Jurnal ilmu-ilmu hayati :: Identifikasi, Biologi, komposisi, dan daerah penyebaran sumber daya ikan teri (stelephorus spp.) di perairan selat madura

UPT Perpustakaan Digital Universitas Negeri Malang

IDENTIFIKASI, BIOLOGI, KOMPOSISI, DAN DAERAH PENYEBARAN SUMBER DAYA IKAN TERI (STELEPHORUS SPP.) DI PERAIRAN SELAT MADURA

Setyohadi, D

INDEX JURNAL

     
  Identifikasi, Biologi, komposisi, dan daerah penyebaran sumber daya ikan teri (stelephorus spp.) di perairan selat madura
    Setyohadi, D
    Jurnal ilmu-ilmu hayati
     
    Subyek : IKAN TERI - FITOGRAFI, IKAN - PENYEBARAN
     
    Label bendel : Penelitian ini dilakukan pada empat lokasi pusat pendaratan ikan (PPI) di perairan Selat Madura, yaitu: PPI Pondok Mimbo-Situbondo, PPI Lekok-Pasuruan, PPI Padelegan-Pamekasan, dan PPI Lobuk-Sumenep, antara bulan Agustus-Desember 1997 terhadap alat tangkap berdasarkan alat tangkap, lokasi penangkapan, spesies hasil tangkap, dan perbedaan waktu. Selama penelitian juga dilakukan sampling ikan untuk analisis biologi, dan pertumbuhan (sparre et al, 1989). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenis ikan teri diklasifikasikan dalam 4 jenis, yaitu: teri nasi, Stolephorus spp, teri putih, Stolephorus devisi, teri merah, S. heterolobus, dan teri hitam, S.buccaneeri. Komposisi spesies ikan teri berbeda berdasarkan alat tangkap. Ikan tei nasi paling dominan dalam hasil tangkap alat payang. Sedangkan ikan teri lainnya lebih banyak terdapat pada alat bagan. Rata-rata hasil tangkap pada alat bagan lebih tinggi (CpUE = 86,86 kg/trip) dibandingkan pada lat tangkap payang jurung (36,01 kg/trip). Hal ini diduga karena indikasi penggunaan FAD (Fish Aggregating Device) lampu tekan yang bisa mengumpulkan ikan teri 2,5 kali lipat. Akibat penggunaan lampu tersebut, hasil ikan teri sangat berkurang. Ikan teri nasi lebih dominan tertangkap pada area 2 (Lekok-Pasuruan). Sedangkan ikan teri hitam paling dominan pada area 3 (perairan sekitar Lobuk-Sumenep). Konstanta kecepatan pertumbuhan (k) ikan teri di perairan Selat Madura relatif rendah dibandingkan dengan jenis yang sama pada lokasi lain. Namun ukuran panjang (Loo) yang bisa dicapai oleh ikan diperairan tersebut lebih panjang. Faktor kondisi dari seluruh ikan teri menunjukkan kondisi allometris. Proporsi antara kelamin jantan dan betina relatif masih seimbang. Dari hasil penelitian tersebut perlu diteliti lebih lanjut tentang satuan effort pada masing-masing alat, pengaruh penggunaan lampu pada bagan, serta status pemanfaatan perikanan teri di perairan tersebut.
     

Abstrak/anotasi :

Penelitian ini dilakukan pada empat lokasi pusat pendaratan ikan (PPI) di perairan Selat Madura, yaitu: PPI Pondok Mimbo-Situbondo, PPI Lekok-Pasuruan, PPI Padelegan-Pamekasan, dan PPI Lobuk-Sumenep, antara bulan Agustus-Desember 1997 terhadap alat tangkap berdasarkan alat tangkap, lokasi penangkapan, spesies hasil tangkap, dan perbedaan waktu. Selama penelitian juga dilakukan sampling ikan untuk analisis biologi, dan pertumbuhan (sparre et al, 1989). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenis ikan teri diklasifikasikan dalam 4 jenis, yaitu: teri nasi, Stolephorus spp, teri putih, Stolephorus devisi, teri merah, S. heterolobus, dan teri hitam, S.buccaneeri. Komposisi spesies ikan teri berbeda berdasarkan alat tangkap. Ikan tei nasi paling dominan dalam hasil tangkap alat payang. Sedangkan ikan teri lainnya lebih banyak terdapat pada alat bagan. Rata-rata hasil tangkap pada alat bagan lebih tinggi (CpUE = 86,86 kg/trip) dibandingkan pada lat tangkap payang jurung (36,01 kg/trip). Hal ini diduga karena indikasi penggunaan FAD (Fish Aggregating Device) lampu tekan yang bisa mengumpulkan ikan teri 2,5 kali lipat. Akibat penggunaan lampu tersebut, hasil ikan teri sangat berkurang. Ikan teri nasi lebih dominan tertangkap pada area 2 (Lekok-Pasuruan). Sedangkan ikan teri hitam paling dominan pada area 3 (perairan sekitar Lobuk-Sumenep). Konstanta kecepatan pertumbuhan (k) ikan teri di perairan Selat Madura relatif rendah dibandingkan dengan jenis yang sama pada lokasi lain. Namun ukuran panjang (Loo) yang bisa dicapai oleh ikan diperairan tersebut lebih panjang. Faktor kondisi dari seluruh ikan teri menunjukkan kondisi allometris. Proporsi antara kelamin jantan dan betina relatif masih seimbang. Dari hasil penelitian tersebut perlu diteliti lebih lanjut tentang satuan effort pada masing-masing alat, pengaruh penggunaan lampu pada bagan, serta status pemanfaatan perikanan teri di perairan tersebut.










<< Prev | Next >>