• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasinya Dalam Peyelenggaraan Perpustakaan Sekolah, Edisi Tahun 1, Nomor 2, Oktober 2007

Oleh Dwi Sugianto   

 

Wacana kurikulum berbasis kompetensi perlu untuk diimplemtasikan. Perpustakaan sebagai salah satu bentuk sumber belajar di sekolah perlu dimanfaatkan secara optimal. Dalam konteks ini, maka peran guru sangat diharapkan dapat mengkondisikan agar peserta didik memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Di samping itu, dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan mata pelajaran yang sedang dipelajarinya. Melalui upaya tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar, yang pada gilirannya akan  dapat meningkatkan kompetensi peserta didik


Sumber artikel: download

 

 

 

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI IMPLIKASINYA DALAM PEYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH 

oleh: Dwi Sugianto  / Pustakawan Universitas Negeri Malang.

 

            Pada awal abad XXI, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tan-tangan besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidik-an dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem  pendidikan  nasional  dituntut  untuk  melakukan  perubahan  dan penyesuaian  sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhati-kan keberagaman kebutuhan/keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat. 

            Pada saat ini, pendidikan nasional juga masih dihadapkan pada beberapa per-masalahan yang menonjol, yaitu: (1) masih rendahnya pemerataan memperoleh pen-didikan; (2) masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan; (3) masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antar wilayah geografis yaitu antara perkotaan dan pedesaan, serta antar kawasan timur Indonesia (KTI) dan kawasan barat Indonesia (KBI), dan antar tingkat pendapatan penduduk atau antar gender (Propenas & Renstra, Depdiknas, 2002).             Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal tersebut tercermin, antara lain, dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan oleh organisasi International Educational Achievement  (IEA) yang menunjukan bahwa siswa SD di Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), studi untuk kemampuan matematika siswa SLTP di Indone-sia hanya berada pada urutan ke-39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan ilmu pe-ngetahuan alam (IPA) hanya berada pada urutan ke-10 dari 42 negara peserta.

             Manajemen pendidikan nasional secara keseluruhan masih bersifat sentralis-tis, sehingga kurang mendorong terjadinya demokratisasi dan desentralisasi penye-lenggaraan pendidikan. Manajemen pendidikan yang sentralistis tersebut telah me-nyebabkan kebijakan yang seragam yang tidak dapat mengakomodasi perbedaan ke-ragaman/kepentingan daerah/sekolah/peserta didik, mematikan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan, serta mendorong terjadinya pemborosan dan kebocoran alokasi anggaran pendidikan. Sementara itu, percepatan arus informasi dalam era globalisasi dewasa ini menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan, dan strateginya agar sesuai dengan kebutuhan, dan tidak ketinggalan zaman.

             Penyesuaian tersebut secara langsung mengubah tatanan dalam sistem makro, meso, maupun mikro, demikian halnya dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kuriku-lum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara; khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Oleh karena itu, sejak Indonesia memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak bangsanya, sejak saat itu pula peme-rintah menyusun kurikulum. Dalam hal ini, kurikulum dibuat oleh pemerintah pusat secara sentralistik, dan diberlakukan  bagi seluruh bangsa di seluruh tanah air Indonesia. 

               Dalam implementasi Kurikulum, guru dan kepala sekolah perlu memperhati-kan tiga komponen utama sebagai berikut: (1) standar kompetensi yang dituju harus dirumuskan secara spesifik; (2) silabus yang dikembangkan harus merumuskan secara jelas program pembelajaran, hasil pembelajaran, dan kriteria penilaian; serta (3) persiapan mengajar perlu dilakukan  secara matang. Dalam konteks pembaruan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, yaitu pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektivitas me-tode pembelajaran. Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsive terha-dap dinamika sosial, relevan, tidak overload, dan mampu mengakomodasikan kebera-gaman keperluan dan kemajuan teknologi. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dan secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif di kelas, yang lebih memberdaya-kan potensi siswa. Ketiga hal itulah yang sekarang menjadi fokus pembaruan di Indonesia.

 

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 

               KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus berdasarkan kerangka dasar kuriku-lum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan di SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departe-men yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. 

              Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). KTSP merupakan hasil pengembangan/penyempurnaan kurikulum berbasis kompetensi agar lebih familier dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggungjawab yang memadai. Pengembangan kurikulum yang berkelanjutan diharapkan menjadikan sistem pendidikan nasional selalu relevan dengan perkembangan da kompetitif. Penengembangan juga dilakukan terhadap struktur kurikulum yang meliputi jumlah mata pelajaran, beban belajar, alokasi waktu, mata pelajaran pilihan dan muatan lokal, serta sistem pelaksanaannya, baik sistem paket maupun sistem satuan kredit semester (SKS). Dalam KTSP, guru mempunyai peran yang sangat dominan, terutama dalam menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, tidak saja dalam program tertulis, tetapi juga dalam pembelajaran nyata di kelas. Permasalahannya yang muncul dengan pengembangan kurikukum oleh/melibatkan guru adalah bagaimana guru bisa mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam bentuk KTSP dan menerapkannya di sekolah masing-masing.   

               KTSP merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah, yang akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Hal ini diharapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja seko-lah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Mengingat peserta didik memilki karakteristik dan latar belakang berbeda-beda, maka sekolah harus memperhatikan asas pemerataan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Di sisi lain, sekolah juga harus meningkatkan efisiensi, partisipasi, dan mutu, serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. 

               Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut: pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi, kepemimpinan yang demokratis dan profesional, serta team-kerja yang kompak dan transparan. KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendi-dikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah.

               Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terha-dap kebutuhan setempat. Strategi yang harus diperhatikan oleh sekolah dalam pengembangan dan pelaksanaan KTSP antara lain: menciptakan suasana yang kondusif, mengembangkan fasilitas dan sumber belajar, membina disiplin, mengembangkan kemandirian kepala sekolah, mengubah paradigma (pola pikir) guru, serta memberdayakan staf. Dalam rangka pelaksanaan hasil pengembangan KTSP, sekolah harus mengembangkan fasilitas laboratorium, pusat sumber belajar, dan perpustakaan, serta tenaga pengelola yang profesional.    



PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI  

            Dalam dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi, kegiatan yang berhubung-an dengan Proses Belajar Mengajar sering diistilahkan dengan pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam KBK siswa harus dijadikan sebagai pusat dari kegiatan Proses Belajar Mengajar. Kegiatan Proses Belajar Mengajar dalam KBK tidak hanya  sekadar proses penyampaian materi saja, akan tetapi diselenggarakan untuk memben-tuk watak, peradaban, dan meningkatkan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran diarahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar (Depdiknas, 2002). 

             Dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, walaupun istilah yang digunakan “pembelajaran”, tidak berarti guru harus menghilangkan perannya sebagai pengajar, sebab secara konseptual pada dasarnya  dalam istilah mengajar itu juga ber-makna membelajarkan siswa. Mengajar belajar adalah dua istilah yang memiliki satu makna yang tidak dapat dipisahkan. Mengajar adalah suatu aktivitas yang dapat membuat siswa belajar. Ada tiga prinsip penting pembelajaran dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi.

              Pertama, proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Tujuan pengaturan lingkungan ini dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman belajar yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-fakta. Menurut Piaget, struktur kognitif akan tumbuh manakala siswa memiliki pengalaman belajar. Oleh karena itu, proses pem-belajaran menuntut aktivitas siswa secara penuh untuk mencari dan menemukan sendiri. 

             Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Ada tiga tipe pengetahuan yang masing-masing memerlukan situasi yang berbeda dalam mempelajarinya. Pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisis, sosial, dan logika Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuan sosial mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Sedangkan pengetahuan logika adalah membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.  

              Ketiga, pembelajaran dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi harus melibatkan peran lingkungan sosial. Anak akan lebih baik mempelajari pengetahuan logika dan sosial dari temannya sendiri. Melalui pergaulan dan hubungan sosial, anak akan belajar lebih efektif dibandingkan dengan belajar yang menjauhkan dari hu-bungan sosial. Oleh karena, melalui hubungan sosial itulah anak berinteraksi dan berkomunikasi, berbagai pengalaman dan lain sebagainya, yang memungkinkan me-reka berkembang secara wajar. 

             Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah kurikulum yang diarahkan agar siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat beru-bah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki, yang meliputi, kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi cultural dan kompetensi temporal. Itulah sebabnya, makna belajar dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana agar anak itu memiliki sejumlah kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat. 

                Permasalahan selanjutnya adalah, bagaimana hakikat perubahan perilaku me-nurut konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dilihat dari bentuk dan isi Kurikulum Berbasis Kompetensi, tampak Kurikulum Berbasis Kompetensi banyak dipengaruhi oleh teori belajar behavioristik. Hal ini dapat dilihat dari kompetensi yang harus dimiliki siswa yang harus tergambarkan dalam indikator hasil belajar. Namun demikian, manakala kita lihat dari tujuan akhir yang harus dicapai, seperti yang tercantum dalam prinsip-prinsip pembelajaran, bahwa kompetensi sebagai hasil belajar itu harus tampak dalam pola perilaku sehari-hari melalui kemampuan berpikir memecahkan setiap persoalan yang muncul, maka dalam implementasinya, Kurikulum Berbasis Kompetensi juga banyak dipengaruhi oleh aliran kognitif-wholistik. Pembelajaran dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, diarahkan siswa bukan hanya sekedar belajar memahami dan menguasai fakta dan data, akan tetapi bagaimana pro-ses pemahaman itu dilakukan oleh siswa. Dengan demikian dalam Kurikulum Ber-basis Kompetensi belajar itu dapat dianggap sebagai proses untuk mencari dan mene-mukan sendiri berbagai konsep, teori, dalil, bahkan hukum.   

 

 PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR 

 

             Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar siswa memegang peranan yang sangat penting dalam memacu terca-painya tujuan pendidikan nasional.

              Mbulu (1991),  menyatakan bahwa perpustakaan sekolah merupakan sarana yang sangat penting dalam kegiatan belajar-mengajar. Karena pengajaran di sekolah tidak dapat berjalan dengan sempurna tanpa perpustakaan sebagai penunjang. Sehingga perpustakaan sekolah sangat diperlukan dalam proses penganajaran (pembelajaran). Perpustakaan sekolah diperlukan dalam pengajaran karena perpustakaan sekolah merupakan:  (a). sumber belajar;  (b). komponen sistem instruksional; (c). Sumber utama penunjang kualitas pendidikan dan pengajaran;  dan (e).  laboratorium belajar dimana siswa dapat belajar bagaimana belajar, yaitu dapat mempertajam dan memperluas kemampuan membaca, menulis, berpikir dan berkomunikasi. Dalam kaitannya dengan sumber belajar, maka perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah. Mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan oleh Association for Education Communication Technology (AECT), maka pengertian sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat diguna-kan oleh siswa secara terkombinasi, sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya (Darmono,  2001).  

              Sementara itu, ditinjau dari segi pendayagunaannya, AECT membedakan sumber belajar menjadi dua macam, yaitu : (a) sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pem-belajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang memang dirancang untuk mem-bantu mencapai tujuan pembelajaran tertentu; (b) sumber belajar yang tidak diran-cang atau tidak sengaja dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak terdapat di sekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya, Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar, museum. Mengacu pada definisi AECT tentang sumber belajar, maka sumber belajar jenis belajar jenis pertama yaitu sumber belajar, maka sumber belajar jenis pertama yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk membantu pencapaian tujuan belajar perlu disimpan untuk didayagunakan secara maksimal. Penyimpanan berbagai sum-ber tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. Dengan demikian, maka perpustakaan merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga, termasuk sekolah guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran. 

                 Perpustakaan sekolah bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewu-judkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisasi, menumbuhkan kemampuan me-nikmati pengalaman imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir, mendidik murid agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien, serta memberikan dasar ke arah studi mandiri.

              Secara umum, perpustakaan sekolah sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah sebagai penunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah juga sangat dipengaruhi oleh jenjang sekolah. Secara umum ada dua jenjang sekolah yaitu tingkat pendidikan dasar yang meliputi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan tingkat pendidikan menengah terdiri dari Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jenjang sekolah tersebut berpengaruh pada aspek-aspek pembinaan perpustakaan sekolah yang perlu disesuaikan dengan jenjang tiap-tiap sekolah. Perpustakaan sekolah tumbuh dan berkembang seiring dengan perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia. Pertumbuhan secara mencolok tentang perpusta-kaan terjadi sejak tahun 1980-an. Pada waktu berbagai kebijakan tentang perpustaka-an sekolah mulai muncul. Salah satunya adalah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0103/0/1981 tentang pokok-pokok Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan di Indonesia. Salah satu isi surat tersebut adalah menun-juk Pusat Pembinaan Perpustakaan bertanggungjawab atas pembinaan teknis perpus-takaan dan pendidikan tenaga perpustakaan serta membina secara langsung sejumlah perpustakaan sekolah sebagai proyek Perintis.  

                Sejak dikeluarkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasioanal, terlihat mulai ada perhatian terhadap perpustakaan sekolah. Gedung perpustakaan sekolah mulai dibangun di lingkungan SLTP maupun di lingkungan SLTA. Demikian pula dalam penyiapan sumber daya manusia mulai diselenggarakan penataran-penataran bagi pengelola perpustakaan sekolah. Di lingkungan SLTP maupun SLTA, penyiapan pengelola perpustakaan sekolah dilaksanakan oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan masing-masing propinsi. Bahkan untuk kegiatan penataran-penataran manajemen dan administrasi sekolah untuk para kepala sekolah SMU, mata tataran manajemen perpustakaan sekolah masuk sebagai salah satu materi penataran tersebut. Berbagai kondisi ini menyiratkan bahwa perhatian pemerintah terhadap ke-beradaan perpustakaan sekolah mulai terlihat. Implikasi dari ini semua adalah suatu harapan meningkatkan kualitas lulusan mulai dari SD sampai dengan SMU/SMK. Untuk memberdayakan perpustakaan sekolah sebagai salah satu sumber bela-jar di sekolah, maka dalam pengelolaannya perlu diperhatikan komponen-komponen yang ada dalam perpustakaan sekolah tersebut, misalnya jumlah koleksinya, gedung/ ruangan perpustakaan, tenaga pengelolaan dan sumber dana yang dapat digunakan untuk mengelola perpustakaan tersebut. Pengelolaan perpustakaan sekolah, sampai saat ini banyak mengalami hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya.

                   Menurut Darmono (2001) secara umum perpustakaan sekolah menghadapi hambatan, yaitu koleksi yang tidak memadai, tidak memiliki ruang perpustakaan, jam buka belum teratur dan tidak memungkinkan anak menggali sendiri kebutuhan informasi di perpustakaan, status petugas belum jelas, apakah dia seorang guru ataukah tenaga administrasi ataukah guru pustakawan. Kebiasaan yang terjadi di sekolah-sekolah dasar (SD), petugas perpustakaan dirangkap oleh guru kelas, dengan demikian pengelolaan perpustakaan sekolah yang bersangkutan tidak dapat optimal sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena siswa yang akan memanfaatkan jasa layanan perpustakaan, tergantung pada guru tersebut. Demikian pula pertumbuhan perpustakaan sekolah tidak merata untuk seluruh daerah di Indonesia. Agar perpustakaan sekolah dapat berfungsi sebagai sumber belajar, maka sekolah harus memperhatikan pengelolaan perpustakaan sekolah. Sehingga peserta didik benar-benar memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sarana yang cukup representative untuk menggali informasi sebagaimana fungsi informasi perpustakaan dalam rangka untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

 

PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DALAM MENDUKUNG TERBENTUKNYA KOMPETENSI SISWA 

 

             Paradigma kurikulum yang berbasiskan standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam meran-cang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian (Depdiknas, 2006).

             Kurikulum hanya sebagai alat, bagaimanapun ideal dan bagussnya suatu kuri-kulum seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi, tanpa dapat diimplementasikan oleh guru di lapangan, maka kurikulum tersebut hanya sebatas dokumen saja. Oleh karena itulah dalam proses keberhasilan pelaksanaan suatu kurikulum sangat ditentukan oleh kemampuan guru. Guru dalam proses pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting. 

            Sementara itu dalam membentuk kompetensi sesuai dengan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi, seorang guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsinya masing-masing. Guru dituntut untuk mampu mengoperasikan berbagai jenis media, serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar. Disinilah pentingnya penyelenggaraan perpustakaan sebagai sumber belajar dalam rangka membentuk kompetensi dalam kerangka pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. 

            Permasalahan yang dihadapi sebagian besar guru adalah  rendahnya minat  baca siswa. Oleh karena itu, permasalahan yang mendasar dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah bagaimana menumbuhkan minat baca di lingkungan se-kolah sebagai berikut :

a.       Memilih bahan bacaan yang menarik bagi pengguna perpustakaan. b.      Menganjurkan berbagai cara penyajian pelajaran (di sekolah) dikaitkan dengan tugas-tugas di perpustakaan.

c.       Memberikan berbagai kemudahan dalam mendapatkan bacaan yang menarik untuk pengguna perpustakaan.

d.      Memberikan kebebasan membaca secara leluasa kepada pengguna perpustakaan. Ini dimaksudkan untuk merangsang anak dalam mencari dan menemukan sendiri bacaan yang sesuai dengan minatnya. Cara ini sekaligus juga dapat menumbuh-kan kebiasaan kebiasaan anak untuk melakukan penelusuran bahan bacaan yang diminatinya. e.       Perpustakaan perlu dikelola dengan baik agar pengguna merasa betah dan kerasan berkunjung ke perpustakaan. Pengelolaan ini tentunya 

f.        Perpustakaan perlu melakukan berbagai promosi kepada masyarakat berkaitan dengan peningkatan minat dan kegemaran membaca siswa.

g.      Menanamkan kesadaran dalam diri pemakai perpustakaan bahwa membaca sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam mencapai keberhasilan sekolah.

h.       Melakukan berbagai kegiatan seperti lomba minat dan kegemaran membaca untuk anak sekolah. Lomba ini bisa dilakukan oleh perpustakaan sekolah bekerja-sama dengan Departemen Pendidikan Nasional, atau dengan Perpustakaan Umum. Lomba minat baca merupakan kegiatan yang selalu dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional maupun Perpustakaan Nasional Propinsi. Kegiatan ini di-laksanakan secara rutin setiap tahun sekitar bulan Mei bertepatan dengan Bulan Buku Nasional.

i.         Mengkaitkan bulan Mei setiap tahun sebagai bulan buku nasional. Dalam kesem-patan ini perpustakaan bisa melakukan pameran buku atau kegiatan lain yang me-nunjang bulan buku nasional.

j.         Memberikan penghargaan kepada siswa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan dalam kurun waktu tertentu misalnya setiap semester atau sekali dalam 1 tahun.  


            Mulyasa (2006) dalam tulisan yang mengkaji masalah kurikulum, mengemu-kakan tujuh jurus sukses implementasi kurikulum 2004 adalah (1) mensosialisasikan perubahan kurikulum di sekolah, (2) menciptakan lingkungan yang kondusif, (3) mengembangkan fasilitas dan sumber belajar, (4) mendisiplinkan peserta didik, (5) mengembangkan kemandirian kepala sekolah, (6) mengubah paradigma (pola pikir) guru, dan (7) memberdayakan tenaga kependidikan d sekolah.             Dalam kaitannya dengan tema pembahasan di atas, maka butir-butir yang relevan dengan pembahasan ini adalah butir (3) yaitu mengembangkan fasilitas dan sumber belajar. Sumber belajar di sekolah bisa berupa laboratorium, pusat sumber be-lajar, dan perpustakaan, serta tenaga pengelola yang profesional. Walaupun demikian, berdasarkan pengamatan penulis, sumber belajar perpustakaan di sekolah belum banyak dimanfaatkan secara optimal. 

             Secara umum, perpustakaan mengemban beberapa fungsi sebagai berikut ;

 1.       Fungsi Informasi

 

Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar pengguna perpustakaan dapat: (a) mengambil berbagai ide dari buku yang ditulis oleh para ahli dari berbagai bidang ilmu, (b) me-numbuhkan rasa percaya diri dalam menyerap informasi dalam berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih informasi yang layak sesuai dengan kebutuhannya, (c) memperoleh kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang tersedia di perpustakaan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan, dan (d) memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

2. Fungsi Pendidikan


Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya sebagai sarana untuk menerapkan tujuan pendidikan. Melalui fungsi ini manfaat yang diperoleh adalah: (a) agar pengguna perpustakaan mendapat kesempatan untuk mendidik diri sendiri secara berkesinambungan, (b) untuk membangkitkan dan mengembangkan minat yang telah dimiliki pengguna yaitu dengan Mempertinggi kreativitas dan kegiatan intelektual, (c) Mempertinggi sikap sosial dan menciptakan masyarakat yang demokratis, dan (d) mempercepat penguasaan dalam bidang pengetahuan dan teknologi baru .


3. Fungsi Kebudayaan


Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk : (a) meningkatkan mutu kehidupan dengan memanfaatkan berbagai informasi sebagai rekaman budaya bangsa untuk meningkatkan taraf hidup dan mutu kehidupan manusia baik secara individu maupun secara kelompok, (b) membangkitkan minat terhadap kesenian dan keindahan, yang merupakan salah satu kebutuhan manusia terhadap cita rasa seni, (c) mendorong tumbuhnya kreativitas dalam berkesenian, (d9 mengembangkan sikap dan sifat hubungan manusia yang positif serta menunjang kehidupan antar budaya secara harmonis, dan (e) menumbuhkan budaya baca di kalangan pengguna sebagai bekal penguasaan alih teknologi.


4. Fungsi Rekreasi


Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya untuk: (a) menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani, (b) mengembangkan minat rekreasi pengguna melalui ber-bagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang, dan (c) menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positif.
 

5. Fungsi Penelitian
 

Sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian. Informasi yang disajikan meliputi berbagai jenis dan bentuk informasi.
 

6. Fungsi Deposit
 

Sebagai fungsi deposit perpustakaan berkewajiban menyimpan dan melestari-kan semua karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di wilayah Indonesia. 


            Untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai salah satu sumber belajar, maka dituntut peran seorang guru untuk memberdayakan perpustakaan sekolah bagi peserta didik dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi siswa. Oleh karena itu, kreativitas guru dan peserta didik perlu senantiasa ditingkatkan untuk memberdaya-kan perpustakaan yang berguna bagi peningkatan kualitas pembelajaran.


            Dalam kaitannya dengan kreativitas peserta didik, dalam memanfaatkan sumber belajar, terutama perpustakaan di sekolah, Mulyasa (2007) mengemukakan beberapa resep  yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kreativitas peserta didik :


|
a.       Jangan terlalu banyak membatasi ruang gerak peserta didik dalam pembelajaran dan mengembangkan pengetahuan baru,

b.      Bantulah peserta didik memikirkan sesuatu yang belum lengkap, mengeksplorasi pertanyaan, dan mengemukakan gagasan yang original,

c.       Bantulah peserta didik mengembangkan prinsip-prinsip tertentu ke dalam situasi baru.

d.      Berikan tugas-tugas secara independent.

e.       Kurangi kekangan dan ciptakan kegiatan-kegiatan yang meransang otak.

f.        Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir reflektif terhadap setiap masalah yang dihadapi.

g.      Hargai perbedaan individu peserta didik, dengan melonggarkan aturan dan norma kelas.

h.       Jangan memaksakan kehendak terhadap peserta didik.

i.         Tunjukkan perilaku-perilaku baru dalam pembelajaran.

j.         Kembangkan tugas-tugas yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas.

k.       Kembangkan rasa percaya diri peserta didik, dengan membantu mereka mengem-bangkan kesadaran dirinya secara positif tanpa menggurui dan medikte mereka.

l.         Kembangkan kegiatan-kegiatan yang menarik, seperti kuis dan teka-teki, dan nyanyian yang dapat memacu potensi secara optimal.

m.     Libatkan peserta didik secara optimal dalam proses pembelajaran, sehingga proses mentalnya bisa lebih dewasa dalam menemukan konsep dan prinsip-prinsip ilmiah.

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

Simpulan

KTSP merupakan bentuk operasional kurikulum dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah. Penyusunan kurikulum ini melibatkan guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan dewan pendidikan. Strategi yang diterapkan dalam pengembangan dan pelaksanaan KTSP salah satunya adalah mengembangkan fasilitas dan sumber belajar. Sedangkan salah satu sumber belajar yang ada di sekolah adalah perpustakaan sekolah. Dalam implementasi kurikulum dan pemanfaatan per-pustakaan sekolah, guru mempuyai peranan yang strategis. Pemanfaatan perpustaka-an sekolah oleh peserta didik yang dikondisikan guru adalah dalam rangka mening-katkan kualitas belajar mengajar.

 

Saran-saran
            Dalam rangka menunjang implementasikan kurikulum berbasis kompetensi, maka diharapkan sekolah (kepala sekolah dan guru) dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses belajar mengajar di kelas. Untuk meningkatkan kualitas pembelajar di kelas, guru perlu meningkatkan partisipasi siswa melalui penugasan pada mata pelajaran yang relevan dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah seba-gai sumber belajar. 
  

 


DAFTAR RUJUKAN

Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: PT Gramedia

Widiasarana Indonesia.  Depdiknas. 2002. Program Pembangunan Nasional & Rencana Strategis Pendidikan Nasional Tahun 2000-2004. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.  Depdiknas. 2005.

Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005.  

Joyce, B. & Weil, M. 1980. Models of Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall Inc.  

Mbulu, Y. 1991. Hubungan antara karakteristik siswa dengan efisiensi pemanfaatan bahan pustaka di SMA Kodya Malang. Tesis IKIP MALANG, tidak diterbitkan. 

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan, Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.  

Mulyasa, E. 2006. Implementasi Kurikulum 2004, Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.  

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.  

Nurhadi. 2000. Kurikulum 2004 (Pertanyaan & Jawaban). Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.  

Nurhadi, Yasin, B. dan Senduk . 2000. Kurikulum 2004 (Pertanyaan & Jawaban). Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.  

Sanjaya. 2006. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.  

 

 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno