PERPUSTAKAAN DIGITAL

Universitas Negeri Malang (UM) -- The Learning University
Home Jurnal Perpustakaan Sekolah Jurnal Perpustakaan Sekolah Dampak Reformasi Sekolah Terhadap Peningkatan Peran Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar, Jurnal Perpustakaan Sekolah, Edisi Tahun 1, Nomor 2, Oktober 2007
Terdapat 30 Tamu online
Dampak Reformasi Sekolah Terhadap Peningkatan Peran Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar, Jurnal Perpustakaan Sekolah, Edisi Tahun 1, Nomor 2, Oktober 2007
(Read : 7151 times )
Oleh Hari Santoso   

 

Peningkatan kualitas pendidikan dilakukan terus menerus, searah dengan perubahan kebutuhan manusia. World Bank menyatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam perbaikan pendidikan dibutuhkan waktu yang lama dan dari 21 negara yang didata rata-rata membutuhkan waktu antara 15-20 tahun. Reformasi sekolah merupakan kebijakan yang mengarah pada desentralization, marketzation, accountability, managerialisme, dan professionalism. Dengan adanya reformasi pendidikan di sekolah, menjadikan perpustakaan bukan sekedar pelengkap dari institusi sekolah, melainkan menjadi penunjang proses pembelajaran sehingga memiliki posisi yang strategis terutama dalam membantu sekolah dalam menghasilkan out put yang berkualitas dan memiliki daya saing. 

  

Sumber artikel: download

 

  

DAMPAK REFORMASI SEKOLAH TERHADAP PENINGKATAN PERAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR 

 

oleh: Hari Santoso / Pustakawan Universitas Negeri Malang.

 Abstrak:

Peningkatan kualitas pendidikan dilakukan terus menerus, searah dengan perubahan kebutuhan manusia. World Bank menyatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam perbaikan pendidikan dibutuhkan waktu yang lama dan dari 21 negara yang didata rata-rata membutuhkan waktu antara 15-20 tahun. Reformasi sekolah merupakan kebijakan yang mengarah pada desentralization, marketzation, accountability, managerialisme, dan professionalism. Dengan adanya reformasi pendidikan di sekolah, menjadikan perpustakaan bukan sekedar pelengkap dari institusi sekolah, melainkan menjadi penunjang proses pembelajaran sehingga memiliki posisi yang strategis terutama dalam membantu sekolah dalam menghasilkan out put yang berkualitas dan memiliki daya saing. Beberapa kebijakan dalam reformasi sekolah yang berdampak pada peningkatan peran perpustakaan sebagai sumber belajar adalah : (1) peningkatan kualitas pendidikan melalui  perbaikan dan perubahan kurikulum (improvement and change of curiculum), (2)  peningkatan kualitas pendidikan melalui perbaikan kinerja guru, (3) peningkatan kualitas pendidikan melalui pembangunan budaya (cultural development)

 

 

 

Upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dilakukan oleh negara-negara berkembang saja,   tetapi juga dilakukan oleh negara maju. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan upaya yang dilakukan terus menerus, tidak pernah berhenti searah dengan perubahan kebutuhan manusia (Unru & Alexander dalam Murbojono, 2007).  World Bank menyatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam perbaikan pendidikan dibutuhkan waktu yang lama dan dari 21 negara yang didata rata-rata membutuhkan waktu antara 15-20 tahun (Per Dalin, 1994).       

Reformasi atau perbaikan pada sejumlah negara mengalami peningkatan besar pada akhir abad ke dua puluh, karena pengaruh dari perubahan kebijakan yang mengarah pada desentralization, marketzation, accountability, managerialisme, dan profesionalism (Zaten, 2002).

           Esensi dari desentralisasi bidang pendidikan adalah otoritas dalam pengambilan keputusan diberikan sepenuhnya kepada sekolah , termasuk di dalamnya melakukan perbaikan pendidikan. Desentralisasi pendidikan di Indonesia mulai dicobakan sejak tahun 1998, ketika Bank Dunia merekomendasikan perlunya pemberian otonomi kepada sekolah untuk merekoveri krisis (Mulyasa, 2002). Singapura telah melaksanakan otonomi sekolah sejak tahun 1994, sehingga pada tahun2000 berhasil menduduki peringkat ke tiga pada skala internasional di bidang matematika dan Sain (Shape & Gopinathan, 2002).  Marketization menghendaki perubahan pendidikan berorientasi pasar. Tuntutan pasar terhadap pendidikan antara lain berupa : relevansi, kualitas produk, dan layanan yang memuaskan pelanggan (Salis, 2006). Realisasinya sekolah harus  mengubah kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja, menghasilkan lulusan dengan kualitas tinggi, dan memberikan pelayanan optimal kepada para pelanggan, baik internal maupun eksternal, seperti guru, siswa, orang tua dan masyarakat. Akuntabilitas adalah bentuk pertanggung jawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Laporan prestasi sekolah yang diberikan kepada stakeholder hendaknya dapat memacu kinerja sekolah dalam melakukan perbaikan terutama pada kualitas proses pendidikan. Profesionalisme dalam menjalankan manajemen pendidikan sekolah dilakukan melalui penerapan pelayanan prima yang berorientasi kepada kepuasan semua pihak. Dengan penerapan manajemen mutu total mengharuskan sekolah menata kembali implementasi manajemen pada tataran dan pelaksanaan pembelajaran yang mengarah pada kualitas.         Pelaksanaan reformasi pendidikan berdampak positif bagi perpustakaan sekolah karena perpustakaan sekolah merupakan salah satu objek peningkatan sarana dan prasarana pendidikan terutama sesuai dengan fungsinya sebagai sumber belajar dan pusat formasi serta penunjang proses pembelajaran. 

         Dengan adanya reformasi pendidikan di sekolah, jelas akan menjadikan perpustakaan bukan sekedar pelengkap dari institusi sekolah, melainkan menjadi penunjang proses pembelajaran sehingga memiliki posisi yang strategis terutama dalam membantu sekolah dalam menghasilkan out put yang berkualitas dan memiliki daya saing.

           Permasalahannya adalah aspek-aspek saja yang harus direformasi di sekolah terutama yang menyangkut peningkatan kualitas dan bagaimana dampaknya terhadap perpustakaan sekolah ?. Tulisan ini berusaha untuk memberikan sumbangan pikiran dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dan dampaknya terhadap perpustakaan sekolah.

 

   Reformasi Pendidikan pada Satuan Sekolah 

        Dalam pelaksanaan reformasi pendidikan di sekolah , menurut Murbojono (2007) terdapat  sembilan komponen , yaitu : (1) perbaikan sekolah didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang efektif (effective, research-base methods) (2) penyusunan desain perbaikan sekolah komprehensif (comprehensive design with aligned component), (3) pengembangan profesionalitas staf (professional development), (4)  perumusan tujuan dan sasaran yang terukur (measurebale goals and benchmarks), (5)  dukungan semua pihak internal sekolah (support within the school), (6) keterlibatan orang tua dan masyarakat (parental and community involvement), (7) ada dukungan pihak eksternal sekolah (external technical support and assistance, (8)  evaluasi (evaluation strategis), (9) koordinasi sumberdaya (coordination of resources)

          Di Amerika, program reformasi pendidikan secara komprehensif dilaksanakan dalam bentuk program Comprehensive School Reform, realisasinya meliputi empat langkah, yaitu adoption, initiation, implementation dan institutionalization. Adopsi adalah kegiatan mengidentifikasi beberapa solusi yang pernah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain yang selanjutnya dipilih untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. Inisiasi merupakan kegiatan memobilisasi personalia yang tepat untuk terlibat dalam perbaikan pendidikan di sekolah. Implementasi adalah kegiatan yang berupa penerapan beberapa solusi dalam bentuk program-program ke sekolah atau kelas. Institusionalisasi adalah kegiatan yang berupa perbaikan agar dapat dilaksanakan dengan sukses dan mantap. 

           Reformasi pendidikan dilakukan bukan secara parsial melainkan secara komprehensif yang dilakukan dengan pendekatan sistem, meliputi unsur input, proses dan output/outcome. Pada sisi input, lingkup perbaikan antara lain meliputi keterampilan guru,partisipasi orang tua dan kesiapan siswa. Pada unsur proses, lingkup perbaikan meliputi : kurikulum, kebijakan pendidikan, kepemimpinan, strategi pembelajaran, cara belajar dan kontrol belajar. Pada sisi output, perbaikan pendidikan meliputi aspek evaluasi, seperti ranah kognitif, afektif dan konatif. Pada perbaikan aspek outcome, perbaikan sekolah dilakukan melalui penelusuran terhadap kemajuan alumni, baik yang sedang melakukan pendidikan lanjutan atau mereka yang sudah memasuki dunia kerja untuk menilai prestasi mereka.

         Dengan adanya reformasi secara komprehensif melalui   perbaikan di segala bidang,  perpustakaan sekolah merupakan salah satu objek  yang akan mendapat prioritas untuk dikembangkan dan menjadi salah satu prioritas program sekolah. Pengembangan perpustakaan sekolah  semata-mata dimaksudkan agar perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal sehingga dapat memberikan kontribusi terutama dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran , kualitas pendidik maupun peserta didik.          Beberapa kebijakan dalam reformasi sekolah yang berdampak terhadap peningkatan peran perpustakaan sebagai sumber belajar adalah sebagai berikut : 

 

  1.       Peningkatan kualitas pendidikan melalui  perbaikan dan perubahan kurikulum (improvement and change of curiculum) 

       Perbaikan pendidikan intinya adalah perbaikan dan perubahan kurikulum (improvement and change of curriculum). Taba sebagaimana dikutip Zais (1976) dalam argumentasinya menegaskan bahwa perbaikan kurikulum saja sudah cukup untuk perbaikan pendidikan di sekolah, karena sudah mencakup desain, tujuan, isi dan lingkup materi, aktivitas belajar serta strategi pembelajaran. 

               Dalam pandangan Widayati dkk (2002) kurikulum yang ada saat ini masih sarat beban dan tidak pernah menguntungkan peserta didik. Terbukti  , hasil pendidikan dasar dan menengah saat ini tidak banyak menumbuhkan potensi kemandirian, kewirausahaan, maupun potensi bersaing dan penalaran yang baik dari peserta didik. Seharusnya, pendidikan menjadi proses yang memerdekakan, dalam arti peserta didik menjadi pelaku proses belajar dan diakui sebagai pribadi yang bebas dengan segala keunikannya. 

            Gordon Dryden dalam buku The Learning Revolution (2000), menyatakan bahwa sekolah masa depan perlu menyajikan model untuk kurikulum empat bagian yang terpadu yang terdiri dari : (1) kurikulum perkembangan pribadi, seperti rasa bangga diri dan pembentukan keyakinan diri, (2) kurikulum keterampilan hidup, seperti penyelesaian masalah secara kreatif dan manajemen diri (3) kurikulum belajar untuk belajar dan belajar untuk berpikir dalam suasana gembira (fun); dan (4) kurikulum isi, seperti pada umumnya dengan penyajian berdasarkan tema-tema terpadu.              Sekolah/lembaga pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Model sekolah abad 21 dituntut untuk menghasilkan sebagian besar dari peserta didiknya mampu menjadi pelaku mandiri, pelajar mandiri, manajer mandiri dengan motivasi pribadi. Pemberdayaan sekolah dan pemberdayaan siswa merupakan tuntutan model sekolah abad 21. Sekolah ditantang untuk makin handal dalam memberikan perannya, menyiapkan peserta didik mengantisipasi tuntutan masyarakat pascamodern
 

      Sekolah adalah lingkungan tempat siswa memperoleh pendidikan dan pengajaran secara formal. Untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah diadakan perpustakaan sekolah. Melalui berbagai sumber yang ada di perpustakaan, baik siswa maupun guru dapat berinteraksi serta terlibat langsung baik fisik maupun mental dalam proses belajar mengajar. Berkaitan dengan hal tersebut Mbulu (1994:93-97;105-106, 1992 : 93) mengemukakan bahwa cara belajar di sekolah perlu diubah dengan mengaktifkan siswa ke perpustakaan. Melalui aktivitas membaca buku-buku (ilmu pengetahuan) di perpustakaan, siswa akan terbiasa berusaha sendiri memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Para siswa diberi kebebasan untuk belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan, kemampuan dan kecepatannya, meneliti berbagai sumber di perpustakaan. Perpustakaan sekolah beserta koleksi yang disediakan dapat memperluas, menghidupkan pengajaran guru dan memberikan kemungkinan kepada siswa memburu informasi secara aktif. Para siswa tidak hanya menerima  materi pelajaran yang disajikan oleh guru di kelas, akan tetapi secara kritis menjaring dan mengolah sendiri informasi yang diterima di dalam perpustakaan.

      .               Agar pelaksanaan belajar di sekolah berhasil dan mencapai sasaran, maka menurut Sutik (1992 : 24-25) ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, baik yang menyangkut program, situasi belajar maupun sarana belajar. Dalam hal ini perpustakaan sekolah memiliki peran yang sangat penting bahkan merupakan salah satu sumber belajar yang mempunyai sumbangan sangat berarti bagi upaya-upaya untuk meningkatkan aktifitas dan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. 

               Perbaikan dan perubahan kurikulum dengan mengintegrasikan aktivitas pemanfaatan perpustakaan dalam kurikulum berdampak pada peningkatan peran perpustakaan sebagai sumber belajar. Perpustakaan sekolah tidak lagi sepi pengunjung dan dipandang sebelah mata, tetapi akan dimanfaatkan secara optimal dan mendapat perhatian dari semua warga sekolah.       Dengan adanya reformasi dalam bidang kurikulum, diharapkan dapat menempatkan perpustakaan sebagai faktor penunjang proses pembelajaran di sekolah yang secara aktif dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal. 

               Oleh sebab itu agar perpustakaan sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efisien, kurikulum sekolah yang dipakai hendaknya mengharuskan masing-masing bidang studi menggunakan berbagai sumber bacaan, baik sebagai sumber utama maupun sebagai penunjang (pengayaan). Para tenaga kependidikan diharapkan terus  memotivasi para siswa dalam memanfaatkan berbagai sumber informasi yang ada di perpustakaan serta mendorong siswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar secara teratur. Dengan aktivitas tersebut diharapkan minat baca akan tumbuh dan berkembang menjadi kegemaran membaca. Jika hal tersebut terwujud, maka sudah barang tentu perpustakaan akan semakin diminati oleh warga sekolah dan dijadikan sebagai tempat untuk menggali berbagai sumber ilmu pengetahuan.

 

   2.       Peningkatan kualitas pendidikan melalui perbaikan kinerja guru  

 

              Sebagaimana disebutkan di atas bahwa reformasi pendidikan pada dasarnya adalah membenahi guru karena tanggung jawab untuk mengimplementasikan  program reformasi pendidikan berada di tangan guru. Oleh karena itu inti reformasi pendidikan adalah perbaikan kinerja guru. 

              Dalam pandangan Simbolon (2007) ,  seorang guru dituntut untuk dapat melaksanakan tugas pengajaran dan edukasi. Di dalam melaksanakan tugas pengajaran, guru harus menguasai ilmu yang diajarkan, menguasai berbagai metode pengajaran, dan mengenal anak didiknya baik secara lahiriah atau batiniah (memahami setiap anak). Dalam pengenalan anak, guru dituntut untuk mengetahui latar belakang kehidupan anak, lingkungan anak, dan tentunya mengetahui kelemahan-kelemahan anak secara psikologis. Untuk itu, guru harus dapat menjadi seorang "dokter" yang dapat melakukan "diagnosa" untuk menemukan kelemahan-kelemahan si anak sebelum mengajarkan ilmu yang telah dikuasainya. Setelah itu, baru dia akan memilih metode atau mengulangi sesuatu topik sebagai dasar untuk memudahkan pemahaman si anak terhadap ilmu yang akan diajarkan. Misalnya seorang guru matematika akan mengajarkan topik pangkat bilangan, tentunya guru harus mengetahui sejauh mana anak telah menguasai konsep perkalian. Dengan demikian, seorang guru dalam menjalankan tugasnya harus mampu; (1) berkomunikasi dengan baik terhadap siapa audiensnya, (2) melakukan kajian sederhana khususnya dalam pengenalan anak, (3) menulis hasil kajiannya, (4) menyiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan persiapan mengajarnya termasuk siap tampil menarik dan bertingkah laku sebagai guru, menguasai ilmunya dan siap menjawab setiap pertanyaan dari anak didiknya, (5) menyajikan \meramu materi ajar secara konkrit (metode pengajaran), (6) menyusun dan melaksanakan materi penilaian secara objektif sesuai dengan Taksonomi Bloom dan mengoreksinya setiap harinya, dan lain sebagainya. Untuk itu, dituntut kreatifitas guru, keprofesionalan guru, memegang etika guru dan tentunya dedikasi yang tinggi untuk melaksanakan tugas keguruannya. Jika hal ini dilakukan oleh masing-masing guru maka benarlah bahwa pekerjaan guru adalah pekerjaan profesional yang tak mungkin dapat dilakukan oleh orang lain.   

      Guru merupakan aktor kunci keberhasilan pendidikan. Dengan perkataan lain guru mempunyai fungsi , peran dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan SDM Indonesia yang berkualitas (Sugiharto,2007).  

       Kualitas pendidikan paling nyata yang diperankan guru , ketika ia membangun proses pembelajaran yang interaktif, kondusif, cerdas dan menghargai siswa sebagai pribadi unik yang memiliki potensi sangat besar untuk berkembang.

         Dalam pasal 2 Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. Pasal 29 peraturan pemerintah RI no.19 tentang standar pendidikan nasional, kualifikasi pendidikan minimal bagi guru TK (PAUD), SD/MI,SMP/Mts.,SDLB/ SMPLB dan SMA/SMK adalah diploma empat (D-IV) atau sarjana S1. Kualifikasi akademik guru ditunjukkan dengan ijazah yang merefleksikan kemampuan yang dipersyaratkan bagi guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik pada jenjang, jenis dan satuan pendidikan atau mata pelajaran yang diempunya. Kualifikasi akademik guru sebagaimana dimaksud diperoleh melalui program pendidikan formal sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau non kependidikan pada perguruan tinggi terakreditasi.

         Pengakuan guru sebagai tenaga profesional berarti segala persyaratan dan kriteria yang dibutuhkan sebagaimana layaknya guru profesional harus dipersiapkan. Untuk itu setiap Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan berperan menyiapkan guru-guru yang  dapat memenuhi harapan dan keyakinan masyarakat tentang pendidikan yang baik, berkualitas dan mampu mempertinggi kompetensi kompetitif, adaptip, memiliki kompetensi komunikasi teks tulis, lisan, angka dalam berbagai media secara unggul.

         Oleh karena itu guru perlu diberikan tugas mengajar sesuai bidang keahliannya. Kompetensi-kompetensi yang ada pada guru mempunyai banyak makna, merupakan gambaran hakekat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti.  Kompetensi harus mengacu kepada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan;  kompetensi menunjuk kepada performance dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan. 

        Ada lima karakteristik pembentuk kompetensi yaitu watak, motif, konsep diri, pengetahuan dan keterampilan. Dua karakteristik yang disebut terakhir cenderung kelihatan, sedangkan tiga kompetensi lainnya lebih tersembunyi dan relatif sulit dikembangkan, meskipun berperan sebagai sumber kepribadian. Kemampuan guru dalam kaitannya untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan sekarang ini yakni mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri siswa, baik potensi dalam diri siswa maupun potensi yang tumbuh karena adanya pengaruh lingkungan di mana siswa berada. 

        Kompetensi lain yang dimiliki guru ialah pengetahuan,  sikap dan keterampilan dan perilakunya  sebagai guru. Sedangkan potensi-potensi yang ada pada diri siswa meliputi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. 

       Untuk mengembangkan potensi-potensi siswa tersebut, tidak lepas dari peran guru yang menjadi ujung tombak di bidang pendidikan serta kaitannya dengan tuntutan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang berkualitas.

         Peningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa yaitu orang tua, pemerintah dan seluruh masyarakat. Persoalan yang mendasar dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan adalah terletak pada upaya bagaimana caranya mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

          Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM yang berkualitas, mulai penyempurnaan kurikulum, pengadaan sarana dan prasarana, peningkatan kemampuan guru melalui pelatihan-pelatihan dan memberikan kesempatan kepada para guru untuk  melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan adanya paket pemberian bea siswa oleh pemerintah kepada guru yang mempunyai kendala ekonomi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.

         Ada empat rumpun kompetensi guru yang perlu dikembangkan yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Pada kompetensi pedagogik, hendaknya guru membiasakan diri melakukan refleksi mengenai proses dan hasil pembelajaran.          Kompetensi kepribadian, hendaknya guru mampu menilai kinerja diri sendiri melalui berpikir cepat. Kompetensi profesional hendaknya guru mampu menilai dan memperbaiki hasil pelajaran melalui penelitian tindakan kelas. Kompetensi sosial sebagai dampak pengiring adanya kolaborasi dalam melakukan penelitian tindakan kelas. 

         Kompetensi lain yang tidak kalah pentingnya dan  perlu dimiliki  guru adalah kompetensi intelektual dan kompetensi spiritual . Kompetensi intelektual hendaknya guru menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. Sedangkan kompetensi spiritual ialah memiliki rasa keimanan dan ketakwaan sebagai orang yang beragama. 

        Peningkatan kualitas dan kinerja guru akan memberi dampak positif bagi perpustakaan sekolah. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi tetapi menjadi mitra perpustakaan dalam mencapai tujuan pembelajaran. 

             Melalui pengintegrasian aktivitas perpustakaan dalam kurikulum sekolah, guru-guru dapat secara proaktif mendorong siswa-siswa untuk memanfaatkan berbagai sumber informasi yang ada di perpustakaan. Untuk itu guru-guru hendaknya juga secara aktif datang dan memanfaatkan bahan pustaka yang ada di perpustakaan sehingga bisa memotivasi siswa untuk melakukan hal yang sama. Disamping itu dalam proses pembelajaran guru-guru hendaknya  memberikan tugas-tugas terstruktur kepada siswa dengan memakai koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan sebagai rujukan. Dengan cara demikian maka siswa-siswa akan terpacu untuk datang ke perpustakaan sekaligus bisa mengubah kondisi membaca dari kewajiban menjadi kebutuhan. 

 

  3.       Peningkatan kualitas pendidikan melalui pembangunan budaya (cultural development)

 

         Perbaikan pendidikan adalah pembangunan budaya. Menurut Bayne Jardine (1994), perbaikan pendidikan pada dasarnya adalah pembangunan budaya (cultural development), yaitu membangun kapasitas dan kemauan seluruh warga sekolah untuk berubah secara integratif, sistematis, koheren dan melalui proses organik. Sasaran dari pembangunan budaya adalah terwujudnya budaya membangun atau memperbaiki diri. Jika setiap warga sekolah memiliki budaya memperbaiki diri maka program perbaikan pendidikan akan berjalan sendiri tanpa paksaan. Pembangunan budaya oleh Scheernes & Bosker (1997) dan De Roche (1987) disebut sebagai pembangunan iklim sekolah, karena di antara keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Bahkan iklim sekolah sebagai suasana hubungan antar manusia dalam organisasi, atmosfer, warna atau tone : (Mike dalam Sergiovanni, 1987; Owens, 1987; Suyanto, 2001), dapat disinonimkan dengan budaya organisasi karena keduanya memiliki kapasitas mengubah kebiasaan dan gaya kepemimpinan kepala sekolah, guru dan siswa yang pada akhirnya memberi kontribusi dalam bentuk prestasi di sekolah. Pendapat tersebut dipertegas oleh Arcaro (1995) pada kajian tentang manajemen mutu terpadu (total quality management), bahwa kualitas pendidikan di sekolah dapat direalisasikan dengan adanya budaya mutu di antara warga sekolah.

              Sasaran dari pembangunan budaya adalah terwujudnya budaya membangun atau memperbaiki diri sehingga tercipta iklim sekolah yang diwarnai adanya peningkatan kualitas dalam semua aspek yang ada di sekolah.  Pada era globalisasi, SDM  sebuah sekolah bukan hanya terbatas pada knowing how or knowing what, tetapi harus belajar dengan menggunakan strategi : (1) Learning to know, yaitu bukan sekedar  mempelajari materi pembelajaran, melainkan lebih penting mengenal cara memahami dn mengkomunikasikannya; (2) Learning to do, yaitu menumbuhkan kreativitas, peroduktivitas, ketangguhan, dan profesionalisme serta memiliki kompetensi dalam menghadapi situasi yang senantiasa berubah; (3) Learning to be, yaitu melakukan pengembangan potensi diri yang meliputi kemandirian, kemampuan bernalar, imajinasi, kesadaran estetik, disiplin dan tanggung jawab; (4) Learning to live together, yaitu memiliki pemahaman hidup selaras seimbang baik nasional maupun internasional dengan menghormati nilai spiritual dan tradisi dalam kebhinekaan (Wanei, 2002:28)  Nilai-nilai budaya yang dikembangkan di sekolah, hendaknya menjadi acuan bagi setiap warga sekolah dalam berpikir, bertindak dan berperilaku dengan sasaran terciptanya kecerdasaran intelektual, kecerdasan emosional , kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual bagi setiap warga sekolah.  Terwujudnya keempat kecerdasan tersebut , berdampak langsung bagi upaya-upaya peningkatan peran perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Setiap warga sekolah tidak lagi apriori terhadap perpustakaan tetapi berusaha untuk saling meningkatkan potensinya dengan menggali berbagai sumber informasi yang ada di perpustakaan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.  Dalam hal ini perpustakaan sekolah harus berbenah diri dengan melakukan penataan lingkungan yang mampu memberikan kenyamanan dan keamanan serta memenuhi kebutuhan pemakai dengan menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pemakai.

               Pengembangan koleksi bahan pustaka dan peningkatan profesionalisme pustakawan serta pemanfaatan teknologi informasi dalam pengelolaan perpustakaan hendaknya mendapatkan prioritas dalam pengembangan perpustakaan sekolah. Disamping itu yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana membangun komunikasi yang kondusif antara perpustakaan sekolah dengan masyarakat pemakai yang dilayaninya.  Budaya baca juga turut memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemanfaatan perpustakaan dan hal tersebut harus diawali dari guru-guru. Guru merupakan figur yang menjadi acuan bagi siswa-siswa. Guru-guru yang memiliki hobi membaca akan mudah sekali ditiru oleh para siswa. Oleh sebab itu guru perlu mendorong dan memotivasi siswa agar gemar membaca dan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada di perpustakaan sekolah. Salah satu cara yang bisa dilakukan guru adalah dengan memberikan tugas terstruktur kepada para siswa dengan memakai dan memanfaatkan koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan sebagai bahan rujukan. Dengan cara tersebut sudah barang tentu para siswa akan melaksanakan tugas tersebut dengan ketaatan meskipun pada awalnya merupakan keterpaksaan, namun tidak tertutup kemungkinan tugas-tugas yang diberikan guru akan menjadikan siswa terbiasa untuk membaca dan memanfaatkan bahan pustaka yang ada di perpustakaan.  Hal yang tidak kalah pentingnya adalah perlu ada upaya untuk mendorong para guru untuk meluangkan waktu membaca, belajar maupun mengerjakan tugas-tugas lain di perpustakaan.  Keberadaan guru di perpustakaan memiliki pengaruh yang besar dan diharapkan mampu mendorong siswa datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan berbagai sumber informasi yang tersedia.

 

Penutup  

 

        Reformasi pendidikan di sekolah mutlak diperlukan dengan melakukan reorientasi strategi pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk itu diperlukan desain khusus bagi pendidikan di sekolah agar dapat mengantar peserta didik saat ini menjadi lebih kreatif, dinamis, inovatif dan memiliki keunggulan serta daya saing , sebab dalam era golabilisasi peserta didik akan bersaing  dengan peserta didik dari negara-negara lain.

                        Pelaksanaan reformasi sekolah berdampak positif bagi peningkatan peran perpustakaan sekolah sehingga tidak lagi menjadi pelengkap dari institusi sekolah, melainkan berfungsi sebagai penunjang  proses pembelajaran. Hal tersebut akan terwujud bila pengembangan perpustakaan menjadi salah satu agenda reformasi sekolah dengan menempatkannya dalam prioritas program sekolah.

   

DAFTAR PUSTAKA 

Mulyasa,. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah : Konsep, Strategi dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Murbojono, Rahmat. 2007. Reformasi Sekolah dalam Rangka Peningkatan Kualitas Pendidikan. Forum Pendidikan Vol.32.(01) April 2007. Padang : Universitas Negeri Padang Press

Per Dalin, dkk. 1994. How Scholl Improve. An international Report. Great Britain : Rewooe Books, Trowbridge, Wilrshire.

Simbolon, Tony. 2007. Reformasi Pendidikan dalam Perspektif Sekolah. (http://www. depdiknas.go.id/publikasi/Buletin/Pppg_Tertulis/08_2001/Reformasi_pendidikan.htm. diakses 28 November 2007) 

Sugiharto. Guru Aktor Kunci Keberhasilan Pendidikan. Pelita.7 November 2007  Wanei. Gerda K. Keluarga. Sekolah, dan Perkembangan Intelegensia : Antara Idealisme dan Realitas dalam buku Reformasi Pendidikan Dasar : Menyiapkan Pribadi Berkualitas Menghadapi Persaingan Global. Jakarta : Grasindo 

Widayati, C.Sri. 2002. Reformasi Pendidikan Dasar : Menyiapkan Pribadi Berkualitas Menghadapi Persaingan Global. Jakarta : Grasindo

 
Jumlah Kunjungan Konten : 1223804
Selamat Lebaran 1435 H


 
Jam Layanan Perpustakaan UM

SENIN - KAMIS
07.00 - 19.00 WIB

JUMAT
07.00 - 11.00 WIB
13.00 - 15.00 WIB


SABTU DAN MINGGU
TUTUP


----------------------------------------------


LAYANAN KOLEKSI
TESIS DAN DISERTASI


SENIN - KAMIS
07.30 - 14.30 WIB


JUMAT
07.30 - 11.00 WIB
13.00 - 15.00 WIB


SABTU DAN MINGGU
TUTUP



 
Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM),(c)2008