• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Menemukan Kebenaran Melalui Perpustakaan

Oleh N. Rochmadi    Jumat, 31 Agustus 2012 09:32

Menemukan Kebenaran Melalui Perpustakaan

 

oleh: N Rochmadi 
(Dosen Jurusan PPKN FIS UM - Pemerhati Perpustakaan) 31/08/2012

 

Perkembangan peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari penemuan pengetahuan. Perolehan pengetahuan pada dasarnya merupakan penjelasan akan suatu kebenaran pada manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perkembangan peradaban manusia seiring dengan perolehan kebenaran yang dimiliki manusia. Semakin beradab kehidupan manusia, berarti semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya.


          Beberapa tahapan penting perubahan (kemajuan) peradaban manusia ditentukan dari pengetahuan baru yang banyak ditemukan melalui kegiatan penelitian, dan berpengaruh sangat besar bagi kehidupan manusia selanjutnya.

 

 Perubahan peradaban manusia dari kehidupan nomaden ke kehidupan menetap merupakan produk dari perolehan kebenaran dan pengetahuan baru pada manusia. Perubahan gaya berbusana manusia yang saat ini berkembang sangat dinamis disadari atau tidak merupakan dikarenakan adanya perolehan pengetahuan baru. Demikian halnya dengan gaya hidup, dari yang semula sangat tergantung pada alam, sedikit-demi sedikit berkembang menjadi merekayasa alam, walaupun sekarang mulai muncul upaya untuk kembali ke alam. Semua itu tidak terlepas dari ditemukannya pengetahuan baru yang diperoleh melalui kegiatan penelitian yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai dengan dinamika  kehidupan manusia.

 Penemuan berbagai barang dan sistem yang mempermudah dan meningkatkan kenyamanan kehidupan manusia, seperti mobil, pesawat terbang, komputer, TV, rice cooker, listrik, obat-obatan, dan sebagainya merupakan sebagian kecil dari penemuan pengetahuan baru, yang pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Demikian halnya dengan berbagai macam sistem kehidupan manusia, mulai dari sistem pemerintahan, sistem pengelolaan produksi dan sumber daya, sistem perkawinan, hingga sistem kekerabatan yang ada pada saat ini merupakan hasil olah pengetahuan melalui kegiatan penelitian yang dilakukan manusia secara terus menerus dan berkelanjutan.

 Pengetahuan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia, baik secara personal maupun kelompok. Pengaruh besar pengetahuan dalam kehidupan individual manusia terjadi pada saat pengambilan keputusan. Setiap keputusan yang diambil manusia selalu berdasarkan pengetahuan yang dimilkinya, bilamana pengetahuan yang dimiliki memiliki derajat kebenaran yang tinggi maka keputusannya mensejahterahkan, namun bilamana sebaliknya maka keputusan yang diambil menjadi menyesatkan, menyengsarakan, baik bagi diri maupun orang lain.

Beberapa tahap perkembangan kehidupan personal manusia dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki, apakah itu dalam memilih sekolah, memilih jodoh, memilih tempat tinggal, cara-cara bekerja, cara membuat tempat tinggal, bahkan dalam berkonsumsi memenuhi kebutuhan hidupnya selalu dilakukan berdasar pengetahuan yang dimilikinya, termasuk dalam hal yang sangat sederhana, misalnya memilih warung untuk beli makan siang. Rekomendasi atau keputusan yang diambil dalam hal-hal tersebut selalu didasarkan pengetahuan yang diperoleh.

 Permasalahannya walaupun dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kegiatan upaya memperoleh pengetahuan dalam derajat kebenaran yang tinggi, namun tidak semua manusia memahami hakekat dari kebenaran itu sendiri. Bahkan sering ditemukan adanya manusia yang memaksakan diri akan kebenaran tersebut, artinya sesuatu yang belum jelas sudah dinyatakan sebagai suatu hal yang benar, tanpa melakukan upaya untuk menemukan bukti-buktinya, dan dengan kemampuan retorikanya menyatakan kepada orang lain sebagai suatu kebenaran, serta memprovokasi untuk ditindaklanjuti dengan pengambilan keputusan.

 Berbagai upaya memperoleh pengetahuan baru yang dilakukan manusia pada dasarnya ditujukan untuk mendapatkan kebenaran dalam derajat yang signifikan. Kebenaran yang ditemukan ini ditujukan untuk peningkatan kualitas kehidupan manusia dan kesejahteraan hidup manusia. Namun, keterbatasan kemampuan manusia serta daya berfikir yang dimilikinya menjadikan derajat suatu kebenaran sering bersifat dinamis. Maksudnya, sesuatu yang hari ini dinyatakan benar, bisa jadi suatu saat di masa yang akan datang menjadi salah, demikian juga sebaliknya.


Beberapa Macam Kebenaran

 Berdasarkan kamus Bahasa Indonesia, kebenaran yang berasal dari kata benar yang berarti sesuai, sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah, cocok dengan keadaan yang sesungguhnya); tidak bohong: Sedangkan kata kebenaran berarti keadaan (hal dansebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya; sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada.  

Ragam kebenaran menurut Wallace, setidaknya ada empat jenis kebenaran yaitu: kebenaran otorita, kebenaran mistik, kebenaran logika /rasional, dan kebenaran ilmiah (Wallace, 1994: 1-4). 

1) Kebenaran otorita adalah suatu kebenaran pengetahuan yang diambil/berasal dari pernyataan tokoh yang berkuasa (yang memiliki otoritas) seperti raja, uskup, kepala adat, Presiden, Bupati, Kepala Dinas, Rektor, Dekan dan sejenisnya. Pernyataan dalam hal ini adalah pernyataan yang disampaikan oleh tokoh dalam lingkup bidang yang menjadi otoritanya.

2) Kebenaran mistik yaitu suatu kebenaran pengetahuan yang diperoleh atau berasal dari pernyataan yang terkait dengan kepercayaan, dengan hal-hal gaib seperti kepercayaan terhadap para dewa, kepercayaan akan adanya roh halus, kepercayaan bahwa ada hantu, dan sebagainya.

3) Kebenaran logika atau rasional yaitu suatu kebenaran pengetahuan yang diperoleh/berasal dari kaidah dan logika formal atau pola pikir (rasional) manusia yang kadang tidak perlu dibuktikan. Misalnya; gula rasanya manis, benda yang dilepaskan dari ketinggian tertentu akan jatuh ke bawah, kalau badan manusia dicubit akan terasa sakit, dan sebagainya.

4) Kebenaran ilmiah yaitu suatu kebenaran pengetahuan yang diperoleh/berasal bukti-bukti atau data-data yang diperoleh dan diuji dengan menggunakan prosedur atau metode ilmiah baik secara deduktif maupun induktif. Kegiatan penelitian merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kebenaran ilmiah.

 
Cara Manusia Memperoleh Kebenaran/Pengetahuan

Kebenaran adalah suatu pengetahuan. Pengetahuan terdiri dari fenomena, data, fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memungkinkan manusia dapat menjelaskan dan memahami fenomena atau interaksi antar fenomena, baik yang sifatnya sosial maupun alam.

Kebenaran atau pengetahuan yang dimiliki manusia dipergunakan untuk kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia dan memecahkan berbagai masalah kehidupan manusia. Berikut ini beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan untuk mendapatkan suatu kebenaran.


1. Penemuan secara Kebetulan

 Penemuan pengetahuan atau kebenaran secara kebetulan seringkali dialami manusia, baik pada masa kini maupun pada masa lalu. Hukum gravitasi yang ditemukan oleh Newton, dan menjadi dasar dari penemuan berbagai peralatan hidup manusia, ceritanya ditemukan secara kebetulan ketika dia sedang istirahat di bawah pohon apel dan kepalanya kejatuhan buah apel. (Surakhmad, 1982).

Perolehan pengetahuan secara kebetulan tidaklah dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk penemuan ilmiah, karena tidak dilakukan dengan menggunakan prosedur ilmiah, sehingga hasilnya sulit bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Walaupun disadari bahwa penemuan secara kebetulan tersebut telah banyak membantu kemudahan hidup manusia, dan dijadikan dasar dalam kehidupan manusia.

 

2. Modus Otorita

Modus otorita adalah mencari dan menerima penjelasan tentang sesuatu hal dari orang-orang tertentu yang mempunyai kekuasaan atau yang dipandang berwenang. Cara ini banyak dipakai untuk mencari kepastian tentang suatu peristiwa atau masalah tertentu yang menjadi pusat perhatian. Dalam banyak hal, tidak lagi mempertanyakan benar salahnya informasi yang berasal dari orang yang berwenang tersebut, melainkan tinggal percaya mengikutinya saja (Hasan, 1994).

Beberapa contoh pengetahuan yang diperoleh melalui modus otorita ini adalah: penjelasan tentang perkembangan pembangunan oleh Presiden atau Kepala Daerah, penjelasan dari polisi dalam suatu kasus tindak kriminal, penjelasan kepala desa kepada warga desa.

Percaya akan kebenaran dari pendapat suatu otoritas, tidak selalu berarti salah, dalam hal-hal tertentu otoritas bisa dijadikan dasar dari suatu kebenaran. Namun, perlu diperhatikan adanya kemungkinan terjadinya kesalahan bilamana pendapat itu diterima secara mutlak (Surakhmad, 1982). Demikian halnya bilamana pemegang otorita tersebut membuat pernyataan yang berada di luar bidang yang menjadi lingkup otoritasnya, maka pernyataan itu tidak memberikan kebenaran. Misalnya Rektor Unibraw yang menyampaikan pernyataan tentang karakteristik mahasiswa Universitas Negeri Malang. Walaupun disampaikan oleh Rektor, tetapi pernyataan ini memiliki derajat kebenaran sangat rendah.


3. Melalui Trial and Error

 Mencari pengetahuan dengan cara trial and erorr adalah upaya mencari kebenaran yang dilakukan dengan mencoba-coba dan terus dicoba walau kadang mendapatkan kesalahan, terus dilakukan uji coba hingga ditemukan suatu kebenaran atau pengetahuan baru.

 Cara ini hampir sama dengan mencari kebenaran secara kebetulan, perbedaannya cara ini dilakukan dengan cara tidak pasif (aktif), secara sengaja melakukan uji coba (trial), mengalami kegagalan (error), diperbaiki dan dilakukan uji coba lagi, demikian seterusnya hingga berkali-kali untuk mendapatkan kebenaran.


4. Pengalaman Pribadi

Manusia hidup penuh dengan masalah, manusia sering mencoba mengingat kembali pengalaman yang sudah lalu atau mencari pengalaman baru yang akan dapat membantu manusia memecahkan masalah. Pengalaman disini tidak selalu dialami oleh manusia yang bersangkutan, bisa jadi pengalaman yang diperoleh dari orang lain yang sudah pernah merasakan atau lebih tua.

Cara ini banyak dilakukan orang karena sangat praktis. Akan tetapi penggunaan pengalaman pribadi tanpa pengkajian secara kritis dan sistematis, dapat menimbulkan kesimpulan-kesimpulan yang keliru dan menyesatkan diri sendiri dan orang lain, terutama jika yang bersangkutan berpegang teguh secara kaku pada pengalaman sendiri tersebut dan tidak mau tahu dengan pendapat dan pengalaman orang lain.


5.
Penalaran

 Karakteristik yang membedakan manusia sebagai makhluk hidup dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Berpikir inilah yang menyebabkan kehidupan manusia berkembang dan dinamis dari masa ke masa, berproses menuju kesempurnaan hidup.

 Berpikir yang logis dan sistematis (penalaran) dalam mengambil suatu kesimpulan terhadap seperangkat fenomena (peristiwa) dapat menemukan suatu kebenaran. Pada umumnya pembuktian kebenaran melalui penalaran dilakukan melalui dua pola, yaitu deduktif dan induktif.

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah pola berpikir logis dan sistematis dalam mengambil kesimpulan yang dilakukan dengan cara berdasarkan pada hal-hal (premis) yang bersifat umum. Pola pikir deduktif dikembangkan oleh Aristoteles. Agar dapat memperoleh pengetahuan yang dapat diandalkan dan benar, Aristoteles mengembangkan suatu cara beragumentasi yang disebut syllogisme atau cara berfikir deduktif yang dapat dipakai untuk mengetes validitas kesimpulan yang dihasilkan (Hasan, 1994). Silogisme terdiri dari tiga argumentasi: premis mayor, premis minor dan kesimpulan. Berikut ini beberapa contoh dan jenis silogisme.

Silogisme kategorika:

Premis mayor : Semua makluk hidup akan mati

Premis minor : Manusia adalah makluk hidup

Kesimpulan  : Semua manusia akan mati

Silogisme hipotetikal

Premis mayor : Jika gedung sekolah terbakar, maka para siswa dalam bahaya

Premis minor : Gedung sekolah di desa “Y” terbakar

Kesimpulan : Siswa sekolah di desa “Y” dalam bahaya.

Silogisme alternatif

Premis mayor: dalam menempuh ujian masuk perguruan tinggi, hanya ada dua kemungkinan lulus atau tidak

Premis minor : si Badu tidak lulus dalam menempuh ujian masuk perguruan tinggi

Kesimpulan : Jadi si Badu ditolak dari perguruan tinggi yang ingin di masukinya.

Silogisme disjungtif:

Premis mayor : Jika hujan, maka tidak baik untuk belajar di luar kelas

Premis minor : Hari ini adalah hujan

Kesimpulan : Jadi hari ini bukanlah hari baik untuk belajar di luar kelas

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali ditemukan kasus manusia dengan berbagai macam profesi mempergunakan cara penalaran deduktif untuk memecahkan masalah. Para ahli hukum, dokter, tentara dan detektif sering mengandalkan cara penalaran deduktif dalam kegiatan mereka sehari-hari. Penalaran deduktif memungkinkan seorang pengacara, misalnya, untuk mengorganisasi premis-premis menjadi pola-pola pembuktian yang valid atas kesimpulan tertentu. Para peneliti juga mempergunakan penalaran deduktif dalam melaksanakan penelitian mereka pada permasalahan-permasalahan tertentu.

Penalaran deduktif tidak tepat untuk membuat penyimpulan atas perilaku manusia dalam suatu kelompok. Karena perilaku itu sifatnya personal, bukan klasikal, walaupun kadang ditemukan adanya beberapa individu yang memiliki perilaku sama pada suatu kelompok, tetapi tetap tidak bisa digeneralisasikan. Misalnya; ditemukan beberapa orang menjadi pencuri yang berasal dari desa “Y”, tidak bisa dikatakan bahwa semua penduduk desa “Y” adalah pencuri.

Penalaran Induktif  

Kesimpulan yang dicapai dengan penalaran deduktif hanya benar apabila diperoleh dari premis-premis yang benar pula. Oleh karena itu perlu adanya cara untuk menguji benar-tidaknya premis-premis tersebut. Cara itu dikenal dengan istilah penalaran induktif. Penalaran induktif adalah penarikan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis, fakta, fenomena yang memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang sama dan konsisten.

Dalam penalaran induktif, pencarian kebenaran dimulai dengan melakukan observasi terhadap hal-hal khusus (fakta atau fenomena yang ada di lapangan, realita, kongkrit). Dari kajian atas fakta yang kongkrit ini dirumuskan kesimpulan umum tentang keseluruhan kelas yang mengandung hal-hal khusus tersebut. Kesimpulan yang merupakan kaitan logis antara fenomena, antar fakta yang realistis. Kesimpulan umum yang diperoleh melalui penalaran induktif ini dapat dipakai sebagai premis mayor dalam penalaran deduktif. Penalaran induktif dan deduktif yang di komplementasikan merupakan alat yang valid untuk memperoleh kebenaran. Sintesa antara penalaran deduktif dan observasi induktif menghasi1kan apa yang disebut metode penelitian ilmiah.


6. Penelitian Ilmiah

Penelitian ilimiah dilakukan untuk mejelaskan sifat-sifat dari suatu fenomena dalam bentuk deskripsi yang utuh tentang hubungan pengertian yang satu dengan yang lain, fenomena yang satu dengan yang lain, hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain, bahkan juga penjelasan yang utuh tentang suatu fenomena secara terencana, sistematis dan terkendali.

Mencari pengetahuan atau kebenaran yang dilakukan dengan menggunakan metode penelitian ilmiah, penalaran induktif digantikan oleh pengumpulan data yang disiapkan dan dianalisis dengan seksama, sedang premis-premis deduktif digantikan oleh probabi1itas-probabi1itas, bukan kebenaran abstrak yang diasumsikan. Peneliti dalam menerapkan metode penelitian ilmiah, harus berfikir ulang-alik antara deduksi-induksi. Cara berfikir demikian disebut berfikir reflektif.

Dalam proses berfikir reflektif, penalaran induktif memberi landasan bagi perumusan hipotesis, sedang penalaran deduktif mencarikan konsekuensi logis dari hipotesis. Tujuannya agar dapat menjelaskan fakta secara konsisten. Dalam penelitian ilmiah, peneliti terus menerus berpindah-pindah dari pengumpulan data ke pembuatan generalisasi untuk menerangkan fakta, kemudian ke pemikiran deduktif tentang konsekuensi hipotesis, dan akhirnya ke pencarian fakta lagi untuk menguji hipotesis. Dengan cara demikian, peneliti dapat sampai kepada pengetahuan yang dapat diandalkan kebenarannya.


Pengetahuan, Kebenaran, dan Perpustakaan

Manusia sepanjang peradaban hidupnya berusaha mengumpulkan pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu yang ada di dunia agar dapat menyusun penjelasan kasar tentang berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan hidupnya, dan agar dapat memberi petunjuk bagaimana menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan terkait dengan fenomena tersebut, seperti banjir, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit dan kekuatan-kekuatan alam lainnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan penalaran manusia menyebabkan berkembangnya berbagai metode penelitian yang lebih canggih, yang akan dipergunakan manusia untuk mencari pengetahuan yang memiliki derajat kebenaran yang tinggi dalam upaya mendeskripsikan dan memahami fenomena yang ada di lingkungan hidupnya, menyingkap aturan dan keteraturan fenomena, serta belajar bagaimana mengendali kekuatan-kekuatan alam untuk kepentingan hidup manusia.

Para ilmuwan melakukan penelitian dengan tujuan meningkatkan kemampuan dan keberhasilan mereka dalam mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan kondisi-kondisi dan peristiwa-peristiwa atau fenomena yang menjadi pusat perhatiannya.

Mendiskripsikan fenomena adalah memperoleh pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk mendiskripsikan sesuatu. Deskripsi sesuatu meliputi penamaan, klasifikasi dan uraian tentang sifat-sifat, perilaku  dan sebagainya dari sesuatu obyek. Menjelaskan adalah mendeskripsikan hubungan antar fenomena terutama hubungan kausal atau sebab akibat terjadinya suatu fenomena. Sedangkan meramalkan adalah menjelaskan hubungan kausal dalam rangka pembuatan generalisasi guna mengetes teori yang telah ada atau untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan peristiwa-peristiwa alam. Oleh karena itu penelitian ilmiah mempunyai tujuan menggunakan generalisasi dan teori yang telah dikembangkan untuk meramalkan apa yang mungkin terjadi atas sesuatu yang dipermasalahkan (Hasan, 1994).

Penelitian ilmiah adalah alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Penelitian adalah sarana untuk mencari kebenaran, walaupun sifatnya tidak kekal. Karena kebenaran yang ditemukan dalam penelitian ilmiah didasarkan bukti-bukti dalam bentuk fakta, fenomena, dan data-data yang ada pada saat itu.

Para ilmuwan membedakan antara pengetahuan normatif dan pengetahuan empirik. Pengetahuan normatif dikembangkan dengan mengandalkan penalaran. Dalam pengetahuan normatif, sesuatu kesimpulan (generalisasi) dianggap benar apabila secara nalar (logika) memang benar, terlepas ada data yang mendukungnya atau tidak. Karena diperoleh dari perenungan abstrak, seringkali pengetahuan normatif merupakan prinsip-prinsip yang abstrak dan terpisah jauh dari fenomena kenyataan sehari hari.

Pengetahuan empirik dikembangkan dengan mengandalkan penalaran induktif dimana kesimpulan-kesimpulan ditarik berdasarkan fakta/data yang berasal dari lapangan, fenomena yang dapat diobservasi dalam dunia nyata. Kesimpulan dari penalaran induktif dapat berbeda atau bertentangan satu dengan lainnya untuk hal yang sama. Tidak jarang kesimpulan yang diperoleh tidak logis. Misalnya fenomena banjir yang terjadi di suatu wilayah penyebabnya tidak selalu berasal dari hujan yang turun dengan lebat dan dalam waktu lama yang terjadi di daerah tersebut, bisa jadi banjir disebabkan oleh meluapnya air selokan yang tertutup sampah, dan sebagainya.

Kelemahan penalaran deduktif dan induktif dapat dikurangi dengan menggabungkan kedua penalaran tersebut ke dalam penalaran reflektif.

 Selain melalui penelitian dan penalaran, manusia juga dapat memperoleh kebenaran dengan membaca. Perpustakaan merupakan tempat dimana manusia dapat membaca berbagai pernyataan, penjelasan dan prediksi atau ramalan tentang suatu fenomena serta hubungan antar fenomena yang disampaikan oleh banyak ahli.

 Kebenaran suatu fakta dapat ditemukan secara mudah dari berbagai macam sumber yang dapat dibaca di perpustakaan. Keberagaman sumber menjadikan penjelasan suatu fakta diulas secara utuh dari berbagai macam sisi dan perspektif. Hal ini menjadikan manusia akan memperoleh kebenaran dalam derajat yang lebih signifikan, bahkan manusia dapat melakukan konstruksi dari berbagai sajian penjelasan suatu fakta tersebut sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Dengan demikian, kebenaran yang ditemukan menjadi lebih bermakna dan lebih bisa mensejahterahkan kehidupan manusia. Hal tersebut tidak bisa ditemukan kalau kita mencari kebenaran dengan cara yang lain. Bahkan mencari kebenaran melalui penalaran dan penelitian ilmiah, bila tidak diiringi dengan melakukan kajianfakta dari beragam sumber pustaka, maka hasilnya menjadi diragukan kebenarannya.

 Kebenaran suatu konsep dapat ditemukan secara mudah dari berbagai macam sumber yang dapat dibaca di perpustakaan. Keberagaman sumber menjadikan penjelasan suatu konsep diulas secara utuh dari berbagai macam sisi dan perspektif serta beragam. Apalagi konsep-konsep dalam ilmu sosial, yang cenderng tidak tunggal dan tidak selalu sama antar ahli atau penulis.

Melakukan kajian pustakan menjadikan manusia akan memperoleh kebenaran dalam derajat yang lebih signifikan, bahkan manusia dapat melakukan konstruksi dari berbagai sajian penjelasan suatu konsep tersebut dengan memberi penjelasan sendiri suatu konsep sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Dengan demikian, kebenaran suatu konsep yang ditemukan menjadi lebih bermakna dan lebih bisa mensejahterahkan kehidupan, serta tidak menyesatkan manusia yang lain. Hal tersebut tidak bisa ditemukan kalau kita mencari kebenaran dengan cara yang lain. Bahkan mencari kebenaran melalui penalaran dan penelitian ilmiah, bila tidak diiringi dengan melakukan kajian konsep dari beragam sumber pustaka, maka hasilnya diragukan kebenarannya. Karena bisa jadi, konsep yang dijadikan acuan salah.

 Generalisasi dapat dengan mudah ditemukan di perpustakaan. Demikian halnya dengan kebenaran dan ketidakbenaran suatu generalisasi dapat ditemukan secara mudah dari berbagai macam sumber yang dapat dibaca di perpustakaan. Keberagaman sumber menjadikan penjelasan suatu genaralisasi diulas secara utuh dari berbagai macam sisi dan perspektif, waktu, tempat, serta obyek/subyek yang berbeda. Hal ini menjadikan manusia akan memperoleh kebenaran dalam derajat yang lebih signifikan, bahkan manusia dapat melakukan konstruksi dari berbagai sajian penjelasan suatu generalisasi tersebut sesuai dengan kemampuan berpikirnya, artinya membuat generalisasi baru. Dengan demikian, kebenaran yang ditemukan menjadi lebih bermakna dan lebih bisa mensejahterahkan kehidupan manusia, serta memiliki peluang tidak menyesatkan. Hal tersebut tidak bisa ditemukan kalau kita mencari kebenaran dengan cara yang lain. Bahkan mencari kebenaran melalui penalaran dan penelitian ilmiah, bila tidak diiringi dengan melakukan kajian generalisasi dari beragam sumber pustaka, maka hasilnya menjadi tidak ada gunanya bahkan diragukan kebenarannya.

 Perpustakaan menyajikan berbagai macam teori, baik itu yang sejalan maupun yang bertentangan. Keberagaman dan kebenaran suatu teori dapat ditemukan dengan mudah di perpustakaan. Demikian halnya dengan kebenaran dan ketidakbenaran suatu teori dapat ditemukan dari berbagai macam sumber pustaka yang dapat dibaca di perpustakaan. Keberagaman dan kemutakhiran sumber menjadikan penjelasan suatu teori diulas secara utuh dari berbagai macam sisi dan perspektif, waktu, tempat, serta obyek/subyek yang berbeda. Hal ini menjadikan manusia akan memperoleh kebenaran dalam derajat yang lebih signifikan, bahkan manusia dapat melakukan konstruksi dari berbagai sajian penjelasan suatu teori tersebut sesuai dengan kemampuan berpikirnya, artinya membuat ssuatu teori baru yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan kegiatan penelitian untuk membuktikan kebenaran teori yang dibuatnya. Dengan demikian, kebenaran yang ditemukan menjadi lebih bermakna dan lebih bisa mensejahterahkan bagi kehidupan manusia, serta memiliki peluang tidak menyesatkan. Hal tersebut tidak bisa ditemukan kalau kita mencari kebenaran dengan cara yang lain. Bahkan mencari kebenaran melalui penalaran dan penelitian ilmiah, bila tidak diiringi dengan melakukan kajian teori dari beragam sumber pustaka, maka hasilnya diragukan kebenarannya.


Simpulan

 Sepanjang kehidupan manusia selalu berupaya menemukan kebenaran yang dilakukan dengan berbagai macam cara. Upaya menemukan kebenaran ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, memecahkan berbagai permasalahan kehidupan manusia serta memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara cukup dan memadai.

 Keterbatasan kemampuan manusia, daya pikir dan nafsu yang dimiliki manusia menjadikan kebenaran yang disampaikan manusia bersifat semu dan dinamis, kadang juga dilakukan dengan cara paksaan baik secara halus maupun kasar. Kondisi ini menjadikan suatu kebenaran sering menjadi tidak mensejahterahkan, bahkan malah menyengsarakan dan menyesatkan kehidupan manusia.

 Perpustakaan merupakan tempat dimana manusia bisa melakukan kajian untuk memperoleh kebenaran akan fakta, konsep, generalisasi, dan teori yang beragam dari berbagai macam sumber yang beragam, sehingga manusia tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga bisa menjelaskan hubungan antar fenomena tersebut serta membuat prediksi. Bahkan manusia juga bisa mengkonstruksi makna, penjelasan, dan hubungan antar fenomena tersebut.

 Melakukan kajian akan fakta, konsep, generalisasi, dan teori di perpustakaan menjadikan manusia akan mendapatkan kebenaran dalam derajat signifikan yang tinggi, dan menjadikan kehidupan manusia lebih sejahtera baik diri maupun manusia yang lainnya. Serta terhindar dari perilaku pemaksaan kehendak dengan membuat pernyataan bahwa apa yang disampaikan itu adalah suatu kebenaran, sedangkan yang disampaikan orang lain salah, tanpa memperhatikan data, bukti, dan sumber yang bisa dipercaya.


SUMBER PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.1984. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jogjakarta. Penerbit Bina Aksara.

Chadwick, Bruce A dkk. 1991. Metodologi Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial. Diterjemahkan oleh Sulistia dkk. Semarang: Penerbit IKIP Semarang Press.

Hasan, M Zaini. 1994. Hakekat dan Peranan Penelitian. Makalah Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar Angkatan XIX tahun 1994/1995. Malang. Lembaga Penelitian IKIP Malang.

Kartono, Kartini. 1986. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Alumni.

Nasoetion, Andi Hakim. 1992. Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah bagi Remaja. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sumadi, Suryabrata. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: Penerbit C.V. Rajawali.

Surakhmad, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah, dasar, metoda dan teknik. Bandung: Penerbit Tarsito.

 


 File download: icon Menemukan kebenaran melalui perpustakaan - N. Rochmadi.pdf (79.08 KB)


 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno