• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Model Pendidikan Entrepreneurship di Perguruan Tinggi - Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M.

Oleh Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M.   

Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M.

Era globalisasi membawa konsekuensi, setidaknya dalam hal daya saing antar individu, antar industri hingga antar bangsa (Porter, 1990; Zahra, 1999). Zahra (1999) menjelaskan keterkaitan antara globalisasi dan daya saing bangsa. Globalisasi adalah “instrumen untuk meraih perdamaian, pertumbuhan, kemajuan, hingga kemakmuran bangsa” (Zahra, 1999, p. 36, diterjemahkan bebas). Kemakmuran bangsa itu sendiri bukan warisan, melainkan hasil kreasi (Porter, 1990). Daya saing bangsa “dipandang sebagai ’maraton’ untuk meraih keunggulan bangsa sekaligus menjaga keberlangsungannya” (Zahra, 1999, p. 36, diterjemahkan bebas). Daya saing bangsa itu sendiri ditentukan oleh kapasitas bangsa untuk berinovasi dalam rangka meraih keunggulan bersaing yang berkelanjutan (Porter, 1990). Mengacu pada Porter (1990) bahwa semakin tinggi inovasi suatu bangsa, semakin tinggi daya saing bangsa itu, demikian pula sebaliknya.
Terkait dengan daya saing bangsa, World Economic Forum (misalnya Schwab, 2015) memublikasikan laporan bernama Global Competitiveness Report (GCR). Mengacu pada van Stel et al. (2005) bahwa sasaran utama GCR adalah memetakan kapasitas bangsa untuk meraih keunggulan bersaing yang berkelanjutan. GCR memuat Global Competitiveness Index (GCI), dan GCI itu sendiri dikeluarkan sejak tahun 2004 (Preface ofRichard Samansin Schwab, 2015). GCR 2015-2016 memetakan daya saing 140 negara berdasarkan GCI (Schwab, 2015). Relevan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang baru saja berlaku, Tabel 1 memaparkan peringkat GCI negara-negara ASEAN dari total 140 negara yang dipetakan.

Download link lengkap bit.ly/Danardana

 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno