Penggunaan tari Tamasya untuk meningkatkan kemampuan sosial-emosi anak kelompok A1 TK Dharma Wanita Persaruan Karangploso Kabupaten Malang / Widya Novia Hedyanti

 

Hedyanti, Widya Novia. 2013. Penggunaan Tari Tamasya untuk Meningkatkan Kemampuan Sosial-Emosi Anak Kelompok A1 TK Dharma Wanita Persatuan Karangploso Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Program Studi S1. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. H. Ahmad Samawi, M. Hum (2) Retno Tri Wulandari, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: kemampuan sosial-emosi, tari tamasya. Penelitian ini didasarkan atas rendahnya kemampuan sosial-emosi anak kelompok A1 di TK Dharma Wanita Persatuan Karangploso Kabupaten Malang. Hasil observasi diketahui ada 8 anak (27,6%) yang memiliki kemampuan sosial-emosi yang baik, sedangkan 21 anak (72,4%) belum memiliki kemampuan sosial-emosi yang baik. Hal tersebut disebabkan karena guru menggunakan metode klasikal dan individual, anak hanya mendengarkan dan melakukan apa yang diperintahkan oleh guru. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimanakah penggunaan tari tamasya dalam pembelajaran anak usia dini untuk meningkatkan kemampuan sosial-emosi anak kelompok A1 TK Dharwan Persatuan karangploso Kab. Malang?, 2) Apakah kemampuan sosial-emosi dapat ditingkatkan melalui penggunaan tari tamasya dalam pembelajaran pada anak kelompok A1 TK Dharwan Persatuan karangploso Kab. Malang? Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian yaitu kelompok A1 TK Dharwan Karangploso sebanyak 29 anak. Dalam pengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan teknik observasi, pedoman wawancara dan dokumentasi foto kegiatan. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deksriptif kuantitatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Penggunaan tari tamasya diterapkan dengan langkah pembelajaran: guru mendemonstrasikan tari, guru mengelompokkan anak dan anak menirukan gerakan guru. 2) kemampuan sosial-emosi anak mengalami peningkatan dari kegiatan pra tindakan dengan persentase awal sebesar 62% meningkat menjadi 67,8%, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan skor sebesar 15,21%. Keberhasilan kemampuan sosial-emosi mencapai 93,1% dengan kategori ”baik”. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan tari tamasya dapat meningkatkan kemampuan sosial-emosi anak. Disarankan kepada: 1) Kepala sekolah, agar dapat memberikan fasilitas dalam sosialisasi penggunaan tari tamasya dalam pembelajaran. 2) Guru, agar menggunakan tari tamasya dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan sosial-emosi anak. 3) Peneliti selanjutnya, agar dapat menggunakan tari tamasya untuk mengembangkan aspek kemampuan motorik kasar anak.

Keefektifan teknik kursi kosong (empty chair) untuk meningkatkan harga diri (self esteem) siswa korban bullying di SMK Negeri 2 Malang / Miranda Larasati

 

Larasati, Miranda. 2013. Keefektifan Teknik Kursi Kosong (Empty Chair) untuk Meningkatkan Harga Diri (Self Esteem) Siswa Korban Bullying di SMK Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A Kata Kunci : teknik kursi kosong, harga diri, siswa korban bullying Perilaku bullying merupakan tindak kekerasan verbal maupun fisik yang dilakukan oleh siswa secara berulang kali kepada siswa lain. Siswa yang menjadi korban bullying akan memiliki harga diri yang rendah karena selalu mendapat tekanan dari pelaku bullying. Harga diri adalah evaluasi diri terhadap berharga atau tidaknya individu dilihat dalam mengatasi masalah yang ada pada dirinya. Korban bullying yang memiliki harga diri yang rendah akan merasa dirinya tidak berguna dan tidak berharga, hal ini akan berdampak pada diri korban seperti tidak mau masuk sekolah, ingin pindah sekolah, dan sampai pada keinginan untuk bunuh diri. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan bantuan yang efektif untuk meningkatkan harga diri siswa korban bullying. Salah satu caranya adalah dengan teknik kursi kosong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas teknik kursi kosong untuk meningkatkan harga diri siswa korban bullying. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre experimental design dengan jenis One Group Pretest dan Posttest Design. Eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok tanpa kelompok pembanding. Pelaksanaan rancangan penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest berupa skala harga diri oleh Sorensen Self Esteem Test, perlakuan berupa teknik kursi kosong, dan posttest berupa skala harga diri oleh Sorensen Self Esteem Test. Subjek penelitian adalah siswa SMK Negeri 2 Malang kelas X yang menjadi korban bullying dan memiliki harga diri rendah dan berjumlah 5 orang siswa. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan uji beda wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai wilcoxon sebesar (Z=-2,041a) dan nilai probability error yakni kurang dari 0,05 (p=0,041<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa teknik kursi kosong efektif untuk meningkatkan harga diri siswa korban bullying. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar: 1) Konselor yaitu membantu siswa meningkatkan harga diri dengan menggunakan teknik-teknik konseling yang sesuai dengan kebutuhan siswa, memberikan intervensi-intervensi kepada siswa yang beresiko seperti perilaku bullying baik pelaku maupun korban agar dapat mengurangi fenomena perilaku bullying yang marak terjadi dalam sekolah, mengaplikasikan teknik kursi kosong pada siswa korban bullying yang memiliki harga diri rendah atau pada subjek lainnya yang sesuai dengan karakteristik yang berkaitan dengan tujuan teknik kursi kosong. 2) Bagi penelitian Dalam meningkatkan harga diri siswa korban bullying perlu mengkombinasikan teknik kursi kosong dengan teknik lain. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membantu siswa mengatasi masalahnya secara tuntas. Selain itu, dalam pengaplikasian teknik kursi kosong dapat ditujukan pada subjek yang berbeda.

Manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) peserta didik (studi kasus di Taman Kanak-kanak Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri) / Entin Fuji Rahayu

 

Rahayu, Entin Fuji. 2013. Manajemen Pembelajaran dalam Rangka Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) Peserta Didik: Studi Kasus di Taman Kanak-Kanak Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri.Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mustiningsih, M.Pd, (II) Teguh Triwiyanto, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: manajemen pembelajaran, pengembangan kecerdasan majemuk Manajemen pembelajaran merupakan suatu proses mengelola yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, serta pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses membelajarkan peserta didik dengan mengikut sertakan berbagai unsur manusiawi, material, fasilitas, dan perlengkapan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam diri peserta didik terdapat beberapa jenis kecerdasan yang biasa disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Kecerdasan majemuk peserta didik ini adalah suatu bentuk kecerdasan dasar anak yang terdiri dari kecerdasan linguistik-verbal (bahasa), kecerdasan logika/matematik, kecerdasan visual-spasial (ruang), kecerdasan kinestetik (gerak tubuh), kecerdasan klasikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan eksistensial. Fokus penelitian ini dibagi dalam beberapa subfokus: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) evaluasi, (4) faktor pendukung, dan (5) faktor penghambat manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) peserta didik di Taman Kanak-Kanak (TK) Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian berada di desa Seketi RT 02, RW 02 Dusun Badug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Lebih tepatnya sekitar 700meter masuk dari jalan utama desa Seketi. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, dilakukan reduksi data, display data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) triangulasi teknik dan triangulasi sumber, dan (3) ketekunan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) peserta didik di TK Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta faktor pendukung, dan faktor penghambat. Tahap perencanaan manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik meliputi tiga kegiatan, yaitu: (1) membuat rencana kegiatan harian (RKH) secara rutin dan teratur, (2) RKH disesuaikan dengan rencana kegiatan mingguan (RKM), program tahunan (prota), dan program semester (promes) yang didasarkan pada kurikulum, dan (3) perencanaan kelas disesuaikan dengan kebutuhan dan kegiatan pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik. Kegiatan pelaksanaan meliputi: (1) kegiatan terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir, (2) kelas ada dua bentuk, di dalam ruangan dan di luar ruangan, (3) variasi kelas ada klasikal dan kelompok, (5) terdapat variasi pemberian tugas, (4) lingkungan kelas dikondisikan mampu menunjang pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik, (6) adanya kegiatan penunjang kecerdasan majemuk peserta didik, dan (7) guru melaksanakan tindakan preventif dan kuratif untuk menjaga situasi kelas agar kondusif. Tahap evaluasi terdiri dari: (1) evaluasi harian dan evaluasi semester, (2) evaluasi harian dilihat dari proses penyelesaian pekerjaan, hasil pekerjaan, perilaku, dan penilaian 4-5 lima anak dalam rencana kegiatan harian, dan (3) evaluasi semester berupa laporan perkembangan (rapor) berasal dari yayasan dan laporan perkembangan (rapor) baru dari pemerintah. Faktor pendukung dalam manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik di TK Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri antara lain: (1) guru yang kreatif dan inovatif, (2) pengembangan kurikulum yang mendukung, (3) tersedianyan fasilitas penunjang yang mencukupi, dan (4) adanya dinamika kelas. Sedangkan faktor penghambat meliputi: (1) jumlah ruangan kelas yang kurang mencukupi dan halaman yang kurang luas. Masalah ruangan diatasi dengan adanya 2 sesi belajar (pagi pukul 07.15-09.15 dan siang pukul 09.15-11.15), dan (2) ruangan yang masih kurang sehingga tidak ada ruangan khusus sentra. Diatasi dengan kelas semisentra dengan bentuk kelompok. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi: (1) Kepala TK Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri, Dalam menyelenggarakan manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) peserta didik disarankan untuk lebih teliti dalam penyusunan program kegiatan terkait pemaksimalan pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik. Selain itu, juga disarankan agar Kepala TK segera menambahkan ruangan serta perlengkapan mengajar sehingga TK dapat memiliki sentra belajar dan fasilitas yang benar-benar memadai, (2) Guru TK Kusuma Mulia Ngadiluwih Kediri, diharapkan senantiasa memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kemampuan inovasi serta kreasi dalam merencanakan berbagai kegiatan dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik, (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, agar menginformasikan kepada mahasiswa untuk mengadakan penelitian lebih mendalam terkait manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik serta menambahkan materi mengenai kecerdasan majemuk dalam perkuliahan terkait manajemen pembelajaran, dan (4) Bagi peneliti lain, agar melakukan penelitian yang relevan terkait manajemen pembelajaran dalam rangka pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik secara lebih detail untuk meningkatkan pehamanan mengenai pemaksimalan pengembangan kecerdasanmajemuk pada peserta didik.

Persepsi siswa dan guru tentang kompetensi profesional guru (studi pada mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga angkatan 2009) / Lisa Widyastuti

 

Pengembangan latihan soal (tryout) Ujian Nasional (UN) berbasis mobile web tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Septiana Winda Maulida

 

Pelaksanaan ekstrakurikuler Hizbul Wathan dalam meningkatkan rasa nasionalisme siswa SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo / Yunita Cahayani

 

Cahayani, Yunita. 2013. Pelaksanaan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan dalam Meningkatkan Rasa Nasionalisme Siswa SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr.H. A Rosyid Al Atok M.Pd, M.H, (II) Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci : Ekstrakurikuler Hizbul Wathan, Nasioanalisme Dalam lingkungan Pendidikan Muhammadiyah, terdapat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang bisa digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan rasa nasionalisme, karena Hizbul Wathan sendiri merupakan organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyahyang khusus dalam bidang kepanduan yang bertujuan untuk pembela tanah air. Tujuan peneliti ini adalah untuk mengetahui: (1) program ekstrakurikuler Hizbul Wathan dalam meningkatkan rasa nasionalisme siswa di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, (2) pelaksanaan program ekstrakurikuler Hizbul Wathan dalam meningkatkan rasa nasionalisme siswa di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, (3)kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam meningkatkan rasa nasionalisme melalui pelaksanaan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP muhammadiyah 1 Sidoarjo, (4) upaya mengatasi kendala dalam meningkatkan rasa nasionalisme melalui pelaksanaan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Untuk mencapai tujuan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, sumber peneliti terdiri dari, pembina ekstrakurikuler Hizbul Wathan, guru dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data yang ditemukan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan temuan dengan perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil peneliti menyatakan: (1) program ektrakurikuler Hizbul Wathan terdiri dari latihan rutin, persami, outboun, survival camp, dan ujian persami.(2) pelaksanaan ekstrakurikuler Hizbul Wathan dilaksanakan setiap hari sabtu jam 8.30 WIB dengan kegiatan latihan rutin. Untuk mengembangkan ekstrakurikuler Hizbul Wathan peran beberapa pihak sangat diperlukan dalam meningkatkan rasa nasionalisme siswa seperti, kepala sekolah, gurudan pelatih Hizbul Wathan. Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan rasa nasionalisme siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan pembina merencanakan kegiatan dengan menarik sehingga meningkatkan minat siswa untuk mengikuti beberapa kegiatan yang ada di ekstrakurikuler Hizbul Wathan dan pembina sering mengikut sertakan siswa anggota Hizbul Wathan dalam jambore, sedagkan dari pihak sekolah mengupayakan untuk memfasilitasi semua kegiatan Hizbul Wathan mulai dari kegiatan di dalam kelas dan diluar kelas dan juga memberikan anggaran dana untuk melaksanakan kegiatan; (3) kendala yang dihadapi dalam meningkatkan rasa nasionalisme dialami oleh pihak pembina dan siswa yaitu dari keputusan kepala sekolah hanya mewajibkan anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah (IPM) saja dan kurangnya dukungan dari pihak guru, selain itu juga terkendala oleh benturan jadwal kegiatan ekstrakurikuler, (4) untuk mengatasi kendala yang dialami tersebut berbagai upaya dilakukan yaitu dengan mengadakan rapat seluruh guru dan pembina ekstrakurikuler yang ada di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo menghasilkan keputusan yaitu kepala sekolah menghimbau agar semua guru berperan aktif dalam segala bentuk kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan dan mengusahakan untuk mengatur jadwal ektrakurikuler sehingga tidak terjadinya benturan jadwal. Berdasarkan dari penelitian ini, dapat disarankan bahwa kegiatan ektrakurikuler Hizbul Wathan merupakan kegiatn yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme siswa dengan begitu seharusnya dari pihak guru bisa lebih memperhatikan dengan memberikan dukungan dari semua kegiatan yang dilakukan dalam ekstraurikuler Hizbul Wathan.

Pengembangan paket pembelajaran budidaya tanaman padi untuk siswa kelas X SMK-PP Negeri Padang / Susilawitri

 

Kata Kunci: Pengembangan, Paket Pembelajaran, Budidaya Tanaman Padi. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa bahan ajar budidaya tanaman padi yang digunakan siswa kelas X SMK-PP Negeri Padang hanyalah diktat yang tidak layak digunakan sebagai bahan ajar karena tidak memuat tujuan pembelajaran, materi tidak dilengkapi gambar, tidak ada rangkuman, tidak ada soal latihan dan tidak ada umpan balik sehingga tidak menarik untuk dibaca siswa dan tidak bisa digunakan siswa secara mandiri. Hal ini telah berdampak pada penurunan hasil belajar siswa. Atas dasar tersebut, perlu diberikan solusi dengan pengembangan paket pembelajaran budidaya tanaman padi untuk siswa kelas X SMK-PP Negeri Padang sebagai usaha dalam memecahkan masalah belajar. Tujuan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan paket pembelajaran berupa bahan ajar budidaya tanaman padi yang dilengkapi panduan guru dan panduan siswa dalam bentuk buku atau bahan cetak yang layak dan valid sebagai bahan ajar di SMK-PP Negeri Padang. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran khususnya dalam kawasan pengembangan dan mengikuti alur rancangan pembelajaran model Dick & Carey sampai langkah ke sembilan. Validasi paket pembelajaran ditempuh melalui penilaian dan saran ahli isi/materi, ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran serta serangkaian uji coba produk pada siswa kelas X SMK-PP Negeri Padang yang terdiri dari uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Hasil analisis penilaian terhadap paket pembelajaran dari ahli isi sebesar 93,86%, ahli desain sebesar 85,39%, ahli media sebesar 95,48%, uji coba perorangan sebesar 93,33%, uji coba kelompok kecil sebesar 92,57 dan uji coba lapangan sebesar 94,66%. Hasil penilaian ini semuanya berada dalam kualifikasi sangat baik. Terdapat beberapa saran yang dijadikan landasan dalam merevisi produk agar menjadi lebih baik. Peningkatan hasil belajar siswa pada saat pretes dan postest diperoleh sebesar 36,6%. Berdasarkan hasil analisis data uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan berupa bahan ajar budidaya tanaman padi, panduan guru dan panduan siswa layak dan valid sebagai bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran Teknologi Produksi Tanaman Pangan di SMK-PP Negeri Padang, dan mampu meningkatkan pencapaian hasil belajar.

Penerapan perpaduan model pembelajaran kooperatif piture dan picture dengan make a match untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS Ekonomi siswa kelas VIII D SMP Negeri 10 Malang / Yaumi Rahmalita Zain

 

Zain, Yaumi Rahmalita. 2013. Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture and picture Dengan Make a match Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Ekonomi Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 10 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si, (II) Dr. Imam Mukhlis, SE, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, picture and picture, make a match, keaktifan, dan hasil belajar. Observasi awal dalam penelitian ini dilakukan peneliti pada saat awal masuk semester genap tahun ajaran 2012/2013, diketahui pembelajaran IPS Ekonomi di SMP Negeri 10 Malang belum sepenuhnya menggunakan metode kooperatif yang melibatkan siswa secara aktif. Metode pembelajaran yang digunakan masih konvensional. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, guru hanya memberikan beberapa soal yang harus didiskusikan antar teman, sehingga siswa sering merasa bosan karena tidak ada pembaharuan dalam pelaksanaan diskusi. Guru membiarkan siswa pasif, sehingga siswa sulit mengembangkan kecakapan berpikir, kecakapan interpersonal, kecakapan beradaptasi dengan baik. Untuk mengatasi hal ini diperlukan suatu pembelajaran yang tepat, menarik dan menyenangkan yaitu pembelajaran dengan menggunakan perpaduan model picture and picture dengan make a match yang diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII D SMP Negeri 10 Malang dengan jumlah 35 siswa yang terdiri atas 17 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan tahun ajaran 2012/2013. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa keaktifan dan hasil belajar dari ranah kognitif dan afektif yang diambil dari pembelajaran menggunakan penerapan perpaduan model picture and picture dengan make a match. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi, lembar tes, lembar catatan lapangan, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa kelas VIII D. Hal ini ditunjukkan dengan adanya persentase keaktifan siswa yang meningkat sebesar 11,63% dari siklus I sebesar 75% dan pada siklus II sebesar 83,72%. Ketuntasan hasil belajar aspek kognitif juga mengalami peningkatan sebesar 25% dari siklus I sebesar 74,29% dan pada siklus II sebesar 92,86%, sedangkan hasil belajar ranah afektif siswa meningkat sebesar 8,37% dari siklus I sebesar 75% meningkat pada siklus II sebesar 81,28%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture and picture dengan Make a match dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 10 Malang. Oleh karena itu, guru mata pelajaran IPS disarankan menerapkan Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Picture and picture dengan Make a match sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Karakteristik fisik dan uji organoleptik kwetiau subtitusi pati ganyong (Canna edulis) / Eka Wahyu Kurniawati SS

 

Sudarso, Eka W. K. S. 2014. Karakteristik Fisik dan Uji Organoleptik Kwetiau Substitusi Pati Ganyong (Canna edulis). Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes, (II) Dra. Teti Setiawati, M.Pd. Kata kunci: pati ganyong, kwetiau, karakteristik fisik, uji oganoleptik Ganyong adalah umbi yang terdiri dari bagian kulit luar agak keras, bagian daging yang berserat dan bagian kulit berlapis-lapis yang melindungi bagian daging yang berserat. Ganyong dapat dimanfaatkan menjadi pati ganyong. Tujuan substitusi pati ganyong dalam pembuatan kwetiau adalah memanfaatkan pati ganyong sebagai inovasi produk bahan pangan. Kandungan karbohidrat dan mineral makro (kalsium dan fosfor) cukup tinggi pada pati ganyong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan fisik (warna, daya patah, daya putus, dan elastisitas), dan tingkat uji kesukaan kwetiau substitusi pati ganyong. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan satu faktor, yaitu persentase substitusi pati ganyong. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) dengan signifikansi 5%. Hasil penelitian uji fisik warna kecerahan (L*) kwetiau kering dan matang substitusi pati ganyong berbeda nyata pada masing-masing perlakuan. Uji fisik warna kemerahan (a*) kwetiau kering substitusi pati ganyong berbeda nyata pada masing-masing perlakuan. Uji fisik warna kemerahan (a*) kwetiau matang substitusi pati ganyong tidak terdapat perbedaan pada masing-masing perlakuan. Uji fisik warna kekuningan (b*) kwetiau kering dan matang substitusi pati ganyong berbeda nyata pada masing-masing perlakuan. Uji fisik daya patah kwetiau kering substitusi pati ganyong berbeda nyata pada masing-masing perlakuan. Uji fisik daya putus kwetiau matang substitusi pati ganyong berbeda nyata pada substitusi pati ganyong 35% dengan 55%. Uji fisik elastisitas kwetiau matang substitusi pati ganyong berbeda nyata pada masing-masing perlakuan. Perbedaan hasil uji fisik warna, daya patah, daya putus, dan elastisitas dipengaruhi oleh perbedaan jumlah persentase substitusi pati ganyong pada pembuatan kwetiau. Tingkat uji kesukaan warna, aroma, dan tekstur menunjukkan bahwa kwetiau disukai atau tidak disukai oleh panelis. Hasil yang disukai adalah pada kwetiau substitusi pati ganyong 35%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah semakin tinggi persentase pati ganyong pada kwetiau maka warna kecerahan kwetiau semakin rendah, warna kemerahan, kekuningan, daya patah, daya putus, dan elastisitas kwetiau semakin tinggi.

Hubungan tingkat keterlaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dengan ketertarikan menjadi guru bagi mahasiswa calon guru Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang semester gasal 2012/2013 / Lusi Ratna Fitriawati

 

Ratna Fitriawati, Lusi. 2013. Hubungan Tingkat Keterlaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) terhadap Ketertarikan Menjadi Guru bagi Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Semester Gasal 2012/2013. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Drs. Puger Honggowiyono, M.T (II) Drs. Hari Putranto Kata Kunci : Tingkat Keterlaksanaan (PPL), Ketertarikan Menjadi Guru Keterlaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) sangat penting dilaksanakan dengan baik agar mendapatkan suatu pengalaman dan pengetahuan menjadi guru semaksimal mungkin sehingga dapat menimbulkan ketertarikan untuk menjadi guru. Ketertarikan menjadi guru sangat penting agar nantinya dapat menjadi lulusan calon guru yang profesional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap hubungan antara tingkat keterlaksanaan PPL dengan ketertarikan menjadi guru bagi mahasiswa calon guru jurusan teknik elektro FT UM. Metode Penelitian dalam penelitian yaitu menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Sedangkan rancangan yang digunakan adalah deskriptif korelasional yaitu penelitian untuk mengungkap hubungan variabel bebas adalah tingkat keterlaksanaan PPL (X), dengan variabel terikatnya adalah ketertarikan menjadi guru (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro dan Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang yang telah mengikuti PPL pada semester gasal 2012/2013 dengan jumlah 152 mahasiswa. Instrumen penelitian ini berupa angket. Analisis data yang digunakan adalah regresi sederhana Hasil penelitian: (1) Ada hubungan yang signifikan antara variabel tingkat keterlaksanaan PPL (X) dengan variabel ketertarikan menjadi guru (Y) dengan rxy = 0,430 (p= 0,000<0,05) (2) persamaan regresi antara variabel tingkat keterlaksanaan PPL (X) dengan variabel ketertarikan menjadi guru (Y) yaitu Y' = 13,631 + 0,267 X, (3) variabel tingkat keterlaksanaan PPL (X) mahasiswa jurusan Teknik Elektro dalam kategori sangat tinggi yaitu sebesar 78 mahasiswa (51,3%), variabel ketertarikan menjadi guru (Y) dalam kategori tinggi sebesar 87 mahasiswa (57,2%), (4) determinasi (R Square) antara variabel tingkat keterlaksanaan PPL (X) dengan variabel ketertarikan menjadi guru (Y) sebesar 0,185 artinya variabel tingkat keterlaksanaan PPL berpengaruh terhadap ketertarikan menjadi guru mahasiswa calon guru jurusan Teknik Elektro yaitu sebesar 18,5%, sedangkan sisanya sebesar 81,5% dipengaruhi faktor lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara Tingkat Keterlaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dengan ketertarikan menjadi guru bagi mahasiswa calon guru Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dengan kategori indeks sedang, sedangkan pengaruhnya sebesar 18,5 % sedangkan 81,5 % dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini.

Pengembangan pembelajaran peraturan permainan sepakbola 11 dan 12 melalui VCD pada mahasiswa PJK angkatan 2010 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Didib Riwayadi

 

The construction of home in Charlotte Bronte's Jane Eyre / Huda Fitri Amalia

 

Amalia, Huda Fitri. 2013. The Construction of Home in Charlotte Brontë’s Jane Eyre. Skripsi, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sasra, Universitas Negri Malang. Pembimbing: Inayatul Fariha, S.S., M.A. Kata Kunci: Home, Space, Place. Banyak peneliti berpendapat bahwa ruang dan tempat adalah sumber penting dari identitas. Manusia membangun esensi diri dengan cara memberi makna pada tempat, namun makna dan arti bersifat permanen. Makna dan arti selalu dinegoisasikan dan dikonstruksi. Rumah, tempat yang sudah diberi makna, diyakini sebagai simbol dari identitas seseorang karena manusia membentuk identitasnya dari di mana mereka berada.Rumah adalah ruang nyata yang dihidupkan dan menjadi ekspresi dari makna sosial dan identitas. Namun, rumah selalu memiliki arti yang berbeda dan memainkan peran penting untuk tiap individu. Hal tersebut mendorong para peneliti untuk mengevaluasi makna dari rumah karena artinya berbeda pada setiap disiplin ilmu. Novel Jane Eyre menggambarkan peran penting rumah dalam membentuk identitas termasuk keberadaan, nilai, dan harga diri. Kondisi Jane sebagai yatim piatu, miskin, dan wanita membuat pencarian rumah menjadi rumit karena ia tidak memiliki memori, pengalaman, dan keterkaitan dengan suatu tempat. Kondisi Jane tersebut memaksa Jane menjadi korban marginalisasi sehingga membuat pencarian ruang menjadi sangat penting untuk merasa berada di rumah. Jane tinggal di lima rumah dan setiap rumah memberinya kesempatan untuk membentuk identitas dengan mengobservasi setiap rumah dan penghuninya. Sehingga, Jane dapat membangun keterkaitan pada setiap rumah, baik positif dan negatif. Konsep rumah ideal bagi Jane selalu berubah mengikuti alur novel sehingga mendorong ia untuk mengembangkan identitas baik personal maupun sosial. Di novel Jane Eyre, rumah tidak selalu berupa ruang fisik dan bangunan arsitektural. Ruang hanya dapat menjadi tempat dan rumah ketika dihuni dan diberi makna serta fungsi, dimana manusia dapat mejadi dirinya dan berhubungan dengan manusia lain. Selain itu, rumah juga dapat digambarkan melalui metafora, tidak hanya ruang tetap. Hal tersebut disampaikan melalui imajinasi, kreativitas, dan arti symbol ketika Jane memanggil Rochester sebagai ‘rumahku’. Novel ini menekankan bahwa rumah tidak hanya berupa ruang fisik yang membawa memori tertentu untuk setiap penghuninya. Jane Eyre juga menambahkan karakteristik dari rumah ideal sebagai tempat yang membawa kesempatan baru, produktivitas, dan kesetaraan. Selain itu, Jane Eyre juga menekankan bahwa rumah adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia termasuk ‘tunawisma’.

Pengaruh sikap pengetahuan keselamatan kerja dan iklim keselamatan kerja terhadap perilaku keselamatan pada karyawan produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk / Dwi Kusuma Wardani

 

Perilaku keselamatan dalam keselamatan kerja berhubungan langsung dengan perilaku karyawan dalam bekerja demi keselamatan individu sangat berhubungan erat dengan iklim keselamatan kerja dan sikappengetahuan keselamatan kerja, karena dengan keadaan iklim keselamatan kerja ada dalam perusahaan mempengaruhi tingkat kesehatan karyawan dan dengan adanya pengetahuan keselamatan kerja, maka karyawan mampu mengerti dan memahami arti keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sikap pengetahuan keselamatan dengan iklim keselamatan kerja terhadap perilaku keselamatan pada karyawan produksi PT. Semen Indonesia (Persero)Tbk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskripsi korelasional. Subjek penelitian ini sebanyak 44 karyawan pada bagian produksi.Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap pengetahuan keselamatan kerja yang terdiri 22 aitem dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,843, skala iklim keselamatan kerja yang terdiri dari 24 aitem dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,732, dan skala perilaku keselamatan yang terdiri dari 22 aitem dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,861. Data hasil penelitian ini dianalis menggunakan metode regresi linier berganda. Kata Kunci :Sikap Pengetahuan Keselamatan Kerja, Iklim Keselamatan Kerja, Perilaku Keselamatan

Pengembangan paket bimbingan konsep diri siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Ariyojeding Tulungagung / Dian Eko Restino

 

Restino, Dian Eko. 2012. Pengembangan Paket Konsep Diri Diri Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Ariyojeding Tulungagung. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, (II) Dr. Triyono, M.Pd, Konsep diri adalah gambaran diri individu yang berisikan tentang bagaimana individu melihat dirinya sendiri sebagai pribadi, bagaimana individu merasa atas dirinya, serta bagaimana individu menginginkan diri sendiri sebagaimana manusia yang ideal menurut dirinya. Remaja sekolah menengah masih mencari jati diri dan identitasnya. Siswa MTs Negeri Aryojeding cenderung mengikuti kelompoknya, misalnya dalam hal mode pakaian, selera musik, model rambut, alat komunikasi atau handphone dan alat transportasi diikuti sesuai tren meskipun terkesan dipaksakan dan kurang sesuai dengan tingkat ekonomi keluarganya. Konselor MTs Negeri Aryojeding belum memberikan bimbingan terkait dengan konsep diri kepada siswa dan sekolah belum memiliki paket bimbingan konsep diri. Agar siswa dapat mengembangkan konsep diri secara optimal perlu dikembangkan media berupa paket bimbingan konsep diri siswa MTsN Ariyojeding Tulungagung. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan paket bimbingan konsep diri siswa MTs Negeri Aryojeding yang dapat diterima berdasarkan kegunaan, ketepatan dan kemenarikan. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menghasilkan paket bimbingan konsep diri untuk siswa dan panduan paket bimbingan konsep diri untuk konselor berdasarkan tingkat kegunaan, kemenarikan, dan ketepatan menurut para ahli dan calon pengguna produk. Penelitian ini menggunakan model R & D. Desain uji coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif. Subjek uji ahli adalah ahli bimbingan dan konseling, ahli media, dan calon pengguna produk (konselor) MTsN Ariyojeding Tulungagung. Jenis data yaitu kualitatif dan kuantitatif. Instrumen pengumpulan data adalah angket penilaian (skala penilaian dan lembar saran). Teknik analisis data kualitatif menggunakan teknik analisis deskriptif (kategori) dan data kuantitatif menggunakan teknik analisis statistik deskriptif (mean). Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif diperoleh kesimpulan bahwa buku paket bimbingan konsep diri untuk siswa dinilai ahli BK sangat berguna, sangat tepat dan cukup menarik. Penilaian dari ahli media sangat berguna, sangat tepat dan sangat menarik. Penilaian uji calon pengguna produk, yaitu konselor MTsN Ariyojeding sangat berguna, sangat tepat dan sangat menarik. Adapun buku panduan paket bimbingan konsep diri untuk konselor dinilai ahli BK sangat berguna, sangat tepat dan cukup menarik. Penilaian ahli media sangat berguna, sangat tepat dan sangat menarik. Penilaian calon pengguna produk sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik. Saran bagi sekolah diharapkan sekolah memfasilitasi dari segi finansial dan dukungan moral kepada Bimbingan Konseling untuk melaksanakan bimbingan konsep diri ini. Saran bagi konselor dalam kegiatan pemberian model akan lebih optimal konselor memberikan cuplikan film pendek. Saran bagi siswa diharapkan juga untuk mempelajari buku paket bimbingan konsep diri secara mandiri di luar jam tatap muka. Saran bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menjadikan pengembangan paket bimbingan konsep diri ini sebagai dasar untuk menguji efektifitas paket bimbingan konsep diri siswa MTsN Ariyojeding Tulungagung.

Fabrikasi film nanopartikel perak (Ag) melalui proses kopresipitasi dan metode spin coating serta karakterisasi struktur kristal dan konduktivitas / Alif Fitria Chasanah

 

Chasanah, Alif Fitria. 2013. Fabrikasi Film Tipis Nanopartikel Ag Melalui Proses Kopresipitasi dan Metode Spin Coating serta Karakterisasi Struktur dan Konduktivitas. Skripsi. Program Studi Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro M.Si, (2) Nasikhudin, S.Pd, M.Sc. Kata kunci: nanopartikel perak, film, kopresipitasi, spin coating, konduktivitas Nanopartikel logam dengan dimensi sekitar 1-100 nm telah mendapat perhatian luar biasa baik dalam bidang ilmiah dan teknologi karena keunikan dan sifat fisika-kimianya. Nanopartikel logam sangat menarik karena sifatnya yang mudah disintesis dan dimodifikasi secara kimiawi serta dapat diterapkan untuk pembuatan perangkat, khususnya nanopartikel perak karena memiliki sifat yang khas yakni memiliki konduktivitas yang tinggi, stabil secara kimia, dapat berfungsi sebagai katalis, memiliki aktivitas sebagai anti-bakteri dan memiliki stabilitas lingkungan lebih baik dari tembaga. Penelitian ini melaporkan pembuatan dan karakterisasi nanopartikel perak melalui proses kopresipitasi dan film tipis nanopartikel perak melalui metode spin coating. X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), Energy Dispersive X-Ray Analysis (EDAX), dan Electric Four Point Probe digunakan untuk karakterisasi nanopartikel perak dan film tipis. Nanopartikel perak dibentuk oleh perak asetat sebagai senyawa prekursor, phenylhydrazine sebagai pereduksi dan dodecylamine sebagai stabiliser. Struktur kristal yang terbentuk ditunjukkan oleh hasil pola difraksi sinar-X dan SEM. Hasil penelitian ini menunjukkan ukuran butir rata-rata sekitar 22 nm. Puncak-puncak pola difraksi sinar-X yang terbentuk sesuai dengan struktur logam perak face-centered-cubic. Hasil pengukuran melalui Electric Four Point Probe menunjukkan film tipis nanopartikel perak mempunyai sifat konduktif yang tinggi. Konduktivitas film tipis nanopartikel perak dengan laju putar spin coater optimum pada 1600 rpm sebesar 3,88x109 S/cm.

Komparasi model pembelajaran Think-Pair-Share-Share dengan konvensional-ekspositori terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 1 Karangsoko Kabupaten Trenggalek / Wahyu Widodo

 

Kata Kunci: Model pembelajaran Think-Pair-Square-Share, Model Pembelajaran Konvensional-Ekspositori, Hasil belajar, IPS Berdasarkan hasil observasi di SDN 1 Karangsoko Trenggalek, ditemukan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat konvensional dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Pada ulangan harian semester I di kelas VA terdapat 17 dari 20 siswa yang tidak lulus. Sedangkan, di kelas VB terdapat 11 siswa dari 17 siswa yang tidak lulus. Dengan demikian dapat dikatakan model pembelajaran yang diterapkan guru pada mata pelajaran IPS kurang sesuai sehingga mnegakibatkan hasil belajar siswa rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 1 Karangsoko Trenggalek yang menggunakan model pembelajaran Think-Pair-Square-Share; (2) mendeskripsikan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 1 Karangsoko Trenggalek yang menggunakan model pembelajaran konvensional-ekspositori; (3) menjelaskan ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Think-Pair-Square-Share dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional-ekspositori. Rancangan penelitian yang digunakan adalah adalah Quasy Experimental Design dengan bentuk desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN 1 Karangsoko Trenggalek 2012/2013 yang berjumlah 37 siswa. Sedangkan sampel dalam penelitian ini yaitu 20 siswa kelas VA sebagai kelompok eksperimen dan 17 siswa kelas VB sebagai kelompok kontrol. Instumen penelitian yang digunakan adalah RPP dan soal tes. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows dan Microsoft Excel. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh 3 kesimpulan yang terkait dengan rumusan masalah peneliti. Pertama, hasil belajar siswa kelas VA (kelompok eksperimen) mengalami peningkatan dengan rata-rata gain score sebesar 25. Rata-rata nilai pre test sebesar 44,15 dan rata-rata nilai post test sebesar 66,17. Kedua, hasil belajar siswa kelas VB (kelompok kontrol) mengalami peningkatan dengan rata-rata gain score sebesar 17,39. Rata-rata nilai pre test sebesar 37,61 dan rata-rata nilai post test sebesar 55. Ketiga, ada pengaruh yang positif dari penerapan model pembelajaran Think-Pair-Square-Share terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V di SDN 1 Karangsoko Trenggalek. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan uji-t diperoleh hasil thitung adalah 3,294 dan ttabel adalah 2,030 sedangkan signifikansi p (0,02). Hasil ini menunjukkan bahwa thitung > ttabel (3,294 lebih besar dari 2,030) dan p < 0,05 (0,02 lebih kecil dari 0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar: (1) guru dapat menerapkan model pembelajaran Think-Pair-Square-Share sebagai salah satu alternatif dalam menentukan model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa; (2) peneliti lain dapat melanjutkan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Think-Pair-Square-Share pada berbagai jenjang kelas baik pada mata pelajaran IPS maupun yang lainnya dengan memberikan inovasi pada bagian sintaks-sintaksnya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.

Pengembangan paket pembelajaran budidaya tanaman kacang panjang untuk kelas X SMK-PP Negeri Jambi / Hanim

 

Hanim. 2013. Pengembangan Peket Pembelajaran Budidaya Tanaman Kacang panjang Untuk Kelas X SMK- PP Negeri Jambi. Tesis Progam Studi Teknologi Pembelajaran, Progam Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr.H.Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed (2) Dr. Anselmus. JE Toenlioe , M.Pd Kata kunci : Paket Pembelajaran, Pengembangan, Budidaya Tanaman Kacang Panjang. Teknologi pembelajaran memiliki tujuan utama untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah belajar. Pemecahan masalah belajar tersebut amat penting karena terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Peningkatan ini dapat ditempuh dengan mengarahkan kegiatan pembelajaran pada tiga aspek penting yaitu keefektifan, efisien, dan daya tarik. Salah satu peran besar bidang teknologi pembelajaran adalah penyedian sumber-sumber belajar melalui kegiatan pengembangan (development). Sementara itu kondisi di lapangan, khususnya pada Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Negeri Jambi belum tersedia bahan ajar yang benar-benar dirancang khusus untuk pembelajaran siswa SMK-PP Negeri Jambi. Bahan pembelajaran yang ada selama ini hanya berupa buku teks yang judulnya bermacam-macam dan paket satuan keterampilan. Oleh karena itu, dirasakan perlu untuk mengembangkan paket pembelajaran. yang terwujud dalam bentuk bahan ajar yang dilengkapi dengan panduan siswa dan panduan guru. Bahan pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan dalam penelitan ini yaitu mata pelajaran keterampilan dengan satu pokok bahasan budidaya tanaman kacang panjang. Hal tersebut sesuai dengan pelaksanaan program pendidikan pertanian yang mengutamakan pembelajaran keterampilan yang berorientasi agribisnis. Paket pembelajaran ini dalam pengembangannya menggunakan model Dick & Carey. Hasil dari evaluasi tahap pertama dari ahli isi pembelajaran terhadap bahan ajar 92,50%, panduan guru 92,50%, dan panduan siswa 92,50%, rata-rata 92,50%. Ahli media pembelajaran terhadap bahan ajar 99,00%, panduan guru 100, panduan siswa 100, rata- rata 99,98%. Ahli desain pembelajaran terhadap bahan ajar 81,90%, panduan guru 92,50%, dan panduan siswa 80,00%, rata-rata 84,80%. Evaluasi tahap kedua uji perorangan terhadap bahan ajar 96,60% dan panduan siswa 100, rata-rata 98,84%, uji kelompok kecil terhadap bahan ajar 98,84% dan panduan siswa 100, rata-rata 99,24%. Dan evaluasi tahap ketiga atau dari hasil uji lapangan dari guru mata pelajaran terhadap bahan ajar 98,33%, panduan guru 100 dan panduan siswa 100, rata-rata 99,43%. Sedangkan dari siswa terhadap bahan ajar 90,80% dan panduan siswa 95,43%, rata-rata 93,11%. Dapat di simpulkan bahwa paket pembelajaran budidaya tanaman kacang panjang telah memenuhi syarat kriteria kelayakan melalui tahapan penyusunan, analisis dan revisi produk.

Program organisasi Muhammadiyah dalam membangun nilai-nilai toleransi sebagai upaya menghadapi perbedaan faham pada masyarakat di Kabupaten Ponorogo / Nashrul Wahyu Suryawan

 

Manajemen peserta didik pada sekolah multikultural (studi kasus di Sekolah Dasar Katholik Sang Timur Malang) / Dian Ayu Maharani

 

Maharani, Dian Ayu. 2013. Manajemen Peserta Didik Pada Sekolah Multikultural (Studi Kasus di Sekolah Dasar Katholik Sang Timur Malang). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd, (II) Raden Bambang Sumarsono, M.Pd Kata kunci : manajemen peserta didik, multikultural Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk dan sering dikatakan sebagai bangsa yang multikultural ditandai dengan adanya keberagaman dari agama, ras, suku, adat istiadat, dan etnis. Dalam dunia pendidikan saat ini diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Di lembaga pendidikan pemberian dan wujud dari pendidikan multikultral ini diterapkan sejak dini dengan memasukkannya ke dalam manajemen peserta didik. Manajemen peserta didik merupakan layanan yang diberikan sekolah untuk menunjang kegiatan peserta didik mulai masuk sampai peserta didik lulus sekolah baik itu di dalam kelas maupun luar kelas. Pengelolaan pendidikan multikultural sangat penting didapatkan oleh peserta didik sebagai bentuk menyamaratakan penerimaan layanan-layanan pendidikan yang layak bagi semua peserta didik tanpa membedakan satu sama lainnya. Multikultural yang terdapat pada sekolah ini adalah adanya keberagaman agama, etnis, suku, latar belakang pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, dan gender. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini meliputi: (1) perencanaan peserta didik; (2) penerimaan peserta didik baru; (3)orientasi peserta didik baru; (4) pengaturan kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik; (5) sistem pengelompokan peserta didik; (6) evaluasi hasil belajar peserta didik; (7) pengaturan kenaikan tingkat peserta didik; (8) pengorganisasian kegiatan-kegiatan di kelas, keagamaan dan peringatan hari besar keagamaan peserta didik pada sekolah multikultural di SDK Sang Timur Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan teknik trianggulasi sumber. Penelitian ini dalam menganalisis data menggunakan tiga akur, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini meliputi: (1) perencanaan peserta didik meliputi fasilitas fisik sekolah yakni ukuran sekolah, ukuran kelas, daya tampung peserta didik, aktifitas-aktifitas yang dilakukan peserta didik selama sekolah di SDK Sang Timur Malang tanpa membedakan perolehan layanan yang diberikan sekolah kepada peserta didik, dengan tidak memandang keberagaman multikultural yang terdapat di sekolah; (2) penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada sekolah multikultural ini awalnya membentuk panitia PPDB, sistem yang dipakai promosi dan seleksi yang dilakukan oleh kepala sekolah sendiri, hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi keluarga dan fisik peserta didik, sedangkan daya tampung peserta didik yang diterima berjumlahkan 70 peserta didik; (3) orientasi peserta didik baru dilakukan selama tiga hari dan bertujuan untuk mengenalkan kehidupan, fasilitas, dan personal sekolah kepada peserta didik baru; (4) pengaturan kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik direkap dalam buku presensi, dan bagi peserta didik yang terlambat awalnya didata di bagian tata usaha (TU) setelahnya akan diserahkan pada guru yang mengajar di kelasnya, ketidakhadiran peserta didik akan berpengaruh pada pencapaian materi dan berpengaruh pula terhadap nilai yang akan didapat peserta didik; (5) sistem pengelompokan peserta didik baru dilakukan berdasarkan urutan daftar sekolah, sedangkan untuk tingkat selanjutnya pengelompokan akan dilakukan berdasarkan kemampuan akademis peserta didik, hal ini dilakukan secara acak, pengelompokan kecil juga dilakukan di kelas dan disesuaikan dengan mata pelajaran dan situasi kelas itu sendiri; (6) evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan berdasarkan dua hal, yaitu proses dan hasil selama satu semester kegiatan pembelajaran, sedangkan aspek yang dinilai dalam rapor adalah nilai akademiknya, kerapian, sikap, kerajinan dan ketidakhadiran peserta didik, dan evaluasi harian menggunakan buku agenda sebagai media komunikasi antara guru dan orangtua peserta didik; (7) pengaturan kenaikan tingkat peserta didik ditentukan dengan beberapa penentuan standar untuk penilaian terhadap hasil belajar peserta didik seperti nilai ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Sedangkan untuk ketidakhadiran dan perilaku peserta didik jika melebihi batas bisa menyebabkan peserta didik tersebut tinggal kelas; dan (8) pengorganisasian kegiatan peserta didik meliputi kegiatan di kelas, kegiatan keagamaan dan kegiatan peringatan hari besar keagamaan, acuan yang digunakan adalah kalender MPK(Majlis Pendidikan Katholik), jadi apapun kegiatan keagamaan yang dirayakan adalah Agama Katholik saja, sedangkan untuk peringatan hari besar keagamaan lainnya hanya memberikan ucapan selamat dan memberikan libur sesuai kalender MPK dan untuk kegiatan ektrakurikuler tidak ada perbedaan secara khusus peserta didik mengikuti berdasarkan bakat dan minat masing-masing. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, disarankan bagi: (1) Kepala SDK Sang Timur Malang, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam perannya sebagai supervisor pendidikan di sekolah untuk selalu meningkatkan pelayanan kepada peserta didik , khususnya dalam penerapan manajemen peserta didik; (2) bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan bahan tambahan pengetahuan tentang penerapan multikultural dalam pengelolaan peserta didik secara kondusif, agar lebih efisien dan produktif menciptakan situasi belajar yang tepat sesuai dengan perbedaan pada setiap peserta didiknya; (3) komite sekolah, penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan dan pelaksanaan kebijakan sekolah, sehingga tidak adanya peserta didik dan orangtua merasa terbebani dengan aturan-aturan yang ditetapkan sekolah, diharapkan pendidikan di rumah lebih ditingkatkan oleh orangtua sebagai penyeimbang pendidikan yang diberikan di sekolah, (4) peneliti lain, penelitian ini dapat menjadikan sebagai bahan referensi dalam penelitian yang sejenis mengenai manajemen peserta didik ataupun tentang penerapan pendidikan multikultural di sekolah; dan (5) Jurusan Administrasi Pendidikan, penelitian ini digunakan sebagai bahan referensi untuk mengembangkan ilmu manajemen pendidikan khususnya yang berkaitan dengan penerapan pendidikan yang berbasis multikultural.

Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi sistem persamaan linear dua variabel berdasarkan analisis Newman (studi kasus MAN Malang 2 Batu) / Bunga Suci Bintari Rindyana

 

Rindyana, Bunga Suci Bintari. 2013. Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Berdasarkan Analisis Newman (Studi Kasus MAN Malang 2 Batu). Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing Drs. Tjang Daniel Chandra, M. Si, Ph. D Kata kunci: Kesalahan, Soal Cerita Matematika, Analisis Kesalahan Newman Pemecahan masalah dalam matematika sekolah biasanya diwujudkan melalui soal cerita. Dalam penyelesaian soal cerita terlebih dahulu siswa harus dapat memahami isi soal cerita tersebut, setelah itu menarik kesimpulan obyek-obyek yang harus dipecahkan dan memisalkannya dengan simbol-simbol matematika, sampai pada tahap akhir yaitu penyelesaian. Hingga saat ini, keterampilan berpikir dan menyelesaikan soal cerita matematika masih cukup rendah. Metode analisis kesalahan Newman merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis kesalahan penyelesaian soal cerita matematika. Metode ini mempunyai lima tahapan yaitu: (1) membaca masalah (reading), (2) memahami masalah (comprehension), (3) transformasi masalah (transformation), (4) keterampilan proses (process skill),(5) penulisan jawaban akhir (encoding). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif. Pengambilan subyek penelitian ini adalah 30 siswa kelas X MAN Malang 2 Kota Batu tahun ajaran 2012/2013. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang dapat menjawab dengan benar semua soal yang telah diberikan. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa (1) sebanyak 84,4 % siswa melakukan kesalahan pada tahap membaca soal (reading) kesulitan yang dialami siswa adalah tidak dapat memaknai kalimat yang mereka baca dengan baik. (2) Pada tahap memahami masalah (comprehension) sebanyak 87,7 % siswa , kesalahan yang dilakukan siswa meliputi: (a) tidak menuliskan apa yang diketahui, (b) menuliskan yang diketahui tidak sesuai dengan permintaan soal, (c) menuliskan yang ditanyakan tidak sesuai dengan permintaan soal, (d) tidak menuliskan yang ditanyakan dalam soal, (e) tidak mengetahui maksud pertanyaan. (3) Pada tahap transformasi soal sebanyak 46,6 % siswa yang melakukan kesalahan diantaranya yaitu siswa tidak mengetahui metode yang akan digunakan. (4) Tahap ketrampilan proses sebanyak 32,2 % siswa, yaitu kesalahan dalam proses eliminasi subtitusi (5) penulisan jawaban akhir sebanyak 42,2 % siswa, yaitu (a) menuliskan jawaban akhir yang tidak sesuai dengan konteks soal, (b) tidak menuliskan jawaban akhir . Adapun faktor penyebabnya ialah tidak bisa menyusun makna kata yang dipikirkan ke bentuk kalimat matamatika, tidak memahami soal yang diminta, kurang teliti, kurang dapat menangkap informasi masalah yang terkandung dalam soal, lupa, kurang latihan mengerjakan soal-soal bentuk cerita yang bervariasi.

Penerapan media crossword puzzle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Ika Yuni Purwanti

 

Purwanti, Ika Yuni. 2013. Penerapan Media Crossword Puzzle Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV di SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan KSDP Prodi S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Imam Nawawi, M.Si, (II) Dra.Hj. Murtiningsih, M.Pd. Kata Kunci: Crossword Puzzle, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas IVB SDN Sawojajar 6 kota Malang, ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS, yaitu: (1)guru menggunakan metode pembelajaran yang monoton, (2)guru tidak mengembangkan media pembelajaran (3)aktivitas belajar IPS rendah (4)hasil belajar IPS rendah. Salah satu alternatif yang dapat diambil yaitu pembelajaran dengan penerapan media Crossword Puzzle. Penelitian ini bertujuan untuk : (1)mendeskripsikan penerapan media crossword puzzle dalam pembelajaran IPS kelas IVB SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang, dan (2)mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar IPS siswa kelas IVB SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang melalui penerapan media crossword puzzle.(3)mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IVB SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang melalui penerapan media crossword puzzle. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan model siklus Kemmis & Mc. Taggart. Penelitian ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Siklus I dilakukan selama dua kali pertemuan, sedangkan siklus II dilakukan satu kali pertemuan.Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, serta refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVB SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Instrumen yang digunakan yaitu: 1) pedoman observasi, 2) pedoman wawancara, 3) dokumentasi, dan 4) tes. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penerapan media crossword puzzle dapat berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah keberhasilan aktivitas belajar siswa secara klasikal pada siklus I mencapai 70,6%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 88,2%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 67,6%, sedangkan pada siklus II meningkat sebesar 91,2% dari 34 siswa. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan media Crossword Puzzle dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVB SDN Sawojajar 6 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. Dengan demikian diharapkan guru dan sekolah lebih inovatif dalam menggunakan media terutama dalam bentuk permainan agar pembelajaran lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Saran bagi peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan media ini dengan desain dan metode yang bervariasi.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru: studi multi kasus pada SMPK Cor Jesu dan SMPK Mardi Wiyata 2 di Malang / Viengdavong Luangsithideth

 

Viengdavong, Luangsithideth. 2013. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Menumbuhkan Motivasi Berprestasi Guru: Studi Multi Kasus pada SMPK Cor Jesu dan SMPK Mardi Wiyata 2 di Malang. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.H.Kusmintardjo,M.Pd, (II) Prof.Dr.Hj.Nurul Ulfatin, M.Pd. Kata Kunci: kepemimpinan kepala sekolah, motivasi berprestasi. Sumber daya manusia yang handal tidak lepas dari pengaruh pola kepemimpinan yang diterapkan dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan merupakan suatu proses yang mengandung unsur mempengaruhi, adanya kerjasama dan mengarah pada suatu hal dan tujuan bersama dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan kepala sekolah berperan sebagai penggerak segala sumber daya manusia dan sumber daya lain yang ada dalam organisasi sekolah. Penelitian ini bermaksud mengungkap perihal kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru pada SMPK Cor Jesu dan SMPK Mardi Wiyata 2 di Malang. Fokus utama penelitian ini meliputi: (1) karakter kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru di sekolah; (2) pendekatan yang dilakukan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru di sekolah; (3) peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru di sekolah; (4) respons guru terhadap kepala sekolah; dan (5) prestasi guru yang berhasil ditumbuhkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus, dimana peneliti berusaha memahami makna peristiwa serta interaksi orang dalam situasi pada saat penelitian sehingga peneliti dapat memahami konsep-konsep dan pandangan-pandangan, pada pelaksanaan pemberian motivasi berprestasi dari kepala sekolah kepada guru yang terdapat pada dua sekolah yang memiliki karakteristik yang berbeda. Teknik pengumpulan data meliputi: (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipan, dan (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsir, dan analisis secara mendalam, baik melalui analisis dalam kasus maupun lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Kredibilitas data dicek dengan prosedur triangulasi, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat. Sedangkan dependabilitas dan konfirmabilitas dilakukan kepada para pembimbing sebagai dependent auditor. Temuan penelitian secara keseluruhan adalah sebagai berikut, pertama, karakter kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru adalah: a) dipengaruhi oleh budaya dan latar belakang pendidikan kepala sekolah; b) dipengaruhi oleh kondisi dan warga sekolah tempat kepala sekolah bekerja; c) mengedepankan ketrampilan konseptual (conceptual skill); d) mengedepankan ketrampilan manusiawi (human skill); e) menggunakan ketrampilan teknik (technical skill). Kedua, pendekatan yang dilakukan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru adalah: a) melalui pendekatan self-explorer dan human relation-explorer untuk memotivasi guru menuju kompetitif professional; b) mengedepankan adanya komunikasi yang baik antara kepala sekolah dengan guru; dan c) menyesuaikan dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah. Ketiga, peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru di sekolah adalah dengan mengedepankan: a) orientasi pada tugas (task-oriented leadership) melalui strukturisasi proses memotivasi; b) orientasi pada memelihara kelompok (relationship-oriented) melalui harmonisasi hubungan kepala sekolah dengan guru. Keempat, respons guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan motivasi berprestasi guru di sekolah adalah: a) mengedepankan sikap kedewasaan guru, yaitu dengan menerima dengan sepenuh hati semua cara kepala sekolah; b) mengedepankan realisasi keseimbangan antara tugas dan kewajiban dengan penghargaan (reward) dan sarana prasarana yang memadahi. Kelima, prestasi guru yang berhasil ditumbuhkan dari kepemimpinan kepala sekolah meliputi: a) keberhasilan kompetisi pada kegiatan akademis, bagi kepala sekolah yang berorientasi pada mata pelajaran (subject-oriented), dan b) keberhasilan kompetisi pada kegiatan ekstrakurikuler, bagi kepala sekolah yang berorientasi pada minat dan bakat siswa (skill-oriented). Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan saran sebagai berikut: 1) bagi kementrian pendidikan dan olahraga negara Laos: (a) dapat membuat kebijakan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, (b) program pelatihan kepemimpinan bagi para kepala sekolah di Laos untuk bekerja sesuai dengan fungsi dan kapasitasnya baik sebagai pendidik maupun pemimpin sekolah; 2) bagi para kepala sekolah: (a) hendaknya mencermati semua potensi yang dimiliki oleh guru untuk dikembangkan menuju ke arah prestasi yang kompetitif, (b) hendaknya guru dimotivasi dengan menggunakan pendekatan yang relevan dengan budaya sekolah, (c) perlu adanya kekonsistenan antara keberhasilan guru berprestasi dengan janji penghargaan (reward) yang diterima oleh guru, (d) perlu dipenuhinya sarana dan prasarana pendukung disekolah yang menunjang guru untuk menambah wawasan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya; 3) bagi para guru: (a) hendaknya mau mengembangkan potensi yang dimilikinya ke arah prestasi yang kompetitif, (b) berani mengemukakan ide-ide inovatif kepada kepala sekolah yang berkenaan dengan kegiatan akademis maupun non akademis, (c) lebih gemar membaca buku yang mendukung pengembangan potensi yang dimilikinya, (d) berani mengikuti lomba-lomba yang relevan dengan potensi yang dimilikinya; 4) bagi para ahli pendidikan, hendaknya terus mencari formulasi pengelolaan pemberian motivasi yang sesuai dengan potensi dan kondisi para guru sehingga dapat dilakukan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia; 5) bagi peneliti lain, dapat mengembangkan dan menggali lebih dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan “Pengaruh Budaya Sekolah dalam Menumbuhkan Motivasi Guru Berprestasi”.

Keefektifan "virtual laboratory dan real laboratory" dalam pembelajaran kimia dengan pendekatan inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa sekolah menengah kejuruan dengan gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik / Moeliawan Kresnanto

 

Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada standar kompetensi membuka usaha ritel (studi pada siswa kelas X TPM 2 SMK Ahmad Yani Jabung) / Dwi Ayuanita Laksmi

 

Kata kunci : Model Team Assisted Individualization, Hasil belajar Berdasarkan hasil observasi khususnya pada siswa kelas X TPM 2, dalam pelaksanaannya standar kompetensi Membuka Usaha Ritel, diperoleh gambaran bahwa metode ceramah memang masih dominan dilakukan di kelas. Guru juga sering menggunakan variasi dalam pembelajaran, seperti menggunakan model pembelajaran kooperatif tetapi dalam penerapannya masih kurang maksimal, sehingga banyak siswa yang kurang aktif dalam mengungkapkan pendapat. Dalam hal ini peneliti dituntut untuk memaksimalkan penerapan model pembelajaran yang digunakan sehingga nantinya dapat diperoleh hasil yang memuaskan. Hal tersebut berakibat pada rendahnya hasil belajar, dimana dari 27 siswa terdapat 24 siswa belum tuntas belajar, sedangkan 3 siswa lainnya tuntas belajar. Hal ini dapat terlihat dari nilai rata-rata kelas standar kompetensi membuka usaha ritel adalah 61,41 yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) membuka usaha ritel yaitu 75, dengan ketuntasan belajar klasikal siswa sebesar 11,1%. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model Team Assisted Individualization dan hasil belajar pada standar kompetensi Membuka Usaha Ritel, subyek penelitiannya adalah siswa kelas X program keahlian Tata Niaga Pemasaran SMK Ahmad Yani Jabung sebanyak 27 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan observer, model Team Assisted Individualization berhasil diterapkan karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar ranah kognitif, yang sebelumnya rendah dimana nilai rata-rata kelas 61,41 dengan terdapat 24 siswa yang tidak tuntas belajar, kemudian setelah penerapan model Team Assisted Individualization nilai rata-rata kelas meningkat pada siklus I sebesar 72,30, dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 14 siswa dan siklus II bertambah naik menjadi 78,85 dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 24 siswa. Sedangkan pada ranah afektif juga mengalami peningkatan sebesar 13,14 yaitu dari siklus I sebesar 67,47 dan pada siklus II meningkat sebesar 80,61. Kesimpulan (1) Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization pada standar kompetensi Membuka Usaha Ritel di kelas X TPM 2 SMK Ahmad Yani Jabung berjalan dengan lancar dan penerapannya sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun (2) Penerapan model Team Assisted Individualization dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada standar kompetensi Membuka Usaha Ritel kelas X TPM 2 SMK Ahmad Yani Jabung (3) Siswa belum terbiasa dengan menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization, solusinya guru berusaha menjelaskan tahapan model Team Assisted Individualization dengan semenarik mungkin (4) Perbedaan hasil belajar antara siswa laki-laki dan perempuan hasil yang didapat oleh peneliti hasil perbedaannya tidak terlalu signifikan. Rata-rata nilai yang diperoleh tidak terpaut jauh misalnya saja pada post test siklus II dapat diketahui skor untuk rata-rata nilai yang diperoleh oleh siswa laki-laki yaitu sebesar 76,54 sedangkan siswa perempuan mendapat rata-rata nilai sebesar 75,36. Saran yang dapat diberikan peneliti berikan (1) Bagi guru, dapat menerapkan model Team Assisted Individualization sebagai salah satu alternatif pilihan model pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada standar kompetensi Membuka Usaha Ritel serta pada standar kompetensi lainnya, sehingga tercipta pembelajaran yang variatif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatan hasil belajar siswa (2) Bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan kegiatan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization, bukan hanya pada standar kompetensi Membuka Usaha ritel, tetapi juga pada standar kompetensi atau mata pelajaran lain yang sesuai.

Pengaruh CAR, NPL dan BOPO terhadap volume penyaluran kredit pada bank yang listing di Bursa Efek Indonesia (periode 2009-2011) / Indi Asih Lestari

 

Kata Kunci : Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loans (NPL), Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Volume Penyaluran Kredit Perbankan adalah lembaga keuangan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi atau sebagai perantara keuangan. Bank menerima dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan (tabungan, giro dan deposito) dan menyalurkan kembali dananya dalam bentuk kredit agar diperoleh bunga sebagai tambahan modal bank.Perkembangan penyaluran kredit mengalami fluktuasi dari tahun ketahun. Maka perlu dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui faktor apakah yang mempengaruhi fluktuasi volume penyaluran kredit.Faktor yang mempengaruhi penyaluran kredit ini berupa faktor yang berasal darikondisi internal bank maka peneliti mengambil dari aspek permodalan diproyeksikan dengancapital adequacy ratio(CAR), aspek kolektibilitas berupanon performing loans(NPL), dan aspek profitabilitas yaitu beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris apakah ada pengaruh antaracapital adequacy ratio(CAR), non performing loans(NPL), beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) terhadap volume penyaluran kredit. Penelitian ini menggunakan bank yang listing di BEI sebagai objek penelitian, dengan periode penelitian selama tahun 2009-2011. Berdasarkan tujuan penelitian maka populasi dalam penelitian ini sebesar 86 perusahaan perbankan yang listing selama tahun 2009-2011. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling sehingga diperoleh sampel penelitian berjumlah 45 perusahaan perbankan. Hasil penelitian yang diperoleh ialah secara parsial tidak terdapat pengaruh antara CAR dan NPL dengan volume penyaluran kredit karena nilai sig. 0,203 > 0,05, dan nilai sig. 0,828 > 0,05. Sementara variabel BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap volume penyaluran kredit perbankan dengan tingkat sig. 0,000 < 0,05. Sedangkan pengujian secara simultan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa CAR, NPL dan BOPO berpengaruh signifikan, dengan tingkat signifikansi 0,002<0,05.Saran untuk penelitian selanjutnya adalah menambah rentang waktu periode penelitian, menambah rasio penelitian, agar diperoleh hasil yang maksimal. Berdasarkan saran yang telah disebutkan di atas, diharapkan penelitian selanjutnya dapat memberikan hasil yang lebih baik dan bermanfaat.

Pengaruh pemanfaatan internet sebagai fasilitas belajar dan motivasi yang ditimbulkannya terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran IPS terpadu kelas VIII SMPN 2 Malang / Dwi Ratna Banuwati

 

Kata Kunci:pemanfaatan internet, motivasi, prestasi Prestasi bisa dipengaruhi oleh berbagai hal positif yang ada di sekitar siswa, salah satunya adalah motivasi dan fasilitas belajar yang disediakan baik di rumah maupun di sekolah. Dalam penelitian ini fasilitas belajar yang dimaksud adalah internet dan motivasinya adalah motivasi yang ditimbulkan oleh internet tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis beberapa hal dengan menggunakan analisis jalur, yaitu: bagaimana pemanfaatan internet, motivasi yang ditimbulkan oleh internet, prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu, pengaruh pemanfaatan internet terhadap motivasi siswa, pengaruh motivasi yang ditimbulkan oleh internet terhadap prestasi. Karena dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur, jadi cara meregresnya adalah per jalur. Yaitu, internet terhadap motivasi, motivasi terhadap prestasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMPN 2 Malang tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 352 siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dengan dua variabel bebas, yaitu pemanfaatan internet sebagai fasilitas belajar dan motivasi yang ditimbulkannya, serta satu variabel terikat, yaitu prestasi. Teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: pemanfaatan internet sebagai fasilitas belajar di SMPN 2 Malang masih dalam kategori kadang-kadang siswa kelas VIII memanfaatkannya pada mata pelajaran IPS Terpadu dengan rentangan waktu 5 – 10 jam dalam 1 minggu, siswa tergolong setuju terhadap motivasi yang ditimbulkan oleh internet dalam hal ini adalah motivasi dalam belajar IPS yang dibantu dengan fasilitas belajar berupa internet, berdasarkan data nilai rata-rata siswa diperoleh hasil prestasi siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu adalah baik.  

Hubungan sumber belajar dan efikasi diri dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Malang / Muhammad Rudy Hermawan

 

Hubungan Sumber Belajar dan Efikasi Diri Dengan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VIII SMPN 3 Malang

Pengembangan pembelajaran renang 1 (gaya bebas) menggunakan video pembelajaran bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Satya Kuncoro

 

Kuncoro, Satya. 2013. Pengembangan Pembelajaran Renang 1 (Gaya Bebas) Menggunakan Video Pembelajaran Bagi Mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mardianto, M.Kes, (II) Dra. Sulistyorini, M.Pd. Kata Kunci: pembelajaran, renang, dan video pembelajaran.     Berenang merupakan salah satu jenis matakuliah di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan dosen pendidikan jasmani pada tanggal 29 Agustus 2012, diperoleh hasil: metode pembelajaran yang diberikan selama perkuliahan renang adalah Part and Whole serta metode latihan, selama ini belum ada media pembelajaran berupa video pembelajaran matakuliah renang 1 (satu), perlu dikembangkan video pembelajaran sebagai variasi pembelajaran. Sedangkan pada penelitian awal melalui penyebaran angket analisis kebutuhan (need assessment) kepada 21 mahasiswa yang dilaksanakan pada tanggal 29 Agustus 2012 mendapatkan hasil: 10 mahasiswa setuju, 10 mahasiswa sangat setuju dan 1 mahasiswa tidak setuju jika dikembangkan pembelajaran renang 1 menggunakan video.     Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan pembelajaran renang 1 (gaya bebas) menggunakan video pembelajaran bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Penelitian yang dilaksanakan Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang ini termasuk penelitian dan pengembangan (research and development).     Dalam penelitian pengembangan ini, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket serta menggunakan metode pengembangan dari Borg dan Gall (1983) yang telah dimodifikasi oleh peneliti, yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) pembuatan produk awal, (3) evaluasi ahli beserta revisi ahli, (4) uji kelompok kecil, (5) revisi I, (6) uji kelompok besar, (7) Revisi II dan hasil pengembangan.     Penelitian ini mengahasilkan produk berupa video pembelajaran renang gaya bebas dan buku panduan video pembelajaran renang gaya bebas dengan spesifikasi produk yang didalamnya berisi tentang pengenalan air, latihan meluncur, latihan gerakan kaki, latihan pernapasan, latihan koordinasi kaki dengan napas, latihan rotasi tangan, latihan koordinasi napas-tangan, dan renang lengkap.     Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah video pembelajaran renang gaya bebas sangat diperlukan untuk mempermudah mahasiswa khususnya Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan untuk belajar berenang gaya bebas. Dan sebaiknya, penelitian ini dikembangkan pada gaya renang yang lain.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share dengan media scramble card untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata diklat K3LH (studi pada siswa kelas X Ak 2 SMK Islam Batu) / Ainun Nisa'

 

Perbedaan kekerasan baja ST 60 yang didinginkan secara langsung dan bertingkat dengan media pendingin oli / Sugeng Riyadi

 

Riyadi, Sugeng. 2013. Perbedaan Kekerasan Baja St 60 yang Didinginkan Secara Langsung dan Bertingkat dengan Media Pendingin Oli. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.Wahono, S.ST., M.Pd., (II) Drs. Djonni Bangun, M.Pd. Kata Kunci: kekerasan, baja st 60, quenching, variasi temperatur Tuntutan akan optimasi efisiensi penggunaan material, mengharuskan pemenuhan akan kebutuhan material dengan berbagai bentuk, kekuatan dan kekerasan. Baja merupakan salah satu material yang mampu memenuhi sebagian dari kebutuhan manufaktur yang sifatnya dapat direkayasa sesuai dengan kemampuan dari baja tersebut. Aplikasi pemakaiannya, semua struktur logam akan terkena pengaruh gaya luar berupa tegangan-tegangan geser dan gaya gesek sehingga menimbulkan deformasi atau perubahan bentuk, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sifat baja tersebut dengan cara meningkatkan kekerasan menggunakan metode pengerasan quenching yang sudah cukup lama dikenal dalam teknologi material. Berkaitan dengan upaya tersebut maka perlu kiranya diadakan penelitian tentang perbedaan kekerasan baja St 60 yang didinginkan secara langsung dan bertingkat dengan media pendingin oli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) nilai kekerasan baja St 60 yang diquenching secara langsung dengan media pendingin Oli Mesran SAE 40. (2) nilai kekerasan baja St 60 yang diquenching secara bertingkat dengan media pendingin Oli Mesran SAE 40. (3) perbedaan pendinginan secara langsung dan bertingkat terhadap kekerasan hasil quenching media pendingin Oli Mesran SAE 40 pada baja St 60. Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Penelitian ini dimulai dari mempersiapkan spesimen yang berupa baja St 60. Setelah itu diberikan perlakuan panas pada temperatur 830°C, selanjutnya dilakukan proses quenching secara langsung pada oli dengan suhu ruang, untuk proses quenching bertingkat menggunakan oli yang dipanaskan dengan suhu 200°C, 100°C dan suhu ruang kemudian dilakukan uji kekerasan dengan menggunakan Mikro Vikers. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan independen sample t test. Analisis statistik tersebut digunakan untuk menguji hipotesis. Objek penelitian ini adalah baja St 60 yang kemudian diberi perlakuan hardening dengan metode pendinginan yang berbeda. Hasil pengujian spesimen pada penelitian ini nilai kekerasan rata-rata baja St 60 yang mengalami proses pendinginan langsung pada media pendingin oli dengan suhu ruang mencapai 363.3 HV, sedangkan yang mengalami proses pendinginan bertingkat pada temperatur media pendingin oli 200°C, 100°C dan suhu ruang sebesar 297.0 HV. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai kekerasan baja St 60 sebelum mengalami perlakuan yang mempunyai nilai 239.6 HV. Tingkat kekerasan baja St 60 meningkat dikarenakan kecepatan laju pendinginan akan menjadikan terperangkapnya karbon dalam baja semakin banyak atau maksimal.

Implementasi pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang / Rizka Mabruri Dwitama

 

Dwitama, Rizka M. 2013. Implementasi Pelaksanaan Manajemen Bengkel Pemesinan Di Smk Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M, (II) Drs. Basuki, M.Pd. Kata Kunci: Manajemen Bengkel, Bengkel Pemesinan, SMK Bengkel Pemesinan di Sekolah Menengah Kejuruan merupakan media pembelajaran yang menunjang pemikiran kreatif melalui pengalaman dalam bentuk keterampilan, pemahaman, wawasan dalam pendidikan, pengajaran dan mendidik calon lulusan Sekolah Kejuruan menjadi manusia yang terampil dan siap kerja dengan standart nasional maupun internasional serta dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang yang ditinjau dari segi perencanaan, pengorganisasian, pemberdayaan, pengawasan. Selain itu juga untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan manajemen bengkel tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Tahapan pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumentasi sarana dan prasarana, dan observasi. Subjek penelitian ini adalah bengkel pemesinan SMK Negeri 6 Malang, Kepala Sekolah, Ketua Kompetensi Keahlian Pemesinan, Guru Pemesinan, Toolman/laboran, Siswa SMK Negeri 6 Malang. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Kemudian untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan melakukan pengamatan ulang dan melakukan triangulasi. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang di tinjau dari segi perencanaan kegiatan di bengkel dilakukan dengan merencanakan jadwal kegiatan praktik menurut kurikulum kemudian ketua kompetensi keahlian dengan semua guru pemesinan dan toolman merapatkan menentukan 3 hal yaitu guru yang mengisi kegiatan praktik, kebutuhan peralatan dan mesin untuk praktik dan kebutuhan bahan untuk praktik. Untuk Pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang di tinjau dari segi pengorganisasiannya dilakukan dengan mengatur ruangan di bengkel pemesinan berdasarkan kegiatannya, inventaris peralatan/mesin diletakkan diruang khusus peralatan dan mesin, bahan praktik diletakkan diruang bahan, barang hasil praktik disimpan di lemari barang hasil praktik. Pengaturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di bengkel dilakukan dengan memberi rambu peringatan dan rambu tata tertib di tiap ruangan bengkel pemesinan, selain itu juga menyediakan alat pengaman diri bagi siswa. Pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang di tinjau dari segi pemberdayaan dilaksanakan dengan memberdayaan siswa dengan memberi pengetahuan pemesinan mulai dasar sampai tingkat lanjut dan untuk memberdayakan guru/toolman diikutkan pelatihan di PPPPTK/VEDC, BPG surabaya, magang industri dan In House Training. Sedangkan untuk pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang di tinjau dari segi pe- ngawasan dilakukan dengan menempatkan 2 orang guru dalam 1 kelas kegiatan praktik, melakukan penilaian dengan sistim terbuka dan sistim proses, mengecek kondisi alat, bahan dan barang hasil praktik agar tetap dalam kondisi baik, mem- beri pengarahan kepada siswa untuk menjaga diri dan selalu memakai alat pe- ngaman diri saat praktik agar tidak terjadi kecelakaan kerja, memasang rambu/ tanda peringatan di tempat yang rawan/berbahaya, memasang poster himbauan dan motivasi. Beberapa faktor pendukung pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang yaitu beberapa guru pemesinan yang berkompeten mempunyai sertifikat keahlian kompetensi yang diperoleh dari PPPPTK VEDC Malang, mendapat bantuan dari pusat berupa mesin CNC tingkat lanjut (Production Unit), bahan/material praktik yang disediakan pihak sekolah selalu siap untuk memenuhi kebutuhan kegiatan praktik. Beberapa faktor penghambat- nya yaitu beberapa siswa saat praktik mesin konvensional tidak memakai kaca mata pelindung/safety karena peralatan kacamata safety tidak disediakan di bengkel, kondisi sebagian mesin bubut konvensional yang sudah tak layak pakai, ruang gudang material yang tidak terkunci, kelas X jurusan teknik pemesinan tidak memakai katle pack saat praktik, beberapa guru tidak memakai katle pack saat mengajar praktik. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pelaksanaan manajemen bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang ditinjau dari perencanaan berjalan baik, dari segi pengorganisasian terlaksana dengan lancar, dari segi pemberdayaan ter- laksana dengan baik, dan dari segi pengawasan berjalan terkendali. Saran dalam penelitian ini yaitu untuk kepala sekolah agar memantau langsung kegiatan perencanaan kegiatan praktik, peralatan/mesin, bahan, dan pengawasannya. Untuk guru agar meningkatkan pengetahuannya dalam merenca- nakan kegiatan praktik dan pengawasan kegiatan serta peralatan. Toolmen juga disarankan untuk melakukan kegiatan pengorganisasian peralatan dan pengawasan dengan baik. Semua hal itu dilakukan agar kondisi bengkel pemesinan di SMK Negeri 6 Malang tetap dalam kondisi baik sehingga layanan yang diberikan pada siswa dalam kondisi prima.

Perubahan perilaku pengunjung di kompleks makam Troloyo (makam Sayyid Jumadil Kubro) Desa Sentonorejo tahun 1958-2012 serta kontribusinya terhadap pendidikan sejarah lokal / Nur Halimah

 

Analisis teks Buku Sekolah Elektronik (BSE) geografi kelas X SMA terbitan Depdiknas pada materi litosfer dan pedosfer / Puput Cahyaningtias

 

Cahyaningtias, Puput. 2013. Analisis Teks Buku Sekolah Elektronik (BSE) Geografi Kelas X SMA Terbitan Depdiknas pada Materi Litosfer dan Pedosfer. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd, (II) Drs. J.P. Buranda, M.Si. Kata Kunci: analisis BSE, litosfer danpedosfer, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, kesesuaian fungsi media Buku teks berperan penting bagi guru maupun siswa dalam pembelajaran. BSE adalah salah satu buku teks yang beredar di masyarakat yang hak ciptanya telah dibeli oleh Mendiknas. BSE Kelas X yang banyak digunakan di SMA Negeri di Kota Malang merupakan karanganEndarto, dkk. Kualitas BSE telah dinilai oleh BSNP. Namun, BSE tersebutternyata masih mengandung banyak kesalahan terkait penyajiannya.Oleh karena itu, perlu adanya analisis lebih lanjut untuk mengaji kekurangan dan kelebihan dari BSE. Penelitian ini bertujuan untuk mengaji kebenaran konsep, bahasa, dan kesesuaian fungsi media yang terdapat dalam BSE karangan Endarto, dkk.pada materi litosfer dan pedosfer.Dengan demikian, kualitas BSE yang dianalisis dapat diketahui. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitiancontent analysis, yaitu penelitian yang ditujukan untuk menganalisis dokumen resmi atau aktual yaitu dokumen yang validitas dan keabsahannya diragukan. Data penelitian ini berupa jumlah konsep dan tata bahasa yang salah, serta media yang tidak berfungsi. Data dikumpulkan menggunakan instrumen berupa pedoman analisis. Data tersebut kemudian dianalisis dengan mencocokkannya dengan rubrik penilaian teks. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: pertama, kesalahan konsep dibagi menjadi 2, yaitu: terdapat 10 konsep terdefinisi yang salah dari 30 konsep yang ada dan60 konsep konkretyang salah dari 67 konsep yang ada pada BSE; kedua, kesalahan bahasa meliputi: 153 penggunaan tanda baca, 104 penggunaan kosakata, 161 penulisan kalimat, dan 21 penulisan paragraf; ketiga, sebagian besar media berfungsi sebagai pemantapan pemahaman. Terdapat 6 gambar yang tidak berfungsi dan 24 gambar yang berfungsi dari 30 media. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diajukan saran kepada: 1) guru, harus mengaji buku teks geografi dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai; 2) penulis buku, perlu merevisi BSE yang ditulis dan lebih teliti dalam menyajikan konsep; 3) Pusat Perbukuan Depdiknas, penilaian kualitas buku harus lebih ketat dan objektif.

Strategi manajemen moving class dalam peningkatan mutu pendidikan (studi kasus di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang) / Ralaivao Hanginiaina Emynorane

 

Emynorane, Ralaivao Hanginiaina. 2014. Strategi Manajemen Moving Class dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Studi Kasus pada PAUD Terpadu Anak Saleh, di Kota Malang. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, (II) Dr. Kusmintardjo, M.Pd. Kata Kunci: strategi, manajemen, moving class, mutu pendidikan.    Moving class adalah bentuk pembelajaran yang merupakan bagian dari Manajemen Kelas. Namun dalam pelaksanaanya moving class sangatlah luas cakupannya karena sangat berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran, pengelolaan kelas serta strategi pembelajaran dan pengelolaan alat. Pengelolaan iklim menyangkut pengelolaan manuasianya (human), sedangkan pengelolaan alat menyangkut sarana dan prasarana (tools). Moving class, kasusnya pendidikan di PAUD, merupakan sistem belajar mengajar yang mencirikan kelas berkarakter tematik, dengan demikian peserta didik akan berpindah kelas sentra dengan jadwal tema yang telah ditentukan. Konsep moving class mengacu pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan memberikan lingkungan yang dinamis sesuai dengan yang dipelajarinya.    Fokus penelitian ini meliputi: (1) strategi yang digunakan dalam pengelolaan moving class untuk meningkatkan kualitas pendidikan di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang; (2) kendala yang dialami PAUD Terpadu Anak Saleh Malang dalam penerapan sistem pembelajaran moving class; (3) faktor pendukung sistem pembelajaran moving class di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang.    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus, dimana peneliti berusaha mengetahui kebijakan serta proses pembelajaran dalam situasi pada saat penelitian sehingga peneliti dapat memahami strategi-strategi pengelolaan moving class dalam peningkatan mutu pendidikan pada PAUD Terpadu Anak Saleh Malang.    Teknik pengumpulan data meliputi: (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipan, dan (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsir, dan analisis secara mendalam, baik melalui analisis dalam kasus maupun lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Kredibilitas data dicek dengan prosedur triangulasi, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat, dan pengecekan kecukupan referensi. Sedangkan dependabilitas dan konfirmabilitas dilakukan depada para pembimbing sebagai dependent auditor.    Temuan penelitian secara keseluruhan adalah sebagai berikut, pertama, strategi yang digunakan dalam pengelolaan moving class untuk meningkatkan kualitas pendidikan di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang: (a) Adanya peniyapan media pembelajaran yang releven dengan sistem pembelajaran moving class pada awal tahun pembelajaran; (b) Adanya pembinaan guru oleh kepala sekolah pada awal tahun pembelajaran; (c) Adanya pemberian orientasi kepada murid-murid pada awal tahun pembelajaran; (d) Kepala sekolah mengkondisikan guru untuk selalu membimbing dan melatih peserta didik mengenali kelas sentra dan guru sentra. Kedua, Kendala yang dialami PAUD Terpadu Anak Saleh Malang dalam penerapan sistem pembelajaran moving class: (a) diperlukan adanya waktu untuk melatih dan adaptasi bagi anak-anak dalam persiapan mengikuti pelajaran; (b) diperlukan update fasilitas yang dapat mendukung kebutuhan anak-anak; (c) diperlukan perhatian dari guru dalam pelaksanaan tugas mengajar; (d) adanya tumpang tindih kegiatan dari luar sekolah sehingga terkadang mengganggu tanggung jawab guru terhadap tugas pokoknya mengajar di sekolah. Dan ketiga, Faktor pendukung sistem pembelajaran moving class di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang: (a) pentingnya mempunyai guru-guru yang berkualifikasi dan mampu; (b) pentingnya kecukupan fasilitas dan alat yang sesuai dengan kebutuhan siswa; (c) mengajar anak-anak untuk saling interaksi atau bergabung; (d) pemberian latihan dalam seminar/workshop pada guru; dan (e) pembuatan perencanaan pembelajaran yang matang.    Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan saran sebagai berikut: Bagi ketua Yayasan pendidikan di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang, antara lain: a) tetap mempertahankan evaluasi harian dan mingguan terhadap semua kegiatan belajar mengajar sehingga hasil pendidikan semakin berkualiti; b) diperkuatkan hubungan dengan para guru sentra dan para orang tua murid sehingga adanya kerjasama yang dekat dalam mengontrol studi anak-anak; dan c) mempromosikan keberadaan PAUD Terpadu Anak Saleh Malang, sehingga lebih dikenal lagi di masyarakat luas.    Bagi para guru di PAUD Terpadu Anak Saleh Malang, antara lain: a) Untuk meningkatkan kemampuannya dan mementingkan persiapan diri sebelum mengajar sehingga terlihat lebih profesional; b) ikut berperan aktif dalam mempromosikan keberadaan PAUD Terpadu Anak Saleh Malang, sehingga lebih dikenal di masyarakat luas; dan c) Menjadi sumber motivasi terhdap murid-murid dalam kegiatan belajar mengajar. Bagi penelitian lain yang berminat terhadap topik penelitian ini, kiranya dapat mengembangkan dan menggali lebih dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan “Strategi Manajemen Moving Class dalam Peningkatan Mutu Pendidikan”, sehingga dapat membantu sekolah-sekolah yang lain untuk melaksanakan sistem pembelajaran moving class ini juga.

Penerapan pendidikan politik di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'in Asrama Putra Sunan Gunung Jati Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Samsul Arifin

 

Pola asuh orangtua dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang / Heni Anggraeni Vinariesta

 

Kata Kunci : pola asuh orang tua, perkembangan penalaran moral anak Pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orangtua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. orangtua mempunyai tanggungjawab yang besar dalam mengasuh anaknya. Orang tua merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan moral anak. Orang tua sangat mengharapkan anaknya dapat bertindak dengan menggunakan penalaran moral. Maksudnya bahwa dalam melakukan tindakan seorang anak dapat berfikir bahwa suatu keputusan yang di ambilnya itu baik atau buruk. Manusia sadar akan adanya moral untuk berbuat baik, baik yang secara langsung untuk dirinya sendiri ataupun tidak berdampak pada manusia lain. Kesadaran ini dikarenakan rasio yang dimiliki oleh manusia sehingga manusia mampu berfikir secara bebas. Kesadaran ini tidak diperoleh secara langsung, namun melalui pengalaman atas hati nurani. Perbuatan baik juga sekaligus etis, karena pada dasarnya suara hati yang rasional menuntun manusia untuk tahu secara sadar dan mau secara bebas. Penalaran moral lebih menitik beratkan pada alasan mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, bukan arti suatu tindakan , sehingga tindakat tersebut dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk. Dengan demikian, sesuatu akan dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial budaya tertentu, sehingga sifatnya akan sangat relatif, hal tersebut jika penalaran dilihat sebagai isi. Tetapi jika penalaran moral dilihat dari struktur, maka terdapat perbedaan antara penalaran moral seorang anak dengan penalaran moral orang dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) pola asuh orang tua di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, (2) penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, (3) faktor penghambat dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, (4) upaya mengatasi kendala yang dihadapi dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Mengingat penelitian ini untuk menggambarkan dan menjelaskan serta untuk memperoleh keaslian dan kealamian data mengenai pola asuh orang tua dalam perkembangan penalaran moral anak. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pola asuh orang tua yang ada di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang antara lain: pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif, dan pola asuh permisif. Penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang antara lain: orientasi terhadap hukuman dan kepatuhan, orientasi terhadap pemuas kebutuhan, orientasi hukum dan ketertiban, (3) Faktor-faktor penghambat dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang antara lain: anak kurang bisa membagi waktu, sikap anak yang pemalas dan pembangkang, kesibukan orang tua. (4) Upaya dalam mengatasi hambatan dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang antara lain: pembuatan jadwal kegiatan anak, pemberian teguran secara halus kepada anak, dan meluangkan waktu untuk memperhatikan kegiatan anak. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) Untuk mengoptimalisasikan penalaran moral anak disarankan untuk mengembangkan pola asuh otoritatif. Jenis pola pengasuhan yang memberikan kebebasan pada anak untuk berpendapat dengan tidak mengesampingkan peraturan, norma dan nilai yang berlaku. Selain itu, orang tua memberikan umpan balik mengenai pendapat anak sebagai bukti bahwa orang tua juga bernegosiasi dengan anak, (2) Dalam mengasuh anak sebaiknya orang tua tidak membatasi dan mengatur tingkah laku anak, orang tua hendaknya bersedia mendengarkan dan bernegosiasi dengan anak agar ketika anak dihadapkan pada suatu masalah anak dapat memikirkan solusinya, (3) Untuk lebih memberikan pemahaman mengenai perkembangan penalaran moral anak diharapkan setiap guru khususnya guru pendidikan moral untuk lebih meningkatkan usaha penyebaran informasi dan pengetahuan tentang pola asuh orang tua yang efektif dalam membantu perkembangan penalaran moral anak. Sehingga di harapkan orang tua dapat termotivasi untuk mendukung perkembangan penalaran moral anaknya hingga dapat menjadi pribadi yang mendiri kelak.

Pembiasaan nilai-nilai moral pada siswa SMP Negeri 1 Malang / Naning Febriana

 

Febriana, Naning. 2013. Pembiasaan Nilai-nilai Moral Pada Siswa SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd., M.Si., (II) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum. Kata Kunci : Pembiasaan, Nilai-nilai moral.      Pembiasaan yang baik berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku yang ditampakkan oleh peserta didik. Hal ini dikarenakan pembiasaan merupakan salah satu alat pendidikan. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan alat pendidikan yakni usaha-usaha atau perbuatan yang ditujukan dalam pelaksanaan pendidikan guna pencapaian tujuan pendidikan. Dalam memberikan pembiasaan kepada peserta didik juga diperlukan pengawasan. Sejak dini anak harus dibiasakan untuk mengenal perilaku-perilaku yang baik. Pembiasaan perilaku yang baik membawa pembentukan pada karakter anak dimasa yang akan datang. Memberikan pembiasaan baik kepada anak akan lebih baik dibandingkan dengan membiarkan anak untuk membiasakan dirinya untuk berbuat tidak baik. Dalam pembiasaan dibutuhkan suatu kerjasama yang baik antara orang tua, lembaga pendidikan yang ditempuh anak, serta lingkungan sekitar hidup anak.      Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) nilai-nilai moral yang dibiasakan pada siswa SMP Negeri 1 Malang, (2) bentuk pembiasaan yang dilakukan untuk menumbuhkan nilai-nilai moral di SMP Negeri 1 Malang, (3) faktor-faktor penghambat dalam pembiasaan nilai-nilai moral di SMP Negeri 1 Malang, (4) dan upaya mengatasi hambatan dalam pembiasaan nilai-nilai moral di SMP Negeri 1 Malang.      Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, yang dimaksudkan untuk memperoleh keaslian dan kealamian data yang diperoleh dengan subyek SMP Negeri 1 Malang. Dalam pendekatan ini peneliti diwajibkan untuk secara langsung dalam pengumpulan data, karena dalam penelitian kualitatif peneliti tidak dapat terpisahkan dengan subyek yang akan diteliti. Sumber data penelitian ini menggunakan sumber data primer yakni Kepala SMP Negeri 1 Malang, Wakil Kepala SMP Negeri 1 Malang, Bidang Kesiswaan, Guru, dan siswa sendiri. Dalam penelitian ini juga menggunakan dokumentasi sebagai sumber data sekunder. Adapun prosedur pengumpulan data antara lain: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh diolah secara deskriptif dan penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Malang.      Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Nilai-nilai yang dibiasakan pada siswa di SMP Negeri 1 Malang antara lain: (a) nilai religius, (b) nilai kejujuran, (c) nilai toleransi, (d) nilai disiplin, (e) nilai kerja keras, (f) nilai kreatif, (g) nilai demokratis, (h) nilai cinta tanah air, (i) nilai semangat berprestasi, (j) nilai kepedulian, dan (k) nilai tanggung jawab. (2) Bentuk pembiasaan yang dilakukan untuk menumbuhkan nilai-nilai moral pada siswa SMP Negeri 1 Malang antara lain: (a) dengan keteladanan seluruh warga sekolah, (b) menyediakan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat siswa dengan kegiatan intra ataupun ekstrakulikuler, (c) menjalin kerjasama dengan semua lini pendidikan, (d) mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. (3) Faktor-faktor penghambat dalam pembiasaan nilai-nilai moral di SMP Negeri 1 Malang antara lain: (a) kurangnya kesadaran terhadap peraturan sekolah, (b) kurangnya rasa kepedulian terhadap lingkungan di kalangan siswa, (c) belum adanya patokan baku mengenai penilaian moral pada siswa di SMP Negeri 1 Malang. (4) Upaya dalam mengatasi hambatan dalam pembiasaan nilai-nilai moral di SMP Negeri 1 Malang antara lain: (a) konsistensi terhadap peraturan sekolah bagi seluruh warga SMP Negeri 1 Malang, (b) pemberian pembinaan kepada siswa, (c) dan dengan penanganan langsung permasalahan yang timbul sedini mungkin.      Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) Untuk lebih memberikan pemahaman terhadap nilai-nilai moral kepada siswa, diperlukan suatu kerja keras bagi guru dalam setiap pengajaran yang dilakukan baik di dalam ataupun di luar kelas dengan bentuk keteladanan yang baik. Setiap guru khususnya guru PKn dapat memilih media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dalam pembelajaran sehingga dapat diselipkan nilai-nilai moral yang harus dipahami oleh siswa, (2) Pemberian hadiah atau penguatan kepada perilaku siswa yang bertindak baik untuk lebih diperhatikan dengan pemberian penilaian moral di buku rapor siswa sehingga siswa dapat merasa bangga karena berbuat baik sehingga akan mengulang perbuatan baik tersebut, (3) Sekolah lebih memperhatikan pengkondisian lingkungan untuk menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan bagi siswa dalam berperilaku yang menunjukkan nilai-nilai moral, dan (4) Setiap siswa harus selalu patuh dan taat kepada peraturan yang telah ditetapkan sekolah dan dengan sadar menerapkan nilai-nilai moral di setiap perilaku yang diperbuat untuk mencapai kemandirian.

Perbedaan keterampilan mengatasi stres akademik siswa akselerasi dan reguler di SMA Negeri se Kota Malang / Agustin Kartika Sari

 

Kata Kunci: Keterampilan Mengatasi Stres Akademik, Akselerasi, Reguler, SMA Keterampilan mengatasi stres akademik adalah suatu kemampuan mengelola tuntutan internal maupun eksternal yang bersumber pada aspek akademik yang menjadi ancaman beban pikiran dan perasaan di luar kemampuan diri individu yang dipersepsinya sebagai pemicu timbulnya stres. Strategi dalam pengelolaan stres adalah probem focus coping dan emotional focus coping. Berbagai perbedaan yang terdapat antara siswa akselerasi dan reguler seperti IQ, kurikulum, proses pembelajaran dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan keterampilan mengatasi stres akademik siswa akselerasi di SMAN se-kota Malang, (2) mendeskripsikan keterampilan mengatasi stres akademik siswa reguler di SMAN se-Kota Malang, dan (3) mengetahui perbedaan keterampilan mengatasi stres akademik siswa akselerasi dan siswa reguler di SMAN se-kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan deskriptif komparatif. Populasi penelitian adalah siswa akselerasi dan reguler di SMAN se-Kota Malang. Tehnik pengambilan sampel dengan tehnik total sampling pada siswa akselerasi dan cluster random sampling pada reguler. Data dikumpulkan dengan menggunakan inventory Ways of Coping, dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis uji-t. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan mengatasi stres akademik antara siswa akselerasi dan reguler. Nilai rata-rata keterampilan mengatasi stres akademik siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan dengan siswa reguler. Namun, keduanya berada dalam kategori yang sama yaitu dalam kategori sedang. Disarankan hasil penelitian ini sebagai rujukan dalam melakukan analisis kebutuhan siswa tentang kondisi keterampilan mengatasi stres akademik siswa dan menjadi referensi dalam memberikan intervensi bimbingan dan konseling dengan mengembangkan program bimbingan dan konseling yang bersifat preventif, kuratif, dan pengembangan yang dapat meningkatkan keterampilan mengatasi stres akademik siswa.

Pengasuhan orang tua dalam mengembangkan percaya diri anak (studi kasus keluarga di Kelurahan Tlogomas Kota Malang) / Fattahurrosyid Noor Abdi AL

 

Al Abdi Noor , Fattahurrosyid . 2013 . Pengasuhan Orang Tua Dalam Mengembangkan Percaya Diri Anak Studi Kasus Keluarga di Kelurahan Tlogomas Kota Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang . Dosen pembimbing (1) Drs. M. A Prawoto M.Pd , Dosen pembimbing (2) Dr. Endang Sri Redjeki M.S Kata kunci pengasuhan, mengembangkan percaya diri anak    Pengasuhan orang tua berpengaruh dalam proses perkembangan anak dimana akan terlihat anak yang baik karena bimbingan yang diberikan orang tua mereka tepat sejak dini sehingga si anak ketika berinteraksi dengan orang lain atau dunia luar tidak menemukan kesulitan yang berarti, salah satu aspek pengasuhan orang tua terhadap anak ini adalah dengan penanaman dan pengembangan rasa percaya diri kepada anak, dengan aspek penitik beratkan pada pendidkan agama dan budaya lokal maupun global. Karena dengaan bekal percaya diri dan diterima didalam lingkungannya, anak merasa berharga serta mampu memilih dan membuat keputusan sendiri dalam berinteraksi dengan teman sebaya didalam lingkungannya demi kebaikan dirinya. Hal ini sangat penting dalam perkembangan kehidupan anak dalam kehidupan selanjutnya, mengingat bahwa anak yang tidak memiliki rasa percaya diri akan sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.    Peneliti memilih jenis penelitian kualitatif dengan cara studi kasus penelitian yang dilakukan pada sebuah keluarga yang bertempat tinggal di Kelurahan Tlogomas Kota Malang.Informan kunci pada penelitian ini adalah: (1) orang tua (2) anak (3) tetangga (4) kerabat (5) guru sekolah. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebagai penguat keabsahan data yang diperoleh peneliti dari lapangan peneliti meggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.    Temuan penelitian ini adalah (1) pengasuhan orang tua dalam mengembang- kan percaya diri anak (2) masalah anak dalam mengembangkan percaya diri (3) pengaruh pengasuhan orang tua dalam mengembangankan percaya diri anak    Saran untuk keperluan teoritis untuk mengetahui pengasuhan orang tua yang selama ini diberikan kepada anak-anak dalam pengembangan percaya diri pada anak agar kelak memiliki pribadi yang baik dan mandiri

Efektifitas penggunaan metode pembelajaran diklat koperasi wanita terhadap hasil belajar di UPT Diklat Koperasi Wanita dan UMKM Provinsi Jawa Timur / Prasadam Candra Sudarma

 

Kata Kunci: efektifitas metode pembelajaran, hasil belajar, UPT Diklat Koperasi Penyelenggaraan diklat koperasi wanita merupakan bentuk penunjang dalam menentukan metode pembelajaran sebagai strategi yang digunakan dalam menyampaikan materi untuk memahami dan mencapai tujuan pembelajaran. Metode belajar meliputi: 1) srtategi partisipatif, 2) perspektif andragogi dan 3) teknik ceramah modifikasi. Penggunaan metode belajar bagi peserta diperlukan untuk memperoleh pengetahuan dalam meningkatkan hasil belajar. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan metode pembelajaran diklat koperasi wanita terhadap hasil belajar di UPT diklat koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur, dengan tujuan khusus mengetahui efektifitas penggunaan: 1) strategi partisipatif, 2) perspektif andragogi, 3) teknik ceramah modifikasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta diklat koperasi wanita di UPT diklat koperasi yang berjumlah 60 orang, yang terbagi dalam dua kelas, yaitu: kelas pengawasan dan akuntansi sederhana yang masing-masing jumlah peserta 30 orang. Instrumen yang digunakan dalam memperoleh data adalah angket/kuesioner dengan teknik analisis data persentase menggunakan rumus P=fNx100%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) sebesar 100% peserta diklat menyatakan hasil belajar strategi partisipatif efektif digunakan, 2) sebanyak 100% peserta menyatakan hasil belajar perspektif andragogi cukup efektif digunakan, dan 3) sebesar 100% peserta menyatakan hasil belajar teknik ceramah modifikasi efektif digunakan. Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan sebagai berikut: 1) bagi jurusan PLS, ada penelitian lanjutan untuk mengetahui metode yang lebih efektif dari metode strategi partisipatif, andragogi dan ceramah modifikasi dalam pengembangan ilmu PLS, dan bekerjasama dengan UPT diklat koperasi sebagai tempat kegiatan PPL mahasiswa selanjutnya, 2) bagi widyaiswara, perlu menambahkan metode belajar yang bervariasi agar dapat menumbuhkan semangat partisipasi dari peserta, memberikan kesempatan pada peserta untuk menemukan pilihan metode yang cocok dengan gaya belajarnya, sesuai dengan jenis dan kebutuhan kelompok sasaran sehingga peserta dapat segera mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam lingkungan kerja, 3) bagi UPT diklat koperasi dan UMKM, hendaknya metode belajar partisipatif, andragogi dan ceramah modifikasi yang digunakan disesuaikan dengan jenis program diklat yang memiliki karakteristik tertentu sehingga kebutuhan belajar peserta tercapai dan dapat meningkatkan hasil belajar yang lebih baik.

Penggunaan media papan flanel untuk meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan anak kelompok A1 TK Pertiwi Geneng, Kabupaten Jombang / Mutiara Sari Dewi

 

Dewi, Mutiara Sari.2013. Penggunaan Media Papan Flanel untuk Meningkatkan Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan dan Lambang Bilangan Anak Kelompok A1 TK Pertiwi Geneng, Kabupaten Jombang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Program Studi S1. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd, M.Pd, (2) Suryadi, S.Sn. Kata Kunci:Kemampuan mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan, media papan flanel. Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan anak kelompok A1 TK Pertiwi Geneng, Kabupaten Jombang. Hal ini disebabkan pembelajaran mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan masih ditekankan pada media pembelajaran yang sering digunakan seperti majalah dan paper pencil test. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah penerapan media papan flanel untuk meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan anak kelompok A1 TK Pertiwi Geneng, Kabupaten Jombang, 2) Adakah peningkatan kemampuan mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan anak kelompok A1 TK Pertiwi Geneng, Kabupaten Jombang setelah dibelajarkan dengan menggunakan media papan flanel. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian yaitu kelompok A1 TK Pertiwi Geneng sebanyak 15 anak. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deksriptif kuantitatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penggunaan media papan flanel untuk mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan diterapkan dengan langkah pembelajaran: Anak mendengarkan penjelasan berkaitan dengan pembelajaran menggunakan media papan flanel. Anak dikelompokkan menjadi 2 kelompok. Anak bermain dan tanya jawab menggunakan papan flanel danitemnya. 2) Kemampuan mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan mengalami peningkatan dari kegiatan pra tindakan dengan persentase awal sebesar 58,5% meningkat menjadi 74,5%, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan skor sebesar 96%, sedangkan persentase peningkatan kemampuan anak sebesar 20,5%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada: 1) Kepala sekolah, agar dapat memberikan fasilitas dalam sosialisasi penerapan penggunaan media papan flanel dalam pembelajaran, sejalan dengan signifikasi hasil yang dilakukan peneliti. 2) Peneliti selanjutnya agar dapat menggunakan media papan flanel untuk mengembangkan aspek perkembangan anak lainnya, seperti: bahasa, fisik motorik, dan sosial emosional.

Pengembangan media Dot To Dot game dalam pembelajaran kognitif anak kelompok B di TK Cendekia Agung Al-Muttaqien Kota Malang / Nida Hamidia

 

Hamidia, Nida. 2013. Pengembangan Media Dot To Dot Game Pada Pembelajaran Kognitif Kelompok B TK Cendekia Agung Al-Muttaqien Kota Malang. Skripsi, Prodi PG-PAUD. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd, (II) Muh. Arafik, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, media Dot To Dot game, pembelajaran kognitif. Media Dot to Dot game merupakan media visual grafis yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk kegiatan permainan untuk mengembangkan kemampuan kognitif di Taman Kanak-kanak. Berdasarkan hasil observasi di TK Cendekia Agung Al-Muttaqien Kota Malang anak kelompok B3 saat pembelajaran kognitif mengenal konsep angka 1-20 kurang dari 50% yang antusias mengikuti pembelajaran, guru melaksanakan kegiatan pengembangan kemampuan kognitif menggunakan lembar kerja dan buku tulis yang membuat anak kurang bersemangat dalam pembelajaran, selanjutnya pengembang membuat alternatif pilihan untuk digunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik, ringan, membangkitkan motivasi belajar bagi anak. Tujuan pengembangan media Dot To Dot game adalah untuk menghasilkan media pembelajaran Dot To Dot Game yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam memahami konsep urutan angka 1-20 anak kelompok B di TK Cendekia Agung Al-Muttaqien Kota Malang. Berdasarkan modifikasi dari model pengembangan Dick and Carrey yang melandasi pemgembangan media Dot To Dot game yaitu: (1) mengidentifikasi tingkat percapaian pengembangan, (2) melaksanakan analisis tingkat capaian perkembangan kognitif, (3) mengidentifikasi karakteristik anak, (4) merumuskan tujuan pengembangan, (5) mengembangkan butir-butir indikator, (6) memilih tema ,(8) mendesain dan validasi, (9) revisi media. Pengembangan media Dot To Dot game ini diuji cobakan kepada 6 anak kelompok B TK Cendekia Agung Al-Muttaqien Kota Malang sebagai pengumpul data uji kepraktisan. Pengumpulan data uji kevalidan menggunakan instrumen angket yang divalidasikan kepada ahli media yaitu dosen animasi minimal S1 bidang teknologi animasi, ahli materi yaitu dosen peembelajaran kognitif yang telah menempuh pendidikan minimal S1. Hasil pengembangan ini adalah media Dot To Dot game berbentuk compact disc (CD) dan buku petunjuk. Hasil uji kelayakan diperoleh 93,1% untuk validasi media, 90,9% untuk validasi materi, dan 93,1% untuk uji kepraktisan. Media pembelajaran ini mempunyai empat tampilan utama yang mewakili tampilan media secara keseluruhan, yaitu halaman mari berhitung, halaman mari membilang, halaman Dot To Dot, dan halaman profil pengembang. Berdasarkan hasil pengembangan disarankan agar media ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran di kelas oleh guru ataupun diluar kelas oleh orangtua, pendamping belajar siswa secara mandiri, dan dapat digunakan sebagai referensi pengembangan media pada materi yang sama ataupun materi yang lain.

Pengembangan media pembelajaran kemahiran lisan bahasa Arab berbasis Ulead Video Studio untuk siswa kelas VII MTs / Ana Muchlisina

 

Muchlisina, Ana. 2013. Pengembangan Media Kemahiran Lisan Berbasis Ulead Video Studio untuk Siswa Kelas VII MTs. Skripsi. Jurusan Sastra Arab. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Imam Asrori, M.Pd, (II) Dr. Yusuf Hanafi, S.Ag,M.Fil.I. Kata Kunci: media pembelajaran, Ulead Video Studio, kemahiran lisan Kemahiran lisan (istima’ dan kalam ) merupakan salah satu dari pembelajaran keterampilan bahasa Arab. Menyimak adalah proses menerima bunyi yang terkandung dalam kosakata atau kalimat pada sebuah topik. Kalam merupakan keterampilan dasar bahasa kedua, sebab peserta didik dituntut adanya peran aktif dalam berkomunikasi secara lisan. Kedua kemahiran tersebut merupakan aspek yang paling dominan di antara keterampilan lain. Salah satu upaya untuk mencapai kemahiran tersebut adalah dengan mengembangkan media pembelajaran yang menarik dan efektif, di antaranya melalui media Ulead Video Studio untuk kemahiran lisan bahasa Arab. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membuat media Ulead Video Studio dan mendeskripsikan karakteristik, kelayakan, dan membuat model pengunaan media Ulead Video Studio untuk kemahiran lisan bahasa Arab siswa kelas VII MTs NU. Rancangan pengembangan media Ulead Video Studio melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) desain produk, (3) pengumpulan bahan, (4) pengembangan produk, (5) validasi yang meliputi uji ahli materi, uji ahli media, dan uji lapangan, dan (6) revisi produk. Pengembangan media Ulead Video Studio ini menghasilkan satu set media dengan beberapa komponen, yaitu program Ulead Video Studio sebagai komponen dasar pembuatan media, didukung oleh komponen-komponen lain, seperti: Photoshop CS3 sebagai pengedit foto dan gambar, Microsoft Powerpoint sebagai pengedit tulisan dalam bentuk JPEG, browsing internet untuk instrumen, dan situs www.Acapella-Group.com untuk suara penutur. Penggunaan media dapat dilihat pada panduan yang terdapat di dalam VCD sebelum memulai pembelajaran. Media Ulead Video Studio diawali dengan menampilkan kosakata tentang lingkungan keluarga (mufradat al-usrah), kosakata tentang lingkungan rumah (mufradat al-bait), tanya jawab (as’ilah wal ajwibah), dan kalimat informatif (jumlah mufidah). Media Ulead Video Studio ini layak digunakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan keseluruhan hasil uji validitas oleh ahli media, ahli materi, peserta didik kelas VII dan guru mata pelajaran bahasa Arab. Hasil uji lapangan dari peserta dan hasil dari guru mata pelajaran bahasa Arab dengan persentase skor 79,85%. Jadi, media Ulead Video Studio ini dinyatakan valid sebagai media pembelajaran kemahiran lisan bahasa Arab kelas VII MTs NU Bunut-Wetan, Pakis. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Arab untuk memanfaatkan media Ulead Video Studio ini sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran kemahiran lisan bahasa Arab.

Pengembangan media CD interaktif teka-teki gambar dan kata pembelajaran mufrodat di Madrasah Ibtidaiyyah kelas IV / Wiwin Widiyanti

 

widiyanti, Wiwin. 2013. Pemgembangan Media CD Interaktif Teka-Teki Gambar dan Kata Pembelajaran Mufrodat Di Madrasah Ibtidaiyyah Kelas IV. Skripsi, Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Drs. H. Muhaiban. Kata kunci: CD Interaktif, Teka-teki gambar dan kata, Pembelajaran.    Dalam pembelajaran bahasa Arab perlu adanya cara dan strategi yang dapat memudahkan siswa dalam belajar. Hal ini adalah tugas seorang guru dalam mendidik dan memotivasi siswa agar dapat menciptakan situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan menyenangkan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan melalui observasi dan wawancara diketahui bahwa, siswa kurang tertarik dan merasa bosan ketika belajar bahasa Arab. Hal itu disebabkan karena pembelajaran bahasa Arab yang monoton. Permasalahan ini dapat diatasi salah satu caranya dengan mengunakan bantuan media CD interaktif yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar di kelas.    Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) membuat produk media CD interaktif teka-teki gambar dan kata pembelajaran mufrodat di Madrasah Ibtidaiyyah kelas IV, (b) mendeskripsikan keefektifan produk media CD interaktif teka-teki gambar dan kata pembelajaran mufrodat di Madrasah Ibtidaiyyah kelas IV, dan (c) mendeskripsikan model penggunaan media CD interaktif teka-teki gambar dan kata pembelajaran mufrodat di Madrasah Ibtidaiyyah kelas IV.    Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan pengembangan. Adapun langkah-langkah penelitian media yang digunakan adalah sebagai berikut (1) mengidentifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) mengembangkan materi pelajaran, (4) memproses produksi, (5) membuat petunjuk penggunaan petunjuk penggunaan, (6) menvalidasi, (7) merevisi, (8) uji lapangan.    Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini berupa produk CD interaktif teka-teki gambar dan kata pembelajaran mufrodat untuk kelas IV MI. Produk tersebut telah divalidasi oleh ahli media dan ahli materi, guru MI, dan di ujicobakan pada siswa-siswi kelas IV MI YASPURI Merjosari Malang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang berupa data hasil uji ahli materi, ahli media, guru dan data uji kelompok oleh siswa. Serta data kualitatif berupa saran validator, yaitu ahli mediadan ahli materi.    Adapun saran yang dapat dikemukakan yaitu diharapkan guru MI dapat menggunakan dan memanfaatkan media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Selain itu, bagi peneliti atau pengembang lain yang akan melanjutkan mengembangan media pembelajaran seperti ini atau semacamnya diharapkan dapat mengembangkan materi dengan menambahkan jumlah mufrodat pada tiap babnya atau temanya. Akan lebih baik lagi jika tampilan media tersebut dibuat lebih bervariasi dan menarik lagi.

Perancangan buku "Outdoor Lighting for Cycling Photography" sebagai media pengenalan teknik pencahayaan sederhana pada fotografer pemula / Achmad Oddy Widyantoro

 

Widyantoro, Achmad Oddy. 2013. “Perancangan buku ‘Outdoor Lighting For Cycling Photography’ sebagai Media Pengenalan Teknik Pencahayaan Sederhana pada Fotografer Pemula”. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Moch. Abdul Rohman, M.Sn (II) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn Kata kunci : Perancangan, Buku Tutorial, Outdoor Lighting, Cycling Photography    Awal mulanya cahaya yang diterima oleh kamera hanya mengandalkan pantulan dari cahaya matahari saja. Tapi dengan bergesernya waktu dan pesatnya perkembangan fotografi, cahaya itu sendiri dapat dimanipulasi. Jadi tidak hanya mengandalkan cahaya alami (matahari) saja. Keberadaan flash light/flashgun sangat membantu pada proses memotret dengan kamera. Maka dari itulah muncul sebuah kegiatan dimana kita dapat memanipulasi sebuah cahaya pada obyek foto dengan bantuan alat penerangan buatan seperti external flash light, reflector dan beberapa alat lainnya. Kegiatan memanipulasi cahaya tersebut dapat diwakili dengan kata ‘tata cahaya’ atau lighting. Namun, tidak semua orang khususnya fotografer pemula yang memahami serta peka dalam menggunakan dan memanfaatkan cahaya tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan dari fotografer-fotografer pemula dalam mempelajari serta mengasah kemampuan penataan cahaya dalam proses pemotretan di luar ruangan, dibutuhkanlah sebuah media yang isinya membahas tentang penataan cahaya untuk pemotretan kegiatan sepeda di luar ruangan. Tema penataan cahaya diluar ruangan untuk fotografi cycling dipilih karena masih belum ada buku atau media yang mengangkat tema tersebut untuk disebarkan kepada masyarakat terutama fotografer pemula selain itu cycling merupakan kegiatan olahraga yang menarik untuk diekspose.    Model perancangan yang dipakai merupakan model perancangan deskriptif kualitatif yang menggariskan langkah-langkah dalam menghasilkan sebuah produk, dengan menggunakan sistematika perancangan yang dimiliki oleh J.C Jones dan Surianto Rustan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi data, kajian data pustaka, dan wawancara pada narasumber sebagai metode penelitian untuk mendapatkan data produk yang ingin dirancang serta kebutuhan target audiens.    Hasil dari perancangan ini berupa buku tutorial dengan ilustrasi foto dan gambar sebagai media utama mengenai pengenalan serta penjabaran teknik outdoor lighting for cycling photography. Adapun spesifikasi ukuran dari buku ini adalah 15x23cm portrait, dengan jenis penjilidan softcover. Bentuk tersebut disesuaikan agar mudah untuk dibawa kemana saja.Buku ini diharapkan dapat menjadi buku panduan yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada target audiens. Kelebihan utama dari buku ini adalah penjelasan tentang materi penataan peralatan lighting untuk fotografi sports khususnya cycling yang dilengkapi dengan ilustrasi gambar maupun foto serta layout yang minimalis sehingga target audiens tidak akan bosan ataupun kebingungan dalam mempelajari isi dari buku ini. Gaya desain yang simple-modern sengaja dipilih karena ingin memperkuat penyampaian pesan tanpa harus menambahkan elemen-elemen desain yang terlalu banyak.

Peningkatan kemampuan siswa menarik kesimpulan dalam pembelajaran IPA melalui model discoveri terbimbing di kelas V SDN Sukowilangun Kec. Kalipare Kab. Malang / Citra Dwi Nanda Mei Wulan

 

Wulan, Citra Dwi Nanda Mei. 2014. Peningkatan Kemampuan Siswa Menarik Kesimpulan Dalam Pembelajaran IPA Melalui Model Discoveri Terbimbing di Kelas V SDN Sukowilangun 02 Kec. Kalipare Kab. Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1). Dra. Hj. Wasih DS, M.Pd. (2) Dra. Hj. Lilik Bintartik, M.Pd Kata Kunci : kemampuan menarik kesimpulan, pembelajaran IPA, model Discoveri Terbimbing. Hasil observasi pendahuluan pada pembelajaran IPA di kelas V SDN Sukowilangun 02 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan pada pembelajaran IPA sangat kurang baik. Hal ini dikarenakan selama pembelajaran berlangsung, guru menggunakan metode ceramah. Siswa datang, duduk, mendengarkan guru, mencatat hal-hal yang dianggap penting, kemudian mengerjakan soal yang ada di buku. Guru belum mengembangkan keterampilan proses menarik kesimpulan untuk membangun konsep. Berkaitan dengan kondisi tersebut, perlu diadakan penelitian untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPA kelas V pada pra tindakan, (2) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas V dalam menarik kesimpulan pada pra tindakan, (3) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPA melalui model Discoveri Terbimbing di kelas V, (4) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas V menarik kesimpulan dalam pembelajaran IPA dengan model Discoveri Terbimbing pada tiap siklus, dan (5) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas V menarik kesimpulan dalam pembelajaran IPA dengan model Discoveri Terbimbing. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas V yang berjumlah 18 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik rerata, teknik persentase, dan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian pelaksanaan pembelajaran IPA menunjukkan bahwa ca-paian persentase: (1) pada tahap pratindakan 50% (kurang baik); (2) siklus I per-temuan 1 80% (baik), siklus I pertemuan 2 80% (baik), dan siklus I pertemuan 3 baik (85%); (3) siklus II pertemuan 1 90% (sangat baik), siklus II pertemuan 2 95% (sangat baik), dan siklus II pertemuan 3 100% (sangat baik). Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pelaksanaan pembelajaran IPA dari tahap pra-tindakan ke siklus I pertemuan 1 meningkat 30%, dari siklus I pertemuan 1 ke si-klus I pertemuan 2 tidak ada peningkatan, dari siklus I pertemuan 2 ke siklus I pertemuan 3 meningkat 5%, dari siklus I pertemuan 3 ke siklus II pertemuan 1 meningkat 5%, dari siklus II pertemuan 1 ke siklus II pertemuan 2 meningkat 5%, dan dari siklus II pertemuan 2 ke siklus II pertemuan 3 meningkat 5%. Hasil penelitian kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan menun-jukkan bahwa capaian persentase: (1) pada tahap pratindakan 11% (sangat kurang baik); (2) siklus I pertemuan 1 25% (sangat kurang baik), siklus I pertemuan 2 35% (sangat kurang baik), dan siklus I pertemuan 3 56% (cukup baik); (3) siklus II pertemuan 1 59% (cukup baik), siklus II pertemuan 2 63% (cukup baik), dan siklus II pertemuan 3 72% (baik). Hasil tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menarik kesimpulan dari tahap pratindakan ke siklus I per-temuan 1 meningkat 14%, dari siklus I pertemuan 1 ke siklus I pertemuan 2 me-ningkat 10%, dari siklus I pertemuan 2 ke siklus I pertemuan 3 meningkat 21%, dari siklus I pertemuan 3 ke siklus II pertemuan 1 meningkat 3%, dari siklus II pertemuan 1 ke siklus II pertemuan 2 meningkat 4%, dan dari siklus II pertemuan 2 ke siklus II pertemuan 3 meningkat 9%. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian ini adalah pembelajaran menggu-nakan model Discoveri Terbimbing yang dilakukan dengan sangat baik dapat me-ningkatkan kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan dengan baik. Berdasar-kan hasil penelitian ini, disarankan untuk guru: (1) menggunakan model Discoveri Terbimbing untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan (2) menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lembar kerja siswa (LKS) dengan baik; dan (3) guru dapat menerapkan model Discoveri Terbimbing pada keterampilan proses yang lain dalam rangka meningkatkan kemampuan sis-wa dalam membangun sendiri pengetahuannya.

Penerapan sistem otomasi Laser 2.0 pada bagian pengolahan di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang / Fandi Yusuf

 

Yusuf, Fandi, 2013. Penerapan Sistem Otomasi Laser 2.0 Pada Bagian Pengolahan di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang. Tugas Akhir Program Studi D3 Perpustakaan Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Moch. Syahri, M.Si, (II) Drs. Moh. Asrukin,M.Si Kata Kunci: Otomasi LASer 2.0, Bagian Pengolahan, UPT Perpustakaan UMM.     Otomasi LASer 2.0 merupakan otomasi perpustakaan yang digunakan oleh UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang dalam pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi. Perpustakaan dan Informasi UMM mulai meningkatkan mutu layanan dengan menerapkan sistem perpustakaan terotomasi dengan sofware LASer (Library Automation Services) yang dibuat dan dikembangkan oleh Muhammadiyah Digital Library Research Group (MDLRG) UMM. Dikembangkannya program otomasi LASer 2.0 tersebut untuk mendukung terselenggarannya kegiatan-kegiatan di UPT Perpustakaan UMM. Salah satu kegiatan yang menggunakan LASer 2.0 adalah pada bagian pengolahan bahan pustaka.     Berdasarkan pengalaman yang di alami penulis dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di UPT Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang. Bagian pengolahan sangat penting peranannya dalam kepustakawanan di UMM. Kegiatan bagian pengolahan ialah mengolah koleksi yang baru datang sampai buku siap untuk disajikan untuk para pemustaka.     Dalam penerapan otomasi LASer 2.0 di bagian pengolahan, ada dua jenis kegiatan meliputi katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subjek. Dari dua jenis kegiatan tersebut, penulis mendeskripsikan penerapan kegiatan di bagian pengolahan dalam bentuk tampilan gambar beserta prosedur penerapan yang bertujuan agar mempermudah dalam pelaksanaan kegiatan praktik otomasi LASer secara langsung.     Berdasarkan kesimpulan tersebut, disimpulkan bahwa sistem otomasi LASer Versi 2.0 telah memenuhi kebutuhan sistem informasi pada bagian pengolahan dalam mengolah bahan pustaka di perpustakaan.saran yang didapat adalah perlu adanya pengembangan kembali dari tahun ke tahun, agar sistem otomasi LASer yang sudah ada dapat mengikuti pola perkembangan teknologi informasi yang akan datang dan dapat memiliki beberapa versi yang akan terus berkembang.

An analysis of pronunciation errors made by Indonesian singers in Malang in singing English songs / Ivana Okta Riyani

 

Keywords: Pronunciation errors, Indonesian singers, English songs. Pronunciation is the choice of sounds used in forming words (Carrel&Tiffany, (1960:4). It is very important to study pronunciation since what we pronounce reflects the meaning of something. The different ways in pronouncing phonemes in English will cause different meanings of words. This study is conducted to find out the pronunciation errors made by Indonesian singers in singing English songs. The research design of this study is descriptive qualitative. In collecting the data, the writer used the recorded material of the live performances of the singers, found the errors and analyzed them. The researcher counted that there are 506 pronunciation errors out of the 2,569 words (19.69%) made by the Indonesian singers in singing the English songs. It was revealed that there were three kinds of pronunciation errors. It was found that there were 226 errors in consonant pronunciation made by the singers (44.66%). It was also found that there were 186 vowel errors (36.76%), and the last were 94 diphthong errors (18.58%). Finally it can be concluded that potentially the errors occurred because of the interference of the first language. The second cause of the error is the limited English proficiency of the singers or the speaker. The researcher hopes that this research can give benefits to the Indonesian singers in Malang to improve their pronunciations, to the students and also lecturers to make this study as a reference in mastering the basic knowledge of phonology and the last for future researchers. This research can be a reference for them to conduct many other studies in phonology or pronunciation analysis.

Kemampuan mengembangkan paragraf siswa kelas VIII SMPN 5 Malang tahun ajaran 2012-2013 / Ratri Puspaningtyas

 

Studi tentang latar belakang penciptaan dan corak lukisan karya Sunari periode 2004-2009 / Ananditya Gustiani

 

Gustiani, Ananditya. 2013. Studi Tentang Latar Belakang Penciptaan dan Corak Lukisan Karya Sunari Periode 2004-2009. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M. Sn, (II) Fenny Rochbeind, S. Pd, M. Sn. Kata Kunci: Studi, Latar Belakang, Penciptaan, Corak, Lukisan, Sunari, Periode 2004-2009 Penelitian ini dilatarbelakangi olehperwujudancorak karya Sunari periode 2004-2009 yang cukup menarik. Pada tahun tersebut, Indonesia mengalami banyak peristiwa penting, baik di pemerintahan maupun bencana alam yang datang silih berganti. Sebagai seorang guru, seniman dan budayawan tentu akan menggugah sisi kreativitasnyayang kemudian diungkapkan dalam lukisan hingga menghasilkan karya lukis. Sehingga untuk memahami perwujudan lukisan karya Sunaridapat dilakukan penelitian melalui tampilan luar lukisan atau yang disebut sebagai corak.Corak lukisan merupakan suatu jenis visualisasi karya lukis yang dapat ditinjau dari unsur-unsur visual, prinsip-prinsip penyusunannya serta teknik melukis yang diterapkan. Maka, penelitian ini dilaksanakan guna mendeskripsikan hal-hal yang melatar belakangi penciptaan hingga mendeskripsikan corak lukisan karya Sunari periode 2004-2009 yang dapat ditinjau dari visualisasi karyanya. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskripif dengan peneliti sebagai intrumen penelitian. Data untuk menjawab latar belakang penciptaan serta corak lukis Sunari di periode 2004-2009 dihimpun melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan untuk mengecek keabsahan data, peneliti menggunakan trianggulasi sumber. Setelah menempuh proses penelitian, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa hal-hal yang melatarbelakangi lukisan karya Sunari banyak dipengaruhi oleh waktu yang sedang terjadi di Indonesia dan sekitar tempat tinggalnya, bakat melukisnya, emosi, lingkungan sekitar hidupnya, pengalamannya dalam berorganisasi dalam komunitas-komunitas seni dan budaya serta pengalaman mengajar lukis bersama anak-anak didiknya, imajinasi, serta filosofi Jawa yang menjadi dasar pemikirannya dalam menyikapi kehidupannya. Sedangkancorak lukisan karya Sunari periode 2004-2009 cenderung menampakkan visualisasi karya yang beragam. Namun apabila ditinjau dari keseluruhan tampilan lukisan karya Sunari periode 2004-2009, lukisan Sunari nampak menampilkan corak dekoratif dan memadukannya dengan corak realis yang mendapat pengaruh dari Budaya Pop Art. Merujuk pada hasil yang diperoleh tersebut, peneliti menyarankan untuk dilaksanakan penelitian pada corak lukis karya seniman lain dengan corak yang berbeda.

Studi tentang perkembangan dan motif batik tradisional di sentra batik Desa Kenongorejo Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun / Rima Anggraini

 

Pengembangan modul membaca dan menulis untuk siswa kelas X SMK / Dwi Putri Pertiwi

 

Kata kunci : pengembangan modul, membaca, menulis. Penelitian pengembangan ini didasari oleh belum tersedianya modul yang mengembangkan keterampilan membaca dan menulis secara terintegrasi di SMK. Membaca adalah aktivitas menyerap informasi sebanyak-banyaknya dari suatu teks, sedangkan menulis adalah kemampuan menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Membaca dan menulis adalah keterampilan yang kompleks dengan melibatkan berbagai tindakan untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas. Dua keterampilan ini memiliki hubungan yang erat satu sama lain dan harus ditumbuhkembangkan dalam diri peserta didik kelas X SMK sebagai bekal di masyarakat. Salah satu cara menumbuhkembangkan keterampilan membaca dan menulis peserta didik adalah menyediakan modul membaca dan menulis yang dapat memandu peserta didik belajar mandiri. Penelitan dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan modul terintegrasi membaca dan menulis untuk peserta didik kelas X SMK untuk memandu belajar mandiri. Modul yang dikembangkan meliputi lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja, lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. Rancangan penelitian ini adalah hasil adaptasi model pengembangan Borg and Gall (Arifin, 2012:128). Hasil modifikasi tersebut meliputi (1) potensi masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, dan (8) produk akhir. Kompetensi Dasar (KD) yang dikembangkan dalam produk meliputi dua kompetensi membaca dan empat kompetensi menulis yang diintegrasikan. Keenam kompetensi tersebut adalah (1) KD [1.3] membaca cepat untuk memahami informasi tertulis dalam konteks bermasyarakat, (2) KD [1.4] memahami informasi tertulis dalam berbagai bentuk teks, (3) KD [1.9] menulis dengan memanfaatkan kategori/kelas kata, (4) KD [1.10] membuat berbagai teks tertulis dalam konteks bermasyarakat dengan memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat, (5) KD [1.11] menggunakan kalimat tanya secara tertulis sesuai dengan situasi komunikasi, dan (6) KD [1.12] membuat parafrasa dari teks tertulis. Keseluruhan modul ini dikembangkan secara utuh dalam empat modul, yakni modul ke-1 memuat KD [1.3] dan [1.9], modul ke-2 memuat KD [1.4] dan [1.10], modul ke-3 memuat KD [1.3] dan [1.11], dan modul ke-4 memuat KD [1.4] dan [1.12]. Keseluruhan kompetensi tersebut dipadukan dengan mengacu pada teori tentang membaca, menulis, model pembelajaran, dan teori modul yang relevan sehingga menghasilkan produk yang layak digunakan. Kompetensi yang disajikan berdasarkan analisis kurikulum dan analisis kebutuhan peserta didik sesuai kurikulum KTSP. Pembelajaran dikembangkan dengan prinsip EEK (Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi) yang dipadukan dengan pembelajaran kontekstual. Tampilan disajikan dengan warna yang kontras dan full colour agar menarik peserta didik untuk belajar. Tampilan dan tata letak disajikan sesuai dengan aturan penyusunan bahan ajar yang baik. Sajian dan analisis data pada penelitian ini dibedakan menjadi empat, yaitu (1) penyajian hasil prapengembangan, (2) penyajian hasil pengembangan, (3) penyajian data dan analisis hasil uji coba, dan (4) revisi produk. Produk pengembangan kemudian diujicobakan kepada ahli, praktisi, dan peserta didik. Modul dinilai dengan lima kriteria penilaian, yaitu pengembangan kompetensi, isi (materi dan soal), urutan kegiatan pembelajaran, bahasa, dan tampilan. Hasil uji coba menyatakan bahwa penilaian pengembangan aspek kompetensi sangat baik dengan nilai rata-rata sebesar 3,75 sehingga tindak lanjutnya adalah implementasi. Penilaian aspek isi (materi dan soal) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,00 sehingga tindak lanjutnya adalah revisi. Penilaian terhadap kegiatan pembelajaran dalam modul memperoleh nilai rata-rata 3,20 sehingga tindak lanjutnya adalah implementasi. Penilaian terhadap aspek bahasa menunjukkan nilai rata-rata sebesar 2,75 sehingga tindak lanjutnya adalah revisi. Penilaian aspek tampilan menunjukkan nilai rata-rata adalah 2,50 sehingga tindak lanjutnya adalah revisi. Hasil uji coba juga menyatakan bahwa penyajian kompetensi dan tujuan belajar bagi peserta didik menghasilkan nilai yang baik. Namun, terdapat saran dari praktisi untuk menghilangkan persentase hasil jawaban pada penyajian indikator KD [1.3]. Awalnya, tujuan pembelajaran menyatakan bahwa peserta didik mampu menjawab 70% soal dengan benar yang berhubungan dengan teks yang dibaca. Berdasarkan saran yang diberikan, maka angka 70% tersebut dihilangkan menjadi “Mampu menjawab soal yang berhubungan dengan teks yang dibaca.” Saran pada aspek materi diperoleh dari ahli, yaitu menghilangkan teori kebahasaan dan linguistik dan mengubah menjadi tips penggunaannya. Saran lain terletak pada pengembangan komponen soal. Saran ahli tentang soal adalah (1) soal tentang analisis jenis wacana dalam bahasa Indonesia diganti dengan soal pemahaman, dan (2) menghilangkan soal latihan tentang klasifikasi kelas kata bahasa Indonesia. Selebihnya, catatan tertuju pada tampilan agar tampilan dibuat lebih menarik, lebih kontras, lebih bervariasi, dan lebih dipadatkan. Seluruh penilaian tersebut dijadikan acuan untuk melakukan revisi dan pengembangan modul agar menjadi layak untuk diimplementasikan.  

Kualitas penggunaan bahasa Indonesia dalam surat pribadi siswa kelas VII SMPN 1 Ngantru Tulungagung / Sandy Prasetyo

 

Kata Kunci: kualitas penggunaan bahasa, surat pribadi Surat merupakan sarana komunikasi tulis yang penting untuk dikuasai. Dengan menulis surat, seseorang dapat menuangkan gagasan, perasaan, pesan, atau informasi kepada orang lain. Salah satu bentuk keterampilan bahasa tulis adalah menulis surat pribadi. Ketika menulis surat pribadi, siswa perlu memerhatikan penggunaan bahasanya agar gagasan, perasaan, pesan, atau informasi dapat tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, untuk mengetahui kualitas penggunaan bahasa surat siswa, dilakukan analisis kualitas penggunaan bahasa Indonesia dalam surat pribadi siswa kelas VII SMP pada aspek pemaragrafan berdasarkan posisi dan fungsinya, keefektifan kalimat, pemilihan dan pembentukan kata, dan penggunaan ejaan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah peneliti, sedangkan alat bantu yang digunakan berupa lembar petunjuk pengerjaan menulis surat pribadi dan panduan analisis data. Data penelitian ini berupa teks surat pribadi tulisan siswa kelas VII SMPN 1 Ngantru Tulungagung. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan penugasan menulis surat pribadi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengolahan data, pengidentifikasian data, pengodean data, penyajian data, dan akhirnya penyimpulan data. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh empat hasil penelitian. Pertama, pemaragrafan berdasarkan posisi dan fungsinya dalam surat pribadi siswa kelas VII SMPN 1 Ngantru Tulungagung meliputi (1) pemaragrafan pembuka yang tepat sebanyak 32 paragraf (62,7%), pemaragrafan pembuka yang kurang tepat sebanyak 19 paragraf (37,3%), dan pemaragrafan pembuka yang tidak tepat sebanyak 0 paragraf (0%), (2) pemaragrafan isi yang tepat sebanyak 42 paragraf (80,8%), pemaragrafan isi yang kurang tepat sebanyak 3 paragraf (5,8%), dan pemaragrafan isi yang tidak tepat sebanyak 7 paragraf (13,4%), dan (3) pemaragrafan penutup yang tepat sebanyak 34 paragraf (66,6%), pemaragrafan penutup yang kurang tepat sebanyak 16 paragraf (31,4%), dan pemaragrafan penutup yang tidak tepat sebanyak 1 paragraf (2%). Kedua, keefektifan kalimat dalam surat pribadi siswa kelas VII SMPN 1 Ngantru Tulungagung meliputi kalimat yang efektif sebanyak 370 kalimat (74,3%) dan kalimat yang tidak efektif sebanyak 128 kalimat (25,7%). Ketiga, pemilihan dan pembentukan kata dalam surat pribadi siswa kelas VII SMPN 1 Ngantru Tulungagung meliputi (1) pemilihan kata yang tepat sebanyak 5022 kata (96,7%) dan pemilihan kata yang tidak tepat sebanyak 167 kata (3,3%) dan (2) pembentukan kata yang tepat sebanyak 643 kata (95,1%) dan pembentukan kata yang tidak tepat sebanyak 33 kata (4,9%). Keempat, penggunaan ejaan dalam surat pribadi siswa kelas VII SMPN 1 Ngantru Tulungagung meliputi penggunaan ejaan yang tepat sebanyak 2040 ejaan (80,2%) dan penggunaan ejaan yang tidak tepat sebanyak 222 ejaan (9,8%). Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan tiga saran. Pertama, guru Bahasa Indonesia disarankan untuk memberikan banyak latihan dan contoh terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia, khususnya pada aspek keefektifan kalimat, pemilihan dan pembentukan kata, dan penggunaan ejaan. Kedua, peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian sejenis, khususnya terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia. Ketiga, siswa disarankan untuk meningkatkan belajar, khususnya terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Penggunaan media dongeng untuk meningkatkan kemampuan menulis pantun siswa kelas VII MTs Raudlatul Ulum Karangploso / Devi Arveni

 

Kata Kunci: kemampuan menulis pantun, media dongeng Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada umumnya, mempunyai empat aspek yang harus dimiliki sebagai keterampilan dasar dan peserta didik wajib menguasainya. Keempat aspek tersebut meliputi aspek berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. Menulis merupakan salah satu aspek dari kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia selain membaca, mendengarkan, dan berbicara. Dalam hal ini menulis merupakan salah satu kegiatan yang harus dimiliki dan dipelajari oleh peserta didik baik peserta didik SD, SMP, maupun SMA/SMK. Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberitahu, meyakinkan, atau menghibur. Salah satu kemampuan menulis kreatif yang diajarkan kepada peserta didik kelas VII adalah menulis pantun. Media dongeng dapat dijadikan sebagai media pembelajaran menulis pantun. Media dongeng merupakan salah satu cara yang menarik dan menyenangkan untuk mempelajari Bahasa Indonesia dalam pembelajaran pantun. Media dongeng memacu peserta didik, merangsang untuk berpikir kreatif, dan mempermudah dalam belajar pantun. Dengan media dongeng, peserta didik dapat menuangkan pesan moral dan nilai edukasinya yang disampaikan dalam dongeng untuk dijadikan sebuah pantun. Secara umum, penelitian yang dirancang dengan berbasis PTK ini berupaya menjawab masalah tentang proses dan hasil penggunaan media dongeng untuk meningkatkan kemampuan menulis pantun siswa kelas VII MTs Raudlatul Ulum. Berdasarkan analisis data ditemukan bahwa penggunaan media dongeng dapat meningkatkan proses dan hasil menulis pantun pada siswa kelas VII MTs Raudlatul Ulum. Proses penggunaan media dongeng pada siklus I peserta didik yang mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh sejumlah 54%. Peserta didik yang segera mengerjakan apabila mendapat tugas sebanyak 54%, dan peserta didik yang bersemangat mengerjakan tugas sejumlah 18%. Peserta didik yang saling membantu anggota kelompok sejumlah 42%. Peserta didik yang memberikan kesempatan kepada teman kelompoknya mengemukakan pendapat sebanyak 69%. Peserta didik yang memecahkan masalah bersama-sama sebanyak 69%. Penggunaan media dongeng dalam menulis pantun, peserta didik dibiasakan untuk mandiri dan kreatif. Peserta didik yang mengerjakan berdasarkan kemampuan sejumlah 100%. Peserta didik yang tidak mengganggu kelompok lain sebanyak 54%. Peserta didik yang menggunakan pemilihan kata yang sesuai dan baik 24%, dan peserta didik yang mengerjakan berdasarkan ide sendiri sejumlah 100%. Pada siklus II bahwa peserta didik yang mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh sejumlah 85%. Peserta didik yang segera mengerjakan apabila mendapat tugas sebanyak 79%, dan yang bersemangat mengerjakan tugas sejumlah 91%. Kekompakan dalam kelas terlihat dalam kerjasama antar anggota sudah terlihat meningkat. Peserta didik yang saling membantu anggota kelompok sejumlah 73%. Peserta didik yang memberikan kesempatan kepada teman kelompoknya mengemukakan pendapat sebanyak 82%. Peserta didik yang memecahkan masalah bersama-sama sebanyak 76%. Penggunaan media dongeng dalam menulis pantun, peserta didik dibiasakan untuk mandiri dan kreatif. Peserta didik yang mengerjakan berdasarkan kemampuan sejumlah 91%. Peserta didik yang tidak mengganggu kelompok lain sebanyak 79%. Peserta didik yang menggunakan pemilihan kata yang sesuai dan baik 79%, dan peserta didik yang mengerjakan berdasarkan ide sendiri sejumlah 91%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan penggunaan media dongeng untuk meningkatkan kemampuan menulis pantun mampu meningkatkan kreatif dan kemandirian peserta didik kelas VII MTs Raudlatul Ulum. Hasil penggunaan media dongeng mampu meningkatkan kemampuan menulis pantun dengan aspek yang kesesuaian isi, kesesuaian rima, letak isi dan sampiran, jumlah suku kata tiap baris. Pada aspek kesesuaian isi, terjadi peningkatan yang semula 72% di siklus I, menjadi 82% siklus II. Aspek keesuaian rima juga mengalami peningkatan yang awalnya 67% siklus I, bertambah menjadi 83% siklus II. Kemampuan dalam aspek letak isi yang semula 94% di siklus I, sedangkan 88% siklus II. Pada aspek menentukan jumlah suku kata tiap baris siklus I 91%, sedangkan 88% di siklus II. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dongeng mampu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis pantun pada kelas VII MTs Raudlatul Ulum Karangploso. Berdasarkan hasil belajar siswa, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dongeng untuk meningkatkan kemampuan menulis pantun terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis pantun pada siswa kelas VII MTs Raudlatul Ulum. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat menggunakan media dongeng pada pembelaaran, khususnya pembelajaran menulis pantun. Hal ini dapat memudahkan siswa untuk mempelajari dan memahami pantun.

Analisis bahasa dalam teks berita karya mahasiswa paket keahlian jurnalistik angkatan 2006-2009 Universitas Negeri Malang / Septi Kartika Sari

 

Kata Kunci: bahasa jurnalistik, analisis bahasa Bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakan dengan ragam bahasa lain. Berhubungan dengan hal itu, bahasa jurnalistik memiliki karakter yang berbeda berdasarkan jenis tulisan yang akan diberitakan, misalnya bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang penggunaan kalimat efektif dalam penulisan teks berita mahasiswa paket keahlian jurnalistik angkatan 2006—2009 dan penerapan kaidah EYD dalam penulisan teks berita. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Jenis data dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa kata-kata yang membentuk tulisan berita mahasiswa. Peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan instrumen pendukung yang berupa tabel pengumpul data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, mengadakan reduksi data, dan menyusun data dalam satuan-satuan tertentu dalam hal ini peneliti membuat koding. Hasil penelitian menenunjukkan bahwa dalam penulisan berita oleh mahasiswa paket keahlian jurnalistik secara umum sudah menggunakan kalimat efektif yang meliputi kesepadanan, keparalelan, kelogisan, kevariasian, dan kehematan. Meskipun demikian, pada teks berita karya mahasiswa paket keahlian jurnalistik angkatan 2008 masih terdapat kesalahan penggunaan kalimat kesepadanan dan keparalelan. Selain itu, pada teks berita karya mahasiswa paket keahlian jurnalistik angkatan 2006—2009 terdapat kesalahan dalam penulisan kehematan kalimat efektif pada aspek penulisan hiponim. Hasil penelitian pada penerapan kaidah EYD menunjukkan bahwa secara umum mahasiswa paket keahlian jurnalistik sudah menerapkan kaidah EYD seperti penulisan huruf kapital, penulisan huruf miring, penulisan singkatan, dan penulisan angka. Akan tetapi, pada teks berita karya mahasiswa paket keahlian jurnalistik angkatan 2006 dan 2008 terdapat kesalahan penulisan huruf kapital pada aspek jabatan tidak diikuti nama orang. Selain itu, juga banyak ditemukan kesalahan pada penulisan angka pada teks berita karya mahasiswa paket keahlian jurnalistik angkatan 2007—2009. Hanya pada teks berita karya mahasiswa angkatan 2006 saja yang benar dalam penulisan angka. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa saran yang dapat disampaikan, yaitu (1) para dosen mata kuliah menulis berita untuk lebih memperhatikan mahasiswa dalam kegiatan menulis berita, khususnya pada aspek kalimat jurnalistik dan penerapan EYD, (2) bagi mahasiswa, penelitian ini dapat dijadikan gambaran ke depan untuk bahan pertimbangan dan referensi dalam penulisan berita, (3) bagi peneliti selanjutnya, perlu diadakan penelitian sejenis mengenai karakteristik kalimat jurnalistik serta pemilihan diksi dalam teks berita untuk memperoleh karakteristik penulisan berita yang menarik.

Kajian komponen ragam rancangan acak lengkap dengan pengukuran berulang beserta aplikasinya (studi kasusa di Balittas Malang) / Bunga Suci Bintari Rindyana

 

Rindyana, Bunga Suci Bintari. 2012. Kajian Komponen Ragam Rancangan Acak Lengkap dengan Pengukuran Berulang Beserta Aplikasinya (Studi Kasus di Balittas Malang). Skripsi, Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I)Ir. Hendro Permadi, M.Si (II) Drs. Eddy Budiono, M.Pd kata kunci: komponen ragam, RAL, pengukuran berulang Salah satu tujuan dilakukan percobaan adalah untuk melihat pengaruh faktor perlakuan terhadap respon yang diamati. Pada umumnya dalam rancangan percobaan dilakukan analisis ragam per waktu pengamatan, jika analisis ragam seperti ini dilakukan pada rancangan pengukuran berulang maka uji hipotesis yang dilakukan tidak signifikan. Oleh karena itu dalam rancangan pengukuran berulang analisis ragam dilakukan secara serentak sehingga diperoleh hasil yang signifikan. Untuk melihat ada tidaknya pengaruh di dalam pengukuran berulang diperlukan uji F melalui analisis ragam untuk mempermudah dalam menganalisis datanya. Dalam penelitian ini akan dijabarkan komponen ragam pada tiap sumber keragaman melalui proses aritmatika dengan harapan pengujian F hitungnya tepat sehingga akan dihasilkan kesimpulan yang tepat pula. Hasil pada penelitian ini menjelaskan bahwa komponen ragam Dari penjabaran nilai kuadrat tengah dapat diperoleh bahwa faktor A terdiri dari komponen ragam galat a, galat b dan ragam faktor yang diujicobakan, faktor B terdiri dari komponen ragam galat b dan ragam faktor waktu yang diberikan dan faktor interaksi AB terdiri dari ragam galat b dan ragam interaksi dua faktor yang diujicobakan tersebut. Sedangkan hasil penerapan rancangan pengukuran berulang ini terhadap penelitian jarak pagar diperoleh hasil bahwa perlakuan, waktu pengamatan dan interaksi perlakuan dengan waktu pengamatan yang diberikan memberikan pengaruh terhadap respon.

Identifikasi gaya belajar matematika siswa kelas VII di SMP Negeri 14 Malang / Yudha Agustama

 

Agustama, Yudha. 2013. Identifikasi Gaya Belajar Matematika Siswa Kelas VII di SMP Negeri 14 Malang. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si Kata Kunci: gaya belajar, masalah matematik, kecerdasan majemuk Cara termudah bagi seseorang untuk belajar dan bagaimana mereka memahami suatu hal (pelajaran) bisa dipahami sebagai gaya belajar dari seseorang. Gaya belajar dari siswa bisa diamati dari kecerdasan majemuk yang mereka miliki. Gardner menyatakan ada delapan kecerdasan dalam teori kecerdasan majemuk yaitu kecerdasan linguistik, matematik, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Penelitian ini difokuskan untuk mendeskripsikan gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik yang selanjutnya disebut gaya belajar matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah instrumen lembar soal dan instrumen lembar observasi, yang keduanya merupakan alat untuk menggambarkan gaya belajar dari siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII.1 dan VII.2 Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Malang yang terpilih berdasarkan kriteria kesalahan masing-masing dalam menjawab lembar soal. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan pendokumentasian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik yang masing-masing siswa mempunyai kecenderungan tipe gaya belajar tersendiri. Tetapi, pada tahap-tahap tertentu ada siswa yang menggunakan kombinasi dua gaya belajar (visual-audio, visual-kinestetik, dan audio-kinestetik) dan satu gaya belajar (auditorial). Hal ini juga didukung dari hasil observasi dari gaya belajar siswa secara umum. Secara keseluruhan, siswa memiliki kecenderungan tertinggi dalam menyelesaikan masalah matematik dengan menggunakan gaya belajar visual. Dengan demikian, ketika guru memberikan pembelajaran kepada siswa sesuai dengan gaya belajarnya maka dia akan mampu meningkatkan kemampuan belajar siswa secara maksimal maksudnya maksimal dalam hal penyerapan materi, sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah sampai tuntas. Selain itu, siswa menjadi sadar akan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah matematik, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan refleksi untuk terus memacu semangat belajarnya menjadi lebih baik.

Penerapan model pembelajaran reciprocal teaching untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan segitiga siswa kelas VII-C SMP Negeri 2 Kepanjen / Widiya Pakartining Kawedar

 

Kawedar, Widiya Pakartining. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada Pokok Bahasan Segitiga Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 2 Kepanjen. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Abdul Qohar M.T Kata kunci: model pembelajaran Reciprocal Teaching, hasil belajar. Paradigma pendidikan saat ini mengalami perubahan. Salah satu akibatnya, proses pembelajaran juga berubah. Proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa di mana siswa terlibat langsung untuk menggali pengetahuan baru. Untuk itu diperlukan suatu variasi model pembelajaran yang sesuai agar siswa merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada saat wawancara dengan guru matematika SMP Negeri 2 Kepanjen, pembelajaran untuk pokok bahasan segitiga menggunakan metode ceramah. Siswa tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi dan ketika dilakukan evaluasi, banyak siswa yang tidak berhasil mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan prosentase siswa yang mendapatkan nilai ulangan matematika nilainya diatas 75 hanya 44,5%. Melalui model pembelajaran Reciprocal Teaching ini, peneliti bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VII-C SMP Negeri 2 Kepanjen pada materi Segitiga. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing melalui empat tahapan, yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap observasi, (4) tahap refleksi.

Pemanfaatan database pada prototype program soal online berbasis Macromedia Flash / Izmi Handayani

 

Pengembangan modul pembelajaran soal cerita matematika kontekstual berbahasa Inggris untuk siswa kelas X / Eka Lestari

 

Lestari, Eka. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran Soal Cerita Matematika Kontekstual Berbahasa Inggris Untuk Siswa Kelas X. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Abdur. Rahman As’ari, M. Pd., M. A. Kata Kunci: modul, soal cerita, persamaan kuadrat     Pada saat ini mayoritas guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran yang terpusat pada guru ini mengakibatkan kreativitas siswa terhambat. Siswa juga akan kehilangan motivasi belajar. Selain itu, buku teks yang digunakan belum dapat mendukung guru dan siswa mencapai tujuan belajar. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan modul dalam kegiatan pembelajaran. Modul dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa karena siswa diberi kesempatan untuk belajar mandiri. Salah satu materi dalam matematika yang dianggap siswa sarat akan rumus adalah persamaan kuadrat. Materi ini belum diajarkan secara maksimal khususnya dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Oleh karena itu, masalah yang dituliskan dalam modul berupa soal cerita matematika kontekstual.     Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan suatu modul pembelajaran soal cerita matematika kontekstual berbahasa Inggris. Modul ini diharapkan dapat membantu siswa belajar secara aktif dan mandiri. Modul ini juga dapat membantu siswa dalam mempelajari soal cerita persamaan kuadrat yang ada di kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa dapat belajar bahasa Inggris matematika dengan menggunakan modul ini.     Modul ini dikembangkan dengan menggunakan model ADDIE yang memiliki lima tahap. Kelima tahap itu adalah analyze, design, develop, implement, and evaluate. Pada tahap analyze dilakukan analisis pembelajaran dan materi soal cerita persamaan kuadrat. Pada tahap design dirancang format modul soal cerita yang akan dikembangkan. Pada tahap develop, rancangan yang diperoleh dari tahap design dikembangkan menjadi modul soal cerita. Pada tahap implement, modul yang dikembangkan diujicobakan kepada dosen, guru, dan siswa. Pada tahap evaluate, hasil uji coba dievaluasi dan dilakukan revisi pada bagian-bagian dari modul yang perlu diperbaiki. Produk pengembangan diujicobakan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) validasi modul oleh dosen dan guru matematika, (2) validasi bahasa Inggris yang digunakan dalam modul, dan (3) uji keterbacaan modul oleh delapan siswa kelas X billingual. Data kualitatif maupun kuantitatif dikumpulkan dengan menggunakan angket.     Persentase hasil penilaian dari kegiatan validasi modul oleh dosen dan guru matematika adalah 91 % . Hal ini menunjukkan bahwa modul pembelajaran soal cerita matematika kontekstual berbahasa Inggris berada pada kriteria sangat valid. Persentase hasil penilaian guru bahasa Inggris adalah 75 %. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Inggris yang digunakan dalam modul berada pada kriteria valid. Hasil dari uji keterbacaan modul menunjukkan bahwa modul dapat memotivasi belajar siswa karena menyajikan masalah soal cerita yang menantang dan bahasa Inggris matematika yang membutuhkan pemahaman lebih. Modul direvisi dengan menuliskan check your readiness, mini dictionary, dan mengganti kalimat pasif menjadi kalimat aktif berdasarkan saran atau komentar dari subjek uji coba.     Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan, modul pembelajaran ini terdiri dari bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Modul memberikan tantangan baru kepada siswa dalam belajar. Hal ini dikarenakan soal cerita persamaan kuadrat nonverbal yang dituliskan dalam bahasa Inggris dan berkaitan dengan permasalahan kontekstual belum pernah dibaca siswa. Modul ini juga memotivasi siswa untuk belajar matematika berbahasa Inggris. Selain itu, siswa dapat belajar secara mandiri dengan menggunakan modul ini. Hal ini dikarenakan oleh modul ini dilengkapi langkah-langkah sistematis yang dapat membimbing siswa. Saran dari penelitian ini adalah peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan uji keefektifan modul dalam pembelajaran. Selain itu, modul soal cerita pada materi yang lain dengan bahasa Inggris yang komunikatif, desain yang menarik, dan ekonomis perlu dikembangkan.

Analisis kesesuaian soal-soal latihan pada buku teks matematika SMA kelas X dengan kompetensi dasar berdasarkan ranah kognitif taksonomi Bloom / Rinawati

 

Rinawati. 2013. Analisis Kesesuaian Soal-Soal Latihan pada Buku Teks Matematika SMA Kelas X dengan Kompetensi Dasar Berdasarkan Ranah Kognitif Taksonomi Bloom. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Tri Hapsari Utami, M.Pd. Kata Kunci: kesesuaian soal, kompetensi dasar, taksonomi bloom, buku teks matematika     Saat ini banyak diterbitkan dan beredar di pasaran buku teks matematika pendukung pembelajaran yang menggunakan dua bahasa (Bilingual) atau full English Version. Namun, kualitas buku teks tersebut perlu diperhatikan karena salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan dalam pembelajaran. Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan penyajian konsep matematika yang belum menggunakan istilah-istilah matematika dengan benar dan bahasa Inggris yang digunakan kurang komunikatif, sedangkan fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji kesesuaian soal-soal latihan pada buku teks dengan kompetensi dasar yang menggunakan ranah kognitif Taksonomi Bloom.     Objek kajian dalam penelitian ini adalah buku teks matematika SMA Kelas X yaitu YM. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesesuaian soal-soal latihan pada buku teks matematika SMA kelas X dengan kompetensi dasar yang mengacu pada kurikulum yang berlaku (KTSP) dan dianalisis berdasarkan ranah kognitif Taksonomi Bloom. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan rancangan deskriptif. Dari hasil penelitian diperoleh data yaitu ada 141 soal latihan pada buku teks YM yang dikategorikan berdasarkan ranah kognitif Taksonomi Bloom dengan rincian 136 soal dari Chapter 1 Exponent, Root and Logarithm dan 5 soal dari Chapter 2 Quadratic Functions, Equations and Inequalities. Dari 141 soal tersebut, terdapat 18 soal tingkatan C1-C2; 34 soal tingkatan C2-C3; 72 soal tingkatan C3 dan 12 soal tingkatan C3-C4, 5 soal tingkatan C4. Soal-soal latihan yang terdapat pada Chapter 1 Exponent, Root and Logarithm telah mendukung ketercapaian kompetensi dasar 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma karena sudah memenuhi kriteria kategori C3 lebih dari sama dengan 70%. Namun, soal-soal latihan pada Chapter 2 Quadratic Functions, Equations and Inequalities masih belum mendukung ketercapaian 2.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan/atau fungsi kuadrat; 2.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan/atau fungsi kuadrat dan penafsirannya karena belum memenuhi kriteria kategori C4, C5 dan C6 lebih dari sama dengan 70%. Oleh karena itu, penulis memberikan solusi dengan memberikan beberapa contoh soal latihan khususnya untuk soal yang kategorinya belum terpenuhi yaitu kategori C4, C5 dan C6.

Implementasi algoritma genetika hybrid (best improvement search) pada vehicle routing problem with time Window / Fitria Dwi Rosi

 

Rosi, Fitria Dwi. 2012. Implementasi Algoritma Genetika Hybrid (Best Improvement Search) pada Vehicle Routing Problem With Time Window. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I). Prof. Drs. Purwanto, Ph.D, (II). Mohamad Yasin, S.Kom, M.Kom. Kata kunci: Graph, Vehicle Routing Problem (VRP), Vehicle Routing Problem With Time Window (VRPTW), Algoritma Genetika Hybrid, Best Improvement Search . Vehicle Routing Problem With Time Window (VRPTW) pengembangan dari Vehicle Routing Problem (VRP) mencari rute dan jumlah kendaraan dengan kendala kapasitas dan waktu pelayanan. Algoritma genetika hybrid merupakan gabungan dari algoritma genetika dan local search (best improvement search). Dari uji coba yang dilakukan solusi yang dihasilkan algoritma genetika hybrid sama atau lebih baik daripada algoritma genetika dan metode-metode heuristic. Hal ini dipengaruhi oleh adanya local search. Solusi dari local search akan lebih baik jika pada langkah awal telah ditemukan nilai fitness yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam skripsi ini dapat dilihat bahwa algoritma genetika hybrid dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah VRPTW, dimana solusi yang diberikan tidak tunggal dengan jarak tempuh yang sama. Selanjutnya, agar lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan VRPTW, algoritma genetika hybrid (best improvement search) direpresentasikan dalam program komputer menggunakan Borland Delphi 7. Akan tetapi, terdapat kelemahan program yaitu beberapa parameter yang harus diperhatikan, diantaranya banyaknya populasi dan generasi yang mempengaruhi lamanya iterasi. Untuk titik dengan jumlah generasi error. Dikarenakan perulangan algoritma sangat banyak, sehingga error. Jadi dalam algoritma genetika hybrid perlu diperhatikan jumlah titik, jumlah generasi dan jumlah populasi.

Pengembangan lembar kerja siswa pokok bahasan aturan pangkat, akar, dan logaritma untuk SMA kelas X dengan pendekatan penemuan terbimbing / Fahrur Rozi Hadiyanto

 

Hadiyanto, Fahrur, Rozi. 2013. Pengembangan Lembar Kerja Siswa Pokok Bahasan Aturan Pangkat, Akar, Dan Logaritma Untuk Sma Kelas X dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Jurusan Matematika. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sisworo, M.Si. Kata kunci: Lembar Kerja Siswa, Pendekatan Penemuan Terbimbing, Pangkat, Akar, dan Logaritma.     Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa di lapangan, Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan oleh siswa cenderung kurang menarik minat siswa. Beberapa siswa menyebutkan bahwa pada LKS langsung memberikan rumus atau sifat tentang pokok bahasan yang diberikan. Pada kelas X terdapat pokok bahasan Aljabar yang memuat rumus atau sifat tentang pangkat, akar, dan logaritma. Pada umumnya siswa hanya menghafal dan mengingat rumus atau sifat dari pangkat, akar, dan logaritma, sehingga apabila mereka mendapatkan masalah yang sedikit berbeda dari contoh mereka kesulitan dalam menggunakan rumus yang diberikan. Oleh karena itu, pengembang terdorong untuk mengembangkan LKS beracuan pendekatan penemuan terbimbing pada materi pangkat, akar, dan logaritma.          Pengembangan LKS menggunakan metode 4-D dengan menggunakan empat tahap yaitu Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), and Disseminate (Penyebarluasan) (Hobri,2010). Namun, karena keterbatasan waktu maka pengembang hanya sampai pada tahap develop. LKS yang dikembangkan divalidasi oleh dua validator yaitu satu dosen matematika dan satu guru SMA. Setelah itu LKS divalidasikan pada 10 siswa SMA untuk mengetahui tingkat keberhasilan LKS tersebut dalam membantu siswa memahami materi pangkat, akar, dan logaritma.      LKS yang dikembangkan telah memenuhi tiga tahap uji coba, yaitu (1) kevalidan, (2) kepraktisan, dan (3) keefektifan. Dari hasil validasi dan setelah di analisis LKS dinyatakan sangat valid dengan persentase 93,06%, LKS dinyatakan praktis karena telah membantu siswa dalam memahami suatu materi, LKS dinyatakan telah efektif karena semua subjek uji coba telah mencapai KKM yang ditentukan yaitu 75,00. Dengan demikian LKS dapat digunakan dalam pembelajaran.

Pengembangan lembar kerja siswa dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada pokok bahasan faktorisasi aljabar untuk kelas VIII SMP / Irma Retna Ayuningrum

 

Kata Kunci: Pengembangan LKS, Inkuiri Terbimbing, Faktorisasi Aljabar Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu sumber belajar. Berdasarkan survei, SMP Negeri 8 Malang menggunakan LKS untuk menunjang pembelajaran dalam pelaksanaan kurikulumnya. LKS matematika yang beredar di sekolah bersifat drill. Observasi pada bulan Juli sampai September 2012, yang dilakukan pada suatu kelas VIII di sekolah tersebut, menunjukkan bahwa LKS tidak pernah digunakan oleh guru. Guru pengajar menyampaikan bahwa LKS yang ada kurang menarik minat belajar siswa dan kualitas isinya rendah karena hanya berisi kumpulan soal yang tidak variatif. Sementara itu berdasarkan data nilai hasil ulangan harian siswa, lebih dari 80% siswa di kelas tersebut mengalami kesulitan menuntaskan kompetensi dasar faktorisasi aljabar. Peneliti mendapatkan data pustaka, pada beberapa penelitian sebelumnya LKS dengan pendekatan inkuiri terbimbing mampu membantu siswa memahami konsep matematika dalam berbagai pokok bahasan. Berdasarkan hal tersebut peneliti bermaksud mengembangkan LKS yang valid dan praktis dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada pokok bahasan faktorisasi aljabar. Model Pengembangan yang digunakan adalah Model 4-D milik Thiagarajan. Terdapat empat tahapan dalam model pengembangan ini, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran. Tahap keempat yaitu penyebaran tidak dilaksanakan tetapi dimasukkan sebagai saran pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut. LKS dikembangkan dengan menggunakan enam karakteristik pendekatan inkuiri terbimbing yang dirumuskan oleh Kuhlthau dan Ross Todd. Penelitian dan Pengembangan dilaksanakan sejak bulan Januari sampai Maret. Kegiatan validasi LKS dilakukan oleh satu orang dosen dan satu orang guru matematika SMP. Uji coba produk LKS dilakukan terhadap empat siswa kelas VIII SMP Negeri 8 yang dipilih berdasarkan jenis kelamin dan tingkat kemampuan matematis di kelasnya serta dua orang siswa SMP Islam Ma’arif 2 Malang yang dipilih secara acak. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar validasi dan angket siswa. Setelah dilakukan analisis data, berdasarkan kriteria kevalidan yang diadaptasi dari Arikunto dan tingkat kepraktisan yang diadaptasi dari Hobri, hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan valid dan praktis dengan prosentase kevalidan 85,15% dan rata-rata skor kepraktisan 3,26. Namun keefektifan LKS dalam membantu siswa menuntaskan kompetensi dasar faktorisasi aljabar belum dapat diketahui karena uji coba dilaksanakan dalam kelompok kecil yang telah menempuh materi tersebut. Oleh karena itu diharapkan akan ada penelitian lebih lanjut pada kelompok besar untuk mengetahui tingkat keefektifan LKS.

Pengembangan media video pembelajaran berbasis multimedia dalam mata kuliah CNC lanjut untuk mesin CNC PU3A bagi mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Arga Makutha Sakti

 

Makutha Sakti, Arga. 2013. Pengembangan Media Video Pembelajaran Berbasis Multimedia Dalam Mata Kuliah CNC Lanjut Untuk Mesin CNC PU3A Bagi Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pend. Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Abdul Qolik, M.M., M.Pd. (2) Drs. Basuki, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan Media, Mesin CNC PU3A. Pada jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, terdapat mata kuliah CNC Lanjut. Mata kuliah CNC Lanjut merupakan salah satu mata kuliah praktik yang harus ditempuh oleh mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin dan ini baru diterapkan pada kurikulum 2008. Salah satu sub kompetensi yang harus dicapai adalah mahasiswa mampu mengenal tombol mesin, setting pahat, setting benda kerja dan eksekusi benda kerja pada mesin CNC PU3A dengan benar dan sesuai prosedur. Belum adanya media pembelajaran menyebabkan pencapaian kompetensi mata kuliah CNC Lanjut tidak maksimal, maka penulis ingin mengembangkan sebuah media pembelajaran menarik dengan materi fungsi tombol mesin, setting pahat, setting benda kerja, dan eksekusi benda kerja pada mesin CNC PU3A dalam bentuk software Macromedia Flash 8. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan media pembelajaran sebagai sarana pendukung proses pembelajaran standart kompetensi meliputi fungsi tombol mesin, setting pahat, setting benda kerja, dan eksekusi benda kerja pada mata kuliah CNC Lanjut menggunakan mesin CNC PU3A. Metode pengembangan menggunakan model R&D Borg dan Gall. Uji coba dilakukan dengan meminta masukan dari (1) ahli materi, (2) ahli media, (3) uji coba perorangan, (4) uji coba kelompok kecil, dan (5) uji coba lapangan. Hasil analisis ahli materi valid dengan prosentase 91% dikatagorikan layak untuk dipakai. Hasil analisis ahli media dinyatakan valid dengan prosentase 97% dikatagorikan layak untuk dipakai. Uji coba perorangan dinyatakan valid dengan prosentase 86% dikatagorikan layak untuk dipakai. Uji coba kelompok kecil dinyatakan valid dengan prosentase 87% dikatagorikan layak untuk dipakai. Uji coba lapangan dinyatakan valid dengan prosentase 86% dikatagorikan layak untuk dipakai. Media yang telah direvisi, disimpan dalam bentuk CD untuk dapat digunakan di dalam pembelajaran perkuliahan.

Sistem informasi hasil belajar siswa SMP N 1 Pulung Ponorogo berbasis WEB / Hisyam Eko Prayitno

 

Prayitno, Hisyam Eko, 2013. Sistem Informasi Hasil Belajar Siswa SMP Negeri 1 Pulung Ponorogo Berbasis Web. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1), M.Zainal Arifin, S.Si., M.Kom (2) Dyah Lestari, S.T., M. Eng. Kata Kunci: Sistem Informasi, Hasil Belajar, Web, PHP, MySql Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini sudah cukup maju, khususnya di bidang teknologi informasi dan komputer. Hal tersebut terlihat dengan adanya peningkatan pengguna komputer dalam menanganan pengolahan data. Saat ini komputer menjadi salah satu pilihan utama di setiap instansi pemerintah maupun pendidikan. Pengolahan data secara manual, dimana masih bergantung pada lembaran-lembaran kertas sebagai media penyimanan data tersebut. Jika dilihat dari segi biaya, waktu dan tenaga, hal tersebut sudah tidak efisien lagi. Bahkan kerahasiaan data pun belum tentu bisa dipastikan aman. Metode perancangan yang digunakan pada aplikasi Sistem Infomasi Hasil Belajar Siswa adalah sistem informasi berbasis open source yang dapat diaplikasikan pada sekolah baik dalam skala kecil maupun skala besar, dengan didukung program PHP sebagai bahasa pemrograman web, MySQL sebagai pengolahan database, dan Web Server menggunakan Xampp. Hasil dari tugas akhir ini berupa aplikasi sistem informasi hasil belajar siswa b erbasis web dengan program pendukung PHP dan MySQL dengan keseluruhan data dikelola oleh admin yang terdapat pada halaman admin, sedangkan user hanya dapat mengelola data siswa dan nilai saja. Untuk meng¬-input-kan nilai, dapat di-upload dari komputer dengan format file ecxel 2003 (.xls). Sedangkan untuk nilai rapor, setiap nilai yang dimasukan akan dikalikan dengan persentase yang telah ditentukan oleh, kemudian semua jenis nilai dijumlahkan dan hasilnya akan dimasukan kedalam rapor.

Media interaktif bahasa Jepang sebagai sumber belajar mandiri bagi siswa kelas X SMAK Diponegoro Blitar / Karina Puspadila

 

Puspadila, Karina. 2013. Media Interaktif Bahasa Jepang Sebagai Sumber Belajar Mandiri Siswa Kelas X di SMAK Diponegoro. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T., (II): M. Jauharul Fuady, S.T., M.T. Kata Kunci : Media Interaktif, Bahasa Jepang, Flash. Abstrak penelitian ini memaparkan dan menghasilkan media interaktif bahasa Jepang yang memudahkan siswa untuk mempelajari, memahami, dan mengembangkan bahasa Jepang melalui aplikasi Flash. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana cara membangun media pembelajaran bahasa Jepang Kelas X SMAK Diponegoro. Metode yang digunakan pada media ini adalah research and development atau penelitian dan pengembangan, yakni suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada. Yang dimaksud dengan produk dalam konteks ini adakah tidak selalu berbentuk hardware (buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas dan laboraturium), tetapi bisa juga perangkat lunak (software) seperti program untuk pengolahan data. Media Interaktif Bahasa Jepang berbasis aplikasi Adobe Flash CS5 menghasilkan materi mengenai kaiwa (percakapan) berbentuk video, serta aplikasi ini juga terdapat cara membaca, langkah menulis huruf Jepang dan pengucapan suatu kata yang benar. Program ini diimplementasikan dengan sistem operasi Windows 7, Flash Player 10, dan didistribusikan dalam bentuk CD autorun yang dapat berjalan secara otomatis.

Perancangan animasi 2 dimensi ensiklopedia serangga sebagai media pengenalan tentang kumbang badak Jepang untuk siswa sekolah dasar / Antio Goutama

 

Karakteristik penilaian performansi pada mata pelajaran bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Poncokusumo tahun ajaran 2012/2013 / Sulton Ma'arif

 

Kajian semiotik unsur verbal dalam pertunjukan seni jaran bodhag Kota Probolinggo / Slamet Idina Julaeha

 

Julaeha, Slamet Idina. 2013. Kajian Semiotik Unsur Verbal dalam Pertunjukan Seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum. Kata Kunci: kajian semiotik, unsur verbal, kesenian jaranan, Jaran Bodhag Cerita, humor, pantun, syair, dan kidungan merupakan unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag. Jika unsur verbal tersebut dilihat sebagai sebuah teks maka bisa dihubungkan dengan semiotika. Teks pada unsur verbal tersebut tentunya memiliki sesuatu yang bisa dijadikan tanda oleh masyarakat di sekitarnya. Dalam kurun waktu terakhir ini, penelitian tentang tanda di dalam unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag masih belum ada. Berdasarkan hal itu, maka diperlukan pembahasan mengenai kajian semiotik unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu jenis tanda verbal dalam cerita, nama-nama sesajen, dan kidungan pada pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan pendekatan penelitian semiotik. Pada penelitian ini peneliti berperan sebagai pengamat partisipan. Data penelitian ini berupa data yang diperoleh melalui pengamatan partisipasi pasif dan perekaman unsur verbal pertunjukan seni Jaran Bodhag di Kota Probolinggo yang diselenggarakan di bulan Oktober dan November, yaitu pada tanggal 23 Oktober 2012 di Desa Ranuyoso, tanggal 29 Oktober di desa Jrebeng, dan 6 November 2012 di Desa Tiris. Sumber data penelitian ini dari rekaman pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo, 3 informan kunci dan 20-25 informan tindak lanjut. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan perekaman, serta wawancara. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrumen utama. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat diperlukan adanya pengecekan keabsahan data yang meliputi perpanjangan keikutsertaan, trianggulasi, dan diskusi dengan teman sejawat. Berdasarkan temuan penelitian, diperoleh data berupa unsur verbal berupa cerita pertunjukan Jaran Bodhag, nama-nama sesajen, kidungan, dan hal-hal yang mendukung cerita pertunjukan Jaran Bodhag, yaitu Jaran Bodhag, tokoh janis, pengantin sunat, lawakan, dan alat-alat musik. Cerita yang dimainkan di dalam pertunjukan Jaran Bodhag, yaitu tentang pengantin sunat, tetapi cerita yang dimainkan bisa disesuaikan dengan permintaan tuan rumah, misalnya, tentang pernikahan. Adapun cerita tentang asal-usul Jaran Bodhag adalah berawal dari seorang ayah yang ingin memberikan kebahagiaan kepada anaknya yang ingin sunat. Pada saat pertunjukan, cerita yang dimainkan bertitik tolak pada perkawinan kuda dan pengantin sunat. Sesajen terbagi atas dua macam, yaitu sesajen untuk tuan rumah dan sesajen untuk pemain, gamelan, dan pengantin dalam pertunjukan Jaran Bodhag. Adapun sesajen untuk pemain, gamelan, dan pengantin dalam pertunjukan Jaran Bodhag terdiri atas beras putih, kelapa, ayam mentah dan hidup, dua tandan pisang yang masing-masing jenisnya sama, jajan tujuh rupa, sirih dan pinang, tembakau dan cengkeh, gula dan kopi, bunga, kopi, santan, jenang putih, jenang merah, lawon atau sewek, perapian dan kemenyan. Sementara itu, sesajen untuk tuan rumah atau yang punya hajatan terdiri atas berbagai macam barang yang digantung pada seutas tali rafia yang masing-masing ujungnya diikatkan pada tiang. Barang-barang yang digantung itu kemudian digantung di depan pentas yang nantinya akan dipakai untuk pertunjukan. Pada saat pertunjukan Jaran Bodhag, barang-barang itu akan dijadikan sebuah lagu yang berbentuk pantun. Adapun bentuk lagunya yaitu dengan menyebutkan beberapa barang menjadi satu larik kemudian diartikan menurut pemikiran dari pemain drama Jaran Bodhag. Kidung adalah sejenis nyanyian seperti sebuah lirik atau syair yang dinyanyikan. Bahasa yang digunakan dalam kidungan adalah bahasa sehari-hari masyarakat sekitar, yaitu bahasa Madura atau bahasa Jawa. Kidungan Jawa ada Suroboyoan, dan Malangan. Syair yang dinyanyikan biasanya diambil dari sejarah dan pantun. Sementara itu, kidungan Madura terbagi atas candaan atau cerita lucu dan pantun. Macam-macam kidungan Madura antara lain angleng, gunung sari, beleng kekek. Namun semua tembang baik Jawa dan Madura pada awalnya diambil dari gending jula-juli. Adapun dari deskripsi data dan pembahasan tentang kajian semiotik unsur verbal dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo dapat dikemukakan tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pada cerita di dalam pertunjukan Jaran Bodhag terdapat unsur verbal yang diucapkan oleh beberapa orang, yaitu narator, tokoh janis, tuan rumah, dan penonton yang memberikan saweran. Di dalam unsur verbal itu terdapat sistem ketandaan yang mempunyai hubungan dengan objek lain yang menjadi acuannya. Jenis tanda yang terdapat dalam cerita pertunjukan seni Jaran Bodhag Kota Probolinggo, yaitu indeks, ikon diagramatis, ikon imagis, dan simbol. Kedua, unsur verbal dalam sesajen terdapat pada sesajen untuk tuan rumah, sedangkan unsur verbal dalam sesajen untuk pemain, gamelan, dan pengantin hanya berupa pembacaan doa. Unsur verbal dalam penggantungan sesajen disajikan dengan bentuk pantun yang dilagukan. Pada nama-nama sesajen, tanda yang terdapat di dalamnya hanyalah ikon diagramatis karena pada semua baitnya terdapat pengulangan bunyi akhir kata pada tengah dan akhir tiap baris sehingga menciptakan suatu harmoni dalam tiap baitnya. Ketiga, unsur verbal kidungan merupakan unsur verbal mayoritas yang ada dalam pertunnjukan seni Jaran Bodhag. Adapun kidungan yang dilantunkan dalam pertunjukan seni Jaran Bodhag berupa kidungan jula-juli bahasa Jawa dengan tema sejarah, kidungan jula-juli Jawa berupa pantun, dan kidungan jula-juli Madura. Selain kidungan yang mendukung isi cerita, terdapat juga kidungan yang tidak terkait dengan cerita, yaitu kidungan dalam cerita lawakan. Tanda yang terdapat dalam kidungan ini adalah indeks, ikon diagramatis, dan ikon metaforis

Perancangan komik berjudul "Kartenagara, Raja Terakhir Singosari" untuk remaja / Denni Andria Toni

 

Toni, Denni Andria. 2013. Perancangan Komik Berjudul “Kertanegara, Raja Terkahir Singosari” untuk Remaja. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji (II) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn Kata Kunci: perancangan, komik , sejarah, singosari, kertanegara Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan khas Indonesia yang tidak lepas dari pengaruh adat istiadat dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia, cerita rakyat juga perlu dijaga dan dilestarikan. Namun dewasa ini, pada kenyataanya cerita-cerita rakyat di Indonesia masih kurang diminati keberadaanya. Dengan permasalah tersebut maka diperlukan sebuah media untuk menyajikan cerita rakyat yang dapat mewakili jati diri bangsa Indonesia dan mendidik para generasi muda untuk mempunyai rasa nasionalisme tinggi terhadap bangsa Indonesia. Sejalan dengan harapan di atas, maka dipilihlah salah satu media berupa cerita bergambar/komik yang mengangkat cerita dari daerah Malang. Cerita yang di angkat dari kerajaan Singosari yaitu raja terkahir Singosari, Raja Kertanegara. Kertanegara merupakan raja terakhir dan terbesar dalam sejarah Singosari (1268-1292). Namun tidak banyak yang mengangkat kisah Kertanegara yang dituangkan dalam media cerita bergambar/komik. Format pemilihan buku cerita bergambar ini adalah berbentuk komik, yaitu buku yang di lengkapi gambar ilustarsi sebagai penjelas teks narasi. Komik menjadi pilihan karena adanya kecenderungan, para remaja lebih menyukai bacaan media hiburan seperti komik dibandingkan dengan buku sejarah yang terlalu rumit untuk dipahami. Perancangan ini akan menghasilkan produk sebuah buku komik terdiri dari 32 halaman. Gaya ilustrasi yang dipakai adalah pengembangan dari gaya ilustrasi realis agar dapat diminati oleh target audiens. Dari proses perancangan ini dapat diambil kesimpulan bahwa komik dapat dipakai sebagai salah satu pilihan media ilmu pengetahuan dan hiburan. Dan sebagai paduan media bagi komik Kertanegara ini maka dibuat juga media pendukung berupa x-banner, stiker, pin, pembatas buku poster dan leaftlet. Melalui media komik ini, cerita raja terakhir Singosari yaitu Raja Kertanegara diharapkan dapat tervisualisasikan dengan jelas dan menarik, dengan ilusatrasi yang disesuaikan dengan segmentasi remaja. Kedepannya nanti diharapkan konsep tema dari perancangan buku ini akan dapat diterapkan untuk perancangan buku yang selanjutnya dengan jenis tema yang lain untuk target market yang lain pula, seperti materi sejarah Raden Wijaya dari kerajaan Majapahit atau kisah raja-raja lain di Indonesia.

Hubungan antara kematangan emosi dan konsep diri dengan penyesuaian diri mahasiswi yang menikah dini di Universitas Negeri Malang / Michel Ardyanto

 

Pengembangan pembelajaran menggunakan kartu gambar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa di kelompok A RA Hidayatul Mubtadiin Blawi Masangan, Bangil / Kholifatu Sadikyah

 

Sadikyah, Kholifatu. 2012. Pengembangan Pembelajaran Menggunakan kartu Gambar untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa kelompok A di RA Hidayatul Mubtadiin Blawi Masangan, Bangil. Skripsi, Program Studi PG PAUD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Kentar budhojo, M. Pd, (II) Drs. Heru Widijoto, M. S Kata Kunci: pengembangan, pembelajaran, menggunakan kartu gambar, bahasa. Aspek pengembangan yang perlu diperhatikan pada anak usia dini adalah kognitif, bahasa, sosial emosional, moral agama dan motorik. Terkait dengan pembinaan anak usia dini yang berkualitas, salah satu komponen tersebut adalah program pengembangan kemampuan bahasa yang tepat dan sesuai. Berdasarkan hasil wawancara terhadap satu orang guru RA hidayatul Mubtadiin Blawi Masangan, Bangil ditemukan temuan bahwa, (a) kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa belum pernah menerapkan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran menggunakan gambar yang mengenalkan kata dan suku kata. (b) pembelajaran bahasa menggunakan gambar kartu gambar belum pernah dilakukan. (c) guru setuju jika dikembangkan pembelajaran bahasa menggunakan kartu gambar di sekolah itu. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan pembelajaran bahasa menggunakan kartu gambar yang diharapkan dapat memberi kemudahan bagi anak untuk mengenal suku kata dan kata, menyenangkan anak pada pembelajaran bahasa dan menarik minat anak untuk belajar serta dapat membuat anak aktif pada pembelajaran bahasa pada anak RA Hidayatul Mubtadiin Blawi Masangan, Bangil khususnya kelompok A. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan melalui prosedur: 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, 2) melakukan perencanaan selanjutnya dievaluasi para ahli, 3) mengembangkan bentuk produk awal, 4) melakukan uji coba kelompok kecil dengan 8 subyek, 5) melakukan revisi terhadap produk awal, 6) melakukan uji coba lapangan (kelompok besar) dengan 34 subyek. Instrument yang digunakan berupa kuesioner berisi tentang rancangan produk dan hasil produk. Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif berupa presentase dari ahli pembelajaran PAUD serta ahli bahasa dan tehnik analisis kualitatif yang berupa saran dari ahli pembelajaran PAUDdini dan ahli pembelajaran ahli bahasa. Hasil pengembangan pada analisis data kuantitatif uji lapangan diproleh presentase yaitu: (1) 100% anak mudah menggunakan kartu gambar, (2) 100% anak senang menggunakan kartu gambar, (3) 100% anak tertarik menggunakan kartu gambar. Berdasarkan hasil pengembangan pembelajaran bahasa menggunakan kartu gambar, maka disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan kartu gambar ini mudah digunakan, menyenangkan dan membuat anak tertarik untuk belajar.

Penerapan metode sosiodrama untuk mengembangkan kemampuan sosial anak kelompok B di RA Darurrohim Grati / Imroatul Azizah

 

Azizah, Imroatul.2012. Penerapan Metode Sosiodrama, Untuk Mengembangkan Kemampuan Sosial Anak Kelompok B di RA Darurohim Grati Pasuruan. Skripsi Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd, (II) Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd. Kata Kunci :Metode Sosiodrama, Kemampuan Sosial, Anak Kelompok B Metode pembelajaran yang bervariatif di RA Darurrohim menyebabkan anak cepat merasa bosan, suasana kelas menjadi ramai dan kemampuan sosial anak kurang berkembang sehingga perlu melakukan penelitian penerapan metode sosiodrama untuk meningkatkan kemampuan sosial. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan : 1) penggunaan metode sosiodrama untuk mengembangkan kemampuan sosial anak kelompok B di RA Darurohim, 2) pengembangan kemampuan sosial anak di RA Darurohim setelah ditetapkan metode sosiodrama. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan 2 (dua) siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B di RA Darurohim sebanyak 15 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi secara langsung terhadap kegiatan anak. Hasil penelitian ini adalah (a) Penerapan metode sosiodrama dalam pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1) guru menyiapkan tempat yang akan digunakan untuk sosiodrama, (2) guru menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk bermain sosiodrama, (3) guru memberi contoh cara memainkan sosiodrama pada anak-anak, (4) kemudian guru memilih anak untuk memainkan sosiodrama tersebut. (b) Hasil yang diperoleh anak setelah bermain sosiodrama dapat dilihat rata-rata hasil observasi, sebagian kecil rata-rata (20%), pada pratindakan memperoleh skor (50,4) meningkat pada siklus I (69,7) dengan persentase (60%) meningkat pada siklus II sebagian besar rata-rata (85%) dengan skor (86,33). Kesimpulan yang diperoleh setelah penerapan metode sosiodrama untuk (1) metode sosiodrama dapat diterapkan dengan baik (2) penerapan metode sosiodrama dapat mengembangkan kemampuan sosial anak kelompok B di RA Darurrohim . Saran yang disampaikan yaitu guru dapat menggunakan metode sosiodrama untuk megembangkan kemampuan sosial anak disekolahnya.

Pengembangan paket bimbingan etiket pergaulan untuk siswa SMP Negeri 2 Tulungagung / Ardila Yuni Ermawati

 

Ermawati, Ardila Yuni. 2013. Pengembangan Paket Bimbingan Etiket Pergaulan untuk Siswa SMP Negeri 2 Tulungagung. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembim-bing: (I) Dr. M. Ramli, M.A., (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: Paket bimbingan, etiket pergaulan, siswa SMP. Masa remaja sering dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan ketidakwajaran. Remaja khusunya siswa harus dapat mem-bawa dirinya agar tidak sampai terjadi penyimpangan dalam melaksanakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga mereka dapat diterima de-ngan baik dalam lingkungan pergaulannya sehari-hari. Etiket pergaulan meru-pakan tata cara yang harus diperhatikan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Berkaitan dengan itu, maka remaja membutuhkan pengetahuan mengenai tata cara berperilaku dalam kehidupan sosial agar terhindar dari perilaku yang dapat menimbulkan penolakan dari lingkungannya. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan suatu paket bimbingan etiket pergaulan siswa SMP dan panduannya yang memiliki keberterimaan dari segi teori dan praktis yang memenuhi syarat ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan sehingga dapat digunakan konselor sebagai sarana dalam memberikan layanan bimbingan etiket di sekolah. Pengembangan paket bimbingan ini, diadaptasi dari langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: (1) penelitian dan pengumpulan data; (2) perencanaan penelitian; (3) pengem-bangan produk awal; (4); Uji ahli dan revisi I (5) Uji calon pengguna produk dan revisi II (6) produk akhir. Uji ahli dan uji calon pengguna produk dilakukan untuk mengetahui keberterimaan produk secara teori dan praktis. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah angket format penilaian dan lembar saran. Adapun hasil pengisian angket oleh ahli dan calon pengguna produk kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif jenis tendensi sentral mean dan kualitatif deskriptif. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa paket bimbingan etiket perga-ulan untuk siswa SMP Negeri 2 Tulungagung memiliki kategori sebagai berikut: dari hasil 1) uji ahli materi BK, menunjukkan bahwa produk mudah, sangat berguna, tepat, dan menarik; 2) uji ahli media, menunjukkan bahwa produk sangat berguna, mudah, sangat tepat, dan sangat menarik; 3) uji calon pengguna produk konselor, menunjukkan bahwa produk sangat berguna, mudah, sangat tepat dan sangat menarik; dan 4) uji kelompok kecil, menunjukkan bahwa produk tepat, sangat berguna, sangat mudah, dan sangat menarik. Dapat disimpulkan bahwa paket bimbingan etiket pergaulan untuk siswa SMP dan panduannya ini memiliki keberterimaan yang tinggi secara teori dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Berdasarkan penelitian pengembangan ini, peneliti mengajukan beberapa saran yaitu untuk pengembangan produk lebih lanjut, hendaknya dilakukan pengkajian ulang materi-materi yang terdapat di dalam paket dan melakukan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan produk ini.

Pengembangan paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk siswa SMP / Dewi Nurmala

 

Nurmala, Dewi. 2013. Pengembangan Paket Bimbingan Perencanaan Studi Lanjut untuk Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd Kata Kunci: Pengembangan, Paket Bimbingan, Perencanaan Studi Lanjut, Siswa SMP. Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah siswa berada pada rentang usia 12-15 tahun atau telah memasuki usia remaja awal. Salah satu tugas perkembangan karir yang harus dikuasai oleh siswa SMP adalah mampu memahami, memilih, dan menentukan studi lanjut. Selama ini permasalahan yang terjadi pada siswa SMP yang akan melanjutkan studi adalah belum memiliki rencana mengenai pilihan studi lanjut dan bingung memilih studi lanjut. Permasalahan tersebut dikarenakan siswa SMP belum mampu merencanakan studi lanjut setelah SMP. Oleh karena itu diperlukan media berupa paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk siswa SMP yang dapat membantu siswa dalam merencanakan studi lanjut. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk siswa SMP yang diterima dari segi teoritis dan praktis, sehingga dapat digunakan oleh konselor dalam memberikan layanan bimbingan perencanaan studi lanjut kepada siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif dengan mengadaptasi tahap-tahap pengembangan yang dikemukakan oleh Borg and Gall. Tahap-tahap pengembangan Borg and Gall yang diadaptasi penulis dalam penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu tahap pertama perencanaan pengembangan paket bimbingan, tahap kedua pengembangan produk awal, tahap ketiga validasi. Uji coba produk dilakukan melalui tiga tahap, yaitu uji ahli (ahli BK dan ahli media), uji calon pengguna produk (konselor), dan uji coba kelompok kecil (siswa). Jenis data yang diperoleh dari hasil uji coba produk bersifat kuantitatif dan kualitatif. Analisis data kuantitatif menggunakan teknik rerata dan analisis data kualitatif dengan cara menyimpulkan secara sederhana agar lebih mudah dipahami. Hasil penelitian ini berupa paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk siswa dan panduan paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk konselor. Hasil penilaian dari ahli media memperoleh rerata 3,7, hasil penilaian dari ahli BK memperoleh nilai rerta 3,35, hasil penilaian dari calon pengguna produk memperoleh nilai rerata 3,4, hasil penilaian dari kelompok kecil mendapatkan nilai rerata 3,8 dan menunjukkan rata-rata keempatnya sebesar 3,6 yang berarti dinilai sangat berguna, sangat mudah, sangat menarik, dan sangat tepat. Sehingga paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk siswa SMP ini dapat diterima dari segi teoritis dan praktis dan layak digunakan sebagai media dalam memberikan layanan bimbingan perencanaan studi lanjut. Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) untuk peneliti selanjutnya hendaknya langkah pengembangan model penelitian yang diadopsi dari Borg and Gall dapat dilakukan secara keseluruhan, (2) untuk pengembangan produk lebih lanjut disarankan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai sejauh mana efektifitas penggunaan paket bimbingan perencanaan studi lanjut untuk siswa SMP dalam upaya membantu siswa merencanakan studi lanjutnya, serta melakukan uji lapangan/kelompok besar terhadap paket bimbingan perencanaan studi lanjut ini, agar keberterimaannya dapat dirasakan oleh banyak pengguna.

Kajian kandungan komponen nutrisi padsa kerupuk yang disubtitusi buah pare (Momordica charantia L.) serta uji mutu organoleptiknya / Rizki Oktavira

 

ABSTRAK Oktavira, Rizki. 2014. Kajian Kandungan Komponen Nutrisi Pada Kerupuk Yang Disubstitusi Buah Pare (Momordica charantia L) Serta Uji Mutu Organoleptiknya. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Mazarina Devi, M.Si (2) Ir. Ummi Rohajatien, M. P. Kata kunci : Buah pare, kerupuk pare Buah pare merupakan sayuran buah, tanaman ini mempunyai daun yang berbentuk menjari dengan bunga yang berwarna kuning dan memiliki rasa yang pahit. Kerupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur dengan bahan tambahan perasa yang banyak digemari mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Masalah yang dihadapi adalah belum diketahui kandungan atau nutrisi karbohidrat, protein, lemak , mineral, abu, dan total karothen pada buah pare. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui kandungan nutrisi setelah diolah menjadi kerupuk buah pare. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan formulasi kerupuk substitusi buah pare yang dapat diterima oleh panelis, mengukur kandungan nutrisi kerupuk buah pare. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode pengolahan blansir dan non blansir dengan proses pengeringan matahari. Uji yang dilakukan pada penelitian tahap I meliputi uji kimia (karbohidrat, protein, lemak, mineral, abu, dan total karothen) dan uji mutu hedonik (warna, rasa, tekstur, kerenyahan). Data dianalisis menggunakan ANOVA dengan uji Duncan (UJD) atau DMRT yang kemudian dilanjutkan dengan Spider Web untuk melihat kerupuk buah pare yang dapat diterima oleh konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisa diagram spiderweb diketahui bahwa substitusi dengan metode non blansir menghasilkan warna, kerenyahan, tekstur, dan rasa kerupuk buah pare yang paling disukai. Kandungan gizi kerupuk buah pare dengan substitusi 10% yaitu karbohidrat sebesar 84,26%,air sebesar 13,06%, abu sebesar 1,60%, protein sebesar 1,08%, total karoten 0,0078mg/g, lemak sebesar 0%.

Pelaksanaan sistem pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Kesamben Kabupaten Blitar / Arga Putra Kusuma Widodo

 

Widodo, Arga Putra Kusuma. 2012. Pelaksanaan Sistem Pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 1 Kesamben, Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Sulthoni S. Pd, M.Pd. (II) Henry Praherdhiono, S.Si, M.Pd Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional merupakan suatu program pendidikan pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional untuk menciptakan sekolah yang berkualitas. Untuk menyelenggarakan sekolah bertaraf internasional, perlu adanya sistem pembelajaran bertaraf internasional. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai pelaksanaan sistem pembelajaran rintisan sekolah bertaraf internaioanl tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan tentang pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Kesamben, (2) Mengetahui faktor-faktor penunjang dan faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Kesamben, (3) Mengetahui cara-cara mengatasi dan solusi faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Kesamben. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup pelaksananaan sistem pembelajaran di rintisan sekolah bertaraf internasional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap persipan, tahap pelaksanaan, tahap penyelesaian. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh hasil simpulan sebagai berilkut: Pelaksanaan sistem pembelajaran di SMP Negeri 1 Kesamben masih dalam proses adaptasi dan masalah-masalah yang ada dalam proses adapatasi tersebut diatasi dengan berbagai terobosan sesuai panduan pelaksanaan SMP-SBI. Dari semua hasil yang ada tersebut, maka saran penulis bagi pelaksanaan sistem pembelajaran RSBI SMP Negeri 1 Kesamben secara bertahap harus memenuhi target – target sesuai penduan pelaksanaan SMP-RSBI. untuk pelaksanaannya harus disertai dukungan dari komponen pendidikan yang terlibat dalam pelaksanaannya, supaya target kompetensi intenasional terlampaui. Kata Kunci: Pelaksanaan Sistem Pembelajaran, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis inkuiri pokok bahasan energi dan perubahannya untuk siswa kelas VI SDN Kemantren II Mojokerto / Febita Wulansari

 

Wulansari, Febita. 2012. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Inkuiri Pokok Bahasan Energi dan Perubahannya untuk Siswa Kelas VI SDN Kemantren II Mojokerto .Skripsi, Program Studi Teknologi Pendidikan, Jurusan Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Anselmus J.E. Toenlioe, M.Pd, (II) Henry Praherdhiono, S.Si, M.Pd Kata kunci: Lembar Kerja Siswa (LKS), model Inkuiri Hasil pengamatan terhadap LKS yang digunakan oleh beberapa sekolah Sekolah Dasar(SD) kurang melibatkan aktifitas siswa. Tujuan Penelitian ini adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis inkuiri pokok bahasan Energi dan Perubahannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan, penelitian ini menggunakan model Dick and Carey yang mempunyai tahapan yaitu: (1) identifikasi tujuan umum (2) tahap analisis pembelajaran (3) tahap identifikasi perilaku awal dan karakteristik siswa (4) tahap perumusan tujuan khusus pembelajaran (5) mengembangkan butir tes acuan patokan (6) pengembangan strategi pembelajaran (7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran (8) merancang dan melakukan evaluasi formatif (validasi dan uji coba) (9) merevisi pembelajaran (revisi produk).Hasil penelitian menujukkan dari validasi ahli media prosentasenya sebesar 97.73 % dan dikategorikan valid, dari validasi ahli materi prosentasenya sebesar 96.67 % dan dikategorikan valid, serta dari angket yang disebarkan ke10 siswa prosentasenya sebesar 96.25 % dan dikategorikan valid dan layak digunakan.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi pokok bahasan litosfer kelas X-3 di SMAN 01 Batu / Eka Setyawati

 

Setyawati, Eka. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Geografi Pokok Bahasan Litosfer Kelas X-3 di SMAN 01 Batu. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Marhadi Slamet Kristiyanto, M.Si, (2) Drs. Yusuf Suharto Kata Kunci: Model Pembelajaran Jigsaw, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Pembelajaran seharusnya berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif justru berlangsung sebaliknya di kelas X-3 pada mata pelajaran Geografi. Berdasarkan observasi awal yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2012 di kelas X-3 diketahui bahwa aktivitas belajar siswa kelas tersebut tergolong kurang. Selain aktivitas belajar, hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi juga rendah dengan rata-rata kelas 65,4 dan dari 28 siswa yang mencapai KKM hanya 8 siswa. Cara mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut yakni dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw yang dipilih karena sesuai dengan karakteristik materi dan karakteristik siswa kelas X-3. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) peningkatan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Geografi kelas X-3 SMA Negeri 1 Batu, (2) peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi Kelas X-3 SMA Negeri 1 Batu. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalan 2 siklus yang dilaksanakan pada bulan Januari dan Februari 2013. Model yang diterapkan adalah model pembelajaran Jigsaw yang dilaksanakan pada pokok bahasan Litosfer. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-3 yang berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-3 pada mata pelajaran Geografi. Peningkatan aktivitas belajar terhadi pada siklus pertama dan siklus kedua. Peningkatan hasil belajar juga terjadi dari pra tindakan ke siklus pertama dan dari siklus pertama ke siklus kedua. Berdasarkan hasil tersebut, saran yang diberikan yakni; 1) model pembelajaran Jigsaw bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Geografi pokok bahasan Litosfer, 2) model pembelajaran Jigsaw bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi pokok bahasan Litosfer.

Potensi air tanah Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo / Harum Suryani

 

Suryani, Harum. 2013. Potensi Air Tanah Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M. Si (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si Kata kunci: air tanah, potensi, dan pumping test Kabupaten Ponorogo adalah salah satu kabupaten yang sebagian daerahnya mengalami kekurangan atau disebut dengan kondisi air tanah langka. Salah satu contohnya terjadi di Desa Sidoharjo kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Desa Sidoharjo merupakan desa dengan air tanah langka (RTRW Kabupaten Ponorogo 2012-2032). Penduduk Desa Sidoharjo sebanyak 50% menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang diambil dari sumur-sumur gali. Ketersediaan air tanah di tempat tersebut sering mengalami kekurangan sekitar bulan November hingga Desember sehingga membutuhkan bantuan air bersih dari PDAM Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dibutuhkan sebuah penelitian yang mengkaji tentang potensi air tanah di desa tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan metode survei. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi air tanah Desa Sidoharjo, besarnya rata-rata jumlah kebutuhan air bersih domestik penduduk Desa Sidoharjo. Data penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer berupa data potensi air tanah bebas yang didapatkan dengan melakukan penelitian di lapangan, sedangkan data sekunder berupa jumlah kebutuhan air bersih penduduk Desa Sidoharjo yang didapatkan dari penelitian terdahulu yang sejenis. Berdasarkan hasil pengukuran yang menggunakan metode pumping test, diperoleh nilai transmisivitas akifer Desa Sidoharjo 62,08 m2/hari, sedangkan permeabilitasnya adalah 0,639 m/hari. Selain itu juga ditemukan bahwa endapannya berupa pasir lempungan sehingga kemampuan utuk meoloskan airnya rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi air tanah di Desa Sidoharjo adalah 372.698 liter/hari. Total jumlah pemakai air tanah bebas yang berasal dari sumur gali sebanyak 3494 jiwa. Dengan menggunakan dasar bahwa kebutuhan air bersih domestik sebesar 75 liter/orang/hari maka total kebutuhan air domestik penduduk Desa Sidoharjo yang menggunakan sumur gali sebesar 262.020 liter/hari. Dengan demikian potensi air tanah bebas dapat memenuhi kebutuhan penduduk pemakai sumur gali di Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Hasil penelitian ini hanya berlaku untuk bulan basah saja dikarenakan penelitian dilakukan pada akhir bulan basah. Namun berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui terdapat air tanah bebas yang dapat ditampung yaitu sebesar 110.678 liter/hari. Air tersebut dapat ditampung pada bak-bak penampungan untuk mempersiapkan bulan-bulan kering.

Etos kerja pengrajin gendang sentul dalam menghadapi era globalisasi di Kelurahan Tanggung Kecamjatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Mohammad Andis Wiyanto

 

Wiyanto, M. Andis. 2013. Etos Kerja Pengrajin Gendang Sentul Dalam Menghadapi Era Globalisasi di Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si (II) Drs. H. Edi Suhartono, SH, M.Pd Kata Kunci: Etos Kerja, Pengrajin Gendang Sentul, Globalisasi Era yang sedang dihadapi oleh manusia saat ini dikenal dengan nama era globalisasi. Salah satu dampak baik dari era globalisasi adalah pertumbuhan pasar dan jumlah perusahaan naik dari waktu ke waktu hingga melampaui batas-batas negara. Pengrajin Gendang adalah salah satu pihak yang menerima dampak dari era globalisasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (1) etos kerja yang dimiliki pengrajin gendang sentul di era globalisasi, (2) tantangan dan peluang pengrajin gendang sentul dalam menghadapi era globalisasi, (3) cara pengrajin gendang sentul mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam menghadapi era globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini antara lain Pengrajin Gendang, pembeli gendang dan hasil dokumentasi. Prosedur pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/ keajegan pengamatan, dan triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pengrajin memiliki klasifikasi etos kerja dengan memperhatikan (1) nilai ekonomi, (2) nilai sosial, (3) nilai religius, (4) nilai estetika. Etos kerja yang paling menonjol sehingga pengrajin bersedia bekerja lebih keras karena memperhatikan nilai ekonomi. Pengrajin mengalami beberapa tantangan yaitu: (1) kekurangan bahan baku kayu; (2) cuaca yang sulit diprediksi. Pengrajin gendang sentul mengatasi tantangan dengan cara; (1) mengambil dari perhutani atau dari daerah lain; (2) pengrajin mengganti dengan kayu jenis yang lain, yaitu kayu nangka; (3) pengrajin menunda sesaat pengiriman barang. Ada beberapa peluang di era globalisasi yaitu: (1) pengrajin bisa mendapatkan informasi lebih mudah; (2) pengrajin bisa mendapatkan tempat promosi lebih banyak dan mudah; (3) pengrajin bisa mendapatkan pelanggan dari luar negeri untuk eksport. Untuk memanfaatkan peluang itu, pengrajin mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah daerah. Pengrajin menggunakan media cetak dan elektronik, mengadakan pameran-pameran untuk mempromosikan gendang sentul di berbagai daerah karena telah mengetahui daerah-daerah yang memerlukan gendang dan di daerah khusus yang terdapat banyak turis yang suka dengan gendang sehingga banyak orang luar negeri yang memesan gendang ini.

Pengembangan media pembelajaran film dokumenter materi nilai Pancasila kompetensi dasar Pancasila dasar negara dan ideologi negara di kelas VIII SMP Negeri 7 Malang / Muhammad Ali Ridho

 

Ridho, Muhammad Ali. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Film Dokumenter Pada Materi Nilai-Nilai Pancasila Kompetensi Dasar Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara di kelas VIII SMP Negeri 7 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M. Si, Pembimbing (2) Yuni Astuti, S.H, M. Pd Kata Kunci: Media, Film Dokumenter, Pembelajaran, PKn, Pancasila, Dasar Negara, Ideologi Negara Kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting dalam proses pembelajaran. Karena dalam kegiatan tersebut variasi dalam pembelajaran menyebabkan media sebagai salah satu alat dalam proses pembelajaran yaitu media pembelajaran. Media pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran PKn menjadi sangat penting. Apalagi dalam media tersebut terdapat pengembangan . Salah satu bentuk pengembangan media pembelajaran yaitu pengembangan media film dokumenter. Media film dokumenter dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan seseorang. Media film dokumenter dapat pula menumbuhkan minat dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Sehingga pengembangan media film dokumenter sangat membantu meningkatkan kreatifitas guru dalam proses pembelajaran, guna untuk menarik minat belajar siswa dan memotivasi siswa dalam belajar, dengan demikian media film dokumenter sangat efektif bila diterapkan dalam pembelajaran PKn. Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) validitas teknis media film dokumenter tentang materi Nilai-Nilai Pancasila Kompetensi Dasar Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara di kelas VIII SMP Negeri 7 Malang, (2) validitas isi dari media film dokumenter tentang materi Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara di kelas VIII SMP Negeri 7 Malang. Penelitian tentang pengembangan media film dokumenter dalam pembelajaran PKn tentang materi pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara di kelas VIII SMP Negeri 7 Malang ini menggunakan jenis penelitian dan pengembangan. Pengembangan terlaksana dengan terlebih dahulu dilakukan kegiatan validasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket pada uji coba ahli media, ahli materi PKn, ahli pembelajaran (guru), kelompok kecil siswa, dan kelompok besar siswa. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data dari responden ahli media, ahli materi PKn, ahli pembelajaran (guru), kelompok kecil siswa, dan kelompok besar siswa menggunakan tehnik prosentase. Berdasarkan uji coba/validasi media film dokumenter pembelajaran yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : pengkaji media 92,5%, pengkaji materi 92,5%, pengkaji pembelajaran 100%, kelompok kecil siswa 91,2%, kelompok besar siswa 89%. Dari hasil penelitian pengembangan tersebut, berdasarkan kriteria analisis yang ditentukan masing-masing memenuhi kriteria valid. Saran demi kesempurnaan pengembangan media film dokumenter dalam pembelajaran PKn tentang materi pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara di kelas VIII adalah sebagai berikut : 1) untuk dijadikan bahan pertimbangan sebagai alternatif media untun menunjang tercapainya tujuan pembelajaran, 2) untuk guru, dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran, 3) untuk pengembang selanjutnya, perlu pengkajian lebih dalam untuk materi dan persiapan, 4) untuk jurusan PKn, sebagai masukan untuk menambah informasi dan pengetahuan serta wawasan yang lebih luas.

Pola pelayanan publik pada pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang / Pristiana Tunjung Anggraini

 

Anggraini, Pristiana Tunjung. 2013. Pola Pelayanan Publik Pada Pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum Kata kunci: Pola Pelayanan, Pelayanan Publik, KTP Berdasarkan Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, KTP harus dimiliki oleh setiap warga negara. KTP merupakan identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang berlaku diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adanya keluhan dari masyarakat terhadap pelayanan pengurusan KTP mendorongnya penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui respon masyarakat terhadap pola pelayanan publik pada pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang. Pejabat penyelenggara pelayanan administrasi adalah (1) Camat; (2) Sekretaris Kecamatan; (3) Kepala seksi yang membidangi pelayanan administrasi. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 4 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana pelayanan yang dilakukan oleh Kantor Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang pada pengurusan KTP, (2) kendala apa yang ditemui pada pelayanan masyarakat dalam pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang, (3) Upaya apa saja yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. Dengan tujuan penelitian ingin memperoleh informasi tentang pola pelayanan publik pada pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. Dalam permasalahan ini yang dimaksud dengan pola adalah bentuk (struktur) yang tetap. Penelitian mengenai Pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa terlihat saat pelayanan pembuatan KTP. Peristiwa yang dimaksud adalah proses pelaksanaan pola pelayanan yang diberikan oleh Kantor Kecamatan Jombang saat pembuatan KTP. Subyek penelitian ini adalah pegawai Kantor Kecamatan Jombang dan masyarakat pemohon KTP. Prosedur yang dipakai dalam pengumpulan data, yaitu : (1) obserfasi partisipatif, (2) wawancara mendalam, (3) dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang, ketekunan pengamatan dan triangulasi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penerapan pelayanan publik pada pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang sudah dikatakan baik, hal ini dapat diketahui dengan pelayanan yang diberikan dalam pengurusan KTP sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Pada pelayana E-KTP dimulai dengan menyebarkan undangan ke masyarakat perkelurahan. Setiap harinya, petugas akan melayani masyarakat satu kelurahan secara bergiliran. Masyarakat memeberikan respon yang sangat memuaskan terhadap proses pelayanan publik di Kantor Kecamatan Jombang. Kedua, kendala yang ditemui pada pelayanan masyarakat pada pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang apabila listrik mengalami pemadaman secara tiba-tiba dan adanya ganguan jaringan internet, serta keterbatasan blangko dari Dispendukcapil. Tidak adanya kesesuaian biaya pengurusan KTP yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dengan instansi yang bersangkutan. Dalam mengajukan permohonan masih ada masyarakat yang kurang melengkapi data dan masih terjadi kesalahan pada data dari masyarakat. Ketiga, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala pada pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Jombang adalah berupaya menjalin komunikasi secara teratur dengan pihak PLN untuk mengantisipasi adanya pemadaman listrik. Kecamatan Jombang juga berupaya menjalin komunikasi dengan telkom serta bagian PDE di Kantor Sekretaris Daerah untuk mengantisipasi adanya ganguan jaringan internet. Kantor Kecamatan hanya bisa menunggu untuk mendapatkan blangko, karena tidak bisa difoto copy. Untuk pengadaan blangko dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota karena blangko dokumen penduduk harus mendapatkan nomor registrasi blangko dari Departemen Dalam Negeri. Untuk menghindari adanya pungli dan kesalahan data ataupun kelengkapan persyaratan dalam pengurusan KTP Kantor Kecamatan Jombang melaksanakan koordinasi teknis dengan Kepala Desa/Lurah, RT/RW serta perwakilan masyarakat setempat yang diadakan rutin dalam satu bulan dan menempelkan selebaran informasi yang mudah dilihat langsung oleh masyarakat. Saran yang diberikan adalah Untuk kelengkapan saranan dan prasarana dalam pelayanan hendaknya Kantor Kecamatan Jombang menyediakan genset untuk kelancaran dalam pengurusan KTP apabila terjadi pemadaman listrik secara tiba-tiba. Hendaknya menindak tegas kepada petugas yang melakukan pemungutan liar pada masyarakat terutama pada pengurusan KTP. Diharapkan pada masyarakat tidak begitu saja menyerahkan semua urusan administrasi kepada pihak ketiga, karena itu akan merugikan masyarakat sendiri. Serta menyesuaikan biaya pengurusan KTP, dan menetapkan peraturan secara tertulis mengenai administrasi pelayanan di instansi tersebut. Masyarakat hendaknya selalu melengkapi data-data pada persyaratan untuk pengurusan KTP dan data tersebut telah benar-benar betul sesuai dengan yang telah ditentukan.

Penerapan keterampilan mengelola kelas dalam pembelajaran PKn kelas VIII II di SMP Negeri 04 Malang / Siti Umayasari

 

Umayasari, Siti. 2013. Penerapan Keterampilan Mengelola Kelas dalam Pembelajaran PKn Kelas VIII H di SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H, M. Si (II) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M. Si. Kata kunci: Keterampilan Mengelola Kelas, Pembelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan Setiap proses pembelajaran pengelolaan kelas perlu direncanakan dan diusahakan oleh guru mata pelajaran dengan berbagai upaya agar kelas dapat terhindar dari kondisi yang merugikan, serta dalam kegiatan pembelajaran yang terjadi guru harus dapat mengembalikan suasana kelas kepada kondisi yang optimal apabila terjadi hal-hal yang mengganggu yang disebabkan oleh tingkah laku siswa di dalam kelas. Begitu pula pada pembelajaran PKn, pengelolaan kelas perlu dilakukan agar terwujud kelas yang efektif, nyaman dan kodusif, kelas harus dikelola secara efektif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan; (1) pengelolaan kelas pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII H di SMP Negeri 4 Malang; (2) hambatan bagi guru dalam mengelola kelas pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII H SMP Negeri 4 Malang; (3) upaya guru untuk mengatasi hambatan dalam mengelola kelas pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII H SMP Negeri 4 Malang. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan alasan peneliti tidak melakukan hipotesis. Subyek penelitian ini adalah guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII H SMP Negeri 4 Malang dan siswa siswi kelas VIII H SMP Negeri 4 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi diperlukan untuk mengamati secara langsung penerapan pengelolaan kelas pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII H SMP Negeri 4 Malang. Wawancara kepada guru, siswa dan pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti oleh peneliti. Dokumentasi untuk mendokumentasikan sebagai bukti peneliti dan pendukung hasil penelitian. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik ketekunan pengamatan, triangulasi sumber dan triangulasi metode . Berdasarkan hasil penelitian “Penerapan Keterampilan Mengelola Kelas dalam Pembelajaran PKn Kelas VIII H di SMP Negeri 4 Malang”. Pengelolaan kelas terlihat dengan sikap dan tingkah laku siswa yang mencerminkan kedisiplinan. Pada pelaksanaan pembelajaran PKn guru mengelola kelas dengan berupaya mewujudkan kedisiplinan, disiplin diwujudkan melalui perilaku siswa tepat waktu masuk kelas, mendengarkan dan mengamati setiap penjelasan dari guru siswa pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dalam proses pembelajaran terdapat permasalahan yang dihadapi guru, yaitu permasalahan pengelolaan kelas dan permasalahan belajar itu sendiri, yang keduanya saling berhubungan. Permasalahan pengelolaan kelas sebenarnya dapat timbul disebabkan oleh masalah pembelajaran. Pada pembelajaran PKn di kelas VIII H, permasalahan pembelajaran muncul ketika guru menjelaskan materi terdapat beberapa siswa yang tidak mengerti dan memahami isi materi pelajaran sehingga membuat suasana kelas menjadi gaduh, siswa bersikap acuh terhadap pelajaran yang menjadi penyebab permasalahan pada pengelolaan kelas yang diakibatkan oleh masalah pembelajaran. Upaya menangani siswa yang gaduh saat pelajaran dilakukan guru dengan mengatur posisi duduk siswa di kelas secara berpasangan, setiap siswa duduk berpasangan siswa laki-laki dan siswa perempuan. Pengaturan posisi duduk tersebut bertujuan untuk menghindarkan kelas dari suasana ramai. Faktor yang menghambat guru dalam mengelola kelas pada pembelajaran PKn berasal dari siswa dan kurangnya pemenuhan fasilitas sekolah. Hambatan dalam mengelola kelas yang berasal dari dalam diri siswa diakibatkan oleh kondisi siswa di kelas yang bersikap acuh saat guru menjelaskan, mengobrol/bercanda dengan teman, dan sikap siswa yang ramai dan membuat gaduh suasana kelas. Sedangkan masalah kurangnya pemenuhan fasilitas sekolah adalah keterbatasan jumlah ruang kelas yang dimiliki oleh sekolah yang menyebabkan kelas VIII H tidak dapat melakukan moving class, yang membuat siswanya terkadang merasa bosan karena selalu berada di kelas setiap saat. Upaya mengatasi masalah dari siswa yang diakibatkan oleh masalah pembelajaran adalah guru berupaya untuk mengajar yang menyenangkan, menggunakan pembelajaran yang bervariasi yang diselingi dengan permainan. Sehingga meningkatkan kesadaran dalam diri siswa agar tidak melakukan perbuatan menyimpang yang dapat mengganggu kondisi belajar yang efektif. Dalam meningkatkan kesadaran diri siswa, guru berupaya untuk selalu memberikan dorongan, motivasi, penguatan pada siswa dengan menciptakan suasana saling menghargai dan menghormati sesamanya. Untuk mengatasi hambatan yang muncul dari kurangnya fasilitas sekolah adalah dengan perencanaan pembangunan ruang kelas baru yang merupakan tugas dari sekolah dan pihak-pihak yang terkait untuk mengatasinya. Saran yang diberikan penulis yaitu sebaiknya siswa lebih memperhatikan penjelasan ketika guru menerangkan dan tidak ramai sendiri di kelas. Sehingga kegiatan pembelajaran yang terjadi di kelas dapat berjalan kondusif dan lancar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Kemudian sekolah hendaknya melengkapi kurangnya fasilitas belajar mengajar terkait dengan jumlah ruang kelas yang dimiliki sekolah agar semua kelas dapat melakukan kegiatan moving class demi terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien. Selain itu, agar terwujudnya pengelolaan kelas yang efektif pada saat pembelajaran PKn maka guru dan siswa seyogyanya dapat mewujudkan hubungan yang harmonis. Dengan demikian, siswa dapat selalu merasa nyaman di kelas dan dapat menerima penjelasan guru dengan baik.

Manajemen unit produksi di sekolah sebagai sarana pembelajaran (studi kasus di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Malang) / Dina Ni'matul Maghfiroh

 

ABSTRAK Maghfiroh, Dina Ni’matul. 2015. Manajemen Unit Produksidi Sekolah sebagaiSaranaPembelajaran (StudiKasus di SMK Negeri 2 Malang). Skripsi.Program StudiAdministrasiPendidikanFakultasIlmuPendidikanUniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (1) Dr. H. Ahmad Yusuf Sobri, S.Sos, M.Pd,(2)Ahmad Nurabadi, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: manajemen, unit produksi, sarana pembelajaran SekolahMenengahKejuruan (SMK) bertujuan untuk mencetak tenaga kerja yang terampil dan profesional untuk siap terjun langsung di dunia usaha maupun dunia industri, serta selalu berusaha menyesuaikan keterampilan yang dimiliki lulusannya dengan mengembangkan sikap profesional. SMK melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Tahun 2007 membuat kebijakan dengan memberikan fasilitas untuk pengembangan program unit produksi (UP)di sekolah, dengan salah satu tujuannya menjadikan SMK sebagai wahana kegiatan praktik pendidikan dan latihan yang berorientasi pada dunia kerja. Sepertihalnya SMKN 2 Malang yang telahmendirikanempatunit produksigunamendukungkegiatanpembelajaran di sekolahsesuaidenganacuandariDikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan). Fokus penelitian ini adalah: (1) perencanaan unit produksi, (2) pelaksanaan unit produksi, (3) pengevaluasian unit produksi, (4) faktorpendukungdanpenghambat, (5) solusiuntukmengatasihambatandalammanajemen unit produksi di SekolahMenengahKejuruanNegeri 2 Malang. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifdenganjenispenelitianstudikasus.Dalampenelitianini, penelitibertindaksebagaiinstrumenkunci yang merencanakan, melaksanakan, mengumpulkan data, analisis data dansebagaipelaporpenelitian.Sumber data penelitianinidiperolehmelaluiteknikpengumpulan data yaituwawancara, observasi, dandokumentasi.Analisis data dilakukandengantiga proses yaitu, reduksi data,penyajian data, danpenarikankesimpulanatauverifikasi data.Agar memperolehkeabsahan data makapenelitimelakukanpengecekankeabsahan data melalui, triangulasi,peningkatanketekunan,menggunakanbahanreferensi,danmembercheck. Hasil temuan penelitian ini meliputi: (1) perencanaan yang dilakukan meliputi perencanaan sarana dan prasarana, perencanaan pendanaan, perencanaan perekrutan pegawai, perencanaan struktur pengorganisasian dan perencanaan program kerja, (2) pelaksanaan unit produksimeliputisistemadministrasi, proses pengelolaan unit produksi, kegiatan unit produksi dan hasil unit produksi, (3) evaluasi unit produksimeliputievaluasikegiatan proses pengelolaandanevaluasikinerjapelaksanaproduksi, (4) faktor pendukungunit produksiadalahkepuasankonsumen yang mampumeningkatkangairahkerjaparaopelaksanaproduksi, sedangkanfaktor hambatannyaadalahpembagianwaktuparapengelolasekaliguspelaksanaproduksi yang sekaligusmemilikitugasmengajar, serta solusi yang dilakukanadalahperekrutantenagakerja yang berasaldaripara alumni agar proses produksi bisaterusberlangsungapabilapihakpengelolatidakmemilikiwaktucukupuntukmembantupelaksanaan proses produksi. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran yang dapat peneliti ajukan, (1) Kepala SMKN 2 Malang sebaiknya mampu memberi inovasi-inovasi unit produksi yang sudah ada menjadi unit produksi yang lebih baik dan dapat mewadahi peserta didik, (2) Waka Humas SMKN 2 Malang bisa membantu pemasaran produk UP sehingga masyarakat di kalangan yang lebih luas bisa mengenal dan memanfaatkan UP yang ada di lingkungan SMKN 2 Malang, (3) koordinator unit produksi SMKN 2 Malang hendaknya lebih banyak mengutamakan unit produksi yang dipegang, karena unit produksi juga mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik untuk mendapatkan fasilitas sebaik mungkin, (4) guru produktif SMKN 2 Malang hendaknya dapat lebih mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya, (5) peserta didik SMKN 2 Malang hendaknya mengikuti semua pembelajaran yang ada di kelas, karena pembelajaran di kelas membekali peserta didik ketika turun ke lapangan, dan (6) peneliti lain, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan wacana untuk mengembangkan lebih lanjut penelitian yang lain dan sejenisnya.

Pengaruh strategi pembelajaran kontekstual versus konvensional dan pemberitahuan tujuan pembelajaran terhadap hasil belajar aspek kognitif mata pelajaran sosiologi / Kondrad Sawang

 

Pengembangan perangkat pembelajaran ekosistem dan pencemaran lingkungan bermuatan kecakapan hidup (life skills) menggunakan model inkuiri terbimbing untuk siswa kelas X Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Surakarta / Putri Agustina

 

Agustina, Putri. 2013. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Ekosistem dan Pencemaran Lingkungan Bermuatan Kecakapan Hidup (Life Skills) Meng-gunakan Model Inkuiri Terbimbing Untuk Siswa Kelas X Sekolah Mene-ngah Atas (SMA) Negeri 3 Surakarta. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, MS, (II) Prof. Dr. agr. H. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, ekosistem dan pencemaran lingkungan, life skill, inkuiri terbimbing Upaya meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan dengan berbagai cara, namun kualitas pendidikan belum meningkat secara signifikan. Hal ini ditan-dai dengan rendahnya keterserapan lulusan yang berakibat pada tingginya angka pengangguran terutama pada siswa lulusan SMA. Hal ini menunjukkan bahwa re-levansi pendidikan di SMA dengan kehidupan nyata dan dunia kerja masih cukup rendah. Solusi dari permasalahan tersebut adalah melakukan penyempurnaan ku-rikulum yaitu mengintegrasikan muatan kecakapan hidup (life skills) dalam kuri-kulum. Pengembangan perangkat pembelajaran ini merupakan salah satu usaha mengintegrasikan muatan life skills pada muatan wajib Biologi. Pelaksanaan pem-belajaran Biologi yang berorientasi life skills memerlukan model pembelajaran yang tepat yang dapat melatih siswa untuk memecahkan permasalahan dalam ke-hidupan sehari-hari. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan life skills adalah inkuiri terbimbing (guided inquiry). Pengembangan perangkat pembelajaran diorientasikan pada permasalahan yang ada di SMA Negeri 3 Sura-karta yaitu kurangnya kecakapan hidup siswa dan belum adanya perangkat pem-belajaran yang mengintegrasikan muatan life skills dan berbasis guided inquiry. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk pe-rangkat pembelajaran ekosistem dan pencemaran lingkungan bermuatan kecakap-an hidup (life skills) untuk siswa kelas X SMA Negeri 3 Surakarta berupa silabus, RPP, instrumen penilaian, dan modul pembelajaran. Prosedur pengembangan me-ngadaptasi model pengembangan Borg and Gall yang terdiri dari tahap: (1) pe-nelitian dan pengumpulan informasi; (2) perencanaan; (3) pengembangan produk awal; (4) uji coba terbatas dan revisi produk; serta (5) uji coba utama dan revisi produk. Hasil analisis skor penilaian perangkat pembelajaran menunjukkan rata-rata persentase penilaian

oleh ahli materi sebesar 94,66%, ahli desain pembe-lajaran 87,33%, serta praktisi pelaksana pembelajaran sebesar 87,58%. Hasil penilaian modul dalam uji kelompok kecil menunjukkan rata-rata persentase pe-nilaian

sebesar 85,185%. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat pembe-lajaran telah layak diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Uji coba utama (main field testing) dilakukan pada dua kelas yaitu kelas X-1 dan X-3 SMA Negeri 3 Surakarta dan dilaksanakan hanya pada Kompetensi Dasar 4.1 dan 4.2. Penerapan perangkat pembelajaran bermuatan life skills dengan model inkuiri terbimbing pada tahap uji coba utama pada materi ekosistem me-nunjukkan hasil gain rata-rata aktual maksimum sebesar 0,54% sedangkan materi pencemaran sebesar 0,61%. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa perangkat pembelajaran memiliki tingkat keefektifan medium atau dengan kata lain perangkat pembelajaran bermuatan life skills dengan model inkuiri ter-bimbing telah cukup efektif diterapkan dalam pembelajaran. Hasil pretest dan post test menunjukkan bahwa rata-rata capaian hasil belajar siswa berdasarkan tes me-ningkat dengan diterapkannya perangkat pembelajaran bermuatan life skills meng-gunakan model inkuiri terbimbing. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilaksanakan, beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu: (1) pemanfaatan silabus, RPP, modul, dan instru-men penilaian memerlukan pemahaman yang baik sehingga pelaksanaan pembela-jaran dapat sesuai dengan harapan dikembangkannya perangkat pembelajaran; (2) pada pengembangan lebih lanjut, penelitian ini dapat dilaksanakan sampai pada ta hap uji coba operasional (operational field testing) dan diseminasi; serta (3) perlu sosialisasi baik dalam forum guru MGMP, seminar ilmiah, maupun sosialisasi me lalui situs terkait untuk mendiseminasikan perangkat pembelajaran ini.

Pengembangan paket pembelajaran dasar-dasar peternakan untuk siswa kelas X semester 1 SMK-PP Negeri Kupang / Ina Soda Molek Malelak

 

Ina Soda Molek Malelak. 2013. Pengembangan Paket Pembelajaran Dasar-Dasar Peternakan Untuk Siswa Kelas X Semester 1 SMK-PP Negeri Kupang. Tesis, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed., (II) Dr. Anselmus J.E. Toenlioe, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, paket pembelajaran, dasar-dasar peternakan, model Dick & Carey. Mata pelajaran Dasar-Dasar Peternakan (DDP) termasuk salah satu mata pelajaran produktif. Kompetensi yang ada dalam mata pelajaran ini merupakan kompentensi dasar yang harus dikuasai pebelajar sebagai landasan untuk mempelajari kompetensi yang ada dalam mata pelajaran produktif lainnyapada program studi peternakan. Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran DDP adalah sulitnya memperoleh bahan ajar yang didesain sesuai dengan keperluan pembelajaran. Permasalahan ini harus segera mendapat perhatian dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan paket pembelajaran DDP yang sesuai untuk keperluan pembelajaran serta memperhatikan karakteristik dan kebutuhan pebelajar. Model yang digunakan dalam pengembangan paket pembelajaran ini adalah model Dick & Carey (2001).Prosedur pengembangan model ini terdiri atas sepuluh langkah. Namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sembilan langkah, yaitu: 1) mengidentifikasi kebutuhan dan merumuskan tujuan pembelajaran umum, 2) melakukan analisis pembelajaran umum, 3) menganalisis karakteristik pebelajar dan konteks pembelajaran, 4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, 5) mengembangkan instrumen pengukuran, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi ajar, 8) merancang dan mengembangkan evaluasi formatif, dan 9) melakukan revisi terhadap bahan ajar. Produk pengembangan yang dihasilkan berupa bahan ajar, buku panduan guru, dan buku panduan siswa. Hasil pengembangan berupa draf paket pembelajaran diujicobakan melalui beberapa tahapan yaitu: (1) review ahli isi mata pelajaran, ahli desain pembelajaran, dan ahli media pembelajaran, (2) uji coba perorangan, (3) uji coba kelompok kecil, dan (4) uji coba lapangan. Hasil penilaian/tanggapan dari masing-masing tahap digunakan sebagai masukan untuk dilakukan revisi sebelum ke tahap berikutnya. Hasil penilaian/tanggapan yang diperoleh saat evaluasi formatif adalah sebagai berikut: 1) ahli isi mata pelajaran = 87,8%, 2) ahli desain pembelajaran = 99,6%, 3) ahli media pembelajaran = 87,7%, 4) uji coba kelompok kecil = 95,9%, dan uji coba lapangan = 96,8%. Semua hasil penilaian/tanggapan menunjukkan bahwa paket pembelajaran berada dalam kategori sangat layak. Artinya, paket pembelajaran yang telah dikembangkan layak digunakan sebagai sumber belajar.Hal ini didukung juga dengan kemampuan paket pembelajaran yang sangat baik dalam memotivasi pebelajar untuk mempelajarinya yaitu sebesar 99,6%.

Pengembangan paket pembelajaran budidaya tanaman jagung untuk siswa kelas X semester 2 SMK-PP Negeri Kupang / Herlistin Mooy

 

Herlistin Mooy 2013. Pengembangan Bahan Ajar Budidaya Tanaman Jagung untuk Siswa kelas X semester 2 SMK-PP Negeri Kupang. Tesis. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Pd.,M.Ed., (II) Dr. Anselmus J.E. Toenlioe, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, bahan ajar, budidaya, jagung Penelitian ini menjawab permasalahan yang terjadi di SMK-PP Negeri Kupang, yaitu: (1) belum adanya paket pembelajaran budidaya tanaman jagung yang dipakai guru dan siswa dalam proses pembelajaran, (2) belum ada bahan ajar budidaya tanaman jagung yang telah melalui uji kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Berangkat dari masalah tersebut maka perlu segera diberikan solusinya dengan mengembangkan paket pemelajaran Budidaya Tanaman Jagung untuk siswa kelas X semester 2 SMK-PP Negeri Kupang. Tujuan pengembangan ini adalah: (1) menghasilkan paket pembelajaran budidaya tanaman jagung yang didesain secara sistematis dan disesuaikan dengan kebutuhan dan karateristik siswa SMK-PP Negeri Kupang, (2) mengetahui kelayakan dari paket pembelajaran yang dikembangkan. Dengen demikian maka akan mudah dalam penggunaannya. Metode pengembangan ini didasarkan pada model Dick, Carey & Carey (2001). Prosedur pengembangan sebagai berikut : (1) mengidentifikasi kebutuhan untuk menentukan tujuan umum, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) menganalisis siswa dan konteks, (4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (5) mengembangakan instrument penilaian, (6) mengembangkan stategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih bahan ajar, (8) merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, dan (9) merevisi bahan ajar. Hasil pengembangan divalidasi melalui evaluasi formatif yang terdiri dari penilaian ahli dan uji coba siswa beserta guru mata pelajaran. Adapun hasilnya yaitu: uji satu orang ahli isi didapatkan penilaian bahan ajar mencapai presentase 85,33%, panduan guru 81,66%, dan panduan siswa 81,81%, ketiganya dalam kategori sangat layak. Uji satu orang ahli desain diperoleh penilaian bahan ajar mencapai 97,05%, panduan guru 100%, dan panduan siswa 100%, ketiganya termasuk dalam kategori sangat layak. Uji satu orang ahli media diperoleh penilaian bahan ajar mencapai presentase 79,23%, panduan guru 80%, dan panduan siswa 80% ketiganya dalam kategori layak. Sedangkan hasil dari uji siswa yaitu: Uji kelompok kecil bagi enam orang siswa didapatkan penilaian bahan ajar mencapai 98,42% dan panduan siswa 98,33%, keduanya dalam kategori sangat layak. Uji coba klasikal bagi 30 orang siswa didapatkan penilaian bahan ajar mencapai 99,65% dan panduan siswa 99,58%, satu orang guru mata pelajaran didapatan penilaian bahan ajar 98,59 dan panduan guru 96,66%. Dari hasil uji coba lapangan tersebut, termasuk dalam kategori sangat layak. Berdasarkan dari semua hasil analisis data pada setiap uji coba yang dilakukan oleh pengembang, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil analisis data yang diperoleh dari ahli isi, ahli media, ahli desain, uji kelompok kecil, uji coba lapangan beserta guru pengampu mata pelajaran, menunjukkan presentase yang diperoleh di atas kriteria minimal 61%-100%. Hal ini berarti bahwa produk yang dikembangkan sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran. Saran yang diajukan berkaitan dengan pemanfaatan dan pengembangan selanjutnya, yakni: (1) bahan ajar ini dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran, (2) siswa dan guru dianjurkan untuk membaca terlebih dahulu buku panduan, (3) bahan ajar ini hendaknya disertai suplemen berupa CD pembelajaran agar lebih variatif dan menarik dalam penyajian materinya.

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman konsep permutasi dan kombinasi pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Boyolangu / Mamuk Eko Prasetyo

 

Prasetyo, Mamuk. 2013. model pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan pemahaman konsep permutasi dan kombinasi pada siswa kelas xi ips sma negeri 1 boyolangu. Tesis Program Studi Pendidikan Matematika. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si, dan 2) Dr. Abdul Qohar. M.T. Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif tipe STAD, pemahaman konsep permutasi dan kombinasi. Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran siswa, yang terbentuk menjadi kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan pada setiap kelompok 4 orang, yang berkemampuan akademik berbeda, dan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Setelah dilakukan penelitian menunjukkan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD di SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung dapat meningkatkan pemahaman konsep permutasi dan kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan pemahaman konsep permutasi dan kombinasi kelas XI IPS1 SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. Rancangan dalam penelitian ini dengan menggunakan penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian menggunakan model yang dikembangkan Kemmis, yang terdiri dari tiga tahap yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), dan pengamatan (observasi). Dari hasil penelitian didapat bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan pemahaman konsep permutasi dan kombinasi, terbagi dalam enam tahap. Pemahaman konsep pada materi permutasi dan kombinasi meningkat dengan ditunjukkan pada hasil akhir tindakan ketuntasan klasikal telah mencapai skor rata-rata tes siswa adalah 96.43% dan persentase siswa yang belum tuntas adalah 3.37%. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Boyolangu Tulungagung pada kelas XI IPS1 semester ganjil tahun ajaran 2012-2013.

Pengembangan paket bahan ajar sejarah dengan model R2D2 / Tri Waluyo

 

Waluyo, Tri, 2013. PengembanganPaketBahanAjar Mata PelajaranSejarahDengan Model R2D2. Tesis, JurusanTeknologiPembelajaran, Program Pascasarjana, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (1) Dr. WarasKamdi, M.Pd, (2) Prof. Dr. I NyomanSudanaDegeng, M.Pd., Kata kunci:Pengembangan, PaketBahan Ajar Sejarah, Model R2D2 Perkembangan kurikulum sejarah nasional dan umum tidak terlepas dari faktor eksternal dan internal. Isu global yang disertai dengan perkembangan teknologi informasi dan otonomi daerah mempengaruhi perkembangan kurikulum sejarah. Kurikulum nasional yang disusun berdasarkan kompetensi dasar. Kemampuan dasar sangat dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyelesaikan masalah-masalah belajarnya berdasarkan Standar Kompetensi. Berdasarkan observasi awal pada bulan Desember 2012, penulis menemukanbeberapa kendala dalam pemanfaatan media pembelajaran sejarah yakni keterbatasan sumber belajar berupa buku teks. Hal ini diakui oleh Bapak Shun’an Shirojuddin, S.Hum, guru mata pelajaran Sejarah SMA YAPITA Surabaya. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang penulis lakukan, beliau mengemukakan bahwa pembelajaran di kelas masih bersifat klasikal yakni menggunakan metode ceramah dan keterbatasan jumlah sumber belajar sejarah berupa buku teks. Di sisi lain, buku teks yang ada kebanyakan isinya masih sangat padat dan cakupannya begitu luas belum mampu menarik minat dan pengembangan kreativitas siswa untuk belajar sejarah. Penyebabnya adalah penggunaan bahan ajar masih menekankan pada hafalan dan belum menampakkan ke arah kognitif sebagai bentuk kreativitas berfikir. Oleh karena itu, perlu adanya proses pemaknaan tentang pengetahuan sejarah dengan pendekatan keterampilan proses. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran masih bersifat klasikal dan monoton yang berdampak pada kejenuhan dan kebosanan siswa untuk mempelajari materi Sejarah. Pemaparan materi dalam buku ajar belum menunjukkan keterkaitan antar bab, pengorganisasian isi materi dan tingkat kemenarikan. Hal ini didukung oleh tanggapan para siswa, bahwa buku ajar yang dipakai materinya terlalu padat dan sulit dipahami serta menekankan pada pengetahuan untuk menghafal tanggal dan tahun untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah. Masalah yang seringmunculdalam proses pembelajaran adalah ketersediaan bahan ajar yang cukup. Di sisi lain, bahan ajar yang ada dewasa ini belum sepenuhnya dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik siswa. Sehingga,para siswa masih belum termotivasi dan terangkat minatnya untuk menggali pengetahuan lebih dalam melalui bahan ajar yang ada.

Peningkatan aktivitas dan kemampuan memahami isi bacaan melalui pembelajaran berbasis masalah dengan teknik diskusi kelompok pada siswa kelas X SMK Farmasi Maharani Malang / Yakobus Paluru

 

Paluru, Yakobus 2013. Peningkatan Aktivitas dan Kemampuan Memahami Isi Bacaan melalui Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Teknik Diskusi Kelompok pada Siswa Kelas X SMK Farmasi Maharani Malang. Tesis Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd. (2) Dr. Roekhan, M.Pd. Kata Kunci : pembelajaran, isi bacaan, diskusi kelompok Memahami isi bacaan merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa kelas X SMK. Berdasarkan orientasi awal, siswa kelas X SMK Farmasi Maharani Malang belum menguasai kompetensi dasar tersebut secara tuntas. Sebagian besar siswa dalam kelas bersikap pasif dan memperoleh nilai membaca di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan kemampuan siswa dalam memahami informasi yang ada dalam bacaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penggunaan metode penelitian tersebut didasarkan bahwa untuk memaparkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa sebagai hasil tindakan perbaikan dalam pembelajaran. Dalam proses penelitian peneliti cukup menggunakan dua siklus karena sudah dapat mencapai hasil yang dihrapkan, yakni meningkatkan keaktifan dan kemampuan memahami isi bacaan melalui pembelajaran berbasis masalah dengan teknik diskusi kelompok siswa kelas X SMK Farmasi Maharani Malang. Penelitian ini dilakukan di SMK farmasi Maharani malang yang berlokasi di Jl. Brawijaya I no. 44 Malang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Farmasi Maharani Malang dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan jumlah siswa dalam kelas sebayakan 25 orang. Sebagai subjek penelitian sebagian besar siswa tersebut mengalami masalah memahami isi bacaan, baik dari segi keaktifan belajar maupun hasil belajar. Data penelitian ini ada dua macam, yakni (1) data proses belajar siswa, dan (2) data hasil belajar siswa. Data proses belajar berupa data kualitatif yang menggambarkan aktivitas belajar siswa dalam melakukan pembelajaran memahami informasi tertulis melalui strategi berbasis masalah dengan teknik diskusi kelompok. Data hasil belajar berupa data kuantitatif, yakni skor hasil tes kemampuan siswa dalam memahami informasi tertulis. Data proses belajar belajar siswa bersumber dari catatan lapangan hasil pengamatan dan catatan hasil wawancara dengan siswa yang dilakukan pada saat refleksi. Semantara itu, data hasil belajar siswa bersumber dari hasil penilaian guru terhadap jawaban siswa dalam memecahkan persoalan yang ada pada lembar tes membaca pemahaman. Data penelitian berupa data proses belajar siswa dan data hasil belajar siswa yang diperoleh dari proses pembelajaran serta data hasil tindakan di kelas. Pengumpulan data tersebut, peneliti menggunakan tiga macam instrument, (1) instrumen untuk melakukan tindakan pembelajaran berupa rencana perbaikan pembelajaran (2) panduan pertanyaan wawancara (3) soal tes dalam bentuk pertanyaan yang terwujud dalam lembar soal tes. Analisis data dalam penelitian ini dibedakan dalam dua cara, yakni pengolahan data aktifitas belajar siswa selama proses pembelajaran dan pengolahan data hasil belajar yang menggambarkan kemampuan siswa dalam memahami informasi tertulis. Data aktifitas belajar siswa merupakan data kualitatif dan dianalisis secara kualitatif, sedangkan hasil belajar siswa yang berupa skor/angka diolah secara kuantitatif dengan menggunakan teknik statistik deskriftif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan memahami informasi tertulis siswa kelas X SMK Farmasi Maharani Malang telah meningkat setelah mendapatkan pengalaman belajar melalui strategi berbasis masalah dengan teknik diskusi kelompok. Terjadinya peningkatan aktivitas tersebut disebabkan oleh munculnya motivasi dan minat siswa yang dibangun melalui strategi pembelajaran berbasis masalah dengan teknik diskusi kelompok. Peningkatan aktivitas tersebut disebabkan oleh adanya penyesuaian pembelajaran dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan topik materi bacaan yang digunakan dalam pembelajaran dan kebiasaan serta gaya belajar yang dilakukan oleh siswa Akhirnya saran dikemukakan sebagai berikut. Pertama, kepada guru bahasa Indonesia kelas X SMK Farmasi Maharani Malang disampaikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dengan teknik diskusi kelompok memberikan pengalaman belajar yang signifikan kepada siswa terutama dalam pembelajaran memahami informasi tertulis. Kedua kepada pihak sekolah disarankan agar memberikan fasilitas dan media yang memadai untuk pembelajaran bahasa Indonesia yang terkait dengan bacaan yang berkaitan dengan kefarmasian. Ketiga kepada siswa SMK Farmasi Maharani Malang melalui strategi pembelajaran berbasis masalah dengan teknik diskusi dapat memberikan perubahan pola pikir dan hasil belajar yang maksimal.. Keempat kepada peneliti lanjutan agar menggunakan informasi dari temuan penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk penelitian yang sejenis.

Penilaian kesesuaian buku teks IPS SD kelas IV terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri dengan BSNP (studi pada SDN 04 Aikmel, Lombok Timur, NTB) / Romi Hidayatullah

 

Hidayatullah, Romi. 2013. Penilaian Kesesuaian Buku Teks IPS SD Kelas IV Terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri dengan BSNP (Studi pada SDN 04 Aikmel, Lombok Timur, NTB). Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar Guru Kelas Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (2) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si. Kata Kunci: Buku teks, kesesuaian komponen isi, kesesuaian komponen penyajian, kesesuaian komponen kebahasaan, kesesuaian komponen kegrafikan Sebagai salah satu sumber informasi, Buku merupakan bahan pembelajaran yang dominan penggunaannya di sekolah dibandingkan bahan-bahan pembelajaran yang lain. Hal ini dikarenakan buku merupakan sumber belajar yang penggunaannya relatif sederhana dibandingkan dengan produk sumber belajar lainnya. Buku teks merupakan buku yang dirancang untuk penggunaan di kelas, disusun dan disiapkan dengan cermat oleh pakar atau ahli dalam bidang itu, dan dilengkapi dengan sarana-sarana pembelajaran yang sesuai dan serasi. Tujuan Penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat kesesuaian buku teks pelajaran IPS SD Kelas IV terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri ditinjau, (1) dari kelayakan komponen isi, (2) dari kelayakan komponen penyajian, (3) dari kelayakan komponen kebahasaan, dan (4) dari kelayakan komponen kegrafikan. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan penelitian evaluatif deskriptif. Rancangan penelitian menggunakan teknik analisis isi. Subjek penelitian ini adalah buku Smart in Social Science terbitan P.T. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri yang disusun oleh Dyah Suryaningsih edisi tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan empat hal. Pertama buku teks pelajaran IPS Smart in Social Science kelas IV terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri memiliki kelayakan komponen isi yang tergolong tinggi dengan temuan sebagai berikut: (1) Penentuan materi pembelajaran yang disajikan di dalam buku teks belum sepenuhnya sesuai dengan kurikulum. (2) beberapa materi yang dituangkan dalam buku teks, tidak teruji kebenaran dan kesahihannya. (3) materi pendukung pembelajaran belum sepenuhnya mampu membelajarkan siswa. Kedua buku teks pelajaran IPS Smart in Social Science kelas IV terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri memiliki kelayakan penyajian yang tergolong tinggi dengan temuan sebagai berikut: (1) sebagian besar penyajian isi sesuai dengan sistematika penyajian, keruntutan penyajian pesan tampak menggunakan pendekatan expanding, namun sebagian mengabaiakan pendekatan integrated, penyajian konsep sebagian besar tampak menggunakan pendekatan spiral. (2) sebagian besar kelengkapan penyajian sesuai dengan kriteria, namun beberapa kepustakaan yang disajikan tidak tepat cara penulisannya, serta tidak terdapat rangkuman pada akhir tiap bab. Ketiga buku teks pelajaran IPS Smart in Social Science kelas IV terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri memiliki kelayakan komponen kebahasan yang tergolong cukup dengan deskripsi sebagai berikut: (1) sebagian besar bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan perkembangan siswa. (2) sebagian besar keterbacaan pesan bacaan yang disajikan tergolong mudah, dan sebagian kecil tergolong mudah sekali, serta sedikit sekali kalimat yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Keempat buku teks pelajaran IPS Smart in Social Science kelas IV terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri memiliki kelayakan kegrafikan yang tergolong tinggi dengan temuan sebagai berikut. (1) Tipografi Kulit Buku: (a) ukuran huruf judul lebih dominan dibandingkan (nama pengarang, dan penerbit); (b) warna judul buku ditampilkan lebih menonjol daripada warna latar belakangnya; (c) Jenis huruf yang digunakan terlalu banyak, namun tidak menggunakan jenis huruf hias/dekorasi, dan sesuai dengan jenis huruf untuk isi buku. (2) Ilustrasi Kulit Buku: (a) ilustrasi kulit buku menggambarkan isi/materi buku; (b) ilustrasi yang ditampilkan pada kulit buku sesuai dengan bentuk, warna, dan ukuran objek. (3) Tata Letak Isi Buku: (a) tata letak isi buku konsisten; (b) unsur tata isi buku letak harmonis; (c) unsur tata letak isi buku lengkap; (d) tata letak isi buku mempercepat pemahaman. (4) Tipografi Isi Buku: (a) tipografi yang digunakan sederhana; (b) ukuran dan jenis huruf sesuai dengan perkembangan peserta didik; (c) Spasi antar baris susunan teks terlalu rapat, namun spasi antar huruf terlihat normal; (d) tipografi yang digunakan memudahkan pemahaman. (5) Ilustrasi Isi Buku: (a) beberapa ilustrasi yang disajikan ukurannya terlalu kecil; (b) seluruh ilustrasi yang disajikan mampu mengungkap makna objek yang digambarkan; (c) seluruh ilustrasi yang disajikan bentuknya akurat sesuai dengan kenyataan; (d) beberapa ilustrasi yang disajikan tidak berwarna; (e) ilustrasi yang ditampilkan tidak hanya ditampilkan dalam tampak depan, sehingga terlihat kreatif dan dinamis. Sebagai implikasi dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut. (1) Buku Smart in Social Science memang belum terdaftar sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan yang digunakan dalam proses pembelajaran, namun dengan penelitian ini diharapkan Menteri Pendidikan Nasional dapat merekomendasikan buku ini sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran. (2) Penulis buku teks perlu mengadakan penyempurnaan penulisan, baik dari aspek isi, penyajian, dan bahasa yang digunakan. (3) Penerbit buku teks perlu mengadakan penyempurnaan designe, dalam hal ini designe kegrafikan buku. (4) Dalam memilih buku teks, pengelola sekolah perlu mencermati kelayakan komponen isi, komponen penyajian, komponen kebahasan, dan komponen kegrafikan. (5) Pemakai buku dapat memanfaatkan buku Smart in Social Science ini secara bijak dengan mengambil kebaikan-kebaikannya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab 4 dan bab 5, sehingga pengguna buku seharusnya tidak hanya menggunakan satu atau dua buku saja agar kekurangan masing-masing buku teks pelajaran dapat dipenuhi.

Analisis rasio keuangan daerah pada APBD periode anggaran 2008-2011 sebagai penilaian kinerja pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Ponorogo / Alek Nugroho

 

Nugroho, Alek. 2013. Analisis Rasio Keuangan Daerah Pada APBD Periode 2008-2011 Sebagai Penilaian Kinerja Pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Ponorogo. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi, Program Studi Diploma III Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Analisis Rasio Keuangan Daerah, Analisis Trend. Usaha pemerintah daerah dalam menggali sumber dana yang berasal dari potensi daerah yang dimiliki serta kemampuan mengelola dan memanfaatkan sumber dana yang ada tercemin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Salah satu untuk menganalisis kinerja keuangan daerah adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang telah ditetapkan dan dilaksanakan kaitannya dengan pembiayaan sektor publik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Analisis trend merupakan suatu metode analisis yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk mengetahui tingkat penilaian kinerja menggunakan rasio keuangan daerah digunakan rumus sebagai berikut: rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektivitas PAD dan rasio efisiensi belanja. Analisis ini akan berguna sebagai tolok ukur dalam menilai kemandirian keuangan daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Analisis trend berguna untuk memperkirakan hasil yang akan dicapai untuk tahun yang akan datang. Hasil penulisan ini adalah : rasio kemandian keuangan daerah menunjukkan hasil yang kurang mandiri untuk Pemerintah Kabupaten Ponorogo, rasio efektivitas PAD menghasilkan penilaian yang efektif karena hasil perhitungan lebih dari 100%, rasio efisiensi belanja menunjukkan hasil yang efisien untuk menilai belanja pemerintah. Hasil analisis trend untuk tahun 2014 dari pendapatan asli daerah, pendapaten transfer, dan realisasi belanja menunjukkan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) periode 2008-2011, Pemerintahan Kabupaten Ponorogo belum bisa dikatakan mandiri karena masih banyak tergantung pada bantuan dari pusat. Keefektivitasnya sudah bisa dikatakan efektif karena menunjukkan hasil lebih dari 100% dan sudah efisien dalam merealisasikan anggaran belanja. Saran untuk pemerintah daerah yaitu pemerintah harus lebih mengoptimalkan potensi-potensi yang ada terutama Pendapatan Asli Daerah (PAD), agar kemandirian daerah lebih tinggi dan tidak sepenuhnya berharap dari pemerintah pusat. Sedangkan saran untuk peneliti selanjutnya yaitu diharapkan dapat lebih menyempurnakannya dengan menambah instrumen dari rasio keuangan dan objek penelitian serta periodenya agar penelitian ini dapat lebih berkembang.

Efektivitas pengelolaan keuangan daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Tulungagung tahun anggaran 2009-2011 / Fibra Yohano Putra

 

Putra, Fibra Yohano. 2013. Efektivitas Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Tulungagung Tahun Anggaran 2009 – 2011. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi, Program Studi Diploma III Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Triadi Agung Sudarto, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Analisis Rasio Keuangan Daerah, Efektivitas Pengelolaan Keuangan Daerah. Peningkatan penerimaan daerah di era otonomi daerah membuat faktor efektivitas pengelolaan keuangan daerah semakin penting. APBD sebagai salah satu kebijakan anggaran pemerintah daerah dapat dipergunakan sebagai dasar penilaian terhadap tingkat efektivitas pengelolaan keuangan daerah. Salah satu cara untuk menganalisis tingkat efektivitas pengelolaan keuangan daerah yaitu dengan melakukan beberapa analisis rasio keuangan terhadap APBD yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui tingkat efektivitas pengelolaan keuangan daerah diperlukan analisis rasio pada APBD Kabupaten Tulungagung yang diantaranya: rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektivitas PAD, rasio efektivitas pajak daerah, dan derajat kontribusi BUMD. Analisis ini akan berguna sebagai tolok ukur dalam menilai kemandirian keuangan daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah, mengukur efektivitas pengelolaan keuangan daerah dalam merealisasikan pendapatan daerah. Hasil penulisan ini adalah : tingkat kemandirian daerah Kabupaten Tulungagung masih tergolong sangat rendah dan ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap sumber pembiayaan ekstern masih sangat tinggi. Rasio efektivitas PAD Pemerintah Kabupaten Tulungagung secara umum dikatakan sangat efektif dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena telah melebihi angka 1 (satu) atau 100% dari target yang telah ditetapkan. Rasio Efektivitas Pajak Daerah Kabupaten Tulungagung dalam mengumpulkan pajak daerah juga termasuk dalam kategori baik dan sangat efektif. Derajat Kontribusi BUMD Kabupaten Tulungagung bila dibandingkan dengan pos-pos penerimaan PAD lainnya relatif masih sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap APBD dengan cara perhitungan rasio keuangan daerah, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas pengelolaan keuangan pada Pemerintah Kabupaten Tulungagung tahun 2009 – 2011 termasuk dalam kategori baik dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2009 – 2011, sedangkan saran yang diberikan kepada (1) Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung yaitu supaya lebih mengoptimalkan penerimaan daerah dari potensi pendapatannya yang telah tersedia, terutama Pendapatan Asli Daerah (PAD), (2) bagi penulis selanjutnya yaitu dalam melakukan penelitian lebih lanjut supaya tidak hanya terbatas pada Laporan Target dan Realisasi saja, tetapi lebih dikembangkan dalam perolehan data yang disajikan pada Dinas-dinas Pemerintah yang lain.

Pengembangan media pembelajaran audio visual sebagai supplementary book untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran K3LH di SMK Pawyatan Daha 2 Kediri / Muhammad Taufik Hidayat

 

Hidayat, Muhammad Taufik. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual Sebagai Supplementary Book Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran K3LH Di SMK Pawyatan Daha 2 Kediri. Skripsi, Program Studi Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.H. Mohammad Arief.M.Si (2) Drs. Sarbini. Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual, Supplementary Book, Hasil Belajar. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, mendorong upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil teknologi dalam proses belajar. Dengan teknologi dapat diciptakan media pembelajaran yang dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, oleh karena itu peneliti mengembangkan produk media pembelajaran audiovisual sebagai Supplementary Book mata pelajaran K3LH. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yang menggunakan prosedur penelitian dan pengembangan Sugiyono. Langkah-langkah penelitian dan pengembangannya meliputi : (a)Potensi dan Masalah, (b)Mengumpulkan Informasi, (c)Desain Produk, (d)Validasi Desain, (e)Perbaikan Desain, (f)Uji Coba Produk 1, (g)Revisi Produk 1, (h)Uji Coba Produk 2, (i)Revisi Produk 2, (j)Produk Akhir. Tujuan penelitian dan pengembangan ini untuk menghasilkan produk media pembelajaran audio visual pada mata pelajaran K3LH. Pemanfaatan media pembelajaran ini menciptakan pembelajaran yang kontekstual dengan menggunakan media pembelajaran sebagai supplementary book mata pelajaran K3LH yang digunakan disekolah. Selain itu tujuan penelitian dan pengembangan ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran audio visual pada mata pelajaran K3LH. Dari hasil validasi keseluruhan mulai dari ahli materi, ahli media dan uji coba produk 2 (pengguna) diperoleh rata-rata keseluruhan 94,22% dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran audiovisual sangat valid dan dapat digunakan. Sedangkan analisis hasil belajar siswa, nilai rata-rata kelas sebelum menggunakan media sebesar 67,04 setelah menggunakan media mengalami kenaikan sebesar 79. Jika dilihat dari persentase ketuntasan dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) 75 dapat diketahui sebelum menggunakan media persentase ketuntasannya sebesar 31,8% dan setelah menggunakan media persentase ketuntasannya mengalami kenaikan sebesar sebesar 77,2% dari hasil analisis tersebut disimpulkan bahwa media pembelajaran audiovisual ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X APK 2 di SMK Pawyatan Daha 2 Kediri.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada standar kompetensi memberikan pelayanan kepada pelanggan (studi pada siswa kelas X APK 2 SMK Widya Dharma Turen) / Karina Septianingsih

 

Septianingsih, Karina. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan (Studi Pada Siswa Kelas X APK 2 SMK Widya Dharma Turen). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Heri Pratikto, M.Si, (II) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si. Kata Kunci : media pembelajaran, multimedia interaktif, keaktifan dan hasil belajar Media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pembelajaran sehingga dapat menarik perhatian siswa. Teknologi terutama multimedia mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada standar kompetensi Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan. Multimedia interaktif menyajikan materi dengan warna dan visual yang menarik dan dapat membantu siswa memahami materi. Sarana dan prasarana sekolah yang tersedia mendukung penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dalam proses pembelajaran. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model Sugiyono yang telah dimodifikasi. Tahapan yang digunakan meliputi 1) potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain media, 4) validasi media, 5) revisi media I, 6) uji coba media, 7) revisi media II dan 8) penyempurnaan media. Validasi media dilakukan oleh dua ahli, yaitu ahli materi dan ahli media. Uji coba pemakaian media dilakukan pada siswa kelas X APK 2 yang berjumlah 39 siswa. Hasil validasi ahli materi sebesar 80% yang menyatakan media valid/layak digunakan dan untuk hasil validasi ahli media mencapai 90% yang menyatakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini layak/dapat digunakan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah media pembelajaran berbasis multimedia interaktif mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Peningkatan keaktifan siswa dapat dilihat dari hasil observasi yang menyatakan keaktifan klasikal sebesar 74,35% . Hasil belajar siswa dari hasil posttest melalui t-test paired sample yang memperoleh nilai signifikan 0.000 < 0,05 dan nilai t hitung (-9,793) < t tabel (2,024) yang menunjukkan adanya perubahan hasil belajar siswa setelah menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif. Berdasarkan hasil penelitian ini saran peneliti adalah media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dapat digunakan pada standar kompetensi lainnya dalam ruangan kelas dengan intensitas cahaya rendah, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif media pembelajaran yang membantu guru dalam proses belajar mengajar.

Analisis kelompok dengan menggunakan metode hierarki untuk pengelompokan kabupaten/kota di Jawa Timur berdasarkan indikator kesehatan / Lina Rahmawati

 

Rahmawati, Lina. 2013. Analisis Kelompok dengan Menggunakan Metode Hierarki untuk Pengelompokan Kabupaten/Kota di Jawa Timur Berdasarkan Indikator Kesehatan. Skripsi, Program Studi Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Abadyo, M,Si (2) Trianingsih Eni Lestari, S.Si, M.Si. kata kunci: Kesehatan, analisis kelompok, metode hierarki, indeks RMSSTD (Root Mean Square Standart Deviation). Kesehatan diperlukan oleh manusia agar tidak mengalami gangguan dalam menjalankan aktivitasnya. Kesehatan adalah keadaan seseorang dalam kondisi tidak sakit, tidak ada keluhan, dapat menjalankan kegiatan sehari-hari, dan sebagainya. Dalam hal mengetahui tingkat kesehatan di Propinsi Jawa Timur, maka diperlukan informasi tingkat kesehatan masyarakat. Untuk mengetahui informasi tentang tingkatan kesehatan di Jawa Timur, perlu digunakan metode pengelompokan. Pengelompokan dilakukan pada 29 kabupaten dan 9 kota di Jawa Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengelompokkan kabupaten/kota di Jawa Timur berdasar indikator kesehatan dengan analisis kelompok menggunakan 5 metode hierarki, yaitu: Single Linkage, Complete Linkage, Average Linkage, Ward’s, dan Centroid. Analisis kelompok merupakan teknik multivariat yang mempunyai tujuan utama untuk mengelompokkan objek-objek berdasarkan karakteristik yang dimilikinya. Indeks validitas yang digunakan untuk mengetahui jumlah kelompok optimum adalah RMSSTD (Root Mean Square Standart Deviation). Nilai indeks RMSSTD terkecil sebesar 13,947 yaitu pada metode ward’s dengan jumlah kelompok sebanyak 5. Berdasarkan 5 kelompok tersebut dapat diklasifikasikan dalam tingkatan kesehatan sangat tinggi yaitu pada kelompok 5, tingkatan kesehatan tinggi pada kelompok 1, tingkatan kesehatan sedang pada kelompok 2, tingkatan kesehatan rendah pada kelompok 4, dan tingkatan kesehatan sangat rendah pada kelompok 3.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |