Download sebagai ms word

judul - pengarang-majalah

s
n1
jhgkj kg gkjgk ggh


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Teori lokasi sentral dan penerangan - Markadi S.K.-Ilmu Pengetahuan Sosial: Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIP MALANG)

KATA, FUNGSI

Teori lokasi sentral diciptakan, dan dikembangkan oleh Christaller tahun 1930-an pada persebaran dan poila setlemen di Jerman bagian Timur. Teori lokasi ini selanjutnya dimodifikasi dan dikembangkan model-modelnya oleh ahli-ahli geogerafi kota dan setlemen lainnya,khususnya untuk perencanaan dan pengembangan kota yakni untuk melayani kebutuhan fasilitas umum yakni: barang maupun jasa disuatu wilayah, baik tingkat nasional, regional maupun lokal. Penerapan lokasi sentral mempertimbangkan nilai ekonomis dan geometrik. agar didapat nilai hierarki heksagonal yang efisien untuk kepentingan pelayanan bagi penduduk di suatu wilayah lokasi sentral beserta daerah komplementernya dengan memperhitungkan keberadaan pelayanan tersebut. Meskipun banyak kelemahannya, teori ini masih sesuai untuk negara berkembang, khususnya dalam perencanaan pembangunan wilayah.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Adaptasi kultural melawan marjinalitas dalam era pembangunan nasional: kasus masyarakat perantau Minangkabau - Irwan-Ilmu Pengetahuan Sosial: Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIP MALANG)

KEBUDAYAAN MINANGKABAU

Masyarakat dan kebudayaan tradisional-lokal di Indonesia dalam perkembangannya menghadapi pembangunan sebagai bentuk dominasi pusat yang dipandang modern - nasional. Sebagaimana dikatakan Dove (1983), bahwa kebudayaan tradisional - lokal dalam pembangunan nasional mengalami marjinalisasi. Pendapat ini diperkuat Tsing berdasarkan studinya pada Suku Dayak - Meratus. Ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar, karena berdasarkan studi perkotaan, terhadap masyarakat dan kebudayaan Minangkabau melalui tradisi merantaunya ke kota-kota besar (Urbanisasi) berhasil melakukan kontrak marjinalitas. Hal ini Pelly (1994) berjasa dalam memberi pemahaman terhadap reinterpretasi kultural Minangkabau. Berdasarkan bahan dari Pelly tersebut dilontarkan gagasan yang dihadapkan pada pendapat Dove dan Tsing.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pencemaran timbal (Pb) dan dampaknya bagi kesehatan - Sueb-Ilmu Pengetahuan Sosial: Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIP MALANG)

PENCEMARAN - ASPEK LINGKUNGAN

Pencemaran sudah demikian parah mengenai lingkungan kita. Salah satudiantara bahan pencemar itu adalah Timbal (Pb). Timbal ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari - hari. Kegunaanya antara lain meliputi produk baterei, produk logam seperti amunisi, pelapis kabel, pelapis kaleng makan, pipa dan solder, bahan kimia, pewarna cat, dan pelapis keramik. Beraneka kegunaan Timbal karena ditinjau segi keunggulan sifatnya. Juga tak kalah pentingnya, ternyata Timbal banyak digunakan sebagai bahan anti-ketuk dalam bensin. Pada waktu dan setelah proses pembakaran bensin, ternyata dilingkungan terpajang senyawa Timbal ke udara. Pajanan timbal inilah yang ternyata, setelah memasuki tubuh manusia, dapat mengganggu kesehatan, mulai dari yang ringan sampai yang berat.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Memahami kasus impeachment terhadap presien Bill Clinton untuk menegakkan supremasi hukum di Indonesia - Siswanto-Ilmu Pengetahuan Sosial : Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIPMALANG)

HUKUM DAN NEGARA

Impeachment terhadap presiden Bill Clinton merupakaan indikasi dilaksanakannya asas persamaan dalam proses politik dan hukum di Amerika. Dilaksanakannya asas persamaan tersebut di latarbelakangi oleh berkembangnya budaya hukum di Amerika, artinya hukum sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan memiliki peran sentral dalam penyelesaiaan masalah, termasuk masalah yang memiliki dimensi politik seperti impeachment. Hal ini membuktikan bahwa di Amerika hukum berlaku untuk semua warga negara tanpa membedakan kedudukan dan wewenang. Oleh karena itu, impeachment dapat dijadikan contoh untuk menegakkan supremasi hukum di Indonesiayang selama ini sangat diskriminatif hukum hanya dikenalkan pada rakyat kecil sedangkan pejabat negara kebal hukum walaupun melakukan kesalahan berat yang melanggar hukum.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Model pendidikan moral untuk anak pada masa kanak-kanak awal - Sukarnyana, I Wayan-Ilmu Pengetahuan Sosial : Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIPMALANG)

PENDIDIKAN MORAL - METODE DAN SISTEM
PENDIDIKAN DASAR - ASPEK MORAL

Pendidikan Moral bagi anak pada masa kanak-kanak awal secara sosial dan profesional sangat diperlukan, dan hal itu dapat dilakukan. Namun, karena karakteristik perkembangan mereka yang khas, maka model pendidikan moral bagi anakpada masa kanak-kanak awal cukup berbeda dengan anak pada usia remaja. Paling sedikit empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih model pendidikan moral bagi anak yang masa kanak-kanak awal: (1) karakteristik perkembangan anak (2)tujuan pendidikan moral (3) landasan teoretis tentang pendidikan moral, dan (4) model-model pendidikan moral.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Berbagai pemikiran politik hukum dalam UU tentang partai politik (UU No. 2/1999) - Sukawiyono-Ilmu Pengetahuan Sosial : Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIPMALANG)

PARTAI POLITIK - UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN
PEGAWAI NEGERI - KEGIATAN POLITIK - PERATURAN

Masalah politik hukum merupakan permasalahan politik (keinginan pengusaha) yang akan diterapkan/diberlakukan terhadap rakyat melalui wadah ketentuan hukum (peraturan). Politik hukum penguasa dibidang kebebasan berorganisas politik dipengaruhi oleh faktor stabilitas pemerintah yang berimplikasi terhadap meluas dan menyempitnya hak-hak asasi persamaan dan hak-hak asasi kebebasan. Di sisi lain, partai politik sebagai wadah penjabar aspirasi politik masyarakat selama ini diatur dengan berbagai pembatas, upaya penciptaan kondisi keterbukaan dan kebebasan berorganisasi politik bagi masyarakat baru mulai dilakukan pada masa reformasi. Di samping itu, perwujudan hak berorganisasi politik juga tergantung pada kadar kesadaran politik dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat, setelah dilakukan kajian dan penelaahan terhadap beberapa masalah di atas sehubungan di undangkannya UU No. 2/1999 tentang partai politik, diperolehkan gambaran sebagai berikut. Hak politik pegawai negeri sipil untuk berorganisasi politik yang pada masa Orde Baru dibedakan secara tegas dengan warga negara biasa, akhirnya berhasil direformasi. Politik hukum pemerintah reformasi dengan tegas memberikan kebebasan berdirinya partai politik berdasarkan ketentuan UU No 2/1999. Implikasinya, mestinya masyarakat (termasuk pegawai negeri sipil) diberi kebebasan menyeluruh aspirasi politiknya melalui partai politik yang dikehendaki. Meski demikian, kenyataannya masih terdapat kekaburan politik hukum pemerintah reformasi terhadap kebebasan pegawai negeri sipil untuk berorganisasi politik. Secara kebebasan terbukti dengan adanya keharusan kenyataan memilih menjadi PNS atau menjadi Politisi" Dengan demikian


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Agenda reformasi hukum - Budiono, Achmad-Ilmu Pengetahuan Sosial : Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIPMALANG)

HUKUM - PERUBAHAN

Untuk mengatasi krisis yang sedang melanda kehidupan berbangsa dan bernegara perlu segera mungkin dilakukan gerakan reformasi dalam segala bidang, termasuk reformasi dalam bidang hukum. Reformasi dalam bidang hukum penting sebagai syarat reformasi dalam bidang yang lain. Agar perubahan bisa berjalan secara teratur. Selama ini hukum telah gagal menjalankan fungsinya sebagai penjaga ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Reformasi dalam bidang hukum meliputi reformasi dalam substansi peraturan perundang-undangan, aparat penegak hukum, sarana dan prasarana serta kesadaran hukum masyarakat.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pemberdayaan badan legislatif daerah dalam Undang - Undang No. 22 Tahun 1999 - Suhartono, Edi-Ilmu Pengetahuan Sosial : Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIPMALANG)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH - PERATURAN DAN UNDANG-UNDANG

Badan legislatif sebagai cerminan lembaga perwakilan rakyat mempunyai fungsi dan peranan penting dalam merumuskan kemauan rakyat menjadi kebijaksanaa umum dan mengontrol pemeritah dalam melaksanakan kebijaksanaan tersebut. Badan ini sekaligus menjadi komunikator timbal balik antara pemerintah dengan rakyat. Eksistensi badan legislatif ini di masa Orde Baru menunjukkan kelemahan dan kurang perbedaanya dalam menjalankan fungsinya. Hal ini menunjukkan lemahnya kedudukan dan kualitas badan legislatif, akibatnya kurang mampu berperan dalam menampung dan memperjuangkan kepentingan rakyat yang berkembang dalam masyarakat luas, agar menjadi kebijaksanaan umum yang aspiratif dan demokratis. Rendahnya kualitas legislatif ini disebabkan banyaknya faktor yang cukup kompleks, baik menyangkut faktor politis, kurangnya keahlian, kurangnya sarana dan prasarana maupun karena memang kurang berkualitas anggota legislatif sendiri. Bergulirnya reformasi membawa angin segar dengan lahirnya UU. No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan otonomi seluas-luasnya kepada daerah dengan lebih meningkatkan peran dan fungsi badan legislatif daerah, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Undang-undang ini bermaksud untuk memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggung jawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. Oleh karena itu, hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan daerah dan melakukan fungsi pengawasan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Desain teks untuk belajar Problem Solving"" - Puryanto, Edy-Ilmu Pengetahuan Sosial: Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIP MALANG)

METODE BELAJAR - PEMECAHAN MASALAH

Desain teks untuk belajar problem solving pada dasarnya tidak berbeda dengan desain untuk belajar informasi verbal, belajar konsep, atau belajar bidang yang lain terutma dalam hal tipografi dan layout. Dalam hal tipografi, pertimbangan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sarana cetak lebih dominan, sedangkan dalam layout pertimbangan utama adalah agar penyajian isu dan atau masalah lebih mudah dikenali siswa atau agar permasalahan terlihat demikian penting dan lebih dominan dengan penggunan heading atau subheading. Dengan demikian, desain teks yang memungkinkan siswa dapat difasilitasi dalam belajar problem solving adalah penggunaan alat bantu teks seperti: ilustrasi statis, adjunct question, signaling, dan sebagainya sesuai dengan karakterisitik permasalahan dan strategi problem solving yang dipilih. Ilustrasi statis yang berwarna akan membantu siswa lebih mudah memahami" permasalahan. Adjunct questions membantu siswa memilih dan menggunakan strategi problem solving tertentu. Signaling membantu siswa lebih mudah mengenali fakta


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Meningkatkan kepuasan pelanggan, konsep dan aplikasi - Supriyanto-Ilmu Pengetahuan Sosial: Jurnal IPS dan Pengajaran (FPIPS IKIPMALANG)

KONSUMEN, KEPUASAN

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan (dunia bisnis) untuk memberikan pada pelanggan produk yang lebih baik, harga lebih murah, penyerahan lebih cepat, dan tingkat harga yang lebih murah. Pada hakekatnya tujuan di dalam kegiatan bisnis adalah untuk menciptakan dan mempertahankan para pelanggan. Karena pelanggan adalah orang yang menerima hasil pekerjaan yang dapat menentukan kualitasnya. Seperti apa dan hanya mereka yang dapat mereka apa dan bagaimana kebutuhan mereka. Oleh sebab itu, kepuasaan pelanggan harus menjadikan skala prioritas utama bagi perusahaan (dunia bisnis). Pengukuran terhadap tingkat kepuasan pelanggan perlu untuk dikaji dan diteliti oleh perusahaan, hal ini perlu dilakukan apabila perusahaan itu tidak ingin ditinggal oleh pelanggannya. Pengukuran tingkat kepuasaan pelanggan akan menjadi dasar kebijakan perusahaan di dalam mengambil keputusan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pengelolan pembelajaran dosen jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP MALANG - Maisyaroh-Manajemen Pendidikan (AP-FIP. IKIP MALANG)

PERGURUAN TINGGI - TENAGA PENGAJAR

The Insructionalmanagement of Lecturers at Educational Administraion Departement, Faculty of Education IKIP MALANG. The Purpose of this research is to invertigate the degree of instructional management of lecturersat Educatioanl Adminstration Departement Faculty of Education, IKIP MALANG. This research applied evaluative descriptive design and population upon the lecturers of this departemen. All the data were analyzed by employing descriptive statistical techniques; percentage, mean, and standard deviation. In general, it was found that the degree of instructional management of the lecturers were categorized as good, and only two obsserved variables were categorezed as sufficient including selecting snstructional strategy and identifying the causes of the existing students problems


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Tingkat kesukaran dan penyebab kesukaran kepala sekolah dasar dalam melaksanakan pembinan guru - Imron, Ali-Manajemen Pendidikan (AP-FIP. IKIP MALANG)

MANAJEMEN DAN ORGANISASI SEKOLAH (PENDIDIKAN DASAR) - PEMBINAAN GURU

The Purpose of the research is (1) to describe the degrees of difficultis and causes of pimary school principals in implementing the teacher improvemen program, and (2) to compare them with teachers' education background,experience and time of service. The population of the research are 60 teachers in mojokerto city. By employing area stratified random sampling, 48 (80


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Peningkatan mutu pendidikan di SD melalui pendekatan whole school development - Bafadal, Ibrahim-Manajemen Pendidikan (AP-FIP. IKIP MALANG)

PENDIDIKAN DASAR - ASPEK MANAJEMEN

The Perimary School Quality Improvement throug the whole school development Approach. In term of juridical, theoretical, and global perspectives, primery school is an urgent educational institution. For such a concern, the quality of primary school should be increased in term of social, institutional, and academic function. The hypothesis highlighted in this articale is the education quality improvement through the whole school development approach.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Reorientasi sistem pendidikan di Indonesia dalam era industrialisasi - Soetopo, Hendyat-Manajemen Pendidikan (AP-FIP. IKIP MALANG)

PENDIDIKAN - METODE DAN SISTEM - INDONESIA

Reorientation of Indonesia Educational System in the Era of Industrialization. The era of industrialization challenge us to initiate the excellenc and intelligent ideas which may be considered as initiate the policy makers. In response to such a concern, there are some issues related that educational system must be reoriented or redefined in term of national education system in industerialization era. First, how we cope whit educational and literature colonialis in national education system? Second, what is the strategy of the national education in this era? Third, what is the reation between education, job, and income in the era of industrialition? and the forth issue is educational curriculum that can be implemented in Indonesia. The four issues will be analyzed based on another educational systems which have been implemented in another countries of wold, especially in Asian countris.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kepemimpinan dalam rangka pemberdayaan sumber daya manusia - Burhanuddin-Manajeman Pendidikan (AP-FIP IKIP MALANG)

KEPEMIMPINAN

Leadership for the Empowerment of Human Resources in Organization isany assistance given to subordinates in empowering organizational human resources so they can contribute to the effective and efficient achievement of arganizational goals. On behalf of sould leadership, leader should consider the principles and conditions of effective leadership. He or she is advised the followers, and choosing leadership technique which is apropriate whit ther certain personal characteristic.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Gaya dasar kepemimpinan kepala sekolah dan kualitas sekolah - Wiyono, Bambang Budi-Manajeman Pendidikan (AP-FIP IKIP MALANG)

1. KEPEMIMPINAN
2. MANAJEMEN DAN ORGANISASI SEKOLAH

The Bassic Style of Principals' Leadership and school Quality. The school quality is considered as main issue in the national education system. Based on the general performance of the schools, the schools quality of Indonesia shoold be improved contnuously. Indonesia gaverament has implemented various progrems to increase the school quality. One of the program that has been conducted is the educatianal managament training to improve the guality of the principals' leadership in 27 provinces of Indonesia. The leadership style of the principals are perceived to influence school quality. Based on there search findings, it was found that the effective leadership style of the principals had improved by improving the leardership styles of the principals.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Peran kepemimpinan kepala sekolah yang efektif - Arifin, Imron-Manajemen Pendidikan (AP-FIP IKIP MALANG)

KEPEMIMPINAN
MANAJEMEN DAN ORGANISASI SEKOOLAH

The Role of Effective Principal Leadeship. The leadership of the principal is perceived as the key element for school effectiveness. Principal has two substantial roles: educational leader and school manager. The two roles can be specified in details including eight roles, such as cultural, social, team, supervisory, organizational, educational, administrative, and inspirational leadership. A pricipal may apply a role dominantly with out regarding another roles. The effective pricipals do not only fulfill the followers, needs in transactional way, but also exercise transformational model which is supposed to empower the school to become effective, excellence, and self managing.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kekuasaan dalam organisasi pedidikan - A.Supriyanto-Manajemen Pendidikan (AP-FIP IKIP MALANG)

PENDIDIKAN
MANAJEMEN DAN ORGANISASI

The Power in Educational Organization. The power in educational organization is common and natural. Actually, leaders are involved in politic (power in action) but they were not realized. Most of organizational leaders a gain a power and doing politics an occupation position, which cause the leaders, ever though formal, are fallen with that formal employment. However, if the power can be held on, the leaders will be able to exercise their leadership function effectively. But do not forget to remember that the power is belong to the Got, Allah SWT.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pertumbuhan dan hasil dua varietas mentimun (Cucumis sativus L) - Ashari, S.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibraw)

MENTIMUN - PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil dua varietas mentimun lokal, dilaksanakan di Lowokwaru Malang (+500 mdpl) dengan tanah Andosol pada bulan September sampai November 1998. Menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Dua varietas mentimun lokal sebagai perlakuan: varietas Bukoh dan Panda. Hasil penelitian menunjukan perbedaan pertumbuhan dan hasil yang nyata di antara kedua varietas yang diuji. Varietas Panda memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih besar, kecuali awal berbunga dan umur munculnya bunga jantan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pewarisan beberapa sifat kualitatif dan kuantitatif pada persilangan kacang tunggak (Vigna unguculata (L) Walp ssp unguculata) - Djatiwalujo, S.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibraw)

KACANG-KACANGAN - PENELITIAN

Percobaan bertujuan untuk mengetahui keberhasilan persaingan dan pewarisan beberapa sifat kualitatif dan kuantitatif dari masing-masing kombinasi persilangan. Persilangan dilakukan dengan metode persaingn tunggal. Digunakan lima galur sebagai tertua yaitu IT82D889/2,191,SU73,202 sebagai tertua betina dan Vital-4 sebagai tertua jantan. Hasil percobaan menunjukan perbedaan keberhasilan persilangan dan perwarisan sifat. Kondisi IPT82D889/2 X Vital-4 menunjukan persentase keberhasilan persaingan tertinggi sebesar 30,77


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Studi kombinasi PMSG, HCG dan EGS dalam medium kultur terhadap transformasi inti oosit kambing in vitro - M.N. Ihsan-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibraw)

PISIOLOGI BINATANG
FISIOLOGI DAN PATALOGI SEL

Suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembuatan medium kultur dengan suplementasi PMSG dan HCG serta Estrus goad seru (EGS) pada TCM199 sebagi medium dasar kultur pada pematangan oosit in vital (PIV)kambing telah dilakukan di Laboratorium FMIPA Universitas Brawijaya. Materi penelitihan adalah oosit kambing Peranakan Etawah. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap pola tersarang, dengan 4 perlakuan medium suplementasi yaitu TCM 199, TCM199+HCG, TCM199+HCG+PMSG dan TCM 199+HCG+PMSG+EGS. Variabel yang diamati meliputi tingkat ekspansi sel-sel kumulatif dan transformasi inti oosit.Hasil penelitihan menunjukkan bahwa pemberitahuan PMSG dan HCG terhadap ekspansi sel-sel kumulus dan transformasi inti oosit menunjukkan perbedaan yang nyata. Dari hasil ini disimpulkan bahwa supelmentasi PMSG dan HCG tidak dapat mendukung perkembangan sel-sel kumulus oosit kambing dapat berkembang secara sempurna dan dapat mencapai tingkat meiosis Metafase II.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Peningkatan mutu dan kuantitas benih (percil) dengan teknologi heat-shock dalam menunjang kegiatan budidaya katak benggala, Rana catesbeiana (SHAW) - Wiadnya, D.G.R.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibraw)

KODO - PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Budidaya Perikanan Fakultas Perikanan Unibraw Malang, pada bulan September sampai dengan Desember 1998. Tujuan penelitian adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan metamorfosis kecebong katak benggala, Rana catesbeiana (Shaw). Penelitian dilakukan dalam dua unit resirkulasi sistem biofiter, masing-masing dilengkapi dengan 12 aguarium. Telur dan larva katak benggala diberi perlakuan kejut suhu masing-masing pada 27,5;30,0; 32,0; 35,0; dan (37,5) derajat selsius selama dua menit, dengan perlakuan kontrol (tanpa kejut suhu). Setelah larva berumur10 hari, diseleksi 300 larva dari masing-masing perlakuan (dengan 2x ulangan) dan didederkan pada masing-masing sistem resirkulasi. Selama masa pendederan, larva kecebong diberi pakan BF-1 (setara protein +40


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Produksi dan karakterisasi isolat imunogen larva visceral toxocara vitulorum sebagai bahan vaksin - Pratiwi T-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibrow)

PROTEIN - PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan menguji kemungkinan protein imunogen larva visceral Toxocar vitulorum (LII Tv) dengan berat molekul 32.000 dan 34.000 dan, dapat digunakan sebagai bahan utama pembuatan vaksin Toxocariasis. Sumber protein imunogen tersebut didepan dari LII Tv hasil infeksi buatan pada Mus musculus yang dihomogenisasikan kemudian dipekatkan dengan diallisa amomium sulfat berikut selama 24 jam. Isolasi protein imunogen tersebut dilakukan dengan gel filrasi Sephadeks G-75, kemudian diuji ulang dengan gel elektroforesis. Pengukuran titer antibodi homolog Mus musculus yang diperlakukan dengan suntikan protein imunogen LIITv, dibaca dengan teknik Elisa setiap minggu selama lima minggu. Pada pembacaan titer antibodi perlakuan DI (100 (m) dan D2 (200) terlihat tetap bertahan selama tiga minggu, sedangkan pada perlakuan penambahan IFA ajuvant terlihat bertahan selama lima minggu. Uji ikatan antigen-antibodi dengan Radial Imuno Difusi terlihat hasil positif selama lima minggu pengamatan. Demikian pula hasil uji lapangan dengan Dot Blot pada kelompok sapi berdasarkan umur dan status kebuntingan. Kesimpulan dari penelitian ini ialah bahwa protein LIITv dengan berat molekul 32.000 Da dan 34.000 Da bersifat imunogen dan dapat digunakan sebagai bahan utama pembuatan vaksin Toxocariasis visceral pada sapi semua umur.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Penggunaan troksin dan pemanfaatan limbah cair tahu untuk mempercepat metamorfosis kecebong katak benggala (Rana catesbeiana Shaw) - Soeprijanto-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibrow)

KODOK - PENELITIAN

Permasalahan budidaya katak benggala adalah lamanya pemeliharaan kecebong sampai menjadi percil yang memakan waktu 2-4 bulan.Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Thyroxine dan limbah tahu pada kecebong katak benggala (Rana catesbeiana Shaw) stadium XI-XII. Dilakukan di bak plastik berkapasitas 10 liter padat penebaran 3 ekor/liter.Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode eksperimental dengan Rancangann Acak Kelompok (RAK) berpola faktoral 4 x 2. Sebagai perlakuan adalah doses tiroksin: 0,25; 0.5; 0.75 dan 1 tablet/I dengan perlakuan kombinasi penggunaan limbah tahu cair 25 ppm dan tanpa penambahan limbah tahu yang diulang sebanyak 3 kali. Bahan penelitian,kecebong stadia XI-XIII, hormon throxine (Thyrax levothyroxine sodium), limbah tahu, pakan, pH pen, temometer dan DO meter. Hasil penelitian pemberian hormon thhyroxine berpengaruh nyata terhadap metamorfosis berudu katak benggala. Pemberian dosis 1 tablet/liter memberikan waktu tercepat. Adapun perlakuan pemberian limbah tahu tidak berpengaruh nyata.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Sistem budidaya bikultur: penaeus monodon (Fabricius) CUM penaeus mergiensis (de Man) pada tambak intensif di Jawa Timur - Harianti, A.M.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit. Unibrow)

TAMBAK
UDANG

Penelitian dilakukan dengan memonitor kegiatan prodiksi tambak intensif sistem bikultur dari tiga lokasi yang berbeda, yaitu: lokasi 1 ( pantai Selatan Jawa Timur), lokasi 2 (pantai Utara Barat), dan lokasi 3 ( pantai Selatan Madura). Dari masing-masing lokasi dipilih dua petambak berdasarkan kesediaan petambak dalam bekerja sama, pemanfaatan petaka sebagai usaha bikultur, dan tersedianya sistem administerasi dan monitoring kualitas air yang lengkap. Dari masing-masig petambak dipilih 10 petakan yang digunakan sebagai usaha bikultur udang windu dengan udang putih, untuk total contoh 60 petaka tembak. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dengan padat penebaran udang windu yang hampir sama, produksi biomas akhir dari tambak di lokasi 1 lebih tinggi dibandingkan dengan dua lokasi lainnya (lokasi 2 dan 3). Secara keseluruhan, produksi biomas udang windu mengalami penurunan dibanding gambaran produksi terakhir. Intoduksi udang windu putih ke dalam bikultur masih diragukan sebagai altenatif untuk mempertahankan produksi udang windu dan memanfaatkan sisa bahan organik pakan ditambak. Estimasi terhadap kemampuan fiksasi karbon C menunjukkan bahan udang putih juga memanfatkan sebagai pakan pellet yang ditujukan untuk udang windu. Hal ini bisa dilihat dari gambar nilai FCR yang secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan musim tanam sebelumnya. Peningkatan STD sampai batas tertentu (62 # m-2) masih akan meningkatkan produksi biomas, namun pada saat itu sudah menurunkan tingkat SR dan berat individu saat panen. Peningkatan penebaran udang windu harus diikuti dengan penurunan penebaran udang putih untuk mencegah kompetisi di antara kedua spesies budidaya. Hasil pengamatan kualitas air tidak menunjukkan perbedaan diantara lokasi tambak. Namun hampir seluruh parameter kualitas sir masih berada pada kisaran untuk pertumbuhan udang.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Ekspresi GEN pada berbagai tingkat perkembangan berudu katak lembu (Rana catesbeiana) yang diperlakukan dengan stres panas - Permana, S.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayatii = Life Sciences (Lemlit Unibrow)

KODOK - PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi gen dalam bentuk munculnya Heat Shock (HS) pada berbagai tingkat perkembangan berudu katak lembu (Rana catesbelana) bila diperlukan dengan stres lingkungan/stres panas. Dua kelompok berudu katak (kontrol dan perlakuan) yang masing-masing bagian dibagi menjadi 3 sub-kelompok= berudu yang belum berkaki; berudu berkaki 2; dan berudu berkaki 4, setelah diaklimatisasi selama 1 minggu, kelompok perlakuan diperlakukan dengan stres panas dari suhu (25) derajat selsius (kondisi normal) ke suhu (35) derajat selsius ( kondisi perlakukan selama 3 menit, dan setelah itu dikembalikan lagi ke suhu 25 derajat C selama 10 menit, untuk selanjutnya dibuat ekstrak protein heparnya dan dianalisis dengan menggunakan Elektroforesis 10


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Strategi pengaturan salinitas dan pemberian serbuk jamur merang (Volvariella volvaceae) sebagi penanggulangan penyakit kunang-kunang (Vibrio SPP) pada udang windu di mini backyard - Prajitno, A.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayatii = Life Sciences (Lemlit Unibrow)

UDANG WINDU - PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap serangga bakteri kunang-kunang (Vibrio SPP) pada Udang Windu PI II yang dipelihara dalam bak-bak percobaan (Mini Backyard; 2) mengetahui pengaruh salinitas rendah dan pemberian serbuk jamur merang (Volyariella volyaceae) terhadap pertumbuhan udang windu (Penaeus monodon Fab); 3) mengetahui sejahu mana survival rate udang windu (Penaeus monodon Fab) yang bipengaruhi salicitas rendah dan pembelian serbuk jamur merang (Volcariella volvaceae).Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap - Faktorial. Perlakuan salinitas (faktor 1) adalah A(12 ppt), B(16 ppt) C(20 ppt). Sedangkan faktor 2 adalah serbuk jamur merang a(0


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Perkembangan dan klasifikasi tanah di sekitar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru - Munir, M.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayatii = Life Sciences (Lemlit Unibraw)

TANAH - PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tanah-tanah yang berkembang dari bahan vulkanik di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru serta mengklaskan kedalam sistem taksonomi tanah (Soil Taxonomy). Empat pedon telah diamati, yaitu: di Desa Ngadas, Ranupane, Ngadasari di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dan di daerah Tosari. Sampel tanah diambil di setiap horizon untuk setiap pedon dan dianalisis laboratorium meliputi: tekstur tanah, C-organik, N-total, Retensi-P, KTK (NH4OAc pH 7). Basa-basa dapat ditukar (NH4OAc pH 7), Al 1N KCl (bila pH H2O<5.0), pH H2O dan pH KCl (1:1), serta kandungan Al and Fe larut dalam amonium oksalat. Dari hasil pengamatan lapangan dan analisis menunjukkan bahwa dari 4 pedon yang berada di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dapat digolongkan ke dalam katagori order Andisols dengan tingkat perkembangan lemah sampai sedang. Secara berturut-turut tanah yang berada di sekitar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, di desa Ngadas, Ranupane, Ngadasari dan Tosari masuk ke dalam kategori subgroup: Thaptic Udivitrands, Humic Udivitrands, Alfic Udivitrands dan Typic Udivitrands. Saran-saran yang dapat dikemukakan dari penelitian bahwa Andisols mempunyai persyaratan sifat Andik antara lain persentase (Al+1/2 Fe) lebih dari 2


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Penggunaan fitoplankton Chaetoceros ceratosporum kering untuk menghambat perkembangan bakteri bercahaya vibrio harveyi - Kartikaningsih, H.-Jurnal Ilmu-ilmu Hayatii = Life Sciences (Lemlit Unibraw)

UDANG WINDU - PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah (a) untuk mendapatkan dosis pemberian Chaetoceros ceratosporum kering yang terbaik pada pemeliharaan larva udang windu; (b) untuk mendapatkan frekuensi pemberian Chaetoceros ceratosporum kering terbaik pada pemeliharaan larva udang windu; (c) untuk menentukan manajemen pemberian pakan yang terbaik dalam pemeliharaan larva di harapkan dapat menekan perkembangan Virbal harveyi. Penelitian ini dilakukan di Loka Penelitihan Perikanan Petani, Gondol Bali mulai bulan September 1999 sampai dengan Februari 2000. Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap 3 faktor dengan ulangan 4 kali. Penelitian tahap pertama berupa pemberian pakan dengan dosis rendah, dosis normal dan dosis tinggi. Tahap kedua berupa frekuensi pemberian pakan dua kali, tiga kali dan empat kali per hari. Tahap ketiga berupa pola pemberian pakan 20/80, 30/70, 40/60 dan 50/50. Tahap keempat berupa aplikasi hasil terbaik penelitian tahap 1.2.3 pada skala 1.000 L dibandingkan dengan pemeliharaan udang umumnya (kontrol) dengan ulangan 6 kali. Kosenterasi pemberian pakan C ceratosporum kering terbaik pada stadia Zoea 1 dan PL-1 pada dosis rendah, Zoea 2, Zoea 3 dan Mysis-3 pada dosis tinggi, Mysis 1 dan Mysis 2 pada dosis normal. Sintasan larva pada stadia Zoea 1 sebesar 75


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Identifikasi strain jamur kudis, Sphaceloma batas di sentra produksi ubijalar di Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali - Rasminah, Siti-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit Unibrow)

UBI JALAR

Penyakit kudis yang disebabkan oleh jamur Sphaceloma batatas merupakan salah satu kendala dalam upaya meningkatkan produksi ubijalar. Penelitian untuk mengidentifikasi strain jamur tersebut di sentra produksi ubijalar di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali dilakukan pada tahun 1998. Identifikasi jamur didasarkan atas perbedaan patogenisitas jamur pada lima varietas/klon ubijalar pembeda (differential host) dengan inokulasi buatan menggunakan suspensi spora dengan kepadatan 4,5 10/ml di laboratorium. Hasil penelitihan diperoleh 10 isolat jamur dari daerah Malang: Jombegede, Gunung Kawi, Karang Ploso, Pakisaji, Di Yogyakarta, Magelang, Karanganyar dan Mengwi. Berdasarkan uji patogenisitas pada varietas/klon pembeda MIS 146-1, MIS 142-3, MIS 12659-3 Perambanan dan Borobudur diperoleh 9 strain jamur yaitu: Sphaceloma batatas (Sb) 034, Sb 032 Sb 002, Sb 030, Sb 000, Sb 014, Sb 037, Sb 027 dan Sb 006, Sb 037 (isolat JG 98-1 yang diperoleh dari Jambegede, Malang) mempunyai virulensi tertinggi, sebaiknya Sb 00 (isolat KA 98-1 yang diperoleh dari Karanganyar) merupakan isolat dengan virulensi terlemah.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Analisa rasio sebagai alat evaluasi kinerja keuangan perusahaan - Sudarmisti-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati = Life Sciences (Lemlit Unibrow)

ANALISA KEUANGAN
ANALISA RASIO

Setiap akhir suatu periode, kinerja suatu perusahaan harus diukur untuk melihat apakah mengalami pertumbuhan atau tidak, ukuran ini diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai kinerja perusahaan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan manajemen di masa yang akan datang. Salah satu alat yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan adalah analisis rasio. Penggunaan analisis rasio untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan ini telah di evaluasi oleh beberapa pakar dan peneliti dalam bidang manajemen keuangan. Analisis rasio dapat dilakukan dengan cara membandingkan data historis perusahaan yang disebut sebagai analisis kecenderungan (trend analysis). Di samping itu, analisis dapat juga dilakukan dengan membandingkan rasio peusahaan dengan rata-rata industri atau dengan hasil para pesaing. Angka rata-rata industri merupakan rata-rata keuangan dari perusahaan sejenis, yang dibandingkan guna menentukan posisi perusahaan dalam industri.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Peranan informasi dalam pengendalian manajemen - Wafa, Achmad Ali-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

MANAJEMEN PENGENDALIAN

Proses pengendalian manajemen mengarah pada implementasi strategi. Strategi perlu perencanaan yang memperhitungkan segala aspek dan dampak yang mungkin timbul. Baik pengendalian maupun perencanaan berhubungan erat dengan pengambilan keputusan-keputusan strategis dan operasional. Pengambilan keputusan yang tepat memerlukan informasi yang benar-benar diperlukan sesuai dengan situasi eksternal dan kondisi internal organisasi bisnis yang bersangkutan. Dalam hal ini hasil perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan untuk memberi kemudahan dan kenyamanan baik dalam keragka pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengendalian manajemen, perencanaan startegis, maupun untuk pengendalian interaktif. Dengan dibangunnya pengendalian interaktif dapat tercapai suasana learning organization yang berwawasan ke depan dan ke luar guna memperoleh model-model solusi yang efektif dan efisien demi kelangsungan hidup dan terciptanya tujuan-tujuan organisasi bisnis secara keseluruhan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Teori lokasi sental dan penerapannya - Marhadi, S.K.-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

KOTA, FUNGSI
SOSIOLOGI KOTA

Teori lokasi sentral diciptakan, dan dikembangkan oleh Christaller tahun 1930-an pada persebaran dan pola setlemen di Jerman bagian Timur. Teori lokasi ini selanjutnya dimodifikasi dan dikembangkan model-modelnya oleh ahli-ahli geografi kota dan settlemen lainnya khususnya untuk perencanaan dan pengembangan kota yakni untuk melayani kebutuhan fasilitas umum yakni: barang maupun jasa di suatu wilayah, baik tingkat nasional, regional maupun lokal. Penerapan lokasi sentral mempertimbangkan nilai ekonomis dan geometrik. Agar didapatkan nilai hirarki heksagonal yang efisien untuk kepentingan pelayanan bagi penduduk di suatu wilayah lokasi sentral beserta daerah kompelementernya dengan memperhitungkan keberadaan pelayanan tersebut. Meskipun banyak kelemahannya, terori ini masih sesuai untuk negara berkembang, khususnya dalam perencanaan pembangunan wilayah.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Adaptasi kultural melawan marjinalitas dalam era pembangunan nasional: kasus masyarakat perantau Minangkabau - Irawan-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

KEBUDAYAAN MINANGKABAU ASPEK PEMBANGUNAN

Masyarakat dan kebudayaan tradisional - lokal di Indonesia dalam perkembangannya menghadapi pembangunan sebagai bentuk dominasi pusat yang dipandang modern - nasional. Sebagaimana dikatakan Dove (1983). bahwa kebudayaan tradisional - lokal dalam pembangunan nasional mengalami marjinalisasi. Pendapat ini diperkuat Tsing berdasarkan studinya pada Suku Dayak - Meratus. Ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar, karena berdasarkan studi perkotaan, terhadap masyarakat dan kebudayaan Minangkabau melalui tradisi merantaunya ke kota-kota besar (urbanisasi) berhasil melakukan kontra marjinalitas. Dalam hal ini Pelly (1994) berjasa dalam memberi pemahaman terhadap reinterpretasi kultural Minangkabau. Berdasarkan bahan dari Pelly tersebut dilontarkan gagsan yang diharapkan pada pendapat Dove dan Tsing.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pencemaran timbal (Pb) dan dampaknya bagi kesehatan - Sueb-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

PERENCANAAN - ASPEK LINGKUNGAN
TIMBAL, PENCEMARAN
TIMBAL - ASPEK LINGKUNGAN

Pencemaran sudah demikian parah mengenai lingkungan kita. Salah satu di antaranya bahan pencemaran itu adalah Timbal (Pb). Timbal ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kegunaannya antara lain meliputi produk baterei, produk logam seperti amunisi, pelapis kabel, pelapis kaleng makanan, pipa dan solder, bahan kimia, pewarna cat, dan pelapis keramik. beraneka kegunaan timbal karena ditunjang segi keunggulan sifatnya. Juga tak kalah pentingnya, ternyata timbal banyak digunakan sebagai bahan anti-ketuk dalam bensin. Pada waktu dan setelah proses pembakaran bensin, ternyata di lingkungan terpajan senyawa timbal ke udara. Pajanan timbal inilah yang ternyata, setelah memasuki tubuh manusia, dapat mengganggu kesehatan, mulai dari yang ringan sampai yang berat.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Memahami kasus impeachment terhadap Presiden Bill Clinton untuk menegakkan superemasi hukum di Indonesia - Siswanto-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

HUKUM, PRAKTEK

Impeacment terhadap Presiden Bill Clinton merupakan indikasi dilaksanakannya asas persamaan dalam proses politik dan hukum di Amerika. dilaksanakannya asas persamaan tersebut di latarbelakangi oleh berkembangnya budaya hukum di Amerika, artinya hukum sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan memiliki peran sentral dalam penyelesaian masalah, termasuk masalah yang memiliki dimensi politik seperti Impeacment. Hal ini membuktikan bahwa di Amerika hukum berlaku untuk semua warga negara tanpa membedakan kedudukan dan wewenang. Oleh karena itu, Impeacment dapat dijadikan contoh untuk menegakkan supermasi hukum hanya dikenakan pada rakyat kecil sedangkan pejabat negara kebal hukum walaupun melakukan kesalahan berat yang melanggar hukum.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Model pendidikan moral untuk anak pada masa kanak-kanak awal - Sukarnyana, I Wayan-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

PENDIDIKAN MORAL (PENDIDIKAN DASAR) - USIA ANAK

Pendidikan moral bagi anak pada masa kanak-kanak awal secara sosial dan profesional sangat diperlukan, dan hal itu dapat dilakukan. Namun, karena karakteristik perkembangan mereka yang khas, maka model pendidikan moral bagi anak pada masa kanak-kanak awal cukup berbeda dengan anak paada usia remaja. Paling sedikit ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih model pendidikan moral bagi anak pada masa kanak-kanak awal: (1) karakteristik perkembangan anak, (2) tujuan pendidikan moral, (3) landasan terotis tentang pendidikan moral, dan (4) model-model pendidikan moral


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Berbagai pemikiran politik hukum dalam UU tentang partai Politik (UU No. 2/1999) - Sukowiyono-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

PARTAI POLITIK - UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN

Masalah politik hukum merupakan permasalahan politik (keinginan penguasa) yang akan diterapkan/diberlakukan terhadap rekyat melalui wadah ketntuan hukum (peraturan). Politik hukum penguasa di bidang kebebasan berorganisasi politik dipengaruhi oleh faktor stabilitas pemerintahan yang berimplikasi terhadap meluas dan menyembpitnya hak-hak atas persamaan dan hak-hak atas kebebasan. Disisi lain, partai politik sebagai wadah penjabar aspirasi politik masyarakat selama ini diatur dengan berbagai pembatasan, upaya penciptaan kondisi keterbukaan dan kebebasan berorganisasi politik bagi masyarakat baru mulai dilakukan pada masa reformasi. Di samping itu, perwujudan hak berorganisasi politik dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat. Setelah dilakukan kajian dan penelaahan terhadap beberapa masalah di atas sehubungan dengan diundangkannnya UU No.2/1999 tentang Partai Politik, diperoleh gambaran sebagai berikut. Hak politik pegawai negeri sipil untuk berorganisasi politik yang pada masa Orde Baru dibedakan secara tegas dengan warga negara biasa, akhirnya berhasil direformasi. Politik hukum pemerintah reformasi dengan tegas memberikan kebebasan berdirinya partai politik berdasarkan ketentuang UU No.2/1999. Implikasinya mestinya masyarakat (termasuk pegawai negeri sipil) diberi kebebasan nmenyalurkan aspirasi politiknya melalui pertai politik yang dikehendaki. Meski demikian, kenyataannya masih terdapat kekaburan politik hukum pemerintah reformasi terhadap kebebasan pegawai negeri sipil untuk berorganisasi poilitik. Secara ekstrem, hak ini terbukti dengan adanya keharusan menyatakan memilih menjadi PNS atau menjadi Politisi". Dengan demikian


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Agenda reformasi hukum - Budiono, Achmad-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

HUKUM, REFORMASI
HUKUM, SUPERMASI

Untuk mengatasi krisis yang sedang melanda kehidupan berbangsa dan bernegara perlu sesegera mungkin dilakukan gerakan reformasi dalam segala bidang, termasuk reformasi dalam bidang hukum. Reformasi dalam bidang hukum penting sebagai syarat reformasi dalam bidang yang lain. Agar perubahan bisa berjalan secara tertur. Selama ini hukum telah gagal menjalankan fungsinya sebagai penjaga ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Reformasi dalam bidang hukum meliputi reformasi dalam substansi peraturan perundang-undangan, aparat penegak hukum, sarana dan prasarana serta kesadaran hukum masyarakat.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pemberdayaan badan legislatif daerah dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 - Edi Suhartono-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

