• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Model Pembelajaran Kewirausahaan Sosial Berbasis Potensi Lokal

Oleh Dr. Hj. Madziatul Churiyah , S.Pd, M.M.   
Model Pembelajaran Kewirausahaan Sosial Berbasis Potensi Lokal

Model pembelajaran kewirausahaan sosial berbasis potensi lokal pada santri dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran partisipasif, yaitu pembelajaran yang melibatkan semua unsur dalam proses pembelajaran. Artinya, melibatkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, model ini mengharapkan bahwa pesertanya merupakan pihak yang belajar sehingga kedudukan guru perlu memberikan kesempatan dan melengkapi fasilitas untuk terjadinya belajar pada diri peserta didik. Dalam konteks ini, peserta didik merupakan sumber dalam penerapan program yang akan diselenggarakan pihak yang belajar, serta pihak yang akan memanfaatkan hasil belajar dalam kehidupannya.
 
Download Fulltext disini
 

Migrasi Internasional Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Dampaknya terhadap Daerah Asal - Prof. Dr. Budijanto, M.Sos

Oleh Prof. Dr. Budijanto, M.Sos   

Indonesia yang jumlah panduduknya 250 juta jiwa sebagai salah satu negara yang memilki jumlah penduduk terbesar ke 4 didunia setelah RRC : 1,3 milayar jiwa, India: 1,1 milyar jiwa dan Amerika Serikat 500 juta jiwa . Masalah utama kependudukan di Indonesia adalah tidak imbangnya pertambahan angkatan kerja degan penyediaan kesempatan kerja sehingga berdampak pada semakin tingginya pengangguran. Lebih-lebih akibat ada- nya krisis moneter yang bersifat multi dimensi pada tahun 1997/1998 berdampak pada menurunya potensi masyarakat yaitu tdak mampunya masyarakat untuk membeli alat kontrasepsi dan kebangkrutan BKKBN yang tidak mampu menyediakan alat kontrasrpsi pada saat itu, menye- babkan terjadinya baby boom pada tahun 2000, yang diparkirakan Indo- nesia diprediksi akan mendapat bonus di tahun 2020–2030. Bonus tersebut adalah Bonus Demografi, dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak. Berdasarkan paparan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, dalam Seminar masalah kependudukan di Indonesia di Fakultas Kedokteran Uni- versitas Indonesia bahwa jumlah usia angkatan kerja (15–64 tahun) pada 2020–2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara nonproduktif hanya 60 juta. Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial – ekonomi. Salah satunya adalah menye- babkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat penduduk produk- tif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk pro- duktif. Hal ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa di- bandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.Namun berkah ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya.
Masalah yang paling nyata adalah ketersedian lapangan pekerjaan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk menampung 70% penduduk usia kerja di tahun 2020-2030? Kalau pun lapangan pekerjaan tersedia, mampukah sumber daya ma- nusia yang melimpah ini bersaing di dunia kerja dan pasar internasional? Berkaca dari fakta yang ada sekarang, indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI) Indonesia masih rendah. Dari 182 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 111. Sementara dikawasan ASEAN, HDI Indonesia berada di urutan enam dari 10 negara ASEAN. Posisi ini masih di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura.

Download Lengkap: http://bit.ly/Budijanto
 

Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Oleh Yuniawatika ,S.Pd., M.Pd   

Yuniawatika  ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )
Jurusan KSDP Prodi PGSD Universitas Negeri Malang


ABSTRAK
Mathematical problem solving ability is a high-level thinking skills that need to be developed through  learning  mathematics  in  elementary  school.  Problem  solving  ability  of  students  is very  important  mastered  not  only  the  mathematical  problem  solving  abilities,  but  that  the students are able to solve problems in other fields by means of mathematical thinking . Many ways  to  improve  problem-solving  skills  of  elementary  school  students,  including  through several alternative learning to improve students' mathematical problem solving ability.

Keywords : problem-solving ability, learning math, elementary school

Artikel diatas dipublikasikan dalam WORKING PAPER INTERNATIONAL CONTRIBUTION PROCEEDING Scientific Forum-Faculty of Education Department of Science Education (FIP-JIP) and The International Seminar.

 

 

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 4 dari 147

Statistik

Anggota : 7
Konten : 2304
Web Link : 18
Jumlah Kunjungan Konten : 2409720
Jadwal Layanan Perpustakaan UM

JAM LAYANAN

SENIN - KAMIS
07.30 - 19.00 WIB

 

JUMAT
07.30 - 11.00 WIB
13.00 - 19.00 WIB

 

SABTU

08.00 - 14.00 WIB

 

MINGGU TUTUP

---------------------------------

 

LAYANAN KOLEKSI
TESIS DAN DISERTASI


SENIN - KAMIS

07.30 - 16.00 WIB


JUMAT
07.30 - 11.00 WIB
13.00 - 15.00 WIB


SABTU DAN MINGGU
TUTUP


Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno