• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Artikel Pustakawan Perpustaakaan UM



KATALOGISASI DESKRIPTIF PERPUSTAKAAN PONDOK PESANTREN

 E-mail
Oleh Sokhibul Ansor, S. Sos. M. Hum    Sabtu, 13 September 2014 19:58
 

KATALOGISASI DESKRIPTIF PERPUSTAKAAN PONDOK PESANTREN

 

Oleh: Sokhibul Ansor, M. Hum


 

Koleksi perpustakaan harus diatur, diolah sedemikian rupa sehingga informasi yang tertuang dalam koleksi perpustakaan dapat disimpan dan ditemukan kembali dengan cepat, tepat bilamana diperlukan. Ini berarti dalam perpustakaan diperlukan model sistem temu kembali informasi (information retrieval system).

 

Laura B Doyle dalam Zen (1989) menggambarkan model skema sistem temu kembali informasi di perpustakaan yang mengkaitkan antara proses pengaturan informasi dengan pencari informasi sebagaimana berikut.

 

 

Model Skema Sistem Temu Kembali Informasi (Information Retrieval System).

 

Model di atas memberi gambaran bahwa katalog perpustakaan adalah sebagai alat temu kembali informasi di perpustakaan yang diperlukan pencari informasi. Ini berarti katalog perpustakaan mutlak diperlukan, dan harus disiapkan dan dikerjakan pustakawan. Pekerjaan membuat katalog perpustakaan dikenal dengan pekerjaan katalogisasi, dimana pekerjaan tersebut bagian dari pekerjaan analisis dokumen.

 

Kegiatan katalogisasi diperpustakaan meliputi katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subyek. Katalogisasi deskriptif adalah kegiatan mengadakan identifikasi dari ciri-ciri fisik suatu dokumen, seperti pengarang, judul, tempat terbit dan penerbit, tinggi buku. Kegiatan ini lazim disebut ‘deskripsi bibliografis’.

 

Hasil kegiatan katalogisasi tersebut dituangkan dalam bentuk simbul notasi berupa angka desimal yang mencerminkan urutan jajaran koleksi pada rak buku berdasarkan pengelompokannya dan nomor notasi dalam kartu katalog atau katalog OPAC (Online Public Access Catalogue) Dalam makalah ini yang dibahas adalah katalogisasi deskriptif.


icon klasifikasi-pesantren.pdf (42.19 KB)  
 

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN RUMAH IBADAH

 E-mail
Oleh Sokhibul Ansor, S. Sos. M. Hum    Sabtu, 13 September 2014 19:41
 

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN RUMAH IBADAH

 

Oleh Sokhibul Ansor, S. Sos. M. Hum


  

Merujuk pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, ada lima landasan filosofis bagi pembangunan bidang agama yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kementrian Agama Tahun 2010-2014, yakni.

 

· Agama sebagai sumber nilai spiritual, moral dan etik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

· Penghormatan dan perlindungan atas hak dan kebebasan beragama sebagai bagian dari hak asasi warga Negara.

 

· Kerukunan umat beragama dan tata kelola kehidupan beragama.

 

· Pengembangan karakter dan jati diri bangsa

 

·Penyediaan fasilitasi dan pelayanan bagi umat beragama berdasarkan prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (SK Kementrian Agama RI, No. 2 Tahun 2010)

 

Terkait dengan Renstra Kementrian Agama Tahun 2010-2014, terutama pada penyediaan fasilitasi dan pelayanan bagi umat beragama berdasarkan prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik. Sebagian pencapaian dari upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama tampakdari meningkatnya gairah keagamaan masyarakat, berkembangnya pusat-pusat kajian keagamaan; maraknya upacarakeagamaan; meningkatnya kualitas bimbingan dan konsultasi keagamaan; meningkatnya kualitas penyuluh agama; meningkatnya kemudahan akses terhadap kitab suci dan buku-buku keagamaan; meningkatnya sumber informasi keagamaan; meningkatnya fungsi rumah ibadat; tumbuhnya perpustakaan rumah ibadat; kemudahan akses pelayanan keagamaan.

 

Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menjelaskan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam yang dilakukan secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan para pemustaka. Dengan kata lain, bahwa Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Keberadaan Perpustakaan Rumah Ibadah di wilayah Indonesia cukup banyak dan cukup beragam dari sisi misi, tujuan, sasaran dan lokasi. Sebagai contoh perpustakaan masjid atau  mushola, perpustakaan gereja, perpustakaan vihara, dan perpustakaan klenteng muncul dimana mana.

 

Agar Perpustakaan Rumah Ibadah dapat berkembang dan dapat melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya, perpustakaan ini perlu dikelola secara profesional menurut sistem baku dan ketentuan umum yang berlaku. Tuntutan masyarakat pemustaka akan berkembang dari masa ke masa serta semakin menghendaki kecepatan dan kemudahan dalam pelayanan perpustakaan. Kondisi ini juga akan meminta kesiapan dan kompetensi dari para pengelola perpustakaan.


icon kebijakan pengembangan perpustakaan rumah ibadah.pdf (1.79 MB)
 
 

electronic-Dewey Decimal Classification (e-DDC): Sebagai Pedoman Klasifikasi Bahan Pustaka

 E-mail
Oleh Sokhibul Ansor, M. Hum    Jumat, 12 September 2014 17:10

electronic-Dewey Decimal Classification (e-DDC):

 Sebagai Pedoman Klasifikasi Bahan Pustaka 

 Oleh: Sokhibul Ansor, S. Sos. M. Hum


 

Perkembangan teknologi informasi mempunyai dampak yang luar biasa dan memberi peluang bagi lembaga pengelola informasi termasuk perpustakaan untuk melakuka tugas dan fungsinya lebih cepat, tepat dan efisien. Salah satunya adalah munculnya e-DDC yang digunakan dalam pengindeksan subyek atau dikenal juga dengan nama katalogisasi subyek, yakni penentuan subyek dokumen menjadi nomor klasifikasi (bahasa non verbal) yang menunjukkan tempat dimana koleksi tersebut akan diletakkan dalam jajaran koleksi bahan pustaka.

 

Software e-DDC (electronic-Dewey Decimal Classification) adalah freeware yang khusus dikembangkan untuk membantutugas pustakawan atau pengelola perpustakaan dalam menentukan nomor klasifikasi suatu koleksi. Karena sifatnya yang free, maka freeware ini boleh digunakan dan didistribusikan siapa saja secara bebas demi kemajuan perpustakaankhususnya di Indonesia.

 

e-DDC ini disusun berdasarkan Sistem Klasifikasi DDC versi cetak Edisi 22 dan merupakan penyempurnaandari e-DDC versi sebelumnya yang berdasarkan DDC cetak Edisi 21.

 

Walaupun e-DDC telah muncul, namun konsep dasar tentang klasifikasi mutlak dipahami bagi pengelola informasi di perpustakaan. Hal ini karena penggunakan DDC, tidak selalu berdiri sendiri seperti yang tertera dalam bagan klsasifikasi, namun pada subyek koleksi bahan pustaka tertentu, perlu penggabungan antara bagan klasifikasi dengan tabel pembantu yang terdiri dari mulai tabel 1 sampai dengan tabel 6


icon electronic-ddc.pdf (575.02 KB)  
 

Buku Kerja untuk Penterjemahan ke dalam Bahasa Indeks Verbal

 E-mail
Oleh Sokhibul Ansor, M. Hum    Jumat, 12 September 2014 16:54
 

PENGINDEKSAN SUBJEK:

Buku Kerja untuk Penterjemahan ke dalam Bahasa Indeks Verbal

 

Oleh: Sokhibul Ansor, M. Hum


 

Pada hakekatnya sebuah perpustakaan dan lembaga informasi adalah lembaga yang menyimpan berbagai informasi yang terdapat dalam berbagai jenis koleksi bahan pustaka, baik dalam karya cetak, karya rekam, bentuk mikro maupun dalam bentuk digital yang diorganisir secara sistematis. Tujuannya adalah memberikan layanan informasi kepada penggunanya.

 

Menurut Undang-Undang RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, bahwa perpustakaan didefinisikan sebagai "Institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka". Berdasarkan batasan istilah tersebut, menunjukkan bahwa seluruh koleksi yang ada di perpustakaan orientasinya adalah untuk kepentingan pemustaka. Hal ini sesuai dengan Lima Hukum Ilmu perpustakaan yang dikemukakan oleh S.R. Ranganathan adalah sebagai berikut:

 

· Books are for use: bahwa semua hasil karya manusia dicetak untuk digunakan untuk maksud-maksud yang positif

 

· Every reader his books: setiap pembaca mempunyai buku yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kebutuhannya

 

· Very books its reader: bahwa setiap buku yang terbit, seleranya harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

 

· Save the time of reader: setiap pengguna harus dilayani secara cepat.

 

· A Library is growing organism: bahwa perpustakaan tidak pernah akan mengecil, tapi akan terus membesar, karena setiap hari terbit buku, jurnal dalam jumlah yang banyak.

 

Karena semua koleksi yang ada di perpustakaan untuk kepentingan pemustaka, maka perpustakaan diharuskan menyediakan sarana temu kembali informasi berupa katalog perpustakaan. Melalui katalog perpustakaan, maka diharapakan pemustaka bisa mengakses informasi melalui beberapa pendekatan titik akses (access point) yakni nama pengarang suatu dokumen, judul dari suatu dokumen, dan subjek dokumen.

 

Pada sistem layanan terbuka (open access), keberadaan katalog perpustakaan merupakan sarana pendukung utama sebagai sarana temu kembali informasi, sebab pada umumnya dokumen disusun dalam rak perpustakaan berdasarkan subjek dengan menggunakan bagan klasifikasi (notasi) sebagai nomer panggil (call number), oleh karena itu penetapan subjek harus tepat sesuai dengan pokok bahasan yang terdapat dalam suatu dokumen. Ini menunjukkan bahwa perpustakaan sebagai suatu sistem informasi.


icon buku kerja-pengindeksan subyek.pdf (165.59 KB)

 
 

ORGANISASI KOLEKSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

 E-mail
Oleh Slamet Hartono, A.Ma    Senin, 07 Juli 2014 15:39

Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang disimpan menurut tata susunan tertentu digunakan untuk pembaca bukan dijual (Sulistyo-Basuki, 1991). Dengan melihat pengertian tersebut diatas maka perpustakaan adalah tempat menyimpan buku dan terbitan lainnya. Buku dan terbitan lainnya dapat dikatakan sebagai koleksi perpustakaan.

Koleksi tersebut merupakan hasil rekaman manusia atau karya manusia. Hasil rekaman tersebut direproduksi dengan berbagai cara antara lain diperbanyak atau tidak diperbanyak. Khususnya hasil kegiatan manusia atau karya cipta yang diperbanyak dapat kita lihat di perpustakaan.

Untuk mendapatkan koleksi tersebut dapat melalui pengadaan agar  terpenuhi kebutuhan pemakai. Atas dasar pertimbangan tersebut maka koleksi perpustakaan umum harus, terdiri dari :

  1. Buku teks yang diperlukan oleh pemakai yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat
  2. Buku referens yang sifatnya baik umum maupun bidang khusus seperti kamus, ensiklopedi, direktori, indeks, abstrak, bibliografi, atlas
  3. Penerbitan berkala seperti majalah, jurnal dan surat kabar
  4. Penerbitan pemerintah baik produk hukum, hasil penelitian pemerintah setempat
  5. Koleksi bukan buku yang berupa film, rekaman video, piringan hitam, dan sebagainya.

Dengan melihat jenis koleksi tersebut maka perpustakaan yang merupakan sistem informasi  yang berfungsi untuk menyediakan dan menyampaikan informasi yang terdapat dalam koleksi. Oleh sebab itu kolesksi perpustakaan harus diolah, diatur sehingga informasi yang terdapat dalam koleksi dapat disimpan dan ditemukan kembali secara cepat dan tepat jika diperlukan kembali. Materi yang akan dibahas dalam makalah ini merupakan landasan pengetahuan pengolahan koleksi perpustakaan untuk pengembangan profesi sebagai pustakawan.


icon organ pol 11.pdf (137.45 KB)
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 22