Badan legislatif sebagai cerminan lembaga perwakilan rakyat mempunyai fungsi dan peranan penting dalam merumuskan kemauan rakyat menjadi kebijaksanaan umum dan mengontrol pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaan tersebut. Badan ini sekaligus menjadi komunikator timbal balik antara pemerintah dengan rakyat. Eksistensi badan legislatif ini di masa Orde Baru menunjukkan kelemahannya dan kurang pemberdayaan dalam menjalankan fungsinya. Hal ini menunjukkan lemahnya kedudukan dan kualitas badan legislatif, akibatnya kurang mampu berperan dalam menampung dan memperjuangkan kepentingan rakyat yang berkembang dalam masyarakat luas, agar menjadi kebijaksanaan umum yang aspiratif dan demokratis. Rendahnya kualitas legislatif ini disebabkan banyak faktor yang cukup kompleks, baik menyangkut faktor politis, kurangnya keahlian, kurangnya sarana dan prasarana maupun karena memang kurang berkualitasnya anggota legislatif sendiri. Bergulirnya reformasi membawa angin segar dengan lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan otonomi seluas-luasnya kepada daerah dengan lebih meningkatkan peran dan fungsi badan legislatif daerah, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Undang-Undang ini bermaksud untuk memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. Oleh karena itu, hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan daerah dan melakukan fungsi pengawasan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Desain teks untuk belajar problem solving"" - Purwanto, Edy-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

BELAJAR
PEMECAHAN MASALAH
PROBLEM SOLVING

Desain teks untuk belajar problem solving pada dasarnya tidak berbeda dengan desain untuk belajar informasi verbal, belajar konsep, atau belajar bidang yang lain terutama dalam hal tipografi dan layout. Dalam hal tipografi, pertimbangan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan sarana cetak lebih dominan, sedangkan dalam hal layout pertimbangan utama adalah agar penyajian isu dan atau masalah lebih mudah dikenal siswa atau agar permasalahan terlihat demikian penting dan lebih dominan dengan penggunaan heading atau subheading. Dengan demikian, desain teks yang memungkinkan siswa, dapat difasilitaskan dalam belajar problem solving adalah penggunaan alat bantu teks seperti: ilustrasi statis yang berwarna akan membantu siswa lebih mudah memahami" permasalahan. Adjunct questions membantu siswa memilih dan menggunakan strategi problem solving tertentu. Signaling membantu siswa lebih mudah mengenali fakta


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Meningkatkan keputusan pelanggan konsep dan aplikasi - Supriyanto-Ilmu Pengetahuan Sosial (Jurnal IPS dan Pengajarannya. FPIPS. IKIP MALANG)

KONSUMEN, KEPUASAN

Dalam era gelobalisasi yang ditandai dengan persaingan bisnis yang semakin ketat menurut perusahaan (dunia bisnis) untuk memberikan pada pelanggan produk yang lebih baik, harga lebih murah, penyerahan lebih cepat, dan tingkat harga yang lebih murah. Pada hakikatnya tujuan di dalam kegiatan bisnis adalah untuk menciptakan dan mempertahankan pada pelanggan. karena pelanggan adalah orang yang menerima hasil pekerjaan yang dapat menentukan kualitasnya. Seperti apa dan hanya mereka yang dapat mereka apa dan bagaimana kebutuhan mereka. Oleh sebab itu, kepuasan pelanggan harus menjadi sekala prioritas umum bagi perusahaan (dunia bisnis). Pengukuran terhadap tingkat keputusan pelanggan perlu untuk dikaji dan diteliti oleh perusahaa, hal ini perlu dilakukan apabila perusahaan itu tidak ingin ditinggalkan oleh pelanggannya. Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan akan menjadi dasar kebijakan perusahaan di dalam mengambil keputusan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Studi tentang bentuk kemiskinan penduduk desa fajar baru sebagai desa tertinggal di wilayah Kecamatan Tanjungbintang Kabupaten Lampung Selatan - Budiyono-Pendidikan Geografi: Kajian teori dan praktek dalam bidang pendidikan geografi (FPIPS. IKIP MALANG)

KEMISKINAN, PENGENTASAN

Penelitian ini bertujuan mengkaji bentuk kemiskinan di desa tertinggal, dengan titik tekan kajiannya pada karakteristik penduduk miskin, pendapatan dan tingkat pemenuhan kebutuhan pokok, serta harapan penduduk kepada pemerintah untuk mengentaskan kemiskinannya. Populasi penelitian sebanyak 404 KK. Karena berbagi keterbatasan penelitian, diambil sampel 10


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kualitas lingkungan permukiman penduduk miskin daerah pedesaan di Kabupaten Tulungagung - Utaya, Sugeng-Pendidikan Geografi: Kajian teori dan praktek dalam bidang pendidikan geografi (FPIPS. IKIP MALANG)

KEMISKINAN

Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi kualitas permukiman penduduk miskin di daerah pedesaan di Kabupaten Tulungagung dan kaitan kualitas lingkungan permukiman tersebut dengan kondisi sosial ekonomi penduduknya. Populasi penelitian adalah seluruh wilayah dan penduduk miskin di desa pedesaan di Kabupaten Tulungagung. Sampel wilayah ditetapkan secara sengaja (pourposife sampling)dan terpilih desa kiping mewakili daerah belum berkembang dan desa Tanggung mewakili daerah yang sudah berkembang. Sampel responden dipilih secara random dengan wawancar dan observasi lapangan, dengan instrumen daftar pertanyaan dan tabel kriteria kualitas lingkungan permukiman. Penepatan kualitas lingkungan rumah dan permukiman dikerjakan dengan cara pemberian skor (scoring) menggunakan model Risyanto (modifikasi model Departemen Pekerja Umum). Korelasi kualitas lingkungan permukiman dengan kondisi sosial ekonomi penduduk dianalisis dengan tabel silang dan regresi ganda. Penelitian ini memperoleh hasil: (1) Kualitas lingkungan rumah dan lingkungan permukiman penduduk miskin di Kabupaten Tulungagung masih tergolong kurang baik hingga buruk; hal ini menunjukkan bahwa faktor kemiskinan masih menjadi kendala bagi upaya pemeliharaan rumah dan lingkungan permukiman; (2) Kualitas lingkungan rumah dan lingkungan permukiman di desa pedesaan miskin di Tulungagung sangat di pengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi penduduknya, dan faktor yang menonjol adalah jumlah anggota keluarga dan tingkat pendapatan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pemimpin masyarakat dan program aksi di pedesaan - Fatchan, Ach.-Pendidikan Geografi: Kajian teori dan praktek dalam bidang pendidikan geogerafi (FPIPS.IKIP MALANG)

KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT

Membahas dan mengungkap tentang kepemimpinan yang ada dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, lebih khusus petani (peasant society) sangat perlu, karena berkaitan dengan strategi dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat atau pembangunan pedesaan. Pengetahuan tentang struktur kekuatan dan pimpinan sosial dalam kehidupan masyarakat, secara garis besar berkaitan dengan personal yang peduli terhadap program-program pembangunan dan pengembangan yang ada di dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Pemimpin masyarakat mempunyai legitimasi terhadap program-program pembangunan. Tahap bantuan mereka sangat sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan penggerakan masyarakat. Dalam konsep kekuatan sosial, pemimpin masyarakat merupakan dimensi yang sangat penting.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Perencanaan dan program pembangunan di pedesaan - Taryana, Didik-Pendidikan Geografi: Kajian teori dan praktek dalam bidang pendidikan geogerafi (FPIPS. IKIP MALANG)

PEMBANGUNAN DESA, PERENCANAAN

Perencanaan merupakan salah satu pokok dari manajemen, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. Perencanaan pembangunan pedesaan harus dilaksanakan secara terpadu dengan menentukan urutan tindakan secara tepat dalam pembangunan manusia seutuhnya. Dalam rangka pelaksanaan perencanaan pembangunan pedesaan secara terpadu dilaksanakan mekanisme perencanaan dari bawah (bottom up planning) yaitu perencanaan pembangunan diusulkan oleh desa atau kelurahan yang telah dimusyawarakan di LKMD dan disetujui oleh kepala desa. Dalam musyawarah tersebut LKMD menyusun usulan proyek desa dan usulan tersebut disahkan oleh LMD. Pembangunan pedesaan adalah proses kegiatan yang berlangsung di desa meliputi berbagai bidang yang secara sadar direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sasaran pembangunan desa adalah untuk mewujudkan semua desa menjadi desa swasembada. Pembangunan pedesaan dititik beratkan pada aspek ekonomi, fisik, manusia dan pemenuhan kebutuhan, yang semuanya harus diintegrasikan dan dikoordinasi secara baik dan benar agar tujuan pem-bangunan tersebut sesuai dengan tujuannya.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Peranan pendidikan dalam inovasi rekayasa biologi bidang pertanian di pedesaan - Juarti-Pendidikan Geogafi: Kajian teori dan praktek dalam bidang pendidikan geogerafi (FPIPS. IKIP MALANG)

INOVASI PERTANIAN - PEDESAAN

Secara umum pendidikan selain berperan dalam pengembangan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan, juga berperan dalam sosialisasi, yaitu membantu perkembangan individu menjadi mahluk sosial, di dalam kehidupan bermasyarakat, serta sebagai transformasi pembaharuan, bidang ilmu pengetahuan dan teknologi baru seperti rekayasa biologi untuk diabadikan bagi perbaikan kehidupan masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu dalam masyarakat pedesaan, perlu ditunjang dengan beberapa komponen, berupa lembaga-lembaga yang ada di masyarakat desa, seperti, LKMD, PKK, dan Karang taruna, serta SDM pendukungnya seperti Penyuluhan Pertanian, Guru, Pamong desa dan masyarakat desa sendiri.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Air tanah pada daerah karst (tinjauan kelengasan tanah lahan pertanian tadah hujan di daerah karst) - Utomo, Dwiyanto Hari-Pendidikan Geografi: Kajian teori dan praktek dalam bidang pendidikan geogerafi (FPIPS. IKIP MALANG)

AIR TANAH, KONSERVASI

Lahan daerah karst memiliki keterbatasan dalam menyimpan sumberdaya air. Hal ini disebabkan lahan karst tersusun oleh tanah dengan tekstur liat, permeabilitas rendah, dan tingkat evaporasi tinggi. Untuk meningkatkan kelengasan tanah di daerah karst perlu dilakukan konservasi tanah dan air. Tindakan konservasi berupa cara pengelolahan tanah, cara penanaman, pembuatan teras, dan penambahan tanaman penutup. Penggunaan mulsa dan kompos dalam tindakan konservasi dapat meningkatkan tanah dalam menahan air.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pengaruh latar belakang keluarga dan faktor sekolah terhadap keberhasilan lulusan SLTA: pendekatan structural equation modeling dengan path analysis - Ghozali, Abbas-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PRESTASI BELAJAR-PENGARUH KELUARGA

Studi ini pengaruh dari latar belakang keluarga, karakteristik personal, dan faktor-faktor sekolah pada keberhasilan lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Temuan studi yang menggunakan teknik structural equation medeling dengan path analysis ini mengungkapkan pola yang berbeda dari pengaruh-pengaruh peubah-peubah perubahan penentu pada keberhasilan lulusan SLTA yang diwakili oleh status lulusan, kinerja belajar lulusan, dan kinerja lulusan. Status lulusan dipengaruhi secara langsung oleh kekayaan keluarga. Jenis SLTA, dan prestasi akademi lulusan; dan secara tidak langsung oleh pendidikan ibu, kekayaan keluarga, prestasi akademis sebelumnya, jenis SLTA, kualitas kepala sekolah, kualitas guru, dan kualitas fasilitas sekolah. Kinerja belajar lulusan secara langsung dipengaruhi oleh jenis kelamin, kekayaan keluarga, dan prestasi akademis lulusan; dan secara tidak langsung oleh prestasi akademis sebelumnya, jenis SLTA, dan kualitas guru. Kinerja bekerja dipengaruhi secara langsung oleh jenis kelamin, pendidikan ibu, dan kualitas fasilitas sekolah; dan secara tidak langsung oleh pendidikan ayah, kualitas kepala sekolah, dan kualitas guru


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Sikap profesional siswa SMK - Supriyoko-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN KEJURUAN - SISWA
PENDIDIKAN PROFESIONAL - SISWA

Tujuan SMK adalah menyiapkan siswa memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional mereka. Penelitian ini berupaya mengetahui sikap profesional siswa, pengaruh faktor lingkungan keluarga terhadap sikap profesional siswa, serta perbedaan sikap profesional siswa berdasarkan masa studinya. Penelitian yang dilakukan dari November 1996 s.d April 1997 ini ditujukan kepada siswa STM Negri 1 Yogyakarta dengan 300 orang siswa sebagai sampel, yang ditentukan dengan teknik 'quato purposive random sampling'. Dan sikap profesional, lingkungan keluarga, serta masa studi siswa dikumpulkan secara langsung dari siswa. Analisis yang digunakan adalah deskriptis, korelatif, dan komporatif. Temuan penelitian menunjukan bahwa sikap profesional siswa umumnya belum optimal. faktor lingkungan keluarga ternyata tidak terpengaruh secara langsung terhadap sikap profesional, akan tetapi berpengaruh secara nyata terhadap sikap siswa pada perilaku kerja yang efisiem dan ekonomis, mengembangkan diri, dan memelihara rasa kesejawatan dengan teman seprofesi. Dari temuan ini, disarankan supaya pihak SMK lebih aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan yang secara langsung dapat membentuk dan mengembangkan sikap profesional siswa.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Membina kemahiran menulis mahasiswa - Kurniawan, Khaerudin-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PENULISAN TEKNIS (PENDIDIKAN TINGGI) - STUDI DAN PENGAJARAN

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pembinaan kemahiran menulis mahasiswa setelah mengikuti tindakan kelas pada perkuliahan menulis. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus (satu semester ganjil, tahun akademik 1997/1998). Metode yang digunakan meliputi: perencanaan, tindakan, observasi, dan fefleksi. Perencanaan bertolak dari masalah yang dihadapi mahasiswa dalam menulis dan upaya perbaikannya. Prosedur tindakan berupa pelaksanaan pengajaran menulis sesuai dengan perencanaan. Observasi dilakukan dengan cara mencatat kesulitan mahasiswa dalam menulis, memberikan tugas latihan menulis secara teratur, dan memberikan angket berkaitan dengan proses dan aktivitas menulis. Adapun refleksi tindakan ini menjadi dasar bagi perencanaan berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemahiran mahasiswa menulis esai, artikel ilmiah, resensi buku, dan usulan penelitian dengan rerata skor masing-masing (61), (66,25), (66,50), dan (66,87) atau dengan skala nilai (3,05), (3,31), (3,32), dan (3,34) berada pada katagori cukup/rata-rata sesuai dengan kriteria yang digunakan dalam penilaian karangan nonfiksi. Hal itu membuktikan bahwa kemahiran menulis mahasiswa perlu mendapat pembinaan yang sungguh-sungguh.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Gambaran umum, pendidikan di jawa dan luar jawa - Chamidin, Safrudin-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN - PERBANDINGAN

Pendidikan telah dipandang sebagai salah satu dari berbagai inventasi manusia yang sangat menentukan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sampai saat ini, pembangunan pendidikan telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan bagi pembangunan nasional. Namun demikian, kemajuan tersebut terasa belum optimal karena kesenjangan keberhasilan yang bervariasi terutama jika dilihat dari aspek dasa-kota, Jawa-luar, atau Indonesia Barat- Indonesia Timur. Perbedaaan tingkat keberhasilan ini perlu diidentifikasi dan kemudian dicarikan jalan keluar untuk meningkatkan keberhasilan yang sudah dicapai dan sekaligus mengurangi kesenjangan variasi keberhasilan yang disebabkan perbedaan kondisi; desa-kota, Jawa-luar Jawa, atau Indonesia-Barat - Indonesia-Timur. Penulisan makalah ini bertujuan untuk membuat dokumentasi dan deskripsi awal tentang variasi keadaan pendidikan di Jawa dan Luar Jawa berdasarkan data pokok pendidikan terakhir (1998/1999), serta memberikan bahan masukan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan pendidikan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah: upaya mengembangkan tiga kepentingan: masyarakat-pelajar-keilmuan - Karhami, S. Karim A.-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN DASAR - KURIKULUM - PENGEMBANGAN

Para ahli mendefinisikan kurikulum sebagai suatu rencana untuk menyediakan perangkat kesempatan belajar bagi siswa yang mengikuti pendidikan. Dari batasaan ini terkesan, penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak sulit. Apabila, kalau hanya menghasilkan rencana pengajaran dalam bentuk serangkaian mata pelajaran. Namun, proses pengembangan kurikulum menjadi rumit tatkala kualitas kurikulum diukur dari seberapa jauh kurikulum relevan dengan kebutuhan dan karakteristik pelajar dan masyarakat Indonesia masa depan. Salah satu tahapan strategis yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum adalah penilaian kebutuhan sebelum merumuskan tujuan dan menyusun silabus. Pertanyaan yang muncul kemudian, kebutuhan atau kepentingan siapa?. Dalam konteks penyempurnaan kurikulum 1994, kebutuhan dan kepentingan siapa sebagai landasan yang perlu diperhitungkan sewaktu menyusun kurikulum?. Apakah penyempurnaan kurikulum cukup hanya menengarai materi sulit dan materi tidak sulit diajarkan guru sebagaimana yang melatarbelakangi keberadaan suplemen kurikulum 1994?. Pada tulisan ini akan didiskusikan pentinganya mempertimbangkan ketiga kebutuhan dalam pengembangan kurikulum yaitu; masyarakat-pelajar-keilmuan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kurikulum bahasa Inggris - Noor, Idris H.M.-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. (Balitbang. Depdiknas)

BAHASA INGGERIS (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM

Istilah kurikulum dan silabus sering membingungkan baik bagi masyarakat umum maupun kalangan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Kurikulum mengacu pada seluruh aspek pengajaran termasuk aspek perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengaturan program pendidikan; sementara silabus lebih khusus dan lebih konkrit daripada kurikulum, dan kurikulum bisa memuat beberapa buah silabi. silabus bahasa Inggris dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu: jenis-jenis dan bentuk-bentuk silabus. Jenis-jenis silabus terdiri dari: content- syllabus meluputi: structural syllabus, notional/fungctioanal syllabus, skill-based syllabus, situational syllabus. methodologic ally-based syllabus meliputi: task-based syllabus dan proscess syllabus. Bentuk-bentuk silabus terdiri dari: linear format, moduler format, dan cyclical format. Content based syllabus menekankan pada isi sedangkan methodologically-based syllabus menekankan pada metodologi. Dari segi jenis., silabus SLTP dan SMU 1994 TIDAK TERMASUK SALAH SATU di antara jenis silabus di atas, melainkan menggunakan meaningful approach. Kalau dilihat bentuknya, silabus SLPT dan SMU 1994 merupakan kombinasi dari bentuk modular dan bentuk siklikal.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kalompoang konflik interen antar kerajaan di Sulawesi Selatan, kasus Kerajaan Gowa dan Bone - Sarkawi-jurnal pendidikan kebudayaan (Balitbang. Depdipnas)

KEBUDAYAAN ASPEK POLITIK - SULAWESI SELATAN

Sampai saat ini politik nasional, masih mendominasi perbincangan dan perjumpaan-perjumpaan akademik. Hanya saja, kajian-kajian itu sering melupakan struktur politik pada tingkat lokal yang sesungguhnya ikut membentuk sistem politik nasional. Seperti juga diketahui, suatu peristiwa politik, baik nasional maupun lokal tidak disebabkan oleh suatu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor seperti ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, bahkan agama. Dengan demikian, kajian terhadap politik harus juga memperhatikan aspek-aspek historis, budaya, kepercayaan dan lain-lain pada tingkat lokal. Bertitik tolak dari asumsi di atas. Tulisan ini ingin menampilkan satu peristiwa penting dalam masyarakat Sulawesi Selatan yang terjadi pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang kemudian turut melibatkan pemerintah Kolonial Belanda dan Inggris. Peristiwa tersebut memperlihatkan kuatnya pengaruh unsur budaya terhadap berbagai peristiwa politik (konflik) dalam masyarakat Sulawesi Selatan


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Penyempurnaan kurikulum fisika - Muslim-Jurnal Pendidikan dan kebudayaan

FISIKA (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM

Berdasarkan pengakatan di lapangan, kurikulum fisika yang berlaku sekarang masih banyak mengandung kelemahan yang akibatnya akan merugikan para siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk itu perlu dilakukan pemantauan dan reformasi yang berkesinambungan sebagai upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan yang merupakan komponen hulu untuk mempersiapkan calon ilmuwan dan insinyur masa depan. Penyempurnaan kurikulum dimaksudkan untuk menghasilkan suatu kurikulum dan sumber daya manusia (SM) serta mampu mendasari kurikulum fisika di perguruan tinggi. Dengan demikian, dari kurikulum tersebut dihasilkan insinyur dan ilmuwan masa depan yang mampu berkompetisi dalam penerapan dan pengembangan iptek di Indonesia maupun di dunia internasional. Upaya penyempurnaan dapat dilakukan dengan mengamati dan mengevaluasi kurikulum fisika SLTP dan SM, mengolah data hasil penyaringan lulusan SM yang diterima di PTN, mempelajari kurikulum fisika yang berlaku di SLTP dan SM di luar negeri, mereviu kurikulum fisika di tingkat dasar dan perguruan tinggi di Fakultas MIPA, Teknik, Sains Hayati dan humaniora, mengekplorasi perkembangan perkembangan internasional maupun nasional di bidang fisika , dan merencanakan penyelarasan dan optimasi seperlunya berdasarkan hasil kelima misi di atas.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Strategi penyempurnaan kurikulum kimia 1994 di Sekolah Menengah Umum - Poedjiadi, Anna-Jurnal Pendidikan dan kebudayaan

KIMIA (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994

Kurikulum 1994 yang mempunyai tujuan strategis, dalam pelaksanaannya ternyata tidak terlepas dari pengaruh internal maupun eksternal yang menimbulkan permasalahan bagi pencapaian tujuan kurikulum tersebut. Maka perlu dilakukan penyempurnaan terhadap kurikulum 1994 khususnya untuk bidang studi ilmu kima di Sekolah Menengah Umum (SMU). Penyempurnaan ini atas dasar hasil survei serta wawancara dengan berbagai pihak termasuk orang tua. Dari survei dan wawancara ini diketahui antara lain; adanya guru yang kurang memahami tujuan strategi kurikulum 1994; guru belum dapat memberikan manfaat mata pelajaran kimia dalam kehidupan sehari-hari; adanya kelas unggulan mempunyai dampak negatif terhadap siswa dan guru; penilaian kualitas sekolah dilakukan atas dasar banyak lulusan yang masuk jurusan yang diminati melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN); banyak sekolah yang tidak memperhatikan sikap dan kepedulian terhadap lingkungan; guru menambah materi di luar GBPP; serta beberapa opini dan peristiwa seperti sikap guru yang tidak terpuji dan adanya kebocoran soal. Faktor-faktor pendukung pelaksanaan kurikulum 1994 seperti: musyawarah bidang studi; pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) serta penggunaan kumpulan konsep-konsep yang telah disebarluaskan. Beberapa saran dalam melaksanakan penyempurnaan adalah: materi disajikan lebih sederhana dan menarik dengan menggunakan pendekan STM; pengadaan laboran; jam praktikum dipertimbangkan menjadi jam tatap muka; musyawarah guru MIPA diperlukan; kisi-kisi UMPTN disosialisasikan; tes diagnostik dan tes akhir tahun dilaksanakan serta kriteria kualitas sekolah tidak didasarkan jumlah siswa yang diterima melalui UMPTN.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Tinjauan umum untuk penyempurnaan kurikulum biologi - Ridwan, Ahmad-Jurnal Pendidikan dan kebudayaan

BIOLOGI (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994

Persoalan yang dihadapi dalam kurikulum biologi pada saat ini adalah tidak adanya relevansi antara ketersediaan waktu belajar dengan beben materi, sehingga guru menganggap kurikulum 1994 terlalu padat. Permasalahan tersebut pada akhirnya mengimbas kepada persoalan-persoalan lain. Oleh karena itu, langkah yang akan dilakukan dalam penyempurnaan kurikulum biologi 1994 harus bersifat mulitaspek, artinya langkah tersebut harus diikuti pula dengan perbaikan-perbaikan dari komponen-komponen yang telibat dalam proses belajar mengajar. Langkah strategi yang dapat ditempuh untuk penyempurnaan kurikulum biologi tersebut antara lain: perlu disusun materi-materi esensial dan menambah materi esensial lang belum tercantum. Selain itu, materi kurikulum harus diaktualisasi agar lebih future oriented dan harus bisa melihat kebutuhan masyarakat dan era keterbukaan di masas depan, disamping perlu juga dipikirkan permasalah yang berkaitan dengan penyempuranaan proses belajar mengajar.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Strategi penyempurnaan kurikulum ekonomi (SD, SLTP, dan SMU) - Abdullah, N.S.-Jurnal Pendidikan dan kebudayaan

EKONOMI (PENDIDIKAN DASAR) - KURIKULUM, 1994
EKONOMI (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994

Sejak diberlakukan kurikulum pendidikan dasar dan menengah (SD, SLTP, dan SMU) tahun 1994, terdengar suara-suara sumbang terhadap kurikulum tersebut. Selain itu, selama kurun waktu kurang lebih dua tahun belakang ini, terjadi perubahan-perubahan cepat terutama dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk meninjau, mengevaluasi, dan menyempurnakan kurikulum tersebut. Berkenaan dengan mata pelajaran ekonomi di SD, SLTP dan SMU, perlu dirumuskan secara jelas tujuan mata pelajaran tersebut, dengan mengingat kembali tentang pendidikan dan pengajaran ekonomi. Titik berat pendidikan adalah pada pembinaan/pembentukan watak mental, sedangkan titik berat pengajaran adalah pada pembinaan intelektual-akademik. Sehubungan dengan itu, dalam penyempurnaan kurikulum ekonomi perlu dilakukan langkah-langkah antara lain: meninjau kembali tujuan-tujuan kelembagaan (SD, SLTP dan SMU), tujuan- tujuan mata pelajaran (topik IPS-Ekonomi di SD dan SLTP,dan Ekonomi di SMU). menentukan visi dan misi, menentukan/aktivitas yang akan dilakukan, dan mengadakah evaluasi proses.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Strategi penyempurnaan kurikulum sosiologi - Sunarto, Kamanto-Jurnal Pendidikan dan kebudayaan

SOSIOLOGI (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994

Pendekatan sosiologi ke dalam kurikulum SMU telah diprakarsai oleh alm. Prof. H. Harsja W. Bachtiar, M.A., Ph.D. pada tahun 80-an dengan visinya agar lulusan SMA mampu memahami dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya dengan menggunakan sudut pandang ilmu-ilmu sosial (disiplin sosiologi dan antropologi), dengan harapan agar pikiran, perilaku dan sikapnya dilandasi pemahaman tersebut. Untuk mewujudkan visi tersebut sejak tahun 1984 mata pelajaran sosiologi dan antropologi dimasukkan ke dalam kurikulum SMU 1994, mata pelajaran sosiologi dipisahkan dari antropologi. Beberapa permasalahan yang dihadapi saat ini antara lain: masalah evaluasi, masalah GBPP (Garis-garis Besar Program Pelajaran), masalah pendidik dan masalah bahan pelajaran. Dalam tulisan ini, ingin dikemukakan beberapa pemikiran yang berkembang pada saat ini, yang perlu menjadi pemikiran kita bersama, yaitu faktor pendidik, GBPP dan bahan pelajaran serta proses pembelajaran.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kurikulum PPKn tahun 1994: isu dan permasalahan untuk penyempurnaan - Wahab, H.A. Aziz-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN - KURIKULUM, 1994

Peninjauan kurikulum merupakan salah satu langkah untuk memahami permasalahan kurikulum. Oleh karena itu, untuk melakukan langkah penyempurnaan yang tepat, berbagai isu dan permasalahan yang berkembang di masyarakat dan pendapat para pelaksana kurikulum harus pula diperhatikan. Untuk menjaring informasi tentang pelaksanaan mata pelajaran PPKn, telah dilakukan wawancara dengan beberapa orang guru SD, SLTP dan SMU dari beberapa kecamatan di Kabupaten Sukabumi dan Garut. Selain itu, telah pula dilakukan observasi langsung di beberapa sekolah pada satuan pendidikan SD, SLTP, SMU dan SMK di Kotamadya dan Kabupaten Bandung. Hasil wawancara dan observasi tersebut memberikan gambaran perlunya analisis bagi penyempurnaan kruikulum PPKn 1994, yang berkenaan dengan materi PPKn, alokasi waktu, dan sistem penyampaian dan penilaiannya. Berdasarkan kajian terhadap isu dan permasalahan serta analisis tersebut, beberapa usul penyempurnaan yang dapat dilakukan antara lain perlu dilakukan pembatasan terhadap nilai-nilai yang akan diajarkan, misalnya: untuk SD, materi yang dikaji baru menyangkut lanjutan dari materi SD namun perlu ditambahkan aspek afektif; demikian juga untuk SMU dan SMK, materi lebih ditekankan pada aspek keilmuan dan aspek teoritik, untuk membekali siswa yang akan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Strategi penyempurnaan kurikulum sejarah untuk SD, SLTP, dan SMU - Darban, A. Adaby-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

SEJARAH (PENDIDIKAN DASAR) - KURIKULUM, 1994
SEJARAH (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994

Membicarakan kurikulum bukanlah suatu hal yang sederhana karena definisi dari kurikulum itu sendiri beragam bila dipandang dari rumusan dan cakupannya. Setiap definisi memiliki kelebihan dan kekurangan. Memperhatikan berbagai definis ini, memang sulit mebuat suatu kurikulum yang rinci dan operasional, yang dapat melahirkan anatomi kurikulum secara konkrit. Demikian juga halnya dalam penyusunan kurikulum sejarah yuang rinci dan operasional. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi strategi penyusunan kurikulum sejarah, yakni: 1) visi, 2) misi, dan 3) pengetahuan dasar dan keterampilan dasar yang diperlukan oleh siswa. Pemuatan visi dan misi yang jelas dalam pendidikan sejarah ini mencakup segala aspek kehidupan ini memiliki banyak hal yang menarik dan perlu diketahui siswa dalam rangka menumbuhkan jiwa dan semangat patriotik, rasa kebangsaan, kemanusiaan, kritis pada diri peserta didik, dll. Di samping visi dan misi, yang tidak kalah penting untuk dipikirkan ialah memilih dan menentukan pengetahuan dasar dan keterampilan dasar yang diperlukan oleh siswa. Hal ini perlu untuk menghindari kurikulum yang tumpang tindih, sentralistik, dan muatan/materi yang telalu banyak.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pengembangan kurikulum pendidikan tinggi: suatu kajian yuridis, teoritis dan empiris - Widyastono, Herry-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN TINGGI - KURIKULUM - PENGEMBANGAN

Secara yuridis, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar. Kurikulum nasional pendidikan tinggi yang berlaku saat ini salah satunya berisi susunan nama mata kuliah beserta jumlah masing-masing SKS-nya, namun tidak disertai deskripsi keluasan dan kedalaman materi/bahan ajar. Hal ini menyebabkan keluasan dan kedalaman materi/bahan ajar yang harus disampaikan kepada para mahasiswa akan sangat bervariasi tergantung kepada keahlian staf pengajar. Akibatnya, materi yang disampaikan kepada para mahasiswa akan berbeda keluasan dan kedalamannya. Perbedaan ini akan semakin nampak antara Perguruan Tinggi yang favorit dengan Perguruan Tinggi yang kurang favorit. Untuk menanggulangi kesenjangan tersebut, dipandang perlu adanya kurikulum nasional yang berisi 60


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Penyempurnaan kurikulum 1994 berbasis kemampuan dasar: laporan awal - Boediono-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

KURIKULUM, EVALUASI - KECAKAPAN - 1994
KURIKULUM - PENGEMBANGAN - 1994

Prosedur kerja penyempurnaan kurikulum 1994 diawali dengan pemetaan untuk mendpatkan gambaran kurikulum 1994 dari perspektif 'basic competencies'. Hasil pengamatan sementara terhadapo pemetaan kurikulum 1994 menunjukkan adanya kecenderungan bahwa kurikulum 1994 disusun tidak berdasarkan 'basic competencies'.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Penyusunan kurikkulum berbasis kemampuan dasar: dasar pemikiran - Boediono-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN - KURIKULUM - KECAKAPAN

Penyusunan kurikulum berbasis kemampuan dasar menggunakan pemikiran-pemikiran eklektif, sehingga kurikulum yang disusun berisi kemampuan dasar atau target kemampuan ('attainment targets') dilengkapi dengan standar prosedur pelaksanaan, standar hasil belajar, dan materi yang akurat, kerangka teori, pendekatan dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum berbasis kemampuan dasar dan berorientasi masa depan. Dasar pemikiran eklektif ini digunakan pada penyusunan kemampuan dasar dengan berbagai penyesuaian terhadap kekhususan dan kekhasan mata pelajaran serta jenjang sekolah.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Persepektif transparansi global dalam kurikulum - Ibrahim, M. Djamil-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN - KURIKULUM

Bangsa Indonesia memerlukan perencanaan nasional yang lebih komprehensif untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka globalisasi ini. Konsekuensinya, perlu dilakukan penyesuaian kurikulum sebab kurikulum adalah salah satu faktor dalam proses pendidikan yang berperan seperti 'perangkat lunak' dari proses tersebut. Kurikulum mempunyai peranan sentral karena menjadi arah atau titik pusat dari proses pendidikan. Sesuai dengan tugas dan fungsinya, maka untuk meningkatkan mutu pendidikan juga perlu dipegang adanya Trias Edutika. Tugas dan fungsi Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan adalah sebagi legislatif (penentu arah dan isi pendidikan). Dikdasmen adalah sebagai eksekutif (penyelenggara pendidikan), dan Pusat Pengujian adalah sebagai yudikatif (menilai hasil penyelenggaraan pendidikan). Dengan berfungsinya lembaga-lembaga ini secara benar, maka bisa diciptakan pendidikan yang bermutu. Arah kurikulum di masa yang akan datang dapt dilihat dalam faktor-faktor: (1) perubahan demografi, (2) inovasi teknologi, (3) inovasi sosial, (4) pergeseran nilai kebudayaan, (5) pergeseran ekologi, (6) pergesaran ide dan informasi. Berdasarkan tuntutan ini, kurikulum di masa yang akan datang mempunyai konsekuensi terhadap penyajian kurikulumnya, kualifikasi tenaga guru, dan profil lulusan sebagi output (keluaran) sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Model evaluasi kurikulum penerapannya pada kurikulum muata lokal - Suwandi-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

KURIKULUM, EVALUASI - MUATAN LOKAL

Evaluasi kurikulum merupakan salah satu langkah dalam siklus pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, pemahaman suatu model yang diperkanalkan oleh para ahli tentang evaluasi kurikulum tersebut merupakan suatu keharusan bagi para pengembang kurikulum. Melalui sekian banyak jenis model yang diperkenalkan oleh para ahli, para pengembang kurikulum dapat memilih model yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi, karakter, dan sebagainya dengan kurikulum yang akan dievaluasi. CIPP (Context, input, process, product) dari Stufflebveam merupakan salah satu model evaluasi kurikulum yang sesuai dengan evaluasi kurikulum muatan lokal sebab kurikulum muatan lokal merupakan kurikulum baru yang lengkap. Dalam arti dimulai dari need assessment sesuai kebutuhan masyarakat. Penyusunan perangkat kurikulum, uji coba pelaksanaan dan pelaksanan itu sendiri, evaluasi kurikulum, dan kembali ke penyempurnaan perangkat kurikulum sesuai masukan hasil evaluasi. Apabila dilihat dari masalah yang akan dicari jawabannya dalam pelajaran dengan hasil belajar siswa. Dalam ciri pengembang kurikulum dan masalah seperti itulah kiranya model CIPP memberikan msukan yang optimal dalam pengambilan keputusan. Terjadinya kesenjangan antara tujuan dengan hasil belajar siswa, disebabkan guru kurang memahami apa dan bagaimana pembelajaran serta evaluasi untuk mata pelajaran yang berkarakteristik afektif (penanaman nilai-nilai) seperti halnya kurikulum muatan lokal mata pelajaran PLKJ.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam pelaksanaan kurikulum IPA (fisika) - Masdjudi-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

SAINS (FISIKA) - KURIKULUM, 1994 - PENELITIAN
SAINS (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994 - PENELITIAN

Pembaharuan dalam kurikulum 1994 khususnya Ilmu Pengetahuan Alam, bercirikan pendekatan kegiatan belajar mengajar peserta didik aktif dan sangat menekankan perlunya pengembangan kemampuan intelektual peserta didik yang dikenal dengan keterampilan proses. Agar pelaksanaan kurikulum fisika dapat berjalan sesuai dengan harapan, maka uraian pembelajaran dalam garis-garis besar program pengajaran (GBPP) bukan merupakan kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan guru, atau apa yang harus dipelajari peserta didik, tetapi lebih banyak diwarnai dengan pengalaman belajar apa yang harus dimiliki oleh peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar, ternyata tidak banyak berubah. Guru merasa lebih aman dengan metoda yang paling akrab digunakan bertahun-tahun yaitu ceramah bervariasi yang diselingi tanya-jawab. Pola pengajaran yang 'techer centred' dan komuinikasi satu arah masih mendominasi suasana kegiatan belajar mengajara di kelas. Dalam hal bertanyapun, guru lebih banyak mengajukan pertanyaan pada peserta didiknya. Jenis pertanyaan yang sering diajukan kepada peserta didik lebih dominan pada jenis pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbutuk cenderung kepada pertanyaan yang mebutuhkan jawaban singkat dan itupun lebih banyak bersifat hafalan atau mereproduksi apa yang dikatakan guru. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa perubahan kurikulum tidak selalu mengakibatkan perubahan cara mengajar di kelas. Seperti banyak ahli mengemukakan, bahwa guru mempunyai kesulitan dalam mengintegrasikan cara pandang dan cara mengajar baru dalam pola perilaku yang sudah mapan yaitu kedalam situasi yang telah ditekuni bertahun-tahun yang dirasakan lebih mudah, nyaman dan aman. Atas dasar hal tersebut, amak perlu 'pemrograman kembali' terhadap para guru agar dapat mengubah kebiasaan yang telah ditekuninya. Dengan demikian, perlu suatu strategi untuk mendiseminasikan gagasan-gagasan baru yang terkandung dalam kurikulum misalnya seperti yang diusulkan oleh Havekock dengan Linkage Model" yang menggabungkan 3 model diseminasi pembaharuan. Tiga model itu ialah "Research"


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kurikulum 1994 IPA pendidikan dasar dan menengah: peluang dan kendala - Krahami, S. Karim A.-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

SAINS (PENDIDIKAN DASAR) - KURIKULUM, 1994
SAINS (PENDIDIKAN LANJUTAN) - KURIKULUM, 1994

Pengembangan kurikulum IPA, seperti halnya poengembangan kurikulum mata pelajaran lainnya, mengikuti suatu siklus terencana yang meliputi: studi kebutuhan, perancangan dokumen kurikulum tertulis, pemasyarakatan kurikulum, pelaksanaan kurikulum di sekolah dan penilaian kurikulum, dengan melibatkan berbagai unsur seperti ahli bidang studi, ahli pendidikan, guru berpengalaman, pengamat pendidikan IPA dan unit kerja terkait yang relevan. Tahap pra implementasi sebagian besar dilakukan di sekolah. Dari hasil pemantauan diketahui bahawa salah satu kendala pelaksanaan kurikulum IPA adalah kesenjangan antara dokumen tertulis dengan pelaksanaan di sekolah. Kendala lain adalah akibat terjadinya kesenjangan antara pola evaluasi yang disarankan kurikulum. Selain itu juga terjadi kesenjangan antara kurikulum kelompok IPA jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan kurikulum kelompok IPA pada pendidikan guru


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Beberapa pokok pikiran tentang penyempurnaan kurikulum mata pelajaran sejarah - Zuhdi, Susanto-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN SEJARAH - KURIKULUM

Peninjauan kembali terhadap kurikulum yang berlaku telah lama disuarakan oleh masyarakat, karena terdapat penilaian bahwa kurikulum tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Ada beberapa alasan untuk melakukan penyempurnaan terhadap kurikulum yakni: 1) sentralistik, 2) beban materi yang berlebihan dan 3) tumapang tindih yang dianggap hanya cocok bagi anak cerdas. Untuk kurikulum sejarah terdapat satu alasan lain yakni sejarah menjadi alat" 'ancient regime' karena sejarah tidak lagi berfungsi sebagai ilmu yang berguna bagi kelompok sosial bangsa untuk memahami hari ini dan esok


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Perubahan kurikulum pengajaran bahasa Inggris di SLTP dan SLTA serta dampaknya terhadap pelaksanaan di kelas - Noor, Idris HM.-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

BAHASA INGGRIS (PENDIDIK LANJUTAN) - KURIKULUM - PERUBAHAN
BAHASA INGGRIS (PENDIDIK LANJUTAN) - KURIKULUM - PENGAJARAN

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setiap ada perubahan atau inovasi khususnya dalam bidang pendidikan akan mempengaruhi bukan hanya pada pelaksana pendidikan saja seperti guru dan kepala sekolah tetapi juga pada siswa. Perubahan kurikulum bahasa Inggris dapi kurikulum tahun 1984 menjadi kurikulum tahun 1994 tidak terelakkan membawa dampak dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kurikulum bahasa Inggris khususnya di tingkat SLTP dan SLTA mengalami perubahan yang luas sekali baik dalam bentuk pendekatan pengajaran maupun materinya. Pendekatan grammaar pada kurikulum bahasa Inggris tahun 1984 berubaha secara fundamental dalam kurikulum bahasa Inggris tahun 1994, yaitu dengan menggunakan pendekatan yang disebut dengan 'Meaningful Approach' (pendekatan kebermaknaan). Akibat perubahan ini, maka di sekolah terutama guru merasa sulit untuk menerapkan kurikulum yang menggunakan pendekatan ini. Hal ini antara lain disebabkan oleh keterbatasan kemampuan guru-guru dalam menggunakan keempat skills (listening, speaking, reading dan writing) bahasa Inggris. Disamping itu, sistem evaluasipun harus berubah. Namun, kenyataannya di sekolah-sekolah perubahan (inovasi) kurikulum belum sepenuhnya merubah pola dan sistem mengajar guru, termasuk evaluasinya.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Persepsi berbagai responden tentang kualifikasi pengembang kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan - Hendarman-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN KEJURUAN - KURIKULUM - PENELITIAN

Kamampuan (skill), status, dan pengalaman yang dimiliki akan mempengaruhi keterlibatan aktif seorang pengembang kurikulum sekolah kejuruan. Studi ini mengungkapkan persepsi dari berbagai responden (pengelola pendidikan, pengembang kurikulum, guru, instruktur dan dunia kerja) terhadap berbagai kualifikasi yang dimiliki seorang pengembang kurikulum sekolah kejuruan. Terdapat perbedaan nyata di antara kelima kelompok pembahan tersebut untuk kelima belas kualifakasi yang ada.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pelaksanaan kurikulum muatan lokal merupakan suatu tantangan (hasil penelitian) - Sutardi, Ambari-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN - KURIKULUM - MUATAN LOKAL
PENDIDIKAN - KURIKULUM - PENELITIAN

Kurikulum nasional baik untuk pendidikan dasar maupun pendidikan menengah memiliki peranan penting di sektor pendidikan karena mewadahi bahan ajar yang merupakan salah satu aspek untuk menentukan kualitas anak didik yang akan bermuara pada kualitas bangsa. Karane itu kurikulum selalu mendapat perhatian pemerintah agar anak didik berkualitas dan dapat mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Untuk mencapai hal tersebut, perubahan demi perubahan sudah dilakukan, tetapi satu hal yang masih belum terjangkau dari dampak perubahan kurikulum nasional adalah pemanfaatan potensi daerah. Pemerintah menyadari akan hal ini sehingga mulai tahun 1990 ada gagasan untuk menyusun kurikulum yang dapat mengakomodasikan bahan ajar yang sesuai dengan keadaaan di daerah stetempat. Kurikulum yang mengarah pada pemanfaatan potensi daerah tersebut disebut Kurikulum Mutan Lokal atau disingkat mulok, dan berlaku sejak tahun 1994 di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Ada keuntungan dan hambatan dengan diberlakukannya mulok di setiap propinsi. Namun, keuntungan dan hambatan dengan diberlakukannya tersebut tidak perlu dianggap sebagai masalah yang akan menghentikan program desetralisasi, tetapi harus dianggp sebagai tantangan dan perlu dicarikan cara penyelesaiannya agar program tersebut berjalan dengan baik.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

kurikullum persekolahan di negera Brunei Darussalam - Subjijanto-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN - KURIKULUM - BRUNEI DARUSSALAM

Model kurikulum persekolah di Negara Brunei Darussalam merupakan model yang berorientasi pada mata pelajaran (subject content). Jumlah mata pelajaran yang diajarakan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari pra-sekolah sampai dengan sekolah menengah berkisar antara 7 sampai 9 mata pelajaran. Sedangkan mata pelajaran di pre-universiti sebanyak 12 mata pelajaran. Pada akhir-akhir ini, pengembangan kurikulum sekolah kejuruan telah dikembangkan materi pembelajaran yang mengacu pada standar kompetensi (competency based) suatu pembelajaran yang relevan dengan tuntutan dunia usaha/industri. Hasil pengembangan dimaksud saat ini sedang diimplementasikan di sekolah kejuruan yang pemantauannya dilakukan bersama-sama oleh sekolah dengan dunia usaha/industri. Suatu hal yang menarik adalah bahwa bahasa Inggris telah diajarakan semenjak TK sampai dengan Sekolah Rendah Bawah (lower primary) kelas 1 s.d 3. sedangkan pengunaan dwi bahasa (bilingual language) dimulai sejak Sekolah Rendah Atas (kelas 4 s.d 6 sampai dengan Sekolah Menengah Atas (upper secondary). Namun demikian, beberapa mata pelajaran harus disampaikan dengan menggunakan Bahasa Melayu seperti Pendidikan Agama Islam, Seni dan Kerajinan serta Malay Islam Berjaya (MIB). Sebaliknya pengajaran Matematika, Sejarah, Sains, Geografi, disampaikan dengan menggunakan bahasa Inggris.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Indonesia 2010: mengubah mitos menjadi realitas pembangunan - Cahyana, Ade-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

PENDIDIKAN, MASALAH - INDONESIA

Salah satu kebiasaan pemerintah kita dalam melakukan justifikasi kepentingan program-program pembangunan pendidikan jangka menengah (repelita) adal;ah mengaitkan dengan legalitas kemapanan yang bersifat normatif (mislnya: UUD 1945, UUSPN, GBHN). Akibatnya tujuan pembangunan pendidikan selalu dirumuskan dalam bahasa tamsil" yang sangat utopis dan kurang menggambarkan rumusan-rumusan permasalahan dan prioritas pembangunan yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Sementara masalah pendidikan semakin kompleks dan sarat dengan tantangan


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pendekatan-pendekatan pendidikan nilai dan implementasi dalam pendidikan budi pekerti - Zakaria, Teuku Ramli-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PENDIDIKAN MORAL

Banyak pakar telah mengembangkan berbagai pendekatan pendidikan nilai. Di antara berbagai pendekatan yang ada dan banyak digunakan, dapat diringkas menjadi lima macam pendekatan, yaitu: pendekatan penananman nilai, pendekatan perkembangan kognitif, pendekatan analisis nilai, pendekatan klarifikasi nilai dan pendekatan pembelajaran berbuat. Dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti lebih tepat digunakan pendekatan campuran, dengan penekanan pada pendekatan penanaman nilai, karena esensi dari tujuan antara pendidikan budi pekerti dan pendekatan penanaman nilai adalah sama, yakni menanamkan nilai-nilai sosial tertentu dalam diri siswa. Berbagai metoda pendidikan dan pengajaran yang digunakan dalam berbagai pendekatan lain dapat digunakan juga dalam proses pendidikan dan pengajaran pendidikan budi pekerti. Hal ini penting, untuk memberi variasi kepada proses pendidikan dan pengajarannya, sehingga lebih menarik dan tidak membosankan.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa - Widyastono, Herry-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PENDIDIKAN KHUSUS - METODE DAN SISTEM

Selam ini, strategi penyelenggaraan pendidikan bersifat klasikal-massal, memberikan perlakuan yang standar (rata-rata) kepada semua siswa, Padahal setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Akibatnya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di bawah rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa lainnya, akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar; sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa lainnya, akan merasa jenuh, sehingga sering berprestasi di bawah potensinya (under achiever). Agar siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dapat berprestasi sesuai dengan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi, yaitu pemberian pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan siswa; dengan menggunakan kurikulum yang berdiverisifikasi, yaitu kurikulum standar yang diimprovisasi alokasi waktunya sesuai dengan kecepatan belajar dan motivasi belajar siswa. Pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi dapat diimplementasikan melallui penyelenggaraan siswtem percepatan kelas (akselerasi). Dengan sistem percepatan kelas (akselerasi), siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studi di SD kurang dan 6 tahun (misalnya 5 tahun), di SLTP dan SMU masing-masing kurang dari 3 tahun (misal 2 tahun), dengan menyelesaikan semua taget kurikulum tanpa meloncat kelas. Penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yasng memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan saslah suatu strategi alternatif yang relevan; disamping bertujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi siswa, juga bertujuan untuk mengimbangi kekurangan yang terdapat pada strategi klasikal-massal.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pendekatan multikultural untuk penyempurnaan kurikulum nasional - Hasan, S. Hamid-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PENDIDIKAN - KURIKULUM

Masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi. Keragaman tersebut berpengaruh langsung terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum, kemampuan sekolah dalam menyediakan pengalaan belajar, dan kemampuan siswa dalam berproses dalam belajar, serta mengolah informasi menjadi sesuatu yang dapat diterjemahkan sebagai hasil belajar. Keragaman itu menjadi; suatu variabel bebas yang memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap keberhasilan kurikulum baik sebagai proses maupun kurikulum sebagai hasil. Oleh karena itu, keragaman tersebut harus menjadi faktor yang diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum. Pengembangan kurikulum dengan menggunakan pendekatan pengembangan multikultural harus didasarkan pada prinsip: 1) keragaman budaya menjadi dasar dalam menentukan filsafat; 2) keragaman budaya menjadi dasar dalam mengembangkan berbagai komponen kurikulum seperti tujuan, konten, proses, dan evaluasi; 3) budaya di lingkungan unit pendidikan adalah sumber belajar dan objek studi yang harus dijadikan bagian dari kegiatan belajr siswa; dan 4) kurikulum berperan sebagai media dalam mengembangkan kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Program PKLH jalur sekolah: kajian dari perspektif kurikulum dan hakekat belajar mengajar - Alkarhami, Suud Karim-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN - PEMBELAJARAN

Eksplotasi sumber daya dilakukan secara semena-mena tanpa etika lingkungan. Menurut Worls Resources Institute, Indonesia kehilangan 72


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Sebuah tinjauan teoritits tentang inovasi pendidikan di Indonesia - Noor, Idris HM.-jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

INOVASI DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Inovasi pendidikan menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dari masa ke masa. Isu ini selalu juga muncul tatkala orang membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi yang baru yaitu: pertama top-down model" yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakuka oleh Departemen Pendidikan Nasional selama ini. Kedua "bottom-up model" yaitu model inovasi yang besumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Di samping kedua model yang umum tersebut di atas


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Analisis SWOT tinjauan awal pendekatan manajemen: sebuah pengenalan inovasi program pada sekolah kejuruan - Subroto, Gatot-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. (Balitbang. Depdiknas)

MANAJEMEN DAN ORGANISASI SEKOLAH
PENDIDIKAN KEJURUAN - PEMBAHARUAN

Analiss SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, and Threats) telah manjadi salah satu alat yang berguna dalam dunia industri. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk digunakan sebagai aplikasi alat bantu pembuatan keputusan dalam pengenalan program-program baru di lembaga pendidikan kejuruan. Proses penggunaan manajemen analisa SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan) program, serta survei eksternal atas opportunities (ancaman) dan threats (peluang/kesempatan). Pengujian eksteernal dan internal yang terstruktur adalah sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan pengembangan kurikulum lembaga pendidikan. Contoh pengembangan pendidikan menggunakan analisa SWOT, adalah suatu cara yang berguna dalam menguji kondisi lingkungan tentang program baru yang ditawarkan suatu lembaga pendidikan. Sebuah tinjauan atas aplikasi potensial SWOTdalam jangkauan yang luas juga merupakan tujuan dari pada tulisan ini.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Restrukturisasi penyelenggaraan pendidikan: studi kapasitas sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan - Koster, Wayan-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. (Balitbang. Depdiknas)

MANAJEMEN DAN ORAGANISASI SEKOLAH - DESENTRALISASI
DESANTRALISASI DALAM PENDIDIKAN

Desentralisasi pendidikan dalam bentuk manajemen berbasis sekolah diyakini dapat meningkatkan efisiensi, relevansi, pemerataan, dan mutu pendidikan serta memenuhi asas keadilan dan demokratisasi. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi pendidikan. Hal ini terlihat pada kapasitas sekolah yang meliputi empat aspek yaitu: anggaran sekolah, SDM, sarana prasarana sekolah, manajemen sekolah, dan partisipasi orangtua siswa. Guna mencapai tujuan desentralisasi pendidikan tersebut pemerintah perlu melakukan restrukturisasi dalam penyelenggaraan pendidikan terutama yang berkenaan dengan struktur kelembagaan pendidikan, mekanisme pengamabilan keputusan, dan manajemen pendidikan di pusat, di daerah, dan di sekolah. Sejalan dengan itu pemerintah perlu menyiapkan landasan hukum dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, dan keputusan menteri untuk pelaksanaan desentralisasi pendidikan agar sesuai dengan jiwa dan semangat otonomi daerah.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Desentralisasi pendidikan - Thoha, Miftah-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdikbud)

DESENTRALISASI DALAM PENDIDIKAN

Desentralisasi pendidikan ialah pendelegasian sebagian atau seluruh wewenang di bidang pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh pejabat pusat atau pejabat di bawahnya atau dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau dari pemerintah kepada masyarakat. Yang menjadi bahan pemikiran dalam hal desentralisasi ini adalah untuk menentukan kewenangan mana yang tidak bisa didesentralisasikan dan kewenangan mana yang dapat didesentralisasikan. Kesenjangan yang bersifat nasional seharusnya dipegang oleh pemerintah pusat. Implementasi dan evaluasi kebijakan nasional bisa dilakukan oleh pusat bisa pula diserahkan kepada unit di bawah di daerah atau kepada masyarakat. Kesenjangan yang bersifat lokal (daerah) pelaksanaan dan evaluasi tidak perlu diintervensi oleh pemerintah pusat. Desentaralisasi pendidikan bertujuan untuk mengurangi campur tangan atau intervensi pejabat atau unit pusat terhadap persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran bawah atau masyarakat. Dengan demikian desentralisasi pendidikan ini juga bertujuan untuk membudayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pemdidikan di bawah.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Desentralisasi pendidikan: pelaksanaan dan permasalahannya - Huda, H. Nuril-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdikbud)

DESENTARALISASI DALAM PENDIDIKAN

Masalah yang dihadapi Indonesia saat ini adalah keterbatasan SDM yang berkualitas untuk berpartisipasi dalam kehidupan manusia yang terus berubah. Hal ini menjadi suatu fenomena dan sekaligus menjadi masalah utama yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Kenyataan menunjukkan bahwa kualitas SDM Indonesia jauh ketinggalan dibandingkan dengan SDM negara-negara Asean lainnya. Ketinggalan ini hanya dapat dijawab dengan peningkatan kualitas pendidikan. Indonesia dengan latar belakang yang beragam memerlukan penataan sistem dan layanan pendidikan yang lebih demokratis sesuai dengan tuntuan masyarakat. Untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu dalam masyarakat yang heterogen (majemuk), maka tanggung jawab penyelenggara pendidikan tidak cukup hanya diserahkan pada satu pihak (pemerintah). Keterlibatan semua pihak (pemerintah, keluarga, masyarakat) dalam pendidikan merupakan prasyarat utama bagi terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Hal ini semua mengisyaratkan perlunya dilaksanakan desentralisasi pendidikan untuk merespon dan memotivasi aspirasi semua pihak. Desentralisasi pendidikan akan berdampak langsung pada desentralisasi manajemen pendidikan sekaligus secara fleksibel dapat mengantisipasi keragaman tuntutan lokal dan daerah, utamanya sekolah. Masalah dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan. Kemampuan daerah ini menjadi ukuran karena banyak masalah dan kendala yang perlu diatasi dalam penyelenggaraan desentralisasi tersebut (kurikulum, SDM, dana, sarana dan prasarana, peraturan perundang-undangan)


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Desentralisasi pengelolaan pendidikan: hasil penelitian - Mahdiansyah-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdikbud)

DESENTARALISASI DALAM PENDIDIKAN - PENELITIAN
PENDIDIKAN - PENGELOLAAN - PENELITIAN

Desentralisasi pendidikan merupakan isu penting dan cenderung menjadi pilihan di era demokratisasi dan globaliasi. Hal ini demikian, karena sentralisasi pengelolaan pendidikan yang selama ini diterapkan telah menyebabkan kemampuan daerah dalam mengurus pendidikan kurang berkembang sehingga menjadi kendala bagi mutu pendidikan nasional. Namun, penerapan desentralisasi pendidikan tidakdapat dipisahkan dari arah sistem penyelenggaraan pemerintahan, dan bahkan sistem pendidikan merupakan subsistem dari sistem yang lebih luas tesebut. Oleh karena itu, searah dengan sistem pemerintahan yang akan memberikan otonomi luas pada kabupaten/kotamadya maka sebagian besar wewenang pendidikan seyogyanya diserahkan pada kabupaten/kotamadya dan bahkan sampai pada tingkat sekolah. Hasil penelitia ini menawarkan pokok-pokok pikiran tentang pengembangan model desentralisasi pengelolaan pendidikan dalam setting otonomi daerah. Salah satu gagasan pokok dalam pengembangan model desentralisasi pengelolaan pendidikan dalam pengembangan model ini adalah restrukturisasi kelembagaan pendidikan di daerah melalui pembentukan Dinas Dikbud" di tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya untuk mengelola pendidikan dan kebudayaan. Di kabupaten/kotamadya


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Desentralisasi pendidikan di tingkat kelas - Silverius, Suke-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdikbud)

DESENTRALISASI DALAM PENDIDIKAN

Sejalan dengan ratifikasi Rancangan Undang-undang tentang Otonomi Daeraha dan Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat-Daerah maka isu desentralisasi dalam kaitan langsung dengan otonomi semakin mencuat. Berbagai uraian dan pandangan mengalir dari para pakar menanggapi isu desentralisasi namun semuanya dalam kaitan dengan ilmu pemerintahan atau dengan disiplin ilmu lainnya secara makro. Kajian ini mengulas perlunya desentralisasi secara mikro, khususnya di tingkat kelas. Konsep pendidikan yang banyak dianut para guru dan tenaga kependidikan berpusat pada hubungan satu arah antara guru dengan siswa dan guru sebagai sumber segala pengetahuan yang hendak dituangkan ke dalam diri siswa yang dipandang sebagai gentong kosong yang tidak mahatahu atau bahkan yasng smaha tidak mahatahu. Konsep ini menjauhkan guru dan siswa dari kehidupan realita dan masuk dalam suatu dunia kayalan. Oleh sebab itu, dipandang perlu adanya reformasi dalam bidang pendidikan. Bentuk reformasi yang ditawarkan dlam kajian ini ialah desentralisasi di tingkat kelas dan perubahan konsep pendidikan dari guru yang mahatahu menjadi guru sebagai mitra pembelajaran yang mengajar siswa dan sekaligus juga diajar siswa densgan masukan dari para siswanya. Dengan konsep ini para guru dan siwwa bersama-sama memasuki dunia ralita dan menjelajahinya bersama dan memanfaatkannya uyntuk pengembangan diri dan kepribadian masing-masing ke arah suatu kehiduapn yang kritis dan kratif. Desentralisasi pendidikan di tingk kelas ini dipersyaratkan oleh perampingan kurikulum 94 sebagai suatu conditio sine qua non" demi memberikan banyak waktu dan memperbesar peluang bagi para siswa untuk ikut serta secara aktif dalam proses pembelajaran bersama-sama dengan gurunya."


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Manajemen berbasiskan sekolah: konsep dan kemungkinan strategi pelaksanaannya di Indonesia - Rumtini-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

MANAJEMEN DAN ORGANISASI SEKOLAH

Tulisan ini berusaha merumuskan suatu bentuk otonomi sekolah berdasarkan konsep umum yang dipadukan dengan kondisi di Indonesia. Bentuk otonomi sekolah sebagai realisasi dari program disentralisasi di tingkat sekolah diformulasikan dalam konteks manajemen berbasis-sekolah atau school-based managemen". Lingkup manajemen berbasis-sekolah meliputi otonomi yang luas bagi sekolah dalam mengelola sumber daya


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Peran kemitraan majelis pendidikan kejuruan propinsi (MPKP) dan majelis sekolah (MS) dalam rangka desentralisasi pendidikan di sekolah menengah kejuruan (SMK) - Subijanto-Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdiknas)

PENDIDIKAN KEJURUAN - KERJASAMA

Peran serta masyarakat dalam pendidikan nasional telah diatur oleh UU Nomor 2 tahun 1989 dan PP nomor 39 tahun 1992. Salah satu wujud nyata peran serta tersebut adalah kerja sama atau kemitraan antara SMK dengan masyarakat dunia usaha/industri dalam pelaksanaan pendidikan sistem ganda (PSG). Secara formal bentuk kerjasama itu telah dituangkan dalamkeputusan bersama antara Mendikbud dengan Ketua KADIN Nomor 026a/U/1994 dan Nomor 84/KU/X/1994 tentang peran dan fungsi Majelis Propinsi (MPKP) dan Majelis Sekolah (MS). Diharapkan pada era desentralisasi pendidikan, optimalisasi pemberdayaan peran serta majelis sekolah atau lebih dikenal dengan school based manajement" salah satu peluang bentuk kemitraan antara MPKP dan MS dengan SMK adalah upaya program mensukseskan program PSG dengan berbagai aspek pendukungnya. Aspek pengembangan kurikulum


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Filsafat pendidikan demokrasi sebagai landasan pendidikan masyarakat Indonesia baru - Hanurawan, Fattah-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PENDIDIKAN - FILSAFAT

Democratic philosophy of education as education foundation for the New Indonesian Society. Philosophy of education is study of general theoretical foundations of the nature, aims, and methods of education. As a multi-religion and a multicultural society, Indonesia should develop a democratic philosophy of eduction. A stategy to develop such a philosophy of eduction can be based on synthesis combining global progressive education and Jndonesian local-modern style values. While the former emphasizes education as an instrument for social reform to achieve a democratic society, the latter can be based on religions, faiths, cultural beliefs, and state-ideology-based values


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Membangun budaya akademik perguruan tinggi - Kurniawan, Khaerudin-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PENDIDIKAN TINGGI - AKADEMIK

Establishing college academic life. The most valuable ownership of a higher education institution is its academic autonomy and culture, which are needed to build up the culture and civilization of the society and the country as a whole. The quality of a college at present and in the future is determined by the quality of its academic members in establising the academic life through developing literacy as well as empowering the lecture. This willbe reflected in the development of the reading habit and in the spirit of writing articles and publishing them in scientific journals.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Aplikasi teori humanistik dalam interaksi guru-siswa di kelas - Nirwana, Herman-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PEMBELAJARAN - HUMANISME, TEORI

The application of humanistic theory to teacher-student classroom interaction. Humanistic theory emphasizes equal development of students' cognitive and affective aspects. In a humanistic teaching, students have to study and record the progress they have made by themselves. Although the theory has not yet been implemented in our school setting, it can actuallly be applied in the teacher and students in the classroom. The teacher gives the freedom and responsibility to the students to study and functions as a facilitator, who facilitates the students to freely express their feelings and emotions


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pengembangan modul pembelajaran individual untuk meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran dalam matakuliah pengetahuan bahan - Sutadji, Eddy-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PEMBELAJARAN (PENDIDIKAN TINGGI) - MODUL

Developing an individualized learning module to improve the quality of learning processes and outcomes. The study was intended to develop an effective learning module, which is based on procedural-content-learning principles, for a course on material knowledge. The module was expected to improve the quality of learning processes and outcomes. Equipped with other components such as manual, material diagram, specific learning objectives, contents, pictures, exercises, and summaries, the module becomes easy to learn and understrand. The research findings suggest that the module provides contribution to the learning ourcomes when applied in procedural-content learning


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Pendapat sivitas akademika tentang pengembangan kreativitas menghadapi tantangan globalisasi di perguruan tinggi - Suharto, Yumiati-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PENDIDIKAN TINGGI - KREATIVITAS

Opinions of academic members about crativity development in facing challenges of the blobaization eera. The purpose of the study was to obtain empirical data concerning the opinions of academic members about crativity development in facing challenges of the globalization era. The data were colleges in Jakarta by using a questionnaire and then anlyzed statistically using chi square. The results indicate that there is no significant difference in terms of opnions abour creativity development to face the globalization era between students, lecturers, and administrators. Most of them seemed to agree on the importance of creativity


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Evaluasi pelaksanaan program penyetaraan D-II pendidikian guru SD - Wijayanti, Primardiana Hermilia-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PENDIDIKAN GURU - EVALUASI

Evaluation study on the implementation of D-II equivalent program of elementary school teacher education. The study aimed to evaluate the implementation of D-II equivalent program of elementary school teacher edfuation, concerning the evaluation of the curriculum, students, teaching learning process, academic staff, facilities, and the short comings. The study was carried out in Blitar and Jombang, involving 337 subjects comprising students, tutors, instructors of practical work, and supervisors. The data were collected through questionnaires, interviews, documentation study, and observation and then analyzed using statistics of percentages. The results indicate that the implementation of the curricullum is mostly relevant to the guidelinjes and taht there are shortcomings in implementing the program, especiallu concerning the availability of the modules and the late accerpetance of them.


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Perbedaan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas unggulan dan bukan kelas unggulan di SLTP - Sukardi, Musa-Ilmu Pendidikan: Jurnal filsafat, teori, dan praktik kependidikan (FIP. UM)

PENDIDIKAN LANJUTAN - PRESTASI BELAJAR
PENDIDIKAN LANJUTAN - MOTIVASI BELAJAR

Motivation and achievement differences between students of high-achiever group and those of non-high-achiever group. The purpose of theis descriptive, comparative study was to find out the differences in learning motivation and achievement between students belonging to high-achiever group and those to non-high-achiever group. Forty one junior high school students of the former group and 40 of the latter were involved in this study. The data were abtained from a questionnaire and documentation study and analyzed using statistics of percentages and test. The results show that there is a significant difference between the two groups in terms of learning motivation and achievement


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Hubungan kemampuan profesional guru dan pemanfaatan sumber belajar dengan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD - Widadi, M.I. Sri-Ilmu Pendidikan: jurnal filsafat, teori dan praktik kependidikan (FIP. UM) (No.2, Vol.27, Juli 2000)

GURU - PROFESIONALISME
GURU - PRESTASI BELAJAR

The relationship between teachers' professional competence and utilization of learning resources and students' achievement inb science. This study was intended to investibate the raltionship between teachers' professional competencer and utilization of learning resources and students' achievement in science. The study involved 34 elementary school teachers in Serengan, Surakarta. Product moment technique and regression analyses were employed to analyze the data which had been collected using questionnarires. The results indicate that there is no correlation between the utilization of leraning resources and students' achievement, and tyhat there is no significant correlation between the use of learning resources, teachers' professional competence, and students' achievement in science


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Kemampuan guru dalam pembelajaran baca tulis permulaan di SD - Mudiono, Alif-Ilmu Pendidikan: jurnal filsafat, teori dan praktik kependidikan (FIP. UM)

MEMBACA (PENDIDIKAN DASAR) - PEMBELAJARAN
GURU - KUALIFIKSI - PEMBELAJARAN

Teachers' competence in early-literacy learning. The study aimed at describing objectively teachers' competence in developing early literacy at elementary schools. Descriptive-qualitative analysis waas employed to analyze the data which had been collected from first-grade teachers of three elementary schools in Blitar using teacher-competence evaluation instrument, documentation study, and field notes. The results suggest thast teachers' competence in early-literacy learning, which involves planning, implementing, and evaluating, has not yet met the requirements of the 1994 curriculum of elementary school


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8

Hubungan antara kesangupan berpikir formal ala Piaget dan prestasi belajar pengetahuan dasar MIPA siswa kelas V SD - Soetopo-Ilmu Pendidikan: jurnal filsafat, teori dan praktik kependidikan (FIP. UM)

SAINS (MIPA) - PRESTASI BELAJAR

The relationship between ability to perform formal operatioans of Piaget and fifth craders achievement in science. The purpose of the study swas to find out the relationship between the ability to perform formal operations of Piaget and achievement in science. a number of 598 fifth graders of 12 elementary schools were invoved. Interview and test were used to collect the data, which were then analyzed using statistics of percentages, correlation analyses, and multiple regression. The results indicate that girls are proportionally more able to perform formal operations than boys and that the ablity has positive relationship to students' achievement in science


Download 1 | Download 2 | Download 3 | Download 4 | Download 5 | Download 6 | Download 7 | Download 8|P1 |P2 |P3 |P4 |P5 |P6 |P7 |P8



1 |2 |3 |4 |5 |6 |7 |8 |9 |10 |11 |12 |13 |14 |15 |16 |17 |18 |19 |20 |21 |22 |23 |24 |25 |26 |27 |28 |29 |30 |31 |32 |33 |34 |35 |36 |37 |38 |39 |40 |41 |42 |43 |44 |45 |46 |47 |48 |49 |50 |51 |52 |53 |54 |55 |56 |57 |58 |59 |60 |61 |62 |63 |64 |65 |66 |67 |68 |69 |70 |71 |72 |73 |74 |75 |76 |77 |78 |79 |80 |81 |82 |83 |84 |85 |86 |87 |88 |89 |90 |91 |92 |93 |94 |95 |96 |97 |98 |99 |100 |101 |102 |103 |104 |105 |106 |107 |108 |109 |110 |111 |112 |113 |114 |115 |116 |117 |118 |119 |120 |121 |122 |123 |124 |125 |126 |127 |128 |129 |130 |131 |132 |133 |134 |135 |136 |137 |138 |139 |140 |141 |142 |143 |144 |145 |146 |147 |148 |149 |150 |151 |152 |153 |154 |155 |156 |157 |158 |159 |160 |161 |162 |163 |164 |165 |166 |167 |168 |169 |170 |171 |172 |173 |174 |175 |176 |177 |178 |179 |180 |181 |182 |183 |184 |185 |186 |187 |188 |189 |190 |191 |192 |193 |194 |195 |196 |197 |198 |199 |200 |201 |202 |203 |204 |205 |206 |207 |208 |209 |210 |211 |212 |213 |214 |215 |216 |217 |218 |219 |220 |221 |222 |223 |224 |225 |226 |227 |228 |229 |230 |231 |232 |233 |234 |235 |236 |237 |238 |239 |240 |241 |242 |243 |244 |245 |246 |247 |248 |249 |250 |251 |252 |253 |254 |255 |256 |257 |258 |259 |260 |261 |262 |263 |264 |265 |266 |267 |268 |269 |270 |271 |272 |273 |274 |275 |276 |277 |278 |279 |280 |281 |282 |283 |284 |285 |286 |287 |288 |289 |290 |291 |292 |293 |294 |295 |296 |297 |298 |299 |300 |301 |302 |303 |304 |305 |306 |307 |308 |309 |310 |311 |312 |313 |314 |315 |316 |317 |318 |319 |320 |321 |322 |323 |324 |325 |326 |327 |328 |329 |330 |331 |332 |333 |334 |335 |336 |337 |338 |339 |340 |341 |342 |343 |344 |345 |346 |347 |348 |349 |350 |351 |352 |353 |354 |355 |356 |357 |358 |359 |360 |361 |362 |363 |364 |365 |366 |367 |368 |369 |370 |371 |372 |373 |374 |375 |376 |377 |378 |379 |380 |381 |382 |383 |384 |385 |386 |387 |388 |389 |390 |391 |392 |393 |394 |395 |396 |397 |398 |399 |400 |401 |402 |403 |404 |405 |406 |407 |408 |409 |410 |411 |412 |413 |414 |415 |416 |417 |418 |419 |420 |421 |422 |423 |424 |425 |426 |427 |428 |429 |430 |431 |432 |433 |434 |435 |436 |437 |438 |439 |440 |441 |442 |443 |444 |445 |446 |447 |448 |449 |450 |451 |452 |453 |454 |455 |456 |457 |458 |459 |460 |461 |462 |463 |464 |465 |466 |467 |468 |469 |470 |471 |472 |473 |474 |475 |476 |477 |478 |479 |480 |481 |482 |483 |484 |485 |