• Halaman 1
  • Pintu depan Perpustakaan UM
  • Area Internet Gratis
  • Area Hotspot
  • Layanan
  • Opac

Model Pengembangan Kelompok Arisan dan Simpan Pinjam Perempuan Menjadi Lembaga Keuangan Mikro Dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kota Mojokerto

PDF  Array Cetak Array
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Oleh Lulu Nurul Istanti , S.E., M.M., Ak.   
RINGKASAN
Tujuan penelitian ini adalah menemukan model pengembangan kelompok arisan dan simpan pinjam perempuan sebagai lembaga keuangan mikro dalam usaha penangulangan kemiskinan Kota Mojokerto. Sebagi upaya menemukan sebuah model pengembagan kelompok, maka studi ini akan diawali dengan upaya mengidentifikasi karakteritik kelompok dalam rangka mengetahui potensi dan kelemahan. Input hasil identifikasi kemudian digunakan untuk menyusun formulasi pengembangan kelompok yang akan diuji cobakan. Tahapan terakhir dari studi ini adalah uji efektifitas model untuk kemudian dikukuhkan sebagai model yang dapat didesiminasikan. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah : Pertama, Identifikasi potensi kelompok arisan dan simpan pinjam perempuan untuk dikembangkan menjadi alternatif lembaga keuangan mikro dalam penanggungan kemiskinan berbasis komunitas; Kedua. Menyusun model pengembangan kelompok arisan dan simpan pinjam perempuan menjadi lembaga keuangan mikro dalam penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas.

Untuk memastikan mencapai hasil penelitian yang secara nyata dapat dievaluasi dan diukur, penelitian ini dilakukan dengan rancangan eksperirnental. Pada tahap awal dilakukan survey terbatas untuk memperoleh gambaran nyata calon sasaran penelitian, sekaligus melakukan evaluasi secara mendalam pada beberapa kelompok potensial. untuk kemudian dilakukan analisis untuk menentukan kelayakan menjadi lokasi Pilot. Untuk memperdalam diagnosis, dilakukan FGD partisipatif serta wawancara mendalam. Hasil dari diagnosis kemudian dikembangkan dalam penyusunan manual dan modul. Motode evaluasi yang dibangun pada setiap tahapan penelitian ini, menggunakan metode monitoring dan evaluasi partisipatoris yang merupakan alat untuk belajar dari pengalaman. Dalam rangka menguatkan temuan ini diakhir penelitian akan dilakukan validasi model dalam forum workshop dalam rangka memperoleh justifikasi. Workshop dalam rangka validasi ini dilakukan di Lembaga Studi dan Pengembangan Kewirausahaan (LSPK) Malang yang merupakan lembaga yang fokus kegiatannya pada pemberdayaan masyarakat.
Studi ini telah mengidentifikasi beberapa persoalan yang dihadapi oleh lembaga keuangan mikro formal dan profil potensi pengembangan kelompok arisan simpan pinjam perempuan. Simpulan dan hasil peneIitian tersebut adalah sebagai berikut: Pertama,  Permasalahan ulama yang dihadapi oleh Lembaga Keuangan Mikro Fonnal dalam hal ini UPK adalah tingginya angka tunggakan pinjaman dari para kelompok sasaran. Pengurus seringkali berhadapan dengan persepsi tentang dana bantuan dan hibah dari pemerintah atau negara yang tidak perlu dikembalikan. Hal tersebut juga berdampak pada ketidak mampuan lembaga dalam menjaring simpanan masyarakat untuk menambah kemampuan portofolio pinjaman yang diberikan. Sedangkan dalarn kelompok arisan dan simpan pinjam tidak terdapat tunggakan pinjaman sarna sekali. hal ini karena dana yang diputar dalam bentuk pinjaman merupakan modal sendiri yang disetor dari para anggota.

Kedua, Tingkat suku bunga atau jasa pinjaman terpaku pacta ketentuan dan mekanisme program yang membatasi maksimaI 1,5% membuat pertumbuhan alokasi dana untuk diguIirkan menjadi lambat dan cenderung habis untuk beban operasional lembaga saja. Padahal di sisi lain Kelompok arisan dan simpan pinjam memberikaa tingkat bunga pinjaman yang lebih tinggi dengan beban biaya operasional yang jauh lebih rendah, serta tetap mampu menjangkau anggotanya yang masuk kategori miskin.

Keliga, Keberadaan kelompok arisan dan simpan pinjam interen dalam kegiatan organisasi PKK, namun demikian kelembagaan kelompok masih bersifat informal dan tidak berbadan hukum (hal ini di satu sisi membuat kelampok ini kurang mendapat legitimasi dalam hal mengakses dana program dari pemerintah tennasuk lembaga perbankan). Bentuk kelompok yang mmebatasi jumlah aoggata pada lingkup-lingkup yang lebih kecil menyesuaikan lingkup administratifnya, membuat kelampok ini terbangun berdasarkan kebutuhan dan memiliki kohesi antar anggota yang sangat tinggi.

Keempat. Kohesi sosial yang sangat tinggi pada kelompok arisan dan simpan pinjam tersebut berdampak pada terciptanya tata nilai dan norma yang mengikat para anggota yang bermanfaat pada kinerja dan keterlanjutan lembaga. Salah satu nilai yang menonjal adalah kepercayaan antar anggota, hal ini mampu mempertahankan tingkat pengembalian yang lancar dari peminjam serta mobilisasi dana simpanan yang tinggi.

Kelima, Keberadaan pengurus kelompok arisan dan simpan pinjam yang dipercaya oleh para anggotanya merupakan salah satu kunci keberhasilan kelompok dalam mempertahan kinerja lembaga dalam memberikan pelayanan kepada para anggota dan pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel. Keenam, Pengelolaan dana pinjaman termasuk kegiatan arisan yang dilakukan kelompok arisan dan simpan pinjam memiliki siklus satu tahun perputaran. Simpan pinjam akan berakhir pada waktu menjelang han raya idul fitri dengan
pembagian SHU dari hasil perputaran pinjaman ditambah dengan tabungan masing-masing anggota. Setelah hari raya perputaran simpanan dan pinjaman akan dimulai lagi dan awal. Fenomena ini membuat akumulasi modal yang diputar dalam simpan pinjam oleh kelompok ini tidak pemah berkembang semakin besar, karena setiap tabun dibagi dan dimuali dari awal lagi. Berbeda dengan UPK yang memperoleh bantuan dana abadi yang khusus untuk dikembangkan menjadi dana bergulir.

Ketujuh, Pengalaman terbaik ditemukan pada Kelompok Arisan dan Simpan Pinjam UPPKS (Usaha Peningkatan Program Kesejahteraan Keluarga) Kedundung yang beranggotakan para kader KB. Kelompok ini memperoleh pinjaman dari Program UPPKS BKKBN yang diputar kembali dalam bentuk pinjaman bergulir bersamaan dengan dana dan simpanan para anggata. Berbeda dengan UPK yang sarna-sarna memperoleh subsidi bantuan dana dari program pemerintah, pada kelompok ini tidak terjadi tunggakan pinjaman. Hal ini terjadi disebabkan oleh adanya dana anggota yang masuk di dalamnya. Hal ini mampu mengubah persepsi anggota tentang dana bantuan atau hibah dari pemerintah yang tidak perlu dikembalikan.

SUMMARY
The purpose of this research is to fmd a model of group development and savings and loans arisan women as micro finance institutions in poverty reduction efforts in Mojokerto. As with efforts to find a group improvement model, so this study will be preceded by efforts to identify characteristic groups in order to know the potential and weaknesses. tnput identification results are then used to develop a formulation development group that will be tested. Last stage of this study is to test the effectiveness of the model for later confinned as a model that can be disseminated. The specific objectives of this study are: First, identification of potential social gathering groups and women's savings and loans to be developed as an alternative microfinance institutions in community-based poverty; Second, Putting arisan development model and women's savings and loans to microfinance institutions in community-based poverty reduction.

To ensure achieving the research results which significantly can be evaluated and measured. this study conducted with the experimental design. In the early stages of a limited survey to obtain a real picture of potential research subject, as well as conduct in-depth evaluation of several potential groups, and then conducted an analysis to determine feasibility. of a pilot location. To deepen the diagnosis, carried out participatory FGDs and in-depth interviews. Results of diagnosis and developed in the preparation of manuals and modules. Method built evaluation at each stage of this research, using methods of participatory monitoring and evaluation is a tool for learning from experience. In order to confinn these findings at the end of the study will be conducted in a model validation workshop forums in order to obtain justification. Workshop in the framework of this validation study conducted at the LSPK (Lembaga Studi dan Pengembangan Kewirausahaan) Malang that is an institution that focuses its activities on community empowerment.

This study has identified several problems faced by microfinance institutions and fonnal profile of the potential development of savings and loans arisan women. Conclusion from these findings is as follows: First, the main problem faced by Microfinance Institutions in this Formal UPK is a high number of delinquent loans from the target group. Administrators are often faced with the perception of aid funds and grants from governments or countries that do not have to be returned. It also resulted in an inability to capture savings institutions in the community to increase the ability of loan portfolios. While in arisan and savings and loans are not delinquent loans at all, this is because the funds played in the fonn of the loan is paid-up capital from their own members.

Second, interest rates on loans and services focused on the provisions and mechanisms that limit the programs a maximum of 1.5% to growth in allocations to be rolled out slowly and tends to be institutional expenses. And on the other side arisan group savings and loans and provide loan interest rates are higher with the burden of operational costs are much lower, and stilL able to reach its members who
entered the category of poor. Third. the existence arisan and savings and loans is inherent in the activities of the PKK organization, however, institutional groups are still informal and not a legal entity (this is on one side to make this group received less legitimacy in terms of accessing funds from government programs, including banking institutions). Form groups on the number of members spheres smaller adjust the scope of administration, making this group up based on the needs and have the cohesion among the members of a very high.

Fourth, social cohesion is very high on arisan and savings and loans that have an impact on the creation ofvalues and norms that bind the members useful in the performance and sustainability of institutions. One of the outstanding value is the trust between members, it is able to maintain the rate of return smoothly from lenders and savings is high.

Fifth, the existence of arisan board and savings and loans are believed by its members is one key to success in maintaining the institution's performance in providing services to members and the management of funds is transparent and accountable. Sixth, management of loan funds, including the activities undertaken arisan and savings and loans have one•year rotation cycle. Savings and loans will end in time before the Idul Fitri with SHU division of the rotation of the loan plus the savings of each member. After the holiday savings and loan cycle will start again from scratch. This phenomenon makes the accumulation of capital that played in the savings and loans by these groups never grow larger, because each year is divided and from scratch again. Unlike the UPK is getting help special endowment fund to be developed into a revolving fund.

Seventh, the best experience is found in the group and Savings and Loans Arisan UPPKS (Business Improvement Family Welfare Program) consisting Kedundung family planning cadres. This group obtained a loan from BKKBN UPPKS program played back in the form of a revolving loan with funds from the savings of the members. Unlike the UPK equally subsidized funding from govemment programs, in this group does not occur loan arrears. This happens due to the incoming members of the funds in it. It is able to change the perception of members of the fund or grant aid from the government that does not have to be returned.
 
Download disini dan lanjutannya disini
 
Akun Media Sosial


Ask Librarian


Buku Prof. Dr. H. Suparno