alternatif perencanaan Upper Structure jembatan dengan sistem balok beton prategang di Desa Kademangan Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar / Lucky Skripsiawan Wahyudi

 

Kata-kata kunci: Jembatan, Prategang, Upper Structure, Beton Prategang Desa Kademangan dan Desa Plosoarang merupakan bagian dari Kabupaten Blitar. Desa tersebut dipisahkan oleh sungai dengan lebar 20 m. Pada sungai tersebut, sedang dibangun jembatan beton bertulang yang berfungsi untuk menghubungkan kedua desa tersebut. Dikarenakan di Kabupaten Blitar belum terdapat konstruksi jembatan beton dengan sistim balok beton pratekan maka penulis ingin membuat alternatif perencanaan jembatan beton dengan sistim balok beton pratekan. Permasalahan yang ditinjau dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana menentukan parameter-parameter perencanaan teknis struktur jembatan. (2) Bagaimana menentukan jenis pembebanan balok beton prategang yang akan digunakan dalam desain. (3) Bagaimana menganalisa perhitungan kekuatan komponen jembatan yang menggunakan balok beton prategang terhadap gaya dalamnya. (4) Bagaimana mengontrol momen desain jembatan balok beton prate gang dengan momen model. (5) Bagaimana menuangkan hasil bentuk desain dan analisa jembatan balok beton prat egang ke dalam bentuk gambar teknik. (6) Bagaimana membuat rencana anggaran biaya konstruksi jembatan balok beton prategang. Hasil dari perencanaan adalah jembatan panjang bentang 20 m, lebar total 7 m, tebal slab 20 cm, untuk tulangan positif dan negatif dengan tulangan D16 – 200 dan tulangan bagi D13 -100, dengan dimensi tiang sandaran 15cm x 15 cm jumlah 4 D 13 dengan tulangan geser ø 6 – 150, penulangan bagian trotoar menggunakan tulangan dengan D16 – 150 dan tulangan bagi D13 – 100, gelagar Induk beton prategang balok I dengan tinggi 1,1 m sebanyak 5 buah, dengan jarak 1.2 m antar gelagar.Jumlah tendon yang digunakan 4 dengan 3 tendon berisi 19 strands dan 1 tendon berisi 12 strands, jenis strands yang digunakan Uncoated 7 wire super strands ASTM A-416 grade 270, tulangan arah memanjang balok dengan menggunakan besi D 13 dengan jumlah bagian atas 8, bagian bawah 12 dan tengah 14,tulangan geser menggunakan D 13-150.

Reaksi masyarakat terhadap penyelesaian perselisihan batas daerah antara Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Kediri yang terletak pada kawasan gunung Kelud di Provinsi Jawa Timur / Resty Yunita Armykasari

 

Kata Kunci: Reaksi, Masyarakat, Gunung Kelud, Pengadilan Tata Usaha Negara Sengketa Gunung Kelud merupakan Sengketa masalah batas wilayah antara Kabupaten Blitar denganKabupaten Kediri itu sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian. Salah satu pemicunya, adalah surat keputusan Gubernur Jawa Timur tersebut pengakuan batas wilayah Gunung Kelud yang secara administratif masuk ke Kabupaten Kediri, hingga kasus ini diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, karena Gubernur Jawa Timur telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/KPTS/013/2012 tanggal 28 Februari 2012 tentang Penyelesaian Perselisihan Batas Daerah Antara Kabupaten Blitar Dengan Kabupaten Kediri Yang Terletak Pada Kawasan Gunung Kelud Di Provinsi Jawa Timur (selanjutnya disebut dengan SK Gubernur No 188/113/KPTS/013/2012 tanggal 28 februari 2012),. Kabupaten Blitar akan menyelesaikan masalah tersebut dengan menyatakan tekad bulatnya hendak menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada tanggal 09 Maret 2012 dan terdaftar gugatan tersebut pada tanggal 13 Maret 2012. Karena kabupaten Blitar dirugikan atas keputusan Gubernur Jawa Timur yaitu pendapatan daerah berkurang dan sebagian desa di wilayah kabupaten Blitar akan menjadi milik kabupaten Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu: (1) reaksi masyarakat Desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Terhadap Status Gunung Kelud Berdasarkan SK Gubernur No 188/113/KPTS/013/2012 tanggal 28 februari 2012, (2) argumentasi masyarakat Kabupaten Blitar untuk tetap mempertahankan wilayahnya, (3) upaya pemerintah dan masyarakat Kabupaten Blitar untuk tetap mempertahankan wilayah yang berada di sekitar gunung kelud yang berdasarkan SK Gubernur No 188/113/KPTS/013/2012 tanggal 28 februari 2012. Penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif jenis penelitian deskriptif. Data penelitian dikumpulkan dari hasil observasi peneliti di desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, hasil wawancara dengan informan dan temuan peneliti di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumntasi terhadap sumber tertulis dan foto yang ada dilokasi penelitian. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri, untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan ketekunan pengamatan dan trianggualsi data. Kegiatan analisis data, tahap pengumpulan data, penyajian data, tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut: pertama, Pemkab Kediri bersama Pemprov Jawa Timur merupakan pihak kepentingan yang memiliki tujuan implementasi Keputusan Gubernur. Sedangkan kepentingan Pemkab Blitar berbeda, pihak kepentingan ini memiliki sasaran penganuliran surat keputusan di atas. Kedua pihak masing-masing mempunyai maksud yang saling bertentangan. Ketegangan di antara keduanya mempertegas konflik kepentingan yang terjadi dalam penentuan batas wilayah antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri. pendapat masyarakat Desa Sumberasri adanya SK Gubernur tersebut sebagian besar masyarakat tidak setuju apabila harus berpindah kewilayahan menjadi Kabupaten Kediri karena sejak dulu masyarakat berpegang teguh bahwa tanah kelahirannya adalah tanah Bung Karno walau bagaimanapun daerah tersebut memiliki kisah tersendiri, sehingga masyarakat Blitar melakukan aksi demo ke Surabaya agar memperoleh kepastian tentang status Gunung Kelud dan kepastian tentang wilayah yang menjadi sengketa di dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur. Kedua, sebagian besar masyarakat Blitar tidak setuju apabila Desa Sumberasri harus berpindah kewilayahan menjadi Kabupaten Kediri karena mengakibatkan pendapatan atau income Kabupaten Blitar berkurang, sehingga terhambatnya pembangunan di Blitar serta begitu juga dengan Gunung Kelud yang menjadi salah satu aset Kabupaten Blitar. Ketiga, adalah Pemerintah Kabupaten Blitar melakukan Gugatan ke PTUN untuk mencari kepastian hukum tentang status Gunung Kelud, Pemerintah Kabupaten Blitar dan masyarakat yakin bahwa Surat Keputusan Gubernur dapat dibatalkan melalui PTUN, dikarenakan Surat tersebut cacat hukum karena Gubernur tidak berwenang dalam penetapan daerah dan yang berwenang adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Penyelesaian perselisihan batas daerah antara kabupaten Blitar dengan Kabupaten Kediri yang terletak pada kawasan Gunung Kelud di Provinsi Jawa Timur masih dalam tahap penyelesaian atau dalam proses gugatan di PTUN Surabaya. Mengamati dan memperhatikan hasil penelitian tentang Reaksi masyarakat terhadap adanya Keputusan Gubernur No 188/113/KPTS/013/2012 Tanggal 28 februari 2012, maka diajukan beberapa saran, yaitu: (1) Pemerintah Jawa Timur agar memberikan solusi yang terbaik bagi kedua daerah yaitu Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Kediri dengan melakukan mediasi-mediasi yang tidak berat sebelah, (2) Pemerintah Desa Sumberasri agar membantu dan mendukung penyelesaian konflik antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri demi terciptanya rasa aman, tentram dan damai antara dua daerah dan memberikan penjelasan kepada masyarakat Blitar khususnya masyarakat Desa Sumberasri untuk tidak terprofokasi dalam kasus sengketa wilayah ini. (3) Kepada Masyarakat Desa Sumberasri tidak mudah terprofokasi, yang dapat menimbulkan konflik horizontal antara pihak yang pro dan kontra terhadap masuknya Desa Sumberasri ke Kabupaten Kediri (4) Apapun nanti keputusan PTUN harus menerima dengan lapang dada.

A study on Ganesha YESC (Youth English Study Club) as an extracurricular program at SMA N 1 Ponorogo / Nurrahma Sutisna Putri

 

Kata Kunci:GANESHA YESC, extracurricular program Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan GANESHA YESC sebagai program ekstrakurikuler di SMA N 1 Ponorogo yang meliputi struktur organisasi, kegiatan, dan pendapat siswa mengenai GANESHA YESC. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif kualitatif. Objek dari penelitian ini adalah GANESHA YESC sebagai program ekstrakurikuler wajib di SMA N 1 Ponorogo. Sedangkan subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, dan XII yang merupakan anggota GANESHA YESC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) struktur organisasi GANESHA YESC terdiri dari beberapa administrator sekolah dan pengurus. Mereka adalah kepala SMA N 1 Ponorogo, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, lima guru Bahasa Inggris yang menjabat sebagai penasihat, dan ketua OSIS SMA N 1 Ponorogo. Pengurus GANESHA YESC terdiri dari pengurus inti dan divisi. Pengurus inti terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris I dan II, dan bendahara I and II. Sedangkan pengurus divisi mengampu IPO (Intern Puzzle Olympiad), BYESC (YESC Bulletin), VocaBoard, EDS (English Debating Society), dan Wall-chart, dan pada akhir bagan struktur organisasi terdapat dua humas yang bertindak sebagai koordinator, (3) GANESHA YESC memiliki sembilan kegiatan yang dilaksanakan oleh kedua pengurus yakni ETP (Education and Training Program), E-Movie (English Movie), Meet and Greet with Native Speaker, ShareMot (Sharing and Motivation), E.T. (English Tour), Farewell Meeting, E.C. (English Camp), Regeneration, dan Weekly Training. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang dimiliki GANESHA YESC bervariasi sebagai upaya memfasilitasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris,(3) dari hasil angket dapat disimpulkan bahwa siswa mengetahui posisi mereka sebagai anggota GANESHA YESC, siswa kurang menyukai kegiatan GANESHA YESC, siswa selalu mengikuti kegiatan GANESHA YESC, siswa menganggap kemampuan Bahasa Inggris mereka meningkat dengan mengikuti kegiatan GANESHA YESC, dan hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk kemajuan GANESHA YESC. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan agar Kepala SMA 1 Ponorogo mengkaji ulang kebijakan GANESHA YESC sebagai program ekstrakurikuler wajib. Untuk guru Bahasa Inggris SMA 1 Ponorogo, diharapkan agar menggunakan metode pengajaran yang menyenangkan dalam Weekly Training. Bagi peneliti yang tertarik dengan penelitian mengenai program ekstrakurikuler wajib, diharapkan mengkaji evaluasi yang digunakan guru dalam program ekstrakurikuler wajib.

Pemanfaatan media dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas VA Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang 2 / Siti Nuraini

 

Kata kunci: media, pembelajaran bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Malang 2 merupakan salah satu MI Negeri di Malang yang mengajarkan bahasa Arab. Media pembelajaran yang digunakan di MIN Malang 2 cukup bervariasi. Media sebagai salah satu penunjang dalam pembelajaran bahasa Arab. Media sebagai alat pembawa pesan pembelajaran dari guru kepada siswa. Dengan media, pesan pembelajaran dapat disampaikan dengan mudah. Apalagi di era globalisasi ini, banyak media pembelajaran yang telah dirancang dengan kreatif dan inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hal-hal berikut : (1) jenis media PBA, (2) teknik pemanfaatan media dalam PBA, (3) faktor-faktor pendukung dan penghambat pemanfaatan media dalam PBA, (4) respon siswa terhadap pemanfaatan media dalam PBA. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah guru bahasa Arab dan para siswa kelas VA MIN Malang 2. Peneliti bertindak sebagai instrumen inti. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Instrumen bantu yang digunakan adalah pedoman wawancara, angket, pedoman observasi dan pedoman telaah dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah (a) reduksi data, (b) sajian data, dan (c) penarikan kesimpulan dan verifikasinya. Untuk menguji keabsahan temuan, dilakukan pelaksanaan teknik pemeriksaan yaitu perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi (membandingkan sumber data yang satu dengan sumber data yang lain), pengecekan sejawat dan kepada orang yang dianggap ahli, kecukupan referensial, kajian kasus negatif, pengecekan anggota dan uraian rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran bahasa Arab di kelas VA MIN Malang 2 adalah sebagai berikut: (1) jenis-jenis media yang dimanfaatkan diantaranya papan tulis, komputer, LCD, CD interaktif, CD pembelajaran, mading kelas, buku paket terbitan TS (Tiga Serangkai), short card dan lagu. (2) Teknik pemanfaatan media cukup bervariasi dan inovatif, pemanfaatan CD interaktif merupakan media yang teknik pemanfaatannya menggunakan metode eklektik. (3) Adapun faktor pendukung pemanfaatan media adalah fasilitas dari sekolah, tersedianya dana, keterampilan guru dan siswa dalam membuat media. Sedangkan faktor penghambat pemanfaatan media, meliputi kesibukan guru karena merangkap di bidang yang lain dan rusaknya laboratorium bahasa. (4) Respon siswa kelas VA dalam pemanfaatan media pembelajaran di MIN Malang 2 sangat baik, khususnya pada pemanfaatan media CD interaktif. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberi saran kepada: (a) kepala sekolah, agar tetap membantu meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab dan dukungannya terhadap PBA utamanya pada aspek pemanfaatan media pembelajaran bahasa Arab, (b) guru bahasa Arab, agar lebih berupaya keras meningkatkan secara kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan media pembelajaran bahasa Arab, (c) peneliti selanjutnya, hendaknya menggali informasi baru tentang media PBA dan dapat membuat kreasi media PBA yang lebih inovatif.

Implementasi lesson study berbasis sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru dan hasil belajar biologi siswa SMA Negeri 1 Bangil Kabupaten Pasuruan / Nurul Azizah

 

lesson study berbasis sekolah, kompetensi guru, hasil belajar biologi siswa

Pengembangan media pembelajaran e-book olahraga woodball / Marthinna Ratna Sari

 

Kata Kunci: Pengembangan, Materi olahraga woodball, Media pembelajaran E- book Selama ini para atlit cabang olahraga woodball melakukan latihan hanya menggunakan media pelatih dan medi cetak. Sedangkan sumber-sumber belajar ada berbagai macam, misalnya media pelatih, media cetak, dan media elektronik. Apabila atlit hanya menggunakan media pelatih saja kurang efisien pada saat memberikan materi atau menggunakan media cetak juga kurang efisienatlit hanya akan melihat gambar dan membaca tulisan. Sedangkan untuk media elektronik di dalamnya terdapat gabungan dari keduanya,. Media elektronik memberikan atau menyampaikan materi berupa tulisan, gambar, video, dan suara. Oleh karena itu media ini merupakan media pembelajaran paling efektif. Analisis kebutuhan (need asesment) melalui kuisioner didapat (1) 93,33 % atlit tidak selalu mengerti mengenai apa yang dijelaskan buku, (2) 96,67 % atlit membutuhkan media berlatih yang lain yang sesuai dengan kebutuhannya, dan (3) 96,67 % atlit setuju dikembangkannya media elektronik sebagai salah satu sumber berlatih. Tujuanpenelitianadalahuntukmengembangkanbukupembelajaranolahragawoodballberbasisilmuteknologi yang natinyaakandimasukkankedalamsebuah media elektronikdalambentukE-Book, sehingga atlit dapat belajar materi olahraga woodball tanpa merasa bosan dengan adanya media yang baru. Metode penelitian ini menggunakan metode pengembangan kemudian untuk rancanagan penelitian peneliti mengacu pada model pengembangan (research and development)Borg and Gall. Dari sepuluh langkah yang ada beberapa dimodifikasi oleh peneliti sesuai kebutuhan. Langkah- langkah yang diambil (1) Analisis kebutuhan , (2) Pembuatan produk awal, (3) Evaluasi ahli dan Uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 12 subjek, (4) Revisi roduk pertama, (5) Uji coba kelompok besar dengan menggunakan 30 subjek, (6) Revisi produk akhir, (7) Hasil akhir produk dengan total keseluruhan sampel yang digunakan oleh peneliti dari uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar yaitu 42 atlit. Berdasarkan hasil (1) uji ahli diperoleh persentase 79,71% menyetuji produk ini layak dikembangkan, (2) uji coba kelompok kecil diperoleh persentase 76,50%, dan (3) uji coba kelompok besar diperoleh persentase 95,27%. Angka persentase tersebut memiliki kriteria “baik sekali” sehingga produk ini dapat digunakan sebagai buku pembelajaran olahraga woodball berbasis ilmu teknologi yang natinya akan dimasukkan kedalam sebuah media elektronik dalam bentuk E-Book.

Representasi mahasiswa penerima beasiswa bidik misi dalam meningkatkan life skills melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan (studi kasus mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang) / Eky Kusuma Wardani

 

Wardani, Eky Kusuma. 2013. Representasi Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidik Misi (Bantuan Pendidikan Miskin Berprestasi) Dalam Meningkatkan Life Skills Melalui Organisasi Kemahasiswaan (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Zulkarnain Nasution, M.Pd. (2) Drs. Ahmad Mutadzakir, M.Pd. Kata Kunci: Life Skills, Mahasiswa Bidik Misi, Organisasi Kemahasiswaan. Life skills dapat diartikan sebagai pedoman pribadi untuk memelihara tubuhnya, menumbuhkembangkan dirinya, membuat keputusan logis, melindungi dirinya dan mencapai tujuan hidup serta dapat bekerja sama dengan orang lain. Life skills perlu terus ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan dalam kesiapan diri seseorang sehingga dapat hidup di lingkungan dimana seseorang berada. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi yang aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan merupakan upaya untuk meningkatkan life skills. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi dari Fakultas Ilmu Pendidikan( FIP) dalam meningkatkan life skills yang dilakukan melalui organisasi kemahasiswaan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi yang diuji keabsahan datanya menggunakan triangulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verivikasi. Informan dalam penelitian ini adalah Kasubag KESMA yaitu kepala sub bagian yang menangani langsung tentang beasiswa di Universitas Negeri Malang, 2 ketua umum UKM yaitu dari UKM MPA Jonggring Salaka dan UKM GERMAN (Gerakan Mahasiswa Anti NAPZA) dan 1 ketua umum BEM FIP, serta 5 orang mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerima beasiswa Bidik Misi FIP dari tahun 2010-2012 berjumlah 312 mahasiswa, dari jumlah tersebut 57 diantaranya aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Mereka berpandangan bahwa life skills merupakan kebutuhan dalam menyesuaikan dengan perkembangan, organisasi merupakan salah satu wadah untuk upaya meningkatkan life skills tersebut, karena kecakapan personal dan kecakapan sosial lebih banyak mereka dapatkan melalui kegiatan organisasi yang mereka ikuti. Aktif dalam setiap kegiatan organisasi tersebut merupakan proses dalam upaya meningkatkan life skills. Dampak terhadap peningkatan life skills bagi mahasiswa penerima beasiswa bidik misi FIP UM yang berproses melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan adalah adanya perubahan-perubahan positif pada diri mereka, diantaranya kemampuan dalam berkomunikasi dengan orang lain dan manajemen waktu antara kegiatan organisasi dan kegiatan perkuliahan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan kepada bagian Kemahasiswaan selaku lembaga yang bersangkutan dengan para mahasiswa penerima Bidik Misi untuk memberikan motivasi kepada mereka agar terus aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Bagi Fakultas Ilmu Pendidikan untuk membuat kebijakan adanya kewajiban berorganisasi. Bagi Jurusan PLS penelitian ini dapat digunakan untuk menambah referensi bahwa upaya meningkatkan life skills dapat melalui organisasi kemahasiswaan yang ada di Universitas Negeri Malang. Bagi peneliti lanjut diharapkan untuk dapat mengembangkan penelitian ini dalam segi vocational skills dan academic skills.

Kemampuan guru pendidikan kewarganegaraan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter di SMP Negeri 1 Sempu kabupaten Banyuwangi Bayu Indra Permana

 

Indra Permana, Bayu. 2013. Kemampuan Guru Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Yang Berbasis Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Di SMP Negeri 1 Sempu Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al-Hakim, M.Si. (II) Drs. KT. Diara Astawa, S. H, M. Si Kata kunci: Guru PKn, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Nilai Pendidikan Karakter Guru merupakan suatu pekerjaan yang mulia, dikarenakan guru memiliki peran dalam mendidik peserta didik agar menjadi pribadi yang baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Dalam melaksanakan tugas tersebut, haruslah diimbangi dengan tingkat kemampuan atau profesionalitas yang tinggi dalam melaksanakan semua kegiatan yang dilakukan, baik kegiatan yang dilakukan dalam sekolah maupun diluar sekolah, salah satunya yaitu dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh guru sebaiknya dibuat dengan mempertimbangkan aspek dari peserta didik maupun dari aspek-aspek yang lain, tidak serta merta membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan cara mengkopi dari guru lain atau bahkan mengunduhnya dari internet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana wawasan guru mengenai pendidikan karakter, kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter, kendala-kendala yang dialami guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter, faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya kendala tersebut serta upaya yang dilakukan guru PKn untuk mengatasi kendala dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter. Penelitian yang peneliti lakukan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiannya yaitu penelitian studi kasus. Urutan kegiatan penelitian mencakup: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengumpulan data (4) analisis data(5) pelaporan data. Dalam pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Untuk uji keabsahan data penulis menggunakan teknik triangulasi. Sumber penelitiannya yaitu guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 1 Sempu Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Kewarganegaraan yang ada di SMP Negeri 1 Sempu masih belum mengerti betul mengenai pendidikan karakter serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya, serta dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter mereka juga masih belum paham mengenai prinsip penyusunan RPP yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter secara baik dan benar, akan tetapi mereka mempunyai rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter yang didapat dari suatu buku LKS Pendidikan Kewarganegaraan. ii Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dalam suatu penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai pendidikan karakter yang dilakukan oleh guru hendaknya dibuat sendiri dengan memperhatikan aspek-aspek dari peserta didik, sehingga rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Pengaruh variasi suhu temper dengan quench media pendingin oli SAE 20W-50 terhadap kekerasan dan ketangguhan baja St 60 / Irfan Arfai

 

Kata Kunci: Variasi suhu, temper, quench, kekerasan, ketangguhan,baja St 60. Akibat proses hardening pada baja, maka timbul tegangan dalam (internal stresses), dan rapuh (britles), sehingga baja tersebut belum cocok untuk segera digunakan. Oleh karena itu pada baja tersebut perlu dilakukan proses lanjut yaitu tempering. Dengan proses tempering kegetasan dan kekerasan dapat diturunkan sampai memenuhi syarat penggunaan, kekuatan tarik turun sedangkan keuletan dan ketangguhan meningkat. Namun yang menjadi permasalahan sejauh mana sifat – sifat yang memenuhi syarat yang diinginkan ini dapat dicapai melalui proses tempering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu temper dengan quench media pendingin oli SAE 20W-50 terhadap kekerasan dan ketangguhan baja St60. Proses hardening dilakukan dengan suhu 8300C dengan quench oli SAE 20W-50 kemudian ditemper dengan suhu 2500C, 4000C, 6500C. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Teknik analisis data menggunakan analisis one way anova. Analisis statistik tersebut digunakan untuk pengujian dan membuktikan hipotesis. Objek penelitian ini adalah baja St 60 yang kemudian diberi perlakuan yakni tempering dengan variasi tempertur yang sebelumnya mengalami proses hardening pada suhu 8300C dengan quench media pendingin oli SAE 20W-50 dan spesimen impact mengacu pada ASTM E23 Hasil penelitian rata-rata kekerasan tertinggi diperoleh pada temperatur temper 2500C sebesar 181,6 Hv, pada temperatur 4000Csebesar 168,6 Hv, dan kekerasan terendah diperoleh pada temperatur temper 6500C sebesar 162,4 Hv. Sedangkan ketangguhan tertinggi diperoleh pada temperatur temper 6500C sebesar 0,1533 J/mm2, pada temperatur 4000Csebesar 0,1478 J/mm2, dan ketangguhan terendah diperoleh pada temperatur temper 2500Csebesar 0,1368 J/mm2. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai kekerasan dan ketangguhan pada baja St 60 antara sebelum dan setelah mengalami proses quenching-temper dengan variasi temperatur sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi temperatur pada proses temper dengan quench media pendigin oli SAE 20W-50 berpengaruh terhadap kekerasan dan ketangguhan baja St 60. Kekerasan baja akan menurun seiring bertambahnya temperature sedangkan ketangguhan akan meningkat.

Penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa melalui karya tulis ilmiah pada mata pelajaran IPS geografi materi hidrosfer kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro Jombang / Ariyanti Dwi Pratiwi

 

Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB dinamis untuk SMA kasus uji pada mata pelajaran fisika pokok materi listrik dinamis kelas X / Shelly Nur Azizah

 

Hubungan kualitas pertukaran pemimpin-anggota (LMX) dan persepsi keadilan penilaian kinerja pada karyawan di PG Kebon Agung Kabupaten Malang / Rahayu Widiyati

 

Widiyati, Rahayu. 2013. Hubungan Kualitas Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX) dan Persepsi Keadilan Penilaian Kinerja pada Karyawan di PG Kebon Agung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M. Si., M. Ed., (II) Pravissi Shanti, S. Psi., M.Psi. Kata Kunci: kualitas pertukaran pemimpin-anggota, lmx, persepsi keadilan penilaian kinerja     Banyak peneliti sudah mengenal beberapa variabel yang berpengaruh terhadap penilaian kinerja. Namun masih sedikit peneliti yang menguji pengaruh konteks sosial dalam proses penilaian kinerja. Konteks sosial yang dimaksud dari penelitian ini adalah pertukaran pemimpin-anggota (LMX). Kualitas pertukaran pemimpin anggota dibagi menjadi 2, yaitu in group (kualitas tinggi) dan out group (kualitas rendah). Status in/out group akan berpengaruh pada bagaimana karyawan dinilai dan bagaimana mereka diperlakukan saat penilaian kinerja berlangsung. Dengan adanya perbedaan perlakuan pada status kualitas pertukaran pemimpin-anggota maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pertukaran pemimpin-anggota (LMX) dan persepsi keadilan pada penilaian kinerja pada karyawan pelaksana di PG Kebon Agung Kabupaten Malang.     Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Data penelitian berupa data primer dari skala yang dikembangkan oleh peneliti. Skala disebarkan kepada 35 sampel yang diambil dengan teknik purposive sampling. Dengan teknik ini, peneliti menentukan kriteria sampel penelitian yaitu, merupakan karyawan tetap, karyawan pelaksana yang dinilai kinerjanya dan berada pada bagian TUK dan pabrikasi. Setelah itu, peneliti menyebarkan dua skala yang masing-masing memiliki reliabilitas 0, 944 dan 0,967 kepada 35 karyawan pelaksana PG Kebon Agung Kabupaten Malang.     Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kualitas pertukaran pemimpin-anggota di PG Kebon Agung termasuk tinggi (65,58%). Kualitas tinggi bisa terjadi karena masa kerja yang sudah lama yaitu 10-25 tahun. Kelompok in group ini memiliki banyak keuntungan yaitu dapat bertukar informasi, berpengaruh dalam pengambilan keputusan, tugas-tugas, dukungan, dan perhatian dari atasan. Persepsi keadilan penilaian kinerja pada karyawan pelaksana PG Kebon Agung juga menunjukkan hasil yang cukup tinggi (80% sedang/ netral, 20% tinggi). Hal ini berarti karyawan telah merasakan keadilan dari segi prosedural, distributif, informasional dan interpersonal. Walaupun kedua variabel ini menujukkan hasil yang tinggi yang secara teori berhubungan, namun pada hasil di lapangan, tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh atasan yang bertindak netral saat penilaian kinerja, keterbatasan ruang gelak peneliti dalam memilih sampel, organizational citizenship behavior yang tinggi, dan bias budaya. Adapun saran peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah penelitian dilakukan di perusahaan dengan penilaian kinerja 360º agar meminimalisir bias budaya dan mendapatkan dua sudut pandang. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkannya dengan menambah jumlah subyek.

Penanganan anak hiperaktif pada proses pembelajaran (studi kasus di SDN Arjosari 3 Kota Malang) / Teddy Eka Candra

 

Kata Kunci: Penanganan, anak hiperaktif. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena perilaku anak yang bervitalitas tinggi atau disebut sebagai anak hiperaktif. Anak hiperaktif di SDN Arjosari 3 Kota Malang juga memiliki vitalitas tinggi dan perilaku yang beraneka ragam. Perilaku-perilaku anak hiperaktif tersebut tentunya akan berpengaruh pada keberlangsungan kegiatan pembelajaran sehari-hari. Dengan latar belakang tersebut tujuan penelitian ini dapat dirumuskan: (1) Untuk mendeskripsikan bagaimana perilaku anak hiperaktif pada proses pembelajaran, (2) Untuk mendeskripsikan bagaimanakah dampak yang terjadi akibat perilaku anak hiperaktif pada proses pembelajaran, (3) Untuk mendeskripsikan bagaimana cara penanganan yang dilakukan guru kelas dalam mengatasi dampak yang terjadi akibat perilaku anak hiperaktif pada proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif, karena bertujuan menggali dan mempelajari fenomena khusus yang unik (anak hiperaktif). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan di SDN Arjosari 3 Kecamatan Blimbing Kota Malang, dengan sumber data yaitu guru kelas 1, guru ABK, siswa hiperaktif (Ilham), dan beberapa dokumen yang dijadikan sumber sekunder oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak hiperaktif yaitu: sering meninggalkan kelas (keluar masuk kelas) ketika pembelajaran berlangsung, perhatian mudah teralihkan dan sulit konsentrasi, bersikap apatis (acuh tak acuh), tidak bisa diam dalam waktu lama dan suka memainkan benda-benda yang ada di sekelilingnya, mengganggu teman yang fokus belajar dan memukul teman, serta bermain di kelas lain. Dampak yang terjadi yaitu: teman lain satu kelas terganggu dan tidak dapat berkonsentrasi pada pembelajaran, anak hiperaktif tidak dapat menyerap pembelajaran dengan optimal, nilai dan prestasi belajar anak hiperaktif terganggu. Penanganan yang dilakukan guru dengan cara membiarkan saja/mengacuhkan perilaku anak hiperaktif, pemberian reward (hadiah/imbalan), berbagai terapi seperti terapi perilaku, terapi membaca, terapi makanan dan terapi sosial/bermain. Bagi guru yang memiliki anak didik hiperaktif disarankan dapat menerapkan cara penanganan dengan membiarkan saja/mengacuhkan perilaku hiperaktif. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan ruang gerak kepada siswa hiperaktif agar menyalurkan kelebihan energinya sampai anak merasa bosan dan lelah kemudian baru diarahkan secara perlahan, sehingga kegiatan pembelajaran di kelas tetap bisa berjalan dengan efektif.

Penggunaan metode project based learning untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa kelas X-1 mata pelajaran TIK SMA Negeri 1 Garum Blitar / Marina Azizah

 

Pengaturan kecepatan motor induksi satu fasa menggunakan metode burst firing / Habieb Nur Atmojo

 

Pengembangan media pembelajaran kimia berbasis flash berbahasa Inggris pada materi larutan asam-basa untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah kelas XI / Winna Wijayati

 

Kata Kunci: media pembelajaran, media berbasis flash berbahasa Inggris, larutan asam-basa kelas XI Pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi yang akan berjalan lebih efektif jika menggunakan media pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mempertimbangkan pula aspek karakteristik siswa dan materi serta daya dukung yang tersedia. Program-program komputer interaktif yang bersifat edukasi makin banyak diminati karena memiliki keunggulan dalam penggunaannya pada proses pembelajaran. Di sisi lain, persaingan di era global yang semakin ketat menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan bahasa Inggris sebagai modal utama. Salah satu materi kimia yang banyak memiliki konsep abstrak yang dipadukan dengan hitungan adalah materi larutan asam-basa. Oleh sebab itu, pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji tingkat kelayakan media pembelajaran kimia berbasis flash berbahasa Inggris yang interaktif, menarik dan mudah dipahami untuk materi larutan asam basa kelas XI. Pengembangan media pembelajaran ini mengacu pada model rancangan Dick & Carey dengan sedikit penyesuaian. Adapun model rancangan tersebut adalah 1) identifikasi tujuan umum pengembangan media, 2) analisis materi pembelajaran, 3) identifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, 4) merumuskan tujuan performansi, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, 6) mengembangkan media pembelajaran, 7) mendesain dan melaksanakan uji kelayakan hasil pengembangan, 8) merevisi hasil pengembangan, 9) produksi hasil pengembangan. Instrumen penelitian & pengembangan yang digunakan untuk mengumpulkan data validasi adalah angket/kuesioner. Validator untuk validasi isi adalah seorang dosen dan dua guru SMA, sedangkan validator untuk validasi kelompok kecil (audiens) merupakan 10 siswa SMA kelas XI. Pengambilan data dilakukan setelah produk selesai dibuat dan dilakukan validasi isi dulu sebelum berlanjut ke validasi kelompok kecil. Hasil pengembangan ini adalah media pembelajaran asam basa berbasis flash berbahasa Inggris yang dikemas dalam CD. Media dirancang untuk dapat digunakan dalam pembelajaran konvensional, berbasis komputer maupun pembelajaran inovatif lainnya. Validasi isi menunjukkan bahwa media yang dihasilkan mempunyai tingkat kelayakan 86,79% dan validasi kelompok kecil menghasilkan kelayakan sebesar 87,50%. Maka, media yang dihasilkan telah layak digunakan dalam proses pembelajaran larutan asam basa untuk SMA/MA kelas XI.

Penerapan siklus belajar 4E dipadu dengan pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa kelas X-4 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Novi Ayu Lestari Ningtyas

 

Kata Kunci: Siklus belajar 4E, pembelajaran inkuiri, keterampilan proses sains, hasil belajar kognitif. Hasil wawancara dengan guru biologi, siswa, serta hasil observasi secara langsung di kelas X-4 SMA Laboratorium UM ditemukan beberapa permasalahan di antaranya adalah: metode pembelajaran biologi yang diterapkan cenderung teacher centeredyang jarang melibatkan siswa aktif di laboratorium. Hal ini mengakibatkan keterampilan proses sains siswa rendah dan 52,27% nilai ulangan tengah semester siswa di bawah KKM. Salah satu pembelajaran yang dianggap sesuai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah siklus belajar 4E dipadu dengan pembelajaran inkuiri. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2013 sampai bulan Februari 2013. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-4 SMA Laboratorium UM yang terdiri dari 44 siswa, dengan jumlah siswa laki-laki adalah 10 dan siswa perempuan 34 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan siklus belajar 4E dipadu dengan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa kelas X-4 SMA Laboratorium UM. Hal ini didasarkan pada meningkatnya setiap aspek keterampilan proses sains. Pencapaian aspek keterampilan menyusun hipotesis siklus I sebesar 57,33% dan meningkat pada siklus II menjadi 81,17%. Aspek keterampilan mengamati pada siklus I sebesar 84,50% dan meningkat pada siklus II menjadi 89,50%. Keterampilan mengumpulkan dan mengolah data pada siklus I sebesar 75,50% dan meningkat pada siklus II menjadi 89,17%. Keterampilan mengklasifikasikan meningkat dari siklus I sebesar 64,33% menjadi 94,00% pada siklus II. Keterampilan mengkomunikasikan pada siklus I sebesar 66,33% dan meningkat pada siklus II menjadi 83,50%. Keterampilan menyimpulkan mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 47,67% menjadi 76,50% pada siklus II. Keterampilan merancang eksperimen pada siklus I sebesar 59,67% dan meningkat pada siklus II menjadi 88,33%. Meningkatnya hasil belajar kognitif siswa didasarkan pada persentase siswa yang tuntas belajar kognitif dari siklus I sebesar 54,55% ke siklus II menjadi sebesar 86,36%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan, maka saran dalam penelitian ini adalah siklus belajar 4E dipadu dengan pembelajaran inkuiri dapat dijadikan alternatif sebagai upaya untuk meningkatakan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa.

Peningkatan kemampuan siswa mengembangkan keterampilan proses melalui pendekatan contextual teaching and learning pada pembelajaran IPA kelas IV di SDN Sumberdadi Kecamatan Bakung / Widarto

 

Kata Kunci: Peningkatan Keterampilan Proses, PendekatanCTL, Pembelajaran IPA. Hasilobservasipendahuluanpembelajaran IPA kelas IV SDN Sumberdadi-menunjukkanbahwapembelajaran IPA kelas IV dilaksanakandenganmetodecara-mahdantanyajawab. Kondisiiniberakibatketerampilan proses siswatidakdapatber-kembang. Kenyataaninimenginspriasipenelitimelakukanpenelitianpembelajaran IPA untukmeningkatkankemampuansiswamengembangkanketerampilan proses. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pembelajaran IPA kelas IV pada tahap pra tindakan; (2) kemampuan siswa mengembangkan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA pada tahap pratindakan; (3) pelaksanaan pembelajaran IPA kelas IV dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning pada setiap siklus; (4) kemampuan siswa mengembangkan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning pada tiap siklus; dan (5) peningkatan kemampuan siswa mengembangkan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri atas 3 pertemuan. Subjek penelitian siswa kelas IV sebanyak12 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan pada saat kegiatan tindakan dilakukan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPAkelas IVpada tahap pratindakan mencapaikualifikasi kurang baik denganpersentaseketerca-paian26,8%.Kemampuan siswa mengembangkan keterampilan proses pada tahap pratindakan nilai yang dicapaipadakualifikasi kurang baik denganpersentaseketer-capaian13%. Pembelajaran IPA kelas IVpada siklus Ipertemuanpertama, kedua-danketigamencapaipersentasedankualifikasiberturut-turut 88% (sangatbaik), 88% (sangatbaik), 90% (sangatbaik). Peningkatanpencapaianpersentasenilaipembelaja-ransebesar 61.2% terjadidaripembelajaranpadatahappratindakanmenujuperte-muanpertamasiklus I.Pembelajaran IPA kelas IVpada siklus II pertemuanpertama, keduadanketigamencapaipersentasedankualifikasiberturut-turut 92% (sangatbaik), 94% (sangatbaik), 98% (sangatbaik). Pelaksanaan pembelajaran IPA kelas IV mengalami peningkatan sedikit demi sedikitmulaipertemuanpertamasiklus I sampaipertemuanketigasiklus II denganpersentasepeningkatan rata-rata sebesar 2%.Kemampuansiswamengembangkanketerampilan proses padasiklus I perte-muanpertama, kedua, danketigamencapaipersentasedankualifikasiberturut-turut57% (cukupbaik), 65% (cukupbaik) 68% (cukupbaik). Kemampuansiswa-mengembangkanketerampilan proses padasiklus II pertemuanpertama, kedua, danketigamencapaipersentasedankualifikasiberturut-turut 69% (cukupbaik), 72% (baik) 77% (baik). Kemampuan siswa mengalami peningkatan sedikit demi sedi-kitmulaipertemuanpertamasiklus I sampaipertemuanketigasiklus II dengan rata-rata peningkatansebesar 4,4%. Kesimpulan hasil penelitian ini adalahPelaksanaan pendekatan pembela-jaran CTL pada pembelajaran IPA kelas IV dengan kriteria sangat baik dapat meningkatkan kemampuan siswa mengembangkan keterampilan proses dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian ini,maka disarankanbahwadalam mengajar, guru hendaknya menggunakan pendekatan pembelajaran CTL dalam pembelajaran IPA untuk mengembangkan keterampilan proses. Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan lembar kerja kelompok dengan matang sebelum menerapkan Pendekatan pembelajaran CTL dalam pembelajaran IPA. Guru hendaknya membimbing siswa dalam pembelajaran yang menggunakan Pendekatan Pembelajaran CTL agar siswadapatmengikutipembelajarandengane-fektif.

Penerapan model pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS-3 di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Bandi Saiful Bahri

 

Hubungan antara gaya belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran kelistrikan body standar Program Studi Keahlian Teknik Otomotif SMK Negeri 3 Jombang / Sukhma Kusuma Dewi

 

Kata Kunci : gaya belajar, motivasi belajar, prestasi belajar, kelistrikan body standar Keanekaragaman gaya belajar di sekolah masih berlangsung secara klasikal, antar individu dianggap memiliki gaya belajar yang sama sehingga terkadang materi dalam proses pembelajaran tidak tersampaikan dengan baik pada siswa dan prestasi belajar pun menjadi menurun. Motivasi belajar siswa juga merupakan salah satu penunjang meningkatnya prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, gaya belajar kinestetik dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran kelistrikan body standar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik penyebaran angket dan dokumentasi nilai raport. Berdasarkan hasil penelitian, hubungan antara gaya belajar visual dengan prestasi belajar mempunyai nilai P hitung 0.041 < 0.05 sehingga hubungan signifikan. Hubungan antara gaya belajar auditorial dengan prestasi belajar mempunyai nilai P hitung 0.995 > 0.05 sehingga hubungan tidak signifikan. Hubungan antara gaya belajar kinestetik dengan prestasi belajar mempunyai nilai P hitung 0.034 < 0.05 sehingga hubungan signifikan. Sedangkan hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mempunyai nilai Phitung 0.045 < 0.05 sehingga hubungan signifikan. Untuk hubungan antara gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, gaya belajar kinestetik dan motivasi belajar dihubungkan bersama-sama dengan prestasi belajar didapatkan nilai korelasi 0.535 sehingga hubungan posistif. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah yang pertama, terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar visual dengan prestasi belajar. Kedua, terdapat hubungan yang tidak signifikan antara gaya belajar auditorial dengan prestasi belajar. Ketiga, terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar kinestetik dengan prestasi belajar. Keempat, terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar. Kelima, terdapat hubungan yang positif anatara gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, gaya belajar kinestetik dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran kelistrikan body standar.

Penerapan kegiatan cooking area untuk meningkatkan kreativitas anak kelompok A TK Muslimat NU 05 Pakisaji Kabupaten Malang / Ela Trisnawati Ladamay

 

Kata Kunci: Kegiatan Cooking area, dan Kreativitas. Kegiatan belajar mengajar pada kelompok A TK Muslimat NU 05 Pakisaji, ditemukan beberapa gejala bahwa guru sering memberikan LKA (Lembar Kerja Anak), guru sering menyuruh anak untuk mewarnai gambar saja, sehingga kegiatan pembelajaran kurang melibatkan anak untuk bereksplorasi, berargumentasi, dan kreatif dalam menuangkan ide. Peneliti belum pernah melihat pembelajaran menggunakan media nyata atau kongkret. Anak-anak cenderung banyak duduk mendengarkan guru dan mengerjakan LKA. Pada saat observasi, peneliti menemukan 22 anak dari 33 yang mewarnai gambar dengan menggunakan 1 warna saja. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan cooking area untuk meningkatkan kreativitas pada anak kelompok A di TK Muslimat NU 05 Pakisaji, (2) apakah penerapan cooking area dapat meningkatkan kreativitas pada anak kelompok A di TK Muslimat NU 05 Kecamatan Pakisaji Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek dalam penelitian ini adalah anak kelompok A TK Muslimat NU 05 Pakisaji yang berjumlah 33 anak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Proses analisis data dalam penelitian ini berpedoman pada langkah-langkah analisis data secara kualitatif yaitu analisis data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Peningkatan kemampuan kreativitas pada anak kelompok A TK Muslimat NU 05 Pakisaji menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Skor rata-rata siklus I keberhasilan anak diperoleh 59.2%, rata-rata keberhasilan kelas pada siklus I sebesar 21.2% dengan kategori tidak berhasil. Kemampuan kreativitas pada siklus II mencapai skor 86.55%, rata-rata keberhasilan kelas pada siklus II sebesar 96.96% dengan kategori berhasil. Kegiatan cooking area menunjukkan peningkatan yaitu 29.94%, dari semula pada siklus I 56.62% dan naik pada siklus II menjadi 86.56%. Keberhasilan kelas juga mengalami peningkatan. Pada siklus I rata-rata keberhasilan sebesar 21.2% dan pada siklus ke II sebesar 96.96%. Kesimpulan penelitian yang dilakukan yaitu secara keseluruhan penerapan kegiatan cooking area telah berhasil dilaksanakan, dan dapat meningkatkan kreativitas anak. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk guru dapat menerapkan kegiatan cooking area sesuai dengan langkah-langkahnya dan untuk peneliti lain disarankan dapat menerapkan kegiatan cooking area untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak, sehingga penelitian tentang kegiatan cooking area dapat disempurnakan.

Pembinaan profesionalisme guru pascasertifikasi (Studi multi situs di SMPN 2 Pandaan dan SMP Yayasan Pandaan Kabupaten Pasuruan) / Mega Octaviana Santoso

 

Kata Kunci: pembinaanprofesionalisme guru, strategi, dampaksertifikasi Pembinaanprofesionalisme yang dilakukanterhadapgurusangatdiperlukanuntukmenunjangkeberhasilannyadalammengajarselainitudapatmemecahkanmasalah yang mungkinsajatimbulselamamelaksanakan proses belajarmengajar di kelas. Pembinaantidakhanyadilaksanakanolehdinaspendidikansaja, namunsekolahdalamhalinikepalasekolahjugamemilikikebijakanuntukmelakukanpembinaanberuparapatdanpemantauankinerja guru setiapharinya. Kegiatanrapatmenjadikegiatanwajibsetiapbulannya di SMPN 2 Pandaandan SMP YayasanPandaan yang berfungsiuntukmembantukinerja guru terutama guru yang sudahbersertifikasi. Fokuspenelitianmeliputi (1) apasajapembinaanprofesional yang dilakukankepadagurupascasertifikasidiperlukan; (2) apasajastrategimenghadapipermasalahandanpemecahan yang diberikankepadagurupascasertifikasi; dan(3) bagaimanadampakadanyasertifikasi; (4) bagaimanadampakpembinaanpascasertifikasi yang dirasakanolehguru. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatif.Jenispenelitianinidirancangdenganmenggunakanstudi multi situs, karenapenelitianinidilakukan di duasekolah yang berbedanamunmemilikipersamaandalampenelitianyaknipembinaanprofesionalisme guru pascasertifikasi.Data yang telahdiperolehdianalisissaatdanselesaipengumpulan data.Pengumpulan data dilakukandenganmelakukanteknikobservasi, wawancara, dandokumentasi.Data yang telahdianalisisdicekkeabsahannyadenganmenggunakanketekunanpengamatan, trianggulasi, dankecakupanreferensial. Hasiltemuanpenelitiansebagaiberikut: (1)perlunyapembinaanprofesionalismegurupascasertifikasi, meliputi: (a) mengadakanrapatrutin minimal satubulansekali, (b) mengikutipembinaanrutindaridinaspendidikanminimal 3 bulansekali, (c) pemberianmotivasikepadaguruterutama yang sudahbersertifikasiolehkepalasekolah, dan (d) agar kemampuanmengajar guru lebihmeningkatatau guru lebihprofesionallagi.; (2) strategimenghadapipermasalahandanpemecahannya, meliputi: (a) mengatasimasalah yang timbuldenganmelakukanmusyawarahantarakepalasekolahdanguru,dan(b) pentingnyakegiatan PLPG untukmengembangkankemampuan yang dimilikiguru;dan(3) dampakadanyasertifikasisertapembinaansertifikasi, meliputi: (a) kesejahteraangurumeningkat., (b) kemampuanmengajargurulebihbaikatauberkembang,dan(c) gurudengankepalasekolahsama-samamelakukankerjasamauntukmengatasidampaknegatifdanmempertahankandampakpositif. Beberapa saran penelitian disiniadalah: (1) bagiDinasPendidikanKabupatenPasuruanlebihmemperhatikanbentukpembinaan yang dilaksanakanbagi guru yang sudahbersertifikasisehinggaapa yang menjaditujuandariadanyapembinaanbagi guru dapattercapai. Sehingga guru yang mengikutipembinaandapatmeningkatkankemampuanmengajarnya.Selainitudinaspendidikanjugadapatmelaksanakanpembinaanterhadap guru yang belumsertifikasijugasehinggatidakhanyamengkhususkanpembinaanhanyakepada guru yang sudahsertifikasisaja; (2) bagisekolahselalumelaksanakanpembinaanterhadapsemua guru yang dimilikinyadengantujuanmeningkatnyakemajuanmengajargurusertadapatmengatasisegalamacampermasalahan yang dapatmengganggujalanya proses pembelajaran, selainituharuslebihmemperhatikankinerjaguruterutamakesejahteraanguru agar kualitaspendidikan di sekolahlebihmeningkatdanmemberikanmotivasiterhadap guru yang dianggapmelalaikankewajibannya; (3) bagiketuajurusanadministrasipendidikan FIP UM diharapkandapatmenambahkajianilmupengetahuankhususnya di bidangpembinaanprofesi guru; (4)bagipenelitilain, diharapkandapatmelakukanpenelitianpengembanganuntuk yang akandatangdenganmelakukanpendekatanpenelitian yang berbeda.

Pendidikan kecakapan hidup bagi narapidana melalui pendidikan non formal (studi kasus pada Lembaga Pemasyarakatan Klas I Lowokwaru, Malang) / Locita Kencana Gita Nurani

 

Pengembangan permainan "Move and Run" untuk pemanasan dan inti pembelajaran atletik lari jarak pendek 100 meter kelas VIII SMP Tamansiswa (Taman Dewasa) malang / Deddy Chandra Setyawan

 

Using the four-square writing method to improve eleventh graders' ability of writing hortatory exposition text at MAN Keboan Jombang / Arum Puspita Dewi

 

Kata Kunci: metode penulisan Four-Square, kemampuan menulis, teks hortatory exposition Menulis adalah proses mengubah suatu gagasan menjadi tulisan yang melibatkan beberapa tahapan. Akan tetapi masih banyak guru yang kurang menyadari pentingnya mengajar tahapan penulisan kepada siswa karena lebih fokus pada hasil akhir. Akibatnya, kemampuan menulis siswa menjadi tidak terlalu bagus. Hal serupa juga terjadi di MAN Keboan Jombang. Oleh karena itulah peneliti bermaksud untuk membantu siswa-siswa di MAN Keboan Jombang untuk mengatasi kesulitan yang mereka alami dalam menulis melalui penerapan metode penulisan Four-Square. Metode ini meliputi beberapa tahapan dan menggunakan organisator grafik sederhana. Melalui beberapa tahapan menulis dalam metode penulisan Four-Square, siswa dibimbing untuk membuat outline sebelum mengambangkannya menjadi teks yang utuh. Prosedur dari metode penulisan Four-Square ini meliputi: (1) Menuliskan gagasan utama pada kotak yang terdapat di tengah Four-Square, (2) Menuliskan tiga argumen, (3) Menambahkan detil informasi, (4) Menuliskan ringkasan, and (5) Menambahkan kata hubung. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas kolaboratif yang meliputi empat tahapan, yaitu perencanaan, penerapan, pengamatan dan perefleksian. Subyek dari penelitian ini adalah 20 orang siswa kelas XI IPA 1 di MAN Keboan Jombang. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi, kuisioner, daftar pertanyaan wawancara, ceklis observasi, field notes dan rubrik penilaian. Kriteria kesuksesan dari penelitian ini adalah: 75% siswa dapat memperoleh nilai diatas 70 dan 60% siswa ikut terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Hasil temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa metode penulisan Four-Square merupakan strategi yang efektif untuk mengajar menulis. Tahapan metode penulisan Four-Square yang diikuti dengan instruksi-instruksi yang jelas dan sederhana memfasilitasi siswa dalam menulis teks hortatory exposition dengan mudah. Sebagai hasilnya, kesulitan siswa dalam menulis secara bertahap dapat dipecahkan seiring dengan penerapan metode penulisan Four-Square. Hal ini didukung dengan meningkatnya nilai menulis siswa dimana 16 dari 20 siswa (80%) mendapat nilai diatas 70 dengan rata-rata nilai 75,1. Selain itu, hampir keseluruhan siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar melalui menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dan berpartisipasi dalam diskusi. Berdasarkan hasil temuan di atas, peneliti memberikan dua saran. Untuk guru Bahasa Inggris, peneliti menyarankan agar menerapkan metode penulisan Four-Square dalam mengajar menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis siswanya. Sedangkan penelitian lanjutan disarankan pada penerapan metode penulisan Four-Square untuk jenis teks yag lain dan di level pendidikan yang lebih rendah, misalnya di SMP.

Analisis struktural genetik dalam cerpen "Ahdu asy-Syaithann" karya Taufiq Al Hakim / Khoirin Nikmah

 

Kata Kunci: struktural genetik, ‘Ahdu Asy-syaithaan, Taufiq Al Hakim. Cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan, merupakan salah satu dari puluhan karya sastra sastrawan sekaligus politikus asal Mesir, Taufiq Al Hakim. Cerpen ini berisi tentang persekongkolan manusia dengan setan yang berawal dari sebuah perjanjian. Perjanjian yang muncul akibat ketidakpuasan seorang manusia atas hidupnya. Cerpen yang lahir pada tahun 1938 ini, sebatas pengetahuan penulis, hingga kini belum pernah dikaji berdasarkan tinjauan analisis struktural genetik. Oleh karena itu, diperlukan pembahasan struktural genetik dalam cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan karya Taufiq Al Hakim. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hal-hal berikut ini. Pertama, struktur intrinsik yang terdapat dalam cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan. Kedua, latar belakang kehidupan sosial Taufiq Al Hakim serta sejarah masyarakat saat itu berkaitan dengan genesis cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan. Ketiga, pandangan dunia yang terdapat pada cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan. Keempat, wujud totalitas cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan. Dalam penelitian ini, digunakan rancangan penelitian deskriptif kajian pustaka dengan pendekatan struktural genetik. Analisis struktural genetik dapat ditelusuri dengan cara melihat fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia pengarang, struktur karya sastra, serta dialektika pemahaman dan penjelasan. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah human instrument. Dalam mengumpulkan data, prosedur yang dilakukan adalah mengkaji cerpen terkait serta biografi pengarang. Data yang telah diperoleh dianalisis melalui beberapa tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data, dilakukan triangulasi. Selanjutnya, dilakukan penelitian yang dimulai dari tahap identifikasi data, studi literatur, menyusun desain penelitian, melaksanakan penelitian, dan menulis laporan hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh empat kesimpulan. Pertama, keseluruhan anasir intrinsik dalam cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan saling memiliki keterkaitan. Kedua, latar belakang kelahiran cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan berkaitan erat dengan latar belakang pribadi Taufiq Al Hakim dan sejarah masyarakat pada saat itu. Hal ini tampak pada penokohan tokoh “aku” yang menempuh studi di Paris untuk memperdalam keilmuannya. Adapun latar belakang masyarakat terlihat pada penggambaran setan yang diibaratkan sebagai simbol elite pejabat yang cenderung menggunakan jalan sesat sebagai cara untuk menempuh keinginan pribadi. Ketiga, ideologi idealis dengan karakter yang kuat tampak pada penokohan tokoh “aku”, sedangkan pandangan tragik tampak pada cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan karena adanya karakter manusia tragik yang melekat pada tokoh aku dan Faust. Keempat, totalitas cerpen ‘Ahdu Asy-syaithaan terletak pada keseluruhan anasir di dalam cerpen yang saling berkaitan satu sama lain.

Integrating mind mapping software utilization in the process writing approach to improve the writing skill of the eleventh grades of SMAN I Ponorogo / Supiyan

 

Kata kunci: mind mapping software, process writing approach, ketrampilan menulis Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa kelas XI SMAN I Ponorogo dalam pelajaran menulis utamanya dalam hal memunculkan dan mengorganisir ide. Peneliti kemudian mengusulkan penelitian tentang pengintegrasian penggunaan mind mapping software (Minjet MindManager 9) dalam process writing approach sebagai solusinya. Hasil pelaksanaan penelitian pada siklus 1 telah memenuhi criteria ketuntasan, namun peneliti memutuskan untuk melakukan siklus 2 dengan tujuan untuk memberi kesempatan siswa untuk lebih berlatih. Dalam mengimplementasikan penelitiannya, peneliti mengadaptasi process writing approach yang terdiri dari langkah-langkah (prewriting, drafting, revising, editing, dan publishing) sedangkan penggunaan mind mapping software dilakukan pada tahapan prewriting dengan prosedur (1) mengaktifkan aplikasi, (2) menulis judul pada menu “central topic”, (3) mengembangkan topik menjadi subtopik dengan mengklik menu “subtopic” sesuai dengan kategorisasinya, (4) mengembangkan subtopik menjadi subsubtopik dengan mengklik menu “subtopic”. Tingkat partisipasi siswa “sangat baik” (96,25%) pada siklus 1 dan juga “sangat baik” (97,5) pada siklus 2 sedangkan respon siswa “baik” (626) pada siklus 1 dan “sangat baik” (715) pada siklus 2. Nilai rata-rata siswa yang pada tahapan pra penelitian 77,06, meningkat menjadi 81,94 di siklus 1 dan 83,20 di siklus 2. Nilai t-test menunjukkan adanya perbaikan yang “signifikan” dengan ditandai nilai 0,000 pada perbandingan nilai pra penelitian dan siklus 1 serta antara siklus 1 dan 2. Prosentase siswa yang mendapatkan nilai lebih baik adalah 94% pada siklus 1 dan 74% pada siklus 2. Perbaikan nilai tersebut lebih banyak dipengaruhi dari aspek isi dan organisai essai. Peneliti sangat menyarankan guru menulis yang mempunyai permasalahan yang serupa untuk mengintegrasikan penggunaan mind mapping software dalam process writing approach guna meningkatkan ketrampilan menulis siswa utamanya dalam memunculkan dan mengorganisir ide. Peneliti juga menyarankan kepada siswa untuk menggunakan mind mapping software dalam proses menulis mereka utamanya pada tahapan prewriting. Disamping itu siswa juga bisa menggunakannya untuk merencanakan banyak hal termasuk pada pelajaran yang lain. Mereka bisa menggunakannya untuk merangkum pelajaran mereka untuk mengetahui peta yang jelas tentang pelajaran sekaligus untuk meningkatkan memori. Dalam penelitian ini, masalah yang secara konsisten muncul adalah language use dan mechanics sehingga peneliti menyarakan peneliti selanjutnya untuk menemukan prosedur penggunaan mind mapping software yang mampu menyelesaikan dua masalah tersebut.

Penerapan siklus belajar 5E untuk meningkatkan keterampilan menjelaskan konsep dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN I Buntaran Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung / Lini Anggraeni Rahayu

 

Kata Kunci: keterampilan siswa menjelaskan konsep, siklus belajar 5E, dan pembelajaran IPA. Keterampilan siswa menjelaskan konsep merupakan keterampilan menerangkan secara gamblang hubungan antar fakta sehingga konsep tersebut dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan masalah. Hasil dari observasi pendahuluan di SDN I Buntaran kelas IV menunjukkan bahwa keterampilan siswa menjelaskan konsep dalam pembelajaran IPA masih rendah. Ini disebabkan oleh pemilihan model pembelajaran yang kurang sesuai dengan karakreristik IPA. Guru lebih banyak berceramah dan siswa mendengarkan, membaca materi di buku, terkadang menjawab pertanyaan dari guru, serta siswa kurang diberikan kesempatan untuk mengungkapkan ide-idenya selama pembelajaran. Oleh karena itu, diadakan penelitian untuk meningkatkan keterampilan siswa menjelaskan konsep dalam pembelajaran IPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan proses belajar siswa dalam pembelajaran IPA selama tahap pratindakan. Menjelaskan keterampilan siswa dalam menjelaskan konsep pada tahap pratindakan. Menjelaskan proses belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan siklus belajar 5E pada setiap siklus.. Menjelaskan keterampilan siswa dalam menjelaskan konsep dengan menerapkan siklus belajar 5E pada setiap siklus. Menjelaskan peningkatan keterampilan siswa dalam menjelaskan konsep dengan menggunkan model siklus belajar 5E. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV yang terdiri atas 9 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam menganalisis data digunakan teknik analisis data kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pada tahap pratindakan siswa belajar dengan model pembelajaran semikonvensional dan siswa belum diberikan kesempatan mengungkapkan ide-idenya. Keterampilan siswa menjelaskan pada tahap pratindakan mendapat skor 18,78 dengan kualifikasi sangat kurang. Aktivitas belajar siswa pada siklus I dan II lebih baik jika dibandingkan dengan tahap pratindakan. Pada akhir siklus I memperoleh skor 68 dengan kualifikasi cukup dan di akhir siklus II memperoleh skor 82 dengan kualifikasi baik. Peningkatan skor keterampilan siswa menjelaskan konsep cukup tajam dari tahap pratindakan ke akhir siklus I yaitu 44,55 poin. Sementara itu, peningkatan dari akhir siklus I ke akhir siklus II sebesar 18,11 poin. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Proses belajar IPA pada tahap pratindakan belum mengembangkan keterampilan menjelaskan. Keterampilan siswa menjelaskan konsep selama pembelajaran IPA pada tahap pratindakan belum berkembang atau masih rendah. Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan siklus belajar 5E pada masing-masing siklus mengalami peningkatan. Keterampilan siswa menjelaskan konsep dengan menerapkan siklus belajar 5E menjadi lebih baik tahap pratindakan. Terjadi peningkatan skor keterampilan siswa dalam menjelaskan mulai dari tahap pratindakan dengan skor 18,78 (sangat kurang) menjadi 61,33(cukup) pada pertemuan 3 siklus I dan skor meningkat lagi menjadi 79,44 (baik) pada pertemuan 3 siklus II. Jadi penerapan siklus belajar 5E yang baik dapat meningkatkan keterampilan siswa menjelaskan konsep dengan kualifikasi baik. Saran yang dapat diberikan antara lain siswa hendaknya aktif mengikuti pembelajaran dan berani mengungkapkan pendapatnya. Guru hendaknya mempersiapkan pembelajaran yang inovatif dan kreatif agar dapat mengembangkan keterampilan proses pada diri siswa. Hendaknya sekolah mendorong agar para guru selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Pengembangan modul multimedia interaktif pelajaran IPA kelas IV semester II SDN Lowokwaru 3 Malang / Galuh Dewayani Wulandari

 

Kata kunci: pengembangan, modul, multimedia interaktif, mata pelajaran ilmu pengetahuan alam Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Produk modul multimedia interaktif ini dikembangkan dan diuji di SDN Lowokwaru 3 Malang pada standar kompetensi memahami berbagai bentuk energi dan cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah: menghasilkan produk. Produk berupa modul multimedia interaktif pelajaran ilmu pengetahuan alam kelas IV semester II materi pokok energi alternatif. Selain itu juga menguji keefektifan serta kevalidan produk yang telah dikembangkan. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ADDIE yang terdiri dari lima tahapan: (1) analisis, (2) desain, (3) pengembangan, (4) implementasi, (5) evaluasi. Instrument pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada satu satu ahli media, satu ahli materi, uji coba perorangan dengan 2 orang siswa, uji coba kelompok kecil dengan 10 orang siswa dan uji lapangan dengan 32 orang siswa. Hasil validasi isi terhadap kelayakan modul multimedia interaktif ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 98,52%, validasi ahli materi 100%, uji coba perorangan 94,16%, dan uji coba kelompok kecil 94,65%, uji lapangan (93,28). Hasil pengembangan modul pembelajaran telah direvisi meliputi : (1) video pada modul diperbanyak sesuai dengan materi energi alternatif, (2) mengubah warna tulisan pada standar kompetensi dari warna merah diganti dengan warna hitam (3) huruf diganti menjadi arial. Saran pengembangan dikembangkan dengan materi-materi lain sesuai karakteristik bidang studinya dan mengikuti prosedur pengembang.

Penerapan strategi pembelajaran aktif tipe true or False untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam mata pelajaran produktif TKJ di SMK Negeri 2 Malang / Happy Nur Prasetyo Wibowo

 

Kata Kunci : Strategi Pembelajaran Aktif Tipe True or False, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Permasalahan yang dialami guru TKJ saat mengajar mata pelajaran produktif TKJ di kelas X TKJ 3 SMKN 2 Malang adalah siswa kurang termotivasi dalam proses pembelajaran dan kurangnya keinginan siswa dalam mengerjakan latihan terutama pada mata pelajaran produktif TKJ. Siswa juga masih pasif dalam bertanya dan berpendapat. Proses pembelajaran yang dilakukan masih terpusat pada guru dan berlangsung monoton, guru memberikan materi dan contoh soal, siswa mendengarkan penjelasan yang diberikan guru, kemudian mengerjakan latihan yang diberikan guru. Komunikasi juga berlangsung hanya satu arah yaitu dari guru ke siswa dan kurangnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Jika penguasaan materi hanya dilakukan siswa dengan tergantung pada apa yang disampaikan guru, maka aktivitas belajar siswa menjadi terbatas. Aktivitas belajar ini juga dapat mengakibatkan hasil belajar yang kurang maksimal. Selama ini guru hanya menjelaskan dengan metode ceramah sehingga siswa menjadi tidak kondusif dan cenderung tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, siswa juga tidak akan bertanya atau berpendapat karena merasa apa yang disampaikan oleh guru sudah cukup. Dengan keadaan yang ada di lapangan peneliti berinisiatif membantu memecahkan permasalahan guru yaitu dengan melakukan penelitian tindakan kelas melalui penerapan strategi pembelajaran aktif tipe True or False dalam kegiatan belajar mengajar produktif TKJ yang diharapkan mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dimana siswa menjadi lebih aktif dan hasil belajar menjadi lebih maksimal. Dalam pelaksanaan strategi pembelajaran aktif tipe True Or False ini siswa dibagi atas beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4 atau 5 anggota. Setiap siswa akan mendapatkan lembaran yang berisi pernyataan-pernyataan yang menyangkut tentang materi yang diajarkan. Siswa di minta untuk mengidentifikasi mana pernyataan yang benar atau yang salah. Siswa diberikan kesempatan untuk menjawab atau mengemukakan pendapat semampu mereka dalam batas waktu yang telah ditentukan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dirancang dalam tiga siklus. Masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subjek penelitian adalah siswa kelas X TKJ 3 SMKN 2 Malang yang berjumlah 34 siswa. Pencapaian aktivitas belajar siswa pada siklus I antara lain mental activities 47%, visual activities 35,2%, writing activities 29,4%, oral activities 52,9%, listening activities 70,5%, dan emotional activities 38,2%. Pencapaian aktivitas belajar siswa pada siklus II antara lain mental activities 85,2%, visual activities 73,5%, writing activities 50%, oral activities 70,5%, listening activities 85,2%, dan emotional activities 76,4%. Pencapaian aktivitas belajar siswa pada siklus III antara lain mental activities 94,1%, visual activities 76,4%, writing activities 73,5%, oral activities 82,3%, listening activities 79,4%, dan emotional activities 82,3%. Penerapan strategi pembelajaran aktif tipe True Or False juga meningkatkan hasil belajar siswa dengan persentase ketuntasan hasil belajar siswa adalah pada siklus I sebesar 48,3%, pada siklus II sebesar 66,6%, dan pada siklus III sebesar 79,4%. Dengan hasil penelitian ini, diharapkan guru TKJ dapat terus menerapkan strategi pembelajaran aktif tipe True Or False dalam proses pembelajarannya dan mengupayakan kelas lebih kondusif.

Pengaruh model pembelajaran langsung (direct instruction) berbantuan LKS bergambar disertai teks terhadap hasil belajar geografi siswa SMP/MTs / Ayu Listriani

 

Kata Kunci: Pembelajaran Langsung (Direct Instruction), LKS Bergambar Disertai Teks, Hasil Belajar. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) berbantuan LKS bergambar disertai teks adalah model pembelajaran yang menekankan guru harus menguasai informasi untuk mentrasfer ilmu kepada siswa melalui LKS bergambar disertai teks yang terdiri dari 5 fase proses pembelajaran yaitu 1) Menyampaikan tujuan dan Mempesiapkan siswa, 2) Menjelaskan pengetahuan dan keterampilan, 3) Membimbing pelatihan, 4) Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, 5) Memberi kesempatan untuk pelatihan dan penerapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Direct Instruction berbantuan LKS bergambar disertai teks terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi MTs Negeri 1 Munjungan Trenggalek. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ekperimen kuasi (quasi experimenal design) dengan desain kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013 dengan sampel penelitian siswa kelas VIIA sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIB sebagai kelas kontrol. Instrumen dan teknik pengumpulan data dalam penilaian hasil belajar Geografi menggunakan pre-test dan post-test. Teknik Analisis data yang digunakan adalah uji t (t-test) tidak berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil analisis data diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar (Gain Score) siswa kelas eksperimen sebesar 40,31dan 34,59 pada kelas kontrol. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai signifikansi 0,037<0,05 maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) berbantuan LKS bergambar disertai teks berpengaruh terhadap hasil belajar siswa MTs Negeri 1 Munjungan Trenggalek. Disarankan bagi sekolah untuk mengadakan pelatihan, seminar maupun Lesson Study terhadap guru-guru tentang model PembelajaranLangsung (Direct Instruction). Disarankan juga pada guru Geografi untuk memotivasi siswa dan menciptakan kondisi belajar yang nyaman agar keseluruhan siswa tertarik dan mampu berperan aktif serta mengeksplorasi pengetahuan mereka dalam kegiatan pembelajaran melalui model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction. Bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian dengan model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) berbantuan LKS bergambar disertai teks pada materi yang berbeda dan mengujicobakan kombinasi model dan media pembelajaran yang lebih variatif.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 |