Penelitian Tindakan Kelas :: UPT Perpustakaan UM




JudulPenerapan model STAD untuk membantu meningkatkan pemahaman materi bilangan pecahan pada siswa kelas VII di MTs Negeri Malang 1 oleh Uud Saudah
PenulisSaudah, Uud
Pembimbing1. M. SHOHIBUL KAHFI ; 2. ASYKURY
PenerbitanSkripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang. Jurusan Matematika, S1 Jurusan Matematika. 2009
Subyek1. ARITMATIKA - PEMAHAMAN SISWA
2. ARITMATIKA - PEMBELAJARAN MODEL STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION)
LabelRs 513.207 SAU p
Abstrak

ABSTRAK

Saudah, Uud. 2008. Penerapan Model STAD untuk Membantu Meningkatkan Pemahaman Materi Bilangan Pecahan pada Siswa Kelas VII di MTs Negeri Malang 1. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M.Pd, (II) Drs. Askury, M.Pd

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif model STAD, bilangan pecahan

Matematika dianggap sulit salah satunya adalah metode pengajaran matematika yang digunakan. Metode pengajaran matematika yang lebih mengutamakan hafalan daripada pengertian menyebabkan pemahaman konsep siswa kurang. Penerapan model pembelajaran yang tepat akan menentukan efektifitas proses belajar mengajar. Pembelajaran kooperatif model STAD merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki potensi lebih dalam meningkatkan kemampuan berfikir dan prestasi belajar siswa serta merupakan model yang paling sederhana dan dapat diterapkan pada hampir semua materi pelajaran yang menekankan pemahaman konsep.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi : 1) hasil observasi selama proses pembelajaran yang berpedoman pada lembar observasi, 2) hasil catatan lapangan, 3) hasil tes harian, 4) hasil wawancara dengan subyek wawancara.

Pembelajan kooperatif model STAD yang dapat memahamkan siswa tentang materi pecahan memiliki 5 komponen, yaitu (1) Penyajian Kelas: menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang dipelajari secara garis besar, (2) Belajar Kelompok: (a) siswa dalam kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok heterogen yang terdiri dari 4 atau 5 orang dalam setiap kelompok, (b) membagikan lembar kerja yang berisi kegiatan untuk memahami materi yang dipelajari, (c) meminta siswa menyelesaikan lembar kerja secara kooperatif. (d) membantu siswa menyelesaikan lembar kerja. (e) meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan jawaban di depan kelas. (f) memberikan kesempatan pada kelompok lain yang mempunyai jawaban berbeda untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya (g) mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman. (3) Kuis secara individu: kuis diberikan pada setiap siswa dan tidak diperkenankan siswa untuk bekerjasama. (4) Skor Peningkatan Individu: dihitung dengan membandingkan hasil sebelumnya dengan hasil kuis terakhir. (5) Penghargaan kelompok: diberikan sesuai dengan hasil peningkatan individu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata skor tes siswa pada siklus I adalah 62,63 dan siswa yang memperoleh skor lebih dari 70 baru mencapai 37,04%. Tapi pada siklus II dimana siswa sudah memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang diperoleh, rata-rata skor siswa meningkat menjadi 77,19 dengan siswa yang memperoleh skor lebih dari 70 adalah 77,78%.


P.T.K yang memiliki kemiripan dengan diatas

Tidak ada.

P.T.K yang memiliki keterhubungan dengan diatas