Analisis kesulitan membaca kalimat bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Jawa siswa kelas X SMAN Plandaan Jombang / Diyanita

 

Kata kunci : bahasa Jawa, membaca kalimat bahasa Jawa, aksara Jawa. Bahasa Jawa merupakan salah satu kebudayaan daerah yang masih hidup dan tetap dipergunakan oleh masyarakat Jawa sampai sekarang, terutama masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan, bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran muatan lokal wajib yang ada di lembaga pendidikan formal di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam pembelajaran bahasa Jawa, secara otomatis di dalamnya terdapat pembelajaran membaca kalimat atau teks bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Jawa. SMAN Plandaan Jombang merupakan salah satu SMAN yang pelajaran muatan lokalnya adalah pelajaran bahasa Jawa. SMAN Plandaan Jombang yang berada di daerah Jombang utara ini, secara geografis merupakan SMAN yang terletak di daerah pedalaman, yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Namun, kebanyakan siswa SMAN Plandaan belum bisa membaca kalimat atau teks bahasa Jawa yang ditulis menggunakan aksara Jawa dengan baik karena mengalami kesulitan dalam memahami bentuk aksaranya. Hal ini tentu akan mempengaruhi nilai rapor siswa sehingga kesulitan tersebut harus segera diatasi. Oleh karena itulah, perlu dilakukan penelitian yang mengangkat judul Analisis Kesulitan Membaca Kalimat Jawa yang Menggunakan Aksara Jawa pada Siswa Kelas X SMAN Plandaan Jombang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) kondisi pembelajaran membaca kalimat bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Jawa pada siswa kelas X SMAN Plandaan Jombang, dan (2) wujud kesulitan siswa kelas X SMAN Plandaan dalam membaca kalimat bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Jawa. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas X dan guru bahasa Jawa SMAN Plandaan yang melaksanakan pembelajaran membaca kalimat Jawa yang ditulis dengan aksara Jawa, serta hasil tugas membaca aksara Jawa. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang diambil dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Peneliti ber-tindak sebagai pengumpul data dan observer partisipatif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di SMAN Plandaan Jombang. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan logika induktif, bergerak dari suatu hal yang khusus atau spesifik ke arah suatu temuan yang bersifat umum. Data yang diperoleh dari lokasi penelitian disusun dalam bentuk uraian yang sistematis, kemudian dikaitkan dengan sumber data bacaan yang ada. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagai berikut. Pertama, kondisi saat proses pembelajaran membaca aksara Jawa berlangsung adalah baik. Guru mampu menguasai kelas dan menempatkan posisi dengan baik. Hal ini tentu akan membuat siswa lebih tenang. Namun, guru tidak menggunakan media dan strategi pembelajaran yang menarik dalam proses pembelajaran sehingga membuat beberapa siswa melakukan tindakan lain selain belajar. Saat mengajar, guru menggunakan metode memberitahukan sebagai metode utama dan cenderung bersikap otoritas. Kondisi ruang kelas X-1 saat proses pembelajaran membaca kalimat Jawa yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa dilaksanakan adalah nyaman. Hasil penelitian yang kedua adalah ditemukan tujuh klasifikasi wujud kesulitan. Wujud kesulitan tersebut adalah kesulitan dalam memahami konsep aksara legena, pasangan, sandangan, aksara murda, aksara swara, angka Jawa, dan aksara rékan. Wujud kesulitan tersebut diperoleh peneliti dari hasil analisis tugas membaca aksara Jawa, hasil wawancara, dan hasil observasi. Beberapa siswa menyatakan kalau mereka sudah lama tidak belajar aksara Jawa sehingga untuk mempelajarinya membutuhkan waktu yang relatif lama. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, agar kesulitan yang dialami siswa bisa teratasi maka guru harus menggunakan media dan strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Media yang inovatif diwujudkan dalam bentuk media kartu bertuliskan kalimat aksara Jawa dan tabel perbedaan bentuk antar aksara. Guru harus lebih banyak melibatkan proses berpikir siswa dalam proses pendalaman materi, sehingga siswa akan berusaha untuk memahami materi dengan sendirinya. Hal ini juga harus diimbangi dengan usaha siswa dalam meningkatkan frekuensi belajarnya. Siswa harus lebih rajin berlatih membaca aksara Jawa.

Pengembangan literasi akademik siswa di sekolah / Ganang Probo Kusumo

 

Ganang P. Kusumo. 2013. Pengembangan Literasi Akademik Siswa di Sekolah. Skripsi, Bahasa, dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Suyono, M.Pd; (2) Drs. Dwi Saksomo, M.Si Kata Kunci: literasi, literasi akademik Literasi adalah kemampuan kolaboratif/sinergis berbahasa dan berpikir dengan inti kegiatan membaca-berpikir-menulis yang dilakukan oleh seseorang (siswa) dalam rangka memanfaatkan secara optimal berbagai sumber baik yang tercetak maupun yang tidak tercetak untuk berbagai keperluan. Literasi akademik siswa di sekolah adalah proses mengembangkan budaya literasi di sekolah, artinya pengembangan kesadaran, motivasi, keterampilan, kegemaran berliterasi yang tinggi dari siswa di sekolah untuk keperluan akademik maupun non-akademik. Literasi akademik adalah pemanfaatan dari sinergi kemampuan membaca, berpikir-kritis, menulis yang diterapkan secara lintas bidang studi. Konteks mendasari sebuah penelitian itu dilakukan, apabila konteks itu dikaitkan dengan penelitian. Konteks pada penelitian pengembangan literasi akademik siswa di sekolah ini adalah sekolah sebagai lingkungan akademis formal berfungsi mengembangkan perilaku berliterasi siswa, karena di sekolah siswa banyak mengaplikasikan kemampuan dan keterampilannya terutama keterampilan membaca, berpikir, menulis yang menjadi landasan dari literasi akademik itu sendiri. Literasi akademik siswa disekolah bertujuan untuk membantu siswa dalam proses akademik. Literasi akademik ini memiliki tujuan untuk membantu siswa dalam memahami dan mendalami setiap substansi materi beragam mata-pelajaran yang diterimanya di sekolah secara lintas bidang studi, sehingga pemahaman siswa lebih komprehensif dan tidak terbatas sektoral. Ada beragam cara dan strategi yang dapat ditempuh pada pengembangan literasi akademik siswa di sekolah. Pada pengembangan literasi akademik siswa di sekolah ini strategi yang ditempuh diantaranya adalah menerapkan kelas literasi yang terstruktur didampingi oleh tim terlatih, aktivitas story book reading dan yang paling utama yaitu pembelajaran membaca-menulis secara lintas kurikulum. Secara umum perangkat dalam pembelajaran di sekolah terdiri dari silabus, RPP, evaluasi dan asesmen. Setelah itu, didukung dengan komponen-komponen pendukung lainnya, Pada pengembangan literasi akademik siswa di sekolah ini, perangkat yang diperlukan diantaranya adalah menulis,wacana lisan-wacana tulis, dan asesmen. Karena perangkat diperlukan dalam pengembangan literasi akademik siswa di sekolah. Sebagai sarana yang dapat memfasilitasi siswa dalam belajar di lingkungan akademik sekolah.

Analisis kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dalam skripsi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UM angkatan 2008 / Fitrotus Sidqiyah

 

Kata kunci: analisis kesalahan, skripsi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, bahasa Indonesia, kalimat efektif, penerapan kaidah EYD. Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara. Salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai pendukung kegiatan keilmuan. Karena itu, bahasa Indonesia diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Penggunaan bahasa Indonesia meliputi empat keterampilan, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun, dalam studi sederhana yang dilakukan oleh peneliti terhadap skripsi Jurusan Sastra Indonesia UM masih banyak ditemukan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia, terutama berkaitan dengan bentukan kalimat efektif dan penerapan kaidah EYD. Berdasarkan hal tersebut, penelitian dengan judul Analisis Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Skripsi Jurusan Sastra Indonesia UM Angkatan 2008 ini difokuskan untuk mendeskripsikan (1) bentukan kalimat efektif dan (2) penerapan kaidah EYD. Bentukan kalimat efektif meliputi aspek kegramatikalan, pilihan kata, kehematan, kelogisan, kepaduan, dan kecermatan. Penerapan kaidah EYD meliputi aspek pemakaian huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Adapun pengambilan data untuk skripsi prodi pendidikan menggunakan teknik snowball sampling karena jumlah skripsi Jurusan Sastra Indonesia prodi pendidikan angkatan 2008 pada 2013 tidak terjangkau untuk dianalisis seluruhnya. Teknik Snowball sampling yaitu sumber data diambil secara acak dan mula-mula jumlahnya kecil kemudian ditambah untuk menguatkan atau melengkapi data yang diperoleh. Sementara itu, jumlah skripsi Jurusan Sastra Indonesia prodi nonpendidikan angkatan 2008 pada 2013 hanya 5. Jumlah tersebut terjangkau sehingga seluruhnya dianalisis. Dari hasil analisis, secara umum dapat ditarik simpulan bahwa kualitas penggunaan bahasa Indonesia dalam skripsi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UM angkatan 2008 masih belum baik. Namun, jika dibandingkan, skripsi prodi pendidikan masih lebih baik daripada prodi nonpendidikan. Kesalahan yang terbanyak ditemukan adalah bentukan kalimat efektif aspek kehematan, sedangkan kesalahan yang paling sedikit ditemukan yaitu aspek penulisan kata pada skripsi prodi pendidikan dan aspek kepaduan dan kecermatan pada skripsi prodi nonpendidikan. Hasil penelitian ini tidak berlaku bagi populasi di luar data yang dianalisis.

Karakteristik sastra anak Indonesia tahun 2000-2010 / Dwi Sriwahyuni

 

Sriwahyuni, Dwi. 2013. Karakteristik Sastra Anak Indonesia Tahun 2000—2010. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., (2) Dr. Martutik, M.Pd. Kata Kunci: karakteristik sastra anak, sastra anak Sastra Indonesia mulai tumbuh sejak awal tahun 1920-an. Khusus sastra anak belum diketahui kapan kemunculannya. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak berusia antara 6—13 tahun. Sastra anak berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Karakteristik sastra anak perlu untuk diteliti agar masyarakat dan tentunya anak dapat mempelajari sastra yang tepat dan cocok untuk anak-anak tersebut. Dalam kenyataannya, sastra anak kurang diperhatikan padahal sastra anak berguna untuk menunjang pengetahuan dan merangsang anak untuk gemar membaca. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian dengan mengidentifikasi dan mengkaji karakteristik sastra anak Indonesia. Karakteristik tersebut dispesifikasikan mulai tahun 2000—2010. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan bahasa, tema, dan teknik bercerita dalam karya sastra anak Indonesia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa paparan kebahasaan yang mengandung unsur bahasa, tema, dan teknik bercerita. Data tersebut diperoleh dari majalah Bobo dari tahun 2000—2010. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi, yaitu memanfaatkan sumber pustaka berupa majalah. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap indentifikasi, kategorisasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan temuan, dilakukan dengan teknik perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan, dan kecukupan referensial. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tiga simpulan hasil penelitian, yaitu pertama, karakteristik bahasa dalam karya sastra anak Indonesia menggunakan pilihan kata konkret, kalimat sederhana, dan kata-kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari puisi dan cerpen yang dianalisis, secara umum bahasa yang digunakan sesuai dengan perkembangan zaman dan kehidupan sosial yang terjadi di sekitar anak-anak dan masyarakat. Karakteristik bahasa dalam karya sastra anak Indonesia tersebut mencerminkan realitas sosial yang terjadi dari waktu ke waktu. Kedua, karakteristik tema dalam karya sastra anak berkisar pada kehidupan di sekitar anak, tema tentang diri anak, keluarga, persahabatan, sekolah, lingkungan sekitar, dan kehidupan sosial. Hal tersebut dikarenakan semuanya berkaitan dan dekat dengan dunia anak-anak. Oleh karena itu, pengarang menyesuaikan tema puisi dan cerpen untuk anak-anak dengan memperhatikan kondisi sosial di lingkungan mereka.

Pengembangan bahan ajar menulis naskah drama siswa kelas IX SMP dengan pemanfaatan peristiwa faktual berita sebagai sumber ide / Irma Hardani

 

Kata Kunci: bahan ajar, naskah drama, peristiwa faktual berita Pembelajaran menulis sastra khususnya menulis naskah drama adalah salah kegiatan yang bertujuan melatih siswa untuk menuangkan ide, pikiran, gagasan, dan perasaan yang diwujudkan dalam sebuah tulisan yaitu naskah drama. Salah satu faktor yang menjadi hambatan dalam pembelajaran menulis drama adalah karena kurang tersedianya bahan ajar yang mendukung proses pembelajaran. Berdasarkan analisis kebutuhan diketahui bahwa faktor yang menghambat pembelajaran menulis naskah drama adalah belum tersedianya bahan ajar yang mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengembangkan bahan ajar menulis naskah drama dengan pemanfaatkan peristiwa faktual berita sebagai sumber ide yang memenuhi syarat isi, sistematika penyajian, bahasa, dan tampilan. Uji coba bahan ajar dilakukan sebanyak empat kali yaitu uji ahli pembelajaran penulisan naskah drama, penulisan bahan ajar, praktisi, dan siswa untuk menghasilkan produk yang layak. Data penelitian berupa data verbal lisan yaitu hasil wawancara, komentar, serta saran dari uji ahli, sedangkan verbal tulis berupa hasil analisis kurikulum, analisis kebutuhan, dan studi penelitian terdahulu. Masukan-masukan disikapi sebagai data untuk menghasilkan bahan yang berterima. Penelitian pengembangan ini menghasilkan langkah-langkah pemanfaatan peritiwa faktual berita sebagai sumber ide yaitu (1) mengidentifikasi unsur what, (2) mengidentifikasi unsur who, (3) mengidentifikasi unsur when dan where, (4) mengidentifikasi unsur. Setelah mengidentifikasi unsur, tahap selanjutnya adalah menganalisis setiap unsur dalam berita menjadi kerangka naskah drama yaitu (1) menganalisis unsur what dikembangkan menjadi tema, (2) menganalisis unsur who dikembangkan menjadi tokoh dan perwatakan, (3) menganalisis unsur when dan where dikembangkan menjadi latar, (4) menganalisis unsur why dan how dikembangkan menjadi alur, (5) berlatih membuat dialog berdasarkan berita yang sudah dikembangkan, hingga (6) membuat naskah drama dengan memanfaatkan peristiwa faktual berita sebagai sumber ide. Berdasarkan hasil analisis keempat tahap uji coba yang telah dilakukan, menunujukkan bahwa produk bahan ajar yang dikembangkan secara keseluruhan telah layak diimplementasikan dalam pembelajaran. Beberapa aspek dari isi, sistematika penyajian, bahasa, dan tampilan dalam bahan ajar masih harus direvisi untuk kesempurnaan produk bahan ajar. Siswa dan guru dapat memanfaatkan produk hasil pengembangan ini dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan dapat dimuat dalam jurnal penelitian.

Pengembangan instrumen asemen pembelajaran menulis kreatif puisi siswa kelas VII SMP/MTs / Herlina Agustin

 

Kata kunci: instrumen asesmen, pembelajaran menulis kreatif puisi. Asesmen merupakan satu-satunya langkah yang diambil oleh guru untuk mengetahui kemampuan menulis kreatif puisi siswa. Demi ketercapaian tujuan penilaian, diperlukan sebuah instrumen asesmen yang dapat mengukur kompetensi siswa dalam menulis kreatif puisi. Instrumen asesmen yang digunakan harus mampu mengukur keberhasilan belajar yang dicapai siswa sebagaimana yang tertulis dalam setiap indikator pembelajaran. Hal yang melatarbelakangi pengembangan instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi siswa kelas VII SMP/MTs antara lain, pentingnya instrumen tersebut dan masih ada kekurangan terhadap instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi yang sudah ada. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah (1) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi dengan memperhatikan validitas, (2) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi dengan memperhatikan reliabilitas, dan (3) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi dengan memperhatikan kepraktisan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan model prosedural dan memodifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan Borg dan Gall, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) pengembangan model, dan (3) uji model. Untuk mengetahui kelayakan model atau produk, dilakukan uji kepada ahli asesmen dan evaluasi pembelajaran, ahli isi sastra Indonesia, ahli praktisi atau guru bahasa dan sastra Indonesia, dan siswa kelas VII SMP/MTs. Jenis data yang dikumpulkan pada kegiatan pengembangan ini antara lain adalah data tertulis dan data verbal. Data tertulis meliputi catatan uji coba, saran, koreksi, dan komentar para subjek uji coba. Sedangkan data verbal berupa rekaman hasil dari wawancara dengan para subjek uji coba setelah dilakukannya uji coba. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian pengembangan ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedoman angket penilaian. Analisis data tertulis dan verbal dianalisis kemudian diaplikasikan terhadap produk penilaian instrumen asesmen berupa pedoman atau angket penilaian kelayakan instrumen asesmen. Instrumen asesmen tersebut menghasilkan data nonverbal berupa skor dan data verbal berupa saran-saran perbaikan. Hasil uji instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba kepada ahli asesmen dan evaluasi pembelajaran diperoleh hasil uji validasi sebesar 80,5 %, reliabilitas sebesar 75%, dan kepraktisan sebesar 75%. (b) Hasil uji coba dengan ahli isi sastra Indonesia diperoleh hasil uji penggunaan bahasa sebesar 100% dan kelayakan isi sebesar 90,9%. (c) Hasil uji coba kepada praktisi atau guru bahasa dan sastra Indonesia diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 85,7%. Hasil uji coba kepada siswa kelas VII SMP sebesar 92,5%. Hasil uji instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi menunjukkan bahwa produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Hasil uji instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi berkenaan dengan peristiwa yang pernah dialami adalah sebagai berikut. (a) Hasil uji coba kepada ahli asesmen dan evaluasi pembelajaran diperoleh hasil uji validasi sebesar 83,3 %, reliabilitas sebesar 75%, dan kepraktisan sebesar 91,7%. (b) Hasil uji coba dengan ahli isi sastra Indonesia diperoleh hasil uji penggunaan bahasa sebesar 100% dan kelayakan isi sebesar 93,2%. (c) Hasil uji coba kepada praktisi atau guru bahasa dan sastra Indonesia diperoleh hasil uji kepraktisan sebesar 89,3%. Hasil uji coba kepada siswa kelas VII SMP sebesar 95,4%. Hasil uji instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi menunjukkan bahwa produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan untuk dapat memanfaatkan instrumen asesmen pembelajaran menulis kreatif puisi ini sebagai alat untuk menilai kemampuan menulis kreatif puisi siswa kelas VII SMP/MTs. Bagi peneliti lain, produk instrumen penilaian pembelajaran menulis kreatif puisi dapat digunakan sebagai pertimbangan dan sumber bacaan dalam mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang lebih baik lagi, juga mengembangkan instrumen asesmen yang lain.  

Pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui menulis / Dwi Febri Astutik

 

Kata kunci: berpikir kritis, menulis Menulis merupakan keterampilan yang mensyaratkan penguasaan bahasa yang baik. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit karena tidak semua pesan komunikatif penulis dapat dipahami pembaca meskipun maksud atau arti yang dinyatakan dalam tulisan sangat baik dan jelas. Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengomunikasikan pikirannya dan melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis. Pada kenyataannya, pembelajaran yang dilakukan di sekolah masih menampakkan praktik pembelajaran yang mengabaikan kemampuan berpikir. Hal itu tampak pada kemampuan menulis siswa yang kurang kritis dan mendalam. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mendeskripsikan alasan, temuan masalah, strategi dan menemukan solusi dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui menulis. Selain itu, penelitian pengembangan kemampuan berpikir kritis yang dihubungkan dengan menulis masih jarang ditemukan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian telaah pustaka dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data verbal berupa jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, atau terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama dengan dibantu matrik analisis data untuk memetakan data. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan matriks pencatatan data yang berisi kolom-kolom informasi data dan kutipan data. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap penganalisisan, dan tahap penyimpulan. Berdasar hasil analisis yang dilakukan, diperoleh empat simpulan hasil penelitian. Pertama, ditemukan tiga alasan utama pentingnya menulis untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, yaitu (1) menulis merangsang berpikir aktif, (2) menulis mempertajam daya ingat dan memperkuat skemata, dan (3) menulis sebagai kegiatan mengolah ide dan melakukan penelitian. Kedua, ditemukan tiga masalah yang sering dialami dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui menulis, yaitu (1) masalah pada peserta didik, (2) masalah pada pendidik, dan (3) masalah dalam sistem pendidikan dan perguruan tinggi. Ketiga, ditemukan empat solusi untuk mengatasi masalah dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui menulis, yaitu (1) penerapan strategi writing to learn (WTL), (2) portofolio, (3) Adam’s model, dan (4) transformasi tamatan perguruan tinggi menjadi intelektual yang berkemampuan menulis. Keempat, ditemukan strategi pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui menulis yang dikelompokkan menjadi empat kelompok besar. Pertama, strategi writing to learn (WTL) yang terdiri atas (1) strategi folder activity, (2) strategi multimodal writing project (MWP), (3) strategi menulis karangan sanggahan (refutational text), (4) strategi cubing, (5) strategi science writing heuristic (SWH), (6) strategi jurnal ilmiah, (7) strategi learning logs, dan (8) strategi analyzing analogies. Kedua, strategi berbasis dunia maya, terdiri atas dua strategi yang menggunakan media blog, yaitu strategi HOT Blogging dan strategi web logs. Ketiga, strategi menulis cepat terdiri atas dua strategi, yaitu strategi mystery box writing dan quickwrites. Keempat, strategi clinical journals.

Implementasi penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan dasar Sembilan Tahun (Studi multikasus pada tiga Dinas Pendidikan di Malang Raya / Suwandi

 

Hubungan motivasi kerja, keaktifan mengikuti kegiatan prganisasi, dan kompetensi guru dengan kinerja guru di Yayasan Persekolahan Bina Wirawan Marsudi Siei - Malang / Sofia Peridi Babe

 

Babe, Sofia Peridi. 2013.Hubungan Motivasi Kerja, Keaktifan Mengikuti Kegiatan Organisasi,dan kompetensi Guru dengan Kinerja Guru di Yayasan Persekolahan Bina Wirawan Marsudi Siwi Malang. Tesis. Program studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang Pembimbing: (I) Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd; (II) Dr. Kusmintardjo, M.Pd. Kata Kunci : motivasi kerja, keaktifan mengikuti kegiatan organisasi, kompetensi guru, kinerja guru. Kinerja guru merupakan salah satu komponen penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan sekolah. Hasil kinerja guru mencerminkan tingkat produktivitas sekolah sebagai suatu organisasi yang efektif dan efisien. Ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kinerja guru. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan mengikuti kegiatan organisasi merupakan faktor eksternal yang memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kinerja guru, sedangkan faktor internal yang ikut berpengaruh antara lain adalah semangat kerja dan motivasi kerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan hubungan langsung yang signifikan antara motivasi kerja guru (2) keaktifan mengikuti kegiatan organisasi (3) kompetensi guru dengan kinerja guru (4) memperoleh gambaran hubungan langsung antara motivasi kerja guru (5) keaktifan mengikuti kegiatan organisasi (6) kompetensi guru dengan kinerja guru (7) memperoleh gambaran hubungan tidak langsung yang signifikan antara motivasi kerja guru (8) keaktifan mengikuti kegiatan organisasi (9) kompetensi guru dengan kinerja guru di Yayasan Persekolahan Bina Wirawan Marsudi Siwi Malang. Penelitian ini didasarkan pada model desain survey deskriptif yang bersifat korelasional, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis jalur (path Analysis). Subyek yang dijadikan populasi adalah para guru Yayasan Persekolahan Bina Wirawan Marsudi Siwi Malang yang berjumlah 125 orang. Dari populasi tersebut kemudian ditentukan sampel sebanyak 116 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan empat jenis angket, selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis jalur. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa : (1) motivasi kerja, keaktifan mengikuti kegiatan organisasi, kompetensi guru dan kinerja guru dapat dikatakan tinggi. (2) Ada hubungan langsung antara motivasi kerja dengan kinerja guru sangat tinggi. (3) Ada hubungan langsung antara keaktifan mengikuti kegiatan organisasi dengan kinerja guru termasuk dalam kategori sangat tinggi. (4) Ada hubungan langsung antara kompetensi guru dengan kinerja guru. (5) Ada hubungan langsung antara motivasi kerja dengan kompetensi guru (6) Ada hubungan langsung antara keaktifan mengikuti kegiatan organisasi dengan kinerja guru. (7) Ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru melalui kompetensi guru. (8) Ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara keaktifan mengikuti kegiatan organisasi dengan kinerja guru melalui kompetensi guru. (9) Ada hubungan yang signifikan antara motivasi kerja, keaktifan mengikuti kegiatan organisasi dan kompetensi guru dengan kinerja guru. Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian, dikemukakan beberapa saran: (1) Bagi Dinas Pendidikan Kota Malang, dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah, dinas pendidikan dalam rangka membina, mengawasi jalannya roda pendidikan di daerahnya agar lebih efektif sesuai tujuan yang diharapkan. (2) Bagi Yayasan: (a) dapat memberikan masukan dalam pengambilan keputusan, dalam rangka upaya mencari bentuk pengembangan pendidikan dan keefektifan kegiatan evaluasi terpadu selanjutnya. (b) dapat memberikan masukan bagi Yayasan pendidikan lainnya, yang belum melakukan kegiatan evaluasi terpadu guna memberikan inspirasi, inovasi dalam rangka keefektifan kegiatan pendidikan. (c) dapat dijadikan referensi penting dalam menetapkan kebijakan bagi guru/karyawan dalam pelaksanaan kinerja. (3) bagi sekolah, dapat bermanfaat pada proses pengembangan Ilmu pengetahuan baru bagi para guru Yayasan Persekolahan Bina Wirawan Marsudi Siwi Malang. (4) Bagi Peneliti lain, dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi kegiatan peneliti dalam melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.

Manajemen pengasuhan pada layanan khusus asrama bagi siswa SMP untuk pembentukan karakter (Studi multi situs SMP Al-Izzah Batu & SMP Ar-Rohmah Putri Dau Kabupaten Malang) / Muh. Zainul Amin Nur

 

Kata kunci: Layanan khusus asrama, pengasuhan, karakter , pengasuh, pembinaan, pendampingan, pemerlakukan (penanganan) Layanan khusus asrama sekolah difungsikan tidak hanya sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai kegiatan pengasuhan untuk membentuk karakter pribadi siswa yang mandiri, bertangungjawab, disiplin, penolong, jujur, sopan santun, taat ibadah, percaya diri, saling menghormati dan lainya, melalui beberapa kegiatan terjadwal, pendisiplinan, pembinaan dan pendampingan oleh para pengasuh kamar, kepala kamar, koordinator pengasuh, wakil pengasuhan, dan kepala pengasuh. Fenomena pengasuhan tersebut perlu dideskripsikan untuk menemukan bentuk pengasuhan pada sekolah yang menyelenggarakan layanan khusus asrama yang difokuskan pada proses manajemennya yaitu deskripsi tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, karakter yang terbentuk dan pengawasan pengasuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multi situs (multy site). Penelitian dilakukan di SMP Al-Izzah Batu Malang dan SMP Ar-Rohmah Putri Dau Malang. Teknik pengumpulan data dengan metode wawancara mendalam, dokumentasi, observasi terfokus dan observasi partisipatori. Penentuan informan dengan metode purposif sampling. Informan kunci ditetapkan berdasarkan atas pemahaman dan intensitas keterlibatan yang bersangkutan dalam pelaksanaan pengasuhan. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Prosedur pengumpulan data dimulai dari pendalaman data dari situs pertama. Situs pertama digunakan untuk menemukan dan menentukan kerangka kerja untuk pengumpulan data di situs kedua.Teknik analisis data menggunakan analisis induksi analisis untuk menyusun temuan penelitian. Langkah-langkah analisis, dimulai dari analisis situs tunggal pertama hingga situs kedua, sehingga masing-masing situs didapat temuan tentatif. Berdasar pada temuan tentatif masing masing situs, dilanjutkan analisis lintas situs. Prosedur analisis lintas situs, antara temuan tentatif situs tunggal pertama dan kedua, dengan teknik induktif di modifikasi sehingga didapat temuan lintas situs, selanjutnya menyusun temuan lintas situs bersifat naratif berupa proporsi. Gilirannya, kembangkan teori substantif dan temuan penelitian. Uji keabsahan data dilakukan dengan uji: (1) kredibilitas, melalui (a) triangulasi teori, sumber dan metode(b) tranferabilitas (2) dependabilitas dan (3) konfirmabilitas. Temuan penelitian; (1) perencanaan pengasuhan pada layanan khusus asrama dilakukan dengan pentahapan; menetapkan visi, misi, tujuan, analisis lingkungan, strategi pencapaian, perencanaan kegiatan pengasuhan; penempatan siswa, penertiban dan kegiatan, pendampingan, dan pemerlakuan siswa asrama.(2) pengorganisasian pengasuhan pada layanan khusus dilakukan dengan proses penghimpunan sumberdaya dengan pensetrukturan dalam organisasi secara bertingkat yaitu level I ketua pengasuh, level II waka kepengasuhan , level III koordinator pengasuh tingkat kelas, level IV kepala kamar dan level Vpara pengasuh kamar, Kedua, penempatan personel pada level-level tersebut untuk level I dipilih oleh kepa lembaga secara langsung, sedangkan level II-V dipilih melalui rapat terbatas dipimpin kepala pengasuh, Ketiga sumberdaya pengasuh dipilih berdasarkan kompetensi dan komitmen atau amanah. (3) pelaksanaan pengasuhan pada layanan khusus asrama melalui serangkaian kegiatan (a) monitoring dan pendapingan untuk mendisiplinkan, membiasakan, membantu memecahkan masalah, mengatur keuangan siswa, melatih mengatur kebutuhan hidup, memandirikan, mengatur kegiatan siswa, memberi masukan dan mengarahkan siswa untuk mampu memutuskan sendiri kesulitan yang dihadapi, (b) bimbingan, pembinaan dan pembiasaan pembiasaan kehidupan diasrama, (c) perlakuan terhadap siswa bermasalah, pemecahannya melibatkan 3 unsur pengasuh kamar, kepala sekolah dan orang tua, (d) komunikasi efektif oleh kepala pengasuh untuk meningkatkan kinerja para pengasuh dengan bentuk memberi mendorong, mengarahkan, teguran dan mengingatkan tugas dan kewajiban sebagai pengasuh serta menekankan rasa “jihad fisabilillah”. (4) Pengasuhan pada layanan khusus asrama membentuk karakter siswa yang (a) tertib dan disiplin, (b) mandiri mengatur waktu dan kebutuhan pribadi dan belajar, (c) peduli terhadap teman yang mengalami kesulitan, (d) kebersamaan (kekeluargaan) dan saling membantu dan bekerja sama, (e) toleran terhadap perbedaan asal asul suku dan daerah, (f) jujur dan amanah menjalankan kewajiban di asrama dan sekolah, (g) taat beribadah, (h) sopan dan santun perkataan dan perbuatan, (i) mampu memecahkan masalah dengan pertimbangan yang tepat (lebih dewasa), (j) keberanian dan kepercayaan menunjukkan potensi. (5) Pengawasan pengasuhan pada layanan khusus asrama dilakukan untuk dua hal: (a) pelaksanaan pengasuhan (b) kepribadian siswa. Pengawasan terhadap kegiatan pengasuhan oleh kepala pengasuh melalui teknik rapat rutin tiap minggu dan bulan yang terjadwal dengan bentuk pelaporan kinerja para pengasuh. Pengawasan pada karakter pribadi siswa melalui penetapan aspek aspek kepribadian serta indikator indikator penilaian. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran khusus yang berguna untuk peningkatan pengasuhan pada layanan khusus asrama untuk pembentukan karakter. Saran yang diajukan tersebut dalah (1) melakukan analisis kebutuhan siswa di asrama dan pendukungnya dalam proses penyusunan perencanaannya; (2) memperbaiki kegiatan monitoring, pendapingan dan pembinaan serta kegiatan kegiatan kecakapan dengan penjadwalan disertai dengan lembar penilaian; (3) memerinci dimensi kepribadian siswa secara sekala prioritas dimulai dari (a) dimensi spiritual (moral etik), (b) sosial, (c) psikis, (d) fisik (kesehatan dan kebersihan) dan (e) ketrampilan hidup.

Manajemen gugus pendidikan anak usia dini 9Studi kasus pada juara nasional Gugus PAUD Kota Malang) / Muhamad Suhardi

 

Kata Kunci: manajemen,gugus PAUD Percepatandanperluasanlayanan mutuPendidikanAnakUsiaDini (PAUD) merupakansalahsatukebijakanstrategis yang digulirkanKementerianPendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkankebijakantersebut, penambahandanpeningkatankompetensidankapasitaspendidikan PAUD menjadituntutan yang tidakdapatdiabaikan.Salah satu upaya pemerintah yaitu DirektoratPembinaanPAUD dalam meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini yang paling baru adalah melalui pembinaanpendidikdalamkaitannyadenganpeningkatankemampuanpendidikdalammemberikanlayanan PAUD yang sesuaidengankebutuhanpertumbuhandanperkembangananak.Pembinaandilakukanmelaluiberbagaistrategidan program kegiatanpraktis.Satu diantarapolapembinaanpendidikdantenagakependidikanmelaluiGugusPAUD. Penelitian ini dilakukan pada satu kasus, yaitu pada Gugus PAUD 6 Kecamatan Klojen Kota Malang. Tujuannya untuk mendeskripsikan semua fenomena dan peristiwa yang terjadi berkaitan dengan manajemen gugus pendidikan anak usia dini, yang meliputi: (1) Perencanaan gugus PAUD, (2) Pengorganisasian gugus PAUD, (3) Pelaksanaan Program gugus PAUD, dan (4) Evaluasi program gugusPAUD. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif, dengan rancangan studi kasus. Data penelitian berupa: data deskriptif yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi mengenai penyelenggaraan gugus PAUD. Data dianalisis dengan menggunakan analisis data kasus tunggal dengan metode analisis model interaktif . Hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut. Pertama, Perencanaan gugus PAUD disusun melalui proses sebagai berikut: (1) Perencanaan pembentukan gugus oleh Dinas Pendidikan Kota Malang, (2) Merumuskan dan menetapkan program gugus, perencanaan program KKG, perencanaan program KKKPuntuk jangka waktu 1 tahun ke depan,(3) Perencanaan anggaran pendapatan dan belanja Gugus(APBG) dan Perincian anggaran pendapatan dan belanja gugus.Kedua, Pengorganisasian gugus PAUD meliputi kegiatan, sebagai berikut:(1) Pembuatan struktur organisai gugus, struktur KKG, struktur KKKP, (2) Penentuan dan penetapan mekanisme kerja gugus.Ketiga, Pelaksanaan program gugus PAUD, meliputi sebagai berikut : (1) Pelaksanaan program gugus melalui kegiatan gugus, kegiatan KKG, kegiatan KKKP, (2) Pelaksanaan kerjasama antara gugus dengan instansi, seperti lembaga swasta, badan usaha, dan juga organisasi profesi yang bisa memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan gugus, (3) Hubungan gugus dengan orang tua wali murid (paguyuban) dapat saling memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan gugus PAUD, (4) Pelaksanaan program gugus dilaksanakan dalam bentuk program unggulan dan inovasi gugus, (5) Kegiatan KKG meliputi kegiatan yang dilaksanakan oleh guru/pendidik PAUD dalam peningkatan kemampuan guru PAUD seperti teknik bercerita, life skill, permainan warna, (6) Kegiatan KKKP meliputi kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok kepala/pengelola PAUD dalam peningkatan kemampuan para kepala PAUD, seperti home visit, pelatihan IT, pelatihan manajemen PAUD, dll.Keempat, Evaluasi program gugus PAUDdilakukan dengan cara, sebagai berikut: (1) Pelaksanaan evaluasi program gugus, (2) Pelaksanaan supervisi terpadu, (3) Kegiatan home visit, (4) Laporan evaluasi gugus. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan saran-saran sebagai berikut. (1) Kepala PAUD senantiasa harus selalu memberikan keteladanan bagi guru dan murid dalam mengelola lembaga PAUD serta mampu memberikan masukan kepada guru terkait dengan proses pembelajaran. Kepala sekolah diharapkan mampu memberikan informasi yang bermanfaat yang telah didapatkan pada kegiatan gugus ke lembaga PAUD yang ia pimpin dan selalu melakukan pembelajaran dan sharring permasalahan dalam kelompok untuk mencari solusi bersama, (2) Guru senantiasa terus mengembangkan kemampuan serta profesionalismenya sebagai seorang pendidik PAUD, agar guru tersebut lebih bisa berkreasi dan berinovasi dalam mengembangkan segala potensi yang dimiliki, baik itu perseorangan maupun kelompok dalam gugus, (3) Bagi Kepala Gugussenantiasa terus,(a)memberi pembinaan dan pengarahan yang aktif guna memperlancar terlaksananya program-program gugus PAUD, (b) membangun kesadaran dan hubungan kerjasama orangtua dengan sekolah dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, (c) membangun hubungan yang baik dan harmonis dengan lembaga PAUD imbas, guru, orang tua dan masyarakat sekitar baik secara formal maupun nonformal, (4) Bagi Kabid PLS Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota senantiasa terus aktif memberikan pelatihan secara terencana dan berkesinambungan tentang konsep manajemen gugus PAUDyang efektif kepada pengawas, kepala sekolah, ketua komite sekolah, dan pihak-pihak yang berperan secara langsung dalam penyelenggaraan gugus di lembaga PAUD,(5) Bagi Ditjen PAUD Nonformal dan Informal Kemendikbud, diharapkan dapat dijadikan sebagai contoh penyelenggaraan program gugus PAUD yang efektif, dan sebagai landasan dalam membuat pilot project penyelenggaraan gugus PAUDpadalembaga PAUD di seluruh Indosesia,(6) Bagi peneliti lain, inspirasi untuk mengkaji lebih mendalam tentang manajemen guguspada pendidikan anak usia dini, mengingat masing-masing gugus PAUD yang ada di seluruh Indonesia memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing, sehingga bisa lebih termotivasi untuk terus selalu berkembang.

Pengaruh pelatihan, sikap, intensi, dan modal terhadap perilaku berwirausaha pada peserta program mahasiswa wirausaha Universitas Pendidikan Ganesha tahun 2012 / Ni Made Anintia Trisna Sari

 

Keywords: pelatihan kewirausahaan, sikap kewirausahaan, intensi berwirausaha, modal usaha, perilaku berwirausaha Perilaku berwirausaha adalah cara seseorang dalam melakukan suatu tindakan sebagai seorang wirausaha. Perilaku dibentuk oleh tiga faktor utama.Pertama, faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang.Kedua, faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan.Ketiga, faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors), yaitu faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh pelatihan kewirausahaan terhadap perilaku berwirausaha melalui sikap kewirausahaan, (2) pengaruh pelatihan kewirausahaan terhadap perilaku berwirausaha melalui sikap kewirausahaan dan intensi berwirausaha, dan (3) modal sebagai variabel moderator yang memperkuat pengaruh pelatihan kewirausahaan, sikap kewirausahaan, dan intensi berwirausaha terhadap perilaku berwirausaha. Jenis penelitian adalah penelitian ex-post facto.Populasi dalam penelitian ini yaitu peserta Program Mahasiswa Wirausaha Universitas Pendidikan Ganesha Tahun 2012 yang berjumlah 46 orang.Penentuan sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan teknik Slovin.Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh sampel berjumlah 41 orang.Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan kuesioner.Data yang diperoleh tersebut kemudian dianalisis dengan analisis jalur dan analisis regresi moderat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pelatihan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berwirausaha, (2) sikap kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berwirausaha, (3) intensi berwirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berwirausaha, (4) pelatihan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berwirausaha melalui sikap kewirausahaan, (5) pelatihan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berwirausaha melalui sikap kewirausahaan dan intensi berwirausaha, dan (6) modal bukan sebagai variabel moderator yang memperkuat pengaruh pelatihan kewirausahaan, sikap kewirausahaan, dan intensi berwirausaha terhadap perilaku berwirausaha. Berdasarkan hasil penelitian ini, makadisarankan agar pelaksanaan pelatihan kewirausahaan berikutnya supaya lebih ditingkatkan terutama pada fasilitas pelatihan sehingga dapat membentuk sikap kewirausahaan dan intensi berwirausaha dan dapat berperilaku sebagai seorang wirausahawan.Selain peningkatan fasilitas pelatihan, pelaksanaan pelatihan agar memperhatikan komponen-komponen yang mempengaruhi keberhasilan pelatihan. Komponen tersebut adalah tujuan dan sasaran pelatihan harus jelas serta dapat diukur, para pelatih harus professional, materi pelatihan harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, metode yang digunakan harus sesuai dengan materi pelatihan, peserta pelatihan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan, peserta yang mengikuti pelatihan kewirausahaan memang benar-benar berminat untuk berwirausaha, dan komponen lainnya sebagai pelengkap seperti media. Kemudian, modal yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan usaha yang akan didirikan sehingga bermanfaat untuk kelancaran usahanya.  

Tindak immmediacy guru dalam pembelajaran di Sekolah Dasar / Ahsan Romadlon Junaidi

 

The teaching of essay writing in the English Departement of State University of Malang / Aninda Nidhommil Hima

 

Kata Kunci: menulis esai, pengajaran menulis, studi kasus, tingkat universitas Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kelas menulis esai di Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang tanpa memberikan tindakan tertentu kepada dosen dan mahasiswa. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: materi dan teknik yang digunakan oleh guru menulis yang baik dalam pengajaran menulis esai serta umpan balik dari guru menulis yang baik dalam kelas penulisan esai. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif di mana peneliti terlibat sebagai instrumen kunci dalam mengumpulkan data dari awal hingga akhir proses penelitian. Subyek penelitian adalah dosen kelas menulis esai. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menentukan materi yang diberikan di kelas, dosen tersebut terlebih dahulu mempelajari kurikulum dari mata kuliah tersebut selain itu ia juga mengadakan test awal dan wawancara kepada mahasiswa untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka dalam menulis dan kesulitan-kesulitan apa yang mereka hadapi dalam membuat sebuah karangan. Materi yang diberikan adalah berupa buku-buku dan materi yang diberikan adalah untuk kepentingan pembelajaran. Adapun fungsi materi secara umum adalah membantu mahasiswa dalam memahami penulisan esai. Pelaksanaan Mata kuliah menulis esai di Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang telah dilaksanakan dengan menggunakan teknik yang efektif dan efisien yang dapat diterapkan dalam kelas lainnya. Adapun teknik yang digunakan dalam kelas terbukti bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis adalah konferensi guru dan siswa. Selain itu pemberian umpan balik juga dirasa cukup membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis esai. Berdasarkan hasil temuan, terdapat beberapa saran bagi dosen bahasa Inggris secara umum, dosen kelas menulis dan para peneliti. Dosen bahasa Inggris secara umum dan dosen kelas menulis disarankan untuk mempertimbangkan kemampuan dasar mahasiswa dan masalah-masalah mereka terhadap suatu mata kuliah sebelum menentukan materi apa yang tepat bagi mereka selain mengacu pada kurikulum yang berlaku. Selain itu mengadakan sesi konsultasi dan pemberian umpan balik juga diperlukan untuk membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan mereka terutama dalam menulis esai. Yang terakhir, para peneliti disarankan untuk bekerja dalam tim ketika mengadakan penelitian serupa guna mengurangi subyektifitas terhadap hasil penelitian yang diperoleh.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan Make a Match untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII-A SMPN 4 Madiun / Dwi Muchindrasari

 

Kata kunci: Inkuiri terbimbing, Make a Match, keaktifan dan hasil belajar. Kondisi pembelajaran yang efektif dan berkualitas dapat tercipta bila siswa terlibat secara aktif, siswa memiliki motivasi belajar tinggi, siswa mempunyai minat dan perhatian dalam belajar. Proses pembelajaran yang aktif dan berkualitas terjadi jika siswa mempunyai hak dan kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan berargumen di dalam kelas yang berkaitan dengan materi pelajaran di kelas. Dalam proses pembelajaran diharapkan siswa mendapat pengalaman untuk membangun konsep sehingga belajar tidak berorientasi pada guru tetapi lebih terpusat pada siswa. Selain itu pembelajaran harus bersifat menarik dan menyenangkan supaya siswa tetap aktif. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus ditopang oleh tumbuhnya daya inovasi guru. Berdasarkan observasi di SMP Negeri 4 Madiun khususnya kelas VIII-A diketemukan permasalahan yang antara lain adalah; 1) guru masih mendominasi pembelajaran dan kurang melibatkan siswa, 2) model pembelajaran yang digunakan guru tidak bervariasi sehingga siswa bosan dan tidak aktif, 3) hasil belajar yang rendah yaitu hanya 38% siswa yang tuntas belajar dengan KKM 75, 4) adanya anggapan pelajaran biologi adalah pelajaran hafalan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 3x40 menit. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes hasil belajar, dokumentasi, dan catatan lapangan yang dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober sampai 27 Nopember 2012. Subyek yang diteliti adalah siswa kelas VIII-A di SMP Negeri 4 Madiun tahun pelajaran 2012-2013 yang berjumlah 29 siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I mencapai 74,21% dan pada siklus II mencapai 90,75%, keaktifan siswa meningkat pada siklus I mencapai 66,85% dan pada siklus II mencapai 79,20%, demikian juga hasil belajar meningkat pada siklus I dicapai ketuntasan belajar siswa sebesar 62,07% dan pada siklus II mencapai 100% atau dengan rata-rata pada siklus I mencapai 75,97 dan pada siklus II mencapai 90,28. Dari Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan Pembelajaran pembelajaran Inkiuri Terbimbing dengan Make a Match dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar di kelas khususnya materi Sistem Pencernaan pada Manusia dan Sistem Gerak pada Manusia Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, saran-saran yang dapat disampaikan antara lain adalah: 1) pembelajaran Inkiuri Terbimbing dengan Make a Match dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran oleh guru terutama mata pelajaran IPA, 2) pembelajaran Inkiuri Terbimbing dengan Make a Match dapat dilaksanakan pada materi biologi yang lain, 3) perlunya sarana prasarana yang mendukung misalnya ketika praktikum memerlukan alat dan bahan yang lengkap 4) perlunya pengelolaan waktu secara matang dalam menerapkan pembelajaran pembelajaran Inkiuri Terbimbing dengan Make a Match sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

Penggunaan prisnsip kerjasama dalam diskusi kelas bahasa Indonesia siswa SMK Katolik Santo Yusup Kota Blitar / Fransiska Romana Ninik Tri Suhartiningsih

 

Penerapan strategi Mind Mapping untuk meningkatkan kemampuan menulis kreatif cerpen berdasarkan pengalaman orang lain siswa kelas X SMA Negeri I Talun Kab. Blitar / Endang Ernawati

 

Kata Kunci : strategi mind mapping, menulis kreatif, cerpen, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X, terdapat Kompetensi Dasar (KD), mengenai kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. Dengan KD ini, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. Untuk meningkatkan kemampuan tersebut diperlukan strategi pembelajar- an yang tepat. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mening- katkan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain adalah strategi mind mapping. Dengan strategi tersebut, siswa diajarkan dan dibimbing untuk mengkreasikan pengalaman yang pernah dialami orang lain di sekitar siswa sebagai sumber ide penulisan cerpen. Di dalam penelitian ini, strategi mind mapping digunakan untuk membantu siswa menuangkan ide ke dalam cerpen melalui peta pikiran yang dibuat berwarna dan bergambar untuk memudahkan siswa mengingat pengalaman orang lain di sekitarnya yang pernah diceritakan secara alami. Secara umum, penelitian ini berupaya menjawab masalah tentang proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain dengan strategi mind mapping pada siswa kelas X.9 SMA Negeri 1 Talun. Sesuai dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain dengan strategi mind mapping. Pada penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sesuai rancangan tersebut, penelitian disusun dalam siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan RPP, pelaksanaan, pengamatan, refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. Tindakan dilakukan terhadap seluruh siswa dalam kelas X.9 SMA Negeri 1 Talun sebanyak 32 siswa. Skor kriteria ketuntasan minimal (KKM) yanga telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Data penelitian meliputi data verbal yang berupa tuturan lisan dan data non verbal yang berupa rekaman tindakan siswa dalam foto, data verbal direkam dalam pedoman observasi dan catatan lapangan. Dalam penelitian ini, peneliti sebagai instrumen kunci yang didukung dengan instrumen penunjang berupa pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain dengan strategi mind mapping mengalami peningkatan. Siswa lebih terlihat antusias dan bersemangat dalam menulis cerpen karena penggunaan strategi mind mapping dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas siswa. Berdasarkan analisis, kemampuan siswa dalam memilih pengalaman orang lain mengalami peningkatan, siswa dapat mengembangkan tokoh, latar atau setting dan alur dengan baik.Pada studi pendahuluan tindakan dan hasil proses kemampuan menulis cerpen skor rata-rata 64,45, siklus 1 mencapai 65,25, kemudian siklus 2 mencapai 82,58. Siswa juga terlihat antusias dalam proses pembelajaran ini terlihat dari keaktifan siswa bertanya dan menjawab pertanyaan. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis cerpen siswa kelas X. 9 SMA Negeri 1 Talun dapat ditingkatkan dengan penerapan strategi mind mapping sehingga mencapai KKM. Ketercapaian KKM tersebut disebabkan siswa dalam menerima materi pembelajaran menulis cerpen yang menerapkan strategi mind mapping sangat baik dan penuh perhatian. Mengingat manfaat yang dapat diperoleh siswa maka disarankan bagi guru (teman sejawat) dan guru anggota MGMP pelajaran Bahasa Indonesia se-kabupaten Blitar untuk menerapkan strategi mind mapping ini sebagai alat meningkatkan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain, memotivasi dan meningkatkan minat siswa pada KD yang diteliti serta mengembangkan strategi pembelajaran menulis cerpen.Peneliti lain waktu yang akan datang diharapkan untuk meneliti pembelajaran keterampilan menulis dengan kompetensi dasar yang lain dengan penerapan strategi mind mapping.

Nilai karakter bangsa dalam novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi / Ulfah Priandari

 

Kata kunci: nilai, karakter bangsa, novel, Negeri Lima Menara Karya sastra pada hakikatnya tidak hanya menyampaikan permasalahan estetis tetapi juga menyampaikan persoalan etis. Karya sastra dengan ciri-ciri kreativitasnya merupakan mediasi yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Nilai karakter bangsa sebagai salah satu nilai kehidupan merupakan isu hangat yang menarik untuk dibahas. Novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi ditengarai sarat dengan nilai karakter bangsa tersebut. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan nilai karakter bangsa yang terdapat dalam novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) nilai kejujuran, (2) nilai tanggung jawab, (3) nilai kedisiplinan, (4) nilai visioner, (5) nilai keadilan, (6) nilai kepedulian, dan (7) nilai kerjasama yang terdapat dalam novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berwujud paparan kebahasaan tertulis dalam novel Negeri Lima Menara berupa kalimat narasi dan kalimat percakapan yang menggambarkan karakter, perbuatan, dan pemikiran tokoh. Sumber data penelitian ini adalah novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2009 yang terdiri dari 405 halaman dan terbagi dalam empat puluh enam (46) subjudul. Prosedur dalam menganalisis data dilakukan dengan (1) membaca novel secara berulang-ulang, (2) kodifikasi data untuk menentukan data sesuai dengan masalah yang dirumuskan, (3) mengklasifikasikan data sesuai dengan masalah yang dirumuskan, (4) mendeskripsikan data yang telah ditemukan, dan (5) menginterpretasikan data yang telah ditemukan. Pengecekan keabsahan data diuji dengan ketekunan pengamatan, kecukupan rujukan, diskusi kesejawatan, dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Negeri Lima Menara terdapat tujuh nilai karakter bangsa. Pertama, nilai kejujuran meliputi (1) mengatakan yang sebenarnya terjadi, (2) mengakui kesalahan sendiri, (3) mengakui kelebihan orang lain, dan (4) adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Kedua, nilai tanggung jawab meliputi (1) melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai yang seharusnya, (2) mengerjakan tugas dan kewajiban sampai selesai, (3) berani menanggung akibat baik dan buruk dari perbuatan yang dilakukan, dan (4) melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ketiga, nilai kedisiplinan meliputi (1) mengerjakan tugas tepat waktu, (2) melakukan sesuatu dengan tertib, (3) memanfaatkan waktu untuk kegiatan positif, dan (4) mentaati peraturan yang berlaku. Keempat, nilai visioner meliputi (1) biasa berpikir sebelum berbuat dan (2) berpikir untuk kepentingan sekarang dan yang akan datang. Kelima, nilai keadilan meliputi (1) memperlakukan orang lain dengan proporsional, (2) menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan (3) sikap tidak membedakan seseorang dengan orang lainnya. Keenam, nilai kepedulian meliputi (1) memberi bantuan pada orang lain, (2) memberi simpati dan empati pada orang lain, dan (3) mencegah dan memperbaiki kerusakan lingkungan. Ketujuh, nilai kerjasama meliputi (1) saling mengasihi, (2) saling membantu, dan (3) tidak apatis terhadap kepentingan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada (1) guru sebagai tenaga pendidik dan kunci kesuksesan pendidikan disarankan lebih banyak mengapresiasi sastra khususnya novel dikaitkan dengan nilai karakter bangsa sebagai media pendidikan budi pekerti yang akan diserap siswa dalam pembelajaran di kelas selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal siswa menjalani kehidupan, (2) Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Blitar disarankan untuk menjadikan penelitian ini sebagai dasar dalam membuat kebijakan yang berhubungan dengan program pendidikan karakter di sekolah, dan (3)peneliti selanjutnya, disarankan dapat mengembangkan penelitian lanjut tentang nilai-nilai sastra untuk memperkaya kajian sastra.

Nilai keislaman dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy / Hariyani

 

Kata kunci: nilai keislaman, novel Kehidupan dan pandangan keagamaan di dalam sastra adalah suatu yang mendalam di dalam tradisi sastra Indonesia. Di kalangan para pengarang muslim misalnya, sastra diyakini sebagai suatu sarana yang penting untuk mengungkapkan ekspresi dan aspirasi keagamaan. Nilai yang harus ada dalam sastra Islami ini yaitu (1) mengenalkan dan mengokohkan nilai-nilai ketauhidan dan keimanan; (2) mengenalkan dan mengajak pembaca untuk menaati syaria (3) mengenalkan dan mengajak pembaca untuk mengamalkan akhlak mulia. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti nilai keislaman yang terdapat dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy. Fokus penelitian ini adalah (1) nilai keimanan ; (2) nilai ketaatibadahan; dan (3) nilai keakhlakmuliaan yang terdapat dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian interpretitif, yaitu penelitian yang melakukan analisis untuk mendapatkan makna dari suatu fenomena dan bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam. Penelitian ini menitikberatkan pada kajian pustaka, yaitu memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memeroleh data penelitian tanpa melakukan riset lapangan. Data dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu (1) data nilai keimanan; (2) data nilai ketaatibadahan; dan 3) data nilai keakhlakmuliaan. Sumber data yaitu novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy cetakan XXIX tahun 2008 diterbitkan oleh Diva Press dan berjumlah 520 halaman. Sumber data penelitian ini berupa sumber data verbal yaitu kata-kata, kalimat, dan paparan teks yang menggambarkan nilai keislaman dalam novel Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy . Dalam proses analisis data secara serempak dikerjakan pengumpulan data, pereduksian, dan penyajian kemudian dilanjutkan penyimpulan data nilai keislaman dalam novel Syahadat Cinta. Pengecekan keabsahan data diuji dengan ketekunan pengamatan, kecukupan rujukan, dan diskusi kesejawatan. Hasil penelitian mencakup tiga hal. Pertama, penelitian nilai keimanan dalam novel Syahadat Cinta yaitu (1) nilai iman kepada Allah digambarkan dengan keyakinan akan sifat-sifat Allah bahwa Allah hanya satu, Allah Maha Mencintai, Allah Maha Berkehendak, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Mendengar , Allah Maha Melihat, dan Allah Maha Kuat. Nilai keimanan kepada Allah juga ditandai dengan tunduk dan takut kepada Allah; (2) Iman kepada malaikat digambarkan dengan adanya keyakinan bahwa Allah memiliki malaikat yang patuh dan keyakinan bahwa malaikat mencatat amal manusia; (3) Iman kepada kitab Allah digambarkan dengan keyakinan terhadap kitab-kitab Allah yang diturunkan pada rasul-Nya, keyakinan akan Alquran adalah kalimat Allah, keyakinan akan kitab Allah juga ditandai dengan tunduk terhadap perintah dan larangan dalam Alquran ; (4) Iman kepada nabi dan rasul digambarkan dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah rasul Allah dengan cara memuliakan Nabi Muhammad dan mengikuti perilaku Nabi Muhammad; (5) Iman kepada hari akhir digambarkan dengan keyakinan bahwa semua akan berakhir dengan kematian; (6) Iman kepada qada dan qadar digambarkan bahwa keyakinan terhadap segala kejadian di alam ini atas kehendak dan takdir Allah. Kedua, penelitian nilai ketaatibadahan dalam novel Syahadat Cinta yaitu (1) taat ibadah thaharah yaitu taat berwudlu sesuai syariat (2) taat ibadah shalat sesuai dengan rukun shalat, shalat limna waktu secara berjamaah, menjalankan shalat Jumat , dan shalat malam; (3) taat ibadah zakat digambarkan dengan memberikan shodaqoh dan dilakukan hanya karena Allah (4) taat ibadah puasa digambarkan dengan menjalankan ibadah puasa Senin dan kamis dan menjadikan puasa sebagai bagian hidup ; (5) taat ibadah haji digambarkan dengan pergi haji sesuai syariat dan perilaku ketika berhaji yaitu para jemaah haji mencium hajar aswad. Ketiga, penelitian terhadap nilai keakhlakmuliaan dalam novel Syahadat Cinta yaitu (1) akhlak kepada Allah digambarkan dengan perilaku berdoa, sikap malu karena tidak bisa menjadi imam, dan ucapan menyebut Allah, yaitu Insya Allah, Bismillah, astagfirullahaladzim, demi Allah, wallahu a’lam ; (2) akhlak kepada diri sendiri ditandai dengan melatih sifat terpuji dan berhijrah dari perbuatan yang melanggar aturan agama menjadi orang yang menjalankan perintah Allah (3) akhlak kepada keluarga digambarkan dengan berbakti kepada orang tua, ibu yang sangat sabar kepada anaknya, ibu yang bertanggung jawab kepada keluarga, dan orang tua tidak memaksakan kehendak; (4) akhlak kepada tetangga dan masyarakat digambarkan dengan saling membantu, mendoakan orang lain, memaafkan kesalahan , saling mengunjungi, memuliakan tamunya; dan tidak berduaan di tempat sepi dengan nonmuhrim, dan (5) akhlak kepada lingkungan digambarkan dengan memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan hasil penelitian, disampaikan empat saran. Pertama, bagi para pembimbing keagamaan, disarankan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai model dengan cara dijadikan bahan bercerita dalam melakukan bimbingan meningkatkan keimanan, ketaatibadahan, dan keakhlakmuliaan. Kedua, bagi guru terutama guru pendidikan agama dan guru bahasa Indonesia hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah, khususnya dalam pembelajaran sastra dan agama. Dengan memanfaatkan novel tersebut sebagai materi pembelajaran diharapkan ada pengaruh yang positif terhadap pembentukan watak siswa. Ketiga, bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan nilai keislaman seperti kajian nilai tasawuf dalam novel Syahadat Cinta, dan keempat, Bagi Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kebijakan tentang penambahan koleksi buku fiksi berupa novel-novel Islami di perpustakaan sekolah atau madrasah agar dapat berpengaruh positif dalam pembentukan watak siswa.

Pengaruh kemampuan akademik terhadap keterampilan metakognitif dan retensi siswa pada pembelajaran biologi kelas X dengan penerapan strategi Jigsaw / Fita Ardiana

 

Perbandingan keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, dan retensi antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah kelas X SMA di Malang melalui strategi Problem Based Learning (PBL) / Linda Tri Antika

 

Kata kunci: Keterampilan metakognitif, hasil belajar, retensi, kemampuan aka-demik, PBL. Berbagai SMA, terutama SMA Negeri di Malang menggunakan syarat pe-nerimaan berbasis MPL (Minimal Passing Level) UAN untuk bisa masuk ke seko-lah tersebut. Pola penerimaan ini menyebabkan adanya polarisasi, dimana ada se-kolah dengan kemampuan akademik tinggi, kemampuan sedang, dan akademik rendah. Adanya fakta polarisasi tersebut menjadi alasan perlunya mencari upaya untuk membantu siswa, terutama siswa berkemampuan akademik rendah agar memiliki kemampuan yang mendekati atau sama dengan siswa berkemampuan akademik tinggi. Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu strategi pem-belajaran yang memberdayakan keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa. Keterampilan metakognitif akan membantu siswa dalam belajar karena siswa dapat merencanakan, mengatur diri, dan mengevaluasi belajarnya. PBL membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, melatih keterampilan memecahlan masalah, dan meningkatkan penguasaan materi pembelajaran serta tidak mudah lupa. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Malang dan SMA Darul Ulum Agung Malang pada semester ganjil 2012/2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA di wilayah Kota dan Kabupaten Malang semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri 9 Malang yang terdiri atas 35 siswa sebagai siswa akademik tinggi dan siswa kelas X SMA Darul Ulum Agung Malang yang terdiri atas 16 siswa sebagai siswa akademik rendah. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian Quasi Experiment dengan rancangan Pretest-Postest Nonequivalent Control Group Design. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan keterampilan metakognitif, hasil belajar bilogi, dan retensi siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) siswa berkemampuan akade-mik tinggi memiliki nilai keterampilan metakognitif 56,42% lebih tinggi dibandingkan nilai siswa berkemampuan akademik rendah, (2) siswa berkemampuan akademik tinggi memiliki nilai hasil belajar 79,31% lebih tinggi dibandingkan dengan siswa berkemampuan akademik rendah, (3) tidak ada per-bedaan retensi keterampilan metakognitif maupun retensi hasil belajar antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah. Selain analisis anakova, dalam penelitian ini juga dilakukan analisis dengan anava terhadap gain score keteram-pilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa untuk mengetahui peningka-tannya pada siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah. Hasil uji anava menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi pada siswa berkemampuan akademik tinggi lebih tinggi dibandingkan sis-wa berkemampuan akademik rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, terlihat bahwa strategi PBL dapat dijadikan rujukan dalam meningkatkan keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa berkemampuan akademik tinggi maupun rendah. Oleh karena itu, dalam pembelajaran terutama biologi, guru dapat menggunakan strategi pembelajaran PBL karena telah terbukti keberhasilannya dalam mening-katkan keterampilan metakognitif dan hasil belajar siswa. Namun, dalam pembelajaran PBL perlu pemberian motivasi yang kuat pada siswa untuk melibatkan diri dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran biologi materi sistem regulasi berbasis Lesson Study untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di kelas XI SMA Negeri 1 Batu / Elysa Putri Eka Valentina

 

Valentina, Elysa Putri Eka. 2013. Pembelajaran Biologi Materi Sistem Regulasi Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Istamar Syamsuri, M.Pd., (2) Drs. Masjhudi, M.Pd. Kata Kunci: Lesson study, Motivasi, Hasil Belajar.     Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Batu, diperoleh hasil bahwa siswa kurang tertarik dan merasa bosan dengan pembelajaran Biologi yang diterimanya. Dari hasil wawancara dengan siswa, diketahui bahwa metode yang dilakukan guru pada setiap pertemuan adalah dengan mengerjakan LKS di rumah, kemudian membahas LKS pada setiap pertemuannya, kadang juga dilakukan praktikum. Dengan adanya motivasi yang kurang dari siswa, maka hasil belajar yang diperoleh pun juga rendah. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menyusun perencana-an pembelajaran yang efektif dan inovatif yang dapat diperoleh dari lesson study.     Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa melalui peningkatan kualitas pembelajaran yang berbasis lesson study. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi langsung, tes, angket, dan dokumentasi. Motivasi belajar siswa diukur dengan observasi langsung dan angket motivasi. Observasi langsung juga digunakan untuk mengukur keterlaksanaan tahap Lesson study, sedangkan untuk hasil belajar siswa digunakan tes yang dilaksanakan pada akhir siklus 4 dan akhir siklus 8.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berbasis lesson study yang dilaksanakan di kelas XI IPA 5 SMA Negeri 1 Batu dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Dengan adanya pelaksanaan plan yang dilakukan bersama dengan tim Lesson study yang didasarkan pada hasil see pada siklus sebelumnya, diperoleh rancangan pembelajaran yang lebih dapat mengaktifkan siswa, sehingga motivasi belajar siswa meningkat. Tingginya motivasi yang dimiliki oleh siswa, membuat makin mudahnya penangkapan dan penguasaan konsep oleh siswa dan meningkatkan hasil belajarnya. Peningkatan motivasi dari hasil observasi pada saat pra-penelitian adalah 50%, kemudian pada saat penelitian mengalami peningkatan dari 58% menjadi 98%. Motivasi dari hasil angket, terjadi peningkatan motivasi dari 63% menjadi 81%. Sedangkan untuk hasil belajar siswa dari nilai rata-rata kelas saat pra-penelitian adalah 75, dan mengalami peningkatan pada saat penelitian dari nilai 84 menjadi 86. Ketuntasan klasikal yang didapatkan pada pra-penelitian adalah 72%, sedangkan pada saat penelitian meningkat menjadi 93%. Dengan semikian, lesson study sebaiknya tetap dibudayakan dan dilaksanakan secara merata.

Pengaruh etnis terhadap keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan rtetensi siswa pada pembelajaran Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dipadu Think Pair Share (TPS) kelas X di SMAN 1 Gondanglegi / Dwi Martha Nur Aditya

 

Kata Kunci: Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP), Think Pair Share (TPS), keterampilan metakognitif, hasil belajar biologi, retensi. Manusia merupakan makhluk yang memiliki perbedaan individu antar se-sama. Perbedaan tersebut diantaranya perbedaan kaum minoritas, etnis/ras, agama, jenis kelamin, kondisi ekonomi, daerah asal/usul, ketidakmampuan fisik/ mental, dan umur. Daerah Kabupaten Malang Selatan, Gondanglegi merupakan salah satu wilayah yang memiliki keragaman perbedaan etnis yaitu Jawa dan Madura. SMAN 1 Gondanglegi dalam pembelajaran menerapkan pembelajaran behavioristik yang belum mampu mengembangkan penalaran dan jalinan komunikasi antar siswa yang memiliki perbedaan etnis. Pembelajaran Biologi seharusnya menggunakan strategi pembelajaran kooperatif dan memberdayakan penalaran siswa yang tepat yaitu dengan strategi pembelajaran Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dipadu Think Pair Share (TPS) untuk dapat meningkatkan keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan Pretest Posttest Nonequivalent Group Design. Data yang diperoleh di-analisis menggunakan statistic Inferensial Anakova. Hasil analisis data menunjukkan tidak ada pengaruh perbedaan etnis terhadap keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa di SMAN 1 Gondanglegi. Taraf signifikansi hasil uji anakova keterampilan metakognitif siswa sebesar 0,953; hasil belajar sebesar 0,628; retensi keterampilan metakognitif 0,717; retensi hasil belajar 0,923. Etnis tidak mempengaruhi keterampilan meta-kognitif, hasil belajar siswa, dan retensi siswa, akan tetapi terdapat peningkatan. Peningkatan keterampilan metakognitif etnis Jawa sebesar 193,03%, sedangkan pada siswa etnis Madura sebesar 197,85%. Peningkatan hasil belajar etnis Jawa 161,81%, sedangkan pada siswa etnis Madura sebesar 176,18%. Peningkatan retensi keterampilan metakognitif etnis Jawa sebesar etnis Jawa sebesar 2,43%, sedangkan pada siswa etnis Madura mengalami penurunan sebesar 2,89%. Retensi hasil belajar siswa etnis Jawa mengalami penurunan sebesar 16,79%, sedangkan pada siswa etnis Madura sebesar 17,32%. Perbedaan etnis tidak mempengaruhi keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa. Penerapan pem-belajaran kooperatif PBMP + TPS serta stereotype masing-masing etnis mampu memberikan dukungan positif dalam kegiaan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disarankan agar pengajar dapat menerapkan strategi pembelajaran PBMP +TPS untuk memberdayakan dan meningkatkan keterampilan metakognitif, hasil belajar, dan retensi siswa.

Penerapan model pembelajaran Role Playing untuk meningkatkan keterampilan bermain drama pada siswa kelas V SDN Penanggungan Kota Malang / Muhammad Azhari

 

Kata kunci: Model role playing, bermain drama, SD. Berdasarkan hasil observasi, permasalahan yang dialami siswa SDN Penanggungan kota Malang, yaitu kurangnya strategi model pembelajaran yang diterapkan guru dalam pembelajaran bermain drama. Salah satu cara untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan bermain drama dilakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran role playing. Penelitian ini betujuan untuk (1) mendeskripsikan aktivitas pembelajaran bermain drama melalui model pembelajaran role playing (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan bermain drama melalui model role playing dan (3) mendeskripsikan besarnya peningkatan keterampilan bermain drama dengan penerapan model pembelajaran role playing pada siswa kelas V SDN Penanggungan kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) ini berlangsung dengan dua siklus. Masing- masing siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan dan observasi, refleksi, serta perbaikan perencanaan di setiap siklusnya. Hasil belajar keterampilan bermain drama melalui model role playing siswa kelas V SDN Penanggungan Malang sudah baik. Ini terlihat saat aktivitas pembelajaran bermain drama melalui model role playing siswa sangat semangat dan antusias dalam bermain drama sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam memerankan tokoh drama. Semangat dan antusias siswa dalam bermain drama sangat berpengaruh terhadap peningkatan nilai bermain drama, pada nilai hasil proses siklus I dari 6 siswa yang tuntas, meningkat menjadi 14 siswa yang tuntas dan pada nilai hasil proses siklus II dari 22 siswa yang tuntas, meningkat menjadi 30 siswa yang tuntas. Sehingga dapat diperoleh nilai akhir dengan perentase kegiatan siklus I sebesar 34,3% dan siklus II 82,8%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan model role playing dapat meningkatkan keterampilan bermain drama sudah berhasil. Berdasarkan hasil penelitian, manfaat penerapan model role playing untuk meningkatkan keterampilan bermain drama adalah membantu siswa aktif dalam belajar dan dapat memerankan tokoh orang lain dengan baik. Sehingga dapat disarankan kepada guru untuk meningkatkan keterampilan siswa bermain drama seharusnya menggunakan model pembelajaran role playing.

Penerapan permainan sate kata untuk meningkatkan keterampilan menulis bahasa Arab siswa kelas VII SMP Darul Qur'an Singosari / Muhammad Faris Fitrah

 

Analisis buku teks Bahasa Arab unyu Madrasah Ibtidaiyah "Aku Cinta Bahasa Arab" oleh Agus Wahyudi / Heny Kusmarini

 

Kusmarini, Heny. 2013. Analisis Buku Teks Bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyah “Aku Cinta Bahasa Arab” oleh Agus Wahyudi . Skripsi, Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Nurul Murtadho, M.Pd, (II) Dr. Lilik Nur Kholidah, M.Pd. Kata Kunci: Analisis Buku Teks, Bahasa Arab, Madrasah Ibtidaiyah,     Banyaknya buku teks bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyah, membuat kepala sekolah atau guru harus menyeleksi buku yang sesuai kurikulum. Oleh karena itu tujuan penelitian ini secara umum adalah mendeskripsikan buku teks bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah oleh Agus Wahyudi terbitan Tiga Serangkai.jilid 1,2, dan 3, khususnya adalah mendeskripsikan mengenai: (1) kesesuaian kosakata dengan kurikulum, (2) struktur penyajian atau karakter buku teks,(3) kesulitan latihan-latihannya. Instrumen penelitian adalah human instrument yang dibantu dengan angket dan wawancara kepada empat orang guru bahasa Arab dari MI Malang.     Langkah-langkah penelitian adalah (1) membaca buku teks yang dijadikan sumber penelitian, (2) mencatat hal-hal yang menjadi objek penelitian yaitu tentang kosakata atau mufradat, karakteristik dalam buku teks bahasa Arab buku teks dan kesulitan latihan-latihannya, (3) menyebarkan angket ke madrasah-madrasah yang memakai buku teks yang menjadi sumber penelitian, (4) mengumpulkan hasil angket, menganalisanya dan menyimpulkannya, Hasil dari penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) jumlah kosakata atau mufradat dalam buku teks tidak sesuai dengan kurikulum 2004. Hal ini terlihat bahwa mufradat dalam buku teks hanya tersaji 290 kosakata, kosakata tidak bergambar, (2) penyajian materi sudah melalui gradasi, dan tidak tersaji materi lagu dan permainan, (3) Latihan-latihan sudah bervariasi, bentuk latihan sudah sesuai dengan kompetensi dasar. Menurut responden, latihan menulis adalah yang paling sulit bagi peserta didik.

Evaluasi subtansi dan sistematika kurikulum bahasa Arab serta perangkat pendukungnya di Madrasah Aliyah Negeri Wlingi Blitar / Danti Masruroh

 

Kata Kunci : evaluasi, substansi, sistematika, kurikulum Evaluasi kurikulum sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data secara sistematis, yang bertujuan untuk membantu pendidik memahami dan menilai kurikulum, serta memperbaiki metode pendidikan. Penelitian ini mendeskripsikan substansi dan sistematika penyusunan isi dari Silabus, RPP, Prota dan Promes bahasa Arab yang digunakan di MAN Wlingi Blitar, serta kelayakan kurikulum yang digunakan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berbentuk paparan data yang mendeskripsikan isi dari kurikulum yang digunakan dan perangkat pendukung di dalamnya yang meliputi Silabus, RPP, Prota dan Promes. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara, pengamatan, dan analisis data. Pada penelitian ini, terdapat lima langkah dalam menganalisis data yaitu pertama pengumpulan data. Dalam kegiatan ini, peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya dari hasil wawancara dengan pengajar. Kedua Reduksi data merupakan kegiatan memilih data yang tepat. Langkah ketiga adalah penyajian data, keempat penjelasan data, dan langkah kelima adalah kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan MAN Wlingi Blitar adalah kurikulum dari Kanwil yang berbentuk silabus kemudian dikembangkan oleh masing-masing guru mata pelajaran. Selanjutnya penyusunan silabus bahasa Arab dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran bahasa Arab. Silabus bahasa Arab yang digunakan di MAN Wlingi Blitar, substansi atau isi silabus tersebut beberapa komponen di dalamnya tidak sesuai dengan empat kemahiran dalam bahasa. Kurikulum yang digunakan saat ini. Ketidaksesuaian tersebut terdapat pada komponen materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, dan penilaian. Seperti halnya silabus, RPP bahasa Arab yang digunakan MAN Wlingi Blitar juga terdapat beberapa komponen di dalamnya yang kurang sesuai empat kemahiran bahasa. Selain itu isi dari beberapa komponen di dalamnya tidak sesuai dengan jenis kemahiran yang dicantumkan dalam RPP. Berdasarkan hasil wawancara, MAN Wlingi telah memiliki Prota dan Promes bahasa Arab. Akan tetapi, peneliti tidak menemukan adanya Promes bahasa Arab. Dengan kata lain MAN Wlingi Blitar tidak memiliki Promes bahasa Arab. Penentuan tingkat kelayakan suatu kurikulum didasarkan atas dua faktor, yakni faktor manusiawi dan faktor material. Berdasarkan faktor manusiawi dan faktor material kurikulum di MAN Wlingi Blitar masih layak digunakan walaupun salah satu faktor material yaitu media instruksional belum terpenuhi secara maksimal. Pada penelitian ini saran ditujukan untuk pihak-pihak yang terkait yaitu Waka Kurikulum MAN Wlingi, guru mata pelajaran bahasa Arab MAN Wlingi, dan peneliti mendatang. Bagi Waka Kurikulum, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk memperbarui kekurangan yang ada pada perangkat pendukung kurikulum MAN Wlingi. Selanjutnya bagi guru mata pelajaran, informasi yang didapatkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memperbaiki isi dari silabus, RPP, Prota serta Promes bahasa Arab berkaitan dengan ketidaksesuaian beberapa komponen di dalamnya dengan SKKD yang ada. Saran yang terakhir ditujukan kepada peneliti mendatang, hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai data mendasar apabila akan mengembangkan penelitian ini pada skala yang lebih besar lagi.

Perencanaan peningkatan jalan (overlay) Blitar-Srengat STA 0+000-5+550 Kabupaten Blitar / Ari Sutikno

 

Setyansah, Arman. C. 2014. “Perencanaan Peningkatan Jalan (Overlay) pada Ruas Mojosari-Pandan Arum STA.5+000-STA.9+000 Kabupaten Mojokerto Jawa Timur”. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Pranoto, S.T.,M.T., (II) Drs. I Made Oka Mulya, M.Pd. Kata Kunci: perkerasan lentur, pelapisan tambahan (overlay), kabupaten Mojokerto Ruas Jalan Mojosari-Pandan Arum merupakan jalan menuju Taman Wisata Ubalan Pacet dan merupakan jalan alternatif menuju kota Batu dan kota Malang. Ruas jalan ini berada pada link 053 dan berada pada Km Sby. 44+450–Km Sby 53+528. Beberapa tahun terakhir ini volume lalu lintas kendaraan sangat ramai dilalui para pengguna jalan, akibatnya kondisi permukaan jalan mengalami kerusakan sehingga para pengguna jalan merasa terganggu akan keselamatan berkendaraannya. Maka dari itu pembangunan peningkatan jalan harus segera dilaksanakan sehingga dapat meningkatkan nilai pertumbuhan pada sektor ekonomi maupun pariwisata yang bisa di manfaatkan demi memenuhi kebutuhan masyarakat disekitarnya maupun masyarakat lainnya sesuai dengan kapasitasnya. Tujuan perencanaan peningkatan jalan ini untuk mengetahui tebal lapis tambahan (overlay) perkerasan lentur ruas jalan raya Mojosari-Pandan Arum dan mengetahui anggaran biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut, menggunakan sumber dari buku Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen (Bina Marga, 1987). Hasil dari perhitungan tebal lapis tambahan (overlay) berdasarkan Metode Analisa Komponen, diperoleh tebal lapis tambahan (overlay) sebesar 3 cm. Sedangkan untuk perhitungan Rencana Anggaran Biaya pada perencanaan peningkatan jalan (overlay) ruas Mojosari-Pandan Arum nilainya adalah sebesar Rp. 3.700.000.000,00 (Tiga Milyar Tujuh Ratus Juta Rupiah).

Rancang bangun regulator tegangan untuk eksitasi pada generatot sinkron 3 fasa penguat luar / Febri Andriawan

 

Kata Kunci: Regulator Tegangan, Eksitasi, Generator sinkron 3 fasa. Eksitasi generator adalah sistem pasokan listrik DC sebagai penguatan pada generator sinkron atau sebagai pembangkit medan magnet sehingga suatu generator dapat menghasilkan energi listrik dengan besar tegangan keluaran generator tergantung pada besarnya arus eksitasinya. Tegangan yang konstan pada terminal generator merupakan suatu besaran penting yang harus dipertahankan untuk menghasilkan supply daya yang diharapkan. Untuk itu, diperlukan peralatan kontrol yang digunakan untuk mengatur besaran masukan guna mencapai titik keseimbangan. sekarang ini masih banyak yang menggunakan kendali konvensional dengan cara memutar autotrafo. Seperti kita ketahui bahwa pengaturan dengan autotrafo terdapat berbagai macam kelemahan. Pembuatan tugas akhir ini bertujuan untuk membuat sebuah inovasi baru terhadap pengaturan tegangan eksitasi Generator sinkron 3 fasa dengan sistem pengaturan yang mudah dan sederhana. Pengaturan yang digunakan menggunakan metode PWM yang dipicukan pada Thyristor atau SCR. Thyristor atau SCR merupakan komponen elektronika yang terdiri dari bahan semi- konduktor yang dapat mengalirkan arus positif baik dari sumber arus searah maupun dari sumber arus bolak balik. Penggunaan Thyristor atau SCR sangat luas karena dapat mengendalikan arus listrik yang cukup besar dan dipergunakan langsung untuk jaringan arus bolak-balik (AC). Penggunaan SCR pada saat ini adalah untuk switching daya listrik yang besar dan mengendalikan pengaturan kemagnitan generator sinkron 3 fasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen (Research Methode). Obyek penelitian adalah dengan pengendalian tegangan eksitasi generator sinkron 3 fasa . Dari analisis dan pengujian yang telah diperoleh, pengaturan tegangan eksitasi generator sinkron 3 fasa dilakukan dengan cara mengubah besar putaran potensio pada alat sehingga duty cycle yang dipicukan pada SCR berubah dan membuat tegangan keluaran menjadi dapat dikendalikan besarnya. Perubahan PWM waktu nyala (on) dan waktu mati (off) yang diterapkan pada rancang bangun regulator tegangan untuk eksitasi generator sinkron 3 fasa membuat tegangan keluaran dapat dikendalikan dari 0VAC s/d 223 VAC dan tegangan 0VAC-216VAC untuk generator saat diberi beban lampu 15W. Untuk beban 5 W tegangan keluaran generator dapat diatur 0-223VAC. Pada beban 75W tegangan keluaran generator 0-221VAC.

Analisis penerapan SAP ERP (System Application and Product Enterprise Resources Planning) pada PT. PLN (Persero) Area Madiun / LLana Aristya Mustika Huda

 

Penilaian aset tetap berdasarkan PSAP 07 paragraf 22 pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Tulungagung tahun 2011-212 / Aya Sovia Putri

 

Kata Kunci: Aset Tetap, Aset Tetap pada BPKAD, Penilaian sesuai PSAP No 07, Penilaian Aset Tetap pada BPKAD Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tulungagung adalah salah satu instansi yang menjalankan tugas pemerintahan. Topik yang diangkat dalam penulisan ini adalah aset tetap pada instansi tersebut,bertujuan untuk mengetahui penilaian aset tetap pada BPKAD sesuai dengan PSAP No 07, dengan menggunakan metode kualitatif dan metode kuantitatif PSAP No 07. Klasifikasi aset tetap pada BPKAD Kabupaten Tulungagung antara lain: tanah, gedung dan bangunan, mesin dan peralatan, konstruksi dalam pengerjaan serta aset tetap lainnya. Kelima aset tetap tersebut dapat dinilai dengan penilaian aset tetap menurut SAP nomor 07 dengan metode pengakuan, pengukuran, penghentian dan pelepasan aset tetap. Pembahasan pada penulisan ini adalah penilaian aset tetap pada BPKAD Kabupaten Tulungagung, sehingga adanya tinjauan secara pelaksanaan praktik dan menemukan beberapa ketidaksesuaian dengan PSAP No 07 yaitu tidak dilaksanakannya penghentian dan pelepasan aset kemudian yang kedua adalah tidak melakukan penyusutan. Ketentuan-ketentuan tersebut seharusnya dilakukan agar tidak menimbulkan nilai yang terlalu tinggi dalam laporan keuangan. Penyusutan yang telah dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut yang seharusnya dilaporkan dalam laporan keuangan karena banyak aset yang seharusnya sudah tidak memiliki masa manfaat. Nilai aset-aset yang disajikan dalam laporan keuangan maka dapat memiliki kewajaran bagi penggunanya. Secara garis besar, BPKAD telah mengaplikasikan teori dengan baik namun masih mengalami beberapa kekeliruan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.Rekomendasi yang dapat diuraikan yang pertama adalah dilakukan penyusutan pada instansi tersebut agar aset tidak dinilai terlalu tinggi, dan kedua adalah penyesuaian kondisi aset tetap sesuai dengan peraturan daerah dengan realisasi di lapangan dengan melakukan cek fisik ulang agar keterangan dalam buku inventaris lebih lengkap dan akurat.

Penerapan sistem otomasi laser pada Bagian Administrasi di UPT Perpustakaan dan Informasi Pusat Universitas Muhammadiyah Malang / Iswanto

 

Kata Kunci : Sistem otomasi, Perpustakaan perguruan tinggi. Layanan administrasi adalah layanan yang mencakup pengurusan administratif mahasiswa di perpustakaan yang disediakan di bagian depan (Front office) oleh UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang dengan tujuan memudahkan mahasiswa mengurus administrasi yang dibutuhkan dari perpustakaan. Selain itu juga sebagai tempat informasi dan tanya jawab pengguna perpustakaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan pengaplikasian dan penerapan sistem otomasi LASer di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang pada layanan administrasi, untuk dijadikan sebagai acuan pembelajaran aplikasi teknologi informasi pada perpustakaan-perpustakaan lain. Perpustakaan pusat Universitas Muhammadiyah Malang menggunakan aplikasi Library Automation Service (LASer) sebagai sistem otomasiya. Sistem otomasi perpustakaan Library Automation Service (LASer) adalah program aplikasi perpustakaan yang dibangun dengan bahasa Scripting PHP dan database MySQL yang bersifat open source atau dapat dikembangkan secara lanjut. Program sistem otomasi LASer ini merupakan software otomasi perpustakaan yang memiliki banyak fitur dan cukup mudah digunakan. Pada layanan di bagian administrasi, sistem otomasi LASer dapat mempermudah kegiatan administrasi yang biasanya dibutuhkan oleh mahasiswa seperti mengurus nomor PIN, mengurus surat bebas tanggungan, dan urusan administratif lainnya. Beberapa menu yang ada di sistem otomasi LASer bagian administrasi antara lain menu layanan peminjaman loker, layanan pendaftaran anggota, layanan pembelian kartu Super, mengurus surat keterangan, bebas tanggungan, mereset nomor PIN mahasiswa, mengganti nomor PIN, memperpanjang masa aktif anggota, mengecek daftar hasil studi mahasiswa, layanan blokir anggota, melihat daftar anggota yang diblokir, layanan mengaktivasi blokir, dan pendaftaran layanan perpustakaan. Berdasarkan tugas akhir ini, diharapkan UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang dapat mengambil masukan dan saran dari penulis, antara lain: penambahan menu pendaftaran pendidikan pemakai di menu administrasi untuk mahasiswa baru, peningkatan keamanan dan kecepatan akses jaringan ke server, serta penambahan kursi supaya mahasiswa yang antri dapat menunggu dengan nyaman sehingga akan menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan dan meningkatkan layanan yang ada di UPT perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Persepsi pemustaka terhadap tata letak gedung dan ruang di UPT Perpustakaan dan informasi Universitas Muhammadiyah Malang (Survei pada mahasiswa FKIP Jurusan PGSD angkatan 2010) / Sri Juwita Mustikalini

 

Kata Kunci: persepsi, tata letak gedung dan ruang, perpustakaan UMM Perpustakaan perguruan tinggi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademika perguruan tinggi yang bersangkutan, yaitu mahasiswa dan dosen. Perpustakaan perguruan tinggi berfungsi sebagai sarana yang akan menunjang proses perkuliahan dan penelitian di perguruan tinggi tersebut, salah satunya adalah UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang yang terletak di Jl. Raya Tlogomas 246 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang persepsi pemustaka terhadap tata letak gedung dan ruang di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup. Analisis hasil penelitian menggunakan tabel frekuensi dengan skala Likert. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan PGSD. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling sebanyak 65 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap tata letak gedung dan ruang di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang adalah 21 responden (32,31%) menyatakan sangat setuju, 41 responden (63,08%) menyatakan setuju, dan 3 responden (4,61%) menyatakan tidak setuju. Sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan secara menyeluruh bahwa persepsi pemustaka terhadap tata letak gedung dan ruang di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang adalah setuju atau dalam kategori cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang dapat mengambil masukan dan saran dari penulis, antara lain: (1) sistem penataan rak yang kurang rapi, hal tersebut dapat menjadi masukan bagi lembaga sebagai bahan evaluasi perpustakaan UMM dimasa yang akan datang, (2) penggunaan teknologi/peralatan supaya lebih dikembangkan dan sudah saatnya untuk menambah komputer (baik layanan mandiri maupun OPAC), dan (3) Untuk peneliti lanjutan dapat mengadakan penelitian sejenis dengan variabel yang berbeda, dengan jumlah variabel dan populasi yang lebih luas sehingga hasil yang diperoleh akan lebih representatif.

Proses pembelajaran sejarah ditinjau dari visi dan misi SMA Seminari Garum tahun 2006-2011 / Fredhy Sulistiono

 

Sulistiono, Fredhy. 2013 Proses Pembelajaran Sejarah Ditinjau dari Visi dan Misi SMA Seminari Garum Tahun 2006 - 2011. Skripsi, Prodi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hariyono., M.Pd, (II) Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M. Hum. Kata Kunci: pembelajaran, visi-misi, dan seminari Garum. Di antara para tenaga kependidikan para pendidik atau guru merupakan unsur utama. Baik tidaknya suatu sekolah atau sebuah kurikulum sangat tergantung dari mutu guru atau tenaga pendidiknya. Oleh karena pada tahun 2007 sekolah seminari ini mengalami perubahan atau perkembangan visi dan misi, maka disini saya tertarik untuk menggunakan visi dan misi sebagai komponen yang mengarah kepada proses pembelajaran. Jadi dalam penelitian saya dapat terlihat perubahan keberhasilan sekolah tersebut khususnya bagi guru sejarah apakah mengalami peningkatan ataukah penurunan ditingkat nilai akademis setelah perkembangan visi dan misi sekolah seminari tersebut. Oleh karena itu dari penelitian tersebut muncul beberapa rumusan masalah. Adapun rumusan masalah penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakah sejarah perkembangan visi dan misi sekolah seminari Garum dan (2) Bagaimanakah cara guru sejarah menerapkan visi dan misi tersebut dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang sejarah perkembangan visi dan misi serta proses pembelajaran guru sejarah di sekolah seminari dalam mendidik siswa sesuai dengan visi dan misi sekolah. Penulisan skripsi ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pada dasarnya pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk jenis-jenis penelitian yang memiliki karakteristik tertentu. Kehadiran peneliti disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai pengamat penuh. Lokasi atau latar penelitian adalah Sekolah Seminari Jalan Merdeka Timur 4-6 Garum, Kecamatan Garum Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Data catatan lapangan dan data tertulis diperoleh melalui wawancara langsung dari orang pertama sebagai informan kunci, yaitu kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, kemudian dilanjutkan dengan menemui kepala tata usaha, guru-guru serta siswa yang mengetahui secara jelas dan rinci mengenai permasalahan yang diteliti serta faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: Seminari Garum merupakan Seminari Diosesan tingkat menengah yang berada di bawah otoritas atau wewenang Uskup Surabaya. Visi Seminari Garum pada awalnya adalah “Sekolah calon imam-kader gereja yang berkesadaran global dan peka terhadap situasi lokal”. Sedangkan misinya adalah “Mewujudkan seminari sebagai komunitas pembelajar dan pembinaan yang membentuk karakter dan kompetensi siswa, yang unggul dalam mutu pendidikan nilai. Karena pada tahun 2007 pemerintah menetapkan sekolah Seminari Garum sebagai sekolah yang terakreditasi A nasional, maka sekolah tersebut merubah sedikit atau menambah visi dan misi terdahulu agar lebih jelas dan lengkap. Cara mengajar guru sejarah yang sesuai dengan visi dan misi di sini dilakukan guru ii melalui beberapa indikataor. Tetapi tidak semua visi dan misi sekolah di SMA Seminari Garum tersebut dapat digunakan sebagai alat atau indikator keberhasilan guru. Karena sebagian dapat diukur dan sebagian juga tidak dapat diukur. Saran-saran sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian adalah untuk sekolah Seminari Garum, siswa, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, dan para peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang serupa, agar dapat mengembangkan penulisan mengenai perkembangan di SMA Seminari Garum terhadap beberapa aspek baik dari pola mengajar guru

Dinamika kesenian karawitan pada masyarakat Tiomghoa Kota Malang (1952-2011) / Onny Chandra Firdaus

 

Firdaus, Onny Chandra.2013. Dinamika Kesenian Karawitan Pada Masyarakat Tionghoa Kota Malang (1952-2011).Skripsi. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Irawan, M.Hum., (II) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum Kata Kunci : Karawitan, Tionghoa, Malang.     Masyarakat Tionghoa telah ada di Indonesia selama berabad-abad. Selama itu banyak terjadi perpaduan budaya dengan budaya lokal. Kota Malang sebagai kota yang sangat berkembang pada masa kolonial menarik banyak pendatang tidak terkecuali pendatang Tionghoa. pada 1952, di Malang terbentuk kelompok Wayang Orang Ang Hien Hoo yang diprakarsai oleh orang-orang Tionghoa dan selama perjalanannya hingga tahun 2011 kelompok ini menginspirasi kelahiran beberapa kelompok kesenian serupa pada kalangan Tionghoa di Kota Malang.     Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah yang akan dikaji yaitu (1) Bagaimanakah ekspresi kebudayaan masyarakat Tionghoa, (2) Bagaimanakah dinamika kesenian karawitan pada masyarakat Tionghoa Kota Malang selama periode 1952 hingga 2011.     Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) mengetahui ekspresi kebudayaan masyarakat Tionghoa Indonesia (2) mendiskripsikan dinamika kesenian karawitan pada masyarakat Tionghoa Kota Malang selama tahun 1952 hingga 2011.     Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah. Metode sejarah meliputi heuristik yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber yaitu menguji kebenaran informasi baik dari segi materi maupun substansi. Kebenaran yang telah diperoleh, meliputi kritik ekstern untuk menilai keautentikan sumber dan kritik Intern untuk menilai kebenaran isi sumber dan kesaksian. Interpretasi yaitu mencari makna dari fakta-fakta yang telah diperoleh dan Historiografi yaitu penulisan sejarah. Sedangkan metode sejarah lisan digunakan karena masih memungkinkan untuk menggali informasi dari pelaku sejarah melalui wawancara. Berdasarkan penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat Tionghoa datang ke Indonesia secara bergelombang dan terdiri atas berbagai suku. Hal yang sedemikian itu membuat terdapat tiga kebudayaan yang mempengaruhi cara hidup mereka yakni budaya Jawa, Eropa dan budya Tionghoa itu sendiri. Bagi mereka yang telah terakulturasi dengan budaya Jawa, kesenian tradisional seperti Karawitam menjadi tidak asing lagi. Kesimpulan lain yang diperoleh adalah Wayang Orang Ang Hien Hoo telah menginspirasai kelahiran kelompok kesenian serupa di kalangan masyarakat Tionghoa Malang, yakni Karawitan Dharma Budaya dan Sanggar Tari Ang Hien Hoo Junior. Selain itu karawitan juga dikembangkan pada SMAK St. Albertus yang banyak tedapat anak Tionghoa terdaftar sebagai siswanya. Kesenian tradisional telah berkembang lebih kompleks, dimana tidak hanya menjadi sebuah ekspresi budaya suatu masyarakat. Lebih dari itu, kesenian tradisional telah mampu menjadi alat pemersatu antar golongan bagi masyarakat semajemuk Indonesia.

Pelaksanaan kurikulum Tamansiswa: Studi kasus di Perguruan Tamansiswa Tulungagung tahun ajaran 2012-2013 / Zuni Pramesti

 

Pramesti, Zuni. 2013. Pelaksanaan Kurikulum Tamansiswa : Studi Kasus Di Perguruan Tamansiswa Tulungagung Tahun Ajaran 2012-2013. Skripsi, Jurusan Sejarah. Program Studi Pendidikan Sejarah. FIS.Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd. (II) Drs. Mashuri, M.Hum Kata Kunci : Kurikulum, Tamansiswa, Tulungagung     Tamansiswa merupakan suatu perguruan yang mempunyai ciri khas dalam kurikulumnya, yaitu adanya pelajaran ketamansiswaan, pendidikan budi pekerti, dan mencintai budaya lokal. Adanya keistimewaan tersebut seharusnya mampu menjadikan Perguruan Tamansiswa sebagai salah satu alternatif pilihan sekolah yang diminati oleh masyarakat. Namun, pada kenyataannya Perguruan Tamansiswa tidak mendapat sambutan yang hangat dari banyak masyarakat sehingga keadaannya terpuruk. Berangkat dari masalah ini peneliti tertarik untuk mengetahui penyebab keterpurukan dari Tamansiswa, khususnya Tamansiswa cabang Tulungagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan kurikulum Tamansiswa Perguruan Tamansiswa Tulungagung khusunya di Taman Indriya, di Taman Dewasa dan di Taman karya.     Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dan jenis penelitian kualitatif study kasus. Penelitian Kualitatif dipilih karena dalam penelitian ini meneliti mengenai kualitas dari Perguruan Tamansiswa Tulungagung, khususnya pada penerapan kurikulumnya. Dalam penelitian, peneliti mengandalkan pada sumber data primer dan skunder. Sumber primer terdiri dari penelitian langsung, wawancara, catatan lapangan dan disertai dengan dokumentasi berupa foto-foto terkait hasil penelitian. Sedangkan sumber sekunder terkait dengan sumber-sumber bacaan yang relefan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Proses analisis data pada penelitian ini dimulai dari penelaahan seluruh data yang ada baik data dari hasil wawancara, pengamatan, dokumen resmi dan foto. Dari data yang sudah terkumpul dibuatlah rangkuman.     Berdasarkan data analisis tersebut hasil penelitian sebagai berikut : penerapan kurikulum pada Taman Indriya di Perguruan Tamansiswa Tulungagung dapat dikatakan sesuai dan tidak bergeser dari nilai dan azas Tamansiswa Ki Hajar Dewantara. Sebab, pada pelaksanaan kurikulum Taman Indriya menitik beratkan pada materi mencintai budaya lokal, serta sistem among sangat diterapkan.     Pelaksanaan kurikulum pada Taman Dewasa dan Taman Karya berbeda hal dengan Taman Indriya. Pada Taman Dewasa dan Taman Karya kurikulum sedikit bergeser, sebab berdasarkan pada Peraturan Besar Tamansiswa Yogyakarta mewajibkan setiap cabang untuk memberikan materi mengenai ketamansiswaan, dan budi pekerti, serta mencintai budaya lokal. Pada praktinya, materi ketamansiswaan dan budi pekerti yang diberikan di Taman Dewasa dan Taman Karya tidak bisa secara maksimal, sebab pemberi materi (pamong) bukan berasal dari sarjana wiyata yang kurang berkompeten pada materi tersebut. Selain itu, materi mengenai budaya lokal tidak diberikan pada Taman Dewasa dan Taman Karya dikarenakan tempat dan biaya yang kurang memadahi. Hal ini jelas terlihat bahwa pada penerapan kurikulum di Taman Dewasa dan Taman Karya sedikit bergeser dengan ajaran Tamansiswa Ki Hajar Dewantara.     Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan kurikulum pada Taman Indriya tidak bergeser dari peraturan Yayasan Tamansiswa Ki Hajar Dewantara, sebab dalam pelaksanaan kurikulumnya diadakan materi mengenai mengenai cinta budaya lokal dengan mengedepankan sistem among dalam pembelajarannya. Sedangkan pada Taman Dewasa dan Taman Karya pelaksanaan kurikulumnya cenderung bergeser pada aturan Yayasan Tamansiswa, sebab pemberian materi mencintai budaya lokal yang sejatinya menjadi tujuan Perguruan Tamansiswa Ki Hajar Dewantara tidak dilaksanakan.     Saran untuk penelitian selanjutnya, dengan adanya kajian ini diharapkan untuk ke depannya dapat memberikan inspirasi kepada peneliti-peneliti lain yang tertarik melakukan penelitian mengenai Perguruan Tamansiswa bisa mengangkat tema mengenai pelaksanaan kurikulum Perguruan Tamansiswa pada tahun-tahun ajaran berikutnya. Sehingga dapat diketahui perkembangan kurikulum di Perguruan Tamansiswa.

Perancangan media promosi Loggue / Manzur Ghozaali

 

Kata kunci : Perancangan, Media Promosi Salah satu kebutuhan primer manusia adalah pakaian. Hal ini membuat persaingan dalam bisnis konveksi sangat ketat sehingga dibutuhkan upaya promosi serta membangun profil perusahaan yang dapat dipercaya oleh konsumen. Banyak jenis media yang dapat digunakan dalam promosi. Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga pemilihan media sangat penting untuk menutupi kelemahan tersebut. Loggue sebagai salah satu perusahaan di bidang konveksi memerlukan media promosi agar lebih dikenal oleh konsumen. Model perancangan yang digunakan merupakan model perancangan yang dimiliki oleh Surianto Rustan, dan Sadjiman Ebdi Sanyoto. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara serta studi dokumentasi sebagai metode penelitian untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan sistem analisis SWOT. Hasil perancangan ini berupa dua jenis media yaitu media berbasis digital dan media berbasis cetak. Media berbasis digital yang dihasilkan berupa interactive company profile yang berisi antara lain sejarah, profil umum, prestasi, produk, layanan, galeri konsumen, dan informasi kontak. Sedangkan media promosi berbasis cetak yang dihasilkan antara lain berupa x-banner, kartu nama, sign board, sticker, poster, background social media, packaging, pin, gantungan kunci dan stationery sets. Gaya desain yang digunakan dalam perancangan ini adalah minimaslist. Gaya ini terisnpirasi dari gaya desain Metro Flat UI dimana banyak menggunakan bentuk geometri yang simpel dan teratur. Gaya minimalist ini banyak menggunakan ikon sebagai pengganti fungsi teks. Beberapa saran yang dapat diberikan kepada produk perancangan adalah dapat digunakan sebagai media promosi alternatif Loggue. Selain itu interactive company profile ini masih memerlukan perbaikan serta update informasi apabila terjadi peruhanan dalam isi di dalamnya.  

Perancangan multimedia interaktif Ensiklopedia Maritim Nusantara / Abdullah Syukri Fahmi

 

Pelaksanaan penilaian proses dan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa Kota Malang / Eka Setyowati

 

Kata Kunci: Penilaian Proses Belajar, Penilaian Hasil Belajar, Mata Pelajaran PKn Penilaian adalah komponen yang penting dalam sistem pendidikan. Dengan hasil penilaian, maka dapat dijadikan tolok ukur kegagalan atau keberhasilan suatu sistem pendidikan. Penilaian di sekolah tentu akan terkait dengan penilaian terhadap siswa. Penilaian terhadap siswa harus mencakup seluruh aspek baik dari segi proses dan hasil belajar. Namun, penilaian guru sering menekankan kepada penilaian hasil belajar saja dan kurang menaruh perhatian terhadap penilaian terhadap proses pembelajaran. Padahal, penilaian terhadap proses belajar siswa merupakan hal yang penting, mengingat kemampuan hasil belajar siswa diperoleh dari kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang menyangkut (1) perencanaan penilaian proses dan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang (2) pelaksanaan penilaian proses belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang, (3) instrumen penilaian proses belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang, (4) pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang, (5) instrumen penilaian hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang, (6) hambatan dalam penilaian siswa kelas VII pada matapelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang, (7) upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam penilaian siswa kelas VII pada mata pelajaran PKn di SMP Tamansiswa kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Kehadiran peneliti sebagai instrumen utama penelitian dan lokasi penelitian bertempat di SMP Tamansiswa Kota Malang. Sumber data penelitian ini adalah informan yaitu guru dan siswa, tempat dan peristiwa penilaian serta arsip dan dokumen yang berkaitan dengan penilaian. Prosedur pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan analisis dokumen. Analisis data melalui tahap reduksi data, display data, dan verifikasi data. Serta pengecekan keabsahan temuan dengan teknik ketekunan pengamatan dan trianggulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) perencanaan penilaian proses dan hasil belajar siswa terdapat dalam RPP. Dalam RPP penilaian dilaksanakan sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran; (2) pelaksanaan penilaian proses bersumber dari kegiatan siswa selama proses pembelajaran, serta pemberian tugas-tugas mandiri ataupun tugas secara kelompok. Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa. Pelaksanaan penilaian proses tidak setiap pertemuan; (3) penilaian proses materi HAM diperoleh dari penilaian terhadap produk berupa peta konsep dengan instrumen penilaian menggunakan lembar pengamatan dengan aspek penilaian yaitu kesesuaian tugas dengan materi, kreativitas, kerapian tugas dan presentasi. Selain itu, penilaian proses juga nampak pada penilaian unjuk kerja dengan melakukan diskusi kasus-kasus pelanggaran HAM. Penilaian dilakukan dengan lembar pengamatan dengan aspek penilaian yaitu keaktifan, kemampuan memberikan argumen, sikap dan kerjasama serta presentasi. Pelaksanaan penilaian proses juga nampak pada penilaian terhadap tugas siswa. Untuk penilaian tugas tersebut tidak dibuat instrumen secara khusus. Perolehan nilai berasal dari pengamatan tidak terstruktur terhadap tampilan tugasnya; (4) pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa dilakukan saat ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester. Tingkatan penilaian untuk ranah kognitif yakni dengan diberikan soal-soal sampai tingkat aplikasi, sedangkan penilaian afektif dilakukan secara pengamatan; (5) instrumen penilaian hasil belajar pada saat ulangan harian bervariasi, sedangkan instrumen penilaian hasil belajar ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester digunakan pilihan ganda. Instrumen penilaian afektif dilakukan secara pengamatan tidak terstruktur terhadap siswa saat pembelajaran dan belum pernah dilaksanakan secara tertulis; (6) hambatan dalam penilaian siswa kelas VII di SMP Tamansiswa terdiri dari hambatan yang muncul pada perencanaan penilaian, hambatan penilaian sebelum pembelajaran, hambatan penilaian selama proses pembelajaran, serta hambatan penilaian pada akhir pembelajaran; (7) Upaya guru dalam mengatasi hambatan penilaian terbagi atas upaya mengatasi hambatan pada perencanaan penilaian, upaya dalam mengatasi hambatan penilaian sebelum pembelajaran, terkait upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan penilaian selama proses pembelajaran dan untuk mengatasi hambatan yang muncul saat pelaksanaan penilaian akhir pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut agar pelaksanaan penilaian proses dan hasil siswa kelas VII di SMP Tamansiswa berjalan baik dapat disarankan (1) bagi guru, hendaknya merencanakan penilaian dengan lengkap, menerapkan beberapa teknik penilaian serta membuat pedoman, pencatatan, dan melaksanakan penilaian secara teratur dan sistematis; (2) Siswa seyogyanya lebih aktif dan ikut terlibat dalam memberikan masukan untuk kegiatan penilaian; (3) bagi sekolah seyogyanya melakukan pengkajian secara teratur terhadap nilai hasil belajar siswa.

Penerapan budaya kedisiplinan siswa di SMAN 1 Tanjunganom Nganjuk / Dwi Wibowo

 

Wibowo, Dwi. 2013. Penerapan Budaya Kedisiplinan Siswa Di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tanjunganom, Nganjuk, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H.A.Rosyid Al Atok, M.Pd, MH, (II) Drs. H.Petir Pudjantoro, M.Si. Kata kunci: Budaya Kedisiplinan Menurunnya tingkat kedisiplinan siswa disekolah membawa dampak negatif dalam proses belajar-mengajar dan prestasi siswa di sekolah. Disiplin di sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang melanggar disiplin yang terjadi di kalangan siswa di SMAN 1 Tanjunganom misalnya terlambat datang kesekolah. Hal-hal seperti ini mampu diatasi oleh pihak sekolah apabila pihak yang bersangkutan mampu menerapkan disiplin kepada siswa. Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) Apa saja nilai-nilai kedisiplinan yang diterapkan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tanjunganom? (2) Bagaimana strategi sekolah dalam menerapkan budaya kedisiplinan siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tanjunganom? (3) Bagaimana efektifitas penerapan budaya kedisiplinan siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tanjunganom? (4)Apa faktor pendukung dan penghambat penerapan budaya kedisiplinan siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN)1 Tanjunganom?. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kedisiplinan yang ada di SMAN 1 Tanjunganom. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini ada beberapa sumber data , diantaranya Ibu/bapak guru SMAN 1 Tanjunganoam, siswa SMAN 1 Tanjunganom, satpam, dan beberapa dokumen yang dijadikan sumber sekunder oleh peneliti. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan penggunaan dokumen. Analisis data yang digunakan melalui tiga tahap yaitu: reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan data. Temuan penelitian yaitu nilai-nilai kedisiplinan yang di terapkan di sekolah merupakan salah satu sumber peraturan kedisiplinan yang dibuat oleh sekolah dengan bertujuan semua warga sekolah menerapkan dan mentaati nilai-nilai kedisiplinan yang ada. Nilai-nilai yang diterapkan diantaranya nilai tata karma, nilai tanggug jawab, nilai keimanan kepada Tuhan Yang Maha, nilai ketaatan terhadap aturan sekolah, nilai tepat waktu. Dalam menerapkan kedisiplinan yang ada di SMAN 1 Tanjunganom pihak sekolah menerapkan strategi untuk melaksanakan kedisiplinan tersebut. Strategi yang digunakan dalam mengatasi ketidakdisiplinan siswa dengan diantaranya Pemasangan pamflet di iii lingkungan sekolah, Pembentukan Tim Disiplin, Sosialisasi TataTertib, Keteladanan Guru, Preventif – Represif. Diharapkan dengan strategi yang diterapkan bisa memenuhi target pencapaian atau efektifitas penerapan budaya kedisiplinan. Pihak sekolah mempunyai standar dan target dalam menentukan efektifitas kedisiplinan yaitu pengetahuan siswa tentang kedisiplinan, dan tingkat pelanggaran yang terjadi. Dari siswa yang paham tentang kedisiplinan dan fasilitas sekolah mempengaruhi siswa untuk melakukan kedisiplinan yang ada di sekolah, karena ada kesadaran dari diri sendiri. Ada juga beberapa hambatan dalam melaksanakan kedisiplinan diantaranya ada beberapa siswa yang mempunyai karakter keras dan sulit untuk diarahkan, beberapa guru yang bersikap tidak konsekuen terhadap aturan. Berdasarkan temuan penelitian kedisiplinan yang diterapkan di SMAN 1 Tanjunganom berjalan sesuai yang diharapkan karena kesadaran dari siswa akan kedisiplinan, meskipun ada sedikit hambatan dalam melaksanakan kedisiplinan di sekolah. Berdasarkan temuan penelitian diatas disarankan: SMAN 1 Tanjunganom melaksanakan peningkatan terhadap kedisiplinan, dan lebih tegas lagi agar hasil dari penerapan budaya kedisiplinan siswa dapat berjalan dengan baik, keteladanan guru harus lebih ditingkatkan, sehingga guru yang tidak konsekuen dengan peraturan bisa dikenai sanksi agar kedisiplinan di sekolah bisa dilaksanakan lebih baik.

Peranan kaderisasi calon pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dalam upaya mengembangkan kemampuan berorganisasi siswa di SMP Negeri 1 Malang / Syamsul Huda

 

Kata Kunci: kaderisasi, OSIS, kemampuan berorganisasi. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan satu-satunya organisasi kesiswaan yang berada di lingkungan sekolah. Karena kedudukannya itulah wajar jika OSIS merupakan salah satu intrakurikuler yang paling diminati oleh siswa SMP Negeri 1 Malang. Peminat tersebut berasal dari siswa kelas VII dan Kelas VIII sedangkan kelas IX sudah tidak diperbolehkan menjadi Pengurus OSIS. Masing-masing siswa mempunyai bekal dan motivasi yang berbeda untuk menjadi Pengurus OSIS. Sikap siswa kelas VII cenderung kurang mandiri jika dibandingkan dengan kelas VIII, karena kelas VII merupakan masa transisi dari masa Sekolah Dasar (SD). Sementara itu, siswa kelas VIII juga belum tentu mempunyai sikap yang mandiri dan bertanggung jawab, apalagi jika siswa tersebut tidak pernah mengikuti organisasi. Karena permasalahan tersebut, maka peranan kaderisasi sangat diperlukan untuk memberi bekal kepada seluruh calon Pengurus OSIS. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tiga tujuan penelitian, yaitu (1) mengenai bentuk kaderisasi calon pengurus OSIS, (2) proses kaderisasi calon pengurus OSIS, dan (3) peranan kaderisasi calon pengurus OSIS dalam upaya mengembangkan kemampuan berorganisasi siswa di SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dalam skala kecil, terhadap kelompok yang memiliki kekhususan, keunggulan, inovasi atau bisa juga bermasalah. Oleh sebab itu penelitian ini ditujukan pada Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMP Negeri 1 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman wawancara dan pedoman observasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber yaitu pengecekan data dari berbagai sumber yang diperoleh. Kegiatan analisis data dimulai dari tahappengumpulan data, tahap reduksi data, tahap display data, dan tahap verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, bentuk kaderisasi yang digunakan dalam kaderisasi calon pengurus OSIS di SMP Negeri 1 Malang adalah kaderisasi pasif karena kaderisasi hanya dilakukan satu kali selama satu periode yaitu pada saat pergantian masa jabatan Pengurus OSIS. Kedua, proses kaderisasi calon pengurus OSIS di SMP Negeri 1 Malang melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) Tahap perekrutan calon Pengurus OSIS, yang dilakukan melalui dua cara yaitu jalur independen dan jalur prosedural. (2) Tahap seleksi administrasi dan tes wawancara yang dilakukan oleh Pengurus OSIS dan dibantu Pembina OSIS. Sedangkan tes wawancara yang dilakukan dalam dua sesi selama dua hari. (3) Tahap pelaksanaan latihan dasar kepemimpinan (LDK) yang diselenggarakan selama dua hari satu malam yang bertempat di Kampung Kidz Batu dan di SMP Negeri 1 Malang. (4) Tahap pemilihan umum OSIS yang dilaksanakan setelah kampanye para kandidat ketua OSIS selesai. Ketiga, peranan kaderisasi calon pengurus OSIS dapat diketahui dari dari proses kaderisasi OSIS yang dilakukan di SMP Negeri 1 Malang. Di mana pada saat kaderisasi berlangsung, siswa diberikan berbagai bentuk pelatihan dan materi yang dapat mengembangkan kemampuan siswa khususnya sebagai bekal menjalankan suatu organisasi. Peranan kaderisasi OSIS di SMP Negeri 1 Malang secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut: (a) meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan YME, (b) meningkatkan budi pekerti luhur, (c) menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa, (d) menumbuhkan kemandirian siswa, (e) meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani, dan (f) mengembangkan daya kreasi seni. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kaderisasi dilakukan secara berkesinambungan, yaitu Pengurus OSIS harus selalu diberikan pelatihan ataupun pengarahan secara rutin agar kelak mampu menjalankan tugas organisasi dengan baik. Serta pada saat kaderisasi seyogyanya semua aspek ditanamkan sepenuhnya kepada calon Pengurus OSIS, termasuk aspek cinta tanah air. Dengan begitu siswa dapat meningkatkan rasa kecintaannya terhadap bangsa dan negara.

Pemanfaatan teater sebagai media penanaman nilai-nilai nasionalisme di Forum Komunitas Seni Budaya "Cuciotak" Pasuruan / A'an Aprilia Prasetyo

 

Kata kunci: teater, media, nilai-nilai nasionalisme. Teater adalah suatu kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuh sebagai alat atau media dalam menyatakan cipta, rasa, dan karsa, alat atau media utama ditunjang oleh unsur-unsur: gerak, suara, (dan/atau) bunyi, (dan/atau) rupa. Teater mencerminkan nilai-nilai sosial masyarakatnya, sekaligus juga berpengaruh terhadap masyarakat. Di dalamnya terkandung unsur-unsur komitmen, kerjasama, kepekaan, kerja keras demi hasil akhir yang prima, kepuasan pribadi, pembangunan serta pengembangan karakter, kreativitas (daya kritis), pengembangan diri, pembelajaran terhadap pengalaman hidup, penghargaan bagi manusia dan alam, serta, tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah kegiatan pra pementasan dan pada saat pementasan. Kegiatan pra pementasan adalah kegiatan cinta terhadap lingkungan sebagai langkah kecil penanaman nilai-nilai nasionalisme. Sedangkan media pada saat pementasan adalah sebuah pementasan teater yang yang dimainkan diatas panggung. Nasionalisme adalah suatu paham kesadaran untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa karena adanya kebersamaan kepentingan, rasa senasib sepenanggungan dalam mengarungi masa lalu, menjalani masa kini, menghadapi masa depan pandangan, harapan dan tujuan sesuai cita-cita masa depan bangsa. Untuk mewujudkan kesadaran tersebut dibutuhkan patriotisme semangat persatuan dalam masyarakat yang pluralis. Penelitian ini rnenggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan observer partisipatif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Forum Komunitas Seni Budaya CuciOtak Pasuruan. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkan (1) Wawasan rasa nasionalisme di Forum Komunitas Seni Budaya CuciOtak Pasuruan (2) Rancangan program pemanfaatan teater sebagai media penanaman nilai nasionalisme di Forum Komunitas Seni Budaya CuciOtak Pasuruan (3) Pelaksanaan program pemanfaatan teater sebagai media penanaman nilai nasionalisme di Forum Komunitas Seni Budaya CuciOtak Pasuruan (4) Kendala dan upaya yang dihadapi dalam pelaksanaan program pemanfaatan teater sebagai media penanaman nilai nasionalisme di Forum Komunitas Seni Budaya CuciOtak Pasuruan. Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil tindakan selanjutnya yaitu untuk memanfaaatkan teater sebagai media penanaman nasionalisme di lingkunangan masyarakat atau lingkungan sekolah. Sehingga rasa nasionalisme bisa ditanamakan dengan cara-cara yang menyenangkan dan sekaligus media yang efektif.

Kerjasama antara guru pendidikan agama dan guru pendidikan kewarganegaraan dalam menumbuhkan sikap dan peilaku toleransi beragama antar siswa di SMA Negeri 2 Jombang / Endrise Septina Rawanoko

 

Pengaruh musim terhadap konsentrasi ozon berdasarkan pengamatan pada lapisan tropsfer dan stratosfer di Balai Pengamatan Dirgantara Watukosek periode Januari 2008-Februari 2013 / Endik Novita Timor Rizky

 

Fabrikasi film tipis delafosit CuA11-xFeO2 (0 x 0.08) dengan metode spin coating serta karakterisasi terhadap struktur kristal dan dielektrisitasnya / Desyana Olenka Margaretta

 

Pengaruh latihan shadow tenis meja menggunakan bet besi terhadap ketepatan pukulan topspin pada atlet di Klub PTM Prima Siswa Kota Pasuruan / Rizky Rachmadani

 

Kata Kunci: eksperimen, latihan shadow tenis meja, bet besi, ketepatan top spin Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh latihan shadow tenis meja menggunakan bet besi terhadap ketepatan pukulan topspin pada atlet PTM Prima Siswa Kota Pasuruan. Prosedur penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu, karena terdapat kelompok pembanding, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, penelitian ini juga melalui beberapa tahap, antara lain: 1) tahap awal, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap pengolahan data. Instrumen yang digunakan adalah tes keterampilan ketepatan pukulan top spin. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah atlet kelas junior PTM Prima Siswa Kota Pasuruan yang berjumlah 20 atlet. Setelah dilakukan analisis data, diperoleh data tes awal ketepatan pukulan top spin dengan skor tertinggi 8, skor terendah 3, rata-rata sebesar 5,60, simpangan baku 1,70. Data tes akhir ketepatan pukulan top spin setelah pemberian perlakuan selama kurang lebih 6 minggu sesuai kelompok yang telah dibagi, untuk kelompok eksperimen skor tertinggi 13, skor terendah 7, rata-rata 10,2, simpangan baku 1,8, sedangkan untuk kelompok kontrol skor tertinggi 10, skor terendah 5, rata-rata 7,4, simpangan baku 1,6. Untuk hasil uji normalitas (kolmogorov-smirnov) diperoleh Fstroke sebesar 0,364 lebih besar dari nilai signifikan α=0,05 maka dari itu data yang diperoleh mempunyai makna berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas menunjukkan nilai signifikan 0,083 lebih besar dari nilai signifikan α=0,05 sehingga data tidak berbeda (homogen). Dari hasil uji-t cuplikan kembar sebesar 5,0 > t tabel 5% = 2,101 dengan derajad kebebasan d.b = N1+N2-2 = 18. Sedangkan untuk nilai Sig(2-tailed) p=0,002 dengan taraf < α=0,005 jadi hasil latihan shadow menggunakan bet besi dan bet biasa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap ketepatan pukulan top spin pada atlet PTM Prima Siswa Kota Pasuruan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa latihan shadow menggunakan bet besi dan latihan shadow menggunakan bet normal memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap ketepatan pukulan top spin tenis meja pada atlet PTM Prima Siswa Kota Pasuruan.

Studi tentang tingkat kebugaran jasmani siswa-siswi SMP Negeri 101 Malang / Agustina Saptanti

 

Saptanti, Agustina. 2013. Studi tentang Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa-Siswi SMP Negeri 10 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. M. E. Winarno, M.Pd, (II) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes. Kata kunci: kebugaran jasmani, siswa. Seseorang yang fisiknya bugar mempunyai stamina dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mempunyai kemampuan untuk menghadapi keadaan darurat tanpa mengalami kelelahan. Berdasarkan hasil tes oleh beberapa ahli yang menyatakan bahwa tingkat kebugaran jasmani generasi muda saat ini masih sangat kurang maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang tingkat kebugaran jasmani di SMP Negeri 10 Malang yang memiliki banyak prestasi di bidang olahraga dan kesehatan serta memiliki program tes kebugaran jasmani, akan tetapi belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji tingkat kebugaran jasmani siswa-siswi SMP Negeri 10 Malang yang meliputi kemampuan kecepatan lari, kemampuan kekuatan otot perut, kemampuan daya tahan otot lengan, kemampuan daya ledak otot tungkai, kemampuan daya tahan kardiovaskuler, dan tingkat kebugaran jasmani siswa secara keseluruhan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian expost facto. Instrumen penelitian adalah instrumen nontes berupa data dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data dokumen di SMP Negeri 10 Malang dari hasil tes versi Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI) tahun 2008 dan 2009. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap mengkonversi hasil tes ke dalam tabel penilaian, menjumlahkan hasil konversi, mengkonversi hasil penjumlahan ke dalam tabel norma, dan menghitung persentase masing-masing tingkat kebugaran jasmani. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh enam simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kemampuan kecepatan lari untuk putri menunjukkan peningkatan dengan skor rata-rata berada pada kategori kurang. Sedangkan untuk putra sedikit menurun dengan skor rata-rata berada pada kategori sedang. Kedua, kemampuan kekuatan otot perut putri mengalami penurunan dengan skor rata-rata berada pada kategori baik. Sedangkan untuk putra dominan meningkat dengan skor rata-rata berada pada kategori dominan baik. Ketiga, kemampuan daya tahan otot lengan putra dan putri dengan skor rata-rata relatif sama antara tahun 2008 dengan tahun 2009, dengan skor rata-rata berada pada kategori kurang. Keempat, kemampuan daya ledak otot/tenaga eksplosif putra dan putri menunjukkan peningkatan yang dominan dengan skor rata-rata berada pada kategori sedang dan kurang. Kelima, kemampuan daya tahan kardiovaskuler putra dan putri mengalami penurunan dengan skor rata-rata berada pada kategori kurang dan kurang sekali. Keenam, tingkat kebugaran jasmani siswa-siswi SMP Negeri 10 Malang secara keseluruhan mengalami penurunan, dan termasuk kategori kurang. Dari hasil tersebut maka peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk peningkatan kebugaran jasmani siswa sehingga prestasi meningkat.

Pengembangan teknik dasar sepakbola dalam bentuk multimedia interaktif berbasis komputer untuk media pembelajaran ekstrakurikuler SMP Negeri 4 Malang / Bastaman Sasmito Aji

 

Aji, Bastaman Sasmito. 2013. Pengembangan Teknik Dasar Sepakbola Dalam Bentuk Multimedia Interaktif Berbasis Komputer Untuk Media Pembelajaran Ekstrakurikuler SMP Negeri 4 Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Eko Hariyanto, M.Pd, (2) Drs. H. Mahmud Yunus, M.Kes Kata kunci: pengembangan, teknik dasar sepakbola, multimedia interaktif, media pembelajaran          Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan peneliti pada saat kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di SMP Negeri Malang berlangsung tanggal 22 Desember 2012, ditemukan (1) kegiatan ekstrakurikuler yang hanya dilaksanakan satu kali dalam satu minggu membuat jalannya latihan tidak efektif, (2) pelatih belum memberikan teknik dasar sepakbola secara lengkap, (3) pelatih kesulitan dalam mengontrol jalannya latihan, (4) pelatih kesulitan dalam mengelola kelas sehingga materi yang disampaikan tidak dapat dicerna oleh siswa dengan baik, (5) pelatih juga kesulitan dalam pengoreksian akan materi yang telah diberikan, (6) siswa juga kesulitan dalam mencerna materi yang diberikan pelatih karena suasana latihan yang tidak kondusif, (7) kesempatan siswa untuk mencoba atau mempraktikan materi yang diberikan oleh pelatih juga sedikit sehingga bakat mereka tidak dapat berkembang maksimal, (8) belum lagi jika hujan yang secara otomatis kegiatan ekstrakurikuler tidak dapat dilaksanakan, (9) penyampaian materi yang kurang variatif dan monoton mengakibatkan siswa cepat bosan dengan jalannya latihan.     Hasil analisis kebutuhan siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di SMP Negeri 4 Malang ditemukan 78,12% menyatakan kurang memahami materi yang diberikan. Sedangkan 81,25% belum pernah mendapatkan materi teknik dasar sepakbola secara lengkap dan variatif. 100% responden menyatakan guru atau pelatih belum pernah menggunakan media pembelajaran dalam penyampaian materi. Untuk kesukaan terhadap media pembelajaran, 12,5% menyukai e-book, 25% menyukai VCD Pembelajaran, 56,25% menyukai multimedia interaktif, dan 6,25% menyukai buku cetak. Sedangkan untuk ketersediaan komputer di rumah, 93,75% responden mempunyai komputer atau laptop di rumah. Kemampuan siswa dalam mengoperasikan komputer ditemukan sebanyak 15,63% mahir, 68,75% sedang dan 15,63% kurang bisa mengoperasikan komputer. Selanjutnya tentang kebutuhan terhadap media pembelajaran, 100% menyatakan membutuhkan untuk dikembangkannya media pembelajaran melalui multimedia interaktif berbasis komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknik dasar sepakbola dalam bentuk multimedia interaktif berbasis komputer yang diharapkan dapat menjadi media pembelajaran pada kegiatan ekstrakurikuler sepakbola di SMP Negeri 4 Malang. Dari hasil analisis validasi sepakbola diperoleh hasil 86,20%, ahli media 95% maka produk pengembangan teknik dasar sepakbola dalam bentuk multimedia interaktif berbasis komputer untuk media pembelajaran ekstrakurikuler SMP Negeri 4 Malang layak digunakan sebagai media pembelajaran pada kegiatan ekstrakurikuler si SMP Negeri 4 Malang. Dari hasil uji coba (kelompok kecil) dengan menggunakan 12 siswa diperoleh presentase 91,37%, dan pada uji lapangan (kelompok besar) dengan menggunakan 35 subjek diperoleh presentase sebesar 90,15% sehingga pengembangan teknik dasar sepakbola dalam bentuk multimedia interaktif berbasis komputer untuk media pembelajaran ekstrakurikuler SMP Negeri 4 Malang dapat digunakan.

Pengembangan pola latihan menggunakan karet ban untuk meningkatkan poer tendangan Dollyo Chagi kaki kiri pada olahraga taekwondo di Universitas Negeri Malang / Agung Indra Permana

 

Kata kunci: pengembangan, pola latihan, karet ban, power, dollyo chagi, Taekwondo Di Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo Universitas Negeri Malang tendangan dollyo chagi diajarkan kepada peserta latihan. Berdasarkan observasi dan analisis kebutuhan yang dilakukan oleh peneliti, maka didapatkan data sebanyak 84,615% anggota menyatakan power tendangan kaki kirinya kurang baik, dan sebanyak 53,846% anggota menyatakan membutuhkan pola-pola latihan yang berguna untuk meningkatkan power tendangan dollyo chagi kaki kiri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membuat pola latihan menggunakan karet ban untuk meningkatkan power tendangan dollyo chagi kaki kiri di Unit Kegiatan Taekwondo Universitas Negeri Malang agar lebih efektif dan efisien. Pengembangan pola latihan menggunakan karet ban untuk meningkatkan power tendangan dollyo chagi kaki kiri di Universitas Negeri Malang ini menganut langkah-langkah penelitian dan pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall (1983:775). Pengembangan pola latihan menggunakan 7 langkah yaitu: 1). Melakukan penelitian awal, pengumpulan data, informasi termasuk kajian pustaka dan observasi lapangan. 2). Mengembangkan produk awal. 3). Evaluasi ahli. 4). Uji coba produk awal. 5). Revisi produk awal sesuai dengan kegiatan uji coba produk awal. 6). Uji coba lapangan. 7). Revisi produk sesuai dengan kegiatan uji coba lapangan. Pola latihan dikembangkan melalui saran dan evaluasi dari ahli Taekwondo dan ahli media. Secara keseluruhan para ahli setuju dengan rancangan produk yang dikembangkan. Hasil data yang diperoleh dari uji coba produk awal mendapatkan rata-rata persentase 76,56% dimaknai baik, dan hasil data yang diperoleh dari uji coba lapangan mendapatkan rata-rata persentase 81,89% dimaknai sangat baik. Dari hasil tersebut maka produk pengembangan pola latihan menggunakan karet ban untuk menungkatkan power tendangan dollyo chagi kaki kiri pada cabang olahraga Taekwondo di Universitas Negeri Malang yang dikemas dalam bentuk video diharapapkan bisa menjadi salah satu alternatif pelatihan Taekwondo dalam hal melatih power tendangan. Agar pengembangan pola latihan menggunakan karet ban untuk meningkatkan power tendangan dollyo chagi kaki kiri ini dapat digunakan pada kancah yang lebih besar diperlukan penelitian dan pengembangan pada langkah ke-8 sampai ke-10 menurut Borg dan Gall (1983:775), dan dievaluasi kembali disesuaikan dengan kebutuhan sasaran yang ingin dituju.

Survei tingkat massa tulang pada anggota Klub Senam Osteoporosis (SPOSIS) se_Malang Raya / Muhammad Lutfi Maulana

 

Maulana, Muhammad Lutfi. 2013. Survei Tingkat Massa Tulang pada Anggota Klub Senam Osteoporosis (Sposis) se-Malang Raya. Skripsi. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mulyani Surendra, M.S, (2) Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Survei, Tingkat Massa Tulang, Senam Osteoporosis, (Sposis).     Osteoporosis merupakan penyakit yang dapat secara perlahan menyerang baik kepada pria maupun wanita. Berdasarkan hasil wawancara tidak terstruktur, akan lebih baik jika osteoporosis diketahui sedini mungkin melalui pemeriksaan massa tulang, dengan berbagai macam pemeriksaan salah satunya yaitu dengan Ultrasound Bone Densitometry yang merupakan suatu alat sederhana namun dapat memperlihatkan nilai massa tulang.     Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan survei, tujuan dari penelitian ini adalah dimaksudkan untuk mengetahui jumlah Bone Mass Densitometry (BMD) dari peserta senam sposis yang apabila jumlah BMD besar maka kepadatan tulang menurun, dan setelah diketahui jumlah BMD peserta maka dapat diambil langkah-langkah untuk penanggulangan dan pemeliharaan tulang yang tepat.     Hasil rata-rata nilai BMD pada setiap tempat penelitian adalah -1,3, -2,0, -2,0, -1,5, -1,4, -1,5. Hasil dari rata-rata BMD tersebut mengindikasikan bahwa dari setiap tempat penelitian nilai massa tulang masih di bawah standar massa tulang sehat. Dan hasil rata-rata BMD dilihat dari jenis kelamin menyatakan bahwa nilai rata-rata BMD pria lebih kecil dibanding dengan wanita dan ini mengindikasikan bahwa massa tulang pria lebih padat dibanding wanita yaitu -1,54 untuk pria dan -2,54 untuk wanita. Untuk nilai BMD menurut usia pria yang berusia 49-55tahun dengan jumlah responden 9 orang nilai BMD nya -0,3, dibandingkan dengan pria yang berusia 71-76 tahun jumlah responden 4 orang dengan nilai BMD -3,2. Sedangkan pada responden wanita yang berusia 30-40 tahun dengan jumlah responden 28 orang nilai BMD nya -1,0, dibandingkan dengan wanita yang berusia 71-80 tahun dengan jumlah responden 26 orang nilai BMD nya -3,7. Untuk nilai BMD menurut lama latihan responden mengindikasikan bahwa semakin lama responden melakukan latihan maka nilai BMD responden akan lebih kecil dibandingkan dengan anggota yang baru melakukan senam. Untuk nilai BMD menurut kehadiran anggota bagi yang aktif hadir dalam kegiatan senam 3 kali dalam seminggu maka nilai densitas tulang akan semakin kecil dibading dengan responden yang jarang melakukan senam. Untuk nilai BMD menurut asupan kalsium rata-rata di semua tempat masih kekurangan asupan kalsium sehingga nilai BMDnya masih tergolong osteopenia.     Jadi nilai BMD dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis kelamin, usia, lama latihan, kehadiran anggota, dan asupan kalsium. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat berupa bagaimana mencegah dan memelihara tulang sedini mungkin.

Pengembangan pembelajaran peraturan permainan sepakbola menggunakan media E-Book pada mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Avif Hudiyono

 

Pengembangan pola latihan strategi penyerangan menggunakan formasi 1-2-1 dalam permainan futsal ekstrakurikuler SMP Negeri 9 Malang / Zulfikar Amelia Sumarsono

 

Sumarsono, Zulfikar Amelia. 2013. Pengembangan pola latihan strategi penyerangan menggunakan formasi 1-2-1 dalam permainan futsal pada ekstrakurikuler futsal di SMP Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mu’arifin, M.Pd, (II) Drs. Oni Bagus Januarto, M. Kes. Kata kunci: Pengembangan, latihan, strategi penyerangan futsal, SMP Negeri 9 Malang. Permainan futsal merupakan olahraga permainan yang sangat cepat dan dinamis, yang dimainkan di lapangan yang relatif kecil, yang didalamnya dimainkan bagaimana cara memenangkan pertandingan dengan cara yang sportif, pada dasarnya futsal adalah permainan yang sangat cepat dan dinamis. Tetapi siapa yang memasukkan bola ke dalam gawang lawan sama sekali tidaklah penting, yang penting adalah proses. Berdasarkan analisis kebutuhan pada peserta dan pelatih estrakurikuler futsal di SMP Negeri 9 Malang secara umum peserta ekstrakurikuler futsal belum memahami bagaimana menerapkan koordinasi permainan futsal yang baik. Dari beberapa pola yang ada dalam permainan futsal pelatih lebih tertarik pada pola permainan 1-2-1 permainan futsal untuk dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan pola latihan strategi penyerangan pola permainan 1-2-1 permainan futsal yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menerapkan pola permainan yang baik dan dapat dijadikan solusi dalam bagaimana memenangkan suatu pertandingan dengan cara yang sportif. Tahap prosedur pengembangan mengacu pada pola pengembangan Borg and Gall dengan mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada, yaitu penelitian dan pengumpulan data, mengembangkan produk, evaluasi ahli, uji coba kelompok kecil, revisi produk, uji coba kelompok besar, revisi produk akhir dengan menghasilkan produk akhir. Tempat penelitian dilakukan di SMP Negeri 9 Malang, subjek uji coba terdiri (1) Tinjauan ahli dengan 2 ahli, (2) Uji coba kelompok kecil, (3) Uji coba kelompok besar. Hasil evaluasi dan persentase dari 2 ahli menyatakan 83,33% produk pengembangan valid sehingga dapat digunakan. Kemudian dari hasil uji kelompok kecil terdapat persentase sebesar 82,91% sehingga produk dapat digunakan, sedangkan persentase dari uji coba kelompok besar terdapat penilaian sebesar 85,83% sehingga produk dinyatakan valid dan dapat digunakan. Dalam penyebarluasan produk pengembangan ke sasaran yang lebih luas, sehingga tim/pemain lain dapat mengetahui dan memahami tentang pola latihan strategi penyerangan menggunakan formasi 1-2-1permainan futsal yang akan dipelajari.

Peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick pada mata diklat pemasaran barang dan jasa (studi pada siswa kelas XI Jurusan Pemasaran SMK Islam Batu) / Eldysa Puspita Widyanovita

 

Widyanovita, Eldysa, Puspita. 2013. Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Teknik Fan-N-Pick Pada Mata Diklat Pemasaran Barang dan Jasa (Studi Pada Siswa Kelas XI Jurusan Pemasaran SMK Islam Batu). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed, M.Si., (II) Dr. Aniek Indrawati, S.Si, M.M. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Fan-N-Pick, Motivasi Belajar, Hasil Belajar     Salah satu pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan guru di dalam kelas adalah pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick. Pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick memiliki karakteristik menggunakan kartu soal dan papan putar Fan-N-Pick. Dalam satu kelompok terdiri dari empat siswa yang akan bergantian tugas sesuai dengan nomor pada papan putar Fan-N-Pick. Adapun rumusan masalah penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick pada mata diklat Pemasaran Barang dan Jasa kelas XI Jurusan Pemasaran di SMK Islam Batu? (2) Bagaimanakah peningkatan motivasi belajar siswa setelah dilaksanakan pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick pada mata diklat Pemasaran Barang dan Jasa kelas XI Jurusan Pemasaran di SMK Islam Batu? (3) Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa setelah dilaksanakan pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick pada mata diklat Pemasaran Barang dan Jasa kelas XI Jurusan Pemasaran di SMK Islam Batu?     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI Pemasaran SMK Islam Batu tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 30 siswa dengan tahap penelitian: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi di setiap siklusnya. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah soal pre test dan post test, pedoman observasi ketepatan guru dalam melaksanakan RPP dan proses belajar siswa, lembar angket, lembar catatan lapangan, lembar diskusi teman sejawat, dan dokumentasi.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick telah dilaksanakan dengan lancar dalam 2 siklus yaitu 2 pertemuan di siklus I dan 3 pertemuan di siklus II. (2) Pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Peningkatan tersebut ditunjukkan pada skor rata-rata siklus I yaitu 79,7% menjadi 85,3% di siklus II. (3) Pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan pada saat pre test siklus I nilai rata-rata kelas yang diperoleh sebesar 42 menjadi 60,5 di siklus II. Pada saat post test juga meningkat dari siklus I sebesar 72 menjadi 86,7 di siklus II. Ketuntasan belajar klasikal juga meningkat baik pada saat pre test maupun post test. Pada saat pre test ketuntasan belajar klasikal meningkat dari siklus I sebesar 0% menjadi 19,2% di siklus II. Sedangkan pada saat post test ketuntasan belajar klasikal meningkat dari siklus I sebesar 53,6% menjadi 89,3% di siklus II.     Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick telah dilaksanakan selama 2 siklus dengan 5 kali pertemuan, (2) Melalui pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, (3) Melalui pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Saran yang dapat disampaikan yaitu: (1) Bagi guru mata diklat Pemasaran Barang dan Jasa sebaiknya memperhatikan pengelolaan waktu pelaksanaan dan pengkondisian kelas yang baik saat menerapkan pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan lebih memotivasi siswa agar bersemangat belajar, (2) Bagi siswa kelas XI Jurusan Pemasaran SMK Islam Batu sebaiknya dapat berorganisasi dengan baik dan kompak dengan anggota satu kelompok, disiplin menjalankan prosedur Fan-N-Pick, dan membiasakan diri belajar berkelompok (4) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya lebih memperhatikan pengelolaan waktu dan kelas yang baik dalam menerapkan pembelajaran kooperatif teknik Fan-N-Pick serta memberikan penguatan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pengaruh komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja (studi pada karyawan Jawa Pos Radar Malang) / Tomy Riyanto

 

Riyanto, Tomy. 2012. Pengaruh Komunikasi Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja (Studi pada Karyawan Bagian Operasional Jawa Pos Radar Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mohammad Arief, M.Si, (2) Drs. Agus Hermawan, M.Si, Grad, Dip, Mgt, M.Bus, Kata kunci : Komunikasi Organisasi, kepuasan kerja. Karyawan bagi suatu organisasi merupakan suatu asset yang sangat berharga, karyawan merupakan salah satu factor yang menentukan apakah tujuan perusahaan dapat tercapai atau tidak, untuk itu kemampuan berkomunikasi yang baik dalam lingkungan organisasisangat dibutuhkan, baik komunkasi secara vertical maupun komunikasi secara horizontal dalam suatu organisasi. Karyawan yang memiliki komunikasi yang baik dengan manajer ataupun sebaliknya maka akan tercipta suatu kepercayaan diantara mereka sehingga organisasi memberikan kebebasan kepada karyawan untuk menyelesaikan tugas mereka dengan cara mereka sendiri. Dengan adanya faktor-faktor tersebut maka tingkat komitmen karyawan pada organisasi akan semakin meningkat. Penelitian ini menggunakan analisis data berupa analisis regresi, yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis berganda (multiple regression analysis). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui kondisi deskriptif komunikasi organisasi pada karyawan Radar Malang, (2) mengetahui kondisi deskriptif kepuasan kerja pada karyawan Radar Malang, (3) mengetahui pengaruh komunikasi organisasi yang terdiri dari sub variabel komunikasi yang berkaitanj dengan tugas, komunikasi yang berhubungan dengan prestasi bawahan, komunikasi mengenai karir, komunikasi yang berhubungan dengan daya tanggap atasan dan komunikasi pribadi secara parsial terhadap kepuasan kerja kerja pada karyawan Radar Malang, (4) mengetahui pengaruh komunikasi organisasi yang terdiri dari sub variabelp komunikasi yang berkaitan dengaan tugas, komunikasi yang berhubungan dengan prestasi bawahan, komunikasi mengenai karir, komunikasi yang berhubungan dengan daya tanggap atasan dan komunikasi pribadi secara simultan terhadap kepuasan kerja pada karyawan Radar Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional, data yang diperoleh menggunakan angket tertutup. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga uji coba kuesioner untuk menguji instrument tidak dilakukan. Tetapi uji validitas dan realibilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan realibilitas data yang diperoleh. Populasi pada penelitian ini adalah karyawan Radar Malang sedangkan sampelnya diambil sebanyak 88 orang karyawan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) Kondisi komunikasi organisasi karyawan di Radar Malang dikategorikan baik. (2) Kondisi kepuasan kerja karyawan Radar Malang dikategorikan baik. (3) Terdapat pengaruh positif yang signifikan komunikasi yang berkaitan dengan tugas terhadap kepuasan kerja karyawan di Radar Malang. (4) Terdapat pengaruh positif yang signifikan komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan di Radar Malang. Saran yang bisa diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian ini adalah (1) Kondisi komunikasi organisasi di Radar Malang dikategorikan baik. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil, supaya pimpinan dapat membantu dalam pelaksanaan tugasnya. (2) Kondisi kepuasan kerja karyawan di Radar Malang dikategorikan puas. Dengan kondisi tersebut akan lebih baik jika perusahaan meningkatkan kembali aspek-aspek seperti upah atau gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, penempatan kerja, jenis pekerjaan, mutu, dan pendidikan agar para karyawan akan merasa puas dalam bekerja. (3) Kondisi komunikasi yang berkaitan dengan tugas di Radar Malang dikategorikan puas. Kondisi tersebut akan lebih baik jika perusahaan memahami tentang kebutuhan karyawan agar membantu berkomunikasi dengan orang lain. (4) Kondisi komunikasi pribadi di Radar Malang dikategorikan puas. Kondisi tersebut akan menjadi lebih baik jika perusahaan memahami tentang kebutuhan karyawan agar membantu berkomunikasi dengan orang lain. (5) Komunikasi organisasi sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Oleh karena itu pimpinan sebagai orang yang bertanggung jawab dalam organisasi harus dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan iklim komunikasi yang baik dalam organisasinya agar karyawaan ikut membantu dalam mencapai kepuasan kerja.

Pengaruh penggunaan media presentasi audiovisual sebagai alat bantu pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI semester II di MAN Malang 1 / Rias Setiarini

 

Setiarini, Rias. 2013. Pengaruh Penggunaan Media Presentasi Audiovisual sebagai Alat Bantu Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI Semester II di Man Malang 1. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Sumarsono, S.T.,M.Si, (II) Drs. H. A. Ali Wafa, M.Pd. Kata Kunci: media presentasi, audiovisual, kelas XI Pemilihan media pembelajaran yang tepat akan berdampak positif pada motivasi belajar yang pada akhirnya meningkatkan hasil belajar siswa. Penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran karena berkaitan dengan taraf berfikir siswa. Tersedianya media pembelajaran dapat memberikan kemudahan bagi siswa dalam memahami konsep dari materi yang disampaikan oleh guru. MAN Malang 1 merupakan salah satu sekolah yang memiliki fasilitas belajar yang sudah baik, seperti tersedianya LCD Proyektor dan TV di setiap kelas. Fasilitas yang ada tersebut kurang dimanfaatkan sehingga perlu adanya penggunaan media yang dapat memfungsikan fasilitas yang ada sebagai alat bantu pembelajaran untuk mempertinggi hasil pengajaran. Salah satu jenis media pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar adalah penggunaan media presentasi audiovisual. Dengan demikian, penelitian ini mengangkat judul pengaruh penggunaan media presentasi audiovisul sebagai alat bantu pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI semester II di MAN Malang 1. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah tedapat pengaruh penggunaan media presentasi audiovisual sebagai alat bantu pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI semester II di MAN Malang 1, (2) Bagaimana persepsi siswa terhadap media presentasi audiovisual yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS MAN Malang 1. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik sampling purposive, kelas XI IPS 1 dijadikan kelas kontrol yang tidak diberi perlakuan yaitu diajar menggunakan media presentasi tanpa audiovisual, sedangkan XI IPS 2 dijadikan kelas eksperimen yang diberi perlakuan pembelajaran menggunakan media presentasi audiovisual. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan soal pretest dan posttest. Sedangkan untuk mengukur persepsi siswa terhadap media presentasi audiovisual digunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji t dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata gainscore kelas kontrol sebesar 15,65 dan kelas eksperimen sebesar 25,47. Analisis hipotesis menggunakan uji t independen sampel diperoleh nilai sig.(2-tailed) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara hasil belajar kelas kontrol dengan hasil belajar kelas eksperimen. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pemberian perlakuan menggunakan media presentasi audiovisual sebagai alat bantu pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI semester II di MAN Malang 1. Disarankan bagi guru, agar media presentasi audiovisual dapat dijadikan alternatif dan acuan perbaikan dalam pembelajaran khususnya dalam bidang mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi untuk penerapan di sekolah perlu memperhatikan karakteristik siswa dan sekolah yang bersangkutan. Selain itu, dalam penggunaan media presentasi audiovisual hendaknya guru memperhatikan fasilitas sekolah yang mendukung sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Pengaruh faktor internal dan faktor eksternal minat menjadi guru terhadap hasil belajar matakuliah keahlian berkarya mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Sri Untari

 

Untari, Sri. 2013. Pengaruh Faktor Internal dan Faktor Eksternal Minat Menjadi Guru Terhadap Hasil Belajar Matakuliah Keahlian Berkarya Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembagunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Umi Mintarti W.,S.E.,M.P.,Ak (II) Dr. Hadi Sumarsono, S.T.,M.Si Kata Kunci: faktor internal, faktor eksternal, minat menjadi guru, hasil belajar, matakuliah keahlian berkarya Banyaknya mahasiswa lulusan Program Studi Pendidikan Ekonomi yang memiliki gelar sarjana pendidikan yang nantinya akan mencetak persaingan untuk menjadi guru, salah satu syarat memenangkan persaingan harus bisa mendapatkan hasil belajar yang memuaskan pada matakuliah keahlian berkarya yang merupakan matakuliah untuk mendidik mahasiswa tentang profesi guru, minat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar, salah satu faktor yang mempengaruhi minat adalah faktor internal dan faktor eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap hasil belajar matakuliah keahlian berkarya mahasiswa. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Angkatan 2009, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang yang berjumlah 133 mahasiswa, dengan sampel yang digunakan sebesar 100 responden yang tersebar dalam 4 offering yaitu offering L, K, TT dan UB yang diambil dengan menggunakan proportional random sample. Variable dalam penelitian ini meliputi faktor internal minat menjadi guru (X1), faktor eksternal minat menjadi guru (X2), dan hasil belajar matakuliah keahlian berkarya (Y). Hasil penelitian menunjukkan variabel faktor internal diperoleh t hitung (3.350)>t tabel (1,984) dengan probabilitas (0,000) < 0,05 dengan taraf signifikansi 5% sehingga, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan tentang pengaruh faktor internal minat menjadi guru terhadap hasil belajar matakuliah keahlian berkarya. variabel faktor eksternal diperoleh t hitung (2,324)>t tabel (1,984) dengan probabilitas (0,000) < 0,05 dengan taraf signifikansi 5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan tentang pengaruh faktor eksternal minat menjadi guru terhadap hasil belajar matakuliah keahlian berkarya. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah pengaruh variabel faktor internal dan faktor eksternal minat menjadi guru terhadap hasil belajar matakuliah keahlian berkarya bersifat positif sehingga jika variabel faktor internal dan faktor eksternal minat menjadi guru naik maka hasil belajar matakuliah keahlian berkarya juga akan naik dan sebaliknya. Saran Bagi calon mahasiswa yang memilih jurusan kependidikan atau calon guru harus sesuai dengan minat untuk menjadi guru agar dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik dan menyenangkan, sehingga hasil belajar yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan.

Analisis proses penyusunan dan implementasi rencana pengembangan sekolah pada sekolah berbasis multikultural (studi kasus di SMA Selamat Pagi Indonesia Batu) / Nunuk Hariyati

 

Hariyati, N. 2013. Analisis Rencana Pengembangan Sekolah Berbasis Multikultural: Studi kasus di SMA Selamat Pagi Indonesia Batu. Tesis, Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd Kata kunci : rencana pengembangan sekolah, pendidikan multikultural Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan berbasis pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan rencana pengembangan sekolah yang mencakup seluruh substansi manajemen pendidikan yang diorientasikan pada basis multikultural dan keunggulan yang menjadi kekhasan atau karakteristik suatu sekolah. Penelitian di SMA SPI Kota Batu bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Gambaran konteks sekolah yang meliputi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan tantangan (threats) sebagai dasar dalam proses penyusunan dan implementasi RPS berbasis multikultural; (2) Proses penyusunan RPS Berbasis Multikultural; (3) Strategi sekolah dalam memberdayakan kekuatan, mengatasi kelemahan, memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan sebagai dasar penyusunan RPS Berbasis Multikultural; (4) Implementasi RPS Berbasis Multikultural yang mencakup: (a) faktor-faktor yang menjadi kunci keberhasilan implementasi RPS; (b) faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam implementasi RPS Berbasis Multikultural; dan (5) Evaluasi kinerja pengembangan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni pendekatan penelitian yang berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya, sehingga, memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas melalui pengamatan yang mendalam dengan latar alami. Jenis penelitian ini adalah studi kasus eksplanatoris yang berupaya menjawab pertanyaan mengapa konsep pendidikan multikultural diterapkan di SMA SPI Kota Batu dan bagaimana konsep tersebut direalisasikan dalam bentuk RPS. Fokus terhadap RPS Berbasis Multikultural di sekolah tersebut menjadi “unit tunggal” dalam penelitian ini. Instrumen kunci adalah peneliti sendiri, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para guru, siswa, dan ketua komite sekolah dan ketua yayasan. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang berkaitan dengan RPS berbasis multikultural. Data yang diperoleh dianalisis selama dan setelah pengumpulan data, kemudian diklasifikasikan, disaring, dan ditarik kesimpulannya. Keabsahan data yang telah dianalisis menggunakan kriteria kredibilitas data dengan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data. Kesimpulan penelitian meliputi: (1) konteks SMA SPI Kota Batu mencakup: Pertama, kekuatan yang terdiri dari: (a) . Kekhasan konsep pendidikan multikultural yang dikembangkan secara integratif dengan konsep fun-eco-preneur education; (b) Tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional dan memiliki komitmen yang tinggi; (c) iklim sekolah yang kondusif; (d) sarana dan prasarana sekolah yang representatif; dan (e) dukungan yang kuat dari yayasan. Kedua, kelemahan sekolah pada sistem manajemen sekolah yang kurang optimal dalam membangun dan memberdayakan keterlibatan masyarakat terutama komite sekolah dalam pengembangan sekolah. Ketiga, Pengembangan Batu sebagai kota wisata berpeluang bagi SMA SPI Kota Batu untuk melakukan pengembangan sekolah berbasis multikultural dan entrepreneurship. Keempat, tantangan sekolah terkait dengan pemenuhan tuntutan masyarakat luas, yaitu lulusan yang kualitas serta pemenuhan tuntutan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang ditetapkan; (3) tindakan-tindakan yang diambil oleh sekolah ini adalah strategi diversification; (4) Proses penyusunan RPS mencakup tahap persiapan, perumusan RPS (terdiri dari RAKS dan RJKM), dan pengesahan; (5) implementasi RPS, lebih berorientasi pada aplikasi konsep entrepreneurship melalui kegiatan yang dilaksanakan di Kampoeng Kidzs. Kunci keberhasilan implementasi RPS adalah self responsibility dan sense of belonging seluruh warga sekolah. Hal-hal yang menjadi kendala dalam implementasi RPS meliputi: (a) kebergantungan sekolah pada yayasan terkait pembiayaan untuk mendukung seluruh program sekolah; (b) kurangnya partisipasi masyarakat; dan (c) dan minimnya pengetahuan stakeholders tentang misi program penyelenggaraan pendidikan berbasis multikultural; (6) Evaluasi kinerja sekolah melalui akreditasi sekolah, sekolah ini masih perlu melakukan perbaikan. Penyelenggaraan pendidikan multikultural, ditinjau dari empat aspek yakni aspek latar Contex, Input, Process, dan Product, sekolah ini mencakup dua perspektif, yaitu di satu sisi keefektifan di SMA SPI Kota Batu ditunjukkan dengan penguasaan ketrampilan hidup (life skills) atau vocational job dan prestasi oleh para siswa SMA SPI Kota Batu. Pada sisi lain, khususnya pada pencapaian prestasi akademik, seperti pencapaian nilai Ujian Nasional (UN), Ujian Sekolah dan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masih belum memenuhi target yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi: (1) Dinas Pendidikan Kota Batu untuk mendukung perbaikan dan penyempurnaan program-program sekolah melalui kegiatan pembinaan melalui kegiatan supervisi manajerial oleh pengawas yang bermuara pada pendidikan multikultural sebagai basis sekolah; (2) Kepala SMA SPI Kota Batu untuk melaksanakan sosialisasi dan monitoring program sekolah serta melaksanakan supervisi pendidikan secara berkelanjutan; (3) guru-guru SMA SPI Kota Batu agar mengembangkan sikap kreatif, inovatif, kolaboratif serta prinsip belajar sepanjang hayat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (4) sekolah berbasis multikultural lain perlu mencermati faktor-faktor situasional dan karakteristik sekolah dalam mengimplementasikan RPS berbasis multikultural; (5) peneliti lain dapat melanjutkan penelitian sejenis pada aspek berbeda misalnya: (a) pembentukan dan pengelolaan iklim sekolah berbasis multikultural; (b) pembentukan dan pengelolaan budaya organisasi sekolah sebagai organisasi pembelajar, dan (c) aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan sekolah berbasis multikultural.

Pengaruh pengalaman belajar ekonomi, praktik kerja industri, literasi ekonomi, dan persepsi tentang dunia kerja terhadap sikap produktif siswa (studi pada SMK Bidang Keahlian Bisnis Manajemen di Kabupaten Malang) / Endah Andayani

 

Kata Kunci: Pengalaman Belajar Ekonomi, Prakerin, Literasi Ekonomi, Persepsi tentang Dunia Kerja, Sikap Produktif. Pengalaman adalah guru yang paling baik, oleh karena itu belajar melalui pengalaman langsung dengan konsep learning by doing menjadi penting. Pengalaman belajar dalam materi ekonomi memiliki peran penting dalam menumbuhkan melek ekonomi serta membentuk sikap rasional terutama pada pengambilan keputusan ekonomi. Hal ini selaras dengan karakteristik pendidikan kejuruan yang diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja serta menekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Upaya penerapan konsep link and match dapat dilakukan melalui Prakerin yang dalam implementasinya mendekatkan dunia usaha/industri dengan sekolah untuk menyiapkan tenaga kerja terlatih yang dikembangkan agar dapat meningkatkan potensi siswa secara optimal, maka persepsi tentang dunia kerja yang positif akan bersinergi dengan aktifitas yang dilakukan sehingga terbentuk sikap produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan: 1) pengaruh pengalaman belajar ekonomi terhadap literasi ekonomi, 2) pengaruh pengalaman belajar ekonomi terhadap persepsi tentang dunia, 3) pengaruh pengalaman belajar ekonomi terhadap sikap produktif , 4) pengaruh Prakerin terhadap literasi ekonomi, 5) pengaruh Prakerin terhadap persepsi tentang dunia kerja, 6) pengaruh Prakerin terhadap sikap produktif, 7) pengaruh literasi ekonomi terhadap persepsi tentang dunia kerja, 8) pengaruh literasi ekonomi terhadap sikap produktif, dan 9) pengaruh persepsi siswa tentang dunia kerja terhadap sikap produktif . Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian survei, sehingga variabel-variabel penelitian ini dilihat sebagaimana adanya tanpa memperoleh perlakuan apapun atau tidak dimanipulasikan (not be manipulated). Populasi penelitian ini adalah siswa SMK (Bisnis Manajemen) se-Kabupaten Malang, meliputi sekolah negeri dan sekolah swasta, dengan meneliti siswa kelas XI dan XII dan terdaftar tahun 2011/2012 sejumlah 6062 siswa pada 37 SMK. Sampel penelitian ini sebanyak 362 siswa dengan teknik pengambilan sampel secara sampling estimasi proporsi tanpa pengulangan (sampling without replacement) dengan penetapan tingkat kesalahan sebesar 5%, dengan menggunakan metode proporsionate random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah model persamaan struktural (Structural Equation Modeling, SEM) dengan program Lisrel 8.50. Berdasarkan uji kesesuaian model (overall model fit test), hasil analisis menunjukkan terdapat kesesuaian antara model dengan data, hal ini terlihat dari nilai goodness of fit yang telah memenuhi kriteria. Temuan hasil penelitian secara detail adalah sebagai berikut: 1) pengalaman belajar ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap literasi ekonomi, 2) pengalaman belajar ekonomi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap persepsi tentang dunia kerja, 3) pengalaman belajar ekonomi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap sikap produktif, 4) Prakerin berpengaruh positif dan signifikan terhadap literasi ekonomi, 5) praktik kerja industri (Prakerin) berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi tentang dunia kerja, 6) Prakerin berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap sikap produktif, 7) literasi ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi tentang dunia kerja, 8) literasi ekonomi berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap sikap produktif, dan 9) persepsi tentang dunia kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap produktif. Temuan penelitian ini membawa implikasi secara teoritik bahwa variabel pengalaman belajar ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap literasi ekonomi, Prakerin berpengaruh positif dan signifikan terhadap literasi ekonomi dan tentang dunia kerja, literasi ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi tentang dunia kerja, dan persepsi siswa tentang dunia kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap produktif pada siswa SMK di Kabupaten Malang. Dengan demikian sikap produktif secara langsung dapat dipengaruhi oleh persepsi tentang dunia kerja dan secara tidak langsung akan ikut dipengaruhi oleh pengalaman belajar ekonomi, Prakerin dan literasi ekonomi.

Pemaknaan iklan televisi minuman energi Proman melalui pendekatan semiotika / Arif Afandi

 

Afandi, Arif. 2013. Pemaknaan Iklan Televisi Minuman Energi Proman dengan Pendekatan Semiotika. Skripsi. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pemimbing (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn, (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn Kata kunci: Pemaknaan, Iklan Televisi, Semiotika, Minuman Energi Proman Tujuan utama pada penelitian ini membaca makna tanda yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak dalam hal ini pemirsa televisi. Salah satu iklan di televisi yang menarik untuk diketahui makna pesannya adalah iklan minuman energi Proman. Lebih detailnya lagi, penelitian ini menyangkut persoalan-persoalan tentang: (1) Tanda dan simbol yang ada pada tampilan visual proman, (2) Mitos yang terbentuk oleh tanda untuk membangun citra pada iklan Proman, (3) Ideologi yang timbul akibat terbentuknya mitos pada masyarakat sebagai konsumen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang mengacu pada unit analisis semua tanda berupa elemen visual (setting latar, aktor, kostum, gesture) dan elemen verbal (backsound, narasi).Iklan televisi akan di capture menjadi gambar yang terpisah-pisah sebelum diuraikan berdasarkan struktur penanda dan petanda. Kemudian dijabarkan dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthez tentang pemaknaan denotasi, konotasi lalu didapat mitos yang menghasilkan ideologi pada iklan televisi Proman. Dari hasil pembacaan menggunakan semiotika Roland Barthez pada iklan banyak diketahui tanda-tanda denotatif dan konotatif yang membentuk mitos serta ideologi yang digunakan iklan untuk membangun citra ditengah-tengah masyarakat modern sebagai konsumen. Pesan yang didapat dari iklan adalah konsumen diajak untuk menjadi seperti apa yang ada pada iklan tanpa memperdulikan norma, budaya, dan agama yang melarangnya. Pesan iklan tersebut digunakan secara aktif dan dinamis sehingga orang tidak lagi membeli untuk pemenuhan kebutuhan melainkan membeli maknamakna simbolik sebagai citra yang yang dibentuk oleh produsen iklan untuk membujuk konsumen. Apa yang didapatkan oleh konsumen dalam proses konsumsi produk tak lebih dari hayalan palsu. Konsumen dituntun untuk menjadi seperti layaknya pencitraan seorang tokoh pada iklan, akan tetapi apa yang diperolehnya dari proses konsumsi tak lebih dari hayalan semata. Apa yang di produksi kapitalisme tak lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan palsu yakni kebutuhan yang diciptakan oleh para produsen iklan.

Perancangan media interaktif bahasa Arab berbasis multimedia bagi siswa SD/MI kelas III / Ahmad Fajar Azmil Mustaqor

 

Improving the speaking skill of the ninth grade students of MTs NU Pakis using songs / Abdul Rokhim

 

Rokhim, Abdul. 2013. Pengembangan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Sembilan MTs NU PAKIS Menggunakan Lagu. Skripsi S1, Program Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dr. Johannes Ananta Prayogo, M.Pd. M.Ed. Pembimbing II: Nurenzia Yannuar, M.A. Kata Kunci: Kemampuan berbicara, lagu bahasa inggris, penelitian tindakan kolaboratif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa kelas sembilan A MTS NU PAKIS melalui penerapan lagu bahasa inggris dalam proses belajar dan mengajar di kelas. Hal ini merupakan sebuah teknik dan teknik ini dipilih karena teknik lagu bahasa inggris dapat mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana kemampuan berbicara siswa kelas sembilan A MTS NU PAKIS dapat ditingkatkan melalui penerapan lagu bahasa Inggris?” Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas secara kolaborasi. Dalam hal ini, peneliti dan kolaborator bekerja bersama menyusun rencana pembelajaran, mengimplementasikan tindakan, dan melakukan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 24 siswa kelas sembilan MTS NU PAKIS tahun ajaran 2012-2013. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus mengikuti prosedur penelitian tindakan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Terdapat tiga pertemuan pada tiap-tiap siklus. Data penelitian diperoleh dari observasi formulir, nilai pada studi pendahuluan, jurnal guru, dan catatan lapangan yang ditulis selama pelaksanaan tindakan. Prosedur penerapan teknik lagu bahasa inggris dalam proses belajar mengajar pada siklus I adalah 1) kegiatan mendengarkan lagu; 2) mengulangi lagu; 3) menulis dengan kelompok;dan 4) membaca di tempat duduk. Sedangkan pada siklus II, prosedur penerapan teknik lagu bahasa inggris dalam proses belajar mengajar adalah 1) kegiatan mendengarkan lagu, 2) mengulangi lagu, 3) menulis dengan kelompok, 4) membaca di depan kelas. Hasil penelitian adalah bahwa siswa berbicara di depan kelas. Peningkatan ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari nilai siswa di kelas. Pada siklus I, terdapat 68.61% siswa yang belajar aktif di kelas. Sedangkan pada siklus II, terdapat 82.78% siswa yang belajar aktif di kelas. Guru dan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar selama lagu bahasa Inggris diimplementasikan. Siswa sangat termotivasi dalam pembelajaran bahasa inggris di kelas dan menikmati nyanyian lagu berbahasa Inggris.

The effectiveness of one stays-the rest stray strategy in the teaching of reading comprehension / Indah Wardaty Saud

 

Saud, Indah Wardaty. 2013. Efektifitas Strategi One Stays-the Rest Stray dalam Pengajaran Reading Comprehension. Tesis. Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Mohammad Adnan Latief, Ph.D., (II) Dr. Arwijati Wahjudi Murdibjono, M.Pd., Dip. TESL. Kata Kunci: Cooperative Learning, Strategi One Stays- the Rest Stray, Kemampuan Reading Mahasiswa. Cooperative Learning merupakan strategi pembelajaran yang telah diteliti dan diuji efektifitasannya terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektifitas strategi One Stays –the Rest Stray sebagai salah satu strategi cooperative learning terhadap kemampuan Reading mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan desain Posttest Only Design. Kelas eksperimen dan control memiliki jumlah mahasiswa yang sama yaitu 30 orang. Dengan demikian 60 orang mahasiswa menjadi subyek dalam penilitian ini. Pemberian treatment kepada dua kelas dilakukan selama 8 pertemuan dengan posttest di pertemuan terakhir. Instrument yang dipakai adalah tes kemampuan Reading dengan bentuk tes pilihan ganda. Untuk mengetahui hasil akhir posttest dan untuk menguji beda skor dari dua kelas, Independent t-test digunakan dalam analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi One Stays-the Rest Stray mempunyai pengaruh positif terhadap kemampuan Reading mahasiswa. Selama proses pembelajaran, mahasiswa di kelas eksperimen berperan aktif dalam proses tersebut sehingga meraih skor Reading lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa di kelas control. Nilai rata-rata yang diperoleh kelas eksperimen adalah 67,53 sedangkan kelas control adalah 58,4. Uji statistik menggunakan independent t-test menunjukkan bahwa probabilitas diperoleh sebesar 0,035 yang mana nilai ini lebih rendah dari 5% signifikan level. Kemudian, dengan df 58 dan nilai rasio dari t sebesar 2,161 yang mana nilai ini lebih besar dari 1,671. Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut, maka disarankan pada pengajar Bahasa Inggris, baik guru maupun dosen, untuk mempertimbangkan beberapa hal mengenai penerapan strategi ini, yaitu: perlu adanya dorongan dan support dari guru atau dosen agar mahasiswa aktif selama pembelajaran, interdependence sesame mahasiswa perlu dibangun, dianggap penting adanya dorongan untuk kerjasama dalam grup secara kolaboratif dan penggunaan Bahasa Inggris secara terus-menerus selama pembelajaran. Namun, guru atau dosen harus mengontrol dan memonitori aktifitas siswa terutama mengenai kegaduhan atau kekacauan yang mungkin terjadi selama implementasi strategi ini.

Penerapan model inkuiri pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa di SMK Negeri 1 Tarakan Kalimantan Timur / Ibrahim

 

Ibrahim. 2013. Penerapan Model Inkuiri Pada Mata Pelajaran IPS Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Di SMK Negeri 1 Tarakan Kalimantan Timur. Tesis. Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. A. Fatchan, M.Pd, M.P., (II) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si. Kata kunci : Model Inkuiri, Keaktifan, Hasil Belajar Penerapan model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran IPS pada materi sosialisasi dan pembentukan kepribadian bagi siswa kelas XI Pemasaran 2 dilatar-belakangi oleh permasalahan: (1) hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS tergolong rendah rata-rata untuk tahun ajaran 2010/2011=4,40 dan tahun ajaran 2011/2012=5,40; (2) keaktifan belajar siswa pada saat pembelajaran rendah; (3) durasi waktu pembelajaran IPS kurang; (4) guru hanya menuntut siswa menghafal beberapa fakta, konsep, prosedur, dan prinsip; (5) proses pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered); dan (6) sumber belajar berpusat pada buku teks. Dengan demikian masalah dalam penelitian ini, yaitu: (1) apakah penerapan model inkuiri dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas XI Pemasaran 2 pada materi sosialisasi dan pembentukan kepribadian? dan (2) apakah penerapan model inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas XI Pemasaran 2 pada materi sosialisasi dan pembentukan Kepribadian? oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah: (1) peningkatan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas XI Pemasaran 2 pada materi sosialisasi dan pembentukan kepribadian; (2) peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas XI Pemasaran 2 pada materi sosialisasi dan pembentukan kepribadian. Penelitian ini dirancang dengan Penelitian Tindakan Kelas, yang disusun dalam satuan siklus meliputi: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah: (1) lembar observasi keaktifan belajar siswa; (2) catatan lapangan untuk melihat keaktifan siswa selama pembelajaran; dan (3) hasil belajar siswa. Sumber data yang digunakan adalah siswa kelas XI Pemasaran 2 sebanyak 26 siswa, dan objek penelitian adalah keaktifan dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keaktifan siswa melalui penerapan model inkuiri mengalami peningkatan 36% dari siklus I rata-rata 41% atau kategori cukup aktif dan siklus II rata-rata 77% atau kategori aktif. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan 11 poin dari siklus I rata-rata 70 dan pada siklus II rata-rata 81. Persentase siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 pada siklus I adalah 65% dan siklus II adalah 88% atau meningkat 23% dengan target ketercapaian 80%. Berdasarkan hasil pembahasan, disimpulkan bahwa: (1) penerapan model inkuiri untuk materi sosialisasi dan pembentukan keperibadian dapat meningkatkan keaktifan siswa; (2) penerapan model inkuiri untuk materi sosialisasi dan pembentukan keperibadian dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penerapan model inkuiri dapat merangsang pola pikir siswa, sehingga berdampak pada keaktifan dan hasil belajarnya. Oleh sebab itu disarankan bagi Guru: (a) agar perolehan keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat sebaiknya temuan penelitian ini dapat diaplikasikan; (b) untuk mengatasi siswa yang pasif, dengan cara pemberian motivasi dan memberi kesempatan bertanya. Sekolah: penelitian ini terbatas hanya pada satu kelas, maka ke depannya dapat diterapkan di kelas yang lain.

Studi tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani di SMP Negeri se-kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang / Vidi Asmara Setya Aji

 

Asmara Setya Aji, Vidi. 2012. Studi Tentang Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani di SMP Negeri se-Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sulistyorini, M.Pd, (II) I Nengah Sudjana, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Sarana, prasarana, pembelajaran pendidikan jasmani      Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskular, intelektual, dan emosional ,Salah satu faktor yang menunjang dan mencapai tujuan pendidikan jasmani adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Penelitian ini ingin melihat realisasi keberadaan sarana dan prasarana yang ada di SMPN Se-Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang      Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah SMPN se-Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang yang berjumlah 3 sekolah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, sedangkan analisis data menggunakan statistik deskriptif (rata-rata dan presentase).      Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: SMPN I Ampelgading memiliki sarana pendidikan jasmani sebanyak 77,14%, SMPN 2 memiliki 82,95%, dan SMPN 3 memiliki 60%, jadi dapat disimpulkan SMPN se-Kecamatan Ampelgading sudah memiliki sarana untuk pembelajaran pendidikan jasmani meskipun belum lengkap dan diharapkan sekolah dapat memperhatikan sarana yang belum tersedia untuk pembelajaran.      Prasarana yang ada di SMPN se-Kecamatan Ampelgading jika dibandingkan dengan standar umum prasarana menunjukkan bahwa yang memenuhi standar di atas 2700 m² dengan jumlah kelas di atas dua puluh kelas adalah SMPN 1 Ampelgading, sedangkan standar minimum dengan jumlah kelas dibawah sepuluh kelas yang memenuhi hanya SMPN 3 Ampelgading sedangkan SMPN 2 Ampelgading luas prasarana kurang dari 1400 m². Hasil penelitian diharapkan bisa dijadikan pertimbangan untuk pengadaan sarana dan prasarana pendidikan jasmani bagi sekolah yang belum lengkap dan diharapkan sekolah mulai memikirkan dan merealisasikan guna memiliki sarana dan prasarana yang memadai agar terlaksana suatu proses dan tujuan dari pembelajaran pendidikan jasmani yang sesuai dengan kurikulum.

Analisis teks geografi SMA kelas X semester I standar kompetensi memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek geografi / Binti Mu'alifah

 

Mu’alifah, Binti. 2013. Analisis Teks Geografi SMA Kelas X Standar Kompetensi Memahami Konsep, Pendekatan, Prinsip, dan Aspek Geografi. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd, (II) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.D Kata Kunci: analisis teks, hakikat geografi, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, fungsi media Buku teks termasuk bahan belajar dan dijadikan sebagai acuan dalam pembelajaran. Buku teks berpengaruh penting dalam dunia pendidikan. Buku teks yang terstandar dapat meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Penggunaan buku teks di sekolah telah diatur oleh Mendiknas dan dinilai oleh BSNP. Buku teks geografi yang ada masih memiliki banyak kesalahan. Beberapa penelitian tentang analisis buku teks menunjukkan bahwa buku teks geografi masih berkualitas rendah. Analisis awal terhadap materi Hakikat Geografi yang telah dilakukan menunjukkan adanya kesalahan meliputi penyajian isi materi, penyajian konsep, penggunaan bahasa, dan fungsi media sehingga teks tersebut perlu dikaji lebih lanjut agar pembaca mengetahui ragam kesalahan yang ada dalam teks dan lebih selektif dalam memilih buku teks geografi. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi, yaitu suatu teknik untuk menganalisis teks yang isi datanya valid dan konsisten. Sumber data dalam penelitian ini yakni buku teks Geografi 1 SMA Kelas X karangan Yusman Hestiyanto yang banyak digunakan di SMA/MA Kota Kediri. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, dan kemanfaatan media yang terdapat dalam teks Bab 1 Hakikat Geografi. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan pedoman analisis teks. Berdasarkan analisis data, hasil yang diperoleh sebagai berikut. Pertama, kesesuaian isi materi tergolong rendah, sebesar 26,5 % materi tidak sesuai dengan kurikulum. Kedua, kebenaran konsep baik konkret maupun terdefinisi tergolong rendah. Seluruh konsep konkret dalam materi dinyatakan salah berupa konsep konkret yang didefinisikan dan tidak disertai gambar. Kesalahan konsep terdefinisi sebesar 70,4 % berupa pendefinisian konsep yang tidak tepat. Ketiga, ketepatan penggunaan bahasa (tanda baca, kosa kata, kalimat, dan paragraf) tergolong rendah. Keempat, kemanfaatan media tergolong rendah karena sebagian besar media grafis yang ada tidak berfungsi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diajukan saran kepada: 1) Guru, seharusnya mengkaji buku teks geografi yang akan digunakan dalam pembelajaran terlebih dahulu sehingga sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2) Penulis buku, perlu merevisi teks materi Hakikat Geografi yang ditulis terkait dengan penyajian konsep. 3) Penerbit, harus menerbitkan buku yang valid dan selektif.

Perbedaan respectful mind antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di SMAN RSBI se-kota Malang / Febranti Putri Navion

 

Kata Kunci: Respectful Mind,Siswa Akselerasi, Siswa Reguler, SMAN RSBI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan respectful mind antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler di SMAN RSBI se-Kota Malang. Setiap individu memiliki keunikan dan karakteristik yang membedakannya dengan individu lain. Keunikan individu tersebut dapat ditemukan di sekolah sebagai komunitas yang di dalamnya terdiri dari individu-individu yang berbeda dan yang berasal dari berbagai latar kehidupan berbeda. Salah satu modal agar seseorang dapat hidup di tengah keberagaman adalah respectful mind. Keberagaman di sekolah ditunjukkan dengan adanya program akselerasi dan program RSBI. Siswa kelas akselerasi dituntut untuk mencapai standar kelulusan minimal dan dapat menyelesaikan waktu belajar lebih cepat dibandingkan dengan siswa kelas reguler RSBI. Siswa kelas reguler RSBI dituntut untuk dapat mencapai standar kelulusan internasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Respectful mind merupakan pikiran yang mampu menerima perbedaan, belajar hidup bersama dan mampu menghargai orang-orang dari kelompok lain. Adapun ciri siswa yang memiliki respectful mind yaitu mampu menerima dan menghargai pendapat dan perbedaan dengan orang lain, dapat bekerja sama, mudah beradaptasi, tidak memilih-milih teman, serta mampu menciptakan suasana keterbukaan dan hubungan timbal-balik serta tenggang rasa dan toleransi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif komparatif yaitu penelitian yang mendeskripsikan perbandingan dua buah kelompok data. Teknik analisis data yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan respectful mind antara siswa kelas akselerasi dan reguler RSBI ini dengan uji Independent Sample t-test atau uji dua buah kelompok yang tidak memiliki hubungan. Dari pengujian uji t diketahui bahwa terdapat perbedaan respectful mind yang signifikan antara siswa kelas akselerasi dan reguler di SMAN Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Perbedaan tersebut ditunjang oleh perbedaan pola asuh orangtua, latar belakang sosial ekonomi, inteligensi, tuntutan, dan penempatan kelas dari sekolah pada siswa akselerasi dengan siswa reguler di SMAN Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Berdasarkan dari penelitian tersebut dapat disarankan bagi konselor untuk mengoptimalkan layanan bimbingan dan konseling khususnya dalam bidang pribadi dan sosial. Selain itu, konselor bisa memberikan layanan bimbingan di dalam kelas dengan permainan yang dapat mengembangkan respectful mind siswa. Dalam penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan sampel yang representatif dan bisa mengembangkan penelitian yang lebih kualitatif atau spesifik dalam menggali data tentang respectful mind pada diri siswa.

Penerapan siklus belajar (learning cycle) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa sekolah dasar kelas IV / Rina Cahyani Diastuti

 

Kata kunci: Motivasi Belajar, Prestasi Belajar, Model Siklus Belajar 5E Pembelajaran matematika di kelas IV SDN 1 Balongsari masih bersifat teacher centered sehingga siswa kurang berperan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran teacher centered dapat menyebabkan motivasi dan prestasi belajar siswa menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas IV sekolah dasar. Ketercapaian tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan model siklus belajar 5E. Model ini membuat siswa belajar secara aktif dan bermakna melalui fase pendahuluan (engagement), fase eksplorasi (exploration), fase eksplanasi/penjelasan (explanation), fase elaborasi/penerapan konsep (elaboration), fase evaluasi (evaluation). Harapannya dapat memperbaiki proses belajar dan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas). PTK ini terdiri atas dua siklus, setiap siklus terdiri atas empat pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa SDN 1 Balongsari kelas IV-1 dengan banyak siswa 31 siswa. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah Keliling dan Luas Bangun Datar. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, motivasi belajar, prestasi belajar. Prestasi belajar datanya diambil dari hasil tes pada setiap akhir siklus. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase keterlaksanaan pembelajaran, motivasi belajar dan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan model siklus belajar 5E dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Motivasi belajar siswa meningkat, yaitu pada siklus I (57.5 %), siklus II (84.17 %). Prestasi belajar siswa meningkat dari observasi awal (67.52 %), ke siklus I (72.90 %), ke siklus II (77.09 %). Keterlaksanaan penerapan siklus belajar meningkat dari siklus I (74.84 %) ke siklus II (82.58 %).

Pengembangan media monopoli pintar pada pembelajaran tematik tema Sejarah Peradaban Indonesia di kelas V SDN Madyopuro 5 Kota Malang / Ikhlasul Idris Sasongko

 

ABSTRAK Sasongko, Ikhlasul Idris. 2015. Pengembangan Media Monopolo PintarPadaPembelajaranTematik Tema Sejarah Peradaban Indonesia di Kelas V SDN Madyopuro5 Kota Malang. Skripsi, Program StudiPendidikan Guru SekolahDasar, JurusanKependidikanSekolahDasardanPrasekolah, FakultasIlmuPendidikan, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharjo, M.S. M.A, (II) Dra.Sudarsini, M.Pd. Kata Kunci :pengembangan, media monopoli pintar, tematik, sudut, magnet, sejarah peradaban Islam di Indonesia. Kemampuansiswamenjelaskanmateri sudut, magnet dan sejarah peninggalan Kerajaan Islam sangat terbatas dan anak merasa sulit belajar hanya dengan menggunakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Faktamenunjukkanbahwakemampuansiswakelas V SDN Madyopuro 5 Kota Malang terhadap materi sudut, magnet dan peninggalan Kerajaan Islam Indonesia masih rendah. Perluadanya media yang bisamembantusiswamengingat, menceritakan danmenjelaskan tentang sudut, magnet dan peninggalan Kerajaan Islam Indonesia serta memudahkan siswa untuk belajar (stimulus). Tujuanpenelitianpengembanganini, (1) menghasilkan produk media monopoli pintar untuk pembelajaran tematik materi sudut, magnet dan peninggalan Kerajaan Islam yang valid,(2)menghasilkan produk media monopoli pintar yang efektif untuk pembelajaran tematik materi sudut, magnet dan peninggalan Kerajaan Islamberdasarkan uji coba pretestdanposttestterhadap siswa. Metodologipenelitianpengembanganinimenggunakan model pengembangan Borg and Gall denganmodifikasiyaituidentifikasikebutuhan, perumusantujuan, perumusanmateri, perancangan media, Prototype mediavalidasi prototype media olehujiahli,revisiproduk, ujicobapengguna (siswa), uji t, revisiproduk, danprodukakhir. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa(1) media monopoli pintar telahdinyatakansangat valid olehahli media, ahlimateri 1, danahlimateri 2 (guru)denganpersentaseperolehanskormasing-masing87,5%, 93%,dan90%, (2) setelahdilakukanujicobadengansubyekcoba 12siswakelas V didapatkanbahwa mediajugadinyatakansangat validdenganpersentaseperolehanskor92,17%, sertadinyatakanefektifberdasarkanhasilpre testdanpost testsiswa yang telah analisis dengan uji t, diketahuibahwa terdapat peningkatan hasil belajar dari skor rata-rata 70,17menjadi 82,59.

Optimalisasi ruang dan perabot di Perpustakaan MAN 3 Malang / Rizal Hidayat Afandi

 

Kata Kunci: Optimalisasi ruang perpustakaan, perpustakaan sekolah, ruang multimedia Dalam Undang-undang perpustakaan no 43 tahun 2007, Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Perpustakaan sekolah yang berada pada lembaga pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah tersebut merupakan bagian integral dari kegiatan sekolah, dan merupakan sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. (Darmono, 2013 : 4). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui optimalisasi ruang-ruang di Perpustakaan MAN 3 Malang sebagai tempat kegiatan belajar dan juga untuk mengetahui optimalisasi perabot di Perpustakaan MAN 3 Malang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini melalui tiga cara, yaitu observasi, studi dokumentasi dan wawancara. Pengumpulan data dilaksanakan pada saat melaksanakan kegiatan praktik kerja lapangan di Perpustakaan MAN 3 Malang. Pemustaka dapat memanfaatkan ruang-ruang di Perpustakaan MAN 3 Malang yang meliputi: (1) ruang referensi, (2) ruang multimedia, (3) ruang internet, dan (4) ruang baca dan diskusi. Perabot yang ada di Perpustakaan MAN 3 Malang antaranya adalah: (1) kursi, (2) meja, (3) rak, (4) televisi, (5) player DVD, (6) tape recorder, (7) sound system, (8) LCD projektor, dan (9) komputer. Optimalisasi adalah suatu proses, cara atau perbuatan untuk menjadikan sesuatu paling baik dan paling tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996:705). Dalam hal ini pemanfaatan ruang-ruang di perpustakaan sangat diperlukan dalam menunjang kegiatan yang berada di perpustakaan. Melalui optimalisasi ruang-ruang dan ketersediaan fasilitas di Perpustakaan MAN 3 Malang, diharapkan Perpustakaan MAN 3 Malang dapat menunjang kegiatan pembelajaran dalam mengimplementasikan kurikulum yang dikembangkan oleh MAN 3 Malang. Dengan adanya desain interior, gedung dan ruang-ruang perpustakaan dapat tertata dengan rapi dan memiliki keindahan sehingga dapat memberikan kesan menarik bagi para pemustaka yang berkeunjung di perpustakaan. Dengan mengoptimalkan penggunaan perabot yang ada di Perpustakaan MAN 3 Malang, Perpustakaan MAN 3 Malang tidak hanya berperan sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai tempat penunjang kegiatan belajar. Saran yang dapat diajukan kepada pihak Perpustakaan MAN 3 Malang diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Desain interior yang terdapat di perpustakaan perlu ditinjau ulang, masih terdapat kekurangan atau kerusakan yang terdapat pada dinding perpsuatakaan sehingga mengganggu keindahan di perpsuatakaan. Perlunya pemanfaatan pada dinding yang bisa digunakan sebagai tempat memajang lukisan atau poster yang berisi tentang motivasi atau promosi bagi perpustakaan. (2) Pihak Perpustakaan MAN 3 Malang hendaknya memperbaiki komputer yang rusak pada ruang internet dan mengoptimalkan komputer sesuai dengan fungsinya, karena jika komputer yang rusak dan penggunaannya tidak sesuai dengan fungsinya, sehingga pengoptimalan perabot di perpustakaan terasa kurang maksimal. (3) Pada ruang multimedia hendaknya meninggikan dinding kayu dan menggunakan sistem kedap suara agar dalam penggunaan fasilitas ruang multimedia tidak mengganggu para pemustaka yang sedang melakukan aktivitas di perpustakaan.

Penerapan Problem Based Learning dipadu Think Pair Share melalui implementasi lesson study untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMAN 5 Malang / Atika Dian Firdaus

 

Firdaus, Atika Dian. 2013. Penerapan Problem Based Learning dipadu Think Pair Share melalui Implementasi Lesson Study untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI SMAN 5 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd., (2) Siti Imroatul Maslikah, S.Si, M.Si. Kata Kunci: Problem Based Learning, Think Pair Share, Lesson Study, Kemampuan Berpikir Kritis, Hasil Belajar. Pembelajaran Biologi yang terjadi di sekolah selama ini merupakan pembe¬-la¬¬jaran yang belum berorientasi pada konstruktivistik sehingga pembelajaran lebih berpusat pada guru. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada kelas X1-IPA 3 SMA Negeri 5 Malang ditemukan bahwa permasalahan yang dialami oleh siswa ini disebabkan oleh kurangnya penalaran siswa karena pem-belajaran masih terpusat pada guru yang lebih banyak menerangkan, sehingga siswa kurang mengembangkan tingkat berpikir kognitifnya untuk level yang lebih tinggi, sehingga kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar ¬ kelas X1-IPA 3 SMA Negeri 5 Malang perlu ditingkatkan. Salah satu alternatif pemecahan dari permasa-la¬¬¬¬han di atas yaitu penerapan perpaduan antara Problem Based Learning (PBL) dengan Think Pair Share (TPS). Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas-Lesson Study dengan tahapan; perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi dan tahap Lesson Study yaitu plan, do, dan see. Penelitian dilakukan selama dua siklus dengan materi sistem ekskresi dan sistem saraf. Kemampuan berpikir kritis siswa diukur dengan lembar observasi pertanyaan dan jawaban yang dikelompokkan dalam tingkatan taksonomi Bloom. Hasil belajar kognitif siswa diukur melalui tes tertulis setiap akhir siklus, sedangkan hasil belajar psikomotor diukur dengan lembar observasi psikomotor. Analisis dalam penelitian ini bersifat kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan data secara lengkap. Data disajikan dalam bentuk uraian singkat, tabel, dan grafik. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil belajar siswa meningkat. Penerapan PBL-TPS melalui Lesson Study mengalami peningkatan sebanyak 6,45% dengan kriteria keberhasilan Lesson Study baik sekali. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu 11,00% untuk kemampuan memberikan pertanyaan, dan 20,19% untuk memberikan jawaban dan sebagian besar tergolong pada tingkat taksonomi Bloom C4. Secara keseluruhan peningkatan kemampuan berpikir kritis mengalami peningkatan dari 69,40% pada siklus I ke 76,75% pada siklus II sebanyak 7,35%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebanyak 6,75% siswa yang tuntas secara klasikal, dan hasil belajar psikomotor mengalami peningkatan sebesar 4,95% dan sudah memenuhi ketuntasan klasikal. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan Problem Based Learning dipadu Think Pair Share lelalui Lesson Study dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI SMAN 5 Malang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa saran di antaranya, penerapan Problem Based Learning dipadu Think Pair Share (PBL-TPS) melalui implementasi Lesson Study dapat menjadi alternatif dalam pembelajaran di sekolah, perlu adanya pengolahan kelas lebih baik, terutama untuk mengatasi siswa yang membuat ramai dan kurang mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan, perlu adanya penambahan observer dalam proses pembelajaran sehingga dapat mengamati siswa lebih baik dalam hal pemenuhan langkah pembelajaran PBL-TPS, perlu memodifikasi langkah pembelajaran sehingga siswa tidak jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran PBL-TPS, dalam pelaksanaan Lesson Study perlu adanya koordinasi lebih baik dengan pihak sekolah sehingga dalam hal alokasi waktu maupun dalam hal pelaksanaan Lesson Study di sekolah tersebut sehingga semua langkah pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pengembangan bahan ajar matematika berbasis mind mapping pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel kelas VIII SMP Negeri 7 Malang / Hario Wisnu Dwi Buono Putro

 

Wisnu D.B.P, Hario. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Matematika Berbasis Mind Mapping Pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Kelas VIII SMP Negeri 7 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika. Jurusan Matematika. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Indriati Nurul Hidayah, S.Pd, M.Si. Kata Kunci:Bahan ajar, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, Mind Mapping. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dicapai dengan menciptakan terobosan dalam bidang pembelajaran, salah satunya adalah dengan menciptakan bahan ajar. Berdasarkan pengamatan peneliti saat PPL di SMP Negeri 7 Malang, didapatkan informasi bahwa tidak sedikit siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pemahaman siswa tentang materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dan tidak tepatnya penyajian bahan ajar yang digunakan. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan bahan ajar berbasis Mind Mapping pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Bahan ajar berbasis Mind Mapping adalah bahan ajar yang mengajak siswa dalam memahami konsep dan proses yang disusun dengan menggunakan teknik Mind Mapping. Tujuan dari penelitian ini ini adalah memahami proses pengembangan bahan ajar berbasis Mind Mapping serta memahami bentuk bahan ajar berbasis Mind Mapping siswa SMP pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Pengembangan bahan ajar ini memodifikasi model pengembangan Plomp yang terdiri atas : (1) tahap investigasi awal, (2) tahap produksi (desain dan realisasi), dan (3) tahap tes, evaluasi, dan revisi. Uji coba yang dilakukan peneliti adalah uji kevalidan yang dilakukan oleh satu orang dosen dan dua orang guru matematika, sedangkan uji kepraktisan dan uji keefektifan dilakukan oleh 6 orang siswa sebagai subjek uji coba dengan kriteria yang telah ditentukan. Berdasarkan analisis pengembangan didapatkan hasil, yaitu : (1) skor kevalidan sebesar 4,11 dengan kriteria kevalidan valid, (2) skor kepraktisan 4,15 dengan tingkat kepraktisan tinggi, dan (3) skor keefektifan 86,21. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan efektif. Walaupun demikian, sebagai penyempurnaan bahan ajar, peneliti tetap melakukan revisi berdasarkan saran dan catatan yang diberikan oleh dosen, guru, dan siswa.

Model pembelajaran membaca lintas kurikulum / Nur Aisyah Sefrianah

 

Sefrianah, Nur Aisyah. 2013. Model Pembelajaran Membaca Lintas Kurikulum: Kajian Pustaka. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Suyono, M.Pd. (II)Dra. Hj. Ida Lestari, M.Si Kata Kunci: model pembelajaran, membaca, lintas kutikulum   Membaca merupakan aspek penting dalam pembelajaran di sekolah. Menurut Vacca (1993:9),membaca merupakan alat yang digunakan siswa untuk membangun pengetahuan seperti menemukan, mengklarifikasi, dan memperluas makna dalam mata pelajaran yang diberikan. Kegiatan membaca tidak hanya diterapkan pada mata pelajaran bahasa saja melainkan juga pada mata pelajaran lainnya seperti, matematika, ilmu sosial, dan sains. Oleh karena itu, penting halnya bagi guru untuk memberikan petunjuk kepada siswa dalam mengenali struktur teks yang akan mereka baca, mengaplikasikan model-model pembelajaran membaca yang sesuai, serta membuat rencana pembelajaran yang efektif.   Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup konteks pembelajaran membaca lintas kurikulum, wujud model pembelajaran membaca lintas kurikulum, karakteristik model pembelajaran lintas kurikulum, dan manfaat model pembelajaran lintas kurikulum. Rancangan penelitian-penelitian ini didasarkan pada metode penelitian kepustakaan. Data penelitian kepustakaan adalah data sekunder/sumber sekunder, dalam arti bahwa peneliti memperoleh bahan dari tangan kedua bukan orisinil dari tangan pertama di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan mencari sumber bahan pustaka kemudian melakukan evaluasi terhadap sumber-sumber tersebut guna mengidentifikasi relevansi data yang diperoleh dengan masalah penelitian ini. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap ekstrak kata, klasifikasi topik, membuat ringkasan, mencatat referensi, penguraian data, dan sintesis.     Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, konteks yang mendasari pentingnya pembelajaran membaca lintas kurikulum dalam pembelajaran, yaitu (1) membaca lintas kurikulum untuk meningkatkan kemampuan membaca secara bebas atau mandiri (Independent Reading), (2) membaca lintas kurikulum untuk memperluas kosa kata dan prestasi siswa, (3) membaca lintas kurikulum untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, (4) membaca lintas kurikulum untuk memahami teks ekspositori, dan (5) membaca lintas kurikulum memudahkan siswa memahami materi masing-masing bidang studi.     Kedua, wujud model-model pembelajaran membaca lintas kurikulum diantaranya adalah: (1) model pembelajaran membaca DR-TA (Directed Thinking-Reading Activity), (2) model pembelajaran membaca K-W-L (Know-Want to Know-Learned), (3) model pembelajaran membaca PORPE (Predict, Organize, Practice, Evaluate), dan (4) model pembelajaran membaca SEM-R (Schoolwide Enrichment Model- Reading).     Ketiga, karakteristik model-model pembelajaran membaca lintas kurikulum yang telah dikaji oleh penulis yaitu: (1) karakteristik model pembelajaran DRTA mencakup kegiatan berpikir kritis, diantaranya, menghubungkan elemen-elemen teks, pembenaran proses berpikir dan penyimpulan logis, menyimpulkan makna teks, (2) karakteristik model pembelajaran KWL menerapkan motode diskusi/ brainstorming, guru berperan sebagai fasilitator, melibatkan kegiatan menulis, KWL bisa diterapkan pada semua jenjang dan semua bidang (mengacu pada kutipan, menggunakan tabel sebagai media pembelajaran, (3) karakteristik model pembelajaran PORPE, mencakup kegiatan berpikir tingkat tinggi( sintesis, aplikasi, dan evaluasi), menerapkan metode brainstorming/ diskusi kelompok, dan (4) karakteristik model pembelajaran SEM-R,siswa dapat memilih teks bacaan sendiri, melibatkan keterampilan menyimak, melibatkan kegiatan membaca nyaring, menerapkan kegiatan membaca secara mandiri (Independent Reading). Keempat,manfaat dari model-model pembelajaran yang telah ditemukan yaitu: (1) manfaat model pembelajaran DR-TA yaitu untuk memupuk pemahaman siswa dalam membaca, membantu siswa dalam pengembangan pemahaman bacaan (teks narasi) dan kemampuan berpikir kritis, membimbing siswa melalui proses membaca, (2) manfaat model pembelajaran KWL adalah memunculkan pengetahuan siswa sebelumnya tentang suatu topic, menetapkan tujuan dari membaca, membantu siswa untuk memantau pemahaman mereka, memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperluas ide-idenya, memungkinkan siswa menilai pemahaman mereka sendiri, dan (3) manfaat model pembelajaran PORPE adalah PORPE meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, dan (4) manfaat model pembelajaran SEM-R adalah merangsang ketertarikasn siswa dalam membaca, mendorong siswa agar suka membaca, mendorong sisiwa agar mampu menjadi independent reader (pembaca yang mandiri), untuk meningkatkan kelancaran, pemahaman membaca dan meningkatkan prestasi siswa dalam membaca

Strategi adaptasi bertahan hidup di era globalisasi masyarakat pengrajin pandai besi di Kelurahan Gedog Kota Blitar / Agung Wibisono

 

Wibisono, Agung. 2013. Strategi Adaptasi Bertahan Hidup di Era Globalisasi Masyarakat Pandai Besi di Kelurahan Gedog Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Sukowiyono. SH. MH, (II) Dra. Sri Untari. M.Si. Kata Kunci : strategi adaptasi, bertahan hidup, masyarakat pandai besi, Gedog Pandai besi adalah salah satu industri tradisional dan termasuk kedalam UMKM yang berkembang di Kelurahan Gedog Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Pandai besi di Kelurahan Gedog Kecamatan Sananwetan Kota Blitar merupakan satu-satunya daerah pengrajin pandai besi yang terkenal di Kota Blitar, dimana pengrajin pandai besi ini menggeluti pekerjaannya sudah cukup lama dan bersifat turun temurun dari nenek moyang mereka. Menurut para ahli, era globalisasi membawa dampak terhadap struktur sosial dan budaya. Berkaitan dengan itu diperlukan pembahasan mengenai strategi adaptasi bertahan hidup pada masyarakat pandai besi di era global tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencangkup bagaimana gerak perkembangan masyarakat pandai besi di Kelurahan Gedog di era global, keadaan nilai kemasyarakatan antar masyarakat pandai besi di era global, dan strategi adaptasi bertahan hidup masyarakat pandai besi di Kelurahan Gedog dalam menghadapi era globalisasi Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu berusaha mendapatkan informasi selengkap mungkin mengenai strategi sdaptasi bertahan hidup di era globalisasi pada masyarakat pandai besi di Kelurahan Gedog Kota Blitar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi serta dokumentasi terhadap informan yaitu para empu pandai besi di Kelurahan Gedog dan penanggung jawab UPT Binaan Kota Blitar. Untuk menjaga keabsahan data, dalam menganalisis data dilakukan dengan pendekatan induktif. Kegiatan analisi data dimulai dari tahap pengamatan terhadap fenomenal sosial, (1) melakukan identifikasi, revisi-revisi, dan pengecekan ulang terhadap data yang ada, (2) kategorisasi terhadap informasi yang diperoleh, (3) menelusuri dan menjelaskan kategorisasi, (4) menjelaskan hubungan-hubungan kategorisasi, (5) menarik kesimpulan-kesimpulan umum, dan (6) membangun atau menjelaskan teori. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa (1) Gambaran umum tentang Kelurahan Gedog menjelaskan bahwa mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani pemilik maupun penggarap atau buruh tani, buruh bangunan, peternak dan pencari rumput. Akan tetapi mata pencaharian tersebut hanyalah sebagai mata pencaharian sampingan dan mata pencaharian utamanya adalah sebagai pandai besi, dan pandai besi di Kelurahan Gedog merupakan pekerjaan yang turun temurun, (2) mengenai gerak perkembangan masyarakat pandai besi di Kelurahan Gedog di era global yang menjelaskan tentang sejarah masyarakat pandai besi yang ditemukan oleh Mbah Joko Pangon, selain itu struktur sosial yang ada dalam masyarakat pandai besi tidak mengenal adanya pembedaan status seperti pada masa kerajaan sehingga dalam berinteraksi memiliki kedudukan yang sama di masyarakat seperti masyarakat desa pada umumnya, (3) nilai-nilai kemasyarakatan yang terkandung dalam masyarakat pandai besi di Kelurahan Gedog di era globalisasi menjelaskan tentang struktur sosial ataupun status sosial antara empu (pembuat) dan panjak (pekerja), tugas empu dan panjak, keadaan dan status sosial ketika masyarakat pandai besi dengan masyarakat lainnya, serta nilai-nilai sosial yang terkandung dalam masyarakat pandai besi sangat kental, dan mereka juga menjunjung tinggi nilai kekeluargaan antar masyarakat. (4) strategi adaptasi bertahan hidup masyarakat pandai besi di Kelurahan Gedog pada era globalisasi dilakukan oleh para pengusaha maupun empu dalam mensiasati usaha pandai besi agar tetap berjalan dan bagaimana kelangsungan hidup profesi pandai besi di era globalisasi Dari hasil penelitian ini, disarankan bagi Pemerintah Daerah memasukkan usaha pandai besi dalam kekayaan cagar budaya karena dalam pandai besi terdapat sejarah terbentuknya nama Desa/Kelurahan Gedog, selain itu Pemerintah Daerah lebih memperhatikan perkembangan usaha pandai besi dan memasukkannya dalam produk unggulan daerah, selanjutnya kerukunan antara masyarakat juga tetap di jaga, dan juga didukung dengan peran Pemerintah Daerah dalam merangkul kembali para pengusaha pandai besi dalam satu organisasi atau paguyuban yang langsung diawasi oleh Pemerintah Daerah melalui bidang tertentu, serta usaha Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kesadaran para generasi muda terhadap pengembangan potensi daerah.

Relevansi soft skill yang dibutuhkan dunia usaha/industri dengan yang dibelajarkan di sekolah menengah kejuruan / Didik Suryanto

 

Suryanto, Didik. 2013. Relevansi Soft Skill yang Dibutuhkan Dunia usaha/Industri Dengan yang Dibelajarkan Di Sekolah Menengah Kejuruan. Tesis. Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. (II) Drs. Strisno, M.Pd. Kata Kunci: dunia usaha/industri, soft skill, relevansi     Tuntutan relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia kerja dalam arti luas mengisyaratkan perlu dikuasainya sejumlah kompetensi yang dapat didemonstrasikan saat bekerja. Lulusan SMK tidak cukup hanya menguasai hard skill saja, akan tetapi juga harus menguasai soft skill sebagai pendukung hard skill agar lebih mampu bekerja produktif, dan berkualitas. Oleh sebab itu, perlu diadakan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui relevansi soft skill yang dibutuhkan oleh dunia usaha/industri dengan yang dibelajarkan di Sekolah Menengah Kejuruan khususnya di Kabupaten Blitar.     Rancangan penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah pimpinan dunia usaha dan dunia industri serta guru dan siswa SMK yang ada di Kabupaten Blitar. Sedangkan sampel penelitian adalah pimpinan dunia usaha/industri sebanyak 30 orang responden, guru Teknik Mekanik Otomotif sebesar 30 orang responden, dari siswa diambil masing-masing kelas XII program keahlian Teknik Mekanik Otomotif yang ada di kabupaten Blitar yaitu 30 responden dari seluruh SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu: berupa angket atau kuesioner. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif.     Hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah (1) deskripsi urutan kebutuhan soft skill dunia usaha/industri di Kabupaten Blitar meliputi: (a) kemampuan berkomunikasi; (b) jujur dan memiliki sikap perilaku yang baik; (c) memiliki rasa tanggung jawab; (d) disiplin waktu; dan (e) bekerja secara aman; (2) deskripsi urutan soft skill yang dibelajarkan di Sekolah Menengah Kejuruan menurut guru dan siswa meliputi: (a) jujur dan memiliki sikap perilaku yang baik dan disiplin waktu; (b) etika dan moral dalam perkataan dan perbuatan; (c) memiliki komitmen yang tinggi dalam menepati janji dan memiliki rasa tanggung jawab; (d) bekerja secara aman; dan (e) kemampuan mengelola informasi; (3) relevansi soft skill yang dibutuhkan dunia usaha/industri dengan yang dibelajarkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Blitar menurut guru dan siswa adalah adalah: (a) jujur dan memiliki sikap perilaku yang baik; (b) memiliki rasa tanggung jawab; (c) disiplin waktu; (d) bekerja secara aman; (e) tangguh/gigih dalam bekerja; (f) dapat mengatasi stres; (g) tidak bergantung kepada orang lain dalam bekerja; dan (h) mudah menerima masukan.

Pengaruh Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Corporate Governance Perception Index (CGPI) terhadap return saham pada perusahaan yang terdaftar dalam peringkat 10 besar CGPI Award periode 2006-2011 / Suci Mulyani

 

Mulyani, Suci. 2013. Pengaruh Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Corporate Governance Perception Index (CGPI) terhadap Return Saham Pada Perusahaan yang Terdaftar dalam Peringkat 10 Besar CGPI Award Periode 2006-2011. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, SE, M.Si, Ak. (II) Dr. Cipto Wardoyo, SE, M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci: Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Corporate Governance Perception Index (CGPI) dan Return Saham. Tujuan investor menanamkan modal pada sekuritas saham adalah mendapatkan return saham disamping harus menanggung risiko investasi. Oleh sebab itu investor memerlukan informasi relevan dan berguna untuk membuat sebuah keputusan investasi. Informasi relevan dan berguna dapat diperoleh dari informasi kinerja keuangan perusahaan. Kinerja perusahaan yang baik dapat menawarkan return saham tinggi. Analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan. Rasio keuangan seperti Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) dapat memberikan manfaat bagi investor dalam membuat sebuah keputusan investasi. Selain itu, informasi Corporate Governance Perception Index (CGPI) merupakan informasi non keuangan mengenai riset dan pemeringkatan tata kelola perusahaan publik. Perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip GCG dan bersedia ikut CGPI Award dipercaya dapat meningkatkan kepercayaan publik. Tujuan penelitian untuk menjelaskan pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Corporate Governance Perseption Index (CGPI) terhadap variabel terikat return saham. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar dalam peringkat 10 besar CGPI Award tahun 2006-2011. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria perusahaan yang masuk dalam peringkat 10 besar berturut-turut dalam CGPI Award 2006-2011. Data yang digunakan pada penelitian ini data laporan keuangan perusahaan yang terdapat di Indonesian Capital Market Directory dan data CGPI diperoleh publikasi CGPI Award yang diselenggarakan IICG. Analisis data menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara parsial ROE dan EPS tidak berpengaruh terhadap return saham, sedangkan PER dan CGPI berpengaruh secara parsial terhadap return saham. Pengujian secara simultan ROE, EPS, PER, dan CGPI berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk penelitian selanjutnya agar lebih selektif dalam memilih variabel bebas agar hasil penelitian bisa membuktikan hasil yang tepat antara teori dan praktek.

Penerapan model pembelajaran problem posing untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 2 Kepanjen pada materi kubus dan balok / Etik Febriana

 

Febriana, Etik. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing untuk Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII-I SMP Negeri 2 Kepanjen pada Materi Kubus dan Balok. Skripsi. Program Studi: Pendidikan Matematika. Jurusan Matematika. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimibing: Indriati Nurul Hidayah, S.Pd, M.Si. Kata kunci: Problem Posing, Kubus dan Balok, Kemampuan Berpikir Kritis Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan sebelum melakukan penelitian, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran di VIII SMP Negeri 2 Kepanjen masih menggunakan metode ceramah. Pembelajaran yang berlangsung masih didominasi oleh guru. Jika mengalami kesulitan, siswa enggan bertanya kepada guru. Siswa hanya mendengar dan menghafal rumus yang diberikan guru tanpa memahami konsep pada materi yang dipelajarinya. Siswa menjadi kurang aktif dan kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk melatih kemampuan berpikirnya. Salah satunya adalah model pembelajaran Problem Posing. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang dibuat akan melatih siswa untuk dapat berpikir kritis. Berdasarkan fakta di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing untuk Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII-I SMP Negeri 2 Kepanjen pada Materi Kubus dan Balok. Melalui model pembelajaran Problem posing ini, peneliti bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VIII-I SMP Negeri 2 Kepanjen pada materi Kubus dan Balok. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing melalui empat tahapan, yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap observasi, (4) tahap refleksi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pada siklus I kemampuan berpikir kritis siswa mencapai 69,6% dengan kategori cukup baik. Namun, hal ini dinilai belum memenuhi kriteria keberhasilan penelitian sehingga penelitian ini dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan sebesar 7,54% menjadi 77,14% dengan kriteria baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Posing dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Analisis korespondensi untuk mengetahui alasan mahasiswa memilih jurusan di FMIPA Universitas Negeri Malang (studi kasus mahasiswa non kependidikan FMIPA Universitas Negeri Malang) / Chofifatul Jannah

 

Jannah, Chofifatul. 2013. Analisis Korespondensi untuk Mengetahui Alasan Mahasiswa Memilih Jurusan di FMIPA Universitas Negeri Malang (Studi Kasus Mahasiswa Non Kependidikan FMIPA Universitas Negeri Malang), Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Abadyo, M.Si Kata kunci: analisis korespondensi, peta persepsi, jurusan di FMIPA UM    Analisis korespondensi merupakan salah satu teknik dalam multivariat yang merupakan gabungan dari teknik reduksi data dan pemetaan persepsi. Analisis korespondensi adalah metode statistik deskriptif yang dirancang untuk menganalisa tabel kontingensi dua arah atau multi arah yang mengandung hubungan antara variabel- variabel baris dan kolom. Salah satu tujuan analisis korespondensi adalah untuk melihat keterkaitan atau kedekatan suatu kategori pada satu peubah terhadap kategori peubah lainnya.    Dalam penelitian ini proses analisis korespondensi menggunakan tujuh variabel yaitu biaya, akreditasi jurusan, beasiswa, teman, orang tua, institusi UM dan prospek lulusan. Tahapan analisis korespondensi adalah membuat tabel kontingensi, menentukan nilai chi-square dan membuat peta persepsi dengan bantuan software Minitab. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu dalam pemilihan jurusan di FMIPA UM, faktor biaya sangat berpengaruh bagi mahasiswa non kependidikan jurusan matematika karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 0,265. Faktor akreditasi jurusan sangat berpengaruh bagi non kependidikan mahasiswa jurusan biologi dan kimia karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 0,570 dan 0,002. Faktor beasiswa sangat berpengaruh bagi mahasiswa non kependidikan jurusan biologi dan kimia karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 0,736 dan 0,246. Faktor teman sangat berpengaruh bagi mahasiswa non kependidikan jurusan fisika karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 1,150. Faktor orang tua sangat berpengaruh bagi mahasiswa non kependidikan jurusan kimia karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 1,688. Faktor institusi UM sangat berpengaruh bagi mahasiswa non kependidikan jurusan biologi karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 1,902. Faktor prospek lulusan sangat berpengaruh bagi mahasiswa jurusan non kependidikan fisika karena memiliki nilai chi-square yang lebih besar dari kategori lainnya yaitu 0,133.

Penerapan analisis faktor dalam menentukan faktor dominan yang berpengaruh terhadap laju inflasi di Kota Malang / Cendika M. Syuro

 

Syuro,Cendika M . 2012. Penerapan Analisis Faktor Dalam Menentukan Faktor Dominan Yang Berpengaruh Terhadap Laju Inflasi Di Kota Malang . Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Nengah Parta, S.Pd, M.Si, (II) Drs. Eddy Budiono, M.Pd. Kata kunci: Inflasi, faktor dominan, analisis faktor Inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang-barang secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga barang secara terus menerus ini menyebabkan turunnya nilai mata uang. Indeks Harga konsumen (IHK) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi inflasi. IHK terdiri dari tujuh kelompok indeks utama yaitu indeks kebutuhan bahan makanan, indeks kebutuhan makanan jadi, indeks kebutuhan perumahan, indeks kebutuhan sandang, indeks kebutuhan kesehatan, indeks kebutuhan pendidikan dan indeks kebutuhan transportasi. Data IHK pada penelitian ini digunakan sebagai obyek penelitian untuk menentukan faktor dominan yang berpengaruh terhadap inflasi di kota Malang. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis faktor. Analisis faktor adalah suatu teknik yang digunakan untuk menemukan hubungan antar sejumlah variabel yang saling independen sehingga bisa dibuat menjadi satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari variabel asal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari BPS kota malang. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan analisis faktor diketahui bahwa faktor dominan yang berpengaruh terhadap laju inflasi di kota Malang adalah perumahan, sandang, dan transportasi sebesar 46,724%, kemudian faktor bahan makanan dan makanan jadi sebesar 27,560% dan faktor kesehatan dan pendidikan sebesar 20,697%. Dari presentase tersebut, indeks harga perumahan, sandang, dan transportasi merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap laju inflasi di kota Malang tahun 2010.

Algoritma sequential insertion untuk menyelesaikan masalah Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP) / Nine Winda Yunita

 

Winda Yunita, Nine. 2013. Algoritma Sequential Insertion Untuk Menyelesaikan Masalah Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP). Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si (II) Darmawan Satyananda, S.T, M.T. Kata Kunci: Vehicle Routing Problem (VRP), Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP), algoritma sequential insertion Dalam kehidupan sehari-hari banyak permasalahan yang bisa diterapkan dengan penerapan graph. Suatu masalah akan menjadi lebih mudah dipahami serta lebih mudah dianalisa dengan menggunakan teori graph. Dalam penerapan graph terdapat suatu bahasan mengenai Vehicle Routing Problem (VRP). VRP secara sederhana didefinisikan sebagai upaya pencarian rute (routing) dari beberapa unit kendaraan yang ada (vehicle) untuk melayani kebutuhan pelanggan yang tersebar di sejumlah tempat yang berbeda dengan beberapa batasan yang ada. Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP) adalah permasalahan dari Vehicle Routing Problem (VRP) dengan perluasan dan penambahan multiple trip pada setiap kendaraan ketika mendistribusikan barang serta time window pelayanan customer. Pengoptimalan rute setiap kendaraan dapat menekan biaya pengiriman barang. Pada skripsi ini, permasalahan MTVRP diselesaikan dengan menggunakan algoritma sequential insertion. Proses pencarian rute pada algoritma tersebut dimulai dengan memilih pelanggan awal (seed customer) dengan kriteria jarak terjauh dari depot, kemudian dilanjutkan dengan mencari jarak terpendek dari seed customer kemudian disisipkan pada posisi terbaik. Proses ini dilakukan sampai semua titik telah terpilih. Terdapat beberapa kriteria pemilihan pelanggan awal (seed customer) diantaranya adalah penyelesaian waktu tercepat dan jarak terjauh dari depot. Pencarian seed customer dengan kriteria waktu penyelesaian tercepat membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus menghitung waktu semua titik yang ada kemudian dipilih yang paling minimum. Sedangkan pada kriteria jarak terjauh dari depot, seed customer diperoleh dengan mencari jarak dari setiap titik ke depot kemudian yang terjauh dipilih sebagai seed customer. Pada contoh kasus A dengan jumlah titik 9 pemilihan waktu penyelesaian tercepat sebagai seed customer lebih optimum, sedangkan pada contoh kasus B dengan jumlah titik 11 pemilihan jarak terjauh dari depot sebagai seed customer lebih optimum. Kelebihan algoritma sequential insertion ini adalah pada pemilihan seed customer berdasarkan jarak terjauh dari depot serta pemilihan customer selanjutnya dengan mencari jarak terdekat dari seed customer. Karena iterasi yang berulang dengan proses yang sama sehingga diperlukan suatu program untuk mempermudah pencarian rute. Pada skripsi ini digunakan program Borland Delphi untuk mempermudah pencarian rute.

Analisis kelompok dan analisis diskriminan untuk menggolongkan tingkat pengangguran di Provinsi Jawa Timur berdasarkan pendidikan terakhir yang ditempuh / Yulinda Pratiwi

 

Pratiwi, Yulinda. 2013. Analisis Kelompok dan Analisis Diskriminan untuk Menggolongkan Tingkat Pengangguran di Jawa Timur Berdasarkan Dominasi Pendidikan Terakhir yang di Tamatkan. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Swasono Rahardjo, S. Pd, M.Si, (II) Drs. Susiswo, M.Si. Kata kunci: analisis kelompok, analisis diskriminan, pengangguran, K-Mean. Pengangguran adalah salah satu isu penting yang perlu menjadi perhatian dalam pembangunan ekonomi daerah. Dalam pembangunan dan kegiatan berproduksi, peranan tenaga manusia banyak ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja yang tersedia di berbagai bidang kegiatan. Berbagai bidang dalam pembangunan sumber daya manusia mencakup bidang kesehatan, perbaikan gizi, pendidikan dan latihan serta penyediaan lapangan kerja, sehingga kualitas manusia dapat ditingkatkan.. Oleh karena itu, indikator pengangguran dalam penelitian ini berdasarkan pendidikan terakhir yang ditamatkan dan angka buta huruf. Sehingga untuk menggolongkan kabupaten dan kota di jawa timur berdasarkan indikator pengangguran tersebut dibutuhkan analisis kelompok, dan analisis diskriminan yang berguna untuk mengetahui anggota tiap kelompok. Langkah pertama yang dilakukan adalah menggolongkan kabupaten dan kota yang ada di jawa timur menggunakan analisis kelompok metode K-Mean. Langkah kedua menggunakan analisis diskriminan untuk menentukan persamaan diskriminan dan mengetahui keakuratan fungsi diskriminan yang terbentuk. Berdasarkan analisis kelompok didapatkan kelompok 1 beranggotakan 24 kab/kota yaitu Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sedangkan kelompok 2 beranggotakan 14 kab/kota yaitu Tulungagung, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Gresik, Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Surabaya, Kota Batu. Terakhir berdasarkan analisis diskriminan diperoleh fungsi diskriminan sebagai berikut Y=-0,116X_1+0,019X_2+0,030X_3+0,067X_4-0,178X_5+0,086X_6+0,181X_7 Dapat disimpulkan bahwa fungsi diskriminan yang diperoleh dari data pengelompokan memiliki tingkat validasi 100% dengan kata lain Kab/kota pada kelompok tingkat pengangguran rendah dan tingkat pengangguran tinggi yang dihasilkan dari analisis kelompok memiliki tingkat akurasi tinggi.

Penerapan pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII MTS Al-Maarif 01 Singosari / Cendika M. Syuro

 

Syuro, Cendika M. 2013. Penerapan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII MTs Al - Maarif 01 Singosari. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Sri Mulyati, M. Pd (II) Drs. Askury, M. Pd Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), Hasil Belajar, Pecahan Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, aktivitas belajar siswa kelas VII F MTs Al – Maarif 01 Singosari seringkali menerapkan metode ceramah dan penugasan. Guru menjelaskan kemudian siswa mencatat, guru memberi tugas dan siswa mengerjakan tugas yang diberikan. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan suatu perubahan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah metode Problem Based Learning (PBL), suatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks belajar bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII F MTs Al – Maarif 01 Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di MTs Al-Maarif 01 Singosari sebanyak 2 siklus dengan subyek penelitian 41 siswa kelas VII F MTs Al-Maarif 01 Singosari tahun 2012/2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan hasil tes dan peningkatan rata-rata hasil belajar matematika siswa dimana sebanyak 58,53% siswa mengalami peningkatan pada siklus I dan 75,61% siswa mengalami peningkatan pada siklus II. Berdasarkan pengamatan sikap, secara afektif banyak siswa yang mendapat nilai C pada siklus I ada 15 siswa. Selain itu, respon positif juga ditunjukkan siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learning yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan melalui langkah-langkah berikut : (1) (a) memberikan masalah dalam bentuk LKS pada masing-masing siswa, (b) membagi siswa dalam kelompok, (c) membimbing siswa baik secara individu maupun kelompok dalam upaya pengerjaan LKS, (d) meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, dan (e) mendiskusikan jawaban yang tepat dari pertanyaan yang tercantum dalam LKS serta membuat kesimpulan. Sebagai saran untuk peneliti selanjutnya yang ingin menerapkan PBL dalam pembelajaran, hendaknya peneliti melakukan pergantian anggota kelompok di tiap siklus untuk menghindari kebosanan siswa terhadap metode ini. Penggantian anggota kelompok ini juga berfungsi untuk membiasakan siswa berkelompok dengan siswa lain di dalam kelas.

Analisis karangan deskripsi siswa kelas X SMKN 5 Malang tahun ajaran 2012/2013 / Taufiq Akbar

 

Pengembangan strategi fantasi K-pop dalam pembelajaran menulis puisi untuk siswa SMP kelas VII / Yunita Puspasari

 

Puspasari, Yunita. Pengembangan Strategi Fantasi K-POP dalam Pembelajaran Menulis Puisi untuk Siswa SMP Kelas VII. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd, (II) Indra Suherjanto, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: pengembangan strategi, Fantasi K-POP, menulis puisi.     Pembelajaran menulis puisi di sekolah menengah pertama sangat penting dilakukan. Alasannya, karena sekolah menengah pertama merupakan tahap berkesinambungan untuk mengembangkan keterampilan menulis puisi yang telah dipelajari di sekolah dasar. Pada kenyataan yang terjadi di lapangan, pembelajaran menulis puisi di sekolah menengah pertama menemui banyak kesulitan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru saat studi pendahuluan, diperoleh informasi bahwa guru mengalami kesulitan dalam mengajarkan penggunaan metafor dan mengkonkretkan kata. Selain itu, minat siswa dalam pembelajaran menulis puisi juga sangat minim, sehingga siswa juga mengalami kesulitan dalam menciptakan puisi yang berkualitas. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian dilakukan dengan mengembangkan buku panduan Strategi Fantasi K-POP dalam pembelajaran menulis puisi. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat membantu guru untuk mencapai hasil yang optimal dalam pembelajaran menulis puisi.     Tujuan dilakukannya penelitian ini, yaitu (1) menghasilkan deskripsi konsep strategi Fantasi K-POP dalam pembelajaran menulis puisi untuk siswa SMP kelas VII, (2) menghasilkan deskripsi langkah-langkah strategi Fantasi K-POP dalam pembelajaran menulis puisi untuk siswa SMP kelas VII, dan (3) menghasilkan deskripsi contoh-contoh implementasi strategi Fantasi K-POP dalam pembelajaran menulis puisi untuk siswa SMP kelas VII. Upaya dalam mencapai tujuan tersebut, maka digunakan rancangan pengembangan yang diadaptasi dari model pengembangan Borg dan Gall. Adaptasi model pengembangan tersebut meliputi, (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji kelayakan, (5) revisi, (6) uji lapangan, (7) penyempurnaan produk akhir, dan (8) diseminasi dan implementasi. Uji kelayakan dilakukan kepada ahli strategi pembelajaran, ahli pembelajaran puisi dan praktisi. Berdasarkan uji kelayakan yang telah dilakukan, diperoleh hasil rata-rata nilai keseluruhan buku panduan strategi Fantasi K-POP mencapai 67.6% pada ahli strategi pembelajaran, 98% pada ahli pembelajaran puisi, dan 97.5% pada ahli praktisi. Nilai keseluruhan produk dari hasil semua uji kelayakan mencapai 87.7% yang berarti produk layak dan dapat diimplementasikan.     Revisi yang dilakukan didasarkan pada komentar dan saran yang diberikan saat uji kelayakan. Deskripsi konsep strategi, revisi dilakukan pada aspek konsep dasar yang meliputi, (1) menghapus bab pertama yaitu bab pendahuluan, (2) subbab pengertian strategi pada bab ketiga dipindah ke dalam bab pertama dengan bab konsep dasar strategi Fantasi K-POP dan menulis puisi, dan (3) bab pertama ditambahkan dengan subbab landasan operasional dan proses kreatif menulis puisi dengan strategi Fantasi K-POP. Aspek penyajian materi, revisi yang dilakukan meliputi, (1) bab kedua menulis puisi yang mencakup seluruh teori puisi dihapus dan diganti dengan bab penerapan strategi Fantasi K-POP dalam pembelajaran menulis puisi, dan (2) materi menulis puisi dipaparkan dalam lampiran materi dengan poin-poin: unsur pembangun puisi (tema, diksi, rima, dan citraan), langkah-langkah menulis puisi dan contoh menulis puisi. Pada deskripsi langkah-langkah strategi Fantasi K-POP, revisi yang dilakukan meliputi, (1) langkah-langkah di dalam tahap Fantasi Kata disajikan dalam uraian poin-poin yang lebih praktis, (2) langkah-langkah pada tahap Fantasi Kata ditambahkan dengan pengerjaan LKS secara berkelompok, dan (3) langkah-langkah pada tahap Fantasi Pengembara dalam LKS, ditambahkan perintah untuk mendata kata yang berhubungan dan kata yang menggambarkan suasana peristiwa.     Uji lapangan dilakukan pada kelompok terbatas, yaitu siswa kelas VII-3 SMP Negeri 21 Malang. Hasil yang diperoleh pada tahap Fantasi kata, Fantasi Pengembara, Fantasi Olah Makna dan Fantasi Performansi, adalah (1) siswa telah mampu mengembangkan ke dalam tema yang menarik dan imajinatif, (2) siswa telah mampu menghasilkan puisi dengan penataan rima yang sesuai, (3) siswa telah mampu menghasilkan puisi dengan diksi yang bervariasi, termasuk penggunaan kata konotatif maupun kata-kata konkret, (4) siswa telah mampu menghasilkan puisi dengan penggunaan citraan yang menarik, dan (5) siswa telah mampu menghasilkan puisi dengan penggunaan tipografi dan enjambemen.     Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa buku panduan strategi Fantasi K-POP dapat diimplementasikan pada pembelajaran menulis puisi khususnya siswa kelas VII. Terkait dengan hal tersebut, maka disarankan kepada guru sebagai subjek pengguna buku panduan agar dapat menerapkan strategi Fantasi K-POP dengan cara kreatif dan inovatif, seperti penggunaan media pendukung yang kreatif atau pemanfaatan lingkungan yang ada. Dalam penyebarannya, dapat dilakukan dengan penulisan artikel atau disebarluaskan melalui pihak penerbitan buku yang kemudian dapat dijual di berbagai toko buku. Disarankan pula pada peneliti selanjutnya agar mempelajari dan memanfaatkan produk ini sebagai pijakan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif.

Nilai-nilai pendidikan dalam novel Padang Bulan karya Andrea Hirata dan pemanfaatannya dalam pembelajaran sastra di SMP / Ulinnuha Madyananda

 

Kata kunci: nilai-nilai pendidikan novel Padang Bulan, pemanfaatan dalam pembelajaran sastra. Penelitian kualitatif berjudul Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran sastra di SMP ini disusun karena banyaknya nilai pendidikan yang dapat dipelajari siswa dalam kegiatan pembelajaran bersastra, khususnya tentang novel. Nilai-nilai pendidikan tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan menyusun seperangkat pemodelan berupa RPP yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Selanjutnya siswa diharapkan dapat menemukan setiap nilai pendidikan yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya. Fokus penelitian ini menitikberatkan kajiannya pada nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang ingin disampaikan Andrea Hirata dalam Novel Padang Bulan, serta bagaimana pemanfaatannya dalam pembelajaran sastra di SMP. Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud adalah nilai pendidikan yang bersifat fundamental meliputi nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral, dan nilai agama. Berdasarkan fokus penelitian tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data deskriptif mengenai nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang ingin disampaikan Andrea Hirata dalam Novel Padang Bulan, serta untuk mendapatkan data deskriptif mengenai bagaimana pemanfaatannya dalam pembelajaran sastra di SMP. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan peneliti sebagai instrumen (human instrument). Data penelitian ini adalah (1) kata, kalimat, atau paragraf dengan paparan berupa monolog, dialog, atau narasi yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan dalam novel Padang Bulan, (2) hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia, dan (3) hasil observasi pembelajaran terhadap siswa kelas VIII G SMP Negeri 1 Malang berjumlah 26 siswa yang berasal dari kelas unggulan. Sedangkan analisis data dilakukan secara induktif. Nilai-nilai pendidikan dalam novel Padang Bulan karya Andrea Hirata dapat digolongkan menjadi empat kategori, yaitu nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral, dan nilai agama. Setiap nilai-nilai pendidikan tersebut dapat dirinci lagi menjadi sub-sub nilai seperti (1) nilai sosial meliputi segala sesuatu yang berkenaan dengan proses interaksi manusia dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut seperti, saling membantu, menghormati, dan menyayangi satu sama lain, (2) nilai ilmiah adalah segala sesuatu yang bersifat ilmu dan dapat diuji ketetapannya secara ilmu, (3) nilai moral, terdiri dari dua klasifikasi besar, yaitu 1) hubungan manusia dengan diri sendiri, yaitu nilai yang bersifat melibat ke dalam diri dan kejiwaan seorang individu. Nilai moral yang termasuk kategori ini meliputi harga diri, rasa percaya diri, rindu, dan ketakutan, 2) hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial dan lingkungan alam, yaitu segala sifat yang melibatkan seluruh interaksi antar manusia. Nilai moral yang termasuk dalam kategori ini meliputi hubungan suami istri, dan hubungan antar anak-orang tua, dan (4) nilai agama yang merupakan sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungan alam. Nilai agama yang masuk dalam kategori ini terdiri atas perasaan dosa, dan kebesaran tuhan. Sajian hasil analisis dan pembahasan tentang nilai-nilai pendidikan dalam novel Padang Bulan karya Andrea Hirata, dan pemanfaatannya dalam pembelajaran sastra di SMP dapat disimpulankan bahwa pemanfaatan nilai-nilai pendidikan tersebut tepat untuk diajarkan dalam pembelajaran sastra di SMP kelas VIII pada aspek mendengarkan SK 13 Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli atau terjemahan), pada KD 13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan. Juga tepat digunakan dalam pembelajaran berbicara kelas VIII pada SK 14 Mengapresiasi kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) melalui kegiatan diskusi, pada KD 14.1 Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) dan 14.2 Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan). Penelitian ini memiliki kebermanfaatan seperti berikut (1) kepada pendidik dan tenaga kependidikan seperti guru bahasa Indonesia di SMP agar menggunakan novel Padang Bulan karya Andrea Hirata sebagai sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran bersastra, (2) hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber rujukan dalam pembelajaran kesastraan dan tentang kajian kesastraan untuk menunjang proses belajar di sekolah maupun di kampus, (3) novel ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan dan koleksi yang wajib dimiliki. Karena ceritanya sangat menarik dan megandung unsur nilai yang baik untuk diteladani, dan (4) hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi para peneliti yang berminat meneliti sastra, khususnya novel dan peneliti yang memfokuskan kajiannya pada pemodelan pembelajaran dengan menggunakan novel sebagai sumber belajar bagi siswa.

Peningkatan kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana dengan menggunakan strategi pemodelan pada siswa tingkat unggul Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Bandung, Tulungagung tahun ajaran 2012/2013 / Rika Pujianti

 

Kata Kunci: Kemampuan menulis, laporan ilmiah sederhana, strategi pemodelan Laporan ilmiah merupakan karya ilmiah yang wajib diajarkan pada peserta didik, salah satunya adalah siswa SMK. Berdasarkan Standar Isi Kurikulum 2006, pada jenjang SMK hanya diajarkan menulis laporan ilmiah sederhana. Laporan ilmiah sederhana merupakan laporan yang memiliki unsur yang tidak lengkap. Laporan ini hanya terdiri atas bagian pendahuluan, kajian pustaka, metode praktikum/penelitian, paparan data dan pembahasan, penutup, dan daftar rujukan. Berdasarkan studi pendahuluan, diketahui kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana siswa tingkat unggul jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMKN 1 Bandung, Tulungagung masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah strategi mengajar yang digunakan oleh guru hanya ceramah. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang sesuai dengan kondisi siswa tingkat unggul jurusan TKR 1 Bandung, Tulungagung untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana. Strategi yang dimaksud adalah strategi pemodelan yang merupakan adopsi dari pembelajaran kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana dengan menggunakan strategi pemodelan, pada bagian pendahuluan, bagian kajian pustaka dan bagian metode praktikum/ penelitian, bagian paparan data dan pembahasan, bagian penutup, serta bagian daftar rujukan laporan ilmiah sederhana pada siswa tingkat unggul jurusan TKR SMKN 1 Bandung, Tulungagung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Kehadiran dan peran peneliti selama penelitian sebagai pengumpul data utama, perancang model pembelajaran, pelaksana tindakan, dan sebagai pengamat selama penelitian berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII TKR-4 SMKN 1 Bandung, Tulungagung. Dalam penelitian ini ada dua jenis data yang diperoleh, (1) data kualitatif yang berasal dari wawancara dengan guru, angket siswa, dan catatan lapangan selama penelitian, dan (2) data kuantitatif yang berasal dari hasil skor yang dicapai siswa melalui tes tulis. Peneliti mengumpulkan data melalui observasi penelitian, pengamatan langsung dan pengambilan data selama pelaksanaan tindakan, dan catatan lapangan selama penelitian.Teknik analisis data yang digunakan adalah (1) mengumpulkan data, (2) mereduksi, (3) menyajikan data, dan (4) menyimpulkan hasil analisis data. Teknik evaluasi menggunakan tes tulis. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yang setiap siklus terdiri atas empat langkah, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana pada siswa tingkat unggul jurusan TKR SMKN 1 Bandung, Tulungagung dengan menggunakan strategi pemodelan. Hal ini dilihat dari hasil peningkatan sebesar 4,2% pada siklus I dibanding dengan pratindak. Kemudian pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 11,5% dibanding dengan siklus I. Peningkatan ini berdasarkan ketercapaian nilai yang diperoleh siswa terhadap nilai SKM sekolah (70). Peningkatan kemampuan menulis bagian pendahuluan dengan menggunakan strategi pemodelan dilihat dari meningkatnya skor rata-rata yang diperoleh siswa pada setiap siklus. Pada bagian ini, peningkatan kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana terdapat pada aspek sistematika dan isi. Namun pada aspek bahasa belum terjadi peningkatan. Pada bagian ini terjadi peningkatan sebesar 0,2% pada siklus I dibanding pratindak, dan terjadi peningkatan 2,6% pada siklus II dibanding siklus I. Peningkatan kemampuan menulis bagian kajian pustaka dan bagian metode laporan ilmiah sederhana meningkat pada aspek sistematika, isi, dan bahasa. Peningkatan ini terjadi karena pembelajaran melibatkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyusun bagian kajian pustaka dan bagian metode laporan ilmiah sederhana. Pada bagian ini terjadi peningkatan sebesar 5,8% pada siklus I dibanding dengan pratindak, dan terjadi peningkatan 7,5% pada siklus II dibanding siklus I. Peningkatan kemampuan menulis bagian paparan data dan pembahasan dengan menggunakan strategi pemodelan juga meningkat pada aspek sistematika, isi, dan bahasa. Guna meningkatkan kemampuan menulis pada bagian ini dibutuhkan motivasi dari diri siswa sendiri dan juga dari guru. Selain itu, guru harus mengulang-ulang materi yang dianggap sulit. Pada bagian ini terjadi peningkatan sebesar 100% dibanding dengan pratindak dan siklus I. Peningkatan kemampuan menulis bagian penutup laporan ilmiah sederhana dengan menggunakan strategi pemodelan terjadi karena pembelajaran dihubungkan dengan kegiatan produktif siswa. Siswa menggunakan model penutup laporan ilmiah sederhana sebagai acuan penyusunan bagian penutup laporan ilmiah sederhana. Kemampuan menulis bagian penutup laporan ilmiah sederhana meningkat 5,1% pada siklus I dibanding dengan pratindak. Namun, pada siklus II terjadi penurunan persentase kemampuan menulis bagian penutup laporan ilmiah sederhana sebesar 2,8% dibanding siklus I. Peningkatan kemampuan menulis daftar rujukan laporan ilmiah sederhana terjadi pada aspek sistematika, isi, dan bahasa. Dengan adanya model daftar rujukan dari berbagai sumber (buku dan internet), siswa dapat mengaplikasikan cara menulis daftar rujukan sesuai dengan kaidah penulisan yang benar. Pada bagian ini terjadi peningkatan sebesar 11,4% pada siklus I dibanding siklus II. Dan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 1,4% dibanding siklus I. Secara keseluruhan terjadi peningkatan kemampuan menulis laporan ilmiah sederhana pada aspek sistematika dan isi. Namun, belum terjadi peningkatan yang signifikan pada aspek bahasa. Kebiasaan siswa yang kurang memperhatikan tata bahasa tulis yang benar mengakibatkan kemampuan bahasa tulis siswa lemah. Dalam pembelajaran menulis laporan ilmiah sederhana, disarankan bagi guru untuk menerapkan strategi pemodelan dengan cara menyediakan model bagian-bagian laporan ilmiah sederhana. Selain itu, juga disarankan bagi guru untuk menerapkan pembelajaran kontekstual agar siswa merasakan langsung manfaat pembelajaran bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata.

Telaah isi Lembar Kerja Siswa (LKS) muatan lokal bahasa Jawa kelas VII yang disusun oleh tim MGMP Kota Malang / Ratna Wijayanti

 

Wijayanti, Ratna. 2013. Telaah Isi Lembar Kerja Siswa (LKS) Muatan Lokal Bahasa Jawa Kelas VII yang Disusun oleh Tim MGMP Kota Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum. Kata Kunci: lembar kerja siswa, muatan lokal, Bahasa Jawa, materi, langkah-langkah kegiatan keterampilan berbahasa, soal-soal kognitif. Mata pelajaran Bahasa Jawa merupakan salah satu muatan lokal yang wajib diajarkan kepada seluruh siswa untuk jenjang pendidikan SD /SDLB/MI dan SMP/SMPLB/MTs Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Jawa harus dikuasai oleh seluruh siswa karena Bahasa Jawa sebagai wahana untuk melestarikan budaya Jawa. Kualitas pembelajaran Bahasa Jawa harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh agar memperoleh hasil yang bermutu sesuai dengan harapan. Salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jawa adalah dengan menggunakan bahan ajar untuk menunjang proses belajar mengajar dan keberhasilan pembelajaran. Salah satu bahan ajar yang dimanfaatkan guru adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). Sebagian besar LKS yang digunakan di sekolah-sekolah belum dianalisis oleh guru mata pelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Jawa. LKS yang sudah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran oleh Permendiknas bukan berarti lebih berkualitas dan memenuhi syarat kelayakan. Hal ini masih banyak adanya kesalahan konsep pada penyajian materi. Dengan demikian, perlu untuk menganalisis kesesuaian antara LKS dengan standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesesuaian materi dengan standar isi Bahasa Jawa Kota Malang, kesesuaian langkah-langkah kegiatan keterampilan berbahasa dengan standar proses, dan keseimbangan proporsi serta kualitas soal-soal kognitif dengan standar penilaian yang terdapat dalam LKS Bahasa Jawa kelas VII yang disusun oleh Tim MGMP Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif evaluatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah LKS muatan lokal Bahasa Jawa kelas VII yang disusun oleh Tim MGMP Kota Malang. Data penelitian ini adalah materi, langkah-langkah kegiatan keterampilan berbahasa, dan soal-soal kognitif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik dokumenter karena seluruh data yang terkumpul berupa dokumen yang bersumber dari LKS. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu panduan evaluatif, lembar pengamatan, angket, dan pedoman wawancara. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara membaca dan menelaah sumber data secara berulang-ulang sehingga wujud dari perpanjangan pengamatan. Kedua, peneliti membaca secara instensif dan mengamati secara teliti dan mendalam seluruh LKS kemudian mencocokkan dengan kriteria yang telah dibuat. Ketiga, peneliti menggunakan teknik diskusi teman sejawat dengan cara meminta pendapat teman-teman tentang temuan peneliti untuk memeriksa keabsahan data ini sebagai wujud pengecekan teman sejawat. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah (1) penyeleksian data yang layak dipakai sesuai dengan masalah penelitian, (2) pengklasifikasian data pada materi, langkah-langkah kegiatan pada keterampilan berbahasa, dan soal-soal kognitif, (3) pemberian kode-kode terhadap data yang telah ditemukan agar mempermudah dalam penganalisisan, (4) penganalisisan serta pencocokan data dengan kriteria, dan (5) penyimpulan data. Berdasarkan temuan penelitian dilihat dari materi, disimpulkan bahwa (a) 44,44% materi sesuai dengan KD, tetapi tidak mendukung tercapainya KD, (b) 54,55% materi terpadu dengan materi yang lain, (c) 85,71% teks bacaan sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Penyajian konsep, definisi, prinsip, prosedur, contoh-contoh, dan pelatihan yang terdapat dalam LKS sesuai dengan kebutuhan materi pokok yang mendukung tercapainya SK dan KD, tetapi dilihat dari jenis materinya tidak sesuai dengan KD yang akan disampaikan. Penyajian materi dari mudah ke sukar sehingga memudahkan siswa untuk memahami. Teks bacaan yang terdapat dalam LKS memotivasi dan memberikan nilai yang positif kepada siswa. Langkah-langkah kegiatan dalam keterampilan berbahasa sudah bervariasi. Langkah-langkah kegiatan pada aspek menyimak 62,5% bervariasi, membaca 114,29% sangat bervariasi, berbicara 66,67% bervariasi, dan menulis 70% bervariasi. Langkah-langkah kegiatan tersebut antara lain mencari makna kata sulit, membuat kalimat dari kata yang sulit, menjawab pertanyaan, menceritakan dengan bahasanya sendiri gambar seri, mencari pengalaman pribadi, membuat pokok-pokok cerita dari pengalaman yang dipilih, menulis isi cuplikan drama, membuat naskah drama dengan berkelompok, dan menulis isi berita. Dilihat dari soal-soal kognitif, disimpulkan bahwa (a) soal-soal kognitif mengukur tercapainya KD, tetapi proporsinya tidak seimbang dan (b) soal-soal kognitif berorientasi pada tata bahasa. Soal-soal kognitif mengukur tercapainya KD sebesar 88,04%. Proporsi soal-soal kognitif lebih banyak mengarah pada kemampuan mengingat (C1) sebanyak 41,85%. Soal-soal mengingat meliputi menyebutkan, mengenali gambar, memilih, dan mengidentifikasi. Soal-soal kognitif ditinjau dari orientasi menunjukkan bahwa 81,32% soal tata bahasa dan 18,68% soal penggunaan bahasa. Soal tata bahasa yang digunakan antara lain mencari kata dasar, kata imbuhan, pengertian kata, pembentukan kata, dan contoh kata. Soal-soal tersebut bersifat teori. Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan kepada guru agar teliti dalam menggunakan LKS yang beredar karena materi yang terdapat dalam LKS tidak mendukung tercapainya KD. Bagi penyusun LKS, hendaknya melakukan perbaikan terutama menyangkut materi dan soal-soal kognitif. Proporsi soal-soal kognitif tidak seimbang. Soal-soal kognitif lebih banyak mengarah pada kemampuan mengingat (C1) dan tatabahasa. Pemilihan materi sebaiknya disesuaikan dengan KD yang akan dicapai. Keterpaduan materi dengan materi yang lain perlu diperbaiki karena banyak materi yang tidak terpadu dengan materi yang lain. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti selain rumusan masalah yang disebutkan peneliti.

Istikhdam al-qishohi al-mushowwarati bilughoti al-Arabiyyati litarqiyati al-mufrodati litalamidzi al-fashli as-sadisi fi madrasati "al-Muttaqin" al-ibtidaiyyati al-Islamiyah Lamongan / Friendis Syani Amrullah

 

Dokumentasi cerita rakyat Malang Raya dan pengembangan media pembelajaran menyimak / .Hersila Astari Pitaloka

 

Pitaloka, Hersila Astari. 2013. Dokumentasi Cerita Rakyat Malang Raya dan Pengembangannya sebagai Media Pembelajaran Menyimak. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., (2) Dr. Martutik, M.Pd. Kata Kunci: dokumentasi cerita rakyat, media pembelajaran, menyimak Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang menarik untuk dikaji. Cerita rakyat mengandung nilai-nilai yang sesuai dengan cerminan masyarakat Indonesia. Cerita rakyat menjadi penting untuk dilestarikan karena memiliki kedudukan fungsi dan peran penting bagi masyarakat sebagai tuntunan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran, jika dikaitkan dengan peningkatan knerja belajar dan kemandirian. Pada sisi lain, media pembelajaran yang menarik dapat membuat siswa antusias dalam belajar, sehingga pembelajaran berjalan kondusif dan efektif. Selain itu, dengan memanfaatkan media pembelajaran, siswa dapat belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan (1) mendokumentasikan cerita rakyat Malang Raya untuk menambah pengetahuan guru, siswa, dan masyarakat mengenai beberapa cerita rakyat yang ada di Malang dan (2) pengembangan media pembelajaran berbasis audio-visual sebagai media pembelajaran menyimak cerita rakyat siswa SMA kelas X. Ada lima tahap dalam melakukan penelitian cerita rakyat, yaitu (1) penentuan wilayah garap, (2) penentuan informan, (3) cara pengambilan data, (4) analisis data, dan (5) keabsahan data. Dokumentasi cerita rakyat Malang Raya menghasilkan delapan cerita rakyat yang berasal dari Malang Raya, yakni Setya dan Setuhu, Garudia, Maling Aguna, Mbah Gimbal, Eyang Jugo, Mbah Mbatu, Watu Ceper, dan Ki Ageng Gribig. Hasil dokumentasi tersebut disusun dalam bentuk buku antologi cerita rakyat Malang Raya. Bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa populer yang dapat dimengerti oleh semua kalangan. Buku antologi disertai gambar ilustrasi yang disesuaikan dengan salah satu peristiwa dalam cerita, sehingga lebih menarik pembaca. Pengembangan media menggunakan model penelitian pengembangan yang diadaptasi dari metode penelitian dan pengembangan Sadiman dkk. Berdasarkan metode tersebut, ada tujuh tahap prosedur, yakni (1) analisis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) pengembangan materi, (4) pengembangan alat ukur keberhasilan (evaluasi), (5) menulis naskah media, (6) produksi media, dan (7) uji coba dan revisi. Uji coba produk dilakukan kepada tiga penguji, yaitu (1) uji ahli materi, (2) uji ahli media pembelajaran, dan (3) uji lapangan. Uji coba produk media pembelajaran menghasilkan data yang diperoleh dari angket. Data penelitian ini berupa data verbal dan nonverbal. Data verbal berupa komentar dan saran perbaikan, sedangkan data nonverbal berupa skor penilaian. Data dianalisis dengan (1) mendeskripsikan hasil uji coba ahli materi, media, dan lapangan (2) mendiskripsikan saran-saran ahli materi, media, dan lapangan. Perbaikan media pembelajaran dilakukan berdasarkan komentar dan saran perbaikan dari ahli, praktisi, dan siswa. Media pembelajaran ini memiliki keunggulan yaitu berbasis audio-visual. Pembacaan cerita oleh narator disertai background musik dan efek yang memperkuat suasana dalam cerita yang diperdengarkan. Selain itu, media disertai dengan visualisasi gambar yang disesuaikan dengan isi cerita dan karakteristik siswa. Dengan demikian, siswa lebih tertarik dalam menyimak cerita rakyat yang diperdengarkan. Hasil uji coba media pembelajaran adalah (1) uji coba ahli materi mencapai tingkat kelayakan dengan persentase 90%, (2) uji coba ahli media mencapai tingkat kelayakan dengan persentase 78,1%, dan (3) uji coba lapangan mencapai tingkat kelayakan dengan persentase 90,8%. Berdasarkan hasil uji coba tersebut, media pembelajaran ini layak untuk diimplementasikan. Akan tetapi, ada beberapa aspek yang harus diperbaiki berdasarkan saran yang diberikan oleh ahli materi, ahli media, dan siswa. Buku antologi hasil dokumentasi cerita rakyat dapat menjadi alternatif sumber belajar bagi guru bahasa Indonesia dan siswa. Media pembelajaran menyimak berbasis audio visual ini dapat digunakan guru Bahasa Indonesia dalam membelajarkan cerita rakyat agar lebih menarik. Selain itu, dapat memudahkan siswa dalam memahami cerita rakyat yang diperdengarkan. Pengembangan media pembelajaran ini dapat dijadikan pertimbangan dan sumber inspirasi dalam mengembangkan media pembelajaran menyimak cerita rakyat yang lebih baik lagi. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan melalui perpustakaan, jurnal penelitian, dan forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Indonesia.

Pengaruh latihan pliometrik terhadap peningkatan power tungkai bawah teknik dasar lay-up bolabasket siswa-siswi ekstrakurikuler bolabasket SMP Negeri 1 Singosari / Fuad Noor Heza

 

Heza, Fuad Noor. 2013. Pengaruh Latihan Pliometrik Terhadap Peningkatan Power Tungkai Bawah Teknik Dasar Lay-Up Bolabasket Siswa-Siswi Ektrakurikuler Bolabasket SMP N 1 Singosari. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Saichudin, M.Kes. (2) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes. Kata Kunci: bolabasket, lay-up, power, latihan pliometrik. Bolabasket merupakan jenis olahraga bola besar berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan. Salah satu keterampilan terpenting dalam bolabasket adalah lay-up. Lay-up adalah tembakan yang dilakukan sedekat mungkin dengan ring basket, sehingga seolah-olah itu diletakkan ke dalam keranjang basket yang didahului dengan gerakan dua langkah. Terdapat beberapa aspek-aspek atau unsur-unsur yang mempengaruhi gerakan lay-up, yakni tinggi lompatan, jingkatan, dan power. Power adalah gabungan antara kekuatan dan daya ledak (kecepatan), kontraksi otot dengan kekuatan maksimum dan kecepatan, sedangkan power otot tungkai adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan sekelompok otot tungkai untuk menghasilkan kekuatan yang maksimal dengan waktu sependek-pendeknya. Salah satu latihan untuk meningkatkan daya ledak dengan cara mengembangkan kekuatan dan kecepatan secara bersama-sama yaitu dengan metode latihan pliometrik. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menguji apakah metode latihan pliometrik ini dapat berpengaruh dalam meningkatkan power tungkai bawah siswa-siswi ekstrakurikuler latihan bolabasket di SMP N 1 Singosari. Dalam penelitian ini diberikan treatment atau perlakuan terhadap kelompok eksperimen dengan metode latihan pliometrik selama kurang lebih 18 kali perlakuan atau selama enam pekan. Metode penelitian ini menggunakan true experimental design dimana dalam menentukan keputusan menggunakan pretest dan posttest dengan menggunakan sampel secara acak yang berjumlah sebanyak 36 sampel. Hasil dalam penelitian ini yakni terdapat pengaruh yang cukup signifikan untuk variabel power tungkai bawah sebesar setelah dianalisis menggunakan uji beda(uji-t) diperoleh 0,001 dari taraf signifikansi <0,05, yang artinya terdapat perbedaan setelah adanya treatment yang telah diberikan. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup signifikan terhadap peningkatan power tungkai bawah setelah diberikan treatment latihan pliometrik pada kelompok perlakuan selama kurang lebih 18 kali perlakuan atau selama satu setengah bulan (enam pekan). Bagi pelatih yang hendak memberikan program latihan bagi anak didiknya diharapkan tetap memperhatikan prinsip-prinsip latihan sebagai landasan dasar dalam melatih sesuai dengan tingkat usia anak didiknya.

Penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran menulis di kelas V SD Negeri 1 Trigonco Situbondo / Veny Surya Dwi Jayanti

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model Student Facilitator and Explaining untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi pada siswa kelas XI TPM 3 SMK Ahmad Yani Jabung Kabupaten Malang) / Sintya Dewi

 

Dewi, Sintya. 2013. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Student Facilitator and Explaining Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat Kewirausahaan ( Studi Kasus pada Siswa Kelas XI TPM 3 SMK Ahmad Yani Jabung Kabupaten Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Suwarni, M.Si (2) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M. Kata Kunci : Student Facilitator And Explaining, Keaktifan, Hasil Belajar     Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMK Ahmad Yani Jabung Kabupaten Malang kelas XI Tata Niaga Pemasaran (TPM) 3 pada mata diklat kewirausahaan diperoleh gambaran secara umum bahwa hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), hal tersebut nampak dari nilai rata-rata kelas dari 24 siswa hanya sebesar 51 dengan prosentase ketuntasan belajar 0%. Metode ceramah memang masih dominan dilakukan di kelas. Guru juga menggunakan variasi di dalam pembelajaran, tetapi pada dasarnya para siswa kebanyakan belum terbiasa aktif dalam mengungkapkan pendapat, belum berani mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan variasi model pembelajaran seperti model student facilitator and explaining. Melalui model pembelajaran student facilitator and explaining ini siswa akan lebih terampil dalam penguasaan materi dan menjadi lebih aktif mengemukakan pendapat.     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Yang dilakukan dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Ahmad Yani Jabung Kabupaten Malang yang beralamat di Jalan Raya Sukolilo No 2 RT 01 RW 01 Jabung Kabupaten Malang. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas XI TPM 3 SMK Ahmad Yani Jabung Kabupaten Malang semester genap tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 24 siswa. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, tes berupa pre test dan post test, dokumentasi, dan catatan lapangan.     Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat keterlaksanaan penerapan model Student Facilitator And Explaining dapat dibuktikan dari hasil aktivitas guru selama proses belajar mengajar di kelas yaitu pada siklus I pertemuan pertama diperoleh aktivitas guru sebesar 70%, pada siklus I pertemuan kedua aktivitas guru sedikit meningkat menjadi 88,5%. Pada siklus II aktivitas guru lebih meningkat dibandingkan siklus I, pada pertemuan pertama diperoleh aktivitas guru sebesar 100%, dan pada siklus II pertemuan kedua diperoleh aktivitas guru sebesar 100%; (2) keaktifan klasikal belajar siswa dapat meningkat secara signifikan setelah penerapan model Student Facilitator And Explaining. Terlihat dari siklus I pertemuan pertama sebesar 62,50% menjadi 67,50% pada siklus I pertemuan kedua. Pada siklus II pertemuan pertama keaktifan belajar sebesar 71,62%. Dan pada pertemuan terakhir terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa yaitu sebesar 73,19%; (3) hasil belajar ranah kognitif yang sebelumnya prosentase ketuntasan belajar 0% meningkatkan menjadi 62,50% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 87,50% setelah penerapan model student facilitator and explaining; (4) kendala yang dihadapi dalam penerapan model student facilitator and explaining antara lain; siswa masih takut mengemukakan pendapat atau bertanya jika kurang paham mengenai materi yang diajarkan. Dari kendala tersebut solusi yang diberikan adalah guru menggunakan model belajar yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar di dalam kelas, dalam hal ini peneliti menggunakan model pembelajaran student facilitator and explaining yang diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan aspek kognitif siswa, tetapi aspek sosial siswa dalam berinteraksi dalam kelompok, diskusi, maupun presentasi.     Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan (1) bagi guru, model Student Facilitator And Explaining dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dengan mempertimbangkan variasi model pembelajaran lain; (2) bagi siswa, hendaknya berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar, siswa juga diharapkan mampu menggali pengetahuan tidak hanya sumber belajar yang telah diberikan sekolah saja tetapi dari sumber-sumber belajar lain. Sehingga pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru; (3) bagi SMK Ahmad Yani Jabung Kabupaten Malang, hendaknya lebih memfasilitasi sarana dan prasarana pembelajaran, misalnya dengan menambah literatur buku pelajaran dan buku pengetahuan lain supaya siswa lebih tertarik untuk belajar (4) bagi peneliti selanjutnya, agar lebih kreatif dan inovatif pada standar kompetensi yang sama atau yang lainnya yang dalam penerapan Student Facilitator And Explaining harus disesuaikan dengan materi/pokok bahasan, tujuan pembelajaran yang diinginkan, kondisi siswa, fasilitas media yang tersedia, dan kondisi guru.

Perbedaan tingkat kesadaran metakognitif dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran Project Based Learning dan model pembelajaran Direct Instruction dengan metode penugasan pada kelas XI dalam matapelajaran TIK di SMA Negeri 1 Batu / Latiefah Sari Susanti setiaw

 

Proses interaksi berpikir siswa dalam pembelajaran kooperatif dengan metode Guided Discovery pada pokok bahasan segitiga dan segiempat kelas VII-A SMP Negeri 1 Kepanjen / Nita Eri Kristya Ningsih

 

Ningsih, Nita Eri Kristya. 2013. Proses Interaksi Berpikir Siswa dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Guided Discovery pada Pokok Bahasan Segitiga dan Segiempat Kelas VII-A SMP Negeri 2 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. rer. nat. I Made Sulandra, M.Si, (II) Aning Wida Yanti, S.Si. M.Pd. Kata Kunci: proses interaksi berpikir siswa, pembelajaran kooperatif dengan metode guided discovery. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa bersangkutan. Proses pembelajaran berlangsung secara baik, apabila siswa terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan dan pengalaman. Kondisi tersebut dapat diciptakan melalui pembelajaran kooperatif dengan metode guided discovery. Meskipun pembelajaran kooperatif dengan metode guided discovery telah banyak diterapkan, namun masih sedikit dianalisis proses interaksi berpikir siswa ketika pembelajaran berlangsung. Analisis interaksi berpikir siswa diperlukan untuk mengetahui cara siswa mengonstruksi pengetahuan melalui interaksi berpikir dengan siswa yang lain, dengan guru, dan dengan materi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses interaksi berpikir siswa dalam pembelajaran kooperatif dengan model guided discovery pada pokok bahasan segitiga dan segiempat. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Kepanjen. Subjek penelitian adalah empat siswa kelas VII-A yang memiliki kemampuan heterogen. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Terdapat tiga tahap dalam pengambilan data. Pertama, peneliti melakukan wawancara dengan subjek sebelum diadakan pembelajaran. Kedua, peneliti merekam pembicaraan subjek pada kegiatan diskusi kelompok. Terakhir, peneliti melakukan wawancara dengan subjek setelah diadakan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran terjadi proses interaksi berpikir multiarah antara siswa berkemampuan tinggi, siswa berkemampuan sedang dan siswa berkemampuan rendah dengan guru, kelompok kecil yang lain dan materi pembelajaran yang dilihat melalui LKS sebagai media pembelajaran. Siswa berkemampuan tinggi sering menjawab pertanyaan temannya, sering menyampaikan ide, kadang-kadang memberikan sanggahan atau kesimpulan dalam menyelesaikan permasalahan, dan kadang-kadang juga mengajukan pertanyaan untuk memastikan kebenaran idenya. Siswa berkemampuan tinggi juga sering melakukan tanya jawab dengan guru dalam mengkonstruksi suatu pengetahuan. Selain itu, siswa berkemampuan tinggi juga sering menggunakan suatu konsep dalam menyelesaikan permasalahan, menuliskan penyelesaian di LKS dengan tepat, dan menunjukkan kemampuan memecahkan masalah. Siswa berkemampuan tinggi kadang-kadang juga menanggapi kelompok lain ketika presentasi hasil diskusi. Siswa berkemampuan sedang cenderung seimbang antara bertanya dan menjawab pertanyaan, baik dalam proses interaksi berpikir dengan siswa yang lain maupun dengan guru. Siswa berkemampuan sedang kadang-kadang menggunakan suatu konsep dalam menyelesaikan permasalahan, menunjukkan kemampuan memecahkan masalah, dan menuliskan penyelesaian di LKS dengan tepat. Selain itu, Siswa berkemampuan sedang kadang-kadang juga menanggapi kelompok lain ketika presentasi hasil diskusi. Sedangkan siswa berkemampuan rendah sering mengajukan pertanyaan mengenai sesuatu yang belum dimengerti, jarang menjawab pertanyaan dan menyampaikan pendapatnya, serta jarang menjawab pertanyaan guru. Di samping itu, siswa berkemampuan rendah kadang-kadang menuliskan penyelesaian di LKS dengan tepat, menggunakan suatu konsep yang mudah dalam menyelesaikan permasalahan, dan menunjukkan kemampuan memecahkan masalah yang relatif mudah. Penelitian ini masih terbatas pada pembelajaran kooperatif dengan metode guided discovery dan pada pokok bahasan segitiga dan segiempat, oleh karena itu masih perlu diadakan penelitian lagi tentang proses interaksi berpikir siswa dengan metode pembelajaran dan materi yang lain. Selain itu, perlu diteliti juga hubungan kemampuan siswa dengan proses interaksi berpikir siswa. Penelitian tentang proses interaksi berpikir siswa juga dapat dikembangkan sebagai penelitian tindakan kelas.

Aplikasi model GSTAR pada peramalan jumlah kunjungan wisatawan empat lokasi wisata di Batu / Dwi Susanti

 

Susanti, Dwi. 2013. Aplikasi Model GSTAR pada Peramalan Jumlah Kunjungan Wisatawan Empat Lokasi Wisata di Batu. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Susiswo,M.Si. Kata Kunci : GSTAR, SUR, RMSE,Wisatawan. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai data yang mengandung keterkaitan antar kejadian pada waktu-waktu sebelumnya dengan lokasi atau tempat yang disebut data spasial. Salah satu data yang diduga mempunyai keterkaitan waktu dan lokasi adalah data jumlah kunjungan wisatawan. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu jumlah kunjungan wisatawan pada empat lokasi wisata di Batu. Empat lokasi tersebut antara lain Jawa Timur Park,Selekta,Kusuma Agro, dan Songgoriti. Untuk mendapatkan model peramalan digunakan model Generalized Space-Time Autoregressive(GSTAR). Analisis yang dilakukan yakni identifikasi model, pendugaan parameter, dan pemeriksaan diagnostik. Identifikasi model dilakukan dengan plot MACF dan nilai AIC terkecil untuk menduga model sementara. Penentuan bobot lokasi menggunakan bobot lokasi seragam, bobot lokasi inverse jarak, dan bobot lokasi normalisasi korelasi silang. Pendugaan parameter dilakukan menggunakan model SUR(Seemingly Unrelated Regression dengan metode General Least Square (GLS). Pada pemeriksaan diagnostik, Uji kesesuaian model dilakukan dengan grafik Q-Q plot untuk kenormalan residual dan dan uji white noise dengan plot MACF residual dan nilai AIC minimum residual pada lag 0. Hasil analisis yang dilakukan, didapatkan model yang sesuai yaitu GSTAR untuk keempat lokasi. Dari model GSTAR dengan tiga bobot lokasi yang terbentuk dipilih model terbaik. Pemilihaan model terbaik didasarkan pada nilai RMSE terkecil dari model. Sehingga model yang paling sesuai adalah model GSTAR dengan bobot lokasi inverse jarak. Hasil peramalan periode mendatang, untuk Jawa Timur Park sebanyak 27553 pengunjung, Selekta sebanyak 31705, Kusuma Agro sebanyak 5131, dan Songgoriti sebanyak 6220.

Implementasi grafik pengendali individual berbasis distribusi loglogistik (3P0 dalam pengendalian kualitas berat batang rokok (studi kasus di PR. Trubus Alami Tulungagung) / Wida Rekno Agustian

 

Agustian, Wida Rekno. 2013. Implementasi Grafik Pengendali Individual Berbasis Distribusi Loglogistik (3P) dalam Pengendalian Kualitas Berat Batang Rokok (Studi Kasus di PR. Trubus Alami Tulungagung). Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Hendro Permadi, M.Si (II) Dr. I Nengah Parta, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : kualitas berat batang rokok, distribusi loglogistik (3P), grafik pengendali individual. Faktor utama yang menentukan kinerja suatu perusahaan adalah kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. Hal ini disebabkan, kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen dalam menggunakan produk dan jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu perusahaan memerlukan suatu teknik perbaikan kualitas untuk mengetahui kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. Pada penelitian ini menggunakan data berat batang rokok sebagai variabel yang akan digunakan dalam pengendalian kualitas rokok yang dihasilkan oleh PR.Trubus Alami Tulungagung. Metode yang digunakan dalam pengendalian kualitas berat batang rokok adalah grafik pengendali individual berbasis distribusi Loglogistik (3P). Hasil pendugaan parameter distribusi Loglogistik (3P) dengan menggunakan alat bantu software minitab 16 dan untuk menentukan persamaan rata-rata dan variansi distribusi Loglogistik (3P) dengan menggunakan nilai harapan/ekspektasi matematis dari X ditulis sebagai [E(X^k)] dan menggunakan metode simulasi bootstrap. Dengan software minitab 16 diperoleh nilai-nilai parameter dari distribusi Loglogistik (3P), yaitu lokasi (µ) sebesar -1,55303, nilai parameter skala (σ) sebesar 0,0553865 dan parameter threshold (α) sebesar 1,57488. Dengan menggunakan percentil grafik pengendali individual berbasis distribusi Loglogistik (3P) diperoleh nilai UCL = 1,85, CL = 1,78, LCL = 1,72. Grafik tersebut menunjukkan bahwa berat batang rokok produksi Pabrik Rokok Trubus Alami Tulungagung belum terkendali secara statistik (out of statistical control).

Implementasi uji rata-rata kecacatan produk rokok berbasis distribusi Poisson (studi kasus PT Trubus Alami Tulungagung) / Krisna Trenggalih

 

Efisiensi pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah menengah pertama negeri se-kecamatan Bandung Tulungagung / Ima Fitriani

 

Kata kunci: efisiensi,pembelajaranberbasis TIK Perkembangan Iptek (IlmuPengetahuandanTeknologi) yang semakinpesatmenuntutduniapendidikanuntukmeningkatkankemampuannya, gunamenghasilkanmutupendidikan yang berkualitas. Upaya yang dapatdilakukandalamrangkamemenuhituntutanperkembanganIptektersebutsalahsatunyadenganmemanfaatkanteknologi, informasi, dankomunikasidalammengelolapendidikan, khususnyadalammengelolapembelajaran. PerkembangandankemajuanIptek yang semakinpesattentuakanbanyakdampaknyapadakegiatanbelajardanpembelajaran di sekolah, akantetapikembalilagikepadakeadaansumberdayamanusia yang adadalamsuatulingkunganpendidikan. Tujuanpenelitianiniyaituuntukmengetahui: (1)implementasipembelajaranberbasis TIK di SekolahMenengahPertamaNegeri se-Kecamatan Bandung KabupatenTulungagung, dan (2)tingkatefisiensipembelajaranberbasis TIK di SekolahMenengahPertamaNegeri se-Kecamatan Bandung KabupatenTulungagung. Penelitianinimenggunakanpendekatankuantitatif, jenispenelitiandeskriptif, populasidalampenelitianiniyaituseluruhsiswakelas VIII di SMPN se-Kecamatan Bandung yang berjumlah 600 siswa.Sampel yang diambilsebanyak 120siswa yang diambildenganteknikpurposive samplingdanproportional random sampling.Metodepengumpulan data yang digunakanangket. Hasilpenelitianinimenunjukkan: implementasipembelajaranberbasis TIK di SMPN se-Kecamatan Bandung cukupbaik, 66 responden (55%)menyatakanpembelajaranberbasis TIK di SMPN se-Bandung dalamkriteriacukupbaik. Urutanperingkatkriteriabaikyaitu; SMPN 01 Bandung masukdalamkriteriabaikdenganperolehanpersentase 57%, selanjutnya SMPN 03 Bandung yang masukdalamkriteriacukupbaikdenganpersentase 94%, dan yang terakhir SMPN 02 Bandung yang masukdalamkriteriacukupbaikdenganpersentase 87%. Efisiensipembelajaranberbasis TIK di SMPN se-Kecamatan Bandung sudahcukupefisien, 67 responden (56%)menyatakanpembelajaranberbasis TIK di SMPN se-Bandung dalamkriteriacukupbaik. Perbandinganskorantarsekolahsesuaikriterianyayaitu; SMPN 01 Bandung masukdalamkriteriaefisiendenganpersentase 68%, selanjutnya SMPN 03 Bandung yang masukdalamkriteriacukupefisiendenganpersentase 94%, dan yang terakhir SMPN 02 Bandung yang masukdalamkriteriacukupefisiendenganpersentase 90%. Berdasarkanhasilpenelitian,maka saran ditujukankepada;(1)KepalaSekolahMenengahPertamaNegeri se-Kecamatan Bandung Tulungagung, Efisiensipembelajaranberbasis TIK sebaiknyaterusditingkatkanketaraf yang lebihbaik, segalasumberdaya yang sudahdimilikiolehsekolahdapatdimanfaatkansecaramaksimalolehsekolahsehinggapembelajaranberbasis TIK lebihefisienlagidandapatmemotivasipesertadidikuntukmengikutipelajaransertamemudahkanpendidikdalammengelolapembelajaran, danuntukselanjutnyaMutupembelajarandanefisiensipembelajaranberbasis TIK dapatterusmeningkat; (2) Guru Sekolah MenengahPertamaNegeri se-Kecamatan Bandung Tulungagung, penelitianinidapatmemberikaninformasitentangefisiensipembelajaranberbasis TIK, guru lebihmeningkatkanbimbingankepadapesertadidikuntukmemanfaatkan TIK dalampembelajarandenganpenuhtanggungjawab, sertaguru dalammenyusunrencanadanimplementasipembelajaranmenjadilebihbaikdanlebihefisien; dan(3) penelitilain,penelitianinidiharapkandapatmenambahpengetahuantentangbelajardanpembelajarandanhasilpenelitianinidapatdipakaisebagaireferensi, kajian, danmasukanbagipenelitianselanjutnya.

Peningkatan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menggambar bebas anak kelompok B TK PGRI Pojok 01 Garum Kabupaten Blitar / Nurjarwati

 

NURJARWATI. 2013. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus melalui Kegiatan Menggambar bebas Anak Kelompok B TK PGRI Pojok 01 Garum Kabupaten Blitar. Skripsi Program Studi S1 PG PAUD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum, (II) Dr.H.Alif Mudiono,M.Pd Kata kunci : Kemampuan motorik halus, menggambar bebas, TK. Penelitian ini berlatar belakang pada kurang percaya diri, anak masih raguragu dalam menggambar, gambaran anak masih kurang rapi, dalam menggunakan imajinasi dan kreatifitas dalam mengembangkan kemampuan motorik halus dalam menggambar bebas dan rendahnya kemampuan motorik halus. Media yang digunakan kurang menarik bagi anak belum mencapai tingkat pencapaian perkembangan, sehingga anak tidak dapat menuangkan kreativitasnya melalui gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan kegiatan menggambar bebas dalam upaya meningkatkan kemampuan motorik halus serta mendeskripsikan peningkatan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menggambar bebas pada anak kelompok B TK PGRI Pojok 01 Garum Kabupaten Blitar. Pendekatan yang dilakukan peneliti adalah pendekatan kualitatif dengan model PTK. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian guru dan anak didik kelompok B TK PGRI Pojok 01 Garum Kabupaten Blitar dengan jumlah pesrta 18 anak. Penlitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2012-2013 dan peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Instrument yang digunakan adalah 1) lembar observasi aktivitas anak, 2) lembar observasi kemampuan motorik halus menggambar bebas, 3) lembar observasi aktivitas guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan menggambar bebas dapat meningkatkan kemampuan motorik halus terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran menggambar bebas ada peningkatan motorik halus anak TK PGRI Pojok 01 Garum. Pada siklus kemampuan rata-rata anak mencapai 67% meningkat menjadi 78% pada siklus II Hasil ini dapat disimpulkan bahwa dengan kegiatan menggambar bebas dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Ditandai dengan peningkatan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menggambar pada anak. Sehingga dalam penelitian tindakan kelas ini disarankan bagi guru hendaknya menggunakan media menggambar bebas dalam kegiatan pembelajaran motorik halus agar kegiatan menjadi lebih menarik.

Pengembangan E-assessment berbasis mobile technology pada mata kuliah aplikasi komputer Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Rikko Anggara

 

Anggara, Rikko. 2013. Pengembangan Pengembangan E-Assessment Berbasis Mobile Technology Pada Mata Kuliah Aplikasi Komputer Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Saida Ulfa S.T., M. Edu, Ph.D, (II) Dr. Agus Wedi S. Pd, M.Pd Kata Kunci : Asesmen, E-assessment, mobile learning Dalam pembelajaran mengandung tiga unsur utama yaitu tujuan pembelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar. Penilaian atau biasa disebut dengan asesmen merupakan salah satu komponen penting dan memainkan peranan yang besar dalam mengidentifikasi keberhasilan suatu pembelajaran. Melalaui asesmen pengajar memperoleh data atau informasi tentang hasil belajar peserta didik serta memberikan umpan balik mengenai kemajuan belajar siswa untuk peserta didik dan pengajar. Pada kenyataannya di lapangan, asesmen ini belum terlaksana secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran itu sendiri. Seringkali pengajar membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan asesmen tersebut. dikarenakan jumlah siswa yang banyak dan tingat ketelitian yang cukup tinggi untuk memberikan umpan balik satu per satu bagi peserta didik. Padahal asesmen merupakan indikator-indikator pencapaian hasil belajar baik berupa domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dengan adanya umpan balik secara segera, peserta didik mampu mengidentifikasi kemampuan dirinya dan bisa termotivasi untuk belajar lebih giat. Oleh karena itu pengajar dituntut harus mampu memberikan umpan balik secepatnya bagi perserta didiknya. Namun pada kenyataanya, hal itu sulit direalisasikan. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi dalam penyelesaian tersebut sehingga peserta didik mendapatkan umpan balik secepatnya. Penelitian ini mempunyai 2 tujuan. Yang pertama mengembangkan dan mengimplementasikan e-assessment system berbasis mobile technology dalam pelaksanaan pembelajaran dan yang kedua mengetahui tingkat keefektifan e-assessment system berbasis mobile technology dalam pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif-kualitatif. Data penelitian yang berupa presentase hasil dari respon yang diberikan oleh ahli media, ahli materi dan audiens setalah menguji coba e-assessment pembelajaran ini. Pengumpulan data dilakuakn dengan menggunakan angket yang diberikan pada ahli media, ahli materi dan audiens. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh beberapa simpulan hasil pengembangan sebagai berikut. Pertama, hasil validasi dari ahli media adalah menyebutkan bahwa media pembelajaran ini 90%, berdasarkan kriteria yang ditetapkan maka dapat diinterpretasikan bahwa Pengembangan Pengembangan E-Assessment Berbasis Mobile Technology Pada Mata Kuliah Aplikasi Komputer Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam kriteria valid atau di kualifikasi layak digunakan untuk proses pembelajaran. Kedua, menurut hasil validasi ahli materi menyebutkan bahwa media pembelajaran ini 75%, berdasarkan kriteria yang ditetapkan maka dapat diinterpretasikan bahwa pengembangan e-assessment berbasis mobile technology pada mata kuliah aplikasi komputer jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam kriteria cukup valid atau di kualifikasi cukup layak digunakan untuk proses pembelajaran. Ketiga, berdasarkan angket uji persepsi dari audiens diperoleh kesimpulan bahwa dengan e-assessment berbasis mobile technology pada mata kuliah aplikasi komputer jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang dapat mengakses evaluasi pembelajaran kapanpun dan dimanapun, meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pemebelajaran, dapat menumbuhkan kemauan dalam menerima suatu teknologi dalam pembelajaran, dapat meningkatkan perhatian pada suatu materi pelajaran, menghadirkan pengalaman baru dalam belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas, mengandung aspek interaktif dalam evaluasi pembelajaran, membuat aktif dalam bereksplorasi mengenai materi yang disajikan, membuat sistematika transparasi nilai, memiliki visualisai dan resolusi yang bagus sehingga dapat membuat tertarik dalam menjalankan aplikasi di dalamnya, memiliki kemampuan dalam pemrosesan data dengan cepat, perangkat yang digunakan terjangkau, dapat termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, dan lebih mudah mendapatkan umpan balik secepatnya.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |