PERPUSTAKAAN DIGITAL

Universitas Negeri Malang (UM) -- The Learning University
Home Artikel Umum Minat dan Kebiasaan membaca Masyarakat Jawa Timur
Terdapat 29 Tamu online
Minat dan Kebiasaan membaca Masyarakat Jawa Timur
(Read : 8861 times )
Oleh darmono   
 

           Desain penelitian adalah deskriptif korelasional. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif distribusi frequensi. Analisis statistik yang digunakan diantaranya analisis varian satu jalan (Anava oneway), untuk menentukan ada tidaknya perbedaan minat baca berdasarkan perbedaan gender, usia, pekerjaan, pendidikan dan rata-rata penghasilan. Sedangkan analisis korelasi dan regresi linier berganda dengan metode stepwise, untuk menguji ada tidaknya hubungan sekaligus besarnya pengaruh variabel bebas dan terikat dan analisis jalur (stripe analysis) untuk menguji hubungan kausal antar variabel melalui aspek konseptual minat baca yang dikembangkan peneliti.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat minat baca masyarakat Jawa Timur berada pada jenjang sedang, (2) perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perbedaan minat dan kebiasaan membaca. Jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan penghasilan berpengaruh secara signifikan terhadap minat dan kebiasaan membaca, (3) jenis kelamin atau perbedaan jender tidak berkorelasi dengan minat dan kebiasaan membaca. Usia, pekerjaan, tingkat pendidikan dan rata-rata penghasilan mempunyai hubungan dengan minat dan kebiasaan membaca, (4) aspek jenis kelamin tidak mempunyai sumbangan efektif terhadap minat baca. Sementara usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan rata-rata penghasilan mempunyai sumbangan efektif terhadap minat baca masyarakat.

 

Abstract

The purpose of this reseach are (1) to get description of how reading interest and habit of East Java society (2) to know the difference of reading interest and habit of the society based on sex, age, type of work and level of education and income (3) to know the relation exist between reading interest and habit based on sex, age, type of work and level of education and income (4) to know the effect exist between reading interest and habit based on sex, age, type of work and level of education and income.

 

The reseach design is descriptive and correlational. The data obtained of this research use questioner. The data are analysed statistically using frequency distribution. While Anava oneway is used to determined whether there is difference or not reading motivation and habit based on sex, age, type of work and level of education and income. Correlational analysis and double linier regression by stepwise method is used to measure whether there is relation or not exist and the quality of effect between dependent and independent variable. Stripe analysis is to know cause and effect relation between variables through conceptual study.

 

Research result shows that (1) interest reading level of East Java society is on the medium stage (2) difference sex does not have effect significantly toward reading interest and habit, while age, education income level and work type have significantly effect on reading interest and habit (3) sex or gender does not have correlation with reading interest and habit while age, education income level and work type have significantly effect on reading interest and habit (4) sex or gender aspect does not have effective contribution on reading interest and habit, while age, education income level and work type have significantly contribution on reading interest and habit . 

 1. Konteks Permasalahan Penelitian

 

Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu indikator kualitas bangsa. Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu baru 88 persen, tetapi belum merata atau terjadi perbedaan untuk tiap daerah, seperti di Jawa Timur angka melek huruf sebesar 92%. Di negara maju seperti Jepang angka tersebut sudah mencapai 99 persen. Sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasan membaca secara memadai sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf tersebut.

 

United Nations Development Programme (UNDP) telah menjadikan angka melek huruf sebagai salah satu indikator untuk mengukur kualitas suatu bangsa. Indikator tersebut didasarkan pada tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI) melalui tingi rendahnya melek huruf masyarakat. Sedangkan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa. Dalam publikasi UNDP yang terakhir, "Human Development Report 2003" (2003), Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Berdasarkan publikasi UNDP maka kualitas bangsa Indonesia masih belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei. Belum maksimalnya kualitas bangsa ini antara lain disebabkan belum maksimalnya angka melek huruf kita. Sementara untuk HDI Jawa Timur berada pada urutan 24 dari 33 propinsi di Indonesia (KOMPAS, 6 Nopember 2004). Ini menyiratkan meskipun Jawa Timur merupakan propinsi yang cukup besar dalam kenyataannya indeks HDI masih berada dibawah propinsi-propinsi lain yang relatif lebih kecil. Artinya bahwa tingkat ketermanfaatan pembangunan masih belum menyentuh semua lapisan masyarakat dengan indikator sebagaimana yang dikemukakan dalam HDI.

 

Sementara itu suatu hasil studi menyatakan bahwa lebih dari 90% kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan yang dicapai negara-negara maju salah satunya disebabkan oleh sinergi kegiatan belajar formal anak didik di kelas dan ketekunan mereka dalam membaca yang digalakkan di luar kelas. Oleh sebab itu pengembangan minat dan kebiasaan membaca perlu dikondisikan dalam kehidupan masyarakat, jika kita menginginkan masyarakat kita menjadi lebih maju.

 

Perlu diakui bahwa mayoritas masyarakat Indonesia termasuk anak-anak usia sekolah belum melakukan kegiatan membaca secara intens sebagai suatu kebutuhan hidup. Bahkan di lingkungan sekolah kegiatan membaca yang sudah masuk ke dalam kurikulum, minat membaca siswa pun belum menggembirakan. Berkaitan dengan hal ini, tingkat keterbacaan masyarakat Indonesia masih rendah. Menurut penelitian lembaga dunia terhadap daya baca di 41 negara, Indonesia berada di peringkat ke-39. Saat ini masyarakat Indonesia belum menganggap membaca buku sebagai kebutuhan primer (Kompas, 17 Mei 2004).

 

Hasil survai yang dilakukan oleh International Association for the Evaluation of Education Achievment (IAEEA) tahun 1994, tentang kemampuan membaca siswa SD dari 27 negara, Indonesia menduduki peringkat ke 26. Peringkat tersebut jauh di bawah Hongkong, Singapura, Thailand, dan Filipina (Kompas, Mei 1997). Beberapa faktor penyebab lemahnya minat dan kegemaran membaca anak didik antara lain disebabkan kurang adanya penggalakan dan penciptaan kondisi yang mampu mendukung tumbuhnya minat baca melalui program sekolah yang terintegrasi dengan pelajaran, penyediaan bahan bacaan melalui perpustakaan sekolah yang kurang menunjang, dan dorongan orang tua yang juga lemah.

 

 Artana (2004) mengemukakan bahwa masyarakat kita belum memiliki budaya membaca (kebiasaan membaca). Ada lima kendala yang dihadapi masyarakat kita dalam mengembangan kebiasaan membaca, yaitu (a) masih kuatnya budaya tutur yang tertanam dalam kehidupan masyarakat, (b) pesatnya perkembangan media elektronik dan masih terbatasnya bahan bacaan dalam bentuk tercetak, (c) masih terbatasnya kemampuan industri penyedia informasi, (d) sistem pendidikan yang belum menempatkan kegiatan membaca sebagai konsep pendidikan, dan (e) kondisi ekonomi masyarakat yang masih rendah.

 

Selain itu penelitian minat baca khususnya di lingkungan siswa telah dilakukan oleh beberapa peneliti, misalnya penelitian minat baca murid SD yang dilakukan di Jakarta (Sarumpet, 1976; Yatiman, 1981) yang memusatkan perhatian pada (1) bahan bacaan yang sesuai untuk murid SD, (2) ciri pembeda antara bahan bacaan SD dan orang dewasa, (3) nilai-nilai sosial budaya dalam bahan-bahan bacaan murid SD (Sularto, 1982) merupakan salah satu perwujudan dari maksud tersebut.

 

 Sementara itu belum banyak penelitian minat baca yang dilakukan dengan responden masyarakat secara umum. Apalagi dengan responden yang heterogen, meliputi berbagai indikator seperti latar belakang tingkat ekonomi, jender, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan aspek sosiologis serta aspek psikologis responden.

 

2. Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Hambatan dalam Pencapaian Tujuan

 

2.1 Rumusan Masalah

 

a. Bagaimanakah minat dan kebiasaan membaca masyarakat di Jawa Timur.

 

b. Apakah ada perbedaan minat dan kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan jenis kelamin pembaca, tingkat usia, jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan tingkat penghasilan mereka.

 

c. Apakah ada hubungan antara minat dan kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan jenis kelamin pembaca, tingkat usia, jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan tingkat penghasilan mereka.

d. Apakah ada pengaruh antara minat dan kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan jenis kelamin pembaca, tingkat usia, jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan tingkat penghasilan mereka.

 

 2.2 Tujuan Penelitian

 

a. Untuk memperoleh gambaran bagaimanakah minat dan kebiasaan membaca masyarakat di Jawa Timur.

 

b. Untuk mengetahuai perbedaan minat dan kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan jenis kelamin pembaca, tingkat usia, jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan tingkat penghasilan mereka.

 

c. Untuk memperoleh gambaran hubungan antara minat dan kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan jenis kelamin pembaca, tingkat usia, jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan tingkat penghasilan mereka.

 

d. Untuk memperoleh gambaran pengaruh antara minat dan kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan jenis kelamin pembaca, tingkat usia, jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, dan tingkat penghasilan mereka.

 

3. Rancangan Penelitian

 

Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-korelasional, yaitu di samping berusaha untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang ada, juga dimaksudkan untuk memprediksi keeratan hubungan dan kontribusi variabel-variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel kriterion (variabel terikat).

 

3.1 Sifat Penelitian

 

Penelitian minat membaca ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif untuk mengetahui kondisi minat baca masyarakat dengan latar belakang masyarakat yang sangat heterogen. Penelitian ini juga dimaksudkan sebagai penelitian kebijakan karena hasil penelitian dapat dipakai untuk membantu pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan perpustakaan dan minat membaca masyarakat di Jawa Timur.

 
3.2 Variabel Penelitian

 

Ditinjau dari pola hubungan antarvariabel, penelitian ini berusaha menemukan hubungan antara variabel prediktor dan satu variabel kriterion. Atau dengan perkataan lain, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keeratan hubungan dan pengaruh variabel yang satu terhadap variabel yang lain. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan istilah variabel bebas (independent variable) atau prediktor dan variabel terikat (dependent variable) atau kriterion.

 

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan, dan rata-rata penghasilan, sedangkan variabel terikatnya adalah minat dan kebiasaan membaca. Atau dengan kata lain jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan, dan rata-rata penghasilan baik secara sendiri maupun bersama-sama merupakan prediktor bagi kriterion minat baca.

 

3.3 Pengumpulan Data Penelitian

 Sebagaimana uraian dalam variabel penelitian di atas, dengan demikian dalam penelitian ini dihasilkan enam macam data, yaitu jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan terakhir, rata-rata penghasilan, dan minat baca.

 

3.4 Teknik Analisis Data

 Data yang telah terkumpul dari hasil pengukuran dengan angket itu kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif, distribusi frekuensi, analisis varian satu jalan (ANAVA oneway), analisis korelasi dan regresi linier ganda, dilanjutkan dengan analisis jalur.

 

a. Statistik deskriptif diperlukan untuk memperoleh distribusi frekuensi beserta persentase kumulatif tiap-tiap variabel penelitian.

 

b. Teknik analisis varian satu jalan diperlukan untuk menentukan ada tidaknya perbedaan minat baca ditinjau dari perbedaan gender, usia, pekerjaan, pendidikan, dan rata-rata penghasilan.

 

c. Analisis korelasi dan regresi linier ganda dengan metode stepwise digunakan untuk mengungkap ada-tidaknya hubungan sekaligus besar pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabe terikat.

 

d. Analisis jalur merupakan kelanjutan dari analisis regresi linier ganda digunakan untuk menguji hubungan kausal antarvariabel melalui kajian konseptual yang telah dirumuskan dan sekaligus menjelaskan sumbangan efektif masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat.

 

Secara teknis semua proses analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS for Windows Release 12.00.

 

 4. Temuan Penelitian

 

 Temuan Penelitian

 

a. Jika dilihat dari tingkat minat baca masyarakat ternyata tingkat minat baca masyarakat berada pada jenjang sedang (44%) dari lima rentangan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Untuk kategori sangat rendah sebesar 1,5% dan rendah sebesar 20,8%. Sementara itu untuk kategori tinggi sebesar 29,8% dan kategori sangat tinggi sebesar 4,0%.

 

b. Berkaitan dengan pemanfaatan waktu luang, dalam penelitian ini ditemukan, bahwa sebagian masyarakat dapat dianggap telah mempunyai kesadaran menyisihkan sebagian waktunya untuk kegiatan membaca walaupun waktu yang mereka sisihkan kurang dari 2 jam. Mayoritas masyarakat ternyata dalam pemanfaatan waktu luang mereka banyak dimanfaatkan untuk menonton televisi, mendengarkan radio, dan mengobrol dengan teman.

 

c. Sementara dalam memenuhi kebutuhan informasi, baik untuk menunjang aktivitas utama maupun aktivitas yang bersifat skunder, secara umum masyarakat menggunakan sumber bahan bacaan dan sumber orang. Digunakannya dua sumber tersebut menunjukkan menunjukkan bahwa tingkat kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi dari sumber bacaan relatif kurang. Disisi lain secara teoritis, kebanyakan masyarakat masih menggunakan sumber orang menandakan masih kuatnya budaya tutur atau mendengar dalam masyarakat.

 

d. Dalam memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan, masyarakat sangat membutuhkan layanan dari institusi pengelola informasi. Kebutuhan informasi tersebut tidak hanya untuk beberapa kegiatan, tetapi juga pada semua aktivitas yang dilakukan.

 

e. Tentang kedatangan ke perpustakaan sebagian besar masyarakat tidak datang ke perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukannya. Secara umum masyarakat masih menggantungkan perolehan informasi melalui media elektronik seperti radio dan TV, serta dari sumber orang disekitarnya. Sedangkan untuk sumber bacaan diperoleh dari publikasi seperti koran dan majalah. Kecil sekali masyarakat yang menggunakan buku untuk informasi yang dibutuhkan.

 

f. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perbedaaan jenis kelamin (gender) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perbedaan dan kebiasaan minat membaca, Sementara itu tingkat usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan berpengaruh secara signifikan terhadap minat dan kebiasaan membaca.

 

g. Jenis kelamin atau perbedaan jender berkorelasi negatif dengan tingkat minat baca dan kebiasaan membaca. Sementara itu usia, pekerjaan, tingkat pendidikan dan rata-rata penghasilan berkorelasi positif dengan minat dan kebiasaan membaca. Artinya bahwa kecenderungan minat baca akan meningkat sejalan dengan meningkatnya pekerjaan, pendidikan dan penghasilan masyarakat.

 

h. Jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan rata-rata penghasilan masyarakat mempunyai sumbangan efektif terhadap minat dan kemampuan baca masyarakat. Dari ketiga faktor tersebut faktor perhasilan keluarga mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap minat dan kebiasaan membaca, selanjutnya baru tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.

 

i. Berdasarkan pendapat masyarakat tentang cara peningkatan minat dan kebiasaan membaca adalah sebagai berikut. Pertama, adalah pendirian perpustakaan yang dekat dengan masyarakat sampai pada tingkat desa; kedua, penyediaan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat melek huruf (literate rate) masyarakat; ketiga perlunya mengupayakan perpustakaan keliling untuk lebih proaktif memberikan layanan dengan jadwal yang pasti di tempat-tempat yang strategis yang merupakan daerah-daerah yang lingkungan masyarakatnya potensial untuk dikembangkan; keempat, perlu adanya penyuluhan secara kontinyu dengan berbagai bentuk; kelima, perlunya perpustakaan menerapkan berbagai inovasi seperti penerapan teknologi informasi ataupun inovasi-inovasi lain yang dapat membantu meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat; dan keenam, perlu ada kemasan buku yang mudah dipahami oleh masyarakat terutama masyarakat dari kalangan yang berpendidikan rendah.

 

4.2 Kendala dalam Pengembanagn Minat Baca

 

a. Terhadap pembinaan minat baca yang selama ini dilakukan oleh pemerintah, masyarakat berpendapat bahwa kendala yang masih dihadapi adalah terbatasnya jumlah koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan fungsi perpustakaan sebagai sarana pemenuhan peningkatan minat baca.

 

b. Perpustakaan keliling kehadirannya belum mampu menjangkau seluruh daerah yang membutuhkan layanan dan dirasakan oleh masyarakat bahwa intensitas kehadirannya juga masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu jangkauan layanan dan rutinitas kunjungan perpustakaan keliling ke lokasi-lokasi yang membutuhkan perlu ditingkatkan dan diefektifkan.

 

c. Sampai saat ini kegiatan penyuluhan minat baca kepada masyarakat dirasakan masih dianggap kurang. Penyuluhan dapat dilakukan oleh perpustakaan atau dari Dinas Diknas melalui kegiatan pendidikan masyarakat.

 

d. Terobosan inovasi baik dalam metodologi maupun teknologi informasi yang digunakan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca belum banyak dimanfaatkan. Perpustakaan masih dianggap kurang memenuhi selera masyarakat karena dianggap kurang menarik baik dari sisi koleksi maupun penampilan fisik perpustakaan itu sendiri. Untuk itu perpustakaan perlu melakukan berbagai inovasi yang mungkin bisa diterapkan agar keberadaan perpustakaan menarik bagi masyarakat.

 

e. Promosi perpustakaan belum sepenuhnya dilaksanakan secara optimal, sehingga masyarakat kurang tertarik datang ke perpustakaan. Adapun bentuk promosi yang diharapkan masyarakat adalah perbaikan sarana dan prasarana yang menarik, iklan layanan masyarakat, lomba dan kontes minat baca

 

4.3 Implikasi Hasil Penelitian

 

a. <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Temuan penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan tentang minat baca antara laki-laki dan perempuan dapat dipakai sebagai pegangan penentu kebijakan untuk memutuskan pengembangan perpustakaan, khususnya untuk pengembangan koleksi dan pendistribusian bahan bacaan ke masyarakat. Dengan mengetahui hal tersebut pengembangan koleksi perpustakaan relatif tidak perlu mempertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah gender secara kaku, sebab kebiasaan membaca antara laki-laki dan perempuan tidaklah berbeda. Demikian juga dalam strategi pembinaan minat dan kebiasaan membaca dapat mempertimbangkan temuan penelitian ini. Pembinaan minat baca dapat dilakukan pada komunitas-komunitas laki-laki dan perempuan dengan strategi pembinaan yang mungkin tidak jauh berbeda. 

 

b. Dengan melihat temuan penelitian ini khsususnya tentang kebiasaan masyarakat yang ternyata sebagian besar waktunya digunakan untuk mengobrol, mendengarkan radio dan menonton TV, akan mengakibatkan berbagai implikasi yang perlu diperhitungkan dalam pembinaan minat baca masyarakat. Demikian juga tentang tingkat kedatangan masyarakat ke perpustakaan relatif masih rendah, dan tingkat kebiasaan membaca masyarakat masih berada pada jenjang yang sedang. Kenyataan tersebut merupakan kondisi riil minat baca masyarakat. Dengan melihat kenyataan tersebut, untuk ke depan sebenarnya pembinaan minat baca masih membutuhkan penanganan yang lebih serius dengan strategi yang tepat, mengingat tantangan dari dunia hiburan khususnya media elektronik (TV) cukup kuat dan sangat agresif. Tantangan ke depan yang kita hadapi adalah bagaimana kecenderungan masyarakat yang terbiasa dengan budaya mendengar dan menonton beralih ke kebiasaan membaca. Untuk itu, masih diperlukan berbagai langkah aksi dari pemerintah melalui berbagai program pembinaan minat membaca yang lebih operasional, dapat menyentuh semua lapisan masyarakat. Berbagai saran masyarakat tentang langkah-langkah pembinaan minat dan kebiasaan membaca perlu diperhatikan dan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah dalam melakukan pembinaan dan pengembangan minat baca masyarakat. 

 

c. Berbagai jalur pembinaan minat baca dapat dimanfaatkan, baik dalam bentuk pendirian perpustakaan baru, pendistribusian dan sumbangan bahan bacaan ke perpustakaan-perpustakaan, pengadaan perpustakaan keliling yang mampu menjangkau konsentrasi pemukiman masyarakat dan tidak hanya datang di sekolah-sekolah untuk melayani siswa, memanfaatkan kelompok fungsional masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, Majelis Taklim, Kelompok Tani, Kelompok Usaha, dan sebagainya. Selain itu perlu diupayakan pembinaan minat baca dalam bentuk penyuluhan yang komunikatif dan menarik. Media penyuluhan dapat memanfaatkan media yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat seperti radio dan Televisi.

 

d. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor perkerjaan, tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan berpengaruh secara positif terhadap minat dan kebiasaan membaca masyarakat. Tingkat perkerjaan yang mapan, pendidikan yang baik dan penghasilan yang relatif tinggi berpengaruh positif terhadap minat dan kebiasaan membaca. Sementara untuk masyarakat dari kalangan pendidikan yang relatif rendah dengan tingkat penghasilan yang cukup minat baca mereka relatif rendah. Untuk pembinaan minat dan kebiasaan membaca dengan sasaran masyarakat yang tingkat bacanya rendah perlu mendapat perhatian yang lebih memadahi, tanpa mengurangi arti dan kegiatan pembinaan minat membaca untuk kelompok masyarakat yang tingkat minat bacanya relatif sudah memadahi (tinggi).

 

 5. Rekomendasi

 

5.1 Rekomendasi Kebijakan

 

a. Dalam upaya peningkatan minat dan kebiasaan membaca di Jawa Timur, perlu ada upaya-apaya pemerintah lebih konkrit seperti menghidupkan kembali peran dan fungsi perpustakaan umum di semua tingkat perpustakaan mulai dari perpustakaan umum tingkat kabupaten/kota, perpustakaan umum kecamatan dan perpustakaan umum tingkat desa. Selain itu perlu juga dikembangkan adanya taman bacaan masyarakat dan perpustakaan keluarga.

 

b. Dalam pengembangan minat dan kebiasaan membaca masyarakat sebaiknya perlu memperhatikan masukan dari masyarakat seperti lebih mendekatkan unit perpustakaan di lingkungan masyarakat, pengadaan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, perlunya perpustakaan keliling yang lebih proaktif, dan penyuluhan minat baca secara terus menerus.

 

c. Dalam pemasyarakatan minat dan kebiasaan membaca perlu ada strategi sehingga kegiatan tersebut dapat berjalan secara optimal. Strategi yang mungkin bisa diterapkan adalah strategi edukatif pedagogik, strategi sosio kultural, dan strategi perkembangan psikologis masyarakat. Ketiga strategi tersebut perlu dilakukan secara simultan dengan melibatkan semua komponen yang ada di masyarakat khususnya pemuka masyarakat, fungsionaris organisasi desa, dan guru yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

 

d. Untuk penyuluhan tentang minat dan kebiasaan khususnya untuk tingkat desa sebaiknya perlu memanfaatkan kelompok-kelompok fungsional yang ada di masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, Remaja Masjid, maupun kelompok lain seperti kelompok usaha, kelompok tani yang mungkin ada di lingkungan masyarakat.

 

e. Perlu dibentuk dan dihidupkan kembali kelompok-kelompok membaca di kalangan masyarakat atau organisasi-organisasi yang bergerak dalam minat baca dengan tujuan untuk mendorong dan meningkatkan minat membaca masyarakat dengan berbagai kegiatan seperti gerakan wakaf buku, jambore buku, perkemahan sabtu minggu (persami) buku, dan sebagainya. Dalam hal ini Badan Perpustakaan dapat berperan aktif untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan tersebut.

 

f. Perlunya penguatan kelembagaan perpustakaan dalam upaya peningkatan minat baca masyarakat. Penguatan kelembagaan tersebut menyangkut kedudukan, tugas pokok dan fungsi, sumber daya manusia, dan penyediaan infrastruktur pendukung lainnya. Kebijakan pemerintah terkait dengan penguatan kelembagaan perpustakaan tersebut menjadi sangat penting.

 

 5.2 Rekomendasi Penelitian Lanjutan

 

a. Hasil penelitian ini perlu dikembangkan lebih lanjut khususnya untuk meneliti pola dan kebiasaan minat baca masyarakat pedesaan, termasuk bagaimana kebiasaan mereka dalam memenuhi kebutuhan informasi. Penelitian ini dipandang perlu mengingat bahwa 66% penduduk Indonesia berada di daerah pedesaan sementara 44% tinggal di perkotaan. Demikian pula tentang penyebaran dan konsentrasi informasi lebih banyak di perkotaan, hal ini menyebabkan masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih banyak memperoleh kemudahan dalam memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukannya.

 

b. Penelitian lain yang perlu dikembangkan adalah penenelitian tentang minat dan kebiasaan di kalangan remaja. Saat ini kelompok usia remaja merupakan mayoritas jumlah penduduk di Indonesia. Untuk itu mereka perlu dipersiapkan untuk menyongsong masa depannya. Sementara itu kecenderungan remaja sekarang lebih banyak terpengaruh oleh media hiburan melalui media elektronik seperti TV, Playstation dan sebagainya. Perilaku, kebiasaan, dan kecenderungan minat baca mereka perlu diketahui sebagai masukan untuk pembinaan dan pengembangan minat dan kebiasaan membaca di kalangan remaja.

 

c. Untuk penelitian berikutnya berkaitan dengan pengembangan minat baca perlu dikaitkan dengan pemberdayaan sektor ekonomi masyarakat melalui bacaan yang berisi informasi tentang teknologi tepat guna, kewirausahaan yang sesuai dengan potensi masing-masing daerah. Aplikasinya bisa dilakukan dengan pihak lain melalui kerjasama saling menguntungkan baik dengan lembaga pendidikan, industri maupun pemerintahan. Sasarannya kelompok-kelompok fungsional yang ada dalam masyarakat seperti Majelis Taklim, PKK, Karang Taruna (pemuda), kelompok tani, kelompok usaha dan sebagainya.

 

Catatan. Penelitian ini dibiayai oleh Badan Perpustakaan Jawa Timur tahung anggaran 2004. Peneliti: Welmin S. Ariningsih, Darmono, Muslech, Syaifuddin 

 

 

 
Jumlah Kunjungan Konten : 1252702
Selamat Lebaran 1435 H


 
Perpustakaan UM
JAM LAYANAN

SENIN - KAMIS
07.00 - 19.00 WIB

JUMAT
07.00 - 11.00 WIB
13.00 - 19.00 WIB


SABTU
08.00 - 14.00 WIB

MINGGU TUTUP

---------------------------------
LAYANAN KOLEKSI
TESIS DAN DISERTASI


SENIN - KAMIS

07.30 - 14.30 WIB


JUMAT
07.30 - 11.00 WIB
13.00 - 15.00 WIB


SABTU DAN MINGGU
TUTUP


 
Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM),(c)2008