• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Mensyukuri buku : Sebuah refleksi budaya baca - tulis

PDF  Array Cetak Array
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
   Senin, 16 November 2015 14:35
Bersyukurlah kita masih dapat menikmati buah pikiran Socrates, Aristoteles, Plato, Ibnu Kaldun, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusjd, Francis Bacon, Newton, Thomas Hobbes, Li Tao Po, Panini, dan pemikir-pemikir lain dari manapun – dari Barat, Islam, ataupun Timur. Ketika sampai pada kita, buah pikiran mereka sudah menempuh perjalanan ratusan, malah ribuan tahun, melintasi batas-batas masa, etnis, bangsa, geografis, dan budaya. Misalnya, buku tata bahasa yang ditulis oleh Panini sudah melampaui 2000 tahun. Demikian juga pikiran Socrates dan Aristoteles. Bayangkan, ratusan atau ribuan tahun warisan buah pikiran mereka mampu bertahan dan terawat!

Baca lanjut disini

Mengapa buah pikiran mereka dapat bertahan dan terawat hingga sampai kepada kita? Ya, pertama-tama, karena buah pikiran mereka terekam dalam bahasa khususnya tulisan, lebih khusus lagi buku. Tulisan atau buku telah menyelamatkan, mengawetkan, dan memantapkan buah pikiran manusia sehingga menjadi warisan peradaban dunia setelah menempuh sekian panjang waktu. Tanpa tulisan atau buku – bisa jadi – kita tak bakal mengenal buah pikiran mereka dan peradaban manusia mengalami amnesia. Sudah terbukti, amnesia sejarah terjadi lantaran tak disangga oleh tulisan. Ini menunjukkan, keberadaan tulisan menjadikan buah pikiran manusia terselamatkan dan terawetkan.

Keberadaan tulisan mengandaikan atau memprasyaratkan tradisi menulis dan membaca. Tradisi menulis dan membaca niscaya memerlukan tradisi berpikir – terutama berpikir kritis atau kreatif yang disangga oleh penalaran. Tradisi berpikir bersama-sama tradisi menulis dan membaca melahirkan sekaligus menyangga peradaban keberaksaraan yang bersendikan teks (yang menancapkan pikiran secara kuat), bukan kelisanan yang bersendikan ucapan (yang mengakibatkan pikiran cepat menguap). Di bawah naungan peradaban keberaksaraan inilah ilmu-ilmu dapat tumbuh, berkembang, dan terawetkan, bahkan terwariskan kepada kita. Dengan kata lain, tradisi berpikir [kritis atau kreatif], menulis, dan membaca-lah yang telah berjasa menumbuhkan, mengembangkan, dan mengawetkan ilmu-ilmu (yang berkembang secara berkelanjutan). Karangan ilmiah yang berupa buku, makalah, artikel, dan sejenisnya – yang kita kenal sekarang – pada dasarnya penampakan tradisi berpikir-menulis-membaca pada satu sisi dan pada sisi lain tradisi pengembangan ilmu-ilmu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi berpikir-menulis-membaca berhubungan erat dengan tradisi ilmu-ilmu. Hubungan erat keduanya telah dikemukakan dan atau diisyaratkan oleh banyak pihak. Ali bin Abi Thalib r.a., misalnya, bertitah: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Rene Descartes, raksasa pemikir Abad Pertengahan yang berjasa meletakkan dasar-dasar kemodernan, bersaksi: “… membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau – yakni para penulis buku itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik …”. Barbara Tuchman pun bersaksi: “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.” Kutipan-kutipan ini menyiratkan bahwa tanpa tradisi berpikir-menulis-membaca tak mungkin tradisi ilmu (keilmuan) dapat tumbuh dan berkembang. Jadi, kuatnya tradisi berpikir-menulis-membaca menjadi prasyarat bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi ilmu (keilmuan).


Mensyukuri Buku

 


Jelaslah hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya membaca dan menulis serta berpikir kritis di samping betapa berartinya buku dalam kehidupan kita. Sebab itu, kita harus menguasai sekaligus memiliki kebiasaan membaca dan menulis buku supaya kebiasaan berpikir kritis kita dapat berkembang. Membaca dan menulis buku perlu kita batinkan (internalisasi) dan biasakan (habituasi) dalam kehidupan kampus kita agar produktivitas dan kualitas karya ilmiah dari sivitas akademika UM terus meningkat. Untuk itu, Perpustakaan UM bisa menjadi salah satu ruang membaca dan menulis buku selain mengembangkan kemampuan berpikir kritis-kreatif. Marilah kita rajin dan ajek mengunjungi perpustakaan (baik konvesional maupun digital) agar kita memberi arti bagi dunia akademik atau ilmiah di kampus kita tercinta.

 

Oleh : Prof Djoko Saryono (Kepala UPT Perpustakaan UM)

 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno