Pengembangan bahan ajar IPA SD kelas VI pada materi pokok energi listrik dengan menggunakan media grafis / Fitri Miftahul Jannah

Jannah, Fitri Miftahul

Title: Pengembangan bahan ajar IPA SD kelas VI pada materi pokok energi listrik dengan menggunakan media grafis / Fitri Miftahul Jannah
Author: Jannah, Fitri Miftahul
Type: Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang. 2009
Year: 2009
Code: Rs 372.35044 JAN p
Advisors: 1. Suprihadi Saputro 2. Sihkabuden
Subject: 1. SAINS (PENDIDIKAN DASAR) - MEDIA PEMBELAJARAN
2. ENERGI LISTRIK (PENDIDIKAN DASAR) - MEDIA PEMBELAJARAN

Abstract

Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk kepribadian seseorang.

Pendidikan sangat berperan membentuk baik dan buruknya sifat atau kepribadian seseorang.

Pada UU RI SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 juga telah dijelaskan bahwa “manusia

membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat

mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain, yang dikenal

dan diakui oleh masyarakat”. Pendidikan juga merupakan sesuatu yang fundamental dalam

mencetak sumber daya manusia yang berintelektual tinggi dan mampu menjawab tantangan di

masa yang akan datang. Hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang

mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada di luar individu adalah tersedianya bahan ajar yang

memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajarinya, sehingga menghasilkan belajar yang

lebih baik.

Berdasarkan alasan tersebut, maka pemerintah sangat fokus dalam menangani masalah

dunia pendidikan, dengan maksud agar tercipta generasi yang unggul dan berkualitas. Berbagai

cara telah dilakukan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional, salah satu cara yang

dilakukan pemerintah yaitu dengan melakukan pembaharuan kurikulum. Perubahan kurikulum

yang dilakukan adalah dengan memperbaharui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

adalah kurikulum operasional yang disusun di masing-masing satuan pendidikan (Darmawan dan

Nursalim, 2006 : 2). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru harus

mempunyai kemampuan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif pada pembelajaran.

Namun pada prakteknya di lapangan, pembelajaran yang terjadi di Indonesia banyak yang

masih bersifat tradisional, apalagi pada sekolah-sekolah yang berada di daerah pinggiran. Sarana

dan prasarana yang tersedia sangat minim. Selain itu, mereka sama sekali belum terjamah oleh

teknologi. Siswa yang bersekolah rata-rata berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sehingga

guru hanya memanfaatkan buku sebagai media dalam pembelajaran. Selain itu, guru juga masih

banyak yang menggunakan metode belajar tradisional, yaitu metode ceramah. Pada pembelajaran

tradisional, siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru di kelas. Mayoritas siswa

menilai bahwa belajar di kelas adalah kegiatan yang membosankan. Pada pembelajaran dengan

metode ceramah, guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, di

kelas hanya terdapat interaksi satu arah, yaitu guru kepada murid (teacher centered). Kondisi

seperti itu membuat siswa menjadi kurang kreatif dan siswa memilki daya penalaran yang

rendah. Nurhadi, dkk (2004:3) menyatakan bahwa siswa memiliki kesulitan untuk memahami

konsep akademik seperti yang dialami oleh siswa selama ini, yaitu menggunakan konsep yang

abstrak dengan metode ceramah. Menurut Grinder dalam Silberman, dari tiap 30 siswa, 22

diantaranya rata- rata dapat belajar efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang

berkombinasi antara visual, auditori dan kinestetik. sedangkan menurut Tony Stockwell dalam

Gunawan menyebutkan bahwa To learn anything fast and effectively you have to see it, hear it

and feel it. Yang artinya, untuk dapat belajar dengan cepat dan efektif, kamu harus melihat,

menengar dan merasakannya.

IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas

terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan

dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat

manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta

pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan

masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu

pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap materi

pelajaran mempunyai sifat masing masing. Materi IPA akan berbeda dengan konsep

pembelajaran matematika, maupun bahasa. Matematika dengan sifat materinya yang abstrak

memerlukan bahan ajar yang mampu membuat lebih kongkrit. Sedangkan untuk materi IPA yang

umumnya gejalanya dapat dikenali oleh panca indera, memerlukan bahan ajar yang membuat

siswa mampu mengungkap gejala alam yang ada di sekitar mereka dan menganalisisnya menjadi

suatu pengertian atau konsep yang utuh. Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata pelajaran IPA

tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang

menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum

yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang

dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas, peralatan

siswa dan komunikasi antara siswa dan guru. Berdasarkan survey di lapangan, kegiatan

pembelajaran belum sepenuhnya berpusat pada siswa, kemampuan siswa berdiskusi dalam

kelompok masih rendah, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah oleh

siswa masih rendah, daya cipta dan kreativitas siswa belum menunjukkan hasil karya yang

memadai, belum tampak dengan jelas kemandirian siswa dalam belajar, kemampuan dan

keterampilan siswa melakukan percobaan IPA masih rendah.

Menurut penelitian, International Education Achievement (IEA) kemampuan membaca

siswa SD di Indonesia menempati urutan 30 dari 38 negara. UNDP Human Development Index,

tahun 2002 dan 2003 berurutan menempati urutan 110 dari 173, dan 112 dari 175 negara.

Bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan di

dalam mata pelajaran tertentu, sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya

konsep tersebut lebih lama?

Oleh sebab itu, perlu segera dikembangkan bahan ajar yang sistematis untuk menunjang

kegiatan belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bahan ajar pada mata

pelajaran IPA Kelas V I Semester II. Peneliti hanya mengembangkan bahan ajar pada materi

pokok energi listrik.

Adapun pertimbangan yang mendasari peneliti meneliti di SDN Ketandan II adalah dari

hasil observasi diperoleh informasi bahwa sekolah tersebut berada di desa, pembelajaran belum

didukung dengan media-media yang canggih. Untuk pembelajaran IPA pada sekolah tersebut

hanya menggunakan 1 buah literatur dan LKS sebagai sumber belajar siswa. Para siswanya pun

kurang berminat dalam hal membaca. Karena literatur yang dipergunakan dirasa kurang menarik.

Dan hasil interview menyatakan bahwa guru hanya menggunakan metode ceramah dalam

mengajarkan materi IPA sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan

uraian yang telah disampaikan di atas, maka diperlukan penelitian untuk mengembangkan bahan

ajar yang diharapkan dapat membantu siswa agar lebih cepat memahami konsep belajar IPA dan

untuk dapat meringankan tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran. Diantara beberapa

materi pokok IPA SD, maka dipilih materi Energi Listrik sebagai fokusnya. Untuk itu, dalam

penelitian ini peneliti mengambil judul ”Pengembangan Bahan Ajar IPA SD Kelas VI pada

Materi Pokok Energi Listrik dengan Menggunakan Media Grafis”.


© Digital Library - State University of Malang

http://library.um.ac.id