• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

PUISI SEBAGAI SENJATA

 E-mail
Oleh Prof. Dr. Djoko Saryono , M.Pd    Selasa, 10 Februari 2015 16:35

PUISI SEBAGAI SENJATA:

Perihal Sastra Kerakyatan, Sastra Pergerakan,

dan Sastra Perlawanan

 

Oleh

Djoko Saryono

 1.       Makna istilah rakyat dan bukan rakyat bisa merujuk pada kategori sosial politik dan sosial ekonomi. Ketika Menkopulhukam Tedjo Eddy Purdjiatno mengatakan bahwa rakyat nggak jelas, dia memosisikan diri sebagai penguasa. Di sini istilah rakyat beroposisi biner dengan penguasa, yang bisa kita sebut sebagai kategori sosial politik. Tatkala para politikus dan pejabat pemerintah selalu menyebut kata rakyat di dalam setiap pidato, mereka sedang membuat garis batas makna antara rakyat dan bukan rakyat, yang juga bisa kita sebut sebagai kategori sosial politik. Namun, ketika seorang konglomerat kakap menyatakan usaha-besarnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat, dia sedang memosisikan diri sebagai kapitalis, yang bisa kita katakan sebagai ketegori sosial ekonomi. Demikian juga tatkala kaum berpunya mengidentifikasi diri berbeda dengan orang kebanyakan, dia tengah menarik garis batas makna antara rakyat dan kaum berada. Di sini istilah rakyat beroposisi biner dengan kaum kaya atau borjuis, yang dapat kita sebut sebagai kategori sosial ekonomi. Dengan demikian, rakyat dan bukan rakyat merupakan pembelahan sosial politik dan sosial ekonomi yang kemudian digunakan sebagai parameter dan demarkasi kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya, yang lebih lanjut melahirkan istilah gaya hidup rakyat, ekonomi rakyat, dan [ke]budaya[an] rakyat (yang dibayangkan berbeda dengan gaya hidup borjuis, ekonomi kapitalis, dan [ke]budaya[an] borjuis atau tinggi).


  icon Puisi Sebagai Senjata.Pdf


 

 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno