| Pengembangan Standard Operating Procedures (SOP) untuk Perpustakaan Perguruan Tinggi |
| Oleh darmono |
|
Pengembangan Standard
Operating Procedures (SOP) untuk Perpustakaan Perguruan Tinggi Darmono (e-mail:
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
). Pustakawan
Universitas Negeri Malang. Alamat
instansi: UPT
Perpustakaan UM – Jl. Surabaya No. 6 Malang. Abstrak: Untuk mewujudkan tata kelelola perpustakaan yang baik diperlukan adanya
pengendalian mutu secara terpadu terhadap semua kualitas perkerjaan di
perpustakaan. Untuk itu diperlukan perangkat
manual mutu kegiatan perpustakaan. Manual mutu
merupakan aktifitas yang terkoordinasi untuk mengarahkan,
mengendalikan, dan mengorganisasikan agar mutu atau standard kinerja
perpustakaan dapat tercapai. Manual mutu pada dasarnya adalah pernyataan
ringkas kebijakan, tujuan, dan proses utama. SOP perpustakaan merupakan bagian
dari standar mutu yang dikembangkan oleh perpustakaan. Secara
umum penyusunan SOP meliputi empat tahap yaitu: analisis kebutuhan SOP, pengembangan SOP, penerapan SOP, monitoring dan evaluasi. Keempat
tahap tersebut dilakukan secara beurutan sehingga dapat menghasilkan SOP yang
sesuai dengan kebutuhan lapangan untuk menunjang kelengkapan manajemen mutu
terpadu di perpustakaan. Kata-kata Kunci: standar operasional prosedur, prosedur kerja, standar tata kelola perpustakaan, perpustakaan perguruan tinggi Dalam
rangka memelihara dan meningkatkan mutu perguruan tinggi secara terus menerus,
Dirjen Pendidikan Tinggi saat ini membuat kebijakan dasar strategi jangka
panjang pengembangan perguruan tinggi (PT). Ada tiga bidang strategi jangka
panjang yang telah dicanangkan yaitu: daya saing bangsa, otonomi, dan kesehatan
organisasai. Dalam rangka implementasi kebijakan tersebut Dirjen Dikti
mengembangkan tiga pilar pengembangan pendidikan tinggi yaitu: tata pamong
universitas yang baik (university good
governence), mutu dan relevansi, dan perluasan akses (Direktorat pendidikan
Tinggi, 2006). Perubahan paradikma ini tentunya membawa banyak konsekuensi bagi
perguruan tinggi dalam bidang manajamen. Salah satu dari perubahan paradigma yang saat
ini sedang ditata oleh perguruan tinggi adalah persiapan PT menjadi Badan Hukum
Pendikan (BHP). Dalam hubungan ini peran pemerintah sedikit demi sedikit
berubah dari peran provider menjadi
fasilitator yang bertugas mengatur dan membimbing dengan berbagai kemudahan
tetapi tetap berpegang pada kualita agar perguruan tinggi tumbuh dan
berkembangan secara otonom. Untuk itu penerapan organisasi yang modern dalam
dunia pendidikan menjadi kebutuhan. Perpustakaan
perguruan tinggi yang merupakan bagian integral dengan pendidikan tinggi tentunya
perlu menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan
tinggi tersebut. Dengan adanya perubahan paradikma tersebut maka perpustakaan perlu
ditata kembali untuk disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi, baik
perkembangn di lingkungan pendidikan maupun perkembangan di luar pendidikan
terutama tuntutan dari stake holder,
dan perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat. Seiring
dengan perubahan paradikma perpustakaan, dalam kegiatan operasionalnya perpustakaan
perlu menerapkan tata kelola perpustakaan secara baik. Dalam tata kelola
perpustakaan yang baik penerapan mekanisme kontrol terhadap semua kualitas
perkerjaan menjadi kebutuhan yang mendasar. Untuk itulah tata kelola perpustakaan
yang baik merupakan tuntutan yang perlu dilaksanakan. TATA KELOLA PERPUSTAKAAN YANG BAIK Salah
satu parameter kualitas kinerja perpustakaan adalah adanya tata kelola yang
baik dan transparan. Tata kelola dapat diartikan sebagai cara atau metode yang
digunakan oleh suatu perpustakaan perguruan tinggi untuk mendayagunakan seluruh
potensi dan unsur-unsur yang dimiliki secara optimal dalam upaya mencapai visi,
misi perpustakaan yang telah ditetapkan. Tata kelola merupakan upaya sistematik
dalam suatu proses untuk mencapai tujuan perpustakaan perguruan tinggi. Tujuan
utama dari tata kelola yang baik adalah terjadinya peningkatan kualita layanan
perpustakaan secara terus menerus dan berkesinambungan. Tata kelola yang baik
menjamin adanya proses kesejajaran, kesamaan, kohesi, keseimbangan peran, serta
adanya peran saling mengawasi atau saling mengendalikan yang dilakukan oleh
semua komponen perpustakaan terkait. Ada enam indikator untuk keberhasilan tata
kelola yang baik sebagaimana yang dikembangkan United Nation Developmen Program (UNDP) yaitu: 1. Mengikutsertakan semua komponen 2. Transparan dan bertangungjawab 3. Efektif dan adil 4. Menjamin kepastian aturan 5. Menjamin semua kebijakan didasarkan pada konsensus
bersama 6. Memperhatikan pihak yang paling lemah dalam pengambilan
keputusan. Sebagaimana
dikemukakan sebelumnya, selain tuntutan adanya tata kelelola perpustakaan yang
baik diperlukan adanya pengendalian mutu secara terpadu terhadap semua kualitas
perkerjaan di perpustakaan. Pengendalian ini sering disebut dengan istilah Total Quality Management (TQM) yang
meliputi beberapa aspek seperti: 1. Etika kerja yang baik 2. Integritas yang tinggi 3. Kepercayaan 4. Pelatihan secara berkelanjutan 5. Kerja tim yang handal 6. Kepemimpinan 7. Tanggung jawab 8. Komunikasi dan kejelasan kerja yang konstruktif Aspek-aspek tersebut
bisa diumpamakan sebagai sebuah bangunan yang masing-masing aspek saling
berinterakasi dan saling bersigergi. Delapan aspek tersebut secara garis besar
dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok yaitu: (1) Foundation yang meliputi aspek integritas, etika dan kepercayaan;
(2) Building Brick yang meliputi
aspek-aspek pelatihan, kerja tim, dan kepemimpinan; Binding Mortar yang dalam hal ini adalah aspek komunikasi dan
kejelasan kerja; Roof yang dalam hal
ini adalah aspek tanggungjawab. Jika digambarkan interaksi dan sinergi dari aspek-aspek
tersebut adalah sebagaimana digambarkandalam diagram nomor 2. Diagram No 2 Delapan Elemen Pengendalian Mutu Terpadu Untuk mewujutkan TQM salah satunya diperlukan
manual mutu yang harus didasarkan pada semua aktivitas perpustakaan yang
tergambarkan dalam tata aliran kerja. Manual mutu adalah dokumen yang
mensinergikan antara kebijakan dan standar perpustakaan, termasuk standar
pelayanan yang ditetapkan. Manual mutu merupakan aktifitas yang terkoordinasi
untuk mengarahkan, mengendalikan, dan mengorganisasikan agar mutu atau standar
dapat tercapai. Manual mutu pada dasarnya adalah pernyataan ringkas kebijakan,
tujuan, dan proses utama. Dalam dokumen mutu terdapat empat aspek yaitu: (1)
pedoman mutu (PM), panduan prosedur (PP) yang juga sering disebut dengan SOP,
(3) instruksi kerja, dan (4) dokumen lain pendukung. SOP perpustakaan sebenarnya
merupakan bagian dari standar mutu yang dikembangkan oleh perpustakaan. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERPUSTAKAAN Perpustakaan sebagai bagian integral dari suatu
organisasi (pendidikan) sangat dibutuhkan keberadaannya. Untuk itu perpustakaan
dituntut untuk dapat meningkatkan mutu layananannya. Sebagai bagian dari sistem
informasi manajemen, perpustakaan juga harus dapat memberikan laporan-laporan
yang dapat menjadi bahan keputusan manajemen organisasi. Investasi yang ditanam
di perpustakaan cukup besar karena memerlukan tenaga, biaya dan sarana yang
tidak sedikit. Hasilnya tidak langsung dapat dirasakan. Sering sekali investasi
di perpustakaan dianggap sebagai pemborosan sehingga dana dan fasilitas untuk
perpustakaan dialihkan untuk bidang lain. Apakah SOP diperlukan di perpustakaan? Seberapa
pentingkah SOP di perpustakaan? Apakah pekerjaan di perpustakaan banyak
mengandung resiko? Pertanyaan ini harus dikembalikan kepada pimpinan organisasi
dan pelaksana di perpustakaan. SOP di perpustakaan tidak diperlukan apabila
perpustakaan tidak ingin meningkatkan mutunya atau perpustakaan tidak dianggap
bagian dari sistem manajemen organisasi yang ada. Pada dasarnya, di perpustakaan terdapat pekerjaan rutin
yang dilakukan setiap hari, mulai dari seleksi, pengadaan, pengolahan,
pemeliharaan sampai pada pelayanan. Agar pekerjaan-pekerjaan tersebut dapat
dilakukan dengan baik maka diperlukan pedoman yang dapat memberikan tuntunan.
Pedoman yang dimaksud adalah prosedur kerja yang standar atau SOP. Salah
satu tugas perpustakaan di lingkungan Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah
mewujudkan visi dan misi lembaga dalam menyediakan dan memberikan pelayanan
berbagai sumber informasi ilmu pengetahuan (Iptek) untuk kepentingan
pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai unit pelayanan
informasi ilmiah terutama kepada sivitas akademika dan stake holder, perpustakaan dituntut untuk bekerja secara
profesioanal dengan mengutamakan kualitas, kecepatan, kemudahan dalam
pelayanan. Saat
ini tuntutan user kepada perpustakaan semakin tinggi. Perpustakaan diharapkan
tidak sekedar sebagai mediatori dalam pelayanan informasi akan juga harus mampu
berfungsi sebagai penyedia fasilitas dalam penyediaan kebutuhan informasi
ilmiah. Selain itu berbagai upaya untuk meningkatkan pelayanan biasanya juga
dibarengi dengan penerapan teknologi informasi dengan berbagai ragam bentuknya
mulai dari otomasi perpustakaan, peluncuran informasi dengan berbasis Internet,
jaringan informasi baik skala lokal maupun global, penggunaan pelayanan
informasi secara on-line, kemasan informasi digital dan sebagainya. Kondisi
menyebabkan meningkatnya kompleksitas sarana dan prasarana pendukung layanan di
perpustakaan dan juga berakibat timbulnya layanan-layanan baru di lingkungan
perpustakaan dengan berbasis pada teknologi informasi. Agar
perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan user maka upaya pemanfaatan dan pelayanan
informasi ilmiah di perpustakaan juga perlu didukung dengan manajemen pelayanan
yang baik, salah
satunya melalui pelayanan yang konsisten dan terbuka untuk diaudit. Perwujudan
transparansi dan standarisasi pelayanan dapat dilakukan antara lain melalui
penyusunan standar pelayanan bagi setiap jenis pelayanan dan kegiatan yang ada
di perpustakaan. Proses penyusunan standar pelayanan agar lebih mudah haruslah
diketahui secara pasti prosedur dari suatu jenis pelayanan. Melalui prosedur
yang jelas akan lebih mudah diketahui berapa biaya yang diperlukan, waktu yang
dibutuhkan, siapa saja yang terlibat, peralatan apa saja yang diperlukan, serta
persyaratan apa saja yang harus dipenuhi oleh pengguna jasa pelayaan.
Selanjutnya untuk menghasilkan kinerja yang sesuai dengan standar yang telah
ditentukan maka diperlukan adanya rangkaian prosedur yang distandarkan.
Prosedur yang standar atau lebih dikenal dengan Standard Operating Procedures (SOP) secara sederhana dapat
diartikan sebagai pedoman yang menunjukkan apa yang harus dilakukan, kapan hal
tersebut dilakukan, dan siapa yang melakukannya. Dengan
demikian SOP bagi Perpustakaan menjadi penting karena dapat berfungsi membantu
perpustakaan dalam memberikan pelayanan kepada sivitas akademika secara baik,
konsisten, efektif dan efisien dalam hal: (1) memberikan pedoman / petunjuk
bagi sivitas akademika tentang suatu prosedur pelayanan perpustakaan yang harus
dilakukan, (2) menyediakan pedoman bagi semua staf perpustakaan dan pejabat
perpustakaan dalam melaksanakan pelayanan rutin perpustakaan, (3) menghindari adanya tumpang
tindih pelaksanaan tugas pelayanan perpustakaan kepada sivitas akademika, (4)
membantu penelusuran terhadap kesalahan-kesalahan prosedural dalam memberikan
pelayanan perpustakaan, (5) menjamin proses pelayanan tetap berjalan dalam
berbagai situasi. Untuk
menjamin pelaksanaan pelayanan secara optimal sesuai dengan tuntutan dari visi,
misi, tugas, dan fungsi perpustakaan, dipandang perlu untuk membuat suatu pedoman kerja secara
tertulis dalam bentuk Standard Operating
Procedures Perpustakaan. Semua lini
kegiatan di perpustakaan membutuhkan SOP. Untuk itu SOP perlu dikembangkan
untuk semua kegiatan dan semua bagian yang ada di perpustakaan guna menunjang
TQM di perpustakaan seperti bagian tata usaha perpustakaan, bagian kepegawaian
perpustakaan, bagian sarana dan prasarana perpustakaan, bagian pengembangan
koleksi, bagian pelayanan peminjaman, bagian reference, bagian serial serta
bagian lainnya yang dipandang perlu. MANFAAT SOP PERPUSTAKAAN Pengembangan
SOP perpustakaan diharapkan dapat mengoptmalkan kinerja perpustakaan, karena
pada dasarnya SOP adalah panduan kerja yang terstruktur yang dapat dipakai
sebagai pengukuran kinerja. Secara umum manfaat SOP perpustakaan adalah sebagai
berikut. § SOP dapat digunakan sebagai sarana untuk
mengkomunikasikan pelaksanaan suatu pekerjaan bagi manajemen perpustakaan. § SOP
dapat digunakan sebagai sarana untuk menyimpan pengetahuan dan perkembangan
yang diperoleh oleh perpustakaan. § SOP
dapat digunakan sebagai sarana acuan dalam melakukan penilaian terhadap proses
pekerjaan di perpustakaan. § SOP
dapat digunakan sebagai sarana pelatihan bagi staf yang baru sehingga
mengurangi waktu yang terbuang untuk memberikan pengarahan. § SOP
dapat digunakan sebagai sarana untuk mengendalikan dan mengantisipasi apabila
terdapat suatu perubahan sistem di perpustakaan. § SOP dapat digunakan sebagai sarana audit sistem informasi
perpustakaan. § SOP dapat digunakan sebagai sarana dokumentasi sistem
informasi perpustakaan. BEBERAPA LANGKAH DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN SOP Diagram No2. Siklus Pengembangan SOP Analisis Kebutuhan SOP Dalam
langkah awal penyusunan SOP akan dijelaskan mengenai analisis kebutuhan SOP
untuk Perpustakaan. Selain itu juga diperlukan identifikasi faktor-faktor yang
mungkin bisa mempengaruhi SOP. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi
langsung ke lapangan untuk melihat kegiatan-kegiatan pekerjaan yang dibuatkan
SOP. Berikutnya dikembangkan rencana aksi atau tindak lanjut. Dalam
analisis kebutuhan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut: 1. Lingkungan operasional, ini meliputi beberapa
hal seperti bagaimanajah lingkungan operasional di Perpustakaan apakah
sederhana atauaakh komples, apakah lingkugan operasional melibatkan bebagai
unit yang saling berkaitan dan saling berhubungan. 2. Peraturan perundangan dan petunjuk teknis
pelaksanaan yang sudah ada atau sudah dikembangan oleh Perpustakaan. 3. Kebutuhan Perpustakaan dan stake holder, kebutuhan perpustakaan dan
stake holder perlu dirumuskan secara jelas. Apakah semua unit perpustakaan
sudah membutuhkan SOP dan apakah kebutuhan tersebut mendesak? 4. Adanya kejelasan proses penilaian kebutuhan.
Kegiatan ini penting untuk untuk dilakukan dan merupakan gambaran kebutuhan
dari lembaga tentang SOP yang akan dikembangkan. Dari sisinilah nantinya SOP
akan dikembangkan. Proses penilaian kebutuhan perlu didasarkan pada beberapa
aspek berikut: § dukungan lembaga § action plan § penilaian kebutuhan § daftar SOP yang akan dikembangkan § analisis SOP yang telah ada § terbitnya dokumen penilaian kebutuhan dalam bentuk
laporan Pengembangan SOP Dalam
langkah kedua akan dibahas mengenai proses pengembangan SOP, dan hal-hal yang
diperlukan dalam mendukung pengembangan SOP. Dalam langkah ini perlu
diperhatikan hal-hal berikut: 1. Pembentukan tim untuk mengembangkan SOP
Perpustakaan. Tim ini bisa terdiri dari unsur pimpinan dan unsur pelaksana dan
juga unsur yang akan mengambangkan SOP. 2. Pengumpulan informasi dan identifikasi
alternatif dilakukan dengan menggali informasi melalui berbagai cara seperti
dengan: § teknik brainstroming § teknik focus group
discussion § teknik wawancara § teknik survei § teknik benchmark § telaah dokumen 3. Analisis dan pemilihan alternatif, setelah
tahap pengumpulan informasi dilakukan kemudian tim mulai analisis dari bahan
yang telah terkumpul. Selanjutrnya tim akan menentukan berbabagi alternatif
dari kegiatan pengembangan SOP baik yang menyangkut materi maupun cara dan
bahkan sampai pada analis tentang alur yang akan dibuat. 4. Penulisan SOP Penulisan
SOP perlu dilakukan secara cermat sehingga dapat dihasilkan sebuah SOP yang
bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Penulisan perlu mengacu pada format SOP
dan memilih format mana yang akan digunakan oleh perpustakaan yang
mengemebangkan SOP. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penulisan SOP
adalah: § tingkat ketelitian § kejelasan dan ketepatan § tingkat keluwesan 5. Pengujian dan review SOP SOP yang
telah dikembangkan perlu dilakukan pengujian atau review. Langkah penguujian
dan review bisa dilakukan sebagai berikut: § dikirmkan kepada pihak-pihak yang secara langsug terlibat
(calon pengguna) dalam prosedur SOP yang dimaksud untuk memperoleh masukan.
Masukan dari calaon pengguna ini sangat penting untuk dilakakukan. § melakukan simulasi untuk melihat sejauh mana SOP dapat
berjalan sesuai dengan kondisi yang nyata. Dengan simulasi dapat diketahui
berbagai kelemahan dan prosedur-prosedur yang perlu diperbaiki sesuai dengan
kondisi lapangan. § melakukan uji coba dalam kegiatann nyata pada
perpustakaan. Dengan cara ini kan diperoleh gambaran secara nyata bagimana SOP
dilaksanakan dalam organisasi perpustakaan. Apakah masih perlu perbaikan dan
perubahan. § melalukan review dari hasil uji coba untuk perbaikan SOP.
Hasil review perlu dikerjakan dalam bentuk tim sehingga bisa lebih obyektif dan
komprehensif. 6. Pegesahan SOP Pengesahan
SOP dilakukan oleh kepala perpustakaan atau bisa dilakukan pada tingkat
rektorat. Hal ini dimaksudkan agar SOP mempunyai kekuatan yang mengikat
lembaga. Penerapan SOP Dalam bagian
ini dijelaskan tentang perencanaan implementasi, langkah-langkah yang
diperlukan untuk sosialisasi SOP kepada para pengguna, pendistribusian SOP
kepada pengguna, analisis kebutuhan pelatihan (jika diperlukan) serta
pengembangan mekanisme pengawasan kerja. Kegiatan penerapan SOP meliputi
langkah-langkah sebagai berikut: 1. Perencanaan penerapan SOP.
Perencanaan
penerapan SOP perlu dilakukan secara sungguh-sungguh agar SOP yang akan dipakai
dapat segera dipahami oleh staf pelaksana. Ada beberapa persiapan yang perlu
dicermati antara lain: § berapa banyak SOP yang akan diterapkan § siapa yang menajdi target penerapan § informasi apa yang akan disampaikan kepada target § bagaimana cara penyebaran informasi SOP yang efektif § bagaimana cara pemantauan pelaksanaan 2. Distribusi kepada unit-unit Pada tahap
ini SOP muali didistribusikan ke masing-masing unit yang akan menerapkan SOP.
Pendistribusian SOP harus serentak sehingga semua unit akan melaksanakan secara
serentak pulan. 3. Pelatihan pemahaman SOP § penilaian kebutuhan pelatihan § pateri pelatihan § Pemilihan peserta § pemilaihan instruktur § kompetensi yang diharapksn dari hasil pelatihan § penjadwalan dan administrasi 4. Supervisi. Kegiatan ini perlu dilakukan
dengan cara mengamati dan melakukan pengawasan apakah SOP sudah dilakasanakan
dan seberapa jauh SOP tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Monitoring dan Evaluasi Pada langkah
ini dibahas tentang mekanisme monitoring untuk melihat sejauh mana penerapan
SOP dan bagaimana SOP bisa memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja
Perpustakaan. Sementara itu untuk evaluasi akan difokuskan pada penilaian SOP
itu sendiri apakah perlu ada perubahan dan penambahan. Kegiatan ini menjadi
masukan bagi Perpustakaan untuk langkah mendatang. Kegiatan ini meliputi
langkah: 1. Monitoring Perpustakaan
perlu menyiapkan mekanisme monitoring kinerja dan memastikan bahwa SOP bisa
dilaksanakan dengan baik. Proses ini diarahkan untuk membandingkan dan
memastikan kinerja pelaksana seuai dengan masksut dan tujuan yang terdapat
dalam SOP, melakukan identifikasi, permasalahan yang timbul, menentukan cara
untuk meningkatkan hasil implementasi, dan atau menyediakan dukungan tambahan
jika diperlukan. Monitoring harus disertai sistem pengukuran antra kinerja staf
dengan kinerja yang diharapkan. Metode monitoring yang dapat digunakan antara
lain berupa: § observasi supervisor § interview dengan pelaksana § interview dengan user § pertemuan dan diskusi kelompok kerja § pengarahan dalam pelaksanaan 2. Evaluasi Sebenarnya
secara substansial SOP akan membantu kinerja perpustakaan menjadi lebih
produktif. Selain hal tersebut SOP juga dapat menjadikan perpustakaan lebih
efektif dan lebih kohesif. Tidak selamanya SOP berlaku secara permanen, setiap
perubahan di perpustakaan akan selalui membawa perubahan terhadap SOP yang
diaplikasikan. Oleh sebab itu SOP perlu secara terus menerus untuk dievaluasi agar
prosedur dalam perpustakaan selalu merujuk pada akuntabilitas dan kinerja yang
optimal. Evaluasi sebagai langkah tindak lanjut dari monitoring dapat meliputi
substansi SOP itu sendiri atau dan proses penerapannya. Dari sisi substansi,
evaluai SOP dapat dilakukan dengan mengacu pada kepada pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut: § sejauh mana SOP dapat mendorong peningkatan kinerja
perpustakaan § sejauh mana SOP dapat dipahami oleh pelaksana
pada semua lini di perpustakaan? § sejauh mana setiap staf dapat melaksanakan SOP? § spakah SOP yang sudah jadi masih memerlukan revisi? § Sejauh mana diperlukan penyembpurnan-penyempurnaan
terhadap SOP yang telah diterapkan atau sejauh mana diperlukan adanya SOP baru? § sejauh mana berbagai
masalah yang ada perpustakaan
dapat diatasi dengan penerapan SOP? § sejauh mana SOP dapat menjawab perubahan lingkungan
perpustakaan? § spakah SOP dapat berjalan secara sinergis antar unit yang
ada di perpustakaan? TIPE DAN FORMAT SOP Selain
berdasarkan pada siklus pengembangan SOP, perlu juga ditentukan tipe atau model
SOP yang akan dikembangkan. Secara umum ada tiga model SOP yaitu 1. SOP Teknis (technical SOP) SOP teknis
disusun untuk berbagai kegiatan teknis. Model teknis biasanya banyak digunakan
di lingkungan industri dan laboratorium. 2. SOP Administratis (administrative SOP) SOP administratif
digunakan untuk menyusun berbagai macam kegiatan administratif, biasa untuk
menggambahan alur kerja dan prosedur kerja di kantor, untuk prosedur audit
pekerjaan dna sebagainya. 3. SOP Gabungan model teknis dan model
administratif. SOP ini
merupakan gabungan dari dua jenis SOP diatas. Biasanya ini digunakan untuk
menemtukan prosedur kerja yang sifatnya teknis dan administratif. Format SOP Ada
berbagi formast SOP ada yang sangat rinci tetapi juga ada yang sederhana. Secara
sederhana SOP biasanya memuat informasi yang diperlukan dan terindentifikasi
sehingga praktis untuk digunakan. Informasi yang terdapat dalam SOP pada
umumnya dibuat secara jelas sehingga dapat memberikan informasi bagi pelaksana.
Berikut ini informasi yang ada di SOP secara sederhana. 1. Judul harus jelas dan menggambarkan aspek kegiatan yang
perlu dipandu dengan prosedur kerja secara tetap. 2. Tujuan hendaknya dirumuskan secara detail dan jelas
sehingga pelaksana SOP mengetahui arah kegiatan secara jelas dan hasil kari
kegiatan yang dikehendaki secara jelas pula. 3. Lingkup SOP merupakan proses kegiatan, diterangkan dengan
jelas dan lengkap mana yang akan diluput dan mana yang tidak. 4. Tanggungjawab dan wewenang (pelaksana dan fungsi
organisasi) kemudian diidentifikasi bagian akhir dari teks yang sesuai. 5. Penyelesaian kegiatan, pada bagian ini tingkat rincian
dapat berbeda , tergantung pada rutinitas kegiatan dan metode kerja yang
digunakan. 6. Keterangan tentang kegiatan, tergantung pada kebutuhan
organisasi, yang menerangkan proses dengan bagan atau yang sesuai dengan
kegiatan yang akan dilaksanakan berikutnya harus dapat menjelaskan dan
menentukan apa yang akan dilaksanakan, oleh siapa, bagian atau unit mana,
mengapa, kapan dimana dan bagaimana. Pada keterangan juga harus
menginformasikan kendali proses dan kendali aktifitas yang telah ditentukan.
Selain itu juga menentukan dokumen yang diperlukan yang berhubungan dengan
kegiatan terkait dan menentukan skema. 7. Rekaman yang berkaitan dengan aktifitas harus ditentukan
dengan pasti. Metode untuk menyimpan arsip dan semua pelaporan harus dinyatakan
dengan jelas. PENUTUP Manual mutu
merupakan aktifitas yang terkoordinasi untuk mengarahkan,
mengendalikan, dan mengorganisasikan agar mutu atau standard kinerja
perpustakaan dapat tercapai. Manual mutu pada dasarnya adalah pernyataan
ringkas kebijakan, tujuan, dan proses utama. Dalam dokumen mutu terdapat empat
aspek yaitu: pedoman mutu (PM), panduan prosedur (PP) yang juga sering disebut
dengan SOP, instruksi kerja, dan dokumen pendukung. SOP
perpustakaan merupakan bagian dari standar mutu yang dikembangkan oleh
perpustakaan. Secara
umum penyusunan SOP meliputi empat tahap yaitu: analisis kebutuhan SOP, pengembangan SOP, penerapan SOP, monitoring dan evaluasi. Keempat
tahap tersebut dilakukan secara beurutan sehingga dapat menghasilkan SOP yang
sesuai dengan kebutuhan lapangan untuk menunjang kelengkapan manajemen mutu
terpadu di perpustakaan Daftar Pustaka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2006. Panduan Sistem Penjaminan Mutu Perguruan
Tinggi SPM-PT Bidang Akademik. Jakarta: Depdiknas Edelman, Mark. 2003. Writing
and Editing SOPs and the Technical Writer. New York: Metro Chapter Imai, Masaaki. 1998. Gemba
Kaizen: Pendekatan Akal Sehat, Berbiaya Rendah pada Manajemen. Jakarta:
Yayasan Toyota-Astra Motor dan Penerbit Lembaga PPM Indonesia. Lembaga Administrasi Negara. 2005. Penyusunan Standard Operating Procesures
(Prosedur Tetap). Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Padhi, Narayantra. 2007. The Eight Elements Of TQM. http://www.isixsigma.com/library/content/c021230a.asp. Download 20
April 2007 Quality Guidance for Preparing
Standard Operating Procedures (SOPs) E A QA/G. Tersedia
di www.epa.gov/quality. Download 5 Mei 2006. Standard Operating
Procedure Development. Tersedia di http://www.unisa.edu.au/ohsw/procedures/standardoperatingproce.asp.
Download 12 Maret 2007 Univeristas Negeri Malang. 2006. Prosiding Seminar dan Lkakarya Pengembangan dan Implementasi SOP dan
Manual Mutu dalam Menjamin Mutu Akademik – Tanggal 13 Maret 2006. Malang:
Universitas Negeri Malang Universitas Indonesia. 2003. Manual Prosedur Operasional Standar
Perpustakaan Universitas Indonesia. Depok: UPT Perpustakaan
Universitas Indonesia Writing Procedures: How to
Document your Quality System Effectively.
Manchester, The National Computing Centre, 1995 Safecom Inc. 2007. Writung
Guide for Standard Operating Procedures. Home land Security. Catatan: artikel ini
pernah dimuat pada Jurnal FKP2T Tahun 2 (1) Juni - 2007 |
(Read : 23616 times )


