• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Artikel Pustakawan Perpustaakaan UM



EVALUASI OPAC BERDASARKAN KRITERIA IFLA

 E-mail
Oleh SETIAWAN, S.Sos    Rabu, 21 Januari 2015 20:14

EVALUASI OPAC BERDASARKAN KRITERIA IFLA

(STUDI PADA OPAC PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS

NEGERI MALANG)

Oleh :

Setiawan, S.Sos


Perkembangan teknologi informasi memberikan peluang kepada lembaga informasi termasuk di sini adalah perpustakaan, perpustakaan untuk melakukan tugasnya sebagai penyedia akses informasi dengan cepat dan tepat, terutama untuk pekerjaan rutinitas dan berulang.

Perkembangan teknologi saat ini memberikan dampak yang signifikan terhadap keberadaan perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan bunyi hukum kelima ilmu perpustakaan (five laws of library science) oleh S.R. Ranganathan (1963), yaitu the library is a growing organism (dalam Hawthorne) .Hukum kelima tersebut didukung pula oleh Pendit yang menyatakan bahwa perpustakaan adalah institusi yang terus mengalami perubahan, adaptif dengan perkembangan teknologi, kendati relatif tidak mengalami banyak perubahan tradisi aktivitas pokoknya sebagai penghimpun, penyimpan, serta penyedia rekaman pengetahuan. Jadi, perpustakaan akan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan keilmuan khususnya perkembangan teknologi informasi2.

Teknologi informasi merupakan perpaduan antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi. Menurut Hanifa Adanya kemajuan teknologi informasi memberikan peluang bagi perpustakaan dalam melaksanakan pekerjaannya dengan cepat, tepat, dan akurat khususnya pekerjaan yang sifatnya berulang-ulang. Kemajuan teknologi informasi dan berkembangnya berbagai format koleksi bahan pustaka juga menentukan jenis perpustakaan, yaitu perpustakaan konvensional, otomasi, hibrida maupun digital. Sejalan dengan hal tersebut, perpustakaan sebaiknya memiliki sistem tertentu. Pengolahan sistem ini memerlukan pengetahuan dan eknik sehingga memudahkan pengguna untuk menelusuri informasi yang mereka inginkan.

Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi, dalam menyajikan informasi baik itu yang berupa buku maupun dokumentasi lainnya yang dimiliki menggunakan sarana temu kembali berupa katalog, bibliografi maupun indeks. Informasi yang setiap saat bertambah secara eksponsial tidak mungkin ditangani tanpa adanya sarana simpan sistem temu kembali informasi (retrieval)yang baru. Sistem temu kembali informas digunakan untuk menemukan kembali (retrieve)informasi informasi yang relevan terhadap kebutuhan pengguna dari suatu kumpulan informasi secara otomatis.


 icon Opac Ifla.Pdf

 

MODEL PENELITIAN PEMIKIRAN ISLAM MODERN

 E-mail
Oleh SETIAWAN, S.Sos    Rabu, 21 Januari 2015 20:00

MODEL PENELITIAN PEMIKIRAN ISLAM MODERN :

“ Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942”

( Deliar Noer )

Oleh :

Setiawan, S.Sos


Salah satu ciri dari sebuah negara berkembang adalah memiliki penduduk yang mayoritas ber-agama islam, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang sehingga termasuk dalam bagian itu. Menurut Deliar Noer negara–negara berkembang rata-rata memiliki penganut mayoritas ber-agama islam, negara-negara berkembang seperti Indonesia ini memiliki persoalan yang umumnya sama dengan negara-negara berkembang lainnya yaitu persoalan-persoalan antara lain ledakan penduduk, dan meningkatnya tuntutan keperluan dari penduduk. Disamping itu juga usaha pemecahan masalah keterbelakangan orang-orang Islam tersebut banyak sedikitnya memerlukan kemantapan didalam negeri masing masingdan itu perlu suatu penempatan kedudukan agama yang jelas.

Menempatkan kedudukan agama yang jelas, di dalam masyarakat merupakan masalah yang harus dihadapi oleh negeri-negeri Islam.Indonesia sendiri belumlah berhasil memecahkan masalah seperti ini.Lebih lanjut Deliar mengungkapkan bahwa Semenjak Indonesia merdeka, Islam terus berkembang dengan memperoleh jumlah pengikut yang banyak di kalangan suku-suku bangsa yang masih animistis, para pendukung ide masuknya Islam dalam kehidupan kenegaraan di Indonesia berpendapat bahwa ciri dasar dari agama Islam tidak memungkinkan negara menjadi bersifat teokrasi, karena Islam tidak mengakui sistem kependetaan.

Negara Islam adalah sebuah negara yang melaksanakan ajaran Islam di tengah masyarakat untuk kepentingan dan keuntungan masyarakat secara keseluruhan. Masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat Islam di Indonesia adalah bahwa mereka lebih banyak terlibat pertikaian yang bersifat teoritis dan ideologis, baik dalam berhadapan dengan pihak nasionalis “sekuler” atau pun antar mereka sendiri yang menyangkut dasar-dasar pokok dari Islam itu sendiri.. Islam sebagai suatu kriteria pengukur loyalitas dan dasar persatuan di Indonesia merupakan hal yang penting selaras dengan berkembangnya kekuasaan Belanda ke seluruh pelosok tanah air. Belanda memandang Islam sebagai suatu ancaman terhadap kedudukannya, sedangkan Belanda dalam pandangan orang Indonesia merupakan ancaman bagi Islam.Menurut Goerge MC Turnan dalam Marto, menyatakan bahwa “agama Muhammad” bukan saja mata rantai yang mengikat tali persatuan melaikan merupakan symbol kesamaan nasib, menentang penjajahan asing dan penindas yang berasal dari agama lain.


icon Deliar Nor

 

 

ARTIKEL GARFIELD’S CITATION TEORY

 E-mail
Oleh SETIAWAN, S.Sos    Rabu, 21 Januari 2015 19:29

ARTIKEL GARFIELD’S CITATION TEORY

Is Citation Analysis A Legitimate Evaluation Tool.?:

Apakah Analisis Citation Alat Evaluasi Yang Sah

(SEBUAH TEORI ANALISIS KUTIPAN/SITIRAN)

 

Oleh :

Setiawan, S.Sos

 


Perkembangan suatu keilmuan sangat mutlak di perlukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil dari pemikiran-pemikiran, yang nantinya pemikiran itu bisa dijadikan suatu teori yang bisa di gunakan sebagai landasan ilmiah yang relevan, Perpustakaan sebagai tempat informasi tentunya tidak terlepas dari kajian keilmuan, kajian keilmuan sarat dengan kutipan-kutipan/kutipan teori. Kajian analisis kutipan dilatar belakangi oleh tingkat pertumbuhan jurnal ilmiah yang sangat cepat dan mendorong para ahli informasi untuk mengembangkan metode analisis kutipan untuk mengkaji sebuah jurnal.

Dalam bibliometrika, yang dikaji adalah informasi terekam, khususnya informasi dalam bentuk grafis. Dengan demikian, objek kajiannya adalah buku, pengarang (hasil karyanya), majalah, laporan penelitian, disertasi, dan sebagainya. Analisis kutipan merupakan penyelidikan melalui data kutipan dari suatu dokumen, baik dokumen yang disitir maupun  dokumen yang menyitir (Sri Hartinah, 2002) .Sedangkan menurut Lasa (1990: 26), analisis kutipan adalah cara perhitungan yang dilakukan atas karyatulis yang disitir oleh para pengarang.

Berdasarkan penjelasan di atas maka jelas bahwa analisis kutipan adalah pernyataan yang diterima suatu dokumen dari dokumen yang lain atau karya yang digunakan sebagai bibliografi pada sebuah artikel atau buku. Sedangkan rujukan adalah pernyataan yang diberikan sebuah dokumen kepada dokumen yang lain atau daftar pustaka yang dijadikan acuan oleh penulis dalam menyusun karya tulisnya. Kutipan selalu berhubungan dengan dua jenis data, yaitu data yang disitir (yang telah terbit sebelumnya) dan data yang menyitir. Data yang dikaji dalam analisis kutipan adalah data yang disitir yang terdapat dalam dokumen yang menyitir.


icon Artikel Garfield’s Citation Teory

 

 

Pustakawaan : Sudahkan menjadi Agen informasi

 E-mail
Oleh SETIAWAN, S.Sos    Rabu, 21 Januari 2015 17:39

Pustakawaan : Sudahkan menjadi Agen informasi

( Studi Kasus pada Pustakawan Universitas Negeri Malang Sebagai Upaya Peningkatan Keterampilan Social Dalam Pelayanan Informasi Bagi Pengguna)

 Oleh: SETIAWAN, S.Sos


Perkembangan jaman yang semakin maju membawa dampak luar biasa bagi sendi kehidupan. Perkembangan ini tak luput dari segi informasi yang terus menerus mengalir dengan beragam pengetahuan yang di bawanya. Informasi menurut Abdul Kadir mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut1. Sedangkan Menurut Jogiyanto HM., Informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian – kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk pengambilan keputusan2, dari pengertian diatas kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwasannya data yang diolah menjadi bentuk yang berguna itulah yang di sebut informasi , Informasi tersebut merupakan hasil pengolahan data atau fakta yang dikumpulkan dengan metode ataupun cara – cara tertentu.
 
Mengolah informasi merupakan salah satu tugas terpenting bagi seorang pengelola informasi, pustakawan merupakan salah satu diantara pengelola data yang akhirnya menjadi informasi yang di butuhkan penggunanya, pustakawan harus benar-benar bisa menjaga kemampuan dirinya sebagai bagian pengelola informasi, pustakawan harus bisa menempatkan ke-profesionalannya dalam mengelola informasi, dan ini sudah diakui sesuai dengan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPan) Nomor 18 Tahun 1988. Status pustakawan juga diakui sebagai salah satu tenaga kependidikan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
 

KATALOGISASI DESKRIPTIF PERPUSTAKAAN PONDOK PESANTREN

 E-mail
Oleh Sokhibul Ansor, S. Sos. M. Hum    Sabtu, 13 September 2014 19:58
 

KATALOGISASI DESKRIPTIF PERPUSTAKAAN PONDOK PESANTREN

 

Oleh: Sokhibul Ansor, M. Hum


 

Koleksi perpustakaan harus diatur, diolah sedemikian rupa sehingga informasi yang tertuang dalam koleksi perpustakaan dapat disimpan dan ditemukan kembali dengan cepat, tepat bilamana diperlukan. Ini berarti dalam perpustakaan diperlukan model sistem temu kembali informasi (information retrieval system).

 

Laura B Doyle dalam Zen (1989) menggambarkan model skema sistem temu kembali informasi di perpustakaan yang mengkaitkan antara proses pengaturan informasi dengan pencari informasi sebagaimana berikut.

 

 

Model Skema Sistem Temu Kembali Informasi (Information Retrieval System).

 

Model di atas memberi gambaran bahwa katalog perpustakaan adalah sebagai alat temu kembali informasi di perpustakaan yang diperlukan pencari informasi. Ini berarti katalog perpustakaan mutlak diperlukan, dan harus disiapkan dan dikerjakan pustakawan. Pekerjaan membuat katalog perpustakaan dikenal dengan pekerjaan katalogisasi, dimana pekerjaan tersebut bagian dari pekerjaan analisis dokumen.

 

Kegiatan katalogisasi diperpustakaan meliputi katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subyek. Katalogisasi deskriptif adalah kegiatan mengadakan identifikasi dari ciri-ciri fisik suatu dokumen, seperti pengarang, judul, tempat terbit dan penerbit, tinggi buku. Kegiatan ini lazim disebut ‘deskripsi bibliografis’.

 

Hasil kegiatan katalogisasi tersebut dituangkan dalam bentuk simbul notasi berupa angka desimal yang mencerminkan urutan jajaran koleksi pada rak buku berdasarkan pengelompokannya dan nomor notasi dalam kartu katalog atau katalog OPAC (Online Public Access Catalogue) Dalam makalah ini yang dibahas adalah katalogisasi deskriptif.


icon klasifikasi-pesantren.pdf (42.19 KB)  
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 10 dari 32
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno