PERPUSTAKAAN DIGITAL

Universitas Negeri Malang (UM) -- The Learning University
Home Jurnal Perpustakaan Sekolah Jurnal Perpustakaan Sekolah Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini, Edisi Tahun 1, Nomor 2, Oktober 2007
Terdapat 9 Tamu online
Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini, Edisi Tahun 1, Nomor 2, Oktober 2007
(Read : 18410 times )
Oleh Dr. Hari Karyono, M.Pd,   


Secara umum minat baca bangsa Indonesia, terutama anak-anak relatif sangat rendah. Terutama jika dibandingkan dengan minat baca negara-negara berkembang lainnya. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menanamkan minat baca sejak anak-anak usia dini. Penanaman minat baca sejak usia dini bisa dilaksanakan di rumah maupun  di sekolah. Di sekolah, guru mengkondisikan siswa agar gemar membaca melalui perpustakaan sekolah dan sumber belajar lainnya. Sedangkan di rumah dengan membinasakan anak untuk membaca buku, baik buku pelajaran maupun buku pengetahuan lainnya dengan mengadakan koleksi buku di rumah sebagai perpustakaan kecil. Sementara itu, organisasi pencinta buku perlu mengadakan event-event yang dapat menggugah minat baca masyarakat. 

Sumber artikel: download

 

MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK USIA DINI 

 

oleh: Hari Karyono / Dosen Pascasarjana Universitas PGRI Adibuana Surabaya ((e-mail: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya m)

 

Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat. Permasalahan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia sampai saat ini adalah adanya data berdasarkan temuan penelitian dan pengamatan yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia relatif masih sangat rendah. Ada beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya membaca ini juga dirasakan pada pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan di sekolah/kampus yang ada jarang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa/mahasiswa. Demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar di nusantara ini, pengunjungnya relatif tidak begitu banyak. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya membaca. Sehingga wajar apabila Indeks Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia juga rendah.

Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan.
Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sejak mereka mulai dapat membaca. Dengan menumbuhkan minat baca sejak anak-anak masih dini, diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan.


Bacaan yang kurang memikat dan minimnya sarana perpustakaan sekolah menjadi faktor utama penyebab minat baca siswa rendah. Sementara itu, sekolah tidak selalu mampu menumbuhkan kebiasaan membaca bagi para siswanya. Dengan kondisi kualitas buku pelajaran yang memprihatinkan, padatnya kurikulum, dan metode pembelajaran yang menekankan hafalan materi justru 'membunuh' minat membaca. Menurut Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet, Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini melihat, sekolah tidak memadai sebagai tempat untuk menumbuhkan minat baca anak didik. Hal ini, menurut dia, tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat membuat siswa tidak punya waktu untuk membaca. Riris mengemukakan bahwa siswa terlalu sibuk dengan pelajaran yang harus diikuti tiap hari. Belum lagi harus mengerjakan PR.(www.republika.co.id., diakses 24 Desember 2007). Oleh karena itu, solusi terbaik dalam membuka jalan pikiran seorang siswa agar mereka mempunyai wawasan yang luas, adalah dengan cara membaca. Agar siswa dapat membaca buku secara ajeg, maka kepada mereka perlu disediakan bahan bacaan yang cukup koleksinya. Oleh karena itu, perpustakaan merupakan wacana baca yang mampu menyediakan beragam buku baik fiksi nonfiksi, referensi, atau nonbuku seperti majalah, koran, kaset serta alat peraga, wajib dimiliki setiap sekolah.
 

 

INDIKATOR RENDAHNYA MINAT BACA MASYARAKAT INDONESIA

           

Berdasarkan beberapa kajian literatu
r dan artikel yang diakses dari internet, ada beberapa indikator yang dapat diidentifikan sebagai faktor yang mempengaruhi minat baca masyarakat Indonesia, sebagai berikut ini.

Pertama, dari berbagai sumber informasi yang dapat dipercaya, menunjukkan ada indikasi bahwa minat baca  masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 yang menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id, diakses tanggal 24 Desember 2007).

Kedua, fakta tersebut di atas juga didukung oleh berbagai penelitian tentang yang telah dilakukan di Indonesia. Internasional Education Achiecment (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara peserta studi. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-38 dari 39 negara. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak Sekolah Dasar.
 

Ketiga, di samping itu, menurut Third International Mathematis and Science Study (TIMMS), kemampuan matematika para siswa SLTP kita berada pada urutan 34 dari 38 negara dan kemampuan IPA berada pada urutan 32 dari 38 negara. Dalam laporannya, Human Development Report 2003, UNDP menempatkan Indoensia pada peringkat 112 dari 175 negara dalam hal pencapaian Human development Indeks (HDI) atau sumber daya manusia. Berdasarkan Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia merupakan negara ke-8 dengan populasi buta hurup terbesar didunia, yakni sekitar 18,4 juta orang buta hurup di Indonesia (kompas 20 juni 2006). Terkait dengan masalah membaca, fakta yang lain adalah laporan tingkat keterbacaan halaman buku di Indonesia yang tidak mencapai satu halaman perhari perorang. Jumlah judul buku yang terbitpun tidak mencapai angka yang diharapkan jika dibanding dengan negara-negara lain.

Keempat, hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Cricis to Recovery“ tahun 1998. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI Sekolah Dasar kita  hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75.5

Kelima, rendahnya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana data di atas berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Hasil tes yang dilakukan oleh Trends in International Mathematies and Science Study (TIMSS)  dalam tahun 2003 pada 50 negara di dunia terhadap para siswa kelas II SLTP, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia hanya mampu meraih peringkat ke 34 dalam kemampuan bidang matematika dengan  nilai 411 di bawah nilai rata-rata internasional yang 467. Sedangkan hasil tes bidang ilmu pengetahuan mereka hanya mampu menduduki peringkat ke 36 dengan nilai 420 di bawah nilai rata-rata internasional 474. Dibandingkan dengan anak-anak Malaysia mereka telah berhasil menduduki peringkat ke 10 dalam kemampuan bidang matematika  yang memperoleh nilai 508  di atas nilai rata-rata internasional. Dan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka menduduki peringkat ke 20 dengan nilai 510 di atas nilai rata-rata internasional. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita sangat jauh ketinggalan di bawah negara-negara berkembang lainnya.

Keenam, United Nations Development Programme (UNDP) menjadikan angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) sebagai suatu barometer dalam mengukur kualitas suatu bangsa. Tinggi rendahnya angka buta huruf akan menentukan pula tinggi rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index – HDI) bangsa itu. Berdasarkan laporan dalam Human Development Index (HDI) yang dipublikasikan oleh United Nations Development Programme (UNDP), yang menempatkan Indonesia berada pada urutan ke-110 dari 177 negara-negara di dunia (Human Development Report 2005). Sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109, padahal negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar. Namun negara mereka lebih yakin bahwa dengan “membangun manusianya“ sebagai prioritas terdepan, akan mampu mengejar ketinggalan yang selama ini mereka alami.

Ketujuh, indikator lainnya tentang masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, ditunjukkan dengan konsumsi satu surat kabar untuk 45 orang (1:45). Apalagi di Jawa Barat, jumlah masyarakat yang buta huruf mencapai 1,8 juta orang dan Provinsi Banten 1,4 juta dari 8 juta warganya. Ratio antara konsumsi satu surat dengan jumlah pembaca, di Indonesia sudah tertinggal jauh dengan negara-negara lain, bahkan negara tetangga seperti Srilangka sudah 1:38 dan Filipina 1:30. Idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang atau dengan ratio  1:10.

Kedelapan, ditinjau dari sisi yang lain, jam bermain anak-anak Indonesia masih tinggi, yakni lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara TV. Di AS, jumlah jam bermain anak-anak antara 3-4 jam per hari. Bahkan di Korea dan Vietnam, jam bermain anak-anak sehari hanya satu jam. Selebihnya anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar atau membaca buku, sehingga tidak heran budaya baca sudah demikian tinggi. (Pikiran Rakyat, 8-3-2004).            
 

Kesembilan, hasil studi TIMSS-R-1999 menunjukkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia memang kurang menggembirakan dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam bidang matematika, misalnya Indonesia memang kurang menggembirakan dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam bidang matematika, misalnya Indonesia berada pada urutan ke-34 dari 38 negara peserta. Dalam bidang IPA, Indonesia menempati posisi ke-32 dari 38 negara peserta. Lima urutan teratas diduduki oleh Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Belgia. Empat Negara yang dibawah Indonesia adalah Cile, Filipina, Maroko, dan Afrika Selatan. 

Kesepuluh, melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan United Nations Development Programme (UNDP) maka dapat diambil kesimpulan (hipotesis) bahwa “ kekurangmampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan bidang ilmu pengetahuan, serta  tingginya angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Oleh sebab itu membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita. Mengingat membaca merupakan suatu bentuk kegiatan budaya menurut Tilaar (1999) maka untuk mengubah perilaku masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan budaya atau perubahan tingkah laku dari anggota masyarakat kita. Mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung dari “political will pemerintah dan masyarakat“ Ada pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun.

  

FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINTA BACA

  

            Mengapa minat baca masyarakat di Indonesia dikatakan rendah? Ada banyak alasan yang dapat diidentifikasi antara lain sebagai berikut ini.

Pertama, masih rendahnya kemahiran membaca siswa di sekolah. Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas menunjukkan kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Kompas 2 Juli 2003). 

Kedua, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dsb. Menurut Sulistyo-Basuki sistem pendidikan mulai dari SD s.d. SMU mengarah ke ujian akhir. Semua pelajaran ditujukan untuk menyiapkan siswa menghadapi ujian akhir. Alhasil sedikit sekali rangsangan untuk membaca buku tambahan. Sebagai contoh siswa hafal salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro adalah Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Siswa tidak terdorong lebih lanjut untuk mengetahui bahwa Sentot masih berusia 18 tahun tatkala ketika memimpin pasukan berkuda . Dia berhasil menyergap kavaleri Belanda di sungai Bogowonto karena hidung kudanya diberi garam. Hal tersebut tidak akan ditanyakan di ujian, jadi tidak ada gunanya membaca lebih lanjut. Hal tersebut masih diperparah dengan buruknya perpustakaan sekolah, tiadanya jam kunjung ke perpustakaan serta buruknya perpustakaan umum yang seharusnya menunjang perpustakaan sekolah.

Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku. Berdasarkan temuan suatu penelitian, menunjukkan bahwa waktu bermain anak-anak Indonesia banyak dihabiskan untuk melihat acara-acara di TV. Bandingkan dengan di AS, jumlah jam bermain anak-anak antara 3-4 jam per hari. Bahkan di Korea dan Vietnam, jam bermain anak-anak sehari hanya satu jam. Selebihnya anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar atau membaca buku, sehingga tidak heran budaya baca sudah demikian tinggi. Surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. Ramainya pengunjung di warnet sampai larut malam bahkan sampai pagi hari, tidak dapat dijadikan tolok ukur bahwa mereka hunting untuk mencari bahan rujukan untuk tugas sekolah atau mencari literatur, tetapi sebagian besar hanya bermain dengan games-games yang membuat mereka menjadi asyik dan kecanduan bermain di internet sampai berjam-jam.

Ketiga, banyaknya tempat hiburan yang menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket, play station.  Di negeri kita, yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menonton sinetron, membaca masih merupakan sesuatu yang eksklusif. Oleh karena itu, tidak perlu heran jika pemandangan di mall lebih rame ketimbang di perpustakaan. Acara musik lebih digandrungi dari pada acara diskusi, bedah buku atau seminar. Jangan kaget, jika kawula muda di negeri kita lebih banyak bercita-cita menjadi selebritis ketimbang bintang olimpiade sains. Kenyataan di atas sungguh paradoks. Negeri yang tahun ini menginjak usia 62 tahun, masih belum menampakkan kemajuan yang berarti. Peradaban yang ada, hanyalah peradaban hedonis yang tercipta dari budaya massa. (mass culture) dan budaya populer (pop culture) yang lebih bersifat melayani dan mengambil keuntungan berupa materi dari publik.

Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Anak-anak didongengi secara lisan, diajar membuat banten dengan melihat cara memotong janur, menata buah-buahan dan lain-lain sajian. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.

Kelima, para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan upacara-upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, belum lagi harus memberi makan hewan peliharaan seperti burung, bebek, ayam (lebih-lebih kaum wanita di desa) sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku.  

Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.

Ketujuh, harga buku yang relatif masih mahal yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat. Oleh karena dengan mahalnya harga buku yang tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat, maka sedikit sekali masyarakat yang memiliki koleksi buku di rumahnya.
Kedelapan
, belum adanya lembaga atau institusi yang secara formal khusus menangani minat baca. Sehingga program menumbuhkan minat baca hanya dilakukan secara sporadis, oleh LSM, organisasi pencinta buku, organisasi penerbit, dsbnya, yang tidak terkoordinasi walaupun potensi sumber daya manusia ada tetapi belum merupakan kekuatan dapat secara sinergis menjadi instrumen yang efektif untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Kesembilan, minimnya koleksi buku diperpustakaan serta kondisi perpustakaan yang tidak memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca pengunjung yang memanfaatkan jasa perpustakaan. Tantowi Yahya, Duta Baca Nasional 2006 mengatakan, "masyarakat tidak bisa disalahkan karena rendahnya minat baca. Kondisi perpustakaan tidak mendukung dan jumlah koleksi buku juga terbatas," (Indriani Dyah, Tempointeraktif, Jum'at, 28 Juli 2006).  Jika kita tengok perpustakaan yang konon, merupakan lumbungnya ilmu, keadaannya tak jauh beda. Kondisi perpustakaan sekolah bahkan perguruan tinggi di Indonesia secara umum amatlah memprihatinkan. Selain kondisi ruangan yang sempit, sumpek dan banyak debu menempel dimana-mana, juga tempatnya yang kurang strategis. Belum lagi isi perpustakaan yang tidak melayani ketersediaan bacaaan yang bervariasi, membuat siapapun malas melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Pengalaman penulis yang lebih senang pergi membaca ke toko buku dari pada ke perpustakaan menjadi bukti akan hal ini. Sekolah Dasar yang merupakan gerbang awal pendidikan formal, perpustakaannya masih belum menunjukkan peningkatan. Dari sekitar 180.000 MI/SD hanya sekitar 5000 sekolah inti yang mempunyai perpustakaan layak. Itupun masih belum terpenuhi dengan fasilitas memadai. Yang disebut perpustakaan sering hanya tumpukan buku di lemari bahkan yang terdapat di ruang kepala sekolah. (Kompas, 20 Juni 2006)

Kesepuluh, minimnya pengunjung ke perpustakaan. Sebagai contoh pengunjung perpustakaan umum daerah DKI Jakarta sekitar 200 orang per hari kata Bose Devi, Kepala Kantor Perpustakaan Umum Daerah DKI. Sebagai perbandingan, kata Bosea, Perpustakaan di Beijing menerima kunjungan hingga 10 ribu orang setiap harinya. Sebagian besar masyarakat membaca untuk kepentingan pendidikannya.  


 

 

UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK DINI 


 

             Berbagai rujukan di atas memberikan suatu hipotesis bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah. Sementara itu, infrastruktur yang mengkondisikan agar minat baca tumbuh dan berkembang di masyarakat masih rendah. Oleh karena itu, perlu upaya-upaya yang dilakukan agar minat baca dapat tumbuh sejak anak usia sekolah atau bahkan sejak dini. Sejak anak-anak dapat membaca buku secara lancar.

             Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan minat baca anak sejak usia ini antara lain dilakukan dengan cara :
 

1.       Proses pembelajaran di sekolah harus dapat mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca buku dengan memanfaatkan literatur yang ada di perpustakaan atau sumber belajar lainnya. Disinilah peran guru sebagai pendidik dan pengajar memberikan motivasi melalui pembelajaran mata pelajaran yang relevan memberi tugas kepada peserta didik sebagaimana contoh berikut ini. DUA minggu lamanya siswa-siswa kelas I di salah satu SMA di Bandung diberi waktu untuk mengerjakan tugas membuat karya tulis berupa autobiografi oleh guru mata pelajaran sejarah. Kurun waktu penulisan autobiografi dibatasi mulai SD kelas enam (VI) sampai SMA kelas satu (X). Siswa diminta menulis riwayat hidupnya dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Tulisannya mencakup kesenangan, kenangan, prestasi, dan aktivitas lainnya yang dirasakan sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Pada kesempatan lain, siswa-siswa tersebut yang saat ini duduk di kelas dua (XI) mendapat tugas untuk mengunjungi pameran "Makna di Balik Peristiwa Sejarah Perjuangan Bangsa" di Museum Sri Baduga. Setelah itu siswa ditugaskan membuat laporan (analisis).
 
Kedua macam tugas di atas adalah contoh model pembelajaran dari mata pelajaran sejarah versi Kurikulum 2004, yang disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Bentuk tugas pertama merupakan penerapan dari materi pokok "Dasar-dasar penelitian sejarah".Siswa diharapkan mendapat pengalaman belajar menerapkan langkah-langkah penelitian sejarah sederhana (heuristik, verifikasi/kritik, interpretasi, dan historiografi), dan kecakapan akademik berupa kecakapan mengumpulkan/menggali informasi, mengkaji/mengolah informasi, dan menghubungkan variabel-variabel komunikasi tertulis. Tugas kedua merupakan penerapan dari materi pokok "Proses muncul dan berkembangnya pergerakan nasional Indonesia" dan "Keragaman ideologi serta dampaknya terhadap pergerakan kebangsaan Indonesia". Siswa diharapkan dapat menganalisis ideologi-ideologi yang berkembang pada masa pergerakan nasional dan pengaruhnya terhadap strategi organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia. Sedangkan kecapakan hidup yang diharapkan dari siswa adalah muncul kesadaran akan eksistensi diri, potensi diri, kecakapan menghubungkan variabel dan merumuskan hipotesis.  

2.  Menekan harga buku bacaan maupun buku pelajaran agar terjangkau oleh daya beli masyarakat. Minat membeli buku masyarakat rendah, karena harga buku-buku saat ini relatif cukup mahal. Dengan demikian apabila harga buku dapat terjangkau, maka minat membeli buku bacaan oleh masyarakat akan menjadi tinggi. Dengan banyak memiliki buku, maka minat membaca buku akan menjadi meningkatkan secara bertahap.

3.   Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik. Bahkan seorang penulis Henny Supolo Sitepu mengemukakan bahwa komik adalah salah satu bentuk bacaan yang bisa menjadi salah satu “pintu masuk” untuk kesenangan anak membaca. Pesan yang disampaikan mudah dicerna anak. Komik, semisal Tintin, dari gambar tokohnya sudah bisa “berbicara” dan bikin tertawa. Bahkan anak yang belum bisa baca-tulis pun akan menangkap ceriteranya.

4.  Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca anak-anak. Baik di rumah maupun di sekolah. Di sekolah, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menceriterakan kembali buku yang telah dibaca, mengadakan lomba meresensi buku, bedah buku, pameran buku bekerjasama dengan penerbit dan masyarakat pecinta buku. Di rumah oranglah yang harus dapat menciptakan kondisi lingkungan agar anak gemar membaca. Para orang tua hendaknya menyediakan bacaan di rumah, seperti majalah, koran, kamus, buku ilmu pengetahuan, dsbnya.

5.  Menumbuhkan minat baca sejak dini. Bahkan sejak anak mengenal huruf. Glenn Doman dalam bukunya “Mengajar Bayi Anda Membaca” menyebutkan bahwa anak usia 18 bulan hingga empat tahun memiliki “rasa ingin tahu” yang amat besar. Keingintahuan tersebut tidak hanya muncul ketika melihat simbol yang tertera dalam buku.

6.   Meningkatkan frekuensi pameran buku di setiap kota/kabupaten dengan meli-batkan penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat pecinta buku, Depdiknas, dan sekolah-sekolah. Dengan mewajibkan siswa untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.

7.  Di rumah orang tua memberikan contoh membaca untuk anak-anaknya. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orang tua agar orang tua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya sebagaimana diuraikan berikut ini.

            Bagi orang tua, ada tips yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak. Tidak ada yang lebih penting untuk kesuksesan akademik seseorang, selain menjadi pembaca yang baik. Orang tua mengenal anak-anak mereka dengan baik dan dapat menyediakan waktu dan perhatian yang akan membimbing mereka berhasil dalam membaca. Berikut ini daftar cara-cara untuk membantu anak anda menjadi pembaca yang lebih efektif.

1.       Sediakan waktu luang untuk membacakan buku untuk anak anda setiap hari. Penelitian mengungkapkan bahwa dengan membacakan dengan suara lantang secara rutin kepada anak-anak akan menghasilkan perkembangan yang signi-fikan pada pemahaman membaca, kosa kata, dan pemenggalan kata. Baik anak anda dalam usia belum sekolah maupun yang sudah, hal itu akan membuat mereka berkeinginan untuk membaca dengan sendirinya.

2.       Kelilingi anak-anak anda dengan berbagai buku bacaan. Anak-anak yang memiliki berbagai macam jenis bacaan di rumahnya mendapatkan nilai le-bih tinggi pada standarisasi tes. Bujuklah anak anda untuk membaca dengan mengoleksi buku-buku bacaan yang menarik dan majalah yang se-suai dengan umur mereka. Letakkan buku bacaan di mobil, kamar mandi, tempat tidur, ruang keluarga, dan bahkan di ruang TV.

3.       Buatlah waktu membaca bersama keluarga. Sediakan waktu setiap hari 15 sampai 30 menit untuk seluruh anggota keluarga membaca bersama-sama dengan tenang. Dengan melihat anda membaca akan membuat anak anda ikut membaca. Hanya dengan berlatih 15 menit setiap hari cukup untuk meningkatkan minat baca mereka.

4.       Berikan dukungan pada berbagai aktivitas membaca mereka. Jadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan anak anda. Biarkan mereka membaca menu, rambu jalanan, petunjuk pada mainan, ramalan cuaca, acara TV, dan semua informasi praktis harian. Dan juga, pastikan mereka selalu memiliki bacaan untuk waktu luang mereka ketika sedang menunggu giliran saat pergi ke dokter, atau saat sedang di dalam mobil.

5.       Biasakan pergi ke perpustakaan. Ajak anak anda agar lebih banyak membaca dengan membawa mereka pergi ke perpustakaan setiap beberapa minggu untuk mendapatkan buku bacaan yang baru. Perpustakaan biasanya menyediakan program membaca untuk anak-anak segala usia dan mengembangkan minat membaca mereka.

6.       Ikuti terus perkembangan membaca anak anda. Cari tahu kemampuan membaca yang bagaimana untuk setiap level kelas. Kurikulum sekolah akan memberikan informasi tentang ini. Ikuti terus perkembangan mereka mendapatkan kemampuan dasar membaca melalui raport mereka.

7.       Perlu diperhatikan oleh orang tua, apakah mereka ada kesulitan dalam membaca buku bacaannya. Para guru di sekolah tidak selalu mengetahui kesulitan atau masalah membaca pada anak-anak sampai mereka serius bermasalah. Cari tahu apakah anak anda dapat melafalkan kata-kata, mengetahui kata-kata yang dilihatnya, menggunakan susunan kalimat untuk mengidentifikasi kata-kata yang tidak diketahui, dan mengetahui se-penuhnya apa yang mereka baca.

8.       Mencari pertolongan secepatnya jika ada masalah dalam membaca. Masa-lah dalam membaca tidak dapat hilang begitu saja seiring berlalunya wak-tu. Semakin cepat anak-anak mendapat bantuan, semakin cepat mereka menjadi pembaca yang baik. Pastikan anak anda mendapatkan bantuan dari guru-guru mereka, pembimbing, atau pusat pembelajaran secepatnya jika anda tahu anak anda mengalami masalah dalam membaca.

9.       Pakailah cara yang bervariasi untuk membantu anak anda. Untuk membantu anak dalam mengembangkan kemampuan membaca mereka, gunakan berbagai buku pedoman, program komputer, tape, dan materi-materi lain yang tersedia di toko. Permainan merupakan pilihan yang baik, karena cara ini akan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mereka sambil bergembira.

10.    Perlihatkan antusias anda saat anak membaca buku bacaannya. Reaksi anda memiliki pengaruh yang besar pada seberapa tinggi motivasi mereka untuk berusaha menjadi pembaca yang baik. Pastikan anda memberikan pujian yang tulus atas usaha keras mereka. Apabila perlu beri incentive kepada mereka sebagai hadiah dan pendorong atas aktivitas mereka dalam membaca. Sehingga upaya ini akan memberikan dorongan bagi anak untuk lebih gemar membaca dan mencintai buku-buku. 

    

 

SIMPULAN DAN SARAN


 

Simpulan

Berdasarkan pemaparan tentang minat baca sejak usia dini tersebut di atas, dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai berikut ini.

Pertama, bahwa minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak relatif rendah. Mereka lebih senang mencari hiburan pada acara di TV, warnet, mall, play station atau tempat hiburan lainnya di banding membaca buku di perpustakaan.

Kedua, minat baca perlu ditumbuhkan sejak anak usia dini. Sejak mereka telah bisa membaca.

Ketiga, sekolah dan guru belum membudayakan siswa untuk menggunakan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar. Sehingga siswa sangat rendah apresiasinya terhadap karya sastra maupun buku maupun karya tulis lainnya.

Keempat,  minimnya koleksi buku-buku di perpustakaan. Di samping itu, perpustakaan yang ada tidak dikelola secara profesional.

Kelima, jumlah perpustakaan tidak sepadan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Sebagai contoh tidak semua kota/kabupaten di Indonesia memiliki perpustakaan. Sekarang kita baru memiliki 261 perpustakaan dari sekitar 450 kabupaten/kota se-Indonesia, ini berarti masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki perpustakaan. 


 

 

Saran

            

Berdasarkan butir-butir simpulan tersebut di atas, maka dapatlah dikemu-kakan saran-saran untuk menumbuhkan minat baca sejak anak usia dini sebagai berikut ini.
 

Pertama, perlu digalakkan event-event yang dapat menumbuhkan minat baca di masyarakat luas, seperti acara–acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, diantaranya ada 'Hari Buku Nasional', 'Hari Kunjungan Perpustakaan' sampai berbagai pameran dan bazar buku (book fair) di tingkat lokal maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan buku dan literasi di tengah masyarakat Indonesia.
 

Kedua, perlunya partisipasi organisasi-organisasi non-pemerintah seperti Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang berkonsentrasi di aktivitas literasi, dengan berupaya membuka ruang partisipasi seluas–luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya baca. Upaya         Forum Indonesia Membaca, dengan mengambil tema ’Buku untuk Perubahan’, berusaha merealisasikan kembali pelaksanaan World Book Day di Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang tujuannya untuk merayakan buku dan literasi, dimana acara World Book Day membuka partisipasi masyarakat sebesar–besarnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan itu sendiri, baik itu terlibat sebagai pembicara, pengisi acara, peserta, maupun sebagai pengunjung.

Ketiga, orang tua dapat menjadi contoh di rumah dengan membiasakan membaca apa saja (koran, majalah, tabloid, buku, dsb.), menyediakan bahan-bahan bacaan yang menarik dan mendidik, mengajak anak berkunjung ke pameran buku sesering mungkin dan memasukkan anak menjadi anggota perpustakaan.

Keempat, memperbanyak jumlah perpustakaan secara merata di setiap kota/kabupaten di Indonesia dengan koleksi bahan pustaka yang mencukupi untuk kebutuhan masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa.

Kelima, perlu partisipasi semua semua lapisan mamsyarakat, pemerintah, LSM, masyarakat pecinta buku, Depdiknas serta asosiasi penerbit, pustakawan, toko buku dan para pemerhati masalah buku dan minat baca untuk menyelengga-rakan kegiatan yang dapat menggugah gairah minat baca masyarakat. Sehingga budaya membaca menjadi sebagian budaya masyarakat Indonesia. Contoh kegiatan ini adalah pameran buku, lomba bercerita, lomba menulis/mengarang karya ilmiah, dsbnya. Lomba bercerita bagi anak-anak SD dinilai cukup efektif sebagai upaya meningkatkan minat baca, karena dilihat dari penampilan peserta cukup bagus dan lancar, karena disamping membaca peserta juga langsung bercerita. 


 

 

DAFTAR RUJUKAN

 Arixs. 2006. Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. TOKOH, Bacaan Wanita dan Keluarga. Senin, 29 Mei 2006.


Baderi, H. A. 2005. Meningkatkan Minat Baca Masyarakat melalui Suatu Kelembagaan Nasional, Wacana ke Arah Pembentukan Sebuah Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca. Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.


Bunyamin, A. 9 Juli 2007. Membangun Peradaban Buku. (Diakses tanggal 28 Juli 2007).


Dana, D. 2007. Meningkatkan Minat Baca Anak Sekolah Minggu. PEPAK (Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen), 24 Januari 2007.


Dyah, I. 2006. Minat Baca Warga Jakarta Rendah. Tempointeraktif, Jumat, 28 Juli 2006.


Elin. 2007. Tanamkan Minat Baca Sejak Dini. (http://www.kotabogor.go.id).


Irkham, A.M. 2006. Misteri Minat Baca Masyarakat. KOMPAS, Desember 2006.


Jenjang Pendidikan Dasar, Rendahnya Minat Baca Siswa. Jumat, 25 Juni 2004. (Republika Online,  www.republika.co.id,  diakses tanggal 14 Nopember 2007).


KOMPAS. 2004. Minat Baca Diindikasikan Meningkat. Senin, 17 Mei 2004.


Nia. 22 Februari 2007. Teacher-Librarian: Perlukah?. (Kinikubisa.com, diakses tanggal 14 November 2007).


Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Selasa, 12 Februari 2006. Presiden Cukup Prihatin Kondisi Perpustakaan. (www.sumutprov.go.id., diakses tanggal 14 Nopember 2007).


Pikiran Rakyat. 2004. Pikiran Baca di Indonesia Sangat Rendah. Pikiran Rakyat, Senin, 8 Maret 2004.


Pikiran Rakyat. 2006. Tumbuhkan Minat Baca Sebelum Ada Perpustakaan. Sabtu, 11 Maret 2006.


Santana AWP, R. 13 September 2006. Menggalakkan Minat Baca Anak Sekolah Dasar melalui Cerita Bergambar. ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya , diakses tanggal 14 November 2007).


Suaka, I.N. 2004. Sumbangan Sastra terhadap Minat Baca. Bali Post, Minggu Pon, 12 Desember 2004.


Sulistyowati. 2004. KBK dan Minat Baca. Pikiran Rakyat, Senin, 01 Nopember 2004.


Supriyoko, K. 2004. Minat Baca dan Kualitas Bangsa. Pikiran Rakyat, Selasa, 23 Maret 2004.


Suyono, A.,H. 1998. Memupuk Minat Baca Anak. Intisari Mei 1998, halaman 106-113.


Yardi, L. 2003. Harry Potter, Tony Blair, dan Revolusi Bacaan. Pendidikan Network. 4 Juli 2003.

Catatan Dr. Hari Karyono, M.Pd, adalah alumni Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, saat ini sebagai Kasubag Pendidikan Fakultas Ekonomi UM.
         

 
Jumlah Kunjungan Konten : 1273564
Perpustakaan UM
JAM LAYANAN

SENIN - KAMIS
07.00 - 19.00 WIB

JUMAT
07.00 - 11.00 WIB
13.00 - 19.00 WIB


SABTU
08.00 - 14.00 WIB

MINGGU TUTUP

---------------------------------
LAYANAN KOLEKSI
TESIS DAN DISERTASI


SENIN - KAMIS

07.30 - 14.30 WIB


JUMAT
07.30 - 11.00 WIB
13.00 - 15.00 WIB


SABTU DAN MINGGU
TUTUP


Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM),(c)2008