• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Pengembangan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Jasmani & Olahraga Oleh Prof.Dr.H. M.E.Winarno, M.Pd

Pidato Pengukuhan Guru Besar
   Jumat, 07 Desember 2012 14:40



PENGEMBANGAN KARAKTER BANGSA

MELALUI PENDIDIKAN JASMANI & OLAHRAGA

 

 

Oleh: Prof.Dr.H. M.E.Winarno, M.Pd

 

Pidato Pengukuhan Guru Besar  dalam Bidang Ilmu Keolahragan

pada Fakultas Ilmu Keolahragaan

Disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka

Universitas Negeri Malang (UM)

Pada Tanggal 5 Desember 2012

 

 

 

 

 



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS NEGERI MALANG (UM)

2012

 

PENGEMBANGAN KARAKTER BANGSA

MELALUI PENDIDIKAN JASMANI & OLAHRAGA

 

Oleh: Prof.Dr.H. M.E.Winarno, M.Pd

Guru Besar dalam Bidang Ilmu Keolahragan

pada Fakultas Ilmu Keolahragaan

Universitas Negeri Malang (UM)

 

 

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu �Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Yth.  Rektor selaku Ketua Senat Universitas Negeri Malang

Yth.  Ketua Komisi Guru Besar Universitas Negeri Malang

Yth.  Sekretaris dan Anggota Senat Universitas Negeri Malang

Yth.  Pimpinan Universitas, Fakultas, Pascasarjana, Lembaga, UPT, Jurusan/bagian dan Program Studi

Yth.  Para sejawat Dosen, Karyawan, Mahasiswa, dan Tamu Undangan, serta Hadirin yang berbahagia

 

 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (Sisdiknas; 2003).

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas; 2003)

Tujuan pendidikan yang mulia tersebut sampai dengan akhir tahun 2012 ini selalu diuji oleh berbagai kondisi yang berkembang di masyarakat, dengan berbagai konflik horizontal, seperti munculnya tawuran dan perilaku negatif antar pelajar di beberapa kota, antar mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, dan tawuran antar warga yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Situasi politik, ekononomi, social dan budaya yang berkembang di masyarakat juga berpengaruh terhadap kondisi pendidikan kita.

Kasus-kasus tertentu yang terkait dengan perilaku yang melanggar tata nilai �negatif� masih banyak terjadi di dunia pendidikan, mulai dari nyontek dalam ujian, �joki� dalam ujian masuk perguruan tinggi, �copy & paste� tugas-tugas mahasiswa, termasuk perilaku orang tua yang ingin anaknya dapat diterima di sekolah favorit �yang dikehendaki� dengan cara apapun, dan perilaku sejenis, merupakan contoh perilaku �negatif� yang dapat merusak generasi mendatang, karena mengingkari karakter bangsa.

Berbagai kondisi negatif yang sering terjadi di masyarakat dalam jumlah banyak tersebut, menguatkan keyakinan penulis bahwa ada suatu persoalan pengelolaan dan pengorganisasian pendidikan di tanah air yang perlu disempurnakan. Pendidikan yang seharusnya memunculkan hasil �baik yang dikehendaki� ternyata masih memunculkan ekses �negatif� di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Bergulirnya rencana penyempurnaan kurikulum di tahun 2012 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rasanya wajar dilakukan disebabkan munculnya berbagai kasus tersebut. Penyempurnaan kurikulum yang ada dimaksudkan sebagai upaya dengan tujuan menghasilkan lulusan yang berkarakter, dan �mengurangi ekses perilaku negatif siwa�. Kurikulum yang diterjemahkan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah perlu dikaji ulang dan disempurnakan.

Peristiwa tewasnya Alawy Yusianto Putra (15 tahun) siswa SMA 6 Jakarta pada akhir September 2012 lalu, Deny Yanuar (17 tahun) siswa SMK Yayasan Karya 66 yang disabet celurit dan dikeroyok siswa SMK Yeni Matraman Jakarta, Rizki Alfian (15 tahun) dan Jalal Muh. Akbar (16 tahun) adalah siswa SMK Bakti yang luka berat dikeroyok siswa SMK 59 Kamis 11-10-2012, dan tawuran antar pelajar di Bogor yang menewaskan Agung (17 tahun) yang tewas terkenan celurit. (Kompas, Jumat 19 Oktober 2012) merupakan kejadian yang tidak pantas disandang oleh pelajar.

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Perguruan Tinggi yaitu di Universitas Negeri Makasar (UNM) pada tanggal 11 Oktober 2012, dengan meninggalnya dua orang mahasiswa teknik Rizqi Munandar (mahasiswa) dan Haryanto (mantan mahasiswa) yang meninggal karena tawuran antar mahasiswa dalam satu kampus (Kompas; 19 Oktober 2012).

Lunturnya peradaban dikalangan orang-orang terdidik �siswa dan mahasiswa� tersebut menjadi keprihatinan penulis, dimana lembaga pendidikan formal �sekolah dan perguruan tinggi� yang notabene menjadi �kawah candra dimuka� bagi anak-anak bangsa, generasi penerus masa depan, ternyata masih sering melakukan perilaku negatif, yang sudah diketaui bertentangan dengan nilai-nilai moral (ethics) yang tidak selaras dengan tujuan pendidikan nasional.

 

Bapak, Ibu Hadirin yang saya hormati

Kurikulum merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan pendidikan, disamping ada faktor lain yang juga memiliki peranan penting seperti; SDM, sarana dan prasarana, situasi politik, social, ekonomi dan budaya. Selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maka dalam penyempurnaan kurikulum diharapkan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut.

Sajian kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik antara aspek; read, write dan arytmatics (baca, tulis, hitung) yang disajikan secara seimbang dengan aspek; ethics, esthetics dan gymnastic diharapkan akan memberikan perubahan lebih baik dibanding yang terjadi saat sekarang. Kurikulum yang tepat isi dan sajian diharapkan akan mampu menghasilkan lulusan yang bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter, yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang lebih besar, dalam kehidupan sehari-hari, termasuk juga dalam dunia pendidikan.

Keseimbangan sajian kedua aspek tersebut diperlukan, agar diperoleh lulusan yang pandai membaca, menulis, dan berhitung, sekaligus lengkap dengan karakternya yang berupa sikap: jujur, tanggung jawab, kerja sama, percaya diri, dan karakter positif lain. Pendidikan yang dirancang dengan mempertimbangkan kedua aspek tersebut, suatu saat akan menghasilkan anak-anak bangsa yang baik, santun, ber-etika, sehingga akan mengurangi perilaku-perilaku negatif yang terjadi di sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat, �tidak ada lagi tawuran antar pelajar, antar mahasiswa dan antar warga�.





File downloads:
icon pengembangan karakter bangsa melalui pendidikan jasmani olahraga -1 oleh H M E Winarno.pdf (466.45 KB)
icon pengembangan karakter bangsa melalui pendidikan jasmani olahraga -2 oleh H M E Winarno.pdf (232.96 KB)
 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno